Eps 5 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.
"Terima kasih atas bantuanmu, mohon tanya siapa nama Anda?"
Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun tertawa geli.
"Dia Kok Siauw Hong Toa-ko, dia juga calon menantu Paman Han. Tapi dia malah ingin menjadi menantu keluarga Ci. Aku sedang membantu Han Toa-ko mencari keadilan!"
Kata nona Kiong. Ucapan nona Kiong yang polos dan terbuka itu membuat wajah Kok Siauw Hongjadi kemerah-merahan.
"Nona Kiong kau jangan mentertawakan aku!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Oh, saudara Kong-sun, apa kau sudah tahu jejak Nona Han?"
Kong-sun Po tertegun.
"Kenapa dia menyebut-nyebut Nona Han?"
Pikir Kongsun Po agak heran. Kiong Mi Yun tertawa lagi.
"Han Toa-ko itu puteri keluarga Han, namanya Han Pwee Eng, bukan Han Eng! Aku baru tahu hal itu dari Kok Toa-ko. Nah, kau paham?"
Kata nona Kiong.. Kong-sun Po tertawa geli.
"Sungguh bodoh aku ini!"
Pikir Kong Sun Po.
"Dua anak dara menyamar jadi pria saja aku sampai tidak tahu?"
Sesudah agak lama Kong-sun Po yang memang tidak senang ikut campur urusan orang lain lalu berkata.
"Jadi begitu! Kok Toa-ko apa dadamu masih terasa mual?"
"Ya. Karena lwee-kangku masih dangkal, aku jadi tidak tahan bau amis itu! Sungguh memalukan sekali!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Itu bukan karena lwee-kangmu masih dangkal, tapi karena kau belum pernah bertarung dengan orang berilmu racun seperti mereka,"
Kata Kong-sun Po.
"Tapi kau lebih tahan dariku,"
Kata Siauw Hong.
"Karena aku sejak kecil sudah terkena racun itu!"
Jawab Kong-sun Po.
"Kebetulan aku membawa obat pemunah racun, makanlah aku yakin kau akan segera pulih!"
"Terima kasih, oh ya bagaimana mengenai jejak nona Han?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku sedang mengejar nenek tua itu ke balik air terjun, di sana terdapat sebuah goa dan jalan menuju ke sebuah bukit. Samar-samar aku juga melihat di sana ada sebuah rumah batu. Aku kira nona Han ada di rumah batu itu?!"
Sahut Kong-sun Po.
"Hm! Nenek tua itu dulu pernah menyelamatkan aku dari bahaya maut. Tapi sekarang aku tidak tahu apakah dia kawan atau musuh kami?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Tapi belasan tahun yang lalu, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Paman Han dan Bibi Han. Aku duga mereka bermusuhan. Sekalipun dia bukan musuh tapi dia lebih kuat dariku!"
"Mereka lihay semua, jika kita hanya bertiga, kita bukan tandingan mereka!"
Kata Kok Siauw Hong setelah berpikir.
"Lebih baik kita kembali dulu ke rumah Paman Han, di sanakita tunggu sampainya kakak beradik Ci. Sesudah mereka datang kita baru berunding dengan mereka!"
Kiong Mi Yun takut bertemu dengan kakak beradik Ci itu, ketika dia mendengar gagasan Kok Siauw Hong, wajah Kiong Mi Yun berubah jadi merah.
"Sebenarnya kalian datang ke Lok-yang ada urusan apa?"
Tanya Kok Siauw Hong.
"Kami ingin menemui Han Toa-ko.. .Eh Nona Han, dan kami tidak punya urusan lain,"
Jawab nona Kiong.
"Karena kalian sahabat nona Han, maka aku memberanikan diri untuk minta bantuan pada kalian,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Tapi aku tidak berani memaksa, hari ini kalian telah membantuku. Aku tidak tahu lalian mau membantu atau tidak, tapi kuucapkan terima kasih!"
Kong-sun Po sifatnya jujur.
"Hm! Dia tidak mau bilang terus terang, pasti dia anggap aku takut pada kedua iblis tua itu."
Pikir Kong-sun Po. Maka itu dia langsung bicara.
"Kami tidak takut pada mereka, hanya kami merasa tidak enak bertemu dengan Nona Ci!"
Kata Kong-sun Po.
"Kenapa?"
Tanya Kok Siauw Hong.
"Kami punya sedikit masalah dengan mereka. Terusterang kami telah mencuri arak Kiu-tkian-sun-yang-pek-hoa-ciu milik mereka! Tapi tidak kami kira arak obat itu berhasil direbut oleh nenek tua itu!"
Kata Kong-sun Po.
Sekalipun yang mencuri arak obat itu Kiong Mi Yun dan tidak ada hubungannya dengan Kong-sun Po.
Tapi pemuda ini mengatakan "kami", dengan demikian dia ikut bertanggungjawab atas pencurian arak obat itu.
Mendengar keterangan itu Kok Siauw Hong tertawa terbahak-bahak.
"Sudah, aku paham!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kalian mencuri arak itu pasti untuk Nona Han, bukan? Karena kalian tidak tahu kalau sebenarnya Ci Giok Hian dan nona Han itu bersahabat sangat akrab. Itu aku kira cuma salah paham saja, jika sudah aku jelaskan semua kan beres! Ingat, seandainya arak obat itu ada di tanganku, arak itu pun akan 550 direbut oleh nenek itu. Sudah soal itu jangan kalian pikirkan lagi, mari kita ke rumah Paman Han!"
Saat mereka tiba di rumah Han Tay Hiong, malam pun telah larut. Tapi mereka tidak menemukan kakak beradik keluarga Ci itu. Tak heran kalau Kok Siauw Hong jadi tidak tenang.
"Apa di tengah jalan mereka mendapat bahaya, selarut ini mereka belum tiba juga di sini?"
Pikir Kok Siauw Hong. Nona Kiong yang kelihatan ceroboh ini malah dia jadi lebih cermat. Begitu masuk ke kamar nona Han dia langsung menyalakan lampu, dia perhatikan kamar itu. Tiba-tiba dia tertawa.
"Kok Toa-ko, mereka sudah sampai di sini,"
Kata nona Kiong.
"Malah pamanmu yang mencurigakan dan tukang bohong itu pun datang lagi ke mari!"
Kok Siauw Hong memperhatikan lantai kamar yang basah oleh air bekas dipakai menyiram nona Kiong tadi siang.
Di lantai itu sekarang kelihatan banyak bekas jejak kaki orang.
Jika diperhatikan dengan teliti, jejak itu jelas bisa dibedabedakan.
Di lantai ada tiga jejak kaki lelaki dan dua jejak kaki wanita.
Yang satu jejak kaki Kok Siauw Hong, dua lagi jejak kaki Jen Thian Ngo dan kaki Ci Giok Phang.
Jejak kaki perempuan yang satunya pasti jejak nona Kiong, sedangkan jejak kaki yang lainnya pasti jejak kaki Ci Giok Hian.
Sesudah termangu sejenak Kok Siauw Hong mulai bicara.
"Benar, mereka sudah sampai kemari. Mungkin karena tidak bertemu denganku mereka ikut dengan Paman Jen ke markas cabang Kay-pang. Kebetulan ketua Kay-pang ada di sana. Bagaimana kalau kita pun pergi ke sana?"
Kata Kok Siauw Hong mengajukan saran.
"Sudah lama aku mendengar nama besar Liok Pang-cu, memang seharusnya kita ke sana,"
Kata Kong-sun Po.
"Jika kita memperoleh bantuan dari orang-orang Kay-pang, kita tidak perlu gentar pada kedua iblis tua itu!"
Heran Kok Siauw Hong yang memberi saran tapi dia tidak langsung berjalan. Dia bengong saja. Nona Kiong keheranan.
"Kok Toa-ko apa yang kau pikirkan? Bukankah kau ingin segera bertemu dengan Nona Ci?"
Kata Kiong Mi Yun.
"Tunggu sebentar,"
Kata Kok Siauw Hong.
Kiong Mi Yun mengikuti arah pandangan Kok Siauw Hong.
Ternyata pemuda itu sedang memperhatikan sebuah peti kayu.
Peti kayu itu sebuah peti kayu yang berisi lukisan dan sempat berantakan diacak-acak oleh Jen Thian Ngo.
Kemudian lukisan-lukisan itu dibereskan dan dimasukan lagi ke dalam peti oleh Kok Siauw Hong.
Melihat pemuda itu diam saja sambil mengawasi peti kayu itu nona Kiong langsung bicara.
"Kok Toa-ko, apa kau merasa sayang meninggalkan lukisan-lukisan itu?"
Kata nonaKiong.
"Apa kau yang menutup peti kayu itu kemarin, Nona Kiong?"
Kok Siauw Hong balik bertanya.
"Apa? Oh, sedikit pun aku tidak menyentuhnya,"
Jawab nona Kiong. Dahi Kok Siauw Hong berkerut.
"Heran, aku juga tidak menutup peti kayu itu!"
Kata Kok Siauw Hong agak bingung.
"Jangan heran, saat Nona Ci datang ke mari dan melihat peti kayu itu terbuka, dia pikir mungkin takut ada maling ke 552 mari, lalu dia tutup peti kayu itu!"
Kata nona Kiong melegakan hati pemuda itu dengan memberi keterangan begitu.
Kok Siauw Hong manggut-manggut "Ya, mungkin saja!
Tapi jika di rumah ini tidak ada yang menjaga, jika ada maling datang sekalipun peti kayu itu dikunci, pasti akan dicurinya juga!"kata Kok Siauw Hong.
Mata nona Kiong terbelalak.
"Jadi kau mau membawanya, ya ampun!"
Kata nona Kiong.
"Keadaan sekarang sedang kacau, jangankan membawa peti kayu berisi lukisan, barang berharga pun sulit untuk diselamatkan. Kau ingin menyusahkan diri sendiri, peti kayu sebesar itu akan kau bawa ke mana?"
"Lukisan itu berseni tinggi"
Jawab Kok Siauw Hong.
"sekalipun isinya tidak bisa dibawa semuanya, akan kubawa sebahagian saja! Paman Han sangat menyukai lukisan ini, ada baiknya aku membawa sedikit untuk kenang-kenangan."
Kok Siauw Hong membuka peti kayu itu, kemudian dia mengambil beberapa lukisan yang ada di tumpukan paling atas.
Dia masih ingat dari kumpulan lukisan itu di antaranya ada lukisan kuda dan sebagainya.
Sedang di situ sekarang tinggal lukisan pemandangan biasa saja.
"Aku ingat, aku pemah melihat lukisan kuda karya Han Kan, mengapa lukisan itu sekarang tidak ada dan keadaan isi peti kayu itu pun sudah berubah semua?"
Pikir pemuda she Kok itu. Tiba-tiba Kong-sun Po memberi peringatkan pada kawannya dengan sebuah seruan.
"Letakan lukisan-lukisan itu, pasti lukisan itu beracun!"
Kata Kong-sun Po. Kok Siauw Hong kaget.
"Apa lukisan ini beracun?"
Katanya.
Pada saat yang bersamaan tangan Kok Siauw Hong terasa ngilu sekali, buru-buru dia lemparkan lukisan-lukisan itu ke dalam peti kayu.
Kong-sun Po buru-buru mengeluarkan sebatang jarum perak, kemudian jarum perak itu dia gunakan untuk menusuk jari tangan Kok Siauw Hong.
Sesudah dia tusuk lalu jari tangan Kok Siauw Hong dia pijit dan keluarlah darah berwarna hitam dari bekas tusukan jarum itu.
"Untung segera ketahuan sehingga kau tidak sampai keracunan,"
Kata Kong-sun Po.
Kemudian Kong-sun Po menaburkan obat bubuk ke luka sahabat barunya itu.
Kelihatan Kok Siauw Hong kaget dan tidak habis pikir "Siapa yang menukar lukisan dengan lukisan beracun, dia ingin mencelakai orang!"
Kata Kok Siauw Hong.
Kong-sun Po menggelengkan kepala, lalu dia bungkus tangannya walaupun dia tak takut racun.
Baru dia memeriksa semua lukisan itu dengan seksama.
Mengherankan di dalam peti itu ternyata bukan semua lukisan, tapi kertas putih namun semuanya sudah diberi racun.
"Orang itu sungguh keji!"
Kata Kong-sun Po sambil menghela napas.
"Siapa orang itu?"
"Yang paling mencurigakan ini pasti perbuatan See-bun Souw Ya, tapi tadi dia bertarung dengan kita. Tak mungkin dia bisa sempat kemari tanpa kita ketahui!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Tidak mudah menerka perbuatan siapa ini, sebaiknya kita segera menemui Liok Pang-cu saja!"
Kata Kong-sun Po.
Mereka segera meninggalkan rumah Han Tay Hiong, menjelang pagi mereka sampai di depan pintu kota Lokyang.
Di tempat itu kelihatan ratusan pengungsi sedang berkumpul menunggu sampai pintu kota dibuka.
Kok Siauw Hong mencoba menyelidik pada para pengungsi, dia menanyakan situasi medan perang.
Kok Siauw Hong mendapat jawaban bahwa pasukan Mongol sudah memasuki kota Hoan-sui-koan.
Kota itu berjarak hanya 300 mil dari kota Lok-yang.
Jika tentara Mongol itu tidak istirahat lagi, maka hari itu juga mereka sudah akan tiba di kota Lok-yang.
Biasanya pagi-pagi sekali pintu kota sudah dibuka, tapi hari itu sampai siang pintu kota belum juga dibuka.
Padahal pengungsi kian bertambah banyak jumlahnya, saat itu diperkirakan sudah hampir mencapai seribu orang.
Ketika mereka menatap ke atas tembok kota, mereka menyaksikan para prajurit sudah siap dengan busur dan anak panah mereka.
Tak lama komandan tentara di atas kota muncul.
"Atas perintah pimpinan kami, para pengungsi dilarang memasuki kota! Kalian harus pergi ke kota lain! Jika ada yang berani membuat keributan di tempat ini, maka kami anggap kalian sebagai pengacau!"
Kata komandan kota.
Bukan main geramnya para pengungsi saat mereka mendengar pengumuman itu Mereka jadi ribut dan memprotes tindakan penjaga kota itu.
Kok Siauw Hong mengerahkan tenaga dalamnya lalu berteriak ke atas tembok kota.
"Apa para pejabat tahunya hanya memungut pajak? Sedang ada peperangan kalian malah tidak mau 555 bertanggungjawab! Mana tanggungjawab kalian?"
Kata Kok Siauw Hong "Benar! Benar, jika mereka tidak mau membuka pintu kota, biar kami yang membukanya sendiri!"
Teriak para pengungsi.
"Orang yang berani berkata begitu berarti dia mata-mata musuh!"
Kata perwira penjaga kota itu.
"Jika kalian berani mengacau akan kuperintahkan prajurit memanah kalian!"
Teriak perwira itu dengan lantang.
"Kau keterlaluan! Siapa mata-mata Mongol itu?"
Kata Ko Siauw Hong. Saat Kok Siauw Hong akan maju memprotes, Kong-sun Po menarik tangannya.
"Sabar,"
Kata Kong-sun Po membujuk kawannya.
Tak lama di atas kota muncul atasan perwira tadi bersama seorang pengemis.
Kok Siauw Hong mengenali pengemis itu adalah wakil Hiang-cu bernama See Ban Tauw, dia sahabat Lauw Kan Lu.
Kelihatan pengemis itu berbisik kepada perwira tinggi itu.
Sayang karena jauh di bawah benteng kota Kok Siauw Hong tidak mendengar apa yang dibisikan pengemis itu pada si perwira penjaga kota.
Kemudian perwira itu membisiki komandan kota bawahannya.
"Atas perintah atasanku, kalian diperbolehkan masuk kota! Bagi yang punya famili di Lok-yang, boleh menemui famili kalian. Tapi yang tidak punya familik harus berkumpul di tempat yang telah ditentukan!"
Kata penjaga kota itu.
"Hm! Ini karena tampilnya anggota Kay-pang maka perwira itu mau mengalah,"
Gerutu para pengungsi.
Saat pintu kota dibuka, bagaikan air bah para pengungsi berebutan masuk ke dalam kota.
Kong-sun Po dan kawankawannya pun ikut masuk.
Kemudian Kok Siauw Hong mengcabang Kok Siauw Hong minta bertemu dengan Liok Pang-cu dan Lauw Kan Lu.
Saat itu para pengemis sedang sibuk maka tidak heran kalau mereka harus lama menunggu.
Tak lama datang seorang pengemis yang menyilakan mereka masuk.
Kemudian mereka dipersilakan menunggu di ruang tamu Lama baru muncul Lauw Kan Lu tanpa Liok Pang-cu.
"Maaf Kok-heng (Saudara Kok), tidak kusangka akan ada perubahan, sehingga kami jadi sibuk luar biasa!"
Kata Lauw Kan Lu.
"Sekali lagi maafkan kami!"
"Tak apa,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku dengar pasukan Mongol sudah dekat, kalian diminta menjaga kota oleh panglima kota, bukan?"
"Benar sekali! Jika aku katakan sungguh menggelikan sekali,"
Kata Lauw Kan Lu.
"Dan juga menyebalkan! Biasanya kami para pengemis dipandang rendah oleh mereka. Begitu bahaya datang, tanpa malu-malu mereka minta bantuan pada kami! Baik, kataku pada mereka asal kalian mau berlutut dan mengangguk 100 kali, tapi mereka hanya manggut 99 kali saja...."
"Mereka memang menyebalkan, jika bukan karena nasib rakyat jelata, maka Kay-pang tidak akan ikut campur dalam masalah ini, kan?"
Kata Kok Siauw Hong. Lauw Kan Lu menganguk.
"Itu sebabnya aku katakan pada mereka, kami bukan membantu kalian tapi kami menolong rakyat jelata!"
Kata Lauw Kan Lu.
"Jika mereka ingin dibantu, pintu kota harus dibuka untuk rakyat. Mereka tidak berdaya dan mereka 557 menurut saja. Sekarang anggota Kay-pang sedang sibuk mencari orang kaya untuk dimintai bantuan menyediakan makanan bagi para pengungsi itu. Ha, ha, ha, kali ini mereka akan jatuh miskin!"
"Sungguh menyenangkan,"
Kata Kok Siauw Hong sambil tertawa.
"Apa Liok Pang-cu masih ada di dalam kota?"
"Pang-cu bersama Pamanmu dan Ci Giok Phang tadi malam sudah berangkat mengawal harta ke luar kota,"
Kata Lauw Kan Lu.
"Di sana terdapat sekelompok pejuang dan mereka bertahan di Ciak-lo-san, kira-kira seratus li dari sini! Liok Pangcu akan menyerahkan harta itu kepada pemimpin mereka di sana. Biar mereka yang mengatur harta itu dan menemui Liu Lie Hiap (maksudnya Hong Lai Mo Li) di Utara......Saat mereka berangkat, mereka tidak mengetahui kalau di sini ada perubahan situasi yang sangat mendadak. Jika mereka tahu hal ini, pasti keberangkatan mereka itu akan dibatalkan. Tapi ada baiknya juga mereka berangkat, aku kira kota Lok-yang ini sulit untuk dipertahankan lagi! Pada saat keadaan semakin gawat, kami akan membawa para pengungsi menerjang musuh, lalu bergabung dengan para pejuang di gunung Ciaklo. Jika Liok Pang-cu mengetahui rencana ini, pasti dia akan berunding dengan para pejuang! Ah, aku baru ingat aku dengar kau telah menyelidiki jejak Han Tay Hiong, bagaimana hasilnya?"
"Kami sudah menemukan titik terang, justru kedatangan kami ini kami ingin minta petunjuk darimu, apa yang harus kami lakukan?"
Kata Kok Siauw Hong.
Sesudah Kok Siauw Hong memperkenalkan Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun, dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek.
Lauw Kan Lu terdiam lama sekali.
Baru dia bicara.
"Mengenai Han Tay Hiong lawan atau bukan, belum jelas! Aku juga tidak memikirkannya lagi! Tapi bagai mana jika kalian tinggal di sini untuk membantu kami, apa kalian setuju?"
Kata Lauw Kan Lu.
Terpaksa mereka mengabulkan permintaan itu karena mereka tahu keadaan memang sangat gawat.
Dari cerita Lauw Kan Lu sudah jelas Ci Giok Hian tidak bersamasama dengan kakaknya ke markas Kay-pang.
Lalu ke mana dia?
Itu yang membuat Kok Siauw Hong bingung sekali.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Sesudah Ci Giok Hian ditinggalkan oleh Ci Giok Phang dan Jen Thian Ngo, dia tidak langsung pulang seperti yang dia katakan kepada kakaknya.
Malah sesudah itu dia berkeliling di rumah Han Tay Hiong untuk mencari jejak Kok Siauw Hong.
Tapi usahanya itu sia-sia saja.
Saat cuaca mulai gelap hati nona Ci mulai tidak tenang.
"Siauw Hong berangkat lebih dulu dari kami dan dia sudah sampai di sini,"
Pikir nona Ci.
"Dia juga tahu aku mencari Han Pwee Eng, mengapa dia tidak menungguku di suri? Aah, benarkah telah terjadi "sesuatu"
Atas dirinya?"
Pikir nona Ci.
Yang ada dalam benak Ci Giok Hian waktu itu, ada dua kemungkinan.
Kemungkinan yang pertama, Kok Siauw Hong bertemu dengan musuh besar Han Tay Hiong?
Dia sadar saat itu status Kok Siauw Hong masih menantu Han Tay Hiong.
Bukan tidak mungkin musuh calon mertuanya itu mencelakakan dia!
Kemungkinan yang kedua, yaitu seperti yang dikatakan oleh Jen Thian Ngo kepadanya, bahwa Kok Siauw Hong telah bertemu dengan Han Pwee Eng, dan mereka memadu cinta kembali, karena pertunangan mereka pun belum putus.
Kemudian karena 559 mereka tahu dia akan datang, maka mereka lalu pergi bersama-sama entah ke mana?
Sebenarnya Ci Giok Hian tidak percaya sepenuhnya pada keterangan Jen Thian Ngo itu, tapi sebagai seorang gadis pasti dia juga memiliki rasa cemburu.
Dia yakin Han Pwee Eng bukan orang seperti itu.
Sesudah dia tahu calon suaminya mencintai gadis lain, dan malah membatalkan pertunangan mereka, tidak mungkin nona Han mau menikah dengan Kok Siauw Hong yang dianggap mengkhianatinya.
Sekalipun begitu tapi hati nona Ci tetap bingung dan gugup.
Dia khawatir Kok Siauw Hong akan diambil kembali oleh nona Han.
Setelah mencari kian-kemari dan tidak ada hasilnya, nona Ci pergi ke belakang rumah Han Tay Hiong.
Dia menuju ke atas gunung dan dia sudah pernah bertamu di rumah itu dan dia juga pernah tinggal di situ.
Bahkan bersama nona Han mereka sering berjalan-jalan menyaksikan pemandangan yang indah di gunung yang ada di belakang rumah nona Han tersebut.
"Apa mereka berdua pergi ke sana?"
Pikir nona Ci.
Karena memikirkan hal itu dia jadi bertambah gugup.
Dia mengira Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong sedang berduaduaan memadu cinta di gunung tersebut.
Saat nona Ci sedang berjalan menuju ke gunung itu, dia teringat saat dia berjalanjalan bersama Han Pwee Eng dengan mesra pada waktu itu.
"Aaah! Jika dia berduka karena kehilangan Kok Siauw Hong, biarlah aku yang harus mengalah,"
Pikir nona Ci.
Dia juga mencintai pemuda iti mana mungkin dia bisa merelakan pemuda itu diambil kembali oleh nona Han?
Saat pikiran nona Ci sedang kacau, dia mendengar suara desiran angin pada dedaunan Nona Ci kaget, dia 560 mendongak dan tampak ada dua orang gadis melesat turun di hadapannya.
Saat itu rembulan terang sehingga nona Ci bisa melihat dua gadis itu dengan jelas.
Tetapi dia tidak melihat nona Han bersama kedua gadis itu.
"Kepandaian mereka cukup tinggi,"
Pikir nona Ci.
"Usianya baru sekitar 16 tahun, mereka mengenakan pakaian berwarna hijau, mereka seperti pelayan dari daerah Utara. Mungkin mereka berdua pelayan baru Han Pwee Eng?"
Saat Ci Giok Hian akan menyapa kedua gadis itu, dia sudah didahului oleh salah seorang dari mereka.
"Maafkan kelancangan kami, apakah Anda yang bernama Ci Giok Hian dari lembah Pek-hoa-kok?"
Kata salah seorang nona itu pada Giok Hian. Mendengar pertanyaan itu nona Ci tertegun sejenak.
"Benar!"
Kata Ci Giok Hian.
"Siapa kalian berdua ini?"
Nona yang lebih tua menyahut.
"Nama hamba Tik Bwee, ini adikku Tik Kek. Kami menerima perintah dari majikan kami untuk mengundang Nona!"
Kata Tik Bwee sambil tersenyum.
"Siapa majikan kalian itu?"
Tanya nona Ci.
"Setelah Anda bertemu dengannya, majikan kami akan menjelaskan kepada Anda. Jika kami katakan juga nama majikan kami, sekarang. Anda tidak akan mengenalnya!"
"Hm! Siapa dia? Jika Kok Siauw Hong tidak mungkin dia berbuat semisterius ini?"
Pikir nona Ci.
"Aku tidak kenal dengan majikan kalian, bagaimana dia bisa tahu hari ini aku akan sampai di sini? Dan apa yang dia akan katakan sesudah aku bertemu dengannya?"
Kata nona Ci.
"Majikan kami pun sudah menduga Anda akan bertanya begitu pada kami,"
Kata Tik Bwee.
"Bahkan majikan kami pun tahu, Anda sangat merindukan seseorang. Maka itu majikan kami mewakili dia untuk mengundang Anda datang menemuinya!"
Nona Ci kaget dan girang, dia kira orang itu pasti yang dimaksud itu Kok Siauw Hong.
"Siapa orang itu?"
Kata nona Ci.
"Nona Han Pwee Eng,"
Jawab Tik Bwee. Mendengar jawaban itu nona Ci kelihatan kecewa. Tapi juga dia merasa girang karena sekarang dia tahu di mana nona Han Pwee Eng berada.
"Nona Han ada di tempat kalian, apa dia hanya seorang diri?"
Tanya nona Ci.
"Kami tidak tahu, kami hanya pelayan. Ditambah lagi kami juga belum pernah melihat nona Han!"
Jawab Tik Bwee. Ci Giok Hian jadi curiga.
"Aku tidak kenal dengan mereka, apakah ini bukan sebuah jebakan?"
Pikir nona Ci. Tik Bwee seolah tahu apa yang ada di benak nona Ci.
"Kami membawa lukisan majikan kami, beliau bilang jika Nona sudah melihatnya, maka Nona tidak akan raguragu, bahwa kami tidak bohong!"
Kata Tik Bwee.
Sesudah itu Tik Bwee menyerahkan selembar kertas, ketika diperiksa oleh nona Ci, ternyata itu sebuah lukisan pemandangan yang indah.
Sesudah melihat lukisan itu, nona Ci tertegun sejenak.
Dia ingat empat tahun yang lalu pada saat dia tinggal di rumah nona Han, ketika itu Han Pwee Eng pun menunjukkan lukisan itu kepadanya.
Saat 562 itulah dia tahu bahwa nona Han tunangan Kok Siauw Hong.
Lukisan yang ditunjukkan oleh nona Han itu katanya hadiah dari Kok Ju Sih kepada Han Tay Hiong.
Tentu saja nona Ci kaget bukan kepalang.
Dia bertanya pada nona Han.
"Apakah Kok Sian-seng ini bernama Kok Ju Sih Tayhiap yang tinggal di Yang-cou, bukan?"
Kata nona Ci waktu itu. Wajah Han Pwee Eng berubah merah.
"Aku tidak tahu,"
Jawab Han Pwee Eng.
"Lukisan ini indah, tapi masih ada lukisan lain yang lebih indah lagi!"
Han Pwee Eng menunjukan lukisan lain, barangkali agar nona Ci tidak banyak bertanya kepadanya.
Ci Giok Hian sangat cerdas pada saat menyaksikan sikap nona Han.
dia langsung sadar dan tidak banyak bertanya lagi.
Empat tahun yang lalu antara Kok Siauw Hong dan Ci Giok Hian telah saling jatuh cinta, tetapi letika itu nona Ci tidak mengetahui kalau Han Pwee Fng tunangan Kok Siauw Hong.
Setelah bertemu dengan Kok Siauw Hong dia menanyakannya pada pemuda itu.
Kok Siauw Hong dengan jujur mengaku, bahwa Han Pwe Eng memang tunangannya sejak kecil.
Hal itu membuat nona Ci jadi bingung.
Ditambah lagi nona Han pun tidak mau berterusterang.
Nona Ci tidak mengetahui kalau nona Han dilarang berterus-terang oleh ayahnya.
Ketika itu Han Tay Hiong menganggap tidak perlu, karena dia tahu ibu Kok Siauw Hong kekasih ayah Ci Giok Hian.
Han Tay Hiong tidak mengira kalau kejadian itu akan terulang lagi pada putera keluarga Kok ini.
Sesudah melihat lukisan itu nona Ci tidak bisa berpikir lama-lama.
Dia harus mengambil keputusan ikut atau tidak dengan kedua nona itu?
Dia kenal lukisan itu kesukaan nona Han, jadi dia yakin kedua nona itu tidak berbohong Sekalipun ada bahaya tapi karena nona Ci memang ingin mengetahui keberadaan nona Han itu, maka dia segera mengambil keputusan.
Sesudah dia kembalikan lukisan itu lalu dia berkata dengan manis.
"Malam-malam begini kalian mengundangku, jika aku tolak aku jadi tidak enak!"
Kata nona Ci. Kelihatan kedua nona itu girang.
"Terima kasih atas kebaikanAnda. Mari ikut kami! Jika di tengah jalan ada yang bertanya, biar kami yang mewakili Anda menjawabnya!"
Kata Tik Bwee. Kedua nona itu mengajak nona Ci naik ke atas gunung. Dia tertegun sejenak. Dia tahu mungkin ada bahaya, tapi dia sudah mengambil keputusan.
"Tempat tinggal kalian itu ada di mana? Masih jauhkan dari sini?"
Tanya Ci Giok Hian "Tidak! Di atas gunung ini!"
Jawab Tik Bwee.
Dulu pada saat Ci Giok Hian bertamu dan dia tinggal di rumah nona Han, mereka sering naik ke atas gunung, tapi mereka tidak melihat ada rumah di sana.
Sekarang nona itu bilang rumah mereka ada di atas sana, mengherankan sekali?
