Legenda Golok Halilintar 4

Eps 4 Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Baca online Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Cersil Legenda Golok Halilintar - Lan Li.

Mata A Bin melirik rubuh Thio Kong-giok sejenak, dan melihat lawan ingin menggunakan jari tangan yang ampuh itu, maka mengusulkan berduel dengan sepuluh jurus, agar A Bin hanya bertahan dan tidak bisa menyerang, dan dibatasi ruang gerak hanya satu tombak agar A Bin tidak bisa menggunakan ilmu ringan tubuh keluar dari arena pertarungan, pikiran Thio Kong-giok betul betul licik!

Mengetahui niat jahat lawan, tetapi bagi A Bin dengan bekal ilmu tinggi dan nyali besar meski dia tahu ini adalah jebakan, dia pura-pura tidak tahu, maka dengan sinis berkata.

"Kenapa harus satu tombak, ruang yang ukuran delapan kaki juga cukup untuk tempat bertarung?"

Dengan mata marah Thio Kong-giok berkata.

"Bagus!"

Sambil menjulurkan tangan kiri dengan jurus Kauw-liong-tam-jauw (Naga menjulurkan cakar) dia pura pura ingin mencakar A Bin, tetapi gerakannya segera ditarik kembali sambil menggerakan tubuh ke arah kanan dua putaran, saat kedua putarannya akan berakhir, telapak tangan kanan yang sudah berobah berwarna putih mendadak diangkat, dengan satu telunjuk tengah, menotok jalan darah Cuan-kie yang penting dari A Bin.

Saat tangan Thio Kong-giok baru diangkat, A Bin masih berdiri dengan tenang, sama sekali tidak bergerak.

Tetapi di saat Thio Kong-giok merobah jurus dan telunjuk jari kanannya sampai di muka, ternyata bayangan A Bin sudah hilang.

Di belakang tubuh Thio Kong-giok terdengar suara sindiran atau mengejek dari mulut A Bin dengan berkata.

"Ternyata ilmu yang tiada bandingan di dunia persilatan Cui-giok-cie dari Lok-houw-jit-poh hanya demikian saja kehebatannya, bagaimana dengan langkah aku Yu-sian-bitiong-poh (Langkah menyesatkan dewa) ini, apa lebih cepat dari jurus langkahmu?"

Muka Thio Kong-giok yang putih cakap itu langsung berobah menjadi hijau dan putih, dia menarik jari telunjuknya dan membalikan tubuh menghadap A Bin sambil bertanya dengan suara marah.

"Anak gagu! Apa hubunganmu dengan Yo-po-lo-to?"

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Cukat Hiang, Kauw Ki-koan dan lain-lain yang mengetahui kehebatan Yo-po-loto merasa terkejut, Yo-po-lo-to juga seorang pesilat tangguh, mereka tidak menyangka bahwa dia punya murid seperti A Bin.

A Bin tidak mengakui dan tidak membantah atas pertanyaan Thio Kong-giok, hanya berkata dengan sinis.

"Bila kau betul-betul jagoan, silahkan keluarkan jurus apa saja, tidak perlu tanya aku hubungan apa segala dengan orang." Thio Kong-giok merapatkan dua baris giginya, warna mukanya sudah kembali lagi dengan tidak banyak bicara, dia mengangkat ke atas tangan kanan yang putih menakutkan, dengan menggunakan dua jurus aneh yang dikombinasikan dengan langkah kaki kiri kanan berputar, yang membuat orang susah menebak arahnya, jurus tangan berantai segera dilancarkan, di bawah bayangan jari yang menakutkan terselip hawa udara yang tidak mudah diketahui, menyerang organ penting A Bin. Dalam serangan jari yang menyeramkan, tubuh A Bin hanya melayang dengan ringan, tahu-tahu dia sudah lolos dari dua jurus serangan kilat Thio Kong-giok, langkah yang diperagakan A Bin begitu menawan, membuat jago-jago yang menyaksikan pertarungan tersebut merasa kagum, yang ahli pun ketika memandang langkah itu, bila digunakan oleh pemiliknya sendiri juga tidak berbeda dengan A Bin. Kedua orang itu bertarung tidak lewat dari batas lingkaran delapan kaki, dua kali serangan dari Thio Konggiok yang tidak berhasil, membuat dia tidak percaya diri dan menyerah! dan saat dia ingin menggunakan ilmu istimewanya yang hebat, untuk menentukan kemenangan, A Bin sudah tidak memberi kesempatan pada Thio Konggiok, dia melambaikan lengan baju dengan ringan seperti tidak sengaja, mendorong pelan pelan-jurus telapak tangan dari arah dada ke depan! Kebanyakan jago-jago yang melihat jurus A Bin, memandang A Bin menggunakan jurus dengan tidak sungguh-sungguh, seperti memandang enteng musuh? Hanya ahli seperti Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Wie Tiong-hoo dan Cukat Hiang melihat dengan terkejut, mereka berpikir berapa banyak anak muda ini mendapat warisan ilmu dari Yo-po-lo-to? Kenapa dalam telapak tangan A Bin mengandung banyak jurus perobahan? Dan di dalam jurus itu terhimpun tenaga dalam yang begitu kuat. Hong-tai dan Siau-cian yang menyaksikan duel itu merasa lega, tetapi tidak menampakan kegembiraan di muka mereka. Thio Kong-giok pun mengetahui dahsyatnya serangan itu, tidak menunggu jurus A Bin datang dengan sempurna, dia telah melancarkan jurus andalannya sambil melayang mundur beberapa kaki. Dengan semangat yang tinggi, alis mata A Bin digerakan dan berkata dengan gamblang.

"Kau lihat jurus "Telapak tangan menyapu awan" (Hu-inciang), apa lebih bagus dari jurus punyamu "Telunjuk penghancur giok"?"

Mata Thio Hong-giok melotot besar, mulutnya berteriak.

"Aku baru mengeluarkan enam jurus masih ada empat jurus, jangan senang dulu!"

Habis Thio Hong-giok bicara, terdengar suara teriakan dan tertawa keras bersamaan, kedua bayangan orang bentrok ditempatinya dengan kecepatan bukan main, terjadilah duel dahsyat yang mampu membelah langit!

Dalam bentrokan jurus tersebut, A Bin dan Thio Honggiok tidak menggunakan taktik lagi, Thio Hong-giok mengerahkan tenaga dalam dengan seluruh kemampuannya, tetapi A Bin tidak punya niat melukai orang, tidak berani menggunakan tenaga dalam seluruhnya, dia hanya mengerahkan setengah tenaga saja, meski setengahnya terlihat arus angin yang beradu di udara, berturut turut menggetarkan tubuh Thio Hong-giok hampir keluar dari batas dari arena pertarungan.

Perlu diketahui, sejak A Bin berlatih ilmu Ku-yang-nahoan dan berhasil menyedot tenaga dalam dari wanita jalang Ang-lian-sian-cu, dia telah melebur hawa dingin yang mengunci tenggorokannya, sehingga tenaga dalam yang diajarkan oleh gurunya meningkat enam tingkat.

Kauw Ki-koan, Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Wie Tiong-hoo beberapa orang pesilat tinggi yang berilmu tinggi sudah terkejut melihat tenaga dalam Thio Hong-giok yang tidak diperhitungkan, sekarang melihat A Bin tidak menggunakan tenaga penuh telah mampu menerima pukulan Thio Hong-giok beberapa jurus tanpa merasa susah, malah bisa mendesak lawannya, kemampuan dirinya betul-betul membuat mereka terperanjat!

Terkejut dengan kemampuan A Bin yang tenaga dalam nya sudah mencapai enam puluh tahun latihan, anak muda ini bisa demikian hebat, entah ada tenaga ajaib apa yang membantu.

Kedua bayangan orang itu sudah tergulung jadi satu, tidak bisa dibedakan mana A Bin mana Thio Hong-giok, hanya beberapa orang pesilat tinggi yang bisa melihat jurus apa yang mereka gunakan.

Hong-tai dan Siau-cian yang tahu A Bin akan menang dalam pertarungan itu dan tidak akan mendapat bahaya, mereka dengan tenang melihat di pinggir, malah mereka jadi sering beradu mata, masing-masing ingin tahu bagaimana saingannya sedang memperhatikan A Bin, timbul lagi rasa iri mereka.

Mendadak bayangan orang terpisah, A Bin dengan tenang dan tegap berdiri di tengah lingkaran yang menjadi batas untuk arena bertarung, sedarigkan Thio Hong-giok sudah terdesak keluar dari garis pembatas arena, mukanya pucat, tetapi sinar matanya makin ganas dan menakutkan.

Kedua mata Thio Hong-giok memancarkan sinar terang, dia berkata.

"Anak gagu, tenaga dalamku tidak sebanding denganmu, tetapi apa kau masih berani beradu senjata rahasia denganku!"

A Bin mengerutkan alisnya sejenak, bertanya dengan pelan-pelan.

"Beradu senjata rahasia tidak jadi masalah, tetapi aku tidak membawa senjatanya dan juga tidak sudi menggunakan senjata seperti itu, kau punya senjata rahasia apa, silahkan gunakan, bila berhasil melukaiku, anggap saja kau yang menang, bagaimana?"

Thio Hong-giok menjawab dengan dingin.

"Senjata rahasia dari Lok-houw, tidak ada tandingannya, bila digunakan jurusnya sangat ganas, biarpun kau punya ilmu yang sempurna melebihi dewa, juga tidak bisa lolos dari maut!"

A Bin hanya tersenyum dingin, sambil menggerakan alis matanya, bertanya.

"Diwaktu kau menggunakan senjata rahasia, apa perlu juga dibatasi jarak, agar aku tidak bisa meloncat?"

Thio Hong-giok tahu A Bin sengaja meremehkan, dia menjawab dengan dingin.

"Kau jangan menganggap enteng, senjata rahasia Lokhouw ku ini, sekali dilepas, jangan harap bisa selamat!"

A Bin bersuara hidung sejenak, berkata dengan angkuh.

"Kalau begitu, setelah tubuhku mundur, kau langsung menyerang saja!" Begitu perkataan A Bin selesai diucapkan, tampak bayangan hijau melayang, tubuh A Bin telah berbalik di udara dan mundur ke arah belakang. Sasaran senjata rahasia yang paling baik adalah di saat lawannya baru meloncat ke atas atau di saat mau mendarat ke tanah, tetapi Thio Hong-giok membanggakan keampuhan senjata rahasia khasnya dan dia sengaja ingin memamerkan ilmu Lok-houw di depan jago-jago daratan tengah, jadi tidak mau menggunakan kesempatan itu, dia hanya menunggu tubuh A Bin selesai meloncat, dia tertawa dingin sambil berkata.

"Anak gagu, kau tidak perlu gelisah, aku tidak akan melepaskan senjata rahasia sebelum kau berdiri dengan betul, nah sekarang waktunya merasakan bagaimana jurus Lok-houw yang ajaib itu?"

Bersamaan ucapannya, Thio Hong-giok melepaskan tiga buah Pi-coa-cui (Semacam bor ular hijau) ke atas kepala A Bin, dan selanjutnya tiga buah Ouw-ie-cu (Panah bulu hitam) yang berobah menjadi tiga kilatan hitam melaju dengan cepat sekali.

A Bin menunggu senjata rahasia Thio Hong-giok datang, berbekal ilmu yang tinggi dan nyali yang besar dia tetap berdiri di tempatnya dan tidak menghindar, tetapi ilmu warisan gurunya, Han-kie-sin-kang telah terkumpul dalam tubuhnya siap digunakan, A Bin berdiri dalam keadaan siap dan waspada.

Yang membuat A Bin siap dan waspada karena senjata rahasia Thio Hong-giok semuanya tidak ditujukan langsung menujunya, tiga buah Pi-coa-cui yang duluan dilepas berada diatas kepala kurang lebih dua kaki, dan yang belakangan dilepas Ouw-ie-cu, juga tidak diarahkan ke tubuh A Bin, suatu serangan yang aneh dan khas.

Di kala semua jago-jago sedang asyik memperhatikan senjata itu, terdengar tiga kali suara "Ceng, ceng, ceng".

Satu ledakan kecil membuat senjata itu terpencar kemanamana di ikuti sinar hitam dan api berwarna hijau, tubuh A Bin segera terkurung oleh sinar hitam dan api hijau itu.

Ternyata tenaga senjata rahasia itu sangat keras dan jurus yang digunakan sangat berbeda dengan cara umum.

Tiga benda yang belakaangan dilepaskan oleh Thio Honggiok mengejar tiga benda yang duluan meluncur, sehingga membentur membuat tiga suara keras dan mengeluarkan beberapa kembang api berwarna hijau.

Senjata Ouw-ie-cu yang terbang ke atas itu setelah bertabrakan dengan senjata yang satu lagi dan membuat tiga kali suara, berobah arah menjadi menukik ke bawah, dan sayap bulu hitamnya terbakar oleh kembang api berwarna hijau, membuat bulu itu bertebaran di udara dengan rapat mengurung tubuh A Bin yang berdiri di bawah.

Tiga buah senjata Pi-coa-cui setelah di kejar dan di tabrak olah senjata Ouw-ie-cu itu, segera memuntah-kan bara api bagaikan tiga naga api, terbang menuju arah ulu hati A Bin dengan cepat sekali.

A Bin melirik dengan seksama bulu hitam yang bertebaran diatas kepala, telapak tangan kirinya dengan lambat segera dilayangkan keatas, tidak terdengar sedikit pun suara angin keras, namun jurus A Bin tersebut membuat tiga senjata Pi-coa-cui yang seperti api naga itu terpental ke samping hingga tujuh delapan kaki.

Dan kilatan api hitam tertiup oleh udara yang ditiup dari mulut A Bin bagaikan terkena benda yang tidak tampak, berobah arah dan jatuh di luar lingkaran tubuh A Bin berdiri, membuat lantai yang kokoh juga berlubang kecil di beberapa tempat.

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, dan Iblis dari selatan Kauw Ki-koan dibikin terperanjat oleh kemampuan A Bin, Kauw Ki-koan pun sampai lupa bahwa dia dan Kian Ih Taysu adalah musuh, dia bertanya dengan suara rendah.

"Hweesio tua! Kau telah melihat anak muda she Lui ini telah menguasai ilmu pelindung diri yang tidak tampak dari luar, apakah itu ilmu tunggal yang dulu dikuasai oleh (Istana ketenangan) Siau-yau-kiong yang bernama Han-kiesin-kang? apakah ketiga orang tua itu belum mati, dan telah mendidik murid yang hebat ini!"

Kian Ih Taysu masih memperhatikan suasana lapangan, setelah berucap O-mi-to-hud sejenak dan berkata.

"Saat ketiga Siau-yau-cu sedang merajai dunia persilatan aku sendiri juga belum lahir, kalau anak muda ini menguasai ilmu Han-kie-sin-kang yang seperti dalam dongeng ilmu terkenal dari Siau-yau-kiong itu, aku tidak dapat menerangkan, tetapi aku merasa yakin hanya ilmu itu yang dapat menghindarkan senjata rahasia Lok-houw......"

Belum habis perkataan Kian Ih Taysu mendadak dia berhenti meneruskan kata-kata yang belum selesai dan kembali terperanjat oleh kejadian yang terjadi di arena pertarungan.

Ternyata setelah Thio Hong-giok gagal melukai A Bin dengan kedua macam senjata rahasia itu, dengan muka yang dingin, dia mengeluarkan lagi dua belas buah senjata baru Siau-hun-gin-so (Torpedo perak mengunci roh), senjata rahasia ini bagaikan hujan bunga yang bertebaran menyerang A Bin.

Jurus yang digunakan Thio Hong-giok untuk melepas Siau-hun-gin-so itu lebih menakjubkan, seperti satu kumpulan air hujan berwarna perak yang bisa saling merapat dan bertebaran lagi, terdengar suara benda logam beradu, suara itu bergema di udara menyebar ke arah empat mata angin, membikin lawan tidak bisa melihat dan menebak benda itu, bagaimana terbangnya?

Dan dimana arah yang diserang?

A Bin membuka mulut dan tiupan udara dari mulutnya menjatuhkan enam senjata Siau-hun-gin-so, sedang tenaga kedua telapak tangan bersamaan telah mementalkan empat buah, tetapi ada dua lagi yang terbang diatas kepala A Bin, dengan cepat menyerang puncak kepala dan pundak kanan A Bin, kelihatan A Bin akan terluka oleh senjata rahasia itu.

Semua jagoan diruangan berobah warna mukanya karena terkejut, Hong-tai dan Siau-cian pun tidak menghiraukan lagi gengsinya, masing-masing berteriak khawatir atas diri A Bin.

Dalam detik yang berbahaya itu, A Bin menggunakan gerakan tubuh yang menakjubkan, terlihat hanya menggoyangkan kepala dan pundak dengan sebat sekali berhasil meloloskan A Bin dari bahaya.

Warna muka Thio Hong-giok berobah pucat karena gagal melukai A Bin, tanpa mengucapkan satu kata pun, hanya dengan sepasang mata yang penuh dendam memandang A Bin sejenak, dengan baju mewah yang bergetar dia segera meninggalkan tempat itu bagaikan awan terbang, lalu jejak Thio Hong-giok hilang entah kemana.

Dengan kepergian Thio Hong-giok, jago-jago di ruangan saling berbisik, Iblis dari selatan Kauw Ki-koan segera berdiri dan berpamitan kepada Kian Ih Taysu dan berkata.

"Hweesio tua!

Aku telah berjanji pada kalian jago-jago silat dari daratan tengah untuk pertemuan tahun depan, aku sudah tidak ada urusan lagi disini, aku pamit dulu!"

Kian Ih Taysu memberi salam Budha dan berkata.

"Tahun depan tanggal seperti hari ini, aku dan temanteman pasti memenuhi janji dan berkunjung ke tempat anda!"

Kauw Ki-koan memberi tahu pada Tong-hai-to-liong (Naga Bungkuk dari Laut Timur) Cia Houw-ciat untuk bersama-sama meninggalkan tempat itu, dan sama sekali tidak menghiraukan Bu-ih Taysu dan Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dua orang temannya yang bersamaan datang, kedua Iblis itu juga merasa malu dan dengan muka tebal meninggalkan tempat itu dengan diam tanpa banyak bicara.

Di sudut lain, Soat-song Cinjin telah memeriksa luka yang dialami Ku-cu Tojin, beruntung luka dalamnya tidak terlalu parah, tetapi tenaga dalam telah terkuras banyak, sehingga kondisi tubuh Ku-cu Tojin sangat lemah, sejak digotong masuk ruangan, masih dalam keadaan pingsan.

Selesai tugas Soat-song Cinjin menghampiri A Bin dan berkata.

"Tuan Lui! Pinto mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan anda, tetapi Pinto ingin bertanya, siapa yang telah melukai Suteku dan bagaimana bisa terlukanya!"

A Bin dengan singkat menerangkan bagaimana diperjalanan bisa bertemu Ku-cu Tojin dan kejadian menolong tosu itu.

Ceritanya, sejak A Bin meninggalkan biara yang hampir mencelakakan itu, dia menyusuri sungai kuning melanjutkan perjalanan ke propinsi Ho-lam, pada satu hari A Bin melangkah di jalan pegunungan, menembus hutan yang lebat, dan mendapatkan satu gunung yang tidak terlalu tinggi di depan mata.

Karena waktunya cukup banyak, A Bin tidak berburuburu melakukan perjalanannya, pelahan-lahan dia melangkah di jalan yang menanjak, baru sampai di tengah gunung, terdengar suara kaki orang dikejauhan, sejak pengalaman diperjalanan, melatih A Bin menjadi lebih teliti dan waspada, tetapi dengan tenang dia terus melanjutkan perjalanannya.

Hingga sampai di satu bukit, mendadak keluar satu orang menghadang di tengah jalan, dengan suara lancip berkata.

"Siapa yang datang?"

A Bin pura-pura terkejut sambil melihat diatas bukit itu, disana berdiri dua orang berbaju warna abu-abu dan muka tertutup sambil memegang senjata dan roman muka yang angker.

A Bin jadi tertarik oleh kedua orang itu, jadi dia purapura seperti yang terkejut dan salah langkah, terburu-buru melangkah naik ke puncak, menggunakan ilmu meringankan tubuh tetapi pura-pura seperti tersesat, dia ingin mengelabui kedua orang yang memakai topeng.

Roman muka A Bin cakap dan lembut, bajunya berwarna hijau dan memakai sepatu kain, sama sekali tidak kelihatan bisa ilmu silat, dan dia telah bisa menyimpan ciriciri ahli silat yang tampak dimukanya, cara yang ditempuh A Bin, bagi kedua orang penghadang itu susah untuk menebak asal usul A Bin.

Salah satu orang berteriak dengan marah.

"Hai anak muda, kau jangan sembarangan jalan? Apa mau mencari mati!" Orang yang bicara itu angat brutal, begitu habis bicara sudah menyodorkan sebilah pisau tajam menusuk titik kematian di punggung A Bin, A Bin pura-pura berteriak takut, tubuhnya meloncat kedepan, seperti tidak sengaja berbuat bodoh untuk menghindari tusukan pisau itu, dan berhasil naik ke puncak bukit. Setelah naik keatas bukit, A Bin di bikin terkejut! Sebab dibawah bukit sekitar sepuluh tombak terlihat ada empat orang sedang berduel. Ditanah sudah terbaring empat orang yang berlumuran darah, kelihatannya sudah mati terbunuh, mereka terdiri orang yang berbaju tosu dan berbaju abu-abu yang memakai penutup muka, dalam pandangan A Bin sekejab sudah mengetahui muka orang yang sedang berduel. Ke empat orang yang berduel itu ternyata adalah Ku-cu Tojin dari Bu-tong, yang pernah A Bin lihat saat di biara Cu-sia, dia sedang dikurung oleh satu orang berbaju perak dan dua orang berbaju abu-abu. A Bin melihat keadaan Ku-cu Tojin sudah penuh bercak darah di tubuhnya, rambut berantakari kemana-mana, ternyata dia sudah terluka di beberapa tempat, menghadapi tiga musuhnya, pedang yang di pegang masih tetap bertenaga penuh dan gesit. Hanya dalam sekejab mata, dua orang berbaju abu-abu sudah datang mengejar A Bin, sambil menggunakan senjata mereka menyerang A Bin dari arah kiri kanan sambil berteriak ingin membunuh A Bin. Sekarang A Bin sudah jelas mereka adalah murid-murid Jian-kin-kau, maka dia bertekad tidak akan memberi ampun pada mereka, dia segera memutar tubuh dengari cepat, dengan sapuan tangan menyerang lengan musuh, sehingga membuat kedua orang itu melepaskan senjata yang mereka pegang dan berdiri bengong karena terkejut. A Bin bermaksud menangkap kedua orang itu agar mendapatkan keterangan tentang Jian-kin-kau, tetapi menengok lagi keadaan Ku-cu Tojin sedang dalam kesulitan dan bahaya, karena sudah terluka dan tiga temannya sudah meninggal, mempengaruhi semangat dia untuk bertahan lagi. Maka A Bin berteriak bagaikan halilintar di musim semi dengan membentak.

"Dengan orang banyak melawan satu orang bukan sikap seorang jagoan?"

Dia langsung meloncat tinggi terjun ke tempat pertarungan tersebut.

Tiga orang yang mengurung Ku-cu Tojin, yang berbaju perak menggunakan pedang yang ada kaitnya, jurusnya mantap, tenaga dalamnya kuat.

yang berbaju abu-abu, satu menggunakan senjata seperti panci, tenaga tangannya kuat, jurusnya berbahaya, terpaan angin dari senjata itu sangat keras, gerakan tubuhnya juga licin dan cepat, dan yang satu lagi memegang sebilah golok, jurus golok juga lincah dan berbahaya.

A Bin menggunakan telunjuk ke dua tangan yang digetarkan, sehingga angin dari telunjuk itu melesat bagaikan arus tenaga yang kuat, menggoyang-kan senjata semacam panci itu, dan satu tenaganya lagi menuju tangan yang memegang pedang yang berkait.

Orang baju abu-abu itu terkejut juga dapat serangan A Bin, senjata ditangan hampir terlepas, bersusah payah dia mengerahkan tenaga untuk memegang dengan erat, namun senjata itu tertekan ke pinggir, sedang orang berbaju perak itu dengan jurus yang indah biar pun kena tekanan tenaga tangan A Bin, tubuh pedangnya melayang ke pinggir sedikit langsung arahnya pedang kembali menyerang tangan A Bin.

A Bin menghindar sedikit, rubuhnya berputar, dengan cepat sekali memakai telapak tangan menyapu golok dari orang baju abu-abu itu dan berlanjut menyerang orang berbaju perak.

Ini kesempatan yang diharapkan, Ku-cu Tojin segera keluar dari pertarungannya, tetapi baru bernafas sejenak, tubuhnya sudah ambruk ditanah, terdengar suara orang berbaju perak berkata.

"Orang ini sangat berbahaya, gempur dia sekuat tenaga!"

Lalu pedangnya bersuara keras, senjata model panci dan golok juga bertubi tubi menyerang A Bin, ketiga orang itu menguasai ilmu cukup tinggi, sehingga A Bin harus hati hati menghadapi mereka.

Untuk sementara A Bin tidak memperhatikan Ku-cu Tojin dulu, kedua tangannya didorong dan di putar, satu tenaga dahsyat keluar dari tangan A Bin membendung ke empat senjata yang digunakan musuh, sebuah pusaran tenaga memaksa senjata musuh terdorong ke pinggir.

Ketiga orang itu sangat terkejut, dalam putaran tenaga mereka terpencar, orang berbaju perak bersiul memberi tanda, mereka segera pergi tidak mau bertarung lagi.

Sebetulnya A Bin bisa menangkap salah satu dari mereka dengan mudah, tetapi dia mengkhawatirkan keadaan mati hidupnya Ku-cu Tojin, maka dia membiarkan ketiga orang itu pergi, dan menghampiri Ku-cu Tojin untuk melihat keadaan luka hweesio itu, terlihat Ku-cu Tojin dengan mata tertutup sedang bernafas berat, asap putih sedang keluar dari atas kepala dan menguap diudara.

A Bin melihat Ku-cu Tojin sedang mengguna-kan tenaga dalam tingkat tinggi mengobati luka dalam dan memulihkan tenaga dasarnya, melihat tosu itu berbaring menghadap tanah, dia menduga tosu ini ingin menggunakan hawa tanah membantu pemusatan tenaga nya, cara yang digunakan tosu itu mungkin cara rahasia dari aliran Bu-tong.

Mengetahui Ku-cu Tojin tidak berbahaya, maka A Bin tidak mengganggu tosu itu, dia meng hampiri keempat orang yang tergeletak di tanah, kedua tosu muda terluka dibanyak tempat, sehingga mati, dan dua orang lawan mereka yang berbaju abu-abu masing masing terbunuh oleh pedang di ulu hati mereka, dalam hati A Bin merasa kagum, ilmu silat aliran Bu-tong betul betul tangguh, pedang yang dilepas oleh hweesio itu betul betul mengenai sasaran yang tepat.

A Bin memeriksa, orang berbaju abu-abu itu bertubuh tegap, tetapi muka mereka sangat asing, sukar untuk mendapat keterangan dari mereka.

Selang beberapa menit kemudian Ku-cu Tojin merangkak bangun, melihat murid yang tergeletak di tanah, dia berdoa sejenak di depan mayat murid Bu-tong itu, baru dengan kata sedih berkata pada A Bin.

"Hari ini bila bukan Lui-siauhiap yang menolong, aku pasti sudah mati ditempat ini. Aku berterima kasih sedalam dalamnya atas bantuan ini, lain hari setelah aku memberi laporan pada ketua, aku akan kembali lagi menemui anda untuk membalas budi."

Dalam percakapan singkat ini, nafas dan kata-kata Ku-cu Tojin sangat pendek dan terputus-putus, menunjukan tenaga dalamnya sudah terkuras banyak.

A Bin telah mencoba ilmu silat dari tiga orang Jian-kinkau itu, dia tahu mereka bukan orang biasa, tetapi tenaga dalam mereka tidak terlalu tinggi, jadi A Bin tidak mengerti kenapa tosu ini bisa terkuras habis-habisan tenaganya.

Pengalaman Ku-cu Tojin sangat dalam, dia bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran A Bin, dengan sedikit menyesal berkata.

"Aku dan dua orang perguruanku telah di kepung dan dikeroyok oleh mereka selama tiga hari, aku tahu tidak bisa melawan gerombolan orang-orang ini, maka berusaha melarikan diri, dalam tiga hari kami mengalami lebih dari sepuluh kali pertarungan dengan pihak lawan yang banyak, sehingga menguras banyak tenaga, tadi pagi aku berusaha menghindari kejaran musuh, mencari jalan pintas dengan jalan cepat, tetapi masih terkejar oleh regu kecil mereka. Beruntung tenaga inti mereka belum terkumpul, sehingga hanya beberapa orang saja yang menyerang kita, bila Luisiauhiap tidak datang kemari, Siauhiap juga akan menemukan nasibku seperti teman aku yang telah mati. Sekarang aku akan pulang ke Bu-tong, tapi mungkin masih akan mendapat serangan dari musuh beberapa kali lagi, aku mohon dengan sungguh-sungguh Lui-siauhiap jangan hiraukan aku lagi, sebab Siauhiap akan terlibat dalam kesusahan."

Ucapan Ku-cu Tojin yang keluar dari lubuk hati bukan kata meminta bantuan, hingga membuat A Bin menaruh rasa simpati pada tosu itu, maka dengan tersenyum dia berkata.

"Totiang jangan khawatir, bukan aku sombong, kalau mereka yang datang seperti tadi, ditambah dua puluh orang lagi yang menghadang, aku pun masih bisa mengantar Totiang pulang ke Bu-tong-san dengan aman!" Ku-cu Tojin pernah melihat ketangguhan A Bin waktu dibiara Cu-sia, memang punya ilmu lebih tinggi dari dirinya, dan menilai dari situasi depan mata, bila bukan A Bin yang membantu, dia sendiri tidak akan bisa pulang ke Bu-tong dengan selamat, maka dengan menghela nafas dia berkata.

"Aku bukan takut mati, karena aku mendapat perintah dari ketua partai, jadi pergi jauh untuk mencari tahu tentang Jian-kin-kau, tiga hari yang lalu beruntung aku mendapat sedikit informasi, tetapi melanggar larangan aliran itu, maka dalam tiga hari itu mereka menyebar pembunuhpembunuhnya untuk menyerang kami, aku mengalami sembilan kali hampir mati dan selamat dalam kali ini, hanya berharap bisa menyampaikan keterangan ini pada ketua partai, dan aetelah tugasnya selesai, aku akan rela mati dengan tenang. Sekarang, bila Siauhiap berkenan mengawal aku pulang, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan anda."

Sudah habis bicara dia memberi salam terima kasih pada A Bin.

A Bin dengan gembira membalas ucapan terima kasih hweesio itu, dan menyarankan pada Ku-cu Tojin, karena terluka dalam jadi terganggu kecepatan di perjalanan, apalagi terlalu jauh untuk pulang ke Bu-tong, apa tidak lebih baik langsung menuju biara Siauw-lim, mengejar hari pertemuan di Siauw-lim-sie dan menunggu kedatangan Soat-song Cinjin disana.

Ku-cu Tojin setuju atas saran A Bin, dan minta bantuan A Bin untuk mengubur mayat kedua adik perguruan di tempat itu, dan atas dasar aturan Budha yang mengasihi juga mengubur kedua mayat musuh yang berbaju abu-abu itu.

Selanjutnya A Bin mengawal Ku-cu Tojin menuju ke arah Siong-san, setelah sore mereka meng-inap di hotel di kota kecil.

A Bin telah tahu di perjalanan banyak orang yang mengawasi mereka dari belakang secara sembunyisembunyi.

Tapi A Bin sama sekali tidak gentar, dia selalu mendampingi tosu itu, sampai makanannya selalu diperiksa dulu, untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan, tidur dalam kamar pun mereka berdua bergiliran berjaga.

Karena Ku-cu Tojin terluka dan kelelahan, A Bin membiarkan dia tidur duluan, dia sendiri tanpa berganti baju, berbaring di ranjang sambil memulihkan tenaga, asal ada sedikit suara saja, dia sudah dapat tahu.

Kira-kira jam dua subuh, terdengar suara ribut di dalam penginapan, A Bin sudah terbiasa dengan hal itu, tetap diam sambil mendengarkan dengan seksama, malah Ku-cu Tojin terbangun dengan terkejut, dan p"ada waktu itu terdengar suara langkah ribut di luar jendela kamar, dan satu orang pelayan hotel mengetuk pintu kamar dan berteriak.

"Tuan, tuan segera bangun, di belakang hotel terbakar, kalian segera siap-siap pergi........"

A Bin segera membantu Ku-cu Tojin keluar kamar, melihat api di belakang hotel sudah membara, karena membantu mengawal tosu itu, dia tidak ingin menggunakan ilmu meringankan melayang diatas genting untuk menghindari kegaduhan orang-orang yang sedang membantu memadamkan api, maka A Bin mencari jalan untuk menghindar.

Di halaman hotel banyak tamu membawa gendongan tas, dan sebagian mengeluarkan koper yang agak besar keluar hotel, setelah A Bin dan Ku-cu Tojin keluar hotel melalui gang sampai di belakang hotel, dia melihat kandang kuda hampir terbakar semua, biar pun tidak ada orang yang terluka, tetapi api kalau merembet ke depan bisa menghanguskan seluruh bangunan hotel.

Melihat situasi tersebut, terpanggil jiwa berani membantunya maka A Bin berpesan pada Ku-cu Tojin agar hati-hati di tempat, dan segera merebut satu ember dari orang lain, dengan cepat menuju sumur tidak hauh dari situ, mengambil air untuk memadamkan api, mata A Bin tetap mengawasi Ku-cu Tojin, tidak berani ceroboh.

Kecepatan A Bin dalam membantu sangat luar biasa, segera sudah menumpahkan air sebanyak delapan ember.

Air orang lain hanya bisa mencapai sekitar satu tombak, tetapi A Bin bisa menjatuhkan air itu tepat dipusat api, maka kiriman air A Bin hingga delapan ember, hampir kelihatan bara api telah menjadi lemah.

Dan sesudah delapan ember lagi, A Bin melihat api makin lemah, maka dengan senang hati, menenteng satu ember air lagi melewati jalan ke sisi Ku-cu Tojin, agar lebih mudah mengawasi.

Dalam keributan terlihat satu orang tua menggendong satu anak berpapasan muka dengan A Bin.

Dilantai banyak genangan air, orang berjalan bisa terpeleset karena licin, baru saja A Bin ingin memberitahukan kakek itu agar hati hati, ternyata orang itu terpeleset jatuh di depan matanya, dan anak yang di gendong di dada terlempar keluar.

A Bin sangat terkejut, segera dengan satu tangan yang kosong menangkap anak itu, air didalam ember yang dipegang satu tangan lagi sama sekali tidak terbuang keluar ember, pertunjukan A Bin tersebut mengundang suara pujian dari orang-orang di pinggir yang menonton kejadian kebakaran itu.

Tubuh kakek itu sempoyongan hampir jatuh, A Bin terpaksa melepaskan ember air itu, segera menahan tubuh orang tua itu, sehingga tidak jatuh ketanah.

Setelah berdiri betul dan menerima anak kecil dari tangan A Bin, kakek itu dengan sibuk mengucapkan terima kasih pada A Bin.

"Kau betul betul orang baik........"

A Bin membalas berkata.

"Kau cepat pergi dari sini, aku mau bantu memadamkan api!"

Setelah kakek itu pergi, A Bin ingin mengambil ember air lagi, namun ketika matanya melirik ke tempat Ku-cu Tojin berada, ternyata sudah hilang.

A Bin sangat terkejut dan bercampur rasa aneh, orang sebesar itu bisa hilang dalam sekejab mata, bila di culik orang, cara mereka sungguh luar biasa.

Sejauh matanya mengawasi sekelilingnya, A Bin, menemukan sebuah benda kuning berupa pita yang ada ditanah sekitar lima tombak, A Bin segera mengambil benda itu, betul juga potongan kain dari ikat pinggang Kucu Tojin.

A Bin mencoba menuju gang di mana kain kuning itu berada, sampai di mulut jalan, karena banyak orang menonton kebakaran, sehingga menghalangi jalan, A Bin menjadi sangat gelisah, maka tanpa banyak pikir, dia memusatkan tenaga dalam dan mengayunkan tangan dengan ringan, membuat barisan orang yang berada di depan segera mundur kebelakang, sehingga membuat celah jalan kosong buat A Bin untuk dilalui.

A Bin terus mengejar, betul juga dipinggir jalan menemukan sepotong kain kuning lagi, A Bin dapat memastikan bahwa tanda itu diam-diam dijatuhkan Ku-cu Tojin untuk memudahkan A Bin menelusuri dan menolong, maka A Bin terus berjalan dan di bantu tanda kain itu segera keluar dari kampung itu.

Di tempat itu terdapat kuburan lama dan pohon-pohon liar, suasana gelap dan menakutkan, pandangan mata A Bin sangat tajam, terus mengejar mengikuti tanda-tanda yang ditinggalkan Ku-cu Tojin.

Sampai di satu bukit kecil, dia memandang jauh, terlihat ada satu lapangan luas di bagian kiri, dan di bagian kanan terdapat pohon-pohon yang menghalangi jalan, setelah diteliti, A Bin melihat ada bayangan orang di dalam pohonpohon itu, maka segera menuju kearah itu.

Setelah menerobos kira-kira delapan pohon, di mana bayangan orang yang terlihat tadi berada, tetapi sekeliling tempat itu tidak terdengar suara orang.

A Bin memusatkan konsentrasi, memeriksa tempat ini, mendadak terdengar satu teriakan orang dari kejauhan.

A Bin melangkah pelan-pelan dan berlindung di pohon atau batu-batuan gunung, dan terakhir meloncat ke atas pohon, melalui celah daun, A Bin melihat ke depan.

Dalam jarak sekitar delapan tombak ada satu lapangan rumput dan di tengah lapangan itu berdiri seorang yang ternyata Ku-cu Tojin yang dalam keadaan selamat, melihat keadaan itu A Bin sangat senang, sementara waktu A Bin ingin menyelidiki keadaan musuh yang tersebar disekitar itu, maka dia tetap bersembunyi.

Di atas pohon A Bin melihat ada sekitar tujuh orang berlompatan di kegelapan, dan ada dua orang berbaju perak dengan cepat melompat ke dalam lapangan itu, segera mengepung Ku-cu Tojin dari belakang.

Gerakan kedua orang itu sangat cepat dan ilmu sangat tinggi, sehingga Ku-cu Tojin tidak mengetahui di belakang ada dua musuh datang dari kiri dan kanan, A Bin melihat dari kejauhan keadaan itu segera tergugah untuk lompat turun dari pohon itu.

Kedua orang baju perak itu entah merasa angkuh atau merasa lawan sudah di kepung banyak orang, dan tidak akan terlepas lagi sehingga tidak menyerang di kegelapan, dengan tertawa menakutkan memberi tahu kedatangan mereka, Ku-cu Tojin segera membalikkan tubuh dengan muka sangat tenang, mungkin dia sudah tahu kedatangan kedua orang itu, dengan nada dingin berkata.

"Kalian mengejar terus, seperti tidak puas bila aku belum mati, sekarang aku ingin kalian puas aku tidak akan lari! Tetapi sebelum aku mati, aku ingin menggunakan pedang turunan dari kakek guruku untuk membasmi beberapa iblisiblis di dunia ini!"

A Bin telah melihat muka Ku-cu Tojin sangat pucat, di pinggir mulut juga terdapat sedikit bercak darah, sebelah tangannya sedang memegang dada, A Bin hampir tidak tega melihat keadaan tosu itu, dia ingin segera membantu melawan musuh, tetapi setelah dipikir lagi dia ingin memancing lebih banyak musuh keluar, menangkapnya hidup-hidup, dan menyelidiki lebih seksama, sehingga dia menahan diri tidak keluar dari tempat persembunyian.

Salah satu dari orang berbaju perak itu berkata dengan dingin.

"Bila kau bunuh diri dan menutup sendiri titik nadimu, mungkin bisa mengurangi penderitaan dan mayatnya utuh, bila tidak, jatuh ke tangan kita kau akan tersiksa dan menderita!"

Ku-cu Tojin berteriak sekali, mendadak menyerang orang di kiri, pedang yang dipegang dengan kecepatan bagaikan angin kencang dan hujan deras menyerang musuhnya.

Tosu itu keluaran dari partai ternama, jurusnya sangat sempurna dan tenaga dalam masih cukup, sehingga serangan itu membuat orang berbaju perak itu kalang kabut, satu orang berbaju perak yang berdiri di pinggir segera menghampiri dan mengayunkan tongkat yang di pegang menghadang Ku-cu Tojin untuk menolong temannya.

Menghadapi dua orang lawan, membuat Ku-cu Tojin bertahan dengan susah payah, berlainan dengan tadi satu satu lawan satu.

Dapat dipahami tenaga dalam tosu itu lebih tinggi dari lawan, karena terluka sangat berat, maka tenaga serangannya lemah, tertolong oleh jurus yang banyak perubahan, sehingga masih bisa bertahan untuk sementara.

Terdengar satu suara siulan, konsentrasi Ku-cu Tojin tambah terganggu sehingga kecepatan jurusnya terhambat, dua orang berbaju perak itu menggunakan kesempatan ini dengan baik, satu orang dengan tongkatnya mendorong pedang Ku-cu Tojin keluar dari posisinya, satu orang lagi menggunakan pentungan besi menerobos pertahanan tosu itu.

Dalam keadaan sangat genting itu, mendadak terbang beberapa cahaya, masuk dalam lingkaran pertarungan membawa satu suara lentingan, membuat pentungan besi yang menyerang tosu itu meleset ke pinggir, dan senjata rahasia yang jatuh ke tanah itu ternyata berupa beberapa butir pasir.

Dan bersamaan itu, satu bayangan orang seperti terjun dari langit, berhenti diantara Ku-cu Tojin dan dua orang berbaju perak itu, berkata dengan suara nyaring.

"Bisanya hanya mengeroyok, menyerang dengan diamdiam dan bersembunyi, kalian dari alirang Jian-kin telah banyak berbuat keonaran dan kejahatan, pasti akan terbasmi dengan pembunuhan masai, dari pada tiba waktu tersebut, apa tidak lebih baik kalian bunuh diri saja!"

Orang yang bicara itu adalah A Bin, menggunakan katakata orang berbaju perak tadi untuk menyindir balik.

Kedatangan A Bin membuat dua orang berbaju perak itu ketakutan, bagi Ku-cu Tojin menjadi gembira dan risau.

Dalam sekejap, tosu itu mendekati tubuh A Bin, dengan diam-diam menyerahkan sebuah benda ke tangan A Bin, berpesan dengan suara kecil.

"Lui-siauhiap, di sekeliling banyak musuh, tenaga kita kurang, bertahan mungkin bisa mati sia-sia, kau cepat keluar dari kepungan musuh, serahkan benda ini kepada ketua partai kami, aku disini menahan musuh!"

A Bin sangat cerdik, dia tahu bila menerima titipan barang dari Ku-cu Tojin, membuat tosu itu tidak punya beban, dan akan bertarung mati-matian, agar A Bin bisa cepat keluar dari kepungan, maka dengan sedikit tenaga, dia mengembalikan lagi benda itu ke tangan Ku-cu Tojin.

Pada waktu bersamaan, kawanan musuh bertambah lagi lima enam orang, diantara mereka terdapat seorang berbaju emas dengan tutup kepala, tangannya memegang tongkat berukir kepala naga, tampak dia adalah pimpinan mereka.

A Bin dengan menunjuk orang itu tertawa dan berkata.

"Kau sudah tua begini, masih berani membuat pekerjaan yang berbahaya, pasti karena terpaksa, biar aku mengampuni kau tapi kau jangan ikut campur!"

Orang berbaju emas itu sangat terkejut, meski sudah pakai tutup muka, tapi masih ketahuan umurnya oleh A Bin, entah bagaimana lawan bisa tahu demikian jelas, tetapi kata A Bin itu membuat dia marah juga, maka berkata dengan dingin.

"Meski kau berlatih silat sejak keluar dari rahim ibumu, hingga hari ini kau punya bekal berapa besar, berani berkata sombong begitu, biar aku mencoba ilmu silatmu, apa betul hebat!"

Kelihatan orang ini menganggap enteng pada A Bin yang masih muda, dia tentu tidak akan punya tenaga dalam yang kuat, maka sambil bicara, jurus tongkatnya pun keluar, bersamaan itu kakinya maju dua langkah, kepala tongkatnya menyapu tubuh A Bin dengan cepat sambil berteriak.

"Hayo keluarkan senjatamu!"

A Bin tetap berdiri tegap, tidak bergoyang sedikit pun, membuat orang berbaju emas itu tertegun sejenak, namun dia tetap tidak menghentikan gerakan-nya, ayunan tongkatnya sudah mendekati tubuh A Bin dan tongkatnya berobah menjadi lima atau enam bayangan sambil mengeluarkan tenaga lemas meng-gebrak tubuh A Bin bagian atas dada.

A Bin sudah menyiapkan tenaga di tangannya, dia menunggu waktu yang tepat, terlihat dia menyodor-kan sebelah telapak tangan sebagai pengganti pedang, menutup jurus serangan tongkat itu.

Orang berbaju emas itu sangat terkejut dan sedikit gentar, dengan tertawa sinis dia menyalurkan tenaga dalam ke tongkatnya, menotok telapak tangan A Bin dengan cepat, tenaga yang disalurkan melalui tongkat itu adalah tenaga lemas, bila A Bin bukan tandingannya, dia bisa menarik tangannya supaya tidak beradu, tetapi organ dalam tubuh A Bin juga akan terluka.

Dengan santai A Bin menambah tenaga dalam di tangannya, begitu kedua tenaga lemas itu beradu, tenaga dalam A Bin sudah merapat di atas tongkat.

Orang berbaju emas itu merasakan tenaga dalam yang disalurkan ke tongkatnya sama sekali tidak bisa melukai A Bin, malah ada tenaga berlawanan menahan laju tongkatnya, dia sangat terkejut dan berpikir kenapa anak muda ini bisa menguasai tenaga lemas dengan begitu sempurna, bisa mengeluarkan tenaga dahsyat melalui telapak tangan menahan tenaga dalam musuh.

Orang berbaju perak dan abu-abu dikeliling lapangan sama-sama dibikin gempar karena orang nerbaju emas itu berilmu lebih tinggi dari mereka, ternyata juga tidak dapat melumpuhkan anak muda itu.

Setelah orang berbaju emas itu tidak berhasil mendesak A Bin, segera merobah jurus tongkatnya menjadi sapuan, dia ingin A Bin merobah jurusnya agar ada kekosongan dalam jurus A Bin, sehingga dia bisa mendapat kesempatan memperoleh kemenangan.

A Bin dengan cepat menghantam tongkat itu sambil berteriak.

"Orang tua, kenapa tidak berani adu tenaga dalam?"

Mengetahui A Bin mengejek, orang berbaju emas itu tidak bisa berbuat apa-apa, dengan perubahan jurus tongkatnya dia seperti takut beradu tenaga dalam dengan A Bin, padahal sebetulnya dia menambah lagi tenaga dalam dengan sapuan tongkat itu.

Begitu tongkat dan telapak tangan beradu, masingmasing menyalurkan tenaga dalam untuk mendesak lawannya.

Tenaga A Bin juga bertambah banyak, membuat tangan kanannya makin maju ke depan, dan tongkat kepala naga terdesak mundur ke belakang.

Orang berbaju emas itu belum kalah tetapi dia merasa malu, segera menarik kembali tongkatnya dengan kecepatan tinggi.

Melangkah mundur sejenak lalu maju lagi, dengan jurus yang lebih dahsyat menotok dan menyapu A Bin.

Dengan tertawa enteng A Bin memperagakan lima jurus tangannya terus mendesak orang berbaju emas itu mundur beberapa tombak, lawan A Bin juga meningkatkan semangatnya, mengayunkan tongkat menyerang balik, mendadak A Bin menggunakan tangan kirinya menyentil, sentilannya mengeluarkan tenaga dahsyat hingga mementalkan tongkat lawan.

Dengan ke ampuhan khusus (Siau-yau-kiong) itu dan tangan kanan A Bin mengeluarkan jurus Seng-cin-in-ho (Bintang bergabung dengan awan), arus angin yang ditimbulkan sangat dahsyat, orang berbaju emas itu sangat terkejut, dia ingin cepat menghindar, tetapi telah terpukul oleh angin pukulan itu di bagian dada, dengan mengaduh menahan sakit, dia menarik tongkat dan membalikkan tubuh berlari, empat orang berbaju perak datang dari kiri dan kanan, dengan senjata terhunus menyelamatkan orang berbaju emas.

Dengan tertawa enteng A Bin berkata.

"Bila aku ingin membunuh dia, pukulan tangan ini sudah bisa membinasakan, kalian membantu juga percuma, aku hanya ingin menangkap dia hidup-hidup!"

Dengan serangan kedua tangannya A Bin membuat orang-orang baju perak terpencar ke samping, lalu A Bin menjulurkan tangan menangkap pundak orang berbaju emas, orang itu terpaksa mengangkat tongkat menahan serangan A Bin, tetapi tongkat belum beradu dengan tangan A Bin, tenaga tangan orang berbaju emas itu sudah hilang, dan tubuhnya jatuh ke depan sambil merintih kesakitan, untuk sementara A bin belum bisa memastikan apakah orang itu berbohong untuk mengelabui A Bin agar dia bisa menggunakan senjata gelap, sehingga karena ragu ragu untuk bertindak.

Sementara musuh sudah berpencar melarikan diri, Ku-cu Tojin menghadang mereka dengan pedang, namun karena luka dalamnya terlalu parah, dia tidak berhasihmencegah dan mereka lolos.

A Bin merasakan ada kejanggalan atas usaha larinya musuh, dia membungkukan tubuh, melihat orang berbaju emas itu sudah mati, ternyata di bahu tangan kiri orang itu tertanam sebuah jarum perak yang sudah diberi racun, persis seperti yang dilihat A Bin di biara Cu-sia tempo hari.

A Bin sangat kesal, dia membuka tutup kepala orang itu, betul juga orang tua itu berambut putih, kira kira berumur diatas enam puluh tahun.

Ku-cu Tojin segera menghampiri dan melihat orang itu dengan terkejut berkata.

"Dia! pendekar tongkat tunggal Liang-ho dari propinsi Su-chuan, orang ini dari aliran putih, ilmu tongkatnya hebat menjadi aliran tunggal, tadi waktu menggunakan ilmu tongkatnya, aku sudah curiga pada dia, karena dia menggunakan tongkat kepala naga bukan bambu, maka aku tidak berani memastikannya. Entah kenapa, dia pun bisa masuk Jian-kin-kau." Sudah berusaha dengan susah payah malah hanya mendapat sesosok mayat, A Bin sangat gusar. A Bin bersumpah dalam hati, lain kali bila bertemu lagi orangorang Jian-kin-kau, dia akan menangkap seorang saksi hidup. A Bin dan Ku-cu Tojin meneruskan perjalanan, anggota Jian-kin-kau telah dibikin gentar oleh A Bin, maka dalam beberapa hari, tidak berani mengganggu lagi, A Bin berdua sangat senang juga, tetapi tetap berhati-hati. Luka dalam Ku-cu Tojin makin parah, sehingga laju perjalanannya lebih lambat, karena dia takut A Bin mengetahui dan malah mengganggu perjalanan, maka tosu itu bertahan dan tidak mau mengeluh, perbuatan dia malah diketahui A Bin kedua hari sebelum mencapai hari pertemuan di Siauw-lim-sie, karena tidak mengerti pengobatan, dan entah mau berobat kemana. Ku-cu Tojin dengan tegas berkata.

"Semua orang pasti mati, aku hanya berharap bisa bertemu muka ketua partai sekali lagi, menyampai-kan jawaban atas tugas yang diberikan padaku, agar aku tidak menyesal, tempat ini tidak jauh lagi ke biara Siauw-lim, bila mempercepat langkah, kira kira tiga hari kita bisa sampai, walau pun terlambat ikut pertemuan itu, ketua partaiku pasti masih berada disana, dengan bantuan dia dan ketua Siauw-lim yang mahir dalam pengobatan, ditambah obat mujarab, aku masih punya harapan hidup! Aku berharap bisa bertahan tiga hari!"

A Bin berpikir sejenak, berkata dengan halus.

"Totiang jangan khawatir, orang biasa perlu tiga hari, bila aku siang malam mengejar waktu menggendongmu, hanya perlu setengah waktunya saja, besok siang juga bisa sampai, di saat itu pertemuan Siauw-lim belum bubar, segala masalahmu akan segera ditangani."

Maka tanpa banyak bicara, A Bin menggendong Ku-cu Tojin dengan ilmu meringankan tubuh dia berlari siang malam, sehingga tepat datang dalam pertemuan Siauw-lim.

Dan pada waktu datang dia mendapatkan Thio Hong-giok baru mengalahkan Iblis dari selatan Kauw Ki-koan dan sedang berkata sombong, A Bin tidak merasakan lelah, dia masih bisa mengalah-kan Thio Hong-giok, membuat jagojago kagum atas diri A Bin.

Setelah mendengarkan cerita A Bin tentang pertolongan A Bin pada Ku-cu Tojin.

Setelah dibantu penyembuhan oleh "Soat-song Cinjin dan obat mujarab dari Bu-tong dan Siauw-lim, Ku-cu Tojin mulai siuman, dan telah membuka matanya, melihat keberadaan Soat-song Cinjin dan Kian Ih Taysu, dengan muka yang gembira berusaha menggerakan tangan kanan untuk merogoh sesuatu dalam tas pinggang.

Mengetahui adik seperguruan ingin mengambil sesuatu di tas pinggang itu, maka Soat-song Cinjin membantu membuka dan menaruh tas itu ditangan Ku-cu Tojin dan menyaksikan dia mengeluarkan saru cincin tangan dari besi hitam.

A Bin yang turut melihat cincin besi hitam itu hampir kelepasan berteriak, karena cincin besi hitam itu sama dengan yang dipungut A Bin di puncak Tiang Langit tempo hari, untuk sementara dia meredam emosi dalam hatinya dan menunggu keterangan lain.

Ku-cu Tojin dengan suara sangat kecil berkata.

"Aku dengan dua murid seperguruan menempuh bahaya, berusaha menghadang seorang pemimpin Jian-kin-kau, biar pun orang itu terlepas dari kejaran, tetapi barang penting ini dapat diambil, dan kata mereka ini adalah benda sebagai tanda setia pada ketua Jian-kin-kau waktu berdiri, pendapatku, mungkin dari cincin besi hitam ini dapat mencari jejak Jian-kin-kau."

A Bin baru sadar kenapa Ku-cu Tojin waktu dalam keadaan sangat bahaya waktu dikepung, ingin menyerahkan sesuatu barang pada A Bin untuk diserahkan pada Soat-song Cinjin, mungkin barang itu adalah cincin besi hitam ini.

Soat-song Cinjin, Kian Ih Taysu, Sin-ki-siucai Cukat Hiang dan Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo dan lainnya, setelah masing masing melihat cincin besi hitam itu semua merasa belum pernah melihat benda itu, Cukat Hiang menunggu semua orang selesai melihat, berkata.

"Besi hitam untuk cincin ini bukan barang biasa, benda ini terbenam dalam es beku di kutub utara ribuan tahun, sangat sulit mendapatkannya, benda ini punya dua macam keunggulan, satu anti api, lingkaran dalam jarak satu kaki bisa melindungi orang yang memakai tidak terbakar, dan bila tangan memakai cincin itu di masukan dalam minyak yang sedang mendidih juga akan aman, satu gunanya lagi mempunyai daya magnit yang bisa menyedot segala macam benda logam dalam jarak tiga kaki dan gampang mengendalikan cincin itu ke semua arah tujuan, maka semua senjata rahasia yang sangat kecil pun bila bertemu........."

Cukat Hiang bicara sampai disitu, entah teringat sesuatu dan mendadak berhenti bicara. A Bin lebih cepat menangkap inti pembicaraan Cukat Hiang tentang khasiat cincin besi hitam itu, segera berkata.

"Cincin besi hitam itu bisa melindungi tubuh dari serangan jarum beracun dari Jian-kin-kau." Cukat Hiang terperanjat melihat A Bin, dia kagum atas kecepatan berpikir A Bin, dia mengangguk-kan kepala tanda setuju atas jawaban A Bin. Pendekar dari Sungai Hoai, Shangguan Leng masih tidak mengerti, dia bertanya.

"Cukat Hiang! Ucapanmu dan adik Lui membuatku bingung, dikatakan jarum perak beracun itu buatan Jiankin-kau, apa gunanya memakai cincin besi hitam buat melindungi tubuhnya sendiri?"

Cukat Hiang tersenyum sejenak dan menjawab.

"Shangguan Toako, tadi kau sudah lihat sendiri, orang Jiankin-kau yang menyamar sebagai rmfrid Bu Ki dibunuh oleh murid Jian-kin-kau juga dengan jarum perak beracun, pimpinan Jian-kin-kau adalah orang-orang sadis, mereka harus punya cara untuk menguasai anak buahnya, jarum perak beracun itu adalah senjata ampuh, tetapi yang bisa menggunakan juga banyak, mereka takut ada murid yang memberontak menggunakan senjata itu berbalik menyerang kepada atasannya, maka khusus membuat cincin besi hitam itu untuk beberapa orang dekat yang bebas dari hukuman mati, petinggi dari Jian-kin-kau yang terkepung musuh, akan membocorkan rahasia organisasi, maka tanpa raguragu orang itu akan dibunuh untuk menutup mulutnya, seperti orang-orang yang menghadang Ku-cu Tojin dan orang yang berhadapan dengan adik Lui tadi, itu sebagai contoh!"

Jago-jago yang disana baru mengerti setelah dijelaskan oleh Cukat Hiang, selain kagum atas pengetahuan Cukat Hiang dan A Bin, juga meningkatkan kewaspadaan atas ulah sadis dari Jian-kin-kau, sampai murid sendiri juga dapat dikorbankan.

Cukat Hiang melanjutkan perkataannya.

"Cincin besi hitam ini berguna sekali buat kita, kalian boleh mengawasi seluruh bentuknya, karena pimpinan Jiankin-kau pintar menyembunyikan dirinya, tapi orang itu pasti memakai cincin itu ditangannya, bila telah hafal bentuknya, lain hari bila jika melihat, kita bisa langsung tahu bahwa orang itu adalah salah satu pimpinan Jian-kinkau."

Maka semua orang bergiliran memperhatikan cincin itu, tindakan Cukat Hiang itu mengandung makna penting, dia ingin mengetahui bila ada orang Jian-kin-kau melihat cincin itu, bagaimana pun reaksi aneh akan timbul, sehingga orang itu bisa ditangkap, tetapi setelah semua orang melihat benda itu, reaksi mereka bermacam-macam, Cukat Hiang dengan pengalamannya menilai mereka tidak ada hubungan dengan Jian-kin-kau.

Setelah cincin besi hitam itu kembali lagi ke tangan Cukat Hiang, terdengar ucapan Thi-koan Totiang yang duduk di meja nomor satu, katanya.

"Aku ada satu permintaan, entah dapat dikabulkan oleh Soat-song Cinjin atau tidak!"

Thi-koan Totiang adalah orang pertama yang dilukai oleh Jian-kin-kau dan semua muridnya telah mati, dia sendiri juga menjadi cacad, sehingga harus dibantu orang untuk berdiri.

Dia salah satu ketua dari panitia pertemuan ini, dari tadi dia tidak bicara, semua orang menaruh rasa simpati atas musibah yang diderita tosu ini, sehingga semua orang menunggu cerita selanjutnya.

Sambil menunjuk cincin besi hitam ditangan Cukat Hiang, dia berkata lagi.

"Aku ingin mendapatkan cincin itu, bukan aku takut mati, karena ilmu kita dari Couwsu Thio-sam-hong hilang dicuri dan sepuluh muridku yang mati belum terbalas, aku ingin bertahan dengan sisa nyawaku, ingin menyaksikan titik terang kasus ini. Tetapi ilmuku telah hilang sama sekali dan musuh dari Jian-kin-kau sangat dendam padaku, bila tidak dilindungi oleh cincin itu, entah kapan dan dimana aku akan dibunuh oleh mereka, bila kalian......."

Kian Ih Taysu tanpa berpikir panjang, segera berkata.

"Ketua jangan bicara lagi, cincin besi hitam ini hanya kau yang pantas memiliki, biar aku minta izin kepada Soatsong Cinjin!"

Soat-song Cinjin setelah mengucapkan nama Budha berkata dengan cepat.

"Hong-tiang tidak perlu bicara begitu, bila kau tidak mengatakan aku juga ingin menyerahkan cincin ini ke tangan Thi-koan Totiang, aku hanya ingin menyanya-kan pada Cukat Hiang, apakah cincin ini masih perlu digunakan di lain tempat?"

Ternyata semua orang petinggi di pertemuan itu menganggap Cukat Hiang sebagai penasihat, segala hal ingin mendapatkan saran dari dia.

Dengan lirikan mata yang penuh arti, Cukat Hiang melihat Thi-koan Totiang sejenak, dengan tertawa dia berkata.

"Cincin ini telah dilihat semua orang disini dan telah dikatakan bila ada orang yang memakai cincin ini pasti orang penting dari Jian-kin-kau......."

Berhenti sejenak Cukat Hiang berkata lagi dengan nada kocak.

"Tentu Thi-koan Totiang tidak termasuk orang yang dicari......." Perkataan lucu dari Cukat Hiang membuat semua orang tertawa riang, terdengar Cukat Hiang melanjutkan perkataannya.

"Cincin ini tidak ada guna lain, tergantung Soat-song Cinjin ingin dipergunakan untuk apa?"

Soat-song Cinjin menunggu ucapan Cukat Hiang habis, maka tanpa ragu-ragu mengambil cincin itu dan memakaikan pada jari manis tangan kanan Thi-koan Totiang, semua jago bertepuk tangan tanda setuju.

Pertemuan ini setelah diganggu oleh Kauw Ki-koan dan Thio Hong-giok hampir menghabiskan waktu dua jam, semua tamu telah lapar, ketua Siauw-lim-pay, Kian Ih Taysu Hong-tiang segera berkata.

"Mohon maaf aku tidak menyiapkan apa-apa, sehingga kalian lapar, sekarang waktu kita makan, setelah minum air dan arak, aku masih ingin mendapat-kan petunjuk dari kalian!"

Setelah dipersilahkan tuan rumah untuk mulai makan, maka semua orang mulai melahap makanan di mejanya, hanya Soat-song Cinjin dan murid Bu-tong mengawal Kucu Tojin sementara keluar dari ruangan itu.

A Bin diundang di meja utama, kebetulan duduk di samping Hong-tai, Hong-tai hanya minum air di gelas, sama sekali tidak peduli pada A Bin, A Bin diam-diam melihat ke arah Siau-cian, Siau-cian juga sama sekali tidak memperhatikan keberadaan A Bin.

A Bin merasa sedih, entah bagaimana membuka kedua hati gadis itu, membicarakan kerinduan A Bin.

Di meja lain, pendekar Shangguan Leng berjalan menghampiri meja A Bin, dia tidak tahu hubungan A Bin dengan Hong-tai daan Siau-cian yang sangat rumit, dia mengangkat gelas arak menghormati A Bin dan berkata.

"Adik Lui, kau baru pertama muncul di dunia persilatan, aku bisa memastikan kau akan jadi orang hebat tidak lama lagi, aku bersulang untukmu!"

Karena gusar atas perilaku kedua gadis itu, melihat Shangguan Leng bersulang untuknya, maka A Bin segera meneguk arak itu, karena tidak biasa minum arak, muka A Bin segera tampak merah dan tampak bertambah gagah perkasa, Shangguan Leng terus memuji A Bin.

"Sayang aku tidak punya anak perempuan, bila ada, aku akan minta ketua Siauw-lim atau Bu-tong untuk jadi saksi menyatakan aku akan punya calon mantu secakap dirimu!"

Ucapan kocak dari Shangguan Leng membuat Hong-tai dan Siau-cian tidak senang dan mengeluarkan suara sinis, tetapi tidak urung juga untuk melirik muka A Bin dengan sembunyi-sembunyi.

Tingkah laku kedua gadis itu terlihat juga oleh Shangguan Leng yang berpengalaman, sambil ter-senyum tanpa banyak bicara lagi dia meninggalkan meja A Bin.

Semua jagoan dari dunia persilatan selama ini tidak suka tata cara yang rumit, semua orang sibuk menyantap makanan, pimpinan panitia sibuk mengitari meja-meja tamu untuk bersulang.

Santapan makan selesai dan meja makan telah dirapihkan kembali, semua tamu disuguhi air teh, dan melanjutkan pembicaraan masalah Jian-kin-kau.

Soat-song Cinjin yang telah menitipkan Ku-cu Tojin diruang istirahat telah kembali lagi ke ruang rapat, langsung berkata pada ketua Siauw-lim.

"Aku telah bicara dengan Ku-cu Sute, dan tahu beberapa persoalan penting bahwa sayap Jian-kin-kau sudah tersebar luas dimana-mana, di propinsi An-hui berhasil menjebak orang penting aliran itu keluar sarang, tetapi belum sempat mengetahui identitas asli orang itu, sudah di bawa kembali oleh temannya, dia hanya dapat merebut cincin besi hitam itu sebagai tanda bukti, sepanjang jalan sesudah kejadian itu, Ku-cu Sute terus menerus diserang dan dikeroyok, aku punya pendapat, apa kita perlu menyusuri jalan yang pernah dilalui Ku-cu Sute, mungkin bisa mendapat jejak dan menuju sarang mereka!"

Kian Ih Taysu berkata.

"Pendapat To-heng sangat tepat, ini adalah satu garis harapan, entah tuan Cukat Hiang ada pendapat lain?"

Cukat Hiang dengan pelan-pelan berkata.

"Ku-cu Tojin sepanjang jalan pulang kemari hanya ditemani oleh adik Lui, karena berdua saja, murid murid Jian-kin-kau berusaha merebut kembali cincin besi hitam itu, maka mengerahkan murid-murid mereka di sepanjang jalan, bila kita sekarang mengerahkan banyak orang untuk mencari mereka, murid-murid Jian-kin mana berani terangterangan keluar sarang!"

Ulasan Cukat Hiang membuat Kian Ih Taysu dan Soatsong Cinjin menganggukan kepala tanda setuju ulasan tepat Cukat Hiang, Soat-song Cinjin balik bertanya.

"Pendapat anda betul, menurut pendapat anda, urusan ini harus bagaimana ditangani!"

Muka Cukat Hiang tampak sedikit tersenyum murung dan berkata.

"Aku dijuluki oleh teman-teman persilatan sebagai Peramal jitu, biasanya aku bisa memikirkan dan menyelesaikan masalah dengan tepat, tetapi buat masalah Jian-kin-kau yang rumit, terus terang, sampai detik ini aku masih belum punya ide sedikit pun?"

Sambil bicara Cukat Hiang diam diam memberi isyarat mata kepada Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin yang duduk berdekatan, dan isyarat itu hanya mereka berdua yang tahu, semua jagoan tidak ada yang tahu isyarat yang diberikan Cukat Hiang pada kedua ketua partai Siauw-lim dan Bu-tong, mendengar-kan bahwa orang pintar semacam Cukat Hiang juga menyerah, membuat hati semua orang bertambah berat, sebagian orang mulai bisik-bisik.

Keinginan Cukat Hiang membuat suasana menjadi demikian telah berhasil dan dia berpura-pura tidak enak tubuh melangkah dan menyendiri dipojok yang sepi.

Kian Ih Taysu sebagai tuan rumah yang mengundang rapat, tidak bisa berbuat seperti Cukat Hiang, dia berpikir sejenak ingin berbicara sesuatu.

Di pinggir tembok ruang pertemuan terdengar suara langkah kaki yang berat, jago-jago dalam ruangan menduga akan ada sesuatu kejadian lagi, maka mereka berhenti berbicara, dan mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu masuk.

Betul juga, sesosok tubuh yang sempoyongan masuk ruangan dengan tergesa-gesa, dia adalah orang yang berpisah beberapa hari Gan-tayhiap, Gan Cu-kan.

Orang aneh yang sombong ini selalu meman-dang enteng persoalan yang dihadapi, sekarang malah tergesa-gesa masuk ruangan tanpa menghiraukan hweesio penerima tamu di pintu masuk biara langsung masuk sendiri.

Kian Ih Taysu segera melangkah dua kali menyambut kedatangan tamu baru dan berkata.

"Tuan Gan tergesa-gesa begini, pasti mendapatkan berita besar, silahkan istirahat sebentar, nanti baru mendengarkan cerita anda!"

Gan Cu-kan tidak mau duduk, dia berdiri di tengah ruangan, membuka kipas yang selau dibawa, mengibaskan beberapa kali, dan mengatur pernafasan baru berkata.

"Kejadiannya mendadak, biar aku menceritakan dengan singkat. Setelah perpisahan dari biara Cu-sia, aku menyelidiki dengan seksama di dua propinsi, berkat pengalamanku beradu otak dengan orang-orang persilatan puluhan tahun, dengan mudah memancing murid Jian-kinkau keluar sarang, tapi sayang, setan itu sangat cerdik, mengetahui dibuntuti orang, segera menghindar dan lari. Dengan susah payah aku berhasil menangkap dua orang, tapi juga dibunuh oleh jarum racun dari tempat tersembunyi, semua ini membuat aku marah besar, maka, aku berobah taktik, biar hidup atau mati, aku sengaja berbuat gila mengganggu mereka, membunuh beberapa antek-antek mereka untuk melampiaskan kemarahan aku, ternyata siasatku ber-hasil menggiring orang kuat mereka keluar menghadapi aku, sayang ilmu silatku belum bisa mengimbangi mereka, untung aku punya rencana dan menghindar dari pengawasan mereka, berbalik diam-diam mengikuti orang kuat itu sampai hampir ke sarang mereka......."

Berhenti sejenak, Gan Cu-kan membuang keringatnya sambil mengipas beberapa kali, berkata lagi.

"Siapa tahu, setan itu sengaja berbuat licik, mereka tahu diikuti orang di belakang, maka sengaja memancing aku masuk perangkap, aku di kepung banyak orang yang memegang senjata rahasia, memaksa aku masuk dalam Jian-kin-kau, kalian pasti tahu sifatku Gan Cu-kan diancam ribuan pedang dileher juga tidak akan menyerah, ketika di kepung oleh banyak jagoan senjata rahasia, juga tidak bisa mencegah aku melolos-kan diri, tetapi dalam pikiran sejenak, aku ingin merubah rencana mereka jadi rencanaku, aku pura-pura terpaksa tidak ada pilihan selain menyerah, berusaha masuk kedalam sarang mereka. Pada waktu itu, aku membalikan kedua tanganku dibelakang tubuh, berkata tidak punya niat lari, karena terdesak, dengan suka rela menyerahkan diri. Tetapi bila disuruh masuk ke Jian-kinkau tidak mungkin mau, perbuatanku tersebut sesuai dengan statusku, maka mereka percaya pada ucapanku. Dan mereka mengikat aku dengan urat sapi kedua tangan dan kaki, agar aku tidak bisa mengguna-kan kepandaian untuk melukai orang atau lari. Mereka sangat sopan padaku, dan menutup mataku dengan kain hitam, aku dibawa ke satu tempat, setelah melalui dua malam, aku tiba di satu tempat yang rahasia......"

Gan Cu-kan berhenti sejenak, melihat semua tamu sedang asyik mendengarkan ceritanya dengan tenang tanpa bersuara, maka dia mulai cerita lagi.

"Tempat itu sangat luas, bangunannya mewah seperti istana, setelah melalui jalan berliku-liku, aku baru di bawa ke satu ruangan yang lebih mewah oleh orang-orang berbaju emas, kata mereka untuk menghadap ketua Jiankin-kau. Pertama, aku diterima oleh seorang pengawal pribadi yang berjubah emas, setelah berbincang-bincang, aku tetap pada pendirian semula meski tertangkap tapi belum mau masuk Jian-kin-kau, karena ucapan itu, sehingga aku tidak bisa bertemu ketua mereka, mereka mengantar aku kesatu tempat rahasia, dengan layanan memuaskan. Aku sudah punya rencana matang, dengan sabar bertahan, menunggu mereka lengah, baru cari kesempatan untuk mencari rahasia mereka, dan selanjutnya melarikan diri......." Cendekiawan sombong ini bicara sampai disini, terlihat muka menyesal dan melanjutkan bercerita.

"Siapa tahu, orang-orang Jian-kin-kau sangat licik dan sangat waspada. Mungkin mereka tahu rencana aku, mereka mengerjakan aku dengan semacam racun pada makanan, sehingga aku lupa ingatan. Dan selanjut-nya aku terjebak dalam dunia lain, sama sekali tidak tahu aku telah berbuat apa, sampai kemudian ditolong oleh teman dari dunia persilatan........."

Kian Ih Taysu ingin bertanya siapa yang menolong Gan Cu-kan, tetapi mengetahui Gan Cu-kan tidak menyebutkan orang itu pasti ada sesuatu yang harus dirahasiakan, maka tidak jadi bertanya.

Soat-song Cinjin malah tidak sabar dia bertanya.

"Jadi, Gan-tayhiap bekerja sia-sia, sama sekali tidak mendapat hasil!"

Berhenti sejenak, Gan Cu-kan berkata lagi.

"Tidak juga, aku masih mendapat sedikit hasil jerih payah......"

Baru bicara sampai disitu, mendadak muka Gan Cu-kan berobah pucat, dia tidak bicara lagi dan jatuh dilantai. Cukat Hiang dengan reaksi paling cepat menghampiri, meneliti dan berteriak berkata.

"Celaka! Gan-tayhiap terkena lagi oleh jarum beracun!"

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin juga menghampiri tubuh Gan Cu-kan, muka mereka juga berobah, bersamaan menanyakan pada Cukat Hiang.

"Apa Gan-tayhiap masih bisa tertolong!"

Cukat Hiang dengan muka murung berkata.

"Nadi Gan-tayhiap masih berdenyut, karena dasar tenaga dalam kuat, tetapi jarum ini mengandung racun keras, tidak ada obatnya, kita masukan dia ke ruang istirahat dulu, biar dia mati dengan sendirinya!"

Kejadian itu membuat semua orang terkejut dan gaduh, mereka tidak percaya, di bawah puluhan mata bisa memberi kesempatan bagi musuh untuk melepaskan jarum lain, sehingga pendekar ulung Gan Cu-kan juga bisa terbunuh, kejadian mendadak itu membuat puluhan pasang mata melirik kiri kanan, mencari orang yang dicurigai.

Kian Ih Taysu takut kegaduhan bisa membuat kecolongan, maka memerintahkan pada Jit Ie Taysu dan Yung Ie Taysu beserta dua murid Siauw-lim untuk menggotong Gan Cu-kan ke kamar rahasia biara itu.

Lalu membalikkan tubuh berkata pada semua orang.

"Harap kalian tenang, kejadian-kejadian yang timbul, sudah jelas menunjukan musuh sudah ada di sekeliling kita, harap kalian hati-hati, asli atau palsu akan segera ketahuan.

Peramal jitu Cukat Hiang berkata pada Kian Ih Taysu.

"Pendapatku begini, pertemuan hari ini tidak mencapai hasil, aku sarankan rapat ini diundur satu atau dua hari, semua tamu harap tinggal dulu di biara Siauw-lim, kita berunding dulu mencari jalan terbaik, dan berharap diharihari yang luang bisa menemukan mata-mata itu!"

Kian Ih Taysu setuju dengan saran itu, kedua mata melirik pada Soat-song Cinjin, Gin-hoat-lo-jin Wie Tionghoo dan Thi-koan Totiang, lalu berkata.

"Kita semua setuju atas saran Cukat Hiang!"

Kemudian Kian Ih Taysu berkata lagi dengan suara keras.

"Aku mengatakan karena pengamanan kurang sempurna, sehingga musuh menyelinap masuk ke biara, dan terpaksa mengikuti cara Cukat-tayhiap, bila ada yang keberatan, harap terang-terangan mengatakan, tidak ada larangan untuk keluar biara!"

Karena rapat belum menghasilkan apa-apa, kedua mereka ingin tahu berita selanjutnya dan terpenting mereka takut dicurgai bila sekarang keluar biara, maka semua tamu setuju menginap di biara.

Hanya Hong-tai yang berdiri ingin keluar biara dan berkata.

"Aku seorang gadis, tidak pantas tinggal di biara sendirian, aku ingin pamit pergi!"

Cukat Hiang menghampiri Hong-tai berkata dengan tulus.

"Nona In bila ada urusan penting, kita tidak akan menahan nona pergi, tetapi bila tidak ada urusan lain, kami persilahkan anda menginap dulu, di biara juga ada kamar khusus wanita, apalagi ada nona Giok bisa mendampingi!"

Hong-tai mendengar nama Siau-cian yang akan menemani dia satu kamar, dia langsung marah dan berkata dengan sinis.

"Bila aku tinggal di biara, hanya ingin sendirian, siapa yang ingin ditemani orang lain!"

Siau-cian mendengar kata Hong-tai itu langsung berobah mukanya, dia ingin balas meledeki Hong-tai, tetapi Wie Tiong-hoo melarang dia beraksi.

Cukat Hiang melihat situasi begitu, mengetahui permusuhan mereka maka segera berobah berkata.

"Bila nona In ingin suasana tenang tidur sendirian juga bisa di atur, aku berkali-kali menahan nona pergi, karena perlu bantuan tenaga nona dalam sehari atau dua hari ini!" Kata-kata Cukat Hiang yang sopan itu membuat enak di dalam hati Hong-tai, maka dengan tenang duduk kembali di bangku. Kian Ih Taysu menunggu beberapa detik, setelah tidak ada komentar lain lagi dari tamu-tamu, maka setelah mengucaplan O-mi-to-hud dia berkata.

"Kita telah menyediakan banyak kamar untuk istirahat, kalian datang dari jauh dan menempuh perjalanan berat, hari ini sudah menghabiskan waktu setengah hari kelihatan sudah lelah, maka silahkan istirahat semalam, besok persilahkan kalian untuk melanjutkan rapat kita."

Kian Ih Taysu memberi isyarat pada Hong Ie Taysu, agar para tamu diantar oleh murid-murid muda Siauw-limsie ke kamar masing-masing.

A Bin menilai tindakan ketua Siauw-lim-pay dan Cukat Hiang itu mengandung makna penting, A Bin pun ingin sekali menemukan mata-mata itu, untuk menyelidiki orang yang meninggalkan cincin besi hitam di puncak gunung Tiang Langit itu, maka dia berniat tinggal juga di biara itu, menunggu tuan rumah bagaimana mengatur kamar, satu murid Siauw-lim mempersilahkan A Bin segera pergi ke kamarnya, ketua Siauw-lim-pay tidak meminta A Bin tinggal lebih lama di ruang itu, maka A Bin langsung menuju kamarnya.

Keluar dari ruangan itu, A Bin berpapasan dengan Hongtai, tampak roman muka Hong-tai sedang gembira, dia ingin menyapa, namun muka Hong-tai sekejap berobah dingin dengan mempertahankan keangkuhan seorang gadis dia langsung membalikkan tubuh merubah arah jalan.

A Bin di bikin jengkel oleh tingkah Hong-tai, dengan lesu diantar oleh murid Siauw-lim ke satu kamar yang asri di tengah halaman, murid Siauw-lim itu berkata.

"Ruangan istirahat ini disiapkan untuk tuan Lui, silahkan masuk!"

Terbangun dari kebimbangan tadi, A Bin melirik suasana di sekeliling kamar, ternyata kamar A Bin dipisahkan dengan kamar orang lain, kamarnya berdiri sendiri, yang paling kiri dekat kamar A Bin berupa kamar tertutup rapat, kemungkinan adalah kamar kamar hweesio yang sedang bertapa.

A Bin merasa heran, entah apa maksud tuan rumah sengaja memisahkan kamarnya dengan orang lain, apa ada maksud baik atau lain, A Bin tidak banyak bicara, dia masuk ke dalam kamar, terlihat kamar sangat sederhana, tetapi jendela dan perlengkapan kamar terawat bersih, satu bale kayu terletak di pinggir tembok dilengkapi kasur dan selimut, meja kayu terletak di pinggir jendela ada satu teko dan satu cangkir, A Bin berpikir dalam hati, kelihatan pengurus biara sudah mempersiapkan segala hal bukan putusan mendadak, melainkan terencana, kejadian tadi di ruang rapat kemungkinan sengaja dibuat.

Berpikir sampai disini, A Bin kagum atas rencana tuan rumah dan pimpinan panitia yang berpengalaman dalam rencana matang sesuai dengan umur mereka yang telah banyak makan asam dan garam, dilain itu A Bin merasa kasihan pada jago-jago silat yang datang dari jauh dengan sungguh-sungguh malah tidak dipercaya oleh tuan rumah, segala sesuatunya di awasi, A Bin berhela nafas sejenak, berpikir lagi hati orang betul betul sangat rumit dan susah ditebak, tidak gampang untuk bergaul.

Setelah meneguk dua kali air teh, A Bin melangkah ke pinggir ranjang dan duduk bersila di kasur mulai istirahat.

Setelah menyalurkan hawa murni ke seluruh nadi-nadi di tubuhnya, semangat A Bin pulih kembali, dia berbaring di kasur sambil memikirkan kejadian yang dialaminya, semua seperti mimpi atau bayangan, penuh ketegangan dan gaib.

Berpikir kesana, pikiran A Bin terbawa lebih jauh, dia memikirkan ketiga gurunya yang mempunyai ilmu sangat tinggi tetapi tidak bisa keluar dari gua yang dingin itu, menerima kesunyian dalam sisa hidupnya.

Kemudian dia terbayang pada ayahnya Lui-kie Lui-tocai-thian yang perkasa, tetapi telah memperoleh nasib yang tidak jelas, sehingga mati di puncak gunung Tiang Langit, sampai sekarang penjelasan tentang kematiannya juga belum tahu, bahkan dimana mayat ayah juga belum tahu.

Sebagai anak, entah dia harus berbuat apa?

Baru bisa tenang?

Terpikir juga orang tua gila yang bertemu di hutan itu, dari ucapan orang tua itu dapat dipastikan dia adalah salah satu dari dua orang teman ayahnya, In-kiam In Tianglong atau Giok-kiong Giok Kang-tong, dari orang gila itu pasti bisa mendapatkan keterangan yang pasti, namun entah kemana sekarang orang itu?

Pikiran A Bin lalu beralih pada bayangan In Hong-tai yang membuat A Bin jatuh cinta tetapi begitu asing, dan perubahan sifat intim dari Siau-cian pun membuat A Bin risau, dan terpikir muka Yo-po-lo-to dan Cia Ma-lek, teman-teman yang lain......kejadian yang dialami A Bin beberapa bulan yang sudah lewat, seperti gelombang laut melintas dalam pikirannya hingga jauh sekali tidak dapat dibendung.

Sedang asyik mengingat peristiwa-peristiwa itu, mendadak A Bin merasakan sedikit angin yang tersibak dari baju mendekati, A Bin yang berilmu tinggi bisa merasakan dalam lamunannya, sayang sedikit terlambat, tahu-tahu orang itu sudah berada di depan ranjang.

A Bin segera bersiap-siap, dia membuka mata melihat orang itu, ternyata dia kakek Yo-po-lo-to yang baru dipikirkan tadi, dia masih tetap memakai baju yang aneh dan mimik muka yang lucu dan tenang.

A Bin baru mau bicara, kakek itu dengan nada rendah berkata duluan.

"Anak muda jangan ribut, aku tidak mau bertemu dengan hweesio-hweesio di biara ini, kau jangan membangunkan mereka!"

Sesungguhnya, kakek itu tidak punya rasa benci kepada hweesio-hweesio itu, sudah menjadi kebiasaan dia selama hidup menggunakan kata-kata lucu dan menghina. A Bin berkata dengan suara lembut.

"Guru mencari aku pasti ada perintah?"

Yo-po-lo-to menjawab.

"Tentu saja! Siapa yang mau masuk kemari, tempat orang botak semua berkumpul? Mungkin kau tidak tahu bahwa Gan Cu-kan dilarikan oleh aku dari sarang Jian-kinkau?"

A Bin gembira mendengar berita itu, maka bertanya lagi.

"Guru, kau bisa menolong Gan-tayhiap dari sarang musuh, pasti sudah tahu rahasia dalam Jian-kin-kau!"

Dengan suara sedikit menyesal, Yo-po-lo-to berkata.

"Sejak terjun ke dunia persilatan, baru kali ini aku menemukan lawan yang agak tangguh, tadinya aku ingin diam-diam mengawal Gan Cu-kan, menggunakan pendekar sombong itu sebagai umpan agar aku mendapat rahasia aliran itu. Siapa tahu, orang orang jahat itu seperti telah diperingati oleh orang pintar mereka, memberitahukan bahwa murid Jian-kin harus hati-hati, karena di belakang Gan Cu-kan pasti ada orang lain yang mengintai, maka mereka membuat beberapa cara mengelabui mataku, membuat aku pun tertipu, sehingga Gan Cu-kan betul-betul jatuh ke tangan mereka!"

A Bin telah mendengar cerita kejadian yang menimpa Gan Cu-kan tadi siang, maka berkata pada guru.

"Guru bagaimana cara menolong Gan Cu-kan keluar dari bahaya?"

Yo-po-lo-to memperagakan mimik muka yang lucu berkata.

"Selama hidup aku belum pernah dipermainkan orang lain, kejadian itu membuat aku marah besar, setelah memeras otak dengan teliti, setengah bulan kemudian aku menemukan pendekar sombong itu di satu tempat rahasia. Waktu ditemukan, dia sudah berobah jadi orang dungu, beruntung ilmu dia tidak hilang, waktu itu dia menganggap aku musuhnya, sehingga kita bertarung, setelah menggunakan beberapa cara baru dia dapat kulumpuhkan, tapi murid-murid Jian-kin menggunakan kesempatan ini untuk kabur, saat aku menggeledah tempat itu, ternyata sarang sementara mereka tidak ada siapa siapa lagi, sehingga tidak dapat keterangan apa apa. Kemudian aku mengantarkan pendekar sombong ini ke Sian-jiu-kim-cin Oey Hu-sung untuk berobat, baru dia bisa sadar kembali dan bisa datang ke biara Siauw-lim."

A Bin dengan muka murung berkata.

"Tetapi pendekar sombong itu sekarang sedang dalam keadaan bahaya karena dilukai orang dengan jarum racun!"

Yo-po-lo-to tidak terkejut atas ucapan A Bin, malah minta A Bin bersiap pergi dan berkata. "Cepat, aku akan membawamu melihat sesuatu yang mengejutkan!"

A Bin sambil merapihkan baju berkata.

"Apakah guru menemukan sesuatu yang sengaja diatur oleh Kian Ih Taysu dan memisahkan aku dan orang lain."

Yo-po-lo-to sambil tertawa memuji A Bin.

"Anak muda! Kau pintar juga, bisa menebak isi hati orang lain, tetapi mungkin kau tidak tahu, mereka sangat curiga padamu, mengira kau sebagai mata-mata dari Jiankin-kau!"

Mendengar berita itu A Bin sangat gusar, segera bertanya.

"Apa betul?"

Yo-po-lo-to memberi isyarat tangan agar A Bin jangan berbicara lagi, mengajak A Bin menyelinap keluar kamar.

Tengah malam, suasana biara ratusan tahun itu sangat sunyi, kakek ini mengatakan tidak mau masuk ke dalam biara, tetapi hafal sekali jalan-jalan di dalam biara ini, dia menuntun A Bin melalui jalan kiri belok kanan, hingga tiba di sebuah bangunan loteng yang tinggi.

Yo-po-lo-to menunjuk bangunan tinggi itu berkata.

"Mereka yang menamakan diri sebagai orang penting, sedang berada di kamar atas "Ruang penyimpan an kitab", dengan posisiku, tidak pantas aku mendengarkan pembicaraan mereka, kau saja yang mendengarkan mereka cerita apa saja!"

A Bin ingin sekali mengetahui hal tersebut, maka segera mendekati bangunan tinggi itu, melirik sekeliling, langsung meloncat naik ke atas pohon tinggi di pinggir banganan itu, belum juga melihat jelas orang-orang di dalam bangunan, sudah terdengar satu suara yang tidak asing lagi buat A Bin.

A Bin sangat terkejut, karena suara itu keluar dari mulut pendekar sombong Gan Cu-kan yang telah terluka parah oleh jarum beracun.

Suara itu terdengar baik sekali seperti orang biasa saja.

0-0dw0-0 BAB Ruang penyimpanan kitab A Bin memandang dari kejauhan, melihat dengan jelas bahwa Gan Cu-kan tampak sehat sekali, dia sedang duduk di dalam sambil mengibaskan kipasnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda terluka, dalam kamar itu terlihat juga Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin dan Coa-sim-cu-kat Cukat Hiang.

Terdengar suara gembira dari Gan Cu-kan yang berbicara.

"Orang jahat yang melepaskan jarum beracun itu tidak akan menduga bahwa aku mempunyai "Batu Giok Magnit", menahan jarum racun itu, aku berpura-pura terluka untuk mengelabui mereka, dan selanjutnya Jian-kin-kau akan menganggap aku sudah mati, tidak akan takut rahasia Jiankin bisa bocor."

Cukat Hiang mengibaskan kipasnya sambil tersenyum memuji dan berkata.

"Gan-heng bisa menyesuaikan diri waktu kejadian, membuat orang kagum, mata-mata Jian-kin-kau biarpun sangat cerdik, juga tidak akan tahu bahwa lukamu adalah pura-pura, tetapi bila dalam satu atau dua hari tidak ada tindakan cepat, mereka akan curiga bahwa anda telah tertolong oleh obat ajaib!"

Kian Ih Taysu mengucapkan kata O-mi-to-hud sambil merangkapkan tangannya pada Gan Cu-kan dan Cukat Hiang, berkata.

"Anda berdua sama-sama berbakat melebihi orang-orang dulu, aku kira urusan hari ini, harap kalian berdua mencari akal yang sempurna, aku dan Soat-song Cinjin siap mendengarkan rencana kalian."

Ketua Siauw-lim-pay ini bersahabat sangat baik dengan ketua Bu-tong-pay sejak mereka masih jadi murid kedua aliran itu, maka kedua orang itu tidak perlu kata-kata basa basi lagi.

Cukat Hiang melirik kesekeliling ruangan, seperti masih kuatir ada orang yang menguping percakapan mereka, dengan suara lebih kecil berkata.

"Tamu-tamu yang datang dari segala golongan, pasti ada mata-mata Jian-kin-kau dalam barisan mereka, anak muda Lui itu adalah titik mencurigakan, tetapi dia bukan dari Jian-kin-kau, aku malah curiga pada satu, dua orang, karena bukti belum lengkap, biar pun di depan tiga sahabat disini, aku juga minta maaf tidak mengatakan dulu."

Ucapan itu biar agak jauh dari posisi A Bin, tetapi buat A Bin yang sudah menguasai ilmu "Thian-te", semua ucapan Cukat Hiang terdengar jelas.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin adalah orang terhormat, mendengar Cukat Hiang berkata begitu, mereka pun tidak ngotot ingin tahu lebih jelas, malah pendekar sombong Gan Cu-kan masih dengan kata penasaran berkata.

"Tentu, jika Cukat Toako masih menyelidik, dengan mata jeli anda maka kedua orang mata-mata itu akan menampakan diri mereka!"

Cukat Hiang berkata sambil tertawa.

"Bukan aku sengaja menyimpan rahasia, maaf-kan aku berterus terang, bahwa biara Siauw-lim detik ini pun sudah tidak aman, aku takut di sebelah tembok ada kuping yang mendengarkan, jadi rahasia itu sementara tidak dibocorkan dulu!"

Soat-song Cinjin berbicara.

"Gan-tayhiap apa bisa beritahu apa yang anda ketahui, agar kita bisa merencanakan bertindak!"

Gan Cu-kan berkata dengan sungguh sungguh.

"Betul juga, aku ingin menceritakan segala masalahnya, minta pendapat kalian bertiga yang berpengalaman luas, aku hafal ilmu Hong-sui dan perbintangan, kali ini tertangkap oleh murid-murid Jian-kin, sepanjang dalam perjalanan aku memperhatikan posisi dengan cara yang bermacam-macam dan tempat terakhir, aku dititipkan di satu bangunan model istana, aku dapat pastikan tempat itu di antara sungai Kang-han, dan pasti di dalam kota ramai!"

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin merasa menyesal, hanya dengan sedikit keterangan, bagaimana menyelidikinya, tetapi kedua orang itu sudah terlatih segala tindakannya, jadi di mukanya, mereka tidak menampakan penyesalan.

Cukat Hiang dengan seksama mendengarkan, melihat Gan Cu-kan berhenti bicara, segera berkata.

"Dengan ada petunjuk ini, maka menyelidiki sarang Jiankin-kau sudah ada titik terang.

Tetapi, bila ada tambahan penerangan, bisa lebih bagus!"

Gan Cu-kan dengan bangga berkata.

"Tentu, aku mengalami kerugian sangat besar, mana puas dengan hasil sedikit itu......"

Belum habis bicara, ada sesuatu yang membuat empat orang itu segera bertindak, api lilin langsung dipadamkan, A Bin juga sudah mengetahui ada suara dari luar gedung berlantai itu.

A Bin memuji kewaspadaan empat orang terhormat itu, masih bisa mendengarkan sedikit suara lain dari luar bangunan walaupun sedang asyik ber-bicara.

Dan A Bin diam-diam menengok kearah tempat suara itu.

Bersamaan waktu A Bin melihat ke asal suara itu, dari belakang beberapa pohon besar di halaman itu muncul seorang kakek yang memakai baju panjang dari bahan kain belacu, memegang sebuah batang pipa tembakau yang terbuat dari bambu, memakai sepatu kain halus.

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Cukat Hiang sudah mengepung tamu tidak diundang itu, hanya Gan Cu-kan yang tidak keluar.

Orang tua itu berpenampilan biasa-biasa saja, dari baju, penampilan sederhana saja, tingkah lakunya juga santai, tetapi warna mukanya menakutkan orang yang melihatnya.

Walaupun mukanya tidak jelek, tetapi di bawah sinar terang bulan yang menyinari, tampak seperti muka orang mati, tidak ada tanda-tanda hidup.

Kian Ih Taysu dan lain orang sudah menduga suasana dalam biara Siauw-lim malam ini tidak biasa, selain hweesio-hweesio tingkat tinggi bersembunyi di tempat gelap, pendekar-pendekar seperti Wie Tiong-hoo dan Shangguan Leng juga mendapat tugas mengintai dan menghadang musuh di tempat tersembunyi, tetapi orang tua itu bisa datang ke sisi bangunan berlantai ini dengan aman tanpa dapat dihadang oleh orang-orang, menandakan orang tua itu bukan sembarang orang, maka Kian Ih Taysu lebih memperhatikan orang ini.

"Sicu siapa?"

Tanya Kian Ih Taysu. Dengan tangan memegang janggot panjang di depan dada kakek itu tertawa dan berkata.

"Aku bepergian selalu bebas tanpa ikatan, hari ini kemari bukan untuk sembahyang, bukan untuk minta petunjuk dari biara, dan semula juga tidak ingin mengganggu yang punya rumah, kenapa mesti tanya namaku?"

Tertawa kakek ini membuat muka dia makin angker dan mengerikan, sungguh dapat dikatakan kulit tertawa namun daging tidak berobah.

(tertawa yang dipaksakan untuk menakuti orang) Soat-song Cinjin ikut bertanya.

"Kenapa anda tidak mau memperlihatkan muka yang sebenarnya?"

"Aku sudah biasa begini, mana ada muka lain untuk lain orang?"

Cukat Hiang dengan suara dingin berkata.

"Anda memakai topeng kulit, masih berani berkata sombong!"

Kakek itu tertawa terbahak-bahak, memegang mukanya sekali dan berkata.

"Kenapa anda bisa mengatakan aku memakai topeng?" Dengan tertawa sinis, Cukat Hiang berkata.

"Topeng anda yang dipakai adalah cipta karya indah, bila bukan orang ahli dalam pembuatan topeng, tidak akan bisa membedakan asli atau palsu, mungkin topeng ini buatan keluarga Buyung dari propinsi Kang-souw atau keluarga Go dari propinsi Kwie-ciu!"

Sejenak kakek itu tercengang, kedua matanya menatap tajam muka Cukat Hiang, lalu membuka mulut lebar-lebar dan sambil tertawa berkata.

"Anda pasti Sin-ki-siucay Cukat Hiang, betul-betul Peramal jitu seperti julukannya."

Kakek itu tidak langsung menjawab pertanyaan Cukat Hiang, tetapi dari nada perkataannya dia sudah mengakui tebakan Cukat Hiang itu betul!

Sebelum kakek itu menjawab, Cukat Hiang sudah mengawasi kedua jari tangan orang itu, dia telah melihat jelas bahwa di jari manis tangan kiri kakek itu memakai satu cincin besi hitam, maka Cukat Hiang tertawa terbahakbahak dan berkata.

"Pesilat tinggi golongan satu dari Jian-kin-kau masih bertindak pura-pura, apa tidak terlalu merendahkan diri anda?"

Kakek itu tidak tahu bahwa Cukat Hiang sudah tahu rahasia cincin yang dia pakai, dia terkejut juga sejenak dan tertawa tanpa suara, pura-pura batuk sekali dan berkata.

"Betul, aku mendapat perintah dari ketua partai, khusus menemui Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Cukat-tayhiap, Wie-lohiap, Thi-koan Totiang dan lain lain pendekar yang ada di biara ini, kata ketua partai kami.

"kalian sangat membenci pada Jian-kin-kau yang akan mengembangkan diri, kalian memonopoli dunia persilatan, menamakan diri aliran putih, tetapi menggunakan kesempatan untuk membasmi mereka yang tidak sepaham dengan kalian, perbuatan itu sudah tidak pantas memimpin dunia persilatan, aku sengaja datang kemari dengan membawa peringatan ketua partai, bila kalian masih bertindak demikian, maka hari kiamat akan tiba buat aliran-aliran yang menamakan diri golongan putih!"

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sebagai orang terpelajar tinggi, mendengar kata-kata sombong dari orang tua itu merasa marah dalam hati, tetapi mereka berdua bisa mengendalikan diri, tidak langsung menunjukan amarahnya.

Hanya Cukat Hiang yang balik bertanya, setelah tertawa keras dia berkata.

"Bila begitu, apakah ketua partai anda masih ada petunjuk buat kita orang yang dikatakan tidak tahu diri dan tersesat?"

Kakek itu tidak memperdulikan kata sindiran dari Cukat Hiang, dengan tatapan mata yang sadis melihat sepintas muka tiga orang pendekar tangguh itu lalu berkata dengan pelan-pelan.

"Ketua partai memperingatkan kalian, bukalah mata kalian, mengetahui mana yang berisiko buat kalian, karena situasi dunia persilatan sudah lain dengan dulu, kalian terbilang segelintir orang yang angkuh, membohongi diri sendiri, sebab kebanyakan orang-orang penting di dunia persilatan sudah masuk ke Jian-kin-kau, bila kalian tidak tahu diri, dan terus melawan arus, bagaimana bisa bertahan lagi?"

Dengan nada enteng Cukat Hiang berkata dengan sedikit tertawa. "Silahkan terangkan, kita mesti berbuat apa, baru dikatakan tahu diri, dan bisa menyesuaikan diri?"

Kakek itu tidak menanggapi kata kocak itu, dia berkata dengan dingin.

"Sekarang kukatakan, kalian juga tidak akan percaya, tetapi aliran kita selalu memberi peringatan dulu baru bertindak dan membunuh. Bila kalian sebagai ketua partai mewakili semua murid ikut bergabung ke aliran kita dengan tulus iklas, aku bisa menjamin kedudukan kalian tetap tidak berobah, malah akan lebih banyak menguntungkan......."

Belum habis perkataan kakek itu, telah terputus oleh tertawa sinis dari Cukat Hiang. Cukat Hiang dengan muka marah menyindir.

"Kau pintar memikirkan jalan keluar orang lain, tetapi lupa merencanakan jalan keluar buat diri sendiri, apakah anda bisa keluar dari biara ini dengan selamat?"

Kakek itu berbalik tertawa sinis dan berkata.

"Aku sudah bilang, aku selalu bebas pergi kemana saja, kalau semua orang takut dengan nama Siauw-lim, aku malah tidak memandang demikian!"

Kian Ih Taysu tidak marah atas ucapan kakek itu, hanya Cukat Hiang yang tersinggung, dia melangkah maju dua kali dan menghadap pada kakek itu. Dengan nada menakutkan kakek itu berkata.

"Kau mau bertarung denganku?"

"Kau bermulut besar, entah punya tingkat ilmu silat tingkat berapa......"

Kakek itu tidak menunggu Cukat Hiang habis bicara, berkata. "Kau coba saja!"

Sambil mengangkat pipa tembakaunya, dia memukul dengan cepat sekali.

Cukat Hiang menggunakan kipas untuk membelokan serangan pipa itu, tetapi belum membalas.

Kakek itu tidak memberi hati pada lawannya, dia menyerang dengan gesit dan jurusnya mematikan, Cukat Hiang melancarkan jurus memotong dan menotok, kakek itu terpaksa menarik kembali jurus yang sedang digunakan, Cukat Hiang masih belum membalas satu jurus pun.

Kakek itu dengan ganas menyerang sebanyak sepuluh jurus, mendadak dia merasakan ada yang tidak beres, membuat dia menghentikan serangan meloncat ke pinggir, katanya dengan dingin.

"Kenapa kau tidak membalas?"

Memang hati kakek ini ingin tahu, kenapa Cukat Hiang menggunakan jurus bertahan, dan menyembunyikan serangan baliknya, di saat ada kesempatan menarik kembali serangannya, membuat dia harus berjaga-jaga atas serangan balik Cukat Hiang, dan menyiapkan cara menghadapi serangan itu.

Karena kekhawatirannya membuat kakek itu berpikir, maka setelah sepuluh jurus, pertahanan batin dia mulai goyah, sebab jurus serangan Cukat Hiang tidak dikeluarkan dengan sungguh-sungguh, membuat dia merasakan serangan itu sangat menakutkan.

Dalam kesempatan ini Cukat Hiang berkata.

"Kau hanya sendirian, pihakku banyak orang, bila aku mengalahkanmu, kau tidak akan menerima. Sekarang aku akan menerima seranganmu sebanyak tiga puluh jurus tanpa membalas, agar kau tahu diri!" Kakek itu mengeluarkan suara hidungnya, tanpa banyak bicara, mengumpulkan tenaga dalamnya, dia bersiap menyerang dan melukai Cukat Hiang dengan pipa tembakaunya. Cukat Hiang yang pintar bisa melihat mata kakek itu bersinar terang dan kulitnya turun ke dalam, dia segera meningkatkan kewaspadaan sambil diam-diam memusatkan tenaga dalamnya. Setelah kakak itu menyalurkan tenaga dalamnya ke pipa tembakau, sambil tertawa berkata.

"Bila kau tidak mau membalas dan terluka di tanganku, jangan menyesal!"

Cukat Hiang berkata setelah tertawa sinis.

"Kau tidak perlu memanasi, bila aku janji tidak akan membalas seranganmu, kau boleh gunakan jurus apa saja, bila dalam tiga puluh jurus dapat melukaiku, kau boleh pulang dengan selamat, Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin menjadi saksi kita!"

Dalam hati kakek itu senang, dia berpikir.

"bila aku menggunakan kepandaiannya yang sudah puluhan tahun dilatih, aku bisa mendapat kesempatan memukul musuhnya lebih dulu, lawan yang lebih tinggi juga gampang dilumpuhkan, kau seorang pelajar tidak membalas serangan aku, kau mencari jalan mati sendiri!"

Kakek itu sudah memperkirakan kemenangan akan ada dipihaknya, dia pura pura tertawa dan berkata.

"Hati-hatilah, aku akan menyerang!"

Cukat Hiang tidak berani gegabah, dia segera menghirup nafas sedalam-dalamnya, memusatkan pikiran dan menjawab. "Silahkan!"

Kakek itu segera mengangkat tangan kirinya, lima jari dalam posisi setengah lurus dan menekuk, dengan cepat mencengkeram dada Cukat Hiang.

Cukat Hiang tercengang sejenak melihat kakek itu menggunakan tangan kosong menyerang, dan merasakan hawa udara dingin yang keluar dari lima jari kakek itu, dengan perasaan terkejut Cukat Hiang menghindar kepinggir.

Kakek itu tertawa sinis, dan menjulurkan pipa tembakau di tangan kanan menyerang Cukat Hiang.

Jurus itu betul-betul sadis karena dari lubang pipa itu keluar hawa yang panas sekali yang menuju bagian dada atas Cukat Hiang.

Cukat Hiang mengibaskan kipasnya menutup serangan kakek itu, dia berpikir dalam hati.

"setelah kuberi kesempatan tidak menyerang, dia tampak meningkatkan serangannya lebih gila....... Belum habis berpikir, Cukat Hiang sudah mendapatkan serangan bertubi-tubi dari kakek itu, serangan tangan kiri yang membawa hawa dingin dan hawa panas dari pipa menyerang alat vital Cukat Hiang. Cukat Hiang betul-betul merasakan serangan lawannya berbahaya dan jurusnya jarang ditemui, serangan pipa dari segala penjuru dan hawa udara yang dingin membuat dia kelihatan seperti tidak sanggup lagi menerima serangan itu. Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin yang menyaksikan dipinggir telah melihat gelagat kurang baik bagi Cukat Hiang, sebab Cukat Hiang telah terkurung oleh serangan kakek itu. Melalui ilmu "menyalurkan suara secara rahasia" (Coanim-jip-bit), Soat-song Cinjin diam-diam berkata pada Kian Ih Taysu.

"Bila terus begini, tentu saudara Cukat Hiang tidak bisa bertahan lagi!"

Kian Ih Taysu menjawab memakai suara rahasia.

"Kakek ini telah sepuluh jurus melancarkan serangannya, bila saudara Cukat Hiang bisa bertahan dua puluh jurus lagi, baru boleh membalas serangan!"

Sambil beradu jurus dengan Cukat Hiang, kakek itu terkejut juga!

dalam hati tidak menyangka bahwa Cukat Hiang bukan saja otaknya pintar, ilmu silatnya juga susah dikalahkan, bila begini terus, sampai waktu lawan boleh membalas, aku akan lebih repot, aku harus bisa melumpuhkan lawan dalam sisa dua puluh jurus baru aman.

Maka kakek itu pura-pura batuk sekali, pipa tembakau yang dia pegang segera berobah arah, tubuhnya melingkar ke pinggir satu kali, tangannya berbalik menyerang secara beruntun pada Cukat Hiang sebanyak lima jurus, jurusjurusnya bagaikan kilat dan membawa hawa udara yang panas, menyerang organ vital Cukat Hiang, membuat Cukat Hiang terdesak mundur lima langkah.

Setelah mendesak mundur Cukat Hiang, kakek itu berteriak.

"Cukat Hiang, hati hati!"

Dan mendadak dia meloncat ke arah Cukat Hiang.

Cukat Hiang merasakan juga jurus kakek itu sangat berbahaya, maka dia membuka mata lebar-lebar, mukanya berobah, dengan kewaspadaan penuh pelan-pelan mengangkat kipasnya.

Dengan tubuh seperti bayangan, jurus tangannya memukul kepala Cukat Hiang bagaikan gunung besar akan roboh di kepala Cukat Hiang, pipa tembakaunya bersamaan waktu menyerang Cukat Hiang Cukat Hiang membalas dengan jurus Hui-kong-pan-cau (Membalik sinar menerangi lawan = Artinya orang yang menjelang mati memperlihatkan muka yang sehat dan tenang.) sayap kipasnya pun mengeluarkan tenaga goyangan, memaksa pipa tembaga orang tua itu tidak bisa mendekati tubuhnya, bersamaan itu tubuhnya meloncat ke pinggir sekitar lima kaki, hingga berhasil menghindarkan serangan lawan.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sebagai ketua partai, memuji kedua orang itu dengan jurusnya, serangan atau pertahanan mereka jurusnya sangat memukau, A Bin yang menyaksikan pertarungan itu di atas pohon pun memuji ilmu silat Cukat Hiang.

Gerakan orang tua itu sangat cepat, walaupun dua jurusnya tidak mengenai sasaran, pada serangan ke dua dia memusatkan tenaganya menyerang Cukat Hiang secara berantai.

Menghadapi musuh seperti ini Cukat Hiang pantang mundur, dia malah maju ke depan sambil menggeser langkah kaki ke samping dua langkah, menghindar serangan orang tua itu, dan kipasnya menghalau pipa yang mencoba mendekat.

Disaat kedua orang itu sedang bertarung dengan seru, Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin seperti mendengar suatu suara aneh, mereka berdua langsung meloncat menuju ke sebuah bayangan hitam di pinggir sambil menggunting dari kiri dan kanan.

Mata A Bin sangat tajam, apalagi berada diatas pohon, dia melihat jelas ada dua orang penyerang datang, setelah di hadang Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin, musuh itu berlari lagi seperti mengetahui dia menghadapi lawan berat.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin mengejar mereka dari arah yang berbeda.

A Bin berkata dalam hati.

"Celaka, bila Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin seperti harimau sengaja di pancing keluar gunung, dan di tempat ini hanya ditinggalkan Cukat Hiang menghadapi musuh berat, bila ada sesuatu siapa yang akan membantu. Pikiran A Bin belum berakhir, ternyata ada satu tamu tidak di undang datang. Tenaga dalam A Bin sudah tergolong tingkat paling atas, pandangan mata A Bin pun lebih tajam dan cepat dari kedua ketua partai Siauw-lim dan Bu-tong, biar pun sekejap mata, dia sudah melihat bahwa yang baru datang itu adalah seorang wanita berbaju putih. Menurut peraturan dunia persilatan, pendekar yang keluar malam pantang memakai baju putih, kerena pada malam hari warna putih paling gampang dilihat dan susah untuk ditutupi. Maka pesilat malam selalu memakai warna hitam yang ketat, atau hitam agak muda, atau abu-abu gelap. Wanita ini sengaja memakai warna putih berlawanan dengan aturan resmi, bukan saja baju putih, dan model baju longgar. Tetapi dengan gerakannya yang sangat cepat adalah orang yang kecepatannya paling hebat selama A Bin terjun ke dunia persilatan, dalam hati A Bin memuji wanita ini atas pilihan warna baju dan kesombongan dalam pekerjaannya di malam hari. Kenapa A Bin bisa memuji wanita berbaju putih yang melanggar pantangan dunia persilatan ini? Karena pikiran A Bin yang cepat menangkap maksud pemakai baju putih itu. Betul, warna putih bila sedang tidak bergerak memang paling menyolok, tetapi bila sedang bergerak dalam kecepatan tinggi malah tidak berbekas, maka penyusup malam ini dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, tetap tidak mudah terlihat oleh pesilat-pesilat yang biasa. Dan bila betul dia seorang pesilat tangguh atau mempunyai sifat tidak mau kalah, mana mau dia lari bila ketahuan orang. Bila tidak takut dikejar, buat apa lagi memakai baju hitam. Wanita ini sengaja memakai baju warna putih malah menunjukan dia bersifat terbuka dan betul-betul tidak memandang lagi sesepuh dunia persilatan. A Bin sedang tertegun atas penampilan wanita berbaju putih itu, ternyata wanita itu sedang terbang menuju ruang penyimpanan alkitab yang baru ditinggalkan oleh Kian Ih Taysu dan lain-lainnya. Dalam hati A bin berkata "celaka", ruang penyimpanan alkitab sekarang sedang tidak ada orang, bila wanita ini masuk ke dalam, entah ada maksud apa? Aku yang melihat kejadian ini, mana boleh membiarkan dia berbuat sesuatu di dalam ruangan itu, dalam keadaan tergesa-gesa, A Bin tanpa banyak pikir lagi, langsung turun dari pohon dengan menendang ringan dahan pohon, tubuh A Bin bagaikan asap masuk ke dalam ruangan itu melalui jendela. Tempat penyimpanan kitab Siauw-lim, menurut dugaan A Bin tentu banyak buku yang tersusun dalam rak buku, ternyata ruangan itu berupa empat tembok kosong dan sedikit bangku meja, tiada barang lain, berarti ruangan ini hanya untuk hweesio-hweesio di biara untuk belajar dan membaca, kitab agama yang berada di bawah bangunan ini. A Bin masuk dalam ruangan ini tanpa suara, setelah bersembunyi sejenak, menggunakan ilmu men dengar yang mahir "Thian-tee" (Mendengar langit), mencari tahu apa ada suara lain, ternyata tidak ada suara apa-apa, A Bin pikir wanita berbaju putih itu punya ilmu meringanankan tubuh yang tinggi dan hati-hati dalam bertindak, ilmu Thian-tee nya pun susah mengetahui keberadaan wanita itu. Setelah A Bin berpikir sejenak, dengan kecepatan tinggi dia menyelinap masuk ke kamar sebelah, memperkirakan wanita berbaju putih itu sudah berada df ruangan ini, berbekal ilmu yang tinggi A Bin tidak takut terhadap serangan gelap, dan siap menghadapi bahaya. Ternyata, A Bin tidak mengalami hadangan, tanpa menghilangkan kewaspadaan, A Bin cepat melirik seisi ruangan, ternyata ruangan ini berbeda dengan ruangan yang pertama, disini rak buku yang berbaris terlihat penuh dengan buku agama. A Bin pikir bila ada orang bersembunyi di belakang rak buku, susah dilacak dengan cepat. A Bin ragu-ragu untuk masuk lebih ke dalam, ternyata ada kesiuran angin dingin menyerang pinggang A Bin. Mengingat bila menghadapi pesilat tinggi, tidak boleh raguragu karena bisa berakibat fatal, maka waktu A Bin mengetahui ada serangan gelap, tenaga serangan itu sudah menyentuh baju A Bin. Otak A Bin cepat berputar, tubuhnya tetap tidak gerak, ternyata sapuan tenaga itu telah membuat tubuh A Bin terpaku di tempat, seperti terkena totokan orang. Bersamaan waktu itu, dari rak buku di sebelah kiri keluar satu wanita berbaju putih, yaitu orang yang dikejar dan di curigai A Bin tadi. Ruangan dalam itu keadaannya remang-remang, A Bin masih bisa melihat seluruh tubuh wanita berbaju putih ini, hanya saja mukanya tertutup oleh kain putih yang tipis, tetapi tatapan mata yang tajam sangat menarik perhatian orang, ditambah potongan baju yang sesuai, memperlihatkan wanita ini tentu sangat cantik dan elegan. Terdengar suara wanita itu dengan nada dingin dan menyindir berkata.

"Kau tidak secerdik yang aku kira, ilmu silatnya pun payah, kelihatannya kau sebagai anak ayam yang baru keluar kandang, pengalamannya sangat rendah!"

Mendengarkan suara wanita berbaju putih itu yang menarik seperti lonceng, dari suaranya diperkirakan umur wanita berbaju putih ini masih muda, seperti seorang anak gadis, tetapi bicaranya pada A Bin seperti orang tua yang sudah pengalaman, A Bin merasa tidak puas, tetapi A Bin masih ingin mendengarkan apa saja yang akan dikatakan wanita ini, maka A Bin masih diam tidak menjawab dulu.

Wanita berbaju putih itu melihat tubuh A Bin dari atas sampai ke bawah tubuh, dengan terkejut berkata.

"Ternyata kau yang bersembunyi diatas pohon mendengarkan percakapan tua bangka di ruangan penyimpanan alkitab ini, kau pun tentu ada maksud tertentu, ada rencana yang akan dikerjakan!"

Mendengar wanita ini salah menebak pendiriannya, A Bin malah gembira di dalam hati, dia berpikir bila dia sengaja berpura-pura bodoh, mungkin masih bisa mengetahui asal usul wanita ini, dan mendapat rahasia kenapa wanita ini menyerang biara Siauw-lim pada hari ini, A Bin terkejut juga kenapa wanita ini bisa tahu A Bin bersembunyi di atas pohon, apa dia punya indra meneropong orang.

Maka, dengan rasa ingin tahu A Bin bertanya.

"Kenapa kau tahu tadi aku bersembunyi diatas pohon?"

Wanita berbaju putih itu tertawa seperti lonceng berbunyi, katanya.

"Kau ingin tahu kenapa aku tahu kau bersembunyi di atas pohon?"

A Bin memanggutkan kepala tanda benar. Wanita berbaju putih itu tertawa sejenak, berkata.

"Ini adalah hasil dari ketelitian seseorang dalam pengalaman terjun di dunia persilatan, rambutmu ada tetesan air, itu adalah tanda embun basah di atas pohon, tubuhmu tercium sedikit bau daun, dan di luar jendela di belakangmu berdiri tadi persis ada pohon besar, semua ini mendukung analisa aku, jadi di kemudian hari bila kau meneliti orang harus lebih seksama, kau juga akan terlatih kemampuan menilai orang!"

Kata yang diucapkan wanita ini biasa-biasa saja, tetapi nada bicara mengaku sudah berpengalaman lama, membuat A Bin tidak terima, pikir dalam hati A Bin.

"Umurmu tidak lebih banyak dari aku, bila di hitung kau lebih banyak berapa tahun di dunia persilatan, dan mendapat beberapa pengalaman, kok berani menasihati aku dengan kata-kata sombong. Wanita berbaju putih seperti menebak isi hati A Bin, tetapi dia tidak membongkar rahasia hati A Bin, dia melanjutkan perkataannya. "Sekarang jawab satu pertanyaanku, kau sebagai laki-laki harus memegang janji, kau harus terang-terangan menjawab, jangan merendahkan martabat sendiri!"

Pintar juga wanita berbaju putih ini, kata-katanya sangat menggugah A Bin yang masih muda belia, dengan menggunakan martabat diri itu A Bin tahu tidak bisa menghindar dari pertanyaan lawan, maka dengan tegas dia berkata.

"Kau tanya saja, aku akan jawab sejelas mungkin, tetapi sesuai janji aku hanya bisa menjawab satu pertanyaanmu!"

Wanita berbaju putih itu seperti mengetahui sedang berada diatas angin, tanpa ragu lagi dia bertanya.

"Kau hanya jawab aku, kau dengan tua bangka itu lawan atau kawan?"

A Bin tidak menyangka bahwa pertanyaan wanita berbaju putih itu biasa saja, dia merasa lega dalam hati, tetapi dia tidak suka dikuasai wanita ini, dan kesombongan tingkahnya pada orang, maka pura-pura menjawab.

"Mereka menganggap aku musuh!"

Kata-kata A Bin adalah fakta, karena sampai detik ini, Kian Ih Taysu dan kawan-kawannya masih belum tahu betul seluk beluk A Bin, masih curiga pada A Bin sebagai mata-mata musuh.

Wanita berbaju putih itu pun tidak menyangka jawaban A Bin bisa demikian, dia tertegun sejenak, sambil tertawa berkata.

"Dilihat sekarang, kau lebih pintar dari penilaian aku yang kedua kali tadi. Tetapi, kata-katamu yang licik, dari nada suaranya, kau masih belum begitu memusuhi mereka, betulkan!" Mendengar kata-kata itu, A Bin merasa tidak terima, ternyata wanita ini lebih pintar lagi pada dirinya, dengan kesal dia tidak menjawab. Mengetahui perubahan muka A Bin, wanita berbaju putih itu tertawa sebentar, lalu berkata dengan menyindir.

"Kau menganggap dirimu waspada, tetapi kau membongkar rahasiamu tanpa sadar! Ternyata, kau terkena totokanku, hanya berpura-pura sementara tetapi baik juga buatku, aku menaruh harapan lebih padamu, ternyata ilmu silatmu tidak rendah!"

Telah tidak saja, besar A Bin mengetahui kenapa wanita berbaju putih itu berkata demikian, sebab saat A Bin kesal, tidak terasa dia mengerahkan tenaga dalamnya yang kuat, sehingga kepurapuraan A Bin terkena totokan jadi terbongkar.

Ternyata saat tadi A Bin terkena serangan mendadak, dari tempat gelap oleh wanita berbaju putih itu, A Bin bisa menghindar, mengetahui lawan punya ilmu meringankan tubuh yang tangguh, bila A Bin berusaha menghindar, dia khawatir lawannya lari.

Padahal A Bin ingin tahu siapa wanita itu dan apa tujuannya, maka berbekal tenaga tenaga dalam yang ampuh, dia menerima serangan itu, dan berpura-pura terkena totokan lawannya, agar lawan keluar dari tempat persembunyiannya.

Setelah siasatnya terbongkar, A Bin menjadi terperanjat, pikirnya dalam hati.

"ketinggian ilmu silatku bisa ditebak oleh wanita itu, berarti ilmu silat wanita itu tidak lebih rendah dariku Menghadapi hal ini A Bin jadi serba susah, bila menyerang dengan mendadak, wanita itu pasti sudah siap, jadi dia tidak akan berhasil melumpuhkan lawan. Bila lepas tangan, berarti A Bin sebagai lelaki jantan, mengalami kegagalan total, kalah di tangan seorang wanita muda tanpa nama, A Bin tidak sudi kalah! Mengetahui A Bin malu, wanita berbaju putih itu malah meledek dengan berkata.

"Kenapa? Seorang lelaki jantan bisa saja mengaku kalah terhadap seorang perempuan!"

Begitu di bongkar kelemahannya oleh lawan, A Bin bertambah marah, sejenak A Bin tidak bisa menjawab, dia hanya bersuara hidung menyatakan marah. Wanita berbaju putih itu tersenyum, katanya.

"Anak muda! Kau jangan menganggap aku musuh, kau harus tahu, ketua Siauw-lim-sie Kian Ih Taysu adalah musang tua yang susah dilawan, ditambah lagi Peramal jitu ikut bersuara, hingga mereka ber-tambah licik. Bukan aku sombong, aku bisa saja menerobos masuk ke dalam ruangan penyimpanan kitab ini, tapi bila ingin keluar lagi, rasanya tidak mudah..."

Belum habis wanita berbaju putih itu berkata, A Bin merasa gembira dan berbalik tanya.

"Kenapa? Apalah Kian Ih Taysu telah membuat perangkap di ruangan ini!"

Seperti mengetahui isi hati A Bin, wanita berbaju putih itu agak marah dan berkata.

"Kau jangan senang melihat orang susah, mengharapkan aku terkurung disini oleh tua bangka itu, aku hanya tidak ingin bertemu mereka, karena asal usulku. Bila tidak, aku bisa menerobos keluar lagi, siapa yang berani merintangi aku?"

Wanita berbaju putih itu berlanjut mengatakan. "

Kau pun jangan selalu memikirkan yang baik saja, kau ingin berbuat baik pada tua bangka itu agar dapat pujian.

Kau harus tahu, bila mereka mengetahui kau menerobos masuk ke ruangan ini, kau pun akan di anggap musuh, apakah kau bisa menjelaskan?"

Mendengar analisa wanita itu, A Bin terperanjat, katakata wanita itu sangat masuk akal, dia sendiri pun di anggap orang tidak jelas asal usulnya, masih susah dibedakan kawan atau lawan, bila betul di ketahui orang dalam ruangan ini, sungguh susah dia membela diri, punya seratus mulut pun tidak bisa membela diri, memikirkan sampai disitu, dalam hati A Bin merasa dingin.

Mengetahui berhasil mempengaruhi A Bin, wanita berbaju putih itu berkata lagi.

"Anak muda! Sekarang kau mengerti! Kau tidak boleh memandang aku sebagai musuh, malah harus bekerja sama denganku, baru bisa keluar dari ruangan ini tanpa meninggalkan jejak!"

A Bin mengerti kata-kata wanita itu adalah fakta, tetapi jiwa muda A Bin yang angkuh, tidak mau menerima kalah.

Pertama kalah langkah oleh wanita ini, kata-kata sindiran yang menyakitkan, sekarang malahan senang atas kelemahan A Bin, maka A Bin lebih baik menanggung risiko ternoda nama dari pada di perintah wanita ini, maka A Bin berkata dingin.

"Kau jangan senang dulu, aku tidak perlu bantuanmu, urusan seberapa besar pun aku akan tanggung sendiri, kau jangan mencoba merayu aku untuk kerja sama!"

Wanita berbaju putih itu tertawa manis dengan suara yang lebih menarik berkata.

"Anak muda!

Adatmu sangat keras!

Aku beri tahu, aku punya cara agar kita berdua dapat keluar dari ruangan ini tanpa diketahui identitas kita, coba kau pikir kembali, kau sembunyi di atas pohon mendengarkan rahasia orang, berarti kau pun masih ragu-ragu terhadap tua bangka itu, kau jangan jengkel atas kata-kata sindiranku, sekali lagi aku katakan adatmu terlalu keras.

Sekarang aku balik bertanya, anggap saja aku minta bantuanmu bagaimana?

Apakah kau akan menolak permintaan seorang permpuan?"

Dasar A Bin masih muda, bagitu wanita berbaju putih itu berubah nada bicaranya dengan tenang, karena pengalaman kurang, dia tidak enak menolak permintaan orang dengan kata-kata halus, maka dengan kata lembut dia berkata.

"Baiklah, bila kau sungguh-sungguh minta bantuanku, aku akan bantu! Tetapi setelah keluar dari bangunan ini, kau dan aku sebagai lawan atau kawan, lain soal lagi!"

Wanita berbaju putih tersenyum terpaksa, berkata.

"Adatmu betul-betul keras! Baiklah, waktu, tidak banyak, urusan belakang bagaimana nanti saja, sekarang kau harus turut nasihatku, satu, aku sediakan jubah hweesio, kulit kepala palsu satu set, dengan baju ini kau menyamar menjadi hweesio Siauw-lim!"

Dengan nada curiga A Bin berkata.

"Kenapa aku harus menyamar?"

Wanita berbaju putih itu dengan tegas berkata.

"Bila kau berjanji membantu aku, harus menurut perintah, kau sebagai hweesio palsu, satu untuk dirimu, agar kau tidak diketahui muka aslinya oleh tua bangka itu, dan satu guna lagi, tetapi kau pakai dulu jubah dan kulit kepala palsu itu, baru aku bicara lagi." A Bin terdiam sebentar, dia terpaksa memakai jubah hweesio itu lalu memasukan kulit kepala palsu juga, diraba atas kepala ternyata botak juga. Wanita berbaju putih itu kelepasan tertawa dan berkata.

"Ku bukan hweesio, jadi kepalamu kelihatan lebih besar, beruntung dalam kamar gelap, mungkin masih bisa mengelabui mereka beberapa waktu!"

A Bin di permainkan oleh wanita itu, dengan sedikit marah berkata.

"Cepat katakan! Apa gunanya buatku, memakai baju palsu ini?"

Wanita berbaju putih itu cepat berkata.

"Tadi aku sudah masuk lebih duluan, sudah melihat di ruangan ini ada dua pintu, depan dan belakang, ruangan ini tidak ada jebakan, tetapi tua bangka itu pasti menjaga pintu keluar. Kau dan aku seperti kura-kura dalam gentong, bila beradu ilmu sejati, kita berdua pasti bisa menerobos keluar, tetapi karena kita berdua tidak ingin ketahuan oleh mereka, maka harus menggunakan akal ini!"

A Bin pun berpikir, bila Kian Ih Taysu tahu dia barada dalam ruangan penyimpanan kitab, pasti di anggap sekelompok dengan wanita ini dan dianggap musuh, maka dia ingin tahu apa rencana wanita ini?

Wanita berbaju putih itu melihat A Bin diam dan setuju, dengan tertawa riang berkata.

"Kau ikut aku!"

Sambil bicara, wanita itu mengulurkan tangan yang munggil ingin memegang lengan kanan A Bin.

A Bin tidak tahu apa maksud wanita itu, maka dengan reflek menghindar, wanita itu berkata lembut.

"Kau masih tidak percaya padaku!?"

Wanita berbaju putih itu mendekati A Bin, harum wangi dari tubuh wanita itu membuat A Bin agak mabuk, cepatcepat A Bin menenangkan pikiran dan bertanya.

"Kita akan kemana?"

Wanita berbaju putih itu pura-pura marah berkata.

"Kau harus menurut perintahku, baru bisa keluar, bila kau masih curiga dan tidak percaya, rencana kita akan gagal. Sekarang hanya satu kata, kau percaya atau tidak, katakan saja aku menjebakmu, kau berani tidak!"

Jiwa rasa ingin menang A Bin timbul, dengan dingin berkata.

"Kau jangan banyak omong, aku ikut kau saja!"

Wanita berbaju putih itu tertawa riang, sambil menggoyangkan pinggul yang munggil, memandu A Bin menuju jalan sempit antara rak buku-buku, dia sama sekali tidak takut di bokong A Bin, A Bin jadi merasa malu, dalam hati dia berpikir, gadis muda ini begitu percaya padaku, aku malah curiga padanya, maka dia segera mengikuti wanita itu menuju satu sudut ruangan.

Wanita berbaju putih itu menunjuk pintu kecil yang tertutup rapat, berkata dengan suara kecil.

"Di luar pintu ini ada satu lorong sempit, melalui lorong itu bisa meloncat ke halaman biara, kuduga tua bangka itu pasti menjaga kuat-kuat pintu ini, sebentar lagi aku berusaha membuka pintu ini, dan bersembunyi di atas rak buku, kau pura-pura terluka jatuh di lantai, memancing tua bangka itu menghampirimu dan memeriksa, aku akan menyerang dengan tiba-tiba dari atas, bersamaan waktu itu kau membantu, biar bagaimana tinggi ilmu tua bangka itu, juga tidak akan bisa menahan serangan kita, lalu kita terobos keluar, pasti tidak ada masalah!"

A Bin diam saja mendengarkan penjelasan itu, dalam hati memuji siasat wanita yang bagus ini, tetapi sifat yang angkuh membuat A Bin tidak mau membuka mulut, dia hanya menganggukan kepala tanda mengerti.

Wanita berbaju putih itu sangat cerdik, setiap tingkah laku A Bin dia bisa melihat isi hatinya.

Mata dia berputar sekali, pura-pura memarahi A Bin.

"Anak muda, kau cepat berpura-pura terluka dan jatuh di lantai, dan perhatikan saat yang tepat bila aku menyerang mereka, jangan emosi saja padaku, nanti urusan bisa berantakan!"

Setelah itu, wanita berbaju putih itu melayang naik ke atas rak buku, bersembunyi di deretan rak dekat pintu, tubuh dia yang ramping, begitu bersembunyi disana tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Seluruh ruangan dalam keadaan sunyi senyap, malah membuat A Bin agak tegang.

Bila dikatakan dengan ilmu silat dan keberanian A Bin, tiada satu pun urusan yang bisa membikin dia takut, tapi karena A Bin terlalu emosi, lupa akan etika dunia persilatan, akibat-nya dia sembarangan masuk ke ruangan penyimpanan kitab ini, bila dia tidak hati-hati dan dikenali oleh Kian Ih Taysu dan lain-lainnya, susah untuk dia jika ingin membersihkan namanya, sehingga di kemudian hari bagaimana dia bisa berhubungan lagi dengan mereka?

Di saat dia sedang tegang, pintu yang terkunci itu terbuka dengan sendirinya dari luar, A Bin melihat dari kejauhan, betul juga di tengah pintu berdiri dua orang, satu Kian Ih Taysu dan yang lainnya Peramal jitu Cukat Hiang!

Kedua orang itu pantas dijuluki petinggi dunia persilatan, berbuat segala sesuatu tidak sembrono dan tenang, melihat seorang rahib yang terluka di bawah, mereka kelihatan tercengang sebentar, tetapi tidak langsung memeriksa dulu, mata mereka berdua segera melirik sudutsudut ruangan itu, setelah tidak menemukan hal yang mencurigakan, Kian Ih Taysu yang peduli pada muridnya sendiri, segera menghampiri hweesio yang terluka yang diperankan oleh A Bin.

Cukat Hiang berteriak.

"Tunggu sebentar!"

Teriakan itu membuat A Bin terperanjat, dalam hati A Bin terkejut bercampur kagum, memuji peramal jitu ini betul-betul punya nama besar, apakah samaran A Bin kelihatan oleh dia.

Yang membuat A Bin terkejut adalah akal wanita berbaju putih itu akan gagal total, dia sendiri bagaimana bisa berlari ke luar ruangan ini.

Dalam detik tegang itu, terdengar satu suara "Bruk!"

Dan dilantai segera timbul segulung asap tebal berwarna kuning telur, hingga lima jari orang sendiri juga tidak bisa kelihatan.

A Bin menduga ini pasti tindakan wanita itu, maka dia langsung membuat gerakan menuju arah yang tepat menerobos pintu yang dijaga oleh Kian Ih Taysu dan Cukat Hiang.

Dalam keadaan remang-remang, A Bin merasakan ada dua tekanan tenaga besar menyerang dadanya, lalu A Bin menggunakan punggungnya menghilangkan tekanan tenaga itu ke pinggir, A Bin tahu tenaga itu datang dari Kian Ih Taysu dan Cukat Hiang yang terlatih mengenal suara angin dari gerakan seseorang, sehingga bisa menyerang musuh dalam keadaan remang-remang, A Bin tidak takut tenaga gabungan mereka, dia hanya takut dikenali mukanya, maka A Bin menggunakan dua telapak tangan menyerang balik dua orang itu, sambil menerobos tembok tenaga dua orang itu, agar segera mendapatkan jalan keluar.

Tetapi karena A Bin tidak menganggap mereka sebagai musuh, maka tenaga dalamnya tidak sepenuh-nya digunakan, dia khawatir akan melukai mereka, sehingga nanti bisa menyesal.

Setelah bertarung beberapa jurus, A Bin merasa keadaan tidak menguntungkan buatnya, sebab dua orang itu telah menganggap A Bin sebagai musuh, sehingga mereka menggunakan jurus dan tenaga dalam penuh, membalas serangan A Bin tanpa ampun, membuat A Bin agak sulit melarikan diri.

A Bin menduga asap warna kuning telur itu tidak akan bertahan lama, bila dia tidak berusaha lagi, dia akan kesulitan sendiri, maka dengan tenaga dalam yang keras dari jurus Han-ki-coan-kang, tenaga dalam A Bin menjadi berlipat ganda, menerjang seperti halilintar menyambar.

Begitu tenaga dalam A Bin keluar dengan hebat, dalam hati A Bin agak menyesal karena dia khawatir melukai mereka.

Ternyata tenaga A Bin malah tidak mendapat perlawanan berarti, ini membuat A Bin terkejut, apakah kedua orang itu mempunyai tenaga dalam yang lebih hebat lagi, atau tidak mau beradu tenaga secara langsung.

Tapi kemudian A Bin sadar, tentu wanita berbaju putih itu pun menyerang kedua orang itu dari tempat bersembunyi, sehingga tenaga dalam A Bin tidak mendapat perlawanan yang berarti.

Menggunakan kesempatan emas itu A Bin langsung menerobos pintu, biar pun masih mendapat tekanan tenaga dari belakang oleh dua orang itu, tubuh A Bin bagaikan anak panah melesat keluar pintu.

Di luar pintu, seperti yang dikatakan wanita berbaju putih itu terdapat lorong panjang yang sempit, dengan beberapa loncatan, A Bin sudah melewati lorong itu, dan tanpa gangguan meloncat ke atas pohon di sekeliling ruangan tempat penyimpanan kitab itu.

Pertarungan yang tadi terjadi antara Cukat Hiang dengan kakek yang bertopeng sudah tidak ada lagi.

Begitu keluar dari tempat bahaya, segera dia mengkhawatirkan keadaan wanita berbaju putih itu, maka dari kejauhan melihat ke arah ruangan itu, ingin tahu wanita berbaju putih itu sudah aman keluar atau belum.

Sejenak saja, A Bin melihat Kian Ih Taysu dan Cukat Hiang keluar dari pintu itu dan berjalan di lorong itu dengan lemas, A Bin memperkirakan wanita berbaju putih itu telah aman keluar dari ruangan itu, hati A Bin jadi senang bercampur khawatir.

A Bin menenangkan diri, marah dalam hati, bagaimana baik wanita berbaju putih itu terhadapnya, tetapi dia menganggap sebagai musuh semua pesilat aliran putih.

Seharusnya dia bisa memisahkan mana yang baik, mana kawan atau lawan, agar dia tidak salah bertindak.

Maka setelah menetapkan pikirannya, mengguna kan lindungan pohon-pohon A Bin menyelinap keluar ingin memeriksa ruangan lain, apakah masih ada musuh lain, hingga bisa ditangkap untuk mendapat keterangan.

Baru saja A Bin berbelok di satu sudut, dia melihat di belakang halaman biara, api besar mem-bumbung tinggi, kelihatannya ada musuh menyelinap dan membakar.

Dalam hati A Bin berpikir.

"orang biara banyak, pasti banyak orang membantu memadamkan api, lebih baik dia menangkap musuh. Terdengar suara ribut dari halaman kebakaran dan kemudian terdengar suara perintah dari pimpinan hweesio, memperlihatkan ketenangan hweesio-hweesio Siauw-lim-sie yang telah terlatih baik, sehingga A Bin merasa kagum atas biara Siauw-lim. Sambil berlindung dari bangunan apa saja, A Bin masih mencari sasaran, ternyata tidak ada satu pun bayangan terlihat di matanya. A Bin jadi ragu ragu, dia ingin mencari di tempat lain, mendadak dari belakang sederet kamar hweesio, terbang satu bayangan hitam seperti meteor menuju halaman luar biara Siauw-lim. A Bin memastikan bahwa orang itu adalah musuh, maka dia meloncat tinggi mengejar orang itu. Di luar biara sangat sunyi, bayangan orang tadi sudah menghilang dari pandangan mata A Bin. A Bin terkejut juga, siapakah orang itu sampai tidak terkejar olehnya. Dia ragu-ragu sejenak, di lindungi pohon di luar tembok biara, A Bin berdiri sebentar, entah mau pulang lagi ke dalam biara atau tetap mencari musuh itu. Sekejap, mata A Bin melihat dari satu batu besar terbang satu bayangan hitam menuju ke arah barat, dari bentuk tubuhnya, orang itu adalah orang yang tadi di cari A Bin, A Bin baru sadar, orang itu sangat cerdik dan licik, begitu keluar biara, dia berlindung dulu di belakang sebuah batu besar, tidak berlari terus, berjaga-jaga kalau ada orang yang membuntuti. Buat A Bin dia merasa beruntung, sebab demi menjaga agar tidak diketahui orang-orang dalam biara dan tidak mendapat kerepotan, A Bin selalu menyembunyikan diri di tempat yang terlindung, tindakan A Bin itu kebetulan bisa menemukan kembali orang yang dicari. A Bin baru sadar, orang itu sangat waspada dan licik, untuk menghindari orang yang mengejar di belakang, begitu diluar dia tidak lari terus, malah bersembunyi dulu di belakang sebuah batu besar, menyelidik dulu kalau-kalau ada orang yang membuntuti. Tindakan A Bin yang hati-hati ternyata dapat mengelabui orang itu. A Bin mengetahui orang itu sangat licik dan cerdik, maka dia lebih hati-hati menjaga jarak, di biarkan orang itu berlari agak jauh, baru mengejar dengan pelan-pelan. Dalam sekejap mata, orang itu telah masuk dalam area pohon pohon, A Bin ragu-ragu sejenak, lalu masuk melalui samping, di dalam pohon-pohon yang lebat, A Bin tidak tahu mau mengejar ke arah mana? Tindakan A Bin yang sangat hati-hati dan tubuhnya lincah seperti monyet, bisa berlarian tanpa mengeluarkan suara menerobos pohon-pohon, di depan mata terlihat sedikit terang cahaya, tidak jauh dari pandangan matanya ada tiga hingga lima orang sedang berkumpul di lapangan, yang berdiri di tengah ternyata wanita berbaju putih yang pernah bersama A Bin menempuh bahaya di dalam ruang penyimpanan alkitab. Orang yang dikejar A Bin begitu bertemu wanita berbaju putih itu seperti sangat takut dan hormat, dia membungkukan tubuh memberi hormat, dan berkata.

"Kaucu......"

Wanita berbaju putih melarang dia bicara lagi, dia berkata dingin dengan seluruh mukanya ditutupi kain putih.

"Sie-yan!

Kau tambah tua tambah ceroboh, apa sudah pikun, di ikuti orang malah tidak tahu!"

Orang yang dipanggil Sie-yan itu membalikan tubuh melihat ke belakang, mukanya persis menghadapi ke arah tempat A Bin bersembunyi, begitu melihat muka orang itu, A Bin hampir saja berteriak, sebab orang itu ternyata adalah Thi-koan Tojin yang telah dilumpuhkan oleh orang-orang Jian-kin-kau hingga cacad.

Detik ini A Bin baru sadar, bahwa orang itu menyamar sebagai Thi-koan Tojin, hweesio yang asli kemungkinan telah dibunuh, kemudian yang palsu ini menyelinap dalam rombongan pesilat, sebagai mata-mata Jian-kin-kau agar mendapatkan rahasia yang diinginkan.

Thi-koan Tojin palsu itu tidak mengetahui persembunyian A Bin, dalam keadaan bimbang dia mendadak mendengarkan tertawa dan teriakan dari mulut ketua Jian-kin-kau dengan kata.

"Cepat jemput tamu!"

Bersamaan perkataannya, A Bin merasakan satu tenaga tanpa suara mendorong ke arahnya.

A Bin segera memusatkan tenaga dalamnya, maka begitu serangan datang dia langsung bereaksi, menggunakan tenaga lawannya dia melayang terbang persis turun di lapangan yang berjarak sekitar satu tombak.

A Bin menggunakan tenaga lawan untuk meloncat, dia telah mengetahui orang yang menggunakan telapak tangan untuk menyerang mempunyai tenaga dalam tingkat tinggi, dalam hati A Bin berpikir, bila semua orang yang berkumpul disini semua punya tenaga sebesar itu, dia akan kewalahan menghadapi mereka.

Orang yang dipanggil Sie-yan itu melihat A Bin keluar dari persembunyian, timbul api kemarahan di kedua matanya, seperti ingin menelan A Bin ke dalam perutnya.

Wanita berbaju putih itu malah tertawa riang dengan suara merdu berkata.

"Bagaimana? Kau mencari aku ya? Sekarang kita jadi kawan atau lawan?"

Ditanya begitu, A Bin tidak bisa menjawab langsung, beberapa saat kemudian dia baru berkata.

"Aku ingin tahu maksud kalian bila kalian berlawanan dengan Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay, aku tidak akan berpangku tangan......."

Dengan tertawa merdu wanita berbaju putih itu berkata.

"Bila aku mengakui berlawanan dengan Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay! Kau akan berbuat apa? Bantu aku? Atau bantu mereka?"

A Bin tidak menyangka wanita itu bertanya begitu, tertegun sejenak berkata dengan tegas.

"Aku tentu membantu mereka!"

Wanita berbaju putih itu tertawa sinis, katanya.

"Kau dari Siauw-lim-pay atau Bu-tong-pay? Atau salah satu dari partai yang lain?"

A Bin tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu, maka dia menggelengkan kepala sebagai jawaban. Wanita berbaju putih itu mendesak, bertanya lagi.

"Apa kau telah mendapat persembahan dari mereka? Atau punya hutang budi pada salah satu partai? Hingga mesti membalas budi?" A Bin menjawab dengan gelengan kepala lagi. Wanita berbaju putih itu tertawa dingin, katanya.

"Kau bukan murid dari mereka? Juga tidak punya utang budi? Mereka malah menganggap kau sebagai mata-mata, kenapa kau masih mau menantang aku!"

A Bin didesak dengan pertanyaan bertubi-tubi sehingga tidak bisa menjawab, dengan tatapan mata yang tajam wanita itu memandang A Bin, ingin A Bin menjawab.

Timbul sebuah bayangan dalam pikiran A Bin, maka dia balik bertanya.

"Aku pun ada pertanyaan, apa kau dari Jian-kin-kau?"

Wanita berbaju putih itu menjawab tanpa ragu-ragu.

"Betul, semua orang disini selain kau adalah orang-orang dari Jian-kin-kau!"

Mendengar jawaban itu, A Bin terperanjat sejenak, tanyanya lagi.

"Dimana ketua aliran kalian? Aku ingin ber-bicara dengan dia!"

Wanita berbaju putih itu dengan dingin berkata.

"Ketua Jian-kin-kau! Ada di depan matamu!"

A Bin ragu-ragu dan terperanjat memandang wanita berbaju putih itu, berkata.

"Kau ketua Jian-kin-kau?"

Wanita berbaju putih itu memperlihatkan mimik yang aneh dan tetap berkata dingin.

"Betul! Aku adalah ketua Jian-kin-kau!" Untuk sementara A Bin tidak bisa berkata karena terkejut, dia tidak dapat mempercayai bahwa wanita berbaju putih yang umurnya masih muda begini adalah ketua Jian-kin-kau yang sadis itu, mengingat perbuatan Jian-kin-kau yang biadab membuat A Bin timbul amarah besar maka dengan kata-kata tegas dia berkata.

"Ternyata kau adalah ketua Jian-kin-kau yang jahat dan biadab itu, kau masih berani bertanya padaku untuk membantu mereka atau membantumu!"

Wanita berbaju putih berkata dengan dingin.

"Bila aku ketua Jian-kin-kau, apa tindakanmu?"

Dengan nada marah A Bin berkata.

"Kalian Jian-kin-kau membunuh orang yang tidak berdosa, dan ingin menggunakan kekerasan untuk menghancurkan orang-orang dari aliran putih......"

Wanita berbaju putih itu memotong perkataan A Bin berkata.

"Cukup! Aku balik bertanya, apakah kau bisa membuktikan mereka "tidak berdosa"

Dosa dua kata itu terhadap siapa?"

Berkata lagi sambil tertawa sinis.

"Aku kira kau sangat pintar, ternyata kau hanya bisa memutus kan sesuatu masalah hanya dengan pandangan sepihak dan disalah artikan. Aku tanya, apakah boleh membalas dendam, adik membalas dendam untuk kakak, membunuh penjahat, apa bisa dikatakan membunuh orang yang tidak berdosa!"

A Bin berkata dengan gagah.

"Tujuh belas hweesio di biara Cu-sia, dan kemungkinan yang telah dibunuh oleh kalian Thi-koan Tojin, bukankah mereka tidak berdosa!" Wanita berbaju putih itu berkata lagi.

"Betul! Mereka memang pantas mati, Thi-koan Tojin adalah pembunuh kakakku, ke tujuh belas murid Cu-sia adalah anak buat hweesio itu yang turut serta, aku membunuh ke tujuh belas hweesio, dan hweesio tua telah kukurung di satu tempat siap digabung dengan musuh lain untuk menghormati kakakku di sorga, apa mereka pantas dibunuh, apa mereka tidak berdosa!"

A Bin tidak bisa menjawab pertanyaan itu, maka berbalik kepertanyaan lain.

"Bagaimana dengan Po Kong-hoo dan Dua tuli dari Buie-san, apa mereka pun termasuk musuhmu?"

Masih dengan nada dingin wanita berbaju putih itu berkata.

"Mereka bukan musuhku, kau pun bisa lihat sendiri mereka adalah jagoan setempat yang licik, mereka telah banyak berbuat dosa selama hidupnya, aku hanya pinjam nyawa mereka untuk memberi peringatan pada seluruh partai, mereka berdosa, jadi aku bukan membunuh orang yang tidak berdosa."

Menghadapi wanita berbaju putih yang berkata dengan nada mendesak dan fakta yang dibeberkan, A Bin merasa agak kewalahan, terpaksa dia mencari kata lain untuk bertanya.

"Jadi, anak buahmu, sudi diperalat dan diperintah olehmu, tetapi di saat yang genting kau tega juga membunuh mereka untuk menutup mulut, apa mereka pun pantas mati!"

Wanita berbaju putih itu tertawa mendengar ucapan A Bin, katanya.

"Bagaimana?

sudah habis kata-kata yang ingin kau ucapkan, sekarang kau tidak akan menyentak aku membunuh orang yang tidak berdosa, mengatakan harus atau tidak, terus terang agar kau mengerti!

Orang orang di aliranku, kebanyakan orang orang yang terlalu banyak berbuat kejahatan, mati buat mereka tidak jadi soal, saat bersumpah masuk ke Jian-kin-kau, mereka bersedia berkorban untuk partai, dan tidak akan menolak, maka, agar rahasia Jian-kin-kau tidak bocor, bila perlu membunuh mereka di saat genting untuk memenuhi sumpah mereka, jadi bukan mati sia-sia."

Mendengarkan kata-kata wanita itu, A Bin menganggap kata-kata itu tidak masuk norma-norma hidup manusia, tetapi masuk akal juga, wanita ini biar licik dan jahat, tetapi punya pandangan lain dari orang biasa, maka untuk sejenak A Bin tidak bisa bertanya lagi.

Wanita berbaju putih itu berkata panjang lebar.

"Kau harus tahu, kau menganggap Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay yang menyombongkan diri sebagai golongan putih, apakah tindakan mereka semua betul? Coba pikirkah dengan teliti, apa mereka pernah melepaskan musuhnya, mengampuni musuh, apakah senjata dan kepalan mereka pernah kasihan pada musuhnya? Asalkan ada yang merongrong kewibawaan mereka? Mereka membikin aturan sendiri, kata mereka itu aturan dunia persilatan, bila ada orang berbuat sesuatu di luar aturan mereka, mereka menuduh orang itu aliran sesat, dan menjadi musuh kelompok aliran putih dan siap membasmi orang-orang itu, dan mereka menghukum orang yang berlainan pikiran, dan mengasingkan aliran lain, apakah ini dinamakan membela kebenaran, menjun jung tinggi aliran dunia persilatan, bila ada orang lain berbuat hal yang tidak sama dengan mereka, mereka di cap jahat dan berbahaya untuk dunia persilatan, maka mereka bergabung untuk membasmi orang-orang itu, apakah kau bilang perbuatan mereka betul dan masuk akal?"

A Bin sebenarnya sangat pintar, namun pengalamannya masih hijau dan pengetahuannya pun sangat sedikit, lebihlebih dalam pengetahuan mengenai hubungan golongan partai-partai di dunia persilatan, dia tidak jelas, A Bin hanya melihat berdasarkan apa yang dilihatnya baru memutuskan bagaimana bertindak, setelah dikupas dengan jelas oleh wanita berbaju putih itu, pandangan baik terhadap partai-partai putih menjadi goyah, tetapi A Bin tetap tidak setuju tindakan wanita itu yang melawan tata krama yang lazim, namun A Bin menaruh salut pada wanita itu atas kepintaran dan pengalamannya, yang membikin A Bin tidak mengerti adalah kenapa banyak murid-murid Jian-kin-kau begitu hormat pada wanita ini, sudi diperintah, mereka diam semua waktu dibilang orangorang jahat dan pantas dibunuh, sama sekali tidak marah.

A Bin sedang bingung berpikir, terdengar suara merdu dari wanita berbaju putih itu dengan kata.

"Hai, anak muda, kenapa tidak tanya lagi? Apa sudah tunduk padaku, setuju atas pandanganku!"

Sejah bertemu wanita berbaju putih itu, A Bin selalu kalah berdebat dengan lawan yang pintar dalam kata kata dan memojokan, harga diri A Bin terganggu, begitu mendapat pertanyaan lagi, A Bin mengerutkan alis mata, bertanya dengan terpaksa.

"Kau bilang membalas dendam atas orang tua dan kakakmu, apa betul fakta itu?"

Mata wanita berbaju putih itu terlihat api dendam, dengan suara sedih berkata. "

Bila kau tidak percaya, lain hari boleh selidiki kejadian sepuluh tahun lalu, saat itu di dunia persilatan ada dua jagoan dari marga Kou, riwayat mereka bagaimana?

Bila kau sudah tahu jelas baru bisa percaya bahwa kata-kataku hari ini adalah betul!"

Melihat wanita itu sedih, A Bin diam sejenak, lalu bertanya dengan serius.

"Dan kedatanganmu di biara ini untuk apa?"

Wanita berbaju putih itu dengan mata bersinar, nada suara berobah sadis dan berkata.

"Dua jago dari marga Kou adalah ayah dan kakakku, mereka hanya biasa berbuat seenaknya, tapi tidak sekejam yang dikatakan orang-orang yang menamakan dirinya golongan putih, tetapi oleh mereka marga Kou itu dicap musuh bersama, mereka mengumpulkan jagoan dari semua partai, mendesak ayah dan kakakku menyingkir kemanamana, dan tidak dapat hidup tenang, dan akhir kata kakakku dibunuh oleh kepungan Thi-koan Tojin dan puluhan murid-muridnya, ayahku dikepung dalam satu gua gunung terlantar, tidak sudi dipermalukan, akhirnya tertangkap dan bunuh diri, maka pada hari ini aku menggunakan kesempatan semua jagoan berkumpul disini untuk membasmi mereka semua, dan selanjutnya memburu sisa-sisa murid mereka, itu adalah rencanaku mendirikan Jian-kin-kau, kau mengertikan!"

Mendengarkan rencana wanita berbaju putih yang jahat itu, tubuh A Bin terasa dingin, segera berkata.

"Mereka tidak semua musuhmu, pasti ada yang tidak berdosa, kau ingin membunuh semua, apa tidak keterlaluan!"

Wanita berbaju putih itu berkata dengan sinis. "Kenapa kau berkata begitu, aku berbuat sesuka hatiku, dan saat ayah dan kakakku dibunuh, apakah ada orang berusaha minta mereka jangan membunuh!"

Mengetahui wanita berbaju putih itu bernada sombong, seolah-olah seluruh jagoan di biara Siauw-lim berada dalam genggaman tangannya, dan berniat membunuh semua orang, hati A Bin jadi makin berat, tetapi A Bin berpurapura tidak percaya akan hal tersebut, dengan sinis bertanya.

"Kau sendiri yang bermulut besar, apakah anak buahmu yang demikian bisa membunuh semua jagoan dalam biara Siauw-lim?"

Wanita berbaju putih itu tidak segera menjawab, hanya melirik A Bin dengan sepasang mata yang jernih, melihat muka A Bin penuh pertanyaan, dia merasa tidak tega juga, maka berkata dengan dingin.

"Anak muda, kau meremehkan kemampuanku, biarlah, bila sekarang kau tidak akan percaya,"sebentar lagi fakta akan berbicara, kau pasti percaya!"

Sejak berdekatan dengan wanita berbaju putih itu, A Bin tahu wanita ini mempunyai pikiran lebih tinggi dari orang lain, dan hati dia sangat dengki, kata-kata yang diucapkan bisa dilaksanakan, maka A Bin segera berkata.

"Bila kau akan membasmi semua orang di biara Siauwlim, aku siap menjadi musuhmu, dan aku segera pulang ke biara menunggu kedatanganmu!"

Habis berkata A Bin ingin membalikan tubuh, tapi dia merasakan ada sebuah tenaga menyapu dari belakang tubuh ke arah punggungnya.

Begitu merasakan serangan mendadak ini, dan merasa berada dalam kurungan musuh, A Bin telah mempersiap kan diri, biarpun tenaga serangan itu tanpa bersuara, tetapi bagi A Bin dia sudah siap menolak serangan itu, maka A Bin membalikan telapak tangan memukul balik serangan itu, lalu tubuhnya berdeser ke samping dengan gesit.

Belum sempat melihat serangan itu datang dari orang mana, sudah ada tiga musuh menggunakan senjata mengeroyok A Bin.

Dalam kurungan musuh A Bin menduga mereka adalah pesilat tangguh dari pihak lawan, maka A Bin tidak berani gegabah, menggunakan kedua tangan sebagai pedang, dia memusat tenaga dalam menghadapi ke tiga musuhnya.

Salah satu lawan mengayunkan sebilah golok berlapis emas dengan jurus Pek-san-ciu-bo (Membelah gunung menolong ibu) menghantam kepala A Bin.

A Bin menghindar serangan ini dengan bergeser ke samping sekitar lima kaki, tetapi satu lawan lainnya menggunakan satu pecut dari urat naga menotok A Bin dengan cepat, ujung pecut yang berkepala naga dari bahan emas berkilauan sambil membawa suara yang memecahkan udara.

A Bin menggunakan angin dari jari tangan kiri membuat sebuah tusukan angin seperti pisau tajam mengunci pecut yang datang, tenaga aneh yang menahan gerakan pecut membuat lawan ini tidak berani beradu tenaga, dengan menggoyangkan lengan kanan-nya, dia menarik kembali pecut urat naga itu.

Lawan ke tiga dengan pena baja menyerang A Bin dengan jurus Keng-hong-li-wei (Burung Hong terkejut lari dari rumput danau) menotok dada depan A Bin, A Bin menutup serangan itu dengan gelombang tenaga dari telapak tangan kanan.

Orang ketiga itu segera menarik kembali pena bajanya, menggetarkan tangan kanan, membuat sejalur sinar putih dengan cepat menyerang A Bin, ternyata tangan kanan orang ini menggunakan sebuah palu yang di ikat rantai, senjata itu bisa dipegang di tangan sebagai senjata juga bisa dilepaskan sebagai senjata rahasia, membuat lawan susah menghindar.

Menghadapi serangan itu, A Bin berteriak sekali, tangan kanan yang dibalik dirobah menjadi telapak, dengan penuh tenaga dalam memotong dari samping, jurus A Bin yang tadi turun ke bawah segera di balik ke atas menutup serangan lawan, tindakan A Bin yang merobah jurus dilakukan pada saat yang sangat genting karena keselamatan jiwanya terancam.

Serangan balik A Bin penuh dengan tenaga dalam hingga mengeluarkan suara berciutan, terpaan angin dari telapak A Bin menghantam tali perak yang digunakan orang ketiga itu, rantai emas yang mengikat palu itu segera putus menjadi dua bagian, palu yang masih bunyi tersebut meluncur melalui pinggir kuping A Bin.

A Bin tahu ilmu yang digunakan tadi menggunakan tenaga sepenuhnya, tetapi tidak menduga tenaganya bisa begitu dahsyat sehingga bisa memotong emas seperti tanah.

Saat A Bin tercengang atas tenaganya sendiri, dua lawan lain menyerang lagi dari dua arah, orang ketiga juga balik menyerang lagi dengan pena bajanya.

Ketiga orang yang setaraf dengan pesilat nomor satu tetap tidak mudah melumpuhkan A Bin, A Bin yang mengetahui tenaganya terlalu hebat, tidak berniat melukai lawannya, dia hanya menggunakan kedua jurus telapak tangan menghadapi tiga orang yang membuat gelombang tekanan di udara, dan jurus A Bin yang diselipkan dalam serangan telapak tangan memaksa tiga musuh mundur untuk menghindar, bagi A Bin melawan tiga musuh adalah pekerjaan ringan.

Wanita berbaju putih yang melihat dari pinggir, mengetahui tiga anak buah dia tidak bisa menaklukan A Bin, segera dia memberi isyarat pada orang yang berdiri di pinggir, berkata pelan.

"Pau-it, kau bantu mereka!"

Orang yang diperintah itu segera meloncat dan berteriak, menggunakan kedua kepalan berturut-turut menyerang A Bin sebanyak empat pukulan.

Orang yang dipanggil Pau-it itu tenaganya sangat kuat, jurus kepalannya menimbulkan gelombang keras, menerbangkan pasir-pasir yang diatas tanah.

A Bin yang berencana melukai salah satu dari tiga orang musuh, mendapat serangan dari orang baru itu, merasakan satu tenaga yang menekan dadanya, A Bin merasa terkejut, berpikir pembantu-pembantu Jian-kin-kau betul-betul sangat kuat, orang kuatnya terlalu banyak, sedang dia hanya sendiri bila tidak segera mengakhiri pertarungan dengan jurus ganas, akan sangat merugikan, maka setelah Pau-it menyerang empat jurus, A Bin menghindar ke pinggir, dengan tangan kanan menggunakan jurus Ya-hwee-siauthian (Api liar membakar langit.) tangan kiri dengan jurus Tong-lai-ci-kie (Di timur datang udara ungu) membuat sekeliling tempat bertarung timbul arus angin yang dahsyat menerjang empat musuh A Bin.

Wanita berbaju putih itu segera berteriak.

"Berhenti......."

Empat orang yang menyerang A Bin mengikuti perintah, segera menarik jurus masing-masing, berhenti di tempatnya.

A Bin menjadi tercengang, tidak tahu apa arti dari teriakan itu, dia pun turut berhenti bertarung, tetapi tetap menjaga diri.

Dengan tertawa riang wanita berbaju putih itu berkata.

"Ilmu yang bagus, melawan empat orangku kau masih bisa mengalahkannya, punya kepandaian yang begini bagus buat orang yang seumurmu, atau yang lebih tua pun sulit mencarinya, sayang kau kurang cerdik dan waspada, hanya mengandalkan keberanian darah muda, mana bisa memimpin dunia. Contohnya, kau melawan kita dengan jurus keras melawan keras, ini adalah ulah yang bodoh, bila kita memakai sepuluh orang melawan kau sendiri dengan cara bergilir, akan membuat kau kehabisan tenaga, terakhir akan lemas dan tidak bisa melawan, apalagi kita masih punya senjata rahasia yang maha dahsyat untuk melumpuhkan pesilat-pesilat kuat, bila senjata itu digunakan, biarpun kau punya ilmu sangat tinggi, juga tidak bisa menghindar dan akan mati."

Mendengar kata kata itu A Bin menjadi marah, dia berkata dengan keras.

"Kau jangan terlalu sombong, biar kau punya banyak orang dan senjata rahasia yang maha dahsyat pun tidak bisa melawan aku, dan bila aku melawan dengan keras, entah berapa banyak anak buah mu akan mati di tanganku!"

Wanita berbaju putih itu tersenyum berkata.

"Betul, karena itu aku perintahkan mereka berhenti, agar aku bisa merundingkan sesuatu dengan mu, kukira kau tidak perlu bertarung mati-matian untuk orang-orang yang tidak hubungannya denganmu, aku pun tidak mau menghabiskan tenaga menghadapi-mu, sebab kau bukan sasaran kita. Dan yang penting, selama ini aku berbuat sesuatu dengan cara sadis, jarang menaruh perhatian baik pada orang lain apalagi mengalah, setelah bertemu denganmu, aku bersabar tidak mau melukaimu, tapi kau jangan salah paham bahwa aku takut padamu!" A Bin tidak menyangka wanita berbaju putih itu berkata demikian, dia jadi terdiam, hingga sementara dia tidak bisa bicara. Wanita berbaju putih itu merubah nada bicaranya dengan lebih ramah, katanya.

"Anak muda, aku bisa menduga dari adatmu pasti tidak mau masuk ke golonganku, aku pun tidak ingin orang seperti kau masuk ke lingkungan kita, sekarang kau harus dengar nasihatku, segera tinggalkan tempat bermasalah ini dan turun gunung, semua orang dalam biara telah dikepung oleh kita, tiap waktu bisa jadi setan, tenagamu sendiri sudah tidak dapat membantu mereka lagi!"

Dalam hati A Bin bergetar mendengar kata-kata itu, dia tahu-kata wanita itu bukan gertakan kosong, dan A Bin tidak ingin membiarkan para pendekar di biara berada dalam bahaya, maka dengan suara lantang berkata.

"Bila kau tetap menjalankan perbuatanmu, aku pasti berusaha mencegah dan bermusuhan denganmu!"

Wanita berbaju putih itu berkata dengan dingin.

"Kau tidak mau turut nasihatku, berarti kau cari masalah, aku sudah bilang tidak akan menahan kau disini, tetapi kau harus pegang janji, kau tidak boleh menceritakan apa yang kau ketahui disini kepada para tua bangka itu, dan satu lagi, kau harus ingat betul, bila kau mendengar tiga kali suara dari terompet, kau harus pergi dari biara Siauw-lim sejauh setengah li dalam waktu lima belas menit, bila tidak kau mencari jalan mati sendiri!"

Setelah mendengar kata wanita berbaju putih itu, A Bin tidak ingin tinggal disana lagi, dia ingin kembali ke biara Siauw-lim, maka dia memberi salam kepada wanita itu dan berkata.

"Terima kasih atas perlakuanmu, nanti kalau bertemu lagi, kita akan berhadapan sebagai teman atau musuh, lihat saja nanti!"

Sikap wanita berbaju putih itu berobah, dengan suara sedih berkata.

"Bila kau mau mendengar nasihatku, kita bisa bertemu lagi, bila tidak, selamanya tidak akan bertemu."

Bersamaan itu dari luar seseorang berlari menghampiri wanita berbaju putih itu, berkata.

"Lapor pada Kaucu! Hu-kaucu memberi tugas padaku agar melapor pada ketua, bahwa wakil ketua dan beberapa ketua ranting telah menyelesaikan tugas yang diberikan ketua dengan sempurna......."

Mata wanita berbaju putih itu bersinar terang, dengan isyarat tangan menghentikan ucapan orang itu, dan melototi A Bin berkata.

"Kau harus ingat, mendengar tiga kali suara dari terompet, segera keluar dari biara Siauw-lim, kau jangan bandel, bila tidak......"

Baca Juga: Imbauan Pendekar 7

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger