Badai Awan Angin Pendekar Sejati 1

Eps 1 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.

Badai, Awan, Angin (Beng Ciang Hong In Lok) Karya .

Liang Ie Shen, Terjemahan .

Ai Cu Diceritakan Kembali Oleh .

Marcus A.S Sumber Buku Kiriman .

Aditya Djvu oleh .

Dewi KZ Edit teks oleh .

aaa Ebook oleh .

Dewi KZ Cersil karya Liang Ie Shen ini dengan latar belakang zaman Song, dimulai saat Nona Han Pwee Eng akan menemui calon suaminya di Yang-cou, di tengah jalan rombongannya dihadang penjahat.

Timbul masalah lain, calon suami Nona Han direbut oleh sahabatnya.

Kisah ini selain mengisahkan cinta juga diseling pertarungan silat kelas tinggi.

Jalinan kisah asmara yang berliku ini diselingi kisah menegangkan, mengharukan.

Bagaimana bangsa Han mengusir penjajah bangsa Kim (Tartar) dan Goan (Mongol).

BENG CIANG HONG IN LOK (Badai Awan dan Angin) Karya.

Liang Ie Shen Sumber Buku Kiriman .

Aditya Djvu oleh .

Dewi KZ Edit teks oleh .

aaa Ebook oleh .

Dewi KZ.

-o0(DewiKZ~Aditya~Aaa)~0o-

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Badai, Awan, Angin (Beng Ciang Hong In Lok).

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/

http.//dewi-kz.info/

Jilid Pertama Bab Gumpalan-gumpalan awan putih berarak bersamaan dengan datangnya musim rontok.

Daun-daun pepohonan yang terhembus angin barat berterbangan dan berguguran ke atas tanah.

Pada sebuah jalan datar tampak 20-30 penunggang kuda sedang melarikan kuda mereka.

Di tengah-tengah rombongan penunggang kuda itu tampak sebuah kereta kuda yang indah.

Rombongan ini sedang menuju ke arah Selatan.

Setelah lebih jelas, mereka itu adalah rombongan atau iring-iringan rombongan Piauw-kiok (Perusahaan ekpedisi).

Beberapa orang piauw-su (pengawal ekpedisi) dan yang berada paling depan sedang berteriak-teriak.

"Houw Siauw Tiong-touw! Houw Siauw Tiong-touw! (Harimau Bersiul dari Tiong-touw). Harap para sahabat Dunia Persilatan memberi jalan!"

Teriak para piauw-su itu.

Di dataran itu yang tampak hanya tegalan rumput dan rombongan para piauw-su itu.

Di sana tak kelihatan makhluk apapun.

Namun rupanya sudah menjadi kebiasaan dan aturan di Dunia Persilatan, bahwa di mana pun para piauw-su itu lewat, mereka harus berseru-seru begitu, sekalipun di tempat yang sunyi sekali.

Sebenarnya Piauw-kiok ini berpusat di kota Lok-yang atau disebut juga Tiong-touw.

mereka berseru meneriakkan kata "Houw Siauw Tiong-touw"

Tersebut, karena bila kaum Rimba Persilatan mendengar seruan ini, maka mereka akan segera tahu bahwa yang sedang lewat itu adalah Houw Wie Piauwkiok (Rombongan perusahaan ekpedisi merk Houw Wie).

Pemilik Piauw-kiok itu bernama Beng Teng (Meng Ting).

Kali ini pemimpin atau pemilik piauw-kiok tersebut ikut mengawal rombongan yang sedang mengantar piauw itu.

Sudah turun-temurun keluarga Beng ini memang berusaha di bidang ekpedisi atau pengantaran barang.

Setelah ayah Beng Teng meninggal dua puluh tahun yang lalu.

perusahaan ekpedisi itu pernah bangkrut.

Tetapi kemudian Beng Teng mengambil keputusan.

ia ingin berkelana di Rimba Persilatan maka ia bangun kembali perusahaan itu.

Setelah Beng Teng berkecimpung di Rimba Persilatan, ternyata ia cukup berhasil dan memperoleh nama cukup terkenal.

Kemudian dia kembali ke Lok-yang untuk melanjutkan usaha almarhum ayahnya itu.

Di bawah pimpinan Beng Teng perusahaan Houw Wie Piauw Kiok menjadi semakin terkenal saja.

Sekalipun rombongan ekpedisinya ini harus melewati daerah yang sangat rawan, namun Houw Wie Piauw-kiok ini bisa tiba di tujuan dengan aman.

Tetapi kali ini mereka harus melewati daerah dataran yang belum pernah dilewati oleh mereka selama ini.

sehingga tidak heran jika Beng Teng jadi sangat berhati-hati sekali.

Bahkan anak buahnya harus terus-menerus meneriakkan kata "Houw Siauw Tiong-touw!"

Berulangulang.

Kereta kuda yang mereka kawal itu tampak mewah dan indah sekali karena dihias dengan berbagai batu permata, Dengan demikian kereta itu sangat istimewa dan berbeda dengan kereta biasa apalagi dibanding dengan kereta barang.

Di atas kereta mewah itu duduk seorang gadis cantik, ia baru berumur sekitar dua puluh tahun.

Dari dalam kereta itu terdengar alunan suara kecapi yang sangat merdu.

Ternyata yang memainkan kecapi si nona cantik itu dan dia sedang memainkan lagu "Yung Ih Lok" (Selalu Bertemu Kegembiraan).

Di belakang kereta indah itu berdiri dua orang lelaki tua, rupanya kedua lelaki tua itu adalah pengawal pribadi si nona.

Ketika salah seorang dari kedua lelaki tua itu mendengar suara alunan kecapi dengan perhatian penuh, tak terasa mereka jadi terharu, air mata mereka meleleh dan berlinang-linang.

Pencipta syair yang dimainkan oleh si nona cantik itu bernama Sing Yap Cheh.

Syair lagu itu pernah menggemparkan Kang-lam dan Kang-pak.

Namun, orang yang mengetahui syair lagu itu tidak begitu banyak.

Sungguh mengherankan ternyata nona cantik ini tahu lagu dan syairnya.

Konon gadis cantik itu seorang calon pengantin yang akan segera menikah di kota Yang-cou.

Di sepanjang perjalanan nona ini hanya main kecapi saja dan jarang 8 sekali ia bicara.

Hal itu membuat Beng Teng, si pemimpin piauw-kiok itu jadi keheranan.

Ketika alunan suara kecapi itu tiba-tiba berhenti, salah seorang dari lelaki tua yang berada di bagian belakang kereta indah itu segera memerintahkan pada kusir agar menghentikan kereta kudanya.

Setelah kereta berhenti, lelaki tua itu bergegas turun dan menghampiri si nona.

"Nona, bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja?"

Tanya lelaki tua itu. Nona cantik itu batuk beberapa kali "Dibandingkan kemarin hari ini rasanya agak baikan, namun hatiku tetap risau!"

Jawab si nona. Lelaki tua itu mengambil mangkuk berisi obat. Lalu ia minta si nona meminumnya. Setelah nona itu minum obat. lelaki tua itu menghela napas panjang.

"Nona. selama ini kau sangat dimanja! Tetapi kali ini dalam suasana negara sedang kacau, justru Nona harus berangkat ke kota Yang-cou untuk menikah. Sungguh hal ini sangat menyusahkanmu. Nona!"

Kata lelaki tua itu.

Tampak wajah nona cantik itu berubah kemerahmerahan.

Sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam dia diam saja.

Pada saat bersamaan, salah seorang piauw-su berkata kepada Beng Teng sang ketua rombongan piauw-kiok itu.

"Hari ini penyakit Nona Han kelihatannya lebih parah dibanding kemarin. Wajahnya tampak agak lain. Sekarang hari sudah hampir gelap, lebih baik kita cari tempat untuk bermalam!"

Kata si piauw-su itu. Beng Teng menggelengkan kepalanya.

"Aku dengar di depan kita sarang si Serigala Tua. Keadaan tempat ini sangat rawan! Jika kita mau istirahat lebih baik setelah lewat sarang serigala itu. Jalan ini memang agak sulit dilewati, tetapi nona itu berada di atas kereta. Asalkan dia bisa tahan goncangan sedikit saja. pasti tak apa-apa!"

Kata Beng Teng. Piauw-su yang bicara dengan Beng Teng yang bernama Ciok Cong Thian tertawa.

"Dengan mengandalkan nama bersarmu. Cong-piauwthauw. aku yakin orang-orang si Serigala Tua akan memberi muka kepada kita! Aku dengar pemimpin kaum hitam ini seorang yang sangat teliti. Aku rasa sebelum mereka akan bertindak, pasti mereka akan menyelidiki dulu rombongan siapa ini? Aku rasa dia tak akan gegabah mengambil risiko dan menempuh bahaya. Bahkan dia juga tidak menyukai wanita. Jadi apakah dia akan merampas gadis cantik yang akan sebera jadi pengantin itu?"

Kata Ciok Cong Thian.

"Kau jangan berkata begitu!"

Kata Beng Teng.

"Kita mendapat tugas dari seseorang, tentu kita harus bertanggungjawab sepenuhnya. Jika hanya harta-benda yang dirampok olehnya, itu bukan masalah! Tetapi jika nona cantik itu yang diculik, pasti kita tak bisa mengganti rugi. Sekalipun pemimpin she Tan itu tak turun tangan, tetapi kita tetap harus waspada. Lebih baik setelah lewat tempat ini baru kita istirahat."

Dengan tak banyak bicara lagi Ciok Cong Thian langsung menyuruh kusir menjalankan keretanya lebih jauh.

Tak lama rombongan ini mulai bergerak meninggalkan tempat yang mencurigakan itu.

Ketika rombongan ini sudah memasuki daerah sarang si Serigala Tua.

dengan hati berdebar-debar rombongan 10 piauwkiok itu mulai menyaksikan padang alang-alang yang tinggi, dan rumput alang-alang itu bergoyang-goyamg tertiup sang bayu dan tampak bagai nona yang ayu sedang menari-nari.

Hati mereka menduga-duga, entah ada penjahat yang bersembunyi di situ atau tidak.

Sungguh di luar dugaan rombongan ini bisa melewati padang alang-alang tersebut dengan selamat tanpa gangguan, padahal itu adalah daerah yang paling rawan menurut perkiraan mereka.

Memang karena sudah kelelahan ditambah lagi tempat itu mereka anggap aman, maka di tempat itulah mereka istirahat dan membuat perkemahan.

Tepatnya di sebuah hutan kecil tak jauh dari rimba yang baru mereka lewati tadi.

Awalnya Beng Teng masih ingin meneruskan perjalanan mereka dengan alasan karena letak rimba kecil itu masih belum berjauhan dengan sarang si Serigala Tua.

jaraknya baru kurang lebih belasan lie saja.

Akan tetapi hari sudah mulai gelap, ditambah lagi para piauw-su pun sudah kelelahan sekali, begitupun kuda-kuda mereka.

Terutama si nona cantik yang ada dalam kereta sekarang sedang dalam keadaan tak enak badan dan sangat perlu istirahat.

Dengan terpaksa Beng Teng harus menyetujui anak buahnya untuk beristirahat di rimba kecil itu.

Melihat majikannya cemas Ciok Cong Thian tertawa.

"Barangkali nama besarmu telah mengejutkan penghuni sarang Serigala Tua itu. sehingga anak serigalanya pun tidak berani muncul."

Kata Cong Thian. Beng Teng mengerutkan dahinya.

"Ini sungguh di luar dugaan! Tetapi menurut pendapatku sekalipun mereka tak mengusik kita, tapi mereka seharusnya sudah muncul! Malah tak kusangka kita bisa 11 melewati sarang serigala itu dengan aman! Akan tetapi hatiku tetap berdebardebar tak tenang."

Kata Beng Teng. Ciok Cong Thian kembali tertawa.

"Lauw-ho-li she Tan (Serigala Tua she Tan) pasti telah menyelidiki dengan jelas mengenai keadaan kita ini. kali ini kau ikut dengan rombongan kami. Selain itu yang dikawal pun bukan barang berharga, tetapi calon pengantin baru yang berpenyakitan, itu sebabnya mereka tidak mau turun tangan merampok kita."

Kata Ciok Cong Thian. Beng Teng menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku dengar tahun lalu ada dua perusahaan piauw-kiok yang lewat di sini mengawal barang antaran, mereka justru mengalami rintangan di daerah sarang serigala ini. Padahal aku dengar kekuatan kedua piauw-kiok itu lebih kuat dari Houw Wie Piauw-kiok milik kita. Tetapi si Serigala Tua Tan berani menelan barang antaran kedua piauw-kiok itu. Tadi kau bilang mereka takut kepada kita. itu belum tentu! Memang kita hanya mengawal seorang gadis cantik dan bukan mengawal barang berharga. Akan tetapi, nilai kawalan kita kali ini jauh lebih mahal daripada barang apapun. Jika si Serigala Tua itu tahu mengenai barang yang kita kawal ini. aku yakin dia akan turun tangan!"

Kata Beng Teng.

"Kita telah melewati daerah yang rawan sarang si Serigala Tua itu."

Kata Cong Thian.

"sekarang boleh dikatakan sudah boleh beristirahat dengan tenang, aku jamin tak akan terjadi apa-apa."

Beng Teng justru menghela napas panjang.

"Mudah-mudahan begitu"

Kata sang boss.

Sementara kedua piauw-su sedang berbincang-bincang, kedua orang lelaki tua itu malah sedang sibuk memasak 12 obat untuk nona mereka.

Rupanya mereka membawa bahan-bahan obat dari Liok-yang.

Malam itu mereka berdua menyalakan api untuk masak obat di dalam rimba kecil itu.

Beng Teng sedang menghitung-hitung waktu perjalanan.

"Sekitar tiga hari lagi kita akan sampai ke kota Yang-ou. Kita harus berdoa mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan di tengah jalan, dan Thian (Tuhan) melindungi Nona itu agar penyakitnya segera sembuh! Aaah! terus terang, sejak aku menjadi seorang piauw-su baru kali ini aku merasa paling cemas. Yang aku cemaskan ada dua masalah, yang pertama jika terjadi sesuatu di tengah jalan, maka pengantin baru itu tidak akan selamat sampai di rumah calon suaminya. Saudara Ciok, sudah dua puluh tahun lebih kau menjadi piauw-su. pasti kau lebih berpengalaman daripada aku. Tetapi mengawal seorang calon pengantin, mungkin baru pertama kali ini kau alami, bukan? Orang lain tidak berani menerima pekerjaan ini. justru kita berani menerima pekerjaan berat ini. Sedang masalah yang kedua yang sedang aku pikirkan, ialah jika kita berhasil mengantar calon pengantin dengan selamat, aku yakin pasti Houw Wie Piauw-kiok akan bertambah terkenal saja!"

Ciok Ciong Thian manggut-manggut.

Tak lama Beng Teng diam tak banyak bicara lagi.

Ternyata dia ingat pada suatu kejadian aneh.

yaitu saat ia menerima kawalan calon pengantin baru ini.

Kisahnya demikian.

Hari itu turun hujan gerimis tak hentinya.

Cuaca yang sangat buruk ini berlanjut sampai beberapa hari lamanya.

Air hujan membuat jalan raya di kota Lok-yang jadi sepi dan para pedagang pun segan keluar rumah.

Hawa sangat dingin membuat orang makin segan keluar rumah.

Demikian juga keadaan di Houw Wie Piauw-kiok.

Sudah sebulan lebih lamanya tidak terjadi transaksi untuk pengawalan barang.

Kesialan menjadi lengkap, hari itu pun turun hujan gerimis yang melit tak mau berhenti.

Sedang dalam cuaca seburuk itu sudah pasti tidak akan ada orang yang datang untuk meminta mereka mengantarkan barang.

Saat itu para piauw-su sedang berkumpul di ruang belakang, mereka sedang menghangatkan badan di depan perapian sambil mengobrol.

Pembicaraan para piauw-su itu akhirnya melantur ke masalah keadaan di dalam negeri.

Terutama tentang perang yang setiap saat bisa berkecamuk hebat sekali.

Ada yang bilang pasukan Mongol telah kembali ke daerahnya, namun mungkin mereka akan menyerang ke daerah Selatan Tionggoan (Tiongkok) Ada lagi yang mengatakan, bahwa Liok Lim Beng Cu (Pemimpin Rimba Hijau Hong Lai Ho Li (Iblis Wanita Mo Lai) telah mengibarkan panji perang mereka untuk meminta pada setiap orang gagah dari Rimba Persilatan (Bulim Eng-hiong) untuk bersatu-padu melawan pasukan Mongol dan pasukan bangsa Kim (Tartar), tujuannya untuk melindungi rakyat Tiongkok dari kesengsaraan.

Tetapi yang lain berkata lagi, sekarang di mana-mana telah muncul pasukan suka-rela.

dan keadaan kotanya sudah semakin gawat.

Mereka yakin akan terjadi kekacauan.

Ciok Cong Thian, piauw-su yang paling senior di Houw Wie Piauw-kiok kelihatan menghela napas panjang.

"Mengenai masalah kekacauan di dalam negeri, kita boleh tidak peduli sama sekali! Akan tetapi, jika hal itu telah mempengaruhi Houw Wie Piauw-kiok, pasti kita pun akan jadi repot. Karena akan bermunculan para perampok di manamana. Hal ini akan mempersulit pekerjaan kita. Malah mungkin barangkali tak akan ada orang yang berani mengirim barang mereka. Jika keadaan sudah jadi begitu, apa bukan tak mungkin kita akan gigit jari?"

Kata Ciok Cong Thian agak cemas.

Semua piauw-su menggeleng-gelengkan kepala mereka ketika mendengar kata-kata Ciok Cong Thian tersebut.

Tetapi pada saat bersamaan mendadak muncul Sam Cu Chiu.

Dia langsung melapor, bahwa di luar ada tamu ingin menemui pengurus piauw-kiok.

Ketika ditemui tamu itu ternyata seorang ayah dan puterinya.

Mereka membawa dua orang lelaki tua sebagai pelayan.

Mereka ini datang dengan naik kereta mewah.

Sang ayah memperkenalkan diri mengaku bernama Han Tay Hiong.

Maksud kedatangan mereka ialah minta agar Houw Wie Piauw-kiok mau mengantarkan puterinya ke kota Yangcou.

karena si nona akan segera menikah di sana.

Beng Teng mempertimbangkan pekerjaan itu masakmasak.

Dari kota Lok-yang ke Yang-cou berjarak puluhan ribu lie jauhnya.

Jadi mana mungkin di sepanjang jalan tak terjadi sesuatu atau bahaya?

Sedang kirimannya bukan barang tapi orang.

Manusia tak bisa disamakan dengan barang.

Jika barang dirampok penjahat masih bisa diganti barang, tetapi kalau calon pengantin yang diculik, lalu harus diganti dengan apa?

Begitu Beng Teng berpikir keras.

Semula pekerjaan itu akan ditolaknya karena Beng Teng berpikir orang lain saja tak ada yang berani menerima pekerjaan itu.

mengapa dia harus mau?

Tetapi orang tua gadis itu terus memohon setengah memaksanya.

Dia bilang jika Houw Wie Piauw kiok tak berani mengantar puterinya.

apalagi dia.

Dan pasti pernikahan puterinya itu akan batal.

Orang tua itu pun berkata bahwa dia bersedia mengeluarkan ongkos sebesar dua ribu tail emas.

Atas 15 desakan orang she Han itu dan ditambah pula sudah sebulan tak ada transaksi, akhirnya pekerjaan berai itu ia terima juga.

Saat rombongan akan berangkat Beng Teng telah menerima uang muka sebanyak separuh dari seluruh biaya pengantaran yang akan dia terima.

Yakni seribu tail emas dan sisanya akan dibayar sesudah mereka sampai ke tempat tujuan dan akan dibayar sesudah mereka sampai ke Lokyang sehabis mengantarkan nona calon pengantin itu.

Mulailah perjalanan dilakukan dengan hati-hati sekali.

Di sepanjang perjalanan Beng Teng selalu was-was dan waspada, tetapi untung selama ini belum pernah terjadi apaapa.

Dia berharap asalkan si Serigala Tua Tan itu tidak mengusik rombongan mereka, maka ke depan ia yakin tak ada lagi lawan yang patut ia takuti.

Benar saja dengan aman mereka bisa melewati daerah sarang Serigala Tua dan tiga hari lagi mereka akan segera sampai ke Yang-cou.

Terus terang sekalipun mereka sudah melewati sarang serigala, namun mereka belum sepenuhnya melintasi daerah kekuasaan si Serigala Tua lan.

Sedangkan Beng Teng pernah mendengar bahwa si Serigala Tua Tan ini sangat kejam, terutama keempat anaknya yang bergelar Serigala Hijau, Serigala Hitam, Serigala Kuning dan Serigala Putih.

Mereka adalah para iblis golongan hitam (Kaum Liok-lim atau Rimba Hijau).

Demikian kejamnya ada yang bilang mereka tak mengedipkan mata saat membunuh orang atau lawannya.

Pada saat Beng Teng sedang duduk dengan hati tak tenang di bawah sebuah pohon, mendadak ia mendengar suara anak panah yang dilepaskan dan memecah kesunyian saat itu.

Sam Cu Chiu segera mengibarkan bendera Houw Wie Piauw-kiok dan berseru-seru dengan suara nyaring.

"Houw Siauw Tiong-touw! Harap sahabat Dunia Persilatan memberi jalan!"

Teriak Sam Cu Chiu.

Setelah suara anak panah itu lenyap, tak lama terdengar suara derap kaki kuda yang gemuruh.

Tak lama tampak banyak orang menunggang kuda bermunculan.

Mereka umumnya naik kuda dan ada juga yang berlari-lari mendatangi.

Tak lama mereka telah mengepung tempat rombongan piauw-su itu sedang berkumpul.

Kiranya mereka memang para perampok yang dipimpin oleh dua orang pemimpin mereka.

Seorang bertubuh jangkung, ia memakai kopiah bulu Usia mereka sekitar 50 tahun, namun masih kelihatan gagah dan wajahnya kemerah-merahan.

Beberapa orang piauw-su mengenali salah seorang yang sudah tua itu yang tidak lain adalah si Serigala Tua Tan Piauw.

Di belakang dia kelihatan ada empat orang yang termuda baru berumur 20 tahun, wajahnya putih bersih, sepasang matanya bersinar terang, ia pun tampan.

Dia adalah si Serigala Putih Tan Giok.

Yang paling tua berusia 40 tahun, wajahnya kehijauan, giginya tonggos hingga kelihatan menyeramkan.

Dia adalah putera sulung Serigala Tua Tan Piauw.

namanya Tan Kauw si Serigala Hijau.

Yang berada di tengah berumur 30 tahunan bernama Tan Teng dan yang bergelar si Serigala Hitam bernama Tan Su.

Serigala Tua Tan Piauw naik kuda tangannya memegang sebuah cangklong yang panjangnya hampir sedepa, berwarna hitam mengkilap entah terbuat dari bahan apa?

Ia menghisap cangklongnya dua kali, lalu menghembuskan asap tembakau itu ke atas sambil tertawa terbahak-bahak.

"Harimau Mendekam, sesudah kalian melewati sarang Serigala! Aku Tan Piauw memberanikan diri mengusik 17 harimau yang sedang tidur! Aku yakin kau Beng Teng, bukan?! Aku dengar namamu berkibar sampai ke Kang-lam dan Kang-pak! Tak satupun orang di Dunia Persilatan yang tidak mengenal namamu itu. Tetapi sayang sekali tempat tinggal kami sangat jauh, sehingga kami belum mendengar dan melihat kehebatan Houw Wie Piauw-kiokmu! Tanpa aku duga hari ini kita bisa bertemu di sini. sungguh aku beruntung sekali!"

Buru-buru Beng Teng memberi hormat.

"Kami tidak berani tekabur di depan Anda. Houw Wie Piauw-kiok tak punya nama besar seperti yang Anda duga. Hari ini kami kebetulan lewat di daerah kekuasaanmu, tetapi sayang kami tak sempat singgah menemui Anda. Mohon Saudara Tan memaafkan kecerobohan kami ini. Sekembali dari Yang-cou. pasti kami akan berkunjung ke tempat Anda!"

Kata Beng Teng merendah dan sangat hormat. Kembali Tan Piauw tertawa.

"Bagus! Bagus! Pasti kau sudah tahu aturan Dunia Persilatan, bukan? Iyakan?"

Kata Tan Piauw.

"Kami harap Saudara Tan memberi petunjuk!"

Kata Beng Teng tetap merendah. Tan Piauw tertawa sinis.

"Semua saudaraku hidup susah. Oleh karena itu mereka ingin hidup layak, tak banyak yang kami inginkan, mohon kau serahkan saja separuh dari penghasilanmu kali ini!"

Kata Tan Piauw sambil tersenyum sinis "Maaf.

terus terang yang kami kawal ini bukan barang berharga, tetapi kami sedang mengantarkan seorang calon pengantin ke kota Yang-cou!

Bagaimana kami bisa membaginya?

Harap Saudara Tan maklum."

Kata Beng Teng. Wajah Tan Piauw langsung berubah dan ia berkata dengan sengit sekali.

"Jangan berdusta! Jika kau tidak dibayar oleh si orang tua she Han itu. mana mungkin kau mau mengantarkan puterinya ke kota Yang-cou yang jauhnya ribuan lie seperti sekarang ini? Kau tidak salah, orang memang tidak bisa dibagi dua! Tetapi uang emas kan bisa dibagi dua! Cepat serahkan seribu tail emas dan tinggalkan pada kami, maka kau boleh bebas meninggalkan tempat ini!"

Kata Tan Piauw.

Beng Teng terperangah kaget mendengar permintaan itu.

Memang Houw Wie Piauw-kiok menerima 2000 tail emas, dan hal itu sangat dirahasiakan sekali.

Sungguh aneh dan entah bagaimana si Serigala Tua Tan justru bisa mengetahuinya?

Sekarang Tan Piauw meminta seribu tail emas.

itu jelas dia sudah mengetahui berapa ongkos sebenarnya mengantarkan nona cantik itu ke Yang-cou?

Ditambah pula uang yang ia terima sebanyak seribu tail emas itu.

uang itu sudah ia bagi-bagikan pada anak buahnya, sebelum mereka berangkat dari Lok-yang.

Uang itu untuk biaya rumah tangga para piauw-su selama dalam perjalanan meninggalkan sanak keluarganya.

Maka sungguh tidak mungkin ia menyerahkan seribu tail emas sekarang kepada Tan Piuaw.

Sambil tertawa getir Beng Teng lalu berkata hormat.

"Saudara Tan buka harga terlalu tinggi. Kami dari Houw Wie Piauw-kiok pun ikut bersusah payah, harap Saudara Tan maklum..."

Sebelum Beng Teng selesai bicara. Tan Piauw sudah tertawa dingin.

"Apa yang sudah aku katakan tidak pernah berubah lagi! Sekalipun kita belum pernah bentrok, tetapi pasti kau 19 pernah mendengar tentang kami!"

Kata Tan Piauw dengan bengis. Beng Teng menahan marah, ia berpikir.

"Aku rasa orang Houw Wie Piauw-kiok cukup kuat. belum tentu kami tak akan mampu melawan mereka semua. Tetapi jika terjadi perkelahian pasti ada yang mati dan terluka. ditambah lagi Nona Han tidak mengerti ilmu silat, malah sekarang dalam keadaan sakit parah. Jika terjadi perkelahian ia pasti akan kaget dan ketakutan, malah bukan tidak mungkin akan terjadi hal yang tidak diinginkan!"

Pikir Beng Teng. Oleh karena itu ia mengambil keputusan yang tepat lalu kembali ia memberi hormat kepada Tan Piauw sambil berkata dengan manis dan bersikap hormat.

"Kami semua berkecimpung di Dunia Persilatan, yang terutama kami inginkan adalah persahabatan dengan siapa pun! Saudara Tan menghargai kami. seharusnya kami ikuti kehendak Anda itu! Bagaimana seandainya sekembali kami ke Lok-yang, baru uang itu kami antarkan ke tempatmu?"

Kata Beng Teng.

Dari ucapan Beng Teng itu jelas berarti ia menyetujui permintaan Tan Piauw.

tetapi butuh waktu sampai mereka kembali ke Lok-yang baru uang yang seribu tail emas itu diterimakan pada si Serigala Tua.

Sedang ketika itu para piauw-su menganggap bahwa Beng Teng bersikap terlalu lemah, sehingga mereka menggerutu kurang senang dan penasaran.

Di luar dugaan wajah Tan Piauw kelihatan berubah jadi tak sedap dilihat.

Kembali ia tertawa dingin.

"Syaratmu itu memang pantas dan boleh aku terima. Tetapi kami harus menahan antaranmu sebagai jaminan! Setelah kau menyerahkan seribu tail emas. baru antaranmu itu kami serahkan kepadamu. Yang selain itu panjimu pun akan kutahan!"

Kata Tan Piauw.

Sudah puluhan tahun Houw Wie Piauw-kiok berusaha dengan menggunakan bendera itu ke mana-mana.

Selama itu belum pernah ada orang yang berani meremehkan mereka.

Sekarang Tan Piauw ingin menahan panji mereka, berarti itu suatu penghinaan yang luar biasa.

Tidak heran jika para piauw-su kelihatan jadi kurang senang, begitupun Beng Teng.

Wajah Beng Teng segera berubah, alisnya berdiri, tetapi ia tetap tertawa dan mencoba bersikap sabar.

"Saudara Tan. kau sengaja ingin menghinaku! Hm! Jika kau ingin menahan panji kami itu tidak sulit......!"

Kata Beng Teng.

Saat keduanya sudah siap akan bertarung, pada saat yang bersamaan terdengar derap kaki kuda mendatangi ke arah mereka.

Ketika Beng Teng menoleh ke arah suara derap kaki kuda itu.

dari kejauhan tampak dua orang peunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat.

Tak lama kedua penunggang kuda itu sudah berada di tengah mereka.

Dua penunggang kuda yang baru datang itu yang satu uiang tua sudah beruban, umurnya sekitar 60 tahun, sedang yang satunya lagi seorang gadis muda baru berumur belasan tahun.

Menyaksikan munculnya kedua penunggang kuda ini Tan Piauw tampak sedikit terkejut.

"Ciu Lo-ya-cu (Orang tua she Ciu). tidak kusangka tajam juga telingamu itu!"

Kata Tan Piauw sambil tersenyum.

"Jadi kau khawatir tanganku akan terjulur panjang?"

Kata si orang tua itu dengan suara hambar.

"Ciu Lo-ya-cu. kau jangan bergurau! Usaha begini kecil bagaimana kau mau ikut campur. Aku hanya akan menerima seribu tail emas saja. aku harap kau orang tua..."

Orang she Ciu itu melotot.

"Jadi kalian tidak senang atas kedatangan kami berdua ini?"

Kata orang tua itu menegaskan. Mendadak nona di sampingnya tertawa nyaring.

"Kakek sifat serigala memang tamak! Tan tua ini mengira kita akan minta bagian darinya, itu berarti dia telah menghinamu. Kek! Seharusnya kau beri dia pelajaran agar mulutnya tak bicara sembarangan saja!"

Kata si nona. Saat berhadapan dengan Beng Teng orang she Tan ini galak luar biasa, namun saat dia berhadapan dengan nona muda ini. ketika disindir, dia tidak marah sama sekali malah tertawa.

"Mana boleh aku tak senang, kalian berdua datang ke mari. aku harus menyambutnya dengan gembira. Nona Hong usiamu sekarang sudah 17 tahun, apa kau sudah akan menikah?"

Kata Tan Piauw. Si nona langsung melotot.

"Hai Serigala Tua. apa kau sudah buta? Kita sedang bicara serius kau malah mengalihkannya padaku. Kau bicara sembarangan saja. apa kau kira aku tak berani menampar telingamu yang lebar itu?"

Kata nona Hong. Tan Piauw tertawa terbahak-bahak.

"Nona Hong. justru aku serius bicara tentang dirimu. Uang emas yang tak seberapa itu. mana mungkin dilirik oleh Kakekmu! Tetapi karena kalian sudah ke mari. pasti aku harus menghormati kalian berdua. Aku sudah berpikir 22 pada saat kau menikah aku akan mengantarkan lima ratus tail emas untukmu sebagai kado dariku!"

Kata Tan Piauw.

Aneh memang sekali buka mulut Tan Piauw langsung bersedia membagi dua uang seribu tail yang bakal ia peroleh dari Beng Teng pada si nona.

Itu sangat jelas sebagai tanda bahwa kakek dan cucu itu dia hormati atau lebih benar amat ditakuti.

Ketika mendengar ucapan Tan Piauw ini Beng Teng terheran-heran dibuatnya.

"Siapa kakek dan cucu ini? Mengapa Tan Piauw kelihatan begitu takut pada mereka? Malah dia ingin mengambil hati mereka?"

Pikir Beng Teng. Sebenarnya pengetahuan Beng Teng cukup luas tapi heran ia tak tahu siapa kakek dan cucu itu. Sebaliknya Nona Hong tertawa dingin.

"Serigala Tua. sungguh menarik kata-katamu itu. Kau bilang kau gembira atas kedatangan kami. Tetapi kenapa kau keluar dari sarangmu dan datang ke tempat sejauh ini dari tempatmu dan membuat masalah? Itu jelas kau ingin menghindar dari kami!"

Kata Nona Hong. Tan Piauw pura-pura gugup.

"Aduuuh! Tak kusangka rupanya kalian berdua telah mendatangi sarang kami! Maafkan aku karena tidak tahu hal itu. Sebenarnya aku justru khawatir akan mengganggu Kakekmu, maka aku datang ke tempat ini sekalipun tempat ini jauh dari sarangku. Nona Hong. kau jangan salah paham! Karena kau sudah datang ke mari, maka jangan khawatir 500 tail emas itu akan kukirimkan sebagai hadiah pernikahanmu!"

Kata Tan Piauw sambil tersenyum.

"Siapa yang butuh 500 tail uang emasmu itu?"

Kata si nona sambil mencibir. Mendengar jawaban ini Tan Piauw terbelalak matanya.

"Kalau begitu apa maksud kedatangan Nona dan Kakekmu ini? Sudah pasti aku tak akan membiarkan Nona pulang dengan tangan kosong!"

Kata Tan Piauw.

"Kau benar, sedikitpun tak salah!"

Kata nona Hong.

"Memang aku tidak akan pulang dengan tangan kosong! Aku tidak mau uang tapi aku ingin orang!"

Mendengar ucapan nona Hong itu Tan Piauw terkejut bukan main.

"Kau mau orang? Siapa orang yang kau inginkan itu?"

Tanya Tan Piauw. Tiba-tiba orang tua she Ciu tertawa sambil berkata.

"Tan Piauw. terus terang saja sesungguhnya aku tak mau datang ke mari."

Kata si kakek.

"Tetapi cucuku ini terus merengek memaksa ingin ke mari. terpaksa aku menemaninya. Dia bilang dia ingin melihat calon pengantin itu!"

Tan Piauw tercengang.

"Mana ada pengantin di sini?"

Kata Tan Piauw purapura. Mendengar jawaban itu nona Hong marah bukan main.

"Hai Tua Bangka, kau jangan pura-pura bodoh! Bukankah di dalam kereta yang indah itu ada seorang nona cantik calon pengantin? Kedatanganku ke mari ini untuk melihat dia!"

Kata nona Hong galak bukan main.

Kebetulan angin barat berhembus kencang sekali, sehingga kerai jendela kereta itu tersingkap Semua orang menoleh ke arah kereta itu.

Di sana tampak sang calon pengantin baru yang cantik sedang duduk diam.

Wajahnya masih kelihatan agak pucat, tetapi sedikit pun tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia takut.

Bahkan seolah 24 dia tak peduli pada apa yang sedang terjadi di luar kereta yang sedang dia duduki itu.

Sebenarnya sejak tadi Beng Teng sudah khawatir sekali kalau nona itu akan ketakutan setengah mati menyaksikan keributan di luar keretanya.

Tetapi apa yang dilihatnya ini membuat Beng Teng heran dan di luar dugaannya.

"Kiranya nona calon pengantin ini nyalinya cukup besar!"

Pikir Beng Teng. Nona Hong yang sempat melihat sang calon pengantin tak hentinya memuji kecantikan nona itu.

"Ternyata benar, sungguh cantik nona itu! Kakek aku suka pada Kakak itu. aku ingin mengundang dia datang ke rumah kita!"

Kata nona Hong. Si orang tua she Ciu tertawa.

"Kalau begitu, kau tanyakan dulu pada Beng Cong-piauwthauw (Kepala Pengawal Beng). karena dialah yang bertanggung-jawab untuk mengantar nona itu ke Yangcou!"

Kata si kakek.

Beng Teng sama sekali buta mengenai riwayat orang tua she Ciu dan cucunya itu.

Namun ketika ia mendengar orang tua she Ciu itu bicara begitu sopan dan ramah, juga tahu aturan dia segera menyahut dengan ramah pula.

"Lo-ya-cu tak salah, aku memang yang bertangung-jawab untuk mengantar Nona ini ke kota Yang-cou. dan katanya akan dinikahkan di sana. Maka permintaan Nona kecil....."

Nona Hong tertawa.

"Aku dan dia sama-sama wanita Aku ingin menjadi sahabatnya. Apa itu tidak lebih tepat dan pantas? Aku hanya ingin dia datang ke rumah kami untuk beberapa hari saja di sana. aku jamin aku tidak akan mengganggu 25 pernikahannya. Lalu dia akan kuantarkan ke rumah keluarga Kok di Yang-cou. Kau jangan khawatir, malah harus tenang karena calon pengantin ini tak akan jatuh ke tangan para penjahat."

Saat Beng Teng mendengar nona Hong mengatakan akan mengantarkan calon pengantin itu ke rumah calon suaminya marga Kok, bukan main terkejutnya Beng Teng.

"Eh. bagaimana mereka bisa mengetahui hal yang sebenarnya begitu dirahasiakan? Bukankah keluarga Han dan Kok hanya keluarga orang biasa saja?"

Pikir Beng Teng. Sebelum Beng Teng menyahut kelihatan Tan Giok atau si Serigala Putih sudah kelihatan tak sabar lagi.

"Nona Hong kau ingin merampas usaha kami. itu tak masalah! Tetapi berdasarkan aturan Dunia Persilatan, usaha ini jadi hak orang yang datang dan menemukannya pertama kali."

Kata Tan Giok.

Rupanya Tan Giok telah menyaksikan kecantikan sang calon pengantin itu.

Semula ia dan ayahnya sama tujuannya yaitu hanya ingin meminta uangnya.

Tetapi setelah melihat nona cantik itu.

sekarang berbalik ingin memiliki nona cantik itu untuk dijadikan isterinya.

Nona Hong melotot.

"Jadi kau tidak setuju, kan?"

Kata nona Hong. Serigala Tua Tan Piauw segera menyelak sebelum terjadi pertengkaran antara pihaknya dengan pihak nona Hong.

"Nona Hong jangan bergurau, kami bicara sebenarnya. Jika kau mengizinkan nona itu pergi, aku akan mengantarkan 500 tail emas untukmu! Aku harap kau jangan menyulitkan kami!"

Kata Tan Piauw seolah memohon. Nona Hong tertawa dingin.

"Siapa yang butuh uangmu itu? Aku akan mengundang nona itu ke rumah kami, dan kami pula yang akan mengantarkan dia ke Yang-cou! Lalu akan kuantarkan 500 tail uang emas padamu. Bagaimana? Aku minta kau jangan ikut campur dalam masalah ini!"

Kata nona Hong. Tan Giok langsung menyela.

"Tidak bisa! Orang punya wajah, pohon pun punya kulit! Mana boleh keluarga Tan melepas masalah ini setengah jalan ? Jika demikian mau di kemanakan muka kami? Ayah jangan terima usulnya itu!"

Kata Tan Giok.

Sebenarnya Tan Giok sadar dan tahu orang tua she Ciu itu gagah, tetapi ia pikir jika mereka berlima bergabung, ia yakin mereka akan mampu menghadapi orang she Ciu dan cucunya itu.

Ketika kedua pihak sudah mulai bersitegang, tiba-tiba mereka mendengar suara derap kaki kuda sedang mendatangi.

Kiranya telah muncul lagi seorang tamu lain yang tak diundang.

Orang itu usianya baru sekitar tigapuluh tahunan.

Dia seorang yang berpakaian mirip seorang sastrawan, wajahnya putih bersih, pada tangan orang itu terdapat sebuah kipas.

Begitu sampai ia langsung tertawa dan berkata.

"Mana calon pengantin baru itu. boleh kan aku melihatnya?"

Kata si sastrawan sikapnya tengil.

Saat itu kebetulan nona calon pengantin sedang menurunkan kerei kereta, tapi si sastrawan sempat juga melihat wajahnya yang cantik.

Ketika itu juga si sastrawan tertawa terbahak-bahak.

"Luar biasa! Sungguh luar biasa! Aku sudah sering melihat wanita cantik, tetapi tidak pernah melihat nona secantik ini! Hai Serigala Tua, baik kuberi kau seribu tail 27 emas padamu! Serahkan nona itu untuk dijadikan isteriku!"

Kata si sastrawan dengan angkuh. Tan Piauw melotot kelihatan ia gusar bukan main.

"Kentut! Jangan kau harap bisa memetik bunga segar di tempat ini! Lebih baik kau menjauh dari tempat ini! Aku larang kau ikut campur dalam radius kekuasaanku!"

Kata Tan Piauw dengan sengit. Sambil mengipas-ngipas dirinya sastrawan bertampang sesat itu tertawa.

"Serigala Tua kau jangan berpura-pura jadi pria sejati! Kau pilih antara orang dan uang. tapi aku sarankan padamu lebih baik kau terima uang saja! Sedangkan aku menginginkan nona cantik ini. Bukankah itu saling menguntungkan kita berdua? Betul kan?"

Kata si sastrawan.

Sesungguhnya Tan Piauw segan cekcok dengan si sastrawan itu.

Kalau saja di tempat itu tidak ada orang tua she Ciu dan cucunya, pasti dia akan lebih senang menerima tawaran si sastrawan itu yaitu menerima seribu tail uang emas.

Sekarang karena ada orang tua itu dia jadi ragu-ragu.

Dia sedot cangklongnya, sesudah itu ia berkata dengan lantang.

"Apa kau tidak tahu ada aturan di golongan Liok-lim (Golongan Dunia Hitam)?"

Tanya Tan Piauw.

"Aku minta kau jangan berharap bahwa kaum hitam bisa makan kaum hitam juga! Jika aku katakan kau jangan ikut campur, jangan!"

Kata Tan Piauw. Si sastrawan tertawa terbahak-bahak.

"Justru aku ingin ikut campur, lalu kau mau apa?"

Kata si sastrawan menantang. Saat Tan Piauw mau menjawab kata-kata sastrawan itu. nona Hong sudah mendahuluinya.

"Orang marga An! Kau mau ikut campur tak apa-apa! Tetapi kau harus meninggalkan suatu barang dulu untukku!"

Kata nona Hong. Si sastrawan tertawa.

"Barang? Barang apa yang Nona Hong inginkan dariku? Jika kau menginginkan rembulan yang ada di atas langit pun pasti akan kupetik untukmu!"

Kata si orang she An itu. Nona Hong tertawa dingin.

"Yang aku inginkan ialah kedua biji matamu, lekas kau cungkil untukku!"

Kata nona Hong. Si sastrawan kembali tertawa.

"Aihh. bukankah jika kedua biji mataku hilang aku jadi tak bisa melihat wanita cantik lagi? Lalu apa gunanya aku hidup? Nona gurauanmu itu sungguh keterlaluan!"

Kata si sastrawan sambil tertawa.

"Siapa mau bergurau denganmu? Kakek, dia tak mau mencungkil kedua matanya untukku! Mari kita turun tangan melakukannya sendiri. Kakek yang turun tangan atau aku?"

Kata nona Hong bertanya pada kakeknya.

"Jangan tergesa-gesa. ia belum turun tangan."

Bisik si kakek Ciu sabar.

Maksud orang tua she Ciu itu bahwa si sastrawan belum turun tangan, jika ia sudah mulai ikut campur baru si kakek akan turun tangan.

Sekalipun si sastrawan masih tertawa sebenarnya hatinya mulai jerih juga.

Diam-diam ia mundur dua langkah.

Saat itu Beng Teng sedang berpikir keras, la tak habis pikir memikirkan si sastrawan tengil itu.

Setelah agak lama ia baru ingat bahwa si sastrawan itu adalah orang yang bergelar si Maling Pemetik Bunga.

Jika dugaannya itu benar 29 maka ia akan menghadapi lawan yang tangguh.

Ia tahu si sastrawan berilmu tinggi, terutama gin-kangnya (ilmu meringankan tubuh) dan ilmu menotok jalan darahnya luar biasa mahir.

Beng Teng mengerutkan keningnya, lima serigala ditambah Maling Pemetik Bunga, mereka itu merupakan lawan yang tak mudah untuk ditaklukkan.

Sedang si orang she Ciu.

ia yakin berilmu tinggi juga.

Sekalipun Beng Teng tak yakin bisa mengalahkan mereka, namun ia sudah mengambil keputusan nama baik Houw Wie Piauw-kiok jangan sampai jatuh di tangan mereka.

Pada saat mereka sedang berdebat tak seorang pun yang memperhatikan para piauw-su itu.

tentu saja hal ini membuat Beng Teng gusar.

Dia bersiul panjang lalu berkata dengan lantang.

"Siapa yang mau turun tangan, dia harus bertanya dulu pada pedangku ini!"

Kata Beng Teng. Begitu selesai Beng Teng bersiul para piauw-su langsung siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Sedang si orang tua she Ciu tertawa.

"Pelaku utama sudah tampil, kita harus bagaimana?"

Tanya orang tua she Ciu pada semua orang.

"Kau tidak bisa menakut-nakuti aku! Memang sudah lama aku ingin mencoba sampai di mana dahsyatnya Harimau Tiong-touw ini? Tunggu orang tua, jika aku sudah tergigit oleh si harimau itu. baru kau yang turun tangan!"

Kata Tan Piauw. Si orang tua she Ciu tertawa terbahak-bahak.

"Baiklah! Dengan aturan ini kita jalankan agar kita tak merusak hubungan kita semua. Saudara An, kau harus bergerak sesudah aku. Jika aku sudah tidak tahan melawan mereka, baru kau boleh menggantikan aku!"

Kata orang tua she Ciu.

Sebenarnya sastrawan An kurang sepakat, tetapi akhirnya ia setuju juga dan tertarik pada anjuran itu.

Ia pikir lebih baik ia menyaksikan mereka saling cakar dulu, pasti akan ada yang terluka, dan juga kelelahan.

Saat tiba giliran dia, ia akan menghadapi lawan yang sudah lemah.

Pemenangnya pasti dia!

Begitu ia berpikir maka itu ia mengangguk setuju.

Nona Hong tertawa.

"Baik. aku ingin menyaksikan apakah Serigala Tua mampu mengalahkan Harimau atau tidak?"

Kata nona Hong. Mendengar ucapan nona Hong itu bukan main gusarnya Tan Piauw. Dia tertawa dingin.

"Nona Hong, jangan cemas! Aku kalah atau menang kau pasti menghemat 500 tail uang emas!"

Kata Tan Piauw. Sekalipun ia berkata begitu tetapi ia berpikir keras.

"Aku tak boleh dipandang remeh oleh nona liar ini!"pikir Tan Piauw. Sambil menggenggam cangklongnya erat-erat Tan Piauw melangkah maju menghampiri Beng Teng. Sebelum ia sampai ke depan Beng Teng, si Serigala Hijau Tan Kauw telah melompat ke hadapan ayahnya.

"Ayah! Di mataku Cong-piauw-su ini hanya seekor anjing! Untuk membunuh seekor anjing Ayah tak perlu turun tangan sendiri, biar aku yang menghadapinya!"

Kata 31 Tan Kauw dengan sombong bukan main. Tan Piauw tertawa.

"Hati-hati kau bicara, sekalipun hanya seekor anjing dia bisa menggigit orang!"

Kata sang ayah sambil tertawa.

Mendengar kata-kata itu bukan main gusarnya Beng Teng saat itu.

Saat ia mau maju menyerang lawannya itu, tetapi tiba-tiba Ciok Cong Thian telah melompat ke hadapannya.

Rupanya kegusaran piauw-su ini telah memuncak.

"Cong Piauw-thauw. izinkan aku yang membeset kulit serigala ini! Tetapi aku yakin kau tak menyukai kulit serigala itu bukan?!"

Kata Ciok Cong Thian. Beng Teng tertawa.

"Kulit serigala yang sudah busuk memang tak berguna."

Kata Beng Teng.

"tapi barangkali masih berharga untuk membungkus mayat! Nah, kulit serigala itu kau boleh berikan saja pada Tuan Tan tua, barangkali berguna baginya!"

Biasanya Beng Teng tidak pernah bicara kasar seperti itu. rupanya kali ini ia benar-benar gusar maka dia bicara begitu barangkali untuk mengimbangi ucapan mereka yang sombong.

"Jangan banyak bicara, lihat tongkatku!"

Kata Tan Kauw.

Tubuh Tan Kauw tinggi, dia menggunakan tongkat yang dipasangi gigi serigala.

Saat ia mulai menyerang terasa serangan angin dari tongkat terdengar menderu-deru.

Bisa dibayangkan betapa hebatnya serangannya itu.

Bab Saat diserang.

Ciok Cong Thian melintangkan goloknya untuk menangkis serangan tongkat lawan, tak heran terjadilah benturan yang sangat keras.

Tongkat yang ada di tangan Tan Kauw terpental balik, sebaliknya tangan Ciok Thian pun terasa ngilu, sedang tubuhnya bergoyang-goyang.

Tan Kauw merasakan seolah darahnya mengalir terbalik, pada dadanya terasa panas dan sepasang kakinya ia rasakan ringan.

Dia tak tahan terpaksa ia mundur dua langkah ke belakang.

Mereka baru bergebrak satu jurus, kelihatan mereka sama kuat.

Masing-masing tidak cedera, sebaliknya semangat Ciok Cong Thian terbangun untuk melanjutkan pertarungan itu.

Tan Kauw berteriak keras sambil menyerang lagi.

Tongkat bergigi serigalanya berkelebat menyambar ke arah kepala Cong Thian.

Serangan itu bisa dihindarkan oleh Cong Thian dengan mudah dan ia segera berpikir.

"Tan Piauw belum turun tangan, aku harus menyimpan tenagaku."

Pikir dia.

Ia menggeser tubuhnya ke samping, sekaligus ia menyerang dengan jurus "Hong Huang Toh Uah" (Burung Hong Huang Berebut Sarang).

Ternyata jurus ini bisa mendahului serangan lawan.

Tiba-tiba Tan Kauw membentak dengan suara keras.

"Aku akan adu jiwa denganmu!"

Katanya. Sesudah itu dia mengayunkan tongkat bergigi serigalanya ke kepala Cong Thian. Tubuh Tan Kauw lebih tinggi dari Cong Thian. Maka serangannya itu yakin akan berhasil memukul kepala lawan.

"Aku akan menerima bacokanmu. tapi kepalamu pun akan hancur oleh tongkatku!"

Pikir Tan Kauw.

Jika Cong Thian tak membatalkan serangannya maka dia yakin kepalanya akan hancur dihajar oleh tongkat lawan.

Tadi para piauw-su sudah bersorak girang pada saat melihat Cong Thian berada di atas angin.

Tetapi saat mereka menyaksikan serangan Tan Kauw dengan nekat dan ganas, sorakan itu berhenti seketika itu juga.

Malah keringat dingin membasahi tubuh mereka karena khawatir pada keselamatan Cong Thian.

Pada saat bersamaan terdengar suara benturan keras.

"Trang!"

Tan Kauw terpental ke belakang sejauh tiga langkah, sedangkan Ciok Cong Thian tetap berdiri di tempatnya dan tangannya masih menggenggam goloknya.

"Terima kasih atas kemurahan hatimu, kau mau mengalah kepadaku!"

Kata Cong Thian sambil tersenyum.

Tan Kauw menundukkan kepalanya.

Ternyata tongkat gigi serigala miliknya itu telah kutung.

Kejadian itu sungguh mengherankan Tan Kauw Tadi pada saat Tan Kauw menghantamkan tongkat gigi serigalanya ke arah kepala lawannya, tiba-tiba Cong Thian yang sadar akan bahaya yang dihadapinya, jadi nekat lalu menangkis serangan tongkat itu dengan sekuat tenaga.

Golok Cong Thian berhasil memapas tongkat milik Tan Kauw sehingga buntung.

Para piuaw-su menarik napas lega.

Mereka girang pihaknya memenangkan pertarungan itu.

Sudah seharusnya Tan Kauw menerima kekalahan itu, dasar dia manusia liar, wajahnya tiba-tiba berubah jadi 34 merah padam saking gusarnya.

Tiba-tiba dia maju menyerang ke arah orang she Ciok itu.

"Orang she Ciok! Hari ini jika bukan kau yang mati aku yang akan mampus! Jika kau pandai ambil kepalaku!"

Teriak Tan Kauw sambil menyerang dengan nekat. Menyaksikan kejadian itu bukan main marahnya para piauw-su itu. Mereka gemas sekali.

"Dasar tidak tahu malu! Sudah kalah masih menyerang!"

Teriak seorang piauw-su dengan lantang.

"Ciok Toa-ko. kau jangan sungkan lagi. Beset saja kulit serigala itu."

Sambung piauw-su yang lain. Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tan Kauw waktu itu. Dia menggeram sambil meyerang. Sesudah bertarung lewat belasan jurus. Cong Thian berpikir.

"Jika aku bunuh dia, pasti para serigala yang lain akan bertarung dengan pihakku! tetapi jika dia tidak aku bunuh, aku pun sudah tak bisa mundur lagi. Ah, aku jadi serba salah?"

Pikir Cong Thian. Sebagai piauw-su yang sudah berpengalaman luas sebelum bertindak Cong Thian sudah berpikir panjang. Sebelum bertindak dia dengar Tan Piauw berseru.

"Jangan bertarung secara membabi-buta!"

Teriak Tan Piauw.

Sedangkan Tan Kauw bertarung hingga hilang kendali.

Sekalipun sudah dinasihati oleh ayahnya, dia tetap nekat.

Cong Thian mulai gusar.

Jika dia tidak melukai Tan Kauw.

maka ia yang akan terluka.

"Kalau begini, baiklah aku harus membeset kulitnya!"

Pikir Cong Thian.

Pada saat itu juga Cong Thian mulai menyerang dengan hebat.

Goloknya berkelebat hingga membuat Tan Kauw jadi terdesak.

Tan Piauw menghela napas dan mengerutkan keningnya karena cemas bukan main.

"Giok, kau gantikan Kakakmu melawan orang she Ciok itu!"

Kata Tan Piauw.

Sekalipun Tan Giok di antara saudara-saudaranya paling muda.

tetapi kepandaiannya justru yang paling tinggi di antara saudara-saudaranya.

Tak heran jika ayahnya mempercayakan membantu Tan Kauw kepadanya.

Paa saat yang bersamaan di gelanggang Cong Thian telah menyerang dengan hebat sekali.

Dia menggunakan jurus yang mematikan.

Serangan ini jelas akan mencelakakan Tan Kauw.

Melihat hal itu Tan Giok berteriak dengan suara nyaring.

"Celaka!"

Kata Tan Giok.

Pada saat dia baru akan melompat ke tengah gelanggang, kelihatan sesosok bayangan hitam berkelebat ke tengah gelanggang.

Yaitu pada saat golok Cong Thian hampir mengenai tubuh Tan Kauw.

pada saat yang bersamaan terdengar suara benturan keras.

"Trang!"

Golok yang ada di tangan Cong Thian terpental oleh sebuah tangkisan hebat dari cangklong milik Tan Piauw.

Melihat anak sulungnya dalam bahaya Tan Piauw pun segera melompat maju untuk menolongi anak sulungnya itu.

Kemudian Tan Piauw tertawa terbahak-bahak.

"Ciok Piauw-su. ilmu golokmu hebat sekali! Anakku telah berani mengganggu harimau, harap kau bermurah hati!"

Kata Tan Piauw sambil tersenyum sinis. Saking gusarnya wajah Ciok Cong Thian jadi merah-padam. Dia malu kaiena dia tidak bisa menarik goloknya yang melekat pada cangklong milik Tan Piauw.

"Jika Tan Pang-cu ingin bertarung, aku sudah siap meladenimu! Aku tidak takut!"

Kata Cong Thian dengan gagah.

Cong Thian sadar dia bukan tandingan Tan Piauw.

tetapi di muka umum ia harus menjaga pamor Houw Wie Piauw-kiok.

maka itu dia berkata begitu pada Tan Piuaw.

Di tengah para piauw-su terdengar suara keras.

"Anaknya sudah kalah, sekarang muncul si tua bangka! Sungguh tidak tahu malu!"

"Mana bisa dinamakan seorang jago, menghadapi kami saja para piauw-su kalian harus bertarung secara bergiliran. Apa tidak malu? Jika kami yang menang itu akan lebih mengangkat nama kami semua!"

Kata piauw-su yang lain.

Saat Beng Teng mau maju menolongi Ciok Cong Thian, tapi Tan Piauw sudah menarik cangklongnya yang menempel dengan golok Cong Thian.

Sambil mengisap cangklongnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Pertarungan tadi pihakmulah yang menang!"

Kata Tan Piauw.

"Tetapi aku masih punya anak yang lain. dia memang tidak tahu berapa tingginya langit dan tebalnya bumi. Semula aku ingin minta petunjuk dari Ciok Piauw-su! Tapi jika Ciokpiauw-su mengangap itu pertarungan secara bergiliran, ya sudahlah!"

Sekarang semua orang baru sadar, bahwa Tan Piauw bukan ingin turun tangan sendiri, tetapi dia cuma mewakili anak-anaknya untuk menantang Ciok Cong Thian.

"Mengapa aku takut bertarung secara bergilir dengan kalian? Yang tua maupun yang muda. silakan maju! Mari!"

Kata Cong Thian menantang. Diam-diam seorang piauw-su menasihati kawannya itu.

"Ciok Toa-ko emosimu jangan terpancing! Baik kau serahkan saja dia kepadaku, akulah yang akan menghadapi si Serigala Putih!"

Kata piauw-su itu.

Ternyata orang yang bicara itu adalah salah seorang dari empat piauw-su andalan Houw Wie Piauw-kiok.

Orang itu bernama Chu Cu Kia.

Dia masih muda tetapi kepandaiannya sudah tinggi.

Dia bergelar Pek-ma Gin-cio (Tombak Perak Kuda Putih).

Kepandaian anak muda ini hanya kalah setingkat saja dari Ciok Cong Thian.

Tan Giok tertawa pada lawannya ini.

sambil memberi hormat dia langsung maju untuk bersiap-siap.

"Aku yang bodoh bernama Tan Giok. ingin minta petunjuk dari salah seorang piauw-su, atas kesediaannya aku akan sangat berterima kasih sekali!"

Kata Tan Giok.

Semua piauw-su belum tahu berapa tinggi kepandaian Tan Giok ini, namun Chu Cu Kia sudah tahu.

Tan Giok kepandaiannya lebih tinggi dari semua saudaranya.

Mengenai kalah dan menang jika diukur dengan kepandaian Chu Cu Kia, sulit dia bisa mengalahkan Tan Giok.

Malah barangkali dia yang akan dikalahkan oleh Tan Giok.

Tetapi demi nama baik piauw-kioknya dan ditambah dia juga sudah maju ke gelanggang, dia pun menerima 38 tantangan Tan Giok tersebut.

Dia juga buru-buru memberi hormat pada lawannya sambil berkata sopan.

"Saudara, jangan sungkan silakan keluarkan senjatamu, aku siap meladenimu!"

Kata Chu Cu Kia.

"Maaf. aku tidak berani kurang hormat. Chu Piauw-su datang dari tempat yang jauh, kau adalah tamu kami. Silakan kau menyerang lebih dulu!"

Kata Tan Giok. Chu Cu Kia manggut.

"Baik! Kalau begitu aku tidak akan berlaku sungkan lagi! Sambut serangan pertamaku!"

Kata Chu Cu Kia. Chu Cu Kia memutar tombaknya, tombak itu berkelebatkelebat di tengah gelanggang dan mulai membentuk sebuah lingkaran. Bukan main indahnya.

"Bagus!"

Seru Tan Giok.

Sesudah memuji Tan Giok segera menghunus pedangnya.

Tubuhnya bergerak bersamaan dengan gerakan pedangnya ke arah Chu Cu Kia.

Serangan itu bernama jurus "Hoat Cau Sui Coa" (Membabat Rumput Mencari Ular).

Chu Cu Kia kaget.

"Hebat sekali ilmu pedang Tan Giok ini!"

Pikir Chu Cu Kia sedikit terperanjat.

Segera dia menggeser tubuhnya ke samping, sekaligus dia gerakkan ujung tombaknya ke arah jalan darah Yam-khie-hoat lawan.

Jurus ini diperkirakan akan ditangkis oleh lawan.

Dugaan Chu Cu Kia memang tepat.

Tan Giok memang segera menarik pedangnya untuk menangkis serangan lawannya itu.

Bersamaan dengan itu dia memutar tubuhnya, sekaligus dia menyabetkan pedangnya ke arah 39 punggung Chu Cu Kia, ke bagian pi-pe!

ini adalah serangan ke bagian yang mematikan.

Buru-buru Chu Cu Kia melompat ke belakang.

Kali ini dia mulai mempertunjukkan ilmu "Gin-cio Sa-cap-lak-sek" (Tiga puluh enam jurus Ilmu Tombak Perak).

Tombak perak Chu Cu Kia bergerak-gerak berkelebat memancarkan sinar putih yang menyilaukan mata.

Sebaliknya Tan Giok pun bergerak dan memutarkan pedangnya yang juga bercahaya putih berkilauan.

Bayangan mereka tidak tampak.

jelas yang kelihatan hanya cahaya tombak perak Chu Cu Kia dan cahaya pedang milik Tan Giok.

Tanpa terasa pertarungan itu sudah berlangsung 30 jurus lebih, namun belum ketahuan siapa yang lebih unggul.

Tetapi semakin lama hati Chu Cu Kia jadi semakin gentar.

"Jika aku tidak mampu mengalahkan anak serigala ini. piauw-su yang lain akan kecewa sekali!"

Pikir Chu Cu Kia.

Seorang pesilat tangguh pada saat dia sedang bertarung mana boleh hatinya bercabang dua.

Dia juga tidak boleh emosi, tetapi Chu Cu Kia justru telah melanggar pantangan itu.

Dia mulai emosi sehingga dia menyerang dengan matimatian.

Akibatnya dia jadi agak lengah dan penjagaan atas dirinya agak longgar.

Dia menyerang dengan jurus "Pek-coa Thou Sing" (Ular Putih Menyemburkan Racun).

Serangan ini membuat Tan Giok tertawa dingin.

Mendadak tubuh Tan Giok ini mencelat ke atas.

Pada saat itu dia gunakan jurus "Cauw Tee Pah Lui" (Pagi-pagi Mencabut Pucuk Daun).

Dengan jurus tersebut dia berhasil menghindari serangan lawan.

Akan tetapi pada saat yang bersamaan Chu Cu Kia menggerakkan tombak peraknya ke atas.

Jurus ini amat mematikan dan berbahaya sekali.

Tan Giok memang berkepandaian tinggi.

Sekalipun tubuhnya sedang berada di udara, dia masih bisa akrobat di 40 udara untuk menghindari serangan yang mematikan itu.

Dia telah menduga Chu Cu Kia akan menyerang dengan jurus tersebut, pada saat tubuhnya sedang berakrobat di udara, dia juga menyerang dengan pedangnya ke bawah, ke arah bahu Chu Cu Kia yang terbuka tanpa perlindungan.

Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan Chu Cu Kia.

hingga dia tidak sempat lagi untuk berkelit dari serangan lawannya ini.

Dengan demikian dia harus berlaku nekat dan tanpa berpikir lagi dia langsung berteriak.

"Jika bukan kau yang mati. akulah yang akan mati!"

Teriak Chu Cu Kia.

Chu Cu Kia mengangkat tombaknya ke atas Keduanya sama-sama mengeluarkan jurus yang mematikan.

Jika bahu Chu Cu Kia tertusuk dia akan cacat seumur hidup, sebaliknya jika perut Tan Giok yang tertusuk oleh tombak Chu Cu Kia, maka ada kemungkinan besar Tan Giok-lah yang akan mati.

Semua orang berteriak kaget.

Dari masingmasing pihak segera melompat seseorang.

Dari pihak piauw-kiok Beng Teng yang melompat bagaikan bayangan ke tengah gelanggang.

"Trang!"

Terdengar suara senjata beradu dengan keras satu sama lain.

Rupanya pedang Tan Giok tertangkis oleh sebuah tameng besi di tangan Beng Teng, tidak ampun lagi pedang itu terpental ke udara.

Pada saat yang bersamaan dia kibaskan lengan bajunya ke arah tombak di tangan Chu Cu Kia.

dengan demikian tombak piauw-su ini berhasil dia rebut.

Tan Giok kaget bukan kepalang, dia melompat ke belakang tiga langkah jauhnya.

"Beng Cong-piauw-thauw. kau.....!"

Kata Tan Giok.

"Babak ini pihakmu yang menang!"

Kata Beng Teng sambil tertawa.

"Maka cukup sampai di sini saja! Mengapa harus saling melukai?"

Tadi pada saat Ciok Cong Thian melawan Tan Kauw, dia hampir melukai Tan Kauw.

namun keburu datang Tan Piauw yang menyelamatkan anak sulungnya itu.

Kali ini Beng Teng yang menyelamatkan Chu Cu Kia dari maut.

Gerakan Beng Teng ini sekaligus berhasil merebut tombak Chu Cu Kia sehingga dia tidak melukai Tan Giok.

Tindakan Beng Teng ini bukan perbuatan baik, tetapi satu perbuatan yang bijaksana.

Dengan demikian lawannya pun tidak mencela perbuatannya, karena dia berlaku sangat adil.

Dari pihak si Serigala Tua muncul Tan Piauw sang Serigala Tua sendiri.

Namun Tan Giok sudah diselamatkan oleh Beng Teng.

Ketika dia lihat anaknya Tan Giok tidak terluka, hatinya jadi lega.

Ketika dia menengadah keatas dia berseru.

"Hari sudah tidak siang lagi! Ketua Beng. bolehkah aku mengusik harimau?"

Kata Tan Piauw sambil tertawa. Nona Hong tertawa.

"Bagus! Pertarungan tadi sangat membosankan, aku jadi ngantuk. Pertarungan antara Harimau dan Serigala pasti akan seru untuk ditonton!"

Kata nona Hong sambil bertepuk tangan.

Sebenarnya pertarungan tadi sebuah pertarungan antara hidup dan mati, tetapi aneh nona Hong malah mengatakan pertarungan itu sangat membosankan.

Ucapan nona Hong itu sungguh sangat keterlaluan dan sangat menghina sekali, tampak para piauw-su sangat kesal, dongkol dan heran mendengar ucapan nona yang jahil itu.

"Benar-benar nona itu tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Jika dia berkepandaian tinggi, paling-paling setingkat dengan si Serigala Putih Tan Giok! Tidak mungkin lebih hebat, tetapi mulutnya sungguh tajam dan lancang, juga sombong sekali!"

Pikir seorang piauw-su. Tiba-tiba si Rase Liar yang bernama An Tak itu meluruskan tubuhnya. Sastrawan bertampang sesat ini lalu berkata dengan suara nyaring.

"Aku tidak peduli siapa yang menang atau yang kalah. Yang aku inginkan agar pertarungan ini cepat selesai! Dan pertarungannya harus mengasyikkan dan juga menentukan!"

Kata si sastrawan sambil tertawa. Nona Hong mendengus.

"Hm! Memang kau ini tak tahu diri!"

Kata nona Hong.

"Jika kau bermimpi ingin merebut sang calon pengantin, seumur hidupmu kau tidak akan berhasil!"

Kata nona Hong menyindir dengan tajam.

"Jangan banyak mulut dan berdebat! Mari kita lihat saja!"

Kata si Rase Liar An Tak dengan suara hambar. Pada saat nona Hong dan An Tak sedang berdebat, tibatiba terdengar suara bentakan dari Beng Teng.

"Baik! Kita lihat harimau yang jatuh, atau serigala yang masuk ke mulut harimau? Tan Pang-cu terima seranganku yang pertama!"

Kata Beng Teng.

Beng Teng bersenjata sebuah tameng dan sebilah pedang panjang, saat dia menyerang ke arah lawan, tubuhnya bergerak dengan gesit sekali.

Menghadapi serangan itu sedikitpun Tan Piauw tidak gugup.

Dengan mudah dia bisa menghindar, lalu dia angkat cangklongnya untuk dipakai memukul tameng yang dipegang oleh Beng Teng.

"Tang!"

Terdengar suara yang amat keras dan nyaring sekali.

Tameng milik Beng Teng yang terbuat dari tembaga dan sangat berat itu, saat dipakai menyerang Beng Teng menggunakan jurus "Tay-san Ap Teng" (Gunung Tay-san Menimpa Dari Atas).

Tetapi dengan mudah serangan Beng Teng ini bisa dihindarkan oleh Tan Piauw.

Menyaksikan kejadian itu para piauu-su kaget dan keheranan.

Selama puluhan tahun keadaan piau-kiok mereka aman-aman saja.

Tetapi kali ini si Harimau pasti akan jatuh di tangan Tan Piauw si Serigala Tua yang lihay .

Beng Teng pun berpikir keras.

"Tan Piauw bisa meminjam tenaga lawan, aku harus waspada terhadapnya!"

Pikir Beng Teng.

Di samping Beng Teng terkejut, dia pun tidak gugup sama sekali.

Tiba-tiba dia menyerang lagi dengan pedangnya.

Jurus yang digunakan jauh lebih hebat dari jurus yang tadi, hingga membuat Tan Piauw terperanjat.

"Tak heran jika Houw Wie Piauw Kiok begitu terkenal. Ternyata Beng Teng seorang yang gagah dan ini benarbenar bukan omong kosong."

Pikir Tan Piauw. Tan Piauw tidak mengelak dari serangan hebat itu, dia hanya menangkis pedang Beng Teng dengan cangklongnya sekuat tenaga.

"Trang!"

Terdengar suara benturan sangat keras.

Pedang di tangan Beng Teng itu tertangkis ke samping oleh cangklong lawan.

Pada saat yang bersamaan.

Beng Teng pun bergerak dengan cepat menyambar kaki Tan Piauw dengan tamengnya.

Tan Piauw tertawa terbahak-bahak.

"Bagus!"

Katanya memuji.

Dia mengelak dari serangan berbahaya itu kemudian balas menyerang.

Serangannya itu bukan main cepatnya.

Tahu-tahu ujung cangklongnya sudah mengarah ke tenggorokan Beng Teng.

Beng Teng segera mundur selangkah ke belakang, sekaligus dia balas menyerang dengan jurus "Hoat Cau Sui Coa" (Membabat Rumput Mencari Ular).

Serangan itu mengarah ke lutut Tan Piauw.

Tan Piauw dengan cepat mengangkat kakinya dari serangan Beng Teng.

dia bergerak menggunakan jurus "Koay Cung Hoan Sin" (Binatang Aneh Membalikkan Badan).

Jurus ini sangat lihay, ujung cangklong Tan Piauw menotok ke jalan darah Hoan-thian-hoat di kaki Beng Teng.

Gerakan kaki Beng Teng pun sangat gesit.

Dia melompat ke atas menghindari serangan lawan itu.

kemudian sebelah kakinya langsung menendang ke jalan darah Tan-tian-hiat.

Jika tendangan Beng Teng itu mengenai sasaran, Tan Piauw pasti terluka parah.

Pada saat itulah terdengar suara keras.

"Trang!"

Pada saat yang bersamaan.

Tan Piauw menyerang dengan jurus yang mematikan juga, dengan demikian Beng Teng harus menangkis cangklong lawan ini dengan pedangnya, sedang tamengnya yang ada di tangan kiri Beng Teng, langsung diayunkan ke bahu lawan.

Buru-buru Tan Piauw membungkukkan tubuhnya, dengan demikian tameng lawan melewati kepalanya.

Sekalipun Tan Piauw berhasil mengelak dari serangan tersebut, tetapi serangan lawannya itu sempat membuat dia berkeringat dingin.

Nona Hong tertawa geli.

"Kelihatan memang si Serigala bakal masuk ke dalam mulut harimau"

Kata si nona.

Bukan main gusar dan jengkelnya Tan Piauw mendapat cemoohan dari si nona itu.

Setelah menggeram dia langsung menyerang dengan hebat pada Beng Teng.

Ujung cangklongnya menotok ke jalan darah Seng-khek-hiat di dada Beng Teng.

Beng Teng segera menangkis serangan berbahaya itu.

tetapi Tan Piauw segera memiringkan cangklongnya, sehingga ujung cangklongnya mengarah ke jalan darah Mia-bun-hiat di tubuh Beng Teng.

Beng Teng terkejut sekali.

Hal ini membuat dia jadi kalangkabut.

Dia berkelit dan mengeluarkan jurus "Pan Liong Siauw Pouw" (Naga Berputar Mundur).

Kelihatan tubuh Beng Teng berputar ke samping dua depa.

baru dia berhasil terhindar dari serangan sangat berbahaya itu.

Menyaksikan kejadian itu kawanan perampok bersorak girang sekali.

Wajah Beng Teng panas dan malu bukan main.

Dia mulai menyerang dengan jurus simpanannya.

Sedang Tan Piauw pun menggunakan jurus andalannya.

Mereka bertarung dengan mati-matian.

Tak lama rembulan pun sudah menampakkan diri di langit yang biru.

Tiba-tiba Tan Piauw yang sedang bertarung berteriak keras.

"Serigala Putih, angkat barang yang mereka bawa!"

Teriak Tan Piauw.

Tan Giok dan anak buahnya langsung bergerak berhamburan kearah kerea yang dinaiki sang calon pengantin.

Beng Teng tahu apa artinya perintah itu.

Bukan main gusarnya Beng Teng saat itu.

"Serigala Tua...!"

Bentak Beng Teng sengit sekali. Ucapan Beng Teng terputus karena dia harus menangkis serangan dari si Serigala Tua Tan Piauw. Melihat Beng Teng gugup, Tan Piauw malah tertawa terbahak-bahak.

"Bertarung satu lawan satu sulit menentukan pemenangnya."

Kata Tan Piauw.

"Kita juga tidak pernah berjanji kalau yang menang akan memiliki isi kereta itu! Kau pengawal aku yang merampok, maka kau tidak boleh menyalahkan kami tidak memakai aturan!"

"Baik. mari saudara-saudara! Kita serang mereka!"

Kata Ciok Cong Thian dengan bersemangat.

"Orang she Ciok, tadi kita bertarung dan tidak ada yang kalah dan yang menang. Sekarang mari kita lanjutkan."

Kata Tan kauw dengan sengit karena dia sangat penasaran "Dasar orang yang tidak tahu malu!"

Teriak Cong Thian.

Terjadilah pertarungan antara Ciok Cong Thian dan Tan Kauw.

Kali ini mereka bertarung benar-benar sedang mengadu jiwa.

Serangan hebat dari Cong Thian hampir saja mencelakakan si Serigala Hijau Tan Kauw.

Pada saat keadaan sangat kritis bagi Tan Kauw, tiba-tiba terdengar suara keras.

Sebuah palu besar meluncur ke arah Ciok Cong Thian, palu itu tepat mengarah ke dadanya.

Ciok Cong Thian kaget, dia tidak sempat menghindar, maka terpaksa serangan itu dia tangkis.

"Trang!"

Lelatu api berhamburan berpijar-pijar di tengah udara terbuka. Ciok Cong Thian menoleh ke arah penyerangnya, ternyata dua si Serigala Kuning Tan Teng. anak kedua Tan Piauw.

"Kanda, biar kuhabisi domba ini untuk mewakili kau!"

Kata Tan Teng pada Tan Kauw.

"Bagus! Sekarang aku tidak peduli apa itu serigala putih atau kuning, aku harus membeset kulit mereka!"

Teriak Cong Thian dengan sengit.

Mereka langsung bertarung dengan hebat.

Begitu juga para piauw-su sudah bertempur melawan kawan-kawan si serigala.

Tan Kauw menyaksikan perkelahian adiknya Tan Teng dengan Cong Thian.

Kepandaian Tan Teng jauh lebih tinggi dari Tan Kauw.

tidak heran jika Tan Teng mampu mengimbangi serangan-serangan dari Ciok Cong Thian.

Malah dia mampu melakukan serangan pada lawannya.

Sesudah tahu adiknya mampu menghadapi Cong Thian yang gagah.

Tan Kauw mencari lawan lain di antara para piauw-su itu.

Tan Giok telah berhasil menerobos pertahanan para piauwsu yang sedang menjaga kereta mewah itu.

Tetapi tiba-tiba muncul Chu Cu Kia menghadang di depan dia.

Melihat Chu Cu Kia si Serigala Putih Tan Giok langsung tertawa.

"Tadi kau sudah kalah, apa kau masih mau melawanku?"

Kata Tan Giok.

Mendadak melayang bayangan hitam.

Orang itu ternyata Tan Su si Serigala Hitam yang bersenjata sebuah cambuk istimewa.

Dia melompat menyerang ke arah Chu Cu Kia, dengan ganas sambil mengayunkan cambuk ke arah lawan.

"Roboh kau!"

Teriak Tan Su.

Cambuk di tangan Tan Su itu sebuah senjata yang sangat istimewa, cambuk itu bisa berubah sebentar lunak sebentar keras.

Chu Cu Kia sudah berpengalaman, begitu dia melihat cambuk lawan itu, dia segera tahu sampai di mana 48 kelihayan cambuk itu.

Maka itu dia tidak berani gegabah meladeni lawannya ini.

Dengan cermat segera dia menggerakkan tombak peraknya.

Dia gunakan jurus "Pian Hoa Cit Seng" (Bunga Tujuh Bintang).

Kelihatan ujung tombak perak itu berkelebatan memancarkan cahaya putih, menusuk ke arah perut Tan Su.

Jurus "Pian Hoa Cit Seng"

Ini jurus yang menjadi andalan Chu Cu Kia, dan sangat lihay. Tan Su tahu betapa hebatnya serangan Chu Cu Kia kali ini. Segera dia tangkis serangan itu.

"Bagus!"

Dia memuji. Saat Tan Su menangkis serangan Chu Cu Kia dia menggunakan jurus "Sia Kua Tan Pian" (Cambuk Menggantung Miring). Seketika itu juga terdengar suara benturan Mng hebat dan nyaring.

"Ting! Tang! Ting! Tang!"

Tangkisan Tan Su berhasil mengatasi serangan Chu Cu kia.

Sesudah berhasil mematahkan serangan lawan Tan Su membalas menyerang dengan jurus "Tiat Soh Heng Coi!" (Mengikat Perahu Yang Melintang).

Kelihatan cambuk Tan Su meliuk-liuk bagaikan seekor ular yang ganas, dia berhasil membelit tombak Chu Cu Kia.

Tetapi sedikit pun Chu Cu Kia tidak gugup atau keder.

dia segera memutarkan tombak peraknya dan juga menggeser tubuhnya sedikit lalu menyerang lawan.

Dengan tidak terasa pertarungan ini sudah lewat beberapa puluh jurus.

Sedang cambuk Tan Su masih meliuk-liuk dan mendatangkan suara keras, tombak Chu Cu Kia pun berkelebatan mencari sasaran.

Kepandaian Tan Su tidak setinggi kepandaian saudarasaudaranya, tidak heran jika pada saat itu mereka jadi seimbang.

Sedangkan lwee-kang Tan Su masih di 49 bawah Chu Cu Kia.

Pertarungan mereka itu tampak seru dan sengit sekali.

Saat itu Tan Giok sudah mendekati kereta mewah itu, tibatiba dia mendengar suara sebuah bentakan.

"Di sini kau jangan main gila!"

Kata suara itu.

Orang yang membentak Tan Giok tersebut bernama Cin Kan.

salah seorang piauw-su andalan Beng Teng.

Cin Kan ini bersenjata sebatang toya besi yang sangat berat, dia langsung menyerang Tan Giok dengan sengit.

Tan Giok pun tertawa.

"Kawan, kau jangan menyia-nyiakan tenagamu!"

Bentak Tan Giok sambil tertawa sinis.

Tan Giok menangkis serangan toya besi lawannya itu dengan pedang Ceng-kang-kiam.

padahal dia hanya menggunakan lima bagian tenaganya, tetapi toya besi Cin Kan yang berat bergeser terkena tangkisannya itu.

Cin Kan kaget bukan kepalang.

Pada saat yang bersamaan, dia melancarkan serangan lagi dengan jurus "Hoan Cau Wan Hong" (Burung Hong Berpindah Sarang).

"Hu! Cepat juga kau mengubah serangan, tapi tidak ada gunanya."

Kata Tan Giok sambil tertawa dan mengejek.

Tan Giok dengan pedang Ceng-kang-kiam-nya menangkis serangan lawan dengan jurus "Eng Cang Tiang Khong" (Elang Menyerang Dari Angkasa), kemudian dia susul dengan serangan "Ie Hoan Can Ti" (Ikan Berenang Di Air Dangkal), kemudian dia susul lagi dengan jurus "Sam Hoa Hui Goat" (Berputar Tiga Kali Mengitari Bulan) dan jurus "To Tah Kini Ceng" (Memukul Lonceng Dengan Tubuh Miring).

Serangan Tan Giok yang berturut-turut sebanyak tiga kali, membuat pedangnya kelihatan berkelebat bahkan mengarah ke tenggorokan Cin Kan, dan ke kedua bahu maupun lutut lawan.

Sekalipun Cin Kan bisa berkelit dengan cepat, namun pedang Tan Giok jauh lebih cepat.

Pada jurus yang ke tiga itu Tan Giok membentak keras.

"Kena!"

Jurus "Toh Tah Kim Ceng" (Memukul Lonceng Dengan Tubuh Miring) berhasil melukai bahu Cin Kan dan seketika itu juga darah segar mengucur keluar dari bahu Cin Kan.

Terluka bahunya membuat Cin Kan tidak sanggup melanjutkan pertarungan lagi.

Tan Giok segera menghampiri kereta itu.

Disusul oleh Tan Kauw yang juga mendekat ke kereta mewah itu.

sebelum mereka dekat ke kereta itu, Tan Kauw sudah dihadang oleh Sun Hua, salah seorang piauw-su yang bersenjata sepasang Poan-koan-pit.

Sun Hua akhli menotok jalan darah dengan sepasang Poankoan-pit.

Tetapi sayang tombak bergigi serigala milik Tan Kauw lebih panjang dari senjata Sun Hua.

ditambah lagi Tan Kauw bertenaga besar sekali.

Pada saat mereka sedang bertarung.

Sun Hua mendapat kesulitan untuk mendekati lawannya itu.

Tan Kauw tahu kelemahan lawannya itu, yaitu dengan jarak yang berjauhan, lawan jadi sulit menyerang dia.

Tak sampai tiga puluh jurus, sebatang Poan-koan-pit (senjata mirip alat tulis Tionghoa) itu terpental tertangkis oleh senjata Tan Kauw.

lengan Sun Hua pun terluka sehingga dia tidak sanggup bertarung lagi.

Menyaksikan anak buahnya banyak yang telah terluka Beng Teng kaget bukan main.

Sekarang dari empat piauwsu andalannya itu hanya tinggal dua orang saja.

yaitu Ciok Cong Thian dan Chu Cu Kia yang masih bertarung.

Bisa dibayangkan, betapa gugup dan paniknya Beng Teng saat itu.

Sambil mengertakkan gigi Beng Teng berteriak.

"Saudara Tan Piauw! Aku akan adu jiwa denganmu!"

Kata Beng Teng dengan nyaring. Beng Teng langsung menggunakan jurus yang mematikan, hal ini membuat si Serigala Tua Tan Piauw terpaksa melompat mundur. Kemudian Tan Piauw pun tertawa nyaring.

"Kau mau mengadu jiwa denganku, silakan aku siap meladenimu!"

Kata Tan Piauw.

Saat Tan Piauw sudah siap meladeni Beng Teng.

justru Beng Teng malah melompat ke arah kereta mewah, maksud Beng Teng akan melindungi kereta yang dikawalnya itu dari gangguan para penjahat.

Tetapi tiba-tiba terasa ada suara angin berkesiur dari belakang dia.

Rupanya Tan Piauw sudah melompat menyusul ke arah Beng Teng.

Dengan tanpa menoleh lagi Beng Teng langsung menyerang ke belakang.

Tetapi Tan Piauw gesit luar biasa, dia menangkis serangan pedang lawan ini dengan cangklong atau pipa panjangnya itu.

"Trang!"

Tan Piauw tertawa terbahak-bahak.

"Cong Piauw-thauw! Lebih baik kau mengaku kalah saja!"

Kata Tan Piauw mengejek.

Tiba-tiba Tan Piauw menghembuskan asap tembakau dari mulutnya, hembusan ini tak boleh dianggap ringan karena serangan itu dibarengi dengan lwee-kang (tenaga dalam) yang hebat sekali.

Sedikitpun Beng Teng tidak mengira akan disembur dengan asap tembakau, tidak ampun lagi matanya terkena asap tembakau itu.

Seketika itu juga kedua matanya terasa pedih.

Beng Teng tidak mampu membuka kedua matanya.

Bersamaan dengan serangan itu, dengan cepat Tan Piauw mengarahkan cangklongnya ke arah bahu lawan.

"Kena!"

Kata Tan Piauw. Bahu Beng Teng terkena cangklong yang masih berapi, dan terdengar suara.

"Cesss!"

Bahu Beng Teng terluka dan hangus terbakar, tetapi pada saat yang bersamaan Beng Teng pun telah menyerang dengan pedangnya.

Sungguh di luar dugaan ternyata Tan Piauw gesit, dia mampu menggeser tubuhnya sehingga terhindar dari tusukan pedang Beng Teng.

Kemudian Tan Piauw tertawa.

"Ah Harimau berhasil dilukai oleh Serigala. Sekarang aku tidak ingin bertarung lagi dengan Harimau Buta!"

Kata Tan Piauw dengan sinis.

Sambil tertawa dia tinggalkan Beng Teng dan langsung melompat ke arah kereta mewah itu.

Beng Teng merasakan matanya pedih bukan main sehingga matanya itu mengeluarkan air mata.

Dia kaget sekali karena sepasang matanya kini tidak bisa dibuka.

"Jangan-jangan asap tembakau itu beracun?!"

Beng Teng menduga-duga. Beng Teng tak hentinya menggerakkan pedangnya, rupanya dia khawatir akan diserang oleh lawan. Melihat Kejadian itu piauw-su Tio Yong berlari menghampirinya.

"Cong Piauw-thauw mari kucuci matamu!"

Kata Tio Yong kaget saat melihat Beng Teng memejamkan matanya.

Ketika Beng Teng mengenali suara anak buahnya dia berhenti memutarkan pedangnya.

Tio Yong mengambil sapu tangannya yang dia basahi untuk dipakai mencuci mata atasannya itu.

Perlahan-lahan rasa sakit dan pedih di mata Beng Teng hilang juga.

Beng Teng menghela napas lega dia yakin malanya tidak akan buta karena asap pipa Tan Piauw tersebut.

"Bagaimana, apa sudah baikan?"

Tanya Tio Yong. Beng Teng mengangguk.

"Bagaimana keadaan pertarungan sekarang?"

Tanya Beng Teng pada anak buahnya.

"Cong Piauw-thauw jangan cemas, obati dulu matamu. Kebetulan aku membawa obat mata!"

Kata Tio Yong. Tio Yong mengeluarkan sebotol kecil obat mata dari sakunya, lalu diteteskan obat mata itu ke mata Beng Teng. Beng Teng merasakan matanya sejuk sekali.

"Obat matamu lumayan juga."

Kata Beng Teng.

Kini Beng Teng sudah bisa membuka kedua matanya.

Rupanya asap tembakau itu tidak beracun.

Pada saat yang bersamaan Beng Teng bisa melihat, dia lihat Chu Cu Kia terpental terkena senjata lawan.

Beng Teng kaget bukan main.

"Celaka!"

Kata dia.

Kemudian disusul oleh jeritan Ciok Cong Thian.

piauwsu kawakan ini pun kalah oleh Tan Teng.

Ciok Cong Thian roboh dan entah pingsan atau sudah mati.

Kedua piauw-su itu andalan Beng Teng.

Sekarang yang ada di dekat kereta tinggal kedua lelaki tua yang mengawal nona cantik itu.

Keduanya berdiri melindungi si nona.

Wajah Beng Teng jadi muram, dia menarik napas panjang dan kelihatan lesu 54

"Kali ini Houw Wie Piauw-kiok kalah total! Jika nona itu berhasil diculik, kemana aku akan menyembunyikan mukaku?"

Pikir Beng Teng.

Kekhawatiran Beng Teng ini masuk akal.

Jika terjadi nona calon pengantin itu hilang, bagaimana dia harus bertanggungjawab kepada ayah nona Han?

Ke mana mukanya akan dia sembunyikan jika hal itu terjadi?

Saat itu dia putus asa sekali dan hampir bunuh diri.

Tetapi ketika dia menoleh ke arah kereta, dia lihat di depan kereta kedua orang tua itu sedang menghadang majunya para perampok itu.

"Hai tua-bangka. apa kau tak mau minggir? Apa kau mau menunggu kami membunuh kalian berdua?!"

Kata Tan Kauw. Kedua lelaki tua itu pelayan setia si nona calon pengantin. Keduanya tidak takut oleh ancaman Tan Kauw itu.

"Sekalipun kau akan membunuh kami. tidak akan kami izinkan kau naik ke kereta ini!"

Kata salah seorang dari mereka. Tan Kauw gusar bukan main Dia ingin membunuh kedua lelaki tua itu. Tiba-tiba pada saat Tan Kauw maju semakin dekat, terdengar suara seruan keras.

"Toa-ko, jangan lukai mereka!"

Kata Tan Giok. Tan Giok hanya ingin merebut si nona cantik itu dan dia tidak ingin kakaknya membunuh kedua lelaki tua itu. Tan Kauw tertawa.

"Baiklah, akan kuusir saja mereka berdua ini!"

Kata Tan Kauw dengan sombong.

Tan Kauw menjulurkan tangannya ke arah salah seorang lelaki tua itu.

Pada saat yang bersamaan Beng Teng pun sudah siap mengayunkan pedang untuk bunuh diri.

tiba-tiba Tio Yong berseru-seru.

"Cong Piauw-thauw. lihat-lihat!"

Teriak Tio Yong.

Tio Yong menunjuk ke arah kereta mewah itu.

Beng Teng pun ikut menoleh ke arah sana.

Saat itu Tan Kauw yang hendak menjambak lelaki tua ilu.

malah sekarang sedang dicengkeram oleh lelaki tua kurus itu.

Tubuhnya sudah diangkat ke atas.

Saat itu tangan Tan Kauw bergerak mengayunkan senjata ke arah lelaki tua itu.

Tetapi lelaki tua itu memutarkan tubuh Tan Kauw.

Saat itu mereka seolah sebuah tontonan akrobat atau seorang akrobat sedang mempertunjukkan kebolehannya di depan penonton.

Para perampok yang lain segera menghindar, dengan demikian kereta mewah itu telah bebas dari kepungan para perampok yang kelihatan garang sekali.

Menyaksikan kejadian itu Beng Teng terkejut bercampur girang.

Melihat aksi lelaki tua kurus itu Beng Teng langsung tahu.

bahwa orang tua itu lihay.

Setelah memutarkan tubuh Tan Kauw.

lelaki tua itu tertawa terahak-bahak.

"Bagus! Tadi kau tidak bermaksud membunuhku, sekarang juga aku pun mau mengampuni nyawamu!"

Kata lelaki tua kurus itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu matanya terbelalak, tiba-tiba lelaki tua kurus itu membanting tubuh Tan Kauw sekuat tenaga ke tanah.

"Pergi!"

Bentak si lelaki tua kurus. Tubuh Tan Kauw terlempar sejauh tujuh depa. sedang kawan-kawan Tan Kauw yang takut tertimpah tubuh kawannya sudah langsung menyingkir jauh-jauh.

"Kedubraaak! Duuuk!"

Tan Kauw jatuh terbanting dengan keras ke tanah, dia menjerit-jerit karena kesakitan Tan Su melompat ke arah si orang tua kurus itu, sekaligus ia menyerang dengan cambuk istimewanya.

Dia gunakan jurus "Ciak Coa Jau Su" (Ular Belang Melilit Pohon).

Tetapi mendadak dengan cepat lelaki tua yang gemuk melompat ke depan Tan Su.

"Biar yang ini bagianku!"

Kata si lelaki tua gemuk.

Pada saat cambuk Tan Su melayang ke arahnya, dia mengelak dengan mudah dan sekaligus maju selangkah sambil mengulurkan tangannya.

Setelah berhasil menangkap cambuk lawannya, dia menarik dan menghentakkan cambuk itu dengan keras sekali.

"Lepaskan!"

Kata si gemuk. Bukan main keras tarikan si gemuk ini, tahu-tahu cambuk itu telah berada di tangan si gemuk.

"Kau datang tanpa memberi hormat, itu berarti kau kurang ajar! Sekarang kau harus dihajar!"

Kata si gemuk.

Si tua gemuk itu segera mengayunkan cambuk yang tadi dia rebut dari Tan Su ke arah pemiliknya, dia juga menggunakanjurus yang sama "Ciak Coa Jau Su" (Ular Belang Melilit Pohon).

Ujung cambuk itu berhasil membelit tubuh Tan Su.

kemudian cambuk itu ditarik dengan dihentakkan keras sekali hingga membuat Tan Su tidak sanggup berdiri tegak lagi.

Tubuhnya terpelanting jatuh ke tanah dengan keras.

"Gedebuk!"

"Aduh!"

Tan Su menjerit dengan kaget dan dia tidak menyangka dengan mudah dia bisa dijatuhkan oleh si gemuk itu.

Menyaksikan kejadian itu Beng Teng girang sekali.

Tetapi pada saat yang bersamaan melompatlah Tan Giok ke arah si gemuk dan pedangnya ditusukkan mengarah ke jalan darah Pauw-khie-hiat.

Si gemuk berkelit dari serangan itu.

tapi Tan Giok sudah menyerang lagi.

Sekarang ujung pedang Tan Giok mengarah ke perut si gemuk.

Lelaki tua gemuk itu tertawa.

Segera dia lemparkan cambuk milik Tan Su itu.

Saat dia merebut cambuk itu dari Tan Su.

dia gunakan ilmu Kin-na-chiu (Ilmu mencengkram) yang terdiri dari 72 jurus, dia melemparkan cambuk itu karena dia anggap kurang leluasa jika dia memegang senjata.

Sesudah itu dia tertawa.

"Tak aku sangka Serigala Putih juga bisa menggigit!"

Kata si gemuk.

"Sekarang kau akan kucengkram agar semua orang mentertawakanmu!"

Kepandaian Tan Giok paling tinggi di antara saudarasaudaranya, sekarang si gemuk menghadapinya dengan tangan kosong.

Bagi Tan Giok ini peristiwa yang memalukan dirinya, tak heran sindiran si gemuk tadi membuatnya gusar bukan main.

Pada saat Tan Giok akan menyerang lagi.

muncul Tan Teng si Serigala Kuning yang langsung mengangkat godamnya menyerang ke arah si gemuk.

"Akan kuhajar kau tua bangka!"

Kata Tan Teng. Palu besi besar itu mengarah ke kepala si gemuk, segera si gemuk menggeser tubuhnya sedikit, lalu dia ulur sebelah tangannya secepat kilat.

"Kena!"

Si gemuk berseru. Dengan sebelah tangannya itu si gemuk menangkis serangan Tan Teng, dan palu Tan Teng tertangkis gagangnya hingga palu besi itu berbalik menyerang pemiliknya.

"Duuk! Aduh!"

Terdengar suara palu besi beradu dengan jidat Tan Teng dan disusul oleh jeritan Tan Teng sendiri, dia langsung roboh dan pingsan.

Bisa dibayangkan terkejutnya Tan Piauw, ayah Tan Teng menyaksikan kejadian itu.

Dia melompat ke depan si tua gemuk, tetapi lelaki kurus pun segera maju menghadangnya.

"Awas seranganku!"

Kata Tan Piauw.

Secara tiba-tiba lelaki tua kurus itu dia serang dengan jurus "Ngo Heng Kiam" (Pedang Lima Elemen), tangan kirinya terjulur dan kelima jarinya menyerang ke dada si kurus.

Bukan main hebatnya serangan itu, tetapi si kurus sama sekali tidak gentar.

Dia melompat mundur dua langkah, lalu dia kibaskan tangannya ke arah lawan.

Tan Piauw kaget karena kibasan tangan si tua kurus itu berisi lwee-kang (tenaga dalam) yang tinggi.

"Lwee-kang orang ini tidak jauh berbeda dengan Iweekangku, pantas si Kauw dan si Teng kalah olehnya!"

Pikir Tan Piauw. Si lelaki tua kurus itu tertawa melihat lawannya terheranheran itu.

"Hm! Serigala Tua kau bisa menggigit orang, jangan salah aku pun mampu membeset kulitmu!"

Ejek si tua kurus.

Mendengar ejekan itu Tan Piauw melotot.

Tiba-tiba tubuh Tan Piauw berputar dan tahu-tahu dia sudah berada di belakang si tua kurus, dengan cepat Tan Piauw menotok jalan darah Leng-tay-hiat dari si tua kurus.

Tetapi dengan tanpa menoleh lagi si tua kurus bergeser ke samping.

Kembali Tan Piauw menyerang dengan jurus "Kim Hong Si Lui" (Kumbang Emas Hinggap Di Putik Bunga).

Si tua kurus tersentak kaget, dia kagum oleh kepandaian Tan Piauw ini.

Dia berkelit dengan cepat menghindar dari serangan Tan Piauw yang cepat luar biasa itu.

"Si Serigala Tua sangat terkenal di Dunia Persilatan, memang ini bukan omong kosong!"

Pikir si tua kurus.

"Senjata cangklongnya bisa dia gunakan seperti pedang, sedang ujungnya bisa dipakai menotok jalan darah lawan. Sungguh luar biasa!"

Saat pertarungan sedang berlangsung antara dua jago tua ini.

para piauw-su banyak yang kaget hingga mata mereka terbelalak dan kagum menyaksikan kehebatan kedua orang itu.

Di tempat lain orang sedang mengobati luka Chu Cu Kia.

Sesudah diobati Chu Cu Kia mendekati Beng Teng.

Dia berbisik ke telinga bossnya.

"Cong-piauw-thauw, rasanya kita akan selamat. Tetapi aku heran pada kedua lelaki tua itu. mereka berkepandaian sangat tinggi, tetapi mengapa mereka bersedia menjadi budak nona cantik itu? Kita telah menempuh perjalanan 60 jauhnya ribuan lie bersama mereka. Aku heran sama sekali kita tidak tahu kalau keduanya sangat pandai. Barangkali mata kita sudah lamur!"

Kata Chu Cu Kia. Beng Teng menghela napas.

"Aaah! Jika hari ini kita bisa selamat, akupun sudah tidak punya muka lagi berkecimpung di bidang ini! Kita dibayar untuk melindungi orang, tetapi sebaliknya malah kita yang dilindungi oleh mereka. Aku sebagai pemimpin piauw-kiok, tetapi tak bisa dibandingkan dengan kedua budak tua itu!"

Kata Beng Teng mengeluhkan nasibnya.

"Cong-piauw-thauw. kau jangan putus asa!"

Kata Chu Cu Kia mencoba menghibur atasannya itu.

"Sesuatu yang terjadi atas perusahaan ekpedisi seperti perusahaan kita ini, wajar saja. Coba kau bayangkan perusahaan mana yang tidak pernah mengalami kegagalan saat mereka mengawal barang? Ditambah lagi kau juga belum dikalahkan oleh si Serigala Tua Tan Piauw....."

Chu Cu Kia berhenti sejenak, dia menatap wajah Beng Teng. kemudian ia melanjutkan ucapannya.

"Memang benar urusan hari ini sungguh luar biasa!"

Kata Chu Cu Kia. Beng Teng manggut-manggut.

"Kau benar, aku juga tidak habis pikir. Orang she Han itu punya dua pesilat tangguh seperti dua lelaki tua kurus dan gemuk itu, tetapi mengapa mereka masih bersedia mengeluarkan uang begitu banyak untuk membayar kita melindungi puterinya?"

Kata Beng Teng. Chu Cu Kia mengerutkan keningnya.

"Ketua, apa kau tahu asal-usul kedua orang tua itu?"

Tanya Chu Cu Kia. Beng Teng menghela napas panjang.

"Aaah! Kedua orang tua itu pandai ilmu "Kim-na Ciu Hoat" (Ilmu Mencengkeram Dengan Tangan Kosong), aku yakin mereka itu akhli Gwa-kang (Ilmu Tenaga Luar) dan ilmunya sudah sangat tinggi. Aku kenal dengan beberapa pesilat akhli gwa-kang. tetapi tidak seorang pun yang bisa menyamai mereka berdua. Sungguh aku malu sekali karena tidak tahu asal-usul mereka."

Kata Beng Teng.

Pada saat mereka berdua sedang berbincang, pertarungan antara Tan Piauw dan lelaki tua kurus itu masih berlangsung seru.

Sedangkan pertarungan antara si tua gemuk dan Tan Giok telah terjadi perubahan.

Sekarang Tan Giok sudah mulai terdesak oleh si orang tua gemuk.

Tiba-tiba nona calon pengantin yang ada di kereta menyingkapkan kain kerei jendela kereta.

Dia berbangkis beberapa kali baru kemudian terdengar dia bicara.

"Chan Toa-siok (Paman Chan Tua), hari sudah bukan siang lagi. aku ingin segera istirahat sebentar!"

Kata si nona dari dalam kereta. Maksud ucapan si nona jelas dia menyuruh kedua orang tua kurus dan gemuk itu segera menyelesaikan pertarungan mereka itu.

"Ya. Nona! Kami harap Nona bisa segera beristirahat! Budak tua akan segera mengusir kawanan serigala ini!"

Jawab si kurus.

Sesudah itu si tua kurus melancarkan serangan yang bertubi-tubi, serangan ini membuat Tan Piauw terdesak mundur beberapa langkah.

Sementara si tua gemuk juga sudah mulai mendesak dengan hebat ke arah Tan Giok.

Tibatiba si tua gemuk membentak.

"Lepaskan pedangmu!"

Tan Giok terkejut dia merasakan pedangnya bergetar hebat, tanpa terasa pedang itu terlepas dari tangannya, sedang tangannya terasa sakit sekali.

Pada saat yang bersamaan si tua gemuk sudah langsung maju selangkah dan berhasil mencengkram tangan Tan Giok.

Tan Piauw saat itu telah melihat Tan Giok dalam bahaya, segera menghindar dari sebuah serangan si tua kurus, dia langsung melompat ke arah Tan Giok untuk menolongi anaknya itu dari bahaya.

Si tua gemuk yang telah berhasil merebut pedang Tan Giok lalu mendorong tubuh lawan sehingga terpental sejauh dua depa.

Saat itulah Tan Piauw tiba di depan si orang tua gemuk, sambil tertawa terbahak-bahak si orang tua gemuk melemparkan pedang Tan Giok yang ada di tangannya ke arah dada Tan Giok.

Pada saat pedang itu sedang meluncur ke arah Tan Giok.

saat itu Tan Giok masih terhuyung belum bisa berdiri tegak, tentu saja datangnya serangan itu tidak akan mampu dia hindarkan lagi atau dia tangkis.

"Jangan lukai anakku!"

Teriak Tan Piauw. Tan Piauw langsung menangkis pedang yang sedang meluncur ke arah Tan Giok.

"Trang!"

Pedang itu terpental, ternyata Tan Piauw berhasil menyelamatkan nyawa Tan Giok dari bahaya maut itu.

Sebelum Tan Piauw bisa berbuat lain si tua gemuk sudah langsung menyerang dia ke arah punggung.

Tan Piauw segera berkelit dari serangan itu.

tetapi gerakan si tua gemuk jauh lebih cepat.

Dia telah berhasil mencengkram lengan kiri Tan Piauw dengan keras sekali.

Tan Piauw tidak sempat berkelit lagi, sehingga tangan kirinya berhasil dicengkram oleh lawannya.

"Aku tidak akan mematahkan tanganmu, enyahlah kau dari sini!"

Bentak si tua gemuk.

Si tua gemuk itu mengerahkan lwee-kang dan sekaligus mendorong tubuh Tan Piauw sehingga Tan Piauw terpental sejauh tiga depa.

Setelah Tan Piauw bisa berdiri tetap lagi dia langsung menundukkan kepalanya.

Ternyata lengan kirinya telah bengkak merah dan ada bekas lima jari si tua gemuk, sakitnya bukan main.

"Jika tadi dia mengerahkan lwee-kangnya, tanganku pasti sudah remuk!"

Pikir Tan Piauw. Dia mengaku kalah lalu berjalan dengan kepala ditundukkan. Sedangkan si tua gemuk mengawasi dengan heran juga.

"Si Tua Tan Piauw terkena cengkraman harimauku, tetapi dia bisa tetap tegar. Sungguh luar biasa! Jika tadi dia tidak sedang mencemaskan keselamatan anaknya, belum tentu aku bisa mengalahkan dia dengan mudah!"

Pikir si tua gemuk. Tiba-tiba nona Hong yang sejak tadi menonton bersama kakeknya tertawa.

"Kek! Kita harus ke sana mengundang nona di kereta itu!"

Kata si nona. Sebelum keduanya melangkahkan kaki mereka, si sastrawan sesat yang sejak tadi memegangi kipasnya sudah langsung melompat ke arah kereta mewah sambil tertawa cekikikan.

"Pengantin itu milikiku. uangnya boleh kalian ambil!"

Kata si sastrawan sesat itu. Nona Hong melotot.

"Rase Liar! Kau tahu aturan Hek-to (Dunia Hitam) atau tidak?"

Kata nona Hong. Dia akan melompat menghalangi si sastrawan itu. tetapi kakeknya yang ada di sampingnya, segera mencegah nona Hong bertindak begitu.

"Biarkan dia yang ke sana dulu. supaya kita tidak perlu buang tenaga! He! He! He! Percayalah tidak mudah dia memilikinya!"

Kata sang kakek.

An Tak si Rase Liar atau si sastrawan sesat sebenarnya segan berhadapan dengan kakek Ciu ini.

Itu sebabnya dia mendahului turun tangan, dia khawatir si nona calon pengantin akan jatuh ke tangan kakek Ciu tersebut.

Gin-kang (ilmu meringankan tubuh) si sastrawan sesat ini sangat tinggi.

Jika dia berhasil merebut nona cantik di kereta itu.

An Tak yakin kakek Ciu tidak akan mampu mengejar dia lagi.

Tak lama An Tak sudah ada di depan jendela kereta mewah itu.

tetapi kedua lelaki tua gemuk dan kurus itu sudah langsung menghadang majunya si sastawan sesat itu.

"Mari!"

Kata lelaki tua sambil menatap ke arah An Tak dengan dingin. Orang-orang sudah menyaksikan kelihayan kedua pengawal tua si nona cantik itu. ketika An Tak maju. mereka semua langsung berpikir.

"Lima orang dari si Serigala Tua saja tidak ada yang mampu melawan kedua jago tua itu. apalagi si Rase Liar yang tergila-gila oleh sang calon pengantin ini. Aku rasa dia hanya akan mengantarkan nyawanya saja!"

Pikir salah seorang piauw-su yang terus mengawasi gerak gerik si sastrawan itu.

Si sastrawan sesat yang ingin segera memiliki nona cantik itu dengan tanpa banyak bicara lagi dia langsung menyerang pada si tua gemuk dengan kipasnya.

Kipas An Tak ini mengarah ke jalan darah Hwa-kay-hiat, yaitu jalan darah yang mematikan.

Si lelaki tua gemuk gusar bukan main, dia berkelit dari serangan itu.

"Rase Liar yang kejam! Sambut setanganku ini!"

Bentak si orang tua gemuk.

Saat si orang tua gemuk itu melancarkan serangannya si sastrawan sesat diam tidak bergerak, tiba-tiba dia membalas menyerang dengan ujung kipasnya yang mengarah ke Khek-tihiat.

Serangan si tua gemuk gagal, kejadian ini membuat dia bertambah gusar.

Saat si tua gemuk hendak menghindar dari serangan si sastrawan sesat, sebaliknya si sastrawan sesat sudah menarik kembali serangannya, malah berbalik dia serang si lelaki tua kurus.

Serangan yang tiba-tiba itu membuat si tua kurus terpaksa harus mengelak ke samping.

Tetapi mendadak si sastrawan sesat itu membalikkan badannya dan menyerang ke arah si tua gemuk, dia arah jalan darah Cih-tong-hiat di punggung.

"Seer!"

Orang tua gemuk itu berhasil menghindar dari serangan si sastrawan sesat itu.

Sekalipun serangan si sastrawan sesat tidak mengenai sasaran dengan tepat dan tidak mampu melukai si orang tua gemuk, namun serangan itu berhasil melubangi jubah si tua gemuk.

Hanya dengan tiga serangan dan si Rase Liar, ternyata serangannya telah membuat kedua jago tua itu kalang-kabut.

Tadi yang menonton dan sedang mentertawakan si Rase Liar yang dianggap tak akan mampu melawan kedua orang tua itu.

tetapi sekarang mereka menyaksikan keadaan sudah jadi terbalik.

Mata mereka terbelalak dan kaget.

Si Rase Liar terus melancarkan serangan-serangannya yang cepat luar biasa.

Dengan cepat si Rase Liar membuka kipasnya, dia serang si orang tua gemuk.

Si orang tua gemuk gusar sekali, dia serang kipas lawan dengan hebat, tapi si Rase Liar buruburu memiringkan kipasnya, ketika itu terdengar suara keras.

"Sreet!"

Si orang tua gemuk menjerit kesakitan, bahunya tergores ujung kipas lawan.

Darah segar langsung mengucur membasahi lengan bajunya.

Di luar dugaan ternyata tulang kipas milik si Rase Liar itu terbuat dari baja mumi dan ujungnya tajam sekali.

Si orang tua gemuk terhuyung ke belakang, dia merasakan sakitnya bukan main.

Si gemuk meringis karena kesakitan.

Menyaksikan pertarungan itu para piauw-su kaget, tibatiba si orang tua kurus mengulur tangannya hendak mencengkram kipas lawan.

Penonton yakin si orang tua kurus akan berhasil merampas kipas itu dari tangan si sastrawan.

Sungguh di luar dugaan.

Tiba-tiba lelaki tua kurus itu terpental sejauh delapan langkah.

Saat si orang tua kurus mengulurkan tangannya, pada saat yang bersamaan si Rase Liar mendadak menutup kipasnya, dan langsung melancarkan pukulan keras ke arah si orang tua kurus dengan tangan kirinya.

Bersamaan dengan itu dia tusuk telapak tangan si orang tua kurus dengan ujung kipasnya.

Maka tidak ampun lagi tangan si orang tua kurus terluka terkena ujung kipas An Tak yang 67 tajam itu.

Si orang tua kurus tepental akibat pukulan tangan kiri si Rase Liar yang keras itu.

Si lelaki gemuk hendak maju lagi.

"Hai, apa kau mau cari mati? Cepat pergi!"

Kata si Rase Liar sambil tertawa sinis.

Dia serang si orang tua gemuk itu.

Hanya dalam beberapa jurus saja si Rase Liar berhasil menotok jalan darah Pouw Ci-hiat si lelaki gemuk, sehingga seketika itu si lelaki gemuk pun roboh di tangan si sastrawan sesat itu.

Saat si Rase Liar bergerak ke arah kereta mewah itu.

si lelaki tua kurus mencoba menghalanginya.

"Dasar tak tahu diri! Kau masih mau bertarung? Enyahlah kau!"

Bentak si Rase Liar.

Kipas si Rase Liar berkelebat ke atas dan ke bawah menyerang si lelaki tua kurus.

Si lelaki tua kurus sudah terluka.

bagaimana dia akan mampu meladeni si Rase Liar yang ganas, tapi semangat tempur si lelaki tua kurus memang luar biasa.

Dia terus melawan sekalipun dia sadar tak akan mampu melawan si Rase Liar itu.

Dalam beberapa jurus si lelaki tua kurus mulai terdesak.

Mata Beng Teng sudah normal kembali.

Dia maju selangkah demi selangkah sambil berpikir.

"Jika si nona calon pengantin berhasil dirampas oleh si Rase Liar, maka piauw-kiokku pun harus segera ditutup. Apa boleh buat aku harus membantu si lelaki tua kurus dan aku tak akan mempedulikan harga diriku lagi!"

Pikir Beng Teng.

Dia sebenarnya malu mengeroyok si Rase Liar yang lihay itu, karena dia akan menghancurkan nama baiknya, dia juga tidak yakin jika dia membantu akan mendapat 68 kemenangan.

Itu sebabnya dia melangkah dengan hati berdebar dan tegang.

Tiba-tiba nona di atas kereta berteriak.

"Chan Toa-siok kau boleh mundur!"

Kata si nona. Si lelaki tua kurus menggangguk.

"Baik, Nona!"

Kata dia. Dia melancarkan serangan mendadak ke arah si Rase Liar. ketika si Rase Liar mundur dia juga melompat mundur ke samping kereta mewah itu.

"Rase Liar. aku hanya mentaati perintah Nonaku, bukan karena aku takut kepadamu!"

Kata si lelaki tua kurus.

Mengherankan memang di saat sangat gawat itu justru nona mereka menyuruh dia mundur, jelas sudah si nona akan segera jatuh ke tangan si Rase Liar.

Beng Teng belum sampai ke tempat mereka bertarung.

Sedangkan si lelaki tua gemuk masih tergeletak belum bangun.

Beng Teng sadar sekalipun dia sampai dia bukan tandingan si Rase Liar yang lihay itu.

"Sial, aku yang jadi pengawal hari ini harus mengalami kejadian seperti ini! Sungguh piauw-kiokku ini memang harus aku tutup!"

Pikir Beng Teng.

Tiba-tiba si Rase Liar tertawa terbahak-bahak.

Sekarang tak ada lagi orang yang bisa menghalanginya lagi.

Dengan cepat dia melangkah ke arah kereta mewah itu.

Dia ulur tangannya akan menyingkap kerei jendela kereta itu sambil tertawa lagi.

"Nona. jangan takut, aku pasti sayang kepadamu! Jika kau mau istirahat, istirahatlah di tempatku!"

Kata si Rase Liar. Selesai bicara ia ulur tangannya ke dalam kereta. Beng Teng saat itu sudah cemas bukan main. Sedangkan nona Hong yang ada di sisi kakeknya malah tertawa cekikikan.

"Ah akan ada tontonan yang sangat menarik!"

Katanya.

Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan yang sangat memilukan.

Ketika si Rase Liar mengulurkan tangannya ke jendela kereta, dan wajahnya dekat sekali ke lubang jendela kereta itu.

tibatiba dia menjerit keras karena matanya seolah dipagut ular berbisa.

Dia merasakan sebelah matanya sakit bukan main.

Nona Hong tertawa geli.

"Siapa suruh kau punya mata tetapi tidak bisa melihat dengan jelas! Syukurlah! Biar kau tahu rasa!"

Kata nona Hong.

Apa yang terjadi benar-benar membuat semua orang tercengang bukan main.

Beng Teng mengawasi ke arah si Rase Liar dengan mata terbelalak.

Dia lihat si Rase Liar sedang menutupi mukanya dengan tangannya.

Beng Teng heran wajah si Rase Liar berlumuran darah segar.

Kemudian dia kabur seperti dikejar setan.

Dalam sekejap dia sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Nona Hong tertawa geli.

"Cepat sekali larinya si Rase Liar.....Padahal aku ingin mencungkil kedua matanya. Sayang sekali Kakak Han hanya menyungkil sebelah matanya saja!"

Kata nona Hong.

Nona calon pengantin itu menyingkap kerei jendela kereta, tangannya menggapai memanggil lelaki tua kurus.

Ketika si tua kurus sudah menghampirinya, ia mengulurkan tangannya sambil berkata.

"Tusuk rambut ini sudah ternoda darah, aku tak mau lagi. Ambil olehmu dan berikan pada orang miskin!"

Kata si nona.

Bab Jarak antara Beng Teng dengan kereta mewah itu sangat dekat.

Dengan demikian Beng Teng bisa melihat dengan jelas pada ujung tusuk rambut si nona masih terdapat biji mata si Rase Liar dan masih berlumuran darah.

Peristiwa itu membuat Beng Teng sangat malu.

"Aku punya mata tetapi tidak ada bijinya, malah tak tahu diri berani melindungi sang calon pengantin yang ternyata lebih lihay dariku?"

Pikir Beng Teng.

Kening Beng Teng berkerut dia sedang berpikir keras "Majikan dan kedua jago tua berilmu tinggi, mengapa orang tua si nona bersedia membuang uang begitu besar untukku?

Dia suruh aku melindungi nona yang ternyata gagah sekali.

Saat genting tadi mengapa mereka tak segera turun tangan dan membiarkan kedua jago tua itu terluka?"

Pikir Beng Teng yang bingung bukan main. Saat Beng Teng sedang diam termangu, dia mendengar si orang tua kurus bicara pada nona majikannya.

"Budakmu pantas mati! Dia tidak bisa melindungimu, sehingga tusuk rambut Nona ternoda oleh darah!"

Kata si kurus. Nona di atas kereta itu tersenyum manis.

"Kalian berdua telah berusaha sekuat tenagamu, mana boleh aku menyalahkan kalian! Ambillah tusuk rambut ini!"

Kata si nona sambil tersenyum manis. Si lelaki tua kurus manggut.

"Baiklah. Nona!"

Kata si orang tua kurus. Dia terima tusuk rambut itu dari tangan si nona.

"Kau bisa membebaskan totokan dari si Rase Liar?"

Tanya si nona pada anak buahnya itu.

"Mohon Nona memberi petunjuk pada hamba!"

Kata si orang tua kurus. Si nona manggut.

"Gunakan tusuk rambut itu untuk menusuk jalan darah Pou-si-hiat perlahan-lahan. Si Rase Liar menggunakan totokan yang aneh dan luar biasa!"

Kata si nona lagi. Si lelaki tua kurus membuang biji mata si Rase Liar. kemudian dia berkata dengan sengit.

"Si Rase Liar berani berbuat kurang-ajar pada Nona. tetapi Nona hanya mencungkil sebuah biji matanya saja. sungguh terlalu enak baginya!"

Kata si lelaki kurus mendumel.

Kemudian dia hampiri si lelaki tua gemuk yang sedang rebah itu.

lalu dia menotok si lelaki tua gemuk sesuai dengan cara yang diajarkan oleh majikannya.

Dengan demikian si lelaki tua gemuk yang sejak tadi tergeletak itu, sekarang sudah bisa bangun kembali.

Mereka segera menghampiri majikan mereka.

Keduanya mengucapkan terima kasih.

"Sudahlah! Aku yang menyebabkan kalian terluka, aku tadi tidak enak hati! Jika aku tidak sedang sakit, mana mungkin aku membiarkan si Rase Liar melukai kalian berdua!"

Kata si nona dengan sikap ramah sekali.

Sekarang Beng Teng baru sadar mengapa si nona tidak segera bertindak ketika keadaan sangat gawat.

Ternyata karena si nona sedang sakit.

Tetapi dalam keadaan sakit 72 pun ternyata dia masih mampu melukai si Rase Liar, sehingga dia kabur terbirit-birit.

Bukan main kagumnya Beng Teng pada si nona.

"Nona sangat berharga di mata kami."

Kata si lelaki gemuk.

"Tidak seharusnya Nona menghadapi penjahat rendah seperti dia! Semua karena ketidakmampuan kami berdua ini. Apakah sekarang Nona sudah merasa enakan?"

Nona itu tersenyum.

"Aku tidak apa-apa. Cepat kalian obati luka kalian!"

Kata si nona penuh perhatian.

"Baik. Nona."

Jawab kedua jago tua itu. Saat itu nona Hong atau Siauw Hong berlari mendekat ke kereta mewah itu.

"Si Serigata dan si Rase Liar sudah kabur semuanya. Maukah Kakak Han singgah ke rumah kami?"

Kata Siauw Hong dengan ramah. Nona yang ada di kereta itu tersenyum.

"Kau gadis kecil bermulut tajam, aku tidak kenal denganmu. Sebenarnya kau siapa? Dan kau tinggal di mana?"

Tanya si nona pada Siauw Hong.

"Namaku Ciu Hong. tinggal di lembah Pek-hoa-kok (Lembah Seratus Bunga) di gunung Hong-hoang-san!"

Jawab Ciu Hong.

"Kakak Han tidak mengenali aku. tetapi aku sering mendengar namamu disebut-sebut oieh Kakak-misanku. Maka aku harap Kakak Han memberi muka kepadaku. Aku adik misan Kakak Ci!"

Nona di atas kereta itu jadi tercengang. Sesaat kemudian dia berkata lagi dengan ramah.

"Ooh! Jadi Ci Giok Hian itu Kakak-misanmu? Dia tinggal bersamamu, ya?"

Kata si nona. Ciu Hong mengangguk.

"Benar. Malah Kakak-misanku yang menyuruh aku menjemput Kakak Han."

Kata Ciu Hong. Nona itu tersenyum.

"Terima kasih atas kebaikan Kakak-misanmu itu, tetapi aku sedang sakit, ditambah lagi aku harus buru-buru ke Yang-cou. Aku tidak mau merepotkan Kakak misanmu "

Kata si nona dengan ramah. Ciu Hong merengut.

"Kakak-misanku sudah tahu masalahmu. Dia ingin bertemu denganmu dan bercakap-cakap beberapa hari saja. Para piauw-su itu tidak berguna. Kakak-misanku bilang dia yang akan mengantarkan Kakak Han ke Yang-cou. Bukankah dengan demikian Kakak Han bisa menghemat seribu tail emas?"

Kata Ciu Hong. Nona di kereta itu tersenyum.

"Tidak bisa begitu, dan aku merasa tidak enak jika Kakakmisanmu menjadi repot karena harus masak obat segala untukku. Lagipula aku tidak boleh melanggar aturan Piauwkiok!"

Kata si nona. Ciu Hong kelihatan murung.

"Kakak Han tidak mau ke rumahku tidak masalah, tetapi pasti Kakak-misanku akan menyalahkan aku."

Kata Ciu Hong. Nona di kereta itu menatapnya sambil tertawa.

"Apa yang aku katakan padamu, sampaikan saja kepadanya."

Kata si nona.

"Setelah aku sembuh, pasti aku akan datang ke Pek-hoa-kok untuk mengucapkan terima kasihku kepada Kakak-misanmu itu."

Ciu Hong menghela napas, lalu berkata pada kakeknya.

"Bagaimana nih. Kek? Aku tidak berhasil mengundang Kakak Han datang ke rumah kita. Kakek kok diam saja tidak membantuku?"

Kata Ciu Hong manja. Si kakek Ciu menghampiri kereta mewah itu, dia memberi hormat kepada si nona di kereta itu.

"Hamba Ciu Tiong Gak menemui Nona."

Kata si kakek.

Ucapan orang tua itu mengagetkan semua orang, dia membahasakan diri "hamba", itu berarti kedudukan nona di kereta itu tinggi sekali.

Padahal di kalangan Dunia Persilatan orang sangat mengutamakan pamornya.

Nona yang ada di dalam kereta itu membalas hormatnya.

Yang mengherankan tiba-tiba kereta mewah itu mundur ke belakang beberapa langkah jauhnya, sedangkan Ciu Tiong Gak pun mundur dua tiga langkah ke belakang.

Beng Teng terkejut bukan kepalang menyaksikan kejadian itu.

Dia lompat menahan kereta mewah itu agar tidak mundur terus.

Tetapi sekalipun Beng Teng sudah mengeluarkan tenaga sepenuhnya, ia tidak mampu menahan mundurnya kereta itu.

Malah dia sendiri ikut terdorong mundur.

Tiba-tiba nona yang ada di kereta mewah itu menekankan kakinya ke lantai kereta.

Dalam sekejap kereta itu pun berhenti.

Kemudian dia tersenyum ke arah Beng Teng.

"Terima kasih atas bantuanmu. Cong-piauw-thauw. Kau boleh istirahat saja! Aku ingin bicara dengan Ciu Lo-sianseng ini!"

Kata si nona sambil tersenyum ramah.

Beng Teng kaget.

Wajahnya berubah kemerah-merahan.

Dia sadar kepandaiannya masih di bawah kepandaian mereka.

Lalu dia buru-buru mengundurkan diri.

Tak lama terdengar nona di kereta itu bicara manis.

"Sungguh hebat kung-fu Ciu Lo-sian-seng!"

Kata si nona.

Ciu Tiong Cak menghela napas panjang.

Wajahnya berubah kemerah-merahan "Hamba menerima perintah majikan hamba untuk mengundang Nona datang ke tempat kami.

Apa boleh buat hamba telah bersikap tidak tahu diri.

Harap Nona Han tidak mentertawakan hamba."

Kata Ciu Tiong Gak.

Tadi kedua orang ini telah menggunakan lwee-kang mereka.

Ciu Tiong Gak mendorong kereta itu.

sedang si nona mendorong Ciu Tiong Gak sehingga terhuyung ke belakang.

Kiranya apa yang dilakukan si nona lebih sulit dibanding yang dilakukan oleh Ciu Tiong Gak.

Ditambah lagi Nona Han sedang sakit, diam-diam Ciu Tiong Gak telah menjajal kepandaian si nona.

setelah tahu ternyata si nona bukan tandingannya.

Nona Han berkata.

"Tetap seperti yang telah aku katakan tadi. Harap kau sampaikan saja pada nona majikan kalian! Setiba di Yangcou. paling lama satu atau dua bulan. pasti aku akan datang ke Pek-hoa kok."

Kata si nona memberi kepastian. Ciu Tiong Gak mengangguk, karena dia sadar dia bukan tandingan nona Han "Hamba menurut perintah Nona. Mohon kau terima kartu undangan dari Nona kami."

Kata Ciu Tiong Gak.

Dia mengeluarkan selembar kartu undangan berwarna merah yang dia lemparkan ke dalam kereta.

Pada saat itu Ciu Tiong Gak terpisah enam sampai tujuh hasta dengan kereta mewah itu.

Sedang kartu undangan itu sangat ringan, tetapi di luar dugaan kartu itu bisa meluncur dengan cepat ke dalam kereta.

Jelas Ciu Tiong Gak ini kungfunya hebat.

Para piauwsu kaget, namun si nona di dalam kereta sedikit 76 pun tidak gentar atau kaget dengan datangnya sambaran kartu undangan itu.

Nona Han tersenyum dia mengulurkan tangannya untuk menerima undangan itu.

"Nonamu baik sekali. Baiklah, kalian boleh pulang sekarang!"

Kata nona Han.

"Hamba mohon pamit."

Kata Ciu Tiong Gak yang kemudian menoleh ke arah cucunya.

"Siauw Hong mari kita pulang!"

Kali ini kembali Ciu Tiong Gak memberi hormat, dia tidak berani menjajal lagi kepandaian nona Han itu. Ciu Hong tertawa.

"Kakak Han ternyata aku tidak berhasil mengundangmu! Mungkin tidak sampai sebulan aku akan bertemu lagi denganmu!"

Kata Ciu Hong. Ucapan Ciu Hong itu penuh arti sehingga membuat wajah Nona Han sedikit berubah.

"Sungguhkah Kakak-misanmu itu ingin buru-buru bertemu denganku. baiklah. Tunggu saja!"

Kata nona Han.

Sesudah Ciu Tiong Gak dan cucunya pergi, sekarang tinggal rombongan piauw-su dan kereta mewah serta dua jago tua berada di tempat itu.

Dengan tersipu-sipu Beng Teng menghampiri kereta sambil memberi hormat.

"Aku buta tak tahu kalau Nona berkepandaian tinggi sehingga kami semua selamat. Terimalah hormatku!"

Kata Beng Teng sambil memberi hormat. Nona Han tersenyum membalas hormatnya itu.

"Di sepanjang perjalanan Anda telah melindungiku. jika tak ada kalian mungkin sudah sejak dulu telah terjadi sesuatu yang tak kita inginkan. Malah akulah yang belum berterima kasih kepadamu."

Kata nona Han. Mendengar ucapan si nona itu wajah Beng Teng berubah kemerah-merahan karena malu.

"Nona jangan mentertawakan kami. Malah muka Piauwkiok kamilah yang telah dilindungi oleh Nona!"

Kata Beng Teng yang kelihatan tak enak hati. Gadis itu tersenyum lagi.

"Cong-piauw-thauw kau jangan terlalu merendah. Di sepanjang jalan kau melindungiku. jika aku tidak mengandalkan nama piauw-kiokmu. mungkin sudah terjadi sesuatu."

Wakil pimpinan piauw-kiok Chu Cu Kia datang menyela.

"Aku sudah bekerja di piauw-kiok ini hampir tiga putuh tahun lamanya dan mengawal barang sudah ratusan kali. Tetapi baru kali ini aku menemui kejadian yang sangat berbahaya seperti ini. Untung ada Nona Han. maka kami semua bisa selamat. Aku mewakili semua piauw-su untuk menghaturkan terima kasih kepada Nona."

Kata Chu Cu Kia. Nona Han tersenyum.

"Kalian terlalu sungkan terhadapku. Ayahku yang mengundang kalian untuk melindungiku. Kita melakukan perjalanan bersama-sama. jelas kita harus saling tolongmenolong. Sekarang kita belum sampai ke Yang-cou. selanjutnya aku masih membutuhkan kalian untuk melindungiku."

Kata si nona. Chu Cu Kia menghela napas panjang.

"Ooh. Ucapan Nona Han ini membuat aku merasa malu. Aku telah belajar kung-fu sudah puluhan tahun, tetapi kepandaianku masih jauh di bawah kepandaian Nona. Setelah kejadian tadi malam. mungkin tidak akan ada penjahat yang berani muncul lagi, akan mengganggu kita. Perjalanan ke Yang-Cou hanya akan memakan waktu kurang lebih tiga hari lagi. mungkin kita akan sampai dengan selamat di tempat tujuan!"

Kata Chu Cu Kia. Nona Han mengerutkan dahinya.

"Belum tentu."

Kata nona Han. Beng Teng tersentak.

"Siapa Kakak-misan gadis kecil itu?"

Tanya Beng Teng penasaran kepada nona Han.

"Namanya Ci Giok Hian. teman akrabku."

Sahut nona Han sambil tersenyum manis.

"Tetapi kami telah berpisah dengannya beberapa tahun yang lalu. Dia bukan kaum Rimba Persilatan. kalian pasti tidak akan tahu tentang dia."

Nada ucapan nona Han seolah tidak mau memberitahu asal-usul Ci Giok Hian pada mereka. Beng Teng yang berpengalaman tahu hal itu. maka dia pun diam dan berpikir.

"Lima Serigala dari marga Tan. Rase Liar dan orang tua she Ciu bersama cucunya, berhasil mereka usir dengan mudah. Sedangkan Ci Giok Hian tidak berhasil mengundang si nona datang ke tempatnya. Lalu kenapa ayah si nona mau mengeluarkan uang 2000 tail uang emas untuk meminta aku melindungi nona Han?"

Pikir Beng Teng.

Dia pandangi Chu Cu Kia kemudian keduanya saling pandang.

Kiranya keduanya punya pertanyaan yang sama.

tetapi mereka merasa tak enak menanyakan hal itu pada si nona.

Saat itu salah seorang jago tua itu menghampiri nona Han.

"Nona mau minum obat?"

Katanya. Nona Han manggut.

"Ya. memang sudah waktunya aku minum obat."

Kata nona Han.

Lelaki tua kurus itu segera mengeluarkan beberapa butir obat.

kemudian diberikan kepada nona Han.

Nona Han menerimanya lalu dia makan.

Setelah itu si orang tua kurus menyerahkan semangkuk air kepada si nona.

"Terima kasih."

Kata nona Han yang langsung meminum obatnya itu. Tak lama dia berbangkis beberapa kali lalu dia kembalikan mangkuk yang sudah kosong itu kepada si lelaki tua kurus.

"Kalian berdua pasti lelah. sekarang cepat istirahat. Besok kita harus melanjutkan perjalanan lagi."

Ketika itu hari sudah menjelang subuh.

Semua orang pun sudah kelelahan sekali karena semalam mengalami saat-saat yang tegang, lalu mereka istirahat semuanya.

Kedua jago tua itu tidak langsung istirahat, mereka menyalakan api untuk menghangatkan tubuh mereka.

Kebetulan waktu itu Beng Teng pun belum tidur, dia menghampiri kedua lelaki tua itu.

Si lelaki kurus menatapnya sambil tersenyum.

"Cong-piauw-thauw belum tidur?"

Sapa si kurus. Beng Teng memberi hormat.

"Maafkan aku sekalipun aku punya mata tetapi tak bisa melihat."

Kata Beng Teng.

"Selama ini kita seperjalanan, namun aku tidak tahu ada pesilat tangguh bersama kami."

Kedua lelaki tua itu tertawa.

"Cong-piauw-thauw jangan berkata begitu. Untung tidak ada orang lain. kalau tidak kami berdua bisa ditertawakan,"

Kata st lelaki kurus.

"Kami berdua sudah tua dan tidak berguna, bagaimana kau sebut kami ini pesilat tangguh?"

Beng Teng tertawa getir.

"Jika bukan Lo-toa-ko berdua yang turun tangan, kami sudah celaka semua di tangan lima serigala itu. Oh ya bolehkah aku mengetahui nama Toa-ko berdua?"

Kata Beng Teng ramah.

Selama dalam perjalanan dari Lok-yang sampai di tempat itu, rupanya Beng Teng tidak menaruh perhatian kepada kedua orang tua ini.

Mereka hanya dianggap sebagai pelayan sang calon pengantin saja.

Tidak heran kalau selama ini dia tidak pernah menanyakan nama kedua jago tua itu.

Hal itu sekarang membuat hati Beng Teng dan perasaannya jadi tidak enak sekali, oleh sebab itu sekarang dia menanyakan nama kedua orang tua itu dengan sikap yang sangat hormat sekali.

"Namaku Chan It Hoan."

Jawab si kurus.

"dan dia Liok Hong!"

"Cong-piauw-thauw jangan sungkan."

Kata si lelaki kurus Chan It Hoan sambil tertawa.

"Berdasarkan kung-fumu. kau pantas sangat terkenal. Jika berdasarkan kungfu sejati yang tidak disertai dengan akal licik, belum tentu Tan Piauw bisa mengalahkan Tuan. Tetapi jika kau bertarung melawan Ciu Tiong Gak, aku kira kau pasti kalah olehnya. Terus terang kejadian tadi malam untung ada Nona Han yang turun tangan. Kepandaian kita semua masih jauh dibandingkan dengannya."

Chan it Hoan kaget ketika ingat pada kata-katanya "kita semua"

Karena itu berarti juga termasuk Beng Teng tidak akan sanggup melawan semua penjahat itu. Buru-buru dia meluruskan kata-katanya itu.

"Cong-piauw-thauw. kau jangan kecewa. malam ini kalian telah bertarung sekuat tenaga. Jika kalian tidak bertarung lebih dulu. mungkin kami berdua pun bukan tandingan mereka!"

Kata Chan It Hoan. Beng Teng kembali tertawa getir.

"Terima kasih Chan Toa-ko. kau telah memberi muka kepadaku. Aku tidak bisa berbasa-basi. yang jelas aku berhutang budi kepada kalian berdua dan Nona Han. Kelak aku pasti membalas budi kalian ini. Tetapi aku masih belum mengerti pada suatu hal. maka aku mohon petunjuk dari Toako berdua. Nonamu itu berkepandaian tinggi, tetapi mengapa majikan kaiian masih bersedia membayar kami untuk melindunginya?"

Kata Beng Teng.

"Kebanyakan piauw-kiok di kota Lok-yang, mana ada yang seberani Houw Wie Piauw-kiok yang berani menerima pekerjaan dari majikan kami ini. Cong-piauwthauw jangan curiga. Sekalipun terjadi malapetaka kecil di perjalanan ini. majikan kami tidak akan menyalahkan kau. Sisa uang itu pasti akan dilunasi oleh beliau!"

Kata Liok Hong mewakili kawannya bicara. Jawaban dari Liok Hong bukan jawaban yang Beng Teng harapkan. Tetapi dari jawaban itu tanpa sengaja Liok Hong "telah membocorkan"

Sedikit keterangan yang dia butuhkan itu.

Bahwa Han Tay Hiong.

ayah si nona Han menyewa mereka, tidak lain hanya ingin agar Houw Wie Piauw-kiok 82 yang tampil, tetapi belum tentu dia menghendaki mereka melindungi puterinya.

Hal ini membuat Beng Teng jadi kurang senang.

"Aku sadar aku tidak mampu menghadapi musuh yang tangguh."

Kata Beng Teng.

"tetapi kami pun tidak bersedia menerima bayaran tanpa kami punya jasa apa-apa. Jika Lotoa-ko tidak memberi penjelasan, setelah kami kembali ke Lok-yang. papan nama perusahaan kami itu pasti akan kami turunkan. Atau mungkin juga aku akan menjual semua harta bendaku untuk mengganti kerugian seribu tail uang emas kepada majikan kalian berdua!"

Si kurus manggut-manggut. dia sangat kagum pada sikap tegas Beng Teng ini.

"Cong-piauw-thauw. kau jangan merasa tidak enak hati."

Kata Chan It Hoan.

"Aku anggap kau telah berjasa pada kami. hingga kami sampai di tempat ini dengan selamat. Kau ingin tahu mengapa majikan kami menyewa kalian, itu akan aku beritahukan padamu."

Beng Teng buru-buru memberi hormat.

"Terima kasih. Lo Toa-ko!"

Kata Beng Teng.

"Nona kami pergi ke kota Yang-cou karena akan menikah disana."

Kata Chan It Hoan memulai ceritanya.

"Seorang gadis calon pengantin, mana boleh memperlihatkan diri di depan umum dengan sembarangan. Apalagi sampai berkelahi dengan para penjahat segala. Jika sampai orang mengetahui hal ini. dan orang mengatakan calon pengantin berkelahi di sepanjang perjalanannya ke Yang-cou. bukankah itu akan jadi bahan tertawaan umum? Ditambah lagi Nona kami sedang sakit keras, jelas dia tidak bersemangat untuk berkelahi."

Beng Teng manggut-manggut.

"Tetapi Toa-ko berdua..."

Sebelum Beng Teng menyelesaikan bicaranya sudah dipotong oleh Chan It Hoan.

"Kau benar."

Kata Chan It Hoan sambil tersenyum.

"Tetapi tulang tua kami hanya mampu untuk menghadapi penjahatpenjahat kecil saja! Dari Lok-yang ke Yang-cou berjarak ribuan lie jauhnya. Bisa kau bayangkan, barangkali baru berjalan belum jauh. kami sudah akan bertemu dengan perampok. Lalu kami harus turun tangan mengusir mereka. Bukankah hal itu akan menarik perhatian kaum Liok-lim (Gotongan Hitam)? Dengan demikian kaum Liok-lim (Rimba Hijau) akan terusmenerus merepotkan kami. Bagaimana kami akan mampu menghadapi mereka semuanya? Majikan kami telah berpesan, kepada kami. kecuali sangat terpaksa, jangan membiarkan Nona kami turun tangan sendiri!"

Tiba-tiba Liok Hong menyambung keterangan temannya.

"Terus terang bukan hanya Nona kami yang tidak ingin menonjolkan diri di muka umum. kami berdua pun begitu. Jika tidak karena sangat terpaksa, kami pun tidak ingin orang mengetahui tentang asal-usul kami!"

Kata Liok Hong. Beng Teng mengira kedua jago tua ini bukan orang sembarangan. Maka dia jadi berpikir.

"Mungkin mereka berdua tokoh terkenal di Dunia Persilatan. Entah apa sebabnya mereka berdua bersedia jadi pelayan nona Han? Maka mereka pun tidak ingin orang tahu asal-usulnya."

Pikir Beng Teng. Ada beberapa pantangan di Dunia Persilatan. salah satunya adalah menyelidiki pribadi orang lain. Maka itu Beng Teng pun diam.

"Houw Wie Piauw-kiokmu terkenal di Dunia Persilatan, itu sebabnya majikan kami ingin menggunakan panjimu agar di sepanjang perjalanan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak kami kira para penjahat itu justru mengetahui dengan jelas tentang perjalanan kami itu. Bahkan perjalanan kami juga diketahui oleh si Iblis Wanita itu. maka dengan terpaksa Nona kami menggertak Ciu Tiong Gak sampai mundur!"

Kata Chan It Hoan melanjutkan. Sekarang Beng Teng tahu siapa Wanita Iblis yang dikatakan Chan It Hoan ttu. yaitu tidak lain Ci Giok Hian yang tinggal di Pek-hoa-kok.

"Nona Han mengatakan wanita iblis itu sahabatnya, tapi dari mulut Chan It Hoan dia berubah jadi si Iblis Wanita. Aku yakin kedua keluarga ini punya masalah. Tapi masalah apa?"

Pikir Beng Teng.

"Baiklah, semua telah kami jelaskan kepadamu. Congpiauw-thauw. Besok kita masih harus melanjutkan perjalanan kita. Sebaiknya kau istirahat saja dulu."

Kata Liok Hong.

Beng Teng tahu kedua jago itu takut mereka didesak oleh pertanyaan lain yang lebih dalam.

Karena tidak enak hati terus berada di tempat itu Beng Teng pun akhirnya pamit.

Beng Teng tidak bisa tidur dia juga tak bisa menebak tekateki yang sangat rumit itu.

Tak lama terdengar suara kicauan burung, itu tandanya fajar telah tiba.

Matahari akan segera memancarkan sinarnya.

Pagi-pagi sekali mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka.

Sejauh mata memandang yang tampak 85 hanya hamparan padang rumput yang hijau dan luas.

Seolah padang tumput itu tak ada batasnya.

Tetapi dari jauh tampak ada dua titik hitam yang muncul.

Beng Teng segera memberi aba-aba kepada para piauw-su agar mereka siap siaga.

Tak lama kedua titik hitam itu kelihatan semakin jelas.

ternyata itu adalah dua orang penunggang kuda sedang mendatangi ke arah mereka.

Keduanya wanita.

Salah sorang dari mereka mengenakan ikat kepala kain merah dia mengenakan pakaian serba merah dan sepatunya juga merah.

Setelah diperhatikan kuda yang dia tunggangi pun berwarna merah juga.

Gadis yang berbaju merah itu dari jauh bagaikan segumpat api yang sedang menyala, wajah gadis tersebut sangat jelita.

Para piauw-su keheranan menyaksikan nona itu.

tetapi juga merasa tegang dalam hati mereka.

Gadis yang ada di belakang si baju merah itu seorang gadis kecil.

Kiranya dia Ciu Hong yang tadi malam datang bersama kakeknya.

Seketika itu juga hati Beng Teng berdebar-debar dan jadi tegang, dia menoleh ke belakang.

Kelihatan dua jago tua ada di samping kereta majikannya.

Mereka memandang ke arah kedua nona itu dengan dahi berkerut.

Kelihatan Liok Hong menghela napas panjang.

"Ah celaka! Bagaimana baiknya ini. Nona baru saja minum obat dan sedang tidur tetap. Tampaknya penyakitnya bertambah berat. Kita jangan ijinkan dia turun tangan!"

Kata Liok Hong pada kawannya.

Makin lama gadis berpakaian merah itu datang semakin dekat saja.

Beng Teng maju selaku orang yang 86 bertanggungjawab atas kawatannya.

Beberapa anak buahnya berseru-seru "Houw Siauw Tiong Cou!

Houw Siauw Tiong-cou....!"

Teriak mereka. Sebelum beberapa orang piauw-su itu meneriakkan teriakannya lagi. si baju merah sudah berada di hadapan mereka. Dia membentak sambil mengayunkan cambuknya.

"Kalian mau apa berteriak-teriak!"

Kata si nona. Chu Cu Kia maju sambil memutarkan tombak peraknya.

"Jika Nona tidak memakai aturan, jangan salahkan kami. Silakan Nona turun dari kudamu!"

Kata Chu Cu Kia.

Chu Cu Kia memutarkan tombak peraknya, tapi pada saat yang bersamaan cambuk si nona berbaju merah sudah menyambar ke kaki Chu Cu Kia.

Pada saat cambuk itu disentakkan dan ditarik kuat-kuat.

maka tidak ampun lagi Chu Cu Kia pun terpelanting dan jatuh seketika itu juga.

Saat itu juga ujung cambuk segera membelit ke tombak Chu Cu Kia.

saat cambuk itu dihentakkan oleh nona berbaju merah itu.

tombak yang sedang dipegang Chu Cu Kia pun terlepas dari cekalannya.

Semua yang melihat kejadian itu terkejut.

Hanya dengan dua gerakan nona berbaju merah itu mampu menaklukan Chu Cu Kia.

Ini suatu bukti bahwa gadis berbaju merah itu sangat lihay.

Beng Teng sadar ia bukan tandingan gadis berbaju merah itu.

tapi tetap maju menghadang.

Nona baju merah mencambuk kudanya akan menerjang ke arah Beng Teng.

hingga Beng Teng pun segera menyiapkan tamengnya untuk menahan terjangan kuda si nona baju merah.

"Roboh kau!"

Teriak si nona baju merah.

Kehhatan ujung cambuk si nona menghantam tameng di tangan Beng Teng.

sehingga tameng itu jadi miring dan mengenai pedang Beng Teng.

Celakanya ujung pedang mengarah ke arah Beng Teng.

untung ia sempat berkelit kalau tidak ia bisa celaka oleh pedangnya sendiri.

"Crass!"

Pedang Beng Teng tepat mengenai pohon.

Sekalipun nyawa Beng Teng selamat.

tapi tak urung tubuhnya terpental jauh juga melewati pohon itu.

Untung Beng teng tak sampai roboh terguling.

Saat itu kuda merah si nona melewatinya, sedang nona itu pun tertawa.

"Nama besarmu tidak percuma!"

Puji si nona.

Ini bukan hinaan karena si nona pun jadi heran Beng Teng tak roboh oleh serangannya.

Tapi tak urung ucapan nona ini membuat wajah Beng Teng jadi merah juga.

Saat Beng Teng sedang melawan gadis berbaju merah, anak buahnya sedang bertarung melawan Ciu Hong.

"Semalam kita sudah saling berkenalan, maka kali ini aku tak akan menyusahkan kalian!"

Kata Ciu Hong sambil tertawa.

Ciu Hong tak bersenjata ia hanya menggunakan cambuk kudanya yang ia ayun kian-kemari Empat piauw-su andalan Beng Teng seperti Ciok Cong Thian, Cin Kan dan Sun Hua juga Chu Cu Kia tiga di antaranya sudah terluka.

Sekarang hanya Sun Hua yang masih memaksakan diri melawan Ciu Hong.

Tak sampai sepuluh jurus Cin Hong sudah membentak.

"Kena!"

Ujung cambuk Ciu Hong menyambar ke jalan darah Khekti-hiat Sun Hua.

Ia hendak berkelit, tapi sudah terlambat hingga serangan Ciu Hong tepat mengenai 88 sasaran dan Sun Hua tidak bisa bergerak lagi bagaikan patung.

"Maafkan aku. kau tak bisa bergerak untuk sementara saja. Nanti kau bisa bergerak sendiri!"

Kata Cin Hong sambil tertawa.

Sun Hua gusar tapi ia juga kagum oleh kepandaian Ciu Hong itu.

ujung cambuk lunak tapi si nona bisa menggunakannya dengan tepat, itu menandakan ia berilmu tinggi.

Beng Teng sudah terdesak sehingga kawan-kawannya ingin maju membantu dia Beng Teng menghela napas panjang.

"Sudah kita mengaku kalah saja!"

Kata Beng Teng. Sekarang Ciu Hong sudah berada di depan kereta.

"Kakak Han aku datang menengokimu lagi!"

Kata Ciu Hong. Si baju merah diam saja. Sedangkan kedua lelaki tua yang berdiri di samping kereta segera memberi hormat kepada si baju merah.

"Nona Ci. apa khabar? Nona kami sedang kurang enak badan, ia sedang istirahat."

Si baju merah tersenyum.

"Oh ya. kalau dia sedang sakit aku harus menjenguknya."

Kata si baju merah.

Kedua lelaki tua itu bingung, mereka tak tahu harus berbuat apa.

Tetapi tiba-tiba kerei jendela kereta terbuka, tak lama pintu kereta pun terbuka juga dan seorang gadis sambil tersenyum keluar dari sana.

Si baju merah tertawa.

"Pwee Eng. maaf ya! Aku ini tamumu yang tak kau senangi, dan aku datang menemuimu sepagi ini!"

Kata si baju merah.

"Maaf kedatanganku sangat mengganggumu!"

Semua piauw-su baru tahu kalau nona di atas kereta mewah itu bernama Han Pwee Eng.

"Kau jangan bicara begitu Kakak Ci. kau datang menemuiku itu sangat kuharap-harapkan. Hai angin apa yang telah membawamu ke mari?"

Kata Han Pwee Eng. Memang Beng Teng sudah menduga si nona baju merah itu Ci Giok Hian. Kiranya terkaannya itu tepat sekali.

"Dari sikap mereka yang hangat dan lembut."

Pikir Beng Teng "mereka kelihatan seperti kakak beradik saja. Tetapi aku tak tahu dalam hati mereka mungkin terdapat ganjalan besar!"

Ci Giok Hian tersenyum.

"Siauw Hong gagal mengundangmu, maka itu aku sendiri yang datang menemuimu sekarang!"

Kata Ci Giok Hian. Han Pwee Eng menggelengkan kepala.

"Apakah Siauw Hong tidak menyampaikan pesanku! Aku sedang sakit sehingga tidak bisa menemuimu. itu sematamata agar aku tidak merepotkan kau."

Kata nona Han.

"Jika kau sedang sakit justru harus ada famili yang merawatmu. Hubungan kita sudah bagaikan kakak beradik saja. Mengapa kau merasa tidak enak jika aku yang merawatmu?"

Kata Ci Giok Hian. Wajah Han Pwee Eng berubah kemerah-merahan "Hm! Dia terus mendesakku, lebih baik aku bicara terus terang kepadanya!"

Pikir Han Pwee Eng.

Tetapi sebeium nona Han bicara ia sudah didahului oleh Ci Giok Hian "Sudah kau jangan membohongiku.

Pwee Eng!

Karena kau ingin buru-buru menikah sehingga kau melupakan aku Kakakmu!

Iya kan?"

Kata Ci Giok Hian tegas. Chan It Hoan si kakek kurus menyela.

"Jadi Nona Ci sudah tahu masalah ini. Kalau begitu kau tidak perlu menyalahkan Nona kami. Karena dari pihak lelaki telah memilih hari yang baik mereka akan segera menikah. Oleh sebab itu setelah Nona kami menikah, pasti ia akan berkunjung menemuimu di Pek-hoa-kok!"

Kata Chan It Hoan tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Mendadak Ci Giok Hian tertawa nyaring.

"Hm! Bukankah calon adik iparku itu bernama Kok Siauw Hong yang tinggal di Yang-cou? Jika benar dia. kau tak usah ke Yang-cou. sebab aku telah mengundang dia dan sekarang dia sudah ada di Pek-hoa-kok. Lebih baik kalian berdua menikah di sana saja."

Sesudah bicara Ci Giok Hian tertawa lagi.

"Untung kau bertemu denganku, kalau tidak, perjalanan kaiian akan sia-sia saja. Sungguh lucu jika mempelai perempuan yang akan menemui calon suaminya, tetapi ternyata kau tak menemui dia di sana!"

Kata Ci Giok Hian. Mendengar ucapan Ci Giok Hian kelihatan Han Pwee Eng terkejut.

"Bagaimana ia bisa mengetahui dengan jelas masalah ini? Padahal kepandaian Kok Siauw Hong tidak rendah... Apakah dia telah dikalahkan oleh Ci Giok Hian?"

Pikir Han Pwee Eng yang jadi termangu sesaat.

Semula Han Pwee Eng akan membohongi siapa nama calon suaminya.

Ci Giok Hian memang bersahabat dengannya.

Tetapi ketika nona Han akan menikah, ia tidak memberitahu sahabatnya itu.

Sungguh mengherankan bagaimana nona Ci malah sudah tahu semua apa yang akan ia lakukan.

Mengapa Han Pwee Eng tidak mau memberitahu kawannya kalau ia sudah bertunangan dengan Kok Siauw Hong?

Pasti ada sebabnya.

Ketika itu Han Pwee Eng teringat pada perkenalannya pertama kali dengan Ci Giok Hian, yaitu empat tahun yang lalu.

Ketika itu dia baru berumur 16 tahun.

Suatu ketika ayah nona Han menyuruh dia mengantarkan sepucuk surat untuk teman ayahnya yang tinggal di Ci-lam.

Di tengah perjalanan Han Pwee Eng menyaksikan kawanan perampok sedang merampok para pedagang.

Nona Han menghunus pedangnya lalu bertarung dengan para perampok itu.

Ini ia lakukan untuk menolong para pedagang dari gangguan para perampok itu.

Pada waktu itu kepandaian Nona Han belum seperti sekarang.

Ketika itu nona Han nyaris celaka.

Untung Ci Giok Hian muncul karena kebetulan lewat di tempat itu.

Dia membantu Han Pwee Eng, akhirnya mereka berdua berhasil mengalahkan para perampok itu.

Ketika itu Ci Giok Hian sudah berumur 18 tahun, atau lebih tua dua tahun dari nona Han.

Nona Ci lebih awal berkecimpung di Dunia Persilatan, maka tak heran kalau dia lebih berpengalaman.

Setelah berbincang mereka merasa cocok satu sama lain.

Tetapi karena Nona Han harus ke Ci-lam maka mereka pun berpisahan di tempat itu.

Saat berpisah nona Han mengundang nona Ci untuk datang ke Lok-yang.

permintaan nona Han itu oleh nona Ci disetujuinya.

Setelah mengantarkan surat ke Ci-lam nona Han langsung pulang ke Lok-yang.

Setiba di rumahnya ia menceritakan pengalamannya kepada ayahnya.

Terutama tentang pertemuannya dengan Ci Giok Hian yang telah membantu dia mengalahkan para perampok sehingga mereka menjadi sahabat dengan nona Ci.

Saat Han Tay Hiong telah selesai mendengar cerita puterinya itu.

tampak dahi Han Tay Hiong berkerut-kerut, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Han Pwee Eng heran menyaksikan ayahnya seperti itu.

"Ada apa Ayah? Apakah Ayah kurang senang aku bersahabat dengan orang Dunia Persilatan? Jangan salah duga kawanku itu kan seorang perempuan seperti aku. Tidak apaapa bukan?"

Kata nona Han.

Han Tay Hiong diam sejenak tak menjawab.

Rupanya Han Pwee Eng sejak kecil telah dijodohkan dengan anak lelaki keluarga bermarga Kok di Yang-cou.

Sehingga saat Han Pwee Eng diminta mengantarkan suratpun nona Han telah dipesan oleh ayahnya, dia tidak boleh sembarangan bergaul dengan orang-orang Rimba Persilatan.

Ayahnya hanya mengatakan dia diminta begitu agar kelak tak ada pergunjingan orang tentang keluarga mereka.

Tak lama kemudian Han Tay Hiong menjawab pertanyaan puterinya tadi.

"Ayah bukan tidak senang kau bergaul dengan siapapun."

Kata Han Tay Hong.

"apalagi orang itu berilmu tinggi. Malah ayah gembira sekali. Tetapi ayah ingin tahu. apakah nona Ci itu tinggal di Pek-hoa-kok?"

Nona Han Pwee Eng mengangguk.

"Ayah benar. Bagaimana Ayah bisa mengetahui dia tinggal di sana? Kata dia pemandangan di sana sangat indah dan banyak bunga tumbuh di sana. Aku tak singgah di sana karena harus mengantarkan surat Ayah. Tetapi dia aku undang datang ke mari."

Kata Han Pwee Eng. Mendengar jawaban puterinya Han Tay Hiong sedikit terperanjat.

"Apa kau memberitahu pada dia bahwa kau telah bertunangan dengan keluaga Kok di Yang-cou?"

Tanya sang ayah. Wajah Han Pwee Eng berubah kemerah-merahan.

"Ah Ayah! Aku baru berkenalan dengannya, mana mungkin aku memberitahu soal pertunanganku segala."

Kata Han Pwee Eng sambil menunduk. Mendengar jawaban puterinya Han Tay Hiong manggut-manggut.

"Apa dia juga menanyakan kau mau apa ke Ci-lam?"

Tanya ayahnya lagi. Pwee Eng menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Aku cuma bilang bahwa aku ada urusan mau ke Cilam dan dia tidak bertanya apa-apa lagi. Ayah. Dia juga tidak cerewet kok!"

Kata Han Pwee Eng. Han Tay Hiong tersenyum.

"Bagus kalau kau tak bilang apa-apa. Ingat! Selanjutnya kau jangan singgung-singgung mengenai keluarga Kok dari Yang-cou pada siapapun!"

Pesan ayahnya. Mendengar pesan ayahnya itu Han Pwee Eng jadi tercengang, Ia tatap ayahnya sambil berkata.

"Memang kenapa Ayah?"

Kata si nona. Han Tay Hong mengerutkan keningnya. Setelah diam sesaat ia berkata.

"keluarga Ci dan keluarga Kok punya masalah."

Kata Han tay Hiong.

"Masalah apa Ayah?"

Tanya nona Han.

"Pokoknya punya masalah."

Kata ayahnya ia tak mau memberitahu masalah apa. Han Pwee Eng tersenyum ia tak mau mendesak ayahnya.

"Oh begitu. Aku kira keluarga itu punya dendam, tak tahunya hanya punya masalah sedikit. Jika masalah itu kecil. aku tidak khawatir akan merepotkan."

Kata si nona. Wajah Han Tay Hiong kelihatan serius.

"Sekalipun kedua keluarga itu tidak saling mendendam sampai saling bunuh, tetapi kau tetap tidak boleh memberitahu tentang hubungan kita dengan keluarga Kok."

Kata sang ayah. Ia tatap puterinya dalam-dalam.

"Baik. Ayah!"

Kata Han Pwee Eng.

Tiga bulan telah lewat sejak pertemuan antara nona Han dan nona Ci itu.

Ci Giok Hian benar-benar datang ke Lokyang.

Seperti pesan ayahnya dalam bincang-bincang Han Pwee Eng tidak menyinggung-nyinggung soal pertunangan maupun hubungannya dengan orang she Kok dari Yangcou.

Kedua nona itu bergaul akrab sekali.

Setiap hari mereka kelihatan bersama-sama berlatih ilmu silat.

Keduanya kelihatan sangat cocok satu sama lain.

Setiap malam mereka membuat syair atau puisi.

Kiranya Ci Giok Hian 95 seorang nona yang Bun-bu-coan-cay (Mengerti sastra dan ilmu silat juga).

Setelah sebulan lamanya Ci Giok Hian berada di rumah Han Pwee Eng.

ia pun pamit akan pulang ke Pek-hoa-kok.

Sejak saat itu nona Ci tidak pernah datang-datang lagi ke rumah nona Han Pwee Eng.

Tetapi sungguh di luar dugaan, ketika Han Pwee Eng akan berangkat ke Yang-cou karena akan menikah dengan calon suaminya yang marga Kok di sana.

mendadak Ci Giok Hian muncul.

Pada saat itu Ci Giok Hian sedang berdiri di depan Han Pwee Eng.

Ia memaksa agar Han Pwee Eng mau datang ke lembah Pek-hoa-kok yang katanya untuk bertemu dengan calon suaminya Kok Siauw Hong.

Dia juga bilang Siauw Hong sudah ada di sana atas undangannya.

Han Pwee Eng jadi bingung, pergi atau jangan?

ia bingung karena ia ingat pada pesan ayahnya.

"Ayah bilang keluarga Kok dan Ci punya masalah. .. .Tetapi mengapa Ayah melarang aku menyebutkan nama calon suamiku kepada Ci Giok Hian? Sekalipun masalah yang dihadapi kedua keluarga bukan dendam kesumat, namun barangkali masalah itu sulit dijernihkan. Padahal Siauw Hong sudah akan menikah denganku, mana mungkin ia bersedia datang ke rumah Ci Giok Hian? Hanya satu yang mungkin terjadi, kecuali Kok Siauw Hong dipaksa oleh Ci Giok Hian karena Siauw Hong kalah olehnya. Sekarang Ci Giok Hian mengundangku, aku yakin ia bermaksud tidak baik...."

Pikir Han Pwee Eng. Han Pwee Eng terus berpikir sehingga alisnya berkerut.

"Bila aku tidak mau ikut dengannya, pasti kami akan bertarung. Padahal hubunganku cukup baik dengannya. Seandainya dia berniat buruk, belum tentu ia akan 96 mencelakai aku. Tetapi jika benar kata dia, aku harus menikah dengan Kok Siauw Hong di rumahnya. Bukankah Kok Siauw Hong akan kehilangan muka? Seandainya sampai orang tahu, tentu kami berdua akan menjadi bahan tertawaan."

Pikir Han Pwee Eng lagi dengan serius. Lama nona Han berpikir.

"Kepandaian Kok Siauw Hong tidak rendah, tidak mungkin dia bisa dikalahkan dan dipaksa datang ke Pekhoa-kok oleh Ci Giok Hian? Oh. entah benar atau tidak soal ini?"

Begitu nona Han berpikir terus. Melihat nona Han diam saja seolah sedang berpikir keras. Ci Giok Hian menatapnya dengan tidak sabar lagi.

"Kau jangan curiga!"

Kata Ci Giok Hian sambil tersenyum.

"Ingat Kok Siauw Hong sedang menunggumu di sana. Cepat ikut aku!"

Tiba-tiba Ci Giok Hian maju, Ia cekal tangan nona Han lalu ia tarik menuju ke kereta mewah. Tarikan ini membuat Han Pwee Eng tak sempat berpikir lagi.

"Tak peduli benar atau tidak, aku tidak mau ikut dengannya. Aku harus ke Yang-cou untuk menyelidiki masalah ini sampai semua jelas!"

Pikir Han Pwee Eng. Tiba-tiba Han Pwee Eng mengibaskan tangan bajunya agar ia bebas dari tarikan nona Ci.

"Terima kasih atas maksud baikmu Kak Ci. tetapi aku tetap tidak ingin merepotkanmu."

Kata nona Han.

Ketika itu wajah Han Pwee Eng tetap berseri-seri.

hingga orang yang menyaksikan adegan itu mengira keduanya sedang saling menolak dan memaksanya untuk pergi.

Sebenarnya kedua nona itu sedang mengadu lwee-kang mereka.

Ketika itu nona Han sedang mengenakan pakaian 97 pengantin yang panjang.

Saat dia mengibas tangannya tadi ia gunakan jari tangannya untuk menotok jalan darah di tetapak tangan Ci Giok Hian.

Beng Teng berilmu cukup lumayan.

tetapi ia tidak melihat hal itu terjadi, apalagi anak buahnya.

Totokan yang diam-diam dilancarkan nona Han bernama "Lan Hoa Ciu Tiam Hoat".

Ilmu totok ini merupakan ilmu simpanan keluarga Han yang sangat lihay.

Ketika itu nona Han sedang sakit, jika ia sungguhsungguh berkelahi dengan nona Ci.

pasti ia tidak akan sanggup melawan nona Ci.

Dengan terpaksa ia mengeluarkan ilmu totok itu.

Nona Ci mencoba menangkis sambil tersenyum.

"Adikku mengapa kau terlalu sungkan?"

Kata nona Ci Pada saat bersamaan Ci Giok Hian pun mengibaskan lengannya. Jari tangan nona Ci berbalik menotok jalan darah nona Han. Nona Han jadi terperanjat dan berpikir.

"Kiranya kau tidak memandang hubungan kita yang baik."

Pikir nona Han.

"sebaliknya kau desak aku demikian rupa. maka akupun tak akan sungkan-sungkan lagi kepadamu!"

Ketika nona Han akan menggunakan ilmu Kin-na-chiu untuk menghadapi nona Ci, lawannya mendadak mengubah serangannya, ini di luar dugaan nona Han.

tidak heran jika lengannya jadi tertotok dan seketika itu juga ia kesemutan.

Lengan kanan nona Han telah terpegang erat oleh nona Ci.

ia segera bersikap seolah jadi serba salah.

Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala, kemudian ia ikut saja saat diajak naik ke kereta oleh Ci Giok Hian.

Bab Kejadian yang dialami nona Han tak diketahui oleh para piauw-su.

Tetapi hal itu tak bisa mengelabui mata kedua lelaki tua para pengawal nona Han.

Mereka tahu apa yang terjadi.

Bisa dibayangkan betapa terkejutnya kedua pengawal nona Han itu.

Sekalipun mereka sadar mereka bukan tandingan nona Ci.

tapi keduanya tetap menerjang maju hendak menolongi nona mereka.

Sebelum sampai ke kereta, mereka melihat Ciu Hong sudah lama berdiri di sana.

Nona Ciu tertawa cekikikan.

"Nonaku hanya ingin mengundang Nonamu, kalian tak ikut diundang!"

Kata si nona nakal itu. Saat itu baik nona Han maupun nona Ci sudah naik ke atas kereta mewah. Tetapi kerei jendela kereta belum ditutup.

"Ciu Hong cepat minggir!"

Teriak nona Ci Nona Ciu Hong segera menepi. Pada saat yang bersamaan tampak nona Ci mengibaskan tangannya ke luar jendela kereta.

"Chan Toa-siok! Liok Toa-siok! Jika kalian berdua mau ikut sebenarnya aku sangat senang. Tetapi sebaiknya kalian tanyakan dulu pada Nonamu, boleh ikut atau tidak?!"

Kata nona Ci Giok Hian sambil tertawa.

Ketika itu mereka sudah menerjang maju ke arah kereta, tiba-tiba mereka merasakan sambaran angin dahsyat ke arah mereka.

Kedua lelaki tua itu berhenti karena tertahan oleh tenaga dahsyat itu.

Tubuh mereka bergoyang-goyang.

Mereka terdorong oleh tenaga yang sangat kuat.

Mau tak mau mereka pun tak maju lagi.

Tiba-tiba terdengar suara nona Han bicara.

"Kakak Ci baik padaku, aku akan ikut dengan dia untuk beberapa hari ke rumahnya. Lebih baik kalian pulang saja tak usah ikut kami!"

Kata Han Pwee Eng. Rupanya nona Han terpaksa harus bilang begitu.

"Ya!"

Kata kedua lelaki tua itu. Saat kereta itu mulai bergerak Beng Teng segera lari mengejarnya.

"Nona Ci. biar bagaimana kau tak bisa pergi begitu saja!"

Kata Beng Teng mencoba menghalanginya. Nona Ci tertawa.

"Ketua Beng kau jangan cemas! Tugas kalian melindungi Nona Han bisa dikatakan sudah cukup, biarlah aku yang akan menggantikan kalian melindunginya. Mengenai usaha kalian aku tak ingin merebutnya!"

Kata Ci Giok Hian dengan nyaring.

Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya.

Kelihatan sebatang anak panah tangan meluncur keluar dari kereta.

Tetapi anak panah itu tidak meluncur keras karena nona Ci tak menggunakan tenaga dalamnya saat ia melepaskannya.

Beng Teng lega hatinya, Ia tahu nona Ci tak hendak melukai dirinya.

Buru-buru dia ulurkan tangannya untuk menyambut anak panah itu.

Lalu anak panah itu ia perhatikan dengan seksama, ternyata ada tulisan huruf "Ci'nya "Silakan kau bawa anak panah itu untuk ditunjukkan kepada Paman Han.

Itu bisa untuk bukti, aku jamin Paman Han akan melunasi sisa bayarannya padamu!"

Sesudah itu dia melirik ke arah nona Han.

"Aku yakin Ayahmu itu bukan orang kikir, kan?"

Kata nona Ci. Nona Han tersenyum.

"Sekalipun kami bukan orang yang kaya-raya. tetapi mengenai uang 1000 tail emas itu. Ayahku pasti akan melunasinya."

Kata Han Pwee Eng. Kemudian ia berteriak ke arah Beng Teng.

"Cong-piauw-thauw terima kasih kalian telah mengantarkan aku sampai ribuan lie jauhnya. Kau boleh pulang dan temui ayahku seperti pesan Kakak Ci. Ayahku tidak akan menyalahkan kalian!"

Beng Teng tak tahu benar tidaknya ucapan kedua nona itu.

yang jelas keduanya telah memberi muka kepadanya.

Karena tak mungkin menghalanginya lagi.

ia biarkan kereta itu pergi.

Ciu Hong menaiki kuda merah milik nona Ci.

ia mengikuti kereta itu dari belakang.

Kemudian ia melambai-lambaikan tangannya ke arah kedua lelaki tua itu.

"Chan Toa-siok. Liok Toa-siok dan Cong-piauw-thauw. sampai bertemu lagi! Kami akan merawat dan melindungi Nona Han dengan baik. Beritahu pada Paman Han jangan khawatir!"

Kata nona Ciu. Sesudah kereta mewah itu pergi dan tak kelihatan lagi. kedua lelaki tua itu menemui Beng Teng.

"Cong-piauw-thauw. bolehkan kami meminjam dua ekor kudamu?"

Beng Teng tertegun.

"Jadi kalian tak mau pulang bersama kami?"

Kata dia. Chan It Hoan, si kurus menghela napas panjang.

"Nona kami telah dirampas orang, bagaimana kami punya muka untuk menemui majikan kami?"

Kata Chan It Hoan lesu. Beng Teng mengerutkan dahinya.

"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?"

Tanya Beng Teng. Chan It Hoan kelihatan sengit sekali.

"Memang kami bukan tandingan Nona Ci. tapi dia tidak boleh membuat majikan kami kehilangan muka. Pepatah mengatakan.

"Di luar langit masih ada langit, selain dia masih ada orang lain lagi yang lebih pandai". Sekalipun nona Ci itu lihay. belum tentu tidak ada orang yang mampu mengalahkannya. Lembah Pek-hoa-kok itu mirip sarang harimau, kami berdua telah sepakat akan ke sana!"

Kata Chan it Hoan dengan tegas. Beng Teng tahu maksud kata-kata Chan It Hoan. mereka akan mengundang pesilat tinggi untuk pergi mencari nona Ci dan menolongi nona Han. Beng Teng manggut-manggut.

"Kepandaian kami memang rendah."

Kata Beng Teng.

"tetapi jika kalian tak keberatan, kami pun bersedia ikut kalian ke sana!"

Liok Hong, si gemuk menyela.

"Kami sangat berterima kasih pada maksud baik Congpiauw-thauw. Terus terang saja. kalian tak bisa ikut campur dalam masalah kami ini. Tugas kalian sudah cukup sampai di sini. Majikan kami pun, aku yakin tidak akan menyalahkanmu. lebih baik kalian segera pulang saja ke Lok-yang!"

Kata Liok Hong. Diam-diam Beng Teng menghela napas panjang.

"Mana aku masih punya muka menagih sisa pembayaran itu? Begitu sampai di Lok-yang. Houw Wie Piauw-kiok harus segera tutup pintu! Selanjutnya aku harus pergi bersembunyi dan hidup sebagai orang biasa."

Pikir Beng Teng.

Setelah dipinjami dua ekor kuda kedua lelaki tua itu menaiki kuda pinjaman itu dan mereka langsung mengaburkan kuda itu dengan cepat.

Tak lama kelihatan Chu Cu Kia berjalan dengan terpincangpincang.

"Cong-piauw-thauw. kita....."

Sebelum Chu Cu Kia selesai bicara. Beng Teng menggoyangkan tangannya.

"Apa lagi yang harus kita bicarakan?"

Kata Beng Teng.

"Simpan panji-panji kita. mari kita pulang!"

Dikisahkan Han Pwee Eng yang dipaksa ikut dengan nona Ci.

Di sepanjang jalan kelihatan ia sangat menyesal, ia juga dongkol dan penasaran sekali.

Oleh sebab itu ia terus diam saja.

Nona Ci malah tertawa-tawa.

Dia rapikan rambut Han Pwee Eng yang acak-acakan.

"Dik. kau marah padaku, ya?"

Kata nona Ci dengan lembut seperti dulu sebelum ada masalah. Nona Han menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu kau kesal karena aku bisa mematahkan serangan totokanmu itu. kan? Terus-terang ketika aku ada di rumahmu selama sebulan, aku sangat memperhatikan gerakan totokanmu itu! Tadi pada saat kau sedang lengah, aku baru berhasil mengalahkanmu. Tetapi jika kau sudah sembuh, belum tentu aku bisa mengalahkanmu. Aku harap saja kelak kita tak akan bertarung lagi. Kita akan tetap 103 menjadi kakakberadik yang baik. Sungguh aku tak berniat menghinamu. Aku berbuat begitu karena terpaksa. Sesampainya kau di rumahku kau akan paham."

Kata Ci Giok Hian. Nona Han sangat benci pada kelicikan nona Ci ini. maka segera ia pejamkan matanya, ia tak mau meladeninya. Nona Ci menatapnya sambil tersenyum.

"Oh ya. kau sedang sakit, lebih baik kau istirahat saja!"

Kata nona Ci.

Tiba-tiba dia mengibaskan lengan bajunya ke muka nona Han.

Han Pwee Eng segera mencium bau harum yang sangat halus, dan ini membuat dia merasa nyaman sekali, tanpa terasa ia pun tertidur pulas.

Entah sudah berapa lama ia tertidur di kereta itu.

Ketika ia bangun, saat ia membuka matanya, sekarang ia sedang terbaring di sebuah tempat tidur yang indah.

Kelihatan lilin merah besar menyala terang sekali dan tercium aroma dupa yang sangat harum.

Ternyata dia sekarang berada di sebuah kamar yang mewah dan indah.

Kini Han Pwee Eng merasa segar dan nyaman sekali.

Akhir-akhir ini penyakit nona Han jadi bertambah parah, napasnya memburu dan hatinya berdebar-debar terus.

Pada saat ia mengerahkan kekuatannya, ia heran sekali sekarang seolah tak ada masalah atas dirinya.

Tentu saja ia jadi heran sekali.

"Aku tertidur hanya sebentar, tapi tubuhku jadi nyaman sekali."

Pikir nona Han.

Saat ia memperhatikan kamar itu.

ia melihat sebuah cermin tembaga ada di situ.

Ia langsung bercermin.

dalam cermin segera terpeta wajahnya yang cantik.

Dia tertegun 104 sejenak, dia heran sekali.

Wajahnya yang pucat-pasi sekarang jadi segar dan cantik sekali.

Tiba-tiba mata Han Pwee Eng terbelalak.

"Apa saat aku tak sadar Kakak Ci telah mengobatiku?"

Pikir nona Han. Ia memperhatikan kamar yang indah itu.

"Apakah ini kamar Kakak Ci. atau kamar lain khusus untuk aku? Aku kira dia baik padaku dan tak bermaksud jahat."

Pikir nona Han.

Saat ia memperhatikan seluruh ruangan ia melihat sehelai kertas tergantung di dinding kamar.

Kertas itu berisi syair demikian bunyinya .

Kota terkenal berada di sebelah kanan.

Menunggang kuda ke arah Barat.

Melewati musim semi puluhan lie.

Menghabiskan masa muda begitu saja.

Saat meninggalkan kuda lewat sungai.

Sungai pun jadi kering dan jembatan pun lapuk.

Senja telah dekat.

angin dingin berhembus.

Kota pun jadi kosong.

Kanda Tu tampan dan gagah berani.

Justru kini harus mengalami kejutan Mimpi indah di tauw-teng hijau.

Sulit melupakan cinta yang dalam.

Dua puluh empat jembatan tetap ada.

Hati terus bergejolak.

hutan dingin tak bersuara.

Terkenang obat warna merah di tepi jembatan.

Tahukah setiap tahun melahirkan untuk siapa?

Setelah membaca syair itu Han Pwee Eng tertegun dan heran sekali.

"Mengapa Kakak Ci sangat menyukai syair Kiang Pek Ciok ini? Dia menuliskan kembali syair itu dan dia gantungkan di kamar ini. apa agar aku membacanya?"

Pikir nona Han.

Kiang Pek Ciok penyair yang hidup di zaman Lam Song (Song Selatan).

Syair itu ditulis setelah terjadi peperangan di kota Yang-cou.

Atau syair itu bisa dikatakan berlatar belakang peperangan tersebut.

Hal ini yang mencengangkan nona Han.

kebetutan Kok Siauw Hong tahir di kota Yang-cou.

Sedang syair itu pun mengisahkan tentang percintaan.

Karena itu hati nona Han jadi tergerak.

Diam-diam ia berpikir.

"Kakak Ci menggemari syair ini. apa mungkin Kakak Ci punya hubungan dengan Kakak Kok?"

Pikir nona Han.

"Kata 'Kakak Tu' dalam syair itu siapa yang dimaksudkannya? Jika dimaksudkan Kakak Kok. tak masuk akal. Sekalipun Kakak Kok orang Yang-cou. namun syair itu bernada sedih. oleh Kakak Ci syair itu mungkin ditujukan kepadaku agar aku membacanya, sedangkan aku akan menikah dengan Kanda Kok. Meskipun aku tak merasa terganggu oleh syair itu tetapi cukup merusak suasana."

Pikir nona Han. Tampak nona Han bingung dan tak habis pikir, ia mencoba menghibur diri dan tertawa.

"Mungkin sajak ini ditempatkan di sini dengan tak punya maksud apa-apa. Tapi aku yang sok tahu menganggap diri pandai, dan menafsirkannya secara sembarangan tentang Kakak Ci."

Pikir nona Han.

Cukup ]ama nona Han melamun sendirian di tepi tempat tidur.

Tak seorang pun yang datang ke kamar itu.

Dia sengaja batuk-batuk beberapa kali.

tetapi tak ada jawaban, ia jadi jengkel sendiri.

"Di mulutnya ia berkata manis, sekarang ia tak memperdulikan aku sendiri di sini! Apa ia pikir aku tak bisa mencari dia?"

Pikir nona Han.

Nona Han ingat Ci Giok Hian mengatakan bahwa calon suaminya ada di sini.

Jika ia ikut ia akan bertemu dengan calon suaminya itu.

Sekarang dia sudah ada di sini.

tetapi Kok Siauw Hong belum juga muncul menemuinya Sekarang nona Han jadi bingung sekali.

Pada saat dia akan pergi mencari nona Ci dan akan menanyakan tentang Kok Siauw Hong.

tibatiba ia batalkan niatnya itu.

"Jika hal itu aku tanyakan kepadanya, ah aku ini kan seorang calon pengantin. Apa itu tak akan jadi buah tertawaan orang?"

Pikir si nona. Tapi jika ia duduk saja sambil melamun itu sangat menjengkelkan hatinya.

"Entah jam berapa sekarang?"

Pikir si nona.

Ia berdiri dan berjalan ke jendela, ia buka daun jendela, ia lihat rembulan di langit sana tampak bersinar terang.

Di luar sana tampak sebuah taman bunga yang sangat luas.

Tetapi di sana tak tampak ada orang.

Han Pwee Eng berjalan ke arah pintu lalu keluar dari kamar itu menuju ke taman.

Bukan main indahnya taman bunga itu.

Beraneka warna bunga mekar, tetapi ia tak tahu apa namanama bunga itu.

Di taman bunga itu terdapat gunung-gunungan dan tempat istirahat.

Dia memuji keindahan taman bunga ttu.

"Sungguh indah tempat ini! Pantas Kakak Ci bilang lembah Pek-hoa-kok tak ada duanya di kolong langit ini! Tempat ini begini indah, apalagi tempat yang lainnya."

Pikir nona Han.

Sekalipun taman itu indah tetapi sayang pada saat itu hati Han Pwee Eng sedang kacau, jadi keindahan taman itu tak mendapat perhatiannya.

Dia berjalan hilir-mudik sejenak "Sekarang lwee-kangku telah pulih, sedang tempat ini tidak dijaga.

Lebih baik aku melarikan diri ke Yang-cou untuk menyelidiki masalah itu.

Tapi aku belum bertemu dengan Kakak Ci.

Pergi tanpa pamit rasanya kurang pantas."

Pikir nona Han.

Dengan pikiran kusut ia terus melangkahkan kakinya sampai ia tiba di depan sebuah kolam yang ditanami bunga teratai.

Kolam itu tertimpa oleh sinar rembulan dan kelihatan indah sekali.

Ia berdiri di tepi kolam sambil melamun.

Saat itu ketika nona Han sedang mengawasi air kolam.

tiba-tiba tertera bayangan orang berpakaian putih berdiri di belakang dia.

Orang itu sedang tersenyum.

Nona Han tertegun wajahnya segera berubah.

"Siapa kau?"

Bentak nona Han.

Semula ia kira orang itu Kok Siauw Hong.

tetapi sesudah melihatnya dengan tegas ternyata bukan Siauw Hong.

Ia langsung membentak.

Memang sejak kecil nona Han telah bertunangan dengan Kok Siauw Hong.

ketika itu dia baru berumur tiga tahun.

Ayah Kok Siauw Hong datang ke rumah nona Han dan tinggal beberapa hari di sana.

Pada saat itu Kok Siauw Hong sudah berumur delapan tahun, lebih tua lima tahun dari nona Han.

Ketika itu juga dia mendengar Kok Siauw Hong sudah berlatih ilmu Tong Cu Kang (Lwee-kang Jejaka).

Kok Ju Sih sangat sayang pada Kok Siauw Hong.

ke mana pun ia pergi ia selalu dibawa oleh ayahnya.

Han Tay Hiong dan Kok Ju Sih dua sahabat kekal.

kemudian mereka berdua sepakat akan menjodohkan anakanak mereka.

Anak-anak mereka waktu itu masih kecil 108 dan belum tahu apa-apa tetapi mereka tetap merencanakan pertunangan itu.

Setelah Kok Ju Sih dan Kok Siauw Hong pulang.

keluarga itu jarang berhubungan, karena jarak rumah mereka berjauhan sekali.

Setelah sepuluh tahun Han Tay Hiong datang ke Yang-cou.

Nona Han tidak diajak ke sana karena masih kecil.

ditambah lagi ia seorang nona yang harus menjaga diri.

Suatu hari pada saat Kok Siauw Hong datang untuk memberitahu khabar duka bahwa ayahnya telah meninggal.

ketika itu nona Han sudah berumur 14 tahun.

Bukan main berdukanya Han Tay Hiong.

Pada saat bertemu Kok Siauw Hong itulah.

Han Tay Hiong menceritakan tentang perjodohan pemuda itu dengan puterinya.

Ketika itu Kok Siauw Hong memberi alasan, karena ia masih muda dan sesuai tradisi bangsa Tionghoa ketika itu ia harus berkabung selama tiga tahun, baru bisa melangsungkan pernikahan.

oleh sebab itu ia belum bersedia menikah dengan nona Han.

Akhirnya mereka sepakat setelah selesai berkabung baru pernikahan itu akan dilangsungkan.

Sungguh di luar dugaan di dalam negeri terjadi perang saudara, sehingga negara terbagi menjadi dua yaitu Song Utara dan Song Selatan.

Dengan demikian Kok Siauw Hong tidak bisa menjemput calon isterinya dari Lok-yang.

Ditambah lagi Han Tay Hiong pun mengalami kecelakaan sehingga ia menderita luka dalam.

Sekalipun tak sampai parah dan kehilangan ilmu silatnya.

tetapi Han Tay Hiong tak bisa mengantarkan puterinya ke Yang-cou.

Akhirnya sampai Han Pwee Eng berumur 20 tahun, baru ia kirim puterinya itu untuk dinikahkan dengan Kok Siauw Hong di Yang-cou.

Saat pertama kali nona Han bertemu dengan Kok Siauw Hong.

ketika itu calon suaminya memberitahukan tentang ayahnya telah meninggal.

Han Pwee Eng tidak menemuinya karena malu.

Tetapi ia masih sempat mengintai dari jauh dan bisa melihat calon suaminya itu.

Saat itulah ia terkesan pada calon suaminya, sehingga hatinya berbunga-bunga karena calon suaminya itu cukup tampan hingga timbul rasa cintanya pada pemuda itu.

Sedangkan pemuda yang bayangannya terpeta di empang itu jelas bukan calon suaminya.

Kok Siauw Hong.

Tetapi pemuda yang kini sedang dihadapinya itu sebaya dengan calon suaminya.

Selain itu ia juga tampan dan gagah.

Ketika mata mereka beradu Han Pwee Eng terkejut karena ia bukan calon suaminya.

Pemuda yang berpakaian serba putih itu tersenyum kepadanya.

"Nona Han jangan kaget. Giok Hian itu adikku. Aku kakaknya, namaku Giok Phang."

Kata pemuda itu sambil tersenyum manis.

Nona Han sekarang ingat bahwa tempo hari Ci Giok Hian pernah memberitahu dia.

bahwa dia punya seorang kakak lelaki oleh sebab itu sekarang hati nona Han jadi sedikit tenang, lalu ia menegur pemuda itu.

"Sudah begini malam. kau mau apa ke mari?"

Tanya nona Han tanpa terasa.

Sesudah menegur pemuda itu baru nona Han kaget.

Sudah tentu Giok Phang boleh ke mana saja ia suka.

karena rumah itu rumahnya.

Tetapi teguran tadi sudah disampaikan tak bisa ditarik kembali.

karena itu wajah nona Han pun jadi kemerahmerahan dan tersipu-sipu malu sekali.

Untung Ci Giok Phang tak mempermasalahkan hal itu.

"rembulan malam ini indah sekali."

Kata Giok Phang suaranya datar, ia berkata sambil tersenyum. Ketika nona Han melihat senyuman pemuda itu tiba-tiba hatinya jadi berdebar-debar.

"Ah aneh sekali dia ini. bukan menjawab pertanyaanku, malah ngelantur ke soal lain."

Pikir nona Han.

"Ah entah apa maksud dia berkata begitu?"

Ketika nona Han mengawasi pemuda itu. ia sedang tersenyum ke arahnya.

"Tadi aku pikir bunga teratai pasti lebih indah kelihatannya jika dilihat di malam hari. Lalu aku ke mari ingin melihatnya. Tetapi aku mendengar ada suara wanita, aku kira Giok Hian. adikku. Tak tahunya kau Nona Han! Maaf. aku telah mengejutkanmu. Harap Nona Han tak marah kepadaku."

Wajah Han Pwee Eng terasa panas, pasti berubah merah "Tidak apa-apa."

Jawab nona Han.

"Tak kusangka Nona Han juga menyukai bunga teratai di malam hari. ya?"

Kata Ci Giok Phang.

Dari lagu suaranya nona Han tahu pemuda itu telah menganggap dia sebagai temannya saja.

hal itu membuat nona Han jadi kesal.

Tapi sekalipun pemuda itu bicara dengan sopan dan ramah sekali, namun si nona segan menegur lagi "Aku datang ke tempat ini karena iseng saja.

sekarang aku akan kembali ke kamarku."

Kata nona Han. Nona Han berjalan menuju ke kamarnya sedang pemuda itu mengikutinya perlahan.

"Kau belum pernah ke taman ini. sungguh senang berjalanjalan di sini. Oh ya, aku dengar kau sedang sakit, 111 bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah mendingan sekarang?"

Kata Ci Giok Phang ramah.

"Itu cuma penyakit biasa."

Kata nona Han.

"terima kasih atas perhatianmu. Sekarang aku merasa sudah baikan."

Ci Giok Phang tersenyum manis.

"Kalau begitu syukurlah, adikku Giok Hian sangat mencemaskaumu. ia takut kau tak segera sembuh. Dia minta aku menemuimu. tetapi aku pikir pasti kau belum sehat benar"

Kata Giok Phang. Han Pwee Eng tertegun.

"Oh kiranya benar. Ci Giok Hian yang mengobaliku."

Pikir nona Han.

"Tetapi mengapa dia tak segera menemui aku? Malah ia suruh kakaknya yang menemuiku. Sungguh keterlaluan!"

Melihat nona Han tertegun Ci Giok Phang kembali tersenyum pada si nona.

"Nona Han. aku dengar kau sudah hampir setahun menderita penyakit itu. benarkah? Siu Lo In Sat Kang (Pukulan Sesat Hawa Dingin) dari Chu Kiu Sek memang sangat lihay. oleh sebab itu penyakitmu itu tak bisa kau katakan penyakit biasa."

Kata Giok Phang. Han Pwee Eng terkejut mendengar kata-kata pemuda itu.

"Oh. kiranya mereka sudah tahu aku menderita luka apa?"

Pikir nona Han.

Chu Kiu Sek yang disebutkan pemuda itu adalah musuh besar ayahnya.

Delapan tahun yang lalu.

ketika Han Tay Hiong pulang dari rumah Kok Ju Sih di Yang-cou, di tengah jalan Han Tay Hiong bertemu dengan musuh besarnya itu.

Ayahnya bertarung dan terluka dalam karena terserang oleh ilmu Siu Lo Im Sat Kang.

Sepasang kaki ayahnya itu jadi agak 112 lumpuh, tetapi masih bisa dipakai untuk berjalan hanya lambat.

Mengenai kejadian ini sebenarnya tak diketahui oleh siapapun.

Ketika itu tidak bisa mengelabui Han Pwee Eng, dia tahu kepandaian ayahnya telah lenyap.

Ketika ayahnya baru pulang sang ayah tak memberi tahu nona Han.

siapa musuh besarnya itu.

Tanpa terasa tujuh tahun telah berlalu....

Selama tujuh tahun itulah Han Tay Hiong menggembleng puterinya ini dengan pelajaran ilmu silat tingkat tinggi.

Sampai akhirnya Han Pwee Eng mahir dalam Ilmu Pedang Menusuk jalan Darah, ilmu ini sangat cepat dan ganas.

Hanya dalam satu jurus ia mampu menusuk sebanyak tujuh jalan darah musuh.

Ilmu pedang tersebut dinamakan Keng-sin Kiam-hoat (Ilmu Pedang Mengejutkan Dewa).

Han Tay Hiong mengajarkan ilmu itu kepada puterinya karena ia takut tiba-tiba musuh besarnya itu akan muncul.

Pada musim Semi tahun lalu.

Chu Kiu Sek betul-betul muncul, Han Pwee Eng jadi merinding apabila ia ingat pertempuran waktu itu.

Ketika itu Han Tay Hiong sedang duduk bersila di tanah dan Chu Kiu Sek masuk ke halaman rumah mereka dengan wajah bengis.

Saat melihat Han Tay Hiong sedang duduk di tanah.

Chu Kiu Sek langsung menyerang Han Tay Hiong.

Han Pwee Eng ketika itu sedang di kamarnya ia seolah merasakan kamarnya itu bergetar, ia juga merasakan hawa dingin luar biasa menerobos masuk ke dalam kamarnya, ia cemas bukan main, ia sangat mencemaskan keselamatan ayahnya.

Lalu ia mengintai keluar lewat celah-celah jendela.

Dia lihat ayahnya roboh ketika diserang.

Saking cemasnya nona Han melompat keluar dari kamarnya lewat jendela dan langsung melancarkan serangan yang hebat ke arah Chu Kia Sek.

Nona Han menyerang dengan sebilah pedang dan menggunakan jurus dari ilmu Pedang Mengejutkan Dewa itu.

Pada saat yang bersamaan pula, ayah nona Han yang tadi roboh melancarkan serangan mendadak ke arah perut Chu Kiu Sek.

Terkena serangan itu Chu Kia Sek menggeram, lalu melompat dan kabur.

Dari kejauhan masih terdengar suara jeritannya.

Han Tay Hiong telah duduk kembali sambil menggelengkan kepala dan tersenyum getir.

"Sayang, sungguh sayang sekali!"

Katanya.

"Apa yang sayang. Ayah?"

Tanya nona Han.

"Sayang serangan pedangmu hanya berhasil melukai tiga jalan darahnya, tetapi ditambah dengan sebuah pukulanku, cukup membuat dia terluka parah! Dalam waktu tiga tahun lwee-kangnya belum tentu bisa pulih. Hm! Delapan tahun yang lalu aku terkena oleh sebuah pukulannya. Kini bisa dikatakan aku telah membalasnya!"

Kata Han Tay Hiong. Han Pwee Eng tersenyum puas.

"Sebenarnya Chu Kiu Sek tak memusuhi kaum muda, tetapi karena tadi kau telah menyerang dia dengan pedangmu, maka aku harap tiga tahun lagi kau harus siap-siaga pada pembalasannya, oleh karena itu, kau harus segera menikah tahun ini juga!"

Kata Han Tay Hiong. Memang dalam usia 20 tahun si nona sudah pantas menikah, tapi ucapan ayahnya tadi membuat ia jadi bertanya pada ayahnya.

"Ayah. mengapa....."

Han Tay Hiong langsung memotong kata-kata puterinya.

"Coba perhatikan hawa murnimu! Bukankah di bagian dadamu terasa kurang nyaman?"

Kata ayahnya. Han Pwee Eng mengerahkan hawa murninya. Benar saja di bagian dadanya ia merasakan sakit.

"Kau telah terserang hawa dingin Siu Lo Im Sat Kang si Iblis itu! Sekalipun lukanya tidak parah, tetapi jika tidak diobati pasti akan menyusahkanmu, keluarga suamimu memiliki ilmu Siauw-yang-sin-kang (Ilmu Tenaga Sakti Hawa Panas). Sekalipun ilmu itu tak bisa memecah ilmu tawan, tetapi mampu mengobati lukamu. Setelah kau menikah kau minta pada suamimu agar kau diajari ilmu itu. Aku yakin lukamu pasti akan sembuh kembali dan kalian berdua boleh bergabung. Tiga tahun kemudian jika si Iblis itu datang untuk menuntut balas, ilmu silatmu pasti sudah tinggi. Aku yakin kalian berdua akan mampu melawan si iblis itu!"

Kata Han Tay Hiong menjelaskan.

Sungguh di luar dugaan sebelum nona Han sempat menikah dan belajar Siauw-yang-sin-kang, luka yang dideritanya malah sudah diobati oleh Ci Giok Hian.

Hal itu membuat ia bingung dan berpikir keras.

"Dia yang mengobatiku, tapi mengapa dilakukan dengan diam-diam tanpa setahuku? Apakah dia bawa aku ke mari hanya untuk mengobatiku? Dia bilang Kok Siauw Hong ada di sini. benarkah begitu? Atau itu hanya alasan saja supaya aku mau ke mari?"

Pikir Han Pwee Eng bingung bukan main.

Dia ingin menanyakan hat itu kepada Ci Gtok Phang.

tetapi tak berani karena merasa tak enak hati dan baru kenal.

Akhirnya ia berdiri termangu.

Ci Giok Pang menatap si nona sambil tersenyum.

"Nona Han, izinkan aku memeriksa nadimu."

Kata Ci Giok Phang.

Pemuda ini kakak Ci Giok Hian.

Ketika pemuda itu ingin memeriksa penyakitnya, tentu saja ia tak keberatan.

Tak lama ia ulurkan tangannya pada pemuda itu.

Baru pertama kali nona Han bersentuhan tangan dengan seorang pria, sehinga ia merasakan sesuatu yang aneh dan wajahnya terasa hangat, mungkin telah berubah jadi merah.

Setelah memeriksa nadi nona Han, tak lama pemuda itu melepaskan pegangannya.

"Kuucapkan selamat kepadamu. Nona Han. Ternyata hawa dingin yang bersarang di tubuhmu telah bersih, pasti tak akan kambuh lagi."

Kata pemuda itu sambil tersenyum. Han Pwee Eng tersenyum getir.

"Oh ternyata kalian yang menyembuhkan penyakitku."

Kata nona Han.

"Ketika aku tertidur pulas saat di kereta itu. Kakak Ci telah memberiku obat mujarab, ternyata sekarang aku telah sembuh? Terus terang Ayahku bilang sekalipun tidak parah tetapi penyakitku itu sulit diobati. Benar kan begitu?"

Ci Giok Phang tersenyum.

"Karena kau yang menanyakan hal itu kepadaku, maka aku harus jujur menjawab pertanyaanmu itu. Tetapi itu tidak ada sangkut-paumya dengan jasa adikku mengobatimu. Untuk mengobati penyakitmu itu dia telah mengorbankan lweekangnya yang dipelajarinya selama tiga tahun."

Kata Giok Phang. Han Pwee Eng terperangah.

"Oh. sebenarnya baru setahun ini aku menderita penyakit itu. Apa Kakak Ci bisa meramal kejadian yang akan datang?"

Kata nona Han.

"Waktu adikku berkunjung ke rumahmu, dia telah menyiapkan diri untuk kejadian hari ini."

Sahut Ci Giok Phang.

"Ketika itu ayahmu terluka oleh Siu-to-im-sat-kang sehingga sepasang kakinya lumpuh. iya kan?"

Han Pwee Eng mengangguk.

"Benar."

Kata dia. Nona Han termenung sejenak.

"Kiranya Kakak Ci tahu luka Ayahku."

Pikir dia.

"Adikku sadar Iblis itu tak begitu mudah untuk melepaskan ayahmu, cepat atau lambat ia akan menuntut batas. Pikir adikku seandainya bukan kau yang terluka parah, dia akan mengobati ayahmu."

Mendengar keterangan itu nona Han terharu sekali, ternyata Ci Giok Hian sangat memperhatikan dia dan ayahnya.

"Tak kukira begitu kejadiannya, sungguh menyesal aku telah menyusahkan Kanda Ci!"

Kata nona Han. Wajah Giok Phang tiba-tiba berubah merah. Hal ini pun membuat Han Pwee Eng tercengang.

"Heran mengapa tiba-tiba wajahnya kemerah-merahan."

Pikir nona Han. Ci Giok Phang lalu berkata.

"Sepulang adikku dari rumahmu, dia langsung pergi ke Go-bi-san mencari Bu Siang Sin-nie. Ia memohon agar diajari Ilmu Tusuk Jarum Memunahkan Racun. Bu Siang Sin-nie mengabulkan permintaannya. Selama setahun ia 117 belajar di sana."

Ci Giok Phang berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan kata-katanya.

"Sebenarnya Ilmu Tusuk Jarum itu tak mampu menyembuhkan penyakitmu itu. Untung kami tinggal di Pek-hoa-kok..."

Han Pwee Eng tercengang.

"Tempat ini memang indah lalu apa hubungannya dengan penyakitku?"

Tanya nona Han.

"Terus terang secara turun-temurun keluarga kami sudah menempati lembah ini hampir seratus tahun lamanya."

Kata Ci Giok Phang.

"Lalu kenapa?"

Desak nona Han.

"Moyang kami sangat menyukai berbagai bunga yang langka dan terkenal."

Kata Ci Giok Phang.

"semula tempat ini hanya lembah liar belaka. Kemudian moyang kami mencari dan mengumpulkan berbagai bunga, lalu mereka tanam di tempat ini. Tak heran kemudian lembah ini jadi bernama Pekhoa-kok...."

Han Pwee Eng tersenyum.

"Moyangmu yang menanami bunga sedangkan anak cucunya yang menikmati keindahannya. lalu apa hubungannya dengan penyakitku?"

Kata nona Han.

"Tentu saja ada hubungannya!"

Kata Giok Phang.

"Di lembah ini terdapat bermacam-macam bunga dan rumput obat di antaranya ada yang berkhasiat untuk mengusir hawa dmgin dalam tubuh manusia. Salah satunya pohon bunga yang hanya berbunga 60 tahun sekali! Nona Han. ini mungkin satu keberuntungan bagimu. Tahun lalu pohon itu berbunga. Adikku lalu mencampur bunga itu dengan arak dan arak itu dinamai Kiu-thian-sun-yang Pek-hoa-ciu (Arak Seratus Bunga Berhawa Panas)"

Setelah berkata begitu Giok Phang tersenyum. Kemudian pemuda ini melanjutkan.

"Semalam pada saat kau tertidur pulas. diam-diam adikku memberimu arak obat tersebut. Setelah itu baru ia menggunakan ilmu tusuk jarum untuk memunahkan racun yang ada dalam tubuhmu. Tetapi adikku khawatir Iweekangmu belum pulih. Maka itu ia menyuruhku menggunakan Siauw-yang-sin-kang untuk melancarkan jalan darahmu agar bisa cepat sembuh!"

Kata Giok Phang sambil tersenyum. Mendengar keterangan tersebut wajah Han Pwee Eng tampak kemerah-merahan.

"Rupanya dia mahir ilmu Siauw-yang-sin-kang.. Eh. jika dia gunakan ilmu itu untuk melancarkan jalan darahku, bukankah dia telah... aaah pasti dia telah meraba tubuhku."

Pikir nona Han jadi bertambah jengah. Ci Giok Phang sadar apa yang membuat wajah nona itu berubah merah dan apa yang sedang dipikirkan oleh nona itu. hal ini membuat ia jadi kikuk bukan main.

"Terus terang baru tahun yang lalu aku belajar Siauw-yangsin-kang. Aku dan Kok Siauw Hong saling tukar-menukar ilmu silat. Dia mengajari aku Ilmu Siauw-yangsin-kang, sedangkan kami mengajari dia ilmu silat andalan keluarga kami. Untuk menyembuhkan penyakitmu itu. semuanya harus lengkap. Yaitu menggunakan Ilmu Tusuk Jarum dari Go-bi-pay, arak obat Kiu-thian-sun-yang Pekhoa-ciu dan Siauw-yang-sinkang. Maka itu penyakitmu bisa segera sembuh dan tidak butuh waktu dua tahun...Maaf Nona Han. kau harus memaafkan kelancanganku ttu!"

Kata Ci Giok Phang.

Wajah Han Pwee Eng berubah merah.

Dia tak bisa menyalahkan pemuda itu yang ingin menyembuhkan 119 penyakitnya.

Namun, cerita pemuda itu menambah lain kecurigaan yang ada di otak nona ini.

"Giok Hian bilang Kok Siauw Hong ada di sini."

Pikir nona Han.

"dalam hal menguasai Siauw-yang-sin-kang rasanya Kok Siauw Hong lebih mahir dari Giok Phang. Tetapi kenapa Ci Giok Hian justru menyuruh kakaknya yang mengobatiku? Ayah pernah bilang di antara keluarga Ci dan Kok terdapat masalah. Tetapi atas dasar keterangan pemuda ini, mereka justru bersahabat baik? Aneh sekali?"

Saat nona Han sedang kebingungan, Ci Giok Phang berkata lagi.

"Ternyata Nona Han bisa sembuh dengan cepat, kami kakak beradik sangat girang sekali, ini suatu bukti bahwa obat Kiu-thian-sun-yang Pek-hoa-ciu itu memang sangat berkhasiat. Adikku hendak mengutus orang mengantarkan arak obat tersebut untuk ayahmu. Dengan lwee-kang yang ayahmu miliki. tanpa tusuk jarum memunahkan racun pun ayahmu pasti akan sembuh."

Kata Ci Giok Phang. Mendengar kata-kata pemuda itu Han Pwee Eng terharu atas kebaikan keluarga Ci ini.

"Budi Kak Ci sangat besar, entah bagaimana aku membalasnya."

Kata nona Han.

"Oh ya di mana Kakak Ci sekarang? Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya."

Kata nona Han.

"Tak perlu tergesa-gesa, Nona Han!"

Kata Ci Giok Phang.

"Sesudah kau paham benar masalahnya, baru kau boleh menemui adikku itu."

Han Pwee Eng tertegun.

"Dia ingin aku memahami masalah apa?"

Pikir nona Han.

"Benar aku jadi bingung."

Kata nona Han.

"Kakak Ci ingin mengobatiku, mengapa ia harus mengelabui aku?"

Ci Giok Phang tersenyum.

"Jika sebelumnya ia memberitahu lebih dulu. ia khawatir kau tak bersedia menerima uluran tangannya untuk diobatinya!"

Kata Giok Phang. Han Pwee Eng jadi bertambah curiga.

"Jadi dia ingin agar aku membalas budi kebaikannya itu?"

Pikir nona Han. Saat nona Han sedang berpikir Ci Giok Phang telah bicara lagi dengan hati-hati.

"Adikku ingin meminta sesuatu kepadamu."

Kata pemuda itu sambil tersenyum.

"Tetapi aku pun tidak tahu apakah Nona Han bersedia atau tidak mengabulkannya? Tetapi aku harap Nona Han tidak salah paham. Adikku tidak berharap kau membalas budinya itu. Seandainya Nona Han tak bersedia mengabulkan permintaannya itu. dia juga tidak berani memaksa!"

Sekalipun Ci Giok Phang berkata begitu, mereka telah menyembuhkan nona Han.

Sesudah itu ia baru mengatakan masalah itu pada si nona, jelas ini sudah mereka rencanakan lebih dahulu, begitu yang ada dalam pikiran nona Han.

Sejak tadi Han Pwee Eng memperhatikan mimik wajah Ci Giok Phang dengan serius.

Walau pemuda itu tersenyumsenyum, tapi kelihatan ia seolah tak enak hati untuk membicarakan permintaan adiknya itu.

Selang sesaat nona Han bicara sebelum pemuda itu membuka mulutnya lagi.

"Aku dan Kakakmu bersahabat bahkan seperti kakak beradik saja."

Kata nona Han.

"Ditambah lagi dia juga telah mengobatiku hingga sembuh. Jika dia mendapat kesulitan. bagaimana aku bisa tinggal diam? Jika aku bisa membantu 121 dia, sekalipun harus menerjang lautan api. aku tak akan menolaknya!"

"Sesungguhnya....kau tak perlu menerjang lautan api. tetapi....Entah Nona Han bersedia atau tidak?"

Kata Ci Giok Phang dengan suara terbata-bata dan ragu-ragu. Nona Han menatap pemuda itu, lalu katanya.

"Katakan saja!"

Kata Han Pwee Eng.

"Ketika adikku mengundangmu ke mari. apa kau ingat adikku pernah bilang apa?"

Kata Ci Giok Phang. Han Pwee Eng tersentak dan ia ingat perkataan ayahnya.

"Oh celaka! Seandainya dia ingin memperalat aku untuk membalas dendam pada Kanda Kok. wah celaka aku! Pasti sulit bagiku mengabulkannya."

Pikir nona Han. Ci Giok Phang menatap nona itu sehingga Pwee Eng jadi menundukkan wajahnya dalam-daiam, dengan tersipusipu ia menyahut.

"Kakak Ci bilang bahwa Kok Siauw Hong ada di sini..... dia berjanji akan mempertemukan kami di sini. Entah....Entah...."

Ci Giok Phang tersenyum.

"Sekarang kau ingin bertemu dengan Siauw Hong?"

Kata pemuda itu. Han Pwee Eng mengangguk pipinya langsung merah.

"Memang Siauw Hong ada di sini."

Kata Ci Giok Phang dengan tenang.

"Tetapi sekarang dia tidak leluasa untuk menemuimu!"

"Mengapa?"

Tanya nona Han keheranan. Setelah berkata begitu nona Han berpikir.

"Ah pasti mereka telah menahan Siauw Hong di sini!"

Pikir si nona. Ditanya begitu Giok Phang tidak menyahut, tapi malah ia bertanya.

"Bukankah sudah lama kalian tidak saling bertemu?"

Kata Giok Phang. Han Pwee Eng sadar pasti telah terjadi sesuatu. Tapi karena ini menyangkut masa depannya, tak heran ia jadi agak malu-malu.

"Benar."

Jawab si nona.

"sudah enam tahun kami tidak saling bertemu. Tapi kenapa?"

"Kalian berdua telah ditunangkan sejak kalian masih kecilkecil. ketika bertunangan kau pun baru berumur tiga tahun, bukan?"

Kata Ci Giok Phang. Han Pwee Eng mengerutkan dahinya.

"Apa maksudmu mengatakan soal itu?"

Kata si nona Pemuda itu tersenyum "Tak bermaksud apa-apa.

kalian ditunangkan sejak masih kecil ditambah lagi rumah kalian pun sangat berjauhan jaraknya, kalian juga jarang berhubungan satu sama lain.

Nona Han.

pernahkah kau berpikir tentang pertunangan yang aneh itu..

.?"

Kata Giok Phang. Tak sadar nona Han mulai gusar.

"Masalah pertunangan itu atas persetujuan kedua belah pihak, orang tuaku dan orang tuanya, cocok atau tidak mengapa kau usil? Jangan ikut campur!"

Kata Han Pwee Eng. Pemuda itu sedikit gugup dimaki begitu.

"Aku dengar kau pergi ke Yang-cou akan menikah, tapi tahukah kau Kok Siauw Hong tidak ada di sana? Sebaliknya justru dia ada di sini. Dia tak menyiapkan persiapan perkawinan. Apa kau tak merasa aneh? Apa kau tak ingin tahu sebab-musababnya? Memang aku tak berhak mencampuri urusan pertunanganmu itu. Tetapi bagaimana pun itu ada hubungannya dengan adikku! Aku sebagai kakak Ci Giok Hian. mau tidak mau harus ikut campur!"

Kata Giok Phang. Nona Han kaget dan tersentak.

"Ah dia muiai bicara terang-terangan, baik! Aku juga harus bertanya dengan jeias kepadanya!"

Pikir nona Han.

Dengan menahan marah nona Han berkata lagi "Adikmu bilang dia mengundangku ke mari untuk mempertemukan aku dengan Siauw Hong.

Mengapa setelah aku ada di sini aku tidak boleh menemuinya?

Sebenarnya Siauw Hong ada di sini atau tidak?"

Kata nona Han agak kasar. Giok Phang tersenyum.

"Kau kira adikku pembohong? Lihat ini!"

Dia menyerahkan sebuah perhiasan dari batu kumala pada nona Han. Kemudian Giok Phang melanjutkan kata-katanya.

"Saudara Siauw Hong mengembalikan barang ini kepadamu, terimalah!"

Katanya. Benda itu benar milik keluarga Han Pwee Eng sebagai tanda pertunangannya dengan Siauw Hong. Bukan main kagetnya Han Pwee Eng meiihat benda itu.

"Apa maksudnya ini?"

Kata nona Han tekejut.

"Kau jangan kaget dan berduka. Jodoh memang sudah ditakdirkan oleh Thian (Tuhan), orang tak bisa memaksanya."

Kata Giok Phang dengan tenang. Han Pwee Eng mengerutkan dahinya.

"Katakan dengan jujur, apakah ia ingin membatalkan pernikahan itu?"

Kata nona Han.

"Enam tahun itu bisa dikatakan lama tapi juga tidak, dikatakan singkat tetapi lama juga."

Kata Giok Phang mulai bicara lagi.

"Selama enam tahun, apapun bisa terjadi sulit untuk diduga. Rupanya Kok Siauw Hong dan Ci Giok Hian saling mencintai, kejadian ini di luar dugaan mereka."

Han Pwee Eng tercengang. seolah ia tak percaya pada apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Seperti orang linglung ia bertanya pada Giok Phang.

"Apa kau bilang?"

Kata nona Han. Pemuda itu menghela napas panjang.

"Adikku tidak bermaksud melukai hatimu, tapi mau bilang apa? Empat tahun yang lalu. sebelum adikku kenal denganmu, dia dan Kok Siauw Hong telah berikrar akan hidup bersama untuk selama-lamanya."

Kata Giok Phang.

Kabut yang selama ini menutupi pikiran nona Han telah buyar dan terkuak lebar.

Teka-teki itu sekarang telah terbuka, semuanya sudah jelas.

Tenyata Ci Giok Hian menculik dia ke lembah Pek-hoa-kok.

karena masalah ini.

Diam-diam Giok Hian mengobati penyakit Pwee Eng.

dengan maksud agar Pwee Eng mau membalas budinya itu.

dan bersedia melepaskan calon suaminya Kok Siauw Hong kepadanya.

Wajah Han Pwee Eng telah berubah menjadi kehijauhijauan karena menahan marah.

Sedangkan pemuda itu jadi kikuk dan serba salah.

"Aku tahu ini sangat keterlaluan."

Kata Giok Phang.

"dan ini menyusahkan orang! Namun, nasi telah jadi bubur, mereka berdua tak mau berpisah. Sebaiknya kau berpikir dengan kepala dingin, karena perjodohanmu itu atas persetujuan keluarga kalian berdua...."

Dengan sengit Han Pwee Eng membentak.

"Segera kau pergi temui mereka, suruh mereka menemuiku!"

Kata Pwee Eng. Giok Phang tersenyum.

"Sabar Nona Han. Setelah emosimu reda baru kau boleh menemui mereka!"

Bujuk Ci Giok Phang dengan sabar.

Seketika geram, malu, benci dan kesal maupun dongkol telah bercampur aduk dalam diri Han Pwee Eng.

Tak lama ia pun berdiri dan langsung pergi.

Giok Phang mengejar nona itu.

"Nona Han sabar, sesuatu seharusnya bisa dibicarakan dengan baik-baik!"

Katanya sabar Han Pwee Eng tertawa dingin.

"Mau bicara baik-baik apa? Jika itu yang diinginkan oleh adikmu, baik aku akan membuat dia puas!"

Kata nona Han sengit.

Selesai bicara nona Han mengayunkan tangannya ke arah Ci Giok Phang.

seketika itu meluncur sebuah benda bercahaya terang menyambar ke arah Giok Phang.

Pemuda itu tertawa getir sambil menggeleng-geltengkan kepala.

"Eh! Kok aku yang kau salahkan?"

Kata dia. Sambitan benda yang mengarah kepadanya dengan cepat disambut, ternyata itu sebuah mutiara putih gemerlapan.

"Barang itu milik Kok Siauw Hong. serahkan pada adikmu, sekarang benda itu harus menjadi miliknya!"

Kata nona Han. Kiranya mutiara itu tanda pertunangan antara Kok Siauw Hong dan nona Han. Ci Giok Phang tertegun.

"Nona Han.."

Tetapi nona Han sudah pergi jauh, ia lihat nona itu sudah melompati tembok pekarangan. Pemuda itu menghela napas panjang.

"Pasti dia sangat berduka.."

Pikir Ci Giok Phang.

Ci Giok Phang bingung ia akan mengejar nona itu, tetapi sudah jauh.

Entah itu salah siapa?

Yang jelas kedua orang tua mereka yang bersalah telah menjodohkan anak-anak mereka, padahal saat itu anak mereka masih kecil dan belum tahu apaapa.

Seandainya Ci Giok Phang bisa menyusul nona Han pun.

lalu ia bisa apa?

Menghibur atau memberinya penjelasan.

Ah tak mungkin malah barangkali hanya akan menambah keruh suasana saja.

Pemuda ini berdiri termangu-mangu.

Sepasang matanya masih terus mengawasi ke arah lenyapnya nona Han yang elok itu.

Nona Han terus berlari ia tinggalkan lembah yang membuat ia berduka.

Sekalipun indah sama sekali tak diperhatikannya.

Tiupan angin malam yang dingin membuat dia tersentak.

"Bohong! Aku tak bisa mempercayai kata-kata kakak beradik itu!"

Pikir nona Han.

Saat ia sedang gusar tak habis pikir.

Ci Giok Hian yang ia anggap sebagai kakaknya itu, malah telah mengatur rencana untuk merebut calon suaminya.

Sebuah rencana yang paling busuk, ia juga benci pada Kok Siauw Hong yang telah membohonginya, agar datang ke Yang-cou 127 untuk melangsungkan pernikahan mereka.

Dengan demikian ia harus menerima hinaan yang luar biasa itu.

Semula ia ingin mencari mereka untuk dicaci-maki.

Tapi apa gunanya?

Karena jika benar mereka saling mencintai, itu akan menambah sakit hatinya.

Ia menahan air matanya agar tidak jatuh, ia ingin segera meninggalkan lembah yang membawa petaka baginya itu.

mudah-mudahan mimpi buruknya itu akan segera lenyap.

"Aku bersumpah tak ingin bertemu lagi dengan mereka!"

Pikir nona Han.

Tetapi hatinya sedikit tak rela bagaimana begitu mudahnya Ci Giok Hian merebut calon suaminya?

Dan bagaimana ia bisa begitu saja melupakan penghinaan itu?

Selain itu bayangan Kok Siauw Hong selalu muncui di pelupuk matanya.

Apa ia mencintai pria itu?

Dia sendiri tidak tahu.

karena saat ditunangkan mereka berdua masih sangat kecil dan tak pernah bertemu walau hanya sekali saja.

Enam tahun yang lalu nona Han hanya sempat melihatnya sebentar.

Itu pun dari jauh.

Saat sedang melamun tiba-tiba nona Han tersentak.

"Siapa tahu Ci Giok Hian membohongiku? Kata Ayahku kedua keluarga itu punya masalah, siapa tahu dengan cara licik dan rendah Ci Giok Hian membalas dendam pada Kok Siauw Hong. Biar bagaimana aku harus menyelidikinya dengan jelas!"

Pikir nona Han.

Setelah itu hati nona Han agak tenang, ia mengambil keputusan akan pergi ke Yang-cou seorang diri untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya....

Bab Selang dua hari di kota Yang-cou kedatangan seorang wanita cantik, dia adalah Han Pwee Eng.

Memang semula Han Pwee Eng datang ke kota ini sebagai calon pengantin.

Tetapi Setelah terjadi suatu kejadian yang di luar dugaan itu, maka pernikahannya dengan Kok Siauw Hong tertunda entah untuk berapa lama?

Dengan mudah nona Han bisa menemukan rumah keluarga Kok Siauw Hong.

Rumah mereka dia ketahui dari ayahnya, bahwa mereka menempati sebuah gedung tua yang sangat terkenal.

Rumah itu ada di jalan Tek-see.

Sebelum menuju ke rumah keluarga Kok.

Han Pwee Eng singgah dulu di sebuah rumah makan untuk makan.

Sesudah makan baru ia bertanya-tanya mencari gedung keluarga Kok itu.

Karena hampir semua penduduk kota Yang-cou tahu gedung itu jadi tidak sulit ia mencarinya.

Ketika nona Han tiba di depan pintu gedung itu.

ternyata pintunya tertutup rapat.

Di sisi kiri dan kanan pintu gedung itu terdapat sepasang singa-singaan yang terbuat dari batu keras.

Ketika diperhatikan oleh nona Han.

ternyata pintu gedung itu sudah penuh dengan sarang laba-laba.

jelas sudah itu menunjukkan bahwa keluarga Kok dalam waktu dekat tidak akan mengadakan pesta apapun, apalagi pesta pernikahan.

Setelah menyaksikan keadaan rumah itu kening nona Han berkerut.

"Jika di tengah jalan tak ada halangan. besok adalah hari pernikahanku dengan Kok Siauw Hong. Seharusnya gedung ini sudah dihias rapih. Tetapi entah mengapa sama sekali tak ada tanda-tandanya mereka akan mengadakan pesta perkawinan? Kalau begitu memang benar Kok Siauw Hong tak bersedia menikah denganku?"

Pikir nona Han.

Sebagai seorang gadis balikan seorang calon pengantin ia anggap sungguh tak pantas untuk mencari keterangan, apakah benar atau tidak keluarga Kok akan mengadakan perkawinan.

Pintu rumah itu tertutup rapat, ia tak pantas masuk ke dalam rumah itu.

"Jika tak ada niat mengadakan pernikahan di keluarga Kok ini, dan aku datang mencari calon suamiku, lalu apa kata orang nanti?"

Pikir Han Pwee Eng. Dia berdiri sejenak di depan pintu, kemudian berjalan menjauhi rumah itu sambil berpikir.

"Nanti malam aku akan ke mari lagi untuk menyelidiki sampai jelas, apa sebenarnya yang terjadi? Jika Kok Siauw Hong tidak ada di rumah, apakah boleh aku menemui ibunya?"

Pikir nona Han. Dari ayahnya nona Han pernah mendengar bahwa ibu Kok Siauw Hong seorang Rimba Persilatan, tentu tak ada halangan ia menemuinya.

"Malam ini diam-diam aku akan ke sana. jika ketahuan oleh ibunya, akan kujelaskan semuanya. Aku yakin ibunya tak akan menyalahkan aku."

Pikir nona Han.

Pada hari itu ia mencari dan bermalam di sebuah penginapan dan membayar uang sewanya untuk satu malam saja.

Tepat pada tengah malam ia segera mengenakan pakaian ya-heng-sut (pakaian untuk berjalan malam bagi kaum Rimba Persilatan).

lalu ia berjalan menuju ke rumah keluarga Kok.

Malam itu di tangit tak kelihatan bulan dan bintang pun tak muncul.

Keadaan jalan raya dalam keadaan gelap dan hanya satu dua rumah terlihat ada penerangannya.

Sesampai di depan gedung keluarga Kok.

ia lihat gedung itu gelap tak kelihatan orang yang belum tidur.

"Sebenarnya di gedung itu ada orang atau tidak?"

Pikir nona Han Pwee Eng bingung.

Tiba-tiba ia melompati tembok pekarangan, tak lama ia sudah ada di halaman rumah itu.

Dia lihat dari sebuah kamar masih kelihatan ada sinar terang, tandanya ada orang yang belum tidur.

Buru-buru nona Han bersembunyi di balik gunung-gunungan batu.

Ia mengintai ke dalam kamar itu lewat sebuah kisi-kisi jendela.

Di dalam kamar itu kelihatan sesosok wanita sedang berjalan hilir-mudik dan kelihatan tidak tenang.

Begitu melihat bentuk dari bayangan wanita itu Han Pwee Eng berpikir.

"Pasti wanita itu ibu Kok Siauw Hong! Tengah malam begini dia belum tidur, jangan-jangan dia seperti aku sedang bingung menghadapi berbagai masalah? Kening ibunya tampak berkerut. Jika aku menemuinya, apa yang harus kukatakan padanya?"

Pikir nona Han Pwee Eng.

Sebenarnya saat yang baik dan tepat baginya untuk menemui calon mertuanya, karena di sana hanya ada wanita tua itu saja.

Dia bisa mencurahkan isi hatinya dan semua kesulitannya pada wanita ini.

Tapi nona Han merasa malu.

Seandainya dia bertemu bolehkah dia memanggil "Ibu Mertua"

Pada wanita itu?

Padahal dia baru calon menantu, belum tentu ia jadi isteri anaknya.

Bagaimana jika benar pernikahan mereka batal?

Bukankah malah akan malu sendiri.

apalagi jika ia berani menanyakan di mana Kok Siauw Hong berada.

Dia pasti akan disebut wanita yang tebal muka.

Ia jadi bingung sendiri.

Saat itu nona Han benar-benar serba salah.

Saat dia sedang kebingungan dari dalam kamar nyonya itu berseru.

"Siapa di luar?"

Bentak nyonya itu.

Nona Han Pwee Eng 131 terkejut bukan main.

ia mengira wanita di dalam kamar itu sudah mengetahui keberadaannya di situ.

Saat ia akan menjawab teguran itu.

tiba-tiba muncul sesosok bayangan hitam tak jauh dari gunung-gunungan tempat nona Han bersembunyi.

Nona Han sekarang sadar kiranya di tempat itu ada orang lain.

sehingga ia tambah terkejut Orang itu ternyata seorang lelaki yang sudah tua, usianya sekitar 60 tahun.

Barangkali ia tak mengetahui nona Han ada di situ.

Lelaki tua itu langsung berjalan menuju ke kamar sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sam-moay (Adik perempuan ketiga) apa kau sudah tak mengenali Lo-kokomu tagi?"

Kata si orang tua. Tawa orang tua itu agak kurang wajar. Tak lama pintu kamar itu terbuka dan Kok Hu-jin (Nyonya Kok) berdiri tegak di depan kamarnya, sedang wajahnya tak sedap dipandang.

"Jen Thian Ngo!"

Tegur wanita itu.

"Mau apa kau ke mari?"

"Aku ke mari untuk menjengukmu. Sam-moay."

Sahut orang yang dipanggil Jen Thian Ngo itu.

"Bukankah kita kakak beradik, malah sudah 30 tahun tidak saling bertemu. Apa tak boleh aku menjengukmu?"

Kok Hu-jin tertawa dingin.

"Terima kasih! Tetapi aku belum mati. kenapa kau sudah datang? Ketika aku menikah dengan Kok Ju Sih. kau bilang kecuali aku sudah mati. baru kau akan datang untuk menguburkan mayatku. Pasti kau masih ingat pada katakatamu itu. bukan?"

Kata Kok Hu-jin. Jen Thian Ngo kelihatan tak enak hati mendengar teguran yang pedas itu.

"Ketika itu memang benar aku tidak setuju kau menikah dengan Kok Ju Sih. Sekarang dia telah meninggal, jadi kau tetap adikku! Waktu itu kita cekcok mutut. kau masih terus mengingat-ingat masalah itu dalam hatimu!"

Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin menatap lelaki tua itu dengan dingin.

"Kau boleh lupa tetapi aku tetap mengingatnya! Waktu itu kau bilang aku telah membuat keluarga Jen kehilangan muka. Kau juga bilang sesudah aku menjadi menantu keluarga Kok. maka aku tidak bisa lagi menjadi keluarga Jen. Kaulah yang mengusirku dari rumah, sekarang kenapa kau ke mari dan memanggilku adik?"

Kata Kok Hu-jin Jen Thian Ngo menghela napas panjang.

"Ah! Kau menerima siksaan batin selama tiga puluh tahun, tidak heran kalau kau begitu gusar sekali! Baik sekarang kemarahanmu sudah reda belum? Kakak dan adik tetap kakak-beradik. dulu kata-kataku memang keterlaluan. sekarang aku ke mari untuk minta maaf. boleh kan?"

Kata Jen Thian Ngo.

Mendengar pembicaraan itu nona Han kaget.

Dia baru tahu kalau dua saudara kandung ini dulu pernah bertengkar, ia dengar sang kakak tak setuju Kok Hujin menikah dengan Kok Ju Sih.

Sedangkan keluarga Kok merupakan keluarga Rimba Persilatan yang sangat terkenal.

Demikian juga Kok Ju Sih.

ia pendekar besar sehingga ayah nona Han pun menghormatinya dan kagum.

Tetapi mengapa Jen Thian Ngo tidak setuju adiknya menikah dengan Kok Ju Sih?

Kali ini wajah Kok Hu-jin agak lembut.

"Tak perlu minta maaf. kalau Toa-ko masih mengakui aku sebagai adikmu. Aku juga harus berterima kasih 133 kepadamu atas kelapangan hatimu. Baiklah. Toa-ko silakan masuk! Ada petunjuk apa yang akan Toa-ko katakan, pasti aku akan mendengarkannya dengan penuh perhatian."

Kata Kok Hu-jin. Jen Thian Ngo tertawa getir ia masuk ke dalam rumah.

"Sam-moay. sifatmu masih seperti dulu ketika kau masih gadis."

Kata sang kakak Kemudian Thian Ngo dipersilakan duduk. Setelah duduk Thian Ngo berkata lagi.

"Oh ya! Mana Siauw Hong. keponakanku?"

Kata dia.

"Siauw Hong tidak pernah tahu dia masih punya Paman, sebab pernah kubilang padanya bahwa semua saudaraku telah meninggal dunia!"

Kata Kok Hu-jin dingin. Air muka Jen Thian Ngo tampak berubah.

"Sam-moay. kau begitu membenciku!"

Kata Jen Thtan Ngo sambil tertawa dingin.

"Bukankah kau pun ingin agar aku segera mati, agar kau bisa menguburkan mayatku!"

Kata Kok Hu-jin. Saat itu Jen Thian Ngo hendak melampiaskan kemarahannya, tapi tidak jadi.

"Rupanya kau tidak bisa mengampuni kesalahan orang. Sam-moay! Kedatanganku kali ini ingin mengajakmu berdamai bukan untuk bertengkar denganmu. Ketika kita masih samasama muda, kau dan aku memang gampang emosi. Apa yang pernah kita ucapkan dulu, tidak perlu kita simpan di hati kita masing-masing."

Mungkin Kok Hu-jin merasa bahwa dia sangat keterlaluan. Padahal Jen Thian Ngo sudah terlalu mengalah. sehingga terpaksa ia juga jadi sabar.

"Apa perlunya kau mencari Siauw Hong?"

Tanya Kok Hu-jin sambil mengawasi ke arah kakaknya. Jen Thian Ngo tertawa terbahak bahak.

"Sebelum aku mati dan dimasukkan ke dalam peti mati, aku ingin melihat keponakanku dulu karena belum pernah aku lihat."

Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin tertawa dingin.

"Sangat sulit mencari Toa-ko yang penuh perhatian sepertimu!"

Kata Kok Hu-jin.

"Kau sangat memperhatikan kami anak dan ibu. aku sangat berterima kasih sekali. Setelah sekian tahun adik iparmu meninggal, baru sekarang Toa-ko datang menemui kami. Mungkin saja kedatangan Toa-ko ini bukan untuk menengoki kami. tetapi ada masalah lain yang lebih penting dari itu?"

"Aku dengar khabar Siauw Hong akan menikah, benarkah itu? Dulu karena Sam-moay menyalahkan aku. maka aku tidak berani datang menebalkan mukaku menemui kalian. Sekarang Siauw Hong akan menikah, aku ke mari untuk mengucapkan selamat kepadanya. Tentu kau tak keberatan, bukan?"

Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin menarik napas.

"Memang ia telah bertunangan dari dulu."

Kata Kok Hujin menerangkan.

"Namun hari pernikahannya belum ditentukan lagi. Kedatanganmu terlalu dini..."

Jen Thian Ngo mengerutkan dahinya.

"Oh! Kalau begitu aku salah dengar. Bukankah besok hari pernikahannya, mengapa jadi berubah?"

"Kau benar, harinya memang diganti."

Kata Kok Hu-jin.

Mendengar percakapan itu di balik gunung-gunungan, nona Han jadi tegang bukan main.

Semula ia berpikir Jen 135 Thian Ngo akan menanyakan sebabnya, tapi ternyata mengalihkan pembicaraannya.

"Bukankah calon isteri keponakanku itu puteri Han Tay Hiong?"

Kata Jen. Kok Hujin mengangguk.

"Benar! Kau kenal dengan dia"

"Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. tetapi aku tak kenal baik dengannya. Aku dengar Han Tay Hiong terkena pukulan Siu-lo-im-sat-kang dari Chu Kiu Sek. kau sudah tahu hal itu atau belum?"

Kata Jen Thian Ngo. Kok Hu-jin balik bertanya.

"Kalau tahu memang kenapa?"

Tanya Kok Hu-jin.

"Siauw-yang-sin-kang bisa menahan Siu-lo-im-sat-kang. Han Tay Hiong dan kalian berbesanan. ia beruntung. Oh ya, Apakah gambar 13 Siauw-yang-sin-kang itu sudah kau serahkan pada Siauw Hong?"

Kata Jen Thian Ngo. Sambil tertawa dingin ia tatap kakaknya.

"Hm! Aku tahu dan mengerti sekarang. Kiranya kedatanganmu ini demi ke 13 gambar itu. kan?!"

Katanya.

"Itu adalah kitab pusaka keluarga Jen. tentu saja aku menaruh perhatian!"

Kata Jen.

"Kau benar itu memang pusaka keluarga Jen. Ketika Ayah kita masih hidup, gambar itu sudah diserahkan kepadaku sebagai hadiah pernikahanku kata Ayah."

Jen Thian Ngo manggut-manggut.

"Benar tapi bukan untuk diserahkan pada keluarga Kok Ju Sih."

Wajah Kok Hu-jin langsung berubah merah-padam. Karena ucapan kakaknya itu seolah membangkitkan amarah lamanya. Lama sekali baru ia berkata lagi dengan dingin.

"Jika pernikahanku dengan keluarga Kok. kau anggap telah merusak sehingga kau kehilangan muka. maka kau tak usah ke mari!"

Kata Kok Hu-jin.

"Sekarang suamiku sudah meninggal, sedangkan puteraku juga mau menikah. Apa kedatanganmu ini untuk menyusahkan kami?"

Berkata sampai di sini suara Kok Hu-jin semakin keras.

"Jen Thian Ngo. kukatakan sejujurnya saja padamu. Kau ke mari untuk mengadakan perhitungan lama, atau kau ingin mencari kesempatan untuk minta kembali Siauwyang-sinkang?"

Kata Kok Hu-jin sengit.

"Urusan itu sudah lama berlalu, tak perlu kita ungkitungkit lagi."

Kata Jen Thian Ngo.

"Anggap saja itu sebagai hadiah penikahanmu, Sekalipun bukan ayah yang menjodohkan kau dengan Kok Ju Sih. tetapi kalian telah menjadi suami-isteri yang sah. Aku juga tidak peduli! Kau jangan marah-marah. Sam-moay. sebab belum tentu aku menginginkan kitab itu!"

Kok Hu-jin mengerutkan jidatnya.

"Kalau begitu apa maksudmu kau bicara soal kitab itu?"

"Aku tak akan meminta kitab pusaka itu. tetapi aku tak suka kitab itu jatuh ke tangan orang lain!"

Kata Jen Thian Ngo Kok Hu-jin manggut-manggut.

"Ooh! Jadi kau khawatir Siauw Hong akan menurunkan ilmu itu pada keluarga Han dengan diam-diam. Begitu?"

"Han Tay Hiong terluka oleh Siu-to-im-sat-kang. Pasti ia berharap pada ilmu Siauw-yang-sin-kang kita. Dia mengadakan ikatan jodoh dengan keluargamu. mungkin saja karena ia ingin ilmu pusaka keluarga kita!"

Kata Jen Thian Ngo. Mendengar ucapan itu nona Han malu dan gusar.

"Untung penyakitku sudah sembuh, jadi tak perlu aku memohon kepada keluarga Jen untuk minta diajari ilmu Siauw-yang-sin-kang. Hm! Jen Thian Ngo kau sungguh keterlaluan kau pandang Ayahku itu seperti apa? Pertunanganku sudah diatur sejak kami masih kecil. Dia bilang begitu seolah Ayahku ingin menukarkan diriku dengan ilmu itu!"

Pikir nona Han.

Han Pwee Eng hatinya keras, ia tidak tahan oleh hinaan Ci Giok Hian.

tetapi ia juga tidak mau menerima sangkaan buruk dari paman Kok Siauw Hong ini.

Untung beberapa saat kemudian Kok Hu-jin bicara lagi.

"Perjodohan mereka sudah diatur oleh suamiku sejak mereka masih kecil-kecil."

Kata Kok hu-jin menjelaskan.

"Ketika itu pun Han Tay Hiong belum bermusuhan dengan Chu Kiu Sek. Saat itu Chu Kiu Sek pun belum mahir ilmu Siu-to-imsat-kang."

"Kau bilang begitu seolah kau anggap aku picik dan berpikiran sempit."

Kata Jen Thian Ngo.

"Tetapi yang jelas Han Tay Hiong sangat membutuhkan ilmu itu!"

Kok Hu-jin manggut-manggut.

"kalau begitu aku akan menyuruh Siauw Hong pergi mengobati luka ayah-mertuanya. itu memang satu keharusan!"

Katanya. Jen Thian Ngo tertawa.

"Kau benar! Itu sudah satu keharusan, siapa bilang bukan? Tetapi siapa tahu Han Tay Hiong punya sebuah rencana."

"Maksudmu rencana apa?"

"Misalnya dia bersekongkol dengan Chu Kiu Sek. sengaja ia pura-pura terluka agar Han Tay Hiong bisa mengangkangi kitab pusaka Siauw-yang-sin-kang kita. Padahal dia tak perlu berbuat begitu, jika kalian mengobatinya, dia akan tahu rahasia ilmu kita!"

Kata Jen Thian Ngo. Mendengar kata-kata itu Han Pwee Eng jadi berpikir.

"Pantas mereka berdua tidak cocok satu sama lain. Kiranya kakak Kok Hu-jin ini bukan orang baik-baik dan pikirannya sempit. Terbukti ia menerka orang dengan sembarangan."

Pikir Han Pwee Eng.

Di Dunia Persilatan Jen Thian Ngo terkenal, ia juga bisa bertindak bijaksana, Sekalipun hatinya tidak mulia namun namanya lebih terkenal dibanding dengan Han Tay Hiong.

Tetapi Han Pwee Eng telah mendengar pembicaraan itu.

sehingga ia terkesan jelek pada orang she Jen itu.

"Aku belum tahu bagaimana sikap dia terhadap orang-orang tetapi aku yakin suamiku tidak akan salah bergaul dengannya."

Kata Kok Hu-jin. Jelas ia sangat percaya pada sikap suaminya, bahwa Han Tay Hiong itu orang baik. Karena ucapan Kok Hu-jin itu hati Han Pwee Eng terhibur juga.

"Ibu Siauw Hong pandangannya sangat luas. Jika dia tak terpengaruh oleh kakaknya, hatiku lega juga."

Pikir nona Han. Tak lama Kok Hu-jin bicara lagi."

Kau tidak perlu memikirkan yang bukan-bukan. Mengenai perjodohan anakku bisa jadi atau tidak, aku juga belum tahu."

Kata Kok Hu-jin.

"Lho! Memang kenapa?"

Tanya Jen Thian Ngo dengan suara keras seolah kaget. Kok Hu-jin terlihat tak bisa menjawab pertanyaan itu. ia teguk tehnya tapi ia tetap tak bicara. Malah Jen Thian Ngo yang bicara.

Baca Juga: Tiga Maha Besar 10

Baca Juga: Anak Berandalan 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger