Legenda Golok Halilintar 1

Eps 1 Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Baca online Legenda Golok Halilintar - Lan Li

Cersil Legenda Golok Halilintar - Lan Li.

L Leeggeen nd daa G Goollook kH Haalliilliin nttaarr Karya . Lan Li Saduran . Sin M Edisi Ke 1 . Desember 2008 Djvu Kiriman . Lavilla Ebook pdf oleh .

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com

http.//dewi-kz.info/

http.//cerita-silat.co.cc/

http.//ebook-dewikz.com

Jilid KE SATU Pendahuluan Halilintar memecah di langit yang berwarna kelam abuabu dan menghantam bumi!

Getaran bunyi halilintar yang mengelegar-gelegar dahsyat bergentayangan dicelah-celah lembah gunung lama sekali hilangnya.

Kilatan cahaya yang datangnya hanya sekilas, menerangi tiga macam barang yang membuat orang miris, diatas bukit tunggal yang menyerupai kepala botak dewa Lohan.

Golok panjang yang putus, Pedang yang patah, Busur panah yang cacad.

Golok panjang yang putus, hanya menyisakan bagian kira-kira dua cun dari ujung goloknya, tetapi diatas puncak menusuk tanah batu yang kerasnya bagaikan emas dan besi diatas, ekor pitanya berwarna merah darah mencolok berkibar di terpa angin, gagang golok tersebut berbeda dengan yang lain, besarnya sama dengan jari tangan anakanak, kelihatan terbuat dari bahan yang empuk, sekarang berdiri dengan tegak.

Pedang yang patah, tergeletak di tempat tidak jauh dari golok panjang yang putus, ujung pedang yang telah patah setengah, entah dimana bagian patahannya?

Dalam kilatan halilintar, gagang pedang itu mengeluar-kan cahaya ke Sekeliling tempat itu, sekali pandang sudah dapat diketahui gagang pedang itu telah tertanam banyak batu perhiasan.

Busur panah yang cacad, tergantung di pinggir tebing tidak jauh dari golok putus, pedang patah, sepertinya hampir jatuh ke bawah jurang, sebetulnya, sebagian busurnya sudah terbenam di celah batu, kokoh tidak dapat dicabut lagi, punggung busurnya terbuat dari giok putih, tali busurnya sudah hilang, sehingga disebut busur panah yang cacad.

Kilat dan halilintar sudah berlalu, dari jurang yang sangat dalam timbul angin yang sangat dingin, dan mendadak suara rintik-rintik hujan turun dari langit yang lusuh!

Apakah langit turut bersedih atas sisa pertarung-an di puncak bukit tunggal ini?

meneteskan air mata kasihan pada golok panjang yang putus, pedang yang patah dan busur panah yang cacad.

Apa betul?

Atau bukan?

0-0dw0-0 BAB I Gua iblis Kilatan halilintar bagaikan pelangi, amarah geledek masih bergetar!

Lembah iblis yang gelap gulita terletak di daerah Ban-li-san (Pegunungan sepuluh ribu) di Gui-lin selatan.

Begitu kilat halilintar berkelebat, sisa cahaya yang merah menyala terang, membuat lembah iblis terang benderang sekilas dan lembah yang sejak ribuan tahun, siang malam terkunci oleh kegelapan, baru tampak di mata langit.

Tampak dasar lembah berlumut hijau tanpa jalan, tidak terlihat batunya, di sampingnya berdiri bukit-bukit yang menjulang tinggi, kadang ada juga batu-batu yang mencolok keluar, bentuknya seperti binatang raksasa jaman purbakala, dengan mata yang mengerikan memandang ke bawah, membuat orang takut.

Saat kilatan sinar berkelebat, terlihat satu anak kecil sedang meloncat melewati batu yang terletak di atas dasar bukit, yang tingginya puluhan meter.

Anak itu!

Loncatannya ringan dan lincah, tidak kalah dari loncatan monyet batu-batu yang bisa melon-cat sampai sejauh dua tombak.

Yang lebih aneh lagi, dia turun dari atas bukit tinggi yang banyak jumlahnya, bocah lelaki yang baru berumur sepuluh tahun, bagaimana bisa datang ke tempat itu?

Untuk apa dia datang?

Saat kilatan sekali lagi datang di ikuti suara halilintar, geraknya seperti ular emas yang melesat ke bawah lembah, dengan cepat lewat di depan anak itu, biarpun sangat berani, dia terkejut juga atas kejadian itu.

Bocah itu belum minum dan makan sejak kemarin siang, tubuhnya gemetar tersiram air hujan, lapar dan dingin, membuat orang dewasa saja bisa patah semangat, apa lagi bocah cilik ini, dia hampir putus asa.

Dia melihat pemandangan sekeliling tempat, kesunyian dan kegelapan belum memperlihatkan muka asli lembah iblis yang mengerikan, demua menambah ketakutan bocah ini.

Mendadak, kilat dan halilintar datang lagi, mem-buat hati bocah yang kelaparan ini mendapat pukulan berat.

Tetapi...

sinar kilat dan suara halilintar ini seperti memberi rangsangan sejenak, membuat jiwa pemberani-nya pulih kembali.

Dengan semangat yang pulih, dia berpikir.

"pepatah mengatakan ayahnya adalah gambaran laki-laki sejati, dia adalah pemimpin dari empat pendekar wahid yang termasyur yang mendapat gelaran "

Lui-to (Golok Halilintar), In-kiam (Pedang Awan), Giok-kiong (Busur Kumala) dan Kau-sat (Kail Pembunuh) " Ayahku berjuluk Lui-to-cai-thian (Golok halilintar di langit)!

Adalah seorang ayah yang gagah, mana boleh aku jadi seorang pengecut dan gampang putus asa."

Semangatnya yang teguh seperti membuat suatu keajaiban, begitu bocah itu memikirkan sebutan ayahnya, Lui Kie Lui-to-cai-thian, semangat juangnya langsung bangkit, hilang rasa takut terhadap situasi sekelilingnya yang gelap dan asing, juga melupakan perihnya perut lapar dan gemetaran untuk sementara, mengunakan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan ayahnya sejak dia masih kanak-kanak, dia meloncat ke bawah, ke jurang iblis.

Ke bawah jurang iblis?

Tentu saja, bocah kecil itu tidak tahu dia telah menuju tempat yang salah, dia tidak mengenal jalan, hanya menerjang tempat itu bagaikan orang buta.

Sekali lagi kilat dan halilintar berselingan keluar, hujan lebat tercurah dari langit, sekejap saja bajunya sudah basah semua, detik ini mana mungkin dia menpersoalkan bajunya yang basah?

Tetapi terpaan hujan lebat tersebut, membangkitkan rasa dingin dan lapar yang telah dilupakan tadi, dia jadi lebih tersiksa lagi.

Bocah itu terpaksa melanjutkan loncatan yang bagaikan angin melewati batu-batu yang terjal, sebentar saja sudah melesat sejauh sepuluh tombak.

Hujan lebat, batu licin, di tambah lapar, dingin, dan kelelahan, baru saja bocah itu meloncati batu terjal di seberang yang jaraknya satu tombak, mendadak kaki-nya terpeleset, dalam hatinya berseru.

"Celaka"

Belum katakatanya juga diucapkan, tenaga dalamnya seperti terkuras habis, tanpa daya dia jatuh terpelanting menuju bawah jurang yang puluhan tombak dalamnya.

Anak kecil itu putus asa!

Dia memejamkan kedua matanya, terasa suara angin yang menderu di pinggir kupingnya, kecepatan turunnya cepat, dalam hatinya dia merasa sedih, dan berkata.

"Ayah, sebetulnya A Bin tidak boleh kabur dari rumah........."

Belum berhenti berpikir, tubuhnya mendadak menimpa benda yang basah, empuk dan sangat kenyal, dia tidak merasa sakit, malah tubuhnya terpental balik ke udara dan jatuh lagi, berulang-ulang hingga empat kali, baru bisa terlentang diatasnya.

Dia terkejut bercampur senang, dengan teliti di rabanya benda yang menahan tubuhnya, dalam hatinya berkata.

"beruntung selamat’ ternyata dia selamat oleh lumut hijau yang tebalnya beberapa kaki, yang tumbuh sejak jaman purba kala tidak terkena sinar matahari, lumut itu berobah jadi empuk dan elastis, biarpun ada orang jatuh dari tempat tinggi hingga seratus tombak pun, tidak akan terluka. Hujan makin deras, dibawah jurang terasa lebih deras lagi, A Bin merangkak bangun di bawah dasar jurang yang gelap, dia meraba-raba dinding jurang yang licin dan basah, dengan lunglai menginjak lumut yang empuk dan basah hingga sepuluh tombak jauhnya. Mendadak tangannya meraba celah yang kosong, A Bin tidak waspada, keseimbangan tubuhnya tidak terkontrol, dan lumut yang dibawah kaki tidak bisa menahan kakinya, sehingga dia jatuh kedalam lubang itu, terdengar satu suara "bruk", ternyata dia jatuh ke atas tanah yang keras dan kering. Hujan yang deras menjadi berhenti karena terhalang lumut, sekarang A Bin merasa lebih leluasa, dia bersandar di tembok lubang itu yang ternyata menyerupai sebuah goa, setelah beristirahat sejenak, dia melihat gelapnya dalam goa hingga tidak kelihatan apa-apa, pelan-pelan dia teringat kehidupan masa lalunya........... 0-0dw0-0 Ketika A Bin baru dilahirkan tiga hari, ibunya meninggal karena sakit, dia di rawat oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang, sejak kecil ayahnya telah memupuknya dasar latihan silat, dan oleh kakek dari ibunya yang terpelajar, dia diajarkan membaca dan menulis, hingga umur sepuluh tahun, dia telah menguasai seratus dua belas jurus ilmu ayahnya yang bernama Ilmu golok halilintar.

"Lui-teng-kiehoaf (jurus Halilintar gemuruh) Karena ayah A Bin, Lui Kie sangat sayang pada anaknya, maka dalam kehidupan sehari-harinya dia jarang keluar rumah, sepanjang tahun dia menemani anak tersayangnya, kecuali tiap tiga tahun sekali pada bulan 5 di saat hari Pecun (bacang) dia pergi ke Kwie-lam, mengikuti pertemuan Empat pendekar wahid yang diadakan tiga tahun sekali di Liong-bun-hong (Puncak-pintu langit) di Ban-li-san. Pertemuan ini sudah berlangsung sekitar dua puluh tahunan, tiap tiga tahun menjelang malam hari raya Pe-cun, empat pendekar wahid di jaman itu akan datang ke Liongbun-hong untuk mengadu kepandaian, yang menang akan memegang tanda "

Su-ciat-leng" (Empat perintah tertinggi) selama tiga tahun.

"Su-ciat-leng"

Hanya berupa Papan perintah yang berwarna hitam, perebutan Papan perintah ini telah berlangsung sepanjang dua puluh tahun, Papan perintah mempunyai kekuasaan yang sangat besar, bagi golongan hitam atau putih di dunia persilatan, biarpun tidak terikat oleh Papan perintah itu, tetapi tetap mengakui keberadaannya, karena orang yang meme-gang "Su-ciatleng" , adalah orang yang paling hebat ilmu silatnya, siapa yang berani melawan Papan perintah itu, berarti menantang pada Empat pendekar wahid, tidak bisa di sangsikan lagi.

Di dunia persilatan siapa yang mau bermusuhan dengan gabungan Empat pendekar wahid ini?

Tahun ini timbul pikiran A Bin untuk ikut ayahnya ke Liong-bun-hong menyaksikan pertemuan empat pendekar wahid.

Ayahnya Lui-to-cai-thian tahu perjalanan kali ini tidak aman, maka dia tidak mengijin-kan A Bin ikut, tapi meski A Bin orangnya kecil, nyali-nya sangat besar, setelah ayahnya pergi, dia seorang diri meninggalkan rumahnya, dia telah mengelabui kakek-nya.

Dengan menempuh ribuan li dari In-lam datang ke Liong-bun-hong di pengunungan itu!

Sehari sebelumnya A Bin telah menemukan sebuah tempat tersembunyi di puncak itu dan mengintai situasinya, pada malam hari raya Pecun, di waktu bulan sabit menerangi Liong-bun-hong, disana telah penuh oleh orangorang dari segala partai perguruan silat.

A Bin mengetahui aturan Empat pendekar wahid, dan sebetulnya kepandaian Empat pendekar wahid ini hampir seimbang semuanya, mereka sudah beberapa kali bertanding, tapi tidak ada pemenangnya, maka mereka berjanji tiap tiga tahun sekali mereka bertemu, masingmasing akan menggunakan tiga jurus ilmu terbarunya, dan akan dinilai dengan adil oleh empat orang itu, siapa yang lebih maju pesat dalam ilmunya, dialah yang berhak atas "Su-ciat-leng"

Selama tiga tahun.

Sepuluh tahun yang sudah lewat, In-kiam (Pedang Awan), Giok-kiong (Busur Kumala), Kau-sat (Kail penbunuh) telah menang satu kali, sedang Lui-to-cai-thian telah menang dua kali, Empat pendekar wahid telah berjanji, siapa saja yang lebih dulu bisa menang tiga kali, maka dia berhak memegang "Su-ciat-leng"

Selamanya, maka dengan rasa percaya diri yang sangat besar, A Bin ingin menyaksikan ayahnya menjadi pemilik benda itu selamanya.

Di tengah Liong-bun-hong (Puncak pintu langit) terdapat empat buah tempat duduk dari batu merupa-kan tempat penampilan Empat pendekar wahid.

Tepat jam dua belas malam, di Liong-bun-hong sunyi, tidak ada yang berbicara, semua orang yang datang dari segala perguruan silat masing-masing diam menunggu.

A Bin membuka matanya lebih lebar, dalam hatinya dia sangat tegang.

Di bawah cahaya malam, satu sosok bayangan, melesat turun dari ketinggian, lajunya sangat cepat bagaikan bintang jatuh dari angkasa langsung jatuh tepat di batu tempat duduk di bagian selatan.

A Bin melihat keindahan orang itu melesat, dengan pikiran dan dalam hati berdebar dia tahu hanya ayahnya saja yang menguasai ilmu meringankan tubuh itu, hampir saja mulutnya kelepasan memanggil "Ayah telah datang".

Kata yang ingin di ucapkan dimulut, mendadak berhenti karena kecewa.

Pandangan matanya dengan cepat telah melihat orang yang datang tersebut di bahu tangannya tergantung sebilah kail besar yang meng-kilap, ternyata adalah Kail pembunuh Kau Bun-kek, salah satu dari anggota Empat pendekar wahid.

Empat pendekar wahid hanya datang satu orang, menbuat orang-orang partai yang ingin menonton tercengang dan gaduh, hati A Bin lebih bergolak bagaikan terbakar.

Kau Bun-kek menunggu sejenak, dan dari sarung tangan bajunya dia memperlihatkan sebuah benda yang warna hitam, itulah.

"Su-ciat-leng"

Yang direbutnya dulu, bukanlah hal aneh sekarang berada ditangannya, tetapi yang baru pertama kali melihat benda yang melambangkan kekuasaan di dunia persilatan, tidak bisa menahan diri dan membuat suara gaduh.

Dengan kedua mata yang jernih Kau Bun-kek memandang sekeliling lapangan satu kali, dan dengan tertawa nyaring berkata.

"Pertemuan untuk memperebutkan Su-ciat-leng telah berjalan delapan belas tahun, waktunya jam dua belas malam tepat lewat, jika tidak datang tidak akan ditunggu lagi, sekarang aku akan memanggil tiga nama pendekar wahid yang belum datang sebanyak tiga kali, bila tidak menampakkan diri, berarti "

Kau Bun-kek"

Ada kesempatan, memegang lagi Su-ciat-leng."

Orang-orang di sekeliling yang datang dari segala jurusan mengharapkan pemimpin iblis yang suka melihat darah ini kalah dalam pertarungan kali ini, agar Su-ciat-leng itu jatuh ke tangan tiga pendekar wahid lain, tetapi sampai detik ini, Lui-to (Golok Halilintar), In-kiam (Pedang Awan), Giokkiong (Busur kumala) masih belum datang.

"Siapa yang mau mencampuri urusan ini, katakan setuju?"

Betul saja, Kau Bun-kek berteriak keras.

"Saudara Busur Kumala (Giok-kiong), Giok Kang-tong!"

Dia berteriak tiga kali, tapi tidak ada orang yang menyahut, tersenyumlah Kau Bun-kek yang bermuka buas. Dan dia berteriak lagi. "Saudara Pedang Awan (In-kiam) In Tiang-long!"

Juga dipanggil tiga kali.

"Tidak ada balasan,"

Kau Bun-kek semakin senang. Dia berteriak lagi.

"Saudara Golok halilintar di langit (Lui-to-cai-thian) Lui Kie!"

A Bin menyaksikan Busur Kumala, Pedang Awan sama sekali tidak menampakkan diri, seperti ada rusa kecil yang menabrak ketika mendengar Kau Bun-kek memanggil nama ayahnya, ayahnya juga tidak muncul, tidak terasa punggungnya mengucur keringat dingin.

Makin keras tertawa Kau Bun-kek, dia berteriak lagi.

"Saudara Lui-to-cai-thian, Lui Kie!"

Tetap tidak ada alasan, A Bin memandang mata yang hampir lepas, hatinya seperti terbakar, dia tidak dapat menguasai diri.

Kau Bun-kek diam-diam bernapas panjang, dan dengan tertawa senang berteriak untuk ketiga kaliny.

"Saudara Luito-cai-thian, Lui Kie!"

Ternyata, dari kejauhan terdengar suara balasan yang nyaring.

"Lui Kie datang!"

Kau Bun-kek seperti terkena halilintar di siang hari, dalam keadaan sangat terkejut dia belum memperhatikan suara jawaban yang agak berbeda, roman mukanya yang berseri-seri langsung menghilang, warna mukanya berobah menjadi pucat ke abu-abuan.

Semua orang yang berasal dari semua partai di dunia persilatan turut senang, mereka berpikir, jika Lui Kie, Luito-cai-thian datang, tidak mungkin Kau Bun-kek tidak bersedia menyerahkan "Su-ciat-leng"

Dan tiga tahun ke depan, dunia persilatan akan berada dalam ketentraman dan aman.

Setelah sesosok bayangan hitam melesat ke batu duduk di seberang Kau Bun-kek, semua orang melihat jelas, yang bersuara sepatah kata "Itu,"

Ternyata yang menyebut dirinya Lui Kie adalah bocah laki-laki yang belum berumur sepuluh tahun. Kau Bun-kek merasa aneh bercampur terkejut dan curiga, dia berkata dengan kasar.

"Anak ingusan siapa yang berani menyamar nama Lui Kie?"

Bocah yang berhadapan dengan salah satu dari Pendekar Wahid, Kau-sat (Kail Pembunuh) Kau Bun-kek, sama sekali tidak takut, dia menjawab dengan kata-kata yang tegas.

"Aku Lui Bin! Ayahku tidak bisa datang pada waktunya karena ada suatu urusan, pertemuan hari ini aku yang mewakili ayah untuk bertanding."

Kau Bun-kek tercengang sebentar lalu tertawa terbahakbahak dan berkata.

"Ku kira siapa! Ternyata anak saudara Lui Kie, ayahmu tidak bisa datang! Jadi kau ingin mewakili ayahmu....!! Ha...ha...ha..."

Orang-orang yang berada di pinggir lapangan juga menjadi gaduh dan berbisik-bisik. A Bin tegar, dengan suara nyaring berkata.

"Kau menganggap aku tidak pantas untuk mewakili ayahku?"

Tidak hentinya Kau Bun-kek tertawa, tetapi dia menjawab juga.

"Bagus!

Bagus!

Ayahnya harimau tidak mungkin anaknya anjing, ayahnya seorang ksatria.

Aku Kau Bun-kek menerima saudara Lui kecil mewakili ayahnya berpartisipasi dalam pertemuan ini, tetapi aku tidak mau menyandang nama yang mengatakan yang besar meng-hina yang kecil.

Sekarang aku menetapkan pada orang-orang yang menonton, kau boleh menyerangku sebanyak tiga jurus, jika dalam tiga jurus, kau bisa memaksaku untuk membalas serangan atau jatuh dari tempat duduk batu ini, berarti kaulah yang memenang-kan pertandingan ini.

Tanda "Su-ciat-leng"

Ini boleh kau bawa pulang dan menjadi pemiliknya selama tiga tahun!"

A Bin mendengar kata Kau Bun-kek, kedua matanya bersinar sejenak, segera bertanya.

"Apakah kau bisa dipercaya? Jangan asal berkata tapi tidak ada buktinya!"

Kau Bun-kek tetap tertawa, dan berkata dengan tegas.

"Aku bicara di hadapan umum, mana bisa tidak menepati janji, silakan keluarkan jurusmu!"

A Bin menenangkan pikiran sejenak lalu mengeluarkan sebuah golok dari pinggangnya, golok itu dibuatkan oleh ayahnya menyerupai golok halilintarnya, gagang golok itu terbuat dari urat badak, bisa bengkok bisa juga lurus, hingga leluasa menggunakannya.

Begitu "golok halilintarnya"

Muncul, jantung Kau Bunkek bergetar juga, mukanya berobah warna, dia meneliti golok yang dipegang A Bin, golok itu tampak lebih kecil dari kepunyaan ayahnya Lui-to-cai-thian, semangatnya segera pulih, seperti tidak ragu-ragu lagi, dengan suara nyaring dia berkata.

"Lui kecil, ayo keluarkan jurusmu!" Perkataannya belum habis, sinar mata Kau Bun-kek terlihat bayangan cahaya warna merah, ternyata A Bin telah menyerang, Golok Halilintar nya bergerak dengan jurus "Kuang-su-gu-touw"

Atau (sinar menyo-rot kerbau menubruk), pita merah pada goloknya ikut bergerak.

Golok bergoyang, menciptakan tiga kuntum bunga yang menarik sekali, dan ujung lancip golok di dalamnya, menyerang tubuh Kau Bun-kek.

Jurus itu mempunyai perobahan aneh, tujuannya sangat mematikan, berupa jurus dalam jurus, jurus aneh yang bersambung terus dengan jurus intinya.

Kau Bun-kek dengan suara tertawa bagaikan lonceng besar, tubuhnya dengan cepat di geser sedikit kekanan, Kau-sat yang beratnya sepuluh kati yang digantung dipundak kiri ditaruh kedepan dadanya.

"Trang, trang"

Dua suara nyaring itu adalah benturan serangan tiga serangan beruntum golok A Bin yang berbenturan dengan Kau-sat, sisa satu serangan, sudah menuju dada Kau Bun-kek.

Kejadian itu membuat orang-orang dunia persilatan dalam hati terperanjat, biarpun A Bin masih seorang bocah, tetapi dia telah menguasai inti sari ilmu "

Golok Halilintar " , kalau saja tenaga dalamnya sudah cukup, dia sudah pantas berada di deretan jago kelas satu di dunia persilatan.

Serangan golok yang menuju dada Kau Bun-kek, dapat dihindari olehnya dengan menarik nafas mengempiskan dada sambil goyang pinggang.

Begitu serangan tidak berhasil, tanpa ragu-ragu A Bin memutar golok, dan ditujukan ke bawah, merobah tusukan menjadi sabetan, jurus Thian-bun-sau-swat (Menyapu salju di pintu langit) dilancarkan menyerang bagian tengah tubuh musuhnya.

Kau Bun-kek betul-betul punya kepandaian yang hebat, dengan cepat dia menjatuhkan diri ke sebelah kiri, bersamaan itu kaki kanannya diayunkan, jelas dalam keadaan menyelamatkan diri, dia bermaksud menyimpan serangan balik pada lawannya, agar lawan menghindar, bersamaan waktunya satu tangan kirinya bersandar di batu duduk itu.

Ternyata A Bin betul-betul menghindar tendangannya, sambil merobah laju goloknya ke arah tenggorokan lawan dengan cepat.

Tetapi Kau Bun-kek yang duduk dengan bantuan satu tangan kiri bersandar di batu, cepat tubuhnya bergoyang, dengan beruntung menghindar jurus itu.

Sepertinya bila tidak menggunakan jurus itu, dalam hitungan detik tenggorokannya pasti akan berlobang, betulbetul sangat menegangkan, ternyata Kau Bun-kek bisa menghindar dengan leluasa dan sempurna.

Tetapi, A Bin yang punya otak brilian, setelah serangan pertamanya tidak berhasil, dia telah menyadari bila ingin mengalahkan Kau Bun-kek dalam tiga jurus, dia harus mengeluarkan jurus aneh, maka dalam jurus kedua, dia memberi kesempatan Kau Bun-kek menyombongkan diri, agar dia merasa betul-betul merasa hebat, dan tertawa riang beberapa kali.

Bersamaan dengan tertawanya A Bin melepaskan Golok halilintarnya, satu kilatan merah bagaikan terjangan halilintar meluncur, ini adalah jurus menjinakan musuh yang sangat hebat dalam jurus Golok halilintar bernama Tiang-hong-koan-jit (Pelangi menantang matahari).

Kau Bun-kek sama sekali tidak menyangka jurus Golok halilintar A Bin begitu cepat, baru saja dia melihat, Golok halilintar tersebut sudah berada didepan tubuh.

Sebagai salah satu empat pendekar wahid, bila Kau Bunkek gentar terhadap serangan A Bin, tentu sangat memalukan, perbandingan tenaga dalam dan tingkatan ilmunya tidak bisa diukur jauhnya, bila dia menggunakan ilmu kebalnya yang sempurna, golok terbang yang menusuk tubuhnya pun tidak akan berakibat apa-apa.

Tetapi dengan kedudukan Kau Bun-kek yang tinggi, bila dia sampai terkena ujung golok A Bin, meski hanya ujung bajunya, otomatis dia harus mengaku kalah, gara-gara dia tadi terlalu sombong mengucapkan kata-kata, jadi dia tidak boleh melayang menghindar atau membalas serangan.

Dalam keadaan terdesak, niat jahatnya mendadak timbul, angin telapak tangannya mendadak keluar, bukan saja dia telah memukul Golok halilintar sampai jatuh kebawah, dia juga mengerahkan tenaga penuh menghadang A Bin, dan bila A Bin sampai terkena, dia segera akan mati ditempat itu juga.

Biarpun Kau Bun-kek punya niat jahat, tetapi tidak lupa matanya menatap orang-orang disekeliling-nya, mata orang-orang yang menaruh cemoohan itu membuat dia merobah niatnya, dia menyimpan kembali tenaga dalamnya, dengan tertawa berkata.

"Ternyata keponakanku adalah anak muda yang mengagumkan, masa depannya tentu sangat cerah, aku Kau Bun-kek bila telah membuat janji, mana boleh melangarnya, jurus telapak tangan ini hanya menguji keberanianmu saja!"

Habis bicara, Kau Bun-kek segera menyerahkan tanda Su-ciat-leng ke tangan A Bin.

A Bin segera menyimpan tanda Su-ciat-leng, tanpa membuang waktu lagi dia segera berjalan pulang.

0-0dw0-0 Ban-li-san (Pegunungan selaksa) sangat luas, A Bin harus menempuh perjalanan selama dua hari baru bisa keluar dari lingkup pegunungan ini, dan pada malam kedua, hujan turun dengan deras.

Kilat dan halilintar saling bersahutan, begitu hujan deras baru turun, karena A Bin tergesa-gesa berlari mengejar waktu, dia tersasar salah masuk ke daerah Lembah iblis, baru saja sampai di pinggir lembah itu, mendadak terdengar suara seperti langit runtuh bumi retak, batu-batuan seperti bukit kecil berterbangan dan menggelinding mendatanginya.

Dalam keadaan yang sangat keritis ini, tanpa pikir panjang, A Bin terpaksa meloncat ke bawah lembah.

Baru saja dia turun, batu tersebut sudah melewati kepalanya, menggelinding terjun ke dasar lembah, terdengar suara keras "Bruk" , suaranya membuat gema di antara gunung dan lembah, A Bin baru mengetahui bahwa Lembah iblis ini sangat dalam, jika dia jatuh meski tidak remuk oleh batu besar itu, dia akan hancur lebur juga jatuh kebawah dasar lembah.

Belum hilang rasa terkejutnya, tubuhnya yang sedang melesat ke bawah mendadak pinggangnya terasa dirangkul oleh sebuah tangan raksasa, rangkulannya terasa kencang sekali, A Bin terkejut, rohnya seperti keluar dari batoknya, dia berpikir tangan iblis dari mana ini?

Setelah tenang pikirannya, dia melihat sekeliling-nya dan tertawa sendiri, ternyata tubuhnya persis jatuh ke dalam keranjang pohon tua rotan yang tumbuh di celah batu gunung.

Setelah istirahat sejenak, A Bin baru meloncat keluar dari keranjang rotan itu, dia mendarat di atas batu yang paling dekat............

0-0dw0-0 Dalam goa itu ingatan A Bin kembali sadar dalam kejadian sebelumnya, timbul pertanyaan dalam hatinya, apakah jatuhnya batu seperti gunung kecil itu kejadian alamiah, atau ada orang sengaja mencelakakan dirinya.

Dengan bingung, A Bin melihat satu titik terang yang timbul dari dalam hati, tergerak rasa ingin tahunya, A Bin memegang Golok halilintarnya, berjalan masuk kedalam gua.

Makin dalam masuk, tubuhnya makin merasa dingin, tetapi tercium oleh hidungnya bau wangi yang menyegarkan, segera rasa lelahnya pulih dan laparnya menghilang, hanya hawa dingin yang menusuk tulang yang susah di hindari.

A Bin yang tertarik oleh bau wangi itu, tanpa hiraukan hawa dingin yang menusuk tubuh, berjalan dengan langkah tegak, sinar itu makin terang, dan hawa di dalam goa makin dingin lagi.

Kira-kira satu jam lamanya, pemandangan dalam goa sudah terlihat dengan jelas, hati A Bin terperanjat dan gerakan kakinya segera berhenti.

Matanya sudah bisa melihat semuanya, ada setumpukan bunga-bunga dan rumput yang tampak asing baginya, di lantai tidak ada tanah sedikit pun, bunga dan rumput itu tumbuh diatas batu yang putih bagaikan salju, dan bau wangi yang menyegarkan keluar dari bunga dan rumput itu.

Keadaan dalam gua sangat lebar, kira-kira seratus meter persegi, di tengah tumpukan bunga dan rumput berdiri tiga buah tempat duduk dari batu ukir, masing-masing setinggi satu tombak lebarnya lima kaki.

Batu duduk itu terukir gumpalan awan, dilihat sepintas persis sebuah awan putih, dan di atasnya terdapat orang tua yang sedang duduk, janggutnya panjang hingga mencapai perut, kedua matanya tertutup, penampilan mereka sangat agung.

Ketiga orang tua itu bulu rambut dan jambang-nya semua sudah putih, roman mukanya seperti orang hidup, tetapi tidak tampak warna darahnya, mereka seperti batu, dari potongan bajunya, diperkirakan mereka adalah orangorang ratusan tahun lalu.

Sinar kecil yang menarik A Bin masuk kedalam, ternyata keluar dari gumpalan sinar bagaikan embun yang kira-kira berdiameter satu meter ..

.yang melingkari tubuh tiga orang tua itu.

Melihat cahaya yang menerangi gua itu, diperkirakan ketiga orang tua telah melatih ilmu hingga tingkat tertinggi, sehingga dalam tubuhnya bisa mengeluarkan lingkaran sinar yang berbeda dengan sinar lain.

Meski sekitar tempat itu makin dingin, A Bin sangat tertarik oleh pemandangan aneh dan orang aneh, dia hanya bersin karena kedinginan, tapi tidak menghiraukan tubuh yang menggigil.

Dengan teliti dia memandang ketiga orang tua itu, ternyata warna kulit muda, rambut dan godeknya, model bajunya sama semua seperti orang yang bisa ilmu memisahkan tubuh, bersamaan waktu menjadi tiga orang persis dirinya, A Bin makin tercengang.

Tergerak oleh rasa ingin tahu, A Bin mendekat hingga satu kaki terasa orang tua itu tidak mati dalam bertapa, masih seperti orang hidup, timbul keinginannya agar orang tua itu membuka mata melihatnya.

A Bin merasa telah melanggar tempat tinggal orang, timbul rasa menyesal dan ingin keluar secepat-nya.

Mendadak jengot panjang warna putih orang tua yang duduk di bagian kiri bergerak tanpa ada angin, A Bin terkejut sekali, rasa takut dan gemetar makin ber-tambah, dia segera ingin mengangkat kaki mundur dari tempat itu, cepat berlari.

Ternyata kedua kaki dari sebatas dengkul ke bawah jari kaki telah beku, sama sekali tidak mau diperintah lagi, bergerak sedikitpun tidak bisa, A Bin terkejut hingga mukanya menjadi pucat, tidak tahu apa karena terlalu terkejut membuat kaku kedua kakinya, atau ketiga orang tua aneh yang bertapa itu mempunyai ilmu hitam menguasainya?

Atau karena hawa dingin dalam gua yang membekukan kakinya?

Dalam kebingungan, A Bin hanya ingin menggunakan kedua tangannya meraba kedua kaki yang membeku, ternyata kedua tangannya seperti kakinya, tidak dapat digerakkan juga.

Dia mencoba menggerakan kepalanya, tapi juga tidak bisa bergerak sedikit pun, A Bin tambah terkejut bukan main, tanpa sadar membuka mulut ingin berteriak dan yang membuat dia tambah putus asa adalah meskipun sudah sekuat tenaga ingin berteriak sekeras-kerasnya, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, apa suaranya juga ikut membeku.

Pukulan dahsyat ini membuat kesadaran, kecerdasan A Bin jadi hilang, dia bagaikan patung batu yang membeku berdiri di tempat, jiwa dan raganya semuanya membeku, seperti batu peninggalan sejarah.

A Bin sama sekali tidak bisa bergerak, hanya melalui sepasang matanya dia bisa melirik tiga orang tua yang duduk di batu seperti awan.

Dia berpikir apa mereka juga seperti dia sendiri, membeku juga?

Setelah melihat beberapa detik, A Bin pun tidak mendapatkan jawaban, dalam keadaan linglung dia melihat sepintas kulit mata orang tua yang duduk di tengah bergerak-gerak.

A Bin terkejut bercampur senang, matanya memperhatikan kedua mata orang tua itu.

Betul juga, orang tua yang duduk di tengah setelah kulit matanya di gerakan sebentar, pelan-pelan membuka matanya, seperti seorang yang sudah tertidur panjang baru melek matanya.

Setelah terbuka matanya, sinar matanya yang berwarna aneh dengan pandangan dingin seperti es melihat muka A Bin.

Sejenak kemudian, dua orang tua yang duduk di kiri kananpun membuka kedua matanya, juga dengan pandangan dingin seperti es melihat A Bin.

Tiga sorot pandangan yang menatap muka A Bin, lebih dingin dari dinginnya gua itu, membuat tubuh A Bin gemetaran.

Tiga orang aneh biarpun orang hidup, selain enam matanya yang mempunyai warna aneh, tubuhnya sama sekali tidak bereaksi, seperti patung batu yang diukir.

A Bin ingin bicara tapi suaranya tidak bisa keluar, hanya membalas pandangan mereka, ingin mengetahui tiga orang tua itu bagaimana menghukum-nya?

Kedua belah pihak berpandangan beberapa detik, baru terdengar suara yang tidak menandakan senang atau marah, keluar dari mulut orang tua yang duduk dikiri, dengan dingin berkata.

"Sayang, kita bertiga yang sudah memupuk ilmu yang selama Ji-kah-cu (dua kali enam puluh tahun), telah terganggu oleh bocah yang tidak tahu apa-apa, bagaimana pun membuat kita sedih sekali!"

Mendengar kata-kata yang bernada penuh jengkel dan kehilangan, seperti mewakili orang lain, tanpa perasaan senang atau marah, tidak ada nada tinggi, kata-katanya dingin seperti es, mulutnya pun tidak gerak.

A Bin makin takut bercampur perasaan terkejut, kagum, mendengar perkataan itu, suara yang keluar dari mulut yang tidak bergerak menandakan tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, sehingga dapat mengeluarkan perkataan dari dalam perut, istilahnya "bahasa perut" , meskipun para pendekar hebat juga bisa menguasai ilmu berkata perut tetapi nada yang keluar bernafas pendek dan cepat, berbeda dengan suara biasa, tidak seperti yang dikatakan orang tua yang duduk dikiri itu, perkataannya tidak tergesa-gesa dan santai, ini merupakan hal yang menakjubkan, belum pernah ada cerita ini sebelumnya.

Kata yang diutarakan orang tua yang duduk di sebelah kiri, membuat A Bin lebih terperanjat, bila betul bertiga saudara ini sudah menghabiskan waktu dua kali 60 tahun, berarti umur mereka lebih dari seratus dua puluh tahun?

Yang membuat A Bin risau adalah, bila betul kata orang tua itu, berarti A Bin telah merusak latihan mereka yang dikumpulkan selama dua kali 60 tahun, sungguh susah di mengerti oleh orang biasa.

Sejak masuk ke gua, satu rumput satu batu pun belum pernah digeser, batuk pun tidak, bagaimana A Bin yang masuk tidak mengganggu mereka, dikatakan telah merusak latihan mereka?

Pikiran A Bin belum habis, terdengar orang tua yang duduk di sebelah kanan berkata dengan perkataan perut yang tanpa perasaan.

"Berlatih dengan susah selama dua kali 60 tahun, masih susah menebus dosa yang dulu! Tuhan terlalu kejam buat kita tiga bersaudara, kalau tahu akhirnya begini, buat apa kita datang ke Lembah iblis, tersiksa oleh suasana dingin selama ratusan tahun, bukankah kita masih bisa menikmati hidup senang di Siau-yau-kiong selama puluhan tahun."

Walau A Bin tidak tahu dimana letaknya Siau-yaukiong, tetapi dari ucapan orang tua yang duduk di sebelah kanan itu, dia bisa mendapat sedikit perkiraan, dia menduga, ketiga orang tua aneh ini telah banyak berbuat dosa di masa lalu, kemudiaan insaf, dan datang ke gua lembab di Lembah Iblis ini, berusaha mencari pencerahan dan menahan siksaan dalam suasana dingin, juga melatih kepandaian mencari kesempurnaan hidup.

Terdengar kata-kata dari perut orang tua yang duduk di tengah.

"Jite! Samte! Ternyata latihan kalian yang susah selama Ji-kah-cu (dua kali 60 tahun), masih belum menghilangkan rasa marah dan rasa jengkel kalian, ini membuktikan menjadi dewa itu sangat susah. Menurut aku, meskipun anak ini tidak melanggar masuk, kita bersaudara pun juga susah mendapatkan buah emas yang murni dari latihan, apakah benar kedatangan anak ini pun takdir kita, kalau benar kita harus rela menerima nasib kita!"

Perkataan perut orang tua di tengah, sama seperti dua orang tua yang lain, tanpa perasaan, tanpa nada, tetapi didengar oleh A Bin kata-katanya penuh welas asih dan damai, berbeda jauh dengan kedua orang tua yang lain, hampir bersamaan kedua orang tua di sebelah kiri dan kanan bertkata.

"Apa maksud perkataan Toako?"

Orang tua yang duduk di tengah berkata dengan tenang.

"Kalian pasti tahu maksud melatih ilmu supaya mendapat buah emas, jangan bicara yang lain dulu, pokok utama yang harus di taati, adalah putuskan tujuh macam perasaan, membatasi enam nafsu, selama 120 tahun kita berlatih menjernihkan pikiran, menjauhkan hawa nafsu, hidup seperti kura-kura, menolak ratusan godaan, sebetulnya terlalu memasakan diri, betul-betul belum bisa mencapai taraf bisa melupakan diri, ini bisa di lihat dari kedatangan anak ini, perasaan jengkel dan marah adik berdua segera timbul, membuktikan kata-kataku tidak salah, bila kita memaksa menahan diri, jangan kata kita bertiga hanya berlatih dua kali 60 tahun, di beri waktu dua belas kali 60 tahun pun akan sia-sia."

Perkataan yang diucapkan orang tua di tengah itu membuat dua orang tua di kiri dan kanan merasa malu, mereka diam saja.

A Bin pun yang di pinggir mendengarkan kata-katanya, sdikit mengerti juga ter-hadap arti katakatanya.

Dalam hati dalamnya timbul rasa hormat yang tinggi!

Orang tua yang duduk di kanan sepertinya ada hal yang mengganjel, dia bertanya.

"Perkataan toako sangat masuk akal, kami sebagai adik sangat malu tidak bisa berpikir demikian, tetapi toako bilang, kedatangan anak ini sebagai takdir kita, apa ini pikiran yang dipaksakan!"

Sambil menutup matanya sebentar, lalu dia menghela nafas sekali, orang tua tengah itu berkata.

"Pertanyaan Jite, terlihat perasaan tidak ikhlas-nya belum sirna, bukan saja menyesali orang, juga menyesali Tuhan, kalian kira perkataanku tentang takdir itu hanya kata-kata yang menghibur kalian? Faktanya mengatakan bukan, apa kau lupa, sebelum datang ke Lembah iblis kita telah mempersiapkan diri berapa lama, membawa berapa banyak alat untuk menjaga diri, baru bisa melewati rintangan puluhan ribu binatang berbisa, ular beracun, lumut yang penuh kalajengking beracun, baru bisa selamat sampai di gua ini, coba kita bayangkan anak ini, dia tidak mempunyai ilmu satu persen dari sepuluh persen ilmu kita pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi tidak dia terluka sedikitpun........."

Belum habis kata-katanya, orang tua yang di sebelah kiri merasa tidak puas dengan kata-kata itu, dia memotong perkataan Toako nya dan berkata.

"Apa anehnya, dia kebetulan mendapat kesempatan saat turunnya hujan besar setelah hari raya Pe Cun, sehingga menghilangkan racun-racun yang gentayangan di luar lembah, dan saat ratusan binatang berbisa menghindar, kesempatan baik itu menguntungkan anak ini hingga tidak terluka oleh ular berbisa saat melewati lembah lumut, apakah ini dinamakan takdir?"

Orang tua di tengah berkata dengan tenang.

"Samte, kau bilang anak ini kebetulan mendapatkan kesempatan? Aku tanya, dalam waktu seratus tahun setelah kita bertiga masuk ke dalam Gua iblis ini, ada berapa orang yang jatuh ke lembah ini dan tidak mati, dan ada berapa orang yang berani merayap masuk ke gua ini dalam kegelapan, dan ada berapa orang yang menemukan tiga kesempatan dalam kurun waktu ratusan tahun, begitu kebetulan mendapatkan kesempatan yang sempurna itu, apakah ini bukan takdir? Apakah kau mesti tahu dulu takdir, baru mau mengakui?"

Kata orang tua yang ditengah itu membuat kedua orang tua di sebelah kiri dan kanan menjadi bungkam, diam tidak bisa menjawab.

Orang tua yang di tengah memandang A Bin dengan seksama, dengan nada kasihan berkata.

"Sayang anak ini, bila dinilai dari kecerdasan dan bakat sejak lahir, dialah bibit unggul dalam ribuan orang! Susah dicari!"

Ketiga orang tua itu telah melepas kekangan emosinya, nada bicaranya sudah tidak sedingin waktu pertama. Orang tua yang duduk disebelah kiri memotong.

"Betul! Anak ini mempunyai dasar tubuh sifat jantan, bila aliran es yang dingin itu masuk keparu-parunya, tidak lebih dari dua belas jam, darahnya akan membeku dan mati!"

A Bin mendengar kata-kata itu, seperti terkena geledek, dia berkata dalam hati.

"Ampun, dua kali selamat dalam kecelakaan, masih tidak luput dalam takdir kecelakaan ketiga! Orang tua di tengah itu merubah roman muka-nya yang kaku, timbul tawanya, dan dengan ramah berkata pada A Bin. "Hai Bocah, jangan risau, nyawa kecilmu akan kuselamatkan, yang aku bicarakan sayang itu adalah menolong nyawamu, kau mesti belajar dengan tekun ilmu kami yang berbeda dari aliran ilmu silat umum, setelah aku belajar dan mencapai hasil buah emas, baru tahu ilmu kami berbeda dari jalur resmi, melihat bakat dan tubuhmu, yang masih murni aku merasa sayang!"

A Bin merasa aneh, ketiga orang tua tersebut entah datang dari mana, kelihatan bukan orang jahat, kenapa mereka belajar ilmu yang menyimpang.

Orang tua duduk di sebelah kanan bisa melihat jalan pikiran A Bin, dia ikut berkata.

"Bocah! Kau mungkin ingin tahu riwayat kita tiga bersaudara! Ketahuilah Toako kami namanya Tiong Ki-cu, aku bernama Yu-siau-yau-cu, Samte bernama Co-siau-yaucu, seratus tahun lalu di gunung Bu-san kami adalah pemilik Siau-yau-kiong, di kalangan dunia persilatan kami mendapat julukan Sam-lo Siau-yau-cu. Biarpun berlatih ilmu sesat, tetapi tidak berbuat yang tidak diperkenankan oleh alam (membunuh), wanita-wanita yang telah membantu menyempurnakan ilmu kita, juga mendapat imbalan obat mujarab untuk pemulihan.................."

Orang tua di sebelah kiri juga terkenang pada kejayaannya di masa lalu, dia berkata.

"Kita bersaudara biarpun belajar ilmu sesat, tetapi pada masanya mempunyai kedudukan terhormat di dunia persilatan, begitu orang menyebut Sam-lo Siau-yau-cu, semua akan merasa kagum dan segan.............."

Biarpun A Bin masih kanak-kanak, tetapi dia sudah banyak membaca buku, pengetahuannya sangat luas, dia mendengar perkataan orang tua yang di sebelah kiri dengan sangat terperanjat, pikirnya, dia bukan seorang yang takut mati, jadi tidak boleh belajar ilmu sesat yang di luar dari jalur aturan dunia persilatan.

Pandangan mata Tiong Ki-cu yang tajam, melihat dengan nada kagum dan tersenyum.

"Bocah! tekadmu yang tidak takut mati dapat di puji, tetapi kau jangan kuatir, kau tidak perlu belajar ilmu yang harus di bantu perempuan, hanya karena paru-parumu telah terserang oleh hawa dingin es, sehingga harus menggunakan ilmu yang kukuasai, baru bisa menghilangkan hawa dingin dalam paru-parumu, tetapi kau harus rajin belajar. Setelah beberapa tahun, dengan tenaga dalam dan ilmu silat kami, baru bisa menyelamatkan nyawamu dan hidup terus, biarpun kau tidak belajar ilmu sesat, itu tidak jadi masalah, karena ilmu silat hanyalah alat untuk membantu orang susah dan beramal, asal digunakan dengan tujuan baik ilmu sesat juga tidak menjadi masalah!"

Habis bicara, tidak menghiraukan A Bin yang masih menolak, tangan kanannya di angkat dengan perlahan, lengan jubahnya menggembung, sebuah hisapan yang kuat mengenai tubuh A Bin, A Bin seperti berada dalam pusaran raksasa di lautan luas, dia tidak dapat menguasai diri lagi, kepalanya terasa tidak ada ingatan, membubung keatas, setelah tenang pikirannya, dia baru tahu bahwa dirinya sedang tidur telentang di depan Tiong Ki-cu.

Tiong Ki-cu membungkukkan kepala dengan suara halus dan muka serius berkata.

"Kau harus menahan siksaan aliran darah yang berlawanan arah, aku akan menyalurkan "

Ciat-im-sam-kekceng-kie"

Melalui urat darah, (Dasar pernapasan murni tiga inti negatif) baru bisa menghilangkan hawa es di dalam tubuhmu, sesudah tiga bulan tubuhmu akan mengalami perobahan besar, meski tidak bisa dikatakan berganti tulang berobah urat, cuci bulu dan sumsumnya, tetapi dasar tenaga dalammu sudah maju jauh dari pada hari ini!"

Habis bicara, tanpa menunggu lama, dia segera mengangkat telapak tangan kanannya memukul kepala A Bin .

A Bin hanya merasakan terpaan angin kencang mengurung kepalanya, persis di atas pusat jalan darah pokok, tubuhnya tergetar sejenak, terus tidak sadarkan diri.

Seperti dalam alam mimpi, dia merasa tubuhnya jatuh dari puncak gunung pada ketinggian ribuan tombak ke bawah, organ dalam tubuhnya seperti ditarik oleh tenaga magnit ke atas, semua pori-pori jalan darah di bagian pergelangan, seperti dilonggarkan oleh orang, dan ribuan rayap atau semut masuk ke dalam pori-pori, bergerak merayap, terasa tulangnya lemas uratnya kendor, sangat tersiksa sekali.

Beberapa kali dia ingin membuka mulut berteriak, tetapi tenggorokannya seperti tidak men-dengar perintah, meski berusaha sekuat tenaga pun, dia tidak bisa mengeluarkan suara.

Dan bersamaan itu darah dalam tubuhnya, mulai mengalir terbalik arah, walaupun berusaha membuka matanya, tetapi hanya ada bayangan buram, apapun tidak jelas.

Entah berapa lama, rasa sakit mulai menghilang begitu pula dengan pegalnya tulang dan urat, semangatnya juga pulih, pemandangan di depan mata jelas terlihat.

A Bin melihat Tiong Ki-cu sedang memejamkan mata, kepalanya sedikit turun, berdiam seperti seorang tua melupakan segalanya.

Setelah istirahat beberapa detik, Tiong Ki-cu membuka matanya, dengan pelan-pelan berkata.

"Bocah! Darah mengalir terbalik sesungguhnya sangat menderita, jadi kau harus kuat menahan rasa sakit, kau ingat pepatah mengatakan.

"Bisa makan pahit di atas pahit, baru bisa jadi orang di atas orang." (orang yang tahan uji, baru bisa jadi orang sukses)"

A Bin tidak bisa bicara, dan tidak bisa menggoyangkan kepala tanda memgerti tetapi kedua matanya terpancar sinar keteguhan. Tiong Ki-cu tertawa sejenak, berkata lagi.

"Sekarang aku akan menotok tiga pusat jalan darahmu, menyalurkan "Ciat-im-sam-kek-ceng-kie"

Ke dalam jalan darahmu"

Habis bicara, dengan cepat dia menyodorkan tangan kurus yang dingin, menangkap pergelangan tangan A Bin, A Bin merasakan tangan kurus itu seperti gelang besi, seluruh tubuhnya langsung kram, jalan darahnya mengalir terbalik ke organ dalam tubuhnya.

Dalam hitungan detik, terasa pusat jalan darah di depan dadanya telah di totok oleh Tiong Ki-cu beberapa kali.

A Bin merasakan kesal yang sangat dalam, dada-nya seperti ingin pecah.

Kurang lebih setengah jam seluruh tubuhnya seperti dalam kuali air mendidih, terbakar sampai luka.

Terdengar dalam kuping suara Tiong Ki-cu.

"Detik ini tubuhmu bagaikan terbakar, karena sifat positif dalam tubuhmu beradu dengan Ciat-im-sam-kek-ceng-kie yang aku salurkan, biar aku memijat agar sebagian jalan darahmu bisa menyesuaikan ilmu liar ini menuju kebaikan." A Bin merasakan sepasang tangan Tiong Ki-cu tidak berhenti menekan memijat seluruh jalan darah pentingnya hingga ke seluruh tubuh. Perasaan membara dalam tubuhnya mulai hilang, berganti dengan rasa dingin yang makin berat. Segumpal arus dingin yang masuk ke dalam tubuh, membuat jantungnya terasa beku, lebih sakit dari pada arus panas yang tadi masuk, A Bin menggigil hingga kedua garis giginya beradu kencang, dia ber-tahan terus. Kecepatan dua telapak tangan Tiong Ki-cu bertambah, dia menyentuh ke seluruh tubuh A Bin, setengah jam kemudian rasa dingin makin hilang, A Bin mendapatkan pusat jalan darah yang di pijat, aliran darah dan nafasnya pun hilang sama sekali. Kerisauan dalam hatinya pun hilang, dari tegang menuju tenang, tidak terasa A Bin tertidur nyenyak. 0-0dw0-0 Waktu cepat lalu, sesudah melewati waktu lama, dalam gua yang dingin tidak ada siang dan malam, tidak bisa membedakan hari, tapi perkiraan A Bin sudah ada beberapa bulan lamanya. Kebanyakan waktu itu, A Bin berada dalam keadaan setengah pingsan, hanya pada waktu di pijat oleh Tiong Kicu baru sadar, walaupun masih ada rasa sakit karena dingin dan darah mengalir terbalik, tetapi makin hari terasa makin ringan, jalan darah rubuhnya pun sudah mulai menyesuaikan perobahan yang berlawanan dengan biologi manusia umumnya, yang di buat oleh aliran ilmu sesat, tapi ada sesuatu hal yang aneh terjadi dalam jangka waktu panjang, A Bin tidak pernah makan dan minum sedikit-pun, tapi tidak terasa lapar. Pada suatu hari, A Bin terbangun dari tidurnya, Tiong Ki-cu mendadak berkata.

"Langkah pertama ilmu ini telah selesai dengan sempurna, sebentar lagi, aku akan menggunakan ilmu rahasia dari aliran Tok-wan-tay-hoat (Cara cepat mencapai hasil), memberikan tenaga intisari dari hasil latihanku selama seratus tahun Han-kie-sin-kang (Tenaga inti hawa dingin) membantu tenaga dalammu, beberapa hari kemudian kau harus mengikuti petunjuk yang aku ajarkan, untuk mengendalikan cara nafas, setengah tahun kemudian tibalah waktu latihan tenaga dalam, tenaga luar dan ilmu silat lain!"

Mendengar kata-kata Tiong Ki-cu, dua adiknya merasa terkejut, bersamaan mereka berkata.

"Toako, jangan menggunakan cara itu! Bila kau menggunakan ilmu Tok-wan-tay-hoat dan memberikan tenaga mumi yang kau latih selama seratus tahun kepada anak ini, hawa mumimu akan terkuras sekitar delapan puluh hingga sembilan puluh persen, nanti bukan saja umurmu akan berkurang, pun selama sisa hidup harus terkurung dalam gua ini, tidak bisa keluar gua, dan karena tidak melihat matahari, kau akan mati!"

Mendengar kata-kata kedua orang tua itu, A Bin merasa tidak nyaman, dari matanya terlihat maksud menolak dan gelisah. Tetapi Tiong Ki-cu dengan tegas dan hikmat berkata.

"Putusanku sudah bulat, kalian jangan meng-halangi, kita bertiga sudah tahu bahwa kita tidak ada harapan lagi mencapai hasil mendapat buah emas mumi dalam ilmu silat, maka tidak boleh sayang lagi pada simpanan lama. Bila ilmu sesatku telah diturunkan pada anak ini, dan dipakai untuk berbuat amal pada masyarakyat luas, bukankah lebih bagus, daripada ikut kita masuk ke liang kubur!"

Selanjutnya dia berkata pada A Bin.

"bocah, kau harus mendengarkan pesan, bila tidak, aku bisa terluka, kau pun tidak mendapat keuntungan, bukankah pengorbananku menjadi sia-sia!"

Selanjutnya dia mendudukan A Bin dengan sikap bersila, mengajarkan cara melihat ke dalam tubuh, mata memandang hidung, hidung memandang jantung, dari pikiran ruwet masuk dalam keheningan, meng-hilangkan ribuan pikiran yang bersimpang siur.

A Bin tidak bisa menolak, terpaksa menerima seluruhnya, agar tidak menjadi sia-sia pengorbanan Tiong Ki-cu, dia menuruti perintah itu, tidak lama dia sudah mencapai taraf manusia dan langit bersatu, pikirannya menjadi jernih sekali.

Tiong Ki-cu sangat senang, dalam hati dia memuji kecerdasannya, ilmu mengendalikan dirinya sangat kuat, kali ini dia pasti berhasil menyalurkan tenaga intinya, maka dia menjulurkan kedua tangannya, ke atas dan ke bawah menotok pusat nadi A Bin, diatas kepala "Sin-teng-hiat"

Dan di perut "Tiong-ki-hiat"

Menghadapi situasi tegang ini Tiong Ki-cu masih tenang, tapi kedua orang tua yang di sampingnya Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu, malah sangat tegang sekali.

Tiong Ki-cu memusatkan tenaga muminya yang didapat dari latihan ilmu "Han-kie-sin-kang"

Selama seratus dua puluh tahun, dirobah menjadi setitik aliran udara yang halus, keluar dari kedua jarinya menuju aliran jalan darahnya.

Dan seperti menahan berat ribuan kilo, Tiong Ki-cu tampak sangat lelah, tetapi dia tetap harus bertahan untuk menghindari kegagalan total.

Rambut putih yang panjangnya empat lima inci, bergoyang tanpa angin, bertebaran diatas batu berukiran awan, dan rambutnya yang mengkilat bagaikan perak, mulai layu dan kusam abu-abu dari ujung hingga setengah, angin ringan berlalu, setengah rambutnya yang abu-abu itu, berterbangan jatuh.

Tenggorokan A Bin berbunyi, dan tubuhnya jatuh terlentang ke belakang, Tiong Ki-cu juga mengikuti merendahkan tubuhnya ke depan, kuku dua jarinya tetap menotok pada pusat nadi A Bin "Sin-teng-hiat"

Dan "Tiongki-hiat"

Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu hanya bisa mengkhawatirkan, dan mereka tahu, Tiong Ki-cu sendiri yang sudah menentukan, orang lain tidak bisa membantu.

A Bin terlentang di atas batu berukiran awan itu, yang masuk ke dalam tubuhnya arus yang sangat dingin bercampur arus yang sangat panas, dan jatuh dalam bayangan yang mengganggu, A Bin ingat pesan Tiong Kicu, dia tidak menghiraukan.

Tidak lama kemudian, dia telah masuk dalam suasana yang menakjubkan, tanpa pikiran, tanpa sakit, hanya kenyamanan, ketenangan.

Waktu tanpa ditunggu telah berlalu..................

Terdengar teriakkan bersama dari mulut Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu.

"Toako!"

Suaranya sangat sedih dan menakutkan, terjadi sesuatu yang kejadian.

A Bin membuka sepasang matanya, terasa tubuh nya sangat segar bugar, pandangan matanya melihat dinding atas gua, lalu melihat sekeliling, dia baru ingat lagi dimana dia sekarang, dengan menggulingkan tubuh nya, dia melihat ke samping, mendadak dia terperanjat.

Entah kapan Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu sudah meloncat ke tempat duduk Tiong Ki-cu sedang menopang tubuh Tiong Ki-cu yang telah rontok rambut putihnya, pandangan matanya tidak bersinar, kulit seluruh tubuhnya kendur, keadaan tubuhnya sangat loyo.

A Bin tahu, Tiong Ki-cu telah menyalurkan tenaga murni yang telah dipupuk ratusan tahun ke dalam tubuhnya, sehingga dia kehilangan seluruh tenaganya, tubuhnya jadi loyo begitu, biarpun A Bin tidak bisa bicara, dia segera melipatkan tumitnya dan bersujud di depan Tiong Ki-cu, menangis tanpa bersuara, sangat sedih.

Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu meluruskan posisi duduk Tiong Ki-cu, membantu memijat sejenak, agar Tiong Ki-cu tertidur dengan tenang, Yu-siau-yau-cu dengan nada serius berkata pada A Bin.

"Bocah! sebetulnya aku tidak ingin Toakoku menghamburkan tenaga dalamnya hanya untuk menolongmu, tetapi itu sudah menjadi kenyataan, untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan Toako, kau harus betulbetul berusaha, agar berhasil pada waktunya!"

Biarpun kata-katanya sangat dingin, tetapi A Bin tahu betul Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu adalah orang yang mengutamakan tali persaudaraan, perkataan nya tidak mengandung kebencian, dengan sopan A Bin menganggukan kepala.

Co-siau-yau-cu berkata juga.

"Kau jangan menganggap Jiko tidak punya perasaan, setelah Toako menberikan tenaga dalamnya kepadamu, kami juga sudah menganggap kau sebagai murid sendiri, Toako sekarang telah tenang kembali, dan memerlukan waktu setahun untuk melakukan pemulihan, saat itu, kau ikuti petunjuk jiko, belajar pernapasan"

Selanjutnya A Bin di bawah petunjuk Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu belajar ilmu pernapasan, agar tenaga murni yang diberikan Tiong Ki-cu, bisa tersimpan dengan aman, kedua orang tua itu menyuruh A Bin memetik benda putih yang tumbuh di dinding gua sebagai makanannya, karena di gua ini tidak ada benda lain yang bisa dimakan.

Kedua latihan ilmu yang sedang dilatih merupakan ilmu bersifat Im, maka makanan yang bersifat positif dilarang di makan.

0-0dw0-0 Waktu seperti air mengalir, tidak berasa sudah hampir satu tahun, Tiong Ki-cu selama ini seperti mayat duduk bertapa tanpa bergerak.

Sedang Yu-siau-yau-cu dan Cosiau-yau-cu sangat sibuk, membimbing A Bin dalam ilmu pernapasan, kadang kala mereka mengurus Tiong Ki-cu, setelah satu tahun, karena kecerdasan A Bin, mereka jadi berobah pandangannya, mereka turut menyayangi A Bin.

A Bin yang telah mendapatkan tenaga murni dari Tiong Ki-cu, dan belajar tekun ilmu pernapasan, tetapi dia tetap tidak bisa mengobati suaranya selama setahun, hanya dengan isyarat tangan dia menggantikan mulut, berbicara dengan kedua orang tua itu.

A Bin baru tahu mengapa Siau-yau-cu bertiga mencari tempat terpencil ini dan berlatih tekun selama ratusan tahun, bila latihan mereka berhasil, mereka bisa membentuk tulang dan otot baru, menjadikan tubuhnya seperti emas yang tidak bisa rusak, membuat prestasinya melebihi orang purbakala, tetapi karena mereka belajar ilmu sesat, mereka mesti berlatih di dalam tempat yang sangat dingin dan sunyi, hingga mereka memilih gua di lembah iblis ini.

Ternyata usaha manusia tidak dapat melawan kehendak Tuhan, perbuatan yang melangkahi ciptaan Tuhan adalah sebuah pelanggaran, A Bin yang mempunyai rubuh bersifat positif telah salah masuk ke gua itu, membuat hasil yang akan didapat oleh ketiga Siau-yau-cu menjadi gagal, dalam sekejap impian mencapai ilmu tertinggi menjadi buyar.

Setelah mengetahui seluk beluk mereka, A Bin makin giat belajar agar dirinya berhasil, dan dia bertekad menemukan cara ajaib dari seluruh dunia, membantu ketiga Siau-yau-cu berlatih mencapai hasilnya, menebus kesalahan dulu.

Setahun kemudian, Tiong Ki-cu telah melewati masa yang membeku, seluruh tubuhnya sudah bisa bergerak dengan leluasa, tetapi ilmu yang dia pelajari selain menahan dingin dan menahan lapar, yang lain telah hilang semua, tetapi melihat kemajuan A Bin yang pesat, dia senang sekali, setiap hari dia memberikan petunjuk, ingin A Bin belajar lebih sungguh-sungguh.

Tidak terasa beberapa tahun telah lewat, A Bin tumbuh dengan pesat dari seorang anak kecil, tumbuh menjadi pemuda yang cakap, tenaga dalamnya juga maju dengan pesat.

Pada suatu hari, ketika A Bin sedang bersemedi mengatur napas, mendadak dari Tan-tian terasa ada satu aliran panas yang menjurus ke atas, seperti ingin keluar dari mulutnya, bagaikan kuda liar lepas kendali, tidak dapat dikuasai, A Bin terkejut sekali, dia ingin menahan aliran panas itu ke bawah tapi tidak berhasil, terasa hawa murni di Tan-tian makin bergolak, melaju ke atas dada, bagaikan sungai besar, tanpa berhenti dan susah di bendung, lima bagian dalam tubuhnya dan jantung seperti di terjang aliran panas itu, bergoyang tanpa henti.................

Ini adalah gejala bahaya besar bagi seorang yang berlatih tenaga dalam mencapai kesuksesan sempurna!

Bila aliran panas itu keluar dari mulut, bukan saja latihannya akan gagal total, fisik orangnya juga akan terluka berat, bisa jadi lumpuh, yang paling ringan pun akan kehilangan ilmunya, latihan berat puluhan tahun pun akan hancur dalam hitungan detik.

A Bin mengetahui bahaya yang dihadapi sangat besar resikonya, maka dia menggigit bibirnya dengan tenaga penuh, jangan sampai aliran panasnya keluar mulut, tetapi dia tidak bisa menahan menguapnya aliran panas tersebut tanpa berhenti, dia merasakan organ dalam tubuhnya bergetar dengan keras, ulu hatinya sangat sakit dan kencang, seperti mau meledak.

Bertahan lagi selama lima belas menit, dia sudah tidak berdaya, keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh.

Di saat yang kritis ini, A Bin merasakan punggung belakang di bagian jantung dipukul oleh telapak tangan orang.

Terdengar di pinggir kuping, suara Yu-siau-yau-cu berkata.

"A Bin, cepat balikan arah jalannya darah di seluruh tubuh dan salurkan aliran panas itu ke jalur jalan darah."

A Bin merasa ada satu arus hangat melalui jalan darah Beng-bun-hiat menuju organ dalam tubuhnya, aliran panas yang berkeliaran di dalam dada, langsung dijinakkan oleh arus hangat yang diberikan dari luar tubuh.

A Bin bernafas pelan-pelan, dia segera membalikan arus jalan darah dalam tubuhnya, ternyata benar, aliran panas dari Tan-tian yang naik ke atas, dengan mengalirkan jalan darah secara terbalik, pelan-pelan kembali menuju jalan darahnya.

Badai jadi tenang kembali, terdengar kata Tiong Ki-cu di telinga.

"A Bin, selamat! Kau telah berhasil dengan sempurna!"

Mata A Bin melirik ke samping, ternyata Yu-siau-yau-cu sedang duduk bersila di belakangnya, Tiong Ki-cu sudah pindah duduk di tempat lain, tiga orang tua itu berseri-seri memandangnya.

Co-siau-yau-cu dengan tertawa berkata.

"Aku dan Jiko dalam setengah tahun ini telah mengetahui kau akan berhasil dengan sempurna pada waktunya, maka setiap detik menjagamu agar tidak terjadi hal yang fatal"

A Bin merasakan perhatian mereka yang sangat dalam, tidak tertahan timbul rasa harunya, dia membungkukkan tubuh tanda terima kasih. Tiong Ki-cu berkata.

"Anak bodoh! Jangan berbuat demikian, lebih baik bicarakan urusan yang lebih penting, ilmu silat, cara pernafasan, dan tenaga dalamku telah diberikan pada-mu, sekarang dalam tubuhmu ada hawa Han-kie yang sangat dingin, kekuatannya sebanding dengan pesilat nomor satu yang menpunyai dasar tenaga dalam alamiah yang masih disayangkan adalah tubuhmu yang bersifat positif belum bisa menerima ilmu negatif ini hingga mencapai puncaknya, bila di kemudian hari kau terus berlatih dengan tekun, saat kau bertarung dengan lawan yang bagaimana pun hebatnya, dengan hanya memakai telapak dan telunjuk tangan saja, senjata apa pun tidak ada yang bisa melukaimu..........."

Mengetahui kesuksesan dirinya demikian besar, A Bin merasa terharu dan berterima kasih, tidak terasa dia mencucurkan air mata! Dengan rasa menyesal Tiong Ki-cu yang muka-nya agak pucat berkata lagi.

"Suaramu hilang, karena tubuhmu yang bersifat positif berlawanan dengan tenaga dalam yang kusalur-kan padamu yang bersifat negatif, sehingga timbul aliran nafas yang dingin mengunci tenggorokanmu, agak susah untuk disembuhkan, tapi bila kau ingin menyembuhkannya, hanya ada dua cara, yaitu kau harus meningkatkan tenaga positifmu, caranya adalah dengan ilmu kami mengambil sari dari lawan jenismu, menggunakan ilmu ini terhadap wanita jalang yang selalu menggunakan laki-laki sebagai sumber tenaganya, kau harus menyedot tenaga positifnya untuk membantu menambah tenaga positifmu, agar tenaga positif dan negatifnya berimbang, untuk yang satu ini kau tidak akan mau mempelajarinya, maka keberhasilanmu sangat susah, selain jalan ini, untuk memulihkan suaramu supaya sembuh, kau harus meningkatkan tenaga dalammu setingkat, hingga kepandaianmu setaraf dengan pesilat kelas satu, satu cara lagi yang merupakan cara paling bagus, tetapi kalau bukan jodohnya, tidak akan bisa didapatkan, yaitu kau mesti mendapatkan 3 batang Su-li-kut (tulang putih dari tosu suci yang sudah dikremasi), tulang putih ini dari tosu yang telah berilmu Budha ratusan tahun, setelah tulang putih ini di tumbuk dan abunya di makan, maka hawa nafas yang positif dan negatif akan bersatu, hawa ini seolah-olah mencuci tulang sumsum mengganti bulu tubuh, meningkatkan tenaga dalam sampai puncak tertinggi, segala kepintaran dan kecerdasanmu akan berobah meningkat jauh, dengan pikiran kau bisa menguasai musuhmu, kau bukan saja menjadi orang paling agung di dunia persilatan, juga bisa panjang umur, tulang kekar urat berobah, awet muda. Hanya saja tosu-tosu menganggap aliran sesat kami tidak sesuai dengan ajaran mereka, maka mereka tidak mau mempelajarinya supaya bisa umur panjang, padahal buat mereka tidak perlu waktu seratus tahun mereka sudah bisa memetik hasilnya. Su-li-kut yang berumur ratusan tahun susah di dapat, apa lagi yang berwarna putih, dalam seratus batang tulang jarang menemukan satu batangpun, sedangkan kau memerlukan tiga batang Su-li-kut putih, jadi sangat susah sekali mendapatkannya!"

Setelah A Bin mendengarkan penjelasan Tiong Ki-cu, dia merasakan hasil yang di capai sekarang, buat dia sudah terlalu banyak, mana berani dia meng-harapkan lebih lagi, maka dia tidak merasa kecewa.

Yu-siau-yau-cu berkata.

dan Co-siau-yau-cu bersama-sama "Pertemuan kita tiga bersaudara dengan kau adalah jodoh, sekarang Toako tidak bisa meninggalkan gua ini, kitapun tidak ingin kembali ke dunia ramai dan akan menghabiskan sisa umurnya disini, kita berdua belajar ilmu tidak sebanyak Toako, tetapi akan memilih satu dua bagian yang istimewa untukmu, agar ilmu kami tidak ikut terkubur di gua ini."

Benar saja, kemudian selain A Bin berlatih ilmu yang diberikan Tiong Ki-cu, jurus-jurus, cara mengendalikan pikiran, pernafasan.

Yu-siau-yau-cu juga mengajarkan A Bin ilmu meringankan tubuh, cara menotok, pukulan telapak tangan, senjata rahasia dan sebagainya.

Dan Co-siau-yau-cu juga mengajarkan ilmu yang dulu dia pelajari, khusus menyedot sari tenaga positif orang lain, ilmu ini dinamakan "Ku-yang-na-hoan" (mengambil Yang memperkuat unsur), semula A Bin tidak mau mempelajari ilmu ini, tetapi Co-siau-yau-cu beberapa kali memberi nasihat sambil berkata, di dunia luar banyak sekali orangorang yang bermoral bejat, lebih-lebih A Bin punya dasar tenaga dalam yang sangat tinggi dan orangnya tampan, akan mudah sekali tertipu, dengan belajar ilmu ini dia bisa menjaga diri.

Maka di bawah petunjuk Co-siau-yau-cu, A Bin belajar juga ilmu Ku-yang-na-hoan, karena dia baru meningkat dewasa, begitu mendengarkan petunjuk guru nya, muka dan telinganya menjadi merah.

0-0dw0-0 Waktu cepat berlalu, pada suatu hari Tiong Ki-cu dengan serius berkata pada A Bin.

"Sekarang semua kepandaian kita tiga saudara sudah diwariskan padamu, selain suaramu yang tidak terobati, kau telah menguasai ilmu dasar yang paling tangguh, menurut perkiraanku, sejak kau masuk ke gua ini, sudah enam tahun lamanya, kebetulan hari ini adalah hari kedua hari raya Pecun, di luar kebetulan sedang hujan dan banyak halilintar, binatang-binatang beracun sedang menghindar, kau boleh keluar gua dan mulai mengamalkan kepandaianmu, sesungguhnya dengan kepandaianmu saat ini, sudah tidak perlu takut pada binatang beracun, tetapi bila kau keluar pada jam-jam ini, bisa mengurangi banyak kerepotan, sekarang tubuhmu telah berobah, setelah terjun ke dunia ramai, kau boleh makan dan minum seperti orang biasa tidak ada masalah, tetapi kau jangan makan dua macam barang, satu adalah sari ginseng, satu. lagi bubuk mutiara, jika kedua barang itu termakan, tidak akan terjadi kerusakan dalam tubuhmu, tetapi akan membuatmu lumpuh selama satu jam."

Setelah hidup demikian lama dengan ketiga Siau-yau-cu, A Bin merasa tidak tega untuk meninggalkan mereka.

Yusiau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu tidak menghiraukan katakata A Bin, Yu-siau-yau-cu mengeluarkan satu bungkusan di bawah tempat duduknya, termasuk satu stel baju yang bukan model orang biasa dan satu stel baju dalam, sepatu kain, memerintahkan A Bin untuk mengganti bajunya yang sudah kumal.

Dan di bekali sedikit emas dan mutiara untuk biaya perjalanan.

Co-siau-yau-cu menjelaskan apa saja yang harus diperhatikan di kemudian hari, setelah A Bin berlutut mengucapkan terima kasih, kedua orang tua itu mendorong A Bin keluar gua agar segera berangkat.

Halilintar bagaikan pelangi, geledek menggetarkan bumi!

0-0dw0-0 Di sebelah kiri mulut jalan Pek-lun, yang menuju Ban-lisan di Kwie-lam, satu-satunya warung arak di kampung kecil, tidak seperti biasanya, penuh dengan tamu.

Tamu-tamu yang memenuhi warung arak itu, semuanya pada takut geledek dan halilintar, diperkira-kan akan segera turun hujan lebat, dan setelah mulut gunung Pek-lun ini, sejauh dua puluh Li tidak ada tempat untuk berteduh lagi.

Dari pada terkena hujan di perjalanan, lebih baik beristirahat sejenak di warung gubuk kampung gersang ini, sambil menikmati arak dari daerah Kwie-lam.

Tetapi hari ini ada sesuatu yang ganjil, tamu yang datang bukan pedagang yang biasa lewat, tiap orang itu tubuhnya tegap, ada yang membawa senjata tajam, melihat sepintas akan mengetahui mereka adalah orang-orang dunia persilatan, dan mereka telah melintas Ban-li-san, sepertinya di gunung itu ada satu perjamuan.

Gubuknya kecil, tapi tempat duduknya banyak, berturutturut masih berdatangan tamu, yang paling mencolok ada tiga tamu.

Yang paling dulu menarik perhatian adalah tamu yang telah duduk, seorang pemuda berbaju hitam yang matanya bersinar tajam, tetapi mempunyai muka seperti monyet, mulutnya lancip, sepasang matanya bersinar seperti api, persis seperti cerita legenda pendobrak langit, raja monyet Sun-go-kong.

Orang ini umurnya masih muda, tetapi kelihatan sudah dewasa, segala tindak tanduknya, duduk, minta arak pesan menu sayur...........

Begitu masuk gubuk tersebut, matanya telah memandang tamu yang duduk di sekelilingnya, seperti ingin mengetahui apa ada musuhnya, atau teman brengsek.

Dia melihat tamu yang lain memandangnya dengan mata kagum, dalam hatinya dia merasa senang.

Setelah melihat tamu-tamu sekelilingnya adalah orang-orang biasa dalam dunia persilatan, maka dengan tingkah angkuh dia duduk sendiri di meja kosong sambil menikmati arak.

Orang-orang disana ada juga yang mengenalnya, mereka berbisik pada teman semejanya mengatakan bahwa pemuda yang berbaju hitam ini adalah pendatang baru di dunia persilatan, nama aslinya Cia Ma-lek, karena dia adalah satu-satunya murid dari pendekar ternama Seng-jiu-pui-suo, Leng Hau-te.

Di belakang orang-orang persilatan menyebutnya bangsat Cia Ma-lek, gurunya adalah orang aneh yang suka berkelana, biarpun mempunyai julukan dewa pencuri di kalangan dunia persilatan, sebetulnya dia mempunyai harta berlimpah dari nenek moyangnya, jadi tidak perlu mencuri untuk membiayai hidupnya, ilmu copetnya hanya untuk membuat malu orang.

Bangsat Cia Ma-lek telah menguasai kurang lebih tujuh puluh persen ilmu gurunya, tetapi dia licik dan akalnya melebihi gurunya, sedang untuk ilmu tunggal gurunya, dia tidak belajar banyak, semua berkat lindungan nama besar gurunya, akal busuknya banyak dan pintar berkelit, delapan cara mencuri telah di kuasai dengan sempurna maka orangorang dunia persilatan selalu menaruh curiga bila bertemu dia.

Belum lama Cia Ma-lek duduk, orang aneh kedua masuk ke gubuk lagi.

Orang ini roman muka dan bajunya sangat aneh, musim panas bulan lima di pegunungan ini, dia malah memakai jubah putih dari kulit domba, dan bulu kulit dombanya dipakai terbalik keluar, rambutnya di sanggul seperti sanggul tosu, memakai sepatu warna putih, berkumis seperti bulu domba kecil, dan matanya tertutup oleh kaca-mata hitam.

Begitu orang ini muncul, semua orang yang duduk duluan termasuk Cia Ma-lek, diam diam menghela napas, mereka tahu dia adalah Hiapkhek ternama yang berjuluk Piau-bhe-lo-jin (Kakek Jubah kulit kambing), Yo-po-lo-to.

Begitu Yo-po-lo-to masuk, dia tidak melihat tamu-tamu yang datang duluan, segera dia mencari tempat dan duduk di tempat yang kosong, lalu memesan arak dan makanan, dan melahab dengan rakus, sekejab saja telah menghabisi sepuluh poci arak Kwie-lam, sepuluh kati daging sapi dan dua ekor ayam rebus, tapi dia tampak masih belum kenyang, dia memanggil pelayan untuk tambah sayur dan arak.

Saat mata semua orang memperhatikan orang yang berjubah kulit domba itu makan besar, diam-diam menyelinap masuk seorang tamu, setelah tamu-tamu lain memperhatikannya, dia telah duduk di dekat jendela, dan pelayan telah mengantarkan arak dan makanan, diam-diam dia minum arak sendiri.

Orang ini tidak terlalu menarik perhatian seperti Yo-polo-to dan Cia Ma-lek.

Hanya Cia Ma-lek sangat memperhatikannya, karena orang ini umurnya lebih kecil, kira-kira lima belas tahunan, orang ini pakaiannya tidak aneh seperti Yo-po-lo-to, tetapi modelnya seperti jubah tosu dan memakai sepatu yang kekecilan, ketika Cia Ma-lek melihat matanya yang bersinar hijau, dia menduga pasti orang ini berilmu tinggi, dan mempunyai banyak harta, identitasnya juga sangat mencurigakan, alasan ketiga bagi Cia Ma-lek mengawasi pemuda itu karena di waktu pesan makanan dia tampak sedikit ragu-ragu dan menunjuk ke meja Cia Ma-lek, ternyata dia memesan makanan yang sama dengan Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek merasa curiga, melihat rumah makan ini biarpun kecil, tetapi tempat duduknya banyak, kenapa anak muda yang berbaju unik itu hanya menunjuk arah mejanya dan pesan sayur yang sama, apa sengaja mau mencari masalah.

Bersamaan waktu itu, Yo-po-lo-to telah kenyang, dengan suara keras dia minta pelayan menunjukan tempat kamar kecil.

Cia Ma-lek tahu orang tua ini suka mempermain-kan orang, caranya tidak kalah dengan dia dan gurunya, terangterangan berkata ingin ke kamar kecil, entah mau mempermainkan siapa.

Begitu Yo-po-lo-to pergi ke belakang dia jadi makin penasaran, setelah melihat sejenak pada pemuda yang berbaju unik, dia melangkahkan kakinya ke meja pemuda itu, ingin menyelidiki asal-usulnya.

Pemuda yang berbaju unik itu ternyata adalah A Bin yang baru keluar dari Gua iblis, setelah mendapat petunjuk Yu-siau-yau-cu, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi dia melesat keluar, setelah keluar gua dia langsung menuju mulut gunung Pek-lun.

A Bin juga menghindari hujan dan masuk ke gubuk ini, dia belum punya pengalaman bagaimana memesan makanan, karena suaranya hilang dan tidak bisa bicara, maka dengan terpaksa dia memesan sayur menurut meja Cia Ma-lek, karena itu mengundang Cia Ma-lek datang ke mejanya.

Cia Ma-lek seperti orang yang kenal lama saja, dia berdiri di pinggir meja A Bin sambil memberi salam.

"Permisi"

Dan dengan enaknya dia duduk di bangku meja A Bin, A Bin tidak tahu apa maksudnya, dan juga tidak bisa bertanya, hanya bisa membalas salamnya dengan tersenyum.

Dengan penuh percaya diri Cia Ma-lek berkata.

"Adik! Melihat penampilanmu yang lain dengan lain, pasti adik adalah murid seorang Tay-suhu, apa boleh aku tahu nama anda dan guru anda, biar kita bisa berkawan."

A Bin risau, dia tidak tahu bagaimana menjawab-nya, dia juga tidak bisa menberi isyarat.

Cia Ma-lek mengira A Bin adalah anak ayam yang baru keluar dari kandangnya, tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, dan sombongnya melebihi dirinya, dia jadi agak marah dan berkata.

"Aku Cia Ma-lek, guruku adalah Seng-jiu-pui-suo Leng Hau-te"

Cia Ma-lek mengira begitu dia mengatakan diri-nya dari aliran mana, bila lawannya kurang gaul, tidak tahu nama besar Cia Ma-lek, paling sedikit pernah mendengar nama gurunya.

Ternyata A Bin hanya memandangnya dan tersenyum ramah, tidak bereaksi apa pun.

Cia Ma-lek sangat terkejut, dengan pengalaman-nya menilai orang, hanya dari sinar mata hijau orang muda ini dia sudah dapat memastikan orang ini dari dunia persilatan, tidak mungkin tidak tahu nama besar gurunya, dari tingkah yang tidak menghiraukan, mungkin saja dia orang lebih penting.

Cia Ma-lek sangat pintar memutar otak, dia merobah sedikit warna mukanya, pelan-pelan dia berdiri dan berkata.

"Saudara sangat dingin terhadapku, apa kau menganggap aku Cia Ma-lek tidak pantas menjadi sahabatmu!"

A Bin melihat Cia Ma-lek salah paham dan ingin pergi, dengan perasaan sangat menyesal A Bin meng-gunakan jarinya tangan menulis di meja.

"Aku Lui Bin! guruku adalah Han-yu-sam-lo"

Ternyata di waktu berangkat, Co-Yu-siau-yau-cu telah berpesan jangan mengatakan nama Siau-yau-sam-cu, bila ada yang menanyakan nama gurunya, jawab saja dengan nama Han-yu-sam-lo.

Cia Ma-lek agak senang dengan jawaban A Bin, dia duduk kembali dibangku, dengan berkata seperti sudah berteman lama.

"Adik juga turun dari gunung Thian-bun!"

Dia tidak tahu siapa sebetulnya Han-yu-sam-lo, tetapi melihat penampilan A Bin bukan orang biasa, gurunya pasti orang hebat.

Dengan namanya yang asing itu, ada kemungkinan mereka orang hebat, makanya dia ingin bersahabat dengan A Bin.

Mendengar nama puncak Thian-bun, A Bin ter-getar juga hatinya.

Dia merenungkan sejenak, biarpun "Su-ciatleng"

Ada ditangannya, tetapi pertandingan empat senjata ampuh itu tetap berlangsung, entah ayahnya ikut bertanding atau tidak, bagaimana menang kalahnya?

Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, tetapi memperlihatkan wajah rasa ingin tahu.

Cia Ma-lek masih belum mengetahui si A Bin tidak bisa bicara, dia agak curiga kenapa orang ini tidak mau banyak bicara, karena ingin mengutarakan pendapatnya, dengan senang dia berkata.

"Kau tidak datang ke Thian-bun-hong tidak apa-apa!

Tahun ini seperti tahun sebelumnya, yang menyombongkan diri hanya Kau Bun-kek seorang, dia berteriak-teriak sendiri, yang lainnya Lui-to, In-kiam, Giok-kiong, seorang pun tidak ada yang keluar............

A Bin ingin bertanya, ingin berkata dengan isyarat tangan, mendadak di mulut gunung terdengar suara kaki kuda menghampiri warung arak Terlihat mereka berenam naik kuda, masing-masing memakai baju jago silat, mukanya bengis, tampak dari kalangan persilatan.

Di depan warung arak, mereka bersamaan meloncat turun dari punggung kudanya, dengan angkuh masuk ke dalam warung, kedua belas matanya melirik tamu-tamu disekeliling warung, penampilannya sangat angkuh.

Peminpinnya seorang yang mukanya agak gelap, jengotnya berdiri, hidung seperti macan, bermulut besar, dia seperti mencari sesuatu tapi tidak menemukan, dengan agak jengkel berteriak.

"Mana majikannya?"

Pelayan warung sudah mengetahui bahwa enam orang ini bukan orang baik-baik, maka tidak berani berlambatlambat, dengan cepat dia menghanpiri. Orang yang mukanya agak gelap itu berkata.

"Di warung ini apa sudah datang seorang pemuda berbaju hitam yang mukanya seperti monyet!"

Setelah mendengar suara gertakan itu pelayan warung berkata.

"Ada! Ada! Ada!"

Sambil menunjuk meja yang di duduki Cia Ma-lek, dan berkata terkejut.

"Ih, aneh, tadi dia duduk di meja itu kenapa hilang........."

Tadi dia tidak melihat Cia Ma-lek pindah duduk ke tempat A Bin.

A Bin juga melihat ke sekeliling, ternyata Cia Ma-lek entah sejak kapan sudah tidak ada di warung lagi, waktu enam orang itu masuk warung A Bin melihat Cia Ma-lek bangkit dari tempat duduk, di kiranya dia kembali ketempat duduknya, ada kemungkinan dia melarikan diri.

Orang yang bermuka gelap itu berteriak kepada semua tamu di warung.

"Kita enam orang bersaudara adalah "

Sai-it-ngo-su " (Singa tunggal lima tikus), berhubung tadi di pegunungan barang kami tercuri oleh Cia Ma-lek, jadi kami mau menghukum bangsat itu, bila kalian ada yang tahu dia lari kemana?

Silahkan beritahu, bila tahu tapi tidak melaporkan, berarti bermusuhan dengan kita"

Kata pemimpin Sai-it-ngosu.

Sebetulnya, orang ini tidak perlu menyebutkan nama kelompoknya, karena semua orang, selain A Bin, sudah tahu mereka adalah penjahat kejam dari golongan hitam, tidak ada orang berani mengusiknya, malah ada yang takut terlibat, mengetahui Cia Ma-lek tadi duduk berdampingan dengan A Bin, sengaja memandang ke arah meja A Bin, ingin menghindari bencana yang tidak diinginkan.

Orang yang mukanya agak gelap dengan pandangan tajam terpancing juga melihat ke arah meja A Bin, betul juga di sana kelihatan ada bangku kosong yang baru ditinggalkan orang, segera dia menghampiri meja A Bin, dengan suara keras membentak.

"Hey, bocah! Apa kau melihat kemana Cia Ma-lek pergi?"

Biarpun orang itu berbuat kasar dan kata-katanya tidak sopan, tetapi bagi A Bin yang telah hidup selama enam tahun dengan tiga orang Siau-yau-cu, dia telah mendapatkan pupukan Tiong Ki-cu, hingga terlatih meredam hawa amarahnya, kata-kata dan tingkah laku orang itu tidak membuat A Bin marah, dia hanya memandang dengan tenang.

Ternyata orang itu tersinggung oleh tingkah dingin A Bin, dia membentak.

"Apa kau tidak punya mata, kau tahu tidak siapa yang bicara denganmu, berani sekali melihat aku dengan mata anjingmu!" A Bin mulai marah, tetapi dia masih mencoba menahan diri, orang itu telah memasang kuda-kuda, ingin memukul A Bin yang dianggap kurang ajar. Bersamaan waktu itu, di belakang warung terdengar suara omelan dari seseorang.

"Warung kalian ini apa untuk burung! Kamar kecilnya tidak pantas, baunya bukan main, dan banyak sekali badutbadut tengik, baru duduk sejenak saja sudah datang sekelompok kacoa dan lima ekor tikus bau yang setengah mati!"

Orang yang bermuka agak hitam mendengar suara sindiran yang ditujukan pada mereka, seketika berobah mukanya dan ingin membentak siapa orangnya.

Kain hordeng pintu belakang tampak terbuka, keluar seseorang dengan santai berjalan, ternyata Yo-po-lo-to yang tadi makan dengan lahap dan mencari kamar kecil.

Kesombongan kelompok Sai-it-ngo-su segera lenyap, mereka tahu Yo-po-lo-to suka mempermainkan orang-orang dari golongan hitam, kalau bertemu orang jahat, suka memberi hukuman, dia adalah musuhnya golongan hitam, dengan julukan "Siu-mo" , kelompok ini tidak mengakui mereka sebagai Siu (bangsat), tetapi tahu betul bahwa Yopo-lo-to adalah musuh mereka.

Enam orang jagoan golongan hitam yang punya reputasi hebat mengetahui, mereka berenam tidak akan bisa melawan Yo-po-lo-to sedikitpun, asalkan "Siu-mo"

Tidak mencari masalah pada mereka, itu sudah ber-untung, mana berani membentak orang lagi.

Tanpa banyak bicara, dengan lemas mereka meninggalkan warung itu, cepat menunggang kuda masingmasing pergi ke arah utara.

Seperti orang bodoh yang bicara sinting, dia menghalau pergi kelompok Sai-it-ngo-su, Yo-po-lo-to seperti tidak tahu apa-apa, dia mengomel terus sambil membayar bon makanan, langsung melangkah keluar warung.

Sebelum pergi, dia melihat A Bin sejenak, dari kaca mata hitamnya, dia bisa melihat A Bin telah terlatih ilmu Piekuang-sin-gan (Malaikat mata hijau), memandang kaca mata hitam itu A Bin telah melihat Yo-po-lo-to memandang dirinya dengan seksama.

A Bin memberi senyuman tanda terima kasih atas pertolongannya yang telah menghilangkan gangguan dan melihat dia pergi ke utara.

Kuping A Bin mendengar orang berkata.

"Wah! Lote, sejak aku melihatmu, aku tahu kau adalah orang luar biasa, ternyata betul juga! Siu-mo-lo-to juga sampai memperhatikanmu!"

A Bin mendengar suara Cia Ma-lek, entah kapan dia sudah kembali ke sampingnya.

Kemudian Cia Ma-lek dengan leluasa bercerita panjang lebar tentang pengalamannya di dunia persilatan, bagaimana menggunakan ilmu mencurinya mempermainkan orang, karena A Bin tidak bisa bicara, dia membiarkan Cia Ma-lek bicara dengan senang dan semangat.

Awan di langit makin tebal, hujan lebat akan segera turun, di jalan pegunungan turun dua orang penunggang kuda putih, kuda yang gagah orangnya juga lain dengan orang biasa, yang seorang gadis berbaju hijau berusia sekitar dua puluh tahun, mukanya bagai-kan bunga, kulitnya seperti batu giok, matanya seperti mata burung hong, bibir yang indah dengan pinggang yang ramping, sungguh seorang gadis yang cantik sekali.

Yang seorang lagi, seorang kakek dengan rambut, jengot serba putih, beralis tebal, mukanya bersinar, kedua penunggang kuda yang satu tua yang satu muda bagaikan lakon dalam sebuah gambar.

Mereka menambatkan kudanya di depan warung itu, lalu masuk ke dalam, yang tua memandang sekeliling ruangan, yang muda tidak memandang siapa pun, mata indahnya hanya menuju meja kosong yang baru ditinggalkan Yo-polo-to.

Baru saja mereka duduk, mata semua orang seperti tertarik melihatnya, kecuali Cia Ma-lek yang sedang asyik menceritakan riwayat hidupnya.

Gadis yang baju hijau itu sambil melihat orang tua memesan makanan sambil dengan suara kecil mengomel.

"Wai-kong (Kakek luar), kau terlalu hati-hati, kita ke Thian-bun-hong hanya melihat-lihat, dan tidak berbuat apaapa, apa yang salah, kau tidak mau kesana dan hanya berputar-putar di gunung ini, sampai harus berteduh di warung ini."

Setelah pelayan pergi, orang tua itu dengan tersenyum katanya.

"Siau-cian! demi kau aku tidak buka suara, sekali aku buka suara akan membuat orang-orang terkejut, aku ingin orang-orang di dunia persilatan tahu, bahwa wanita pun juga bisa jadi jagoan, makanya lebih baik kau menahan diri, supaya begitu muncul, kau akan menggemparkan dunia persilatan."

Suara percakapan kedua orang itu sangat kecil, tetapi A Bin yang manpu melihat jauh ke langit dan mendengar suara lembut dari bumi bisa mendengar, kata-kata mereka sangat menarik hatinya, maka ocehan Cia Ma-lek malah tidak didengarkan lagi.

Gadis baju hijau yang dipanggil Siau-cian masih terus menggerutu, orang tua yang berjenggot putih perak itu kebetulan beradu pandang dengan A Bin.

Mata A Bin yang bersinar hijau membuat dia tercenggang sejenak, membuat dia memandang mata A Bin terus-menerus.

A Bin tenang-tenang saja di pandang orang, dia tidak menghindar malah membalasnya dengan ter-senyum.

Siau-cian melihat Wai-kongnya memandang ke lain arah, dia merasa aneh, dia juga jadi memandang ke arah A Bin.

Baju yang dipakai A Bin sangat lucu dipandang, tetapi tidak mengurangi ketampanannya, silauan "Malaikat mata hijau"

Nya membuat Siau-cian memandang beberapa kali, dan berbisik pada kakeknya. Dari kejauhan A Bin mendengarkan Siau-cian bertanya pada kakeknya.

"Wai-kong! mata anak muda itu agak aneh!"

Kakeknya dengan tersenyum menjawab.

"Siau-cian, kalau bicara mesti sopan, mungkin dia bisa mendengarkan percakapan kita!"

Cia Ma-lek juga melihat tingkah laku A Bin yang tidak menghiraukannya, dia jadi berpaling ke arah pandangan A Bin, hal ini terlihat juga oleh Siau-cian bahwa perkataannya terdengar oleh A Bin, lalu Siau-cian berkata lagi dengan kakeknya.

"Ternyata dia bersama si pencuri? Mana mungkin dia orang baik-baik?"

Cia Ma-lek tidak mampu mendengar kata-kata yang menghinanya, tetapi dia mengenal siapa orang tua yang berjenggot perak itu, dengan cepat dia meninggal-kan bangkunya menghadap pada orang tua itu dengan sopan memberi hormat.

"Maafkan, tadi Siautit tidak melihat Supek datang!"

Tingkah laku yang sopan dan hormat tersebut membuat A Bin merasa aneh, apa dia terhadap gurunya juga bersikap begitu, dia memperkirakan kakek itu adalah Cianpwee dunia persilatan.

Siau-cian dengan nada aneh berkata.

"Wai-kong, kapan menjadi seperguruan orang ini!"

Sambil mengusap jenggot peraknya, dia berkata.

"Aku dengan kakeknya adalah sahabat lama!"

Lalu berkata pada Cia Ma-lek.

"siapa temanmu yang semeja itu? Hayo kenalkan pada kita!"

Cia Ma-lek dengan senang segera mengajak A Bin, berkatakan pada A Bin.

"Ini adalah paman Wie, sepuluh tahun yang lalu dia adalah satu-satunya pendekar terkenal yang berani menantang jago-jago Siau-lim dan Bu-tong tanpa tandingan, julukannya "

Gin-hoat-lojin, (Kakek Jenggot Perak)."

A Bin baru tahu kakek ini adalah pendekar terkenal, yang dijuluki "Gin-hoat-lojin"

Wie Tiong-hoo, saat muda, berkat ilmu silat yang dikuasainya, dengan hormat mendatangi kuil Siau-lim dan Bu-tong menguji ketangguhan ilmu kedua aliran itu, dan mendapat ijin dari pemimpin kedua aliran itu dengan janji bertanding untuk mengikat persahabatan, setelah saling bertukar ilmu dengan jagoan-jagoan kedua aliran itu dia pulang dengan selamat, kemudian namanya dijunjung tinggi di dunia persilatan.

Gin-hoat-lojin berkata dengan senang.

"Tidak usah dibesar-besarkan ceritanya, pada waktu itu aku senang belajar ilmu silat hingga berbuat hal-hal yang ceroboh, hingga sekarang, bila dipikirkan aku merasa malu, lain dengan saudara Lui yang menguasai ilmu tangguh, biarpun nama gurunya asing, tapi aku kira mereka adalah ahli ilmu silat yang tidak ingin diketahui orang!"

Lalu dia memperkenalkan Siau-cian kepada kedua orang itu, dia hanya mengatakan Siau-cian adalah cucu luarnya, yang lain tidak diceritakan.

A Bin sangat risau tapi tidak bisa bicara, dia ragu-ragu bagaimana menjawabnya, Siau-cian yang di samping dengan sinis berkata.

"Wai-kong! Jangan terlalu semangat, diapun malas menjawabnya mungkin kita tidak pantas jadi kenalannya!"

Kakek Wie Tiong-hoo juga merasa aneh, A Bin terpaksa menggunakan jari dicelupkan ke gelas arak, menulis keterangan di meja, bahwa sejak keluar dari perguruan, dia mengalami gangguan suara sehingga tidak bisa bicara, harap dimaafkan.

A Bin menulis dengan arak, kata-katanya halus, tulisannya rapih, Gin-hoat-lojin sambil menyayangkan riwayat A Bin tetap memuji.

"Ceritakan! Ceritakan!"

Setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, dan ternyata A Bin baru berkenalan dengan Cia Ma-lek, Siau-cian jadi merobah pandangan terhadap A Bin, dengan suara menyesal berkata halus.

"Lui Toako, aku telah ceroboh, aku tidak baik telah melecehkanmu!"

A Bin tidak bisa menjawab, hanya dengan mata-nya yang hijau memandang mata Siau-cian yang jernih, membuat Siau-cian malu dan menundukan kepala, kedua pipinya langsung berobah merah.

Kakek Wie Tiong-hoo dan Cia Ma-lek melihat mereka berdua saling pandang dengan akrab, mereka pura-pura tidak melihat, terus melanjutkan percakapan tentang peristiwa di dunia persilatan, A Bin juga sering ikut memberi isyarat tangan untuk bertanya atau menjawab, Siau-cian merobah ucapan yang sinisnya ketika pertama kali bertemu A Bin, sekarang nada ucapannya berobah halus dan enak didengar.

Wie Tiong-hoo melihat dengan senang dan terkejut, tetapi tidak banyak bicara tentang perobahan Siau-cian Tidak lama kemudian, betul saja hujan turun sangat lebat, kurang lebih satu jam kemudian baru hujan berhenti, cuaca berobah menjadi cerah, tamu-tamu warung berangsur-angsur meninggalkan warung arak itu, Gin-hoatlojin dengan Siau-cian berpamitan pada A Bin dan Cia Malek, menunggang kuda berjalan duluan.

Cia Ma-lek berjalan kaki menemani A Bin, di perjalanan Cia Ma-lek menunjuk pada arah perginya kakek Wie dan Siau-cian berkata.

"Adik Lui, tidak sangka kau punya jodoh persahabatan, bukan saja kakek Wie sangat sayang padamu, cucunya Siau-cian pun menaruh perhatian pada pandangan pertama!"

A Bin sedang menikmati kejadian tadi, tidak disangka isi hatinya telah diketahui oleh Cia Ma-lek, dia jadi merasa malu dibuatnya.

Cia Ma-lek tidak memperhatikan muka A Bin, di perjalanan dia tetap bercerita tentang pertualangan dirinya.

Perjalanan kedua anak muda ini setelah melalui tikungan jalan, di sana terdapat tumpukan batu gunung, dan hutan yang tidak terlalu lebat, baru saja mereka menginjakan kakinya di pinggir hutan, terdengar suara bentakan.

"Bangsat tengik, kau sudah masuk perangkap kami!"

Sedang senang-senangnya Cia Ma-lek bercerita, tidak tahu ada orang yang menghalangi jalannya, setelah dilihat ternyata mereka musuh yang bertemu di jalan sempit, mereka adalah Sai-it-ngo-su.

Orang yang berkata itu adalah pemimpin kelompok enam orang yang bernama Kong Tai-hong dengan julukan "Ci-bin-pa" (Macan muka ungu) sambil berteriak dia berkata.

"Bangsat tengik, cepat serahkan barang yang kau curi dari adik ke enam, melihat gurumu, kami tidak akan memberimu hukuman, bila tidak, kau harus tahu keganasan kelompok Sai-it-ngo-su!"

Cia Ma-lek melihat enam bajingan yang menghadang jalan, dia tahu tidak bisa menghindar lagi, bila satu lawan satu tidak jadi masalah, bila mereka berenam menyerang bersama dia pasti kalah, biar pun Cia Ma-lek banyak akal licik, dan tidak mau menerima kerugian di depan mata.

Tetapi bahaya di depan mata tidak membuat dia mau menyerah kalah begitu saja, dengan pura-pura bodoh dia berkata.

"Aku kira siapa, ternyata bandit Sai-it-ngo-su, kalian jangan menganggap karena aku dan guru punya julukan pencuri dewa, lalu setiap orang yang kehilangan barang pasti dicuri oleh kami, kalian berenam kehilangan barang apa, coba katakan, apakah pasti ada di tubuhku?" Ci-bin-pa Kong Tai-hong berkata berang.

"Bangsat tengik kau jangan bersilat lidah, cepat serahkan barang yang kau curi, kita tidak peduli tindakan gurumu di kemudian hari, saat ini kami akan membereskan kau dulu!"

Cia Ma-lek tidak takut gertakan itu, dia masih tertawa kecil, katanya.

"Bandit Kong, kau begitu memandang guruku, aku merasa tersanjung, kau paksa aku mengeluarkan barang, tetapi harus dijelaskan dulu, barang apa yang dimaksud? sebab seluruh tubuhku penuh dengan barang, kau mencari barang apa?"

Ketua kelompok lima tikus membentak.

"Jik-hoat-lo-su" (Tikus rambut merah) Cuo-tong berkata.

"Bangsat tengik! Siapa yang ada waktu beradu mulut denganmu, cepat keluarkan barang "

Hiat-san-peng-can " (Kodok salju) yang kau curi dari adik keenam, maka segala urusan beres, bila tidak kita tidak akan pandang lagi gurumu, segera membereskan kau!"

Cia Ma-lek tertawa terbahak-bahak berkata.

"Aku kira barang langka apa, sehingga kalian berenam turun gunung, dengan garang memaksa aku, ternyata barang kecil "

Hiatsan-peng-can!"

Macan Muka Ungu Kong Tai-hong berteriak.

"Ya itu! Kau jangan punya pikiran miring, cepat kembalikan pada kita!"

Cia Ma-lek masih tertawa.

"Agar Enam raja gunung puas, benda "Hiat-san-pengcan" ..........aku belum pernah melihat!"

Keenam orang itu tidak terima dipermainkan Cia Ma-lek lagi, segera mereka bersama-sama ingin meng-hajarnya. "Tunggu sebentar!"

Cia me-lek berteriak.

Mereka berenam suara lantang, tapi dalam hati sebetulnya masih takut pada gurunya Seng-jiu-pui-suo Leng Hau-te, bila tidak terpaksa, mereka tidak ingin berselisih dengan Cia Ma-lek.

Mereka bersamaan berkata.

"Bangsat tengik, cepat bicara!"

Cia Ma-lek masih berseri-seri berkata.

"Dari dulu ada perkataan begini "

Tangkap bangsat tangkap barang bukti, tangkap yang berjinah tangkap pasangannya,"

Kalian berenam menuduhku mencuri "Hiatsan-peng-can" , kalian harus membukti-kan apa barang itu ada ditubuhku atau tidak, bila barangnya tidak ada, guruku akan mencari kalian! "

A Bin menonton adegan ini di pinggir, dia tidak tahu apa Cia Ma-lek mencuri, dia sendiri pun tidak bisa bicara, sehingga hanya diam berpangku tangan saja.

Sambil menjawab pertanyaan enam orang tersebut, Cia Ma-lek melirik kepada A Bin, A Bin tidak mengerti apa maksudnya, dia balik memandang ke arah Cia Ma-lek, perbuatannya membuat enam orang itu curiga.

Ci-bin-pa Kong Tai-hong segera menangkap arti lirikan Cia Ma-lek, dia bersuara sadis.

"Bangsat tengik, pantas saja kau bersedia di-geladah, ternyata kau telah menyimpan "

Hiat-san-peng-can"

Pada anak muda ini."

Dia segera meloncat ke depan A Bin, dan membentak.

"Anak muda! Cepat serahkan Hiat-san-peng-can, jangan membuat kami pusing, maka kau akan selamat!"

Sebetulnya Kong Tai-hong hanya mengira-ngira barang itu ada ditubuh A Bin, tetapi tidak berani memastikan, dia tahu sifat Cia Ma-lek yang banyak akal licik, ilmu silatnya juga cukup baik, menggeladah tubuhnya tidak mudah, bila barangnya ternyata tidak ada ditubuhnya, Cia Ma-lek akan merongrong mereka tanpa henti, lebih baik jangan cari masalah dengan Cia Ma-lek, tetapi A Bin adalah anak muda polos, gampang diatur, lebih baik digeladah duluan, bila tidak ada ditubuhnya, Hiat-san-peng-can pasti ada di tubuh Cia Ma-lek.

A Bin merasa tidak mengantongi barang itu, dia tidak takut sedikitpun, tetapi dia tidak ingin digeladah, maka matanya melotot pada Kong Tai-hong.

Mengiranya A Bin pura-pura tuli dan bisu, Kong Taihong berteriak sekali, lalu menjulurkan tangan kirinya menangkap A Bin.

A Bin tidak menggerakan kakinya sedikit pun, hanya menarik tenaga dalam satu kali, tubuhnya sudah mundur satu kaki lebih, telapak tangan Kong Tai-hong hanya mengenai angin.

Gerakan A Bin membuat Kong Tai-hong gentar, dia adalah jagoan di dunia hitam, pandangannya luas, gerakan lawannya itu membuktikan tenaga dalamnya sangat tinggi, pasti orang ini dari perguruan ternama, maka dia tidak berani melanjutkan serangannya, dengan nada sopan berkata.

"Siapa gurumu? Cepat katakan, jangan sampai aku melukai dirimu!"

Cia Ma-lek menyindir di samping, berkata.

"Ci-bin-pa jangan sok ingin berteman, gurunya mana mau berkenalan dengan kalian, bila dikatakan, kalian juga akan terkejut!" Keenam orang itu marah atas perkataan Cia Ma-lek, melihat A Bin tetap bungkam, mereka merasa terhina dan tidak tahan atas tingkah A Bin, Kong Tai-hong dengan suara keras berkata.

"Kawan-kawan dia tidak memandang kita ber-enam, nama gurunya pun tidak mau dikatakan, bila dia mengandalkan kepandaiannya, lebih baik kita berenam mencoba keahliannya!"

Kelompok Sai-it-ngo-su ini sebetulnya ingin menghadapi Cia Ma-lek dengan cara mengeroyok, setelah bertambah satu lagi musuh tangguh, mereka jadi ingin sekalian mengganyang A Bin dengan cara mengeroyok.

Cia Ma-lek segera meloncat keluar, mulutnya berkata.

"Aku tidak bermusuhan dengan kalian, jika kalian ingin berkelahi pada temanku, silahkan, jangan libatkan aku!"

Macan Muka Ungu Kong Tai-hong berpikir, Cia Ma-lek tidak ikut bertarung lebih bagus, anak muda ini biarpun berilmu tinggi, mana bisa menahan gempuran mereka berenam, maka dia berteriak.

"Bangsat tengik, awas, jangan melarikan diri!"

Ngo-lo-su tanpa menunggu komando Ci-bin-pa, sudah bergerak menyerang A Bin dari segala arah, lima macan senjata, bagaikan angin campur geledek menuju tubuh A Bin.

A Bin tidak bermaksud melukai mereka, tetapi untuk jaga diri dengan kedua telapak tangannya dia menghadang lima macan senjata itu, ke lima tikus merasakan ada angin yang sangat dingin menahan senjata masing-masing, malah berbalik arah menyerang muka sendiri, mereka terkejut bukan main, bersamaan dengan gerakan "Keledai malas menggelinding", masing-masing pundaknya menyentuh tanah mengeluar kan suara.

"Duk, Duk"

Berurutan, lima tikus telah menggelinding sejauh setengah tombak.

Ci-bin-pa Kong Tai-hong melihat kejadian itu dengan mata melotot penuh rasa terkejut, setelah mengetahui kepandaian A Bin begitu tinggi, dia ikut menyerang juga akan mendapat malu.

Cia Ma-lek bertepuk tangan sambil tertawa.

"Bagus! bagus! Bandit Kong apa kau sendiri akan menggeladah anak muda itu!"

Kong Tai-hong tahu mereka bukan tandingan A Bin, tanpa menghiraukan sindiran Cia Ma-lek, dengan jengkel berkata.

"Kita kelompok Sai-it-ngo-su punya mata tanpa bola mata, tidak tahu diri membuat malu sendiri, kita enam bersaudara tidak akan minta kembali "

Hiat-san-peng-can"

Apa anda bisa beritahu nama, agar di kemudian hari bisa membalas budi!"

Cia Ma-lek tertawa terbahak-bahak, berkata.

"Dia bernama Lui Bin, bila kalian masih ada umur, boleh cari dia, tetapi dengan kepandaian yang begini rendah, jangan harap bisa membalas budi!"

Kong Tai-hong tidak mendengarkan kata Cia Ma-lek, dengan menjejakkan kedua kakinya ke tanah, dia sudah meloncat balik ke dalam hutan, tindakannya segera disusul oleh Ngo-lo-su.

Cia Ma-lek meloncat kembali ke samping A Bin, dengan senang memuji A Bin.

"Adik Lui, sungguh kau orang yang tidak suka memamerkan diri, aku Cia Ma-lek juga tidak menyangka, kau menguasai ilmu yang maha hebat.............." Kata-katanya belum habis, dia melihat A Bin dengan muka marah mengeluarkan sebuah benda dari dadanya, ternyata itu adalah Hiat-san-peng-can yang dia titipkan pada A Bin sewaktu di warung arak. Cia Ma-lek sangat cerdik dia menangkap expresi muka A Bin, untuk menghindar salah paham pada A Bin, dia cepat berkata.

"Adik Lui, benda Hiat-san-peng-can adalah obat mujarab untuk mengobati racun, racun dari senjata tajam atau senjata gelap hingga racun di gigit binatang berbisa, segera hilang bila dihisap oleh benda ini setelah ditaruh di bagian luka racun, kelompok Sai-it-ngo-su juga mencuri benda ini dari orang lain, aku ingin mempermainkan mereka, jadi mengambilnya dari dada Pek-bin-lo-su (Tikus muka putih). Kemudian karena aku ingin melihat ilmu silatmu, jadi sengaja menaruh benda itu di dadamu............."

Perkataan Cia Ma-lek belum habis diutarakan, terdengar suara terbahak-bahak dari dalam hutan.

"Pencuri cilik! Hari ini kau tidak beruntung, baru dihalau kelompok Sai-it-ngo-su, datang aku Pencuri iblis!"

A Bin dan Cia Ma-lek memandang kearah suara orang itu, ternyata Pencuri iblis Yo-po-lo-to sedang keluar dari hutan.

Cia Ma-lek tidak berani bertingkah di depan orang ini, segera menghampiri dan memberi hormat.

"Paman Lo-to, bila kau juga menginginkan Hiat-sanpeng-can, aku akan serahkan dengan dua tangan, tetapi aku telah duluan memutuskan untuk memberikan barang itu kepada adik Lui!"

Yo-po-lo-to sambil tertawa.

"Pencuri licik!

kau orangnya kecil tapi siasatnya banyak, pintar putar otak, apakah kau takut aku cari masalah, maka cepat-cepat panggil aku paman, dan memberi janji kosong untuk menjaga hubungan?"

Cia Ma-lek dengan mengeluarkan lidah dari mulutnya, makin tertawa, katanya.

"Kau orang bijaksana, tipu muslihat dalam perut ku mana bisa mengelabuimu!"

Yo-po-lo-to tertawa terbahak-bahak berkata.

"Pencuri licik! Jangan banyak mulut, aku dengan gurumu Pencuri ulung Leng Hau-te belum pernah menjalin hubungan, tetapi aku suka cara kerjanya, biarpun kau punya nama Cia Ma-lek, tetapi aku Pencuri iblis tidak akan membuat masalah padamu, tujuanku datang saat ini bukan kau, hanya ingin menilai adik Lui!"

Setelah bicara, dia melepaskan kaca mata hitam yang dipakainya, melihat A Bin dari atas ke bawah. Cia Ma-lek melihat tingkah laku Yo-po-lo-to, lalu berkata pada A Bin.

"Adik Lui! Kau mendapat kehormatan, yang aku tahu paman Lo-to waktu dulu memakai kaca mata hitam karena dunia sangat kotor dan orang pada licik, tidak pantas diteliti, sehingga dia memakai kaca mata hitam, sekarang dia membuka kaca mata hitam menilaimu, biarpun bukan orang pertama, sedikit sekali orang yang mendapat kehormatan tersebut."

Diwaktu kecil A Bin juga pernah dengar nama Yo-po-loto, tadi di warung arak dia juga telah membantu menghilangkan kerepotan, maka dia memberi hormat pada Lo-to.

Dengan menganggukkan kepala, Yo-po-lo-to memuji A Bin.

"Dilihat dari fisik dan kecerdasan, kau adalah orang yang jarang terdapat, dan yang istimewa adalah sepasang matamu yang hijau, menandakan kau telah menguasai tenaga dalam tingkat tinggi, boleh tahu gurumu?"

Cia Ma-lek cepat mewakili A Bin berkata.

"Adik Lui tidak bisa bicara, gurunya adalah Han-yu-sam-lo."

Yo-po-lo-to belum pernah mendengar nama Han-yusam-lo, dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkin nama samaran, pandanganku adalah nomor satu, gurumu pasti orang ternama, tapi tidak usah dibicarakan dulu, aku lihat kau lain dengan orang biasa, maka aku khusus mengajakmu berbuat sesuatu."

Cia Ma-lek merasa terkejut berkata.

"Paman sudah puluhan tahun terjun di dunia persilatan, belum pernah membawa pembantu, adik Lui hari ini malah diajak berbuat sesuatu, betul-betul buat aku jadi iri!"

Yo-po-lo-to tidak menghiraukan Cia Ma-lek, dia kembali memakai kaca mata hitamnya, dengan serius berkata.

"Pekerjaan ini, hanya adik Lui yang pantas mengerjakannya, dia tidak bisa bicara, malahan lebih cocok!"

Cia Ma-lek ingin bertanya lagi, tapi dilarang oleh Yo-polo-to dan berkata.

"Kau jangan ikut bicara dulu, dengar dulu di samping, nanti juga ada tugas lain buatmu!"

Mendengar perkataan itu, Cia Ma-lek sangat senang sambil meremas-remas kuping dan pipinya, dia tahu betul orang ini tidak sembarangan memerintah orang, bila telah diputuskan menggunakan seseorang, tentu akan diberikan hadiah yang berharga, entah hadiah apa yang akan dia dan A Bin dapatkan.

Yo-po-lo-to melanjutkan pesannya pada A Bin.

"Aku tugaskan dirimu ke arah utara kurang lebih seratus li, yaitu kota Lam-ning untuk bertemu seseorang, orangnya muda sepertimu, katanya dirinya turunan raja tapi aku tidak hafal betul.

Ayahnya seorang pendekar ternama bergelar Lok-houw-it-kun, yang telah berhubungan denganku.

Dia datang ke Tionggoan ini selain ingin bertemu denganku, juga ingin mencoba ketangguhan pesilat-pesilatnya.

Aku ingin memberi pelajaran pada dia, tapi karena umurku lebih tua dari dia jadi tidak pantas aku keluar sendiri, tadi aku melihat kau sangat tangguh, aku ingin meminjam tenagamu, mematahkan kesombongan dia.

Merasa tidak pantas mencari masalah dengan orang asing tanpa alasan, terlihat sinar ragu di muka A Bin.

Yo-po-lo-to memandang dengan matanya yang terang dengan sungguh-sungguh berkata.

"Adik Lui! Telah dua kali aku memperhatikan, kau punya watak yang agung, bukan bandingan anak muda yang suka menang sendiri tanpa perhitungan. Tugas yang akan diberikan padamu, bukan untuk kepentinganku, kau harus tahu jurus mereka lain dengan jurus silat yang biasa digunakan di Tionggoan, dia menganggap remeh ilmu silat Tionggoan. Kali ini dia menugaskan anak tunggalnya ke daerah utara, bermaksud memamerkan ilmu Lok-houw-itkun, bila tidak dibendung, kesombongan mereka akan menjadi-jadi."

Setelah A Bin mendengar cerita yang berhubungan dengan reputasi ilmu silat di Tionggoan, dan dia sendiri memegang tanda Su-ciat-leng (Empat perintah wahid), maka dia mesti membela nama aliran Tionggoan, bila di kemudian hari ayah tahu juga akan senang.

Maka dia merobah pikiran, dia setuju sambil menganggukan kepala pada Yo-po-lo-to.

Yo-po-lo-to senang setelah mengetahui A Bin setuju dengan tugasnya.

Dia berkata lagi.

"Dan aku minta kau mau belajar ilmu silatku sekali saja, jadi ketika kau menantang anak Lok-houw-it-kun, gunakanlah ilmuku, ini adalah janjiku pada Lok-houw-itkun waktu dulu. Sesungguhnya ilmu silatmu tidak di bawahku, tetapi kau harus belajar dua jurus ilmu silatku!"

Cia Ma-lek mendengar permintaan Yo-po-lo-to pada A Bin, dia ingin juga belajar ilmunya seperti A Bin.

A Bin tampak ragu-ragu sejenak, lalu mengangguk kepala setuju.

Yo-po-lo-to umurnya sudah tua, tetapi masih punya sifat anak muda, setelah bicara dia langsung mengerjakan, di pinggir jalan dia menerangkan dengan jelas dua jurus ilmunya pada A Bin.

Ilmunya di namakan "Po-in-san-jiu" (Tangan menghalau memecah awan) dan "Yu-sian-bi-tiongpouw" (Langkah menyesatkan dewa) Ilmu Yo-po-lo-to juga punya keistimewaan jurus yang berbeda dengan ilmu dari Tionggoan, jurusnya sangat aneh, jarang ditemukan dalam aliran perkumpulan besar.

Berkat dasarnya yang kuat, dan otaknya cerdas, sekali diberi petunjuk, A Bin langsung mengerti, tidak lebih setengah jam A Bin telah menguasai ilmu itu dengan mahir.

Melihat hasil yang diperoleh A Bin begitu cepat, Yo-polo-to yang biasa suka humor, berkata dengan sungguhsungguh.

"Aku jarang memuji orang, tetapi kau adalah bibit unggul yang sepuluh tahun ini baru aku temukan!"

Cia Ma-lek melihat Yo-po-lo-to mengajarkan ilmu silat di depan matanya, dia senang juga dalam hati, dalam pikirannya dia juga mendapat kesempatan menambah ilmunya, tetapi sampai A Bin berhasil mempelajari jurusnya, dia hanya hafal sekitar dua puluh persen saja, melihat jurus yang diperagakan A Bin ternyata hampir mendekati kesempurnaan, dia merasa terkejut dan iri, tetapi memuji juga atas kemampuan A Bin A Bin telah berhasil menambah sebuah ilmu baru, mengetahui Yo-po-lo-to memberikan ilmunya agar menghadapi anak Lok-houw-it-kun, dia sangat menghargai dirinya, dia langsung mengucapkan terima kasih.

Yo-po-lo-to pura-pura tidak melihat A Bin, kemudian dia memberi petunjuk.

"Aku belum pernah melihat anak Lok-houw-it-kun, tetapi aku tahu kira-kira orangnya bagaimana, tubuhnya kurus pendek, mukanya cakap, selewat kelihatan seperti anak perempuan, sifatnya sombong sekali, kali ini datang ke utara, selain didampingi pesilat-pesilat tangguh Lok-houwit-kun dengan rahasia, dia juga membawa pembantu dekatnya, dalam dua hari dia akan sampai di kota Lamning. Orang muda ini sudah biasa berfoya-foya, minum, makan dan peng-inapan selalu minta yang paling mewah, kau pasti gampang mengenalinya."

Yo-po-lo-to juga berkata pada Cia Ma-lek.

"Pergilah bersama A Bin! aku sudah memberi petunjuk, jalankan sesuai dengan rencana."

Dia langsung mengatakan tugas rahasia itu pada Cia Ma-lek dan A Bin.

Malam itu, Cia Ma-lek dan A Bin sudah sampai kota Lam-ning, Cia Ma-lek membawa A Bin ke toko membaju membeli baju anak bangsawan, menginap dihotel paling mewah.

Dua orang ini menunggu dengan sia-sia selama dua hari, dan berkesempatan menengok hotel lain yang agak besar, tapi tidak menemukan tamu yang persis seperti yang diceritakan, Siang hari ketiga, Cia Ma-lek dan A Bin sedang di luar kamar sambil santai melihat-lihat tamu yang keluar masuk hotel, ternyata matanya terpancing oleh tiga tamu yang baru masuk, satu majikan dan dua pembantunya.

Majikannya tampan seperti seorang anak bangsa wan, umurnya sebaya A Bin, penampilan gagah, berbibir merah dan gigi putih, penampilannya membawa tingkah laku perempuan.

Cia Ma-lek dan A Bin saling melempar muka lucunya, mereka berdua sama-sama sudah menebak, pasti orang ini anak Lok-houw-it-kun.

Setelah lebih diteliti lagi, pelayan hotel meng-iring tiga kuda bibit unggul ke halaman belakang, salah satu dari kedua pembantunya memegang satu pedang antik, yang lainnya berdandan dengan potongan pendekar dunia persilatan, Cia Ma-lek dan A Bin lebih yakin lagi tebakan mereka tidak meleset.

Tamu tiga orang itu mengetahui Cia Ma-lek dan A Bin memperhatikan mereka dari seberang, mereka juga balik memandang.

A Bin dan Cia Ma-lek merasakan anak bangsawan itu sangat cakap namun sombong.

Setelah memperhatikan tiga orang itu masuk kamar, kebetulan pelayan hotel yang menaruh kuda lewat depan kamar, Cia Ma-lek segera memanggil dia, menanyakan asal-usul anak bangsawan itu.

Pelayan itu berkata.

"Tamu seberang itu sangat kaya, majikannya dipanggil tuan muda Hong-tai, dari selatan, mereka bertiga telah memborong tiga kamar besar di dua sayap bangunan hotel."

Makin tenang kedua anak muda ini, berpikir kembali akan kata-kata Yo-po-lo-to, Tuan itu mengaku namanya, penampilan sangat mewah, pasti anak Lok-houw-it-kun.

Cia Ma-lek lama berkelana di dunia persilat-an, mahir dalam penyelidikan, maka dia sendirian melang-kah ke serambi hotel pelan-pelan menuju kamar tuan muda itu.

Dari kejauhan terdengar pembantu tuan muda itu memesan makanan pada pelayan hotel.

".........Ikan tim, kuah merpati pecai, arak bunga Lotus!"

Pelayan berkata.

"Yah,yah"

Sambil membuka hording kamar.

Cia Ma-lek pura-pura berjalan di serambi hotel, menggunakan kesempatan di waktu pelayan membuka hordeng, dia mengintai ke dalam kamar, terlihat tuan muda Hong-tai duduk di pinggir ranjang, dibantu pembantu memegang cermin kecil, seperti seorang perempuan berdandan.

Cia Ma-lek dalam hati berbicara.

"Mengapa laki-laki seperti perempuan perlu dandan di depan cermin, apakah adat di luar perbatasan seperti itu."

Belum puas dengan penyelidikannya, Cia Ma-lek purapura berjalan di serambi hotel sekitar dua langkah lagi, dan berbalik tubuh pulang ke kamarnya untuk berunding dengan A Bin agar melaksanakan tugas Yo-po-lo-to.

Mendadak, belakang kepalanya terasa dingin, ilmu silat Cia Ma-lek tidak terlalu tinggi, tetapi dia murid guru terkenal, dan berpengalaman menghadapi banyak musuh, dia segera mengerutkan leher sambil miringkan tubuh, dalam hitungan detik, dia terhindar dari barang yang menghantam kepalanya.

Mengikuti arah mata, ternyata satu lembar daun melewati kepalanya, terbang lurus ke seberang timur jalan serambi.

Dengan marah Cia Ma-lek berbalik kepala memandang, terlihat tuan muda Hong-tai diam-diam sudah berdiri di bagian barat jalan serambi, sedang mengangkat kepala memandang awan di langit, sepertinya tidak melihat pada Cia Ma-lek.

0-0dw0-0 BAB Cucu raja Lok Cia Ma-lek tahu daun itu dilemparkan oleh tuan muda Hong-tai, dia kagum atas ilmu yang disebut Sia-yap-hui-hoa (Memetik daun menerbangkan bunga) Dia jelas bukan tandingannya, dia melirik ke tempat A Bin yang berdiri diseberang timur serambi, ternyata dia tidak ada disana juga.

Cia Ma-lek berseru dalam hati "celaka".

Dia tidak berani berlama-lama ditempat itu, langkah kakinya dipercepat menuju keluar hotel, dia ingin mencari A Bin menanyakan kenapa pergi duluan?

Baru saja dia menginjak mulut pintu, tiba-tiba empat gadis berbaju putih menerobos masuk, karena perhatikan Cia Ma-lek sedang kalut, hampir saja dia bertabrakan, ke empat gadis itu sedikit menggoyangkan tubuhnya, lewat di samping tubuh Cia Ma-lek, tempat demikian sempit tetapi ujung bajunya sedikitpun tidak bersentuhan.

Bersamaan itu tercium wangi keluar dari baju gadis itu, setelah diteliti oleh Cia Ma-lek, ke empat gadis itu umurnya berkisar tujuh belas-delapan belas tahun, mukanya cantikcantik berbaju serba putih , membuat Cia Ma-lek tertegun melirik terus.

Salah seorang orang gadis merasa tidak enak dipandang Cia Ma-lek, dengan mata melotot berteriak.

"Orang jelek, kenapa berjalan tidak pakai mata, hampir saja menabrak orang, kenapa masih melihat terus?"

Cia Ma-lek tidak menghiraukan orang berteriak begitu, tetapi jengkel pada ucapannya yang mengatakan "jelek"

Hampir saja dia naik darah atas ucapan gadis itu, tetapi mengingat kata pepatah "laki-laki jantan tidak pantas beradu mulut dengan perempuan"

Dia tidak jadi marah. Keempat gadis itu tampak bukan orang bijaksana, salah seorang telah berteriak lagi.

"Orang jelek! Kau lancang ya? Kita datang dari istana Lok-houw, siapa yang berani kurang ajar? Bila kau tidak tundukan kepala minta maaf, rasakan sendiri hukumannya"

Sambil bicara, tubuhnya bergerak maju, lengan bajunya dikibaskan ke leher Cia Ma-lek, seperti sebilah pisau tajam siap mengiris.

Melihat gerakan empat gadis itu sangat cepat, Cia Malek makin berhati-hati, begitu kibasan lengan bajunya datang, dia segera membungkukkan tubuh dan menciutkan leher, jurus Sian-goan-jang-to (Dewa monyet menyimpan buah Tho) digunakan menbuat serangan lengan baju gadis itu lewat diatas kepala.

Keempat gadis itu tertawa melihat jurus Cia Ma-lek yang lucu dan seorang mengatakan.

"Persi seperti monyet!"

Meski empat gadis itu mulutnya mengolok terus, tapi jurusnya tidak memberi kesempatan, mereka berusaha membuat malu Cia Ma-lek, baju putihnya berterbangan, tangan-tangan yang putih saling berganti menyerang, hingga Cia Ma-lek terkurung di dalam serangan mereka.

Jurus mereka tidak betul-betul mengenai tubuh Cia Malek, tetapi sangat berbahaya dan memalukan, membuat Cia Ma-lek tidak bisa membalas.

Dalam kurungan gadis-gadis yang berbau wangi, Cia Ma-lek dengan susah payah menghindar serangan berbahaya, sehingga keringatnya yang bau membasahi tubuhnya.

Ilmu silat Cia Ma-lek tidak terlalu tinggi, jurus empat gadis itu juga aneh, dengan posisi empat lawan satu, membuat Cia Ma-lek kewalahan, dia hanya berusaha sekuat tenaga bertahan, mengharapkan A Bin segera datang membantunya.

Dalam perkelahian tidak seimbang, empat gadis itu saling mencemoohkan Cia Ma-lek, berapa kali Cia Ma-lek ingin keluar melarikan diri, sayang empat gadis itu tidak memberi jalan, mereka menutup arah yang dituju Cia Malek.

Cia Ma-lek jadi marah, tanpa pikir panjang dia mengeluarkan senjata rahasia perguruannya "Thian-ciatsengmang" (Langit danau bintang cahaya).

Dia ingin melukai keempat gadis itu, bersamaan waktu itu dari luar hotel masuk lagi empat gadis berbaju putih, mengiring seorang tuan muda berbaju brokat bordir, tuan mudanya sangat tampan, berbibir merah, mukanya putih, umurnya sekitar dua puluh tahun, dilihat sepintas juga berbau bedak perempuan.

Tuan muda yang berbaju brokat itu melihat empat gadis yang sedang mempermalukan Cia Ma-lek, dia mengerutkan bulu alisnya, mulutnya berbicara, entah logat daerah mana, ke empat gadis itu langsung menghentikan kepungan terhadap Cia Ma-lek, berdiri ditempat dan memberi hormat pada tuan muda itu.

Tuan muda itu dengan dingin bertanya pada Cia Ma-lek.

"Anak muda jelek, kau anak didik siapa?"

Cia Ma-lek yang mendengar kata itu sangat marah, dia membelalakan mata putihnya, dengan nada tidak sopan berbalik tanya.

"Kau sendiri siapa? Bicara dulu!"

Dua gadis baju putih yang berdiri disamping tuan muda itu bersamaan membentak.

"Orang jelek, kau betul-betul punya mata tanpa biji, ini adalah tuan muda dari istana Lok-houw, tersohor sebagai cucu raja Lok-houw, kau betul tidak tahu, ya ampun!"

Cucu raja Lok-houw bertanya lagi.

"Hai, anak muda jelek, cepat katakan siapa gurumu?"

Mendengar kata-kata ini, Cia Ma-lek merasa memang dirinya punya mata tanpa biji, belum lama tadi dengan A Bin mereka salah beranggapan, tuan muda Hong-tai sebagai anak Lok-houw-it-kun, mereka menghabiskan waktu hampir setengah hari, ingin mengetahui dengan jelas.

Siapa tahu di depan matanya sekarang berdiri cucu raja Lok-houw yang sebenarnya!

Beberapa kali cucu raja Lok-houw ini menanya-kan gurunya, entah apa maksudnya, maka dengan congkak dia menjawab.

"Aku adalah Cia Ma-lek yang tersohor di dunia persilatan, guruku lebih hebat lagi, setiap orang pasti tahu siapa guruku, Seng-jiu-pui-suo Leng Hau-te.... Tayhiap."

Ternyata cucu raja Lok-houw tidak terkejut atas ucapan Cia Ma-lek, dia hanya menanyakan pada gadis di sebelah kiri.

"Pek-tan, kau teliti dalam buku catatan, apa terdaftar nama guru anak muda ini?"

Mendengar perintah majikannya Pek-tan mengeluarkan sebuah buku dari dalam lengan baju, segera menjawab.

"Ada terdaftar di urutan pertama Seng-jiu-pui-suo namanya Leng Hau-te!"

Cucu raja Lok-houw dengan tertawa sadis, berkata.

"Bila gurunya ada di urutan nomor satu, sebagai cucu raja aku pantas juga turun tangan, mengambil satu tanda ditubuhnya!"

Cia Ma-lek tidak tahu apa gunanya buku daftar nama pesilat yang dipegang itu, mendengar nama gurunya ditaruh paling atas, dia merasa bangga juga, tetapi setelah mendengar bahwa lawannya akan meng-ambil tanda mata ditubuhnya, dia merasa heran, dan cepat berkata.

"Tunggu sebentar, Cia Ma-lek dengan guruku tidak punya dendam dengan istana Lok-houw, kenapa baru bertemu, kau ingin mencelakakan aku?"

Dengan sinis cucu raja Lok-houw berkata.

"Anak jelek! Aku sebagai cucu raja kali ini datang ke Tionggoan, untuk mengibarkan nama besar perguruanku, mengalahkan pesilat tangguh yang ada disini, agar dunia persilatan mengetahui hebatnya istana Lok-houw, sejak masuk wilayah Tionggoan, aku telah mengalahkan murid pertama aliran Tian-cong yang bernama pedang Cu-bu-pak, di"propinsi Kwie-lam barat, membunuh ketua gerombolan serigala tangan tunggal Ke Cen-e, bila gurunya ada nama dibuku ini, di antaranya murid-muridnya harus dibunuh satu, bila punya satu murid, dicongkel satu biji matanya atau dipotong satu kupingnya, sisa hidupnya agar bisa melaporkan pada gurunya, supaya gurunya bertemu aku, tetapi sepanjang jalan, baru kali ini aku bertemu murid yang gurunya terdaftar paling atas, ternyata ilmu silatmu biasa saja, jadi lebih baik kau terima nasib, aku akan mengambil satu matamu, agar kau bisa melaporkan keadaanku."

Mendengar kata-kata itu, Cia Ma-lek terkejut bercampur marah, juga ngeri atas kekejaman cucu raja ini, hanya untuk menantang gurunya, dia membunuh muridnya, mencongkel mata memotong kuping, dia marah pada orang yang sombong ini, menganggap rendah aliran persilatan di Tionggoan.

Terhadap guru-nya pun tidak hormat, maka dia tanpa berpikir panjang berkata.

"Hei anak muda, kau jangan menghina para jago silat Tionggoan, silahkan coba cambukku dulu."

Sambil bicara dia mengeluarkan satu cambuk yang terbuat dari baja, dengan sembilan tengkorak hitam yang dinamakan Ma-lepian, seperti sembilan ekor burung aneh terjun dari udara, menghajar kepala cucu raja Lok-houw.

Jurus Cia Ma-lek yang bernama "Kim-gui-lui-thian" , jarang ada orang yang bisa menghindar, dan ternyata lawannya tidak menghindar, hanya menggeser tubuhnya sedikit, jari tangan kirinya bergetar, sebuah angin kencang dengan jurus Tok-coa-sin-hiat (Ular berbisa mencari lubang) dia menyerang perut kecil Cia Ma-lek.

Jurus ini sangat ganas, bila Cia Ma-lek tidak menarik pecutnya, maka bukan lawannya yang terluka, tetapi dia sendiri yang akan mati terkena totokan angin dari jari cucu raja Lok-houw.

Dalam keadaan terpaksa, Cia Ma-lek menarik pecutnya meloncat ke belakang mundur ke halaman tengah yang diapit dua serambi.

Cucu raja Lok-houw tidak memberi napas, dia membentak.

"Mau lari kemana!"

Gerakannya kencang seperti angin, jurusnya seperti geledek, Cia Ma-lek masih bingung melihat lawan menggunakan jurusnya, terpaan angin keras ke muka sudah sampai betul-betul menuju satu mata kirinya.

Cia Ma-lek tidak sanggup mengelak serangan itu, dengan reflek memejamkan kedua matanya.

Dalam hati berkata.

"Habislah riwayatku, mungkin satu mata kiriku akan hilang."

Mendadak terdengar suara teriakan dari cucu raja Lokhouw, serangan angin yang menuju muka Cia Ma-lek langsung lenyap, Cia Ma-lek membuka matanya terlihat cucu raja Lok-houw telah mundur kebelakang sekitar tiga kaki, mukanya penuh dengan rasa terkejut, dia sedang mengawasi keadaan.

Cia Ma-lek melirik ke belakang, ternyata A Bin telah berdiri di belakangnya sekitar setengah kaki, entah kapan datangnya dan dengan kedua matanya yang bersinar hijau memandang cucu raja Lok-houw, tampak dia juga hati-hati menghadapi lawannya.

Cia Ma-lek sendiri bingung dengan apa yang terjadi di depannya, lain dengan tuan muda Hong-tai yang melihat secara langsung kejadian tadi dari seberang serambi timur.

Ternyata saat cucu raja Lok-houw berteriak dan ingin mencopot mata kiri Cia Ma-lek, A Bin segera terbang dari serambi barat, bagaikan bintang meteor jatuh, dalam sekejap telah beradu satu pukulan dengan cucu raja Lokhouw yang membuat cucu Lok-houw mundur.

Sejak Tuan muda Hong-tai masuk ke hotel ini, sepintas dia telah melihat wajah A Bin yang cakap dan bersemangat, berpenampilan gagah tapi santai, seperti gunung menghadap langit, membuat perhatian orang tertarik, karena di sampingnya ada Cia Ma-lek yang rupanya jelek dan telah mengintainya dengan mata bangsatnya, sehingga membuat marah pada mereka.

Tadi setelah melihat jelas kecepatan geraknya dan ketangguhan tenaga telapak tangannya, ditaksir tidak dibawah pesilat tangguh yang lebih tua, maka dia menaruh simpati dan memberi pujian pada A Bin.

Sejak Cucu raja Lok-houw masuk ke Tionggoan, segalanya berjalan lancar, jago-jago silat yang tangguh telah dikalahkan semua, hingga matanya selalu melihat ke atas dan angkuh sekali, tapi saat tadi dia beradu tenaga dalam dengan A Bin, dia baru tahu dia pesilat yang betul-betul tangguh, selain terkejut dan marah, dia ingin menggunakan kepandaiannya bertarung lagi untuk menentukan siapa yang lebih tangguh, apalagi setelah ada orang lain malah memuji lawannya, amarahnya makin naik.

Pemuda dari daerah asing ini dengan matanya melirik tuan muda Hong-tai yang sedang memegang kayu gantar pemisah kamar, dia ingin melampiaskan kemarahannya pada orang itu.

Begitu matanya tertuju pada sasaran, dia melihat seorang pemuda cakap yang kulitnya lebih putih dari salju.

Cucu raja Lok-houw ini punya ilmu menilai orang, sekali melihat tuan muda Hong-tai, dia jadi senang sekali, kemarahan yang tadi ingin dilampiaskan langsung dibuang ke langit tingkat sembilan.

Cucu raja Lok-houw jadi meremehkan keberadaan A Bin dan Cia Ma-lek, dia menghampiri halaman depan kamar tuan muda Hong-tai, memberi salam perkenalan dan berkata.

"Numpang tanya... oh... adinda, siapa namamu?"

Tuan muda Hong-tai melihat cucu raja Lok-houw yang mukanya cakap, tetapi sombongnya bukan main, dan memperkenalkan diri seperti punya maksud tertentu, dalam hati berpikir dia tidak pantas jadi kawannya, maka dia sama sekali tidak mau menjawab.

Di belakang tuan muda Hong-tai keluar dua anak muda cakap, berdiri di kiri mewakili menjawab.

"Tuan muda kami she In, orang menyebutnya tuan muda Hong-tai!"

Yang tadi bertanya adalah cucu raja Lok-houw, tapi anak muda cakap ini menjawabnya menghadap muka A Bin, sambil tersenyum seperti memberi isyarat pada A Bin menggunakan kesempatan berkenalan dengan majikan mereka.

Gara-gara tidak bisa bicara, A Bin tidak menjawab, tetapi cucu raja Lok-houw dengan maksud terselubung tidak menghiraukan sifat dingin tuan muda Hong-tai dan pembantunya, dengan masih berseri-seri berkata.

"Aku dipanggil Thio Kong-giok, ayahku Lok-houw-itkun, dia adalah Tay-suhu ternama di daerah selatan, aku sudah mewarisi ilmu ayahku sekitar enam-tujuh puluh persen, maka mereka memanggil aku cucu raja Lok-houw, kali ini datang ke Tionggoan ingin menjumpai pesilat pesilat tangguh di daerah ini, meng-angkat nama besar istana Lok-houw, hari ini bisa bertemu nona In....oh salah, adinda In, adalah kehormatan besar bagiku."

Tuan muda Hong-tai mengetahui A Bin tidak menjawab, malah pemuda yang membuat jengkel cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok berebut menjawab, dia jadi merasa kesal, sengaja dia berpaling muka tidak melihat.

Pembantu tuan muda Hong-tai telah lama mendampingi majikannya, mereka tahu keinginan tuan mudanya, maka pembantu yang di kanan bernada kesal berkata pada Thio Kong-giok.

"Kau orang yang tidak tahu malu, Tuan muda tidak menghiraukanmu, siapa yang bertanya padamu, sehingga kau ngomel terus hampir setengah hari!"

Adat Thio Kong-giok betul-betul hebat, penampilannya sekarang sama sekali berbeda dengan tingkah sombongnya tadi, dia mau merendahkan diri terhadap pembantu tuan muda Hong-tai, dengan tertawa berkata.

"Tuan muda ..........tadi tidak tahu aku siapa, pasti tidak mau memperhatikan aku, sekarang setelah tahu bahwa aku adalah cucu raja Lok-houw yang termasyur, seharusnya menjalin hubungan denganku!"

Pembantu tuan muda Hong-tai yang di kiri berkata.

"Siapa yang peduli pada cucu raja atau anak raja, Tuan muda kami ingin berkenalan dengan orang lain, bukan dengan kau!"

Sambil bicara pandangan matanya tertuju pada muka A Bin.

Mengetahui niat tuan muda Hong-tai dan pembantunya, delapan pembantu wanita cucu raja Lok-houw yang berbaju putih menjadi iri, mereka mencari kesempatan berbuat onar, salah seorang di antara satu orang itu berteriak.

"Anak kecil tidak tahu aturan, berani melecehkan Tuan muda kita, biar aku membereskanmu!"

Sedikit menekan kaki kanannya ke lantai, tubuhnya bagaikan panah terlepas dari busurnya, melesat kearah kayu pembatas serambi timur, dengan tangan yang halus menempeleng pembantu tuan muda Hong-tai yang berdiri di sebelah kiri majikannya.

Anak muda cakap itu tertawa geli, berkata.

"Kau berani membereskan aku, apa aku Moi-ji takut padamu, musang genit!"

Terlihat dia mengayunkan telapak tangan kiri-nya ke atas, dan jarinya berobah bengkok seperti kaitan, dia sudah mencengkram tangan gadis berbaju putih itu, dengan sedikit tenaga bantuan sudah menggendong gadis itu ke pelukannya.

Cia Ma-lek terkejut melihat kejadian itu, dalam hati berpikir, kedua rombongan ini saling berlomba, ternyata anak muda bernama Moi-ji ilmunya lebih tinggi dari gadis berbaju putih, dari kejadian itu bisa diduga bagaimana ilmu majikannya, kelihatan ilmu silat tuan muda Hong-tai lebih tinggi dari cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok.

A Bin berpikiran lain, dia menganggap anak muda cakap Moi-ji kurang sopan, mana boleh dia mempermalukan seorang gadis.

Gadis baju putih itu dengan malu bercampur marah dengan tenaga penuh melepaskan diri, meloncat keluar dan berdiri dilantai, ingin menggunakan senjata rahasianya membalas dendam.

Thio Kong-giok segera berteriak.

"Berhenti Bek-kui jangan mencari masalah lagi dengan pembantu tuan muda In!" Dan segera berpaling muka menghadap tuan muda Hong-tai, dengan memberi salam berkata.

"Aku sudah melihat ilmu silat pembantumu, aku sudah bertekad ingin menjalin hubungan persahabatan dengan saudara In, harap jangan menolak!"

Tuan muda Hong-tai melihat A Bin sangat dingin terhadap dirinya dan kata-kata pembantunya membuat dia merasa jengkel, sengaja dia berkata pada Thio Kong-giok.

"Kau bicaralah, ingin bersahabat bagaimana dan aku juga tidak ingin berkenalan dengan yang lain."

Cia Ma-lek sangat cerdik dia menangkap ucapan dan tingkah laku tuan muda Hong-tai bersama pembantunya, dia mengetahui tuan muda Hong-tai ingin berkenalan dengan A Bin, karena A Bin tidak bisa bicara, sehingga mereka salah paham dan marah, segera ikut bicara.

"Saudara A Bin, dia............."

Kata-katanya belum habis, telah dihentikan dengan nada dingin oleh tuan muda Hong-tai.

"Siapa yang pedulikan kalian? Siapa yang perlu......"

Sambil melirik dengan marah melihat muka A Bin, tergesa-gesa meninggalkan tempat dengan mata berlinangan air mata.

Dua pembantunya diam-diam menjulurkan lidahnya pada A Bin dan Cia Ma-lek, menampilkan muka lucunya.

Cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok tahu Cia Ma-lek dan A Bin dilecehkan, dia jadi sangat senang, segera dengan ramah sekali mengajak tuan muda Hong-tai berbicara.

"Mari! Mari! Mari! Adik In dan pembantumu, silahkan ke ruang depan, aku mengundang kalian makan bersama!" Tuan muda Hong-tai dalam keadaan marah, telah sengaja melewati lorong berjalan ke serambi timur, membawa dua pembantunya yang cakap mengikuti langkah Thio Kong-giok dan delapan orang gadis berbaju putih menuju ruang depan. Anak muda Moi-ji membalikkan kepala disaat turun dari lorong jalan, diam-diam memberi isyarat mata pada Cia Ma-lek. Sebetulnya setelah melihat penampilan tuan muda Hongtai yang orang cakap dan elegan, A Bin ingin juga berkenalan dengannya, karena bisunya malah membuat mereka marah, dia memperhatikan tuan muda Hong-tai pergi, dia merasa sedih dan merasa kehilangan. Dari isyarat mata Moi-ji, Cia Ma-lek menangkap sesuatu maksud, maka dia menarik bahu A Bin berkata.

"Mereka pergi ke ruang depan, kita berdua juga bisa pergi kesana! Adik Lui, mari ikut aku!"

Entah bagaimana, A Bin merasakan dirinya menaruh perhatian sangat pada tuan muda Hong-tai sejak pertama melihatnya, maka dia menurut saja ajakan Cia Ma-lek, sampai di ruang depan.

Di sana, cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok, tuan muda Hong-tai masing-masing duduk di meja besar bagian kanan, dua orang anak cakap dan delapan gadis baju putih bersama duduk di samping mereka.

Kelihatan sekali Thio Kong-giok mengetahui adat istiadat Tionggoan, dia sedang memesan menu makanan pada pelayan hotel, yang dipesan adalah; empat porsi buah kering, empat buah-buahan segar, masing-masing empat manisan asin dan manis, juga pilih delapan macam sayur, di dalamnya ada goreng telapak bebek, kuah burung, lidah ayam, perut rusa, goreng merpati, kembang kol campur soun kelinci, ikan tim dan dua belas piring nasi, delapan makanan ringan.................

Cia Ma-lek lama berkeliaran di dunia persilatan, dia hafal nama-nama menu sayuran, dia melihat cucu raja burung ingin memamerkan kekayaannya, dalam hati dia pikir, bila aku dan A Bin memesan sayur yang sama, adalah bodoh benar, aku tidak perlu menggeluarkan uang sebesar ratusan...

uang perak, dengan inisiatif sendiri, dia memanggil pelayan, dan memesan empat macam makanan dan dua botol arak Kwie-lam.

Thio Kong-giok ingin memamerkan pengetahuannya, dia bercerita asal usul aliran sesuatu partai perguruan, menarik juga.

Hanya saja kata-katanya tidak masuk ke telinga tuan muda Hong-tai, dia murung saja, kadangkadang melirikan matanya pada meja A Bin.

Cia Ma-lek melihat tingkah Hong-tai dari samping, dia melihat pikiran A Bin pun seperti tidak di tempat, kadang-kadang melirik juga kemeja mereka.

Cia Ma-lek merasa heran, pikirnya ’aku kira kata jatuh cinta pada pandangan pertama hanya untuk laki bertemu dengan perempuan, tidak pernah kudengar ada dua laki-laki saling jatuh cinta, kelihatan sekali adik bisuku sangat berjodoh dengan tuan muda Hong-tai.

Sebetulnya mereka adalah pasangan ideal, bila mereka berdua berjalan bersama, lebih serasi dari pada aku menemani adik bisu ini, lebih baik aku satukan saja mereka’.

Cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok juga mengetahui tuan muda Hong-tai sering melirik ke meja A Bin, rasa irinya timbul dalam hati, tetapi perasaan irinya tidak ditampilkan diwajahnya.

Melihat sayur di meja A Bin adalah menu biasa, bila dibandingkan dengannya, sangat memalukan, dia lalu merubah pokok pembicara-annya, dia bicara soal barang antik yang aneh-aneh.

Dia bermaksud memamerkan kekayaannya, sambil bicara, dari tangan pembantunya dia mengambil kantong yang ditaruh dipinggangnya, sambil memperkenalkan nama barang dan bentuknya.

Satu-satu dipamerkan, ternyata barang-barangnya betul-betul sangat antik yang jarang ditemukan di masyarakat, dan Thio Kong-giok sengaja mengatur susunannya, lebih ke belakang yang dipamerkan lebih berharga.

Pertama adalah batu perhiasan, giok, mutiara, safir, dan lain-lain.

Terakhir barang antik seperti pisau dari tulang ikan, mutiara penangkap api, batu berwarna merah, baju dari benang emas...........

Tuan muda Hong-tai seperti tidak tertarik pada barangbarang batu perhiasan tersebut, dilihatpun tidak dia hanya melirik sejenak barang antik itu.

A Bin tidak punya pikiran iri pada kekayaan atau tamak, tetapi menyaksikan Thio Kong-giok begitu rajin memamerkan kekayaan di depan tuan muda Hong-tai, perasaan irinya tampak dalam mukanya.

Perobahan ini tertangkap oleh Hong-tai dalam pandangan tidak sengaja, seperti ingin membalas pada kelakuan dingin A Bin terhadap dirinya, dia mendadak merobah rasa kekesalan terhadap Thio Kong-giok, dan tertawa menarik bicara riang pada Thio Kong-giok.

Thio Kong-giok merasa tersanjung dan sangat senang, dalam pikirannya barang antiknya betul-betul telah menjatuhkan hati orang cakap ini, tingkahnya makin menjadi-jadi.

Menyaksikan tuan muda Hong-tai berbuat begitu, A Bin makin panas, hingga mukanya berobah pucat, dia juga merasa aneh, kenapa menaruh perhatian serius terhadap Hong-tai.

Cia Ma-lek melihat perobahan wajah A Bin tersebut, dia ikut merasa terkejut, dia tidak mengerti kenapa A Bin bisa jatuh hati pada laki-laki, tetapi dia juga tidak senang pada tingkah sombong Thio Kong-giok yang menyombongkan hartanya, dia berpikir sejenak, untuk mencari akal untuk dilaksanakan.

Diam-diam Cia Ma-lek mengeluarkan sebuah barang dari kantong yang digantungkan di pinggang-nya, merendahkan kepalanya di pinggir meja dan memberi udara dari mulutnya pada barang itu, diam-diam melemparkannya melalui bawah meja keatas meja Thio Kong-giok.

Ternyata barang itu adalah seekor tikus buatan dari bahan kulit.

Melalui lemparan khusus Cia Ma-lek, persis seekor tikus hidup, berbunyi "cit,cit"

Meloncat-loncat di atas meja Thio Kong-giok.

Aneh juga, di dunia ini banyak orang pemberani melawan harimau atau macan dengan tangan kosong tetapi ternyata takut sekali pada tikus kecil.

Orang-orang di meja Thio Kong-giok juga begitu, semuanya pada kesima, lebih-lebih ke delapan gadis berbaju putih itu, mereka malah menjerit-jerit, suasana menjadi kacau.

Cia Ma-lek sengaja berbuat onar dengan maksud tertentu, menggunakan kesempatan dia lari ke meja itu dengan tangannya menangkap tikus buatan itu sambil berteriak.

"Kau tikus, sudah mencuri di mejaku, masih tidak cukup ya, masih tamak pada barang mewah di meja ini, biar aku membereskan kau!"

Gerakan Cia Ma-lek sangat terlatih, cepat dan tepat, di waktu tikus palsu itu meloncat di depan muka Thio Kong-giok, telah ditangkap kembali.

Sengaja diangkat balik tikus palsu itu, dengan tipuan gerakan gemetaran tikus palsu itu seperti yang hidup ingin melepaskan diri dan mengeluarkan bunyi cit, cit, sehingga ke delapan gadis baju putih itu terdesak menjadi satu gerombolan, Thio Kong-giok juga tidak bisa berbuat banyak, hanya tuan muda Hong-tai yang mengetahui Cia Ma-lek sengaja berbuat onar, dia tertawa sinis.

Cia Ma-lek pura-pura marah berkata.

"Tikus yang ingin mati, biar aku masukan dulu ke dalam kantong, biar malam nanti di kupas kulitnya, setelah dicuci digoreng untuk santapan arak ku!"

Sambil bicara, benar juga tikus palsu itu dimasukan kedalam kantongnya.

Tamu dalam ruang depan, termasuk dua pembantu tuan muda Hong-tai dan delapan pembantu Thio Kong-giok, ada yang terkejut, ada yang tertawa, semua mata tertuju ke meja A Bin, otomatis cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok seperti telah dikucilkan.

Cia Ma-lek seperti tidak menghiraukan pandangan semua orang, dia minum arak dan makan kembali, malahan A Bin merasa tidak enak di pandang begitu, pandangan matanya sementara ditujukan pada bawah meja.

Setelah membuat keributan tadi, Thio Kong-giok merasa gusar, jerih payah untuk menarik perhatian tuan muda Hong-tai jadi gagal total, dia mengulangi keadaan tadi, memamerkan lagi barang yang belum dikeluarkan.

Thio Kong-giok dengan semangat tinggi, dengan nada sombong berkata.

Tadi aku telah mengeluarkan barang-barang antik, tetapi harganya hanya setengah dari barang yang akan aku keluarkan ini, barang itu adalah jerih payah ayahku baru bisa mendapatkannya.

Hasiat barang ini biarpun tidak bisa menghidupkan orang mati, tetapi asal masih bernapas, dengan menggunakan barang ini di tempelkan pada lukanya, luka pisau atau pukulan, terbakar, tenggelam di air atau pingsan kedinginan, akan bisa mempertahankan nyawanya sampai mendapatkan obat mujarab.

Biar ku perlihatkan agar saudara In bisa............"

Bicaranya mendadak berhenti, tangan kanan yang dimasukan kedalam kantong seperti terkena sengatan ular, cepat dikeluarkan lagi, ternyata kantong-nya sudah kosong.

Dua pembantu tuan muda Hong-tai mengetahui majikannya tidak suka pada Thio Kong-giok, mereka tidak kuat menahan diri dan tertawa sinis, Moi-ji malah mendesak.

"Cucu raja she Thio, kau bilang barang yang jarang ada di dunia, kenapa tidak cepat dikeluarkan, biar kita tambah wawasan!"

Thio Kong-giok dengan mata melotot berkata terpatahpatah.

"Aku.......aku...........barang antikku Liong-swie-hiangyap (Sumsum naga daun wangi) telah hilang, hi..........lang.

Kedelapan pembantu baju putih yang menge-tahui daun berharga tersebut hilang, mereka berteriak bersamaan.

"Apa Liong-swie-hiang-yap telah hilang?"

Karena kehilangan barang mahal, Thio Kong-giok dan delapan pembantunya jadi kacau dan bimbang mencarinya, Cia Ma-lek malah sengaja berteriak dimeja-nya. "

Adik A Bin kau lihat, mereka memamerkan banyak barang antik, apa kita di Tionggoan juga tidak punya? Bila kita tidak pamerkan, orang luar akan meremehkan kita penghuni Tionggoan!"

A Bin tidak mengerti apa maksud kata Cia Ma-lek, dia tidak bisa bertanya, hanya bisa buka mata lebar-lebar, melotot pada Cia Ma-lek. Cia Ma-lek dengan tertawa mengingatkan A Bin.

"Adik Lui, barang kau yang sudah bosan, yang akan diberikan padaku Hiat-san-peng-can, coba kasih lihat pada mereka."

A Bin langsung mengerti apa maksud kata Cia Ma-lek tadi, agar dia menggunakan kesempatan meledek Thio Kong-giok, tapi dalam hati dia menyalahkan Cia Ma-lek yang lupa ingatan, barang Hiat-san-peng-can itu sudah dikantongnya sendiri karena ditolak, kenapa mendadak minta barang itu padaku!

Biarpun punya pikiran itu, A Bin mencoba merogoh kedalam dadanya, ternyata Hiat-san-peng-can itu entah kapan sudah ditaruh oleh Cia Ma-lek di dadanya.

A Bin mengetahui ini adalah perbuatan Cia Ma-lek, maka tanpa banyak tingkah, pelan-pelan dia mengeluarkan Hiat-san-peng-can, diberikan pada Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek mempermainkan Hiat-san-peng-can ditangannya, mulutnya mengomel terus.

"Adik Lui! Kau dalam segalanya baik, hanya tidak sayang pada barang antik, ini adalah hal tidak baik. Mungkin kau mempunyai barang antik terlalu banyak, hingga malas merawatnya, seperti Hiat-san-peng-can ini adalah barang yang disukai orang untuk mengobati segala racun , kau malah mau membuangnya, ingin diberikan padaku." Begitu Hiat-san-peng-can disebut, langsung menarik perhatian orang-orang di meja Thio Kong-giok, karena barang tersebut mempunyai nama tersohor, bila mendapatkan barang itu, tidak perlu takut pada segala racun. Kedua mata Thio Kong-giok seperti api membara, iri, ingin dan kesal menguasai dirinya, iri karena barang A Bin ini tidak kalah nilainya dengan Liong-swie-hiang-yap, dia ingin mendapatkan barang A Bin, sejak berangkat dari rumah, dia tahu di Tionggoan ada benda Hiat-san-pengcan, kesal terhadap Liong-swie-hiang-yap miliknya yang entah bagaimana bisa hilang. Sehingga begitu barang pusaka A Bin dikeluarkan, pameran barang-barang antik miliknya jadi tidak berharga lagi. Tuan muda Hong-tai ikut terkejut juga setelah mendengar nama Hiat-san-peng-can, tetapi setelah tahu A Bin begitu dingin penampilannya, dia tetap menaruh rasa marah pada A Bin, sehingga rasa ingin tahunya dipendam lagi. Hanya dua pembantunya dan delapan gadis berbaju putih yang menaruh perhatian besar, pandangan kedua puluh mata melotot melihat meja A Bin. Setelah banyak pasang mata memperhatikan barang Hiat-san-peng-can, A Bin baru mengerti betapa berharganya barang tersebut, benda pusaka yang diberikan pada dia oleh Cia Ma-lek, membuat dia memuji keikhlasan Cia Ma-lek. Makin bicara Cia Ma-lek makin senang, terdengar lagi dia berkata.

"Adik Lui, kenapa aku tidak mau menerima barang pemberianmu, lucu juga kalau dikatakan. Karena aku selalu menjadi dewa harta yang lewat saja, setiap punya barang pusaka di tangan kanan di berikan lagi pada orang lain dengan tangan kanan, tidak punya niat untuk menyimpannya dan aku punya satu barang lagi, katanya tidak bisa menghidupkan orang mati, segala luka oleh senjata tajam atau terbakar, tenggelam dalam air atau pingsan dalam es, asal masih ada napasnya, asal menggunakan barang ini bisa mempertahankan nyawa-nya sampai menemukan obat mujarab."

Thio Kong-giok merasa curiga, kenapa kata-katanya saat memamerkan barang Liong-swie-hiang-yap diucapkan kembali oleh Cia Ma-lek. Cia Ma-lek masih cerita panjang lebar.

"Aku mendapatkan barang ini tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak, bukan barang dari luar daerah, juga tidak punya nama mentereng, benda ini dinamakan "

Kau-kutyap-souw " (Tulang anjing daun bau) yang aku dapatkan dari anjing turunan silang dari luar negeri, masih bau anjing......"

Thio Kong-giok makin dengar makin merasa aneh, sudah pasti nama Kau-kut-yap-souw adalah nama samaran dari Liong-swie-hiang-yap.

Tuan muda Hong-tai mulai mengerti kata-katanya, melihat Cia Ma-lek bertingkah lucu terhadap Thio Konggiok, tidak tertahan dia tertawa juga.

Pembantunya Moi-ji dan kawannya juga menangkap lucu perumpamaan Cia Ma-lek, mereka juga ikut tertawa.

Mendengar tertawa tuan muda Hong-tai dan pembantunya, Thio Kong-giok sadar akan arti kata-kata itu dia melihat ternyata tangan Cia Ma-lek sedang memegang Liong-swie-hiang-yap, dia jadi betul-betul dipermalukan oleh lawan.

Dengan perasaan penuh percaya diri, dia kali ini keluar rumah untuk menantang pesilat-pesilat tangguh di Tionggoan, ternyata dia mendapat malu oleh Cia Ma-lek di tempat ini, Thio Kong-giok jadi marah sekali, dia membentak, sesaat kakinya tanpa menginjak bumi, hanya menggunakan tekanan tangan kiri, dia seperti panah melesat meninggalkan tempat duduk, berputar arah, menuju kearah Cia Ma-lek.

A Bin dan tuan muda Hong-tai adalah ahli silat tinggi, mereka melihat gerakan Thio Kong-giok yang dinamakan "Yu-it-cong-thian" (Satu sayap menerjang langit), mereka memuji ilmu Thio Kong-giok, biarpun dia sombong, tetapi betul-betul berisi, tidak bisa dipandang remeh.

Melihat jurus Thio Kong-giok, A Bin mengetahui Cia Ma-lek bukan tandingannya, A Bin berdiri dari tempat duduk, telapak kanannya diarahkan antara Cia Ma-lek dan Thio Kong-giok, dia mengamankan Cia Ma-lek.

Thio Kong-giok telah tahu ketangguhan ilmu A Bin, dia tidak berani ceroboh, melihat lawannya membela Cia Malek, dia segera mengontrol serangan yang ditujukan pada Cia Ma-lek, tubuhnya ditegakkan langsung berdiri di samping A Bin.

Melihat lawannya lumayan berat, Thio Kong-giok mendadak berdiri diatas meja A Bin tetapi tubuhnya tampak enteng sekali, arak dalam gelas Cia Ma-lek dan A Bin sama sekali tidak bergoyang.

Cia Ma-lek terkejut dengan ilmu Thio Kong-giok, tetapi berhubung ada A Bin di sampingnya, dia masih berteriak tanpa berhenti.

"Kau tidak tahu sopan santun, setelah melihat Kou-kutyap-souw, timbul keinginanmu mencurinya dan merampas............" Thio Kong-giok sangat cemburu terhadap A Bin yang mendapat perhatian dari tuan muda Hong-tai, maka kemarahannya diarahkan pada A Bin. berteriak.

"Kau cari mampus!"

Dengan jurus "Giok-kou-cia-kua" (Giok kail digantungkan miring)"

Kaki kirinya menendang pada A Bin, ini adalah jurus khusus dari Lok-houw, tendangan-nya sangat keras, A Bin tidak tahu pasti berapa besar kekuatan tenaga dalam lawan, dia tidak mau bentrok langsung, maka tubuhnya digeser sedikit ke samping menghindar.

Tendangan Thio Kong-giok membuat piring sayur, gelas arak di meja pada jatuh kebawah, cipratan sayur dan arak berterbangan, A Bin dan Cia Ma-lek telah menghindar, namun sepatu bordir mutiara Thio Kong-giok telah kecipratan tidak sedikit minyak sayur, dia yang suka kebersihan menjadi marah besar, setelah kakinya menapak di lantai, dia mengangkat kedua telapak tangannya mengejar A Bin.

Tiba-tiba, terchim bau wangi yang diterpa angin, satu sosok rubuh mungil telah berdiri di tengah A Bin dan Thio Kong-giok, setelah dilihat, ternyata tuan muda Hong-tai.

Mengetahui tuan muda Hong-tai dihadapannya, Thio Kong-giok jadi lebih ingin memamerkan kebolehan ilmu silatnya, segera berkata.

"Adik In, biar aku yang membereskan anak muda itu!"

Maksud turut campur tuan muda Hong-tai sebetulnya selain curiga, juga dia ingin mencoba A Bin kenapa selalu diam saja, apa yang membuat A Bin tidak suka pada dirinya, maka dengan nada dingin dia berkata pada Thio Kong-giok.

"Kau tutup mulut,biar aku tanya dia." Aneh sekali, terhadap tuan muda Hong-tai yang begitu alim, Thio Kong-giok tidak berani membantah, dia menurut saja permintaan Hong-tai, menyaksikan ekspresi wajah Hong-tai yang matanya bertanda marah, dengan berkata dingin pada A Bin.

"Mengapa kau selalu diam tidak bicara."

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 7

Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger