Eps 2 Legenda Golok Halilintar - Lan Li
Baca online Legenda Golok Halilintar - Lan Li
Cersil Legenda Golok Halilintar - Lan Li.
Kedua pembantu Hong-tai itu terperanjat setelah mendengar majikannya berbicara begitu terhadap A Bin, mereka berpikir kok majikan.......seperti di rumah saja, terlalu manja, sehingga berani terang-terangan bertanya begitu.
A Bin yang disodorkan pertanyaan itu, mulutnya jadi pahit tidak bisa menerangkan sedikitpun.
Hong-tai merasa A Bin tidak peduli pada dirinya, dia jadi bertambah salah paham terhadap A Bin, kemarahan langsung meledak, dengan satu bentakan, dia menjulur-kan telapak tangannya yang mungil, menyapu muka A Bin.
Bila dilihat dari ilmu A Bin, kecepatan tangan Hong-tai sebetulnya bisa dihindar oleh A Bin, tapi A Bin seperti hilang konsentrasi, diam di tempat tanpa menghindar, maka terdengar suara tempelengan di mukanya.
Suara tempelengan tersebut malah buat Hong-tai terkejut, lain dengan Thio Kong-giok, dia begitu senang, A Bin diam terpaku, Cia Ma-lek mendadak dapat ilham, dia berteriak.
"A Bin, adik bisuku, kau tidak pantas menerima tempelengan itu!"
Mendengar kata Cia Ma-lek, tuan muda Hong-tai seperti tersengat aliran listrik, dia melihat muka A Bin dengan terbata-bata berkata.
"Apa? Kau bi........su........" A Bin tampak bingung setelah rahasia pribadi-nya terbuka. Setelah Thio Kong-giok melihat A Bin di tempeleng oleh tuan muda Hong-tai, dia berteriak-teriak bagus, karena rahasia A Bin terbuka, dia makin girang, sambil menyindir berkata.
"Bagus, ternyata kau seorang bisu, bila tadi aku tahu, aku tidak pantas berduel denganmu!"
Dipermalukan sedemikian rupa, A Bin merasa sangat sedih, api kemarahan tampak dari sepasang mata yang hampir keluar. Tuan muda Hong-tai dengan suara lantang berbalik berkata pada Thio Kong-giok.
"Kau.........tutup kau bicara!"
Mulutmu...............
siapa yang minta Thio Kong-giok yang dimarahi oleh Hong-tai, bagaikan kingkong besar tidak bisa bicara, dia hanya meraba kepalanya, entah harus berbuat apa, diam terpaku.
Hong-tai berbalik pada A Bin berkata dengan suara halus dan lembut.
"Kau.........kau........aku............aku..........."
Mendadak air matanya keluar, dia menangis tersedu-sedu, menutup mukanya memakai lengan baju, cepat berlari menuju halaman belakang. Moi-ji segera memanggil temannya.
"Tiau-ji, mari kita susul!"
Mereka berdua tergesa-gesa pergi.
Biarpun mendapatkan tempelengan dari Hong-tai, A Bin tidak menaruh dendam, malahan merasa iba terhadap sikap Hong-tai yang meninggalkan tempat duduk sambil menangis, Karena dirinya tidak bisa bicara, dia jadi tidak mengejar Hong-tai.
Setelah Thio Kong-giok menyaksikan kepergian Hongtai, dia memuntahkan kemarahannya pada A Bin.
A Bin pun tidak gentar.
Terlebih dahulu dia memberi isyarat tangan pada lembar daun Liong-swie-hiang-yap yang dipegang Cia Ma-lek.
Cia Ma-lek memahami isyarat tangan A Bin, lalu menyerahkan daun itu pada Thio Kong-giok sambil berkata.
"Kau jangan seperti monyet, aku tidak perlu barangmu, ambil kembali!"
Thio Kong-giok dengan cepat merebut kembali daunnya, dengan hati-hati dimasukan kedalam dadanya, dan mukanya segera berobah, berkata.
"Barang turunan raja, mana boleh sembarangan dipinjam paksa, kalian berdua pencuri teri, bila tidak menyerahkan Hiat-san-peng-can untuk ganti minta maaf, aku turunan raja akan memberi pelajaran pada kalian, sampai mampus!"
Mendengar perkataan congkak itu, A Bin dan Cia Maleki marah besar.
Mereka berdua mendapat perintah rahasia dari Yo-po-lo-to untuk datang ketempat ini, justru berniat untuk meredam kesombongan Thio Kong-giok dan kini saatnya telah tiba.
Cia Ma-lek sudah tidak sabar lagi, dengan tingkahnya berkata.
"Bagus, kau sebagai cucu raja burung, lebih pintar menggertak dari pada bandit tua di dunia persilatan, jahat makan yang jahat, bila bukan karena adik Lui tidak mau sembarangan mengambil barang orang, daun busuk tadi tidak akan ku kembalikan! Sekarang tahu-tahu kau malah ingin memeras barang kita."
Kedua pihak sudah memasang kuda-kuda, pertarungan seperti tidak terelakan lagi.
Tamu hotel dan pelayan sudah berdiri di pinggir, menghindar di sudut.
Di saat genting itu, dari luar hotel tergesa-gesa masuk dua orang bertubuh tegak yang berbisik di kuping Thio Kong-giok.
Terlihat Thio Kong-giok tersenyun, langsung berkata pada A Bin.
"Dua pencuri teri, sekarang aku ada janji penting, sementara kuberi ampun, besok aku akan memberi pelajaran pada kalian."
Habis bicara, dia langsung meninggalkan hotel diikuti semua pembantunya.
A Bin terus memikirkan kepergian Hong-tai yang menangis, malah tidak peduli atas kejadian di depan matanya, Cia Ma-leki juga melihat ketidak acuhan A Bin, maka menbiarkan mereka pergi, dengan pertimbangan belum waktunya melawan Thio Kong-giok.
Cia Ma-lek menuntun A Bin kembali ke kamar hotel, sambil berkata.
"Adik Lui, tidak disangka kau dengan tuan muda Hongtai bisa saling terharu, bila salah satunya adalah perempuan, tentu bagus sekali, sayang dua-duanya laki-laki, aku malah belum pernah melihat dan mendengar kejadian aneh ini."
Sambil bicara, mereka berdua masuk kamar, A Bin persis seorang dungu sambil berbaring di ranjang, kedua matanya melihat langit kamar, merenungkan sesuatu, Cia Ma-lek semakin terkejut, dia ingin menghibur A Bin.
Mendadak, pintu kamar diketok orang diikuti suara nyaring berkata.
"Tuan muda Lui dan tuan muda Cia apa ada di kamar? Tuan muda kami sengaja datang untuk minta maaf ?"
Kedua orang itu tahu, itu adalah suara pembantu Hongtai yang bernama Moi-ji, A Bin langsung berdiri dari ranjang, segera menuju pintu kamar.
Cia Ma-lek melihat sekeliling kamar, tidak tampak pemandangan berantakan maka dia turut juga ke depan pintu kamar, ternyata Hong-tai sudah berdiri di depan pintu, matanya masih tampak merah, sangat menarik, mereka berdua dengan A Bin sedang tukar pandang, tapi saling diam.
Moi-ji dan Tiau-ji tersenyum pada Cia Ma-lek, Cia Malek berkata.
"Adik Lui, cepat undang tamu agung masuk kamar, untuk duduk dan ngobrol."
A Bin dan Hong-tai sedikit terperanjat, lalu mereka saling tertawa, A Bin memberi isyarat tangan, mengundang tamunya masuk, mereka bersamaan masuk kamar, Cia Malek juga ingin masuk, tetapi Moi-ji memberi isyarat tangan minta dia jangan masuk dan menghampiri sambil berkata pelan.
"Tuan muda Cia biarkan mereka bicara leluasa, jangan digangu!"
Cia Ma-lek mengerti, dia tidak jadi masuk kamar, di serambi dia bersenda gurau dengan dua anak muda cakap Moi-ji dan Tiau-ji.
Lain cerita.
A Bin mengundang tamunya masuk kamar setelah duduk berhadapan di kursi, A Bin memandang muka tuan muda Hong-tai, hingga muka Hong-tai menjadi merah, malu dipandang terus.
Hong-tai dengan agak menundukan kepala, dengan halus berkata.
"Aku In Hong-tai, tadi tidak tahu Lui Toako tidak bisa bicara, hingga bicara sembarangan, aku merasa menyesal, sengaja datang minta maaf padamu."
A Bin senang sekali melihat roman muka dan penampilan Hong-tai, karena senang, dia memegang tangan kiri Hong-tai, ternyata tangan Hong-tai sangat halus dan licin, seperti tidak bertulang, hingga membuat A Bin tercengang, In Hong-tai tertawa kecil, kepalanya makin tertunduk.
A Bin melihat muka merah Hong-tai seperti seorang gadis, warna kulit leher belakang putih lembut, cahaya matanya seperti salju, dia merasa agak aneh, tapi dia tidak menghiraukannya, dan di atas telapak tangan Hong-tai menggunakan telunjuk menuliskan nama sendiri.
Walaupun dua orang ini baru bertemu, terasa begitu akrab jadinya, satu memakai mulut, satu memakai telunjuk, berbicara panjang lebar, A Bin mendengarkan pengalamanan dan tutur katanya, dia sangat salut pada Hong-tai, begitu juga Hong-tai memandang A Bin yang pintar dan banyak pengetahuan, mereka berdua merasa terlambat bertemu, hingga tidak terasa mereka menghabiskan waktu tiga jam, akhirnya Cia Ma-lek di luar kamar berteriak.
"Tuan muda In! Adik Lui! Kalian telah lama bicara, sudah waktunya makan malam!"
Hong-tai dan Lui Bin baru tahu langit sudah gelap, bersama-sama tersenyum mereka mengundang Cia Ma-lek, Moi-ji dan Tiau-ji masuk kamar, dan telah memesan pelayan hotel untuk mengantarkan beberapa macam sayur dan satu botol arak Kwie-lam, sambil makan sambil cerita, hingga hampir tengah malam, In Hong-tai baru kembali ke kamar sendiri bersama kedua pembantunya.
Meski sudah larut malam, karena bertemu teman yang cocok dengan selera sendiri, A Bin sangat senang, sehingga dia tidak dapat tidur, dia bolak-balik di ranjang, dilihatnya Cia Ma-lek sudah tidur nyenyak, A Bin tertawa sendiri, lalu dia memakai mantel dan keluar kamar menuju serambi.
Waktu hampir jam dua subuh, di langit terang bulan, bintang bisa dihitung, di halaman hotel keadaan sunyi, tiada suara.
A Bin melihat tiga kamar tuan muda Hong-tai di seberang timur, pintu kamarnya terkunci rapat, penghuninya kemungkinan sedang tidur nyenyak.
A Bin baru mendapatkan teman akrab, hatinya sangat senang, segala kepusingannya hilang, maka dia berjalan santai di halaman hotel.
Mendadak hidung A Bin mencium sesuatu wangi yang aneh, dia telah mendapat petunjuk dari Co-siau-yau-cu gurunya tentang wangi yang biasa diguna-kan orang-orang dikalangan aliran sesat untuk melumpuhkan orang dan berbuat tidak senonoh pada korbannya, A Bin meneliti arah wanginya, ternyata dari arah timur, dia berkata dalam hati, celaka, jangan-jangan tuan muda Hong-tai sedang diincar musuhnya.
A Bin menperkirakan bangsat yang membuang dupa wangi itu dari arah luar jendela hotel, maka dia segera meloncat keatas genting, di sana dia diam-diam mengintai ke bawah.
Terlihat oleh A Bin bayangan gelap sudah berbalik tubuh menjauh jendela kamar, dari dalam kamar juga keluar satu sosok orang, diam-diam mengejar orang yang sedang melarikan diri.
Dari bentuk tubuh, A Bin melihat orang belakang yang mengejarnya adalah Hong-tai, dia tidak bisa memberi isyarat, terpaksa meloncat kebawah, menggunakan ilmu mengentengkan tubuh dia mengejar juga.
Dari kejauhan, A Bin melihat orang jahat yang menyebarkan bau wangi ke kamar itu, ilmu meringankan tubuhnya tidak setinggi In Hong-tai, tetapi dia sangat waspada, begitu keluar dari hotel, langsung menyelinap ke gang yang gelap, melarikan diri dengan berputar-putar, biarpun In Hong-tai berilmu tinggi, tetap tidak bisa digunakan dengan leluasa di dalam gang gelap itu, dia hanya bisa menguntip orang itu jangan sampai kehilangan jejak.
A Bin yang terlambat mengejar, sementara tidak bisa mengejar kecepatan In Hong-tai, dia takut membuat suara, sehingga In Hong-tai salah paham dan menghindar darinya, hal itu mengakibatkan orang jahat itu bisa lari jauh, A Bin pun hanya bisa mengikuti secara diam-diam dibelakang.
Tiga orang itu saling kejar-mengejar, tidak lebih dari seperempat jam, akhirnya tampak di depan ada satu kuil yang lumayan besar, orang yang di kejar itu tampak meloncat ke dalam halaman kuil itu In Hong-tai juga tidak ragu-ragu meloncat tembok kuil ikut masuk juga.
A Bin takut In Hong-tai mendapat bahaya, maka tanpa ragu-ragu mendekati tembok, mengangkat tubuhnya, berdiri diatas tembok.
Seluas matanya memandang, dalam tembok terdapat halaman yang luas, sekelilingnya berupa barisan pohon bambu, jejak In Hong-tai dan orang yang dikejar tidak kelihatan, kemungkinan telah masuk ke dalam hutan bambu itu.
Timbul dalam pikiran A Bin, bila dalam hutan itu ada jebakan, adik Innya pasti dalam keadaan bahaya, atas pertimbangan itu, maka dia melupakan dirinya juga dalam bahaya, perlahan dia meloncat ke bawah, men-injak daun yang berserakan di tanah, pelan-pelan maju ke depan, berkat ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, maka langkahnya tidak menimbulkan suara.
Sambil jalan A Bin mengawasi keadaan sekitarnya, lalu terdengar suara teriakan nyaring dari ruang utama kuil itu, jelas itu teriakan dari mulut In Hong-tai, A Bin sangat terkejut, segera menebus ranting pohon menuju dimana suara itu berasal.
Hanya berjalan sekitar tiga tombak, daun bambu di depannya sudah agak berkurang dan hampir keluar lingkaran hutan bambu.
Keluar dari hutan, ternyata A Bin berada di samping ruangan utama kuil, sebuah bangunan kuning emas yang gemerlapan, sangat agung dan hikmad, tidak tampak ada yang mencurigakan, hanya saja sangat sunyi.
Memang tempat orang petapa biasanya demikian.
Dalam remang-remang embun malam, A Bin meneliti sekeliling kuil, tidak terlihat sedikit jejak yang mencurigakan, dalam hati A Bin berpikir mungkin adik In nya sudah masuk kedalam kuil, maka A Bin pun masuk juga ke ruang utama kuil tanpa ada waktu mengagumi megahnya bangunan kuil.
Begitu masuk pintu gedung utama A Bin tercengang, pertama yang dia lihat dilantai ruang tengah, dibawah patung guru Sam-ceng-sian-jin (Thio Sam-hong), ada sekelompok pendeta To kurang lebih sepuluh orang sedang mengelilingi dengan bentuk setengah bersemedi tanpa menghiraukan orang luar.
bulat, duduk A Bin merasa aneh, yang dia tahu jarang ada tosu duduk bersemedi di bawah patung guru pendiri Sam-ceng-siangjin, apa sebabnya?
Tiga guru A Bin Han-yu-sam-lo bukan dari golongan agama, tetapi mereka juga memakai baju tosu, maka A Bin menghormati mereka memberi salam sambil membungkukkan tubuh, memohon maaf atas kedatangan dia tanpa ijin.
Para tosu itu seperti patung dari batu saja, tidak ada reaksi atas kedatangan A Bin, sepertinya tidak mengetahui ada orang masuk ruangan.
Karena A Bin tidak bisa bicara, hanya diam berdiri di tempat diterangi sinar lilin, dengan sepasang matanya memperhatikan para tosu yang sedang bertapa.
Sesudah lama timbul rada curiganya, dia merasakan tosu itu terlalu kaku, seperti bukan orang hidup saja, maka dia melangkah maju lebih memper-hatikan.
Lama memperhatikan, timbul pertanyaan dalam hati A Bin, apakah mereka hidup atau mati?
Karena tidak melihat mulut atau hidung mereka bergerak menghirup udara.
Dengan tidak sabar, dia meraba tubuh seorang tosu yang duduk paling dekat, ternyata suhu badannya sudah turun, seperti gejala baru mati Dengan hati berdebar A Bin memeriksa yang lainnya, ternyata semua tosu juga hampir habis suhu hidup tubuhnya, kelihatan mereka dalam waktu bersamaan meninggal sebelum A Bin datang kekuil ini, A Bin meneliti lagi, tidak ada luka di tubuhnya, entah bagaimana cara meninggalnya.
Menemukan hal yang aneh ini, A Bin lebih mengkhawatirkan nasib Hong-tai.
Dia melirik sekeliling ruangan, sudah tidak ada jejak lain, maka segera dia keluar dari ruangan mencari ke tempat lain.
Baru saja dia berbalik menuju pintu ruangan sekitar dua tombak, terlihat satu bayangan putih masuk ke dalam gedung, berdiri di depan tosu-tosu yang telah meninggal.
A Bin berdiri melihat, ada seorang orang tua berbaju putih, sepatu putih dan rambut kumisnya putih semua, di terang sinar lilin, orang ini tinggi besar bermuka gagah, sayang punya hidung seperti burung elang hingga wajah orang berbaju putih putih ini jadi seram, tetapi rambutnya dibentuk seperti ikatan tosu, potongan baju dan ikatan rambut yang tidak serasi ini, jadi susah ditebak orang ini tosu atau orang biasa?
Begitu masuk orang tua yang berbaju putih melihat pada sepuluh orang yang duduk kaku, lalu menginjakkan kakinya ke lantai dengan keras, dan berkata seperti menyesal.
"Aku terlambat datang selangkah!"
Dia seperti tidak peduli, tidak memandang A Bin yang berdiri tidak jauh darinya.
Diterangi sinar lilin, mata A Bin yang berwarna sukar diketahui orang, A Bin begitu muda, bajunya mewah bagaikcin anak orang kaya, tidak tampak sebagai orang dunia persilatan, hingga jarang diperhatikan pesilat-pesilat tangguh.
Lain buat A Bin, sejak orang tua berbaju, putih ini masuk, dia ingin mengetahui perkembangan selanjut-nya, maka dia diam di tempatnya, tapi timbul banyak pertanyaan dalam hatinya, tempat apa kuil ini?
siapa tosutosu yang duduk kaku ini?
dengan cara apa mereka dibunuh?
Dan siapa orang tua berbaju putih ini?
Dan yang paling membuat A Bin tidak mengerti, ketika orang tua itu memperhatikan para tosu yang kaku hanya tampak penyesalan tetapi tidak tampak kesedihan.
Orang tua berbaju putih itu sedang memperhati-kan satu persatu tosu yang telah mati, berkata sendiri.
"Kelihatan para tosu ini mati karena racun yang dahsyat, tetapi badannya tidak ada luka, kenapa?"
Sejenak dia ragu-ragu, mendadak dia dapat pikiran, dia segera melihat kepala tosu tersebut, ternyata diikatan rambut tosu itu terdapat satu jarum emas yang sangat kecil.
Dari jauh A Bin melihat kejadian itu, dia merasa malu karena pengalamannya di dunia persilatan ternyata masih sedikit, tadi waktu dirinya memeriksa tosu itu, tidak terpikirkan di bawah ikatan rambut bisa terselip satu senjata rahasia berupa jarum emas kecil.
Orang tua berbaju putih itu yang menemukan jarum emas kecil diikatan rambut jenasah pendeta To, tampak sedang diperhatikan di ujung jarinya, sambil termenung.
Bersamaan waktu itu, masuk tiga orang berbaju hitam yang roman mukanya mengerikan, penuh dengan hawa setan.
Orang tua berbaju putih itu segera membalikkan tubuh, memperhatikan mereka sejenak, tanpa bereaksi apapun, diam di tempat.
Ketiga orang berbaju hitam itu diam-diam meloncat menuju tempat orang tua berbaju putih, setelah dekat kurang lebih dua kaki, mereka segera meloncat lagi ke pinggir, gerakannya cepat bagaikan bayangan setan, posisi ketiga orang berbaju hitam menempati tiga penjuru, mengepung orang tua berbaju putih itu dalam kurungan.
Orang tua berbaju putih itu tetap diam, hanya dengan sepasang matanya memperhatikan mereka, tetapi dari sinar matanya waspada, terlihat juga dia tidak berani menganggap enteng orang tersebut.
Kedua pihak seperti patung batu saling pandang, tidak ada seorangpun yang bicara, tanda-tanda membuka kebisuan juga tidak dilakukan.
Sejak A Bin masuk ruangan ini, yang dilihat dan didengar makin menarik, keingintahuan selanjutnya membuat dia untuk sementara melupakan tugas mencari In Hong-tai, tetapi ditempatnya memperhatikan situasi.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, satu diantara orang berbaju hitam menggunakan tangan menunjuk tosutosu yang terpaku di lantai, selanjutnya menunjuk orang tua baju putih dengan muka garang, seperti menanyakan tosu itu apa dibunuh orang tua berbaju putih.
Orang tua baju putih itu tidak sudi menjawabnya, hanya tertawa sinis sambil geleng-geleng kepala.
A Bin yang melihat dipinggir merasa geli juga, apa mungkin tiga orang baju hitam itu seperti dia, bisu juga, ditambah tuli, membuat A Bin mereka-reka kenapa mereka diam saja.
Ketiga orang baju hitam itu sepertinya tidak percaya atas jawaban orang tua baju putih, salah satu diantara orang itu membalikkan tubuh menghampiri mayat tosu itu, seperti orang tua itu berbaju putih dia memeriksa mayat itu tapi tidak mendapat hasil apa-apa.
Sedang dua orang baju hitam lainnya tetap mengawasi orang tua berbaju putih, mengawasi jangan sampai dia menyerang.
Orang baju hitam yang memeriksa mayat tosu seperti tidak sabar, beberapa kali menggeladah tanpa hasil amarahnya jadi meledak, dengan angin telapak tangannya, dia mengebut mayat-mayat tosu itu, tidak perlu waktu lama, sudah setengah mayat tosu pada roboh ke lantai, rambut, bajunya berantakan, membuat suasana mengerikan dalam ruangan.
Orang marah itu kebetulan berpapasan mata dengan A Bin, dia jengkel melihat mata A Bin yang mengawasi perbuatannya, dalam tenggorokannya keluar bunyi seperti suara gorila marah, ingin berbuat sesuatu terhadap A Bin.
Dua orang baju hitam lain tampak lebih sabar, melihat situasinya, mereka merasa musuh yang perlu diawasi adalah orang tua yang berbaju putih, buat apa pedulikan anak kecil yang kelihatan tidak ada apa-apanya, mereka segera mengeluarkan isyarat butiran beras yang dilepaskan dari ujung jarinya, menghalau temannya untuk kembali ketempat semula.
Orang tua berbaju putih itu menggunakan kesempatan tiga orang baju hitam itu sedang lengah, dengan sekali tertawa dingin, dengan cepat melesat ke depan dua orang baju hitam yang jaraknya kurang lebih dua kaki menggunakan kedua tangannya, menyerang mereka di bagian tiga titik penting tubuh manusia.
Kedua orang itu sebetulnya sudah waspada pada orang tua berbaju putih, karena kelalaian sejenak, sehingga mengundang orang tua itu menyerang mereka, berkat ilmu meringankan tubuhnya cukup tangguh, mereka dapat menghindar.
Begitu kedua orang baju hitam itu terdesak orang tua berbaju putih menggunakan kesempatan, bergerak maju lagi, kedua telapak tangannya saling bergantian mengeluarkan angin kencang, dalam satu jurus sudah menyerang kedua orang lawannya.
Kedua orang baju hitam mengetahui mereka telah bertemu lawan berat, maka empat tangannya bersamaan digerakan untuk menyelamatkan diri, menutup tempatempat penting di tubuhnya sambil mundur, temannya yang berhadapan A Bin segera merobah siasatnya, dengan satu loncatan balik, dia sudah mendekati orang berbaju putih, lalu menusuk punggung orang tua berbaju putih, membantu temannya yang terdesak.
Ternyata kepandaian orang yang berbaju hitam itu cukup hebat, tenaga jurusnya pun sangat dahsyat, tapi orang tua yang baju putih itu masih tetap tertawa sinis, tubuhnya melesat sedikit kesamping, lalu mengeluarkan telapak tangan kiri menghadang orang yang berbaju hitam yang ke tiga, bersamaan kedua telapak tangan merobah jurusnya dengan cepat, terlihat tenaga dari jurus telapaknya mengeluarkan angin keras dan geledek.
Jurus ini bukan saja mengandung pertahanan yang kuat juga menyerang tiga orang dengan tenaga bertambah besar, bagaikan tenaga halilintar yang sangat dahsyat, bergulunggulung diudara.
Dari tiga orang baju hitam itu, hanya satu orang yang bisa menyerang tetapi dia tidak menyangka orang tua yang berbaju putih itu bisa menambah tenaganya berlipat lipat, sementara dia jadi tidak berdaya, yang dua temannya lagi masih di bawah tekanan lawan, dan sekarang setelah bertemu dengan tenaga kuat seperti gunung runtuh, mereka tidak bisa bertahan lagi, bersama-sama mundur kebelakang, kedua telapak tangan mereka mengeluarkan jurus untuk melindungi diri sendiri, menutup rapat rapat tempat-tempat yang berbahaya, tetapi orang tua baju putih itu terlalu kuatbuat mereka, dia terus mengejar kedua orang baju hitam itu mendesak hingga mundur beberapa langkah dan tangan mereka mengeluarkan lima jurus, dan beruntung setelah orang ketiga berusaha mati matian menyerang orang tua baju putih dengan jurus berbahaya untuk membatasi sebagian tenaga orang tua itu, mereka baru bisa menahan satu jurus saja.
Orang tua baju putih itu sambil tertawa sinis sambil melambaikan kedua telapak tangan, terlihat dua arus tenaga menyerang ketiga orang baju hitam, sebentar diatas sebentar dibawah, kadang di depan lalu berobah di belakang, kecepatan jurusnya jarang terlihat di dunia, dalam seekejab mata saja dia sudah menggunakan sepuluh jurus lebih.
A Bin melihat di pinggir, dia tahu bahwa orang baju putih dan lawannya mempunyai ilmu tinggi dan mereka sangat mahir menggunakan jurus.
Tetapi orang tua baju putih ini kelihatan lebih tinggi setingkat dari tiga lawannya, kebetulan dia dapat merebut inisiatif menyerang dulu di waktu tiga lawannya terpencar pikiran mereka, sehingga dua lawannya hanya bisa bertahan, bila betul betul ketiga orang itu bersatu, orang tua baju putih itu juga tidak akan begitu gampang menang.
Sedang asyiknya ABin berpikir, terlihat baju ketiga orang baju hitam itu terlayang layang, sepertinya mereka berada diatas puncak bukit terkena terpaan angin, jurus orang1 tua itu lebih cepat, maka tenaga anginnya makin keras.
Selang bertarung sesaat, orang tua baju putih itu menambah lagi tenaga serangannya, maka ketiga lawan-nya seperti terkurung dalam lingkaran badai, sehingga membuat lawannya kelabakan, selain yang dikiri, kedua orang yang sudah berat bertindak, sudah berada dalam keadaan bahaya, belum lagi lewat lima jurus, salah seseorang sudah meingis kesakitan karena terkena pukulan, dan tubuhnya jatuh terpental beberapa tombak.
Kedua orang baju hitam lainnya bersamaan terkejut, melihat temannya terluka, sehingga jurus mereka makin kacau, tampak sekali siapa yang akan menang dalam pertarungan ini sudah jelas.
Tetapi orang tua baju putih itu malah memper-lambat serangannya, dan matanya melihat-lihat kearah pintu gedung.
Bersamaan itu A Bin juga melihat dari luar gedung datang lagi tamu tidak diundang.
Orang ini bermuka bengis, dari gerakannya terlihat ilmu silatnya sangat tinggi, lebih tinggi dari ke empat orang yang bertarung.
Kelihatan orang tua baju putih dan dua orang baju hitam itu merasa gentar pada tamu yang baru datang itu, sehingga mereka bersamaan berhenti berkelahi dan memandang orang itu.
Orang itu memandang orang tua baju putih, tertawa dengan sinis, katanya.
"Po-heng datang duluan......"
Mata angkernya memandang sejenak para tosu yang duduk dan tertelungkup dilantai berkata lagi.
"Kelihatannya Po-heng sudah berhasil!"
Orang tua baju putih itu menyembunyikan rasa takutnya, dengan muka dingin berkata.
"Kongsun-heng adalah orang kuat nomor satu di negeri barat, apa pantas berkata ceroboh demikian, apa kau tidak melihat para tosu itu telah terkena oleh pukulan tiga Tuli dari Bu-ie, dan mereka yang mati kaku bukan karena tangan aku. He he! Hal ini, aku ingin mencoba ilmu Kongsun-heng, mohon kau teliti, mereka mati karena jurus apa?"
Orang tua Kongsun biarpun telah dilecehkan dan disindir oleh orang tua baju putih, tetap tidak berobah roman mukanya, hanya dalam sepasang mata-nya terpancar niat membunuh, dengan masih tertawa dingin dia.
berkata.
"Bila Po-heng ingin mencoba ilmuku, aku menurut saja!"
Habis bicara, dia langsung mendekati salah satu tosu yang duduk kaku, melihat dari kedua tangan, punggung tosu itu dengan teliti, tidak bersuara, kelihatan ada masalah yang menyulitkan.
Orang tua baju putih Po tidak melepaskan kesempatan ini, dia menyindirnya, beberapa kali tertawa sinis berkata.
"Kelihatan punya nama tersohor, orang bijak berhati ular Coa-sim-cu-kat (Orang pintar berhati ular) Kongsun-heng, kali ini juga......"
Kata-katanya belum selesai, terlihat mata orang tua Kongsun seperti menemukan sesuatu, segera dia tertawa terbahak-bahak.
"Po-heng jangan gembira dulu, aku telah menemukan titik luka tosu-tosu itu!"
Dengan tertawa bangga dia mengeluarkan tangan membuka ikatan rambut tosu, dengan teliti memeriksanya.
Orang tua baju putih Po merasa malu sendiri, diri sendiri lupa membereskan kembali rambut tosu itu, Saat mengambil jarum emas pada kepala mereka, orang yang mempunyai nama Coa-sim-cu-kat, pasti bisa menemukan jejak.
Betul juga Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau segera menemukan luka diatas kepala tosu.
Dengan tertawa riang berkata.
"Ternyata tosu-tosu ini mati karena jarum racun, luka kecil ini selain jarum terbang, tidak ada senjata rahasia lain yang bisa melakukan, melihat di dunia persilatan yang bisa menggunakan ilmu jarum terbang tidak seberapa banyak orang, tetapi dalam waktu sangat singkat mengambil nyawa tujuh belas tosu di kuil Cu-sia, hanya bisa dihitung dengan jari saja.
Yang aku tahu, Sin-jiu Jiu-kim-ciam, Oey Hosung1 (Dewa tangan jarum emas.) adalah orang pertama, tetapi ilmu melepaskan jarum dia selalu tidak beracun, pilihan kedua adalah Tiat-ci-nio-cu Pian Giok-ih, tetapi nenek ini sudah sepuluh tahun tidak muncul di dunia persilatan, dan dia tidak akan kemari, mencari gara gara kepada para tosu tua ini.
Dan beberapa orang lagi tapi belum sampai tingkat sedemikian tinggi, tahun-tahun yang lampau Po-heng sudah mendapatkan jarum-jarum emas itu.
"Bila tidak keberatan, aku ingin pinjam lihat sebentar jarum emas itu. Aku bisa menduga sekitar delapan puluh persen, siapa orangnya!"
Orang she Po sekali lagi tertawa sinis, katanya.
"Baik! Bila Kongsun-heng berkata demikian, aku berikan jarum emas itu, silahkan periksa!"
Dan dia menggoyangkan tangan kanannya, sepuluh lebih jarum emas berbentuk jala emas menyerang seluruh tubuh Kongsun Pau.
Dia menggunakan cara yang sangat sempurna, asal terkena satu saja jarum emas itu, lawannya akan seperti tosu-tosu itu segera mati ditempat.
Mengetahui lawannya sering berbuat licik, maka Kongsun Pau selalu berjaga-jaga, disaat lawan menggoyangkan tangan kanannya, dia sudah membuka kedua lengan bajunya mengeluarkan tenaga berputar, sehingga jarum emas yang bertebaran menyerang langsung masuk ke dalam lengan baju.
Jurus yang digunakan Kongsun Pau, dinamakan Ban-liucui-tong, (selaksa aliran kembali ke asalnya) jurus ini membuat bengong orang-orang yang ada di dalam gedung, orang tua baju putih, tiga bisu dari gunung Bu-ie, dan A Bin, terkejut dengan ilmu silat Kongsun Pau yang sempurna.
Kongsun Pau sudah menduga, bila jarum emas beracun itu bertemu darah pasti akan mengunci tenggorokan, tetapi jika mengenai kulit saja tidak akan apa-apa, maka dari lengan bajunya dia mengeluarkan satu jarum emas, sambil tertawa sinis mengejek.
"Tadi aku telah salah bicara, aku belum mengetahui dunia ini ternyata masih ada satu orang yang bisa menggunakan ilmu jarum emas sedemikian sempurna, itulah Po-heng."
Sambil bicara, matanya melirik jarum yang dipegang jarinya, dengan tertegun bersuara.
"Ih...."
Orang she Po, A Bin dan tiga bisu dari gunung Bu-ie memandang orang tua Kongsun yang mukanya tampak heran atas penemuannya.
Kongsun Pau membolak balik melihat dua kali jarum emas beracun itu, lalu berkata terbata-bata.
"Jarum emas ini ternyata bukan benda yang digunakan orang-orang yang disebut tadi, dan........."
Dia tidak melanjutkan perkataan malah berteriak kearah luar gedung.
"Teman dari mana! Bila sudah datang terus-terang saja keluar bertemu kita, apa......."
Perkataannya belum habis, di luar gedung telah bergema ucapan budha, bersama suaranya tampak seorang hweesio melayang masuk, semua orang terkejut melihat kedatangan hweesio besar ini.
Orang ini mukanya agak aneh, kepala besar seperti lebar daun pisang, kupingnya panjang hampir menyentuh bahu, matanya agak masuk ke dalam kelopak mata, sepasang mata bercahaya, semangat penuh, mukanya penuh dengan tertawa dan hawa seorang beragama tinggi, tetapi tidak bisa menutupi aura sadis dalam pandangan sepasang matanya.
Jurus lompatan yang cepat, orang susah melihat dia dengan jurus apa dia masuk gedung, baju jubah yang besar, tetap tidak bergoyang sedikitpun.
Kongsun Pau menenangkan pikiran, lalu berkata dengan nada aneh.
"Bu-ih Taysu juga mau menampakan diri."
Kuil Cu-sia ini harus bangga menerimanya. Bu-ih Taysu tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Aku dari aliran agama, tetapi memperdalam ilmu agama lain dengan pendeta biasa, tidak pantang segala tetek bengek duniawi, semasa hidup senang mencari tempat ramai. Bila kuil Cu-sia hari ini ada Coa-sim-cu-kat (Orang pintar berhati ular) Kongsun Pau, Po Kong-hoo, tiga tuli she Sung dari gunung Bu-ie, sudah pantas disebut pesta besar, aku datang kesini juga tidak sia-sia."
A Bin yang mendengar kata-kata mereka, menjadi panasaran karena dianggap remeh Bu-ih Taysu sebagai salah satu jagoan dari dunia persilatan, nama-nama Kongsun Pau, Po Kong-hoo, dan tiga tuli dari Bu-ie-san sudah termasuk pesilat-pesilat tinggi dan ternama didunia persilatan, tapi kenapa mereka datang kekuil Cu-sia, dan siapa yang melepaskan jarum emas beracun pada tosu-tosu kuil ini, kemungkinan ada sesuatu gairah yang mengundang mereka datang kekuil ini, Dipikirkan lagi oleh A Bin, siapa yang menaruh obat bius ke kamar Hong-tai di malam hari, yang akan mencelakakan penghuni hotel Su-hai, dia kelompok orang jahat yang mana?
Apa ada hubungan dengan tosu-tosu di kuil Cu-sia ini?
Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau sudah menduga kedatangan Bu-ih Taysu tidak bermaksud baik, untuk mengusirnya tidak cukup dengan sepatah dua patah kata, jika rahasia kuil Cu-sia ini sampai bocor keluar, dalam waktu lama, entah berapa banyak lagi jagoan-jagoan di dunia persilatan yang akan berbondong bondong datang ke kuil ini, maka timbul rencana dalam pikiran ingin dengan siasat menghalau harimau mener-kam srigala, mengadu donba orang lain, membuat dia sendiri mendapatkan manfaat.
Orang yang mendapat julukan orang pintar siasat dari daerah barat, Kongsun Pau menampilkan tertawa sinisnya, katanya.
"Kalau demikian, Bu-ih Taysu datang kesini, sama seperti maksud kita orang, ada sesuatu yang diinginkan, tetapi sayang anda terlambat selangkah."
Bu-ih Taysu telah mengetahui bahwa Kongsun Pau punya banyak akal licik, maka dia tidak terlalu percaya pada ucapannya, maka dengan tidak tampak antusias berkata.
"Aku ingin mendengar orang mana yang mendahului kita, mendapatkan buku silat dari Tiat-hoan-lo-to, dan membunuh sepuluh orang lebih tosu disini untuk menutup mulut-mulut mereka, supaya rahasia tidak bocor?"
Kongsun Pau dengan mata berkedip, tertawa licik. "Sayang aku juga terlambat datang, hal ini lebih baik tanya pada Po-heng atau tiga tuli dari Bu-ie-san!"
Sementara itu seorang yang terluka dari tiga tuli sedang beristirahat, sedang yang dua lagi tidak bisa mendengar-kan perkataan orang, tetapi mengeti dari gerakan mulut orang, tiga bersaudara sudah mengetahui Bu-ih Taysu ini susah dilayani, dia adalah musuh yang paling berat, di depan matanya mana mau membuat dia curiga, maka mereka membuang pandang-an mata pada muka Po Kong-hoo.
Pandangan mata tiga bersaudara tuli itu memberi isyarat bahwa Po Kong-hoo adalah orang pertama masuk gedung, menjadi tersangka penbunuh tosu-tosu dan yang mengambil buku ilmu silat itu.
Bu-ih Taysu tidak bicara, hanya memandang sejenak muka Po Kong-hoo dengan mata tajamnya.
Orang tua baju putih Po Kong-hoo merasa dingin ketika dilirik sejenak oleh Bu-ih Taysu, dalam hatinya berkata jangan cari masalah dengan hweesia ini, dia memaksakan batuk sedikit, merobah sifat dingin yang ada sejak masuk gedung, terpaksa dia berkata.
"Memang betul aku yang pertama masuk gedung ini, tetapi puluhan tosu disini sudah di bunuh orang duluan oleh jarum emas, bila Tay-suhu tidak percaya, ada dua hal yang bisa jadi saksi.
Satu adalah yang telah mengambil jarum emas diatas ikatan rambut tosu-tosu itu, sekarang jarum itu dipegang oleh Kongsun-heng, dan satu hal lagi adalah anak muda yang berdiri disana yang lebih dulu datang ke gedung ini, dia bisa menerangkan bahwa katakataku tidak bohong.
Sambil bicara Po Kong-hoo menunjuk pada arah A Bin.
Pandangan mata semua orang melirik ke A Bin.
Bu-ih Taysu tercengang juga, segera melirik seluruh tubuh A Bin, dengan suara terpendam berkata.
"Anak muda, kau datang kekuil ini untuk apa? Siapa yang suruh kau datang kesini?"
A Bin sudah menebak Bu-ih Taysu ini orangnya sadis, biarpun kata-katanya sopan, tetapi sinar matanya memancarkan jiwa garangnya, diam-diam dia musatkan tenaga dalam untuk menjaga diri.
Bu-ih Taysu menyaksikan A Bin tidak menjawab, dikira dia betul-betul berani membangkang, mukanya tambah berseri-seri, semua orang tahu bahwa semakin hweesio iblis ini tertawa, niat membunuhnya makin besar, menduga dia akan segera mencelakakan A Bin, mereka sebagai jagoan silat mana ada jiwa iba menolong yang kecil dan lemah, tapi melihat niat jahat Bu-ih Taysu semua jadi diam, tidak berusaha sedikitpun.
Bu-ih Taysu sebagai jagoan ternama, jarang ceroboh dalam bertindak, sambil menghampiri A Bin, sambil melirik A Bin dari atas kebawah, hingga dalam cahaya sinar lilin dia melihat mata A Bin yang bermata hijau, baru dia terkejut dan berhenti melangkah.
Hweesio iblis ini melalui pandangan mata hijau A Bin, mengetahui bahwa anak muda ini bukan orang sembarangan, dan terpikir kembali, kenapa anak muda ini didepan jagoan-jagoan dunia persilatan begitu tenang, pasti dia punya sesuatu andalan, dilingkungan banyak lawanlawan yang tangguh, tosu ini tidak mau berbuat konyol, gegabah berbuat sesuatu, sehingga memberi kesempatan pada lawan.
Maka ditempat yang dia berdiri, memalingkan setengah posisi badannya, sambil tertawa sinis berkata pada semua orang dalam gedung,.
"Kalian semua adalah jagoan dari dunia persilatan, tetapi hari ini mata kalian telah tertutup, sehingga tidak melayani tamu agung di depan mata."
Semua orang sudah tahu bahwa Bu-ih Taysu sudah berpengalaman, ilmu silatnya tinggi, pengetahuan dan akalnya lebih tinggi dari semua orang yang ada dalam gedung, bila tidak yakin betul, dia tidak akan sembarang bicara yang akan ditertawai orang lain, maka penilaian dia terhadap A Bin, membuat semua orang melihat A Bin dengan muka bengong.
Dalam hati A Bin memarahi hweesio iblis itu, karena cerdik dan teliti telah mengetahui dirinya berilmu tinggi.
Tetapi Bu-ih Taysu tidak berani menempuh resiko menantang A Bin, maka berusaha mengadu domba pesilat lain, agar menghadapi A Bin agar dapat mengambil keuntungan.
Ternyata tebakan A Bin betul, Bu-ih Taysu sambil tertawa dingin berkata lagi.
"Tamu agung kita ini lebih pagi datangnya dari saudara Po, bila dia bukan orang yang menggunakan jarum emas itu, jadi susah mengetahui siapa yang berbuat?"
Po Kong-hoo ingin cepat mencuci namanya, tidak percaya A Bin anak muda begini, bisa menpunyai ilmu lebih tinggi dari pada dirinya, sebagai ketua perguruan, maka tubuhnya menghampiri A Bin, sambil membentak.
"Bocah, cepat katakan segala yang kau ketahui!"
A Bin tidak senang melihat tingkah laku Po Kong-hoo sebagai ketua perguruan silat, malah takut pada yang kuat menghina yang lemah, maka A Bin tidak melayani orang tersebut, hanya memandang dingin saja.
Po Kong-hoo sebagai seorang ketua perguruan yang punya ilmu tinggi melihat A Bin begitu tangguh dan acuh saja, malah terkejut juga, tidak berani berbuat gegabah, dia berhenti melangkah, dan nada katanya lebih lunak berkata.
"Kau datang lebih duluan dari aku, semestinya tahu siapa yang melepaskan jarum emas membunuh tosu-tosu ini, kau pasti mendengar nama-nama kami, kau harus tahu, di depan kita orang tidak boleh berbohong, lebih baik cepat jelaskan!"
Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau melihat ada kesempatan, dia berbicara mengadu domba.
"Adik cilik, apa kau tahu yang bertanya padamu adalah ketua Heng-san-pay yang tersohor namanya kakek putih Po Kong-hoo, Po-tayhiap, kau hati-hatilah bicara, jangan sampai dia marah!"
Perkataan Kongsun Pau yang penuh nada adu domba dan sindiran, terang-terangan ditujukan pada A Bin, tetapi arti ucapannya menyindir Po Kong-hoo apa berani bartanding dengan A Bin.
Po Kong-hoo biarpun takut bertindak, tapi di Hadapan anak muda yang belum punya nama dia tidak boleh memperlihatkan sikap ragu-ragu dan rasa takut, dengen nada sinis berkata.
"Kongsun-heng sengaja membuat aku marah pada anak muda ini supaya bertarung, agar kau dapat keuntungan, tetapi ingat! disini masih ada Bu-ih Taysu, tidak akan membiarkan kau meraih keuntungan."
Sudah jelas kata Po Kong-hoo itu mengisyarat-kan pada Kongsun Pau, lawan yang paling berat adalah Bu-ih Taysu, kau sengaja supaya orang lain bertarung, akhirnya kau juga bukan lawannya Bu-ih Taysu, buat apa berpikiran begitu.
Dia mengisyaratkan juga pada Bu-ih Taysu, bahwa Kongsun Pau orangnya sangat licik.
Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dan Bu-ih Taysu adalah orang -orang yang tidak gampang naik darah, kata-kata Po Kong-hoo telah menyentuh hati mereka.
Tetapi kedua orang ini tidak memperlihatkan pikiran dalam hati di tampilkan di wajahnya, dua-duanya saling tertawa, Kongsun Pau berkata duluan.
"Po-heng bermaksud mengadu domba persaha-batan aku dengan Tay-su?"
Bu-ih Taysu juga tertawa sinis berkata.
"Po Sicu, lebih baik selesaikan dulu pekerjaan di depan mata, kau pasti sibuk melayani orang, mana bisa perhatikan lagi pada aku dan tuan Kongsun."
Kata hwesio iblis itu sudah jelas mengisyaratkan Po Kong-hoo belum tentu bisa melawan A Bin, kata ini membuat Po Kong-hoo terkejut dan marah.
Terkejutnya karena dia apa betul salah lihat anak muda yang dari tadi diam saja, tetapi bagi seorang pesilat tinggi, marah karena kata-kata Bu-ih Taysu terlalu jahat, membuat dia terpaksa bertarung dengan A Bin.
Karena terdesak oleh situasi, biarpun lawannya setangguh Bu-ih Taysu, Po Kong-hoo juga harus turun tangan juga, yang jelas dia tidak percaya bahwa A Bin betul-betul hebat.
Ketua Heng-san-pay ini maju selangkah lagi, dengan kedua matanya memperhatikan mata A Bin, dari bayangan gelap terlihat mata A Bin yang hijau, Po Kong-hoo terkejut, dalam hatinya merasa sedikit gentar.
Po Kong-hoo memusatkan tenaganya, dan berteriak pada A Bin.
"Kau anak muda siapa gurumu? Datang kesini ada maksud apa? Bila tidak cepat berkata, jangan salah-kan aku berbuat kejam!"
Muka A Bin tetap dingin, tidak pedulikan ucapannya. Po Kong-hoo sangat marah, berteriak lagi.
"Kau betul-betul kurang ajar, lihat pukulanku, bagaimana rasanya!"
Dia tidak berani menganggap enteng lawannya, maka memusatkan tenaga dalamnya hingga tujuh puluh persen, mengangkat telapak tangan kirinya ingin memukul kepala A Bin, tetapi baru saja tangannya diangkat, kepalanya merasa pusing, mata menjadi buram, tubuh seperti mau jatuh, tangan yang diangkat tinggi seperti tidak bertenaga lalu turun lagi dengan lemas, Po Kong-hoo cepat-cepat memusatkan pernapasan karena sudah tidak berdaya memukul lagi.
Orang-orang yang berdiri dibelakang Bu-ih Taysu, Coasim-cu-kat Kongsun Pau dan tiga tuli dari Bu-ie-san mengira kakek putih Po Kong-hoo terluka oleh senjata rahasia A Bin, semuanya pada terkejut, A Bin punya senjata rahasia sehebat apa, sehingga dalam satu jurus bisa melukai Po Kong-hoo.
Semua orang iri pada A Bin, umurnya masih begitu muda sudah menguasai ilmu sedemikian hebat, mereka bersamaan ingin membunuh A Bin.
Mendadak terdengar suara tertawa sadis di salah satu sudut ruangan.
"Kalian semua telah terkena racun Cap-poh-bi-hun-hiang (Dupa lupa ingatan sepuluh langkah), cepat duduk bersila, tunggu perintah, bila tidak mendengarkan nasibnya akan seperti Po Kong-hoo."
Perintah, Kata-katanya sadis dan menakutkan, melebihi kata-kata Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau, kata-katanya jelas, menusuk telinga, membuat hati masing-masing merasa dingin.
Bersamaan waktu, terdengar suara benda jatuh "Bruk"
Ternyata Po Kong-hoo sudah tidak tahan berdiri, seluruh tubuhnya lemas, kakinya tidak bertenaga menopang tubuhnya sehingga jatuh kelantai.
Jago-jago dari persilatan biasanya mempunyai pandangan mata yang bagus, tetapi mereka tidak dapat melihat jelas orang yang bicara tadi.
Mereka berpengalaman lama, mencoba merasa-kan dengan hidung masing-masing, ternyata ada satu macam bau wangi yang sangat ringan masuk ke hidung, bila tidak diperhatikan susah mengetahui itu adalah racun.
Mereka mengartikan kata-kata orang tadi, Cap-poh-bihun-hiang, pasti orang yang terkena racun dupa itu dalam sepuluh langkah pasti ambruk.
Contohnya Po Kong-hoo, karena marah pada A Bin, ingin menghajar lawan dengan gerakan berantai, mengakibatkan racun dupa itu menyerang dengan cepat, sehingga dia lumpuh di tempat.
Semua orang pada ragu-ragu sejenak, lalu mereka diam tidak berani bergerak sembarangan.
Suara dingin bagaikan angin dingin seperti es berkata lagi.
"Saat kalian masuk kuil Sam-ceng-tiam telah kena racun yang kami campurkan dalam api lilin, racun Cap-poh-bihun-hiang tidak akan membuat kalian mati, tetapi bila sembarangan bergerak, bisa langsung lumpuh tidak dapat bergerak, seperti Po Kong-hoo, bila dalam satu jam tidak ditolong, semua ilmunya akan musnah, dan selamanya akan lumpuh total, bila kalian tidak percaya, coba masingmasing bernapas, teliti lagi apakah dalam harum dupa itu terdapat harum lain!"
Harum lain dari asap lilin, semua jagoan telah menghirupnya, sekarang setelah dicoba lagi ternyata ada rasa lain dari hisapan hidung, semua orang mengetahui bahwa kata orang itu bukan sembarang gertak.
Dalam keadaan bahaya Bu-ih Taysu tetap ber-sikap tenang, dia berbicara keras.
"Teman dari mana! Kalian begitu memperhati-kan kami, pasti ada satu pesan, apa lebih baik kita bertatap muka, biar kita bisa rundingkan dengan baik."
Terdengar suara tertawa dan dingin.
"Kalian tenang saja, kita pasti bertemu, hanya ada dua jalan untuk pilihan. Satu jalan potong kepala sendiri, satu jalan lagi menyerah pada aliran kami Jian-kin-tiauw, patuh seumur hidup tanpa membangkang."
Semua jagoan dalam gedung mendengar kata-kata orang itu, telah mengetahui bahwa musuh dalam sekeliling kuil ini sangat banyak, mereka merasa aneh baru hari ini mendengar nama Jian-kin-kau-tiauw, sebelumnya belum pernah ada orang menbicarakan, tetapi cara menaruh dupa racun itu adalah pekerjaan organisasi yang rapih, bila ternyata tosu-tosu yang dibunuh oleh jarum emas juga perkerjaan orang Jian-kin-kau-tiauw, itu pasti lebih mengerikan.
Semua jago-jago itu adalah orang-orang telah banyak makan asam garam, pintar menyesuaikan diri, tapi sekarang saatnya tidak tepat menjadi jagoan, bila dengan kata-kata kasar memancing musuh keluar dari persembunyiannya, itu hanya mencari masalah, maka semua pada diam, tidak menjawab.
Mendadak di ruangan terdengar suara tertawa keras yang bergema bernada gembira.
Semua mata jagoan menuju sudut suara itu, terlihat serombongan orang keluar dari sudut timur utara ruangan gedung.
Jalan ditengah rombongan ada seorang berbadan sedang, memakai baju panjang warna emas muda, mukanya dibalut kerudung kepala warna emas, hanya terlihat sepasang mata yang bersinar penuh, memancar-kan kecerdasan dan kekejaman.
Dia diapit kiri kanan oleh empat orang berbaju perak, mukanya juga ditutup kerudung berwarna perak.
Rombongan lima orang itu menghampiri tempat jagoanjagoan berdiri, kelihatan orang berbaju emas sebagai pemimpin dari1 mereka, sebelumnya jalan bersamaan, kemudian ternyata empat orang baju perak ini pengawal yang baju emas.
Tiga tuli dari Bu-ie-san paling ceroboh, diantara satu orang itu menunggu rombongan lima orang lawan mendekat, mendadak loncat dan lari kedepan, di waktu dia loncat keatas sambil mengeluarkan pena perak dari punggung dan dipegang ditangan.
Melihat ada orang meloncat keluar, seorang pengawal baju perak di sisi kiri tertawa sinis, dia meloncat ke depan juga, mulutnya membentak, telapak tangan kanannya di dorong ke depan menghadang penyerang.
Ternyata satu orang tuli dari Bu-ie-san ini tidak bisa menghindar, dada depannya terkena pukulan telapak, tanpa sempat merintih sakit tidak dia sudah jatuh ke arah belakang, ambruk dilantai.
Semua jagoan pada terkejut, dengan ilmu silat yang di kuasai Tiga tuli dari Bu-ie-san, biarpun bertemu orang berilmu tinggi di dunia persilatan juga tidak mungkn hanya satu jurus sudah ambruk diserang lawan.
Kemungkinan racun dalam "Dupa lupa ingatan dalam sepuluh langkah"
Telah bekerja sedemikian hebat. Orang yang berbaju emas berkata dengan dingin.
"Siapa lagi yang mau bertindak, Tuli ini jadi contohnya!"
Semua jagoan pada miris, tidak ada orang yang berani gegabah bertindak.
Lima orang yang berkerudung muka sama sekali tidak melihat keadaan jagoan, pelan pelan melewati barisan mereka, dengan santai lewat tanpa takut di serang secara mendadak.
Bu-ih Taysu, Kongsun Pau dan Dua Tuli dari Bu-ie-san melihat ketenangan lawan, makin tidak berani bertindak, dan melihat seorang dari Tiga Tuli Bu-ie-san ambruk dalam satu serangan, membuat mereka makin waspada, dan membiarkan lima musuh dengan angkuh melewat di depan mata, ternyata lima orang berkerudung muka itu menuju tempat A Bin berdiri.
A Bin juga tidak mengerti, kenapa lima orang berkerudung muka ini, tidak menghiraukan kehadiran jagoan jagoan seperti Bu-ih Taysu, Kongsun Pau, malah memperhatikan dirinya yang belum ternama di dunia persilatan dan asal usulnya juga belum jelas.
Yang menyaksikan di tempat lain, Bu-ih Taysu Kongsun Pau juga terkejut, menaksir A Bin sebagai orang penting.
Lima orang yang berkerudung muka berjalan menuju tempat A Bin, kakek putih Po Kong-hoo yang terluka persis menghalangi jalan mereka, salah seorang orang baju perak menganggap dia ketua Heng-san-pay itu sebagai barang bekas saja, dia langsung ditendang hingga satu kaki, badannya terpuruk dilantai.
Bu-ih Taysu, Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dan Dua Tuli dari Bu-ie-san, semua orang tidak bersahabat dengan Po Kong-hoo, tetapi melihat dia dipermalukan demikian, didalam hati masing-masing timbul rasa iba (rasa seperti musang menangisi kelinci mati), semua khawatir akan nasib diri sendiri dibelakang nanti.
A Bin juga tidak suka dengan penampilan Po Kong-hoo, tetapi karena dia terluka dulu oleh racun, bukan karena ilmu silat dia tidak baik sehingga di hina orang lain, A Bin marah, kedua mata melotot dengan marah pada lima orang yang berkerudung muka.
Orang baju emas mengetahui A Bin sedang marah, sambil tertawa sinis, berkata.
"Anak muda bisu, kau melihat kejadian yang tidak enak ya? Kau sekarang juga tidak bisa apa apa, tapi masih ingin membela orang? Kau benar-benar keterlaluan, ingin ikut campur urusan orang lain, sebentar lagi kau akan dapat perlakuan lebih buruk dari dia!"
A Bin merasa terkejut, semua jagoan di gedung ini masih belum tahu dia seorang bisu, kenapa orang baju emas ini malah tahu dia tidak dapat bicara, timbul curiga didalam hatinya.
Terdengar kata orang baju emas itu."
"Anak muda bisu, bila aku tidak jelaskan, takut kau jadi setan penasaran, kau mesti tahu, aku ingin membunuhmu, karena kau telah berbuat masalah dengan tamu agung aliran kita, sekarang aku ingin mengambil kepalamu, agar tamu kita merasa puas."
Mendengar kata kata itu, A Bin telah mengetahui kira kira delapan puluh persen persoalan, orang baju emas yang mengatakan tamu agung aliran dia, pasti cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok, entah cucu raja itu mengetahui tidak tindakan orang ini, dan A Bin pun berpikir Hong-tai juga dalam bahaya, atau juga telah masuk perangkap yang digunakan Jian-kin-kau-kau.
Bersamaan orang baju emas tertawa sadis, mendadak dia menjuruskan tangan kanan, memusatkan tenaga menotok titik nadi kematian Ki-gan-hiat di dada A Bin.
Mendapat serangan itu, A Bin dengan gesit malah maju selangkah mendekati orang baju emas itu, dengan tusukan jari tangan bersamaan waktu telah menotok dua titik nadi tenggorokan Lian-koan dan Cu-kong.
Gerakan A Bin sangat cepat dalam menotok dua pusat urat nadi lawannya, tubuh orang baju emas itu melayang jatuh, satu tangan A Bin segera memegang bahu dia, dan satu tangan lagi merangkul pinggangnya dan diangkat, sehingga membuat empat orang baju perak itu tercengang dengan mata melotot, takut melukai pimpinannya, sehingga mereka tidak berani bertindak.
Sebetulnya ilmu silat orang baju emas ini sangat tinggi, tetapi dia tidak mengetahui bahwa tubuh A Bin menyimpan benda penangkal racun Hiat-san-peng-can, biar pun terkena racun dupa Cap-poh-bi-hun-hiang, dia tidak jadi masalah, sehingga dia berbuat ceroboh, dan berhasil dilumpuhkan oleh A Bin dalam satu jurus saja.
Melihat kejadian itu, Bu-ih Taysu, Kongsun Pau dan Dua Tuli dari Bu-ie-san terangsang semangatnya, diantaranya Satu Tuli sampai lupa daratan, ingin meloncat menyerang orang baju perak, baru meloncat jarak dua kaki, ternyata kedua kakinya lemas dan jatuh lagi dilantai, jagoan-jagoan lainnya terperanjat, semua segera diam tidak berani bertingkah.
A Bin pura pura melayangkan tubuh orang baju emas ke arah empat orang baju perak.
Keempat orang itu sedang mencari kesempatan menyerang A Bin untuk menolong orang baju emas itu, gerakan A Bin membuat mereka bingung dan takut melukai teman sendiri, salah seorang berkata dengan halus.
"Teman, kau sangat pintar menggunakan kesempatan, dengan cara gelap menyandera ketua kelompok kita, kau ingin apa, terangkan saja."
A Bin berpikir sejenak dengan tangan kanan menunjuk ke arah Bu-ih Taysu dan jagoan lainnya. Orang baju perak yang tadi bicara lagi.
"Kau ingin orang-orang ini, gampang sekali, mereka telah kena racun Cap-poh-bi-hun-hiang, bila ada niat melawan, sedikit bergerak saja, akibatnya akan sama dengan setan tua Po dan kedua orang Tuli itu, kalau begitu, kau lepaskan dulu ketua kelompok kita, kita akan keluar dari sini!"
A Bin geleng geleng kepala, dengan tegas sekali lagi menunjuk Bu-ih Taysu dan lain lain orang, mata empat orang baju perak tampak terperanjat, yang orang bicara tadi berkata lagi dengan ragu ragu.
"Apa......apa kau ingin obat penawar racun buat mereka?"
Bu-ih Taysu Cukat Su-sin Kongsun Pau dan Tiga Tuli dari Bu-ie-san yang dalam detik-detik ini seperti tahanan yang akan di eksekusi, juga dengan pandangan mata aneh melihat A Bin, ternyata A Bin dengan tegas menganggukan kepala, tanda betul minta obat penawar buat Bu-ih Taysu dan lain-lainnya.
Keempat orang baju perak itu tidak berani membantah karena ketua kelompok mereka masih ditangan A Bin, salah seorang diantaranya agak ragu sejenak, terpaksa berkata.
"Di dalam kantong di pinggang ketua kita, ada satu botol kecil yang si cat merah, terdapat obat penawar racun, tiap orang makan satu butir obat tersebut, maka racun dupa itu akan hilang.
A Bin menggeledah kantong yang diikat di pinggang orang baju emas, disana terdapat banyak botol kecil, di ambilnya botol yang dicat merah, dengan jari dibuka cocok botolnya, hidung A Bin mencium satu unsur wangi, berarti omongan si baju perak itu betul, tanpa dipikirkan lagi, segera melemparkan botol merah kecil itu ketangan Bu-ih Taysu.
Bu-ih Taysu seperti mendapatkan harta karun, setelah tertangkap botol kecil itu, segera menelan satu butir obat penawar racun, dengan sedikit ragu, botol kecil itu langsung dimasukan kedalam dada sendiri.
Melihat perbuatan Bu-ih Taysu, A Bin marah besar, menyesal dirinya begitu ceroboh, tidak sangka orang orang jahat ini mempunyai hati yang begitu licik, segala cara sudah digunakan, sudah susah payah mendapatkan obat penawar racun, ternyata dimakan sendiri oleh Bu-ih Taysu.
Dalam keadaan marah, A Bin meletakan orang baju emas dilantai, meloncat menuju tempat Bu-ih Taysu berdiri.
Ke empat orang baju perak melihat ketua kelompok mereka terlepas dari pegangan A Bin, mereka langsung menolongnya, tetapi totokan khusus dari A Bin tidak dapat dibuka oleh mereka, maka mereka tidak berani berdiam lama-lama di gedung itu, langsung menggotong tubuh ketuanya, segera meninggalkan tempat itu.
Sebelum tubuh A Bin sampai, Bu-ih Taysu telah memusatkan tenaga dalamnya diseluruh tubuh, dia masih tidak percaya tenaga dalam A Bin melebihi dirinya, dia ingin mencoba beradu tenaga.
Begitu datang sapuan telapak tangan A Bin, Bu-ih Taysu tetap berdiri di tempatnya mendorong dengan kedua telapak tangan, dia sudah lebih dulu mengeluarkan tenaga dalamnya, tubuhnya menghadang tekanan tenaga lawannya.
Tapi tubuh Bu-ih Taysu malah bergetar hebat tidak bisa mempertahankan langkahnya, dia terdorong sampai tujuh delapan langkah.
Tenaga telapak tangan A Bin hanya dalam satu dalam jurus telah memaksa Bu-ih Taysu mundur tujuh delapan langkah, membuatnya dan yang menyaksikan di pinggir, Coa-sim-cu-kat dan Satu tuli dari Bu-ie-san jadi terkejut dan berobah warna mukanya.
Mereka tahu betul Bu-ih Taysu adalah seorang hweesio iblis yang licik, ilmunya berasal dari aliran Lohan kuil Siauw-lim, dan telah dilatih sejak kanak kanak, tenaga dalam dia berupa tenaga positif (yang) yang telah terkumpul selama enam puluh tahun.
Bila bukan orang yang punya latihan tenaga dalam selama enam puluh tahun, tidak akan tahan menerima pukulan Bu-ih Taysu, tetapi usia A Bin belum sampai dewasa, bila bisa mendorong Bu-ih Taysu sehingga terpaksa mundur sampai enam-tujuh langkah, ini adalah hal yang tidak bisa dibayangkan oleh akal sehat.
Bu-ih Taysu yang mempunyai ilmu silat tinggi, setelah mencoba ilmu silat A Bin yang umurnya masih kecil, tetapi tingkatnya sudah demikian tinggi, dalam kegetaran hati dia tahu diri, dia tahu tidak baik ber-musuhan dengan A Bin, maka dengan terbahak bahak berkata.
"Aku hanya bergurau! Saudara jangan marah!"
Dan segera mengeluarkan botol kecil cat merah, menyerahkan masing-masing satu butir obat kepada Coasim-cu-kat dan satu orang Tuli dari Bu-ie-san, dan dimasukan kemulut dua orang Tuli dari Bu-ie-san dan Po Kong-hoo masing-masing satu butir obat penawar racun.
Tidak berapa lama, orang yang terjatuh dan telah makan obat itu, pada bangun berurutan membuka matanya, melihat botol kecil cat merah yang dipegang Bu-ih Taysu, mereka merasa aneh, tosu iblis punya hati baik menolong orang?
Po Kong-hoo tidak tahu kejadian A Bin menangkap orang baju emas dan minta obat penawar racun dupa tersebut, begitu buka mata melihat A Bin, teringat tadi sewaktu pingsan dan mendatangkan malu, dengan marah berteriak.
"Bila bukan kau bajingan, aku juga tidak mungkin dikuasai orang!"
Habis bicara, dia langsung memukul A Bin getaran angin dahsyat dari tinjunya menerjang, jurus tinju dari aliran Heng-san telah kesohor di kalangan dunia persilatan, tenaganya begitu menakjubkan.
Dalam pandangan A Bin terhadap jagoan-jagoan di gedung itu, masih menaruh pandangan baik pada Po Konghoo, dan mengingat dia baru bangun dari pingsan, kejadian sebenarnya tidak tahu, maka hanya mengguna-kan tangan kirinya, untuk menghalau serangan itu.
Bu-ih Taysu dan Coa-sim-cu-kat sebagai orang licik, mana mau menerangkan kejadian sebenarnya, mereka hanya berpangku tangan di pinggir.
Dan Tiga Tuli dari Bu-ie-san sedang sibuk tukar syarat tangan masing-masing, tidak sempat menerangkan apa yang terjadi sebenarnya.
Po Kong-hoo setelah memukul satu jurus, kakinya maju dua langkah lagi, mengeluarkan satu jurus pukulan tinju, karena pukulan berantai ini mengguna-kan tenaga maju kedepan, tenaga pukulan makin dahsyat, angin pukulan membuat suara menakutkan.
A Bin tetap tidak membalas, hanya mundur selangkah dengan jurus tangannya menghindar dan menghilangkan tenaga lawan.
Bu-ih Taysu dan Coa-sim-cu-kat di dalam hati merasa iri, mereka berpikir, bila diberi waktu lebih lama, A Bin tidak akan ada lawannya, dan anak muda ini benci pada orang yang jahat.
Diumpan makan es dan.....arang buat mereka, bila tidak menggunakan kesempatan ini, dengan gabungan tenaga jago-jago di gedung ini untuk menghilangkan A Bin.
Kedua jagoan itu berpikiran sama, lalu bersama sama bertindak, Coa-sim-cu-kat tertawa dingin dan berkata.
"Bocah, kau masih muda, tetapi ilmunya sangat tinggi, biar aku mencoba ilmumu!"
Kata katanya sopan, tetapi pukulannya sadis, dia mengeluarkan satu kipas lipat dari dadanya, menjulur-kan tangan menyerang titik nadi Beng-bun dipunggung A Bin.
Bu-ih Taysu mengucapkan kata Budha satu kali berkata.
"Aku juga tidak mau kesepian, juga ingin mencoba ilmu adik muda ini!" Tubuh Bu-ih Taysu bergerak sedikit, dia memusat kan tenaga dalamnya, lengan bajunya sampai mengeluar kan suara krak... krak... tulangnya tampak bergerak, kedua lengannya mendadak tambah panjang, mencakar lengan kanan dan bahu kiri A Bin. Mendapat serangan dari kedua jagoan, A Bin tidak berani gegabah, dia membalikkan telapak tangan kebelakang menepak kipas Kongsun Pau, dan memiringkan badan sedikit menghindar cakaran Bu-ih Taysu, berpura pura ingin meloncat keluar gedung. Bu-ih Taysu tertawa sinis, dia maju selangkah lagi, menghadang jalan A Bin berkata.
"Bila adik kecil tidak memberi pertunjukan satu atau dua jurus, jangan harap keluar dari gedung ini!"
Mendadak A Bin mengeluarkan dua telapak tangannya, tenaga telapak tangan begitu besarnya, membuat Bu-ih Taysu kewalahan, Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau terpaksa melipat juga kipasnya, tidak berani melawan, tubuh A Bin melesat dengan cepat, betul-betul meloncat keluar gedung.
Tindakan A Bin berdasarkan penilaian Bu-ih Taysu, Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dan kakek putih Po Kong-hoo bukan orang biasa, ilmunya biar pun adalah didikan dari tiga guru Siau-yau-cu, hanya saja pengalaman hidup masih kurang, satu lawan tiga musuh, dia takut tidak bisa bertahan lama, dan dia tidak mau menyerang organ mematikan pihak lawan, jadi dia serba terganggu, bila lama-lama melayani mereka, takut Tiga Tuli dari Bu-ie-san juga ikut membantu mereka menyerang, pada waktu itu dia akan susah lari, dan kedua, A Bin dari semula sampai akhir pertarungan masih tetap mengkuatirkan keselamatan In Hong-tai, dia ingin menyelidiki, maka dia membiarkan soal pem-bunuhan dan buku ilmu silat yang diributkan itu, dengan cepat dia keluar dari bangunan kuil itu.
v Sewaktu ketiga jago itu mengejar keluar, A Bin telah hilang ditelan kegelapan malam.
Begitu keluar dari kepungan musuh, A Bin meloncat ke bagian kiri hutan bambu kuil, menunggu sejenak, melihat dari gelap apakah jago-jago itu masih ingin mengejar atau tidak, ternyata mereka kembali lagi ke dalam gedung itu membereskan hal yang belum selesai.
Menunggu musuh tidak mengejar, dengan teliti kedua matanya memantau sekeliling sudut-sudut kuil, tapi dia tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan, timbul dari pikiran, apakah In Hong-tai mengejar penjahat keluar lagi dari kuil ini, bila begitu, bagaimana mencarinya.
Ketika sedang ragu-ragu memikirkan, mendadak melihat ditembok bagian selatan meloncat turun satu sosok bayangan hitam, dari potongan tubuhnya, seperti In Hongtai.
A Bin sangat gembira, dia meloncat meng-hampiri, dan menghadang dijalan.
Orang itu seperti terkejut melihat A Bin tiba-tiba ada di depan matanya, mula mula dikira itu adalah musuh, belum lagi menyerang segera mengetahui bahwa yang menghalangi jalan adalah A Bin, dengan terkejut dan gembira berkata.
"Ternyata kau! Aku......"
Mendadak tenggorokannya seperti ada benda menghalangi, tidak bisa bicara lagi, Hong-tai seperti bertemu familinya, ingin mengutarakan keluhan dan menangis.
A Bin baru melihat dengan jelas orang yang baru datang adalah orang yang diperhatikan dengan sangat, In Hong-tai.
0-0dw0-0 BAB Terperangkap dalam sarang iblis A Bin dengan teliti melihat muka In Hong-tai, tampak rambutnya berantakan, air mata menetes di kedua pipinya, bajunya tidak rapih, tangan menjinjing senjata sepanjang tiga kaki, seperti baru mengalami pertarungan yang sengit dan beruntung bisa kembali.
Dari warna muka In Hong-tai, A Bin dapat menilai dia telah mengalami kekalahan dalam pertarungan, selain terkejut juga entah dia bertemu lawan tangguh mana, walau pun menguasai ilmu tinggi, juga dikalahkan orang.
Melihat kesedihan In Hong-tai, A Bin merasa perlu turut berbagi, tetapi tidak bisa dikatakan, terpaksa menghampiri Hong-tai, mendekap tubuh Hong-tai ke pinggir tubuhnya, turut mengatakan kekuatiran yang dalam.
In Hong-tai tidak tahu apa maksud A Bin, setelah terkejut sejenak, dipandangnya mata A Bin, begitu mengerti apa artinya pelukan itu, dengan perasaan berterima kasih yang dipendam, dibiarkan A Bin memeluk tubuhnya dan terlihat mukanya menjadi merah karena malu.
Perkenalan A Bin dengan In Hong-tai belum sampai sehari penuh, belum pernah tubuhnya berdekatan seperti sekarang, begitu hidung dia mencium wangi bunga anggrek dari tubuh Hong-tai, A Bin berpikir dalam hati, In Hong-tai sebagai anak orang bangsawan, sehari-hari terbiasa hidup mewah, keluar rumah pun, masih berpakaian mewah, sekali terpukul oleh kekalah-an, sedihnya tidak terkira!
Merasa perlu memberi lebih kasih sayang terhadap adik In nya, maka A Bin lebih erat mendekap tubuh Hong-tai.
In Hong-tai tahu tindakan A Bin adalah perhatian A Bin terhadap dirinya, dia merasa sangat terharu, dengan suara lembut berkata.
"Lui-ko, kau sangat baik terhadap aku......"
Punya mulut tapi tidak bisa bicara, A Bin hanya bisa mendekap lebih erat lagi tubuh In Hong-tai, tanda terharunya atas ucapan In Hong-tai.
Dekapan tersebut, membuat wangi anggrek tercium lebih banyak oleh A Bin, dan tubuh In yang lembut mengeluarkan rasa hangat, dan sedikit detak jantung yang terasa oleh tangan A Bin.
A Bin merasa aneh, kenapa adik In begitu terharu, sambil memegang tangan halus kiri In Hong-tai, memandang muka In Hong-tai, yang tertawa matanya bening bagaikan air, mukanya seperti bunga, melebihi cantik seorang gadis, membuat A Bin tercengang.
Hong-tai melihat A Bin begitu terpesona, maka sekali lagi tampak mukanya menjadi merah, sambil pura-pura marah.
"Toako dungu! Kenapa begitu melihat aku?"
Mendengar suara Hong-tai yang merdu, jiwa A Bin tergoncang, makin tanpa hentinya memandang muka Hong-tai. Hong-tai pura-pura marah, berkata sambil geleng gelengkan kepala.
"Aku tidak ijinkan kau memandangi aku!" Ternyata gerakan geleng geleng kepala itu mem-buat ikatan rambut yang sudah longgar terlepas, sehingga untaian rambut bergoyang tertiup angin ringan. A Bin sangat terkejut, ternyata Hong-tai adalah seorang wanita. Hong-tai yang tahu rahasianya telah bocor, dia makin bertambah malu, tetapi tetap tidak mau melepaskan kedua tangan yang dipegang A Bin. A Bin sejak mengenal Hong-tai, selalu merasa ada jodoh berkenalan, asalkan bertatap muka saja sudah mendatangkan kesenangan, sekarang mengetahui dia adalah perempuan, tetap tidak rubah penilaian pada Hongtai. Pada jaman itu, larangan laki perempuan sangat ketat, bagi hubungan muda mudi berumur lima belas, enam belas tahun, masih polos, bagi Hong-tai pun merasa cocok sekali dengan A Bin, tidak ada pikiran lain. Mereka berdua saling berpegangan tangan di pinggir hutan kuil, melupakan bahaya yang mengintai di sekelilingnya, saling pandang lupa suasana sekeliling, biar pun tidak berkata, tetapi dua hati saling bersatu, masingmasing tahu isi hatinya. Selang beberapa lama, Hong-tai pelan-pelan melepaskan kedua tangan A Bin, dengan ringkas menceritakan kejadian tadi waktu mengejar musuh. Ternyata, waktu Hong-tai mengejar penjahat yang menyebarkan dupa di kamar hotel hingga dalam hutan bambu, karena batang bambu lebat, sehingga sulit menggunakan ilmu ringan tubuh, dengan susah payah menerobos hutan bambu terlihat bangunan kuil di depan matanya, namun pengawasan. jejak penjahat sudah hilang dari Hong-tai merasa jengkel, pikirnya dalam hati, bila diri sendiri tidak bisa menemukan bangsat kelas teri itu, jangan bilang lagi cari pengalaman di dunia persilatan untuk memulihkan nama besar keluarga! Saat sedang menyesalkan dirinya, mendadak Hong-tai melihat ada sedikit gerakan di seberang hutan bambu, maka dia bersorak sejenak, dengan cepat menuju hutan bambu itu. Betul juga, ada satu bayangan hitam keluar dari hutan itu, dan meloncat tembok kuil bermaksud keluar, Hong-tai tidak membiarkan orang itu pergi, maka dengan dua tangan membelah ranting bambu, dengan gerakan kaki menginjak tanah langsung mengangkat tubuhnya ke udara, berdiri di atas pucuk pohon bambu, menggunakan ilmu ringan tubuh warisan dari ayahnya, mengejar keluar kuil. Dari kejauhan terlihat satu bayangan hitam sudah berlari sekitar sepuluh tombak, sedang menuju daerah perkebunan di luar kampung. Hong-tai melihat bayangan itu, mengetahui ilmu ringan tubuhnya lebih tinggi dari penjahat yang pertama tadi ternyata mereka bukan satu orang, dia jadi agak ragu-ragu, sejenak bayangan hitam itu meloncat lebih jauh lagi. Hong-tai melihat kesempatannya akan hilang dengan segera, dia jadi berpikir, tidak peduli orangnya siapa? Karena penjahat pertama tidak dapat ditemukan, lebih baik kejar dan tangkap orang itu dulu, maka Hong-tai menggerakan ilmu ringan tubuh melewati jalan di persawahan, mengejar orang itu. Hong-tai menguasai ilmu meringankan tubuh dari ayahnya, ilmu meringankan tubuhnya tiada tanding di dunia ini, di persawahan biar pun banyak pohon padi, tetapi jalan setapaknya jelas, gampang dilewati oleh Hongtai, tidak berapa lama, sudah tampak jelas seorang bayangan hitam itu, orang berjubah hitam, kepala pakai kerudung warna perak, sedang berlari dengan kencang. Hong-tai menilai berapa detik lagi dia bisa mengejar orang itu, tetapi dia sangat teliti dalam segala hal, biarpun baru pertama terjun didunia persilatan, tetapi mengetahui banyak siasat licik dan berbahaya, maka sambil mengejar sambil melihat situasi sekeliling-nya, dia tahu sebentar lagi sampai di bukit gunung. Timbul dalam pikirannya, orang itu lari ke arah gunung itu, pasti ada maksud tertentu, kelihatannya diatas gunung adalah sarang mereka, disana pasti ada temannya yang membantu, jadi lebih baik dia bertindak dulu, jangan biarkan dia naik kegunung, hingga urusan akan lebih rumit. Maka Hong-tai menarik nafas sejenak, lalu terbang miring dalam ketinggian dua tombak, sambil menggerakan dua tangannya, dia berlari semakin cepat maju ke depan dan sudah melewati kepala orang itu, dengan membalikan dua telapaknya, badan berbalik turun dengan kepala dibawah, kaki keatas, langsung menyerang orang berbaju perak itu, ini adalah jurus istimewa dari warisan keluarga yang bernama In-liong-ngo-hiang (Lima naga terbang di awan). Orang baju perak itu mendengar ada suara di atasnya, kepalanya menengadah ke atas, bersamaan itu jurus Hongtai sudah mengurungnya, segera orang itu mundur selangkah kebelakang, menghindar serangan dari depan, lalu mengeluarkan golok melindungi kepala dan muka. Jurus serangan Hong-tai ternyata mengandung perubahan lain, tubuhnya membalik lagi di udara, kaki kanannya berputar, dengan kecepatan tinggi menotok belakang punggung di bagian ketiak bawah orang baju perak itu, terdengar teriakan keras dari orang itu, terkulai jatuh, goloknya pun terlepas dari tangannya. Pada waktu bersamaan, terbang beberapa benda berupa bintang diatas tanaman padi menuju tubuh Hong-tai, keluarga Hong-tai tersohor di dunia persilatan dengan jurus pedangnya, ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia, maka dengan tertawa sinis, Hong-tai menggetarkan lengan bajunya, segera menangkap senjata rahasia itu dan di buang kesawah, sambil ber-teriak.
"Bangsat dari mana, berani menyerang di tempat tersembunyi?" . Belum habis Hong-tai bersuara, di sekeliling sawah sudah berdiri banyak orang, Hong-tai terkejut dan menyesal, karena kecerobohan sesaat, tidak menyangka musuh bisa bersembunyi di pohon padi, dan diatas kepala mereka terlilit batangan padi untuk penyamaran, mereka berbaju perak, tetapi kerudung kepalanya berwarna gelap, sehingga dalam waktu sempit susah melihat mereka yang menyamar. Hong-tai segera meneliti lagi pada mereka, ternyata musuh yang ada di sekelilingnya lebih dari dua puluh orang, di tangannya masing-masing memegang alat panah berantai, sedang mengarahkan dirinya, bila Hong-tai berniat mengadakan perlawanan, ribuan panah akan segera dimuntahkan oleh mereka, biarpun dirinya pintar menghindar senjata rahasia, tetap tidak akan mampu menghindar dari bidikan anak panah itu. Tetapi bila menyerah, dia sendiri adalah seorang gadis, mati adalah urusan kecil, tetapi bila ada tindakan amoral dari mereka, matinya juga mencemarkan nama... Pikirannya segera berputar sampai Hong-tai timbul satu pikiran, dia sekarang sedang dalam kepungan dua puluh orang pemanah, bila tidak bisa melawannya, apa tidak lebih baik dia pura-pura menyerah saja, menunggu lawan menugaskan orang untuk mengikat dirinya, baru bertindak menangkap, pada waktu itu orang berbaju perak disekelilingnya pasti tidak berani memanah kawan sendiri, dan itu bisa dipakai sebagai sandera untuk meloloskan diri. Sesudah bulat mengambil keputusan, maka Hong-tai dengan tertawa sinis berkata.
"Bangsat bangsat hanya bisa menang dengan orang banyak, dengan kepungan begini menghadapi aku seorang diri, aku sebagai laki laki baik menyerah saja!"
Habis bicara, Hong-tai membalikan kedua tangannya kebelakang, tanda tidak akan melawan.
Betul juga, dua orang baju perak masih memegang alat panah, tidak bicara sedikit pun, sambil mengarahkan panahnya perlahan mendekati Hong-tai.
Melihat musuh mendekati, Hong-tai tertawa dalam hati, bagaimana pun hati-hatinya kalian bila kalian mendekati aku dalam lima langkah, dua alat panah itu sudah tidak akan berfungsi lagi, bila yang lain berani melepaskan panah, kedua orang ini, akan jadi sasaran empuk, tetapi pikiran tetap pikiran, Hong-tai masih tetap di dalam posisi semula.
Kedua orang baju perak pelan pelan melangkah, satu di kiri satu di kanan, dengan empat mata yang bercahaya melotot pada Hong-tai melalui lubang kerudung.
Hong-tai adalah ahli senjata rahasia, sambil memperhatikan jarak langkah kedua orang baju perak, sambil memperhatikan gerakan kedua tangan orang itu.
Menghitung jarak mereka masih ada tujuh atau delapan langkah, hampir mendekat antara lima langkah, bila dia menggunakan gerakan tangan dari ilmu keluarganya, dia bisa menghindar serangan panah itu, dan menangkap orang itu sebagai sandera, tetapi setelah dilihat lagi dia baru sadar jempol mereka telah berada dikunci panah tersebut.
Hong-tai berkata didalam hati.
"Celaka!", dia tidak menyangka mereka bertujuan membunuhnya, dalam jarak tujuh langkah sudah siap menekan tombol panah! Menilai dengan aman menangkap mereka sebagai sandera sudah tidak mungkin, tetapi bila orang terdesak apa pun harus berani mencoba, maka kedua tangan di belakang tubuhnya digerakan ke depan, empat jarum sayap burung Hong sudah melesat menuju ke empat tangan dua orang baju perak itu, dan juga siap untuk menangkap orang. Mana yang lambat mana yang cepat sudah tidak jadi soal, suara tombol alat pemanah begitu bunyi, jarum empat sayap burung Hong sudah duluan datang, terdengar dua teriakan orang baju perak, lengan mereka terkena jarum sayap burun Hong, tetapi Hong-tai juga terlambat menilai, panah itu juga sudah datang Dengan tatapan mata yang jeli, Hong-tai mengukur kecepatan panah, dalam hitungan detik dia mencoba menghindar dalam situasi yang serba sulit. Siapa tahu, sesudah bunyi tombol panah itu, tidak ada panah yang keluar dari alatnya, hanya dua arus asap kuning seperti air terjun pecah tersebar di udara persawahan. Hong-tai tidak menyangka, bahwa alat pemanah itu hanya tameng belaka, di dalam alat itu ternyata adalah dupa pelupa ingatan, belum juga terucap satu kata celaka, Hong-tai sudah terkulai oleh asap kuning itu. Begitu Hong-tai siuman, dia melihat dirinya sudah ada di sebuah kamar yang serba mewah, tergeletak di sebuah kasur, dia berusaha berontak ingin bangun, ternyata seluruh tubuhnya lemas, hanya dapat berkata marah.
"Kalian mengurung aku dikamar ini, apa maksudnya?"
Datang seorang wanita berpenampilan seksi membuka tirai pintu masuk ke kamar, dengan tertawa berkata.
"Jangan berpura-pura lagi, ketua ranting kita mengetahui tamu agungnya menaksirmu, maka ketua berusaha menangkapmu, dan akan diserahkan pada tamu agung itu, biar tamu kita gembira!"
Hong-tai dengan terkejut, katanya.
"Tamu agung apa?"
Perempuan seksi itu dengan tertawa berkata.
"Dia dengan kau juga telah makan bersama, apa betul kau tidak tahu siapa dia?"
Mendengar kata-kata itu, Hong-tai menilai yang dikatakan tamu agung, pasti anak raja Lok-houw-it-kun, cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok, maka dengan gemas dia berkata marah.
"Ternyata dia......"
Perempuan seksi itu tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Hong-tai, dengan tertawa berkata.
"Bagaimna? Sekarang kau tidak takut lagi kan? Aku tahu orang itu berwajah tampan, punya keluarga elite, perempuan mana yang tidak suka pada dia. Menurut pandanganku, ketua ranting kita terlalu berlebihan, tidak perlu mengirim banyak orang untuk menangkapmu, asal diutarakan terang-terangan, kau juga rela......" Dengan kesal Hong-tai mendengarkan kata-kata itu, sambil buang ludah dia berteriak.
"Berhenti bicara......"
Perempuan seksi itu berobah warna mukanya, ingin berbicara lagi, tapi terdengar suara kaki mendekat masuk, dia segera diam.
Tidak lama, satu orang baju putih tergesa gesa masuk kekamar memberi perintah kepadanya.
"Hoa Ji-nio, kau cepat periksa lagi kamar itu, ketua ranting kita dan cucu raja Lok-houw segera tiba."
Dada Hong-tai penuh dengan amarah, dia menunggu cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok masuk, dia ingin memarahinya.
Betul juga, selang beberapa detik, gorden kamar dibuka, ada dua orang masuk kekamar, cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok dan seorang bermuka segi empat warna gelap, berjengot tiga bagian, penampilannya sangat gagah, kelihatan Thio Kong-giok sedang marah.
Hong-tai sudah menaruh emosi dalam hati, begitu melihat Thio Kong-giok, tanpa pikir panjang, langsung dengan marah bicara.
"Kau tidak tahu malu, bersekongkol dengan penjahat, dengan cara tidak bermoral menangkap aku dan dibawa kesini, betul-betul membuat malu nama istana Lok-houw!"
Thio Kong-giok yang dimarahi oleh In Hong-tai begitu masuk kamar, tidak dapat membela diri, menunggu dia habis bicara, baru berkata dengan berat.
"Nona In, jangan salahkan aku, Thio Kong-giok sungguh-sungguh berniat berkenalan denganmu, tapi tidak perlu menggunakan tangan orang bertindak demikian, ini adalah ulah mereka, aku datang kesini justru untuk melepaskanmu agar bisa pulang."
Sesudah berkata, dia membalikkan tubuhnya berkata kepada orang yang mukanya gelap.
"Urusan aku bisa aku kerjakan, tidak perlu aliran anda membantu, ketua ranting Kwang kau berbuat sesuatu yang merugikan aku!"
Ketua ranting Kwang yang diomeli Thio Kong-giok muka gelapnya bertambah merah, tetapi karena ketua aliran ingin merangkul Lok-houw-it-kun untuk mengembangkan alirannya, telah memberi perintah ke anak buahnya untuk menghormati Thio Kong-giok, kali ini maksudnya menangkap In Hong-tai, dia ingin memberikan pada Thio Kong-giok untuk melampiaskan nafsu birahinya agar mendapatkan simpati, tetapi malah di marahi oleh Thio Kong-giok, terpaksa dia menahan diri, pura-pura berkata.
"Ini adalah pekerjaan bodoh anak buahku, biar nanti aku selidiki siapa saja yang bertanggung jawab, akan diberi hukuman, harap cucu raja dan nona maafkan kejadian ini!"
Thio Kong-giok dengan kata kata keras berkata.
"Kalian cepat berikan obat penawarnya nona In."
Ketua ranting Kuang menahan emosi berkata.
"Ini tidak boleh sembarangan, kau adalah tamu agung kita, segala hal tidak ada yang ditutup-tutupi, tetapi nona In ini adalah orang luar, mana boleh mengetahui rahasia aliran kita. Kami hanya dapat menggunakan cara seperti dia waktu datang dan diantar pulang, harap cucu raja mengerti!"
Sifat Thio Kong-giok sangat sombong, tetapi kali ini sebelum ke merantau kedataran tengah, ayahnya Lok houw-it-kun pernah berpesan, mesti bersahabat dengan orang orang Jian-kin-kau-kau, tidak boleh menjadi musuh, dan sekarang mengetahui kata-kata ketua ranting adalah masuk akal, dia jadi tidak memaksakan diri, maka Thio Kong-giok berkata dengan dingin.
"Kalau begitu, silahkan ketua ranting Kwang menugaskan dua orang gadis mengantarkan nona In pulang, aku mengawal dari belakang."
Ketua ranting Kuang sudah sangat sabar, mengetahui Thio Kong-giok tahu diri, dengan gembira memanggil orang di luar kamar untuk mengantar pulang Hong-tai, dan memcoba bertanya pada Thio Kong-giok.
"Ada seorang bisu yang menentangmu, kemungkinan sekarang telah jatuh ke tangan murid murid kita, entah keinginan cucu raja, bagaimana mengurus dia?"
Mendengar perkataan dua orang tersebut, Hong-tai dengan terkejut berkata.
"Ai!"
Kata "Ai!"
Tersebut, Thio Kong-giok mengetahui bahwa Hong-tai sangat perhatikan pada A Bin, hatinya merasa tidak enak, dia menumpahkan kemarahannya pada ketua ranting....
"Ketua ranting Kwang, kalian sungguh memperhatikan aku luar biasa, aku hanya berkata, segala perbuatanku, aku yang akan selesaikan, tidak berani minta bantuan aliranmu, bila anak bisu itu sudah ditangkap oleh murid muridmu, sekalian lepaskan saja, nanti aku bisa cari dia!"
Ketua ranting Kwang sudah beberapa kali diomeli Thio Kong-giok, dia merasa kesal juga, dengan berkata dingin menjawab.
"Bila cucu raja punya ide begitu, aku perintah-kan anak buah ku sekalian melepaskan si bisu itu juga!"
Habis bicara, dia beri isyarat mata pada perempuan seksi yang berdiri di pinggir Hong-tai, Hoa Ji-nio, dan perempuan itu dengan lengan baju menyapu muka Hong-tai pelan-pelan, lalu Hong-tai langsung pingsan lagi.
Begitu siuman lagi, Hong-tai sudah berada di bawah tumpukan batang padi di pesawahan, cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok sedang menunggu di pinggir-nya.
Melihat Hong-tai bangun, dengan gembira berkata.
"Nona In sudah bangun, aku Thio Kong-giok sudah menunggu kau beberapa menit."
Setelah mengalami kejadian yang sebenarnya Hong-tai sudah merubah pandangan terhadap Thio Kong-giok, sebelumnya dia mengetahui orang ini sangat sombong, tetapi tingkah lakunya bermaksud baik, boleh dibilang orang punya martabat, memikirkan tadi dia memarahi Thio Kong-giok bertubi-tubi, dia merasa menyesal juga, dia berusaha menggerakan tangan dan kaki dengan bebas, segera berdiri, tetapi tetap berkata pada Thio Kong-giok.
"Melihat kelakuanmu tadi, kau masih tidak kehilangan jiwa kesatriamu, tetapi sayang kau mau berhubungan dengan bangsat, hingga merendahkan dirimu. Kali ini aku tidak mempersoalkan lagi, tetapi lain kali bila kau masih berhubungan dengan bangsat-bangsat itu, jangan salahkan aku menganggap kau sebagai musuh!"
Sudah habis bicara, tidak melihat lagi pada Thio Konggiok, segera berlari menuju Cu-sia-koan, ingin menyelidiki apa betul A Bin sudah jatuh ke tangan murid-murid Jiankin-kau-kau.
Setelah mengetahui A Bin dalam keadaan selamat, dia merasa gembira, dan memikirkan kejadian yang menimpa dirinya, ternyata sekarang bertemu A Bin, seperti bertemu orang yang paling dekat, sehingga dia terharu meneteskan air mata, ingin menangis.
Setelah mendengarkan kejadian Hong-tai, A Bin merasa tidak enak, dan menyesal tidak dapat membela Hong-tai sepenuh tenaga, sehingga Hong-tai mengalami keadaan yang berbahaya.
Hong-tai pun dengan gembira dan menanyakan kejadian yang menimpa A Bin, A Bin dengan isyarat tangan menceritakan dengan ringkas tentang beberapa jago-jago dan orang-orang baju emas dan perkelahian-nya tadi dengan mereka.
Hong-tai dengan bersemangat berkata.
"Lui Toako! Binatang-binatang tua itu, tidak tahu balas budi, hanya mengejar keuntungan saja, mereka meremehkanmu karena kau sendirian, tidak ada yang membantu, sekarang dengan aku disini, mari kita berdua masuk lagi ke biara itu, dan memberi pelajaran pada mereka!"
Sebelumnya A Bin juga tidak takut pada Bu-ih Taysu dan jago-jago yang lain, tadi dia merasa khawatir dengan keadaan Hong-tai dan ingin segera mengetahui jejaknya, hingga tidak tenang, sekarang melihat Hong-tai berniat menghadapi masuk lagi, dia jadi tidak enak menolak, maka dia setuju dengan kehendaknya, mereka berdua lalu berlari menuju ruang Sam-ceng-tian di biara itu.
Hong-tai menggunakan ilmu meringankan tubuh dari keluarganya yang tergolong kelas satu di dunia persilatan, sedang A Bin yang telah mendapat ilmu asli dari tiga guru Siau-yau-cu, tidak mau ketinggalan, mereka berdua berlari seperti asap, sejenak saja sudah masuk ke dalam ruangan.
Saat tubuh mereka turun ke lantai, mereka tidak mendapatkan perlawanan di ruangan itu.
Orang-orang yang pernah bertemu A Bin tadi, ternyata semuanya telah pergi, disana hanya tinggal sepuluh lebih pendeta tosu yang sudah mati, dan tetap duduk ditempatnya.
Di tiang atas bangunan tergantung empat mayat yang mulai kaku, mereka adalah kakek putih Po Kong-hoo dan Tiga Tuli dari Bu-ie-san, mereka di buat seperti orang bunuh diri, tetapi bagi orang yang ahli, sekali melihat langsung tahu bahwa mereka di buat mati terlebih dulu baru digantung di tiang atas, sedang Bu-ih Taysu dan Coa-simcu-kat Kongsun Pau tidak kelihatan.
Yang membuat terkejut dan marah A Bin dan Hong-tai adalah gantungan satu potong kain putih yang ditulis dengan darah orang, kata-katanya berbunyi "empat orang hebat hilang, Jian-kin jaya!
Yang turut aku makmur, yang lawan aku mati!
Seluruh aliran di dunia persilatan, segera menyerahkan diri!"
A Bin dan Hong-tai terkejut dengan kata "empat orang hebat hilang", mereka tidak mengerti mengapa Jian-kin-kaukau berkata demikian, apa yang dimaksud dengan empat orang hebat itu adalah Lui, Giok, In, Kau.
Yang tiga orangnya sudah menemui ajal.
Yang membuat mereka marah juga surat darah di kain putih yang merendahkan empat orang hebat, berarti dia menantang seluruh dunia persilatan, bagi A Bin dan Hong-tai yang masih muda dan beradatnya panas, dirinya masih besar sifat mengagulkan dirinya, mereka mana mau terima pada kata-kata yang sangat sombong dan itu.
Dengan suara kecil Hong-tai berkata.
"Lui Toako, kita periksa dengan teliti, mungkin didalam ruangan atau disekelilingnya masih ada antek-antek Jiankin-kau-kau!"
Saat itu, waktu hampir jam lima pagi, langit mulai menampakan cahaya fajar, sinar lilin di dalam ruangan yang semakin pudar menerangi mayat-mayat dingin dilantai dan yang digantung, di dampingi oleh kain putih yang berhuruf darah, membuat suasana semakin seram.
Walau pun A Bin dan Hong-tai mempunyai ilmu tinggi dan berjiwa tegar, tetapi masih belum lama terjun di masyarakat, belum pernah melihat kejadian yang sadis seperti ini, tidak urung semua ini membuat bulu kuduk mereka berdiri juga.
Hong-tai sebagai wanita, mengawasi mayat-mayat itu dalam hati merasa takut, tanpa sadar tubuh-nya bergeser menempel ke tubuh A Bin, mereka berdua bergandengan tangan memeriksa seluruh ruangan.
Setelah meneliti seluruh ruangan, mereka tidak menemukan jejak apa pun, tapi saat mereka berjalan di depan patung Sam-ceng, terdengar suara helaan napas dibelakang patung itu, Hong-tai terperanjat, roman muka berobah warna, tangan lemburnya semakin erat memegang pundak A Bin.
Sebagai seorang laki-laki, keberanian A Bin lebih besar, sambil mengusap punggung tangan Hong-tai agar dia tenang, sambil dengan teliti melihat patung yang mengeluarkan suara, setelah dilihat beberapa saat, dia tetap tidak menemukan kelainan, Hong-tai yang lebih teliti lagi, mendadak terpikir sesuatu, dia mendekati kuping A Bin berkata pelan.
"Kita lihat kebelakang patung itu apa ada kelainan tidak?" Mereka berdua segera memeriksa lagi dengan teliti, akhirnya menemukan tombol rahasia di belakang badan patung yang bila tidak awas tidak akan terlihat, A Bin segera menekan tombol itu, terdengar suara ssst... ssst... ringan, terbukalah sebuah pintu rahasia yang hanya bisa dilalui orang dengan membungkukan badan. Mereka berdua saling tukar pandang, A Bin dengan telunjuk tangan menujuk ke arah pintu rahasia, menanyakan keinginan Hong-tai. Hong-tai berpikir sejenak, walau pun menempuh bahaya, dia tetap ingin tahu, dia berkata.
"Kita sama-sama masuk melihat, ada apa di dalamnya, jangan takut?"
Mereka berdua masuk melalui pintu rahasia itu, sekarang baru tahu badan dalam patung itu ternyata kosong, ada sebuah jalan melalui bantal batu bunga teratai menuju ruangan bawah tanah, lantainya berselimut tebal, di tembok tertanam lampu penerangan kecil yang dibuat dari kerang dan penerangannya sangat lemah.
A Bin memegang tangan Hong-tai dengan hati hati melangkah, setelah menuruni beberapa anak tangga, mereka menemukan satu ruangan bertapa, disatu bangku duduk teratai berwarna emas bersila seorang tosu, bermuka aneh, kepalanya memakai topi dari besi, sama sekali tidak bergerak, seperti patung kayu.
Melihat tosu itu, A Bin terkejut juga, apa betul tosu ini yang dikatakan oleh jago-jago yang namanya Thi-koan Tojin?
Kenapa bisa duduk terpaku diruang rahasia?
Apa sudah mati?
Maka dia segera menghampiri, meraba bagian jantung, ternyata maih hangat, denyut nadinya tetap normal.
Hong-tai mendesak dipinggir berkata.
"Lui Toako, jangan berlama-lama di ruang rahasia, lebih baik kita menggotong orang ini keluar dari ruang besar ini, baru kita teliti lagi, apakah dia telah mati atau hanya terluka?"
A Bin menuruti kata-kata Hong-tai, dia segera mengangkat kedua tangan tosu, mereka segera keluar melalui jalan rahasia itu.
Baru sampai di pinggir pintu rahasia, terdengar suara ribut di ruangan besar, A Bin terperanjat, mereka saling pandang dengan Hong-tai, mereka sepakat berhenti berjalan, menempelkan kuping di pintu rahasia mendengarkan keadaan di ruangan besar.
Dari suara langkah yang terdengar, orang yang datang banyak, ada juga yang memeriksa sekeliling ruangan.
Terdengar suara keras dari depan patung yang diucapkan orang bertenaga besar.
"Thi-koan To-tiang sudah bersemedi selama sepuluh tahun, sekarang sudah waktunya keluar dari tempat semedi dengan hasil sempurna, dia menjanjikan pada hari ini bertemu teman-teman dan seluruh aliran partai untuk mengikuti upacara, dan menurunkan wasiat yang akan dibacakan di depan umum, ilmu dalam lembaran besi yang ditinggalkan pendiri Thio Sam-hong Couw-su, tapi rupanya semua telah di dahului oleh orang-orang yang menamakan Jian-kin-kau-kau, membunuh semua tosu, dan menggantung mayat ketua Heng-san-pay Po Kong-hoo dan Tiga Tuli dari Bu-ie-san yang mengincar ilmu dalam lembaran besi itu, yang diam-diam datang kesini dan dibunuh juga oleh Jian-kin-kau, tetapi dimana Thi-koan Totiang? apa bersemedi di tempat lain dan belum keluar, atau sudah di bunuh juga oleh Jian-kin-kau, mengapa sama sekali tidak ada jejaknya, membuat orang bingung saja!"
Terdengar satu suara nyaring berkata.
"Jie Ie Taysu, biarpun Thi-koan Totiang sudah di bunuh, tindakan Jian-kin-kau-kau sudah berarti menantang semua aliran persilatan, mohon ketua anda Kian Ih Taysu turun tangan mengundang ketua semua partai dan sesepuh persilatan yang ternama untuk merundingkan cara menghadapi musuh!"
Satu suara yang membuat telinga mendenging berkata.
"Kata-kata Ku-cu Tojin sangat betul, sejak Lui-to, Inkiam, Giok-kiong menghilang tanpa kabar enam tahun yang lalu, tanda Su-ciat-leng (Empat perintah wahid) telah berhasil diambil anak Lui Kie, tapi Kau-sat Kau bun-kek berobah menjadi sangat sombong, banyak kalangan dunia persilatan mengeluh. Partai Siauw-lim dan Bu-tong adalah dua partai yang sudah berdiri ratusan tahun, seharusnya tidak membiarkan mereka bertindak seenaknya. Waktu membuat Su-ciat-leng beberapa tahun lalu, tujuannya untuk membela kebenaran, membasmi kejahatan, seharusnya jangan membiarkan mereka meraja lela tidak basmi, tetapi sejak pimpinan dipegang oleh Kau Bun-kek, dia telah merubah banyak aturan yang berlawanan dengan tujuan semula, membuat Su-ciat-leng menyimpang dari tujuan semula, berbuat banyak ketidak adilan. Sekarang muncul lagi sebuah aliran yang dinamakan Jian-kin-kau, keutuhan dunia persilatan harus segera dipertahankan, aku kira pemimpin itu harus dari ketua Siauw-lim-pay dan Bu-tongpay!"
Terdengar dua suara nyaring dan membuat telinga mendengung telinga yang bicara tadi bersamaan berkata.
"Pujian Gan-tayhiap, kami merasa belum pantas menerima, tetapi urusan dunia persilatan kami tidak dapat lepas tangan, kita akan sampaikan maksud kalian pada ketua partai, tetapi, surat undangan untuk seluruh partai pantas mencantumkan nama pendekar Gan, yang termashur di provinsi Kwie-ciu!"
Hong-tai mendengarkan kata-kata tiga orang yang saling memuji, dengan suara kecil berkata pada A Bin.
"Tiga orang diluar adalah orang orang ternama, Jit Ie Taysu dan Ku-cu Tojin adalah petinggi dari Siauw-lim dan Bu-tong, ilmu silat mereka hanya dibawah ketua mereka, yang dipanggil Gan-tayhiap pasti pendekar terkenal dari provinsi jauh yang dijuluki Pelajar sombong dari Kwie-ciu, Gan Cu-kan adalah orang ketiga yang keluar bicara, kelihatan diruangan besar itu banyak jagoang jagoan tangguh?"
Terdengar lagi suara diluar, kata Ki-liu-kwie-seng.
"Aku tidak berani disejajarkan dengan Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin, tetapi kalau namaku di-cantumkan pada deretan akhir, aku bisa terima!"
Sambil bicara, dia merendahkan nadanya, berkata lagi.
"Ketika aku datang kemari, diperjalanan aku mendapatkan kabar, kalian berdua boleh sampaikan pada ketua kalian, bahwa ada orang melihat di puncak bukit pegunungan besar di provinsi Kui ditemukan golok putus dari Lui Kie, pedang patah dari In Tiang-long dan busur dari Giok Kangtiong......"
A Bin dan Hong-tai yang mendengar berita itu, masingmasing merasa tergetar hatinya, saling pandang melihat getaran tubuh masing-masing, mereka tertarik kembali oleh kata-kata di luar, terdengar suara Gan Cu-kan melanjutkan perkataannya.
Orang itu melihat barangnya sangat jauh di puncak gunung itu, harus mempunyai ilmu meringan-kan tubuh yang tinggi baru bisa naik ke puncak itu, jadi tidak melihat dengan jelas, tetapi menurut perkiraanku, Lui-to, In-kiam dan Giok-kiong yang telah menghilang selama enam tahun, dan senjata ternama mereka sudah patah dan rusak di puncak gunung itu, kelihatannya mereka telah meninggal dunia, sebab mereka telah mati, kemungkinan mereka bertiga saling bunuh.
Hanya satu hal yang buat aku tidak mengerti, mereka bersahabat baik, kenapa......"
Pembicaraan orang yang diluar belum habis, Tubuh In Hong-tai bergetar hebat dan menangis.
A Bin juga terkejut mendengar ulasan Gan Cu-kan, lebih terkejut lagi melihat kegoncangan Hong-tai, dan mendadak teringat dia she In, dan memegang pedang, apa dia anak perempuan dari Inkiam In Tiang-long?
Bersamaan waktu itu, In Hong-tai sudah lepas kontol dari emosi, mendadak dia meloncat ke depan, mendorong pintu rahasia, meloncat ke dalam ruangan, A Bin terperanjat sejenak, segera mengapit tubuh Thi-koan Tojin, menyusul keluar.
Dari belakang patung Sam-ceng mendadak terbuka pintu rahasia dan keluar sepasang muda mudi, membuat terperanjat sekitar tiga puluh orang di dalam ruangan, mereka segera melihat Hong-tai dan A Bin.
Sekarang Hong-tai dan A Bin berhadapan dengan seorang tosu, seorang hweesio dan seorang terpelajar yang bersemangat tinggi.
Baju yang dipakai orang biasa itu sangat mewah, tetapi sengaja ditambah kain tambalan di bagian dada, kain kotak penutup kepalanya sangat mahal, sepatu mewah yang dipakai bertabur sepasang mutiara, roman muka yang terpelajar tertutup oleh bulu jambang yang penuh, sepasang matanya bersinar terang, penampilan luar biasa dari seorang pelajar, dalam hati A Bin mengetahui bahwa orang ini yang dikatakan oleh Hong-tai bernama Ki-liu-kwie-seng Gan Cu-kan, tosu dan hweesio itu adalah Jit Ie Taysu dari Siauw-lim dan Ku-cu Tojin dari Bu-tong.
Ketiga orang ini biar pun termasuk orang ter-kenal dari dunia persilatan, begitu melihat A Bin dan Hong-tai mendadak muncul sambil mengapit tubuh Thi-koan Tojin yang kaku, mereka tercengang juga sejenak, namun segera menenangkan pikiran, Ki-liu-kwie-seng terlebih duhulu memancarkan sinar terang yang keluar dari matanya, melihat dengan teliti A Bin, Hong-tai dan tosu yang kaku itu, baru bicara.
"Kalian dari mana? Bagaimana Thi-koan Tojin?"
A Bin tidak bisa bicara, Hong-tai yang baru mendengar berita sedih tentang Lui-to, In-kiam, Giok-kiong berobah lupa keadaan, dia tidak mendengarkan pertanyaan Gan Cukan, berdua jadi tidak menjawab.
Nama Gan Cu-kan sangat tersohor, dan punya kedudukan tinggi di dunia persilatan, dia disanjung dan ditakuti orang, melihat anak muda begitu acuh tidak menjawab pertanyaannya, dia merasa sedikit marah, dengan dingin berkata.
"Kalian tidak menjawab pertanyaanku, mungkin murid dari seorang jago silat, sehingga tidak mau menjawab? Aku adalah Ki-liu-kwie-seng Gan Cu-kan!"
Dia mengenalkan namanya sendiri, takut kedua anak muda yang baru keluar dari dunia persilatan, tidak tahu nama besar dia, sekarang dia ingin mereka mengetahui dan menghormati dia, agar tidak bentrok karena salah paham, agar dikemudian hari mudah bertanggung jawab pada guru atau orang tua mereka, Ternyata, kata-kata dia seperti batu jatuh ke dalam lautan, tidak ada reaksi dan jawaban.
Sekarang Gan Cu-kan betul-betul marah, dalam hatinya berpikir.
"aku telah mengatakan nama besarku, di dunia persilatan semua orang tahu, aku sudah beberapa kali bertanya tapi mereka tidak jawab, berarti mereka merendahkan aku. Kalian dua anak kecil, bila bukan baru terjun ke dunia persilatan, tidak tahu nama besar aku, berarti ada sesuatu pegangan untuk mencari masalah.’ Maka dengan muka berobah dia berteriak.
"Bocah tidak tahu aturan! Bila tidak menjawab lagi, orang she Gan akan mewakili orang tua kalian memberi pelajaran."
Pesilat tinggi yang baru masuk ruangan sudah berkumpul disekeliling, A Bin, Hong-tai dan tiga orang, tosu, hweesio dan orang terpelajar.
Kata-kata yang bernada bentakan dari Gan Cu-kan itu baru membuat Hong-tai sadar, dia yang berpenampilan angkuh mana bisa menerima perkataan itu, maka sambil membelalakan mata, dia membentak.
"Kalau tidak menjawab, kau bisa apa? Kau punya kepintaran apa, coba perlihatkan!"
Perkataan dengan bentakan itu, Hong-tai seperti sengaja mencari gara-gara, bukan saja Gan Cu-kan marah, Jit Ie Taysu dan Ku-cu Tojin dua orang yang berbudi luhur juga terpaksa berkata.
"Anak muda harap berbicara sopan, kau harus1tahu, Kiliu-kwie-seng Gan Cu-kan adalah orang yang tinggi kedudukannya yang dihormati......"
Hong-tai menjawab dengan dingin.
"Aku tidak tahu, apa itu pendekar sombong, bila dia berani turun tangan, aku akan memberi pelajaran!" Biar pun kesabaran pendekar Gan Cu-kan sangat tinggi, tidak tahan juga dengan ucapan itu, muka dia berobah pucat, dengan marah membentak.
"Kalian berdua jangan ikut campur, biar aku yang menghadapi anak muda ini, aku mengetahui lebih banyak....!"
Sambil bicara dia sudah melangkah kedepan melewati kedua orang itu, mengetahui bentrokan tidak akan terelakan lagi, tosu dan hweesio segera melangkah mundur kepinggir.
A Bin melihat di pinggir dengan pikiran bersih, dia mengetahui Gan Cu-kan bukan seorang biasa, dia khawatir Hong-tai yang angkuh akan kalah, segera dengan memegang tubuh Thi-koan Tojin dia maju ke depan Hongtai, menghadap Gan Cu-kan.
Dalam keadaan marah, Gan Cu-kan mana bisa membiarkan A Bin menghalangi jalannya, sambil ber-pikir tidak melukai Thi-koan Tojin, dengan satu totokan kipas lipat dia menyerang menuju bahu kiri A Bin berseru.
"Minggir! Jangan halangi aku!"
Dia mengharapkan A Bin terdesak kepinggir, agar dia bisa bertarung dengan Hong-tai.
Ternyata A Bin tidak bermaksud menghindar, malahan mengeluarkan tangan kiri dari kedua tangan yang memegang badan Thi-koan Tojin, secepat kilat, memotong tangan kanan Gan Cu-kan, jurus ini sangat cepat, tidak bisa membedakan jurus Gan Cu-kan lebih cepat atau tidak, bila kedua jurus ini bentrok, bahu kiri A Bin akan kena totokan kipas lipat, tapi tangan kanannya juga akan kena sapuan jurus tangan kiri A Bin.
Orang-orang yang menyaksikan di sekeliing, tidak menyangka bahwa anak remaja ini menguasai ilmu demikian tinggi, banyak yang bersuara kagum "Iiii!", Jit Ie Taysu dan Ku-cu Tojin juga terkesima.
Gan Cu-kan terkejut bukan main, dia telah berkecimpung dalam ilmu kipas ini puluhan tahun, ternama dengan kecepatan dan kecerdasannya, tidak disangka dalam hitungan detik, anak remaja ini bisa membalas serangan dia, waktu serangan baliknya juga sangat tepat, bila saja tangannya terkena sapuan serangan tangan A Bin, atau kena sedikit saja angin telapak tangan A Bin, nama besarnya seumur hidup akan sirna.
Memang pantas dia seorang jago dalam dunia persilatan, dalam segala kerepotan dia menarik kipas mundur setengah langkah, dengan menunjuk dia berbicara dikejauhan.
"Kau lepaskan dulu Thi-koan Tojin! Jangan sampai dia terluka, agar aku dapat leluasa bertarung denganmu, kalian berdua sama-sama bertarung juga, aku tidak keberatan!"
Hong-tai keluar dari belakang A Bin, sambil meludah ke lantai berkata.
"Kau pelajar murahan, tidak pantas bertarung dengan kita berdua."
Sebenarnya Hong-tai mengetahui nama dia sangat tersohor, karena dia marah di dalam hati, ingin mencoba ilmu silatnya, dia sengaja membuat marah lawannya.
Saking marahnya Gan Cu-kan malah tertawa, dengan sinis dia berkata.
"Aku sudah menjelajah dunia persilatan selama empat puluh tahun, baru kali ini bertemu anak muda yang sombong begini, mari! Mari! Seperti kau bicarakan, siapa yang duluan, kalian tentukan saja sendiri!" Hong-tai mengetahui ilmu kipas orang ini sangat tinggi dia tidak berani menganggap enteng lawannya, maka dia menurunkan pedang awan ungu dari pundak dan bersiap sambil membentak.
"Pelajar murahan! orang takut lain mungkin takut pada kipas kusammu, aku malah tidak takut!"
Mendengar kata-kata itu Gan Cu-kan berpikir dalam hati.
"kalian sudah tahu malahan sengaja menantang aku", maka dia menahan kemarahannya, sambil menggoyangkan kipasnya, berkata dingin.
"Anak kecil, jangan bermulut besar, silahkan keluarkan jurusmu!"
Hong-tai tahu dengan kedudukan dan ilmu silat Gan Cukan, minta dia menyerang dulu, bukan berarti lawannya sombong, maka Hong-tai memusatkan tenaga dalamnya, lalu membentak menyerang, jurus pedang Awan Ungu melesat bagaikan sinar pelangi menuju jalan darah Souwcin-hiat di dada lawan.
Gan Cu-kan mendehem sekali, tubuhnya melesat melewati pinggir pedang, membuka kipas ssst....
suara kipasnya mengibas Hong-tai.
Hong-tai menyangka, dengan nama besarnya, Gan Cukan tidak akan berani menggunakan siasat bangsat menggunakan obat bius, tetapi pengalaman membuat dia lebih pintar, khawatir dalam kipas lawan ada sesuatu, begitu angin kipas hampir sampai, dia bergeser dengan jurus bintang tujuh, menghindar beberapa kaki.
Gan Cu-kan pura-pura tidak melihat gerakan Hong-tai, dengan tertawa sinis, dia meloncat beberapa tombak, bagaikan setan mengejar, kipas di tangan sudah dilipat lagi, menyerang Hong-tai.
Mengetahui lawan mengejar dengan cepat, bayangan kipas sudah menuju arah jalan darah Khi-hoan-hiat di tenggorokan, dalam sisa serangan pedangnya Hong-tai menggunakan kelincahan, mem-buat serangan dahsyat kipas Gan Cu-kan melenceng ke pinggir, ternyata Hong-tai menggunakan ilmu khas keluarganya, meminjam tenaga lawan melencengkan arah kipas ke pinggir.
Jago-jago dari aliran perguruan, melihat A Bin dan Hong-tai hanya dengan satu jurus sudah menunjukan ilmu silat yang luar biasa, mereka bertanya-tanya tentang riwayat anak muda itu, melihat jurus pedangnya tadi, ada orang yang mengetahui berteriak terkejut.
"Jurus pedang In-kiam!"
Mendengar itu Gan Cu-kan segera menghenti-kan gerakannya, lalu bertanya dengan sopan.
"Apakah kau murid aliran In-kiam?"
Pada detik itu dari luar gedung terdengar suara menggema.
"Semua berhenti, kalian adalah teman sendiri!"
Mata semua orang di dalam gedung melihat keluar, mereka melihat seorang kakek berjenggot perak dan seorang gadis muda dengan gerakan cepat mendarat di lantai ruangan.
Saat itu A Bin telah meletakan tubuh Thi-koan Tojin dilantai, dia ingin menjaga dan menggantikan Hong-tai, mengetahui ada orang dari luar gedung masuk, dia melihat dengan jelas, ternyata mereka adalah kakek jenggot perak Gin-hoat lojin dan cucu luar dia Siau-cian yang pernah bertemu dikedai arak mulut pegunungan Pak-lun.
Jit Ie Taysu dari Siauw-lim dan Ku-cu Tojin dari Bu-tong adalah kenalan lama dengan Gin-hoat lojin, malah jika di lihat dari tingkatan mereka lebih rendah kedudukan atau paling-paling sejajar, maka mereka berdua memberi hormat sambil membungkukkan tubuh.
Orang orang dalam gedung biar pun tidak tahu siapa kakek ini, tetapi dari sikap tosu dan hweesio yang menyebut Cianpwee, mereka langsung tahu bahwa kakek ini bukan orang biasa.
Gin-hoat lojin dengan tenang melewati kerumun an orang, menghadap Gan Cu-kan sambil tertawa berkata.
"Adik Gan, kenapa bisa berselisih dengan mereka?"
Disebut "adik"
Oleh kakek Wie Tiong-hoo sudah merupakan satu kehormatan bagi Gan Cu-kan, biar pun dia mempunyai julukan Ki-liu-kwie-seng, juga tidak berani sombong, maka menyembunyikan keangkuhan-nya dengan hormat dia menjawab.
"Wie Lo-cianpwee! Ini hanya salah paham, aku mengaku salah!"
Si cantik Siau-cian yang juga ikut dibelakang Kakek luarnya, meski di dalam gedung begitu banyak orang ternama, sedikit pun tidak dipandang oleh dia, sepasang matanya seperti terbetot, dengan roman muka manis senyum melirik muka A Bin.
A Bin juga senang pada Siau-cian, sejak pertemuan mereka di kedai arak pegunungan Pak-lun, dalam hati sering terbayang nona cantik ini, begitu bertemu lagi, A Bin sangat bembira, dan menjawab dengan lirikan mata tersenyum.
Sejak kakek dan anak gadis masuk ruangan, Hong-tai sudah memperhatikan, lebih-lebih terhadap nona cantik itu, timbul perasaan iri dari sifat alamiah seorang gadis, biar pun dia tahu kakek itu seorang terhormat dari dunia persilatan, tetapi tidak ada hubungan keluarga dengan dirinya, mungkin mereka ada hubungan apa-apa dengan A Bin, Maka dalam hari Hong-tai timbul perasaan benci dan waspada terhadap Siau-cian, dia mendekati A Bin, bertanya di pinggir telinga A Bin.
"Siapa nona itu?"
Rasa iri dari Hong-tai mem-buat dia lupa bahwa A Bin itu tidak bisa bicara. Sambil tertawa terbahak-bahak, Wie Tiong-hoo berkata pada A Bin.
"Keponakan Lui, cukup lama kita berpisah, sekarang kita bertemu lagi, betul-betul ada jodoh!"
Lalu berkata pada Gan Cu-kan.
"Keponakan Lui, karena terdorong arus dingin es, sehingga mendapat gangguan di tenggorokan, tidak bisa bicara sampai kini, mungkin salah paham adik Gan dari soal ini."
Gan Cu-kan merasa malu setelah mendengar keterangan itu, dia segera berkata.
"Aku tidak menyelidiki dulu, mohon maaf sebesarbesarnya!"
Wie Tiong-hoo berbicara pada Hong-tai.
"Kau mungkin turunan dari In Tiang-long -heng, jurus tadi yang digunakan To-in-tan-jif selain dari jurus Tn-kaukiam-hoat", tidak ada orang yang bisa gunakan jurus itu."
Berhadapan dengan Lo-cianpwee dunia persilatan, Hong-tai tidak berani bersikap angkuh dan tidak sopan, maka dia menjawab dengan hormat.
"In-kiam adalah ayah ku!" Terdengar suara terkejut di sekeliling ruangan, mereka terkejut mengetahui bahwa ada turunan dari salah satu Empat Jagoan Wahid. Mendengar perkataan Hong-tai itu, muka Siau-cian berobah menjadi dingin, hal ini terlihat oleh A Bin yang ada dipinggir, dia merasa terkejut dan aneh, entah apa masalahnya? Hong-tai yang ingin segera mengetahui jejak ayahnya, tidak hiraukan keramahan Wie Tiong-hoo, dia berbalik tanya pada Gan Cu-kan.
"Bolehkan anda ceritakah tentang ayahku!"
Kata-kata Hong-tai sekarang lebih sopan, meski-pun nada bicaranya tetap dingin, bagi Gan Cu-kan sebagai orang ternama, ilmu mengendalikan dirinya sudah tinggi, apalagi dihadapan Wie Tiong-hoo, tidak pantas buat dia meributkan soal kecil, maka dengan menahan kegusaran pada Hong-tai, dia menceritakan kembali soal yang tadi diceritakan pada tosu, hweesio dengan lebih jelas semua orang baru tahu cerita ini, maka timbul suara bisik-bisik diantara orang banyak.
A Bin memperhatikan dengan seksama, melihat emosi Hong-tai dan Siau-cian yang paling tinggi, timbul dugaan apa hubungan dia dengan peristiwa itu.
Bersamaan waktu ada orang berteriak.
"Thi-koan Totiang, sudah bangun!"
Pandangan mata semua orang tertuju ke tempat tosu itu, tampak kedua mata Thi-koan Totiang sudah terbuka lebar, dia sedang menjulurkan kedua tangan dengan pelan-pelan ingin berusaha duduk, Ku-cu Tojin dan Jie Ie Taysu berebutan menghampiri, membantu Thi-koan Totiang duduk di bangku, menghampiri mereka.
orang-orang pun berkerumun Karena baru bangun dari pingsan, pandangan Thi-koan Totiang masih buram, dia belum bisa mengenal siapa saja yang ada di sekelilingnya, berdiam sejenak, dia mengatakan1 kejadian yang menimpa diri dia.
Ternyata waktu dia bertapa selama sepuluh tahun, pada saat berakhir pagi itu sekitar jam lima subuh, pada detikdetik terpenting dia tidak boleh mengalami gangguan dari luar, semua usaha jerih payahnya selama sepuluh tahun akan gagal dan akan mengalami kelumpuhan, maka muridmurid dia berkumpul di dalam gedung, menjaga jangan ada musuh mengganggu.
Tidak tahunya, ada tamu yang tidak diundang masuk dan menggunakan jarum perak menyerang mereka, sehingga tanpa mengeluarkan sedikit suara pun mereka langsung mati, dan orang itu menyelinap masuk ke pintu rahasia, masuk ke dalam kamar tersembunyi, buat Thi-koan Tojin yang dalam detik-detik terakhir akan mencapai kesempurnaan, berobah seperti orang cacad, entah siapa orang yang datang, tahu-tahu dia sudah ditotok jala darah kematian-nya, dan mengambil naskah besi berisi ilmu Thio Sam-hong couwsu.
Beruntung Thi-koan Tojin saat sebelum bertapa dia sudah menutup semua jalan darahnya, biarpun ditotok orang jalan darah kematiannya, dia hanya pingsan sebentar, lalu bangun lagi dengan sendirinya, hanya kaki bagian bawah yang menjadi lumpuh.
Semua orang gusar, karena nyawa sepuluh orang murid Thi-koan Tojin bukan urusan sepele, dan mereka menempuh jarak ribuan li datang ke biara ini untuk mendapatkan pepetah dari buku wasiat Thio Sam-hong, ternyata buku itu sekarang telah dirampas orang, sehingga mereka menjadi sia-sia datang.
Yang pertama marah adalah Gan Cu-kan, dia berkata.
"Ada tulisan dari Jian-kin-kau di ruangan ini, berarti yang mencelakakan Thi-koan Tojin tentu per-buatan mereka juga, kita harus bertindak cepat mencari alamat dimana sarang Jian-kin-kau?"
Jit Ie Taysu adalah hweesio yang tinggi ilmunya dan penampilannya tenang, dia berbicara dengan sabar.
"Di lihat dari kata-kata yang ditinggalkan Jian-kin-kau, bernada menantang semua aliran dunia persilatan, berarti mereka mempunyai organisasi sangat besar, aku kira lebih baik kita pastikan harinya meng-undang semua ketua partai dan ahli-ahli silat untuk merundingkan cara yang baik menghadapi musuh bersama!"
Ku-cu Tojin berkata juga.
"Aku setuju saran Jit Ie Taysu dan mengusulkan bulan depan tanggal satu siang tepat, semua berkumpul dibiara Siauw-lim, selain kawan-kawan disini, dan mengundang ketua partai lain dan orang-orang persilatan lainnya, dan urusan surat undangan akan ditangani oleh Kian Ih Taysu dari Siauw-lim, Wie Lo-cianpwee, Gan-tayhiap, Thi-koan Totiang dan ketua partai kami!"
Semua orang dalam ruangan setuju usulan dari hweesio Siauw-lim dan tosu Bu-tong. Gan Cu-kan dengan tegas berkata.
"Saran Jit Ie Taysu dan Ku-cu Tojin adalah cara mengambil sumber api di bawah teko, berarti saat rapat diadakan, jika asal usul Jian-kin-kau sama sekali belum jelas, rapat itu hanya omong kosong, aku bersedia menampilkan diri, mengemban tugas, sebelum rapat dimulai menyelidiki segala hal tentang aliran itu." Setelah itu jago-jago persilatan pada bubar dan meninggalkan tempat, Thi-koan Tojin juga dituntun oleh teman dekatnya meninggalkan biara Cu-sia. Wie Tiong-hoo bersamaan A Bin dan Hong-tai juga meninggalkan biara itu, sambil jalan menanyakan pengalaman Hong-tai selama diluar rumah. Hong-tai sebetulnya tidak mau menerangkan urusan sendiri, karena Wie Tiong-hoo yang bertanya, dia tidak berani menolak, maka dia bercerita dengan asal saja, bahwa karena jejak ayah menghilang selama enam tahun, dia mendapat izin dari ibunya, keluar rumah mencari jejak ayahnya. Sambil memegang janggotnya Wie Tiong-hoo berkata.
"Berita yang dikatakan Gan Cu-kan tadi, belum tentu betul, kau jangan langsung percaya, hingga berselisih dengan Lui-to dan Giok-kiong."
Hong-tai diam sejenak, pelan pelan menjawab.
"Terima kasih atas petunjuk kakek, aku mengerti dan aku akan segera ke puncak gunung itu untuk melihat sendiri, apa kata-kata Gan Cu-kan betul atau bohong."
Siau-cian seperti tidak senang pada percakapan kedua orang itu, tetapi sepasang mata dia selalu melirik muka A Bin, Hong-tai yang diam-diam melihat tingkah Siau-cian, rasa irinya menjadi makin besar.
Sambil ngobrol, mereka telah sampai di pusat kota, setelah menanyakan nama penginapan yang A Bin dan Hong-tai gunakan, Wie Tiong-hoo bersama Siau-cian pamit pergi.
Ketika bersamaan berjalan pulang kepenginapan, di dalam perjalanan Hong-tai sama sekali tidak menyapa A Bin, seperti ada rasa jengkel menguasai dirinya, hal ini membuat A Bin kelabakan tidak mengerti Hong-tai bisa begitu.
Sampai dipenginapan, dua pembantu Hong-tai yang menyamar menjadi laki-laki, sudah lama menung-gu diluar, melihat dia telah kembali dengan aman, dengan gembira mendekati dan berteriak.
"No......tuan muda, kau kemana saja, membuat kita khawatir bukan main!"
Hong-tai dengan muka dingin langsung masuk kamar.
A Bin tidak mengerti kenapa Hong-tai begitu marah pada dia, dia tidak dapat langsung bertanya, dengan kesal dia kembali ke dalam kamar, dia tidak melihat Cia Ma-lek ada didalam kamar, kemungkinan Cia Ma-lek sedang mencari dia juga, A Bin dengan banyak pikiran, setelah semalam tidak tidur langsung berbaring di ranjang, tapi dia tidak bisa tidur, entah berapa lama dia seperti tidak sadar.
Mendadak terdengar Cia Ma-lek berkata di pinggir kupingnya.
"Aiyah, adik Lui, aku cari kemana-mana tidak bertemu, ternyata kau pulang duluan."
A Bin terperanjat bangun, dia melihat Cia Ma-lek dengan Yo-po-lo-to sudah berdiri di dalam kamar, segera dia bangun dan memberi hormat pada kakek Yo-po-lo-to.
Yo-po-lo-to tertawa terbahak-bahak berkata.
"Kelihatannya kau mendapat masalah!"
Muka A Bin menjadi merah menundukan kepala, terdengar lagi gurauan dari Yo-po-lo-to.
"Aku menjadi setengah tosu, bukan untuk apa, justru menghindarkan masalah, ketika masih muda karena perempuan, sesudah tua karena anak cucu, semua sangat membuatku pusing. Sekarang aku tidak punya murid, tidak ada pikiran dalam diriku, hampir sama senangnya dengan dewa? Bisa minum arak bagus, makan pun enak, aku juga rakus, maka bicara soal ini, aku juga bukan tosu lagi......"
A Bin dan Cia Ma-lek masih punya sifat anak muda, kata-kata Yo-po-lo-to hanya bisa diterima setengahnya, antara mengerti atau tidak, Yo-po-lo-to dengan menghela nafas sedikit berkata.
"Aku bercerita ini, mungkin untuk hari ini kalian tidak mengerti, mungkin sepuluh tahun kemudian kalian baru tahu filsafat ini, sekarang berbicara soal masalah di depan mata! Anak temanku Lok-houw-it-kun biar pun sombong, tetapi masih mempunyai jiwa ksatria, tadi pagi kata-kata Hong-tai di depanmu, aku ikut mendengarkan, tetapi teman aku itu semakin tua semakin ceroboh, mau saja menjalin hubungan dengan Jian-kin-kau-kau, aku tidak menaruh rasa simpati kepada orang-orang yang menamakan aliran murni, tetapi tidak ingin aliran sesat itu meraja rela, dan Pelajar sombong itu biar sombong dan urakan, tetapi masih seorang baik, didepan umum menjagokan diri sendiri akan menyelidiki aliran sesat itu, ada kemungkinan terjadi perahu terguling di sungai deras, malah di-permainkan orang, aku tidak ingin dia mati di tangan bangsat teri, aku akan mengejar dia, melindungi di belakangnya, jika kalian berdua punya rencana, silahkan kerjakan, bulan depan di pertemuan Siauw-lim, meski tidak terang-terangan menampakan diri, tetapi aku akan melihat diam-diam, aku ingin tahu mereka yang menamakah dirinya aliran lurus, punya rencana apa terhadap musuh"
Orang tua ini begitu datang sebentar langsung pergi lagi, kata-katanya begitu habis, dia keluar pintu kamar langsung menghilang bersama bayangannya. Cia Ma-lek dengan muka lucu berkata.
"Orang tua ini sesudah berkata langsung meninggalkan kita, entah kenapa, begitu lihat dia aku merasa tidak tenang......"
Dan berkata lagi.
"Oh, kau tahu tidak? Nona In telah pergi?"
A Bin sangat terkejut, dia berdiri dan keluar dari pintu kamar, Cia Ma-lek ikut keluar, sambil berkata.
"Adik, orang sudah pergi, kau mau lihat apa?"
A Bin tidak menghiraukan kata-kata Cia Ma-lek, dia menerobos masuk ke kamar Hong-tai, benar saja, kamarnya sudah kosong, dia tercengang beberapa detik, mendadak dia ingat pada satu tempat, dia langsung keluar kamar meninggalkan hotel, berlari menuju ke arah Ban-li-san.
Cia Ma-lek jadi dibuat kalang kabut, segera membereskan rekening hotel sambil berteriak-teriak, cepat mengejar A Bin, A Bin sama sekali tidak men-jawab, menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dia berlari kencang, meninggalkan Cia Ma-lek jauh-jauh.
Ternyata A Bin ingat kata-kata Gan Cu-kan, dia menduga Hong-tai dan pembantunya pasti ke puncak tiang langit, ingin menyelidiki sendiri apa betul cerita tentang golok putus, pedang patah, busur panah cacad, maka A Bin begitu terpikir langsung berjalan, berbalik lagi ke tempat asal dia datang, menuju Ban-li-san.
Berita kematian ayahnya, kepergian tanpa pamit In Hong-tai dan pekerjaan sadis dari Jian-kin-kau yang berurutan datang, membuat A Bin seperti mimpi dan dalam bayangan tidak menentu dia berlari kencang menuju pegunungan itu, tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya.
Ilmu meringankan tubuh yang digunakan A Bin seperti terbang, tidak sampai tiga jam, dia sudah sampai di kedai arak di Pak-lun, setelah semalaman kelelahan, perutnya sudah merasa lapar, maka dia segera makan, dan membeli makanan ringan, setelah itu dia menuju mulut gunung, dan masuk ke daerah Ban-li-san.
Enam tahun yang lalu, sebelum masuk ke pegunungan itu, A Bin telah mempelajari dengan jelas daerah-daerahnya di peta, puncak tiang langit adalah puncak utama di Ban-lisan, mudah dicari, A Bin ingin mendahului Hong-tai tiba di sana, menyelidiki dengan jelas, maka dia tidak banyak istirahat.
Ban-li-san sangat luas, jurangnya sangat dalam mungkin ribuan li, dengan kemahiran ilmu meringankan tubuhnya, A Bin juga harus menghabiskan waktu banyak, hingga sore dia baru menempuh setengah perjalanan.
Hati A Bin sedang membara, di tambah berilmu tinggi, nyalinya besar, tidak takut pada kegelapan, pegunungan makin tinggi, sekeliling gelap dan embun makin tebal, pohon dan tanaman, batu dan bunga seperti diciptakan oleh iblis, berbentuk ingin memangsa manusia.
A Bin tidak gentar, dia masih dengan cepat melompat menuju puncak tiang langit.
Tengah malam di pegunungan, jarang ada jejak manusia, perasaan A Bin seperti berada dalam neraka, otak terasa bimbang, pemandangan ditambah embun semakin remang, timbul bermacam-macam pertanyaan yang susah dipecahkan.
Dia ingat pada ayahnya, dia tidak percaya sebagai pesilat tangguh ayahnya bisa terbunuh, apa telah terkena tipu orang?
Musuh yang mana?
Apa betul kata-kata Gan Cukan, mereka bertiga Lui-to, In-kiam dan Giok-kiong saling membunuh?
Makin dipikir dia makin tidak mengerti, persahabatan ayah dengan dua teman-nya itu biarpun bukan teman sehidup semati, tidak mungkin terjadi saling membunuh, bila itu terjadi, berarti ada sesuatu, apa ada dendam yang sangat besar atau terjadi kesalah pahaman?
Memikirkan sampai disini, otaknya terbayang muka sadis dan licik Kau Bun-kek, hati dia terasa menggigil.
"Celaka!"
Pikirnya dalam hati A Bin, apa betul jagoan licik ini yang mengadu domba?
Bolak-balik berpikir, A Bin makin percaya ucapan Gan Cu-kan yang memperolehkan desas-desus tentang ayahnya, In-kiam dan Giok-kiong telah terbunuh, semangat A Bin langsung ambruk.
Sebuah berita kematian yang mendadak datang, susah dipercaya oleh yang menerima, lebih-lebih bila sebagai anak, tetap menaruh satu garis harapan, selalu tidak mau percaya berita kematian orang yang terdekatnya.
Tetapi A Bin telah mengetahui kelicikan Kau Bun-kek, timbul dalam pikirannya bila betul ayahnya, In-kiam dan Giok-kiong terkena bujukan hingga di adu domba berduel sampai mati, betul atau tidak tidak siasat ini adu domba Kau Bun-kek, Inkiam dan Giok-kiong boleh dikatakan musuh sendiri, dan turunan mereka termasuk musuh sendiri juga.
Dan A Bin berpikir lagi, bila dia sendiri tidak mempedulikan dendam ini, apakah Hong-tai juga tidak akan menganggap dia sebagai musuh bila tahu diri A Bin adalah turunan dari Lui Kie.
Lebih lanjut dipikirkan lagi, sifat Hong-tai susah memaafkan, tidak memandang A Bin sebagai musuh sudah susah, mana berani meneruskan persahabatan mereka, seharian A Bin berkenalan, sudah menaruh rasa cinta di dalam hati, dan kemudian bila bermusuhan, bagaimana perasaan cintanya tersalurkan, ingat pada hal itu A Bin menjadi sedih.
Hati A Bin makin kacau, perasaan hatinya ingin melihat muka Hong-tai, melihat tawa mendengar suara merdunya.
Sekarang mengetahui dia sebagai anak perempuan musuhnya, dia jadi takut bertemu, maka dia memutuskan, ingin lebih dulu dari Hong-tai tiba di puncak tiang langit, mengetahui benar atau tidaknya kejadian itu tanpa diketahui Hong-tai.
Bila betul tahu kejadian itu sebuah fakta, bahwa ayah dan In-kiam, Giok-kiong mati saling bunuh, diri sendiri bagaimana terhadap Hong-tai, A Bin tidak berani berpikir lagi.
Hati A Bin kusut bagaikan karung, dan makin terasa berat, langkah-langkahnya juga berat sekali, dia dengan linglung lari ke depan, tidak tahu sudah sampai di daerah mana.
Saat dia sadar kembali dan ingin berhenti berlari, dia mengawasi sekelilingnya, terdengar satu suara aneh dikupingnya, suara itu sangat sedih dan memilukan, seperti suara tangis monyet atau orang sedang nyanyi?
A Bin tertarik oleh suara aneh itu, sementara dia menangguhkan rencana semula, mencari asal suara bernyanyi itu, didengar dengan seksama, A Bin tidak mengetahui isi lagunya, tetapi dari suara orang itu terdengar bernada sedih, menyesal dan duka cita......
Mengikuti arah suara nyanyi, A Bin melewati satu jalan kecil yang melingkar, disebuah tumpukan pohon, suaranya makin terdengar nyaring, kesedihan yang amat dalam, sungguh-sungguh menyayati hati orang yang mendengarnya.
Suara lagu itu datang dari dalam hutan lebat, A Bin dengan perasaa ingin tahu, tidak menghiraukan bahaya menerobos ke tempat yang gelap itu.
Ketika makin dekat, lagu itu mendadak berhenti, A Bin melihat dalam jarak beberapa tombak sepasang mata hijau bercahaya sedang berkedip-kedip.
A Bin terkejut sejenak, dalam pikirannya entah binatang apa itu, maka dia pun berhenti melangkah, memasang kuda-kuda, menjaga benda aneh yang bersinar hijau itu menerkam.
Mendadak sepasang mata itu hilang, A Bin merasa aneh, biarpun loncatan gesit macan tutul, juga tidak mungkin hilang jejak dalam sekejap mata.
A Bin termenung, mendadak terdengar lagi lagu sedih dari tempat yang bersinar hijau itu, A Bin baru mengerti, sinar yang berkedap kedip itu adalah mata orang yang sedang bernyanyi, mata dia ditutup sehingga tidak terlihat oleh A Bin, bukan berpindah tempat itu, A Bin merasa terkecoh juga.
A Bin tidak tahu orang itu dari mana, maka dia tidak berani berbuat sembrono, dia berdiam di tempat, menunggu perkembangan, lagu itu makin sedih, seperti ingin mengeluarkan seluruh isi hati si penyanyi, jadi yang terdengar bukan lagu lagi, tetapi teriakan dalam hati, mendengar suara itu, A Bin tahu kesedihan orang itu sangat dalam.
Sejenak kemudian, A Bin merasa aneh dan iba terhadap orang itu, pelan-pelan dia mendekat, pohon-pohon berdaun lebat, terang langit tidak bisa menembus daun yang lebat itu, sampai jarak beberapa kaki, baru agak jelas roman muka orang itu.
Orang tersebut duduk di atas tumpukan tanah, rambutnya panjang hingga ke lantai, alis dan kumis sama panjangnya, sehingga hidung dan mulut tertutup, baju yang dipakai compang-camping, terlihat bekas luka di seluruh tubuhnya.
Sambil menutup mata orang itu bernyanyi dengan tekun, tidak menghiraukan segala sesuatu, sampai kedatangan A Bin juga seperti tidak tahu.
A Bin berdiri didepan dia, memperhatikan orang itu bernyanyi dengan penuh perasaan dalam lubuk hatinya, dia tampak menggunakan tenaga besar, dada-nya turun naik sangat kentara, suaranya keluar dari Tan-tiannya.
Melihat itu, A Bin sangat terkejut, dia sendiri pernah belajar ilmu tenaga dalam yang tingkat tinggi, dia mengetahui bernyanyi menggunakan cara begitu sangat menguras tenaga, orang biasa yang bernyanyi beberapa kali akan kecapaian dan tidak bisa meneruskan, tetapi orang itu sudah bertahan sekitar satu jam, kelihatan bukan baru saja bernyanyi, entah sudah sepanjang hari dan malam, tenaga dalam orang itu betul-betul hebat.
Setelah bernyanyi sejenak lagi, lagunya berhenti, orang tersebut membuka kedua matanya dan sinar hijau dari matanya bercahaya lagi.
A Bin telah tahu bahwa orang ini menutup mata saat bernyanyi, membuka mata waktu berhenti, saat dia membuka mata A Bin ingin memberi isyarat tangan berkenalan, tapi orang tersebut telah menghela nafas panjang!
Suara tersebut panjang sekali, pertama-tama di dengar A Bin seperti dekat kupingnya, selanjutnya seperti jauh puluhan tombak, membuat A Bin lebih percaya bahwa orang ini berilmu sangat tinggi.
Sesudah menghela nafas panjang, orang itu dengan suara sangat sedih berkata.
"Kau tahu tidak! Sekali salah akan menyesal seumur hidup!"
A Bin mengetahui dia berkata pada dirinya, biar pun merasa mendadak, tidak tahu apa maksudnya, dia masih menundukan kepala dengan hormat.
Orang itu memalingkan kepalanya kesamping, berkata pada pohon besar di sebelah kiri.
"Kau tahu tidak? Musibah di puncak gunung tidak layak diucapkan!"
Dan kepala dia berpaling ke belakang berkata pada sebuah pohon besar.
"Kau tahu tidak, penyesalan tidak ada akhirnya!"
Dan kepala berpaling kearah kanan, berkata pada pohon lainnya.
"Kau tahu tidak, kesalah pahaman tidak bisa di-katakan?"
Setelah itu dia duduk di tempat asalnya, meng-hadap muka A Bin menghela panjang sekali, langsung memejamkan kedua matanya, tidak bicara tidak bernyanyi, suara sedih dari helaan panjang orang itu masih berkumandang di seputar hutan itu.
Setelah mendengarkan empat baris kata yang berupa lagu atau sajak dari orang itu, A Bin baru sadar bahwa orang itu sudah dalam keadaan linglung, memandang pohon di sekelilingnya sebagai manusia, melimpahkan isi hati, dan memandang A Bin seorang yang hidup juga seperti pohon itu.
A Bin merasa turut simpati pada orang itu, sayang dia tidak bisa bicara untuk membuat perhatian pada orang itu dan untuk memberi dukungan moril.
Bersamaan waktu itu terdengar suara geresek di batang pohon, seperti ada binatang mendekat, tetapi tidak berani mendekat turun, A Bin menduga ada binatang buas yang akan mencelakakan orang linglung itu, segera siap menghadap serangan.
Orang tua itu membuka kedua mata, dengan nada bertanya diarahkan keatas pohon berkata.
"Kau-ji, kau kenapa belum turun?"
Diatas pohon terdengar suara "dca"
Dua kali, dan segera meluncur satu monyet kecil turun ke tanah, tangan kanannya memegang satu tangkai buah, tangan kiri menunjuk ke A Bin, berteriak-teriak di depan orang linglung itu.
Orang tua linglung itu memandang A Bin sebentar, tapi tidak peduli pada A Bin, dengan suara sayang berkata pada monyet kecil itu.
"Kau-ji, aku lapar, cepat cari makan!"
Monyet itu sambil memandang A Bin dengan curiga, lalu memberikan satu ikat buah itu ke tangan orang tua itu yang dilahapnya dengan cara sembarangan, buah itu dimakan habis dengan sekejap waktu.
Monyet kecil itu menunggu orang itu habis makan, lalu meloncat dengan gembira kepelukannya, dia terlihat intim sekali, dan orang tua itu seperti memeluk bayi sambil berkata.
"Kau-ji! Gadis baik! Tunggu setelah kau dewasa kakek akan mencarikan jodoh pilihan buatmu!"
Monyet kecil itu seperti mengerti, melihat muka orang itu bersuara "ci ca"
"d ca". Kata-kata lucu orang tua itu, bila A Bin tidak punya perasaan sedih mungkin akan tertawa juga. Orang tua itu tetap menyayangi monyet kecil, berkata sendiri, bengong sebentar, A Bin terpikir juga bahwa orang tua ini kemungkinan besar punya anak yang namanya Kauji, sekarang setelah menjadi di dalam hutan, salah menganggap monyet sebagai anak gadisnya sendiri, hingga berbicara demikian. Setelah berkata tidak karuan, orang tua itu bersuara lebih jelas, katanya.
"......sedihi Sedih! Mereka adalah petarung hebat di dunia persilatan, semua tidak ada dendam mendalam, ternyata saling bunuh dengan satu pedang, satu busur, satu tombak......"
A Bin seperti tersengat setrum mendengarkan kata-kata itu, terpikir di dalam hatinya, apa kejadian itu betul seperti ayahnya berduel dengan In-kiam dan Giok-kiong, apa orang tua ini menyaksikan di tempat kejadian, sehingga terkejut dan menjadi, tersesat dihutan ini, tiap hari bernyanyi dan berkata.
Dia ingin mengetahui lebih jelas, A Bin menahan gejolak di dalam hati, terus mendengarkan di pinggir.
Orang tua itu terus bercerita.
"......semua orang mempunyai ilmu tinggi, pertama-tama tidak ada yang terluka, tiga orang tidak bisa menentukan siapa pemenangnya, akhirnya mereka bertiga saling serang hingga menjadi pertarungan yang kacau-balau......"
A Bin mendengarkan dengan sangat sedih yang mendalam sehingga bulu romanya berdiri, tetapi tetap mendengarkan dengan teliti.
"Sepuluh jurus lewat... seratus jurus lewat... seribu jurus lewat biarpun orang terbuat dari baja, dewa agung juga ada saat tenaganya habis, pertarungan kacau itu entah telah berjalan berapa ribu jurus, hingga akhirnya mereka semua lemas kehabisan tenaga dan ingatannya jadi kacau, jurusjurus mereka tidak beraturan, malah seperti orang atau binatang, sembarang pukul kiri pukul kanan, golok, pedang, busur saling memukul memukul tubuh lawannya, terjadilah cucuran darah seperti keringat, kulit dan daging terbelah, tetapi tidak ada orang yang merintih kesakitan, tidak ada orang yang mundur dari arena pertarungan, semua bagaikan manusia besi! Orang kuat......"
A Bin yang mendengarkan kata-kata itu jadi sedih sekali, jantungnya seperti dibelah, ingin membekam mulut orang tua itu supaya jangan di teruskan lagi cerita sedihnya, tetapi dia masih bertahan, dia terus mendengarkan.
Orang tua itu dengan mata memandang kosong ke depan seperti mengingat kembali kejadian itu, kedua tangannya diarahkan bergerak ke depan, sambil bercerita kembali, monyet itu sudah terbiasa dengan gerakan tangan orang tua itu sambil bermalas-malasan dipangkuan dia.
"......satu persatu pada roboh, lalu bangun lagi berkelahi lagi, berteriak-teriak, bunuh, bunuh, akhirnya, busur cacat, pedang patah, golok putus juga, masing masing tinggal setengah busur, setengah gagang pedang, setengah pegangan golok, tapi masih berteriak-teriak tidak hentihentinya."
A Bin tidak tahan mendengarkan lagi, menutup kedua kupingnya, memejamkan kedua mata, tidak tahan mendengarkan lagi cerita itu, sambil berteriak dalam hati.
"Tuhan! Kenapa bisa terjadi kekejaman ini, sehingga ayah, In-kiam dan Giok-kiong tiga ksatria terlibat pembunuhan sadis, apa pendorong tenaganya? Dimana mereka? Apa sebabnya membuat pembantaian yang tidak bermoral?"
Pedih sekali A Bin mendengar cerita itu, tetapi dia ingin mendengarkan kelanjutan cerita orang tua itu, tangannya dilepaskan kembali, lubang kupingnya terus mendengarkan cerita kembali.
"......langit dan bumi gelap, matahari dan bulan tidak bercahaya, angin kencang diatas puncak gunung juga tertutup oleh teriakan amarah ketiga orang itu, dan akhir cerita, pedang menusuk daging di bawah ketiak, busur mengiris tenggorokan, golok memukul patah kedua kaki, tiga orang itu semua roboh."
Mendengar cerita sampai disitu, A Bin sangat sedih, keluar teriakan dari dalam hatinya, tetapi hanya berbunyi dalam tenggorokan.
Tanpa mempedulikan lingkungan, termenung dalam ingatan, berkata lagi.
orang tua itu " ......tiba tiba, berdiri satu orang di antara mereka, membelalakan matanya yang merah meman-dang kedua orang yang terlentang ditanah, berteriak.
"Bunuh! Bunuh!"
Dua tangan diangkat tinggi ingin merobek tenggorokan kedua orang itu, mendadak satu suara geledek di siang hari bolong membuat bertiga orang itu sadar kembali, seorang yang berbaring berkata duluan.
"ini......kejadian apa?"
Yang berdiri juga berkata.
"Apa yang terjadi?"
Satu orang yang berbaring berusaha duduk juga berkata.
"Ini......"
Baru berkata sepatah, jatuh kembali, ternyata sudah meninggal......"
Karena sedih besar A Bin makin termenung di tempatnya, terus mendengarkan cerita.
Yang berdiri tertawa sedih, berkata sendiri.
"Tidak disangka nasib tiga pendekar wahid bisa begini"
Lalu duduk di samping orang yang berbaring, berkata lembut.
"Kita berdua sudah terluka parah, tetapi bila berusaha saru orang masih bisa hidup, dikemudian hari bisa mencari sebab kenapa kejadian sadis ini bisa terjadi, aku sekarang akan menyalurkan tenaga dalamku membantumu......", sampai cerita disini, tenggorokan orang tua itu berbunyi, sambil menangis, air matanya jatuh bercucuran ke bawah. A Bin ingin mengetahui akhir cerita, dengan sabar menunggu orang itu bercerita lagi, sambil terisak isak orang tua itu berkata dengan suara merintih.
"......akhir kata, satu orang lagi meninggal, tiga orang jagoan dari dunia persilatan sisa satu orang yang setengah hidup......"
Bercerita sampai disini, orang tua itu dengan nada putus asa berdiam sebentar, dan melanjutkan bernyanyi lagi.
A Bin juga tersiksa oleh kesedihan, terjerumus dalam keadaan bimbang dan bengong, entah berapa lama, tubuhnya mulai terasa dingin, dia membuka matanya baru tahu matahari sedang muncul di timur, embun dingin menusuk tubuh, ternyata dalam keadaan setengah sadar dia telah berdiri di lapangan terbuka sepanjang malam.
A Bin mendadak teringat orang tua itu, dia melihat orang tua itu sudah tidak ada ditempatnya, A Bin terkejut bukan main, diingatnya kembali kejadian tadi malam, apa sungguh-sungguh bukan mimpi, lalu kemana orang tua itu?
A Bin segera menggunakan ilmunya, menerobos hutan, dengan teliti mencari hingga diluar hutan, di depan matanya terlihat satu gunung kecil di pinggir tebing, di kaki gunung kecil itu ada satu goa.
Dalam hati A Bin berpikir, orang tua itu mungkin tinggal di dalam goa itu, tanpa ragu ragu dia menerobos masuk kedalam, baru melangkah tiga kali terdengar suara "ci ca"
Satu kali, ada satu benda hitam jatuh dari atas melesat masuk ke dalam goa, mata A Bin dengan jelas melihat anak monyet itu yang kemungkin-an tidur diatas goa, karena terkejut kedatangan orang asing, segera berlari ke dalam memberitahu orang tua itu.
A Bin tidak membenci monyet itu, malah menilai binatang itu cerdik, loyal dan menarik, maka dia memperlambat langkah kakinya, agar orang tua di dalam mengetahui kedatangannya.
A Bin pelan-pelan masuk sekitar sepuluh tombak, melewati satu tikungan batu gua, di depan mata terlihat satu ruangan sebesar rumah biasa, orang tua itu sedang bersila di dudukan batu dengan tenang, dan monyet kecil itu sedang menarik-narik sudut baju dia sambil terteriak, tetapi dia tetap diam saja.
Monyet kecil itu melihat A Bin makin mendekati, dengan terkejut meloncat kepangkuan orang tua itu, dua cakarnya menggesek gesek kedua lengan baju orang tua itu.
Orang tua itu pelan-pelan membuka kedua matanya, dengan dingin memandang A Bin, tetapi seperti tidak melihat diri A Bin, muka dia tidak tampak terkejut.
A Bin bimbang juga bagaimana menyampaikan niat untuk menanyakan lebih jelas kejadian di atas puncak gunung tiang langit itu.
Orang tua itu memandang A Bin sejenak kemudian, seperti melihat sesuatu di muka A Bin, dia berobah terkejut dan gembira berteriak.
"Kau...... kau belum mati? Apa...... bagus ssekali!...... bagus sekali!"
A Bin mengetahui orang tua ini sudah lupa ingatan, pasti tanpa aturan salah mengenal orang, entah melihat seperti orangnya dimana, dia ingin lebih dekat dengan orang tua itu, agar lebih banyak mengetahui semua hal, A Bin menganggukan kepala agar orang tua itu senang padanya.
Tetapi orang tua itu segera menggeleng-gelengkan kepala berkata.
"Tidak......tidak......kau ini palsu! Aku dengan jelas melihat dia mati dipinggir tubuhku, menghembus-kan nafas terakhir, mana mungkin hidup kembali, datang kemari!"
Orang tua itu sudah lama, begitu marah segera melayangkan tangan kirinya, satu tenaga sangat kuat keluar dari pusat telapak tangannya menerjang A Bin, A Bin tidak berjaga diri, segera memusatkan tenaga dalamnya melawan, tetapi belum lagi tenaganya terkumpul, suara benturan tenaga bentrok "
Buum....."
A Bin terdorong mundur delapan langkah, punggung-nya terbentur tembok gua, tangannya terasa pegal sekali.
A Bin merasa terkejut, dalam hatinya berpikir bila dirinya bisa mengumpulkan seluruh tenaganya, juga belum tentu dapat menerima pukulan orang tua itu, mungkin orang ini adalah seorang jago yang hebat sebelum linglung, terpikir dari ucapan sendiri orang tua tadi, timbul dugaan A Bin, apakah orang ini adalah In-kiam atau Giok-kiong?
Serangan pertama tidak berhasil, orang tua itu makin bertambah emosi, mendadak menggunakan sebelah tangannya menekan ke tanah, seluruh tubuhnya terangkat dan melayang, dengan sebelah tangan lainnya mencakar kepala A Bin.
A Bin telah mengetahui orang tua ini kepandaian nya sangat tinggi dan dalam keadaannya linglung, dia tidak berani ceroboh, segera menghindar kepinggir, lolos dari cakaran orang tua linglung itu.
Terdengar suara batu gua pecah "Praak!", ternyata cakaran orang tua itu membuat tembok gua itu berlubang dalam beberapa inci.
Ternyata orang tua ini lupa ingatan, hanya tenaga dalamnya yang masih tersisa, tetapi kegesitannya sudah hilang, sehingga serangan itu hanya bisa kearah depan, tidak bisa ganti posisi dan menghentikan jurus serangan.
Loncatan orang tua itu membuat A Bin dengan jelas melihat orang itu telah putus kedua kakinya dari tumit kebawah, dia baru mengerti orang tua linglung ini adalah orang terakhir yang hidup di puncak gunung tiang langit, tetapi dia tidak bisa membedakan apa orang ini In-kiam atau Giok-kiong.
Setelah menghantam tembok gua membuat batu-batuan berterbangan, orang tua itu tertawa dengan riang sambil berkata.
"Bagus! Bagus, aku telah membalas dendam, ini......"
Orang tua itu dengan tenaga penuh berusaha mundur dari tembok dinding, tetapi sudah tidak dapat menguasai aliran darah dalam tubuh, sehingga dari mulutnya keluar muntahan darah, dan jatuh ke tanah, monyet kecil itu berteriak dengan suara sedih mendekati orang tua dan memperhatikannya dari pinggir.
Bersamaan waktu itu A Bin juga terbawa dalam keadaan sedih, di dalam hati membara api dendam, menganggap orang tua ini entah In-kiam atau Giok-kiong, sama-sama adalah biang pembunuh ayahnya, dia ingin membunuh orang ini untuk membalas dendam.
Maka dia menggemeratakan gigi dengan kencang, membelalakan mata amarah, menghampiri orang tua linglung itu.
Dalam keadaan pikiran sedang penuh dengan dendam, A Bin hanya melihat tubuh orang tua itu, yang lain tidak dilihat dan tidak didengar, sepuluh jari tangan menekuk bagaikan cakar, pelan-pelan diarahkan ke atas kepala orang tua yang terbaring ditanah, tidak bisa menghindar.
Dalam waktu sekejap orang tua itu akan mati dibawah sepuluh jari A Bin, mendadak terdengar satu suara sedih, satu benda berbulu dan empuk jatuh ke dada A Bin, ternyata monyet kecil itu melihat A Bin ingin mencelakakan orang tua itu segera menerkam A Bin, sepasang cakarnya yang tajam, sepasang gigi runcing, mencakar dan menggigit tubuh A Bin, membuat A Bin pelan-pelan sadar kembali.
Dengan tingkat ilmu silat A Bin, hanya dengan satu telunjuk saja dia sudah bisa buat monyet itu mati, tetapi begitu sadar kembali, jiwa rasa sayang dia pulih kembali, menghadapi monyet kecil yang setia dan berani, A Bin merasa turut simpati, dan pelan-pelan menahan api dendam dalam dadanya, sambil menahan cakaran dan gigitan monyet kecil itu.
Monyet kecil itu tidak bisa bergerak dalam pegangan A Bin, hanya bisa memekik-mekik, orang tua itu seperti terkena setrum, kedua tangan menepuk tanah, meloncat lagi, menyerang A Bin sambil dengan marah berteriak.
"Siapa yang berani melukai anakku Kau-ji, siapa......."
Orang tua itu seperti harimau marah, biarpun kedua kaki sudah buntung, gerakannya masih cepat menerkam A Bin, A Bin tidak berani melawan ujung tenaga itu, dan punya niat tidak akan mencelakakan lawan, terpaksa merubah posisi menghindar kesamping.
Orang tua itu tidak dapat membedakan arah, terus melesat menuju tembok di belakang badan A Bin, sepuluh jari dia tertancap masuk ke tembok beberapa inci, hingga tubuhnya menggantung sambil bergoyang goyang, mulut terus menerus meratap tangis.
"Kau-ji! Kau-ji! Kau! Kau dimana?" A Bin melihat kejadian itu, merasa sedih dan turut meneteskan air mata, dia sudah menghilangkan rasa dendam, berbalik menjadi kasihan pada orang tua itu, timbul pikiran aneh di dalam kepalanya, dari tiga pendekar wahid, kematian ayah dengan salah satu orang dari In-kiam atau Giok-kiong lebih bagis, melihat orang tua linglung ini tiap hari tersiksa oleh penyesalan, lebih tertekan dalam batinnya, lebih pedih dari pada mati, berapa besar dosanya pun sudah terlunasi. Dengan menggendong monyet kecil A Bin pelan pelan menghampiri orang tua itu, dengan bantuan satu tangan dia menurunkan orang tua yang sudah kelelah-an, di sandarkan untuk duduk di pinggir tembok, dan pelan-pelan "menaruh monyet kecil itu ke dada orang tua itu. Anak monyet itu seperti mengerti pikiran orang, mengetahui A Bin tidak akan mencelakakan dia dan orang tua, maka dalam pelukan orang tua itu, berbuat lucu seperti bayi ingin disayang. Orang tua itu seperti memdapatkan kembali benda pusaka, menggendong anak monyet itu dengan erat, sambil berkata.
"Kau telah kembali! Kau-ji! Kau tidak akan tinggalkan kakek bukan? Kau mesti tahu, kakek adalah orang baik, kejadian di puncak gunung entah kenapa bisa terjadi? Aku sendiri tidak mengerti, Kau-ji, kau tidak akan menyalahkan kakek kan! Kau tidak......"
Melihat kejadian yang memilukan itu, A Bin membayangkan bila dia juga dalam pelukan ayahnya, akan bagaimana rasanya?
Emosi sedih membuat dia meneteskan air mata......
Setelah berbicara sendiri beberapa saat, orang tua itu menaruh monyet itu di pinggir, merangkak di tembok gua, dan meraba raba di bawah bangku batu, mengeluarkan sebuah benda, A Bin melihat dengan jelas benda itu adalah busur putus yang tinggal separahnya, entah dari mana benda itu datangnya, dan melihat kembali orang tua itu mengeluarkan potongan ujung pedang, kedua mata orang tua itu memperhatikan kedua senjata yang sudah cacad sambil berkata sendiri.
"Busur cacad, pedang patah milik orang mati jago tempo hari, sekarang tinggal tulang putih, kalian berdua di liang kubur tidak akan memejamkan mata, aku telah memilih tempat mengubur tulang-tulang yang paling bagus......"
A Bin baru mengerti benda itu adalah benda wasiat dari Giok-kiong dan In-kiam, tetapi tidak mengerti kata-kata orang tua itu, bila dia mengatakan bahwa Giok-kiong dan In-kiam sudah dikuburkan, lalu dia ini siapa?
Sejenak kemudian, orang tua itu mengeluarkan satu benda lagi, A Bin begitu melihat langsung berteriak.
"Ayah!"
Tidak bisa menahan diri, langsung maju ke depan dan menyerobot, diambilnya benda itu, adalah golok ayahnya yang sisa sepotong dengan pegangan, A Bin kenal betul benda itu.
Gerakan mendadak itu membuat orang tua dan monyet kecil itu bengong karena terkejut, mereka melotot tingkah A Bin yang mengusap golok putus itu, yang sedang merenungkan diri.
"Ayah! Ayah! Apakah kau dengan nama tenar, terkubur di puncak gunung tanpa mengetahui sebabnya? Apakah ayah rela mem-biarkan anak tunggal hidup sendiri?"
Orang tua itu ikut terharu, berteriak juga.
"Kau-ji! Kau-ji! Dimana menelantarkan ayah?......"
Kau?
Apa kau sudi Monyet kecil itu takut atas ulah kedua orang itu, dia membungkukan tubuh melesat lari keluar gua.
Orang tua itu berteriak-teriak sejenak, seperti menemukan sesuatu, memandang A Bin dengan potongan golok itu berkata.
"Kau! Kau penasaran ya! Aku tahu, kau tidak takut mati, kau mati karena aku, bila kau tidak membantu aku dengan tenaga dalammu, kau tidak akan mati, karena itu kau mati......kau tidak takut mati, kau tidak rela meninggalkan anak, maka mati penasaran, oh kau bilang......kau pernah bilang......oh! Kau minta aku berikan potongan golok ini ke anakmu, agar dia menyelidiki kejadiannya, agar dia membalas dendam..."
Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 10
Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 2