Legenda Golok Halilintar 5

Eps 5 Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Baca online Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Cersil Legenda Golok Halilintar - Lan Li.

A Bin segera memotong ucapan wanita itu.

"Aku menerima baik keinginanmu, tapi aku punya putusan sendiri, aku pamit!"

Sebelum A Bin pergi, seorang yang berdiri di samping wanita berbaju putih itu berkata.

"Ketua harus tegas memutuskan, bila orang ini pulang ke biara Siauw-lim, dan membocorkan rahasia kita, sia-sia kita punya rencana bagus!"

Wanita berbaju putih itu dengan tegas berkata. "Aku telah mengabulkan dia pergi, mana boleh menyesal, dan aku percaya dia adalah seorang yang tidak akan melanggar dan merusak janjinya!"

A Bin dengan salam pamit dan berkata.

"Kau jangan khawatir, bila aku sudah berjanji tidak akan melanggar, tetapi jika dalam biara Siauw-lim aku bertemu orang-orang kalian, aku akan menganggap mereka musuh, dan aku tidak akan memberi ampun!"

A Bin membalikan tubuh, segera menyelinap ke dalam hutan, wanita berbaju putih itu dan orang-orangnya betul juga tidak mengejar A Bin, sehingga A Bin dalam sekejap mata sudah tiba di depan pintu biara.

Waktu A Bin sampai di pintu biara, di depan pintu telah berdiri empat hweesio yang berjubah putih, masing-masing memegang tongkat besi dan singkup logam menghadang A Bin.

A Bin segera berkata.

"Aku tadi keluar dari biara mengejar musuh, sekarang ada berita penting untuk dilaporkan pada ketua Siauw-limpay, izinkan aku masuk biara!"

Empat hweesio itu tidak mengenal A Bin, semua membentangkan senjata menghalangi jalan A Bin, salah satu hweesio dengan suara keras berkata.

"Kita mendapat perintah dari ketua! Tiap orang sebelum mendapat izin dilarang masuk, bila tuan ada urusan, harap tunggu guru pengurus datang, dan menyampaikan pesan tuan kepada ketua Siauw-lim-pay."

A Bin mengetahui wanita berbaju putih itu telah merencanakan sesuatu, segera akan menyerang biara Siauw-lim, sampai detik itu A Bin masih belum mengetahui sedikit pun keterangan itu, hal demikian membuat A Bin risau ingin cepat bertemu ketua Siauw-lim-pay, tetapi bila dia memaksa masuk ke dalam, pasti ber-selisih dengan empat hweesio itu, hal demikian akan menambah kesalah pahaman, maka A Bin membalikan tubuh, menyusuri tembok biara menuju ke belakang, memilih satu tempat yang tidak diawasi oleh penjaga biara, meloncat ke atas tembok.

Ketika tubuh A Bin masih di udara, di atas tembok mendadak muncul dua hweesio dengan tongkat menghadang dan berteriak.

"Siapa? Berani sekali masuk ke biara Siauw-lim!"

A Bin tetap tidak ingin menerobos dengan kekerasan, dia memutar tubuhnya lagi menuju tempat lain, berganti beberapa tempat, tapi di atas tembok selalu ada hweesio yang menghadang, ternyata, seluruh biara telah siap dalam keadaan darurat.

Bagi A Bin waktu tidak banyak, bila terlambat tidak bisa menbongkar rencana jahat Jian-kin-kau, maka A Bin memutuskan menerobos masuk dan memilih satu tempat untuk diloncati, tubuh A Bin masih di atas udara dia mendapatkan dua hweesio dengan senjata di tangan menghadang.

A Bin menyerang dua hweesio itu dengan dua kali ayunan telapak tangan, terdengar rintihan dari kedua hweesio itu, tubuh mereka terdorong dan tidak bisa bertahan di atas tembok, hingga jatuh ke bawah.

Kaki A Bin segera mendarat di tembok itu, satu kali dan melayang turun ke tanah.

Begitu A Bin berdiri di tanah, hweesio-hweesio yang berjaga di dalam halaman langsung menghadang A Bin, kelompok hweesio ini dari empat penjuru menyerang A Bin dengan tangan kosong.

A Bin segera membalas dengan dua kali pukulan telapak tangan menahan serangan kelompok hweesio, lalu dengan menggunakan tenaga lawannya A Bin meloncat ke atas melewati mereka dan menuju bagian tengah biara, lalu giliran kedua kelompok hweesio menyerang bersamaan sambil berkata O-mi-to-hud, satu arus angin pukulan yang keras menghantam tubuh A Bin.

Ternyata serangan hweesio-hweesio itu berbeda satu dan lainnya, ada yang menggunakan perubahan kepalan dan telapak tangan, ada gabungan tenaga dalam menyerang, agar lawan tidak bisa menebak jurus mereka.

Hampir saja A Bin tertipu oleh jurus-jurusnya, dia segera menghimpun tenaga dalamnya, di atas udara disalurkan ke dalam dua telapak tangan untuk menghadang tenaga dalam gabungan hweesio-hweesio itu, ilmu warisan gurunya dan saluran tenaga dalam dari gurunya membuat tenaga dalam A Bin sangat kuat, biar pun kelompok hweesio itu menggabungkan tenaga dalamnya pun tidak bisa melawan A Bin.

Tubuh A Bin hanya turun sedikit di udara, tetapi kelompok hweesio yang menyerang pada jatuh di tanah, A Bin segera lari menuju pusat biara.

Terdengar suara baju tersibak angin mendekati A Bin, tiga kelompok hweesio datang menyerang, serangan mereka lain lagi, mereka menyerang dari dua sayap, kepalan dan telapak tangan saling berganti, A Bin mengerutkan alis sejenak berteriak sekali, dua tangan membagi tenaga menghadang musuh dari dua arah, tubuhya tetap maju ke depan, berdiri di tempat sekitar satu tombak.

A Bin sekaligus membongkar pertahanan tiga kelompok hweesio, berdiri di tempat baru, kelompok hweesio yang ke empat menyerang dengan jurus berantai dan lain-lain jurus.

A Bin menembus tiga rintangan kelompok hweesio, dan maju lebih dari dua tombak, hati A Bin tetap risau, dia berpikir, Kian Ih belum memperlihatkan ketangguhan ilmunya, tetapi murid-muridnya punya dasar tenaga yang kuat, pantas bisa ternama dalam kalangan dunia persilatan, kekuatan kelompok-kelompok hweesio merupakan kekuatan yang tidak bisa diremehkan, tetapi bila Jian-kinkau menggunakan akal licik, banyak hweesio pun percuma bila diserang secara sembunyi-sembunyi, bila aku melayani mereka terus-menerus, waktunya akan tersia sia, lebih baik dia dengan cara cepat menuju pusat Siauw-lim-sie dan bisa bertemu Kian Ih, baru saja ingin memusatkan tenaganya menyerang kepungan hweesio, terdengar dua kali suara Omi-to-hud, kelompok hweesio-hweesio itu menghentikan serangannya, masing-masing mundur ke tempat semula.

Ternyata, pengurus biara Siauw-lim Hong Ie Taysu sudah muncul.

A Bin sangat gembira, segera berteriak.

"Hong Ie Taysu! Murid-murid Siauw-lim-sie salah paham padaku!......."

Muka guru besar Hong Ie seperti diselimuti salju dingin, tidak menunggu A Bin habis bicara, dengan tertawa sinis berkata.

"Mereka tidak salah paham, ini adalah perintah ketua Siauw-lim-pay, mencegah sicu masuk ke biara dengan sembarangan, sicu dengan kekuatan sendiri leluasa menerobos pertahanan Siauw-lim hingga empat lapis, kepandaian sicu boleh dibanggakan. Sayang di luar sicu bermuka jujur, tetapi di hati busuk, sudi jadi antek gerombolan......"

Dengan suara keras A Bin membela diri.

"Taysu! Semua ini salah paham, tadi aku mengejar musuh hingga keluar biara, sekarang masuk kembali, ingin memberi peringatan pada ketua Siauw-lim-pay."

Dengan suara marah guru besar Hong Ie berkata.

"Kau jangan bersilat lidah, kau ingin bertemu ketua kami hanya ada dua jalan, satu jalan menerobos pertahanan barisan Lo-han, satu lagi kau menyerah sambil menunggu putusan setelah kami selesai meng-usir musuh, tetapi, pinceng terus terang mengatakan, sicu telah menerobos masuk ke dalam biara, ingin keluar lagi, tidak semudah menurut keinginan sicu!"

A Bin terpaksa berteriak.

"Taysu! Kau jangan terpaku oleh perintah ketua dan mencelakakan semua nyawa di dalam biara ini!"

Hweesio itu nada tidak percaya, berkata dengan tegas.

"Hanya dua jalan itu, tidak ada kompromi!"

A Bin menjadi lebih risau dalam hati berkata.

"bila aku menurut kata hweesio ini menyerahkan diri menunggu waktu di sidang, bukankah akan memberi peluang bagi Jian-kin-kau melaksanakan rencana jahatnya, kelihatan hanya dengan ilmu yang sungguh-sungguh aku baru bisa menerobos lagi Maka A Bin dengan kata terpaksa berkata.

"Taysu tidak memberi kesempatan bagiku bicara, maafkan aku berbuat kasar!" A Bin memusatkan tenaga dalam di kedua tangan, mendorong kedua telapak tangan menuju tubuh Hong Ie Taysu yang telah siap juga menerima serangan A Bin, terdengar satu suara keras "Bung!"

Dan kedua orang itu bersamaan mundur satu langkah.

Hong Ie Taysu menarik nafas sekali, menggerakan tulang-tulang tangan kanan hingga menimbulkan suara yang menakutkan, lalu kakinya melangkah maju setengah langkah siap menerima pukulan A Bin yang kedua kali.

Begitu kedua pukulan kembali beradu, lantai tanah pun bergetar, A Bin mendadak berteriak, menggunakan tenaga dorongan Hong Ie Taysu, tubuh A Bin melayang ke atas, menuju ruangan pertemuan di pusat biara.

Barisan Lo-han dari Siauw-lim-sie dirancang khusus dengan diam mengunci gerakan, dan digerakan sangat cepat, di atas udara A Bin melihat ada tanah kosong untuk mendarat, tapi begitu tumit kakinya mendarat ditanah itu, satu tenaga tidak terlihat telah menyerang dadanya.

A Bin melayani serangan itu sambil melihat asal datangnya tenaga itu, yang membuat A Bin terkejut disana telah terkumpul sekelompok hweesio yang berdiri berdampingan, sambil menyerang dengan telapak tangan kanan, jaraknya masih sejauh satu tombak, tetapi tenaganya bisa mencapai tubuh A Bin, A Bin segera mengambil keputusan, ingin mengacaukan barisan Lo-han tu.

Beradulah dua tenaga, A Bing sambil berteriak, melayangkan sebelah telapak tangannya menyerang bagian kanan, bersamaan tangan kiri menyerang bagian belakang.

Tenaga gabungan hweesio-hweesio itu yang beradu tenaga dengan A Bin jadi menghilang di alihkan oleh tenaga A Bin.

Tetapi secara bergantian hweesio-hweesio itu maju lagi, sekarang kelompok baru dari barisan belakang menyerang A Bin dengan tenaga gabungan.

A Bin berpikir dengan cepat, kalau berduel dengan cara begini, dia tidak akan bisa bertemu dengan ketua Siauwlim-pay, sebab dia khawatir melukai orang, dia tidak berani mengeluarkan tenaga penuh.

Setelah berpikir begitu dia mencari cara untuk keluar dari kepungan itu, maka setelah A Bin memusatkan tenaga menghilangkan tenaga musuh, segera dia meloncat ke udara, loncatan A Bin setinggi tiga atau empat tombak, mata A Bin di udara melihat ketua Siauw-lim-pay dan ketua Bu-tong-pay sedang melihat pertarungan hweesio-hweesio mereka melawan A Bin dalam jarak dua bangunan lagi, karena jarak agak jauh, A Bin masih tidak bisa langsung menghadap mereka.

Di udara mata A Bin juga melihat gerakan Lo-han-tin yang sangat hebat, hweesio-hweesio itu sedang mundur teratur secara kilat namun langkah mereka tidak bersuara.

A Bin melihat tidak ada satu ruangan kosong untuk berpijak, jika A Bin bergerak menuju sasaran tertentu, mereka menuju kesana juga.

Dalam tubuh A Bin yang akan turun pelan-pelan, A Bin melihat mata hweesio-hweesio itu sama sekali tidak ada satu orang pun yang melihat ke arah dia, A Bin segera bergerak membalikan rubuh dengan kepala di bawah kaki di atas, tangan memukul bahu salah seorang hweesio.

A Bin sengaja tidak memukul kepala botak hweesio itu karena kasihan, sebab pukulan A Bin bisa menghancurkan kepala hweesio itu, arah pukulan A Bin ke bahu hweesio itu juga bisa membuat orang itu patah tulang, A Bin terpaksa berbuat demikian karena ingin menolong semua nyawa di biara.

Dugaan A Bin ternyata meleset, hweesio yang di pukul itu malah tidak apa apa, A Bin mendadak sadar, guna besar barisan Lo-han ada di bagian saling terpadu tenaga hweesio-hweesio itu untuk bersama-sama menerima pukulan musuh, jadi tenaga seorang hweesio sama dengan tenaga satu kelompok, maka seorang hweesio itu selamat tanpa cidera.

Tapi tenaga gabungan hweesio-hweesio itu sangat berguna buat A Bin, dengan memanfaatkan dorongan tenaga itu A Bin terbang menuju ruangan pusat.

Kelompok hweesio-hweesio itu segera merubah barisan mengejar laju terbang A Bin, tetapi percuma saja, sebab A Bin sudah lari jauh, maka mereka berhenti.

A Bin terbang di udara beberapa tombak, dan menambah tenaga di udara sekali, sesudah berada di atas lapangan ruang pusat, mata A Bin melihat hweesio yang berjaga hanya sedikit, kemungkinan sudah ditugas kan ke beberapa tempat.

A Bin membiarkan tubuh turun dengan santai di tanah kosong sekira dua tombak di depan ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu yang didampingi Soat-song Cinjin, pendekar dari sungai Hoai Sangguan Leng, dan Hun San-kiau dari gunung Kun-lun.

Karena tahu mereka salah paham terhadapnya, maka A Bin mendahului berkata.

"Hong-tiang, izinkan menjelaskan......."

Aku berbicara dulu dan Pendekar dari sungai Hoai berwatak jujur namun ceroboh, mula-mula sangat hormat pada A Bin, sekarang malah marah dan putus asa, dia berkata dengan marah.

"Orang yang licik dan munafik, tidak perlu dikatakan lagi, aku akan menghajar kau dengan tulang tua bangka ini!"

Sesungguhnya, Sangguan Leng tahu ilmu silat A Bin jauh lebih tinggi dari pada dia, tapi karena tidak tahan emosi, maka dia ingin melawan A Bin biar pun nyawanya melayang, maka begitu menyerang, jurus yang digunakan adalah jurus andalan dari perguruan yang dinamakan Samtan-in-gwat (Tiga kali mencetak bulan) dengan cakar yang seperti besi menyerang dada A Bin sampai menimbulkan tiga bayangan cakar tangan.

Mengetahui serangannya sangat kuat, sedang kedudukan orang tua ini setingkat dengan Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin, maka A Bin menggunakan telapak tangan menyerang dari samping, bersamaan itu tubuh A Bin melesat ke samping, bagi A Bin yang menguasai ilmu tinggi, dia mampu menahan serangan sadis dari Sangguan Leng.

Serangan pertamanya tidak berhasil, Sangguan Leng dengan berteriak berkata.

"Bajingan, kau ingin lari kemana!"

Tubuh Sangguan Leng terbang ke udara, bagaikan bayangan mengejar ke depan A Bin, dia mengeluarkan lima jarinya mencakar kepala A Bin.

Sepintas A Bin melihat pusat tangan Sangguan Leng yang berwarna merah darah dan berhawa panas dari tangan orang tua ini, A Bin mengetahui orang tua ini menggunakan ilmu andalan lainnya.

Kedua ilmunya ini telah melambungkan nama besar Sangguan Leng, yang pertama jurus tangan Sam-tan-ingwat dan kedua ini jurus Ci-eng-jiauw (Cakar elang merah).

A Bin mempunyai Han-kie-sin-kang, mana mungkin takut pada ilmu Ci-eng-jiauw, tetapi A Bin menilai Sangguan Leng adalah orang tua yang jujur, karena salah paham dia jadi bertindak ganas pada A Bin dan melancarkan ilmu mematikan, bila A Bin betul-betul membalas, orang tua itu pasti sudah terluka parah, maka A Bin tidak berani beradu tenaga langsung.

A Bin memusatkan tenaga dalam, dengan sedikit tekanan pada ujung kaki, menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, dia terus menghindar dari serangan musuhnya, kecepatan gerak A Bin sangat mengagumkan Jurus Sangguan Leng terus-menerus meleset dan tapi dia tidak mengeluarkan jurus lain, Soat-song Cinjin dengan suara seperti naga bernyanyi, berteriak.

"Bibit jahanam, kau berilmu tinggi, tetapi sayang tersesat, aku bertekad membersihkan hawa silumanmu dengan pedang pembasmi iblis ini!"

Sebagai ketua Bu-tong-pay, ilmu pedang Soat-song sangat ampuh, tubuhnya bergerak bagaikan anak panah terlepas dari busur, bayangan kuning berkelebat, tubuh Soat-song Cinjin sudah di depan A Bin, menyerang dengan jurus pedang Tok-liong-can-wan (Naga beracun melilit pergelangan tangan.).

A Bin menggunakan tangan sebagai pedang, tangan kiri dengan jurus Ceng-im-cut-tong (Awan hijau keluar goa) arus angin dari pedang tangan A Bin setajam pedang asli juga dengan cepat memotong lengan kanan Soat-song Cinjin, serangan A Bin merobah posisi bertahannya.

Melihat A Bin bisa menggunakan tangan menggantikan jurus pedang dan sangat dahsyat, Soat-song Cinjin sangat terkejut sekali, dia segera menarik kembali pedang dan berbalik menyerang, dalam sekejab mata sudah menyerang tiga jurus pedang berturut-turut.

A Bin menggerakan tubuh menghindar serangan pedang dari Soat-song Cinjin, berkata dengan cepat.

"Totiang, biarkan aku bicara dulu, urusan ini menyangkut nyawa seluruh hweesio dan para pendekar disini, harap kau tahan emosi marah sebentar!"

Soat-song Cinjin malah marah berkata.

"Bibit iblis! Masih muda tetapi licik, sampai detik ini masih ingin menipu orang, kau anggap kami anak kecil!"

Sambil menyerang A Bin dengan tusukan pedang sebanyak tiga kali.

A Bin terpaksa menggunakan tangan kanan menutup serangan Soat-song Cinjin, tangan kiri menggunakan jurus pedang tangan See-thian-cau-seng (Perjalanan suci ke langit barat) memancarkan cahaya yang kuat.

Soat-song Cinjin merasa ada tekanan dari tangan A Bin datang dari segala penjuru, bagi dia yang mahir dalam ilmu pedang, dia tahu bahwa jurus ini adalah jurus paling tinggi dalam ilmu pedang, untuk sementara dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi-nya, maka dia hanya menggoyangkan tubuh mundur sebanyak lima kaki.

A Bin berhasil mendesak mundur Soat-song Cinjin, pendekar Hun San-kiau dari Kun-lun dengan cepat maju ke depan A Bin dan melancarkan jurus Sui-man-kim-san (Air menggenangi gunung emas), orang ini mempunyai tenaga dalam tinggi, dengan bersuara keras kepalannya menyerang dada A Bin.

A Bin takut melukai pendekar ini, maka tubuh-nya menghindar ke samping dengan jurus pedang tangan menyerang Hun San-kiau.

Hun San-kiau menggunakan kepalan tangan kanan, melawan dengan jurus Tui-san-tia-hai (Merobohkan gunung mengisi laut), jurusnya menimbulkan angin pukulan yang kencang, dan tangan kiri menggunakan jurus cengkraman mencakar tangan kanan A Bin.

Tangan kiri A Bin dengan jurus pedang tangan Han-yanti-ie (Walet dingin mencabut bulu) menutup jurus cengkraman Hun San-kiau, tubuh A Bin bergeser ke samping sedikit, menghindar serangan lawan, dan tangan kanan A Bin dengan jurus Sam-seng-coan-gwat (Tiga bintang mendekati rembulan), menciptakan tiga bayangan telapak tangan, memaksa Hun San-kiau mundur dua langkah, A Bin segera menyerang lagi, tenaga tangan kirinya membantu mendesak Hun San-kiau mundur kedua kalinya, dalam sekejab Hun San-kiau terdesak mndur tiga tombak.

Tiba-tiba telinga A Bin mendengar satu suara O-mi-tohud yang keras dari belakang, membuat telinga A Bin ikut mendengung, dan satu angin yang kencang menuju lengan A Bin, A Bin tahu bahwa ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu sudah turun tangan, maka A Bin menggunakan ilmu warisan gurunya Ceng-liong-jiauw (Cengkraman naga), dengan lima jarinya mencengkram tangan Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu melihat A Bin bisa begitu cepat bereaksi, segera menarik tangan kembali, namun tulang lengan sudah terkena sapuan ujung jari A Bin.

Melihat tangan Kian Ih Taysu hanya terkena sapuan, A Bin memuji Kian Ih Taysu yang berlimu tinggi, segera berkata.

"Harap Taysu berhati welas asih, berikan waktu untukku bicara!"

Tapi wajah Kian Ih Taysu tetap sangat dingin dan dengan dingin berkata lagi.

"Sicu! Kau sangat pintar berpura-pura, mulai hari ini aku tidak berani mengatakan aku punya kemampuan bisa melihat muka orang lagi, kau mau bicara apa lagi?"

Habis bicara, dia menyerang A Bin lagi.

A Bin tidak bergerak di tempatnya, hanya menggerakan tubuh atasnya sedikit, menghindarkan serangan telapak tangan Kian Ih Taysu, balik menyerang satu pukulan dan dua totokan, memotong dua jurus lawannya, ketika punya kesempatan dia berkata lagi.

"Taysu! Kau harus berpikir cepat, Jian-kin-kau segera akan menyerang, di saat itu semua nyawa di biara menjadi terancam, kau akan menyesal!"

Kian Ih Taysu yang didesak mundur oleh A Bin, menjadi semakin marah setelah mendengar kata-kata A Bin, sahutnya.

"Sicu masih bandel demikian rupa, sampai detik inipun masih berani berkata mengancam, bila bukan olehmu, apakah tindakan Jian-kin-kau akan berhasil!"

Setelah berkata, Kian Ih Taysu menyerang tujuh delapan jurus berturut-turut.

A Bin menggunakan telapak tangannya menutup semua serangan Kian Ih Taysu, sekarang dia menyesal kenapa dia kembali ke biara untuk memberi kabar, dia seperti terjebak dan tidak berpeluang untuk membongkar siasat Jian-kinkau, dia menyayangkan Peramal jitu Cukat Hiang tidak ada di tempat itu, sehingga menutup kemungkinan bagi A Bin bisa berbicara.

Pada waktu bersamaan, tidak jauh dari biara terdengar suara terompet sebanyak tiga kali, yang nada bunyinya sangat sedih seperti irama mengantar orang mati, Kian Ih Taysu terperanjat, dan A Bin ingat pesan yang beberapa kali diucapkan wanita berbaju putih itu, dalam hati dia berkata.

"Celaka!" , keringat dingin tidak berasa bercucuran. 0-0dw0-0 BAB Serangan besar-besaran Pikiran Kian Ih Taysu terganggu sebentar, setelah mendengarkan suara terompet yang sedih itu, dia melanjutkan serangan yang dahsyat pada A Bin. pada detik ini A Bin pun tidak punya pikiran untuk menjelaskan lagi pada Kian Ih dan Soat-song, dia hanya ingin keluar dari kepungan mereka, dia ingin berusaha dengan tenaga sendiri mencegah serangan Jian-kin-kau, maka A Bin menyerang Kian Ih Taysu dengan tiga jurus telapak tangan dan empat kali tendangan kaki. Kian Ih Taysu jadi terdesak mundur oleh serangan A Bin, Sangguan Leng yang menyaksikan duel itu di pinggir, melihat A Bin berniat melarikan diri, dia berteriak.

"Melawan orang yang licik dan berbahaya ini, kita tidak perlu memakai tata krama dunia persilatan lagi, kita samasama menangkap dia dulu!"

Maka Sangguan Leng menggunakan cakarnya menyerang punggung A Bin, A Bin menghindar ke samping, menghindari sepasang cakar Sangguan Leng, malah mendekati Kian Ih Taysu, pura-pura akan menyerang sebetulnya ingin melarikan diri keluar.

Kian Ih Taysu berkata.

"O-mi-to-hud, pinceng tidak akan membiarkan kau lari!"

Sambil menyerang dengan dua telapak tangan.

A Bin tidak punya waktu untuk memutar tubuh-dan merasakan ada satu tenaga besar mendorong tubuhnya, dalam hati A Bin berpikir, pasti ini serangan dari Kian Ih Taysu yang paling tinggi ilmu silatnya.

A Bin segera menjatuhkan tubuh ke kiri, seperti roboh ke tanah, saat tubuh A Bin hampir mencapai tanah, ujung kaki A Bin segera menekan tanah, hingga tubuh A Bin berbaris diatas muka tanah melesat seperti anak panah.

A Bin dalam detik itu menggunakan ilmu meringankan tubuh yang hebat, yang belum ada orang yang mampu melakukannya, membuat Kian Ih, Soat-song Sangguan Leng dan Hun San-kiau sangat terperanjat, mereka ingin mengejar A Bin yang sudah berada di tempat sekitar empat tombak.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin adalah orang yang beriman tinggi, tetapi masih tidak bisa menahan rasa malu, maka berdua berucap O-mi-to-hud, lalu membuka lengan jubah yang lebar menggunakan angin untuk terbang seperti elang, segera mengejar A Bin dari kiri dan kanan seperti ingin menggunting A Bin.

Orang yang berilmu tinggi itu menggunakan ilmu tingkat atas betul betul-hebat, maka dapat mengejar A Bin hanya berjarak satu lengan saja.

A Bin tidak melihat ke belakang, tetapi dari suara angin mengetahui ada dua orang kuat mengejar, pasti Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin, A Bin tidak takut, hanya khawatir bila terkejar oleh mereka!

Akan menghabiskan waktu lagi, dan saat peringatan dari terompet itu akan habis.

Dalam keadaan tergesa-gesa, A Bin memutuskan berlaku sedikit keras, maka dia mengeluarkan dua buah potongan golok yang dililitkan di pinggang dan melihat ke belakang sejenak, lalu A Bin dengan tenaga ayunan melemparkan dua senjata itu sebagai senjata rahasia, sebab A Bin tidak punya senjata rahasia untuk mencegah Kian Ih dan Soatsong.

Lemparan A Bin cepat sekali, dan dua orang pengejar itu tidak tahu sifat dari senjata rahasia A Bin, maka tidak berani sembrono untuk memukul jatuh, mereka hanya berkelit menghindar senjata rahasia A Bin itu.

Pertarungan jago tingkat tinggi, waktu sedetik pun menjadi masalah penting, tindakan A Bin tadi berhasil menahan lawan mengejar sejenak, maka dia segera meloncat terbang jauh, sekejap mata sudah hampir memanjat tembok biara.

Tetapi A Bin tidak menyangka bahwa di bawah kakinya ada hembusan angin yang mendekat dan menangkap dua kaki A Bin yang belum siap mengganti nafas untuk berbuat lain.

Karena A Bin sedang memusatkan perhatiannya menghadapi lawan di belakangnya, dia jadi melupakan barisan Lo-han yang berlapis di dalam biara, baru saja A Bin naik ke tembok langsung ada dua orang yang menangkap kakinya.

Dalam hitungan detik, pikiran A Bin berputar seperti roda, bila dia tidak mau melukai orang ini, bisa hilang kesempatan yang berharga, maka A Bin segera menjulurkan kedua tangan menangkap pundak kedua hweesio itu, menekan dengan tenaga dalam sambil memusatkan tenaga di kedua kaki sambil berteriak, kemudian tubuh A Bin membungkuk ke belakang, dengan kedua kaki yang dipegang hweesio menjejakan kakinya ke dada kedua hweesio itu, pada detik yang genting itu, serangan Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin pun bersamaan datang menyerang kepada A Bin.

A Bin memperkirakan jurusnya cukup cepat, bisa melumpuhkan kedua hweesio yang di bawah dan ada waktu menghadapi serangan dua orang lainnya.

Masalah kembali timbul bila tendangan A Bin tidak mengerahkan tenaga penuh, dia tidak dapat meminjam tubuh orang ini dan mengganti jurus, bila mengerahkan tenaga penuh, kedua hweesio itu akan mendapat cedera atau mati.

A Bin tidak ingin berbuat kejam terhadap hweesio dari biara Siauw-lim.

Karena keragu-raguan A Bin, saat dua hweesio yang di bawah mengeluh kesakitan dan jatuh ke tanah, bersamaan itu pula pukulan Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sudah mendarat di tubuh A Bin, sehingga tubuh A Bin terpukul terpental sampai beberapa tombak jauhnya.

Sebetulnya Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin melihat A Bin tidak mau melukai dua hweesio yang memegang kakinya, saat mereka ingin menghentikan serangannya namun sudah terlambat, mereka hanya bisa menggeserkan arah serangannya sehingga serangan mereka akhirnya mendarat di bagian tubuh A Bin yang tidak mematikan.

Karena tidak ingin melukai orang, akhirnya A Bin tidak bisa memusatkan tenaga dalam untuk menjaga diri, dua pukulan dari kedua guru besar itu membuat jantung A Bin mengalami goncangan hebat, membuat dada A Bin terasa sesak dan darah terasa bergejolak.

Pada saat itu, terdengar dua suara perempuan yang berteriak terkejut, dua bayangan hitam seperti elang datang mendekati A Bin.

Satu suara yang terdengar cemas bertanya.

"Lui-ko, apa kau terluka?"

Ini adalah suara In Hong-tai yang nada suaranya penuh perhatian terhadap A Bin. Satu suara lagi mengecam tindakan Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin dengan berkata.

"Kalian betul-betul mencelakakan dia!"

Itu suara Giok Siau-cian yang juga sama-sama khawatir atas keselamatan A Bin.

Ucapan dari kedua gadis itu membuat kedua orang guru besar dari dua partai besar itu merasa malu.

Bersamaan waktu itu di luar biara terdengar suara musik dari alat bambu yang biasa mengeluarkan suara indah dan merdu, tetapi sekarang berobah menjadi suara yang tidak enak didengar dan menusuk kuping dan jantung, sebab suara musiknya seperti gorila atau setan berteriak-teriak, suara yang terdengar tengah malam ini bukan saja membikin bulu kuduk berdiri, malah membuat orang seperti berada dalam suasana kematian.

A Bin segera memaksakan tubuh berdiri dan berteriak.

"Itu suara Jian-kin-kau yang akan mulai menyerang!"

Dia masih memperhatikan keselamatan semua orang di biara, sehingga segera berlari keluar.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sudah tidak curiga lagi pada A Bin, meski pun tidak mengerti betul apa maksud bantuan A Bin, tetapi yang jelas A Bin bukan dari Jian-kin-kau.

Maka kedua ketua partai besar itu saling berpandangan, bersama-sama mengikuti A Bin menyambut musuh yang datang.

Hong-tai dan Siau-cian lebih percaya pada A Bin, juga lebih mengkhawatirkan keadaan A Bin yang terluka, maka mereka berdua lebih cepat berlari di kiri dan kanan A Bin persis seperti mengawal A Bin.

Mereka meloncat tembok menembus halaman biara, sepanjang jalan hweesio-hweesio disana sudah tidak menghadang lagi, maka dalam waktu singkat, kelima orang itu sudah berada di pintu depan biara Siauw-lim.

Pengurus Siauw-lim Hong Ie Taysu mendampingi Jit Ie dan anak buah sebanyak sepuluh orang yang terpilih menjaga pintu masuk biara.

Hong Ie Taysu melihat kedatangan A Bin diikuti oleh ketua partai, dia memperkirakan A Bin sekarang bukan musuhnya lagi, mula-mula dia merasa terkejut juga, segera menghampiri A Bin, memberi salam dan berkata.

"Tadi aku ceroboh menghadangmu, harap dimaafkan!"

A Bin tidak memperdulikan basa basi Hong Ie Taysu, dia hanya menganggukan kepala, lalu mata A Bin melirik ke hutan di bagian barat.

Di belakang tubuh A Bin, ketua Siauw-lim-pay memberi perintah kepada hweesio penjaga pintu agar lebih waspada.

Bersamaan waktu suara musik yang berupa suara setan itu berhenti, dari bagian barat hutan mendadak keluar sebaris orang-orang yang berbaju merah, kurang lebih dua puluh orangnya, mereka men-dekati pintu biara sekitar lima tombak, lalu mendadak meloncat seperti burung besar dan berpencar menjadi dua bagian membentuk dua barisan.

Berikut satu baris orang berbaju perak juga sekitar dua puluh orang, berpencar menjadi dua baris, berdiri di depan orang-orang baju merah tadi, namun posisi mereka berdiri di tengah antara dua orang baju merah.

Sehingga tampak warna perak dan merah, dan pandangan orang-orang baju merah tidak terhalangi.

Barisan ketiga bagaikan bintang meledak, secara bersamaan meloncat delapan orang baju emas dan berdiri di depan dua puluh orang baju perak.

Semua murid-murid Jian-kin yang berjumlah empat puluh delapan orang, mereka masing-masing memakai kedok muka yang sama warnanya dengan baju mereka, hanya sembilan puluh enam mata berwarna hitam yang terlihat dari kedok muka itu.

Hweesio-hweesio Siauw-lim-sie telah mengalami banyak pertarungan dan banyak menghadapi musuh, menghadapi musuh di depan mata yang memakai baju serba aneh, setelah menaruh sedikit rasa terkejut, berkat latihan yang teratur, maka muka semua hweesio pun dingin seperti patung batu, tidak kelihatan isi hati di mukanya, mereka juga seperti berkedok kulit orang.

Barisan lawan berlanjut terus, empat orang baju hitam yang seperti setan gentayangan melayang-layang sebab kedok mereka sangat menakutkan, A Bin mengetahui mereka adalah pimpinan penting dari Jian-kin-kau, loncatan ke empat orang baju hitam itu membuat posisi seperti telah diatur sedemikian rupa dengan murid-murid yang berbaju tiga warna itu, sehingga menjalin pertahanan yang kokoh dan sulit ditembus.

Dan setelah barisan mereka tersusun, suara musik dari alat bambu mengudara lagi melalui celah-celah pohon, musik kali ini mulai enak didengar, seperti burung berkicau, seperti serangga bernyanyi, hanya bagi orang-orang biara, suara musik itu membuat hati mereka tergoncang, timbul rasa sedih, kosong, jiwa menjadi turun semangat, dan timbul sedikit hasrat untuk menuju kematian........

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin yang begitu tinggi imamnya turut tergoncang sejenak, mereka berpikir musik kali ini lebih mengerikan dari musik permulaan, yang hebat membuat orang yang men-dengarkan timbul perasaan tunduk, dan di kuasai oleh musik gaib itu.

Maka mata mereka berdua melihat orang-orangnya, selain A Bin dan Hong Ie, Jit Ie mempunyai dasar iman yang kuat, semua murid Siauw-lim seperti terpengaruh oleh musik gaib itu, sampai Hong-tai dan Siau-cian pun kelihatan risau.

Kian Ih Taysu segera memusatkan tenaga dalam yang terlatih selama sepuluh tahun, membuka mulut dan bersuara O-mi-to-hud yang keras, bunyi suara guru besar itu menembus langit, gema suara hingga mencapai lembah gunung di sekitar biara, lama tidak berhenti.

Suara O-mi-to-hud yang keras itu menyadarkan pikiran Hong-tai, Siau-cian dan semua murid Siauw-lim-sie yang terlena.

Mata mereka langsung mengawasi lagi barisan Jiankin-kau.

Setelah musik tadi berhenti, keluar seorang wanita berbaju putih dari pepohonan, melihat dia berjalan begitu gemulai, pelan-pelan tapi cepat, mukanya ditutupi oleh kain putih, tetapi sikapnya mempunyai kewibawaan yang membuat orang takut, bila bukan empat baris orang yang berbaju merah perak, emas dan hitam yang mendampingi perempuan ini, orang tidak percaya bahwa dia seorang pemimpin dari semua laki-laki yang berbaris itu.

Gerak-gerik dia yang begitu manis, tiap langkah yang penuh puitis, orang tidak akan menyangka dia adalah pemimpin aliran yang kejam.

Begitu wanita berbaju putih itu menampakan diri, hweesio-hweesio yang berdiri di belakang guru besar Hong Ie dan Jit Ie jadi tertegun, muka dua guru besar itu pun tampak berbeda, hanya ketua partai Siauw-lim dan Bu-tong tidak tergoda oleh kecantikan wanita itu.

Karena pembawaan sifat wanita, Hong-tai dan Siau-cian pun melototi wanita berbaju putih itu, seperti ingin menembus kain putih yang menutupi muka wanita itu, ingin melihat jelas muka asli wanita itu.

Untuk ketiga kalinya A Bin bertemu dengan wanita ini, melihat kedatangan yang begitu menawan, hati A Bin pun sedikit tergugah, langkah kaki A Bin tidak terasa maju sekitar lima langkah baru berhenti.

Dari tutup mukanya yang putih, wanita itu melihat A Bin dengan mata yang dingin.

"Kenapa tidak menuruti anjuranku, cepat tinggalkan tempat ini, apakah kau ingin mendampingi hweesiohweesio disini ikut mati!"

Wanita ini berkata dengan sombong di hadapan jagojago inti dari biara Siauw-lim, membuat guru besar Hong Ie, Jit Ie dan murid-murid Siauw-lim-sie marah, hanya Kian Ih yang tetap tenang.

Dari mulut wanita berbaju putih itu, Hong-tai dan Siaucian mengetahui bahwa A Bin dan wanita itu sudah saling kenal, rasa cemburu membuat mereka bersamaan melangkah maju dan bertanya pada wanita itu.

"Kau siapa?" Wanita berbaju putih itu tidak menjawab, tatapan matanya melintas di muka Hong-tai dan Siau-cian, berkata dengan menyindir.

"Siapa aku? Apa perlunya bertanya begitu?"

Jawaban itu sangat indah sekali, Hong-tai dan Siau-cian di bikin tercengang, tidak bisa bertanya lagi, wanita berbaju putih itu sambil tertawa mencemoohkan A Bin dengan kata.

"Kukira kau tidak memperdulikan nasihatku, ternyata kau tidak tega meninggalkan beban ikatan! Hei! Hei! Hei! Kau rela mati, jangan menyesal!"

Biar pun wanita itu tertawa sinis, tetapi seperti logam emas atau perak jatuh ke tanah, membuat suasana tegang itu diliputi kekuasaan iblis.

A Bin memusatkan tenaga dalam, menenangkan hati yang goncang dan merobah nada perkataannya yang mendesak.

"Apakah kau telah merencanakan sesuatu yang akan memusnahkan semua orang di biara Siauw-lim?"

Wanita berbaju putih itu tanpa ragu ragu menghampiri A Bin, sambil tertawa sedikit berkata.

"Kenapa? Buat apa kau tanya lagi? Apakah kau ingin minta ampun padaku demi mereka?"

Biar pun wanita itu berkata dua kalimat, nada suara begitu menawan begitu menggoda, hati semua orang dilapangan jadi tergoncang, kata-kata wanita itu seperti bukan terhadap A Bin malah seperti ditujukan pada mereka!

A Bin dengan teguh berkata.

"Aku tidak mungkin minta ampun padamu.

Aku hanya tidak percaya, sampai dimana kemampuanmu?"

Wanita berbaju putih itu sama sekali tidak tersinggung malah sambil tertawa berkata.

"Kau tidak percaya? Baiklah! Aku akan membiarkan kau hidup sendiri, agar kau melihat dengan jelas, apakah aku betul bermulut besar!"

Ketua Siauw-lim tetap diam selama wanita berbaju putih itu menampakan diri, dia hanya memperhatikan dengan diam-diam, seperti ingin mengetahui asal usul wanita itu, dan setelah tiba waktu dia untuk bertanya pada wanita itu, maka dia berucap sekali kata "O-mi-to-hud"

Wanita berbaju putih itu melirik pada Kian Ih Taysu, bertanya.

"Kelihatannya kau adalah Kian Ih Taysu dari biara Siauw-lim!"

Dengan muka hormat, Kian Ih Taysu menjawab.

"Betul, apa sicu ketua Jian-kin-kau?"

"Betul!"

Jawab tersenyum. wanita berbaju putih itu sambil "Nona membawa banyak orang kemari, ada urusan apa?"

Tanya Kian Ih Taysu. Wanita berbaju putih itu berobah nada bicaranya, setelah tertawa sinis berkata.

"Kalian yang menamakan diri dari partai putih suka munafik, kedatanganku kemari masa tidak mengerti, dan apa perlunya bertanya lagi!"

Ditertawakan wanita itu, Kian Ih Taysu tidak marah, dia menjawab lagi. "Aku agak bodoh, tidak mengerti maksud kedatangan sicu?"

Wanita berbaju putih itu dengan tertawa sinis berkata lagi.

"Kau pura-pura bodoh, aku tidak punya waktu beradu mulut! Aku tegaskan, aku akan membawa semua murid Siauw-lim dan semua tamu di biara ini untuk bergabung dengan Jian-kin-kau!"

Kian Ih Taysu masih dengan sabar bertanya.

"Kau menganggap pekerjaan ini sangat mudah, apakah kata-katamu tadi mempunyai kekuatan sangat hebat!"

"Aku tahu kalian tidak tahu diri, aku tadi berkata hanya ingin memberi peringatan sebelum menghukum...."

Soat-song Cinjin yang dari tadi tidak bicara, tidak bisa menahan ejekannya, dia maju selangkah dan berkata dengan suara keras.

"Kau menganggap semua orang dari partai partai tidak berguna?"

Wanita berbaju putih itu melihat Soat-song Cinjin yang bertanya dengan dingin, katanya.

"Kau pasti ketua partai Bu-tong?".

"Betul! Aku adalah Soat-song!"

"Kata orang-orang sangat tepat! Kalian persis seperti patung-patung kayu atau tanah di dalam biara Bu-tong, hanya bisa menakuti orang dengan nama kosong, bila malam ini kalian menentang kemauanku, mungkin akan mati dalam biara Siauw-lim ini!"

Soat-song Cinjin dengan marah berkata.

"Kau berani meremehkan......" Perkataan Soat-song Cinjin belum habis di keluarkan, seseorang menerobos dari belakangnya menyerang perempuan itu, ternyata dia adalah Hong-tai. Hong-tai dan Siau-cian sudah tidak senang melihat A Bin berbicara dengan wanita ini, menyaksikan tingkah laku wanita yang menggoda dan meremehkan jago-jago di biara Siauw-lim, Hong-tai marah sekali, dengan gerakan cepat dia menggunakan pedang menyerang wanita itu. Tapi Wanita berbaju putih itu tidak bergerak di tempatnya, seorang berbaju emas meloncat menghadang Hong-tai dengan tongkatnya sambil berteriak.

"Gadis bodoh, kau berani menghina ketua kami!"

Orang yang menggunakan tongkat sepanjang enam kaki itu mengayunkan tongkatnya dengan tenaga menakutkan sehingga menimbulkan suara yang dahsyat.

Menghadapi ayunan tongkat yang dahsyat itu, Hong-tai sama sekali tidak mengacuhkan tongkat itu, malah menggetarkan pedang menusuk musuh.

Terlihat sinar putih dari pedang Hong-tai mendekati tongkat musuh dan beradu tanpa mengeluarkan suara, kaki Hong-tai tetap di tempat, namun langkah kaki orang baju emas itu bergerak dan perputar setengah langkah baru berhenti.

Wanita berbaju putih itu berkata dengan dingin.

"Kau bukan lawannya, cepat mundur, ganti orang yang lebih mampu!"

Ternyata Hong-tai menggunakan jurus pedang yang paling tinggi tarafnya, dia memanfaatkan tenaga lawan untuk memukul balik lawannya dengan sontekan pedang yang ringan, sehingga tongkat orang baju emas itu tidak terkendali dan orang yang memegang tongkat ikut berputar, jurus ini bukan mengadu tenaga dalam tetapi fakta mengatakan bahwa ilmu silat Hong-tai jauh lebih tinggi dari orang baju emas itu, maka dia diperintahkan untuk mundur.

Segera seorang baju hitam yang memegang pedang kail maju ke depan, tangan kirinya menunjuk Hong-tai dan berkata.

"Kau, ayo maju lagi!"

Hong-tai mengangkat tangan kanan, pedang awannya dengan pelan-pelan menusuk dada lawannya.

Orang baju hitam itu melancarkan jurus Wan-te-hoan-im (Di dalam tangan membalikan awan), pedang kail yang di pegangnya menyodok pedang Hong-tai dari bawah.

Tapi Hong-tai yang mengarahkan pedang ke depan mendadak diturunkan ke bawah, dan jurus yang pelan berobah menjadi sangat cepat seperti kilatan listrik, memotong tangan kanan orang baju hitam.

Perubahan jurus pedangnya, dalam menghindar dan menyerang seperti bersama-sama, betul-betul tidak mengecewakan jurus pedang keluarga In.

Orang baju hitam itu menggoyangkan pundak dan segera mundur tiga kaki.

Gerakan orang baju hitam itu ternyata kalah cepat dari jurus pedang Hong-tai, kilatan pedang Hong-tai telah merobek lengan baju kanannya dan darah pun bertetesan ke tanah.

Wanita berbaju putih itu berkata dengan dingin.

"Lukamu sangat ringan, tidak perlu gugup, sabarlah menghadapi dia, kau masih bisa melawannya!" Orang berbaju hitam itu mencoba menyalurkan tenaga dalamnya, ternyata tenaga dalamnya masih bisa diarahkan mengalir ke jari tangan yang memegang pedang, hatinya tahu dia tidak terluka di urat dan tulang, maka dengan pantang mundur, dia mengangkat pedang dengan jurus Seekau-yang-koan (Menahan di barat membuka pintu lintasan) bayangan pedang kailnya menusuk Hong-tai lagi. Jurus yang digunakan orang berbaju hitam itu merupakan jurus yang hampir punah dari jurus pedang Liang-gi (sepasang) yang berasal dari partai Bu-tong, keluarga In ada hubungan sejarah dengan partai Bu-tong, In Hong-tai pun menguasai ilmu pedang Bu-tong, maka dia bisa mengatasi jurus itu, tapi dia rada tercengang oleh anggota Jian-kin-kau yang bisa menggunakan jurus pedang Bu-tong dengan sempurna, sehingga karena tercengang Hong-tai kewalahan menangkis pedang musuhnya, terpaksa dia menghindar ke samping dua langkah. Kian Ih Taysu, Hun San-kiau, Hong Ie, Jit Ie dan A Bin semua terperanjat, mata mereka ditujukan pada Soat-song Cinjin, seperti ingin menanyakan siapa orang berbaju hitam itu? Soat-song Cinjin pun terkejut dan bingung, ketika orang baju hitam itu menggunakan jurus See-kau-yang-hoan, dia sudah memastikan orang itu dari aliran Bu-tong, tetapi tidak bisa membayangkan siapa di dalam partai Bu-tong yang mempunyai ilmu tinggi dan bisa muncul dari barisan Jian-kin-kau. Orang baju hitam melihat Hong-tai bisa menghindar, lalu dengan pedang kailnya dia memotong dari samping, kilatan pedang dengan jurus Tiang-hong-see-sie (Pelangi panjang turun ke barat) memotong tubuh Hong-tai. Jurus ini merupakan jurus wasiat yang tidak diturunkan pada sembarang orang, jurus ini khusus menggunakan kecepatan hingga jago kelas satu pun susah menghindar, jurus ini membuat Soat-song Cinjin semakin terkejut. Hong-tai yang kehilangan kesempatan, tidak bisa membalas serangan, sebagai anak tersayang dari raja pedang In Tiang-long, dia telah menguasai seluruh ilmu pedang orang tua itu, dia mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi, serangan orang baju hitam sebanyak dua kali ini, membuat dia tidak berani menganggap enteng musuhnya, dia tidak membiarkan musuhnya melancarkan jurus ketiga, segera mengayunkan pedang seperti roda berputar, tiga jurus berturut-turut menyerang ke tiga tempat orang baju hitam, membuat orang itu terpaksa membela diri dengan pedangnya. Sekarang giliran orang baju hitam tidak bisa membalas, dan terperangkap dalam situasi yang membahayakan, jurus pedang Hong-tai yang tidak memberi ampun, tiap jurus mengeluarkan kelebatan sinar pedang, membuat dia hilang kesempatan membalas serangan. Dua orang baju hitam yang berdiri di belakang wanita berbaju putih, melihat temannya dalam bahaya, bersamaan berjalan pelan-pelan ke depan, mereka ingin cari kesempatan untuk menggantikan temannya. Karena jurus Hong-tai tidak berhenti seperti sungai panjang, dan angin serangan pedangnya mendesak orangorang yang berusaha mendekati, maka mereka tidak mendapat kesempatan untuk membantu temannya. Orang baju hitam yang terdesak itu mendadak berteriak dengan keras, dengan jurus yang dinamakan Soan-coancian-kin (Bumi berputar), salah satu jurus ampuh dari Bu- tong lagi, segera menciptakan titik-titik bintang bertebaran sehingga membuat Hong-tai «terdesak mundur. Tapi hanya sebentar, pedang Hong-tai dengan jurus Thian-hong-ca-kie (Langit dan angin mendadak keluar) sudah kembali menyerang dari sisi kiri, memotong tangan kanan musuh, dan memaksa musuh-nya mundur selangkah. Terdengar suara O-mi-to-hud dari belakang Hong-tai, diikuti suara Soat-song Cinjin yang terdengar nyaring, katanya.

"Harap nona In berhenti dulu, aku ingin berkenalan dengan teman yang mahir menggunakan jurus dari partai Bu-tong!"

Mendengar permintaan Soat-song Cinjin, Hong-tai segera menghentikan pertarungannya, dia sendiri pun ingin mendapatkan keterangan tersebut.

Soat-song Cinjin mendekati orang baju hitam itu dan mengawasi kedok mukanya yang penuh kemunafikan, sepertinya ingin mengenal muka asli orang itu, dan dengan suara tegas bertanya.

"Saudara bisa menggunakan jurus pedang Bu-tong demikian hebat, pasti orang perguruan kami, bisakah sebutkan nama perguruanmu, bila saudara Suhengku, aku akan memberi salam hormat, sehingga aku tidak sampai berbuat tidak tahu aturan."

Setelah Soat-song Cinjin menyebut orang yang dari Jiankin-kau itu sebagai saudara seperguruan, semua orang baru meneliti orang itu, ternyata ikat kepala orang itu lebih besar dari orang yang berbaju hitam lainnya, jadi orang itu punya ikat kepala tosu persis seperti yang dimiliki Soat-song Cinjin, maka Soat-song Cinjin bisa langsung mengatakan demikian.

Ternyata, Soat-song Cinjin bukan saja melihat orang itu adalah orang dari perguruan yang sama, dan di lihat dari tingkat ilmu orang itu, selain seangkatan dengan Soat-song Cinjin, atau Ku-cu Tojin adik perguruannya, berapa lagi orang yang mampu, hanya angkatan lebih tinggi atau yang kedudukan tinggi di partai Bu-tong baru bisa menguasai ilmu tersebut.

Tetapi Ku-cu Cinjin terluka da sedang berbaring di dalam biara Siauw-lim, dua adik perguruan lain menjaga biara Bu-tong, jadi tidak mungkin menjadi antek musuh.

Karena tidak bisa membayangkan siapa lagi yang diperankan oleh orang Jian-kin-kau itu, maka Soatsong Cinjin bertanya pada orang berbaju hitam itu.

Ternyata orang itu hanya mengeluarkan suara dari hidung dan tidak menjawab sepatah kata pun.

Soat-song Cinjin dengan ketawa dingin berkata.

"Teman perguruan bila tidak mau bicara, berarti tidak mengakui partai kita, harap maafkan aku bila menantangmu!"

Dari belakang orang berbaju hitam itu terdengar satu suara nyaring dan dingin, katanya.

"Tunggu sebentar!"

Suara itu tidak keras, tetapi seperti air perak masuk kedalam telinga orang, jelas sekali, menggetarkan jantung.

Suara itu keluar dari ketua aliran Jian-kin-kau, dengan langkah kaki pelan-pelan menghampiri Soat-song Cinjin, gerak jalannya yang gemulai dan pinggang bergoyang dengan manis sekali membuat satu daya tarik yang menggoda iman orang.

Orang yang berbaju hitam itu melangkah ke pinggir.

Wanita berbaju putih itu melirik muka Soat-song Cinjin, melalui kain penutup muka, dengan nada sindiran bertanya.

"Kau ingin tahu dia siapa? Kenapa?"

Soat-song Cinjin dengan tegas berkata.

"Betul! Aku ingin tahu apakah dia orang dari perguruan kami atau bukan, dan setelah jelas, aku akan mewakili kakek guru menghukum murid yang melanggar aturan partai, penghianat yang tidak mau menerangkan identitas sebenarnya!"

Wanita berbaju putih itu dengan ketawa sinis berkata.

"Rahib tua! Pikiranmu bagus, apakah kau tahu, umur kalian tinggal berapa menit lagi, kau sendiri pun segera mati, mana ada waktu lagi mengurusi hal itu?"

Soat-song Cinjin dengan muka dingin berseru.

"Gertakan, mana bisa menghalangi aku bertindak!"

"Kau anggap aku omong kosong, lihat saja."

Sambil mengangkat sebelah tangannya yang munggil keatas, segera orang orang aliran Jian-kin-kau maju ke depan.

Orang berbaju hitam yang menggunakan pedang kail maju pertama, dengan jurus Liong-hui-cai-thian (Naga terbang di langit) pedang orang ini sangat mahir di tambah tenaga dalam yang kuat, dan jurus paling dahsyat dari Butong yang digunakan membuat serangan yang hebat.

Soat-song Cinjin dengan jurus Heng-kang-cie-thouw (Memotong datar kepala perampok), memotong pedang lawan dari samping menutup serangan orang berbaju hitam.

Tetapi dari samping tubuhnya sebuah pukulan yang keras menyerang, Soat-song Cinjin terpaksa mundur tiga langkah, segera menggunakan jurus Thian-ho-to-kua (Langit dan sungai menggantung terbalik) melancarkan tujuh perubahan dalam satu gerakan, menutup serangan dua musuh.

Yang menyerang dengan kepalan dari samping ternyata adalah orang yang dipanggil Pau-it yang melawan A Bin tadi.

Setelah menyerang Soat-song Cinjin, Pau-it segera merubah arah, mendadak menyerang Hong Ie Taysu dengan kepalannya.

Hong Ie Taysu berucap O-mi-to-hud satu kali, dia menerima pukulan Pau-it dengan telapak tangan, kedua tenaga itu bentrok seperti menimbulkan angin puyuh, membawa hawa udara yang dingin, berkekuatan seperti bisa merobohkan gunung menimbun lautan, dua kekuatan itu mempunyai kekuatan seimbang.

A Bin pun mengeluarkan sebuah pukulan telapak tangan, menahan seorang berbaju hitam yang menyerang, orang itu mendadak menggunakan gerakan dari aliran tanah barat (See-yu) yang dinamakan Coan-hong-tun-seng (Angin berputar menghapus bayangan) tubuh berputar beberapa kali, orang itu tetap mendesak maju, menghindar pukulan A Bin, langsung menyerang Kian Ih Taysu.

Suara musik yang mengganggu kuping itu terdengar lagi, maka orang orang dari aliran Jian-kin-kau, yang berbaju hitam, emas, perak, merah bersamaan ingin menerobos masuk ke biara.

Dalam detik yang menegangkan itu A Bin berpikir dalam hati.

"Tampaknya aliran Jian-kin-kau telah siap menyerbu, wanita berbaju putih itu pun beberapa kali mengancam, kemungkinan mereka menyerang tidak dari satu arah, pintu kecil biara ini begitu genting, dan jago-jago di dalam biara, seperti Cukat Hiang, Hun San-kiau, Shangguan Leng, Gan Cu-kan, Wie Tiong-hoo tidak datang membantu, berarti orang-orang Jian-kin-kau menyerang dari segala arah, bila kita terjebak disini bagaimana bisa saling bantu."

Setelah Kian Ih Taysu melancarkan sebuah pukulan menahan pukulan orang berbaju hitam itu, dia berteriak kepada orang-orang sendiri.

"Teman-teman, semua orang masuk ke dalam biara, barisan Lo-han segera akan tergerak, kalian berdiri di tempat yang telah ditunjuk oleh aku, pasti akan mendapatkan hasil yang lebih sempurna, dan bisa saling bantu, tidak terkena perangkap akal musuh yang memecah belah kekuatan kita."

Semua orang melihat rombongan aliran Jian-kin-kau begitu beringas mereka tidak dapat dilawan dengan tenaga sedikit orang, setelah mendengarkan kata Kian Ih Taysu maka semua orang mencari kesempatan untuk mundur ke dalam biara.

Sambil berteriak satu kali, A Bin pun menggunakan kedua telapak tangan mengeluarkan angin yang keras, menahan gerak maju orang orang Jian-kin-kau, bersama Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin menjaga paling belakang, pelan-pelan mundur ke-belakang, Hong-tai dan Siau-cian pun ikut mundur.

Wanita berbaju putih itu mendadak mengangkat tangannya ke atas, dan sangat aneh, gerakan tangan dia begitu dilihat oleh orang-orang Jian-kin-kau, mereka segera menghentikan serangannya, membiarkan orang orang biara Siauw-lim leluasa mundur ke dalam biara.

Melihat gerakan itu, A Bin mengerutkan bulu alis mata, berpikir.

"Wanita berbaju putih itu tidak menyerang terus di luar biara, malah sengaja agar kita masuk ke biara, kelihatan mereka ada rencana sesuatu yang telah diatur dalam biara." Kecurigaan A Bin tersebut langsung disampaikan pada kuping pribadi Kian Ih Taysu dengan ilmu mengirimkan suara jarak jauh.

"Tay-suhu harap perhatikan, orang-orang aliran Jian-kinkau seperti mendesak kita masuk ke dalam biara, mungkin ada rencana tertentu, bila kita semua orang masuk ke dalam, agar kita masuk perangkap mereka. Pendapat aku, agar kekuatan kita di sebar di luar dan di dalam biara, mereka pasti akan ragu ragu melaksanakan gerakan itu!"

Kian Ih Taysu pun punya kecurigaan itu, setelah dipertegas oleh A Bin, seperti mendapat hikmah, maka langsung memberi pesan rahasia pada Jit Ie Taysu yang berdiri disamping, agar dia memimpin semua rahib dalam biara untuk membentuk barisan Lo-han, dan dengan ilmu mengirim suara jarak jauh memberi tahu Soat-song Cinjin dan Hun San-kiao untuk berhenti di tempatnya.

Melihat semua orang berhenti langkah mundur, Hong-tai dan Siau-cian, juga sepuluh murid Siauw-lim turut berhenti, tujuh jagoan silat, Kin Ih, Hong Ie Taysu dari Siauw-lim, Soat-song Cinjin dari Bu-tong, Hun San-kiau dari Kun-lunpai, Hong-tai, Siau-cian dan A Bin persis berdiri di bawah pelang nama Siauw-lim yang warna emas.

Wanita berbaju putih itu melihat pihak lawan berhenti, merasa terkejut dan diluar dugaan, segera dengan ketawa dingin berkata.

""Kenapa? Kalian mendadak tidak takut mati lagi!"

Pihak Siauw-lim dari jago tua dan anak muda berdiri sejajar agak setengah melingkar, muka mereka nampak serius menghadap bahaya, empat belas mata menatap barisan musuh.

Wanita berbaju putih itu ketawa terbahak-bahak dengan nada panjang, suara ketawa itu menembus awan, bergema di seluruh biara Siauw-lim, lama baru berhenti.

Sejenak setelah habis ketawa, wanita berbaju putih itu melambaikan tangan munggil, menunjuk seorang berbaju hitam maju ke depan, sambil berteriak pada Kian Ih Taysu.

"Hweesio tua, kalian tujuh orang ingin cepat mati di bawah pintu Siauw-lim saja bereskan, sekarang siapa yang duluan maju menerima hukuman mati!"

Hong Ie Taysu menyaksikan jago-jago dari luar Siauwlim yang membela Siauw-lim, dia jadi merasa agak sungkan, tanpa menunggu perintah ketua Siauw-lim, segera maju ke depan sambil berkata O-mi-to-hud sekali, dan bicara pada wanita itu.

"Aku adalah pengurus biara Hong Ie Taysu..."

Orang berbaju hitam dari aliran Jian-kin-kau menjawab.

"Kau Hong Ie Taysu atau Pek Ih, terima dulu tiga jurus pedangku!"

Begitu habis bicara dia langsung menusuk lawan dengan jurus Kong-piau-see-lai (Angin ribut dari barat datang).

Hong Ie Taysu menjadi marah oleh tingkah kurang ajar musuhnya, dengan jurus Heng-kan-cie-thouw dia menutup serangan pedang lawan.

Orang berbaju hitam itu tidak memberi kesempatan buat Hong Ie Taysu untuk membalas, pedang di tangan di ayunkan ke kiri dan ditusukan ke kanan, melancarkan serangan dua jurus berturut-turut, sinar pedang yang menciptakan bunga pedang menghantam Hong Ie Taysu.

Hong Ie Taysu tertawa sinis, tongkat besinya melindungi tubuh dengan jurus Ie-ta-pa-kau (Hujan menghantam sejenis pisang), membuat bayangan tongkat dan pedang bentrok sehingga mengeluarkan suara ting...

tung...

ting...

tung...

serangan pedang orang berbaju hitam jadi terbuka lebar, Hong Ie Taysu sambil berucap O-mi-to-hud, tongkat besi yang di pegang diangkat ke atas dengan jurus Cia-sancau-hai (Mengapit gunung melewati lautan.) Jurus Hong Ie Taysu yang dilancarkan begitu keras, membuat orang berbaju hitam yang sadis itu pun tidak berani menerima pukulan itu, dia segera melangkah mundur sekitar lima kaki.

Ketua Bu-tong Soat-song Cinjin, adalah ahli ilmu pedang yang mahir, melihat orang berbaju hitam itu melawan Hong Ie Taysu dengan pedang, berarti sudah tiga orang dari aliran Jian-kin-kau yang menggunakan pedang, dan orang ini yang paling lemah dalam ilmu pedang, kenapa wanita berbaju putih itu malah menyuruh dia menantang pertama, kelihatan agak ganjil.

Hong Ie Taysu dan orang berbaju hitam itu sedang beradu jurus, angin dari tongkat seperti angin puyuh, sinar pedang bagaikan layar.

Saat pertama kali orang berbaju hitam itu menyerang, jurus pedang sangat variasi dan bertenaga, tetapi sekarang serangannya malah menjadi kendur.

Sebaliknya Hong Ie Taysu semakin lama semakin gagah, pukulan tongkat besinya semakin keras, sinar pedang lawan ditekan semakin lemah dan kecil.

Mendadak terdengar suara teriakan, orang berbaju hitam itu berbalik menyerang, menerobos bayangan tongkat Hong Ie Taysu yang berlapis, lalu meloncat mundur sekitar satu tombak.

Hong Ie Taysu tidak mengejar musuhnya, dia berhenti dan berucap O-mi-to-hud!

Terdengar ketawa keras dari orang berbaju hitam itu dan katanya.

"Hweesio tua, kau jangan gembira dulu, cobalah hadapi senjata rahasiaku, bagaimana berani tidak?"

Dan tanpa menunggu jawaban lagi segera mengayunkan lengan kiri, satu gulungan sinar mas menuju Hong Ie Taysu.

Hong Ie Taysu melihat benda itu, seperti bentuk sekoci, dia ingin menghindar ke pinggir, tetapi melihat di belakang tubuh berdiri enam orang, khawatir mereka tidak memperhatikan dan terluka, maka dia mengangkat tongkat keatas memukul senjata rahasia itu.

Pukulan Hong Ie Taysu persis memukul sekoci emas itu, terdengar suara logam beradu, sekoci emas itu pecah dan menumpahkan api berwarna biru menuju muka Hong Ie Taysu.

Berhasil memukul sekoci emas musuh, Hong Ie Taysu tidak keburu menghindar api berwarna biru itu dan mengenai baju bagian dada Hong Ie Taysu.

Terkena percikan api, Hong Ie Taysu tetap tenang, meloncat ke belakang sekitar tiga kaki, dengan telapak tangan ingin memadamkan api di dada.

Ternyata begitu tangan Hong Ie Taysu beradu dengan api warna biru itu api malah merembet ke lengan baju.

Dalam hitungan detik, seluruh tubuh Hong Ie Taysu terbakar oleh api berwarna biru, membuat muka Hong Ie Taysu berwarna biru juga.

Karena tidak berhasil memadamkan api ditubuh-nya, Hong Ie Taysu menjadi gugup, dengan muka sedih dan marah, berteriak sekali, dan mengejar orang berbaju hitam itu.

Angin malam meniup baju Hong Ie Taysu yang terbakar, seperti tubuh dia satu ekor burung turun dari udara.

Orang berbaju hitam itu sedang merasa senang karena berhasil melukai Hong Ie Taysu, mendadak mendapat serangan dari udara oleh Hong Ie Taysu yang penuh bara api di seluruh tubuh, dia menjadi takut sekali, dia tahu orang yang hampir putus asa susah dilayani, maka dia tidak berani menerima serangan itu, meloncat ke pinggir untuk menghindar.

Terdengar suara Hong Ie Taysu dengan suara marah berteriak.

"Tidak boleh memberi ampun pada orang yang menggunakan senjata rahasia yang kejam."

Suara Hong Ie Taysu terdengar sangat memilukan seperti gong pagi di biara tua.

Pukulan Hong Ie Taysu bersamaan dengan putaran tubuhnya di udara, tongkat besi yang di pegang langsung memukul kepala musuh.

Orang berbaju hitam itu menjadi panik, dia tidak berani menerima pukulan itu, dia meloncat lagi ke pinggir sejauh delapan kaki dengan tenaga penuh.

Hong Ie Taysu dengan suara hidung berbunyi satu kali, pukulan tongkat besi itu memukul tanah, tubuh dia terbang ke atas lagi dan mengejar sasarannya.

Loncatan Hong Ie Taysu yang tidak mendarat di tanah sebanyak tiga kali naik turun memperlihatkan ilmu ringan tubuh dia yang begitu tinggi.

Orang berbaju hitam itu berhasil menghindar dua kali, tetapi tidak bisa menghindar untuk ketiga kalinya, dia menghela nafas sekali, pikirnya dalam hati habislah nyawaku hari ini, dia mengacungkan pedang ke atas, siap untuk terakhir kali menerima pukulan tongkat besi Hong Ie Taysu......

Terdengar teriakan keras di udara, satu bayangan orang keluar dari pinggir, di udara menerima pukulan tongkat besi Hong Ie Taysu dengan senjata tembaganya.

Satu suara benturan logam terdengar, kedua orang yang berduel di udara jatuh ketanah.

Hong Ie Taysu menahan derita karena luka bakar di seluruh tubuh, bersiap mati memecahkan kepala sendiri setelah berhasil membunuh orang yang melukai dia dengan senjata rahasia kejam, namun teman musuh yang menerima pukulan tongkat besi dia dengan senjata tembaga itu membuyarkan harapan Hong Ie Taysu.

Menahan derita bakar membuat jubah abu-abu Hong Ie Taysu hampir terbakar separuh, dengan menggerakan kedua lengan Hong Ie Taysu menjatuhkan potongan kain terbakar di tubuhnya jatuh ke tanah berkeping keping.

Hong Ie Taysu berhasil membuang sebagian baju yang terbakar, namun bara api di tubuhnya belum padam, ternyata api racun itu sangat kuat, sehingga membakar benda yang dilalui tanpa henti.

Terdengar satu ucapan O-mi-to-hud, Kian Ih Taysu bagaikan seekor burung terbang dengan cepat menghampiri Hong Ie Taysu, dan dengan satu telapak tangan menahan pukulan senjata tembaga dari musuh yang menyerang Hong Ie Taysu, satu telapak tangan lagi mengeluarkan udara kencang mematikan bara api racun di tubuh Hong Ie Taysu, sambil berteriak.

"Sute cepat mundur, segera minum pil anti racun, racun yang masuk ke dalam tubuh mungkin susah di buang." Ketua Siauw-lim itu melihat adik perguruan terluka oleh musuh dan pil anti racun Siauw-lim juga tidak bisa menolong banyak, sehingga membuat suara dia penuh kesedihan! Hong Ie Taysu tanpa banyak bicara, membalikkan tubuh ingin kembali ke dalam biara, A Bin segera menghampiri dia sambil menyerahkan pusaka anti racun Hiat-san-pengcan sambil berkata.

"Guru, kau pakai Hiat-san-peng-can ini, benda ini khusus menghilangkan segala macam racun."

Mendengar nama Hiat-san-peng-can, membuat Kian Ih Taysu gembira, sambil berucap O-mi-to-hud dia berkata.

"Sute, kau cepat gosokan benda itu di seluruh tubuh, racun itu akan hilang!"

Hong Ie Taysu menerima Hiat-san-peng-can dan terima kasih pada A Bin segera berlari ke dalam biara.

Di pihak aliran Jian-kin-kau, ketua aliran wanita berbaju putih itu agak marah mengetahui A Bin mengeluarkan benda Hiat-san-peng-can untuk menolong Hong Ie Taysu yang hampir mati, maka dia memberi perintah pada orang berbaju hitam yang menggunakan senjata tembaganya untuk menyerang A Bin.

Orang itu segera mengayunkan senjata menimbulkan lebih dari sepuluh titik sinar kuning kemerahan menyerang seluruh tubuh A Bin.

Bersamaan itu, semua orang-orang aliran Jian-kin-kau, orang-orang berbaju hitam, emas, perak dan merah menyerbu ke pintu gerbang Siauw-lim-sie secara berurutan, pelopor mereka tentu saja orang berbaju hitam yang paling kuat.

Depan pintu gerbang Siauw-lim-sie, jago-jago Siauw-limsie sudah bersiap melawan, ditambah Hoa-san Sin-ni, ketua baru partai Heng-san Coan Tai-kwi, Shangguan Leng dari sungai Hoai, Tee Wie dari partai Go-bi dan lain lain, arena pertarungan terlihat agak kacau.

Terdengar suara dari wanita berbaju putih berkata.

"Berhenti!"

Semua orang-orang aliran Jian-kin-kau segera bernanti mendengar perintah ketuanya.

Dengan langkah indah gemulai wanita berbaju putih itu melewati semua anggota Jian-kin-kau dan berhadapan muka dengan jago-jago dari pihak Siauw-lim-sie, berkata dengan dingin.

"Kalian sudah melihat, apa bisa mempertahankan pintu melawan anggotaku yang begitu banyak. Sekarang aku tidak mau dikatakan mengandalkan banyak orang, hanya aku sendiri yang akan menyerang, siapa diantara kalian yang bisa menghalangi aku!"

Sambil bicara, wanita berbaju putih itu betul-betul berjalan sendiri menghampiri jago-jago pihak Siauw-lim-sie, matanya sama sekali tidak memandang muka mereka, tingkahnya sangat sombong.

Tee Wie yang punya julukan telapak tangan hebat dari partai Go-bi sebagai seorang anak muda, tidak terima melihat kesombongan ketua aliran Jian-kin-kau itu, dia pertama keluar menantang wanita berbaju putih dengan tusukan pedang dengan jurus Hong-eng-toan-cau (Menjemput angin memotong rumput), dia ingin memotong lengan lawannya.

Wanita berbaju putih itu sengaja memancing orang dari pihak Siauw-lim-sie untuk keluar, maka begitu serangan Tee Wie datang, dia langsung meng-hindar ke belakang dua langkah, berteriak sejenak, dengan satu telunjuk tangan yang munggil menotok tangan Tee Wie.

Satu tekanan angin dari telunjuk tangan wanita berbaju putih itu menyerang tubuh Tee Wie seperti pedang tajam.

Tee Wie tidak bisa menghindar, dia terpaksa memusatkan tenaga dalamnya ke bahu kiri sambil berputar tubuh, ingin menggunakan bahu kiri menerima totokan jari lawan.

Beruntung buat Tee Wie karena menggunakan bahu kiri menerima totokan ketua aliran Jian-kin-kau itu sehingga dia selamat dari maut.

Tetapi ketika bahu kirinya terkena serangan lawannya, seperti kena benturan benda yang berat sekali, darah terasa naik ke bagian atas tubuh, tulang bahunya seperti hancur, saking sakitnya membuat dia berjalan sempoyongan, mundur sejauh lima langkah, tenaga di tubuhnya terasa hilang semua, dia jatuh di tanah dengan muka menghadap ke langit.

Hanya dengan satu telunjuk tangan, ketua aliran Jiankin-kau sudah membuat Tee Wie terluka berat.

Muka semua jagoan dari seluruh partai besar jadi berobah, sebagian orang yang sudah tua mengenali jurus wanita berbaju putih itu adalah Hui-thian-it-ci (Telunjuk sakti menunjuk langit) ilmu yang berasal dari seorang kakek ajaib It-ci-sin-sou (Kakek telunjuk sakti) yang sudah ternama seratus tahun lalu.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud, sambil menggoyangkan jubahnya, tubuh dia seperti seekor kepinis menggunting air bergerak menuju ke depan, bersamaan itu Soat-song Cinjin dari Bu-tong, Hun San-kiau dari Kun-lunpai, Coan Tai-kwi dari Heng-san, Shangguan Leng dari sungai Hoai meloncat ke depan juga, suasana lapangan menjadi kacau.

Wanita berbaju putih itu berteriak lagi.

"Berhenti!"

Pada anak buah, maka jago-jago dari aliran Jian-kin-kau terdiam di tempat, tidak berani maju lagi.

Kian Ih Taysu membungkukkan tubuh, melihat keadaan Tee Wie yang tergeletak di tanah dengan muka pucat, kedua mata tertutup.

Biarpun tidak mati, tetapi dengan kepandaian Tee Wie yang lumayan tinggi bisa terluka begitu parah, menandakan hebatnya tenaga jari Hui-thianit-ci, hweesio tua ini mengerutkan alis mata, segera membawa Ti Wie ke dalam biara.

Ketua baru partai Heng-san Coan Tai-kwi mengayunkan tongkat bambunya, sambil berteriak memukul kepala wanita berbaju putih dengan jurus Cu-go-thian-bun (Mengetuk pintu langit).

Wanita berbaju putih itu segera menghindar ke pinggir, jari telunjuk tangannya diarahkan ke tubuh Coan Tai-kwi.

Coan Tai-kwi melihat sendiri Tee Wie terluka parah oleh totokan jari "Hui-thian-it-ci", mana berani dia menerima jurus itu, dia segera menarik tongkat dan tubuhnya meloncat ke atas, tangan kiri bersamaan waktu mengambil beberapa paku perak dari balik dadanya ingin dilemparkan pada musuh, ternyata wanita berbaju putih itu sudah merobah arah serangan, tusukan dari jarinya tetap mengejar tubuh Coan Tai-kwi.

Rupanya wanita itu telah menguasai ilmu "Hui-thian-it-ci"

Dengan sempurna, hingga bisa digunakan menurut keinginan pikirannya sendiri.

Terdengar jeritan kesakitan dari mulut Coan Tai-kwi dan tubuhnya yang sedang berada di udara, terguling dua kali dan jatuh kebawah seperti layang2 yang putus benang.

Jago-jago dari pihak Siau-lim melihat sendiri wanita berbaju putih itu melukai dua orang dengan satu kali tusukan jari jarak jauh, muka mereka jadi berobah.

Sambil memegang pedang di dada Soat-song Cinjin dari Bu-tong menghampiri tubuh Coan Tai-kwi dan menggendong dia masuk ke biara.

Keadaan Coan Tai-kwi terlihat sangat kritis, kedua mata tertutup rapat, dari hidung dan sudut mulut mengalir darah segar, nafasnya lemah, Soat-song Cinjin dibuat terkejut bukan main.

Shangguan Leng dari sungai Hoai dengan suara benci berkata.

"Jurus yang sadis!"

Dia langsung menyerang wanita itu dengan pukulan telapak tangan, lalu tubuh dia mundur kebelakang dengan cepat.

Dia melihat Tee Wie dan Coan Tai-kwi terluka.

maka dengan sangat hati2 Shangguan Leng memusatkan tenaga dalam telapak tangan menyerang wanita itu, dia ingin melukai lawan, bila tidak berhasil, dia juga telah mempersiapkan jalan mundur, dia berpikir tidak akan terluka.

Namun pikiran wanita berbaju putih itu lain, dia sudah berbulat tekad membunuh, mana mungkin memberi kesempatan pada musuh melarikan diri, pukulan Coan Taikwi dihadang dengan satu pukulan telapak tangan kiri, sedangkan tangan kanan telah memusatkan tenaga penuh dengan jurus "Hui-thian-it-ci"

Sudah menotok musuh dari jarak jauh.

Satu angin keras dari tekanan jari itu mengejar punggung Shangguan Leng, dia berusaha menghindar tapi tidak berhasil tubuhnya terjungkal jatuh ke tanah tanpa bersuara sepatah pun.

Wanita berbaju putih itu sudah melukai tiga jago dari partai ternama yang berilmu tinggi, membuat semua orang di pihak Siau-lim jadi terkejut dan marah.

Bersamaan waktu itu telah terjadi perobahan besar yang mengejutkan, semua orang menyaksikan dari hutan barisan belakang orang-orang aliran Jian-kin terbang seperti bintang perak menuju atap biara Siau-lim.

Hun San-kiau dari Kun-lun berteriak.

"Celaka!"dan berkata.

"itu adalah sumbu dari dinamit belerang, mungkin dalam biara telah tersimpan bahan belerang."

Ucapan dia belum habis, terdengar satu suara keras "BUNG"

Dan terlihat di atas ruang utama biara Siaulim ada percikan api, pecah menjadi sepuluh lebih menyebar ke segala arah kamar2 biara.

Persis seperti dugaan Hun San-kiau, di dalam biara Siaulim telah tersimpan bahan belerang terlebih dahulu, sehingga percikan api yang jatuh dari atas langit langsung menyambar benda itu, sehingga api berkobar dimana mana.

A Bin melihat beberapa kali jago dari pihak Siau-lim terluka oleh wanita berbaju putih itu, dia ingin keluar menantang wanita itu, namun belum ada kesempatan.

Pada detik genting ini, dimana semua orang sedang memperhatikan kebakaran di dalam biara, A Bin meloncat ke hadapan wanita berbaju putih itu, berkata dengan dingin.

"Kau telah melukai menghentikan semua ini!"

Banyak orang, kau harus Wanita berbaju putih itu dengan tertawa riang berkata.

"Kalau belum membakar habis biara Siau-lim jadi abu, dan membunuh semua orang dalam biara kecuali kau sendiri, aku tidak akan puas!"

Kata-kata yang penuh amis darah diucapkan oleh wanita itu seperti perkataan anak kecil yang sedang bermain. A Bin dengan marah berkata.

"Kau sangat keterlaluan!"

Wanita berbaju putih itu segera mundur ke belakang, dan memerintahkan berapa orang berbaju emas untuk melayani tantangan A Bin, dan berkata.

"Jaga dia! tetapi jangan melukainya!"

Lima orang berbaju emas berlarian dan mengepung A Bin dengan barisan Hong-sui dari lima jurusan menurut posisi Kim (emas), Bok (Kayu), Sui (Air), Hwee (Api), Tee (Tanah), segera saja A Bin terkepung di tengah.

A Bin menilai wanita berbaju putih itu tidak mau mencelakai dia, sehingga menugaskan anak buah untuk melayani dia dengan barisan Hong-sui yang dinama-kan "Ngo-heng hoan-cin (Barisan lima hayalan)"

Barisan "Ngo-heng,hoan-cin"

Adalah barisan untuk mengurung musuh yang sudah hilang dari dunia persilatan ratusan tahun, bagi A Bin barisan itu tidak akan sulit dipecahkan dan mudah keluar dari kurungan itu, tetapi tetap memerlukan sedikit waktu untuk membongkar kurungan itu.

Dan waktu itu, wanita berbaju putih itu akan menggunakan jarinya yang mematikan itu pada orang lain, A Bin jadi tidak bisa membantu mereka dengan segera.

A Bin merasa kesal dengan keadaannya, maka dia langsung menyerang menusuk di arah timur, dengan jurus "Cu-kou-thian-bun"(Mengetuk pintu langit)" Orang berbaju emas itu menghindar ke pinggir, dan mengayunkan pedang menahan serangan A Bin.

Kedua orang itu beradu jurus, barisan "Ngo-heng hoancin"

Berobah terus, orang yang menyerang A Bin dengan pedang langsung menyingkir ke pinggir.

A Bin melihat ada celah di tengah barisan itu, dia memutuskan menyerang orang berbaju emas yang berada di tengah, tapi barisan itu berputar terus, tahu-tahu musuh yang berada di bagian selatan sudah berdiri di depan A Bin dan menutup celah itu, dengan sepasang golok dia menghalangi jalan A Bin.

A Bin menggunakan telapak tangan memukul ke atas dan ke bawah menahan serangan musuh Belum juga A Bin membalas serangan, orang itu sudah menghindar lagi.

Posisi dia digantikan oleh teman dia yang datang dari arah barat, menggunakan kail ber-bentuk kepala harimau dan langsung menyerang A Bin.

Menyaksikan barisan itu bisa berobah dengan kecepatan tinggi, A Bin jadi terkejut dan mengakui barisan itu betulbetul hebat, A Bin yang ingin cepat ke luar dari kepungan jadi agak terhalang.

Dalam perlawanan mereka, A Bin bukan saja melihat kekompakan lima orang berbaju emas itu, jurus serangan dan pertahanan mereka pun mengandung perobahan Hongsui, bila dinilai satu-satu, ilmu mereka lebih rendah dari A Bin, tetapi bila A Bin terkurung di dalam barisan agak lama, konsentrasi pikiran A Bin akan kacau, dan A Bin tidak akan memikirkan untuk keluar dari kepungan.

Satu lagi, perobahan barisan ini tidak mengikuti aturan biasa, sehingga mereka bisa menyerang dari posisi tidak terduga, lawan tidak tahu persis bagian mana yang akan menyerang secara mendadak.

A Bin menyadari bila pikirannya kacau, akan lebih sulit untuk keluar dari kepungan, maka A Bin menenangkan pikiran, memusatkan tenaga dalam pada telapak tangannya, berdiam di tempat menunggu perobahan lawan.

Di tempat lain, wanita berbaju putih itu tidak memerintahkan orang-orang aliran Jian-kin-kau yang lain ikut menyerang, jadi mereka hanya diam di tempat mengawasi pintu Siau-lim-sie.

Dia sendiri malah maju dan menyerang Gan Cu-kan yang baru keluar dari dalam biara.

Gan Cu-kan menggunakan kipas yang terbuka lebar menutup bagian dadanya sambil melangkah mundur dua langkah.

Dia melihat sendiri wanita ini telah melukai Shangguan Leng dari kejauhan, maka dia sangat gentar sekali menghadapi wanita ini.

Terdengar ucapan dingin dari mulut wanita ini, dengan kata.

"Apakah kau ingin melarikan diri!"

Wanita berbaju putih itu mendorong tangannya ke depan, membuat kipasnya jadi tidak bisa bergerak lagi, hal ini membuat Gan Cu-kan bertambah takut.

Di saat Gan Cu-kan sedang bingung, tubuh wanita berbaju putih itu telah mendekati dengan kecepatan tinggi, Gan Cu-kan tidak menduga wanita itu bisa mendekat begitu cepat dan menyerang bahu kirinya, dia tidak sempat bereaksi lagi.

Bersamaan waktu itu, Hun San-kiau dari Kun-lun datang menolong, dengan pukulan telapaknya yang keras dia menyerang wanita berbaju putih, untuk menjaga nama besanya sebagai pesilat tinggi, sambil menyerang dia berteriak.

"Awas serangan!"

Wanita berbaju putih itu menghindar hanya dengan menggoyangkan sedikit pinggulnya, tubuhnya tetap maju mendekat dengan cepat, Hun San-kiau tidak dapat mengelak serangan balasan dari wanita berbaju putih itu, sebuah pukulan mendarat di pinggang Hun San-kiau, membuat dia memuntahlan darah, terpaksa menghindar ke kiri dua langkah.

Hoa-san Sinni berkata dalam hati.

"sekarang saatnya aku turun tangan’ maka dia meloncat tinggi melayang menuju ke arah wanita itu, bersamaan itu dia mengayunkan tangannya, dari jauh menyerang wanita berbaju putih itu. Wanita berbaju putih itu tidak bergerak, dia menanti serangan di tempatnya, mendadak dari lengan baju kirinya dia mengeluarkan sebuah kecapi dari bahan giok, lalu menyambut pukulan telapak tangan Hoa-san Sinni, kecapi itu didorong satu kali juga diputar satu kali, sebuah tenaga tidak nampak menyusuri senar kecapi menyambut angin pukulan lawan sambil menggeserkan tubuhnya ke samping. Wanita berbaju putih itu telah berhasil mengu-asai ilmu silatnya dengan sesuka hati, gerakan tangan-nya cocok dengan keinginan pikirannya, gerakannya sangat lincah. Baru saja Hoa-san Sinni mendarat, wanita berbaju putih itu sudah berdiri di depannya, lalu mendorongkan tangannya ke dada Hoa-san Sinni. Hoa-san Sinni adalah guru besar sebuah partai, dan telah bertapa puluhan tahun, menghadapi bahaya di depan mata dia tetap tenang, dia mengeluarkan sebelah tangannya menyambut pukulan lawan, tubuhnya berusaha mundur ke belakang, bentrokan kedua kekuatan itu membuat tubuh Hoa-san Sinni terdorong hingga mundur tiga kaki, tubuhnya tergoyang tidak bisa berdiri dengan baik,. Dalam hitungan detik, wanita berbaju putih itu telah mengalahkan tiga orang pesilat yang punya nama harum di dunia persilatan, peristiwa ini membuat orang yang menonton tergoncang pikirannya, mereka jadi waswas untuk menghadapi bahaya. Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sudah keluar lagi, setelah mengantar orang yang terluka ke dalam biara, mereka bersiap untuk menghadapi musuh. Wanita berbaju putih itu menghentikan langkahnya, dengan tangannya yang mungil, memetik senar perak dari kecapi itu, terdengarlah musik dengan suara merdu. Melihat dia berdiri menghadap tiupan angin dengan tubuh dan penampilan yang indah, siapapun yang melihat tidak percaya bahwa dia adalah pemimpin satu aliran tersesat yang begitu biadab. Nada lagu yang dipetik dari kecapi itu sangat memilukan, gesekan suara kecapinya membikin orang yang mendengarkan ikut merasa sedih. Kedua pihak yang berlawanan, kecuali A Bin dan lima orang berbaju emas yang mengurung A Bin, semua orang berhenti tidak bergerak, beberapa orang memperlihatkan wajah-nya yang sedih. Suara kecapi itu makin lama makin sedih, seperti suara wanita menangis dalam ruangan kamar tertutup, suara sedih itu membuat ulu hati orang sakit, semua orang selain orang-orang aliran Jian-kin-kau yang muka mereka tertutup oleh kain, nampak bercucuran air mata karena terpengaruh oleh suara kecapi itu. Kian Ih Taysu yang beriman sangat tinggi itu hampir saja terpengaruh oleh suara kecapi itu, dan tanpa sadar dia berkata.

"Suara yang begitu memilukan........."

Kemudian nada kecapi itu berobah penuh dengan suara semacam pembunuhan.

Mendengar suara itu, orang-orang aliran Jian-kin-kau segera maju menyerang orang-orang dipihak Siau-lim.

Jagojago dari Siau-lim pun terbangun dari suasana kesedihan langsung menghadapi musuhnya.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau dipelopori oleh orang yang berbaju hitam yang ilmu silatnya paling tinggi, serentak mendekati pintu biara Siau-lim, di depan pintu itu Hong-tai, Siau-cian, Hoa-san Sinni, Soat-song Cinjin dan lain-lain telah mengeluarkan senjata masing-masing untuk melawan musuh.

Hanya Kian Ih Taysu tetap berdiri di depan pintu dengan gagah, menunggu sampai orang-orang aliran Jian-kin-kau barisan kedua, yaitu orang-orang berbaju emas dan perak mendekati pintu, baru Kian Ih Taysu melangkah maju ke depan sambil berkata "O-mi-to-hud"

Dengan sangat keras, hingga kuping orang-orang di sekitar itu berdengung, suara Kian Ih Taysu itu ternyata memanggil hweesio yang ada di dalam biara dan berlarian mengambil posisi masing-masing, segera membuat lingkaran pertama dari barisan Lo-han.

Barisan Lo-han dari Siau-lim-sie ini terdiri dari seluruh anggota hweesio bagian dalam dan luar biara, mereka bergabung menjadi satu kesatuan, bila telah digerakan, semua anggota hweesio Siau-lim mempunyai tugas masingmasing mengikuti perobahan barisan.

Barisan pertama dari barisan itu terdiri dari dua puluh empat orang hweesio berbaju abu-abu, berbaris membentuk dua pisau tajam yang ekor pisaunya agak serong keluar di bagian belakang, semua orang dengan wajah gagah memegang senjata, yang dua belas orang memegang tongkat hweesio, dua belas orang lagi memegang golok hweesio, diantara enam orang itu ada satu orang yang memegang sebuah obor api di tangan kiri, di bawah api obor yang menyala, senjata mereka tampak mengeluarkan cahaya dingin.

Dari pintu depan biara hingga ke dalam biara ribuan obor yang menyala menerangi ribuan orang yang memegang senjata, membentuk satu kesatuan yang kokoh, dan siap untuk melakukan suatu pertempuran yang besar...

Rupanya orang-orang aliran Jian-kin-kau telah salah menilai, terlalu memandang enteng kekuatan lawan, meremehkan barisan Lo-han, Mereka sudah beberapa kali menggempur hweesio di barisan Lo-han, tapi ke dua puluh empat hweesio itu langsung berlarian berganti posisi, sehingga beberapa orang aliran Jian-kin-kau telah terkurung di dalam lingkaran barisan itu.

Serangan berantai dari hweesio dalam barisan Lo-han bagaikan sebuah gelombang ombak, gelombang pertama setelah memukul musuh langsung mundur dan diganti gelombang kedua, maka dalam sekejap saja dua puluh empat hweesio yang pertama di depan barisan sudah berpindah ke belakang.

Wanita berbaju putih itu melihat dari kejauhan, melihat anak buahnya tidak berhasil menembus pertahanan Lo-han, dia segera memetik lagi kecapi itu dengan tiga kali petikan.

Tiga kali petikan yang sederhana itu menandakan isyarat pembunuhan Kian Ih Taysu mewaspadai suara kecapi itu, segera memerintahkan anggota Lo-han-tin lebih gesit menggerakan barisan Lo-hannya.

Setelah memetik tiga kali suara kecapi, wanita berbaju putih itu langsung menyerang dengan tangan dan jarinya, maka dalam sekejap mata saja dia sudah menjatuhkan tujuh atau delapan orang hweesio.

Bila dilihat, tingkat ilmu silat hweesio di bagian barisan Lo-han tampak sangat baik, namun begitu terkena totokan jari wanita berbaju putih itu mereka langsung roboh, totokan wanita itu jitu mengenai sasaran, mem-buat hweesio-hweesio jadi was-was, sehingga mengganggu kecepatan gerakan barisannya.

A Bin yang dalam kepungan lima orang lawan, masih belum berhasil membebaskan diri, walaupun dia melihat barisan Lo-han makin lemah serangannya, tetapi dia belum bisa membantu mereka.

Salah satu orang anggota Jian-kin-kau yang mengepung A Bin mengangkat pedang yang berbentuk melengkung, dengan jurus "Pak-yan-lam-tou" (Burung utara menuju selatan) dia menusuk tubuh A Bin, lalu kakinya melangkah ke pinggir memimpin teman lainnya merobah posisi masing-masing dan senjata mereka menyerang A Bin secara berantai dari lima penjuru.

A Bin berteriak sekali, dia mengeluarkan golok di pinggangnya dengan jurus "In-ouw-pit-thian " (Awan dan embun menutup langit), membuat perlindungan di seluruh tubuh, jurus serangannya dirobah menjadi jurus bertahan, Senjata lawan yang mendekati senjata A Bin langsung terpukul mental.

Orang berbaju emas pertama yang memegang pedang melengkung pun terpukul mental, dan tangan kanannya terasa menjadi lemas, hampir saja pedang yang dipegangnya terlepas dari tangannya, pukulan itu membuat dia terkejut, dia segera memberi tanda melingkar di udara dengan pedangnya.

Tandanya berarti memberi perintah pada temantemannya untuk menyerang A Bin dengan serentak dan bersamaan, maka senjata seperti pedang, pentungan besi, kail, golok dari semua arah menyerang A Bin, bila orang yang di serang kurang tinggi ilmu silatnya, tentu akan sulit menghindar dari serangan itu.

A Bin melihat, perobahan barisan lawan lebih cepat dan lebih aneh, A Bin jadi lebih hati-hati, dia segera menekuk kaki kirinya, membuat tubuh A Bin menjadi lebih pendek satu kaki, lalu kaki kanannya dimantapkan, golok di tangan diiringi tubuh yang berputar cepat, memukul empat senjata yang menyerang.

Tanpa menunggu perobahan barisan musuh, sambil berteriak, kaki kanan A Bin menginjak tanah dengan penuh tenaga, tubuh A Bin terbang ke atas sambil mengayunkan golok, dengan suara gemuruh menyerang musuh yang memegang pedang melingkar.

Orang itu tidak berani menerima serangan A Bin itu, dia segera menghindar ke samping lima langkah, sambil mengacungkan pedang ke atas lagi, empat teman nya segera meningkatkan serangan pada A Bin.

A Bin gagal menembus pertahanan musuh, dia tetap berada dalam kepungan barisan lawan.

Memang jika lima orang aliran Jian-kin-kau ini tidak bekerja sama membentuk barisan, sudah lama mereka akan dikalahkan oleh A Bin.

Berkat barisan yang serba efisien membuat tenaga mereka masing-masing bertambah besar, dan langkah kaki yang teratur rapih dan kerja sama yang baik, membuat A Bin sementara tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia hanya bisa membentur kiri atau melabrak kanan seperti naga terbang ke timur atau ke barat.

Pimpinan lima orang berbaju emas itu berteriak menangkis golok A Bin, sambil melangkah ke kanan dua langkah, pedang melingkar itu memberi tanda dua kali diacungan keatas dan turun dua kali, tubuh dia berputar sekali, lalu senjatanya menusuk dada A Bin.

Empat orang lainnya segera meningkatkan serangan mereka lebih intensif, terdengar suara gemuruh dari gerakan senjata mereka dan kilatan senjata bermacam bentuk, tubuh mereka seperti menghilang dari barisan karena kecepatan serangannya.

A Bin yang telah mendapatkan ilmu hebat dari tiga guru dan mempunyai dasar ilmu silat dari turunan keluarga, karena tidak pernah belajar bagaimana menghadapi barisan, kelebihan ilmu silat A Bin jadi tidak bisa membantu banyak.

A Bin seperti terkurung oleh angin serangan yang dingin dari senjata musuh.

Otak A Bin berpikir, terbayang ketika gurunya yang memberi pelajaran tentang bermacam barisan secara singkat di gua waktu yang lampau itu, dia segera menenangkan pikiran, menghilangkan tujuan ingin cepat mencari kemenangan.

Tindakan A Bin ini akhirnya membuahkan hasil, sekarang A Bin bisa melihat kelemahan barisan musuh, ternyata barisan itu dilandasi aturan lima arah yang normal, jadi dia harus menyerang sebelah utara dulu baru balik menyerang ke sebelah selatan, dengan unsur air menjinakan unsur api.

Golok A Bin segera menyerang musuh yang berada di sebelah utara.

Ketepatan waktu A Bin itu bersamaan dengan pihak lawan ketika ingin berpindah langkah, golok A Bin telah menahan perobahan barisan dan membuat barisan itu jadi tersendat.

Berhasil menahan laju barisan lawan, tubuh A Bin segera berputar ke arah selatan, dengan jurus "Heng-in-na-gwat " (Membagi awan mengambil rembulan) dia mendorong mengerahkan tenaga kepada dua senjata lawan di satu jurusan, dan menyerang satu orang berbaju emas di lain tempat.

Karena laju barisan musuh tersendat, terbukalah sebuah celah, gebrakan golok A Bin telah membuat barisan itu terlihat kacau untuk sementara.

Orang berbaju emas yang memimpin barisan segera, mengangkat pedangnya ke udara dan berputar dua kali menenangkan empat orang temannya yang sedang bingung, maka barisan itu kembali bergerak ke asalnya lagi, tersusun kembali.

A Bin melihat di tengah perobahan barisan dari langkah dan orang yang pertama gerak, mereka telah merobah arah gerak mereka dari arah semula ke arah berlawanan.

Tanpa membuang waktu lagi, A Bin menyerang dengan goloknya pada musuh yang pertama akan melangkah, bersamaan itu dia melanjutkan serangannya pada musuh yang akan melangkah berikutnya.

Maka perobahan barisan aliran Jian-kin-kau ini tidak bisa berjalan lagi, sebab telah terganggu oleh serangan A Bin dengan senjata golok dan pukulan tangan.

Orang berbaju emas yang memimpin barisan itu segera menyerang A Bin dengan tiga kali tusukan pedang, membuat A Bin terpaksa menangkis serangan pedang orang itu, dua orang yang tadi terdesak keluar barisan segera kembali ke tempat yang tepat lagi, dan A Bin terkurung lagi.

Perubahan barisan yang belum berhasil di bongkar itu membuat A Bin marah, sambil menggerakan bulu alisnya, A Bin memutuskan akan melukai lawannya, maka golok A Bin menyerang lawan di bagian utara, lalu membalikkan tubuh menyerang musuh dengan telapak tangan dengan tenaga penuh.

Maka tanpa ampun, tenaga dahsyat A Bin telah berhasil melukai seorang musuh dengan jeritan kesakit-an yang keras, tubuh orang itu terlempar sejauh dua tombak.

Sekali berhasil, tanpa menunggu perobahan barisan musuh.

Segera dengan tenaga penuh A Bin menghantam musuh yang lain.

Terdengar lagi satu jeritan kesakitan dari orang kedua yang terluka.

Barisan anggota Jian-kin-kau jadi tidak bisa berfungsi lagi karena dua orang anggotanya sudah terluka, pimpinan mereka sangat marah, tanpa pikir bahaya dia melangkah maju menyerang A Bin dengan serangan bertubi-tubi.

A Bin membalas serangan itu dengan goloknya.

Kelihatan orang ini seperti kelabakan, dia membiarkan kedua temannya yang luka, terus menghadapi serangan golok A Bin tanpa mau mengalah, dengan memusatkan tenaga di pedang dia menusuk, membanting, menekan golok A Bin, sehingga terdengar suara logam berbenturan tiga kali.

Bentrokan yang terjadi pada senjata mereka, buat A Bin adalah hal yang ringan, tapi lain buat orang berbaju emas yang menahan tiga kali serangan golok A Bin, sebab dia telah meggunakan tenaga penuhnya, hingga bahu kanannya terasa lemas, telapak tangannya seperti pecah.

Dia terkejut bukan main, segera dia memusatkan pikiran supaya lebih tenang.

Sambil melangkah ke posisi tengah, dia menyalurkan nafas menghimpun tenaga dalamnya di pusat titik "Tan-tian "

Dengan hati mengikuti nafas, dengan nafas memimpin pedang, dia menggunakan ilmu pedang ternama dari aliran Hai-lam yang tersohor ilmu pedang melingkarnya.

Ilmu pedang melingkar ini diciptakan oleh seorang jago pedang dari Hai-lam seratus tahun lalu bernama "Li-coan" , ilmu pedang ini mempunyai sifat lembut bagaikan untaian daun Liu, licin bagaikan ular, dengan bentuk aneh melingkar seperti busur, membuat pedang semacam ini mempunyai sifat tenaga menempel, menggebrak, mengetuk, menarik, memecahkan, menggulung, menghilangkan, jadi orang ini sementara bisa meredam tenaga gempuran tiga kali serangan golok A Bin, menghindar dari keadaan terdesak.

A Bin menyadari bahwa kepandaian orang ini diluar dugaannya, ilmu silatnya tampak lebih tinggi dari temanteman berbaju emas lainnya, malah lebih tinggi dari temannya yang berbaju hitam, kemungkinan orang ini punya kedudukan tinggi di aliran Jian-kin-kau, dia ditugaskan menjadi pimpinan barisan "Ngo-heng hoan-sin"

Adalah untuk mengelabui mata lawan, dia pun memakai baju emas untuk menutupi identitasnya.

Dua orang teman dia yang berdiri di pinggir melihat dia berhasil menahan gempuran A Bin, segera bersamaan ikut menyerang A Bin lagi dengan senjata kail dan goloknya.

Serangan tiga orang itu ternyata bisa menahan gempuran golok A Bin.

Dalam berkesempatan ini A Bin melirik situasi pertempuran yang terjadi, ternyata jago-jago dari pihak Siau-lim masih belum bisa memukul mundur barisan musuh, Hong-tai dan Siau-cian pun belum berhasil melumpuhkan musuh.

Meskipun wanita berbaju putih itu telah melukai berapa orang hweesio dari barisan barisan Lohan, tapi barisan itu masih belum terlihat kelemahannya, hanya saja tenaga gempurannya sudah mulai melemah.

A Bin berkesimpulan bahwa harus segera menyelesaikan pertempuran ini, agar bisa menolong teman-temannya yang bertempur.

A Bin segera membentak, tubuhnya tertutup oleh bayangan golok yang diayunkan, dengan memusat-kan tenaga penuh di tangan kanan, dia menggempur musuh yang memegang pedang melingkar, tangan kiri-nya mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya, meng-hamtam musuh di sebelah kiri yang memegang golok, pukulan A Bin seperti akan merobohkan sebuah gunung, dan terdengar satu jeritan kesakitan dari musuhnya, dan orang itu terlempar jatuh sejauh tujuh delapan kaki.

Bersamaan waktunya golok A Bin berbalik arah menyerang musuh lain yang memegang senjata kail, terdengar benturan senjata logam, senjata kail orang berbaju emas itu terbang jatuh sejauh satu tombak, untung orang itu tahu diri, dia segera berguling tiga kali kepinggir menghindar.

Dalam sekejap waktu A Bin telah menundukan satu lawannya, sisa satu orang lagi yang paling kuat, mengetahui tidak dapat mengurung A Bin lagi, dia membentak dan dengan sisa tenaganya dia menyerang A Bin kembali.

Orang berbaju emas yang rebah melihat pimpinannya menyerang A Bin lagi, diapun bangkit dan memungut senjata kailnya, lalu menyerang bagian kanan A Bin.

A Bin berteriak keras, tanpa memberi waktu lawan berdiri tegap, telapak tangan A Bin yang bertenaga dahsyat langsung menghantam lawannya, terdengar jeritan orang berbaju emas yang terpukul jatuh.

Pada saat A Bin merobohkan satu lagi musuh-nya, terdengar satu teriakan dari mulut wanita berbaju putih dengan ucapan.

"Bagus! Baru sakarang kepandaian aslimu dikeluarkan, sungguh hebat, biar aku saja yang mencoba kehebatanmu ......"

Sambil bicara dia mengayunkan benda seperti pelangi putih menyerang jalan darah Ki-bun A Bin.

Ternyata benda putih pelangi itu adalah ikat pinggang wanita itu dipergunakan sebagai pedang.

Menghadapi serangan itu A Bin mengeserkan langkahnya dan berputar tubuh, dengan jurus "Jian-bin-wiehong" (Seribu muka orang gagah) dia menciptakan tirai golok berlapis menahan tusukan pedang wanita itu, lalu ujung golok A Bin menusuk wanita berbaju putih.

Wanita berbaju putih itu telah berpengalaman dalam menghadapi pertempuran besar, mengetahui kehebatan jurus golok halilintar, maka tangan kanan dia menggerakan tali pinggang untuk melindungi tenggorok kannya, dan telapak tangan kiri mengeluarkan angin lembut untuk menahan serangan A Bin, dengan tenang dia tertawa kepada A Bin.

"Tidak kusangka selain kau adalah turunan dari golok halilintar dan mendapatkan kepandaian dari Siau-yaukiong, tenaga dalammu pun begitu hebat, umurmu masih muda tetapi mempunyai dasar tenaga dalam seperti telah berlatih enam puluh tahun, peninggalan dari dunia persilatan telah kau dapatkan, akupun merasa iri atas keberuntunganmu, hari ini aku ada kesempatan untuk menguji ilmu kau, mari......"

A Bin tidak menaruh dendam pada wanita ini, namun karena beda status antara musuh dan kawan, membuat dia siap menerima tantangannya, dia menaruh kewaspadaan padanya, sebab lawan ternyata menge-tahui banyak asal usul dirinya.

Wanita berbaju putih itu melayangkan tali pinggang itu kemuka A Bin sambil menyapu kaki A Bin.

A Bin tetap berdiam ditempatnya, dia menarik nafas, tubuh A Bin terbang ke atas, diatas udara tubuh A Bin berbalik, golok A Bin diputar demikian rupa menciptakan sinar emas yang bergetar melingkari kepala wanita berbaju putih.

Wanita berbaju putih menarik kembali tali pinggangnya, menjatuhkan dirinya sebentar, lalu tali pinggangnya menyambut rangkaian kilatan golok, setelah bersempatan meluruskan tubuhnya lagi, dia menggoyangkan tali pinggang berlapis-lapis seperti gunung berlapis.

A Bin tidak mau kalah, dia mendemontrasikan jurus golok keluarganya, sekali-kali juga menyelipkan berapa jurus dari ketiga gurunya, sinar dingin menutup kepalanya sambil bersuara seperti halilintar bercampur suara angin.

Serangan wanita berbaju putih dengan tali pinggang pun mengeluarkan siulan yang menembus udara, A Bin yang tidak berani melukai wanita cantik ini, sehingga tenaga dari jurus goloknya tidak berfungsi penuh, maka A Bin sering terdesak dibawah angin, tetapi saat keadaan terdesak A Bin selalu bisa mengeluar kan jurus ampuh memukul mundur wanita itu.

Dalam sekejab waktu mereka telah bertarung sekitar tiga puluh jurus, masih tetap belum ada yang kalah dan menang.

Wanita berbaju putih itu melihat meskipun A Bin telah bertarung sebanyak tiga puluh jurus, dia masih tetap bisa bertahan, bahkan jurus-jurusnya tidak pernah habis digunakan A Bin, dia merasa tenaga dalam A Bin sangat kuat dan sadar A Bin pun masih punya rasa kasihan padanya.

Maka dengan menggunakan ilmu mengirim suara dia berkata pada A Bin.

"Anak muda, sungguh kau berbaik hati masih menaruh rasa kasihan padaku, aku pun ingin terus terang padamu, aku melayanimu juga demi kebaikanmu, asalkan kau masuk ke dalam biara, maka dalam sekejab waktu, kau dan orang-orang dalam biara akan terbakar menjadi abu."

A Bin terkejut mendengar kata-kata itu, persis seperti dugaan A Bin, orang-orang aliran Jian-kin-kau telah mengerjakan sesuatu di dalam biara, maka A Bin melirik ke dalam biara, terlihat bara api makin kecil, seperti hampir habis terbakar, A Bin menjadi ragu apakah ucapan wanita itu betul atau bohong.

Belum lagi A Bin berpikir habis, lokasi di bagian barat dalam biara, dekat ruangan penyimpan kitab terlihat api membubung tinggi ke atas langit.

Waktu diperkirakan menjelang fajar, dimana langit tampak gelap sekali, kobaran api yang terjadi terasa sangat menakutkan orang, Hati A Bin menjadi berat.

Di bagian tenggara biara pun tampak api berkobar lagi.

Di bagian timur, selatan, barat dalam biara sudah berapi, hanya bagian utara dekat pintu biara api hanya berada di tangan para hweesio yang memegang obor.

A Bin merasakan ada satu pandangan dengan para hweesio dan jago-jago di dalam biara maka dia berkata pada wanita berbaju putih itu.

"Aku bertekad akan bersama-sama dengan mereka hidup atau mati, aku berterima kasih pada kebaikanmu, tetapi mulai detik ini, kau adalah musuhku yang harus dihadapi."

A Bin segera berteriak, dan merobah jurus goloknya dengan jurus menyerang, setiap gerakannya maju mendesak lawan.

Meskipun wanita berbaju putih itu berilmu tinggi, tetapi jurus golok A Bin sangat menakjubkan dan susah ditebak arahnya, ujung goloknya selalu mengincar bagian tubuh yang mematikan, membuat dia terdesak mundur.

Hati wanita berbaju putih itu tahu, bila dia masih mempunyai rasa sayang pada anak muda ini, maka gerakan yang telah direncanakan dengan matang selama beberapa tahun akan menjadi gagal total.

Maka segera menggigit gigi dan berteriak, tali pinggangnya menusuk menghadang serangan golok A Bin, dan bersamaan itu jarinya menotok A Bin dengan totokan maut dalam jarak dekat.

Totokannya sangat dahsyat, dilakukan dengan sempurna oleh wanita berbaju putih itu, belum pernah ada orang bisa menghindar dari totokan jarinya, terlihat tubuh A Bin terlempar diudara beberapa kali putaran lalu jatuh ke tanah.

Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu terkejut melihat A Bin terluka, Hong-tai dan Siau-cian berteriak dan menghampiri A Bin.

Semua jago-jago dari pihak Siau-lim mencemaskan keselamatan jiwa A Bin, semua orang mengerumuni A Bin.

Kian Ih Taysu dengan kedua telapak tangan di depan dada, berkata.

"Jurus Hui-thian-it-ci yang hebat..."

Mendadak sebagian orang tertawa terkejut, membuat ketua Siau-lim itu melihat kembali pada A Bin.

Ternyata A Bin sudah berdiri sebentar, dan duduk kembali dengan mata tertutup, mengatur jalan pernapasan, muka A Bin dari pucat berobah menjadi merah kembali, dan sekejap dia sudah membuka kedua matanya, memungut golok segera menghampiri wanita berbaju putih lagi.

Melihat A Bin tidak terluka oleh totokan jarinya, wanita berbaju putih itu tampak bengong, entah sedih atau gembira, dia mundur dua langkah baru sadar kembali dan berkata.

"Kau betul-betul beda dengan orang lain......"

A Bin tersenyum sejenak dan berkata.

"Jurus ketua sangat hebat, untung aku tidak mati oleh jurus itu, aku mohon kau segera memberi perintah untuk menghentikan penyerangan terhadap biara Siau-lim."

Wanita berbaju putih itu dengan marah berkata.

"Hari yang aku rencanakan berapa tahun, mana mungkin dapat dihentikan oleh kata-katamu!"

A Bin berteriak keras dan berkata.

"Kalau begitu, hadapilah jurusku yang lain!"

Lalu berkata pada Kian Ih Taysu.

"Pihak musuh telah merencanakan pemusnahan biara Siau-lim, untuk keamanan semua orang, aku harap Taysu memberi perintah pada semua orang dalam biara supaya keluar! "

Dengan jurus golok yang dimainkan seperti rangkaian bunga, berobah seperti air hujan berwarna perak yang menyirami tubuh wanita berbaju putih.

Jurus golok halilintar ini dimainkan A Bin lebih dahsyat dari sang ayah.

Wanita berbaju putih itu sangat marah pada A Bin, karena membongkar rahasianya, dengan tali pinggang dia menahan serangan golok A Bin dan sekali lagi tali pinggang itu menerobos pertahanan golok A Bin.

Ayunan tali pinggang wanita itu sangat cepat dan bertenaga menuju satu arah yang dikehendaki, tenaga yang disalurkan bisa menghancurkan batu atau besi.

A Bin merasa jurus tali pinggang lawan sangat hebat, tali pinggang itu belum sampai, getaran angin dari tali pinggang itu sudah menekan tubuhnya, A Bin jadi teringat sebuah jurusnya yang ampuh, dia segera menarik napas, menggumpulkan hawa murni dari Tan-tian, lalu tubuh A Bin terbang ke atas menghindari serangan tali pinggang itu.

Wanita berbaju putih itu dengan perasaan marah, bertekat akan membunuh A Bin dengan totokan jarinya, dia melihat A Bin turun dari atas dengan tubuh berputar dan golok yang memancarkan warna emas menyerang kepalanya.

Jurus A Bin ini adalah jurus golok halilintar yang paling hebat dinamakan "Gin-han-hui-seng" (Bintang perak terbang), kilauan dari golok itu sangat keras, sehingga susah ditebak ujung golok itu menuju kearah mana.

Pengetahuan wanita berbaju putih sanga luas terhadap jurus-jurus dari semua aliran, tetapi terhadap jurus A Bin yang memutar tubuhnya di atas udara, dia tidak mengenal, jurus ini seperti air hujan yang turun di atas kepala, dia jadi merasa sedikit gentar.

Tetapi wanita berbaju putih itu mempunyai dasar ilmu silat yang kuat, biarpun gentar dia tetap bisa tenang, dia berteriak sejenak, lalu memusatkan tenaga dalamnya di tangan kanan, menggerakan tali pinggang membentuk tabir cahaya sambil bersuara keras, mem-buat pasir tanah terbang kemana-mana dan menahan serangan A Bin di atas kepala.

A Bin tidak mau beradu senjata dengan senjata lawannya, dia khawatir goloknya akan dililit oleh tali pinggang itu, maka A Bin menarik napas lagi, tubuh A Bin yang turun ke bawah segera naik lagi sekitar tiga kaki, dan menarik kembali golok yang berputar.

Dengan siulan seperti naga, tubuh A Bin berbalik diudara, goloknya dengan kilatan cahaya dingin seperti bintang meteor membentur bayangan tali pinggang lawan.

Wanita berbaju putih itu tidak dapat menahan serangan A Bin ini, biarpun pertahanan dia sangat rapat, terdengar suara kain robek, dan tubuh dia terasa dingin karena baju dia telah robek oleh goresan golok A Bin.

A Bin segera turun dari udara berdiri tegap dengan tatapan mata berwibawa, menunggu reaksi wanita berbaju putih itu.

Untuk pertama kalinya Wanita berbaju putih itu dikalahkan oleh orang lain, dia panasaran dan ingin mencoba lagi dengan ayunan tali pinggang itu.

Terdengar suara batuk dari orang berbaju emas yang memegang pedang berbentuk melingkar dan menghampiri wanita berbaju putih, dia berbisik di kuping ketua aliran Jian-kin-kau itu.

Wanita berbaju putih dengan mata bersinar dari belakang kain tutup muka melihat sekeliling dan segera mengangkat tangan mungil keatas dan melambaikan tangan dengan perlahan-lahan.

Lambaian tangan ketua aliran Jian-kin-kau memberi perintah pada semua orang-orang aliran untuk mundur ke belakang beberapa langkah, tetapi tetap melingkari pintu biara Siau-lim.

Kobaran api dalam biara makin meluas, tetapi ketua Siau-lim seperti tidak peduli, dia hanya mengawasi musuh yang berada di depan mata, barisan Lo-han tetap berdiri dengan rapih, tidak kacau dan risau.

Tetapi jago-jago lain yang melihat orang-orang aliran Jian-kin-kau mundur tanpa mengalami kekalahan, mereka merasa curiga, musuh seperti menunggu sesuatu, tindakan mereka ini mengundang kecurigaan pihak Siau-lim.

Ternyata Wanita berbaju putih itu memberi perintah lagi pada anggota berbaju hitam yang menembakan panah isyarat ke udara, terlihat kobaran api berwarna ungu, memecahkan kegelapan langit.

A Bin terkejut melihat api ungu itu, api yang memberi isyarat kepada orang-orang aliran Jian-kin-kau dalam biara untuk bertindak, tetapi A Bin tidak tahu harus berbuat apa.

Demikian juga Kian Ih Taysu, tidak berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu perkembangan yang terjadi di dalam biara.

Api ungu isyarat itu tidak terlihat bereaksi dalam biara yang masih dilanda kebakaran, hal ini membuat wanita berbaju putih dan orang berbaju hitam merasakan ada perobahan di luar dugaan mereka.

Ragu-ragu sejenak, wanita berbaju putih itu baru mengambil putusan tegas dan berteriak.

"Serang!" Orang-orang aliran Jian-kin-kau segera mengangkat dan mengayun-ayunkan senjata masing-masing, siap menyerang lagi. Kian Ih Taysu berkata "O-mi-to-hud’ mengambil tongkat pusaka yang dipegang murid Siau-lim di belakang tubuhnya, membentangkan tongkat itu dengan suara seperti angin puyuh, memukul mundur pesilat tinggi dari aliran Jian-kin-kau yang maju mendesak. Kerasnya pukulan tongkat ketua Siau-lim ini, membuat pesilat tinggi dari pihak lawan tidak berani mendekati dan semua di hadang mundur. Orang baju hitam yang bernama Pau-it-maju ke depan menghadapi Kian Ih Taysu tanpa membawa senjata, tangan kanannya langsung memukul dada ketua Siau-lim, sedangkan tangan kiri secepat kilat ingin merampas tongkat lawan. Sambil berkata "O-mi-to-hud"

Sekali, tangan kiri Kian Ih Taysu menyambut pukulan Pau-it, tangan kanan yang memegang tongkat diayunkan ke bawah dan menghantam kaki Pau-it.

Pau-it tidak berhasil merampas tongkat ketua Siau-lim dan untuk menghindari pukulan tongkat itu dia segera mengangkat tubuhnya ke atas tetapi tangan kanan dia tetap beradu dengan tangan ketua Siau-lim yang menimbulkan sedikit suara.

Kedua telapak tangan bentrok, masing-masing merasa terkejut, karena tubuh Pau-it berada di udara dia kalah tenaga dan terlempar kebelakang sekitar tujuh atau delapan kaki, tetapi Kian Ih Taysu juga terdesak oleh pukulan Pau-it dengan mundur tiga langkah, bersamaan itu orang-orang Jian-kin-kau yang lain menyerang dari dua sisi.

Dengan tongkat di tangannya Kian Ih Taysu menghantam Pau-it yang sudah mendekat kembali, dan sebelah tangannya mengerahkan tenaga dalam siap melancarkan menyerang.

Pau-it berteriak keras.

"Keledai gundul hayo mundur!"

Melancarkan pukulan pada ketua Siau-lim itu dengan tenaga penuh, menotok pada tongkat yang datang, membuat tongkat ketua Siau-lim ditekan turun ke bawah. Kian Ih Taysu berseru.

"Sungguh hebat pukulan Sicu!"

Dia bersiap akan menerima pukulan lawan dengan telapak tangan Budha, mendadak satu sinar pedang menghampiri mukanya, seorang berbaju hitam yang mahir ilmu silat Bu-tong-pay ikut menyerang.

Kian Ih Taysu telah melihat orang ini ketika melawan A Bin, dia tidak berani menganggap enteng, dengan tongkat yang berada di bawah diangkat keatas dan melindungi tubuhnya dengan bayangan tongkat.

Ujung pedang orang itu menghilang dari pandangan mata, ternyata orang berbaju hitam itu berputar arah dua kali dan menyelinap dari pinggir kanan Kian Ih Taysu, berusaha maju kedepan.

Soat-song Cinjin langsung menghadang orang itu dengan tusukan pedang.

Terlihat sesosok bayangan emas menghampiri dan suara teriakan dari orang berbaju emas yang menggunakan pedang melingkar telah ikut menyerang Soat-song Cinjin dari belakang orang berbaju hitam, dia ingin melukai tangan Soat-song Cinjin yang memegang pedang.

Orang ini mahir menggunakan ilmu pedang dan tidak kalah dengan ilmu pedang Bu-tong-pay, maka Soat-song Cinjin terpaksa mundur sedikit ke samping.

Orang berbaju hitam yang mahir dengan ilmu pedang Bu-tong-pay dengan cepat melewati hadangan Soat-song Cinjin, dia berusaha lebih maju ke depan, sekarang di depan matanya berdiri Hoa-san Sinni dengan hudtimnya menghalangi dia.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau yang lain tertahan oleh barisan Lo-han.

A Bin dan wanita berbaju putih itu mengawasi pertarungan dari tempat yang berlawanan arah, siap untuk menghadang lawan melangkah lebih maju, Hong-tai dan Siau-cian pun tidak membantu dalam pertarungan itu, mereka tetap berdiri di pinggir A Bin untuk melindungi A Bin.

Terdengar suara sayup dari mulut wanita berbaju putih, katanya.

"Anak muda, hari ini kau telah merusak rencana aku yang sudah di atur sempurna, dan mata-mataku dalam biara pun telah dilumpuhkan entah oleh siapa, membuat jerih payah aku berapa tahun jadi sia-sia, dendam kematian ayah dan kakakku, kau yang harus bertanggung jawab!"

A Bin jadi teringat kematian ayahnya yang juga belum terbalas, A Bin merasa jika dia dipihak wanita berbaju putih pun akan mempunyai perasaan sedih yang sama, maka dia segera berkata.

"Kau balas dendam untuk ayah dan kakakmu adalah hal wajar, tetapi balas dendam pada semua orang dan membakar biara Siau-lim adalah tindakan terlalu berlebihan..." Wanita berbaju putih yang sedang dalam emosi sekali mana mungkin menerima kata-kata A Bin, dia malah berteriak dengan keras.

"Sudah, jangan banyak omong, hari ini, kau yang mati atau aku yang mati!"

Wanita berbaju putih itu menyerang A Bin lagi dengan tali pinggangnya, tapi Hong-tai dan Siau-cian sudah lebih duluan ingin melawan dengan senjata mereka. Tapi A Bin melarang mereka maju dan berkata.

"Biar aku yang maju!"

A Bin menggoyangkan golok dan menggunakan jurus menempel di tali pinggang itu, lalu menurunkan ke bawah dengan cepat.

Wanita berbaju putih berusaha menggetarkan tali pinggangnya ingin melemparkan golok A Bin, ternyata golok A Bin mempunyai daya tempel yang kuat di tali pinggang, untuk menghilangkan tenaga tali itu, golok A Bin tetap turun menuju tangan wanita berbaju putih yang memegang tali pinggang.

Jurus golok A Bin yang hebat itu adalah salah satu jurus golok halilintar yang sulit dilepaskan oleh tenaga getaran sebesar apapun.

Wanita berbaju putih terpaksa melepaskan tangan yang memegang tali pinggang.

Tindakan wanita berbaju putih melepaskan tali pinggangnya adalah hal yang wajar untuk menyelamatkan diri, tetapi setelah tali pinggangnya terlepas dari tangannya, dia seperti terpukul oleh halilintar dan terpaku diam di tempat.

Sejak wanita berbaju putih mendirikan aliran Jian-kinkau, belum pernah gagal seperti hari ini, karena sedih maka dia menangis seperti seorang gadis yang lemah, hilanglah wataknya sebagai ketua aliran Jian-kin-kau yang sadis, tegas, kuat.

Hati A Bin merasa tidak enak karena telah melukai kewibawaan wanita berbaju putih, dia ingin menghibur dan menghampiri wanita itu dengan langkah perlahan-lahan, dan berkata.

"Kau jangan sedih, ini adalah......"

Kata A Bin belum habis, wanita berbaju putih itu telah mengangkat jarinya yang mungil dan menotok A Bin yang tidak siap diri, totokan itu persis diantara dua saraf penting, membuat tubuh A Bin terpelanting terbang tinggi sekitar empat atau lima kaki dan jatuh ke tanah dengan suara keras.

Hong-tai dan Siau-cian langsung berteriak dan segera menghampiri A Bin, yang berbaring menghadap ke samping, kedua mata A Bin tertutup rapat, warna mukanya hijau dan nafas yang sangat lemah, seluruh tubuh bergoyang.

Dua gadis yang selalu bermusuhan saling pandang, sejenak mereka mengesampingkan rasa permusuhannya.

Sambil menangis Siau-cian bertanya pada Hong-tai.

"Cici Hong-tai, apakah dia ......masih bisa tertolong?"

Hong-tai dengan perasaan sedih berkata.

"Dia ......belum habis, tetapi napasnya tinggal sedikit, aku kira dia tidak tertolong lagi."

Siau-cian memperlihatkan mata yang marah dan berkata.

"Cici, bila dia tidak bisa hidup lagi, kita berdua bersamasama harus membalas dendam!"

Hong-tai dengan tegas berkata.

"Betul! Kita berdua harus membunuh wanita itu untuk kakak A Bin." Kedua gadis yang baru berkawan itu menghampiri wanita berbaju putih sambil memegang senjata masingmasing, pedang dan busur panah, dengan muka yang sedih mendekati wanita itu perlahan-lahan. Wanita berbaju putih itu seperti patung, berdiri menunggu kedua gadis itu mendekat sekitar tiga kaki, baru bertanya.

"Kalian berdua ingin balas dendam untuknya?"

Hong-tai dan Siau-cian menganggukkan kepala dan bersamaan berkata.

"Kami akan membunuhmu demi kakak A Bin!"

Wanita berbaju putih dengan suara lemas berkata.

"Kalian berdua tidak akan bisa mengalahkan aku!"

Hong-tai dengan marah berkata.

"Tidak menjadi masalah, kami tetap akan melawanmu!"

Siau-cian malah berkata.

"tidak bisa mengalahkanmu, kami siap mati di tanganmu!"

Wanita berbaju putih itu dengan suara lemas dan menghela napas berkata.

"Aku marah, sehingga melukai dia, sekarang menyesal pun percuma, mulai hari ini, aku tidak akan membunuh lagi, dan tidak ingin berkelahi lagi dengan orang lain, kalian berdua jangan mengganggu aku lagi, aku akan pergi!"

Setelah habis bicara, dia mengeluarkan kecapi memetik lagu yang sangat sedih, membuat kedua pipi Hong-tai dan Siau-cian penuh dengan air mata, mereka tertegun berdiri, lupa mencari wanita berbaju putih untuk membalas dendam.

Setelah sadar kembali, wanita berbaju putih sudah menghilang dari pandangan mata mereka, hanya terdengar suara kecapi yang sedih itu dari kejauhan hingga berhenti.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau pun mengundurkan diri karena tidak ada pimpinannya lagi.

Setelah orang-orang aliran Jian-kin-kau turun ke bawah gunung, hweesio-hweesio Siau-lim-sie membereskan mayatmayat yang bergelimpangan dimana-mana, ternyata kedua pihak telah mengalami kerugian yang sama besar.

Api dalam biara juga mulai padam, kemungkinan keributan dalam biara sudah dapat diatasi.

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin dan lain-lainnya tidak mempedulikan keadaan dalam biara, mereka menghampiri tubuh A Bin yang terluka parah.

Soat-song Cinjin yang pertama memeriksa luka A Bin, setelah memeriksa denyut nadi di tangan A Bin dia jadi murung, berkata dengan sedih.

"Lui-siauhiap terluka diantara dua urat nadi penting, dewapun sulit mengobati lukanya."

Mendengar kata-kata itu Hong-tai dan Siau-cian menangis tersedu-sedu, wajah pendekar-pendekar lain pun sedih, mereka terpaku diam di tempat lupa untuk menengok keadaan dalam biara.

Di dalam biara terlihat serombongan orang, menghampiri kerumunan orang yang sedang memperhatikan keadaan A Bin.

Mereka adalah Sin-kisiucai Cukat Hiang dan Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo dan pesilat tinggi lain yang mendapatkan kabar bahwa A Bin terluka, sehingga mereka berebutan keluar biara untuk melihat A Bin.

Setelah melihat keadaan luka A Bin, semua orang turut merasa sedih, Cukat Hiang yang punya julukan orang bijaksana atau peramal jitu juga tidak punya akal apa-apa.

Mendadak terdengar suara teriakan aneh dari mulut seorang yang baru datang.

"Adik Lui! Kau......kau kenapa!"

Seorang yang roman wajahnya seperti monyet itu segera menyelinap masuk ke dalam kerumunan orang, dia adalah teman baik A Bin, Cia Ma-lek.

Melihat kedatangan Cia Malek, Hong-tai teringat kembali waktu pertama kali bertemu A Bin, sehingga dia semakin sedih melihat keadaan luka A Bin.

Cia Ma-lek melihat A Bin terluka parah dengan nafas yang lemah, diapun ikut menangis dengan suara keras.

Dari luar kerumunan orang-orang terdengar suara marah seseorang dan berkata.

"Anak-anak tidak becus, apa guna menangis, ayo beritahu aku, apakah anak muda itu telah berhenti bernafas?"

Semua orang berpaling melihat orang yang marah itu, ternyata seorang kakek yang memakai jubah terbalik dan seorang yang berumur kira-kira lima puluh tahun dengan berpakaian bangsawan yang mewah.

Cia Ma-lek mengenali mereka, yang seorang adalah Yopo-lo-to yang kocak, sedangkan satu orang lagi adalah gurunya sendiri Seng-jiu-pui-suo Leng Hau-te.

Melihat kedatangan dua orang itu, entah sedih atau gembira, Cia Ma-lek segera memberi hormat pada Suhu dan Supeknya, sambil menangis berkata.

"Adik Lui......dia masih bernafas, tetapi ......

hampir mati!"

Yo-po-lo-to dengan suara marah berkata.

"Kau keliru berkata, ada nafas berarti tidak mati, tidak mati berarti tidak akan mati, mengapa bilang hampir mati!"

Cia Ma-lek tidak berani menjawab pada Supeknya yang memarahi.

Semua pendekar telah mengenal kakek yang berpakaian aneh dan bertabiat kocak ini, sehingga tidak tersinggung oleh ucapan dia, hanya tidak menyangka bahwa guru Cia Ma-lek yang tersohor dengan nama julukan pencuri ajaib ini ternyata berpakaian sopan sekali.

Cukat Hiang baru bisa menjelaskan kejadian dalam biara pada Kian Ih Taysu dengan berkata.

"Hari ini kita beruntung dibantu oleh kedua Tayhiap ini, sehingga biara Siau-lim bisa selamat!"

Lalu dia bertanya pada dua orang tua itu.

"Apakah Lui-siauhiap masih bisa tertolong ?" 0-0dw0-0 BAB Busur dan pedang bergabung dengan golok Mengetahui kedatangan dua orang yang begitu tersohor, dan di depan semua jagoan mengatakan bahwa A Bin tidak akan mati, semua orang nampak gembira.

Peramal jitu Cukat Hiang segera mendesak pada Yo-polo-to, cara apa yang bisa menyelamatkan jiwa A Bin.

Yo-po-lo-to membelalakkan sepasang matanya yang aneh pada semua orang, tampak bola mata yang berwarna putih lebih banyak dari warna hitam, dengan mata itu dia berkata pada Cukat Hiang.

"Kau seorang cendekiawan, pengetahuannya segudang, ilmu bumi dan perbintangan tahu semua dengan julukan sebagai Peramal jitu, kenapa jadi begitu bingung."

Sudah menjadi kebiasaan bagi kakek ini, semua orang pernah diledeki oleh dia, maka Cukat Hiang tidak marah, malah dengan nada bersungguh-sungguh dia berkata.

"Aku masih belum tahu obat atau ilmu apa yang bisa menolong adik Lui dari totokan maut itu."

Yo-po-lo-to makin memperlihatkan tingkahnya sebagai orang tua yang berpengalaman berkata.

"Aku katakan padamu, Peramal jitu, kau lebih muda dari aku, lebih sedikit makan nasi dari aku sekitar dua atau tiga puluh tahun, maka pikiranmu kurang jernih bila menghadapi masalah, aku tanya, totokan Hui-thian-it-ci kehebatannya apa saja."

Cukat Hiang menjawab seperti menghitung benda pusaka di rumah sendiri katanya.

"Totokan itu digunakan dengan memusatkan pikiran, mati atau hidup, tetapi bila yang terkena totokan adalah nadi yang penting, segera akan mati..."

Cukat Hiang begitu cerdas otaknya, baru saja berkata pada detik itu dia langsung mengerti dengan suara "OH"

Sebentar dia langsung berkata dengan gembira.

"Aku mengerti, adik Lui ini kena totokan maut diantara dua nadi penting, tetapi tidak langsung mati berarti dia punya kekuatan tenaga dalam yang hebat, sehingga bisa menahan luka yang berat itu, maka dia tidak akan mati!" Cukat Hiang menerangkan begitu jelas, mem-buat semua orang jadi gembira, Hong-tai dan Siau-cian langsung berhenti menangis, Cia Ma-lek pun sangat gembira sambil tidak hentinya menggosok kedua kuping dan pipi dengan tangannya. Yo-po-lo-to berkata dingin.

"Kalian jangan gembira dulu, totokan maut itu pun jangan dipandang remeh, anak muda ini bertahan tidak mati karena dasar tenaga dalamnya sangat hebat, tetapi bila tidak ada cara lain untuk menolong, dia akan pingsan demikian rupa sampai tenaga dia habis dan mati!"

Kata-kata itu membuat Hong-tai, Siau-cian dan Cia Malek jadi ketakutan dan bengong.

Cukat Hiang pandai melihat muka orang, dia sudah tahu bahwa Yo-po-lo-to sengaja mempermainkan anak-anak muda ini, padahal dia sudah punya cara pengobatan tetapi tidak segera dikatakan, maka Cukat Hiang dengan tertawa berkata.

"Yo-po Toako, aku memanggilmu demikian, harap jangan marah! kau jangan pura-pura lagi, kau punya cara apa yang bagus, cepat terangkan, agar anak muda tidak takut dan terkejut."

Yo-po-lo-to menjawab dengan berkata.

"Siucai, kau pintar memerankan orang baik, malah membongkar rahasiaku......"

Pencuri ulung Leng Hau-te pun meminta pada Yo-po-loto dengan kata.

"Betul, cepat kau katakan saja!"

Yo-po-lo-to membelalakan menyindir dengan berkata. mata putihnya, balik "Pencuri tua! Kau pun mendesak aku, kau sayang pada muridmu, supaya tidak ketakutan. Kau juga sudah tahu, lebih baik kau......"

Pencuri ulung Leng Hau-te pernah menjadi brandalan, tetapi beberapa tahun ini, sudah banyak berobah dan memperdalam ilmu kebatinan, sambil tersenyum dia berkata.

"Lui-lote ini berlatih tenaga dalam yang bersifat dingin, tidak cocok dengan keadaan tubuhnya sekarang, setelah terkena totokan, tenaga murni dalam tubuh yang berlainan sifat menjadi bentrok, cara menolongnya harus dengan obat yang sifat positif dan di bantu oleh orang yang betul-betul kuat tenaga dalamnya, membantu dia memulihkan tenaga dan melalui sembilan kali putaran baru bisa baik!"

Cukat Hiang sudah memikirkan obat yang cocok buat A Bin, maka katanya.

"Obat yang bersifat panas ada Ku-cun, Lu dan Ma-hu, barang yang ada di tempat jauh, tidak bisa diambil dalam satu jam, dan apa mujarab buat sakit A Bin......"

Kian Ih Taysu segera memutuskan ucapan Cukat Hiang, sambil berucap satu kata O-mi-to-hud, dengan hidmat berkata.

"Aku telah mengetahui benda bersifat panas yang mujarab, dan benda itu ada di dalam biara......"

Semua orang nampak gembira, Cukat Hiang dengan nada riang berkata.

"Barang berharga apa, aku belum pernah dengar, bolehkah semua orang mengetahui?"

Kian Ih Taysu perlahan-lahan berkata. "Benda itu adalah Tulang putih yang meng-kristal (Su-likut) dari maha guru yang meninggal dan telah dikremasi......"

Kata-kata itu membuat semua orang terkejut, mereka tahu bahwa maha guru biara Siau-lim itu adalah hweesio agung yang sudah hidup selama seratus tahun, dan telah mengabdikan diri selama enam puluh tahun di biara dan baru saja dikremasi, dalam tumpukan tulangnya terdapat Tulang putih itu, untuk menghormati jasanya, Tulang putih dari seorang maha guru agama Budha di hormati sebagai barang langka, dan benda itu diletakan dalam biara sebagai benda pusaka.

Betul Tulang putih itu bisa berguna untuk menyembuhkan orang yang hampir mati, ibarat mengganti tulang yang rapuh dan kulit yang terkelupas, benda yang dianggap keramat itu bukan sembarang orang bisa mendapatkan, semua orang tahu bahwa benda itu sangat mujarab, belum pernah ada orang yang boleh mendapatkan benda itu.

Sekarang Kian Ih Taysu sudah berkata begitu berarti dia ingin memberikan benda pusaka itu pada A Bin, semua orang jadi terkejut dan iri, karena celaka A Bin malah mendapat rejeki.

Karena itu benda pusaka biara Siau-lim, jadi semua orang tidak berani meminta barang itu buat A Bin.

Hanya Hong-tai dan Siau-cian saling pandang sejenak dan menghampiri Kian Ih Taysu sambil memberi hormat pada ketua Siau-lim.

Kian Ih Taysu mengetahui maksud kedua anak gadis itu, sambil mengucapkan "O-mi-to-hud", dia berkata.

"Kalian tidak perlu memberi hormat padaku, aku sudah memutuskan akan memberikan benda pusaka itu pada A Bin Siauhiap, sebab kalau bukan dia tadi yang membantu kita, biara Siau-lim akan hancur, bila sampai terjadi hal yang demikian, benda pusaka itu pasti jatuh ke tangan aliran Jian-kin-kau. Aku memberikan benda itu pada penolong Siau-lim, kukira arwah beliau pun akan mengerti."

Semua orang baru lega setelah ketua Siau-lim-sie berkata begitu jelas. Sambil tertawa terbahak-bahak Yo-po-lo-to berkata.

"Hweesio tua, aku sudah lama mengincar benda itu, bila kau tidak mengatakan duluan, aku yang bermuka tebal pun tidak berani membuka mulut untuk minta benda itu."

Hong-tai dan Siau-cian mengucapkan banyak terima kasih. Cukat Hiang dengan gembira berkata.

"Benda mujarab telah didapat, tapi siapa orang yang bisa membantu memulihkan tenaga dalam A Bin?"

Yo-po-lo-to menunjuk Kian Ih Taysu katanya.

"Tidak perlu jauh-jauh, biarkan hweesio ini yang mengerjakan, sebab tenaga dalam dia adalah pilihan yang paling tepat."

Sambil merapatkan kedua telapak tangan Kian Ih Taysu berkata.

"Pinceng pasti akan berusaha sekuat tenaga membantu memulihkan kesehatan A Bin Siauhiap."

Setelah itu Hong-tai, Siau-cian dan beberapa orang hweesio Siau-lim mengawal A Bin masuk ke dalam biara menunggu Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu dengan pesilat lain memeriksa kerusakan biara Siau-lim, terlihat bekas kebakaran dan tembok yang retak ada dimana-mana, beruntung tidak terlalu besar kerugian biaranya, dan api dapat dipadamkan dengan tuntas dua jam kemudian.

Dalam kesempatan diwaktu memeriksa keadaan biara, Cukat.Hiang menceritakan kejadian dalam biara yang menegangkan, semua orang baru tahu bahwa bila tidak ada orang yang membantu diam-diam, semua orang dalam biara dan biara yang berumur ribuan tahun akan musnah dalam kebakaran yang besar.

Ternyata Cukat Hiang pada waktu rapat sudah menaruh curiga pada Thi-koan Tojin yang meminta cincin besi hitam, dan memberi tugas pada orang untuk mengintai gerak-gerik Thi-koan Tojin.

Dan dilain pihak, Cukat Hiang mendapat berita rahasia dari Gan Cu-kan tentang akan adanya penyerangan besar-besaran oleh aliran Jian-kin-kau, maka semua hweesio biara telah disiap-siagakan.

Lalu Cukat Hiang memasang jebakan di ruang penyimpanan kitab yang dimasuki oleh wanita berbaju putih dan A Bin, namun mereka dapat lolos.

Begitu wanita berbaju putih dan A Bin dapat meloloskan diri, Cukat Hiang langsung minta pada Kian Ih Taysu untuk menggerakan barisan Lo-han yang tangguh untuk menjaga biara.

Dia sendiri dengan Wie Tiong-hoo meminpin tenaga orang yang kuat, berpatroli diseluruh halaman biara untuk menangkap mata-mata aliran Jian-kinkau yang akan merusak biara.

Ternyata Thi-koan Tojin lebih pintar dari mereka, orang biara yang ditugaskan mengawasi Thi-koan Tojin malah dibunuh lebih dulu, dan dia dapat lari dengan tenang.

Setelah mengetahui orang sendiri terbunuh, Cukat Hiang menjadi kelabakan, tidak bisa mengetahui mata-mata Aliran Jian-kin-kau telah merencanakan siasat apa dalam biara, dia sudah curiga pada musuh akan menaruh barang mudah terbakar dalam biara, tetapi tidak dapat memastikan ditaruh dimana.

Dan bersama-sama dengan Wie Tionghoo, Gan Cu-kan untuk mencari tempat yang dicurigai namun tidak berhasil Di saat orang pintar sekaliber Cukat Hiang pusing tujuh keliling, ternyata mereka mendapatkan pesan rahasia dari sehelai daun terbang yang mengabar-kan mata-mata dalam biara telah dibasmi, dan minta Cukat Hiang meningkatkan kewaspadaan terhadap musuh baru yang akan berusaha masuk biara lagi.

Cukat Hiang tidak percaya penuh pada pesan rahasia itu, dengan hati-hati menilai orang yangmemberi pesan yang tidak jelas, dia masih tetap melakukan pemeriksaan yang ketat, tapi tidak berhasil mendapatkan apa-apa.

Cukat Hiang hanya dapat memberi perintah pada semua orang untuk lebih waspada.

Setelah pihak aliran Jian-kin-kau memberi perintah melalui panah api di udara, ternyata hanya sebagian kecil halaman biara saja yang terbakar, tidak terjadi kebakaran yang susah dipadamkan, hati Cukat Hiang jadi terlepas dari beban berat.

Karena Kian Ih Taysu dan Cukat Hiang telah mengatur penjagaan yang sempurna, maka penyerangan orang-orang aliran Jian-kin-kau dari tiga arah dapat ditahan, tidak ada musuh yang dapat masuk ke dalam biara.

Di saat genting, dimana Cukat Hiang dan kawankawannya kewalahan melawan musuh yang kuat, terlebih pada seorang musuh yang berbaju abu, yang diperkirakan pimpinannya, ilmu silat dan jurus yang tangguh dari musuh ini membuat Cukat Hiang dan kawan-kawan hampir terluka.

Beruntung Yo-po-lo-to dan Leng Hau-te keluar dari tempat persembunyiannya dan membantu untuk melawan musuh, sehingga orang-orang aliran Jian-kin-kau terdesak mundur, bersamaan itu pimpinan mereka dan wanita berbaju putih telah pergi lebih dulu, membuat semangat juang anggota Jian-kin-kau hilang dan mundur dari arena pertarungan.

Cukat Hiang baru tahu yang memberi pesan rahasia melalui daun terbang itu adalah Yo-po-lo-to, yang telah membuang semua belerang dalam biara dengan bantuan Leng Hau-te.

Setelah mengetahui kejadian dalam biara yang diutarakan Cukat Hiang, Kian Ih Taysu mewakili semua hweesio biara Siau-lim mengucapkan terima kasih pada kedua orang sesepuh dunia persilatan itu, kedua orang itu hanya tersenyum dan mengatakan itu urusan biasa tidak perlu berterima kasih, dan mereka mengatakan ada urusan lain, lalu pamit pada semua orang dan pergi.

Leng Hau-te memberi isyarat pada Cia Ma-lek untuk pergi bersama, namun Cia Ma-lek mohon pada guru untuk tetap tinggal di biara ikut merawat A Bin.

Setelah pertarungan yang melelahkan selesai, kebanyakan pesilat-pesilat dari semua aliran pamit juga untuk pulang ke tempat masing-masing.

Hanya Tee Wie dari Go-bi, Ketua partai Heng-san Coan Tai-kwi, Shangguan Leng dari Sungai Hoai, Gan Cu-kan dan Ku-cu Tojin dari Bu-tong yang terluka, masih tetap tinggal di biara untuk merawat luka mereka.

Ketua Bu-tong-pay Soat-song Cinjin, Peramal jitu Cukat Hiang, kakek Wie Tiong-hoo pun masih di biara merundingkan masa depan yang akan dihadapi bersama.

Kian Ih Taysu sudah masuk ke dalam kamar istirahat A Bin untuk memberi pertolongan pada A Bin.

Dengan menyalurkan tenaga dalam agar A Bin cepat baik.

Kian Ih Taysu memerlukan waktu tiga malam untuk membantu A Bin dan tidak boleh diganggu sedikit pun, agar manfaat Tulang putih itu betul-betul bermanfaat bagi A Bin.

Berapa hari keadaan A Bin seperti yang tertidur nyenyak, tanpa bergoyang dan bangun, Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek merasa cemas.

Cukat Hiang, Soat-song Cinjin menghibur mereka, mengatakan tidak perlu kuatir tentang diri A Bin.

Hari ketiga Kian Ih Taysu keluar dari kamar A Bin, muka ketua Siau-lim ini tampak berwarna merah dan bercahaya, seperti bayi baru lahir saja layaknya, Jit Ie Taysu dan hweesio-hweesio lain telah menunggu di luar pintu dengan mengenakan jubah upacara.

Semua hweesio memberi hormat pada Kian Ih Taysu dan terus mengucapkan lagu pujian Budha, pesilat-pesilat lain di partai Siau-lim terlihat kagum atas kegiatan hweesio Siau-lim yang sangat agung.

Jit Ie Taysu menghampiri Kian Ih Taysu dan membantu ketua Siau-lim untuk memakai jubah kuning yang baru dibawa oleh empat hweesio kecil, dan memberikan juga segala alat untuk upacara.

Kian Ih Taysu memegang tongkat dari batu giok hijau yang melambangkan kekuasaan ketua partai Siau-lim, di depan dia telah siap enam belas hweesio kecil yang memegang Hudtim dan berjalan perlahan-lahan menuju ruang utama biara, semua hweesio mengikuti rombongan ketua di belakang dengan tertib dan hidmat, mereka memakai baju yang berbeda-beda warna, sebuah pemandangan upacara yang agung.

Begitu Kian Ih Taysu mendekati tangga pintu masuk, hweesio-hweesio yang bertugas disana segera membunyikan lonceng, tambur, guci, dan alat musik upacara agama Budha yang lain, terdengar nyanyian yang sejuk dari irama agama Budha.

Begitu nyanyian itu habis, semua hweesio yang berdiri di lapangan depan ruang utama bersama-sama memanjatkan doa, Kian Ih Taysu, Jit Ie Taysu dan lain-lain hweesio membungkukan tubuh di lantai halaman.

Ke enambelas hweesio kecil itu tiap orang berdiri di tiap anak tanga, di kiri dan kanan mereka persis berdiri di delapan anak tangga.

Kian Ih Taysu mengangkat tongkat kebesaran ketua partai ke atas kepala, telapak tangan kirinya di taruh di depan dada, sambil merapatkan mata dan berdoa, kirakira seperempat jam kemudian baru melangkah naik tangga, perlahan-lahan memasuki ruang utama biara.

Dalam ruang utama juga terdengar nyanyian pujian terhadap kebesaran Budha, diikuti nyanyian hweesiohweesio di luar ruangan utama, dan beberapa menit kemudian nyanyiannya selesai.

Kian Ih Taysu membungkukan tubuhnya di depan altar patung Budha, mengangkat tongkat giok hijau ke atas kepala sebanyak tiga kali, lalu tongkatnya di serahkan pada seorang hweesio yang berdiri di pinggir, kemudian bersujud di bawah patung Budha, semua hweesio yang berada di dalam pun ikut bersujud, kecuali yang sedang bertugas, sementara itu Cukat Hiang, Soat-song Cinjin dan tamu lainnya hanya mengikuti acara ini dengan hidmat di depan pintu.

Suara musik pujian terhadap sang Budha yang ketiga kalinya selesai dikumandangkan, semua hweesio mengikuti Kian Ih Taysu membacakan ayat-ayat suci Budha, sepuluh menit kemudian baru semuanya selesai.

Berikut adalah menyalakan dupa, menyerahkan bungabunga, dan bersujud lagi memberi hormat pada arwah mendiang guru besar Siau-lim, dan Kian Ih Taysu mohon maaf pada beliau karena menggunakan Tulang putih beliau untuk penyembuhan luka A Bin.

Semua orang sanga terharu menyaksikan acara agung yang pertama kali diadakan di dalam biara Siauw-lim ini, Hong-tai dan Siau-cian pun ikut terharu hingga ingin meneteskan air mata.

Setelah selesai, di samping meja sembahyang Kian Ih Taysu mengambil satu kotak sebesar bata tanah yang terbikin dari batu marmer, lalu melangkah menuju anak tangga di pintu masuk, di hadapan semua orang-orang dia berkata.

"Tulang putih maha guru menurut aturan tidak diberikan pada orang biasa, karena ini keadaan luar biasa, dan Luisiauhiap berjasa kepada partai Siau-lim, aku mengambil jalan tengah, agar A Bin melaksanakan satu larangan dari lima macam larangan itu, tetapi Lui-siauhiap belum bisa bangun, siapa yang bersedia mewakili dia untuk menerima aturan terlarang ini!"

Cia Ma-lek mendengarkan hal itu merupakan aturan tidak bisa ditolak, dia merasa selain dia sendiri tidak ada orang lain yang cocok, maka katanya.

"Aku bersedia mewakili adik Lui menerima aturan itu."

Kian Ih Taysu mengucapkan satu kali O-mi-to-hud, dan berkata.

"Bagus!"

Cia Ma-lek langsung diantar empat hweesio kecil menghadap hweesio tua di depan pintu, dan Cia Ma-lek diharuskan memberi hormat pada sang Budha dan Kian Ih Taysu, kemudian bersujud di lantai menunggu upacara sumpah setia mematuhi aturan terlarang.

Kian Ih Taysu memejamkan mata dan membaca ayatayat agama Budha sekali, lalu membacakan dengan suara tegas lima larangan yang harus ditaati oleh A Bin di kemudian hari.

"tidak membunuh yang hidup, tidak mencuri dan merampok, tidak berbuat amoral, tidak berkata sombong atau bohong, tidak minum alkohol. Dan Kian Ih Taysu berkata pada Cia Ma-lek dengan nada serius.

"Kau telah mewakili A Bin menerima aturan itu di hadapan sang Budha, aku harap kau dengan hati yang sungguh-sungguh memilih satu dari lima larangan itu untuk dilaksanakan."

Mendengar lima larangan itu, Cia Ma-lek berpikir dalam hati.

"larangan ini harus ditepati oleh adik Lui seumur hidap, aku harus benar2 memilih yang tepat, larangan tidak membunuh, tidak minum arak adalah hal yang sulit dihindari oleh orang-orang di dunia persilatan, tidak cocok bagi A Bin, tidak boleh mencuri dan merampok bagi aku sangat berat dilaksanakan, karena aku dan kakek guru aku adalah pencuri ulung yang termasyur, mana mungkin di depan umum mengatakan bahwa aku bersumpah tidak mencuri lagi, dan tidak boleh berbuat yang melanggar susila, adik Lei tidak terlibat dalam hal itu, tetapi sekarang ada dua anak gadis yang berebutan untuk mendapatkan diri A Bin, A Bin pasti melaksanakan perkawinan yang resmi, ini tidak termasuk larangan asusila, tetapi aku tidak pilih larangan ini, kalau dipikir larangan tidak boleh sombong dan berdusta, adalah yang paling mudah dilaksanakan oleh adik Lui. maka Cia Ma-lek berkata dengan tegas.

"Aku mewakili adik Lui Memilih larangan tidak berdusta dan sombong!" Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud, dengan nada serius berkata pada Cia Ma-lek.

"Kau mewakili Lui-siauhiap menerima larangan itu, harap kau beritahu pada dia setelah pulih, larangan itu harap ditepati seumur hidup, bila dilanggar, akan mendatangkan malapetaka!"

Ucapan ketua Siau-lim itu membuat Cia Ma-lek takut bukan main, maka dengan otomatis dia meng-anggukan kepala, tetapi dalam hati berkata.

"Aku tahu, aku akan menyampaikan pesan guru!"

Upacara sumpah telah selesai dilaksanakan, Kian Ih Taysu memberi perintah pada semua hweesio agar kembali pada posisi masing-masing, ditemani Jit Ie taysu dan pendekar lain membawa kotak dari batu marmer itu menuju kamar tempat A Bin.

Kian Ih Taysu menaruh kotak itu diatas meja kayu, dengan hormat membuka kotak itu, agar semua pendekar menyaksikan benda keramat itu.

Semua pendekar hanya tahu yang dimanakan Tulang putih seorang hweesio agung, tetapi belum pernah lihat benda itu, maka semua mata melihat kearah kotak itu.

Terlihat Tulang putih dalam kotak diletakan di atas kain kuning, semuanya berjumlah tiga belas butir yang ukuran sama, warnanya seperti giok namun bukan giok, lebih putih dari batu giok, bercahaya seperti mutiara malah lebih terang dari mutiara, betul-betul benda pusaka yang ajaib.

Melihat semua orang menaruh hormat pada benda itu, Kian Ih Taysu menerangkan.

"Tulang putih kristal ini adalah hasil perbuatan bajik dari kakek guru, sekarang menyelamatkan Lui-siauhiap pun merupakan sebuah perbuatan bajik."

Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek ingin agar A Bin segera ditangani oleh Kian Ih Taysu, dua gadis itu memberi isyarat mata pada Cia Ma-lek agar dia ber bicara pada ketua Siau-lim.

Cia Ma-lek segera berkata pada Kian Ih Taysu.

"Kuharap guru besar dapat segera menangani Adik Lui."

Kian Ih Taysu berkata.

"Tentu! tentu! Dengan adanya tulang putih maha guru, aku akan segera menggunakan benda itu untuk mengobati Lui-siauhiap."

Kian Ih Taysu memberi perintah pada Jit Ie taysu agar menyiapkan alat yang diperlukan, dan segera membawa mereka untuk melihat A Bin yang berbaring di tempat tidur Semua orang terkejut begitu melihat A Bin yang seperti patung, suara nafas A Bin pun tidak terdengar, sementara Kian Ih Taysu memeriksa denyut nadi dan seluruh organ penting A Bin, Tidak lama Jit Ie taysu telah membawa masuk semua perlengkapan pengobatan yang diperlukan.

Bersamaan waktu itu, jendela luar kamar itu telah ditutupi oleh beberapa orang hweesio dengan kertas, celah jendela yang bisa memantulkan sinar dari dalam juga ditutupi oleh kain hitam, dalam kamar tampak jadi agak gelap.

Seorang hweesio muda menyalakan lilin untuk menerangi kamar, sehingga semua orang bisa melihat apa saja yang baru dibawa masuk oleh Jit Ie taysu.

Terlihat ada dua gentong besar penuh dengan air bersih, satu baskom penuh dengan ginseng tua sekitar dua puluh batang yang besar-besar seperti lengan anak, dan satu mangkuk agak besar yang terbuat dari batu giok.

Kian Ih Taysu memberi keterangan pada semua orang katanya.

"Pinceng akan tinggal dalam kamar ini untuk merawat Lui-siauhiap, berada dalam kamar ini selama duapuluh satu hari, selama itu tidak boleh melihat sinar, tidak boleh kedinginan, maka semua celah jendela harus ditutup rapat. Di dalam mangkuk ini adalah cairan khusus untuk mencuci Tulang putih. Gingseng tua itu untuk sarapan aku selama duapuluh satu hari, bagi aku bertapa selama tiga hari tidak jadi masalah, tetapi dalam duapuluh satu hari aku harus membantu Lui-siauhiap, sehingga menguras banyak tenaga dalam, terpaksa dibantu harus dengan gingseng ini."

Cia Ma-lek merasa aneh melihat gentong besar yang penuh air, maka bertanya.

"Air bersih inipun untuk minum selama duapuluh satu hari!"

Kian Ih Taysu dengan senyum berkata.

"Bukan, saat menyalurkan tenaga dalam aku dilarang minum air selama duapuluh satu hari. Karena dalam penyaluran tenaga dalam akan mengalami proses tubuh menjadi panas dan kering, sebab tidak boleh minum air dari mulut, tetapi masih memerlukan oksigen dari air, maka air itu diperlukan.untuk penyerapan uap air, dalam duapuluh satu hari mungkin air itu pun akan habis terserap oleh aku!"

Semua orang puas atas keterangan itu dan salut pada Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu berkata lagi.

"Sebentar lagi, kalian harus meninggalkan tempat ini, hanya aku sendiri dalam kamar ini untuk merawat Luisiauhiap, biarpun di luar kamar terjadi sesuatu apapun, aku tetap tidak boleh keluar dari kamar ini selangkah pun, segala keamanan dalam biara akan dipegang oleh Jit Ie taysu, tetapi bila ada musuh menyerang, harap kalian dapat membantu."

Setelah keluar kamar perawatan, para pesilat langsung berunding, Ketua Bu-tong-pay Soat-song Cinjin akan mengantar adik perguruan Ku-cu Totiang pulang duluan.

Tee Wie dari Go-bi, ketua partai Heng-san Coan Tai-kwi juga pamit pulang, maka dari semua pendekar hanya tinggal Peramal jitu Cukat Hiang dan kakek Wie Tionghoo, Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek, dan yang terluka yang masih dirawat pendekar Shangguan Leng dan Gan Cu-kan, semua berjumlah tujuh orang.

Pengamanan Siau-lim-si ditingkatkan menjelang malam oleh hweesio-hweesio yang berilmu tinggi.

Selama duapuluh hari, keadaan tetap tenang, semua orang menduga aliran Jian-kin-kau telah membubarkan diri dan tidak akan menyerang lagi, mereka sudah berencana akan pulang setelah A Bin pulih.

Malam ini bagian Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek berjaga malam, sepanjang jalan dalam tugas, masingmasing menceritakan bagaimana permulaan mereka bertemu dengan A Bin yang sangat menarik.

Tetapi mereka khawatir juga pada detik-detik terakhir perawatan akan ada gangguan, sehingga mereka merasa rada tegang.

Mereka khawatir pada saat yang genting ini musuh menyerang lagi, akan mendatangkan musibah bagi A Bin.

Mereka bertiga segera berpisah untuk meronda sekeliling biara.

Hong-tai mendapat tugas di bagian depan biara, melihat semua hweesio yang bertugas berada di tempat masingmasing, dalam hati Hong-tai memuji atas kedisiplinan murid-murid Siau-lim-sie, setelah selesai dalam tugasnya, Hong-tai ingin kembali ke tempat piket, berkumpul kembali dengan Siau-cian, Cia Ma-lek.

Mendadak terdengar satu suara teriakan orang kesakitan yang mengerikan.

Hong-tai belum lama terjun ke dunia persilatan, tetapi bakat dia pintar dan teliti, maka dia berobah pikiran, mengingat keadaan biara Siau-lim tidak tenang seperti dulu, karena aliran Jian-kin-kau sejak dipukul mundur tempo hari, kekuatan mereka belum habis semua, aliran Jian-kinkau tentu masih menaruh dendam pada biara Siauw-lim, dan ada kemungkinan balik kembali.

Untuk menyakinkan teriakan orang tadi, dia berjaga-jaga siapa tahu musuh datang kembali, maka Hong-tai menuju ke tempat suara teriakan tadi.

Hong-tai segera meloncat bagaikan asap ke atap rumah, meneropong sekelilingnya, di sebelah kiri tampak tidak ada yang mencurigakan.

Tapi dia yakin bahwa suara terikan tadi datang dari sebelah kiri, maka dia langsung menuju tempat itu, karena dibelakang bangunan itu terdapat pos penjagaan juga.

Hong-tai melihat hweesio yang bertugas berdiri dibawah pohon dan memegang golok, mula-mula dia merasa lega, Hong-tai turun dari atas genting dan menghampiri hweesio itu tanpa suara, hweesio yang bertugas itu sama sekali tidak mengetahui kedatangan Hong-tai.

Hong-tai bangga atas ilmu keringanan tubuhnya, tetapi ketika dia sudah sangat dekat dengan tubuh hweesio itu, tampak hweesio itu masih tidak diketahui kedatangannya, Hong-tai menggerutu dalam hati, kenapa hweesio ini tidak becus sekali.

Maka dengan tidak ingin membuat terkejut hweesio itu, Hong-tai bertanya dengan suara perlahanlahan.

"Apakah disini aman?"

Ternyata suara Hong-tai tidak mendapat reaksi dari hweesio itu, dia masih tetap diam, Hong-tai menjadi curiga, segera berjalan ke depan, hweesio itu tetap seperti patung berdiri, Hong-tai segera memegang tubuh hweesio, hawa sudah tidak ada yang keluar dari hidungnya, ternyata jalan darah kematian hweesio ini sudah ditotok.

Hong-tai terkejut, ketika ingin memeriksa keadaan sekitarnya, terdengar suara orang berjalan malam di belakang tubuhnya, dia segera membalikkan tubuh, dia melihat sekitar lima kaki di depan mata menyelinap dua orang berbaju emas yang memakai topeng.

Hong-tai terkejut, mengetahui aliran Jian-kin-kau datang menyerang lagi, sekarang mereka menggunakan taktik menyerang secara diam-diam.

Ini sangat mengerikan, melihat orang berbaju emas itu berani menyelinap masuk ke dalam biara, mereka pasti tahu bahwa di biara sudah tidak banyak lagi pesilat-pesilat tangguh, apakah mereka pun tahu Kian Ih Taysu sedang mengobati A Bin, apakah wanita berbaju putih itu memimpin lagi penyerangan kali ini.

Mengingat kembali kesadisan wanita itu, membuat Hong-tai keluar keringat dingin, dan hilang ketenangan.

Orang berbaju emas yang datang itu berbicara dengan suara perlahan-lahan.

"Kami datang kembali, kami akan menghadapi kalian dengan berterang, bila kau takut, panggil saja kawan-kawan yang lain untuk membantumu!" Hong-tai tahu mereka ingin menahan dia, agar tidak memberitahu yang lain, maka sengaja berbicara begitu, siasat itu membuat Hong-tai yang angkuh tidak ingin memberitahu Siau-cian dan lainnya, agar musuh tahu bahwa dia tidak takut. Maka Hong-tai menghunus pedang berkata dengan dingin.

"Kalian berdua tidak pantas melawanku, kalian berdua boleh maju saja, aku ingin tahu kalian punya kemampuan seberapa besar."

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 11

Baca Juga: Darah Ksatria Harkat Pendekar 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger