Legenda Golok Halilintar 3

Eps 3 Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Baca online Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Cersil Legenda Golok Halilintar - Lan Li.

Mendengar kata kata itu, jelas-jelas kata-kata terakhir ayah, A Bin berteriak.

"Ayah!"

Langsung bersujut di depan orang tua itu, dianggap ayah sendiri dan berdoa.

"Ayah, A Bin tahu kau sayang padaku, tetapi mati terpaksa, kau sengaja memberi pesan pada seseorang agar aku bisa membalas dendam, pasti! Pasti......"

Orang tua itu terus menggoyangkan kepala.

berkata sendiri sambil "......aku berjanji, kau baru rela mati, aku telah menguburkan kau dengan dia bersama di tempat itu, dan aku juga telah menggali satu lubang, agar aku setelah dapat membalas dendam, aku akan menemani kalian......"

"Mendengar kata itu, A Bin mula-mula ter-cengang, akhirnya pikiran dia tenang juga, kata-kata orang ini berbolak-balik, sebelumnya bilang telah mengubur In-kiam dan Giok-kiong, sekarang malah telah mengubur ayah dengan yang lain, kelihatannya orang tua ini sudah hilang ingatan, sampai siapa diri sendiri juga tidak tahu, maka ucapan dia berbelit-belit, tetapi bila ditelusuri, dia pasti seorang diantara In-kiam atau Giok-kiong, apa dia ini Inkiam?

Apa Giok-kiong?

A Bin ingin menebak dari muka orang tua itu, tetapi terhalang oleh rambut dan bulu kumis, dan luka dimanamana, sungguh sulit melihat muka aslinya.

A Bin memandang beberapa lama, timbul niat lagi dibenaknya, dan api dendam membara lagi, timbul niat balas dendam untuk ayah, ingin membunuh orang tua ini, dia segera berdiri lagi, memegang golok putus itu, pelan pelan disodorkan ke arah dada orang tua itu.

Orang tua itu tidak tahu bahaya ada di depan mata, dia masih berkata sendiri.

"......bila aku tidak berjanji pada kau, agar golok putus ini diberikan pada anakmu, bila bukan aku ingin melihat kau-ji sejenak, aku......aku juga malu masih hidup sendirian......"

A Bin seperti terkena sengatan setrum, segera menghentikan gerakannya, memarahi dirinya sendiri.

"Kenapa aku bodoh amat, ayah rela mati untuk menolong nyawa orang ini, sudah pasti orang ini bukan pembunuh ayah, dan ayah pesan agar aku menyelidiki kejadian sebenarnya, mungkin bila aku salah membunuh orang ini, orang yang benar-benar salah akan bebas."

A Bin sudah pulih dari rasa bimbang dan sudah tenang kembali, dia jelas-jelas tahu bahwa orang tua ini bukan pembunuh ayahnya, juga dia sudah tidak tega membunuh dia......

Dan mendengar orang tua itu selalu ingat pada anaknya dan memanggil Kau, mata A Bin terbayang anak gadis yang menarik dan lincah, rambut terurai panjang, matanya bersinar, berdiri dekat jendela menunggu ayah pulang, muka yang cantik itu seperti Hong-tai, mirip juga Siau-cian.

Berpikir sampai disini A Bin terkejut, siapa yang tidak punya orang tua, siapa yang tidak cinta orang tua, bagaimana aku begitu sembrono membunuh orang, bila lain tahun dia bertemu Kau-ji, dendam dia akan sedalam bagaimana......"

Berpikir sampai disitu, A Bin menjadi lemas, golok cacad itu jatuh ke tanah berbunyi sekali "traang!"

Bunyi tersebut membangunkan A Bin dan orang tua itu dari mimpi mereka, orang tua itu tercengang melihat A Bin dan bertanya.

"Kau......kau siapa?"

A Bin tidak menjawab, berusaha menampilkan roman tertawa, dia ingin memberi tahu pada orang tua itu bahwa dia tidak bermaksud jahat, ternyata orang tua itu melangkah mundur kebelakang, berkata sendiri.

"Tidak! Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, tidak bisa meninggalkan kau-ji, dia tiap hari mengantarkan nasi padaku, aku tidak bisa membuang dia......"

A Bin dibuat serba salah, dia tahu orang tua itu sudah menganggap monyet kecil itu sebagai anaknya sendiri, tidak tega meninggalkan, dan A Bin juga tidak dapat membawa orang tua itu keluar gunung, dan tidak tahu dia siapa, apa lebih baik kalau dia sudah bertemu Kau-ji, memberi tahu agar dia membawa ayahnya keluar gunung.

A Bin memungut kembali golok cacad itu pelan-pelan keluar gua, masuk ke hutan rimba lagi, dan begitu di luar dia mendengar kembali nyanyian orang tua yang sangat sedih dan memilukan.

A Bin menggemeretakan gigi, berhenti menangis, begitu keluar hutan, dia berlari dengan cepat menuju arah puncak langit.

Dia, masih penasaran, ingin balik lagi kepuncak tiang langit, ingin memeriksa tempat itu, apa ada jejak yang bisa memberitahukan kebenarannya.

Dengan dada penuh kesedihan, dan api"

Dendam membara dia berlari kencang!

Terbang menuju puncak gunung itu!

Waktu tidak dihiraukan lagi, entah berapa lama, terlihat puncak gunung itu di depan mata A Bin, saat ini, mata dia, pikiran dan kaki dia hanya menuju puncak gunung, yang lainnya tidak dipikirkan!

Puncak tiang langit berupa ribuan tembok bukit, sangat curam, dipinggir-pinggir bukit tidak tumbuh sedikit pun rumput atau bunga, juga tidak ada seongok tanah, semua berupa bebatuan, dengan berdiri di pinggir bukit lain yang agak tinggi baru bisa melihat puncak itu.

Dengan pikiran yang rumit, A Bin tidak memandang bahaya bukit itu, dengan menggunakan kedua tangan yang menempel ketembok, dia merangkak naik seperti cecak, sesekali dengan ujung tangan memegang ujung batu bukit, istirahat sejenak melepas rasa lelah, dia ingin dengan segera naik kepuncak itu.

Tidak terasa angin semakin kencang, kakinya seperti menginjak awan, A Bin telah sampai di pinggir puncak itu.

Di bagian puncak disatu sudut terdapat batu duduk selebar satu tombak, membuat A Bin sedih bukan main, hampir saja pegangannya terlepas pada tembok bukit dan hampir jatuh kebawah.

A Bin terkejut, sejenak dia menenangkan pikiran segera meloncat ke atas bukit itu.

Ternyata di puncak itu berserakan golok putus, pedang patah, busur cacat.

Kepala goloknya sudah karatan warna pita merahnya sudah pudar, sinar pedang sudah menghilang, mutiara di gagang pedang masih berkilau, warna punggung busur cacat masih bersinar, hanya karet busur sudah jadi rumput layu.

A Bin bersujud di depan golok putus itu, berdoa di dalam hati.

"Ayah! Ayah! Semasa hidup kau gagah berani, sekarang di mana......"

Angin dingin di atas puncak bertiup kencang, A Bin seperti patung bersujud disana sambil berdoa sekitar setengah jam dengan baju di tubuhnya melayang-layang.

Sampai air mata hampir habis, kedua lutut kald merasa kram, A Bin baru pelan-pelan berusaha berdiri, ingin mencabut golok putus yang tertanam, tetapi dia berobah pikiran, melirik lagi busur cacat, pedang patah hampir setengah hari.

Mendadak A Bin menemukan satu benda aneh di tanah, adalah kancing logam yang dibuat dari besi hitam.

A Bin berpikir benda siapa itu, karena ayah dan orang tua linglung itu tidak memakai kancing itu, mungkin benda dari orang lain, apa bisa berdasarkan benda itu menyelidiki dengan mudah orang tua itu In-kiam atau Giok-kiong, berpikir sampai begitu, A Bin memungut benda itu di masukan ke dalam kantong.

A Bin masih mencari barang yang lain, tetapi waktu selama enam tahun dengan terpaan angin, jemuran matahari, rendaman air hujan, sisa barang tahun yang silam hanya ada golok putus, busur cacat, pedang patah dan hanya satu buah kancing besi itu tidak ada benda lain lagi.

A Bin menahan emosi dan memastikan bahwa jenasah ayahnya telah di kuburkan orang tua itu di salah satu tempat, dan timbul di dalam pikirannya, pekerjaan yang harus di kerjakan sekarang adalah mencari kembali orang tua itu, berusaha agar orang tua itu pulih kembali ingatannya dulu, agar dapat mencari tempat kuburan ayah dan satu orang lagi, dan dari ingatan orang tua itu dia akan mencari jejak, untuk mengetahui sebab musabab pembantaian ketiga orang itu?

Apa ada orang yang mengadu domba?

Mendadak di bawah tembok gunung terdengar suara batu yang dipukul, A Bin mengetahui pukulan itu, apa ada orang lain yang ingin naik kepuncak?

A Bin segera berlindung di belakang batu besar, dan memasang telinga mendengarkan dengan seksama, terdengar suara ketukan pada batu satu kali, dua kali......tiga kali, suara makin jelas, makin dekat.

A Bin dapat kepastian bahwa ada orang menggunakan senjata yang ditancapkan ke tembok, untuk membantu naik ke puncak, jantung A Bin tambah berdebar-debar, urat nadinya makin tegang.

Pikiran A Bin jadi serba salah, dia berpikir pasti Hong-tai yang datang, padahal dia mengharapkan bukan Hong-tai yang datang, A Bin tidak ingin bertemu Hong-tai ditempat ini, dan disaat ini.

Kerukan tembok itu sudah dekat puncak tebing, A Bin makin tegang.

Dari jauh dia melihat satu bayangan hitam timbul ke atas, pasti kepala seseorang, terdengar satu suara "Iii!"

Terkejut, bayangan hitam itu lalu menghilang.

A Bin terkejut bukan main, terpikir kembali diri sendiri juga mengalami kejadian itu, kerena begitu berada di lereng bukit, melihat golok, busur, pedang, perasaan sedih membuat pikirannya terganggu, sehingga terjatuh kembali, A Bin ingin meloncat menolongnya.

Ternyata satu bayangan hitam sudah kembali meloncat ke atas, ternyata orang itu menguasai ilmu tinggi, pada detik yang sangat kritis, dia bisa meloncat kembali.

Orang itu dalam keadaan sedih, tidak merasakan ada orang lain sedang mengintai, pelan-pelan meng-hampiri golok putus, pedang patah, busur cacat.

A Bin dengan sabar menunggu muka orang itu berpaling kearahnya, dan begitu melihat, dia terkejut dan aneh, dia berteriak di dalam hati.

0-0dw0-0 BAB Diantara pilihan cinta dan dendam A Bin bersembunyi dibalik batu besar puncak gunung itu, dengan sabar menunggu orang yang datang, begitu melihat muka orang itu, A Bin terkejut bukan main.

Ternyata orang itu bukan Hong-tai, tetapi cucu Gin-hoatlo-jin Wie Tiong-hoo, Siau-cian.

Begitu Siau-cian sampai dipuncak gunung, dengan gerakan cepat mengambil Giok-kiong Sambil menangis berkata.

"Ayah! Ayah! Kau dimana? Kemana kau pergi? Apa betul jagoan seperti ayah bisa mati konyol diatas puncak ini, kenapa tulang ayah tidak ada disini?"

Suara Siau-cian sangat sedih seperti burung To-koan menangis sambil memuntahkan darahnya, suara itu bikin orang turut sedih juga, dan A Bin teringat juga nasib ayah sendiri, sehingga tidak kuasa menahan linangan air mata.

Sambil menangis Siau-cian memperhatikan di sekeliling tubuhnya juga tergeletak golok putus, pedang patah, melihat kedua barang itu, Siau-cian dengan gemas berkata.

"Betul, mereka mati karena saling bunuh! Aku akan cari turunan mereka, hutang ayahnya dibayar oleh anak, aku akan minta bayaran pada mereka dengan darah mereka!"

A Bin merasa merinding juga bulu kuduk sendiri, mendengarkan kata kata sadis yang diucapkan seorang gadis belia dan lemah lembut yang baru berusia lima belas tahun. A Bin berkata dalam hati.

"Soal ini sangat ruwet, salah paham tiga keluarga bisa menimbulkan bencana balas dendam turun temurun, entah kapan bisa selesai, aku harus cepat mencari keterangan, kenapa mereka saling bunuh?"

Selang tidak lama, emosi Siau-cian tidak sekeras dibandingkan waktu datang dan berobah menjadi tangis kecil, mulutnya juga entah berkata apa, tidak jelas lagi didengar A Bin.

A Bin berpikir beberapa kali, dia memutuskan untuk tidak keluar dari tempat bersembunyi.

Dan teringat kata Kiau-ji yang terus diucapkan oleh orang tua gila itu sebetulnya siapa?

A Bin sudah dapat memastikan bahwa orang tua gila itu adalah salah satu dari In-kiam atau Giokkiong, dan Siau-cian dengan Hong-tai adalah anak dari salah satu mereka, tetapi anak mereka berdua tidak ada yang namanya Kiau-ji, jadi siapa KiauA Bin sedang sibuk memecahkan teka teki itu, dari bawah gunung telah memanjat lagi seseorang kepuncak gunung, begitu tiba diatas, kedua orang saling pandang dan bersamaan berkata dengan nada terkejut.

"Kau......" A Bin dengan jelas melihat orang yang baru datang itu adalah Hong-tai yang susah dilupakan olehnya, dan dari muka Hong-tai yang kurus kelihatan sedang menanggung tekanan batin. Hong-tai masih berpakaian laki-laki, rambut panjangnya berantakan, dan tidak bisa lagi menutupi penyamaran, tampak jelas tubuh seorang gadis, Siau-cian begitu melihat Hong-tai, timbul perasaan tidak menentu. Hong-tai sekali lagi melihat Siau-cian dengan dingin, dan melirik ketangan Siau-cian yang memegang busur rusak itu, dan segera melirik ketanah melihat sesuatu dan meloncat dengan gesit ke pinggir tempat yang terletak pedang patah, sambil memegang benda itu, menangis dengan sedih dan berseru.

"Ayah!"

Siau-cian dalam keadaan sedih, terharu juga melihat kesedihan Hong-tai, sementara melupakan rasa permusuhan, turut juga menemani Hong-tai menangis.

Setelah beberapa detik, Hong-tai berhenti menangis, dengan mata melotot, berkata dengan menantang.

"Kau pasti anak gadis dari Giok-kiong, mereka bertiga mati saling bunuh, ayahmu pasti ikut bagian, jadi kau adalah musuh aku, aku mesti membunuhmu!"

Kata kata Hong-tai itu memancing emosi Siau-cian yang tadi bersumpah penuh bau darah, sambil menggigit gigi juga bersuara keras menjawab.

"Biar kau adalah anak gadis In-kiam, berarti musuh aku, hutang dari ayah anak yang bayar, kau cepat serahkan nyawa!"

Mereka langsung memulai perkelahian.

Kedua gadis itu bukan saja kata katanya saling bentrok, jurus jurusnya juga berbahaya, Hong-tai menggunakan pedang patah yang dipegang menjadi satu arus cahaya menyerang Siau-cian.

A Bin merasa kagum atas jurus Hong-tai, ternyata Hongtai telah menguasai ilmu mengendali pedang yang jarang bisa dikuasai ilmu itu, pedang patah masih memancarkan cahaya seperti pelangi.

Tenaga jurus pedang itu sangat dahsyat, Siau-cian terlihat terkejut sejenak, dan segera maju kedepan, menjulurkan busur cacad itu, menghadang serangan pedang itu ditengah jalan.

Tenaga berdua orang itu bentrok, Hong-tai telah mengetahui ilmu silat lawannya tidak kalah dari dirinya, maka dia ingin menggunakan akal mulus untuk melumpuhkan musuh, dengan bantuan sedikit tenaga diujung kaki, dia segera menggeser tubuhnya beberapa kaki.....

Siau-cian berteriak.

"Kau mau lari kemana!"

Busur cacadnya mengikuti tubuh yang melayang mengejar Hong-tai dengan tenaga halus.

Hong-tai tidak menjawab, dengan pedang patah memotong badan busur dengan satu suara aneh yang dikeluarkan dari gerakan pedangnya.

Muka Siau-cian berobah terkejut, segera meng-gunakan busur membongkar serangan itu, sambil loncat mundur beberapa tombak.

Hong-tai yang berhasil memancing lawannya, jadi menguasai pertarungan, dia segera meloncat dan mengejar, pedangnya dengan gesit berkelebatan, bergelombang, membuat orang gentar.

angin pun Siau-cian tidak mau menyerah, busur yang dipegang berbalik memotong serangan Hong-tai, jurusnya ternyata bisa meredam serangan Hong-tai yang dahsyat itu.

Hong-tai tidak mengurangi serangannya, dengan pedang ditangan sekali lagi memukul senjata lawan, kecepatannya bagaikan halilintar mengejar.

Siau-cian menarik dan menyerang dengan busur, menutup serangan Hong-tai, bersamaan waktunya, dia mengeluarkan telapak kiri dengan kilat menyerang bagian pinggang lawan.

Sejenak Hong-tai terkejut, segera menggunakan jurus rahasia keluarganya In-hong-jauw-hoat (Cengke-raman burung hong di awan) dengan getaran jari menghadapi jurus lawannya, jurusnya membuat Siau-cian terpaksa menarik kembali serangannya yang baru setengah jalan, sehingga Hong-tai dapat menghindar dari serangan Siaucian, membuat serangan pedang Hong-tai juga tinggal setengah tenaganya.

Kedua orang itu saling serangan dan saling bertahan, seperti begitu bertemu langsung terlepas, tetapi serangannya mengandung jurus lawan jurus, isi kosong saling berganti, sangat dahsyat sekali tiap jurusnya.

Karena mereka berdua bukan orang biasa di dunia persilatan, begitu mereka mengeluarkan satu jurus langsung tahu jurusnya, bisa berhasil atau tidak, jadi jarang bisa menggunakan jurusnya dengan sempurna, seperti dalam awang-awang, tiap jurus jadi tidak berisi penuh, padahal sebetulnya tiap jurus tiap tingkah mengandung hawa membunuh yang tebal.

A Bin tidak ingin salah satu dari mereka terluka, melihat mereka berduel demikian sadis sehingga bercucuran keringat dingin, tergesa gesa tanpa pandang bahaya, segera meloncat keluar, menyelinap meng-hampiri, tanpa berasa telah mengambil golok patah itu ditanah, terjun dalam lingkaran kilatan pedang dan bayangan busur kedua gadis itu.

Kedua gadis itu tidak menyangka ada tamu tidak diundang datang mendadak, dengan terkejut memandang, melihat bahwa yang datang adalah A Bin, masing masing tubuhnya tergetar karena terkejut, tanpa sadar bersamaan berkata.

"Kau!"

Kedua gadis yang bersamaan berkata "Kau!"

Dan saling merasa menangkap sesuatu, cemburu adalah sifat alamiah wanita, dibawah pengaruh cemburu, putusan terhadap sesuatu masalah jadi suka berlawanan dengan normanorma isi hati, diwaktu marah besar, bisa berbuat jauh berlawanan dengan pengusaan diri sendiri.

Maka setelah tersendat beberapa detik, senjata pedang patah dan busur cacad kedua gadis itu seperti geledek bertemu lagi, dendam ditambah cemburu, sehingga jurus mereka tidak memberi ampun pada lawannya, masingmasing menggunakan jurus berbahaya menyerang titik mematikan lawan, seperti ingin mematikan lawan dengan saru jurus saja.

Tindakan kedua gadis itu bikin A Bin serba susah, dia tidak bisa membuka mulut mencegah, hanya bisa pakai golok patahnya mencari kesempatan untuk menghentikan duel mereka.

Bila serangan Hong-tai sangat keras, A Bin membantu satu jurus pada Siau-cian, bila busur Siau-cian dalam keadaan diatas angin, A Bin membantu Hong-tai satu jurus juga.

Karena tindakan A Bin mengarah pada kedua pihak tidak menguntungkan, sehingga kedua gadis itu bersamaan berteriak, punggung busur dan ujung pedang bersamaan keluar seperti halilintar dengan suara keras menyerang A Bin.

Dapat serangan mendadak, A Bin terpaksa dengan semangat penuh menggunakan tangan kiri dan golok dikanan, menahan serangan busur dan pedang, tetapi dia tetap takut melukai kedua gadis itu, jurus yang di keluarkan jadi tidak sempurna, mana bisa menahan serangan dahsyat kedua senjata gadis yang marah sekali, tidak sampai tiga jurus, A Bin sudah dalam keadaan bahaya.

Masih beruntung, jurus kedua gadis itu sangat cepat dan berbahaya, tetapi masih memberi muka pada A Bin, kelihatan tidak jurus menyerang tempat mematikan di tubuh A Bin, tetapi hampir sampai dititik itu, mereka segera menarik dan mengganti jurus lain.

Biarpun kedua gadis tidak menyerang dengan sepenuh hati, tetapi A Bin merasakan sulit menahan juga, sehingga bercucuran keringat dingin.

Tidak lama kemudian, dari kejauhan terdengar ada suara seperti lonceng nyaring berteriak, bersamaan dengan naiknya seorang yang berbadan gemuk ke puncak gunung, dia datang dengan cepat, sampai di dalam pusaran angin pertarungan ketiga orang itu, dan menggunakan kedua telapak tangan, bergema satu suara "gung"

Yang menghasilkan satu tenaga angin yang dahsyat, memencarkan tiga senjata, pedang, golok, busur yang sedang beradu.

Ketiga orang dengan terkejut melihat orang yang baru datang dan memisahkan mereka yang sedang duel, ternyata yang datang adalah Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo.

Dengan rambut dan godek yang berdiri, Wie Tiong-hoo dengan suara keras memarahi ketiga anak muda dengan kata.

"Kalian bertiga anak kecil yang bloon dan tidak tahu malu, tidak menyelidiki kebenaran, tidak mencari tahu seluk beluk sesuatu soal, malah bertarung saling bunuh, bila ayah kalian tahu pada kejadian ini, entah bagaimana sakit hati mereka! Melihat kalian bertiga berbekal kepintaran melebihi orang lain, kenapa bodoh sedemikian terhadap persoalan yang ada didepan mata? Apakah kalian hanya berdasarkan tiga barang pedang, golok dan busur yang cacad dan taksiran orang-orang, sehingga percaya ayah kalian sudah mati? Dan kalau betul mereka mengalami musibah, pasti ada rahasia yang tertutup, kalian pikir saja, ketiga orang tua kalian adalah orang orang penting, tidak mungkin karena salah paham seketika, langsung saling bunuh......"

Sentakan orang tua itu, membuat Hong-tai, Siau-cian diam tidak berani jawab, masing-masing menunduk kan kepala dengan malu dan menyesal.

Hong-tai yang tidak sabar, berteriak dengan sedih dan menangis, segera terbang, menuju arah jalan pertama datang, segera turun kebawah gunung, pergi seperti angin.

Kakek Wie Tiong-hoo pun tidak mencegah, hanya dengan suara sedih berkata pada Siau-cian.

"Siau-cian, kau segera pergi dengan kakek! Urusan ayahmu, selama enam tahun aku selalu ingat dalam hati, kita mesti menyelidiki persoalan yang sebenarnya, kau tidak boleh gegabah bertindak sendiri." Siau-cian mendadak menangis, dengan menutup muka menuju pinggir gunung, dan segera turun kebawah gunung, kakek Wie Tiong-hoo takut kesedihan cucunya bisa berbahaya, tidak sempat berbicara dengan A Bin, segera loncat kebawah bunung mengejar cucunya. Diatas puncak gunung tersisa A Bin sendirian, dalam keadaan sedih, bimbang bukan main, A Bin dengan erat memegang golok patah, menengadah melihat bintangbintang dilangit, berdoa dalam hati.

"Ayah! Apakah betul kau telah meninggalkan aku? Bila betul, mohon arwah ayah dilangit membantu aku mencari kebenaran!"

Angin kencang yang menerpa muka, membuat A Bin bersin, dia memikirkan orang tua gila diperjalanan itu, entah dia In-kiam atau Giok-kiong, bila ingin mengetahui persoalan yang sebenarnya, benang merahnya ada pada orang tua itu, maka dia segera membawa golok cacad itu digabungkan dengan yang dapat dari orang tua gila itu diselipkan dipinggang, menyusur jalan semula segera turun dari puncak gunung.

A Bin menggunakan ilmu meringankan tubuh yang mahir, tidak lebih dari tiga jam, dia telah menemukan hutan yang dicari, dia segera menuju gua yang pernah dia masuk, tetapi gua itu sudah kosong, orang tua gila dan monyet kecil itu tidak ada didalam gua itu.

A Bin menyusuri pinggiran gua yang tertutup oleh pohon-pohon, juga tidak menemukan apa apa, A Bin merasa terkejut dan menyesal, dia juga tidak menemukan ada bekas perkelahian, jadi tidak bisa memastikan apa orang tua gila itu pergi atas kemauan sendiri atau dibawa orang.

Satu satunya petunjuk telah hilang juga, membuat A Bin sangat menyesal, dia berpikir pulang pergi, dengan terjun lagi ke dunia luar, dia mencari jejak orang tua gila itu diantara bermacam ragam orang-orang dunia persilatan.

Setelah mengambil keputusan, A Bin segera meninggalkan pegunungan, tetapi dia bimbang kemana akan pergi.

Teringat permulaan bulan depan akan ada pertemuan jago-jago silat di biara Siauw-lim, di Gunung Siong, dimana akan datang orang-orang dari semua partai, mungkin lebih mudah mendapatkan keterangan, maka A Bin berangkat menuju ke arah utara.

Berhubung waktunya masih jauh, maka A Bin memperlambat perjalanan, sambil memperhatikan orang-orang dunia persilatan dengan hatihati, menguping pembicaraan mereka agar mendapat berita yang di inginkan, tetapi hingga di pinggir Tiang-kang hasilnya tetap nihil.

Pada suatu hari, dia melalui perbatasan dua propinsi Cing-kwan, melewati pegunungan Hoai-yang, berjalan di daerah tandus, orang jarang lewat, hingga matahari terbenam, dari kejauhan A Bin baru melihat satu sudut bangunan biara diantara pohon-pohon.

Biarpun menguasai ilmu meringankan tubuh yang mahir, tetapi dia seharian belum makan dan minum, dengan perut kosong setelah berlari seharian, membuat A Bin merasakan kelelahan dan lapar beserta haus, dia ingin menuju biara itu untuk menumpang menginap semalam.

Dan daerah ini sudah dekat dengan biara Bu-tong, mungkin pendetapendeta di biara ini akan berbaik hati pada orang dunia persilatan.

A Bin setelah menerobos hutan, sesudah sampai didepan biara itu.

Diatas pintu terukir papan nama dengan cat emas yang bernama biara Ih-sim (menyenangkan hati), A Bin memuji dalam hati atas nama itu, cocok dengan kondisi biara diluar kota, mengandung makna jauh dari keramaian.

Sesungguhnya jarang ada biara pakai nama itu, tetapi A Bin sangat kagum, pikir didalam hati hweesio-hweesio didalam biara pasti adalah orang orang saleh dari golongan agama.

A Bin melangkah ke depan pintu, mengetuk agak lama, baru keluar seorang pendeta tua yang kurus sekali, baju yang dipakai juga warnanya sudah pudar dan banyak tambalan dimana-mana.

A Bin masih berpikir, orang saleh makin bisa menyesuaikan dengan kemiskinan, maka dengan senyum menghampiri pendeta tua itu dan memberi tahukan keinginannya menginap di biara dengan isyarat tangan.

Kemungkinan karena sudah tua dan mata sudah tidak awas, kakek itu melihat A Bin beberapa lama masih tidak bereaksi, sampai A Bin memberi tahu akan memberi uang sedekah sesudah menginap, baru kelihatan muka hweesio tua itu berseri-seri mengundang tamunya masuk ke dalam biara.

Di dalam biara juga terdapat tembok-tembok yang rusak, kelihatan sebuah biara sudah lama tidak dirawat, dan jarang orang datang bersembahyang lagi.

Pendeta tua dan kurus itu mengantar A Bin ke kamar tamu, di dalam gang yang menuju kamar itu terdengar satu suara batuk yang parah dari seseorang yang kelihatan mempunyai penyakit paru-paru yang akut, bersamaan dengan suara batuk itu terlihat satu orang pendeta muda, mukanya santun, alis dan mata tampak jelas, tetapi kuning mukanya dan daging badan sangat tipis, jalannya loyo sekali, hanya baju pendetanya yang masih kelihatan mewah.

A Bin sudah beberapa hari berlarian, tubuhnya penuh debu, baju yang dipakai juga sudah hilang warna dasar yang mentereng.

Hweesio muda itu tidak senang melihat A Bin berpenampilan demikian, dengan muka asam, menyentak pendeta tua itu dengan kata.

"Kau makin tua makin pikun, aku telah pesan padamu, biara kita sudah tidak terima tamu yang menginap, kenapa kau masih membawa orang asing kemari?"

Hweesio tua itu kelihatan sangat takut pada pendeta muda ini, menjawab dengan terputus putus dan gemetar.

"La......lapor......ketua, ini...... ini tuan muda...... bilang, numpang menginap semalam, besok...... besok akan...... akan memberi sedekah dupa satu liang......, sedekah dupa!"

A Bin sedang berpikir di dalam hati kenapa ketua biara ini seorang anak muda, dan ketua biara itu setelah mendengar bahwa A Bin akan memberi sedekah, muka dia berobah berseri dan berkata.

"Puji pada Budha! Bila tamu kita rela menginap di biara sederhana ini, silahkan menginap dengan suka hati!"

A Bin mengetahui orang ini berobah dari sombong menjadi hormat dalam sekejap, mata terbelalak melihat uang, persis potongan orang mengejar harta, dalam hati dia merasa kesal, tidak pantas biara ini punya nama 3"ang mulia, tetapi saat itu dia terdesak dan perlu bantuan mereka, maka dengan hormat membalas kesediaan ketua biara itu dengan syarat tangan, dan mengikuti pendeta tua kurus itu ke sebuah kamar.

Kamarnya agak sederhana tetapi bersih, pendeta tua kurus itu menunggu dan membantu A Bin cuci muka sampai selesai, dengan suara kecil bertanya.

"Apa tuan......sudah makan!" A Bin kebetulan sedang lapar, dia menggelengkan kepala tanda belum, hweesio tua itu berkata lagi.

"Biara itu jauh dari kota dan kampung, makanan tidak mudah dibeli, segala terserah tuan memberi berapa, bila ingin sederhana saja, nasi dan teh saja cukup 1 liang saja, bila ingin lebih bagus, mesti banyak uang juga!"

Setelah melihat ketua biara itu seorang mata duitan, A Bin berpikir bila dirinya berani keluar uang lebih banyak akan dapat layanan lebih memuaskan, maka mengeluarkan tiga liang perak dari kantong, diberikannya pada hweesio tua itu sambil menjelaskan bahwa.

"Uang itu selain untuk sedekah, sisanya untuk biara makan."

Pendeta tua kurus itu melihat A Bin mengeluar-kan uang dengan rela, mukanya berobah jadi berseri, langkah kakinya juga jadi lebih ringan, cepat-cepat keluar kamar, menyiapkan makanan untuk A Bin.

A Bin menyaksikan kejadian menjengkelkan itu, di dalam hati berkata kenapa bisa demikian, tetapi hal tersebut meredam juga sedikit perasaan sedih dan pikiran ruwet A Bin.

Tidak lama, makanan telah tiba, biarpun tanpa daging tetapi bersih dan menarik, berlainan dengan muka pintu biara, A Bin tertawa di dalam hati, betul-betul uang sangat berjasa.

Pendeta tua kurus itu mengeluarkan satu botol kecil arak dari dalam jubah dengan tertawa kecil menggoda berkata.

"Aku pendeta tua, tidak pantang minum arak, tuan tentu lelah diperjalanan, minumlah dua teguk untuk menghilangkan kelelahan, pasti manjur!"

A Bin mengetahui hweesio tua itu ingin hadiah uang, maka diberikan lagi sebuah uang perak kecil, hweesio tua itu mengucapkan banyak terima kasih dan mengundurkan diri keluar kamar.

A Bin sudah tahu bahwa ketua biara dan pendeta tua kurus ini adalah pendeta yang makan daging dan minum arak yang munafik, tetapi dia tidak menemukan sedikit pun trik-trik masyarakat luas, tetapi dia masih waspada, dia menaruh botol arak itu dipinggir dan tidak diminumnya.

Dan makanan telah diteliti dengan cara guru yang mengajarkan pada A Bin bagaimana membedakan makanan yang dicampuri obat bius, dan tidak menemukan kelainan, maka A Bin dengan tenang melahap semua makanan.

Habis makan, hweesio tua kurus itu menyodor-kan satu poci teh dan berkata.

i "Biara kecil ditempat terpencil, tidak menyedia-kan teh mahal, teh yang dari daun bambu ini adalah buatan aku sendiri, mengambil dan menjemur daun itu diwaktu senggang, tuan silahkan cicipi!"

Habis bicara hweesio tua itu membereskan sisa makanan dan keluar kamar lagi.

A Bin dengan teliti memeriksa air teh itu, betul juga terbuat dari daun bambu, tidak menemukan kelainan, mencicipi beberapa teguk, sangat enak rasanya, A Bin berpikir dalam hati, biara Ih-sim ini hanya satu benda teh yang betul betul cocok dengan nama antik biara itu.

A Bin sesudah minum teh, makan sudah kenyang, semangatnya telah pulih banyak, dia berdiri dan berjalanjalan di kamar sekitar tujuh delapan langkah, lalu dia merasakan kepalanya pusing dan timbul rasa kantuk.

A Bin sangat hapal dirinya yang sudah terlatih dalam ilmu tingkat tinggi, biar lelah bagaimana pun tidak akan ada gejala demikian, dalam hati dia berteriak.

"aku kena jebakan orang", dan otaknya sudah tidak jalan normal, di depan mata tampak gelap, A Bin jatuh kepinggir ranjang kayu, dan tubuhnya tergeletak dibawah lantai. Dalam keadaan masih sedikit sadar waktu jatuh, A Bin mendengarkan kata-kata ditelinga yang diucapkan ketua biara itu dengan tertawa panjang.

"Biar pun kau punya delapan hati yang cerdik, toh terkena juga jebakan aku Ping-cun-yang (Laki-laki sakit), kau sangat hati hati, semua makanan dan minuman diteliti sebelum dimakan, tetapi kau tidak tahu resep kakek kita yang dinamakan Cui-sian-san (Bubuk dewa mabuk), adalah obat ajaib yang tidak ada banding-nya di dunia. Biasanya puder ini tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak berbahaya pada manusia, tetapi bila bertemu benda yang berlawanan sifatnya seperti teh daun bambu, bisa mabuk dalam tujuh langkah, tulang sendi lemas, tidak bisa melawan waktu ditangkap, biar pun kim-kong juga akan tunduk pada kakek kita, betul-betul ajaib Cui-sian-san ini, kali ini kakek kita entah mau berbuat apa......."

Sebelum betul betul pingsan, A Bin merasa terkejut dalam hati mengetahui hweesio muda itu bernama Pingcun-yang Lok To-cian, adalah kepala dari kelompok aliran hitam, tidak menduga bisa ada dalam biara yang terpencil dan kenapa umurnya bisa muda begini, dan dia lebih terkejut lagi siapa kakek orang ini, dan jago yang seberapa tinggi ilmunya?......tetapi reaksi obat bius itu sudah jalan dengan cepat, sehingga A Bin tidak bisa berpikir lama lagi, langsung sudah pingsan total......

Setelah sadar kembali, A Bin sudah dalam sebuah kamar munggil yang tidak ada jendelanya, di tengah ruangan tergantung sebuah lampu gelas yang besar, yang dikelilingi pita-pita berwarna warni terurai kebawah, dibawah lantai terdapat sebuah tempat dupa yang besar sekali, di dalamnya sedang keluar asap dupa yang mengeluarkan wangi bunga yang menusuk hidung, membuat orang seperti mau mabuk.

Di dalam ruangan hangat seperti di musim semi, temboknya tertutup oleh kain cotton halus yang berwarna rose muda, dan lantainya tergeletak satu karpet tebal yang berwarna merah tua.

Dimeja rias selain ada cermin dari perak, lampu meja bertaburan mutiara, juga alat alat untuk make up.

Dan ditengah kamar ada sebuah ranjang besar yang berukir naga mas sedang melilit tiang, dan kelambu yang diikat dari atas ranjang, dalam ranjang ada sepasang bantal dan selimut bertaburan permata.

A Bin belum pernah ke istana raja, tetapi yakin kamar tidur ratu atau selir selir pasti semewah kamar ini, merasa terkejut dalam kamar itu, A Bin berusaha untuk bangun, ternyata tangan dan kakinya tidak ada tenaga, dan terbayang kembali kejadian yang mencelaka kan dirinya dengan Cui-sian-san.

Dikala A Bin sedang bimbang, terdengar suara anting telinga yang berbunyi ting ting tang tang, dan bunyi gesekan kain gaun panjang, entah dari pintu rahasia mana keluar seorang wanita yang cantik sekali.

Usia wanita itu sekitar tiga puluh tahun, wajah-nya seperti bulan purnama, matanya bening, alis yang indah, hidung yang mancung, bibir seperti bunga, kulit putih dan halus, rambut hitam diikat seperti sanggul istana, bulu rambut dipinggir kuping yang hitam dan subur, hanya satu kata cantik sekali untuk penampilan wanita ini, hanya sepasang mata yang memancarkan sinar birahinya yang membuat A Bin takut bukan main.

Wanita itu dengan tertawa penuh birahinya mendekati ranjang, dengan mata indahnya melirik seluruh tubuh A Bin dan berkata.

"Anak muda, pandangan matamu tidak buyar, dua titik nadi dipinggir kepala Tai-yang masih kencang, kau betul betul seorang bujangan yang belum tahu apa apa!"

Sambil tertawa liar, tubuh wanita itu bergetar seperti bunga-bunga terkena tiupan angin, sangat romantis, dengan tangan memegang kepala A Bin, dan mencubit beberapa tempat di tubuh A Bin, berkata lagi.

"Betul-betul kau seorang bujangan, dan telah melatih ilmu dalam yang tinggi, hari ini kau bertemu aku, betulbetul rejeki aku, sebentar setelah kau melayani aku, kau tidak akan menyesal seumur hidup telah datang ditempat ini!"

A Bin mendengarkan kata-kata itu, sudah tahu apa maksud wanita itu, hati A Bin terkejut dan marah, sayang seluruh tubuh tidak bisa leluasa bergerak, hanya bisa dengan mata marah memelototi wanita itu yang memperdayai dirinya.

Wanita itu tertawa sejenak, dan mengeluarkan satu bungkusan dari tempat rias, menaburkan sedikit isi bungkusan ke tempat dupa itu, dan wewangian makin tebal, membikin tulang A Bin makin lemas, dan timbul nafsu birahinya, A Bin berkata didalam hati "celaka", dia segera menggunakan ilmu mengendalikan diri yang diajarkan gurunya, meredam api nafsu yang baru timbul, beruntung organ di bawah perutnya belum terbangun, sehingga nafsu birahinya dapat diredam.

Wanita jalang itu telah melepas baju yang dipakai, hanya dengan jubah merah menutupi dadanya, pelan-pelan menuju pinggir ranjang, dan berkata dengan tertawa liar.

"Dupa yang bisa merangsang ini, bila telah tercium olehmu, kau tidak akan berpikir bisa bergerak lagi, sekarang biar aku yang melayanimu duluan!" Sambil bicara, dia segera melepaskan seluruh baju A Bin, A Bin merasa malu bukan main, tetapi tidak bisa apa-apa, dikerjain oleh wanita itu, tapi wanita itu melihat sesuatu, mula-mula terkejut dan berobah lagi, dengan tertawa liar berkata.

"Kau anak muda bisa juga ilmu berguna, bisa menggunakan pernapasan meredam api liar dalam hati, sehingga tidak terpengaruh oleh dupa perangsang, tetapi didepan mataku, kau jangan pamer ilmu itu!"

Wanita iblis itu sambil bicara, melepaskan jubah yang menutupi dadanya, terlihat badan yang putih seperti salju, begitu mendekati tubuh A Bin, membawa harum yang menggiurkan, dan sepasang mata birahinya memancarkan daya tarik yang maha besar, A Bin mengetahui dirinya sedang dalam bahaya, dia berusaha menahan diri sehingga menggigit giginya sampai berbunyi.

Wanita iblis itu tertawa liar sambil berkata yang bukanbukan, merebahkan tubuhnya diranjang, di samping A Bin, tubuhnya seperti ular air merangkul tubuh A Bin, mulut diadu mulut, lidah melomot dengan liar, hawa mulutnya membuat tubuh A Bin seperti memegang sesuatu "

Barang yang mengandung rasa musim semi merembes ke dalam kulit, dan harum yang masuk dalam mulut menuju pusat nadi Tan-tian, A Bin hampir menyerah, tidak bisa menahan kegiatan organ di bawah perutnya.

Wanita iblis itu tertawa lagi dan berkata.

"Anak muda masih tidak mau menyerah? Kau harus tahu, aku adalah Ang-lian-sian-cu (Dewi teratai merah) yang tersohor namanya, aku telah belajar ilmu menambah hawa mumi, telah menerima ribuan laki laki ganteng dan perkasa, belum pernah ada yang lolos dari genggaman tanganku. Bila kau membikin aku jengkel, aku akan hisap kejantananmu, biar kau mati tidak tahu sebabnya. Tetapi bila kau menyesuaikan keinginanku, dengan baik melayani aku, kita sama sama gembira, aku akan menerima kau sebagai murid aku, dan memberi pelajaran ilmu menambah hawa murni padamu, dan kau akan selalu awet muda, selalu bersinar mukanya, seumur hidup bahagia!"

Mendengarkan kata kata wanita itu, A Bin makin terkejut, dia telah mendengarkan cerita gurunya, bahwa Ang-lian-sian-cu ini adalah aliran tersesat yang menguasai ilmu menambah hawa murni yang bernama kelompok Teratai merah.

Dia berbeda dengan aliran guru A Bin, hanya untuk kepentingan diri sendiri, setelah mengambil hawa mumi orang lain, membiarkan korban mati, yang mati ditangan Ang-lian-sian-cu tiap tahun lebih dari seratus orang.

Karena terkejut, pertahanan A Bin jebol, Ang-lian-siancu menggunakan kesempatan ini, merangkul A Bin dengan erat diatas tubuh A Bin.

Tangan dan kaki A Bin tidak dapat bergerak, hanya bisa memejamkan mata berpikir.

"aku akan mati hari ini". Mendadak terbayang gurunya yang pernah mengajarkan ilmu Menahan Diri Menambah Energi, pikirnya dalam hati.

"wanita iblis ini telah mencelakakan banyak orang, aku akan membalas kejahatan dia atas perbuatan jahatnya, tindakanku tidak akan melanggar kode moral. Maka dengan hati tenang, dia meredam nafsu birahinya, membiarkan Ang-lian-sian-cu itu berbuat sesukanya, dan diam-diam mengerahkan ilmu gurunya yang ketiga, menyerang balik wanita itu dengan jurus Menahan Diri Menambah Energi. Maka Ang-lian-sian-cu masuk dalam jebakan A Bin, tidak terasa dia menyalurkan hawa murni yang telah dia kumpulkan puluhan tahun kepada A Bin, hingga begitu dia terjaga dari kelengahan, dia sudah tidak tertolong lagi, dia tergeletak diranjang seperti tanah lumpur, sanggul kepalanya jatuh di pinggir ranjang, rambutnya yang hitam langsung menjadi putih, mukanya berobah menjadi keriput, berobah total menjadi nenek tua yang berkulit seperti ayam, semua kecantikan dan kesegarannya sudah tidak kelihatan lagi. Sebaliknya A Bin menjadi pulih kembali dan merasa sangat nyaman, dia segera mencari bajunya dan berpakaian kembali, kemudian dia mencoba menyalurkan hawa murni pada tenggorokannya, ternyata betul seperti ramalan gurunya yang pernah cerita bahwa dia akan bisa bicara, bila mendapat kesempatan seperti yang tadi dia alami. Melihat wanita yang menamakan diri Ang-lian-sian-cu yang telah berobah begitu parah, dengan terkejut A Bin berkata.

"Karena kau telah berbuat jahat pada banyak orang, keadaan seperti yang kau alami sekarang, adalah takdirmu, aku tidak bermaksud mencelakaimu, sekarang masih membiarkan kau hidup, sudah pantas buatmu!"

Ang-lian-sian-cu mencoba bangkit dari ranjang tetapi tidak bisa, matanya yang layu masuk ke dalam kelopak mata, dengan suara serak berkata dengan penuh dendam.

"Aku tidak bisa marah denganmu, aku hanya ingin tahu kau belajar dari mana ilmu yang bisa lebih ampuh dari aliran Teratai Merah, sehingga aku akan mati dengan tenang!"

A Bin berpikir sejenak, dia merasa tidak perlu membohongi wanita itu, maka berkata.

"Aku dapat ilmu itu dari guruku dari Siau-yau-kiong (Istana ketenangan), kau akan puas atas jawaban ini!"

Ang-lian-sian-cu berteriak dengan sedih. "Ooh, Istana ketenangan!"

Dia segera menutup matanya, dia tidak punya tenaga lagi menjawab kata-kata A Bin, mukanya penuh dengan warna abu padam.

A Bin menyaksikan kejadian yang mengerikan ini, dalam hati merasa berdosa, tetapi setelah dipikir kembali iblis ini telah berbuat jahat di dunia selama puluhan tahun, membunuh banyak orang.

Mendapatkan nasib begini, adalah hukum karma.

Maka A Bin segera mencari pintu rahasia, dan meninggalkan tempat itu.

0-0dw0-0 Siong-san termasuk dalam lima gunung ternama, tersohor dengan pemandangannya yang menakjubkan, dan puncak Siauw-san lebih gagah dan menjulang tinggi menarik para pelancong untuk melihatnya bukan karena pemandangan alamnya saja, tetapi untuk ber-kunjung ke biara Siauw-lim yang tersohor di dunia.

Waktu lewat tengah hati, dibawah puncak Siauw-su mendadak telah datang serombongan orang orang persilatan yang sedang berjalan diantara pohon pohon cemara yang lebat, baju mereka bermacam-macam corak.

Rombongan ini adalah mereka yang pernah bertemu di biara Cu-sia, yang sekarang mendapat undangan untuk rapat dibiara Siauw-lim.

Rombongan sepuluh orang itu, termasuk murid pertama aliran Go-bi-pay, Yang-ciang (Telapak Yang) Tee Wie dan Ciang-hohiap (Pendekar Sungai Ciang), Liu Ta-ang, keduanya paling menarik dan dihormati oleh yang lain, dan mereka berdua juga pantas dianggap pemimpin, hingga tindakan dan ucapannya juga sangat hati hati.

Pendekar Tee dan Liu dua orang itu belum pernah ikut dalam pertemuan di biara Cu-sia.

Mereka datang atas undangan Tee Wie mewakili kelompok partai Go-bi karena ketua partainya tidak bisa datang, Liu Ta-ang adalah pendekar tersohor di daerah sungai Ciang, kali ini mereka diundang karena munculnya Jian-kin-kau yang mengancam dengan provokasi kepada semua perguruan silat.

Rombongan itu dengan hormat mendengarkan pembicaraan kedua orang itu, mereka berdua karena belum melihat sendiri kejadian di biara Cu-sia, dan hanya mendengar desas-desus dari luar, mereka merasa berita itu terlalu dibesar-besarkan, mereka menganggap remeh kekuatan Jian-kin-kau, malah mengomentari jago-jago silat yang mengundang mereka terlalu membesar-besarkan soal yang sepele.

Yang-ciang Tee Wie menganggap di rombongan ini hanya Liu Ta-ang yang pantas namanya disejajarkan dengan namanya sebagai murid pertama dari partai ternama, dan pandangan mereka pun sama terhadap pertemuan kali ini, mereka bicara sangat akrab sepanjang perjalanan.

Dan saat itu puncak Siauw-su telah kelihatan, Tee Wie dengan mengangkat telunjuk ke arah puncak itu berkata.

"Biara Siauw-lim telah mempunyai reputasi sohor hampir seratus tahun, tetapi menurut pendapatku, partai ini dalam beberapa tahun kebelakang menuju pada keadaan mengkhawatirkan, beberapa pimpinannya sudah kurang berwibawa dan kurang berjiwa besar, lihat saja undangan kali ini, untuk menghadapi Jian-kin-kau yang belum ternama, sudah merepotkan semua para-pendekar di dunia persilatan, berarti mereka tidak sanggup menghadapi kejadian yang mendadak, boleh dikatakan keterlaluan......" Ciang-hohiap Liu Ta-ang, umurnya lebih tua dan telah banyak makan asam garam didunia persilatan, dia takut perkataan pendekar Tee yang berlebihan, terdengar oleh pendekar lain dari rombongan yang punya hubungan dekat dengan partai Siauw-lim, dan dikemudian hari dia sendiri akan terlibat dalam kesalah pahaman, sehingga dia segera berkata.

"Pendapat pendekar Tee membuat kita tambah wawasan, tahun tahun belakang ini, partai-partai besar ada yang maju ada yang diam ditempat, partai anda jauh di propinsi Suchuan, tetapi namanya sudah tersohor hingga di tepi Tiang-kang, wibawa kian hari kian naik, bukan saja partai tuan Ouyang di hormati oleh kalangan dunia persilatan, juga nama Yang-ciang Tee Wie begitu diucapkan, semua orang juga akan kagum.

Liu Ta-ang sudah berpengalaman, kata-katanya moderat, tidak mengkritik partai lain, hanya memuji nama partai Gobi, Yang-ciang Tee Wie masih muda dan gila nama, disanjung begitu oleh Liu Ta-ang, membuat seperti mabuk dan menjawab dengan hormat.

"Jangan berkata begitu, Ciang-hohiap Liu Ta-ang, barulah dapat dikatakan petinggi silat didunia persilatan yang dihormati orang......"

Kedua orang itu saling sanjung, ada pula orang-orang dipinggir yang ikut melambungkan nama mereka berdua, membuat mereka makin sombong seperti sudah trdak ada tandingan lagi didunia.

Rombongan ini sudah mendekati jalan gunung yang menuju puncak, didepan mata terhalang oleh sebuah batu gunung yang besar, dan terdengar suara O-mi-to-hud beberapa kali, juga dua orang hweesio yang memakai jubah merah.

Yang-ciang Tee Wie dan Liu Ta-ang dijalanan berupaya mencemoohkan biara Siauw-lim yang makin redup namanya, dan hweesio-hweesionya yang makin tidak berilmu tinggi, tetapi begitu berhadapan dengan muridmurid dari biara yang tersohor didunia, dari lubuk hati mereka juga timbul rasa segan terhadap dua hweesio yang baru muncul.

Yang-ciang Tee Wie yang masih terlalu muda dan tidak berpengalaman, dan tadi dia sudah berkata sombong tidak mau melihat situasi, maka dengan berpura-pura angkuh, berkata dingin.

"Dua orang hweesio kesini, apa ditugaskan menjemput kita keatas gunung?"

Kedua Hweesio yang berjubah merah tidak menjawab pertanyaan Tee Wie, malah balik bertanya.

"Tuan-tuan datang dari mana, silahkan laporkan nama kalian!"

Tee Wie menjadi terkejut mendengar nada dan perkataan kedua hweesio yang kurang sopan, dengan nada marah dia berkata dengan keras.

"Aku Tee Wie, mewakili ketua Go-bi-pay, guru aku she Ouwyang, datang memenuhi undangan yang ditulis nama ketua kalian Kian-ih Hong-tiang, dan tuan ini adalah Cianghohiap Liu Ta-ang, yang lainnya adalah para-pendekar yang tersohor di kalangan dunia persilatan, juga datang atas undangan, kita tahu bahwa biara Siauw-lim-sie sangat tersohor, hweesio-hweesio nya juga berpenampilan anggun, tidak tahunya menerima tamu yang datang dari jauh dengan cara begini, apakah ini hasil didikan ketua kalian Kian Ih Taysu!" Sindiran kata kata dari Tee Wie itu, membuat pendekar Liu Ta-ang dan puluhan orang pesilat berobah warna mukanya, mereka kuatir terjadi kesalah pahaman dengan murid-murid Siauw-lim, dan merasa menyesal satu rombongan dengan Tee Wie. Pendekar Liu Ta-ang ingin memotong pembicaraan mereka untuk menghilangkan suasana ketegangan mereka karena kata-katanya yang pedas, tetapi dugaan mereka ternyata salah, tampak kedua hweesio tidak menghiraukan kata cemoohan dari Tee Wie atas ketua partai mereka, seperti tidak bermaksud mencari gara-gara, salah satu hweesio dengan suara keras sambil tertawa berkata.

"O-mi-to-hud! Aku ditugaskan disini, menunggu kalian tidak ada maksud lain, karena atas perintah ketua kita, kali ini mengundang jago-jago di dunia persilatan untuk menghadapi Jian-kin-kau yang misterius, kita memerlukan pesilat-pesilat yang betul-betul menguasai ilmu tinggi, mencegah sembarangan orang yang tidak layak berupaya masuk, maka kita menjaga di gardu ini, bila kalian bisa menerima lima jurus kami, baru dapat izin masuk gunung!"

Semua orang dalam rombongan ini merasa terkejut, mereka sudah tahu bahwa partai Siauw-lim ternama diseluruh dunia, sepanjang seratus tahun namanya diatas partai lain, tetapi belum pernah mendengar bahwa muridmurid biara bisa sombong seperti orang ini.

Mereka sedang menduga, apakah betul Siauw-lim-pay meremehkan pesilatpesilat, memberi perintah ini, atau kedua hweesio ini memang sombong dan berbuat sesuka hati, ingin beradu ilmu dengan pesilat-pesilat dari aliran partai semua.

Yang pertama tidak terima perlakuan hweesio itu adalah Tee Wie, hatinya marah sekali dan tertawa keras berkata.

"Baik!

Baik!

Bila partai Siauw-lim dengan cara ini menerima tamu dari aliran lain, aku sebagai orang kecil yang tidak layak, akan mencoba dulu ilmu kalian yang menjadi jago dari biara ini.

Dalam keadaan marah sekali.

Tee Wie sudah tidak perhatikan reputasi nama partai besarnya, tanpa basa basi dia meloncat kedepan, mengeluarkan sebelah telapak tangannya, menyerang dada hweesio yang berdiri di sebelah kiri, karena dengan emosi marah, tenaga telapak tangannya sangat cepat seperti halilintar.

Hweesio itu tidak menghindar, dia tetap diam ditempatnya.

Pikiran Tee Wie sedang berpikir kenapa hweesio itu diam saja, terdengar suara hweesio di sebelah kanan berteriak dan kata.

"Aku akan melayani kau!"

Hweesio itu dengan tongkat nya memukul punggung Tee Wie dengan jurus Hui-poceng-ciong (Gembreng terbang menghantam lonceng).

Tee Wie terpaksa menarik tangan yang menyerang hweesio dikiri, menggeser badan, menghindar tongkat yang menyerang, menggunakan ilmu partainya yang dinamakan Ih-seng-hoan-tou (Memindahkan bintang ke posisi lain), dengan sekejab mata telah menyelinap ke pinggir tubuh hweesio yang dikiri itu, tangan kanannya telah memegang tongkat lawan, tangan kirinya mengeluarkan jurus Huiciam-hu-ki (Belaian sapu membersihkan meja.) dengan cepat menghantam tangan hweesio yang memegang tongkat.

Hweesio yang dikiri tidak menyangka bahwa gerakan aneh Tee Wie begitu sempurna, dia tercengang sejenak dan dalam keadaan itu, tangan Tee Wie sudah menggunting tangannya, bila hweesio itu tidak melepas-kan tongkat tangannya pasti dia akan terluka, terpaksa dia memindahkan tongkatnya ke tangan kanan, menghindar guntingan tangan Tee Wie, tangan kirinya berobah jadi kepalan memukul dada Tee Wie.

Tee Wie tidak tahu hweesio itu bisa menghindar dan langsung menyerang secara bersamaan, pukulan hweesio itu membuat dia mundur kebelakang sebanyak tiga langkah, mendapat kesempatan, hweesio yang di kiri itu langsung mengejar, kaki kanannya menendang perut Tee Wie, dan tangan kirinya dengan cepat memegang tongkatnya yang dipegang Tee Wie, dengan tenaga penuh menarik.

Jurus hweesio itu digunakan sangat tepat, Tee Wie yang memegang tongkat itu tertarik oleh tenaga hweesio, badannya jatuh kedepan, persis menghadap tendangan kaki kanan hweesio itu.

Tee Wie menjadi marah lagi, kejadian ini sangat mencurigakan, karena partai Go-bi sudah sejajar dengan partai Siauw-lim, Bu-tong dan Kun-lun, biar pun namanya tidak seterkenal Siauw-lim dan Bu-tong, tetapi Tee Wie adalah murid pertama dari partai Go-bi, hari ini dia hampir dipermalukan oleh hweesio tanpa nama di biara Siauw-lim, dia merasa malu.

Tetapi Tee Wie sudah mendapatkan warisan partai Go-bi yang mumi, dia bukan petarung biasa, maka tubuhnya menghindar kepinggir, tangan kanan tidak melepaskan tongkat, tangan kiri menjulur keluar, memegang kaki kanan hweesio itu, dengan tenaga mendorong, hweesio di sebelah kiri itu keseimbangan tubuhnya jadi goyah, tubuhnya jatuh ke belakang.

Hweesio disebelah kiri itu merasa terkejut sejenak, berpikir dalam hati murid partai besar betul betul berilmu tinggi, tetapi tangan kirinya tetap memegang tongkat tidak mau dilepas, dan meminjam tenaga Tee Wie dia menarik tongkat itu, tubuh yang sudah jatuh ke belakang, mendadak tegak lagi dengan jurus Liu-ciang-lam-hai (Arus menuju lautan selatan), tangan kanannya menyerang lagi.

Tee Wie kembali dibikin terkejut, dia berpikir dalam hati, apa betul ilmu Siauw-lim lebih tinggi banyak dari partai Gobi, orang-orang yang bertugas enteng juga punya ilmu tinggi, sehingga sulit di taklukan.

Sambil berpikir, telapak tangan kirinya dengan jurus Eng-hong-toan-cauw (Menyambut angin memotong rumput.) menyapu urat nadi tangan lawan.

Hweesio itu menurunkan tangannya, meng-hindar serangan Tee Wie, tangan kanannya mengeluarkan jurus dari "Cap-pwee-lo-han-ciang"

Dengan suara "hu"

"hu"

"hu"

Membalas serangan.

Tee Wie menghindar tiga jurus lawannya, segera membalas dengan gerakan cepat tangan kirinya menyerang tiga jurus juga.

Perkelahian berdua yang satu tangan masing-masing memegang satu tongkat itu, rubuh mereka berjarak hanya dua kaki, masing-masing berduel dengan jarak dekat menggunakan sebelah tangan keluar masuk, gerakan tangan mereka bisa mengarah tempat ber-bahaya di tubuh lawan, dan pusat nadi, bila salah satu orang berlaku ceroboh, bukan saja bisa terluka tetapi maut akibatnya, perkelahian mereka betul betul lain dengan yang lain, sangat bahaya dan tegang, membuat orang orang yang menyaksikan dipinggir sangat gentar.

Tidak berasa mereka telah saling serang sebanyak sepuluh jurus, Ciang-hohiap Liu Ta-ang juga terkejut, dia tahu pertarungan kedua orang ini akar masalahnya ada dipihak Siauw-lim, tetapi dia punya nama tersohor berkat sendiri, tidak mudah mencapatkan julukan itu, lain dengan Tee Wie yang punya sandaran partai Go-bi, maka dia sendiri tidak berani bermusuhan dengan Siauw-lim, dia ingin berusaha mendamaikan perselisihan kedua pihak, maka dia segera berkata.

"Saudara tadi berkata, hanya mencoba lima jurus saja, tamu boleh masuk, sekarang sudah lewat lima jurus, apakah sudah boleh membiarkan pendekar Tee Wie lewat untuk ikut pertemuan?"

Tee Wie dan hweesio yang sedang bertarung seru, mana mau mendengarkan kata Liu Ta-ang. Malah hweesio lain yang berdiri di pinggir kanan segera menjawab.

"Ini bukan urusanmu, jangan banyak bicara! Sudah lama aku mendengar nama Ciang-hohiap, aku ingin mencoba beberapa jurus, apakah betul nama yang tersohor itu dan bukan menipu halayak ramai didunia ini?"

Ciang-hohiap Liu Ta-ang biarpun umurnya lebih tua dan pengalaman lebih matang, juga tidak terima sindiran hweesio itu, maka tanpa pikir panjang lagi, biarlah bermusuhan dengan Siauw-lim dari pada dipermalukan, maka dengan tertawa terbahak bahak berkata.

"Aku tidak menyangka bahwa partai Siauw-lim begitu congkak, aku Liu Ta-ang apakah betul punya nama hanya untuk menipu halayak ramai kau boleh mencoba jurusku baru menentukan betul atau tidak!"

Liu Ta-ang melihat lawannya sudah memegang sebatang "Alu penjinak iblis"

Dan telah menyaksikan hweesio yang berduel dengan Tee Wie betul-betul tangguh, maka tanpa ragu ragu, dia mengeluarkan senjata pribadi "pedang pemisah air"

Hong-sui-go-bi-ca (Garpu mata angin Go-bi) menantang hweesio itu.

Hweesio itu juga tidak banyak bicara, dia berteriak sekali, dengan satu jurus Ting-cia-kai-san (Tameng membuka bunung), langsung memukul kepala Liu Ta-ang, Liu Ta-ang sudah siap, tapi mengetahui tenaga senjata itu sangat besar, dia tidak berani mene-rima langsung, dia meloncat menghindar serangannya.

Hweesio itu jadi mendapat kesempatan, dia tidak memberi hati pada lawannya, mengayunkan alu itu sebanyak lima jurus, kelima jurus itu adalah ilmu inti dari hweesio itu yang dinamakan Ji-cap-si-hong-lui-cu (dua puluh empat jurus alu halilintar), tiap jurusnya bertenaga dahsyat, Liu Ta-ang sambil meloncat dan menghindar baru lolos dari sapuan dan pukulan alu lawannya, tapi semua membuat tubuhnya mengeluar-kan keringat dingin karena terkejut.

Liu Ta-ang tetap berpikiran jernih, sambil menghindar serangan hweesio itu, juga mempelajari jurus lawannya, setelah melihat beberapa jurus, dia merasa terkejut, ternyata hweesio yang menyerang Tee Wie, jurus tongkatnya mirip jurus Siauw-lim, tetapi jurus alu penjinak iblis yang digunakan hweesio yang berhadapan dengan dirinya sama sekali bukan jurus Siauw-lim, Siauw-iim-pay adalah partai ternama, orang luar biarpun belum pernah belajar, bisa mengetahui juga jurus yang dinamakan jurus Siauw-lim, maka timbul kecurigaan Liu Ta-ang, maka pikirannya berputar, lalu menambah tenaga serangan menggunakan "jurus tusukan membelah sinar"(Hwan-kuang-kian-hoat), segera mendesak lawannya.

Hwwesio itu merasakan juga tekanan tenaga dari Liu Taang, sekejap dia berteriak lalu mengayunkan1 alu nya melawan, maka dalam sekejab, tusukan ber-kelebatan, bayangan alu bagaikan bentuk gunung meng-hadang, kedua orang yang bertarung masing-masing mengeluarkan kepandaiannya dengan semangat.

Setelah terlibat dalam duel sepuluh jurus lebih, Liu Taang menggunakan satu jurus Coan-tho-can-ie (Menerobos badai menusuk ikan) dari Hu-po-cap-ji kian (Dua belas tusukan menaklukan gelombang), senjata Liu Ta-ang menusuk dengan diiringi angin keras menyerang dada hweesio itu, sambil berteriak bertanya.

"Tumpang tanya kau dari bagian mana di biara, bertugas diruang mana dan ditingkat apa dibiara Siauw-lim, memegang jabatan apa?"

Liu Ta-ang ingin menyelidiki dengan tuntas, kedua hweesio yang mencurigakan, tetapi hweesio dihadapan dia berkata sambil tertawa berkata.

"Biara Siauw-lim-sie ada tiga ruang besar, dua loteng, enam kamar, tiga belas halaman, dari bawah kepala biara terbagi dengan susunan nama angkatan Ih, Goan, Kong, Leng empat tingkat lebih seratus orang, dan sisa sesepuh yang telah pensiun, bila aku menyebutkan nama, apakah kau bisa tahu siapa aku?"

Sambil berkata, jurus alu Oh-liong-cut-in (Naga hitam keluar dari awan) setelah menutup serangan Liu Ta-ang, dengan tenaga penuh memukul dari atas.

Liu Ta-ang mendengarkan hweesio itu tahu keadaan Siauw-lim dengan jelas, kecurigaannya agak berkurang, maka serangannya agak lambat, sehingga kesempatan ini digunakan hweesio itu untuk membalas serangan Liu Taang, hampir saja mencelakakan Liu Ta-ang, dengan pukulan alu itu memaksa dia mundur ke belakang sampai lima langkah.

Tindakan ini membuat Liu Ta-ang marah, dalam hati dia berkata.

"Kurang ajar, bila aku tidak memberi pelajaran pada hweesio ini, dikiranya aku orang yang bernama kosong. Liu Ta-ang segera menggunakan ilmu simpanan yang jarang digunakan, jurus "Dua belas tusukan menaklukan gelombang"

Berturut-turut dengan tiga tusukan berantai menimbulkan satu kilatan sinar yang mengerikan, bagaikan angin puyuh menerjang bumi.

Hweesio yang mendapat serangan pedang Liu Ta-ang yang bagaikan ombak besar menerjang gunung, terpaksa mundur tiga kaki, dan diwaktu itu, dari belakang batu gunung besar itu keluar lagi dua hweesio dengan dua bilah golok yang memancarkan dua kilatan sinar dingin, masingmasing menyerang kepala Tee Wie dan Liu Ta-ang.

Orang-orang yang tadi berombongan dengan Tee Wie dan Liu Ta-ang, mengetahui bahwa dengan tambahan dua hweesio lagi, Di dan Lu sulit bertahan.

Tetapi mereka takut dengan nama besar Siauw-lim, dan tidak berhubungan dengan diri sendiri, tidak berani berurusan dengan hweesio Siauw-lim, karena Ti dan Liu sepanjang perjalanan sangat sombong, jadi mereka berpangku tangan tidak membantu, mereka ingin melihat nasib memalukan dari kedua teman perjalanan.

Dua hweesio yang memegang golok, melayang keatas, tenaga goloknya bagaikan halilintar menerjang kepala Ti dan Liu, dan Tee Wie, Liu Ta-ang sedang berusaha menahan kedua hweesio yang dihadapi, sepertinya tidak bisa membagi tenaga untuk menangkis serangan dari atas.

Dalam detik yang genting itu, teman-teman rombongan mengetahui keadaan bahaya Tee Wie dan Liu Ta-ang dan ingin membantu tetapi sudah terlambat selangkah.

Pada saat bersamaan, mendadak terdengar ada suara bentakan, satu bayangan pelangi terbang dari angkasa, menebar cahaya bagaikan bunga, membikin orang yang melihat matanya silau, seperti ratusan cahaya bintang terjun kebumi, terdengar jeritan ke dua hweesio yang ingin membokong kedua pendekar Tee dan Liu, tubuh mereka jatuh kebelakang batu gunung, nasib mereka entah hidup atau mati?

Suara jeritan yang mengerikan membuat kedua hweesio yang sedang bertarung dengan pendekar Tee dan Liu berobah warna mukanya.

Mereka bersamaan menggoyangkan tongkat dan alunya, membikin pertahanan bersama, dan segera mundur kebelakang sekitar lima kaki, mereka ingin mengetahui jelas nasib teman-nya, dan segera meloncati batu gunung itu menghilang dari pandangan semua orang.

Suasana ditempat kembali sunyi.

Setelah sinar pelangi hilang semua orang dilokasi pertarungan baru melihat jelas yang membantu Tee Wie dan Liu Ta-ang adalah seorang anak gadis sekitar lima belas atau enam belas tahun yang cantik, berbaju putih dengan rambut diikat lingkaran bunga putih dari kain wool seperti sedang berkabung, dan tangan gadis itu memegang satu busur panah, sinar cahaya bagai pelangi atau cahaya bintang waktu tadi ternyata keluar dari ujung busur ini.

Tee Wie dan Liu Ta-ang mengetahui bahwa bila bukan gadis ini yang membantu, mereka berdua tentu akan mati diserang empat hweesio itu, maka mereka bersamaan menghampiri dan mengucapkan terima kasih.

Gadis yang memegang busur itu seperti memendam rasa kesedihan yang kelihatan dari alis dan mukanya, tidak memperdulikan kata terima kasih kedua orang itu, hanya dengan suara lembut bertanya.

"Kalian juga ingin ikut dalam pertemuan Siauw-lim, apa kalian tahu jalan ke biara Siauw-lim? Bisa antar aku kesana!"

Kata kata gadis itu tidak sopan, tetapi Tee Wie dan Liu Ta-ang terpesona oleh kecantikan gadis ini dan merasa dia telah menolong mereka, maka tidak memandang rendah gadis itu bersamaan berkata.

"Aku antar! Aku antar!"

Setelah ke empat hweesio hilang ke belakang batu gunung itu, tidak ada orang lagi yang menghadang mereka, Tee Wie dan Liu Ta-ang mengapit gadis itu dikiri dan kanan menuju puncak Siauw-su Yang-ciang Tee Wie sangat hormat dan kagum pada gadis ini, hilang sudah sifat angkuh yang biasa diperlihatkan oleh dirinya, dengan suara lembut sambil berjalan dia berkata.

"Tidak di sangka bahwa partai Siauw-lim begitu kurang sopan, bisa menyuruh orang untuk menguji ilmu orang lain, ingin membikin malu orang-orang, sampai menggunakan tindakan membunuh, entah apa maksud mereka?"

Sepertinya gadis yang memegang busur itu banyak pikiran dalam benaknya, mengkerutkan alis cantik, hanya berjalan mengikuti Ti dan Liu, tidak mendengarkan kata kata Tee Wie.

Tee Wie melihat dari pinggir dan takut mengganggu dan membikin risau gadis itu, dia segera tutup mulut, diam diam men-dampingi gadis itu menuju puncak Siauw-su.

Rombong-an yang lain mengikuti mereka dari jauh.

Sepanjang jalan jadi lancar tanpa ada gangguan, sampai di pinggir puncak Siauw-su, berlarian dua orang calon hweesio dengan cepat dan lincah menghampiri mereka bertiga.

Tee Wie menduga dua orang calon hweesio itu juga menghadang jalan, maka dia memusatkan tenaga dalam dan berteriak.

"Berhenti!" Kedua calon hweesio itu terkejut dan berhenti, mereka merasa terkejut kenapa orang ini kurang sopan, tetapi setelah dapat pesan dari ketua partai bahwa tamu tamu yang datang dipertemuan hari ini adalah tamu tamu agung, tidak boleh disepelekan, maka mereka memberi salam tangan Budha didepan dada, berkata dengan sopan.

"Aku dapat perintah dari ketua, spesial menjemput tamu agung!"

Ciang-hohiap, Liu Ta-ang bertindak lebih hati-hati, melangkah maju kedepan dua langkah, berkata.

"Dimana ketua kalian?"

Kedua calon hweesio itu berkata.

"Ketua kita sedang menjamu tamu diruang pertemuan, guru penjemput tamu sedang menunggu kalian didepan pintu gunung, biar aku jalan didepan menuntun kalian!"

Habis bicara, mereka berbalik badan dan berjalan cepat menuju pintu gunung, rombongan orang-orang mengikuti dari belakang, berjalan sekitar satu li, sampai didepan satu bangunan biara yang megah.

Tee Wie dan Liu Ta-ang yang sepanjang jalan meremehkan partai Siauw-lim, sekarang setelah melihat nama Biara Siauw-lim diatas pintu tiga kata dari warna mas, masing-masing merasa tertegun, dan fakta berkata bahwa biara yang masyur ini, telah ratusan tahun menggetarkan dunia persilatan, tiap orang dikalangan pesilat selalu memberi hormat pada partai Siauw-lim, hanya gadis baju putih itu seperti tidak melihat nama papan itu, tetap dengan angkuh masuk pintu biara.

Di depan pintu berdiri seorang hweesio tua yang berjubah kuning, menghampiri mereka di dampingi empat calon hweesio muda, hweesio tua itu dengan kata O-mi-tohud sambil tersenyum berkata.

"Pinceng Hong Ih, mendapat perintah dari ketua , menjemput tamu disini!"

Liu Ta-ang adalah orang yang berpengalaman, melihat hweesio Ih wajahnya ramah, bermata sopan, sikap damai, dan empat calon hweesionya bermuka sopan, sangat disiplin.

Berbeda jauh dengan empat hweesio yang sadis tadi, dalam hati timbul lagi rasa curiga, sekarang setelah mendengar nama Hong Ih yang seangkatan dengan ketua partai yang menjemput mereka, maka dia segera maju kedepan dua langkah, sambil memberi hormat, berkata dengan tersenyum.

"Ternyata guru pengawas biara, kami merasa tersanjung, aku Liu Ta-ang, dan ini adalah murid Ouwyang Sian-seng dari Go-bi-pay bernama Tee Wie, dan ini......"

Memperkenalkan gadis yang memegang busur itu, Liu Ta-ang sendiri juga belum tahu siapa nama dan marga apa, jadi tidak bisa melanjutkan berkata, dan gadis itu seperti tidak menaruh dihati, tidak memper-dulikan cerita Liu Taang, membuat Liu Ta-ang yang berpengalaman juga terdiam.

Beruntung Hong Ih Taysu bijaksana, segera dengan tertawa berkata.

"Ternyata Ciang-hohiap Liu Ta-ang dan Tee-siauhiap dari Go-bi, maafkan aku baru kali ini bertemu, dan persilahkan teman-teman yang lain sama-sama masuk kedalam biara."

Semua anggota rombongan berduyun-duyun mengikuti Hong Ih Taysu masuk kedalam pintu biara, melalui satu halaman tiba disatu ruangan samping.

Didalam ruangan iru sudah datang kurang lebih dua puluh orang, masing-masing duduk dibeberapa bangku.

Satu orang hweesio tua yang berjubah putih dengan bulu alis putih dan mata agak tertutup meng-hampiri rombongan orang itu, dengan suara nyaring berkata.

"Tamu datang dari jauh, mohon maaf bila aku menerima kalian disini."

Lalu Hong Ih Taysu memperkenalkan pada tamu yang baru datang, semua orang baru tahu bahwa hweesio itu adalah Hong-tiang dari Siauw-lim yang tersohor di dunia persilatan yang nama besarnya adalah Kian Ih Taysu.

Liu Ta-ang memberi hormat pada Kian Ih Taysu dan berkata.

"Kita sekalian mendapat surat undangan yang tertera nama-nama ketua dari Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, Wie Tiong-hoo lohiap, masa tidak akan datang?"

Kian Ih Taysu menghela nafas sebentar dan berkata dengan senyum.

"Pinceng orang biasa, karena dibimbing Budha masuk ke biara, selama lima puluh tahun membaca alkitab dibawah sinar lampu, memperdalam ilmu agama, biar pun belum bisa menghilangkan hati marah dan jengkel, dan tidak berani memberi kesulitan pada kalian, karena masalah ini berhubungan dengan kelangsungan hidup dunia persilatan, terpaksa Pinceng mengundang kalian kesini."

Liu Ta-ang berhadapan dengan Kian Ih Taysu dengan muka ramah dan berwibawa, sudah merasa kagum dalam hati, dan berobah pandangan merendah-kan Siauw-lim, dia memberi hormat pada Kan Ih Taysu dan berkata dengan sungguh-sungguh.

"Hong-tiang dari Siauw-lim begitu memperhati-kan nasib dunia persilatan, bersama pendekar lain mengundang jagojago silat, ini adalah pekerjaan yang mulia dan berpandangan luas, niat yang mulia itu seharusnya dihormati orang banyak!"

Semua orang yang sudah berada diruangan itu bersamaan berdiri mengenalkan diri, termasuk nama yang turut mengundang ketua Bu-tong-pay Soat-song To-tiang, Liu Ta-ang melirik tamu yang lain, tapi tidak menemukan dua orang lagi yang turut mengundang yaitu Wie Tionghoo lo-jin dan pendekar Gan Cu-kan.

Mengingat kejadian tadi yang membuat Yang-ciang Tee Wie yang hampir dipermalukan, hatinya masih merasa tidak senang, sekarang setelah bertemu dengan tuan rumah Kian Ih Taysu, amarahnya jadi timbul kembali, dia berkata dengan dingin.

"Aku telah lama mendengar nama harum partai Siauwlim, tapi setelah hari ini bertemu ternyata berbalik dengan fakta, Kian Ih Taysu ternyata seorang yang bersifat angkuh seperti orang biasa, dan tidak mau menerima kehadiran orang lain!"

Kian-Ih Taysu tahu Tee Wie adalah murid pertama dari Go-bi-pai, dan sekarang berkata begitu, dia jadi bengong sebentar, lalu memandang Liu Ta-ang ingin mengetahui sebabnya.

Melihat sikap Kian Ih Taysu dan kecurigaan terhadap empat hweesio yang menghadang dijalan tadi, Liu Ta-ang sudah menyadari tentang kejanggalan itu, maka dia segera menceritakan kejadian tadi pada semua orang.

Kian Ih Taysu mendengarkan cerita itu dengan tenang, tidak tampak rasa terkejut, dia berkata dengan tenang dan sopan.

Ini masalah yang mencurigakan, biara kita punya nama di dunia persilatan karena punya ilmu silat, tetapi seperti biara lain, memberi kebebasan buat semua orang untuk sembahyang pada Budha, belum pernah ada pos penjagaan, dan pintu gunung biara juga ada diluar sejauh tiga li, bila bukan ada pertemuan penting hari ini, anak didik kita tidak boleh sembarangan meninggalkan tempat tanpa perintah ketua.

Hweesio hweesio yang tadi menghadang kalian kemungkinan menyalah gunakan nama biara kita, untuk merusak persahabatan kita, dan ada satu kata yang tidak malu dikatakan bahwa tidak ada hweesio biasa kita yang ilmunya bisa melawan kalian berdua Liu-tayhiap dan Teesiauhiap."

Perkataan Kian Ih Taysu sangat masuk akal, Soat-song Cinjin ketua dari Bu-tong-pay turut berkata.

"Hal ini sangat mencurigakan, sebab pertemuan kita adalah untuk minta saran pikiran dan tenaga semua orang menghadapi musuh besar, tidak mungkin mencari perselisihan. Dan kebiasaan partai Siauw-lim berbuat selalu terbuka, tidak mungkin membuat tindakan yang bodoh itu, menurut pendapat aku, empat hweesio yang mencurigakan itu kemungkinan suruhan Jian-kin-kau untuk mengganggu."

Gadis baju putih itu sejak masuk ruangan tetap berdiri disana tanpa gerakan.

Semua percakapan orang orang seperti tidak didengar, mukanya tetap dingin.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin bukan orang biasa, dari awal sudah memperhatikan tingkah laku gadis itu, dalam hati mereka merasa gadis itu bukan sembarang orang.

Kebetulan Giok Ih Taysu baru masuk dari luar, melihat gadis baju putih itu segera menghampiri dan bertanya.

"Nona muda sudah datang, kenapa Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo belum juga datang?"

Ternyata gadis baju putih ini adalah cucu dari Wie Tiong-hoo... Siau-cian, mendengar pertanyaan dari Jie Ie Taysu mengenai kakeknya, Siau-cian menjawab dengan hormat.

"Kakek berpisah dengan aku sudah beberapa hari, dimana jejak kekek, aku belum tahu!"

Ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu yang sudah tahu asal usul busur yang dipegang Siau-cian, dengan salam Budha berkata.

"Tumpang tanya hubungan apakah tuan Giok-kiong Giok Kang-tong dengan anda?"

Muka Giok Siau-cian berobah sedih, air matanya hampir saja keluar dia berkata.

"Giok Kang-tong adalah ayahku, aku anak tunggal beliau, Siau-cian!"

Kian Ih Taysu sangat berpengalaman, sudah lama tahu berita tentang kematian tiga pendekar wahid Giok-kiong, In-kiam dan Lui Kie, melihat Siau-cian sangat sedih, begitu ditanya tentang ayahnya, maka dia segera membelokan perkataan, mempersilahkan tamu tamu masuk ruangan.

Lalu datang lagi orang-orang yang berdandan macammacam, orang-orang itu ada yang jubah panjang, baju pendek, godek panjang, kumis pendek, macam-macam roman muka, tua muda laki perempuan komplit.

Tee Wie dan Liu Ta-ang melirik tamu-tamu itu dan mengenali beberapa orang ternama, dari partai Kun-lun ada pendekar Tuo-ci-kong (laki-laki berjari banyak) Hun San-kiau yang seangkatan dengan ketuanya, dari Hoa-san-pay Biauw-tie sinni, Hoai-sang-it-ho (orang berbakat tinggi dari Hoai) Shangguan Leng, ketua partai dari Heng-san-pai, Cuan Taikwie dan ketua biara Cu-sia Thi-koan Tojin dan lain-lain orang.

Mata Kian Ih Taysu melihat tamu-tamu di sekeliling berkata.

"Kalian datang dari jauh, mungkin sudah lapar, silahkan duduk dulu."

Semua tamu duduk ditempat yang telah disedia-kan, semuanya lima puluh orang duduk di delapan meja.

Karena Yang-ciang (Pendekar telapak Yang), Tee Wie mewakili ketua Go-bi-pay, maka bisa duduk bersama dengan ketua Kun-lun-pay Hun San-kiau, Biauw-tie sinni dari Hoa-san-pay, ketua Heng-san-pai, Cuan Tai-kwie, Siau-cian adalah turunan Giok-kiong, dia datang bersamaan dengan Tee Wie, otomatis duduk di samping Tee Wie, membuat Tee Wie sangat gembira.

Tidak lama kemudian, hweesio-hweesio muda telah mengeluarkan botol arak dan sayur di masing-masing meja, menu sayur vegitarian dari Siauw-lim sangat tersohor, makanan ini dibuat demikian menarik hingga mengundang selera makan.

Hong-tiang Siauw-lim Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin beberapa orang yang namanya tercantum di surat undangan, membagi tugas, masing-masing duduk di meja tamu yang berlainan, begitu makanan sudah siap disantap, di meja utama Kian Ih Taysu mengangkat gelas arak berkata.

"Terima kasih atas kedatangan kalian dari jauh untuk memenuhi undangan kami, aku mewakili teman-teman dengan segelas arak tawar ini, memberi hormat pada kalian!" Semua tamu berdiri, masing-masing mereguk habis arak di gelasnya. Kian Ih Taysu mengajak tamu-tamunya ber-sulang lagi, tanda terima kasih atas kedatangan tamu-tamu atas undangannya. Tamu-tamu meminum habis juga gelas arak yang kedua, dan memandang tuan rumah yang mengundang mereka, selain kakek Wie Tiong-hoo dan pendekar Gan Cu-kan yang belum datang, ketua Bu-tong-pay Soat-song Cinjin yang telah dikenal oleh semua orang, dan yang telah dilukai oleh Jian-kin-kau sehingga menjadi lumpuh Thi-koan Tojin dan satu orang lagi yang diperhatikan tamu-tamu adalah seorang yang pintar meramal dan berpendidikan tinggi, bernama Sin-ki-siucay (Sastrawan peramal jitu) Cukat Hiang. Kian Ih Taysu setelah meneguk habis arak itu, memandang jago-jago silat disekeliling meja, berkata lagi.

"Aku dengan rekan-rekan mengundang kalian datang kesini, saudara-saudara pasti sudah tahu maksud nya. Sebab akhir-akhir ini didunia persilatan telah muncul satu aliran yang bernama Jian-kin-kau, sebuah organisasi besar tetapi tindakannya jahat sekali, apa yang mereka perbuat selalu menggunakan akal licik, jejaknya pun rahasia, kadang timbul kadang hilang, susah ditebak, dalam satu bulan ini, mulai dari peristiwa di biara Cu-sia, sudah banyak temanteman persilatan diganggu dan dilukai, dari informasi yang dapat dikumpulkan, orang-orang aliran ini berilmu tinggi dan mahir menggunakan segala macam racun, juga tidak menampakan muka aslinya. Setelah melukai teman-teman persilatan dengan kejam, selalu meninggalkan kain putih bertuliskan peringatan berdarah dengan kata-kata.

" "

Empat jagoan wahid sudah habis, Jian-kin-kau berjaya, yang ikut kita selamat, yang melawan kita mati, bergabunglah dengan Jian-kin-kau! "

Tindakan sadis mereka, bila tidak cepat dicegah, semua teman-teman di dunia persilatan tidak akan bisa tentram! "

Ketua Bu-tong-pay, Soat-song Cinjin juga ikut berbicara.

"Sudah setengah bulan, teman-teman yang telah dibunuh oleh mereka adalah, tujuh belas hweesio di biara Cu-sia, Thi-koan Tojin dibuat lumpuh dan belum pulih, sesepuh aliran Heng-san, tuan Po, tiga saudara tuli she Sung, dan teman-teman lain kurang lebih dua puluh orang juga mati tanpa jelas sebabnya. Pendekar Gan Cu-kan yang menyelidiki Jian-kin-kau sendirian hampir sebulan belum ada beritanya, adik perguruan kita Ku-cu bersama tiga murid pergi ke selatan Tiang-kang untuk menyelidiki sudah beberapa hari, juga tidak sempat pulang mengikuti rapat hari ini."

Semua kejadian itu bukan hal yang kebetulan, dan teman-teman yang tadi diserang oleh hweesio-hweesio yang menyamar menjadi hweesio Siauw-lim juga kemungkinan orang-orang mereka, jadi Jian-kin-kau sudah menyebarkan banyak anak buahnya, siap masuk dalam segala kesempatan.

Peristiwa di biara Cu-sia semua orang sudah tahu, tetapi kejadian menyamar hweesio Siauw-lim, baru pertama mendengar, sehingga tamu di setiap meja berbicara bisikbisik, semua merasa terkejut.

Orang yang dinamakan Peramal jitu (Sin-ki-siucay) menggoyangkan kipas ditangannya, lalu berdiri dengan berseri-seri berkata.

"Pertemuan hari ini adalah mengumpulkan saran-saran semua orang, berunding bagaimana cara menghadapi Jian kin-kau, tetapi bila ada orang mereka yang menyamar diantara tamu-tamu kita, rencana kita yang matang pasti gagal total, dan usaha yang akan digunakan juga akan sia sia!"

Sambil bicara, kedua matanya memandang semua tamu, dari mula sampai rapat mau berlangsung dia diam-diam duduk disatu sudut ruangan meneliti dengan hati-hati tamutamu yang masuk, dan sekarang dia telah menemukan satu sasaran yang dicari.

Ketua Siauw-lim-pay tahu Peramal jitu ini umurnya baru empat puluh tahunan, tetapi banyak membaca buku, sangat pintar, orang yang pintar meng-hadapi segala perubahan tidak pernah gagal, dia berkata begitu pasti bukan kata-kata kosong, maka dia berkata dengan hati-hati.

"Cukat-tayhiap bila ada orang yang mencuriga-kan, silahkan tunjukan!"

Peramal jitu tersenyum sejenak, tanpa bicara, pelanpelan melangkah, mengelilingi meja-meja perjamu an, tamu-tamu dibikin terkejut oleh ucapan dia, masing-masing melirik meja sebelahnya, apa ada orang asing yang mencurigakan, Cukat Hiang dengan santai ber-salaman dan bergurau dengan tamu-tamu yang sudah kenal.

Semua jagoan diruangan tidak tahu dia mau "jual obat"

Apa didalam Hiolonya, mata mereka mengikuti tubuh Cukat Hiang dan menaruh curiga pada orang yang ditanyai oleh Cukat Hiang.

Setelah melewati empat meja, dia kembali lagi ke meja depan pertama, mendadak dengan tersenyum dia bertanya pada seorang pemuda yang mengenakan baju hitam.

"Sobat Hong! Guru anda apa baik-baik saja?" Semua orang menaruh salut pada Cukat Hiang, karena yang dinamakan tuan Hong adalah murid kesayangan Bu Ki, Ting Ta-hong baru keluar dari perguruan dan mewakili gurunya datang pada pertemu-an ini, Cukat Hiang mengenali orang ini hanya mendengarkan sekali saat Hong Ih Taysu memperkenal-kan tamu yang baru masuk pada ketua Siauw-lim-pay. Semua orang menilai Cukat Hiang lebih teliti dari orang lain. Anak muda yang dipanggil tuan Hong berdiri dengan tenang menjawab.

"Guru sehat seperti biasa terima kasih atas perhatian anda, tetapi sebelum berangkat guru berpesan pada aku untuk titip salam pada Lo-cianpwee, tapi tidak menyebutkan nama Cukat-tayhiap, boleh tanya apakah Cukat-tayhiap pernah bertemu muka dengan guru? Atau karena tergesa-gesa guru lupa pada nama anda? Aku mewakili guru mohon maaf!"

Diantara tamu-tamu yang tahu aturan, setelah mendengarkan kata-kata tajam anak muda ini, yang ingin membuktikan bahwa dia telah mendapat perintah dari gurunya, merasa aneh atas perkataan Cukat Hiang pada dirinya, dan sebaliknya membalas pada Cukat Hiang yang tidak ada hubungan dengan gurunya, tapi kata salam dari Cukat Hiang itu ada maksud lain.

Cukat Hiang sangat bijaksana, biarpun telah dicemoohkan oleh anak muda ini, dia tidak marah sama sekali dan masih tersenyum bertanya lagi.

"Betul juga, aku Cukat Hiang memang belum pernah bertatap muka dengan guru anda, tetapi teman lamaku sangat dekat dengan guru anda, entah dia masih sering datang tidak?" Anak muda itu tercengang sejenak, dan segera berobah tenang lagi, menjawab dengan tenang.

"Aku telah ditunjuk oleh guru banyak berlatih di tempat latihan untuk memperdalam ilmu, maka teman-teman guru yang berkunjung kerumah guru tidak tahu jelas!"

Cukat Hiang mendadak tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Baik! Baik! Baik! Aku Cukat Hiang ingin mengetahui ilmu telapak Bu Ki pada hari ini!"

Dan dengan segera menggunakan tangan kirinya menceng-kram anak muda Kong itu.

Tapi ternyata anak muda itu telah waspada, dia menghindar dengan cepat, tidak bergeser dari posisi duduk, dia menendang nadi Tan-tian Cukat Hiang.

Karena menguasai ilmu tinggi, Cukat Hiang menghindar tendangan itu, dengan cepat mencengkram tangan kiri anak muda itu, tapi lawannya merendahkan posisi tangan, hingga terlepas dari jangkauan lima jari Cukat Hiang, kemudian meloncat kedepan, menyerang dada Cukat Hiang.

Pesilat pesilat tangguh dari dunia persilatan yang menyaksikan sudah mengetahui jurus yang digunakan anak muda ini bukan jurus Bu Ki, mereka makin salut pada Cukat Hiang atas tindakan yang ingin membuktikan bahwa anak muda itu asli atau palsu muridnya Bu Ki.

Cukat Hiang yang mendapat perlawanan anak muda itu, tidak menghindar malah maju lagi, dengan kipas yang ditangan kanan dia menahan serangan telapak lawannya, tangan kirinya menggunakan jurus mengunci naga, dengan cepat mencengkram tangan atas anak muda itu.

Ternyata anak muda itu betul-betul punya kepandaian lumayan, tubuhnya bergoyang dan telah menghindari serangan kipas dan tangan kiri dari Cukat Hiang.

Cukat Hiang tercengang sejenak, berkata.

"Anak muda! Ternyata ilmu silatmu tinggi."

Dia lalu mendorong sebelah telapak tangannya, Cukat Hiang dianggap punya kepintaran sangat tinggi, dan ilmu silatnya juga sejajar dengan guruguru perguruan empat partai, dibawah tontonan banyak orang, setelah mengeluarkan berapa jurus, masih bisa dihindari oleh anak muda yang belum ternama, timbul amarahnya, maka serangan ini telah menggunakan tujuh puluh persen tenaganya, serangannya sangat dahsyat, anak muda itu terpaksa menerima serangan itu dengan telapak tangan.

Dua tenaga bertemu, anak muda ini terdesak hingga mundur tiga langkah, hampir saja menabrak orang yang duduk debelakang meja.

Cukat Hiang dengan tertawa sinis sekali, segera mengejar lawannya, hanya dengan tangan kiri secara berantai menyerang tiga jurus, tiga jurus yang cepat seperti arus listrik, membuat anak muda itu terdesak kelabakan.

Cukat Hiang tidak memberi waktu luang, tangan kirinya lagi-lagi memukul dua jurus, mendesak anak muda itu seperti lampu kuda berputar-putar tanpa arah, dan terdengar satu bentakan dari Cukat Hiang, dia merobah telapak tangannya jadi cakaran, kuncian lima jarinya menangkap tangan kanan lawan, bersamaan itu kipas yang dipegang tangan kanan menepuk jatuh setumpukan jarum perak yang ingin dilayangkan oleh anak muda itu, dibawah sinar lilin terlihat jarum-jarum itu berwarna biru, tentu saja jarum kecil yang seperti bulu sapi itu telah dilapisi racun.

Dengan tertangkapnya orang jahat, semua tamu merasa lega, semua berpikir bila orang itu telah diinterogasi tentu akan mengatakan rahasia Jian-kin-kau, ternyata anak muda yang dipanggil Hong itu mukanya berobah, keringat bercucuran di kepala jatuh ke bawah lantai, baru saja dalam hati Cukat Hiang berkata celaka, segera dia menotok nadi pingsan anak muda itu, sayang sudah terlambat, saat jarinya menyentuh titik nadi anak muda itu, muka orang itu sudah berobah warna, sudah mati seketika.

Cukat Hiang segera meneliti seluruh tubuh anak muda itu, segera dia menemukan satu jarum perak yang tersembunyi diikatan rambut kepala orang itu, jarum itu persis seperti yang dilantai, hanya lebih kecil.

Semua orang didalam ruangan adalah orang orang yang berpengalaman di dunia persilatan, tahu bila bertindak ceroboh, pasti memberi kesempatan musuh yang ada di tempat gelap, maka semuanya diam ditempat seperti tidak terjadi apa apa, jadi sepintar apa pun Cukat Hiang, tidak dapat menemukan orang yang dicurigakan lagi di antara tamu-tamu itu.

Cukat Hiang sangat cerdik dan hati-hati, bila tidak pasti dia tidak akan bertindak, maka dia tersenyum sekali dan berkata pada Kian Ih Taysu.

"Harap maafkan tindakanku yang ceroboh, kejadian ini membuat tempat suci Budha ini jadi berbau amis darah."

Kian Ih Taysu merapatkan kedua telapak tangan-nya sambil mengucapkan "O-mi-to-hud"

Dan berkata.

"Tidak marah, tidak pikiran bercabang, tidak pikirkan diri sendiri, tidak robah roman muka, adalah ilmu paling tinggi aliran Budha, aku sudah diincar iblis, biara kita tidak luput dari hawa amis darah, aku berharap sesudah pertemuan hari ini, teman-teman persilatan bisa bergotong royong menghadapi Jian-kin-kau, menyelamatkan bencana dunia persilatan, menyela-matkan nyawa yang tidak berdosa di dunia ini, aku siap bersemedi dalam gua sepuluh tahun untuk menanggung dosa di hadapan Budha!"

Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng mendadak ikut bicara.

"Pandangan jauh ketua, Shangguan Leng sangat kagum, di dunia persilatan sudah lama mengetahui keahlian peramal ajaib, hari ini kepandaiannya telah membuat banyak orang turut kagum, tetapi aku ada satu hal yang tidak mengerti, kenapa Cukat-heng bisa memastikan orang ini adalah mata-mata dari pihak lawan?"

Semua orang juga punya pikiran itu, hanya tidak berani bertanya, sekarang setelah diutarakan oleh Shangguan Leng, semua orang jadi bersemangat mem-buka kuping untuk mendengarkan penjelasan.

Cukat Hiang tersenyum dan berkata.

"Hal ini sangat sederhana, semua orang bila dengan teliti perhatikan, akan mengetahui lebih banyak persoalan tiap partai, pasti tidak sulit mengetahui seluk beluk tiap partai!"

Shangguan Leng berkata lagi.

"Kita ingin mengetahui lebih jelas!"

Cukat berkata. Hiang menggoyangkan kipas ditangannya.

"Aku datang kepertemuan ini sudah menaruh perhatian khusus, menjaga jangan sampai ada mata-mata menyamar masuk, tiap orang yang masuk ke ruangan ini telah diteliti dengan cermat, memperhatikan tingkah laku dan ucapan orang ini mengaku murid Bu Ki, dia menyebut nama guru begitu hormat, bila bagi murid partai lain mungkin ini adalah hal yang biasa, tetapi aku mengetahui tuan Bu Ki sangat akrab dengan murid-muridnya, tidak mau terikat dengan status guru dan murid, jiwanya sangat terbuka, tidak dengan kekerasan mendidik muridnya, dan muridmurid mereka tidak terlalu serius bila diucapkan nama guru mereka oleh orang lain, jadi orang ini mengundang kecurigaan aku......." Cukat Hiang berhenti sejenak, berkata lagi.

"Tadi aku takut mencelakakan orang baik, maka dengan pertanyaan bohong mencoba lagi, ternyata orang ini sangat licik, sampai mengatakan bahwa tuan Bu Ki tidak pernah kenal dengan aku. Tetapi orang ini juga tidak yakin seratus persen sehingga kata-katanya bersifat dua kemungkinan, aku tahu bahwa semua orang di dunia persilatan telah mengetahui tuan Bu Ki sudah bermukim jauh dipinggiran negara bagian barat dan tidak pernah ke Tionggoan, dan aku tinggal di tenggara, jarang pergi ke barat laut, orang yang mengetahui soal dunia persilatan, tidak susah untuk mengatakan bahwa aku tidak kenal tuan Bu Ki. Dan aku tidak menyuruh dengan kata yang dibuat buat, ternyata orang ini tertipu, harap tahu bahwa yang tadi aku tanya nama itu adalah nama samaran tuan Bu Ki, teman-teman dunia persilatan jarang ada yang tahu, aku punya kebiasaan mengumpul-kan barang-barang emas dan permata, buku-buku dan lukisan, pernah tahu bahwa tuan Bu Ki memberi hadiah lukisan kaligrafi dengan nama samaran Hoat Ih, bila orang lain tidak tahu itu tidak aneh, masa murid kesayangan tidak tahu nama samaran gurunya!"

Shangguan Leng mengacungkan jempol memuji Cukat Hiang dan berkata.

"Sungguh nama peramal jitu pantas buatmu, kau bilang mudah, tetapi di dunia ini siapa lagi yang bisa seperti dirimu, teliti, pengetahuan luas! Aku betul betul salut pada kau!"

Semua orang juga turut salut pada Cukat Hiang, dan saling bertukar ucapan sanjung.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud pelan dan berkata.

"Aku sedang kuatir, bila bukan tuan Cukat teliti sekali, mata-mata ini mungkin susah diketahui dalam waktu pendek."

Cukat Hiang membalas dan memberi hormat atas kata kata sanjungan dengan menggunakan kipas yang terbuka, berkata.

"Kebetulan dengan cara sederhana bisa berhasil nyata, jangan dibesar besarkan! Tetapi, kejadian ini, aku memikirkan beberapa soal yang mengkhawatirkan!"

Soat-song Cinjin sudah lama mengetahui Cukat Hiang punya kelebihan dari orang lain, ramalannya selalu tepat, maka segera bertanya.

"Apa lagi yang tuan Cukat ketahui, silahkan diuraikan biar lebih jelas!"

Dalam hati Cukat Hiang berpikir.

"keadaan sekarang, banyak mulut bisa menimbulkan macam-macam akibat, lebih baik hati-hati’, maka setelah ragu ragu sejenak dia berkata.

"Pendapat aku begini, satu, orang ini saja bisa mengetahui banyak urusan perguruan Bu Ki, jadi kemungkinan mereka telah menangkap murid asli tuan Bu Ki dan dengan cara kejam memaksa korbannya membuka rahasia, aku pikir murid utama tuan Bu Ki mungkin sudah dibunuh. Kedua, orang ini pasti suruhan Jian-kin-kau, dari pernilaian orang ini tentang ilmu, kecerdikan dan keberanian, bisa dilihat Jian-kin-kau banyak orang pandai dan banyak akal liciknya, dengan bervariasi, mencari celahcelah untuk masuk, jadi aku akan menambah kewaspadaan. Ketiga, orang ini mati karena serangan racun mendadak, melihat sekeliling bangunan jika jarumnya melayang datang dari luar ruangan, kemungkinannya sangat tipis, pendapatku, orang yang mengeluarkan jarum racun itu masih menyelinap diantara tamu-tamu, dia pasti adalah mata mata dari Jian-kin-kau, tapi harap dimaafkan, sebab aku tidak dapat mengenal dan menuduh dia sebagai pembunuh!"

Kejadian itu semua orang menyaksikan sendiri dan semua juga tahu, tetapi dengan penjelasan Cukat Hiang itu membuat setiap orang jadi waspada, diam-diam melihat orang yang duduk semeja atau sebelahnya, tindakan itu membuat suasana pertemuan jago-jago agak ribut, semua orang merasa keamanan dirinya jadi terancam.

Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng punya reputasi sangat tinggi di dunia persilatan, sifatnya pun sangat terbuka dan ramah, dia tertawa sejenak dan berkata.

"Setelah mendapat peringatan dari saudara Cukat, maka aku lebih berhati-hati. Ada satu perkataan yang mohon dimaafkan oleh teman-teman, bahwa kejadian ini, selain ketua Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, dan saudara Hun dari Kun-lun-pay, Hoa-san-sin-ni dan saudara Cukat yang dapat aku percaya, juga ketua biara Cu-sia yang telah dilukai oleh Jian-kin-kau merupakan satu fakta membuat aku mesti waspada. Dan teman-teman disini, bila aku dicurigai anda sekalian juga hal yang wajar, aku juga tidak akan marah!"

Kata-kata Shangguan Leng yang bercampur benar dan bohong, serius dan humor yang keluar dari mulut pendekar termasyur itu tidak mengundang marah tamu-tamu, malah semua orang dibikin tertawa keras, tetapi sesudahnya semua orang dibuat lebih waspada.

Saat itu mendadak datang seorang hweesio dari luar, setelah memberi hormat pada guru Kian Ih dan berbisikbisik entah apa yang dibicarakan, kemudian segera pergi lagi.

Kejadian itu mendapat perhatian tamu-tamu, mereka menujukan mata pada tubuh Kian Ih Taysu, karena mereka ingin tahu kejadian apa yang membuat hweesio itu datang dan pergi lagi begitu tergesa gesa.

Kian Ih Taysu setelah memandang semua tamu dan berkata pelan-pelan.

"Sekarang diluar pintu gerbang telah datang empat tamu yang tidak diundang, memaksa ingin ikut rapat, aku tidak berani ambil putusan......mereka adalah Lam-mo (Iblis dari selatan) Kauw Ki-koan, Tong-hai-to-liong (Naga bungkuk dari laut timur) Cia Houw-ciat, Bu-ih Taysu dari gunung Thian-tai, Coa-sim-cu-kat (Orang pintar berhati ular) Kongsun Pau dari propinsi Sie-kiang."

Semua pendekar saling pandang dengan tercengang, sebab empat orang iblis ini tidak ada hubungan dengan aliran persilatan, malah kadang-kadang ada yang bermusuhan dengan mereka, kenapa hari ini bisa datang, tampaknya punya niat tidak baik.

Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng cepat berkata sambil berteriak.

"Apa iblis iblis dari aliran luar tidak bercermin sendiri, kok berani berkata ingin ikut rapat, ketua partai tidak perlu minta persetujuan dari kita orang, turunkan perintah, mereka dilarang masuk, mereka bagaimana menjawabnya?"

Peramal cerdik Cukat Hiang berdiri dan berkata sambil membuka kipas.

"Tunggu! Mereka adalah kelompok iblis dari aliran hitam, biasanya tidak berhubungan dengan kita, sekarang mereka mencari gara-gara, tentu bukan hal yang kebetulan, kita harus berpikir panjang menyelesaikan persoalan mereka." Shangguan Leng sangat salut pada Cukat Hiang, melihat Cukat Hiang bicara maka segera berkata.

"Bagus! Bagus! Bagus! Rencanamu pasti lebih bagus dari aku, aku menurut pada pendapatmu saja, ucapan tadi aku tarik kembali!"

Cukat Hiang tersenyum sejenak, dan berkata.

"Menurut pendapatku, empat iblis ini sengaja datang ingin ikut pertemuan ini, bila kita tidak mengizinkan mereka masuk, mereka akan punya dua macam alasan, satu alasannya bahwa kita sangat picik tidak bisa menerima mereka. Juga mereka akan mengatakan kita takut atas kedatangan mereka sebagai tamu merebut posisi tuan rumah hingga sengaja menolak mereka masuk, dan bila mereka datang atas hasutan orang sengaja ingin cari gara gara, bila kita tolak mereka masuk, malah digunakan mereka sebagai alasan bahwa kita takut pada mereka. Maka aku lebih setuju mengizinkan mereka masuk, apa kemauan mereka, kita akan bertindak dengan melihat gelagat!"

Ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin saling pandang, mereka setuju cara itu, Shangguan Leng juga mendukung, tamu lain tidak ada saran lain, maka Kian Ih Taysu memberi perintah pada hweesio muda.

"Sampaikan perintah pada guru penerima tamu untuk mengundang mereka masuk!"

Dua orang hweesio muda pergi menjalankan tugas mereka, tidak lama kemudian, tugas rangkap menjadi penerima tamu Hong Ih Taysu mendampingi empat tamu yang punya roman muka aneh, tetapi semuanya angkuh karena punya nama tersohor disebut iblis besar, mereka pelan-pelan masuk ruangan.

Semua ketua iblis ini tidak membawa murid.

Empat iblis ini angkuhnya sama, tetapi penampilannya berbeda, dan masing-masing punya ciri khas, semua orang gampang mengenali siapa mereka.

Botaknya kepala Bu-ih Taysu, bongkoknya Cia Houwciat langsung ketahuan dan liciknya si hati ular Cukat, yang sombong itu adalah Lam-mo Kauw Ki-koan.

Diantara empat iblis itu hanya Lam-mo (iblis selatan) Kauw Ki-koan yang punya nama dan ilmu silat paling tinggi, dan dia menampilkan dirinya sebagai pemimpin mereka, begitu masuk ruangan, dia tidak melihat siapa pun, hanya menengok Kian Ih Taysu, tertawa dengan liar berkata.

"Sudah lama aku dengar nama hweesio agung pemimpin biara Siauw-lim, menganggap diri partai nomor satu di dunia, hari ini bertemu, betul-betul tidak bohong sanjungan diluar, aku datang kesini juga ternyata tidak sia sia!"

Diantara kumpulan para-pendekar mencari ketua Siauwlim-pay Kian Ih Taysu tidak sulit, iblis selatan begitu masuk ruangan hanya sekali lihat langsung menuju tempat duduk Kian Ih tanpa ragu-ragu, ini membukti-kan pengalaman dan pengetahuan tentang dunia persilatan sangat luas, biarpun kata-katanya kurang sopan, tetapi dia masih tetap menaruh sedikit hormat pada Kian Ih Taysu.

Setelah mengucapkan kata O-mi-to-hud, Kian Ih Taysu berkata.

"Terima kasih atas pujian anda! Aku tidak berani menyebutkan diri nomor satu, entah kedatangan empat kawan hari ini kemari ada pesan khusus apa!"

Kauw Ki-koan tertawa keras yang menggema menggetarkan genting rumah, nadanya panjang, ruangan yang begitu besar terasa agak goyang, dan suaranya bergema melalui tiang bangunan, nyata iblis selatan ini telah mencapai ilmu yang sangat tinggi, membikin terkejut para-pendekar yang ada di ruangan, terdengar dia berkata.

"Aku dengar hari ini dibiara Siauw-lim ada pertemuan, yang diundang katanya jago-jago dari semua aliran, tetapi kita empat orang tidak menerima surat undangan, entah dalam pandangan kalian, aku dan kawan-kawan kurang besar? Atau ilmu kita kurang tinggi?"

Kata katanya sangat memojokan, sengaja ingin cari masalah, Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng sudah tidak sabar, menggebrak meja berkata dengan lancang.

"Kalian aliran sesat, mengapa ingin memaksakan diri turut rapat?"

Kauw Ki-koan berseru "Hai!"

Seperti getaran halilintar, tatapan matanya bagaikan aliran listrik menusuk orang, dengan mata setengah tertutup menyentak Shangguan Leng dan berkata.

"Kau siapa? Berani berkata begitu padaku!?"

Peramal jitu Cukat Hiang takut ucapan mereka berdua menimbulkan pertarungan, sedang maksud kedatangan empat iblis ini belum jelas, rasanya memulai perselisihan kurang tepat waktunya, maka dengan cepat dia melangkah kedepan dan berkata.

"Kauw-heng datang dari jauh adalah tamu kita, silahkan jelaskan maksud kedatangan kalian, agar bisa dirundingkan."

Dengan mata dingin Kauw Ki-koan melihat sejenak pada Cukat Hiang, dengan suara dari hidung berkata.

"Kau juga siapa?

Berani panggil aku kakak, aku berbuat sesuatu selalu sendirian, ada apa yang perlu aku dirundingkan dengan kalian!"

Cukat Hiang tidak marah dan tidak tersinggung, dia menggoyangkan kipasnya dan berkata.

"Aku Cukat Hiang sangat rendah pengetahuan tentang anda, entah bagaimana menyebut anda? Bila anda tidak menyelaskan maksud kedatangan kalian, walau "pun kita mengikuti keinginan anda, bagaimana melaksanakan tugasnya?"

Lam-mo Kauw Ki-koan tidak menyangka bahwa yang berdiri didepan mukanya seorang terpelajar bermuka cakap yang punya nama tersohor dengan julukan Peramal jitu Cukat Hiang, maka dia tercengang juga sejenak!

Tetapi mendengar kata-kata lawan yang bernada sindiran, dia berkata dengan marah.

"Aku sudah lama tidak jalan-jalan di dunia ini, kalian juga meremehkan ilmu saktiku, bila tidak memberi sedikit pelajaran pada kalian, kalian menganggap diri kalian jagoan semua!"

Habis bicara Lam-mo dengan ringan mendorong sebelah telapaknya kedepan bagaikan menyapu debu diatas meja dengan pelan pelan, dan berkata.

"Bila kalian tidak ingin bajunya ternoda kotoran, pergilah jauh dari meja!"

Dimeja itu duduk tamu angkatan muda dari dunia persilatan, mendengar suara itu segera berdiri dan menghindar, ternyata dengan sedikit dorongan tenaga-nya membuat permukaan meja yang terbuat dari kayu keras, hancur berterbangan menjadi debu kayu yang lapuk, piring dan gelas yang diatas meja berjatuhan ke bawah lantai, cipratan arak dan sayur menodai baju dan sepatu orang dimeja itu, ilmunya membuat semua orang terkejut.

Tapi Cukat Hiang tetap tenang, dengan kipas ditangan dia berkata.

"Ilmu Ci-yan-li-hwee-ciang mu (Telapak api merah) adalah ilmu tunggal di dunia persilatan, tetapi aku tetap ingin tahu maksud kedatangan kalian!"

Ternyata iblis dari selatan Kauw Ki-koan sangat membanggakan ilmunya, dia menganggap ilmu tenaga dalam, telapak tangan, tenaga telunjuk, tenaga bayang-an, ilmu tinju, ilmu suara, dan totokan, tujuh ilmunya bisa dibilang ilmu paling tinggi di dunia persilatan, maka dia menamakan diri Kauw Ki-koan (Kauw tujuh paling top), setelah Cukat Hiang tahu ilmu telapak tangan dan mengatakan ilmu tunggal, dia sangat gembira ada orang mengetahui ilmunya, maka dengan kata lebih sopan berkata.

"Kau dijuluki Peramal jitu, sungguh tahu situasi, biasanya aku jarang bicara banyak dengan orang lain, kali ini aku beri kelonggaran, kedatanganku kesini karena ada desas desus bahwa empat jagoan wahid telah hilang tiga orang, kalian yang menamakan diri para-pendekar dari kalangan putih berkumpul disini dan rapat, berusaha menghadang aliran-aliran yang diluar jalur, aku sangat tidak setuju, aku tidak ingin bicara dengan kalian disini yang hanya punya nama kosong, berhadapan dengan empat pendekar wahid saja, aku pun tidak takut!"

Cukat Hiang, Kian Ih Taysu dan Soat-song mengerti isi kata Kauw Ki-koan, mereka mengetahui pasti ada orang yang mengobor dibelakang, sehingga membuat empat iblis ini datang kesini dan ingin mengacaukan rapat.

Cukat Hiang sedang memikirkan perkataan apa yang bisa menyelesaikan perselisihan yang tidak perlu, agar kekuatan dipihak sendiri tidak kurang dan Jian-kin-kau tidak diberi peluang untuk mengadu domba.

Mendadak di pinggir pintu ruangan terdengar satu suara wanita yang marah berkata.

"Siapa bilang empat pendekar wahid telah mati? Siapa yang sombong berani mengatakan tidak takut dengan pendekar empat wahid?" -ooo0dwooo-

Jilid KE DUA BAB Sumbu api merah jauh dari api Semua pesilat terkejut melihat seorang gadis yang berkata itu, mereka melihat kepintu masuk, dia berdiri dengan baju hitam, umurnya tidak lebih dari enam belas tahun, mata terang gigi putih, muka cantik sekali, hanya penampilan sangat dingin, bila bukan dia yang berbicara, semua orang tidak akan tahu keberadaan dia, sesungguhnya dia menyelinap masuk ruangan diwaktu perhatian orang tertuju pada iblis selatan Kauw Ki-koan, gerakan dia sangat gesit sehingga orang tidak tahu dia sudah masuk ruangan.

Kauw Ki-koan belum menjawab, Bu-ih Taysu yang berdiri paling dekat dengan gadis itu dengan sedikit suara hidung, menggerakan tubuh dan maju kedepan lima kaki, dan tangan kanan yang telah menghimpun tenaga menyerang gadis itu sambil membentak.

"Anak kecil tidak tahu aturan!

Tidak ada tempat buat kau bicara disini?"

Gadis baju hitam itu sudah tahu siapa Bu-ih Taysu itu, dia tidak berani menganggap enteng pukulan lawannya, dengan cepat sekali mengeluarkan pedang dipunggung dan kelebatan sinar pedang menuju lengan Bu-ih Taysu, mengandung jurus menahan tenaga telapak tangan lawan.

Jurus gadis itu yang sangat cepat dan tepat, membuat Buih Taysu terpaksa menarik serangan dan mundur satu langkah, semua pendekar dan empat iblis terperanjat atas kejadian itu.

Jie Ie Taysu dan beberapa orang yang telah berada dibiara Cu-sia tempo hari telah mengenal gadis baju hitam ini adalah anak gadis dari salah satu empat pendekar wahid In-kiam In Tiang-long, yang bernama In Hong-tai.

Maka dia sangat marah waktu mendengarkan kata kata yang berisi meninggalnya empat pendekar wahid.

Bu-ih Taysu yang belum sempat bertatap muka dengan In Hong-tai, belum tahu kemahiran silat lawannya, setelah terdesak mundur dia merasa tidak terima, dengan tangan kanan yang bertenaga dahsyat dia menyerang pedang yang dipegang lawannya, dia bermaksud dengan tenaga penuh memukul jatuh pedang lawan.

Bu-ih Taysu tidak tahu bahwa gadis itu adalah penerus satu-satunya In-kiam, keahlian In Tiang-long dalam jurus pedang telah dikuasai oleh anak gadisnya hampir sempurna, hanya masih kurang tenaga dan pengalaman saja, tapi jurus In-kiam mahir dalam meminjam tenaga lawan, dengan sedikit tenaga bisa melenyapkan tenaga besar lawan, maka pedang In Hong-tai mengikuti jurus Buih Taysu dan berbalik menusuk, sehingga menembus arus tenaga telapak tangan Bu-ih Taysu, In-kiam langsung memotong lengan lawannya.

Muka Bu-ih Taysu segera berobah terkejut, terpaksa dia kembali menarik untuk kedua kali jurus serangannya.

Bu-ih Taysu tersohor didunia persilatan sebagai jago setempat.

Tempo hari saat di biara Cu-sia karena pengaruh Dupa Sepuluh Langkah Hilang Ingatan dari Jian-kin-kau, ilmu sebenarnya tidak bisa keluar, sekarang menghadapi seorang gadis dia terpaksa mundur dan menghindar dua kali, dalam hati iblis ini timbul rasa terkejut yang hebat.

Tong-hai-to-liong Cia Houw-ciat sejak masuk ruangan belum berkata sepatah pun, saat menyaksikan temannya bertarung dengan gadis itu, dia segera tahu asal usul jurus pedang itu, setelah tercengang sebentar, segera dia mengibarkan lengan bajunya membuat angin puyuh yang menerpa pedang Hong-tai, ternyata tenaga dalam Naga bungkuk ini lebih tinggi dari Bu-ih Taysu, hingga pedang Hong-tai terlepas dan terbang keatas karena serangan mendadak yang tidak disangka-sangka.

Dalam keadaan terkejut, Hong-tai segera meloncat terbang bagaikan kepinis menuju pohon, kecepatan tubuh sama dengan pedang terlepas, ditengah udara dia menjulurkan tangan dan menangkap gagang pedang yang berada diatas lalu turun kelantai lagi dengan tenang, walau pun dia tidak hati-hati hingga pedangnya terlepas, tapi dengan keterampilan ilmu Gin-kangnya membuat parapendekar yang menonton bertepuk tangan.

Lam-mo Kauw Ki-koan dengan suara tertawa dingin berkata.

"Turunan dari empat pendekar wahid hanya begini saja ilmu silatnya, kau bukan tandinganku......" Belum habis Lam-mo Kauw Ki-koan bicara, terdengar suara wanita berkata dari belakang tubuhnya, ternyata gadis Siau-cian yang duduk dimeja pertama telah berdiri dan menghampiri dia, dengan alisnya bergoyang berkata dengan marah.

"Kau siapa, berani benar merendahkan ilmu empat pendekar wahid!"

Kauw Ki-koan berkata dengan dingin.

"Seumur hidup aku sangat benci berbicara dengan wanita dan anak kecil, tutup mulutnu, bila masih banyak rewel, jangan salahkan bila aku mem-bunuhmu!"

Siau-cian menjadi lebih marah lagi mendengar kata-kata itu, dengan dingin membalas.

"Aku malah ingin bicara terus, kau mau apa! Kau iblis tua, tua bangka......"

Dengan mengeluarkan suara dengusan, Lam-mo Kauw Ki-koan ingin memberi pelajaran pada gadis itu, tapi Coasim-cukat Kongsun Pau yang persis berada diantara kedua orang itu, lebih dulu mengeluarkan sebuah pukulan kepalan sambil berteriak.

"Gadis yang lancang lidah, kau berani menentang Kauw Lo-cianpwee, tandanya kematianmu sudah dekat!"

Coa-sim-cu-kat itu paling pintar berpikir, di antara empat iblis itu, ilmu silat dia paling lemah, bila dia tidak cepat bertindak, sampai jago-jago empat partai keluar menantang mereka, dia tidak akan bisa berbuat banyak, dia melihat Siau-cian muncul menantang, dalam hatinya tidak percaya dalam waktu bersamaan, bisa muncul dua orang ahli waris empat pendekar wahid, dia ingin memamerkan kehebatan ilmu silatnya, maka dia menyerang Siau-cian lebih dulu dari Kauw Ki-koan.

Siau-cian juga sangat cerdik, dia tahu lawan di depan mata adalah iblis yang punya nama di dunia persilatan, bila mengukur ketinggian tenaga dalam, diri sendiri bukan tandingan mereka.

Paling bijaksana dia menghadapi mereka dengan ilmu silat keluarganya, maka dia segera mengeluarkan busur dari punggung-nya, terdengar sebuah suara senar busur, Siau-cian dengan punggung busur memotong tangan Kongsun Pau.

Kongsun Pau terkejut juga, dia baru menyadari Siau-cian adalah betul turunan dari Giok-kiong, salah satu dari empat pendekar wahid, dia tidak berani semberono, dia merubah serangan kepalannya menjadi telapak dan menyerang lawannya lagi.

Ternyata Siau-cian juga menggetarkan senar busurnya sekali lagi, sambil senarnya mengeluarkan suara, serangannya berobah menjadi pukulan melingkar.

Baru saja tenaga dalam Kongsun Pau keluar dari telapak tangan, dia merasakan sebuah arus tenaga besar dari ujung busur dari batu giok yang mengkilap itu telah merobek dinding pertahanan telapaknya, persis menusuk pusat nadi Hongtang dan tenggorokannya, membuat Kongsun Pau berobah mukanya, cepat dia mengangkat telapak tangan untuk membendung serang-an busur itu, dan kedua kakinya dengan cepat mundur dua langkah.

Kauw Ki-koan yang melihat dipinggir dengan tidak sabar menyentak dengan keras.

"Urusan aku, tidak perlu orang lain yang ikut campur!"

Sebelah telapak tangan dia menarik Kongsun Pau mundur kepinggir, dengan mata yang melotot pada Siau-cian sambil kaki bergerak maju dan tertawa liar dia berkata.

"Bagus, dua anak gadis, satu adalah In-kiam, satu lagi Giok-kiong, sepertinya empat pendekar wahid hidup kembali, aku ingin tahu empat pendekar wahid mewariskan jurus apa!" Mendadak terdengar suara O-mi-to-hud dari Kian Ih Taysu, dia bergerak menuju kedepan Siau-cian dan berkata.

"Urusan hari ini adalah aku yang membuat janji, bila Kauw Sicu ingin menguji ilmu, aku siap menjadi lawan tanding, jangan mencari gara-gara pada tamuku!"

Kauw Ki-koan dengan tertawa sinis berkata.

"Kau, hweesio tua bisa menjadi ketua Siauw-lim-pay pasti tidak bernama kosong, aku ingin lihat kau yang menamakan dirimu ketua partai punya berapa tahun hasil ilmu silatnya yang dipelajari!"

Kauw Ki-koan mengangkat sedikit telapak tangan kirinya, lalu mengeluarkan jurus Bu-hong-gou-koan (Pukulan halus tanpa angin), ini adalah salah satu dari tujuh ilmu terhebat dari iblis selatan, ciri khas jurus ini tidak ada angin dan suara, melukai orang tidak terasa oleh orangnya, dan tidak gampang menduga arah sasaran pukulannya, jadi sulit untuk menghindar.

Kian Ih Taysu merapatkan membungkukan tubuh berkata.

kedua telapaknya.

"Pukulan halus tanpa angin dari saudara Kauw, sungguh ilmu yang belum pernah terdengar dan belum pernah terlihat, mana bisa aku menahan pukulan ini!"

Walaupun begitu, Kian Ih Taysu sambil berkata sudah memusatkan tenaga dalam di seluruh tubuh secara diamdiam, dengan dua telapaknya yang dirangkapkan dan tubuh yang dibungkukan, dia telah menggunakan tenaga dalam aliran Budha yang telah dilatih selama puluhan tahun Hokmo-wan-jit-sin-kang (Ilmu Budha Penjinak Iblis) dengan jurus ini dia telah melindungi tubuh dari serangan lawannya.

Para-pendekar yang menyaksikan dengan seksama dipinggir hanya melihat jubah Kian Ih Taysu yang gombrang berkibar sendiri tanpa ada angin, membuat semacam lingkaran gelombang, lalu pulih kembli seperti sedia kala!

Lam-mo Kauw Ki-koan dengan tertawa liar berkata.

"Kepandaian hweesio Siauw-lim ternyata bukan nama kosong, hari ini aku bisa bertemu lawan tangguh sepertimu, sungguh tidak sia-sia perjalananku ke dataran tengah, hari ini aku harus puas bertarung dengan ketua Siauw-limpay......"

Kata-katanya belum habis kedua tangannya digoyangkan dua kali, dan menyerang hweesio itu dengan dua kali jurus Pukulan Halus Tanpa Angin.

Ilmu yang aneh itu menggunakan hawa murni dari dalam tubuh, tenaga halus yang tanpa suara dan bayangan itu menyerang hingga tenaga tersembunyi itu menyentuh tubuh orang, baru mengeluarkan tenaga benturan yang sangat dahsyat, melukai bagian tubuh orang tanpa peringatan, walau pun orang yang berilmu tinggi, juga susah tahu arah datangnya, untuk menghindar dari ilmu ini hanya dengan berjaga-jaga dari awal.

Ilmu yang sadis ini digunakan untuk serangan yang terselubung.

Kian Ih Taysu mengucapkan kata O-mi-to-hud dengan keras, diam-diam memusatkan tenaga dalam melindungi dirinya, kedua kaki menginjak lantai seperti tiang bangunan, dia menyodorkan dada, menerima dua kali serangan Tinju Halus Tanpa Angin dari Kauw Kikoan.

Ketua Siauw-lim-pay itu tahu bila tidak memberi pelajaran pada lawannya atau memperlihatkan ilmu sejatinya, Kauw Ki-koan iblis tua yang sombong sekali, tidak akan berhenti menyerang, maka dia memusatkan tenaga dalam tubuh dengan kekuatan yang besar, ingin memberi hukuman pada iblis tua itu.

Kedua tenaga itu beradu tanpa kelihatan, terdengar satu suara halus keluar dari mulut Kauw Ki-koan, pundaknya bergoyang dua kali, kakinya mundur dua langkah, dan warna mukanya berobah.

Tubuh Kian Ih Taysu juga lebih pendek sekitar lima inci, para-pendekar melihat dengan seksama, ternyata dua kaki ketua Siauw-lim-pay itu telah masuk ke dalam lantai sekitar lima inci, ini membuktikan bahwa dia menggunakan tenaga dalam yang kuat.

Kauw Ki-koan menyadari bahwa partai Siauw-lim bisa terkenal di dunia dan punya reputasi bagus dalam ilmu silat bukan sesuatu kebetulan.

Tenaga dalam Kian Ih Taysu juga masih diatas dirinya, maka timbul perasaan gentar!

Dia melirik sebentar pada tiga temannya yang sama-sama datang, Bu-ih Taysu dan Kongsun Pau yang sama-sama telah diganti oleh dia dan Tong-hai-to-liong Cia Houw-ciat, karena dinilai, kedua orang itu bukan tandingan dua gadis itu, bila betul-betul bertarung secara terbuka.

Dan pada detik itu juga ketua Bu-tong-pay Soat-song Cinjin berdiri dari meja menghadap Cia Houw-ciat sambil berucap salam, tosu ini mengetahui jelas bahwa iblis bungkuk ini adalah jago didaerahnya, dia mengkhawatirkan bila dia timbul niat jahat, menggunakan tindakan sadis terhadap In Hong-tai, walau pun ilmu pedang gadis itu sangat mahir, tetapi kalah bila beradu tenaga dalam dengan iblis tua itu, maka dia tampil untuk melayani iblis bungkuk itu.

Lam-mo Kauw Ki-koan kali ini datang bersama-sama Naga bungkuk, Bu-ih Taysu dan Kongsun Pau ingin melabrak biara Siauw-lim, karena di terpengaruh oleh bujukan Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau, yang mengatakan bahwa perselisihan partai-partai didunia persilatan sudah sangat dalam, masing-masing partai berebut kekuasaan, saling iri.

Pertemuan Siauw-lim kali ini juga sedikit yang datang, bila Kauw Ki-koan keluar dan mengalahkan ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu, tidak susah untuk mengendalikan partai-partai di daratan tengah, dengan dibantu oleh Tong-hai-to-liong, Bu-ih Taysu dan Kongsun Pau sendiri, menjinakan para-pendekar lain bukan urusan yang susah lagi.

Kauw Ki-koan tinggal di daerah selatan yang gersang, dia sangat sombong dan ambisius, hingga terkena bujukan Kongsun Pau, dia bersama-sama tiga temannya datang ke Siauw-lim-sie, tapi baru mengeluarkan suara sedikit sudah membuat marah turunan keluarga In-kiam dan Giok-kiong, setelah mengadu ilmu, ternyata orang yang besar mulut Kongsun Pau dan Bu-ih Taysu tidak lebih hebat dari anak muda yang baru berumur enam belas tahun, dan sendiri telah mencoba ilmu Kian Ih Taysu, mengetahui jika ingin mengalahkan lawannya juga tidak mudah, dan selanjutnya terpikir, ketua Bu-tong-pay juga bukan lawan enteng, apakah Tong-hai-to-liong Cia Houw-ciat bisa mengalahkan lawan masih tanda tanya?

Melihat situasi didepan mata, dan dilihat para tamu, masih banyak pendekar didaratan tengah yang marah masih belum bergerak, hal tersebut bertolak belakang dengan katakata Kongsun Pau yang mengatakan gampang menjinakan para-pendekar tersebut.

Sekarang Lam-mo terbuka hatinya, dia tahu dia telah dijerumuskan oleh Kongsun Pau, jangankan sekali berbuat bisa tersohor di dunia persilatan, bicara bagaimana menyelamatkan muka, keluar dari situasi seperti menunggang macan juga bukan urusan enteng.

Kian Ih Taysu sebagai pemimpin partai Siauw-lim bukan sembarangan orang, dia menilai situasi yang ada di depan mata, dia tahu kekuatan di pihaknya cukup untuk mengalahkan empat iblis itu, dan ketua yang cerdik ini, telah menebak kebimbangan lawannya, untuk menyelamatkan rencana besar, ketua partai itu berpikir matang, lebih baik menjaga keutuhan kekuatan di dunia persilatan, untuk menghadapi musuh besar Jian-kin-kau, kalau empat iblis yang didepan mata bisa diberi pengarahan yang pantas, mungkin mereka akan mundur setelah mengalami kesulitan.

Kian Ih Taysu berpikir lagi, murid partai Go-bi Tee Wie dan Ciang-hohiap Liu Ta-ang telah diganggu oleh empat hweesio gadungan dipintu gunung, jika dihubungkan dengan empat iblis ini, pasti mereka juga dipermainkan oleh Jian-kin-kau, yang ingin mengguna kan tenaga mereka untuk merongrong kekuatan dunia persilatan Tionggoan.

Memikirkan hingga hal tersebut, Kian Ih Taysu makin yakin jangan sampai pihak sendiri tertipu oleh ulah lawan.

Setelah dipikir matang, Kian Ih Taysu memberi salam Budha dan mengucapkan O-mi-to-hud lalu berkata.

"Tuan Kauw tenaga dalam dan ilmu silatnya hebat, aku bukan lawan tuan, terima kasih atas pelajarannya, boleh aku berkata sedikit, tuan punya nama besar di selatan, angkatan muda dunia persilatan pada kagum terhadapmu, tuan yang bijaksana sepantas-nya memberi contoh pada mereka, sekarang Jian-kin-kau membuat kekacauan, merongrong dunia persilatan dan makin hari makin banyak pendekar yang dibunuh. Bila tuan pada saat sekarang berbuat tidak hati-hati, mungkin dianggap orang membantu berbuat jahat, apakah ini akan mencemarkan ketenaran nama tuan!"

Dalam hati Kauw Ki-koan makin jelas, dia menduga Kongsun Pau jika bukan orang dari Jian-kin-kau, mungkin juga semacam pesuruh, dia sendiri malah diperalat oleh mereka.

Tetapi iblis tua ini sangat angkuh, biar pun katakata Kian Ih Taysu sangat masuk akal, dan kata-katanya menjunjung tinggi, membuat iblis tua ini senang didalam hati, tetapi dalam sekejap waktu, dia masih ragu-ragu untuk merobah rencana kedatangan semula.

Iblis tua ini tidak berani lagi berkata sombong, tetapi masih berkata tanpa rasa malu.

"Perkataan hweesio tua masuk akal, tetapi aku berbuat sesuatu dalam hidupku punya prinsip, lebih baik patah dari pada bengkok, aku selalu ambil putusan sendiri, dan tidak sabar memikirkan masalah orang lain. Biar pun orang orang didunia persilatan mengatakan aku membantu kejahatan, merusak dunia persilatan, dan membenciku, atau dendam padaku, aku berani bertanggung jawab sendiri, siapa yang tidak sudi melihatnya, silahkan datang sendiri kehadapanku minta"ganti rugi, asalkan dia ada kemampuan mengalahkan aku dengan satu atau setengah jurus, aku bukan saja akan melepaskan julukan Ki-koan, aku pun rela menyerahkan kepala pada orang itu."

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau sebelumnya sudah tidak tenang mendengarkan kata-kata Kian Ih yang mengalah untuk meredam kesombongan Kauw Ki-koan, dalam hati berpikir, rencananya tidak berhasil, tetapi mendengar kata Kauw Ki-koan yang masih angkuh berobah tertawa, maka dia berbuat seperti mendorong gelombang membuat bencana, dia berkata dengan provokasi.

"Betul! Betul! Betul! Laki-laki berbuat sesuatu lebih baik patah dari pada bengkok, apa lagi perkataan hweesio itu mengandung ancaman pada Kauw Toako yang artinya jangan bermusuhan dengan yang menamakan diri aliran putih!"

Berkata sampai disitu, mata Kongsun Pau sengaja melirik ke muka In Hong-tai dan Giok Siau-cian.

Kedua gadis itu masing-masing telah menantang keempat iblis itu, tetapi rasa dendam keluarga, rasa cemburu cinta tidak hilang.

Sekarang dalam keadaan diam, permusuhan kedua gadis timbul lagi, dan Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau menggunakan kesempatan itu berkata pada kedua gadis itu.

"Kalian anak muda, tidak menghiraukan dendam keluarga, malah bersama-sama menghadapi kita. Kita yang lebih tua dari kalian mana mungkin punya pikiran sama, tentu tidak bisa menghadapi kalian dengan cara sadis, tetapi kalian pikirkan, ayah kalian dibawah tanah, apa rela menutup mata melihat kalian bergandengan dengan turunan musuh?"

Sebenarnya Hong-tai dan Siau-cian sangat cerdik, tidak gampang diperalat orang lain, tetapi kedua gadis itu sudah punya prasangka yang dalam, sebenarnya rasa iri tentang cinta lebih besar dari dendam orang tua, sekarang setelah di adu domba oleh Kongsun Pau, timbul api marah dalam hati mereka, kelihatan mereka berdua ingin melampiaskan kemarahan dengan duel hidup atau mati.

Hong-tai dan Siau-cian terpengaruh oleh kata kata Kongsun Pau.

Masing-masing dengan mata membelalak saling pandang, seperti akan terlibat dalam pertarungan hebat yang bercampur rasa dendam dan rasa iri soal cinta.

Sastrawan bijaksana Cukat Hiang selama ini diam saja memperhatikan keempat iblis itu masuk ruangan, melihat kedua gadis itu terpengaruh oleh kata kata Kongsun Pau, dia segera berbicara.

"Kongsun-heng! Sungguh kau pantas dijuluki Pelajar berhati ular, hanya dengan sepatah dua kata saudara yang beracun seperti ular kau mengadu domba tetapi In Kouwnio dan Giok Kouwnio adalah orang pintar, tidak mungkin terpengaruh oleh ulahmu. Kau harus tahu, bahwa In-kiam, Giok-kiong dan Lui-kie tidak punya dendam, kenapa saling bunuh, pasti ada hal yang tersembunyi, dan apakah mereka bertiga masih hidup atau mati, belum ada bukti, mana bisa Langsung memberi penilaian!"

Cukat Hiang sudah melihat kedua gadis itu sangat keras kepala dan angkuh, bila diberi nasihat langsung untuk tidak bermusuhan tentu tidak akan berhasil.

Maka dengan membantah perkataan Kongsun Pau dengan memberi pengertian dari samping, agar kedua gadis itu mengerti.

Ternyata Hong-tai dan Siau-cian jadi berobah sikap setelah mendengarkan kata Cukat Hiang, masing masing meredam emosinya dalam hati, untuk sementara pertikaian mereka berhenti.

Kongsun Pau sangat marah karena rencana liciknya gagal, tetapi dia tidak menampakan kekesalan di muka, dia hanya tertawa sinis beberapa kali.

Berkata dengan suara santai.

"Cukat Hiang! Kau tidak perlu bersilat lidah, dan sukar untuk menutupi mata dan telinga orang terhadap fakta, sekarang pun pendekar Kauw Ki-koan tidak akan membiarkan kalian yang menamakan diri orang aliran putih bebas berkeliaran."

Lam-mo Kauw Ki-koan yang punya sifat suka berbuat sesuka hati, dalam hatinya sudah insaf, dia tahu tindakannya hari ini karena diperalat oleh Kongsun Pau, maka dengan tertawa terbahak bahak dia berkata.

"Aku tidak akan membiarkan kalian yang menamakan diri orang-orang aliran putih leluasa berbuat sesuatu, lambat atau cepat kita pasti bertemu lagi, tetapi karena hari ini ada orang yang berniat mengadu domba antara aku dengan kalian, dan mengambil keuntungan di air keruh, aku tidak akan terpancing. Sekarang aku jelaskan, tahun depan di waktu sekarang, aku akan menunggu kedatangan kalian di tempatku di gunung selatan, saat itu kita akan mengadu kepandaian dengan sungguh-sungguh, menentukan siapa yang lebih hebat, apakah kalian yang menamakan diri dari aliran putih lebih unggul atau aku dan teman teman yang di anggap kalian sebagai iblis-iblis dari aliran sesat yang lebih tinggi kepandaiannya."

Kata-kata Kauw Ki-koan itu membuat Kian Ih Taysu dan kawan-kawan merasa lega, mereka tahu sebuah pertarungan telah terhindar bagaikan awan dan asap yang buyar, Kian Ih Taysu segera mengucapkan O-mi-to-hud lalu berkata.

"Tuan Kauw tindakan anda bijaksana dan sangat tepat, janji anda tahun depan, aku dan kawan-kawan pasti datang, pertemuan dengan saling memperkenalkan ilmu silat adalah peristiwa yang ratusan tahun jarang terjadi!"

Baru saja hweesio itu bicara habis, dari luar gedung terdengar tawa seram yang terasa mengerikan memenuhi tembok ruangan, tawa itu terasa sinis dan meremehkan, dari tenaga suara itu para pendekar dari golongan putih dan hitam mengetahui orang yang tertawa mempunyai ilmu tinggi, yang membuat mereka terkejut adalah orang itu sangat berani dan sangat sombong, semua orang diam, menunggu perkembangan selanjutnya.

Kemudian suara yang sombong itu terdengar lagi di kuping, berkata.

"Kalian jangan menyombongkan diri dulu, saling puji, saling mengatakan jagoan. Aku cucu raja malah mau melihat kalian yang menamakan diri pesilat tinggi dari golongan putih atau hitam, sebetulnya punya ilmu seberapa tinggi!" Bersamaan dengan suara itu, berkelebat sesosok bayangan orang masuk ke dalam ruangan, orang itu memakai baju mewah dan ikat pinggang dari giok, mukanya cakap seperti perempuan, kesombongan dirinya sangat menonjol dari alis bulu matanya, dia adalah cucu raja Lok-houw, Thio Kong-giok. Tidak perlu dikatakan lagi bagaimana hebatnya ilmu silat orang ini, hanya atas dasar orang ini bisa masuk ke biara Siauw-lim di siang hari bolong tanpa diketahui orang Siauw-lim, sudah cukup membuktikan kehebatannya. Kian Ih Taysu merasa risau dalam hati, dia segera bertanya.

"Tuan datang dari mana? Ada keperluan apa ke biara kami?"

Dengan ketajaman matanya Thio Kong-giok melihat bisa keberadaan Hong-tai di ruangan ini, dia tidak mempedulikan pertanyaan Kian Ih Taysu, malah menghampiri Hong-tai dan berkata.

"Nona In juga ada disini, Thio Kong-giok sudah mencari beberapa hari, tapi tidak menemukan jejak nona, hari ini bisa bertemu disini, sungguh suatu keberuntungan buatku!"

Sejak Hong-tai terlepas dari Jian-kin-kau, pandangannya sudah berobah terhadap Thio Kong-giok, biar pun tidak ada perasaan persahabatan, tapi dengan sopan menundukan kepala sejenak sebagai jawaban.

Para-pendekar di dalam ruangan yang dekat dengan partai Siauw-lim merasa marah dan terkejut, marah karena orang itu tidak menghiraukan pertanyaan Kian Ih Taysu, yang berarti tidak sopan terhadap Kian Ih Taysu, mereka juga terkejutnya dan bertanya-tanya mengapa orang itu bisa kenal dengan anak gadis In-kiam.

Siau-cian yang berdiri dipinggir, entah kenapa timbul perasaan yang sangat rumit, jika dikatakan dia dan Hong-tai adalah musuh keluarga juga musuh cinta, sebetulnya dia harus gembira melihat Hong-tai bisa berkenalan dengan pemuda lain, tetapi detik ini dia malah merasa kasihan pada A Bin, maka dengan nada tidak sopan berkata.

"Melihat satu, merayu satu tidak tahu malu!"

Sebetulnya kemarahan Hong-tai terhadap Siau-cian belum bisa di hilangkan, mana bisa dia tahan terhadap sindiran Siau-cian terhadap dirinya, dengan marah dia berteriak, ingin melompat ke depan Siau-cian untuk memberi pelajaran.

Entah kapan tiba-tiba Gin-hoat Lojin Wie Tiong-hoo datang dan lebih dulu membentak Siau-cian.

"Siau-cian! Jangan berkata sembarangan!" , kemudian dia maju ke hadapan Hong-tai dan berkata sangat ramah.

"Nona In! Harap maafkan, karena cucu angkatku, tidak tahu masalahnya dengan jelas, jadi berkata yang bukanbukan. Aku sebagai orang tua tidak mau sembrono, aku harap kau melihat aku yang lebih tua dan mendengarkan sepatah kataku, sebelum segala masalah jadi jernih kita tidak boleh sembarangan menuduh orang sebagai musuh kita!"

Di saat itu, Lam-mo Kauw Ki-koan sudah tidak sabar mendengarkan percakapan mereka, dengan kedua mata yang memancarkan sinar terang, dia berkata dengan keras terhadap Thio Kong-giok.

"Hei, anak muda! Siapa yang melahirkanmu, seekor burung dungu yang tidak punya mata, di depan orang tua disini, kau jangan berteriak-teriak liar!" Thio Kong-giok mengeluarkan suara hidung tanpa berkata, segera memusatkan tenaga dalam di kedua tangannya, ingin memberi serangan ganas pada Kauw Kikoan. Kejadian itu, sementara meredam kemarahan Hong-tai terhadap Siau-cian, dia ingin melihat dulu perselisihan orang tua dan anak muda itu. Bersamaan waktu itu, satu bayangan kecil dan hitam meloncat dari sebuah meja keluar menghadapi Thio Konggiok dan menunjuk dengan tangannya dan berkata.

"Semua orang jangan melepaskan dia, dia adalah anak Lok-houw-it-kun, bernama cucu raja Lok-houw Thio Konggiok, kali ini dia datang ke daratan tengah atas perintah ayahnya, sengaja mencari gara-gara terhadap orang-orang persilatan, di dalam perjalanannya dia sudah banyak membunuh teman-teman pendekar kita!"

Semua orang melihat orang ini bermata warna emas dan seperti api, mulutnya lancip dan punya muka seperti monyet, gerak-gerik meloncat dan larinya hampir persis seekor monyet.

Hong-tai dan Siau-cian tergetar melihat orang yang keluar dari tempat duduk dan menampakan diri, dan secara bersamaan dengan mata mereka meneliti sekitar tempat duduk orang itu, apakah masih ada seseorang yang mendampingi dia!

Ternyata, orang itu adalah Cia Ma-lek.

Tempo hari Cia Ma-lek tidak berhasil mengejar A Bin yang tergesa-gesa mencari Hong-tai, terpaksa dia berjalan sendiri, kehilangan teman baik membuat dia tidak tenang di perjalanan, kemudian dia terpikir bahwa dalam pertemuan di Siauw-lim ini A Bin pasti datang, maka dia pun datang tepat pada harinya, dengan kesal dia terus mencari A Bin yang belum kelihatan, sesudah melihat Siau-cian bersama Hong-tai muncul, timbul rasa gembiranya, sekarang Thio Kong-giok telah datang juga, ternyata semua orang-orang disana belum mengenalinya, untuk memamerkan kebolehan pengetahuan dan mematahkan semangat Thio Kong-giok, untuk membalas penghinaan terhadap dirinya di hotel tempo hari, maka dia keluar dari tempat duduk untuk membongkar rahasia Thio Kong-giok.

Rahasia Thio Kong-giok yang telah dibeberkan Cia Malek, membuat hati para-pendekar merasa terguncang lebih dahsyat dari pada waktu empat iblis masuk ruangan, bahkan ada yang merasa marah dan benci atas kedatangan Thio Kong-giok yang telah membunuh sanak keluarganya, lain orang termasuk iblis selatan Kauw Ki-koan pun merasa terkejut, soalnya, Lok-houw-it-kun jarang sekali datang ke daratan tengah, tetapi bila masuk kedaratan tengah, pasti berbuat sesuatu yang menggemparkan daratan tengah, maka nama besarnya diketahui banyak orang, yang lebih mengkhawatirkan para pendekar di daratan tengah karena orang itu sudah hampir dua puluh tahun tidak datang ke daratan tengah, kabar angin mengatakan ilmu orang itu hampir mencapai kesempurnaan, dan telah melatih banyak murid-murid muda.

Sekarang kedatangan seorang pemuda yang bernama Thio Kong-giok bukan lagi murid kesayangannya, tetapi keturunan kesayangannya, yang mendapatkan warisan ilmu silat-nya hampir delapan puluh persen, maka timbul rasa waspada bagi para-pendekar di ruangan itu.

Thio Kong-giok melihat Cia Ma-lek ada di dalam ruangan, dia jadi teringat A Bin, timbul rasa irinya, sambil tertawa sinis berkata.

"Bangsat tengik!

Kau pun berani datang kemari, mana anak muda yang gagu itu mengapa tidak terlihat?

begini saja!

Lebih baik aku memakai tubuhmu untuk mencoba golokku, biar tua bangka yang sombong disini membuka matanya lebar-lebar!"

Tidak melihat dia mengerahkan tenaga, dengan santai sekali tubuh Thio Kong-giok telah tiba di depan tubuh Cia Ma-lek sekitar dua kaki, lalu menjulurkan tangan kanan dengan lambat seperti membersihkan debu di kancing orang, padahal sesungguhnya ingin menotok jalan darah kematian lawannya, Dengan kemampuan Cia Ma-lek, dia hanya bisa menunggu kematian tanpa bisa menghindar dari bahaya.

Tapi pada detik itu, Lam-mo Kauw Ki-koan yang berdiri paling dekat dengan mereka tidak senang melihat tingkah Thio Kong-giok yang sombong dan sadis itu, dia sendiri pun bersifat sangat angkuh, mendadak dia menyerang punggung Thio Kong-giok dengan telapak tangan kiri, sambil mulut berteriak.

"Anak muda yang sombong! Kau pun terima dulu pukulanku, dulu baru bicara!"

Bagaimana pun sombongnya Thio Kong-giok, dia tidak berani menerima pukulan Kauw Ki-koan, mendengar katakata lawannya, dan dari arah angin pukulan, dia telah mengetahui maksud lawannya, maka tubuhnya meleset ke pinggir untuk menghindar.

Tapi serangan Kauw Ki-koan Cuma serangan tipuan, maksudnya hanya untuk mencegah Thio Kong-giok membunuh Cia Ma-lek, maka sebelum menyerang telah dia memperingati lawan, agar lawan dapat menghindar pada waktunya, hanya Kauw Ki-koan tidak menyangka bahwa lawan ternyata bisa menghindar dengan cepat sekali, dia jadi agak terperanjat dan berpikir dalam hati, anak ini begitu hebat ilmu silatnya, kelihatan ayahnya Lok-houw betul-betul lebih tinggi ilmunya dari pada para-pendekar yang ada disini.

Di saat Kauw Ki-koan tercengang, Thio Kong-giok telah merubah serangan dengan tiga jari tangan kanan, langsung menuju jalan darah Kie-kan ditubuh Kauw Ki-koan.

Kauw Ki-koan dengan marah membentak.

"Kau berani menggunakan jurus ini padaku" , dia segera mengerahkan tenaga dalamnya, dengan telunjuknya dia menyerang dengan kecepatan seperti kilat halilintar mengarah dada Thio Kong-giok. Sebetulnya Thio Kong-giok telah mengetahui nama Kauw Ki-koan yang terkenal dan mengetahui jurus telapaknya adalah ilmu paling hebat dari tujuh macam ilmu yang dikuasai Kauw Ki-koan, sehingga dia tidak berani menerima langsung serangannya, belum lagi telapak Kauw Ki-koan sampai, dia telah menarik serangan telunjuknya dan meloncat ke atas, dengan lincah menghindar serangan itu, tetapi tubuhnya segera berbalik menyerang kembali. Kauw Ki-koan mengeluarkan suara di hidung, mendadak langkah kakinya maju ke depan dua langkah, telapak kanan menyerang bagian dada lawan, dan tangan kiri memotong tempat berbahaya di pinggang lawan. Thio Kong-giok tidak menghindar dari serangan cepat itu, dia merapatkan kedua tangan, menggunakan jurus Membelah air menangkap ikan, dia menghindar dua jurus serangan telapak tangan Kauw Ki-koan, dan memaksa Kauw Ki-koan mundur dua langkah untuk menghindar serangan baliknya. Di bawah tontonan banyak orang, Kauw Ki-koan telah mengeluarkan beberapa jurus beruntun, namun belum berhasil apa-apa, timbul amarah dalam hatinya, tapi dalam hati berkata.

"Bila hari ini aku tidak dapat mengungguli anak muda ini, pasti berita ini dijadikan cerita lelucon oleh para-pendekar yang menamakan diri golongan putih. Jadi aku tidak perlu menghiraukan bagaimana dikemudian hari bila bertemu dengan Lokhouw, lebih baik beri sedikit pelajaran pada anak muda ini."

Pikiran itu membuat nafsu membunuh Kauw Ki-koan bertambah tinggi, maka dia segera mengangkat kaki kanan, menerobos kearah tengah, telapak tangan kirinya menggunakan jurus menghantam dan menang-kap bersama-sama, mencari titik kelemahan lawan, tangan kanannya dengan kuat dikepalkan, menghantam dengan keras dan dahsyat, kedua tangan Kauw Ki-koan ini menggunakan dua macam ilmu silat yang berbeda, satu mengandalkan serangan keras, satu lagi dengan teknik mencengkram, begitu dia mengeluarkan kepandai an yang bervariasi itu, semua orang yang menonton di ruangan merasa kagum.

Tetapi kelincahan tubuh Thio Kong-giok sangat luar biasa, dia bisa lolos dari dua jurus serangan Kauw Ki-koan itu, malah kepalan dan kakinya bersamaan digunakan menyerang balik, jurusnya begitu dilancar-kan pun cepat seperti halilintar, dalam sekejap mata telah menyerang lima jurus pukulan dan tiga kali tendangan.

Kauw Ki-koan sampai di desak mundur dua langkah, tetapi begitu mundur dia langsung menyerang lagi, menggunakan telapak tangan dengan gesit, iblis tua ini telah menghilangkan pandangan merendahkan musuh, sehingga tiap jurus serangan dan langkah kakinya sangat cepat sekali.

Di dalam ruangan yang tersisa sedikit tempat itu, berlangsung satu pertarungan sengit yang jarang dilihat orang, suara angin serangan dari jurus pukulan bergema cukup keras.

Para-pendekar, Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Wie Tiong-hoo, Cukat Hiang dan lain lain merasa terkejut dan khawatir atas kehebatan ilmu silat Thio Kong-giok, tidak terpikirkan oleh mereka bagaimana anak muda yang baru berumur kurang lebih dua puluh tahun, sanggup menggunakan kepandaiannya untuk mengimbangi jago dari dunia persilatan, Kauw Ki-koan dengan tidak kalah hebatnya.

Hong-tai yang menyaksikan pertarungan itu, kadang mengerutkan bulu alisnya, dirinya tidak punya perasaan suka atau simpati pada Thio Kong-giok, tetapi dia pun tidak ingin orang itu terluka oleh tangan Kauw Ki-koan, jadi dia sangat memperhatikan pertarungan mereka.

Untuk menjaga namanya yang tersohor di dunia persilatan, Kauw Ki-koan betul-betul sudah marah sekali, pukulannya makin dahsyat, jurus maut beruntun dikeluarkan, tetapi langkah dan jurus Thio Kong-giok tetap tangguh, bagaimana sadisnya serangan Kauw Ki-koan atau jurus yang sangat berbahaya, selalu dapat dihindarkan dengan leluasa.

Mendadak terdengar teriakan dari Kauw Ki-koan dengan kata.

"Coba kau terima Ci-yan-li-hwee-ciang (Telapak api merah) ku."

Terlihat tangan kanan Kauw Ki-koan berwarna merah membara didorong ke arah tubuh Thio Kong-giok, mengetahui jurus dahsyat itu, Thio Kong-giok meloncat untuk menghindar, dia tidak berani menerima serangan itu.

Kauw Ki-koan dengan tertawa nyaring, menyerang untuk kedua kalinya, serangannya belum sampai pada sasaran, angin panas yang sangat keras menerpa Thio Kong-giok.

Thio Kong-giok menggoyangkan pundak, meloncat lagi untuk menghindar serangan kedua itu.

Serangan dua kali dari Kauw Ki-koan tidak berhasil, maka dia tidak mengejar lagi lawannya, dia diam di tempatnya, dengan pelan-pelan mengarahkan telapak tangan kanan kepada Thio Kong-giok, saat itu, warna tangannya lebih merah persis seperti bara api.

Thio Kong-giok tidak berani memejamkan mata, dia memperhatikan tangan kanan Kauw Ki-koan yang merah membara itu, dia seperti sudah mengetahui bahayanya.

Kauw Ki-koan mendorongkan tangan merah itu dengan pelan-pelan sekali, gerakannya berbeda dengan dua jurus sebelumnya.

Terlihat Thio Kong-giok membusungkan dada-nya ke depan, dengan mendadak menjulurkan tangan kanan, menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, diarahkan ke depan dengan cepat menotok telapak tangan merah api Kauw Ki-koan.

Begitu telapak tangan dan telunjuk tangan beradu, Kauw Ki-koan meloncat ke belakang, Thio Kong-giok masih tetap berdiri ditempatnya.

Kian Ih Taysu berucap O-mi-to-hud sekali dan berkata.

"Tuan Kauw mungkin terluka."

Terlihat jubah yang dipakainya bergoyang bersamaan dengan loncatan Kian Ih Taysu, berdiri disamping tubuh Kauw Ki-koan.

Kauw Ki-koan melirik atas kedatangan Kian Ih Taysu berkata.

"Anak muda ini telah menguasai ilmu Kim-kong-cie (Jari baja emas) yang spesial untuk menghadapi segala macam ilmu telapak tangan, aku ceroboh tidak memperhatikan dia sehingga mengalami kerugian besar."

Kian Ih Taysu mempunyai hati yang saleh, dia tahu Kauw Ki-koan terkenal angkuh sejak lahir, dan di bawah mata banyak orang, telah mengalami kegagalan sangat memalukan, dalam hatinya tentu tersimpan kemarahan yang besar, maka dia berkata dengan ramah.

"Ilmu yang saling berlawanan pasti ada yang dirugikan, tetapi bukan berarti kalah, entah anda terluka atau tidak?"

Kauw Ki-koan mendengar Kian Ih Taysu yang sudah menemani dia dengan budi yang saleh, tidak menganggap dia sebagai musuh, maka dia menjawab dengan jujur.

"Masih untung, sebelum kedua tangan akan beradu penuh, aku telah mengetahui Thio Kong-giok akan menggunakan ilmu ayahnya yang telah dilatih selama tiga puluh tahun yaitu ilmu Kim-kong-cie (Jari baja emas), sehingga aku bisa menarik kembali seranganku, bila tidak aku akan terluka disini."

Kian Ih Taysu berkata dengan suara kecil.

"Silahkan anda beristirahat dulu, pulihkan nafas, biar aku yang mencoba anak muda itu."

Bersamaan itu Thio Kong-giok sedang berkata dengan sombong sekali.

"Siapa lagi yang tidak sayang nyawanya!"

Soat-song Cinjin dari Bu-tong juga mengucap-kan salam Budha, dia bermaksud maju untuk meng-hadapi tantangan anak muda itu.

Tapi saat itu di pinggir ruangan terdengar suara langkah kaki yang ribut seperti ada kejadian yang luar biasa.

Orangorang di dalam ruangan kawan atau pun lawan, termasuk Thio Kong-giok menghentikan gerakan nya dan memandang keluar.

Terlihat di pintu masuk dua orang hweesio sedang menggandeng seorang hweesio tua yang sangat loyo dan lunglai, mukanya pucat seperti kuning muda, kedua matanya masuk ke dalam kelopak mata, dia adalah Ku-cu Tojin, yang setingkat kedudukannya dengan Soat-song Cinjin hanya dibawah ketua Siauw-lim.

Jie Ie Taysu yang punya hubungan paling dekat dengan Ku-cu Tojin terperanjat dan segera meng-hampiri untuk memegang dia sambil bertanya.

"Ku-cu Lotiang! Kenapa kau begini lemas?"

Tampak tubuh Ku-cu Tojin sangat lemah, dia memaksakan membuka mata dan memandang sebentar Jie Ie Taysu, tapi segera menutup kembali kedua matanya, tidak bisa menjawab sepatah pun.

Semua pendekar juga berdiri dengan perasaan terkejut, Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin segera memberi petunjuk kepada beberapa orang untuk memberi tempat bersandar bagi Ku-cu Tojin dengan hati-hati.

Dan bersamaan waktu itu, semua orang melihat satu pemuda berbaju hijau berdiri di tengah pintu di dampingi hweesio penerima tamu Hong Ie.

Sebagai tuan rumah, Kian Ih Taysu dengan ramah menghampiri mereka, sambil memberi hormat.

Hong Ie Taysu segera maju ke depan memperkenalkan A Bin kepada Kian Ih Taysu.

dan "Ini tuan Lui, Ku-cu Tojin sepanjang jalan digendong oleh dia, siang dan malam berlari mengejar waktu, baru sekarang bisa sampai disini!"

Begitu Hong-tai dan Siau-cian melihat pemuda berbaju hijau itu, hatinya berdetak keras, tetapi kedua orang itu berusaha meredam goncangan dalam hatinya, mukanya terlihat tidak peduli atas kedatangan A Bin.

Cia Ma-lek malah bersorak gembira, dia segera menghampiri dan memegang kedua tangan A Bin, dengan perasaan senang berkata.

"Adik Lui, susah sekali mencarimu, hari ini pun aku telah lama menunggu, kau terlambat datang kemari!"

Pemuda yang berbaju hijau A Bin berkata dengan tulus.

"Cia Toako, sesudah berpisah aku juga ingin mencarimu, tapi entah kemana? Tetapi aku sudah menduga kita akan bertemu disini!"

Begitu A Bin membuka mulut dan berbicara, Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek terkejut sehingga membelalakan mata dan mulutnya terbuka lebar, muka Hong-tai dan Siaucian pun berobah tampak cerah, saking gembiranya Cia Ma-lek hampir lupa daratan, dengan jari telunjuknya diarahkan pada A Bin, dia tertawa tanpa berhenti, tidak bisa bicara untuk beberapa detik.

Wie Tiong-hoo dan Jie Ie Taysu yang tempo hari bertemu A Bin di biara Cu-sia juga terkejut sekali.

A Bin memberi hormat pada Kian Ih Taysu dan berkata.

"Boanpwee Lui Bin, juga termasuk orang yang diundang kemari, karena di perjalanan menemukan Ku-cu Tojin yang dilukai oleh orang jahat, maka turun tangan membantu dan mengawal dia sehingga terlambat datang kemari, harap Hong-tiang memberi petunjuk sebentar waktu lagi."

Kian Ih Taysu belum menjawab, Thio Kong-giok sudah menghampiri mereka, dia menunjuk A Bin sambil berkata dengan sinis.

"Pribahasa berkata, bila bukan musuh tidak akan bertemu, aku sudah mencari kau beberapa hari, kebetulan kau datang pada saat yang tepat, sudah waktunya kau menyerahkan nyawamu padaku!"

Di saat A Bin datang, Thio Kong-giok memperhatikan dari samping, sebuah hal yang membikin dia jengkel dan iri, yaitu Hong-tai dan Siau-cian begitu goncang emosinya mengetahui kedatangan A Bin, Thio Kong-giok selalu membanggakan diri sebagai sosok pemuda yang romantis, melihat nona-nona cantik itu begitu menaruh perhatian terhadap A Bin, timbul rasa dendam yang ditimbulkan peristiwa dahulu, maka dia segera menantang A Bin untuk berduel.

A Bin baru masuk ke ruangan ini, masih belum tahu kenapa Thio Kong-giok ada disini, dia tidak tahu bagaimana menjawabnya, dia hanya bisa terbengong, Cia Ma-lek segera membantu menjawab.

"Adik Lui! Kau jangan memberi ampun pada dia, tadi bila bukan Kauw Lo-cianpwee menghadang dia, mungkin aku tidak akan bertemu kau dalam keadaan hidup, tetapi Kauw Lo-cianpwee terluka juga terkena jurus Kim-kong-cie nya, sekarang masih beristirahat memulihkan tenaga!"

Kian Ih Taysu belum tahu seberapa tangguh kepandaian A Bin, melihat Kauw Ki-koan hampir celaka oleh Thio Kong-giok, dia khawatir A Bin terluka oleh Thio Konggiok, maka dia menantang duluan.

"Thio Sicu, aku ingin minta pelajaran dari anda!"

A Bin sangat cerdik, melihat niat ketua Siauw-lim menantang Thio Kong-giok, dapat dibayangan bahwa Thio Kong-giok telah memperagakan kehebatan ilmunya, setelah mengetahui Kian Ih Taysu bermaksud menghadang bahaya demi keselamatan dirinya, maka A Bin tidak rela orang lain terkena musibah karenanya.

Dan yang penting dia telah dapat pesan dari Kakek jubah kulit kambing (Yo-po-lo-to) untuk mendidik Thio Hong-giok, maka A Bin memberi salam hormat pada Kian Ih Taysu dan berkata.

"Mohon maaf, karena Cia Toako telah dihina oleh orang ini, aku berkewajiban untuk membelanya. Dan, orang ini pun khusus datang mencari aku. Duel antara aku dan dia, pasti terjadi sekarang atau nanti, maka izinkan aku menghadapi dia."

Kian Ih Taysu mendengar alasan A Bin, dia merasa tidak baik untuk menolak A Bin, maka setelah berkata O-mi-tohud, memberi pesan pada A Bin.

"Lui Sicu, hati-hati orang ini jurusnya aneh dan berbahaya!"

Dan dia segera bergeser kepinggir. Thio Kong-giok menggoyangkan kedua bulu alis yang lebat dan angker, berkata sambil tertawa sinis.

"Anak gagu! Aku cucu raja ingin bagaimana hebatnya aliran Lok-houw!"

Menunjukan A Bin membalas dengan tertawa sinis dan berkata.

"Kata-katamu yang begitu sombong, membuat aku lebih merasa terpanggil untuk mencoba! Silahkan keluarkan kehebatanmu sekarang juga!" Habis berkata, matanya melirik sejenak pada wajah Hong-tai dan Siau-cian, lalu memberi isyarat pada Thio Kong-giok untuk memulai pertarungan mereka. Hanya sekilas baju hijau A Bin terlihat berkibar, tubuhnya telah berada di tengah ruangan, dengan wajah dingin dan angkuh berdiri dengan gagah di tempatnya. Melihat sikap A Bin yang meremehkan, Thio Kong-giok merasa benci dan marah pada A Bin, dari sepasang matanya yang bening mendadak terpancar cahaya yang angker menakutkan, dengan tangannya diarahkan kebawah, Thio Kong-giok menggunakan langkah cepat dan aneh menuju ke depan A Bin, dan setelah berjalan beberapa langkah, telapak tangan kanannya berobah menjadi putih seperti batu giok putih. Hong-tai dan Siau-cian tahu Thio Kong-giok telah menguasai ilmu yang sangat berbahaya, melihat Thio Kong-giok yang berjalan menuju A Bin dan telah mengangkat tangan kanan bermaksud membunuh A Bin dalam satu jurus saja, maka mereka bersamaan berteriak terkejut. Lam-mo Kauw Ki-koan mengenal ilmu rahasia dari istana Lok-houw, dengan mata membelalak berteriak.

"Adik Lui, kau harus hati hati, Thio Kong-giok telah menguasai semua ilmu ayahnya, yang akan dia gunakan menyerang adalah ilmu ketua Lok-houw yang terlatih hampir tiga puluh tahun nama jurusnya Cui-giok-cie (Jari penghancur giok) dan langkah itu bernama Lok-houw-jittou-poh (Tujuh langkah Lok-houw)."

Kauw Ki-koan menyebutkan dua ilmu wasiat dari istana Lok-houw yang akan digunakan Thio Kong-giok, membuat semua orang yang mendengar mengeluarkan suara terkejut, orang-orang yang menaruh simpati pada A Bin turut mengkhawatirkan A Bin.

Kata peringatan Kauw Ki-koan membuat A Bin tambah waspada tetapi tidak terlalu dihiraukan, hingga saat Thio Kong-giok sudah berdiri di depan matanya, baru dia berkata dengan dingin.

"Kau dan aku akan bertarung hingga mati, atau......"

Mata Thio Kong-giok memancarkan sinar terang, lalu berkata dengan dingin.

"Aku masih akan bertukar jurus dengan kakek-kakek itu, mana sabar menghabiskan waktu denganmu, kita bertarung sepuluh jurus dibatasi ruang gerak hanya satu tombak saja!"

Baca Juga: Pendekar Gelandangan Khu Lung

Baca Juga: Pendekar Kembar Gan Kl

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger