Badai Awan Angin Pendekar Sejati 4

Eps 4 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.

"Karena aku membatalkan pertunanganku dengan puterinya. aku merasa bersalah kepada mereka. Tetapi setelah aku dengar kata-kata Paman Jen. maka niatku akan aku batalkan!"

Liok Kun Lun tersenyum.

"Nona Han sangat cantik dan ilmu silatnya pun tinggi. Apa kau masih menaruh hati kepadanya?"

Kata Liok Kun Lun. Wajah Kok Siauw Hong merah.

"Sekalipun aku bukan tunangannya lagi. tapi tetap aku tak bisa membiarkan dia dihina oleh Chu Kiu Sek. Apa salah yang aku lakukan itu. Lauw Cian-pwee?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Membantu orang yang lemah itu sikap terpuji seorang gagah. Asal itu kau lakukan bukan karena cintamu, aku lega."

Kata Liok Kun Lun.

"Hm! Sekalipun nona Han cantik dan baik kepadaku, aku tidak bisa menikah dengannya. Di hatiku hanya ada Ci Giok Hian seorang!"

Pikir Kok Siauw Hong. Tak lama Kok Siauw Hong berkata lagi.

"Sekalipun benar misalnya Han Tay Hiong bersekongkol dengan bangsa Mongol. tetapi nona Han tidak sejalan dengan pendapat ayahnya!"

"Dari mana kau tahu soal itu?"

Tanya Liok Kun Lun.

"Jika dia bekerja-sama. tidak mungkin dia menyerahkan kulit kambing bertulisan huruf Mongol itu kepadaku."

Kata Kok Siauw Hong.

Pernikahannya dengan nona Han memang telah dia batalkan, tapi setelah bertemu dengan nona Han.

dan menyaksikan sikapnya.

Kok Siauw Hong jadi kagum dan tanpa sadar dia membela nona itu.

Tak lama mereka sudah sampai di rumah Han Tay Hiong.

Ketika melihat kedatangan ketiga orang itu nona Han terperanjat.

"Nona Han. ini Liok Cian-pwee. ketua Kay-pang. dan yang ini Lauw Hiang-cu. Iblis Tua itu rupanya bertemu dengan kedua cian-pwee ini. Dia kalah dan kabur."

Kata Kok Siauw Hong. Nona Han kenal pada Lauw Kan Lu tetapi dia tidak kenal pada Liok Kun Lun. Dia segera memberi hormat.

"Ayahku didatangi oleh musuh, masih hidupkah dia atau telah binasakah dia. aku belum mengetahuinya."

Kata nona Han.

"Mohon bantuan dari Lo-cian-pwee untuk menyelidikinya!"

Han Pwee Eng sudah tahu perkumpulan Kay-pang bisa cepat mendapat informasi. Dia tidak tahu kalau ketua pengemis itu justru sedang mencurigai ayahnya bersekongkol dengan bangsa Mongol.

"Aku dengar rumahmu terbakar, maka kami ke mari. Legakan saja hatimu, kami akan membantu mencari di mana ayahmu itu berada."

Kata Lauw Kan Lu.

"Selain ayahmu yang tidak ketahuan entah di mana. apa ada yang masih selamat dan tidak terkena musibah?"

Tanya Liok Kun Lun.

"Semuanya telah mati. tapi kami menemukan seseorang yang masih hidup, dia bukan orangku tetapi orang lain yang tidak aku kenal."

Kata nona Han.

Nona Han mengajak tamunya masuk.

Orang yang dimaksud oleh nona Han itu masih duduk bersandar di tembok.

Sepasang tangannya sedang memegangi kepalanya.

Saat mereka masuk seolah orang itu tidak melihat dan mendengarnya.

"Siapa dia?"

Tanya Lauw Kan Lu pada nona Han.

"Dia seperti orang yang ketakutan dan berubah jadi bodoh. Setiap aku bertanya, dia hanya berteriak-teriak saja."

Sahut nona Han. Liok Kun Lun melepas tangan orang itu. lalu dia angkat dagu orang itu. Ketika sudah melihat wajah orang itu. Liok Kun Lun berseru.

"Bukankah kau ini Pauw Leng?"

Mendengar kata-kata Liok Kun Lun.

Kok Siauw Hong terkejut.

Pauw Leng dikenal dan bergelar Miauw Ciu Sin Touw (Pencuri Sakti Bertangan Lincah).

Setiap kali melakukan pencurian dia jarang gagal.

Heran sekali kali ini dia kedapatan terkubur hidup-hidup di rumah Han Tay Hiong.

Dia tatap wajah Liok Kun Lun.

dia seolah mengenali pengemis itu.

Liok Kun Lun segera memeriksa nadinya.

Seperti Kok Siauw Hong dia juga berpendapat, nadi Pauw Leng normal.

Tenaganya tidak hilang.

Sekalipun sangat lemah tidak seharusnya dia seperti orang yang mau mati saja.

Lalu Liok Kun Lun mengurut jalan darahnya.

Tak berapa lama Pauw Leng muntah.

Dia segera berlutut di depan Liok Kun Lun "Pang-cu..

.Tolonglah aku..

Kata dia. Suara Pauw Leng sangat lemah, seperti orang sakit "Legakan saja hatimu, aku akan mengobatimu."

Kata Liok Kun Lun. Nona Han kagum oleh kepandaian Liok Kun Lun ini.

"Nona Han. bolehkah aku bawa orang ini untuk kuobati. Sesudah sembuh dan bisa bicara, pasti kau akan kuberi tahu."

Kata Liok Kun Lun. Rumah nona Han telah rusak karena terbakar, dia sedang bingung mau ke mana? Sekarang Liok Kun Lun minta agar orang itu boleh dibawa, tentu saja nona Han tidak keberatan.

"Silakan. Pang-cu aku tidak keberatan. Tapi aku masih punya satu masalah, aku mohon bantuan dari Cian-pwee!"

Kata nona Han.

"Jangan sungkan-sungkan, katakan saja!"

Kata Liok Kun Lun.

"Hidup matinya Ayahku belum diketahui, maka sebaiknya sisa harta kami ini tolong Pang-cu bawa semua dan serahkan pada para pejuang!"

Kata nona Han.

Mendengar ucapan nona Han tentu saja dua pengemis tua itu kaget bukan main.

Harta keluarga Han sangat banyak.

Konon jika semua diuangkan, uangnya bisa untuk membeli sebuah kota.

Ini belum terhitung kekayaan yang lainnya.

"Orang-orang yang membakar rumah keluarga Han itu tidak mengambil barang milik berharga ini."

Pikir Lauw Kun Lun.

"Sungguh mengherankan? Jika yang membunuh itu Han Tay Hiong. mengapa dia tidak mengatur dulu. Misalnya dia menyingkirkan semua barang berharga agar tidak ikut terbakar. Jika ini perbuatan musuh, mengapa dia tidak mengambil kekayaan keluarga Han ini?"

Semula dia berpikir semua itu perbuatan Han Tay Hiong.

Setelah menyaksikan banyak benda berharga yang terbakai hangus, dia jadi ragu sendiri.

Bahkan Kok Siauw Hong pun heran dan kagum saat mendengar nona Han menyumbangkan hartanya untuk para pejuang tanah air.

"Nona Han. kau mulia dan gagah Kau pantas disebut pendekar wanita!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Nona Han berhati mulia, aku si Pengemis Tua kagum. Tapi jika ayahnya pulang, apakah dua tidak akan marah dan menyalahkan tindakannya?"

Kata Lauw Kan Lu. Kiok Kun Lun mengangguk.

"Baik Nona Han. kau menyumbang dengan tulus hati kami senang. Kami mewakili para pejuang mengucapkan terima kasih."

Liok Kun Lun mengawasi ke arah Lauw Kan Lu.

"Kau tinggal di sini mengurus hal ini. Aku akan membawa Pauw Ling ke markas cabang untuk mengobatinya."

Lauw Kun Lun mengangguk Liok Kun Lun langsung memapah Pauw Ling sambil berkata pada Kok Siauw Hong.

"Kok Hian-tit. kau juga ikut aku!"

Katanya.

"Baik."

Kata Kok Siauw Hong yang lalu menoleh ke arah nona Han.

"Nona Han. kau tunggu di sini aku akan ke mari lagi!"

Liok Kun Lu memapah Pauw Leng diikuti oleh Kok Siauw Hong. mereka meninggalkan rumah Han Tay Hiong. Sesampai di jalan gunung dia lepaskan Pauw Leng.

"Sudah. Pauw Lo-sam. kau jangan berpura-pura lagi. Kau harus berjalan sendiri!"

Kata Liok Kun Lun.

"Liok-lo-ya-cu."

Kata Pauw Leng.

"aku sudah dua hari tidak makan. Aku sangat kelaparan. Jika terpaksa aku memang hisa berjalan sendiri, tapi aku tidak akan sanggup mengikutimu."

Sahut Pauw Leng. Wajahnya berubah murung. Liok Kun Lun tertawa.

"Dasar mulut maling! Baik. aku akan membuatmu kenyang!"

Kata Liok Kun Lun. Pengemis tua itu menurunkan buli-buli araknya. Dia keluarkan seekor ayam panggang dari saku bajunya, ayam panggang itu dia berikan pada Pauw Leng.

"Ayam ini pemberian Lauw Kan Lu untukku, sekarang makanlah untukmu!"

Kata Liok Kun Lun. Pauw Leng menyantap panggang ayam dan minum arak. Tak lama dia seka mulutnya.

"Hm! Harum sekali arak ini. sayang cuma sedikit. Mari kita berangkat!"

Kata Pauw Leng. Pauw Leng sekarang bisa jalan dengan gagah dan cepat. Kok Siauw Hong keheranan melihat kejadian itu.

"Dia tak apa-apa. Tadi dia hanya pura-pura. Mengapa dia harus berbuat begitu?"

Pikir Kok Siauw Hong. Tak lama mereka sudah sampai di markas cabang Kaypang. Liok Kun Lun mengajak mereka ke ruang rahasia. Di sini baru Liok Kun Lun bicara.

"Nah. Pauw Lo-sam. kau sekarang boleh bicara. Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Kata Liok Kun Lun.

Dia awasi Kok Siauw Hong.

dia malu-malu untuk segera bicara.

Liok Kun Lun tertawa "Semua orang tahu bahwa kau Miauw-ciu-sin-touw.

Mau apa kau masuk ke rumah orang she Han itu?

Sudah lekas kau bicara jangan mau-malu!"

Kata Liok Kun Lun.

"Liok-lo-ya-cu orang yang pengertian, aku memang seorang pengusaha tidak bermodal, aku ke sana tentu saja untuk mencuri."

Kata dia. Liok Kun Lun tertawa.

"Kau terlalu berani. Kau bukan mencuri di tempat lain malah kau datang mencuri di rumah Han Tay Hiong!"

Kata Liok Kun Lun.

"Di Lok-yang memang banyak orang kaya. tapi tidak ada yang sekaya Han Tay Hiong. Maka itu aku ke datang ke rumahnya."

Kata Pauw Leng.

"Dari mana kau tahu Han Tay Hiong sangat kaya?"

Tanya Liok Kun Lun.

"Pekerjaanku menjadi pencuri, oleh karena itu aku harus banyak menyebar orang untuk mencari informasi yang akurat. Tahun lalu Han Tay Hiong membeli banyak barangbarang antik yang mahal harganya Dari sesama malinglah aku mendapat keterangan ini. Maka itu aku jadi tahu dengan jelas."

Kata Pauw Leng.

"Kau tahu tentang kekayaannya, apakah kau juga tahu dia seorang yang berilmu tinggi?"

Kata Liok Kun Lun.

"Jika kau berhadapan dengan salah seorang pelayannya pun. kau akan repot sekali. Apalagi kau harus menghadapi Han Tay Hiong. Apa matamu telah buta karena harta itu hingga kau lupa pada keselamatan nyawamu sendiri?"

"Tidak! Aku bukan buta oleh kekayaannya, tapi ...aku tidak tahu mengenai asal-usul Han Tay Hiong ini. Kau ketua Kay-pang tentu kau tahu siapa dia?"

Kata Pauw Leng. Liok Kun Lun manggut.

"Tidak heran kalau kau tidak tahu asal-usulnya, karena Han Tay Hiong sudah menutup diri selama duapuluh tahun. Tak heran kaum Rimba Persilatan biasa atau golongan muda jadi tidak tahu siapa dia? Dia adalah pesilat berilmu tinggi!"

Kata Liok Kun Lun. Pauw Leng manggut.

"Kau benar, kalau tidak masakan Beng Cong-piauw-tauw bersedia mengantarkan puterinya yang akan menikah di Yangcou?"

Kata Pauw Lena. Ketika itu wajah Kok Siauw Hong berubah merah. Entah Pauw Leng tahu atau tidak, bahwa calon menantu Han Tay Hiong itu adalah dia.

"Sudah kau jangan ngawur! Ceritakan saja setelah kau ada di dalam rumah Han Tay Hiong."

Kata Liok Kun Lun.

"Saat aku sampai di rumah Han Tay Hiong. lampu di kamar baca Han Tay Hiong belum dimatikan. Kemudian aku dengar ada orang yang bicara. Aku mengendap-endap mendekati jendela kamar itu. Maksudku akan meniupkan obat bius supaya mereka semua tertidur!"

Kata Pauw Leng.

"Apa kau berhasil meniupkan obat bius itu?"

Kala Liok Kun Lun.

"Belum!"

Kata Pauw Leng sambil menggelengkan kepalanya.

"Untung belum sehingga mereka tidak tahu aku ada di situ. Saat itu Han Tay Hiong sedang bicara dengan seseorang. Aku hanya mendengar dua patah kata dan aku jadi kaget."

"Kau tahu, siapa orang yang bicara dengan Han Tay Hiong itu?"

Kata Liok Kun Lun.

"Apa yang mereka bicarakan hingga kau kaget sekali?"

"Orang itu pelayan Han Tay Hiong."

Sahut Pauw Leng.

"Sayup-sayup aku mendengar kata-katanya.

""Apa yang dikatakannya?"

Desak Liok Kun Lun.

"Dia bilang "Kali ini aku telah membunuh Ho-pak Samhiong (Tiga Orang Gagah dari Ho-pak)."

Kata Pauw Leng menirukan suara pelayan Han Tay Hiong.

"Aku menyesal sekali!"

Mendengar keterangan Pauw Leng itu Kok Siauw Hong terkejut sekali.

"Ho-pak Sam-hiong itu orang gagah di Dunia Persilatan. Bagaimana pelayan tua itu malah membunuh mereka?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Mengapa dia bunuh Ho-pak Sam-hiong. apa dikatakannya?"

Kata Liok Kun Lun.

"Ya,"

Kata Pauw Leng lalu dia meneguk arak.

"dia bilang saat dia akan pulang, di Yun-kang dia bertemu dengan mereka. Mereka bertanya kepada pelayan itu, apa yang si pelayan tua lihat dan lakukan di Ho-lim? Pelayan tua itu bilang, selain majikannya, orang lain tidak boleh tahu. Ketika Han Tay Hiong mendengar keterangan pelayan tua itu bilang begitu, Han Tay Hiong memuji pelayan tua itu sangat setia kepadanya."

Setelah mendengar ucapan Pauw Leng kembali Kok Siauw Hong kaget.

Karena Ho-lam ibukota Kerajaan Mongol, dia heran mengapa Han Tay Hiong mengutus pelayan tua itu ke sana?

"Empat tahun yang lalu Siang-koan Hok singgah di kota Lok-yang,"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Waktu itu perang belum berkobar, katanya Paman Han menjamu Siang-koan Hok di rumahnya. Itu masih bisa dimaklumi karena antara Mongol dan kerajaan Song belum terjadi peperangan. Tapi sekarang pasukan Mongol telah memasuki wilayah Tionggoan, anehnya Paman Han masih mengutus pelayan tua itu ke kota Ho-lim. Ini bukti bahwa Paman Han benar-benar bersekongkol dengan bangsa Mongol?"

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

Kata Liok Kun Lun.

"Setelah Han Tay Hiong memuji pelayan tua itu, wajah si pelayan tua malah jadi murung,"

Kata Pauw Leng.

"Apa yang dikatakannya?"

Kata Liok Kun Lun.

"Dia bilang, saudara paling tua dari Ho-pak Sam-hiong melihatnya. Saat si pelayan tua tidak menjawab, lalu dia berkata, 'Baiklah! Tak apa kau tidak mau bicara, tapi aku sudah tahu jelas sekali. Kali ini kau menerima perintah majikanmu ke Ho-lam untuk menemui Siang-koan Hok dan pasti dia menulis surat untuk majikanmu. Cepat kau perlihatkan surat itu kepadaku!"

Katanya.

Si pelayan tua bilang, 'Memang surat itu ada padaku, tapi tidak bisa kuperlihatkan kepadamu.

Ketua Ho-pak Sam Hiong gusar.

'Baik, karena kau tidak bersedia menunjukkan surat itu, kami akan merebut surat itu dari tanganmu!' Akhirnya mereka berkelahi.

Sekalipun pelayan tua itu tidak berniat membunuh mereka, tetapi akhirnya Ho-pak Sam Hiong binasa di tangannya."

Kata Pauw Leng.

Liok Kun Lun menghela napas panjang.

'Oh.

Tidak kusangka Ho-pak Sam-hiong harus mati dengan penasaran.

Tapi tadi kau bilang pelayan tua itu sangat menyesal, jadi dia masih punya hati nurani juga,"

Kata Liok Kun Lun.

"Aku kira begitu,"

Kata Pauw Leng.

"Tapi Han Tay Hiong berpikir lain. Dia bilang pada si pelayan, ''Ho-pak Sam-hiong sudah tahu kau pelayanku, tapi mereka berani membuat kau susah. Mereka sudah sepantasnya binasa!' Tapi pelayan tua itu bilang begini, 'Tuan Besar tidak boleh bilang begitu! Mereka para pendekar termasyur, hanya karena sepucuk surat akhirnya mereka harus binasa. Mana aku bisa tenang. Aaah! Tahun ini umurku sudah 60 tahun, sekalipun selama ini aku sering melakukan perbuatan yang tidak terpuji, kali ini aku melakukan kesalahan besar!' Mendengar ucapan pelayan tua itu Han Tay Hiong marah.

"Tak perlu kau menysal, serahkan surat itu kepadaku!' Tapi dijawab oleh si pelayan tua, 'Tuan Besar, maafkan hamba!' pelayan tua itu kelihatan gugup sekali. Dia tidak mau menyerahkan surat itu. Wajah Han Tay Hiong berubah merah padam. 'Kenapa, apa surat itu hilang?' tanya Han Tay Hiong.

"Tidak! Surat itu ada padaku,' jawab si pelayan tua. Han Tay Hiong mengerutkan dahinya.

"Kalau begitu mana surat itu?' "Surat itu ada, tapi sudah dibuka! Aku minta maaf Tuan Besar!"

Wajah Han Tay Hiong berubah gusar bukan main.

"Siapa yang membuka surat itu?"

"Aku, Tuan Besar!"

Han Tay Hiong melotot.

"Kenapa kau buka?"

"Karena aku merasa berdosa pada Ho-pak Sam-hiong. sebelum Lo Toa (Saudara Tertua) mereka meninggal, aku ingin memenuhi permintaannya yang terakhir..."

Kata si pelayan lua.

"Kalau begitu dia sudah melihat surat itu?"

Kata Han Tay Hiong. Pelayan tua itu mengangguk.

"Ya, saat itu dua saudaranya yang lain telah mati. Dia bilang kepadaku, 'Kau sangat setia kepada majikanmu, aku tidak menyalahkanmu. Tapi surat itu sangat penting, kau harus menunjukannya kepadaku, agar aku tidak mati penasaran.' Aku pikir dia hampir mati. Sekalipun dia membaca surat itu, dia tidak bisa membocorkannya kepada orang lain. Lalu kurobek sampul surat itu. Kemudian kuperlihatkan kepadanya. Setelah membaca surat itu dia menghela napas panjang, 'Ternyata dugaanku tidak salah!' Saat itu aku terheran-heran, lalu aku bertanya, 'Maksudmu?' Dia balik bertanya, 'Kau mengerti tulisan Mongol?' kata Lo Toa. Lalu aku jawab aku mengerti sedikit. Dia berkata lagi, 'Bacalah sendiri! Jika kau setia pada majikanmu, sebaiknya surat ini jangan sampai jatuh ke tangannya!' Ketika aku mau bertanya lagi, dia telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Lalu kubaca surat itu."

Han Tay Hiong membentak.

"Kau sudah membaca surat itu?"

"Ya! Bahkan hamba siap dihukum apapun."

Kata si pelayan.

"Kau ikut aku sudah puluhan tahun, tidak kusangka kau berani berbuat begitu!"

Kata Han Tay Hiong.

"Tapi mengingat jasamu yang besar telah mengantarkan suratku, maka untuk sementara hukumanmu ditangguhkan. Cepat serahkan surat itu kepadaku!"

"Tapi lebih baik Tuan Besar jangan membaca surat ini!"

"Mengapa?"

Tanya Han Tay Hiong dengan gusar.

"Lo Toa benar, Tuan Besar sebaiknya tidak membaca surat ini. Jika Tuan Besar memaksa membacanya, kelak nama baik Tuan Besar akan hancur,"

Jawab si pelayan tua. Han Tay Hiong bertambah gusar.

"Omong kosong! Membaca atau tidak itu urusanku, kau jangan ikut campur!"

Kata Han Tay Hiong.

"Jika Tuan Besar memaksa ingin membacanya, bunuh dulu hamba!"

Kata si pelayan tua dengan berani. Han Tay Hiong kaget dan gusar.

"Jadi kau tetap akan melarang aku membacanya?"

Kata Han Tay Hiong. Pelayan itu mengangguk.

"Itu demi kebaikan Tuan Besar. Tapi jika Tuan Besar berkeras memaksa, apa boleh buat!"

Kata si pelayan tua. Dia genggam surat itu erat-erat. Saat itu Kok Siauw Hong teringat pada sesuatu.

"Oh, surat kulit kambing yang kutemukan itu ternyata surat dari Siang-koan Hok untuk Han Tay Hiong,"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Karena surat itu dipertahankan oleh pelayan tua itu, Han Tay Hiong gusar,"

Pauw Leng melanjutkan ceritanya.

"Apa maksudmu?"

Kata Han Tay Hiong. Pelayan tua itu menjawab.

"Seorang lelaki sejati, jika telah bicara, kata-katanya sulit dikejar, sekalipun dengan empat ekor kuda! Sekalipun hamba bukan seorang lelaki sejati, namun sudah hamba bilang begitu, tidak mungkin ditarik kembali! Silakan Tuan Besar mau bagaimana?' kata si pelayan tua dengan berani. Wajah Han Tay Hiong berubah merah. 'Hm!' dia mengeluarkan suara di hidung.

"Aku lihat Han Tay Hiong menggunakan jari tangannya menyentil,"

Kata Pauw Leng.

"Yang diserang kepalan tangan si pelayan tua itu! Seketika gigi si pelayan tua gemeretuk, wajahnya berubah kelabu dan keringat dinginnya mengucur. Entah ilmu apa yang digunakan Han Tay Hiong hingga membuat pelayan tua itu tersiksa sekali. Kepalan tangannya mulai terbuka. Tiba-tiba Han Tay Hiong menyambar surat itu. Tapi pada saat itu pelayan tua itu kembali memegang surat itu erat-erat, dan Han Tay 423 Hiong hanya berhasil mengambil separuh dari surat itu. Maka robohlah pelayan tua itu dengan sangat menderita."

"Lalu bagaimana selanjutnya?' tanya Liok Kun Lun.

"Han Tay Hiong benar-benar gusar,"

Kata Pauw Leng.

"Kemudian Han Tay Hiong berkata dengan nyaring. 'Kau benar-benar tak sayang pada nyawamu?' bentak Han Tay Hiong.

"Hamba tak ingin nama Tuan Besar hancur, silakan Tuan Besar bunuh hamba,"

Jawab pelayan tua itu. Wajah Han Tay Hiong berubah kehijauan.

"Hm! Apa kau kira aku tak berani membunuhmu?' kata Han Tay Hiong. Tiba-tiba dia memukul ke arah kepala pelayan tua itu. Tak lama terdengar suara jeritan mengerikan. Batok kepala pelayan tua itu berlubang, darah keluar dari lukanya. Mendengar cerita itu Liok Kun Lun gusar bukan main.

"Kelihatannya Han Tay Hiong itu seorang pria sejati, tak tahunya dia begitu keji melebihi seekor srigala!"

Kata Liok Kun Lun.

"Saat kusaksikan kejadian itu,"

Melanjutkan Pauw Ling.

"saking ketakutan aku nyaris pingsan. Aku berusaha agar tubuhku tak menggigil, tapi tetap menggigil hingga terdengar oleh Han Tay Hiong. Dia membentak, 'Siapa di luar?' Kemudian dia melancarkan pukulan ke arah jendela."

Pauw Leng diam sejenak, lalu melanjutkan.

"Untung aku bersembunyi di bawah jendela, kalau tidak batok kepalaku bisa hancur. Buru-buru aku pergi. Aku dengar suara Han Tay Hiong mengeluh. Mungkin dia heran mengapa pukulannya gagal mengenai sasaran. Han Tay 424 Hiong keluar akan mengejarku. Tapi untung Thian (Tuhan) masih melindungiku. Kebetulan malam itu rembulan tertutup oleh awan hitam, dia tidak melihatku. Dia melompat ke atas sebuah batu besar, lalu memukul ke empat penjuru. Saat itu aku sedang lari. Ketika aku merasa aku terkena pukulannya, darahku bergolak. Aku tidak tahu apakah aku terluka atau tidak? Tapi jelas aku sudah tidak bisa lari lagi."

Liok Kun Lun dan Kok Siauw Hong saling pandang.

"Hm! Tak kusangka dia memiliki pukulan sehebat itu!"

Kata Liok Kun Lun.

"Pantas Pauw Leng bergelar Miau-ciu-sin-tou, gin-kangnya memang lihay. Jika bukan dia mungkin tidak akan lolos dari serangan Han Tay Hiong!"

Pikir Kok Siauw Hong. Pauw Leng menyeka keringat di keningnya dan menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan ceritanya.

"Aku bingung dan tidak bisa menggunakan hawa murniku lagi. Jika aku lari aku takut langkahku akan terdengar oleh dia. Aku takut dan bingung bukan main,"

Kata Pauw Leng.

"Selanjutnya bagaimana?"

Tanya Liok Kun Lun tidak sabar lagi.

"Aku sudah tidak bisa kabur lagi,"

Sahut Pauw Leng.

"Terpaksa aku harus mencari tempat sembunyi di goa atau gunung-gunungan. Tapi tiba-tiba aku menemukan sebuah akal. Untung Han Tay Hiong tidak mendengar langkahku. Mungkin dia kira aku sudah pergi jauh dari rumahnya. Sekarang dia juga tidak melancarkan serangan seperti tadi..."

Setelah meneguk arak dia melanjutkan.

"Dengan hati-hati aku merangkak di tanah, aku tiba di tempat banyak pohonnya. Kebetulan tanah di tempat itu tidak keras. Lalu kugali sebuah lubang dan mengubur diri di sana."

Kata Pauw Leng.

"Saat kau menggali apa suaramu tak terdengar oleh Han Tay Hiong,"

Kata Kok Siauw Hong. Pauw Leng tertawa.

"Itu kepandaian khususku, dengan cara begitu aku bisa memasuki setiap rumah orang kaya,"

Kata Pauw Leng terus terang.

Aku tahu Han Tay Hiong telinganya tajam, tapi aku menggali tanah dengan kedua tanganku.

Jika jaraknya tak terlalu dekat dia tak akan mendengar aku menggali tanah.

Tapi nasibku memang tergantung dari keberuntunganku sendiri.

Han Tay Hiong terus mencariku, tapi sebelum dia menemukan aku, para pelayannya sudah berhamburan keluar.

Mereka ribut menanyakan ada apa." 'Ada apa, apa ada maling?' mereka bilang.

"Tidak ada,' jawab Han Tay Hiong. 'Kalian ke mari aku mau bicara!' Saat itu tubuhku sudah terkubur di dalam lubang. Mataku tak melihat apa-apa, tapi telingaku mendengar sesuatu yang mengejutkan.

"Apa yang terjadi?"

Tanya Liok Kun Lun. Pauw Leng mengelah napas baru dia melanjutkan.

"Aku mendengar suara jeritan yang menyayat hati. Pasti Han Tay Hiong telah membunuh para pelayannya itu. Bukan main takutnya aku. Aku mengeluarkan sebatang pipa yang selalu aku bawa-bawa, dan memasukkannya ke mulutku, kemudian kupakai untuk mengambil napas. Sedang yang muncul ke permukaan tanah, ya pipa itu."

Liok Kun Lun tersenyum.

"Aku sudah menduga pasti kau mengubur diri sendiri. Semula aku kira Han Tay Hiong yang menguburmu, aku heran bagaimana kau bisa tahan demikian lama di dalam tanah. Ternyata kau menggunakan pipa untuk bernapas..."

Kata Liok Kun Lun.

"Aku tahu hanya ini yang bisa menyelamatkan aku, tapi itu pun hanya untuk sementara waktu saja,"

Kata Pauw Leng sambil menghela napas.

"Jika Han Tay Hiong menemukan aku, pasti aku bisa celaka! Cepat atau lambat pasti dia akan menemukan aku. Untung halaman rumahnya demikian luas. Ditambah lagi rumah itu banyak kamarnya. Aku yakin dia tak menyangka aku mengubur diri di tempat itu. Jika dia ingin mencariku itu butuh waktu lama baru akan menemukan aku. Maka aku bilang nasibku tergantung dari keberuntunganku."

Setelah diam sejenak dia melanjutkan ceritanya lagi.

"Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terkubur di dalam tanah,"

Kata Pauw Leng.

"aku juga tidak tahu di mana Han Tay Hiong berada saat itu? Aku tidak berani keluar dari dalam lubang itu. Perutku terasa lapar sekali, tapi aku takut Han Tay Hiong akan menemukan aku. Aku benar-benar gugup dan panik sekali!"

Liok Kun Lun tertawa.

"Kau maling sakti, sejak kau jadi maling kau selalu berhasil dengan baik. Kali ini kau tersiksa, itu sudah cukup pantas!"

Kata Liok Kun Lun.

"Aku lapar mataku berkunang-kunang,"

Kata Pauw Leng melanjutkan ceritanya lagi.

"Entah sudah berapa lama kemudian aku mendengar suara seorang lelaki dan 427 perempuan datang mencari orang yang masih hidup di rumah itu. Saat itu aku memberanikan diri minta tolong...."

Sampai di sini dia awasi Kok Siauw Hong.

"Terima kasih atas pertolonganmu,"

Kata Pauw Leng pada Kok Siauw Hong.

"Aku dikeluarkan olehmu dari dalam lubang itu. Jika tak ada kau mungkin aku akan terkubur selamanya di tempat itu! Aku memang berpurapura seolah napasku hampir putus. Tapi jika aku disuruh keluar sendiri dari lubang itu, aku benar-benar tak sanggup!"

"Setelah Han Tay Hong membunuh semua pegawainya, apa lagi yang terjadi? Apa kau mendengarnya?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Aku sedang kelaparan hampir pingsan, hinggu aku lak tahu apa-apa lagi,"

Kata Pauw Leng.

"Baik, kau lelah dan ketakutan. Sekarang kau boleh istirahat. Aku tidak tahu apa aku akan menanyakan sesuatu lagi padamu atau tidak? Setelah kau segar aku akan memanggilmu!"

Kata Liok Kun Lun.

"Baik,"

Kata Pauw Leng. Seorang pengemis segera membawa Pauw Leng ke sebuah kamar supaya bisa istirahat. Setelah Pauw Leng pergi, Liok Kun Lun bicara dengan Kok Siauw Hong.

"Kok Hian-tit apa kau percaya pada cerita Pauw Leng tadi atau kau mencurigai dia? Menurutku dia sangat ketakutan, aku yakin dia tidak berpura-pura untuk berbohong. Ditambah lagi dia bicara di depanku!"

Kata Liok Kun Lun. Dahi Kok Siauw Hong berkerut.

"Ada yang membuatku heran..."

Kata Kok Siauw Hong.

"Mengenai apa?"

"Surat dari Siang-koan Hok itu sangat penting,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sesudah Han Tay Hiong membunuh si pelayan tua, mengapa dia tidak mengambil surat yang sepotongnya lagi dari tangan si pelayan tua? Seandainya dia pergi mencari Pauw Leng dan dia tidak berhasil menemukannya, dia masih sempat untuk kembali lagi mengambil surat itu. Baru dia pergi, ya kan?"

Setelah berpikir sejenak Liok Kun Lun mengangguk.

"Kau benar. Memang agak aneh? Tapi di dunia ini memang banyak hal yang aneh-aneh dan di luar dugaan. Siapa tahu ketika itu Han Tay Hiong menemukan sesuatu yang lebih penting sehingga dia harus segera pergi."

Kata Liok Kun Lun. Saat itu Lauw Kan Lu muncul ke kamar rahasia. Dia tertawa terbahak-bahak karena girang sekali. Liok Kun Lun heran dan langsung bertanya pada rekannya itu.

"Kan Lu, apa yang kau tertawakan?"

Kata Liok Kun Lun.

"Su-siok, coba kau terka, berapa banyak harta milik Han Tay Hiong itu?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Justru aku ingin tahu durimu, tapi kenapa kau girang sekali?"

Kata Liok Kun Lun.

"Aku tidak tahu berapa jumlah harta Han Tay Hiong itu?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Tapi menurut Pauw Lo Sam harta Han Tay Hiong itu cukup untuk membeli sebuah kota, aku rasa itu benar! Di rumahnya banyak emas dan perak. Untung aku telah mencari belasan saudara kita untuk memindahkan semua barang itu ke dalam empat buah kereta. Sekarang menggirangkan. Pantas saja kau begitu girang."

Kata Liok Kun Lun.

"Ya, aku girang. Barang-barang itu akan disumbangkan untuk para pejuang. Jangan salah bukan untuk pribadi!"

Kata Lauw Kan Lu sambil tertawa.

"Sudah, jangan bicara begitu, kau akan ditertawakan oleh Kok Hian-tit. Lekas bawa barang-barang itu ke gudang,"

Kata Liok Kun Lun.

"Baiklah, Su-siok! Malah aku sudah menyuruh beberapa anggota kita agar besok mereka bisa ikut mengawal. Aku akan ke Houw-wie-piauw-kiok untuk minta bantuan pada Beng Cong-piauw-thauw dan beberapa piauw-su lain."

Kemudian dia mengawasi Kok Siauw Hong sambil berkata.

"Kok Siauw-hiap, jika kau tidak punya urusan lain, kau boleh membantu kami supaya barang-barang itu aman di dalam perjalanan."

"Maaf, aku masih harus kembali ke rumah Han Tay Hiong. Lebih baik kalian berangkat lusa saja, aku pasti akan ke mari."

Kata Kok Siauw Hong. Lauw Kan Lu tertawa.

"Kau tidak salah semua urusan harus ada awal dan akhirnya. Kau belum resmi membatalkan pertundanganmu dengan nona Han, posisi nona Han masih calon isterimu. Tentu saja kau harus peduli kepadanya! Terus-terang nona Han tidak sama dengan ayahnya. Dia sumbangkan harta ayanya dengan tulus liati, sama sekali dia tidak merasa sayang. Semula aku curiga kepadanya, tapi sekarang tidak. Malah aku salut kepadanya. Kok Siauw-hiap, jika kau tidak jadi membatalkan pertunanganmu itu, aku juga tidak akan 430 mencegah kau menikah dengannya!"

Kata Lauw Kan Lu. Wajah pemuda itu merah.

"Maksudku bukan begitu, tapi aku sudah berjanji akan menemuinya lagi. Jika aku tidak menepati janjiku itu tidak baik,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Benar, rumahnya telah terbakar habis. Semua pelayannya juga mati. Dia sangat berduka, kau harus ke sana menghiburnya,"

Kata Lauw Kan Lu.

"Nona Han berjiwa besar, tapi dari mana Han Tay Hiong memperoleh harta sebanyak itu?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Dia nona yang sangat baik, jika dia tahu ayahnya begitu, pasti dia akan berduka sekali,"

Kata Lauw Kan Lu.

"Sudah Kan Lu, jangan nyerocos terus. Sekarang aku tanya kau, apakah kau sudah menemukan orang kita yang mengerti tulisan Mongol itu?"

Kata Liok Kun Lun.

"Sudah, Su-siok! Untung orang itu belum mengungsi malah aku sudah menyuruhnya menerjemahkan surat ini!"

Kata Lauw Kan Lu sambil tertawa. -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 16 Kok Siauw Hong menghentikan langkahnya. Dia ingin tahu apa isi surat itu, dia menghampiri Lauw Kan Lu. Kemudian langsung bicara.

"Apa isi surat itu?"

Tanya Kok Siauw Hong.

"Setelah diterjemahkan, isi surat itu begini . Setelah berhasil, daerah yang di Tiong-goan terserah.....Anda boleh jadi raja....bo!eh pilih sendiri yang mana? Begitu bunyi surat ini,"

Kata Lauw Kan Lu. Liok Kun Lun menepuk meja.

"Dugaan kita tidak salah,"

Kata Liok Kun Lun.

"Karena adanya sisa surat ini, kita sudah dapat membuktikan, bahwa Han Tay Hiong memang bersekongkol dengan bangsa Mongol!"

Kok Siauw Hong diam.

Hati pemuda ini sangat kacau.

Sekalipun surat itu tinggal separuh, namun beberapa kalimatnya sangat jelas.

Setelah berhasil itu artinya setelah pihak Mongol berhasil meruntuhkan Dinasti Song, maka Han Tay Hiong akan diangkat menjadi raja di suatu daerah.

"Kok Siauw-hiap, kau masih curiga pada sesuatu?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Tidak! Tapi masalah ini sangat tiba-tiba sekali, sungguh di luar dugaan,"

Sahut Kok Siauw Hong.

"Atas dasar surat ini, kecurigaan kita kepada Han Tay Hiong tidak salah,"

Kata Liok Kun Lun.

"Membunuh pelayan dan membakar rumah, itu pasti perbuatannya! Dengan akalnya ini dia ingin mengacaukan kita agar dia lebih leluasa menyambut kedatangan pasukan Mongol dari bagian dalam!"

"Kalau begitu dia belum mati!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Bagaimana? Aku lihat kau belum percaya bahwa dia seorang pengkhianat? Jelas dia belum mati, malah aku yakin dia masih ada di Lok-yang!"

Kata Lauw Kan Lu. Liok Kun Lun mengerutkan dahinya.

"Kita menghadapi kesulitan. Aku khawatir sewaktu-waktu pasukan Mongol akan masuk ke kota Lok-yang! Jika kita mengantarkan harta itu untuk para pejuang, bukankah 432 itu malah akan menggirangkan Han Tay Hiong? Dia bisa terus bersekongkol dengan bangsa Mongol. Lalu siapa yang akan mengungkap kejahatannya?"

Kata Liok Kun Lun.

"Siapa tahu ini malah sebuah perangkap?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Han Tay Hiong membiarkan kita mengambil hartanya, aku yakin sia tentu akan berusaha mengambilnya kembali! Sudah jelas dia tidak akan membiarkan kita aman sampai di tempat tujuan. Saat kita sedang berusaha keras mengantarkan harta itu pada para pejuang, sementara dia dengan leluasa bisa bergerak di dalam kota."

"Benar, oleh karena itu kita harus membuat rencana,"

Kata Liok Kun Lun.

"Pertama-tama kita selidiki dulu jejaknya Kok Hian-tit, aku kira masalah ini akan merepotkan kau. Sekarang puteri Han Tay Hiong sudah ada di sini. Aku yakin diam-diam dia akan menemui ayahnya. Han Tay Hiong akan berbohong untuk mengelabui puterinya agat tidak tahu perbuatan dia yang sebenarnya!"

"Baik, aku akan segera menemui nona Han. Jika aku mendapat kabar aku akan memberitahu kalian di sini!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Baik! Tapi sebelum semuanya jelas kau jangan bicara apaapa, supaya nona Han tidak risau,"

Kata Lauw Kan Lu.

"Aku tahu,"

Jawab Kok Siauw Hong.

Dia langsung pamit dan berangkat ke rumah Han Tay Hiong.

Di jalan pikiran Kok Siauw Hong jadi kacau.

Dia tidak tahu dari mana Han Tay Hiong bisa memiliki demikian banyak harta yang sangat berharga itu?

Sekalipun Lauw Kan Lu berpendapat bahwa semua itu siasat Han Tay Hiong.

Dia sengaja meninggalkan semua hartanya, tetapi Kok Siauw Hong tidak setuju pada pendapat Lauw Kan Lu 433 itu.

Dia heran kenapa Han Tay Hiong tidak membawa hartanya yang demikian banyak itu?

"Aku yakin Paman Han dengan susah-payah mengumpulkan harta itu, tidak semudah itu dia mau melepaskannya?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Sekalipun Lauw Kan Lu bilang dia akan merampas kembali hartanya itu, pekerjaan yang harus dia kerjakan itu sulit sekali! Kalau benar itu siasatnya, aku kira itu siasat yang sangat bodoh!"

Mengenai separuh surat yang sudah disalin itu, Kok Siauw Hong sudah menyampaikan kecurigaannya.

Bahkan Liok Kun Lun tidak berhasil memberi jawaban yang tepat.

Dia hanya menerka bahwa Han Tay Hiong bertemu masalah lain yang lebih penting, hingga ia tidak sempat mengambil sisa surat di tangan pelayan tua itu.

"Tak salah di dunia ini memang banyak masalah yang terjadi di luar dugaan. Mungkinkah begitu? Tapi tidak masuk akal!"

Pikir Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong terlalu yakin pada pendapat ayahnya. Dia kurang yakin pada pendapat Liok Kun Lun yang mengatakan bahwa Han Tay Hiong penjahat besar.

"Ayahku dan Paman Han bersahabat sudah puluhan tahun lamanya,"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Sekiranya Paman Han itu penjahat seperti yang dikatakan Liok Kun Lun, mana mungkin puluhan tahun tak sekalipun menunjukkan boroknya di depan Ayahku? Aku tahu Ayahku sangat benci kepada kejahatan. Apakah Ayahku tidak tahu sifat Paman Han? Jika dia tahu aku yakin Ayahku tidak akan menjodohkan aku dengan puteri Paman Han?"

Dia berjalan terus tapi sambil berpikir.

"Ayah selalu memuji Paman Han lurus dan gagah, dia bilang Paman Han pantas disebut sebagai seorang 434 pendekar. Ayah menjodohkan aku mungkin karena merasa cocok dengan Paman Han dan bukan karena kekayaan Paman Han. Namun Paman Han begitu kaya, tapi Ayah tak pernah menyinggung masalah itu. Apa Ayah tidak tahu soal ini? Lalu mengapa Paman Han tidak bilang tentang kekayaannya pada Ayahku? Jika demikian Paman Han membohongi Ayahku, jadi dalam masalah lain pun bisa jadi begitu?"

Kok Siauw Hong bingung bukan main.

Dia tidak yakin pada ucapan Liok Kun Lun maupun Lauw Kan Lu, tapi ia juga tidak berani mengatakan bahwa Han Tay Hiong itu orang baik.

Saat berjalan sambil berpikir mendadak Kok Siauw Hong ingat sesuatu.

"Mengapa aku sampai melupakan barang bukti yang begitu penting?"

Pikirnya.

Ketika baru tiba dan sedang menyelidik di rumah Han Tay Hiong, dia pernah mengorek darah beku di kepala pelayan tua itu.

Ketika itu dia ingin memeriksa darah itu di markas cabang Kay-pang tadi.

Tapi Liok Kun Lun menyuruhnya segera pergi hingga dia lupa barang itu.

Malam itu rembulan bersinar terang.

Ketika Kok Siauw Hong ingat pada darah beku itu, kebetulan saat itu dia berada di tepi sungai.

Air sungai itu sangat jernih dan ikan-ikan yang sedang berenangpun kelihatan jelas sekali.

"Akan kuperiksa darah itu, aku kira belum terlambat!"

Pikir pemuda ini.

Dia memeriksa ke sekitarnya sampai dia melihat sebuah lubang berair dan air itu langsung menuju ke sungai.

Dia keluarkan darah beku dari sakunya Darah beku yang ada dalam sapu tangan itu dia hancurkan, lalu dia masukkan ke dalam lubang berair itu.

Air sungai masuk ke lubang kemudian berbalik lagi ke sungai.

Selang beberapa saat 435 ikan-ikan yang tadi asyik berenang itu, sudah langsung terapung ke permukaan air mati semua.

Padahal darah beku yang dipercikan oleh Kok Siauw Hong sedikit sekali.

Begitu air di lubang masuk ke sungai bisa meracuni semua ikan-ikan itu.

Sudah sejak awal Kok Siauw Hong mengira bahwa darah beku itu beracun, tapi dia tidak menduga begitu dasyatnya racun tersebut.

Hal ini membuat Kok Siauw Hong kaget bukan kepalang.

Tapi sesudah itu dia jadi girang bukan main.

"Paman Han bukan pembunuhnya! Paman Han bukan pembunuhnya!"

Kata dia.

Lwee-kang Han Tay Hiong adalah lwee-kang aliran lurus Sedang orang yang punya lwee-kang lurus tidak bisa melatih lwee-kang pukulan beracun.

Jika dia lakukan juga dia bisa melukai diri sendiri.

Itu yang diketahui oleh Kok Siauw Hong.

Empat tahun yang lalu Kok Siauw Hong datang ke rumah Han Tay Hiong.

Dia tahu Han Tay Hiong bisa pukulan Pan-juciang (Ilmu Pukulan Lunak), ilmu pukulan aliran Buddha yang harus digunakan dengan lwee-kang aliran lurus.

Maka tidak mungkin dalam waktu empat tahun Han Tay Hiong akan berhasil memiliki pukulan beracun.

"Jadi siapa pembunuh itu? Siu-lo-im-sat-kang pun tidak beracun sekali seperti itu?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Aah benar! Kalau begitu Paman Han bertemu dengan musuh yang sangat lihay, tapi aku yakin bukan Chu Kiu Sek! Aku harus segera menemui Liok Pang-cu untuk memberitahu dia!"

Saat Kok Siauw Hong akan kembali ke markas Kaypang, dia berpikir lain.

"Nona Han ada di sini, orang itu membunuh semua pelayannya. Pasti orang itu pun tidak akan melepaskan nona Han hidup-hidup! Dia sekarang sendirian di rumahnya, ini berbahaya! Lebih baik aku menemuinya dulu!"

Pikir Kok Siauw Hong. Tiba-tiba Kok Siauw Hong mendengar suara dengusan, suara itu terdengar dingin. Dia kaget lalu membentak.

"Siapa?"

Kata Kok Siauw Hong.

Tetapi tidak ada jawaban.

Kok Siauw Hong mengerahkan gin-kang Pat-pou-kan-tan (Delapan langkah meluncur), dia melompat ke arah suara dengusan itu.

Tapi di tempat itu tidak terlihat ada siapa-siapa.

"Apa aku salah dengar?"

Pikir Kok Siauw Hong. Selang sesaat Kok Siauw Hong menggunakan ilmu "Coanim-jip-pek" (Ilmu menyampaikan suara ke delapan telinga).

"Sahabat, apakah kau tahu dengan jelas tentang keluarga Han, silakan Anda keluar untuk memberi petunjuk padaku!"

Kata Kok Siauw Hong. Tadi saat dia girang bukan main dan berkata.

"Paman Han bukan pembunuhnya!"

Tiba-tiba dia mendengar suara dengusan itu. Dia pikir orang itu menganggap dia ini ceroboh. Dia yakin saat dia gunakan ilmu menyampaikan suara, orang itu pasti mendengar suaranya.

"Ah, barangkali aku terlalu tegang!"

Pikir Kong Siauw Hong. Bisa jadi aku salah dengar. Mungkin itu suara burung malam, jika ada orang pasti dia akan menampakkan diri!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Dia kembali ke tempat semula.

Dia tutup lubang air itu agar racunnya tak mengalir ke sungai, karena bisa meracuni 437 semua makhluk hidup di sungai itu.

Baru kemudian dia berjalan menuju ke rumah nona Han.

Saat itu nona Han sedang duduk melamun.

Dia awasi rumahnya yang sudah hancur luluh.

Dia anggap itu merupakan sebuah mimpi buruk yang tidak dia duga sejak awalnya-Sudah duapuluh tahun dia tinggal di rumah itu.

Para pelayannya sangat baik kepadanya.

Dia juga banyak menanam bunga.

Pada masa kecilnya dia sangat gembira bermain di taman bunga dan menangkap kupu-kupu.

Setelah dewasa ia berlatih pedang di sana.

Sekarang semua telah berubah.

Semua telah sirna.

Dia masih ingat saat ayahnya mengantarkan dia naik kereta dan menyuruh Chan It Hoan dan Liok Hong bersama para piauw-su yang disewa ayahnya mengantarkannya ke Yang-cou untuk menikah.

Ayahnya mengucapkan selamat jalan.

Hanya tiga bulan saja perubahan telah datang.

Rumahnya terbakar, para pelayannya dibantai.

Sedang sang ayah entah di mana.

Saat dia perhatikan rumahnya yang terbakar rasanya ia ingin menangis.

Dulu dia hidup senang bersama ibu dan ayahnya, setelah ibunya tiada harapannya hanya pada ayahnya.

Sekarang sang ayah entah di mana?

Harapan lain adalah pada Kok Siauw Hong calon suaminya.

Dulu dia tidak merasakan lelaki itu sebagai kekasihnya.

Ketika itu dia masih kecil.

Setelah dewasa dan diberitahu oleh ayahnya, dia hanya melihat lelaki itu dari jarak cukup jauh.

Sekalipun dia belum pernah bicara berduaan, seluruh cintanya dia tumpahkan kepada pemuda itu.

Tak diduga ada musibah, pertunangannya dibatalkan oleh Kok Siauw Hong.

Semua itu di luar dugaan nona Han.

Dua orang yang sangat dia cintai yaitu ayahnya dan pemuda itu.

Tapi sekarang mungkin ayahnya akan 438 bersamanya lagi, tapi Kok Siauw Hong sudah menjadi milik orang lain.

Langit biru, rembulan pun terang cahayanya.

Dia menengadah ke atas dan menggumam.

"Entah aku akan terombang-ambing sampai kapan?"

Katanya.

Saat itu sudah hampir subuh, rumah sudah tak bisa diharapkan lagi, sedangkan Kok Siauw Hong pun tidak kelihatan kembali.

Sudah beruang-ulang nona Han akan meninggalkan tempat itu.

Tapi selalu dia batalkan dan berpikir.

"Dia bilang mau kembali, aah coba kutunggu sebentar lagi!"

Begitu dia berpikir. Tiba-tiba nona Han tersentak.

"Mengapa aku mempercayainya? Mengapa aku malah berharap kepadanya?"

Pikir nona Han.

Dia tahu kedatangan pemuda itu ke rumahnya untuk membatalkan pertunangan mereka Namun, dia tidak benci kepada Kok Siauw Hong, hanya rasa dongkolnya belum hilang seluruhnya Tapi dia merasa terhina dan kehilangan muka.

Meskipun demikian dia bisa memaafkan Ci Giok Hian yang sakling mencintai itu.

Tapi dia tidak bisa meaafkan Kok Siauw Hong yang telah menyinggung perasaan hatinya.

Tapi saat dia bertemu dengan Kok iauw Hong di rumahnya, sungguh di luar dugaan, ternyata Kok Siauw Hong tidak menghina dia seperti dugaannya Malah pemuda itu sangat menghormatinya.

Dia tahu hal itu dari gerak-gerik pemuda itu terhadapnya Sikap dan tutur bahasanya baik.

Selain itu pemuda itu pun melindungi dia mati-matian dari bahaya.

Bukan saja membantu mengusir 439 Chu Kiu Sek, tapi pada saat melihat rumahnya terbakar dia juga bersimpati.

Nona Han tahu itu bukan cinta, tapi harus dia akui Kok Siauw Hong masih berperasaan dan berbudi.

Tetapi semua itu hanya kasih terhadap seorang teman.

Nona Han menganggap tindakan pemuda itu sangat terpuji, seorang pemberani yang berani menemui ayahnya, sekalipun risikonya dia bakal dimaki-maki bahkan dibunuh oleh ayahnya.

Perlahan-lahan kesan buruknya terhadap pemuda itu mulai sirna.

Tiba-tiba dia menganggap pemuda itu mirip ayahnya bertanggungjawab, hingga ia berharap pemuda itu akan segera kembali menemuinya.

Benarkah dia mirip ayahnya Atau sekarang dia butuh kasihsayangnya?

"Tidak!

Tidak!"

Begitu dia pikir.

"Aku hanya mengharap dia segera kembali karena aku ingin tahu di mana Ayahku berada sekarang? Dari orang yang dikubur itu, pasti dia sudah mendapat keterangan. Dia bilang dia akan kembali memberitahuku?"

Begitu nona Han berpikir.

Saat dia menunggu kedatangan Kok Siauw Hong sambil melamun, mendadak nona Han mendengar suara yang mencurigakan.

Saat nona Han menengadah dia melihat sesosok bayangan hitam turun dari atas tembok.

Ketika itu nona Han mengira orang yang datang itu Kok Siauw Hong, dia akan berkata.

"Kau sudah kembali!"

Tetapi pertanyaannya terhenti seperti tersumbat di kerongkongannya.

Setelah diawasi nona Han tahu orang itu bukan Kok Siauw Hong!

Dia seorang lelaki asing yang 440 umurnya diperkirakan sekitar 40 tahun.

Wajahnya tampak pucat seperti berpenyakitan.

"Siapa kau?"

Kata nona Han yang kaget bukan kepalang.

"Nona, kau jangan kaget!"

Kata lelaki itu.

"Mari ikut aku!"

Sekalipun wajahnya tak berperasaan, namun suaranya sangat lembut, kelihatan dia tidak berniat jahat.

"Mengapa aku harus ikut denganmu?"

Tanya nona Han.

"Jika kau ikut aku, kau akan bertemu dengan ayahmu!"

Jawab lelaki itu. Mendengar jawaban itu Han Pwee Eng kaget bercampur girang.

"Apa Ayahku... .Dia belum mati! Di mana dia?"

Kata nona Han.

"Ya, dia belum mati! Jika sudah mati untuk apa aku mengajakmu menemuinya? Sudah jangan banyak bicara mari ikut aku!"

Kata lelaki itu.

Han Pwee Eng bukan anak kecil lagi, jadi mana mungkin dia percaya begitu saja padanya dan mana mungkin dia langsung mau ikut dengannya, karena lelaki itu asing baginya "Sebenarnya kau ini siapa?"

Kata nona Han.

Orang itu malas banyak bicara.

Lalu dia tunjukkan jari tangannya.

Di salah satu jari tangan lelaki itu terlihat sebuah cincin yang sangat dikenali oleh nona Han.

Batu cincin itu berwarna merah.

Sesudah melihat cincin itu nona Han agak senang.

"Walaupun kau tidak kenal padaku, tetapi aku kira kau mengenali cincin ini, bukan?"

Kata lelaki itu.

Nona Han girang dia yakin lelaki itu utusan ayahnya.

Cincin bermata merah itu adalah cincin kesayangan Han Tay Hiong.

Pada akhir-akhir ini ayah nona Han sering memakainya dan cincin itu tidak pernah lepas dari jarinya.

Nona Han ingat cincin itu hadiah dari teman ayahnya.

Ketika itu teman ayahnya pamit, setelah dia pergi ayahnya bercerita tentang cincin itu pada nona Han.Saat ayahnya terluka oleh pukulan Chu Kiu Sek, ayahnya terbaring di tempat tidur tak bisa bergerak.

Saat itu datang seorang pria yang mengaku bernama Siang-koan Hok.

Nona Han tidak kenal lelaki itu, tapi ayahya senang karena baru bertemu dengan teman lama itu.

Tamu itu dijamu oleh ayahnya.

Pria itu bermalam semalam di rumah Han Tay Hiong, orang itulah yang memberi ayahnya cincin bermata merah itu.

'Cincin ini terbuat dari emas hitam, tapi yang paling berharga batu merahnya, batu itu disebut batu Thian-simCiok (Batu hati Langit).

Di dunia hanya terdapat di Kun-lunsan.

Batu merah memang bermacam-macam tapi batu ini hanya ada di puncak Kun-lun.

Hanya orang yang ilmu silatnya tinggi yang mampu naik ke puncak Kun-lun dan bisa mendapatkan batu ini!"

Kata ayahnya 'Apa batu itu ada manfaatnya bagi manusia?' tanya nona Han waktu itu.

'Tentu ada khasiatnya, bisa menjadi obat.

Batu ini mengandung hawa panas hingga dapat melawan racun yang sifatnya dingin.

Hanya khasiatnya mengobati dengan pelahan-lahan."

Kata ayahnya.

Ayah nona Han sejak saat itu selalu memakai cincin itu.

Saat ini dia lihat cincin kesayangan ayahnya itu ada di tangan lelaki yang wajahnya berpenyakitan itu.

Oleh karena lelaki itu mengenakan cincin yang biasa dipakai oleh ayahnya, maka nona Han yakin bahwa orang itu' utusan ayahnya'.

Maka itu nona Han jadi tak ragu-ragu lagi.

Sesudah menunjukkan cincin, lelaki itu berbalik lalu pergi.

Terpaksa nona Han mengikutinya.

Lelaki bertampang penyakitan itu ternyata gin-kangnya tinggi.

Saat dijalan yang berbatu di pegunungan ia bisa berjalan cepat laksana terbang.Nona Han terpaksa menggunakan gjn-kang Pat-poukan-tan sehingga dia bisa mengimbanginya.

"Apa ayah ada di sini? Tapi di gunung ini tak ada rumah?"

Pikir nona Han. Dia mempercepat larinya menyusul lelaki itu.

"Bagaimana keadaan Ayahku? Sekarang di mana dia?"

Tanya nona Han.

"Kau jangan banyak tenaga supaya tidak buang waktu. Ikuti saja aku! Kau akan segera tahu di mana ayahmu berada."

Katanya. Gin-kang nona Han belum sempurna, tak heran jika dia jadi tertinggal jauh dari lelaki itu.

"Dia benar, setelah bertemu Ayah semuanya akan jadi jelas. Mengapa aku harus gugup?"

Pikir nona Han.

Gunung itu tidak tinggi tapi berbahaya, banyak jurang dan lembah yang curam.

Tak lama mereka sudah sampai di puncak gunung itu.

Di depan mereka sudah tidak ada jalan lagi, tebing kelihatan bagaikan sebuah tembok kota.

Di tempat itu ada batu besar mirip sebuah pelataran, di bagian baratnya terdapat air terjun.

Pemandangan di tempat itu sangat indah.

"Apa maksudnya dia membawaku ke tempat ini?"

Pikir nona Han. Tak lama lelaki itu melompat lalu masuk melewati air terjun. Rupanya di balik air terjun itu terdapat sebuah goa. Nona Han ikut melewati air terjun itu.

"Oh ternyata di sana masih ada jalan tembus,"

Pikir nona Han.

Untung air terjun itu tidak besar hingga tidak membasahi pakaian nona Han, ditambah lagi dia melompat dengan cepat Dari jauh baru nona Han melihat sebuah lembah, di sana ternyata ada sebuah rumah.

"Tak kusangka di balik air terjun terdapat lembah. Tapi rumah batu itu baru dibuat, jika tidak mengapa Ayahku tak pernah bilang ada rumah di sini?"

Pikir nona Han.

Gunung itu letaknya tak jauh dari rumah nona Han.

Sejak kecil si nona sering bermain di situ bersama para pelayannya.

Tapi dia dan para pelayan tak ada yang tahu kalau di balik air terjun ada jalan menuju ke lembah itu.

Dia heran tapi tak banyak bicara.

Lelaki itu mengajak nona Han menuju ke rumah batu itu.

Sampai di sana lelaki itu mengetuk pintu rumah batu tiga kali.

Tidak lama pintu rumah itu terbuka.

Seseorang menyembulkan kepalanya.

Orang itu bermata sipit seperti mata tikus.

Dia melirik ke arah nona Han lalu tertawa terkekeh sambil berkata.

"Oh ternyata Ji Su-ko (Kakak Seperguruan kedua) yang datang. Wah nona ini cantik sekali!"

Katanya. Nona Han langsung membentak.

"Jangan bicara sembarangan, cepat buka pintunya!"

Kata si nona.

Melihat lelaki bermata seperti mata tikus itu nona Han langsung sebal.

Apalagi tingkah lelaki itu agak ceriwis.

Tapi segera bertemu dengan ayahnya, dia tidak mau ribut.

Dia langsung masuk.

Sampai di dalam rumah dia tidak melihat ada orang lain.

Dia langsung tersentak dan berpikir.

"Celaka, ini perangkap!"

Pikir nona Han baru sadar.

"Jika lelaki itu utusan Ayah sedang merawat luka di tempat ini, tak mungkin lelaki tadi berani berbuat ceriwis. Lagi pula dia pernah bilang "Membawa"

Bukan mengajak, ini pasti tidak beres...."

Dia mulai waspada.

"Barangkali Ayah terperangkap oleh musuh?"

Pikir nona Han.

"Tapi bagaimana cincin kesayangannya bisa berada di tangan lelaki itu? Tapi bagaimana mereka tahu cincin itu bisa dijadikan "tanda"

Pengenal ayahnya untuk membohongiku?"

Saat itu nona Han yang berjalan mengikuti lelaki berwajah penyakitan sudah tiba di sebuah lorong.

"Nona Han, ayahmu ada di kamar itu!"

Kata lelaki berpenyakitan itu pada Han Pwee Eng. Han Pwee Eng melihat di sana ada sebuah rumah dan lentera menyala agak remang-remang.

"Aku sudah sampai di sini! Apapun yang terjadi akan kuhadapi!"

Pikir nona Han. la langsung memanggil.

"Ayah! Ayah!"

"Jangan ribut, barangkali ayahmu sedang tidur,"

Kata lelaki berpenyakitan itu. Mendadak dari sebuah sudut berdiri seseorang yang mengenakan topi lebar. Semula nona Han tak memperhatikannya. Ketika melihat lelaki itu dia terkejut.

"Toa Su-ko buka pintunya, biar nona ini menemui ayahnya!"

Kata si penyakitan.

"Heran! Jika Ayah sedang merawat sakitnya, mengapa kamarnya dikunci. Dia mirip seorang tawanan saja!"

Pikir nona Han. Tak lama pintu kamar itu terbuka.

"Silakan!"

Kata lelaki bertopi pada nona Han.

Nona Han tersentak karena di bawah sinar lentera yang remang-remang ia mengenali lelaki itu, Pouw Yang Hian.

Nona Han pernah bertemu dengannya di rumah makan "Ngi Nih Lauw", malah nona Han pernah bertarung dengannya di rumah makan itu bersama Kiong Mi Yun.

Pouw Yang Hian inilah yang melukai orang-orang Chu Tay Peng, atau perkumpulan di daerah sungai Huang-hoo menggunakan pukulan Hua-hiat-to.

Bukan main kagetnya nona Han saat itu.

"Bagus, beraninya kau membohongiku!"

Bentak nona Han.

Nona Han langsung menyerang ke arah Pouw Yang Hian, sebaliknya Pouw Yang Hian segera membalikkan tangannya dan mencengkeram lengan nona Han.

Pada saat yang bersamaan lelaki berwajah penyakitan yang sejak tadi berdiri di belakang nona Han, ikut menyerang bahu nona Han.

Nona Han terdorong ke dalam kamar.

Keadaan di dalam kamar sangat gelap, nona Han hampir menubruk seseorang yang ada di dalam kamar itu.

Akhirnya nona Han membentur dinding kamar itu.

Tak lama terdengar pintu kamar itu ditutup dari luar.

"Dasar perempuan liar!"

Pouw Yang Hian mencaci.

"Di sini kau masih berani melawan, jika bukan karena perintah guruku kau sudah kubunuh!"

Tadi saat dia membalikkan tangan hendak mencengkram nona Han, dada Pouw Yang Hian tertotok tepat pada jalan darah Meng-khie-hiat oleh nona Han.

Sekalipun lelaki penyakitan telah membebaskan totokannya, tapi rasa 446 sakitnya masih terasa oleh Pouw Yang Hian.

Nona Han tak peduli pada cacian itu.

Dia membungkuk memperhatikan orang yang hampir tertabrak olehnya itu.

Sejak kecil nona Han sudah belajar melihat di tempat gelap.

Bukan main kagetnya nona Han hingga saat itu dia nyaris pingsan.

Orang itu adalah Han Tay Hiong, ayahnya.

Sejak awal dia sudah menduga ayahnya terluka.

Orang tua itu sekarang tergeletak di lantai, entah masih hidup atau sudah mati?

"Ayah!

Ayah!"

Nona Han memanggil. Han Pwee Eng mengulur tangannya yang gemetar ke arah ayahnya. Perlahan-lahan orang itu mencoba bangun.

"Kaukah, anakku Eng?"

Kata Han Tay Hiong.

"Benar, Ayah!"

Jawab nona Han.

Legalah hati nona Han saat mendengar suara ayahnya itu.

Ternyata ayahnya memang terluka parah, tapi tidak separah yang dia duga.

Han Pwee Eng segera memeluk ayahnya.

Rasa kaget, girang dan duka bercampur-aduk.

Girang karena dia masih bisa bertemu dengan ayahnya Berduka karena ayahnya yang berilmu tinggi, sekarang tergeletak tidak berdaya.

Sekarang mereka berada dalam sebuah kamar yang gelap dan dijaga ketat.

Tak mudah mereka bisa lolos dari tempat itu.

Saat itu seakan nona Han sedang bermimpi buruk.

Mereka saling berpelukan dan nona Han hanya bisa menangis sedih.

Mendadak lelaki berpenyakitan berkata ke arah kamar.

"Nona Han, aku tidak bohong kan? Aku berjanji akan mempertemukan kau dengan ayahmu. Sekarang kalian sudah bertemu, bukan girang malah kau menangis! Legakan 447 hatimu, kami tidak akan mencelakakan kalian."

Kata lelaki itu. Tak lama terdengar lagi ia bicara dengan Pouw Yang Hian.

"Guru berpesan, kita tidak boleh menghina mereka. Toa Suko aku akan melapor dulu pada Guru!"

Kata lelaki itu. Pouw Yang Hian mendengus.

"Hm! Aku sudah tahu, apa kau anggap aku ini bodoh, ya?"

Kata Pouw Yang Hian.

"Aku cuma khawatir Toa Su-ko tidak bisa mengendalikan diri,"

Kata lelaki itu sambil tertawa.

"Jika sudah tahu ya sudah, aku pamit dulu!"

Saat nona Han ingin menghibur ayahnya Han Tay Hiong mendahuluinya "Nak, di depan musuh kau jangan menangis,"

Kata Han Tay Hiong.

"Ya, Ayah,"

Jawab si nona perlahan.

"Eng, apa kau terluka?"

"Tidak! Bagaimana keadaanmu?"

Han Tay Hiong tertawa getir.

"Kau sudah datang Ayah tidak akan mati!"

Kata Han Tay Hiong. Jawaban itu menyimpang dari pertanyaan nona Han hingga nona Han jadi heran.

"Mengapa Ayah tak mau bilang tentang lukanya? Malah dia bilang aku datang dia tidak akan mati. Apa maksudnya?"

Pikir nona Han.

"Anak Eng, kau sudah pulang ke rumah kita?"

"Ya, semalam. Aku di sana bertemu dengan Chu Kiu Sek."

Han Tay Hiong terkejut "Kau tidak pulang sendiri, kan? Di mana Kok Siauw Hong?"

Han Tay Hiong tidak tenang, dia khawatir 'menantunya' celaka oleh Chu Kiu Sek.

"Dia membantuku mengusir Chu Kiu Sek,"

Jawab nona Han.

"Sekarang dia ada di markas Kay-pang. Setelah dia pergi datang lelaki berpenyakitan menipuku sehingga aku bisa bertemu dengan Ayah."

Kata nona Han. Han Tay Hiong menarik napas lega.

"Kok Siauw Hong seorang pemuda yang baik budi dan setia, Ayah tidak salah memilihnya untukmu. Sekarang keadaan sedang kacau-balau, ditambah lagi kalian baru menikah. Tapi aku senang dia mau menemanimu pulang untuk menemui ayah. Ah! Sebenarnya ayah ingin setelah kalian menikah, kau jangan pulang dulu. Mungkin kalian sudah rindu pada ayah dan begitu cepat kau pulang. Kalian sangat berbakti ayah tidak menyalahkan kalian berdua!"

Kata Han Tay Hiong.

Jelas Han Tay Hiong mengira mereka telah menikah, dan pulang untuk menengokinya.

Dia tidak tahu telah 449 terjadi peubahan yang sangat besar atas diri puterinya, bahwa pertunangannya telah dibatalkan oleh pihak lakilaki.

Malah nona Han dan pemuda Kok datang ke Lokyang pun tidak bersama-sama.

Malah kedatangan Kok Siauw Hong justru akan membatalkan perjodohan dengan puterinya.

Wajah Han Pwee Eng merah, dia malu dan berduka.

Untung tempat itu gelap sehingga perubahan pada wajah nona Han tak kelihatan oleh ayahnya Nona Han khawatir ayahnya akan berduka jika tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan ini pasti akan berpengaruh pada luka ayahnya.

Oleh karena itu nona Han tak berani menceritakan kejadian sebenarnya pada ayahnya.

Sesaat kemudian nona Han bicara lagi.

"Ayah! Siapa yang melukaimu?"

Tanya nona Han.

"Bagaimana keadaan luka Ayah sekarang?"

"Ayah dilukai oleh seorang Iblis Tua, dia menggunakan pukulan Hua-hiat-to!"

Jawab Han Tay Hiong.

"Hm! Jika saat itu Ayah bisa bergerak dengan leluasa walau racun dingin di tubuh ayah belum punah, tapi pukulan Hua-hiatto itu tidak akan bisa melukai ayah!"

Mendengar keterangan ayahnya nona Han terkejut bukan kepalang.

"Dengan pukulan Hua-hiat-to, Ayah pasti menderita sekali?"

Kata nona Han. Han Tay Hiong malah tertawa.

"Kau tidak perlu cemas!"

Kata ayahnya.

"Tidak salah Huahiat-to memang lihay. Kecuali ayahmu sudah tak ingin hidup, maka baru Hua-hiat-to bisa merenggut nywa ayah...."

Tapi mendadak Han Tay Hiong keheranan, lalu dia langsung bertanya.

"Nak, bagaimana kau tahu tentang Hua-hiat-to?"

Han Pwee Eng balik bertanya.

"Ayah Iblis tua yang melukai Ayah itu bernama See-bun Souw Ya, kan?"

Mata Han Tay Hiong terbelalak karena herannya "Benar! Bagaimana kau bisa mengetahui tentang Iblis Tua itu?"

"Lelaki yang memelihara bewok dan menjaga kamar ini adalah Pouw Yang Hian, muridnya! Ketika aku akan pulang ke Lok-yang, di tengah jalan aku bertemu dengannya. Dia berhasil melukai lima Hiang-cu dari lima perkumpulan di daerah Huang-hoo!"

Kata Han Pwee Eng. Tapi pada saat yang bersamaan, Pouw Yang Hian yang berjaga di luar kamar membentak dengan sengit.

"Sementara ini aku tidak akan menyentuhmu, perempuan binal! Tetapi kau pasti tidak akan bisa lolos dari tanganku! Hm! Masih ada bocah busuk bernama Kong-sun Po, jika dia tertangkap, akan kusiksa dia untuk melampiaskan kedongkolanku!"

Kata Pouw Yang Hian dari luar kamar. Han Tay Hiong membentak gusar bukan main.

"Kau berani menghina puteriku? Begitu aku keluar, yang pertama-tama aku akan membunuhmu! Saat aku terluka kau kira aku tak bisa berbuat apa-apa? Hm! Untuk membunuhmu gampang sekali seperti aku membalikkan telapak tanganku saja!"

Kata Han Tay Hiong.

Tiba-tiba Han Tay Hiong menyentil ke arah pintu.

Pouw Yang Hian yang saat itu sedang mencuri dengar pembicaraan mereka, seketika itu telinganya berdengung keras sekali.

Bukan main kagetnya Pouw Yang Hian.

Dia langsung diam dan berpikir.

"Padahal si tua sudah terluka oleh pukulan Hua-hiat-to guruku, tapi tetap saja lwee-kangnya sangat tinggi. Aku tak boleh meremehkan dia!"

Pikir Pouw Yang Hian yang wajahnya berubah jadi pucat-pasi.

"Apa guruku akan membunuh atau melepaskannya, aku belum tahu pasti? Lebih baik aku jangan membuat dia gusar!"

Setelah memberi pelajaran pada Pouw Yang Hian, Han Tay Hiong berbisik pada puterinya "Tadi aku dengar dia menyebut nama Kong-sun Po, siapa dia?"

Tanya Han Tay Hiong.

"Aku bertemu dengannya di sebuah rumah makan bernama "Ngih Nih Lauw". Katanya dia putera Kong-sun Khie. Pouw Yang Hian dikalahkan olehnya,"

Sahut Han Pwee Eng. Han Tay Hiong tertegun.

"Duapuluh tahun yang lalu Kong-sun Khie adalah seorang penjahat besar yang sangat kejam! Sedangkan Kong-sun Po puteranya, maka kunasihatkan pada kalian suami-isteri, kalian jangan bergaul dengannya!"

Kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong mengira pertemuan Pwee Eng dengan Kong-sun Po terjadi pada saat puterinya ini berjalan bersama Kok Siauw Hong.

Maka itu dia berkata begitu.

Sedangkan nona Han tidak ingin ayahnya mengetahui apa yang telah dia alami, maka itu dia langsung mengangguk mengiakan keinginan ayahnya itu.

Tapi hatinya sebenarnya bimbang dan dia berpikir.

"Entah bagaimana keadaan Nona Kiong sekarang? Dia sedang mencari Kong-sun Po, sudah bertemu atau belum? Kong-sun Po memiliki ilmu untuk memunahkan Hua-hiat-452 to. Jika dia datang ke mari, pasti dia akan bertarung dengan See-bun Souw Ya"

Pikir nona Han.

"Dari mana kau tahu tentang See-bun Souw Ya?"

Tanya ayahnya dengan suara perlahan.

"Dia juga yang memberitahuku tentang See-bun Souw Ya itu!"

Jawab nona Han.

"Jadi dia yang memberitahumu?"

"Benar Ayah! Aku juga heran..."

"Kenapa kau heran?"

Tanya Han Tay Hiong.

"Aku dengar See-bun Souw Ya tinggal di Kwan-gwa (Di luar perbatasan). Ketika berada di kota Ouw-shia, Pouw Yang Hian mengalahkan lima perkumpulan daerah Huang-hoo. Dia bilang gurunya akan mulai beraksi di daerah Tiong-goan. Ketika itu dia bilang gurunya masih ada di Kwan-gwa. Bagaimana dengan mendadak dia jadi ada di sini? Ini tempat apa Ayah? Aku kira rumah batu ini sudah lama ada di tempat ini. tapi aneh malah kita tidak tahu? Apa ini tempat tinggal See-bun Souw Ya? Atau orang lain yang bersekongkol dengannya?"

Kata Han Pwee Eng.

"Kau benar, nak. Rumah batu ini memang sudah lama ada di sini! Sudah lama Ayah tahu, tapi aku melarang pegawai kita memberitahumu!"

Kata Han Tay Hiong. Han Pwee Eng tercengang ketika mendengar keterangan ayahnya itu.

"Kenapa Ayah?"

Han Tay Hiong menghela napas panjang.

"Ya, kalau Ayah ceritakan ceritanya panjang sekali,"

Kata Han Tay Hiong.

"Saat ini lebih baik kau tidak perlu tahu dulu! Sepengetahuanku See-bun Souw Ya kenal baik 453 dengan pemilik rumah batu ini. Ini sungguh-sungguh di luar dugaan Ayah!"

Nona Han tidak habis pikir dia tercengang mengapa ayahnya tak memperbolehkan ia tahu tentang pemilik rumah batu tersebut.

Tapi saat itu mendadak di atas mereka terdengar suara.

Han Pwee Eng menengadah.

Kelihatan sebuah keranjang diturunkan lewat lubang di atas kamar mereka.

Keranjang itu tepat jatuh ke meja batu.

Ketika keranjang itu diperiksa keranjang itu berisi berbagai makanan.

Han Pwee Eng mengeluarkan semua isi keranjang itu dan meletakkannya di atas meja "Ayah ini arak dan daging, aku tidak tahu apakah makanan ini beracun atau tidak?"

Kata nona Han.

"Jangan terlalu curiga!"

Kata Han Tay Hiong pada puterinya "Jika si Iblis Tua hendak membunuh kita, dia tidak perlu berbuat begitu.

Dia gunakan saja pukulan Huahiat-to, beres.

Nak, barangkali kau sudah lapar, kau makan saja dulu!"

Han Pwee Eng mengambil sebuah paha ayam, tapi tak langsung dia makan malah dia bertanya "Mengapa Ayah tidak makan?"

Tiba-tiba muncul cahaya dari atas, nona Han segera menengadah.

Tampak dari lubang di atas kamaar batu itu kelihatan seraut wajah seseorang, sepasang matanya agak keputih-putihan dan terus menatap ke arahnya.

Dia mengintai lewat sebuah jendela kecil di atas kamar itu.

Nona Han melihat wajah orang itu dingin tidak berperasaan.

"Eeeh!"

Jerit Han Pwee Eng tanpa sadar. Orang itu terdengar bicara.

"Nona kecil, jangan takut! Kata-kata ayahmu itu benar, aku tidak menaruh racun pada makanan itu dan aku tidak ingin mencelakakan kalian berdua! Lebih baik sekarang kau nasihati ayahmu agar dia mau makan."

Kata orang itu.

"Oh, dia pasti See-bun Souw Ya!"

Pikir nona Han yang baru tahu sesudah mendengar orang itu bicara.

"Kau tua bangka pembohong!"

Kata Han Tay Hiong.

"Kau bujuk dan kau tipu puteriku ke mari, sebenarnya kau mau apa? Hm! Jangan kau kira aku akan takluk padamu!"

See-bun Souw Ya tertawa.

"Han Tay Hiong, aku ini orang baik, aku telah mempertemukan kalian ayah dan anak, bukan berterima kasih malah kau marah padaku! Sekarang puterimu ada di sisimu, kau pasti tidak ingin mati lagi, kan? Sekarang lebih baik kau makan, sesudah makan kita bisa berbincangbincang. Tak lama lagi akan datang kawan lama, sesudah kau makan kenyang kita bisa berunding."

Sesudah itu See-bun Souw Ya bergeser, sekarang kelihatan wajah orang lain. Han Tay Hiong mengenalinya itulah Chu Kiu Sek. Han Tay Hiong mendengus dingin.

"Hm! Kalian boleh maju bersama paling-paling aku mati!"

Kata Han Tay Hiong. Chu Kiu Sek tertawa dingin.

"Han Tay Hiong semula aku akan mmbalas dendam padamu, tapi aku tak sangka kau begitu tak berguna!"

Kata Chu Kiu Sek.

"Saat aku datang ke rumahmu, kau sudah terluka oleh See-bun Souw Ya, dan dia tak ingin kau mati! Oleh sebab itu karena aku memandang mukanya, baik kita sudahi saja permusuhan kita itu sampai di sini. Aku mau lihat apa kau tahu diri atau tidak?"

"Baik, terima kasih pada kalian yang telah menjamuku,"

Kata Han Tay Hiong. Dia langsung meneguk arak dan menyantap daging. Sesudah makan baru dia berkata lagi.

"Sekarang aku sudah makan, apa rencana kalian. Apa kalian akan menggunakan kekerasan, silakan aku tidak takut!"

Kata Han Tay Hiong. See-bun Souw Ya tertawa dingin.

"Tidak! Aku tak akan berbuat begitu, hanya jika sekarang aku bebaskan kau, kuberitahu kau, para orang gagah di kalangan Kang-ouw dari golongan luruspun akan mencelakaimu!"

Kata See-bun Souw Ya sambil tertawa dingin. Suara tawa See-bun Souw Ya terdengar menyeramkan, hingga membuat bulu kuduk nona Han merinding. Tak lama jendela kecil itu tertutup kembali.

"Ayah,"

Kata nona Han.

"Seperti pepatah mengatakan.

"selama gunung masih hijau, kita jangan takut tidak ada kayu". Berdasarkan kepandaian Ayah, asalkan Ayah tidak ingin mati, pasti masih ada kesempatan!"

Han Tay Hiong meneguk arak, kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 17 Melihat ayahnya menggelengkan kepala, Han Pwee Eng heran.

Dia tidak tahu apa yang ada di benak ayahnya saat itu, Kemudian nona Han berpikir.

"Aku dengar See-bun Souw Ya ingin merajai Dunia Persilatan, jadi sangat wajar jika dia tidak akan melepaskan 456 Ayah. Tetapi kenapa Ayah kelihatan begitu berduka?"

Kata nona Han.

"Aku berduka bukan karena dia,"

Kata ayahnya. Nona Han jadi tertarik ia langsung bertanya.

"Benarkah Ayah dengan pemilik rumah batu itu bersahabat?"

Kata si nona. Wajah Han Tay Hiong berubah. Dia mengangguk, sesaat kemudian baru menjawab.

"Benar,"

Kata ayahnya.

"Memang Ayah pernah bersahabat dengannya."

"Kemudian Ayah ribut dengannya sehingga jadi putus hubungan persahabatan itu,"

Kata nona Han. Ayahnya diam.

"Ayah sangat menjunjung tinggi persahabatan. Pasti ada sebabnya Ayah ribut dengan orang itu, hingga mereka putus hubungan?"

Pikir nona Han. Tak lama Han Tay Hiong bicara lagi.

"Yang sangat mendukakan hati Ayah, karena Ayah telah membuat kau susah! Luka Ayah terkena pululan Siu-lo-imsatkang belum sembuh, sekarang ditambah lagi ayah terluka oleh pukulan Hua-hiat-to See-bun Souw Ya. Jika ayah ingin membawamu pergi dari sini, itu sulit sekali. Tapi katakatamu tadi ada benarnya. Sebelum kita jadi putus asa lebih baik kita tetap hidup mungkin kita masih bisa lolos?"

Kata ayahnya.

"Kalau begitu aku lega, Ayah!"

Kata nona Han. Han Tay Hiong menatap puterinya.

"Eng, tadi kau bilang Kok Siauw Hong ke markas cabang Kay-pang. Dia pergi atas kemauan sendiri atau Lauw Kan 457 Lu yang datang ke rumah kita untuk menyelidiki keadaan, lalu mengajak Kok Siauw Hong ke markas cabang Kaypang?"

Kata Han Tay Hiong.

"Ayah benar, Lauw Kan Lu yang mengajak Kok Siauw Hong pergi ke markas cabang. Bukan cuma Lauw Kan Lu tapi juga Liok Kun Lun datang ke rumah kita, Ayah!"

Kata nona Han menjelaskan. Han Tay Hiong mengerutkan keningnya.

"Hm! Liok Kun Lun juga datang, kalau begitu mereka cukup menghargaiku!"

Kata Han Tay Hiong.. Nada bicara Han Tay Hiong terdengar sangat gusar. Ini membuat nona Han heran.

"Eh rupanya Ayah kurang senang mendengar mereka datang ke rumah melakukan penyelidikan?"

Pikir nona Han. Sesaat kemudian nona Han bicara lagi.

"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu..."

Han Pwee Eng tak melanjutkan kata-katanya.

"Tentang apa?"

Tanya ayahnya.

"Mungkin aku telah melakukan kekeliruan besar, mohon Ayah memaafkan aku,"

Kata nona Han. Ayah si nona menatapnya.

"Tentang apa, katakan saja. Ayah tidak akan memarahimu!' "Aku telah menyerahkan semua harta Ayah pada Liok Kun Lun, aku mewakili Ayah menyumbang para pejuang yang akan melawan bangsa Mongol!"

Kata nona Han. Han Tay Hiong mengerutkan dahinya.

"Kau atas namakan Ayah menyumbangkan harta itu?"

Han Pwee Eng tertegun sejenak.

"Bukankah harta itu milik keluarga kita, Ayah?"

Kata nona Han. Tapi tak lama nona Han berpikir.

"Jika tak ada perang ini, aku juga tidak tahu Ayahku begitu kaya. Apa harta itu bukan milik Ayahku?"

Pikir nona Han. Pada saat yang bersamaan Han Tay Hiong bicara.

"Kau memang salah, anakku! Semua harta itu bukan milik Ayah, tapi titipan orang!"

Kata ayahnya. Ketika mendengar kata-kata ayahnya, nona Han terkejut bukan kepalang.

"Oh celaka! Kalau begitu bagaimana kita bertanggungjawab pada pemilik harta itu? Lalu milik siapa harta itu, Ayah?"

"Dia kawan baikAyah,"

Jawab Han Tay Hiong.

"Tapi itu juga bukan harta miliknya! Dia akan gunakan harta itu untuk suatu urusan besar!"

Ketika itu Han Tay Hiong sedang berpikir, dia akan memberitahu siapa kawannya itu atau tidak pada nona Han? Tapi mendadak dia tersentak dan berbisik.

"Anak Eng, coba kau perhatikan, di luar ada orang yang datang ke mari..."

Bisik Han Tay Hiong. Nona Han mencoba berkonsentrasi, dia memang mendengar langkah kaki tapi makin lama langkah itu makin menjauh.

"Ayah benar, ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita,"

Bisik nona Han.

"Ayah, jika ada rahasia yang orang lain tidak perlu tahu, lebih baik Ayah jangan mengatakannya. Aku kira gin-kang orang itu sangat tinggi, jika bukan See-bun Souw Ya pasti Chu Kiu Sek!"

Mendadak Han Tay Hiong tertawa terbahak-bahak, lalu dia berkata dengan suara keras.

"Anakku, apa yang kau lakukan itu sangat tepat! Walaupun harta itu bukan milik kita, tapi kau sudah menyumbangkannya untuk para pejuang yang melawan pasukan Mongol! Aku rasa tindakanmu itu tepat dengan keinginan In-kong (Tuan penolong) kita!"

Kata Han Tay Hiong. Nona Han sadar kata-kata ayahnya itu ditujukan pada See-bun Souw Ya.

"Kata-kata Ayah tadi pasti akan membuat si Iblis Tua itu pingsan saking jengkelnya. Mudah-mudahan kata-kata Ayahku itu keluar dari lubuk hati Ayahku dengan sejujurnya."

Pikir nona Han. Tak lama ayahnya berbisik.

"Nak, kau jangan ragu, kata-kata Ayah tadi itu bukan hanya untuk menyenangkan hatimu..."

Kata ayahnya. Mendengar kata-kata ayahnya bukan main girangnya nona Han.

"Apakah benar niat kawan Ayah itu sama dengan yang aku lakukan?"

Tanya nona Han.

"Harta itu dia tinggalkan untuk sekelompok orang, maka Ayah pikir dia juga tidak akan menyalahkan kita!"

Kata ayahnya.

Han Tay Hiong berpendapat bahwa kawannya itu pun rela uangnya dipakai untuk berjuang melawan bangsa Mongol.

Nona Han sadar di balik dinding ada orang sedang menguping, maka itu dia tahu ayahnya kesulitan untuk memberi penjelasan dengan leluasa.

Maka itu si nona lalu menulis di tangan ayahnya.

"Siapa orang itu?"

Han Tay Hiong juga menulis di telapak tangan nona Han.

"Siang-koan Hok."

"Kiranya dia? Ayah bagaimana dia bisa demikian baik kepada Ayah?"

Han Tay Hiong menghela napas panjang.

"Karena hanya Ayah yang tahu kelakuannya pada orang lain. Nak, jika kau berhasil lolos dari sini, kau jangan beritahu kalau Ayahmu ini sahabatnya!"

Kata ayahnya.

"Baik, Ayah!"

Nona Han tahu ayahnya tak ingin rahasia harta itu bocor. Saat tahu orang itu Siang-koan Hok, nona Han langsung ingat pada batu cincin bermata merah itu.

"Ayah, tahukah mereka tentang cincin itu?"

"Tidak! Mereka tidak tahu cincin itu hadiah dari siapa? Tapi See-bun Souw Ya tahu bahwa cincin itu berkhasiat untuk mengobati luka kena racun, dan tahu namanya Thian-simciok,"

Kata ayahnya.

"Setelah cincin itu tidak ada pada Ayah, apa Ayah merasa kurang nyaman?"

Han Tay Hiong tertawa "Separuh tubuh Ayah yang lumpuh kini sudah sembuh sampai delapan bagian, jadi tidak begitu masalah cincin itu lenyap dari tangan ayah."

Kata ayahnya.

"Ayah, See-bun Souw Ya membunuh semua pelayan kita Tapi kenapa dia tidak mengambil harta kita itu?"

Han Tay Hiong tertawa "Ayah sulit dilukai olehnya,"

Kata ayahnya.

"Saat Ayah diserang dengan Hua-hiat-to, Ayah pun berhasil melukai dia dengan sebuah pukulan!"

Nona Han mengangguk.

"Jadi dia juga terluka?"

"Saat itu masih ada orang lain di rumah kita. Sekalipun orang itu menginginkan Ayah tertangkap oleh See-bun Souw Ya, tapi dia juga tetap melindungi Ayah agar tidak binasa. Orang itu tidak berminat pada harta kita itu. Setelah Ayah terluka, dia desak See-bun Souw Ya agar membawa Ayah ke mari. Saat itu See-bun Souw Ya pun telah terluka. Ayah pikir dia juga khawatir orang-orang Kay-pang akan datang ke rumah kita. Ditambah lagi orang itu terus mendesak, dan membuat See-bun Souw Ya tak berani lama-lama di rumah kita. Dia batal membawa harta itu."

Mendengar keterangan itu nona Han berpikir.

"Orang yang dimaksud "orang itu"

Pasti si pemilik rumah batu ini,"

Pikir nona Han.

"Orang itu bisa memaksa See-bun Souw Ya dan mau menurut. Aku yakin kepandaiannya lebih tinggi dari See-bun maupun Chu Kiu Sek. Aku 462 sekarang cuma berharap Kiong Mi Yun dan Kong-sun Po sudah sampai di rumahku!" -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Saat itu Kong-sun Po maupun Kiong Mi Yun memang sudah sampai di rumah keluarga Han. Malam itu sesudah Kiong Mi Yun berhasil mencuri arak obat Kiu-thian-sun-yang-pek-hoa-ciu, mereka langsung kabur dan mereka melanjutkan perjalanan ke Lok-yang dengan kudakuda curiannya. Nona Kiong masih belum sadar, bahwa Han Toa-ko yang dicintainya itu sebenarnya seorang nona. Kong-sun Po tidak setuju temannya mencuri arak dan kuda itu, tapi karena Kiong Mi Yun mengatakan bahwa semua yang dia lakukannya itu untuk menyelamatkan nyawa orang, maka Kong-sun Po menurut saja. Kong-sun Po memang pernah mendengar bahwa Han Tay Hiong seorang Bu-lim Beng-cu, tapi dia tidak tahu kalau orang she Han ini mempunyai seorang puteri tunggal yaitu Han Pwee Eng. Tak heran kalau Kong-sun Po pun seperti Kiong Mi Yun, dia menganggap Han Pwee Eng itu seorang pria. Saat dia bertemu dengan Han Pwee Eng di rumah makan "Ngih Nih Lauw"

Kesan Kong-sun Po terhadap nona Han sangat baik.

Setelah dia tahu dari nona Kiong bahwa Chu Kiu Sok sedang mencari .Han Toa-ko", maka dia merasa bahwa dia harus membantu dan menyelamatkan sahabat barunya itu dari ancaman bahaya.

Sekalipun mereka berdua melakukan perjalanan bersama, dan makan bersama bahkan bermalam di penginapan yang sama, namun cinta Kiong Mi Yun tetap tertuju pada Han Pwee Eng.

Nona Kiong menganggap 463 nona Han lebih pantas jadi suaminya dibandingkan dengan Kong-sun Po, tunangannya sejak kecil.

Nona Kiong pun menganggap "Han Toa-konya"

Itu lebih tampan, romantis dan pandai bicara.

Tetapi tanpa disadarinya dia juga mulai tertarik kepada Kong-sun Po yang lugu dan jujur.

Dia anggap Kong-sun Po ini sangat menarik.

Hari itu mereka sudah sampai di desa atau rumah keluarga Han.

Saat itu nona Kiong bicara pada kawan seperjalanannya.

"Kong-sun Toa-ko, aku selalu mengelabuimu, hal itu membuat aku jadi merasa tidak enak hati,"

Kata nona Kiong. Kong-sun Po tertegun.

"Apa?"

Wajah Kiong Mi Yun berubah kemerah-merahan.

"Kuucapkan terima kasih padamu, kau telah menemaniku di perjalanan hingga sampai di sini,"

Kata nona Kiong.

"Sebenarnya aku harus berterus-terang kepadamu, namun....aku tidak tahu harus bagaimana aku mengatakannya....."

Kong-sun Po keheranan.

"Aneh dia ini, tiba-tiba dia bersikap seperti seorang gadis saja?"

Pikir Kong-sun Po. Tak lama nona Kiong melanjutkan bicaranya.

"Aku minta kau menemaniku, padahal itu sikapku yang sangat egois...."

Katanya. Kong-sun Po tercengang.

"Maksudmu?"

Kiong Mi Yun menundukkan kepalanya.

"Maksudku agar kau melindungiku di sepanjang jalan. Aku...aku...aku sangat menyukai Han Toa-ko...."

Kong-sun Po tertawa terbahak-bahak.

"Oh begitu? Aku juga suka pada Han Toa-ko. Dia temanmu, dan dia juga temanku, pasti aku bersedia mengantarmu sampai di sini!"

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun tersenyum.

"Sesudah bertemu dengan Han Toa-ko, baru aku akan bicara terus-terang kepadamu. Tetapi bagaimana jika dia tahu aku ini tunangan Kong Sun Po? Terus-terang aku lebih menyukai Han Toa-ko? Lalu apa yang akan terjadi kelak?"

Pikir Kiong Mi Yun.

Tak mereka kira begitu sampai di rumah keluarga Han, mereka mel ihat rumah keluarga Han itu telah terbakar hangus, di sana tidak ada seorang pun yang masih hidup.

Menyaksikan rumah keluarga Han sebagian besar telah musnah, Kiong Mi Yun kaget bukan kepalang.

"Bagaimana nasib Han Toa-ko? Apa dia celakai di tangan si Iblis Tua itu?"

Pikir nona Kiong.

"Han Toa-ko! Han Toa-ko!"

Kiong Mi Yun memanggilmanggil diikuti oleh Kong-sun Po. Pada saat yang bersamaan terdengar suara seseorang dan suaranya serak seperti suara burung gagak.

"Kalian sedang mencari siapa?"

Kiong Mi Yun menoleh. Kelihatan seorang nenek tua sudah berdiri di tempat itu Nenek itu berpakaian indah. Wajahnya tersenyum-senyum anggun. Tapi suaranya menyeramkan sekali. Kong-sun Po terkejut.

"Dari mana munculnya nenek ini? Sepertinya dia muncul begitu saja, seolah keluar dari dalam tanah?"

Pikir Kong-sun Po.

Ketika diperhatikan selain pakaian nenek itu indah, pakaian itu pun bersih sekali.

Jelas dia masuk lewat dari pintu depan.

Sedangkan Kong-sun Po pernah berlatih ilmu "Teng-hong-panpeng" (Mendengar suara angin dan membedakan suara senjata).

Tapi heran pemuda ini sedikitpun tidak mendengar dan merasa ada orang yang datang ke tempat itu.

Itu membuktikan bahwa nenek itu berilmu tinggi sekali.

"Aku sedang mencari Han Toa-ko,"

Kata Kiong Mi Yun.

"Apa Nenek Ibunya?"

Nenek itu mendengus dan suaranya dingin.

"Hm! Isteri Han Tay Hiong sudah lama meninggal dunia, mana mungkin ibu anak itu muncul lagi di sini?"

Katanya.

"Maaf, boan-pwee (saya yang rendah) salah menduga, Nek!"

Kata Kiong Mi Yun.

"Kalau begitu Nenek mungkin familinya?"

Nenek itu berbalik bertanya.

"Apa hubunganmu dengan keluarga Han?"

Katanya.

"Aku saudara angkat Han Eng Toa-ko,"

Jawab Kiong Mi Yun sejujurnya.

"Siapa Han Eng Toa-ko itu?"

Tanya nenek itu keheranan.

"Dalam keluarga Han Tay Hiong tidak ada orang yang bernama Han Eng! Apa dia salah seorang pelayannya?"

"Han Eng itu putera Han Tay Hiong, bukan pelayannya,"

Kata Kiong Mi Yun. Tapi otak Kiong Mi Yun pun langsung bekerja.

"Rupanya Nenek ini mengenal dengan baik keluarga Han, tetapi kenapa dia sampai tidak mengetahui siapa Han Toa-ko? Heran sekali?!"

Pikir nona Kiong. Nenek itu tertegun tiba-tiba dia seolah ingat sesuatu.

"Aah! Aku bodoh sekali, mungkin puteri Han Tay Hiong menyamar jadi seorang pria. Aku kira orang yang dimaksud oleh orang ini ya nona Han? Begitu sempurnanya penyamaran Nona Han Pwee Eng, dua bocah ini bisa dikelabuinya!"

Pikir si nenek. Tapi nenek ini tidak mau membuka rahasia.

"Oh, jadi yang kau maksud itu Tuan-muda keluarga Han?"

Kata si nenek.

"Ada urusan apa kalian mencari dia?"

"Aku dengar Han Toa-ko punya musuh besar, kedatangan kami ke mari, justru kami ingin membantu dia,"

Kata Kiong Mi Yun dengan terus-terang.

"Apa kau tahu siapa musuh besar mereka itu?"

Tanya si nenek.

"Ya, aku tahu. Namanya kalau tak salah Chu Kiu Sek! Maka aku ingin tahu Nek, apakah Han Toa-ko telah dicelakai olehnya atau belum?"

Kata Kiong Mi Yun.

"Coba kau beritahu aku, guci yang kau bawa-bawa itu apa isinya?"

Tanya si nenek.

"Arak!"

Jawab Kiong Mi Yun.

"Mengapa dari tempat begitu jauh kau membawa-bawa arak itu, apakah arak itu berkhasiat?"

Tanya si nenek. Kong-sun Po ingin mencegah agar nona Kiong tidak memberitahu tentang arak itu, tapi sudah terlambat.

"Ini arak Kiu-thian-sun-yang-pek-hoa-ciul Khasiatnya untuk mengobati orang yang terkena racun dingin!"

Kata nona Kiong dengan jujur.

Nona Kiong mengira nenek itu masih famili keluarga Han, selain itu dia juga berpikir toh ada Kong-sun Po yang akan melindunginya, andai kata nenek itu ingin berbuat jahat kepadeanya.

Dia yakin Kong-sun Po akan mampu mengatasi nenek ini.

Karena dia tidak takut maka dia bicara terus-terang.

"Jadi kau ingin memberikan arak itu pada Han Toakomu, ya? Rupanya kau takut Han Toa-komu terkena pukulan Siu-loim-sat-kang?"

Kata si nenek.

"Benar,"

Jawab nona Kiong sambil mengangguk. Mendadak si nenek tertawa.

"Kau jangan mencari dia, serahkan saja arak itu kepadaku!"

Katanya. Pada saat yang bersamaan tubuh si nenek berkelebat, tahu-tahu dia sudah ada di samping nona Kiong, Kiong Mi Yun kaget bukan kepalang, dia akan mundur tapi sudah terlambat.

"Mau apa kau?"

Bentak Kiong Mi Yun.

Tiba-tiba Mi Yun merasakan telapak tangannya sakit, tanpa dia sadari guci arak di tangannya itu sudah berpindah tangan ke tangan si nenek.

Tapi nona Kiong tidak tinggal diam dia langsung menyerang nenek itu.

Untuk menangkis serangan nona Kiong, si nenek mengibaskan lengan bajunya.

"Seer! Weeeek!"

Lengan baju si nenek robek tetapi nona Kiong pun terhuyung ke belakang beberapa langkah jauhnya. Si nenek mendengus dingin.

"Hm! Rupanya kau puteri dari pulau Hek-hong-to, sedang ilmu Cit-sat-ciangmu belum sempurna benar!"

Kata si nenek.

Mata si nenek memang tajam, saat dia lihat serangan Kiong Mi Yun, dia langsung tahu jurus apa yang digunakan oleh nona Kiong tersebut saat itu.

Si nenek pun langsung tahu kalau Kiong Mi Yun seorang gadis.

Ucapan nenek ini membuat Kong-sun Po kaget, sebab selama dalam perjalanan, sama sekali dia tidak tahu kalau teman seperjalanannya itu ternyata seorang nona.

"Nenek ini benar, pukulan nona Kiong itu milik majikan pulau Hek-hong, tetapi apa benar saudara Kiong ini seorang gadis?"

Pikir Kong-sun Po.

Selain penasaran Kong-sun Po pun kaget, padahal dia begitu dekat dengan nona Kiong.

Tapi mengapa dia tidak bisa mencegah nenek itu menyerang kawannya itu.

Dia juga tidak bisa menghalangi nenek itu saat si nenek merebut guci arak di tangan nona Kiong.

Saat dia tahu guci itu sudah berpindah tangan, dia kaget bukan kepalang.

"Nenek ini lihay sekali, kepandaiannya pun tidak berada di bawah kepandaian Chu Kiu Sek?"

Pikir Kong-sun Po.

Sebenarnya bisa saja Kong-sun Po membantu si nona, pada saat nona Kiong menyerang nenek itu.

Tetapi karena Kong-sun Po terkejut oleh kata-kata si nenek, dia juga melihat nenek tidak berniat melukai nona Kiong, dia jadi ragu-ragu.

Tahu si nenek telah membongkar rahasia penyamarannya, nona Kiong malu sekali hingga wajahnya berubah merah.

"Kakak Kong-sun, apa kau tak mau membantuku?"

Kata nona Kiong. Kong-sun Po sadar. Dia langsung memberi hormat.

"Lo-cian-pwee tunggu dulu!"

Kata Kong-sun Po.

"Tolong jelaskan dulu...."

"Mengapa aku harus meladeni dan menjelaskan padamu?"

Kata nenek itu ketus. Dia langsung pergi. Begitu si nenek bergerak, Kong-sun Po langsung menghadang di depan nenek itu.

"Maaf Lo-cian-pwee, semua masalah bisa kita bicarakan dengan baik-baik,"

Kata Kong-sun Po.

"harap Lo-cian-pwee bersabar sedikit!"

Kong-sun Po memberi hormat pada si nenek, namun saat itu sengaja dia menyerang dengan jurus Tay-hang-pal-sek (Delapan jurus lingkaran).

Wajah Kong-sun Po sangat lugu, pakaiannya pun sangat sederhana, dia lebih mirip seorang pemuda desa.

Tidak heranjika si nenek jadi agak meremehkan pemuda desa ini.

Tiba-tiba si nenek merasakan sebuah serangan yang dasyat menerjang ke arah dadanya.

Hal ini membuat si nenek jadi sesak napas.

Mau tidak mau dia harus menghentikan langkah kakinya.

Sekalipun tidak sampai terluka tetapi serangan itu membuat dia terkejut.

"Hai! Siapa kau?"

Bentak si nenek.

"Bocah ini tampangnya biasa-biasa saja, tapi kepandaiannya lumayan juga,"

Pikir si nenek.

"Kami berdua sahabat Han Toa-ko,"

Kata Kong-sun Po menjelaskan.

"Maaf bukan kami tidak percaya pada Lo-cianpwee. Tapi kami memang ingin bertemu dengannya. Lebih baik kami yang menyerahkan arak itu kepadanya! Kami tidak berani merepotkan Nenek, tolong beritahu saja di mana dia?"

Kong-sun Po bicara dengan tata-krama dan sangat sopan, tapi si nenek menyahut dengan ketus.

"Mengapa aku harus memberitahumu. Hm! Aku tahu kepandaianmu lumayan, tetapi kau tidak akan dapat mengalahkan aku!"

Kata nenek itu. Kiong Mi Yun maju sambil membentak.

"Siapa kau? Cepat katakan!"

Kata nona Kiong.

Nenek itu sudah langsung menyerang Kong-sun Po yang saat itu langsung menangkis dengan jurus Tay-hang-pat-sek.

Saat itu Kiong Mi Yun sudah langsung menghunus pedang dan menyerang ke arah punggung si nenek.

"Aku menghormatimu sebagai Lo-cian-pwee, tetapi kau malah tidak tahu aturan!"

Bentak Kiong Mi Yun.

"Sekarang aku tidak akan sungkan-sungkan lagi terhadapmu!"

Kong-sun Po menyerang dari depan sedangkan Kiong Mi Yun dari arah belakang nenek itu.

Saat itu si nenek sepertinya dalam bahaya.

Tetapi tiba-tiba dia melancarkan dua serangan yang bersamaan, ke depan maupun ke belakang.

Kong-sun Po merasakan serangan hebat ke arahnya.

Hal ini membuat pemuda itu harus membalikkan badan.

Kesempatan ini langsung digunakan oleh si nenek untuk pergi, namun ujung pedang nona Kiong hampir saja mengenai punggung si nenek.

Namun, dengan mudah si nenek menghindar dari serangan nona Kiong yang sangat ganas itu.

Malah tangkisa si nenek membuat ujung pedang Kiong Mi Yun berbalik arah, dan mengarah ke Kong-sun Po.

Untung nona Kiong bisa segera menarik serangannya.

"Ada apa Kong-sun Toa-ko?"

Tanya si nona dan alisnya berkerut. Kong-sun Po agak tercengang saat mengetahui nona ini tidak roboh oleh serangan si nenek.

"Tidak apa-apa, apa kau tidak terluka?"

Tanya pemuda itu penuh perhatian. Nona Kiong menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Ayo kita kejar dia!"

Kata si nona.

Tadi nenek itu mengerahkan dua pukulan yang berbeda, keras dan lunak.

Tenaga yang keras untuk mendorong Kong-sun Po, sedangkan tenaga yang lunak untuk menarik nona Kiong.

Tidak heran kalau ujung pedang Kiong Mi Yun nyaris saja mengenai Kong-sun Po.

Mereka langsung mengejar si nenek.

Tak lama mereka sampai di sebuah gunung.

Sekalipun sedang membawa guci arak yang berat nenek itu bisa berlari cepat.

"Jika dia lari di tempat yang rata, sulit kita mengejarnya,"

Kata Kong-sun Po pada nona Kiong. Gin-kang Kiong Mi Yun tidak berada di bawah Kongsun Po. Tak lama keduanya berhasil menyusul si nenek. Nenek itu mendengus dengan dingin.

"Hai apa kalian mau mencari mati?"

Bentak si nenek.

Tiba-tiba tubuhnya berbalik, kali ini dia melancarkan dua serangan seperti tadi.

Pemuda itu sudah siap dia kerahkan jurus Sih-ni-ciang-hoat (Ilmu pukulan tenaga lunak) untuk menangkis serangan si nenek ini.

Ini adalah jurus yang dia pelajari dari Beng Beng Tay-su.

Melihat pemuda itu bisa mengatasi serangannya nenek ini berpikir.

"Bocah ini sulit dilayani. Dia juga gabung dengan puteri Kiong Cau Bun. Sekalipun mereka tidak akan mampu 472 mengalahkan aku, tapi aku akan sulit mempertahankan guci arak ini!"

Pikir si nenek.

Jarak mereka sekarang agak jauh tapi Kiong Mi Yun yang bernapsu ingin merebut guci arak itu, telah melesat mendahului Kong-sun Po.

Melihat nona Kiong mendatangi nenek itu mengerutkan dahinya.

Segera dia papak kedatangan nona Kiong dengan jarinya menotok jalan darah si nona.

Bukan main cepatnya totokan itu, Kiong Mi Yun tidak sempat mengelak maupun menangkis serangan itu.

Saat tubuh Kiong Mi Yun roboh ke belakang, kebetulan Kong-sun Po tiba dari belakang si nona.

Tubuh nona Kiong jatuh ke dalam pelukan pemuda itu.

Begitu terpeluk oleh pemuda itu, nona Kiong kaget bukan kepalang.

Wajahnya langsung merah, karena sekarang pemuda itu sudah tahu bahwa dia sebenarnya seorang nona.

"Jalan darah Meng-khie-hiati"

Bisik si nona kepada Kong-sun Po, dia memberi tahu Kong-sun Po, jalan darahnya yang ditotok oleh si nenek. Kong-sun Po segera membebaskan totokan di jalan darah yang disebutkan si nona.

"Apa kau terluka?"

Tanya pemuda itu lembut penuh rasa khawatir dan perhatian. Setelah bebas dari totokan nona Kiong mendorong pemuda yang sedang memeluknya itu. Wajah nona Kiong pun merah sekali karena malu.

"Jangan banyak bertanya, kejar dia! Sekalipun kita bukan lawan dia tapi kita harus tahu tempat tinggalnya!"

Kata nona Kiong. Rupanya nenek agak segan kepada ayah nona Kiong, oleh karena itu dia telah menyerang nona Kiong dengan perlahan dia tidak berani melukai nona ini.

"Tapi kau.... sendirian ..."

Kata Kong-sun Po terputus-putus agak ragu meninggalkan nona Kiong sendiri saja. Rupanya Kong-sun Po mencemaskan keadaan nona Kiong, dia mengira nona itu telah terluka.

"Jangan kau cemaskan diriku, aku tidak terluka!"

Kata si nona.

"Tinggalkan aku di rumah Han Toa-ko, kau kejar dia. Aku sendiri tidak takut, masakan ada orang yang berani memakanku?"

Pemuda itu tahu nona Kiong berkepandaian tinggi, kecuali jika nona Kiong harus melawan pesilat tangguh seperti Chu Kiu Sek. selain itu dia akan sanggup membela diri.

"Baik, kau sembunyi sampai aku kembali!"

Kata pemuda itu.

"Jangan cerewet, cepat kejar dia!"

Kata si nona.

Mulut nona Kiong bicara agak kasar namun hatinya sangat berterima kasih kepada pemuda yang penuh perhatian terhadapnya itu.

Kong-sun Po langsung lari mengejar si nenek, sedangkan Kiong Mi Yun berjalan ke rumah keluarga Han.

Setiba di rumah yang sudah sebahagian terbakar itu, nona Kiong bertambah risau dan pikirannya bertambah kacau.

"Mungkin Han Toa-ko bertemu dengan musuh yang tangguh. Eh, ada kuburan baru, entah siapa yang di kubur di tempat ini? Oh, mudah-mudahan bukan Han Toa-ko?"

Pikir Kiong Mi Yun. Dia berdiri tegak dan tertegun cukup lama.

"Sekarang Kong-sun Toa-ko sudah tahu tentang diriku. Perlukah kuberitahu dia tentang perjodohan itu? Aaah! Garagara nenek itu aku jadi canggung berada di dekatnya. Aku susah buka mulut!"

Pikir nona Kiong.

Sejak masih di dalam kandungan ibunya, ayah nona Kiong telah menjodohkan dia dengan Kong-sun Po.

Tetapi pemuda itu rupanya belum tahu mengenai masalah ini.

Ditambah lagi nona Kiong sudah jatuh cinta kepada "Han Toa-ko"

Alias Han Pwee Eng yang menyamar menjadi seorang pria. Untung di rumah keluarga Han yang terbakar masih tersisa beberapa buah kamar yang selamat dari jilatan sang api.

"Tadi Kong-sun Toa-ko menyuruhku bersembunyi, lebih baik aku turuti permintaannya,"

Pikir nona Kiong.

"Akan kupilih sebuah kamar untuk isterihat, jika dia datang pun pasti dia akan memangil dan mencariku?"

Dia mencari buah kamar yang dia anggap cocok baginya.

Setelah melewati sebuah ruang dia sampai di sebuah kamar.

Kain jendelanya masih tertutup rapat.

Dari kamar itu tercium aroma yang sangat harum.

Kiong Mi Yun tersentak.

"Eh wangi dupa, apa di kamar ini ada orangnya?"

Pikir nona Kiong.

Dia berjalan perlahan-lahan ke pintu kamar itu, lalu dia dorong pintunya perlahan-lahan.

Saat pintu itu terbuka ternyata di dalam kamar itu tidak ada orang.

Namun, mata nona Kiong terbelalak ketika menyaksikan keindahan kamar itu.

Di kamar itu terdapat sebuah tempat tidur dari 475 kayu dan diukir indah sekali, lemari pajang dan cermin besar terbuat dari tembaga yang telah digosok hingga mengkilap.

Di atas meja hias tampak tergantung beberapa buah lukisan dan syair.

Tapi kamar itu kosong.

Kiong Mi Yun sadar bahwa itu kamar seorang nona.

"Kamar siapa ini? Apakah ini kamar kakak atau adik Han Toa-ko? Tetapi saat aku bertemu dengannya dia tidak pernah bilang kalau dia punya seorang kakak atau adik lelaki. Ah, aku tidak peduli itu! Tetapi ini kamar siapa? Masa bodoh aku mau istirahat di sini!"

Pikir nona Kiong.

Sebagai seorang gadis tentu saja nona Kiong menyukai kamar yang harum dan indah itu.

Kiong Mi Yun pun tertarik pada syair yang bergantungan di dinding kamar, dan mulai membacanya.

Pandang depan dan belakang.

Hanya kabut belaka, Hari yang gelap.

Amhom dimhom ,enderi-deru.

Duduk termenung seorang diri.

Mengenang masa lampau, Itu merupakan takdir.

Bukan kemauan manusia.

Tampak api berkobar.

Suara anak panah pedang dan golok mendesir, dan berkelebat.

Hati bergelora, air matapun bercucuran.

Syair itu ciptaan penyair zaman Lam Song (Dinasti Song Selatan, Red), nama penyairnya Tio Lan Ouw.

Selesai 476 membaca kelihatan nona Kiong tidak mengerti maksud sajak itu.

Saat dia membaca bagian bawah syair itu, dia tercengang.

Bunyi tulisan itu demikian .

Eng Li (Anak perempuan Eng) belajar syair harus mencontoh semangat penyair Tio Kan Ouw Tio Kan Ouw hidup pada zaman Dinasti Song Selatan, yaitu pada masa kaisar Song Kauw Cong memerintah di kerajaan Song.

Tio Kan Ouw seorang sarjana sastra.

Pada masa itu banyak pejabat istana Kerajaan Song yang korup dan melakukan berbagai kejahatan.

Melihat kejadian itu Tio Kan Ouw sangat gusar.

Kemudian dia menulis syair tersebut di atas.

Nona Kiong tidak mengerti isi sajak itu, tetapi dia mengerti apa maksud tulisan di bawah ajak itu.

"Nama nona Han yang tertulis di sajak itu juga bernama Eng seperti nama Han Toa-ko?"

Pikir Kiong Mi Yun.

Nona Kiong mulai curiga tetapi dia tidak berani berpikir ke arah sana.

Tiba-tiba dia melihat segulung kertas.

Lalu kertas itu dia ambil dan dia buka gulungannya.

Ternyata gulungan itu sebuah gulungan lukisan seorang pria tampan.

"Rupanya Nona Han tidak menyukai lukisan ini?"

Pikir nona Kiong.

"Tidak heran kalau lukisan ini dia buang begitu saja, lalu dia injak-injak. Heran mengapa dia sangat benci pada lukisan ini?"

Dia amati dengan teliti lukisan itu.

Lukisan itu menggambarkan seorang pemuda tampan, di pinggang pemuda itu tergantung sebilah pedang.

Rupanya pemuda itu seorang kaum Rimba Persilatan.

Nona Kiong tertawa.

"Hm! Aku kira Nona Han mencintai pemuda ini dengan diam-diam, tapi si pemuda barangkali mencintai nona lain sehingga Nona Han membencinya?"

Pikir Kiong Mi Yun.

Memang nona Kiong tidak mengetahui dengan jelas, itu sebenarnya kamar Han Pwee Eng.

Setelah nona Han menyerahkan semua harta milik ayahnya kepada ketua pengemis cabang Lok-yang, dia sempat masuk ke kamar itu.

Pada saat dia sedang duduk di tepi ranjang, dia melihat lukisan Kok Ju Sih, ayah Kok Siauw Hong saat masih muda.

Tentu saja gambar itu agak mirip dengan gambar wajah Kok Siauw Hong.

Lukisan itu hadiah dari ayah Kok Siauw ong kepada ayah nona Han.

Lalu gambar itu oleh Han Tay Hiong dihadiahkan kepada anaknya, alasan Han Tay Hiong karena lukisan itu mirip lukisan Kok Siauw Hong.

Nona Han ingat lukisan itu diberikan ayahnya pada saat dia akan berangkat ke Yang-cou.

Saat nona Han melihat lukisan itu sepulang dari Yang-cou, hatinya jadi kesal.

Dia lemparkan lukisan itu ke lantai dan terus dia injak-injak di lantai.

Nona Han sekarang sedang terkurung di kamar batu, dia tidak mengira kalau sahabat barunya, nona Kiong akan masuk ke kamar tidurnya "Eh, siapa Nona Han ini?

Mengapa dia pun bernama Eng?

Apa dia kakak atau adik Han Toa-ko?

Lalu siapa yang ada di dalam lukisan ini?"

Begitu nona Kiong berpikir.

Akhirnya nona Kiong jadi tidak tenang, dia berharap agar Kong-sun Po bisa segera kembali.

Selang beberapa saat Kiong Mi Yun terssentak kaget karena dia mendengar suara langkah kaki seseorang di luar kamar itu.

Keberulan langkah kaki itu terdengar sedang mendatangi ke arah kamar itu.

Mendengar langkah kaki itu, nona Kiong girang.

Dia kira itu langkah kaki Kong-sun Po yang sudah kembali setelah mengejar musuh.

Tetapi dia kaget karena dia tahu, bila orang itu pemuda she Kong-sun yang sudah kembali, pasti dia akan memanggil-manggil namanya.

Sedangkan orang yang sekarang berjalan ke arah kamar itu tidak memanggil namanya?

Nona Kiong 478 langsung sadar pada adanya bahaya!

Tiba-tiba langkah kaki itu berhenti di depan kamar itu.

Tak lama terdengar seolah ada orang yang sedang membuka peti atau lemari dengan paksa.

Kemudian, langkah kaki itu terdengar lagi.

Malah sekarang langkah kaki itu terdengar jelas menuju ke kamar tempat nona Kiong sedang bersembunyi.

Kesehatan nona Kiong belum pulih benar.

Lukanya bekas totokan si nenek tadi masih terasa sakit.

Sekalipun totokan itu telah dibebaskan oleh Kong-sun Po, tetapi tenaga nona Kiong belum pulih benar sama sekali.

"Jika yang datang itu musuh besar Han Toa-ko, apa yang harus aku lakukan?"

Pikir nona Kiong.

Dia seorang nona pemberani tapi dia juga sadar, sekalipun Han Tay Hiong yang berilmu tinggi sulit menghadapi musuh besarnya itu.

Dia jadi cemas jika benar yang datang itu musuh keluarga Han, dia juga bisa celaka karena ada di tempat itu.

Tiba-tiba nona Kiong mendengar orang itu bicara sendiri.

"Heran di mana disimpannya harta orang she Han ini? Apa aku salah informasi?"

Kata orang itu. Itu suara seorang lelaki yang sudah berumur lanjut.

"Dia datang untuk mencari harta milik keluarga Han, sekalipun bukan musuh, tapi pasti orang ini orang jahat?"

Pikir nona Kiong.

Langkah kaki itu semakin semakin dekat ke kamar itu, Kiong Mi Yun bingung untuk mencari tempat bersembunyi.

Tapi dia cerdas, langsung dia masuk ke kolong ranjang yang kebetulan sepreinya panjang sampai ke lantai.

Baru saja dia masuk ke kolong ranjang, nona Kiong sudah mendengar suara pintu kamar itu didorong dengan paksa dari luar.

"Kamar ini bagus sekali,"

Kata orang itu.

"pasti ini kamar puteri Han Tay Hiong yang bernama Han Pwee Eng!"

Orang itu bicara sambil tertawa dingin. Nona Kiong kaget ketika dia mendengar ucapan orang itu, apalagi saat menyebut nama Han Pwee Eng.

"Kiranya puteri Han Tay Hiong itu bernama Han Pwee Eng!"

Pikir nona Kiong. Diam-diam nona ini menyingkap kain seprei lalu mengintai ke luar. Kelihatan orang itu sedang mendekati sebuah meja dan mengambil lukisan yang tadi dilihat oleh nona Kiong.

"Hm!"

Orang itu mendengus sinis.

"Gadis busuk ini ternyata tidak tahu malu juga! Dia masih memikirkan kekasihnya sehingga hampir gila! Orang tidak menyukai dia tetapi dia justru perempuan yang tebal mukanya dan tidak tahu malu! Sampai sekarang dia masih menyimpan lukisan keponakanku ini di kamarnya. Untung keponakanku tidak jadi menikah dengannya!"

"Brak!"

Dia melemparkan lukisan itu ke lantai. Orang itu adalah Jen Thian Ngo, paman Kok Siauw Hong. Setelah mendengar kata-kata orang itu nona Kiong Mi Yun jadi sangat berduka memikirkan nona Han itu.

"Sepertinya dia masih termasuk famili dari pihak lelaki, kenapa orang ini sangat senang kalau pertunangan keponakannya dengan nona Han dibatalkan? Eh, malah dia juga mencaci nona Han dengan keji. Aneh sekali! Dia datang dengan niat mengambil harta orang. Hm! Pasti tua bangka ini bukan orang baik-baik!"

Pikir nona Kiong. Sebaliknya Jen Thian Ngo berpkir lain lagi.

"Tidak mungkin Han Tay Hiong menyimpan harta itu di kamar anak perempuannya,"

Pikir Jen Thian Ngo.

"Tapi tidak ada salahnya aku menggeledah kamar ini agar aku tidak jadi penasaran...."

Di kamar itu hanya ada rak buku dan dua buah peti. Kedua peti itu masih terkunci rapat. Dia gunakan tenaga dalamnya untuk menarik kunci peti itu.

"Brak!"

Kedua kunci gembok itu rusak hingga peti bisa dibuka.Setelah memeriksa isi kedua peti itu, terdengar orang itu membentak keras.

"Sial! Isinya hanya buku dan lukisan! Gadis busuk ini kurang rajin belajar kung-fu, malah dia belajar sastra! Apa dia ingin jadi sarjana wanita?"

Kata Jen Thian Ngo kesal bukan main.

Nona Kiong senang mendengar bahwa isi peti itu bukan harta, sekarang nona Kiong tahu orang itu tidak menemukan harta yang dicarinya.

Tapi saat dia melihat lelaki itu menarik kunci gembok, nona Kiong sadar orang ini berilmu tinggi.

Setelah tidak menemukan yang dicarinya, Jen Thian Ngo masih menoleh ke kiri dan kanan mencari-cari sesuatu.

"Celaka! Pasti dia akan memeriksa ke kolong ranjang!"

Pikir nona Kiong. Tiba-tiba Mi Yun mendengar ada orang berteriakteriak....

"Nona Han! Nona Han di mana kau?"

Jen Thian Ngo kaget bukan kepalang. Saat dia akan meninggalkan kamar itu, orang itu sudah berdiri di depan 481 kamar itu. Dia juga kaget melihat Jen Thian Ngo ada di tempat itu.

"Eh! Paman juga ada di sini?"

Kata pemuda itu.

"Kok Siauw Hong!"

Kata Jen Thian Ngo. Ternyata pemuda itu adalah Kok Siauw Hong. Setelah dari markas Kay-pang dia langsung akan menemui Han Pwee Eng lagi di rumah si nona.

"Paman juga ke mari?"

Kata keponakannya.

"Setelah kau pergi aku khawatir kau tidak akan mampu menghadapi Han Tay Hiong!"

Kata Jen Thian Ngo.

"Maka itu kau aku susul ke mari!"

"Terima kasih atas perhatian Paman, tapi aku sendiri belum pernah bertemu dengan Paman Han. Rupanya dia bertemu dengan musuh besarnya. Paman sudah menemukan apa, barusan aku dengar suara gaduh di kamar ini?" -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 18 Jen Thiang Ngo agak gugup ditanya begitu oleh keponakannya. Wajahnya berubah merah, maka buru-buru dia menjawab pertanyaan keponakannya itu. Tapi ia bicara seolah tanpa dipikir lagi.

"Aku ke mari untuk menyelidiki hubungan Han Tay Hiong dengan Siang-koan Hok. Mereka sudah berhubungan lama, jadi aku datang untuk mengungkapkan hubungan mereka dan hubungannya dengan bangsa Mongol. Aku ingin punya bukti!"

Kata Jen Thian Ngo.

"Oh begitu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Mula-mula Paman mengadakan penyelidikan di rumah ini, setelah berhasil 482 Paman akan mengundang kaum Rimba Persilatan untuk menyerbu ke tempat ini, begitu maksud Paman?"

Dengan agak gugup Jen Thian Ngo mengangguk.

"Begitu maksudku!"

Katanya. Kiong Mi Yun dongkol sekali mendengar jawaban lelaki tua itu. Dia tahu orang itu berbohong pada anak muda itu.

"Hm! Dia tidak tahu malu! Dia membohongi keponakannya sendiri. Jelas dia datang ke mari mau mencuri harta orang. Tapi malah dia menuduh orang lain bersekongkol dengan bangsa Mongol!"

Pikir si nona. Tak lama terdengar Jen Thian Ngo melanjutkan bicaranya.

"Siauw Hong, apa kau tidak percaya kepadaku? Mengapa kau masih memanggil Paman kepadanya?"

Kata Jen Thian Ngo. Pemuda itu tidak menjawab malah dia bertanya.

"Apa Paman telah menemukan sesuatu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Belum! Tolong kau bantu aku mencarinya, mungkin rahasia itu dia selipkan di salah satu buku-buku ini!"

Kata Jen Thian Nge.

"Tidak perlu Paman mencarinya lagi,"

Kata Kok Siauw Hong. Jen Thian Ngo tertegun kelihatan dia agak keheranan.

"Kenapa?"

"Karena aku sudah tahu rahasia itu!"

Jawab Kok Siauw Hong. Kelihatan Jen Thian Ngo girang bukan main.

"Rahasia apa itu? Coba kau berikan pada Paman!"

Katanya.

"Sepotong surat kulit kambing bertulisan bahasa Mongol, tetapi sekarang benda itu tidak ada di tanganku!"

Kata Kok Siauw Hong pada pamannya.

"Di mana surat itu sekarang? Siapa yang mengambil dari tanganmu?"

Kata Jen Thian Ngo. Kok Siauw Hong balik bertanya dan berkata begini.

"Han Tay Hiong mungkin sudah dicelakakan oleh musuh besarnya, rumahnya terbakar habis, sedang keberadaan dia belum diketahui. Jika Paman memperoleh rahasia Paman Han itu, lalu apa yang hendak Paman lakukan?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Dengar Kok Siauw Hong! Kau jangan terjebak oleh siasat Han Tay Hiong. Ini siasat dia sendiri. Dia bunuh semua pelayan dan dia bakar rumahnya agar kalian percaya, bahwa dia dicelakakan oleh musuh besarnya! Dengan demikian kalian jadi tidak waspada!"

Kata Jen Thian Ngo.

"Hm! Pendapat Paman juga sama dengan pendapat Liok Pang-cu dari Kay-pang!"

Kata Kok Siauw Hong. Jen Thian Ngo agak terperanjat.

"Jadi Liok Kun Lun pun datang ke mari?"

Kata Jen Thian Ngo agak kaget dan heran.

"Ya, malah surat dari kulit kambing itu pun telah aku serahkan kepadanya."

Kata Kok Siauw Hong.

"Hm! Kau sudah melihat surat bertulisan bahasa Mongol itu! Jadi kau tidak akan ragu-ragu lagi. tapi aneh kau masih kelihatan ragu-ragu?"

Kata Jen Thian Ngo pada Kok Siauw Hong.

"Paman benar, aku tidak berpikir seperti Paman,"

Kata Kok Siauw Hong. Wajah Jen Thian Ngo tampak berubah.

"Kalau begitu aku harus mendengar pendapatmu?"

Kata Jen Thian Ngo.

"'Aku tidak berani memberi pendapat apa-apa, tapi aku telah menemukan sebuah bukti baru,"

Sahut Kok Siauw Hong. Jen Thian Ngo mengerutkan dahinya.

"Bukti baru apa lagi?"

Kata Jen Thian Ngo.

"Semua pelayan di rumah Paman Han tewas karena diserang oleh pukulan tangan beracun,"

Kata Siauw Hong.

"Sepengetahuanku PamanHan tak belajar ilmu racun!"

Mendengar keterangan ini Jen Thian Ngo jadi tertegun.

"Ah, kau jangan mudah dikelabui olehnya, siapa tahu Han Tay Hiong menyuruh orang lain yang bisa pukulan itu untuk membunuh semua pelayannya! Dari omonganmu tadi, aku kira kau masih menaruh hati kepada Nona Han, ya Siauw Hong?"

Begitulah dia tegur keponakannya itu. Tetapi Kok Siauw Hong menanggapinya dengan dingin.

"Paman, menurut pendapatku. Paman terlalu menyudutkan Nona Han!"

Kata Kok Siauw Hong. Wajah Jen Thian Ngo berubah jadi tidak sedap dipandang.

"Kau sudah menemukan surat rahasia itu, lalu bagaimana pendapatmu?"

Tanya sang paman.

"Pendapatku tidak sama dengan pendapat Paman,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Menurut pendapatku pasti ada orang lain yang sengaja mengacau di rumah Paman Han untuk menjebak Paman Han supaya dimusuhi oleh semua pejuang tanah air!"

Jen Thian Ngo tertawa dingin.

"Jika pendapatmu demikian, berarti kau boleh menikahi puterinya. Pertunanganmu tidak perlu kau batalkan!"

Kata Jen Thian Ngo agak ketus setengan menyindir.

"Urusan perjodohanku dengan nona Han, itu masalah lain, itu soal pribadi! Tetapi aku yakin Paman Han bukan seorang pengkhianat!"

Jawab Kok Siauw Hong dengan tegas.

"Hm!"

Jen Thian Ngo mendengus.

"Han Tay Hiong orang baik, sedang puterinya cantik dan lihay, lalu mengapa kau mau membatalkan perjodohanmu dengannya?"

"Itu urusanku, dan Paman tidak perlu ikut campur!"

Kata Kok Siauw Hong agak jengkel.

"Tapi supaya Paman tidak mengira aku membohongi Paman Han dan puterinya, aku akan mem-beritahu Paman tentang satu hal!"

"Mengenai masalah apa?"

Tanya Jen Thian Ngo.

"Aku menemukan benda-benda lain di rumah Paman Han ini,"

Kata Kok Siauw Hong. Wajah Jen ThianNgo kelihatan tegang.

"Maksudmu barang apa?"

Tanya Jen Thian Ngo.

"Harta yang tidak ternilai harganya. Tetapi nona Han telah menyumbangkan harta itu kepada para pejuang,"

Jawab Kok Siauw Hong. Jen ThianNgo menyeka keringatnya yang membasahi kening dan sekujur tubuhnya. Lalu dia bertanya lagi.

"Di mana Nona Han sekarang?"

"Dia berjanji menunggu aku di sini, tetapi sekarang dia tidak ada entah ke mana?"

Sahut Kok Siauw Hong.

"Oh, jadi dia tidak membawa harta itu dan menyerahkan harta itu kepada para pejuang?"

Kata Jen Thian Ngo.

"Tidak! Dia minta Liok Pang-cu dari Kay-pang untuk mewakili keluarganya mengantarkan semua harta itu pada para pejuang! Saat ini Liok Kun Lun ada di markas cabang Kay-pang. Jika Paman tidak percaya, silakan Paman lihat sendiri di sana! Paman sahabat Lauw Kan Lu dan juga kenal pada Liok Pang-cu, tidak ada salahnya jika Paman pergi ke sana. Jika Paman mau ke sana, Paman harus secepatnya, karena besok mereka sudah akan berangkat!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Untuk mengantar harta itu pada para pejuang pasti Liok Kun Lun akan minta bantuan pada orang lain?"

Pikir Jen Thian Ngo. Kemudian dia berkata pada Kok Siauw Hong.

"Soal harta itu soal kecil,"

Kata Jen Thian Ngo seolah meremehkan soal harta itu.

"Tetapi mengenai persekongkolan Han Tay Hiong dengan bangsa Mongol itu yang harus aku selidiki sampai tunas. Baik aku akan ke sana menanyakannya pada Liok Pang-cu! Kau mau ikut bersamaku atau tidak?"

"Maaf, aku tidak bisa menemani Paman ke sana!"

"Hm! Jadi kau mau menunggui Nona Han di sini? Baik, aku pergi dulu!"

Kata Jen Thian Ngo dengan dingin. Lalu ia meninggalkan Kok Siauw Hong. Sepeninggal pamanya, Kok Siauw Hong menggumam.

"Hm! Pantas Ibu sering ribut dengan Paman ini, dia sangat egois. Barangsiapa yang tidak sependapat dengannya pasti orang itu dia cap sebagai penjahat!"

Kata Kok Siauw Hong. Saat KokSiauw Hong mengawasi ke seluruh ruangan itu, dia melihat banyak sekali berbagai lukisan yang bertebaran di lantai kamar itu.

"Eh, ini semua lukisan yang sangat berharga. Mengapa Paman Jen membongkar peti harta milik orang sembarangan saja? Dia tidak mengerti barang seni yang mahal harganya, dan dia campakan barang itu begitu saja!"

Kata Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong segera membereskan lukisan-lukisan itu. Ketika melihat lukisan Kok Ju Sih, dia tertegun karena lukisan itu mirip dengan dirinya.

"Eh! Bagaimana Nona Han bisa mempunyai lukisanku ini?"

Pikir Kok Siauw Hong dengan mata terbelalak. Pada saat Kok Siauw Hong sedang membungkuk, wajahnya terlihat oleh Kiong Mi Yun yang sedang bersembunyi di kolong ranjang.

"Ah, dia orang yang ada di dalam lukisan itu!"

Pikir nona Kiong. Sudah lama nona Kiong bersembunyi di kolong ranjang, dia mulai merasa pegal dan tidak enak karena kolong ranjang itu agak sumpek dan sempit baginya.

"Sekalipun dia tidak setia kepada nona Han, tapi dia baik pada keluarga Han. Jika aku keluar dan menemuinya lalu kuceritakan hubunganku dengan Han Toa-ko, pasti dia tidak akan melukaiku. Tapi sekarang aku sedang menyamar jadi seorang pria. Bagaimana jika dia bertanya mengapa aku ada di kamar nona Han? Apa yang harus aku jawab?"

Pikir nona Kiong sedikit bingung. Sesudah Kok Siauw Hong memperhatikan lukisan itu dengan teliti, baru dia tahu bahwa itu lukisan ayahnya bukan lukisan dirinya. Dia tertawa sendiri.

"Pantas Ibu bilang aku mirip dengan Ayah! Ketika Ayah masih muda dia memang mirip denganku. Jika tidak kuteliti lukisan ini aku akan mengira ini lukisanku. Pasti dulu Ayah menghadiahkan lukisan ini kepada Paman Han. Sekarang Paman Han entah ada di mana? Ini lukisan peninggalan Ayahku aku tidak boleh menyia-nyiakannya!"

Kata Kok Siauw Hong. Dia gulung lukisan itu lalu dia masukkan ke dalam saku bajunya. Sementara itu hari pun sudah mulai senja, ini membuat Kok Siauw Hong agak gugup.

"Apa Pwee Eng tidak senang kepadaku, lalu dia pergi begitu saja? Tapi mengapa sampai sekarang dia belum kembali juga? Sedangkan Giok Hian dan kakaknya yang membawa arak obat untuk Paman Han, juga belum juga datang? Padahal kata Ibu mereka mengikutiku ke Lok-yang. Sekalipun kereta itu berjalan sangat lambat, tapi seharusnya mereka sudah sampai di sini?"

Kala Kok Siauw Hong bingung dan keheranan. Mendengar keluhan pemuda itu nona Kiong yang bersembunyi di kolong ranjang tersentak.

"Jadi Kakak beradik yang kurebut guci araknya itu rupanya kawan baiknya?"

Pikir nona Kiong.

"Jika mereka berdua sudah sampai di tempat ini, pasti aku akan bertemu dengan mereka?"

Kiong Mi Yun menarik napas panjang dan berpikir lagi.

"Seandainya sekarang aku keluar dari kolong ranjang ini, dia belum tentu bisa menghalangi aku! Tapi, jika aku tidak mau bicara dengannya, bagaimana aku bisa tahu keadaan Han Toa-ko sekarang?"

PikirnonaKiong Hati Kiong Mi Yun jadi kebat-kebit, dia khawatir jika dia terus bersembunyi, kelak dia akan bertemu juga dengan 489 kedua kakak beradik itu.

Dia memutuskan akan keluar untuk menanyakan tentang Han Toa-ko-nya kepada Kok Siauw Hong.

Tapi dia sedikit agak ragu-ragu juga.

Saat Jen Thian Ngo berada di kamar itu, perhatian Kok Siauw Hong hanya tertuju kepada Jen Thian Ngo yang sedang mencari harta milik Han Tay Hiong.

Tidak heran jika pemuda ini tidak mendengar suara napas Kiong Mi Yun yang sedang bersembunyi di kolong ranjang.

Bahkan pada saat mereka berbincang Kok Siauw Hong pun tidak sadar kalau di kamar itu ada orang ketiga.

Saat dia sudah sendirian seperti sekarang.

Kok Siauw Hong sudah bisa mendengar suara napas nona Kiong itu.

Tapi pemuda itu sengaja berpura-pura tidak tahu, dia terus waspada.

Dia lihat kain seprei itu bergerak-gerak.

Kok Siauw Hong seorang pemuda jujur, dia tidak ingin langsung menyerang orang yang belum tentu musuh.

Tapi dia juga tidak berani menyingkap kain seperei itu "Eh, siapa yang bersembunyi di kolong ranjang ini?"

Pikir Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong ingin menggoda dan dia juga ingin tahu aiapa orang itu. dia langsung berkata seorang diri.

"Pamanku telah membuat kamar ini jadi berantakan, aku harus segera merapikannya kembali!"

Kata Kok Siauw Hong.

Dia langsung mengambil sebuah baskom berisi air dan mendadak dia menyiramkan air di baskom itu ke kolong ranjang tempat Kiong Mi Yun bersembunyi.

Nona Kiong tidak menduga pemuda itu akan menyiramkan air di baskom itu, dia kaget bukan kepalang.

Seketika itu juga dia berteriak.

"Aduh!"

Kiong Mi Yun langsung merangkak keluar dari kolong ranjang itu.

Dia gusar bukan main karena pakaiannya jadi basah kuyup.

Kok Siauw Hong tercengang, ternyata yang keluar dari kolong ranjang itu seorang pemuda tampan.

Kok Siauw Hong langsung membentak.

"Siapa kau? Mengapa bersembunyi di situ?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Keterlaluan!"

Kata Kiong Mi Yun kesal bukan main.

Dia langsung mengayunkan tangan hendak menampar muka Kok Siauw Hong.

Sejak kecil memang nona Kiong sangat dimanja, tadi ketika Kok Siauw Hong menyiram dia dengan sebaskom air hingga pakaiannya jadi basah kuyup, jelas dia marah bukan main.

Sebenarnya tadi dia ingin berkenalan dengan Kok Siauw Hong dan sekalian ingin menanyakan tentang Han Toa-konya ada di mana?

Tetapi sekarang kemarahannya telah memuncak dan dia jadi lupa soal itu.

Saat tangan nona Kiong melayang ke mukanya, Kok Siauw Hong menundukkan kepalanya.

Kemudian dia ulur tangannya untuk mencengkram tangan nona Kiong.

Mana mau nona Kiong membiarkan tangannya dicengkram lawan, dia putar tubuhnya dan dia ulurkan jari tangannya untuk menotok ke jalan darah Meng-khie-hiat pemuda itu.

Kok Siauw Hong menghindar sambil balas menyerang.

Nona Kiong kaget melihat kelihayan pemuda ini.

"Eh ilmu silatnya cukup tinggi!"

Pikir Kiong Mi Yun. Nona Kiong terpaksa mundur, tapi tidak dia sadari dia mendekati ranjang tadi hingga jadi terdesak.

"Jurus pemuda ini aneh sekali?"

Pikir nona Kiong.

"Murid siapa dia ini?"

Tanpa disadari oleh nona Kiong karena pakaian bagian atasnya yang basah-kuyup, payu dara nona Kiong jadi kelihatan menonjol dan jelas sekali.

Melihat hal itu Kok Siauw Hong jadi curiga dia mengira lawannya ini pasti seorang nona "Cepat katakan, siapa kau?"

Bentak Kok Siauw Hong.

"Jika kau tidak mau menjawab aku tidak akan segan-segan lagi melukaimu!"

Bersamaan dengan bentakan itu dia serang kepala nona Kiong.

Nona Kiong menunduk maksud Kiong Mi Yun akan menghindar dari serangan itu.

Tapi jari tangan Kok Siauw Hong sudah mengarah ke kening nona Kiong.

Sekarang nona Kiong tidak sempat lagi berkelit maupun mundur karena dia terhalang oleh ranjang.

Tangan Kok Siauw Hong berhasil menjepit kain pengikat rambut nona Kiong hingga pengikat rambut itu terlepas.

Seketika itu rambut nona Kiong yang panjang itu pun langsung terurai.

Karena takut jalan darah di keningnya tertotok, terpaksa nona Kiong mundur dan...

"Buum"

Ia jatuh terlentang ke atas tempat tidur.

Saat itu Kok Siauw Hong sudah menarik serangannya.

Dia tidak bermaksud mencelakakan nona itu, dia hanya ingin tahu siapa orang itu sebenarnya.

Kiong Mi Yun yang terbuka rahasianya jadi malu, dia tutupi wajahnya sambil berteriak-teriak.

"Kau...Kau... kau tidak tahu malu! Kau... berani menghinaku!"

Katanya. Kok Siauw Hong tertegun, langsung dia memberi hormat kepada nona Kiong.

"Maafkan, aku tidak tahu kalau kau seorang gadis!"

Katai Kok Siau Hong.

"Jika kau anggap aku tudak sopan mohon kau maafkan aku. Di lemari pakaian itu aku kira ada pakaian Nona Han, kau boleh pilih dan ganti pakaianmu yang basah itu!"

Kata Kok Siauw Hong.

Sesudah itu Kok Siauw Hong berjalan keluar dari kamar itu untuk memberi kesempatan pada nona Kiong berganti pakaian dan menutup pintu kamar itu.

Melihat pemuda itu sangat sopan dan tudak mengganggu dirinua, kemarahan nona Kiong pun perlahan-lahan reda juga.

"Sekalipun dia tidak setia kepada nona Han, tapi dia pria yang sopan, dan tahu aturan,"

Pikir nona Kiong.

Kiong Mi Yun membuka lemari pakaian itu, dia memilih dan mengambil salah satu pakaian itu.

Kemudian dia buruburu mengenakannya.

Begitu selesai berpakaian dan mengaca, nona Kiong berteriak.

"Sekarang kau boleh masuk!"

Kata nona Kiong.

Kok Siauw Hong mendorong pintu kamar itu dan dia pun masuk.

Dia terbelalak menyaksikan nona Kiong yang cantik ketika berpakaian seperti wanita.

Tapi Kok Siauw Hong tidak berani lama-lama memperhatikan nona itu.

Dia memberi hormat pada Kiong Mi Yun.

"Mengapa Nona bersembunyi di kolong ranjang?"

Kata pemuda itu sambil tersenyum manis.

"Aku ke mari untuk mencari Han Toa-ko!"

Kata nona Kiong Mi Yun.

"Kau calon menantu keluarga Han, bukan? Pasti kau tahu di mana dia sekarang?"

Kok Siauw Hong tertegun seketika lamanya.

"Di mana kau kenal dengan Han Toa-komu itu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Di tengah perjalanan. Dia sangat baik kepadaku, sekalipun kami baru berkenalan tapi sudah seperti saudara saja,"

Kata nona Kiong. Kemudian Kiong Mi Yun menceritakan pengalamannya dengan Han Pwee Eng di rumah makan "Ngih Nih Lauw"

Mendengar cerita itu, Kok Siauw Hong yakin nona ini mengira Han Pwee Eng seorang pria.

"Nona aku bicara terus-terang padamu, di rumah Paman Han tidak ada anak lelaki yang bernama Eng, karena Paman Han hanya mempunyai seorang puteri, namanya Han Pwee Eng!"

Kiong Mi Yun tersentak kaget.

"Jadi pemilik rumah ini Han Tay Hiong?"

Kata si nona.

"Benar!"

"Han Toa-ko bilang Han Tay Hiong itu ayahnya. Jadi mana mungkin dia sembarangan mengaku orang lain sebagai ayahnya?"

Kata si nona. Kok Siauw Hong tersenyum.

"Paman Han hanya punya seorang puteri, dia tidak punya anak lelaki!"

Kiong Mi Yun tertegun lama sekali, baru dia bicara lagi.

"Jadi Han Toa-ko itu Nona Han Pwee Eng? Dia... Mengapa dia membohongiku?"

"Maaf, aku boleh tahu siapa nama Nona?"

"Kiong Mi Yun!"

Kata si nona. Kok Siauw Hong tertawa.

"Nona Kiong, tadi kau juga berdandan seperti pria. Pada saat sedang kacau seperti sekarang ini, tentu bagi seorang nona tidak leluasa melakukan perjalanan jauh seorang diri. Maka dia harus menyamar dan berpakaian seorang pria, itu wajar saja, Nona Kiong!"

Kata Kok Siauw Hong menjelaskan.

Setelah sekian lama termenung, hati nona Kiong mulai tenang.

Sekalipun dia kelihatan agak kecewa.

Dia tidak berduka, sekarang malah dia telah menemukan jawaban tekateki yang pelik di benaknya selama ini.

Akhirnya dia jadi geli sendiri.Tapi dia tahan tawannya hingga dia kelihatan cantik sekali.

"Selama ini aku selalu mempermainkan orang. Sekarang akulah yang dipermainkan oleh Han Toa-ko, aku mendapat balasan yang setimpal!"

Pikir nona Kiong Tanpa sadar dia tertawa sendiri.

"Mataku sudah lamur,"

Kata Kiong Mi Yun.

"kiranya dia juga sama seperti aku, dia seorang nona. Tetapi jika benar dia nona Han aku harus membelanya. Kami berkumpul hanya dalam dua hari, aku tahu dia akhli silat dan sastra. Dia tunanganmu, mengapa kau tidak menyukainya?"

Sedikitpun Kok Siauw Hong tidak menyangka kalau Kiong Mi Yun akan bicara begitu.

"Aku...aku sangat menghormati Nona Han, tetapi .. ..Aaah! Urusan pria dan wanita memang sulit untuk dijelaskan..."

Kata Kok Siauw Hong agak gugup.

"Apa karena kau terpengaruh oleh kata-kata Pamanmu itu?"

Desak Kiong Mi Yun.

"Terus-terang aku bilang padamu, pamanmu itu bukan orang baik-baik!"

"Dari mana kau tahu Pamanku itu bukan orang baikbaik?"

Tanya Kok Siauw Hong. Tapi pemuda ini pun berpikir sendiri.

"Dia sudah lama bersembunyi di kolong ranjang itu, masakan gerak-gerik Pamanku lepas dari pengamatannya?"

Pikir pemuda ini. Sedangkan Kiong Mi Yun tertawa mendengar pertanyaan pemuda itu.

"Pamanmu itu membohongimu. Akan kuberitahu kau hal yang sebenarnya. Dia ke mari untuk mencari harta keluarga Han!"

Kata Kiong Mi Yun. Kok Siauw Hong terkejut.

"Ibuku memang benci pada Pamanku ini, tetapi Ibu bilang Pamanku itu seorang pria sejati. Tapi tidak kusangka dia ternyata seorang yang budinya rendah dan tamak! Tetapi walaupun Ibu itu adiknya tetapi dia tidak tahu "belang"

Kakaknya itu. Sedang nona ini tidak bermusuhan dengan Pamanku, tidak mungkin dia ingin memfitnah orang lain secara sembarangan. Aku duga Paman Jen sangat licik!"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Aku heran, mengapa pamanmu itu sangat benci kepada Han Tay Hiong dan puterinya? Tapi jika kau ingin mengambil hati pamanmu, dan kau batalkan pertunanganmu dengan Nona Han, terus terang aku katakan, kaulah yang bersalah!"

Kata nona Kiong melanjutkan.

Kiong Mi Yun ternyata seorang yang berhati baik dan penuh kasih.

Sesudah dia tahu Han Toa-konya adalah Han Pwee Eng, tetapi dia tetap baik.

Dia juga terkesan baik terhadap Kok Siauw Hong.

"Jadi Han Toa-ko seorang nona seperti aku, kami tidak bisa jadi suami-isteri. Tapi aku harap dia bisa menikah dengan pria yang baik. Orang she Kok ini kelihatan baik, jika jodoh mereka berlanjut aku girang sekali!"

Pikir nona Kiong. Kok Siauw Hong tertawa.

"Perjodohan seseorang urusan pribadi, urusanku dengan nona Han tidak bisa aku jelaskan dengan dua tiga patah kata, lebih baik kita tidak membicarakan soal itu lagi, jangan kau ungkit lagi masalah itu!"

Kata Kok Siauw Hong. Kiong M Yun tertawa.

"Hm! Kau bilang jangan diungkit, ketahui olehmu mengenai sifatku, jika belum jelas aku tidak akan puas. Pemutusan perjodohan itu akan membuat nona Han sengsara seumur hidupnya. Aku ingin bertanya padamu, di mana letak kekurangan dari nona Han itu hingga kau tidak menyukainya?"

Kata nona Kiong penasaran. Kok Siauw Hong benar-benar kewalahan.

"Aku tidak pernah bilang nona Han punya kekurangan,"

Kata pemuda ini.

"Terus-terang aku menghormatinya. Tapi ketahui olehmu soal jodoh tidak bisa dipaksa, aku hanya bisa mengaku bersalah kepadanya untuk selama-lamanya..."

Kiong Mi Yun tertegun dan perlahan-lahan dia mulai menyadari kedudukan pemuda itu.

"Apa kau punya kekasih lain?"

Tanya Kiong Mi Yun. Kok Siauw Hong mengangguk.

"Apakah kekasihmu itu nona yang bernama Ci Giok Hian?"

"Dari mana kau tahu soal itu?"

Tanya Siauw Hong. Kiong Mi Yun tersenyum.

"Tadi ketika kau bergumam kau menyebut-nyebut namanya, aku sudah mendengar semuanya,"

Kata Kiong Mi Yun. Wajah Kok Siauw Hong merah.

"Benar, aku ada di sini sedang menunggu kedatangan mereka. Dia dan Nona Han bersahabat baik,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Aku mencuri arak mereka, tapi arak itu telah direbut lagi oleh nenek itu. Jika mereka datang aku akan bertemu dengan mereka. Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan guci arak mereka itu?"

Pikir nona Kiong "Atau lebih baik aku menyingkir saja dari sini?"

Tiba-tiba nona Kiong ingat pada Kong-sun Po.

"Apa yang dikatakan Kok Siauw Hong memang benar, jodoh tidak bisa dipaksa! Aku jatuh cinta kepada Han Toako, tidak kusangka ternyata dia seorang nona juga! Apa jodohku memang harus pada...."

Mendadak wajah nona Kiong kemerah-merahan. Dia sedikit jengah karena ingat pada Kong-sun Po. Hingga akhirnya dia mencemaskan keadaan Kong-sun Po tersebut.

"Kenapa sampai sekarang dia belum kembali juga?"

Pikir nona Kiong.. Saat Kiong Mi Yun sedang mencari alasan untuk pergi, malah Kok Siauw Hong justru berkata kepadanya.

"Nona Kiong, tadi kau bertanya ke mana Nona Han pergi? Sekarang aku bertanya padamu, saat kau tiba di sini apa di sini sudah tidak ada orang lain?"

"Saat kami ada di sini. datang seorang nenek yang mengatakan dia tahu di mana nona Han berada,"

Kata Kiong Mi Yun.

"Sialnya nenek itu merebut barang milik kami. Temanku sedang mengejar nenek itu, tetapi sampai sekarang dia belum kembali lagi..."

Nada suara nona Kiong sangat khawarir. Mendengar keterangan singkat nona Kiong, wajah Kok Siauw Hong berubah jadi serius sekali.

"Apa wanita tua itu cantik dan anggun dan dia mengenakan pakaian yang indah?"

Kata Kok Siauw Hong Nona Kiong tersenyum geli.

"Dia memang cantik, pakaiannya indah. Tapi sayang wajahnya sudah keriput, maka aku bilang dia si nenek tua. Dia menarik, aku yakin saat masih muda dia memang seorang wanita cantik. Oh ya, apa kau tertarik pada wanita cantik atau tidak? Aku kira Kakak Han sangat cantik! Kau..."

Nona Kiong ingin bergurau dengan Kok Siauw Hong, tapi saat melihat wajah Kok Siauw Hong nona Kiong jadi heran.

"Hai, kenapa kau? Apa kau kenal dengan nenek itu?"

Kata si nona.

Rupaya Kok Siauw Hong terkenang masa lalunya, saat dia datang ke rumah keluarga Han.

Mereka mengalami musibah.

Saat itu untuk pertama kali Kok Siauw Hong bersama ayahnya datang ke rumah keluarga Han di Lokyang.

Dia baru berumur sembilan tahun, Han Pwee Eng pun baru berumur empat tahun.

Karena nona Han masih 499 kecil Kok Siauw Hong tidak mau bermain dengannya.

Dia bermain-main dengan anak tetangga keluarga Han.

Setiap hari dia pergi ke gunung di belakang rumah keluarga Han bersama teman-teman sebayanya itu.

Mereka memancing, menangkap burung, memetik bunga liar dan sebagainya.

Pada suatu hari saat Kok Siauw Hong sedang bermain bersama kawan-kawannya, Kok Siauw Hong mendadak melihat burung berbulu indah.

Burung itu bertengger di sebuah pohon.

Di bawah pohon itu ada sungai yang airnya deras.

Kawan Kok Siauw Hong mengatakan, burung itu burung berkicau dan sangat bagus.

Kok Siauw Hong tertarik dia ingin menangkapnya.

"Akan kutangkap burung itu, kawan!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Jika tertangkap akan kuhadiahkan pada kalian!"

"Burung itu liar dan sulit ditangkap,"

Kata kawannya. Kok Siauw Hong tersenyum.

"Di atas pohon pasti ada sarangnya, aku akan naik aku yakin ada anak burung yang belum bisa terbang!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Jangan, pohon itu sangat tinggi!"

Kawan-kawannya mencegahnya. Kok Siauw Hong seorang anak pemberani, dia perhatikan pohon itu sambil manggut-manggut.

"Aku punya akal untuk memanjat pohon ini!"

Katanya. Di situ dia melihat sebuah batu besar cukup tinggi.

"Aku akan melompat ke batu besar dan meraih cabang pohon itu lalu aku naik,"

Katanya.

"Jangan, bagaimana kalau kaujatuh? Kami akan disalahkan oleh Paman Han..."

Kata kawan-kawannya.

Kok Siauw Hong tidak menghiraukan nasihat temantemannya itu.

Dia melompat ke batu besar dan berusaha meraih cabang pohon.

Sekalipun masih kecil ginkang Kok Siauw Hong sudah lumayan.

Di luar dugaan sesudah berhasil meraih cabang pohon itu, rupanya cabang pohon itu telah rapuh dan tidak sanggup menahan berat badan Kok Siauw Hong.

Tak ampun lagi dahan itu patah dan Kok Siauw Hong pun terjatuh, untung jatuhnya tidak jatu di atas batu, tapi Kok Siauw Hongjatuh ke dalam sungai yang airnya deras itu.

Mau tak mau Kok Siauw Hong terbawa hanyut.

Kedua kawan Kok Siauw Hong kaget, mereka mau menolong tidak berani, akhirnya mereka berdua kabur.

Untung Kok Siauw Hong dibesarkan di Yang-cou.

Kota itu berdekatan dengan sungai Tiang-kang (Chang-ciang).

Dia bisa berenang tapi arus sungai sangat deras, hingga dia tidak bisa bertahan didalam air.

Pada detik yang sangat berbahaya terdengar suara orang.

"Sambut ini!"

Kiranya di tepi sungai itu berdiri seorang perempuan cantik.

Dia melemparkan angkinnya ke arah Kok Siauw Hong.

Tak berpikir panjang Kok Siauw Hong meraih angkin itu.

Tak lama dia merasa tubuhnya terangkat dari dalam sungai, dan dia sudah langsung berdiri di depan perempuan cantik itu.

Perempuan itu menatapnya tajam.

"Kau masih kecil, kung-fumu lumayan. Apa kau putera Han Tay Hiong?"

Tanya perempuan itu.

"Bukan, Ayahku Kok Ju Sih."

Kata Kok Siauw Hong.

"Bibi kenal pada Han Tay Hiong?"

Perempuan cantik itu mengelah napas panjang.

"Sudah lama aku tak pernah bertemu dengannya, apakah dia tak punya anak lelaki?"

"Tidak! Paman hanya punya anak perempuan,"

Kata Siauw Hong.

"Namanya Han Pwee Eng!"

Perempuan itu manggut-manggut.

"Namanya Pwee Eng?"

Kata dia. Dia menunduk kelihatan sedang berpikir.

"Rumah Paman Han tidak jauh dari sini, bagaimana jika Bibi ikut aku ke rumahnya?"

"Tidak. Aku tidak ingin menemuinya,"

Kata perempuan itu.

"Jika kau pulang kau jangan beritahu bahwa kau telah bertemu denganku!"

"Kenapa?"

Tanya Kok Siauw Hong.

"Kau masih kecil jangan banyak bertanya,"

Katanya. Sesudah itu dia obati luka di kaki Kok Siauw Hong, sambil tertawa dia bilang.

"Nak kau sangat nakal, lebih baik kau bohongi ayah dan Paman Han supayakau tidak dimarahi oleh mereka. Jangan bilang kau bertemu denganku,"

Katanya.

"Baik, Bi,"

Kata Siauw Hong. Kemudian wanita itu berjalan pergi. Saat itu dia ingat ayahnya bilang, dia tak boleh main jauh-jauh karena akan segera pulang. Saat itulah Kok Siauw Hong terperanjat.

"Wanita itu benar, aku harus membohongi Ayah dan Paman Han,"

Pikir Kok Siauw Hong.

Saat pulang pakaian Kok Siauw Hong kotor, dia takut ayah atau pelayan Han Tay Hiong akan melihatnya.

Maka itu dia berjalan lewat pintu samping dengan mengendapendap dan melintasi kamar HanTay Hiong.

Kebetulan Han Tay Hiong sedang bicara dengan isterinya "Aku lihat Siauw Hong lumayan, maka dia akan kujodohkan dengan puteri kita,"

Kata Han Tay Hiong.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Anak itu agak liar aku takut tidak cocok dengan puteri kita,"

Kata isteri Han Tay Hiong. Han Tay Hiong tertawa sambil berkata.

"Anak lelaki memang begitu, mereka lebih nakal dibanding anak perempuan, tapijikasudah dewasa belum tentu ia nakal, lho!"

Kata suaminya.

"Ya, jika kau merasa setuju aku pun tidak keberatan,"

Kata isterinya.

"Kau juga tahu selama ini aku menurut saja..."

Han Tay Hiong mengelah napas.

"Ya, memang adatku sangat jelek. Selama ini pasti kau hidup tertekan..."

Kata Han Tay Hiong. Nyonya Han tersenyum.

"Tidak! Aku puas karena kau menyukaiku!"

Kara nyonya Han pada suaminya.

"Aku harap kau bahagia dan gembira, tapi beberapa hari ini, aku lihat kau murung seolah punya masalah, iya kan?"

Kata suaminya Nyonya Han mengelah napas.

"Yaah. Ketika Tek Hian sedang memetik daun teh, dia sempat melihat seorang wanita di dalam rimba. Gerak-gerik wanita itu mencurigakan, saat terlihat oleh Tek Hian dia langsung menghilang..."kata isterinya.

"Kau curiga itu dia?"

Kata Han Tay Hiong.

"Aku takut dia akan mengganggu kita,"

Kata isterinya.

"Jika kau tak suka aku akan mengusirnya!"

Kata Han Tay Hiong.

"Jangan! Kau jangan ganggu dia, aku takut....!"

Kata nyonya Han. Begitulah Kok Siauw Hong tanpa sengaja mendengar pembicaraan itu. Kok Siauw Hong kaget karena dia akan dijodohkan dengan Han Pwee Eng.

"Nona itu rambutnya dikepang, dari hidungnya selalu keluar ingus, sangat menjijikan! Jika dia jadi isteriku aku tidak mau!"

Pikir Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong tahu pasti suami isteri itu sedang membicarakan perempuan yang baru saja menolong dia dari dalam sungai.

"Jika Bibi Han tidak menyukai perempuan itu, Paman Han akan mengusirnya. Apakah dia wanita jahat?! Mengapa dia melarang aku memberitahu Paman Han tentang pertemuannya denganku? Tapi dia telah menyelamatkan aku dari bahaya. Sekalipun dia jahat aku tetap harus memegang janjiku tidak akan memberitahu Paman Han!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong segera menyelinap ke kamarnya.

Saat dia masuk, Kok Siauw Hong melihat ayannya ada di kamarnya sedang duduk.

Bukan main kagetnya Kok Siauw Hong ketika itu.

Ayahnya mengawasi dia sambil betanya.

"Dari mana kau?"

"Habis bermain-main di sungai!"

Kata Siauw Hong.

"Kau jatuh, ya?"

"Ya, untung ada orang yang menolongiku,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Siapa?"

"Ayah aku hanya akan memberitahu Ayah saja, tapi Ayah harus berjanji tidak akan memberitahu Paman Han,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Kenapa begitu?"

Tanya ayahnya.

"Karena aku sudah berjanji pada orang itu!"

Ayahnya tersenyum, dan berkata "Baiklah, katakan saja,"

Kata ayahnya. Kok Siauw Hong tidak pernah berbohong, maka itu semua dia ceritakan semuanya pada ayahnya apa yang dia alami tadi. Setelah mendengar cerita dari anaknya Kok Ju Sih menghela napas.

"Jadi kau bertemu dengan seorang wanita, baik Ayah berjanji tak akan memberitahu Paman Han. Lekas kau ganti pakaian!"

Kata ayahnya.

"Ayah, apa kau tahu siapa wanita itu? Apakah dia orang jahat atau orang baik, Ayah?"

Tanya Kok Siauw Hong. Ayah Siauw Hong hanya bilang begini.

"Sudahlah, kau masih kecil, jangan usil,"

Kata ayahnya.

"Ayah telah menjodohkan kau dengan Nona Han, kau jangan memalukan Ayah. Sudah jangan nakal"

Setelah dia bertunangan dengan nona Han, ibu nona Han meninggal dunia.

Enam tahun kemudian saat Kok 505 Siauw Hong sudah berumur 16 tahun, ayahnya meninggal.

Siapa wanita itu dia jadi tidak tahu namanya.

"Hari ini Nona Kiong bertemu dengan wanita itu, pasti dia wanita yang menyelamatkan aku dulu?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Itu sudah belasan tahun yang lalu, pasti wanita itu sekarang sudah tua sekarang?"

Saat itu nona Kiong sedang menatapnya dan langsung menegurnya lagi.

"Hai! Apa yang sedang kau pikirkan? Aku yakin kau tahu siapa nenek itu?"

Kata nona Kiong. Kok Siauw Hong tersentak dari lamunannya.

"Aku pun tak tahu siapa nenek itu? Jika dia bilang dia tahu di mana Nona Han, pasti dia tak bohong!"

Kata Kok Siauw Hong. Saat itu tenaga nona Kiong telah pulih kembali. Dia ingin menghindar dari Ci Giok Hian dan kakaknya. Ditambah lagi dia sedang mencemaskan keselamatan Kongsun Po.

"Aku tahu ke mana nenek itu pergi! Kita harus segera ke sana untuk mencarinya,"

Kata nona Kiong.

"Baik,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Mari kita pergi bersamasama ke sana!"

Di sepanjang jalan mereka tak melihat Kong-sun Po, mreka sampai di depan air terjun. Saat melihat air terjun itu Kok Siauwe Hong berpikir.

"Pantas air sungai itu deras, ternyata di sini ada air terjun, jadi sumber sungai itu dari sini?"

Pikir Kok Siauw Hong. Sesudah itu dia mengawasi ke sekitarnya.

"Menurut nona Kiong nenek itu bilang dia kenal keluarga Han. Pasti dia tinggal di sekitar tempat ini! Karena tidak mau berhubungan dengan keluarga Han, maka dia tidak tinggal di desa, tapi dia tinggal di gunung ini? Anehnya di sini tidak ada rumah, dan jalannya pun buntu. Di mana dia tinggal?"

Pikir Kok Siauw Hong. Nona Kiong cemas bukan main karena jalan itu buntu. Mereka hanya melihat air terjun. Dia bingung bukan main.

"Heran? Ke mana perginya Kakak Kong-sun?"

Pikir nona Kiong. Kemudian dia memanggil-manggil nama Kong-sun Po.

"Kong-sun Toa-ko, di mana kau?"

Teriak si nona. Tapi tidak ada jawaban selain deru suara air terjun itu.

"Sudah tidak ada jalan lagi, lebih baik kita kembali ke rumah keluarga Han. Jika dia tidak menemukan nenek itu, pasti dia kembali akan mencariku?"

Kata nona Kiong.

Kok Siauw Hong pun berpikir begitu.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Mereka tidak tahu saat itu justru Kong-sun Po berada di balik air terjun itu.

Di dalam goa itu dia bertemu dengan musuh yang tangguh sekali.

Ini untuk pertama kalinya dia bertemu musuh hebat sejak dia berkelana di Dunia Persilatan.

Saat Kong-sun Po sedang mengejar si nenek yang mengambil guci arak obat itu, dia agak tertinggal karena tadi harus membebaskan totokan si nenek pada Kiong Mi Yun.

Saat dia sampai ke air terjun, nenek itu sudah tidak kelihatan lagi.

Kong-sun Po tercengang lalu berpikir.

"Jelas aku melihatnya dia lari ke arah sini, bagaimana mendadak bisa hilang? Ke mana perginya nenek tua itu?"

Pikir Kong-sun Po bingung bukan main.

"Apa dia bersembunyi di balik air terjun ini?"

Dia belajar silat pada Ciu Cioh selama delapan tahun.

Kebetulan gurunya itu pandai sekali berenang.

Karena dia yakin nenek itu tidak bisa bersembunyi di sekitar tempat itu, kecuali di balik air terjun, maka dia jadi penasaran sekali.

"Dia bisa masuk ke air terjun, mengapa aku tidak bisa?"

Begitu pikir Kong-sun Po.

Dengan jurus Burung Walet Menembus Tirai, dia melompat ke balik air terjun itu.

Sesudah melewati air terjun, dia menemukan sebuah terowongan atau jajan goa.

Keluar dari goa, dia sampai di sebuah lembah yang sangat indah.

Ketika dia menengadah, dia melihat ada sebuah rumah batu hingga Kong-sun Po jadi girang sekali.

"Kiranya nenek itu kabur ke tempat ini?"

Pikir Kong-sun Po yang wajahnya jadi berseri-seri.

Saat Kong-sun Po sedang berpikir, bagaimana caranya dia harus menemui nenek itu?

Kong-sun Po mendengar suara orang yang suaranya sudah sangat dia kenal.

"Suhu, itu bocah yang bertarung denganku,"

Kata orang itu.

Pada saat Kong-sun Po menoleh ke samping, dia melihat seorang tua sedang berjalan dengan orang yang bicara tadi.

Orang tua yang rambutnya sudah putih itu menatap ke arah Kong-sun Po.

Sedang di samping orang itu, ada pemuda yang memelihara bewok.

Orang itu tidak lain dari Pouw Yang Hian yang pernah bertarung dengannya.

Sebenarnya Kong-sun Po sedang mencari si nenek, tidak dia kira dia akan bertemu dengan Pouw Yang Hian dan 508 See-bun Souw Ya, guru si bewok ini.

Bukan main kagetnya pemuda ini ketika itu.

Saat itu See-bun Souw Ya sedang menatap dengan tajam ke arah Kong-sun Po, lalu mendengus dengan suara dingin sekali.

"Hm! Jadi kau bocah yang telah memusnahkan ilmu silat muridku itu?"

Kata See-bun Souw Ya.

"Benar,"

Kata Kong-sun Po dengan gagah.

"Dia menggunakan ilmu Hua-hiat-to untuk mencelakai orang lain, maka kumusnahkan ilmunya itu! Lalu kau mau apa?"

See-bun Souw Ya tertawa dingin.

"Baik! Aku dengar kau juga mahir ilmu Hua-hiat-to, apa benar? Aku ingin menjajal kepandaianmu itu!"

Kata See-bun Souw Ya dengan suara dingin.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 19 Mendengar dia ditantang, Kong-sun Po terpaksa bersikap waspada.

Dia mengawasi orang tua yang rambutnya sudah ubanan dan matanya pun sudah keputih-putihan.

"Ilmu Hua-hiat-to yang kau sebutkan itu ilmu beracun dari aliran sesat!"

Kata Kong-sun Po.

"Jika orang berhasil menguasai ilmu itu hingga sempurna, apa yang harus dibanggakan? Muridmu menindas orang dengan ilmu itu, masih bagus aku tidak membunuhnya!"

Pouw Yang Hian yang berada di belakang gurunya dengan gusar membentak.

"Kau pandang ilmu silatku rendah! Sekarang di hadapan Guruku kau tak mau mengaku bersalah. Aku kira kau 509 hanya berani pada orang yang ilmu silatnya lebih rendah darimu saja!"

Kata Pouw Yang Hian.

"Kau sudah mengatakannya itu sama saja!"

Kata Kongsun Po.

"Tapi aku kira kau tidak mengerti maksudku. Hari itu aku bilang padamu, aku memang kurang menghargai pada orang yang menggunakan ilmu beracun itu! Belum berhasil menguasai ilmu itu sudah jok sudah pamer. Katakataku itu tidak aku tujukan pada kalian, guru dan murid!"

Sebenarnya ucapan Kong-sun Po tempo hari memang ditujukan pada keduanya. See-bun Souw Ya tertawa dingin "Kau pandang rendah Hua-hiat-to, tapi kenapa kau juga mempelajarinya?"

Katanya dingin.

"Karena aku tahu ada orang yang belajar ilmu ini, aku pun belajar agar aku tahu ilmu racun untuk melawan racun!"

Jawab Kong-sun Po.

"Aku belajar ilmu itu dan aku ingin tahu, bagaimana kau bisa melawan ilmu racuinku dengan ilmu racunmu. Aku ingin tahu siapa yang lebih lihay di antara kita berdua?"

Kata See-bun Souw Ya.

Tiba-tiba orang tua itu menyerang dan suara serangannya terdengar hebat sekali.

Kemudian tercium bau amis yang mampu membuat kepala orang pening, walaupun tidak sebau amis pukulan Pouw Yang Hian.

Ketika melihat serangan See-bun Souw Ya, tentu saja Kong-sun Po tersenttak kaget bukan main.

"Hm! Si Iblis Tua ini telah menguasai ilmu itu sampai tingkat yang ke delapan,"

Pikir Kong-sun Po.

"Dia hebat, mungkin kepandaiannya di atas kepandaianku?"

Buru-buru Kong-sun Po menangkis serangan itu.

Dia juga sudah menguasai ilmu itu sampai tingkat delapan.

Saat serangan beradu tampak tubuh See-bun Souw Ya bergoyanggotang, sedangkan Kong-sun Po terhuyunghuyung mundur ke belakang sejauh tiga langkah.

See-bun Souw Ya merasakan telapak tangannya ngilu, sebaliknya Kong-sun Po merasakan seolah sebelah tangannya tak bisa dia gerakkan.

Jika kedua lawan sudah sama-sama sampai tingkat delapan, apalagi lwee-kang See-bun Souw Ya lebih tinggi, tak heran kalau Kong-sun Po jadi kalah setingkat.

Untung hanya sekejap tangan Kong-sun Po sudah pulih kembali.

See-bun Souw Ya yang tangannya ngilu buru-buru mengerahkan hawa murninya untuk memulihkan jalan darahnya.

Dia sadar jika tidak segera bertindak racun yang ada di telapak tangannya akan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Menyaksikan lawannya tidak keracunan See-bun Souw Ya terperanjat juga.

"Ilmu Hua-hiat-to bocah ini lebih hebat dariku. Untung lwee-kangku lebih tinggi darinya, kalau tidak aku bisa celaka di tangannya?"

Pikir See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya sudah berpengalaman luas.

Begitu tahu lawannya tangguh dia jadi waspada dan berpikir akan menggunakan siasat untuk menghadapi anak muda ini.

Segera dia menyerang Kong-sun Po, tapi pemuda itu juga menangkis serangan itu.

Tak lama mereka sudah bertarung dengan hebat sekali.

Tanpa terasa mereka sudah bertarung lewat seratus jurus lebih.

Sekujur tubuh Kong-sun Po mandi keringat.

Tapi dia masih bisa bertahan, hal itu tentu saja membuat See-bun Souw Ya kaget bukan kepalang.

"Bocah ini hebat sekali! Jika kali ini aku tidak bisa mengalahkannya, kelak dia bakal jadi lawanku yang paling tangguh!"

Pikir See-bun Souw Ya. Sebaliknya Kong-sun Po berpikir lain.

"Apakah Mi Yun masih ada di rumah keluarga Han atau tidak? Mudah-mudahan dia tidak ke mari. Si Iblis Tua ini lihay luar biasa!"

Pikir Kong-sun Po.

Tanpa terasa hari pun mulai senja.

Kong-sun Po tidak mengetahui jika saat itu nona Kiong justru berada di balik air terjun.

Pada saat bersamaan seorang pemuda dan pemudi tiba di rumah keluarga Han yang telah hancur terbakar.

Mereka adalah Ci Giok Phang dan Ci Giok Hian.

Malam setelah guci arak mereka dirampas oleh Kiong Mi Yun, dengan sangat gusar mereka melakukan pengejaran.

Namun, usaha mereka sia-sia saja.

Sebenarnya lenyapnya guci itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua, karena arak itu bisa membuat lagi, sekalipun membuatnya butuh waktu dua tahun.

Ci Giok Hian sangat kesal lantaran kehilangan guci arak itu, bini itu harus mengubah semua rencananya.

Arak Kiu-thian-sun-yang Pek-hoa-ciu itu akan mereka hadiahkan kepada Han Tay Hiong untuk mengobati lukanya.

Mereka berharap jika Han Tay Hiong diberi arak obat itu, tentu orang tua itu tidak akan begitu gusar kepada Kok Siauw Hong yang membatalkan pertunangan dengan puterinya itu.

Tapi sekarang arak itu lenyap.

Jelas rencana dia akan kandas.

Padahal kekasihnya, Kok Siauw Hong sudah lebih dahulu datang ke Lok-yang untuk membatalkan perjodohannya dengan nona Han.

Mana mungkin harus menunggu dua tahun lagi baru mengantarkan arak obat itu?

Sekalipun arak sudah lenyap mereka tetap menuju ke Lokyang, ke rumah Han Tay Hiong.

"Kanda Kok membatalkan pertunangannya demi aku"

Pikir Ci Giok Hian.

"Aku tak tahu apa yang akan terjadi? Aku cemas sekali!"

Ci Giok Phang pun cemas, adiknya Ci Giok Hian akan menjodohkan dia dengan nona Han.

Dia memang tertarik pada nona itu.

Dia berharap bisa menjadi suami nona Han.

Tapi hilangnya guci arak membuat mereka kecewa bukan main.

Mereka juga tak tahu apakah Kok Siauw Hong sudah membatalkan pertunangannya atau belum.

"Sudah lama aku dengar sifat Han Tay Hiong sangat keras, dia juga sangat benci pada segala kejahatan! Jika dia halangi niat saudara Kok, karena tidak suka pada nona Han. Lalu apa yang akan terjadi? Sedang aku harus bagaimana?"

Pikir Ci Giok Phang. Sesudah berpikir cukup lama, kembali Ci Giok Phang melamun.

"Aku ingin agar saudara Kok berhasil agar adikku bisa berjodoh dengannya, dan aku dengan nona Han. Demi adikku Giok Hian, aku siap berusaha. Sebaliknya bagi aku sendiri, bagaimana? Ah. Ini mungkin dosa besar bagiku, karena secara tidak langsung aku "merebut"

Calon isteri orang.

Saudara Kok dan nona Han memang pasangan yang serasi.

Aku memihak kepada adikku, tetapi aku juga harus ingat pada nasib nona Han.

Jika saudara Kok berhasil membatalkan perjodohannya, dan nona Han putus asa kemudian terjadi sesuatu atas dirinya, bukankah secara tidak langsung akulah yang mencelakakannya?"

Pikir Ci Giok Phang.

Tak lama keduanya telah sampai di depan rumah Han Tay Hiong yang sebahagian besar telah musnah terbakar.

Betapa terkejutnya mereka menyaksikan keadaan rumah itu Mereka langsung masuk dan menyaksikan reruntuhan rumah Han Tay Hiong yang hangus terbakar api.

"Melihat keadaanya, mungkin keluarga Han telah diserang oleh musuh besarnya,"

Kata Ci Giok Hian pada kakaknya. Ci Giok Phang mengerutkan dahinya.

"Aku tidak tahu saudara Kok dan Nona Han sudah sampai di sini atau belum?"

Kata Giok Phang.

Sejak di perjalanan Ci Giok Hian sudah mencemaskan keadaan Kok Siauw Hong.

Dia khawatiir terjadi sesuatu atas diri kekaihnya itu.

Apakah Han Tay Hiong akan setuju ayas pembatalan perjodohan itu.

Begitu yang berkecamuk dalam diri nona Ci.

Sekarang sesudah menyaksikan keadaan rumah keluarga Han yang telah terbakar itu, Ci Giok Hian bertambah mencemaskan keadaan Kok Siauw Hong.

Dia khawatir kekasihnya itu bertemu dengan musuh besar keluarga Han dan dia mengalami kecelakaan.

"Karena kita sudah ada di sini mari kita periksa ke bagian dalam rumah ini!"

Kata Ci Giok Phang pada adiknya. Nona Ci mengangguk.

"Baiklah,"

Kata dia.

"Aku pernah tinggal di rumah ini. Biar aku yang jadi penunjuk jalan. Mari kita ke kamar Nona Han."

Kata Ci Giok Hian.

Begitu baru sampai di luar kamar itu, mereka mencium bau dupa di kamar nona Han dan mungkin masih menyala.

Harumnya menyebar ke segala penjuru.

Sebelum sampai ke kamar itu mereka sudah mencium bau harum dupa itu Nona Ci girang, dia mengira nona Han ada di rumah.

"Pwee Eng, apa kau ada di dalam?"

Kata nona Ci. Panggilan nona Ci tidak mendapat jawaban. Ini tentu saja membuat kedua muda-mudi itu jadi tegang.

"Apa di kamar itu ada orang lain?"

Pikir nona Ci. Ci Giok Hian pernah bermalam di rumah keluarga Han beberapa bulan lamanya. Dia juga sudah tahu kebiasaan nona Han yang setiap akan tidur selalu membakar dupa wangi.

"Tidak mungkin orang lain berani masuk ke kamarnya,"

Pikir nona Ci.

"Aku yakin dia sudah sampai lalu pergi lagi!"

Ci Giok Hian mengintai ke dalam kamar lewat jendela, tapi keadaan kamar itu sepi-sepi saja.

"Aku pernah tidur di kamar ini. Kakak kau mau ke dalam untuk melihatnya atau tidak?"

Kata nona Ci. Wajah Giok Phang merah.

"Jangan! Itu kurang baik,"

Kata Giok Phang mencegah adiknya. Ci Giok Hian tertawa.

"Kakak terlalu canggung, bagamana kalau kelak...."

Tiba-tiba wajah Giok Phang berubah jadi serius.

"Dik, kau jangan bicara sembarangan, saat ini Nona Han tetap masih calon isteri Kok Siauw Hong!"

Bisik kakaknya. Kata-kata yang diucapak oleh kakaknya sebagai peringatan saja, tetapi oleh Giok Hian ditanggapi sebagai sebuah sindiran.

"Benar! Memang Kanda Kok belum membatalkan perjodohannya dengan nona Han! Semua masalah di dunia sulit diduga. Siapa pun tidak akan ada yang tahu, apa yang 515 akan terjadi kelak? Aku berpikir terlalu muluk-muluk!"

Begitu pikir nona Ci. Melihat adiknya termenung agak murung, Giok Phang sadar dia telah salah bicar dan dia merasa bersalah. Atau setidaknya tadidiatelahmelukaihati adiknya.

"Kau jangan resah,"

Ci Giok Phang menghibur adiknya.

"aku rasa Kok Siauw Hong tidak akan menjilat ludah dan berubah pikiran. Aku yakin dia akan setia kepadamu!"

Nona Ci tertawa dengan terpaksa.

"Siapa yang resah?"

Kata nona Ci.

"Justru aku khawatir kaulah yang resah! Tetapi aku lihat kamar ini kelihatan aneh. Sekarang Nona Han tidak ada di kamar ini, apa salahnya jika kita masuk ke kamarnya untuk melihat-lihat keadaan kamarnya. Siapa tahu kita akan menemukan sesuatu?"

Sesudah berpikir sejenak, Ci Giok Phang pun mengangguk juga.

Mereka masuk dan tampak kamar itu tampak berantakan sekali.

Tadi Kok Siauw Hong menyiram nona Kiong, sehingga kamar itu jadi becek oleh air.

Tak heran kalau jejak kaki di kamar itu jadi kelihatan jelas sekali.

Ketika mereka memperhatikan keadaan itu, jeas di lantai banyak jejak kaki, ada jejak yang kecil, itu pasti jejak kaki perempuan dan lakilaki.

Melihat hal itu Ci Giok Hian jadi curiga.

"Siapa lelaki yang masuk ke kamar nona Han ini? Apakah... .apakah.... Aah! Tidak seharusnya aku tidak berpikir begitu? Tak mungkin Kok Siauw Hong berhubungan kembali dengan nona Han di belakangku? Aku rasa Pwee Eng juga tidak akan berbuat begitu?"

Pikir 516 nona Ci tapi hatinya bimbang bukan main. Saat nona Ci sedang melamun kakaknya bicara.

"Sst! Ada orang datang ke mari!"

Bisik Giok Phang.

Buru-buru mereka keluar dari kamar itu.

Benar saja mereka mendengar langkah kaki mendatangi.

Tak lama terlihat seorang tua sedang berjalan di halaman rumah sambil berteriak-teriak memanggil nama Siauw Hong.

"Siauw Hong! Siauw Hong!"

Ci Giok Phang dan Ci Giok Hian tertegun menyaksikan kedatangan lelaki tua itu. Ketika Ci Giok Phang hendak bertanya kepada lelaki tua itu, lelaki tua itu langsung berkata.

"Eh, bukankah kalian Giok Phang dan Giok Hian?"

Kata lelaki tua itu. Mereka mengangguk mengiakan.

"Apa di dalam tidak ada Kok Siauw Hong?"

Tanya orang tua itu lagi.

"Tidak ada kami sedang mencarinya."

Kata Giok Phang.

"Kalau begitu dia sudah pergi!"

Kata lelaki tua itu. Mendengar kata-kata lelaki tua itu kedua muda-mudi itu tercengang.

"Mohon bertanya siapa nama besar Lo-cian-pwee, dari mana Cian-pwee mengetahui nama kami?"

Kata Giok Phang. Lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Nama Lo-hu Jen Thian Ngo,"

Kata lelaki tua itu.

"Aku ini paman Kok Siauw Hong!"

Dia baru saja dari markas Kay-pang.

Sesudah Jen Thian Ngo sampai ke markas cabang Kay-pang ketika 517 ditunggutunggu cukup lama.

Kok Siauw Hong belum juga kembali.

Karena Liok Kun Lun khawatir terjadi sesuatu atas diri Kok Siauw Hong, dia minta agar Jen Thian Ngo mencarinya lagi di rumah Han Tay Hiong.

Kebetulan Jen Thian Ngo bertemu dengan Ci Giok Phang dan Giok Hian.

"Kami sudah lama mendengar nama besar Lo-cian-pwee, tapi kami tak tahu kalau Cian-pwee paman Kok Siauw Hong!"

Kata Giok Hian.

Tiba-tiba jari tangan Jen Thian Ngo bergerak ditujukan ke arah sebuah pohon.

Sungguh mengejutkan, kiranya tenaga Jen Thian Ngo tersebut mampu membuat tujuh buah lubang pada pohon tersebut.

Mungkin Jen Thian Ngo sengaja ingin memamerkan kepandaiannya di depan mereka.

Dan ini membuat kedua anak muda itu kaget bukan main.

Tak lama terlihat Jen Thian Ngo tersenyum.

"Ini ilmu pedang Cit-siu-kiam-hoat milik keluarga kami,"

Kata Jen Thian Ngo.

"Kok Siauw Hong telah belajar ilmu ini dari ibunya. Kalian pasti pernah melihatnya, bukan?"

Kedua muda-mudi itu langsung memberi hormat.

"Kalian tidak perlu sungkan,"

Kata Jen Thian Ngo.

"Nona Ci. urusanmu sudah aku ketahui semuanya. Kapan kalian sampai di sini?"

"Kami baru saja sampai,"

Kata Ci Giok Hian dengan wajah kemerah-merahan.

"Kami belum bertemu dengan Kok Siauw Hong. Jadi Cian-pwee sudah bertemu dengannya di sini?"

"Tadi siang Lo-hu dari sini, Lo-hu bertemu dengan Siauw Hong,"

Kata Ken Thian Ngo. Sesudah mendengar keterangan Jen Thian Ngo mereka girang tetapi juga kesal.

"Kiranya jejak lelaki yang ada di kamar itu jelas jejak Kok Siauw Hong! Pantas Pamannya mencarinya ke mari?"

Pikir Ci Giok Hian.

"Banyak yang kami tidak ketahui, maka itu kami ingin minta petunjuk dari Cian-pwee,"

Kata nona Ci. Jen Thian Ngo manggut.

"Baik, mari kita bicara di dalam saja.

"Apa kalian telah menemukan sesuatu yang tidak beres di kamar ini?"

Kata Jen Thian Ngo.

Jen Thian Ngo ini sudah berpengalaman, begitu melihat wajah nona Ci murung dia langsung tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh nona ini.

Dia tahu nona Ci cemburu kepada keponakannya.

Tadi siang pada saat Jen Thian Ngo sudah pergi, Kok Siauw Hong baru mengetahui di kamar itu ada Kiong Mi Yun sedang bersembunyi di kolong ranjang nona Han.

Saat dia kembali dan melihat bekas jejak sepatu kain milik wanita dan lelaki ada di kamar itu, dia langsung menduga bahwa Kok Siauw Hong telah bertemu dengan nona Han di kamar itu.

"Celaka!"

Pikir Jen Thian Ngo.

"Apa yang mereka lakukan di tempat ini? Ternyata gadis busuk itu sudah ada di sini dan telah mendengar pembicaraanku dengan Kok Siauw Hong?"

Pikir Jen Thian Ngo.

Dia mengira bekas jejak kaki itu pasti jejak kaki nona Han.

Demikian juga anggapan nona Ci.

Dalam sekejap timbul ide di benak Jen Thian Ngo yang licik saat itu juga.

Dengan sengaja lelaki tua licik ini mengelah napas panjang.

"Nona Ci,"

Kata Jen Thian Ngo.

"Kau seorang nona yang sangat cerdik dan cerdas! Kok Siauw Hong masuk ke dalam kamar ini, jika bukan untuk menemui tunangannya dengan diam-diam, lalu untuk apa? Padahal Lo-hu sering menasihati dia, aku bilang kau jangan mendekati gadis busuk itu! Tapi dia tidak mau mendengar nasihatku. Aah! Aku jadi tidak enak hati padamu!"

Jen Thian Ngo benar-benar satu manusia licik dan banyak akalnya. Dia berkata begitu tidak lain maksudnya ingin "mengatakan bahwa Kok Siauw Hong"

Itu tidak setia!

Jika Kok Siauw Hong kelak tahu dia berkata begitu, dia yakin keponakannya tidak akan menyalahkan dia, karena dia tidak bilang dia melihat perbuatan keponakannya itu dengan mata kepalanya sendiri.

Dengan demikian bisa dibayangkan betapa liciknya Jen Thian Ngo ini.

Sekalipun kedua muda mudi itu tidak punya bukti bahwa Kok Siauw Hong mengadakan pertemuan gelap, tapi hati Ci Giok Han tetap terguncang dan sakit.

"Pantas kami tidak bertemu dengan mereka, rupanya mereka kepergok oleh pamannya ini saat sedang berduaan, dan merasa tidak enak hati lalu mereka pergi entah ke mana?"

Pikir nona Ci.

"Tidak kusangka ternyata sifat Kok Siauw Hong itu begitu? Dia berjanji padaku tetapi diamdiam dia menemui Han Pwee Eng."

Ci Giok Phang termangu dia sangat bersimpati kepada adiknya yang malang itu. Tetapi di hatinya dia tidak menyalahkan pertemuan itu.

"Nona Han calon isterinya, wajar mereka bertemu sekalipun di kamar nona Han,"

Pikir Ci Giok Phang.

"Malah jika mereka sampai menikah, seharusnya Giok Hian mengucapkan selamat. Dia juga sahabat baik nona Han!"

Tapi Ci Giok Hian jauh lebih cermat dibanding dengan kakaknya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

"Mengapa Jen Thian Ngo tidak setuju Kok Siauw Hong menikah dengan nona Han? Sekalipun dia bukan sahabat Han Tay Hiong, tapi setidaknya dia punya hubungan. Sedang dengan kami dia tidak punya hubungan. Lalu mana mungkin dia membohongi aku?"

Pikir nona Ci. Saat itu seolah-olah Jen Thian Ngo sudah bisa membaca isi hati nona Ci.

"Sebenarnya aku tidak punya masalah dengan nona Han,"

Kata Jen Thian Ngo.

"Aku tidak setuju keponakanku menikah dengan nona Han hanya karena Han Tay Hiong saja!"

"Oh begitu!"

Kata nona Ci.

"Aku minta petunjuk sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini?"

"Aku beritahu pada kalian, Han Tay Hiong itu bukan orang baik-baik!"

Kata Jen Thian Ngo/ Kedua muda-mudi itu kaget.

"Apa? Kau bilang Han Tay Hiong bukan orang baik, maksud Lo-cian-pwee, bagaimana?"

"Nah, ini yang dikatakan orang tahu wajahnya, tetapi tidak tahu isi hatinya!"

Kata Jen Thian Ngo.

"Hari ini baru aku ketahui bahwa Han Tay Hiong itu bersekongkol dengan bangsa Mongol!"

Mendengar keterangan itu mata kedua anak muda itu terbelalak saking herannya.

"Lo-cian-pwee bilang dia bersekongkol dengan bangsa Mongol, mana mungkin begitu?"

Kata mereka.

"Semua yang terjadi di tempat ini, itu semua rencana dia!"

Kata Jen Thian Ngo memberi penjelasan.

"Dengan 521 cara membakar rumah sendiri orang akan mengira, bahwa dia bertemu dengan musuh yang tangguh. Liok Kun Lun, ketua Kay-pang cabang Lok-yang pun telah menemukan bukti yang kuat mengenai keterlibatan Han Tay Hiong dengan bangsa Mongol itu!"

Keterangan Jen Thian Ngo ini sengaja dia perkuat dengan mengatakan, bahwa ketua cabang Kay-pang di Lokyang solah bisa menjadi saksi Jen Thian Ngo.

Dengan demikian keterangan itu seolah bisa dipercaya.

Setelah beberapa saat tertegun Ci Giok Phang mulai bicara.

"Semua ini terjadi di luar dugaan, tetapi....."

Jen Thian Ngo tahu apa yang akan dikatakan oleh Ci Giok Phang, maka itu dia buru-buru memotongnya.

"Memang aku juga tidak tahu apakah nona Han bersekongkol dengan ayahnya atau tidak?"

Kata Jen Thian Ngo.

"Aku tidak berani sembarangan menuduh dia! Yang jelas Han Tay Hiong seorang pengkhianat. Maka itu aku sebagai paman Kok Siauw Hong tentu tidak setuju dia menikah dengan Nona Han! Padahal dia bilang dia akan membatalkan pertunangannya dengan nona Han. Tetapi entah mengapa setelah bertemu dengan Nona Han dia jadi ragu-tagu. Dia tidak mau mendengar nasihatku sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi... Tetapi aku nasihatkan pada kalian...

"Nasihat apa?"

Tanya nona Ci.

"Aku dengar kalian mau memberi arak obat untuk Han Tay Hiong, menurutku pendapatku lebih baik jangan.. .."kata Jen Thian Ngo. Ci Giok Hian tersenyum getir.

"Mau memberi arak itu pun sekarang sudah tidak mungkin!"

Kata si nona.

"Mengapa?"

Tanya Jen Thian Ngo.

"Arak obat itu telah dicuri orang!"

Jawab nona Ci. Mendengar jawaban nona Ci tersebut kelihatan Jen Thian Ngo agak kaget.

"Siapa yang mengambil arak obat kalian itu?"

Kata dia. Jen Thian Ngo yakin kedua muda-mudi ini pasti berilmu silat tinggi. Jika arak obat itu sampai jatuh ke tangan orang itu, pasti orang itu tangguh sekali.

"Dua orang muda-mudi yang usianya sebaya dengan kami,"

Kata Ci Giok Phang.

"Sungguh memalukan sekali. Sampai saat ini kami tidak tahu asal-usul mereka itu!"

Mendengar keterangan itu Jen Thian Ngo melongo keheranan.

"Kalau begitu kalian tidak perlu lama-lama di tempat ini!"

Kata Jen Thian Ngo. Ci Giok Phang berpikir.

"Dia tidak mungkin membohongi kami. Sekarang Kok Siauw Hong sudah berbaikan lagi dengan nona Han. Jika dia bertemu dengan nona Han pun apa gunanya?"

Pikir Ci Giok Phang.

"Tapi jika sampai bertemu, aku akan memberi selamat kepada mereka! Tapi aku khawatir adikku akan berduka sekali!"

"Adik apa yang dikatakan Lo-cian-pwee ini benar!"

Kata Giok Phang.

"mari kita pergi saja!"

Ci Giok Hian diam saja.

"Apa kalian punya urusan lain?"

Tanya Jen Thian Ngo.

"Tidak! Tapi sudah lama kami meninggalkan rumah, kami berniat pulang!"

KataCi Giok Phang.

"Jika kalian tidak punya urusan penting sebaiknya kalian jangan pulang dulu,"

Kata Jen Thian Ngo.

"Apa Cian-pwee ingin kami membantumu?"

Kata Giok Phang.

"Itu bukan urusanku tapi urusan Kay-pang. Aku hanya mewakili Liok Pang-cu untuk menahan kalian, karena dia butuh bantuan kalian!"

Kata Jen Thian Ngo.

"Jika mereka membutuhkan tenaga kami, aku siap membantu. Tetapi aku tidak tahu apakah aku mampu membantu mereka?"

Kata Ci Giok Phang.

"Kay-pang akan mengantar barang untuk para pejuang,"

Kata Jen Thian Ngo menjelaskan.

"Mereka pasti membutuhkan bantuan para pesilat tinggi. Saat ini pasukan Mongol sudah mendekati kota Lok-yang. Aku kira mereka butuh orang untuk menjaga kota Lok-yang. Dua masalah ini jelas menyangkut nyawa, siapa pun tidak ada yang berani bilang akan berhasil. Kalian mau membantu atau tidak aku juga tidak berani memaksa kalian berdua!"

Ucapan Jen Thian Ngo separuh memanasi hati Ci Giok Phang. Maka darah pemuda ini langsung bergolak.

"Sekalipun kepandaianku masih rendah, aku siap membantu mereka! Ini demi negara dan bangsa. Jika benar Liok Pang-cu miembutuhkan tenaga kami, aku siap membantu. Aku tidak akan mundur sekalipun aku harus melintasi lautan api!"

Kata Ci Giok Phang.

"Kak, kau boleh membantu Liok Pang-cu. tetapi aku mau pulang saja!"

Kata Ci Giok Hian. Mendengar adiknya tidak mau ikut ke tempat Kay-pang, Ci Giok Phang kaget.

"Biasanya adikk ini seorang pemberani, kenapa dia tidak mau ikut denganku untuk membantu Liok Pang-cu? Apa karena hatinya terpukul ketika mendengar Kok Siauw Hong sudah kembali kepada Nona Han?"

Pikir kakaknya.

"Sekalipun Ciu Ji dan Ciu Hong ada di rumah kita, sekarang perang sudah mulai berkecamuk. Sekalipun belum sampai ke kampung kita, tetapi semua orang sudah cemas sekali. Setiap saat perang akan menjalar ke wilayah Kang-Iam dan ke tempat kita. Belum lama ini di tempat kilatimbul masalah untung bisadiselesaikan oleh Nona Han. Tetapi masalah itu tidak sampai tuntas sama sekali. Siapa tahu di antara mereka ada yang datang menyantroni rumah kita? Malah setelah kau pergi dengan orang Kay-pang, entah kapan kau akan kembali? Aku kira di rumah kita harus ada orang. Lebih baik aku pulang saja!"

Kata Ci Giok Hian menjelaskan. Ucapan adiknya itu memang masuk akal.

"Kau benar kepergianku ini entah kapan aku bisa kembali,"

Kata Ci Giok Phang.

"Memang di rumah harus ada orang, baiklah kalau begitu, kau pulang saja!"

"Ya, Kak,"

Kata si nona.

Mendengar kesepakatan kakak beradik itu kelihatan Jen Thian Ngo agak kecewa.

Sebenarnya dia telah memasang jaring atau perangkap untuk menjebak mereka.

Tetapi jaring itu hanya berhasil mengenai seorang saja.

"Perempuan Di dunia ini tidak seorang perempuan pun yang tidak akan merasa cemburu, jika kekasihnya kembali lagi kepada Kok Siauw Hong. Nona Ci akan membenci gadis busuk itu. Sekarang sudah tidak ada orang yang bisa meng-halangi urusan besarku!"

Pikir Jen Thian Ngo senang bukan main.

Jen Thian Ngo sangat licik tapi dia tidak berani menahan kepulangan nona Ci Giok Hian.

Kemudian Ci Giok Phang mengucapkan selamat jalan kepada adiknya.

Ci Giok Phang dan Jen Thian Ngo pergi ke markas cabang Kaypang.

Sedang Ci Giok Hian tetap berdiri terpaku di tempatnya.

Sesudah Jen Thian Ngo dan kakaknya sudah tidak kelihatan bayangannya lagi, nona Ci berkata seorang diri.

"Kak, aku bukan sengaja membohongimu, tapi di depan lelaki tua itu aku tidak bisa bicara sejujurnya kepadamu. Demi Siauw Hong terpaksa aku berbuat begitu, kau jangan salahkan aku!"

Kata nona Ci.

Rupanya nona Ci tidak benar-benar berniat pulang.

Sifat kakak beradik ini memang berbeda.

Giok Phang jujur tapi agak lugu.

Sebaliknya Giok Hian cerdas juga banyak akalnya.

Dia sangat cermat saat menghadapi sesuatu.

Dia tidak percaya pada ucapan Jen Thian Ngo.

Dia ingat Kok Siauw Hong bertarung mati-matian di rumahnya karena pemuda itu membela drinya.

Di depan Liu Piauw dia bilang mau ke rumah Han Tay Hiong untuk membatalkan pertunangannya dengan Han Pwee Eng.

"Tidak mungkin dia masih mau berhubungan dengan Han Pwee Eng di kamarnya. Pasti ini ada sebabnya dan tidak seperti yang dikatakan oleh si tua bangka itu. Jauhjauh aku datang ke Lok-yang di sini malah aku tidak bertemu dengan Kok Siauw Hong. Mana bisa aku pulang begitu saja. Tidak! Aku harus menyelidiki masalah ini sampai tuntas, supaya aku tidak menyesal seumur hidup di kemudia hari!"

Pikir nona Ci.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Ketika itu di depan air terjun Kok Siauw Hong dan Kiong Mi Yun yang mencari Kong-sun Po sedang 526 kebingungan karena kehilangan jejaknya.

Mereka tidak tahu ke mana pemuda itu pergi, sedang jalan itu buntu dan terhalang oleh air terjun.

Ditambah lagi ketika itu hari pun mulai senja.

"Di depan kita jalan buntu!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Lebih baik kita kembali ke rumah Paman Han dan tunggu dia di sana! Jika dia tidak berhasil mengejar nenek itu, pasti dia akan kembali mencarimu!"

Kok Siauw Hong berpikir lain.

"Barangkali sekarang Ci Giok Hian dan kakaknya sudah sampai ke rumah Paman Han?"

Pikir Kok Siauw Hong. Kiong Mi Yun pun tidak berdaya Terpaksa dia terima saran dari Siauw Hong dan ikut kembali ke rumah Han Tay Hiong. Tapi di sepanjang jalan Mi Yun terus masih memanggilmanggil.

"Kong-sun Toa-ko! Kau di mana?"

Sebaliknya Kong-sun Po yang ada di balik air terjun, ketika itu masih bertarung melawan See-bun Souw Ya.

Suara air terjun cukup berisik, hal itu membuat teriakan nona Kiong tidak terdengar ke dalam goa.

Karena panggilannya tidak mendapat jawaban nona Kiong jadi putus asa.

"Aku rasa kepandaian kawanmu itu tinggi, aku yakin tak akan terjadi apa-apa atas dirinya. Barangkali dia sudah turun gunung, ditambah hari pun sudah mulai gelap,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Mari kita kembali ke rumah Paman Han saja!"

Tapi nona Kiong diam mematung tidak bergeming di tempatnya.

"Kau benar, hari mulai gelap dan kau sedang memikirkan Nona Ci. Mungkin dia sudah ada di sana!"

Kata Kiong Mi Yun. Ucapan nona Kiong mengena hingga Kok Siauw Hong tertegun. Saat dia akan menyahut nona Kiong sudah bicara lagi.

"Aku tahu kau rindu pada buah hatimu itu, jika kau mau segera pergi, pergilah!"

Kata Kiong Mi Yun. Ucapan nona Kiong membuat Kok Siauw Hong tertegun dan malu.

"Hm! Pasti pemuda yang dicarinya itu kekasihnya. Pantas sebelum bertemu dia jadi gelisah sekali?"

Pikir Kok Siauw Hong. Melihat Kok Siauw Hong diam dan tidak segera pergi, Kiong Mi Yun jadi tidak enak hati.

"Sifatku memang jelek, aku tidak bisa menyimpan rahasia, apa yang ada dalam hatiku aku keluarkan semua! Maafkan aku!"

Kata nona Kiong. Kok Siauw Hong diam dan ini membuat nona Kiong jadi semakin gugup.

"Kau marah padaku?"

Tanya nona Kiong.

"Ah kau sedang memikirkan sesuatu. Kau sedang memikirkan apa?"

Kok Siauw Hong menengadah dan menyahut.

"Benar, memang aku sedang berpikir. Mari ikut aku, kita cari Kong-sun Toa-komu!"

Kata Kok Siauw Hong. Kiong Mi Yun kaget tapi dia girang bukan main.

"Kau memikirkan apa sih?"

Tanya si nona.

"Jika aku tak salah menduga kita bisa menemukan kawanmu itu!"

Sahut Kok Siauw Hong.

"Nanti saja kita bicara sesudah menemukan dia!"

Sesudah itu Kok Siauw Hong mengerahkan gin-kangnya.

Kiong Mi Yun tidak mengetahui ada apa di benak pemuda itu, tapi dia tidak sempat bertanya.

Dia langsung ikut pemuda itu.

Dia kembali ke depan air terjun dan berhenti tepat di depan air terjun itu.

Tadi Kok Siauw Hong ingat pengalaman ketika dia masih kecil, yaitu saat dia terjatuh ke dalam sungai.

Dia berteriak minta tolong, dan mendadak muncul seorang wanita cantik yang menolonginya.

Kejadian itu sudah lama, sudah belasan tahun yang lalu.

Dia kira wanita tua yang dikatakan oleh nona Kiong itu.

mungkin saja wanita yang dulu menolonginya.

Sekarang dia baru tahu, air sungai tempat dia terjatuh dulu itu bersumber dari air terjun tersebut.

Di tempat itu tidak ada rumah, tapi wanita itu bi sa mendengar teriakannya.

Dia yakin bahwa rumah itu ada di balik air terjun itu.

Jika bukan di balik air terjun, lalu di mana wanita itu bertempat tinggal?

Nona Kiong menatap pemuda itu dengan mata terbelalak heran.

Lama dia mengawasinya baru dia bertanya.

"Mengapa kau kembali ke tempat ini?"

Tanya nona Kiong.

"Apa kau sedang bergurau denganku?"

"Nama temanmu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Kong Sun Po! Kenapa?"

Kata si nona. Dia tidak menyahut karena langsung mengerahkan lweekangnya. Kemudian dia berteriak kuat-kuat.

"Kong-sun Po! Keluarlah temanmu Nona Kiong sedang menungguimu di luar air terjun!"

Teriak Kok Siauw Hong.

Ketika itu Kong-sun Po sedang bertarung hebat dengan See-bun Souw Ya.

Untung tubuh pemuda itu sudah kebal racun hingga tidak mudah dirobohlan oleh lawannya.

Dia bertarung mati-matian.

Tapi Iwee-kang See-bun Souw Ya lebih tinggi dari Kong-sun Po, tidak heran saat dia diserang secara bertubi-tubi akhirnya pemuda ini agak kewalahan juga.

See-bun Souw Ya tertawa dingin.

"Kau masih muda tapi kau sudah lihay sekali, pasti kau masih turunan Kong-sun Khie? Karena kau anak Kong-sun Khie aku tidak akan mengampunimu!"

Kata See-bun Souw Ya dengan bengis. Sambil bicara dia menyerang dengan cepat.

"Sreeet! Week"

Pakaian Kong-sun Po terobek.

Tadi See-bun Souw Ya berhasil mencengkram punggung Kong-sun Po.

Maksud See-bun Souw Ya dia ingin menghancurkan tulang punggung Kong-sun Po, tetapi serangannya itu gagal.

Ternyata di punggung pemuda itu terdapat payung yang menghalangi serangannya.

See-bun Souw Yakesal bukan main, dia ingin merobek payung itu, tetapi dia hanya bisa merobek baju pemuda itu.

Sebenarnya jari See-bun Souw Ya biasanya mampu mencengkram papan yang tebal hingga hancur, tapi aneh dia tidak mampu merobek kain payung milik Kong-sun Po.

Ini di luar dugaannya.

Pada saat yang bersamaan pemuda itu memutar tubuhnya, dan langsung mengambil payung itu untuk menyerang ke arah wajah See-bun Souw Ya sambil membentak.

"Kau benar, Ayahku memang jahat! Tapi kau sendiri adalah maling tua yang telah mencuri miliknya! Malah kau berani mencaci Ayahku! Kau sebenarnya lebih rendah dan tidak tahu malu dibanding dengan dia!"

Kata Kong-sun Po.

Payung pemuda itu bisa berubah menjadi pedang.

Dia serang See-bun Souw Ya dengan jurus "Tay-mok-hu-eng" (Asap Rase Gurun Pasir).

Seorang anak berani mengaku bahwa ayahnya itu orang jahat dan bukan orang baik.

memang hal itu jarang terjadi.

Mendengar jawaban Kongsun Po, Se-bunSouw Ya pun tertawa terkekeh.

"Kau bandingkan aku dengan ayahmu, hm baiklah! Kalau begitu segera kau bersujud di depanku, aku juga bersedia menjadi ayah angkatmu! He, he, he. Sungguh keterlaluan kau anak durhaka yang berani memukul ayahnya!"

Kata See-bun Souw Ya mengejek.

Serangan Kong-sun Po ditangkis oleh See-bun Souw Ya dengan telapak tanganya.

Tiba-tiba Kong-sun Po menghantam lengan See-bun Souw Ya dengan ujung payungnya.

See-bun Souw Ya tidak sempat menarik tangannya, maka tidak apun lagi tangan orang tua itu terhantam oleh payung pemuda itu.

Masih untung dia sudah berlatih ilmu keras, sehingga lukanya tidak parah.

Namun, lengannya terasa sakit bukan main dan ngilu bahkan hampir tidak bisa dia gerakan.

Payung pemuda itu sebuah senjata aneh dan lihay sekali.

Itu bukan payung biasa, karena tulang payung itu terbuat dari besi baja istimewa.

Kainnya mirip kain sutera, terbuat dari serat ular sutera istimewa.

Warna payung itu abu-abu seolah kain biasa saja.

Tapi kekuatannya sangat luar biasa sekali.

Tak mudah robek oleh senjata tajam, seperti misalnya pedang, pisau atau golok.

Tangan See-bun Souw Ya yang terlatihpun tidak mampu merobek kain payung itu.

Dulu payung itu senjata andalan dari Kong-sun Kip, kakek Kong-sun Po.

Karena Kong-sun Khie sangat jahat, ayahnya tidak mewariskan payung itu kepada Kong-sun Khie.

Tapi payung itu malah diberikan pada cucunya, 531 Kong-sun Po.

Payung itu bisa berubah fungsi bisa menjadi pedang atau tameng untuk menangkis senjata rahasia atau jarum musuh.

Semula See-bun Souw Ya menganggap remeh payung itu, tidak dia kira ternyata itu sebuah senjata sangat ampuh.

Tidak heran jika dia jadi terperanjat.

See-bun Souw Ya memiliki kung-fu tinggi yang telah dia latih puluhan tahun.

Sekalipun lengannya terluka oleh payung itu, tapi tulangnya tidak terluka.

Sakitnya hanya terasa sesaat tidak lama sudah normal kembali.

Kong-sun Po segera menyerang lagi dengan hebat.

"Dasar tua bangka jahat, kau masih berani bicara yang bukan-bukan!"

Bentak Kong-sun Po.

Kembali dia serang See-bun Souw Ya dengan jurus "Liekuang-sia-ciok" (Li Kuang Melempar Batu).

Kong-sun Po menotok ke arah tujuh jalan darah.

Tapi See-bun Souw Ya mampu menghindari serangan maut itu, yaitu dengan mengibaskan lengan bajunya yang panjang.

"Seert! Sreet!"

Kedua lengan baju See-bun Souw Ya telah berlubang, tapi payung di tangan Kong-sun Po pun terpukul agak miring.

Sayang serangan maut pemuda itu tak mampu melukai See-bun Souw Ya.

Dia jadi heran dan berpikir.

"Sayang! Tapi memang lwee-kang si Iblis Tua ini sangat lihay dan jauh lebih tinggi dariku. Hanya dengan jurus-jurus maut saja mungkin aku masih mampu meladeni dia?"

Sesudah itu kembali Kong-sun Po melakukan serangan dasyat ke arah lawaa See-bun Souw Ya pun sadar, bahwa pemuda ini lihay menggunakan payung atau senjatanya.

Karena itu See-bun Souw Ya tak berani menyambut langsung payung lawan tersebut, dia menangkis serangan itu dengan cara mengibaskan lengan bajunya saja.

Sebaliknya Kong-sun Po, hanya dalam sekejap dia mampu melancarkan serangan hebat bertubi-tubi belasan kali.

Tak heran See-bun Souw Ya harus menghindar dengan berkelit ke kiri maupun ke kanan, bahkan terkadang terpaksa dia harus munduir!

Saat itu Pouw Yang Hian, murid tertua See-bun Souw Ya sangat tegang menyaksikan pertarungan hebat itu.

Hanya dalam sekejap lengan baju gurunya sudah jadi compangcamping terkena serangan payung Kong-sun Po yang lihay.

Kain bekas lengan baju itu berterbangan bagaikan kupu-kupu yang sedang bermain-main di antara bunga-bunga di taman.

Sekarang lengan See-bun Souw Ya sudah tak terbungkus baju lagi.

Menyaksikan hal itu Pouw Yang Hian kaget, dia berteriak pada gurunya.

"Suhu....Aku akan memanggil Chu Kiu Sek ke mari supaya dia bisa membantumu! Bagaimana Suhu?"

Kata Pouw Yang Hian minta persetujuan dari gurunya Pouw Yang Hian menyangka gurunya akan segera dikalahkan oleh pemuda itu, sebenarnya dia hanya hanya membuat alasan agar dia bisa kabur dari gelanggang pertemmpuran yang mengerikan itu.

Bukan main gusarnya See-bun Souw Ya ketika sia mendengar teriakan muridnya yang pengecut itu.

"Kau kira aku tidak sanggup menghadapi bocah ini? Hm! Kau telah membuat malu gurumu! Kau pengecut dan kau takut mati! Ayo pergi dari sini!"

Kata See-bun Souw Ya dengan sengit bukan main.

Pouw Yang Hian kaget bukan kepalang mendengar katakata gurunya itu.

Dia bahkan salah menafsirkan hardikan gurunya itu.

Dia mengira gurunya setuju dia memanggil Chu Kiu Sek.

Maka itu dia segera menyahut.

"Baik, Suhu! Tee-cu (murid) menerima perintah Suhu!"

Kata Pouw Yang Hian. Saat Pouw Yang Hian bergerak akan meninggalkan tempat itu, See-bun Souw Ya membentak dengan suara keras.

"Keparat! Kaumaupergikemana! Cepat ke mari!"

Teriak See-bun Souw Ya.

"Bukankah Suhu menyuruhku pergi7' kata Pouw Yang Hian.

"Cepat ke mari!"

Teriak gurunya.

Pouw Yang Hian tidak berani menghampiri gurunya.

Tapi saat dia menoleh, sekarang di tengah gelanggang sudah ada perubahan besar.

Kong-sun Po yang tadi menyerang sekarang hanya bisa menangkis dan menghindar dari serangan gurunya.

Menyaksikan kejadian itu Pouw Yang Hian jadi girang bukan main.

"Suhu memang tidak ada tandingannya!"

Kata Pouw Yang Hian sambil mengacungkan jempol tangannya.

"Baik aku akan tetap di sini memberi semangat pada Suhu!"

Sebenarnya kata-kata Pouw Yang Hian ini kata-kata untuk "menjilat"

Pantat gurunya Kemudian dia duduk di atas sebuah batu besar, mulutnya tidak hentinya bersorak dan berteriakteriak memberi semangat kepada gurunya.

Diam-diam Kong-sun Po mulai mengeluh.

Dia salah menduga, tadi dia ingin merebut kemenangan dengan cepat; dengan demikian dia menyerang lawannya secara bertubi-tubi.

Tapi justru hal itu yang dikehendaki oleh lawannya.

Jika dia terus bertahan dengan cara itu dan dia hanya mengandalkan payung saja, dia bisa celaka.

Tapi jika dia tidak menyerang dan hanya menangkis setiap serangan See-bun Souw Ya dengan payungnya, maka dia yakin See-534 bun Souw Ya ini tidak kebal racun sama sekali, pasti bisa dia lukai!

Napas Kong-sun Po mulai tersengal-sengal, jika dia tidak segera mengubah taktik, dia bisa celaka.

Sebenarnya See-bun Souw Ya bukan tidak cemas atau tidak mendapat kesulitan.

Dia mulai merasa tidak nyaman, daya tahannya terhadap racun tidak sekuat Kong-sun Po.

Sekarang See-bun Souw Ya mulai merasa mual.

Jika dia tidak segera menghentikan pertarungan dengan Kong-sun Po, sekalipun dia menang, dia akan terluka parah juga.

See-bun Souw Ya berambisi ingin menjadi Bu-lim Bengcu (Ketua Dunia Persilatan).

Saat itu dia sedang menghadapi serangan dari si pemuda.

Sekalipun dia menang tapi dia harus bertarung dengan mati-matian dalam seratus jurus lebih.

Hal itu membuat See-bun Souw Ya mau tidak mau jadi kehilangan muka.

"Untung di tempat ini tidak ada Chu Kiu Sek, jika dia melihatnya, pasti dia akan memandang rendah padaku. Tapi jika pertarungan ini tidak segera selesai, dia pun pasti akan muncul. Sebelum dia muncul aku harus segera merobohkan bocah ini!"

Pikir See-bun Souw Ya.

Pantas dia melarang Pouw Yang Hian memanggil Chu Kiu Sek, karena dia takut diejek oleh sahabatnya itu.

Oleh karena dia ingin segera mengalahkan Kong-sun Po, maka dia langsung mengerahkan jurus Hua-hiat-to dan Hua-kutciang secara berbareng.

Tampak tangan kanannya merah.

Bau amis segera menyengat ke hidung lawan.

Tubuh Kong-sun Po yang sejak kecil sudah terkena racun hebat oleh ayahnya, sekarang dia mampu menghadapi serangan ilmu racun itu.

Tapi dia juga harus mengerahkan lwee-kang dan hawa murninya untuk menghadapi serangan 535 hebat itu.

Tiba-tiba Kong-sun Po mendengar suara panggilan dari luar goa.

"Kong-sun Po, keluarlah! Kiong Mi Yun temanmu sedang menunggumu di luar air terjun!"

Teriak Kok Siauw Hong. Begitu mendengar suara panggilan itu, Kong-sun Po girang bukan main.

"Eh, siapa orang yang memiliki lwee-kang tinggi itu?"

Pikir pemuda ini.

"Sekalipun masih kalah dari si Iblis Tua ini, tapi dia bisa membantuku! Tapi bagaimana caranya aku bisa menjauhi si Iblis Tua ini? Jika jaraknya agak renggang sedikit saja, aku bisa langsung melompat keluar goa."

Seruan itu pun didengar oleh See-bun Souw Ya, dia kaget dan berpikir.

"Kemarin Chu Kiu Sek mengatakan dia bertemu dengan menantu Han Tay Hiong yang tidak takut terhadap pukulan Siu-lo-im-sat-kang. Jangan-jangan itu suara dia? Aku dengar dia bernama Kok Siauw Hong?"

Pikir See-bun Souw Ya.

"Dia datang, jika dia bergabung dengan bocah ini, mana mungkin aku bisa melawan mereka?"

Oleh karena itu dia menggunakan serangan maut agar bisa segera merobohkan Kong-sun Po.

Pemuda itu benarbenar kewalahan.

Pada saat itu muncul seorang tua berjubah hitam sedang berjalan mendatangi dari atas gunung.

Melihat lelaki tua itu bukan main senangnya Pouw Yang Hian.

Dia langsung memanggil-manggil orang hu.

"Chu Lo-cian-pwee kau datang!"

Kata Pouw Yang Hian.

Sedikit pun Pouw Yang Hian tidak mendengar suara dari luar goa, karena lwee-kangnya masih rendah sekali.

Orang yang baru muncul itu memang benar Chu Kiu Sek.

Dia tatap Kong-sun Po dengan tajam, lalu dia mendengus.

"Hm! Hai bocah sialan!"

Kata Chu Kiu Sek. Sesudah mengawasi ke arah See-bun Souw Ya, baru dia berkata pada sahabatnya itu.

"Saudara See-bun, bocah ini memang sedikit luar biasa Kau istirahat saja dulu, biar aku yang menghadapinya!"

Kata Chu Kiu Sek.

Maksud Chu Kiu Sek ini sebenarnya baik, tapi mendapat tanggapan dari See-bun Souw Ya lain.

Ucapan itu malah dinilai oleh See-bun Souw Ya sebagai sindiran.

Maka itu See-bun Souw Ya pun tertawa terbahak-bahak.

"Saudara Chu, kau tonton saja aku bertarung dengannya. Aku katakan padamu bocah ini tidak akan lolos dari telapak tanganku!"

Kata See-bun Souw Ya dengan angkuh. Kong-sun Po tertawa dingin.

"Kalian ingin bergiliran melawanku, aku tidak takut!"

Kata pemuda ini dengan gagah.

Saat See-bun Souw Ya melancarkan serangannya, pemuda ini memutar payung untuk menangkis semua serangan See-bun Souw Ya.

Pemuda ini berhasil mematahkan semua serangan maut See-bun Souw Ya dengan mudah.

Sekalipun Kong-sun Po kelihatan sudah kelelahan, tapi aneh semangatnya tinggi sekali.

Tangkisannya pun luar biasa hebatnya Hal ini tentu saja membuat See-bun Souw Ya jadi heran dan curiga Dia mengira-ngira lawannya itu, apakah bocah itu benar-benar sudah kelelahan atau hanya berpurapura kelelahan saja?

Dengan demikian See-bun Souw Ya jadi ragu untuk mendekati pemuda ini.

Dulu pada saat Chu Kiu Sek bertarung dengan Kong-sun Po, dia pernah dikejutkan oleh jurus Keng-sin-ci-hoat milik Kong-sun Po.

Dengan demikian dia tidak mampu 537 mengukur berapa tinggi kepandaian bocah ini sebenarnya?

Tapi Chu Kiu Sek tahu pemuda itu sudah lama bertarung dengan See-bun Souw Ya, maka jika dia ikut membantu, dia yakin akan bisa mengalahkan pemuda itu.

Dua jago tua ini sudah sangat terkenal sebagai Iblis tua luar biasa.

Tetapi jika mereka sampai bergabung hanya untuk melawan pemuda itu, mereka akan malu karena namanya akan tercemar di kalangan Kang-ouw.

Itu sebabnya Chu Kiu Sek tadi meminta agar See-bun Souw Ya mau mundur dan dia yang akan maju melawan pemuda itu.

Jawaban See-bun Souw Ya itu jelas, seolah dia tidak mau mundur, ini membuat Chu Kiu Sek jadi tidak enak hati.

"See-bun tidak mengerti maksud baikku, baik akan kulihat dulu sampai dia terdesak. Memang dengan nama besarku aku tidak boleh mengeroyok bocah itu!"

Pikir Chu Kiu Sek.

Chu Kiu Sek lalu berdiri diam menonton pertarungan See-bun Souw Ya melawan Kong-sun Po.

See-bun Souw Ya sudah melancarkan belasan serangan maut, tapi payung Kong-sun Po selalu berhasil menggagalkan setiap serangan See-bun Souw Ya yang ganas itu.

Dengan demikian hal ini membuat See-bun Souw Ya jadi cemas dan dia khawatir akan kehilangan muka di depan Chu Kiu Sek dan muridnya.

Bagi pesilat tinggi mengabaikan konsentrasi, sungguh sangat berbahaya sekali.

Apalagi sekarang hati See-bun Souw Ya sedang kurang tenang.

Mendadak Kong-sun Po membentak.

Payungnya berkelebat menyerang ke arah See-bun Souw Ya yang agak lengah.

See-bun terkejut sekali.

Dia mundur selangkah.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kong-sun Po yang segera melesat ke arah pintu goa di balik air terjun.

"Oh celaka, dia kabur!"

Teriak Chu Kiu Sek tanpa sengaja.

Tadi dengan angkuh See-bun Souw Ya bilang, bahwa bocah itu tidak akan lolos dari telapak tangannya Sekarang justru Kong-sun Po telah lolos.

Hal ini membuat See-bun Souw Ya tertegun dan wajahnya berubah merah karena malu.

Saat See-bun Souw Ya mendengar teriakan Chu Kiu Sek dia tersentak dan gusar bukan kepalang.

"Kau mau kabur ke mana? Ke ujung langitpun akan kukejar!"

Kata See-bun Souw Ya yang panas hatinya.

Kong-sun Po sudah menerjang keluar lewat air terjun, kemudian disusul oleh See-bun Souw Ya yang mengejarnya dari belakang.

Dia langsung menyerang dari arah belakang.

Diserang demikian diperkirakan sudah tidak mungkin Kong-sun Po bisa berkelit, terpaksa dia menggunakan payung untuk menangkis serangan itu ke belakang, ke arah See-bun Souw Ya.

Sekarang Kong-sun Po sudah berada di luar goa dan telah melintasi air terjun itu.

Sedang air terjun itu pun telah membantu mengurangi atau menghalangi serangan dari See-bun Souw Ya yang dasyat dan ganas itu.

Namun, tidak urung punggung Kong-sun Po terkenaserangan angin dari pukulan See-bun Souw Ya dengan demikian dia merasa ngilu.

Untung dia sudah langsung berada di luar.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Sebenarnya Kok Siauw Hong memanggil-manggil Kongsun Po sudah tiga kali, tapi tidak ada jawaban.

Saat Kok Siauw Hong sedang bingung dan putus asa, dan dia tidak tahu lagi harus bagaimana membantu nona Kiong.

Tibatiba dari balik air terjun menerobos seseorang.

Bersamaan 539 dengan itu air terjun pun berhamburan memercik ke segala penjuru.

Sedang nona Kiong pun berteriak girang.

"Dia sudah keluar! Kong-sun Toa-ko kami di sini!"

Teriak Kiong Mi Yun dengan kegirangan. Nona Kiong yang kegirangan akan segera menyambut kedatangan pemuda itu, tapi Kong-sun Po berteriak mencegahnya.

"Jangan ke mari! Di belakangku ada orang yang mengejarku!"

Teriak Kong-sun Po.

Benar saja tak lama kemudian See-bun Souw Ya pun muncul dari balik air terjun.

Begitu Kok Siauw Hong melihat ada orang yang sedang mengejar Kong-sun Po, dia langsung menyerang dengan pedangnya.

Saat itu See-bun Souw Ya belum membuka matanya sehabis melompati air terjun.

Tapi telinganya tajam dia mendengar desingan suara senjata tajam.

Dengan cepat dia menangkis serangan itu dengan sebuah pukulan yang dasyat, tangkisan ini membuat pedang Kok Siauw Hong miring ke samping.

"Sreet!"

Jubah See-bun Souw Ya terkena pedang Kok Siauw Hong hingga robek. Betapa terkejutnya See-bun Souw Ya saat mengetahui lihaynya tusukan pedang pemuda she Kok itu.

"Eh, apa bocah ini lebih lihay dari anak Kong-sun Khie? Dia mampu menahan pukulanku dan merobek jubahku dengan pedangnya?"

Begjtiu See-bun Souw Ya berpikir.

Kepandaian Kok Siauw Hong dibanding dengan Kongsun Po sebenarnya tidak berbeda jauh, tapi karena tenaga See-bun Souw Ya sudah terkuras oleh Kong-sun Po, yaitu saat mereka bertarung tadi, sehingga tenaga pukulan yang 540 dia gunakan untuk menyerang Kok Siauw Hong jadi agak lemah.

Melihat serangannya gagal, Kok Siauw Hong tidak mau mengerti, dia menyerang lagi.

Dia gunakan jurus "Pek-hungKoan-jit" (Pelangi putih menutupi matahari).

Pedang Kok Siauw Hong berkelebat ke arah dada See-bun Souw Ya.

Saat itu See-bun Souw Ya sudah membuka kedua matanya.

Melihat serangan datang dia segera berkelit ke samping.

Tapi dia juga membalas menyerang ke arah Kok Siauw Hong dengan jurus "Kim-tiau-can-peng" (Rajawali mas mengembangkan sayap).

Dia mencoba mencengkam urat nadi Kok Siauw Hong.

Cengkraman See-bun Souw Ya ini lihay dan ganas.

Jika Kok Siauw Hong tidak segera menghindar, maka pedang yang ada di tangannya pasti akan terlepas, bahkan bisa direbut oleh See-bun Souw Ya.

Pada saat yang bersamaan Kiong Mi Yun pun melompat dan menyerang punggung See-bun Souw Ya secara mendadak sekali.

Tapi See-bun Souw Ya matanya awas, tadi dia sudah mengawasi ke sekeliling tempat itu.

Jadi pada saat Kiong Mi Yun menyerang, dia sudah melihat serangan nona itu, dia kaget bukan main.

Segera dia batalkan serangannya dan bersiap menjaga diri dari serangan nona Kiong.

"Hm! Gadis liar, apa hubunganmu dengan majikan pulau Hek-hong-to?"

Bentak See-bun Souw Ya.

Nona Kiong menyerang See-bun Souw Ya dengan jurus Citsal-ciang andalan keluarganya, sehingga See-bun Souw Ya mengenali jurus itu.

Serangan itu hebat luar biasa dan mengarah ke tujuh jalan darah lawan dengan cepat luar biasa.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 20 Nona Kiong tersenyum mendengar teguran si Iblis Tua itu.

Dia langsung menjawab pertanyaan itu dengan sinis bukan main.

"Ayahku sebal pada omong besarmu!"

Kata nona Kiong.

"Dia menyuruhku ke mari untuk melampiaskan kedongkolannya padamu!"

Begitu See-bun Souw Ya tahu bahwa gadis itu puteri Kiong Cauw Bun dari Hek-hong-to, hati si iblis tua pun jadi tersentak kaget.

"Hoang-hoo-ngo-pa (Lima perkumpulan jago dari Sungai Huang-hoo) bawahan dari Kiong Cauw Bun. Mungkin Pouw Yang Hian menggunakan namaku secara sembarangan untuk menindas mereka! Mungkin hal itu telah membuat Kiong Cauw Bun marah, lalu dia memerintahkan puterinya ke mari?"

Begitu pikir See-bun Souw Ya saat itu.

Mendadak Kiong Mi Yun kembali melancarkan serangan berbahaya dengan jurus Cit-sat-ciangnya.

Karena serangan itu See-bun marah bukan main, lalu dia membentak dengan nyaring.

"Sekalipun Kiong Cauw Bun yang datang, tetap dia harus memanggilku Lo-toa (Saudara tua)! Hm! Sedangkan kau gadis liar, kau berani kurang ajar kepadaku!"

Kata See-bun Souw Ya.

Buru-buru dia memutar sepasang tangannya untuk melindungi seluruh jalan darah yang diserang oleh nona Kiong, lalu dia angkat kaki kanannya menendang nona Kiong.

Kok Siauw Hong yang telah lolos dari serangan lawan, segera dia menerjang ke arah See-bun Souw Ya sambil membentak.

'Tua bangka, kau jangan sok jadi jagoan!"

Bentak Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong menyerang perut See-bun Souw Yadengan pedangnya.

Dia gunakan salah satu jurus Cit-siukiam-hoat yang lihay.

Ini merupakan sebuah jurus maut miliknya Ketika itu See-bun Souw Ya sedang berhadapan dengan Kiong Mi Yun, sehingga pemuda she Kok ini berpeluang menyerangnya dengan hebat.

Tapi sayang See-bun Souw Ya sudah menduga adanya serangan dari anak muda ini.

Tendangan yang dia lakukan pada nona Kiong itu hanya sebuah tipuan saja.

Ditambah lagi ilmu beracun milikinya satu sumber dengan jurus Cit-sat-ciang milik nona Kiong, hingga dia agak segan menghadapi ilmu pukulan Cit-satciang itu.

Maka itu dia pura-pura menyerang nona Kiong, dan dia yakin tipu-muslihatnya tidak akan gagal.

Jika dia mau bersungguhsungguh menendang nona itu, dia yakin dia akan berhasil.

Dia tahu sekalipun nona Kiong memiliki jurus Cit-sat-ciang, namun ilmu itu belum sempurna dipelajari oleh nona itu, sehingga dia tidak takut dilukai oleh nona itu.

Saat dia menendang, justru dia lakukan untuk menghadapi serangan dari Kok Siauw Hong.

Begitu serangan Kok Siauw Hong tiba, langsung tendangan itu dipakai menangkis serangan Kok Siauw Hong.

"Tang!"

Terdengar suara keras.

Pedang Kok Siauw Hong tertendang dan terlepas dari cekalannya.

Untung tendangan itu tidak mengenai tubuh pemuda itu.

Mengetahui pedangnya telah terlepas, Kok Siauw Hong menggunakan telapak tangannya menyabet ke bawah.

Dan sabetan Kok Siauw Hong ini tepat mengenai 543 lutut See-bun Souw Ya.

Beruntung bagi See-bun Souw Ya, karena lweekangnya sangat tinggi, pukulan Kok Siauw Hong itu tidak sampai menghancurkan lututnya.

Tapi serangan itu cukup membuat See-bun Souw Ya kesakitan bukan main.

Sambil terhuyung-huyung dia menggeram.

Menyaksikan orang kesakitan Kiong Mi Yun malah menter-tawakannya.

"Hm! Kau ingin berhadapan dengan Ayahku, menghadapi aku saja kau sudah meringis ketakutan!"

Kata nona Kiong mengejek. Tiba-tiba dari balik air terjun kelihatan berkelebat tubuh seseorang yang menerjang keluar. Orang itu adalah Chu Kiu Sek.

"Baik, aku yang melawanmu!"

Bentak Chu Kiu Sek.

Chu Kiu Sek langsung menyerang nona Kiong dengan jurus Siu-lo-im-sat-kang, pukulan andalannya itu.

Tak heran angin pukulan itu terdengar menderu-deru.

Saat hu Kok Siauw Hong sedang merasakan kesakitan tangan kanannya yang tadi memegang pedang, dan tertendang pedangnya itu.

Sekarang tangan itu ngilu bukan main.

Sekarang dia jugamerasa sulit untuk menggerakan tangannya itu.

Buru-buru dia jemput pedangnya yang tergeletak di tanah, lalu dia kerahkan hawa murni nya untuk melancarkan peredaran darahnya.

Saat itu dia ingat pada Kiong Mi Yun yang sedang diserang oleh Chu Kiu Sek.

Dia berniat menolong nona Kiong, tapi sudah terlambat...

Untung saat itu Kong-sun Po yang tadi kesakitan, sekarang tenaganya sudah pulih kembali.

Saat dia lihat Kiong Mi Yun diserang oleh Chu Kiu Sek, Kong-sun Po buru-buru membentangkan payungnya untuk menangkis 544 serangan Chu Kiu Sek yang diarahkan pada nona Kiong itu.

Payung itu bergoyang-goyang seolah diterjang badai, Kong-sun Po berusaha menggenggam gagang payung dengan sekuat tenaganya.

Tak heran sebagian besar hawa dingin dari pukulan Siu-lo-im-sat-kang jadi sedikit terhalang.

Saat itu tenaga Kongsun Po memang belum pulih seluruhnya saat dia menghadapi See-bun Souw Ya di dalam goa.

Tiba-tiba dia tutup payungnya dengan jurus "Hian-cian-hua-sah" (Burung sakti mengaduk pasir), dia serang Chu Kiu Sek dengan ujung payung, dia arah jalan darah lawannya ini.

Melihat serangan dasyat itu sedikitpun Chu Kiu Sek tidak gentar, segera dia ulur jari tangannya dengan maksud mencengkram payung itu dan menghancurkannya Sungguh dia tidak mengira kalau payung itu sangat kebal terhadap senjata apapun.

Tak ada senjata yang mampu merobek kain payung itu.

Jadi mana mungkin jari tangan Chu Kiu Sek bisa menghancurkannya?

Gerakan Chu Kiu Sek gesit luar biasa begitu juga gerakan Kong-sun Po.

Saat payung Kong-sun Po tercengkram oleh jari tangan Chu Kiu Sek, Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang.

Tangannya seolah mencengkram bola yang lincin sekali.

Malah jari tangan Chu Kiu Sek seolah terpental dan berbalik.

"Hm! Pantas See-bun tidak berdaya terhadap bocah ini?"

Pikir Chu Kiu Sek.

"Ternyata payungnya itu luar biasa sekali!"

Tiba-tiba terdengar suara keras.

"Seeer! Weeek!"

Ternyata jubah Chu Kiu Sek berhasil diserang oleh payung itu dan robek.

Masih untung saat dia mencengkram, tubuhnya sedang ada pada posisi miring, jika tidak dia akan terluka parah oleh payung lawan.

Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang.

Buru-buru dia mundur beberapa langkah ke belakang.

Tapi Kok Siauw Hong yang sudah memegang pedang, langsung menyambut kedatangan Chu Kiu Sek dengan sebuah serangan yang dasyat.

"Mau lari kemana maling tua, rasakan pedangku ini!"

Bentak Kok Siauw Hong.

Chu Kiu Sek sadar Kok Siauw Hong tidak gentar pada pukulan Siu-lo-im-sat-kang-nya.

Satu lawan satu mungkin Chu Kiu Sek masih mampu menghadapi pemuda she Kok ini.

Tari yang dia khawatirkan Kok Siauw Hong akan bergabung dengan Kongsun Po.

Dia yakin sekali bahwa dia tidak akan mampu melawan dua anak muda itu dan dia pasti akan kalah.

Maka dengan tebal muka lalu dia berkata.

"Hm! Kau bocah yang masih bau kencur! Kau kira Lo-hu takut kepadamu?"

Kata Chu Kiu Sek. Sambil berkata begitu Chu Kiu Sek mundur tiga langkah ke belakang.

"Kok Toa-ko, mereka sudah tua bangka semua, kau jangan menyulitkan mereka!"

Kata Kong-sun Po sambil tertawa.

"Baik, kali ini kita ampuni jiwa mereka!"

Kata Kok Siauw Hong sambil tersenyum.

Sebenarnya Kok Siauw Hong pun sudah kelelahan, dia berkata begitu hanya untuk berpura-pura dan untuk menakutnakuti Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya saja.

Mendengar seruan Kok Siauw Hong itu, See-bun Souw Ya tahu, kalau Kok Siauw Hong hanya berpura-pura 546 bersemangat.

Tapi dia tidak bisa mengejar mereka karena sekarang dia sedang merasakan lututnya yang sakit bukan main.

Mata See-bun Souw Ya terbelalak pada saat menyaksikan ketiga anak muda itu meningalkannya.

Baik See-bun Souw Ya maupun Chu Kiu Sek tidak mengejar mereka.

Sesudah tahu dua iblis tua itu tidak mengejar mereka, hati anak muda itu lega juga.

Tiba-tiba tubuh Kok Siauw Hong terasa panas.

Sekalipun dia tidak terkena pukulan Hui-hiat-to, namun dia mencium bau amis pukulan itu.

Saat dia awasi Kong-sun Po dia lihat pemuda itu tidak terluka sedikitpun.

"Ilmu pukulan beracun iblis tua yang berwarana merah itu sangat lihay! Jika tadi tidak bertarung dulu denganmu, pasti aku bisa celaka olehnya,"

Kata Kok Siauw Hong mengakui kehebatan anak muda yang belum dikenalnya itu.

"Dia bernama See-bun Souw Ya,"

Kata Kong-sun Po.

"Nama ilmu pukulannya itu Hua-hiat-to, ilmu beracun milik keluarga Suang."

Kok Siauw Hong manggut-manggut.

"Oh begitu!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sekarang aku jadi tak heran lagi!"

"Apa yang membuatmu tidak heran?"

Tanya nona Kiong.

"Semula aku tidak habis pikir, siapa pembunuh kejam di rumah Paman Han itu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sekarang aku tahu, dia adalah See-bun Souw Ya!"

Kok Siauw Hong mengisahkan penemuan mayat di rumah keluarga Han, juga tentang darah beku pada salah satu mayat dan ternyata darah itu beracun sekali.

Mendengar cerita itu nona Kiong melelerkan lidahnya.

Kong-sun Po tersenyum.

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 2

Baca Juga: Kereta Berdarah 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger