Badai Awan Angin Pendekar Sejati 3

Eps 3 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.

Kata Mi Yun. Mi Yun mengeluarkan sepotong uang perak dari kantung itu. mata pelayan itu terbelalak, dia mau terima tapi raguragu. Kiong Mi Yun menegur pelayan itu.

"Apa yang kau lihat? Apa kau belum pernah melihat uang perak ya? Cepat ambil dan siapkan sebuah kamar untukku. Lebihnya untukmu!"

Kata Mi Yun yang terus mengawasi nona Han.

"Han Toa-ko uang ini pemberianmu, aku harap kau tidak menyalahkan aku terlalu royal."

Han Pwee Eng kewalahan tapi hatinya geli sekali.

"Uang itu sudah kuberikan padamu, terserah kau mau dipakai untuk apa?"

Kata nona Han. Kiong Mi Yun tertawa.

"Baik. aku ucapkan terima kasih atas kebaikanmu ini,"

Kata Kiong Mi Yun.

Pelayan itu lalu mengantar Kiong Mi Yun ke sebuah kamar.

Sedangkan Han Pwee Eng segera masuk ke kamarnya untung Mi Yun tidak mengikutinya.

Tetapi saat dia mengunci pintu kamar dan menyalakan lilin, dia terkejut bukan kepalang.

Ternyata tempat tidurnya sudah berantakan dan buntalan pakaiannya pun sudah terbuka.

Buntalan itu seolah telah diperiksa oleh seseorang.

Dalam buntalan itu terdapat dua stel pakaian laki-laki pemberian Ci Giok Hian.

dan uang 30 tail perak.

Semua pakaiannya masih ada tapi uangnya sudah tidak ada di situ.

"ini pasti perbuatan Chu Tay Peng yang mengira aku Kiong Mi Yun? Dia mengirim orang ke mari saat aku ada di rumah makan. Sesudah tahu aku bukan orang she Kiong. dia mencuri uang dan kudaku."

Begitu nona Han berpikir.

Dia tidak mau mencari pemilik penginapan karena dia pikir percuma saja karena pemilik penginapan tidak ada sangkutpautnya dengan kejadian itu.

Tapi yang jadi masalah uang itu hilang sedang uang dalam kantung miliknya sudah diberikan kepada Mi Yun.

sekarang sepeserpun dia tidak punya uang.

Itu masalahnya.

Sedang 278 perjalanan dari tempat itu ke kota Lok-yang masih berjarak 800 lie lagi.

dari mana dia bisa memperoleh uang.

"Untung uang sewa kamar sudah dibayar, kalau tidak wah bisa berabe juga?"

Pikir nona Han "Bagaimana ya. apa aku harus mencuri seperti Kiong Mi Yun?"

Dia baringkan dirinya di tempat tidur, tapi tidak berani tidur.

Dia khawatir Chu Tay Peng dan orangnya akan datang lagi dan Mi Yun akan mengikutinya.

Malam itu berlalu tanpa kejadian apa-apa.

Nona Han ingin bebas dan Kiong Mi Yun.

Masih gelap dia sudah bamgun dan meninggalkan penginapan itu.

Dia keluar dari kota Ouw-shia pada saat hari masih pagi sekali.

Dijalan masih sepi.

Tapi saat dia akan menggunakan gin-kang dia telah mendengar sebuah seruan.

"Han Toa-ko. tunggu aku! Kau pergi dengan diam-diam. setengah mati aku mencarimu!"

Kata Mi Yun. Kali ini wajah Kiong Mi Yun telah berubah, dia juga sudah berpakaian bersih. Dia tampan sekali. Han Pwee Eng kesal, jengkel dan dongkol bercampur aduk.

"Mengapa kau mengikuti aku lagi? Kita hanya kebetulan bertemu kau tidak perlu mengantarkan aku."

Kata Han Pwee Eng dengan suara sedikit kesal Kiong Mi Yun tersenyum.

"Aku bukan ingin mengantarmu, tapi mau mengembalikan uangmu."

Kata Mi Yun.

"Uang itu untukmu tidak perlu kau kembalikan kepadaku."

Kata Han Pwe Eng.

"Kalau begitu uang ini anggap saja sebagai hadiah dariku."

Kata Kiong Mi Yun.

"Semalam aku "bekerja"

Dan 279 berhasil mendapatkan uang. Karena kau sangat baik kepadaku, aku harus membalasnya. Jangan kau tolak!"

Dia mengeluarkan sebuah kantung uang yang lain bukan kantung milik Han Pwee Eng dulu.

"Kantung ini aku buat sendiri, kau boleh menyimpannya sebagai kenang-kenangan."

Kata Mi Yun sambil tersenyum. Saat itu Han Pwee Eng sedang kesulitan uang maka dengan tidak sungkan-sungkan dia terima saja uang itu.

"Terima kasih, sampai jumpa!"

Kata nona Han. Kiong Mi Yun tertawa.

"Kok kau ini tak sabaran sih? Aku mau bilang sesuatu kau sudah mengusirku pergi?"

Kata Mi Yun. Sekalipun dia sedang tertawa tapi wajahnya memelas minta dikasihani.

"Maaf aku sangat tergesa-gesar harus membuai waktu, aku tidak bermaksud mengusirmu."

Kata nona Han.

"Han Toa-ko, kau mau ke mana?"

Tanya Mi Yun.

"Dalam tujuh hari ini aku harus sudah tiba di kota Lokyang."

Kata Pwee Eng. Mi Yun bertepuk tangan sambil tertawa girang.

"Ah kebetulan sekali, aku juga mau ke Lok-yang!"

Kata Kiong Mi Yun girang. Mata nona Han terbelalak.

"Aku mau menghindarinya malah aku masuk ke dalam jeratnya."

Pikir nona Han. Melihat nona Han diam Kiong Mi Yun mengerutkan alisnya.

"Han Toa-ko. apa kau membenciku?"

Kata dia.

"Kau jangan bilang begitu."

Kata Han Pwee Eng.

"Musuhku sangat banyak, aku takut menyusahkanmu!"

Kiong Mi Yun tersenyum.

"Han Toa-ko. benarkah kau tidak membenciku? Aku lega."

Kata dia. Dia tersenyum lembut sekali. Jika diperhatikan mirip seorang nona yang cantik. Mungkin dia seorang gadis yang sedang menyamar seperti nona Han.

"Han Toa-ko."

Kata Mi Yun lagi.

"Kau tidak perlu mencemaskan aku. Aku akan bersamamu, pasti kita akan aman dalam perjalanan. Jika ada musuh mencarimu kita hadapi bersama. Daripada kau menghadapinya seorang diri lebih baik bergabung. Akan aku ajak kau lewat jalan pintas, tidak sampai tujuh hari kita sudah akan tiba di Lok-yang!"

Han Pwee Eng tidak bisa menolak. Ditambah lagi dia curiga Mi Yun ini seorang gadis.

"Aku akan berada bersamanya dalam satu perjalanan, di tengahjalan akan kuselidiki dia. Siapa tahu aku bisa membuka rahasianya?"

Pikir nona Han.

"Baik. mari kita berangkat!"

Kata nona Han. Han Pwee Eng ingin mencoba kepandaian Kiong Mi Yun. Saat mendaki sengaja dia gunakan gin-kang dan melesat meninggalkannya. Kiong Mi Yun malah tertawa.

"Han Toa-ko gin-kangmu sungguh tinggi"

Teriak Mi Yun.

Dia juga menggunakan gin-kang mengejar nona Han.

tanpa terasa mereka sudah bisa berjalan sejauh 80 lie.

Karena letih nona Han berhenti akan istirahat.

Dia menoleh ke belakang.

Wajah Kiong Mi Yun tidak kelihatan merah.

Napasnya pun biasa saja.

Itu suatu tanda gin-kangnya cukup tinggi, dia jadi malu sendiri.

Ketika itu sudah tengah hari....

"Han Toa-ko kita istirahat dulu sejenak di hutan itu."

Kata Kiong Mi Yun.

"Setelah makan makanan kering baru perjalanan ini kita lanjutkan lagi!"

Nona Han mengangguk. Mereka berjalan ke arah rimba lalu duduk di bawah sebuah pohon. Mi Yun mengeluarkan sebuah kotak sambil tersenyum.

"Pasti kau tidak menyiapkan makanan kering."

Kata Mi Yun.

"Aku membawa makanan enak dari rumah makan "Ngi Nih Lauw"

Yang terkenal itu, silakan kau cicipi!"

Han Pwee Eng kaget matanya terbelalak.

"Kemarin aku tidak melihat kotak ini. kapan kau ke rumah makan itu?"

"Semalam ketika aku "bekerja"

Dan pulangnya melewati rumah makan itu.

Mendadak aku ingat kau.

Aku yakin kau belum pernah mencicipi kue-kue dari rumah makan itu.

Aku masuk ke dalam mengambil beberapa macam kue.

Aah!

Han Toako.

kau jangan memelotiku terus!

Aku menaruh uang di sana, aku tidak mau merugikan mereka.

Ayo kau cicipi!"

Kata Kiong Mi Yun. Han Pwee Eng menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Saudara kecil. kau..."

Kiong Mi Yun cemberut.

"Han Toa-ko aku ingin menyenangkan hatimu. Apa kau tega masih mau menyalahkan aku?"

Kata Mi Yun. Tingkah-laku Kiong Mi Yun ini sangat mirip seorang gadis, terutama saat dia cemberut.

"Mengapa kau begitu baik kepadaku?"

Kata nona Han.

"Han Toa-ko. kau tidak marah padaku, kan?"

Kata Kiong Mi Yun manja.

"Semalam kau membantuku, aku belum berterima kasih kepadamu. Mengapa aku harus marah kepadamu?"

Sahut nona Han Pwee Eng. Kiong Mi Yun menatapnya.

"Semalam aku mempermainkanmu. kau tidak menyalahkan aku?"

Kata Kiong Mi Yun. Han Pwee Eng tersenyum.

"Tidak! Tapi aku heran, kenapa kau menyamai' jadi budak dan berpakaian kotor?"

Kata Han Pwee Eng.

"Aku tidak ingin mereka tahu aku ini siapa?"

Kata Kiong Mi Yun.

"Jika aku tidak menyamar aku akan diikuti oleh mereka, jadi aku tidak bebas. Malah lucunya mereka mengira kau adalah aku!"

Han Pwee Eng tersenyum.

"Tapi aku mendapatkan perlakuan yang istimewa dari mukamu itu!"

Kata nona Han.

"Tadi kau tanya mengapa aku baik kepadamu."

Kata Kiong Mi Yun.

"Baik akan aku beritahu kau. Itu karena kau pun sangat baik kepadaku. Kemarin ketika aku menyamar seperti budak, dan aku sengaja mengotori pakaianmu. kau sama sekali tidak marah kepadaku. Malah kau membayariku makan dan minum arak. Belum pernah ada orang begitu baik seperti kau!"

Dia bicara dengan jujur. Nona Han tersenyum.

"Karena aku tahu kau bukan orang biasa. Tapi kalau dulu aku tahu ayahmu itu Hek-hong-to To-cu. iblis aliran 283 sesat, mungkin aku tidak akan mau bergaul denganmu!"

Kata Han Pwee Eng.

"Aku dibesarkan di sana. di laut Tong-hai (Laut Timur). Di sana berbahaya sekali dan sering dilanda badai. Perahu sangat sulit mencapai pulau itu. Di pulau itu hanya ada Ayahku, aku dan beberapa pelayan yang sudah tua. Sejak kecil tidak ada teman untuk diajak bermain."

"Ah. kalau begitu kau pasti kesepian sekali?"

Kata nona Han sambil tersenyum.

"Ya. karena itu aku minggat diam-diam."

Kata Mi Yun.

"Jadi kau kabur dari sana?"

"Aku kabur tujuanku hanya ingin bergaul, dan ingin punya beberapa kawan, tapi ternyata sangat mengecewakan."

Kata Kiong Mi Yun.

"Apa karena angan-anganmu terlalu tinggi?"

Kata nona Han sambil menatap dia.

"Tidak. Karena Ayahku terlalu terkenal. Yang tahu mengenai diriku, mereka segera menjauh karena takut. Aku coba mendekati mereka, tapi tidak ada yang mau berkawan denganku. Aku marah dan dongkol lalu menyamar jadi tukang perahu dan budak, supaya tidak ada orang yang mengenaliku!"

Kata Kiong Mi Yun. Nona Han tertawa.

"Oh! Jadi selama ini kau belum punya kawan?"

"Kemarin saat aku bertemu denganmu. Chu Tay Peng malah mengira kau itu adalah aku. aku heran lalu kuikuti kau dengan diam-diam. Aku ingin tahu sebenarnya kau ini siapa?"

Kata Kiong Mi Yun.

"Jadi sekarang kau sudah tahu?"

Kata nona Han sambil tersenyum. Dia mengangguk.

"Ya. kau orang yang baik hati. sekalipun kau tidak tahu aku ini siapa? Aku minggat sudah setengah tahun yang lalu dan berkeliaran, kau adalah satu-satunya kawanku."

Kata dia. Han Pwee Eng tersenyum. Mendadak Kiong Mi Yun bertanya.

"Di rumahmu masih ada siapa saja sih?"

Kata dia.

"Ada Ayahku, dia sudah tua."

Kata Han Pwee Eng.

"Kau tidak punya saudara lelaki atau perempuan?"

Kata dia lagi.

"Tidak punya kakak maupun adik. dan aku belum bertunangan lho!"

Kata Han Pwee Eng sambil tersenyum geli. Nona Han bertambah yakin bahwa Kiong Mi Yun ini seorang perempuan.

"Pantas kau kelihatan agak murung, rupanya kau ingat ayahmu ya?!"

Kata Kiong Mi Yun.

"Ya. kau benar."

"Kau jangan terlalu cemas tentara Mongol belum menyerang sampai ke Hoo-lam. Lok-yang masih aman-aman saja bagi ayahmu!"

Kata dia "Mudah-mudahan begitu."

Kata Han Pwee Eng sambil manggut. Tiba-tiba Kiong Mi Yun tertawa.

"Jika kau sedang berduka, biar aku akan menyanyi untukmu, boleh kan?"

Kata dia.

"Bagus, aku setuju!"

Kata nona Han sambil tersenyum. Dia menatap lembut, lalu mulai menyanyikan sebuah lagu rakyat jelata.

"Sebelum angin malam berhembus. Burung-burung telah bertengger di dahan. Di bawah sinar rembulan Sunyi-senyap. bulan sabit tergantung di langit. Tidur nyenyak di musim semi. wajah cerah ceria. Terdengar langkah di jendela, tak terlihat kanda. mungkin sembunyi di suatu tempat..."

Itu adalah nyanyian rakyat yang mengisahkan tentang seorang gadis yang berharap kedatangan kekasihnya. Nona Han sekarang lebih yakin kalau Kiong Mi Yun ini seorang gadis.

"Han Toa-ko. aku akan mencari air minum dulu."

Nona Han tersenyum.

"Biar aku yang pergi mengambil air."

Kata nona Han.

"Jangan, kau duduk saja di sini jangan bergerak."

Sesudah itu dia langsung pergi.

"Apa yang dia akan lakukan?"

Pikir nona Han.

Tak lama muncul seorang gadis cantik sedang berjalan ke arah Han Pwee Eng sambil tersenyum manis.

Nona Han tidak kaget karena dia sudah menduga sejak tadi.

Dia kelihatan cantik sekali.

Tatapan Han Pwee Eng menggembirakan hatinya.

"Han Toa-ko. kau tidak mengenaliku ya?"

Kata Kiong Mi Yun manja.

"Ah tidak aku kira kau ini gadis yang cantik sekali!"

Puji Han Pwee Eng. Pujian itu menyenangkan hati Kiong Mi Yun.

"Han Toa-ko kau tidak marah aku mengelabuimu?"

Kata nona Kiong. Nona Han tertawa geli.

"Sama saja! Oh tapi kenapa kau mau menunjukkan wajah aslimu?"

Kata Han Pwee Eng.

"Kau baik kepadaku, maka aku tidak pantas membohongimu terus. Setelah aku tunjukkan wajah asliku kelak aku akan menyamar lagi jadi seorang laki-laki!"

Katanya.

"Ah kau sangat cantik mengapa kau harus menyamar jadi lelaki?"

Kata nona Han.

"Seorang gadis berjalan bersama seorang pria jadi kurang leluasa lho!"

Kata Kiong Mi Yun.

"Dia putri Iblis Besar, lebih baik aku sembunyikan dulu diriku yang sebenarnya dalam penyamaran ini."

Pikir nona Han.

"Sekarang aku tahu kau seorang nona. sekalipun kau menyamar tetap saja kita tidak akan leluasa."

Kata nona Han berniat menghindar dari nona Kiong ini. Wajah nona Kiong memerah.

"Kau pria yang baik. tidak jadi masalah kau tahu tentang diriku. Asal orang lain tidak mengetahuinya, pasti tidak akan jadi masalah."

Kata nona Kiong.

"Walau kau yakin aku tidak akan berbuat sesuatu, tapi tetap saja aku tidak leluasa!"

Kata nona Han bersikeras. Nona Kiong cemberut.

"Han Toa-ko. kau jangan salah sangka, menganggap aku gadis yang tidak tahu malu. Aku hanya ingin jalan bersamamu, siapa yang ingin tidur sekamar denganmu? Semalam aku hanya bergurau, jangan kau anggap serius!"

Kata Kiong Mi Yun.

Memang semalam dia bilang ingin tidur sekamar agar bisa bercakap-cakap dengan nona Han.

tapi nona Han menolaknya, hingga Mi Yun jadi tidak enakhati.

Dia khawatir nona Han akan salah paham.

"Bukan itu maksudku...."

Kata nona Han. ia berhenti sejenak.

"Bukankah kau mau ke Lok-yang?"

Mi Yun malah balik bertanya.

"Han Toa-ko. kau tidak suka jalan bersamaku. ya?"

Kata dia. Han Pwee Eng tersenyum lembut dan memegang tangannya sambil berkata.

"Kau jangan salah paham. Nona Kiong."

Kata Pwee Eng.

"kau sangat baik kepadaku, bagaimana aku tidak mau melakukan perjalanan bersamamu. Tetapi aku pikir...."

"Apa yang kau pikirkan?"

Kata nona Kiong.

"Pernahkah kau mendengar nama Hong Lai Mo Liu Ceng Yauw? Dia Beng-cu Rimba Persilatan bagian Utara dan juga seorang pendekar wanita!"

Kata Han Pwee Eng. Wajah nona Kiong berubah.

"Lalu kenapa?"

Tanya nona Kiong.

"Liu Beng-cu sangat suka pada gadis yang berilmu tinggi."

Sahut Han Pwee Eng.

"Saat ini dia butuh bantuan nona-nona yang berilmu silat tinggi. Aku punya Paman namanya Lui Piauw yang telah bergabung di sana. Sesudah aku sampai di Lok-yang. aku pun berniat ke sana."

Kiong Mi Yun menatap ke arah nona Han.

"Maksudmu ialah.."

Kata-kata Kiong Mi Yun dipotong oleh nona Han.

"Maksudku, karena sekarang kau sedang merantau dan tidak punya tempat tinggal yang tetap, alangkah baiknya kalau kau pergi ke tempat Hong Lai Mo Li menunggu aku di sana."

Kata nona Han.

"Jika kau sebut namaku pada Lui Piauw aku yang memperkenalkan kau ke sana. dia pasti akan mengajakmu menemui Hong Lai Mo Li."

Ide itu datang ke benak Han Pwee Eng dengan dua maksud, pertama Mi Yun bisa membantu Hong Lai Mo Li.

yang kedua Lui Piauw akan membuka rahasia dirinya, bahwa dia juga seorang nona.

Sekarang dia belum mau membuka rahasianya bahwa dia juga seorang nona.

Kiong Mi Yun menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau bergabung dengan Mo Li itu!"

Kata dia. Han Pwee Eng kaget.

"Kenapa?"

Tanya nona Han.

"Dia itu musuh Ayahku!"

Han Pwee Eng bertambah kaget.

"Bagaimana ayahmu bisa bermusuhan dengan dia?"

Mi Yun menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu jelas. Ayaku tidak menjelaskan sebabnya. Yang aku tahu Ayahku tinggal di Tong-hai karena terdesak olehnya, hingga sekarang Ayahku tidak bisa memijakkan kakinya lagi di Tiong-goan ini. Oleh karena itu Ayahku kabur ke seberang."

Kata Kiong Mi Yun.

"Apa lagi yang dikatakan oleh ayahmu?"

"Ayah bilang Hong Lai Mo Li itu kejam, dia telah membunuh pamannya sendiri."

Kata Mi Yun Dari cerita nona Mi Yun.

nona Han tahu semua kisah keluarga Kiong itu.

Ayah Kiong Mi Yun bernama Kiong Cauw Bun.

murid pertama Liu Goan Kak.

Sedangkan Liu Goan Kak paman Hong Lai Mo Li.

Ketika itu Liu Goan Kak bersekongkol dengan bangsa Kim (Tartar), dan sering melakukan perbuatan tidak terpuji.

Dia juga mencuri belajar dua macam ilmu racun keluarga Suang.

tapi malah binasa karena menempuh jalan sesat.

Sudah tentu Kiong Cauw Bun kehilangan pelindung, karena takut kepada para orang gagah akan membuat perhitungan dengannya.

Dia terpaksa kabur ke seberang lautan dan mati-matian berlatih di sana selama 20 tahun.

Sekarang kepandaian Kiong Cauw Bun bisa dikatakan telah sama dengan Liu Goan Kak.

Namun, duapuluh tahun yang lalu Kiong Cauw Bun belum terkenal, tidak heran jika ayah Han Pwee Eng tidak pernah bercerita tentang Kiong Cauw Bun itu.

Dan nona Han tidak tahu banyak tentang orang itu.

"Nona Kiong aku mau mengatakan sesuatu, entah pantas atau tidak?"

Kata nona Han akhirnya. Kiong Mi Yun tersenyum.

"Katakan saja."

Kata nona Kiong.

"Mengenai permusuhan ayahmu dengan Hong Lai Mo Li aku tidak tahu siapa yang bersalah atau yang benar."

Kata nona Han.

"Tapi sekarang Hong Lai Mo Li itu pendekar wanita yang disegani di dunia Kang-owv. Kau bilang ayahmu mengatakan bahwa Hong Lai Mo Li telah membunuh pamannya, tapi setahuku kejadiannya tidak begitu."

Mendengar ucapan nona Han itu Kiong Mi Yun berpikir.

"Apa Ayah yang salah?"

Pikir Mi Yun.

Ketika itu mendadak terdengar derap kaki kuda.

Tampak dua orang penunggang kuda mendatangi, orang itu menggiring seekor kuda tanpa penungangnya.

Setelah dekat ternyata kedua orang itu Chu Tay Peng dan Ang Kin.

Kuda yang mereka bawa itu pun milik nona Han yang hilang dicuri orang.

Melihat kedua orang itu wajah nona Kiong berubah jadi tidak sedap dipandang.

"Mau apa kalian ke mari? Aku tidak ada waktu untuk bicara dengan kalian!"

Kata Kiong Mi Yun. Chu Tay Peng dan Ang Kin turun dari kudanya. Mereka langsung berlutut, masing-masing mengeluarkan sebuah belati yang tajam berkilauan.

"Kami punya mata tidak bisa melihat, kedatangan kami untuk minta ampun padamu. Nona!"

Kata mereka. Sesudah itu mereka mengayunkan tangan mereka yang memegang belati akan bunuh diri. Tapi tiba-tiba Mi Yun mengibaskan tangannya.

"Tang! Tang!"

Dua kali. Kedua belati itu terpental jatuh.

"Aku tidak ingin melihat darahmu, jangan kalian lakukan di depanku!"

Kata Mi Yun. Rupanya dalam perkumpulan mereka ada peraturan, jika ada yang bersalah dia diharuskan menusuk dirinya sebanyak enam kali.

"Terima kasih atas kebaikan Nona."

Kata Ang Kin.

"Tapi dosa kami bukan hanya kepada Nona, tapi kepada kawan Nona juga. Jadi kami tidak bisa memaafkan diri kami."

Dia tampar pipinya sendiri dua kali, lalu berlutut di depan nona Han.

"Aku sangat ceroboh. Semalam aku suruh orangku untuk menyampaikan salam, tapi orang itu malah mencuri uang dan kudamu. Aku kemari untuk mengembalikan uang dan kudamu!"

Kata Ang Kin. Kiong Mi Yun tertawa.

"Hm! Kau berpura-pura mengaku ceroboh. Sebenarnya kau mengutus orang bukan untuk mengucapkan salam, yapi kau menyuruh orang itu untuk memeriksa kamar Han Toako!"

Kata Mi Yun. Han Pwee Eng tersenyum.

"Aku memang ingin pulang dengan naik kuda. malah Ang Pang-cu mau mengganti rugi kudaku. Itu tidak perlu!"

Kata nona Han.

"Aku tidak berani menerimanya."

Kembali nona Kiong tertawa.

"Kau jangan sungkan terhadap dia. Tadinya aku akan mencuri seekor kuda untukmu. Sekarang tidak lagi. bahkan aku bisa menghemat tenagaku."

Kata nona Kiong. Kiong Mi Yun mewakili nona Han menerima uang dari kedua orang itu.

"Waw uang perak diganti dengan uang emas. sungguh beruntung sekali!"

Kata nona Kiong yang segera 292 memasukkan uang emas itu ke dalam buntalan nona Han. Kemudian dia menghadapi Ang Kin dan Chu Tay Peng.

"Sudah kalian jangan berlutut terus, Han Toa-ko tidak akan memperpanjang masalah ini."

Kata nona Kiong.

"Nona Kiong, kami dari lima perkumpulan di tepi sungai Huang-hoo masih perlu bantuanmu. Nona!"

Kata Chu Tay Peng dengan tetap hormat.

"Aah. Kali ini aku yang pikun,"

Kata nona Kiong Mi Yun.

"Kalian datang bukan mau minta ampun padaku, tapi ada masalah lain. Sudah cepat kalian bangun!"

Mereka bangun dan Chu Tay Peng mulai bicara.

"Kami sedang mengalami musibah besar. Nona. Hanya Nona yang bisa mencegah musibah itu!"

Kata Chu Tay Peng.

"Kalian sudah punya pelindung baru. mengapa kalian malah minta bantuan kepadaku? Kepandaianku tidak begitu tinggi,"

Kata Kiong Mi Yun.

"Terus terang saja Pouw Yang Hian itu musibah bagi kami. Dia telah mencelakakan kami."

Kata Ang Kin.

"Kami sangat hormat kepada ayah Nona, bantulah kami."

Kata Chu Tay Peng.

"Apa kau katakan? Pouw Yang Hian mencelakakan kalian? Bagaimana terjadinya? Aku tidak akan sanggup melawan dia. bagaimana aku bisa membantu kalian?"

Kata Kiong Mi Yun.

"Pouw Yang Hian menekan dan memaksa kami agar kami mendukung gurunya menjadi Liok-lim Beng-cu (Ketua Rimba Hijau) di wilayah kami."

Kata Chu Tay Peng. Nona Kiong mengerutkan dahinya.

"Aku sudah tahu soal itu. tapi bukankah kalian sudah menyetujuinya?"

Kata Kiong Mi Yun.

"Kami menyetujuinya karena terpaksa. Nona! Sekarang dia semakin keterlaluan."

Sahut Ang Kin.

"Dia bukan mengobati orang-orang kami. malah memaksa kami menjadi budaknya!"

"Bukankah kemarin di rumah makan dia telah mengobatimu?"

Kata nona Kiong. Ang Kin tersenyum getir dan menghela napas panjang.

"Kau tidak salah, dia mengobatiku. tapi sama saja dengan menghukum aku!"

Kata Ang Kin "Dia mengobatimu, tapi tidak sampai sembuh sama sekali dan masih ada akibatnya yang lain?"

Kata Mi Yun. Ang Kin manggut.

"Benar! Racun Hua-hiat-to masih mengeram di tubuhku dan bisa bereaksi sembarang waktu. Ini disengaja olehnya agar aku tetap bergantung kepadanya. Dia tidak akan mengobati kami sampai sembuh agar kami tetap mengabdi kepadanya."

Kata Ang Kin.

"Pouw Yang Hian licik dan kejam."

Sambung Chu Tay Peng.

"Dia menggunakan cara itu untuk menekan lima perkumpulan kami agar tunduk kepadanya. Kelak jika gurunya sudah jadi Beng-cu kami akan dijadikan budak!"

"Pantas kalian kelihatan tidak senang, dulu kalian bisa merajalela, sekarang kalian akan dijadikan budak mereka."

Kata nona Kiong.

"Benar, daripada jadi budaknya, kami lebih senang jadi budak ayahmu. Nona Kiong. Pouw Yang Hian hanya mengandalkan kepandaian gurunya, pasti ayahmu tidak akan mau tunduk kepada mereka!"

"Hm! Jadi kalian ingin agar aku bilang pada Ayahku agar dia meninggalkan pulau membantu kalian? Tapi, bukankah air yang jauh tidak akan bisa memadamkan api yang dekat?"

Kata nona Kiong.

"Tiga bulan lagi See-bun Souw Ya baru akan datang ke mari,"

Kata Chu Tay Peng.

"Tapi aku masih senang bermain-main belum mau pulang."

Kata Kiong Mi Yun.

"Maaf kami pun tidak berani mengganggu Nona yang sedang pesiar, tapi ada cara lain yang lebih mudah dan paling gampang. Kami hanya akan mengganggu Nona selama beberapa hari saja."

Kata Chu Tay Peng.

"Bagaimana caranya?"

Tanya nona Kiong.

"Kami mohon Nona mengusir Pouw Yang Hian dan suruh dia mengobati orang kami.' sahut Chu Tay Peng.

"Saat Nona pulang baru kami minta keputusan dari Ayah Nona. Sebelum Ayahmu datang, terpaksa kami akan menghindari bentrokan dengan See-bun Souw Ya."

"Tadi sudah kubilang, aku tidak akan mampu mengalahkan Pouw Yang Hian? Aku juga tidak bisa membantu mengobati anak buahmu."

Kata nona Kiong. Chu Tay Peng memberi hormat.

"Yang mengalahkan orang she Pouw kemarin, pemuda desa itu. Dia putera Kong-sun Khie. ilmu silatnya lebih tinggi dari orang she Pouw itu. Jika dia mau dia bisa mengusir Pouw Yang Hian dan menolongi anak buah kami. Tapi sayang kami tidak punya hubungan dengannya, jadi kami tidak berani minta bantuannya...."

Kata Chu Tay Peng.

"Oh aku mengerti sekarang. Jadi kau ingin minta aku mencari dia?"

Kata nona Kiong. Tapi dia juga langsung berpikir.

"Jadi kalian mengira aku ini sahabat dia. sekalipun ayahnya dan ayahku sahabat baik. aku pun baru bertemu dengan dia kemarin?"

Pikir nona Kiong.

"Kau benar, kami mohon bantuan Nona untuk mencari dia."

Kata Chu Tay Peng. Nona Kiong mengerutkan dahinya.

"Dia sudah pergi sejak kemarin, ke mana aku harus mencarinya?"

Kata nona Kiong.

"Kami sudah mendapat keterangan yang jelas sekali, dia belum pergi jauh. Dari sini lewat gunung itu. pasti Nona akan bertemu dengannya."

Kata Chu Tay Peng.

"Maaf. aku harus menemani Han Toa-ko ke Lok-yang. aku tidak ada waktu membantu kalian."

Kata nona Kiong.

"Jika kau akan membantu mereka, jangan pikirkan tentang diriku, aku bisa melakukan perjalanan sendiri."

Kata Han Pwee Eng ikut bicara.

"Tadi kau bilang kau takut dikejar oleh musuh?"

Kata nona Kiong. Buru-buru Chu Tay Peng memotong.

"Han Siang-kong (Tuan Han). kau bisa melanjutkan perjalanan dengan lega. Tidak ada orang yang akan mengganggumu lagi. Tempo hari hanya karena salah paham saja. selanjutnya orang kami akan melindungimu."

Kata Chu Tay Peng memastikan pada nona Han. Nona Han mengawasi Kiong Mi Yun sambil tersenyum.

"Nona Kiong. menolong orang lebih penting, terima kasih atas perhatianmu kepadaku, kelak kita akan berjumpa lagi."

Kata Han Pwee Eng. Sesudah itu dia pegang tangan Kiong Mi Yun dengan rasa terima kasih sekali. Sikap nona Han ini membuat Kiong Mi Yun girang sekali, dia berpikir.

"Sebenarnya Ayah ingin mencari tahu jejak anak Kongsun Khie. sedang identitasku sudah diketahui, aku jadi tidak leluasa menemani Han Toa-ko terus. Han Toa-ko pun sudah tahu aku mencintainya, lebih baik aku mencari Kong-sun Po saja!"

Pikir Kiong Mi Yun. Kemudian ia menoleh ke arah Ang Km dan Chu Tay Peng.

"Baiklah, aku akan membantu kalian."

Kata Mi Yun. Bukan main girangnya Chu Tay Peng dan Ang Kin "Terima kasih Nona Kiong."

Kata mereka. Kiong Mi Yun tersenyum dia berkata pada Han Pwee Eng.

"Han Toa-ko. selang beberapa hari lagi aku akan ke Lok-yang mencarimu."

Kata Kiong Mi Yun. Nona Han mengangguk.

"Baik. kalau begiru aku mohon pamit."

Kata nona Han. Han Pwee Eng melompat ke atas kudanya, dia melambaikan tangan ke arah nona Kiong.

"Sampai ketemu di Lok-yang!"

Kata nona Han. Nona Kiong pun melambaikan tangannya. Nona Han lalu melarikan kudanya sambil tersenyum.

"Ah tidak kukira aku bisa membuat seorang nona jatuh cinta kepadaku."

Pikir nona Han. Chu Tay Peng dan Ang Kin mendekati nona Kiong.

"Apa perlu kami mengantar Nona?"

Tanya Chu Tay Peng.

"Tidak perlu!"

Jawab nona Kiong.

"Kalau begitu silakan Nona memakai kudaku ini."

Kata Chu Tay Peng sambil menyodorkan tali kendali kudanya.

"Kok kalian ini cerewet amat sih? Aku tidak mau naik kuda!"

Kata Kiong Mi Yun.

Rupanya Kiong Mi Yun mau mencari Kong-sun Po karena ada urusan pribadi, tidak heran jika dia tidak ingin orang lain mengetahuinya.

Ditambah lagi dia kurang pandai menunggang kuda.

Chu Tay Peng dan Ang Kin jadi saling pandang karena heran.

Mereka juga tidak mengerti kenapa nona Kiong memarahi mereka.

-0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0 Bab 11 Ang Kin maupun Chu Tay Peng tak tahu kenapa Kiong Mi Yun bersikap begitu?

Mereka tak tahu kalau nona Kiong sedang memikirkan sebuah masalah.

Mereka hanya tahu bahwa mereka berdua terkesan cerewet.

Karena itu nona Kiong memarahi mereka berdua.

Kedua orang itu bengong saat Kiong Mi Yun langsung berlari meninggalkannya.

"Kebetulan sekali jika aku bisa menemukan dia. Padahal Ayahku tidak berhasil walau sudah tiga kali ke Tiong-goan mencarinya. Kebetulan ibunya masih hidup, apakah ibunya bilang tentang pertunangannya denagn aku. aku tak tahu?"

Pikir Kiong Mi Yun di sepanjang jalan.

Kiong Cauw Bun murid Liu Goan Kak.

Kong-sun Khie dan Liu Goan Kak bekerja sama melakukan kejahatan dengan Kiong Cauw Bun.

Saal itu isteri Kiong Cauw Bun dan isteri Kong-sun Khie sedang hamil, mereka sepakat jika isteri-isteri mereka melahirkan, kebetulan anak mereka lelaki dan perempuan, anak itu akan mereka nikahkan.

Saat isteri Kong-sun Khie melahirkan anak lelaki dan diberi nama Kong-sun Po.

dan saat anak itu belum berumur 298 satu tahun, sarang keluarga Suang di Suang-kee-po diserbu oleh orang-orang gagah dari Dunia Persilatan.

Kong-sun Khie maupun Liu Goan Kak sempat kabur ke wilayah Mongol.

Sedangkan isteri Kong-sun Khie berhasil ditolong oleh Hong Lai Mo Li hingga selamat.

Kemudian isteri Kong-sun Khie dan anaknya dibawa ke kelenteng Kuang-beng-sie.

karena di kelenteng itu ada Beng Beng Tay-su.

Liu Goan Cong dan Kong-sun Kip.

Mereka itu memiliki kepandaian silat tinggi.

Liu Goan Cong ayah Hong Lai Mo Li.

sedangkan Kong-sun Kip guru Hong Lai Mo Li.

Ibu dan anak itu oleh Hong Lai Mo Li dititipkan di kelenteng itu.

Isteri Kong-sun Khie itu bernama Suang Ceng Ang.

Saat orang gagah menyerang ke Suang Kee-po (Puru Keluarga Suang).

Kong-sun Khie sudah kabur dan tidak ada di sana.

Tetapi ketika ada di Mongol Kong-sun Khie binasa karena ilmu sesatnya.

Kiong Cauw Bun sudah tahu bahwa Kong-sun Khie sudah meninggal, tetapi dia tidak tahu jelas, kapan dan di mana meninggalnya?

Selama 20 tahun di pulau Hek-hong-to-Kiong Cauw Bun terhalang oleh dua masalah yang dihadapinya.

Masalah pertama dia tidak tahu ke mana jejak isteri dan anak Kong-sun Khie.

sedang yang kedua tentang kitab ilmu racun keluarga Suang.

dia tak tahu entah jatuh ke tangan siapa?

Menurut pendapat Kiong Cauw Bun.

Kong-sun Khie pasti tidak akan sempat menyerahkan kitab itu kepada puteranya yang masih kecil.

Jika Kiong Cauw Bun bisa menemukan anak Kong-sun Khie.

maka dia akan mengetahui di mana kitab itu?

Jika tidak ada pada mereka pasti anaknya yang akan mencarinya.

Itulah yang ada di benak Kiong Cauw Bun.

Saat puterinya Kiong Mi Yun berumur 18 tahun, dia memberi tahu puterinya bahwa dia telah ditunangankan dengan putera Kong-sun Khie.

Malah apa yang ada di 299 benak ayah Kiong Mi Yun pun disampaikan kepada puterinya itu.

Kiong Cauw Bun berpesan pada Kiong Mi Yun.

jika anak Kong-sun Khie sudah menguasai ilmu keluarga Suang.

dia harus menikah dengan putera Kongsun Khie itu.

Tetapi jika putera Kong-sun Khie tidak mahir ilmu racun itu.

dan jika kitab itu pun tidak ada Kiong Mi Yun boleh menikah dengan lelaki mana pun Begitu pesan ayahnya ketika itu.

Ingat pesan ayahnya Kiong Mi Yun kelihatan kesal berduka.

"Aku lihat Kong-sun Po menguasai kedua ilmu racun itu. Bahkan kepandaiannya jauh di atas kepandaianku maupun kepandaian Han Toa-ko. Dia juga jujur dan tampan. Tapi sekalipun sekalipun kalah pandai. Han Toa-ko lebih tampan dari dia dan terpelajar!"

Pikir Kiong Mi Yun. Kiong Mi Yun terus berjalan sambil berpikir.

"Aku pun ragu tahukah dia tahu tentang pertunangannya denganku? Saat ayahnya meninggal dia baru berumur satu tahun. Apakah ibunya sudah memberitahu soal itu? Jika sudah tahu aku malah akan jadi kikuk menemuinya."

Pikir Mi Yun. Kiong Mi Yun terus berlari.

"Masa bodohlah tahu atau tidak, pokoknya aku berpurapura tidak tahu saja!"

Begitu dia mengambil keputusan.

"Aku ingin tahu dia mau bilang apa? Jika dia yang menyinggung masalah itu lebih dulu. jika kubatalkan perjodohan itu belum terlambat. Kelihatannya dia jujur dan lugu. dia pasti tidak akan memaksaku?"

Di tempat lain Kong-sun Po pun hatinya sedang risau.

Tetapi bukan merisaukan soal pernikahan, tapi sedang merisaukan Suang Ceng Ang.

ibunya.

Suang Ceng Ang 300 menikah dengan Kong-sun Khie karena terpaksa.

Sekalipun suaminya itu sudah meninggal, kebencian Suang Ceng Ang kepada suaminya belum juga hilang.

Malah dia juga membenci kawan-kawan suaminya.

Tidak heran jika pertunangan anaknya dengan puteri Kiong Cauw Bun tidak pernah dia ceritakan pada Kong-sun Po.

Pikiran lain yang mengganggu Kong-sun Po adalah ketika dia tahu ada orang lain yang mahir ilmu Hua-hiat-to.

Sejak dia mengerti dan belajar silat dia telah mempelajari ilmu Hua-hiatto.

Malah dia pernah kena racun hingga dia tidak ingin mempelajari ilmu itu lagi.

Tetapi kemudian terpaksa dia pelajari juga.

Akhirnya dia jadi mahir ilmu itu.

Ketika itu dia sedang berjalan sambil berpikir.

Kejadian 20 tahun lalu yang diceritakan ibunya membayang kembali di benaknya.

Dia ingat saat masih kecil tubuhnya sangat lemah dan sakit-sakitan.

Dalam dua tiga hari pasti dia harus minum obat.

Sejak kecil dia harus merasakan pahitnya obat yang diminumnya setiap beberapa liari.

Dia masih ingat saat ibunya menangis sambil memberinya makan.

Dia juga ingat dia sering terjaga di tengah malam karena sakit.

Saat itu Liu Kong-kong (Kakek Liu) atau Kong-sun Kip menggendongnya.

Tangannya digenggam erat-erat.

baru dia merasa nyaman dan tidak sakit lagi.

Sesudah berumur delapan tahun dia mulai berkurang makan obatnya.

Sedangkan badannya pun mulai sehat dan kuat, Pada umur 10 tahun dia sama sekali tidak minum obat lagi.

Ketika ini datang Ciu Siok-sioknya (Paman Ciu).

Dia adalah Kang-lam Tay-hiap (Pendekar Besar dari Kang-lam) 301 bernama Ciu Cioh dan akhirnya sang paman ini menjadi guru silatnya.

Sesudah Ciu Cioh menjadi gurunya dia harus meninggalkan ibu dan kelenteng Kuang-beng-si.

karena diharuskan ikut gurunya untuk belajar silat.

Dia sangat disayang oleh gurunya.

Dia dianggap seperti anak kandungnya.

Ciu Cioh punya anak perempuan berumur lebih muda tiga tahun dari Kong-sun Po.

Kong-sun Po sangat berterima kasih kepada gurunya ini.

Tapi ada yang membuat dia penasaran.

Ternyata selama di Kuang-beng-si dia tidak mengetahui kalau Beng Beng Taysu dan kakeknya Kong-sun Kip menguasai ilmu silat tinggi.

Hal itu diketahui oleh Kong-sun Po dari teman-teman gurunya saat berbincang-bincang.

Saat mereka membicarakan kakek dan Beng Beng Tay-su, pasti mereka memuji kepandaian mereka yang mengherankan Kong-sun Po.

Padahal ibunya tidak pernah menganjurkan agar dia belajar kepada Beng Beng Taysu atau kakeknya.

Malah ibunya menyuruh dia belajar kepada Ciu Cioh.

Soal lain yang mengherankan dia adalah selama ini ibu maupun gurunya tidak pernah bercerita tentang ayahnya yang sudah meninggal itu.

Tetapi dia cuma tahu ayahnya itu meninggal saat dia hampir berumur satu tahun, selain itu dia tidak pernah mendengarnya.

Teka-teki itii baru terungkap saat dia udah berumur 18 tahun setelah belajar silat selama 8 tahun kepada Ciu Cioh.

dan kembali ke Kuang-beng-si.

Hari berikutnya Kong-sun Po diajak oleh ibunya naik ke atas gunung.

Sampai di tempat tujuan sang ibu menunjuk ke sebuah kuburan sambil berkata dengan dingin.

"Ini makam Ayahmu, kau cukup mengangguk saja!"

Kata ibunya dengan suara dingin. Hal itu membuat dia tercengang bukan main.

"Bu. mengapa selama ini Ibu tidak pernah mengajakku ke mari?"

Kata Kong-sun Po.

"Kenapa aku hanya boleh menganggukkan kepala saja di depan kuburan Ayahku?"

"Akan Ibu beritahu kau. tapi kau jangan sedih."

Kata ibunya.

"Ayahmu itu seorang Iblis Besar yang selalu melakukan berbagai kejahatan! Sejak kecil tubuhmu itu sangat lemah dan sakit-sakitan. Itu adalah akibat perbuatan Ayahmu! Jika dia tidak menyesal sebelum mati. hari ini Ibu tidak akan menyuruhmu menganggukkan kepala di depan makamnya!"

Apa yang dikatakan oleh ibunya nyaris Kong-sun Po tidak percaya.

Sebab dia tahu pepatah mengatakan .

Harimau tidak pernah memangsa anaknya sendiri.

Mana mungkin Ayahnya akan mencelakakan dia?

Itu yang ada dalam benak Kong-sun Po waktu itu.

Sesudah ibunya menjelaskan hal itu.

baru Kong-sun Po tahu semuanya.

Isteri Kong-sun Khie yang pertama ternyata kakak kandung ibunya atau bibi Kong-sun Po sendiri.

Untuk menguasai kitab ilmu racun keluarga Suang.

Kong-sun Khie tega membunuh Suang Pek Ang.

isteri atau kakak ibunya.

Lalu dia paksa Suang Ceng Ang.

adik almarhum isterinya supaya menikah dengannya.

Kong-sun Khie pun nyeleweng dengan seorang wanita bergelar Giok-bin-yauw-hu (Rase Siluman Bermuka Pualam).

Karena ingin membalas dendam kematian kakaknya.

Suang Ceng Ang sengaja menyesatkan pelajaran ilmu silat keluarga Suang yang diipelajari oleh Kong-sun Khie.

yaitu saat suaminya itu berlatih ilmu racun.

Kebetulan saat itu orang gagah datang menyerang ke Puri Keluarga Suang.

Saat Kong-sun Khie mengetahui perbuatan isterinya itu.

timbul ide jahatnya, dia akan menyengsarakan isterinya 303 seumur hidupnya-Dengan sengaja dia telah melukai anaknya Kong-sun Po dengan ilmu Hua-hiat-to.

Untung luka Kong-sun Po bisa diobati dengan Iwee-kang keluarga Suang yang tinggi.

Setelah 18 tahun baru anak itu sembuh sama sekali dari luka karena racun itu.

Tetapi j ika sang ibu mengobati anaknya itu dia akan binasa karena keracunan.

Untung Liu Goan Cong seorang tabib sakti.

Ditambah lagi Beng Beng Tay-su dan Kong-sun Kip memiliki Iweekang yang tinggi, sehingga ibunya tidak perlu menggunakan Iwee-kang keluarga Suang untuk mengobatinya.

Dalam sepuluh tahun ketiga orang ini berhasil mengobati Kong-sun Po dari keracunan.

Tidak heran Kong-sun Po yang diobati dengan Iwee-kang tinggi, ia jadi memiliki dasar Iwee-kang yang tinggi pula.

Sekalipun sudah sembuh ibunya masih cemas maka dia menyuluh anaknya berguru pada Ciu Cioh.

Lwee-kang Ciu Cioh dari golongan pendekar lurus.

Sesudah rahasia itu terbuka Kong-sun Po menangis, sedang ibunya membiarkan saja anaknya itu menangis.

"Anak Po. sekarang sudah kau ketahui mengapa Ibu memberimu nama Po, yang aninya Melenyapkan Kejahatan. Ibu menginginkan kau jadi pendekar kebenaran yang mampu membasmi kejahatan untuk menebus dosa-dosa Ayahmu! Apa kau sanggup melakukannya?"

Kata ibunya. Kong-sun Po berlutut di depan makam ayahnya, ia berkata seakan bersumpah.

"Aku yakin sanggup melakukannya!"

Kata Kong-sun Po. Setelah mendengar janji anaknya tampak wajah Suang Ceng Ang berseri-seri.

"Baik. mulai besok Ibu akan mengajarimu dua macam ilmu racun Keluarga Suang!"

Kata ibunya. Mendengar ucapan ibunya Kong-sun Po terkejut bukan kepalang.

"Begitu lahir aku sudah dilukai oleh racun itu. aku tak mau mempelajarinya!"

Kata Kong-sun Po. Ibunya menghela napas panjang.

"Aaah! Sebenarnya Ibu juga benci ilmu racun itu. Tadinya Ibu pun tidak ingin mengajarimu, tetapi sekarang kau harus mempelaja-rinya!"

Kata sang ibu.

"Kenapa?"

Tanya Kong-sun Po.

"Setelah Ayahmu meninggal, kitab ilmu beracun itu hilang entah ke mana?"

Kata sang ibu.

ibu kira kitab itu sudah lenyap!

Tak tahunya baru-baru ini ada orang yang mahir menggunakan ilmu itu.

Orang itu bernama See-bun Souw Ya.

Iblis Besar di Kwan-gwa (Di luar Perbatasan).

Jika kau tidak belajar ilmu racun itu.

maka siapa yang bisa mengatasi ilmu itu?"

Kong-sun Po mengerutkan dahinya.

"Mengapa harus aku. apa orang lain tak boleh mempelajarinya?"

Tanya Kong-sun Po. Suang Ceng Ang membelai rambut anaknya.

"Karena kau pernah terkena racun itu. maka aku yakin kau tidak akan terluka oleh racun orang lain!"

Kata ibunya.

"Jika kau bisa membasmi See-bun Souw Ya. itu berarti kau telah menebus dosa Ayahmu!"

Kong-sun Po mengangguk.

"Ibu benar! Aku sangat benci pada kedua ilmu racun itu. Jika tidak mau mempelajarinya aku terlalu egois!"

Kata Kong-sun Po.

Maka itu dia mempelajari ilmu racun itu dari ibuma hingga mahir sekali.

Pada saat Kong-sun Po sudah menguasai kedua ilmu racun itu dengan mahir, dia akan pergi ke Kwan-gwa untuk mencari See-bun Souw Ya.

tetapi tentara Mongol sudah menyerbu ke Tiong-goan.

Ibunya menyuruh dia pergi ke bukit Kim-kee-leng untuk membantu Hong Lai Mo Li.

Di luar dugaan di tengah perjalanan justru dia bertemu dengan Pouw Yang Hian yang menguasai ilmu racun keluarga Suang itu.

Saat Kong-sun Po sedang berjalan sambil melamun, dia mendengar suara lari kuda yang disusul dengan suara bentakan.

Saat Kong-sun Po menoleh, dia lihat seorang penunggang kuda sedang mengejar seseorang yang sedang berlari-lari kencang.

Si penunggang kuda itu Pouw Yang Hian.

sedangkan yang dikejar-kejar pemuda yang pernah membayari Kongsun Po makan di rumah makan "Ngi Nih Lauw"

Tempo hari.

Sekarang nona Kiong telah menyamar dan berpakaian laki-laki.

Sesuai petunjuk Chu Tay Peng.

dia berjalan melewati gunung.

Tibatiba dia mendengar ringkikan seekor kuda di belakangnya.

Dia juga mendengar suara tawa sinis dari seseorang yang pernah dikenalinya.

"Bocah keparat! Ada jalan menuju ke surga tidak kau lalui Tetapi jalan ke neraka yang tidak ada pintunya, malah kau pakai! Hari ini kita bertemu lagi di sini. apa kau masih bisa meloloskan diri dariku?"

Kata Pouw Yang Hian dengan bengis sekali sambil tersenyum sinis.

Setelah dia berhasil menaklukkan ketua lima perkumpulan besar di daerah itu.

Dia yakin mereka tidak akan berani berontak lagi.

Kemudian dengan tenang dia akan kembali ke Liauw-tong untuk menyampaikan khabar gembira itu kepada gurunya.

Tapi di tengah jalan dia melihat Kiong Mi Yun sedang berjalan sendirian.

"Kiong To-cu saingan berat guruku."

Pikir Pouw Yang Hian.

"Kemarin orang bilang bocah ini orang Hek-hong-to. pasti anak Kiong To-cu! Sekarang dia sendirian, aku harus menangkap dia untuk diserahkan kepada Suhu!"

Pikir Pouw Yang Hian. Bukan main kagetnya Kiong Mi Yun ketika mendengar bentakan itu. Tak lama disusul sabetan cambuk yang menyerang hebat ke arahnya.

"Tar!"

"Tang!"

Kiong Mi Yun sudah menghunus pedang menangkis cambukan Pouw Yang Hian.

Tetapi dia merasakan telapak tangannya sakit bukan main.

Pedang Kiong Mi Yun tidak mampu memutuskan cambuk yang berubah menjadi keras di tangan Pouw Yang Hian itu.

Malah pedang Kiong Mi Yun pun nyaris terlepas dari tangannya.

Saat Pouw Yang Hian mengulangi serangannya, nona Kiong berkelit.

Pada saat yang bersamaan kuda Pouw Yang Hian sudah menerjang ke arah si nona Kiong.

Terpaksa Kiong Mi Yun menjatuhkan diri.

lalu bergulingan di tanah.

Keadaannya saat itu sangat mengenaskan sekali.

Terjangan kuda itu sangat ganas, tapi Kiong Mi Yun berhasil menghindar tabrakan kuda itu.

Tak lama kuda itu berbal ik akan menyerang nona Kiong.

Mendapat serangan itu dia bingung.

Sekalipun dia bisa lari cepat pasti akan tersusul juga oleh orang she Pouw itu.

Tiba-tiba nona Kiong menggunakan jurus "Coan Hoa Puli Tiap" (Melompati Bunga Menangkap Kupu-kupu).

Badannya mencelat ke samping, lalu dia langsung kabur ke dalam hutan.

Sedang di hutan kuda Pouw Yang Hian tidak bisa leluasa berlari cepat karena banyak pohon yang menghalanginya.

"Ayo. kau mau kabur ke mana? Kau pasti akan kubunuh!"

Kata Pouw Yang Hian gemas bukan main.

Dia melompat dari kudanya dan mengejar.

Setelah dekat dia ulurkan tangannya akan mencengkram kepala nona Kiong.

Saat itu Pouw Yang Hian sedang menggunakan jurus "Oh Eng Puh Touw (Elang Lapar Menerkam Kelinci).

Jelas nona Kiong sudah tak berdaya dan tinggal menunggu nasib.

Tetapi tibatiba di saat yang bersamaan terdengar suara.

"Seer! Tak!"

Saat itu tubuh Pouw Yang Hian terapung ke atas.tidak bisa berkelit dari serangan itu.

Ternyata berhasil telapak tangannya terserang oleh sebuah batu kecil.

Pouw Yang Hian pernah belajar jurus "Tiat-sah-ciang" (Pukulan Pasir Besi), hingga senjata biasa seperti pedang dan golok tidak bisa melukai telapak tangannya.

Tetapi saat itu telapak tangan Pouw Yang Hian malah tertembus oleh batu kecil hingga berlubang, darah segar segera memancar dan aliran darahnya seolah bergolak.

Pouw Yang Hian terkejut bukan main.

dia berpikir.

"Pantas bocah itu kabur ke hutan, ternyata di hutan ada orang gagah yang berkepandaian tinggi sedang menungguku!"

Pikir Pouw Yang Hian.

Pouw Yang Hian langsung melompat ke atas kudanya.

Sementara itu Kiong Mi Yun jadi keheranan, dia tidak tahu 308 apa yang telah terjadi.

Bagaimana dia bisa selamat dari serangan maut Pouw Yang Hian.

semua itu membuat dia heran bukan main.

Saat menoleh dia lihat ada pemuda berpakaian kasar berjalan ke arahnya.

Sesudah tahu siapa pemuda itu Kiong Mi Yun girang bukan main.

"Ah sungguh kebetulan, ternyata kau yang datang!"

Kata Kiong Mi Yun dengan wajah berseri-seri.

Tapi tiba-tiba Kiong Mi Yun merasakan ada serangan hawa dingin ke tubuhnya, buru-buru dia berkonsentrasi menghimpun hawa murninya.

Saat Kong-sun Po sampai dia tuding Pouw Yang Hian.

"Lekas kau pulang untuk berlatih lagi! Jika mau menuntut balas suruh gurumu ke bukit Kim-kee-leng mencariku!"

Kata Kong-sun Po.

Serangan Kong-sun Po tepat mengenai jalan darah Laukiong-hiat sehingga ilmu Pouw Yang Hian langsung punah seketika itu juga.

Padahal ilmu itu sudah dilatihnya sepuluh tahun lamanya.

Melihat Kong-sun Po muncul roh Pouw Yang Hian seolah terbang saking takutnya.

Tetapi karena masih ingin hidup, dia langsung melarikan kudanya dengan terbirit-birit.

Setelah Pouw Yang Hian pergi.

Kong-sun Po membalikkan tubuhnya ke arah nona Kiong.

"Ya. memang kebetulan sekali! Mengapa kau sendirian di tempat ini?"

Kata Kong-sun Po "Aku sedang mencarimu."

Kata Kiong Mi Yun terus terang. Saat Kiong Mi Yun akan memberi keterangan tentang alasan dia mencarinya, tiba-tiba air muka Kong-sun Po berubah, dia goyang-goyangkan tangannya.

"Jangan bicara dulu ikut aku!"

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun kaget dia tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh Kong-sun Po.

"Aku memang ingin bicara denganmu, tapi di sini kurang leluasa, lebih baik aku ikut denganmu"

Kata Kiong Mi Yun.

Dia ikuti pemuda itu ke dalam hutan.

Tak lama Kiong-sun Po berhenti lalu dia memperhatikan nona Kiong dengan penuh perhatian sekali.

Sikap pemuda itu membuat Kiong Mi Yun jadi tidak enak hati.

dan dia tertawa.

"Lho! Apa kau sudah tidak mengenaliku lagi?"

Kata Kiong Mi Yun keheranan karena melihat orang memperhatikannya dengan serius sekali.

"Jangan bicara!"

Kata Kong-sun Po.

Tiba-tiba Kong-sun Po menyambar tangan nona itu.

Kiong Mi Yun kaget dia coba memberontak, tapi tidak bisa bergerak.

Ketika dia perhatikan wajah Kong-sun Po.

tampak pemuda itu tidak berniat jahat, hingga Kiong Mi Yun diam saja.

Kiranya pemuda itu sedang memeriksa nadi di pergelangan tangan nona Kiong.

"Saudara Kiong. kau terkena racun!"

Kata Kong-sun Po serius. Nona Kiong kaget bukan kepalang.

"Bagaimana aku bisa terluka?"

Tanya si nona. Saat dikejar Pouw Yang Hian dari atas kuda. Mi Yun berjalan kaki jadi bagaimana dia bisa terluka? Hal itu mengherankan si nona.

"Saat dia mau mencengkrammu tadi. dia mengerahkan ilmu racunnya, sekalipun kau tidak tersentuh olehnya, 310 hawa racunnya mengenai jalan darahmu. Untung tidak parah, dia baru belajar sampai tingkat yang ke lima!"

Kata Kong-sun Po lega hatinya. Berlatih ilmu itu paling tidak harus sampai mencapai tingkat ke sembilan baru sempurna. Jika sudah sempurna dengan mudah dia bisa mencelakai lawannya.

"Sekalipun kau terkena pukulan Hua-hiat-to yang tidak serius, tapi harus segera diobati."

Kata Kong-sun Po.

"Aku harap kau buka bajumu!"

Wajah Kiong Mi Yun berubah merah.

"Untuk apa?"

"Akan kuurut jalan darahmu."

Kata Kong-sun Po serius.

"Jika lukaku tidak demikian parah, tak perlu merepotkanmu. apalagi aku tidak tahan geli."

Kata Kiong Mi Yun.

"Ah rupanya saudara Kiong ini takut geli. Lucu kaya anak kecil saja dan mirip seorang gadis?"

Pikir Kong-sun Po. Dia tidak tahu kalau Kiong Mi Yun ini memang seorang nona.

"Baiklah, kalau kau tak tahan geli. kau tidak perlu membuka bajumu. Kebetulan aku membawa obat pemunah racun, tapi butuh waktu tiga hari baru kau pulih kembali. Jika dadamu terasa dingin kau jangan kaget!"

Kata Kongsun Po. Setelah minum obat itu tubuh Kiong Mi Yun terasa hangat, dan nyaman sekali.

"Terima kasih saudara Kong-sun!"

Kata Kiong Mi Yun. Pemuda itu tersenyum.

"Jangan berterima kasih, kemarin kau membayari aku makan."

Kata Kong-sun Po sambil tersenyum. Melihat Kong-sun Po bersungguh-sungguh Kiong Mi Yun pun tertawa.

"Aku membayarimu makan tapi kau memberiku obat pemunah racun, ini berarti kau yang rugi."

Kata si nona.

"Hm! Kalau begitu kau harus membayariku makan sekali lagi."

Kata Kong-sun Po. Melihat pemuda itu sopan dan tutur bahasanya lucu. kesan baik nona Kiong terhadap pemuda itu bertambah. Sekalipun hatinya tidak jatuh cinta kepada pemuda itu.

"Tadi kau bilang kau sengaja mencariku, ada apa?"

Tanya Kong-sun Po.

"Justru karena si jahat tadi. aku diminta tolong untuk minta bantuan oleh orang lain. tapi tadi kau sudah menyelesaikannya separuh."

Kata nona Kiong.

"Kau maksud orang lain itu Chu Tay Peng. Ang Kin dan kawan-kawannya?"

Kata Kong-sun Po.

"Kau benar!"

Kata si nona.

"Mereka yang minta tolong kepadaku agar kau membantu mereka dalam dua masalah. Pertama mengusir Pouw Yang Hian. dan kedua kau diminta mengobati orang-orangnya yang terluka terkena racun jahat. Apakah kau bersedia atau tidak?"

Kata si nona. Kong-sun Po berpikir sejenak dia menggelengkan kepalanya.

"Memang mereka itu orang jahat."

Kata Kiong Mi Yun.

"Tapi dibanding dengan Pouw Yang Hian. mereka itu lebih baik dari dia. Aku tidak sedang mewakili mereka memohon kepadamu. Tetapi ingat, jika kau tidak mengobati mereka, maka dengan sendirinya mereka akan dikendalikan oleh 312 orang she Pouw. itu! Aku rasa sekarang kepergiannya itu akan menjemput gurunya. Jika gurunya sudah datang maka lima perguruan mereka akan dikuasai oleh Pouw Yang Hian dan gurunya. Jika mereka sudah menakklukan lima perkumpulan besar itu. pasti kaum Liok-lim (Rimba Hijau) yang lainnya tidak bisa melawan. Itu harus kau pikirkan juga."

Kata si nona.

"Sudah kupikirkan soal itu. aku pun belum mengatakan aku tidak mau mengobati mereka."

Kata Kong-sun Po.

"Kalau begitu, mengapa tadi kau menggelengkan kepala?"

Tanya si nona.

"Pouw Yang Hian menggunakan Hua-hiat-to untuk mengendalikan mereka, aku tidak yakin dalam sepuluh hari mereka akan binasa. Paling tidak dia akan menunggu sampai gurunya datang."

Kata Kong-sun Po.

"Kau benar. Ang Kin bilang setahun kemudian baru-racun itu akan bereaksi."

Kata Kiong Mi Yun. Tiba-tiba si nona ingat sesuatu.

"Oh aku tahu sekarang, jadi kau akan membiarkan mereka merasakan penderitaannya dulu baru akan kau obati mereka, begitu?"

Kong-sun Po tersenyum.

"Dugaanmu benar Saudara Kiong. tetapi ada lain sebab lagi."

Kata pemuda itu. Kiong Mi Yun menatapnya.

"Masih ada sebab lain? Apa itu?"

"Terus terang aku mau pergi ke bukit Kim-kee-leng menemui Liu Beng-cu."

Sahut pemuda itu.

"Tahukah kau bahwa Liok-lim-beng-cu di lima wilayah itu seorang wanita'"

King Mi Yun tahu masalah itu dari nona Han Pwee Eng.

"Bukankah dia yang bergelar Hong Lai Mo Li bernama Liu Ceng Yauw?"

Kata si nona.

"Benar."

Kata pemuda itu sambil mengangguk.

"sekarang dia sedang menyusun pasukan suka-rela untuk melawan tentara Mongol yang menyerbu ke Tiong-goan. Saat ini dia sedang membutuhkan tenaga orang-orang gagah. Oleh sebab itu aku dan Liu Beng-cu akan mengobati orang-orang yang terluka itu. Dengan demikian lima perkumpulan besar itu pasti bersedia membantu Liu-beng-cu untuk melawan bangsa Mongol."

Setelah berhenti sejenak pemuda ini melanjutkan.

"See-bun Souw Ya sangat jahat, dia tak tahu diri ingin menjadi Liok-lim Beng-cu. Liu Beng-cu pasti tak akan membiarkannya!"

"Apa kau sudah kenal lama dengan Liu Beng-cu?"

Tanya si nona.

"Aku pernah bertemu dengannya saat masih kecil, mungkin dia masih ingat padaku."

Kata Kong-sun Po jujur.

Kakek Kong-sun Po guru dari Hong Lai Mo Li.

malah saat Suang-kee-po diserang para orang gagahpun.

Hong Lai Mo Li yang menyelamatkan Kong-sun Po dan ibunya.

Mereka dibawa ke kuil Kuang Beng Si.

Tetapi soal itu tak ia beritahukan pada nona Kiong.

"Oh ya. bagaimana kepandaian Hong Lai Mo Li dibanding dengan See-bun Souw Ya?"

Tanya nona Kiong.

"Aku tak pernah melihat kepandaian Se-bun Souw Ya."

Kata Kong-sun Po.

"tapi melihat kepandaian muridnya Pouw Yang Hian. bisa kita duga berapa tinggi ilmu orang itu. Mana bisa dibandingkan dengan kepandaian Hong Lai Mo Li? Kau harus tahu. di Dunia Persilatan tidak hanya berdasarkan kepandaian saja. tetapi harus dengan kebijakan dan kemuliaan seseorang. Liu Beng-cu bukan hanya pandai tetapi dia juga sangat bijaksana dan hatinya sangat mulia. Sekalipun dia seorang wanita, tapi pengetahuan maupun pengalamannya sangat luas. Kaum Rimba Persilatan kagum kepadanya."

Kiong Mi Yun tersenyum.

"Kalau begitu kau sangat mengaguminya."

Pemuda itu mengangguk.

"Bukan hanya aku yang kagum kepadanya, coba kau bayangkan jika tidak bijaksana, mana mungkin dia bisa duapuluh tahun menjadi Beng-cu!"

Kata pemuda itu.

"Aaah apa yang dikatakan Kong-sun Po tentang Hong Lai Mo Li sungguh berbeda dengan keterangan Ayahku?"

Pikir nona Kiong.

"Aku pikir keterangan pemuda mi lebih masuk akal. Tetapi Hong Lai Mo Li musuh Ayahku. Jika benar Hong Lai Mo Li baik dan bijaksana, berarti Ayahkulah yang salah. Hm! Aku tidak yakin Ayahku orang jahat dan aku pun tak boleh begitu saja mempercayai keterangan orang lain?"

Sesudah berpikir begitu wajah nona Kiong Mi Yun berubah jadi kacau dan mengerikan.

"Eh di mana Han Toa-ko yang selalu bersamamu itu?"

Kata pemuda itu pada si nona. Wajah Kiong Mi Yun langsung merah.

"Dia tinggal di kota Lok-yang. pulang akan menengoki ayahnya."

Sahut nona Kiong Mi Yun.

"Hm! Rupanya dia belum tahu aku seorang gadis. Bahkan dia tidak tahu aku tunangan Han Toa-ko. Walau dia tidak kuberi tahu. tapi dia tahu aku tunangannya, bukankah aku bisa jadi kikuk?"

Pikir nona Kiong.

"Lalu kau sendiri mau ke mana?"

Tanya pemuda itu.

"Aku belum tahu?"

Jawab si nona.

"Bagaimana kalau kau pergi ke Kim-kee-leng bersamaku, saat ini Liu Beng-cu sedang membutuhkan sekali orang pandai."

Kata Kong-sun Po.

"Sesudah aku dengar tentang Hong Lai Mo Li darimu. aku yakin dia orang gagah dan bijaksana. Aku memang ingin menemuinya, tetapi sekarang belum saatnya."

Kata Kiong Mi Yun sambil tersenyum.

"Kong-sun Po dan Han Toa-ko dua-duanya mengajakku ke Kim-kee-leng. sedangkan aku tidak ingin selalu bersama mereka bertigaan."

Pikir nona Kiong sambil tersenyum geli.

"Apakah kau mau ke tempat Chu Tay Peng?"

Tanya Kong-sun Po lagi sambil mengawasi ke arah Kiong Mi Yun.

"Mengapa kau menduga begitu?"

Kata si nona sambil mengerutkan dahinya.

"Aku tak memandang sebelah mata pada mereka! Mana mungkin aku mau bergabung dengan mereka?"

Kong-sun Po tertawa.

"Aku lihat mereka sangat baik kepadamu, malah Han Toako pun mendapat keberuntungan darimu. selama di perjalanan Han Toa-ko mendapat pelayanan yang baik sekali!"

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun tercengang.

"Bagaimana kau bisa mengetahui soal itu?"

Tanya si nona.

"Apa kau sudah lupa bahwa hari itu aku pun ada di rumah makan "Ngi Nih Lauw"

Bersamamu? Apa yang dibicarakan di rumah makan itu telah kudengar dengan jelas dan tahu sebagian besar dari pembicaraan itu."

Kiong Mi Yun tertawa.

"Tidak kusangka ternyata kau sangat teliti!"

Puji si nona. Kong-sun Po menatapnya.

"Tetapi aku heran mengapa mereka sangat menghormatimu?"

Kata pemuda itu.

"Akan kuselidiki dia. sudahkah dia menyelidiki aku?"

Pikir Kiong Mi Yun. Kiong Mi Yun tertawa.

"Sebabnya ya karena mereka ingin mengambil hati pada majikan Pulau Hek-hong-to saja! Mereka tahu To-cu pulau itu adalah Ayahku. Jadi jelas mereka harus hormat juga kepadaku."

Kata nona Kiong. Sesudah bicara ia memperhatikan wajah dan reaksi pemuda itu. Pemuda itu manggut-manggut.

"Ilmu silat ayahmu pasti tinggi, dia juga seorang tokoh Dunia Persilatan, kan?"

Kata pemuda itu.

Mendengar ucapan pemuda itu Kiong Mi Yun tersentak juga.

sebab dari nada bicaranya berarti pemuda itu belum tahu siapa ayahnya.

Padahal Kiong Mi Yun dan Kong-sun Po sudah dijodohkan saat mereka masih dalam kandungan ibu mereka.

Tetapi sayang kedua keluarga itu berpisah lama sekali.

Tak heran jika pemuda itu tak tahu nama ayah nona Kiong.

Tapi mana mungkin dia tak tahu nama calon mertuanya, kecuali kalau ibunya tak memberitahu dia.

Maka Kiong Mi Yun mencoba menyelidikinya.

"Ayahku bukan tokoh yang berilmu tinggi."

Kata si nona.

"Tapi jika dibandingkan dengan Chu Tay Peng dan kawankawannya. Ayahku jauh di atas mereka. Tak heran mereka ingin mengangkat Ayahku jadi Beng-cu!"

Kiong Mi Yun tertawa lalu melanjutkan kata-katanya.

"Untung Ayahku tidak berminat menjadi Beng-cu. Jika Ayahku berminat, pasti dia bersalah pada Hong Lai Mo Li!"

Kata si nona.

"Liu Beng-cu tidak berpikiran sempit."

Kata pemuda itu.

"Karena di kalangan Liok-lim (Rimba Hijau) sudah ada Bengcunya. maka ayahmu tak berminat. Beliau mungkin menghindari diri agar tidak dimanfaatkan oleh orang. Itu jelas bahwa ayahmu cerdas sekali!"

Sampai di sini Kong-sun Po tetap belum menanyakan siapa nama ayah nona Kiong. sehingga si nona jadi tak sabaran. Dia langsung berkata pada si pemuda.

"Ayahku sangat kagum kepada ayahmu. Dia bilang ayahmu itu tokoh yang sangat terkenal dan sangat menggemparkan di Dunia Persilatan!"

Kata nona Kiong. Wajah Kong-sun Po berubah jadi muram ketika ia mendengar ucapan nona Kiong itu.

"Aaah! Setahuku Ayahku itu seorang Iblis Besar yang jahat sekali! Mana mungkin ayahmu mengaguminya? Saudara Kiong. kau mau menyindirku, ya?"

Kata pemuda itu sambil menatapnya. Nona Kiong terperanjat.

"Aku tidak tahu urusan orang maku. harap kau jangan tersinggung. Saudara Kong-sun."

Kata si nona agak gugup.

"Selama ini belum pernah kudengar ada seorang anak memburuk-burukkan ayahnya. Aah barangkali Kong-sun Khie itu memang orang jahat? Kalau begitu kenapa Ayahku menjodohkan aku dengan anaknya?"

Pikir nona Kiong. Bersamaan dengan itu pemuda itu berbisik..

"Eh ada orang ke mari."

Kata pemuda itu.

Baru saja Kong-sun Po selesai berbisik sudah terlihat sebuah bayangan berkelebat dan tak lama bayangan itu sudah ada di depan mereka.

Orang itu berjenggot, dia mengenakan jubah berwarna hijau.

Gerakan orang tua itu cepat bukan main.

Kiong Mi Yun yang tidak mendengar suara apa-apa sangat terkejut saat melihat munculnya orang tua itu di hadapan mereka.

Orang tua itu mengamati keduanya, lalu menunjuk ke arah Kong-sun Po.

"Benarkah kau yang mengalahkan Pouw Yang Hian di rumah makan "Ngi Nih Lauw"

Kemarin dulu?"

Kata orang itu. -0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0 Bab 12 Sepasang mata lelaki tua berjubah hijau itu menatap ke arah Kong-sun Po dengan dingin. Kong-sun Po pun terkejut bukan kepalang.

"Aku kira lelaki tua ini pesilat tinggi, tapi lwee-kangma dari aliran sesat."

Pikir Kong-sun Po.

"Apa dia See-bun Souw Ya? Begitu cepat dia sampai di sini? Dia tahu aku mengalahkan muridnya. Mungkin dia ingin menuntut balas kepadaku?"

Dengan tenang Kong-sun Po menjawab.

"Tidak salah! Lo-sian-seng punya petunjuk apa?"

Kata pemuda itu. Lelaki tua itu mendengus dingin, lalu menatap nona Kiong Mi Yun dengan tajam.

"Bukankah kau putera Kiong Cauw Bun dari Hek-hongto? Aku dengar kemarin kau juga ada di rumah makan "Ngi Nih Lauw". bukan?"

"Sedikit pun tidak salah."

Jawab nona Kiong.

"Aku juga ikut menyerang Pouw Yang Hian. Jika kau mau menuntut balas pasti akan aku layani!"

Lelaki tua itu tertawa dingin.

"Siapa Pouw Yang Hian itu? Untuk apa aku menuntut balas atas kekalahannya? Aku datang justru hanya ingin menjajal kung-fu keluarga kalian! Sayang Kong-sun Khie sudah mati. sedang Kong Cauw Bun jauh di seberang lautan."

Kata lelaki berjubah hijau itu.

Dari ucapan orang itu jelas sudah dia menghina Kongsun Po dan nona Kiong karena menganggap mereka bukan tandingannya.

Bukan main marahnya Kiong Mi Yun.

lalu dia bertanya.

"Kalau begitu untuk apa kau ke mari mencari kami?"

Kata si nona dengan gusar. Lelaki tua itu balik bertanya.

"Aku kira masih ada seorang lagi. Mana dia?"

Kata lelaki tua itu.

"Sebenarnya Lo-sian-seng ingin mencari siapa?"

Kata Kong-sun Po.

"Jangan beipura-pura pikun kalian! Bukankah hari itu ada seorang pemuda bermarga Han di rumah makan itu bersama kalian? Sekarang dia pergi ke mana?"

Bentak lelaki tua itu. Nona Kiong tertawa dingin.

"Aku tahu ke mana Han Toa-ko pergi, tapi untuk apa aku memberitahumu?"

Kata Kiong Mi Yun. Lelaki tua itu membanting kakinya.

"Bocah tidak tahu sopan! Katakan ke mana perginya dia!."

Kata lelaki tua itu.

"Hm! Tidak! Aku tidak akan bilang!"

Kata nona Kiong.

Jarak antara mereka dengan lelaki tua itu hanya sekitar belasan langkah.

Tiba-tiba lelaki tua itu menyerang ke arah Kiong Mi Yun.

tapi Kong-sun Po sudah maju ke depan nona Kiong untuk menyambut serangan lelaki tua itu.

Tak lama kedua tenaga pukulan itu beradu sehingga menimbulkan suara keras sekali.

"Buum!"

Tubuh Kong-sun Po bergoyang-goyang, sedangkan jubah hijau yang dikenakan lelaki tua itu pun berkibar-kibar, seakan tertiup angin keras saja.

Sekalipun serangan lelaki tua itu tak mengenai nona Kiong.

tapi akibatnya nona Kiong kelihatan kedinginan.

Giginya gemeretuk menahan hawa dingin yang luar biasa, tubuhnya menggigil.

Tetapi lelaki tua itu kaget dan berseru heran.

Dia kaget karena dia tak menyangka Iwee-kang pemuda itu cukup tinggi juga.

"Bagus!"

Katanya.

"Sekarang ingin kulihat ilmu pukulan Hua-hiat-tomu itu. sudah tingkat ke berapakah kepandaianmu itu?"

Kemudian lelaki tua itu maju ke arah Kong-sun Po dan langsung menyerang. Sekejap terasa hawa dingin menyerang ke arah Kong-sun Po. pemuda itu kedinginan sekali.

"Aku tidak bermusuhan denganmu, tapi mengapa kau serang aku dengan ilmu beracun?"

Pikir Kong-sun Po.

Serangan lelaki tua itu mengarah ke dada Kong-sun Po.

Pada saat yang bersamaan pemuda itu pun mengulurkan 321 jari tangamiya ke arah telapak tangan lelaki tua itu.

Pemuda ini menggunakan jurus "Keng-sin-ci-hoat" (Pukulan Jari Mengagetkan Dewa), ilmu pukulan warisan dari Liu Goan Cong.

Sungguh kebetulan dia menggunakan jurus itu.

jika tidak pasti dia akan terluka parah.

Ilmu Hua-hiat-to ilmu sangat beracun, sedangkan si lelaki tua itu pun menggunakan ilmu racun sesat.

Saat kedua pukulan itu bertemu, yang kuat pasti akan menang.

Lelaki tua itu akan terluka parah, sebaliknya mungkin pemuda itu akan tewas.

Serangan pemuda itu merupakan ilmu anti racun aliran sesat.

Sayang pemuda ini belum mahir benar menguasai ilmu racun itu.

Lelaki tua itu kaget pada saat melihat tangkisan pemuda itu.

dia tahu Ilmu Jari Keng-sin-ci-hoat sangat lihay.

Dengan demikian dia tak berani beradu tangan dengan pemuda itu.

Karena ilmu si lelaki tua sudah sempurna, ia bisa mengendalikan serangannya.

Pada saat yang sangat genting, yaitu saat tangan lelaki tua itu akan menyentuh tangan Kong-sun Po.

kelihatan segumpal bayangan hijau mencelat mundur dan hilang dari pandangan.

Datang bagaikan gelombang pergi pun seperti kilat.

Dalam sekejap lelaki tua itu sudah menghilang.

Kong-sun Po menghapus keringat yang membasahi wajahnya karena tegang.

"Rupanya dia Chu Kiu Sek si Iblis Tua. pantas lihay sekali!"

Kata pemuda itu.

Sementara itu Kiong Mi Yun yang tubuhnya menggigil kedinginan, dia mencoba mengerahkan tenaga murninya untuk melawan rasa dingin itu.

Bibir nona Kiong gemetar dan giginya beradu, tak lama ia pun jatuh terduduk.

Dia merasakan ada hawa hangat melalui punggungnya.

Ternyata Kong-sun Pu sudah duduk di belakangnya dan 322 kedua telapak tangannya menempel ke punggung si nona.

Sekarang sekujur tubuh Kiong Mi Yun terasa nyaman.

Tetapi tindakan pemuda itu telah membuat nona Kiong agak tersipu-sipu.

Sejak lahir sampai saat itu dia belum pernah bersentuhan dengan seorang lelaki.

Ini pengalaman pertama kali dia berdekatan dengan seorang pria.

Tidak heran kalau wajah Mi Yun terasa panas dan berubah merah.

Untung saat itu tubuhnya sudah berkeringat dan hangat, hingga wajahnya yang merah karena jengah sedikit.

Sekarang nona Kiong sudah tidak kedinginan lagi.

bahkan Kong-sun Po pun sudah melepaskan kedua telapak tangannya dari punggung nona Kiong Mi Yun.

"Untung pukulan lelaki tua itu tidak mengenai tubuhmu."

Kata pemuda itu sambil tertawa. Kiong Mi Yun meleletkan lidah, hatinya masih merasa ngeri membayangkan serangan musuh tersebut.

"Siapa Chu Kiu Sek itu?"

Kata si nona.

"Dia menggunakan kung-fu apa kok lihay sekali!"

"Aku tak tahu jelas tentang dirinya, setahuku dia menguasai ilmu Siu-lo-im-sat-kang sampai tingkat ke delapan."

Jawab Kong-sun Po. Nona Kiong kaget.

"Bukankah itu ilmu yang aneh dari See-hek yang sudah lama menghilang?"

Kata si nona "Benar.Kung-fu itu berasal dari tanah Thian-tok (India) Konon ratusan tahun yang lalu seorang paderi sakti dari Tibet mendapatkan kung-fu tersebut.

Tapi karena dia pikir kung-fu itu sangat berbahaya, maka Pit-kip (Kitab Rahasia Ilmu itu) dimusnahkannya.

Dia tak mau mengajarkan ilmu itu."

Kata Kong-sun Po.

"Kalau begitu dia belajar dari mana?"

Kata si nona.

"Entah bagaimana, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. ilmu itu muncul kembali."

Kata pemuda ini.

"Orang yang menguasai ilmu itu seorang Kok-su (Guru Kerajaan) dari negeri Kini. namanya Kim Cauw Gak. Tetapi dia belum berhasil menguasai ilmu itu dengan sempurna, baru sampai tingkat ke tiga saja. Tetapi Kim Cauw Gak ini luar biasa, dia berhasil menggabungkan Siu-lo-im-sat-kang dengan ilmu Lui-sin-ciang Pukulan Geledek Saktij dari perguruannya. Maka terciptalah ilmu pukulan "Im Yang Ngo Heng Ciang" (Pukulan Lima Elemen Hawa Dingin dan Panas). Telapak tangan yang dipukulkannya akan mengeluarkan hawa panas dan hawa dingin secara bersamaan. Karena menguasai ilmu itu maka dia bisa malang-melintang di Dunia Persilatan. Kemudian dia menjadi Kok-su di negara Kim hingga dia bertemu lawan bernama Siauw Au Kan Kun (Mentertawakan Dunia) dan Hong Lai Mo Li suami-isteri. baru mereka berhasil dibasmi."

Kiong Mi Yun kaget sekali.

"Ternyata gwa-kong (Kakek-luar atau kakek dari ibunya) mati di tangan Hong Lai Mo Li dan suaminya. Tidak heran kalau Ayah dan Ibu sangat benci pada Hong Lai Mo Li. Tetapi mengenai Gwa-kong jadi Hak-su bangsa Kim. mereka tak bilang lepadaku "

Pikir nona Kong..

Ibu Kiong Mi Yun yang bernama Kim Keng Nio.

puteri Kim Cauw Gak hanya mampu menguasai ilmu Siu-lo-imsat-kang sampai tingkat tiga.

Sedangkan kepandaian Kim Keng Nio masih rendah sekali.

Oleh karena itu dia tak berani belajar ilmu beracun itu.

Orang yang belajar ilmu itu lwee-kangnya harus kuat.

Sedangkan Kim Cauw Gak memang seorang pesilat yang mahir.

Ibu Kiong Mi Yun sering bilang pada puterinya.

bahwa ilmu itu lihay sekali.

Oleh karena itu nona Kiong ingin menyaksikannya.

Sekarang dia sadar dan tahu ilmu itu memang hebat sekali.

"Setiap naik tingkat tenaga orang yang menguasai ilmu Siulo-im-sat-kang akan bertambah kuat."

Kata pemuda itu lagi.

"Jika sampai tingkat ke sembilan, cukup hanya dengan menggunakan jari tangan saja. lawannya akan mati kedinginan. Aku dengan Chu Kiu Sek hanya mampu sampai tingkat ke delapan, maka itu aku masih bisa mengatasi pukulan itu."

Mendadak Kiong Mi Yun berseru.

"Celaka!"

Katanya.

"Apa yang terasa, dingin atau panas?"

Tanya pemuda itu kaget bukan main. Nona Kiong menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak dingin maupun panas. Kong-sun Po tercengang.

"Lalu kenapa kau berteriak?"

"Tadi Chu Kiu Sek mencari tahu ke mana perginya Han Toa-ko! Aku yakin dia akan melampiaskan kemarahannya kepada Han Toa-ko?"

Kata nona Kiong.

"Sekalipun Han Toa-ko pandai silat, tapi dia bukan tandingan si Iblis Tua itu!"

"Kau tahu asal-usul Han Toa-ko?"

Tanya Kong-sun Po.

"Aku baru kenal kemarin dulu dengannya."

Jawab nona Kiong.

"Dia sangat baik kepadaku. Sekarang dia dalam bahaya aku tak boleh tinggal diam."

Sesudah itu nona Kiong berpikir.

"Han Toa-ko naik kuda. si Iblis Tua tak akan bisa mengejarnya. Tapi dia tahu asal-usul Han Toa-ko. pasti dia akan menyusulnya ke Lok-yang!"

Pikir nona Kiong. Sesudah itu pikiran Kiong Mi Yun jadi kacau sekali, tanpa pamit lagi. ia lari meninggalkan pemuda itu. Tapi sebelum keluar dari hutan. Kong-sun Po sudah menyusulnya.

"Saudara Kiong aku pergi bersamamu ke Lok-yang!"

Kata dia sambil tertawa. Nona Kiong mengerutkan dahinya.

"Bukankah kau akan menemui Hong Lai Mo Li di Kim-keeleng?"

Tanya si nona. Pemuda itu tersenyum.

"Dari sini ke Lok-yang hanya butuh waktu lima hari saja. Kepergianku ke Kim-kee-san. jika hanya terhalang beberapa hari saja tidak jadi masalah."

Kata pemuda itu. Kiong Mi Yun girang sekali.

"Kau sudah banyak membantuku, jadi tak berani aku merepotkan kau menghadapi bahaya."

Kata nona Kiong.

"Jika kau sendirian yang melawan si Iblis Tua. sedang lweekangmu belum pulih, bukankah itu sangat membahayakan dirimu?"

Kata Kong-sun Po penuh perhatian. Wajah Kiong Mi Yun kemerah-merahan.

"Aku tahu. aku dan Han Toa-ko bukan tandingan si Iblis Tua. tapi aku tidak peduli demi sahabatku itu."

Kata nona Kiong Mi Yun. Pemuda itu manggut.

"Benar. Di dunia perlu kesetia-kawanan. Kau bersedia menentang bahaya demi kawanmu, apa aku tidak boleh? Kecuali jika kau merasa keberatan aku menjadi kawanmu. Jika kau anggap aku ini kawanmu, maka kawanmu itu kawanku juga!"

Kata Kong-sun Po sambii tersenyum. Kiong Mi Yun girang, tapi ia tetap berpikir.

"Kau anggap aku ini kawanmu, tapi kau tidak tahu akulah tunanganmu yang akan memutuskan pertunangan itu denganmu, dasar bodoh!"

Kiong Mi Yun tersenyum lalu berkata.

"Sebenarnya aku sangat cemas karena aku tak akan sanggup melawan si Iblis Tua itu. Sekarang jika ada pesilat tinggi bersedia berjalan bersamaku untuk menghadapinya. Justru itu yang aku harapharap "

"Baiklah, mari kita berangkat.'' kata pemuda itu sambil tertawa.

"Kita jangan buang waktu lama-lama di sini!"

Mereka meninggalkan tempat itu.

Segera mereka menggunakan gin-kangnya agar bisa berjalan lebih cepat.

Karena jalan yang mereka lalui sangat sepi.

mereka bisa leluasa menggunakan gin-kang mereka tanpa ragu-ragu.

Kiong Mi Yun sangat bangga pada gin-kangnya yang tinggi.

Tapi sesudah menempuh perjalanan jauh bersama Kongsun Po.

dia baru sadar bahwa gin-kangnya masih kalah oleh pemuda itu.

Sekalipun sudah berkali-kali dia menambah kecepatan larinya.

tapi Kong-sun Po bisa mengikutinya dari belakang dengan santai.

Malah jika mau mungkin pemuda itu bisa mendahului nona Kiong.

tapi dia coba menjaga jarak, sehingga dia tetap berada di belakang si nona Kiong.

Sikap Kong-sun Po yang mau mengalah pada si nona ini membuat nona Kiong kagum dan berterima kasih pada pemuda itu.

Dalam perjalanan itu Kong-sun Po tidak pernah mengajak kawannya itu bicara, hanya di tempat-tempat yang berbahaya saja dia memperingatkan si nona agar berhati-hati.

Entah sudah berapa kali nona Kiong hampir 327 terpelesat di batu-batu yang licin dan curam karena terlalu cepat berlari, tapi Kong-sun Po selalu berada di sampingnya untuk menjaga agar nona itu tidak terjatuh ke jurang.

"Aku heran mengapa aku berjalan bersamanya, padahal pertunanganku akan kubatalkan dengannya? Apakah dia sudah tahu siapa aku ini?"

Pikir nona Kiong.

"Hatinya sangat baik. baru kenal dia bersedia membantuku melindungi kawanku. Sulit mencari orang seperti dia. Jika aku tidak bertemu lebih dulu dengan Han Toa-ko. mungkin aku menyukai dia? Kepandaiannya memang tinggi tapi kurang tampan dan kurang romantis. Aku boleh menjadi sahabatnya, tapi untuk menjadi kawan hidup aku lebih memilih Han Toako!"

Karena terlalu berpikir dia jadi melamun hingga kakinya terpeleset nyaris jatuh ke jurang.

Untung saat itu Kong-sun Po sempat menarik tangannya menolonginya.

Tapi pemuda itu diam tak banyak bicara nona Kiong pun begitu.

Saat mulai senja dia lihat napas Kiong Mi Yun sudah tersengal-sengal kelelahan.

Melihat hal itu pemuda itu berkata pada si nona.

"Di depan kita ada sebuah kota kecil, mari kita ke sana untuk makan dan istirahat semalam. Besok baru kita lanjutkan lagi perjalanan kita!"

Kata Kong-sun Po. Nona Kiong bingung, dia jadi serba salah.

"Aku seorang gadis bagaimana aku bisa tidur sekamar dengannya?"

Dia berpikir.

Sesudah berlari sekian lama mereka telah sampai di kota kecil yang dikatakan oleh pemuda itu.

Mereka langsung mencari penginapan agar bisa bermalam Kong-sun Po memesan kamar untuk mereka.

"Sediakan sebuah kamar untuk kami!"

Kata pemuda itu. Tapi Kiong Mi Yun menyelak.

"Dua kamar saja!"

Katanya. Kong-sun Po tertegun heran. Kiong Mi Yun malah tersenyum kemudian dia memberi penjelasan begini.

"Aku tidak pernah tidur sekamar dengan orang lain. Lebih baik seorang sekamar saja. ya?"

Kata nona Kiong.

Ketika itu zaman sedang genting dan kacau sekali akibat peperangan yang mulai berkecamuk di wilayah Tiong-goan Para saudagar maupun para pelancong jarang melakukan perjalanan jauh.

Sudah tentu banyak rumah penginapan yang lengang dari pengunjung, sehingga banyak pengusaha penginapan yang mengeluh karena sepinya penyewa kamarkamar mreka.

Ketika Kiong Mi Yun mengatakan dia minta dua buah kamar, tentu saja pemilik penginapan itu girang bukan main.

Dia langsung menghampiri kedua tamunya itu.

Sambil berjalan mendatangi wajahnya terlihat berseri-seri.

"Ada! Ada Tuan! Kebetulan kamar itu bisa berdampingan!"

Kata si pemilik rumah penginapan.

"Baik."

Kata Kong-sun Po.

"kami butuh dua kamar!"

Setelah pelayan menyiapkan kamar mereka, mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing untuk menaruh buntalan pakaian mereka.

Sekalipun mereka tidak tidur sekamar tetapi saat makan mereka selalu bersama-sama.

Kiong Mi Yun yang sudah kelaparan langsung memesan beberapa macam masakan bersama nasi putihnya.

"Bawa ke kamar kami saja."

Kata Mi Yun. Makanan itu kemudian dimakan Kong-sun Po bersamasama Kong-sun Po di kamar. Setelah makan dan 329 minum Kong-sun Po melihat Kiong Mi Yun terus mengerutkan dahinya.

"Saudara Kiong. apakah masakan ini tidak cocok dengan seleramu?"

Kata pemuda itu. Kiong Mi Yun tersenyum.

"Cocok, malah aku kira lebih lezat dengan masakan yang ada di "Ngi Nih Lauw"

Itu."

Jawab nona Kiong. Kong-sun Po tertegun.

"Kau jangan bergurau Saudara Kiong! Mana bisa masakan di sini kau bandingkan dengan masakan yang ada di "Ngi Nih Lauw"?"

Kata si pemuda itu heran.

"Kau tidak merasakannya sih. lezat kok? Oh aku tahu. itu karena lwee-kangmu lebih tinggi dariku. Kau bisa tidak makan beberapa hari tanpa merasa lapar."

Kata si nona. Kong-sun Po manggut.

"Betul pendapatmu? Orang yang tidak lapar tidak akan merasakan lezatnya masakan ini. pantas kau bisa menikmatinya."

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun mengerutkan keningnya.

"Dia bodoh tak secerdas Han Toa-ko."

Pikir Kiong Mi Yun. Pemuda itu menatap kawannya sambil berkata.

"Saudara Kiong. aku lihat kau seolah sedang mencemaskan sesuatu. Apa yang membuatmu risau. Saudara Kiong?"

Tanya pemuda itu.

"Memang aku sedang memikirkan sebuah masalah, rasanya agak aneh."

Kata nona Kiong.

"Masalah apa itu. boleh aku tahu?"

"Ayahku jarang datang ke Tiong-goan. bagaimana Chu Kiu Sek si Iblis Tua itu mengetahui nama Ayahku?"

Sahut Kiong Mi Yun.

Maksud pertanyaan itu sebenarnya ingin memancing reaksi pemuda yang ada di hadapannya ini.

Maka Kiong Mi Yun sengaja bertanya begitu pada Kong-sun Po.

Saat mereka bentrok dengan Chu Kiu Sek.

si Iblis Tua itu menyebut-nyebut nama Kiong Cauw Bun.

ayah si nona di depan mereka.

Nona Kiong mengingatkan peristiwa yang baru dialaminya, karena ingin mengetahui reaksi pemuda itu.

Tapi Kong-sun Po malah tertawa mendengar ucapan si nona itu.

"Itu bukan sesuatu yang aneh karena ayahmu itu sangat terkenal!"

Kata pemuda itu.

"Chu Tay Peng daii kawankawannya saja tahu. mengapa Chu Kiu Sek tidak?"

Mendengar jawaban itu Kiong Mi Yu kecewa sekali, karena bukan jawaban itu yang dia inginkan dari pemuda ini. Tetapi dia juga sedikit girang.

"Aah! Kiranya dia sama sekali tak mengetahui masalah aku dan dia yang telah ditunangkan sejak kecil"

Pikir Kiong Mi Yun. Saat itu Kiong Mi Yun ingat sesuatu dan tertawa.

"Aku bodoh, tak berpikir sampai ke sana. Kau memang cerdas Kong-sun Toa-ko!"

Kata si nona.

Mulut si nona memuji Kong-sun Po.

tapi hatinya mencacinya dia anggap pemuda itu tolol sekali.

Sedikitpun pemuda ini tak curiga mendengar ucapan Kiong Mi Yun tadi.

Tiba-tiba mereka mendengar suara yang sangat hirukpikuk di luar penginapan.

Ternyata itu suara roda kereta 331 yang bergerak ke arah penginapan itu.

Tak lama kereta itu berhenti di depan halaman penginapan.

Ketika itu sudah larut malam, pemilik penginapan itu keluar sambil membawa sebuah lentera.

Kebetulan Kiong Mi Yun sedang duduk dekat jendela kamarnya.

Dia bisa melihat dengan jelas tamu yang baru datang itu.

Kereta itu indah sekali, kebetulan kerai jendela kereta pun terbuka sedikit, di kereta itu duduk dua orang, seorang lelaki dan yang seorang lagi wanita.

Saat itu karena kereta baru berhenti, mereka belum keluar dari kereta itu.

Kiong Mi Yun berdecak kagum.

"Bagus sekali kereta itu penumpangnya pasti orang kaya!"

Kata dia perlahan.

"Kau benar, selain keretanya indah, keempat kudanya pun sangat jempolan."

Kata Kong-sun Po menimpali katakata nona Kiong.

"Ah. kau juga tahu kuda jempolan. Kong-sun Toa-ko! Tetapi pemilik kereta itu tidak berperasaan, dia menjalankan kereta itu sampai malam begini. Mereka tidak merasa kasihan pada kuda-kuda dan tidak sayang pada kereta yang bagus itu! Justru aneh sekali?"

Kata nona Kiong.

"Mungkin mereka punya urusan yang sangat penting yang harus segera mereka bereskan."

Kata Kong-sun Po. Tak lama kedua tamu itu sudah turun dari keretanya. Lelaki yang bersama wanita itu bertanya pada pemilik penginapan itu.

"Kau masih punya kamar yang kosong? Kami butuh dua buah kamar kelas satu!"

Kata penumpang yang lelaki. Di kamar Kiong Mi Yun berbisik pada kawannya.

"Mungkin mereka berdua kakak beradik, bukan suami isteri!"

Bisik nona Kiong.

"Yang lelaki tampan dan yang perempuan cantik sekali!"

"Mereka membawa senjata tajam, kau melihatnya tidak?"

Bisik si pemuda pada nona Kiong. Nona Kiong menggelengkan kepala sambil berbisik.

"Berapa tinggi kepandaian mereka itu. aku ingin menjajalnya."

Bisik nona Kiong.

"Di Dunia Persilatan banyak orang yang berilmu tinggi. Saudara Kiong jangan cari masalah!"

Bisik pemuda itu.

"Aku cuma bergurau, kau pikir masalah kita juga tak memusingkan kepala?"

Kata Kiong Mi Yun. Tiba-tiba terdengar pemilik penginapan itu berteriak.

"Siauw Ek. lekas kau bawakan barang-barang tamu kita ini!"

Katanya dengan nyaring.

"Biar aku yang membawa guci arak ini. tidak perlu merepotkan kalian!"

Kata yang perempuan pada pelayan.

Guci itu barang kuno tapi tidak dipasangi etiket nama arak itu.

tutup gucinya pun hanya diikat dengan seutas tali.

Perempuan itu langsung menjinjing guci arak itu dengan sebuah jari telunjuknya.

Kejadian itu mmbuat pemilik penginapan kaget dan heran sekali.

"Ah dia hanya seorang nona. tapi tenaganya kuat sekali?"

Pikir pemilik penginapan.

"Pada saat zaman kacau begini, jika tak berilmu tinggi mana berani nona itu melakukan perjalanan jauh seperti sekarang ini?"

Pemilik penginapan yang berpengalaman ini hanya mengangguk memberi hormat dan berjalan masuk. Kiong Mi Yun juga kagum dan heran, dia lihat nona itu berhatihati sekali saat menjinjing guci arak itu.

"Aah! Tak kusangka nona secantik ini ternyata setan arak!"

Kata nona Kiong.

"Dari mana kau mengetahuinya?"

Tanya Kong-sun Po.

"Jika dia bukan setan arak mengapa dia melarang orang lain yang membawakan guci arak itu? Aku yakin pasti itu arak istimewa! Dia khawatir orang kurang berhati-hati sehingga menjatuhkan guci arak itu hingga pecah!"

Kata Mi Yun. Alis Kong-sun Po berkerut.

"Benar! Kau benar sekali, aku tak berpikir sampai ke sana."

Kata Kong-sun Po Kong-sun Po ini tidak bodoh hanya belum berpengalaman saja. Ditambah lagi dia ini jujur dan lugu sekali, hingga kelihatan seperti tolol.

"Melihat kepandaian mereka."

Kata Kong-sun Po sambil tertawa.

"Sekalipun isi guci itu barang pusaka, pasti mereka tidak terlalu peduli."

Kiong Mi Yun yang telah banyak minum arak ketika itu dia agak mabuk.

"Kong-sun Toa-ko. kau sudah bertunangan belum?"

Kata si nona yang agak sinting itu. Pertanyaan nona Kiong membuat Kong-sun Po tertegun, lama sekali baru dia menyahut.

"Sejak kecil aku tinggal di gunung bersama Ibuku, aku tidak pernah bertunangan."

Jawab pemuda ini.

"Mengapa kau bertanya begitu?"

Kiong Mi Yun tersenyum manis.

"Aku ingin jadi Mak Comblangmu."

Kong-sun Po menatap nona itu dalam-dalam, ternyata wajah nona itu sudah kemerah-merahan.

"Rupanya dia tidak biasa minum arak. maka itu dia hampir mabuk."

Pikir Kong-sun Po. Kong-sun Po pun tersenyum.

"Terima kasih atas perhatianmu, tetapi aku belum ingin berkeluarga."

Kata Kong-sun Po. Nona Kiong pun tersenyum.

"Mengapa kau tak bertanya padaku, gadis keluarga manakah yang akan kujodohkan denganmu?"

Kata Mi Yun.

"Apa dia familimu?"

Tanya Kong-sun Po. Setelah meneguk araknya lagi si nona menjawab.

"Dia bukan familiku. Dia juga jauh di ujung langit, dan dekat di depan mata. Yang kumaksud adalah gadis yang baru datang naik kereta itu! Menurutmu dia cantik atau tidak? Jika kau merasa dia cocok untukmu, aku akan cari akal untuk memperkenalkan kalian berdua. Sekaligus aku akan jadi Mak Comblangmu!"

Kata Kiong Mi Yun sambil tertawa. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

"Saudara Kiong. kau terlalu banyak minum susu macan."

Kata Kong-sun Po.

"Besok kita harus melanjutkan perjalanan, lebih baik sekarang kita istirahat!"

Saat itu tamu yang perempuan sudah masuk ke kamalnya.

Kamar nona itu ada di sebelah Timur, sedang kamar Kiong Mi Yun di sebelah Barat.

Di antara kamar itu terdapat sebuah halaman kecil.

Kebetulan kedua kamar itu letaknya berhadaphadapan.

Nona itu mendengar atau tidak percakapan Kong-su Po dan Kiong Mi Yun.

tapi tiba-tiba nona itu tersentak dan segera menutup jendela kamarnya dengan cepat.

"Saudara Kiong kau jangan ngawur, ayo tidur!"

Kata Kong-sun Po. Kong-sun Po langsung meninggalkan kamar sahabat barynya itu akan istirahat di kamarnya.

"Aku sudah menyelidikinya, tapi dia tetap tidak curiga. Itu tandanya dia tidak tahu tentang masalah perjodohan itu?"

Pikir nona Kiong.

Hati nona Kiong jadi lega.

Setelah pelayan mengambil semua piring dan mangkuk dari kamarnya, baru dia membaringkan badannya di tempat tidur dalam keadaan setengah mabuk.

Entah sudah berapa lama dia tertidur lelap, tiba-tiba Mi Yun terbangun dengan kaget.

Saat dia membuka matanya, dia lihat sesosok bayangan ada di kamarnya.

Nona Kiong terkejut.

Rasa kantuknya pun mendadak hilang, lalu dia hunus pedangnya.

Orang itu mengulurkan tangan menekan pedang si nona dengan cepat.

"Ssst! Jangan takut ini aku!"

Kata bayangan itu. Kiong Mi Yun bertambah kaget.

"Kong-sun Toa-ko. mau apa kau ke mari?"

Kata si nona. Bayangan itu memang benar Kong-sun Po.

"Iblis Tua itu datang kemari!"

Bisik Kong-sun Po.

Rupanya Kong-sun Po melihat Chu Kiu Sek muncul di penginapan itu.

karena khawatir si Iblis Tua itu mencelakai sahabatnya, lalu dia menerobos masuk ke kamar si nona yang memang tidak terkunci karena si nona keburu ngantuk.

Tadi Kiong Mi Yun lupa menguncinya.

Tak lama terdengar suara senjata beradu dan seru sekali.

Kemudian disusul oleh suara tawa Chu Kiu Sek.

"Nona kau jangan salah paham, aku bukan Pencuri Pemetik Bunga (Cai-hoa-cat). Kedatanganku hanya untuk meminta suatu barang."

Kata Chu Kiu Sek.

"Untung saat tidur aku tak mengganti pakaian."

Pikir nona Kiong yang segera mengenakan topinya.

"Pasti Kongsun Po belum tahu aku ini seorang gadis."

Dia berjalan ke arah jendela dan mengintai ke luar.

Dia lihat nona itu sedang bertarung dengan Chu Kiu Sek di halaman.

Nona itu melancarkan tiga buah serangan yang sangat indah.

Jurus pertama bernama "Kim-cin-tuh-kiap" (Jarum Emas Lewat Maut), mirip dengan ilmu pedang Tat Mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Tat Mo).

Sedang jurus kedua berubah dengan jurus "Liong Teng Toh Cu" (Naga Berebut Mustika), yaitu dari ilmu pedang "Lian Hoan Toh Beng Kiam Hoat" (Ilmu Pedang Berantai Pencabut Nyawa) milik Bu-tongpay.

Sedangkan jurus yang ketiga ialah jurus "Ceh Li Touw Cun" (Wanita Menenun Kain (dari ilmu pedang "Giok Li Kiam Hoat" (Ilmu Pedang Wanita Cantik) dari partai Go-bi-pay.

Ketika diperhatikan jurus-jurus itu agak berbeda dengan jurus aslinya dan kelihatan lebih indah.

Hal itu membuat nona Kiong Mi Yun kagum dan memuji.

"ilmu pedang yang indah dan hebat!"

Katanya.

Nona Kiong Mi Yun memuji, tapi dia tidak tahu ilmu pedang apa itu.

Saat Chu Kiu Sek berkelit, nona itu akan melancarkan serangannya yang keempat.

Chu Kiu Sek mengulurkan tangannya menyentil, seketika itu terdengar suara sangat keras.

"Ting!"

Pedang nona itu agak miring ke samping, pada saat bersamaan nona muda itu pun terpental mundur beberapa langkah jauhnya dan tampak tubuhnya menggigil kedinginan. Chu Kiu Sek tertawa dingin.

"Pek-hoa-kiam-hoat" (Ilmu Pedang Seratus Bunga)!"

Kata Chu Kiu Sek. Pada saat yang bersamaan mendadak kelihatan seorang pria melompat turun dari atas atap rumah penginapan itu sambil membentak.

"Kenapa "Pek-hoa-kiam-hoat"!"

Katanya.

Lelaki itu pria yang naik kereta bersama nona yang sedang bertarung itu.

Dia langsung menyerang ke arah si Iblis Tua.

Chu Kiu Sek atau si Iblis Tua itu mengibaskan lengan baj um a ke arah pedang di tangan lelaki itu.

sehingga pedang itu miring ke samping.

Chu Kiu Sek mendengus dingin.

"Hm! Tak apa-apa. tapi kalian belum sempurna menguasai ilmu pedang itu!"

Kata Chu Kiu Sek.

"Hm! Sekalipun ilmu pedang kami belum sempurna, tapi kami mampu meringkus kau. hai Iblis Tua!"

Chu Kiu Sek marah sekali.

"Kalau begitu boleh kau coba!"

Kata Chu Kiu Sek sambil tertawa.

Chu Kiu Sek mengembangkan jari tangannya.

Maksudnya akan mencengkram dan merebut pedang yang ada di tangan lelaki muda itu.

Jurus cengkraman Chu Kiu Sek ini sangat ganas.

Saat jalan darah di pergelangan tangan lelaki itu hampir tercengkram.

tiba-tiba nona muda itu melancarkan serangan ke punggung si Iblis Tua.

Apa boleh buat Chu Kiu Sek terpaksa menendang ke belakang untuk mendesak nona itu supaya mundur.

Bersamaan dengan itu terdengar suara keras.

"Seeer!"

Lengan baju Chu Kiu Sek kutung sebagian.

Tetapi telapak tangan lelaki muda itu pun terasa sakit sekali.

Dia terkena serangan angin jari tangan Chu Kiu Sek.

hampir saja pedang di tangannya terlepas dari genggamannya.

Dengan demikian lelaki muda itu sadar bahwa lawannya tangguh luar biasa.

Chu Kiu Sek pun sangat ganas.

"Jika adikku tadi tidak menyerang punggungnya dengan tepat, pasti aku sudah cacat terkena cengkeramannya."

Pikir lelaki muda itu. Chu Kiu Sek sendiri kaget, dia kagum pada ilmu pedang lelaki muda itu.

"Jika mereka berdua bergabung, rasanya sulit aku mengalahkan mereka."

Pikir Chu Kiu Sek.

"Kecuali aku menyerang mereka secara membabi-buta dengan ilmu Siu-loim-sat-kang!"

Kedua pihak merupakan keluarga Rimba Persilatan yang terkenal.

Jika Chu Kiu Sek memakai Siu-lo-im-sat-kang.

dia khawatir akan melukai kedua lawannya dengan parah.

Dia seorang iblis jahat, tapi masih punya perasaan segan juga.

Lalu didesak mereka sehingga mundur beberapa langkah, lalu dia berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kedatanganku ke mari hanya ingin minta arakmu itu. aku tidak bermaksud mencelakai kalian! Jika kalian uliu gelagat, lekas serahkan arak itu. jangan membahayakan diri kalian seniri!"

Kata Chu Kiu Sek dengan bengis.

"Kau mau minta arak apa?"

Tanya lelaki muda itu.

"Arak Kiu-thian-sun-yang-pek-hoa-ciu yang disimpan di kamar adikmu itu! Jika arak itu kalian serahkan, aku akan segera pergi dari sini!"

Kata Chu Kiu Sek.

Mereka itu Ci Giok Phang dan Ci Giok Hian.

kakak beradik.

Saat itu sedang dalam perjalanan akan mengantarkan arak obat untuk Han Tay Hiong di Lokyang.

Mendengar kata-kata si Iblis Tua.

nona Kiong yang ada di kamarnya kaget bukan main.

"Hm! Ternyata kedua orang itu membawa guci arak obat?"

Pikir si nona.

Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak "Aku tahu kalian akan mengantar arak obat pada Han Tay Hiong.

padahal aku sudah akan menemuinya!

Maka itu aku tidak akan mengizinkan kalian mengantarkan arak obat itu kepadanya!

Kalian paham?"

Kata Chu Kiu Sek. Ci Giok Hian sedang berusaha menghimpun tenaga murni nya untuk mengusir hawa dingin dari tubuhnya. Saat mendengar ucapan itu dia bani sadar.

"Hm! Rupanya kau Chu Kiu Sek si Iblis Tua jahanam itu?!"

Kata Ci Giok Hian.

"Kalian sudah tahu siapa aku. kenapa kalian tidak segera memberikan arak obat itu kepadaku?"

Kata Chu Kiu Sek sambil tertawa terbahak-bahak.

"Iblis Tua. kau jangan bermimpi! Dengan arak obat kami tidak akan diberikan kepadamu!"

Kata Ci Giok Hian gusar sekali.

"Hm! Kau kira aku tidak bisa mengambilnya sendiri?"

Kata Chu Kiu Sek sinis.

Sesudah itu dia serang Ci Giok Phang dan Ci Giok Hian secara bersamaan.

Kedua orang yang diserang itu tidak berani menangkis serangannya.

Mereka hanya berkelit dan menghindar saja.

Saat itu Chu Kiu Sek tubuhnya berkelebat hendak menerobos masuk ke kamar Ci Giok Hian untuk 340 mengambil arak obat itu.

Kiong Mi Yun yang ada di samping Kong-sun Po berbisik.

"Kong-sun Toa-ko apa kau belum mau turun tangan?"

Bisik nona Kiong Mi Yun.

"Jangan tergesa-gesa kita lihat saja dulu."

Bisik si pemuda.

Pemuda itu dekat sekali dengan si nona dan tubuhnya hampir menempel satu sama lain.

Mereka sudah melihat kepandaian Ci Giok Phang maupun kepandaian Ci Giok Hian.

Mereka yakin tidak gampang bagi Chu Kiu Sek mengalahkan mereka berdua.

"Siapa mereka ini? Meskipun mereka tidak akan sanggup mengalahkan si Iblis Tua. paling tidak mereka bisa menguras tenaga lawannya. Saat dia sudah kelelahan jika turun tangan aku bisa mengalahkan dia dengan cepat."

Pikir Kong-sun Po. Pemuda ini yakin begitu, karena dia pernah membuat Chu Kiu Sek mundur saat menggunakan jurus "Keng-sin-cihoat"

Atau jurus "Mengejutkan Dewa".

Ketika itu Chu Kiu Sek kalah karena tidak tahu ilmu apa yang digunakan oleh lawannya itu.

Jika dia sudah tahu maka Kong-sun Po pasti kalah olehnya.

Sekarang jika tenaga Chu Kiu Sek sudah terkuras, dan dia diserang terus, ada kemungkinan Kong-sun Po akan bisa mengalahkannya lagi.

Saat itu rupa Chu Kiu Sek telah mendengar suara orang lain.

la menoleh ke kiri dan kanan.

Sekalipun Kiong Mi Yun bicara bisik-bisik, tapi si Iblis Tua bisa mendengarnya.

Diamdiam Chu Kiu Sek jadi kaget sekali.

Sekalipun yang dia dengar itu tidak jelas.

"Apakah bocah Kong-sun Po ada di sini? Ah mana bisa begitu kebetulan dia ada di sini?"

Pikir Chu Kiu Sek.

Karena dia berpikir begitu lompatannya ke kamar Ci Giok Hian agak tertunda.

Pada saat yang bersamaan Ci Giok Phang sudah langsung menikam dan menyerang dengan pedangnya.

Nyaris serangan itu tidak bisa ditangkis, dengan terpaksa Chu Kiu Sek menyambar kayu yang dia patahkan untuk dipakai menangkis serangan Ci Giok Phang itu.

"Traang!"

Pedang beradu dengan kayu hebat sekali.

Mereka berdua terpental mundur beberapa langkah.

Tapi mereka tak sampai roboh.

Saat itu Ci Giok Hian sudah menyerang Chu Kiu Sek dengan pedangnya.

Ujung pedang nona Ci mengarah ke tubuh Chu Kiu Sek yang mematikan.

Pada saat itu Ci Giok Phang sudah maju lagi dengan serangan pedangnya yang berbahaya.

Tanpa terasa Chu Kiu Sek telah terluka ringan, hal ini membuat dia gusar bukan main.

Tadi dia agak segan turun tangan terhadap mereka berdua karena kedua musuhnya itu orang-orang terkenal dari Rimba Persilatan.

Tetapi dalam keadaan marah dia jadi nekat.

Saat kedua pedang itu menyerang ke arahnya, dia melancarkan serangan ke arah kedua lawannya itu.

Ci Giok Hian buru-buru menarik pedangnya dan melompat mundur.

Di bawah sinar bulan wajahnya tampak pucat-pasi dan giginya gemeretuk karena kedinginan.

Ci Giok Phang pun segera melompat mundur, tapi keadaannya tak seperti yang dialami oleh adiknya.

Menyaksikan kejadian itu nona Kiong berbisik pada kawannya.

"Iblis Tua itu mengeluarkan Siu-lo-im-sat-kang tingkat delapan, pukulan itu seperti biasa tanpa suara."

Bisik nona Kiong Mi Yun. Setelah mundur Ci Giok Paling maju lagi sambil membentak dengan keras.

"Aku ingin tahu ilmu pukulanmu itu bisa berbuat apa terhadapku?"

Kata Ci Giok Phang.

Pedang pemuda she Ci itu berkelebat.

Dia menggunakan jurus "Pek-hung-koan-jit" (Pelangi Putih Menutupi Matahari).

Ujung pedang Ci Giok Phang menusuk ke arah dada Chu Kiu Sek atau si Iblis Tua yang jahat itu.

Chu Kiu Sek tertawa.

"Kau berani melawanku karena punya arak obat itu. Tapi lwee-kang kalian masih dangkal. Jika kalian menerima tiga kali pukulanku lagi. maka sekalipun kau minum arak obat itu. jiwa kalian tidak akan tertolong lagi!"

Kata Chu Kiu Sek dengan sinis.

"Benar begitu, justru aku ingin mencobanya!"

Kata Ci Giok Phang sengit sekali.

"Baiklah, kau yang mencari mati sendiri, bukan aku yang tidak berbelas kasihan pada kalian, ya?"

Kata Chu Kiu Sek.

Mendadak dia melancarkan tiga buah serangan, sehingga terpaksa Ci Giok Phang harus terdesak mundur beberapa langkah ke belakang.

Pemuda itu berbangkis sekali namun tidak terluka.

Pada saat itu Ci Giok Hian sudah menyerang Chu Kiu Sek dengan hebat.

Chu Kiu Sek buru-buru membalikkan telapak tangannya, dia coba memukul pedang Ci Giok Hian.

Buru-buru nona Ci mengelak ke samping, dia tidak berani menahan serangan lawannya.

Tapi sekarang giginya sudah tidak gemeretuk seperti tadi.

Barangkali kedua orang itu tidak mempan pukulan Chu Liu Sek yang lihay itu.

"Jadi kalian sudah belajar ilmu Siauw-yang-sin-kang keluarga Jen?"

Kata Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang saat tahu lawannya tak terpengaruh oleh pukulannya itu. Ci Giok Oliang tertawa dingin.

"Kalau betul lalu kenapa?"

Tanya pemuda itu sinis.

"Kalau begitu aku tidak akan melepaskan kalian berdua!"

Kata Chu Kiu Sek dengan sengit sekali.

Rupanya berbagai lwee-kang dari golongan lurus hanya Siauw-yang-sin-kang yang mampu menandingi Siu-lo-imsatkang milik Chu Kiu Sek ini.

Jadi mana mungkin Chu Kiu Sek mau melepaskan mereka?

Kedua kakak beradik ini sudah belajar Siauw-yang-sin-kang.

Dengan demikian mereka berdua bisa mengobati Han Tay Hiong musuh besarnya.

Chu Kiu Sek.

Maka tidak heran jika Chu Kiu Sek jadi geram dan berniat membunuh mereka berdua.

"Jika aku tidak bisa membunuh mereka paling tidak aku bisa memusnahkan ilmu silat mereka!"

Pikir Chu Kiu Sek.

"Aku heran. Siauw-yang-sin-kang ilmu milik keluarga Jen. jadi tidak mungkin diturunkan pada marga lain. bagaimana mereka mahir ilmu itu?"

Jika tidak bergabung dengan kakaknya Ci Giok Hian tak akan mampu menahan pukulan Chu Kiu Sek.

Saat itu serangan si Iblis Tua berlangsung bertubi-tubi hingga Ci Giok Phang terdesak mundur.

Pakaiannya pun sudah basah oleh keringatnya.

Uap putih mengepul dari ubun-ubun pemuda itu.

Sedangkan Ci Giok Hian yang terus berkelit, sekarang jaraknya sudah sangat berjauhan dengan kakaknya.

Tak lama terdengar suara gemeretuknya gigi mereka, karena kedinginan.

Suara itu terdengar oleh Kong-sun Po dari kamar tempat mereka mengawasi pertarungan itu.

"Si Iblis Tua menyerang dengan sengit, ini sangat menguras tenaganya. Sesudah tenaganya terkuras habis baru akan kuserang dia. Saat itu pasti jiwanya akan melayang! Baik kutunggu sesaat lagi."

Pkir Kong-sun Po.

Tapi apakah Ci Giok Phang dan Ci Giok Hian masih bisa bertahan sesaat lagi?

Itu yang jadi masalah.

Kong-sun Po terus memperhatikan pertarungan hebat itu.

Saat itu dia menjulurkan lehernya ke luar jendela.

Jika kedua kakak beradik itu dalam keadaan gawat, dia akan langsung membantu menyerang ke arah Chu Kiu Sek.

Sejak tadi si Iblis Tua sudah curiga.

Sekalipun sedang bertarung dia tetap mengamati keadaan di sekelilingnya.

Saat dia lihat Kong-sun Po sedang berdiri di depan jendela mengamati mereka bertarung, dia kaget bukan kepalang "Oh bocah itu ternyata ada di sini!

Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu, dia akan menjebakku."

Pikir Chu Kiu Sek sedikit tegang.

Melawan kedua kakak beradik saja dia sudah payah, apalagi sekarang ada Kong-sun Po.

Dia bingung apa dia harus meneruskan perkelahian atau tidak.

Sesudah mendesak kedua kakak beradik itu, tiba-tiba dia melompat ke atas pohon, dan melesat pergi di kegelapan malam.

Ci Giok Phang keheranan melihat lawannya tiba-tiba kabur.

Dia tidak mengerti apa sebabnya Chu Kiu Sek kabur, tapi dia juga tak berani mengejar orang itu.

Saat itu suasana di tempat itu sunyi sekali.

Ditambah lagi karena para pelayan yang ketakutan semua telah bersembunyi.

Setelah pertarungan itu selesai baru pemilik penginapan keluar.

"Tidak aku kira di penginapanku yang kecl ini datang maling. Untung kalian berilmu tinggi hingga bisa mengusir maling tersebut."

Kata pemilik penginapan.

"Apa ada barang yang hilang?"

"Tidak, tak apa-apa."

Kata Ci Giok Phang. Saat itu Ci Giok Hian melancarkan serangan hebat pada Chu Kiu Sek. kaburnya iblis tua itu dia kira karena terluka oleh serangannya. Kellihatan dia puas sekali.

"Hari masih malam, silakan Tuan istirahat saja. Maling itu tak akan mampu mengambil barang kami."

Kata Ci Giok Phang dingin. Sedang nona Kiong tahu bahwa Ci Giok Phang tertawa dingin mungkin karena mereka dicurigai sebagai maling.

"Jika tidak ada Toa-ko Kong-sun Po di sini. mungkin nyawa kalian sudah melayang. Kalian malah mencurugai kami sebagai maling! Sungguh keterlaluan omong besarmu itu. Justru aku ingin menjajal kepandaian kalian!"

Kata Kiong Mi Yun dengan berani. Kong-sun Po menurunkan kain jendela dan berkata perlahan pada Kiong Mi Yun.

"Lebih baik kita segera tidur agar mereka tidak mencurigai kita."

Bisiknya.

"Bicara sebentar tak ada masalah bukan. Kong-sun Toako aku ingin bertanya padamu tentang satu masalah "

Kata nona Kiong.

"Silakan!"

Jawab Kong-sun Po sambil menatap ke arah si nona.

"Siapa yang mereka maksudkan Han Tay Hiong itu? Pertarungan tadi rupanya ada hubungannya dengan orang she Han. Sebenarnya ada masalah apa di antara mereka?"

Kata Kiong Mi Yun. Pemuda itu kembali menatapnya. -0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0

Jilid Kedua BENG CIANG HONG IN LOK (Badai Awan dan Angin) oleh .

Liang le Shen Diceritakan kembai oleh .

marcus A.S.-MARWIN Penerbitan & Percetakan Judul asli.

Beng Ciang Hong In Lok Penulis asli.

Liang le Shen Diterjemahkan oleh .

Ai Cu Diceritakan kembali oleh 347 .

Marcus A.s.-Diterbitkan atas kerjasama dengan San Agency & Marwin Cetakan pertama .

2005 Bab 13 Setelah mengawasi nona Kiong Mi Yun dengan tajam, lalu sambil tersenyum Kong-sun Po menjawab pertanyaan nona Kiong Mi Yun itu.

"Beberapa tahun yang lalu aku pernah mendengar dari guruku. Han Tay Hiong itu seorang pendekar yang sudah mengasingkan diri. Dia bergelar Ckmg-khmi-siung-coai (Ahli Tangan Kosong dan Pedang). Sudah lama dia tidak muncul di Dunia Persilatan, maka yang tahu tentang dia tidak banyak. Tapi aku kira kakak beradik itu punya hubungan dengan Han Tay Hong. Dari nada bicaranya. Chu Kiu Sek bermusuhan dengan orang she Han itu. Tetapi kenapa mereka malah memperebutkan arak obat itu?"

Kata Kong-sun Po keheranan.

"Orang berasal dari mana Han Tay Hiong itu?"

Tanya nona Kiong Mi Yun.

"Dari guruku aku dengar dia sudah lama berkelana di Dunia Persilatan. Kemudian mendadak dia menghilang dari Dunia Persilatan. Di mana dia sekarang tinggal justru tidak ada orang yang mengetahuinya."

Sahut Kong-sun Po.

"Dia bergelar Ciang-kiam Siang-coat. mengapa putera atau muridnya tidak ada yang mewarisi ilmu silatnya itu dan berkelana di Dunia Kang-ouw?"

Kata Kiong Mi Yun. Pemuda itu mengangguk.

"Kau benar jika kau tidak menyinggung soal itu aku juga jadi lupa"

Kata kong-sun Po.

"Aku dengar dia punya seorang anak perempuan yang kepandaiannya cukup tinggi. Empat tahun yang lalu dia pernah muncul satu kali di kalangan Kangouw. Malah dia aku dengar bisa mengalahkan Toan Leng Koan. Perampok berkaki satu."

Kata pemuda itu.

"Siapa nama puterinya itu?"

Desak Kiong Mi Yun.

"Entahlah! Tapi berdasarkan ilmu pedangnya. Toan Leng Koan tahu bahwa itu puteri Han Tay Hiong."

Kata Kong-sun Po menjelaskan.

"Apa Han Tay Hiong tidak punya anak laki-laki?"

Desak nona Kiong.

"Aku dengar dia hanya mempunyai seorang anak perempuan."

Kata Kong-sun Po.

Di kelenteng Kuang-beng-si, pemuda ini telah belajar silat selama tiga tahun.

Tak heran jika dia hanya tahu kejadian yang terjadi empat tahun vang lalu saja.

Kejadian tentang Han Pwee Eng pergi ke Yang-cou.

dan dihadang oleh rombongan Serigala Tua bermarga Tan.

serta serbuan para jago silat ke Pek-hoa-kok tidak diketahuinya.

Malah tentang pembatalan pernikahan nona Han dengan Kok Siauw Hong pun dia tidak tahu sama sekali.

Setelah Kongsun Po kembali ke kamar, nona Kiong jadi berpikir keras.

"Di dunia ini jelas banyak orang yang bermarga Han. sedang Han Tay Hiong tidak punya anak lelaki. Jadi jelas Han Toa-ko bukan anaknya. Tapi mungkin Han Tay Hiong itu famili Han Toa-ko?"

Pikir nona Kiong.

"Kedua kakak beradik itu akan mengantarkan arak untuk orang she Han. aku harap mereka itu masih famili Han Toa-ko. Jika mereka bukan familinya, sungguh aku telah menyianyiakan kesempatan ini."

Kong-sun Po tidak mengetahui apa khasiat arak obat KiuThian-sun-yang-ciu itu.

tapi nona Kiong justru pernah 349 mendengar dari ayahnya, arak obat itu bisa menyembuhkan luka bekas serangan Siu-lo-im-sat-kang yang digunakan oleh si Iblis Tua Chu Kiu Sek Sekiranya nona Kiong tahu arak itu untuk ayah "Han Toako"nya.

Kiong Mi Yun akan senang sekali.

Karena dia tidak tahu siapa Han Tay Hiong itu.

maka niatnya mencuri arak itu timbul lagi.

"Aku tahu Chu Kiu Sek hendak mencelakai Han Toa-ko. Jika Han toa-ko terluka dia akan membutuhkan arak obat itu. Tapi jika aku minta secara terang-terang, pasti mereka tidak akan memberikannya. Malah mereka juga jahat telah mencurigai kami. mereka juga angkuh. Lebih baik arak itu aku curi saja sekalian"

Begitu nona Kiong berpikir.

Tengah malam Kiong Mi Yun mendekati kamar Ci Giok Hian.

Diam-diam dia mengeluarkan sepotong bambu kecil.

Dengan bambu itu dia meniupkan sesuatu lewat jendela ternyata dia menggunakan obat bius agar nona di kamar itu tertidur lelap.

Biasanya yang digunakan itu obat bius biasa, tetapi Kiong Mi Yun telah mencampurnya dengan racun lain.

sehingga kekuatannya jadi luar biasa sekali.

Saat itu Ci Giok Hian memang sedang siaga dan dia sedang mengerahkan hawa murninya untuk mengobati luka akibat serangan Chu Kiu Sek.

Saat nona Kiong meniupkan asap obat bius melalui jendela ke kamarnya, dia tahu dan malah tersenyum.

"Bius yang digunakan maling kecil ini tidak akan mempan membiusku."

Pikir Ci Giok Hian saat itu.

Tapi di luar dugaan nona Ci, asap obat bius itu membuat dia jadi merasa nyaman hingga dia terkejut bukan kepalang.

Dia gigit lidahnya sambil menahan napas, lalu dia berpurapura tidur pulas.

"Begitu dia masuk akan kuringkus dia!"

Pikir Ci Giok Hian.

Ci Giok Hian tidak sadar kalau obat bius nona Kiong itu berasal dari pulau Hek-hong-to.

dan obat bius itu bisa membuat tubuhnya lemah.

Sedang nona Kiong terlalu meremehkan kepandaian Ci Giok Hian.

Saat dia lihat keadaan di kamar itu sudah sunyi, dia langsung masuk ke dalam kamar.

Kiong Mi Yun mengendap-endap dia mendekati guci arak obat itu.

Saat nona Kiong membungkuk akan mengambil guci arak, dia kaget bukan kepalang, karena dia merasakan hembusan angin dingin di belakang dia.

Rupanya Ci Giok Hian telah menusuk dia dengan pedangnya.

Serangan itu hebat sekali bisa dibayangkan pada saat nona Kiong sedang membungkuk, bagaimana dia bisa berkelit dari serangan yang sangat hebat itu.

Untung Kiong Mi Yun sudah tahu ada serangan dan dia juga gesit, dia langsung mencenderungkan badannya ke depan.

Tak lama terdengar suara keras.

"Gedebuk!"

Tubuh nona Kiong ngusruk ke depan. Hal ini membuai Ci Giok Hian kaget sekali.

"Ah, pedangku belum mengenai tubuhnya, tapi dia sudah roboh?"

Pikir Ci Giok Hian heran. Pada saat bersamaan, mendadak sepasang kaki Kiong Mi Yun menggaet guci arak obat itu. Kemudian mengangkatnya sambil membentak.

"Ayo tusuk aku!"

Kata Kiong Mi Yun menantang.

Ci Giok Hian kaget dan khawatir, jika dia menusuk atau menyerang dengan pedangnya, dia takut serangannya itu akan mengenai guci arak obat itu.

hingga guci arak akan pecah berantakan, Tak heran kalau dia buru-buru menarik pedangnya dan membatalkan serangannya.

Tetapi tusukan pedangnya masih mengenai guci arak itu, hingga guci itu jadi lecet dan ini membuat nona Ci kaget bukan main.

karena pedangnya hampir saja memecahkan guci arak obat itu.

"Tang!"

Bunyi guci terdengar agak keras, untung Ci Giok Hian sudah menarik kembali serangannya dengan cepat, jika tidak guci arak itu akan hancur berantakan dan isinya akan tumpah ke lantai kamar.

Pada saat yang bersamaan Kiong Mi Yun pun sudah buruburu bangun dan memegang guci arak itu erat-erat.

Tapi Ci Giok Hian sudah menyerang dia lagi dengan pedangnya.

Karena Kiong Mi Yun tidak sempat menghunus pedangnya, terpaksa dia berkelit dari serangan berbahaya itu.

Dia melompat lewat jendela sambil membawa guci arak obat itu.

"Kakak cepat ke mari!"

Teriak Ci Giok Hian memanggil kakaknya.

Dia kejar Kiong Mi Yun sambil menyerang dengan pedangnya sebanyak tiga kali secara berturut-turut.

Saat itu Kiong Mi Yun sudah menghunus pedangnya dan dia menangkis serangan yang berturut-turut itu.

"Tang! Tang! Tang!"

Terdengar suara pedang beradu berulang-ulang.

Ci Giok Hian merasakan telapak tangannya sakit dan seketika itu juga pedang Ceng-kang-kiam (Pedang Besi Hijau) di 352 tanganma terlepas dari genggamannya.

Sebenarnya kepandaian mereka seimbang.

Tetapi karena tadi Ci Giok Hian terkena asap obat bius dari Kiong Mi Yun.

hal ini menyebabkan tenaga nona Ci Giok Hian jadi lemah.

Dengan demikian dia jadi tidak sanggup melawan nona Kiong Mi Yun yang masih segar-btigar.

Sekalipun pedangnya sudah jatuh, tetapi Ci Giok Hian masih mengejar Kiong Mi Yun.

Tiba-tiba dia merasakan matanya berkunang-kunang, ketika itu nona Ci nyaris tidak bisa berdiri tegak.

Bisa dibayangkan betapa kagetnya Ci Giok Hian pada saat itu.

Segera dia menarik napas.

Setelah hawa segar masuk lewat hidungnya, baru dia merasa sedikit nyaman.

Saat itu Kiong Mi Yun sudah ada di luar kamar.

Tibatiba terdengar suara bentakan keras "Lepaskan!"

Bayangan hitam tampak berkelebat di depan nona Kiong.

Bayangan itu bayangan Ci Giok Phang yang muncul secara tiba-tiba di depan nona Kiong.

Dia serang Kiong Mi Yun dengan pukulan dan serangan yang hebat.

Nona Kiong merasakan ada sambaran angin pukulan dari arah belakang, dia sadar kepandaian Ci Giok Phang berada di atas kepandaiannya.

Saat itu sulit bagi Kiong Mi Yun untuk menghindar dari serangan pukulan pemuda itu.

Tetapi seketika itu juga dia memperoleh akal bagus.

Buru-buru dia lemparkan guci arak obat itu ke arah Ci Giok Phang "Nih.

aku kembalikan!"

Kata Kiong Mi Yun.

Ci Giok Phang kaget, jika dia kurang hati-hati guci arak itu bisa terjatuh dan hancur berantakan.

Jika dia tidak membatalkan serangan pukulannya, maka guci arak itu pun akan hancur terserang oleh pukulannya.

Dalam keadaan serba-salah dan tidak ada pilihan lain.

dia batalkan 353 serangannya untuk menyambut guci arak yang melayang ke arahnya itu.

"Dik. bagaimana keadaanmu?"

Tanya Ci Giok Phang pada Ci Giok Hian.

"Aku tidak apa-apa. cepat ringkus maling kecil itu!"

Teriak Ci Giok Hian. Saat itu Kiong Mi Yun telah menyerang Ci Giok Phang denganjurus "Giok Li Toh Cun" (Gadis Cantik Menunjukan Jalan), ujung pedang nona Kiong mengarah ke tenggorokan Ci Giok Phang.

"Kejam sekali kau. hai maling kecil!"

Kata Ci Giok Phang. Dengan cepat Ci Giok Phang menyentil pedang nona Kiong dengan jarinya, saat itu juga terdengar suara keras.

"Ting!"

Pedang di tangan Kiong Mi Yun yang tersentil tangan Ci Giok Phang.

dan berbalik menyerang ke arah nona Kiong.

Tapi ini sudah diperkirakan oleh Kiong Mi Yun.

dia kelit serangan pedang itu.

Pada saat yang bersamaan dia telah mengulurkan tangan kirinya ke arah dada Ci Giok Phang.

Serangan ini hebat hingga Ci Giok Phang tidak bisa menangkis karena tangan kirinya sedang memegang guci arak.

Terpaksa Ci Giok Phang berkelit dari serangan berbahaya itu.

Tapi sudah terlambat, karena saat itu juga guci arak itu sudah berpindah tangan ke tangan Kiong Mi Yun.

Si nona tertawa terkekeh.

"Aku tahu ilmu silatmu tinggi, aku tidak bisa melukaimu. Tapi aku hanya ingin meminta guci arak ini!' kata nona Kiong. Ci Giok Hian melotot sambil membentak.

"Jika kau tidak mau melepaskan guci arak itu ke tanah, maka kau akan kulukai!"

Kata Ci Giok Phang.

Setelah bertarung dua jurus lamanya dengan Kiong Mi Yun.

Ci Giok Phang sadar dan tahu berapa tinggi kepandaian Kiong Mi Yun itu.

Oleh karena itu dia jadi tidak berani menganggap remeh lawannya ini Segera Ci Giok Phang menghunus pedang menyerang Kiong Mi Yun.

Saat Kiong Mi Yun diserang oleh Ci Giok Phang.

Mi Yun yang cerdik menangkis serangan itu tidak dengan pedangnya, tetapi dia menangkis dengan menggunakan guci arak sebagai senjata untuk menangkis pedang lawan.

Tentu saja Ci Giok Phang jadi bingung dan was-was.

Dia takut pedangnya akan memecahkan guci arak itu.

Jika dia kurang hati-hati.

pasti guci itu akan pecah saat dia menyerang lawan.

Setiap kali pedang Ci Giok Phang hampir menyentuh tubuh nona Kiong.

sedangkan nona Kiong selalu menggunakan guci arak untuk menangkis serangan lawan.

Dengan demikian terpaksa Ci Giok Phang harus membatalkan serangannya.

Menyaksikan lawan seolah sangat khawatir dan takut guci itu pecah, ini membuat hati Kiong Mi Yun jadi gembira.

Dia tertawa riang sekali.

Kebetulan Ci Giok Phang menyerang lagi.

buru-buru Kiong Mi Yun menangkis serangan itu.

lagi-lagi dia menggunakan guci arak sebagai senjata untuk menangkis serangan lawan.

Teiapi kali ini Ci Giok Phang hanya pura-pura menyerang, dia cuma ingin menipu dengan sebuah serangan palsu.

Pada saat Kiong Mi Yun menyodorkan guci arak untuk menangkis serangannya, tangan kiri Ci Giok Phang bergerak untuk merebut guci itu.

Tahu-tahu 355 guci arak itu sudah berpindah tangan lagi ke tangan Ci Giok Phang.

"Hm! Kau sangat pelit! Lebih baik kita semua tidak minum arak itu!"

Kata Kiong Mi Yun.

Mendadak Kiong Mi Yun melancarkan serangan yang bertubi-tubi ke arah Ci Giok Phang.

Serangan ini membuat Ci Giok Phang jadi bingung dan cemas sekali.

Dia khawatir guci arak itu akan terkena pedang lawan dan hancur berantakan.

Oleh karena itu dia meladeni Kiong Mi Yun dengan hati-hati sekali.

Sikap hati-hati Ci Giok Phang ternyata dimanfaatkan oleh Kiong Mi Yun.

Dalam serangan beruntun dan saat Ci Giok Phang agak lengah, kembali guci arak itu sudah berpindah tangan lagi ke tangan Kiong Mi Yun.

Bukan main gusarnya Ci Giok Phang saat itu.

"Maling kecil kau sayang nyawamu atau kau tetap ingin mencuri arak kami?"

Bentak Ci Giok Phang.

Mendadak Ci Giok Phang menyerang Kiong Mi Yun dengan jurus "Pan Liong Siauw Pou" (Naga Berputar Mundur).

Pedang Ceng-kang-kiam di tangan Ci Giok Phang memancarkan sinar hijau dan hawanya dingin.

Tujuan serangan itu ke arah punggung si nona.

Saat itu Ci Giok Phang benar-benar gusar, dia berniat melukai lawannya.

Kiong Mi Yun berkelit dari serangan berbahaya itu.

Kemudian membalas menyerang lawan.

Mereka kembali bertarung semakin hebat dan cepat, tapi pada saat ada kesempatan yang baik.

tiba-tiba Kiong Mi Yun melompat dan pergi.

Tapi sial bagi nona Kiong.

pada saat itu tiba-tiba dari arah depan nona Kiong datang serangan hebat.

Penyerangnya itu Ci Giok Hian yang datang membantu sang kakak yang mulai kewalahan.

Saat Kiong Mi Yun mencoba berkelit namun pada saat yang bersamaan serangan dari Ci Giok Phang tiba.

Kali ini nona Kiong tidak bisa berkutik lagi.

Sekarang dia terjepit oleh serangan dua bilah pedang yang tajam.

"Aaah! Mati aku!"

Keluh Kiong Mi Yun kaget. Saat dalam keadaan gawat datang sebuah payung menangkis serangan itu.

"Tang!"

Pedang di tangan Ci Giok Phang tertangkis ke samping. Hal itu membuat Kiong Mi Yun girang bukan main. Dia gerakkan pedangnya untuk menangkis serangan dari Ci Giok Hian.

"Tang!"

Terdengan suara benturan senjata tajam, pedang Ci Giok Hian pun terpental ke samping dan terlepas dari genggamannya. Kiong Mi Yun tertawa.

"Maaf selain aku mau nyawaku aku juga ingin arakmu ini!"

Kata Kiong Mi Yun. Kiong Mi Yun kabur ke arah kereta sedangkan Ci Giok Hian berdiri termangu-mangu di tempat. Ci Giok Phang gusar pada orang bersenjata payung itu. tetapi dia juga kaget.

"Bagus memang kalian berdua ini maling semua!"

Kata Ci Giok Phang.

Dia serang orang itu denganjurus "Lian Hoan Som Kiam" (Tiga Jurus Pedang Berantai).

Orang bersenjata payung itu menangkis dua serangan Ci Giok Phang.

Pada serangan yang ketiga Ci Giok Phang yang bertenaga besar itu.

kembali orang berpayung itu menangkis dengan 357 payungnya.

Kemudian pedang Ci Giok Phang dia tekan dengan payung itu.

"Saudara Kiong apa yang terjadi?"

Kata orang itu.

"Ini soal hidup dan mati, lekas kau ke mari!"

Kata Kiong Mi Yun "Aku belum bisa menjelaskannya sekarang padamu!"

Iwee-kang Ci Giok Phang tidak lemah. Dia balikkan tangannya menarik pedang yang ditekan oleh lawannya.

"Kau lihay. tapi sayang kau berkawan dengan si Iblis Tua. Jangan harap kau bisa kabur!"

Kata Ci Giok Phang. Ci Giok Phang mulai menggunakan jurus Siauw-yangkang terhadap orang yang bersenjata payung alias Kong-sun Po tersebut. Saat itu Kong-sun Po berpikir.

"Saudara Kiong mencuri arak mereka, itu memang salah besar. Tapi dia bilang ada masalah lebih gawat. Aku harus segera membantu dia dulu!"

Pikir Kong-sun Po.

Saat itu pedang Ci Giok Phang berkelebat dan mengarah ke tubuh Kong-sun Po.

ketika itu Kong-sun Po pun tiba-tiba membalikkan badannya dan langsung melompat meninggalkan gelanggang.

Ketika dia sedang bertarung dan berbalik sekarang punggung Kong-sun Po berada di depan musuh.

Sungguh sebuah gerakan yang sangat berbahaya sekali baginya.

Saat itu seolah dia membiarkan punggungnya terserang oleh lawan dan jadi sasaran empuk.

Tapi gerakan ini di luar dugaan Ci Giok Phang sehingga dia kaget.

"Entah tipu apa yang sedang dilakukan oleh lawan?"

Begitu pikir Ci Giok Phang. Ci Giok Phang sebenanya tidak ingin melukai lawannya itu. karena ia anggap sangat keterlaluan jika hanya karena arak harus mengambil jiwa musuhnya.

"Sekalipun arak obat itu sangat berharga, tapi jika hilang kami bisa membuatnya lagi. tetapi jika nyawa orang melayang karena seguci arak itu. sungguh keterlaluan!"

Begitu yang ada di benak Ci Giok Phang saat itu.

Lantaran Ci Giok Phang berpikir begitu buru-buru dia tarik kembali serangan pedangnya.

Memang dia berhasil membatalkan serangan pedangnya itu.

tetapi serangan dengan telapak tangan kirinya sudah tak bisa dia batalkan lagi.

Maka telapak tangan kirinya tetap mengenai punggung Kong-sun Po.

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda! Sesudah aku tahu apa masalah kawanku itu. aku akan kembali untuk minta maaf kepada Anda!"

Kata Kong-sun Po sopan sekali.

Sesudah itu Kong-sun Po langsung pergi menuju ke tempat Kiong Mi Yun.

Ci Giok Phang yang tangan kirinya menyentuh punggung Kong-sun Po.

di luar dugaan tiba-tiba bergetar, sehingga terpaksa dia harus mundur beberapa langkah.

Sekujur tubuh Ci Giok Phang pun terasa panas, tubuh Giok Phang terdorong oleh tenaga pelindung di tubuh Kong-sun Po.

Aneh sekali saat itu Ci Giok Phang menggunakan pukulan Siauw-yang-kang yang hebat, tapi tubuhnya masih bisa bergetar.

Untung dia tidak terlambat menarik serangannya, jika terlambat barangkali dia bisa celaka oleh serangan baliknya sendiri, karena pelindung tubuh lawan.

Oleh karena itu Ci Giok Phang mengelah napas dalam.

Sebaliknya Ci Giok Hian jadi penasaran bukan main.

Dia ayunkan tangannya.

Seketika itu juga enam buah pisau terbang menyambar ke arah Kong-sun Po.

Saat itu Kong-359 sun Po sudah ada di dekat kereta mewah itu.

Di sana dia berdiri dekat Kiong Mi Yun.

Sambaran enam buah pisau terbang itu sudah didengar okeh Kong-sun Po.

dia berteriak.

"Maaf Nona!"

Kata Kong-sun Po. Dia putarkan payung di tanganma Maka terdengarlah suara nyaring berulang-ulang.

"Tang! Ting! Tang! Ting!"

Keenam pisau terbang itu satu persatu berjatuhan ke tanah tidak mengenai sasaran.

Payung yang digunakan oleh Kong-sun Po terbuat dari kain kasar, tapi aneh payung itu mampu membuat pisau terbang nona Ci terpental semuanya.

Kelihayan kung-fu lawan ini membuat Ci Giok Hian tercengang, matanya terbelalak dan mulutnya menganga saking herannya.

Kiong Mi Yun melompat ke atas seekor kuda sambil tertawa mengejek "Kita pinjam dua ekor kuda mereka ini!"

Kata Kiong Mi Yun.

"Kita telah mencuri, mencuri sekali lagi kan tidak masalah"

Kong-sun Po tertegun, dia merasa tidak enak hati.

tapi tak lama dia mengangguk.

Terpaksa Kong-sun Po pun melompat ke punggung kuda yang satunya.

Bersama nona Kiong mereka meninggalkan penginapan itu.

Ci Giok Phang tidak berdaya untuk mencegah orang mencuri kuda mereka, dia hanya menggelengkan kepalanya.

"Aaah! Kepandaian pemuda itu lebih tinggi dari kita!"

Kata Ci Giok Phang.

"Biarkan saja mereka pergi! Aku kira mereka bukan sahabat Chu Kiu Sek. pemuda itu bersikap murah hati kepadaku."

Alis Ci Giok Hian berkerut.

"Kita telah kehilangan arak obat itu. lalu kita harus bagaimana? Apa kita akan melanjutkan peiralanan kita atau jangan?"

Kata Ci Giok Hian bingung. Ci Giok Phang tersenyum.

"Kok Siauw Hong telah pergi ke Lok-yang."

Kata Giok Phang.

"mengapa kau tidak segera ke sana? Arak obat itu telah dicuri orang, tapi aku bisa menggunakan Siauw-yangkang untuk mengobati Paman Han."

Tiba-tiba wajah nona Ci berubah kemerah-merahan "Hm! Kau masih bisa mentertawakan aku?"

Kata Ci Giok Hian kesal bukan main.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun berhasil mencuri arak obat dan dua ekor kuda milik Ci Giok Phang dan Ci Giok Hian.

Mereka kagum ternyata kedua kuda itu memang kuda jempolan.

Saat itu fajar pun sudah mulai menyingsing di ufuk Timur Kuda-kuda itu sangat istimewa.

Larinya luar biasa cepat.

Dengan tak terasa mereka telah menempuh perjalanan sejauh 20 li lebih.

Kiong Mi Yun tertawa riang.

"Sekarang kita sudah boleh mengurangi kecerpatan lari kuda ini. Kong-sun Toa-ko maafkan aku. semalam aku telah merepotkan kau!"

Kata Kiong Mi Yun sambil mengawasi ke arah kawannya.

"Eh! Kenapa kau kelihatan tidak gembira"

Kong-sun Po menghela napas panjang "Yaaah! Aku jadi tidak enak hati karena kita mencuri barang milik mereka."

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun tertawa.

"Selama setengah tahun ini entah sudah berapa banyak barang orang yang telah kucuri, jika tidak begitu dari mana aku bisa makan'. Barangkali aku sudah mati kelaparan."

Kata Kiong Mi Yun dengan jujur.

Kedua orang tua Kiong Mi Yun memang penjahat besar dari aliran sesat.

Kiong Mi Yun seorang gadis yang polos, tapi juga agak sesat.

Sejak kabur dari rumahnya dia selalu mencuri barang milik hartawan kaya.

Sejak itu dia tidak menganggap mencuri itu sebagai pebuatan jahat.

Kong-sun Po tersenyum ketika memikirkan nona ini sambil berpkir.

"Mencuri di rumah hartawan baik atau di rumah orang jahat, tentu saja ada bedanya."

Pikir Kong-sun Po.

Kong-sun Po ingin menegur perbuatan kawan barunya ini.

tetapi dia tidak ingin berdebat dengannya karena belum terlalu akrab dengan kawan baru ini.

Ketika Kiong Mi Yun ditatap dengan tajam oleh Kong-sun Po.

Mi Yun tersenyum.

"Dulu aku mencuri untuk biaya hidup sehari-hari."

Kata Kiong Mi Yun tanpa ditanya.

"Sekarang aku mencuri karena aku ingin menyelamatkan nyawa sahabatku. Aku yakin arak obat ini sangat berharga bagi mereka, tetapi aku pikir nyawa orang lebih berharga. Benar, kan?"

Kong-sun Po tercengang mendengar penjelasan itu.

"Oh, jadi arak ini arak obat yang bisa menyembuhkan penyakit seseorang'?"

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun tertawa.

"Kau bisa memecahkan ilmu Siu-lo-im-sat-kang. mengapa kau tidak mengetahui tentang arak obat Kiu-thiansun-yanpek-hoat-ciu?. Aku dengar dari pembicaraan mereka saat bertarung dengan si Iblis Tua. Arak obat ini mampu menyembuhkan orang yang terkena pukulan Siu-lo-im-362 satkang. begitu kira-kira yang bisa kutangkap dari pembicaraan mereka tadi."

Kata Kiong Mi Yun. Tiba-tiba Kong-sun Po ingat sesuatu.

"Hm! Aku tahu sekarang, kau mencuri arak obat itu untuk Han Toa-ko. kan?"

Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun mengangguk.

"Benar, jika kita berhasil menyusul Han Toa-ko. dan ternyata dia belum dilukai oleh Chu Kiu Sek. arak obai ini akan kukembalikan lagi pada pemiliknya!"

Kata Kiong Mi Yun. Kong-sun Po tersenyum pahit.

"Tetapi karena kau telah mencuri arak mereka, tentu mereka akan mencurigai kita sebagai kawan Chu Kiu Sek!"

Kata Kong-sun Po agak menyesal.

"Kong-sun Toa-ko. jika kita memohon dengan jujur, aku yakin mereka tidak akan memberikan arak obat ini kepada kita. Aku mencuri arak ini untuk menolong orang, aku kira ini tidak jahat! "

Kata Kiong Mi Yun. Kong-sun Po mengangguk lesu.

"Ya. kalau begitu kita harus segera mencari Han Toako!"

Kata Kong-sun Po Sekalipun Kong-sun Po menyetujui gagasan Kiong Mi Yun.

hatinya tetap merasa tidak enak.

Kiong Mi Yun yang selalu berjalan bersama pemuda itu.

lama-lama dia jadi tertarik juga pada kejujuran Kong-sun Po.

Tetapi dia tidak jatuh cinta karena dia telap mencintai Han Pwee Eng yang dia kira seorang lelaki.

Sedang Kong-sun Po menurut pendapat Kiong Mi Yun kalah tampan dibanding dengan Han Pwee Eng...

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Setelah Han Pwee Eng berpisah dengan Kiong Mi Yun.

dan dia sedang melanjutkan perjalanan sambil tak hentinya tersenyum, saat dia teringat pengalamannya dengan gadis nakal itu.

Tiba-tiba nona Han menghela napas panjang.

"Aaah. tidak kusangka aku telah membuat seorang nona jatuh cinta kepadaku. Aku kira sekarang dia sedang merindukan aku'?"

Pikir Han Pwee Eng sambil tersenyum geli.

Han Pwee Eng ingin segera sampai di rumahnya karena ingin segera bertemu dengan ayahnya.

Oleh karena itu dia coba melupakan semua itu dan terus memacu kudanya secepat mungkin agar bisa segera sampai.

Kuda yang dinaiki nona Han seekor kuda jempolan, tidak heran jika kuda itu bisa lari cepat sekali.

"Paling lama lima hari lagi aku sudah akan tiba di Lokyang."

Begitu pikir nona Han.

Sesudah Han Pwee Eng melakukan perjalanan selama dua hari diseling untuk makan dan bermalam di penginapan, dia merasa kasihan saat dia melihat para pengungsi yang berjalan di sepanjang jalan Rata-rata para pengungsi itu ingin menghindari bahaya perang yang mulai berkecamuk.

Tetapi karena banyaknya para pengungsi itu.

Han Pwee Eng khau atir kudanya akan menabrak mereka.

Terpaksa dia melambatkan lari kudanya.

Semakin mendekati kota Lok-yang para pengungsi itu jadi semakin banyak saja Pada hari yang kelima, jarak ke Lok-yang kira-kira hanya tinggal 100 li lagi saja.

Ketika itu Han Pwee Eng sedang menjalankan kudanya di jalan yang berbatu-batu.

Dia melihat seorang pengungsi tua sedang menatapnya, seolah orang itu ingin bertanya kepadanya, tapi tidak berani.

Untung Han Pwee Eng menjalankan kudanya dengan perlahan-lahan sehingga dia bisa melihat lelaki tua itu sedang menatapnya.

Jika kuda nona Han dilarikan dengan cepat, pasti dia tidak akan melihat orang tua itu.

"Oh!"

Han Pwee Eng mengeluh.

Ternyata lelaki tua itu bermarga Ong.

dia tetangga Han Pwee Eng di Lok-yang.

Han Pwee Eng segera menghentikan kudanya, dan langsung melompat dari atas kudanya.

Sesudah menambat kudanya di sebuah pohon, nona Han menghampiri orang tua she Ong itu.

Saat itu orang tua itu sedang istirahat bersama keluarganya di tepi jalan.

Melihat Han Pwee Eng menghampiri mereka orang tua itu tersenyum "Apakah kau No...

Eh Han Siauw-ko?"

Kata orang tua itu sambil tersenyum. Lelaki tua itu memang mengenali Han Pwee Eng.

"Aku rasa kita kurang bebas bicara di sini."

Kata Han Pwee Eng.

"mari ikut aku ke bawah pohon itu!"

Lelaki tua itu mempunya dua orang anak dan seorang menantu ditambah seorang cucu perempuan yang baru berumur tujuh tahun.

Gadis kecil itu menatap ke arah nona Han dengan mata terbelalak, kelihatan dia kaget dan heran.

"Kau Nona Han. kan?"

Kata gadis itu.

"Aku dengar kau pergi ke Yang-cou akan menikah. Tetapi kenapa kau jadi berubah dan berpakaian seperti lelaki?"

Seketika wajah Han Pwee Eng berubah merah.

"Ling Ling. ternyata kau masih mengenaliku!"

Kata nona Han.

"Wah kakimu sudah bengkak, ayo aku gendong sebentar."

Han Pwee Eng menggendong Ling Ling yang dia bawa ke bawah sebuah pohon yang rindang.

"Nona Han. mengapa kau kembali ke sini sendiri saja?"

Kata lelaki tua itu.

"Aku dengar kau akan menikah di Yangcou. Aku ikut gembira mendengar khabar tti. Sekarang keadaan sedang kacau sekali, mengapa kau ikuti tradisi untuk pulang ke rumah ayahmu? Jika mau pulang pun sebaiknya kau harus membawa pendamping Aah. Nona barangkali Nona heran mengapa kami ada di sini? Sekarang kami sedang dalam perjalanan hendak mengungsi!"

"Aku memikirkan keadaan Ayahku, aku pulang untuk menjenguk beliau. Pasukan Mongol sudah menyerang lalu bagaimana keadaan di kota Lok-yang?"

Kata nona Han.

"Duapuluh liari yang lalu kami dengar pasukan Mongol sudah menyerang ke kota Hoan-sui. Esok harinya kami langsung meninggalkan rumah kami untuk mengungsi ke tempat yang jauh. Mengenai keadaan kota Lok yang. maaf aku jadi tidak tahu sama sekali. Entah bagaimana keadaannya sekarang?"

Kata orang she Ong itu. Kota Han-sui hanya berjarak 200 li dari kota Lok-yang. saat mendengar khabar dari orang tua she Ong itu. nona Han kaget bukan kepalang.

"Begitu cepat pasukan Mongol melakukan serangan?"

Pikir nona Han.

"Barangkali pasukan Mongol belum menyerbu sampai ke Lok-yang."

Kata menantu lelaki orang she Ong itu menyela.

"Paman Ong. sebelum kau mengungsi apa kau melihat Ayahku?"

Tanya nona Han. Orang she Ong itu menghela napas panjang.

"Aah! Nona Han. kau sudah tahu bagaimana aku berhutang budi pada ayahmu. Aku sering mendapat pertolongan dari beliau. Ketika aku terserang penyakit encok. beliau yang memberiku obat. Masakan ketika kami hendak mengungsi kami tidak pamit dulu kepada ayahmu"

Kala orang she Ong.

"Bagaimana keadaan Ayahku?"

Tanya nona Han "Apa penyakitnya sudah sembuh? Apa dia tidak ingin mengungsi seperti kalian?"

"Aku kira keadaan ayahmu sudah semakin membaik, saat aku akan pergi ayahmu memakai tongkat mengantarkan aku sampai di pintu pagar rumahnya."

Kata paman Ong sambil mengelah napas.

"Ayahmu orang paling kaya di kampung kita. Jika tentara Mongol datang ayahmu akan terancam bahaya besar. Nona! Aku yakin tentara Mongol pasti akan melakukan perampokan di rumahmu. Hari itu aku menyarankan kepada ayahmu agar dia juga mengungsi bersama kami. Tetapi ayahmu bilang dia kurang leluasa berjalan, maka dia pasrah dan tetap akan tinggal di rumah saja. Aku sarankan bagaimana jika memakai kereta saja. Tapi ayahmu bilang dia tidak mau ngungsi. Kami diberi beberapa puluh tail perak untuk biaya di perjalanan olehnya."

Rumah Han Pwee Eng berada di sebuah desa di luar kota Lok-yang.

Orang-orang desa hanya tahu Han Tay Hiong seorang pendatang kaya-raya, tak ada yang tahu bahwa dia bisa silat.

Setelah mendengar ayahnya sehat Han Pwee Eng agak lega hatinya.

"Terima kasih atas perhatian Paman pada Ayahku."

Kata nona Han. Paman Ong menghela napas panjang.

"Jangan bilang begitu. Nona. Malah kami yang sangat berterima kasih kepada ayahmu. Oh. jika kau pulang kau nasihati ayahmu agar dia mau mengungsi. Aku y akin dia akan mendengar kata-katamu."

Kata paman Ong. Nona Han tersenyum.

"Terima kasih atas saranmu. Paman. Pasti akan kunasihati Ayahku."

Kata nona Han.

"Ah aku lupa. saat kami mau berangkat kami sempat singgah lagi ke rumahmu. Entah karena ayahmu menganggap aku cerewet atau kenapa, dia tak membuka pintu rumahnya."

Kata paman Ong. Mendengar keterangan itu nona Han kager.

"Tidak ada orang yang membukakan pintu?"

Kata nona Han.

"Mungkin hari itu aku terlalu pagi saat mengetuk rumah ayahmu."

Kata menantu paman Ong.

"Biasanya orang kaya bangun agak siang, mungkin Han Lo-ya masih tidur. Nona Han, ayahku kurang bisa bicara mohon kau memaafkannya"

Mendengar keterangan itu nona Han kaget.

"Lwee-kang Ayahku sangat tinggi. Jika ada suara pasti dia akan mendengar. Di sana masih ada beberapa pelayan Ayahku. Bagaimana mereka pun tak mendengar ketukan pintu dari Paman Ong?"

Pikir nona Han.

Nona Han cemas.

Tetapi dia yakin pada kepandaian ayahnya, sekalipun dalam keadaan sakit dia akan mampu melawan musuh-musuhnya.

Kecuali ayahnya bertemu dengan musuh yang sangat tangguh, mungkin Haa Tay Hiong akan kalah.

Sedang yang membuai nona Han heran, karena Paman Ong baru bertemu dengan ayahnya, bagaimana tiba-tiba ayahnya tidak mau meladeni kedatangan Paman Ong.

Kemudian Han Pwee Eng berpikir.

"Dari sini ke rumah sudah tidak begitu jauh. Mungkin malam ini juga aku akan sampai ke rumah, aku tak boleh buang waktu."

Begitu nona Han Pwee Eng berpikir. Lalu dia berkata pada paman Ong.

"Paman Ong. terimalah kudaku ini untuk kau pakai dalam perjalananmu. Sekarang aku akan pulang, sampai ketemu pula pada saat keadaan sudah aman kembali!"

Kata nona Han.

"Oh terima kasih Nona Han, kuda ini bagiku sangat bermanfaat sekali. Kau sangat baik pada kami. Semoga Thian melindungimu, dan kalian suami isteri bisa hidup bahagia."

Kata paman Ong.

Ketika itu Paman Ong mengira nona Han sudah menikah Tapi ketika melihat kenyataan nona Han pulang sendirian saja tanpa suaminya, paman Ong jadi menduga suami isteri itu kurang cocok.

Melihat Paman Ong mengawasinya.

Wajah nona Han langsung merah.

"Mudah-mudahan saja begitu."

Sahut nona Han sambil tersenyum. Han Pwee Eng langsung pergi meninggalkan keluarga Ong itu. Setelah dia sendirian saja di jalan raya, nona Han jadi berduka sekali.

"Pasti Ayah tidak mengetahui aku akan pulang dalam keadaan seperti ini. Aah. aku mau bilang apa? Ketika aku pergi aku memang mau menikah dan hidup bahagia selamanya. Tetapi ternyata bukan kebahagiaan yang kuraih, malah penghinaan yang aku terima di sana. Sesudah kejadian ini aku jadi tidak punya keinginan untuk menikah. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan hal ini kepada Ayahku?"

Begitu nona Han berpikir. Han Pwee Eng mengetahui bekas calon suaminya Kok Siauw Hong sedang menuju ke rumahnya.

"Kok Siauw Hong pria yang berani. Dia berani datang menemui Ayahku padahal aku tahu benar adat Ayahku. Dia sangat sayang kepadaku, mana bisa dia membiarkan aku dihina demikian? Sifat Ayahku keras, dalam keadaan gusar bukan tidak mungkin dia akan turun tangan terhadap Kok Siauw Hong. Sekalipun dia bersalah kepadaku tapi aku juga harus mengakui bahwa nasibku pun buruk. Aku tidak akan membiarkan Ayah membunuh dia. Ah! Aku harus sampai lebih dulu dari Kok Siauw Hong agar aku bisa lebih cepat bertemu dengan Ayah."

Di jalan raya banyak pengungsi yang berjalan secara beriringan, sehingga nona Han kurang leluasa menggunakan gin-kang untuk berlari cepat.

Akhirnya dia mengambil keputusan lewat jalan setapak.

Rumahnya ada di sebelah selatan kota Lok-yang.

Setelah lewat gunung dia akan segera sampai di rumahnya.

Di jalan setapak tidak banyak pengungsi dan nona Han bisa mengerahkan gin-kangnya untuk berlari cepat.

Saat dia memasuki desa rembulan di langit sudah memancarkan cahayanya.

Di sepanjang jalan setapak itu Han Pwee Eng tidak bertemu dengan siapapun.

Semua rumah milik penduduk desa semuanya tertutup rapat, ini tidak mengherankan bagi si nona, dari paman Ong dia sudah tahu penduduk sudah mengungsi semuanya.

Ketika dia sampai di depan rumahnya, nona Han terkejut bukan kepalang.

Ternyata dari kejauhan dengan bantuan sinar rembulan, dia lihat rumahnya yang besar dan sudah tua itu telah roboh sebahagian.

Tampak seperti hangus terbakar.

Sedang pintu rumah yang terbuat darikayu tebal pun sudah hangus terbakar separuh walau pintu itu masih tertutup.

Sesudah Han Pwee Eng sampai dan 370 menyaksikan keadaan rumahnya itu.

nona Han jadi berpikir.

"Entah dibakar oleh orang atau benar-benar telah terjadi kebakaran? Tetapi kelihatan rumah itu tidak terbakar semuanya, bagian belakang rumah itu masih ada kamar yang selamat dari jilatan si jago merah. Mudah-mudahan saja Ayah selamat!"

Pikir nona Han. Tanpa pikir panjang lagi nona Han berlari menuju ke kamar yang tidak terbakar itu "Ayah! Ayah! Aku pulang!"

Teriak Han Pwee Eng.

Panggilan Han Pwee Eng tidak mendapat sahutan dari ayahnya maupun salah seorang pelayannya.

Hal itu membuat hati nona Han jadi cemas bukan main.

Mendadak nona Han mencium bau amis.

Dia mengawasi ke arah bau amis itu.

Di sana tampak sesosok mayat tergeletak di dekat taman bunga, ternyata itu mayat tukang kebunnya.

Nona Han mendekati mayat itu.

dia perhatikan keadaan mayat itu dengan teliti.

Pada bagian kepala mayat itu terlihat sebuah lubang, nona Han yakin bahwa tukang kebunnya itu terluka oleh serangan ilmu jari yang lihay sekali.

Ayah nona Han berkepandaian tinggi, tapi dia tidak bisa menolongi tukang kebunnya.

Ini membuktikan bahwa pembunuh itu sangat lihay.

Seketika itu jantung nona Han seolah hendak melompat keluar.

Dia ingin berteriak tapi tidak mampu mengeluarkan suara.

Dia genggam pedangnya eraterat lalu berjalan ke bagian dalam rumahnya dengan hati-hati sekali.

Tak lama dia melihat ada dua sosok mayat lagi, itu mayat pelayan tua di rumahnya.

Saat nona Han berjalan ke belakang dia melihat lagi sesosok mayat yang lain, itu adalah mayat pelayan wanita.

Sekalipun kepandaian dua pelayan tua itu tidak setinggi kepandaian Chan lt Hoan dan Liok Hong.

tapi mereka berdua cukup pandai.

Sedang si pelayan wanita pernah ikut belajar ilmu pedang.

Tapi sebelum dia sempat menghunus pedangm a si pembunuh sudah berhasil membunuhnya.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya nona Han ketika itu.

"Hm! Siapa manusia berhati kejam ini!"

Pikir nona Han setelah menyaksikan keadaan mayat-mayat pembantu rumah tangganya yang menyedihkan itu. Karena gusarnya nona Han jadi tidak merasa takut lagi.

"Aku akan mengadu jiwa dengan pembunuh itu! Aku harap dia belum jauh dari sini!"

Pikir nona Han Setelah mencari kian-kemari dia tidak menemukan mayat ayahnya, hingga timbul harapannya bahwa ayahnya tidak terluka oleh si pembunuh kejam itu.

"Mungkin Ayah selamat dari pembunuhan keji ini? Apakah Ayah sempat kabur atau malah terluka parah dan sedang bersembunyi di ruang rahasia?"

Pikir nona Han. Kemudian nona Han kembali berteriak-teriak.

"Ayah! Ayah!"

Namun tidak ada sahutan dari ayahnya.

Tiba-tiba nona Han mendengar suara orang tertawa, suara tawanya menyeramkan sekali.

Han Pwee Eng menoleh ke arah suara orang tertawa itu.

Di suatu tempat, tampak seseorang sedang berdiri di tengah ruang tamu.

Gerakan orang itu sangat cepat.

Nona Han tidak tahu kapan orang itu muncul, hanya tahutahu orang itu sudah ada di ruang tamu.

Sesudah diperhatikan dengan seksama, ternyata orang itu Chu Kiu Sek adanya.

Empat tahun yang lalu Chu Kiu Sek telah menggunakan ilmu Siu-lo-im-sat-kang dan melukai ayah nona Han.

Tetapi si Iblis Tua ini itu pun terluka oleh serangannya.

Nona Han masih ingat pada kata-kata ayahnya.

"Sebelum lukanya sembuh, kepandaian si Iblis Tua itu pun tidak akan pulih. Jika dia mencariku, sekalipun aku dalam keadaan setengah lumpuh, aku masih mampu untuk menghadapinya."

Begitu kata ayah nona Han waktu itu.

Tak heran jika Han Tay Hiong berani menyuruh anaknya pergi ke Yang-cou untuk melangsungkan pernikahannya.

Tadi dia tidak mengira kalau pembunuh para pegawainya itu Chu Kiu Sek.

Sekarang orang itu muncul di hadapan ona Han Pwee Eng.

Itu berarti bahwa luka si Iblis Tua ini sudah pulih sama sekali.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 14 Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.

Dia tidak menyangka Iblis Tua itu akan muncul begitu cepat di hadapannya.

Dengan gusar kemudian nona Han membentak ke arah si Iblis Tua itu.

"Kau. kau si Iblis Tua! Kau..."

Saking gusarnya ini membual kata-kata Han Pwee Eng jadi tersendat-sendat, sehingga ucapannya pun jadi tidak jelas.

Padahal nona Han ingin menanyakan diapakan ayahnya oleh si Iblis Tua.

Tapi si nona tidak jadi menanyakan tentang ayahnya, karena pertanyaan seperti itu hanya akan menunjukkan kelemahannya.

Nona Han malah takut kalau Chu Kiu Sek akan menjawab, bahwa ayahnya telah dibunuhnya, dan Chu Kiu Sek akan bertanya mau apa dia?

Melihat nona Han agak gugup Chu Kiu Sek malah tertawa terbahak-bahak.

"Sayang! Sayang sekali!"

Kata Chu Kiu Sek.

"Apa yang kau sayangkan?"

Bentak nona Han.

Sebenarnya nona Han ingin langsung menyerang si Iblis Tua itu.

tapi nona Han sadar musuhnya ini sangat lihay.

Dulu dia berhasil melukai si Iblis Tua karena pada saat itu dia bergabung dengan ayahnya.

Ketika itu dia menggunakan ilmu pedang Keng-sin-kiam-hoat (lmu Pedang Mengejutkan Dewa), ilmu pedang khusus untuk menghadapi si Iblis Tua.

Nona Han pun sadar, jika dia langsung menyerang belum tentu dia akan menang.

Maka itu dia mencoba bersabar dan menekan emosinya sebisa mungkin.

Oleh karena itu nona Han terus menggenggam pedangnya erat-erat.

Dia berusaha mencari kesempatan untuk menyerang dengan pedangnya itu.

Chu Kiu Sek pun belum mau menyerang.

Mendengar pertanyaan nona Han dia malah tertawa.

"Ayahmu kira dia bisa menggunakan siasat yang tepat, sayang dia tidak bisa mengelabuiku!"

Kata Chu Kiu Sek. Ucapan si Iblis Tua ini membuat nona Han tertegun.

"Siasat apa?"

Pikir si nona. Kembali Chu Kiu Sek tertawa lagi.

"Bagus! Kau sudah tahu malah sengaja bertanya! Akan kuungkap siasat ayahmu yang busuk itu agar kau mengetahui kelihayanku."

Kata Chu Kiu Sek. Dia tatap wajah nona Han Pwee Eng dalam-dalam, baru kemudian dia bicara.

"Ayahmu itu banyak akalnya, aku kira dia sudah tahu aku akan muncul lagi di Kalangan Kang-ouw. Dia juga tahu aku akan membalas dendam kepadanya. Apa yang 374 akan terjadi hari ini pun sudah masuk dalam perhitungannya...."

Kata Chu Kiu Sek.

"Selanjutnya bagaimana?"

Tanya nona Han.

"Nah itulah! Ayahmu lalu memikirkan siasat ini."

Kata Chu Kiu Sek.

"dia sendiri yang membakar rumah ini agar aku mengira dia telah kedatangan musuh besarnya yang tangguh dan telah membunuh orang-orangnya dengan keji. Dengan demikian dia bisa menghindar dariku."

Han Pwee Eng kaget tapi sedikit pun dia tidak percaya pada kata-kata Chu Kiu Sek itu.

"Lalu kau kira siapa yang membunuh orang-orangku itu?"

Tanya nona Han. Chu Kiu Sek tertawa dingm.

"Hm! Memang rupanya kau pandai bersandiwara! Hm! Apa masih harus aku jelaskan masalah ini padamu? Jelas itu perbuatan ayahmu, nona!"

Kata Chu Kiu Sek.

"Omong kosong!"

Bentak nona Han. Ketika melihat nona Han benar-benar gusar, dan tidak terlihat dia sedang berpura-pura, Chu Kiu Sek jadi tercengang.

"Eh apa aku telah salah menduga?"

Pikir Chu Kiu Sek Dia mengerutkan alisnya, kemudian dia berkata lagi "Jadi kau baru sampai?"

Kata Chu Kiu Sek.

"Ya! Memang kenapa"

Chu Kiu Sek tertawa.

"Ini benar! Pantas kau bisa dikelabui oleh ayahmu!"

"Hm! Jelas kau pembunuh pelayanku. kau kejam sekali! Jika kau mau membalas-dendam karena tusukan pedangku dulu. silakan kau bunuh aku! Tapi aku tidak akan membiarkan kau mencelakakan Ayahku!"

Kata nona Han. Chu Kiu Sek tertawa lagi.

"Kau bisa lolos dari pukulan telapak tanganku? Aku tak akan buru-buru membunuhmu. Tetapi kau tetap membela 375 ayahmu! Justru aku ingin mengungkap rahasia kebusukan ayahmu itu kepadamu, agar kau tahu wajah asli ayahmu!' kata Chu Kiu Sek. Sesudah berkata begitu Chu Kiu Sek berpikir.

"Bocah perempuan ini mengira ayahnya itu seorang pria sejati. Setelah kuungkap kebusukannya nanti dia pasti berduka! He. he. he. Menuntut balas dengan cara begini aku akan merasa lebih puas dari pada membunuhnya dengan sekali pukul!"

Pikir Chu Kiu Sek. Kemudian Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak karena puas.

"Apa yang kau tertawakan? Atas dasar apa kau tuduh Ayahku yang membunuh mereka?"

Bentak nona Han. Chu Kiu Sek tertawa dingin.

"Lalu atas dasar apa kau juga menuduh aku sebagai pembunuhnya?"

Kata Chu Kiu Sek.

"Memang benar kedatanganku ini hendak membunuh ayah dan orang-orang ayahmu Jika aku bisa datang lebih awal. maka akulah pembunuh mereka. Tetapi jika aku yang membunuh mereka, sudah pasti tidak akan meninggalkan bekas di tubuh para korbanku itu. Aku tidak bisa kung-fu yang bisa menghancurkan Thian-Ieng-kai korbanku, aku tidak mahir kung-fu itu!"

Kemudian Chu Kiu Sek tertawa dingin dan melanjutkan ucapannya.

"Beberapa pelayanmu itu berilmu silat tinggi. Aku yakin kau sudah memeriksa mayat mereka semuanya, bukan'?. Bukankah kau telah menemukan bekas luka di tubuh mereka? Sekarang kecuali ayahmu, mungkin hanya ketua Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay saja yang mampu kung-fu itu. Apa kau juga mengira kedua partai besar itu yang melakukan pembunuhan di rumahmu ini?"

Kata-kata Chu Kiu Sek cukup masuk akal.

biasanya Chu Kiu Sek memang membunuh orang dengan Siu-lo-im-satkang, dan pukulannya tidak akan meninggalkan bekas luka.

Barangsiapa yang terkena oleh pukulannya, pasti dia akan binasa dengan darah beku.

Han Pwee Eng pernah bertarung dengan Chu Kiu Sek, maka itu dia tahu Chu Kiu Sek tidak memiliki pukulan yang sekali pukul lawannya bisa langsung binasa.

Nona Han pun tidak percaya ayahnya menjadi pelaku pembunuhan keji itu.

Dia tahu semua pelayan ayahnya sangat setia kepada ayahnya, namun tetap di hati si nona timbul kecurigaan.

"Hm! Mungkin saja pembunuhnya orang lain? Tapi siapa orang itu?"

Pikir nona Han.

"Sebab ucapan Chu Kiu Sek tidak bisa dipercaya. Mungkin dia berbohong begitu ada maksudnya, jika tidak untuk apa dia membohongiku?"

Chu Kiu Sek tertawa.

"Baik. kau percaya atau tidak semua itu terserah kau saja! Sekarang tiba saatnya aku akan menuntut balas padamu!"

Kata Chu Kiu Sek. Han Pwee Eng mengeretakkan giginya, dia hunus pedangnya sambil membentak dengan suara keras.

"Mari maju!"

Kata Han Pwee Eng menantang. Chu Kiu Sek kembali tertawa.

"Kau dari tingkat yang lebih muda. Menurut aturan aku tidak seharusnya menghinamu orang dari tingkatan yang lebih muda. Tetapi karena kau pernah menusukku dengan pedangmu, maka dendam itu harus kubalas! Begini saja. jika kau bersedia menjadi muridku maka permusuhan itu kita sudahi! Bagaimana?"

Kata Chu Kiu Sek.

"Kentut!"

Kata nona Han dengan sengit.

Mendadak Han Pwee Eng melancarkan sebuah serangan maut ke arah Chu Kiu Sek.

Sebenarnya saat itu nona Han telah membuat kesalahan besar.

Dia tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik.

Bagaimanapun tingginya ilmu pedang nona Han.

tidak mungkin dia bisa membunuh musuhnya dengan sekali serang saja.

Jika seseorang ingin memenangkan pertarungan dia harus lebih dulu mengetahui kelemahan lawan, jika tidak justru dia sendiri yang akan celaka.

Tadi nona Han sudah berpikir akan bertarung mati-matian, jika perlu dia akan mati bersama-sama dengan lawannya.

Tetapi karena dia sangat gusar dia juga lupa hingga menyerang lebih dulu.

Tak lama tampak bayangan pedang dan telapak tangan Chu Kiu Sek berkelebat-kelebat.

disusul suara benturan keras sekali.

Tak lama keduanya sudah terpisah jauh.

lengan baju Han Pwee Eng telah robek terkena pukulan lawan.

Hanya dalam sekejap Han Pwee Eng telah melancarkan tigabelas jurus pukulan.

Setiap jurus selalu mengarah ke jalan darah lawan yang mematikan.

Tetapi Chu Kiu Sek selalu lolos bahkan jari tangannya terus menguntit ke arah nona Han.

Serangan-serangan nona Han mampu dia patahkan.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek menyentil dengan jarinya, hal ini membuat tangan Han Pwee Eng kesemutan dan sakit bukan main.

Hampir saja pedang di tangan si nona terlepas dari tangannya.

Untung pada saat yang bersamaan, nona Han pun telah berhasil berganti jurus, jika tidak dia bisa celaka.

Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak.

"Bocah! Kau gesit sekali!"

Chu Kiu Sek memuji.

Tibatiba tubuh Chu Kiu Sek berputar, sedang sepasang telapak 378 tangannya dia ulurkan ke depan untuk mencengkram kedua bahu nona Han.

Pada saat bersamaan Han Pwee Eng pun bergerak, sekaligus dia menggerakkan pedangnya dan meggunakan jurus "Kim-cin-tuh-kiap" (Jarum Emas Melewati Maut).

Chu Kiu Sek memang sudah menduga kalau nona Han akan berbuat begitu, sedikitpun dia tidak gentar.

Dia melangkah maju.

Tiba-tiba sepasang telapak tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan.

Saat itu Chu Kiu Sek mengeluarkan jurus "Imyang-siang-tong-ciang (Pukulan Berantai lm-yang) Jurus yang digunakan oleh Chu Kiu Sek sangat ganas dan berbahaya, tapi serangan itu di arahkan ke bagian tangan Han Pwee Eng.

Maksud si Iblis Tua hanya ingin merebut pedang di tangan si nona dan si nona tidak terluka parah.

Sebaliknya yang ada di benak Han Pwee Eng.

justru dia ingin mengadu jiwa dengan si Iblis Tua.

Dia buru-buru menabahkan pedangnya dengan jurus "Siok-li-toh-cun" (Gadis Cantik Menunjukkan Jalan).

Ujung pedang nona Han menusuk ke jalan darah "Khie-bun-hiat"

Lawan.

Chu Kiu Sek pernah terluka oleh pedang Han Pwee Eng.

Tak heran jika dia agak berhati-hati menghadapi ilmu pedang itu.

Dia mengelak, hingga keduanya mundur ke belakang sejauh tiga langkah.

Ingat bahaya yang hampir saja dialaminya tidak terasa tubuh Han Pwee Eng sudah mandi keringat.

Melihat hal itu Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak "Kau tidak akan mampu melawanku lagi.

lebih baik kau ikut saja denganku, jika tidak kau bisa celaka."

Kata Chu Kiu Sek mengejek.

"Biar bagaimana aku harus bertarung denganmu!"

Kata Han Pwee Eng. Han Pwee Eng kembali menyerang, sedangkan Chu Kiu Sek terus mmperhatikan jurus nona Han sambil tertawa dingin.

"Jika kau ingin mengadu jiwa denganku, aku tidak mau! Tetapi aku ingin meringkusmu! Ha. ha. ha! Setelah aku berhasil meringkusmu, aku ingin tahu apakah ayahmu tetap tidak mau keluar dari persembunyiannya'."

Kata Chu Kiu Sek.

Nona Han baru sadar mengapa Chu Kiu Sek menggunakan pukulan Im-yang-siang-tong-ciang dan tidak mnggunakan pukulan Sui-lo-im-sat-kang.

Rupanya bajingan ini ingin menangkap dia hidup-hidup.

Chu Kiu Sek berharap setelah Han Pwee Eng tertangkap jidup.

ayahnya akan muncul.

Sesudah tahu maksud orang itu nona Han jadi girang sekali "Kalau begitu Ayah masih selamat dan belum dilukai olehnya?"

Pikir nona Han.

"Karena dia ingin menangkapku maka aku harus berusaha agar tidak tertangkap olehnya. Hm! Asalkan Ayahku selamat, jika aku harus mati pun tidak masalah. Jika dia berhasil menangkap aku. mengapa aku tidak bunuh diri dengan memutuskan urat nadiku?"

Setelah berpikir begitu nona Han terus menyerang dengan hebat. Dia mengeluarkan seluruh jurus pedang "Keng-sinkiam-hoat"

Ciptaan ayahnya yang lihay sekali.

Sebuah jurus khusus untuk menghadapi Chu Kiu Sek.

Tetapi karena Iweekang nona Han belum sempurna sekali, tidak heran jika dia tidak mampu merebut kemenangan dengan cepat.

Sebaliknya lawannya pun sudah berusaha keras menangkap dia.

tetapi belum juga berhasil menangkap si nona.

"Tak kusangka belum tiga tahun kepandaian bocah ini sudah maju pesat sekali. Jika dia tidak kulukai sekarang 380 juga. mungkin aku yang akan terluka olehnya. Hm! Terpaksa aku harus melukainya!"

Pikir Chu Kiu Sek.

Satu ujung pedang nona Han mengarah ke dada Chu Kiu Sek.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek menyentil ujung pedang lawan.

Dia gunakan dua bagian tenaga Siu-lo-im-sat-kang.

Tibatiba nona Han merasakan gagang pedangnya dingin sekali, dia jadi menggigil.

Untung pedangnya tidak sampai terlepas dari cekalan nona Han.

Mengetahui pedangnya tidak terlepas dari tangan nona Han.

tentu saja Chu Kiu Sek jadi kaget bukan main.

Dia coba menambah kekuatan serangannya.

Pada saat yang bersamaan pedang nona Han menusuk ke arah dada Chu kiu Sek dengan jurus Keng-sinkiam-hoat yang sangat lihay.

Chu Kiu Sek terkejut bukan kepalang.

Terpaksa dia harus berkelit untuk menghindar dari serangan itu.

Sayang sekalipun serangan itu sangat hebat, tetapi tenaga nona Han masih rendah.

Serangan nona Han tidak mampu melukai Chu Kiu Sek.

Sekarang malah Chu Kiu Sek mampu membalas menyerang ke arah nona Han.

Untung nona Han masih bisa bertahan dan menangkis setiap serangan Chu Kiu Sek yang ganas itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang memuji.

"Ilmu pedang yang bagus!"

Kata suara orang itu.

Seruan yang mendadak itu membuat Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang.

Namun, dia tetap berusaha agar bisa tenang.

Dia sentil pedang nona Han sehingga jadi miring ke samping.

Kemudian Chu Kiu Sek membalikkan tangannya dan melancarkan serangan ke arah suara tadi.

"Hai bocah turun kau!"

Bentak Chu Kiu Sek. Serangan Chu Kiu Sek itu hebat dan tak lama terdengar suara nyaring.

"Buum!"

Sesosok tubuh turun dan berdiri di atas tanah.

Saat nona Han mengawasi orang itu dia kaget, karena orang itu Kok Siauw Hong adanya, atau bekas calon suaminya.

Han Pwee Eng sudah tahu Kok Siauw Hong berangkat lebih dulu darinya, dia juga heran kenapa pemuda itu ada di situ?

Sedang nona Han pulang dengan mengambil jalan pintas, tidak heran jika dia bisa sampai lebih dulu dari pemuda itu.

Saat Kok Siauw Hong tiba saat nona Han sedang bertarung secara matimatian melawan Chu Kiu Sek.

Tadi Kok Siauw Hong sedang menonton perkelahian yang seru itu.

Saking kagum tanpa merasa dia memuji.

Suara pujian Kok Siauw Hong mengagetkan Chu Kiu Sek.

Tentu saja Chu Kiu Sek langsung menyerang ke arah suara itu.

Sungguh mengherankan, serangan Chu Kiu Sek yang dasysat itu sedikitpun tidak melukai Kok Siauw Hong.

Tetapi sebaliknya, pemuda itu turun dengan melompat ke tanah.

Lebih mengejutkan lagi.

sekalipun diserang demikian hebat.

Kok Siauw Hong tetap tegar dan tidak kedinginan seperti biasanya jika orang diserang oleh ilmu Sui-lo-im-sat-kang Chu Kiu Sek.

Serangan Chu Kiu Sek itu serangan pelajaran tingkat delapan, sekalipun lwee-kang lawan tinggi pasti dia akan menggigil kedinginan.

Chu Kiu Sek mengerutkan dahi melihat Kok Siauw Hong tetap bugar karena herannya.

"Dia masih muda. tetapi dia sanggup menahan seranganku. Latihanku selama empat tahun ini ternyata tidak berguna untuk dipakai menyerang dia. Semula aku kira aku sudah tidak punya tandingan lagi di dunia Kangouw. Tidak kusangka sekarang telah bermunculan generasi muda yang luar biasa? Saat aku bertemu Kong-sun Po. aku heran. Sekarang ada lagi pemuda lain yang sanggup menahan seranganku. Entah berapa banyak lagi pemuda 382 gagah seperti mereka? Apa barangkali ilmu Siu-lo-im-satkangku sekarang sudah tidak berguna?"

Pikir Chu Kiu Sek yang ingin menjagoi dunia persilatan.

Tetapi sekarang harapannya mulai agak pupus pada saat dia mengetahui sudah banyak lawan yang tangguh.

Ketika Kok Siauw Hong menyaksikan rumah Han Tay Hiong telah musnah dilalap api.

dia heran dan kaget.

Kedatangan Kok Siauw Hong memang karena dia ingin menemui orang she Han tersebut.

Tujuan Kok Siauw Hong untuk membatalkan pertunangannya dengan puteri orang she Han itu.

Dia tidak mengira di tempat ini malah dia bertemu dengan Han Pwee Eng.

bekas tunangannya.

"Ke mana Paman Han? Apa dia telah mati terbakar? Tetapi aku tahu dia berilmu tinggi, saat ini keadaan Paman Han setengah lumpuh. Jika Paman Han sudah mati. aku harus mencari siapa untuk membatalkan pertunanganku?"

Begitu pemuda ini berpikir.

Situasi saat itu sungguh berbahaya, tadi dia telah diserang hebat sekali.

Dia tidak kenal siapa Chu Kiu Sek?

Setelah merasakan pukulannya, dia tahu bahwa orang ini yang telah melukai Han Tay Hiong empat tahun yang lalu.

Kok Siauw Hong merasa bersalah besar terhadap nona Han dan ayahnya.

Saat ini dia anggap ini kesempatan bagim a untuk membantu bekas tunangannya.

Maka tanpa ragu-ragu lagi dia menghampiri nona Han.

dengan suara perlahan dia berkata.

"Jangan takut, kita lawan Iblis Tua ini bersama-sama!"

Kata Kok Siauw Hong.

Nona Han sedikit canggung terhadap pemuda ini.

Sekalipun Kok Siauw Hong lebih mencintai gadis lain.

namun mereka masih terhitung tunangan pemuda itu.

Hati nona Han jadi kacau, dia tidak tahu apa dia harus girang 383 atau malah harus berduka?

Ketika itu dia hanya menganggukkan kepalanya.

Mendengar kesepakatan kedua muda-mudi itu Chu Kiu Sek tertawa.

"Bagus!"

Kata Cu Kiu Sek.

"Aku ingin tahu apakah kau anggup menyambut beberapa pukulanku?"

"Tadi dia mampu menahan seranganku. Entah beberapa tahun lagi barangkali aku yang kalah oleh mereka? Oleh karena itu sekarang aku harus membunuh mereka berdua sekarang juga! lerutama bocah lelaki ini harus kusingkirkan lebih dulu. sedangkan bocah perempuannya aku kira bisa diurus kemudian..."

Begitu Chu Kiu Sek berpikir.

Setelah berpkir langsung dia menyerang Kok Siauw Hong yang hendak dibunuhnya.

Saat Kok Siauw Hong melihat bahu Chu Kiu Sek bergerak.

Han Pwee Eng langsung merasakan hawa dingin menyerang ke arahnya.

Saat itu Kok Siauw Hong tiba-tiba menarik tangan nona Han ke belakang dia.

sedang tangan kanannya dipakai untuk menangkis serangan Chu Kiu Sek yang dasyat itu.

"Plak!"

Terdengar suara nyaring.

Sekalipun sudah berada di belakang Kok Siauw Hong.

nona Han masih merasakan hawa dingin menyerang ke arah dadanya.

Tak lama tubuh si nona menggigil bagaikan orang kedinginan.

Melihat muda-mudi itu tidak roboh oleh serangannya.

Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang.

Padahal tadi serangan yang dia lancarkan itu serangan ilmu pukulan dari tingkat ke delapan.

Kok Siauw Hong kaget.

"Ternyata Iwee-kang nona Han sudah tinggi. Dia tidak pernah belajar Siauw-yang-sin-kang. ternyata dia mampu menahan serangan pukulan Sui-lo-im-sat-kung. Sungguh luar biasa!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong sanggup menahan serangan pukulan Suilo-im-sat-kang karena sejak kecil Kok Siauw Hong sudah belajar Siami-yang-sin-kamg dari ibunya.

Tidak heran jika dia bisa bertahan sekalipun ilmu itu tidak bisa mengalahkan Siulo-im-sat-kang.

Sebaliknya nona Han.

dia bisa bertahan karena dia telah minum arak Kui-thian-sun-yang-pek-hoa-cui.

Ditambah lagi nona Han pernah terluka oleh pukulan Chu Kiu Sek empat tahun yang lalu.

Arak obat itu selain menyembuhkan juga punya khasiat untuk daya tahan tubuh yang luar biasa.

Selain itu saat dia ditarik ke belakang oleh Kok Siauw Hong dengan ilmu Siauw-yang-sin-kang.

rupanya ini cukup membantu nona Han untuk bisa bertahan.

Ketiga karena nona Han tidak terserang langsung, dia hanya terserang oleh angin pukulan itu saja.

Sebenarnya Han Pwee Eng takut pada pukulan Chu Kiu Sek itu.

Setelah pengalaman tadi dan dia tidak kedinginan seperti dulu.

Han Pwee Eng jadi bertambah berani.

Dia sadar jika tidak terpukul langsung, pukulan lawan tidak terlalu berbahaya baginya.

Segera dia menggunakan Kengsin-kiam-hoat untuk menyerang ke arah Chu Kiu Sek dengan hebat.

Sebaliknya Kok Siauw Hong sambil membentak dia hunus pedangnya.

"Lihat pedangku!"

Kata Kok Siauw Hong.

Ilmu silat Kok Siauw Hong berhasil dipelajari dari ibunya yang mendapat pelajaran ilmu itu dan ayahmu Keluarga Kok sangat termasyur dengan ilmu pedang Cit-sui-kiam-hoatnya.

Ilmu pedang itu masih jauh di atas ilmu pedang Keng-sin-kium-hoat milik Han Pwee Eng.

Begitu Kok Siauw Hong menyerang, pedangnya berubah membentuk semacam tujuh kuntum bunga.

Bayangan tujuh kuntum bunga itu ialah ujung pedang Kok Siauw Hong yang digerakkan dengan cepat.

Serangannya tertuju pada tujuh jalan darah penting di tubuh Chu Kiu Sek.

Bukan main kagetnya Chu Kiu Sek mendapat serangan begitu hebat dari dua muda-mudi itu.

"Hm! Ilmu pedang pemuda ini tidak bisa dianggap ringan."

Pikir Chu Kiu Sek.

Segera dia kibaskan lengan bajunya.

Setelah terdengar suara benda beradu, maka tujuh bayangan bunga itupun sirna.

Pedang di tangan Kok Siauw Hong miring ke samping, dan telapak tangan pemuda itu terasa sakit.

Pemuda ini kaget dan sedikit kecut.

Hanya sekali mengibaskan lengan bajunya akibatnya demikian hebat.

Ujung baju Chu Kiu Sek bisa begitu keras hingga mampu dipakai menangkis pedang Kok Siauw Hong.

ini membuat pemuda itu sadar bahwa Chu Kiu Sek sangat berbahaya.

Sebenarnya Kok Siauw Hong tidak mengetahuinya, saat menangkis Chu Kiu Sek menggunakan dua ilmu silat secara berbareng, yaitu Siu-lo-im-sat-kang dan Tiat-yu-kang (Lengan baju besi).

Tetapi sayang kedua ilmu silat itu tidak bisa dipakai menyerang secara beruntun.

Buru-buru Chu Kiu Sek mundur tiga langkah karena khawatir lawan membalas menyerang.

Namun, saat dia mundur dia sempat melirik ke arah lengan bajunya.

Di sana tampak ada tujuh buah lubang bekas ujung pedang pemuda itu.

Untung bagi Chu Kiu Sek.

kedua mudamudi itu tidak segera menyerang dia.

Jika mereka menyerang secara serempak, barangkali Chu Kiu Sek sudah celaka.

Kok Siauw Hong tambah berhati-hati.

sebaliknya Chu Kiu Sek yang takut kehilangan tenaga, tidak berani menggunakan dua macam ilmunya secara bersamaan.

Dengan demikian pertarungan mereka jadi seimbang.

Chu Kiu Sek memang cerdik, dia gunakan Siu-lo-ini-satkang dan Tiat-yu-kang secara bergantian.

Kok Siauw 386 Hong masih mampu bertahan, tapi sebaliknya nona Han dia mulai terdesak dan mulai kelelahan.

Melihat nona Han sudah mulai tak tahan Chu Kiu Sek melancarkan serangannya semakin hebat.

Ini membuat Han Pwee Eng jadi kedinginan.

Melihat nona Han kewalahan Kok Siauw Hong maju ke depan nona Han.

dia menangkis setiap serangan Chu Kiu Sek dengan ilmu silatnya.

Tapi lamakelamaan Kok Siauw Hong pun mulai merasakan tenaganya mulai lemah.

Hawa dingin mulai menyerang dirinya.

"Mengalahkan mereka tidak sulit, tapi sayang aku harus menyerang sampai 100 jurus."

Pikir Chu Kiu Sek yang hatinya mulai bimbang.

Mengapa Chu Kiu Sek begitu cemas?

Dia tahu jika harus bertarung lebih dari seratus jurus lebih tenaga murninya akan berkurang, mungkin juga dia bisa sakit parah.

Bahkan dia akan terluka parah karena itu Sekalipun dia tahu dua mudamudi itu akan terluka oleh pukulannya.

Tiba-tiba baik Kok Siauw Hong maupun Chu Kiu Sek mendengar suara batuk-batuk sangat perlahan.

Tapi nona Han tidak mendengar suara batuk itu.

Suara batuk itu aneh.

mirip dengan suara orang yang hampir mati.

Suara itu seolah suara batuk atau helaan napas.

Chu Kiu Sek sadar orang yang batuk itu berilmu tinggi, namun rupanya orang itu sedang sakit berat.

Chu Kiu Sek jadi merinding.

Di tempat itu banyak mayat.

Kecuali mereka bertiga tidak ada orang lain lagi.

Dia jadi curiga.

"Apa di antara mayat-mayat itu ada yang masih bernyawa?"

Pikir Chu Kiu Sek.

Tapi kemudian pendapat itu dia bantah sendiri.

Dia tidak yakin di antara pelayan keluarga Han itu ada yang masih 387 hidup.

Dia yakin pukulan Han Tay Hiong luar biasa lihaynya.

maka dia yakin mereka sudah mati semuanya.

Kecuali di antara mereka ada yang hanya berpura-pura mati.

hingga orang itu bisa bersuara.

Tapi dia yakin anak buah Han Tay Hiong tidak terlalu lihay sekali.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek kaget.

"Aaah! Jangan-jangan itu suara Han Tay Hiong. Pasti dia sedang bersembunyi dan menonton pertarungan kami. Saat sudah ada yang terluka parah, baru dia akan muncul untuk mengambil keuntungan?"

Pikir Chu Kiu Sek.

"Atau mungkin ada pesilat tangguh yang lain?"

Apapun yang akan muncul di tempat itu bagi Chu Kiu Sek dianggap akan membahayakan dirinya.

Itu sebabnya dia jadi curiga.

Rupanya dia takut pada orang lain yang tiba-tiba menyerangnya.

Dia memang licik tetapi sekarang tenaganya sudah banyak terkuras oleh Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong berdua.

Jika benar datang pesilat tinggi yang lain.

maka dia akan celaka.

Apalagi jika yang datang itu Han Tay Hiong Semakin Chu Kiu Sek berpikir, hati Chu Kiu Sek jadi semakin cemas.

Dia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum bahaya itu benar-benar datang.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek melancarkan serangan secara bertubi-tubi sebanyak tiga kali.

Kemudian dia melompat dan pergi begitu saja.

Kaburnya musuh tangguh ini membuat Kok Siauw Hong heran bukan main.

"Eh Iblis Tua jahat itu sudah kabur!"

Kata Han Pwee Eng.

suaranya perlahan.

Ingat bahaya tadi tubuh Han Pwee Eng mandi keringat dingin.

Pada saat yang bersamaan Kok Siauw Hong memegang tangan nona Han dan mengerahkan Siauw-yangsin-kang.

Sesudah itu baru dia berkata pada nona Han.

"Nona Han. kau tak apa-apa?"

Kata Kok Siauw Hong "Tidak!"

Jawab nona Han. Tapi dalam hati nona ini berpikir.

"Hm! Kau jangan berpura-pura baik kepadaku?"

Pikir Han Pwee Eng.

Wajah nona Han tampak kemerah-merahan.

Kok Siauw Hong pun jadi tidak enak hati sendiri, dia merasa canggung tidak tahu dia harus bilang apa.

Keduanya kemudian membisu beberapa saat lamanya.

"Maaf.."

Kata Kok Siauw Hong. Tapi si nona segera memotong.

"Maaf kenapa?"

Kata Han Pwee Eng.

"Aku datang terlambat dan kau nyaris...."

"Ya. aku nyaris mati di tangan si Iblis Tua jahanam itu!"

Kata nona Han.

"Terima kasih atas pertolongan Tuan Muda Kok telah menyelamatkan nyawaku!"

Pemudashe Kok itu sadar nona Han masih jengkel dan dongkol kepadanya, oleh karena itu dia mengalihkan pembicaraannya.

"Diakah yang membunuh seluruh pegawaimu itu?"

Kata Kok Siauw Hong. Han Pwee Eng tertegun baru kemudian menjawab.

"Sekalipun aku tidak melihatnya sendiri, jika bukan dia lalu oleh siapa lagi?"

Kok Siauw Hong tercengang.

"Nona. apakah kata-kataku menyinggung perasaanmu?"

Kata pemuda itu agak kikuk.

"Si Iblis Tua itu memang seorang jahanam. Dia yang membunuh orang-orangku, malah memfitnah Ayahku kata dia orang yang membunuh anak buahnya!' kata nona Han. 'Hm! Apa kau juga percaya Ayahku yang membunuh mereka?"

"Apa? Oh. tidak! Memang Iblis Tua itu bilang apa. aku kebetulan tidak mendengar ucapannya."

Kata Kok Siauw Hong.

"Keterlaluan dia bicara sembarangan saja!"

Walau Kok Siauw Hong bicara begitu tetapi dia tetap berpikir keras.

"Pamanku Jen Thian Ngo pernah memperingati aku. katanya Paman Han seorang yang pandai berpura-pura baik. seolah dia seorang pendekar sejati. Tetapi sebenarnya dia orang jahat! Tetapi ah...tidak! Aku jangan berpikir begitu! Ayahku dan Paman Han bersahabat baik dan sudah puluhan tahun lamanya. Mustahil Ayahku sampai tidak mengetahui kalau Paman Han itu orang jahat? Jika Ayahku tahu dia orang jahat. masakan dia ingin aku menikah dengan puterinya"

Begitu Kok Siauw Hong berpikir. Tiba-tiba Kok Siauw Hong melirik ke arah nona Han. Hatinya sangat menyesal karena dia merasa sangat bersalah kepada nona ini.

"Apa tadi kau mendengar ada suara orang batuk?"

Tanya Kok Siauw Hong. Mendengar pertanyaan itu nona Han sedikit kaget "Tidak!"

Jawab si nona.

"Di sini selain kita berdua tidak ada orang lain. bukan?"

"Ilmu racun Chu Kiu Sek tidak dapat membinasakan semua orang itu sekaligus, mungkin saja masih ada orang yang selamat. Bagaimana jika kita periksa lagi mayat mereka?"

Kata Kok Siauw Hong.

Lwee-kang Kok Siauw Hong memang kalah dari Chu Kiu Sek.

dia yakin suara tadi suara orang yang ada di sekitar tempat itu.

Maka itu dia ingin mencarinya.

Jika orang itu cuma terluka ringan, dia ingin menolonginya.

"Semua mayat di tempat ini telah aku periksa semuanya, mereka sudah lama mati!"

Kata nona Han. Mendengar kata-kata nona Han Kok Siauw Hong tercengang.

"Kalau begitu kita harus segera mengubur mayat-mayat mereka itu!"

Kata Kok Siauw Hong. Nona Han mengangguk.

"Baik. akan kucari cangkul dulu. bantu aku menggali tanah."

Kata nona Han.

Dia langsung pergi akan mencari cangkul.

Sedangkan Kok Siauw Hong mencoba memeriksa lagi mayat-mayat itu.

Batok kepala mayat-mayat itu pecah terhantam oleh pukulan hebat.

Sesudah memeriksa pemuda ini menggumam.

"Ini bukan mati oleh pukulan Siu-Io-im-sat-kang. si Iblis Tua tidak punya pukulan semacam ini ?"

Kata Kok Siauw Hong. Tiba-tiba Han Pwee Eng yang ada di belakang pemuda itu bergumam juga.

"Ini bukan perbuatan Ayahku!"

Kata si nona.

"Bukan dia yang melakukannya?!"

Kok Siauw Hong menoleh ke arah nona Han.

Saat itu nona Han sedang berdiri dan di tangannya terdapat dua buah cangkul.

Wajah nona Han pucat-pasi.

Sedangkan air matanya meleleh dan membasahi kedua pipinya.

Dia yakin 391 pelayannya bukan mati di tangan Chu Kiu Sek.

Tetapi dia tidak berani menuduh kalau itu perbuatan ayahnya.

"Aku yakin ini bukan perbuatan Ayahmu, tetapi juga bukan perbuatan Chu Kiu Sek! Lebih baik mari kita kubur dulu mayat mereka, baru kita selidiki siapa sebenarnya pembunuhnya? Sesudah kita tahu siapa pembunuhnya, kita balaskan sakit hati mereka!"

Kata Kok Siauw Hong menghibur nona itu.

Sekalipun dia bicara begitu tapi kecurigaan pemuda ini tibatiba timbul lagi.

Pada saat Kok Siauw Hong meminta sebuah cangkul dari si nona dan dia akan menggali tanah, dia lihat salah satu mayat pelayan tua yang sudah lama bekerja pada keluarga Han.

Dia lihat pelayan tua itu mengepal secarik kertas di tangannya.

Tadi dia tidak melihatnya.

Kok Siauw Hong membungkuk akan membuka kepalan tangan mayat itu.

Rupanya sebelum mati pelayan tua itu berkelahi dulu sambil mempertahankan kertas yang ada di tangannya itu.

Hingga dia mati dia tetap mempertahankan kertas itu.

Setelah berhasil membuka kepalan tangan pelayan tua itu.

Kok Siauw Hong jadi heran.

Ternyata itu bukan secarik kertas biasa, tapi terbuat dari kulit kambing yang tipis.

Di atas kulit kambing itu tampak tulisan huruf Mongol yang kelihatannya tidak karuan bentuknya.

Kok Siauw Hong tahu itu tulisan bahasa Mongol.

tapi dia tidak bisa membaca tulisan itu.

"Nona Han, pernahkan kau melihat benda ini?"

Kala Kok Siauw Hong pada Han Pwee Eng.

"Belum pernah."

Jawab nona Han sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku juga tidak bisa membaca tulisan bahasa Mongol. Heran, mengapa dia berusaha mempertahankan 392 kulit kambing itu? Orang itu telah membunuh dia. tapi kenapa separuh kulit kambing itu tidak dia ambil?"

"Ini bisa jadi barang bukti, bolehkah aku yang menyimpan kulit kambing ini. Nona Han?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Boleh saja. kau punya banyak teman di kalangan Kangouw. lebih baik kau yang menyimpannya dan menyelidiki masalah ini sampai tuntas."

Sahut nona Han.

Saat itu hati nona Han pikirannya sedang kacau Dia tidak tahu siapa pembunuh semua pegawainya itu.

Dia tidak mengira kalau itu perbuatan ayahnya.

Sedangkan Kok Siauw Hog justru berpikir bahwa Han Tay Hiong bisa jadi pembunuh tersebut, siapa tahu dia memang benar bersekongkol dengan bangsa Mongol?

"Paman Jen Thian Ngo mengatakan.

Paman Han punya hubungan dengan Siang-koan Hok."

Pikir Kok Siauw Hong.

"padahal Siang-koan Hok itu wakil Kok-su bangsa Mongol. Oleh karena itu Paman Jen Thian Ngo berani memastikan, bahwa Paman Han bersekongkol dengan bangsa Mongol. Sebenarnya aku tidak yakin benar pada pendapat Paman Jen. tapi di tangan pelayan tua itu terdapat kulit kambing yang bertulisan huruf Mongol. Barang ini bisa jadi barang bukti."

Kok Siauw Hong merenung sejenak. Tak lama otaknya bekerja lagi.

"Nona Han setuju aku yang menyimpan benda ini. sekalipun Paman Han patut dicurigai, aku kira nona Han tidak bekerja-sama dengan ayahnya?"

Pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong menarik napas lega.

Keadaan may atmayat itu sungguh mengerikan.

Nona Han pun tidak 393 berani melihat mayat-mayat itu lagi.

Tiba-tiba dia buang cangkul yang sedang dipegangnya dan langsung menangis.

"Nona Han kau istirahat saja. biar semua aku yang mengerjakannya."

Kata Kok Siauw Hong pada nona Han.

Dahi pelayan tua yang memegang kulit kambing itu pecah dan berlubang.

Darahnya sudah beku berwarna kehijauan.

Tiba-tiba hati Kok Siauw Hong tergerak.

Dia keluarkan saputangannya lalu dia korek darah yang membeku itu.

Kemudian darah itu dia bungkus dengan saputangannya.

Saat itu Kok Siauw Hong mendengar seruan minta tolong dan suaranya lirih sekali, nona Han pun mendengar suara itu.

"Tolong...Tolongi aku!"

Nona Han kaget dia melompat, tangisnya berhenti seketika itu juga. Dengan suara gemetar nona Han berkata pada Kok Siauw Hong.

"Benar ada suara orang!"

Bisiknya.

Kedua muda-mudi itu segera menuju ke arah suara minta tolong itu.

Di sebuah sudut taman bunga mereka menyaksikan ada kepala orang tersembul di atas tanah.

Rupanya orang itu dikubur hidup-hidup oleh si pembunuh.

Seluruh tubuh orang itu terkubur sampai leher, di samping orang itu terdapat gundukan tanah yang baru digali.

Setelah melihat wajah orang itu kedua muda-mudi itu kaget.

"Kau siapa?"

Tanya Kok Siauw Hong Orang itu tidak menjawab, matanya mendelit dan suara lirihnya terdengar kembali.

"Tolong..... Tolongi aku!"

Katanya.

Setiap saat napas orang itu akan berhenti.

Mereka kaget dan girang, dengan adanya orang yang masih hidup ini.

mereka jadi akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu?

Tetapi kondisi orang itu sangat lemah, nyawanya belum tentu bisa diselamatkan.

Mungkin masih bisa ditolong hanya untuk beberapa saat saja.

tapi itu pun mereka pikir akan sangat berguna bagi mereka berdua.

Kok Siauw Hong segera menggali tanah yang mengubur tubuh orang itu.

Selang sesaat orang itu berhasil dikeluarkan dari tanah.

Kok Siauw Hong segera mengerahkan lwee-kang untuk menyelamatkan nyawa orang itu.

Tak lama orang itu sudah bisa bicara.

Tetapi suaranya ngorok dan muntah darah yang bercampur dengan busa.

"Siapa kau? Mengapa kau berada di sini?"

Tanya Kok Siauw Hong.

"Di mana Ayahku?"

Tanya Han Pwee Eng pada orang itu.

Mereka berdua ingin mendapat keterangan dari orang itu.

namun masing-masing pertanyaan mereka berbeda.

Kok Siauw.

Hong ingin tahu apa hubungan orang itu dengan Han Tay Hiong.

sedangkan Han Pwee Eng ingin tahu keadaan ayahnya karena dia mencemaskan keadaan ayahnya.

Maka itu si nona menanyakan tentang ayahnya.

"Air...Air...Air!"

Kata orang itu.

Barangkali orang itu belum bisa bicara karena tenaganya sudah habis dan napasnya sengal-sengal.

Han Pwee Eng berlari akan mengambilkan air mnum untuk orang itu.

Sedangkan orang itu membuka matanya, lalu menoleh ke kiri dan kanan.

Dia kelihatan tercengang.

"Tempat apa ini?"

Katanya. Kok Siauw Hong balik bertanya.

"Jadi kau tidak tahu kalau ini rumah keluarga siapa?"

Kata Kok Siauw Hong. Orang itu mengangguk. Kok Siauw Hong tercengang.

"Kalau begitu, bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"kata Kok Siauw Hong. Orang itu diam. Kok Siauw Hong mengira tenaga orang itu belum pulih sekali, oleh karena itu Kok Siauw Hong memberi keterangan pada orang itu.

"Ini rumah milik keluarga Han. rumah ini bisa dikatakan rumah Pamanku. Nona itu puteri keluarga di sini. Jika kau mau bicara dengan jujur kami tidak akan mencelakaimu!"

Kata Kok Siauw Hong. Setelah tahu nona Han puteri pemilik rumah itu. orang itu kelihatan kaget. Seolah dia sedang menghadapi masalah besar yang menakutkan sekali. Kok Siauw Hong jadi curiga.

"Mengapa dia ketakutan setelah mendengar ceritaku? Apakah dia dikubur hidup-hidup oleh Paman Han?"

Pikir pemuda ini. Saat itu nona Han sudah kembali sambil membawa secawan air minum untuk orang itu. Sesudah orang ini minum lalu nona Han bertanya.

"Sekarang kau sudah agak segar, di mana Ayahku'."

Kata nona Han. Tapi sambil bertanya nona Han pun berpikir.

"Orang ini sepertinya bukan sahabat ayahku?"

Pikir nona Han sedikit ragu-ragu.

Saat Han Pwee Eng sedang mengawasi orang itu.

mendadak orang itu menerjang ke arah nona Han dengan sekuat tenaga.

Cawan air di tangannya pun jatuh hingga pecah berantakan.

Peristiwa ini di luar dugaan nona Han.

Orang itu menggeram, dia kelihatan seperti binatang buas yang terluka.

Saat itu dia menganggap nona Han di depan dia sebagai musuhnya.

Atau dia anggap nona Han sebagai pemburu yang telah melukainya.

Sesudah itu dia roboh tidak bertenaga lagi.

Nona Han kaget bukan kepalang.

"Hai. kau kenapa?"

Tanya nona Han. Kok Siauw Hong keheranan. Dia papah orang itu supaya bisa bangun dan dia berkata dengan lembut.

"Legakan hatimu, kami tidak berniat mencelakaimu."

Kata Kok Siauw Hong.

Pemuda ini keheranan menyaksikan kelakuan orang itu.

Saat Kok Siauw Hong memapah orang itu.

dia memegang pergelangan tangan orang itu.

Denyut nadi orang itu tidak lemah seperti yang dia duga.

Kok Siauw Hong bukan tabib tapi dia cukup berpengalaman dalam masalah ini.

Bagi orang yang sedang sakit tidak mungkin denyut nadinya seperti orang sehat biasa.

Maka itu pemuda ini jadi curiga dan berpikir.

"Akan kujajal dia."

Pikir Kok Siauw Hong.

Lalu Kok Siauw Hong mengulur jari tangannya.

Dia totok jalan darah Beng-khi-hiui orang itu.

Ini jalan darah yang sangat penting.

Jika dia tertotok maka orang itu akan binasa Melihat serangan Kok Siauw Hong.

nona Han kaget bukan alang kepalang.

"Jangan!"

Kata si nona.

Orang itu tenang-tenang saja.

dia tidak berkelit dari totokan Kok Siauw Hong dan dia juga tidak melawan.

Kok Siauw Hong sadar, dia tahu bahwa orang itu manda saja ketika dia serang.

Dengan begitu dia telah salah menduga.

Dia tarik kembali serangannya, sehingga orang itu tidak terluka.

"Dia tidak memiliki lwee-kang."

Kata si nona.

"Ya. tubuhnya memang sangat lemah. Dia bukan berpura pura."

Kata Kok Siauw Hong. Nona Han mengerutkan dahinya.

"Tapi kenapa kau jajal dia?"

Kata si nona. Kok Siauw Hong tersenyum.

"Berhati-hati lebih baik. kan?"

Kata pemuda itu.

"Orang itu baru kembali dari pintu neraka."

Kata si nona.

"Dia sudah begitu ketakutan, kau malah menakut-nakutinya. Dia tidak bisa bicara mungkin karena sangat ketakutan?"

Kok Siauw Hong merasa tidak enak hati "Biar dia istirahat sejenak, sesudah tenaganya pulih kembali, baru dia kita tanyai lagi."

Kata pemuda itu perlahan. Tiba-tiba pemuda itu mengerutkan dahinya.

"Eh. suara apa itu?"

Kata Kok Siauw Hong. Nona Han tertegun.

"Apa masih ada orang yang masih hidup di tempat ini?"

Kata si nona.

Lwee-kang nona Han di bawah Kok Siauw Hong hingga dia tidak mendengar apa-apa.

Pemuda itu berusaha berkonsentrasi.

Dia memperkirakan suara itu bukan suara satu orang tapi suara orang banyak.

Mereka saling bentak dan sedang bertarung hebat.

Kok Siauw Hong kaget.

"Itu suara si Iblis Tua. entah dia sedang bertarung dengan siapa?"

Kata Kok Siauw Hong. Nona Han mengangguk.

"Ya. aku baru mendengarnya. Entah mereka sedang bertarung dengan siapa?"

Kata si nona. Nona Han sekarang sudah mendengar dengan jelas suara orang sedang bertarung dan siulan si Iblis Tua itu.

"Kaujaga dia. aku akan ke sana melihatnya."

Kata Kok Siauw Hong pada nona Han. Tapi hati pemuda ini berpikir.

"Orang yang mampu melawan Chu Kiu Sek pasti seorang pesilat tangguh. Ilmu Siii-lo-im-sut-kang sangat beracun. Sekalipun orang itu berilmu tinggi, pasti dia akan terluka juga oleh si Iblis Tua!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong menggunakan gin-kang dan berlari pesat ke arah tempat pertempuran itu.

Baru saja dia tiba di luar rimba.

Kok Siauw Hong sudah merasakan desiran angin pukulan dan pasir yang berterbangan ke udara.

"Aah! Apakah itu Paman Han yang sedang bertarung dengan si Iblis Tua?"

Pikir Kok Siauw Hong.

Han Tay Hiong bergelar Kiam-ciang-siang-coai.

Dia mahir ilmu pukulan Tay-Iiak-kim-kang-ciang.

Saat ini di kalangan kang-ouw yang mampu ilmu itu hanya beberapa orang saja.

Buru-buru Kok Siauw Hong masuk ke dalam 399 rimba itu.

Dari jarak jauh pemuda itu sudah melihat bahwa itu memang Chu Kiu Sek.

Dia sedang bertarung dengan seorang pengemis tua -0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0 Bab 15 Setelah melihat tegas bahwa lawan Chu Kiu Sek itu seorang pengemis tua.

bukan main girangnya Kok Siauw Hong.

Dia lalu berpikir.

"Aah. kiranya lawan Chu Kiu Sek itu Liok Pang-cu (Ketua Liok) dari Kay-pang (Perkumpulan Pengemis). Pantas pukulannya begitu hebat dan mampu menghadapi Chu Kiu Sek!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Pengemis tua itu bernama Liok Kun Lun.

dia pandai ilmu pukulan Yu-houw-ciang (Pukulan Menaklukkan Harimau) dan pukulan Hang-liong-ciang (Pukulan Penakluk Naga).

Kedua pukulan itu tak kalah oleh pukulan Tay-liak-kim-kang-ciang.

Selain mereka masih ada dua orang lagi yang sedang bertarung dengan sengit, suara bentakannya terdengar nyaring sekali.

Orang itu juga seorang pengemis tua.

Kok Siauw Hong kenal pengemis tua itu.

dia bernama Lauw Kan Lu.

Hiang-cu dari markas cabang Kay-pang yang ada di Lokyang.

Sedang yang seorang lagi lelaki yang memelihara bewok.

dan pemuda ini tidak mengenalinya.

"Orang itu menggunakan ilmu Hua-hiat-to. awas jangan sampai telapak tangannya mengenai tubuhmu!"

Kata Liok Kun Lun memperingatkan temannya.

"Ya!"

Jawab Lauw Kan Lu.

Terlihat tongkat bambu bergerak kian-kemari.

Kemudian berputar-putar, kelihatan kacau tidak mirip dengan ilmu 400 tongkat.

Namun, lelaki bewok itu jadi kalang-kabut.

Dia menghindar dari serangan yang kalut itu.

kemudian melancarkan pukulan dari jarak dua depa.

Mendadak lelaki bewok itu berkata.

"Ilmu silatmu lihay sekali! Apakah ini ilmu Tah-kauw-kunhoat (Ilmu tongkat memukul anjing) dari kaum Kaypang?"

Kata si bewok. Kemudian wajah si bewok berubah merah karena menyebut pukulan Tah-kumv-kiin itu. Lauw Kan Lu tertawa terbahak-bahak.

"Benar aku Kan Lu (Pengejar Keledai), tapi juga bisa Tah-kauw (Memukul Anjing) Hari ini kau akan merasakan tongkat pemukul anjingku ini!"

Katanya. Lauw Kan Lu memang berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya seorang penggembala keledai. Oleh sebab itu anaknya diberi nama Kan Lu. Lelaki bewok itu mendengus.

"Hm! Aku tidak ingin adu bicara denganmu, sekalipun ilmu tongkatmu hebat. Tapi jika kita bertarung terus, kau bukan lawanku!"

Kata si bewok.

Saat itu Kok Siauw Hong masih berada jauh sekitar puluhan depa dari tempat pertempuran itu.

Tapi dia sudah mencium bau amis.

Pukulan Siu-lo-im-sat-kang yang sangat beracun mengeluarkan hawa dingin, tapi tidak berbau amis Pasti itu ilmu pukulan yang dilancarkan si Bewok ini.

"Hm! Orang ini mahir ilmu pukulan beracun."

Pikir Kok Siauw Hong.

Tapi dia tidak bisa mendekati tubuh Lauw Kan Lu Sekalipun sepasang telapak tangannya beracun, tetapi tidak bisa digunakan untuk menyerang Lauw Kan Lu.

Tadi dia berani bicara sombong?"

Liok Kun Lun dan Chu Kiu Sek dua tokoh aliran lurus dan sesat.

Mereka berdua sama-sama berilmu silat tinggi.

Jika salah satu ingin menang dalam pertarungan, mereka masingmasing harus mengeluarkan lwee-kang yang tinggi.

Tapi jika diperhatikan mereka hanya bertarung biasa-biasa saja.

tidak terlalu istimewa.

Kok Siauw Hong lebih tertarik menyaksikan pertarungan Lauw Kan Lu dan si Bewok.

Lauw Kan Lu telah menggunakan 17 ilmu pukulan memukul anjing dengan tongkatnya.

Jurusjurusnya sangat aneh dan hebat luar biasa.

"Jika aku tahu yang bertarung kedua jago tua itu. aku tidak perlu terbutu-buru datang ke tempat ini!"

Pikir Kok Siauw Hong.

Pertarungan itu jadi semakin hebat hingga si bewok terdesak mundur dua depa.

Namun masih bisa bertahan dan wajah Lauw Kan Lu mulai tampak serius.

Ternyata lelaki bewok itu bernama Pouw Yang Hian.

Han Pwee Fng beberapa hari yang lalu pernah bertemu dengannya.

Sedang ilmu Huahiat-to itu sangat beracun, sekalipun kalah hebat dengan ilmu Siu-lo-im-sat-kang.

Setelah bertarung seratus jurus lebih bau amis itu semakin menyengat.

Tak heran napas Lauw Kan Lu pun mulai semakin sesak.

Dia kaget dan berpikir bahwa bahaya sedang mengancam dirinya "Dua ilmu beracun keluarga Suang memang bukan omong kosong!

Jika aku tidak segera mengalahkan orang ini.

malah aku .bisa celaka!"

Pikir Lauw Kan Lu.

Memang dugaan Lauw Kan Lu jadi kenyataan.

Dia mulai terdesak Saat bahaya mengancam.

Kok Siauw Hong melancarkan serangan hebat.

Serangan itu membuat si bewok kaget.

Karena tahu telah datang musuh lain.

si bewok menganggap sudah tidak ada gunanya meneruskan pertarungan, lalu dia kabur.

Lauw Kan Lu heran menyaksikan musuhnya tiba-tiba kabur.

Begitu juga dengan Chu Kiu Sek.

dia juga meninggalkan orang she Liok yang jadi lawannya.

Tak lama Lauw Kan Lu mendengar langkah orang sedang berjalan mendatangi.

Lauw Kan Lu segera menoleh Kelihatan seorang pemuda berpakaian serba putih sedang berjalan ke arahnya.

Begitu melihat pemuda itu bukan main girangnya Lauw Kan Lu.

Segera dia memanggil pemuda itu dengan nada gembira sekali.

"Kok Kong-cu. kapan kau sampai? Apa kau sudah pergi ke rumah Han Tay Hiong?"

Kata Lauw Kan Lu.

Kok Siauw Hong tersenyum.

Dulu saat dia datang ke rumah Han Tay Hiong untuk memberitahu ayahnya telah meninggal.

Kok Siauw Hong pernah bertemu dengan Lauw Kan Lu di markas cabang Kay-pang kota Lok-yang.

Liok Kun Lun kawan baik ayah Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong memberi hormat kepada kedua jago tua itu.

"Baru hari ini aku tiba di sini."

Kata Kok Siauw Hong.

"Aku baru saja dari rumah Paman Han."

Liok Kun Lun menatap wajah pemuda itu.

"Aku dengar kau akan membatalkan perjodohanmu dengan puteri Han Tay Hiong. benarkah begitu?"

Kata Liok Kun Lun. Wajah Kok Siauw Hong berubah merah.

"Benar."

Jawab pemuda itu.

"Tindakanmu itu tepat sekali, nak."

Kata Liok Kun Lun.

"Jangan takut jika Han Tay Hiong gusar padamu atau memusuhimu. aku si pengemis tua siap membantumu!"

Kata Liok Kun Lun. Mendengar ucapan Liok Kun Lun. kelihatan Kok Siauw Hong sedikit terperanjat.

"Eh! Apa maksudnya, kenapa dia bilang tindakanku membatalkan perjodohan itu tepat sekali?"

Pikir Kok Siauw Hong.

Sebenarnya dia membatalkan pertunangannya karena dia sudah jatuh cinta kepada Ci Giok Hian.

sedangkan dia dengan Han Pwee Eng belum pernah bergaul rapat seperti dia bergaul dengan nona Ci Giok Hian.

Ditambah lagi perjodohan dia dengan nona Han karena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka masing-masing.

Bukan berdasarkan saling cinta mencintai.

Kok Siauw Hong tidak menganggap bahwa cintanya telah berubah.

Dia juga tidak menganggap dirinya bersalah.

Hanya dia jadi heran pada saat mendengar Liok Kun Lun mengatakan tindakannya itu sangat tepat.

"Kau tidak bersedia menikah dengan puteri Han Tay Hiong. kalau begitu kau sudah tahu tentang orang she Han itu. bukan?"

Kata Lauw Kan Lu ikut bicara.

"Tentang apa?"

Tanya Kok Siauw Hong heran.

"Mengenai masalah persekongkolan Han Tay Hong dengan bangsa Mongol! Memang masalah lain apa lagi?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Be... Benarkah Paman Han bersekongkol dengan bangsa Mongol?"

Kata Kok Siauw Hong agak gagap. Lauw Kan Lu balik bertanya.

"Jadi Pamanmu Jen Thian Ngo belum memberitahumu?"

Kata Lauw Kan Lu. Kok Siauw Hong mengangguk.

"Sudah."

Kata Kok Siauw Hong.

"Menurut Paman Jen dia melihat Paman Han berhubungan dengan Siang-koan Hok. Justru aku ke sini ingin bertanya pada Lauw Cianpwee. apa benar begitu?"

Lauw Kan Lu membuka pakaiannya hingga tampak bekas luka di dadanya.

"Malam itu aku mendapat laporan rahasia, katanya Siangkoan Hok ada di rumah Han Tay Hiong. Aku bersama Jen Thian Ngo pergi ke rumah Han Tay Hiong. maksud kami kami ingin membuka kedok dia Tapi mereka sudah mengetahui kedatangan kami. Sebelum kami tiba Siang-koan Hok sudah kabur. Di tengah jalan kami bertemu dengan Siang-koan Hok. Sungguh memalukan sekali, sekalipun kami bergabung dengan pamanmu, kami tidak berhasil menangkap Siang-koan Hok. Dia berhasil melukaiku, dan ini adalah tanda mata dari Siang-koan Hok untukku!"

Kata Lauw Kan Lu.

"Sekalipun luka pukulan Siang-koan Hok sudah dua tahun yang lalu. ternyata masih membekas. Kalau begitu dia sangat lihay. Jadi keterangan Paman Jen memang benar. Tapi....aku sangsi. Sekalipun Paman Han sahabat Siang-koan Hok. belum tentu Paman Han bersekongkol dengan bangsa Mongol?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Lauw Cian-pwee yakin. Paman Han punya hubungan dengan bangsa Mongol?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Pertanyaanmu itu benar Waktu itu memang peperangan dengan bangsa Mongol belum berkobar."

Kata Lauw Kan Lu..

"Sedang dari pihak Monggol dengan kerajaan Tay Song (Kerajaan Song Besar) telah ada perjanjian. Malam itu Han Tay Hiong menjamu Siang-koan Hok. itu pun bukan kesalahan besar. Tetapi Siang-koan Hok itu wakil Kok-su Kerajaan Mongol dan Han Tay Hong berhubungan dengan 405 Siang-koan Hok. itu pasti akan menimbulkan kecurigaan pada setiap orang. Sedang perang sekarang sudah berkobar, maka itu kita harus siap-siaga. Kok Hian-tit. bagaimana pendapatmu?"

"Ya. Lo-cian-pwee benar."

Kata Kok Siauw Hong. Lauw Kan Lu semula bernama Lauw Kun. karena semua orang memanggil dia Lauw Kan Lu. maka dia menggunakan nama itu.

"Sekarang pasukan pelopor bangsa Mongol berada kurang lebih seratus li dari Lok-yang."

Kata Liok Kun Lun.

"Kedatanganku ke mari mi karena aku ingin bertarung dengan Han Tay Hiong. Kita bunuh dia agar dia tidak bisa menyambutt kedatangan tentara Mongol!"

"Kau baru dari rumah Paman Han. apakah dia ada di sana?"

Tanya Lauw Kan Lu.

"Rumah dia hangus terbakar. entah dia masih hidup atau sudah mati?"

Kata Kok Siauw Hong. Di depan kedua jago Kay-pang itu Kok Siauw Hong tidak berani menyebut "Paman Han". dia hanya bilang dengan kata "dia"

Saja.

"Dari laporan anak buah Kay-pang. kebakaran itu terjadi tadi malam. Apinya tidak begitu besar. Kedua anggota Kaypang yang melihat kebakaran itu. mereka langsung ke sana. Saat mereka sampai api sudah padam. Mereka tidak berani masuk ke rumah Han Tay Hiong karena takut terjebak oleh siasat orang she Han itu."

Kata Lauw Kan Lu.

"Siasat apa?"

Tanya Kok Siauw Hong.

"Mereka menduga jangan-jangan Han Tay Hiong sendiri yang membakar rumahnya, jadi mereka tidak berani masuk!"

Kata Lauw Kan Lu.

"Tapi kenapa dia membakar rumahnya sendiri?"

Tanya Kok Siauw Hong sedikit heran. Liok Kun Lun tertawa terbahak-bahak.

"Ini akal liciknya! Dia berpura-pura telah didatangi oleh musuh besarnya. Malah rumahnya telah musnah oleh api dan dia sendiri mati! Jika sudah demikian, siapa yang bisa menyelidiki lagi kalau dia itu bersekongkol dengan bangsa Mongol? Nanti, setelah tentara Mongol datang, baru dia muncul lagi. Dengan demikian dia jadi sangat berjasa kepada bangsa Mongol. Lalu apa yang bisa kita lakukan sesudah itu?"

Kata Liok Kun Lun.

Kok Siauw Hong teringat pada dugaan Chu Kiu Sek.

bahwa terbakarnya rumah Han Tay Hiong karena Han Tay Hiong takut kepadanya.

Sedangkan Liok Kun Lun mengira.

Han Tay Hiong membakar rumahnya sendiri untuk menghindari penyelidikan persekongkolannya dengan bangsa Mongol.

Sekalipun dugaan itu berbeda, tapi dugaan itu sama, yaitu bahwa Han Tay Hiong yang membakar rumahnya sendiri!

Kok Siauw Hong jadi merinding "Hati manusia sulit diterka.

Benarkah kelakuan Paman Han begini rendahnya?"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Aku kira untuk menutupi rahasianya. Han Tay Hiong sampai tega membunuh semua pelayan setianya. Apa lagi mereka masih punya sanak famili?"

Kata Liok Kun Lun.

"Dugaan Liok Cian-pwee benar, semua pelayannya telah mati. tetapi pelaku yang membunuh mereka itu belum tentu Han Tay Hiong?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sungguh keji perbuatannya itu! Su-siok (Paman Guru), sungguh hebat dugaanmu. tidak seorang pun dari keluarga Han yang masih hidup."

Kata Lauw Kan Lu.

"Tidak! Masih ada dua orang yang masih hidup."

Sanggah Kok Siauw Hong. Lauw Kan Lu tertegun mendengar keterangan itu.

"Siapa kedua orang itu?"

"Yang seorang puteri Han Tay Hiong."

Mata Lauw Kan Lu terbelalak.

"Kau datang bersamanya?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Tidak!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Dia tiba di rumahnya lebih dulu dariku. Ketika aku sampai di rumahnya, kebetulan aku melihat dia sedang bertarung melawan Chu Kiu Sek."

Sahut Kok Siauw Hong. Liok Kun Lun manggut-inanggut.

"Oh. aku lupa, kau sudah tidak mau menikah dengan dia. jadi mana mungkin kau berjalan bersamanya?"

Kata Liok Kun Lun."

Sesudah itu dia tatap wajah Kok Siauw Hong.

"Kalau begitu, kau bergabung dengannya melawan Chu Kiu Sek dan kalian mengalahkan si Iblis Tua itu?"

"Tidak begitu, tapi Chu Kiu Sek kabur sendiri"

"Kenapa?"

Tanya Lauw Kan Lu heran.

"Karena Chu Kiu Sek mendengar suara batuk seseorang! Aku kira dia takut kalau Han Tay Hiong sedang bersembunyi di sini. maka dia kabur!"

Kata Kok Siauw Hong. Liok Kun Lun dan Lauw Kan Lu tertegun.

"Menurutmu siapa orang itu?"

Kata mereka hampir serempak. Kok Siauw Hong menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu siapa orang itu?"

Jawab Kok Siauw Hong Kemudian Kok Siauw Hong menceritakan sejak awal dia datang dan tiba di rumah Han Tay Hiong.

Dia juga bilang dia menemukan orang yang terkubur dan sudah mereka tolongi itu serta tentang penemuan kulit kambing yang bertulisan bahasa Mongol.

Liok Kun Lun manggutmanggut.

"Oh. kalau begitu mari kita ke rumah Han Tay Hiong untuk melihatnya!"

Kata Liok Kun Lun.

"Tadi kau bilang di tangan pelayan yang mau kau kuburkan mayatnya itu kau menemukan kulit kambing bertulisan bahasa Mongol. Apakah kulit kambing itu ada padamu?"

Kata Lauw Kan Lu.

"Ada! Mungkin benda ini bisa membuka semua misteri ini."

Kata Kok Siauw Hong.

"Serahkan barang itu padaku, di antara murid-murid kami yang berpakaian karung bertambal enam ada yang bisa membaca tulisan bahasa Mongol."

Kata Lauw Kan Lu.

"Oh bagus sekali."

Kata Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong menyerahkan kulit kambing yang dijadikan alat tulis itu kepada Lauw Kan Lu.

Sesudah itu mereka meninggalkan rimba menuju ke rumah Han Tay Hiong.

Ketika itu hari mulai pagi.

Udara sangat sejuk dan nyaman sekali.

Saat berjalan Liok Kun Lun menggunakan gin-kang.

semula dia khawatir Kok Siauw Hong tidak mampu mengikutinya.

Tapi saat dia menoleh, ternyata Kok Siauw Hong ada di belakang dia.

"Kok Hian-tit. kau mencari Han Tay Hiong untuk membatalkan pertunanganmu'."

Kata Liok Kun Lun. 'Benar, aku bermaksud memberi penjelasan agar kelak tidak jadi masalah!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Benar, begitu!"

Kata Liok Kun Lun.

"Kau pikir aku mencari Paman Han untuk urusan apa?"

Pikir Kok Siauw Hong agak kesal juga. Liok Kun Lun melirik.

"Kok Hian-tit kau berhasil menguasai Siauw-yang-sinkang, aku ucapkan selamat kepadamu!"

Kata Liok Kun Lun.

"Aku hanya menguasai enam sampai tujuh bagian saja."

Kata Kok Siauw Hong berterus terang. Kok Siauw Hong tertegun, sebab Siauw-yang-sin-kang dia peroleh dari ibunya, dia heran mengapa pengemis tua ini tahu tentang ilmu silat itu.

"Chu Kiu Sek pandai Sui-lo-im-sat-kang, ilmu itu hanya bisa diatasi oleh Siuw-yang-sin-kang"

Kata Liok Kun Lun.

"Kau bertarung dengan Chu Kiu Sek. tapi sedikitpun kau tidak terluka olehnya. Aku pikir kau telah berhasil menguasai ilmu tersebut. Kok Hian-tit aku ingin menanyakan sesuatu padamu"

"Katakan saja."kata Kok Siauw Hong.

"Apa kau akan menggunakan ilmu itu untuk mengobati Han Tay Hiong?"

Kata Liok Kun Lun.

"Benar, semula aku pikir begitu!"

Kata Kok Siauw Hong dengan jujur.

Baca Juga: Lentera Maut 5

Baca Juga: Tengkorak Maut 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger