Legenda Golok Halilintar 6

Eps 6 Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Baca online Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Cersil Legenda Golok Halilintar - Lan Li.

Orang berbaju emas itu tidak ingin melawan Hong-tai secara berdua, maka salah satu orang maju ke depan dengan senjata aneh berupa cakar emas laba-laba.

Cakar emas itu persis seperti kaki laba-laba, namun ujung kakinya tajam, gagang emas itu bisa dipanjangkan atau dipendekkan, jarak terpanjang bisa mencapai lima kaki.

Hong-tai tidak membuang waktu lagi dia langsung menyerang orang itu.

Dalam sekejab mereka telah beradu jurus sebanyak lima kali, masing-masing belum bisa menemukan kelemahan musuh, dan mereka memisahkan diri ke belakang sebanyak setengah tombak, dan siap untuk pertarungan berikutnya.

Mereka berdua tidak berani lengah, dengan hati-hati mengeluarkan jurus ampuh untuk mengalahkan lawannya.

Setelah dua puluh jurus, salah satu orang berbaju emas yang menyaksikan duel itu dipinggir telah melihat jurus Hong-tai lebih tajam dan berbahaya dari temannya, namun lawan Hong-tai itu mempunyai tenaga dalam yang lebih kuat, sehingga duel itu seimbang.

Dalam hati Hong-tai merasa marah, bila dia sendiri tidak dapat segera mengalahkan orang berbaju emas ini, dan temannya akan ikut membantu menyerang, sedangkan dia tidak mau minta bantuan dari temannya, akibatnya dia bisa celaka.

Maka Hong-tai meningkatkan serangannya, pedangnya jadi mengeluarkan suara yang memekakan telinga, tenaga serangannya meningkat beberapa kali lipat, membuat orang berbaju emas itu hanya berputar di udara tidak berani turun.

Ternyata orang itu sangat mahir menggunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga dia bisa terbang di atas bagaikan seekor burung, dan masih bisa bertahan.

Dengan bersemangat Hong-tai menyerang musuhnya dari arah timur atau barat.

Orang berbaju emas yang lain melihat temannya sedang dalam bahaya, bersiap-siap untuk membantu.

Dengan jurus pedangnya Hong-tai memilih waktu yang tepat, dia pun menyerang lawan dengan totokan jari dari jarak jauh, angin panas dari jari telunjuk Hong-tai membuat orang berbaju emas itu terperanjat dan berusaha menghindar ke samping.

Ternyata keluarga Hong-tai selain mahir dalam ilmu pedang, juga pandai menggunakan totokan telunjuk tangan yang dinamakan totokan getar ajaib.

Totokan pertama Hong-tai dilanjutkan dengan totokan yang kedua dengan suara bising menyerang lawan lagi.

Orang berbaju emas yang menonton berteriak sekali, lalu mengerakan tinjunya menhadang dan memotong aliran panas yang keluar dari telunjuk Hong-tai sehingga melemahkan jurus telunjuk Hong-tai.

Orang berbaju emas yang menggunakan senjata laba-laba emas tetap kena totokan Hong-tai, membuat bagian ketiaknya berasa panas sekali, sambil ^menahan sakit dia terpaksa turun dari udara, jatuh ke tanah dan terpelanting ke sebuah pohon, sambil berusaha memegang tubuh pohon baru bisa berdiri tegap.

Sambil mengerahkan tenaga dalam untuk menahan sakit, karena panas di bagian ketiak sudah menuju ke seluruh tubuh, orang berbaju emas yang terluka itu tidak berani berkata apapun, dan sekejab mata saja seluruh tubuhnya sudah basah oleh keringat.

Hong-tai khawatir dua orang itu bergabung maka segera menggunakan jurus pedang keluarga In menyerang orang berbaju emas kedua.

Orang berbaju emas kedua menggeser langkah sambil melancarkan dua kali pukulan beruntun baru bisa menahan tusukan pedang Hong-tai, Hong-tai makin semangat dia menyabet lawannya bertubi-tubi dengan jurus pedang.

Orang berbaju emas kedua terdesak mundur, namun dia tetap tenang menghadapi serangan Hong-tai.

Karena ingin segera menyelesaikan pertarungannya, Hong-tai pun menggunakan jurus jari telunjuk getar ajaib sebanyak dua atau tiga kali.

Mengetahui jurus jari Hong-tai yang berbahaya, orang berbahu emas ini tidak berani menerima langsung dari depan, tangan kanan dia menggunakan telapak tangan yang aneh, yaitu dengan membuang tenaga yang menyerang, melemahkan hawa panas dari jari telunjuk Hong-tai.

Jurus telapaknya mampu membuang aliran panas itu, meskipun berbeda aliran tapi jurusnya mempunyai ciri yang sama dengan ilmu silat Hong-tai, maka Hong-tai agak sulit melumpuhkan lawan ini.

Mendapatkan musuh yang tangguh, semangat bertarung Hong-tai bertambah tinggi, jurus pedangnya digunakan sebaik mungkin dan menggunakan jurus menghindar tenaga lawan dengan alamiah, lawan pun dibikin repot oleh jurus pedang dan jari telunjuk Hong-tai, sehingga orang berbaju emas kedua merasakan tidak sanggup melanjutkan duel itu.

Orang berbaju emas pertama yang terluka, setelah beristirahat sebentar dan mengingat perintah ketua aliran Jian-kin-kau yang harus berhasil dalam tugasnya, dia jadi membuang keangkuhan pribadi, memungut kembali senjatanya yang jatuh tadi dan ikut menyerang Hong-tai kembali.

Melihat kedua lawan bergabung untuk menghadapi dirinya, Hong-tai jadi marah sambil mengejek dia berkata.

"Kalian sungguh tidak tahu malu berbuat demikian terhadap seorang perempuan, aku sengaja tidak memanggil temanku, ingin tahu siapa yang lebih jantan!"

Hong-tai memainkan jurus pedang keluarga In dengan hebat, sehingga hanya terlihat seutas pita putih yang mengurung tubuh kedua orang berbaju emas itu.

Dua orang berbaju emas itu tahu kehebatan jurus pedang tersebut, mereka segera berlari ke pinggir, sambil mengeluarkan senjata mereka untuk menangkis serangan Hong-tai, dan orang kedua baju emas itu juga menggunakan sebilah pisau panjang yang mengkilap untuk menghadapi serangan Hong-tai.

Biarpun telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, kedua orang berbaju emas itu tetap kewalahan menghadapi serangan Hong-tai, mereka terdesak mundur hingga enam tujuh langkah baru bisa berdiri tegak.

Hong-tai tidak mau memberi kesempatan pada mereka, dia segera menyerang lagi dengan dua belas jurus In-kiam, ayunan dan tusukan pedang Hong-tai dari kiri ke kanan membuat dua orang berbaju emas itu terdesak mundur enam langkah lagi.

Perobahan ini menguntungkan Hong-tai, karena lawan terdesak mundur hingga di depan sebatang pohon, sehingga dua orang berbaju emas itu tambah sulit mengembangkan jurusnya, ini membuat Hong-tai lebih semangat ingin segera menyelesaikan pertarungan.

Dilain pihak, ternyata Siau-cian pun mendapatkan hadangan musuh, dia yang dapat tugas meronda ke bagian belakang biara, dipinggiran ladang, dia mendengarkan suara rintihan seseorang, begitu menghampiri arah suara itu, dia menemukan seorang yang menyamar di tempat gelap.

Siau-cian kurang pengalaman di dunia persilatan, tetapi dia sangat teliti, khawatir musuh menyamar menggunakan baju hweesio, sehingga diam-diam dia menghampiri orang itu, namun kejadian yang dihadapi Siau-cian persis seperti yang dialami Hong-tai, hweesio itu ternyata betul dari Siaulim, namun sudah tidak bernyawa lagi dan berdiri tegap seperti patung di tempat jaga.

Biarpun mempunyai ilmu tinggi, dimalam hari menemukan mayat, membuat wajah Siau-cian berobah warna dan ketakutan.

Belum lagi dia mengambil keputusan mau berbuat apa, Siau-cian melihat tidak jauh dari sana, di depan pohon cemara berdiri tiga orang berbaju perak memakai kedok kain perak, hingga yang terlihat mata mereka sedang mengawasi Siau-cian.

Melihat ketiga orang berbaju perak itu, Siau-cian tahu orang-orang aliran Jian-kin-kau telah datang kembali.

Sambil menekan gigi, Siau-cian berkata dengan gemas.

"Kalian masih berani datang kemari......"

Ketiga orang berbaju perak tidak banyak bicara, langsung mengeluarkan senjatanya, senjatanya terlihat seragam, tangan kiri memegang pedang, tangan kanan memegang tongkat, mereka bertiga segera mengepung, agar tidak membangunkan orang-orang di biara.

Siau-cian pun punya sifat angkuh, dia tidak ingin minta bantuan orang lain, dengan tertawa dingin dia mengayunkan busur panah giok, menciptakan tiga sinar yang melengkung, dalam satu jurus dia sudah menyerang tiga orang.

Ketiga orang penyusup mengetahui Siau-cian punya ilmu tinggi, mereka bersamaan menggunakan pedang di kiri tongkat di kanan melawan Siau-cian.

Siau-cian tahu penyusup malam ini bukan orang baikbaik, meskipun dia menduga musuh berkekuatan hebat, tapi malah menimbulkan keangkuhannya, dia ingin melumpuhkan musuh dengan tenaga sendiri, maka busur panahnya digunakan sambil mengeluarkan suara seperti naga melengking, burung hong bernyanyi.

Ketiga orang berbaju perak itu sama sekali tidak menduga seorang anak gadis bisa menguasai ilmu begitu tinggi dan bisa menggunakan teknik membuang tenaga lawan dengan sempurna, mereka merasakan tekanan busur panah Siau-cian seperti sebuah gunung yang besar, mereka bersama-sama mundur ke belakang sambil menggunakan kedua senjatanya, dengan jurus yang tepat menutup rapat tubuh mereka.

Karena tekanan senjata Siau-cian sangat kuat mereka terdesak mundur beberapa langkah dan harus merobah jurusnya sebanyak lima kali."

Sambil tertawa sinis, Siau-cian berkata.

"Kalian bisa menahan sebuah jurusku sudah bagus, silahkan coba beberapa jurus lagi!"

Setelah berkata dia mengayunkan senjata busur panahnya dengan kecepatan tinggi, menyerang lima jurus berturut-turut membuat baju ketiga lawan seperti terkena terpaan angin di atas puncak gunung.

Ketiga orang berbaju perak dengan ilmu silat yang lebih rendah dari Siau-cian mengetahui bahaya di depan mata, mereka berusaha ingin keluar dari kurung-an busur panah Siau-cian.

Namun Siau-cian mengetahui maksud mereka, maka dia berkata.

"Kalian jangan harap bisa lari?"

Dia menahan mereka agar tidak lolos dari bayangan busur.

Sambil berteriak, tubuh Siau-cian merapat bersama busur panahnya, bagaikan sebuah pelangi putih, membuat satu lingkaran dan menjatuhkan senjata ketiga orang itu, pedang dan tongkat mereka jatuh ke tanah, dan terpaan angin dari busur Siau-cian yang keras membuat tutup muka mereka terbuka dan terlihat muka aslinya.

Ternyata mereka terdiri satu hweesio dan dua orang biasa, hweesio yang botak itu seperti pernah bertemu, Siaucian ingat bahwa hweesio ini yang menghadang mereka diperjalanan menuju pintu biara Siau-lim tempo hari.

Maka Siau-cian berkata.

"Kau berani datang lagi!" Siau-cian mengayunkan lagi busur panahnya, ingin membunuh hweesio gadungan itu Namun dari belakang terdengar suara senjata yang menyerang, Siau-cian memutar tubuhnya, melihat lagi tiga orang berbaju perak yang ingin membantu kawan mereka yang terdesak. Sekarang Siau-cian sendirian melawan enam orang, dia terlihat kewalahan, di depan di belakang tubuhnya, senjata tajam musuh mengancam jiwa Siau-cian. Saat itu, seluruh biara sudah terlibat pertarungan sengit. Orang-orang aliran Jian-kin-kau ternyata betul-betul menyerang kembali, menggunakan kesempatan penjagaan biara agak lemah, mereka mengirim pesilat yang berilmu tinggi, melumpuhkan hweesio yang berjaga malam, dan seluruh orang-orang aliran Jian-kin-kau berhasil menerobos masuk ke dalam biara. Cukat Hiang dan lainnya sudah tidur, namun karena mereka sering menghadapi musuh, sedikit suara mencurigakan saja membuat mereka segera bangun dari tidur. Mereka segera keluar kamar untuk menghadang musuh. Semua hweesio dalam biara pun jadi terbangun dan langsung menempati posisi masing-masing untuk menahan serangan musuh. Karena musuh telah banyak yang masuk ke dalam biara maka agak sulit mengetahui keberadaan mereka. Terdengar suara benturan senjata dimana-mana. Jit Ie taysu menilai dalam keadaan sangat genting ini, lebih penting menjaga kamar perawatan A Bin, karena Kian Ih Taysu sedang memusatkan tenaga terakhir untuk menyembuhkan A Bin, dalam detik-detik ini Kian Ih Taysu dan A Bin bisa terbunuh hanya dengan tenaga sedikit saja, seperti orang meniup debu. Jit Ie taysu dan Hong Ie Taysu yang baru sembuh segara menjaga pintu kamar itu di kiri dan kanan. Cukat Hiang memanggil Shangguan Leng dan lainnya untuk bersamasama menggantikan posisi kedua guru Siau-lim itu. Cukat Hiang minta kedua guru Siau-lim untuk memimpin hweesio lain menghadapi serangan musuh, sambil menerangkan pada kedua guru, katanya.

"Orang-orang dalam biara memerlukan kalian berdua untuk memimpin perlawanan terhadap musuh, penjagaan kamar ini biarlah menjadi tanggung jawab kami semua!"

Setelah mendengarkan perkataan Cukat Hiang, kedua guru itu berlari ke barisan pertahanan hweesio-hweesio Siau-lim-sie.

Begitu hweesio Siau-lim-sie itu pergi, di depan pintu kamar A Bin sudah datang beberapa orang aliran Jian-kinkau yang menyerang, dua orang penyerang itu langsung dipukul mundur oleh kipas Cukat Hiang dan kail Shangguan Leng hanya dalam satu kali pukulan, terdengar satu jeritan kesakitan dari seorang berbaju perak yang jatuh berapa tombak ke belakang dan senjata nya terlepas dari tangan, dadanya telah tercabik oleh kail Shangguan Leng.

Pada saat bersamaan, terdengar sebuah tertawa panjang dari sudut biara, yang bergema di seluruh biara Siau-lim, menandakan suara orang itu dikeluarkan dari tenaga Tantian yang sangat kuat.

Cukat Hiang mendengar tawa itu bukan dari pihaknya, dia jadi gelisah.

Setelah tawa panjang itu berhenti, orang-orang Jian-kinkau yang menyerang ke kamar pengobatan itu langsung mundur dan meluangkan sebuah tempat kosong di depan kamar, dari satu sudut biara yang tidak mencolok, keluar serombongan orang yang dipimpin seorang berjubah abu, orang itu tinggi dan tegap, dipinggir dia berdiri dua anak kecil dengan baju mewah, yang satu memegang tanduk kerbau yang panjang sekitar dua kaki, yang satu lagi memanggul satu kantong besar dibahunya.

Di belakang orang berjubah abu itu berdiri empat orang berbaju hitam, dari penampilan orang itu kelihatan seperti orang yang punya kekuasaan di aliran Jian-kin-kau.

Cukat Hiang melihat situasi tidak menguntungkan dipihaknya, sebab orang yang dapat menghadapi musuh didepan matanya tidak banyak, semua sudah terjun di medan pertarungan, barisan Lo-han tidak bisa digunakan kerena anggotanya tidak bisa merapat semua, hweesiohweesio itu bukan tandingan orang-orang Jian-kin-kau yang berbaju hitam dan emas.

Biarpun agak khawatir dengan situasinya, Cukat Hiang tidak mau memperlihatkan rasa takut pada musuh, maka dengan tenang dia membentak orang berjubah abu.

"Tempo hari kalian telah kehilangan banyak orang, sekarang masih berani menantang lagi, mana ketua kalian yang berbaju putih?"

Orang berjubah abu itu tertawa dingin berkata.

"Tempo hari wanita itu mundur dari rencana, membuat gerakan kita jadi gagal total, sekarang wanita itu sudah menghilang, jadi aku yang menjadi pimpinan aliran Jiankin-kau, sekarang tenaga inti dari pasukanku telah menguasai seluruh biara, kalian tinggal menunggu waktu ajal tiba, bila tidak menyerah, kalian pasti akan dibunuh!"

Cukat Hiang melihat waktu masih ada satu jam lagi buat Kian Ih Taysu dan A Bin keluar dari kamar pengobatan, begitu mereka keluar kamar tenaga di pihaknya sudah cukup melawan musuh, maka Cukat Hiang ingin mengulur waktu sambil dengan santai berkata.

"Tempo hari kalian terpukul mundur, kenapa hari ini berani mengatakan bisa mengalahkan kekuatan Siau-lim!"

Orang berjubah abu berkata dengan dingin.

"Cukat Hiang, kau jangan main curang, kekuatan kedua pihak sudah jelas, teman-teman kalian sudah pulang, yang tinggal di biara hanya yang tua dan yang terluka, anak muda Lui dan ketua biara juga sedang sibuk bersama, kalian yang di depan mata ini mana mampu melawanku."

Mengetahui pimpinan aliran Jian-kin-kau begitu jelas mengetahui keadaan biara Siau-lim, hati Cukat Hiang merasa dingin.

Maka dia bermaksud mengecoh musuh agar bisa mengulur waktu.

Cukat Hiang pura-pura bertanya.

"Kalau begitu, ketua baru aliran Jian-kin-kau yang datang sendiri kemari, aku ingin tahu, kau punya cara apa agar kita semua tunduk padamu!"

Ketua aliran Jian-kin-kau berkata dengan mata tajam melihat Cukat Hiang.

"Masalah ini......aku sebagai ketua tidak ingin mengambil jiwa kalian, kecuali pada mereka yang membangkang, tapi anak muda marga Lui tidak akan dilepaskan......"

Cukat Hiang pura-pura terkejut, bertanya lagi.

"Kenapa ketua begitu marah pada A Bin, apakah kalau kita semua orang meminta tolong padamu pun tidak dapat mengampuni A Bin!"

Orang berjubah abu itu berkata dingin. "Tidak bisa!"

Dia langsung merobah nada suaranya dengan marah berkata.

"Cukat Hiang! Kau jangan mimpi mengulur waktu, aku justru menunggu Kian Ih Taysu dan anak muda Lui keluar dari kamar, baru memberi perintah pada anak buahku untuk membunuh semua orang disini, kau lebih baik pikirkan bagaimana menyelamatkan dirimu saja......"

Dengan menghadap ke langit Cukat Hiang tertawa sinis dan berkata.

"Aku tidak punya apa-apa, tetapi bila ketua tidak memperlihatkan ilmu silatmu barang satu dua jurus, aku tidak rela mengaku kalah......"

Orang berjubah abu itu berkata pada orang-orang aliran Jian-kin-kau.

"Kalian sebagai ketua ranting silahkan coba, apa nama besar Cukat Hiang ini bohong atau tidak, hari ini dia kelihatan tidak tahu diri!"

Orang-orang berbaju hitam di kiri kanan semua memberi hormat pada ketuanya, salah seorang berkata.

"Ketua, lebih baik bunuh saja orang inL membunuh salah seorang buat peringatan untuk yang lain supaya mereka mau menyerah!"

Cukat Hiang ingin orang berjubah abu melawan dia sendirian, dia merasa diri masih bisa bertahan terhadap serangan lawannya sebanyak sepuluh jurus. Cukat Hiang tertawa ter-bahak-bahak, berkata.

"Kepalaku ada disini, bila kau punya kemam-puan cukup, silahkan ambil, tapi kukira sampai detik ini belum ada orang bisa mengambil kepalaku!"

Orang berjubah abu itu dengan marah berkata. "Cukat Hiang, kau sebagai Peramal jitu, tetapi tidak tahu diri, berani berkata begitu sombong di depanku, berarti kau ingin mati lebih cepat!"

Cukat Hiang dengan tertawa, sahutnya.

"Bila ketua tidak keberatan, aku akan melayani-mu beberapa jurus, apakah boleh minta beberapa orang petinggi dari kedua belah pihak untuk menjadi saksi, nerapa jurus aku bisa menerima pukulan ketua!"

Orang berjubah itu sudah bernafsu membunuh Cukat Hiang, maka tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menghampiri Cukat Hiang.

Beberapa kali Cukat Hiang sengaja membuat ketua aliran Jian-kin-kau marah, sebab dia bermaksud mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain, dia ingin bertarung dengan ketua aliran Jian-kin-kau, agar anggota Jian-kin-kau yang lain berhenti menyerang, dan dia pun tidak berani memandang enteng musuh di depan matanya.

Ketua aliran Jian-kin-kau berdiri tidak jauh di depan Cukat Hiang, dia berkata dengan dingin.

"Aku sudah ambil putusan untuk membunuh mu, jadi kalau sekarang minta ampun juga percuma, silahkan keluarkan senjatamu!"

Cukat Hiang langsung menyerang lawannya dengan pukulan yang diarahkan ke dada lawan.

Jurus in biasa-biasa saja, tetapi Cukat Hiang berlatih dengan ilmu telapak tangan yang berbeda dari biasa yang dinamakan Telapak naga.

Orang berjubah abu itu membentak.

"Aku mengalah satu jurus!"

Sambil bicara dia menggoyangkan dua pundaknya, tubuhnya telah bergeser mundur ke samping sekitar empat langkah.

Tidak berhasil dalam jurusnya, Cukat Hiang dengan menaruh kedua tangan di depan dada, meloncat ke depan mengejar lawan.

Orang berjubah abu itu memuji.

"Ilmu meringankan tubuhmu lumayan juga."

Dan katanya lagi dengan dingin.

"kau juga coba terima pukulanku!"

Dengan pukulan telapak tangan dia menyerang Cukat Hiang yang belum berdiri tegap, sebuah pukulan tidak kelihatan menerjang tubuh Cukat Hiang.

Dengan pengalamannya yang luas, Cukat Hiang mengawasi orang berjubah abu melancarkan pukulan telapak tangannya yang sangat keras, terpaksa dia meng gunakan kedua telapak tangannya menahan pukulan itu dari samping.

Kedua tenaga telapak tangan itu bentrok di udara, menimbulkan sebuah pusaran angin yang keras, Cukat Hiang menyadari tenaga dalamnya kalah jauh dengan orang berjubah abu itu, beruntung dia sudah bersiap pada permulaan jurus pertama, maka meng-gunakan tenaga lawan yang melanda, tubuh Cukat Hiang berputar ke arah kiri lima langkah, tapi dia masih sempoyongan lagi dua tiga langkah baru bisa berhenti.

Pukulan begitu keras dari orang berjubah abu itu membuat terkejut orang-orang di pihak Siau-lim, semua orang khawatir, Cukat Hiang tidak akan sanggup menerima pukulan berikutnya dari orang itu.

Gan Cu-kan dan Wie Tiong-hoo bersamaan meloncat ke depan ingin menbantu Cukat Hiang.

Tetapi orang berjubah abu itu dengan cepat sudah menyerang lagi kepada Cukat Hiang.

Cukat Hiang tidak menduga gerakan orang berjubah abu itu bisa begitu cepat, sehingga dia tidak bisa menghindar, terpaksa menerima pukulan itu dan mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk bertahan.

Pukulan orang berjubah abu itu keras bagaikan gelombang laut, dengan deras menghantam tubuh Cukat Hiang, beruntung ilmu meringankan tubuh Cukat Hiang masih bisa membantu sehingga dia bisa menghindar dari pukulan secara langsung, namun pukulan orang berjubah abu itu mengenai pinggang kiri Cukat Hiang, membuat tubuh Cukat Hiang bergetar dan mematahkan dua batang tulang rusuknya, sambil menahan sakit, Cukat Hiang muntah darah dan mundur ke belakang tiga empat langkah dengan tubuh tidak bisa berdiri tegap lagi.

Orang berjubah abu dengan cepat melangkah ke depan satu langkah, mengangkat tangan kanan ingin membunuh Cukat Hiang.

Bersamaan waktu itu satu tekanan tenaga seperti angin puting beliung menyerang kaki orang berjubah abu......

Orang berjubah abu itu terdesak oleh tekanan tenaga yang menyerang kakinya, sebagai pesilat tinggi dia tidak rela diserang orang dari jarak dekat, maka menggunakan tangan yang baru saja melumpuhkan Cukat Hiang, dia membalas serangan itu.

Satu tekanan tenaga yang dahsyat membuat orang yang menyerang segera menggulingkan tubuh menghindar beberapa kaki, sebab mengetahui jurus orang berjubah abu itu sangat berbahaya.

Ternyata yang menyerang orang berjubah abu adalah pelajar sombong Gan Cu-kan, Setelah mundur menghindarkan serangan balik dari orang berjubah abu tadi, dia segera maju lagi dengan ayunan kipas.

Orang yang berjubah abu memang ingin menunjukan ilmu silat yang dia pahami, agar lawan mau tunduk padanya, dan bermaksud agar anak buah jadi takut dan tunduk, maka dia tidak minta orang baju hitam dan emas membantu.

Aturan aliran Jian-kin-kau sangat ketat, bila tidak mendapat perintah dari ketua aliran, maka anak buah yang di pinggir tidak berani membantu.

Cukat Hiang yang tadi terluka oleh serangan ketua aliran Jian-kin-kau hingga muntah darah, setelah istirahat sejenak, biarpun dua tulang rusuknya patah, dia berusaha menahan sakit dan berpura-pura tidak terluka, diam-diam dia mengawsi keadaan sekitar tempatnya, melihat orang-orang aliran Jian-kin-kau tidak bertindak kemana-mana, sesuai dengan keinginan Cukat Hiang dan merasa satu keuntungan.

Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo berjalan mendekati kedua orang yang sedang bertarung, dengan tangan kanan dia menyerang orang berjubah abu, dia bermaksud meringankan tekanan lawan pada Gan Cu-kan.

Orang berjubah abu memang jadi tidak mengejar Gan Cu-kan, dia memutar tubuhnya menghadapi serangan Wie Tiong-hoo, dengan tangan kiri yang berputar sekali di depan dada, dia menahan serangan Wie Tiong-hoo dengan leluasa.

Wie Tiong-hoo merasa terkejut ada orang yang bisa menahan serangannya, dia berpikir siapa orang ini, sambil mengeluarkan tangan kanan menyerang dada orang berjubah abu dengan angin pukulan dari telapak Wie Tionghoo.

Orang berjubah abu itu menahan serangan Wie Tionghoo dengan sebelah tangannya juga, kedua tenaga itu bentrok di udara menimbulkan gelombang keras yang menerbangkan sudut baju orang-orang di pinggir lapangan.

Orang berjubah abu tertawa dingin, telapak kirinya mendadak maju dan berusaha mencengkram tangan kanan Wie Tiong-hoo.

Setelah beradu tenaga dalam dengan orang berjubah abu, Wie Tiong-hoo tahu diapun tidak bisa mengungguli lawannya, sebab dia telah mengerahkan tenaga sekitar sembilan bagian, ternyata orang berjubah abu masih tidak terpengaruh, berarti lawannya masih mempunyai tenaga lebih, bila dibandingkan dengan dirinya dia merasa nafasnya terasa berat.

Dan orang berjubah abu itu masih bisa menggunakan tangannya yang lain untuk mencengkram tangan Wie Tiong-hoo dengan cepat, Wie Tiong-hoo tidak berani beradu tenaga lagi, dia segera menarik tangannya, dan mengerahkan tenaga dari Tantiannya membuat tubuhnya mundur setengah kaki dengan cepat.

Orang berjubah abu pun tidak ingin lawannya terlepas, dia merubah jurus cengkeramannya dengan menjulurkan jari tangannya, menotok dada Wie Tiong-hoo dengan cepat, sedangkan tangan kanannya meng-hantam pinggang Wie Tiong-hoo, dua serangan ini sangat ganas dan mematikan.

Wie Tiong-hoo terdesak mundur lagi berapa kaki, sambil kedua tangannya berusaha menahan untuk menyelamatkan diri, tangan kiri memotong lengan kanan musuh, tangan kanan melawan telapak tangan kiri musuh.

Wie Tiong-hoo sengaja mundur dua kali untuk membuang tekanan serangan dari musuh, tapi dia tetap saja masih terdesak mundur beberapa langkah lagi dan sempoyongan tidak bisa berdiri tetap.

Pendekar dari sungai Hoai Shangguan Leng melihat Wie Tiong-hoo dalam posisi berbahaya, tidak peduli aturan satu lawan satu, dia segera menghampiri orang berjubah abu dengan jari telunjuk tangan kiri yang mengeluarkan angin keras menotok tubuh orang berjubah abu.

Terpaksa orang berjubah abu melepaskan Wie Tiong-hoo dan memutar tubuh menggunakan kedua tangan secara berantai menghadang serangan Shang-guan Leng.

Lalu menyerang dengan kedua tangannya mendesak Shangguan Leng mundur beberapa kaki.

Orang berjubah abu sudah bertarung beberapa kali dan berhasil mengalahkan Cukat Hiang, Wie Tiong-hoo, Shangguan Leng tiga orang, kepandaiannya membuat orang-orang Siau-lim tidak berani berkutik.

Orang berjubah abu itu tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan nada sombong.

"Siapa lagi yang bisa menahan pukulanku dan tidak mundur!"

Dia berkata begitu sombong memang tidak berlebihan, sebab di depan mata orang-orang Siau-lim, tidak ada orang yang lebih hebat dari ketiga orang, Cukat Hiang, Wie Tiong-hoo dan Shangguan Leng, yang telah dikalahkan oleh lawannya.

Setelah mencoba memulihkan lukanya berapa lama, Cukat Hiang melihat orang berjubah abu ini tidak bisa dihadapi dengan tenaganya, maka dengan nada keras dia berkata.

"Kita semua orang berada disini, kau tidak akan bisa masuk ke kamar ini, kecuali membunuh kita semua!"

Ucapan Cukat Hiang ini mengandung dua arti, selain menjawab kata sombong dari ketua aliran Jian-kin-kau, juga memberi tahu pada kawan-kawannya agar bersamasama menahan serangan musuh.

Perkataan Cukat Hiang itu langsung ditanggapi oleh orang-orang dari pihak Siau-lim, sehingga mereka merapatkan barisan dan menutup celah kosong menuju pintu kamar.

Jit Ie Taysu dan Hong Ie Taysu tidak bisa menyusun barisan Lo-han karena kurang orang, tetapi bisa dengan cepat menyusun barisan yang dinamakan barisan empat gajah sebanyak tiga group yang terdiri dari dua belas hweesio, yang dipimpin langsung oleh mereka berdua.

Membuat benteng pertahanan yang kuat di depan kamar itu.

Cukat Hiang melihat barisan empat gajah itu cukup untuk menahan serangan musuh beberapa menit, bila perlu dia dan kawan-kawan lain siap bertempur kembali.

Cukat Hiang, Wie Tiong-hoo dan Shangguan Leng masing-masing berdiri terpisah sekitar dua kaki, juga akan menahan orang yang berusaha masuk kamar.

Orang berjubah abu dengan tertawa liar berkata.

"Kalian barang yang sudah tidak berguna, masih membandel begini, sudah bukan waktu yang tepat untuk berbuat nekad seperti binatang terkurung, baiklah, aku akan memberi pelajaran pada kalian, dengan ilmu silat yang belum kalian tahu!" Sambil bicara, ketua aliran Jian-kin-kau maju perlahanlahan mendekati orang-orang dari Siau-lim. Barisan Empat gajah bersiap menghadapi musuh yang baru pertama kali dihadapi, mereka tetap tenang berdiri di tempat menunggu kesempatan yang baik untuk menyerang. Orang berjubah abu itu tertawa, mendadak dia menjulurkan tangan mencengkram tangan Wie Tiong-hoo. Mengetahui musuh kuat, Wie Tiong-hoo menying-kir ke samping, tangan kanannya pun ikut dijulurkan ke depan mencengkram tangan kanan orang berjubah abu. Tentu saja ketua aliran Jian-kin-kau tidak ingin tangannya kerkena cengkeraman lawan, dia menghindar dari jurus Wie Tiong-hoo, sambil mengayunkan lengan jubah bagian kiri dan tenaga dalam tersembunyi, Wie Tiong-hoo jadi terdorong mundur dua langkah. Orang berjubah abu langsung menyerang pada Shangguan Leng dan mendesak Shangguan Leng sampai ke pinggir. Melihat orang berjubah abu ingin menembus pertahanan kawan-kawannya, Cukat Hiang berpikir bila pertahanan mereka sampai jebol, barisan empat gajah dari Siau-lim pun tidak bisa diandalkan, dan akan memberi kesempatan buat musuh memasuki kamar itu Maka Cukat Hiang tanpa banyak bicara lagi ikut menyerang musuh dengan pukulan tangannya. Orang berjubah abu langsung membalas dengan pukulan tangan kiri yang tidak terduga arahnya, Cukat Hiang terpukul bahu kanannya, hingga mundur empat langkah, itupun ditahan Wie Tiong-hoo yang berada di sebelah belakang Cukat Hiang. Menggunakan kesempatan kedua orang itu terdesak mundur, orang berjubah abu itu segera berlari menuju anak tangga kamar itu, Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo segera mengejar musuhnya. Orang berjubah abu telah ditahan oleh hweesio-hweesio Siau-lim-si dengan barisan empat gajah yang terdiri dari hweesio-hweesio yang berani mati, biarpun ilmu mereka bukan lawan orang berjubah abu, tetapi untuk sementara mereka berhasil menahan langkah musuhnya. Bersamaan itu Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo sudah tiba di belakang, membuat orang berjubah itu menghadapi harus lawan dari depan dan belakang. Mendadak orang berjubah abu itu memutar tubuh dan menggunakan tangan kanan menyambut pukulan Wie Tiong-hoo, membuat Wie Tiong-hoo tergelincir jatuh dari anak tangga. Cukat Hiang dan Gan Cu-kan menggunakan kipasnya menyerang orang berjubah abu, sedangkan musuh mereka hanya menggunakan kedua tangan melayani serangan mereka, dan bisa mendesak mereka berdua mundur ke bawah tangga. Shangguan Leng dan Wie Tiong-hoo meloncat ke depan menghadang lagi dengan kemampuan mereka yang tersisa. Tetapi mereka berdua pun didesak mundur lagi oleh orang berjubah abu. Jit Ie Taysu dan Hong Ie Taysu maju bersama-sama menghadang orang berjubah abu. Sambil tertawa sinis, orang berjubah abu menggunakan telapak tangannya menyambut pukulan Jit Ie Taysu, dan mendesak hweesio itu mundur dua langkah. Hong Ie Taysu maju ke depan melancarkan sebuah pukulan, orang berjubah abu bergeser meng-hindar lalu memutar tangan menghantam lengan kanan Hong Ie Taysu hingga sementara menjadi lumpuh, tidak bisa digerakan. Tanpa membuang waktu, secepat kilat orang berjubah abu langsung melancarkan pukulan ke bahu kiri Jit Ie Taysu, pukulannya tidak bisa dihindar-kan oleh Jit Ie Taysu, dan membuat dia terhuyung-huyung jatuh ke depan, maka jalan menuju pintu kamar menjadi lowong. Kedua belas orang hweesio dengan barisan empat gajah langsung mengepung orang berjubah abu, tetapi barisan Empat gajah tidak mampu menahan musuh yang sangat hebat ini, berturut-turut mereka dipukul jatuh oleh lawannya, sebentar saja dua belas heeesio itu tinggal setengah. Wie Tiong-hoo dan Cukat Hiang melihat orang berjubah abu sudah di depan pintu kamar, tidak menghiraukan bahaya lagi mereka segera meloncat dan menyerang orang itu dari belakang. Orang berjubah abu memutar tubuh dan mendorongkan tangannya ke depan, membuat Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo mundur beberapa langkah. Hong-tai dan Siau-cian mendengar suara ribut di depan kamar A Bin, mereka segera meninggalkan orang-orang aliran Jian-kin-kau yang menghadang dan berlarian ingin memberi pertolongan, tetapi mereka hanya bisa melihat Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo sedang dipukul mundur oleh lawannya, dan orang berjubah abu itu akan segera membuka pintu kamar. Kedua gadis itu berteriak histeris, sebab bila pintu itu dibuka belum waktunya, sinar dan angin dingin yang masuk ke dalam kamar akan melumpuhkan tenaga dalam Kian Ih Taysu yang telah terkumpul di kamar itu selama dua puluh hari, dan jiwa A Bin tidak akan tertolong. Tapi nyatanya orang berjubah abu itu seperti tergigit oleh ular berbisa dan berteriak dengan terkejut.

"Siapa kalian?"

Sambil mundur beberapa langkah dari pintu kamar.

Semua orang melihat ke pintu yang mendadak dibuka dari dalam, di depan pintu telah berdiri seorang hweesio tua yang bermuka agung dan tersenyum, dia adalah ketua Siaulim-sie Kian Ih Taysu.

Cukat Hiang dengan senang berkata.

"Rupanya Taysu telah berhasil dan keluar dari kamar semedi!"

Orang berjubah abu berkata dengan ragu-ragu.

"Kau... hweesio tua Kian Ih, kau......telah berhasil memusatkan tenaga dalam?"

Sambil memberi salam pada orang berjubah abu, Kian Ie Taysu berkata.

"Ketua datang dari jauh, dan aku sedang bersemedi, harap dimaafkan karena tidak bisa menerima tamu dengan segera!"

Suara Kian Ih Taysu yang begitu besar dan muka berseriseri bersemangat penuh, kelihatan lebih sehat setelah menyelamatkan jiwa A Bin selama dua puluh satu hari, ini membuat semua orang-orang dari pihak Siau-lim-sie turut gembira.

Orang berjubah abu tercengang sejenak hingga tidak membuka mulut.

Kian Ih Taysu berkata lagi.

"Ketua sudah datang lagi, menghancurkan biara Siau-lim?"

Apakah tetap ingin Orang berjubah abu dengan dingin berkata.

"Kau sebagai ketua Siau-lim, apakah ilmu silat-mu lebih tinggi dari mereka, sehingga berani menentang aku!"

Kian Ih Taysu dengan tegas.

"Aku tidak berani mengatakan lebih mampu dari mereka, tetapi biara ini dipimpin olehku, jadi aku tidak akan membiarkan orang lain merusak biara ini!"

Sambil tertawa Orang berjubah abu berkata dengan sombong.

"Bila kau punya keberanian mengatakan begitu, aku sebagai ketua baru aliran Jian-kin-kau tidak akan membuatmu menyesal, ......mari, mari, terimalah tiga jurus telapak tanganku!"

Setelah berkata, perlahan-lahan dia naik lagi ke tangga, berdiri di depan Kian Ih Taysu, tangan kirinya didorong kedepan kearah dada ketua Siau-lim-sie, sekejap ditempat itu udara berobah menjadi sangat dingin.

Kian Ih Taysu pun menjulurkan tangan kirinya menyambut tangan lawannya, sambil berkata.

"Aku pun ingin tahu kau punya kemampuan berapa besar!"

Kedua tenaga itu bentrok sekitar dua kaki di depan tubuh mereka, dan terdengar suara "BUNG" , tekanan tenaga itu menggetarkan pintu, jendela dan tiang rumah, dan mengeluarkan suara krek, krek, dan lampu di sepanjang tangga itu menjadi padam semua.

Tenaga dalam mereka merupakan tenaga inti di dalam tubuh, Kian Ih Taysu menggunakan tenaga dalam aliran Siau-lim yang hampir punah, sedangkan ketua aliran Jiankin-kau menggunakan ilmu dari aliran Tibet yang dinamakan "Pan-bun-tu-hong."

Bentrokan tadi hanya uji coba, masing-masing ingin tahu kemampuan lawan sampai dimana, tenaga mereka telah menggetarkan barang-barang dekat kamar itu, tapi tubuh mereka tetap kokoh bagaikan gunung dan baju mereka pun tidak bergoyang.

Tapi orang-orang yang berdiri di samping arena tidak tahan atas tekanan tenaga dalam dari kedua orang yang sedang bertarung, masing-masing berusaha tidak meninggalkan tempat, hweesio-hweesio yang tersisa dari barisan empat gajah terdorong ke belakang sekitar tujuh langkah.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud dan berkata.

"Kepandaian Kaucu sangat hebat, jika aku tidak mendapatkan tambahan tenaga saat menyembuhkan diri A Bin, mungkin tidak bisa menerima pukulanmu yang begitu hebat!"

Orang-orang di pinggir seperti Cukat Hiang, Jit Ie, Hong Ie menyaksikan kedua orang ini beradu tenaga dalam dengan hebat, ternyata Kian Ih Taysu mampu bertahan, tadinya mereka mengkhawatirkan Kian Ih Taysu kehabisan tenaga pada saat memulihkan kesehatan A Bin, sebab selama duapuluh satu hari dia terus menerus mengerahkan tenaga dalam, ternyata fakta berbicara lain, tenaga dalamnya malah meningkat banyak, karena dia membantu memulihkan kesehatan A Bin, namun tenaga dalam A Bin yang berbeda sifat di bantu dengan Tulang putih maha guru pun memberikan manfaat buat Kian Ih Taysu sendiri.

Orang berjubah abu tidak percaya ketua Siau-lim-si ini telah melatih tenaga dalam demikian tinggi, dan dari ucapan Kian Ih Taysu dapat ditebak bahwa A Bin pun telah menguasai tenaga dalam yang tinggi.

Boleh dikatakan A Bin dari musibah malah mendapat rejeki.

kenyataan ini membuat ketua aliran Jian-kin-kau berpikir dalam hati, untuk mengalahkan Kian Ih Taysu saja sudah berat, bila bertarung lagi dengan A Bin, dia tidak punya harapan bisa menang.

Hati orang berjubah abu jadi ketakutan, tetapi dia tidak memperlihatkan rasa ketakutannya, dengan tertawa sinis dia berkata.

"Hweesio tua, kau jangan sombong dulu, coba terima pukulanku yang kedua!"

Jurus ketua aliran Jian-kin-kau yang dilancarkan adalah "Pan-bun-yu-hong"

Tenaganya seperti men-dorong gunung jatuh ke laut, membawa suara yang mengerikan menuju dada Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu pun memajukan telapak menyambut pukulan itu dengan tenaga penuh.

tangan Kali ini mereka menggunakan tenaga dalam sekitar tujuh bagian, orang-orang yang berada di atas atau di bawah tangga seperti berada dalam gelombang laut yang dahsyat, tidak bisa berdiri tetap di tempat, dan harus merobah posisi berdiri untuk menghindar dari tekanan udara yang melanda.

Terlihat kedua orang yang sedang beradu tenaga tetap berdiri di tempat masing-masing, tetapi muka Kian Ih Taysu telah berobah lebih pucat dari muka yang semula kemerahan, ini menandakan mereka telah menguras banyak tenaga dalamnya.

Muka ketua aliran Jian-kin-kau tidak kelihatan karena tertutup oleh kain.

Orang berjubah abu marah bercampur terkejut, baru saja dia ingin menyusulkan pukulan berikutnya, pintu di belakang Kian Ih Taysu tiba-tiba terbuka, keluarlah A Bin yang kelihatan begitu segar bugar sambil berkata.

"Taysu beristirahat pukulannya!"

Dulu, ijinkan aku menerima Suara A Bin yang begitu nyaring seperti suara lonceng, membuat semua orang yang mendengar merasa sangat senang.

Hong-tai dan Siau-cian malah berteriak gembira melihat pujaan hatinya begitu gagah dan sehat.

Lain lagi buat orang-orang aliran Jian-kin-kau, mereka jadi cemas melihat A Bin sudah keluar, sebab mereka tahu bahwa anak muda ini yang telah mengalahkan ketua mereka tempo hari.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud, lalu memberi pesan pada A Bin.

"Orang ini mempunyai tenaga dalam yang hebat, aku pun bukan lawannya, harap A Bin Siauhiap menunjukan kepandaian, agar dia mendapatkan pengajaran, sadar dan pergi dari sini!"

Orang berjubah abu mengawasi A Bin terus sejak keluar dari kamar, A Bin merasakan aneh dan berkata.

"Apakah ketua kenal keterangan yang jelas!"

Padaku, maukah memberi Orang berjubah abu itu mendadak berkata dingin.

"Siapa yang mau banyak bicara denganmu, kau coba dulu beberapa jurus pukulanku, apakah kau sanggup?"

Sambil bicara, dia melayangkan jurus "Pan-bun-yu-hong"

Dari jarak tujuh kaki ke tubuh A Bin.

Angin dingin segera menerpa tubuh A Bin, tapi A Bin berdiri di tempatnya seperti tidak merasakan pukulan itu.

Orang berjubah abu menjadi was-was oleh ketenangan A Bin, maka dia membentak.

"Kau coba lagi jurus kedua ku ini!"

Sebuah gelombang angin dingin yang keras menerpa semua orang yang menonton di pinggir, A Bin tertawa sinis dua kali, sambil menggosokkan kedua telapak tangan dua kali, dia menggunakan kedua tangan itu menyambut pukulan orang berjubah abu, pukulan yang dilancarkan A Bin berbeda dengan lawannya, pukulannya tidak bersuara, tidak bergelombang, seperti tidak ada apa-apa.

Bentrokan tenaga itu mengeluarkan suara bunyi "BUNG", orang berjubah abu itu mundur selangkah, sedangkan A Bin tetap berdiri ditempatnya.

Tenaga dalam A Bin telah mencapai tingkat yang paling tinggi, bantuan tulang putih maha guru Siau-lim telah melebur tenaga dalam A Bin yang sudah tersimpan dalam tubuh, A Bin menjadi orang pertama dalam seratus tahun yang mencapai tingkat tertinggi seperti itu.

Orang berjubah abu tidak tahu asal usul ilmu A Bin, setelah tahu tenaga dalam A Bin begitu hebat, tetapi dia tidak putus asa, sebab setelah dia menguasai ilmu pukulan "Pan-bun-yu-hong"

Dari daerah Tibet, belum pernah ada orang mampu bertahan hidup terhadap pukulannya, malam ini dia kalah oleh anak muda ini, membuat dia tidak rela menerima fakta itu.

Dia segera melancarkan jurus ketiga menyerang A Bin, sambil tersenyum A Bin pun mengeluarkan kedua telapak tangan dengan perlahan-lahan Kedua telapak tangan dua orang itu bentrok lagi, tapi bentrokan kali ini sama sekali tidak bersuara, pasir dan batu kecil pun tidak terbang, tidak ada angin keras, dan dua orang yang beradu tenaga dalam sama sekali tidak bergoyang.

Semua orang yang menyaksikan merasakan aneh, entah kenapa bisa tidak bersuara.

Orang berjubah abu perlahan-lahan mundur ke belakang, dari luar tidak kelihatan apa-apa, tetapi orang-orang yang melihat duel itu melihat orang berjubah abu telah terluka.

A Bin dengan nada tenang berkata.

"Kau telah susah payah belajar ilmu ini, aku pun tidak menggunakan tenaga penuh melukaimu, tetapi bila masih terus mengganggu, atau berbuat yang melanggar etika hidup, aku tidak akan melepaskanmu dan kawankawanmu."

Orang berjubah abu tidak bicara sama sekali, perlahanlahan dia mundur dari tempat pertarungan dengan langkah lemas, dari kelakuannya terlihat tidak apa-apa, tetapi semua orang yang menyaksikan pertarungan itu tahu dia telah terluka dalam.

A Bin dengan suara pelan berkata.

"Kepandaianmu ini tidak gampang didapat, aku tidak terlalu keras melukaimu, tapi bila masih membandel, atau berbuat yang melanggar etiket moral, aku tidak akan melepaskanmu pergi."

Orang berjubah abu tetap tidak bicara, dengan langkah perlahan-lahan turun tangga, tubuhnya terlihat lemas Di saat bersamaan dari kejauhan terdengar satu suara dingin dan keras berkata.

"Dosa orang ini sudah cukup banyak, bila hari ini dilepaskan, entah akan jatuh korban berapa lagi di dunia ini."

Semua orang berpaling ke tempat suara itu terdengar, terlihat keluar empat orang dari tempat gelap dan berjalan dengan langkah lambat.

Empat orang itu, selain Cia Ma-lek, Yo-po-lo-to dan Leng Hau-te yang telah diketahui, ada seorang asing yang roman mukanya terlihat seperti baru sembuh dari sakit berat.

Semua mata tertuju pada orang ini, ingin mengetahui siapa dia.

Tetapi dari semua orang itu, hanya tiga orang yang paling memperhatikan dia, selain orang berjubah abu, A Bin dan Giok Siau-cian juga memperhatikan orang itu.

Orang berjubah abu seperti melihat iblis keluar dari neraka, dengan terkejut melangkah mundur ke belakang.

A Bin melihat orang ini yang pernah bertemu dengannya di puncak gunung Tiang langit dan berkata seperti orang gila menceritakan kejadian saling bunuh di antara pendekar Lui Kie, In-kiam dan Giok-kiong, tetapi sekarang penampilannya seperti tidak gila dan kelihatan lebih muda.

Giok Siau-cian dengan mata terbuka besar melihat orang itu dengan perasaan terkejut, gembira dan sedih, lalu berteriak.

"Ayah"

Sambil berlari merangkul orang itu. Orang asing itupun dengan perasaan yang susah dibayangkan merangkul Siau-cian dan mengusap terus rambut halus sang anak dan terus berkata-kata.

"Siau-cian, Siau-cian"

Semua pendekar saling berbisik dan bersamaan berteriak. "Giok......Kiong......Giok Kang-tong!"

Yo-po-lo-to masih mengenakan baju yang aneh itu menghampiri orang berjubah abu, sambil menunjuk muka orang itu berkata pada A Bin.

"Kau tahu, siapa dia.. Yang telah berbuat banyak dosa!"

Kaki orang berjubah abu itu seperti terpaku di tempatnya, tidak bisa bergerak. Jawab A Bin.

"Aku tidak tahu, harap Cianpwee memberi penjelasan!"

Tetapi dengan kedatangan ayah Siau-cian, A Bin dapat menduga sedikit persoalan itu. Saat bersamaan Hong-tai menghampiri orang asing itu dan berkata dengan suara sedih.

"Dimana ayahku?"

Mata Hong-tai yang marah dan muka yang agak pucat menghampiri orang itu, setelah mengetahui dia adalah Giok-kiong Giok Kang-tong, dia langsung ingin tahu ayahnya berada dimana.

Giok Kang-tong melepaskan tangan yang merangkul Siau-cian, tetapi masih memegangi leher sang anak, seperti takut direbut orang lain.

Sambil menghampiri Hong-tai dan berkata dengan lemah lembut.

"Kelihatannya kau adalah anak In Tiang-long, in Toako, ayah kau telah meninggal diatas puncak Tiang langit!"

Hong-tai sudah lama mendengar berita bahwa ayahnya telah meninggal, namun dengan kedatangan orang yang diperkirakan juga telah meninggal dipuncak gunung tiang langit, membuat dia berharap ayahnya juga masih hidup.

Setelah mendengar berita yang benar, tubuh Hong-tai menjadi lemas seperti mau jatuh.

Dia segera menghampiri Giok Kang-tong dan mendorong Siau-cian terlepas dari tangan sang ayah, lalu berkata dengan suara kasar.

"Ayahku bagaimana matinya! mati oleh perbuatan siapa?"

Hong-tai sudah berprasangka bahwa Giok Kangtong yang membunuh ayah. Giok Kang-tong dengan suara menyesal berkata.

"Bila dibicarakan sangat tragis, kematian ayah-mu, boleh dikatakan olehku juga......"

Mendengar Giok Kang-tong mengaku telah membunuh ayahnya, Hong-tai sangat marah dan langsung menusukan pedang pada tubuh Giok Kang-tong.

Tindakan Hong-tai membuat Siau-cian berteriak tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Terlihat bayangan seorang menghampiri mereka dan dengan cepat memegang gagang pedang Hong-tai dengan dua jari, dan berkata dengan halus.

"Tunggu dulu!"

Ternyata orang itu adalah gurunya Cia Ma-lek, Pencuri ulung Leng Hau-te. Leng Hau-te tidak menunggu jawaban dari Hong-tai dan segera berkata.

"Tunggu Giok-toako bicara dulu, hari ini ada aku dan Yo-po, pasti akan membantu kalian mencari penyelesaian yang adil!"

Giok Kang-tong menarik napas panjang dan bercerita.

"Kira-kira enam tahun yang lalu, di puncak gunung Tiang langit, kami bertiga bertarung sampai saling membunuh, membuat dua orang mati, dan yang satu menjadi gila, tetapi setelah diselidiki dengan seksama, ternyata kami bertiga adalah korban ulah orang lain, karena waktu itu kami sudah kehilangan kesadaran, sebab sebelum kami datang ke puncak itu, sudah ada orang yang menaburkan cairan racun yang membuat orang lupa ingatan dan membuat orang ingin saling bunuh!"

Bersamaan itu ada tiga orang bertanya.

"Siapa orang itu? siapa yang menaburkan racun itu?"

Giok Kang-tong dengan mata penuh dendam menunjuk muka orang berjubah abu dan berkata.

"Itulah dia, orang yang menutup muka dengan kain, bajingan dari aliran tersesat!"

Orang berjubah abu itu dengan cepat menghampiri Giok Kang-tong, ingin menyerang Giok Kang-tong dengan tibatiba.

Tapi tahu-tahu dari pinggir datang satu tekanan tenaga menghilangkan tenaga serangan orang berjubah abu itu, sehingga membuat orang berjubah abu terpelanting kepinggir, tapi berkat ilmu silatnya yang tangguh, dia masih bisa berdiri kembali, dia langsung melihat orang yang menggagal-kan serangannya adalah Yo-po-lo-to.

Yo-po-lo-to berkata dengan dingin.

"Selama aku ada disini, aku tidak mengijinkan kau mencelakakannya dengan cara tidak terpuji. Tetapi kau jangan takut, sebentar lagi sudah ada orang yang akan menghukummu"

A Bin menghampiri orang berjubah abu itu dan berkata.

"Kau siapa?"

Orang berjubah abu itu tidak bicara, segera mengambil satu kantong besar dari anak buahnya yang memakai baju mewah.

A Bin sudah tidak sabar, ingin tahu siapa orang itu, dia segera melayangkan telapak tangan ingin membuka topeng muka orang berjubah abu itu.

Bersamaan waktunya orang berjubah abu telah mengeluarkan sebuah senjata berupa kail perak yang sangat besar dari kantong hitam, dan gerakan jurus telapak A Bin telah sampai di muka orang itu dan berhasil membuka kain penutup muka, terlihatlah muka asli orang berjubah abu, serentak semua orang dari pihak Siau-lim dan orang-orang aliran Jian-kin-kau berteriak.

"Kau-sat (Kail pembunuh) Kau Bun-kek!"

Melihat muka orang itu A Bin jadi teringat kejadian dulu yang menimpa dirinya saat di puncak gunung Tiang langit.

Dan cincin besi hitam yang tertinggal di puncak gunung......adalah bukti orang ini Kau Bun-kek yang berbuat, yang telah membunuh dua pendekar ternama dan membikin seorang lagi menjadi gila.

Kau Bun-kek melihat situasi tidak menguntungkan, maka dia berteriak pada orang-orang aliran Jian-kin-kau.

"Kalian, semua maju serang mereka!"

Tetapi, anak buah dia telah dijaga ketat oleh hweesiohweesio Siau-lim-sie dan dua orang pembunuh penjahat dari aliran hitam Yo-po-lo-to dan Leng Hau-te yang berada di pinggir anggota Jian-kin-kau, setelah wajah Kau Bun-kek terlihat oleh semua orang dan mengetahui kejahatan yang telah dibuat oleh Kau Bun-kek, maka anggota Jian-kin-kau seperti tidak mau membela lagi ketua baru mereka.

Kau Bun-kek tahu dirinya telah terkepung oleh semua orang, dan tidak ada orang yang mau membantunya, timbul karakter jahat dari benaknya, dia mengayunkan kail perak yang beratnya hampir lima puluh kati diayunkan ke arah kepala A Bin, suara ayunan kail perak itu mengeluarkan hembusan angin yang mengerikan, sedangkan langkah kakinya digerakan ke arah kiri atau kanan untuk mengelabui mata A Bin.

A Bin dengan gesit sedikit menggeser kakinya ke samping, menghindar dari serangan kail perak itu.

Ketika ada kesempatan itu A Bin mengeluarkan golok dari balik bajunya, goloknya dipegang di tangan sambil berdoa sejenak.

"Arwah ayah di langit, anakmu akan menggunakan golok yang ayah berikan padaku untuk membunuh musuh yang telah membunuh ayah dan teman ayah!"

Kau Bun-kek berkata dengan suara keras untuk menutupi ketakutannya.

"Anak kecil masih bau kencur! berani berkata begitu sombong, selama ini aku Kau Bun-kek sudah membunuh orang tidak terhitung banyaknya, masa aku takut padamu!"

Dengan kail perak besar itu Kau Bun-kek menyerang bagian atas dan bawah tubuh A Bin, dengan suara desingan angin yang memekakan telinga.

A Bin menggunakan gerakan merapat mendekati Kail pembunuh Kau Bun-kek.

Dalam hati Kau Bun-kek berkata.

"Anak muda ini terlalu sombong, kailku beratnya lima atau enam kali golokmu, tempo hari ayahmu juga tidak berani beradu senjata langsung denganku, tapi kau sangat berani!"

Maka Kau Bun-kek menambah tenaga dalam di tangannya ingin menjatuhkan golok A Bin dengan menggunakan kail peraknya yang sangat berat.

Tetapi yang terjadi membuat dia terkejut sekali, sebab dia merasa tenaganya seperti masuk ke lautan yang luas, sama sekali tidak berpengaruh pada tubuh A Bin, cepatcepat dia menarik kembali tenaga yang telah dikeluarkan.

Di saat dia ingin menarik kembali tenaga itu, terdengar bentakan A Bin diikuti ayunkan goloknya, dan tubuh Kau Bun-kek pun terlempar hingga setengah tombak.

Dengan perasaan terkejut, Kau Bun-kek cepat berdiri dan memusatkan tenaga dalamnya di kail perak, lalu kembali menyerang ke arah dada A Bin.

Tapi A Bin tidak takut dengan serangannya, dia menggetarkan golok dan membuat lima sinar bintang dari goloknya, menyerang lima tempat penting di tubuh Kau Bun-kek, jurus serangan A Bin yang dipakai sebagai jurus bertahan sekali gus menyerang, malah membuat Kau Bunkek cepat-cepat menarik kailnya untuk menyelamatkan diri.

A Bin menyerang tanpa memberi kesempatan pada Kau Bun-kek, membuat lawannya terpaksa memutar-mutar tubuh untuk menghindar serangan A Bin yang bertubi-tubi.

Keringat mulai bercucuran di kepala Kau Bun-kek, rambut yang agak putih jadi berantakan dan tidak sempat dibereskan.

Dengan gagah, A Bin membentak lagi, seperti naga melengking atau macan mengaum, golok yang dipegang diayunkan menyerang bagian tengah rubuh Kau Bun-kek.

Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu hanya melihat satu kilatan yang menyilaukan dan satu bayangan yang sangat cepat mendekati tubuh Kau Bun-kek.

Serangan A Bin membuat Kau Bun-kek beberapa kali harus mengunakan kail perak menahan golok A Bin.

Terdengar bentakan dari A Bin lagi, dan tubuh A Bin bagaikan naga putih yang sedang terbang menerjang kurungan dan menuju tubuh Kau Bun-kek, membuat Kau Bun-kek menjerit kesakitan dengan langkah kaki sempoyongan mundur dua langkah.

Satu penjahat yang telah membuat banyak dosa dengan susah payah berdiri tegap, dua mata di bawah alis yang tebal dibelalakan dengan besar dan bulat, tetapi sinar mata yang angker telah menghilang, diganti dengan mata seperti orang mati, dia membuka lebar kedua kaki agar berdiri tegap dan diam terus.

Dengan golok dipegang di dada A Bin berteriak nyaring, terlihat kepala besar Kau Bun-kek terlepas dari tubuhnya, jatuh ketanah diikuti pancuran darah segar menyembur ke tanah.

Ternyata kepala Kau Bun-kek telah terpotong oleh golok A Bin di saat A Bin tadi terbang bagaikan naga terbang menyerang Kau Bun-kek, karena golok itu sangat tajam dan tenaga yang digunakan sangat tepat, sehingga tajamnya golok itu melewati leher Kau Bun-kek, tetapi kepala Kau Bun-kek tidak langsung jatuh ke bawah, setelah terdengar teriakan terakhir dari mulut A Bin, barulah suara itu membuat kepala musuh ter-penggal jatuh.

Hong-tai melihat kepala pembunuh ayah telah jatuh di tanah dia mendekati A Bin sambil menangis di pundak A Bin.

Ketua Siau-lim mengucapkan O-mi-to-hud terus menerus untuk menebus dosa Kau Bun-kek, lalu menghampiri orang-orang aliran Jian-kin-kau, memerintahkan mereka bubar dan berkata dengan suara tegas.

"Pemimpin kalian telah mati, untuk menebus dosa-dosa kalian, aku melepaskan kalian untuk pulang masing-masing dan tidak mempersulit, harap kalian nanti tidak berbuat kejahatan lagi di masa akhir hidup kalian!"

Orang-orang aliran Jian-kin-kau segera meninggalkan biara Siau-lim.

Setelah pemimpinnya mati dan anggotanya membubarkan diri, biara Siau-lim pulih kembali ke suasana yang tenang, setelah dirapikan bagian-bagian yang rusak oleh hweesio-hweesio.

Dan sebagian pesilat-pesilat berpamitan pada ketua Siau-lim dan meninggalkan biara untuk melanjutkan tugas mulia mereka.

Pada satu hari yang cerah, di mana matahari baru terbit, di pintu depan biara Siau-lim diselenggara upacara besar, semua hweesio berbaris rapih di depan pintu, dan dipimpin oleh Kian Ie, Jit Ie, Hong Ie untuk mengantar pesilat-pesilat tinggi dan agung meninggalkan biara Siau-lim.

Tamu agungnya hanya bertiga, satu laki-laki dan dua perempuan.

Mereka adalah A Bin, Hong-tai dan Siau-cian, mereka akan meninggalkan gunung Siong-san tempat biara Siau-lim berdiri, mereka akan meneruskan kejayaan ayah mereka masing-masing.

TAMAT Bandung, 21 Desember 2008 Salam Hormat (See Yan Tjin Djin)

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 4

Baca Juga: Lembah Nirmala 15

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger