Eps 7 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.
Ci Giok Phang kembali menemui mereka, bersamanya ikut seorang pengemis tua, salah satu hiang-cu di markas cabang Kay-pang di Lok-yang.
Melihat pengemis tua itu Jen Thian Ngo langsung bertanya.
"Bagaimana keadaan Lok-yang?"
"Aaah, tiga hari yang lalu kota Lok-yang jatuh ke tangan musuh!"
Kata pengemis itu.
"Aku tidak mengira Jen Lo Cianpwee juga terluka parah di sini, oh jadi harus bagaimana baiknya?"
"Bagaimana keadaan Liok Pang-cu dan Lauw Hiangcu?"
"Lauw Hiang-cu tewas saat pintu kota didobrak musuh, sedangkan Liok Pang-cu memimpin anggota Kay-pang menerjang keluar kota. Barangkali sekarang mereka sedang bersiap-siap menyeberangi sungai Huang-hoo untuk bergabung dengan Bu-lim Beng-cu Liu Li-hiap!"
Kata pengemis itu.
Sekalipun Kong-sun Po, Ci Giok Phang dan Kiong Mi Yun baru bertemu sekali, mereka tahu Lauw Kan Lu sangat gagah.
Tak heran mereka jadi berduka mendengar orang she Lauw itu telah binasa.
"Aku mendapat perintah dari Pang-cu untuk menghubungi kalian,"
Kata pengemis tua itu.
"Di tengah jalan aku mendapat keterangan...."
Dia tidak meneruskan kata-katanya tapi mengawasi ke arah Jen Thian Ngo.
"Bagaimana keadaan lukamu, Lo Cian-pwee?"
"Jangan hiraukan lukaku,"
Kata Jen Thian Ngo, lebih baik pikirkan masalah yang lebih besar. Harta kita telah dirampok musuh dan kota Lok-yang sudah jatuh. Kau malah bilang harus bagaimana?"
"Menurutku sebaiknya kita bergabung saja dengan Liu Beng-cu!"
Kata Ci Giok Phang. Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun masih ingat pada nasihat Han Pwee Eng agar mereka bergabung dengan Bulim Bengcu Liu CengYauw.
"Benar, hanya itu satu-satunya jalan yang harus kita tempuh!"
Kata Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun.
"Jika kita semua pergi dari sini, bagaimana nasib Kok Siauw Hong? Apa kita tidak mempedulikan tentang mati hidupnya dia?"
Kata Jen Thian Ngo mengeluh.
Hari itu dalam pertempuran Ci Giok Phang melihat sendiri bagaimana Kok Siauw Hong terpental dari kudanya, setelah dipanah oleh Taluwa, kemudian jatuh ke dalam lembah.
Dia kira Kok Siauw Hong pasti mati, dan tidak mengira Jen Thian Ngo akan bicara begitu.
Dia tidak berani berterus-terang, karena itu dia jadi bingung untuk memberi jawaban.
"Pokoknya harus ada seorang yang tetap di sini untuk menyelidki keadaan Kok Siauw Hong, yang lain boleh pergi! Biar aku tetap di sini!"
Kata Jen Thian Ngo.
Kata-kata Jen Thian Ngo seperti bersungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan keponakannya, tetapi sebenarnya di balik kata-katanya itu, dia ingin segera menemui Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya, dua konconya itu.
Dia akan membagi harta rampokan itu.
Itu sebabnya dia membuat alasan akan tinggal di situ, setelah semua pergi dia akan menyusul kedua Iblis Tua itu.
"Jen Lo Cian-pwee, ini.. ..ini..."
Kata-kata Ci Giok Phang tersendat-sendat.
"Apa maksudmu? Cepat katakan! Apa kau pikir aku ini sudah tidak berguna lagi?"
Kata Jen Thian Ngo sambil mengerutkan dahinya "Kau masih dalam keadaan terluka parah, biar aku saja yang mewakilimu mencari Saudara Kok..."
Kata Ci Giok Phang. Tentu saja Jen Thian Ngo tidak setuju pada usul itu, malah dia berpikir.
"Sandiwara ini sudah berakhir sampai di sini, sekarang aku tidak perlu berpura-pura lagi,"
Pikir Jen Thian Ngo.
"Hm! Kau jangan mencemaskan tulang tuaku. Walau aku sudah tua tidak berguna tetapi setelah diobati oleh Kong-sun Po, aku tidak akan mati. Kedua Iblis Tua itu juga sudah terluka. Jika mereka bertemu denganku, aku masih sanggup melawannya!"
Kata Jen Thian Ngo. Sesudah berkata begitu dia dorong Ci Giok Phang. Tentu Ci Giok Phang terperanjat saat merasakan tenaga Jen Thian Ngo yang keras.
"Oh, kiranya kau telah pulih,"
Kata Ci Giok Phang. Jen Thian Ngo tertawa.
"Semua ini atas bantuan Kongsun Po. Kong-sun Po telah mengorbankan lwee-kangnya sendiri untuk mengobati Jen Thian Ngo. Tetapi dia tidak mengira kalau luka Jen Thian Ngo akan begitu cepat pulihnya".
"Lo Cian-pwee, kau terlalu memujiku,"
Kata Kong-sun Po.
"Jika bukan karena lwee-kang Lo Cian-pwee yang tinggi, pasti pulihnya tidak akan secepat itu!"
Jen Thian Ngo manggut.
"Nah, kalau begitu kalian boleh pergi dengan hati lega"
Kata Jen Thian Ngo.
"Baiklah,"
Kata Ci Giok Hian.
"Tapi Lo Cian-pwee, jika adikku Giok Hian datang, tolong suruh dia pergi ke tempat Bulim Beng-cu! Aku tidak tahu apa dia sudah pulang ke Pek-hoakok, atau pergi mencari Kok Siauw Hong?"
Kata Ci Giok Phang.
"Khabar buruk mengenai kematian Siauw Hong tetap harus aku rahasiakan, baik pada Jen Thian Ngo maupun pada adikku Giok Hian. Aku tidak mau kehilangan adikku!"
Pikir Ci Giok Phang.
"Baik,"
Kata Jen Thian Ngo.
"Aku kira mereka pasangan yang serasi. Saat aku mencari Kok Siauw Hong, tentu aku juga akan mencari adikmu! Legakanlah hatimu!"
Berangkatlah rombongan Ci Giok Phang. Setelah berada sendirian Jen Thian Ngo tertawa terbahak-bahak.
"Dasar bodoh, aku akan pergi mencari Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya untuk meminta bagianku!"
Kata Jen Thian Ngo seorang diri.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Dikisahkan Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen melanjutkan perjalanan mereka.
Tetapi sayang arah perjalanan mereka salah, tidak heran jika mereka tidak bertemu dengan Ci Giok Phang.
Sikap Seng Liong Sen selama dalam perjalanan terhadap nona Ci sopan sekali.
Di sepanjang perjalanan mereka tidak pernah membicarakan masalah pribadi.
Ci Giok Hian sadar pemuda itu jatuh cinta kepadanya.
Sekalipun demikian Ci Giok Hian merasa puas karena pemuda itu selain sopan juga ramah terhadapnya.
Saat mereka mendekati gunung Ciak-lo-san, mereka tidak melihat rombongan siapa pun, termasuk rombongan para pengemis yang mengantar harta karun itu.
Ci Giok Hian mengira pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Ci Giok Hian mengajak Seng Liong Sen untuk menemui pemimpin pejuang bangsa yang bermarkas di gunung itu.
Pemimpin pejuang itu bernama Bong Cian (Mong Cian, Red).
Begitu bertemu dan memberi hormat Ci Giok Hian memberi penjelasan maksud kedatangannya.
Sesudah mendengar penjelasan dari Ci Giok Hian kelihatan pemimpin pejuang itu keheranan.
"Ada rombongan pembawa sumbangan, ah aku malah baru sekarang mendengarnya?"
Kata Bong Cian.
"Kay-pang mengantar harta sumbangan dari Nona Han, puteri Han Tay Hiong untuk para pejuang,"
Kata Ci Giok Hian menjelaskan.
"Itu benar sekali! Hari itu aku dengar murid Jen Thian Ngo yang bernama Ih Hoa Liong berkata pada Chu Kiu Sek, harta itu sudah dibawa dua hari yang lalu, jadi sampai sekarang sudah delapan hari!"
Bong Cian mengerutkan dahinya.
"Kalau begitu hari ini harta itu harus sudah sampai di sini"
Kata Bong Cian.
"Ya. Tetapi sayangnya aku dengar pembicaraan muridnya dengan Chu Kiu Sek, mereka akan merampok harta itu! Malah katanya Jen Thian Ngo justru bersekongkol dengan musuh!"
Kata Ci Giok Hian lebih jauh. Mendengar keterangan itu Bong Cian tertegun.
"Beberapa hari ini keadaan sangat kacau, maka itu aku juga telah mengutus beberapa orang untuk menyelidiki keadaan, tetapi mereka bilang mereka tidak pernah bertemu dengan rombongan manapun termasuk rombongan para pengemis yang Nona katakan itu. Malah pasukan Mongol pun tidak bertemu dengan orang-orang yang kuutus mencari keterangan itu!"
Kata Bong Cian. Baru saja Bong Cian selesai bicara muncul anak buahnya melapor.
"Kemarin di mulut lembah Ceng Liong muncul pasukan Mongol, malah terdengar suara pertempuran hebat!"
Kata si pelapor.
"Apa?"
Kata Bong Cian.
"Jadi benar dugaan Nona Ci bahwa Jen Thian Ngo telah mengubah rute perjalanan harta itu. Jalan di tempat itu selain sempit dan curam juga sangat berbahaya. Jarang orang yang mau lewat jalan itu! Jelas ini kemauan Jen Thian Ngo yang hendak merampas harta itu"
Kata Bong Cian. Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen tersentak kaget.
"Hari ini banyak pasukan Mongol melewati jalan sempit itu, sedangkan jalan rayanya sudah tidak bisa dilalui lagi, itu berarti Lok-yang telah jatuh ke tangan musuh!"
Kata si pelapor. Mendengar laporan itu Bong Cian kaget bukan kepalang. Dia pemimpin pejuang di wilayah Ciak-lo-san, maka itu dia harus waspada terhadap serangan tentara Mongol.
"Kami harus segera mundur ke hutan, setelah keadaan aman baru kami akan mengutus orang untuk melakukan penyelidikan,"
Kata Bong Cian pada Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen. Setelah mendengar berita itu mau rasanya Ci Giok Hian terbang ke lembah Ceng Liong untuk membantu kakaknya. Maka itu mereka buru-buru pamit.
"Kalian mau ke mana?"
Tanya Bong Cian.
"Aku akan ke lembah Ceng Liong untuk melihat keadaan di sana!"
Jawab Ci Giok Hian. Mendengar jawaban itu Bong Cian kaget bukan kepalang.
"Mana bisa kalian ke sana, di sana banyak tentara Mongol!"
Kata Bong Cian.
"Jumlah mereka banyak sekali!"
"Jangan khawatir kami akan berhati-hati,"
Kata Ci Giok Hian.
"Kakak Nona ini juga ada di sana,"
Kata Seng Liong Sen ikut bicara.
"Dia diminta oleh Jen Thian Ngo untuk membantu mengawal harta itu!"
"Aku harus mencari Kakakku, apakah dia selamat atau tidak. Maka itu aku harus buru-buru ke sana, jika tidak bagaimana aku bisa tenang?"
Kata Ci Giok Hian.
"Kalau begitu baiklah,"
Kata Bong Cian. Dia membiarkan mereka pergi. Keduanya segera meninggalkan tempat itu menuju ke lembah Ceng Liong. Di tengah jalan Ci Giok Hian berkata pada kawan seperjalanannya.
"Seng Toa-ko, kau mau menemani sampai di sini, aku senang sekali."
Kata Ci Giok Hian.
"Aku sudah mengetahui pasti di mana Kakakku berada, maka kau harus segera ke Kang-lam untuk melapor pada Gurumu. Aku tidak ingin merepotkan kau lagi, biar aku pergi sendirian saja!"
"Nona Ci, aku tahu maksudmu! Kau tak ingin aku menghadapi bahaya, kan?"
Kata Seng Liong Sen sambil menatap ke arah nona Ci.
"Benar,"
Kata Ci Giok Hian sambil manggut.
"Tugasmu sangat berat....."
Tetapi Seng Liong Sen memutuskan kata-kata si nona.
"Nona Ci, terima kasih atas perhatianmu padaku,"
Kata Liong Sen.
"Tapi tidak bolehkah aku memikirkan kepentinganmu? Kau seorang gadis, jika kau sendirian mau ke sana, bagaimana hatiku bisa tenang? Kita kawan baik, maka itu aku harus pergi bersamamu sekalipun harus menghadapi bahaya maut! Kecuali jika kau anggap aku bukan sahabatmu. Tapi jika kau anggap aku sahabatmu mari kita pergi bersamasama!"
Mendengar ucapan itu hati nona Ci jadi terharu sekali.tanpa sadar dia meneteskan air matanya.
"Seng Toa-ko, kau sangat baik kepadaku tetapi aku tidak bisa membalas kebaikanmu itu!"
Kata Ci Giok Hian.
"Jika aku mengharapkan kebaikanmu, maka aku bukan termasuk sahabatmu lagi Nona Ci!"
Kata Seng Liong Sen dengan gagah.
"Jika kau berpandangan begitu, kau telah meremehkan aku!"
Seng Liong Sen ini cerdas. Saat dia mendengar ucapan gadis itu, dia langsung tahu maksud gadis itu, nona Ci ingin mengatakan bahwa di hatinya telah ada pria lain. Dia langsung berpikir.
"Jika ada kemauan dan tidak mudah putus asa, besi pun bisa diasah menjadi sebatang jarum. Saat ini aku belum bisa bersaing dengan pemuda idaman nona ini, tetapi kini paling tidak di hati gadis ini sekalipun sedikit sudah ada bayanganku?"
Pikir Seng Liong Sen.
Sesudah itu Ci Giok Hian tidak mencegah lagi, mereka berjalan bersama-sama menuju ke lembah Ceng Liong sesuai petunjuk dari anak buah Bong Cian.
Begitu mereka sampai keadaan di lembah Ceng-liong tampak sepi.
Jangankan pasukan Mongol atau pertempuran hebat, keadaan di sana sungguh sunyi sekali.
Padahal sudah ada niat mereka, begitu sampai mereka akan langsung bertarung melawan pasukan Mongol.
Tetapi jangankan pasukan Mongol, rakyat dan orang biasa pun tidak mereka temui.
Rupanya tentara Mongol hanya lewat saja di tempat itu, dan sekarang entah sudah ada di mana mereka itu.
Memang di tempat itu mereka menemukan banyak noda darah dan bekas pertarungan hebat.
Selain itu mereka juga melihat banyak mayat tentara Mongol yang tergeletak di sana.Dengan perasaan tegang dan menahan bau mayat Ci Giok Hian memperhatikan mayat-mayat itu.
Dia pikir siapa tahu di antara mayat itu terdapat mayat kakaknya.
Namun untung dia tidak menemukannya "Hai, di sana seperti ada orang!"
Kata Seng Liong Sen pada Ci Giok Hian.
Ketika diperhatikan Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen mendengar suara rintihan orang.
Suaranya sangat lirih.
Mereka berlari ke arah suara rintihan itu.
Mereka menemukan seseorang berada dalam semak.
Orang itu terluka parah.
Baik di tubuh dan tangan orang itu masih 829 menancap anak panah.
Orang itu sedang merangkak dan mencoba keluar dari dalam semak.
Seng Liong Sen menolongi orang itu, dia cabut anak panah yang ada di tangan dan tubuhnya lalu diberi obat bubuk yang dia bawa.
Sesudah itu orang itu bertanya lirih.
"Siapa kalian, tak perlu kalian tolongi aku, aku merasa tidak akan bisa hidup lebih lama lagi..."
Kata orang itu.
"Aku Nona Ci, Kakakku bernama Ci Giok Phang, istirahatlah,"
Kata Ci Giok Hian.
"Oh, kiranya kau adik Tuan Ci, tolong kau sampaikan pada Ketua Kay-pang harta yang kami kawal telah dirampok oleh Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya yang dibantu tentara Mongol...."
Kata orang itu.
"Jen Thian Ngo pun terlukaparah...."
"Sudahlah, aku tahu semua itu,"
Kata nona Ci.
Dia sudah tahu akal Jen Thian Ngo yang hendak berpurapura melindungi harta itu dari tangan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek.
Semua itu sudah dia duga sejak awal.
Orang itu manggut-manggut.
"Legakan saja hatimu,"
Kata Ci Giok Hian.
Tiba-tiba orang itu melengak dan pingsan.
Kelihatan dia puas setelah bertemu dengan orang yang mungkin bisa menyampaikan laporannya pada ketua Kay-pang.
Itu sebabnya karena terlalu banyak buang tenaga akhirnya dia pingsan.
Melihat orang itu pingsan Seng Liong Sen kaget, dia segera memeriksa jalan darah Hong-hu-hiat orang itu, kemudian dia kerahkan lwee-kangnya untuk menolongi orang itu.
Usaha itu berhasil, namun Seng Liong Sen mengira orang itu tidak akan bertahan lama.
"Nona Ci, cepat tanyakan padanya di mana Kakakmu berada?"
Kata Liong Sen.
"Kau mengenal Ci Giok Phang, kan? Di mana sekarang dia berada?"
Kata nona Ci pada orang itu.
"Dia.. .Dia selamat, sambil mendukung Jen Thian Ngo dia berhasil meloloskan diri dari bahaya!"
Kata orang itu. Bukan main girangnya Ci Giok Hian saat itu, lalu dia bertanya lagi.
"Masih ada seorang lagi, dia bernama Kok Siauw Hong, bagaimana keadaan dia?"
Tanya Ci Giok Hian. Orang itu menjawab tetapi sayang suaranya semakin lemah hingga hampir tidak terdengar oleh Ci Giok Hian.
"Dia datang bersama seorang pemuda dan seorang nona,"
Kata orang itu dengan suara perlahan.
"sayang Kok Siauw-hiap terkena panah musuh dan binasa! Sedang pemuda dan nona itu selamat dan berhasil menerjang keluar dari kepungan tentara Mongol...."
Orang ini hanya kenal Kok Siauw Hong dan tidak kenal Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun.
Mendengar khabar itu tubuh Ci Giok Hian goyah hampir roboh.
Seng Liong Sen kaget segera dia menyanggah tubuh nona Ci hingga tidak sampai terjungkal ke tanah.
"Benarkah itu?"
Menegaskan nona Ci pada orang itu.
"Orang yang memanah Kok Siauw-hiap bernama Taluwa!"
Jawab orang itu.
Taluwa perwira Mongol yang sangat terkenal dalam memanah.
Dia pernah bertarung melawan anggota Kaypang, sehingga orang itu tahu nama orang yang memanah Kok Siauw Hong.
Saat Seng Liong Sen menahan tubuh Ci Giok Hian yang hampir roboh, tenaga dalamnya tidak tersalur lagi ke tubuh orang itu.
Tak heran setelah memberitahukan nama panglima yang memanah Kok Siauw Hong orang itu pun roboh.
Begitu mendengar keterangan orang itu Ci Giok Hian pingsan dalam rangkulan Seng Liong Sen.
Pemuda itu kaget juga girang.
"Dia tidak pernah menyebut nama Kok Siauw Hong, saat orang itu mengatakan Kok Siauw Hong tewas terpanah oleh Taluwa dia pingsan. Itu berarti kekasih nona Ci adalah Kok Siauw Hong!"
Pikir Seng Liong Sen.
Sekalipun Seng Liong Sen murid perguruan lurus, namun sejak kecil dia berada dekat dengan Beng Cit Nio maupun Seng Cap-si Kouw.
Tentu saja sifat jahat kedua wanita itu sedikitnya menempel juga pada pemuda ini.
Maka itu ketika nona Ci tak sadar dan jatuh ke pelukannya dia girang sekali.
Selang beberapa saat Ci Giok Hian sadar dari pingsannya.
Saat nona Ci belum sadar benar dia merasakan ada sepasang tangan yang kuat memeluk tubuhnya, maka dia berteriak.
"Siauw Hong! Siauw Hong!"
Kata nona Ci. Mendengar nona Ci memanggil-manggil nama Kok Siauw Hong, timbul rasa cemburu di hati Seng Liong Sen. Tetapi tiba-tiba pemuda itu terkejut bukan main.
"Ah, keterlaluan! Kok Siauw Hong mati terpanah oleh musuh tetapi aku tidak ikut bersimpati malah cemburu. Kalau begitu aku ini orang yang bertabiat rendah. Aah, selama ini aku selalu berbuat jujur, mengapa aku jadi berubah? Oh, aku sungguh tidak tahu malu, cemburu pada orang yang telah meninggal!"
Pikir Seng Liong Sen.
Dalam dada Seng Liong Sen timbul pergumulan antara yang baik dan buruk.
Tentu saja ini membuat pemuda itu merinding, akhirnya kesadarannya jernih kembali.
Sesudah itu dia tepuk bahu Ci Giok Hian serta berkata dengan suara lembut.
"Nona Ci ini aku bukan Siauw Hong! Sadarlah nona!"
Kata Liong Sen. Bayangan Kok Siauw Hong di depan mata Ci Giok Hian dalam sekejap sirna, sekarang nona Ci sadar saat itu dia berada di pelukan pemuda lain. Hatinyajadi pedih sekali.
"Aaah, kiranya kau bukan Siauw Hong... Sulit rasanya aku bisa bertemu lagi dengannya..."
Kata Ci Giok Hian lirih. Tahu kalau dia sedang ada dalam pelukan Seng Liong Sen nona Ci jadi malu sekali. Tiba-tiba dia membentak.
"Lepas.. .Lepaskan aku!"
Kata Ci Giok Hian. Seng Liong Sen dengan lembut memapah nona Ci ke bawah sebuah pohon, sesudah nona itu didudukkan dia berkata lembut.
"Nona Ci, orang yang telah meninggal tidak akan bisa hidup kembali. Tetapi kita yang masih hidup harus berusaha agar tetap hidup untuk menuntut balas bagi orang yang telah meninggal. Kau juga harus menjaga kesehatanmu, Nona!"
Kata Seng Liong Sen.
Ci Giok Hian seorang gadis yang pembawaannya tenang, tetapi kali ini karena pukulan atas batinnya terlalu berat, hingga membuat dia tidak tahan.
Dia buka matanya menatap dengan kosong, lalu mengawasi ke arah Seng Liong Sen.
Selang sesaat baru dia bicara.
"Ucapanmu benar,"
Kata nona Ci.
"aku memang harus menuntut balas. Tetapi entah bagaimana caranya aku harus menuntut balas?"
Seng Liong Sen menatapnya.
"Nona Ci kuucapkan terima kasih padamu karena kau telah menganggap aku sahabatmu, masalahmu juga sekarang menjadi masalahku. Aku akan membantumu sekuat tenagaku. Tetapi ini bukan dendam pribadi, karena sekalipun kau berhasil membunuh Taluwa, namun itu tidak terhitung telah menuntut balas!"
Kata Seng Liong Sen. Ci Giok Hian mengangguk.
"Kau benar, musuh kita adalah bangsa Mongol!"
Kata Ci Giok Hian.
"Untuk mengatur rencana, lebih dulu kita harus mencari tempat untuk meneduh,"
Kata Seng Liong Sen.
"Sesudah itu baru kita susun sebuah rencana untuk menuntut balas!"
"Yaah, kini aku tidak punya ide apa pun. Menurutmu kita mau ke mana?"
Kata Ci Giok Hian sambil mengeluh.
Saat itu tiba-tiba terdengar ringkikan suara kuda tak lama kelihatan dua ekor kuda berlari ke arah mereka.
Ci Giok Hian mengira itu tentara Mongol, dia segera bangkit sekaligus menghunus pedangnya sambil membentak sengit.
"Kebetulan kalian datang! Sebelum aku membalas dendam yang besar lebih baik yang kecil dulu!"
Kata Ci Giok Hian. Kedua ekor kuda itu tersentak mendadak berhenti. Ternyata penunggang kuda itu orang Han. Mereka berdua segera melompat dari atas kuda.
"Eh, bukankah kau ini Nona Ci?"
Kata salah seorang dari mereka.
"Kau mau membalas dendam apa?"
Mata nona Ci terbelalak.
"Oh, ternyata kau Paman Yo dan Paman Tu!"
Kata Ci Giok Hian kaget dan girang.
"Aku kira tadi kalian berdua orang Mongol!"
Dua orang itu memang anak buah Bu-lim Beng-cu Liu Ceng Yauw, yang satu bernama Yo Kuang dan seorang lagi bernama Tu Hok.
Ketika Kok Siauw Hong bertarung melawan Kim-to Lui Piauw di Lembah Pek-hoa-kok, Tu Hok dan Yo Kuang yang melerai pertarungan itu.
Lalu sambil menunjukkan panah Lioklim waktu itu mereka mengundang semua orang yang ada di Pek-hoa-kok untuk bersama-sama menemui Bulim Beng-cu Liu Ceng Yauw.
Itu sebabnya Ci Giok Hian jadi kenal pada kedua orang Han itu.
Seng Liong Sen pun pernah datang ke tempat Bu-lim Bengcu Liu Ceng Yauw, dan bertemu dengan kedua orang itu.
Seng Liong Sen langsung bertanya.
"Ada urusan apa Paman berdua datang ke Lok-yang hari ini?"
Kata Liong Sen.
"Seng Siauw-hiap kebetulan kau ada di sini,"
Kata Yo Kuang.
"Terus terang aku ke mari justru sedang mencarimu!"
"Nona Ci ternyata kau kenal Seng Siauw-hiap, tetapi entah di mana Kok Siauw Hong berada. Apa kau tahu?"
Kata Tu Hok.
Tentang putusnya pertundangan antara Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong mereka berdua tahu, itu gara-gara pemuda she Kok mencintai nona Ci.
Tetapi mereka heran sekarang Ci Giok Hian berjalan bersama Seng Liong Sen.
Mendengar pertanyaan Tu Hok itu nona Ci tidak tahan untuk tidak menangis.
"Siauw Hong.... Dia... .Dia...."
"Dia telah meninggal,"
Seng Liong Sen meneruskan katakata Ci Giok Hian yang tidak tuntas. Mendengar keterangan itu Yo Kuang dan Tu Hok terperanjat bukan kepalang.
"Apa? Kok Siauw Hong meninggal? Apa dia meninggal dalam pertarungan kemarin di lembah Ceng Liong?"
Kata Tu Hok. Seng Liong Sen mengelah napas panjang, dia kelihatan sangat terharu.
"Ini kejadian di luar dugaan,"
Kata Yo Kuang.
"Coba saja kalian bayangkan, Jen Thian Ngo yang terkenal sebagai tokoh tua Persilatan, justru bersekongkol dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek. Mereka merampok harta yang akan disumbangkan untuk para pejuang yang dikawal oleh Kay-pang. Malah dia juga telah mencelakakan Kok Siauw Hong, keponakannya!"
Seng Liong Sen lalu menceritakan apa yang diketahuinya dari Ci Giok Hian, sekalipun sedang berduka nona Ci ikut mmberi penjelasan. Kelihatan Yo Kuang gusar bukan kepalang.
"Kejadian ini telah membuka kedok kejahatan Jen Thian Ngo!"
Kata Yo Kuan.
"Kejadian ini ada buruknya tetapi juga ada baiknya. Kami pasti tidak akan melepaskan Jen Thian Ngo! Tetapi saat ini kita harus kesampingkan dulu masalah itu, karena aku akan bicara masalah kita!"
"Benar, justru aku ingin bertanya pada Paman berdua, ada apa kalian ke mari?"
Kata Liong Sen.
"Kami datang untuk mencari keterangan tentang kota Lokyang, sekalian akan mencari Han Tay Hiong untuk mengadakan hubungan dengannya!"
Kata Yo Kuang.
Seng Liong Sen sejak pergi dari tempat Kouw-kouwnya, dia sudah tidak mengetahui lagi perkembangan tentang Han Tay Hiong.
Sebenarnya dia ingin menceritakan keadaan Han Tay Hiong yang sudah menjadi orang cacat pada Yo Kuang.
Tetapi Seng Liong Sen berpikir jika Tu Hok dan Yo Kuang menemukan Han Tay Hiong yang sudah cacat, itu pasti sudah tidak ada gunanya.
Ditambah lagi jika dia menceritakannya pasti kedua orang ini akan bentrok dengan kedua kouwkouwnya.
Oleh karena itu dia tidak banyak cerita, dan hanya menceritakan bahwa rumah Han Tay Hiong musnah terbakar.
Mendengar keterangan itu Tu Hok menghela napas panjang.
"Tidak disangka, Han Lo Eng-hiong bisa mengalami kejadian seperti itu? Mudah-mudahan dia selamat! Baik, mari kita bicara mengenai masalahmu!"
Kata Tu Hok.
"Kenapa Paman mencariku?"
Kata Seng Liong Sen.
"Bukan kami yang mencarimu, tetapi gurumu yang meminta agar kau segera kembali ke Kang-lam. Kami hanya menyampaikan pesan beliau saja!"
Kata Tu Hok. Seng Liong Sen terkejut.
"Saat Suhu memberi tugas padaku dia tidak memberi batas waktu. Kenapa mendadak Suhu menyuruhku kembali? Apakah Kang-lam..."
Seng Liong Sen tidak meneruskan kata-katanya.
"Kau benar,"
Kata Tu Hok "sekarang api sudah menjalar ke Kang-lam!"
Keterangan itu membuat Seng Liong Sen terperanjat.
"Tentara Mongol baru menduduki Lok-yang, bagaimana bisa begitu cepat mereka sudah ada di daerah Kang-lam?"
Kata Seng Liong Sen.
"Bukan! Bukan tentara Mongol yang ke Kang-lam, tetapi para pengkhianat yang akan menyambut kedatangan tentara Mongol dari sebelah dalam. Sekarang para pengkhianat itu sudah berada di tepi sungai Tiang-kang (Cang-ciang), mereka dipimpin oleh See Thian Cin!"
Kata Tu Hok. Mendengar keterangan itu Seng Liong Sen menarik napas lega "Oh, yang memimpin mereka See Thian Cin, kalau begitu tidak terlalu masalah,"
Kata Seng Liong Sen.
See Thian Cin dikenal sebagai pemimpin di Telaga Tayouw.
Karena kejahatannya yang kelewat batas itu dia diusir oleh Ong Kan Teng, ketua tigabelas perkumpulan di Telaga Tay-ouw.
Itu sebabnya Seng Liong Sen meremehkan orang itu.
"Seng Siauw-hiap, kepandaian See Thian Cin tidak jauh berbeda dengan Ong Kan Teng, maka kau jangan menganggap remeh padanya,"
Kata Yo Kuang serius.
"Ditambah lagi baru-baru ini dia didukung oleh tentara Mongol. Dengan demikian dia mampu membeli kuda cukup banyak dan menarik para jago dari Rimba Hijau untuk bergabung dengannya. Aku dengan para jago dari Rimba Hijau itu menurut kepadanya. Tidak heran jika sekarang kekua-tannyajadi bertambah besar. Ada kemungkinan kekuatan dia sekarang sudah melebihi kekuatan Ong Kan Teng."
Setelah mengawasi ke arah Seng Liong Sen, Yo Kuang melanjutkan keterangannya.
"Kali ini dia memanfaatkan kesempatan saat pasukan Mongol sedang menyerang ke daerah Tiong-goan (Tiongkok), maka secara resmi dia menerima perintah dari perwira Mongol. Maka itu dia unjuk gigi dan berani melintasi daerah Ong Kan Teng. Tampaknya dia telah siap untuk menguasai Kang-lam!"
Kata Yo Kuang.
"Walaupun pasukan Mongol masih jauh dari Kang-lam,"
Tu Hok menambahkan.
"Namun sudah ada utusan Mongol di tempat See Thian Cin, maka itu sekalipun pasukan Mongol belum tiba, tetapi sudah berkeliaran mata-mata bangsa Mongol!"
"Daerah perbatasan Lam Song (Song Selatan, Red) sudah mulai dikuasai oleh bangsa Mongol!"
Kata Yo Kuang menambahkan.
"Rupanya pihak Mongol telah mengutus beberapa jenderal besarnya, mereka berpura-pura menghubungi pihak Lam Song untuk berdamai dan mengatakan ingin menyerbu ke daerah Kim (bangsa Tartar). Dngan alasan itu bangsa Mongol kini sudah mulai memasuki daerah Shan-lam, kemudian masuk ke daerah Coan-pak (Seecoan Utara, red), itu berarti mereka menguasai daerah Lam Song!"
Kata Yo Kuang. Liong Sen mengangguk-angguk.
"Celakanya pihak Lam Song tidak mengetahui pasukan Mongol menuju ke arah mana?"
Kata Yo Kuang lagi.
"Mereka hanya mengetahui bahwa pihak Mongol katanya ingin memusnahkan Kerajaan Kim, padahal sebaliknya justru ingin menghancurkan Kerajaan Song Selatan. Tidak heran jika para pejabat di Lam Song mulai was-was, malah sudah banyak pejabat yang mengungsi. Saat ini Song Selatan sangat lemah. Hanya para pejuang yang masih 839 melawan tentara Mongol. Maka itu Suhumu sebagai Bu-lim Bengcu di daerah Kang-lam, secara tidak langsung beliau juga pemimpin para pejuang memikul beban yang tidak kecil!"
Seng Liong Sen mengelah napas panjang.
"Aaah, tidak kusangka hanya lewat beberapa bulan di daerah Kang-lam telah terjadi perubahan besar!"
Kata Seng Liong Sen "Saat kami akan pergi, datang Suhumu menemui Bu-lim Beng-cu Liu Ceng Yauw, mereka lalu berunding. Kemudian mereka menyuruh kami mencarimu dan memintanya agar segera kembali!"
Kata Yo Kuang.
"Terima kasih pada Paman berdua,"
Kata Liong Sen.
"Keadaan Kang-lam sudah gawat, aku pasti akan segera kembali!"
"Nah kalau begitu kami pamit, kami masih harus ke Ciak-losan,"
Kata Yo Kuang. Keduanya lalu berangkat menuju ke Ciak-lo-san. Sesudah kedua orang itu pergi, Seng Liong Sen berkata pada Ci Giok Hian.
"Nona Ci, bukankah rumahmu dekat kota Yang-cou?"
Kata Liong Sen.
"Ya, dan tak jauh dari daerah Cai-ciok-ki,"
Kata Giok Hian.
"Kalau begitu, rumahmu pun tidak akan luput dari serangan See Thian Cin, sebab dengan menyeberangi sungai Tiangkang, tidak jauh sudah tempat tinggalmu!"
Kata Seng Liong Sen. Ci Giok Hian menghela napas panjang.
"Rupanya bangsa Mongol ingin menguasai seluruh Tionggoan, tidak heran jika mereka pun akan menyerang Pek-hoakok!"
Kata Ci Giok Hian.
Walau mulutnya berkata begitu hati Ci Giok Hian sebenarnya cemas bukan main, sebab Pek-hoa-kok tempat tinggal leluhurnya.
Pemuda she Seng ini memanfaatkan kesempatan ini.
Dia berkata dengan tenang.
"Nona Ci, Kakakmu belum diketahui rimbanya, mungkin dalam waktu singkat sulit kita menemukannya,"
Kata Seng Liong Sen.
"Untung dia telah lolos dari bahaya, kelak kalian akan berkumpul kembali. Sementara kau belum tahu mau ke mana, bagaimana jika kita ke rumahmu untuk menyelidikinya Siapa tahu Pek-hoa-kok telah musnah di tangan musuh. Jika itu benar terjadi lebih baik kau ikut aku ke Kang-lam. Sesudah berhasil mengusir pasukan Mongol, aku pasti akan mengantarmu pulang. Jika kau ikut aku ke Kang-lam kau bisa menyumbangkan tenagamu yang berharga!"
Sebenarnya Ci Giok Hian bukan tidak punya tujuan.
Ke gunung Kim-kee-leng justru tujuan yang tepat.
Di sana ada Liu Ceng Yauw dan di tempat ini mudah dia memperoleh keterangan keberadaan kakaknya.
Tetapi dia merasa tidak enak kalau dia bertemu dengan kedua pelayan tua Han Tay Hiong.
Mereka mungkin masih memusuhinya.
Maka itu Ci Giok Hian enggan ke Kim-kee-leng.
Ditambah lagi Ci Giok Hian juga rindu pada rumahnya.
Maka setelah berpikir sejenak Ci Giok Hian akhirnya mengangguk.
"Baiklah,"
Kata Ci Giok Hian.
Bisa dibayangkan bertapa senangnya Seng Liong Sen ketika itu.
Saat itu Ci Giok Hian mengira Kok Siauw Hong telah meninggal.
Nona Ci menilai Seng Liong Sen sebagai 841 pria sejati, mau tidak mau kesan baiknya terhadap pemuda ini bertambah.
Rasa dukanya kehilangan Kok Siauw Hong lambat laun berkurang dan bergeser pada pemuda ini.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 30 Sebenarnya Kok Siauw Hong tidak terkena panah yang dilepaskan oleh Taluwa Yang benar anak panah itu mengenai kuda tunggangannya.
Memang benar dia terpental dan jatuh ke dalam lembah yang cukup dalam.
Kejadian itu dilihat oleh Ci Giok Phang dari jarak yang cukup jauh.
Tidak heran jika Ci Giok Phang tidak melihatnya dengan jelas, dia mengira Kok Siauw Hong terpanah oleh Taluwa hingga jatuh ke dalam lembah dan binasa di sana.
Semula Kok Siauw Hong pun mengira dia akan binasa, tetapi karena kemauan hidupnya yang kuat membuat dia tidak putus asa Saat tubuhnya melayang ke dalam lembah, dia gunakan gerakan burung walet, hingga saat meluncur jatuh, kecepatannya jadi berkurang banyak sekali.
Sungguh kebetulan saat jatuh tubuh Kok Siauw Hong tepat jatuh di tanah yang lembek, tidak heran tulang-tulangnya tidak patah atau remuk.
Kok Siauw Hong langsung pingsan beberapa saat lamanya saat siuman ternyata dia tidak mengalami luka yang fatal.
Segera dia duduk bersila untuk menghimpun tenaga dalamnya.
Baru saja Kok Siauw Hong selesai menghimpun kekuatan dan tenaga dalamnya, dia mendengar suara hirukpikuk, disusul oleh derap kaki kuda yang semakin lama semakin menjauh dari tempat dia jatuh tersebut.
Dia langsung menerka bahwa derap kaki kuda yang hiruk-pikuk itu pasti derap kaki kuda angkatan perang 842 Mongol yang sedang meninggalkan lembah Naga Hijau atau lembah Ceng Liong.
Kok Siauw Hong mengelah napas panjang.
"Ah, barangkali harta Paman Han itu sudah diangkut oleh tentara Mongol. Mudah-mudahan Paman Jen dan Ci Giok Phang bisa meloloskan diri dari kepungan musuh! Aku kira derap kaki kuda itu menuju ke arah Barat, kenapa mereka tidak kembali ke arah Lok-yang?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Sesudah itu Kok Siauw Hong bangun lalu berjalan menuju sebuah parit.
Di sana dia mandi dan mencuci pakaiannya, lalu menangkap beberapa ekor ikan yang segera dia bakar untuk mengisi perutnya.
Sesudah pakaiannya kering dan perutnya kenyang Kok Siauw Hong lalu mencoba merayap naik ke atas.
Sekalipun kung-funya tinggi tapi karena tebingnya curam dan tinggi, dia merayap dengan perlahan dan hati-hati.
Selain curam tebing itu pun licin.
Jika kurang hati-hati dia akan tergelincir dan celaka.
Saat Kok Siauw Hong baru merayap sampai di tengah tebing, tiba-tiba dia mendengar suara ringkikan kuda, kelihatan tiga ekor kuda sedang lewat di atas tebing itu.
Ketika Kok Siauw Hong akan berteriak minta tolong, tibatiba dia sadar, bagaimana jika mereka itu tentara Mongol?
Begitu yang ada dalam benak Kok Siauw Hong.
Maka itu Kok Siauw Hong tidak jadi berteriak minta tolong.
Tiba-tiba salah seorang dari ketiga penunggang kuda itu bicara "Apa yang aku katakan itu benar,"
Kata dia.
"Semua harta Han Tay Hiong telah dirampok oleh tentara Mongol. Aaah, entah bagaimana keadaan Guruku?"
Mendengar kata-kata itu bukan main girangnya Kok Siauw Hong.
Dia yakin bahwa ketiga orang itu termasuk kawankawan seperjuangannya bukan musuh.
Kok Siauw Hong menarik napas lega.
Pada saat dia akan menggunakan ilmu Coan-im-jip-pek (Umu menyampaikan suara dari jarak jauh), dari rombongan itu seorang lagi ikut bicara "Saudara Ih, bukankah Kok Siauw Hong itu keponakan Gurumu?"
Kata orang itu.
"Aku yakin dia tidak akan mencelakakan Gurumu!"
Mendengar sampai di sini Kok Siauw Hong membatalkan niatnya minta tolong.
"Benar,"
Kata orang yang dipanggil saudara Di.
"Tetapi bocah itu bersekongkol dengan bangsa Mongol, itu sebabnya guruku tidak akan menghiraukan hubungan antara paman dan keponakan!"
Mendengar kata-kata ini Kok Siauw Hong bertambah kaget, dia tahu bahwa yang bicara itu murid Jen Thian Ngo yang bernama Ih Hua Liong.
"Eh, kenapa Ih Hua Liong ingin mencelakakan aku?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Dia memfitnahku sebagai pengkhianat yang bersekongkol dengan bangsa Mongol?"
Kok Siauw Hong menahan napas tidak berani bersuara sampai ketiga penunggang kuda itu berlalu dari tempat itu.
Kok Siauw Hong tahu orang yang tadi naik kuda adalah Ih Hua Liong, murid tertua pamannya Jen Thian Ngo bersama dua orang kawannya entah siapa.
Dengan Ih Hua Liong sendiri Kok Siauw Hong tidak pernah bertemu.
"Ih Hua Liong jahat sekali dia memfitnah aku, untung tadi aku belum memanggilnya,"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Jika aku minta tolongpun pasti mereka tidak akan menolongiku, malah mungkin akan menimpah aku dengan 844 batu dari atas!Heran, setahuku aku tidak pernah bermusuhan dengannya, lagi pula dia tidak kenal aku. Dia hanya mengetahui bahwa aku keponakan Paman Jen Thian Ngo. Mengapa hatinya begitu jahat?"
Saat itu Kok Siauw Hong kebingungan dan tidak habis pikir. Tetapi tiba-tiba dia tersentak sedikit kaget.
"Aah, kalau begitu apa yang dilihat Kiong Mi Yun di rumah Paman Han ada benarnya. Paman Jen katanya membongkar semua peti di rumah Paman Han. Dia mencari harta milik Paman Han. Ini jelas membuktikan bahwa Paman Jen bukan orang baik. Jeleknya dia juga menuduh Paman Han yang bersekongkol dengan bangsa Mongol. Mengapa jadi begini?"
Pikir Kok Siauw Hong yang mulai sadar ada suatu teka-teki yang belum terungkap.
Kok Siauw Hong ingat saat menyaksikan Jen Thian Ngo terluka ketika bertarung melawan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek, dia merasa kasihan pada pamannya itu.
"Aaah, kenapa aku berperasangka buruk terhadap Paman Jen yang begitu gagah mempertahankan harta yang dikawalnya? Apakah Paman Jen masih hidup atau sudah mati, aku juga belum tahu bagaimana nasibnya? Tadi Ih Hua Liong memfitnah aku bersekongkol dengan bangsa Mongol. Hal ini tentu saja patut dicurigai, pasti bukan Paman Jen. Barangkali tidak ada hubungannya dengan Paman Jen?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong mulai merayap lagi ke atas, kecurigaan Kok Siauw Hong pada pamannya hanya selintas dalam benaknya, sesudah itu lenyap.
Selang sesaat Kok Siauw Hong akhirnya berhasil mencapai puncak tebing, lalu dia melompat ke atas.
Sampai di atas dia menarik napas panjang, kemudian memandang jauh ke depan.
Kelihatan ketiga penunggang 845 kuda itu menuju ke arah barat.
Samar-samar Kok Siauw Hong melihat penunggang kuda itu terdiri dari dua orang lelaki dan seorang wanita "Eh, entah siapa yang berjalan bersama Ih Hua Liong itu?
Tetapi aku yakin mereka berdua para pendekar sejati!
Aku harus berusaha mencegah pemuda dan pemudi itu terjebak oleh akal licik Ih Hua Liong.
Maka itu aku harus menyelidiki mereka hingga semua jadi jelas...."
Pikir Kok Siauw Hong.
Saat Siauw Hong sedang berpikir akan menyelidiki Ih Hua Liong dan kedua temannya mendadak terdengar derap kaki kuda.
Kuda itu mendadak keluar dari dalam hutan.
Ketika diawasi ternyata itu Siauw-pek-liong, kuda istimewa milik Kok Siauw Hong.
Kuda itu mengibas-ngibaskan ekornya sambil mendekati majikannya.
Kelihatan kuda itu sangat girang bertemu kembali dengan majikannya.
Siauw-pek-liong kuda terlatih.
Sejak kehilangan majikannya yang terjatuh ke lembah, kuda itu tidak pergi jauh tapi bersembunyi di hutan.
Begitu melihat majikannya muncul dia pun berlari menghampirinya.
Kok Siauw Hong girang.
"Ah, kebetulan ada Siauw-pek-liong, dengan demikian aku bisa menyusul mereka!"
Pikir Kok Siauw Hong.
Ketika melihat panah yang menancap di tubuh kuda itu, Kok Siauw Hong segera mencabut anak panah itu.
Kemudian lukanya diobati.
Baru sesudah itu dia naiki kuda itu.
Sekalipun kuda itu terluka tetapi kuda itu bisa berlari cepat.
Ketika matahari sudah mulai condong ke barat, tanda sore telah menjelang, Kok Siauw Hong berhasil menyusul ketiga penunggang kuda itu.
Mereka tertegun karena tibatiba ada yang mengejar mereka.
"Sahabat bertiga, aku harap tunggu sebentar!"
Kata Kok Siauw Hong. Ketiganya langsung menghentikan kuda mereka, Ih Hua Liong langsung bertanya.
"Siapa kau? Mengapa kau mengejar kami?"
Kata Ih Hua Liong.
Dari suaranya Kok Siauw Hong tahu itulah suara orang yang memfitnah dia, berarti itu adalah Ih Hua Liong murid tertua pamannya.
Sedang lelaki dan wanita itu teman Ih Hua Liong, baru berumur kurang lebih tigapuluh tahun, barangkali mereka itu suami-isteri.
"Kak Hu,"
Kata yang wanita perlahan pada kawannya.
"kita sedang mencari orang yang bisa menceritakan kejadian di lembah Ceng-liong. Barangkali orang ini salah seorang yang lolos dari kematian di lembah itu. Sebaiknya kita bertanya padanya."
Pakaian Siauw Hong robek-robek, malah masih kelihatan bekas noda darah.
Ditambah lagi Kok Siauw Hong pun membawa-bawa sebilah pedang.
Barangsiapa yang melihatnya akan menduga bahwa Kok Siauw Hong baru saja bertarung.
"Benar, saat itu aku ikut membantu pihak Kay-pang akan mengantarkan harta ke gunung Ciak-lo-san, tetapi di tengah perjalanan harta itu dirampok oleh tentara Mongol. Aku berhasil lolos dan akan pergi memberi laporan pada Kaypang...."
Lelaki yang berjalan bersama Ih Hua Liong tertegun mendengar cerita Kok Siauw Hong itu. Dia mengawasi Kok Siauw Hong, lalu mengawasi ke arah Ih Hua Liong. Kemudian dia berkata pada Ih Hua Liong.
"Saudara Ih, apakah kau kenal dengan dia?"
Kata pria yang bersama isterinya itu.
Ditanya begitu Ih Hua Liong tidak langsung menjawab.
Rupanya kedua suami isteri ini bertemu Ih Hua Liong di tengah jalan.
Barangkali Ih Hua Liong mengaku bahwa dia salah seorang yang mengawal harta itu dan berhasil lolos dari kepungan tentara Mongol.
Sekarang masalahnya, jika Ih Hua Liong mengatakan dia tidak kenal kepada Kok Siauw Hong, sudah jelas ini akan menimbulkan kecurigaan pada suami isteri tersebut.
Tadi saat baru bertemu Ih Hua Liong sudah langsung menegur Kok Siauw Hong dengan pertanyaan "siapa kau", berarti dia tidak kenal pada Kok Siauw Hong.Ini suatu bukti bahwa salah seorang apakah itu Ih Hua Liong atau Kok Siauw Hong, pasti telah berbohong kepada suami isteri yang sekarang mulai curiga itu.
Ih Hua Liong yakin kalau suami isteri itu akan mempercayai dia, sebelum menjawab pertanyaan suami wanita itu dia berpikir.
"Aku tidak peduli apakah dia bohong atau bicara sebenarnya, lebih baik kuhajar dulu dia!"
Pikir Ih Hua Liong. Tiba-tiba Ih Hua Liong tertawa dingin sambil menatap ke arah Kok Siauw Hong.
"Hm! Tadi kau bilang kau ikut mengawal harta dan membantu pihak Kay-pang, apa benar?"
Kata Ih Hua Liong sinis.
"Benar! Apa kau kira aku bohong?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Tahukah kau siapa aku ini?"
Tanya Ih Hua Liong. Kok Siauw Hong tertawa.
"Dulu memang aku tidak kenal kau, tetapi sekarang aku tahu siapa kau?"
Kata Siauw Hong. Ih Hua Liong tertegun oleh kata-kata Kok Siauw Hong itu karena mengandung sindiran yang tajam.
"Dulu kau tidak mengenal dia? Kalau begitu, dalam rombonganmu itu kau tidak melihat dia?"
Kata wanita itu pada Kok Siauw Hong.
"Benar, aku tidak pernah melihat dia!"
Jawab Kok Siauw Hong. Ih Hua Liong tertawa dingin.
"Kalau begitu cepat kau katakan, siapa yang kau kenal dalam rombongan pengantar harta itu?"
"Tentu saja banyak orang terkenal yang mengawal harta itu. Di antaranya Jen Thian Ngo, Ci Giok Phang, Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong!"
Ih Hua Liong mendengus.
"Hm! Jadi kau kenal pada Kok Siauw Hong, bagus! Bagus sekali! Belum dipukul kau sudah mengaku!"
Kata Ih Hua Liong.
Maksud kata-kata Ih Hua Liong itu dengan tujuan ingin mengatakan, bahwa orang yang kenal dengan Kok Siauw Hong berarti orang itu bukan orang baik-baik.
Tetapi Kok Siauw Hong pura-pura tdak mengerti saja.
"Kau kenal Kok Siauw Hong justru aku sedang mencarinya! Pasti kau pun tahu dia ada di mana?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Bagus! Kau ingin tahu di mana dia berada, baik kau akan kuberitahu! Kok Siauw Hong bersekongkol dengan bangsa Mongol, dia ikut merampok harta itu! Sekarang dia 849 sudah pergi bersama pasukan Mongol. Kalau kau ingin bertemu dengannya, kau kejar saja dia!"
Kata Ih Hua Liong. Ucapan Ih Hua Liong itu memang diharapkan sekali oleh Kok Siauw Hong. Sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah Kok Siauw Hong tidak percaya, dia bertanya.
"Apa kau melihat sendiri dia berbuat begitu?"
Tanya Kok Siauw Hong.
"Kurangajar kau bocah busuk! Beraninya kau menuduh aku berbohong. Sudah tentu aku melihatnya sendiri Kok Siauw Hong bergabung dengan musuh!"
Sesudah berkata begitu Ih Hua Liong mengawasi ke arah lelaki itu.
"Cong Tay-hiap, sekarang jangan banyak bicara, dia pasti anak buah Kok Siauw Hong!"
Lelaki itu bernama Cong Siauw Hu dan Siang-koan Po Cu.
Berdasarkan kedudukan di Dunia persilatan, Ih Hua Liong berada jauh di bawah mereka berdua.
Sesudah mendengar ucapan Ih Hua Liong, Kok Siauw Hong lalu berkata dengan dingin.
"Tadi kau bertanya padaku apakah aku kenal pada kau? Aku tahu kau murid tertua Jen Thian Ngo bernama Ih Hua Liong! Nah, sekarang aku bertanya padamu, tahukah kau siapa aku ini?"
Kata Kok Siauw Hong. Ih Hua Liong tertawa dingin.
"Hm! Dari kata-katamu pasti kau seorang Rimba Persilatan yang cukup terkenal. Cepat katakan, siapa kau?"
Kok Siauw Hong tertawa terbahak-bahak.
"Aku hanya seorang Rimba Persilatan yang tidak terkenal, tetapi seharusnya kau tahu siapa aku ini! Akulah Kok Siauw Hong yang tadi kau katakan bersekongkol dengan bangsa Mongol!"
Kata Siauw Hong. Seketika itu juga wajah Ih Hua Liong berubah, dia langsung menghunus pedangnya dan menyerang Kok Siauw Hong. Cong Siauw Hu segera berseru.
"Tunggu!"
Mendadak cahaya pedang berkelebat dan ketika itu langsung terdengar suara jeritan Ih Hua Liong dari atas kudanya.
Dia mencoba menarik tali kekang kudanya agar bergeser ke samping.
Tadi saat masih di atas kuda Ih Hua Liong hendak menyerang Kok Siauw Hong, tapi Kok Siauw Hong lebih cepat dari Ih Hua Liong.
Ternyata Kok Siauw Hong pun telah menghunus pedang dan menusuk paha Ih Hua Liong.
Cong Siauw Hu kaget bukan kepalang.
Dia langsung melompat dan turun dari atas punggung kudanya sekaligus menyerang Kok Siauw Hong dengan jurus Eng-pik-tiang-khong (Elang menyambar dari angkasa).
Sesudah berteriak mengatakan tunggu, tiba-tiba Cong Siauw Hu menyerang Kok Siauw Hong dengan jurus maut.
Ini di luar perkiraan Kok Siauw Hong.
Buru-buru Kok Siauw Hong berkelit, lalu menangkis serangan itu dengan jurus Heng-kakim-liang (Membabat secara melintang sarang elang).
"Tang!"
Terdengar suara senjata beradu keras seketika itu tampak lelatu api berhamburan. Kok Siauw Hong merosot dari kudanya, sedang Cong Siauw Hu pun melayang turun dari kudanya.
"Hm! Kau disebut seorang pendekar malah tidak tahu aturan!"
Bentak Kok Siauw Hong.
Cong Siauw Hu diam saja.
Kembali dia menyerang Kok Siauw Hong, ini membuat Kok Siauw Hong gusar sekali.
Sekarang dia menganggap Cong Siauw Hu kawan Ih Hua Liong.
Dengan tidak segan-segan lagi Kok Siauw Hong melancarkan serangan balasan.
Siang-koan Po Cu keheranan melihat Cong Siauw Hu menyerang Kok Siauw Hong secara tiba-tiba itu.
"Kak Hu, tanya dulu yang jelas baru bertarung!"
Teriak Siang-koan Po Cu. Melihat Cong Siauw Hu memihak kepadanya Ih Hua Liong girang bukan kepalang.
"Jangan bertanya lagi, bocah in memang pembohong!"
Teriak Ih Hua Liong sambil merasakan pahanya sakit karena tertusuk pedang Kok Siauw Hong.
Namun, Ih Hua Liong yang sadar Kok Siauw Hong lihay, tidak berani maju membantu Cong Siauw Hu.
Tenaga Kok Siauw Hong belum pulih seluruhnya, itu sebabnya dia tidak berani bertarung lama-lama.
"Dia tidak mau mendengar penjelasanku, sekalipun dia sehaluan denganku!"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Lebih baik kulukai dulu dia baru bicara!"
Mendadak Kok Siauw Hong menggunakan jurus maut, dalam seketika pedang Kok Siauw Hong berputar-putar membentuk tujuh bayangan bunga pedang.
"Bagus!"
Teriak Cong Siauw Hu.
Cong Siauw Hu pun memutarkan pedangnya cepat bagaikan kilat.
Tampak bayangan pedangnya berkelebat di antara bayangan tujuh sinar pedang Kok Siauw Hong.
Beberapa kali terdengar suara benturan dua pedang mereka secara beruntun, namun tidak ada yang mau mengalah.
Pertarungan mereka kelihatan seimbang sekali.
Tapi tiba-tiba Cong Siauw Hu melompat mundur tiga 852 langkah, kemudian dia menyarungkan pedangnya.
Hal itu sungguh di luar dugaan Kok Siauw Hong.
"Dia belum kalah kenapa mundur?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Tadi saat Kok Siauw Hong merayap memanjat tebing tenaganya terkuras banyak, ditambah lagi saat dia naik kuda mengejar rombongan Ih Hua Liong ini, juga tenaganya terkuras.
Jika dinilai ilmu pedang mereka memang seimbang, tetapi tenaga Kok Siauw Hong yang sudah kehabisan tenagajelas kalah jauh.
Jika bertarung terus jelas Kok Siauw Hong akan kalah.
Tiba-tiba Cong Siauw Hu tertawa.
"Hm! Kau menggunakan jurus Cit-siu-kiam-hoat!"
Kata dia. Siang-koan Po Cu kaget bercampur girang.
"Sudah pasti dia Kok Siauw Hong!"
Kata Siang-koan Po Cu.
Kok Siauw Hong baru sadar, rupanya Cong Siauw Hu hanya ingin mencoba ilmu silatnya agar dia bisa memastikan identitas lawannya Cit-siu-kiam-hoat ilmu pedang milik keluarga Jen, biasanya tidak pernah diwariskan kepada orang luar.
Hingga di kalangan Kang-ouw hanya ada tiga orang yang bisa menggunakan ilmu silat itu, yaitu Jen Thian Ngo, ibu Kok Siauw Hong dan Kok Siauw Hong sendiri.
Cong Siauw Hu seorang jago pedang terkenal.
Begitu dia melihat jurus yang diperagakan oleh Kok Siauw Hong itu Citsiu-kiam-oat, dia langsung tahu siapa lawannya itu.
Kok Siauw Hong senang Cong Siauw Hu percaya padanya.
Tetapi pada saat itu terdengar suara ringkikan kuda.
Itu adalah kuda Ih Hua Liong yang dilarikan dengan cepat.
Karena Ih Hua Liong tahu rahasianya sudah terbuka, dia tidak ingin celaka, karena itu buru-buru dia melarikan diri dengan menaiki kudanya.
Ternyata kuda yang dinaiki Ih Hua Liong termasuk kuda jempolan, kuda itu hadiah dari See-bun Souw Ya kepadanya.
Seekor kuda dari daerah Mongol.
Jika kuda Siauw Hong tidak terluka dia yakin bisa mengejar kuda milik Ih Hua Liong.
Ketika itu kuda Kok Siauw Hong masih luka jadi sulit baginya untuk mengejar Ih Hua Liong.
"Sayang penjahat itu sudah kabur!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Sabar kita akan cari dia untuk membuat perhitungan dengannya. Kok Siauw-hiap, sungguh beruntung hari ini kami bertemu denganmu di sini!"
Kata Cong Siauw Hu.
"Mohon bertanya, siapa nama Anda?"
Kata Kok Siauw Hong sambil memberi hormat.
"Cong Siauw Hu,"
Jawab yang ditanya Ternyata sudah lama Kok Siauw Hong mendengar nama itu disebut-sebut orang. Baru kali ini dia bertemu muka dengannya.
"Kalau boleh tahu ada urusan apa Anda ke mari?"
Tanya Siauw Hong. Sesudah mengawasi Kok Siauw Hong baru dia menyahut.
"Aku dengar kau calon menantu Han Tay Hiong, apakah kau pernah datang ke rumah Han Lo Eng-hiong?"
Kata Cong Siauw Hu.
Masalah Kok Siauw Hong membatalkan pertunangannya dengan puteri Han Tay Hiong telah menggemparkan Dunia Persilatan, pasti Cong Siauw Hu pun sudah mendengar khabar itu.
Tetapi Kok Siauw Hong belum resmi membatalkan pertunangan itu, hingga dia tetap calon menantu Han Tay Hiong.
Sekalipun Cong Siauw Hu merasa tidak enak hati, dia tetap bertanya demikian.
Wajah Kok Siauw Hong berubah merah.
"Aku pernah ke rumah Han Lo Eng-hiong, rumah mereka habis terbakar di luar dugaanku, mengenai hal ini barangkali Cong Tay-hiap sudah mengetahuinya?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Memang kami sudah ke sana maka itu aku ingin tahu siapa kira-kira yang membakar rumahnya itu?"
Kata Cong Siauw Hu.
"Yang kuketahui hanya sedikit tentang hal itu. Aku hanya tahu Han Lo Eng-hiong mempunyai dua orang musuh besar, mereka itu See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek."
Kata Kok Siauw Hong.
"Apakah Han Lo Eng-hiong masih hidup atau sudah meninggal aku tidak tahu. Tetapi aku sudah menemukan sedikit titik terang...."
Kok Siauw Hong lalu menceritakan mengenai apa yang diketahuinya Cong Siauw Hu menghela napas.
"Tidak kusangka Han Lo Eng-hiong telah dicelakai orang! Sayang kami masih punya urusan penting, sesudah 855 beres aku akan ke air terjun itu untuk menyelidikinya!"
Kata Cong Siauw Hu.
"Oh, tahukah kau tentang harta yang di simpan di rumah Han Lo Eng-hiong?"
Kata Siang-koan Po Cu.
"Tahu, harta itu oleh Han Pwee Eng disumbangkan untuk para pejuang, dan diantar oleh pihak Kay-pang. Tetapi di tengah jalan harta itu telah dirampok...."
Kata Kok Siauw Hong.
"Mengenai hal ini Ih Hua Liong tidak membohongi kami,"
Kata Cong Siauw Hu dan isterinya.
"Jika aku boleh bertanya apakah kalian berdua kebetulan lewat di tempat ini, atau memang sengaja ingin berkunjung ke rumah Han Lo Eng-hiong?"
Tanya Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong bertanya begitu karena dia tahu Cong Siauw Hu tidak punya hubungan dengan Han Tay Hiong.
"Aku ke mari karena seorang teman berjanji akan bertemu di rumah Han Lo Eng-hiong, tetapi tidak kusangka musibah menimpa Han Tay Hiong dan keluarganya. Ternyata temanku pun tidak ada di sana!"
Kata Cong Siauw Hu.
"Ada urusan penting apa Cong Tay Hiap pada Han Lo Enghiong? Apa aku boleh tahu?"
Kata Kok Siauw Hong. Cong Siauw Hu berpikir sejenak, sesudah itu dia baru menjawab pertanyaan Kok Siauw Hong.
"Masalah itu sangat rahasia, karena Kok Siauw-hiap punya hubungan erat dengan Han Lo Eng-hiong, jelas aku harus memberitahumu. Aku ingin bertanya padamu, apakah kau sudah tahu tentang asal-usul harta itu?"
Ditanya begitu Kok Siauw Hong tertegun.
"Aku juga baru tahu tentang harta itu beberapa hari yang lalu,"
Jawab Kok Siauw Hong.
"Tentang asal-usulnya terus terang aku tidak tahu."
Sambil tersenyum Cong Siauw Hu menunjuk ke arah isterinya sambil berkata.
"Ayah isteriku yang menitipkan harta itu pada Han Tay Hiong!"
Kata Cong Siauw Hu. Siang-koan Pu Cu tersenyum.
"Sebenarnya itu bukan harta Ayahku,"
Kata Siang-koan Po Cu.
"Harta itu dititipkan oleh Ayahku supaya Han Lo Eng-hiong menyerahkannya pada seseorang!"
Secara singkat Siang-koan Po Cu memberi keterangan pada Kok Siauw Hong.
Rupanya Siang-koan Hok, ayah Siang-koan Po Cu itu bangsa Liao.
Kerajaan Liao musnah oleh Kerajaan Kim (Tartar).
Siang-koan Hok seorang pendekar bangsa Liao, dia termasuk penentang bangsa Kim.
Oleh karena terdesak oleh bangsa Kim, dia kabur ke seberang lautan.
Sesudah lewat duapuluh tahun, tiba-tiba muncul bangsa Mongol merebut kekuasaan bangsa Kim, karena itu Kerajaan Kim semakin lemah.
Mengetahui Kerajaan Kim semakin lemah, Siang-koan Hok kembali lagi ke Tiong-goan.
Maksud Siang-koan Hok akan membangun kembali Kerajaan Liao.
Diam-diam dia bergabung dengan Jenghis Khan.
Ternyata dia diangkat menjadi Wakil Kok-su Mongol.
Tentang niatnya membangun kerajaan Liao, sudah tentu dilakukan diamdiam agar bangsa Mongol tidak tahu maksudnya.
Sesudah Kerajaan Liao jatuh, salah seorang panglima Liao berhasil meloloskan diri bersama anak buahnya.
Kemudian panglima ini membentuk pasukan untuk melawan tentara Kim.
Mereka bermarkas di See-lian-san.
Panglima itu bernama Souw Goan Tiak.
Belasan tahun lamanya bangsa Kim tidak bisa menghancurkan kekuatan panglima Souw Goan Tiak di Seelian-san.
Tetapi lama kelamaan Souw Goan Tiak pun semakin lemah.
Mereka mulai kekurangan bahan makanan dan sebagainya.
Malah Souw Goan Liak dan anak buahnya semakin mendapat kesulitan.
Selama Siang-koan Hok tinggal di tempat Jenghis Khan diam-diam dia mengadakan hubungan dengan pejuang bangsa Liao.
Dua orang pengawal pribadi Kerajaan Liao berhasil lolos, membawa harta.
Semua harta itu diserahkan pada Siang-koan Hok.
Mendengar para pejuang kekurangan dana Siang-koanHok ingin menyerahkan harta itu pada para pejuang, tepatnya kepada Souw Goan Tiak.
Tetapi untuk melaksanakan maksud itu selalu terhalang karena Siangkoan Hok selalu dalam pengawasan mata-mata pihak Mongol.
Tentu saja niat itu idak mudah dilaksanakan oleh Siang-koan Hok.
Tetapi sesudah Jenghis Khan meninggal dunia, Siangkoan Hok baru mendapat kesempatan.
Dia mendapat perintah datang ke kota Lok-yang.
Sekalipun Siang-koan Hok agak bebas tetapi dia tetap memiliki keterbatasan soal waktu.
Sudah tentu dia tidak bisa pergi sendiri ke See-lian-san.
Kebetulan Siang-koan Hok bersahabat sejak muda dengan Han Tay Hiong.
Ketika itu dia dengar Han Tay Hiong sedang mengasingkan diri di kota Lok-yang.
Saat itu kelihatannya Han Tay Hiong sudah tidak aktif dan tidak ikut campur di Dunia Persilatan, padahal diam-diam Han Tay Hiong pun terus menyusun kekuatan untuk memerangi Kerajaan Kim.
Tidak banyak orang yang tahu apa yang dikerjakan jago tua itu, termasuk mata-mata bangsa Mongol juga tidak mengetahuinya.
Tidak heran jika pihak Mongol tidak mengetahui kalau di kota Lok-yang bersembunyi seorang jago tua yang ilmu silatnya tinggi.
Saat Siang-koan Hok tiba di Lok-yang dia berkunjung ke rumah Han Tay Hiong secara diam-diam.
Dalam pembicaraan Siang-koan Hok menitipkan hartanya pada Han Tay Hiong agar disampaikan kepada Souw Goan Tiak di See-lian-san.
Malah Siang-koan Hok pun sempat bermalam di rumah Han Tay Hong.
Ternyata kedatangan Siang-koan Hok secara diam-diam itu diketahui juga oleh Lauw Kan Lu dan Jen Thian Ngo.
Kedua orang ini bercuriga lalu menyelidiki kedatangan Siang-koan Hok itu.
Mereka menyelidiki karena tahu Siangkoan Hok seorang wakil Kok-su dari Kerajaan Mongol.
Dengan demikian mereka khawatir kalau Han TayHiong bersekongkol dengan pihak Mongol yang mereka dengar berniat menyerbu ke Tiong-goan.
Tetapi penyelidikan Jen Thian Ngo dan Lauw Kan Lu ini tidak berhasil mengorek keterangan yang memuaskan.
Malah celakanya Han Tay Hiong justru diserang oleh Chu Kiu Sek dan terluka dalam cukup parah.
Dengan demikian Han Tay Hiong tidak bisa buru-buru mengantarkan harta titipan Siang-koan Hok pada Souw Goan Tiak di See-lian-san.
Pada saat Siang-koan Hok akan pulang ke Mongol, dia mengutus dua orang kepercayaannya ke gunung See-lian-san menemui Souw Goan Tiak.
Kedua utusan itu memberitahukan bahwa harta Siang-koan Hok dititipkan 859 kepada Han Tay Hiong di Lok-yang.
Di luar dugaan tentara Mongol benar-benar datang menyerbu ke wilayah Tionggoan.
Kebetulan Souw Goan Tiak dan Liu Ceng Yauw punya hubungan baik.
Souw Goan Liak minta bantuan Bu-lim Bengcu Hong-lay-mo-li Liu Ceng Yauw untuk mengambil harta itu di rumah Han Tay Hiong.Mereka sepakat akan bertemu di rumah Han Tay Hiong.
Karena Hong-lay-mo-li ini tahu Siang-koan Po Cu puteri Siang-koan Hok, maka Hong-lai-mo-li lalu mengutus Siang-koan Po Cu bersama suaminya ke rumah Han Tay Hiong untuk bertemu dan membantu Souw Goan Tiak membawa harta itu.
Sesudah mendengar keterangan Siang-koan Po Cu, Kok Siauw Hong tertegun.
Sekarang dia tahu tentang asal-usul harta di rumah Han Tay Hiong itu.
"Oh pantas Han Pwee Eng tidak tahu soal harta itu. Rupanya Paman Han tiak memberitahunya karena ini masalah besar?"
Pikir Kok Siauw Hong. Kelihatan Siang-koan Po Cu gelisah bukan main. Tibatiba dia berkata seperti putus asa.
"Harta sudah dirampok tentara Mongol, sedang utusan Souw Goan Tiak pun tidak muncul, lalu kita harus bagaimana sekarang?"
Kata Siang-koan Po Cu.
"Aku lihat dua Iblis Tua itu sudah terluka, merekalah yang membawa harta itu menuju ke arah barat. Kereta yang mengangkut harta itu kelihatan berat hingga jalannya lambat. Jika kita kejar, aku yakin mereka bisa kita kejar!"
Kata Kok Siauw Hong. Cong Siauw Hu tertegun. Sedang Kok Siauw Hong berpikir.
"Kedua Iblis Tua sudah terluka, jika aku bergabung dengan suami-isteri ini rasanya bisa mengalahkan mereka! Jika tidak sanggup pun, aku sudah tahu jejak mereka. Bila aku pergi mencari bala-bantuan, siapa tahu bisa merebut kembali harta itu?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Sesudah merebut kota Lok-yang, angkatan perang Mongol menuju ke selatan. Yang mengherankan malah kedua Iblis Tua itu? Mengapa sesudah mereka berhasil merampok harta mereka tidak kembali ke Lok-yang? Seharusnya mereka bergabung dengan angkatan perang Mongol di Lok-yang. Tetapi dia malah menuju ke arah barat!"
Kata Cong Siauw Hu.
"Mengapa harus kita hiraukan dia mau ke selatan atau ke barat. Malah itu akan memudahkan kita merebut harta itu kembali. Mari kita kejar mereka!"
Kata Siang-koan Po Cu.
Sesudah itu mereka langsung menaiki kuda masingmasing dan memacunya bersama-sama.
Kuda mereka dilarikan dengan cepat ke arah barat.
Mereka belum tahu kalau di depan mereka juga ada penunggang kuda yang sedang mengejar rombongan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek itu.
Pemuda itu adalah Ih Hua Liong.
Rupanya luka Ih Hua Liong tidak parah, sesudah luka itu diobati darahnya langsung berhenti mengalir.
Dia berusaha memacu kudanya mengejar para pembawa harta hasil rampokan itu.
Setiap saat Ih Hua Liong menoleh ke belakang, dia khawatir Kok Siauw Hong dan sepasang suami isteri itu mengejarnya.
"Sekalipun aku gagal menipu Cong Siauw Hu dan isterinya, tetapi beruntung aku selamat! Sesudah mendapat bagian dari hasil rampokan itu, aku akan bersembunyi di suatu tempat. Dengan demikian aku bisa hidup senang."
Pikir Ih Hua Liong.
Jen Thian Ngo bersekongkol dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek untuk merampok harta itu.
Sesudah berhasil merampok harta itu, dia dijanjikan akan mendapat serengah bagian dari harta itu.
Karena harus menipu orang Kay-pang dan para pejuang, maka dia tidak bisa datang sendiri meminta bagiannya.
Maka itu dia mengirim muridnya yang bernama Ih Hua Liong menemui kedua rekan kerjanya itu dengan maksud meminta bagiannya.
Berhubung rombongan itu sudah lebih dulu berangkat menuju ke arah barat, maka Ih Hua Liong terpaksa harus memacu kudanya lebih cepat agar bisa menyusul rombongan itu.
Baru sesudah hari keenam Ih Hua Liong bisa menyusul rombongan See-bun Souw Ya cs ini.
Sesudah tersusul oleh Ih Hua Liong rombongan See-bun Souw Ya diperintahkan beristirahat di tengah jalan di samping sebuah gunung.
Di sebelah kiri terdapat hutan dan sebuah sungai.
Kebetulan di tepi jalan itu terdapat sebuah warung teh.
Di antara mereka ada yang beristirahat di kedai teh sambil minum teh.
Ada juga yang hanya beristirahat melepas lelah.
Ketika itulah Ih Hua Liong mengajukan permohonan gurunya pada See-bun Souw Ya.
"Sudah aku katakan dari semula,"
Kata See-bun Souw Ya.
"Bahwa harta itu harus aku bawa ke Ho-lim dan diserahkan kepada Cun Seng Hoat Ong, atau Kok-su Mongol. Sudah itu Kok-su itu akan memberi hadiah sebagian dari harta itu untuk kita. Baru harta itu dibagi dua secara adil!"
"Bukan aku serakah,"
Kata Ih Hua Liong dengan suara perlahan.
"Tapi aku pikir harta yang begitu banyak sebaiknya sebagian kita sembunyikan. Aku kira Kok-su itu pun tidak akan mengetahui jumlah sebenarnya dari harta itu. Bukankah itu lebih baik"
See-bun Souw Ya tertawa terbahak-bahak.
"Tidak kusangka ternyata kau punya ide derrukian,"
Kata See-bun Souw Ya. Dengan suara tetap perlahan Ih Hua Liong berkata lagi.
"Aku kira ideku itu sangat bermanfaat bagi kita semua. Kasihanilah aku yang terluka demi harta ini!"
Kata Ih Hua Liong. Mendengar percakapan itu Chu Kiu Sek menyela.
"Eh, bagaimana kau bisa terluka demikian"
Kata Chu Kiu Sek.
"Parahkan lukamu itu?"
See-bun Souw Ya pun tersenyum sambil berkata lagi.
"Jika dia terluka parah mana mungkin dia bisa menyusul kita? Dia cuma mencari alasan saja!"
Kata See-bun Souw Ya. Ih Hua Liong sedikit kurang senang mendengar ucapan See-bun Souw Ya, tapi karena mereka masih bicara dengan nada lunak dia memberanikan diri untuk bicara lagi.
"Aku harap Lo Cian-pwee lebih berlapang dada dan bijaksana,"
Kata Ih Hua Liong. Sebenarnya lukaku ini tidak parah. Tetapi jika aku tidak segera melarikan diri, mungkin bukan luka saja tetapi nyawaku pun akan melayang di tangan Kok Siauw Hong!"
Mendengar keterangan Ih Hua Liong itu See-bun Souw Ya terkejut.
"Apa? Kok Siauw Hong belum mampus?"
Kata See-bun Souw Ya dengan gemas sekali.
"Dia belum mati,"
Kata Ih Hua Liong.
"karena tidak puas ada kemungkinan dia mengejarku sampai ke mari"
Chu Kiu Sek tertawa.
"Oh, jadi kau kabur ke mari untuk berlindung karena ketakutan, bukan ?"
Kata Chu Kiu Sek sinis.
Ucapan Chu Kiu Sek itu keras dan tajam hingga Ih Hua Liong akhirnya diam tidak menyahut.
Sebaliknya See-bun Souw Ya kelihatan geram sekali, sambil mengepalkan tangannya dia berkata.
"Dia berani datang ke mari?"
Katanya.
"Benar, dia tidak seorang diri Lo Cian-pwee!"
"Bersama siapa dia?"
Tanya See-bun Souw Ya.
"Dia bersama sepasang suami isteri."
Jawab Ih Hua Liong.
"Siapa suami isteri itu?"
Tanya See-bun Souw Ya.
"Suami isteri itu datang dari Kim-kee-leng, mereka bernama Cong Siauw Hu dan Siang-koan Po Cu. Aku bertemu dengan mereka di tengah jalan. Semula aku ingin membohongi mereka dan membawanya kemari agar Lo Cian-pwee bisa menangkap mereka. Jika Lo Cian-pwee berhasil menangkapnya, ini jasa bukan kecil bagi pihak Mongol. Sungguh di luar dugaan tiba-tiba muncul Kok Siauw Hong. Karena itu rencanaku itu jadi gagal."
Kata Ih Hua Liong. Ketika itu See-bun Souw Ya mendengarkan keterangan Ih Hua Liong dengan penuh perhatian, tetapi tiba-tiba dia menyela.
"Coba kau ulangi, siapa nama perempuan itu?"
Kata See-bun Souw Ya.
"Namanya Siang-koan Po Cu,"
Kata Ih Hua Liong mengulangi keterangannya.
"Tahukah kau, ada urusan apa suami isteri itu berada di sana?"
"Sayang aku tidak bertanya pada mereka, tetapi mereka sangat memperhatikan harta yang kita rampok ini. Mungkin kedatangan mereka karena harta itu!"
Kata Ih Hua Liong. Mendadak See-bun Souw Ya menepuk pahanya sambil menghela napas.
"Aaah, sayang, sungguh sayang sekali!"
"Apa yang sayang, Lo Cian-pwee?"
Tanya Ih Hua Liong.
"Sayang kau tidak berhasil membohongi mereka hingga mereka tidak bisa diajak ke mari. Jika kita berhasil menangkap mereka itu bukan jasa yang kecil!"
Kata See-bun Souw Ya. Mata Ih Hua Liong terbelalak. Dia tidak mengerti, mengapa See-bun Souw Ya berkata begitu.
"Aku rasa Cong Siauw Hu dan isterinya itu bukan tokoh yang sangat penting. Mengapa See-bun Souw Ya begitu menaruh perhatian pada mereka?"
Pikir Ih Hua Liong. Maka itu Ih Hua Liong mengajukan pertanyaan pada See-bun Souw Ya.
"Kenapa begitu?"
Kata Ih Hua Liong.
"Kau belum tahu, Siang-koan Po Cu itu puteri Sian-koan Hok,"
Kata See-bun Souw Ya. Ih Hua Liong menganggukkan kepalanya sekalipun yang dia ketahui bahwa Siang-koan Hok adalah wakil Kok-su 865 Mongol, yang lainnya dia tidak tahu. Maka itu dia jadi tercengang.
"Ah, kiranya Siang-koan Po Cu puteri Siang-koan Cianpwee! Tidak kusangka! Tetapi seandainya kita tangkap mereka, bukankah itu akan menyebabkan Siang-koan Cianpwee tersinggung?' See-bun Souw Ya mendengus dingin.
"Hm! Rupanya banyak masalah yang tidak kau ketahui,"
Kata See-bun Souw Ya.
"Sayang aku lupa memberitahumu. Tetapi aku ingin bertanya lagi, apa kau punya ide lain untuk membohongi mereka hingga mau diajak ke mari?"
Mengapa See-bun Souw Ya begitu memperhatikan suamiisteri itu, ternyata ada sebabnya.
Rupanya Cun Seng Hoat Ong mulai mencurigai Siang-koan Hok punya rencana besar.
Sekalipun Siang-koan Hok berhasil menitipkan hartanya dengan diam-diam di rumah Han Tay Hiong.
Ternyata rahasia itu bocor ke telinga Cun Seng Hoat Ong.
Sesudah mengetahui rahasia ini Cun Seng Hoat Ong mengutus See-bun Souw Ya untuk menyelidiki masalah ini.
Selain diberi tugas hkusus agar See-bun Souw Ya merebut harta Siang-koan Hok, tugas terpenting adalah untuk menghimpun berbagai bukti kesalahan Siang-koan Hok.
Sekarang seluruh harta telah direbut.
Tetapi bukti kesalahan Siang-koan Hok belum lengkap.
Sekalipun harta itu sudah diketahui milik Siang-koan Hok, tapi karena benda itu benda mati, maka harta itu tidak bisa dimintai keterangan.
Maka itu See-bun Souw Ya berambisi menangkap Siangkoan Po Cu, puteri Siang-koan Hok.
Dengan sandera istimewa jelas Siang-koan Hok bisa dipaksa mengaku, demi menyelamatkan puterinya Tentang harta itu Siang-koan Hok pun akan mengakuinya "Bagaimana, kau punya ide?"
Kata See-bun Souw Ya kepada Ih Hua Liong.
"Tetapi mereka telah membongkar rahasiaku, mana mungkin aku menemuinya lagi!"
Kata Ih Hua Liong. See-bun memandang ke arah Chu Kiu Sek, maksudnya akan menyuruh Chu Kiu Sek menangkap suami-isteri itu, tetapi Chu Kiu Sek langsung memberikan tanggapan.
"Tidak bisa!"
"Apa yang tidak bisa?"
Kata See-bun Souw Ya. Chu Kiu Sek memandang ke arah See-bun Souw Ya.
"Saudara See-bun, benarkah kau dan Ih Lo-tee akan pergi menangkap suami isteri itu?"
Kata Chu Kiu Sek. See-bun Souw Ya mengangguk.
"Aku pikir begitu,"
Kata See-bun Souw Ya.
"tetapi jika saudara Chu tidak yakin akan berhasil menangkap mereka, ya, sudahlah!"
Chu Kiu Sek memikirkan kepentingan sendiri.
Dia khawatir See-bun dan Ih Hua Liong bertemu dengan Kok Siauw Hong yang kepandaiannya tidak rendah.
Mengenai kedua suami isteri itu pun Chu Kiu Sek pernah mendengarnya.
Itu alasannya, mana mungkin See-bun berhasil menangkap mereka.
Selain itu Chu Kiu Sek khawatir harta itu akan dicaplok sendiri oleh See-bun.
"Kau licik tetapi aku juga tidak bodoh,"
Pikir Chu Kiu Sek.
"Jika kau yang mengangkut harta supaya kau yang mendapat jasa dan kau suruh aku mempertaruhkan nyawa melawan mereka! Dasar sial!"
Kemudian Chu Kiu Sek berkata pada See-bun Souw Ya.
"Saudara See-bun, kepandaianmu lebih tinggi dariku. Maka aku tidak yakin bisa menangkap mereka bertiga. Sebaiknya kau saja yang ke sana menangkap mereka!"
Kata Chu Kiu Sek. See-bun Souw Ya mengerutkan dahinya.
"Mana mungkin aku yang ke sana meninggalkan kau mengawal harta itu!"
PUcir See-bun Souw Ya. Tiba-tiba dia berkata lagi.
"Oh ya tadi kau bilang mereka pasti mengejar kita bukankah begitu Ih Lo-tee?"
Kata See-bun Souw Ya. Ih Hua Liong mengangguk.
"Lalu apa rencanamu?"
Tanya Chu Kiu Sek.
"Kita perlambat saja perjalanan kita agar mereka bisa mengejar kita!"
Kata See-bun Souw Ya.
"Tapi itu cuma dugaanku saja,"
Kata Ih Hua Liong.
"benar tidaknya aku tidak berani memastikannya!"
"Kalian boleh beristirahat lebih lama!"
Teriak See-bun Souw Ya pada tentara Mongol.
See-bun Souw Ya membuat pasukan berkuda Mongol girang bukan main.
Mereka kembali berlarian ke arah hutan mencari tempat yang teduh, lalu beristirahat tidur-tiduran di atas rumput.
See-bun Souw Ya mencoba menunggu kedatangan ketiga orang yang jadi sasarannya itu.
Tetapi sampai matahari mulai condong ke arah barat, belum juga tampak orang-orang yang ditunggunya itu.
Saat See-bun Souw Ya akan memberi abaaba untuk berangkat, mendadak terdengar suara seruling yang sangat merdu.
See-bun Souw Ya memandang ke arah suara seruling itu.
Di sana dia lihat seseorang yang berpakaian seperti seorang sastrawan, berumur sekitar limapuluhan.
Orang itu sedang 868 meniup seruling sambil berjalan dengan santai ke arah mereka.
Sebenarnya di warung teh banyak tentara Mongol, tetapi sastrawan ini tidak gentar sedikit pun, malah seolah dia tidak melihat mereka.
Dia langsung masuk ke dalam warung teh, kemudian menyimpan serulingnya Sastrawan itu masuk ke dalam warung teh tersebut.
"Permisi, numpang duduk!"
Kata sastrawan itu. Mata tentara Mongol mendelik ke arah sastrawan itu. Melihat akan terjadi keributan See-bun Souw Ya sudah langsung memberi perintah.
"Kalian sudah lama minum teh di sini, berikan saja tempat dudukmu pada orang itu!"
Kaa See-bun Souw Ya. See-bun Souw Ya sangat berpengalaman. Begitu melihat sastrawan itu dia menduga orang itu bukan orang sembarangan.
"Kelihatannya orang ini luar biasa, matanya bersinar, napasnya tenang. Mungkin dia seorang sastrawan biasa, tetapi dia seorang pesilat tinggi!"
Pikir See-bun Souw Ya.
Orang itu duduk di kursi yang diberikan tentara Mongol itu kepadanya.
Sebelum duduk dia sempat memberi hormat kepada See-bun Souw Ya.
Itu sebagai tanda terima kasihnya.
Sesudah itu dia duduk dengan tenang, tak lama pelayan menyuguhkan teh padanya.
Sesudah menikmati teh yang disajikan pelayan, tiba-tiba dia memuji minumannya.
"Teh yang harum dan nikmat, sungguh nikmat!"
Katanya. Seorang tentara Mongol mentertawakannya.
"Teh ini pahit sekali, bagaimana kau bilang teh ini nikmat?"
Kata prajurit Mongol itu.
"Teh yang harum dan baik tentu saja rasanya pahit,"
Kata sastrawan itu.
"Karena sehabis pahit akan datang rasa manis, sungguh baik sekali,"
Kata sastrawan itu. Mendengar kata-kata sastrawan itu See-bun Souw Ya langsung tergerak hatinya. Dia mendekati sastrawan itu.
"Tuan benar-benar seorang sastrawan sejati. Hari ini aku beruntung bisa berjumpa dengan Anda. Bagaimana jika kita jadi sahabat satu sama lain?"
Kata See-bun Souw Ya. Sastrawan itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau mau bersahabat denganku, memang itu yang kuharapkan! Terus-terang, hari ini aku sedang kesulitan tidak punya uang sama sekali. Maukah Anda membayari teh yang aku minum ini?"
Kata sastrawan itu.
"Benarkah dia seorang sastrawan atau bukan? Lalu bagaimana aku mengujinya?"
Pikir See-bun Souw Ya. Selesai berpikir dia langsung berkata pada sastrawan itu.
"Ah, Anda bergurau mengatakan tidak punya uang!"
Kata See-bun Souw Ya. Sastrawan itu melotot.
"Jadi kau tidak bersedia membayariku?"
Kata sastrawan itu.
"Oh, jangan salah mengerti! Aku bersedia membayari Anda! Jangankan hanya membayarimu minum teh, aku pun siap mem-bayarimu minum arak! Tetapi sayang warung ini tidak menjual arak! Bagaimana apakah Anda bersedia melakukan perjalanan bersama kami? Malam ini pasti kita akan sampai di sebuah kota. Kita akan minum 870 arak di sana sampai mabuk!"
Kata See-bun Souw Ya tersipusipu.
"Aku senang dan berterima kasih atas ajakan Anda tetapi sayang aku tidak punya waktu!"
Kata sastrawan itu kelihatan malas-malasan.
"Sayang sekali!"
Kata See-bun Souw Ya.
"Kita cuma kebetulan bertemu di sini, lalu apa yang harus disayangkan?"
Kata sastrawan itu. See-bun Souw Ya tersenyum.
"Kau sangat pandai meniup seruling,"
Kata See-bun Souw Ya "Suara serulingmu merdu dan menyedapkan di telinga. Hari ini kita harus berpisah dan entah kapan lagi bisa bertemu kembali. Bagaimana kalau Anda meniup serulingmu untukku?"
Sastrawan itu tertawa mendengar See-bun Souw Ya meminta dia meniupkan sebuah lagu untuknya "Baiklah, karena Anda membayari teh yang kuminum, sudah pasti aku akan meniup seruling membawakan sebuah lagu untuk Anda!"
Katanya.
Tak lama dia sudah mulai mengeluarkan seruling dari sakunya dan mulai meniup sebuah lagu.
Suara seruling itu sangat merdu.
Tapi lama-kelamaan nada suara seruling itu mirip dengan suara tangisan yang memilukan.
Banyak tentara Mongol yang menikmatinya terbuai dan terkenang pada kampung halamannya masing-masing.
"Nada seruling itu sangat memilukan,"
Pikir See-bun Souw Ya.
"jika dilanjutkan, mungkin aku tidak akan tahan...."
Tiba-tiba See-bun Souw Ya tersentak.
"Celaka! Apakah dia sedang mengacaukan pikiranku dengan suara serulingnya?"
Saat See-bun Souw Ya akan menyuruh sastrawan itu menghentikan suara serulingnya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda.
Kemudian tampak tiga penunggang kuda di depan warung itu.
Ternyata mereka itu Kok Siauw Hong cs.
Rupanya kedatangan mereka sedang mengejar Ih Hua Liong.
Ketika Cong Siauw Hu mendengar suara seruling si sastrawan dia kelihatan girang bukan kepalang.
"Ah rupanya di sini telah ada kawan kita, jadi tidak perlu cemas. Mari kita temui dua Iblis Tua itu!"
Siang-koan Po Cu pun girang.
"Tidak dikira orang yang akan kita temui di rumah Han Tay Hiong, ternyata ada di sini!"
Kata Siang-koan Po Cu.
Sebenarnya Kok Siauw Hong sangat cemas, karena belum tentu mereka sanggup mengalahkan kedua Iblis Tua itu.
Ketika mendengar kedua suami isteri itu berbicara begitu, dia tertegun.
"Siapa orang itu?"
Kata Siauw Hong.
"Dia Bu-lim Thian-kiauw (Orang cerdas Rimba Persilatan)."
Kata Cong Siauw Hu menjelaskan. Mendengar keterangan itu Kok Siauw Hong girang.
"Kiranya dia! Jadi aku tidak perlu cemas!"
Pikir Kok Siauw Hong. Seruling itu terbuai oleh suara seruling itu. Mereka seolah tidak melihat kehadiran Kok Siauw Hong cs.
"Bagus! Kok Siauw Hong, kau bernyali besar hingga masih berani datang ke mari!"
Kata Chu Kiu Sek.
"Kau datang ke warung ini untuk minum teh, mengapa aku tidak?"
Kata Kok Siauw Hong.Kok Siauw Hong cs melompat turun dari kuda mereka.
Dengan tidak menghiraukan katakata Chu Kiu Sek dengan santai Kok Siauw Hong cs masuk ke dalam warung.
Chu Kiu Sek melirik ke arah See-bun Souw Ya, See-bun mengibaskan tangannya, kemudian mengawasi ke arah si sastrawan yang sedang meniup seruling, saat itu seolah dia ingin bilang bahwa kedatangan musuh yang baru itu tidak perlu dihiraukan.
Melihat hal itu Chu Kiu Sek mengerutkan keningnya Dalam waktu bersamaan terdengar para prajurit Mongol menangis sedih.
See-bun Souw Ya berdiri sambil membentak.
"Hentikan serulingmu! Jangan kau tiup lagi!"
Kata See-bun Souw Ya. Bentakan See-bun Souw Ya bagaikan suara guntur yang menggelegar, hingga menghentikan tangisan para prajurit Mongol. Si sastrawan menghentikan serulingnya.
"Apa Anda sudah puas mendengar suara serulingku ini?"
Kata dia. See-bun Souw Ya tertawa.
"Ternyata kau Cendekiawan Tam, rupanya aku salah mata. Mohon bertanya, apa maksud kedatangan Anda ke mari?"
Kata See-bun Souw Ya.
Memang sastrawan itu bernama Tam Yu Cong, seorang cendekiawan yang bekerja di Kerajaan Kim.
Namun karena tidak puas oleh tindakan Raja Kim, dia meninggalkan istana dan merantau sebagai pengelana.
Kaum Rimba Persilatan memberi gelar kepadanya dengan gelar Bu-lim Thian-kiauw kepadanya.
Isteri Tam Yu Cong bernama See Kian Yun kakakberadik dengan isteri Souw Goan Tiak dan bernama See Lian Ceng-sia.
Dugaan Cong Siauw Hu benar, Souw Goan Tiak memang mengutus Tam Yu Cong ke rumah Han Tay Hiong untuk bertemu dengan mereka.
Ketika Tam Yu Cong sampai ke rumah Han Tay Hiong, ternyata rumah Han Tay Hiong telah musnah.
Harta itu sudah tidak ada di sana.
Dia mendapat khabar bahwa harta yang sedang dikawal oleh anggota Kay-pang berhasil dirampok oleh kedua Iblis Tua dan dibawa ke arah barat.
Oleh sebab itu Tam Yu Cong tidak menunggu sampai Cong Siauw Hu dan isterinya tiba, dia langsung berangkat mengejar para perampok harta itu.
"Aku ke sini untuk minum teh! Bukankah kau sudah bilang kau mau membayariku?"
Kata Tam Yu Cong.
"Saudara Tam, kau jangan main sandiwara, sebenarnya apa maumu?"
Kata See-bun Souw Ya. Tam Yu Cong tertawa.
"Bukankah sudah aku bilang tadi, aku tidak punya uang? Kau bilang kau ingin bersahabat denganku, maka aku ingin meminjam uang darimu untuk membayar teh!"
Kata Tam Yu Cong. See-bun Souw Ya mengawasinya.
"Oh! Aku tahu sekarang, kau datang ke mari untuk harta itu, bukan?"
Kata See-bun Souw Ya. Tam Yu Cong tertawa dingin.
"Benar!"
Kata Tam Yu Cong.
"Ternyata kau cepat tanggap dalam soal ini!"
See-bun Souw Ya kaget.
"Dia dengan Siang Auw Kan Kun sangat terkenal. Untung hanya dia yang datang, barangkali dia masih dapat kuatasi,"
Pikir See-bun Souw Ya yang tidak ingin menunjukkan kelemahannya.
"Jika kau menginginkan harta itu, kau harus menunjukkan dulu kepandaianmu padaku!"
Kata See-bun Souw Ya. Tam Yu Cong tertawa terbahak-bahak.
"Tentu! Itu sudah tentu! Jika aku tidak menunjukkan kepandaianku, mana enak aku mengambil harta itu. Baiklah, aku akan meniup sebuah lagu untukmu!"
Kata Tam Yu Cong.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 31 Tadi See-bun Souw Ya maupun Chu Kiu Sek dan anak buahnya sudah tahu, betapa lihaynya seruling Tam Yu Cong yang telah mempengaruhinya.
Ketika See-bun Souw Ya mendengar Tam Yu Cong akan meniup serulingnya See-bun Souw Ya membentak.
"Sastrawan Tam, jangan kau lakukan lagi, kau sangat menghinaku! Aku tahu kau pesilat tinggi dari Kerajaan Kim, tapi aku juga bukan orang yan tidak ternama. Hari ini beruntung kita bertemu di sini, bagaimana jika kita mencoba kepandaian di sini!"
Kata See-bun Souw Ya. Tam Yu Cong tertawa.
"Tadi kau yang meminta aku meniup seruling, sekarang kau pula yang menyuruh jangan. Aku tidak peduli, apakah kau mau mendengar atau tidak, tapi aku tetap akan meniup serulingku!"
Kata Tam Yu Cong.
Usai berkata Bu-lim Thian-kiauw Tam Yu Cong mulai meniup serulingnya Dia meniup serulingnya sambil berdiri.
Sambil meniup seruling dia berjalan ke luar warung.
Mula-mula suara seruling itu seperti suara ombak yang menderu-deru.
Sekalipun lwee-kang See-bun Souw Ya tinggi, tapi otaknya tetap terganggu oleh suara seruling itu.
Karena tidak tahan See-bun Souw Ya membentak.
"Bedebah! Kau berani mempermainkan aku!"
Kata See-bun Souw Ya. Dia langsung mengerahkan ilmu Hua-hiat-to sampai tingkat delapan dan menyerang Bu-lim Thian-kiauw Tam Yu Cong.
"Ah aku tidak berani main-main pada Anda!"
Kata Tam Yu Cong.
Tetapi tak lama dia kibaskan serulingnya.
Seketika itu juga tampak bayangan serulingnya berkelebat-kelebat.
Pukulan See-bun Souw Ya yang bau amis buyar terbawa angin kibasan seruling Tam Yu Cong yang lihay.
Malah bayangan seruling itu telah mengurung tubuh See-bun Souw Ya.
Seruling itu mengeluarkan suara dahsyat yang menderuderu sangat tajam.
Ini membuat See-bun Souw Ya terperanjat bukan kepalang, dan pikirannya jadi kacau.
Mau tidak mau serangan See-bun Souw Ya jadi kacau dan bisa dikatakan telah buyar.
Tidak lama kelihatan See-bun Souw Ya mulai terhuyung-huyung ke belakang sebanyak tiga langkah.
Kakek guru Tam Yu Cong seorang tokoh persilatan yang aneh, dia ahli silat dan ahli sastra juga.
Saat dia menciptakan Ciak-hu-sin-siauw (Ilmu Seruling Sakti), sang 876 kakek menggunakan syair dari Dinasti Tang pada setiap jurusnya Demikian juga nada seruling yang diciptakannya.
See-bun Souw Ya memang lihay sekalipun ilmu silatnya mulai kacau, dia tetap tenang dan tidak panik.
"Kung-fu apa yang kau gunakan itu? Beranikah kau bertarung dengan kung-fu yang wajar?"
Kata See-bun Souw Ya pada Tam Yu Cong. Karena tidak mendapat jawaban See-bun Souw Ya menyerang lagi dengan cengkraman tangan kanannya, sedang tangan kirinya menyerang dengan jurus Hua-hiat-to.
"Aku yakin kau tidak tahu tentang ilmu Seruling Sakti, kenapa kau menyalahkan aku?"
Kata Tam Yu Cong.
Tam Yu Cong mulai meniup serulingnya dengan syair Dinasti Tang.
Kini dia gunakan gin-kangnya sehingga tampak bayanganya bergerak kian-kemari.
Sekalipun See-bun Souw Ya memperhebat ilmu cengkraman Hua-hiat-to-nya, namun dia tidak mampu menyentuh tubuh Tam Yu Cong, jangankan tubuhnya pakaiannya pun dia tidak mampu menyentuhnya.
Tam Yu Cong terus meniup lagu lain, sesudah itu baru dia melintangkan serulingnya di depan dadanya.
Jurus tersebut indah sekali, walau tampak sangat sederhana, tetapi banyak perubahan-perubahan sehingga mampu melakukan serangan baik ke arah se-bun Souw Ya.
Sekarang See-bun Souw Ya sudah menyadari lihay-nya serangan Tam Yu Cong ini, buruburu dia tarik serangannya.
Melihat lawan menarik serangannya Tam Yu Cong tertawa.
"Bukankah tadi kau menantangku bertarung secara jantan, kali ini akan aku tunjukkan kelihayanku!"
Kata Tam Yu Cong sambil tersenyum.
Seketika itu tampak seruling di tangan Tam Yu Cong menunjuk kian-kemari, dengan demikian bayangan seruling itu berkelebat pula kian kemari.
Seruling itu terbuat dari batu giok.
Tetapi di tangan Tam Yu Cong seruling itu bisa diubah dijadikan pedang ataupoan-koan-pit (senjata mirip alat tulis Tionghoa yang bernama pit, red).
Karena ujung seruling berkali-kali bergerak ke arah See-bun Souw Ya dan mengarah ke jalan darah lawan yang akan ditotoknya, serangan gencar itu membuat See-bun Souw Ya tidak sempat menggunakan jurus Hua-hiat-to, karena terus didesak.
Diam-diam dia cemas juga.
"Ternyata Tam Yu Cong yang bergelar Bu-lim Thiankiauw bukan nama kosong! Dia memang pantas mendapat gelar tersebut!"
Pikir See-bun Souw Ya.
Tadi tentara berkuda Mongol diam saja dan tidak memperhatikan pertarungan itu.
Tetapi saat melihat See-bun Souw Ya mulai terdesak, wajah mereka berubah.
Sebagian tentara yang tadi tidur-tiduran di rumput, sekarang sudah bangun dan menyerbu ke arah warung teh dan kini warung itu terkepung oleh mereka.
Chu Kiu Sek mulai cemas.
"Tampaknya aku harus bergabung dengan See-bun Souw Ya mengeroyok orang itu. Aku sudah tidak perlu memakai aturan kalangan Kang-ouw lagi!"
Pikir Chu Kiu Sek.
"Jika aku tidak segera ikut membantu See-bun Souw Ya, setelah dia kalah aku bukan lawan dia lagi!"
Tiba-tiba Chu Kiu Sek membentak keras.
"Cepat tangkap ketiga orang itu!"
Kata Chu Kiu Sek. Dia langsung bergabung dengan See-bun Souw Ya menyerang ke arah Tam Yu Cong.
"Phui! Dasar Iblis Tua tidak tahu malu!"
Bentak Siauw Hong.
Kok Siauw Hong bergerak cepat menghunus pedangnya dan menyerang Chu Kiu Sek, sedang Chu Kiu Sek buruburu membalikkan tangannya melancarkan pukulan ke belakang.
Pukulan itu membuat Kok Siauw Hong terpaksa harus berkelit dan Chu Kiu Sek terus maju ke depan akan membantu See-bun Souw Ya.
Saat itu tentara Mongol sudah mulai menyerang.
"Siauw Hu!"
Teriak Tam Yu Cong.
"Jika kalian tidak segera merebut harta itu mau tunggu kapan lagi?"
Mendengar teriakan itu Cong Siauw Hu dan isterinya menghunus pedang mereka.
Mereka langsung menyerang tentara Mongol.
Hanya dalam waktu sekejap beberapa tentara Mongol berhasil mereka lukai.
Cong Siauw Hu bergerak mendekati Kok Siauw Hong seraya berkata perlahan.
"Kedua Iblis Tua itu lihay, tetapi mereka bukan tandingan Tam Yu Cong. Mari kita rampas harta itu!"
Kata Cong Siauw Hu.
"Baik,"
Kata Kok Siauw Hong.
Chu Kiu Sek menyerang Tam Yu Cong dengan jurus Siu-loim-sat-kang tingkat delapan ke arah Tam Yu Cong.
Serangan itu mengandung hawa dingin yang luar biasa Saat pukulan itu hampir mengenai bahunya, Tam Yu Cong menggeser tubuhnya, dan langsung meniup serulingnya Chu Kiu Sek merasakan ada angin panas menyerang ke arahnya, membuat dia sulit benapas.
Pukulan Chu Kiu Sek tidak berhasil melukai Tam Yu Cong, tetapi sebaliknya Chu Kiu Sek yang jadi kedinginan.
Ketika itu seolah dia berada di tumpukan salju yang sangat dingin.
Seruling Tam Yu Cong suling yang ajaib, saat ditiup mengeluarkan udara hangat dan mampu membuyarkan jurus Siu-lo-im-sat-kang milik Chu Kiu Sek.
Jika satu lawan satu pasti Chu Kiu Sek sudah terjungkal di tangan Tam Yu Cong, tetapi karena dia bergabung dengan See-bun Souw Ya mereka j adi seimbang.
Chu Kiu Sek menyerang dengan pukulan yang mengeluarkan hawa dingin, See-bun Souw Ya serangannya berbau amis.
Sedangkan seruling Tam Yu Cong mengeluarkan hawa hangat.
Jadi tidak heran jika di tengah gelanggang terjadi beberapa kali perubahan.
Sebentar dingin, sebentar bau amis, dan kemudian terasa hangat.
Sedang tentara Mongol hanya mengepung gelanggang tanpa berani maju membantu dua Iblis Tua itu.
Tentara Mongol yang mengawal harta rampasan itu terdiri dari prajurit Mongol pilihan, tidak heran jika Cong Siauw Hu dan isterinya tidak mudah bisa segera merebut harta yang mereka jaga.
Ketika Tam Yu Cong meniup serulingnya saat bertarung dengan kedua Iblis Tua itu, suara seruling itu mau tidak mau berpengaruh juga kepada tentara Mongol yang menjaga harta Tiba-tiba mereka yang gagah berani mengawal harta dari serbuan Cong Siauw Hu dan isterinya itu, mulai kelihatan limbung bagaikan orang yang mabuk arak.
Semangat tentara Mongol itu mulai buyar.
Taluwa yang memimpin pasukan Mongol itu maju.
Dia adalah orang yang memanah Kok Siauw Hong tempo hari.
Menyaksikan situasi mulai tidak menguntungkan bagi pihaknya dia buru-buru melompat ke atas kudanya dan mengambil busur siap memanah ke arah Kok Siauw Hong yang mulai maju akan membantu Cong Siauw Hu dan isterinya.
Kok Siauw Hong sudah tahu betapa lihaynya panglima Mongol ini menggunakan panah.
Kebetulan saat maju dia 880 berada dekat dengan dua tentara Mongol.
Pada saat terdengar suara busur menjepret, Kok Siauw Hong sudah langsung berkelit, lalu menyaambar salah seorang prajurit Mongol yang ada di dekatnya itu Saat terdengar tali busur kembali menjepret tak lama terdengar jeritan dari prajurit yang ada di tangan Kok Siauw Hong.
Rupanya Kok Siauw Hong menggunakan prajurit Mongol sebagai tameng baginya.
Anak panah Taluwa itu menancap di dada prajurit itu.
Nyawanya seketika itu juga melayang.
Bukan main gusarnya Taluwa.
Kembali dia memanah Kok Siauw Hong sebanyak tiga kali.
"Seer! Seer! Seer!"
Terdengar desingan anak panah ke arah Kok Siauw Hong.
Dengan cepat Kok Siauw Hong menunduk mengelak anak panah yang tertuju ke mukanya, anak panah yang kedua dia tangkis dengan pedang, sesudah itu Kok Siauw Hong berkelit menghindari anak panah ketiga yang melewati sisi kanan tubuhnya Kok Siauw Hong tidak tinggal diam dia bergerak cepat, sesudah terhindar dari tiga anak panah Taluwa dia merebut salah sebuah tombak dari prajurit Mongol.
Kemudian tombak itu disambitkan ke arah Taluwa.
Taluwa tahu dia diserang, dia tangkis tombak yang meluncur ke arahnya itu dengan busur di tangannya Tak lama terdengar suara keras.
"Pletak,braak!"
Ternyata busur di tangan Taluwa patah dua Melihat senjata ampuh lawan telah patah Kok Siauw Hong melompat ke arah kudanya. Dia segera memacu kuda itu.
"Taluwa kau mau lari ke mana?"
Kata Kok Siauw Hong.
Saat itu tentara Mongol sudah dalam keadaan kocar-kacir diserang oleh Cong Siauw Hu dan isterinya Dengan demikian tidak ada tentara Mongol yang menghalangi Kok Siauw Hong mengejar Taluwa Kuda Taluwa kalah cepat oleh Siauw-pek-liong, kuda milik Kok Siauw Hong.
Tidak berapa lama Taluwa sudah terkejar oleh Kok Siauw Hong.
Taluwa akhli panah, tapi sekarang di tangannya sudah tak ada busur panah andalannya.
Saat Kok Siauw Hong menyerang dia dengan Cit-siu-kiam-hoat, dalam beberapa jurus Taluwa sudah mulai kewalahan.
Bahkan tak lama kemudian Taluwa sudah terjungkal dari atas kudanya.
Saat Taluwa mencoba kabur dengan berlari, Kok Siauw Hong merampas tombak prajurit Mongol.
Dengan tombak itu dia sambit Taluwa dengan sekuat tenaga.
"Aaakh!"
Jerit Taluwa.
Punggung Taluwa tertembus tombak yang disambitkan oleh Kok Siauw Hong.
Maka tewaslah panglima Mongol yang gagah berani itu.
Sesudah Taluwa tewas tentara Mongol sudah tidak bersemangat untuk mngadakan perlawanan.
Mereka serabutan melarikan diri.
Ketika itu Kok Siauw Hong dan suami isteri ituhampir berhasil merebut harta itu.
Tiba-tiba Kok Siauw Hong terkejut bukan kepalang saat mendengar suara derap kaki kuda.
Dia mengira itu pasti bala-bantuan dari tentara Mongol.
Dengan munculnya pasukan Mongol baru, tidak mungkin mereka akan berhasil merebut harta itu dari tentara Mongol.
Tetapi mendadak dia mendengar seman Cong Siauw Hu.
"Apakah yang datang itu Saudara Bong?"
Teriak Cong Siauw Hu Mendengar seruan itu pemimpin orang yang naik kuda itu maju lebih cepat sambil membantai tentara Mongol yang mencoba melarikan diri.
"Benar aku! Malah aku datang bersama saudara Tu!"
Sahut orang itu.
Sesudah pasukan berkuda itu dekat Kok Siauw Hong baru mengenali, bahwa itu bukan pasukan Mongol.
Orang yang berada paling depan pria bewokan.
Di sampingnya lelaki berumur pertengahan, dia berpakaian seperti seorang sastrawan, Kok Siauw Hong mengenali pria itu, dia adalah Tu Hok.
Bukan main girangnya Kok Siauw Hong.
"Cong Tay-hiap, siapa orang yang kau panggil Saudara Bong itu?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Jadi kau belum kenal padanya, dia pemimpin pejuang yang bermarkas di gunung Ciak-lo, namanya Bong Cian!"
Kata Cong Siauw Hu sambil tersenyum. Tentara Mongol sudah kabur semuanya. Sedang Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya pun sulit menghadapi Tam Yu Cong. Mereka pun mulai gelisah.
"Keadaan sudah berubah lebih baik kabur!"
Pikir Chu Kiu Sek.
Begitu juga yang ada di benak See-bun Souw Ya.
Mereka langsung menyerang beruntun bersama-sama, hingga Tam Yu Cong sibuk menangkis serangan itu.
Saat itu digunakan kedua Iblis Tua untuk kabur.
Cong Siauw Hu dan isterinya akan mengejar kedua Iblis Tua itu, tetapi Tam Yu Cong mencegahnya.
"Biarkan mereka pergi!"
Kata Tam Yu Cong. Beng Cian dan Tu Hok menghampiri Tam Yu Cong yang memang merupakan sahabat lama. Mereka tertawa-tawa girang.
"Aku datang bersama Yo Si-ko,"
Kata Tu Hok.
"Semalam aku baru tiba di Ciak-lo-san dan bertemu Bong Cian. Sedang Yo Si-ko sedang pergi mengurus suatu urusan. Aku diminta saudara Bong Cian untuk membantunya. Tidak kusangka hari ini kita bertemu di sini!"
Bong Cian ketika itu ingin pergi ke lembah Ceng Liong, Tetapi di tengah perjalanan mereka mendengar suara pertempuran.
Dengan demikian sekarang mereka berhasil merebut kembali harta yang telah dirampok itu.
"Mari aku perkenalkan, ini Kok Siauw-hiap,"
Kata Cong Siauw Hu. Tu Hok tertawa.
"Aku pernah bertemu dengannya di Pek-hoa-kok. Saudara Kok aku dengar kau mengalami bencana di lembah Ceng Liong Aku jadi cemas sekali, untung kau selamat! Dan kuucapkan selamat!"
Kata Tu Hok. Bong Cian tertegun.
"Ah kiranya dia Kok Siauw-hiap. Dua hari yang lalu ada dua orang sedang mencarimu!"
Kata Bong Cian. Kok Siauw Hong kaget.
"Siapa mereka itu?"
Kata Siauw Hong.
"Seorang pria dan seorang wanita, yang pria bernama Seng Liong Sen, sedang yang wanita bernama Ci Giok Hian!"
Jawab Bong Cian. Kok Siauw Hong memang sudah sangat kangen ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu, begitu dia dengar Ci Giok Hian mencari dia maka Kok Siauw Hong pun girang bukan kepalang.
"Oh!"
Kata Siauw Hong.
"Mereka bilang apa?"
"Nona Ci memberitahu aku bahwa kau tewas di lembah Ceng Liong..."
Kata Bong Cian. Kok Siauw Hong tertegun.
"Dia... dia mengira aku telah tewas?"
"Sayang, aku tidak menanyakannya dengan jelas kepadanya,"
Jawab Bong Cian.
"Tetapi tampaknya dia sangat yakin. Mungkin dia mendengar kabar itu dari orang yang selamat dari bencana di lembah Ceng Liong."
Kok Siauw Hong tertegun tapi tiba-tiba dia sadar.
"Oh, dia datang ke sana dan bertemu dengan anggota Kay-pang yang selamat, maka itu mereka memberitahu Giok Hian mengenai keadaanku. Ketika itu kudaku terpanah hingga aku terjatuh ke dalam lembah. Tidak heran kalau orang-orang menyangka aku telah tewas. Tapi siapakah Seng Liong Sen itu?"
Kata Kok Siauw Hong bingung.
"Seng Liong Sen murid Bu-lim Beng-cu daerah Kang-lam bernama Bun Ek Hoan!"
Kata Tu Hok.
"Aneh, padahal Giok Hian tidak pernah ke Kang-lam, dia juga tidak pernah bilang dia kenal dengan murid Bun Tayhiap. Tapi bagaimana mereka bisa berjalan bersama?"
Pikir Siauw Hong.
Tu Hok sahabat Han Tay Hiong.
Dia kurang senang mendengar Kok Siauw Hong membatalkan pertunangannya dengan puteri Han Tay Hiong, saat di lembah Pek-hoa-kok, dia tidak mau berterus terang, takut dianggap ikut campur urusan orang lain.
Saat dia melihat wajah Kok Siauw Hong agak murung, dia langsung bicara.
"Kok Siauw-hiap, jangan kau anggap aku usil. Dalam keadaan kacau seperti sekarang, seorang lelaki berpisah dengan wanita itu sudah wajar. Jangan hanya karena seorang wanita, lalu kau melalaikan tugasmu. Oh, ya, kau sudah membatalkan pertunanganmu dengan keluarga Han, bukan? Aku dengar Han Lo Eng-hiong mendapat musibah. Sekarang pun aku belum tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal? Karena hubungan keluarga kalian maka kau tidak boleh tinggal diam! Sekarang Ci Giok Hian sudah punya pilihannya, menurutku kau jangan terlalu memikirkannya!"
Kata Tu Hok.
Sekalipun Tu Hok tidak terang-terangan namun di balik ucapannya dia ingin mengatakan, bahwa hati Ci Giok Hian "kini telah berubah", rupanya Tu Hok ingin menyadarkan Kok Siauw Hong.
Hati Kok Siauw Hong terasa pedih mendengar kata-kata Tu Hok tersebut.
"Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Aku tahu Ci Giok Hian berani menanggung risiko apapun demi aku, mana mungkin hatinya akan berubah begitu cepat terhadapku?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Walau demikian Kok Siauw Hong curiga juga.
Dia tahu Tu Hok tidak akan bicara sembarangan, pasti orang tua ini telah melihat mereka mesra berduaan.
Beberapa saat Kok Siauw Hong termenung-menung.
Tapi kemudian dia berkata.
"Kebetulan aku sudah tahu 886 jejak Paman Han, maka aku harus segera ke sana. Tapi Giok Hian ke mana, apakah dia memberitahu Cian-pwee?"
"Aku pernah mengundang mereka agar datang ke Kim-keeleng, tetapi dia tidak bersedia!"
Kata Tu Hok.
"Sayang dia tidak memberitahuku mau ke mana dia? Tetapi yang kuketahui Seng Liong Sen harus pulang ke Kang-lam. Maka sebagai sahabat, apakah Nona Ci ikut dengannya ke Kanglam?"
"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi mencari Paman Han,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Apa kau perlu kubantu?"
Tanya Tu Hok. Saat itu hati Kok Siauw Hong sedang kacau, maka itu dia menjawab sekenanya.
"Maaf, aku tidak berani merepotkan Cian-pwee!"
Kata Siauw Hong. Tiba-tiba Tam Yu Cong bertanya pada Siauw Hong.
"Sebenarnya Han Lo Eng-hiong jatuh di tangan siapa?"
Kata Tam Yu Cong.
"Aku tidak mengetahuinya dengan jelas,"
Jawab Kok Siauw Hong.
"Tetapi berdasarkan jejak yang kuketahui, sekarang Paman Han ditahan di suatu tempat yang sangat rahasia. Tempat itu letaknya tidak jauh dari rumahnya. Majikan tempat itu seorang wanita berkepandaian tinggi, dia dibantu oleh See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek!"
"Benarkah begitu?"
Tanya Tam Yu Cong.
Kok Siauw Hong menceritakan apa yang diketahuinya tentang Beng Cit Nio yang bertempat tinggal di balik air terjun itu.
Mendengar keterangan itu semua tercengang.
Tu Hok manggut-manggut "Memang sebagian cerita tentang Han Lo Eng-hiong sudah kuketahui, namun seperti yang kau ceritakan aku pun tidak tahu dengan jelas!"
Kata Tu Hok pada Kok Siauw Hong.
"Masa ini wanita berkepandaian tinggi bisa dihitung dengan jari, tapi mengapa aku tidak pernah mendengar tentang wanita gagah itu?"
Kata Tam Yu Cong.
"Dia memang berilmu tinggi, kelihatannya juga dia bukan orang jahat!"
Kata Siauw Hong.
"Malah ketika aku masih kecil dia pernah menyelamatkan nyawaku!"
Kok Siauw Hong mengisahkan kejadian masa kecilnya di rumah Han Tay Hiong.
"Kalau begitu wanita itu baik,"
Kata Tam Yu Cong.
"Tetapi kenapa dia berhubungan dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek dan menyusahkan Han Lo Eng-hiong?"
"Mengenai masalah itu aku tidak tahu,"
Kata Siauw Hong.
"Sekarang kedua Iblis Tua itu sudah kabur, mungkin mereka tidak berani datang lagi ke tempat itu. Aku akan mencari Paman Han di sana. Mudah-mudahan wanita itu tidak mencelakai aku!"
Tu Hok memang punya urusan lain, ketika mendengar Kok Siauw Hong begitu yakin, dia berkata pada anak muda itu.
"Kau tidak butuh bantuanku, kalau begitu cepatlah kau ke sana! Semoga kau berhasil menemukan Han Lo Enghiong. Jika sudah bertemu ajak beliau ke Kim-kee-leng!"
Kata Tu Hok.
"Baik,"
Kata Siauw Hong.
Tak lama mereka berpisahan.
Tam Yu Cong bersama Cong Siauw Hu dan isterinya mengantarkan harta ke See-888 lian-san.
Tu Hok pun pamit pada Bong Cian.
Dia harus segera kembali ke Kim-kee-leng memberi laporan pada Hong-lay-mo-li.
Dengan menunggang kudanya Kok Siauw Hong seorang diri melakukan perjalanan.
Di sepanjang jalan dia tidak mendapat halangan, maka itu tak lama Kok Siauw Hong sudah sampai di rumah Han Tay Hiong yang sebagian telah menjadi puing.
Begitu sampai kelihatan wajah pemuda ini jadi murung.
"Tidak aku sangka pembahan bisa begitu cepat terjadi, hanya dalam beberapa bulan semua sudah berubah!"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Sebenarnya aku sudah berjanji akan bertemu dengan Ci Giok Hian di rumah Paman Han ini. Tidak kusangka rumah ini telah men-jadi puing, sedangkan Giok Hian sekarang entah ke mana? Aaah, apakah benar seperti kata Tu Hok dia telah berubah. Sekarang cintanya telah dialihkan pada pemuda bernama Seng Liong Sen? Sekalipun dia dengar aku sudah binasa, tidak mungkin begitu cepat jatuh hati pada pemuda lain."
Ketika itu hari sudah senja...
"Di mana aku harus bermalam?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Ah, di sini masih ada kamar yang tidak terbakar. Itu kamar Pwee Eng! Tapi apa salahnya aku tidur di sini, besok baru aku mencari Paman Han!"
Sampai saat itu dia masih berpikir Ci Giok Hian masih akan datang ke tempat itu.
Rumah Han Tay Hiong telah dibakar oleh See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek, sebagian rumah itu telah musnah dilalap api.
Sekarang yang masih tertinggal hanya sebuah kamar milik nona Han.
Kok Siauw Hong bukan orang yang banyak pantangan.
Setelah melakukan perjalanan berhari-hari yang 889 melelahkan, akhirnya dia pun kepayahan juga.
Sekarang dia ada di rumah Han Tay Hiong, kemudian dia langsung berjalan menuju ke kamar Han Pwee Eng yang masih dalam keadaan utuh tidak terbakar.
"Aku tidak tahu apakah khabar tentang Ci Giok Hian itu benar atau tidak?"
Pikir pemuda ini.
"Tetapi yang jelas sudah ada orang yang melihat dia berjalan berdua dengan Seng Liong Sen! Dan Han Pwee Eng entah pergi ke mana? Jika dia pulang dan melihat aku tidur di kamarnya, mungkin dia akan memarahiku?"
"Mana mungkin di dunia ini bisa ada kejadian yang kebetulan? Aku sudah di sini, lebih baik aku tidur di kamar ini saja!"
Pikir Kok Siauw Hong. Dia singkap kelambu. Seketika itu tercium bau harum, tanpa sadar dia tertawa sendiri.
"Tujuan kedatanganku ke Lok-yang untuk membatalkan pertunanganku dengan Han Pwee Eng. Tetapi tidak aku kira malam ini malah aku tidur di ranjang Han Pwee Eng. Kalau orang sampai mengetahui hal ini, sungguh aku tidak punya muka untuk bertemu orang lagi!"
Pikir Kok Siauw Hong.
Saat Kok Siauw Hong akan meletakkan kepalanya ke bantal, dia melihat sarung bantal bersulam sepasang burung Wan-yo (Walet).
Sarung bantal itu kelihatan masih baru.
Di sisi atas bantal itu terdapat syair dua baris.
"Mudahmudahan panjang umur dan hibup bahagia selamanya."
Rupanya bantal itu disulam oleh Han Pwee Eng dengan diam-diam.
Mungkin sarung bantal itu untuk kenang-kenangan hari pernikahannya Namun, suatu hari sulaman sarung bantal itu terlihat oleh pelayannya, lalu menggurauinya Hal itu membuat Han Pwee Eng merasa malu dan sarung bantal itu dia biarkan di situ tidak dibawa 890 saat dia mau ke Yang-cou menikah dengan Kok Siauw Hong.
Melihat sarung bantal itu Kok Siauw Hong tertegun, hatinya terasa pedih.
"Han Pwee Eng menyulam sarung bantal ini dengan penuh rasa cinta kepadaku. Mana dia sangka aku malah akan membatalkan pernikahan itu, hingga membuat dia malu! Aaah! Aku bersalah besar kepadanya!"
Pikir Kok Siauw Hong.
Sebenarnya Kok Siauw Hong bukan tidak mencintai Han Pwee Eng.
Tetapi karena mereka tinggal berjauhan, dan Kok Siauw Hong sudah berkenalan dengan Ci Giok Hian, dia telah memilih Ci Giok Hian yang dia anggap lebih baik dari Han Pwee Eng.
Sekarang setelah Ci Giok Hian pergi dengan Seng Liong Sen, hati Ci Giok Hian telah berubah, Kok Siauw Hong mulai berpikir.
Saat itu tiba-tiba dia ingat pada Han Pwee Eng.
Kok Siauw Hong pun tidak mengetahui bahwa saat itu pun Han Pwee Eng pun sangat merindukannya.
Apalagi saat ayahnya akan diobati oleh Seng Cap-si Kouw dia sudah dipesan oleh ayahnya harus mencari Kok Siauw Hong.
Hari itu setelah meninggalkan rumah Seng Cap-si Kouw dan ayahnya, Han Pwee Eng yang hatinya hampa berpikir.
"Ah, ke mana harus kucari dia? Tetapi, sekalipun aku tahu di mana dia berada, aku tidak akan menemuinya lagi!"
Pikir Han Pwee Eng.
Benarkah dia tidak ingin bertemu lagi dengan Kok Siauw Hong?
Dia sendiri tidak berani menjawab pertanyaan itu.
Sejak kecil dia ditunangkan dengan Kok Siauw Hong.
Karena dia masih kecil, di matanya Kok Siauw Hong hanya 891 anak lelaki yang lebih besar dari dia dan lebih nakal.
Bisa dikatakan dia tidak begitu kenal.
Saat mendengar dari ayahnya, bahwa Kok Siauw Hong seorang itu pemuda gagah, itu membuat hatinya jadi girang.
Ketika itu muncul khayalan yang indah-indah dalam benaknya.
Mendadak terjadi perubahan besar karena tahu pemuda itu mencintai gadis lain.
Sejak saat itu kesan baiknya terhadap Kok Siauw Hong berubah.
Selain malu dia merasa tersinggung oleh sikap pemuda itu.
Sekalipun dia mau mengalah pada Ci Giok Hian, tetapi dia merasa telah dipermalukan oleh Kok Siauw Hong.
Saat dia meninggalkan lembah Pek-hoa-kok dan pulang seorang diri, dalam hatinya Kok Siauw Hong sudah bukan pemuda tampan dan gagah perkasa lagi di matanya.
Dia anggap pemuda itu sebagai pemuda tidak berperasaan dan tidak setia.
Ketika sampai di rumahnya, keadaannya sudah terbakar, kebetulan dia juga diserang oleh Chu Kiu Sek.
Tiba-tiba Kok Siauw Hong muncul.
Mereka berdua menghadapi Iblis Tua itu.
Hati Han Pwee Eng kembali berubah dan tidak lagi menganggap Kok Siauw Hong sebagai pemuda tidak berperasaan dan tidak setia.
Hari itu setelah meninggalkan ayahnya, dia pulang ke rumahnya.
Tanpa sadar dia ingat saat menunggu kepulangan Kok Siauw Hong dari markas cabang Kaypang.
Mungkin ketika pemuda itu datang dia tidak menemukannya, karena Kok Siauw Hong tidak mengira, kalau dia tertipu oleh See-bun Souw Ya yang mengajak ke rumah tempat ayahnya ditahan.
"Dia pasti mengira aku masih marah kepadanya, maka itu aku tidak mau menemuinya Apalagi sekarang telah 892 lewat beberapa hari, dia pasti tidak akan menunggu aku di rumah ini. Walau Ayah menyuruhku mencarinya tetapi ke mana aku harus mencarinya?"
Pikir Han Pwee Eng.
Tiba-tiba Han Pwee Eng ingat kata-kata Tik Bwee, pelayan Seng Cap-si Kouw.
Dia bilang siauw-yanya Seng Liong Sen telah bertunangan dengan Ci Giok Hian.
Entah benar entah tidak?
Tetapi yang masih diingat Han Pwee Eng, ketika Beng Cit Nio melihat cincin yang ada di saku Ci Giok Hian.
Ketika itu Beng Cit Nio tidak jadi membunuh nona Ci.
Jelas ucapan Tik Bwee itu bukan cuma mengada-ada.
Aah, jika itu benar dan diketahui oleh Kok Siauw Hong, entah bagaimana perasaannya?
Ketika Kok Siauw Hong datang ke rumahnya setelah jatuh dari lembah Ceng Liong, nona Han baru sampai ke rumahnya.
Begitu sampai dia menuju ke kamarnya.
Tibatiba nona Han melihat ada cahaya terang di kamarnya, malah dia juga melihat sesosok bayangan sedang duduk di atas tempat tidurnya.
Han Pwee Eng kaget bukan kepalang, dia seolah-olah sedang bermimpi.
Pada saat yang bersamaan Kok Siauw Hong yang tidak bisa tidur setelah melihat sarung bantal sulam itu, merasa ada langkah orang.
Mendadak Kok Siauw Hong menoleh dan melompat keluar dari kamar itu.
Kebetulan dia bertemu muka dengan Han Pwee Eng, hingga keduanya tertegun agak terkesima.
"Eh, ternyata kau!"
Kata Kok Siauw Hong. Han Pwee Eng menatap pemuda itu.
"Kau belum pergi, mengapa kau bersembunyi di kamarku?"
Kata Han Pwee Eng. Wajah Kok Siauw Hong merah.
"Hari itu saat kembali aku tidak melihatmu. Sesudah itu aku menemui berbagai masalah yang di luar dugaan. Dan hari ini aku kembali lagi ke mari karena.... aku...aku tidak tahu harus bermalam di mana? Maka.....maka aku mau tidur di sini! Tidak kusangka kau mendadak pulang, aku... .aku minta maaf."
Kata Kok Siauw Hong agak gugup.
"Aku juga mengalami berbagai masalah di luar dugaan,"
Kata Han Pwee Eng.
"Sekarang kau sudah ada di sini, kita harus bicara terus-terang. Mari masuk, kita bicara di dalam saja!"
Ketika dia lihat nona Han tidak marah, hatinya jadi tenang, lalu dia mengikuti nona itu berjalan ke dalam kamarnya.
Saat dia lihat wajah Siauw Hong merah, nona Han merasa tidak enak hati untuk menggodanya.
Maka itu dia ajak Siauw Hong ke kamarnya.
Saat masuk dan melihat sarung bantal sulam itu, wajah nona Han berubah merah.
Kok Siauw Hong purapura tidak melihatnya "Bagaimana pengalamanmu, boleh aku mendengarnya?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Baik, tapi aku ingin bertanya dulu padamu. Tadi kau kira aku siapa?"
Kok Siauw Hong jadi serba salah wajahnya merah. Sambil tertawa Han Pwee Eng berkata perlahan.
"Kau kira aku Ci Giok Hian, kan? Aku tahu kalian sudah berjanji akan bertemu di sini! Iya, kan?"
Kata nona Han lagi. Kok Siauw Hong mengangguk perlahan. Han Pwee Eng tersenyum.
"Pasti hal itu sangat mengecewakan hatimu,"
Kata Han Pwee Eng.
"tetapi aku sudah bertemu dengan Kakak Ci. Kau ingin tahu tentang dia?"
Kok Siauw Hong tertegun.
Han Pwee Eng lalu menceritakan mengenai dia tertipu oleh murid See-bun Souw Ya dan diajak ke rumah Beng Cit Nio.
Dia juga menceritakan bahwa dia bertemu dengan ayahnya yang terluka parah.
Kemudian bertemu dengan Ci Giok Hian yang menyamar ingin menyelamatkan mereka.
Juga tentang Ci Giok Hian mengantarkan arak beracun untuk ayahnya.
Dia juga bercerita bagaimana Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio berhasil mengalahkan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek, sampai ayahnya dibawa ke rumah Seng Cap-si Kouw untuk diobati.
Mata Kok Siauw Hong terbelalak mendengar keterangan itu.
"Tidak kusangka banyak kejadian aneh kau alami. Aku rasa Beng Cit Nio tidak akan mencelakakan ayahmu. Karena wanita itulah yang menolongiku ketika tercebur ke sungai saat aku masih kecil. Tetapi yang mengherankan aku, bagaimana arak itu bisa ada racunnya? Aku jadi tidak mengerti!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku tidak menyalahkan Kakak Ci, sudah tentu aku percaya kepadanya,"
Kata Han Pwee Eng.
"Tetapi aku jadi heran atas kejadian itu!"
Tiba-tiba Han Pwee Eng mengawasi pemuda itu.
"Dari nada suara kata-katamu, kau mencurigai Seng Cap-si Kouw, benarkah itu?"
Kata nona Han.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya,"
Kata Siauw Hong.
"maka itu aku tidak tahu sifatnya terhadap orang. Tetapi dari ceritamu aku pikir dialah orang yang patut dicurigai!"
"Tetapi dia yang menyelamatkan dan membebaskan Ayahku. Dia mengobati Ayahku dengan penuh perhatian. Kalau dia yang mencelakakan Ayahku, tapi mengapa dia 895 menolongi Ayahku?"
Kata nona Han bingung bukan kepalang.
"Hati manusia sulit diduga,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku cuma menerka. Tapi bukankah besok kita akan menemui ayahmu di tempat Seng Cap-si Kouw? Semuanya akan jadi jelas besok!"
Tiba-tiba Kok Siauw Hong teringat sesuatu, dia langsung berkata lagi.
"Kau bilang Seng Cap-si Kouw mempunyai seorang keponakan lelaki. Apakah keponakannya itu bernama Seng Liong Sen?"
Ditanya begitu tentu saja Han Pwee Eng terkejut.
"Benar, dari mana kau tahu tentang hal itu?"
Saat melihat nona Han kaget mendengar pertanyaannya, seketika itu juga hati Kok Siauw Hong jadi hambar.
"Hm! Apa yang dikatakan Tu Hok memang benar,"
Pikir Kok Siauw Hong. Selang sesaat Kok Siauw Hong berkata lagi.
"Pwee Eng kau jangan membohongiku. Apa benar dia... .dia berhubungan baik dengan Seng Liong Sen?"
Kata Siauw Hong.
Semula memang Han Pwee Eng ingin membohongi Kok Siauw Hong, itu sebabnya dia tidak pernah bercerita tentang apa yang dikatakan Tik Bwee sebelum dia pergi dari rumah Seng Cap-si Kouw.
Pelayan itu mengatakan pada Han Pwee Eng, bahwa Ci Giok Hian telah bertunangan dengan Seng Liong Sen, majikan mudanya.
Tidak dia sangka justru Kok Siauw Hong sudah tahu masalah itu.
Sekarang pemuda itu sedang menatap mukanya dan bertanya tentang itu kepadanya.
"Siauw Hong, kau dengar dari mana khabar itu? Kak Ci sangat baik kepadamu, kau jangan banyak curiga!"
Kata Han Pwee Eng. Hati Kok Siauw Hong sangat risau.
"Bukan aku curiga, tetapi orang yang mengatakan dia bergaul dengan Seng Liong Sen itu orang gagah ternama!"
Kata Kok Siauw Hong.
Kemudian dia menceritakan pengalamannya saat terjatuh dari jurang, dan kemudian dia bertemu dengan Cong Siauw Hu dan isterinya.
Akhirnya harta itu bisa mereka rebut kembali atas bantuan Tam Yu Cong.
Sesudah mendengar kisah itu Han Pwee Eng berpikir.
"Kalau begitu barangkali kata-kata Tik Bwee memang benar?"
Pikir Han Pwee Eng.
Tetapi dia tetap berusaha merahasiakan hal itu pada Kok Siauw Hong karena sadar, dirinya bekas calon isteri pemuda itu.
Maka itu dia tidak enak hati jika menjelaskan apa yang didengarnya dari Tik Bwee.
Dia takut akan dituduh egois dan hanya mementingkan kepentingan sendiri.
Han Pwee Eng tetap membujuk Kok Siauw Hong agar tidak banyak curiga.
"Kau tidak mengetahui dengan jelas mengenai hubungan mereka,"
Kata Kok Siauw Hong agak kurang puas.
"tetapi aku dengar sekarang mereka sedang melakukan perjalanan ke Kang-lam bersama-sama! Pasti kau tahu tentang itu, kan?"
Han Pwee Eng tidak bisa berbohong lagi saat didesak begitu, terpaksa dia menjawab dengan jujur.
"Pada malam Kakak Ci lolos dari tangan Beng Cit Nio, kalau tidak salah memang dia pergi bersama Seng Liong Sen!"
Kata Han Pwee Eng.
"Aaah, tidak aku sangka pembahan bisa terjadi begitu cepat!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Tetapi aku tidak bisa menyalahkan Giok Hian! Dia mengiraaku telah tewas!"
Dari nada suara Kok Siauw Hong dia tidak menyalahkan Ci Giok Hian, sekalipun hatinya panas dan kesal sekali.
"Walau dia menganggap aku sudah mati, tidak seharusnya dia begitu cepat melupakan ikrar kami yang akan sehidupsemati, dan begitu cepat mencari pemuda lain!"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Mereka berjalan bersama, tetapi belum tentu Kakak Ci hatinya telah berubah,"
Kata Han Pwee Eng tetap membela Ci Giok Hian.
"Menurutku sebaiknya kau jangan banyak curiga. Sesudah kau bertemu dengannya, boleh kau tanyakan kepadanya terus-terang!"
Mendengar kata-kata Han Pwee Eng hati Kok Siauw Hong tergerak, dia kagum pada Han Pwee Eng yang tetap membela kekasihnya, padahal Ci Giok Hian telah merebut kekasih nona ini.
"Dia bukan benci pada Giok Hian yang telah merebut calon suaminya, malah tetap membelanya, ini membuat aku menaruh hormat kepadanya."
Pikir Kok Siauw Hong.
Tanpa disadarinya Kok Siauw Hong terus mengawasi Han Pwee Eng yang dia perhatikan semakin cantik di matanya.
Malah seolah ada yang sedang dia pikirkan.
Sudah tentu hal ini membuat Han Pwee Eng jadi serba-salah dan merasa malu, wajahnya jadi kemerah-merahan.
Keadaan kamar hening seketika lamanya....
Mendadak mereka mendengar ada suara orang bicara di luar rumah, tak lama terdengar suara langkah kaki menuju ke rumah itu.
Kok Siauw Hong kaget, segera dia 898 memadamkan lampu di kamar itu dan berbisik pada Han Pwee Eng.
"Orang yang sedang ada di luar itu suara orang Mongol, kiranya mereka ingin menangkap seseorang!"
Bisik Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong tahu dari logat bicara orang-orang itu, maka dia yakin bukan bangsa Han tapi orang Mongol.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 32 Lewat celah jendela Kok Siauw Hong mengintai ke luar.
Dia melihat empat orang pesilat Mongol sedang berjalan di halaman rumah Han Tay Hiong.
Dia yakin keempat pesilat Mongol itu pasti berilmu tinggi.
Mendadak pesilat Mongol yang berjalan paling depan berseru.
"Siang-koan Hok, cepat keluar! Jika kau bersedia kembali bersama kami dan menjelaskan pada Hoat Ong, kami tidak akan menyulitkan kau!"
Kata orang Mongol itu.
Pesilat Mongol itu menggunakan bahasa Han dan sangat fasih.
Sekarang Kok Siauw Hong tahu, kedatangan keempat pesilat Mongol itu bukan untuk mencarinya, tetapi mereka sedang mencari dan menangkap Siang-koan Hok.
"Pasti mengenai masalah harta itu, Siang-koan Hok kabur dari Ho-lim, keempat pesilat itu mengejarnya sampai di sini!"
Pikir Kok Siauw Hong. Sesudah keempat pesilat Mongol itu berunding sebentar, salah seorang dari mereka berseru lagi.
"Siang-koan Hok, aku tahu kau gagah. Kami sudah menemukanmu di sini, mengapa kau masih bersembunyi? Apa ini tidak merendahkan martabatmu?"
Kata orang itu. Han Pwee Eng mendekati Kok Siauw Hong lalu berbisik.
"Bagaimana kalau kita terjang mereka?"
Kata si nona. Karena tidak ada sahutan dari dalam rumah, pesilat Mongol itu lalu berkata pada rekannya.
"Aku mendengar suara napas ada di dalam kamar. Aku yakin mereka bersembunyi di kamar itu. Mari kita periksa!"
Kata orang Mongol itu. Bukan main kagetnya Kok Siauw H ong, kini dia sadar pesilat Mongol itu berilmu tinggi.
"Kepandaian orang ini luar biasa,"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Padahal sudah kucoba menahan napasku, tetapi orang itu masih mendengarnya!"
Mereka cuma berempat, jika Kok Siauw Hong bergabung dengan Han Pwee Eng, dia yakin mereka belum tentu kalah.
Dari pada diam dan tertangkap lebih baik dia akan menerjang keluar.
Dia genggam tangan Han Pwee Eng lalu berkata perlahan.
"Aku akan menerjang mereka, kau ikuti aku dari belakang!"
Bisik Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong mendorong daun jendela dengan tibatiba.
Dia melompat menerjang ke luar dengan menggunakan jurus Yeh-can-pat-hong (Malam menyerang ke delapan penjuru).
Salah seorang pesilat Mongol yang berdiri di dekat jendela terkejut, matanya silau oleh cahaya pedang Siauw Hong yang berkelebat ke mukanya.
Dia segera melompat ke belakang sambil mengayunkan goloknya.
"Tang!"
Terdengar suara benturan sangat keras, itu suara pedang Kok Siauw Hong yang membentur golok pesilat Mongol itu. Pedang Kok Siauw Hong tertangkis hingga miring, hal itu membuat pemuda ini kaget.
"Hm! Kepandaian orang ini cukup tinggi, tetapi kenapa dia malah mundur?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Pesilat itu bukan takut pada Siauw Hong, tetapi dia mengira yang lompat ke luar itu Siang-koan Hok.
Hal itu tidak disadari oleh Kok Siauw Hong.
Pesilat Mongol itu sadar jika yang keluar Siang-koan Hok, itu berbahaya baginya.
Dia tahu kepandaian Siang-koan Hok sama dengan kepandaian Cun Seng Huat Ong.
Tidak heran kalau pesilat Mongol itu agak jerih pada Siangkoan Hok.
Sesudah mundur dan beradu senjata pesilat Mongol itu haru bisa melihat jelas, bahwa lawannya bukan Siang-koan Hok.
Maki itu dia langsung membentak.
"Beraninya kau bocah keparat, mengapa kau bersembunyi di situ?"
Kata dia.
"Mundur! Biarkan aku yang menangkap dia!"
Kata kawan pesilat Mongol itu.
Orang itu langsung menyerang Kok Siauw Hong.
Gerakannya gesit bagaikan seekor burung elang menyambar mangsanya.
Saat diserang Kok Siauw Hong langsung menggerakkan pedangnya, dengan jurus Ki-hwee-soh-thian (Mengangkat obor membakar langit) dia serang pesilat Mongol itu dengan dahsyat.
Pesilat Mongol itu gesit sekali.
Dia berkelit sekaligus mengulurkan tangan untuk mencengkram jalan darah 901 Thianleng-kay Kok Siauw Hong.
Pengalaman Siauw Hong sangat luas, saat dia melihat serangan pesilat Mongol itu bergerak ke arahnya, dia langsung tahu itu jurus cengkraman burung elang yang sangat berbahaya.
Buruburu Kok Siauw Hong memiringkan kepalanya, lalu dia angkat pedangnya untuk membabat bahu pesilat Mongol itu.
Melihat Siauw Hong lolos dari cengkramannya, pesilat itu melompat tinggi, salah satu kakinya menendang pedang di tangan Siauw Hong.
Pedang itu berhasil ditendang hingga miring.
Pada saat yang bersamaan, pesilat Mongol itu turun, lalu membentangkan kedua tangannya akan mencengkram lawannya.
Pada sepatu pesilat Mongol itu dipasangi taji terbuat dari besi yang tajam.
Mengetahui sepatu lawan sangat berbahaya, Kok Siauw Hong tidak berani bertarung dalam jarak dekat.
Kok Siauw Hong mundur selangkah, lalu menusukkan pedangnya ke arah jalan darah pesilat Mongol itu.
Serangan pedang Cit-siu-kiam-hoat bisa bergerak cepat ke tujuh jalan darah lawan dengan satu kali serang.
Karena pesilat Mongol itu belum pernah melihat jurus yang begitu aneh dia terperanjat bukan kepalang.
"Aku kira para pesilat Mongol sudah sangat lihay-lihay, tetapi ternyata di Tiong-goan terdapat pesilat berilmu tinggi. Dia masih muda, tetapi ilmu silatnya luar biasa!"
Pikir pesilat Mongol itu.
Sesudah tahu bagaimana lihaynya Kok Siauw Hong sekarang pesilat itu tidak berani meremehkan lawannya.
Sepasang tangannya segera melindungi setiap jalan darah yang akan diserang oleh lawan.
Saat merasa pedangnya tertangkis oleh pesilat Mongol, Kok Siauw Hong merasakan 902 pedangnya seolah-olah membentur tembok yang tidak kelihatan.
Tak lama Kok Siauw Hong merasa telapak tangannya mulai sakit.
Kok Siauw Hong kaget.
Dia tidak mengira lwee-kang pesilat Mongol itu berada di atasnya.
Sekarang pesilat itu maju dan menyerang dia.
Tetapi pesilat ini belum mampu mengalahkan Kok Siauw Hong.
Kawan pesilat Mongol yang bersenjata golok kelihatan tidak sabaran melihat kawannya belum mampu membekuk lawan.
Tanpa menghiraukan harga diri dia maju akan mengeroyok Kok Siauw Hong.
Saat itu Han Pwee Eng yang menyusul Siauw Hong sudah berada di luar kamar.
Begitu melihat Siauw Hong dikeroyok, nona Han langsung menyerang orang yang menggunakan jurus cengkraman burung elang itu.
Gerakan Han Pwee Eng sungguh indah, baik saat melompat, maupun ketika dia bersilat dengan jurus pedangnya, sungguh indah sekali.
Tenyata jurus-jurus itu jurus maut.
"Niauw Mong, hati-hati!"
Kawan pesilat Mongol yang belum terjun ke arena memperingatkan kawannya. Kawannya yang lain saat menyaksikan Han Pwee Eng bersilat dengan jurus yang demikian indah, tanpa terasa dia memuji.
"Sungguh indah gerakan nona ini!"
Katanya.
Kepandaian Niauw Mong berada di atas kepandaian Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng.
Tetapi karena mereka bergabung dan menyerang bersama, tidak heran Niauw Mong terdesak dan harus mundur.
Orang yang tadi memuji keindahan ilmu silat Han Pwee Eng langsung berteriak.
"Toa Su-heng, mundur! Serahkan mereka kepadaku!"
Kata pesilat itu. Niauw Mong tahu berapa tinggi kepandaian adik seperguruannya dia pun segera mundur sambil berseru.
"Hua Kip, apa kau tertarik pada gadis itu?"
Kata Niauw Mong.
Tentu saja Niauw Mong kurang puas karena dia diminta mundur oleh adik seperguruannya itu.
Apalagi tadi sang sutee memuji kepandaian nona Han itu.
Dari keempat pesilat tangguh Mongol itu, dua orang murid Cun Seng Hoat Ong.
Sedang yang dipanggil Hua Kip nama lengkapnya Tee-mu Hua Kip, sekalipun dia menjadi adik ketiga, namun kepandaiannya lebih tinggi di antara keempat pesilat itu.
Cun Seng Hoat Ong mengirim mereka berempat ke Tionggoan untuk menangkap Siang-koan Hok.
Sedang pesilat Mongol bersenjata golok itu pengawal berbaju emas bernama Lu Khi.
Seorang lagi bernama Jenan.
Mendengar olokan Niauw Mong, Tee-mu Hua Kip tertawa terbahak-bahak.
"Mana berani Siauw-tee tertarik pada nona itu!"
Kata Tee-mu Hua Kip.
"Tetapi dia memang cantik. Jika kita berhasil menangkapnya, akan aku serahkan kepada Khan Besar. Pasti kita mendapat hadiah yang luar biasa. Tetapi orang paling penting yang harus kita tangkap ialah Siangkoan Hok! Kita jangan sampai terpancing siasat Siang-koan Hok, misalnya dengan tipu "Memancing harimau turun gunungl"
"Walau kau mewakiliku, tapi kau juga ingin agar kami memeriksa ke dalam rumah itu!"
Kata Niauw Mong yang baru sadar pada tugas utamanya.
"Ya,"
Kata Tee-mu Hua Kip.
"Aku yakin mereka ini anak buah Siang-koan Hok. Jika kamar itu tidak segera kalian geledah, siapa tahu Siang-koan Hok malah kabur!"
Kata-kata itu membuat Niauw Mong berpikir.
"Hm! Liciknya kau ini. Pekerjaan yang sulit kau serahkan pada kami! Sungguh cerdik kau ini!"
Pikir Niauw Mong sambil mencibirkan mulutnya. Tetapi dia berpikir lagi.
"Jika kami bertiga melawan Siang-koan Hok, sekalipun tidak bisa mengalahkannya, namun masih mampu menangkis serangannya sampai seratus jurus. Jadi saat dia sudah bisa mengalahkan kedua lawannya itu, pasti dia akan membantu kami!"
Tanpa banyak bicara lagi Niauw Mong mengajak kedua temannya akan menggeledah kamar.
Dengan demikian Kok Siauw Hong dan Pwee Eng hanya menghadapi seorang lawan.
Rupanya Tee-mu Hua Kip terlalu meremehkan kedua muda-mudi ini.
Begitu dia maju langsung mencengkram ke arah Han Pwee Eng tanpa senjata.
Karena tadi Niauw Mong mengatakan pesilat ini menginginkan dirinya, Han Pwee Eng sangat membencinya Saat dia melihat Tee-mu Hua Kip maj u hendak mencengkramnya, nona Han langsung menusukkan pedangnya.
Ilmu pedang nona Han sangat lihay, dia menggunakan jurus Keng-sin-kiam-hoatyang termasuk ilmu pedang kelas satu.
Dulu Chu Kiu Sek pernah terluka oleh jurus nona ini.
Bisa dibayangkan betapa lihaynya serangan Han Pwee Eng ini.
Serangan itu membuat Tee-mu Hua Kip terperanjat.
Dia sadar bahwa nona ini bukan lawan yang sembarangan.
Buru-buru dia membungkukkan tubuhnya untuk menghindari tusukan pedang Han Pwee Eng, tapi ujung pedang Han Pwee Eng tetap berhasil merobek pakaiannya.
Dengan gesit dan cepat 905 sekali Tee-mu Hua Kip menyentil pedang si nona dengan keras.
"Tang!"
Pedang Han Pwee Eng yang tersentil oleh jari Tee-mu Hua Kip sampai miring, dan ini mengakibatkan tangan Han Pwee Eng yang memegang pedang itu sakit, Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.
Saat nona Han tertegun untung serangan pedang Kok Siauw Hong datang menyusul ke arah Tee-mu Hua Kip.
Sekalipun ilmu pedang Cit-siu-kiam-hoat tidak berada di atai ilmu pedang Keng-sin-kiam-hoat, tetapi karena lweekang Kok Siauw Hong lebih tinggi dari lwee-kang Han Pwee Eng, serangan Kok Siauw Hong cukup dahsyat!
Tadi Tee-mu Hua Kip baru terhindar dari serangan Han Pwee Eng dan dia baru melancarkan serangan balik dengan sentilan pada pedang nona Han.
Sekarang tiba-tiba dia harus menghadapi serangan dari Kok Siauw Hong yang begitu cepat.
Pedang Kok Siauw Hong tampak berkelebat membentuk tujuh bayangan dalam satujurus dan mengarah ke tujuh jalan darahnya.
Tentu saja Tee-mu Hua Kip tidak berani sembarangan menangkis serangan Kok Siauw Hong ini, apalagi hanya dengan tangan kosong.
Buru-buru Tee-mu Hua Kip menjatuhkan diri, sekaligus dia gunakan taji sepatunya menggaet kaki Han Pwee Eng.
Sudah tentu Han Pwee Eng tidak akan membiarkan kakinya tergaet lawan.
Tiba-tiba saat kaki lawan menyambar ke kakinya, nona Han melompat, lalu menusuk Tee-mu Hua Kip dengan pedangnya Melihat bahaya kakinya akan ditebas kutung oleh nona itu, Tee-mu Hua Kip bergerak cepat.
Dia gunakan jurus Lai-lu-tah-juan (Keledai malas bergulingan).
Tubuh Tee-mu Hua Kip bergulingan beberapa depa menghindari serangan gadis itu.
Tee-mu Hua Kip berhasil lolos dari serangan Han Pwee Eng, tetapi jurus itu jurus yang paling jarang digunakan pesilat tinggi, dengan demikian tanpa disadarinya dia sudah mempermalukan diri sendiri.
Bukan saja Han Pwee Eng tidak berhasil melukai Tee-mu Hua Ki, tetapi dia juga menghalangi gerakan Kok Siauw Hong yang akan menyerang orang itu.
Dengan cepat dan terpaksa Kok Siauw Hong harus segera menarik pedangnya agar tidak melukai Han Pwee Eng.
Dan dia memberi kesermpatan pada nona itu untuk menyerang lawannya "Phui!"
Han Pwee Eng meludah.
"Sungguh tidak tahu malu kau bertarung dengan cara begitu!"
Tadi gara-gara dia terlalu meremehkan lawan maka Tee-mu Hua Kip mengalami kejadian yang memalukan itu. Ini membuat dia gusar bukan kepalang. Mendadak dia melompat sambil membentak keras.
"Akan kuperlihatkan kepandaianku!"
Katanya.
Dia langsung melancarkan beberapa pukulan beruntun yang dahsyat.
Pada saat yang bersamaan, Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng juga maju.
Tetapi mereka merasakan dorongan tenaga lawan menerjang mereka.
Saat itu Kok Siauw Hong segera melancarkan serangan, hingga bentrok dengan pukulan lawan.
"Buum!"
Suara benturan keras terdengar nyaring sekali.
Kok Siauw Hong terhuyung ke belakang tiga langkah.
Seketika dia merasakan darahnya bergolak hebat.
Untung Han Pwee Eng berhasil menghindari serangan itu.
Tee-mu Hua Kip memiliki ilmu Kun-goan-it-niat-kang (Tenaga sakti sejagat).
Ilmu dari aliran sesat yang setingkat dengan ilmu pukulan Kim-kong-ciang aliran Buddha.
Karena jaraknya dekat, Tee-mu Hua Kip tidak bisa mengerahkan seluruh kekuatan pukulannya itu.
Selain itu dia juga ingin menangkap Han Pwee Eng hidup-hidup.
Dia kira dengan ilmu cengkramannya dia mampu merobohkan mereka berdua.
Tetapi karena memandang remeh lawan, dia tidak menggunakan jurus Kun-goan-it-niak-kang itu.
Sekarang Tee-mu Hua Kip sadar bahwa kedua mudamudi itu lihay.
Maka itu dia harus bertarung dengan sungguhsungguh, dan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Sekalipun lwee-kang Kok Siauw Hong lebih rendah dari lwee-kang Tee-mu Hua Kip, namun karena Kok Siauw Hong berlatih Siauw-yang-sin-kang dari aliran lurus, dia sanggup menahan pukulan lawan yang dahsyat.
Sekalipun terhuyung terkena pukulan lawan, namun Tee-mu Hua Kip tidak bisa melukainya.
Tentu saja ketika menyaksikan lawannya tidak roboh oleh pukulannya, Tee-mu Hua Kip kaget bukan kepalang.
Dia segera mengeluarkan senjatanya sambil membentak.
"Sekarang, mari kta bertarung memakai senjata!"
Katanya.
Senjata Tee-mu Hua Kip adalah Jit-goat-lun (Roda matahari dan bulan).
Senjata ini mirip senjata Kim-lun Hoat Ong dalam kisah Sin Tiauw Hiap Lu.
Senjata ini mampu menjepit senjata lawan, baik golok maupun pedang.
Sesudah mengeluarkan senjatanya Tee-mu Hua Kip berpikir.
"Sebelum Niauw Mong kembali, aku sudah harus merobohkan mereka berdua. Jika tidak aku akan kehilangan muka!"
Pikir Tee-mu Hua Kip.
Itu sebabnya karena ingin buru-buru mengalahkan kedua muda-mudi itu, dia langsung menyerang secara bertubi-tubi menggunakan Jit-goat-lun nya.
Saat itu roda Jit-goat-lun itu tampak berputar-putar memancarkan cahaya berkeredepan.
Suara senjata itu pun cukup nyaring.
Saat itu baik Kok Siauw Hong maupun Han Pwee Eng dalam keadaan terkurung.
Namun, ilmu pedang merekajuga lihay.
Sekalipun serangan lawan bertubi-tubi, namun kedua mudamudi ini mampu bertiihan.
Tampaknya sedikitpun Kok Siauw Hong tidak gentar menghadapi senjata lawan itu.
Dia tangkis serangan senjata itu denganjunis Siauw-yangsin-kang.
Sedang Han Pwee Eng menggunakan gin-kangnya, dia bergerak cepat hingga yang tampak hanya bayangannya yang bergerak-gerak kian-kemari berkelebatkelebat mengitari Tee-mu Hua Kip.
Setiap ada kesempatan nona ini menusukkan pedangnya ke tubuh lawan.
Sesudah bertarung beberapa saat Tee-mu Hua Kip mulai mengeluh.
Dia tidak mengira kedua lawannya lihay.
Sedang serangan-serangan Kok Siauw Hong semakin gencar.
Jika mau bisa saja dia meloloskan diri dari lawannya itu.
Maka itu Kok Siauw Hong langsung memberi isyarat pada nona Han.
Dia minta agar Han Pwee Eng jangan meladeni terus orang itu, tapi mereka harus segera kabur dari situ.
Tetapi sial saat mereka akan kabur Niauw Mong muncul bersama kedua kawannya.
Niauw Mong tertegun menyaksikan pertarungan itu.
Ternyata Tee-mu Hua Kip tidak mudah mengalahkan lawannya.
"Kami sudah menggeledah rumah bagian depan dan belakang, tetapi tidak menemukan Siang-koan Hok! Tetapi 909 kenapa kau masih belum menangkap kedua orang ini?"
Kata Niauw Mong. Tee-mu Hua Kip mendengus.
"Sebenarnya mudah saja aku mengalahkan mereka, tetapi aku ingin tahu apa hubungan gadis ini dengan Siangkoan Hok. Jika dia tidak ada hubungannya, pasti dia puteri Han Tay Hiong!"
Kata Tee-mu Hua Kip.
Ternyata dugaan Hua Kip benar, Han Pwee Eng puteri Han Tay Hong.
Sebenarnya Niauw Mong sedikit kesal karena Tee-mu Hua Kip tinggi hati.
Tapi walau demikian Niauw Mong menjadi geli juga.
"Jika sedang senggang tidak apa-apa bermain-main dengan mereka,"
Kata Niauw Mong.
"tetapi tugas kita masih harus menangkap Siang-koan Hok. Maka lebih baik kita hajar mereka dulu agar kita tidak melalaikan tugas kita yang lebih penting!"
Maka tanpa banyak bicara Niauw Mong langsung menyerang Han Pwee Eng dengan pukulan dahsyatnya.
Kepandaian Niauw Mong di bawah kepandaian adikseperguruannya, tetapi tentu saja ada di atas kepandaian Han Pwee Eng.
Ketika Han Pwee Eng diserang secara bertubi-tubi, dia kelihatan mulai tidak tahan.
Sedang Tee-mu Hua Klip menghadapi Kok Siauw Hong, dia kelihatan mulai mengungguli pemuda ini.
Sedangkan Lu Khi dan Jenan ketika itu sudah mengeluarkan golok, mereka bersiap untuk mencegah Kok Siauw Hong dan nona itu melarikan diri.
Melihat dua kawannya berjaga-jaga dengan serius, Tee-mu Hua Kip kurang puas.
"Hai kenapa kalian berjaga begitu serius? Dengar! Kedua bocah ini tidak akan lolos dari tanganku! Cepat keluar, 910 periksa! Siapa tahu Siang-koan Hok muncul!"
Kata Tee-mu Hua Kip rupanya dia mengkhawatirkan Siang-koan Hok akan muncul secara tiba-tiba. Dugaan Tee-mu Hua Kip ternyata benar. Tiba-tiba terdengar suara siulan panjang.
"Sudah lama Siang-koan Hong di sin! Kalian tidak perlu susah-payah mencariku!"
Kata sebuah suara.
Tak lama terlihat Siang-koan Hok melompat turun dari atas tembok pekarangan ke halaman.
Para pesilat Mongol itu terkejut bukan kepalang.
Buru-buru Tee-mu Hua Kip mendesak Kok Siauw Hong hingga mundur.
Tee-mu Hua Kip buru-buru mundur menempelkan punggungnya ke tembok.
Dia takut Siang-koan Hok menyerang mereka secara gelap.
Niauw Mong pun menghentikan serangannya pada Han Pwee Eng, dia melintangkan tangannya di depan dada untuk berjaga-jaga dan mengawasi lawan, kalau-kalau dia diserang oleh Siang-koan Hok.
Melihat Siang-koan Hok muncul Han Pwee Eng girang.
"Paman Siang-koan, Ayahku ingin bertemu denganmu! Ada yang dia ingin bicarakan dengan Paman!"
Kata Han Pwee Eng.
"Aku juga ingin menemui Ayahmu, tapi sekarang jangan banyak bicara dulu. Kita bereskan dulu mereka ini!"
Kata Siang-koan Hok. Sesudah itu Siang-koan Hok menghadapi keempat pesilat Mongol itu.
"Kalian mengejarku sampai di sini! Sekarang aku sudah ada di sini, kau tidak perlu bersusah payah lagi. Katakan apa yang kalian inginkan?"
Kata Siang-koan Hok. Sesudah menarik napas panjang Tee-mu Hua Kip, mulai bicara.
"Siang-koan Sian-seng, Kok-su meminta kau kembali. Kami mohon Sian-seng bersedia ikut kami secara baikbaik!"
Kata Tee-mu Hua Kip.
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
Kata Siang-koan Hok.
Wajah Tee-mu Hua Kip berubah jadi pucat-pasi.
Dia diam saja.
Tadinya Tee-mu Hua Kip sudah mengambil antisipasi.
Dia membawa tiga orang kawannya dengan tujuan untuk menghadapi Siang-koan Hok satu lawan empat.
Sedikitpun Tee-mu Hua Kip tidak mengira kalau sekarang mereka bertemu dengan Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng.
Dengan demikian mereka jadi empat lawan tiga orang.
Namun Tee-mu Hua Kip yakin pertarungan hebat tidak akan bisa dihindarkan lagi, maka itu dia siaga.
"Kami mendapat tugas dari Kok-su untuk mengajak Sianseng pulang. Jika Sian-seng tidak bersedia, terpaksa kami...."
"Hm! Maksudmu kau ingin memaksaku?"
Kata Siangkoan Hok sambil tertawa.
"Tidak! Kami tidak berani..."
Kata Tee-mu Hua Kip. Maksud Hua Kip akan mengatakan mereka "terpaksa tidak akan sungkan-sungkan terhadap Siang-koan Hok".
"Baik, kalian berdua murid istimewa dari Cun Seng Hoat Ong. Jika kalian bisa menahan seranganku dalam sepuluh jurus, aku akan ikut pulang bersama kalian!"
Kata Siangkoan Hok. Kelihatan Tee-mu Hua Kip girang mendengar jawaban dari Siang-koan Hok itu. 'Hm! Dasar Tua Bangka tidak tahu diri,"
Pikir Tee-mu Hua Kip.
"Sekalipun kami berdua bukan tandinganmu, tetapi kalau hanya dalam sepuluh jurus kami pasti tahan!"
"Seorang jagoan kata-katanya bisa dipercaya!"
Kata Tee-mu Hua Kip.
"Kuda jempolan cukup hanya sekali cambuk! Siang-koan Sian-seng, kau yang menghendaki begitu, maka kami pun menurut saja!"
Siang-koan Hong terkenal sebagai salah seorang jago pada masa itu, begitu yang diketahui Han Pwee Eng.
Walau demikian nona ini tetap mencemaskan orang tua ini.
'Paman hanya membatasi sampai sepuluh jurus, apakah itu tidak menyulitkan dia sendiri,"
Pikir Han Pwee Eng.
"Seandainya Paman Siang-koan tak mampu mengalahkan mereka dalam sepuluh jurus, lalu harus bagaimana?"
Tetapi karena Siang-koan Hok sudah berkata begitu, sudah tentu kata-kata itu tidak mungkin ditarik kembali.
Maka itu Han Pwee Eng mengajak Kok Siauw Hong supaya mundur memberi kesempatan pada Siang-koan Hok untuk menghadapi pesilat Mongol itu.
Sementara itu Siang-koan Hok memasukkan tangannya ke dalam saku, lalu dia berjalan dengan santai menghadapi lawannya.
"Apa yang sudah aku katakan pasti akan kutepati!"
Kata Siang-koan Hok.
"Silakan kalian maju!"
Kelihatan Tee-mu Hua Kip yang sudah menahan kegusarannya yang telah memuncak, langsung siap sedia.
"Hm! Kau terlalu meremehkan kami!"
Pikir Tee-mu Hua Kip.
Dia langsung maju lalu menyerang dengan senjata Jit-goatlun-nya.
Jurus yang digunakan Lui-pung-thian-sian (Kilat menyambar halilintar menggelegar).
Pada saat yang bersamaan Niauw Mong pun melancarkan pukulan ke arah Siang-koan Hok.
Tangannya membentuk sebuah lingkaran, dia menyambar tulang punggung Siangkoan Hok.
Serangan Niauw Mong datang dari arah belakang, sedang Siang-koan Hok segera mengibaskan tangannya ke belakang dan dia putar ke bagian depan.
Tak ampun lagi tubuh Niauw Mong terseret ke depan, sedang tubuh Siangkoan Hok bergeser ke samping.
Saat itu juga roda Lun-goat-lun menyambar ke arah Niauw Mong.
Ternyata serangan Tee-mu Hua Kip bukan tertuju pada Siang-koan Hok, tapi menyerang ke arah Niauw Mong.
Bukan main kagetnya Niauw Mong hingga dia berteriak nyaring.
"Su-tee, hentikan!"
Kata Niauw Mong.
Untung Tee-mu Hua Kip cukup gesit dan lihay, dia mampu mengendalikan roda Jit-goat-lun-nya.
Pada saat amat kritis dan senjatanya akan melukai Niauw Mong, dia berhasil menarik kembali serangannya dengan cepat luar biasa.
Dengan demikian Niauw Mong selamat dari hajaran roda itu.
"Jurus pertama!"
Teriak Han Pwee Eng dengan nyaring.
Tidak percuma Tee-mu Hua Kip disebut sebagai pesilat tinggi, dia mampu menarik serangan maupun menyerang dengan cepat.
Dia melangkah dengan jurus Cui-pat-sian (Delapan dewa mabuk).
Kelihatan tubuhnya sempoyongan seperti sedang mabuk arak, dia menyerang ke arah Siangkoan Hok.
Niauw Mong yang mendapat pengalaman pertama yang mengejutkan tadi, yaitu ketika dia hampir terhajar roda Tee-mu Hua Kip, sekarang jadi berhati-hati dan tidak berani sembarangan menyerang.
Sekarang yang dia lakukan hanya menunggu kesempatan baik, baru akan menyerang.
Dengan demikian mereka tidak saling serang sesama kawan seperti tadi.
Namun, lawannya Siang-koan Hok pun tidak kalah cerdik.
Sebagai jago silat tingkat tinggi, Siangkoan Hok pun mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk bergerak mengimbangi kegesitan kedua lawannya itu.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras.
"Tang!"
Suara itu muncul karena kibasan atau tangkisan Siangkoan Hok dengan ujung bajunya.
Dia berhasil menangkis roda Tee-mu Hua Kip, hingga membuat sepasang roda itu berbalik hampir saja melukai pemiliknya "Jurus kedua!"
Teriak Han Pwee Eng.
Pada saat yang bersamaan Siang-koan Hok berbalik dengan cepat, tahu-tahu Siang-koan Hok sudah ada di belakang Niauw Mong, dan dia serang punggung Niauw Mong yang agak terbuka itu.
Pukulan itu membuat Niauw Mong tersentak dan terjerumus ke depan beberapa langkah.
Sedangkan Siang-koan Hok berteriak ke arah Han Pwee Eng.
"Nona Han, hitunganmu terlalu cepat! Ini baru jurus yang kedua!"
Kata Siang-koan Hok.
"Ya, aku terlalu cepat! Tapi cepat Paman selesaikan pertarungan ini!"
Kata Han Pwee Eng sambil tertawa. Han Pwee Eng girang menyaksikan Siang-koan Hok dengan mudah mematahkan serangan dua pesilat tinggi Mongol itu.
"Pantas Ayah memuji Paman Siang-koan. Namanya bukan nama kosong belaka! Sungguh menggelikan tadi aku mengkhawatirkan dirinya. Tampaknya tidak sampai sepuluh jurus Paman akan memenangkan pertarungan ini. Dua jago silat itu pasti akan kalah oleh Paman Siang-koan!"
Pikir Han Pwee Eng.
Di mata Han Pwee Eng gerakan Siang-koan Hok itu sederhana tetapi sebenarnya itu gerakan yang sulit sekali, dan telah menguras tenaga maupun pikiran Siang-koan Hok.
Dulu Siang-koan Hok sudah sadar, bahwa suatu saat dia akan berhadapan dengan Cun Seng Hoat Ong.
Sekarang terbukti dia harus bertarung dengan kedua muridnya yang lihay.
Untuk mengantisipasi dugaannya itu selama belasan tahun Siangkoan Hok telah berlatih untuk menghadapi lawan yang tangguh itu.
Tidak heran dia mampu menciptakan beberapa gerakan istimewa untuk menghadapi lawannya itu.Di luar dugaan kedua murid Cun Seng Hoat Ong ini pun tidak rendah, terutama kepandaian Tee-mu Hua Kip.
"Untung aku sudah siap sejak dulu,"
Pikir Siang-koan Hok.
"jika tidak aku bisa celaka! Dulu mungkin harus menghadapi mereka dalam tigapluh jurus, sekarang pun tidak mudah aku bisa mengalahkan mereka dalam sepuluh jurus?"
Tee-mu Hua Kip seorang pesilat selain ilmu silatnya tinggi, dia juga cerdas. Dia sudah memikirkan sebuah siasat untuk menghadapi Siang-koan Hok. Oleh karena itu dia meneriaki Niauw Mong.
"Su-heng, kita dari tingkatan yang lebih muda, lebih baik kita mohon petunjuk dari Siang-koan Sian-seng saja!"
Kata Tee-mu Hua Kip.
Niauw Mong pun cerdas.
Dia langsung tahu maksud ucapan su-tee-nya.
Segera Niauw Mong melompat ke arah Tee-mu Hua Kip.
Dengan saling mengadu punggung dan bersikap hormat mereka menghadapi lawannya.
Saat itu jelas maksud Tee-mu Hua Kip tidak untuk bertarung sampai mengalahkan Siang-koan Hok, tetapi dengan "licik"
Akan bertahan sampai sepuluh jurus yang Siang-koan Hok janjikan itu.
Jika mereka mampu bertahan sampai sepuluh jurus, merekalah yang keluar sebagai pemenang.
Mereka sengaja tidak melancarkan serangan, mereka hanya bersikap menunggu diserang.
Mereka tahu sesuai perjanjian yang tersisa tinggal delapan jurus lagi.
Berdasarkan kepandaian keduanya, mereka yakin mereka akan sanggup menangkis serangan Siang-koan Hok sampai sepuluh jurus seperti yang dijanjikannya Siang-koan Hok pun cerdik, dia tahu apa yang ada dalam otak kedua lawannya Sebagai jago silat utama, Siang-koan Hok mampu melakukan serangan yang sangat dahsyat.
Saat dia menyerang dengan pukulan yang hebat, Tee-mu Hua Kip tampak bagai kodok yang akan melompat siap menghindari pukulan itu.
"Jurus ketiga!"
Teriak Han Pwee Eng seolah wasit pertarungan yang mencoba mengingatkan lawannya.
Pukulan secepat kilat yang dilancarkan Siang-koan Hok sungguh berbahaya.
Pukulan itu ditujukan kepada Niauw Mong yang dia anggap paling lemah di antara mereka berdua.
Terpaksa Niauw Mong harus menangkis serangan itu.
Tak lama kemudian terdengar suara keras.
"Bum!"
Niauw Mong terpental sejauh tiga langkah dari tempatnya tetapi dia tetap berdiri tidak sampai roboh. Menyaksikan lawannya tidak roboh Siang-koan Hok pun terperanjat juga.
"Ternyata lwee-kangnya tinggi! Tetapi aku ingin tahu apakah dia mampu menyambut beberapa pukulanku lagi?"
Pikir Siang-koan Hok.
Segera Siang-koan Hok menggunakan siasat.
Mula-mula kelihatannya dia hendak menghajar Tee-mu Hua Kip, namun tiba-tiba yang dia serang Niauw Mong.
Kali ini Siang-koan Hok hampir mengerahkan seluruh tenaganya Tidak heran kalau pukulannya itu menyebabkan Niauw Mong terpental cukup jauh dan merasa darahnya bergolak.
Tak lama dia menambah serangannya ke arah Niauw Mong, sehingga lagi-lagi Niauw Mong terpental, dari mulutnya menyembur darah segar!
Siang-koan Hok tertawa dingin.
"Hm! Apa kalian masih akan melanjutkan pertarungan ini?"
Kata Siang-koan Hok dengan dingin.
Tiba-tiba Tee-mu Hua Kip bersiul, tak lama Siang-koan Hok merasakan ada sambaran angin dingin dari arah belakang.
Rupanya Jenan dan Lu Khi melancarkan serangan gelap setelah Tee-mu Hua Kip bersiul tadi.
Sejak tadi Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng menyaksikan pertarungan yang hebat itu, dan tidak menyangka kalau Jenan dan Lu Khi akan melancarkan serangan gelap.
"Eeh!"
Seru Siang-koan Hok.
Secara reflek Siang-koan Hok mengibaskan lengan bajunya ke belakang untuk menangkis senjata yang menyambar ke arahnya.
Tetapi karena Siang-koan Hok bergerak agak lambat, ditambah gerakannya tanpa lweekang, tak urung pakaiannya robek oleh golok.
Ketika itu Tee-mu Hua Kip sudah melancarkan serangan baru dengan sepasang rodanya.
"Manusia tidak tahu malu dan tidak tahu diri!"
Bentak Siang-koan Hok. Kaki Siang-koan Hok terayun menendang Jit-goat-lun dari Tee-mu Hua Kip.
"Tang!"
Sebuah roda besinya jatuh ke tanah.
Saat itu juga Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng telah maju, Mereka berdua langsung menyerang Lu Khi dan Jenan.
Tidak lama terjadi pertarungan yang sengit antara Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng melawan dua pesilat Mongol itu.
Sementara itu Tee-mu Hua Kip yang telah kehilangan sebuah roda besinya, sudah tidak berani melanjutkan pertarungan dan langsung kabur dengan tidak menghiraukan kawan-kawannya.
Niauw Mong yang terluka dalam cukup parah, tidak mampu melarikan diri.
Saking ketakutan dia langsung memohon ampun pada Siang-koan Hok.
"Siang-koan Sian-seng,"
Kata Niauw Mong.
"Ampuni aku, aku cuma seorang yang menerima perintah dari Suhu....."
Lu Khi dan Jenan yang mulai terdesak oleh kedua mudamudi itu, dia sudah mulai ketakutan.
Apalagi tadi mereka menyerang secara gelap dan gagal.
Saat mereka lihat Tee-mu Hua Kip sudah kabur ketakutan, mereka segera melarikan diri.
Saat kabur mereka tidak berani melewati Siang-koan Hok, tapi mereka kabur secara berpencar dan melompati tembok yang runtuh.
Kok Siauw Hong tertawa dingin.
"Hm! Kalian masih ingin kabur"
Bentak Kok Siauw Hong sambil mengejar Lu Khi. Saat pedangnya hendak menusuk ke arah lawan, Siang-koan Hok mencegahnya.
"Biarkan mereka pergi!"
Kata Siang-koan Hok. Kok Siauw Hong menarik serangannya.
"Kenapa?"
Tanya Kok Siauw Hong.
"Aku lama tinggal di Mongol, dan punya hubungan baik dengan guru mereka!"
Jawab Siang-koan Hok.
"Biarkan mereka pergi!"
Tentu saja kata-kata ini membuat Niauw Mong, Lu Khi dan Jenan girang bukan kepalang.
Mereka bertiga langsung memberi hormat pada Siang-koan Hok, lalu kabur terbirit-birit.
Han Pwee Eng menertawakan mereka.
"Paman Siang-koan, kau hebat! Tadi aku cuma menghitung sampai enam jurus saja!"
Kata Han Pwee Eng.
"Untung Paman datang, kalau tidak kami bisa celaka di tangan mereka!" 'Aku juga beruntung mendapat bantuan dari kalian,"
Kata Siang-koan Hok.
"Jika tidak ada kalian mungkin aku juga kalah di tangan mereka!"
"Jangan bergurau, Paman!"
Kata Han Pwee Eng.
"Aku tidak bergurau,"
Kata Siang-koan Hok sambil tersenyum.
"Aku tahu berapa tinggi kepandaian Tee-mu Hua Kip dan Niauw Mong, aku yakin bisa mengalahkan mereka. Tetapi jika mereka dibantu oleh Lu Khi dan Jenan, belum tentu aku sanggup menghadapi mereka berempat! Ya, sudahlah, kita tidak perlu membicarakannya lagi. Di mana ayahmu sekarang?"
"Panjang ceritanya, Paman. Mari kita duduk di ruang baca,"
Kata Han Pwee Eng pada Siang-koan Hok. Ruang baca ikut terbakar tetapi hanya sedikit. Dengan demikian ruang baca itu masih utuh.
"Baik,"
Kata Siang-koan Hok. Dia menoleh ke arah Siauw Hong.
"Kau yang bernama Kok Siauw Hong?"
Kata Siang-koan Hok.
"Benar, Paman."
Kata Siauw Hong. Siang-koan Hok tertawa.
"Ternyata kalian sudah menikah!"
Kata Siang-koan Hok.
"Menyesal aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Maafkan Paman, aku tidak membawa sesuatu untuk kalian! Siauw Hong, sekalipun kau belum pernah bertemu denganku, aku ini kawan baik mertuamu. Mungkin Pwee Eng sudah menceritakannya padamu!"
Kiranya Siang-koan Hok tidak tahu mengenai banyak kejadian yang telah terjadi.
Apa yang diketahuinya puteri Han Tay Hiong sudah bertunangan dengan pemuda bernama Kok Siauw Hong.
Malam ini dia melihat sendiri Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng keluar bersama dari kamar si nona.
Tentu saja Siang-koan Hok mengira mereka sudah menikah.
Mendengar ucapan Siang-koan Hok tentu saja kedua muda-mudi itu berubah wajahnya Dengan wajah kemerah-merahan dan sangat gugup Han Pwee Eng menjawab.
"Paman, ini ...ini...."
"Lho, sudah jadi suami isteri kok masih malu-malu?"
Kata Siang-koan Hok sambil tersenyum. Mendengar gurauan Siang-koan Hok, wajah Han Pwee Eng jadi bertambah merah.
"Paman, kami.. kami belum menikah, Paman!"
Kata Kok Siauw Hong agak gugup. Tentu saja mereka jadi tidak enak hati jika memberi penjelasan pada Siang-koan Hok. Kata "belum menikah"
Itu diucapkan Kok Siauw Hong dengan tidak sengaja.
Tetapi bagi Han Pwee Eng yang mendengar kata-kata itu tidak mengira sama sekali.
Maka itu hati nona Han jadi berdebardebar tidak karuan.
Mendengar jawaban Kok Siauw Hong tersebut Siangkoan Hok tertegun.
"Kiranya mereka belum menikah? Tetapi tadi mereka sudah berduaan di kamar nona Han?"
Pikir Siang-koan Hok. Siangkoan Hok tertawa.
"Cepat atau lambat kalian pasti menikah,"
Kata Siangkoan Hok.
"Barusan aku salah mengira, maafkan!"
Siauw Hong langsung sadar, tadi dia kelepasan bicara, wajahnya segera memerah.
Saat itu hari sudah terang tanah...
Han Pwee Eng mengajak Siang-koan Hok ke kamar baca.
Saat masuk dan melihat keadaan ruang baca Siangkoan Hok kelihatan kaget.
"Aku ingat di kamar ini entah berapa buah lukisan kesayangan Ayahmu, Nona Han. Sekarang semua sudah tidak ada di sini. Ke mana?"
Kata Siang-koan Hok. Siang-koan Hok pun tahu Cun Seng Hoat Ong telah mengutus orang untuk merampok harta miliknya yang dia titipkan pada Han Tay Hiong. Maka itu dia jadi bingung dan berpikir keras.
"Akh, rupanya mereka bukan hanya merampok hartaku, tetapi juga menjarah semua lukisan dan syair kesayangan Han Tay Hiong! Rumah ini jadi hancur begini, karena aku menitipkan hartaku itu? Oh, kiranya aku telah menyusahkan Han Toa-ko. Bahkan telah membuat dia kehilangan barang kesayangannya itu!"
Pikir Siang-koan Hok. Melihat Siang-koan Hok begitu cemas Han Pwee Eng segera berkata pada Siang-koan Hok.
"Paman jangan cemas, semua lukisan milik Ayah tidak hilang, juga harta Paman yang dititipkan pada Ayah!"
Kata Han Pwee Eng. Kok Siauw Hong dan Pwee Eng menceritakan apa yang mereka ketahui, Siang-koan Hok tertegun mendengarnya.
"Sekarang Ayahku tinggal di tempat Seng Cap-si Kouw,"
Han Pwee Eng mengakhiri ceritanya.
"Jadi sekarang ayahmu ada di tempat Seng Cap-si Kouw untuk mengobati lukanya?"
Kata Siang-koan Hok.
"Benar, Paman,"
Kata Pwee Eng.
"Aku tidak mengira kalau Ayahku sahabat baik Seng Cap-si Kouw. Sebelumnya aku belum mengetahui hal itu. Seng Cap-si Kouw-lah yang mengambil dan menyelamatkan semua lukisan Ayahku. Sekarang semua lukisan dan syair itu ada di rumahnya. Semula Ayahku ada di tempat Beng Cit Nio. Bahkan Seng Capsi Kouw mengatakan terus-terang, semula dia tidak berani menentang Beng Cit Nio, karena Seng Cap-si Kouw tidak sanggup melawan dua Iblis Tua yang ada di tempat Beng Cit Nio. Ketika Ayahku ditimpa musibah dan rumahnya terbakar, maka itu dia tidak berani turun tangan membantu Ayahku. Dia hanya mengambil semua lukisan milik Ayahku saja. Mengenai harta Paman Siang-koan, sekarang harta itu sudah ada di Seelian-san di tangan Tam Tay-hiap! Aku pernah bertemu dengan Tam Tay-hiap. Untuk jelasnya silakan Paman tanya saja dia!"
Ketika Han Pwee Eng mengisahkan tentang Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio, wajah Siang-koan Hok berubah.
Khusus ketika mendengar Han Tay Hiong tinggal di tempat Seng Cap-si Kouw.
Dia kelihatan terkejut bukan kepalang.
Perubahan pada wajah Siang-koan Hok itu tidak lepas dari perhatian Kok Siauw Hong.
Tidak heran hati pemuda itu jadi gelisah.
"Paman ini luas pengalamannya, pasti dia tahu banyak tentang kedua wanita itu?"
Pikir Kok Siauw Hong. Sesudah berpikir Kok Siauw Hong langsung bertanya.
"Paman, apa kau tahu tentang mereka berdua?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Ya, aku tahu banyak tentang mereka,"
Kata Siang-koan Hok.
"Mereka muncul di kalangan Kang-ouw tidak terlalu lama. Sesudah itu tidak terdengar lagi mengenai khabar mereka! Kemuculan mereka telah menggemparkan Dunia Persilatan. Mereka menggemparkan terutama di kalangan pendekar muda. Tigapuluh tahun yang lalu, saat kedua wanita itu berkelana, orang mengetahui ilmu silat mereka tinggi. Mereka pun sangat cantik. Karena kecantikannya itu mereka menarik perhatian para pendekar muda. Banyak 924 pendekar yang kalah oleh mereka. Tetapi yang tidak dikira mereka berdua sangat kejam! Malah mereka bergelar dua Wanita Iblis. Barang-siapa yang mendekati hendak menggodanya pasti mereka dilukai atau dibunuh!"
Mendengar cerita itu Han Pwee Eng tertawa.
"Aku kira yang mereka bunuh pasti pendekar hidung belang!"
Kata nona Han.
"Mereka memang pantas dihukum!"
"Kau benar, memang banyak pesilat aliran sesat yang celaka di tangan mereka!"
Kata Siang-koan Hok.
"Tetapi ada juga dari pesilat golongan lurus melamar mereka. Karena gusar, kedua Iblis itu langsung melukai mereka! Di antara keduanya yang sangat kejam adalah Seng Cap-si Kouw. Jika ada yang melamar dia, Seng Cap-si Kouw akan mencungkil mata orang itu! Di antaranya ada juga yang dipotong lidahnya!"
Mendengar keterangan itu Han Pwee Eng merinding ngeri.
"Sungguh keterlaluan dan kejam sekali,"
Kata nona Han. 'Tapi aneh mereka berdua baik pada Ayahku. Mereka yang menghalangi dua Iblis Tua mencelakai Ayahku! Paman tahu kenapa?"
Siang-koan Hok menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu mengapa bisa begitu,"
Kata Siang-koan Hok.
"Tadi kata Kok Siauw Hong, kedua wanita itu tinggal tidak jauh dari rumahmu. Mungkin mereka tinggal di sana lebih dari sepuluh tahun lamanya. Selama itu aku dengar dari ayahmu mereka tidak pernah berhubungan dengan keluargamu. Aku heran, kenapa kau bilang sekarang mereka berdua sangat baik kepada ayahmu. Ini mengherankan sekali? Setahuku dulu mereka sangat benci 925 pada kaum pria, mengapa sekarang mereka begitu baik kepada ayahmu?"
Kok Siauw Hong tahu ada bagian-bagian yang tidak dijelaskan oleh Siang-koan Hok kepada mereka.
Tetapi pemuda ini sadar, bahwa Siang-koan Hok menginginkan agar nona Han tidak terlalu mempercayai kedua wanita itu.
"Paman, setahu Paman apakah mereka berdua hidup rukun?"
Tanya Han Pwee Eng.
"Dulu memang mereka rukun,"
Kata Siang-koan Hok.
"Tetapi beberapa tahun terakhir aku dengar mereka agak renggang!"
"Ah, barangkali mereka berdua jatuh cinta pada Ayahku, ini membuat mereka j adi tidak akur. Mereka cemburu kepada Ibuku, itu sebabnya mereka meracun Ibuku. Tetapi aku tidak tahu apakah itu dilakukan Beng Cit Nio atau Seng Cap-si Kouw?"
Pikir Han Pwee Eng. Tak lama Han Pwee Eng kembali bicara.
"Rumah mereka ada di balik gunung tidak jauh dari sini,"
Kata Han Pwee Eng.
"Apa Paman mau ke sana menemui Ayahku?"
"Kedatanganku kali ini untuk menemui ayahmu, tentu saja aku ingin menemui ayahmu!"
Kata Siang-koan Hok.
"Baiklah,"
Kata Han Pwee Eng.
"Aku tahu See-bun Souw Ya ingin menjadi jago Dunia Persilatan. Karena dia menyegani ayahmu, maka dia bersekongkol dengan Cun Seng Hoat Ong, Kok-su Mongol itu. Ketika itu See-bun Souw Ya diperintahkan berhadapan dengan ayahmu. Itu terjadi di luar tahuku, saat itu aku berada di Mongol. Untung aku memperoleh keterangan tentang itu. Aku tidak yakin Cun Seng Hoat Ong ingin 926 mencelakakan ayahmu, kalau dia tidak mendengar tentang harta yang kutitipkan pada ayahmu. Karena aku khawatir akan menyusahkan ayahmu, aku berusaha melarikan diri dari Ho-lim. Tetapi kedatanganku terlambat. See-bun Souw Ya sangat lihay. Selain mampu mengajak Chu Kiu Sek, dia pun bisa mengajak Beng Cit Nio untuk bergabung dengan mereka!"
Kata Siang-koan Hok menambahkan.
"Di luar dugaan Beng Cit Nio dan Seng Cap-si Kouw bentrok juga dengan kedua Iblis Tua itu,"
Kata Han Pwee Eng.
"Memang Ayah mendapat luka, tetapi sekarang dia sedang berobat di rumah Seng Cap-si Kouw!"
Sesudah itu Han Pwee Eng menarik napas lega, lalu melanjutkan ceritanya "Walau Beng Cit Nio pernah bergabung dengan dua Iblis Tua itu, tetapi Seng Cap-si Kouw tidak!
Mula-mula dia tidak ikut campur, tetapi akhirnya dia menyelamatkan kami berdua Aku kira dia bukan yang mencelakai Ayahku!"
Lanjut Han Pwee Eng. Siang-koan Hok menghela napas mendengar penuturan itu.
"Mudah-mudahan saja dugaanmu tentang Seng Cap-si Kouw begitu! Tetapi yang aku khawatir Seng Cap-si Kouw tidak mau menemuiku. Jika begitu terpaksa akan kuterjang agar aku bisa menemui ayahmu!"
Kata Siang-koan Hok.
"Mengapa Paman takut Seng Cap-si Kouw tidak mau menemuimu?"
Kata Han Pwee eng.
"Sifat dia sangat aneh!"
Kata Siang-koan Hok. Bagaimana pun dia sangat membenci kaum pria!"
"Di depan Ayahku dia menyuruhku mencari Kok Siauw Hong, dan tidak melarangku!"
Kata Han Pwee Eng.
"Siauw Hong calon suamimu, pasti itu berbeda denganku!"
Kata Siang-koan Hok. Wajah Han Pwee Eng merah.
"Dulu semasa masih muda mereka diberi gelar Wanita Iblis,"
Kata Han Pwee Eng.
"Siapa tahu sekarang mereka sudah berubah. Namun, jika bertemu dengannya, aku akan bicara lebih dulu, supaya tidak terjadi salah paham!"
Ketika Han Pwee Eng memandang keluar lewat jendela, hari sudah terang tanah, maka itu dia berkata.
"Baik, aku akan ke dapur.Siapa tahu masih ada makanan yang bisa kita santap. Maaf aku belum menyuguhkan apaapa pada Paman."
Kata Han Pwee Eng tersipu-sipu.
"Jangan repot-repot, bukankah kalian juga baru sampai ke sini?"
Kata Siang-koan Hok.
"Semalam aku baru sampai, Siauw Hong yang lebih dulu tiba di sini. Baru kami bicara sebentar datang pesilat Mongol itu,"
Kata Han Pwee Eng memberi penjelasan.
"Kiranya begitu? Pantas kalian belum sempat masak air!"
Kata Siang-koan Hok. Kini barulah Siang-koan Hok tahu kalau kedua mudamudi itu belum lama tiba di tempat itu.
"Siauw Hong, tolong kau ceritakan tentng harta itu pada Paman, aku akan ke dapur untuk menyiapkan makanan. Aku juga sudah lapar!"
Kata Han Pwee Eng sambil tertawa.
Sesudah Pwee Eng pergi ke dapur Siauw Hong mengisahkan tentang See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek yang memimpin pasukan Mongol melakukan perampokan.
Siauw Hong juga mengisahkan tentang dia terjatuh ke lembah hingga akhirnya dia bertemu dengan Cong Siauw 928 Hu dan isterinya, lalu bersama Tam Yu Cong merebut kembali harta itu.
"Jadi kau bertemu dengan Tam Tay-hiap, puteriku dan menantuku!"
Kata Siang-koan Hok.
"Sekarang mereka sedang mengangkut harta ke Ciak-losan,"
Kata Siauw Hong.
"Syukurlah hatiku lega,"
Kata Siang-koan Hok. 'sesudah aku bertemu dengan mertuamu aku juga akan ke See-lian-san. Apa kalian berdua mau ikut aku ke sana?"
Kata Siangkoan Hok.
"Sesudah bertemu Paman Han dan bicara dengannya, mungkin aku ke Kim-kee-leng menemui Hong-lay-mo-li dulu."
Sesudah itu dia berpikir "Aku telah menyebabkan kejadian tidak enak, jadi mana mungkin aku berjalan bersamanya? Jika aku bertemu dengan Paman Han, aku jadi tidak enak."
"Hong-lay-mo-li itu Bu-llim-beng-cu daerah utara. Baik, kalian ke sana lebih dulu. Sesudah kau bertemu dengan mertuamu baru kita berunding!"
Kata Siang-koan Hong yang tidak mengetahui pergolakan di hati pemuda itu. Cukup lama Han Pwee Eng ke dapur, sampai saat itu dia belum juga muncul.
"Eh, lama sekali dia ke dapur? Sedang apa dia? Aku harus melihatnya!"
Pikir Kok Siauw Hong.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Han Pwee Eng memang sudah lama ada di dapur.
Dia kaget saat melihat anglo di dapur masih menyala Di atas tungku terlihat sebua teko yang airnya sedang mendidih.
Nona Han tercengang, dan berpikir apakah ketika baru datang Kok Siauw Hong memasak air?
Kalau bukan dia, 929 siapa yang masak air?
Seingatnya semua pelayannya telah tewas.
"Aaah, siapa tahu ada orang yang bersembunyi di dapur?"
Pikir Han Pwee Eng. Dia mengawasi seluruh ruang dapur itu. Saat membuka lemari dia terperanjat. Di lemari terdapat ayam panggang dan makanan lain. Hal itu membuat dia bertambah heran.
"Mungkin ada maling bersembunyi, atau salah seorang musuh Ayahku bersembunyi di sini? Jika aku bersuara pasti orang itu akan kabur. Lebih baik diam-diam aku mencarinya!"
Pikir Pwee Eng.
Rumah Han Tay Hiong besar sekali.
Sekalipun telah terbakar lebih dari separuhnya, tetap masih tersisa bagian yang tidak terbakar.
Tempat yang tidak terbakar itu memungkinkan orang bersembunyi.
Dengan cermat dan hatihati Han Pwee Eng memeriksa seluruh dapur, dan ruang lainnya, tetapi dia tidak menemukan apa-apa.
Saat mau memeriksa ke suatu tempat, mendadak dia lihat sesosok bayangan hitam berkelebat melompati tembok yang telah separuh gugur itu.
Melihat bayangan sekilas, Han Pwee Eng seperti mengenali bayangan itu, gerakan bayangan itu sangat gesit sehingga Han Pwee Eng tidak bisa melihat jelas wajah orang itu.
Han Pwee Eng mencoba mengingat-ingat di mana pernah dia bertemu dengan orang itu, tapi tetap tidak ingat.
Seketika itu Han Pwee Eng mengerahkan gin-kangnya mengejar bayangan itu.
Tiba-tiba orang yang dikejarnya itu berteriak ke arah nona Han.
"Nona Han, aku ke mari hanya untuk mencari sisa uang perakmu, kenapa kau mengejarku?"
Kata orang itu.
Sesudah orang itu bicara Han Pwee Eng baru ingat, dia lmeihatnya pada saat baru pulang dan menemukan rumahnya sudah terbakar.
Dia bertemu di belakang halaman rumahnya saat orang itu terkubur di tanah.
Dia adalah Pauw Leng, si Maling Sakti.
Gin-kang Pauw Leng jauh lebih tinggi dibanding ginkang nona Han.
Saat dia bicara kakinya tidak berhenti berlari.
Dalam sekejap orang itu sudah jauh sekali.
"Sial!"
Keluh Han Pwee Eng yang tidak mampu mengejar orang itu.
"Ah, mungkin saat tahu aku menghadiahkan harta Paman Siang-koan, dia pikir masih ada yang tersisa. Maka itu dia datang menyatroni rumahku untuk mencari sisanya itu?"
Pikir Han Pwee Eng.
"Tapi, di rumahku sudah tidak ada apa-apa, untuk apa aku mengejarnya?"
Pikir Han Pwee Eng.
Maka itu dia menghentikan pengejarannya lalu buruburu kembali ke dapur.
Dia panaskan panggang ayam dan makanan yang ditemukan di lemari.
Kemudian dia bawa makanan itu ke ruang baca.
Kebetulan dia berpapasan dengan Kok Siauw Hong yang akan menyusulnya ke dapur.
Melihat Han Pwee Eng membawa makanan akan ke ruang baca, Kok Siauw Hong tertawa.
"Aku kira kau sedang masak, karena pergi ke dapur begitu lama,"
Kata pemuda itu.
"Saat ini jika bisa mendapatkan sedikit makanan saja kita harus bersyukur,"
Kata Han Pwee Eng. Kok Siauw Hong tertawa.
"Aah, aku hanya bergurau, terus-terang aku mengkhawatirkan keadaanmu kalau terjadi sesuatu. Jika 931 kau tidak segera muncul pasti aku akan mencarimu!"
Kata Siauw Hong. Ini untuk pertama kalinya Kok Siauw Hong bergurau dengan nona Han, hal ini membuat wajah Han Pwee Eng merah.
"Aku memang bertemu seseorang yang bersembunyi di dapur!"
Kata Han Pwee Eng.
""Siapa dia?"
Tanya Kok Siauw Hong.
"Si Maling Sakti, Pauw Leng!"
Kata Pwee Eng.
"Orang yang kita temukan dulu dalam keadaan terkubur di halaman belakang rumah ini!"
Kok Siauw Hong terkejut.
"Kata Liok Pang-cu dia Maling Sakti yang sangat terkenal,"
Kata Siauw Hong.
"Hari itu dia dibawa ke markas cabang bersamaku. Kenapa sekarang dia kembali lagi ke sini? Malah bersembunyi di rumahmu ini?"
"Ketika tahu dia Pauw Leng, aku tidak mengejarnya. Aku pikir untuk apa mengejar dia, sedang di rumah ini tinggal puing saja!"
Kata Han Pwee Eng.
"Apa yang bisa dia curi?"
Siang-koan Hok tiba-tiba ikut bicara melihat Siauw Hong akan menyantap makanan yang dibawa oleh Han Pwee Eng.
"Tunggu! Jangan kau makan dulu makanan itu!"
Kata Siang-koan Hok.
Siang-koan Hok mengambil tanduk sapi dari sakunya, lalu dia celupkan ke dalam makanan dan air di teko.
Rupanya tanduk sapi itu alat untuk menguji makanan, beracun atau tidak?
Kebiasaan ini dilakukan oleh bangsa Mongol.
Jika makanan itu beracun, maka warna tanduk 932 sapi itu akan berubah.
Sesudah melihat tanduk sapi itu tidak berubah warna, Siang-koan Hok merasa lega.
"Aku pernah mendengar nama maling itu ketika di Mongol. Sekalipun belum pernah datang ke Mongol, namun aku tahu dia sering memberi khabar pada Kok-su Mongol dengan diamdiam,"
Kata Siang-koan Hok. Han Pwee Eng kaget mendengar keterangan itu.
"Kalau begitu Liok Pang-cu tertipu olehnya?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aaah, aku tahu sekarang!"
"Kau tahu tentang apa?"
Tanya Han Pwee Eng pada Siauw Hong. -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 33 Sesudah manggut-manggut sebentar, Kok Siauw Hong berpikir sejenak, dia lalumenjawab pertanyaan Han Pwee Eng dengan masih keheranan.
"Dulu ada yang membuatku sangat heran dan tidak masuk akal,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kenapa Pauw Leng mengarang cerita bohong tentang ayahmu. Tetapi sekarang aku sudah mengerti semuanya!"
Mendengar keterangan itu Han Pwee Eng terkejut bukan kepalang.
"Oh, begitu! Dia mengarang cerita bohong apa?"
Tanya Han Pwee Eng tidak sabar.
"Masih ingatkah kau, ketika kita mendapatkan secarik kulit kambing dari tangan Lu Toa-siok, pegawaimu yang sudah mati itu?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Ya, aku masih ingat!"
"Surat itu bertulisan bahasa Mongol, sampai saat ini aku nasuh menyimpannya."
Kata Kok Siauw Hong.
"Benar,"
Kata nona Han. Lu Toa-siok pegawai setia keluarga Han. Pelayan tua itu mendapat perintah dari Han Tay Hiong untuk mengantarkan surat ke Ho-lim untuk Siang-koan Hok.
"Apa yang telah terjadi atas Lu Toa-siok?"
Tanya Siangkoan Hok.
"Kalau begitu dia binasa di tangan See-bun Souw Ya,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Ketika kami menemukan mayatnya, di tangan Lu Toa-siok tergenggam surat dari kulit kambing. Dia memegangnya erat-erat!"
"Maaf, Paman, aku ingin bertanya pada Paman. Apakah benar Paman yang menulis surat itu?"
Kata Han Pwee Eng.
"Benar, aku membalas surat ayahmu, tetapi surat itu kutulis dengan menggunakan bahasa Han,"
Jawab Siangkoan Hok.
"Ketika surat itu di bawa ke markas cabang Kay-pang, aku dengar dari orang Kay-pang yang katanya mengerti bahasa Mongol, surat itu dari Kok-su Mongol untuk ayahmu,"
Kata Kok Siauw Hong menyela.
"Kurangajar, mana mungkin Ayahku punya hubungan dengan Kok-su Mongol?"
Kata Han Pwee Eng.
"Jelas itu perbuatan Pauw Leng dan See-bun Sou Ya atas suruhan Kok-su Mongol itu, mereka ingin mencelakakan ayahmu!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Apa isi surat itu?"
Kata Siang-koan Hok.
"Dalam surat itu dikatakan bahwa Paman Han akan menyambut kedatangan tentara Mongol; setelah berhasil Khan Besar Mongol akan mengangkat Paman Han menjadi 934 salah seorang raja-muda di sebuah daerah,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Keterlaluan! Tetapi apa Liok Pang-cu percaya pada isi surat itu?"
Tanya Han Pwee Eng yang kelihatan sangat penasaran.
"Pauw Leng sangat pandai mengarang cerita bohong,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Dia bilang sebelum meninggal Lu Toa-siok menasihati ayahmu, tapi katanya ayahmu marah, lalu membunuh Lu Toa-siok. Karena Pauw Leng melihat kejadian itu dengan matanya sendiri, tentu saja Liok Pangcu percaya. Maka itu Liok Pang-cu mengira, kebakaran yang terjadi di rumahmu perbuatan ayahmu!"
Nona Han gusar dan kesal.
"Ayahku seorang yang jujur, tetapi kenapa difitnah, sampai Liong Pang-cu tidak mempercayainya. Sungguh licik dan jahatnya Pauw Leng. Jika aku tahu dia begitu jahat, tadi tidak kubiarkan dia kabur!"
Kata Han Pwee Eng gusar bukan kepalang.
"Biarlah, kita cari dia!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Sekarang lebih baik kita temui dulu ayahmu."
Kemudian berangkatlah mereka bertiga.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Setelah mereka pergi, dari balik puing muncul sesosok tubuh.
Orang itu Jen Thian Ngo adanya.
Siang-koan Hok dan kedua anak muda itu tidak mengira, bahwa yang bersembunyi di rumah itu bukan hanya Pauw Leng, tetapi juga Jen Thian Ngo.
Jen Thian Ngo dan Pauw Leng sudah ada di rumah Han Tay Hiong beberapa hari yang lalu.
Makanan yang dimakan oleh Siang-koan Hok, Han Pwee Eng dan Siauw 935 Hong pun makanan yang akan dimakan Jen Thian Ngo bersama Pauw Leng.
Jen Thian Ngo berada di situ untuk menunggu kedatangan Ih Hua Liong, murid tertuanya.
Di rumah Han Tay Hiong yang besar itu memang terdapat ruang bawah tanah yang bisa dipakai sebagai tempat persembunyian.
Di tempat ini pun tersimpan bermacam-macam makanan kering.
Jen Thian Ngo yang pernah menyelidiki rumah itu menemukan ruang bawah tanah itu.
Si Maling Sakti Pauw Leng memang kawan bekerja Jen Thian Ngo.
Mereka sudah berjanji, jika harta Han Tay Hiong berhasil mereka rampok, Pauw Leng akan mendapat bagian dari Jen Thian Ngo.
Sesudah harta itu berhasil dirampok, Ih Hua Liong diperintahkan meminta bagiannya.
Jika berhasil Ih Hua Liong akan datang ke rumah Han Tay Hiong menemuinya.
Maka itu Pauw Leng dan Jen Thian Ngo menunggu kembalinya Ih Hua Liong.
Sungguh di luar dugaan, ternyata Kok Siauw Hong disusul Nona Han Pwee Eng dan Siang-koan Hok muncul di rumah itu.
Ditambah lagi munculnya empat pesilat Mongol hingga mereka bertarung hebat.
Setelah keempat pesilat Mongol itu berhasil dikalahkan oleh Siang-koan Hok cs, Han Pwee Eng pergi ke dapur akan mencari makanan.
Hal itu membuat Jen Thian Ngo sedikit khawatir.
Mereka takut persembunyiannya diketahui Han Pwee Eng dan kawan-kawannya.
Maka itu pada saat Han Pwee Eng ada di dapur, Jen Thian Ngo menyuruh Pauw Leng memancing nona itu keluar dari dapur yang tidak jauh dengan ruang bawah tanah itu.
Dengan demikian Han Pwee Eng terjebak oleh akal Jen Thian Ngo yang licik itu.
Pauw Leng yang sangat gesit tidak mudah dikejar oleh nona Han.
Sesudah Pauw Leng kabur, Han Pwee Eng tidak mecarinya.
Karena mulut ruang bawah tanah itu terletak tidak jauh dari kamar baca, sudah tentu pembicaraan Siangkoan Hok dan Kok Siauw Hong maupun Han Pwee Eng terdengar jelas oleh Jen Thian Ngo.
Sesudah Siang-koan Hok dan kedua muda-mudi itu pergi, Jen Thian Ngo muncul dari ruang bawah tanah.
Dia menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuh dan keningnya.
Saat itu dia tidak menyangka kalau Siang-koan Hok, Kok Siauw Hong juga Han Pwee Eng akan muncul di tempat itu.
Tetapi dia juga girang karena sekarang dia telah memperoleh keterangan yang berharga.
"Tidak kusangka semua harta itu telah direbut kembali oleh Bu-lim Thian-kiauw,"
Pikir Jen Thian Ngo yang dongkol bukan main.
"Ternyata sia-sialah usahaku kali ini! Tetapi masih untung, mereka belum tahu, kalau aku bersekongkol dengan bangsa Mongol. Ci Giok Hian pergi bersama Seng Liong Sen, jika aku tidak bertemu dengan Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng, rahasiaku tidak akan ada orang yang bisa mengungkapnya!"
Jen Thian Ngo tertawa beberapa kali.
Kemudian dia tinggalkan rumah Han Tay Hiong dengan maksud mencari Pauw Leng yang akan diajak berunding melakukan rencana busuk lain.
Saat Siang-koan Hok dan kedua muda-mudi itu mendekati air terjun, hati kedua muda-mudi itu merasa tidak tenang dan berdebar-debar terus.
Setiba di mulut goa yang terhalang air terjun, Han Pwee Eng mengajak Kok Siauw Hong dan Siang-koan Hok menerjang melewati air terjun tersebut.
Sesudah berada di dalam terowongan, baru Han Pwee Eng bicara.
"Lihat di sana! Rumah batu itu tempat tinggal Beng Cit Nio! Di balik puncak gunung itu terdapat hutan bambu, di sanalah tempat tinggal Seng Cap-si Kouw. Kita ke rumah Seng Cap-si Kouw dulu, baru cari Beng Cit Nio!"
Kata Han Pwee Eng.
"Benar, kita harus menemui ayahmu dulu,"
Kata Siangkoan Hok.
"Aah, aku tak tahu. Sudah bilangkah Pwee Eng pada ayahnya atau belum?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Entah bagaimana aku menjawabnya jika Paman Han bertanya padaku?"
Semula kedatangan Kok Siauw Hong ke Lok-yang hendak membatalkan pertunangannya.
Ketika itu dengan hati teguh siap menerima hukuman apa pun dari Han Tay Hiong.
Sekarang menjadi lain, terutama setelah dia tahu Ci Giok Hian mempunyai kekasih baru.
Apalagi sekarang dia tahu, Han Pwee Eng lebih jauh lebih baik dari dugaannya semula.
Ini membuat dia semakin merasa bersalah kepada nona ini.
Dengan demikian keberaniannya agak berkurang.
Itu sebabnya hati Kok Siauw Hong semakin tidak tenang.
Tibatiba dia terkejut saat Han Pwee Eng bicara dengan perlahan.
"Sudah sampai!"
Kata Han Pwee Eng. Tempat itu kelihatan indah sekali, pohon bambu bergoyang-goyang tertiup angin. Saat menyaksikan panorama yang indah itu Siang-koan Hok menghela napas.
"Tempat ini nyaman dan indah sekali!"
Siang-koan Hok memuji.
"Cap-si Kouw pandai memilih tempat seindah ini!"
"Dia pandai bermain catur, memainkan alat musik, bisa melukis dan mahir ilmu sastra. Tidak heran kalau dia 938 memilih tempat ini sebagai tempat tinggalnya,"
Kata Han Pwee Eng.
"Gelar dia Ciak-ciu-sian-cu (Dewi Bertangan Maut). Orang yang tidak mengenal sifatnya, akan menganggap dia sebagai Dewi Welas Asih,"
Kata Siang-koan Hok. Maksud ucapan Siang-koan Hok ditujukan juga kepada Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng. Maka itu Han Pwee Eng langsung berpikir.
"Apa benar dia wanita iblis yang sangat kejam?"
Pikir nona Han. Saat itu hati Kok Siauw Hong semakin kacau.
"Jika aku bertemu dengan Paman Han, apa yang harus aku katakan?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Begitu sampai di depan rumah bambu itu, keadaan di sana sepi-sepi saja.
Pintu rumah tertutup rapat seakan tidak terdengar ada orang di dalam rumah itu.
Menyaksikan keadaan rumah itu Siang-koan Hok tercengang.
"Di rumah ini seolah tidak ada orangnya,"
Kata Siangkoan Hok. Han Pwee Eng segera mengetuk pintu rumah itu, tetapi tidak ada jawaban.
"Kak Tik Bwee, aku Pwee Eng tolong buka pintunya!"
Kata Han Pwee Eng. Dari dalam rumah tetap sepi, karena itu Han Pwee Eng tertegun.
"Pelayannya juga tidak ada, mungkin tidak ada orang!"
Kata Han Pwee Eng.
"Kita sudah telanjur sampai di sini, maka itu kita harus menyelidikinya,"
Kata Siang-koan Hok. Sesudah itu Siangkoan Hok berteriak.
"Seng Li-hiap, maafkan aku bertindak kurang sopan. Jika tidak ada yang mau membukakan pintu, terpaksa aku akan menerjang ke dalam!"
Kata Siang-koan Hok.
Siang-koan Hok merasa segan kepada Seng Cap-si Kouw.
Sekalipun yakin di dalam tidak ada orang, dia masih berkata begitu.
Sementara Siang-koan Hok mendorong pintu bambu, Han Pwee Eng agak cemas, Dia masuk ke dalam rumah dan langsung memanggil ayahnya "Ayah!
Ayah!"
Kata Han Pwee Eng.
Han Pwee Eng yang penasaran lalu memeriksa semua kamar di rumah itu.
Ternyata semua kosong.
Jangankan orang, lukisan ayahnya pun sudah tidak ada semuanya.
Sambil berdiri dengan termangu-manggu nona Han berkata perlahan.
"Dia bilang Ayahku tidak boleh banyak bergerak,"
Kata Han Pwee Eng.
"Maka itu dia bilang Ayah harus dirawat di rumahnya!"
"Pasti dia membohongimu. Sekarang apa kau masih percaya pada omongannya?"
Kata Siang-koan Hok.
"Kita harus tahu ke mana Ayahku dibawa? Sekarang mari kita ke tempat Beng Cit Nio!"
Kata Han Pwee Eng.
"Baik, aku kira Beng Cit Nio lebih terbuka! Jika ada yang diketahuinya, pasti dia memberi tahu kita!"
Kata Siang-koan Hok.
Mereka langsung berjalan menuju ke rumah Beng Cit Nio.
Tapi begitu sampai di sana, mata mereka terbelalak.
Ternyata rumah batu itu telah menjadi puing.
Bau balok yang terbakar pun masih tercium.
Itu tanda kebakaran itu belum lama terjadi.
Melihat keadaan rumah Beng Cit Nio, Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.
"Berdasarkan kepandaiannya, siapa yang telah berani membakar rumah ini?"
Apa Seng Cap-si Kouw?"
Begitu Han Pwee Eng berpikir. Tiba-tiba terlihat ada bayangan orang yang muncul di antara puing-puing. Melihat orang itu Han Pwee Eng gembira sekali.
"Kak Tik Bwee!"
Teriak nona Han. Gadis itu juga kelihatan girang melihat datangnya nona Han.
"Nona Han, kau sudah kembali?"
Kata Tik Bwee. Gadis itu Tik Bwee pelayan Seng Cap-si Kouw. Wajah pelayan itu kelihatan lesu.
"Kak Tik Bwee, kau sakit? Di mana majikanmu? Kenapa kau ada di sini?"
Begitu Han Pwee Eng memberondong gadis itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ceritanya panjang sekali,"
Jawab Tik Bwee.
"Siapa kedua orang ini...?"
"Ini Paman Siang-koan Hok, sahabat Ayahku. Sedang yang ini Saudara Kok adalah..."
Sebelum ucapan nona Han selesai Tik Bwee telah tertawa kecil.
"Oh, ternyata kau Kok Siauw-hiap! Han Lo Eng-hiong sangat berharap kedatanganmu! Beliau hanya tinggal beberapa hari di rumah majikanku. Dan selalu membicarakan tentang Anda. Nona Han, aku ucapkan 941 selamat padamu. Ayahmu sangat mencemaskan kau tidak bisa mencari dia!"
Kata Tik Bwee. Wajah Han Pwee Eng berubah merah.
"Mereka semua sahabatku, coba kau ceritakan semuanya..."
Kata Han Pwee Eng.
"Baik. Mari kita ke hutan bambu. Sambil berjalan aku akan menceritakannya padamu."
Saat berjalan tenaga Tik Bwee kelihatan lemah, maka itu Han Pwee Eng memapahnya.
Kebetulan nona Han menyentuh nadi nona ini, hingga mengetahui nadi Tik Bwee lemah dan tidak teratur.
Nona Han kaget bukan kepalang.
"Kak Tik Bwee, apa kau terluka dalam?"
Kata nona Han.
"Tidak! Selang beberapa hari aku akan sembuh,"
Kata Tik Bwee.
"Karena sakit apa?"
"Bukan karena sakit, tetapi aku ditotok oleh Majikanku, hari ini totokan itu belum bebas!"
Kata Tik Bwee.
"Mengapa majikanmu menotokmu?"
"Karena aku tidak mau mendengar kata-katanya. Sekarang Majikanku sudah pergi, dia tidak menginginkan aku menjadi pelayannya lagi. Ketika akan pergi, dia menotokku!"kata Tik Bwee sambil mengelah napas.
"Bukankah majikanmu sayang padamu? Jika kau bersalah tidak seharusnya dia begitu kejam sampai meninggalkan kau di sini!"
Kata Han Pwee Eng.
"Kau tidak mengetahui sifat Majikanku,"
Kata Tik Bwee sambil mengelah napas panjang.
"Menghukum dengan cara ini pun sudah termasuk ringan!"
"Apa salahmu?"
"Semua ini karena nona Ci!"
Kata Tik Bwee. Mendengar nama Ci Giok Hian disebut-sebut oleh Tik Bwee, Kok Siauw Hong ikut bicara.
"Apa yang kau maksud Ci Giok Hian?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Benar, kau kenal dengannya?"
Kata Tik Bwee.
"Kenapa karena dia, kau yang dihukum?"
Kata Siauw Hong.
"Begini ceritanya,"
Kata Tik Bwee.
"Hari itu ketika nona Ci datang ke tempat kami, Majikanku menyusun sebuah rencana untuk membebaskan ayah nona Han. Nona Ci diminta menyamar saat datang ke tempat Beng Cit Nio dan aku ikut mengantarnya ke sana!"
"Masalah itu aku sudah tahu,"
Kata Siauw Hong.
"Kau menemaninya atas perintah majikanmu, tapi kenapa kau sampai dihukum?' "Itu karena keponakan Majikanku. Siauw-ya jatuh hati pada nona Ci!"
Kata Tik Bwee. Sesudah mendengar keterangan itu Kok Siauw Hong mengelah napas.
"Jadi yang dikatakan Tu Hok bukan khabar bohong,"
Pikir Kok Siauw Hong dengan wajah biasa-biasa saja. Sesudah diam sejenak Kok Siauw Hong bertanya lagi.
"Kalau siauw-yamu jatuh cinta pada nona Ci, apa hubungannya denganmu?"
Kata Siauw Hong.
"Baik, akan aku ceritakan,"
Kata Tik Bwee.
"Majikanku menyuruh nona Ci menyamar ke tempat Beng Cit Nio untuk mencuri arak Kiu-than-sun-yang Pek-hoa-ciu. Arak 943 itu untuk menolong Han Lo Eng-hiong. Tetapi hal ini tidak diketahui oleh Siauw-ya. Malam itu Majikanku menyuruh aku membakar dupa mengandung obat tidur, maksudnya supaya Siauw-ya tertidur lelap saat nona Ci pergi. Tetapi aku melanggar perintah Majikanku, dengan mengurangi obat biusnya. Aku juga memberi tahu maksud kepergian nona Ci pada Siauw-ya. Esoknya Siauw-ya ikut mengantarkan nona Ci. Saat itulah Siauw-yaku memberinya cincin tanda pertunangan dengan nona Ci!"
"Kau menyaksikan sendiri kejadian itu?"
Kata Siauw Hong.
"Apa nona Ci menerima lamaran itu?"
"Ketika itu Siauw-ya menotok jalan darahku dan menaruhku di bawah sebuah pohon. Sesudah itu Siauw-ya mengajak nona Ci menjauhi tempat aku diletakkan. Sekalipun aku tidak mendengar pembicaraan mereka, tetapi aku lihat Siauw-ya memberi cincin pertunangan pemberian Beng Cit Nio. Aku tahu, jika Siauw-ya bertemu seorang gadis yang disukainya, dia boleh memberikan cincin itu pada gadis itu. Pelayan Beng Cit Nio memberitahu aku, saat penyamaran nona Ci ketahuan, dan ingin membunuh nona Ci. Tetapi dia batal membunuh nona Ci saat dia melihat cincin itu!"
Kata Tik Bwee. Kebetulan mengenai kejadian ini Han Pwee Eng sudah mengetahuinya langsung. Sedang Kok Siauw Hong baru tahu saat itu "Ah, kalau begitu masalah ini benar,"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Aku tidak mengira Ci Giok Hian bisa berubah demikian cepat!"
Berhubung Kok Siauw Hong terus bertanya tentang Ci Giok Hian, tentu saja pelayan ini jadi curiga dan heran.
"Ketika aku pulang setelah mengantarkan Ci Giok Hian ke tempat Beng Cit Nio,"
Melanjutkan Tik Bwee.
"Aku lihat 944 wajah Majikanku kehijauan. Tetapi aneh dia tidak memarahiku. Kemarin malam, saat Majikan akan pergi baru dia menotokku!"
"Mungkin Majikanmu tidak suka pada nona Ci, padahal Siauw-yamu dengan nona Ci pasangan yang serasi,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Benar, mereka pasangan yang sangat serasi!"
Kata Tik Bwee.
"Majikanku bukan marah karena itu, dia marah karena Siauw-ya bertunangan secara diam-diam. Dia juga marah kepadaku karena aku tidak mau mendengar katakatanya!"
Kata Tik Bwee yang agak kesal dan cemburu karena Kok Siauw Hong mengatakan nona Ci sangat serasi dengan Siauwyanya. Padahal ucapan Kok Siauw Hong itu diucapkan tanpa sengaja.
"Sudah! Kau jangan terus membicarakan Nona Ci, aku ke mari untuk mencari Ayahku. Majikanmu tidak ada, lalu ke mana Ayahku dibawanya?"
Kata Han Pwee Eng.
"Pasti ayahmu pergi dengan Majikanku!"
Kata pelayan itu.
"Memang Ayahku sudah bisa berjalan?"
"Majikanku membawa ayahmu dengan naik kereta. Di balik gunung ada jalan hingga Majikanku tidak perlu lewat jalan air terjun!"
Kata Tik Bwee.
"Lalu siapa yang membakar rumah Beng Cit Nio?"
"Aku tidak tahu! Semalam aku lihat api berkobar di rumah Beng Cit Nio. Tetapi karena totokanku belum bebas, aku tidak datang ke sana!"
Kata Tik Bwee.
"Menurutku Seng Cap-si Kouw yang membakar rumah Beng Cit Nio. Mungkin dia juga yang mengusir Beng Cit Nio pergi!"
Kata Siang-koan Hok. Han Pwee Eng sependapat dengan Siang-koan Hok.
"Nona Han, apa kau tahu ke mana kira-kira nona Ci dan Siauw-yaku pergi? Apakah kau mengetahuinya?"
Kata Tik Bwee mencoba mencari keterangan.
"Yang aku dengar Siauw-yamu pergi ke Kang-lam!"
Kata nona Han.
"Apakah nona Ci ikut bersamanya?"
"Barangkali ya, tetapi aku tidak tahu pasti!"
Kata nona Han.
"Hm! Nona Han, kau tidak perlu menutup-nutupi kepergian mereka! Pasti mereka pergi bersama-sama!"
Kata Tik Bwee. Saat itu Tik Bwee tertegun sejenak. Dia memandang jauh ke depan dengan mata kosong.
"Kang-lam itu jauh, kan?"
Kata Tik Bwee. Han Pwee Eng mengangguk perlahan, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Kak Tik Bwee, ini kantung sulammu yang kau titipkan untuk Seng Kong-cu. Aku khawatir aku tidak akan bertemu dengannya. Lebih baik kukembalikan saja, bagaimana?"
Dengan sangat berduka Tik Bwee menerima kantung sulam itu sambil menghela napas panjang.
"Benar, sekarang kantung itu tidak perlu kau berikan kepadanya!"
"Kak, selanjutnya kau mau ke mana? Apa tidak lebih baik kau ikut kami saja?"
Kata Han Pwee Eng.
"Terima-kasih,"
Kata Tik Bwee.
"Tetapi walau tidak tahu apakah Majikanku akan kembali atau tidak, sebagai pelayan aku harus menjaga rumah Majikanku!"
Tak lama mereka telah sampai di hutan bambu.
"Nona Han, apa kau mau singgah dulu?"
Kata Tik Bwee.
"Tidak. Hari mulai gelap, kami harus buru-buru pergi!"
Kata Han Pwee Eng. Namun, Han Pwee Eng berpikir.
"Dia pandai sastra dan silat juga cantik. Tetapi nasibnya sangat buruk. Sekarang dia tidak punya tempat untuk berteduh!"
Pikir Han Pwee Eng. Dia awasi Tik Bwee yang berjalan ke arah hutan bambu. Diam-diam nona Han mengelah napas panjang. Mereka langsung meninggalkan hutan bambu. Di tengah jalan Kok Siauw Hong mengeluh.
"Kedatangan kita sia-sia saja, kita hanya mendengar sedikit keterangan dari nona itu,"
Kata Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong sangat mencemaskan keselamatan Han Tay Hiong.
Tetapi dia sedikit lega, semula dia mengira akan menghadapi masalah yang menegangkan di depan orang tua itu, ternyata tidak terjadi karena orang tua itu tidak ada.
"Aku akan langsung ke See-lian-san,"
Kata Siang-koan Hok.
"Dalam perjalanan aku akan mencari keterangan tentang Ayahmu. Nona Han, sebaiknya kalian bersamasama ke Kimkee-leng?"
Sekilas Han Pwee Eng melirik ke arah Kok Siauw Hong.
"Aku dengar ada beberapa sahabat Ayahku datang ke sana, pasti aku harus ke sana!"
Kata Han Pwee Eng. Siang-koan Hok mengangguk.
"Liu Li-hiap banyak anak buahnya, aku rasa dia akan lebih cepat mendapat khabar tentang ayahmu!"
Kata Siangkoan Hok.
"Mudah-mudahan begitu!"
Kata nona Han.
"Jika kau bertemu dengan beliau, tolong sampaikan terimakasihku terutama mengenai urusan puteriku,"
Kata Siang-koan Hok pada nona Han.
"Jika aku sudah tahu tentang ayahmu, akan kuutus orang memberi khabar padamu. Dari See-lian-san dan memang sering ada yang berkunjung ke Kim-kee-leng dan sebaliknya ada yang pergi ke See-lian-san!"
"Ya,"
Kata Han Pwee Eng. Maka berangkatlah Siang-koan Hok seorang diri ke Seelian-san. Setelah tinggal berduaan Han Pwee Eng berkata pada Kok Siauw Hong.
"Siauw Hong, apakah kau mau pulang ke Yang-cou? Kalau begitu kita pun harus segera berpisah!"
Kata Han Pwee Eng.
"Siapa bilang aku mau pulang?"
Kata Siauw Hong tersentak kaget.
"Apa kau tidak dengar tadi Siang-koan Cian-pwee menyuruhku ke mana? Bukankah tadi kau sudah mewakili aku untuk mengabulkan permintaannya untuk bersama-sama ke Kim-kee-leng? Kenapa kau berkata begitu?"
Han Pwee Eng menatap ke arah Kok Siauw Hong.
"Tadi aku hanya bilang aku yang akan ke Kim-kee-leng, itu tidak termasuk kau!"
Kata Han Pwee Eng.
"Tadi Siang-koan Cian-pwee mengatakan "kalian", berarti kita berdua. Bukan cuma kau sendiri!"
Kata Kok Siauw Hong. Wajah Han Pwee Eng berubah merah.
"Apa kau ingin aku memberitahukan...memberitahukan Ayahku, ah jika mengetahui masalah kita, pasti dia akan 948 bertanya panjang lebar. Lalu bagaimana aku harus menjelaskannya?"
Kata Han Pwee Eng gugup. Seolah memberi hormat Kok Siauw Hong membungkukkan tubuhnya ke depan nona Han.
"Pwee Eng, maafkan aku. Dulu aku terlalu ceroboh. Aku.... aku berbuat salah, aku minta kau memaafkan aku!"
Kata Kok Siauw Hong. Ini untuk pertama kali Kok Siauw Hong meminta maaf kepada Han Pwee Eng. Tentu saja nona Han puas sekali. Perasaan kesalnya perlahan-lahan mulai sirna, walau wajahnya tetap dingin.
"Aku harap kaujangan mengungkit-ungkit lagi masa lalu kita,"
Kata nona Han.
"Mengenai masalah pribadi yang menyangkut masalah seumur hidup, memang sudah seharusnya diputuskan oleh masing-masing pribadi. Kau tidak bersalah kepadaku, maka itu tidak perlu minta maaf."
"Walaupun hatimu sangat lapang, aku tetap merasa bersalah kepadamu,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Jika tidak mau pulang, kau mau ke mana?"
Kata Han Pwee Eng dengan wajah memerah.
"Tentu saja aku akan pergi bersamamu ke Kim-kee-leng, malah kau masih bertanya?"
Kata Kok Siauw Hong sambil tersenyum.
Sebenarnya pertanyaan Han Pwee Eng tadi hanya ingin menguji isi hati pemuda itu, karena rumah pemuda itu tidak begitu jauh lagi dari situ.
Jika Kok Siauw Hong masih merindukan nona Ci, pasti dia akan pergi ke Pek-hoa-kok untuk mencari tahu tentang gadis itu.
Nona Han tahu, jika mereka akan ke Kang-lam pun, mereka harus lewat Yangcou (Yang-ciu).
Mungkin Ci Giok Phang sudah pulang.
Jika pemuda ini pulang dia akan melewati Pek-hoa-kok dan 949 mereka akan bertemu.
Dengan demikian dia akan tahu tentang Ci Giok Hian dari kakaknya itu.
"Pwee Eng,"
Kata Siauw Hong.
"Izinkan aku menemanimu. Semua yang telah kita alami, anggap saja telah kita lupakan. Bukankah kita.... kita bisa memulai dari awal lagi?"
"Apa maksudmu?"
Tanya nona Han dengan dingin. Kok Siauw Hong mengawasi nona Han yang wajahnya kelihatan dingin. Hal ini membuat pemuda ini tertegun.
"Aku cuma ingin menemanimu ke Kim-kee-leng. Aku kira berjalan berdua lebih baik dari pada berjalan sendirian saja..."
Kata Kok Siauw Hong.
"Di Kim-kee-leng pasti ada Kim-to Lui Piauw, Ong Koan Kun dan yang lainnya,"
Kata Han Pwee Eng.
"Apakah kau tidak takut bertemu dengan mereka?"
Nama orang-orang yang disebutkan nona Han adalah orang yang tempo hari menyerbu ke Pek-hoa-kok.
Malah di antaranya pernah bertarung dengan Kok Siauw Hong.
Khususnya Kim-to Lui Piauw, sahabat Han Tay Hiong.
Jadi jelas karena di sana ada dua pelayan tua keluarga Han, pasti Lui Piauw sudah tahu tentang masalah mereka berdua.
Kok Siauw Hong telah dianggap mencampakkan nona Han karena akan menikahi gadis lain.
Lui Piauw marah dia datang ke Pekhoa-kok dan bentrok dengan Kok Siauw Hong.
Jika saat itu tidak muncul utusan Hong-laymo-li pasti pertarungan akan menjadi hebat bahkan akan terjadi pertumpahan darah.
Sekarang orang yang pernah bertarung dengan Kok Siauw Hong itu ada di Kim-kee-leng.
Kok Siauw Hong sadar dia akan bertemu dengan mereka.
Namun demi nona Han yang hatinya mulai beku 950 terhadapnya, dia tidak peduli lagi akan bertemu dengan siapa pun.
Dia langsung tertawa.
"Aku bertarung dengan Lui-lo-eng-hiong karena dia membelamu! Jika dia melihat kita datang bersama-sama, pasti dia girang, bahkan tak akan memusuhiku lagi. Mana mungkin dia akan menyusahkan aku, karena tahu kita telah "rujuk"
Lagi!"
Kata Kok Siauw Hong. Mendengar kata-kata pemuda itu mata Han Pwee Eng langsung melotot.
"Siapa yang sudah rujuk lagi?"
Kata si nona. Melihat nona itu sedikit marah. Kok Siauw Hong kelihatan gugup.
"Pwee Eng, tadi aku sudah minta maaf padamu,"
Kata Siauw Hong.
"Apa kau tidak bisa memaafkan aku? Bukankah kita bisa mulai lagi dari awal?"
"Tadi sudah kubilang, bahwa aku tidak menganggapmu bersalah,"
Kata nona Han.
"Maka itu kau tidak perlu minta maaf Jika kau mau ikut, silakan saja! Tapi aku harus menjelaskan padamu tentang hubungan kita. Aku minta kau tahu dengan jelas!"
"Maksudmu?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Di antara kita sejak saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi!"
Jawab nona Han.
"Pwee Eng, dulu kita telah dijodohkan untuk menjadi suami-isteri oleh orang tua kita. Tetapi sekarang aku sendiri yang akan......"
Kata-kata Kok Siauw Hong terhenti sebelum dia mengucapkan kata "melamarmu"..... Itu karena nona Han memotong kata-kata pemuda itu.
"Siauw Hong, aku bukan gadis yang bisa diremehkan begitu saja! Mengenai soal jodoh sejak saat ini dan 951 selanjutnya, jangan kau ungkit-ungkit lagi!"
Kata Han Pwee Eng tegas.
Sekalipun dia telah memaafkan pemuda itu, namun sakit hatinya masih membekas.
Ditambah lagi perubahan atas diri Kok Siauw Hong terjadi saat pemuda ini sudah mengetahui Ci Giok Hian pergi ke Kang-lam bersama Seng Liong Sen, baru pemuda itu buka mulut akan melamar dirinya.
"Hm! Setelah Kak Giok Hian meninggalkanmu, baru kau berbalik padaku!"
Pikir Han Pwee Eng. Dia jengkel sekalipun senang karena pemuda itu ternyata mencintainya Tetapi dia pun tidak semudah itu mau menerima kembali pemuda itu.
"Aah, memang aku yang salah,"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Aku telah membuat hatinya terluka! Tidak heran dia belum mau menerimaku..."
Maka itu Kok Siauw Hong tidak berani memaksa lagi.
"Pwee Eng, aku salut padamu,"
Kata Siauw Hong.
"Baiklah, aku setuju pada apa yang kau katakan. Tapi hubungan ayah kita bagai saudara saja, benar kan?"
"Lalu kenapa?"
Kata nona Han.
"Di antara kita sudah tidak ada ikatan apa-apa, tetapi jika sebagai kakak beradik masih bisa, dong?"
Kata Kok Siauw Hong. Melihat pemuda itu bersungguh-sungguh nona Han jadi terharu.
"Dalam dua bulan ini kau banyak membantuku, Kok Toako,"
Kata nona Han.
"aku sangat berterima kasih padamu. Sudah jangan bicara soal pribadi lagi. Kau seorang pendekar sejati, tentu saja aku bangga menjadi adikmu!"
Bukan main girangnya Kok Siauw Hong, dia langsung mengajak Han Pwee Eng untuk bersumpah di depan Tuhan menyatakan sebagai kakak-beradik.
Ketika itu angkatan perang Mongol sudah bergerak ke arah barat, oleh karena itu kota Lok-yang tidak dijaga ketat.
Mereka hanya melihat tentara Mongol yang menjaga pintu kota.
Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng menyamar sebagai suami-isteri petani.
Sesudah jauh dari kota mereka menyeberangi sungai Huang-hoo.
Di sepanjang jalan mereka tidak mendapat gangguan apa-apa.
Selama dua hari perjalanan mereka masih kelihatan canggung.
Namun, lambat-laun hilang juga perasaan canggung itu.
Mereka saling hormat-menghormati juga saling memperhatikan.
Bahkan mereka mulai berani bercanda di sepanjang jalan.
Mereka mirip seperti kakakberadik saja.
Suatu hari mereka tiba di perbatasan Ho-lam dan San-tung (Shan-dong).
Wilayah ini masuk dalam kekuasaan Kerajaan Kim.
Pada tengah hari mereka sampai di sebuah warung teh yang ada di tepi jalan.
"Kita sudah lelah,"
Kata Siauw Hong pada nona Han.
"Bagaimana kalau kita beristirahat dulu? Di sana ada warung teh barangkali saja ada makanan yang bisa kita makan, bagaimana menurutmu?' Rata-rata warung-warung teh di wilayah utara menyediakan makanan dan arak. Kok Siauw Hong dan nona Han masuk ke dalam warung. Begitu masuk mereka lihat ada dua orang tamu sedang duduk di warung itu. Salah seorang berumur 40 tahun, sedangkan yang lain 953 seorang hwee-shio berumur 40 tahun lebih. Tubuh hweeshio itu kekar, tongkat besinya tersandar di meja tak jauh dari tempat duduk mereka. Setelah diperhatikan Kok Siauw Hong mengenali lelaki muda itu Ih Hua Liong. Melihat Ih Hua Liong yang pernah memfitnahnya Kok Siauw Hong terkejut dan juga girang. Melihat kedatangan Kok Siauw Hong bukan main kagetnya Ih Hua Liong. Dia tertegun beberapa saat, tidak jadi bicara dengan hwee-shio itu. Kok Siauw Hong melompat ke arah meja mereka. Tidak lama Kok Siauw Hong sudah ada di hadapan Ih Hua Liong. Melihat Kok Siauw Hong bergerak, Han Pwee Eng pun buruburu berdiri di depan pintu warung. Dia siap membantu Kok Siauw Hong dan bersiaga kalau-kalau pemuda itu melarikan diri. Melihat kedua tamu yang baru datang itu langsung akan bentrok, pemilik warung teh terkejut sekali. Dia maju dan langsung bicara.
"Oh, rupanya kalian sudah saling mengenal, bagaimana jika kalian duduk bersama. Barangkali nona yang di pintu pun saling mengenal juga. Silakan duduk bersama!"
Kata pemilik warung.
"Jangan repot-repot!"
Kata Kok Siauw Hong."Aku mau bicara dulu dengannya, baru pesan makanan!"
Pemilik warung yang sudah berpengalaman itu sudah langsung sadar, bahwa tak lama lagi akan terjadi keributan.
"Baik, karena kalian sudah saling mengenal, silakan bicara baik-baik, jangan mengacau di warungku!"
Kata pemilik warung.
"Jangan khawatir, jika dia baik-baik saja aku tidak akan mengadakan keributan di tempat ini. Jika terpaksa harus bertarungpun, barangmu yang rusak pasti akan aku ganti!"
Kata Kok Siauw Hong. Sesudah itu Kok Siauw Hong membentak.
"Ih Hua Liong! Kau tidak menduga bisa kebetulan bertemu lagi denganku, bukan? Ternyata dunia ini sempit, ya? Di mana pun kita bisa bertemu lagi!"
Kata Kok Siauw Hong. Saat itu Ih Hua Liong sedang berpikir keras.
"Benarkah hwee-shio ini orang yang dikatakan Pauw Leng lari dari Siauwlim-si? Jika benar, aku tidak perlu takut pada Kok Siauw Hong!"
Pikir Ih Hua Liong.
Saat Ih Hua Liong menoleh ke arah hwee-shio itu, dia sedang menunduk sambil minum arak, seolah tidak memperhatikan kedatangan Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng.
Melihat sikap hwee-shio itu Ih Hua Liong jadi ragu-ragu, benarkah orang itu yang dimaksud Pauw Leng.
Tidak heran kalau dia jadi cemas bukan kepalang.
Terpaksa dia tersenyum ke arah Kok Siauw Hong.
"Ya, memang aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,"
Kata Ih Hua Liong.
"Apa saudara Kok sudah mendapat khabar tentang Pamanmu? Sekarang aku sedang mencari Suhu!"
"Benar, tapi kenapa hari itu kau bilang aku bersama angkatan perang Mongol, hari itu kau bisa meloloskan diri. Tapi hari ini kau bertemu lagi denganku!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku mohon kau jangan salah paham, hal itu karena aku sangat ditekan oleh pihak Mongol,"
Kata Ih Hua Liong.
"Kau bilang kau ditekan, apa bukan sebaliknya, kau malah sangat akrab dengan Iblis Tua dan orang Mongol itu?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Tidak! Aku malah sangat penasaran pada dua Iblis Tua itu!"
Kata Ih Hua Liong.
"Karena Dilis Tua itu tahu aku murid pamanmu, malah banyak bertanya padaku. Aku minta kau jangan salah sangka"
Dengan marah Kok Siauw Hong memukul meja.
"Hm! Kau jangan macam-macam di depanku!"
Bentak Kok Siauw Hong.
"Jika kau tidak bicara jujur jangan kau salahkan aku kasar!"
Wajah Ih Hua Liong jadi muram.
"Kau ingin aku bicarajujur tentang apa?"
Kata Ih Hua Liong.
"Kenapa kau memfitnah dan ingin mencelakakan aku?"
Bentak Kok Siauw Hong.
"Aku tidak bermaksud memfitnahmu, cuma mendengar khabar angin saja,"
Kata Ih Hua Liong.
"Dari siapa kau dengar khabar itu?"
Kata Siauw Hong.
"Dari... .dari seorang anggota Kay-pang!"
Kata Ih Hua Liong.
"Apa kau kenal dengan anggota Kay-pang itu?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku tidak kenal!"
Kata Ih Hua Liong.
"Hm! Omong kosong!"
Bentak Kok Siauw Hong.
"Kaulah yang memfitnahku, lebih baik kau terus-terang! Pertama, kenapa kau memfitnahku? Kedua, kau bersekongkol dengan musuh, apakah Pamanku mengetahui soal ini?"
"Kau boleh tidak percaya padaku,"
Kata Ih Hua Liong.
"tetapi guruku Jen Thian Ngo, yang juga pamanmu seorang pendekar sejati!"
Sebenarnya ucapan Ih Hua Liong saat menyebutkan nama Jen Thian Ngo karena dia maksud lain.
Jika hweeshio itu teman guruhnya, pasti dia akan membantu Ih Hua Liong.
Ternyata ini membawa hasil.
Setelah mendengar nama Jen Thian Ngo disebut, hwee-shio itu mendadak bicara.
"Omi To-hud! Berbagai persoalan bisa diurus secara damai. Aku orang beribadah jadi tidak ingin melihat keributan di tempat ini!"
Kata hwee-shio itu.
"Tay-su, Anda tidak tahu orang ini bersekongkol dengan "Omitohud! Kalau begitu aku tidak mau ikut campur urusan kalian! Terserah kalian saja, mau ribut atau mau berkelahi! Aku masa bodoh terserah kalian saja!"
Kata hweeshio itu. Mendengar ucapan hwee-shio itu Ih Hua Liong kelihatan kecewa sekali.
"Jika benar hwee-shio ini yang dimaksud Pauw Leng, pasti dan tidak akan takut pada siapa pun. Apa aku salah lihat?"
Pikir Ih Hua Liong.
"Jika tidak salah mata, kenapa dia bicara begitu?"
"Ih Hua Liong, kau sedang memikirkan siasat busuk apa lagi? Cepat katakan sejujurnya!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kurang leluasa bicara di sini, bagaimana kalau kita bicara di luar saja?"
Kata Ih Hua Liong sambil bangkit akan keluar.
Tiba-tiba dia dorong meja di hadapannya sambil menghunus pedang.
Kok Siauw Hong pernah bertarung dengan Ih Hua Liong.
Dia yakin Ih Hua Liong tidak akan lolos dari tangannya.
Saat Ih Hua Liong mengajaknya bicara di luar, Kok Siauw Hong mengangguk.
Tidak dia duga kalau Ih Hua Liong menghunus pedangnya.
Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 8
Baca Juga: Raja Naga Tujuh Bintang 3