"Oh, kalian baru pindah ke tempat ini?"
Kata nona Ci.
"Ketika aku lahir 17 tahun yang lalu, majikanku sudah tinggal di tempat ini"
Jawab Tik Bwee.
Nona Ci keheranan, tapi dia tidak banyak berpikir lagi.
Akhirnya mereka tiba di depan air terjun.
Sekarang sudah tidak ada jalan lagi, nona Ci termangu di tempatnya sejenak.
Saat itu Tik Bwee memberinya sebuah topi rumput Nona Ci tercengang.
"Untuk apa topi rumput ini?"
Tanya nona Ci.
"Kita akan menerobos ke dalam air terjun itu,"
Jawab Tik Bwe.
"Jika memakai topi ini, pakaianmu tidak akan basah!"
Mata nona Ci terbelalak, tapi dia tidak mau banyak bertanya karena kedua nona itu sudah mengenakan topi mereka.
Dia juga mengikutinya.
Dengan memakai jurus Yancu-coan-lian (Burung walet menembus tirai), Tik Bwee menerjang ke arah air terjun.
Tik Kek segera menyusul dengan gerakan yang sama.
Nona Ci berpikir.
"Biar aku juga ikut!"
Dia menerjang ke arah air terjun itu dan di balik air terjun itu terdapat pintu goa. Tik Kek membuka topi rumputnya dan meletakannya di suatu tempat, dia tersenyum ke arah nona Ci.
"Gin-kangmu tinggi dan pakaianmu tidak basah, kami kagum pada Anda!"
Kata Tik Kek.
Nona Ci tersenyum diajuga membuka topi rumputnya dan meletakannya seperti kedua nona itu.
Saat dia menoleh samar-sama dia melihat sebuah bangunan rumah jauh di atas sana "Ayo cepat, kita harus segera pergi.
Jangan sampai terlihat oleh orang di rumah batu itu!"
Kata Tik Bwee. Semula nona Ci mengira itu rumah yang akan mereka tuju. Tapi setelah mendengar ucapan Tik Bwee, rupanya di rumah itu ada orang lain, bukan rumah yang dimaksud.
"Mengapa dulu Han Pwee Eng tidak pernah bilang di sini ada rumah? Apa dia juga tidak mengetahuinya?"
Pikir nonaCi. Saat kedua nona itu melesat ke tempat lain, nona Ci pun mengikutinya. Tak lama mereka sudah sampai di suatu tempat.
"Aaah! Untung orang-orang di rumah batu itu tidak keluar,"
Kata Tik Bwee sambil menghela napas.
"Siapa yang ada di rumah batu itu? Apakah mereka musuh majikanmu?"
Tanya nona Ci.
"Belum lama ini telah datang dua orang yang sudah tua bangka, yang satu bernama See-bun Souw Ya, dan yang satunya bernama Chu Kiu Sek! Mereka berdua memiliki ilmu racun dan keduanya sangat kejam! Aku takut pada mereka, tapi adikku ini malah tidak!"
Kata Tik Bwee. Nona Ci kaget bukan kepalang ketika dua nama itu disebutsebut oleh Tik Bwee.
"Kiranya musuh keluarga Han ada di tempat ini! Chu Kiu Sek pernah bertarung denganku, jadi aku tidak boleh terlihat olehnya,"
Pikir nona Ci. Alis nona Ci berkerut.
"Kenapa kau takut pada mereka?"
Tanya nona Ci.
"Sekalipun mereka itu garang, tapi mereka takut pada majikan kami,"
Kata Tik Kek mewakili kakaknya.
"Sebenarnya aku tidak begitu takut, tapi aku tidak ingin membuat masalah saja,"
Kata Tik Bwee menimpali. Kemudian kedua nona itu mengajak Ci Giok Hian menuju ke sebuah sungai. Di tepi sungai itu tampak sebuah perahu kecil, dua nona itu lalu naik ke atas perahu itu.
"Ayo Nona Ci, kami akan mengantarkanmu ke sana!"
Kata Tik Bwee sambil menunjukkan jarinya.
NonaCi melompat ke perahu kecil itu.
Sesudah itu Tik Bwee segera mengayuhnya, tidak lama kemudian perahu itu sudah meluncur di atas sungai.
Ci Giok Hian mengawasi panorama yang indah.
Dia kagum pada Tik Bwee, karenaperahu itu dikayuh dengan melawan arus.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di suatu tempat.
"Pelayannya saja begini hebat, apalagi majikannya? Pasti dia seorang dari Bu-lim Cian-pwee"
Pikir nona Han.
Kemudian mereka turun dari perahu itu dan nona Ci mengikuti kedua nona itu turun dari perahu.
Mereka berjalan menuju ke sebuah rumah bambu.
Melihat rumah bambu itu mata Ci Giok Hian terbelalak.
Semula dia mengira majikan kedua nona itu orang kaya-raya.
Ternyata dia tinggal di sebuah rumah bambu yang sangat sederhana.
Saat masuk nona Ci kaget lagi, karena isi rumah itu ternyata indah dan menyenangkan.
Apalagi saat itu terdengar suara kecapi yang merdu sekali.
Dari balik tirai bambu tampak sesosok tubuh wanita.
Dan wanita itulahyang sedang menabuh kecapi itu....-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 21 Setelah suara Kim (kecapi Tionghoa) yang merdu mendayu itu berhenti ditabuh, saat itu Ci Giok Hian mencium aroma harum dupa wangi.
Dia tersentak dan mengawasi ke arah orang yang sedang main kecapi itu.
"Pada malam yang dihiasi bulan purnama serta terciumnya aroma harum dupa, ditambah dengan alunan suara kecapi yang merdu, semua itu merupakan suasana 567 yang damai dan tentram. Tidak kusangka lo-cian-pwee ini seorang peminat kesenian yang tinggi?"
Pikir nona Ci.
"Majikan kami sedang bermain kecapi, aku tidak berani mengganggu beliau, harap Nona menunggu di sini sebentar,"
Kata Tik Bwee suaranya perlahan.
Suara kecapi terus mengalun merdu.
Ci Giok Hian mendengarkan dengan penuh perhatian, uyang dimainkan ternyata lagu "Kuda Putih".
Orang itu menunggang kuda putih ke mari, Kuda putih makan rumput di tempatku.
Oh, sungguh menyenangkan, Kegembiraan itu terkenang hingga saat ini.
Orang itu, pernah bercumbu-rayu denganku di sini.
Kuda putih kembali ke dalam lembah, Mulutnya penuh dengan rumput hijau Oh orang itu tampan, kau jangan lupa pada janjimu!
Berikan khabar padaku jangan menjauhiku.
Saat mendengarkan suara kecapi itu Ci Giok Hian merasa gembira.
Dia juga jadi geli.
"Lagu ini cocok dengan perasaan seorang gadis yang berpisah dengan kekasihnya. Jika aku tidak melihat bayangan wanita itu, pasti aku tidak akan menduga kalau yang memainkan kecapi itu seorang wanita tua!"
Pikir Ci Giok Hian. Tak lama suara kecapi itu berubah nadanya jadi bernada sedih sekali. Siapapun yang mendengarnya akan terharu, begitu juga nona Ci Giok Hian.
"Aku tidak tahu apakah wanita tua ini hatinya pernah terluka? Ah, entah kapan dia akan berhenti bermain kecapi?"
Pikir nona Ci sambil mengawasi perempuan yang sedang bermain kecapi itu. Wanita yang main kecapi itu seolah tahu isi hati nona Ci. Tiba-tiba dia menghentikan permainan kercapinya.
"Oh, ada tamu agung, kau sudah lama menunggu? Silakan masuk!"
Kata perempuan itu.
Nona Ci menyingkap tirai bambu dan memandang ke arah wanita itu.
Wanita itu berumur kira-kira limapuluh tahun dan dia sedang duduk dengan tenang sekali.
Sekalipun usianya sudah lanjut namun, bekas kecantikannya masih membayang di wajahnya.
"Ketika dia masih muda pasti dia seorang gadis yang cantik sekali,"
Pikir nona Ci. Wanita itu mengawasi ke arah nona Ci sambil tersenyum manis.
"Nona Ci, kau benar-benar cantik!"
Kata perempuan itu.
"Nona Ci, sekalipun aku baru kali ini bertemu denganmu tapi aku sudah merasa menyukaimu! Kau tidak perlu sungkan, duduklah."
Kemudian dia menoleh ke arah pelayannya.
"Tik Bwee, kau jangan berdiri saja seperti patung, cepat sediakan teh untuk tamu kita!"
Dia memberi perintah. Nona Ci tidak menyangka wanita tua ini begitu ramah kepadanya. Malah wanita itu memuji kecantikannya, tentu saja Ci Giok Hian senang sekali.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Cian-pwee. Bolehkah aku mengetahui nama besar Cian-pwee?"
Kata nona Ci dengan sopan. Wanita itu tertawa.
"Kau jangan memanggilku cian-pwee, aku bermarga Seng, anak keempat belas. Kau boleh memanggilku Seng Cap-si Kouw (Bibi Keempatbelas)."
Kata tuan ramah dengan ramah sekali.
"Biasanya hanya wanita yang tidak pernah menikah baru dia pantas dipanggil Kouw!"
Pikir nona Ci.
"Ketika dia masih muda pasti dia pernah putus cinta, dan terus hidup menyendiri di tempat ini. Dia tidak mau dipanggil cianpwee, pasti dia tidak ingin disebut wanita tua. Aku tidak boleh memanggilnya nenek."
Tak lama Tik Kek menyuguhkan teh wangi sambil meletakan lukisan yang tadi dia bawa untuk ditunjukkan kepada nona Ci, saat mereka mengundang tamunya ini untuk datang. Sesudah itu diamengundurkandiri.
"Silakan diminum tehnya,"
Kata wanita itu.
"Terima kasih,"
Kata nona Ci.
"Cap-si Kouw sungguh luar biasa, aku kagum sekali padamu!"
Seng Cap-si Kouw tersenyum.
"Nona, kau pandai bicara,"
Kata Seng Cap-si Kouw. Setelah berbincang sejenak, lalu nona Ci bertanya.
"Pada tengah malam Cap-si Kouw mengundangku, sebenarnya ada petunjuk apa untukku?"
Kata nona Ci. Seng Cap-si Kouw menunjuk ke arah lukisan yang terletak di atas meja.
"Mungkin Tik Bwee sudah menunjukan lukisan ini kepadamu?"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Justru aku ingin bertanya padamu dari mana Cap-si Kouw mendapatkan lukisan ini?"
Kata nona Ci. Sedang hati nona Ci bimbang sekali.
"Pasti Nona Han tidak ada di tempat ini,"
Pikir nona Ci.
"Lukisan ini hadiah dari Han Tay Hiong kepadaku,"
Kata wanita itu. Mendengar jawaban itu nona Ci tertegun sejenak, dia berpikir.
"Lukisan ini barang berharga milik keluarga Han dan merupakan bukti hubungan akrab antara keluarga Han dan keluarga Kok dari Yang-cou. Jika dia tidak bohong, pasti antara dia dan Han Tay Hiong ada hubungan yang sangat istimewa,"
Pikir Ci Giok Hian yang juga keheranan. Melihat sikap nona Ci yang kelihatan ragu-ragu dan sangat bimbang, Cap-si Kouw lalu berkata.
"Bukan hanya lukisan ini, bahkan semua lukisan yang ada di rumahnya, dihadiahkan kepadaku,"
Kata Cap-si-kouw.
"Jika kau berminat, aku bersedia menunjukkannya kepadamu!"
"Hm! Dia tidak mengetahui kalau aku pernah melihat semua lukisan iru!"pikirnona Ci. Kemudian dia berkata pada wanita itu.
"Wah, sungguh beruntung aku mana berani aku menolak!"
Kata nona Ci.
"Nona, kau selain cantik juga pandai ilmu sastra dan seni lukis. Sungguh menyenangkan!"
Dia angkat cawannya seraya berkata sambil tersenyum manis.
"Tehnya sudah hampir dingin, mari minum, baru kita lihat lukisan-lukisan itu!"
Kata Cap-si Kouw.
"Aku ini cuma orang biasa, tidak begitu mahir seni sastra maupun seni lukis."
Kata nona Ci sambil meneguh tehnyayangterasa agak pahit tapi harum sekali.
"Teh ini sangat istimewa,"
Memuji nona Ci tanpa sengaja.
"Secara khusus aku suruh Tik Bwee yang memetik daun teh ini,"
Kata Seng Cap-si Kouw sambil tersenyum puas.
"Tak heran kau memujinya. Bagaimana kalau kita minum secawan lagi?"
"Teh istimewa harus diminum perlahan-lahan,"
Kata nona Ci yang tahu cara minum teh.
"bagaimana kalau kita lihat dulu lukisan baru kita minum lagi?"
Wanita itu mengangguk.
"Baiklah, setelah melihat kukisan baru kita minum lagi,"
Kata Seng Cap-si Kouw. Dia mengajak nona Ci ke sebuah kamar yang segera dia buka pintunya.
"Ini kamar lukisanku. Di sini terdapat lukisan-lukisan hadiah dari Han Tay Hiong,"
Kata Cap-si Kouw.
Tadi saat Tik Bwee mendengar majikannya akan memeriksa lukisan, dia sudah segera menyalakan lentera yang ada di kamar itu, tidak heran kalau kamar itu jadi terang-benderang bagaikan di siang hari pada saat mereka memasuki kamar itu.
Kamar itu cukup besar di semua dinding kamar tergantung lukisan-lukisan yang indah.
Tapi nona Ci sudah melihat semua lukisan itu di kamar nona Han Pwee Eng dulu.
"Apa kau tidak heran, mengapa Han Tay Hiong menghadiahkan semua lukisan yang berharga ini kepadaku"
Kata Seng Cap-si Kouw. Sebenarnya nona Ci pun heran namun dia bersikap seolah biasa-biasa saja.
"Sebilah pedang pusaka dihadiahkan kepada seorang ksatria, kecantikan dimiliki oleh seorang wanita. Lukisan itu indah dan termasyur mudah didapat, tapi sulit mencari orang yang tahu isi hati orang lain. Menghadiahkan lukisan untuk mempererat persahabatan merupakan sesuatu yang wajar."
Kata Ci Giok Hian. Seng Cap-si Kouw tersenyum.
"Nona, kau pandai sekali bicara!"
Kata Seng Cap-si Kouw memuji nonaCi.
"Benar, aku dan Han Tay Hiong bisa dikatakan sahabat akrab. Tapi lukisan-lukisan ini dia hadiahkan kepadaku bukan demi mempererat persahabatan, tapi ada sebab yang lain. Nona Ci, kau ingin tahu sebabnya?"
"Aku tidak berani meminta keterangan,"
Kata Ci Giok Hian agak tersipu.
"Aku tahu hubunganmu dengan Han Pwee Eng seperti kakak beradik, aku kira jika kau kuberitahu pun tidak masalah. Dia hadiahkan semua lukisan ini kepadaku karena dia tahu dirinya dalam bahaya!"
Kata Cap-si Kouw. Mendengar keterangan itu nona Ci terkejut bukan kepalang.
"Tadi aku ke rumahnya,"
Kata nona Ci.
"Aku ke sana karena aku ingin tahu apa yang telah terjadi dengannya? Kini rumah itu telah terbakar dan banyak orang yang telah binasa. Apakah Cap-si Kouw sudah tahu tentang hal itu?"
"Sudah, aku sudah tahu, itu sebabnya malam ini aku mengundangmu ke mari,"
Kata Cap-si Kouw. Dia berhenti di depan sebuah lukisan pemandangan dan melanjutkan bicaranya.
"Han Tay Hiong punya musuh besar yang sangat lihay, orang itu ingin membalas dendam. Tiga bulan yang lalu dia sudah tahu bahwa musuh besarnya akan datang membalas dendam. Dia sadar bahwa dia tidak akan mudah bisa selamat. Oleh sebab itu dia serahkan semua lukisannya kepadaku agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Aku tidak akan menyerakahi lukisan-lukisan ini, aku hanya menolong menyimpannya saja.Kelak akan kukembalikan pada puterinya!"
Kata Cap-si Kouw.
"Jika Paman Han sudah tahu musuh besarnya akan datang membalas dendam, kenapa dia tidak siaga?"
Kata nona Ci.
"Setahuku dia mempunyai banyak sahabat pesilat tinggi. Capsi Kouw pun bisa membantu dia bukan ...."
Ucapan nona Ci dipotong oleh suara tawa getir dari wanita tua itu.
"Kau kira aku diam saja, terus-terang aku juga kenal pada musuh besar Han Tay Hiong, maka itu aku jadi tidak leluasa untuk membantu Han Tay Hiong. Ditambah lagi kepandaianku masih di bawah kepandaian musuh besarnya itu...."
Dia berhenti sejenak, kemudian dia melanjutkan lagi.
"Han Tay Hiong keras kepala, pasti kau pernah mendengar hal itu!"
Kata Cap-si Kouw.
"Dia tidak mau meminta bantuan, juga kepadaku. Dia tidak pernah mau bicara, apalagi pada orang lain. Memang benar banyak sahabatnya, tapi dari semua pesilat itu hanya beberapa orang saja yang sanggup menghadapi musuhnya itu. Misalnya Lauw Kan Lu, Hiang-cu markas cabang Kaypang di Lok-yang ini! Bukan aku sombong, menghadapi dua pelayanku itu saja dia tidak akan sanggup menghadapinya. Bahaya sudah di depan mata, tapi Han Tay Hiong tidak mau memberitahu kawan-kawannya itu. Sampai akhirnya dia tertangkap oleh musuh besarnya. Dia serahkan semua lukisannya kepadaku dan hartanya kepada 574 Lauw Kan Lu untuk dipakai oleh para pejuang. Pasti kau belum mengetahui hal itu, bukan?"
"Hm! Legalah hatiku, kalau begitu Jen Thian Ngo itu penipu basar!"
Kata nona Ci. Mendengar kata-kata nona Ci wanita itu tertegun.
"Jen Thian Ngo yang kau maksud itu paman Kok Siauw Hong?"
Kata Cap-si Kouw.
"Benar,"
Kata nona Ci senang bukan main.
"apa Cap-si Kouw juga mengetahui tentang Kok Siauw Hong?"
"Aku tahu,"
Kata Cap-si Kouw.
"Dia pendekar muda yang baru muncul di Dunia Persilatan, dia calon menantu Han Tay Hiong. Apa yang dikatakan Jen Thian Ngo kepadamu?"
Nona Ci sebenarnya hanya berniat mencari tahu tentang Kok Siauw Hong, bukan mau mencari Han Pwee Eng.
Dia ingin menanyakan tentang pemuda itu, malah wanita itu bilang Kok Siauw Hong calon menantu Han Tay Hiong.
Tak heran wajah nona ini jadi merah mendengar kata-kata Cap-si Kouw itu.
"Dia sahabat Han Tay Hiong, pasti dia akan membela nona Han Pwee Eng, aku tidak boleh menunjukan sikap tidak wajar di hadapannya,"
Pikir nona Ci. Sesudah berpikir dia menjawab pertanyaan Cap-si Kouw.
"Jen Thian Ngo bilang bahwa Han Tay Hiong itu pengkhianat, katanya dia bersekongkol dengan bangsa Mongol!"
Kata nona Ci. Seng Cap-si Kouw tampak gusar sekali.
"Dia bicara sembarangan saja, dialah yang penjahat besar, kau jangan perdulikan padanya!"
Kata Cap-si Kouw.
"Ya,"jawab Ci Giok Hian.
"Lalu bagaimana keadaan Nona Han sekarang?"
"Dia sudah pulang tapi sial dia tertangkap oleh musuh besar ayahnya. Aku baru mengetahuinya belum lama,"
Kata wanita itu. Mendengar keterangan itu nona Ci kaget.
"Dia sendirian?"
"Benar, dia sendirian!"
Jawab Cap-si Kouw.
"Hm! Kalau begitu Kok Siauw Hong tidak bersama Han Pwee Eng,"
Pikir Ci Giok Hian.
"Jen Thian Ngo benarbenar pembohong besar!"
Saat nona Ci menengadah ternyata Cap-si Kouw sedang mengawasinya. Wajah nona Ci langsung merah.
"Pwee Eng dan ayahnya dikurung di mana? Apakah Cap-si Kouw tahu tempat mereka dikurung?"
Kata nona Ci.
"Di sana di rumah batu. Pemilik rumah batu itu musuh besar Han Tay Hiong,"
Jawab Cap-si Kouw.
"Hm! Jadi Chu Kiu Sek tinggal di sana?"
Kata Ci Giok Hian.
"Benar, tapi kau cuma tahu musuh Han Tay Hiong itu cuma dia, tapi kau tidak tahu yang lainnya! Memang benar Chu Kiu Sek musuh besar Han Tay Hiong, tapi bukan musuh yang paling lihay,"
Kata Cap-si Kouw.
"Mereka pernah bertarung dengan Han Tay Hiong empat tahun yang lalu, dan Chu Kiu Sek terluka oleh serangan nona Han sehingga dia terpaksa kabur untuk mengobati lukanya. Baru kemarin Chu Kiu Sek datang ke daerah ini mencari Han Tay Hiong. Dia bertamu ke tempat pemilik rumah batu itu!"
"Kalau begitu, siapa pemilik rumah batu itu?"
Tanya nona Ci.
"Tiga puluh tahun yang lalu, di kalangan Kang-ouw muncul seorang pendekar wanita yang sangat cantik. Orang Kang-ouw menyebut wanita cantik itu dengan sebutan Bulim-te-it-bi-jin (Wanita cantik nomor satu di Rimba Persilatan). Apa kau pernah mendengar nama itu?"
Kata Cap-si Kouw. Setelah berpikir sejenak nona Ci menyahut.
"Bukankah dia yang dipanggil Soat Li Ang (Salju Merah) yang bernama Beng Cit Mo?"
Kata nona Ci.
"Saat aku masih kecil aku pernah mendengar namanya dari Ibuku dan ibu susuku."
"Mengapa mereka membicarakan tentang dia?"
Kata Cap-si Kouw.
"Ibu susuku sedang membuatkan pakaian untuk Ibuku. Ketika Ibu mengenakan pakaian itu dia kelihatan senang sekali. Tapi setelah dia berkaca, tampak Ibu tidak segembira tadi. Entah apa sebabnya Ibu bersikap begitu? Ibuku lalu menyuruh memberikan pakaian itu kepada orang lain. Alasan Ibuku, dia tidak ingin ibu susuku meniru model pakaian orang lain! Kemudian ibu susuku bilang, jika Ibuku mengenakan pakaian itu, dia akan mirip dengan Soat Li Ang Beng Cit Nio, ibu susuku bilang wanita itu adalah Bulim-te-it-bi-jin. Aku yakin ibu susuku waktu hanya ingin menghibur Ibuku saja...."
Mendadak Cap-si Kouw memotong kata-kata nona Ci.
"Ibu susumu bukan cuma untuk menghibur ibumu!"
Kata Cap-si Kouw.
"Anaknya pun begini cantik, pasti ibunya lebih cantik lagi! Nona Ci, aku kira kau lebih cantik dari 577 Soat-li-ang Beng Cit Nio. Aku yakin ibumu sangat cantik juga!"
Nona Ci menunduk dan melanjutkan bicaranya.
"Ibu bilang kenapa dia harus dibandingkan dengan Soat-liang Beng Cit Nio? Ibu menyuruh agar ibu susuku segera membawa pakaian itu untuk diberikan kepada orang lain. Diam-diam hal itu aku tanyakan pada ibu susuku, seperti siapa Soat-li-ang itu? Kenapa Ibuku tidak menyukainya? Ibu susuku bilang Soat-li-ang Beng Cit Nio seorang wanita cantik dan berilmu tinggi, tapi mendadak dia menghilang dari Dunia Persilatan. Ada yang bilang dia telah meninggal dunia, itu sebabnya Ibuku tidak ingin dibandingkan dengannya."
Kata nona Ci.
"Apa kau masih ingat kain dasar pakaian itu berwarna putih dan dihias bunga sulam berwarna merah itu?"
"Benar,"
Kata nona Ci sambil mengangguk.
"Bagaimana Cap-si Kouw bisa mengetahuinya?"
"Itu sebabnya dia bergelar Soat-li-ang Beng Cit Nio (Salju Merah),"
Kata Cap-si Kouw.
"Dia senang mengenakan pakaian seperti itu. Tapi keterangan ibu susumu itu salah, sebab sampai sekarang dia masih hidup. Dialah pemilik rumah batu itu!"
Nona Ci tersentak kaget.
"Jadi dia juga musuh besar Paman Han?"
"Benar,"
Jawab Cap-si Kouw.
"Dia sebenarnya adik misanku!"
Baru nona Ci sadar.
"Pantas dia bilang dia tidak leluasa untuk membantu Paman Han, ternyata mereka bersaudara!"
Pikir nona Ci.
"Aku ingat pada sebuah pepatah yang berbunyi begini "Nasib wanita cantik selalu malang", aku kira pepatah itu memang ada benarnya,"
Melanjutkan Cap-si Kouw.
"Sekalipun adik misanku itu tidak pendek umur, namun hatinya telah mati ..."
Nona Ci mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Saat masih muda, adik misanku ini pernah jatuh cmta kepada seseorang, tetapi pria itu tidak begitu menyukai dia. Malah pria itu sudah mempunyai isteri orang lain yang tidak secantik dia! Betapa geram dan marahnya adikmisanku pada pria itu. Sejak itu dia hidup menyendiri di atas gunung, dan tidak pernah muncul di kalangan Kangouw lagi!"
Kata Cap-si Kouw. Mendadak nona Ci ingat sesuatu.
"Apakah lelaki yang dicintainya itu Paman Han?"
Kata Ci Giok Hian.
"Kau benar,"
Kata Cap-si Kouw.
"Kemudian Beng Cit Nio berubah jadi aneh sekali. Malah dia bersumpah akan menangkap Han Tay Hiong, dan menyiksanya secara perlahan-lahan. Padahal Han Tay Hiong masih punya dua musuh yang lain. Mereka bergabung dengan adik-misanku. Kemudian rumah Han Tay Hiong mereka musnahkan, dan mereka menangkap Han Tay Hiong. Dua musuh Han Tay Hiong itu adalah Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya. Dahi nona Ci berkerut.
"Dia ingin menyiksa Paman Han, itu urusan dia,"
Kata Ci Giok Hian.
"Tapi mengapa dia begitu kejam dan membunuh semua pelayan yang ada di rumah Paman Han?"
"Itu bukan adik-misanku yang melakukannya,"
Kata Capsi Kouw.
"Lalu perbuatan siapa?"
Tanya nona Ci.
"Itu perbuatan See-bun Souw Ya!"
Kata Cap-si Kouw.
"Siapa sebenarnya See-bun Souw Ya itu?"
Tanya nona Ci.
"Dia penjahat besar yang tinggal di daerah Kwan-gwa,"
Jawab Cap-si Kouw.
"Dia belum lama muncul di kalangan Kang-ouw. Belasan tahun yang lalu, aku juga tidak tahu bagaimana caranya dia bisa memperoleh ilmu pukulan beracun peninggalan Kong-sun Khie. Dia berhasil menguasai ilmu Hua-hiat-to, ilmu milik keluarga Suang. Aku kira kepandaian See-bun Souw Ya masih di bawah kepadaian Chu Kiu Sek, tapi dia ingin menjadi Bu-limbeng-cu (Ketua Dunia Persilatan). Untuk maksud itu orang pertama yang dia hadapi adalah Han Tay Hiong."
Mendengar keterangan itu nona Ci kaget.
"Jika demikian keadaan Han Tay Hiong dan Nona Han dalam bahaya?"
Kata nona Ci.
"Karena ada adik-misanku, kedua Iblis Tua itu tidak berani mencelakai mereka!"
Kata Cap-si Kouw.
"Aku yakin adik misanku tidak ingin membunuh Han Tay Hiong, tapi nona Han terseret ke tempat itu, dia akan mengalami siksaan!"
"Menghadapi Chu Kiu Sek saja sudah sulit bukan main,"
Pikir nona Ci.
"Ditambah lagi harus menghadapi Soat-li-ang yang kepandaianya lebih tinggi lagi. Di sana juga ada See-bun Souw Ya. Sekalipun dibantu oleh ketua Kay-pang, sulit rasanya untuk menyelamatkan Paman Han?"
"Jadi harus bagaimana baiknya?"
Kata nona Ci bingung.
"Aku dengar kau baik pada nona Han, dan dia calon isteri Kok Siauw Hong, apa kau masih ingin menyelamatkan dia?"
Kata Cap-si Kouw sambil mengawasi ke arah nona Ci. Wajah nona Ci berubah merah. Dia yakin Cap-si Kouw sudah tahu tentang masalah dia dengan nona Han.
"Aku dengan Nona Han seperti kakak beradik, jika aku bisa menolongi dia, menempuh bahayapun aku tidak peduli. Tapi kepandaianku masih rendah, apa Cap-si Kouw bersedia membantuku?"
Kata nona Ci. Cap-si Kouw tersenyum mendengar jawaban itu.
"Baiklah, aku tahu sekarang hatimu telah bulat. Semua gampang diurus,"
Kata Cap-si Kouw.
"Oh, terima kasih,"
Kata nona Ci.
"Hm! Kau salah mengerti mengenai maksudku,"
Kata Cap-si Kouw.
"Sejak pertama sudah aku katakan, aku tidak leluasa membantu menolongi Paman Hanmu itu. Selain ada adikmisanku, ditambah lagi ilmu silatkupun masih rendah!"
Nona Ci tersentak kaget mendengar jawaban itu.
"Tapi tadi kau bilang semua "gampang diurus"? Apa yang gampang diurus itu?"
Kata nona Ci.
"Kau wanita yang banyak akalnya, aku tahu itu!"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Aku? Oh. mana mungkin, coba kaujelaskan padaku?"
Kata nona Ci.
"Han Tay Hiong terluka sudah empat tahun yang lalu, dia agak lumpuh. Itu sudah kau ketahui, bukan?"
Kata Seng Capsi Kouw. Nona Ci mengangguk.
"Karena luka Han Tay Hiong belum pulih, ditambah lagi dia juga terserang oleh pukulan Hua-hiat-to, maka dia bisa tertangkap oleh musuih-musuhnya. Jika Han Tay Hiong dalam keadaan sehat, bagaimana pun lihaynya mereka, aku yakin mereka bukan tandingan Han Tay Hiong yang lihay. Kau mengerti maksudku?"
Kata Cap-si Kouw. Nona Ci berpikir sejenak.
"Kalau begitu kita harus menyembuhkan Han Tay Hiong lebih dulu?"
Kata nona Ci.
"Kau benar, jika kau ingin menyelamatkan mereka, kau harus menyembuhkan Han Tay Hiong dulu. Tapi ingat! Ini harus kau lakukan tanpa sepengetahuan orang-orang yang ada di rumah batu itu!"
Kata Cap-si Kouw.
"Maksudmu aku harus menolongi Paman Han dulu agar dia bisa lolos dari kamar tahanannya?"
Kata bona Ci.
"Benar!"
Kata Cap-si kouw.
Orang yang ada di rumah batu itu mengira Han Tay Hiong terluka parah.
Aku yakin mereka menganggap Han Tay Hiong tidak mungkin bisa lolos atau meloloskan diri dari tangan mereka.
Aku yakin mereka juga tidak akan menjaga dan mengawasinya dengan ketat.
Setahuku yang menjaga Han Tay Hiong hanya murid See-bun Souw Ya saja.
Dalam keadaan sakitpun Han Tay Hiong bisamengalahkan mereka dengan hanya sekali pukul.
Tapi jika Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya bergabung, maka Han Tay Hiong pasti bisa dikalahkannya.
Apalagi jika adik-misanku datang dan begabung dengan mereka, itu lebih celaka lagi!
Aku kira tidak mungkin hal itu bisa kebetulan terjadi dan mereka bisa berkumpul bertiga.
Pada saat yang paling tepat untuk kabur adalah malam hari.
Aku yakin itu akan berhasil..."
Kata Cap-si Kouw.
"Jika aku berhasil membawa kabur Paman Han, bagaimana aku bisa menyembuhkan lukanya?"
Kata nona Ci.
"Aku dengar kau punya arak obat istimewa, kenapa kau masih bertanya padaku?"
Kata Cap-si Kouw.
"Hm! Orang ini ternyata tahu banyak tentang sesuatu..."
Pikir nona Ci sambil tersenyum getir..
"Benar, arak Kiu-thian-sun-yang-pek-hoa-ciu bisa menyembuhkan luka Paman Han. Aku membawa arak itu untuk Paman Han, tapi di tengah jalan arak itu telah dicuri orang. Sungguh memalukan sekali. Sayangnya aku juga tidak tahu asal-usul pencuri arakku itu?"
Kata nona Ci dengan sangat menyesal.
"Tapi aku tahu, mereka sepasang muda-mudi, satu pria dan yang satunya seorang nona,"
Kata Cap-si Kouw.
"Pemuda itu bersenjata payung, mirip pemuda desa. Sedang si nona sangat cantik, kedua matanya jeli. Iya, kan?"
"Kau benar, mereka yang mencuri arakku di penginapan itu. Tapi keduanya pemuda!"
Kata nona CI.
"Kau salah lihat!"
Kata Cap-si Kouw.
"Yang seorang lagi seorang nona yang menyamar dan berpakaian pria. Kau tertipu oleh mereka!"
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya begitu jelas?"
Kata nona Ci.
"Mereka pun ingin ke rumah keluarga Han. Mereka tiba lebih dulu dari kalian, tapi ketahuan oleh Soat-li-ang Beng Cit Nio. Adik-misanku itu merebut arak itu,"
Kata Cap-si Kouw. Nona Ci tercengang.
"Mereka berdua juga ke rumah keluarga Han? "Benar, adik-misanku sudah menyelidiki asal-usul mereka. Yang pria putera Kong-sun Khie, sedang si nonaputeri Kiong Cauw Bun atau majikan pulau Hek-hongto. Tapi apa maksud mereka ke rumah Han Tay Hiong itu yang aku tak tahu."
Kata Cap-si Kouw.
"Arak obat itu sekarang ada di tangan Soat-li-ang Beng Cit Nio, padahal dia musuh Han Tay Hiong, lalu bagaimana akal kita sekarang?"
Kata nona Ci.
"Aku punya ide bagus dan bisa mengantarkan arak obat itu pada Han Tay Hiong. Akan tetapi, kau harus menempuh sedikit bahaya, bagaimana?"
Kata Cap-si Kouw.
"Itu tidak masalah, asal Han Tay Hiong dan puterinya bisa selamat Tapi akal bagaimana?"
Kata nona Ci. Saat mereka sedang berunding, Tik Bwee muncul menemui Cap-si Kouw.
"Siauw-ya (Tuan muda) datang!"
Kata Tik Bwee Bersama Tik Bwee datang mengahdap seorang pemuda, usia pemuda itu sekitar 35 tahun, wajahnya kelihatan dekil, itu tandanya dia baru saja melakukan perjalanan yang jauh.
"Kouw-kouw (Bibi),"
Kata pemuda itu pada Cap-si Kouw.
"Ah, aku kira siapa?"
Kata Cap-si Kouw.
"Kau sudah kembali, kok sampai begini malam kau baru pulang? Kebetulan aku sedang ada tamu, apa Tik Bwee tidak memberitahumu?"
"Hamba ingin memberitahu Tuan-muda, bahwa majikan sedang ada urusan dengan tamunya dan aku mau minta agar Tuan-muda besok saja menemuimu,"
Kata Tik Bwee.
"Tapi Siauw-ya baru datang dari tempat yang jauh, pasti 584 sangat rindu padamu. Jangan salahkan Siauw-ya, akulah yang lancang mengizinkannya dia masuk! "Benar, di sepanjang jalan aku selalu ingat pada Kouwkouw, dan aku pikir tamu Kouw-kouw itu bukan orang luar, maka aku memaksa masuk. Nona ini adalah...."
"Kau salah!"
Kata Cap-si Kouw.
"Nona ini adalah Nona Ci Giok Hian. Dia baru aku kenal, tapi aku sudah merasa cocok dengannya."
Pemuda itu tertawa.
"Kalau begitu aku tidak begitu keliru,"
Kata pemuda itu.
"Nona, kau tidak merasa kesal karena aku mengganggu pembicaraan kalian berdua"
"Jangan bilang begitu,"
Kata nona Ci.
"Malah akulah yang mengganggu kalian, sepantasnya akulah yang harus minta maaf kepadamu."
"Nona kau tidak perlu sungkan, kita semua orang Rimba Persilatan, kita tidak pernah membedakan pria dan wanita dalam pergaulan. Duduklah aku akan memperkenalkan kalian berdua,"
Kata Cap-si Kouw. Sikap pemuda itu sangat sopan.
"Ini keponakanku, namanya Liong Sen, dia murid liat Pit Su-seng (Pelajar berpena besi), ketua Rimba Persilatan dari wilayah Kang-lam. Sudah lima tahun dia berguru dan tidak pernah pulang. Baru malam ini dia pulang dan kebetulan kalian bertemu di sini!"
Kata Cap-si Kouw. Nona Ci memang pernah mendengar nama Tiat-pit-suseng Bun Ek Hoan. Ketika tahu pemuda itu muridnya dia jadi kagum sekali pada pemuda itu.
"Nama gurumu pernah aku dengar,"
Kata nona Ci. Seng Liong Sen tertawa.
"Memang guruku yang terkenal, tapi aku belum apaapa,"
Kata Seng Liong Sen.
"Bukan aku ingin membanggakan keponakanku, sekalipun masih ada kakak seperguruannya, tapi gurunya sangat sayang pada keponakanku ini,"
Kata Cap-si Kouw.
"Eh, Liong Sen, aku dengar gurumu telah memilih pengganti dia sebagai Ciangbun-jin (Akhli waris ketua partai), benarkah begitu"
"Oh, cepat sekali khabar itu sampai pada Kouw-kouw,"
Kata Seng Liong Sen.
"Memang benar begitu. Aku ingin menolak jabatan itu, tapi guruku sangat sayang kepadaku. Ia...."
Sebelum habis kata-katanya, Cap-si Kouw sudah memotong.
"Kau perlu rendah hati, tapi jangan keterlaluan hingga kelihatan jadi tidak wajar. Kau sudah diangkat jadi Ciang-bunjin, tapi kenapa kau masih punya waktu untuk datang ke mari?"
Kata bibinya.
"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Bibi, aku kangen sekali. Tapi Kouw-kouw masih kelihatan muda, lho!"
Kata sang keponakan sambil tersenyum.
"Mulutmu sungguh manis, kau bilang kau rindu padaku, tapi selama lima tahun kau tidak pernah mengirim khabar pada Kouw-kouw,"
Kata Cap-si Kouw.
"Katakan terusterang, apa maksudmu kali ini kau pulang?"
"Bibi benar, coba Bibi terka apa maksudku?"
Kata Liong Sen.
"Kau pandai memujiku, baik akan kuterka,"
Kata Cap-si Kouw.
"Kali ini kau pulang pasti karena masalah negara, bukan?"
"Bibi benar, aku pulang karena aku dengar tentara Mongol sudah menyerang ke Tiong-goan! Kata Suhu ambisi tentara Monglol besar sekali, mereka ingin menduduki Tiong-goan! Selain ingin mengalahkan bangsa Kim. Juga ingin merebut Kerajaan Song. Sekalipun Kerajaan Kim dan kerajaan Song terpisah oleh sungai Tiang-kang, tapi rakyat tetap bersatu. Aku pulang karena diutus oleh Suhu untuk menemui Bu-Limbeng-cu bagian Utara maksudnya untuk melawan bangsa Mongol!"
Kata Liong Sen.
"Pasti gurumu percaya padamu. Tapi mengapa kau masih punya waktu untuk pulang? Apa itu bukan berarti kau melalaikan tugas yang penting?"
Kata bibinya.
"Aku baru dari Kim-kee-leng menemui Hong-lai-mo-li. Aku ke sini hendak mencari Liok Pang-cu dari cabang Kaypang Lok-yang. Tapi kemarin pintu kota tidak dibuka,"
Kata Liong Sen.
"Kenapa pintu kota tidak dibuka?"
Kata bibinya.
"Aku dengar karena tentara Mongol sudah sampai di kota Hoan-sui, ditambah lagi pengungsi yang berdatangan ke Lokyang terlalu banyak. Pejabat setempat takut mereka akan kekurangan makanan, lalu dia melarang para pengungsi masuk ke dalam kota. Kebetulan aku bertemu dengan seorang anggota Kay-pang, kata dia, Liok Pang-cu sudah tidak ada di Lok-yang dia sedang ada urusan penting. Katanya dua hari lagi dia sudah akan pulang. Aku dengar tentara Mongol berhenti dulu di kota Hoan-sui dan belum ada tanda-tandanya mereka akan menyerang ke arah Selatan. Aku dengar Hiangcu Partai Pengemis berunding dengan pejabat kota dan terpaksa mereka mengizinkan para pengungsi memasuki kota. Maka aku menyempatkan diri datang menemui Bibi."
"Oh, keadaan jadi semakin gawat saja, sudah lama aku hidup menyendiri. Urusan negara aku sudah tidak peduli dan masabodoh. Aku pikir asal mereka tidak mengacau ke mari, sudahlah,"
Kata Cap-si Kouw. Dia menoleh ke arah keponakannya.
"Sudah lima tahun kau belajar, pasti kung-fumu sekarang sudah tinggi sekali. Bagaimana pelajaran pedang dariku?"
Kata sang bibi.
"Kata Suhu ilmu pedang Kouw-kouw hebat sekali,"
Kata keponakannya.
"Mana boleh dia bilang begitu, ilmu pit besi gurumu sangat terkenal,"
Kata bibinya.
"Aku kira Suhuku lihay sekali dalam hal ilmu totok jalan darah dan tanpa tanding, tapi dalam hal ilmu pedang dia tidak akan mampu menyamai ilmu pedang Kouw-kouw,"
Kata Seng Liong Sen.
"Oleh karena itu aku tetap memakai pedang, tidak menggunakan pit besi!"
Pit nama alat tulis bangsa Tionghoa, dan ditemukan pada zaman Kaisar Cin Sie Ong berluasa, ditemukan oleh salah seorang jenderalnya yang diperintahkan mengawasi pembangunan Ban-li-tiang-shia (Tembok Besar), namun pit yang dimaksud di sini pit yang terbuat dari besi dan bisa digunakan untuk menotok jalan darah lawan.
Nona Ci sedang mendengarkan pembicaraan mereka dengan penuh perhatian.
Maka tanpa sadar nona Ci menyela ikut bicara.
"Gurumu hebat, dengan pit besi dia bisa dia gunakan seperti sebilah pedang!"
Kata nona Ci.
"Kata Guruku, senjata apapun harus bisa kita gunakan, jangan terpaku hanya dari satu senjata saja,"
Kata Liong Sen.
"Selamat, selamat,"
Kata Cap-si Kouw sambil tertawa.
"Mengapa Kouw-kouw memberi selamat padaku?"
Kata Seng Liong Sen.
"Kau masih muda, tapi kau sangat berbakat dan cerdas sehingga kau bisa menggabungkan ilmu pit gurumu dengan ilmu pedang keluarga kita,"
Kata Cap-si Kouw.
"Jelas kau akan mampu menciptakan jurus-jurus baru, iyakan?"
"Ah, Kouw-kouw terlalu memujiku. Mana mungkin aku bisa menciptakan jurus baru. Ucapan Bibi ini hanya akan jadi buah tertawaan saja!"
Kata Seng Liong Sen yang wajahnya pun merah karena malu.
"Eh, bagaimana kau ini? Tadi kau bilang Nona Ci bukan orang luar?"
Kata bibinya sambil tersenyum. Ucapan Cap-si Kouw itu membuat nona Ci heran dan jadi tertegun.
"Eh, apa maksud dia berkata begitu?"
Pikir nona Ci.
"padahal dia sudah tahu hubunganku dengan Kok Siauw Hong, ah tidak pantas dia bergurau membawa-bawa namaku?"
Seng Liong Sen jadi tidak enak hati, lalu dia alihkan pembicaraannya.
"Bi, aku ingin minta pentunjuk pada Bibi,"
Kata Liong Sen.
"Tentang apa?"
Tanya bibinya.
"Tentang sebuah jurus pedang,"
Jawab si anak muda.
"Jika kita bertemu dengan pesilat tinggi yang menggunakan Kimkong-ciang (Pukulan Arhat dan dia menyerangku dengan jurus Lian-pek-sam-koan (Pukulan beruntun tiga kali berturut-turut). Menurut Bibi bagaimana menghadapinya? Ketika itu aku pikir aku akan 589 menggunakan jurus Tiang-ho-Iok-jit (Matahari tenggelam dalam sungai), salah satu jurus ilmu pedang, lalu aku gabung dengan Tit-ci-thian-lam (Menunjuk ke arah langit selatan), ilmu pit guruku. Tetapi guruku bilang melawan musuh dengan cara demikian kurang tepat! Suhu bilang bicara soal ilmu pedang, ilmu pedang keluarga Ci dari Pekhoa-koklah yang paling lincah dan gesit. Jurus Yu-hong-hi-tiap (Kumbang terbang mempermainkan kupu-kupu) milik keluarga Ci cocok digabung dengan jurus ciptaanku itu!"
"Nona Ci ahli warisnya, kenapa kau tidak minta diajari padanya?"
Kata sang bibi. Wajah Ci Giok Hian berubah merah.
"Cap-si Kouw bergurau, aku belum mahir ilmu pedang itu, mana pantas aku memberi petunjuk pada Seng Siauwhiap?"
Kata nona Ci agak tersipu.
"Dalam sepuluh langkah pasti terdapat rumput yang hijau, dari tiga orang yang berjalan bersama, pasti ada guru yang pandai! Aku mohon Nona Ci bersedia memberi sedikit petunjuk,"
Kata Seng Liong Sen Kelihatan pemuda itu bersungguh-sungguh.
"Dia benar, sesama kaum Rimba Persilatan yang sehaluan, jika saling memberi petunjuk, aku kira tidak masalah,"
Kata Cap-si Kouw sambil tersenyum.
"Jika permintaannya aku tolak, aku takut Cap-si Kouw akan kehilangan muka,"
Pikir nona Ci. Tiba-tiba wanita tua itu berpaling pada Seng Liong Sen.
"Kau sudah ke tempat Paiuw-kouwmu atau belum?"
Tanya Cap-si Kouw. Piauw-kouw artinya bibi-misan.
"Aku tidak punya waktu untuk menemuinya, Bi,"
Kata Liong Sen.
"Tadi saat aku lewat di depan rumahnya, aku bertemu seseorang. Mungkin mereka tamu bibi-misanku. Orang-orang itu tidak tahu sopan-santun. Begitu bertemu dengan dia, dia langsung menanyakan asal-usulku dan orang itu melarang aku lewat! Aku tidak tahu dia tamu bibi-misan, aku bertarung dengannya. Kugunakan jurus yang aku katakan pada Bibi tadi, tapi nyaris aku dikalahkannya. Untung salah seorang pelayan bibi-misan keluar. Dialah yang memberi penjelasan bahwa aku keponakan bibi-misanku. Baru dia minta maaf kepadaku."
Seng Cap-si Kouw tersenyum.
"Hm! Pantas kau sangat bernapsu minta petunjuk dari Nona Ci,"
Kata Cap-si Kouw.
"Apa orang yang bertarung denganmu itu pria tua berwajah merah?"
"Benar,"
Jawab anak muda itu.
"Dia bernama See-bun Souw Ya. salah satu iblis tua. Kau bertarung dengannya tanpa terluka itu sudah kuar biasa. Selanjutnya kau jangan berurusan dengannya!"
Kata sang bibi.
"Kenapa Piauw-kouw mengundang mereka ke rumahnya?"
Kata Seng Liong Sen heran sekali. -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 22 Melihat keponakannya kebingungan, Cap-si Kouw tertawa. Kemudian dia memberi penjelasan kepada pemuda itu dengan sabar.
"Jika aku ceritakan semua, ceritanya panjang sekali,"
Kata Cap-si Kouw.
"Besok kau masih di sini, kan?"
Ucapan bibinya itu langsung mendapat tanggapan dari pemuda ini. Dia memang cerdas, dan dia juga tahu apa maksud bibinya itu.
"Ya, Bi. Aku lupa Bibi masih punya tamu, baik aku akan menunggu sampai Bibi menceritakannya kepadaku,"
Kata Seng Liong Sen.
"Kau kelihatan lelah sekali, sebaiknya kau istirahat saja dulu,"
Kata bibinya. Cap-si Kouw mengawasi pemuda yang langsung mohon diri itu. Kemudian dia menoleh ke arah Ci Giok Hian sambil berkata.
"Kau juga harus istirahat, Nona Ci. Besok kalau kau mau aku mau menemanimu jalan-jalan, boleh kan?"
Kata Seng Liong Sen pada Ci Giok Hian.
"Mungkin besok kau tidak akan bertemu lagi dengannya,"
Kata Cap-si Kouw sambil tertawa. Pemuda itu tertegun mendengar ucapan bibinya itu.
"Jadi besok Nona Ci sudah akan pergi? Kalau begitu biar aku yang mengantarkanmu."
Kata pemuda itui.
Nona Ci jadi bingung.
Dia tidak bisa menjawab pertanyaan pemuda itu yang terus mendesaknya.
Tapi untung Cap-si Kouw menyela "Lain kali kalian masih punya kesempatan untuk bertemu lagi,"
Kata Cap-si Kouw.
"Nona Ci tidak ingin hubungannya dengan kita diketahui oleh tamu piauw-kouwmu itu, jadi kau tidak perlu mengantarkan dia."
Pemuda itu tampak kecewa mendengar keterangan itu.
"Kalau begitu mudah-mudahan kelak kita bisa bertemu lagi!"
Kata dia berharap. Setelah pemuda itu mengundurkan diri Cap-si Kouw segera menuang teh untuk nona Ci.
"Tak terasa malam pun sudah larut, ayo minum tehnya dulu! Kelihatannya kau sudah mengantuk, ya?"
Kata Cap-si Kouw.
"Tak begitu ngantuk,"
Kata nona Ci.
"Aku juga sudah terbiasa di rumah selalu tidur sudah larut malam."
"Hm! Kedatangan Liong Sen telah memutuskan pembicaraan kita, oh ya tadi kita bicara sampai di mana?"
Kata wanita itu setelah meneguk tehnya.
"Kau bilang kau punya ide dan bisa mengantarkan arak obat ke tangan Paman Han,"
Jawab nona Ci.
"Ya, tapi ada syaratnya. Asal kau bersedia menempuh bahaya dan kau bersedia merendahkan diri,"
Kata Seng Capsi Kouw.
"Sudah kubilang walau aku harus menempuh lautan api, aku bersedia,"
Jawab nona Ci tanpa pikir panjang lagi.
"Bagus, kau harus mau seolah menjadi pelayanku,"
Kata Cap-si Kouw.
"Aku akan menyuruh pembantuku mengantarmu ke rumah batu itu."
Kelihatan nona Ci jadi agak ragu-ragu. Melihat sikap nona itu Cap-si Kouw bicara lagi.
"Aku tahu ide ini sangat keterlaluan,"
Kata Cap Si Kouw.
"Tidak! Tidak!"
Kata nona Ci.
"Aku tidak merasa direndahkan. Malah aku girang jika bisa jadi pelayanmu. Namun.... kebetulan beberapa hari yang lalu, aku telah bertemu dengan Chu Kiu Sek. Padahal iblis tua itu ada di rumah batu itu. Apa dia tidak akan mengenaliku?"
Cap-si Kouw manggut-manggut.
"Oh begitu! Itu tidak jadi masalah, aku punya obat yang bisa mengubah wajahmu. Setelah kau memakainya kau pun tidak akan mengenali dirimu sendiri,"
Kata Cap-si Kouw.
"Baik, semua terserah pada Cap-si Kouw saja!"
Jawab nona Ci heran dan kagum.
"Ceritanya begini,"kata Cap-si Kouw.
"Beberapa tahun yang lalu Soat-li-ang Beng Cit Nio meminta kepadaku agar aku mencarikan seorang nona pelayan yang mengerti sastra dan seni lukis. Dia bilang untuk menemaninya. Aku yakin kau mampu mengerjakan semua itu! Aku kira arak obat yang dirampas oleh Soat-li-ang itu akan dia simpan, aku yakin tidak akan dia buang."
"Ya, kau benar,"
Kata nona Ci.
"Jika akan dia buang arak itu mengapa dia harus bersusah-payah merebutnya dari kami, saat itu dengan mudah dia bisa menghancurkan guci arak itu! Aku heran, kenapa dia merebut arak obat itu?"
"Kau belum mengerti semua maksudnya, mengapa aku menyuruhmu untuk mencuri arak itu, kan? Aku yakin Soat-liang mencuri arak itu karena dia tahu arak itu akan diberikan kepada Han Tay Hiong."
Kata Cap-si Kouw.
"Apa kau takut menempuh bahaya jika kau ke sana?"
"Bukan aku takut menempuh bahaya,"
Kata nona Ci.
"harap kau tidak salah mengerti."
"Aku tahu hal itu,"
Kata Cap-si Kouw.
"Maka itu kumanfaatkan kau untuk menjalankan ideku itu!"
"Tolong Cap-si Kouw jelaskan!"
Kata nona Ci.
"Saat ini Han Tay Hiong dikurung di rumah batu,"
Kata Cap-si Kouw.
"Karena cintanya hingga dia jadi benci kepada Han Tay Hiong. Tapi dia tidak ingin Han Tay Hiong mati, 594 malah dia berharap Han Tay Hiong mau tunduk kepadanya...."
Nona Ci mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aku rasa kau sudah tahu sifat Han Tay Hiong, bukan? Dia pria yang keras kepala. Dia merasa terhina karena tertangkap hidup oleh Soat-li-ang, jangankan dia mau tunduk, apalagi jika Soat-li-ang menyuruh dia minum arak obat itu. Tanpa syaratpun aku yakin dia akan menolaknya!"
Kata Cap-si Kouw. Nona Ci sadar setelah mendengar penjelasan itu.
"Oh, jadi Cap-si Kouw bukan hanya agar aku mencuri arak obat itu, tapi juga dia ingin agar aku bisa membujuk Paman Han supaya mau minum arak itu?"
Pikir nona Ci.
"Jika kau jadi pelayan adik-misanku, atas dasar kecerdasanmu itu aku yakin kau bisa membujuk adikmisanku, dan kau bisa mencuri arak obat itu!"
Kata Cap-si Kouw.
"Kau benar, membujuk Paman Han minum arak itu aku rasa lebih sulit dibandingkan mencurinya,"
Katanona Ci.
"Untung hubunganmu dengan puteri Han Tay Hiong sangat baik. Aku yakin dia tidak akan mencurigaimu Dia pria keras kepala dan tidak mau menerima budi baik dari musuhnya. Setelah kau mencuri arak obat itu, kau jelaskan kepadanya dan bujuk dia agar dia mau meminumnya. Aku yakin itu tidak terlalu sulit!"
Kata Cap-si Kouw.
"Hm! Aku malah tidak tahu apakah ayah dan anaknya itu membenciku atau tidak? Tapi tidak ada salahnya cara ini akan aku coba,"
Pikir nona Ci. Setelah itu dia berkata lagi.
"Aku bersedia menempuh bahaya itu, tapi Paman Han bukan hanya terluka oleh Sui-lo-im-sat-kang, tapi dia juga terluka oleh Hua-hiat-to..."
Kata nona Ci.
"Luka pukulan ilmu Hua-hiat-to memang ganas, tapi lebih mudah diobati,"
Kata Cap-si Kouw.
"Aku punya sebungkus obat untuk luka itu. Han Tay Hiong memiliki lweee-kang yang tinggi, aku yakin dia bisa segera sembuh dengan cepat. Sebaiknya obat itu dicampur dengan arak obat itu!"
"Ide yang bagus, mudah-mudahan aku tidak mengecewakanmu,"
Kata nona Ci.
"Semoga kau berhasil, sekarang tidurlah,"
Kata Seng Cap-si Kouw sambil tersenyum. Setelah Seng Cap-si Kouwe bertepuk tangan maka muncullah Tik Bwee menemui mereka.
"Ajak Nona Ci ke kamarnya!"
Kata Cap-si Kouw.
Kamar tidur tamu itu cukup bersih sekalipun sangat sederhana.
Semua perabot di kamar itu terbuat dari bambu, di meja bambu terdapat pendupaan yang terpasang apinya dan asapnya menebarkan aroma harum di ruangan itu.
Sampai di kamar itu Tik Bwee menunjuk ke sebuah botol hijau.
"Itu obat kulit untukmu, sebelum kau tidur sebaiknya kau pakai dulu,"
Kata Tik Bwee. Nona Ci manggut, lalu berkata.
"Kak Bwee, apa kau yang akan mengantar aku ke sana?"
Kata nona Ci.
"Aku tidak tahu, majikan belum memberi perintah. Entah aku atau Tik Kek yang akan mengantarkan Nona Ci ke sana."
Jawab Tik Bwee. Nona Ci tersenyum.
"Beng Cit Nio meminta pada majikanmu agar kau melayani dia di sana, kan?"
Kata Nona Ci.
"Dari mana kau tahu tentang itu. Nona Ci?"
Kata Tik Bwee agak terkejut.
"Dari nada bicaramu! Aku tidak tahu atau tidak, tapi aku menduga kau pernah menolak permintaannya, ya kan?"
Kata nona Ci Giok Hian sambil tersenyum manis.
"Kau cerdas sekali, Nona,"
Kata Tik Bwee.
"Benar aku tidak mau berkerja di sana. Ditambah lagi majikanku tidak sampai hati melepaskan aku ke sana."
"Oh, jadi begitu?"
Kata nona Ci. Tik Bwee membereskan tempat tidur bambu untuk nona Ci.
"Ini tempat tidurmu, aku harap kau tidak merasa kecewa. Oh ya, di ranjang ada pakaian tidurmu. Tapi aku mohon maaf, aku tidak bisa melayanimu,"
Kata Tik Bwee.
"Terima kasih atas perhatianmu,"
Kata nona Ci.
"Kau cerdas dan cantik, orang yang melihatmu pasti menyukaimu!"
"Kau terlalu memujiku, Nona Ci. Terima kasih aku tidak pantas menerimanya,"
Kata Tik Bwee sambil tersenyum manis.
Kemudian pelayan itu pamit.
Setelah Tik Bwee pergi nona Ci mengawasi pendupaan sambil termenung.
Dia sedang memikirkan kehidupan manusia yang sulit diduga Contohnya Han Tay Hiong, dia berilmu tinggi dan gagah.
Malah rumahnya habis terbakar, pelayannya semua binasa.
Pertemuan dia dengan Cap-si Kouw pun sungguh di luar dugaan sekali.
"Cap-si Kouw berhati lembut dan hangat. Sungguh sulit dicari orang seperti dia?"
Pikir nona Ci.
"Tadi saat dia bicara dengan Seng Liong Sen, dia bicara dengan maksud tertentu, itu membuat aku jadi serba salah."
Begitu nona Ci melamun. Kemudian dia berpikir lagi.
"Dia sahabat Han Tay Hiong, dia tahu hubunganku dengan Kok Siauw Hong. Aku kira wajar kalau dia agak keberatan aku merebut kekasih puteri sahabatnya itu! Jika ditilik dari sudut orang-orang tua, jelas aku yang bersalah! Mungkin dia pikir untuk memecahkan masalah kami itu, maka dia mencoba mencarikan pemuda lain sebagai pengganti calon menantu Han Tay Hiong itu. Hm! Tapi kau tidak mengetahui cintaku pada Kok Siauw Hong sudah dalam sekali. Sekalipun keponakanmu itu lebih baik dari Kok Siauw Hong, hatiku tidak akan berubah!"
Begitu Ci Giok Hian berpikir. Setelah menghela napas panjang nona Ci kembali melamun.
"Aku tidak peduli semua itu, tapi aku khawatir Han Pwee Eng mencurigaiku? Ah, biar aku tetap akan mencobanya."
Pikir nona Ci.
Dia memandang ke arah jendela, dia lihat rembulan sudah hampir tenggelam.
Itu tandanya hari sudah lewat tengah malam.
Buru-buru dia olesi wajahnya dengan obat yang ada di botol hijau itu.
Dia berganti pakaian dan naik ke pembaringam.
Tapi dia tidak bisa tidur sampai akhirnya fajar pun menyingsing.
Tik Bwee masuk ke kamar itu.
"Selamat pagi!"
Kata Tik Bwee.
"Pagi,"
Jawab nona Ci. Tik Bwee tersenyum "Pagi sekali kau sudah bangun, aku kira kau masih tidur? Tadi majikanku bilang, akulah yang harus mengantarkanmu, Nona Ci!"
Kata Tik Bwee.
Ci Giok Hian tersenyum, dia tahu apa maksud Tik Bwee.
Dialah yang akan mengantarkan nona Ci ke rumah batu untuk menemui Soat-li-ang Beng Cit Nio.
Nona Ci tahu tugas itu tidak disukai oleh nona Tik ini.
Maka itu dia langsung berkata dengan manis.
"Semalaman aku telah menyusahkanmu, pagi ini kau juga yang bertugas untuk mengantarkan aku. Sungguh aku tidak enak hati dan jadi merepotkanmu. Aku tahu kau tidak menyukai tugas ini,"
Kata nona Ci. Tik Bwe tersenyum.
"Nona Ci kau baik sekali dan kau tidak menganggap aku ini seorang pelayan, tapi kau anggap aku seperti sahabatmu. Sekalipun aku tidak suka pada Soat-li-ang, tapi aku senang bersahabat denganmu. Kau jangan sungkan, biar aku yang menyisiri rambutmu!"
Kata Tik Bwee.
"Kau sangat pandai bicara,"
Kata nona Ci sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak mau merepotkanmu."
Diamembuka lemari dan mengeluarkan sebuah cermin terbuat dari tembaga mengkilap, lalu dia sodorkan ke hadapan nona Ci.
"Nona Ci lebih baik aku yang mendadanimu, sekalipun aku tidak suka pada Soat-li-ang, tapi aku gadis yang disukainya,"
Kata Tik Bwee.
Ci Giok Hian sadar pasti Tik Bwee mendapat perintah dari Cap-si Kouw agar merias dirinya Saat dia melihat ke kaca tembaga, mata Ci Kok Hian langsung terbelalak.
Sekarang wajahnya telah berubah dan 599 tampak pucat-pasi, sekalipun tetap cantik.
Tapi sekarang dia jadi tidak mengenali wajahnya sendiri.
"Obat itu luar biasa sekali!"
Kata nona Ci.
"Sekarang aku tidak takut sekalipun aku harus bertemu dengan Chu Kiu Sek!"
"Nona, sekarang kau sudah harus menyamar jadi puteri seorang sastrawan miskin dari sebuah desa. Katakan karena keluargamu miskin, maka kau telah dijual dan kau harus ingat cerita ini!"
Kata Tik Bwee memberi petunjuk.
"Hm! Sekarang aku dia hias menjadi seorang gadis yang lemah-lembut, mana orang mengira aku gadis Rimba Persilatan?"
Pikir nona Ci. Tik Bwee mengambil seperangkat pakaian dan nona Ci segera mengenakannya. Nona Ci sekarang kelihatan seperti gadis miskin yang kurus. Tik Bwee tersenyum.
"Nah, sekarang sudah beres! Tapi pakaian itu sungguh merendahkan derajatmu, Nona Ci,"
Kata Ti Bwee. Tik Bwee mengajak nona Ci ke ruang tamu. Di sana majikannya sudah duduk menantikan kedatangan mereka. Begitu Cap-si Kouw melihat nona Ci muncul, Cap-si Kouw tersenyum.
"Kau mirip seorang gadis dari keluarga miskin, melihatmu aku jadi iba sekali,"
Kata Cap-si Kouw.
"Nona Ci, apa Tik Bwee sudah memberitahu asal-usul samaranmu?"
Nona Han tersenyum.
"Sudah, aku akan mengarang cerita entah Soat-li-ang akan mengetahuinya atau tidak?"
Kata nona Ci.
"Adik-misanku itu akhli silat, sangat sulit mengelabui dia! Tapi jika kau mengaku hanya mengerti sedikit ilmu 600 silat, aku pikir kau bisa menyusup ke sana dengan leluasa. Dan kau harus bilang bahwa kau bisa silat karena aku yang mengajarimu!"
Kata Cap-si kouw. Kemudian Cap-si Kouw mengajari beberapa jurus silat pedangnya. Setelah itu dia berkata pada Ti Bwee.
"Begitu kau bertemu dengan piauw-kouwku, pasti dia akan menanyakan tentang aku!"
Kata Cap-si kouw.
"Katakan saja dengan jujur, bahwa aku kurang senang pada kedua tamunya itu. Setelah kedua tamunya itu pergi, baru aku akan menemuinya!"
"Baik, memang dia j uga sudah tahu kita sangat benci pada tamunya itu!"
Jawab Tik Bwee.
"Apa Liong Sen sudah bangun?"
Kata Cap-si Kouw.
"Belum, dia masih tidur,"
Jawab Tik Bwee.
"Baiklah, kalian boleh pergi sekarang juga,"
Kata Cap-si Kouw.
"Sekembali kau mengantarkan Nona Ci, baru kau bangunkan dia!"
Nona Ci cerdas, malam itu Cap-si Kouw memuji-muji keponakannya itu, dari nada suaranya dia ingin menjodohkan keponakannya itu dengan dia.
Nona Ci jadi agak kurang senang.
Tapi terhadap pemuda itu nona Ci terkesan baik.
Mendengar pemuda itu belum bangun dia jadi berpikir.
"Orang yang melakukan perjalanan jauh siang dan malam, pasti lelah sekali dan dia akan tertidur lelap,"
Pikir nona Ci.
"Tapi bagi dia yang seorang pesilat tinggi, tidak akan tidur selelap itu! Dia tidak muncul untuk pamit padaku, apa karena dia takut pada bibinya, atau dia lupa pada ucapan bibinya? Bibinya melarang Seng Liong Sen mengantarkan dia, itu bisa dimengerti karena sangat berbahaya. Sekarang dia telah menyamar seperti pelayan, mana boleh dia mengantarkan seorang pelayan? Bagaimana kalau hal itu terlihat oleh orang-orang di rumah batu itu? Itu 601 pasti akan menimbulkan rasa curiga mereka. Tapi kalau dia mau pamit padaku, kan boleh juga? Apa Cap-si Kouw melarangnya?"
Nona Ci ini cerdas dan cermat. Dia tidak kecewa pemuda itu tidak pamit kepadanya, tapi dia pikir hal itu agak ganjil.
"Jika Cap-si Kouw ingin jadi Mak Comblang, mengapa dia tidak memberi kesempatan agar pemuda itu bisa dekat denganku? Aku memang tidak akan menemuinya, peduli amat! Kenapa aku harus memikirkan dia? Sekarang aku harus berpikir bagaimana aku bisa menolong Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng? Sesudah bertemu dengan Pwee Eng aku akan berusaha menghilangkan ganjalan di hatinya!"
Pikir nona Ci.
Saat berjalan sambil melamun tanpa terasa Ci Giok Hian dan Tik Bwee sudah sampai ke dekat rumah batu itu.
Tibatiba dia mendengar suara menderu-deru hingga nona Ci tersentak kaget.
Saat dia menengadah sekarang mereka sudah berada di dekat air terjun.
Samar-samar rumah batu itu sudah mulai kelihatan.
"Nona, hari ini aku mengantarkanmu, besok aku akan mengantarkan Siauw-ya! Bagaimana menurutmu Siauw-ya kami itu?"
Kata Tik Bwee sambil tersenyum. Pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu membuat nona Ci jadi gugup dan tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pelayan itu tertawa.
"Bukankah semalam majikanku telah memberitahu tentang Siauw-ya padamu? Kau suka tidak padanya?"
Kata Tik Bwee. 'Eh, apa Ca-si Kouw menyuruh dia menyelidiki aku?"
Pikir nona Ci.
"Atau hanya dia yang usil?"
"Dia masih muda, tapi sudah jadi murid pilihan Kanglam Beng-cu, aku kagum padanya! Tapi itu tidak berarti aku suka, lho!"
Kata nona Ci.
"Dia sudah menganggapmu kawan akrabnya, malah dia sangat rindu padamu. Semalam dia berpesan kepadaku agar dia dibangun-kan, supaya pagi ini dia bisa pamit padamu!"
Kata Tik Bwee sambil tertawa.
"Bagus kau tidak membangunkan dia!"
Kata nona Ci.
"j adi aku tidak repot harus menemuinya!"
"Kau keliru. Nona, aku bukan tidak mau menuruti pesannya, tapi sengaja majikanku mempermainkan dia Sekalipun aku panggil dan membangunkannya, dia tidak akan bangun. Apakah kau tahu apa sebabnya?"
Kata Tik Bwee. Ci Giok Hian tidak mau bicara soal pemuda itu, tapi pertanyaan pelayan itu membuat dia jadi penasaran.
"Lalu apa sebabnya?"
Akhirnya Ci Giok Hian bertanya juga.
"Ketika dia mau tidur aku sengaja membakar dupa agar kamarnya harum, tapi itu bukan dupa biasa melainkan dupa yang sudah dicampur dengan obat tidur. Tidak heran kalau dia tertidur lelap sekali sampai sekarang. Sebelum siang dia belum akan bangun dari tidurnya!"
Kata Tik Bwee. Nona Ci tersentak.
"Oooh, begitu!"
Kata nona Ci.
"Kenapa bibinya berbuat begitu?"
Pikir nona Ci.
"Apa karena dia sangat sayang kepada keponakannya karena sangat kelelahan dalam perjalanan, maka diadisuruh tidur lebih lama, atau karena dia tahu aku tidak tertarik pada keponakannya itu?"
"Kenapa bisa begitu?"
Tanya Ci Giok Hian.
"Aku tidak tahu kenapa majikanku menyuruh aku berbuat begitu? Karena perintah majikan maka aku laksanakan juga. Aku merasa bersalah kepadanya, dia sudah pesan tapi aku tidak membangunkannya. Karena ulahku itu maka dia tidak bisa bertemu denganmu, Nona Ci! Maka kuberitahu kau tentang perasaan hatinya padamu...."
Kata pelayan itu sambil tersenyum.
"Tak apa, kau tidak perlu minta maaf padaku,"
Kata nona Ci.
"Hm! Kau pikir itu tidak penting, tapi Siauw-ya menganggapnya lain, ini penting karena besok dia juga akan pergi, kelak kalian tidak akan mudah untuk bisa bertemu lagi!"
Kata Tik Bwee menjelaskan.
"Katakan rasa terima kasihku padanya,"
Kata nona Ci.
"Ada pertemuan pasti akan ada saat berpisah. Jika kau bertemu denganya sampaikan kata-kataku ku!"
"Aaah! Kalau begitu kau memang tidak ingin menemuinya,"
Kata Tik Bwee.
"Bukan aku tidak ingin, tapi kau tahu sendiri aku harus ke rumah batu menghadapi bahaya. Maka itu bukan hanya aku tidak akan bertemu lagi dengannya, bahkan mungkin aku tidak akan bertemu dengan orang yang ingin kutemui!"
Kata nona Ci. Tiba-tiba terdengar ada suara panggilan.
"Nona Ci, tunggu!"
Nona Ci kaget bukan kepalang.
Dia langsung menoleh, kiranya Seng Liong Sen muncul di depan mereka.
Semula dia tidak ingin bertemu dengan 604 pemuda itu, sekarang malah dia ada di hadapan mereka.
Tik Bwee pun kaget bukan kepalang.
"Siauw-ya, kenapa kau datang ke mari?"
Kata pelayan itu.
"Cepat kermbali! Bagaimana kalau majikanku tahu hal ini?"
Seng Liong Sen melesat tahu-tahu sudah ada di hadapan pelayan itu.
"Tik Bwee, kau jangan gugup!"
Kata Liong Sen Tiba-tiba Seng Liong Sen mengulur jari tangannya menotok jalan darah pelayan itu. Seketika itu juga Tik Bwee pun roboh. Nona Ci tidak menduga pemuda itu akan menotok pelayan itu.
"Kau... Kau... Apa yang kau lakukan terhadapnya?"
Kata nona Ci gugup. Sebelum pelayan itu roboh ke tanah, Seng Liong Sen memapahnya sambil berkata.
"Tik Bwee, maafkan aku, kau harus istirahat dulu sejenak,"
Kata pemuda itu sambil mengawasi ke arah Ci Giok Hian.
"Nona Ci ada masalah harus dibicarakan denganmu! Dan hanya kau yang boleh mengetahuinya!"
"Masalah apa? Mengapa hanya aku yang boleh mengetahuinya?"
Kata nona Ci.
"Benar,"
Kata pemuda itu.
"Hanya kau!"
Kemudian dia merebahkan Tik Bwee di bawah sebuah pohon. Sesudah itu dia perhatikan nona Ci.
"Nona Ci, mari kita bicara di sana saja!"
Kata Liong Sen.
"Kau totok jalan darahnya mungkin dia telah kehilangan kesadarannya,"
Kata Ci Giok Hian.
"Sudah sejak kecil dia ikut Bibiku, kepandainya tinggi, aku malah khawatir dia bisa membebaskan diri,"
Kata Seng Liong Sen. Nona Ci mengerutkan dahinya.
"Apa yang mau dia bicarakan denganku?"
Pikir nona Ci.
"Mengapa butuh waktu lama? Jika masalah ini tidak boleh diketahui oleh Tik Bwee, itu berarti tidak boleh diketahui oleh bibinya. Mengapa dia berbuat begitu? Apa hubungan dia dengan bibinya ada yang tidak beres?"
Begitu nona Ci berpikir. Pemuda itu tersenyum padanya.
"Masalah ini tidak boleh diketahui oleh Tik Bwee juga oleh Bibiku,"
Kata pemuda itu sambil tersenyum.
"Jangan takut aku tidak akan mencelakaimu!"
Nona Ci mengangguk, dia murid Kang-lam-beng-cu bernama Bun Ek Hoan, jelas nona Ci percaya kepada kejujuran pemuda itu.
Mereka lalu berjalan menuju ke sebuah pohon besar.
Sampai di bawah pohon pemuda itu mengawasi nona Ci.
"Coba kau bersihkan hawa mumimu pada jalan darah Hong-hu-hiat, apa ada yang terasa ganjil atau tidak?"
Kata pemuda itu.
Nona Ci menurut saja dia duduk bersila lalu dia mengerahkan hawa murni di Hong-hu-hiatnya.
Mula-mula dia tidak merasakan apa-apa, tapi tidak berapa lama mulai terasa di bagian itu kesemutan.
Betapa kagetnya nona Ci ketika itu, segera dia berdiri.
"Ada yang ganjil,"
Kata si nona.
"Ngilu seperti digigit semut. Kenapa bisa begitu? Bagaimana kau tahu mengenai hal ini?"
Kata nona Ci Giok Hoan sedikit terperanjat.
"Kau terkena racun aneh. Racun ini akan berreaksi setelah tujuh hari,"
Kata Seng Liong Sen. Nona Ci tampak tertegun.
"Aku terkena racun, bagaimana kau bisa tahu? Apakah...."
Nona Ci tidak meneruskan kata-katanya. Otak nona Ci sangat cerdas. Jika dia terkena racun, maka yang meracun dia pasti Cap-si Kouw. Hal ini membuat dia merinding dan cemas sekali.
"Jika benar aku terkena racun, sungguh ngeri sekali!"
Pikir nona Ci.
"Hati manusia sulit diduga, memang benar kata-kata ini. Lalu kenapa dia meracuniku dengan diamdiam?"
"Nona Ci aku minta kau bicara dengan jujur padaku,"
Kata pemuda itu.
"Benarkah Bibiku menyuruhmu melakukan sesuatu tugas?"
"Benar, Kouw-kouwmu menyuruhku menyamar menjadi pelayannya dan aku harus bekerja pada Beng Cit Nio, maksudnya untuk menyelamatkan Han Tay Hiong dan puterinya. Maka aku bersedia melakukannya!"
Kata nona Ci.
"Ternyata terkaanku benar,"
Kata pemuda itu.
"Sudah kau jangan ke sana!"
"Aku tahu itu sangat berbahaya, tapi aku harus melakukannya,"
Kata nona Ci hambar.
"Beng Cit Nio Bibi-misanku, pasti kau tidak mengetahui sifat Bibi-misanku yang kejam?"
Kata Seng Liong Sen.
"Hm! Paling-paling dia akan menghukumku hingga mati!"
Jawab nona Ci.
"Dia wanita tidak berperasaan,"
Kata Seng Liong Sen.
"Jika dia suka kepadamu, barangkali jika nyawanya kau minta pun dia bersedia menyerahkannya kepadamu. Sebaliknya jika dia gusar kepadamu, dia akan menyiksamu hingga hidup tidak matipun tidak! Karena dia jatuh cinta kepada Han Tay Hiong, saat cintanya tidak ditanggapi oleh Han Tay hiong, timbul kebenciannya yang luar biasa pada Han Tay Hiong. Dengan susah payah dia berhasil menangkap Han Tay Hiong dan menyekapnya. Sekarang kau akan membebaskan dia dan puterinya. sudah jelas kau menempuh bahaya besar!"
"Sekalipun tempat itu gunung golok atau lautan api, aku siap menerjangnya,"
Kata nona Ci.
"Dia pesilat tinggi,"
Kata Seng Liong Sen.
"bahkan Kouwkouwku Cap-si Kouw sangat segan berhadapan dengannya. Sekarang di sana malah ada Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya. Nona, aku bukan pengecut, tapi aku takut kau akan kehilangan nyawamu sebelum kau berhasil menyelamatkan mereka!"
"Aku tahu semua itu, malah aku ingin bertanya padamu, bukankah kau juga sedang menjalankan tugas dari gurumu ke daerah utara? Bukankah itu juga sangat berbahaya?"
Kata nona Ci Giok Hian sambil mengawasi pemuda itu.
"Benar! Tapi itu menyangkut urusan negara. Aku harus menjalankan tugas itu. Nona, kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku tahu urusanku tidak bisa dibandingkan dengan urusanmu, tapi aku rasa ada samanya, dan tergantung harus dilaksanakan atau tidak? Sekalipun pekerjaan itu sangat berbahaya tapi harus dilaksanakan, ya kan?' kataCi Giok Hian.
"Benar, seorang pendekar harus seperti itu. Tapi...."
Nona Ci langsung memotong kata-kata pemuda itu.
"Kau jangan mencari alasan agar aku membatalkan tugas ini,"
Kata nona Ci.
"Sekalipun aku bukan seorang pendekar 608 sejati, tapi demi sahabat aku siap menghunus pedangku. Pasti kau paham hal itu!"
Tapi sesudah berkata begitu hatinya jadi merasa tidak enak.
"Aku berbuat begitu demi Han Pwee Eng atau untuk diriku?"
Nona Ci berpikir. Seng Liong Sen tidak tahu apa yang ada di benak nona Ci, tapidiakagumpada sikapnya yang gagah.
"Baik, kau sudah bilang begitu, aku tidak bisa menasihatimu lagi. Hanya sayang....."
"Apa yang harus disayangkan?"
Tanya nona Ci.
"Sayang Kouw-kouwku tidak tahu mengenai kebulatan tekadmu itu,"
Sahut Liong Sen.
"Tidak! Seharusnya dia tahu, sebab aku telah menjelaskannya,"
Kata nona Ci.
"Kalau begiti Bibiku tidak percaya kepadamu sepenuhnya! Dia terlalu banyak curiga!"
Kata Seng Liong Sen. Nona Ci tertegun.
"Kouw-kouwmu tidak percaya kepadaku, lalu kenapa?"
Tanya nonaCi.
"Nona, kau cerdas! Kau bisa menduga siapa yang meracunimu secara diam-diam. Orang itu Kouw-kouwku!"
Kata Seng Liong Sen dengan jujur. Nona Ci sudah menduga dan pemuda itu memastikan. Hal itu membuat nona Ci jadi berpikir.
"Cap-si Kouw kelihatan sebagai wanita lembut dan ramah sekali. Tak kusangka malah diam-diam dia 609 meracuniku! Orang seperti itu sangat menakutkan! Tapi kapan dia meracuniku? Mengapa aku tidak menyadarinya?"
"Kouw-kouwku akhli racun. Racun yang dibuatnya tidak berwarna dan tidak berbau. Ditambah lagi cara dia meracuni orang sangat aneh hingga orang tidak menduga. Untung aku tahu racun apa yang dia gunakan, jika tidak sulit menolongimu!"
Kata eng Liong Sen.
"Aku heran,"
Kata nona Ci agak tertegun.
"Dia minta aku membantu untuk menyelamatkan Han Tay Hiong, tapi kenapa dia ingin mencelakakan aku? Apa racun itu berbahaya sekali?"
"Bukankah semalam kau minum teh yang dia suguhkan?"
Balik bertanya Seng Liong Sen.
"Ya,"
Jawab nona Ci agak tersentak kaget dan sadar, kiranya teh wangi yang dia minum itu telah dibubuhi racun.
"Dia campur minumanmu itu dengan racun yang sangat aneh,"
Kata Liong Sen.
"Racun itu bernama Kuang-siauw-san (Racun bubuk tertawa gila). Tujuh hari setelah orang itu meminum racun itu, baru racun itu akan bereaksi. Orang itu tidak akan tahan menahan tawa seperti orang gila. Hanya racun itu tidak akan membuat orang mati!"
"Sungguh keterlaluan,"
Pikir nona Ci yang tidak tahu tentang racun dan tidak pernah terkena racun.
"Aku akan tertawa seperti orang gila? Celaka apa jadinya kalau begitu? Jika racun itu tidak punah, apa aku masih punya muka bertemu dengan orang?"
Pikir nona Ci yang mulai merasa ngeri.
"Dia menggunakan racun itu hanya untuk mengendalikan dirimu,"
Kata Liong Sen.
"Dia sudah menduga kau akan memohon kepadanya. Dia sulit mempercayai orang, walau kau telah membantunya tapi dia 610 tetap khawatir! Kau masih muda dan gampang emosi atau takut saat akan menjalankan tugasnya itu. Dia takut kau kabur. Oleh karena kau telah diberi racun, sekalipun kau kabur sudah tidak mungkin. Hanya dia yang punya pemunah racun itu. Dia mengira dalam tujuh hari tugasmu itu akan selesai. Jika kau berhasil membawa Han Tay Hiong dan puterinya, maka kau pun akan diberinya obat pemunah racun itu, sekalipun secara diam-diam!"
"Seandainya aku kabur dari tempat Beng Cit Nio, mana mungkin aku akan kembali ke rumahnya?"
Kata nona Ci.
"Sekalipun aku diberi obat pemunah racun, tapi dia tidak bisa memperalat diriku lagi."
"Terus-terang kelihayan Bibiku ini tidak kalah oleh Bibimisanku Beng Cit Nio. Jika kau berani menolak perintahnya dia tidak akan melepaskan kau! Dan kau akan memohon padanya, maka itu kau akan jadi budaknya!"
Kata Liong Sen.
"Barangkali ini sudah nasibku,"
Kata nona Ci putus asa. Dia gadis yang banyak akalnya tapi berhadapan dengan Cap-si Kouw dia jadi kehabisan akal.
"Jangan cemas Nona Ci, untung aku dibantu oleh Tik Bwee,"
Kata Liong Sen.
"Dia telah mencuri obat pemunah racun itu untukku. Tik Bwee sangat dipercaya oleh Bibiku, dia juga cerdas dan ingatannya kuat. Dia bisa ingat mana pemunah racun dan mana yang racun. Jika aku yang mencuriny a jangan-jangan aku salah mengambil obat!"
Pemuda itu menyerahkan obat pemunah racun itu pada nona Ci, setelah menerima obat itu nona ini bertanya.
"Apakah dia tahu obat yang dicurinya ini untukku?"
Kata Nona Ci.
"Dia tidak kuberi tahu untuk apa obat pemunah itu, aku kira dia pasti tahu,"
Kata Seng Liong Sen. Ci Giok Hian segera menelan obat pemunah itu.
"Dia begitu baik kepadamu, kau malah menotok jalan darahnya, apa itu tidak keterlaluan?"
Kata nona Ci.
"Aku sedang membicarakan dan mencela Bibiku, mana boleh dia mendengarnya?"
Kata pemuda itu sambil tersenyum.
"Dia berani menempuh bahaya mencurikan pemunah racun untukmu, apa mungkin dia akan mengadu pada Bibimu?"
Kata nona Ci agak cemas.
"Tik Bwee seorang yang jujur,"
Pikir nona Ci.
"Dia juga cerdas, tapi dia hanya seorang pelayan. Pemuda ini menginginkan obat pemunah, dia tidak perlu minta bantuan pada orang lain. Dia murid Bun Tay-hiap yang terkenal, dia tidak boleh memandang enteng seorang pelayan,"
Pikir nona Ci.
"Pasti dia tidak akan mengadu,"
Kata Liong Sen.
"tapi sikap Kouw-kouw terhadap otrang lain tidak bisa diduga. Bibiku itu sangat cerdas, karena itu aku harus siaga agar Tik Bwee tidak membocorkan hal ini secara tidak sengaja. Aku yakin karena dia tidak mendengar apa yang kita bicarakan sekarang, hatiku jadi lega sekali!"
Terdengar suara keluhan di tempat Tik Bwee terbaring.
"Celaka, Tik Bwee berusaha membebaskan diri dari totokan-ku. Dia bisa celaka!"
Kata Liong Sen. Saat itu juga mereka menghampirinya Mereka lihat Tik Bwee telah membuka matanya, dan tampak sorot mata yang tidak puas dari pelayan ini. Seng Liong Sen segera membebaskan totokannya.
"Tik Bwee, maafkan aku,"
Kata pemuda itu.
"Aku membuatmu menderita"
"Kalian sudah selesai bicaranya?"
Kata Tik Bwee agak kesal.
"Kenapa kau buru-buru membebaskan aku? Sebenarnya kau tidak boleh bersikap begitu padaku, Siauwya. Tahukah kau semalam sekalipun aku membubuhi obat tidur dalam dupa di kamarmu, tapi sengaja aku menaruhinya cuma sedikit agar kau bisa ke mari untuk menemuiNonaCi!"
Wajah Ci Giok Hian memerah. Tapi dia tidak bisa bicara apa-apa. Pemuda itu memberi hormat pada Tik Bwee.
"Kakak Tik Bwee, aku mohon kau tidak marah karena aku membuatmu menderita Di depan Kouw-kouw, aku harap kau tidak menjelekkan aku."
Kata Seng Liong Sen sambil tersenyum. Mendengar ucapan itu tampak Tik Bwee gembira, kekesalannya telah hilang sama sekali. Malah dia tertawa riang.
"Sudah jangan bilang begitu, aku ini pelayan. Menderita sedikit sudah lumrah,"
Kata Tik Bwee.
"Di depan majikan aku akan diam saja. Kalian mau bicara apa lagi, hari sudah siang segera selesaikan!"
"Kak Tik Bwee, kau jangan salah mengerti,"
Kata Ci Giok Hian.
"Dia menemuiku hanya untuk mengatakan bahwa Beng Cit Nio sangat lihay, juga sangat kejam. Dia minta aku berhatihati, cuma itu. Padahal kau juga sudah bilang begitu!"
"Nona Ci memang aku masih mau bicara sebentar denganmu,"
Kata Liong Sen. Tik Bwee tertawa.
"Baik, aku akan menunggu di sana! Nona Ci, silakan bicara!"
Kata Tik Bwee. Tik Bwee segera meninggalkan mereka dia menuj u ke suatu tempat yang agak jauh dari mereka. Tindakan Tik Bwee ini membuat nona Ci agak tidak enak hati juga.
"Seng Kong-cu, cukup kau mengantarkan aku sampai di sini saja,"
Kata nona Ci.
"silakan kau pulang!"
Wajah nona Ci memerah.
"Aku hampir melupakan sesuatu yang sangat penting,"
Kata pemuda itu.
"cincin ini untukmu!"
Cincin itu berwarna hijau yang dia serahkan pada nona Ci. Wajah nona Ci bertambah merah.
"Eh apa maksudnya?"
Pikir nona Ci. Pemuda itu tertegun sejenak, dia sadar.
"Kau jangan salah paham, Nona Ci."
Kata pemuda itu.
"Cincin ini bisa melindungi dirimu. Ini kuhadiahkan padamu, aku tidak bermaksud lain."
MatanonaCi Giok Hian terbelalak.
"Bagaimana cicin ini bisamelindungiku?"
Kata nona Ci.
"Tik Bwee sedang menunggumu, tidak ada waktu aku menjelaskannya padamu,"
Kata Seng Liong Sen.
"Pokoknya kau pakai saja cincin ini, sikap Beng Cit Nio akan lain padamu jika dia melihat cincin ini. Jika kau bersalah pun, dia akan mengampuni nyawamu!"
Sebenarnya nona Ci ingin menolak pemberian cincin itu, tapi pemuda itu telah menyodorkan kepadanya dengan sopan.
Dia akan menyelamatkan nona Han, jika benar cincin itu bisa menyelamatkan nyawanya, mengapa tidak 614 dia terima saja cincin ajaib itu.
Dengan demikian dia bisa lebih leluasa bergerak.
Maka dia terima cincin itu.
"Terima kasih, oh Seng Kong-cu, sekarang kau boleh pulang!"
Kata nona Ci.
"Baiklah,"
Kata pemuda itu. Nada suara Seng Liong Sen sengaja keras agar Tik Bwee mendengarnya. Nona pelayan itu berjalan menghampiri mereka.
"Coba kau pikir lagi, apakah masih ada kata-kata yang belum kalian sampaikan?"
Kata Tik Bwee. Tiba-tiba nona Ci bicara "Ya, aku hampir lupa mengatakan sesuatu yang sangat penting!"
Kata nona Ci.
"Benar kan?"
Kata Tik Bwee.
"Tepat dugaanku, Nona Ci aku bilang kau jangan tergesa-gesa!"
Dia tarik tangan pelayan itu "Kak Tik Bwee, mengenai urusan itu pasti kau juga sudah tahu, maka aku tidak akan mengatakan pada dia saja,"
Kata nona Ci Giok Hian. Melihat nona Ci serius Tik Bwee diam tidak bergurau lagi.
"Kakakku bernama Ci Giok Phang,"
Kata nona Ci.
"Dia sedang ke markas cabang Kay-pang di Lok-yang. Kebetulan Seng Kong-cu mau ke sana. Aku mohon tolong kau beritahu dia mengenai jejakku. Dengan demikian dia bisa memberitahu Kok Siauw Hong supaya mereka tidak mencemaskan keadaanku!"
Seng Liong Sen tertegun.
"Kok Siauw Hong?"
Kata Seng Liong Sen.
"Bukankah dia calon menantu Han Tay Hiong?"
"Benar,"
Kata nona Ci.
"Dia bersama kami ke mari. Kak Tik Bwee, jika Kok Siauw Hong datang ke tempatmu dan dia mencariku, tolong kaujelaskan kepadanya Nah, aku sudah selesai bicara, kau pulang saja!"
Dengan tanpa menghiraukan Seng Liong Sen lagi nona Ci berjalan.
Sedang pemuda itu terus mengawasi nona itu dari belakang.
Tik Bwee cerdas dia sudah menduga sesuatu.
Dengan tidak banyak bicara lagi dia juga mengikuti nona Ci.
Tak lama mereka sudah sampai di depan rumah batu.
Seorang lelaki yang memelihara bewok segera menghadang mereka.
Nona Ci tahu orang itu bernama Pouw Yang Hian.
Untung si bewok tidak mengenalinya karena dia sedang menyamar.
Melihat kedatangan mereka Pouw Yang Hian keheranan.
"Berhenti, kalian siapa?"
Bentak lelaki bewok itu.
"Mau apa kalian datang ke mari?"
Tik Bwee malah bertanya dengan dingin.
"Lalu kau sendiri siapa? Ada urusan apa kau ada di sini?"
Kata Tik Bwee dengan lantang. Mata Pouw Yang Hian terbelalak.
"Eh, beraninya kau ini?"
Kata Pouw Yang Hian.
"Bukan menjawab pertanyaanku malah kau balik bertanya!"
"Hm! Aku ke mari tidak perlu lapor, kau juga tidak berhak menanyakan tentang aku siapa!"
Kata Tik Bwee.
Tik Bwee mengajak Ci Giok Hian meninggalkan si bewok tanpapeduli.
Di lembah itu selain Beng Cit Nio tinggal juga Cap-si Kouw, Pouw Yang Hian tahu hal ini.
Tapi yang membuat dia kesal Tik Bwee kasar dan acuh sekali.
"Hm! Akuu akan pura-pura tidak tahu tentang mereka, akan kuberi mereka pelajaran. Aku kira Beng Cit Nio tidak akan memarahiku karena aku sedang berugas di sini,"
Pikir Pouw Yang Hian sambil tersenyum sinis. Dia maju sambil merentangkan kedua tangannya. Dia mencoba menghalangi Tik Bwee dan Ci Giok Hian di tengah jalan.
"Jika kau tidak mau memberitahu asal-usulmu, kau dilarang masuk!"
Kata Pouw Yang Hian. Pouw Yang Hian menyerang Tik Bwee ke arah dadanya, hal ini membuat Tik Bwee gusar bukan main.
"Hm! Kau mau cari mampus ya? Kau berani kurangajar kepadaku!"
Bentak Tik Bwee.
Secepat kilat tangan Tik Bwee bergerak, tak lama terdengar suara keras dan Pouw Yang Hian pun telah roboh di tangan Tik Bwee.
Tadi Tik Bwee menggunakan jurus Lan-hoa-ci untuk menangkis serangan si bewok.
Hal ini membuat Pouw Yang Hian jatuh terlentang.
Dengan mudah Tik Bwee bisa merobohkan Pouw Yang Hian, yang beberapa waktu yang lalu kung-funya telah dipunahkan oleh Kong-sun Po.
Ditambah lagi Pouw Yang Hian tidak mengira kalau nona Tik itu lihay dan mampu menangkis serangannya.
Saat Tik Bwee bergerak, Pouw Yang Hian yang tidak siaga dengan mudah tertotok jalan darahnya oleh Tik Bwee.
Terdengar suara gaduh karena robohnya Pouw Yang Hian ini, tak lama bermunculan para pelayan dari rumah batu.
"Ada apa! Ada apa?"
Tanya mereka.
"Eh, ternyata kau Kak Tik Bwee!"
Kata seorang pelayan yang wajahnya sangat buruk.
Hidung pelayan itu besar, sepasang daun telinganya lebar, hingga mirip Ti Pat Kay dalam dongeng See Yu, atau siluman babi kawan seperjalanan Sun Gouw Kong.
Melihat wajah pelayan itu nona Ci kelihatan heran dan geli sekali "Dua pelayan Cap-si Kouw cantik-cantik, kok pelayan Beng Cit Nio ini malah buruk sekali?"
Pikir nona Ci.
"Aku kira majikannya pasti jelek sekali. Pantas Paman Han tidak suka kepadanya?"
Pikir nona Ci.
"Dia melarangku masuk!"
Kata Tik Bwee sambil menunjuk ke arah Pouw Yang Hian.
"Apakah dia pembantu baru di sini?"
Tadi Pouw Yang Hian pura-pura tidak kenal pada Tik Bwee, sekarang Tik Bwee pun seolah tidak tahu siapa dia? Malah dia menganggap Pouw Yang Hian sebagai pelayan di rumah batu itu.
"Ah, rupanya kalian salah paham,"
Kata pelayan yang wajahnya buruk dan bernama Pik Khi itu "Dia bukan pembantui di sini, tapi tamu majikan kami!"
Pik Khi segera membebaskan totokan pada tubuh Pouw Yang Hian.
"Sekalipun kau tamu kami, tapi kau tidak boleh bersikap kurangajar pada Kakak ini! Dia pelayan Cap-si Kouw, Kakakmisan majikan kami. Majikan kami juga sangat hormat pada Cap-si Kouw!"
Pouw Yang Hian menunduk malu. Dia tidak berani banyak bicara lagi. Sesudah itu Pik Khi menoleh pada Tik Bwee dan kawannya.
"Mari masuk Kak!"
Kata Pik Khi. Sesudah masuk mereka duduk di Suatu tempat.
"Kak Tik Bwee, sudah hampir sebulan lebih Kakak tak ke mari, entah angin apa yang hari ini telah meniupmu ke mari?"
Kata Pik Khi.
"Kakak ini baru datang dari Kang-Iam. Dia dari keluarga baik-baik, ayahnya seorang sastrawan. Sayang mereka miskin, maka ayahnya telah menjual dia Aku dengar majikan kalian perlu seorang gadis yang pandai sastra, lukis dan main musik. Maka majikanku menyuruhku mengantarkan dia kemari!"kataTik Bwee.
"Kak, kau cantik sekali,"
Kata Pik Khi.
"siapa namamu, Kak?"
"Namaku Tik Khim, nama itu pemberian majikanku,"
Sahut nona Ci.
"Masuk ke Kang-lam tidak mudah, majikanmu jarang ke sana, tapi dia bisa mendapatkan nona ini dari sana. Sungguh luar biasa sekali!"
Kata Pik Khi. Mendengar ucapan itu Tik Bwee buru-buru memberi penjelasan.
"Siauw-ya kami yang membantu majikan kami mencarinya,"
Kata Tik Bwee.
"Saat dia pulang dari Kanglam dia membawa nona ini!"
Mengenai nama samaran nona Ci sudah disepakati dengan Tik Bwee, tapi dikatakan dia datang dibawa oleh Seng Liong Sen, mungkin itu ide yang tiba-tiba muncul di benak Tik Bwee.
Mendengar kata-kata itu nona Ci jadi kurang senang, tapi mungkin ucapan Tik Bwee bisa lebih meyakinkan pelayan itu.
"Bagus, kedatangannya membuat kami jadi punya teman baru,"
Kata Pik Khi.
"Aku ini bodoh tidak mengerti sastra dan tidak bisa main musik, juga tidak tahu lukisan."
"Jangan sungkan, malah aku masih harus mintapetunjukmu,"
Kata nona Ci.
"Tapi aku juga tidak tahu apakah aku bisa beruntung menjadi temanmu?"
"Kau cantik dan cerdas aku yakin majikanku senang menerimamu."
Kata Pik Khi. Tik Bwee tersenyum.
"Ah baru sebulan tidak bertemu denganmu, sekarang kau sudah pandai bicara,"
Kata Tik Bwee pada kawannya.
"Kakak ke mari, sekalipun aku bodoh terpaksa aku harus jadi orang pandai."
Kata Pik Khi sambil tertawa terkekeh.
Tik Bwee heran menyaksikan Pik Khi terus bicara saja.
Biasanya jika dia datang Pik Khi langsung melapor dan membawanya menemui majikannya, tapi kali ini tidak.
Malah dia mengajak mereka duduk di depan pintu dan berbincangbincang.
Hal ini belum pernah terjadi maka tak heran jika Tik Bwee pun jadi keheranan bukan main.
Melihat sikap Tik Bwee yang agak canggung, Pik Khi seolah tahu apa yang ada dalam benak sahabatnya itu.
"Oh, maaf Kak Tik Bwee, kau harus lama menunggu karena kedatangan kalian tidak tepat waktunya. Saat ini majikan kami sedang ada tamu."
Kata Pik Khi.
"Tak apa,"
Sahut Tik Bwee.
"Aku juga ingin bincangbincang denganmu lebih lama lagi. Kami tak tahu kalau kalian sedang kedatangan tamu. Ya, kalau tidak ada urusan penting aku juga kurang bebas ke mari. Selama sebulan ini kau tidak pernah datang ke tempatku, pasti kau punya tamu dan kau jadi tidak punya waku banyak."
"Tamu majikan kami itu bukan orang baik-baik,"
Bisik Pik Khi.
"tapi kali ini tamu yang ditemui majikanku bukan mereka."
"Wah, pasti tamu istimewa, siapa dia?"
Tanya Tik Bwee.
"Han Tay Hiong dan puterinya, mereka ditawan dan ditahan di sini! Sekarang majikianku sedang menemui Nona Han!"
Kata Pik Khi.
"Aku dengar nona Han cantik,ya? Sayang aku belum pernah melihatnya!"
"Ah, kalian jangan kecewa, sebentar lagi mereka akan lewat di tempat ini,"
Kata Pik Khi.
"kau bisa melihatnya walau sekilas!"
Saat mendengar nona Han akan lewat ke tempat itu nona Ci kaget, hatinya berdebar-debar. Pik Khi berbisik pada Tik Bwee.
"Aku dengar majikanku pernah mencintai Han Tay Hiong, aku rasa dia tidak akan menyusahkan mereka! Dia juga meminta pada Nona Han untuk datang ke ruang tamu majikanku, aku rasa dia menyukainya. Aku juga tidak tahu apa maksud majikanku, tapi aku yakin dia menyukai Nona Han. Majikanku pun kelihatan bingung, mau diapakan mereka itu?"
Bisik Pik Khi.
"Apa kedua iblis itu berani menentang majikanmu?"
Bisik Tik Bwee. Kelihatan Pik Khi kurang senang.
"Bukan hanya menentang tapi mereka berdua tidak tahu diri,"
Jawab Pik Khi.
"Mereka pura-pura berikap hormat pada majikanku, tapi sebenarnya mereka melecehkannya. Malah tempat ini dianggap milik mereka! Mereka berani membawa murid dan teman-teman mereka ke mari. Itu sebabnya saat kalian sampai kalian juga mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan dari si Bewokitu!"
Mendengar keterangan itu bukan saja Tik Bwee nona Ci pun jadi tercekam.
"Jika demikian keadaannya,"
Pikir nona Ci.
"untuk menyelamatkan mereka itu tidak mudah."
"Lihat Nona Han sedang keluar, kau jangan bicara,"
Bisik Pik Khi.
Lewat sebuah jendela mereka melihat nona Han sedang berjalan keluar dari kamar tahanan.
Dia diiringkan oleh seorang pelayan.
Semula ayahnya hendak mogok makan, tapi setelah kedatangan nona Han dia mau juga makan sehingga tenaganya sudah mulai pulih lagi.
"Ayah,"
Kata nona Han.
"Wajahmu sudah tampak cerah, kau bisa segera sehat kembali jika kau gunakan hawa murnimu!"
"Sudah aku lakukan hanya Iwee-kangku belum pulih benar,"
Jawab ayahnya.
"Jika tenaga Ayah sudah pulih lagi, kita harus berusaha meloloskan diru dari sini,"
Bisik nona Han.
"Racun dingin di tubuhku belum hilang,"
Kata ayahnya.
"Aku juga terkena pukulan Hua-hiat-to, aku kira tidak akan bisa begitu cepat."
"Jika mereka tideak berbuat jahat pada kita, aku yakin Ayah akan sembuh. Ditambah lagi Kok Siauw Hong pun pasti berusaha menolong kita."
Kata ona Han.
"Hm! Jadi kau berharap Kok Siauw Hong akan datang menolongi kita?"
Kata Han Tay Hiong.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 23 Saat nona Han menyinggung nama Kok Siauw Hong, ketika itu hati nona Han terasa pedih.
Tetapi nona Han tetap bungkam dan tidak ingin memberi tahu ayahnya mengenai apa yang terjadi antara dia dan Kok Siauw ong.
"Biarlah Ayah cuma tahu bahwa kami suami-isteri yang bahagia. Dia tidak boleh tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Aaah, aku tidak tahu apa jadinya jika Ayah sudah tahu apa yang telah terjadi atas diriku?"
Pikir nona Han.
"Sekalipun kepandaiannya tidak terlalu tinggi, aku yakin dia berusaha akan menyelamatkan kita,"
Kata nona Han. Han Tay Hiong mengelah napas panjang.
"Di kalangan muda ilmu silatnya sudah bisa dikatakan sudah cukup, sekalipun jika dibanding dengan si Iblis Tua dia belum sebanding. Aku tahu dia akan berusaha menolong kita, misalnya minta bantuan pada orang lain. Tapi bagaimana mereka bisa ke mari, padahal tempat ini sangat rahasia..."
Kata Han Tay Hiong.
"Maka itu kita harus mengulur waktu sampai Ayah sembuh,"
Bisik nona Han.
"Aku pun berpikir begitu,"
Kata Han Tay Hiong.
"Tapi Ayah pikir itu sulit. Mereka berharap Ayah menyerah, aku yakin mereka tidak akan berbuat jahat pada kita. Tapi setelah tahu aku tidak tunduk pada mereka, sekalipun Beng Cit Nio tidak akan membunuh kita, tapi kedua iblis tua itu pasti tidakakanmelepaskan kita!"
"Sebenarnya Beng Cit Nio itu siapa, mengapa dia membangun rumah batu di tempat ini? Mengapa dia berusaha menangkap Ayah dan membawanyake mari? Seandainyadia berniat jahat, mengapa Ayah yakin dia tidak akan membunuhmu, Ayah?"
Mendengar pertanyaan itu Han Tay Hiong diam sejenak.
"Mengenai dia cepat atau lambat akan Ayah jelaskan kepadamu,"
Kata Han Tay Hiong.
"Aneh Ayah ini, setiap aku menyinggung nama Beng Cit Nio seolah Ayah tidak mau bicara?"
Pikir nona Han.
"Ayah yakin ayah tidak akan terlepas dari bahaya, tapi kau akuyakinkau pasti selamat!"kataHanTayHiongsetelahmenghela napas.
"Kita susah senang bersama, jika kita bisa lolos pasti harus bersama-sama, begitupun jika kita harus celaka. Mana mungkin hanya aku yang mereka bebakan?"
Kata nona Han.
"Kau jangan menanyakan apa sebabnya, tapi jika kau lolos aku ingin berpesan dan menitip sebuah urusan padamu,"
Kata ayahnya.
"Mengenai masalah apa, katakan saja,"
Kata nona Han.
"Harta yang ada di rumah kita itu milik Siang-koan Hok. Kau sudah tahu bukan? Siang-koan Hok itu orang asal dari kerajaan Liauw. Namun dia mengabdi kepada bangsa Mongol sebagai wakil Kok-su (Guru Negara), hal itu dia lakukan untuk memulihkan kerajaan Liauw ke masa jayanya. Saat masih muda dia melakukan kesalahan besar, tapi tidak terlalu berat Jika kau bebas, temui dia dan beritahulah padanya, bahwa kau salah paham dan telah menyumbangkan hartanya untuk para pejuang bangsa kita. Itu harus kau lakukan agar dia tidak salah paham dan menganggap aku telah menipunya. Kau juga harus menemui Liok-lim Beng-cu bagian Utara, Liu Li Hiap, katakan hal yang sebenarnya terjadi. Jika dia tidak percaya padamu, kau undang dia untuk menemui Ceng Leng Su-thay di gunung Leng-yan-san, karena Ceng Leng Su-thay 624 tahu semua rencana Siang-koan Hok itu!"
Kata Han Tay Hiong.
"Baik, Ayah,"
Kata Han Pwee Eng sambil mengangguk.
"Apa masih ada pesan yang lain?"
"Ya, satu lagi! Ayah kira kau harus mengetahuinya. Apakah kau tahu, bagaimana Ibumu meninggal?"
Kata Han Tay Hiong.
"Bukankah Ibu meninggal karena sakit?"
Tanya nona Han.
Saat ibunya meninggal Han Pwee Eng baru berumur lima tahun, dua tahun setelah dia ditunangkan dengan Kok Siauw Hong.
Dia ingat tak lama sesudah itu ibunya sakit-sakitan.
Setiap hari ayahnya memberinya obat.
Setengah tahun kemudian ibunya meninggal dunia.
Nona Han mengira ibunya meninggal karena sakit, sekarang ayahnya bilang bukan karena sakit.
Dia jadi kaget.
Dia tahu ibunya sehat dan pernah belajar silat, mana mungkin begitu sakit setengah tahun kemudian meninggal.
Suatu hari ayahnya memberi obat, kebetulan nona Han ada di dekat ibunya Tiba-tiba ibunya menghela napas lalu berkata tanpa unjung-pangkalnya.
"Penyakitku tak akan sembuh, tetapi yang membuatku berduka adalah Han Pwee Eng..."
Kata ibu nona Han.
"Tenang, isteriku,"
Kata Han Tay Hiong.
"Jika terjadi sesuatu aku berjanji akan membesarkan Pwee Eng, aku tidak akan menikah lagi! Jangan khawatir dia tidak akan punya ibu tiri!"
"Kau baik dan setia kepadaku,"
Kata ibu nona Han setelah menghela napas panjang.
"matipun aku puas sekali. Kau jangan menyalahkan orang lain!"
Setelah ingat kejadian itu nona Han jadi curiga "Mengapa Ibu berkata begitu? Mungkinkah Ibu dicelakakan 625 oleh orang lain? Jika benar, mengapa Ibu menasihati Ayah jangan menyalahkan orang lain?"
Pikir nona Han.
"Ibumu meninggal bukan karena sakit, tapi diracun orang!"
Kata Han Tay Hiong secara tiba-tiba. Nona Han terperanjat mendengar keterangan itu.
"Siapa orang yang meracun Ibu, katakan Ayah!"
Kata nona Han tak sabar. Setelah menghela napas Han Tay Hiong baru bicara.
"Ibumu sangat bijaksana, dia tahu siapa yang telah meracun dia,"
Kata Han Tay Hiong.
"Tetapi dia melarang aku membalas dendam pada orang itu. Semula Ayah ingin memaafkan orang itu. sebaliknya orang itu terus berusaha ingin mencelakakan Ayah. Maka pikiran Ayah sekarang berubah dan ingin membalaskan dendam Ibumu itu!"
"Katakan, siapa orang itu?"
Kata nona Han.
"Orang itu adalah...."
Tapi kata-kata Han Tay Hiong terhenti, karena terdengar suara pintu kamar batu itu terbuka dan sorang pelayan masuik.
"Nona Han, majikanku ingin bertema Mari ikut denganku,"
Kata pelayan itu.
"Kalau dia perlu aku, mengapa aku harus menemuinya dan dia tak datang sendiri ke mari?"
Kata nona Han.
"Aku tidak mau meninggalkan Ayahku..."
"Majikanku ingin bicara denganmu,"
Kata pelayan itu dengan suara perlahan. Nona Han mengerti tempat itu kurang leluasa, ditambah lagi di situ ada murid See-bun Souw Ya. Tiba-tiba ayah nona Han ikut bicara.
"Nak, majikan nona ini bermaksud baik,"
Kata Han Tay Hiong.
"temui saja dia!"
Mendengar ucapan ayahnya nona Han jadi berpikir.
"Hm! Memang aku juga ingin tahu, apa yang mau dia katakan?"
Pikir nona Han.
Nona Han ini cerdas sekalipun dia tidak banyak akalnya seperti Ci Giok Hian.
Dari kata-kata ayahnya tadi, sekalipun tidak dilanjutkan, dia jadi berpikir.
Jangan-jangan pembunuh ibunya itu Beng Cit Nio?
"Baik, mari,"
Kata nona Han. Dia berjalan mengikuti si pelayaa Tak lama mereka berjalan mereka sudah sampai di ruang tamu dan Beng Cit Nio sedang menunggu kedatangannya.
"Mau apa kau menyuruhku ke mari?"
Kata nona Han begitu dia bertemu dengan Beng Cit Nio. Ketika itu seolah Beng Cit Nio tidak mendengar suara teguran yang kasar dari nona Han itu. Tiba-tiba dia tarik tangan nona Han ke dekatnya.
"Sungguh mirip! Kau sungguh mirip dengan ibumu!"
Nona Han mengibaskan tangan Beng Cit Nio.
"Kau suruh aku kemari apa kau hanya ingin mengatakan aku mirip dengan Ibuku?"
Bentak nona Han.
"Jika aku mirip dengan Ibuku, aku juga sudah tahu!"
Saat nona Han mengibaskan tangannya dia menggunakan Iwee-kangnya, tapi aneh Beng Cit Nio tidak bergerak menerima kibasannya.
Jika orang lain pasti sudah terpelanting.
Malah tangan nona Han pun tidak terlepas dari cekalan Beng Cit Nio.
Nona Han sadar apa kata ayahnya, ternyata Beng Cit Nio memang lihay sekali.
Tapi nona Han tahu Beng Cit Nio tidak berniat jahat kepadanya.
Malah dia tersenyum.
"Ibumu sangat lembut dan penurut. Tapi kau tidak, kau mirip dengan sifat ayahmu. Duduklah aku ingin bicara denganmu,"
Kata Beng Cit Nio. Nona Han tahu Beng Cit Nio yang meracun ibunya, tak heran diajadi gusar sekali.
"Aku tahu Ibuku baik dan penurut hingga orang menghina dia dan dicelakakannya! Kau iri karena aku mirip dengan Ibuku, jika kau mau membunuhku silakan saja, kau jangan berpura-pura baik kepadaku!"
Kata Han Pwee Eng. Beng Cit Nio tertegun mendengar kata-kata itu, dia lepaskan tangan nona Han dari cekalannya.
"Apa kau bilang? Kau anggap aku yang mencelakakan Ibumu? Apa ayahmu tidak bilang padamu?"
Kata Beng Cit Nio.
"Ayah tidak menyebutkan nama orang yang meracun Ibuku, tapi aku yakin pasti kau!"
Kata nona Han.
"Aaaah! Kau keliru! Terus terang ibumu membenciku, tapi justru aku menyukainya. Aku tidak pernah menganggap ibumu musuhku, yang mencelakai ibumu itu bukan aku!"
Kata Beng Cit Nio.
"Hm! Kau jangan bohong, aku tidak akan terjebak oleh akalmu yang licik!"
Kata nona Han sambil tertawa.
"Untuk apa aku bohong padamu?"
Kata Beng Cit Nio.
"Coba kau pikir sendiri, saat ini kau ada di tanganku. Jika aku mau, sungguh gampang sekali aku bisa membunuhmu! Hm! Gampangnya seperti orang membalikkan telapak tangan saja! Lalu untuk apa aku membohongimu? Mengenai orang yang mencelakai ibumu, kelak kau pun akan mengetahuinya sendiri!"
Kata-kata Beng Cit Nio agak masuk akal juga, nona Han akhirnya berpikir.
"Hm! Baik, aku ingin tahu apa yang mau dia katakan?"
Nona Han sebisanya menahan amarahnya.
"Baik, lekas katakan apa yang ingin kau katakan?"
Kata nona Han.
"Aku ingin membicarakan sebuah masalah denganmu,"
Kata Beng Cit Nio.
"tapi aku minta kau percaya kepadaku!"
Nona Han mengerutkan dahinya.
"Aku ingin tahu dulu, masalah apa yang hendak kau bicarakan itu? Baru aku bisa percaya padamu,"
Kata nona Han.
"Pandanganmu terhadapku terlalu negatif, tapi aku justru menyukaimu. Kau jangan curiga kalau aku berniat jahat kepadamu. Terus-terang aku menyuruhmu ke sini karena aku ingin menyelamatkan kau. Kau harus menuruti katakataku!"
Kata Beng Cit Nuo.
"Kau pemilik tempat ini, kau mau membunuhku atau kau membebaskannya, itu terserah kepadamu saja,"
Kata nona Han.
"Semua itu hakmu, mengapa kau mengajak aku untuk berunding lagi? Jika kau ingin menyelamatkan aku, mengapa kau menipuku untuk aku datang ke mari?"
"Kau tidak mengetahui masalah itu seluruhnya,"
Kata Beng Cit Nio.
"Benar aku pemilik tempat ini, tetapi aku tidak berdaya."
"Jadi kau ditekan oleh kedua iblis tua itu?"
Tanya Han Pwee Eng.
"Belum sampai begitu,"
Kata Beng Cit Nio.
"tampaknya mereka sangat menghormatiku, tetapi mengenai ayahmu aku tidak bisa mengambil keputusan..."
Ucapan Beng Cit Nio ini tedengar tulus hingga membuat hati nona Han tergerak dan terkesan baik oleh sikapnya ini.
"Hm! Kau membuka rahasia ini, apa benar kau akan menyelamatkan aku, tapi aku tidak tahu apa dia bersungguhsunggu atau hanya berpura-pura saja?"
Pikir Han Pwee Eng.
"Sungguh! Aku tidak membohongimu,"
Kata Beng Cit Nio.
"Benar aku yang menyuruh mereka menangkap ayahmu, tapi aku tidak berniat menangkapmu. Hanya kebetulan kau pulang, dan jelas mereka tidak mau melepaskanmu!"
"Kenapa kau suruh mereka menangkap Ayahku?"
Tanya nona Han. Beng Cit Nio menghela napas panjang.
"Itu hanya gara-gara emosi saja, sekarang aku sangat menyesal. Kau tidak perlu bertanya sampai ke akar-akarnya!"
Kata Ben Cit Nio.
"Hm! Ketika hal ini kutanyakan pada Ayah, dia juga tidak mau memberitahuku. Mungkin di antara mereka terselip semacam rahasia yang sulit diungkapkan?"
Pikirnona Han.
"Sekarang ayahmu di bawah pengawasan mereka, aku tidak berdaya untuk menyelamatkannya. Tapi kau tidak diperhatikannya, mungkin aku masih bisa menolongimu,"
Kata Beng Cit Nio.
"Jelaskan apa recanamu itu?"
Kata nona Han. Nona Han pun berpikir.
"Pantas Ayah bilang hanya aku yang bisa meloloskan diri dari sini. Temyata Ayah sudah menduga hal ini jauh-jauh hari. Tapi aku sudah memutuskan akan tetap menemani Ayah, aku tidak mau pergi tanpa Ayahku. Tapi akujuga ingin tahu apa rencana Beng Cit Nio?"
"Terpaksa kau harus mau merendahkan diri dan kau harus menjadi pelayanku. Ini hanya untuk mengelabui mereka saja. Tapi aku malah sudah menganggapmu sebagai puteriku. Aku menyuruhmu jadi pelayanku agar kedua iblis tua itu tidak curiga dan mereka malah mengira aku sedang menghina dan menyiksamu. Dengan demikian mereka jadi lengah dan tidak mengawasimu!"
Kata Beng Cit Nio. Sesudah mendengar keterangan itu nona Han mengangguk dan dia mulai yakin Beng Cit Nio tidak berniat jahat kepadanya, tapi nona Han tetap curiga juga.
"Hm! Aku harus jadi pelayannya, ini hinaan seumur hidup bagiku,"
Pikir nona Han. Nona Han keras kepala tidak mudah tunduk dia berbeda dengan Ci Giok Hian.
"Sayang, aku tidak beruntung bisa menjadi puterimu,"
Kata nona Han.
"Ibuku sudah meninggal, milikku satusatunya sekarang adalah Ayahku. Aku sudah bertekad bulat mati dan hidup bersamanya!"
Beng Cit Nio sadar pasti nona Han menganggap dia sebagai pembunuh ibunya, dia mengerutkan keningnya.
"Baik, kalau begitu kau kembali dan temui ayahmu. Sebaiknya kau berunding dengan ayahmu dulu. Boleh kau tanyakan kepadanya, siapa yang telah membunuh ibumu supaya jelas!"
Kata Beng Cit Nio.
Beng Cit Nio bertepuk tangan.
Tak lama seorang pelayan menghampirinya, lalu mengajak nona Han kembali ke kamar tahanan.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Di tempat lain Ci Giok Hian dan Tik Bwee bersama Pik Khi sedang berbincang-bincang dengan asyik.
"Sst! Lihat Nona Han sudah kembali!"
Bisik Pik Khi. Ci Giok Hian melongok ke dalam lewat jendela. Hati Ci Giok Hian jadi berdebar-debar.
"Ah, wajahnya tampak lesu tidak bersemangaf?"
Pikir Ci Giok Hian.
"Aku yakin dia sangat menderita di sini. Hm! Aku tahu sekarang Jen Thian Ngo pembohong besar! Ah, apakah Pwee Eng masih benci padaku?"
"Pelayan yang berjalan brersama nona Han itu bernama Pik Po,"
Kata Tik Bwee.
"Piauw-kouw (maksudnya Beng Cit Nio) sangat sayang kepadanya. Aku sangat akrab dengannya. Sayang aku tidak bisa menemuinya sekarang."
Tik Bwee tahu tugas Ci Giok Hian berat, dia berkata begitu agar nona Ci berusaha menempel Tik Po untuk memperingan tugasnya.
"Jadi dia bernama Pik Po, matanya bening dan sikapnya lincah,"
Pikir Ci Giok Hian. Saat melewati jendela Pik Po melirik ke arah mereka. Begitu melihat Tik Bwee bersama Pik Khi, dia kelihatan gembira sekali.
"Hai Kak Tik Bwee, angin apa yang telah membawamu ke mari? Sudah lama kita tidak saling bertemu, aku sangat rindu "Kau bukan orang lain, dan masalah yang terjadi di sini aku tidak bisa menutupimu. Kak Tik Bwee kau jangan buru-buru pulang. Sesudah aku mengantarkan nona Han, aku ingin mengajakmu ngobrol. Eh, siapa dia?"
Kata Pik Po sambil mengawasi nona Ci.
"Dia juga sahabat kita bukan orang lain,"
Kata Tik Bwee.
"Dia akan menjadi temanmu di sini. Seng Cap-si-kouw mendapatkan kakak ini dari Kang-lam, dia bilang untuk majikanmu. Dia akan menjadi sahbat kitajuga."
"Oh, begitu! Baiklah, aku pergi dulu sebentar!"
Kata Pik Po. Saat nona Han melihat ke arah Ci Giok Hian nona Han tertegun sejenak.
"Eh, rasanya aku pernah bertemu dengan orang ini? Tapi di mana dan kapan, ya?"
Pikir Han Pwee Eng.
Tiba-tiba nona Ci batuk beberapa kali.
Begitu nona Han mendengar suara batuknya, bukan main kagetnya nona Han.
Dia ingat saat Ci Giok Hian mengobati dirinya, nona Ci sering batuk begitu.
Karena dia tidak mengira nona Ci akan sampai ke tempat itu hati nona Han jadi bertanya-tanya penuh keheranan.
"Apa benar dia atau hanya kebetulan? Tapi tidak mungkin Giok Hian mau menjadi pelayan di tempat ini?"
Pikir nona Han. Sesudah nona Han dan Pik Po pergi, Ci Giok Hian berkata pada Pik Khi.
"Maaf ya, aku memang sering batuk,"
Kata nona Ci.
"Tak apa, kita semua hanya pelayan, bukan anak hartawan,"
Kata Pik Khi.
Sesudah itu Pik Khi mengajak mereka menemui majikannya.
Begitu melihat nona Ci kelihatan Beng Cit Nio senang dan suka pada nona Ci.
Sejak hari itu Ci Giok Hian tinggal di rumah batu itu sebagai pelayan.
Selama tiga hari secara berturut-turut Beng Cit Nio menyuruh nona Ci main kecapi, main catur dan menyanyi.
Tapi tidak pernah Beng Cit Nio menyuruhnya masuk ke kamarnya.
Ci Giok Hian tidak berani mencari keterangan di mana majikan rumah itu menyimpan arak obat miliknya itu.
Nona Ci sedang mencemaskan keadaan Han Tay Hiong yang terkena totokan See-bun Souw Ya.
Tapi dia dengar dalam tiga hari Han Tay Hiong akan bebas sendiri dari totokan itu.
Dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak "Jika See-bun Souw Ya membohongi Beng Cit Nio, maka Paman Han akan menjadi orang cacat seumur hidup!"
Pikir nona Ci.
"Ah, kalau begitu semua rencanaku akan sia-sia saja!"
Pada hari ketiga Ci Giok Hian ada di rumah batu, Beng Cit Nio memanggil nona Ci kekamar buku untuk menemaninya berrnain tiok-kie (catur Tionghoa).
Karena pikirannya sedang kusit, dua kali Ci Giok Hian dikalahkan oleh Beng Cit Nio.
"Tik Khim,"
Kata Beng Cit Nio pada CiGiok Hian.
"pikiranmu tidak tenang, ya? Jika tidak bagaimana kau bisa kalah terus?"
"Ah, tidak!"
Kata Ci Giok Hian.
"hamba kalah karena majikan mahir sekali bermain catur!"
Seperti kebanyakan orang senang dipuji, Beng Cit Nio pun girang. Dia tertawa riang.
"Apa benar begitu? Justru aku merasa kurang mahir!"
Kata Beng Cit Nio.
"Malah hari ini aku yang sedang menghadapi masalah kecil dalam hatiku."
"Urusan apa, apa boleh hamba tahu?"
Kata Ci Giok Hian.
"Ah! Hanya masalah kecil. Kata See-bun Souw Ya hari ini dia akan pulang, tapi sampai sekarang dia belum kelihatan juga. Kota Lok-yang sudah jatuh atau belum ke tangan bangsa Mongol? Aku curiga barangkali benar dia bersekongkol dengan bangsa Mongol..."
Kata Beng Cit Nio. Tiba-tiba seorang pelayan bernama Pik Po muncul.
"Eh, ada urusan apa? Apa See-bun Souw Ya sudah pulang?"
Kata Beng Cit Nio.
"Dia belum pulang, tapi muncul lagi orang lain, majikan."
Kata Pik Po.
"Siapa orang itu?"
Kata Beng Cit Nio sambil mengerutkan dahinya.
"Apa kau tidak bilang, hari ini aku tidak mau menerima tamu?' "Dia tidak ingin menemui majikan, tapi dia ingin bertemu dengan See-bun Souw Ya,"
Jawab PikPo.
"See-bun Souw Ya tidak ada di tempat, cepat kau suruh dia pergi!"
Kata Beng Cit Nio. Mendengar majikannya gusar Pik Po kaget, dia tak mengerti kenapa hari itu majikannya cepat naik darah.
"Hm! Bagus!"
Pikir Pik Po.
"Hari ini harus kumanfaatkan kesempatan ini. Akan kupanas-panasi hati majikan agar dia mengusir orang-orang yang menyebalkan itu!"
Dengan sikap takut-takut Pik Po lalu berkata pada majikannya.
"Majikan, aku tidak berani menyuruhnya pergi, kecuali majikan bersamaku ke sana! Aku tidak berani menemuinya lagi."
Kata PikPo.
"Tidak! Aku tidak mau menemuinya, siapapun tidak ada yang bisa memaksaku! Lekas suruh dia pergi!"
Kata Beng Cit Nio gusar bukan main.
"Tapi...Tapi sudah ada orang yang mengundang dia datang ke mari...."
Kata Pik Po.
"Siapa? Chu Kiu Sek?"
Kata Beng Cit Nio.
"Benar, dia sudah tidak memandang majikan lagi. Barangkali tempat ini dia anggap milik mereka. Ada orang datang tanpa memberitahu majikan lagi, dia langsung menyilakannya masuk!"
Kata Pik Po. Beng Cit Nio mengerutkan dahinya.
"Kau tahu, siapa orang itu?"
Kata Beng Cit Nio.
"Hamba dengar dia murid pertama Jen Thian Ngo, dia bernama Ih Hoa Liong!"
Kata Pik Po.
Mendengar ucapan itu Ci Giok Hian terperanjat.
Nona Ci Giok Hian sudah tahu bahwa Jen Thian Ngo ini paman Kok Siauw Hong.
Malah kaum Rimba Persilatan menganggap Jen Thian Ngo ini pendekar sejati.
Dia tidak mengira ternyata murid pertama Jen Thian Ngo akan muncul di tempat itu.
"Ketika aku bertemu dengan Jen Thian Ngo di rumah Han Tay Hiong, dia bicara yang bukan-bukan,"
Pikir nona Ci.
"Dia berusaha agar aku curiga pada Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng, bahwa mereka berbuat sesuatu yang mencurigakan. Malah dia bilang Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong kabur bersama-sama. Kenapa dia mengarang cerita bohong begitu?"
Sesudah terenung sejenak nona Ci berpikir lagi.
"Hari itu dia bicara dengan gagah dan mengundang kakakku untuk membantu orang Kay-pang (Partai Pengemis) mengantarkan harta sumbangan Han Pwee Eng pada para pejuang bangsa. Tapi kenapa murid pertamanya justru datang ingin menemui See-bun Souw Ya? Apakah itu suruhan gurunya atau bukan?"
Tiba-tiba terdengar Beng Cit Nio mendengus.
"Hm! Dia! Kenapa si Tua Bangka itu tidak datang sendiri ke mari?"
Kata Beng Cit Nio.
"Hamba tidak tahu,"
Jawab Pik Po.
"Apa tidak sebaiknya Ih Hoa Liong kita panggil ke mari untuk dimintai keterangannya?"
"Tidak usah! Begitu aku melihat wajah guru dan murid itu, aku pasti jadi muak. Aku tidak mau kesenangan main caturku terganggu olehnya!"
Kata Beng Cit Nio.
"Baik,"
Kata Pik Po.
"Tua bangka itu tidak datang yang datang hanya muridnya yang tidak tahu diri. Di matanya seolah di sini tidak ada majikan saja Chu Kiu Sek dan kawankawannya sangat keterlaluan! Mereka menganggap tempat ini seperti milik mereka saja. Dia berani mengundang orang tanpa melapor lagi kepada majikan!"
Memang Pik Po sangat benci pada mereka, ketika tahu majikannya pun kurang suka pada mereka, dia mengeluarkan unek-uneknya tanpa tedeng aling-aling.
Dia berharap majikannya akan mengusir orang-orang itu.
Tetapi setelah Beng Cit Nio mendengar keterangan Pik Po, dia malah tidak gusar seperti tadi.
Kemudian Beng Cit Nio diam.
"Kenapa mereka tidak kau suruh pergi?"
Kata Beng Cit Nio.
"Ih Hoa Liong sudah ada di tempat Chu Kiu Sek, hamba tidak berani menyuruhnya pergi!"
Kata Pik Po.
"Barangkali hanya majikan yang bisa mengusir dia!"
Beng Cit Nio diam sejenak, baru kemudian bicara lagi.
"Aku malas berurusan dengan mereka, hari ini biarkan saja Lain kali kita bicarakan lagi masalah ini!"
Kata Beng Cit Nio. Pik Po akan bicara lagi, tapi Beng Cit Nio tiba-tiba mengibaskan tangannya sambil berkata.
"Pergilah! Tanpa perintahku kau jangan mencari garagara dengan mereka!"
Kata Beng Cit Nio. Pik Po mengangguk.
"Baik, majikan!"
Pik Po segera meninggalkan kamar itu. Sedang Ci Giok Hian langsung bertanya pada Beng Cit Nio.
"Siapa Jen Thian Ngo itu? Mengapa majikan begitu benci kepada mereka?"
Kata Ci Giok Hian pura-pura tidak kenal pada Jen Thian Ngo. Tiba-tiba Ci Giiok Hian tersentak.
"Maaf majikan, hamba terlalu lancang, hamba tidak tahu apakah hamba boleh bertanya begitu atau tidak?"
Kata Ci Giok Hian agak tersipu-sipu.
"Kau mengetahuinya juga lebih baik,"
Kata Beng Cit Nio.
"Jen Thian Ngo itu seorang yang busuk! Dia hanya berpurapura menjadi pria sejati, bahkan ingin disebut pendekar tua yang gagah berani. Sesungguhnya dia orang rendah! Kelak jika kau berkelana di kalangan Kang-ouw, kau harus berhatihati jika kau bertemu dengan mereka itu!"
Ci Giok Hian mengangguk.
"Ooh, begitu! Hamba juga kurang suka pada orang yang pandai berpura-pura....."
Kata Ci Giok Hian. Nona Ci sengaja bicara begitu dengan maksud memancing emosi Beng Cit Nio, karena dia ingin tahu semua rahasia tentang Jen Thian Ngo.
"Sudah lama aku tahu dia memang orang rendah,"
Kata Beng Ci Nio.
"Tapi aku berkenalan dengannya ada sebabnya. Semula aku ingin memperalat dia, tanpa kusadari malah aku masuk ke dalam perangkapnya..."
Ci Giok Hian hanya manggut dia tidak berani berkomentar. Tak lama Beng Cit Nio melanjutkan kata-katanya.
"Aku menyesal, sekarang tempat ini telah berubah menjadi begini gara-gara Jen Thian Ngo!"
Kata Beng Cit Nio. Mata nona Ci terbelalak.
"Ooh, begitu?"
Ci Giok Hian tidak berani memberi komentar.
"Tua bangka itu sangat licik,"
Lanjut Beng Cit Nio.
"Entah bagaimana dia tahu perselisihanku dengan Han Tay Hiong, ayah gadis yang tadi kau lihat keluar dari kamar ini. Dia bernama Han Pwee Eng!"
Mendengar penjelasan itu hati nona Ci jadi geli. Justru kedatangannya ke tempat itu karena untuk menyelamatkan Han Tay Hiong dan puterinya itu. Tapi dia pura-pura bodoh saja.
"Kepandaian Han Tay Hiong cukup tinggi,"
Kata Beng Cit Nio.
"Aku benci kepadanya karena dia memandang rendah pada diriku. Aku melampiaskan kekesalanku! Sekalipun demikian aku tidak berniat membunuhnya, aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran. Aku ingin agar dia tunduk kepadaku. Tiba-tiba muncul Jen Thian Ngo 639 yang mengatakan dia sanggup membantu aku melampiaskan kemendongkolanku pada Han Tay Hiong. Semula aku kira dia akan bergabung denganku dan tunduk kepadaku, tidak tahunya dia memang seekor serigala yang buas dan licik! Dia tidak tampil malah dia meminjam tanganku untuk menghabisi nyawa Han Tay Hiong!"
"Lalu bagaimana caranya dia bilang mau membantu pada majikan?"
Tanya Ci Giok Hian alias Tik Khim.
"Rupanya dia mewakili See-bun Souw Ya untuk menghubungiku,"
Sahut Beng Ciut Nio.
"Dia bilang See-bun Souw Ya ingin menjadi Bu-lim Beng-cu. Dia bilang dia mau membantuku menangkap Han Tay Hiong karena Han Tay Hiong saingan beratnya. Jika Han Tay Hiong masih hidup, jangan harap dia bisa menjadi Bu-lim Beng-cui Mereka bilang mau diapakan Han Tay Hiong olehku, mereka tidak akan ikut campur!"
Alis Beng Cit Nio berkerut, lalu dia melanjutkan.
"Semua itu salahku,"
Kata Beng Cit Nio.
"Aku terjebak oleh akal licik mereka, terutama oleh Jen Thian Ngo. Semula aku tidak takut jika dia bergabung dengan See-bun Souw Ya, nyatanya aku yang terjerumus oleh akal liciknya!"
"Selanjutnya apa yang terjadi di sini barangkali kau sudah tahu semuanya,"
Kata Beng Cit Nio sambil menggelengkan kepalanya.
"Setelah aku bergabung dengan See-bun Souw Ya memang aku berhasil menangkap Han Tay Hiong. Aku tahan Han Tay Hiong di sini. Celakanya See-bun Souw Ya semakin kurang-ajar. Dia mengundang orang-orangnya datang ke mari. Dengan demikian orang-orangnya jadi bertambah banyak. Sekarang tempat ini telah berubah menjadi sarang mereka! Sekalipun aku di sini sebagai majikan, tetapi aku tidak bisa mengambil keputusan 640 sendiri. Sekarang Han Tay Hiong malah berada dalam genggaman tangan mereka. Hari ini See-bun Souw Ya menotok dua jalan darahnya. Sesudah dilakukannya baru dia memberitahu aku. Bayangkan, mereka sudah tidak memandangku lagi!"
Mendengar keterangan itu hati Ci Giok Hian jadi tergerak.
"Ah, karena Han Tay Hiong telah mengecewakan hatinya, Beng Cit Nio melampiaskan kedongkolannya Yang mengherankan dia ingin menyiksa Han Tay Hiong, tapi dia juga ingin melindunginya? Sayang dia sudah tidak berdaya karena sudah dikendalikan oleh See-bun Souw a dan kelompoknya Dia bilang menyesal, kenapa?"
Pikir Ci Giok Hian. Nona Ci ingin tahu apa sebabnya Beng Cit Nio bersikap demikian, tapi dia tidak berani bertanya.
"Majikan ada dendam apa antara Han Tay Hiong dan Jen Thian Ngo sehingga Jen Thian Ngo ingin membunuh Han Tay Hiong?"
Kata Ci iok Hian.
"Aku kira tidak ada dendam di antara mereka,"
Kata Beng Cit Nio.
"Hanya aku dengar suatu hari Jen Thian Ngo datang ke Lok-yang, tapi Han Tay Hiong tidak menjamu dia, karena itu dia jadi kurang senang kepada Han Tay Hiong. Aku juga tidak mengira kalau pikiran Jen Thian Ngo begitu sempit!"
"Kau benar, memang Jen Thian Ngo berhati semit. Tetapi kenapa dia berusaha ingin mencelakakan Han Tay Hiong? Pasti ada sebab lain, jika tidak mana mungkin begitu. Kata orang Jen Thian Ngo sangat benci kepada kejahatan, semua orang tahu hal itu. Malah aku dengar orang kang-ouw menghormati dia sebagai pendekar sejati. Tapi mengherankan mengapa dia malah bersekongkol 641 dengan See-bun Souw Ya? Oleh karena itu sekarang sudah jelas, bahwa Jen Thian Ngo dan See-bun Souw Ya bersekongkol dengan bangsa Mongol !"
PikirCi Giok Hian. Tiba-tiba Ci Giok Hian terkejut sendiri.
"Dia mengajak Kakakku untuk membantu Kay-pang, tapi diam-diam dia juga mengutus muridnya ke mari. Entah ini rencana busuk apa lagi? Jika benar dia bersekongkol dengan bangsa Mongol sungguh celaka! Malah Kakakku sekarang dalam bahaya!"
Ingat kakaknya Ci Giok Hian jadi cemas bukan main. Saat Ci Giok Hian sedang bimbang tiba-tiba Beng Cit Nio bicara lagi.
"Sudah kita akhiri main catumya!"
Kata Beng Cit Nio.
"Aku ingin sendiri di sini, kau boleh pergi! Beberapa hari ini kau menemaniku terus mungkin kau sudah kesal."
Buru-buru Ci Giok Hian memberi hormat.
Dia girang karena memang dia ingin segera meninggalkan kamar itu.
Dia bergegas mencari Pik Po.
Saat dia sampai di tempat Pik Po, dia lihat Pik Po sedang berjalan sambil menunduk.
Ci Giok Hian menepuk bahu Pik Po.
"Eh! Kau melamun, ya?"
Pik Po tersentak kaget.
"Eh, kau! Apa Majikan masih marah, aku kira karena marah dia menahanmu terus di kamar buku?' kata Pik Po.
"Kau benar, dia kesal bukan main. Dia bilang dia ingin sendirian saja di kamar buku, lalu dia menyuruhku pergi. Karena aku tidak berani mengganggunya maka aku mencarimu,"
Kata Ci Giok Hian.
"Aku kira dia jengkel pada mereka!"
"Kau benar, bukan majikanku saja yang jengkel, aku pun sebal kepada mereka. Tempat ini semula sangat tenang. Karena kedatangan mereka tempat ini menjadi kacau-balau! Mereka seenaknya saja dan tidak memandang majikanku, datang dan pergi seenak mereka saja!"
Kata Pik Po.
"Sudah tidak ada gunanya memkirkan mereka,"
Kata nona Ci.
"malah sebaiknya kita bantu majikan memikirkan jalan keluarnya agar dia tidak kesal!"
"Apa yang bisa kita pikirkan, sekalipun majikanku berilmu tinggi, tapi beliau segan menghadapi Jen Thian Ngo dan kedua Iblis Tua itu. Sedang kau dan aku, apa yang bisa kita lakukan, melawan murid mereka saja mungkin kita tidak akan sanggup? Sudah jangan kau pikirkan soal rumit itu, Kak Tik Khim. Lihat bunga di sana sangat indah! Mari kita nikmati bunga yang indah itu!"
Kata PikPo.
"Esok hari kita menikmati keindahan bunga pun tidak akan terlambat,"
Kata Ci Giok Hian. Mata Pik Po terbelalak.
"Apa maksudmu? Apa kau punya akal yang bagus?"
Kata PikPo.
"Aku punya sebuah ide bagus,"
KataCi Giok Hian.
"ideku ini paling tidak bisa sedikit menghilangkan kekesalan majikan kita."
"Benarkah begitu?"
"Ya, benar sekali,"
Kata nona Ci.
"Pantas majikan memuji-mujimu, kau memang cerdas,"
Kata Pik Po.
"Yang ada dalam benakku hanya berkelahi, ternyata otakmu cerdas. Apa idemu itu?"
Kata Pik Po.
"Kau jangan terlalu memujiku,"
Kata Ci Giok Hian sambil tertawa merendah.
"Aku juga tidak tahu apakah 643 ideku ini bisa digunakan atau tidak? Aku rasa Jen Thian Ngo mengirim muridnya untuk menemui Chu Kiu Sek, mungkin dia bermaksud jahat!"
"Kau benar, akujuga berpikir begitu. Diamengirim muridnya untuk menghadapi kita!"
Kata Pik Po. 'Tadi aku lihat majikan kita agak cemas, mungkin dia tidak tahu maksud kedatangan murid Jen Thian Ngo itu,"
Kata nona Ci. Pik Po kelihatan bingung.
"Kak Ti Khim, kau jangan membuatku harus ikut berpikir. Lekas katakan apa idemu itu?"
Lata Pik Po.
"Kita harus tahu dulu, apa yang mereka rencanakan? Caranya kita harus mendengar dulu pembicaraan mereka!"
Kata nona Ci.
"Maksudmu?"
"Kita harus mencuri mendengarkan pembicaraan mereka,"
Kata nona Ci.
"Aah, kau benar. Masalah segampang ini kenapa tidak terpikir olehku. Mari kita ke sana!"
Kata Pik Po.
"Sabar! Aku kira ini bukan pekerjaan yang gampang, di luar rumah batuitu pasti dijaga! Aku dengardari Pik Khi, semua pelayan dilarang pergi ke sana, kecuali ada urusan sangat penting,"
Kata nona Ci.
"Jika kita pergi ke sana dan mencuri dengar pembicaraan mereka, kalau ketahuan bukankah itu berbahaya sekali dan keadaanjadi akan tambah kacau!"
Pik Po tertawa.
"Tenang saja, itu tidak sulit. Aku yakin kita tidak akan kepergok oleh mereka! Aku punya akal."
Kata Pik Po.
"Bagus, kau memang cerdas maka itu aku memintamu untuk membantuku,"
Kata Ci Giok Hian.
"Di samping kolam ada sebuah lorong bawah tanah,"
Bisik Pik Po pada nona Ci.
"lorong rahasia itu tembus sampai ke halaman rumah batu itu. Mulut lorong rahasia itu ada di balik gunung-gunungan di dalam goa. Dari mulut lorong itu kita bisa melihat dan mendengar pembicaraan mereka tanpa mereka ketahui."
Kata Pik Po memberi keterangan.
"Apa mereka tidak tahu kalau di sana ada lorong rahasia di bawah tanah itu?"
Tanya nona Ci.
"Tentu saja tidak! Majikan tidak menganggap mereka sahabatnya, maana mungkin majikan memberitahu mereka. Di lorong itu pun banyak perangkap berbahayanya!"
Kata Pik Po.
"Bagus,"
Kata nona Ci girang bukan main.
Pik Po mengajak Ci Giok Hian ke lorong rahasia itu.
Mereka berjalan di lorong dengan leluasa dan akhirnya mereka sampai di pintu keluar lorong.
Kemudian mereka bersembunyi.
Saat nona Ci dan Pik Po mengintai ke arah rumah batu, benar saja mereka melihat Chu Kiu Sek sedang bicara dengan murid Jen Thian Ngo.
"Lelaki itu murid Jen Thian Ngo, namanya Ih Hoa Liong,"
Bisik Pik Po pada nona Ci.
"Mungkin mereka telah sepakat, kelihatan mereka tertawa. Mari kita dengarkan apa pembicaraan mereka?"
Tak lama mereka mendengar Chu Kiu Sek bicara.
"Jadi kau punya keterangan penting, lekas katakan!"
Kata Chu Kiu Sek.
"Lebih baik Chu Lo-cian-pwee yang bicara lebih dulu, dengan demikian aku jadi tenang,"
Kata Ih Hoa Liong.
"Kau beleh bersenang hati,"
Kata Chu Kiu Sek sambil tertawa.
"karena kau ingin segera tahu, baiklah akan aku 645 katakan. Begini, Han Tay Hiong sudah jatuh ke tangan kami. Sekalipun dia punya sayap dia tidak akan bisa terbang!"
"Begitu! Tetapi apa kalian tidak takut diam-diam Beng Cit Nio akan melepaskannya?"
Bisik Di Hoa Liong. Suara Ih Hoa Liong agak samar, tapi Ci Giok Hian dapat menangkap kata-kata itu dengan jelas.
"Orang yang menjaga kamar Han Tay Hiong murid-muridku dan murid See-bun Souw Ya. Jadi mana mungkin Beng Cit Nio bisa melepaskannya dia tanpa sepengetahuan kami? Tetapi seandainya dia bisa lepaspun aku kira tidak ada gunanya, karena Han Tay Hiong sudah terkena pukulan Siu-lo-im-satkangku dan juga oleh pukulan Huahiat-to. Malah dua hari yang lalu See-bun Souw Ya telah menotok dua jalan darahnya."
"Oh, begitu? Tetapi kenapa kalian tidak membunuhnya saja? Apa karena kalian segan kepada Beng Cit nio?"
Kata Ih Hoa Liong.
"Dia pemilik tempat ini kami harus sedikit hormat kepadanya, tetapi itu pun bukan yang utama,"
Kata Chu Kiu Sek.
"Jadi ada sebab yang lain?"
Kata Ih Hoa Liong.
"Ya. Malah ada dua sebab lain. Pertama, kami ingin agar Han Tay Hiong menyerah. Dengan demikian dia bisa kami peralat. Kedua, kami ingin tahu tentang rahasia semua hartanya. Jika dia kami bunuh, bukankah rahasia itu akan tetap jadi rahasia?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Aku tahu sifat tua bangka itu, dia keras kepala, mana mungkin dia mau menyerah?"
Kata Ih Hoa Liong.
"Kau benar,"
Kata Chu Kiu Sek.
"Dia tidak mau membocorkan rahasiahartanya itu. Aku juga sudah berunding dengan See-bun Souw Ya, tapi sekarang aku hanya menunggu See-bun Souw Ya kembali dari Lok-yang. Setelah kami mendapat persetujuan dari jenderal Mongol, pasti kami akan membunuhnya!"
Mendengar pembicaraan itu nona Ci kaget bukan kepalang.
"Hm! Jadi dugaanku benar, mereka bersekongkol dengan bangsa Mongol!"
Pikir nona Ci. Tak lama terdengar Ih Hoa Liong tertawa terbahakbahak.
"Mengenai rahasia tempat harta itu guruku sudah mengetahuinya, malah harta itu sekarang sudah dipindahkan! Jadi kedua Lo-cian-pwee jangan buang waktu untuk mendesak Han Tay Hiong!"
Kata Ih Hoa Liong. Tampak wajah Chu Kiu Sek jadi cerah.
"Bagus! Kalau begitu terimalah ucapan selamat kami! Aku dengar harta itu banyak dan tidak ternilai. Apa kau pernah melihatnya, Lo-tee?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Ah, Lo-cian-pwee jangan terburu-buru mengucapkan selamat, kedatanganku ini justru akan minta bantuan pada kalian!"
Kata Ih Hoa Liong. Kelihatan Chu Kiu Sek heran.
"Harta sudah di tangan gurumu, mengapa kau bilang kau datang akan minta bantuan dari kami?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Sebenarnya harta itu jatuh pada tangan orang-orang Kay-pang, tetapi yang mengantarkan harta itu guruku. Katanya harta itu akan disumbangkan kepada para pejuang yang melawan tentara Mongol."
Kata Ih Hoa Liong.
"Celaka duabelas! Harta itu jangan sampai jatuh ke tangan para pejuang!"
Kata Chu Kiu Sek.
"Kita harus merampasnya!"
"Sabar! Di sana selain ada ketua Kay-pang masih ada dua Hiang-cu Kay-pang ditambah seorang pemuda bernama Ci Giok Phang. Dia gagah dan pewaris dari Lembah Pek-hoa-kok. Kepandaian mereka jangan kita remehkan."
Mendengar keterangan itu Chu Kiu Sek tertegun.
-0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0 Bab 24 Melihat Chu Kiu Sek diam saja, Ih Hoa Liong tahu Chu Kiu Sek agak kaget mendengar yang mengawal harta itu cukup tangguh.
Sambil mengawasi ke arah Chu Kiu Sek lalu Ih Hoa Liong bicara lagi.
"Memang benar harta itu jangan jatuh ke tangan para pejuang!"
Kata Ih Hoa Liong.
"Gurukupun berpendapat demikian, itu sebabnya dia mengutusku ke mari untuk minta bantuan pada Cian-pwee berdua!"
"Apa yang bisa kami lakukan?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Bagaimana kalau kalian menyamar menjadi perampok, lalu di tengah jalan kalian merampok harta itu!"
Kata Di Hoa Liong. Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak.
"Ide yang bagus! Tetapi kalau begitu kami harus bertarung dengan gurumu?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Benar, Lo-cian-pwee, tentu saja itu pertarungan hanya untuk pura-pura. Tetapi harus kelihatan bersungguhsungguh agar pihak Kay-pang tidak mencurigainya, maka itu Cian-pwee jangan sungkan-sungkan. Harus bertarung 648 seperti sungguhan. Kita bunuh semua pengawal harta itu, tetapi dari pihak Kay-pang harus ada yang dibiarkan lolos, sekalipun hanya seorang saja. Orang inilah yang akan jadi saksi. Malah gurukupun harus terluka, ini untuk bukti bahwa guruku tidak sanggup mempertahankan kawalannya, dan harta itu berhasil dirampok. Hanya saat menyerang guruku Cian-pwee harus bermurah hati dan jangan sampai Guruku terluka parah!"
Kata Ih Hoa Liong. Mendengar ide itu Chu Kiu Sek tertawa.
"Tentu, tanpa pesan gurumu pun aku sudah tahu,"
Kata Chu Kiu Sek.
"Karena gurumu sangat terkenal di kalangan Kang-ouw maka akupun harus terluka olehnya. Kau beritahu gurumu agar dia juga jangan sungkan-sungkan kepadaku. Dia boleh melukaiku dengan pedang. Dengan demikian gurumu tidak akan kehilangan muka dan itu membuktikan bahwa gurumu telah bertarung mati-matian mempertahankan harta itu!"
"Baik, kalau begitu aku akan pulang untuk memberitahu Guruku agar rencana ini terlaksana dengan baik. Setelah berhasil harta itu akan kita bagi sama rata!"
Kata Ih Hoa Liong. Mendengar kesepakatan itu bukan main dongkol dan gusarnya nona Ci.
"Tak kusangka hari paman Kok Siauw Hong ini sangat rendah, licik dan kejam! Dia bersekongkol dengan dua iblis tua untuk merampok harta itu. Malah dia akan membunuh semua pengawal harta itu, itu berarti kakakku pun dalam bahaya besar!"
Pikir Ci Giok Hian. Tak lama terdengar Chu Kiu Sek tertawa.
"Katakan pada gurumu terima kasih, tetapi soal harta itu aku kira tidak bisa dibagi rata, lho!"
Kata Chu Kiu Sek sambil tersenyum licik.
"Baik, guruku yang minta bantuan pada sekalian Lo-cianpwee, pasti guruku tidak akan mempermasalahkan soal pembagian harta itu,"
Kata Ih Hoa Liong.
"Hm! Sungguh licik iblis tua ini!"
Pikir Ih Hoa Liong yang juga tersenyum.
"Jangan salah paham,"
Kata Chu Kiu Sek sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya aku tidak bermaksud begitu, tetapi barangkali gurumu belum tahu. Mengenai berita harta karun itu aku pikir barangkali sudah tembus ke langit!"
Mendengar kata-kata itu Ih Hoa Liong tertegun.
"Apa maksud Lo-cian-pwee kalau berita itu telah tembus ke langit?"
Kata Ih Hoa Liong.
"Mengenai harta Han Tay Hiong ini jenderal Mongol itu pun sudah mengetahuinya! Sekalipun jenderal Mongol itu tidak peduli pada harta itu, tetapi dia mengira harta itu titipan seseorang. Oleh karena itu jenderal itu ingin tahu dari mana asalnya harta itu? Oh ya, apakah gurumu sudah tahu tentang asal-usul harta itu?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Guruku tidak pernah bercerita mengenai dari mana harta itu? Baiklah sepulangku dari sini akan kutanyakan kepadanya,"
Kata Ih Hoa Liong.
"Malah Kok-su Mongol juga sudah tahu tentang harta itu, maka itu kita harus bisa melakukan sesuatu yang terbaik untuk Kok-su Mongol itu!"
Kata Chu Kiu Sek.
"Ya, itu memang seharusnya,"
Kata Ih Hoa Liong. Sungguhpun dia berkata begitu tapi Ih Hoa Liong mencaci kelicikan Chu Kiu Sek ini. Tak lama Chu Kiu Sek sudah bicara lagi untuk meneruskan kata-katanya.
"Kita tidak bisa membohongi Kok-su Mongol itu. Setelah kita berhasil merampok harta tersebut, semua peti harta harus kita serahkan kepada Kok-su Mongol dan segel peti harta itu jangan dibuka dulu. Aku yakin dia tidak akan mengambil semua harta itu, dan akan dikembalikan kepada kita tiga bagiannya. Sesudah itu baru kita bagi dua dengan gurumu. Aku yakin karena gurumu berjasa pada bangsa Mongol, maka kelak setelah Mongol menang gurumu pun akan hidup senang!"
Kata Chu Kiu Sek.
Semula Ih Hoa Liong kurang senang dan mengira Chu Kiu Sek akan berbuat curang tentang harta itu.
Tetapi setelah mendengar penjelasan yang rinci dari Chu Kiu Sek, hatinya berubah juga.
"Benar, angkatan perang Mongol sangat kuat. Tidak lama lagi mereka akan menguasai Tiong-goan. Masa depanku masih panjang, mengapa aku mempermasalahkan soal kecil ini?"
Pikir Ih Hoa Liong. Sesudah itu tertawalah Ih Hoa Liong.
"Baik, kita telah sepakat dalam masalah ini. Sekarang aku akan pulang untuk memberitahu guruku,"
Kata Ih Hoa Liong.
"Tunggu!"
Kata Chu Kiu Sek.
"Heran sekali hari sudah sore begini, tetapi See-bun Souw Ya belum juga kembali? Padahal dia bilang hari ini pasti dia akan pulang, apa kau tidak akan menunggu dia sampai dia kembali?"
"Tidak! Jika aku terlalu lama di luar, pihak Kay-pang pasti mencurigai kami. Cian-pwee saja berunding 651 dengannya, aku harus buru-buru pulang!"
Kata Di Hoa Liong.
"Baik, aku akan menunggu sampai See-bun Souw Ya kembali. Baiklah, masalah ini akan aku bicarakan dengannya,"
Kata Chu Kiu Sek. Sebelum berangkat Ih Hoa Liong bicara lagi.
"Lo-cian-pwee, orang-orang Kay-pang yang mengantar harta itu setiap harinya hanya mampu menempuh jarak sekitar 80 li saja. Jika besok See-bun Souw Ya sudah pulang dan Locian-pwee berdua mengejar rombongan itu, aku yakin kalian bisa menyusul mereka!"
Kata Ih Hoa Liong.
"Ya, baiklah,"
Kata Chu Kiu Sek.
"Lega sudah hatiku, tapi katakan pada gurumu agar dia bisa mengulur waktu di tengah perjalanan."
"Baik, kalau begitu aku mohon diri!"
Kata Ih Hoa Liong. Mendengar pembicaraan sampai di situ hati Ci Giok Hian jadi kacau.
"Kakak dalam bahaya, aku harus ke sana memberitahu dia,"
Pikir nona Ci.
Rumah batu itu dijaga ketat tidak mudah Ci Giok Hian bisa pergi dari situ.
Ditambah lagi jika dia pergi, siapa yang akan menolongi Han Tay Hiong dan puterinya yang juga dalam bahaya.
Kurang hati-hati sedikit saja nyawa mereka akan melayang.
Tak lama terdengar langkah kaki, itu pasti langkah Chu Kiu Sek yang mengantarkan Ih Hoa Liong pergi.
Tak lama Pik Po berbisik pada Ci Giok Hian.
"Mari kita kembali,"
Kata Pik Po.
"Tunggu sebentar,"
Bisik nona Ci.
Ci Giok Hian ingin mendengar pembicaraan Chu Kiu Sek lagi.
Maka itu dia 652 minta agar Pik Po bersabar sedikit.
Tapi tiba-tiba terdengar suara gemerincing.
Ternyata saat itu Chu Kiu Sek telah mengibaskan tangannya untuk melontarkan segenggam senjata rahasia ke arah persembunyian Ci Giok Hian dan Pik Po.
Rupanya suara Ci Giok Hian terdengar oleh Chu Kiu Sek, maka dia langsung menyerang ke arah suara itu.
Saat itu tempat persembunyian mereka agak gelap sehingga Chu Kiu Sek tidak bisa melihat mereka dengan jelas.
Tak heran saat itu Chu Kiu Sek pun jadi agak raguragu.
"Hm! Barangkali suara tikus atau ada orang yang bersembunyi di sana?"
Pikir Chu Kiu Sek.
Belasan senjata rahasia itu menyambar dengan cepat dan ada tiga buah yang menerobos masuk ke dalam goa.
Goa itu sangat sempit hingga nona Ci tidak bisa berkelit, terpaksa dia sambut serangan itu dengan ilmu Tan-ci-sinthong.
Dua senjata rahasia itu dapat ditangkis dengan jitu, tapi yang sebuah terus meluncur.
Saat itu Pik Po sudah tiarap di tanah, tetapi punggungnya tak urung tergores oleh senjata rahasia itu.
Sedangkan senjata itu terus meluncur dan membentur dinding goa, baru senjata jatuh ke tanah.
Dengan menahan rasa sakit Pik Po menekan tombol untuk menutup pintu goa Ketika Chu Kiu Sek mengejar mereka ke tempat gelap itu, pintu lorong sudah tertutup rapat.
Jika bukan seorang ahli dan sangat teliti, pintu goa itu tidak akan ketahuan.
Pada saat Chu Kiu Sek menyerang dengan senjata rahasia, dia berpikir.
"Seandainya di tempat itu ada orang, dan orang itu tidak terkena senjatanya, pasti orang itu akan ketakutan setengah mati!"
Pikir Chu Kiu Sek. Chu Kiu Sek maju lagi beberapa langkah ke tempat gelap itu, tapi dia tidak melihat apa-apa. Dia jadi bingung sendiri.
"Eh, apakah tadi aku salah dengar?"
Kata Chu Kiu Sek. Ih Hoa Liong yang tidak mendengar apa-apa jadi heran.
"Apa Lo-cian-pwee mengira di sini ada penyusup?"
Kata Ih Hoa Liong. Chu Kiu Sek mengangguk.
"Benar, aku mendengar ada suara lirih...."
Kata Chu Kiu Sek.
"Apa benar dia begitu berani menyusup ke mari?"
Kata Ih Hoa Liong penasaran. Chu Kiu Sek tidak menyahut, selang beberapa saat baru dia bicara.
"Tidak ada salahnya jika kita siaga, pembicaraan kita tadi jika didengar orang lain, rencana kita bisa berantakan! Sekarang kau boleh pulang, dan beritahu gurumu agar arah perjalanan itu diubah sedikit! Aku harus hati-hati di tempat ini, dalam beberapa hari ini akan kujaga ketat orang-orang Beng Cit Nio agar tidak ada yang bisa keluar dari sini!"
Kata Chu Kiu Sek. Rupanya Chu Kiu Sek curiga kalau di tempat itu ada jalan rahasia, dan Beng Cit Nio mengirim anak buahnya untuk mencari keterangan.
"Dia majikan di tempat ini, jika kau tidak berhasil menghalangi mereka bagaimana?"
Kata Ih Hoa Liong.
"Jika tidak bisa kuhalangi, paling tidak mereka kuawasi! Dia majikan tempat ini, mana mungkin dia akan meninggalkan sarangnya?"
Kata Chu Kiu Sek.
"Ah, lega hatiku, jika Beng Cit Nio tidak turun sendiri dan hanya anak buahnya yang dia utus, hal itu tidak akan menimbulkan badai,"
Kata Ih Hoa Liong.
Sementara itu Ci Giok Hian dan Pik Po sudah keluar dari dalam lorong.
Mereka bernapas lega.
Pik Po meraba punggungnya lalu dia meleletkan lidahnya "Sungguh berbahaya!
Jika aku tidak tengkurup, pasti tenggorokanku akan tertembus senjata itu.
Untung aku hanya tergores sedikit dan tidak berdarah!"
Kata Pik Po. Tapi Pik Po tiba-tiba ingat sesuatu.
"Tik Khim, tadi aku dengar ada tiga buah senjata rahasia menyambar ke arah kita, tapi heran kenapa kau tidak terluka?"
Kata Pik Po. Ci Giok Hian terkejut.
"Benar-benar setan kecil ini cerdas sekali"
Pikir Ci Giok Hian yang sedikit kagum.
"Memang kedua senjata itu menyambar ke kepalaku, untung bentrok dengan tusuk rambutku sehingga senjata itu berjatuhan,"
Kata Ci Giok Hian "Ooh, begitu? Aku kira kau tangkis semua senjata itu!"
Kata Pik Po.
"Cuma aku yang terkena oleh senjata itu!"
"Oh, ya, kalau begitu jangan bergerak!"
Kata nona Ci.
"Biar aku periksa lukamu itu!"
"Tidak apa-apa hanya tergores sedikit!"
Kata Pik Po. Tiba-tiba terdengar suara orang bicara "Hai kalian sedang apa di sini? Pik Po, siapa yang melukaimu?"
Kata Beng Cit Nio yang tiba-tiba melihat Beng Cit Nio sedang berjalan ke arah mereka.
"Majikan, aku akan melapor kepadamu, ternyata kaudatang! Tadi aku dan Tik Khim ke terowongan, kami berhasil mendengar pembicaraan Chu Kiu Sek dengan orang she Ih, murid Jen Thian Ngo itu!"
Kata Pik Po.
"Hm! Pik Po kau terlalu berani dan ceroboh!"
Kata Beng Cit Nio menegur Pik Po.
"Aku juga ikut bersalah. Majikan,"
Kata nona Ci.
"Akulah yang punya ide mengajak Pik Po mencuri dengar pembicaraan mereka. Aku curiga mereka bermaksud tidak baik pada Majikan."
"Hm! Jadi kalian ketahuan?"
Kata Beng Cit Nio.
"Tidak! Iblis Tua itu menyerang kami dengan senjata rahasia, dan salah satu mengenai punggungku,"
Kata Pik Po.
"Kami lalu buru-buru kabur lewat terowongan bawah tanah. Dia tidak menemukan jalan itu!"
Beng Cit Nio menarik napas lega.
"Apa yang mereka bicarakan?"
Kata Beng Cit Nio. Pik Po melaporkan semua yang disengarnya. Beng Cit Nio mendengus setelah mendengar keterangan itu.
"Hm! Jadi mereka merencanakan perampokan harta itu, tapi semua itu tidak ada urusannya denganku. Maka lain kali kalian jangan usil!"
Kata Beng Cit Nio. Ci Giok Hian yang mendengar ucapan itu agak kecewa, tapi ia mengangguk.
"Tik Khim aku mencarimu karena ada urusan, mari ikut aku! Pik Po, lekas kau obati lukamu, lain kali kau jangan usil lagi!"
Kata Beng Cit Nio.
"Baik, Majikan!"
Sahut Pik Po. Ci Giok Hian mengira dia akan diajak main catur, tapi malah diajak ke kamar Beng Cit Nio. Begitu masuk ke kamar maj ikan itu nona Ci agak gugup dan cemas.
"Ada apa sampai Pik Po tidak boleh ikut? Apa yang akan dibicarakannya?"
Pikir nona Ci. Begitu sudah duduk nona Ci terperanjat dan girang karena di atas meja dia lihat guci arak obat miliknya. Tibatiba nona Ci agak kaget juga.
"Apakah dia mulai mencurigaiku? Kenapa dia keluarkan arak itu, seolah agar aku melihtanya?"
Pikir nona Ci.
"Tik Khim duduklah, aku mau bicara padamu,"
Kata Beng Cit Nio lembut.
"Baik, Majikan, hamba menunggu perintah Majikan,"
Kata nona Ci.
"Rupanya kau memang berjodoh denganku,"
Kata Beng Cit Nio.
"Sekalipun kau baru tiga hari bersamaku di sini, tapi aku sangat menyukaimu. Aku tidak punya anak perempuan, kau kuanggap sebagai puteriku."
Kata Beng Cit Nio. Setelah mengerutkan keningnya dia tersenyum.
"Kau puteri seorang sastrawan, mahir seni lukis, dan pandai bermain catur. Punya puteri angkat sepertimu, sungguh aku sangat beruntung. Tetapi barangkali aku tidak punya keberuntungan seperti itu. Tapi mulai hari ini dan selanjutnya kau tidak usah tidur bersama para pelayan lagi! Kau boleh memanggilku Ibu!"
Tik Khim alias nona Ci segera berlutut.
"Terima kasih atas kasih-sayangmu, Ibu angkat,"
Kata nona Ci.
"Tik Khim menurut nasihat Ibu!"
Beng Cit Nio tampak gembira sekali, dia rangkul Ci Giok Hian dengan mesra.
"Nah, itu baru anak ibu yang baik. Kau baik dan menyenangkan, tahukah kau, di sini masih ada orang yang berjodoh denganmu!"
Ci Giok Hian tertegun jantungnya berdebar-debar.
"Eh, apa yang dia maksud itu Seng Liong Sen?"
Pikir Ci Giok Hian dengan agak keheranan.
"Tik Khim, apa kau masih ingat pada nona Han itu? Aku kira saat kau baru tiba di tempat ini, kau pernah melihatnya,"
Kata BengCitNio. Nona Ci sedikit terkejut. Dia agak khawatir Beng Cit Nio sedang menyelidiki apa maksud kedatangan dia ke tempat itu, maka itu dia menjawab dengan hati-hati sekali.
"Ya, aku masih ingat saat Pik Po mengajaknya keluar dari kamarnya dan tanpa sengaja aku melihat dia! Ibu, apa aku telah melanggar peraturan di sini?"
Kata nona Ci. Beng Cit Nio tersenyum.
"Aku tidak menyalahkan kau, malah aku ingin minta bantuanmu,"
Kata Beng Cit Nio.
"Ibu tidak perlu berkata begitu, apa yang ingin aku laksanaka untuk Ibu, katakan saja!"
Kata nona Ci.
"Kelihatanya nona Han terkesan baik terhadapmu, dia juga ingat padamu,"
Kata Beng Cit Nio.
"Aku memang melihatnya, tetapi aku tidak sempat bicara dengannya,"
Kata Ci Giok Hian. Beng Cit Nio mengangguk.
"Aku tahu maka itu aku katakan kalian berjodoh. Terusterang nona Han salah paham terhadapku, dan 658 terhadap semua orang di tempat ini. Dia acuh kepada kami! Tetapi sejak dia melihatmu, sudah dua kali dia bertanya pada Pik Giok dan Pik Cak tentang kau,"
Kata Beng Cit Nio. Pik Giok dan Pik Cak dua pelayan yang menjadi pengantar makanan ke kamar Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng. Ci Giok Hian kaget.
"Aah, Pwee Eng sangat ceroboh, kenapa dia menanyakan tentang diriku pada kedua pelayan itu? Bukankah itu malah akan membuka rahasiaku? Malah aku bisa celaka!"
Pikir Ci Giok Hian.
"Dia menanyakan, apakah kau pelayan baru di tempat ini? Dia juga memuji kecantikanmu. Pik Giok bilang kau mahir main kecapi, catur dan tahu seni lukis juga sastra. Mendengar keterangan Pik Giok dia senang sekali. Dia juga menanyakan tentang asal-usulmu, Pik Giok mengatakan bahwa kau puteri seorang sastrawan miskin. Mendengar keterangan itu dia merasa iba padamu!"
Kata Beng Cit Nio.
"Aah, Pik Giok terlalu banyak mulut"
Kata nona Ci seolah kurang senang. Beng Cit Nio tersenyum dan berkata lagi.
"Sekalipun dia tidak mengatakannya, aku tahu dia ingin menemuimu,"
Kata Beng Cit Nio.
"Aku suka pada nona Han, maka itu aku izinkan kau menemuinya. Hari ini kau boleh menggantikan Pik Giok mengantarkan makanan untuk mereka!"
"Aah, itu pekerjaan yang sangat mudah, mengapa Ibu begitu sungkan untuk menyuruhku?"
Kata nona Ci. Beng Cit Nio tersenyum.
"Selain membawa makanan, kau bawa juga arak ini. Usahakan agar Han Lo-sian-seng mau minum arak ini. Jika kau ditanya arak apa ini, katakan saja ini arak Kiu-thian-sunyang-pek-hoa-ciu"
Kata Beng Cit Nio sambil tersenyum.
Bukan main girangnya nona Ci ketika mendengar perintah itu.
Karenamemang saat diamaumenjadi pelayan, tujuan utamanya adalah untuk mencuri arak obat itu.
Sekarang dengan tidak usah mencurinya, malah Beng Cit Nio menyuruhnya mengantarkan arak obat itu pada Han Tay Hiong.
Sekalipun dia girang namun dia masih merasa was-was, dia tidak tahu isi hati Beng Cit Nio, apakah dia memang tidak mengetahui rahasia dirinya?
Atau malah sedang menyelidiki dirinya?
Tidak heran jika nona Ci Giok Hianjadi ragu-ragu, tetapi j ika dia menolak, dia merasa sayang.
Maka itu dia segera berpura-pura dan berkata demikkian.
"Aah, apa aku bisa melakukannya? Bukankah Han Lo-sianseng itu telah ditotok jalan darahnya oleh See-bun Souw Ya? Aku belum tahu apakah dia masih bisa minum arak atau tidak? Jika dia tidak bisa membuka mulutnya, bukankah percuma saja aku menemuinya?"
Kata nona Ci Giok Hian sambil mengawasi ingin tahu reaksi dari Beng Cit Nio.
"Hari ini adalah hari yang ketiga setelah Han Tay Hiong ditotok jalan darahnya,"
Kata Beng Cit Nio.
"Jalan darahnya yang tertotok pasti saat ini belum bebas, tetapi untuk minum aku kira dia bisa! Tetapi itupun harus atas kesediaan dia. Jika dia menolak maka kau pun tidak akan mampu memaksanya. Oleh karena itu kusuruh kau menasihatinya. Aku lihat nona Han terkesan baik kepadamu, aku yakin dia akan membantumu!"
"Tapi....aku tidak tahu bagaimana caranya aku menasihatinya?"
Kata nona Ci tetap pura-pura bodoh.
Sebenarnya saat itu juga dia sudah ingin segera membawa arak obat itu, tetapi karena Ci Giok Hian khawatir Beng Cit Nio sedang mencurigainya, maka dia berpura-pura tidak tahu, apa khasiat arak itu.
Beng Cit Nio manggut-manggut, sambil mengawasi ke arah nona Ci lalu dia berkata.
"Baiklah, kau kuberitahu,"
Kata Beng Cit Noio.
"Arak ini sangat bermanfaat bagi Han Tay Hiong, jadi kau jangan curiga, arak ini tidak beracun! Percaya padaku, jika arak ini beracun mana mungkin aku mau menyuruhmu menasihatinya!"
Awalnya nona Ci kaget saat Beng Cit Nio mengatakan agar dia "jangan banyak curiga"
Tetapi setelah ia melanjutkan katakatanya maka legalah hati niona Ci.
"Aah, mana berani hamba mencurigaimu...."
Kata Ci Giok Hian dengan agak tersipu-sipu. Tetapi sebelum nona Ci bicara habis Beng Cit Nio segera memotong pembicaraannya.
"Hm! Mulai sekarang kau jangan menyebut dirimu hamba,"
Kata Beng Cit Nio.
"Apa kau sudah lupa?"
"Oh, ya, maafkan aku. Bu!"
Kata nona Ci. Beng Cit Nio tersenyum.
"Baik, sekarang kau boleh pergi ke sana! Katakan kepada mereka, bahwa gunung hijau masih ada, jangan khawatirtidak akan punya kayu bakar, dengan kata-kata itu aku yakin mereka pasti paham!"
Kata Beng Cit Nio.
Kebetulan saat itu seorang pelayan masuk, pelayan itu sedang menjinjing guci arak Kiu-thian-sun-yang-pek-hoa-661 ciu, lalu arak itu dituang ke sebuah guci kecil hingga penuh, sesudah itu guci arak kecil itu diserahkan kepada Ci Giok Hian -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Di kamar tahanan Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng...
Sejak Han Pwee Eng bertemu dengan Beng Cit Nio, sejak itu otaknya terus bekerja.
"Dari nada bicara Beng Cit Nio yang aku dengar, orang yang mencelakai Ibuku itu orang lain. Tetapi siapa orang itu? Mungkin saja Beng Cit Nio sengaja membohongiku? Untung Ayah sudah mau bicara, lebih baik aku tanyakan padanya saja!"
Pikir Han Pwee Eng.
Ketika dia baru masuk ke ruang batu nona Han langsung memanggil-manggil ayahnya, tetapi tidak ada sahutan.
Ruang agak suram, dia tidak melihat ketika itu Han Tay Hiong sedang terbaring di atas tempat tidur.
Melihat hal itu Nona Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.
Segera dia hampiri ayahnya yang sedang terbaring itu.
Kemudian dia ulurkan tangannya ke hidung ayahnya.
Segera nona Han jadi lega, ternyata ayahnya masih bernapas.
Buru-buru nona Han membangunkan ayahnya, dia memeriksanya dengan teliti.
Nona Han girang, ternyata tidak ada tanda-tanda ayahnya itu keracunan, tetapi dia merasakan denyut nadi ayahnya agak aneh.
Setelah diperiksa lagi lebih teliti, segera nona Han mengerti, rupanya dua jalan darah penting ayahnya telah ditotok oleh orang jahat.
Saat itu ayahnya sedang mengerahkan hawa-murni untuk membebaskan totokan atas dirinya.
Tidak heran jika kondisi dan keadaan ayahnya jadi sangat lemah.
Han Pwee Eng segera mengerahkan lwee-kangnya untuk membantu ayahnya membebaskan diri dari totokan musuh.
Setelah secara berturut-turut selama tiga hari Han Pwee Eng membantu ayahnya dengan lwee-kangnya, kecuali saat makan.
Pada hari yang ketiga, tampak Han Tay Hiong terdengar menarik napas dalam.
Kemudian membuka matanya dan mengawasi ke arah puteri tunggalnya itu.
"Anak Eng, oh ayah telah menyusahkanmu, nak,"
Kata Han Tay Hiong.
Han Pwee Eng tersenyum, tapi karena tahu kondisi ayahnya masih lemah, dia tidak ingin membuat emosi ayahnya meluap.
Padahal nona Han ingin bertanya mengenai siapa yang meracuni ibu kandungnya, dan pertanyaan itu terpaksa dia simpan dulu sampai kondoisi ayahnya sehat benar-benar.
Tiba-tiba Han Tay Hiong bertanya pada puterinya.
"Anak Eng, apa yang dikatakan Beng Cit Nio padamu?"
Kata Han Tay Hiong.
"Sebenarnya ada khabar gembira yang akan aku katakan kepada Ayah,"
Kata nona Han. Han Tay Hiong mengawasi ke arah puterinya.
"Apa Beng Cit Nio akan membebaskanmu, nak?"
Nona Han mengangguk.
"Benar! Dia bilang begitu, diaakan berusaha melepaskan aku, namun masih ada khabar gembira yang lain, Ayah!"
Kata Han Pwee Eng menerangkan. Mendengar ucapan puterinya Han Tay Hiong tertegun tampaknya dia keheranan.
"Kau bilang ada khabar gembira yang lain?"
Kata Han Tay Hiong. Nona Han mengangguk.
"Benar Ayah aku melihat seorang pelayan Beng Cit Nio yang membuat aku heran pelayan itu mirip dengan Ci Giok Hian!"
Kata Han Pwee Eng. Mendengar keterangan itu mata Han Tay Hiong terbelalak.
"Ci Giok Hian katamu? Bagaimana dia bisa ke mari? Yang mengherankan aku, mengapa dia mau jadi pelayan Beng Cit Nio''"
Tanya Han Tay Hiong secara beruntun.
"Aku juga berpikir seperti Ayah juga,"
Jawab Han Pwee Eng.
"Aku yakin benar bahwa pelayan itu mirip sekali dengan Ci Giok Hian. Dilihat dari bentuk tubuhnya juga suaranya, malah dia juga memberi isyarat dengan suara batuknya Kemarin aku bertanya pada pelayan yang membawakan makanan ke mari. Dia bilang pelayan itu berasal dari Kanglam, dia datang kemari baru beberapa hari saja Maka aku mengambil kesimpulan bahwa pelayan itu pasti Ci Giok Hian. Dia sangat cerdas dan banyak akalnya. Entah dengan cara bagaimana dia bisa menyusup ke mari? Jelas pelayan itu pasti dia, dan tidak mungkin gadis lain akan sama batuknya dengan Ci Giok Hian!"
"Jadi kau pikir Ci Giok Hian datang ke mari untuk menyelamatkan kita?"
Kata Han Tay Hiong.
"Ayah, jangan lupa hubunganku dengannya bagaikan kakak beradik,"
Kata nona Han.
"Jika dia tidak bermaksud menyelamatkan kita, untuk apa dia menempuh bahaya dan mau datang ke mari?"
Han Pwee Eng agak heran mengapa ayahnya bertanya begitu.
"Eng, ada sebuah masalah dan Ayah lupa menanyakannya kepadamu,"
Kata Han Tay Hiong.
"Katakan Ayah tentang apa itu?' tanya nona Han.
"Ketika kau menikah, apakah Kakak Ci-mu itu datang dan 664 ikut minum arak kegirangan di rumah suamimu atau tidak?"
Kata Han Tay Hiong.
Ketika baru bertemu dengan ayahnya, yaitu sepulang dari Yang-cou, Han Pwee Eng telah membohongi ayahnya.
Dia sengaja mengaku bahwa dia telah menikah dengan Kok Siauw Hong.
Tak heran ketika ayahnya bertanya begitu, Han Pwee Eng jadi malu dan hatinya pedih sekali.
Untung di ruang batu itu agak gelap sehingga Han Tay Hiong tidak bisa melihat dengan jelas perubahan wajah puterinya.
Sekalipun Han Pwee Eng sangat berduka namun dia berusaha agar tetap bisa tersenyum di depan ayahnya.
Dengan suara perlahan dia lalu menj awab pertanyaan ayahnya.
"Aah, apakah Ayah lupa, ketika aku menikah di kota Yangcou, aku sama sekali tidak mengundang siapapun. Bagaimana dia bisa ke sana?"
Kata Han Pwee Eng.
"Letak kota Yang-cou tidak terlalu jauh dari Lembah Pekhoa-kok. Ayah kira dia ke sana? Apakah dari pihak pengantin lelakipun tidak mengundang mereka?"
Kata Han Tay Hiong. Nona Han tersenyum.
"Tidak Ayah!"
Jawab nona Han tegas.
Tetapi Han Pwee Eng agak heran mengapa ayahnya bertanya begitu?
Dia menduga-duga, barangkali ayahnya sudah mendengar peristiwa yang dialaminya?
Dengan tajam ayahnya menatap ke arah Han Pwee Eng.
"Hm! Kalau begitu Kok Siauw Hong tidak kenal dengannya dan keluarganya! Benar begitu?"
Kata Han Tay Hiong. Pertanyaan Han Tay Hiong membuat jantung nona Han jadi berdebar-debar.
"Maaf Ayah, aku tidak menanyakan hal pada Siauw Hong, tetapi mereka itu orang Yang-cou, jika mereka saling mengenal pun itu tidak mengherankan! Mengapa Ayah bertanya begitu?"
Kata nona Han.
"Dulu di antara keluarga Ci dan keluarga Kok terjadi sedikit kesalahpahaman,"
Kata Han Tay Hiong memberi penjelasan.
"tapi kau tidak perlu tahu mengenai masalah apa hingga mereka jadi bertikai. Mungkin saja Kok Siauw Hong mengetahuinya, atau barangkali juga tidak tahu! Jika dia tidak memberitahumu kau tidak perlu menanyakan padanya!"
Han Pwee Eng menarik napas lega.
"Hm, itu urusan masa lalu orang tua mereka!"
Pikir nona Han.
"Aku kira Siauw Hong dan Ci Giok Hian tidak mengetahui tentang pertikaian di antara keluarganya. Jika mereka tahu aku yakin mereka tidak akan begitu akrab, bahkan mereka bisa jadi saling jatuh cinta?"
Nona Han seorang yang bersahaja dan tidak terlalu ingin tahu masalah orang lain, tak heran sekalipun dia ingin tahu masalah itu, tetapi dia diam saja dan tidak banyak bertanya.
"Mengapa Ayah membicarakan soal dua keluarga itu, Ayah?"
Kata Han Pwee Eng.
"Karena aku ingin kau waspada terhadap keluarga Ci, sekalipun kau berhubungan baik sekali dengan mereka,"
Kata Han Tay Hiong.
"Baik, Ayah,"
Kata nona Han.
"Kesehatan Ayah belum pulih, sebaiknya Ayah istirahat saja sejenak!"
Kata nona Han.
"Apa yang dikatakan Beng Cit Nio padamu, kau belum menceritakannya pada Ayah,"
Kata Han Tay Hiong.
"aku 666 kira itu masalah penting. Jika kau belum mengatakannya pada Ayah bagaimana Ayah bisa tenang?"
"Dia meminta agar aku mau menjadi pengikutnya, tetapi telah kutolak!"
Kata nona Han.
"Jadi dengan cara itu dia hendak membebaskanmu?"
Kata Han Tay Hiong.
"Dia memang bilang begitu, tapi aku tidak percaya kepadanya,"
Kata Han Pwee Eng. Han Tay Hiong menghela napas panjang.
"Kau jangan terlalu curiga, Ayah kira kata-katanya boleh dipercaya. Tapi kau tidak bersedia jadi pelayan dia, aku kira itu karena keangkuhanmu, Ayah tidak menyalahkanmu. Dia masih bilang apa lagi?"
Kata Han Tay Hiong.
"Dia mengatakan dia sangat terkesan pada Ibu, dan dia bilang kasihan pada Ibu. Aku tidak percaya. Ayah sebenarnya dia atau bukan orang ang meracuni Ibu?"
Kata nona Han Pwee Eng kelihatan sangat penasaran. Mendengar kata-kata puterinya itu Han Tay Hiong terperanjat.
"Kau tanyakan masalah itu kepadanya?"
Kata Han Tay Hiong. Han Pwee Eng mengangguk.
"Benar, Ayah. Tapi dia tidak mau mengaku!"
Kata Han Pwee Eng. Kelihatan wajah Han Tay Hiong jadi tegang.
"Lalu dia bilang apa?"
"Dia bilang bukan dia tapi orang lain yang meracuni Ibu. Aku tanyakan padanya, siapa orang itu? Tapi dia tidak mau memberitahuku. Ayah! Katakan padaku, sebenarnya siapa yang meracuni Ibu?"
Kata Han Pwee Eng. Setelah diam sejenak Han Tay Hiong baru bicara.
"Dengan sesungguhnya Ayah memang mencurigai seseorang,"
Kata Han Tay Hiong.
"namun setelah aku pikirpikir dengan cemat, sekarang justru muncul sebuah teka-teki, sehingga Ayah tidak berani memastikan siapa yang meracuni Ibumu itu?"
"Katakan Ayah, siapa yang Ayah curigai itu?"
Kata Han Pwee Eng.
"Baik, tapi ceritanya panjang sekali,"
Kata Han Tay Hiong. Tetapi saat Han Tay Hiong baru akan menceritakan sesuatu pada puterinya, mendadak terdengar suara langkah kaki, menyusul suara seorang gadis bicara pada penjaga ruang batu.
"Huss! Orang Beng Cit Nio datang ke mari,"
Bisik Han Tay Hiong.
"Kepandaian gadis itu sangat tinggi mungkin tidak di bawahmu. Kita harus hati-hati, masalah yang akan Ayah ceritakan, pasti akan Ayah ceritakan setelah dia pergi!"
Sekalipun dia sedang tidak berdaya namun Han Tay Hiong masih tetap cekatan.
Begitu dia dengar langkah kaki gadis itu dia langsung bisa menebak, bahwa gadis itu berkepandaian tinggi.
Gadis itu Ci Giok Hian yang menerima perintah dari Beng Cit Nio untuk mengantarkan makanan pada Han Tay Hiong dan puterinya.
Selain makanan dia juga membawa seguci kecil arak.
Ci Giok Hian seorang gadis yang cerdas dan sikapnya selalu berhati-hati.
Sekalipun dia sangat girang bisa bertemu dengan Han Pwee Eng, namun sikapnya biasa-biasa saja dan tidak dia perlihatkan 668 kegirangannya itu.
Ini dilakukannya agar orang tidak mencurigai dia "Kata Beng Cit Nio ini bukan arak beracun, namun aku tidak bisa menjamin kalau dia tidak berbohong.
Maka lebih baik aku memeriksanya dulu,"
Pikir Ci Giok Hian.
Saat dia masih berada di sebuah koridor, kebetulan di tempat itu tidak ada orang lain.
Dia segera mengeluarkan sebatang jarum perak dan membuka tutup guci arak itu.
Dia langsung mencelupkan jarum-perak itu ke dalam guci.
Ini untuk menyelidiki apakah arak itu beracun atau tidak?
Sesaat kemudian jarum-perak itu dia angkat dari dalam guci dan dia periksa Ternyata jarum-perak itu tetap putih bersih, itu tandanya arak itu tidak beracun.
Sesudah itu dia keluarkan obat bubuk pemberian Seng Capsie Kouw, katanya obat bubuk itu bisa memunahkan racun Hua-hiat-to.
Karena sikap Seng Cap-si Kouw sangat lembut kepadanya, malah dia yang mencarikan akal untuk menyelamatkan Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng, Ci Giok Hian tidak mencurigainya.
Malah dia mencurigai BengCitNio.
Hari itu yang menjaga kamar batu Pouw Yang Hian, murid See-bun Souw Ya yang pernah bertemu dengannya.
Pouw Yang Hian tidak ingat kejadian itu, yang dia tahu Ci Giok Hian ini pelayan baru Beng Cit Nio.
Pada saat Ci Giok Hian baru sampai di tempat itu, dia diantar oleh Tik Bwee.
Pouw Yang Hian dikalahkan oleh Tik Bwee.
Hari ini Ci Giok Hian mengantarkan makanan untuk para tahanan itu.
Begitu melihat Ci Giok Hian timbul kemarahan Pouw Yang Hian.
Namun, dia tidak tahu berapa tinggi kepandaian silat Ci Giok Hian ini.
"Pasti kepandaian gadis ini masih rendah,"
Begitu Pouw Yang Hian berpikir.
"Ditambah lagi dia sangat cantik, kebetulan dia datang sendirian saja tidak ditemani. Lebih baik aku goda dia!"
Begitu Ci Giok Hian sampai Pouw Yang Hian langsung menghadang gadis itu.
"Kau membawa apa?"
Kata Pouw Yang Hian dengan sikap ceriwis.
"Aku membawakan makanan untuk tahanan, karena Kakak Pik Cak tidak sempat ke mari, majikan menyuruh aku menggantikan makanan ini. Cepat buka pintunya!"
Kata Ci Giok Hian dengan angkuh. Pouw Yang Hian nyengir.
"Tunggu! Kau mengantar makanan atas perintah Beng Cit Nio, kenapa kau membawa arak ke mari?"
Kata Pouw Yang Hian.
"Arak ini aku bawa atas perintah majikanku, memang kenapa?"
Tanya nona Ci agak terkejut saat dia ditegur begitu. Memang Pouw Yang Hian berniat menyulitkan gadis ini, maka dia menggodanya.
"Tak apa-apa, tapi aku merasa heran biasanya pelayanpelayan hanya mengantarkan makanan dan tidak membawakan arak!"
Kata Pouw Yang Hian.
"Mana aku tahu? Kalau kau ingin tahu sebabnya, tanyakan saja pada majikanku!"
Kata Ci Giok Hian sedikit menggertak. Pouw Yang Hian tertawa dingin.
"Hm! Kau gunakan nama Cit Nio untuk menggertakku, ya? Kau mau masuk ke ruang batu ini, tetapi kau masih 670 harus memohon agar dibukakan pintu olehku, kan? Atas perintah guruku aku menjaga tempat ini. Aku berhak memeriksa makanan dan arak yang kau bawa itu! He! He! He! Karena ada tambahan seguci arak ini, maka kau tidak kuizinkan langsung masuk!"
Kata Pouw Yang Hian. Tiba-tiba dia buka tutup guci arak itu dan berteriak.
"Oh, harumnya! Harum sekali!"
Kata Pouw Yang Hian.
"Dengar nona pelayan, Han Tay Hiong tidak bisa minum arak apalagi puterinya. Lebih baik arak ini aku yang minum saja!"
Dia ambil guci arak itu, dia kelihatan hendak langsung meneguknya. Melihat kelakuan Pouw Yang Hian tentu saja Ci Giok Hian jadi kaget Nona Ci langsung membentak.
"Cepat letakan guci arak itu!"
Kata Ci Giok Hian. Dia sambar sepasang sumpit di atas nampan makanan, lalu dia siap akan menotok jalan darah Pouw Yang Hian dengan sumpit tersebut. Tapi tiba-tiba dia mengubah niatnya itu.
"Aah, tidak! Aku tidak boleh menunjukkan kepandaianku, jika kutinjukan pasti dia akan mencurigaiku! Ini bisa merusak semua rencanaku!"
Pikir nona Ci.
Maka itu dia batalkan menotok jalan darah Pouw Yang Hian, dia hanya memukul tangan Pouw Yang Hian dengan sepasang sumpit itu.
Sebenarnya sikap Pouw Yang Hian tadi hanya ingin menggoda nona Ci saja, sebenarnya dia segan juga kepada Beng Cit Nio, majikan rumah batu itu.
Saat nona Ci menggerakan tangan, Pouw Yang Hian sedikit agak curiga.
Wajah Ci Giok Hian cantik sekali, dia tidak mirip dengan orang yang pandai silat Pouw Yang Hian juga tahu yang menyuruh nona Ci datang ke tempat itu Seng Cap-si Kouwjuga bukan karena gadis itu lihay ilmu 671 silatnya melainkan karena nona ini pandai menyanyi dan main musik, catur dan ahli sastra.
Dia menjadi pelayan di tempat itu khusus untuk menemani Beng Cit Nio main catur dan sebagainya.
Ketika Pouw Yang Hian terjungkal di tangan Tik Bwee, tapi sekarang dia masih berani mempermainkan Ci Giok Hian.
Semua itu karena dia yakin Ci Giok Hian tidak pandai silat.
Sumpit di tangan nona Ci berhasil memukul tangan Pouw Yang Hian, tapi pukulan itu tidak membuat Pouw Yang Hian merasa sakit, hingga dia jadi keheranan.
"Tadi sepasang sumpit itu bergerak seolah hendak menotok jalan darahku,"
Pikir Pouw Yang Hian.
"Eh, apa aku tadi salah lihat? Tapi pukulannya biasa saja tidak punya lwee-kang. Apa dia bisa silat atau tidak? Mengapa kelihatan dia begitu tegang saat arak ini akan aku minum?"
Sekalipun berpikir begitu Pouw Yang Hian sadar gurunya tidak ada di tempat, maka dia tidak berani banyak tingkah lagi, lalu dia berkata pada nona Ci.
"Aku hanya bergurau, kau tampak begitu tegang! Baik, jika kau tidak bersedia memberi penjelasan akan kutanyakan sendiri pada Beng Cit Nio. Baru sesudah itu aku izinkan kau masuk!"
Kata Pouw Yang Hian. Ci Giok Hian agak kaget dia tidak ingin buang waktu.
"Majikanku bilang ruang batu ini sangat pengap,"
Kata nona Ci.
"Dia takut ayah dan anak itu sakit. Lalu majikan menyuruhku mengantarkan seguci kecil arak ini untuk mereka minum!"
"Hm! Mengapa kau tidak bilang dari tadi?"
Kata Pouw Yang Hian.
"Ini cuma masalah kecil, kau malah mempersulit aku, maka aku sengaja tidak mau memberitahumu!"
Kata nona Ci. Pouw Yang Hian manggut-manggut.
"Baik, kalau begitu aku minta maaf,"
Kata Pouw Yang Hian.
"Biar aku wakili kau mengantarkan makanan dan arak ini pada mereka. Ini kulakukan agar aku bisa menebus dosa dan kesalahanku tadi."
Pouw Yang Hian mengulurkan tangan akan mengambil tempat makanan itu dari tangan Ci Giok Hian.
Jilid Ketiga BENG CIANG HONG IN LOK (Badai Awan dan Angin) oleh .
Liang le Shen Diceritakan kembai oleh .
marcus A.S.-MARWIN Penerbitan & Percetakan Judul asli.
Beng Ciang Hong In Lok Penulis asli.
Liang le Shen Diterjemahkan oleh .
Ai Cu Diceritakan kembali oleh .
Marcus A.s.-Diterbitkan atas kerjasama dengan San Agency & Marwin Cetakan pertama .
2005 Bab 25 Melihat tangan Pouw Yang Hian terjulur akan mengambil tempat makanan dan arak obat itu, tentu saja Ci Giok Hian jadi kaget bukan kepalang.
Segera dia maju mencoba untuk mencegah tindakan murid See-bun Souw Ya ini.
"Jangan! Aku tidak perlu merepotkan Toa-siok (Paman)!"
Kata Ci Giok Hian. Melihat sikap Ci Giok Hian itu, Pouw Yang Hian purapura kurang senang.
"Aku yang harus mengantarkan makanan ini, udara di ruang batu itu sangat pengap,"
Kata Pouw Yang Hian.
"Aku pikir tidak pantas kau yang masuk ke ruangan pengap itu! Biar aku saja yang mengantarkan makanan dan arak ini!"
Tangan Pouw Yang Hian tetap bergerak untuk meraih tempat makanan dan guci arak obat itu dari tangan nona Ci.
Dalam keadaan yang sangat terdesak, mau tidak mau Ci Giok Hian harus memperlihatkan kepandaiannya Tangan nona Ci langsung bergerak dengan cepat, dia totok jalan darah Pouw Yang Hian.
Tetapi pada saat yang bersamaan, Pouw Yang Hian pun sedang menepuk tangan nona Ci yang sedang menjinjing keranjang makanan itu.
Akibatnya keranjang itu tersampok hingga jatuh ke lantai.
Saat itu Ci Giok Hian dan Pouw Yang Hian sedang bertarung.
Sebenarnya lwee-kang Pouw Yang Hian jauh lebih tinggi dibanding dengan lwee-kang nona Ci, namun saat Pouw Yang Hian berhadapan dengan Kong-sun Po, pemuda itu berhasil memecah lwee-kang Pouw Yang Hian, akibatnya ilmu Hoa-hiat-to Pouw Yang Hian jadi berantakan.
Ketika itu lweekang Pouw Yang Hian belum pulih benar, tidak heran kalau tangkisan Ci Giok Hian 675 membuat Pouw Yang Hian terhuyunghuyung beberapa langkah ke belakang.
Saat itu Pouw Yang Hian baru sadar bahwa nona Ci ini berkepandaian tinggi, ketika Pouw Yang Hian hendak berteriak minta bantuan.
Ci Giok Hian langsung menotok jalan darahnya.
Gerakan nona Ci sangat cepat, Pouw Yang Hian tidak mampu berkelit dari totokan nona Ci.
Dengan demikian jalan darahnya kena tertotok tepat oleh Ci Giok Hian.
Saat itu Ci Giok Hian melihat keranjang makanannya tergeletak di lantai, tutup guci arak sudah terbuka, tapi untung araknya tidak tumpah.
Ci Giok Hian segera menutup guci arak itu, baru dia menghampiri Pouw Yang Hian dan mengambil kunci ruang tahanan dari tangannya.
Tubuh Pouw Yang Hian diseret dan disandarkan ke dinding batu.
Sekarang kelihatan Pouw Yang Hian seperti orang yang sedang tidur bersandar di dinding.
Ci Giok Hian berdoa dalam hati, dia berharap dalam waktu singkat tidak akan ada orang yang datang ke tempat itu.
"Asalkan tidak ada yang datang, aku punya harapan bisa menyelamatkan mereka dari tempat ini!"
Pikir Ci Giok Hian.
Nona Ci yakin benar khasiat arak Kiu-thian-sun-yang Pekhoa-ciu buatannya itu, ditambah lagi dia tahu Han Tay Hiong memilik lwee-kang yang tinggi.
Arak obat itu sekarang telah dicampur dengan obat bubuk yang katanya pemunah racun Hua-hiat-to pemberian Seng Cap-si Kouw.
Ci Giok Hian yakin dalam waktu singkat Han Tay Hiong akan pulih kembali kesehatannya, sekalipun hanya empat sampai enam bagian saja, yakni setelah dia minum arak obat itu.
Jika Chu Kiu Sek datang nona Ci pun yakin, dia 676 bersama Han Pwee Eng akan mampu melawan Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya.
Jika berhasil inilah kesempatan emas yang paling berharga bagi mereka.
Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng telah mendengar suara I perkelahian diluar kamar tahanan mereka.
Sesudah pintu kamar tahanan itu terbuka, tampak Ci Giok Hian berjalan ke dalam kamar tahanan dengan langkah tegap.
Melihat kedatangan Ci Giok Hian mata Han Pwee Eng terbelalak.
"Kalau dia pelayan Beng Cit Nio, kenapa dia berkelahi dengan Pouw Yang Hian?"
Pikir Han Pwee Eng. Nona Han jadi curiga lalu bertanya pada Ci Giok Hian yang sedang menyamar jadi pelayan itu.
"Siapa kau sebenarnya?"
Kata Han Pwee Eng.
Ci Giok Hian meletakkan keranjang yang dibawanya di atas meja, lalu dia buka jendela kamar tahanan itu supaya cahaya bisa masuk ke dalam kamar tahanan.
Sesudah itu baru Ci Giok Hian membersihkan mukanya yang memakai bedak untuk penyamaran dirinya.
"Eh, Pwee Eng, apakah kau sudah tidak mengenaliku lagi?"
Kata Ci Giok Hian. Mendengar suara yang sangat dikenalnya dan melihat wajah Ci Giok Hian yang asli, tentu saja Han Pwee Eng jadi kaget bukan kepalang. Dia juga girang bukan main.
"Kakak Hian rupanya kau, bagaimana kau bisa datang ke mari?"
Kata Han Pwee Eng.
"Jika kisahnya aku ceritakan sekarang akan panjang sekali,"
Kata Ci Giok Hian.
"Nanti setelah kita keluar dari sini, semua akan aku ceritakan kepadamu. Paman Han, apa 677 jalan darahmu yang ditotok See-bun Souw Ya sudah terbuka!"
"Sudah, lalu kenapa?"
Tanya Han Tay Hiong. Mendengar jawaban itu nona Ci tampak senang sekali.
"Syukurlah kalau begitu, cepat Paman Han minum arak ini. Dalam waktu singkat Paman Han akan pulih kesehatannu!"
Kata Ci Giok Hian. Han Tay Hiong mengerutkan alisnya.
"Arak apa ini?"
Tanya Han Tay Hiong.
"Arak buatan keluarga kami itu diberi nama Kiu-thian-sunyang pek hoa-ciu"
Kata Ci Giok Hian. Han Pwee Eng girang dia langsung berkata pada ayahnya.
"Ayah jangan curiga, arak itu mampu mengobati luka yang terkena pukulan Siu-lo-im-sat-kang"
Kata nona Han. Han Tay Hiong sedikit tercengang.
"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?'' kata Han Tay Hiong.
"Aku sembuh oleh arak itu, Ayah!"
Kata Han Pwee Eng.
Han Tay Hiong bertambah curiga, dia tidak mau segera meminum arak obat itu.
Kecurigaan ini terjadi karena Han Pwee Eng telah membohongi ayahnya.
Ketika baru bertemu dengan ayahnya di kamar tahanan, Han Pwee Eng mengatakan dia telah menikah dengan Kok Siauw Hong.
Dengan demikian Han Tay Hiong mengira luka Han Pwee Eng sudah sembuh karena pertolongan Kok Siauw Hong yang mengobatinya dengan jurus Siauw-yang-sin-kang.
Jelas Han Tay Hiong tidak mengetahui kalau Han Pwee Eng di tengah perjalanan ketika akan ke Yang-cou telah diculik oleh Ci Giok Hian.
Akhirnya Ci Giok Hian mengobati puteri Han Tay Hiong dengan arak obat itu 678 hingga sembuh dari lukanya.
Han Pwee Eng sadar ayahnya mulai curiga.
"Memang sulit untuk mengelabui Ayah, tetapi saat ini aku harus membujuk Ayah supaya mau meminum arak obat itu!"
Begitu nona Han berpikir.
"Ayah, jika aku menceritakan pengalamanku itu akan panjang sekali ceritanya. Cepat Ayah minum arak obat itu. Aku tidak berbohong, aku pun pernah merasakan khasiat arak obat itu!"
Kata Han Pwee Eng. Melihat ayahnya tidak segera meminum arak itu nona Han jadi gugup sekali. Sebaliknya Han Tay Hiong malah bertanya pada Ci Giok Hian.
"Nona Ci, bukankah Beng Cit Nio yang menyuruhmu mengantarkan arak ini?"
Kata Han Tay Hiong dengan suara tajam.
"Benar, Paman Han,"
Jawab Ci Giok Hian terus terang.
"Kalau begitu dia juga yang mengutusmu untuk menyelamatkan kami?"
Kata Han Tay Hiong.
"Benar, Paman,"
Kata nona Ci. Mendengar jawaban yang jujur dari Ci Giok Hian, wajah Han Tay Hiong tiba-tiba berubah.
"Tidak! Aku tidak mau minum arak itu, lebih baik aku mati saja daripada aku menerima budinya!"
Kata Han Tay Hiong.
"Paman Han jangan salah mengerti,"
Kata Ci Giok Hian.
"Aku salah mengerti bagaimana?"
Kata Han Tay Hiong ketus.
"Ceritanya begini, Paman! Beng Cit Nio tidak mengetahui siapa aku ini. Dia juga tidak mengetahui arak obat ini sangat berkhasiat dari keluargaku!"
Kata Ci Giok Hian memberi penjelasan.
"Hm! Kalau begitu, jika aku meminum arak ini aku menerima budimu dan bukan budi Beng Cit Nio? Dengan demikian aku jadi hutang budi kepadamu?"
Kata Han Tay Hiong dengan suara hambar. Mendengar jawaban ini nona Ci jadi gugup bukan main.
"Kenapa Paman Han memandang diriku seburuk itu? Dalam keadaan sangat berbahaya ini kenapa dia tidak mau minum arak obat ini. Apakah ini karena Pwee Eng telah memberitahu ayahnya bahwa aku telah merebut calon suaminya?"
Begitu Ci Giok Hian berpikir. Tanpa terasa wajah nona Ci berubah jadi merah-padam.
"Ucapan Paman Han sungguh keras sekali. Padahal hubunganku dengan Pwee Eng sudah seperti kakak beradik. Tetapi mengapa Paman berkata bahwa pemberian arak ini membuat Paman menerima budiku?"
Kata Ci Giok Hian dengan pilu.
Perubahan wajah Ci Giok Hian sekilas terlihat oleh Han Tay Hiong, sehingga orang tua ini jadi curiga sekali.
Sedang Han Pwee Eng yang tidak melihatnya, segera membujuk ayahnya.
"Ayah, aku tahu Ayah tidak mudah menerima budi seseorang,"
Kata nona Han.
"Tetapi Kak Ci ini seperti keluarga kita sendiri, minumlah arak ini, Ayah! Ayah jangan terlalu keras hati!"
Setelah mendengar bujukan puterinya Han Tay Hiong berpikir.
"Keluarga Kok dan keluarga Ci tidak bermusuhan dengan keluargaku; sedangkan anakku Pwee Eng menantu keluarga Kok. Tidak mungkin dia ingin menuntut balas kepadaku. Ditambah lagi Pwee Eng pun diobatinya, dia 680 tidak menuntut balas pada Pwee Eng. Aku yakin dia juga tidak berniat jahat ingin meracuniku!"
Pikir Han Tay Hiong. Ketika Han Pwee Eng melihat ayahnya diam saja sedang berpikir, Han Pwee Eng kembali membujuknya.
"Ayah, kau jangan hanya memikirkan diri Ayah sendiri. Apakah Ayah tidak memikirkan aku juga? Jika lwee-kang Ayah sudah pulih kembali, maka aku dan Ayah punya harapan untuk bisa meloloskan diri dari sini!"
Kata Han Pwee Eng. Tampak Han Tay Hiong kaget, dia berpikir lagi.
"Memang benar, demi kepentingan Pwee Eng aku harus menempuh bahaya untuk mencobanya,"
Pikir Han Tay Hiong. Setelah manggut-manggut dia tatap wajah Ci Giok Hian sambil berkata.
"Baiklah, Nona Ci. Demi menyelamatkan kami sekeluarga kau berani menempuh bahaya,"
Kata Han Tay Hiong sambil mengambil guci arak itu dan langsung diteguknya tanpa berpikir panjang lagi.
Tetapi baru saja dia minum arak itu beberapa teguk, wajah Han Tay Hiong tibatiba berubah.
Sepasang matanya melotot dan membara sambil menatap ke arah Ci Giok Hian.
Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Ci Giok Hian saat itu.
Tiba-tiba tangan Han Tay Hiong bergerak dengan cepat, dia cengkram urat nadi Ci Giok Hian.
Tidak heran gadis ini pun jadi tidak bisa bergerak, sekujur tubuhnya lemas.
Pada saat yang bersamaan Han Tay Hiong telah mengangkat tangannya hendak menghajar batok kepala Ci Giok Hian.
Pemandangan ini hebat sekali!
Menyaksikan ayahnya akan menyerang Ci Giok Hian, bukan main kagetnya Han Pwee Eng.
"Ayah, jangan!"
Teriak Han Pwee Eng dengan kaget.
"Ci Giok Hian kau manusia kejam! Beng Cit Nio yang menyuruhmu atau kau sendiri yang menaruh racun ke dalam arak ini?"
Kata Han Tay Hiong. Ucapan Han Tay Hiong membuat Han Pwee Eng kaget bukan main.
"Apa? Arak itu beracun?"
Kata Han Pwee Eng.
Pada saat yang bersamaan nona Ci pun merasakan tangan Han Tay Hiong dingin, tidak lama kemudian tubuh Han Tay Hiong pun roboh ke lantai tidak berdaya.
Sesudah Han Tay Hiong roboh nona Ci baru sadar kalau bubuk yang diberikan oleh Beng Cit Nio itu bubuk racun.
Dengan gugup dan tergesa-gesa Han Pwee Eng memeriksa nadi ayahnya, ternyata denyut nadi Han Tay Hiong masih bergerak-gerak, itu tandanya Han Tay Hiong belum binasa, tapi tubuh Han Tay Hiong sudah dingin.
Mendadak Han Pwee Eng melompat bangun.
"Ci Giok Hian! Kau ingin mendapatkan Kok Siauw Hong, aku bersedia mengalah kepadamu! Tetapi mengapa kau mencelakai Ayahku?"
Kata Han Pwee Eng.
Semula Han Pwee Eng percaya sekali pada Ci Giok Hian bahwa gadis itu akan menolongi mereka dengan tulus, tetapi sekarang telah terbukti di depan matanya, bahwa Ci Giok Hian telah mencelakai ayahnya.
Sebaliknya Ci Giok Hian berani menempuh bahaya demi menyelamatkan Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng, tetapi tidak diduganya justru sekarang dia telah mencelakakan Han Tay Hiong.
Dengan demikian Han Pwee Eng sekarang jadi salah paham dan menuduh dia mencelakai ayahnya.
Ci Giok Hian kaget dan berduka sekali.
Dengan suara dingin Han Pwee Eng berkata pada nona Ci.
"Mengenal orang tetapi aku tidak bisa menjajaki isi hatinya! Baik, Ci Giok Hian sekarang aku baru tahu sifatmu! Hm! Kau sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi, kan? Kepandaianmu lebih tinggi dari kepandaianku, tetapi sekarang kau boleh maju! Kau telah membunuh Ayahku, sekarang kau juga boleh membunuhku!"
Kata Han Pwee Eng dengan sengit. Nona Ci tersentak dan sadar dari mimpi buruk yang dialaminya itu.
"Bukan! Bukan aku yang mencelakakan ayahmu!"
Kata Ci Giok Hian gugup sekali.
"Kalau begitu, siapa yang mencelakai Ayahku?"
Kata Han Pwee Eng. Mendadak terdengar suara sahutan.
"Aku sudah tahu siapa dia?"
Kata suara sahutan itu.
Tak lama tampak seseorang berjalan ke dalam kamar itu.
Orang itu Beng Cit Nio adanya.
Ketika dia melihat Han Tay Hiong tergeletak di lantai tidak bergerak, Beng Cit Nio menghela napas seraya berkata.
"Aaah! Sayang aku datang terlambat selangkah!"
Kata Beng Cit Nio. Usai berkata begitu Beng Cit Nio menoleh dan menatap ke arah Ci Giok Hian, lalu berkata dengan suara dingin sambil melancarkan sebuah serangan pukulan yang hebat luar biasa.
"Sekalipun kau bukan pelaku utamanya, tetapi kau tetap membantu pelaku utama itu!"
Kata Beng Cit Nio.
"Maka aku tidak akan mengampunimu!"
Ucapan Beng Cit Nio membuat nona Han mulai mempercayai Beng Cit Nio, bahwa ada orang yang berniat 683 membunuh ayahnya dengan racun, tetapi dia yakin di balik peristiwa itu pasti ada sesuatu sebab lain.
Maka itu dia jadi tidak tega menyaksikan Ci Giok Hian mati di tangan Beng Cit Nio.
Saat itu Ci Giok Hian diserang oleh Beng Cit Nio.
Karena dia harus menyelamatkan diri, secara reflek dia tangkis serangan Beng Cit Nio itu.
"Buk!"
Tubuh Ci Giok Hian terpental hingga membentur dinding kamar batu.
Untung serangan itu tidak melukai Ci Giok Hian, sekalipun nona Ci roboh dan tubuhnya membentur dinding.
Melihat Ci Giok Hian roboh dan tidak terluka, Beng Cit Nio semakin gusar.
Beng Cit Nio semakin yakin bahwa Ci Giok Hian seorang mata-mata yang diutus Seng Cap-si Kouw ke tempatnya.
Saat Beng Cit Nio akan mengulangi serangannya, nona Han berteriak.
"Tunggu Cit Nio!"
Kata nona Han.
"Aku sudah tahu siapa pelaku utama semuanya ini, kau jangan banyak bertanya lagi!"
Kata Beng Cit Nio.
Beng Cit Nio langsung menyerang ke arah Ci Giok Hian.
Saat itu keadaan sangat kritis, entah bagaimana Ci Giok Hian harus menghindar dari serangan maut itu.
Ternyata Beng Cit Nio hendak menotok jalan darah Beng-khie-hiat nona Ci.
Tibatiba terdengar Beng Cit Nio membentak keras.
"Mengingat kau pernah menemaniku main catur, maka aku akan membunuhmu dengan tubuh tetap utuh!"
Kata Beng Cit Nio.
Ci Giok Hian sadar bahwa dia sudah tidak mungkin bisa menghindari serangan Beng Cit Nio itu.
Nona Ci juga sadar 684 sasaran jalan darah yang dituju oleh Beng Cit Nio sangat penting, jika tertotok maka dia akan binasa.
Dalam keadaan sudah tidak berdaya yang bisa dilakukan oleh Ci Giok Hian adalah memejamkan matanya dan pasrah diserang oleh Beng Cit Nio.
Saat jari Beng Cit Nio menempel ke tubuh nona Ci, Ci Giok Hian jadi heran dia hanya merasakan bagian yang tertotok itu sedikit kesemutan, dia tidak terluka dan itu berarti dia tidak akan binasa.
Rupanya saat jari Beng Cit Nio menyentuh tubuh nona Ci, kebetulan jari Beng Cit Nio mengenai benda keras di saku nona Ci.
Karena heran dan penasaran Beng Cit Nio mengambil benda itu dari saku Ci Giok Hian.
Benda itu ternyata sebuah cincin.
Saat melihat benda yang ada di tangan Beng Cit Nio, Ci Giok Hian baru ingat.
Malam itu Seng Liong Sen memberi dia sebuah cincin.
Ketika pulang dan sampai ke kamarnya, cincin itu dia simpan di dalam sakunya.
Sesudah Beng Cit Nio memperhatikan cincin itu, dia m megenali cincin itu milik Seng Liong Sen.
Maka itu dia langsung berkata.
Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis Gu Long
Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 2