Eps 2 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.
"Aku dengar esok adalah hari pernikahan mereka, itu sebabnya aku buru-buru ke mari. Setelah aku lihat keadaan di sini. sepertinya kau tidak menyiapkan apa-apa. Apakah telah terjadi sesuatu?"
Kata Jen Thian Ngo sambil memainkan matanya.
Sebenarnya Kok Hu-jin tidak ingin bicara masalah itu.
Setelah berpikir sejenak, pikirannya berubah.
Ia tahu pergaulan kakaknya sangat luas.
pasti kakaknya punya banyak informasi penting tentang mereka.
Malah mungkin dalam masalah ini ia harus minta bantuannya.
Maka tak heran tak lama terdengar ia bicara pada kakaknya itu.
"Toa-ko, kau bilang kedatanganmu ke mari dengan tulus hati ingin berdamai denganku, aku dengar kau pun ingin minum arak kebahagiaan Siauw Hong. Maka aku tak boleh membohongimu, sebenarnya Siauw Hong telah pergi dari sini!"
Kata Kok Hu-jin. Jen Thian Ngo kelihatan tidak begitu terkejut.
"Pergi! Pergi ke mana?"
Kok Hu-jin menggelengkan kepala.
"Aku tak tahu yang kutahu ia tak puas atas perjodohan itu. Dengan berbagai alasan dia menolak dinikahkan, diam-140 diam diapun pergi dan sini. Aku jarang berkelana di Dunia Persilatan, hingga tak tahu banyak tentang dunia tersebut. Aku tak tahu siapa saja kawan ayah si Hong. Aku sedang bingung entah ke mana aku harus mencarinya?"
Nona Han ketika mendengar pembicaraan itu di balik gunung-gunungan bagaikan disambar petir. Sepasang matanya langsung berkunang-kunang. Kepalanya terasa pening bukan main. ia nyaris pingsan.
"Kok Siauw Hong memandang rendah diriku."
Pikir nona Han.
"Dia tak mau menikah denganku. Hm! Memang aku butuh kau? Tapi bagaimana aku menahan amarahku ini?"
Han Pwee Eng memang keras hati. Saat itu ia malu, gusar dan dongkol bukan main. Tetapi keterangan itu justru membuat ia jadi angkuh.
"Hm! Untuk Ci Giok Hian ia kabur dari rumahnya dan membatalkan pernikahan kami secara sepihak. Apa aku masih punya muka untuk menemui ibunya? Hm! Dunia begini luas. masa tak ada tempat berteduh bagiku? Seumur hidupku tak menikahpun tidak apa-apa. kelak jika Siauw Hong menyesal. Sekalipun ia menjemputku dengan tandu emas aku tidak akan mau menikah dengannya! Sekarang semuanya sudah jelas. untuk apa aku masih di sini?"
Pikir Han Pwee Eng. Ia ingin langsung pergi, tapi seolah kakinya berat tak mau diajak pergi. Tak lama ia mendengar Jen Thian Ngo bicara.
"Kau ingin tahu Siauw Hong ada di mana? Justru aku tahu dia ada di mana!"
Katanya. Kok Hu-jin kaget tapi ia kelihatan girang.
"Rupanya kau sudah tahu semuanya."
Kata Kok Hujin."jadi kedatanganmu ingin menyelidiki keadaan kami?"
Kok Hu-jin sebenarnya tidak puas. tapi ia tak ingin ribut.
"Dia ada di mana?"
Kata Kok Hu-jin.
"Dia ada di Pek-hoa-kok. di rumah Ci Giok Phang."
Kata kakaknya. Saat mendengar khabar itu seolah ia disambar petir saja. Air mukanya berubah. Lama sekali baru ia bicara.
"Di Pek-hoa-kok di rumah keluarga Ci?"
Ia menggumam.
"Benar Ci Giok Phang adalah putera Ci Poh. Siapa Ci Poh itu pasti kau masih ingat, kan? Dia...."
Kok Hu-jin langsung memotong "Tidak perlu kau jelaskan tagi!"
Bentak Kok Hu-jin. Sekalipun Kok Hu-jin membentak tapi Jen Thian Ngo tetap melanjutkan kata-katanya.
"Ci Poh lelaki yang ditunangkan denganmu itu. Sam-moay. tetapi kau tak bersedia menikah dengannya. Ia punya dua orang anak. seorang lelaki dan yang seorang anak perempuan. Yang lelaki bernama Ci Giok Phang dan yang perempuan bernama Ci Giok Hian. Aku dengar Ci Giok Hian sangat baik pada Siauw Hong. Ia kabur justru demi cintanya kepada Ci Giok Hian itu!"
Kata sang kakak.
Mendengar keterangan ini nona Han sakit hati seperti ketika itu hatinya seperti disayat-sayat sembilu.
Begitu pun Kok Hu-jin yang kelihatan sangat terpukul.
Dia terduduk di kursinya dan menggumam.
"Ini...Ini sungguh kebetulan sekali!"
Katanya.
"Ini betul-betul sebuah pembalasan."
Kata Jen Thian Ngo.
"Sam-moay. kau tak menyalahkan aku berkata begitu, 142 kan? dulu kau yang mendepak orang, itu memang agak keterlaluan. Karena keluarga Ci keluarga terhormat, atas kejadian itu. Ci Poh pun tak mampu mengangkat kepalanya di depan umum."
Kata "Pembalasan"
Diucapkan oleh kakaknya, sedang Kok Hu-jin tak berani mengatakannya sendiri.
Saat itu ia sedang mengkhawatirkan keadaan Siauw Hong.
Kata-kata kakaknya itu memang menusuk hatinya.
Tapi karena sedang memikirkan Siauw Hong jadi tak terlalu terpengaruh oleh ucapan kakaknya.
Nona Han yang sedang bersembunyi pun merasa tidak enak hati.
"Benar-benar keterlaluan justru "pembalasan"
Itu menimpa diriku!"
Pikir nona Han Pwee Eng.
Sekarang nona Han langsung sadar apa yang dikatakan oleh ayahnya, bahwa di antara keluarga Kok dan Ci terdapat masalah.
Kiranya masalah ini.
Karena sangat rahasia hingga ayahnya tak berani bicara terus-terang.
Lama baru Kok Hu-jin bicara lagi.
"Toa-ko, mungkinkah ini suatu pembalasan dari keluarga Ci bagi keluargaku?"
Kata Kok Hu-jin. Kakaknya mengerutkan dahi.
"Kedua anak Ci Poh mengetahui atau tidak masalah orang tuanya, aku juga tidak tahu. Tetapi aku tahu sesuatu maka itu aku sekarang datang menemuimu."
Kata kakaknya.
"Tentang apa?"
Tanya Kok Hu-jin.
"Aku dengar Siauw Hong telah mengajari Ci Giok Phang ilmu Siauw-yang-sin-kang, ide itu dari Ci Giok Hian. Kiranya Ci Giok Hian ingin agar kakaknya itu mengobati 143 Han Tay Hiong, agar keluarga Han tidak menyimpan dendam masalah perjodohan itu. Tampaknya Nona Ci ini banyak akalnya. dia lebih licin dari kau. Sam-moay. kelak dia akan jadi menantumu, maka kau harus berhati-hati lho!"
Itu adalah sebuah sindiran, tetapi Kok Hu-jin tak menghiraukannya.
"Bagaimana kau bisa tahu demikian jelas. malah kau juga tahu itu ide siapa?"
Kata Kok Hu-jin. Kakaknya tersenyum.
"Kau masih ingat Ciu Ji?"
Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.
"Ciu Ji yang mana? Oh. aku ingat. Ciu Ji yang itu! Isterinya adalah ibu angkatku. Aku pernah melihatnya beberapa kali ketika aku masih kecil. Tetapi kesanku sudah agak kabur terhadapnya. Oh ya! Apakah Ciu-ji-soh (Kakak-ipar Ciu Ji) baik-baik saja? Sudah 30 tahun aku tidak bertemu dengannya."
"Ciu Ji baik-baik saja. Tetapi Ciu Ji-soh. ibu angkatmu itu sudah meninggal dunia. Sekarang Ciu Ji ada di rumah keluarga Ci."
Kata kakaknya. Kok Hu-jin mengelah napas panjang.
"Setelah aku menikah aku tidak pernah bertemu dengan ibu-angkatku itu. Kapan dia meninggal, aku pun tidak tahu sama sekali. Padahal aku ingin mengurus mereka, tetapi tak kesampaian."
Kata Kok Hu-jin.
Sejak kecil ibu Kok Hu-jin telah meninggal dunia.
Saat itu ia diurus oleh Ciu-ji-soh sehingga dewasa.
Sekarang kakaknya menyinggung soal ibu angkatnya itu.
tentu saja hal itu membuat dia sangat berduka sekali.
"keluarga Ci sangat baik kepada Ciu-ji-soh. karena suaminya Ciu Ji dengan keluarga Ci masih ada hubungan famili."
Kata kakaknya lagi.
"Saat Ayah menjodohkan kau dengan keluarga Ci. Ayah justru bertanya kepada Ciu Ji tentang keluarga Ci. Oleh sebab itu Ciu Ji bisa dikatakan perantaranya."
Wajah Kok Hu-jin jadi merah.
"masalah itu sudah lewat. untuk apa diungkit-ungkit tagi?"
Katanya.
Rupanya ibu angkat Kok Hu-jin paling setuju Kok Hu-jin dijodohkan dengan Ci Poh.
tetapi Kok Hu-jin malah menikah dengan Kok Ju Sih.
Sejak saat itulah hubungan dengan ibu angkatnya semakin jauh dan renggang.
Ingat tentang ibu angkatnya ia jadi berduka sekali.
Sang kakak menatapnya.
"Kau menanyakan masalah Siauw Hong. itu harus dimulai dari Ciu Ji."
Kata kakaknya. Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.
"Sejak kau menikah dengan Kok Ju Sih. Ci Poh membawa Ciu Ji suami isteri ke Pek-hoa-kok. Saat ini Ciu Ji sangat terkenal di Dunia Persilatan, malah banyak orang memanggil dia sebagai Lo-cian-pwee."
Kata Jen Thian Ngo sambil tersenyum, lalu ia melanjutkan.
"Ciu Ji punya seorang cucu bernama Ciu Hong. Sejak kecil sang cucu ini mendampingi Ci Giok Hian. Ciu Hong saling memanggil Kakak-misan dan Adikmisan....."
Jen Thian Ngo menatap ke arah Kok Hu-jin.
"Semua tentang Siauw Hong aku ketahui dari Ciu Ji yang mendapat keterangan dari cucunya. Ciu Hong. Jelas itu bisa dipercaya."
Melanjutkan Jen Thian Ngo.
"Jika si Hong lari ke sana. sulit aku memintanya dia pulang."
Pikir Kok Hu-jin "Terus terang aku tidak percaya kalau Han Tay Hiong tidak ingin ilmu pusaka keluarga kita."
Kata Jen Thian Ngo. Bukan main kesal dan dongkotnya nona Han.
"Ayahku tak sepicik yang kau duga bedebah! Sebaliknya kalian terlalu meremehkan nona Ci. apa yang ia lakukan di luar dugaan kalian berdua. Dia telah menyembuhkan lukaku saat aku tidur. Dia juga ingin menghadiahkan seguci arak obat kepada Ayahku. Tak mungkin Ayahku membutuhkan ilmu keluargamu itu!"
Pikir nona Han. Saat Kok Hu-jin mau bicara mendadak seorang pelayan masuk dengan sikap tergesa-gesa dan gugup.
"Cu-bo (Nyonya Majikan)! Ce..Ce..celaka!"
Kata pelayan itu gugup bukan main. Melihat di situ ada Jen Thian Ngo mata pelayan itu terbelalak kaget.
"Ada apa? Mengapa kau begitu gugup? Ini Jen Lo-ya. Ada urusan apa katakan saja!"
Kata Kok Hu-jin sambil berkata pada kakaknya.
"Dia pelayan Siauw Hong. namanya Lan Hoa "
"Sudah ada khabar tentang Siauw-ya. Cu-bo!"
Kata pelayan itu.
"Bagus!"
Kata Kok Hu-jin.
"Katanya Siauw-ya ada di Pek-hoa-kok. di rumah keluarga Ci. Toa-siauw-ya Ci dari sana menyuruh orang memberitahu hal ini."
Kata Lan Hoa. Kok Hu-jin tak segera menyahut.
"Hm! Ci Giok Phang berharap agar aku setuju Siauw Hong menikah dengan adiknya!"
Pikir Kok Hu-jin.
"Mana orang itu?"
Kata Kok Hu-jin.
"Hamba tak bertemu dengan orang itu. Theng Toa-siok yang melayaninya. Tadi Theng Toa-siok menyuruhku memberitahu Cu-bo!"
Kata pelayan Lan Hoa. Theng Toa-siok pelayan tua di rumah keluarga Kok. ia tahu sekali tentang masalah keluarga Kok dan keluarga Ci.
"Lo Theng kaget sendiri, Padahal aku sudah tahu tentang itu. Melapor besok pun tidak masalah."
Kata Kok Hu-jin.
Saat itu menjelang subuh si pelayan tua tak berani menemui Kok Hu-jin.
karena ia juga tak tahu Kok Hu-jin belum tidur.
Jika bukan karena urusan itu sangat penting, ia pun tak berani menyuruh pelayan Lan Hoa memberi tahu majikannya.
"Karena katanya sangat penting maka hamba berani datang menemui Cu-bo. kalau tidak hamba pun tak berani mengganggu Cu-bo."
Kata Lan Hoa. Kok Hu-jin kaget.
"masalah apa? katakan saja!"
Kata Kok Hu-jin.
"Orang itu mengatakan sekarang tempat tinggal keluarga Ci sedang dikepung oleh musuh."
Kata Lan Hoa. Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.
"Kepandaian kakak beradik keluarga Ci cukup tinggi, aku belum pernah mendengar mereka punya musuh di kalangan Kang-ouw. Mengapa tempat tinggal mereka sampai dikepung musuh? Dari aliran mana mereka itu?"
Kata Kok Hu-jin.
"Apa yang aku dengar tadi. orang-orang itu undangan keluarga Han dari Lok-yang."
Sahut Lan Hoa.
"Katanya terdapat Yu-pek-to (Golok Kanan) Koan Kun Oh, Lu Tay Ceng, (guru silat terkena). malah katanya ada juga dari kaum Lioktim (Rimba Hijau/Gotongan Hitam), misalnya Bong Sian, Ong Han Cu dari Pek-ma-ouw (Telaga Kuda Putih) dan yang lainnya. Theng Toa-siok menyebutkan nama-nama mereka, tapi aku tidak ingat semua!" . Kok Hu-jin kaget bukan main.
"Han Tay Hiong jauh di kota Lok-yang. apakah ia sudah tahu Siauw Hong kabur dan menolak menikahi puterinya? Seandainya sudah tahu sebaiknya dia berunding dulu denganku, jangan memperbesar masalah."
Kata Kok Hu-jin. Nona Han Pwee Eng yang sedang bersembunyi mendengar semua itu. Ia kaget dan girang. Sebaliknya Kok Hu-jin tercengang, sedangkan nona Han tahu semuanya.
"Pasti Chan It Hoan dan Liok Hong yang memakai nama Ayah lalu mengundang teman-teman Ayahku mengepung Pekhoa-kok untuk membebaskan aku. Aku yakin Kakak Ci bersaudara mengatakan mereka tak tahu aku ada di mana saat orangku menanyakan aku. Pasti Chan dan Liok tidak percaya. Demi kehormatan Ayahku, mereka pasti memaksa hendak melakukan penggeledahan. Hm! Ci Giok Hian akan merasakan kejutan, bagus sekali!"
Pikir nona Han Pwee Eng sambil tersenyum. Chan It Hoan dan Liok Hong. adalah dua lelaki tua pengawal nona Han Pwee Eng.
"Apa yang menyebabkan keributan itu? apa Theng Toa-siok menanyakannya pada orang itu?"
Tanya Kok Hu-jin.
"Sudah, orang itu bilang pihak keluarga Han minta dikembalikan orangnya!"
Kata Lan Hoa. Kok Hu-jin tampak kurang senang.
"Minta dikembalikan orangnya? Han Tay Hiong ingin meminta Siauw Hong dikembalikan?"
Pikir Kok Hu-jin kurang senang.
"Sekalipun tindakan puteraku itu sangat keterlaluan, tapi keluarga Han tak perlu ikut campur masalah ini. Mana boleh ia datang ke sana untuk merampas Siauw Hong? Sebelum ke sana seharusnya ia berunding dulu denganku. Keluarga Han telah mencoreng mukanya sendiri, tetapi juga membuat aku kehilangan muka!"
Kata Kok Hu-jin kesal. Mendengar ucapan Kok Hu-jin. Lan Hoa membantah.
"Bukan! Mereka tidak minta Siauw-ya. tetapi minta pengantin perempuan!"
Kata Lan Hoa. Kok Hu-jin terperanjat bukan kepalang.
"Pengantin apa?"
Kata Kok Hu-jin.
"Pengantin itu puteri keluarga Han. calon isteri Tuan muda!"
Jawab Lan Hoa Mata Kok Hu-jin terbelalak.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Katanya "kalau begitu urusan ini memang benar!"
Kata Thian Ngo.
"Jadi kau sudah tahu semuanya?!"
Kata Kok Hu-jin.
"Cepat katakan padaku! Ada apa ini?"
"Aku dengar Han Tay Hiong telah menyewa Houw Wie Piauw Kiok untuk mengantarkan puterinya ke mari."
Kata Jen Thian Ngo.
"yaitu untuk dinikahkan dengan puteramu. Ketika lewat di sarang Serigala Tua. pengantin itu justru diculik!"
Kok Hu-jin tertegun.
"Diculik? Diculik oleh Lima Serigala marga Tan? Jadi keluarga Ci juga berada di balik kekacauan ini?"
Kata Kok Hujin.
"Tidak! keluarga Ci tidak bergabung dengan Serigala Marga Tan."
Kata Jen Thian Ngo.
"Tetapi mereka masingmasing bergerak sendiri-sendiri. Serigala Tan ingin meminta uang jalan. sedangkan Ci Giok Hian pengantinnya. Pemenangnya pihak Ci!"
Kok Hu-jin kelihatan kaget sekali "Benarkah itu? Wah. ini sungguh tidak beres!"
Katanya. Kening dia berkerut-kerut.
"Jika Ci Giok Hian kejam dan mencelakakan puteri Han Tay Hiong. oh ini bagaimana baiknya ya? Pasti keluarga Han akan melakukan perhitungan dengan keluarga Ci. Juga dia akan memusuhiku!"
Pikir Kok Hu-jin. Saat itu Lan Hoa bicara lagi.
"Orang itu bilang. Nona Ci dan Nona Han sudah jadi kakak beradik angkat, kali ini ia undang Nona Han. tapi malah jadi mala-petaka!"
Kata Lan Hoa.
"Kedatangan Nona Han ke mari untuk menikah, barangkali Ci Giok Hian berbuat begitu hanya untuk bergurau? Kita jangan ikut campur urusan mereka, yang penting tak terjadi apa-apa pada Nona Han."
Kata Kok Hujin.
"Tapi orang itu bilang Nona Han sudah tak ada di sana."
Kata Lan Hoa lagi.
"Ke mana dia?"
Kata Kok Hu-jin sambil mengerutkan dahinya kelihatan jadi semakin bingung.
"Tidak tahu. Cu-bo. Mereka juga bingung sekali!"
Kata Lan Hoa.
"Tetapi dari pihak keluarga Han tidak percaya 150 kalau Nona Han tidak ada di tempatnya. Mereka terus mendesak agar keluarga Ci mengembalikannya."
Jelas utusan keluarga Ci itu tak tahu bahwa keluarga Ci telah menyembuhkan Nona Han.
"Nona Han puteri satu-satunya Han Tay Hiong. ilmu silatnya pasti lihay. Ketika ia tahu Nona Ci berniat jahat, ia buru-buru kabur."
Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya. Ia tatap Lan Hoa.
"Cepat kau pergi, katakan pada Theng Toa-siok layani orang itu. Besok baru kita bicarakan lagi masalah ini."
Kata Kok Hu-jin.
"Baik. Cu-bo. Tapi orang itu bilang. Tuan-muda ada di rumahnya, mohon Cu-bo memandang muka Tuan-muda agar Cu-bo mau membantu mereka dalam kekacauan ini."
Kata Lan Hoa sedikit mendesak majikannya. Kok Hu-jin tertawa getir.
"Aku tak mencemaskan puteraku. buat apa dia banyak bicara?"
Kata Kok Hu-jin. Lan Hoa buru-buru pergi.
"Sam-moay. apa rencanamu sekarang?"
Tanya Thian Ngo.
"Apa kau punya ide. Toa-ko?"
Kok Hu-jin seorang wanita yang tegas dan bisa cepat mengambil keputusan.
kalau tidak, mana mungkin dulu ia bersedia kabur bersama Kok Ju Sih?
Tapi masalah yang dihadapinya sekarang menyangkut keluarga Han, Kok dan keluarga Ci.
oleh sebab itu ia tak berani memutuskan sendiri, ia minta pendapat kakaknya.
"Jika keluarga Ci bisa mengatasi masalah itu. ia tak akan minta bantuan ke mari."
Kata Jen Thian Ngo.
"Menurut 151 pendapatku kau harus tampil membantu membereskan masalah ini!"
Ayah Ci Giok Hian pernah bertunangan dengan Kok Hu-jin.
Sekalipun masalah itu sudah lama namun kedua keluarga belum bisa akur.
malah mereka tidak pernah berhubungan.
Tak heran ketika mendengar ucapan kakaknya itu wajah Kok Hu-jin jadi merah.
"masalah sudah jadi begini, aku harus membereskannya. Tetapi aku tak kenal pada orang-orang yang mengepung rumah keluarga Ci itu. Ditambah lagi belum tentu mereka mau mengalah kepadaku? Jika harus bertempur untuk membubarkan kepungan mereka itu. dan jika kau bersedia membantuku pun. aku tidak yakin kita akan mampu mengalahkan mereka, ini akan menghancurkan keluarga Ci dan menanam permusuhan dengan keluarga Han."
Kata Kok Hu-jin.
"Oleh sebab itu jangan gunakan kekerasan."
Kata kakaknya. Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.
"Lalu bagaimana membereskannya?"
Kata Kok Hu-jin bingung. Kakaknya berpikir sejenak.
"Meluruskan benang yang kusut harus orang yang membuat benang itu kusut. Kau cerdas, aku yakin kau tahu maksudku?"
Kata sang kakak. Kok Hu-jin mengangguk.
"Maksudmu aku harus mengundang Han Tay Hiong untuk membereskannya? Aku pun sudah berpikir ke sana."
Kata Kok Hu-jin. Jen Thian Ngo tersenyum.
"Sekarang Han Tay Hiong ada di Lok-yang yang jaraknya demikian jauhnya. Aku kira kejadian ini belum diketahuinya. Tetapi aku yakin ada orang yang menggunakan namanya untuk melakukan pengepungan di rumah keluarga Ci itu. Jika kita harus ke sana pun, aku kira sudah terlambat sekali untuk membereskan masalah ini."
Kata Jen Thian Ngo.
"kalau begitu cuma puterinya yang bisa membereskan masalah ini."
Kata Kok Hu-jin.
"Benar! Sekalipun Siauw Hong bersaah kepadanya, namun kau tetap masih calon ibu mertuanya. Maka cara satu-satunya kita harus cari dia sampai ketemu. Kau harus memohon agar dia membantumu mengurus masalah ini."
Kata kakaknya. Kok Hu-jin tersenyum getir.
"Mana kita tahu sekarang dia ada di mana? Jika berhasil mencarinya pun. lalu aku harus bilang apa? Sedang aku belum tahu Siauw Hong dan Ci Giok Hian sudah menikah atau belum? Jika Siauw Hong tak mau nona itu kubawa ke mari. bukankah aku jadi mencelakakan nona itu?"
Kata Kok Hu-jin bingung bukan main.
"Ibu Siauw Hong seorang wanita yang tahu aturan."
Pikir Han Pwee Eng dipersembunyiannya.
"Dia masih memikirkan diriku. Dia tak tahu sekarang aku ada di rumahnya?"
Tak lama nona Han berpikir lagi.
"dalam keadaan begini mana mungkin aku jadi menantunya?"
Pikir nona Han Pwee Eng. Tak lama Han Pwee Eng mendengar kakak nyonya itu bicara lagi.
"Jangan pedulikan keadaan Siauw Hong. yang utama bereskan dulu masalah itu! Jika kau tulus hati. aku akan membantumu berusaha mencari Nona Han. Aku juga akan minta bantuan para sahabat kaum Rimba Persilatan mencari jejaknya."
Kata Jen Thian Ngo.
"Apa maksudmu aku harus tulus hati?"
"Minta maaf kepadanya dan jamin puteramu mau menikah dengannya."
Kata sang kakak. Kok Hu-jin mengelah napas panjang.
"Aku khawatir Siauw Hong tidak mau!"
Katanya. Jen Thian Ngo tertawa.
"Kau ibunya, tegas sedikit dan tekan dia. pasti ia akan menurut!"
Kata Jen Thian Ngo.
"Sifat anak itu mirip ayahnya, keras kepala dan tak bisa dipaksa. Jika dia mencintai Nona Ci. dia tak akan menikahi gadis lain! Mana berani aku menjamin pada Nona Han."
Mendadak wajah Jen Thian Ngo berubah jadi tidak sedap dipandang.
"Mau tak mau dia harus menurut kehendakmu! Ini bukan masalah sederhana. Kau pernah melakukan kesalahan sekali, sekarang jangan biarkan anakmu melakukan kesalahan lagi!"
Kata Jen Thian Ngo tegas.
"Apa gunanya kau menekan dia. dulu kau pun menekan aku harus menikah dengan keluarga Ci. Akhirnya aku malah kabur dan menikah dengan Kok Ju Sih."
Kata Kok Hu-jin dingin. Kemudian ia tatap kakaknya ini lalu berkata dengan nyaring.
"Aku menikah dengan Kok Ju Sih. dan tak pernah menyesal! Jika aku dikatakan salah juga boleh, tidak salah ya boleh! Aku tak ingin memaksa puteraku. Titik!"
Kakaknya menggelengkan kepala "Kalau begitu tak ada jalan lagi."
Katanya. Nona Han bimbang dan ia anggap ucapan ibu Siauw Hong sangat menyinggung hatinya, tetapi ia tetap berterima kasih pada ucapannya yang jujur itu.
"Dia benar."
Pikir nona Han.
"Jodoh memang tidak bisa dipaksakan. Mengapa aku harus kukuh tentang hal ini? Perjodohan yang hanya disetujui kedua orang tua. jika sampai Siauw Hong jadi suamiku, aku juga tak tahu apa aku menyukainya atau tidak?"
Setelah itu hati nona Han puas sekali.
"Aku pasti tidak akan menjadi menantu keluarga Kok. mana boleh aku masih menganggap dia calon mertuaku?"
Pikir si nona. Di dalam kamar jadi hening seketika. Beberapa saat kemudian Jen Thian Ngo bicara lagi.
"Masih ada satu cara yang boleh kita coba!"
Katanya. Jen Thian Ngo berbisik ke telinga adiknya Nona Han mencoba untuk ikut dengar omongan mereka, tapi ia tak mendengar suara apa-apa.
"Si Tua-bangka itu kasak-kusuk, entah apa yang dia bicarakan dengan adiknya? Siapa tahu ia akan menggunakan cara kurang baik. Di kamar hanya mereka berdua, kenapa harus kasak-kusuk? Apa dia sudah tahu aku ada di sini?"
Pikir nona Han Pwee Eng curiga sekali. Mendadak Kok Hu-jin bicara dengan lantang.
"Apa? Kau suruh aku membohongi Nona Han?"
Katanya. Jen Thian Ngo wajahnya tampak berubah.
"Jangan bicara begitu, itu tak sedap didengar. Ini hanya sebuah siasat saja!"
Kata Jen Thian Ngo.
"Aku tidak bisa berbuat begitu."
Kata Kok Hu-jin tegas.
"Jika kau bisa menemukan Nona Han dan membawanya ke mari. aku akan berterima kasih kepadamu. Namun aku akan bicara sejujurnya kepadanya. Dia mau membantu atau tidak, biar dia yang menentukannya sendiri. Aku tak mau membohonginya!"
Begitu Kok Hu-jin memutuskan. Jen Thian Ngo tersenyum ia menunjuk ke arah jendela.
"Kau sangat ceroboh!"
Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin tertegun.
"Apa? Di luar.. ."
Kok Hu-jin ingin bilang di luar ada orang, tetapi pada saat yang sama terdengar suara benda jatuh.
"Gedubrak!"
Kok Hu-jin menoleh ke arah jendela.
Terlihat sesosok bayangan hitam pergi melompati tembok.
Rupanya nona Han pergi dengan agak terburu-buru.
sehingga ia kurang hati-hati dan menjatuhkan sebuah pot bunga.
Kok Hu-jin akan mengejar bayangan itu.
tetapi Jen Thian Ngo mencegahnya.
"Sam-moay. jangan dikejar!"
Kata dia. Kok Hu-jin tak melihat jelas bayangan itu tapi dari bagian belakang bayangan itu ia tahu itu sosok seorang perempuan. Dia tersentak.
"Dia pasti Nona Han!"
Katanya. Jen Thian Ngo manggut.
"Benar dia nona Han. calon menantumu, saat aku ke mari aku sudah tahu dia bersembunyi di balik gununggunungan batu."
Kata Jen Thian Ngo. Alis Kok Hu-jin berkerut.
"Mengapa kau tidak bilang dari tadi?"
Ia menyesali kakaknya. Jen Thian Ngo menghela napas.
"Kau memang sudah pikun. Dia adalah menantumu yang belum masuk pintu. Jika kau kuberitahu, mukanya akan dia taruh di mana?"
Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin tersenyum.
"Jika demikian dia belum tahu masalah Siauw Hong dengan Nona Ci. Kedatangannya itu untuk mencari tahu. Oh celaka! Dia pasti sudah mendengar pembicaraan kita tadi."
"Aku memang sengaja bicara keras-keras supaya dia mendengar."
Kata Jen Thian Ngo.
"Bahkan aku sudah memberi isyarat, tetapi kau tak mengerti. Jika kau tadi mendukung dia. pasti dia amat berterima kasih kepadamu. Sudah pasti dia akan membantu membereskan masalah itu. Tetapi kau berkata begitu tegas, dia pergi dengan gusar. Kemungkinan dia tak akan lagi mau menjadi menantumu!"
Kata Jen Thian Ngo.
"Justru karena aku tahu ia di luar. maka aku sengaja berkata begitu."
Kata Kok Hu-jin tidak senang.
"Aku tidak seperti kau ingin menggunakan siasat busuk. Aku juga tidak mau membohonginya."
"Sam-moay sifatmu seperti dulu ketika kau masih remaja."
Kata Jen Thian Ngo.
"Sekarang aku tak bisa bicara apa-apa lagi."
"Hm! Kau sudah tahu ia ada di tuar. mengapa kau malah memburuk-burukkan nama ayahnya?"
Kata Kok Hu-jin.
"Apa kau tak takut dia mendengar kata-katamu?"
"Itu soal lain. aku yang menjelekkan ayahnya bukan kau! Jika dia sakit hati pasti kepadaku, bukan pada kau. Aku sengaja bicara begitu pasti ada sebabnya. Sekarang dia sudah pergi gara-gara kau, maka aku tak perlu menjelaskan lagi sebabnya padamu."
Kata Jen Thian Ngo.
Di antara Jen Thian Ngo dan Han Tay Hiong memang punya masalah.
sebenarnya dia tak setuju Siauw Hong menikah dengan puteri dari Han Tay Hiong.
Dia tidak rela ilmu Siauw-yang-sin-kang diajarkan pada keluarga Han.
Itu sebabnya dengan sengaja ia berkata begitu agar puterinya menyampaikan pada ayahnya.
oleh karena Han Tay Hiong lebih mengutamakan kehormatan, maka ia yakin pasti Han Tay Hiong akan membatalkan perjodohan anaknya itu.
Ditambah lagi pasti ia tidak akan bersedia diobati dengan ilmu dari pihak keluarga Kok.
Kok Hu-jin hanya mengelah napas ketika tahu sebenarnya apa yang dikehendaki kakaknya itu.
"Sebenarnya aku ingin tahu apakah Nona Han bersedia menjernihkan suasana di Pek-hoa-kok atau tidak? Jika tidak yah terserah dia saja."
Begitu Kok Hu-jin berpikir.
Nona Han bingung dia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Bab Han Pwee Eng berlari terus sampai sejauh belasan lie, meninggalkan rumah keluarga Kok.
Setelah jauh baru hatinya merasa tenang.
Ketika itu fajar pun telah menyingsing di ufuk Timur, cahayanya yang merah keemasan sangat indah sekali.
Angin berhembus sejuk sekali, sedang pemandangan di sekitarnya sangat indah.
Di sana-sini terdengar suara kicau burung yang riang sekali berlompatan di atas dahan-dahan.
Saat itu nona Han Pwee Eng yang cantik ini sedang mandi sinar sang surya pagi yang hangat dan lembut.
Perlahan-lahan kabut di dalam hatinya mulai buyar, seolah sudah lenyap terkena cahaya sang matahari yang mulai naik perlahan-lahan.
"Hati Kok Hu-jin sangat lapang dan jujur."
Pikir si nona.
"mengapa hatiku tak bisa seperti hatinya? Ci Giok Hian telah mengobaliku sehingga aku sekarang sembuh, Padahal ini suatu kesempatan yang baik untukku membalas budinya itu. Aku tidak ingin berebut lelaki dengannya, lalu mengapa aku tidak ke sana saja membantu membereskan masalahnya?"
Kemudian wajahnya tampak ceria.
Dia telah mengambil keputusan untuk membantu keluarga Ci yang sedang dalam kesulitan itu.
Maka ia tak kembali ke penginapan, tapi langsung ke Pek-hoa-kok.
Setelah lewat tiga hari menempuh perjalanan.
ia menggunakan gin-kang saat tak ada orang untuk mengejar waktu.
Keesokan hanya Han Pwee Eng sudah tiba di tebing Bansong-teng.
Tebing itu berhadap-hadapan dengan lembah Pekhoa-kok.
tapi masih berjarak seratus lie lagi untuk bisa sampai ke lembah itu.
"Jika aku bisa lebih cepat lagi. mungkin malam ini aku sudah sampai di lembah itu. Jika Ci Giok Hian melihat kedatanganku, pasti ia kaget karena tak menyangka sama sekali. Apa perlu aku menemui Kok Siauw Hong?"
Pikir nona Han Pwee Eng bimbang Ia berlari kencang, tak lama ia sudah tiba di sebuah tegalan yang datar.
Dari jauh ia sudah melihat orang berkumpul di padang rumput.
Saat Han Pwee Eng memasuki mulut lembah ia mendengar suara beradunya senjata tajam.
"Oh celaka! Mereka sudah mulai bertarung!"
Pikir nona Han kaget bukan main.
"Hm! Sungguh hebat jurus Lian-hoan-beng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Berantai Pencabut Nyawa)!"
Kata sebuah suara yang terdengar oleh nona Han Nona Han terus berlari menuju ke padang rumput itu.
"Sungguh sayang sabetan goloknya tidak tepat sasaran!"
Kata suara yang lain.
Sekalipun Nona Han belum melihat orang yang bicara itu.
tetapi ia sudah mengenali siapa yang sedang bertarung itu.
Ia mulai tak tenang, segera ia berlari ke sana.
Sesudah dekat ia lihat bayangan pedang dan golok saling menyambar.
Orang yang bertarung itu ialah Lui Piauw dan Kok Siauw Hong.
Penonton tampak tegang dan penuh perhatian.
Terkadang mereka bersorak riuh.
Nona Han menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian.
Pedang Kok Siauw Hong menyambar-nyambar gesit sekali.
Golok Lui Piauw sekalipun gerakannya lambat, tapi kelihatan mantap sekali, suaranya menderu-deru.
Kiranya dia bisa mengimbangi serangan pedang Kok Siauw Hong.
Ketika menyaksikan pertarungan seru itu Han Pwee Eng agak cemas juga.
"Keduanya bertarung dengan sengit sekali, pasti salah satu akan terluka parah. Yang manapun yang terluka pasti ini tidak baik. Bagaimana caranya aku memisahkan mereka?"
Pikir nona Han Pwee Eng bingung bukan main.
Sebagai seorang gadis ia merasa tak enak jika harus berteriak-teriak, apalagi memanggil nama Siauw Hong.
Ditambah lagi pertarungan itu sedang seru-serunya, pasti suaranya tak akan terdengar oleh orang yang sedang bertarung dengan hebat itu.
Ia juga sulit mendekati gelanggang karena terhalang oleh para penonton yang berjubelan.
Apa boleh buat ia tepuk bahu seseorang sambil berkata.
"Maaf. numpang lewat!"
Kata si nona. Orang itu segera memberi jalan. saat itu lelaki tua bernama Liok Hong melihat nona Han sudah ada di situ.
"Oh. Nona! Kau sudah kembali!"
Kata Liok Hong. Tak lama muncullah Ci Giok Phang. Dia mengawasi nona Han Pwee Eng dalam-dalam. Han Pwee Eng segera menoleh ke tempat lain.
"Ah aku kira Kuan Kun Oh bicara sembarangan. tak tahunya memang Nonaku ada bersama bocah ini! Sekarang bagaimana baiknya?"
Kata Liok Hong bingung. Han Pwee Eng tidak tahu apa maksud ucapan pengawalnya itu.
"Biar aku ke dalam dulu!"
Kata nona Han. Tak lama Chan It Hoan pun sudah melihat nona Han berada di situ.
"Nona kami sudah kembali. harap beri jalan!"
Kata mereka.
Seruan itu mengejutkan semua orang, mereka langsung mengawasi ke arah Han Pwee Eng.
Orang ingin melihat sang calon pengantin, sehingga suasana tiba-tiba jadi hening.
Mereka memberi jalan dan membiarkan nona Han Pwee Eng memasuki gelanggang pertarungan.
Pertarungan antara Lui Piauw dan Kok Siauw Hong masih berlangsung.
Mereka sama sekali tak mengetahui kedatangan si nona Han ke gelanggang.
Saat nona Han sampai Kok Siauw Hong sedang menggunakan jurus "Tay-mok-hu-in" (Bayangan Rase di Gurun Pasir) ia menyerang Lui Piauw.
Ujung pedang Siauw Hong mengarah ke jalan darah Hian-kie-hiat dan Pauw-khiehiat di tubuh Lui Piauw.
"Sebuah serangan yang bagus!"
Seru Lui Piauw. Tubuh Lui Piauw menggetar, ia menggunakan jurus "Bengsiauw-toh-wa" (Binatang Liar Berebut Sarang) ia tangkis serangan dari Siauw Hong. dan....
"Traang!"
Suara benturan senjata tajam itu terdengar nyaring sekali.
Lui Piauw berhasil menangkis serangan Siauw Hong dengan tepat.
Kemudian Lui Piauw pun meluncurkan seranganserangan beruntun untuk membalas.
Han Pwee Eng kaget hingga ia berteriak.
"Lui Siok-siok (Paman Lui) aku ada di sini!"
Teriak nona Han.
"Sudah jangan bertarung terus!"
Ketika itu nona Han Pwee Eng memanggil Lui Piauw dan tidak mau memanggil nama Kok Siauw Hong. Kelihatan keduanya melompat mundur.
"Tit-Jie (Keponakan perempuan, red). jangan cemas! Aku akan membereskan urusanmu."
Kata Lui Piauw yang memang sahabat baik ayah nona Han.
"Kok Siauw Hong lihat keadaan dirimu! Sekarang kau mau bilang apa?"
Kata Lui Hong sengit.
"Apa yang harus kukatakan sudah kukatakan padamu!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kau mau apa?"
Memang sebelum bertarung ia sudah berjanji, jika ia kalah ia akan membuang pedangnya dan ikut dengan Lui Piauw ke Lok-yang menemui ayah nona Han.
Tetapi jika ia yang menang, maka Lui Piauw dan kawan-kawannya tidak boleh ikut campur urusan dia.
Saat itu Kok Siauw Hong tak menghiraukan kedatangan nona Han.
malah ia tak acuh saja.
Mendengar jawaban Kok Siauw Hong bukan main marahnya Lui Piauw.
"Nona Han telah datang, mungkin ia tidak ingin pertunangannya dibatalkan? Aku harus mengurus urusan puteri sahabatku itu!"
Pikir Lui Piauw. Akhirnya dia bicara.
"Kok Siauw Hong hanya ada dua pilihan bagimu, kau pikir masak-masak!"
Kata Lui Piauw.
"Dua pilihan bagaimana?"
Bentak Kok Siauw Hong.
"Yang pertama, kau dan Nona Han harus menikah di sini. biarlah aku yang menjadi walinya."
Kata Lui Piauw. Wajah nona Han langsung merah.
"Lui Siok-siok. kedatanganku kali ini bukan untuk memohon.........."
Tetapi suara nona Han terhenti. Saking malunya nona Han tak bisa melanjutkan kata-katanya itu. Saat itu Kok Siauw Hong telah membentak.
"Aku tidak mau!"
Kata Siauw Hong.
Sekalipun kata-kata nona Han belum selesai, tapi sudah bisa diduga bahwa dia pun tak bersedia menikah dengan Kok Siauw Hong sang calon suami itu.
Sebaliknya Lui Piauw salah mengerti, Ia mengira nona Han malu.
Malah ia marah pada pemuda she Kok itu.
"Baik jika kau menolak jalan yang pertama, yang kedua. Aku dan Nona Han akan membawamu ke Lok-yang untuk menemui ayahnya. Di sana aku tidak akan ikut campur!"
Kata Lui Piauw.
"Mengapa kau bawa-bawa Nona Han segala?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Tadi sudah aku katakan kepadamu, jika aku kalah aku akan menuruti perintahmu. Seorang laki-laki sejati tak akan menarik lagi janjinya! Kau jangan banyak bicara lagi!"
Bukan main marahnya Lui Piauw. Ia membentak.
"Hai bocah angkuh!"
Bentak Lui Piauw.
"Jika kau tak kuberi pelajaran maka kau anggap aku takut padamu! Lihat golokku!"
Lui Piauw mengayunkan goloknya ia menyerang ke arah Kok Siauw Hong.
sedang yang diserang segera menangkis serangan itu dengan pedangnya, dan Kok Siauw Hong pun membalas menyerang.
Pertarungan kali ini lebih hebat dari yang tadi.
karena keduanya mengeluarkan jurus yang mematikan.
Dilihat dari serangan-serangan yang dilakukan Lui Piauw.
jelas sudah kung-fu Lui Piauw lebih tinggi 164 dibanding dengan kepandaian Siauw Hong.
sedangkan ilmu pedang Kok Siauw Hong pun tak kalah hebatnya.
Tak heran pertarungan itu jadi seimbang sekali.
Han Pwee Eng cemas, ia ingin mencoba melerai pertarungan mati-matian itu.
Tetapi usahanya ternyata tak mudah, sehingga ia jadi bingung bukan main.
Ditambah lagi kedatangan dia ke tempat itu sebenarnya untuk mendamaikan kekacauan.
Karena ia sadar pertarungan itu justru gara-gara dia sehingga dia sangat malu sekali.
Bagaimana ia masih punya muka untuk melerai kedua orang yang sedang bertarung itu?
Sedang yang bertarung itu justru calon suaminya yang tak mau menikah dengannya.
Ketika nona Han sedang gelisah tiba-tiba ia merasakan tangannya ada yang menggenggam.
Orang itu ternyata Ci Giok Phang.
Pemuda itu terlalu tegang, sehingga tanpa disadarinya tangannya justru menggenggam tangan nona Han.
Saat ia sadar ia sedang memegang tangan nona itu.
wajahnya langsung berubah jadi merah.
Buru-buru ia lepaskan cekalan tangannya itu.
Agar pemuda itu tidak jadi kikuk, nona Han Pwee Eng berkata sendiri.
"Dua ekor harimau sedang bertarung, pasti salah satu ada yang akan terluka. Kita harus bagaimana?"
Kata si nona. Ci Giok Phang menyahut perlahan.
"Kita lihat saja sebentar lagi. Pada saat mereka mengubah jurus, kita maju serentak untuk memisahkannya!"
Kata Giok Phang mantap. Han Pwee Eng mengerutkan dahinya.
"Lwee-kang Lui Siok-siok sangat tinggi, kita belum tentu bisa memisahkan mereka! Ditambah lagi ini bukan cara yang terbaik, sedang mereka berdua sama-sama keras 165 kepala. Sekalipun sudah kita pisahkan, mereka pasti akan bertarung kembali!"
Ci Giok Phang terus memperhatikan pertarungan yang hebat itu.
tanpa terasa tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Lui Piauw seorang jago tua yang berpengalaman.
saat ini dia sedang mencurahkan perhatian ke pertempuran itu.
pasti dia tidak akan memperhatikan yang lainnya, begitu dugaan Giok Phang.
Padahal semua kejadian yang terjadi di sekitar arena pertarungan itu justru mendapat perhatian Lui Piauw.
Ketika itu Han Pwee Eng dan Giok Phang berdiri paling depan di arena pertarungan itu.
Tak heran Lui Piauw bisa menyaksikan dan mendengar dengan jelas apa yang ditakukan kedua muda-mudi itu "Ah.
rupanya puteri Han Tay Hiong lebih menyukai pemuda ini."
Pikir Lui Piauw Ditambah lagi Koan Kuil Oh pernah memberi tahu Lui Piauw bahwa Han Pwee Eng, Sekalipun calon pengantin di tengah malam ketika di rumah keluarga Ci malah bersedia menemani Ci Giok Phang bicara.
Semula Lui Piauw tidak yakin pada keterangan Koan Kun Oh itu.
karena ia tahu puteri Han Tay Hiong dididik keras oleh ayahnya.
Tetapi sekarang setelah dia melihat sendiri kejadian di siang hari itu sebagai bukti, maka tak heran jika Lui Piauw pun mulai percaya pada keterangan orang she Koan itu.
"Jika itu benar bukankah aku malah mengacaukan keadaan ini. Jika mereka sudah suka sama suka. mengapa aku harus ikut campur tagi?"
Begitu pikir Lui Piauw yang bijaksana ini.
"Sekalipun aku tahu sifat Han Tay Hiong 166 yang tak akan mau kehilangan muka. tapi apa yang bisa aku lakukan?"
Saat pesilat tangguh sedang bertarung pikirannya tidak boleh terbagi dan tak konsentrasi ke pertarungan.
oleh karena Lui Piauw sedang tidak berkonsentrasi hampir saja dia terserang hebat oleh Kok Siauw Hong.
Untung dia masih bisa terhindar dari bahaya itu.
Kok Siauw Hong memang angkuh sekali, ditambah lagi ia harus bisa mengalahkan orang she Lui ini kalau ingin bebas dari tekanan untuk memilih jodoh sesukanya.
Pada saat Kok Siauw Hong hampir berhasil melukai Lui Piauw.
ia girang sekali, ia terus melancarkan serangan bertubitubi karena ia ingin segera keluar sebagai pemenang.
Sayang Lui Piauw bisa menghindar bahaya serangannya.
malah berbalik menyerang dia dengan hebat pula.
"Hm! Kau masih tidak mau menyerah? Baik akan kupotong sebelah tanganmu!"
Bentak Lui Piauw dengan sengit.
Golok Lui Piauw berkelebat.
tahu-tahu sudah ada di atas bahu Kok Siauw Hong.
Ci Giok Phang dan nona Han kaget bukan kepalang.
Pada saat keduanya hendak melompat ke dalam gelanggang.
tiba-tiba terdengar suara benturan senjata tajam.
Terdengar ada orang yang berkata.
"Lui Toa-ko. hentikan!"
"Kok Siauw-hiap. jangan teruskan pertarungan ini!"
Siauw Hong maupun Lui Piauw tanpa terasa berseru.
"Sungguh berbahaya!"
Kata mereka.
Keduanya telah mengeluarkan jurus maut mereka, jika tak ada kedua telaki yang segera muncul, mungkin golok dan pedang akan mengenai sasaran dengan tepat.
Mungkin juga golok Lui Piauw berhasil memotong tangan Siauw Hong.
tetapi Lui 167 Piauw pun tak luput akan terluka parah oleh pedang Kok Siauw Hong.
Kejadian itu mengejutkan semua penonton yang menyaksikan kejadian itu.
Mereka mulai kasak-kusuk tentang kedua lelaki yang berhasil memisahkan petarungan hebat itu.
Sedang yang mengenali mereka langsung berseru.
"Hai! Mengapa pemimpin Kim Kee Leng (Bukit Ayam Emas) ada di sini? Apa masalah kecil ini telah mengejutkan dia?"
Kata mereka. Nona Han terkejut bercampur girang. Rupanya nona Han Pwee Eng telah bertemu dengan kedua orang itu.
"Untung mereka berdua segera datang, dengan demikian keruwetan ini bisa segera diselesaikan. Tetapi mengapa mereka baru muncul sekarang?"
Pikir nona Han. Lui Piauw melompat mundur sejauh tiga tangkah sambil menarik kembali golok emasnya, lalu memberi hormat kepada kedua lelaki itu.
"Yo Si-koh (Kakak Yo yang ke-empat). Tu Pat-ko (Saudara Tu ke-delapan). angin apa yang telah membawa kalian berdua ke mari? kalian punya pesan apa untukku?"
Kata Lui Piauw sambil memberi hormat. Orang she Yo itu tertawa.
"Mengapa hari ini Lui Toa-ko begitu gembira dan bertarung dengan Kok Siauw-hiap di tempat ini? Bukankah ia calon menantu Han Tay Hiong dari Lok-yang?"
Kata Yo. Lui Piauw menjawab sengit.
"Justru pertarungan ini karena urusan mereka!"
Kata Lui Piauw.
"Padahal Nona Han cantik dan bisa silat serta mengerti sastra, kenapa dia anggap tak serasi dengannya? Tapi bocah ini malah membatalkan pertunangannya. Sekarang yang mewakili Han Tay Hiong melampiaskan kedongkolannya! Pertarungan kami ini ditentukan oleh yang menang dan yang kaiah! Aku ingin membawa dia ke Lok-yang agar menemui calon mertuanya. Aku ucapkan banyak terima kasih kepada kaiian berdua. Tetapi aku minta kalian jangan memisahkan pertarungan ini!"
Lui Piauw seorang yang jujur dan bicaranya blak-blakan.
Mendengar Lui Piauw membuka rahasianya.
Kok Siauw Hong menunduk karena malu.
Demikian juga nona Han.
Untung nona Han seorang yang keras hatinya, jika tidak demikian, mungkin ia sudah menangis.
Sepasang matanya berkaca-kaca.
Ci Giok Phang berdiri di samping si nona.
hatinya jadi tak enak.
Segera ia menghalangi si nona.
berdiri di depan nona Han agar tak terlihat sedang berduka.
Orang she Yo itu tertawa.
"Mengurus masalah seperti ini tidak mudah. Lui Toako."
Kata orang she Yo itu.
"Biarkan saja Han Tay Hiong yang memutar otaknya menyelesaikan masalahnya. Kau tak perlu repot dan ikut campur, ditambah lagi kau tak punya waktu untuk ke Lok-yang!"
Lui Piauw tertegun.
"Memang kenapa?"
Tanyanya.
"Terus terang, kedatangan kami bukan untuk mengurus masalah ini."
Kata orang she Yo itu.
"Kedatangan kami ini atas perintah Beng-cu (Ketua) untuk mengundangmu. Lihat ini Liok-tim-ciam (Panah Rimba Persilatan)!"
Yo si-ko menyerahkan sebatang anak panah pada Lui.
Kedua lelaki itu anak buah Hong Lai Mo Li.
yaitu Lioklim Beng-cu (Ketua Rimba Hijau) bagian Utara.
Orang she Yo itu bernama Kuang.
Sedangkan orang she Tu bernama Tu Hok.
Ketika masih muda Lui Piauw bersahabat baik dengan mereka berdua.
Mereka datang ke tempat itu untuk memberi tahu tentang khabar buruk, yaitu mengenai keadaan di Tionggoan (Tiongkok).
Kedudukan Beng-cu kedua lelaki itu jelasnya demikian.
Kota Yang-cou sangat berdekatan dengan kota Hu-cou.
dulu di sini Han Sie Tiong pernah mengalahkan pasukan Kim (Tartar).
Yang-cou termasuk wilayah Kang-lam.
namun kota tersebut terletak di Utara sungai Tiang-kang.
Tetapi kaum Rimba Persilatan tetap menganggap kota itu sebagai daerah Utara di bawah perintah Pak Hong Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan Bagian Utara), yaitu Hong Lai Mo Li.
Liok-tim-ciam Hong Lai Mo Li menyebar sampai ke kota Yang-cou.
hal ini dulu belum pernah terjadi.tni tentu saja sangat mengejutkan Lui Piauw.
Dia menerima anak panah itu dengan sikap hormat sekali.
"Ada perintah apa dari Liu Beng-cu?"
Tanya Lui Piauw.
"Liu Beng-cu mengundang Toa-ko agar kau datang ke Kimkee-teng. di sana akan dibicarakan masalah besar."
Kata Yo Kuang.
"Selain kau dia juga mengundang Koan Kun Oh dan Lu serta Ong Han Cu. Kebetulan semua ada di sini!"
Keterangan itu menarik perhatian semua orang. kelihatan Toan Cin. Koan Kun Oh. Lu Tay Ceng dan Bong Sian segera menghampiri mereka.
"Rencana besar bagaimana?"
Tanya mereka.
"Sebenarnya ada apa?"
Tanya yang lain. Setelah batuk Yo Kuang mulai menjelaskan.
"Pasukan besar bangsa Mongol sudah mulai memasuki wilayah Tiong-goan (Tiongkok). oleh karena itu Liu Bengcu mengundang kalian untuk diajak berunding mengenai masalah ini."
Kata Yo Kuang.
Mengenai akan datangnya serbuan dari pasukan Mongol memang sudah diduga sebelumnya oleh para orang gagah.
Setelah mendengar khabar tersebut, seketika itu juga para orang gagah jadi emosi, darah mereka bergejolak.
"Pasukan Mongol sangat kuat."
Melanjutkan Yo Kuang.
"tampaknya suku Kim (Tartar) pasti akan kalah dalam peperangan kali ini. Kita bangsa Han akan apa yang akan kita lakukan? Ini bukan masalah sederhana. Oleh sebab itu Liu Beng-cu ingin mengambil langkah, pertama ia ingin menahan serbuan pasukan Mongol. sekaligus menggulingkan pemerintahan bangsa Kim!"
"Karena kita tak ingin dijajah oleh bangsa asing, ide itu sungguh bagus sekali!"
Kata orang-orang gagah itu.
"Tetapi masih banyak yang harus kita rundingkan dulu."
Kata Yo Kuang.
"Misalnya. pada saat pasukan Kim dan Mongol sedang bertempur, haruskah kita menyerang kedua pasukan asing itu atau bergabung dulu untuk sementara dengan salah satu pasukan asing itu? Atau mungkin, kita diam saja menonton mereka bertarung dulu. Tunggu sampai kedua pasukan asing itu hancur-lebur. baru kita serang mereka. Atau pilihan lain. kita tunggu sampai salah satu dari mereka menang perang, kemudian baru kita serang yang menang itu! Nah. itulah yang akan kita bicarakan di sana dan melihat situasi di lapangan dulu."
"Ketika kami ke mari."
Kata Tu Hok.
"kami sudah mendapat khabar, bahwa pasukan Mongol sudah mulai memasuki daerah Ho-lam. Tampaknya tentara Mongol ingin menguasai daerah Tong-ceng dulu. baru menyerang 171 bagian utara. Kami juga sudah mengutus orang untuk menghubungi Han Tay Hiong. Mungkin sekarang kota Lok-yang sudah jadi ajang pertempuran. Jadi Lui Toa-ko tak perlu ke sana lagi."
"Musuh sudah ada di depan mata kita. urusan pribadi harus kita kesampingkan."
Kata Lui Piauw.
"Aku patuh pada perintah Beng-cu!"
"Bagi semua orang gagah yang belum diundang segera ke tempatnya masing-masing dulu. untuk bersiap menghadapi musuh yang tangguh."
Kata Tu Hok.
Saat semua orang gagah sedang berunding terdengar derap kaki kuda yang dilarikan dengan kencang meninggalkan kerumunan orang banyak.
Ternyata penunggang kuda itu adalah Kok Siauw Hong Ketika sedang bertarung dengan Lui Piauw.
dia menjadi peranan penting dan perhatian orang.
Saat muncul utusan dari Hong Lai Mo Li membawa khabar penting itu.
seluruh perhatian tertuju ke masalah itu.
sehingga dia terabaikan.
Tak heran kalau dia jadi tersinggung dan langsung menunggang kuda pergi meninggalkan mereka.
Hal ini baru diketahui setelah orang mendengar langkah kaki kuda yang dipacunya.
"Kok Siauw-hipp (Pendekar muda Kok), kau mau ke mana?"
Teriak Yo Kuang. Tapi pemuda itu sudah jauh dan mungkin tak mendengar seruan itu.
"Seorang lelaki sejati jika sudah bicara kata-katanya harus dilaksanakan. Tak peduli kalah atau menang, aku akan ke Lokyang untuk menjelaskan pada Han Lo-cianpwee. Sekalipun belum kalah, aku tak ingin merepotkan Lui Piauw untuk membawaku ke sana!"
Kata Siauw Hong.
Kuda yang dilarikan oleh Kok Siauw Hong cepat sekali tak lama ia sudah tak kelihatan lagi.
Tetapi suara jawaban Siauw Hong karena menggunakan ilmu Coan-im-jip-pek (Ilmu menyampaikan suara) tetap bisa didengar.
Itu tandanya lweekang Siauw Hong sudah sempurna.
Hal itu membuat semua orang kagum kepadanya.
Tadi mereka mengira Siauw Hong mampu mengatasi Lui Piauw dengan mengandalkan ilmu pedangnya saja.
setelah tahu ia bisa ilmu itu mereka jadi kaget.
Usia Siauw Hong masih muda.
tetapi tenaga dalamnya sudah tinggi.
Kelak pasti dia punya harapan besar di masa yang akan datang.
"Bicara soal lwee-kang pasti lwe-kangku lebih tinggi. Tetapi mengenai kemurnian lwee-kangnya aku kalah darinya. Jika penarungan diteruskan, belum tentu aku bisa tahan lebih lama seperti dia."
Kata Lui Piauw sambil menghela napas.
"Sungguh aku tak tahu diri. berani mencampuri urusan orang lain!"
Yo Kuang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia angkuh dan keras kepala."
Kata Yo Kuang.
"Pada saat segenting ini dia akan pergi ke Lok-yang. Sebenarnya aku ingin bicara dengannya, sekarang ya. sudahlah."
Lui Piauw menghampiri nona Han.
"Keponakanku, tadinya aku ingin melampiaskan rasa penasaranmu itu. Tetapi keadaan sudah jadi begini. Aku harus segera pergi menemui Beng-cu. Mengenai perjodohan itu. lebih baik kau bereskan saja sendiri, tak perlu kau membuat Siok-siokmu cemas. Sampai jumpa!"
Kata Lui Piauw. Rupanya ia kurang senang nona Han bergaul dengan Giok Phang. maka saat bicara ia sedikit menegur nona itu.
"Terima kasih atas perhatianmu. Siok-siok!"
Kata nona Han Pwee Eng lesu.
"Ternyata Nona adalah puteri kesayangan Han Tay Hiong."
Kata Tu Hok.
"Pantas kau berilmu tinggi. Liu Bengcu memang sangat suka pada wanita gagah. Dia juga pernah mendengar namamu disebut-sebut. belum lama ini ia membicarakan masalah ini denganku. Mungkin sekarang kau sudah tak bisa pulang ke Lok-yang. Jika kau mau, mari ikut kami ke Kim-keeteng!' "Terima kasih."
Sahut nona Han Setelah berpikir sejenak.
"Aku memang ingin menemui Liu Beng-cu. tetapi sekarang aku masih banyak urusan. Lain kali saja. aku pasti akan mengunjunginya."
Ketika itu ia lihat Ci Giok Hian berjalan keluar.
dia berdiri tampaknya sedang menunggui dia.
Sekalipun ia tak menyalahkan Ci Giok Hian dalam masalah merebut tunangannya, tetapi batinnya tetap terpukul.
melihat Ci Giok Hian keluar menyambutnya, ia teringat hubungannya dulu.
dan nona ini lah yang mengobati penyakitnya hingga sembuh.
"Walau sebentar aku harus menemuinya."
Pikir nona Han.
"Aku yakin dia tak akan memaksaku untuk tinggal di rumahnya?"
Semua orang sudah mulai bubar. Yo Kuang menghampiri nona Han.
"Jika Nona masih ada urusan lain. kami mau segera berangkat. Kapan saja Nona ke Kim-keeteng pasti kami akan menyambutmu dengan gembira."
Kata Yo Kuang. Sesudah mereka semua pergi, dua pelayan tua nona Han muncul menemui majikannya.
"Kami berdua sangat ceroboh."
Kata Chan It Hoan.
"Kami telah membuat masalah jadi begini, kami jadi tak enak pada Nona."
Han Pwee Eng menghela napas.
"Aku tak menyalahkan kalian. masalah sudah lewat kau jangan ungkit kembali!"
Kata nona Han.
"Baik. Nona."
Setelah nona Han menatap mereka baru ia bicara lagi.
"Aku lihat kau ingin bicara denganku?"
"Nona...Nona mau ke mana?"
Tanya Liok Hong.
Kedua pelayan itu mendapat tugas dari ayah nona Han.
mereka diminta melindungi nona Han yang akan menikah di Yang-cou.
Tetapi sekarang sudah jadi berantakan begini, sungguh itu di luar dugaan mereka.
Rumah keluarga Kok apalagi rumah keluarga Ci sudah bukan tempat yang nyaman bagi nona Han.
Jika mau kembali ke Lok-yang pun.
mungkin di tengah jalan akan menghadapi peperangan hebat.
Sudah jelas kedua lelaki tua itu mencemaskan keadaan nona majikannya.
Nona Han sudah mengambil keputusan.
hanya ia tak ingin membicarakannya dengan mereka berdua.
Saat ia akan pamit.
Ci Giok Hian menghampirinya sambil tersenyum.
"Nona Han kau sudah ada di sini. kalian adalah tamu kami. Sekalipun tempatku ini tak begitu bagus, tapi kalian bisa tinggal bersama kami di sini. Jika kalian tak keberatan, silakan."
Kata Ci Giok Hian ramah sekali. Jelas nona Han tidak akan bersedia tinggal di situ. Lalu ia bertanya pada Chan It Hoan.
"Apa kalian punya tempat yang lebih baik?"
Tanya nona Han Pwee Eng.
"Justru kami ingin mendapat petunjuk dari Nona."
Kata Chan It Hoan. Nona Han memang cerdas, ketika ia mendengar jawaban itu. ia langsung tahu maksudnya.
"Padahal mereka harus melapor pada Ayahku, tetapi dia bilang begitu, seolah tak ingin pulang."
Pikir nona Han.
"Ditambah lagi peperangan sudah berkobar pasti sangat berbahaya dibanding ketika mereka datang ke sini."
Setelah Han Pwee Eng berpikir sejenak baru ia bicara lagi pada kedua pelayannya itu.
"Ayahku tidak menganggap kalian sebagai budak atau pelayan. kalian telah mengawalku dengan baik. tugasmu sudah selesai. Selanjutnya akulah yang akan menjelaskan kepada Ayah. sekarang terserah pada kalian mau ke mana kalian? Seandainya aku akan pulang pun kalian tak perlu mengawalku lagi."
Kata nona Han dengan terharu.
"Terima kasih atas kebaikan Nona Han."
Kata Liok Hong.
"Sebenarnya kami bukan tidak mau melayani Lo-ya (Tuan Besar) dan Nona Han. tetapi kawan-kawan kami di Cengtiong-kang sangat mengharapkan bantuan kami berdua. Theng Si Ya. pemimpin mereka sangat baik pada kami. Kami pun pernah berhutang budi kepadanya. Cengtiong-kang berada dekat Lu-tam dan Lu-pak. itu adalah daerah keluarga Gak yang diperebutkan. Mereka khawatir mereka tidak dapat membendung serangan musuh, itu sebabnya mereka mohon kita datang membantunya."
Han Pwee Eng manggut.
"Kiranya mereka tak mau pulang."
Pikir nona Han "Tadinya aku kira mereka takut bahaya perang, kalau begitu aku salah menilai mereka?"
Nona Han tersenyum.
"Kalian mau ke sana untuk membantu Theng Han Cu di Ceng-liong-kang untuk membela negara dan rakyat, itu perbuatan yang mulia. Silakan kalian berangkat!"
Kata nona Han Chan It Hoan dan Liok Hong memberi hormat.
"Kalau begitu, kami harap Nona bisa menjaga diri baikbaik, hamba berdua mohon diri."
Kata Chan lt Hoan.
Namun nona Han tahu keduanya ragu-ragu meninggalkan dia.
mungkin mereka takut dia akan tinggal bersama keluarga Ci.
Tetapi karena keadaan sangat gawat mereka terpaksa berangkat juga.
Ci Giok Hian tersenyum.
"Kedua orangmu itu sangat setia kepadamu."
Kata nona Ci Giok Hian sambil tersenyum.
Ketika itu nona Ci memegang tangan Han Pwee Eng dan menggandengnya untuk diajak ke rumah.
Kali ini perasaan nona Han agak lapang, Ia ingat saat pertama kali ia datang.
Nona Ci begitu baik kepadanya.
Tetapi setelah ada ganjalan, mereka jadi agak kikuk juga.
Kali ini mereka telah kembali seperti dulu bersahabat.
Tetapi itu tidak semurni dulu.
Setelah ada badai di hati mereka masing-masing, pasti masih ada yang retak.
Tentu tidak mudah untuk normal kembali.
Begitu memasuki halaman rumah itu nona Han melihat kereta yang ia naiki dulu.
ketika datang ke tempat itu.
Malah kereta itu kelihatan sudah disiapkan, sudah diisi bekal untuk suatu perjalanan jauh.
"Mereka mau ke mana? Mengapa mereka menggunakan keretaku?"
Pikir nona Han bingung.
Nona Ci tahu apa yang sedang dipikirkan nona itu karena nona Han sedang memperhatikan kereta itu.
Tetapi dia belum menjelaskannya.
Padahal nona Han ingin tahu apa maksud mereka.
Untuk tak lama-lama membuat nona Han penasaran nona Ci mulai bicara.
"Adik Eng. maafkan aku karena telah membuatmu tersinggung, aku jadi tak enak sekali."
Kata Ci Giok Hian. Wajah nona Han berubah kemerah-merahan.
"Semua sudah berlalu. jangan diungkit lagi! Kau telah mengobaliku. malah belum kuucapkan terima kasih kepada kalian. Kau jangan resah kita tetap kakak beradik seperti dulu."
Kata Han Pwee Eng. Ci Giok Hian tersenyum.
"Semoga kau dan aku bisa berkumpul selamanya dan hubungan kita akan jadi lebih erat "
Kata Ci Giok Hian.
Ucapan nona Ci yang sangat berarti, ini membuat wajah nona Han berubah merah, ia khawatir nona Ci akan bicara sesuatu yang tak berkenan di hatinya, maka itu ia pun segera bicara mendahuluinya.
"Di kolong langit tak ada pertemuan yang tanpa perpisahan."
Kata nona Han..
"Pek-hoa-kok sudah aman kembali. Rasanya sudah saatnya aku pergi!"
Ci Giok Hian tersenyum "Aku tak bisa menahanmu terus di sini. lalu kau mau ke mana?"
Tanya nona Ci.
Pertanyaan itu pernah diajukan oleh Chan It Hoan dan Liok Hong tadi.
kepada kedua pelayannya itu ia bisa tak menjawab pertanyaan itu.
tetapi kepada nona Ci justru tak boleh tidak ia harus menjawabnya.
"Jika aku jawab dengan jujur, pasti dia akan curiga padaku?"
Pikir nona Han.
Rupanya nona Han ingin buru-buru pulang ke Lok-yang.
Ia dan ayahnya siap untuk menghadapi bahaya peperangan.
Ia sadar sekalipun ayahnya pandai ilmu sitat.
Setelah terluka ia jadi agak lumpuh.
gerakannya kurang leluasa.
Nona Han juga sadar pasukan besar Mongol akan menyerang ke Lok-yang.
hal itu mencemaskan hatinya.
Jika ia terus terang mengatakan akan pulang.
ia risau dan takut nona Ci akan curiga dan menyangka ia akan menyusul Kok Siauw Hong.
Sedangkan Kok Siauw Hong sudah lebih dulu ke rumahnya akan memberi penjelasan kepada ayahnya.
Sekalipun tadi Kok Siauw Hong tak bicara soal membatalkan pernikahan mereka, nona Han pun tetap tidak ingin menikah dengannya.
"Bagaimanapun aku harus pulang, aku khawatir pada keadaan Ayah."
Pikir nona Han.
Ia tak ingin orang tahu mengenai kerisauan hatinya itu.
juga keputusannya.
Terutama pada nona Ci agar tak mengira, ia pulang karena akan mengejar Kok Siauw Hong.
Lama nona Han termenung, baru ia bicara lagi.
"Apa kalian ingin berpergian jauh?"
Kata nona Han.
"Kalian mau pergi ke mana?"
Sengaja nona Han tidak menjawab pertanyaan nona Ci.
tapi ia malah balik bertanya kepada mereka, karena ia ingin 179 tahu ke mana tujuan mereka.
Baru sesudah itu ia akan menjawab ke mana ia mau pergi.
Nona Ci tertawa.
"Justru kami ingin ke rumahmu di Lok-yang!"
Kata Ci Giok Hian. Jawaban itu sedikit mengejutkan nona Han Pwee Eng. Tapi segera dijelaskan oleh nona Ci maksud kepergian mereka ke Lok-yang itu.
"Begini."
Kata nona Ci.
"Sebenarnya kami ingin minta Kok Siauw Hong agar mengantarkan arak obat ini ke rumah ayahmu. Tetapi tidak kami duga. ia telah pergi dengan sangat terburu-buru. oleh karena itu terpaksa kami yang harus pergi ke sana mengantarkan obat ini. Mungkin tadi ia lupa?"
Tak lama kelihatan Ciu Tiong Gak membawa seguci arak obat yang ia naikkan ke atas kereta.
"Kau datang dengan kereta ini. bagaimana kalau kau pun pulang dengan kereta ini juga?"
Kata nona Ci sambil tersenyum.
Recana nona Ci lebih matang.
Dia telah mengatur akan mengantar nona Han pulang sambil membawa obat untuk ayahnya.
Mungkin dengan arak obat ini mereka bisa meredakan kejengkelan ayah nona Han.
Jika mereka datang bersama nona Han.
dan ayah nona Han gusar, pasti nona Han bisa meredakan kemarahan ayahnya.
Di balik itu nona Ci ingin memanfaatkan perjalanan yang ribuan lie itu agar kakaknya bisa semakin dekat dengan nona Han.
Rencana itu memang sangat baik.
tetapi nona Han bukan gadis yang bodoh.
Jelas ia tidak mau pulang bersama mereka.
Hal itu bukan karena ia benci kepada Ci Giok Phang.
tapi sesudah 'kejadian' itu.
ia ingin menenangkan 180 hatinya.
Sebelum luka hatinya sembuh mana mungkin mereka bisa berjalan bersama-sama.
"Kakak Ci bolehkah aku meminjam salah seekor kudamu?"
Kata nona Han Setelah berpikir agak lama. Ci Giok Hian tertegun.
"Bukankah kau mau pulang bersama kami? Mengapa tidak pulang bersama kami saja naik kereta?"
Kata nona Ci.
"Aku memang mau pulang. tapi karena punya sedikit urusan aku akan mengambil jalan agak memutar ke kota lain dulu."
Jawab nona Han. Nona Ci tersenyum ia tak banyak bertanya lagi.
"Baik. akan kupinjami kau kuda jempolan!"
Kata nona Ci Giok Hian.
"Terima kasih Kak!"
Kata nona Han.
"Memang pantas."
Kata nona Ci.
"seekor kuda ditukar dengan sebuah kereta bagus, tapi kalau dihitung-hitung aku masih untung. Tapi aku kira kau masih butuh semacam barang lain."
Nona Han tertegun.
"Barang apa?"
Tanya dia.
"Seperangkat pakaian pria!"
Kata nona Ci sambil tersenyum. Saat itu nona Han masih mengenakan pakaian pengantin yang dikenakan saat baru tiba di situ.
"Ah. rupanya nona Ci sangat teliti, aku seorang nona dan berkelana di kalangan Kang-ouw. mana boleh aku berpakaian seperti ini?"
Pikir nona Han.
"Jangan cemas, aku sudah menyiapkan beberapa pakaian lelaki untukmu, mari ikut denganku."
Ci Giok Hian mengajak nona Han Pwee Eng ke kamar yang pernah ditempati oleh nona Han tempo hari. Di atas tempat tidur itu telah tersedia pakaian pria yang dikatakan oleh nona Ci Giok Hian.
"Telah aku siapkan tiga perangkat pakaian pria. dengan demikian di tengah jalan kau bisa ganti pakaian. Kau boleh mencobanya, apa pas atau tidak di tubuhmu!"
Kata nona Ci. Nona Han tersenyum ia puas sekali.
"Jika kau berangkat bersama kami. kau tidak perlu memakai pakaian pria."
Kata nona Ci.
"Tetapi sudah aku duga. belum tentu kau bersedia berangkat bersama-sama dengan kami. Maka itu aku telah menyiapkan semuanya untukmu. Baik. kau boleh berganti pakaian dulu. aku akan keluar sebentar! Akan kukatakan ini pada Kakakku."
Nona Ci tahu nona Han tidak bersedia berangkat bersama mereka, tapi ia masih bicara soal kakaknya, ia berharap nona Han mengubah niatnya.
Sekalipun nona Han sangat berterima kasih pada nona Ci.
tapi ia tak senang pada rencana nona itu.
Ternyata pakaian itu memang pas di tubuhnya, seolah tubuh nona Han itu sudah diukur sebelumnya.
Selesai berpakaian, ia keluar dari kamar sambil menenteng sebuah buntalan berisi pakaian yang lain.
Saat nona Ci melihat ia keluar.
nona ini langsung tertawa.
"Wah kau mirip seorang pria yang tampan!"
Kata nona Ci.
"Jika kau berdandan seperti ini di tengah jalan tak akan ada yang berani mengganggumu!"
Wajah nona Han berubah merah.
"Huss! Kau bicara sembarangan saja! Aku tak mau adu mutut denganmu."
Kata nona Han.
Nona Han sudah melihat seekor kuda jempolan ada di halaman rumah itu.
Ia berjalan menghampirinya, tiba-tiba ia melompat ke atas kuda itu.
lalu dipegangnya tali kendalinya.
Dia lambaikan tangannya ke arah Ci Giok Hian.
lalu kuda itu sudah lari meninggalkan halaman rumah itu dengan cepat.
Ci Giok Phang berdiri termangu saja di depan pagar rumahnya, wajahnya muram sekali.
melihat kakaknya muram, nona Ci tertawa.
"Sudah jauh. dia sudah tak kelihatan lagi. Aku jamin setiba di Lok-yang. pasti kau akan bertemu lagi dengannya!"
Kata Ci Giok Hian menggoda. Ci Giok Phang menghela napas panjang.
"Bukankah dia bilang dia akan ke kota lain?"
"Itu cuma alasan dia saja! Jangan percaya. Coba kau pikir peperangan sedang berkecamuk dan akan melanda kota Lokyang. bagaimana ia tak segera pulang menemui ayahnya?"
Kata nona Ci. Ci Giok Phang diam.
"Bisa bertemu lagi. lalu apa yang bisa kulakukan? Sikapnya tadi kelihatan ia masih kesal kepada adikku, di benaknya juga ia masih memikirkan Kok Siauw Hong."
Pikir Giok Phang.
"Aku tahu kau gelisah. Baik. mari kita berangkat!"
Kata nona Ci.
"Bukan aku saja. kau pun tak tenang!"
Kata sang kakak sambil tersenyum.
"Kau mgin segera bertemu dengan Siauw Hong!"
Wajah nona Ci jadi merah.
Sementara itu Han Pwee Eng sedang melarikan kudanya dengan cepat, ia kelihatan tidak tenang karena memikirkan Kok Siauw Hong.
Hanya bedanya nona Ci ingin menemuinya, sedang nona Han justru ingin menghindarinya.
Han Pwee Eng bisa memaafkan nona Ci.
tetapi ia tak bisa memaafkan Kok Siauw Hong.
Ia merasa sangat terhina habishabisan oleh pria itu.
Ia jadi merasa kehilangan muka dan malu sekali.
"Kau mencintai Kakak Ci. aku tak menyalahkanmu. Tetapi di matamu tak seharusnya sama sekali tak ada aku?"
Pikir nona Han.
Tanpa sepengetahuan nona Han.
sebenarnya Kok Siauw Hong pun merasa tak enak hati terhadapnya.
malah dia sangat bersimpati.
Ia juga tahu.
seorang nona yang sudah siap akan menikah, bahkan datang dari jarak ribuan lie jauhnya, tapi setelah sampai di tempat calon suaminya, ia baru tahu pria yang bakal jadi suaminya itu mencintai gadis lain.
Mana mungkin dia tak berduka dan marah?
Jika bukan Han Pwee Eng orangnya, barangkah nona itu sudah bunuh diri?
Begitu Kok Siauw Hong berpikir di sepanjang jalan.
"Dia tabah dan tak menghiraukan cemoohan orang, aku bersalah besar kepadanya."
Begitu Kok Siauw Hong berpikir.
"Dia pun masih berani datang ke Pek-hoa-kok untuk menenangkan kekacauan di sana. Aku tak bisa membalas budinya itu!"
Tetapi Kok Siauw Hong tak menyesal atas pilihannya.
karena perjodohannya dengan nona Han atas prakarsa atau kehendak kedua orang tua mereka, bukan berdasarkan cinta sejati pilihan mereka sendiri.
Sayang Kok Siauw Hong mengenai sifat nona Han setelah ada gejolak itu.
Sedang 184 dengan Ci Giok Hian ia sudah kenal lama.
malah saling mencintai satu sama lain.
"Hubungan cintaku dengan Ci Giok Hian sulit dipisahkan lagi."
Pikir Kok Siauw Hong.
"apalagi kecantikan nona Ci tak kalah oleh kecantikan nona Han. Sekalipun nona Han lebih cantik, aku tak bisa melanggar janji kami untuk hidup bersama. Di dunia banyak wanita yang cantik dan baik. apa setelah bertemu satu aku harus mencintai yang lain satu persatu? Kali ini aku berdosa dan telah membuat dia sangat terhina dan menderita. Aku sangat bersalah kepadanya. Aku tak mampu menebus dosaku itu. hanya berharap ia mau memaafkan aku. Tapi...Aaah. harapanku sangat tipis!"
Saat Kok Siauw Hong sedang melamun. mendadak terdengar derap kaki kuda mengejarnya.
"Apa yang berada di depan itu Kok Siauw Hong!"
Teriak penunggang kuda yang sedang mengejarnya.....
Bab Kok Siauw Hong menoleh ke belakang.
Ia melihat seorang lelaki tua menunggang kuda sedang mendatangi ke arahnya, Ia lihat lelaki tua itu berumur sekitar 60 tahun, ia kelihatan sangat berwibawa dan masih gagah.
Anehnya Kok Siauw Hong tidak kenal pria yang memanggil-manggil namanya itu.
Segera Kok Siauw Hong menghentikan kudanya.
"Benar, akulah Kok Siauw Hong. maaf Lo-cian-pwee. aku tak kenal denganmu. Ada apa Anda mencariku?"
"Jika mau diceritakan kisahnya panjang sekali."
Kata orang tua itu.
"Bagaimana kalau kita bercakap-cakap sebentar di sana. Di tempat ini banyak orang yang lalulalang. kurang leluasa!"
Lelaki tua itu menunjuk ke suatu tempat yang agak sepi.
"Baiklah."
Kata Kok Siauw Hong yang ingin tahu apa yang akan dibicarakannya itu. Dia turun dari kudanya diikuti oleh orang tua itu. lalu mereka berjalan ke bawah sebuah pohon.
"Di sini lebih tenang."
Kata lelaki tua itu.
"Mari kita bicara di sini!"
Kok Siauw Hong memberi hormat.
"Mohon bertanya, siapa nama besar Lo-cian-pwee? Ada petunjuk apa untukku?"
Kata Kok Siauw Hong. Sebelum bicara lelaki tua itu tertawa.
"Namaku Jen Thian Ngo."
Katanya.
"Ibumu itu adik kandungku. Jadi kau keponakanku."
Kok Siauw Hong tertegun sejenak, ia kaget karena menurut ibunya bilang semua saudara ibunya sudah meninggal.
Tapi mengapa sekarang ada yang mengaku sebagai pamannya.
melihat anak muda itu agak kebingungan.
Jen Thian Ngo mulai bicara.
"Sifat Ibumu sangat keras."
Kata Jen Thian Ngo.
"kami dengan ibumu pernah ribut kecil. Ibumu sangat marah padaku, dia kabur dari rumah. Sejak saat itu dia tak pernah pulang lagi. Pasti dia tak cerita padamu tentang aku. Tetapi sekarang kesalah pahaman itu sudah kami selesaikan berdua. Tadi aku baru saja dari rumahmu!"
Kok Siauw Hong setengah percaya setengah curiga.
"Kelihatan dia tak berdusta."
Pikir Kok Siauw Hong.
"tetapi menilai orang tak bisa dilihat hanya dari wajahnya saja. Di Dunia Persilatan banyak orang berwajah penuh kasih, justru dia orang jahat. Bagaimana aku bisa percaya pada orang ini? Aku baru pertama kali bertemu dengannya, jika aku salah mengakuinya apa tak akan ditertawakan orang? Sayang aku harus segera ke Lok-yang. aku tak bisa bertanya pada Ibuku."
Saat sedang bicara orang itu mematahkan cabang pohon.
"Bagaimana ilmu pedang Cit-siu-kiam-hoatmu (Ilmu Pedang Tujuh Langkah), apa kau sudah mahir?"
Kata lelaki tua she Jen itu. Kok Siauw Hong kaget. Ia melompat mundur saat itu ujung ranting pohon sudah menusuk ke arahnya.
"Kau tak segera menghunus pedangmu?"
Kata Jen Thian Ngo sambil tersenyum.
Sekalipun ranting pohon itu lunak tetapi di tangan lelaki tua itu menjadi senjata ampuh.
Saat serangan itu dilakukan terdengar deru suara ranting itu.
ia telah mengeluarkan jurus Cit-siu-kiam-hoat yang lihay.
Semula ia akan merebut senjata lawan yang aneh itu dengan tangan kosong, namun menyaksikan serangannya yang hebat itu.
terpaksa ia menghunus pedangnya.
Tubuh Siauw Hong berkelebat sedang kakinya melangkah sesuai jurus dari Cit-seng-pouw (Langkah Tujuh Bintang).
Kemudian ia balas menyerang lelaki tua itu.
Saat menghunus pedang maupun saat bergerak, ia lakukan dengan cepat dan indah sekali tak heran kalau lawannya jadi kagum.
"Bagus!"
Kata Jen Thian Ngo.
Jen Thian Ngo menggerakkan ranting di tangannya menyerang lagi ke arah pedang Kok Siauw-Hong.
Cabang pohon itu berhasil menepis serangan pedang Kok Siauw Hong.
Hati Kok Siauw Hong tersentak kaget.
Tubuhnya berputar ia memutarkan pedangnya membentuk lingkaran untuk menjaga totokan dari lawan.
Ia gunakan jurus menjaga diri.
"Hm! Jurus Menjaga Dirimu itu jika kau sedang menghadapi musuh tangguh, tidak menguntungkanmu. Menggunakan jurus itu harus dengan tenaga lunak, sekaligus berbalik menyerang dengan cepat. Itu baru benar!"
Kata Jen Thian Ngo.
Yang dikatakan oleh Jen Thian Ngo adalah Kouw-koat (Teori ilmu silat) Cit-siu-kiam-hoat.
Ini membuat Kok Siauw Hong mulai percaya kalau lelaki tua itu mungkin pamannya.
Tapi Kok Siauw Hong seorang pemarah, ia tak mudah menyerah begitu saja.
Ditambah lagi ia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Tetapi ia sadar orang tua ini lihay.
Maka sekarang ia tak segan-segan lagi.
Ia serang lelaki tua itu dengan jurus "Hun-hoa-soh-liu" (Memisahkan Bunga Menyapu Pohon Liu).
jurus kebanggaannya.
Saat Kok Siauw Hong bertarung melawan Lui Piauw.
ia menggunakan jurus ini untuk menandingi serangan Lui Piauw.
Sekarang serangan yang ia lakukan lebih dasyat dari yang ia lakukan kemarin.
Orang tua itu tertawa sambil menggerakkan ranting pohon, tubuhnya berkelebat di empat penjuru.
Ia kenal jurus yang digunakan lawannya itu.
yaitu jurus Cit-siukiam-hoat keluarga ibunya yang paling Iihay.
Jurus ini bisa menusuk ke tujuh jalan darah dengan bersamaan.
Kok Siauw Hong mempelajari jurus tersebut sudah beberapa tahun, tapi belum mahir-mahir.
Maka ia pun jadi mengeluh.
"Celaka, aku pasti kalah!"
Keluhnya. Bersamaan dengan itu terdengar suara.
"Krak!"
Dan suara "Trang!"
Ujung ranting patah tetebas pedang Kok Siauw Hong. tapi ia sendiri merasakan telapak tangannya sakit bukan main. tanpa terasa pedangnya terpental dan terlepas. Jen Thian Ngo tertawa.
"Kau berhasil memotong ujung ranting ini. berarti kau sudah cukup terlatih!"
Kata Jen Thian Ngo sambil tertawa girang.
Ilmu silat itu milik keluarga Jen, jika seseorang mahir menggunakannya, itu berarti ia masih punya hubungan famili dengan keluarga Jen.
Ilmu itu merupakan rahasia keluarga Jen dan tidak pernah diturunkan pada keluarga lain marga.
Kok Siauw Hong lalu memungut pedangnya dan ia masukkan ke dalam sarangnya.
Kemudian ia memberi hormat.
"Maafkan kecerobohan keponakanmu. Paman."
Kata Kok Siauw Hong. Jen Thian Ngo tertawa.
"Sekarang baru kau percaya aku ini Pamanmu, kan?"
Katanya.
"Terima kasih atas petunjuk Paman tadi."
Kata Kok Siauw Hong.
"Masa lalu kami jangan kau ungkit lagi. kau kaum muda tak perlu mengetahuinya."
Kata Jen Thian Ngo. Orang tua ini tak mau cerita ia putus hubungan karena melarang ibu Siauw Hong menikah dengan Kok Ju Sih. Malah hal ini membuat Kok Siauw Hong jadi sedikit curiga.
"Jika cuma masalah kecil, kenapa Ibu tak mau mengakui Pamanku ini? Mungkin dia bukan orang baik? Aku ingin tahu apa yang akan dikatakannya padaku."
Pikir Kok Siauw Hong yang tetap waspada.
"Apa kau mau ke Lok-yang?"
Tanya pamannya.
"Benar. Paman, kau punya petunjuk apa?"
"Aku ingin melarangmu ke sana. maka aku mencarimu. Masalahmu dengan keluarga Han sudah kuketahui."
Kata Jen Thian Ngo. Mendengar kata-kata ini Kok Siauw Hong tak enak hati. tapi ia menahan marah di depan pamannya ini.
"Paman bilang Paman telah menemui Ibuku, apa ini kehendak Ibuku?"
"Bukan, ini kehendakku sendiri."
Kata Jen Thian Ngo "Kenapa?"
Tanya Siauw Hong sambil mengerutkan dahinya. Ia heran mendengar cegahan itu. Lalu ia pun berpikir.
"Sekalipun kau Pamanku aku tak mau menurut. Sedang Ibuku pun tak ikut campur dalam masalahku itu."
Pikir Kok Siauw Hong. Jen Thian Ngo seperti tahu apa yang ada dalam benak keponakannya itu.
"Kau jangan salah paham, aku tak ingin mencampuri urusanmu. Terus terang ibumu malah tak setuju kau batalkan pernikahanmu dengan nona Han. tapi aku yang menasihati Ibumu."
Kata Jen Thian Ngo.
"Oh kalau begitu aku harus berterima kasih pada Paman."
Kata Kok Siauw Hong.
"Walau aku dengan ayahmu tak pernah berhubungan, namun Ibumu itu adik kandungku satu-satunya, jadi aku menaruh perhatian pada kalian. Sejujurnya ketika Ayahmu yang menjodohkan kau dengan nona Han. malah aku yang tak setuju. Jika aku disuruh memilih antara keluarga Han dan Ci. aku memilih Ci Giok Hian!"
Kata Jen Thian Ngo lagi.
"Ini urusan masa depanku, mau setuju atau tidak, itu urusanku."
Pikir Kok Siauw Hong.
"Kalau begitu mengapa Paman melarang aku ke Lokyang?"
Tanya Siauw Hong.
"Kau sudah memutuskan tidak akan menikah dengan nona Han. untuk apa kau menemui ayahnya?"
Kata Jen Thian Ngo.
"Seorang pria sejati harus jujur. Sekalipun aku tak setuju perjodohan itu. tapi aku harus ke sana menjelaskannya. Aku tak boleh memutuskan seenakku."
Kata Kok Siauw Hong. Jen Thian Ngo menatap keponakannya.
"Kau sudah tahu sifat Han Tay Hiong?"
"Yang aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku tak peduli masalah lainnya,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Hm! Sifat bocah ini seperti sifat ayah dan ibunya."
Pikir Jen Thian Ngo.
"Aku tak peduli kau akan menemui Han Tay Hiong. tapi aku ingin tanya satu hal."
"Katakan saja!"
"Aku dengar Ibumu telah mengajarimu Siauw-yang-sin kang. apa kitab pusaka itu ada padamu atau tidak?"
"Kalau ada bagaimana dan kalau tak ada bagaimana?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Jika kitab itu ada padamu, aku larang kau pergi ke Lok yang!"
Kata Jen Titian Ngo. Kok Siauw Hong tercengang.
"Kenapa?"
Ia tanya.
"Apa kau belum tahu ilmu itu bukan warisan keluarga Kok. tapi milik keluarga Jen. Jadi aku tak ingin kitab itu jatuh ke tangan Han Tay Hiong!"
Kata Jen Thian Ngo. Mendengar ucapan itu timbul kemarahan Siauw Hong.
"Belum tentu Han Tay Hiong menginginkan kitab keluarga Jen itu,"
Kata Siauw Hong.
"Itu menurut dugaanmu! Baik mau atau tidak dia pada kitab itu. aku hanya bertanya, apa kitab itu ada padamu atau tidak?"
Kata Jen Thian Ngo mulai sengit.
"Tidak ada!"
Kata Siauw Hong singkat. Ia membalikkan tubuhnya akan segera naik ke atas kudanya.
"Tunggu! Aku masih mau bicara denganmu!"
Kata Jen Thian Ngo.
"Paman masih mau bicara apa lagi?"
"Sekalipun kitab itu tidak ada padamu, tapi kau sudah paham isinya, kan?"
"Jadi Paman tidak percaya padaku, kau khawatir aku mengajari Han Tay Hiong. Baik aku akan bersumpah di hadapanmu. Tetapi jika Paman masih tak percaya aku tak tahu harus bagaimana lagi?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kau tidak perlu bersumpah!"
Kata Jen Thian Ngo sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin kau bicara jujur!"
"Selama ini aku tidak pernah berbohong. Baik. Paman ingin aku bilang apa cepat katakan!"
Kata Siauw Hong.
"Han Tay Hiong terkena pukulan Siu-lo-im-sat-kang dari Chu Kiu Sek. Apa kau sudah tahu hal itu?"
"Aku tahu."
Kata Siauw Hong..
"Kau ke Lok-yang akan mengobati Han Tay Hiong dengan jurus pusaka itu?"
Kata Jen Thian Ngo.
"Kalau ya kenapa dan kalau tidak kenapa?"
Tanya Siauw Hong.
"Aku akan melarang kau mengobatinya dengan ilmu itu!"
Kata Jen Thian Ngo.
Kok Siauw Hong memang tak berniat mengobati Han Tay Hiong dengan ilmu Siauw-yang-sin-kang.
Lwee-kang Han Tay Hiong tinggi, karena itu ia akan mampu bertahan.
Dengan minum arak obat milik Ci Giok Hian.
ia pasti sembuh.
Tapi karena hati Kok Siauw Hong keras, maka ia bertanya begitu.
"Sungguh aneh. kenapa di dunia ini masih ada orang seperti Pamanku ini? Sekalipun kau Pamanku, aku tak akan menuruti keinginannya itu!"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Paman, aku kira kau tak akan ikut campur sampai sejauh itu, kan?"
Kata Kok Siauw Hong. Mata Jen Thian Ngo melotot.
"Jadi kau anggap aku ini usil?"
Katanya.
"Aku tak berani menuduh, tapi jika kata-kata Paman itu benar, aku tak berani tidak menurut!"
Kata Siauw Hong.
"Mengapa kau tak mencaci aku orang tidak benar?"
Kok Siauw Hong diam saja.
"Apa sebabnya kau ingin mengobati Han Tay Hiong? Aku ingin dengar alasanmu!"
Kata Jen Thian Ngo sambil menatapnya tajam. Kok Siauw Hong mengira Jen Thian Ngo akan marah sekali, sebaliknya ia malah bertanya begitu.
"Aku ke sana untuk menjelaskan pembatalan perjodohan kami. mengobati dia itu masalah lain. Paman Han itu Bulim Cian-pwee (Tokoh Dunia Persilatan) yang sangat dihormati. Sekarang dia terluka oleh si Iblis golongan sesat. Kami kaum muda wajib menolong dan mengobatinya. Apalagi dia sahabat Ayahku."
Kata Siauw Hong.
"Jadi kau tidak bermaksud bermuka-muka agar perjodohanmu dengan nona Ci jadi lancar? Bukan begitu?"
Kata Jen Thian Ngo.
"Paman jangan mencampur-adukan masalah itu!"
Kata Kok Siauw Hong. Tapi ia berpikir.
"Hm! Hatimu benar-benar picik!'' pikir Siauw Hong.
"Oh kalau begitu jadi gampang diatur."
Kata Jen Thian Ngo sambil tertawa terbahak-bahak. Kok Siauw Hong terengang.
"Maksud Paman?"
"Kau tak perlu mengobati dia!"
Kata Jen Thian Ngo sambil tersenyum. Kok Siauw Hong jadi bingung karena pada dasarnya Jen Thian Ngo tak setuju dia pergi ke Lok-yang.
"Kenapa?"
Kata Siauw Hong yang mulai marah.
"Seperti alasanmu tadi. kau mengobatinya karena kau hormat kepadanya, iya kan?"
"Ya karena ia orang baik."
"Bagaimana kalau ternyata ia orang jahat?"
"Apa Paman punya bukti kalau ia itu orang jahat?"
"Memang aku tidak punya bukti, tapi aku tahu dia bukan orang baik seperti yang kau bayangkan. Memang benar dia itu orang jahat!"
Kata Jen Thian Ngo. Kok Siauw Hong tidak yakin pada ucapan pamanya itu. Dia tertawa dingin.
"Sekalipun Paman tak punya bukti, tuduhan Paman itu ada dasarnya kan? Aku tak bisa hanya percaya pada katakata Paman, maafkan aku!"
Kata Siauw Hong. Jen Thian Ngo diam.
"Semula aku akan menjelaskannya, tapi aku yakin kau tak akan mempercayai kata-kataku. Kau boleh pulang tanyakan saja pada Ibumu! Sekalipun Ibumu itu tidak pernah akur denganku, tetapi ia akan mengakui bahwa aku orang jujur. Ia tak akan sembarangan menjelekkan aku."
Kata Jen Thian Ngo.
"Memang aku harus menanyakannya pada Ibuku."
Kata Siauw Hong.
"tapi tidak sekarang. Sekarang aku harus mengejar waktu, lain kali saja. Aku tak bisa ayal karena pasukan Mongol sudah maju. Aku harus ke Lok-yang secepatnya!"
Jen Thian Ngo menghadang di depan kuda Siauw Hong 195 Kok Siauw Hong gusar bukan main.
"Mengobati Paman Han atau tidak, itu urusanku. Bagaimanapun aku harus berangkat ke Lok-yang!"
Kata Siauw Hong.
Jen Thian Ngo kurang senang lalu ia awasi Siauw Hong dengan tajam.
Tak lama lagi mereka akan segera bertarung.
Namun, tiba-tiba dari jauh terlihat mendatangi seorang penunggang kuda dengan cepat.
Begitu dekat penunggang kuda itu berteriak dengan nyaring.
"Anak Hong dia Pamanmu! Apa yang kalian ributkan?"
Teriak penunggang kuda itu ternyata ibu Siauw Hong.
"Oh syukurlah Ibu datang. Paman melarangku ke Lokyang!"
Kata Siauw Hong. Tak lama Kok Hu-jin sudah sampai di depan mereka, ia tatap anaknya.
"Kau sangat keterlaluan anak Hong,"
Kata sang ibu.
"Kau mengambil putusan sendiri hingga keadaan jadi kacau-balau, hal itu hampir saja kau membuat Ibumu pingsan! Tapi semua sudah terjadi, sudahlah. Kau mau ke Lok-yang. aku setuju dan berangkatlah. Kau harus berani mengakui kesalahan di depan Paman Han!"
Semula Kok Siauw Hong takut ibunya tak setuju atas keputusannya itu dan memarahinya, tak tahunya malah sang ibu mufakat sekali. Ia girang bukan main.
"Jika tahu Ibu sangat pengertian, aku tak perlu kabur dari rumah."
Pikir Kok Siauw Hong.. Sementara itu Jen Thian Ngo kelihatan bingung, ia jadi salah tingkah dan tak enak hati.
"Sam-moay. kau...kau tak mengetahui sesuatu...."
Tetapi sebelum Jen Thian Ngo bicara habis sudah dipotong oleh Kok Hu-jin.
ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
Ternyata itu sebuah kitab tipis dan langsung kitab itu dilemparkan ke arah Jen Thian Ngo yang sedikit kaget.
"Terima ini!"
Kata Kok Hu-jin. Jen Thian Ngo langsung tahu itu benda apa.
"Sam-moay. apa maksudmu?"
Kata Jen Thian Ngo purapura heran dan kaget. Kok Hu-jin menyahut dengan dingin.
"Seorang lelaki sebaiknya tidak menginginkan sawah dan ladang milik orang tuanya, seorang wanita sebaiknya tidak mengharapkan hadiah pernikahan dari orang tuanya. Ayah memberikan kitab itu kepadaku sebagai hadiah pernikahanku. Sekarang aku kembalikan kepadamu agar hatimu lega. dan jangan terus-menerus menekan keponakanmu ini!"
Kata Kok Hu-jin dengan dingin sekali.
Wajah Jen Thian Ngo berubah merah.
Sebenarnya ia malu sekali untuk menerima kitab itu.
tetapi kitab itu justru telah menjadi impiannya sejak dia masih muda.
Maka dengan terpaksa ia menebalkan mukanya menerima juga kitab itu.
Rupanya Jen Thian Ngo pernah belajar ilmu Siauw-yangsin-kang itu.
tetapi sebelum ia berhasil ayahnya telah menghadiahkan kitab itu kepada adiknya, la ingin memiliki dan menguasai ilmu itu.
tetapi ilmu itu sulit dipelajari.
Saat masih muda dia pernah belajar, tapi setelah sekian lama ia jadi lupa lagi.
Jen Thian Ngo orang yang lebih menghargai kehormatannya, sekalipun adiknya mengembalikan kitab itu dengan baik-baik.
tapi ia tetap berkata begini.
"Sam-moay. aku harap kau tidak salah mengerti."
Kata Jen Thian Ngo.
"Aku tidak meminta kitab Ini. tetapi aku khawatir kitab ini jatuh ke tangan Han Tay Hiong...."
"Sudah jangan banyak bicara!"
Kata Kok Hu-jin.
"Baik supaya hatimu lega aku akan berpesan pada anakku."
Dia tatap anaknya.
"Anakku, dengar pesanku. Kau tak boleh menggunakan Siauw-yang-sin-kang untuk mengobati Han lay Hiong. jika kau melanggar pesanku, kau jangan mengaku lagi sebagai anakku!"
Kata Kok Hu-jin tegas.
"Baik, Bu. Aku berjanji tidak akan menggunakan ilmu itu."
Jawab Kok Siauw Hong. Kok Hu-jin tertawa.
"Sekarang Toa-ko bisa berlega hati! Sebenarnya mengobati Han Tay Hiong tidak perlu ilmu itu!"
Kata Kok Hu-jin dengan tetap dingin. Jen Thian Ngo menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku ingin bicara lebih jauh pada kalian, tetapi kalian terlampau banyak curiga dan salah paham pada diriku."
Kata Jen Thian Ngo.
"Aku ingin bilang, mengapa aku melarang Siauw Hong mengobati Han Tay Hiong. itu bukan karena aku takut ilmu kalian diketahui olehnya...."
Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.
"Lalu karena apa?"
Tanya Kok Hu-jin. Kok Siauw Hong tak sabaran ia menyela.
"Paman bilang Paman Han Tay Hiong itu orang jahat."
Kata Kok Siauw Hong. Mendengar ucapan anaknya Kok Hu-jin menatap ke arah Jen Thian Ngo dengan penuh kecurigaan. Jen Thian Ngo sedikit gelagapan.
"Sam-moay. tak heran jika kau tidak percaya kepadaku."
Kata Jen Thian Ngo.
"Han Tay Hiong itu orangnya sangat licik. Jika aku tidak tahu tentang dia. bagaimana aku bisa bilang dia orang jahat?"
Kok Hu-jin menatap kakaknya dengan tajam.
"Kau tahu jelas mengenai apa?"
Tanya Kok Hu-jin.
"Aku tahu dia bersekongkol dengan bangsa Mongol!"
Kata Jen Thian Ngo. Mendengar jawaban kakaknya itu Kok Hu-jin terperanjat sekali.
"Kau punya buktinya?"
Kata Nyonya Kok. Bukan menjawab tapi Jen Thian Ngo balik bertanya.
"Kau kenal pada orang yang bernama Siang-koan Hok?"
Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin berpikir sejenak.
"Bukankah dia Lo-cian-pwee yang sudah mengasingkan diri sudah lama sekali? Aku masih ingat Ayah kita pernah cerita tentang dia. Dia dan Ceng Leng Su-thay pernah menjalin hubungan cinta, sehingga ia pergi ke seberang lautan. Itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. kenapa kau ungkitungkit lagi?"
Kata Kok Hu-jin.
"Sekarang orang itu telah menjadi wakil Hoat Ong (Kepala Paderi) Mongol. malah ia sangat dipercaya oleh raja Mongol,"
Kata Jen Thian Ngo.
"Lalu apa hubungannya dengan Han Tay Hiong?"
Tanya Kok Hu-jin penasaran.
"Tentu saja ada hubungannya, mereka itu sudah lama bersahabat dan berhubungan."
Kata Jen Thian Ngo.
"Apa kau lupa. Ayah kita pun punya hubungan dengan Siang-koan Hok?"
Kata Kok Hu-jin. Jen Thian Ngo manggut-manggut.
"Benar. Tetapi pada waktu itu Siang-koan Hok belum bergabung dengan bangsa Mongol. Sedangkan Han Tay Hiong berhubungan dengan dia, justru saat dia sudah menjadi wakil Kok-su (Guru Kerajaan) Mongol."
Kata kakaknya. Kening Kok Hu-jin berkerut.
"Bagaimana kau bisa mengetahui soal itu?"
"Ketika itu aku pergi ke Lok-yang. tetapi Han Tay Hiong tidak berani mengundangku ke rumahnya. Tahukah kau apa sebabnya? Kiranya di rumah dia sedang kedatangan seorang tamu agung."
Kata Jen Thian Ngo.
"Apakah tamu agung itu Siang-koan Hok?"
Tanya adiknya. Jen Thian Ngo tertawa dingin.
"Jika bukan dia mengapa aku memberitahu kalian?"
Kata Jen Thian Ngo.
"Pepatah tua mengatakan.
"Jika tak ingin orang tahu. jangan berbuat". Han Tay Hiong tidak bisa menutupi rahasia itu untuk semua penduduk Lok-yang. sekalipun ia sudah berhati-hati sekali!"
"Kau tahu dari siapa?"
Tanya Kok Hu-jin.
"Siapa yang memberitahumu?"
"Salah seorang Hiang-cu (Pemimpin-cabang) perkumpulan Kay-pang (Partai Pengemis) di Lok-yang."
Kata Jen Thian Ngo.
"Apa dia yang bernama Lauw Kun?"
"Ya, benar."
Kata Jen Thian Ngo.
"Hm! Kay-pang memang sangat cepat mendapatkan informasi. Ditambah lagi Lauw Hiang-cu itu seorang yang jujur. Aku juga tidak pernah mendengar dia bentrok dengan Han Tay Hiong. Jadi informasi itu bisa dipercaya, karena tak mungkin pihak Kay-pang ingin membuat kekacauan antara mereka dengan Han Tay Hiong?"
Pikir Kok Hu-jin. Tetapi dalam keheningan itu Kok Siauw Hong berkata.
"Paman, pepatah mengatakan "Omongan orang belum tentu benar, tetapi melihat sendiri itu baru benar!"
Apa Paman menyaksikan keluarga Han bersekongkol dengan Siang-koan Hok?"
Kata Siauw Hong.
"Tentu aku menyaksikannya sendiri, baik akan kuberitahu kau."
Kata Jen Thian Ngo. Setelah menatap ke arah Kok Hu-jin baru Jen Thian Ngo mulai bercerita.
"Pada malam Lauw Kun memberi tahu aku tentang rahasia itu."
Kata Jen Thian Ngo memulai ceritanya.
"seketika itu aku gusar sekali. Lalu aku bersama Lauw Kun pergi ke rumah Han Tay Hiong. Maksud kami untuk membuka kedoknya. Sayang rupanya mereka sudah tahu niat kami itu. Ternyata Siangkoan Hok sudah pergi dari rumah Han Tay Hiong. Sebelum kami tiba di rumah Han Tay Hiong, justru di tengah jalan kami bertemu dengan Siang-koan Hok yang baru keluar dari rumah Han Tay Hiong. Kami bertengkar dan aku terhajar oleh pukulannya, sedangkan Lauw Kun tak berhasil mengejar orang itu....."
Sebelum pamannya selesai bicara Kok Siauw Hong memotong.
"Bagaimana Paman bisa tahu dia baru keluar dari rumah Paman Han Tay Hiong?"
Kata Siauw Hong.
"Rumah Han Tay Hiong ada di jalan Po-kee. aku dan Lauw Kun bertemu dengan Siang-koan Hok dijalan itu."
Jawab Jen Thian Ngo.
"Di sekitar jalan itu tidak ada rumah kaum Rimba Persilatan. Jika dia bukan dari rumah Han Tay Hiong. apa dia keluar dari rumah orang lain?"
Jen Thian Ngo menghela napas panjang, baru kemudian ia melanjutkan ceritanya.
"Pertanyaanmu sangat beralasan, ketika itu memang aku tidak berpikir sampai ke situ."
Kata Jen Thian Ngo memulai lagi ceritanya.
"Sekalipun aku yakin Siang-koan Hok keluar dari rumah Han Tay Hiong. tetapi kami tak bisa menangkap basah mereka. Sudah pasti Han Tay Hiong tidak akan mau mengakui dosanya!"
Saat itu Kok Hu-jin pun bingung.
"Semula aku kira Kakakku kurang puas terhadap Han Tay Hiong karena ia tak diundang, kiranya ada masalah pengkhianatan ini?"
Pikir Kok Hu-jin.
"Sekalipun pengkhianatanya belum terungkap."
Kata Jen.
"tetapi berhubung kedudukannya di Dunia Persilatan, untuk sementara ini lebih baik kita jangan bentrok dulu dengannya. Maka tadi aku bilang belum waktunya kubentahu kalian tapi aku ingin agar keponakanku ini mengetahuinya. Ini terpaksa saja kuberitahukan pada kalian karena kalian mendesakku. Selanjutnya hal ini kalian rahasiakan saja dulu. jika sampai bocor kalian bisa celaka di tangan Han Tay Hiong. Maka menurut pendapatku kau batalkan saja pergi ke Lok-yang!"
Setelah mendengar hal itu Kok Siauw Hong makin bingung, ia awasi ibunya.
"Toa-ko. terima kasih atas perhatianmu."
Kata Kok Hujin kepada kakaknya.
"Masalah ini akan kupikirkan dengan seksama, tetapi untuk anakku ini aku sudah mengambil keputusan yang pasti."
Jen Thian Ngo tertawa dingin.
"Dia anakmu, aku tidak berhak ikut campur urusanmu."
Kata Jen Thian Ngo.
"Aku mencegah dia pergi mengobati Han Tay Hiong bukan karena aku egois. Sudahlah, aku mau pergi!"
Sesudah kakaknya pergi Kok Siauw Hong berkata pada ibunya.
"Apa Ibu percaya pada kata-kata Paman Jen Thian Ngo tadi?"
Kata Kok Siauw Hong. Kok Hu-jin diam tak menjawab, keningnya berkerut-kerut. Kok Siauw Hong terus mengawasinya.
"Kenapa dulu Ibu dan Paman bisa putus hubungan?"
Kata Siauw Hong mulai tak sabar.
"Pamanmu itu tidak setuju Ibu menikah dengan Ayahmu...."
Kata Kok Hu-jin sambil tersenyum.
"Jika kau ingin tahu masalah itu. baik akan Ibu beritahukan. Perjodohan kami atas kemauan kami berdua. Oleh karena itu Ibu juga tak ingin ikut campur masalah perjodohanmu berdua, aku ingin agar kelak kau tidak membenci pada Ibumu, seperti Ibu membenci pada Pamanmu itu. Tetapi Ibu yakin Han Pwee Eng itu gadis yang baik."
Wajah Siauw Hong jadi cerah.
"Ibu sangat baik dan penuh pengertian. Terus-terang saja. wajah Paman Jen Thian Ngo itu sungguh tidak sedap dipandang."
Kata Kok Siauw Hong. Kok Hu-jin tertawa geli mendengar kata-kata anaknya yang polos itu.
"Kau keponakannya kau tidak boleh mencemoohkan Pamanmu itu."
Kata sang ibu.
"Ada masalah apa antara Paman Jen dan Paman Han itu? Aku yakin tadi Paman Jen menyembunyikan sesuatu."
Kata Kok Siauw Hong.
"Ceritanya begini,"
Kata Kok Hu-j in.
"Tahun itu Pamanmu pergi ke Lok-yang. kebetulan kaum Rimba Persilatan dari tiga Kabupaten akan berkumpul untuk mengangkat Han Tay Hiong menjadi pemimpin mereka. Tetapi Han Tay Hiong tidak mengundang Paman Jen Thian Ngo ke tempatnya."
"Kapan terjadinya itu. Bu?"
Tanya Kok Siauw Hong. Kok Hu-jin tersenyum.
"Setahun setelah Ayahmu menjodohkan kau dengan Han Pwee Eng. Ibu kira mengapa Han Tay Hiong tidak mengundang Pamanmu itu karena Han Tay Hiong tahu Ibu tidak cocok dengan Paman Jen. Tak tahunya kata Pamanmu tadi, Han Tay Hiong punya rahasia seperti itu?!"
"Ibu percaya pada keterangan Paman Jen? Apa Ibu tak berpikir, barangkali Paman Jen sangat benci kepada Paman Han. lalu memfitnahnya? Dia jengkel karena tidak diundang ke pertemuan para pendekar itu di rumah Paman Han?"
Kok Hu-jin menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Pamanmu itu bukan orang seperti itu! Sekalipun Ibu tidak cocok dengan dia. tetapi Ibu tahu sifatnya."
Kok Siauw Hong mengerutkan dahinya.
"Kalau begitu Paman Han itu orang jahat?"
Kok Hu-jin menggelengkan kepalanya.
"Paman Han sahabat Ayahmu dia bisa memilih kawankawannya. Jika Paman Han itu orang jahat. Ayahmu tidak akan menjodohkan kau dengan puteri Paman Han itu. Jika Ayahmu masih hidup, pasti kau akan dicegah memutuskan jodoh dengan nona Han."
"Kalau begitu Ibu lebih percaya kepada Ayah atau kepada Paman Jen?"
"Sudah tentu Ibu lebih percaya kepada Ayahmu!"
Kata Kok Hu-jin.
"Tapi Ibu yakin Pamanmu itu tidak berdusta, barangkali ada masalah lain. Sekalipun Paman Han dan Siangkoan Hok punya hubungan, belum tentu Paman Han bergabung dengan bangsa Mongol. Ayahmu sangat percaya kepada Paman Han. Ibu dan Ayah banyak menerima bantuannya. Tapi heran jika ia tahu kedudukan Siang-koan Hok sekarang, mengapa ia masih berhubungan dengannya?"
Kok Siauw Hong menarik napas panjang.
"Menurut Ibu. masih haruskah aku ke Lok-yang atau jangan?"
Kok Hu-jin berpikir sejenak.
"Ucapan Pamanmu tadi hanya sebuah kecurigaan, sedang hubungan kita dengan keluarga Han sudah puluhan tahun. Kali ini kau membuat kesalahan pada keluarga Han. Jika kau tak ke sana untuk minta maaf pada Paman Han. tentu tak enak sekali."
Kata Kok Hu-jin.
"Ibu benar, aku juga berpikir begitu."
Kata Siauw Hong 205
"Tetapi ucapan Pamanmu pun tak boleh kau abaikan juga. dan kau harus hati-hati kalau perlu kau selidiki sampai tuntas."
Kata Kok Hu-jin.
"Baik. aku akan ingat pesan Ibu. Harap Ibu berlega hati."
Kata Kok Siauw Hong. Kok Hu-jin tersenyum.
"Kalau begitu Ibu tukar kuda denganmu, kau pakai saja Siauw-pek-liong (Si Naga Kecil Putih) ini!"
Kata ibunya. Kuda itu diperoleh ayah Siauw Hong di Ceng-hay. Siauw Hong mengucapkan terima kasih pada ibunya.
"Maafkan, aku telah membuat Ibu resah."
Kata Siauw Hong sambil menangis."
Kok Hu-jin tersenyum lembut.
"Ibu hanya berharap agar kau bahagia Ibu juga pernah melihat nona Ci. dia memang sangat cantik, tak heran kau suka padanya."
Kok Siauw Hong tertegun.
"Ibu pernah bertemu dengannya? Dia tahu siapa Ibu?"
Kok Hu-jin menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak kenal pada Ibu. Ditambah lagi Ibu pun tak ingin ia merasa canggung maka Ibu tidak menemuinya. Dia bersama kakaknya dalam sebuah kereta. Menurut keterangan yang Ibu peroleh, di dalam kereta itu ada seguci arak obat yang akan dibawa ke Lok-yang untuk Paman Han!"
Kok Siauw Hong tersentak sadar.
"Ah, pantas saja tadi Ibu bilang pada Paman Jen, bahwa aku tidak akan menggunakan ilmu keluarga Jen untuk mengobati Paman Han. Rupanya Ibu sudah tahu Ci Giok 206 Hian berangkat membawa arak obat untuk Paman Han!"
Pikir Siauw Hong.
"Kuda Siauw-pek-liong larinya lebih cepat dari kereta itu."
Kata ibunya.
"maka kuda itu aku berikan kepadamu, agar kau bisa sampai lebih awal dua hari dari mereka. Kau paham maksud Ibu? Kau batalkan perjodohanmu dengan nona Han. pasti Han Tay Hiong kurang senang pada kita. Jika kau menemuinya bersama nona Ci aku yakin dia akan tambah tidak senang. Maka itu aku pikir kau jangan datang bersama nona Ci."
Wajah Siauw Hong kemerah-merahan.
"Aku mengerti. Bu. Eh aku lupa. apakah Ibu juga bertemu dengan Nona Han?"
Kata Kok Siauw Hong. Kok Hu-jin tersenyum.
"Pernah, dia juga cantik sekali dan kepandaian silatnya tinggi."
Kok Siauw Hong tertegun.
"Dari mana Ibu tahu?"
Kok Hujin tertawa.
"Dia pernah datang ke rumah kita, lho!"
Kok Hu-jin menceritakan tentang kejadian malam itu. lalu ia menambahkan.
"Ibu dan Pamanmu sedang bercakap-cakap di kamar, dia bersembunyi di belakang gunung-gunungan. Semua yang Ibu bicarakan dengan Pamanmu, entah ia mendengarnya atau tidak Ibu kurang tahu. Saat Ibu tahu di luar ada orang dan Ibu hendak melihatnya, ia sudah melompat dan pergi. Ibu lihat gin-kangnya tidak rendah. Ibu dengar dia juga pernah mengusir Lima Serigala marga Tan. malah berhasil mencungkil mata si Rase Liar bernama An Tak. Itu suatu bukti bahwa ilmu silatnya lihay."
"Hm! Pasti malam itu dia menyelidiki aku. setelah tahu jelas apa yang terjadi, maka ia pergi. Aaah. saat itu aku tahu bagaimana berdukanya dia?"
Pikir Siauw Hong. Melihat Siauw Hong melamun, ibunya tersenyum.
"Hai. kenapa tiba-tiba kau ingat kepadanya?"
"Dia datang ke Pek-hoa-kok membantuku menjernihkan kekacauan di sana."
Kata Kok Siauw Hong.
"Sekalipun aku akan menemui Ayahnya dan membatalkan perjodohan dengannya, tapi aku tetap berterima kasih kepadanya. Aku kira Giok Hian akan menahan dia di Pek-hoa-kok. Tapi Ibu bertemu nona Ci dan kakaknya menuju ke Lok-yang. Pasti Nona Han tidak ada di sana. Apa ia pulang atau tidak? Maka itu tadi aku bertanya pada Ibu. apakah Ibu bertemu dengan Nona Han atau tidak?"
"Hm! Jadi kau takut bertemu dengannya di di tengah jalan? Terus terang aku tidak bertemu dengan dia. Seharusnya dia pulang, tapi di tengah jalan aku tidak menemuinya. Mungkin dia mengambil jalan lain. Karena kudamu bisa lari cepat, jika kau bertemu dengan dia kau harus baik-baik kepadanya."
Kata Kok Hu-jin. Wajah Kok Siauw Hong merah ia manggut.
"Baik. Bu. Nona Han dengan Giok Hian seperti kakakberadik saja. aku harap jangan karena aku. hubungan mereka jadi rusak. Lebih baik Ibu pulang saja."
"Aku dengar tentara Mongol sudah menyerbu ke Lokyang. aku harap kau berhati-hati.'* kata Kok hu-jin.
"Ya, Bu."
Kata Kok Siauw Hong.
Sesudah saling menukarkan kuda baru Kok Hu-jin menjalankan kudanya akan pulang.
Sesudah ibunya pergi baru Kok Siauw Hong melompat ke atas kudanya lalu ia larikan ke arah Lok-yang....
-0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0 Bab Sementara itu HanPwee Eng yang akan pulang ke Lokyang, memang mengambil jalan lain bukan melalui jalan umum.
Seperti dugaan Kok Hu-jin ternyata nona Han mengambil jalan kecil.
Pilihan mi mungkin agar ia tidak bertemu dengan Kok Siauw Hong di tengah jalan.
Sekarang Kok Siauw Hong menempuh jalan raya.
sedangkan dia lewat jalan kecil.
Tentu saja tak akan bertemu.
Ketika itu Han Pwee Eng mengenakan pakaian laki-laki.
Dia telah menempuh perjalanan beberapa hari lamanya.
Di sepanjang jalan ia mengalami kejadian apa-apa baik saat dalam perjalanan atau saat bermalam di penginapan maupun saat dia makan di rumah makan.
Dia yakin karena tidak ada orang yang mengetahuinya bahwa dia seorang nona.
Tapi pada hari yang ketujuh....
Setelah melewati daerah San-tung, ia mengalami kejadian yang mengherankan sekali.
Malam itu ia mencari sebuah penginapan di sebuah kota kecil bernama Ci-hoo.
Ternyata majikan penginapan itu masih muda.
dia melayani nona Han Pwee Eng dengan sangat istimewa sekali hingga membuat Han Pwee Eng kaget.
Padahal ia tudak memesan makanan utu.
tetapi tuan rumah malah menyajikan masakan yang lezat untuknya.
Dia bukan pejabat dan di kota kecil itu dia tidak kenal siapa-siapa.
Dia juga bukan seorang hartawan, tapi mengapa pemilik penginapan begitu telaten melayaninya.
Hal itu membuat nona Han Pwee Eng bingung dan terheran-heran.
Sesudah memikirkan hal itu dan tak mendapat jawaban yang memuaskan, akhirnya Han Pwee Eng jadi tak acuh pada perlakukan pemilik penginapan itu.
Dia hanya menduga barangkali memang harus begitu memperlakukan seorang tamu baru.
agar betah di penginapannya?
Betapa kagetnya Han Pwee Eng.
ketika esok harinya ia akan meninggalkan penginapan itu dan dia mau membayar sewa kamar serta makannya, ternyata pemilik penginapan menolak ia bayar.
"Tuan. mengapa Tuan tak mau menerima bayaran dariku?"
Tanya nona Han.
"Maaf Tuan. semuanya sudah dibayar lunas."
Jawab pemilik penginapan itu.
"Ci-ho sebuah kota kecil, sahabatku hanya Ci Giok Hian seorang. Sedang Ayahku tidak pernah bilang punya kenalan di tempat ini. aneh sekali."
Pikir Han Pwee Eng.
"Kalau begitu siapa yang membayari uang sewa kamar dan makanku? Jika dia kenalan, kenapa dia tidak muncul memperkenalkan diri?"
Karena heran dan penasaran nona Han menanyakan ciri-ciri orang yang membayarinya pada pemilik penginapan. Tapi pemilik penginapan itu tersenyum sambil berkata.
"Dia berumur 40 tahun, wajahnya biasa-biasa saja. tidak istimewa. Pakaiannya mewah sekali. Kemarin siang dia ke mari. lalu memberitahu bahwa Tuan akan datang ke mari. Dia juga menyampaikan ciri-ciru wajah dan tubuhmu. Dia minta kami melayanimu dengan baik. Dia lalu menyerahkan uang dan pergi tanpa menyebutkan nama lagi. Aku pikir pria itu pasti sahabat Tuan. Tuan pun pasti kenal kepadanya."
Kata tuan rumah.
Kelihatan pemilik penginapan itu pun keheranan.
Han Pwee Eng menggelengkan kepalanya.
Ia pun yakin pemilik penginapan bukan teman orang itu.
Jika dia bertanya pun tidak akan ada gunanya.
Mungkin dia hanya melayani tamunya karena sudah dibayar lunas.
Agar tidak membuat pemilik penginapan itu curiga, nona Han Pwee Eng berpurapura baru ingat.
"Oh dia! Orang itu memang senang bergurau!"
Kata si nona sambil tersenyum. Han Pwee Eng pamit dan meninggalkan penginapan itu dengan terheran-heran. Di sepanjang jalan ia berpikir dan tetap merasa heran.
"Pasti ada dua kemungkinan, pertama orang itu ingin mengambil hatiku, kedua orang itu ingin berbuat jahat terhadapku? Orang itu sengaja menguntit aku secara diamdiam. Sesudah terjadi peristiwa dengan Serigala Tua. aku memang telah menanam permusuhan. Mungkin orang itu salah satunya. Kiranya ciri-ciri diriku telah diketahuinya?"
Pikir Han Pwee Eng.
Dia memang baru berkelana di Dunia Kang-ouw.
Maka itu dia berpikir kalau orang itu mau berbuat jahat, dia tidak perlu berbuat baik kepadanya.
Jika orang itu mau berbuat baik dan mengambil perhatiannya, mengapa dia tak meninggalkan namanya.
Maka yang bisa ia lakukan adalah tetap waspada sambil melanjutkan perjalanannya.
"Apakah dia kawan atau lawan, sebaiknya tak perlu kupikirkan."
Begitu nona Han mengambil keputusan.
"Jika dia muncul akan kuhadapi dia sesuai situasi. Aku tidak boleh jerih dan tak pulang ke rumah."
Saat hari mulai senja kembali nona Han Pwee Eng mencari sebuah penginapan, dia menemukan penginapan 211 itu terletak di sebelah Selatan sungai Hoang-hoo.
Di kota kecil itu hanya terdapat sebuah penginapan.
Saat dia menjalankan kudanya ke sana ketika itu Han Pwee Eng melihat pemilik penginapan sedang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya.
"Silakan Tuan! Silakan masuk!"
Kata orang itu.
"Apa ada kamar untukku?"
Tanya nona Han.
"Ada! Bahkan kamar itu sudah dipesan oleh sahabatmu!"
Kata tuan rumah dengan ramah sekali.
"Bagaimana macam orang itu?"
Tanya si nona heran.
"Orang itu kepalanya gundul."
Jawab pemilik penginapan.
Karena tidak ada penginapan yang lain terpaksa Han Pwee Eng bermalam di situ.
Hampir semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan orang yang memesan kamar untuknya.
Tetapi malam itu tidak terjadi apa-apa.
Hati Han Pwee Eng jadi risau bukan main.
"Orang itu tidak mau memperlihatkan dirinya, hingga aku jadi bingung sekali."
Pikir nona Han.
Ketika esok harinya dia mau membayar, pemilik penginapan ini menolak pembayarannya.
Terpaksa dia meninggalkan penginapan tanpa membayar uang sewanya.
Nona Han Pwee Eng menjalankan kudanya ke tepi sungai Hoang-hoo.
Rupanya setiap hari di situ banyak para pengungsi yang menyeberangi sungai ke arah Selatan, dan jarang yang menyeberang ke Utara.
Agak sulit juga Han Pwee Eng mencari dan menemukan perahu yang mau menyeberangkan dia ke arah Utara.
Setelah dia berjanji akan membayar mereka dengan ongkos yang mahal, barulah ada perahu yang mau menyeberangkannya.
Hari itu cuaca kurang baik.
Sekalipun langit tampak cerah, namun angin bertiup kencang sekali hingga sungai Huang-hoo jadi bergelombang.
Keadaan ini membuat hati nona Han jadi hampa.
Nona Han yang berdiri di haluan perahu menyaksikan arus yang deras sekali.
"Yang jernih tetap jernih, yang bergelombang tetap bergelombang. Orang yang sedang kacau pikirannya tak boleh membiarkan diri terbawa arus dan terapuing-apung"
Pikir nona Han.
"Gelombang sungai ini susul-menyusul, sama seperti keadaanku sekarang yang sedang kacau. Apakah pasukan Mongol sudah menyerbu ke Lok-yang belum? Apakah Ayahku masih ada di sana atau sudah mengungsi? Pasti dia teringat padaku?"
Saat dia sedang melamun tampak sebuah perahu kecil meluncur ke arah perahu yang dinaiki oleh Han Pwee Eng.
Tak lama perahu kecil itu telah melewati perahunya.
Kelihatan di perahu kecil itu ada seorang pemuda baru berumur 19 tahun, wajahnya tampan dan bersih, begitu pula pakaiannya.
Kelihatannya dia bukan seperti tukang perahu.
Nona Han heran, saat perahu kecil itu melewati perahu yang dinaikinya, tanpa terasa nona Han menoleh ke arah si pemuda itu.
Saat pemuda itu mengetahui nona Han memperhatikannya, ia pun menoleh sambil tertawa.
"Ah siapa anak muda ini? Dia pandai sekali mengayuh perahunya?"
Tanya nona Han pada tukang perahu.
"Dulu-dulu aku tidak pernah melihatnya."
Jawab si tukang perahu.
"mungkin dia tukang perahu baru di sini. Sekarang memang banyak pengungsi yang menyeberang dengan naik perahu."
Han Pwee Eng mengerutkan dahinya.
"Dia kelihatan tidak mirip dengan tukang perahu biasa, kalau dia pengungsi seharusnya dia ke Selatan, bukan menuju ke Utara!"
Kata nona Han. Tukang perahu itu pun menggelengkan kepalanya.
"Aku pun tidak tahu, sekalipun dia tidak mirip dengan tukang perahu tetapi dia mahir mendayung perahu. Belum pernah aku melihat tukang perahu semahir dia?"
Kata si tukang perahu.
"Apa dia yang mempermainkan aku selama ini?"
Pikir nona Han.
"Dia lebih muda dariku, mana bisa dia demikian hebatnya? Sedang menurut pemilik penginapan orang itu berumur 40 tahun, dan bukan seorang pemuda. Jelas mereka dari suatu perkumpulan, sedang anak muda ini pasti bukan pemimpin perkumpulan."
La jadi tertawa sendiri karena terlalu bercuriga.
Setelah perahu kecil itu jauh dan mendarat di seberang sungai, nona Han bersama perahu yang ditumpanginya terus melaju.
Sebelum matahari terbenam dia sudah tiba di sebuah kota bernama Ouw-shia.
Kota Ouw-shia terletak di bagian Utara sungai Huang-hoo.
Kota ini cukup besar, dan merupakan kota pembuat arak terkenal.
Di kota ini terdapat sebuah rumah makan bermerk "Ngi Nih Lauw".
Letak rumah makan itu di atas tanah agak tinggi, sehingga orang yang sedang makan dan sedang berkunjung di sana bisa melihat sungai Huang-hoo dengan jelas sekali.
Melihat perahu seolah sedang berlomba.
Han Pwee Eng tidak pernah singgah di kota ini.
tetapi dia tahu di sini ada rumah makan bernama "Ngi Nih Lauw"
Konon ada orang pertama pembuat arak yang memberi nama Ngi Ciu.
Orang itu lahir di kota ini.
nama rumah makan itu untuk mengenang namanya.
Kota ini termasuk ramai sehingga nona Han terpaksa melarikan kudanya perlahan-lahan.
Sebenarnya dia ingin meneruskan perjalanannya, tetapi karena hari sudah sore.
terpaksa ia mencari sebuah penginapan.
Kemudian terlintas pengalamanya dua hari yang lalu.
"Sekarang aku akan mencari penginapan kecil, aku ingin tahu apakah orang itu memesankan kamar untukku atau tidak?"
Pikir nona Han.
Saat kuda nona Han berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba muncul seorang yang sedang memikul mainan anak-anak.
Nona Han kaget dia khawatir kudanya menabrak orang itu.
lalu ia menepikan kudanya ke tepi jalan.
Jalan itu sangat sempit.
Sekalipun kuda itu telah menepi, anak muda itu tetap menyenggol nona Han.
"Oh! Maaf! Maaf!"
Kata anak muda itu. Ia mengulurkan tangannya akan membersihkan pakaian nona Han. bukan jadi bersih malah pakaian itu bertambah kotor.
"Kau boleh pergi! Aku tidak menyalahkanmu."
Kata nona Han sambil mendorong bocah itu agar pergi.
Pemuda itu mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan nona Han.
Pada saat yang bersamaan nona Han mengerutkan dahinya.
Dia ingat sesuatu, dia merasa seolah pernah melihat pemuda itu.
Sekalipun anak muda itu kelihatan kotor, tetapi tak menutupi ketampanannya.
Tibatiba nona Han teringat bahwa pemuda itu si tukang perahu yang mahir mendayung perahunya.
Tapi ketika itu berpakaian bersih, sedang sekarang sudah salin rupa dan ia berakaian dekil sekali.
"Dia memang memiliki kepandaian."
Pikir nona Han.
Setelah berbelok beberapa kali baru nona Han menemukan sebuah penginapan.
Nona Han menghentikan kudanya di depan penginapan kecil itu.
Di situ tidak terlihat papan nama penginapan, tapi hanya tergantung sehelai kain yang sudah kumel diikatkan ke sebatang bambu.
Tulisan itu berbunyi "Khek-can" (Penginapan).
Dinding kamar penginapan itu sudah kehitam-hitaman karena sudah lama tak pernah dicat.
Diam-diam nona Han tersenyum.
"Aku yakin orang yang menguntitku itu tidak akan menyangka aku akan mencari penginapan seperti ini?"
Pikir nona Han. Bukan main kagetnya nona Han. pada saat bersamaan pemilik penginapan itu keluar menyambutnya.
"Oh selamat datang Tuan. kami merasa bangga atas kedatangan Tuan ke tempat kami ini. Kamar telah kami sediakan untuk Tuan. Silakan Tuan periksa dulu. apaka cocok untuk Tuan atau tidak?"
Kata pemilik penginapan. Kemudian orang itu akan mengambil tali les kuda nona Han untuk ditambatkan dan diberi makan. Tetapi nona Han Pwee Eng mencegahnya.
"Tunggu dulu! Tahukah kau siapa aku ini? Mengapa kau menyiapkan kamar untukku?"
Kata nona Han secara beruntun. Pemilik penginapan itu tertegun sejenak.
"Seorang Toa-ya memberitahu aku tentang wajah Tuan dan kuda ini. Dia berpesan kepadaku agar aku menyiapkan sebuah kamar untuk Tuan. dan aku diminta melayani Tuan dengan baik."
Kata si pemilik penginapan. Sekalipun begitu dia berpikir.
"Apa aku salah menyambut orang?"
Pikirnya. Melihat pemilik penginapan itu kebingungan nona Han tersenyum puas.
"Benar kau telah keliru mengenaliku, bukan? Aku sebenarnya hanya lewat saja dan tidak berniat bermalam di tempatmu!"
Kata nona Han mantap. Pemilik penginapan itu terbelalak. Ia berpikir keras.
"Jelas orang itu memberi gambaran tentang orang ini. mana mungkin aku salah lihat?"
Pikir pemilik penginapan itu.
"Ah peduli amat. apakah aku salah lihat atau tidak, aku toh sudah dibayar."
Sekalipun nona Han belum berpengalaman luas. dari ayahnya dia sering mendengar tentang keanehan di kalangan Kang-ouw. Maka dia sudah langsung menduga, bahwa "orang itu"
Telah membayar semua penginapan yang akan dilewatinya. Oleh sebab itu nona Han jadi kapok dan dia tidak akan mencari penginapan kecil lagi.
"Hm! Ada orang yang sedang mempermainkan aku. dia membayariku. Mengapa aku harus tidur di penginapan kecil, lebih baik aku akan cari penginapan yang mewah dan enak saja. toh ada yang membayari."
Pikir Han Pwee Eng sambil tersenyum..
Dia langsung pergi ke jalan raya untuk mencari sebuah penginapan yang besar dan mewah sekali.
Tetapi dia tetap mengikutinya.
Ketika dia mengawasinya memang ada dua orang yang mengikutinya.
Orang yang satu seorang lelaki tua berjenggot dan yang seorang lagi lelaki yang kepalanya gundul dan usianya sekitar 40 tahun.
Kedua lelaki itu saat diperhatikan mendadak berhenti di tepi jalan.
Mereka berhenti tepat di depan seorang pedagang kaki lima (pedagang di pinggir jalan).
Han Pwee Eng semula mengira orang-orang itu akan membeli sesuatu di situ.
Tetapi saat diperhatikan mereka tidak membeli apaapa.
Nona Han jadi curiga sekali.
Rupanya kedua pria itu sadar kalau mereka sedang diperhatikan oleh nona Han.
Kebetulan mereka juga ada di depan rumah makan "Ngi Nih Lauw"
Yang terkenal itu. Terdengar salah seorang dari mereka bicara dengan suara agak keras mungkin agar terdengar oleh nona Han.
"Aku dengar arak di rumah makan ini lebih enak dari rumah makan di San-see. Bagaimana jika kita ke sana untuk minum beberapa cawan araknya?"
Kata lelaki tua berjenggot pada si gundul.
"Kalau Lo-ko (saudara tua) ingin minum. Su-tee (adik seperguruan) bersedia menemanimu."
Kata si gundul.
Tak lama kedua lelaki itu berjalan masuk ke rumah makan.
Ketika itu nona Han ingat pada pemilik penginapan yang pernah bilang, bahwa orang yang memesankan kamar untuknya orangnya gundul berumur 40 tahun.
"Ah pasti dia orangnya?"
Pikir Han Pwee Eng.
"Baik aku juga ke sana, apa yang hendak dia lakukan terhadapku? Aku ingin yakin benarkah dia atau bukan orangnya?"
Berjalanlah nona Han menuju ke sebuah penginapan besar dan mewah. Sebelum dia masuk di luar dia sudah langsung disambut oleh pemilik penginapan.
"Apa ada kamar untukku?"
Kata nona Han.
"Ada! Ada! Sudah dipesan untuk Tuan! Orang itu berpakaian seperti seorang sastrawan."
Kata pemilik penginapan memberi penjelasan.
"Setiap kali yang memesan kamar untukku selalu berbedabeda orangnya,"
Pikir nona Han.
"Rupanya mereka anggota perkumpulan dan cukup banyak anggotanya."
Tanpa pikir panjang lagi dia mengikuti tuan rumah yang akan menunjukkan kamarnya. Sesampai di kamar itu dia letakkan buntalan pakaiannya, saat itu pemilik penginapan itu bicara padanya.
"Makanan dan arak sudah disiapkan oleh Toa-ya tersebut untuk Tuan."
Kata dia. Han Pwee Eng menggelengkan kepala.
"Terima kasih, aku tidak akan makan di sini. aku mau minum arak di "Ngi Nih Lauw"!"
Kata nona Han.
"Kau benar, makanan di "Ngi Nih Lauw"
Memang lezat, tetapi bagaimana makanan yang sudah disiapkan di sini?"
Kata pemilik penginapan itu bingung.
"Makan saja oleh kalian."
Kata Han Pwee Eng.
"Terima kasih. Tuan."
Kata dia. Han Pwee Eng bergegas berjalan menuju ke "Ngi Nih Lauw"
Dengan langkah yang tetap.
Begitu sampai di depan rumah makan "Ngi Nih Lauw".
nona Han langsung masuk ke dalam.
Dia menoleh ke kiri dan kanan.
Kelihatan ada belasan meja tetapi sudah pernuh oleh para tamu.
Dia kira kedua lelaki itu belum pergi, maka diperhatikannya semua tamu yang ada di sana.
Tamu-tamu itu mengawasi nona Han.
tetapi tak lama kemudian mereka sudah asyik kembali dengan makanan dan minuman mereka masing-masing.
Sambil mengerutkan kening Han Pwee Eng mencari meja yang dekat ke jendela.
Setelah duduk dia memanggil seorang pelayan.
Kebetulan 219 lelaki berjenggot itu juga memanggil seorang pelayan, lalu dia berbisik tapi nona Han tidak mendengar apa yang dikatakannya.
Tak lama seorang pelayan mendekati nona Han Pwee Eng sambil berkata ramah.
"Tuan mau pesan apa?"
Tanya si pelayan.
"Satu guci arak wangi, seporsi ayam panggang dan daging sapi panggang."
Kata nona Han.
"Baik. Tuan."
Jawab pelayan itu.
Setelah nona Han memperhatikan semua tamu itu.
kecuali kedua lelaki itu tidak ada yang dia curigai.
Si pelayan mencatat pesanannya, lalu pergi akan menyediakan semua yang dipesan oleh nona Han itu.
Ketika Han Pwee Eng memperhatikan di sekeliling ruangan, dia lihat tergantung beberapa pigura sajak.
Pada saat menunggu pesanannya tiba nona Han coba membaca salah satu syair yang tergantung itu.
Tulisannya sangat indah.
Itu adalah syair tulisan Gouw Bong Goan.
seorang penyair berasal dari zaman Lam Song (Song Selatan).
Syair itu berkisah mengenai kejadian 3000 tahun yang lalu.
Konon ada orang yang bernama Tay Ouw.
dan orang ini membuat sebuah saluran air dari atas gunung.
Ketika itu penduduk setempat sedang mengalami kekeringan.
Munculnya Tay Ouw yang membuat saluran air itu membuat penduduk terhindar dari kekeringan sungguh luar biasa.
Selesai membaca syair itu nona Han berpikir.
"Berbuat baik demi penduduk, pasti penduduk tidak akan melupakan jasanya. Kemampuan orang memang berbedabeda. Sekalipun aku tidak bisa dibandingkan dengan Tay Ouw. tetapi aku harus meniru perbuatannya."
Pikir Han Pwee Eng. Nona Han menghela napas.
"Kini perang telah berkobar, rakyat kecil akan jadi korban. Entah kapan perang itu akan berakhir dan keadaan aman kembali?"
Pikir nona Han.
Pada saat itu datang dua pelayan membawakan makanan dan arak untuknya.
Salah seorang membawakan pesanannya, sedang pelayan yang lain membawakan empat macam masakan istimewa.
Pelayan itu meletakkan semua hidangan itu di atas meja makan nona Han Pwee Eng.
"Kuah Jin-som ini harus diminum saat masih hangat, sedang masakan yang lain harus disantap sambil minum arak agar bertambah lezat Silakan Tuan cicipi dulu. enak tidak masakan itu?"
Kata si pelayan. Pelayan yang satunya terus bicara sehingga pelayan yang satunya lagi akhirnya tertawa.
"Sam-ko (kakak ketiga) kau jangan terus bicara, kau bisa ditertawakannya lho!"
Kata si pelayan. Wajah pelayan itu langsung merah.
"Tetapi aku tidak pesan makanan-makanan itu!"
Kata nona Han menolak. Pelayan itu tertegun ia mengawasi orang tua berjanggut, sedang orang tua itu manggut. seakan dia ingin memberitahu bahwa hidangan itu dia yang memesan untuk Han Pwee Eng.
"Yang memesan makanan ini Lo-sian-seng itu. katanya untuk menghormati Tuan!"
Kata si pelayan.
"Mengapa aku harus menerima kehormatan darinya? Bawa pergi saja!"
Kata nona Han. Pelayan itu terkejut dia goyang-goyangkan tangannya.
"Tidak bisa, semua sudah dibayar lunas. Mana bisa kami membawanya lagi?"
Kata si pelayan.
Kelihatan pelayan itu cemas sekali, dia takut disalahkan oleh orang tua berjenggot yang menyuruhnya mengantarkan masakan itu pada si nona.
Orang tua itu berdiri dari kursinya dan berkata.
"Saudara baru sampai ke tempat ini. mungkin saudara belum tahu masakan istimewa di rumah makan ini. Maka ilu aku lancang memesankan untukmu saudara. Harap kau nikmati saja."
Kata si orang tua berjenggot.
"Kita belum berkenalan, mengapa Lo-sian-seng menjamuku?"
Kata nona Han. Orang tua itu tertawa.
"Kita bertemu di sini. itu artinya kita berjodoh menjadi sahabat. Tidak perlu harus saling kenal dulu. Ibarat aku meminjam sekuntum bunga untuk kupersembahkan kepada Sang Buddha, di tempat ini aku menghormatimu dengan secawan arak!"
Kata orang tua itu. Orang itu sudah tua tetapi memanggil nona Han dengan membahasakan "Saudara", terdengarnya memang agak janggal tapi sikapnya hormat sekali.
"Apa dia belum tahu aku ini seorang nona? Dilihat dan wajahnya, dia tidak seperti orang jahat?"
Pikir nona Han.
Tiba-tiba lelaki tua itu mengangkat cawannya.
Saat itu nona Han mengira dia akan meminum arak itu.
tetapi dia melemparkan cawan arak itu ke arah meja nona Han.
Nona Han baru sadar kiranya orang tua itu ingin menunjukkan kungfu di hadapannya.
Tampak cawan arak itu meluncur dengan cepat dan melayang turun ke atas meja nona Han Pwee Eng.
Sungguh 222 mengagumkan, cawan arak yang penuh berisi arak itu tidak tumpah sedikitpun.
Nona Han terkejut.
"Sungguh hebat gerakan "Pek-pou-coan-ciu" (Menyuguhkan arak dalam seratus langkahjnya itu. aku tidak boleh meremehkannya."
Pikir nona Han. la mengangkat cawan itu sambil berkata.
"Aku tidak berani menerimanya. Yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua dulu. Sebaiknya aku yang lebih dulu menghormati Lo-sian-seng."
Kata nona Han merendah.
Dengan jari telunjuknya nona Han menyentil cawan arak itu.
sehingga cawan arak itu kembali meluncur ke arah lelaki tua berjenggot itu.
Saat itu Han Pwee Eng menggunakan jurus "Tan-ci-sinthong" (Ilmu Telunjuk Sakti), ilmu keluarganya.
Cawan arak itu meluncur dengan cepat ke meja si orang tua.
sedikitpun arak itu tak tumpah.
Melihat meluncurnya cawan arak itu.
orang tua itu langsung tahu.
cawan arak itu meluncur ke arahnya bukan ke atas meja.
Gerakan itu tidak sulit bagi si orang tua berjenggot untuk menyambutnya, tetapi agar araknya tidak tumpah, itu yang sulit dilakukannya.
Jika sampai arak itu tumpah maka dia yang akan dinilai kalah.
"Ah tidak salah lagi, dia pasti nona itu. Pang-cu ingin berkenalan dengannya."
Pikir orang tua itu.
la girang karena tak salah mengenali orang, tetapi dia khawatir tidak mampu menyambut cawan arak itu.
Pada saat yang bersamaan datang seorang yang menyambuti cawan arak itu sambil berkata.
"Hai arak yang harum, tidak ada yang mau meminumnya! Biar aku yang minum saja."
Kata orang itu.
Dia minum arak dari cawan itu hingga kering, setetes pun tidak tumpah atau tersisa.
Kejadian itu mengejutkan kedua belah pihak, terutama nona Han Pwee Eng.
Orang yang tiba-tiba muncul itu tak lain si bocah tanggung yang menabraknya di jalan sempit itu, atau si pemuda tampan yang mahir mengayuh perahu kecil di sungai itu.
Ia masih mengenakan pakaian kotornya, dan debu yang menempel di mukanya pun belum dibersihkan.
Lelaki gundul di samping orang tua berjenggot itu tertegun sejenak, lalu bangkit dari kursinya dengan gusar.
"Siapa kau? Mau apa kau ke mari? Cepat keluar! Ayo cepat keluar!"
Bentak si gundul. Ia dorong pemuda itu. Tapi si pemuda segera mengelak. kebetulan ia tiba di samping nona Han.
"Sungguh keterlaluan, padahal ini rumah makan. Siapapun boleh ke mari. mengapa kau mengusirku?"
Kata bocah itu dengan berani. Para pelayan pun jadi kurang senang melihat bocah itu bertingkah di situ.
"Saudara kecil kau tidak salah, ini rumah makan. Tetapi makan dan minum di tempat ini kau harus membayar!"
Kata si pelayan dengan sinis. Pemuda itu tertawa.
"Hm! Kenapa kau pandang aku begitu rendah? Apakah kau tahu aku tidak punya uang?"
Diaberkata sambil mencakmencak. Tetapi saat ia merogoh sakunya, dia kaget.
"Wah celaka! Benar-benar celaka! Aku lupa membawa uangku!"
Kata dia gugup sekali. Pelayan itu tertawa dingin.
"Jika tidak punya uang harap kau keluar!'* kata si pelayan.
"Sabar, walau aku tidak punya uang siapa tahu ada orang yang baik hati, dia mau membayari aku makan dan minum di sini? Siapa tamu yang bersedia membantuku, ayo katakan?"
Kata dia dengan Jenaka. Semua tamu tertawa terbahak-bahak. Saat itu nona Han lalu bicara dengan sabar.
"Adik kecil ini tamuku. Pelayan tolong kau ambilkan sumpit, cawan dan mangkuk untuknya!"
Kate nona Han dengan lantang pada pelayan rumah makan itu.
"Baik. Tuan."
Kata si pelayan yang segera pergi mengambilkan barang yang diminta oleh nona Han. Setelah itu pelayan sengaja membersihkan kursi yang akan diduduki pemuda itu.
"Silakan duduk. Tuan!"
Kata pelayan itu.
"Hm!"
Si bocah mendengus.
"Kau takut aku akan mengotori kursimu ya? Sekalipun kursi ini kotor tidak masalah, pasti Tuan ini siap menggantinya. Benar kan Tuan kau siap menggantinya?"
"Jangan bergurau. Adik Kecil, silakan duduk!"
Kata nona Han Pwee Eng sambil tersenyum manis.
Sebenarnya lelaki berjanggut dan si gundul ingin bicara dengan nona Han.
tetapi sekarang jadi terhalang oleh si bocah ini.
sehingga mereka berdua jadi agak dikesampingkan.
Si gundul kelihatan gusar dia berniat melampiaskan kedongkolannya pada si bocah itu.
Tetapi dicegah oleh lelaki berjanggut, dia diberi isyarat agar tidak membuat keributan di tempat itu.
Saat si pemuda itu sudah 225 duduk baru lelaki berjanggut itu menghampiri menja nona Han.
"Aku si Tua Bangka memberi hormat kepada Tuan!"
Kata dia dengan sikap sangat hormat sekali. Nona Han segera membalas hormatnya.
"Aku tak berani menerimanya, mohon bertanya siapa nama besar Lo-cian-sian-seng ini. Lalu kenapa Lo-sian-seng memesan makanan begini banyak untukku?"
Pada saat orang tua itu mau menjawab tiba-tiba si bocah itu tertawa.
"Oh. jadi rupanya kau juga dibayari oleh orang lain! Kalau begitu aku tidak perlu membuatmu rugi harus mengeluarkan uang! Hm! Kalau begitu aku tak akan sungkan-sungkan lagi!"
Kata si bocah sambil tertawa.
"Ah itu masalah kecil, jangan diungkit-ungkit lagi."
Kata orang tua berjenggot itu.
"namaku Chu Tay Peng. Sudah lama aku kagum kepada Ayahmu. Sekalipun aku tidak terkenal, jika Ayahmu mendengar namaku, pasti beliau akan tahu siapa aku ini sebenarnya!"
"Ali. kiranya dia ingin bersahabat dengan Ayahku, tetapi sealam ini namanya belum pernah kudengar?"
Pikir nona Han.
"Tetapi dalam beberapa hari ini di perjalanan, boan-pwee (hamba yang rendah) mendapat layanan yang baik. Apakah itu Lo-sian-seng yang melakukannya?"
Kata nona Han langsung bertanya.
"Itu adalah sikap hormat dari perkumpulan kami. di Selatan maupun di Utara telah menyampaikan salam kami pada Ayah Saudara."
Kata Chu Tay Peng.
Sambil menyebut saudara.
Chu Tay Peng tersenyum karena tahu bahwa tamunya atau nona Han itu seorang nona.
Ketika Chu Tay Peng menyebut semua nama ketua dan wakilnya, si bocah kelihatan sudah tidak sabar lagi.
"Sudah selesai belum kalian bicara?"
Kata si bocah.
"Aku tidak akan sungkan-sungkan lagi. kuah Jin-som ini harus diminum hangat-hangat. Jika sudah dingin tidak enak diminum lagi."
Dia langsung meminum kuah jin-som hingga kering. Han Pwee Eng tertawa.
"Siauw-ko. silakan makan! Maaf aku tidak menemanimu makan."
Kata si nona.
"Aku tidak se-ji-se-ji (sungkan-sungkan) lagi, karena kau menyuruhku makan, pasti aku makan semua! Kau tidak mau menerima hadiah ini. berarti kau rugi sendiri...
"Dia langsung makan sambil memuji kelezatan masakan di rumah makan itu.
"Sekalipun aku tidak tahu semua nama teman Ayahku, tetapi setahuku Ayahku sangat angkuh di Dunia Persilatan Terutama terhadap kaum sesat. Nama-nama yang disebutkan tadi. aku kira bukan orang baik-baik semua. Mana mungkin Ayah punya hubungan dengan mereka int?"
Pikir nona Han. Karena curiga nona Han langsung bertanya.
"Apa maksud Lo-sian-seng agar aku menyampaikan pesanmu kepada Ayahku? Apa Chu Lo-sian-seng pernah bertemu dengan Ayahku?"
Kata nona Han.
"Kami tidak berani mengganggu beliau. Asalkan beliau mau kembali ke Tiong-goan (Tiongkok, Red), itu setelah memberi muka kepada kami."
Sahut Chu Tay Peng.
Han Pwee Eng tercengang mendengar perkataan itu.
Rumah mereka memang ada di Lok-yang.
dan memangb ada di Tiong-goan.
Tapi mengapa Chu Tay Peng memakai kata-kata "kembali ke Tiong-goan?"
Chu Tay Peng sadar nona Han tidak mengerti maksud ucapannya itu. lalu ia bicara lagi.
"Asalkan kau katakan saja begitu pada beliau, aku yakin beliau pasti sudah mengerti"
Kata Chu Tay Peng. Mendengar keterangan itu nona Han Pwee Eng keheranan bukan main. Tetapi ia mengiakannya saja. Mendengar jawaban Han Pwee Eng itu Chu Tay Peng melanjutkan.
"Tahun lalu Ayah saudara naik ke gunung Tay-san. aku dan ketua menemuinya. Jika saudara ungkit masalah itu pasti beliau akan ingat pada kami."
Ketika mendengar kata-kata Chu Tay Peng yang terakhir, mata Han Pwee Eng terbelalak, karena ayahnya telah terluka lima tahun yang lalu.
dan akibat lukanya itu kedua kaki ayahnya agak lumpuh.
Selama lima tahun itu ayahnya selalu bersamanya.
Mana mungkin tahun lalu ayahnya bisa pergi ke Tay-san?
Sementara itu si bocah sedang asyik makan dan minum.
"Lama sekali kalian bicara, masih belum selesai ya? Semua makanan hampir habis kumakan."
Katanya. Chu Tay Peng tertawa.
"Aku memang terlalu cerewet. Untuk itu aku minta maaf pada kalian berdua, dan mohon diri."
Kata Chu Tay Peng. Dia memberi hormat lalu kembali ke mejanya. Han Pwee Eng mengerutkan dahinya.
"Orang yang dia temui di Tay-san. pasti bukan Ayahku. Aku kira dia salah mengenali orang?"
Pikir nona Han. Semula nona Han Pwee Eng ingin memberi penjelasan, tapi dia berpikir lagi.
"Ayah sedang terluka terkena pukulan Siu-lo-im-satkang. dan tak ingin diketahui oleh orang lain. Lagi pula jika aku menjelaskannya pada mereka, aku akan membuka rahasia diriku di depan mereka. Padahal mencari tahu tentang orang lain satu pantangan dalam Dunia Persilatan. Jika dia bilang begitu kepadaku, pasti ada suatu rahasia. Jika aku memberi pejelasan pada mereka, pasti mereka akan banyak bertanya kepadaku. Kami kedua pihak akan merasa tidak enak ingin menyembunyikan rahasia mereka."
Pikir nona Han. Saat dia sedang berpikir Chu Tay Peng bersama si gundul telah pergi meninggalkan rumah makan.
"Ah apa peduliku, daripada menambah masalah, lebih baik menguranginya. Lebih baik kunikmati saja santapan lezat ini."
Pikir nona Han. Dia yakin Chu Tay Peng dan kawannya dari suatu perkumpulan yang tidak baik. untuk apa bergaul dengan mereka. Pemuda itu menarik napas panjang.
"Syukur pembicaraan kalian sudah selesai, ayo kau makan."
Kata dia. Bocah itu mulai makan lagi seolah semua makanan itu dia yang memesannya. Han Pwee Eng tersenyum saja.
"Siauw-ko kau datang dari Selatan, aku lihat kau mendayung perahu kecil itu. kau mahir sekali."
Kata nona Han. Pemuda itu tertawa.
"Tajam sekali penglihatanmu, kau masih mengenaliku!"
Katanya sambil tertawa.
"Tapi mengapa kau mengubah identitasmu, aku jadi heran."
Kata nona Han.
"Aku ini anak orang miskin, kami harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi."
Kata si bocah.
"Siang aku menjala ikan, sore harinya aku ke kota untuk minta-minta, aku selalu begitu, apa yang diherankan?"
Kata pemuda itu polos. Semula nona Han mencurigai bocah ini termasuk anggota Chu Tay Peng. sekarang dia tidak curiga lagi. Lalu dia tatap anak itu dalam-dalam.
"Berdasarkan kung-funya saat dia menyambut cawan arak tadi. aku yakin dia bukan anak sembarangan. Dia kurasa berniat mengikutiku. Tetapi aku tidak tahu asal-usulnya?"
Pikir nona Han Pwee Eng. Bocah itu minum arak lagi lalu berkata.
"Cara masak ikan dari sungai Huang-hoo ini sangat berbeda sekali."
Katanya.
"Bisa kau rasakan sendiri lezatnya."
Han Pwee Eng tersenyum.
"Rasanya memang enak. aku rasa memasaknya biasa saja. apa bedanya?"
Kata nona Han. Anak muda itu tertawa.
"Kau benar, tetapi ikan ini tidak dimasak dengan cara biasa saja."
Katanya. Kembali nona Han tersenyum.
"Jika dimasak dengan cara tidak biasa, apakah kau tahu cara masaknya?"
Tanya nona Han.
"Mula-mula masak air sepanci."
Sahut si anak muda.
"Airnya harus air sumur, jangan air sungai. Setelah air mendidih, ikan dimasukkan ke dalam panci, tetapi apinya harus dimatikan. Selang beberapa saat ikan itu diangkat lalu diberi bumbu. Nah, rasanya pasti lezat."
Han Pwee Eng tertawa.
"Ah kiranya kau juga ahli masak, ya?"
Kata si nona.
"Aku sering menangkap ikan di sungai Huang-hoo. ditambah lagi orang miskin sepertiku mana mampu memanggil tukang masak segala. Mereka harus masak sendiri. Karena itu aku jadi bisa masak. Kau jangan meremehkan masakan tauhu ini. karena tauhu ini dimasak dengan kuah ayam dan kuah daging sapi. baru rasanya enak."
Kata si bocah lagi.
"Memang tidak aku sangka masakan tau-hu ini sangat istimewa,"
Kata nona Han.
"Apa kau bisa memasaknya dengan cara seperti itu, ya?"
Tapi si nona berpikir.
"Dia akan ketahuan belangnya, mana mungkin anak orang miskin bisa masak dengan kuali ayam dan kuah daging sapi?"
Pikir si nona.
"Terus-terang di rumahku aku tidak pernah masak tau-hu semacam ini."
Kata si bocah.
"tetapi aku pernah makan di rumah temanku dan aku tahu cara memasaknya."
Setelah minum beberapa cawan arak wajah bocah yang penuh debu itu mulai tampak merah.
Kelihatan lesung pipitnya yang menawan hati.
Saat nona Han melihat wajah bocah itu.
Han Pwee Eng berpikir "Dia pasti pemuda tampan dan selalu merawat diri.
tapi kenapa dia mau dandan seperti bocah miskin?"
Pikir nona Han.
Mereka duduk berhadapan.
Han Pwee Eng bisa melihat bocah itu dengan jelas.
Ia pikir ketampanan bocah itu ada anehnya.
Kok Siauw Hong dan Ci Giok Phang keduanya tampan, mereka bertampang pria sejati.
Tetapi bocah ini malah mirip seorang perempuan.
Di luar kesadarannya Han Pwee Eng memperhatikan terus pemuda itu.
Kebetulan bocah itu pun sedang mengawasinya, tentu saja nona Han jadi terkejut dan wajahnya memerah seketika itu juga.
"Sekalipun dia mirip wanita, tetapi dia tetap seorang pria."
Pikir nona Han.
"Aku memperhatikannya begitu jangan-jangan dia akan salah paham. Tetapi dia lebih muda dariku. dia pantas menjadi adikku."
Entah mengapa Han Pwee Eng merasa cocok dengan bocah itu.
dia lupa sekarang dia sedang mengenakan pakaian pria.
Tapi hatinya jadi agak lega juga.
Tiba-tiba ada tamu masuk, tamu itu mengenakan mantel terbuat dari kulit serigala hitam.
Dia mengenakan topi dari kulit beruang.
Pakaian orang itu sangat indah.
Setelah duduk lelaki itu berteriak memanggil pelayan.
"Pelayan ambilkan aku seguci arak wangi!"
Katanya. Seorang pelayan menghampiri tamu itu sambil bertanya.
"Tuan mau guci yang mana? Guci besar, guci sedang atau guci kecil saja? Guci besar berisi arak seratus kati. yang sedang berisi lima puluh kati dan yang kecil sepuluh kati"
Kata pelayan itu sambil mengawasi tamunya.
"Jangan cerewet."
Kata lelaki itu.
"cepat ambilkan arak yang isinya lima puluh kati. tambah dua ekor ayam panggang dan lima kati daging sapi!"
Pelayan itu meleletkan lidahnya dan berkata.
"Tuan mau menjamu tamu. berapa pasang sumpit yang harus kami sediakan?"
Kata si pelayan.
"Aku hanya sendirian."
Kata si tamu itu.
"Mengapa kau takut aku tidak bisa menghabiskan makanan itu? Sudah jangan banyak tanya sediakan pesananku itu segera!"
Pelayan itu mengerutkan keningnya.
"Aku khawatir kau tidak punya uang. bukan takut kau tidak bisa menghabiskan makanan itu."
Pikir si pelayan.
Jika dilihat pakaiannya pasti orang itu punya uang.
maka pelayan itu bergegas menyiapkan pesanannya.
Lelaki itu duduk di bekas meja tempat duduk Chu Tay Peng dan berhadapan dengan meja nona Han.
Ketika nona Han memperhatikannya, di tengah-tengah sepasang alis orang itu terlihat kehijauan.
Jika tidak diperhatikan memang tidak kelihatan jelas.
Ayahnya pernah bilang, jika ada orang pada bagian alis matanya kelihatan berwarna hitam, ungu atau kehijauan, mungkin ia terkena racun lawan, atau dia berlatih ilmu racun.
Tetapi suara orang itu lantang, jadi jelas dia tidak terkena racun golongan sesat.
Tak lama pelayan itu telah menyajikan pesanan lelaki itu dan meletakkannya di atas mejanya.
"Aku tidak perlu cawan! Kau ganti saja dengan sebuah mangkuk besar!"
Kata orang itu.
"Baik. Tuan."
Kata si pelayan. Pelayan itu segera menyediakan mangkuk itu. Lelaki itu menuang arak ke mangkuk, lalu meneguknya semangkuk demi semangkuk.
"Hm! Arak yang enak! Arak enak!"
Katanya. Dia mulai menyantap ayam panggang tanpa menggunakan sumpit lagi. Ketika Han Pwee Eng menyaksikan orang itu makan, dia jadi berpikir.
"Cara dia makan seperti harimau kelaparan, dia telah menyia-nyiakan kelezatan arak itu..."
Pikir nona Han. Saat itu anak muda yang duduk bersamanya tertawa. Lelaki yang sedang makan ayam panggang itu melotot ke arah si anak muda.
"Hai bocah dekil apa yang sedang kau tertawakan?"
Kata orang itu lantang sekali.
"Aku mau tertawa, tak ada urusannya denganmu."
Sahut si anak muda.
Lelaki itu menggebrak meja.
kelihatan dia gusar sekali.
Tetapi bersamaan dengan itu masuk beberapa orang tamu ke dalam rumah makan itu.
Orang yang berjalan paling depan ialah Chu Tay Peng dan si lelaki gundul, diikuti oleh empat orang di belakangnya.
Salah seorang pada keningnya terdapat benjolan dan giginya tonggos, sehingga wajahnya kelihatan jadi aneh sekali.
Han Pwee Eng tertegun menyaksikan kedatangan mereka itu.
Dia tak tahu apa yang akan terjadi kemudian.
"Kenapa mereka kembali lagi dengan membawa kawan yang lain?"
Pikir Han Pwee Eng. Chu Tay Peng mendatangi meja yang didudukinya tadi. Ketika Chu Tay Peng melihat lelaki itu. dia jadi kaget tetapi tidak berani banyak bicara.
"Orang ini entah dari mana datangnya?"
Pikir Chu Tay Peng sedikit heran dan ngeri.
Chu Tay Peng sadar orang itu pasti berilmu tinggi, hanya dia tidak tahu orang itu belajar ilmu apa karena wajahnya agak aneh sekali.
Seorang pelayan menghampiri mereka sambil membungkukkan badannya hormat sekali.
"Chu Toa-ya, Lay Toa-ya. kalian datang lagi? Tadi sebelum Toa-ya selesai minum, kalian sudah pergi semua, hingga makanan pesanan Toa-ya belum sempat kami sajikan."
Kata si pelayan ramah sekali. Sesudah itu si pelayan pun memberi hormat pada temanteman Chu Tay Peng. Kepada yang bergigi tonggos si pelayan langsung berkata.
"Ang Lo-ya-cu. angin apa yang membawamu ke mari? Kalian mau pesan makanan apa?"
Kata si pelayan. Chu Tay Peng mendorong pelayan itu agar menepi, kemudian mereka mendatangi meja Han Pwee Eng.
"Ketika beberapa kawanku mendengar Tuan-muda ada di sini. mereka datang ke mari untuk memberi hormat kepadamu."
Kata Chu Tay Peng.
"Maaf. aku tak berani menerima penghargaan kalian ini."
Kata nona Han Orang yang giginya tonggos memberi hormat sambil membungkuk.
"Kiong Siauw Kong-cu. sudah lama kami kagum pada nama besar ayahmu. Kebetulan Kong-cu datang ke daerah kami. tentu kami harus memberi hormat padamu, aku ini wakil ketua Hay-sah-pang (Perkumpulan Pasir Laut), namaku Ang Kin. Ini kartu namaku."
Kata si tonggos.
Chu Tay Peng segera menarik sang kawan, dia lihat Han Pwee Eng terus mengawasinya karena heran.
Rupanya 235 huruf Kiong dan Kong suaranya mirip dia tidak tahu apa yang dikatakan si tonggos itu.
marga atau bukan?
Jika disusun dan diucapkan Kiong Kong-cu.
tetapi kenapa ditambah kata Siauw (kecil) lagi?
Tetapi ditambah atau tidak, itu tidak penting.
Dia heran kenapa Chu Tay Peng menarik Ang Kin dan kelihatan wajahnya sangat tegang.
Barangkali mereka mengira Han Pwee Eng bermarga Kiong.
Kiranya orang yang bermarga Kiong itu seorang nona.
Nona Kiong sedang mengembara di Dunia Persilatan dan menyamar sebagai lelaki.
Sebenarnya tadi Ang Kin ingin memanggil nona Han dengan panggilan Nona Kiong, ia segera sadar setelah Chu Tay Peng menariknya.
Nona Han tahu siapa Ang Kin yang tadi memperkenalkan diri, sekalipun dia tak tahu soal nona Kiong itu.
Ang Kin disebut Tok-kak-liong (Naga Bertanduk Satu), karena di keningnya terdapat sebuah benjolan.
Dia juga pandai ilmu Tok-sah-clang (Pukulan Pasir Beracun).
Sekalipun ia hanya wakil ketua Hai-sah-pang.
namun kepandaiannya di atas ketua Hai-sah-pang.
Setelah semua memperkenalkan diri.
baru Han Pwee Eng tahu si gundul itu bernama Lay Hui.
yaitu Hiang-cu dari Ceng-liong-pang (Perkumpulan Naga Hijau).
Pemuda yang duduk bersama Han Pwee Eng kelihatan sudah tak sabaran.
"Aaah! Kalian semua mau apa sih? Kalian datang hanya mengganggu kami saja! Aku jadi tidak enak makan dan minum. Sekarang kartu nama kalian sudah diterima, silakan kalian pergi!"
Kata si pemuda.
Mereka kawanan perampok yang kejam, ketika ditegur begitu oleh seorang bocah dekil, tentu saja membuat mereka gusar sekali.
Sayang pemuda dekil itu duduk bersama Han Pwee Eng sehingga terpaksa mereka memberi muka dan tidak mau ribut dengannya.
'Terima kasih Kong-cu bersedia menerima kartu nama kami.
sekarang kami mohon diri."
Kata Lay Hui si kepala gundul.
Saat mengundurkan diri mereka sempat melotot ke arah si pemuda dekil, namun si pemuda acuh tak acuh saja.
Ternyata mereka tak pergi dari rumah makan itu, malah menghampiri sebuah meja besar dan duduk di sana.
Dari sana mereka memperhatikan gerak-gerik Han Pwee Eng dan si pemuda dekil itu.
Sekarang keadaan di situ jadi luar biasa.
Saat itu masuklah seorang pemuda berpakaian kain kasar berwarna biru.
di punggungnya tergendol sebuah buntalan.
Dari tampangnya bisa diduga pemuda itu pasti anak seorang petani.
Melihat kedatangan pemuda berbaju biru itu.
seorang pelayan memberi isyarat agar si pemuda jangan banyak bicara.
Lalu pelayan itu menarik sebuah kursi dan menyilakannya duduk.
Sesudah itu pelayan itu menyajikan seteko air teh wangi dan meninggalkan pemuda itu begitu saja.
Di mata pelayan rumah makan itu, seorang pemuda petani jika masuk ke rumah makan, paling-paling minta teh dan sedikit makanan kecil, sehingga dia tidak perlu dilayani segala.
Sedangkan saat itu mereka memang sedang sibuk sekali melayani para tamu.
Pemuda berbaju biru itu berteriak-teriak.
"Hai ada apa ini? Kok kalian tinggalkan aku, aku mau minum arak!"
Kata pemuda baju biru itu. Mendengar teriakan pemuda itu Lay Hui langsung membentak.
"Jangan berteriak-teriak! Kami sedang ada urusan di sini! Jika kau berteriak lagi akan aku tendang kau. mengerti?"
Kata Lay Hui garang sekali. Pemuda yang duduk bersama Han Pwee Eng bangun.
"Hai kalian jangan menghina orang! Biar aku yang membayari Toa-ko ini minum arak! Pelayan segera suguhkan seguci arak untuknya dan seekor ayam rebus!"
Kata pemuda itu dengan lantang. Si pelayan tertegun. Dia awasi Lay Hui lalu mengawasi ke arah pemuda itu. Pelayan itu kelihatan ragu-ragu dan tidak berani mengambil keputusan sendiri.
"Hm! Kau takut aku tidak membayar semua makanan itu."
Kata si pemuda.
"baik aku bayar duluan!"
Pemuda di dekat nona Han itu lalu mengeluarkan uang perak yang berkilauan.
"Uang ini pasti cukup, lebihnya untukmu!"
Kata dia sambil melemparkan uang itu ke atas meja. Tak lama terdengar suara keras.
"Ting, clep!"
Ketika si pelayan akan mengambil uang perak itu.
dia kaget bukan main.
Ternyata uang itu tidak bisa diambil, saat dia cabut dari meja uang itu seperti terpaku di meja makan.
Lay Hui tertawa dingin, ia dekati meja itu lalu menggebraknya.
Seketika itu juga uang itu melompat ke atas sedang ujung meja yang dia tepuk hancur.
Si pemuda yang berada dekat Han Pwee Eng tertawa.
"Hm! Cuma mengandalkan kepandaian begitu saja kau mau pamer di depan umum."
Kata si pemuda jahil itu.
Jika orang itu berilmu tinggi, ketika menepuk meja dia tidak akan merusak meja itu.
tetapi Lay Hui memang berhasil mengambil uang yang tertanam di meja itu.
tetapi tepukannya belum sempurna dan jadi bahan ejekan pemuda itu.
Chu Tay Peng mengerutkan dahinya.
"Lay Ji-tee. kau jangan cari masalah. Biarkan teman Kiong Kong-cu yang membayari pemuda itu!"
Bisik Chu Tay Peng pada kawannya.
Lay Hui dengan muka merah kembali ke tempat duduknya.
Sedang si pemuda berbaju biru bangun dan mengucapkan terima kasih.
-0o-^DewiKZ^~^aaa^-o0 Bab Pemuda yang duduk bersama nona Han itu tertawa.
Kemudian mengawasi ke arah pemuda berbaju biru atau si pemuda desa yang lugu itu.
"Karena kita berpakaian sederhana dan kotor maka mereka menghina kita,"
Kata si pemuda yang duduk dekat nona Han. Dia mengambil cawan araknya dan meneguk isinya.
"Orang telah membayariku, sehingga aku tak enak hati. maka itu aku pun ingin membayarimu minum arak. Bagaimana? Kalian tidak mau segera pergi, apa kalian juga ingin kubayari makan? Tapi karena kalian punya uang, ya bayar saja sendiri!"
"Siauw-ko jangan bergurau. Kami sedang ada urusan penting dan ingin mohon bantuan dari kawanmu itu."
Kata Chu Tay Peng dengan sabar.
"Tadi kalian bilang tidak punya urusan apa-apa. kenapa mendadak sekarang kau bilang ada urusan penting ingin minta bantuanku? Apa maksudmu?"
Kata Han Pwee Eng.
"Ini urusan Ang Pang-cu dan aku baru tahu tadi. Ang Pangcu, lebih baik kau saja yang mengatakannya sendiri."
Kata Chu Tay Peng. Ang Kin jengkel dan kesal hatinya.
"Jelas kau sudah tahu masalahnya, tetapi masih bertanya!"
Pikir Ang Kin.
Namun kekesalannya tidak dia keluarkan, karena dia ingin minta bantuan.
Rupanya dia kira nona Han ini nona she Kiong.
Ternyata ayah nona Kiong itu iblis yang sangat dia takuti sekali.
Sekalipun dia sangat jengkel tetapi tetap bicara dengan sopan.
"Mohon bantuan Kiong.. Kiong Kong-cu..."
Dia bicara dengan agak gugup sedikit.
"Apa maksudmu?"
Tanya Han Pwee Eng tidak mengerti.
"Entah salah apa pada Kong-cu hingga dua Hiang-cu perkumpulan kami itu dihukum. kami mohon agar nyawa mereka Kong-cu ampuni."
Kata Ang Kin. Han Pwee Eng tertegun.
"Coba kau ceritakan masalahnya dari awal. Aku sama sekali tidak kenal dengan orang perkumpulan kalian, mana mungkin aku mencelakakan mereka?"
Kata nona Han. Ang Kin menarik napas lega.
"Terima kasih atas kebaikan Kong-cu mau mengampuni nyawa mereka. Kalau begitu kami harap Kong-cu datang ke tempat kami untuk menyelamatkan mereka! Kasihan 240 sekarang mereka sedang sekarat, mungkin nyawanya tidak akan bisa lewat malam ini?"
Kata Ang Kin. Han Pwee Eng terkejut bukan main.
"Apa masalahnya? Aku bukan seorang tabib, mana bisa aku bisa aku mengobati mereka?"
Kata nona Han gugup.
"Kau jangan pura-pura."
Kata Ang Kin kesal.
Dia angkat tangannya hendak menggebrak meja tanpa memikirkan akibatnya.
Tetapi Chu Tay Peng segera menahannya.
Sedang pemuda yang duduk bersama nona Han mengulurkan tangannya yang memegang sumpit sambil berkata.
"Apa yang hendak kau lakukan, aku belum selesai makan kau malah mau membalikkan mejaku?"
Kata dia.
Ujung sumpitnya tepat mengalah ke jalan darah Lauwkiong-hiat di telapak tangan Ang Kin.
Untung Chu Tay Peng cepat bergerak, jika tidak Ang Kin akan celaka dan habislah kung-fu Ang Kin saat itu juga.
Bukan main kagetnya Ang Kin, buru-buru dia memberi hormat pada Han Pwee Eng.
"Siauw-jin (Aku yang rendah) dan ceroboh mohon ampun."
Kata Ang Kin dengan gugup.
"Coba kau jelaskan, aku sungguh tidak mengerti ada masalah apa sebenarnya?"
Kata nona Han bingung. Chu Tay Peng tidak ingin Ang Kin membuat kesalahan lagi. maka dialah yang maju menghadapi nona Han.
"Ang Toa-ko. biarlah aku yang menjelaskannya!"
Kata Chu Tay Peng pada Ang Kin sambil mengawasi nona Han sejenak. Lalu dia melanjutkan ucapannya.
"Ceritanya begini, semalam kedua Hiang-cu Hai-sah-pang pulang 241 dalam keadaan terluka. Berdasarkan lukanya itu bisa dipastikan Kong-cu lah yang menghukum mereka berdua. Padahal Ang Pang-cu tidak tahu bagaimana mereka melakukan kesalahan kepada Kong-cu. Ypi Ang Pang-cu tetap datang ke mari untuk meminta maaf kepada Kong-cu dan mohon kong-cu bersedia menyelamatkan nyawa anak buahnya."
Han Pwee Eng semakin bingung.
"Ang Pang-cu aku rasa kalian telah salah mengenali orang!"
Kata nona Han. Mendengar ucapan itu baik Chu Tay Peng maupun Ang Kin kaget. Mata mereka terbelalak.
"Sekalipun mata mereka kurang awas. namun kami kira mereka tidak akan salah mengenali orang!"
Kata Ang Kin.
"Ang Pang-cu. apakah kau melihat orang yang melukai kedua Hiang-cumu itu?"
Tanya nona Han.
"Tidak!"
Jawab Ang Kin.
"Saat kedua Hiang-cumu itu dilukai, apa ada orang lain di sana?"
Tanya nona Han lagi.
"Mereka berdua sedang meronda di tepi sungai, tiba-tiba mereka diserang secara gelap. Sekarang mereka pingsan dan belum sadarkan diri."
Kata Ang Kin.
"Lalu bagaimana kau bisa memastikan bahwa mereka terluka olehku?"
Kata nona Han.
"Mereka terluka. sekujur tubuhnya mengeluarkan darah tidak hentinya, malah keringatnya pun bercampur dengan darah."
Kata Ang Kin.
"Sepengetahuanku di kalangan Kangouw selain ayahmu siapa lagi yang mahir ilmu Cit-satciang (Pukulan Tujuh Maut)?"
Ang Kin bicara begitu dan dia menuduh nona Han menggunakan pukulan itu untuk melukai anak buahnya.
"Aku sendiri baru kali ini mendengar nama pukulan itu."
Kata nona Han. Bukan main marahnya Ang Kin. Saat dia akan menyerang nona Han. masukilah beberapa orang ke dalam rumah makan itu. Salah seorang dari mereka langsung berteriak.
"Lay Hiang-cu celaka! Di sekujur tubuh kedua Hiang-cu itu terus mengeluarkan darah!"
Kata orang itu.
"Cia Toa-ko tiga orang Hiang-cu Ceng-liong-pang juga diserang secara gelap, mereka dalam bahaya!"
Kata salah seorang yang lain.
Ternyata luka yang diderita oleh orang Ceng-liong-pang sama dengan luka anak buah Ang Kin.
Sekarang bukan hanya Ang Kin yang cemasi, tetapi Lay Hui pun gusar bukan main.
Mereka langsung mendekati nona Han.
"Hai. kalian mau apa? Mau berkelahi, ya?"
Bentak anak muda di samping nona Han itu.
"Tidak ada urusan denganmu! Tutup mulutmu itu!"
Kata Lay Hui gusar bukan main.
"Kiong Kong-cu-masalah ini menyangkut nyawa orang, kau jangan terus mungkir! Bersedia atau tidak kau harus menyelamatkan mereka! Jika saudara-saudara kami selamat, masalah ini akan kami sudahi sampai di sini saja. Sebaliknya jika kau tetap menolak, maafkan kami jika kami tidak memandang lagi muka ayahmu. Kami terpaksa akan turun tangan terhadapmu!"
Kata Ang Kin geram sekali. Anak muda di samping nona Han tertawa.
"Rupanya pertarungan tidak bisa dihindarkan lagi!"
Kata anak muda itu.
"Benar! Jika kau mau membantu dia juga boleh."
Kata Lay Hui geram sekali. Bocah itu menggelengkan kepala, dia teguk arak dari cawannya.
"Aku sedang minum arak. untuk apa aku bertarung denganmu? Malah aku nasihatkan kalian, lebih baik jangan bertarung!"
Kata si bocah.
"Kau kira aku takut kepadamu?"
Kata Lay Hui. Chu Tay Peng mencoba menenangkan keadaan.
"Harap jangan emosi dulu,"
Kata ChuTay Peng. Kamipun tidak ingin berkelahi, saudara kecil. Tolong kau bujuk kawanmu itu agar dia mau menolongi orang-orang kami!"
Si bocah tertawa.
"Dia tidak bisa ilmu Cit-sat-ciang. Mungkin mata kalian sudah lamur semua! Padahal luka orang-orangmu itu bukan karena pukulan Cit-sat-ciang!"
Kata si bocah bengal itu. Ucapan bocah itu menarik perhatian mereka, maka itu mereka langsung mengawasi bocah itu dengan tajam.
"Sebenarnya kau siapa? Bagaimana kau bisa tahu itu bukan pukulan Cit-sat-ciang?"
Bentak Ang Kin.
"Aku pegawai seorang pedagang mainan anak-anak di kota ini, memang kenapa?"
Kata si bocah dengan berani. Chu Tay Peng mendengus.
"Jika kau hanya pedagang mainan anak-anak. bagaimana kau bisa tahu luka orang kami bukan karena pukulan Cit-satciang?"
Kata Chu Tay Peng. Bocah itu tertawa dingin.
"Kalian jangan pandang rendah padaku, sekalipun aku hanya seorang bujang tukang mainan anak-anak. tetapi pengetahuanku belum tentu di bawah kalian semua. Pukulan Cit-sat-ciang itu tidak aneh. tidak perlu dibesar-besarkan!"
Kata si bocah sambil tersenyum. Chu Tay Peng kaget.
"Ah barangkali kami salah mengenali orang? Janganjangan bujang inilah puteri Kiong To-cu (Majikan Pulau)?"
Pikir Chu Tay Peng.
Chu Tay Peng memperhatikan bocah itu dengan penuh perhatian.
Memang dia mirip dengan seorang nona yang menyamar menjadi pria.
Ang Kin kasar dan tak sabaran dia membentak dengan keras.
"Baik. kalau kau bilang pukulan Cit-sat-ciang itu tidak aneh. tentu kau juga bisa menggunakannya. Aku mohon petunjuk darimu!"
Kata Ang Kin.
"Sekalipun aku mahir ilmu apa pun. tapi kau tidak perlu tahu."
Kata si bocah.
"Jika kau ingin berkelahi aku akan melayanimu! Hm! Untuk menghadapi gentong nasi sepertimu. aku tidak perlu menggunakan pukulan Cit-satciang!"
Bukan main marahnya Ang Kin saat itu. Ketika dia mau maju. Chu Tay Peng kembali menghalanginya.
"Siauw-ko. apa kau dari Hek-hong-to (Pulau Angin Hitam) di Tong-hai (Laut Timur)?"
Kata Chu Tay Peng.
"Padahal dari tadi aku sudah bilang, aku ini bujang penjual mainan anak-anak. Sedangkan nama Hek-hong-to aku baru mendengarnya sekarang?"
Kata bocah itu. Chu Tay Peng terperangah dia tatap bocah itu.
"Tadi kau bilang orangku terluka bukan oleh pukulan Citsat-ciang. lalu luka oleh pukulan apa itu? Tolong kau beri tahu kami,"
Kata Chu Tay Peng.
"Mana aku tahu?"
Kata si bocah seperti meledek.
"Tapi tadi kau bilang..."
Sebelum Chu Tay Peng selesai bicara bocah itu sudah langsung memotong.
"Tadi aku bilang apa? Aku hanya bilang dia bukan terluka oleh pukulan Cit-sat-ciang. selain itu aku tidak tahu. Ah. aku masih mau minum, apa kau masih mau bicara terus?"
Kata si bocah sinis sekali.
"Chu Toa-ko dia bicara ngawur! Jangan percaya kepadanya."
Kata Ang Kin. Saat itu lelaki bermantel kulit serigala hitam yang sejak tadi diam saja. mendadak bangun dan berkata.
"Dia tidak salah."
Kata orang itu.
"orang-orangmu itu memang tidak terluka oleh pukulan Cit-sat-ciang!"
Kata orang bermantel kulit serigala itu. Bocah itu tertawa dingin.
"Bagaimana? Dasar tidak berpengetahuan! Masih bagus ada orang yang pandai. Apa kalian masih mau bilang aku ngawur?"
Katanya Dia kembali minum ajak. dan tidak ingin ikut campur lagi. Kini orang-orang sudah beralih ke orang bermantel kulit serigala itu. Chu Tay Peng memberi hormat pada orang itu.
"Kalau begitu mereka terluka oleh pukulan apa. Tuan? Mohon petunjuk dari Tuan."
Kata Chu Tay Peng.
"Mereka terluka karena pukulan "Hua-hiat-to" (Golok Pemusnah Darah)."
Sahut lelaki bermantel itu. Bukan main kagetnya Chu Tay Peng mendengar keterangan itu. Sedang yang tidak tahu apa itu "Hua-hiatto"
Hanya tercengang saja.
"Kedua Hiang-cu kami bukan terluka oleh golok!"
Kata Ang Kin "Hua-hiat-to salah satu dari dua macam ilmu racun keluarga Suang."
Kata Chu Tay Peng menjelaskan.
"Dua puluh tahun lalu majikan Suang Kee-po (Puri Keluarga Suang) adalah Kong-sun Khie. seorang tokoh tangguh dari aliran sesat nomor satu di kalangan Kang-ouw. Dia sangat mengandalkan dua macam pukulan beracun Hua-hiat-to dan Hua-kut-ciang (Pukulan Penghancur Tulang). Bagi yang terkena pukulannya itu dalam tujuh hari dia akan binasa. Benarkah yang aku katakan itu?"
Kong-sun Khie telah meninggal duapuluh tahun yang lalu.
Sekalipun orang yang ada di tempat itu tidak sederajat untuk bergaul dengan Kong-sun Khie, namun namanya pasti pernah mereka dengar.
Semua jadi cemas bukan main.
"Apa yang kau katakan benar sekali! Namun yang terkena pukulan itu belum tentu binasa dalam tujuh hari!"
Kata orang bermatel itu.
"Itu semuanya tergantung dari kemahiran orang yang menggunakan ilmu pukulan itu. Bisa sebulan dan malah bisa hanya dalam tiga hari orang itu binasa. Sebaliknya yang terluka karena pukulan Cit-satciang darah yang keluar dari mata. hidung, mulut dan telinganya. Sangat lain dengan yang terkena pukulan Huahiat-to. Darah yang akan keluar justru lewat lubang keringat. Jadi saudara kecil ini memang benar sekali pendapatnya!"
"Lalu bagaimana dengan Hiang-cu kami. sampai kapan dia bisa bertahan?"
Kata Ang Kin.
"Mungkin tidak sampai tengah hari besok."
Kata orang itu setelah minum arak. Ang Kin berkeringat dingin, saat dia mau bicara lagi. mendadak Chu Tay Peng mendahuluinya bicara.
"Aku belum mengerti, aku dengar sesudah Kong-sun Khie meninggal dunia ilmu itu langsung hilang. Tapi kenapa sekarang masih ada orang yang mahir menggunakannya?"
"Dari mana kau tahu ilmu itu sudah lenyap?"
Tanya lelaki bermantel itu. Wajah Chu Tay Peng berubah merah.
"Sekalipun pengetahuanku ini rendah, aku pernah mendengar cerita begini. Karena terlalu banyak berlatih ilmu pukulan itu. Kong-sun Khie meninggal dunia. Namun kapan dan di mana matinya tidak ada orang yang tahu. Selama duapuluh tahun terakhir tidak pernah terdengar ilmu itu dipergunakan orang, karena orang takut mempelajarinya. Mengenai Pit-kip (Kitab Ilmu Silat) itu pun, tidak ada orang yang tahu apa masih ada atau sudah tidak ada lagi?"
Kata Chu Tay Peng. Lelaki bermantel itu menggelengkan kepalanya.
"Itu semua tidak benar! Kau hanya tahu sebahagian saja dan tidak tahu seluruhnya. Ternyata kedua ilmu pukulan itu ada ahli warisnya. Ditambah lagi Kong-sun Khie sudah menguasai ilmu itu, tidak masuk akal kalau dia mati karena latihan."
Kata orang bermantel itu.
"Dari mana kau bisa mengetahui soal itu?"
Tanya Ang Kin yang jadi sangat penasaran.
"Akulah orang yang melukai anak buahmu juga aku!"
Kata orang itu sambil tertawa. Mendengar ucapan orang itu Ang Kin gusar sekali. Dia akan maju menyerang orang itu. tetapi dihalangi oleh Chu Tay Peng.
"Ang Toa-ko. jangan!"
Kata Chu Tay Peng.
"Dia telah melukai orang kita. apakah kita harus tinggal diam?"
Kata Ang Kin. Ang Kin yang menguasai ilmu pukulan Tok-sah-ciang langsung menyerang orang itu dengan jurus mematikan.
"Biar aku akan serang dia. setelah terluka. baru akan kudesak agar dia mau mengobati orang-orangku yang terluka itu!"
Pikir Ang Kin. Jarak mereka berdua sangat dekat. Ditambah lagi serangan Ang Kin sangat cepat, hingga Chu Tay Peng tidak bisa menghalanginya lagi. Orang yang diserang itu malah tertawa.
"Bagus, aku memang ingin mencoba pukulan Tok-sahciangmu itu. Ang Pang-cu!"
Kata orang bermantel itu. Tiba-tiba terdengar suara keras.
"Bum!"
Ang Kin terpental lalu jatuh terguling-guling di lantai.
Gerakan lelaki berrmatel kulit serigala itu sangat cepat.
Tak seorang pun melihat jurusnya itu.
Lay Hui sahabat erat Ang Kin.
melihat kawannya jatuh dia langsung maju dan membentak dengan nyaring.
"Mana boleh kami jago-jago Ho-pak dan Ho-lam menerima penghinaanmu!"
Kata Lay Hui. Beberapa kawan Lay Hui langsung maj u akan mengepung orang bermatel itu.
"Jika mau berkelahi, di sini bukan tempatnya."
Kata si gundul.
"Ini rumah makan mari kita minum dulu!"
Dia minum arak sebanyak-banyaknya dan tiba-tiba dia menyemburkan arak di mulutnya itu ke arah orang bemantel itu.
Orang yang berada di dekatnya kaget bukan main.
Asap putih mengepul sehingga benda-benda jadi tidak kelihatan.
Orang-orang itu takut terkena serangan gelap, maka mereka pun langsung menyingkir.
Bocah yang duduk dekat nona Han tertawa.
"Ih panasnya! Panas!"
Kata dia.
Dia mengeluarkan sebuah kipas dan dia mengipas uap arak yang memercik ke arah mereka berdua.
Padahal saat itu Han Pwee Eng sudah akan berkelit agar tidak terkena percikan arak itu.
Sekarang dia tak perlu lagi berkelit, karena serangan arak itu sudah ditangkis oleh bocah itu.
Nona Han tertawa.
"Kau benar! Perkelahian itu pasti hebat, kita akan menonton keramaian."
Kata si nona.
Saat si gundul menyemburkan arak dari perutnya, orang segera menyingkir hingga saling bertabrakan.
Sedang pemuda berbaju biru yang lugu itu diam saja tidak bergerak, seolah buta dan tuli saja.
Ketika ada orang yang akan menubruknya, dia hanya menggeserkan kakinya sedikit.
Sedang orang itu langsung lewat di sampingnya dan hampir menabrak kursi yang dsedang idudukinya.
Kejadian itu terlihat jelas oleh Hati Pwee Eng.
hingga dia kagum sekali.
"Dia menggunakan ilmu Jian-ih-cap-pwee-sek (Delapan belas langkah). Aah! Ternyata dia lihay sekali!"
Pikir nona Han.
"Tunggu jangan berkelahi dulu! Aku ingin bicara."
Kata Chu Tay Peng.
Saat itu sudah ada orang yang membangunkan Ang Kin dari lantai.
Wajahnya sudah berubah berwarna kelabu, pakaiannya pun bernoda darah.
Dia mengeluarkan keringat darah, sedang benjolan di kening Ang Kin pun terluka patah.
"Hai TandukTok-kak-liongmu telah tercabut!"
Kata orang bermantel sambil tertawa. Chu Tay Peng mengibaskan tangannya, sementara orangnya sudah mengepung orang bermatel itu.
"Kau sahabat dari aliran mana? Kami tidak bermusuhan denganmu dan tidak punya dendam apa-apa. Aku ingin bertanya mengapa kau turun tangan jahat pada kami?"
Kata Chu Tay Peng. Lelaki bermantel itu tertawa.
"Bukankah tadi kalian tidak percaya, bahwa aku mahir ilmu Hua-hiat-to? Apa boleh buat terpaksa aku harus menunjukkannya pada kalian. Sekarang kalian percaya, kan?"
Kata dia sambil tertawa sinis. Ang Kin mandi darah napasnya pun mulai lemah.
"Celaka. Ang Pang-cu pasti tak akan bisa hidup lagi!"
Kata anak buahnya.
"Benar! Karena Ang Pang-cu berlatih ilmu racun, jika racun ditambah racun maka lukanya semakin parah dibanding anak buahnya. Jika orangnya bisa hidup sampai 251 besok, dia hanya bisa bertahan sejam lagi."
Kata orang bermantel itu. Chu Tay Peng sadar kepandaian orang itu sangat tinggi, terpaksa dia harus sabar dan memberi honnat.
"Aku punya mata tetapi tak bisa melihat gunung Tay-san. yang tinggi, maafkan aku. Kau tidak bermusuhan dengan Ang Pang-cu, jadi aku mohon kau mengampuninya."
Kata Chu Tay Peng. Lelaki itu tertawa.
"Jika kalian mau minta maaf dan diampuni, aku tidak keberatan. Aku pun mau memberi muka pada kalian. Sekarang akan kutolong dulu Ang Pang-cu sesudah itu baru masalah lain kita bicarakan."
Kata orang bermantel itu dengan angkuh.
Dia tarik Ang Kin ke hadapannya, entah dengan gerakan bagaimana, dia angkat dagu Ang Kin.
Setelah mulut Ang Kin terbuka, dia masukkan arak ke mulutnya dari guci arak sisa dia minum.
Kelihatan Ang Kin mulai sadar.
Mereka yang menyaksikan kejadian itu kaget, mereka tidak tahu apa orang itu sedang menolong Ang Kin atau malah sebaliknya sedang menyiksanya.
Tak lama arak di guci itu telah habis, perut Ang K in sudah tampak gendut.
Sesudah itu baru orang itu mengurut beberapa jalan darah Ang Kin.
sedang keringat yang keluar dari tubuh Ang Kin pun mulai berkurang.
Tak lama terdengar suara dan muntahlah Ang Kin.
Bau amis menyengat hidung semua orang yang ada di rumah makan itu.
Pada saat bersamaan Ang Kin pun berteriak.
"Aduh! Sakit sekali!"
Tak lama Ang Kin pun sadar dari pingsannya. Sedang bocah yang duduk bersama nona Han Pwee Eng itu bersungut-sungut.
"Sungguh keterlaluan. Rumah makan yang tadi bersih, sekarang jadi bau amis!"
Kata dia.
"Ah arak ini pun jadi tak nikmat lagi!"
"Siauw-ko, jangan usil!"
Bisik Han Pwee Eng.
Rupanya Han Pwee Eng sedang memperhatikan lelaki bermantel bulu serigala itu.
Dia juga tahu bahwa kepandaian lelaki itu berada di atasnya.
Untung Chu Tay Peng dan yang lainnya sedang memperhatikan keadaan Ang Kin.
Ketika si bocah usil sedang bicara tak seorang pun yang mendengarnya.
Sebaliknya lelaki bermantel bulu serigala itu yang mendeklik ke arah si bocah jahil ini.
Saat itu para pelayan dengan sigap membersihkan tempat itu dari muntahan Ang Kin dan lainnya.
Tamutamu orang biasa pun sudah pergi semuanya.
Sekarang hingga tinggal Chu Tay Peng dan kawan-kawannya.
Han Pwee Eng dan si bocah jahil serta si pemuda baju biru yang lugu itu.
Tiba-tiba lelaki bermantel itu bicara.
"Beres! Racun yang ada di dalam tubuh Ang Pang-cu sudah keluar semuanya!"
Kata si lelaki bermantel itu.
"Nyawanya sudah aku selamatkan, sekarang mari kita duduk untuk bercakap-cakap."
Semua duduk dengan rapi.
Ang Kin yang masih dalam kondisi lemah pun ikut duduk bersama-sama.
Sekalipun Ang Kin jengkel dan dongkol tetapi dia tidak berani bertingkah lagi.
Setelah tertawa lelaki bermantel itu bicara "Ang Pang-cu sekalipun kau telah terluka oleh ilmu pukulanku.
namun benjolan di kepalamu itu telah hilang, 253 karena racun melawan racun.
Sudah seharusnya kau berterima kasih kepadaku."
Kata lelaki bermantel itu.
"Ang Kin tidak akan melupakan budimu yang besar itu."
Kata Ang Kin. Sebenarnya ucapan Ang Kin itu berarti sebaliknya. Uia dendam sekali pada lelaki bermantel itu. Sedangkan lelaki itu tidak marah malah tertawa.
"Mau berterima kasih boleh, dendampun boleh juga!"
Kata si lelaki bermantel bulu itu.
"Asal kau takluk, itu sudah cukup! Baik kita boleh mulai bicara."
"Aku ingin bertanya, kami dari lima perkumpulan di tepi Huang-hoo ini apa pernah berbuat salah pada Anda?"
Kata Chu Tay Peng mewakili kawan-kawannya.
"Tidak punya salah apa-apa! Bukankah sudah aku katakan tadi?"
Kata dia sambil tertawa. Chu Tay Peng menekan amarahnya, lalu dia berkata dengan sabar sekali.
"Kalau begitu, bagaimana saudara kami yang terluka itu...."
Sebelum Chu Tay Peng selesai bicara dia sudah dipotong oleh lelaki bermantel itu.
"Jadi kau ingin aku mengobati mereka? Aku suka berbuat baik kepada kalian, asalkan tidak merugikan aku."
Kata lelaki bermantel itu sambil tersenyum.
Maksud ucapannya itu dia bersedia mengobati orang-orang Ang Kin asal ada syaratnya.
Mereka semua sangat berpengalaman, mendengar ucapan lelaki itu mereka langsung mengerti maksudnya.
Mereka ingin berdebat 254 tetapi mengingat kepandaian lelaki itu mereka jadi diam saja.
Chu Tay Peng yang maju bicara.
"Aku mohon bertanya, siapa nama besar Anda? Kau datang ke daerah kami apa maksudnya? Jika kami bisa membantu. Anda boleh bicara saja pada kami. Jika kami bisa melakukannya, kami siap tidak akan menolak!"
Kata Chu Tay Peng. Ucapan Tay Peng ini sama sebagai pernyataan takluk tanpa syarat. Kelihatan lelaki bermantel itu puas sekali. Dia teguk arak dan berkata lagi.
"Apa kalian pernah mendengar nama See-bun Souw Ya?"
Kata lelaki bermantel itu.
Semua orang itu tertegun mendengar ucapan lelaki itu.
Mereka tertegun bukan karena tidak pernah mendengar nama See-bun Souw Ya.
tapi karena di bawah tekanan lelaki bermantel itu.
semua orang itu menyahut.
"Nama besar See-bun Sian-seng bagaikan suara halilintar dan menggelegar di telinga kami. Sudah lama kami mengagumi nama besar See-bun Sian-seng, beruntung hari ini kami...."
Pada saat bersamaan Chu Tay Peng pun ingat sesuatu.
Tahun lalu salah seorang kawannya dari Rimba Persilatan memberi tahu dia.
bahwa di daerah Canton telah muncul seorang Iblis Besar bernama See-bun Souw Ya.
Kata temannya.
Iblis itu seorang yang sudah tua.
Dia telah mengasingkan diri hampir 20 tahun dan baru muncul lagi sekarang.
Tak masuk akal memang kalau lelaki bermantel itu mengaku bernama See-bun Souw Ya.
Ketika Chu Tay Peng sedang berpikir terdengar lelaki itu tertawa.
"Mengapa See-bun Sian-seng tertawa?"
Tanya mereka.
"Aku bukan See-bun Souw Ya. itu nama guruku. Namaku Pouw Yang Hian."
Kata orang bermatel itu. Muka semua orang itu merah karena salah menduga mengira orang itu bernama See-bun Souw Ya. Semula mereka ingin menjilat pantat orang itu. ternyata mereka salah jilat.
"Kami dengar gurumu itu baru muncul lagi'"
Kata Chu Tay Peng.
"malah katanya sangat menggemparkan di daerah Canton? Sayang kami berada di tempat yang jauh sehingga tidak bisa menemui beliau. Namun, kami semua sangat kagum kepada beliau!"
"Sebenarnya tidak sulit jika kalian mau menemui guruku."
Kata Pouw Yang Hian.
"Terus-terang aku tampil lebih dulu di sini. Paling lama setengah tahun lagi dan cepatnya tiga bulan lagi. guruku pasti akan ke mari menemui kalian!"
Dia bilang "tampil"
Sudah jelas kedatangannya itu atas perintah gurunya.
"Entah apa pesan gurumu untuk kami. mohon petunjuk agar kami tahu harus berbuat bagaimana saat menyambut kedatangan beliau?"
Kata Chu Tay Peng.
"Ketika aku mau ke mari. guruku mengatakan bahwa Yucou dan Su-cou merupakan tempat untuk berkembang. Tetapi kami asing belum kenal dengan kawan-kawan di Tiong-goan. Saat aku lewat di daerah ini. aku harus berkenalan dengan kalian di sini. Begitu pesan guruku."
Kata Pouw Yang Hian. setelah tertawa sejenak dia melanjutkan.
"Memang aku bodoh sekali, tidak tahu bagaimana aku harus berkenalan dengan kalian? Oleh karena itu terpaksa aku mengeluarkan sedikit kepandaianku untuk mengundang kalian ke mari! Meskipun aku telah 256 melukai teman kalian, tetapi karena ingin berkenalan, aku harap kalian memaafkan tindakanku yang ceroboh itu!"
Mereka pikir mana ada cara berkenalan dengan cara begitu, tetapi karena tidak ada seorang pun yang berani bicara karena mereka tahu Pouw Yang Hian sangat lihay.
"Terima kasih kalau Gurumu bersedia berkenalan dengan kami."
Kata Chu Tay Peng.
"Kalau begitu tolong kau obati teman-teman kami yang terluka itu?"
"Jangan tergesa-gesa."
Kata Pouw Yang Hian.
"Mereka itu masih bisa bertahan sampai esok siang, jadi masih banyak waktu untuk mengobatinya. Tidak sulit bagiku menolong mereka itu. tetapi aku harus melihat kalian...."
"Saudara Pouw apa yang kau inginkan? Silakan katakan saja!"
Kata Chu Tay Peng agak bingung.
"Tujuan guruku, karena dia telah diangkat menjadi Bulim Beng-cu di wilayah Canton. dia juga ingin kawankawan di Tiong-goan mengetahuinya."
Kata Pouw Yan Hian.
"Terus terang dia tidak hanya ingin berkuasa di Canton saja. tetapi dia juga ingin di empat penjuru dunia mengakuinya. Apa kalian mengerti maksud keinginan guruku itu?"
Sekarang mereka mengerti See-bun Souw Ya mengutus muridnya untuk menaklukan mereka. Maksudnya agar mereka mengangkat See-bun Souw Ya sebagi Pang-cu di seluruh penjuru Tiong-goan.
"Guru Anda berkepandaian tinggi, memang pantas menjadi Beng-cu di kolong langit!"
Kata mereka hampir bersamaan.
"Katakan saja pada beliau kami akan mendukung beliau, tetapi bagaimana dengan orang kami yang terluka itu....."
Pouw Yang Hian tertawa.
"Jika kalian sudah tunduk pada kami. pasti aku akan mengobati kawan-kawanmu itu. Tetapi sekarang aku masih punya urusan yang harus aku selesaikan dulu."
Kata Pouw Yang Hian sambil tersenyum sinis. Sesudah itu ia menghampiri Han Pwee Eng dan si bocah jahil itu. Bocah itu tertawa saja sambil berkata.
"Waduh, celaka! Celaka! Aku cuma ingin menyaksikan keramaian, tetapi keramaian itu akan mengancam kita."
Kata si bocah dengan serius. Pouw Yang Hian sudah ada di depan mereka sambil membentak dengan keras.
"Siapa kalian berdua ini?"
Bocah itu tersenyum.
"Aku tidak punya rejeki begitu besar untuk bisa berkenalan dengan Anda dan guru Anda."
Kata si bocah.
"Lebih baik Anda kembali ke mejamu dan minum arak saja!"
"Saudara Pouw. dia adalah Kiong Kong-cu! Putra Tong-hai Hek Hong To. atau To-cu (Majikan Pulau Angin Hitam). Sedang yang satunya mungkin orang sana juga."
Kata Chu Tay Peng membantu memberi keterangan.
Sebenarnya Chu Tay Peng dan kawan-kawannya sangat takut kepada Hek Hong To To-cu.
sebab pemimpin pulau itu seorang Iblis Besar juga.
Sekalipun sekarang sudah ada pelindung mereka yaitu Pouw Yang Hian.
namun mereka tetap masih jerih, oleh karena itu dia mengingatkan pada Pouw Yang Hian agar waspada.
"Ayahku tidak pernah menyeberang lautan, mana mungkin dia punya hubungan dengan mereka? Lalu 258 bagaimana mereka menganggap aku ini Kiong Kong-cu?"
Pikir nona Han. Pouw Yang Hian mendengus.
"Ada apa dengan Ketua Hek Hong To? Jika dia bertemu denganku, akan kusuruh dia minta maaf kepadaku! Jadi kalian berdua mengandalkan dia sehingga kalian berani datang ke mari untuk mengacau?"
Kata Pouw Yang Hian dengan bengis. Nona Han menahan marah, dia menyahut.
"Siapa yang mencari gara-gara? Mengenai Hek Hong To pun baru sekarang aku dengar. Aku dan dia tidak ada hubungannya. Aku juga tidak tahu tentang Kiong Kong-cu. bukankah kalian yang mengatakannya sendiri?"
Kata nona Han. Chu Tay Peng terkejut.
"Apa? Jadi kau bukan Kiong Kong-cu?"
Kata Chu Tay Peng kaget bukan main.
"Tapi kenapa kau terima kartu nama kami?"
Kata Lay Hui.
"Kalian yang memberikan padaku, lagipula siapa yang butuh kartu nama kalian itu?"
Sahut Han Pwee Eng.
"Benar. Lebih baik kembalikan saja kartu nama itu pada mereka!"
Kata si bocah nakal. Han Pwee Eng mengangguk, dia sebarkan kartu nama itu ke arah mereka.
"Ini milik kalian!"
Kata nona Han. Pada saat yang bersamaan tangan Pouw Yang Hian bergerak dan kartu-kartu nama itu pun sudah ada di tangannya.
"Jika kau tidak mau. biar aku yang mengambilnya."
Kata Pouw Yang Hian sambil tertawa.
Kartu nama itu terbuat dari kertas yang ringan, tetapi nona Han bisa melemparkan kartu nama itu mirip dengan senjata rahasia.
Ini membuktikan lwee-kang nona Han tidak rendah.
Tetapi Pouw Yang Hian berhasil meraih kartu-kartu nama itu dengan mudah sekali.
Rupanya dia mahir menangkap senjata rahasia.
Secara tidak langsung mereka telah mengadu kepandaian masing-masing di depan umum.
Setelah kartu-kartu nama itu ada di tangannya.
Pouw Yang Hian mengawasi ke arah si bocah bengal.
"Kau paham pukulan Cit-sat-ciang, apa hubunganmu dengan Hek Hong To?"
Tanya Pouw Yang Hian. Bocah itu tersenyum.
"Kau mengerti ilmu pukulan Hua-hiat-to. apakah kau anak atau cucu Kong-sun Khie?"
Si bocah balik bertanya pada Pouw Yang Hian dengan tajam sambil tertawa geli.
"Kalian tidak mau bicara, apa kau kira aku tidak bisa mengorek asal-usulmu?"
Kata Pouw Yang Hian.
Mendadak dia mengulur kedua tangannya, tangan kiri mengarah pada si bocah sedangkan tangan kanannya hendak mencengkram Han Pwee Eng.
Tiba-tiba bocah itu mengangkat sumpit di tangannya, dia menotok jalan darah di telapak tangan Pouw Yang Hian.
sedang Han Pwee Eng mengangkat cawan arak menyerang mukanya.
Ketika jari Pouw Yang Hian menyentil, terdengar suara nyaring.
"Ting! Prang!"
Cawan arak yang dipakai menyerang dia hancur berantakan.
Dengan dua jarinya dia jepit sumpit di tangan 260 si bocah nakal itu hingga patah.
Tetapi wajahnya telah basah tersiram arak yang dilemparkan oleh nona Han.
Dia marah bukan kepalang.
"Kalian sangat kurangajar! Rupanya kalian sudah bosan hidup, ya!"
Bentak Pouw Yang Hian. Ketika itu kaki Pouw Yang Hian menendang dan sepasang tangannya bergerak menyerang ke arah nona Han.
"Brak!"
Meja di hadapan si bocah hancur berantakan tertendang oleh Pouw Yang Hian.
Si bocah berkelit ke samping, sambil berputar dia bergerak ke belakang orang she Pouw itu.
Dia melancarkan sebuah pukulan ke punggung lawan.
Pouw Yang Hian tidak mengacuhkan serangan bocah itu, tetapi dia terus menyerang ke arah nona Han.
"Hati-hati, kau jangan sampai terkena pukulan berracunnya!"
Si bocah nakal memperingatkan nona Han. Nona Han segera mengelak dia gunakan jari tangannya untuk menotok jalan dari Beng-kie-hiatnya Pouw Yang Hian "Seer! Weeek!"
Lengan baju Han Pwee Eng terkena sambaran angin serangan orang she Pouw itu hingga robek. Menyusul suara keras sekali.
"Buuum!"
Punggung Pouw Yang Hian terhajar pukulan si bocah bengal, tetapi serangan nona Han luput dari sasaran. Pouw Yang Hian tertawa dingin.
"Cit-sat-ciang tidak dapat melukaiku! Ketahui olehmu ilmu pukulanmu itu masih di bawah ilmu pukulanku! Pulang beri tahu ayahmu, dia harus menemui guruku untuk menyerahkan kartu namanya!"
Kata Pouw Yang Hian dengan sombong. Mendengar kata-kata Pouw Yang Hian semua orang itu kaget bukan kepalang.
"Ah kiranya dia puteri Kiong To-cu! Celaka, sungguh celaka perkelahian ini membuat kami jadi serba salah!"
Kata mereka panik bukan main Pouw Yang Hian membalikkan telapak tangannya dia desak bocah itu, lalu mengawasi nona Han.
"Kau juga sudah terbuka rahasiamu! Apa hubunganmu dengan keluarga Han di Lok-yang?"
Kata Pouw Yang Hian.
Semua orang terkejut lagi.
Mereka kenal nama besar Han Tay Hiong.
Tetapi sudah lama Han Tay Hiong tidak pernah muncul di Dunia Kang-ouw.
Mereka juga tidak mengetahui kalau orang she Han itu punya seorang puteri yang cantik dan lihay ini.
Saat itu Pouw Yang Hian menyerang dengan kaki dan tangannya hingga meja dan kursi hancur berantakan.
Chu Tay Peng dan kawannya segera mundur.
Mereka tidak berani ikut campur dalam keributan itu.
Sedangkan pemuda berbaju biru yang lugu itu mengangkat buntalannya dari atas meja.
Sambil menggelengkan kepala dia berkata agak gugup.
"Tidak ada masalah malah berkelahi, mengganggu aku minum arak saja! Pelayan, ke mari. pindahkan makanan dan arakku ke meja itu!"
Kata dia pada pelayan. Tapi mana ada pelayan yang berani menghampirinya.
"Tuan. kami sedang sial."
Pelayan itu menyahut dari jauh.
"Arak dan makananmu nanti akan kami ganti, jangan khawatir!"
"Di sini aku tidak makan secara gratis, jangan kuatir!"
Kata si pemuda berbaju biru.
"Temanku itu yang membayariku. Masakan dan arak yang kalian sajikan, dia yang bayar semua!"
Dia menoleh ke arah si bocah lalu katanya.
"Bukan begitu, temanku?"
Katanya. Sambil mengelak dari sebuah serangan lawan, bocah itu tertawa sambil berkata.
"Ah kau memang orang yang terbuka, jangan takut tenang saja! Kau boleh makan dan minum sepuasmu, aku yang akan membayar semuanya!"
Kata si bocah nakal. Pouw Yan Hian menggunakan kesempatan pada saat si bocah sedang bicara, dia menyerang bocah itu Si bocah tertawa.
"Baik. kuundang kau makan!"
Kata si bocah. Dia angkat tangannya untuk menyambut serangan itu. Melihat anak itu mengangkat tangan akan menangkis. Pouw Yang Hian keheranan.
"Eh! Mengapa dia berani mengadu tangan denganku? Apa dia hendak menipuku?"
Pikir orang she Pouw ini.
Tiba-tiba tangan Pouw Yang Hian menyentuh benda licin, ternyata itu sepotong paha ayam yang menempel di telapak tangannya.
Saat itu si bocah berkelebat ke samping Pouw Yang Hian.
Bisa dibayangkan betapa gusarnya orang she Pouw ini.
Si bocah malah tertawa cekikikan.
"Waduh berbahaya sekali, aku hampir tercengkram olehmu!"
Kata si bocah.
"Bocah keparat! Kau berani mempermainkan aku?"
Bentak Pouw Yang Hian.
Dia kibaskan tangannya hingga paha ayam itu meluncur cepat laksana sebuah anak panah ke arah si bocah nakal.
Si bocah segera menundukkan kepalanya.
Paha ayam itu lewat di atas kepalanya, dan meluncur ke arah pemuda lugu itu.
Kebetulan pemuda itu sedang mengangkat guci arak.
tidak ampun lagi paha ayam itu membentur guci arak itu.
"Taaang!"
Terdengar suara benturan keras. Paha ayam itu jatuh ke lantai, sedang guci arak yang terbentur oleh paha ayam itu lecet. Orang yang menyaksikan kejadian itu kaget semua.
"Pantas dia tidak berani menangkap paha ayam itu. ternyata serangan paha ayam itu hebat sekali, mirip senjata rahasia!"
Pikir mereka. Pemuda desa yang lugu itu bergumam perlahan.
"Sayang! Sayang sekali, paha ayam itu dibuang begitu saja!"
Kata dia sambil menggelengkan kepalanya. Dia meneguk araknya kembali. Sementara Pouw Yang Hian mendelik.
"Hm! Jika aku tidak mampu mengalahkan kedua bocah ini. bagaimana aku bisa menaklukkan yang lainnya?"
Pikir Pouw Yang Hian.
Seketika itu juga dia gunakan pukulan Hua-hiat-to menyerang dengan hebat ke arah Han Pwee Eng.
Dalam sekejap nona Han sudah mencium bau amis di hidungnya.
Dia nyaris pingsan dan muntah-muntah.
Buru-buru dia gunakan jurus "Niak In Pouw Hoat" (Ilmu Melangkah Menginjak Awan) untuk berkelit dari seangan itu.
"Mau kabur ke mana kau?"
Bentak Pouw Yang Hian.
Tiba-tiba Pouw Yang Hian mengulur tangannya, tubuhnya bergerak dengan cepat, tahu-tahu dia sudah ada di samping Han Pwee Eng.
Kelihatan punggung nona Han akan tercengkram oleh tangan Pouw Yang Hian.
Pada saat itu cepat luar biasa si bocah nakal sudah melancarkan serangan kilat ke muka Pouw Yang Hian.
Tampak kedua jari bocah itu hampir mengenai kedua mata Pouw Yang Hian.
Serangan ini membuat Pouw Yang Hian terpaksa menangkis serangan itu dan membuat dia dongkol bukan main.
"Baik, akan kuhabisi dulu bocah ini!"
Pikir dia.
Pouw membalikkan tubuhnya, dia menyerang dengan cengkramannya ke arah si bocah nakal, karena berniat mencengkram tangan si bocah nakal itu.
Si bocah buru-buru menurunkan tangannya, gerakannya cepat luar biasa, dia menyabet siku Pouw Yang Hian.
Sebaliknya Pouw Yang Hian tidak mampu menahan majunya, hingga dia menabrak bocah itu.
Dengan demikian si bocah berhasil menghajar sikutnya dengan keras.
Keduanya terhuyung ke belakang.
Pouw Yang Hian merasakan sikutnya sakit bukan main.
Kiranya bocah itu mengenakan sarung tangan benang emas.
dia tidak jerih pada tangan Pouw yang beracun.
"Saudara Han. pada manusia kejam ini kau jangan sungkan-sungkan lagi."
Kata si bocah. Pouw Yang Hian tertawa dingin.
"Benar! Cepat keluarkan senjata kalian!"
Kata Pouw.
Nona Han tidak berani membentur tangan Pouw Yang Hian yang beracun itu.
karena itu jadi sangat merugikan dia.
Dengan demikian gerakan si nona jadi tidak leluasa.
Saat orang she Pouw itu menantang agar mengeluarkan senjata, nona Han pun berpikir.
"Jika kugunakan pedang, pasti dia akan mentertawakan aku."
Pikir Han Pwee Eng. Karena itu dia mengambil sepasang sumpit yang ada di meja makan.
"Baik. aku ingin bermain-main sebentar denganmu!"
Kata nona Han.
Tadi Pouw Yang Hian telah berhasil mematahkan sumpit si bocah nakal, sekarang nona Han hendak menggunakan sumpit juga untuk menotok dia.
Pouw Yang Hian jadi geli dan gusar secara berbareng.
"Baik. kuterima tantanganmu!"
Kata Pouw Yang Hian.
Tiba-tiba Pouw Yang Hian mengulurkan tangannya, dua jarinya siap menjepit sumpit di tangan nona Han.
Ternyata ilmu totok nona Han jauh lebih lihay dari si bocah nakal.
Begitu kedua jari Pouw Yang Hian bergerak ke arah sumpit, segera si nona menurunkan tangannya sedikit, tapi ujung sumpit menyerang untuk menotok jalan darah Lau-kiong-hiat di telapak tangan Pouw Yang Hian.
Pouw Yang Hian terkejut bukan main.
dia segera menarik kembali tangannya.
Pouw Yang Hian kaget karena yang diarah oleh nona Han jalan darah Lau-kiong-hiat.
yaitu ujung nadi Siauw-yang-keng-meh.
Seorang yang berlatih ilmu racun paling pantang terserang jalan darah itu.
Jika tetotok lawan, sekalipun tidak terluka parah, orang itu harus istirahat beberapa tahun baru bisa pulih.
Sudah sering Pouw Yang Hian menggunakan jurus Huahiat-to.
tetapi dia belum berhasil melukai lawanlawannya.
Malah dia nyaris celaka di tangan nona Han.
Dia dongkol, gusar dan entah apa lagi.
Sepasang tangannya bergerak cepat mendatangkan suara hebat.
Nona Han tidak berani mendekatinya.
Terpaksa dia mundur.
Bocah nakal itu tidak tinggal diam.
Dia serang Pouw Yang Hian dengan cepat dan gesit sekali.
Kelihatan tubuh si bocah melayang-layang bagaikan kupu-kupu sedang terbang, hendak hinggap di atas bunga.
Tubuhnya berputarputar mengitari lawan.
Jika Pouw Yang Hian menyerang segera dia menghindar.
Saat Pouw Yang Hian menyerang nona Han.
dia menyerangnya dengan cepat secara tiba-tiba.
Hal itu membuat Pouw Yang Hian jadi agak kewalahan juga.
Berkali-kali Pouw Yang Hian hampir bisa melukai nona Han.
Pada saat genting itu si bocah menyerangnya, hingga Pouw Yang Hian membatalkan serangan terhadap si nona.
Ilmu totok bocah itu tidak sehebat nona Han.
Tetapi jurus-jurus yang dia tampilkan sangat aneh dan lihay sekali.
"Ayahku mengatakan di atas langit masih ada langit, itu memang tidak salah. Hari ini untung ada si bocah membantuku kalau tidak aku sudah celaka?"
Pikir nona Han.
Nona Han masih bertahan namun dia terus terdesak oleh serangan Pouw Yang Hian yang berbau amis.
Jika dia terus mencium bau itu.
maka dia akan muntah dan matanya pun mulai berkunang-kunang karena pening.
Tampak lwee-kang bocah itu lebih tinggi setingkat dari nona Han.
Pada wajahnya belum ada perubahan apa-apa.
Tetapi sesudah lewat beberapa jurus gerakan bocah itu pun sudah mulai lamban, tidak segesit tadi lagi.
Tiba-tiba pemuda desa berbaju biru yang sedang duduk minum arak itu bangun dari kursinya.
"Saudara kecil, terima kasih atas makanan dan arakmu, tapi aku tidak boleh makan dan minum gratis. Aku harus membantumu!"
Kata dia.
"Kau murah hati. makanan dan arakku tidak sebanding dengan nyawamu. Apa kau tidak takut pada ilmu pukulan Hua-hiat-tonya?"
Kata si bocah nakal.
"Dia belum mahir benar mempelajari jurus Hua-hiattonya."
Kata pemuda lugu itu.
"Dari itu aku akan memberinya petunjuk agar dia tidak bertingkah di sini. Dengan begitu dia tidak akan menggunakan ilmu itu untuk menindas orang lain!"
Ucapan itu membuat orang-orang kaget termasuk Pouw Yang Hian.
"Ah. apa pemuda lugu ini ahli Hua-hiat-to juga?"
Pikir orang-orang di tempat itu.
Pouw Yang Hian tidak percaya kalau pemuda itu ahli Huahiat-to oleh karena dia tahu kitab Kong-sun Khie telah jatuh ke tangan gurunya.
Selain dia dan gurunya tidak ada lagi orang yang bisa ilmu pukulan itu.
dia yakin benar.
Saat itu pemuda desa itu sudah berjalan menghampiri Pouw Yang Hian.
"Baik. aku ingin melihat bagaimana cara kau memberi pelajaran kepadaku."
Kata Pouw Yang Hian. Nona Han dan si bocah nakal menyaksikan pemuda desa itu maju dengan penuh keyakinan. Hal itu membuat mereka heran bukan main.
"Baik aku akan menonton kehebatanmu!"
Kata si bocah pada pemuda desa itu. Nona Han dan dia segera mundur dan berdiri di samping.
"Baik. silakan beri petunjuk!"
Kata Pouw Yang Hian sambil tersenyum sinis.
-o0-DewiKZ~aaa-o0 Bab 10 Sepasang telapak tangan Pouw Yang Hian kelihatan sudah mulai hitam dan mengeluarkan bau amis tak sedap.
Han Pwee Eng dan si bocah nakal terkejut.
Kiranya orang she Pouw itu takut kalau pemuda desa itu benar-benar berilmu tinggi.
Maka sengaja dia langsung mengeluarkan ilmu pukulan Hua-hiattonya yang sangat lihay itu.
Dia ingin membunuh pemuda desa itu dengan sekali hajar saja.
agar orang-orang jerih kepadanya.
Saat itu seluruh perhatian tertuju ke gelanggang perkelahian, terutama pada si pemuda desa itu.
Mereka ingin tahu bagaimana dia menghadapi Pouw Yang Hian yang lihay itu.
"Aku kira kau baru berlatih sekitar tujuh tahun saja. kan?"
Kata si pemuda desa dengan sinis. Pouw Yang Hian kaget bukan kepalang mendengar ucapan itu.
"Ah dia hebat juga? Bagaimana dia bisa tahu aku baru berlatih selama tujuh tahun lamanya?"
Pikir orang she Pouw itu sedikit kaget. Pemuda itu tahu apa yang ada dalam benak Pouw Yang Hian.
"Dengar baik-baik. jika kau sudah mahir ilmu pukulan itu. telapak tanganmu tidak akan berwarna hitam dan berbau amis. Maka aku katakan kau belum mahir sekali, tidak salah kan?"
Kara si pemuda desa sambil tersenyum. Hati Pouw Yang Hian tersentak, diam-diam dia tahu ada yang tidak beres. Akan tetapi anak panah sudah dipasang pada busurnya, pasti harus segera dilepaskan.
"Baik. aku mohon petunjukmu!"
Kata Pouw Yang Hian. Mendadak dia melakukan serangan hebat, pemuda desa itu mengangkat tangannya untuk menangkis.
"Karena kung-fumu belum mahir, aku enggan mengajarimu. Tetapi aku sudah berkata agar matamu terbuka!"
Kata si pemuda desa.
Saat pemuda itu mengangkat tangannya, semua orang tidak melihat ada yang aneh dalam gerakan itu.
Tetapi di mata Pouw Yang Hian itu sungguh luar biasa, diam-diam dia terkejut.
Telapak tangan pemuda desa itu kelihatan kemerahmerahan, tetapi hanya sekilas.
Itu tandanya ilmu pukulan Hua-hiat-tonya tingkat tinggi.
"Dia baru berumur 20 tahun, apa dia sudah berlatih sejak dalam kandungan ibunya?"
Pikir Pouw Yang Hian.
Pouw Yang Hian tahu gurunya berlatih ilmu itu selama 20 tahun, tapi baru setingkat dengan pemuda desa itu.
Karena orang she Pouw ini berada dalam posisi terjepit, dia tidak bisa menarik kembali serangannya.
Ditambah lagi dia belum yakin pemuda itu mahir ilmu pukulan itu.
Dia kira pemuda itu hanya menakut-nakuti dan menggertak dia saja agar dia mau mundur.
Pouw Yang Hian menggeretakkan giginya.
Dia lanjutkan seranganya.
"Buum!"
Terdengar suara benturan yang sangat dasyat.
Pemuda desa itu terhuyung ke belakang beberapa langkah, baru bisa berdiri tetap lagi.
Sedang Pouw Yang Hian sama sekali tidak bergerak.
Ketika itu Chu Tay Peng dan kawankawannya bersorak memuji Pouw Yang Hian.
"Kung-fumu sangat hebat Pouw Sian-seng!"
Puji mereka.
Nona Han dan si bocah terkejut bukan kepalang.
Mereka segera menghunus senjata mereka, lalu mendekati pemuda desa itu untuk melindunginya.
Mendadak sorakan dari pihak Chu Tay Peng terhenti seketika.
Keadaan jadi sunyi sekali.
Mereka semua kaget menyaksikan wajah Pouw Yang Hian kelihatan ketakutan sekali.
Sebaliknya wajah pemuda desa itu biasa-biasa saja.
dia kelihatan tenang luar biasa.
Perubahan atas wajah orang she Pouw ini membuat panik semua orang.
Pemuda desa itu tertawa.
"Apa kau masih mau mencobanya lagi?"
Kata si pemuda desa dengan tajam.
"Terima kasih kau tidak membunuhku."
Kata Pouw Yang Hian.
"Kalau boleh tahu. siapa namamu?"
Pemuda itu menuding sambil membentak. Hal itu membuat orang she Pouw itu mundur selangkah demi selangkah. Wajahnya sudah berubah jadi kelabu dan sekarang dia sudah dekat pintu keluar.
"Cepat pergi!"
Bentak pemuda desa itu. Saking kaget dan takutnya Pouw Yang Hian jatuh terguling di lantai. Pemuda desa itu tertawa.
"Pouw Yang Hian kau pulang saja. beri tahu gurumu! Dia telah mencuri barang milik keluargaku, cepat atau lambat aku pasti akan mencari dia untuk mengadakan perhitungan! Saat itu kau akan tahu siapa aku?"
Kata si pemuda desa.
Pouw Yang Hian bangun dan langsung kabur terbirit-birit.
Begitu juga Chu Tay Peng dan kawan-kawannya.
Sekarang di rumah makan itu tinggal Han Pwee Eng dan si bocah, pemuda desa itu dan para pelayan rumah makan yang ketakutan.
Bocah nakal itu tertawa riang.
"Asyik! Sungguh asyik sekali! Terima kasih atas bantuanmu. Toa-ko!"
Kata si bocah nakal itu. Pemuda desa itu tersenyum.
"Jangan sungkan itu bukan apa-apa. Kau membayariku makan dan minum, aku harus membantumu!"
Kata si pemuda desa.
"Toa-ko, siapa namamu?"
Kata si bocah. Pemuda itu mengangguk.
"Kau mengakui aku sebagai temanmu, namaku Kongsun Po. Po artinya melenyapkan kejahatan. Orang itu mencaci Iblis Besar Kong-sun Khie. justru dia itu adalah Ayahku almarhum."
Kata Kong-sun Po. Mata si bocah terbelalak.
"Ha....?"
Mulutnya terbuka lebar dia tidak tahu harus bilang apa.
"Aku telah mengganggu kalian berdua, maaf aku pamit!"
Kata Kong-sun Po. Dia langsung mengambil buntalannya lalu pergi meninggalkan rumah makan itu tanpa bertanya siapa nama si bocah nakal dan kawannya itu.
"Saudara Han, apa kita masih mau minum arak lagi?"
Tanya si bocah pada nona Han. Sekarang Han Pwee Eng sudah tahu bocah nakal itu orang Hek-hong-to. kesan baiknya pada si bocah kini mulai berkurang.
"Dia dari aliran sesat sebaiknya aku tidak bergaul dengannya."
Pikir nona Han. Nona Han lalu tersenyum.
"Rumah makan ini sudah berantakan. kita tidak bisa minum lagi di sini! Jika kita berjodoh kelak kita akan minum lagi di sini!"
Kata Han Pwee Eng. Ucapan nona Han itu sebenarnya ingin menyatakan selamat berpisah dengan si bocah nakal itu.
"Kau yang membayariku makan, aku menurut saja. Kau tidak mau minum aku pun tidak!"
Kata si bocah. Ketika itu seorang pelayan keluar sambil merangkak dari kolong meja makan. Saat nona Han akan membayar, pelayan itu bilang.
"Semua sudah dibayar oleh Chu Tay Peng. Tuan!"
Kata si pelayan dengan hormat.
"Aku tak mau dibayari orang, ditambah lagi di tempat ini banyak barang yang telah hancur karena pertarungan tadi. Aku harus ganti rugi."
Kata nona Han.
"Kawanku ini benar, kami tidak akan merugikan rumah makan ini."
Kata si bocah.
"Juga makanan dan arak Tuan Kong-sun akan dia lunasi!"
Pelayan itu girang bukan main. sambil membungkuk dia menghaturkan terima kasih kepada nona Han.
"Tuan sangat baik dan pengertian, baiklah beri saja uang perak pecahan pada kami."
Kata si pelayan.
"Baik. aku akan memberimu sepuluh tail perak, cukup?"
Tanya nona Han.
Saat dia merogoh sakunya ternyata kantung uangnya telah lenyap entah ke mana.
Mendadak wajah nona Han berubah pucat.
Si bocah tertawa sambil mengeluarkan sebuah kantung uang.
Begitu melihat kantung uang itu nona Han kaget bukan kepalang, itu adalah kantung uang miliknya.
"Tidak salah dia telah mencuri kantung uangku saat dia menyenggolku dijalan kecil. Hebat ilmu copetnya sampai aku tidak merasa kehilangan. Tetapi dia sangat keterlaluan!"
Pikir nona Han.
"Maaf Saudara Han. aku ini miskin, terpaksa aku harus memakai uangmu."
Kata si bocah. Dia tuang isi kantung itu di atas meja dan berkata pada pelayan rumah makan itu.
"Coba kau hitung, apa sudah cukup sepuluh tail atau belum?"
Kata dia. Pelayan itu tersenyum.
"Tak perlu sebanyak itu. sebab sudah lebih Tuan!"
Kata si pelayan.
"Lebihnya untukmu saja!"
Kata si bocah seenaknya padahal itu uang nona Han. Pelayan itu girang dia tertawa. Langsung dia sambar uang perak itu.
"Terima kasih atas kebaikan Tuan-tuan berdua!"
Kata si pelayan dengan hormat sekali. Setelah pelayan itu pergi si bocah melemparkan kantung uang itu.
"Tuh! Terima kantung uang milikmu, aku sudah berbuat baik untukmu, kantungnya harus aku kembalikan kepadamu "
Kata dia sambil tersenyum. Nona Han dongkol bukan main.
"Kau tidak punya uang. kantung itu untukmu saja!"
Kata nona Han agak ketus. Bocah itu tersenyum.
"Saudara Han kau memang sahabat yang baik. Kau jujur aku terpaksa menerimanya."
Kata dia. Mereka lalu meninggalkan rumah makan itu. Sampai di luar nona Han berkata.
"Terima kasih atas bantuanmu, sampai berjumpa lagi kelak!"
Kata nona Han. Nona Han berjalan meninggalkan bocah itu. saat dia menoleh ternyata si bocah masih mengikutinya.
"Tunggu Saudara Han. aku belum tahu siapa namamu?"
Kata si bocah. Nona Han agak kesal juga. tetapi biar bagaimana bocah itu pernah membantunya, terpaksa dia memberi tahu.
"Namaku Eng. Apa aku juga boleh tahu namamu?"
Kata Han Pwee Eng.
"Aku marga Kiong. namaku Mi Yun. Hek-hong-to To-cu itu Ayahku."
Karena nona Han sudah tahu sejak awal dia tidak terkejut mendengar keterangan itu.
"Tapi nama Mi Yun ini nama perempuan?"
Pikir nona Han. Nona Han tidak berani memastikan dia juga tidak mau menanyakannya.
"Sebenarnya Kong-sun Po denganku masih punya hubungan famili, tetapi barangkali dia tidak mengetahuinya."
Kata Kiong Mi Yun.
"Ah mereka dari aliran sesat semua, lebih baik aku tidak boleh bergaul dengan mereka!"
Pikir nona Han.
Saat nona Han akan pergi meninggalkan Kiong Mi Yun.
dia mendengar suara ringkikan kuda.
Saat nona Han menoleh dia lihat seekor kuda sedang berlari kencang.
Han 275 Pwee Eng tidak melihat penunggang kuda itu tetapi dia mengenali kuda itu "hadiah"
Dari Ci Giok Hian untuknya.
Mengetahui hal itu Han Pwee Eng terkejut.
Dia kerahkan gin-kangnya akan mengejar kuda itu.
tapi kuda itu sudah berlari jauh sekali, malah sudah melewati pintu kota.
Terpaksa Han Pwee Eng kembali ke penginapan.
Kelihatan penginapan itu sudah berantakan tidak karuan.
Ketika pemilik penginapan itu melihat Han Pwee Eng datang, buru-buru dia menghampirinya.
Sikapnya sangat gugup dan panik sekali.
"Tadi....tadi telah muncul seorang perampok. Dia tidak merampok barang lain hanya kuda milik Tuan. Entah berapa harga kuda itu. aku akan..."
"Sudah jangan panik, keadaan memang sedang kacau lak heran banyak perampok berkeliaran."
Kata nona Han.
Dia tahu perampok itu memusuhi dirinya, dan pasti bukan perampok biasa.
Dia juga tidak mau rewel dengan pemilik penginapan itu.
Sekalipun dia tahu si pemilik penginapan bersedia mengganti kudanya.
"Sudah saja. Tuan. Kuda yang sudah hilang tidak usah kau hiraukan lagi."
Kata nona Han sabar.
Tiba-tiba ada suara orang bicara di belakang si nona "Benar!
Hanya seekor kuda harganya tidak seberapa.
Han Toa-ko.
jangan khawatir orang bisa mencuri kudamu aku pun bisa mencuri juga.
Dua hari lagi akan kucuri seekor kuda jempolan untukmu!"
Kata orang itu.
Nona Han menoleh kiranya orang itu Kiong Mi Yun sedang tertawa.
Entah kapan dia tiba di situ.
Pakaian Kiong Mi Yun dekil, ketika dia bilang begitu tentu saja dia menarik perhatian semua orang.
"Kau bergurau saudara Kiong. jangan merepotkanmu. lebih baik kau pulang saja."
Kata nona Han.
"Pulang? Kau menyuruhku pulang ke mana? Aku tidak punya rumah maka aku ke mari mencarimu."
Kata Kiong Mi Yun agak kesal. Kelihatan nona Han kesal bukan main.
"Orang ini sungguh tidak tahu malu dan tidak tahu diri. Aku tinggalkan dia malah dia mencariku ke mari?"
Pikir nona Han Pwee Eng.
"Kau mencariku mau apa?"
Tanya Han Pwee Eng.
"Mencari tempat bermalam."
Jawab Kiong Mi Yun "Bukankah kau sudah menyewa kamar di sini? Nah. malam ini kita akan tidur sekamar."
Wajah Han Pwee Eng langsung merah.
"Maaf,"
Kata Han Pwee Eng.
"aku tidak biasa tidur berdua sekamar! Dan esok aku pun harus melanjutkan perjalananku, aku tidak punya waktu untuk bercakap-cakap denganmu."
Kiong Mi Yun mengerutkan dahinya.
"Baiklah, kalau kau tidak bersedia menerimaku, aku terpaksa cari akal lain."
Kata Mi Yun. la mengeluarkan kantung uang dari Han Pwee Eng lalu ia guncang-guncang.
"Untung kantongmu ini masih berisi uang! Pelayan siapkan sebuah kamar untukku!"
Baca Juga: Pohon Kramat 2
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 6