Eps 8 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.
Karena tak siap hampir saja Kok Siauw Hong tertimpa meja makan.
Sedang pakaian Siauw Hong basah tersiram kuah yang tumpah ke arahnya.
"Binatang, kau mau kabur ke mana?"
Bentak Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong mendorong meja itu ke samping hingga air teh tumpah mengenai jubah hwee-shio itu.
"Hm! Sungguh keterlaluan! Mau berkelahi terserah kalian, kenapa kau sampai memukul tubuhku?"
Bentak hwee-shio itu. Hwee-shio itu memukul ke arah meja.
"Braak!"
Meja itu langsung hancur berantakan.
"Heran, aku hanya menumpahkan air teh ke jubahnya, kenapa dia bilang aku memukulnya?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Sesaat Kok Siauw Hong sadar, hwee-shio itu sengaja berpihak pada Ih Hua Liong.
Tetapi karena merasa bersalah telah menumpahkan air ke pakaiannya, Kok Siauw Hong segera memberi hormat.
"Maaf! Aku telah membasahi pakaian Tay-su!"
Kata Siauw Hong.
Sedang Ih Hua Liong yang mau kabur ternyata dihadang oleh Han Pwee Eng.
Ih Hua Liong langsung menyerang nona Han dengan jurus Cit-siu-kiam-hoat.
Sebenarnya Ih 958 Hua Liong pun belum yakin benar apakah hwee-shio itu memihak kepadanya atau tidak.
Jika hwee-shio itu benar hwee-shio yang dimaksud si Maling Kecil Pauw Leng, pasti dia akan menghalangi Kok Siauw Hong yang akan mengejarnya.
Jika bukan dia berusaha akan menangkap nona Han yang akan dijadikan sandera.
Di luar dugaan kepandaian nona Han lebih tinggi dibanding kepandaian Ih Hua Liong.
Tetapi karena serangan Ih Hua Liong dilakukan secara bertubi-tubi, nona Han kewalahan juga.
Tetapi mengalahkan dan menangkap nona itu tidak mudah.
Saat serangan Ih Hua Liong yang membuat nona Han mundur.
Tetapi nona Han berhasil merobek pakaian Ih Hua Liong dengan pedangnya Untung Ih Hua Liong berhasil kabur, jika tidak tangannya pasti terpotong oleh pedang nona Han.
Saat Kok Siauw Hong hendak mengejar, dia terhalang oleh hwee-shio itu.
Kok Siauw Hong tidak ingin meladeni hwee-shio itu.
Dia kerahkan gin-kangnya untuk mengejar Ih Hua Liong.
Dengan demikian Kok Siauw Hong berhasil mengejar Ih Hua Liong.
Ih Hua Liong langsung menyerang Kok Siauw Hong dengan jurus Cit-seng-cip-hwee (Tujuh Bintang Berkumpu).
"Kok Siauw Hong, jangan keterlaluan mendesakku. Sekalipun kau gagah tapi ada lagi orang lain yang lebih gagah!"
Kata Ih Hua Liong.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 34 Melihat Ih Hua Liong nekat mengadakan perlawanan, Kok Siauw Hong tertawa dingin.
Dia segera maju dan menyerang ke arah Ih Hua Liong sambil membentak dengan suara keras.
"Ilmu Cit-siu-kiam-hoatmu harus kau latih lagi selama sepuluh tahun,"
Kata Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong juga menggunakan jurus yang sama, yaitu jurus Cit-seng-cip-hwee (Tujuh bintang bersatu).
Saat menerima serangan dari Kok Siauw Hong, mata Ih Hua Liong jadi silau.
Buru-buru Ih Hua Liong melompat mundur.
"Lihat! Ada apa di pakaianmu!"
Kata Kok Siauw Hong.
Saat Ih Hua Liong menunduk memeriksa pakaiannya, dia lihat di pakaiannya terdapat bekas tujuh buah lubang tusukan pedang Kok Siauw Hong.
Melihat pakaiannya itu Ih Hua Liong langsung ciut hatinya "Luar biasa,"
Pikir Ih Hua Liong.
"Ilmu silatnya lihay sekali! Kepandaian bocah ini jauh lebih lihay dibanding dengan Guruku! Jika tadi dia ingin membunuhku, aku sudah tidak bernyawa lagi. Oh, mudah-mudahan hwee-shio itu mau menolongku!"
"Jika kau masih sayang pada nyawamu, lekas katakan!"
Bentak Kok Siauw Hong. Ih Hua Liong diam saja.
"Tadi dia bilang di antara orang gagah masih ada orang gagah yang lain, apa maksud kata-kata hwee-shio itu? Ih Hua Liong membangkang mungkin karena dia mengandalkan hwee-shio itu?"
Pikir Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong sudah sejak awal mengetahui bahwa hwee-shio itu berilmu tinggi, tetapi dia yakin Ih Hua Liong tidak akan mampu lolos dari tikamannya.
Kok Siauw Hong tidak gentar sekalipun hwee-shio itu lihay, apalagi ada Han Pwee Eng yang pasti membantu dia.
"Cepat katakan!"
Bentak Kok Siauw Hong. Sekali lagi pedang Kok Siauw Hong bergerak cepat luar biasa, saat itu seolah sukma Ih Hua Liong sudah terbang ke angkasa "Ba.. .baik.. .akan aku.. .aku katakan!"
Kata Ih Hua Liong dengan suara terbata-bata.
Saat itu pedang Kok Siauw Hong sudah tertuju ke tenggorokan Ih Hua Liong.
Namun, tiba-tiba terlihat sinar berkelebat bagaikan pelangi ke tempat mereka.
Ternyata bayangan hwee-shio yang telah melepas jubahnya dan menangkis pedang Kok Siauw Hong.
Pedang Kok Siauw Hong terhajar dan bentrok keras, seolah pedang itu mengenai tembok saja.
Namun, jubah hwee-shio itu telah ditembus sehingga meninggalkan bekas tujuh buah lubang pedang Kok Siauw Hong.
Hwee-shio itu tertawa dingin.
"Hm! Kau bisa ilmu pedang Cit-siu-kiam-hoat. Dengan ilmu itu kau ingin menindas orang! Aku ingin mencoba ilmu silatmu itu, mari!"
Kata si hwee-shio menantang. Melihat hwee-shio itu menolongi dirinya, Ih Hua Liong girang bukan kepalang. Ternyata dugaannya tidak salah, bahwa hwee-shio itu hwee-shio yang dimaksud oleh Pauw Leng.
"Tay-su benar!"
Kata Ih Hua Liong.
"Bocah ini perlu dihajar!"
"Ya karena bocah ini berani melawanku, aku harus memberinya pelajaran! Pasti aku akan menghajarnya! Jika kau tidak ada urusan lain di sini, lebih baik kau segera menepi saja!"
Kata si hwee-shio.
Ih Hua Liong segera mundur.
Dari tempat yang agak jauh dia mengawasi hwee-shio yang akan menghajar Kok Siauw Hong.
Hwee-shio ini bernama Sah Seng Liu, dia murid Siauwlim.
Berhubung sifatnya tamak dan buruk, dia terjerumus ke jalan yang sesat dan banyak melakukan kejahatan.
Duapuluh tahun yang lalu, Sah Seng Liu pernah bersama Kong-sun Khie menimbulkan badai besar di kalangan Kangouw.
Dia sering melakukan berbagai kejahatan.
Ketika orang-orang gagah menyerbu ke dusun Suang-kee-po, ketika itu Sah Seng Liu tertangkap oleh su-peknya.
Dia dihukum selama sepuluh tahun menghadap ke tembok.
Saat itu dia seolah sudah tobat dan selama sepuluh tahun itu, ilmu silatnya jadi bertambah tinggi.
Melihat Sah Seng Liu seolah sudah tobat, ketua Siauw-lim-pay menempatkan dia di dalam kelenteng.
Selama itu Sah Seng Liu pun bersikap alim.
Karena sikapnya itu ketua kelenteng jadi tidak waspada dan tidak menjaganya dengan ketat.
Setengah tahun yang lalu Sah Seng Liu berhasil kabur dari kelenteng Siauw-lim.
Dia langsung menemui si Maling Kecil Pauw Leng yang memang sahabatnya.
Begitu sampai Sah Seng Liu diminta bergabung dengan pihak Mongol.
Dia setuju bergabung karenajika pihak Siauwlim-si akan menangkapnya, dia akan ditolong oleh Cun Seng Hoat Ong yang ilmu silatnya lihay sekali.
Begitulah, ketika Jen Thian Ngo dan Pauw Leng telah meninggalkan rumah Han Tay Hiong karena mereka hampir dipergoki Han Pwee Eng, Pauw Leng kabur berpisah dengan Jen Thian Ngo.
Di tengah jalan Pauw Leng bertemu dengan Ih Hua Liong yang sedang mencari gurunya, setelah gagal mendapatkan bagian harta dari kedua iblis tua itu.
Dari 962 Pauw Leng inilah Ih Hua Liong tahu tentang hwee-shio itu.
Malah Pauw Leng menjelaskan, bahwa Sah Seng Liu pun kenal dengan Jen Thian Ngo.
Kebetulan Ih Hua Liong bertemu dengan Sah Seng Liu, tetapi keburu datang Kok Siauw Hong.
Saat Kok Siauw Hong ditegur bahwa dia telah menindas orang yang lemah, pemuda itu balik bertanya.
"Tay-su tidak bertanya dulu, mengapa aku memaksa orang itu! Kau bilang aku berani melawanmu, padahal tanpa sengaja aku membasahi pakaianmu. Maka itu aku minta maaf!'' kata Kok Siauw Hong. Sah Seng Liu tertawa.
"Jubahku jubah pusaka, apa cukup hanya dengan minta maaf lalu urusan jadi beres?"
Kata Sah Seng Liu.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Kata Siauw Hong.
"Kau harus mengganti jubahku!"
Kata Sah Seng Liu.
"Baik, aku akan membuatkan jubah baru untukmu!"
"Hm! Gampang saja kau bicara! Mana mungkin kau mengganti jubah pusaka denganjubah baru yang kau buat?"
Kata Sah Seng Liu. Mendengar ucapan Sah Seng Liu itu, bukan main kesalnya hati Kok Siauw Hong. Namun, dia mencoba menahan marah.
"Kalau begitu aku harus bagaimana?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku ingin kau serahkan pedangmu, dan kau juga harus sujud di kakiku!"
Kata Sah Seng Liu. Dihina demikian Kok Siauw Hong tidak tahan sabar lagi.
"Hm! Tay-su, rupanya kau sedang mencari gara-gara! Baik, aku akan meladenimu!"
Kata Kok Siauw Hong. Sah Seng Liu tertawa dingin.
"Baik, jika kau mampu menahan toyaku ini, maka aku tidak akan minta ganti apa-apa padamu!"
Kata Sah Seng Liu. Ketika itu Han Pwee Eng sudah berada di dekat Kok Siauw Hong, maka itu pemuda itu berbisik pada Han Pwee Eng.
"Pwee Eng, kau awasi Ih Hua Liong, biar aku yang menghadapi Tay-su ini!"
Kata Kok Siauw Hong. Melihat Han Pwee Eng mendekati Ih Hua Liong, Sah Seng Liu langsung bicara.
"Aku larang kalian menyentuhnya walau hanya rambutnya saja!"
Kata Sah Seng Liu.
"Huuuh!"
Tak lama terlihat toya hwee-shio itu diputar lalu menyerang ke arah Kok Siauw Hong.
Tak lama toya itu juga menyambar ke arah Han Pwee Eng.
Satu kali bergerak Sah Seng Liu menyerang kedua lawannya sekaligus.
Han Pwee Eng mencelat menghindari serangan Sah Seng Liu, karena toya itu lewat di bawah kakinya.
Pada saat yang bersamaan Kok Siauw Hong pun sudah langsung menyerang Sah Seng Liu dengan jurus Cit-seng-cip-hwee (Tujuh bintang bersatu).
Sinar pedangnya berkelebat ke tujuh jalan darah lawan dengan cepat luar biasa.
"Hm, ternyata mutiara di dalam beras juga ingin memancarkan cahayanya!"
Kata Sah Seng Liu.
Sekalipun Sah Seng Liu berkata begitu, dia tidak berani meremehkan lawannya.
Maka itu dia langsung melancarkan serangan maut dengan toyanya.
Ketika itu Sah Seng Liu menggunakan jurus Tok-coa-sui-wak (Ular berbisa mencari lubang).
Sekalipun jurus ini tidak bisa menyerang ke tujuh jurusan seperti Cit-siu-kiam-hoat, tetapi toya Sah Seng Liu lebih berat.
Tak heran jika jalan darah lawan yang tertotok oleh toyanya itu akan binasa.
Ujung toya Sah Seng Liu bergerak kian-kemari dan terus mengincar jalan darah Kok Siauw Hong.
Tentu saja Kok Siauw Hong terkejut bukan kepalang.
Terpaksa Kok Siauw Hong mengubah serangannya.
Dia gunakan jurus Hian-ciau-hua-sah (Burung mengaduk pasir).
Ujung pedang Kok Siauw Hong menusuk ke jalan darah Hong-hu-hiat lawan.
Sah Seng Liu kaget dia langsung menggerakkan toyanya.
"Tang!"
Ujung toya Sah Seng Liu berhasil menangkis ujung pedang Kok Siauw Hong, hingga miring ke samping.
Kok Siauw Hong kaget tangannya yang memegang pedang terasa sakit sekali.
Saat melihat Ih Hua Liong akan kabur, Han Pwee Eng segera melompat meninggalkan pertarungan, lalu dia gunakan gin-kangnya untuk merngejar Ih Hua Liong.
Sekalipun Ih Hua Liong belum mahir benar menggunakan jurus Cit-siu-kiam-hoat seperti Kok Siauw Hong, namun untuk menghadapi Han Pwee Eng ilmu silatnya itu sudah cukup memadai.
Tak lama kedua orang ini sudah terlibat dalam pertarungan yang seru.
Walau serangan Han Pwee Eng dilakukan secara bertubi-tubi namun Han Pwee Eng belum mampu mengalahkan Ih Hua Liong.
Melihat Ih Hua Liong diserang begitu hebat oleh Han Pwee Eng, bukan main gusarnya Sah Seng Liu.
"Bocah keparat, kau ingin tahu kelihayanku!"
Bentak Sah Seng Liu.
Toya Sah Seng Liu menyerang ke arah Kok Siauw Hong.
Toya itu berputar bagaikan angin puyuh.
Saat itu Han Pwee Eng berada tidak jauh dari tempat pertarungan Kok Siauw Hong dan Sah Seng Liu.
Dia lDiat pedang Kok Siauw Hong selalu tertangkis oleh toya Sah Seng Liu yang lihay.
Diam-diam Han Pwee Eng cemas juga.
Nona Han menjadi bingung, apakah dia harus membantu Kok Siauw Hong atau membekuk Ih Hua Liong.
Sekarang Sah Seng Liu berada di atas angin, maka itu Ih Hua Liong kelihatan girang sekali.
"Gadis liar!"
Kata Sah Seng Liu.
"Dengar, jika kau melukai Ih Hua Liong, aku akan mencabut nyawa bocah ini agar kau jadi janda seumur hidup!"
Sah Seng Liu mengetahui Han Pwee Eng calon isteri Kok Siauw Hong dari Pauw Leng. Saat itu juga wajah Han Pwee Eng merah, tapi Kok Siauw Hong berteriak pada nona itu.
"Adik Eng, jangan hiraukan kata-katanya, cepat tangkap Ih Hua Liong!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Baik, siapa yang lebih lihay aku atau kalian?"
Bentak Sah Seng Liu.
Sah Seng Liu pernah dihukum menghadap tembok selama sepuluh tahun di Siauw-lim-si.
Selama sepuluh tahun itu dia telah melatih ilmu silatnya hingga mencapai tingkat tinggi.
Tidak heran kalau Sah Seng Liu memiliki 966 gin-kang yang lebih lihay dibanding gin-kang Kok Siauw Hong.
Serangan Sah Seng Liu terus berlangsung, angin serangannya terdengar menderu-deru bagaikan badai.
Jika Sah Seng Liu menghadapi lawan biasa saja, sejak tadi dia sudah mampu mengalahkan lawannya.
Tetapi Kok Siauw Hong masih tetap bisa bertahan dari serangannya itu.
Sekarang Han Pwee Eng sudah berhasil menghadapi Ih Hua Liong.
Mereka sudah langsung bertarung dengan hebat.
Nona Han menggunakan jurus Keng-sin-kiam-hoat, dan ini membuat Ih Hua Liong terus terdesak.
Melihat Ih Hua Liong terdesak Sah Seng Liu jengkel.
"Dasar bodoh! Lekas ke mari!"
Kata Sah Seng Liu pada Ih Hua Liong.
Ih Hua Liong yang terkurung oleh pedang Han Pwee Eng tidak mampu membebaskan diri.
Mungkin jika bisa bebas dari kurungan pedang nona Han, dia mampu kabur.
Melihat Sah Seng Liu akan membantu Ih Hua Liong, Kok Siauw Hong menyerang dengan jurus Liok-cut-can-san (Keluar enam kali membabat gunung).
Jurus ini agak aneh, sebab dia memiliki tujuh gerakan, enam gerakan menyerang, satu gerakan untuk menjaga diri.
Sekalipun jurus ini sangat hebat, tetapi menghadapi Sah Seng Liu serangan ini jadi kurang istimewa.
"Hm! Bagus!"
Kata Sah Seng Liu. Sah Seng Liu menggunakan jurus Tiat-soh-heng-kang (Rantai besi mengunci melintang di sungai). Jurus ini kelihatan sangat sederhana, namun daya serangnya sangat dasyat.
"Tang!"
Terdengar suara bentrokan keras.
Suara itu membuat kaget Han Pwee Eng.
Dia langsung melirik ke arah Kok Siauw Hong.
Saat itu Kok Siauw Hong terlihat terdesak mundur, malah terkurung oleh bayangan toya Sah Seng Liu, sehingga tidak mudah Kok Siauw Hong bisa bebas dari kurungan toya lawan.
Melihat Kok Siauw Hong dalam bahaya, hal itu membuat Han Pwee Eng tidak tinggal diam.
Han Pwee Eng langsung menyerang Sah Seng Liu.
Sinar pedangnya menyambar ke arah Sah Seng Liu.
Dengan jurus Eng-pek-thiang-khong (Elang menyambar dari angkasa) Han Pwee Eng menyerang ke jalan darah Thian-leng-kay.
Tapi serangan ini bisa dihindari oleh Sah Seng Liu, tapi akan membahayakan Han Pwee Eng.
"Bagus! Gadis liar, apa kau datang untuk mengantar nyawamu?"
Kata Sah Seng Liu.
Dugaan itu benar Sah Seng Liu langsung menggerakkan toyanya dengan jurus Hok-mo Ciang-hoat (Ilmu toya penakluk iblis).
Ketika itu dia gunakan jurus Ki-hwee-soh-thian (Mengangkat obor membakar langit).
Ujung toya Sah Seng Liu menyodok ke arah perut Han Pwee Eng ke arah jalan darah Hiat-hai-hiat.
Saat menyerang tubuh Han Pwee Eng berada di udara, tampaknya Han Pwee Eng sudah tidak mungkin mengelak dari serangan Sah Seng Liu ini.
Saat itu Kok Siauw Hong pun sedang terdesak hingga tidak mungkin akan menolong nona Han.
Dengan wajah pucat-pasi Kok Siauw Hong berseru kaget.
Tetapi pada saat yang bersamaan Han Pwee Eng yang berada dalam bahaya, mengerahkan gin-kangnya.
Dia 968 serang toya Sah Seng Liu Nona Han menggunakan tenaga pukulan toya lawan untuk berakrobat ke belakang.
Sesudah jauh dari lawan Han Pwee Eng pun turun ke bawah.
Menyaksikan lawan yang dia yakini akan tewas di tangannya, bisa terhindar, hal ini membuat mata Sah Seng Liu terbelalak kaget.
Sedikitpun Sah Seng Liu tidak menduga, kalau Han Pwee Eng mampu menggunakan gerakan itu untuk menyelamatkan diri.
Begitu kaki nona Han menginjak tanah, dia langsung menyerang Sah Seng Liu, begitu juga Kok Siauw Hong yang mulai bisa menyerang ke arah Sah Seng Liu.
"Aaah, tidak aku kira adik Eng memiliki gin-kang yang tinggi!"
Pikir Kok Siauw Hong yang kelihatan cemas sekali. Setelah muda-mudi ini bergabung, baru nona Han pun mengerti bahwa Kok Siauw Hong ternyata lihay.
"Ah, Kok Toa-ko luar biasa, jika aku yang menghadapi Sah Seng Liu aku bisa celaka!"
Pikir nona Han.
Mereka lalu bahu-membahu menyerang Sah Seng Liu secara bergantian.
Dengan demikian sekarang pertarungan mereka seimbang.
Namun, Ih Hua Liong bebas dari bahaya.
Jika tadi Han Pwee Eng tidak mencemaskan keadaan Kok Siauw Hong, dan membantu Kok Siauw Hong pasti dia akan berhasil menangkap Ih Hua Liong.
Tetapi ini tidak dilakukannya sehingga Ih Hua Liong lolos.
"Celaka, Ih Hua Liong kali ini lolos lagi!"
Pikir Kok Siauw Hong.
Sekalipun demikian Kok Siauw Hong puas juga karena dia tahu gadis ini sangat memperhatikan dirinya 969 Ih Hua Liong yang telah bebas dari ancaman Han Pwee Eng, girang bukan kepalang.
Tetapi dia tidak langsung kabur, malah tetap tinggal di tempat yang agak jauh dari pertarungan Sah Seng Liu dan dua muda-mudi itu.
Sekarang Ih Hua Liong sudah tahu hwee-shio itu memihak kepadanya.
Dia girang menyaksikan Sah Seng Liu mampu menghadapi Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong.
Malah Sah Seng Liu masih berada di atas angin.
"Pauw Leng bilang kepandaian Sah Seng Liu hampir sama dengan kepandaian ketua Siauw-lim. Mulanya aku tidak percaya, sekarang ucapan Pauw Leng itu benar sekali! Biar aku menonton dulu dari jauh. Jika terlihat Sah Seng Liu terdesak, aku akan segera kabur. Aku kira itu pun belum terlambat."
Pikir Ih Hua Liong.
Ih Hua Liong yang menyaksikan Sah Seng Liu di atas angin, dia yakin Sah Seng Liu akan keluar sebagai pemenangnya.
Tetapi dia tidak menyadari kalau Sah Seng Liu justru sedang mengeluh menghadapi dua muda-mudi yang lihay itu.
Jangankan membunuh dua lawannya itu, memenangkan pertarungan pun tidak mudah.
Gin-kang kedua muda-mudi itu lihay sekali, belum lagi ilmu pedang mereka pun cukup tinggi.
Jika Sah Seng Liu lengah bisa j adi dia yang akan terluka oleh kedua muda-mudi itu.
Miika itu dia langsung melancarkan serangan hebat dengan maksud agar kedua muda-mudi itu tidak mampu menyerang dirinya Menghadapi Sah Seng Liu yang lihay, lama-kelamaan Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng kelelahan juga.
Melihat lawannya mulai kelelahan, Sah Seng Liu girang sekali.
Tetapi Sah Seng Liu tidak berani berbuat ceroboh.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Kung-fu yang hebat, sepuluh tahun lamanya aku tidak ke Tiong-goan, ternyata di sini sudah muncul jago-jago silat muda belia!"
Kata orang itu.
Sah Seng Liu kaget bukan kepalang.
Dia menoleh ke arah suara orang itu.
Dari sana tampak seorang tua berjubah hijau berdiri tidak jauh dari mereka.
Kedua tangan orang tua itu berada di belakang.
Dia sedang asyik menonton pertarungan dan mulutnya tidak hentinya memuji.
Mula-mula Sah Seng Liu kaget.
Tetapi melihat orang berjubah hijau itu tidak memihak pada siapa pun, Sah Seng Liu girang juga.
Saat itu Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng sedang berkonsentrasi pada pertempuran mereka.
Maka itu mereka tidak melihat dan mendengar suara orang itu.
Tak lama orang tua itu berkata nyaring.
"Ilmu Hok-mo-ciang-hoat hwee-shio ini lihay sekali. Paling sedikit dia telah berlatih selama sepuluh tahun, terutama jurus Ih-kin-keng (Ilmu menggeser urat)."
Kata orang berjubah hijau itu.
Mendengar ucapan orang tua itu Sah Seng Liu bertambah kaget.
Memang benar dia melatih Ih-kin-keng selama sepuluh tahun.
Ih-kin-keng itu ilmu simpanan Siauw-lim-pay yang tidak pernah diwariskan kepada orang luar.
Tetapi orang tua berjubah hijau sekali lihat dia tahu Sah Seng Liu menguasai ilmu itu.
Maka tidak heran Sah Seng Liu begitu terperanjat.
Tak lama orang tua itu bicara lagi.
"Ilmu silat kedua muda-mudi ini pun hebat!"
Kata dia.
"Yang perempuan menggunakan Keng-sin-kiam-hoat, tetapi aku tidak tahu ilmu pedang apa yang digunakan anak muda itu? Aku belum pernah menyaksikan ilmu itu. Anak muda ilmu pedang apa itu?"
Kok Siauw Hong sedang bertarung dia tidak memperhatikan pertanyaan orang tua itu. Tiba-tiba orang tua itu berkata lagi.
"Di kolong langit ini mana ada orang yang berani mengabaikan aku? Ah aneh sekali!"
Kata orang tua itu.
Mendadak orang tua itu maju selangkah.
'Oh!
Sekarang aku mengerti kau sedang terdesak oleh hwee-shio ini hingga sulit bernapas!
Baik, silakan kau istirahat dulu.
Aku akan mewakilimu melawan hwee-shio ini!"
Kata orang berjubah hijau itu.
Saat itu baik Kok Siauw Hong mau pun Han Pwee Eng merasakan ada sambaran angin halus ke arah mereka.
Tetapi serangan ini tidak membuat mereka kesakitan, namun mereka terdorong ke belakang sejauh beberapa depa.
Mereka pun tidak mampu mengerahkan lwee-kang mereka untuk melawan.
Melihat dua muda-mudi itu mundur Sah Seng Liu kaget bukan kepalang.
"Orang tua, siapa kau? Aku dan kau tidak saling mengenal, kenapa kau ikut campur?"
Kata Sah Seng Liu. Orang tua itu tertawa.
"Tahukah kau, aku melakukan sesuatu tidak atas dasar salah atau benar! Aku juga tidak menggunakan alasan apa pun. Hm! Kau tidak mengenalku, maka kau harus merasakan pukulanku!"
Kata orang berjubah hijau itu. Mendengar ucapan orang berjubah hijau itu, amarah Sah Seng Liu memuncak.
"Baik. Memang baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tidak tahu aturan sepertimu! Aku ingin tahu apa tangan kosongmu yang lihay atau toya besiku?"
Kata Sah Seng Liu.
Tiba-tiba bayangan hijau berkelebat cepat luar biasa.
Tahutahu orang tua itu sudah di depan Sah Seng Liu, lalu menyerang Sah Seng Liu.
Ilmu Hok-mo-ciang-hoat sangat lihay jika dalam pertarungan jarak jauh.
Tetapi itu akan kurang efektif jika bertarung dari jarak dekat.
Tidak heran jika Sah Seng Liu yang diserang lawannya dari jarak dekat jadi kewalahan.
Buru-buru dia melompat mundur.
Tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring.
"Sreeet!"
Ternyata jubah Sah Seng Liu robek.
Dia kaget langsung menyerang dengan jurus Ouw-liong-pa-bwee (Naga hitam mengibaskan ekor).
Kebetulan orang tua itu sedang maju ke arahnya.
Diduga orang tua itu tidak akan mampu menghindari serangan Sah Seng Liu.
Sungguh mengherankan, ternyata orang tua itu bisa berkelit, dan telapak tangannya menepis toya Sah Seng Liu dengan perlahan.
'Tang!"
Ilmu Hok-mo-ciang-hoat jurus ilmu silat keras dari Siauwlim.
Tapi orang tua itu berani membentur toya Sah Seng Liu dengan telapak tangannya Sah Seng Liu yang melihatnya membelalakkan mata.
Saat toya Sah Seng Liu membentur tangan orang tua itu, dia merasakan tangannya sakit bukan kepalang.
Buru-buru Sah Seng Liu mencelat mundur, sedang orang tua itu tertawa dingin.
"Bagaimana, toyamu atau telapak tanganku yang lihay?"
Kata orang tua itu. Sah Seng Liu langsung sadar bahwa orang tua itu sangat lihay. Sah Seng Liu semakin kaget bahkan tangan yang memegang toya terasa semakin sakit.
"Ah, apa orang ini menggunakan ilmu Pek-ok-coan-kang (Memukul benda mengerahkan tenaganya)? Orang tua ini menggunakan ilmu pukulan beracun supaya aku keracunan."
Pikir Sah Seng Liu.
Duapuluh tahun yang lalu Sah Seng Liu pernah mengenal ilmu silat Pek-ok-coan-kang milik Kong-sun Khie.
Sesudah menyaksikan ilmu silat orang tua ini, dia langsung ingat kejadian itu.
Dia pun kaget bukan kepalang.
Orang tua itu tertawa dingin.
"Hm! Kau masih belum mau menyerah?"
Kata orang tua itu.
"Kalau begitu rasakan pukulanku sekali lagi!"
Tiba-tiba dia putar tangannya dan langsung menyerang.
Sah Seng Liu segera mencium bau amis dari pukulan itu.
Sah Seng Liu lalu memperhatikan telapak tangan orang tua berjubah hijau itu.
Saat melihat telapak tangan orang itu mengkilap, langsung dia berseru.
"Jangan memukul lagi! Air bah menerjang kelenteng Raja Naga! Kita orang sendiri!"
Kata Sah Seng Liu.
"Siapa kau? Kau berani bilang aku sahabatmu?"
Kata orang tua itu.
"Aku bernama Sah Seng Liu. Duapuluh tahun yang lalu aku dan Kong-sun Khie bersahabat baik,"
Kata Sah Seng Liu.
Melihat jurus yang digunakan orang itu jurus andalan Kong-sun Khie, maka dia berpikir pasti orang tua itu ada hubungannya dengan Kong-sun Khie.
Mendengar keterangan Sah Seng Liu orang tua itu tertegun sejenak.
"Namamu Sah Seng Liu, rasanya pernah kudengar nama itu!"
Kata orang tua itu.
"Tetapi dia bukan seorang hweeshio!"
"Aku murid Siauw-lim-pay yang tidak menjadi pendeta,"
Kata Sah Seng Liu memberi penjelasan.
"Duapuluh tahun lalu aku terlibat dalam peristiwa di dusun Suang-kee-po. Oleh karena itu aku tertangkap oleh Su-pehku. Setelah dihukum selama sepukuh tahun menghadap tembok, aku mencukur rambutku menjadi hwee-shio!"
"Hm! Jadi selama sepuluh tahun kau berada di kelenteng Siauw-lim-si?"
Kata orang tua itu.
"Benar!"
Jawab Sah Seng Liu. Orang itu menatap Sah Seng Liu dalam-dalam "Jadi masalah keluarga Suang selama sepuluh tahun li rnkhlr kau tidak mengetahuinya?"
Kata orang tua itu.
"Benar, aku baru saja kabur dari Siauw-lim-si, tidak heran masalah sepuluh tahun terakhir, aku tidak mengetahuinya,"
Kata Sah Seng Liu dengan jujur.
"Hm, apa pun tidak kau ketahui, tapi kenapa kau bilang kita orang sendiri? Ayo enyah kau dari sini!"
Bentak orang tua itu.
Tadi orang tua itu bicara baik sekali, tetapi setelah dia mengetahui Sah Seng Liu tidak tahu apa-apa atas kejadian sepuluh tahun terakhir, dia mengusir Sah Seng Liu dengan kasar.
Tentu saja bentakan orang tua itu membuat Sah Seng Liu terperanjat.
Saat Sah Seng Liu mau membuka mulut, orang tua itu sudah mengibaskan tangannya "Lekas pergi jangan ganggu urusanku!"
Kata orang tua berjubah hijau.
"Karena aku memandang muka Kong-sun Khie, hari ini kau aku bebaskan! Jika kau tidak pergi dan tidak tahu diri, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi!"
Kibasan ujung jubah hijaunya itu membuat Sah Seng Liu agak terdorong ke belakang.
Padahal orang tua itu mengibas dengan tenaga lunak sekali.
Tadi saat dia mengibas ke arah Kok Siauw Hong dan nona Han, kibasan itu membuat kedua muda-mudi itu terdorong jauh.
Karena Sah Seng Liu lweekangnya cukup tinggi hal itu tidak terjadi atas dirinya.
Tentu saja akibat dorongan tenaga lunak orang tua itu, Sah Seng Liu pun mundur tiga langkah.
Hal itu membuat Sah Seng Liu terperanjat bukan kepalang.
Dia mundur dan kabur dengan terbirit-birit.
Sementara itu Ih Hua Liong yang berdiri tidak jauh dari mereka, ketika mendengar bahwa Sah Seng Liu punya hubungan dengan orang tua berjubah hijau, dia girang bukan kepalang.
Namun, begitu melihat orang tua itu sifatnya tidak karuan alias angot-angotan, tiba-tiba Ih Hua Liong ingat omongan gurunya.
Dia ingat siapa orang tua itu.
Maka sebelum Sah Seng Liu kabur dia sudah lebih dulu kabur.
Melihat Ih Hua Liong akan kabur, Kok Siauw Hong melompat mengejarnya.
"Tunggu! Jangan tergesa-gesa mengurus orang itu karena aku ingin bertanya kepadamu!"
Kata orang tua itu. Sesudah itu dia menyentil sebuah uang logam ke arah Ih Hua Liong. 'Tring!"
Uang logam itu menyambar kea rah jalan darah Hong-huhiat Ih Hua Liong.
"Aduuh!"
Eh Hua Liong menjerit.
Tubuhnya kemudian lunglai, seketika itu juga Ih Hua Liong langsung roboh.
Saat terkena uang logam Ih Hua Liong sedang lari, jaraknya sekitar seratus langkah lebih dari orang berjubah hijau itu.
Tetapi orang tua itu mampu menyambit Ih Hua Liong dengan jitu, kejadian itu membuat Kok Siauw Hong kaget.
Dia jadi tidak enak hati karena orang tua itu ingin bicara dengannya.
Tetapi setelah tahu orang tua itu membantu menangkap Ih Hua Liong, Kok Siauw Hong langsung berpikir.
"Orang tua ini aneh sekali. Tapi karena dia telah membantuku lebih baik kuturuti perintahnya,"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Nona benarkah kau puteri Han Tay Hiong di Lokyang?"
Han Pwee Eng kaget karena orang tua itu tahu siapa dirinya. Atau mungkin dia asal menebak dari ilmu silat yang dia gunakan saat bertarung dengan Ih Hua Liong, yaitu ilmu silat Keng-sin-kiam-hoatnya.
"Barangkali orang tua ini sahabat Ayahku?"
Pikir nona Han. Han Pwee Eng buru-buru mengangguk mengiakan.
"Sudah lama kudengar nama besar ayahmu, yang bergelar Kiam-ciang-siang-coat. Aku yakin ayahmu tidak akan bisa mengalahkan aku, tetapi untuk mengalahkan ayahmu pun tidak gampang!"
Kata orang tua itu. Mendengar ucapan orang tua itu Han Pwee Eng tercengang.
"Kalau begitu orang tua itu bukan sahabat Ayahku. Tetapi dari nada bicaranya dia juga tidak bermusuhan dengan Ayahku. Mungkin karena Ayahku terkenal, maka dia ingin menjajal kepandaian Ayahku. Ah, aku tidak peduli siapa dia, yang penting aku harus hormat kepadanya!"
Pikir Han Pwee Eng. Orang tua itu mengawasi ke arah Kok Siauw Hong.
"Kau anak siapa?"
Kata orang tua itu.
"Apa ilmu pedangmu itu warisan dari keluargamu?"
"Ayahku almarhum bernama Kok Ju Sih dari Hang-cou. Ilmu silat pedang ini diajarkan oleh Ibuku!"
Jawab Kok Siauw Hong. Orang tua itu manggut-manggut.
"Aku ingat sekarang,"
Kata dia tiba-tiba.
"Duapuluh tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan ayahmu. Ketika itu dia baru menikah. Ayahmu itu menantu keluarga Jen. Apakah tadi jurus pedang Cit-siu-kiam-hoatT'' "Benar, Lo-cian-pwee. Tetapi ilmu silatku itu masih rendah,"
Kata Kok Siauw Hong. Orang tua itu tertawa sejenak.
"Tidak, ilmu pedangmu itu hebat!"
Kata orang tua itu.
"Itu sungguh di luar dugaanku. Yang aku heran karena ilmu pedang keluarga Jen tidak pernah diturunkan kepada orang lain. Tahun itu aku menemui Jen Thian Ngo, pasti dia pamanmu. Aku desak agar dia mau bertarung denganku. Tetapi ilmu pedang yang dia gunakan berbeda dengan ilmu pedangmu. Apakah dia menggunakan ilmu pedang palsu untuk membohongiku atau memang dia tidak mahir ilmu Citsiu-kiam-hoat? Apa benar Cit-siu-kiam-hiat hanya diturunkan pada menantu, bukan kepada anak lelaki keluarga Jen?"
Kejadiannya memang begitu.
Menurut ibu Kok Siauw Hong, karena kakek Kok Siauw Hong mengetahui Jen Thian Ngo tidak berguna, kitab ilmu pedang Cit-siu-kiamhoat diserahkan kepada puterinya, atau ibu Kok Siauw Hong sebagai hadiah pernikahannya.
Kok Siauw Hong tidak mengetahui asal-usul kakek dari ibunya itu, maka dia tidak ingin memberitahu orang lain mengenai asal-usul keluarganya.
"Mengenai urusan keluargaku, aku tidak tahu sama sekali. Ketika aku dilahirkan Kakek dari Ibuku sudah meninggal."
Kata Kok Siauw Hong. Kelihatan orang tua itu kecewa.
"Aku terlalu banyak bicara soal ilmu silat kalian, hingga aku melupakan urusan yang sangat penting!"
Kata orang tua itu.
"Ada satu urusan yang ingin aku tanyakan kepada kalian!"
"Silakan tanya, jika kami tahu pasti kami akan memberi tahu Lo Cian-pwee. Mohon maaf siapa nama Lo Cianpwee?"
Kata Kok Siauw Hong. Orang tua itu tersenyum. Dia tidak menjawab pertanyaan Kok Siauw Hong, tapi dia langsung bertanya pada Han Pwee Eng.
"Nona Han, apa benar kau punya teman bernama Kiong Mi Yun?"
Kata orang tua itu. Han Pwee Eng tertegun.
"Benar! Apakah Lo Cian-pwee...."
"Ya,"
Memotong orang tua itu.
"Aku ayah Kiong Mi Yun. Aku pemilik pulau Hek-hong-to. Namaku Kiong Cauw Bun!"
Han Pwee Eng kaget, karena orang tua itu paling ditakuti di kalangan Kang-ouw.
"Bulan lalu aku bertemu dengan Ang Kin, ketua Lima Perkumpulan Besar daerah Huang-hoo,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Dia bilang puteriku pernah ada di Ngi Nih Lauw di kota Ouwshia. Kalian bertarung dengan Pouw Yang Hian murid See-bun Souw Ya. Apa benar begitu?"
"Mungkin karena masalah itu Kiong Cauw Bun mencariku?"
Pikir Han Pwee Eng.
"Puteriku sangat nakal, dia kabur. Sekarang aku sedang mencarinya. Nona Han, apakah kau tahu sekarang dia ada di mana?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Aku dengan puterimu berpisah di kota Ouw-shia, sampai sekarang aku belum pernah bertemu lagi dengannya. Aku kira Kok Toa-ko mengetahui di mana puteri Lo Cian-pwee itu berada!"
Kata Han Pwee Eng. Kiong Cauw Bun mengawasi Kok Siauw Hong yang tampan.
"Barangkali puteriku tertarik kepada pemuda ini? Jika benar begitu, aku harus membunuh puteri Han Tay Hiong ini!"
Pikir Kiong Cauw Bun.
"Benarkah kau tahu jejak puteriku?"
Kata Kiong Cauw Bun pada Kok Siauw Hong.
"Aku dan puterimu membantu Kay-pang melaksanakan sebuah tugas. Tetapi karena bertemu dengan pasukan Mongol, kami cerai-berai hingga aku berpisah dengan puterimu. Tapi menurut dugaanku puterimu itu pergi ke Kimkee-leng. Sekarang kami pun mau mencari dia di sana!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Ke gunung Kim-kee-leng? Bukankah itu markas Hong Lay Mo Li?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Benar,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Itu memang markas Liu Beng-cu!"
"Apa benar dia akan menemui Hong Lay Mo Li?"
"Aku tidak yakin benar, itu hanya dugaanku saja! Bersama puteri Lo Cian-pwee pun masih ada kawannya yang ingin ke Kim-kee-leng!"
Kata Siauw Hong'.
"Siapa dia?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Namanya Kong-sun Po!"
Mendengar nama itu disebut Kiong Cauw Bun kaget dan girang.
"Kong-sun Po?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Benar, Ang Kin pernah mengatakannya Hari itu selain nona Han masih ada seorang pemuda yang ada di rumah makan itu. Dia berhasil mengalahkan Pouw Yang Hian. Pasti dia Kong-sun Po! Seharusnya aku sudah bisa menebaknya!"
"Benar,"
Kata Han Pwee Eng.
"Apa Lo Cian-pwee kenal dengan Kong-sun Toa-ko?"
Kiong Cauw Bun tertawa.
"Benar aku kenal. Saat dia masih kecil aku pernah menggendongnya."
Kata Kiong Cauw Bun. Mendengar keterangan itu Han Pwee Eng girang bukan kepalang.
"Oh, kalau begitu bagaimana jika Lo Cian-pwee pergi bersama kami ke Kim-kee-leng?"
Kata nona Han. Sebelum dijawab Han Pwee Eng berpikir.
"Kiong Mi Yun dan Kong-sun Po pasangan yang serasi. Rasanya aku bisa menjadi comblang mereka."
Pikir Han Pwee Eng.
Sebenarnya ada yang tidak diketahui oleh Han Pwee Eng, bahwa Kiong Mi Yun tunangan Kong-sun Po.
Sedangkan Hong Lay Mo Li musuh besar Kiong Cauw Bun.
Maka itu Kiong Cauw Bun menanggapi ajakan Han Pwee Eng dengan sinis.
"Buat apa aku ke Kim-kee-leng?"
Kata Kiong Cauw Bun. Mendengar jawaban dengan nada dingin dan sinis itu Han Pwee Eng tertegun.
"Bukankah Lo Cian-pwee hendak mencarinya? Aku kira mereka ada di Kim-kee-leng, pasti Lo Cian-pwee akan bertemu dengan mereka!"
Kata nona Han. Wajah Kiong Cauw Bun langsung berubah.
"Puteriku pasti tidak akan ke sana, Kong-sun Po pun tidak harus ke sana. Kecuali.. .kecuali.. ..Hm!"
Kata Kong Cauw Bun tidak tuntas.
"Kecuali bagaimana?"
Kata nona Han. Mendadak kening Kiong Cauw Bun berkerut.
"Hm! Gadis ini belum tahu asal-usulku. Dia mau ke Kimkee-leng. Mengapa aku harus memberi tahu dia?"
Pikir Kiong Cauw Bun.
"Nona Han kau terlalu banyak bicara!"
Kata Kiong Caiuw Bun Mendengar teguran itu wajah nona Han berubah merah. Kok Siauw Hong pun mulai gusar.
"Karena Lo Cian-pwee mau mencari nona Kiong, kami memberitahu Anda mengenai yang kami ketahui. Tetapi jika Lo Cian-pwee tidak mau ke Kim-keeleng, itu terserah Lo Cian-pwee saja! Terus-terang kami bersalah telah mengajakmu ke sana, maka itu kami mohon maaf dan pamit!"
Kata Kok Siauw Hong. Ketika itu Kiong Cauw Bun seperti sedang berpikir.
"Kecuali Kong-sun Po, mereka tidak mengetahui asalusulku, jika dia tahu mana mungkin dia akan ke sana?"
Pikir Kiong Cauw Bun.
"Sebaliknya Mi Yun pun tahu aku sangat benci pada Hong Lay Mo Li. Jadi mana mungkin dia bersama Kong-sun Po ke sana? Seandainya benar ke sana, aku harus segera menyusul untuk mencegah mereka ke sana! Supaya kepergianku ke daerah Kim-kee-leng tidak diketahui oleh Hong Lay Mo Li, maka aku harus membunuh mereka"
Saat itu dalam hati Kiong Cauw Bun bergolak dan terjadi kebimbangan. Tetapi tak lama dia berpikir lagi.
"Anakku dengan mereka bersahabat baik. Jika aku bunuh mereka, anakku pasti membenciku. Kalau begitu akan kukerjai pemuda ini agar dia sakit, dengan demikian mereka tidak jadi ke Kim-kee-leng."
Pikir Kiong Cauw Bun. Sekalipun Kok Siauw Hong kurang senang pada Kiong Cauw Bun ini, tetapi karena merasa pernah dibantu melumpuhkan Eh Hua Liong dia memberi hormat.
"Lo Cian-pwee kami pamit!"
Kata dia.
"Jangan sungkan,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"aku juga harus berterima kasih karena kalian telah memberitahu jejak puteriku,"
Kata Kiong Cauw Bun. Kiong Cauw Bun memegang tangan Kok Siauw Hong sambil tersenyum. Kok Siauw Hong sedikit pun tidak curiga dia mengira itu sebagai tanda perpisahan dari Kiong Cauw Bun dengannya.
"Kok Lo-tee aku lihat air mukamu kurang bagus, hatihati dan jaga dirimu!"
Kata Kiong Cauw Bun. Ucapan itu membuat Kok Siauw Hong tertegun, tapi Kiong Cauw Bun sudah pergi cukup jauh.
"Terima kasih atas pesanmu itu, Lo Cian-pwee!"
Pemuda itu berteriak menggunakan ilmu Coan-im-jip-pek (Ilmu menyampaikan suara dari jarak jauh). Han Pwee Eng tampak lega karena Siauw Hong masih bisa mengerahkan lwee-kangnya.
"Tadi terus-terang aku mencemaskan keadaanmu,"
Kata si nona.
"aku khawatir dia menyerangmu secara gelap!"
Kok Siauw Hong tertawa mendengar Han Pwee Eng begitu perhatian terhadapnya.
"Di Dunia Persilatan, memegang tangan orang untuk menjajal kepandaian seseorang, itu wajar! Dia tahu ilmu silatku masih rendah, dengan tidak menjajalku pun dia sudah tahu. Aku rasa tidak mungkin dia menyerangku, aku tidak bermusuhan dengannya Lihat, bukankah aku baikbaik saja"
Kata Kok Siauw Hong pada nona Han sambil tersenyum.
Pemuda ini tidak sadar sebenarnya dia dikerjai oleh Kiong Cauw Bun secara diam-diam.
Dengan ilmu Cit-satciang yang lihay dia serang pemuda ini, tapi yang diserang tidak merasakannya.
Tetapi selang sehari baru reaksi serangan itu akan terasa.
"Kalau begitu, syukurlah,"
Kata nona Han yang puas bukan main.
"Mari kita tanya Ih Hua Liong!"
Pemuda itu mengangguk.
"Baik, mari kita tanya dia!"
Kata Kok Siauw Hong. Ih Hua Liong sedang tergeletak tidak berdaya di tanah, Kok Siauw Hong berusaha membebaskan totokannya. Lama baru dia berhasil membebaskannya "Aneh! Cara menotoknya sangat aneh!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kau mampu membebaskan dia itu terhitung luar biasa,"
Kata nona Han.
"Aku sudah pernah mendengar dari Ayahku cara menotok majikan pulau Hek-hong itu sangat istimewa!"
Selang sesaat wajah Ih Hua Liong mulai biasa kembali.
"Ih Hua Liong, sekarang kau jangan berbuat macammacam lagi. Cepat katakan yang sebenarnya!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Apa yang harus aku katakan?"
Kata Ih Hua Liong.
"Begitu cepat kau lupa. Baik akan kuulangi pertanyaanku. Pertama, mengapa kau memfitnah aku? Kedua, apakah Pamanku tahu kau bersekongkol dengan bangsa Mongol. Cepat jawab pertanyaanku!"
Kata Kok Siauw Hong. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Ih Hua Liong, lalu dia mengertakkan giginya.
"Sekarang aku telah jatuh ke tangamu, maka aku tidak takut bicara sejujurnya padamu. Kedua pertanyaanmu itu bukan dua pertanyaan, tetapi satu pertanyaan saja."
Kok Siauw Hong mendengus dingin.
"Hm! Lekas bicara!"
Kata Siauw Hong.
"Semua yang aku lakukan atas rencana pamanmu!"
Kata Ih Hua Liong perlahan.
Sekalipun sudah lama Kok Siauw Hong mencurigai sepakterjang pamannya, tetapi sesudah mendengar pengakuan Ih Hua Liong pun Kok Siauw Hong tetap terkejut juga, sehingga nyaris tidak mempercayai ucapan murid Jen Thian Ngo.
Dia terdiam beberapa saat lamanya.
"Benarkah apa yang kau katakan itu?"
Kata Siauw Hong.
"Benar. Sedikitpun aku tidak membohongimu!"
Kata Ih Hua Liong.
"Semua kejadian itu rencana pamanmu. Dia bersekongkol dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek merampok harta Han Tay Hiong, aku ini hanya suruhan mereka!"
"Ketika hari itu terjadi perampokan, aku lihat sendiri Pamanku terluka parah,"
Kata Kok Siauw Hong sedikit kurang yakin pada keterangan Ih Hua Liong. Mendengar kata-kata Kok Siauw Hong, Ih Hua Liong tertawa dingin.
"Apakah kau pernah memeriksa lukanya? Kejadian itu hanya sandiwara saja!"
Kata Ih Hua Liong tegas. Kok Siauw Hong menatapnya dengan tajam.
"Kau tidak ada di tempat kejadian, bagaimana kau bisa mengetahui itu cuma sandiwara?"
Kata Kok Siauw Hong penasaran.
"Semuanya sudah kami rundingkan masak-masak sebelum perampokan itu terjadi,"
Kata Ih Hua Liong.
"Baiklah, akan kukatakan dengan jujur. Guruku berpurapura terluka parah agar dia ditinggalkan seorang diri. Dia menunggu aku kembali untuk menerima bagiannya!"
"Kau berjanji pada Pamanku akan bertemu di mana?"
Tanya nona Han.
"Kami berjanji akan bertemu di rumahmu. Tetapi secara kebetulan kalian datang lalu Siang-koan Hok pun datang. Padahal Pamanku ada di ruang rahasia bawah tanah di rumahmu bersama Pauw Leng. Setelah kalian dan Siangkoan Hok datang, Guruku mengetahui bahwa harta itu telah dirampas kembali. Maka itu dia lalu kabur sebelum aku datang untuk melapor pada Guruku!"
Kata Ih Hua Liong.
"Jadi kau bertemu dengan Pauw Leng?"
Tanya Pwee Eng. Ih Hua Liong mengangguk.
"Benar, Pauw Leng yang memberitahuku kejadian di rumahmu itu, sekarang dia juga sedang mencari Guruku!"
Kata Ih Hua Liong. Mendengar keterangan itu Kok Siauw Hong bertambah kaget.
"Jadi Pauw Leng juga bersekongkol dengan Gurumu?"
Kata Siauw Hong.
"Benar! Pauw Leng adalah penghubung kami. Diamdiam dia sering berhubungan dengan Cun Seng Hoat Ong dari Mongiol!"
Kata Ih Hua Liong. Tampak Kok Siauw Hong berdiri termangu-mangu.
"Tidak kusangka hati manusia sulit diduga?"
Pikir pemuda itu.
"Padahal Pamanku itu orang terkenal, malah tokoh terkemuka di kalangan Kang-ouw. Tapi justru dia bersekongkol dengan musuh!"
Harapan Ih Hua Liong jika dia jujur, Kok Siauw Hong akan mengampuni dia. Itu sebabnya apa yang diketahuinya dikatakannya pada pemuda itu.
"Sebenarnya Pamanmu ingin "membabat rumput sampai ke akar-akarnya". Itu sebabnya dia ingin meminjam tangan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek untuk membunuhmu,"
Melanjutkan Ih Hua Liong.
"Jika kau ingin membalas 987 dendam, kau harus mencari Guruku! Aku memfitnahmu pun atas rencananya. Maka itu aku mohon ampuni jiwaku."
Saat itu hati Kok Siauw Hong sudah tenang.
"Baiklah, karena kau hanya pesuruh Pjimanku, aku akan mengampuni jiwamu. Tetapi kau tetap akan kuhukum!"
Kata Kok Siauw Hong.
Tiba-tiba punggung Ih Hua Liong dipukul, pukulan itu menghancurkan tulang pipe Ih Hua Liong.
Ih Hua Liong menjerit kesakitan kemudian pingsan.
Setelah sadar Kok Siauw Hong berkata lagi.
"Kuhilangkan kepandaianmu agar kelak kau tidak melakukan kejahatan. Itu mungkin bermanfaat bagimu kelak!"
Kata pemuda itu.
"Tidak kusangka, ternyata pamanmu itu jahat sekali,"
Kata Han Pwee Eng.
"Dulu aku hanya mengira pamanmu tidak cocok dengan Ayahku hanya karena urusan nama di dunia Kang-ouw. Tidak tahunya dia menginginkan harta Ayahku?!"
Kok Siauw Hong mengelah napas.
"Aku malu sekali punya Paman seperti itu. Mari kita berangkat, kita harus buru-buru ke Kim-kee-leng untuk mengungkap kejadian ini. Dengan demikian orang gagah tidak akan tertipu oleh akal Pamanku!"
Kata Kok Siauw Hong.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 35 Setelah itu Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng meninggalkan Ih Hua Liong yang tulang pipenya telah terluka.
Mereka berangkat menuju ke Kim-kee-leng.
Dalam 988 perjalanan itu kelihatan mereka agak tergesa-gesa.
Keesokan harinya tiba-tiba Kok Siauw Hong mengeluh kurang enak badan.
Kemarin dia tidak merasakan apa-apa dan tubuhnya masih sehat.
Hari ini dia merasakan dadanya sangat sakit.
Melihat langkah kaki Kok Siauw Hong yang mulai goyah, nona Han terkejut sekali.
"Toa-ko air mukamu berubah pucat sekali,"
Kata nona Han.
"Lebih baik kita beristirahat saja dulu!"
"Tidak perlu, aku hanya merasa dadaku sedikit sakit. Mungkin karena terlalu banyak minum air dingin, sebentar lagi juga akan baik sendiri. Hari belum gelap kita masih bisa melanjutkan perjalanan."
Kata Kok Siauw Hong. Mereka berjalan lagi beberapa lama. Tapi tiba-tiba Kok Siauw Hong merasakan tubuhnya panas dingin. Dia demam dan giginya gemerutuk menahan dingin.
"Barangkali aku terserang demam!"
Kata dia pada nona Han.
Buru-buru Kok Siauw Hong mengerahkan ilmu Siauwyang-sin-kang untuk mengusir rasa demamnya.
Tetapi dia berteriak kaget.
Saat mengerahkan ilmu itu terasa tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum.
Saking sakitnya dia tidak bisa berjalan.
"Rupanya aku sakit tetapi entah sakit apa aku? Ini aneh sekali!"
Kata Kok Siauw Hong. Han Pwee Eng terkejut bukan kepalang.
"Apa kau keracunan?"
Kata si nona.
"Barangkali bukan, kau jangan banyak curiga,"
Kata Kok Siauw Hong.
Ucapan pemuda itu menyatakan bahwa nona Han mencurigai Kiong Cauw Bun yang melukainya.
Sebenarnya 989 Kok Siauw Hong pun mencuriga orang tua itu yang melukai dengan diam-diam.
Tetapi dia merasa tidak keracunan, dan tidak ingin nona Han cemas.
Melihat Kok Siauw Hong semakin payah, nona Han segera memapah pemuda itu.
Dengan susah payah Han Pwee Eng memapah Kok Siauw Hong ke sebuah rumah milik penduduk setempat.
Sekarang kedua muda-mudi ini telah berada di sebelah selatan sungai Huang-hoo, sedangkan tentara Mongol sudah menyeberang ke sebelah utara.
Saat itu hampir semua penduduk di tempat itu sudah mengungsi, hanya tinggal beberapa keluarga saja yang masih tetap bertahan di sekitar tempat itu.
Sudah dua rumah yang didatangi, tetapimereka tidak bersedia menerimanya.
Terpaksa Han Pwee Eng memapah Kok Siauw Hong ke sebuah rumah milik seorang petani.
Ternyata rumah itu hanya dihuni oleh seorang petani tua.
Ketika memohon untuk menumpang, nona Han baru tahu orang tua itu bisu dan tuli.
Lama sekali Han Pwee Eng berbicara dengan bahasa isyarat tangan, hingga lelaki tua itu mengerti maksud nona Han.
Lelaki tua itu sangat baik, dia bersedia menerima mereka.
Sambil berkata ah-ah-uh-uh, pria tua itu menyilakan kedua tamunya itu masuk ke dalam rumahnya.
Han Pwee Eng memapah Kok Siauw Hong ke sebuah kamar.
Di desa itu tidak ada tabib yang bisa dimintai pertolongan.
Lelaki tua itu keluar mencari rumput obat yang segera dimasak untuk Kok Siauw Hong.
Tidak diduga rumput yang dimasak orang tua itu berkhasiat.
Selang beberapa hari, sekalipun tubuh Kok Siauw Hong masih demam, tapi mulai terlihat agak sehat.
Berhari-hari Han Pwee Eng menemani dan merawat Kok Siauw Hong.
Hal ini membuat pemuda itu sangat berterima kasih sekali, tetapi juga merasa malu.
Suatu hari Kok Siauw Hong menggenggam tangan nona Han sambil berkata.
"Nona Han, aku minta maaf padamu. Aku bersalah padamu tetapi kau tetap baik kepadaku,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Eh, apa kau sudah lupa, kita sudah berjanji tidak akan mengungkit masalah lama. Kau Kakakku, jelas aku harus merawat dan memperhatikanmu. Iyakan?"
Kata Han Pwee Eng sambil tersenyum manis. Kok Siauw Hong juga tersenyum, dia senang tetapi kelihatan agak kecewa.
"Rupanya dia hanya mau menjadi adikku, dan tidak mau menjadi isteriku. Tetapi mempunyai adik seperti dia juga aku sudah sangat senang!"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Barangkali aku sudah boleh mengerahkan hawa mumiku, maukah kau membantuku?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Syukur kalau kau bisa mengerahkan hawa murnimu, tetapi bagaimana aku harus membantumu?"
Kata Han Pwee Eng.
"Akan kuberitahu cara bagaimana kau membantuku,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku akan melatih kau ilmu Siauwyan-sinkang. Jika kau tidak mengerti, kau tanyakan saja padaku. Kemudian gunakan cara itu untuk membantu membuka seluruh nadiku!"
Tanpa sadar Kok Siauw Hong harus mengajari nona Han ilmu Siauw-yang-sin-kang.
Padahal ilmu itu tidak boleh diturunkan kepada orang lain, sekali pun hubungan Kok Siauw Hong dan nona Han agak istimewa.
Dengan demikian Kok Siauw Hong harus menggunakan hawa murninya sendiri.
Tapi untuk menyembuhkan lukanya, Kok Siauw Hong harus dibantu oleh orang yang mengerti ilmu Siauw-yang-sin-kang, sebab jika dibantu oleh lwe-kang aliran lain, tidak ada gunanya.
Ketika Han Pwee Eng mengetahui Kok Siauw Hong ingin mengajari dia, nona Han senang sekali.
Apalagi mereka harus segera pergi ke Kim-kee-leng, maka itu nona Han berharap Kok Siauw Hong segera sembuh.
Setelah Han Pwee Eng mengerti cara membantu Kok Siauw Hong, mereka lalu duduk bersila berhadapan.
Sedangkan telapak tangan mereka beradu satu sama lain.
Nona Han segera mengerahkan tenaga Siauw-yang-sin-kang lewat tangannya..
Tetapi untuk mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi untuk membantu orang lain yang terluka, sangat berbahaya bagi keduanya.
Tenaga mereka pun tidak boleh terganggu karena harus terus-menerus disalurkan.
Mereka harus berkonsentrasi penuh.
Sekalipun ada musuh atau bahaya, mereka harus tetap tidak bergerak, bicara pun tidak boleh.
Dengan tidak terasa hari pun sudah larut malam, sekarang mereka berada dalam saat-saat yang genting.
Tibatiba dari kejauhan terdengar suara derap roda kereta dan kaki kuda yang menuju ke arah rumah itu.
Tak lama suara kereta itu berhenti tepat di depan rumah tempat mereka sedang mengerahkan tenaga dalam.
Tak lama terdengar suara ketukan di pintu rumah itu.
Lelaki tua bisu tuli itu berjalan akan membuka pintu.
"Kawanku sedang sakit, apa Paman bisa mengizinkan kami beristirahat di rumahmu ini?"
Kata orang yang baru datang itu. Tidak seharusnya konsentrasi Han Pwee Eng terpecah, walau suara orang itu dikenalinya.
"Siapa orang yang membawa orang sakit itu ke sini? Ah, bisa kebetulan sekali?"
Pikir nona Han. Saat itu orang yang baru datang tidak mengetahui bahwa tuan rumah bisu dan tuli. Maka itu dia mengulangi permohonannya berulang-ulang.
"Kawanku sedang sakit parah, aku mohon Paman bermurah hati dan mau menerima kami bermalam di sini! Aku pasti akan membalas kebaikan Paman!"
Kata orang itu.
Karena orang itu bicara terus, akhirnya Han Pwee Eng mengenali orang itu.
Dia Beng Teng, pemimpin ekpedisi Houw-wie-piauw-kiok, mungkin sedang mengawal orang sakit.
Nona Han ingat saat dia dikawal oleh Beng Teng ke Yang-cou.
Sesudah mengenal orang itu, nona Han jadi geli sendiri.
"Beng-cong-piauw-tiam memang pekerjaannya aneh-aneh,"
Pikir Han Pwee Eng.
"Dulu mengantarkan aku sang calon pengantin. Sekarang dia mengantarkan orang sakit! Tetapi siapa orang yang sakit itu?"
Ketika itu Beng Teng yang sudah tahu lelaki pemilik rumah itu bisu, dia berbicara dengan bahasa isyarat.
"Maksudmu kau sudah tidak punya kamar?"
Kata Beng Teng.
"Baiklah, kami istirahat di bagian belakang rumahmu saja. Aku lihat tidak lama lagi akan hujan. Aku mau masak obat, bolehkah aku minta kayumu?"
Rumah petani ini sebuah gubuk, jadi tidak heran jika dindingnya banyak yang berlubang.
Kebetulan kamar yang ditempati Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng menghadap ke jalan raya.
Walau dinding gubuk itu berlubang, nona Han tidak berani memecah perhatiannya untuk mengintai.
Dari suara Beng Teng rupanya lelaki tua itu tetap menolak.
"Oh, jadi kau sudah menerima dua orang yang sakit?"
Kata Beng Teng lagi.
"Maksudmu aku tidak boleh mengganggu mereka. Aaah sayang, kalau begitu baiklah."
Tidak lama terdengar Beng Teng berjalan dan menyingkap krei sambil berkata pada orang yang sedang sakit yang dikawalnya.
"Tuan Ci, kau sudah merasa agak baikan. Mari kita pergi!"
Kata Beng Teng.
Orang yang dipanggil tuan Ci cuma merintih kesakitan.
Nona Han agak tersentak mendengar rintihan dan orang yang dipanggil tuan Ci itu.
Sebenarnya Nona Han hendak membantu Beng Teng memintakan izin pada lelaki tua itu, agar mereka diizinkan beristirahat di situ.
Tetapi sayang saat itu nona Han sedang mengerahkan tenaga muminya untuk membantu penyembuhan Kok Siauw Hong.
Kebetulan saat itu sedang dalam keadaan sangat gawat, hingga Han Pwee Eng tidak berdaya.
Tetapi saat Beng Teng dan orang yang dikawalnya akan meninggalkan rumah itu, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang datang ke arah rumah itu.
Han Pwee Eng pun mendengar suara derap kaki kuda itu.
Beng Teng kaget, segera dia gendong orang yang sedang sakit itu ke dalam rumah.
Saat itu Beng Teng tidak menghiraukan cegahan dari pemilik gubuk itu.
Di belakang rumah terdengar suara berkeresek, mungkin Beng Teng sedang menyembunyikan orang sakit itu di balik rumput kering.
"Kawanku yang sedang sakit itu meminjam tempat Paman untuk bersembunyi, harap Paman jangan membocorkan hal ini kepada siapa pun!"
Kata Beng Teng.
Beng Teng seorang yang sangat bijaksana dan disiplin, sekalipun dia memaksa menyembunyikan orang yang dikawalnya, dia tetap memberi tahu dulu tuan rumah.
Saat Beng Teng menggendong orang sakit yang dipanggil tuan Ci melewati kamar nona Han, tanpa sadar nona Han mengintai lewat sebuah lubang.
Kebetulan saat itu bulan sedang purnama, cahayanya masuk hingga nona Han bisa melihat orang yang sedang digendong oleh Beng Teng itu.
Nona Han tersentak karena dia mengenali siapa orang yang sedang digendong itu.
"Oh Ci Giok Phang!"
Pikir Han Pwee Eng.
Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.
Hampir saja dia berteriak karena kagetnya.
Tetapi mendadak dia rasakan telapak tangan Kok Siauw Hong langsung dingin, denyut jantungnya agak kacau.
Han Pwee Eng langsung berkonsentrasi, bahkan dia tidak berani bersuara lagi.
Sungguh di luar dugaan Ci Giok Phanglah yang akan dibawa ke gubuk itu oleh Beng Teng.
Sesudah menyembunyikan Ci Giok Phang lalu Beng Teng berkata pada lelaki tua pemilik gubuk.
"Paman jangan panik, tutup saja pintunya!"
Kata Beng Teng.
Sedang Beng Teng sendiri berjalan keluar gubuk, lelaki tua itu menutup pintu seperti anjuran Beng Teng tadi.
Sejak meninggalkan Pek-hoa-kok, nona Han tidak pernah bertemu dengan Ci Giok Phang.
Saat ada di Pekhoa-kok Ci Giok Phang baik sekali kepadanya, bahkan Ci 995 Giok Hian ingin menjodohkan Pwee Eng dengan kakaknya itu.
Han Pwee Eng memang terkesan baik pada pemuda ini, tapi bukan jatuh cinta.
Kebetulan Ci Giok Phang kakak Ci Giok Hian, sahabat baik nona Han.
Saat tahu Ci Giok Phang terluka, nona Han cemas bukan main.
Mendengar suara Beng Teng begitu gugup, nona Han bisa menduga musuhnya pasti lihay.
Kok Siauw Hong pun tahu, siapa yang digendong oleh Beng Teng.
Tapi saat itu dia sedang berkonsentrasi mengobati dirinya.
Tidak heran Kok Siauw Hong tergetar hatinya.
Saat itu Kok Siauw Hong sadar tenaga murninya sudah buyar, dengan demikian nona Han buru-buru menggenggam tangan Kok Siauw Hong.
Nona Han menggelengkan kepalanya agar Kok Siauw Hong tidak menghiraukan keadaan di sekitarnya.
Siauw Hong mengangguk mengiakan karena sadar, sesudah sembuh dia bisa membantu Ci Giok Phang.
Sesudah itu Kok Siauw Hong berkonsentrasi penuh kembali.
Ketika itu Kok Siauw Hong mengkhawatirkan keadaan Han Pwee Eng yang sudah mendengar suara-suara di luar, tentu saja itu berbahaya baginya.
Sedang di luar suara derap kaki kuda yang tadi terdengar masih jauh, sekarang sudah semakin dekat.
Tidak lama derap kaki kuda itu berhenti tepat di depan gubuk lelaki tua.
Sesudah tidak terdengar derap kaki kuda sekarang terdengar suara dingin.
"Beng Cong-piauw-thauw, kau tidak mengira kita akan bertemu lagi di sini, bukan? Nah, pekerjaan apa yang sedang Anda kerjakan sekarang?"
Kata suara dingin itu.
Mendengar suara dingin itu hati nona Han tersentak kaget.
Suara itu dikenali sebagai suara si Rase Liar An Tak.
Dulu ketika akan ke Yang-cou dikawal oleh Beng Teng, nona Han pernah bertemu dengannya Bahkan nona Han berhasil mencungkil sebelah mata si Rase Liar An Tak.
"Ah, cuma An Tak seorang saja, Beng Teng sudah begitu ketakutan,"
Pikir Han Pwee Eng.
"Tapi berdasarkan derap kaki kuda An Tak datang bersama tiga orang kawannya. Mudahmudahan saja Kok Toa-ko segera pulih, jika tidak Beng Teng dan Ci Giok Phang dalam bahaya!"
Saat itu Beng Teng sadar dia tidak akan mampu mengalahkan si Rase Liar An Tak.
Tetapi di dalam karirnya dia sering menghadapi bermacam-macam bahaya, wajahnya tidak terlihat takut atau gentar.
Malah terdengar Beng Teng tertawa terbahak-bahak.
"Sudah lama piauw-kiokku ditutup,"
Kata Beng Teng.
"mana mungkin aku masih bisa mencari rejeki dengan cara menjalankan perusahaan ekpedisi lagi!"
Mendengar jawaban Beng Teng si Rase Liar An Tak tertawa.
"Jangan bohong aku dengar kau menerima dewa uang, benar kan?"
Kata An Tak.
"Saudara An jangan bergurau, pada masa sedang kacau begini mana ada dewa uang datang padaku?"
Kata Beng Teng.
"Kau salah Beng Teng Piauw-thauw, siapa yang tidak tahu perusahaan dan namamu sangat terkenal di Lokyang?"
Kata An Tak menyindir.
"Apa kau lupa perusahaanku telah jatuh di tanganmu dan Sri-gala Tua Tan,"
Kata Beng Teng.
"Itu sebabnya perusahaanku sudah kututup lama sekali. Mana mungkin 997 aku berbohong. Jika kau tidak percaya kau bisa melihatnya sendiri di Lok-yang. Tetapi aku yakin, pengetahuanmu lebih luas. Sekalipun kau tidak melihatnya tetapi kau pasti sudah mengetahuinya!"
"Aku tahu usahamu kau tutup setelah tentara Mongol datang ke Lok-yang. Maka itu kau tidak bisa membuat perhitungan dengan An Toa-ko!"
Kata orang yang datang bersama An Tak.
"Sekalipun perusahaanmu sudah tutup, tetapi namamu yang termasyur tetap ada. Berdasarkan nama besarmu itu, maka aku yakin rejeki besarmu tetap datang!"
Kata teman An Tak yang lain.
"Kereta kuda tuaku sudah rusak, jika kau tidak percaya silakan geledah saj a!"
Kata Beng Teng. Ditantang begitu si Rase Liar An Tak tertawa.
"Jangan tergesa-gesa,"
Kata An Tak.
"Ada yang ingin aku rundingkan denganmu. Aku harus memperkenalkan kawankawanku ini kepadamu."
Sesudah itu An Tak menunjuk salah seorang kawannya.
"Ini Kim Hiong-cu dari Kim-say-kok (Lembah Singa Emas)......"
Kata An Tak, tapi sebelum An Tak selesai bicara Beng Teng langsung memotong.
"Kalau begitu pasti yang ini Lo Hiang-cu dari In-ma-coan! Sudah lama kedua Hiang-cu tidak bertemu denganku, namun aku sudah pernah menyerahkan kartu namaku saat akan melewati gunung kalian. Dengan demikian kita punya hubungan baik bukan?'' kata Beng Teng. Ternyata seorang yang memiliki perusahaan ekpedisi seperti Beng Teng, tidak boleh hanya mengandalkan ilmu 998 silatnya saja, tetapi dia juga harus luas pergaulannya dan juga punya sedikit kharisma di berbagai tempat. Nama Hiang-cu dari Kim-say-kok itu Kim Hoat, sedang yang dari In-ma-coan bernama Lo Jin Cun. Sarang mereka sangat berdekatan, maka itu mereka punya hubungan baik dan sering berkelana di kalangan Kang-ouw. Ketika Beng Teng diberi tahu nama yang seorang, dia langsung tahu nama temannya yang lainnya "Jika Anda tidak mengungkit masalah itu, aku malah lupa,"
Kata Lo Jin Cun sambil tertawa terbahak-bahak.
"Benar, karena kita sudah saling mengenal, maka aku ajak An Toa-ko untuk berunding denganmu,"
Sambung Kim Hoat. Sedangkan yang keempat seorang lelaki berumur limapuluh tahun. Dia juga tertawa terbahakbahak.
"Pergaulan Anda sangat luas saudara Beng,"
Kata orang itu.
"Tetapi tahukah kau, siapa aku ini?"
Beng Teng memperhatikan orang itu. Saat memperhatikan pakaian sulam orang itu bergambar ikan yang aneh, seketika Beng Teng ingat sesuatu. Maka itu dia langsung bicara.
"Bukankah Anda Ketua Chu dari perkumpulan Ikan Hiu di Huang-hoo?"
Kata Beng Teng.
Sebenarnya pekerjaan Beng Teng hanya di darat, tidak heran dia tidak mengenal orang ini.
Tetapi dari gambar sulam di pakaian orang itu, Beng Teng langsung menduga-duga.
Di kamar mereka Han Pwee Eng mendengar kata-kata Beng Teng tersebut.
"Hm! Rupanya Chu Tay Peng pun datang ke mari!"
Pikir nona Han.
"Aku kira kepandaian mereka tidak lebih rendah dari An Tak. Pasti mereka semua lihay-lihay!"
Nona Han pernah bertemu dengan Chu Tay Peng di rumah makan Ngi Nih Lauw.
Ketika itu Chu Tay Peng salah sangka, dia dikira puteri Kiong Cauw Bun.
Tidak heran jika Chu Tay Peng pernah membayari makanan Han Pwee Eng di beberapa rumah makan lainnya.
"Sungguh jeli mata Anda, saudara Beng. Aku kagum sekali!"
Kata Chu Tay Peng sambil tertawa.
"Baiklah, sekarang masing-masing sudah saling mengenal,"
Kata An Tak.
"Sekarang mari bicarakan masalah kita. Pekerjaan Anda mengawal barang, sedang kami bekerja tanpa modal. Tidak heran kadang-kadang kita bisa bentrok satu sama lain. Tetapi aku kira itu bukan dendam, tapi karena kepentingan profesi masing-masing. Begitu bukan?"
"Anda benar saudara An Tak, jika ada petunjuk katakan saja,"
Kata Beng Teng tenang.
"Baik! Memang seharusnya kita bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling!"
Kata An Tak.
"Kali ini aku ingin membicarakan sebuah transaksi... Bukankah Tuan muda dari Pek-hoa-kok meminta Anda menjadi pengawalnya?"
"Jangan bergurau, saudara An."
Kata Beng Teng.
"Tuan muda dari Pek-hoa-kok berkepandaian tinggi. Mana mungkin dia memintaku untuk menjadi pengawalnya?"
Mendengar ucapan Beng Teng, An Tak tertawa dingin.
"Hm! Jangan lupa, bukankah kau juga pernah mengawal nona Han, puteri Han Tay Hiong?"
Kata An Tak.
"Kepandaian gadis busuk itu jauh lebih tinggi darimu. Aku tahu benar. Karena Ci Giok Phang terluka berat, maka dia 1000 menyuruhmu mengantarkannya pulang ke Pek-hoa-kok. Berapa ongkos antar yang kau terima?"
"Sabar. Untuk sementara kita jangan bicara soal uang. Tetapi aku ingin menasihatimu! Dulu karena kau merebut nona Han, maka matamu dilukai.oleh nona Han! Sekarang kau sudah tahu mengenai kelihayan Ci Giok Phang, tetapi kau masih ingin turun tangan. Aku hanya menasihatimu, kau jangan coba-coba mencari gara-gara dengan keluarga Ci. Semua ini demi kebaikan bagi kalian!"
Kata Beng Teng. Wajah An Tak berubah seketika itu juga. Dia mencoba menahan amarahnya. Tak lama dia sudah bicara lagi.
"Jangan kau takut-takuti kami dengan nama besar keluarga Ci dari Pek-hoa-kok!"
Kata An Tak.
"Ini masalah kami, kau tidak perlu menasihati aku!"
"Lalu kalian ingin bicara soal transaksi apa denganku?"
Kata Beng Teng.
"Aku tidak minta bagian seperti dulu ketika kau mengantar nona Han, tetapi sekarang aku malah akan mengantarkan rejeki untukmu. Tentu ada syaratnya yaitu jika kau mau menyerahkan Ci Giok Phang pada kami!"
Kata An Tak.
"Mengapa kalian menginginkan Ci Giok Phang? Bisakah kau katakan padaku agar aku tahu apa keinginan kalian itu?"
Kata Beng Teng.
"Karena kita kenalan lama, tidak masalah aku menjelaskannya kepadamu,"
Kata An Tak.
"Sebenarnya yang menginginkan Ci Giok Phang itu bukan kami!"
"Lalu siapa?"
Kata Beng Teng.
"Jenderal Mongol. Jika kau serahkan dia, kau bisa kaya, bahkan kau akan diberi pangkat! Jika kau ingin terus 1001 membuka usaha ekpedisi di Lok-yang, mereka juga setuju. Bukankah ini sangat menguntungkan bagimu? Bagaimana, apa kau mau atau tidak?"
Kata An Tak.
"Oh, sungguh tidak kuduga! Ternyata sekarang kalian telah menjadi kaki tangan bangsa asing! Maaf, aku tidak berminat menjadi pembesar bangsa Mongol. Aku juga tidak ingin kaya bahkan tidak mau bekerja-sama dengan bangsa Mongol. Selama masih ada bangsa Mongol, aku tidak akan membuka perusahaanku lagi. Aku juga tidak tahu di mana Ci Giok Phang sekarang? Bahkan sekali pun aku mengetahuinya, aku tidak akan menunj ukkan pada kalian. Perbuatan itu sungguh merendahkan leluhur kita!"
Kata Beng Teng dengan gagah. Tiba-tiba wajah An Tak berubah kehijau-hijauan karena marah.
"Hm! Rupanya kau tidak ingin menjadi orang kaya, kau malah kau memilih mati!"
Kata An Tak.
"Saudara Beng jika kau mau bertindak, kau harus melihat gelagat dulu,"
Kata Chu Tay Peng dengan sabar.
"Apa kau tidak pernah mendengar, di mana-mana pasukan Mongol berhasil mengalahkan musuh-musuhnya? Selain mengalahkan bangsa Kim, dia juga akan merebut kekuasaan dari tangan Kerajaan Song. Jenderal Mongol itu baik padamu. Maka itu dia menawarkan rejeki kepadamu. Tetapi jika kau menolak ajakan itu, kami akan bertindak. Jika sampai terjadi pertarungan di antara kita, sudah tentu kita tidak bisa ingat hubungan baik kita lagi!"
Jenderal Mongol di Lok-yang sudah tahu bagaimana kemampuan Beng Teng, maka itu dia berusaha akan menarik Beng Teng ke pihaknya.
Maka itu An Tak bersama kawankawannya diminta untuk membujuk Beng Teng.
Sampai saat itu mereka belum berani melakukan kekerasan kepada Beng Teng.
"Hm! Sudah jangan banyak bicara lagi! Pikirkan baikbaik olehmu. Jika menurut kau pasti kaya, tapi jika tidak maka nyawamupun akan melayang!"
Kata An Tak tidak sabar.
"Hm! Bagi seorang lelaki sejati, jika harus mati lalu apa yang harus dipikirkan lagi?"
Kata Beng Teng dengan gagah. An Tak gusar bukan kepalang. Dia langsung mengibaskan senjata andalannya yaitu kipas besi. Saat itu Chu Tay Peng sudah langsung memberi komando pada kawan-kawannya.
"Cepat kalian cari Ci Giok Phang! Beng Teng tidak akan lolos dari tangan kami!"
Kata Chu Tay Peng.
"Baik,"
Kata An Tak.
"Tadi kami sudah bersikap sangat sabar terhadapmu. Karena kau tidak tahu diri, jangan salahkan kami jika kami kurang sopan padamu!"
Saat itu Lo Jin Cun dan Kim Hoat sudah langsung melaksanakan perintah Chu Tay Peng. Mereka berdua langsung memeriksa kereta milik Beng Teng. Tetapi tidak lama mereka sudah kembali ke tempat itu.
"Kereta itu kosong!"
Kata Lo Jin Cun.
"Jangan heran, mungkin Beng Teng menyembunyikannya di gubuk ini! Lekas geledah!"
Kata An Tak.
"Sudah aku katakan aku tidak mengawal dia, jika kalian mau menangkapku tangkaplah. Kalian jangan menyusahkan petani tua yang bisu dan tuli itu!"
Kata Beng Teng.
Semula karena Beng Teng mengira yang datang bukan An Tak dan kawan-kawannya, dia mengira akan mampu 1003 mengatasinya Tetapi melihat yang datang An Tak dan kawankawannya, dia jadi mencemaskan keselamatan petani bisu itu.
"Minggir!"
Bentak An Tak saat melihat Beng Teng mencoba menghalanginya masuk ke dalam gubuk. An Tak menendang pintu gubuk itu.
"Braak!"
Saat itu Lo Jin Cun dan Chu Tay Peng sudah mengepung Beng Teng yang sudah siap adu jiwa Dia tidak ingin menyusahkan petani tua itu.
"Biar mereka geledah tempat ini. Nanti sesudah mereka menemukan Ci Giok Phang baru aku adu jiwa dengan mereka!"
Pikir Beng Teng. Tidak lama An Tak dan Kim Hoat sudah masuk ke dalam gubuk, lelaki tua itu sangat ketakutan. Saat An Tak bertanya orang tua itu, dia hanya ah-ah-uh-uh tidak bisa bicara.
"Dia bisu!"
Kata Beng Teng memberi tahu An Tak.
Beng Teng begitu kaget apalagi Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong yang ada di dalam kamar.
Saat itu denyut nadi Kok Siauw Hong sudah mulai normal kembali.
Tetapi Khi-kinpat-meh (Nadi) belum terbuka, maka saat gawat pun belum berlalu.
Han Pwee Eng jadi bingung bukan main.
"Jika mereka menerjang masuk ke dalam kamar ini, maka sia-sia usahaku!"
Pikir Han Pwee Eng.
Orang tua bisu itu tetap menghadang di depan An Tak.
Suara ah-ah-uh-uhnya terus terdengar.
Dia kelihatan tenang, sekarang dia sadar, bahwa orang yang masuk ke 1004 dalam gubuknya orang-orang jahat.
Tetapi sedikit pun dia tidak merasa takut.
Saat An Tak melihat tumpukan rumput di belakang rumah, dia mengeluarkan perintah.
"Periksa tumpukan rumput itu!"
Kata An Tak.
"Baik,"
Kata Kim Hoat yang langsung menuju ke tumpukan rumput kering.
Tiba-tiba Beng Teng menyerang ke arah Kim Hoat sambil mendengus keras.
Chu Tay Peng yang berdiri di samping Beng Teng, bergerak cepat.
Melihat bahu Beng Teng bergerak, Chu Tay Peng langsung mencengkram bahu Beng Teng.
"Lebih baik kau diam!"
Bentak Chu Tay Peng. Dengan terpaksa Beng Teng menangkis serangan Chu Tay Peng itu.
"Plaak!"
Tubuh Chu Tay Peng bergoyang, Beng Teng pun terhuyung ke belakang tiga langkah. Tangan Beng Teng terasa sakit sekali. Bersamaan dengan itu An Tak menggerakkan kipas besinya mengancam Beng Teng.
"Jka kau berani bergerak lagi, maka aku tidak akan sungkan-sungkan membunuhmu!"
Kata An Tak bengis.
Saat itu Beng Teng sudah siap adu jiwa.
Mendadak terjadi sesuatu yang sungguh di luar dugaan.
Ketika Kim Hoat sedang membungkukkan tubuhnya akan memeriksa rumput kering itu, tiba-tiba Kim Hoat merasakan pinggangnya kesemutan, dia jadi kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Maka tak ampun lagi Kim Hoat jatuh terlentang.
Rupanya orang tua bisu-tuli itu yang mendorong Kim Hoat.
Sekalipun Kim Hoat bukan jago kelas satu, tetapi dia j uga berkepandaian cukup tinggi.
Jika dia bisa terdorong jatuh oleh lelaki tua itu, tentu saja membuat An Tak dan kawankawannya terkejut.
Tiba-tiba tubuh An Tak berkelebat, tahu-tahu dia sudah ada di depan lelaki tua itu.
Dia arahkan ujung kipas besinya ke jalan darah lelaki tua itu sambil membentak keras.
"Siapa kau?"
Kata An Tak. Menyaksikan kejadian itu Beng Teng girang bukan kepalang.
"Tidak kusangka dia ternyata pesilat tinggi. Jika aku bergabung dengannya, maka aku akan sanggup menghadapi keempat orang ini. Sekalipun tidak bisa mengalahkan mereka, tetap ada harapan."
Pikir Beng Teng. Sesudah itu Beng Teng berteriak.
"Dia bisu, percuma kau bertanya padanya. Mari kita bertarung saja!"
Kata Beng Teng. Lo Jin Cun membangunkan Kim Hoat, mereka melangkah ke depan lelaki tua itu. Sesudah bisa melihat tegas tiba-tiba Lo Jin Cun berseru keras.
"Bukankah kau Kiauw Song Giam? Sudah bertahuntahun aku mencarimu. Ternyata kau bersembunyi di sini! Di depanku kau masih berpura-pura bisu dan tuli!"
Kata Lo Jin Cun. Lelaki tua itu tertawa "Aku di sini bukan untuk menghindarimu!"
Kata lelaki tua itu.
"Sekarang kita sudah bertemu maka hutang piutang lama harus kita selesaikan!"
Baru saja Kiauw Song Giam usai bicara, Kim Hoat dan Lo Jin Cun langsung menyerang dengan pedang mereka.
Melihat lawan menyerangnya dengan sigap Kiauw Song Giam meraih porok (garpu) yang ada di tumpukan rumput kering itu.
"Bagus ilmu silatmu itu!"
Kata Song Giam.
Dia putar garpu itu untuk menangkis pedang Lo Jin Cun dengan jurus Hoat-cau-sui-coa (Membabat rumput mencari ular).
Pedang Lo Jin Cun tertangkis dengan keras hingga miring.
Pada saat yang bersamaan ujung garpu atau porok itu mengarah.ke tenggorokan Kim Hoat.
Buru-buru Kim Hoat menangkis ujung garpu itu.
Terdengar suara nyaring.
"Trang!"
Tangan Kim Hoat kesakitan. Lo Jin Cun maju sambil membentak.
"Hari ini aku harus membalas sebuah pukulanmu!"
Kata Lo Jin Cun.
Ujung pedang Lo Jin Cun berkelebat ke arah jalan darah Beng-khi-hiat.
Permusuhan Lo Jin Cun dengan Kiauw Song Giam terjadi sepuluh tahun yang lalu.
Ketika itu Lo Jin Cun merampok seorang pedagang di daerah utara yang dikawal oleh para piauw-su.
Namun para piauw-su itu tidak mampu melindungi pedagang itu.
Pada saat dalam bahaya muncul Kiauw Song Giam yang kebetulan lewat di tempat kejadian.
Saat bertarung dengan Kiauw Song Giam, Lo Jin Cun terkena sepuluh pukulan hingga gigi Lo Jin Cun rontok dua buah.
Maka itu dalam sepuluh tahun terakhir Lo Jin Cun berlatih ilmu Pat-sian-kiamhoat (Ilmu pedang delapan dewa) dengan maksud berusaha mencari Kiauw Song Giam untuk membalas dendam.
"Hm! Sekarang kepandaian Lo Jin Cun sudah maju pesat!"
Pikir Kiauw Song Giam. Kiauw Song Giam tidak berani menganggap ringan lawannya Tiba-tiba Kiauw Song Giam berseru.
"Ilmu pedangmu hebat, tapi sekarang kau akan merasakan ilmu totokanku!"
Kata Kiauw Song Giam.
Dengan kepandaiannya yang tinggi Kiauw Song Giam mampu menggunakan garpu sebagai alat totok.
Dia arah setiap jalan darah lawan dengan garpunya itu.
Lo Jin Cun kaget menyaksikan kehebatan lawannya itu, sekalipun telah mengubah serangannya, tetapi dia tetap terdesak oleh Kiauw Song Giam.
Mendadak dari bagian samping Kim Hoat menyerang, tetapi serangan Kim Hoat berhasil ditangkis.
"Tang!"
Pedang Kim Hoat terpental bahkan Kim Hoat pun terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.
"An Toa-ko, orang tua ini cukup lihay!"
Kata Kim Hoat.
Saat Kiauw Song Giam sedang bertarung dengan Kim Hoat dan Lo Jin Cun, Beng Teng sudah menghunus golok Ciak-kimto miliknya.
Dia langsung bertarung melawan An Tak dan Chu Tay Peng.
Jika satu lawan satu mungkin kepandaian Beng Teng seimbang.
Tapi karena dia melawan dua orang jago silat ternama, sudah tentu dia kalah dan mulai terdesak.
Sebelah mata An Tak bersinar mengawasi Beng Teng dengan penuh kebencian.
Dia ingat matanya yang sebelah dicungkil nona Han ketika dikawal oleh Beng Teng.
Karena tidak ada nona Han, kemarahan An Tak yang ingin membalas dendam ditimpakan kepada Beng Teng.
Dia menganggap matanya yang sebelah hilang gara-gara Beng Teng yang mengawal nona Han.
Sedangkan Chu Tay Peng ingin menangkap Beng Teng dalam keadaan hidup.
Jika berhasil dia berjasa pada jenderal Mongol yang menyuruh mereka membujuk Beng Teng memihak pada bangsa Mongol.
Saat Chu Tay Peng mendengar seruan Kim Hoat dia langsung berteriak.
"Saudara An, bantu mereka berdua. Biar aku yang menghadapi dia sendiri!"
Kata Chu Tay Peng. An Tak mengundang Lo Jin Cun dan Kim Hoat, maka itu dia merasa tidak enak hati jika dia diam saja.
"Baik. Aku akan menotok jalan darah orang tua itu. Sesudah itu baru kubantu mereka!"
Kata An Tak pada Chu Tay Peng.
Ilmu andalan Chu Tay Peng Tiat-sah-ciang (Pukulan pasir besi), tetapi dia juga mahir jurus Tay-kin-na-ciu (Ilmu cengkraman).
Dia ingin sekali menangkap Beng Teng.
Chu Tay Peng salah duga, ternyata Beng Teng pun berilmu tinggi, hingga dia mendapat kesulitan untuk menangkap hidup-hidup lawannya.
Sesudah bertarung beberapa jurus tidak berhasil, Chu Tay Peng mulai menggunakan jurus maut.
Dia maju dan menyerang dengan jurus Tiat-soh-heng-kang (Rantai besi melintang di sungai).
Menghadapi jurus itu Beng Teng benar-benar kewalahan.
Dia merasakan lengannya hampir patah dicengkram oleh Chu Tay Peng, Tiba-tiba Beng Teng menjatuhkan diri, lalu bergulingan beberapa depa jauhnya Chu Tay Peng maju tetapi pada saat yang bersamaan Beng Teng membentaknya.
"Lihat golokku!"
Kata Beng Teng.
Beng Teng menyambitkan goloknya ke arah Chu Tay Peng.
Tentu saja Chu Tay Peng tidak berani menyambut serangan itu.
Buru-buru dia berkelit menghindar.
Saat itu 1009 Beng Teng sudah bangun kembali.
Kini di tangannya sudah memegang dua macam senjata.
Tangan kiri memegang perisai, tangan kanan memegang pedang pendek.
Ketika Chu Tay Peng berkelit untuk menghindari serangan Beng Teng, golok itu menyambar ke arah An Tak.
Dengan cepat An Tak mengibaskan kipasnya menangkis golok itu.
'Tang!"
Golok Beng Teng terjatuh ke lantai gubuk.
"Chu Toa-ko, hati-hati!"
Teriak An Tak. Saat itu serangan Beng Teng datang. Tay Peng mencelat ke belakang untuk menghindari serangan itu.
"Saudara Beng, kau masih belum mau menyerah?"
Kata Chu Tay Peng.
"Aku ingin tahu kau bisa tahan berapa lama. An Toa-ko, jangan cemas. Aku yakin bisa membekuk dia!"
Sekarang kedua orang itu sudah bertarung lagi dengan hebat.
Perisai merupakan senjata andalan Beng Teng.
Dengan kedua macam senjata itu Beng Teng pernah melanglang buana dengan bebas.
Dengan perisai dia bisa menangkis setiap senjata lawan.
Dengan pedang pendeknya dia bisa menyerang lawan.
Saat itu Beng Teng menyerang Chu Tay Peng dengan jurus Hoat-cau-sui-coa (Membabat rumput mencari ular).
Chu Tay Peng mengelak, dan kakinya menendang jalan darah Beng Teng.
Sedang Beng Teng segera menangkis tendangan itu dengan perisainya.
'Tang!"
Buru-buru Chu Tay Peng melompat ke belakang.
Saat melompat Beng Teng menyerang dengan pedangnya.
Ketika Chu Tay Peng sudah agak jauh dari lawan, dia 1010 memeriksa celananya.
Ternyata celana Chu Tay Peng terkena tusukan pedang Beng Teng.
Menyaksikan celananya terkena pedang pendek Beng Teng, Chu Tay Peng sadar betapa lihaynya Beng Teng, maka itu sekarang Chu Tay Peng berhati-hati.
Pertarungan berlangsung dengan hebat, sekarang Beng Teng berada di atas angin.
Sementara itu An Tak telah bergabung dengan Kim Hoat dan Lo Jin Cun mengeroyok Kiauw Song Giam.
Namun, mereka bertiga tetap harus waspada pada setiap totokan Kiauw Song Giam yang lihay itu.
Sekalipun Kiauw Song Giam gagah tetapi karena menghadapi tiga orang lawan yang cukup lihay, lama kelamaan tenaganya terkuras juga.
Pertarungan di luar kamar Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong terdengar jelas membuat mereka terkejut.
Saat itu keringat sebesar kacang hijau terlihat membasahi kening dan wajah Kok Siauw Hong.
Napasnya mulai terdengar berat.
Itu adalah saat yang paling genting.
Jika saat kritis itu lewat maka tenaga Kok Siauw Hong akan pulih kemali.
Han Pwee Eng berusaha mengerahkan lwee-kangnya untuk bisa lebih cepat menembus Khi-kin-pat-meh Kok Siauw Hong.
Saat bertarung pun An Tak memperhatikan ke seluruh ruangan, malah memasang telinganya Saat itu terdengar suara napas Kok Siauw Hong yang sangat berat.
Ketika dia memperhatikan kamar itu, dia lihat ada dua bayangan sosok tubuh di kamar itu.
An Tak hanya menduga Ci Giok Phang yang sedang terluka parah disembunyikan di dalam gubuk itu.
Setelah melihat dua bayangan orang itu An Tak berpikir.
"Di kamar itu ada teman Ci Giok Phang yang sedang mengobatinya. Jika lukanya telah sembuh, aku akan repot menghadapinya. Lebih baik aku segera masuk membereskannya sebelum dia sembuh!"
Pikir An Tak Setelah berpkir begitu An Tak menyerang secara bertubitubi ke arah Kiauw Song Giam, sehingga orang itu harus melompat mundur.
"Saudara Lo dan saudara Kim, kalian tahan tua bangka ini! Aku akan masuk memeriksa kamar, nanti aku membantu kalian lagi!"
Kata An Tak.
Saat itu Kiauw Song Giam terdesak mundur oleh kedua kawan An Tak.
Sekarang An Tak yakin kedua kawannya itu akan mampu menahan orang tua itu.
Maka berjalanlah An Tak menuju ke arah kamar yang dia lihat ada dua bayangan orang itu.
Baru saja An Tak ada di depan pintu kamar, ia mendengar suara dingin mengejeknya.
"Hai Rase Liar, apakah belum cukup sebelah matamu picek? Apa kau ingin mata yang satu lagi kucungkil?"
Kata suara dingin ku.
Bukan main kagetnya An Tak.
Tadi dia mengira yang ada di dalam kamar itu Ci Giok Phang yang sedang terluka parah.
Dia tidak mengira kalau orang itu Han Pwee EngMata An Tak dicungkil oleh nona Han, maka itu dia kenal benar suara dingin itu suara nona Han.
Tiba-tiba dia mundur dua langkah.
Sesudah mundur dua langka tampak An Tak tenang kembali.
Ia sudah melihat jelas Han Pwee Eng sedang duduk dengan seorang pemuda yang belum diketahui siapa dia.
Mereka berdua sedang menghimpun hawa murni mereka.
Melihat hal itu An Tak jadi girang bukan kepalang.
"Rupanya gadis busuk itu sedang mengobati kekasihnya! Ini kesempatan baik untuk aku membalas dendam!"
Pikir An Tak. An Tak menyeka keringat dingin di keningnya, lalu berjalan sambil tertawa terbahak-bahak menuju ke kamar itu.
"Nona Han, aku tidak akan mencungkil matamu, tetapi aku cuma minta kau jadi isteriku!"
Kata An Tak.
Tiba-tiba An Tak menggerakkan kipas besinya menotok ke arah punggung nona Han.
Nona Han gusar bukan kepalang, tapi dia mencoba menahan amarahnya.
Ini dia maksudkan agar dia tidak mengganggu konsentrasi Kok Siauw Hong.
Saat tahu An Tak akan menotok jalan darah di punggungnya, Han Pwee Eng langsung menghunus pedang dan menangkis totokan itu.
Sebenarnya ilmu silat nona Han lebih tinggi dari An Tak, namun sebelah tangannya sedang menempel dengan tangan Kok Siauw Hong.
Malah nona Han pun tidak bisa bangun, karena dia harus tetap pada posisinya semula.
Itu sebabnya dia jadi kurang leluasa melakukan perlawanan.
Ketika An Tak dicungkil matanya tempo hari, An Tak belum tahu siapa Han Pwee Eng.
Dia hanya mengira nona Han itu gadis biasa-biasa saja.
Waktu itu kepandaian An Tak pun berada di bawah nona Han.
Karena dia tidak siaga dengan mudah matanya tecungkil oleh nona Han.
Oleh karena An Tak pernah dikalahkan oleh nona Han, tidak heran kalau dia jadi agak ngeri terhadap gadis ini.
Padahal saat itu sangat menguntungkan dia.
Tapi karena dia tidak berani maju lebih dekat, justru memberi kesempatan pada nona Han untuk bernapas.
Sebelah tangan nona Han tetap membantu Kok Siauw Hong menyalurkan hawa murni, sedang tangan kanan yang memegang pedang, siap menghadapi serangan An Tak.
Nona Han menangkis setiap serangan si Rase Liar dengan tidak menoleh, dia hanya mengandalkan pendengarannya dan sambaran angin senjata lawan.
Sekalipun sedang duduk bersila karena ilmu pedang nona Han lihay sekali, dia masih mampu menangkis setiap serangan lawan.
Serangan si Rase Liar dilakukan bertubitubi, tapi nona Han hanya menangkis setiap serangan itu.
Saat An Tak berada sangat dekat dengan gadis ini, tiba-tiba Han Pwee Eng menggunakan pedangnya menusuk perut si Rase Liar.
Tusukan itu sangat cepat maka itu terdengar suara nyaring.
"Sreet!"
Rupanya pakaian An Tak terserang pedang nona Han hingga robek, untung An Tak bisa buru-buru melompat mundur, jika tidak perutnya akan tertikam oleh pedang nona Han.
"Oh, sayang sekali!"
Kata Han Pwee Eng mengeluh. Saat itu si Rase Liar An Tak terkejut bukan kepalang. Tanpa terasa keringat dingin membasahi wajahnya. Saat dia mengawasi ke arah lawannya dia girang bukan kepalang.
"Kenapa aku bodoh sekali!"
Pikir An Tak.
"Gadis busuk ini sedang mengerahkan lwee-kangnya mengobati kekasihnya. Pasti dia tidak bisa melawanku dengan sepenuh tenaga. Kenapa aku harus takut kepadanya? Aku harus segera membereskannya, jika tidak bisa terlambat!"
Dengan sekuat tenaga An Tak mulai melancarkan serangannya lagi.
Nona Han mencoba menangkis tetapi 1014 tidak dengan sepenuh tenaga.
Ini disadari oleh An Tak, maka itu dia terus menyerangnya dengan sengit.
Sekalipun lwee-kang nona Han lebih tinggi dari An Tak, saat itu nona Han sedang sibuk membantu Kok Siauw Hong.
Jika dia mengerahkan seluruh kekuatannya itu akan berakibat buruk bagi Kok Siauw Hong.
Maka itu nona Han tidak berani mengambil risiko.
Sekarang kelihatan nona Han mulai tertekan oleh setiap totokan yang dilakukan An Tak.
"Gadis busuk! Sekarang kau tahu bagaimana kelihayanku?"
Kata An Tak. Pada saat bersamaan nona Han merasakan hawa hangat tersalur ke tubuhnya melalui telapak tangannya, ini membuat semangat nona Han bangkit. Tiba-tiba terdengar suara keras. 'Tang!"
Ternyata nona Han berhasil memapas kipas besi di tangan An Tak.
Sedang ujung pedang nona Han mengarah ke mata An Tak yang sebelah lagi.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan karena pedang itu tepat mengenai mata An Tak yang sebelah lagi.
Seketika itu juga wajah An Tak berlumuran darah karena mata An Tak berdarah.
Ia segera melompat pergi.
"Adik Eng, terima kasih,"
Kata Siauw Hong sambil berdiri.
Saat nona Han dalam bahaya, untung jalan darah Kok Siauw Hong berhasil tertembus.
Maka itu dia langsung menyalurkan lwee-kangnya ke tangan nona Han.
Nona Han pun memandang pemuda itu sambil tersenyum manis.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 36 Kedua muda-mudi itu sangat girang karena mampu melewati saat-saat kritis.
Sesudah saling tersenyum Han Pwee Eng berkata pada Kok Siauw Hong dengan suara perlahan.
"Sayang si Rase Liar sudah kabur! Kalau begitu mari kita keluar untuk membantu Beng Teng!"
Kata Han Pwee Eng.
"Benar. Kita pun harus berterima kasih pada pemilik gubuk ini,"
Kata Kok Siauw Hong.
Saat kedua muda-mudi itu keluar, Beng Teng masih bertarung melawan Chu Tay Peng.
Sedangkan Kiauw Song Giam, orang tua yang dikira bisu dan tuli itu pun sedang bertarung melawan Lo Jin Cun dan Kim Hoat.
Tetapi saat itu Kiauw Song Giam sudah berada di atas angin.
Tidak lama lagi orang tua ini pasti bisa mengalahkan kedua lawannya itu.
Lwee-kang Kiauw Song Giam memang lebih tinggi dibanding kedua lawannya.
Setelah An Tak masuk ke dalam kamar, secara tidak langsung An Tak telah memberi kesempatan pada Kiauw Song Giam untuk mengatur napasnya, hingga akhirnya dia bisa mengungguli kedua lawannya itu.
Lo Jin Cun mengira dengan ilmu pedangnya dan dibantu oleh Kim Hoat, dia akan berhasil membalas dendam.
Tidak disangka sekarang mereka malah terdesak oleh Kiauw Song Giam.
Kini kelihatan Lo Jin Cun mulai cemas.
Dia berharap An Tak akan keluar membantu mereka.
Tapi betapa kagetnya mereka karena di dalam kamar juga terdengar suara senjata beradu.
Itu tandanya An Tak mendapat lawan yang setimpal juga.
Tentu saja hal itu membuat Lo Jin Cun jadi bertambah cemas.
Tak lama mereka malah mendengar jeritan kesakitan dari An Tak yang keluar dengan wajah berlumuran darah.
Melihat hal itu mereka kaget bukan kepalang.
"Celaka mata An Tak buta!"
Teriak Kim Hoat. Sekali pun buta An Tak memiliki gin-kang tinggi. Dia langsung kabur dengan mengandalkan pendengarannya.
"Angin kencang, cepat lari!"
Teriak An Tak dari luar.
Baru saja suara An Tak sirna dari dalam kamar muncul Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng.
Betapa kagetnya Lo Jin Cun dan Kim Hoat.
Saat itu pun terdengar suara bentakan Kiauw Song Giam.
"Tinggalkan senjata kalian, cepat enyah dari sini!"
Kata Kiauw Song Giam.
Mendadak Kiauw Song Giam menggerakkan garpunya, disusul oleh dua suara benturan keras.
Ternyata dia berhasil memukul senjata kedua lawannya.
Saat bergerak lagi, Lo Jin Cun dan Kim Hoat sudah ada dalam jinjingannya.
Saat itu Song Giam seolah sedang menjinjing dua ekor ayam saja.
Kemudian kedua orang itu dilemparkan keluar pagar gubuknya.
Sekali pun tubuhnya terlempar dan jatuh namun kedua orang itu tidak terluka Mungkin Kiauw Song Giam tidak ingin menanam permusuhan lebih dalam dengan mereka.
Begitu bangun kedua orang itu langsung kabur terbirit-birit.
Chu Tay Peng pun berniat kabur, namun dia tidak seberuntung kedua orang tadi.
Saat itu nona Han segera membentak.
"Srigala tua ini sangat menyebalkan, jangan biarkan dia lolos!"
Kata si nona.
Setelah Chu Tay Peng berhasil mendesak Beng Teng hingga mundur, dia segera lari ke arah pintu gubuk.
Tibatiba sebuah bayangan melesat dan menghadang di depannya.
Ternyata itu bayangan Kok Siauw Hong yang baru sembuh.
Dengan sigap Kok Siauw Hong mampu menusuk jalan darah Chu Tay Peng dan menendang ke dalam lagi.
"Tinggalkan dia dulu, kita lihat keadaan Ci Toa-ko. Sesudah itu baru kita urus dia!"
Kata nona Han. Begitu melihat Han Pwee Eng muncul tertawalah Beng Teng.
"Nona Han, tidak kusangka kau ada di sini!"
Kata Beng Teng.
"Ah, kau juga ada di sini Kok Siauw-hiap!"
Kemudian Beng Teng mengeluarkan Ci Giok Phang dari tumpukan rumput kering.
Sesudah itu dia tarik tubuh Chu Tay Peng ke tumpukan rumput kering itu.
Wajah Ci Giok Phang kelihatan pucat-pasi.
Matanya tertutup rapat Ketika dia disembunyikan di bawah tumpukan rumput kering dia jadi susah bernapas.
Maka itu dia pingsan.
Kiauw Song Giam memeriksa nadi Ci Giok Phang.
"Jangan cemas dia pingsan karena sesak napas ketika disembunyikan di bawah tumpukan rumput kering. Kok Siauwhiap tolong kau lancarkan aliran darahnya!"
Kata Kiauw Song Giam. Saat itu Kok Siauw Hong sedang melamun.
"Aku sudah bertemu dengan Giok Phang, tapi entah di mana Giok Hian?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Benarkah dia 1018 ke Kang-lam bersama Seng Liong Sen? Tahukah Ci Toa-ko tentang kepergian adiknya itu? Jika dia tidak tahu, apakah aku harus memberitahunya?"
Mendengar permintaan Song Giam, dia tersentak kaget.
"Benar aku harus segera menyadarkan Ci Giok Phang."
Pikir Siauw Hong.
Siauw Hong sudah tahu tentang Ci Giok Hian, Namun karena mereka telah memadu cinta bertahun-tahun, sudah tentu dia tidak bisa melupakannya begitu saja.
Segera dia gunakan Siauw-yang-sin-kang untuk melancarkan jalan darah Ci Giok Phang.
Tak lama Ci Giok Phang pun sadar kembali.
Saat sadar dia lihat nona Han bersama Kok Siauw Hong.
Rupanya karena kaget dia tertegun dan melongo sejenak.
"Ci Kong-cu, untung ada Kok Siauw-hiap dan nona Han menolong kita. Apa kau bisa dengar kata-kataku?"
Kata Beng Teng.
"Terima kasih Siauw Hong, akhirnya kalian bisa bertemu juga!"
Kata Ci Giok Phang.
"Tapi tahukah kalian ke mana perginya Giok Hian?"
Suara Giok Phang masih lemah, rupanya dia terpaksa bicara.
"Beristirahatlah dulu Ci Toa-ko,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Sesudah kau agak sehat baru kita bicara!"
Tiba-tiba Kiauw Song Giam berkata.
"Sekarang giliranku!"
Kata dia.
Dia pegang tangan Ci Giok Phang yang segera memejamkan matanya dan tertidur.
Song Giam menggunakan ilmu istimewa hingga membuat Giok Phang tidur lelap, tetapi tidak membahayakan bagi Giok Phang.
Dia angkat tubuh pemuda itu yang segera dibawa masuk ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Dia akan tidur selama tiga jam. Kebetulan aku punya ginseng yang usianya sudah tua. Aku akan memasaknya, sesudah dia siuman akan kuberikan kepadanya."
Kata Song Giam. Sesudah itu mereka meninggalkan kamar itu. Mereka berbuat begitu agar tidak mengganggu Giok Phang yang sedang tertidur lelap. Mereka lalu berbincang-bincang di halaman depan gubuk.
"Beberapa hari ini aku telah merepotkan Paman,"
Kata Siauw Hong.
"Tidak tahunya Paman adalah Bu-lim Cianpwee!"
"Paman, kau memiliki ilmu silat yang tinggi,"
Menyambung Han Pwee Eng.
"Kenapa Paman berpurapura bisu dan tuli? Bahkan Paman hidup menyendiri?"
Sambil mengelah napas Kiauw Song Giam lalu berkata.
"Aah, aku telah melakukan kesalahan pada salah satu anak buah seorang Iblis Besar. Karena sadar tidak sanggup melawan Iblis Besar itu, aku terpaksa berpura-pura tuli dan bisu untuk menghindarinya. Namun, karena kejadian malam tadi itu, aku tidak bisa menghindar lagi darinya!"
Kata Kiauw Song Giam.
"Paman kami akan tutup mulut dalam masalah ini, tapi bolehkah kami tahu, siapa Iblis Besar itu?"
Kata Kok Siauw Hong. Kiauw Song Giam menghela napas.
"Dia jarang muncul di Tiong-goan. Jika kuberi tahupun kalian tidak akan mengetahuinya. Sebab jika kuberi tahu 1020 juga kalian tidak akan mengenalnya!"
Kata Kiauw Song Giam.
"Maka lebih baik tidak kuberitahu!"
Han Pwee Eng tersentak.
"Dia sudah muncul bahkan barangkali sudah ada di daerah sekitar sini!"
Kata nona Han. Mendengar ucapan Han Pwee Eng kelihatan Song Giam sedikit kaget.
"Nona Han sudah tahu siapa dia, bahkan kau bilang orang itu sudah berkeliaran di sekitar tempat ini! Apa kau pernah bertemu dengannya?"
Kata Song Giam. Kok Siauw Hong pun terkejut.
"Eh, Pwee Eng, dari mana kau tahu tentang itu? Sebenarnya siapa Iblis Besar itu?"
Kata Siauw Hong.
"Justru aku ingin memohon petunjuk dari Paman Kiauw,"
Kata si nona "Tadi aku lihat telapak tangan Ci Toako berwarna hitam. Dia terluka oleh ilmu pukulan apa?"
Sekarang Kok Siauw Hong sadar saat mendengar keterangan nona Han itu.
"Barangkali Ci Toa-ko terkena pukulan Cit-sat-ciang. Mungkin maksud Pwee Eng Iblis Besar itu Kiong Cauw Bun!"
Kata Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong sadar karena dia pernah dikerjai oleh Kiong Cauw Bun, hanya saja lukanya tidak separah Ci Giok Phang.
Karena Kiauw Song Giam mampu mengobatinya, dia yakin orang tua inipun akan bisa mengobati Ci Giok Phang.
"Pasti luka Ci Toa-ko lebih parah dari lukaku,"
Pikir Siauw Hong.
"Pantas dia bilang sudah tidak bisa menghindari Iblis Besar itu?' "Rupanya kalian semua sudah tahu, maka tidak ada halangannya aku memberitahu kalian. Dulu aku terlalu usil mencampuri masalah orang lain. Tahun lalu dijalan Lo-see aku lihat ada seorang laki-laki sedang menindas seseorang. Aku turun tangan melukai orang itu. Sesudah itu aku baru tahu bahwa dia anak buah pulau Hek-hong. Pemilik Hekhong-to itu kejam, dia suka membela anak buahnya. Jika ada yang berani menyusahkan anak buahnya, maka dia akan dibunuh tanpa ampun!"
Kata Kiauw Song Giam.
"Paman jangan cemas, aku siap membantu Paman agar bisa terlepas dari masalah ini,"
Kata nona Han. Nona Han berkata begitu karena dia pikir sahabat Kiong Mi Yun. Jika dia memohon pada nona itu, barangkali ayahnya bisa menyelesaikan masalah itu.
"Tuan Beng, di mana kau bertemu dengan Ci Toa-ko? Bagaimana kau bisa jadi pengawalnya?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku bertemu dia bersama seorang gadis di tengah perjalanan. Saat itu Tuan Ci sudah terluka, dia tidak bisa berjalan walau masih mengenaliku. Nona itu yang menyuruhku membawanya pulang ke Pek-hoa-kok!"
Kata Beng Teng.
"Siapa nama gadis itu?"
Tanya Siauw Hong. Di dalam benak Kok Siauw Hong berpikir.
"Tidak mungkin dia Ci Giok Hian, kalau dia pasti Beng Teng kenal padanya!"
Pikir Siauw Hong.
"Nona itu galak sekali, dia tidak memberitahu namanya!"
Kata Beng Teng.
"Bagaimana galaknya nona itu?"
Kata Siauw Hong.
"Nona itu mengeluarkan serenceng mutiara. Karena aku kira dia ingin menjual mutiara itu, lalu kukatakan padanya 1022 saat kacau seperti ini, tidak mudah menjualnya dan mutiara itu ditaksir sekitar seribu tail emas. Tetapi saat perang seperti sekarang, mungkin sulit mencari pembelinya. Jika ada yang mau membeli pun, pasti harganya akan ditekan semurahmurahnya. Maksudku saat itu lebih baik dia tidak menjual mutiara itu. Aku katakan kepadanya, j ika dia membutuhkan sedikit uang perak, aku bersedia memberinya. 'Aku tahu kau punya usaha ekpedisi dan banyak kenal dengan para pedagang mutiara,' kata nona itu. 'Orang lain tidak bisa menjual mutiara ini, tetapi kau pasti bisa! Sekalipun separuh harga tidak jadi masalah.' Aku bilang padanya, dia tidak benar, tapi sungguh sayang mutiara seribu tail emas harus dijual begitu murah."
Kataku. Setelah berhenti sejenak Beng Teng melanjutkan ceritanya "Mendadak nona itu bilang, bahwa mutiara itu akan diserahkan kepadaku,"
Kata Beng Teng.
"Mutiara itu kata nona itu hanya sebagai uang muka untuk biaya aku mengantarkan Ci Giok Phang sampai di rumahnya. Jika Ci Giok Phang selamat, maka mutiara itu menjadi milikku, tetapi jika gagal dan di tengah jalan terjadi sesuatu atas diri Ci Kong-cu, nona itu akan membunuhku! Kata dia nyawaku untuk pengganti nyawa Ci Kong-cu. Kemudian dia serahkan serenceng mutiara itu kepadaku. Dia tidak menunggu apakah aku setuju atau tidak menjalankan tugas itu!"
Han Pwee Eng sudah tahu berapa tinggi kepandaian Beng Teng.
"Kepandaian Beng Teng cukup tinggi, tetapi nona itu begitu galak hingga berani mengancam Beng Teng, aku yakin kepandaian nona itu tinggi!"
Pikir nona Han. Ketika itu Han Pwee Eng menduga siapa gadis itu. Beng Teng kelihatan murung, dia menarik napas sambil melanjutkan.
"Aku sudah lama kenal dengan Ci Kong-cu, jadi sekalipun tanpa dibayar aku bersedia mengantarkan Ci Kong-cu! Saat aku menolak pemberiannya, nona itu marah-marah. Kemudian melesat pergi meninggalkan aku. Aku coba mengejarnya, tapi tidak berhasil. Bahlan dari jauh terdengar suara nona itu. Dia menggunakan ilmu Coan-imjip-pek. 'Aku tahu kau pernah mengantar nona Han ke Yang-cou dan dibayar 2000 tail emas. Jika serenceng mutiara itu sudah cukup sebagai bayaran aku senang. Tetapi jika kurang aku bersedia menambah biayanya. Tetapi jika di tengah jalan terjadi sesuatu, ingat aku tidak sebaik keluarga Han! Selain mutiara itu akan kuambil kembali, nyawamu pun akan kucabut!' Nah, coba kalian bayangkan, apa nona itu tidak galak?"
Kata Beng Teng.
"Mungkin Beng Teng tidak kenal pada Ci Giok Hian, namun nona Ci tidak segalak itu!"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Nona itu berwajah bulat, umurnya dua tahun lebih muda dariku, betul kan?"
Kata Han Pwee Eng.
"Benar!"
Kata Beng Teng.
"Ah bodoh benar aku, kenapa aku tidak menerkanya. Dia pasti nona Kiong Mi Yun!"
Kata Kok Siauw Hong.
Kok Siauw Hong salah duga, karena Kiong Mi Yun berjalan bersama Kong-sun Po, lagi pula jika Ci Giok Phang dilukai oleh ayahnya, apa mungkin nona Kiong akan membiarkannya?
Han Pwee Eng tertawa.
"Sifat Kiong Mi Yun memang seperti itu... .Tetapi masalah ini malah membuat aku bingung?"
Kata nona Han.
"Jangan bingung, sebentar lagi pasti kita akan mengetahuinya,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Kau benar, sesudah Ci Toa-ko sadar, kita bisa menanyakannya!"
Kata nona Han. Saat itu Ci Giok Phang sudah tidur selama dua jam, sejam lagi dia akan bangun.
"Karena tidak ada yang akan kita kerjakan, mari kita tanya Chu Tay Peng!"
Kata nona Han. Kok Siauw Hong mengangguk dia segera menyeret Chu Tay Peng dan membebaskan totokannya.
"Nona Han, aku pernah baik padamu maka ampunilah jiwaku,"
Kata Chu Tay Peng.
"Pernah berbuat baik bagaimana dia padamu, Pwee Eng?"
Kata Kok Siauw Hong. Han Pwee Eng tertawa geli.
"Saat aku pulang dari Pek-hoa-kok dulu, aku melewati kota Ouw-shia. Lima perkumpulan sungai Huang-hoo mengira aku ini Kiong Mi Yun, mereka berupaya mengambil perhatianku. Dia menjadi wakil mereka. Dia pernah menjamuku di rumah makan Ngih Nih Lauw."
Kata nona Han. Kok Siauw Hong memang pernah mendengar tentang kejadian di rumah makan itu, tetapi dia tidak tahu siapa orang-orang itu. Sesudah mendengar keterangan nona Han, Kok Siauw Hong tertawa.
"Oh begitu! Dia membayarimu makan, tetapi dia minta agar jiwanya kau ampuni, Itu artinya kau akan rugi sekali!"
Kata Siauw Hong. Chu Tay Peng kelihatan ketakutan.
"Aku tahu salah, tetapi...itu juga masalah di rumah makan itu!"
Kata Chu Tay Peng.
"Apa maksud ucapanmu itu?"
Kata nona Han.
"Ketika itu Pouw Yang Hian menggunakan pukulan Huahiat-to melukai ketua Ang Kin. Untung Kong-sun Po mengobatinya. Tetapi ketua yang lain tidak ada di tempat, maka Kong-sun Po tidak menolongi mereka. Kami berusaha mencari Kong-sun Po, tapi cuma bertemu dengan nona Kiong Mi Yun. Ketika kami memohon padanya, dia berjanji akan mengundang Kong-sun Po. Tetapi kami tidak tahu apakah nona Kiong tidak bertemu atau Kong-sun Po yang tidak mau mengobati ketua itu. Mereka tidak datang lagi ke Ouw-shia!"
Kata Chu Tay Peng. Sesudah mengawasi nona Han maka Chu Tay Peng pun melanjutkan ceritanya.
"Racun Hua-hiat-to harus diobati sebelum lewat setahun. Selewat itu tidak bisa diobati lagi, kecuali kami menurut pada See-bun SouwYa. Bulan lalu kami semakin cemas, tiba-tiba muncul ayah Kiong Mi Yun. Dia minta agar kami mencarikan puterinya. Jika gagal maka kami akan dibunuhnya. Maka itu kami tidak punya pilihan, terpaksa kami harus..."
Baru sampai di sini nona Han langsung mengerti.
"Kalian lalu mencari See-bun Souw Ya dan menjadi anak buahnya..."
Kata nona Han.
"Apa boleh buat, karena cuma dia yang bisa mengobati kami. Kami jugajadi tidak takut lagi pada Kiong Cauw Bun karena See-bun Souw Ya akan melindungi kami,"
Kata Chu Tay Peng.
"See-bun Souw Ya kaki tangan bangsa Mongol,"
Kata Siauw Hong.
"Jika kau bergabung dengannya itu berarti menjadi budak bangsa asing! Lelaki sejati boleh mati, tetapi jangan menjadi budak asing. Kau mengerti?"
"Ya, aku mengerti"
Kata Chu Tay Peng.
"Terima kasih atas nasihatmu itu. Aku memang telah berbuat salah!"
Apakah ucapannya itu tulus semua tidak ada yang tahu.
"Melihat kematian seperti kembali ke asal, hanya dapat dilakukan orang gagah,"
Kata nona Han.
"Mana mungkin dia bisa menjadi orang baik. Untuk apa kau menasihatinya, Kok Toa-ko?"
Sesudah itu nona Han berpikir.
"Jika kelima ketua di daerah Huang-hoo bergabung dengan Iblis Tua, itu akan menjadi malapetaka besar. Aku harus berusaha menyelamatkan mereka!"
Pikir nona Han.
"Kau tidak tega saudara-saudaramu celaka. Itu berarti kau masih berjiwa ksatria. Tetapi jalan yang kau tempuh itu salah! Karena itu kau menjadi pengkhianat. Padahal sebenarnya racun itu bisa disembuhkan tanpa bantuan See-bun Souw Ya!"
Kata Han Pwee Eng. Mendengar noan Han bersikap lembut, Chu Tay Peng girang.
"Tolong nona beri petunjuk,"
Kata Chu Tay Peng.
"Jika saudara-saudara kami bisa diselamatkan, mana mungkin kami bersedia jadi kaki tangan pengkhianat!"
"Sekarang masih ada waktu dua tiga bulan lagi, kan?"
Kata nona Han.
"Benar,"
Kata Chu Tay Peng.
"Kalau begitu masih ada waktu,"
Kata nona Han.
"Lalu siapa yang bisa mengobati saudara-saudara kami itu?"
Kata Chu Tay Peng.
"Tentu saja Kong-sun Po yang kalian cari itu!"
Kata nona Han.
"Sekarang barangkali mereka sudah ada di Kim-kee-1027 leng. Segera kau ke sana pasti kau akan bertemu dengannya!"
Walau Kok Siauw Hong cerdas tapi terlalu emosi hingga mencaci orang she Chu itu.
"Kami akan ke Kim-kee-leng, kau boleh ikut kami. Asalkan kalian bersedia tunduk pada Bu-lim Beng-cu, aku yakin Kong-sun Po bersedia mengobati saudara-saudaramu itu!"
Kata Kok Siauw Hong ikut bicara. Chu Tay Peng girang dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
"Sebentar lagi Ci Toa-ko akan bangun, mari kita tengok dia!"
Kata Kok Siauw Hong.
Di luar gubuk hanya tinggal Chu Tay Peng dan Kiauw Song Giam karena Han Pwee Eng, Kok Siauw Hong dan Beng Teng masuk menengoki Ci Giok Phang.
Saat masuk Ci Giok Phang baru saja bangun dari tidurnya.
Han Pwee Eng segera memberi obat gin-seng.
Ci Giok Phang langsung meminumnya.
Kelihatan dia tertegun dan sedang memikirkan sesuatu.
Han Pwee Eng tidak ingin pemuda itu berduka, dia tersenyum dan berkata.
"Ci Toa-ko tidak diduga, kita bisa bertemu di sini,"
Kata nona Han.
"Ci Toa-ko siapa yang melukaimu?"
"Lelaki tua berjubah hijau,"
Sahut Ci Giok Phang.
"Kiranya dia,"
Kata nona Han ternyata dia tidak salah menduga Orang yang melukai Ci Giok Phang itu Kiong Cauw Bun.
"Kenapa dia melukaimu, Toa-ko?"
Kata nona Han. Sebelum Ci Giok Phang menjawab Kok Siauw Hong ikut bertanya.
"Bukankah Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun bersamamu?"
Kata Kok Siauw Hong. Sambil bertanya Kok Siauw Hong berpikir.
"Jika Kong-sun Po dan Mi Yun bersama Ci Toa-ko, pasti pesilat manapun tidak akan mudah melukainya. Sekalipun Kiong Cauw Bun akan mampu mereka hadapi."
"Kenapa nona Kiong membiarkan ayahnya melukaimu?"
Tanya nona Han. Ci Giok Phang menghela napas panjang.
"Aaah! Padahal kami bersama-sama menerjang kepungan tentara Mongol. Kami juga berjalan bersamasama. Ketika itu kami ada di penginapan di sebuah kota kecil. Saat itulah lelaki tua berjubah hijau muncul. Kebetulan Kong-sun Po dan Mi Yun sedang pergi. Di situ hanya aku sendirian. Mengapa orang itu melukaiku, aku juga tidak tahu?"
"Jadi tanpa bicara dulu dia langsung melukaimu?"
Kata nona Han.
"Dia bicara dulu denganku, dan aku tetap heran..."
Ci Giok Phang kemudian menceritakan pengalamannya.
Mereka berhasil menerjang dari kepungan tentara Mongol.
Hari itu mereka lalu bermalam di sebuah penginapan di kota kecil.
Begitu sampai dan sudah mendapat penginapan Kiong Mi Yun mengajak Kong-sun Po berbelanja pakaian baru untuk mereka.
Itu sudah menjadi kebiasaan seorang nona muda.
Maka itu Ci Giok Phang hanya sendirian di penginapan itu.
Hari itu cuaca sangat cerah.
Kong-sun Po tidak membawa payung besinya karena dia anggap kurang bebas.
Payung besi itu dia tinggalkan di penginapan.
Ci Giok Phang menunggu di penginapan.
Tidak terasa haripun berubah menjelang senja.
"Terlalu mereka itu, mungkin hari ini merupakan hari pertama mereka bisajalan-jalan berduaan saja!"
Pikir Ci Giok Phang geli.
"Terlalu aku ditinggalkan sendirian!"
Tiba-tiba Ci Giok Phang kaget karena ada suara desiran angin.
Ketika diperhatikan ternyata sebuah batu kecil menerobos ke dalam kamarnya lewat jendela.
Kebetulan ketika itu Ci Giok Phang duduk dekat payung Kong-sun Po.
Dia sambar payung itu dan menangkis batu yang meluncur ke arahnya itu.
'Tang!"
Batu kecil itu hancur saat berbenturan dengan payung itu. Sedang tangan Ci Giok Phang pun terasa sakit.
"Plak!"
Payung besi itu tanpa disadarinya jatuh ke lantai kamarnya. Betapa kagetnya pemuda she Ci ini, dia langsung menghunus pedangnya. Tiba-tiba Ci Giok Phang mendengar suara pujian.
"Sungguh payung yang sangat istimewa!"
Kata suara itu. Ci Giok Phang menoleh ke kiri dan ke kanan mencari asal suara tersebut.
"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu! Jika aku mau kau sudah mati tergeletak di lantai!"
Kata suara itu lagi. Ci Giok Phang agak tenang, dia masukkan pedangnya ke sarungnya.
"Siapa Lo-cian-pwee ini?"
Kata Ci Giok Phang.
"Jangan tanya siapa aku! Beranikah kau ikut aku? Aku ingin bicara denganmu!"
Kata suara itu.
"Karena merasa tidak leluasa bicara di penginapan, dia mengajakku ke suatu tempat. Jika dia akan melukaiku mungkin seperti katanya, aku sudah terluka!"
Pikir Ci Giok Phang.
Ci Giok Phang penasaran dia ingin tahu siapa orang itu, maka itu tanpa pikir panjang dia melompat lewat jendela dan mencelat ke atas genting penginapan itu.
Di bawah remang-remang sinar rembulan Ci Giok Phang melihat bayangan orang itu berada di sudut bagian utara.
Ci Giok Phang mengerahkan gin-kang Pat-pou-kan-siam (Delapan langkah mengejar tonggeret).
Dia tidak berhasil mengejar orang itu.
Ci Giok Phang hanya melihat bayangan hijau berkelebat di depannya.
Mereka kejar-kejaran sesampai di tempat yang sunyi, baru orang itu berhenti berlari.
Ketika diperhatikan ternyata dia seorang lelaki tua berjubah hijau.
Ci Giok Phang memberi hormat.
"Lo Cian-pwee punya petunjuk apa, bisa dikatakan sekarang?"
Kata Giok Phang. Lelaki berjubah hijau itu tidak menjawab. Dia perhatikan pemuda she Ci itu dengan seksama.
"Wajahnya tidak mirip Kong-sun Po, dia mirip ibunya!"
Pikir orang tua itu. Ternyata orang itu Kiong Cauw Bun. Dia kira pemuda she Ci itu Kong-sun Po.
"Benarkah ada seorang nona bernama Kiong Mi Yun bersamamu?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Benar, apa Lo Cian-pwee mencari dia?"
Kata Ci Giok Phang.
"Aku sudah bertemu denganmu, tidak perlu tergesagesa,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Tetapi ada yang akan aku tanyakan padamu."
"Mengenai apa, katakan saja,"
Kata Ci Giok Pang.
"Kalian mau ke Kim-kee-leng, benarkah begitu?"
Tanya Cauw Bun.
"Benar,"
Jawab pemuda she Ci ini.
"Kami memang akan ke sana!"
Dia tidak mengetahui kalau orang tua itu ayah Kiong Mi Yun. Maka itu dia menjawab dengan jujur apa yang ditanyakannya. Mendengar jawaban itu kening orang tua itu berkerut.
"Kau mau menemui Hong-lay-mo-li. Apa kau mengaguminya?"
Kata Kiong Cauw Bun lagi.
"Dia gagah dan berjiwa ksatria,"
Kata Giok Phang setelah tertegun sejenak.
"Orang gagah menghormatinya. Jika tidak demikian mana mungkin dia menjadi Bu-lim Eng-hiong bagian Utara?"
"Dia mengagumi Hong-lay Mo-li, bagaimana sikapnya jika aku panggil dia menantu? Aah, aku tidak boleh memberitahunya. Aku dengar dia berguru pada Ciu Cioh suami isteri dan mereka punya hubungan sangat erat dengan Honglaymoli. Sedangkan Ciu Cioh musuh besarku! Jika kubiarkan dia hidup, kelak dia akan jadi bahaya bagiku!"
Kiong Cauw Bun berniat membunuh pemuda yang dikiranya Kong-sun Po ini.
Kiong Cauw Bun mencari Kong-sun Po selain untuk perjodohan puterinya, tapi yang terpenting dia tahu Kongsun Po memiliki kitab racun keluarga Suang.
Tetapi Kiong Cauw Bun hanya punya anak perempuan satu-satunya.
Maka itu dia harus memikirkan masa depan anaknya itu.
"Ada satu pertanyaan lagi, jawablah denganjujur!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Apa kau bersedia?"
"Boan-pwee tidak pernah berbohong,"
Kata Ci Giok Phang. Kiong Cauw Bun mengangguk. 'Bagus! Kalau begitu katakan sejujurnya, apakah kau menyukai nona Kiong Mi Yun? Apa kau dengan setulus hati akan menikahinya?"
Kata Kiong Cauw Bun. Mata Ci Giok Phang terbelalak seketika itu juga.
"Bicara apa ini? Jangan-jangan orang ini pikun?"
Pikir Ci Giok Phang. Tetapi dia sudah berjanji akan menjawab sejujurnya, maka Ci Giok Phang pun menjawab sesuai dengan janjinya tadi.
"Maaf, mengenai pertanyaan Lo Cian-pwee tadi, sedikit pun aku tidak pernah memikirkannya,"
Kata Ci Giok Phang.
"Aku dan nona Kiong cuma teman biasa. Aku tidak bilang suka atau tidak suka, apalagi soal menikahinya!"
Jika saja Ci Giok Phang menjelaskan hubungan Kongsun Po dengan Kiong Mi Yun, maka salah paham itu tidak perlu terjadi.
Karena dia menganggap itu masalah pribadi antara Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun, dia anggap tidak pantas menceritakannya.
Saat mendengar jawaban Ci Giok Phang tersebut, Kiong Cauw Bun berpikir.
"Dia tidak mencintai puteriku, kenapa dia kubiarkan hidup?"
Pikir orang tua ini. Saat melihat wajah Kiong Cauw Bun berubah, Ci Giok Phang terkejut bukan kepalang.
"Apa masih ada yang akan ditanyakan oleh Lo Cianpwee?"
Kata Giok Phang.
"Cukup! Dan sambutlah pukulanku!"
Kata Kiong Cauw Bun dengan bengis.
Saat itu Kiong Cauw Bun langsung memukul.
Ci Giok Phang kaget, tapi dia mengira orang tua itu ingin menjajal ilmu silatnya.
Maka itu Ci Giok Phang tidak menghunus pedangnya, tapi menangkis serangan itu dengan tangan kosong.
Saat diserang dengan jurus Cit-sat-ciang seketika itu Ci Giok Phang rebah dan pingsan tidak sadarkan diri.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Masih tersedia buku-buku terbitan "MARWIN" 1.
Perkawinan Khong Beng Rp 16.000.-2.
Cun Ciu Ngo Pa hard cover Rp 70.000.-3.
San Pek Eng Tay Rp 12.000.-4.
Cie Hong Kiam Rp 20.000.-5.
Riwayat Semarang Rp 60.000.-6.
Tong See Han Rp 20.000.-7.
Hari Raya Tionghoa Rp 35.000.-8.
Beng Ciang Hong In Lok 1 Rp 35.000.-9.
Beng Ciang Hong In Lok 2 Rp 45.000.-juga tersedia.
Po Kiam (Pedang) asli buatan He-bei (He-pei) Tiongkok Perbuah Rp 200.000.-tambah ongkos kirim.
Hubungi "Marwin"
Atau "Klasik"
Tip. (021) 7562265 -o0(DewiKZ~Aditya~Aaa)~0o-
Jilid Keempat BENG CIANG HONG IN LOK (Badai Awan dan Angin) oleh .
Liang le Shen Diceritakan kembai oleh .
marcus A.S.-MARWIN Penerbitan & Percetakan Judul asli.
Beng Ciang Hong In Lok Penulis asli.
Liang le Shen Diterjemahkan oleh .
Ai Cu Diceritakan kembali oleh .
Marcus A.s.-Diterbitkan atas kerjasama dengan San Agency & Marwin Cetakan pertama .
2005 -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 37 Sesudah melukai Ci Giok Phang, Kiong Cauw Bun tercengang, karena saat keduanya mengadu pukulan, dia sadar Ci Giok Phang tidak mahir menggunakan ilmu beracun keluarga Suang.
Malah pemuda itu justru menggunakan lweekang aliran lurus.
Lwee-kang itu sangat berbeda dengan jurus ilmu silat aliran sesat milik keluarga Suang.
Di otak Kiong Cauw Bun langsung bergolak berbagai pertanyaan yang tidak dimengerti olerhnya.
"Apakah ilmu beracun keluarga Suang sudah jatuh ke tangan orang lain?"
Begitu pikir Kiong Cauw Bun.
"Aaah. barangkali bocah ini bukan Kong-sun Po?"
Kiong Cauw Bun langsung menggeledah tubuh Ci Giok Phang, tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa di tubuhnya.
Dia ingin membunuh Kong-sun Po, karena pikirnya Kongsun Po menguasai ilmu racun keluarga Suang, sebab pikir Kiong Cauw Bun, jika Kong-sun Po masih hidup, kelak pemuda itu bisa menjadi ganjalan baginya.
Ditambah lagi 1036 ilmu racun keluarga Suang mampu mengatasi ilmu Cit-sat-cicmg miliknya.
Sesudah tahu yang dia lukai bukan Kong-sun Po, Kiong Cauw Bun tidak jadi membunuh pemuda itu.
Tiba-tiba Kiong Cauw Bun dikejutkan oleh suara seruling dari tempat jauh.
Suara seruling itu disusul oleh suara siulan panjang.
"Aaah, aku tidak boleh bertemu dengan mereka!"
Pikir Kiong Cauw Bun.
Kiong Cauw Bun tahu orang yang meniup seruling itu ialah Bu-lim-thian-kiam Tam Yu Cong, sedang yang bersiul panjang pasti Siauw-auw-kan-kun Hwa Kok Han.
Dia tahu Hwa Kok Han suami Hong-lay-mo-li Liu Ceng Yauw, kepandaian Hwa Kok Han lebih tinggi dari isterinya.
Sedangkan Bu-lim-thiankiam Tam Yu Cong seorang pesilat tangguh dari Kerajaan Kim, kepandaiannya pun tidak di bawah kepandaian Hwa Kok Han.
Kedua orang ini sangat dihormati dan disegani oleh Kiong Cauw Bun, dia yakin jika satu lawan satu pun, mungkin dia bukan tandingan mereka.
Sekarang mereka malah berdua.
Kiong Cauw Bun buru-buru kabur meninggalkan Ci Giok Phang yang terluka-parah.
Dia tidak mau tahu apakah Ci Giok Phang masih hidup atau sudah mati.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Sesudah mengisahkan bagaimana dia dilukai oleh Kiong Cauw Bun yang disebut sebagai lelaki berjubah hijau.
Ci Giok Phang melirik ke arah piauw-su Beng Teng.
"Aku pingsan karena terpukul oleh lelaki tua itu. Saat aku sadar aku lihat di sisiku ada Kiong Mi Yun. Dia kelihatan gugup dan kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana menolongku. Tak lama kemudian muncul Beng 1037 Cong-piauw-thauw. Apa yang terjadi selanjutnya dia yang tahu,"
Kata Ci Giok Phang sambil menunjuk pada Beng Teng. Setelah mendengar keterangan dari Ci Giok Phang, nona Han Pwee Eng mengangguk mengerti.
"Pasti ayah Kiong Mi Yun salah mengenali orang. Dia kira Ci Toa-ko itu Kong-sun Po!"
Kata Han Pwee Eng sambil tertawa.
"Benar, mungkin begitu!"
Kata Ci Giok Phang.
"Ketika dia muncul saat itu aku sedang duduk dekat payung milik Kong-sun Po. Pantas saja dia salah paham!"
Ci Giok Phang tetap curiga.
"Heran, kenapa dia ingin membunuh Kong-sun Po?"
Kata Ci Giok Phang.
"Mengenai hal itu terjadi aku juga tidak mengetahuinya,"
Kata Han Pwee Eng.
"Kemarin kami juga bertemu dengannya. Dia menanyakan tentang Kong-sun Po pada kami dengan melit sekali! Ketika kami katakan bahwa Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun pergi ke Kim-kee-leng, dia tidak percaya! Kelihatan dia kurang senang mendengar nama Hong-lay-mo-li kami sebut-sebut. Malah Kok Toa-ko pun dikerjainya!"
Sesudah mendengar keterangan dari Han Pwee Eng, Ci giok Phang langsung berpikir.
"Dulu mereka akan memutuskan pertunangan hingga menimbulkan badai besar. Belum beberapa bulan saja mereka sudah mesra kembali. Masalah di dunia memang sulit diduga!"
Pikir Ci Giok Phang ingat lelakon nona Han dan Kok Siauw Hong.
Dia agak heran dan sedikit iri hati pada saat mendengar nona Han memanggil Kok Siauw Hong dengan sebutan "Kok Toa-ko".
Setelah melirik ke arah nona Han dia langsung bicara lagi.
"Mengenai semua pengalamanku sudah aku ceritakan. Sekarang aku ingin bertanya, apakah kalian tahu ke mana adikku?"
Kata Ci Giok Phang. Mendengar pertanyaan Ci Giok Phang, tentu saja Kok Siauw Hong jadi tidak enak hati. Dia berpikir sendiri.
"Apakah harus kuberi tahu dia, bahwa adiknya pergi bersama lelaki lain ke Kang-lam?"
Pikir Kok Siauw Hong.
"Terus-terang aku tidak bertemu dengan adikmu, tetapi aku dengar sedikit khabar tentang dia,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Apa yang kau ketahui tentang adikku itu?"
Kata Ci Giok Phang.
"Aku dengar dari Tu Si Siok, katanya Giok Hian pergi ke Kang-lam,"
Kata Kok Siauw Hong.
Sengaja Kok Siauw Hong tidak menjelaskan apa yang diketahuinya, dia khawatir Ci Giok Phang emosi.
Maksud Kok Siauw Hong, jika Ci Giok Phang bertemu dengan Tu Hok, dia bisa menanyakannya sendiri padanya.
"Memang dia bilang dia mau pulang ke Pek-hoa-kok. Aneh sekali, kenapa dia pergi ke Kang-lam? Padahal kami tidak punya sanak di sana?"
Pikir Ci Giok Phang.
"Entah apa alasan Giok Hian?"
Saat itu cuaca sudah terang. Ci Giok. Phang sedang termangu.
"Ci Toa-ko, kau sudah mulai kelihatan sehat,"
Kata Kok Siauw Hong.
"mari kita pergi ke Kim-kee-leng bersamasama!"
"Saat ini Ci Toa-ko belum sembuh benar, jika kita ke Kimkee-leng kau bisa beristirahat dengan baik di sana."
Kata nona Han.
"Aku tidak akan ke sana, aku mau pulang dulu!"
Kata Ci Giok Phang.
"Maaf aku tidak ikut bersama kalian!"
"Memang wajar jika Ci Toa-ko rindu pada rumahnya. Tetapi dari sini ke Kim-kee-leng jaraknya lebih dekat. Lebih baik Ci Toa-ko beristirahat dulu di Kim-kee-leng, setelah sehat benar, baru pulang,"
Kata Kok Siauw Hong.
"Jika benar adikku pergi ke Kang-lam, dia pasti singgah dulu di Pek-hoa-kok. Siapa tahu aku bisa bertemu dengannya. Aku sudah agak sehat tidak masalah aku pulang dulu!"
Kata Ci Giok Phang.
"Baiklah."
Kata nona Han.
"Ci Toa-ko pulang dulu, sesudah sehat baru kau ke Kim-kee-leng, itu pun sama saja!"
Sebenarnya alasan Ci Giok Phang telah diketahui oleh nona Han.
Dia tahu pemuda itu mencintai dirinya.
Maka itu pemuda itu mencari alasan untuk tidak berjalan bersama-sama mereka.
Sesudah itu Ci Giok Phang bangun dan coba berjalan.
Ternyata bisa.
Kemudian mereka keluar.
Sampai di depan Kok Siauw Hong berkata pada Kiauw Song Giam.
"Kiauw Lo Cian-pwee, maaf kami telah merepotkanmu! Mungkin rumah ini sudah tidak layak ditempati lagi? Kiong Cauw Bun itu ayah nona Kiong Mi Yun. Aku kenal dengan nona Kiong, malah Pwee Eng dengannya seperti kakakberadik. Sekarang nona Kiong mungkin sudah ada di Kim-keeleng. Lebih baik Cian-pwee ke sana bersama kami. Di sana kita minta bantuan nona Kiong untuk menyelesaikan pertikaian Lo Cian-pwee dengan ayahnya. Bagaimana?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Baiklah, Liu Beng-cu dan suaminya orang gagah yang sudah lama kudengar namanya. Tetapi aku belum punya kesempatan bertemu dengan mereka. Sekarang kesempatan itu ada. Mengapa aku tidak mau. Sekalipun nona Kiong tidak mau membantuku, di sana rasanya lebih aman jika aku di sana!"
Kata Kiauw Song Giam.
"Benar,"
Kata Kok Siauw Hong sambil tertawa.
"Sekalipun Kiong Cauw Bun dibantu oleh iblis lain, mereka tidak akan berani ke sana! Mungkin di sana sudah ada Kong-sun Po maupun nona Kiong!"
Sesudah itu diambil keputusan, Beng Teng akan mengantar Ci giok Phang ke Pek-hoa-kok yang lain ke Kimkee-leng.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Kejadian di dunia ini sulit diduga.
Ketika Kiong Mi Yun bertemu dengan Kong-sun Po, sekalipun mereka sudah dijodohkan oleh orang tuanya, tetapi nona Kiong Mi Yun tidak begitu menyukai Kong-sun Po.
Setelah mereka bergaul lama sekarang Kiong Mi Yun benar-benar jatuh cinta.
Sekalipun nona Kiong agak jengkel oleh sikap Kongsun Po yang ketololtololan.
Tetapi nona Kiong senang karena pemuda itu lugu dan jujur.
Tidak heran kalau nona Kiong jatuh hati pada pemuda itu.
Seperti kata Ci Giok Hian bahwa Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun sedang berbelanja.
Selesai berbelanja mereka singgah di toko pakaian.
Di toko itu nona ini menemukan dua buah pakaian yang cocok dengan tubuhnya.
Dia langsung ganti pakaian di toko itu.
Pemilik toko pakaian itu 1041 seorang nenek.
Dia meminjamkan kamarnya pada nona Kiong untuk berganti pakaian.
Saat nona Kiong keluar dari kamar, nenek itu langsung berkata.
"Oh, cantiknya! Kau seperti nona pengantin saja!"
Kata nenek itu. Mungkin nenek ini memuji nona Kiong karena dia menginginkan harga pakaian yang dijualnya jadi mahal. Wajah nona Kiong berubah merah.
"Aku sudah ditunangkan dengan Kong-sun Po, tetapi pemuda itu seperti tidak mengetahuinya. Apakah perlu aku memberi tahu dia?'' pikir nona Kiong.
"Nenek, kau ngawur saja!"
Kata nona Kiong.
Dia menegur nenek itu tetapi sebenarnya dia girang sekali.
Saat meninggalkan pulau Hek-hong, dia membawa beberapa butir emas sebesar-besar kelereng.
Dia berikan sebutir pada nenek itu sebagai tanda pembayaran dua buah pakaian itu.
Padahal emas itu cukup untuk ditukar dengan sepuluh buah pakaian.
Sudah tentu nenek itu girang dan mengucapkan terima kasih.
Di kota kecil itu terdapat sebuah rumah makan yang letaknya di tepi sungai.
Rumah makan itu cukup besar dan mewah.
Saat kedua muda-mudi ini melewati rumah makan itu, mereka mencium aroma masakan yang harum.
"Hampir setengah bulan ini kita hanya makanan kering, hari ini kita bisa menikmati makanan lezat. Bagaimana kalau kita singgah di rumah makan ini?"
Kata nona Kiong.
"Lebih baik jangan, sekarang Ci toa-ko sedang ada di penginapan sendirian,"
Kata Kong-sun Po memberi alasan.
"Sesudah makan nanti kita bawa makanan untuk Ci Toako, jika kita pulang dan mengajaknya ke mari itu akan 1042 sangat merepotkan, ditambah lagi kau harus membawa-bawa payungmu, juga buntalan pakaian kita! Bukankah itu tidak enak dilihat?"
Kata Kiong Mi Yun. Kong-sun Po tersenyum sambil manggut.
"Baik, aku menurut saja. Tapi ingat kau jangan terlalu banyak minum arak!"
Kata Kong-sun Po.
"Baik,"
Kata Kiong Mi Yun.
Mereka masuk ke rumah makan dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
Ketika pelayan menghampiri, langsung mereka memesan makanan dan arak.
Sesudah meneguk beberapa cawan arak Kiong Mi Yun mengajak Kong-sun Po bicara.
"Makanan dan arak di sini lebih enak dibanding di rumah makan Ngih Nih Lauw!"
Kata Kiong Mi Yun. Kong-sun Po tertawa.
"Karena beberapa hari kurang makan apapun akan lezat rasanya,"
Kata Kong-sun Po.
Pada zaman Song seorang puteri hartawan tidak pernah keluar rumah.
Di daerah Utara pun tidak sekolot itu, tapi mereka pun jarang keluar rumah.
Sekarang ada seorang nona cantik makan di rumah makan.
Hal ini mereka anggap melanggar adat-istiadat masa itu.
Tidak heran jika kehadiran mereka telah menarik perhatian semua pengunjung di rumah makan itu.
Walau nona Kiong tampak santai-santai saja, tapi Kong-sun Po merasa tidak enak hati.
Saat itu Kiong Mi Yun sudah minum beberapa cawan arak, wajahnya sudah kemerahan.
Hal ini jelas menambah kecantikan nona ini.
Malah kelihatan nona Kiong mulai agak mabuk dan bicara.
"Kong-sun Toa-ko, kau bilang ayahmu telah meninggal, benarkah begitu?"
"Ya!"
Kata Kong-sun Po.
"Tapi ibumu masih hidup, kan?"
"Benar, Ibuku sekarang tinggal di kelenteng Kuang-beng-si bersama beberapa Lo Cian-pwee,"
Kata Kong-sun Po.
"Apakah ibumu pernah menceritakan tentang masa kecilmu?"
Tanya nona Kiong.
Kong-sun Po memang sudah tahu ayahnya itu seorang penjahat besar, masa kecilnya pun merupakan pengalaman getir baginya.
Saat dia mendengar pertanyaan nona Kiong, dia mengerutkan keningnya.
"Ibuku tidak pernah cerita apa-apa. mungkin karena aku tidak pernah menanyakannya,"
Kata Kong-sun Po.
"Kenapa?"
Sesudah meneguk arak Kong-sun Po menjawab.
"Masa kecilku itu sangat menyedihkan, untuk apa aku mengungkitnya lagi!"
Kata Kong-sun Po. Mendengarjawaban itu Kiong Mi Yun tertegun.
"Pengalaman masa kecil yang menyedihkan, jadi kau juga tidak tahu tentang...."
Tapi kata-kata nona Kiong tidak lanjut karena Kong Sun Po memotongnya.
"Kau sudah tahu semuanya untuk apa kita ungkit lagi soal itu?"
Kata Kong-sun Po. Kiong Mi Yun tersenyum.
"Yang kumaksud bukan tentang masa kecilmu itu, tapi masalah lain,"
Kata nona Kiong sambil tersenyum.
"Mengenai masalah apa?"
Tanya Kong-sun Po.
"Masalah....Aah, masalah....Ya, misalnya masalah yang menarik hati atau yang menggelikan,"
Sahut nona Kiong. Mendengar ucapan nona Kiong tergagap-gagap Kongsun Po tertegun dan keheranan.
"Biasanya dia bicara blak-blakan, kenapa dia bicara gagap dan tersendat-sendat. Kenapa dia tidak berani berterusterang?"pikir Kong-sun Po. Melihat pemuda itu bengong, Kiong Mi Yun malah tertawa.
"Kau tidak ingat?"
Kata si nona.
"Bukan begitu, tetapi aku tidak tahu apa maksudmu,"
Kata Kong-sun Po.
"Misalnya.... Misalnya ketika kau masih kecil, apakah kau punya kakak atau adik. Atau mungkin yang lebih dekat dari kakak dan adik, tetapi kau sudah lupa mengenai mereka. Apa ibumu tidak pernah bercerita?"
Kata nona Kiong.
Pembicaraan nona Kiong yang berputar-putar itu sebenarnya karena dia ingin tahu, apakah Kong-sun Po sudah dijodohkan dengan seseorang atau belum?
Tidak heran bukan jadi jelas malah hal ini membuat pemuda itu bingung bukan main.
"Aah, nona Kiong terlalu banyak minum arak,"
Pikir Kong-sun Po.
"Pantas bicaramu makin ngawur!"
Kong-sun Po tertawa geli.
"Ci Toa-ko barangkali mengkhawatirkan keadaan kita, lebih baik kita buru-buru pulang,"
Kata Kong-sun Po lagi.
"Aku belum puas minum, oh jadi kau takut aku mabuk ya?"
Kata si nona. Tiba-tiba terdengar suara gaduh.
"Tangkap pencopet! Tangkap copet!"
Teriak orang itu.
Salah seorang tamu di rumah makan itu dompet uangnya disambar seorang copet.
Barangkali pencopet itu belum akhli, hingga ketahuan, dan terpaksa dia kabur.
Beberapa orang tamu ikut mengejar copet itu.
Karena ketakutan pencopet itu melemparkan dompet yang dicurinya.
Saat itu Kiong Mi Yun bangun dari kursinya.
Dia meletakkan sebutir uang emas di meja.
"Tolong kau bayar makanan kita Toa-ko, aku mau pergi dulu sebentar. Kau tunggu saja di penginapan!"
Kata nona Kiong.
"Dompet itu sudah kukembalikan, jangan sakiti aku!"
Teriak pencopet itu. Tamu yang kehilangan dompet itu langsung menghitung uangnya, ternyata uangnya tidak berkurang. Maka itu dia berteriak pada tamu lain.
"Sudah! Sudah biarkan dia pergi!"
Katanya.
Kiong Mi Yun malah mengejar pencopet itu.
Para tamu itu keheranan menyaksikan si nona ikut mengejar copet itu.
Kelihatan nona itu berlari cepat sekali.
Kong-sun Po kaget.
Dia ingin mencegah nona Kiong, tapi sudah terlambat.
Saat dia akan mengejar nona Kiong, dia ingat harus membayar dulu makanan yang mereka santap.
Dia cemas sekali dan berpikir.
"Aah, karena terlalu banyak minum arak dalam keadaan mabuk Kiong Mi Yun akan membuat masalah!"
Pikir Kong-sun Po. Merasa sudah tertinggal jauh Kong-sun Po akhirnya tidak jadi mengejar nona Kiong. Dia langsung berpikir.
"Aku rasa dia tidak mabuk terlalu parah,"
Pikir pemuda ini.
"Tidak mungkin dia tidak bisa pulang sendiri ke penginapan. Lebih baik aku pulang seperti katamya, aku tunggu di penginapan saja!"
Kong-sun Po kembali ke penginapan. Saat sampai dia tidak melihat Ci Giok Phang di kamarnya. Tidak lama pemilik penginapan menemuinya.
"Kebetulan!"
Kata Kong-sun Po.
"Aku akan bertanya padamu. Tuan. Ke mana perginya temanku?"
"Sebaliknya aku ingin bertanya padamu, kalian ini siapa?"
Kata pemilik penginapan sambil mengawasi tamunya.
"Bukankah sudah kami bilang, kami para pengungsi dari Lok-yang, mau ke selatan untuk mencari famili kami,"
Jawab Kong-sun Po. Pemilik penginapan menatap pemuda itu.
"Tetapi kawanmu itu bisa melompat tinggi lewat jendela,"
Kata pemilik penginapan.
"Aku kira kalian bukan pengungsi biasa!"
"Eeh, kenapa Ci Toa-ko memperlihatkan kepandaiannya di tempat umum?"
Pikir Kong-sun Po dengan wajah tetap tenang.
"Dia mantan piauw-su dari Houw-wie-piauw-kiok di Lokyang, pasti mereka bisa ilmu silat. Karena tentara Mongol menyerang Lok-yang, pemilik ekpedisi itu menutup usahanya dan mengungsi. Apa dia melompat ke atas genting?"
Kata Kong-sun Po.
"Oh, jadi kalian bekas piauw-su?"
Kata pemilik penginapan itu.
"Maaf, aku tidak melihat orang yang dikejarnya. Sekarang aku sudah tahu siapa kalian ini!"
Semula barangkali pemilik penginapan mengira tamutamunya itu orang jahat, sesudah tahu mereka bekas piauwsu hatinya jadi lega.
Sebenarnya Kong-sun Po tidak pernah berbohong, tetapi karena terpaksa kali ini dia melakukannya.
"Baiklah, akan kutunggu dia. Nanti akan kutanyakan siapa yang dikejarnya?"
Kata pemuda ini.
Pemilik penginapan itu kelihatan puas, dia langsung pergi.
Kong-sun Po masuk ke kamar dan menguncinya.
Setelah itu dia memeriksa kamar dan melihat ada pecahan batu atau genting yang masih melekat di payung besinya.
Kong-sun Po mengerutkan dahinya.
"Hari ini aku menemukan dua kejadian aneh. Pertama Mi Yun yang pergi mengejar pencopet. Kedua, Ci Toa-ko mungkin telah bertarung dengan orang. Kemudian dia terpancing dan mengejar lawannya?"
Pikir Kong-sun Po.
"Aah, lebih baik aku tunggu saja sampai mereka kembali ke sini!" -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Kiong Mi Yun yang mengejar pencopet itu sudah sampai di tepi sungai, nona Kiong langsung membentak.
"Tio Keng! Apa kau tidak mau berhenti?"
Kata nona Kiong. Orang itu menoleh sambil tertawa.
"Maafkan aku. Nona Kiong!"
Kata Tio Keng. Mata nona Kiong mendelik ke arahnya.
"Hm! Kau tidak berguna jadi pencopet segala!"
Nona Kiong mengenali Tio Keng karena orang itu pegawai ayahnya.
"Jika aku tidak berbuat begitu, bagaimana aku bisa memancingmu agar kau mau keluar dari penginapan?"
Kata Tio Keng.
"Mau apa kau memancingku ke luar?"
Kata si nona.
"Apakah Ayahku sudah sampai ke mari?"
Kata Kiong Mi Yun.
"Benar, To-cu sudah sampai, Nona!"
Kata Tio Keng. Kiong Mi Yun kaget tetapi juga girang.
"Sekarang Ayahku ada di mana? Cepat bawa aku menemuinya!"
Kata si nona. Sebelum menjawab permintaan nona itu, Tio Keng balik bertanya.
"Nona, siapa pemuda yang duduk makan bersamamu?"
Kata Tio Keng.
"Kenapa kau ingin tahu siapa dia?"
Kata si nona.
"Hm! Aku tahu!"
Kata Tio Keng.
"Siapa?"
Tanya si nona.
"Bukankah dia Kong-sun Kong-cu? Iya, kan? Nona kau tidak tahu, To-cu sedang mencarinya!"
Kata Tio Keng.
"Dia belum tahu siapa aku, kau jangan sembarangan memanggilnya! Tetapi Ayahku sudah tahu aku bersamanya. Kenapa Ayah tidak datang bersamamu?"
Kata nona Kiong.
"To-cu tidak tahu kalian ada di rumah makan itu, dia menyuruhku mencarimu. Malah beliau juga mencari kalian ke penginapan-penginapan!"
Kata Tio Keng sambil tertawa.
"Baik, kalau begitu aku harus segera ke penginapan menunggu Ayahku!"
Kata si nona. Saat nona Kiong akan meninggalkannya, Tio Keng malah memanggilnya.
"Tunggu sebentar, nona Kiong!"
Kata Tio Keng.
"Kau mau bicara apa lagi, lekas katakan!"
Kata si nona.
"To-cu sudah mengetahui tentang kalian dari Chu Tay Peng dan kawan-kawannya. Tetapi entah dari mana ayahmu bilang kau dan Louw-ya (calon suami nona Kiong) mau ke Kim-keeleng. Maka itu di sepanjang jalan wajah To-cu jadi kurang sedap dilihat! Dia bilang kalau begitu aku takut.... takut..."
"Kau takut apa? Oh, kau takut Ayahku akan membunuh Kong-sun Po?"
Kata nona Kiong. Tio Keng mengangguk mengiakan.
"Benar, malah aku takut kau juga tidak akan luput dari hukuman ayahmu! Itu sebabnya aku mencarimu dengan diamdiam untuk memberitahumu! Aku harap kau pulang ke penginapan dan jangan bersama-sama dengan Kouw-ya! Kita lihat dulu bagaimana Kouw-ya dihukum oleh ayahmu, baru kau temui ayahmu!"
Kata Tio Keng. Sesudah mendengar keterangan dari Tio Keng bukan main terkejutnya nona Kiong.
"Baik, terima kasih,"
Kata nona Kiong.
"Tetapi aku tetap harus kembali ke penginapan!"
Kiong Mi Yun langsung meninggalkan Tio Keng, karena dia khawatir ayahnya akan melukai Kong-sun Po.
Di penginapan Kong-sun Po menunggu kedatangan dua kawannya dengan cemas.
Nona Kiong pergi sudah cukup 1050 lama.
Ketika nona Kiong sudah kembali, Kong-sun Po sedikit lega.
"Eh, kau ini memang sering usil dan mau ikut-campur urusan orang lain saja! Apa kau berhasil mengejar pencopet itu?"
Kata Kong-sun Po.
"Jangan kau pedulikan pencopet itu,"
Kata Kiong Mi Yun.
"Tadi saat kau pulang apa kau bertemu dengan seseorang?"
"Tidak,"
Jawab Kong-sun Po.
"Tapi entah ke mana Ci Toako. Lihat ini!"
Dia menunjukkan payung besinya.
"Kelihatannya payungku ini terkena batu bata yang disambitkan seseorang, mungkin Ci Toa-ko mengejar orang itu!"
Kata Kong-sun Po menyambung ceritanya. Kiong Mi Yun sedikit terperanjat karena tahu siapa orang yang menyambit Ci Giok Phang itu.
"Pasti orang itu Ayahku!"
Pikir Kiong Mi Yun.
"Mungkin Ayahku mengira Ci Toa-ko itu Kong-sun Po!"
Tetapi nona Kiong merasa canggung untuk menjelaskan bahwa orang yang dilihat oleh Ci Giok Phang itu ayahnya. Akhirnya nona Kiong tertawa.
"Baiklah, kau tunggu di sini dulu biar aku yang mencari Ci Toa-ko!"
Kata nona Kiong. Pemuda itu menggelengkan kepalanya sambil berkata.
"Tidak, kita pergi bersama-sama saja!"
Kata pemuda itu.
"Jangan! Jangan! Biaraku saja yang mencarinya, kau.... kau tidak boleh ikut denganku!"
Kata si nona.
Kong-sun Po tertegun.
Dia awasi Kiong Mi Yun dengan mata terbelalak.
Karena nona Kiong menolak pergi 1051 bersama, pemuda ini akhirnya menurut.
Dia tetap menunggu di penginapan.
Kiong Mi Yun langsung pergi akan mencari Ci Giok Phang, dia khawatir jika bertemu dengan ayahnya akan bentrok.
Dugaan nona Kiong memang benar, tak lama sesudah sampai di luar kota dia sudah melihat Ci Giok Phang tergeletak di tepi jalan.
Nona ini kaget bukan kepalang, dia papah Ci Giok Phang dengan perasaan cemas.
"Ci Toa-ko, siapa yang melukaimu? Bagaimana keadaanmu?"
Kata nona Kiong.
Mengetahui ada yang memapah dan bertanya Ci Giok Phang membuka matanya.
Dia langsung mengenali nona Kiong.
Tetapi mulutnya tidak bisa bicara.
Sebenarnya Kiong Mi Yun sudah tahu, siapa yang melukai pemuda itu.
Ci Giok Phang terluka oleh pukulan Cit-sat-ciang ayahnya.
Muka Ci Giok Phang tampak kehitaman terutama di tengah kedua alisnya.
Dia bertanya karena berharap Ci Giok Phang tidak parah terkena pukulan itu.
Sekarang nona Kiong sadar Ci Giok Phang terkena pukulan sangat parah, ini membuat hati nona Kiong berdebar-debar.
"Dugaanku tak salah, Ayah salah duga. Dia kira Ci Toako itu Kong-sun Toa-ko. Oh, apa yang harus kulakukan?"
Pikir Kiong Mi Yun bingung.
Sekalipun nona Kiong pernah berlatih Cit-sat-ciang, namun Iwee-kangnya masih lemah, maka itu dia tidak bisa memunahkan racun pukulan itu.
Nona Kiong cemas bukan kepalang, dia juga mencemaskan keselamatan Kong-sun Po.
Dia bingung dan bimbang, apakah dia harus kembali memberitahu Kong-sun Po agar pergi dari penginapan, atau 1052 menolong Ci Giok Phang dulu yang keracunan.
Nona Kiong yakin, setelah ayahnya tahu dia salah melukai orang, pasti dia akan mencari Kong-sun Po.
Jadi keberadaan Kong-sun Po di penginapan itu sangat berbahaya.
Jika dia pergi ke penginapan, bagaimana dengan Ci Giok Phang?
Ketika dada pemuda itu dia raba, dia senang karena denyut jantung pemuda itu masih berdenyut.
Nona Kiong girang bukan kepalang.
"Luar biasa lwee-kang Ci Toa-ko, sekalipun telah terluka oleh pukulan Ayahku, tapi dia masih hidup dan bisa tertolong,"
Pikir nona Kiong.
"Tapi jika aku ke penginapan mencari Kong-sun Toa-ko, lalu siapa yang menjaga dia?"
Tanpa ada yang menjaga Ci Giok Phang tidak mungkin nona Kiong meninggalkan pemuda itu begitu saja.
Saat itu mendadak ada seekor kuda putih sedang dilarikan cepat sekali.
Ketika diperhatikan penunggang kuda putih itu seorang nona.
Nona Kiong memperhatikan penunggang kuda putih itu, dia seperti mengenalinya.
Tetapi saat itu nona Kiong sedang bingung sekali, dia jadi lupa siapa nona itu?
Di mana dia pernah melihatnya?
Ditambah lagi kuda putih itu dilarikan dengan cepat, dalam sekejap saja sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.
Sayang lari kuda itu cepat sekali dengan demikian nona Kiong tidak sempat memanggil nona yang naik kuda itu.
Tetapi tak berapa lama muncul lagi seekor kuda berlari cepat.
Sekarang penunggangnya seorang pria tampan.
Saat melihat Kiong Mi Yun sedang menunggui Ci Giok Phang, penunggang kuda itu melihatnya.
Segera dia turun dan menghampiri mereka.
"Eh, bukankah dia Ci Kong-cu?"
Kata penunggang kuda itu.
Ci Giok Phang mengangguk, sedang Kiong Mi Yun girang karena ada yang kenal dengan Ci Giok Phang.
Sesudah nona Kiong bertanya pada orang itu, dia segera mengetahui bahwa orang itu bernama Beng Teng.
Nona Kiong merogoh sakunya, lalu dia melemparkan serenceng mutiara ke arah Beng Teng, dan mengatakan bahwa itu sebagai biaya mengantarkan Ci Giok Phang ke Pek-hoakok.
Sesudah itu nona Kiong buruburu pergi ke penginapan.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 38 Sementara itu Kong-sun Po yang ada di penginapan sendirian sedang menunggu Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang kembali.
Hati pemuda ini cemas bukan main.
Kepergian nona Kiong sudah cukup lama.
Ketika mendengar ada orang yang mengetuk pintu kamarnya perlahan-lahan, Kong-sun Po girang.
"Mi Yun, kau sudah kembali?"
Kata pemuda itu.
Dia menghampiri pintu kamar akan membukakan pintu, namun saat pintu terbuka mata Kong-sun Po terbelalak.
Ternyata orang itu bukan Kiong Mi Yun, tapi seorang nona yang tidak dikenalnya.
Nona itu sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
Begitu melihat nona yang tidak dikenalnya dia jadi heran.
"Siapa kau?"
Kata Kong-sun Po. Nona itu tersenyum manis.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, bukankah kau yang bernama Kong-sun Po?"
Kata nona itu.
"Benar,"
Kata Kong-sun Po sambil mengangguk.
"Mohon tanya nona ini siapa?"
"Jangan banyak bertanya, kau harus segera meninggalkan tempat ini,"
Kata nona itu. Kong-sun Po tertegun.
"Kenapa aku tidak boleh bertanya, aku..."
Nona itu mengerutkan alisnya, kelihatan dia tidak sabar ketika melihat Kong-sun Po ayal-ayalan.
"Hm! Kau terlalu rewel, tahukah kau, mertuamu ingin membunuhmu?"
Nona itu menjelaskan tanpa menunggu Kong-sun Po selesai bicara. Mendengar keterangan itu Kong-sun Po terperanjat bukan kepalang. Dia tatap nona itu dengan mulut ternganga, sesaat kemudian baru bicara.
"Mana aku punya mertua? Dari mana datangnya mertuaku itu?"
Kata Kong-sun Po kebingungan. Sekarang giliran nona itu yang melongo keheranan. Dia perhatikan pemuda yang ada di depannya itu.
"Sebelum kau membukakan pintu untukku, tadi kau kira aku Kiong Mi Yun, kalau begitu pasti kau bersamanya. Iya kan? Bukankah kau sekarang sedang menunggui dia di sini?"
Kata nona itu.
"Benar! Lalu kenapa?"
Nona itu tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Jangan bohongi aku, aku sudah tahu hubunganmu dengan Kiong Mi Yun!"
Kata nona itu. Kelihatan Kong-sun Po kurang senang.
"Apa maksudmu? Hubungan apa? Harap nona jangan bicara sembarangan!"
Kata Kong-sun Po.
"Dia dan aku hanya hubungan antara kawan saja. Jika kau sedang mencarinya, silakan masuk kau tunggu dia di sini!"
"Terlalu, apa dia ini sinting?"
Pikir Kong-sun Po.
"Dia pasti kawan Mi Yun, saat melihat aku berduaan dengan Mi Yun dia salah sangka!"
Nona itu tertawa cekikikan.
"Hm! Aku tahu sekarang! Rupanya Mi Yun belum bicara terus-terang kepadamu!"
Kata nona itu.
"Mengenai apa?"
Kata Kong-sun Po bertambah heran.
"Orang tua kalian bersahabat baik, sejak kecil kalian sudah ditunangkan saat umurmu baru satu tahun, sedangkan Mi Yun baru lahir. Kemudian terjadi penyerbuan ke perkampungan Keluarga Suang. Ayah Kiong Mi Yun bersama keluargamu pindah ke seberang lautan, kalian putus hubungan. Maka itu kau tidak tahu masalah ini!"
Kata nona itu.
"Nona, kita tidak saling mengenal, dari mana kau tahu begitu jelas tentang hubungan keluarga kami?"
Kata pemuda itu kurang yakin.
"Jika aku ceritakan akan panjang sekali, sedang kau harus segera pergi dari sini, jika tidak pasti celaka!"
Kata nona itu.
"Baik, aku anggap kata-katamu itu benar,"
Kata Kongsun Po.
"tapi katakan, kenapa mertua lelakiku ingin membunuhku?"
"Kau tidak yakin pada ucapanku? Sesudah kau berada di Kim-kee-leng dan bertemu dengan Hong-lay-mo-li, kau akan tahu semuanya! Aku yakin Kiong Mi Yun tidak akan kemari lagi. Kunasihati kau agar jangan jalan bersamanya. Aku tidak perlu banyak bicara, cepat kau pergi!"
Kata nona itu. Kemudian nona itu membalikkan tubuhnya dan langsung pergi tanpa menghiraukan Kong-sun Po yang bengong keheranan.
"Tunggu, Nona! Aku ingin tahu, siapa ayah nona Kiong itu?"
Kata Kong-sun Po. Tanpa menoleh lagi nona itu menjawab.
"Rupanya kau tidak percaya keteranganku! Nama ayah Kiong Mi Yun itu Kiong Cauw Bun! Majikan pulau Hekhong. Dia mahir ilmu Cit-sat-ciang dan Tan-ci-sin-thong. Nah, kau puas bukan?"
Kata si nona. Saat itu nona itu sudah jauh tapi dengan menggunakan ilmu Coan-im-jip-pek dia berkata lagi.
"Jika kau tidak percaya pada kata-kataku, berarti kau menunggu kematian! Aku tidak mau menemanimu mati! Oh, ya! Aku hampir lupa mengingatkanmu! Jika mau ke Kim-keeleng, kau jangan lewat jalan raya, karena Kiong Cauw Bun menunggumu di sana!"
Kata nona itu. Saat itu nona itu sudah jauh sekali, hampir setengah li jauhnya. Maka itu Kong-su Po kagum oleh kepandaian nona itu.
"Dia sebaya dengan Mi Yun,"
Pikir Kong-sun Po.
"Tetapi nona ini Iwee-kang dan gin-kangnya sangat tinggi!"
Sebenarnya Kong-sun Po kurang yakin pada keterangan nona itu, dia agak yakin karena nona itu tahu kejadian di perkampungan Keluarga Suangjuga tentang Kiong Mi Yun.
"Heran dari mana dia tahu aku dan Mi Yun akan ke Kimkee-leng? Tetapi aku yakin dia tidak bergurau. Aku tidak kenal dia, untuk apa dia bergurau denganku?"
Pikir Kong-sun Po. Saat Kong-sun Po masih ragu pergi atau jangan, mendadak dia mendengar dari kejauhan suara seruling dan siulan, begitu mendengar suara-suara itu Kong-sun Po girang.
"Rupanya Hwa Siok-siok (Paman Hwa) dan Tam Siok-siok datang, jadi aku tidak periu ke Kim-kee-leng dan aku akan tahu apakah benar atau bohong nona itu?"
Pikir pemuda ini.
Kong-sun Po dengan Tam Yu Cong dan Hwa Kok Han sering bertemu di kelenteng Luang-beng-si.
Itu sebabnya dia sangat kenal pada kedua orang itu.
Kong-sun Po langsung menyambar payung besinya, dia melompat lewat jendela.
Kebetulan saat itu pemilik penginapan melihatnya hingga matanya terbelalak karena kaget.
"Untung sewa kamar mereka sudah lunas, jadi aku tidak rugi,"
Kata pemilik penginapan. Dengan menggunakan ilmu Coan-im-jip-pek Kong-sun Po memberitahu pemilik penginapan.
"Tuan, jika kedua temanku kembali, beri tahu mereka agar mereka menyusulku ke tempat tujuan. Aku menunggu mereka di sana!"
Kata Kong-sun Po. Saat pemilik penginapan itu menengadah ke atas genting, dia sudah tidak melihat Kong-sun Po lagi.
"Aah, setankah dia? Begitu cepat dia menghilang?"
Pikirnya. Tak lama Kong-sun Po sudah sampai di luar kota. Dia lihat Siauw-auw-kcm-kun dan Bu-lim-thian-cun sudah ada di sana. Mereka bertemu dan girang bukan kepalang.
"Aku dengar kau mengantarkan harta untuk para pejuang, dan dirampok di tengah jalan. Aku sangat mencemaskan kalian. Maka aku ke mari. Oh, ya bagaimana kau bisa ada di sini?"
Kata Siauw-auw-kan-kun Hwa Kok Han.
"Paman Hwa, apa kau sudah ke Lok-yang?"
Kata Sun Po.
"Sebenarnya aku ingin menemui Liok Pang-cu, tapi Lokyang sudah jatuh ke tangan musuh,"
Kata Hwa Kok Han. Markas cabang di sana pun sudah musnah. Maka aku pikir mengapa aku harus ke sana? Aku bertemu Bong Cian di Ciaklo-san. Dia yang mem-beritahu aku mengenai kau telah dirampok!"
Kata Hwa Kok Han.
"Aku mewakili para pejuang di See-lian-san, dan berhasil merampas kembali harta itu,"
Kata Tam Yu Cong. Ketika itu aku bertemu dengan kawanmu Kok Siauw Hong. Dia bilang kau akan ke Kim-kee-leng, Benar begitu?"
Dia senang mendengar Kok Siauw Hong ternyata selamat.
"Benar, apa kedua Siok-siok (Paman) juga mau ke sana?"
"Aku mendapat tugas menyambut Tam Siok-siokmu,"
Kata Hwa Kok Han.
"Ternyata dia tidak butuh bantuanku, karena semua masalah itu sudah beres dan ini semua kuketahui dari Bong Cian, maka itu aku menyusul ke mari. Tapi karena Paman Tam mengundangku ke See Lian San, maka aku baru akan kembali setengah tahun lagi. Nanti jika kau bertemu dengan Kouw-kouwmu (Bibimu) beritahu dia tentang kepergianku ini!"
"Baik, Paman."
"Aku dengar dari Siauw Hong, kau dan Ci Giok Phang terkepung musuh. Apakah dia masih bersamamu?"
Kata Tam Yu Cong.
"Semula ya, tetapi saat kami kembali ke penginapan dia telah menghilang,"
Kata Kong-sun Po.
"Bagaimana dia bisa menghilang?"
Kata Tam Yu Cong. Melihat Kong-sun Po bingung, Hwa Kok Han berkata pada pemuda itu.
"Kau menemui masalah apa, katakan pada kami!"
Kata Hwa Kok Han.
"Memang, aku sedang menghadapi suatu masalah yang sangat aneh,"
Kata Kong-sun Po.
"Katakan saja, masalah apa?"
Kata Tam Yu Cong.
"Aku ingin bertanya pada Paman berdua, sebenarnya siapa Kiong Cauw Bun itu? "Kenapa kau tanyakan tentang dia?"
Kata Hwa Kok Han.
"Ada seseorang mengatakan, mengatakan......"
Ucapan Kong-sun Po tidak tuntas.
"Katakan, dia bilang apa?"
Kata Hwa Kok Han. Wajah Kong-sun Po kemerah-merahan.
"Dia bilang majikan pulau itu adalah...adalah...eh punya hubungan denganku. Maka itu aku ingin tahu hal yang sebenarnya!"
Kata Kong-sun Po. Bu-lim-thian-kiauw Tam Yu Cong menghela napas.
"Sebenarnya ibumu tidak ingin kau tahu masalah ini,"
Kata Tam Yu Cong.
"tetapi karena sekarang sudah ada orang yang memberitahumu, maka kami harus menjelaskannya padamu, agar kau tidak bingung. Baik akan kuberitahu. Benar dia adalah mertuamu!"
Kong-sun Po kaget dan langsung bertanya.
"Kenapa Ibuku tidak pernah bilang tentang hal itu?"
"Mertuamu itu orang jahat! Saat kau berumur satu tahun, ayahmu yang mempertunangkan kau dengan puterinya.Tetapi ibumu tidak setuju, itu sebabnya kau tidak diberitahu."
Kata Tam Yu Cong. Kong-sun Po melongo, dia ingat semua pertanyaanpertanyaan Kiong Mi Yun yang aneh itu. Sekarang dia baru mengerti semuanya.
"Pantas berulang-ulang dia bertanya tentang ayahnya. Berbagai pertanyaan dia ajukan padaku. Rupanya dia ingin tahu apakah aku tahu tentang pertunangan itu atau tidak? Tadi di rumah makan pun samar-samar dia menanyakan masalah itu. Apa yang dia katakan memang benar. Tetapi kenapa dia mencariku hanya untuk menanyakan masalah itu?"
Pikir Kong-sun Po. Saat Kong-sun Po sedang berpikir, Hwa Kok Han bertanya padanya.
"Siapa yang memberitahumu?"
"Seorang nona yang tidak kukenal,"
Jawab pemuda itu. Dia menceritakan tentang bentuk dan rupa nona itu.
"Apa Paman kenal dia?"
Tanya Kong-sun Po. Sesudah berpikir sejenak Hwa Kok Han baru menjawab.
"Jika dari tingkatan tua mungkin aku kenal, tetapi karena dia masih muda aku tidak mengenalnya. Dari ceritamu aku kira nona itu bermaksud baik padamu!"
Kata Hwa Kok Han.
"Dia bilang apa lagi?"
Tanya Tam Yu Cong.
"Katanya Kiong Cauw Bun ingin membunuhku!"
Kata Kong-sun Po.
"Jadi dia bilang Kiong Cauw Bun akan membunuhmu? Sudah tentu hal itu jangan kau percaya sepenuhnya, dan boleh juga kau percayai. Sebaiknya kau ikut saja bersama kami!"
Kata Tan Yu Cong.
"Kiong Mi Yun dan Ci Toa-ko belum ketahuan ada di mana, masakan aku tinggalkan mereka begitu saja?"
Kata pemuda itu.
"Aku khawatir justru Ci Giok Phang sudah bertemu dengan Kiong Cauw Bun! Saudara Tam kebetulan kau ada di sini, mari kita singkirkan Kiong Cauw Bun si bedebah itu!"
Kata Hwa Kok Han. Kong-sun Po kelihatan kaget.
"Mi Yun sangat baik padaku, jika ayahnya dibunuh bagaimana aku bisa menemuinya lagi?"
Pikirnya.
"Dia sudah duapuluh tahun kabur ke seberang lautan, apakah kejahatannya dulu tidak bisa kita ampuni?"
Kata Kong-sun Po. Hwa Kok Han tertawa terbahak-bahak.
"Jadi kau akan memintakan ampun bagi mertuamu?"
Kata Hwa Kok Han geli. Tapi sesudah itu dia berhenti tertawa dan berkata serius.
"Ibumu tidak menghendaki kau menikahi gadisnya, maka itu kau boleh menganggap dia bukan mertuamu!"
Kata Hwa Kok Han.
"Harap Paman jangan mentertawakan aku, aku hanya bicara mengenai masalah sebenarnya saja,"
Kata Kong-sun Po.
"Benar, berbuat kebajikan bagi orang lain memang diperbolehkan!"
Kata Tam Yu Cong.
"Baiklah, jika kami 1062 sudah bertemu akan kami lihat, apaka dia sudah tobat atau belum? Semua itu akan kami pertimbangkan!"
Sesudah itu mereka bertiga mengerahkan gin-kang memeriksa seputar tempat itu.
Jaraknya sekitar sepuluh li persegi.
Ternyata Kiong Cauw Bun tidak mereka temukan, mungkin sudah pergi.
Tetapi dalam usahanya mencari Kiong Cauw Bun, mereka memperoleh keterangan yang berharga.
Mereka dengar Beng Teng telah menyewa sebuah kereta dari seorang petani.
Dia membawa Ci Giok Phang pergi ke Pekhoa-kok.
Keterangan itu diperoleh dari petani yang menjual keretanya pada Beng Teng.
"Sekarang legakan hatimu, Beng Teng telah mengantarkan Ci Giok Phang pulang ke rumahnya,"
Kata Hwa Kok Han.
"Sekarang kau mau ke Kim-kee-leng atau ikut bersama kami?"
Kong-sun Po tahu makna ucapan Hwa Kok Han, jika dia ikut bersama mereka, maka dia tidak perlu takut pada Kiong Cauw Bun. Tetapi Kong-sun Po justru berpendapat lain.
"Maaf, aku sudah berjanji pada Ci Toa-ko akan bertemu di Kim-kee-leng. Jadi aku tidak bisa pergi bersama Paman sekalian!"
Kata pemuda itu.
"Kita memang harus menepati janji, kalau begitu aku tidak memaksa. Baiklah,"
Kata Hwa Kok Han.
"Seorang pemuda kepandaiannya perlu diasah,"
Kata Tam Yu Cong menambahkan.
"Jika tidak pernah menghadapi badai dia tidak akan maju. Tapi ingat Kiong Cauw Bun itu lihay. Aku sendiri satu lawan satu belum tentu menang! Jika kau bertemu dan bertarung dengannya, kau pasti akan terluka. Oleh karena itu jika kau akan ke 1063 Kim-kee-leng, hindari jalan raya. Kau pilih sajajalan setapak supaya tidak bertemu dengannya."
"Baik Paman Tam!"
Kong-sun Po berpikir kata-kata Tam Yu Cong hampir sama dengan ucapan nona yang memperingatinya.
Sesudah itu kedua orang tua itu meninggalkan Kong-sun Po sendirian.
Sesudah berada sendirian Kong-sun Po mulai bingung dan pikirannya kacau.
Sebenarnya dia berkeras ke Kim-kee-leng bukan karena Ci Giok Phang, tapi demi Kiong Mi Yun.
Dia tahu Ci Giok Phang sudah diantar pulang, hatinya lega sekali.
Sedang dia janji pada Kiong Mi Yun akan menunggu di penginapan.
Sekarang dia tidak ada di sana, bukankah itu ingkar janji.
"Ayahku jahat, dia mencelakai Ibuku, maka tidak heran jika Ibu sangat membenci Ayah juga kawan-kawannya! Tetapi Mi Yun gadis yang baik, mana boleh disamakan dengan ayahnya? Tetapi Ibuku tidak setuju aku menikah dengan gadis sahabat Ayah. Bagaimana aku harus melawan kehendak Ibuku?"
Pikir Kong-sun Po. Hati pemuda ini benar-benar kacau.
"Bukankah almarhum Ayahku juga seorang penjahat besar? Jika orang lain menganggapku anak penjahat besar, aku harus bagaimana? Pokoknya jangan pedulikan omongan orang lain. Aku boleh tidak menikahi nona Kiong, tetapi paling tidak aku harus menganggap dia sebagai sahabat baikku agar aku tidak mengecewakannya!"
Pikir Kong-sun Po.
Kong-sun Po sudah berjanji akan ke Kim-kee-leng bersama Kiong Mi Yun, tetapi tadi Tam Yu Cong maupun Hwa Kok Han melarang dia mengambil jalan raya.
Jika dia mengambil jalan setapak belum tentu dia akan bertemu dengan Kiong Mi Yun, maka itu terpaksa Kong-sun Po 1064 akan menunggu nona Kiong Mi Yun di dekat penginapan, karena dia berjanji akan kembali mencari Kong-sun Po ke penginapan.
Baru sesudah bertemu nona itu mereka akan mengambil jalan kecil menuju ke Kimkee-leng.
Sesudah ditunggu sekian lama Kiong Mi Yun belum juga kembali.
Saat Kong-sun Po bertemu Tam Yu Cong dan Hwa Kok Han, nona Kiong sudah kembali ke penginapan.
Sesudah menyerahkan Ci Giok Phang agar dikawal sampai ke Pek-hoakok, nona Kiong langsung kembali ke penginapan.
Begitu melihat nona Kiong pemilik penginapan langsung memberi tahu nona Kiong.
"Kawanmu sudah pergi, dia bilang nona langsung saja ke tempat tujuan, dia menunggu di sana!"
Kata pemilik penginapan.
"Aaah, pasti dia ke Kim-kee-leng?"
Pikir nona Kiong. Karena penasaran Kiong Mi Yun bertanya pada pemilik penginapan.
"Kenapa dia meninggalkan aku, apakah dia bilang padamu?"
Kata Kiong Mi Yun.
"Dia tidak bilang apa-apa,"
Kata pemilik penginapan. Melihat sikap pemilik penginapan dianggap aneh, Kiong Mi Yun menyerahkan uang emas padanya.
"Kau pasti tahu sebabnya, katakan apa sebabnya dia meninggalkan aku jika kau beri tahu satu tail emas untukmu!"
Kata Mi Yun. Melihat uang emas itu pemilik penginapan kelihatan terbelalak matanya.
"Terus terang kawanmu itu pergi bersama seorang nona,"
Kata pemilik penginapan. Nona Kiong tertegun.
"Seperti apa nona itu?"
"Dia cantik tapi tidak kulihat jelas, larinya cepat sekali!"
Kata pemilik penginapan.
"Sekalipun kau tidak melihat jelas, tapi potongan orang itu kau ketahui bukan? Apakah wajah nona itu bulat dan tubuhnya ramping?"
Kata Kiong Mi Yun. Pemilik penginapan berpikir sejenak, baru menyahut.
"Benar begitu, barangkali nona itu kawanmu?"
"Benar, aku kenal dia!"
Kata Kiong Mi Yun.
"Terima kasih!"
Dia tinggalkan penginapan itu.
Saat itu dia ingat pada gadis yang naik kuda saat dia bersama Ci Giok Phang di tepi jalan.
Ketika itu nona Kiong merasa mengenali nona itu, karena sedang bingung dia tidak ingat siapa nona itu?
Saat dia sudah mulai tenang, akhirnya dia ingat pada nona itu.
"Pasti dia nona Wan dari pulau Beng-shia-to!"
Pikir nona Kiong.
Pulau Beng-shia-to terletak di Tong-hay (Laut Timur), tapi letaknya berjauhan dengan Hek-hong-to.
Majikan pulau itu bernama Wan Ceng Liong, dia kawan baik ayah nona Kiong.
Wan Ceng Liong berilmu tinggi.
Kata ayahnya, dia bisa menguasai Cit-sat-ciang juga berkat bantuan orang she Wan itu.
Puteri Wan Ceng Liong bernama Wan Say Eng.
Karena puteri satu-satunya, tidak heran kalau Wan Say Eng disayang oleh ayahnya.
Wan Ceng Liong sering berkunjung ke Hek-hong-to.
Suatu hari dia datang bersama puterinya, itu lima tahun yang lalu.
Usia nona Kiong saat itu sebaya dengan nona 1066 Wan, mereka baru berumur 15 tahun.
Mereka hanya berkumpul selama tiga hari tiga malam.
Tidak heran saat melihat nona berkuda putih itu, nona Kiong seperti mengenalinya.
"Pasti Kakak Wan, dia tahu Ayahku datang ke Tionggoan, maka itu dia suruh Kong-sun Toa-ko pergi! Dia sangat cerdas, aku rasa dia menganjurkan Kong-sun Toa-ko mengambil jalan kecil!"
Pikir nona Kiong.
Dugaan nona Kiong tentang Wan Say Eng memperingati Kong-sun Po tidak salah, tetapi dia heran kenapa saat di jalan dia tidak menemuinya.
Nona Kiong berpikir barangkali Wan Say Eng sudah lupa padanya.
Kong-sun Po berpesan dia langsung ke tujuan, tetapi tidak memberitahu jalan mana yang dia tempuh, jalan besar atau jalan kecil?
Karena itu Kiong Mi Yun mengira untuk menghindari ayahnya Kong-sun Po melewati jalan setapak, maka itu Kiong Mi Yun pun mengambil jalan kecil.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Ketika itu Kong-sun Po terus menunggu kedatangan nona Kiong di tepi jalan.
Sampai hari sudah siang Kiong Mi Yun tidak muncul-muncul.
Tentu saja Kong-sun Po cemas bukan main.
"Apa dia terhalang sesuatu? Atau dia sudah langsung ke Kim-kee-leng?"
Pikir Kong-sun Po. Bosan menunggu akhirnya Kong-sun Po mengambil putusan kembali lagi ke penginapan. Melihat kedatangan pemuda ini pemilik penginapan memberi keterangan.
"Semalam temanmu datang, tetapi sekarang sudah pergi lagi!"
Katanya.
"Apakah dia meninggalkan pesan?"
Tanya Kong-sun Po yang hatinya agak lega.
"Sekira sejam sesudah Tuan pergi, dia pulang. Langsung kusampaikan pesan Tuan kepadanya. Dia pun langsung pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa!"
Kata pemilik penginapan.
"Aku sudah berjanji akan menunggu dia di tengah jalan, pasti dia lewat jalan besar!"
Pikir Kong-sun Po.
Setiba di tempat sepi dia kerahkan gin-kangnya untuk menyusul nona Kiong.
Lari pemuda itu begitu cepat hingga membuat orang yang berlalu-lintas terkejut dan heran.
Tapi sesudah berlari cukup lama, pemuda itu belum juga berhasil menyusul nona Kiong.
Ketika Kong-sun Po sudah mulai kelelahan, mendadak dia melihat bayangan seorang gadis berkelebat di rimba di tepi jalan.
Kong-sun Po tertegun dia menghentikan larinya.
Ketika diawasi dia mengenali nona itu yang memperingati dia agar segera meninggalkan penginapan.
Dia susul nona itu.
"Eeh, kau! Kenapa kau ada di sini?"
Tanya pemuda itu. Nona itu menyahut seperti Kong-sun Po menyapanya.
"Eeh kau! Kenapa kau tidak menuruti nasihatku?"
Katanya.
"Kau lewat jalan ini, apa kau melihat nona Kiong?"
Kata Kong-sun Po.
"Dia tahu ayahnya datang, jadi dia harus ikut dengan ayahnya,"
Kata nona itu.
"Jika tidak demikian, pasti dia bersembunyi! Mana berani dia lewat jalan ini?"
"Dia sudah berjanji denganku, lagipula dia bernyali besar, pasti dia lewat jalan ini!"
Kata Kong-sun Po. Seperti dugaan Kiong Mi Yun nona itu memang benar Wan Say Eng. Dia akhirnya tertawa.
"Oh, jadi kau mengejarnya sampai kau berkeringat. Tidak kukira ternyata kau seorang pria sejati dan setia-kawan!"
Kata Wan Say Eng. Kong-sun Po menyeka keringatnya, wajahnya berubah merah. Wan Say Eng tertawa lagi.
"Aku jadi iba padamu, memang aku melihatnya, tetapi dia tidak lewat jalan ini,"
Kata Wan Say Eng.
"Dia lewat jalan mana?"
Tanya pemuda itu.
"Saat aku lihat dia sedang berdiri di tepi jalan,"
Kata Say Eng.
"tetapi bukan mengambil jalan ini. Di samping dia ada seorang pemuda tergeletak di tepi jalan, luka pemuda itu sangat parah. Aku lihat dia sedang berusaha mengobati pemuda itu."
"Kapan?"
"Semalam, saat aku pergi ke kota mencarimu di penginapan!"
Kata Wan Say Eng. Kelihatan Kong-sun Po kecewa.
"Pasti dia menemukan Ci Toa-ko dalam keadaan terluka parah, lalu dia menyuruh Beng Teng mengantarkan pemuda itu ke Pek-hoa-kok, dan kembali mencariku,"
Pikir Kong-sun Po.
"Siapa pemuda yang terluka itu?"
Tanya Wan Say Eng.
"Temanku marga Ci!"
Kata Kong-sun Po.
"Apakah kalian tinggal bersama dia di penginapan?"
Tanya Say Eng.
"Ya."
"Jadi benar!"
Kata Say Eng.
"Apa yang benar?"
Tanya Kong-sun Po.
"Pasti Kiong Cauw Bun mengira pemuda itu kau! Maka dia lukai pemuda itu!"
Kata Wan Say Eng. Walau Kong-sun Po sudah menduga, tetapi dia tetap kaget.
"Setahuku Ci Toa-ko terluka parah, Beng Teng mengantarkannya ke Pek-hoa-kok. Sungguh celaka, ternyata dia terluka karena orang mengira dia itu aku!"
Pikir Kong-sun Po. Wajah Kong-sun Po berkeringat.
"Bagaimana keadaan lukanya, apa kau melihatnya?"
"Aku tidak melihatnya, dia terkena pukulan Cit-sat-ciangl"
Kata Wan Say Eng. Kong-sun Po sudah mendengar dari Tam Yu Cong bagaimana lihaynya pukulan Cit-sat-ciang itu. Begitu mendengar Ci Giok Phang terluka oleh pukulan itu, dia bertambah kaget.
"Menurutmu bagaimana? Apakah jiwanya bisa tertolong?"
Kata Kong-sun Po.
"Kecuali Iwee-kang temanmu bisa melawan Iwee-kang Kiong Cauw Bun, dia akan selamat. Sebaliknya jika tidak maka jiwanya tidak akan tertolong!"
Kata Wan Say Eng. Ucapan nona Wan itu bermaksud mengatakan bahwa jiwa Ci giok Phang sulit diselamatkan. Tampak Kong-sun Po bertambah cemas.
"Tidak kusangka aku malah menyeret Ci toa-ko dalam masalah ini! Lalu aku harus bagaimana?"
Kata pemuda itu. Wan Say Eng tertawa.
"Lebih baik kau jangan pedulikan orang lain,"
Kata Wan Say Eng.
"Cepat pergi, jika tidak nyawamu akan melayang!"
"Terima kasih atas maksud baikmu, tapi...."
Ucapan Kong-sun Po tidak tuntas. Wan Say Eng tertawa lagi.
"Tapi hatimu masih bergelora, dan kau ingin tetap menunggu Kak Mi Yun dijalan ini, kan?"
Kata Wan Say Eng. Wajah Kong-sun Po berubah merah.
"Nona jangan mentertawakan aku,"
Kata pemuda itu.
"Kalau begitu, demi Kak Mi Yun kau harus menghindari ayahnya!"
Kata Wan Say Eng."Jika tidak kau akan mati dan hal itu akan menyebabkan Kak Mi Yun berduka seumur hidupnya,"
Kata Wan Say Eng.
"Belum tentu ayah Mi Yun mampu memukulku hingga binasa?"
Pikir Kong-sun Po.
"Mati dan hidup itu takdir! Jika dia bermaksud membunuhku percuma saja aku menghindarinya. Nona aku belum tahu namamu, aku yakin kau kawan Mi Yun, kan?"
"Namaku Wan Say Eng, aku juga tidak tahu apakah aku ini sahabatnya atau bukan. Beberapa tahun yang lalu aku menjadi tamunya. Aku senang bermain dengannya."
Kata Wan Say Eng.
"Aaah, aku jadi heran,"
Kata Kong-sun Po.
"Apa yang kau herankan?"
Kata Wan Say Eng.
"Katamu kau kawan baiknya, tetapi kenapa ketika kau melihat dia sedang menolongi Ci Toa-ko, kau malah tidak menemuinya?". Mendengar pertanyaan itu Wan Say Eng tertawa.
"Kak Mi Yun sangat cerdik, kau tidak secerdik dia! Hingga tentang hal itu kau tidak bisa menerkanya.'"
Kata Wan Say Eng. Wajah Kong-sun Po lagi-lagi merah.
"Memang aku bodoh,"
Katanya. Wan Say Eng tersenyum.
"Itu demi dirimu"
Kata nona Wan.
"Demi aku?"
Mendadak Kong-sun Po sadar langsung berseru.
"Ooh, betul! Sekarang aku mengerti. Karena kau melihat majikan pulau Hek-hong melukai temanku, kau takut dia akan mencariku, sehingga kau tidak punya waktu untuk menemuinya...."
Kata Kong-sun Po.
"Masih ada satu sebab lain, tetapi jika kau tidak bisa menebaknya itu bukan berarti kau bodoh, lho!"
"Apa sebabnya?"
"Aku ingin mengadu otak dengan Kak Mi Yun. Dulu aku selalu kalah olehnya. Tetapi kali ini aku harus menang. Terusterang aku telah menyuruh orang memberikan kuda putihku kepadanya"
Kata Wan Say Eng. Sebenarnya saat bertemu pun Kong-sun Po ingin menanyakan ke mana kuda nona itu. Sekarang dia tahu kuda itu diberikan pada Mi Yun.
"Aah, aku tahu Mi Yun itu nakal, tetapi tidak tahunya nona ini jauh lebih nakal dari Mi Yun!"
Pikir Kong-sun Po.
"Kau berikan kudamu padanya, tetapi kau sendiri tidak tahu dia mengambil jalan mana? Mana mungkin orangmu itu akan menemukan dia?"
Kata Kong-sun Po.
"Kau terlalu banyak bertanya, tetapi tidak apa. Orang yang kusuruh mengantarkan kudaku itu pelayannya. Yaitu pencopet yang kalian lihat di rumah makan."
"Oooh, begitu! Pantas kemarin dia tergesa-gesa mengejar pencopet itu!"
Kata pemuda ini.
"Tadi kau bertanya, kenapa aku mau memberikan kuda putihku padanya, kan? Semua aku lakukan agar dia berpikir, hingga permainan ini jadi lebih seru!"
Kata Wan Say Eng. Kong-sun Po tetrtawa terpingkal-pingkal karena geli.
"Kenapa kau tertawa? Mentetawakan aku, seperti anak kecil saja!"
Kata Wan Say Eng.
"Benar, kau mirip Mi Yun, kalian seperti anak-anak!"
Tiba-tiba wajah Wan Say Eng berubah serius.
"Baik aku sekarang mau bicara serius. Aku kira sampai sekarang ayah nona Kiong belum pernah melihatmu! Aku dengar dia hanya melihatmu saat kau berumur satu tahun,"
Kata Wan Say Eng.
"Benar kan?"
"Benar,"
Kata pemuda itu.
"Lalu kenapa?"
"Sekarang berikan payungmu itu padaku,"
Kata Wan Say Eng.
"Memang kenapa?"
"Dia tidak mengenalimu, namun dia tahu kau punya payung. Jika payung itu ada di tanganku, tidak masalah kau bertemu dengan dia."
Kata Wan Say Eng. Kong-sun Po menggelengkan kepala.
"Maaf, payung pusaka ini tidak bisa kuberikan padamu."
Kata pemuda itu.
"Hm! Kau takut payung itu kuambil, kan?"
Pemuda itu menggelengkan kepalanya.
"Bukan karena itu, tapi kalau aku takut dikenali karena payung itu, maka artinya aku bernyali kecil!"
Kata Kong-sun Po.
"Aah, kiranya kau pemberani dan gagah. Nah, berikan payung itu padaku, boleh kan?"
Kata si nona.
"Aku tidak berani menerima pujianmu,"
Kata Kong-sun Po. Mata nona itu terbelalak.
"Kau ini bagaimana sih? Ini tidak boleh, itu tidak boleh! Bilang saja kau tidak mau memberikan payungmu itu. Tapi sekarang... aku harap kau anggap aku sebagai temanmu, berikan payung itu padaku! Jika kau bertemu dengan ayah Mi Yun, kau lawan dia dengan tangan kosong. Dengan demikian kau tidak akan dicemoohkan bernyali kecil. Begitu kan maumu?"
Kelihatan pemuda ini jadi serba-salah.
"Ucapan seorang ksatria harus bisa dipercaya, kecuali kau anggap aku bukan temanmu!"
Kata nona Wan. Ucapan nona ini membuat hati Kong-sun Po panas bukan main.
"Baik, payung ini akan kuberikan padamu!"
Kata Kongsun Po. Dia memberikan payung itu pada nona Wan yang diterimanya oleh nona Wan sambil tertawa.
"Terima kasih,"
Kata nona Wan. Mendadak terdengar suara toya menyentuh tanah. Maka berkatalah Wan Say Eng.
"Sekarang aku ingin bermain-main dengan ayah Mi Yun, sementara kau menghadapinya, aku akan bersembunyi!"
Kata nona Wan.
"Baik,"
Kata Kong-sun Po. Kong-sun Po menganggap nona Wan takut pada ayah Mi Yun, maka dia mengangguk mengiakan.
"Cepat kau bersembunyi!"
Kata pemuda itu.
"Ingat! Menghadapi dia kau jangan menggunakan ilmu racun melawan racun!"
Pesan nona Wan yang menggunakan ilmu Coan-im-jip-pek. Selang sesaat muncul seorang lelaki tua berjubah hijau, dia membawa-bawa toya yang mengkilap. Kong-sun Po langsung tahu itu pasti ayah Mi Yun.
"Ci Toa-ko terluka olehnya, entah masih hidup atau sudah mati? Tetapi dia ayah Mi Yun!"
Pikir Kong-sun Po.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 39 Pada saat Kong-sun Po kebingungan bagaimana menghadapi Kiong Cauw Bun, lelaki berjubah hijau itu sudah berdiri di depannya.
Kiong Cauw Bun terus mengamati pemuda ini dengan sorot mata tajam.
Hal itu membuat bulu roma Kong-sun Po berdiri dan tubuhnya merinding.
Kiong Cauw Bun seorang jago tua dunia persilatan, sekali lihat dia langsung tahu pemuda yang ada di hadapannya itu memilik Iwee-kang yang tinggi.
Kelihatan jago tua ini terperanjat.
"Dia masih muda, tetapi aku kira lwee-kangnya tinggi. Mungkinkah dia ini Kong-sun Po?"
Pikir Kiong Cauw Bun. Pemuda itu berusaha menekan amarah yang ada di rongga dadanya. Dia awasi Kiong Cauw Bun dengan tajam.
"Lo Cian-pwee, Anda punya petunjuk apa?"
Kata Sun Po.
"Kelihatan kung-fumu lumayan, siapa gurumu?"
Tanya Kiong Cauw Bun.
"Boan-pwee (aku yang rendah, red) hanya berlatih kungfu biasa saja,"
Jawab Kong-sun Po.
"jika kuberitahukan padanya, itu hanya akan menghina Guruku saja!"
"Hm! Siapa kau?"
Bentak Kiong Cauw Bun sambil mendengus.
"Aku hanya kebetulan lewat,"
Jawab pemuda itu.
"Siapa Lo Cian-pwee?"
"Aku Kou-hun-su-cia! (Malaikat Pencabut Nyawa)"
Jawab Kiong Cauw Bun dingin.
"Siapapun yang bertemu denganku, pasti sial!"
"Aku punya kawan bermarga Ci, apa Lo Cian-pwee pernah bertemu dengannya?"
Tanya Kong-sun Po.
"Ya, aku bertemu dengannya. Dia sudah binasa oleh sebuah pukulanku!"
Jawab Kiong Cauw Bun. Tanpa disadarinya, Kong-sun Po mengertakkan gigi sambil berkata dengan suara dingin.
"Hek-hong To-cu, kau dengan dia tidak bermusuhan, kenapa kau lukai dia?"
Kiong Cauw Bun tertawa terbahak-bahak.
"Jika Lo-hu membunuh orang, tidak perlu ada alasannya,"
Kata Cauw Bun.
"Kau sudah tahu siapa aku, kenapa masih bertanya? Karena itu kau harus mampus! Cepat beri tahu namamu. Mungkin kau akan kuampuni!"
"Jika kau bertanya dengan baik-baik, aku akan memberi tahumu! Seorang ksatria boleh kau bunuh tetapi tidak boleh dihina!"
Kata Kong-sun Po. Wajah Kiong Cauw Bun berubah.
"Sekalipun kau tidak memberitahu, aku sudah tahu! Terimalah pukulanku!"
Kata Kiong Cauw Bun.
Kiong Cauw Bun langsung menyerang, sedang Kong-sun Po pun sudah siap sejak tadi.
Serangan Cauw Bun dia tangkis dengan jurus Tay-hang-pat-sek (Delapan jurus cengkraman), dia kerahkan dengan Iwee-kang yang diajarkan Beng Beng Tay-su.
"Buum!"
Terdengar suara benturan keras sekali.
Kong-sun Po terhuyung-huyung ke belakang tiga langkah.
Tubuh Kiong Cauw Bun pun bergoyang.
Saat Kiong Cauw Bun mengawasi ke arah pemuda itu, dia lihat wajahnya biasa saja.
Sama sekali tidak ada gejala keracunan.
Kiong Cauw Bun terkejut bukan kepalang bahkan heran luar biasa.
Kiong Cauw Bun terkenal angkuh, maka itu pada anak muda dia tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya.
Tetapi dia gunakan delapan bagian tenaganya yang beracun.
Ini dilakukannya karena dia tahu pemuda ini memiliki Iweekang yang tinggi.
Saat menyerang dia yakin Kong-sun Po akan binasa, atau paling tidak pemuda itu akan terluka parah.
Dia heran jangankan mati atau terluka, roboh pun anak muda itu tidak.
Dia berlatih di seberang lautan sekian lama, dia mengira kepandaiannya sudah melebihi Hong-lay-mo-li dan suaminya, juga Tam Yu Cong.
Tidak tahunya baru 1077 menghadapi anak muda yang tidak dikenalnya tubuhnya sudah bergoyang.
Hal yang membuat heran, dia tidak tahu ilmu apa yang digunakan anak muda ini.
Walau pengalamannya luas, tapi heran dia tidak tahu pukulan apa itu.
Ilmu Tay-hang-pat-sek itu ilmu silat milik Keluarga Suang.
Ilmu ini tidak pernah diturunkan pada orang lain.
Ilmu ini ciptaan kakek Kong-sun Po dan diukir didinding ruang rahasia.
Oleh karena itu hanya Kong-sun Po dan ibunya yang tahu.
Kemudian ibu Kong-sun Po menurunkan ilmu itu pada Ciu Cioh.
Kong-sun Khie dan Kiong Cauw Bun sahabat baik.
Tetapi Kong-sun Khie tidak mengetahui tentang ilmu silat itu.
Tidak heran jika Kiong Cauw Bun pun tidak diberitahu oleh ayah Kong-sun Po.
Sedangkan Iwee-kang yang digunakan pemuda itu, Beng Beng Tay-su yang mengajarinya.
Lwee-kang itu Iwee-kang aliran Buddha.
Sesudah Beng Beng Tay-su menguasai tenaga dalam itu, dia jarang berkelana.
Malah dia tidak pernah menggunakan Iwee-kang itu.
Sesudah melongo sekian lama, Kiong Cauw Bun berpikir.
"Apa aku salah lihat lagi? Barangkali bocah ini bukan Kong-sun Po? Dia masih muda, tapi kepandaiannya demikian tinggi. Sepuluh tahun lagi kepandaiannya bisa berada di atasku. Aaah, aku tidak peduli apakah dia Kongsun Po atau bukan, aku harus membunuhnya!"
Pikir Kiong Cauw Bun.
"Bocah, terimalah pukulanku lagi!"
Kata Kiong Cauw Bun yang sudah berpikir matang akan membunuh pemuda ini.
Tampak Kiong Cauw Bun menggerakkan tongkatnya.
Dia serang semua jalan darah Kong-sun Po yang berbahaya.
Ilmu totok Kiong Cauw Bun sangat terkenal, sekali totok mampu menyerang ke tujuh jalan darah lawan.
"Sungguh kejam ilmu totokmu itu!"
Bentak Kong-sun Po.
Dengan cepat pemuda ini menghindar dari setiap totokan lawan, sekaligus dia melancarkan sebuah pukulan keras.
Saat masih kecil Kong-sun Po digembleng oleh tiga guru silat yang mahir.
Ilmu totok dia pelajari dari ayah Honglaymo-li, ilmu totok itu bernama Keng-sin-ci-hoat (Ilmu jari mengejutkan dewa).
Ilmu ini sangat tinggi hingga ilmu totok Kiong Cauw Bun sulit menembusnya.
Sayang Kong-sun Po tidak sungguh-sungguh, dia tak berani menggunakan Keng-sin-ci-hoat, padahal tenaga dalamnya kalah oleh Kiong Cauw Bun.
Malah ketua pulau Hek-hong ini menyerang dengan sekuat tenaga.
Maka itu Kong-sun Po agak terdesak.
Saat pemuda itu melancarkan serangan, Kiong Cauw Bun menangkis dengan toyanya.
"Plaak!"
Seketika itu juga pemuda itu roboh.
Kiong Cauw Bun jadi bingung menerka siapa pemuda ini.
Jika Kong-sun Po menggunakan Tan-sin-cihoat dia akan tahu siapa pemuda itu.
Saat dia periksa toyanya agak cacat hingga membuat Kiong Cauw Bun kaget.
Tapi tiba-tiba dia tertawa.
"Hai bocah kau bisa kabur ke mana?"
Katanya.
Saat akan roboh ke tanah, Kong-sun Po menggunakan jurus Leehi-ta-teng (Ikan lele meletik).
Tetapi pada saat yang bersamaan tongkat Kiong Cauw Bun mengarah ke kepala pemuda itu.
Saat itu diduga pemuda ini akan binasa.
Tiba-tiba terdengar suara seruan.
"Paman Kiong hentikan!"
Kata suara itu. Wan Say Eng muncul dari dalam rimba. Melihat nona Wan muncul Kiong Cauw Bun tersentak kaget.
"Ooh, nona Wan, bagaimana kau bisa ada di sini?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Paman Kiong, kenapa kau berkelahi dengan kawanku? Aku sedang berjalan bersamanya,"
Kata nona Wan.
"Oh, jadi dia ini temanmu? Tadi kau bersembunyi di mana? Mengapa kau tidak segera memberitahu aku?"
Kata Kiong Cauw Bun. Wan Say Eng malah tertawa.
"Aku bersembunyi karena ingin melihat kung-funya! Bagaimana menurutmu Paman Kiong, buruk atau lumayan?"
Kata nona Wan.
"Hm! Lumayan, sungguh lumayan. Siapa nama temanmu itu?"
"Namanya Ciu Chu Kang,"
Kata nona Wan berbohong.
"Paman, dia tidak bersalah padamu, kenapa kau tega ingin membunuhnya?"
Kong-sun Po merasa geli karena nona Wan sembarangan saja memberinya nama. Tetapi hatinya berguncang.
"Nama kecilku Khi Ok (Kejahatan lenyap), Ibuku yang memberi nama begitu. Sekarang nona Wan memberi nama 1080 Chu Kang (Membasmi kejahatan). Khi Ok dan Chu Kang sama artinya. Eh, apa barangkali dia tidak sembarangan memberi nama padaku, tapi barangkali ada maksudnya?"
Pikir Kong-sun Po.
"Aneh sekali nama temanmu itu?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Karena aku memandang mukamu, maka aku tidak akan membunuhnya! Tetapi kalian harus bicara terus-terang padaku!"
Wan Say Eng cemberut.
"Kenapa sih. Paman Kiong begini garang! Baik, Paman mau bertanya apa?"
Kata nona Wan.
"Kemarin aku melukai orang, dia bilang temannya. Apa kau tahu itu?"
Sebelum menjawab Wan Say Eng balik bertanya.
"Tahu apa?"
Kata nona Wan.
"Benar tidak kata-katanya? Lalu siapa orang itu?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Dia temanku, kenapa aku harus berbohong,"
Kata Sun Po. Wan Say Eng tertawa.
"Aku tahu, orang itu tuan muda Pek-hoa-kok, namanya Ci Giok Phang, terus-terang dia temanku juga. Jelas karena dia temannya jadi temanku juga!"
Kata nona Wan.
Wan Say Eng ingin bilang, dia kenal dulu Ci Giok Phang, baru dia kenal dengan pemuda ini.
Kata-kata nona Wan ini ingin membebaskan Kong-sun Po dari kesulitan.
Di balik ucapannya itu dia juga ingin menyatakan, bahwa dia dengan Kong-sun Po punya hubungan istimewa.
Saat nona Wan menyebut nama Ci Giok Phang, dia heran.
"Dia masih muda tapi pengetahuannya tentang Dunia Persilatan sangat luas. Dia banyak mengenal tokoh persilatan,"
Pikir Sun Po. Sebenarnya Kiong Cauw Bun mulai curiga dan kurang senang atas kebohongan nona ini, tapi tidak dia ungkapkan.
"Baiklah, karena kau bilang orang she Ci itu temanmu, benarkah kalian pernah bersama-sama dengan puteriku di penginapan? Apa kalian juga tinggal di sana bersamasama?"
"Tentu saja tidak, kami punya pasangan masing-masing, jadi tidak sekamar,"
Kata Wan Say Eng. Kemudian nona ini tersenyum malu-malu.
"Hm, nona ini pandai bersandiwara, pasti Kiong Cauw Bun akan pusing menerkanya!"
Pikir Kong-sun Po. Benar saja Kiong Cauw Bun kaget dan pusing sekali.
"Jadi lelaki yang dicintai puteriku itu orang she Ci yang aku lukai, bukan Kong-sun Po. Aah, masa bodoh! Yang penting aku harus lalui jejak puteriku pergi ke mana dia!"
Pikir Kiong Cauw Bun.
"Kau tahu ke mana puteriku pergi?"
"Tentu aku tahu, Kak Mi Yun akan ke Kim-kee-leng, bahkan aku juga tahu jalan yang dilaluinya,"
Kata nona Wan.
"Ke mana?"
"Ke sana!"
Kata nona Wan sambil menunjuk ke arah barat.
"Dia mengambil jalan kecil, cepat Paman kejar dia!"
Kata nona Wan. Dia tatap Wan Say Eng dengan tajam.
"Benarkah? Kau tidak membohongiku?"
Kata Kiong Cauw Bun menegaskan.
"Kalau Paman Kiong tidak percaya, ya sudah!"
Kata nona Wan manja.
"Malah Tio Keng pelayanmu juga sedang menuju ke jalan itu! Paman boleh mengejarnya, dalam sejam kau akan bertemu dengannya. Maka saat itu Paman akan percaya bahwa aku tidak membohongimu!"
Kiong Cauw Bun membalikkan badannya akan pergi. Itu memang yang diharapkan oleh nona Wan. Tetapi tiba-tiba Kiong Cauw Bun berbalik lagi. Ini membuat nona Wan kaget bukan kepalang.
"Ada apa lagi, Paman?"
Tanya si nona agak gugup sedikit.
"Aku lupa bertanya, sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan bocah she Ciu ini?"
Kata Kiong Cauw Bun. Wajah nona Wan kemerah-merahan.
"Paman, kok kau masih bertanya sih! Apa Paman belum percaya?"
Kata nona Wan.
"Sungguh aku tidak bergurau, aku cuma ingin tahu kepastian saja!"
Katanya. Rupanya yang ada di benak Kiong Cauw Bun ini sangat jahat, jika hubungan nona Wan dan pemuda itu biasa-biasa saja, dia ingin membunuh pemuda itu. Tampak Wan Say Eng cemberut.
"Paman Kiong ini bagaimana sih? Aku tidak tahu bagaimana harus mejelaskannya pada Paman. Terus-terang aku sendiri bingung. Sebenarnya kami berdua ini apa, teman biasa atau ... Aaah, aku tidak tahulah! Tapi Ayah menyuruhku membawa dia ke pulau Beng-shia-to untuk menemuinya. Jika Paman ingin tahu lebih jelas, lebih baik Paman tanyakan saja pada Ayahku!"
Kata nona Wan. Kelihatan Kiong Cauw Bun agak kaget.
"Rupanya ayah nona ini ingin menjadikan pemuda ini menantunya. Apa benar begitu? Kalau begitu aku tidak boleh mengganggunya!"
Pikir Kiong Cauw Bun.
"Hm!"
Kiong Cauw Bun mendengus dingin.
"Aku telah melukai Ci Giok Phang, teman kalian. Sedangkan tadi temanmu ini ingin membuat perhitungan denganku. Oleh karena itu aku harus bertanya padanya."
Lalu dia awasi Kong-sun Po.
"Saudara Ciu, apa kau masih ingin menuntut balas padaku?"
Kata Kiong Cauw Bun. Buru-buru nona Wan menggoyang-goyangkan tangannya. Tetapi Kong-sun Po yang masih gusar malah menjawab.
"Jika temanku mati dan sekarang belum bisa membalaskan sakit hatinya, kelak pasti aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Kata Kong-sun Po. Kiong Cauw Bun tertawa dingin.
"Dia terluka oleh pukulan Cit-sat-ciangku, mana mungkin dia masih hidup? Baik, aku terima tantanganmu itu!"
Kata Kiong Cauw Bun. Mendadak nona Wan tertawa. Mendengar tawa itu Kiong Cauw Bun tampak keheranan. Dia tatap nona itu dengan tajam.
"Kenapa kau tertawa?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Paman Kiong jangan bicara begitu, karena aku tidak yakin dengan satu pukulan Paman akan mampu membinasakan pemuda she Ci itu!"
Kata nona Wan.
"Apakah Paman melihat sendiri dia telah mati?"
"Sekalipun aku tidak melihatnya, namun dia terluka oleh Cit-sat-ciangku. Aku yakin dia tidak akan bisa hidup sebulan lagi!"
Kata Kiong Cauw Bun. Wan Say Eng tertawa.
"Paman Kiong, kau barangkali sudah lupa. Ayahku dapat mengobati racun pukulan Cit-sat-ciang! Aku memang belum begitu mahir, namun aku juga dapat menyelamatkannya!"
Kata nona Wan. Kiong Cauw Bun langsung tahu maksud ucapan nona Wan itu. Dia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ha, ha, ha bagus! Bagus sekali. Dengan demikian Saudara Ci tidak harus membalas dendam lagi padaku. Baiklah kita hapus saja permusuhan ini!?"
Katanya. Sesudah itu dia membalikkan tubuhnya dengan tanpa menoleh lagi dia berlalu. Sesudah Kiong Cauw Bun pergi, Kong-sun Po berkata pada nona Wan.
"Nona Wan, aku ingin menanyakan dua hal padamu. Aku minta kau jawab dengan jujur!"
Kata Kong-sun Po.
"Hm! Kau curiga aku bohong?"
Kata nona Wan sambil tersenyum.
"Kau beritahu jalan yang ditempuh oleh nona Kiong, bukankah kau membohongi Kiong Cauw Bun?"
Kata Kongsun Po. Nona Wan tersenyum.
"Aku tidak bohong!"
Kata si nona. Mendengarjawaban itu Kong-sun Po terkejut bukan kepalang.
"Mi Yun menempuh jalan kecii, kau beritahu ayahnya, bukankah itu... itu..."
Pemuda itu gugup seketika.
"Kau kelihatan gugup, jangan lupa aku sudah menghadiahkan kuda putihku padanya? Kusuruh Tio Keng memberikannya pada Kak Mi Yun!"
Kata nona Wan. Sesudah berpikir sejenak dia mengangguk.
"Kau benar, karena Mi Yun naik kuda maka ayahnya tidak akan dapat mengejarnya,"
Kata pemuda itu.
"Kuda itu kuda jempolan,"
Kata nona Wan.
"Mana mungkin ayah Mi Yun bisa mengejarnya Nah, sekarang kau tidak perlu panik. Dia tidak akan bisa mengejar puterinya, kau juga tidak akan bisa mengejarnya. Nanti di Kim-keeleng baru kalian bertemu dengannya!"
"Mi Yun pasti selamat, maka itu aku tidak perlu tergesa gesa menyusul dia. Aku....aku..."
Wan Say Eng tersenyum.
"Kau kenapa? Oh, ya tadi kau akan menanyakan satu hal lagi!"
Kata nona Wan.
"Apa itu?"
"Benarkah kau bisa memunahkan racun Cit-sat-ciang!"
"Benar! Kau kira aku membohongi ayah Mi Yun?"
"Nona Wan maukah kau membantuku?"
"Kau ingin aku mengobati Ci toa-komu?"
"Benar, bukankah kau bilang dia itu temanmu juga?"
Wan Say Eng menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau tidak curiga aku berbohong?"
"Jadi benar kau kenal Ci Giok Phang?"
Kata Kong-sun Po sambil tertawa. Wan Say Eng mengangguk.
"Benar, tapi aku sedikit berbohong!"
"Bohong sedikit, apa maksudmu?"
"Aku cuma kenal dengan adiknya. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan adiknya!"
Kata nona Wan. Kong-sun Po kaget juga girang.
"Kau kenal Ci Giok Hian? Dari Giok Phang aku dengar dia mau pulang, tapi kakaknya curiga dia tidak pulang. Sesudah berpisah di rumah keluarga Han. Di mana kau bertemu dengan dia?"
Kata Kong-sun Po.
"Aku bertemu di kota Liu-hoo, dia jalan bersama seorang pemuda,"
Kata nona Wan menjelaskan.
"Kota Liu-hoo! Jadi mereka akan ke Kang-lam. Apa kau kenal siapa pemuda yang menyertainya?"
Kata Kong-sun Po.
Kong-sun Po heran calon suami nona Ci, Kok Siauw Hong, selalu bersamanya.
Tapi ia tahu Kok Siauw Hong terkena panah musuh, lalu pemuda yang bersama nona Ci itu siapa?
Begitu yang ada di benak Kong-sun Po saat itu.
"Aku tahu, nama pemuda itu Seng Liong Sen, dia murid Kang-lam Bu-lim Beng-cu (Ketua Kaum Persilatan Kanglam), namanya Bun Ek Hoan!"
Kata nona Wan.
"Sebenarnya aku hanya kenal dengan Liong Sen, sesudah bertemu mereka di Liu-hoo, baru aku tahu nona itu bernama Ci Giok Hian!"
Pemuda ini tertegun.
"Aneh sekali, bagaimana dia bisa berjalan bersama-sama Seng Liong Sen?"
Kata Kong-sun Po. Wan Say Eng tertawa.
"Eh, kau jangan usil urusan orang lain! Kenapa, memang nona Ci tidak boleh bersama Seng Liong Sen? Memangnya ada hubungan apa denganmu?"
Kata nona Wan. Pemuda itu menggelengkan kepalanya, dia bertanya begitu karena merasa aneh saja.
"Sudah kita bicarakan masalah lain saja,"
Kata pemuda itu.
"Maukah kau mengobati Ci Giok Phang?"
Wan Say Eng tersenyum.
"Kau setia kawan pada temanmu, tapi...."
"Tapi kenapa?"
"Terus-terang aku bukan usil pada urusan orang lain,"
Kata nona Wan.
"Aku membantumu agar kau terhindar dari tangan jahat! Tahukah apa sebabnya?"
"Aku tidak tahu!"
Kata pemuda itu jujur.
"Itu demi Kak Mi Yun, lho!"
Pemuda itu mengangguk.
"Nona Wan, menolong seseorang itu satu perbuatan yang bijaksana, aku mohon kau mau menolong Ci Giok Phang!"
Kata Kong-sun Po.
"Membantu sih boleh, tapi bagaimana kau membalas kebaikan itu?"
Tanya Wan Say Eng. Pertanyaan nona Wan itu membuat Kong-sun Po jadi melongo. Karena jujur dan lugu, dia tidak tahu kalau membantu orang lain itu harus ada balasannya.
"Ya, jika kau membantu menyelamatkan Ci Toa-ko, nanti jika kau butuh tenagaku aku akan membantumu dengan tidak menghiraukan nyawaku!"
Kata Kong-sun Po.
"Aku tidak butuh balasan begitu,"
Kata nona Wan.
"Aku tidak ingin sampai kau mengorbankan nyawamu."
Kong-sun Po tertegun.
"Kalau begitu, bagaimana aku harus membalas budimu?"
"Aku hanya ingin kau mengabulkan satu permintaanku saja,"
Jawab nona Wan.
"Mengenai apa?"
Kata Kong-sun Po. Wan Say Eng tersenyum manis.
"Sayang sekarang belum terpikir olehku,"
Kata nona Wan.
"Nanti baru akan kuberitahukan padamu!"
Pemuda itu mengerutkan keningnya.
"Aah, bagaimana jika aku tidak bisa melaksanakan permintaanmu itu?"
"Jangan resah, karena aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang melanggar perikemanusiaan. Malah aku pikir kau akan mampu melaksanakannya!"
Kata Wan Say Eng. Mendengar keterangan itu legalah hati Kong-sun Po.
"Baik, kalau begitu aku kabulkan!"
Kata dia. Wan Say Eng tersenyum.
"Bagus. Sekarang juga kita ke Pek-hoa-kok! Tapi ini akan menghalangimu untuk segera bertemu dengan Kak Mi Yun!"
Kata nona Wan menggoda. Wajah Kong-sun Po langsung merah.
"Nona Wan jangan bergurau. Aku akan menemanimu ke Pek-hoa-kok dulu."
Kata pemuda itu. Sekalipun dia berkata begitu otaknya berpikir lain.
"Aku yakin pasti Mi Yun cemas, jika sampai di Kim-keeleng dia tidak bertemu aku. Tetapi jika dia mengerti pasti dia tidak akan menyalahkan aku tidak tepat janji!"
Pikir Kong-sun Po. Tiba-tiba Wan Say Eng masuk ke dalam hutan, tak lama ketika kembali di tangannya tergenggam payung pusaka milik Kong-sun Po.
"Nih, payungmu! Baik kita berangkat,"
Kata nona Wan.
"Payung ini sudah kuberikan untukmu, lho!"
Kata pemuda itu. Wan Say Eng tertawa geli.
"Hi, hi, hi, dasar bodoh! Kau kira aku sungguh-sungguh menginginkan payungmu? Terus-terang payung itu aku minta darimu agar Kiong Cauw Bun tidak mengetahui kau ini Kong-sun Po, lho!"
Kata nona Wan.
"Ooh, begitu!"
Kata Kong-sun Po sambil tersenyum. Baru berjalan belum lama Wan Say Eng tertawa.
"Saat aku bicara dengan ayah Kak Mi Yun, pasti kau curiga aku berbohong. Namun, ada satu kata-kataku yang justru tidak kau tanyakan apa aku bohong atau tidak?"
Kata nona Wan. Kong-sun Po tercengang.
"Kata-kata yang mana?"
"Waktu kubilang aku akan membawamu menemui Ayahku!"
"Mengenai hal itu, aku tidak perlu bertanya,"
Kata Kongsun Po sambil tertawa.
"Kenapa?"
Tanya si nona.
"Karena aku tahu ucapanmu itu untuk membohongi Kiong Cauw Bun, ya kan?"
Mata Wan Say Eng melirik ke arah pemuda itu.
"Oh Ya! Bagaimana kalau itu benar?"
"Nona Wan kau benar-benar pandai bergurau!"
Kata Kongsun Po.
"Kenapa kau anggap aku bergurau?"
"Karena aku tidak kenal ayahmu, sedang ayahmu juga tidak kenal padaku. Mana mungkin kau ajak aku menemuinya?"
Kata pemuda ini.
"Tahukah kau kenapa aku pergi meninggalkan pulau datang ke tempat ini?"
Kata nona Wan. Kong-sun Po menatap wajah nona Wan sambil tersenyum.
"Aku kira kau juga sama dengan Mi Yun, kau kabur dari rumahmu,"
Kemudian Kong-sun Po berpikir sejenak.
"Kalian sama nakalnya, aku yakin tebakanku tidak salah, kan?"
"Jika kukatakan, ayahku yang menyuruhku mencarimu dan membawanya pulang, kau percaya tidak?"
Kata nona Wan. Kong-sun Po tertawa terbahak-bahak.
"Mana ada urusan seperti itu? Sudah, sudah aku harap kau jangan menggodaku terus!"
Kata Kong-sun Po. Kong-sun Po sama sekali tidak mengira kalau kali ini nona Wan bicara sungguh-sungguh. Ucapan yang terakhir Kong-sun Po membuat nona Wan agak kecewa.
"Dia kira aku bergurau, di hatinya pasti dia tidak rela ikut aku pulang. Sekalipun aku berhasil menyuruh dia menepati janji ikut aku pulang, namun tidak ada gunanya."
Nona Wan jadi geli.
"Kelihatannya kali ini aku akan kalah lagi dari Kak Mi Yun!"
Kejadian lima tahun yang lalu terbayang kembali olehnya.
Ketika itu dia bersama ayahnya berkunjung ke Hek-hong-to.
Usia nona Wan dan Mi Yun sebaya, mereka juga cocok dan sering bermain bersama-sama.
Saat itu mereka baru berumur limabelas tahun.
Mereka berdua dimanja oleh orang tua mereka masing-masing.
Tidak heran keduanya punya sifat tidak mau saling mengalah dan selalu ingin menang sendiri.
Suatu hari nona Kiong mentertawakan nona Wan tidak bisa berdandan seperti gadis desa.
Rupanya Kiong Mi Yun pernah ikut ayahnya ke daratan Tiongkok, sehingga tahu keadaan nona-nona di kota besar, sedang nona Wan tidak pernah meninggalkan pulau Beng-sia-to.
Saat itu nona Wan sadar kalau nona Kiong menganggap rendah dirinya.
Suatu hari Kiong Mi Yun sadar nona Wan tidak mengerti, lalu dia menunjuk ke kolam di kolam itu ada itik sedang berenang.
"Gadis desa itu sama dengan itik yang buruk itu. Kau mengerti kan?"
Kata nona Kiong.
Karena kesal Wan Say Eng menangis.
Suatu saat nona Kiong mengajak Wan Say Eng mengadu kungfu.
Nona Wan kalah oleh nona Kiong hingga nona Kiong puas.
Tapi nona Wan tidak mau kalah, dia bilang bahwa ayah nona Kiong menguasai ilmu silat Cit-sat-ciang karena diajari oleh ayahnya.
Soal ini akhirnya diketahui oleh Kiong Cauw Bun dan memarahi puterinya hingga menangis.
Setiap kali nona Wan selalu kalah dari nona Kiong, hal itu membuat Wan Say Eng sangat penasaran sekali.
Untung mereka tidak mengingat kekalahan itu sebagai dendam.
Maka tetap mereka itu bersahabat baik.
Namun, nona Wan ingin bisa mengalahkan nona Kiong.
Suatu hari Wan Say Eng berlatih ilmu Kim-sia-ciang-hoat (Ilmu pukulan pelangi emas) dengan ayahnya.
Nona Wan kelihatan tidak bersemangat.
Ayah nona Wan tertawa dan menghampiri puterinya.
"Nak, bukankah kau ingin mengalahkan Mi Yun, jika kau mahir Kim-sia-ciang-hoat maka dengan mudah kau bisa mengalahkannya!"
Kata sang ayah.
"Sebaiknya kau rajin berlatih!"
Nona Wan tetap murung. Ayahnya tertawa.
"Tidak berguna walau aku menang dari Mi Yun, karena katanya wajahku buruk! Benarkah aku buruk?"
Kata Wan Say Eng.
"Siapa bilang puteriku jelek?"
Kata ayahnya.
"Mi Yun yang bilang,"
Sahut Wan Say Eng. Ayahnya tertawa.
"Kau tidak tahu kalau wajahmu cantik sekali,"
Kata ayahnya. Kau lebih cantik dari dia! Ayah sering melihat nonanona lain, tapi tidak secantik kau!"
"Aku tidak percaya, selain Kak Mi Yun tak ada gadis yang cantik!"
Kata nona Wan.
"Kau tidak percaya kau cantik? Baik, jika kau sudah menguasai ilmuku, kau boleh pesiar ke Tiong-goan. Di sana kau akan bisa membuktikan, bahwa ayahmu ini tidak bohong bahwa kau cantik!"
Kata ayahnya. Selang beberapa tahun Wan Say Eng terus berlatih dengan ayahnya. Suatu hari ayahnya berkata kepadanya.
"Say Eng, tahun ini umurmu sudah 19 tahun. Iya kan?"
"Kalau ya, kenapa?"
Tapi mendadak nona Wan ingat ucapan ibunya pada ayahnya.
"Tahun ini Say Eng sudah 19 tahun, apa kau lupa dia sudah pantas dicarikan jodoh!"
Kata ibunya.
"Justru aku sedang memikirkannya, anak siapa yang cocok dengan puteri kita? Aku tidak ingin dia akan jadi "sekuntum bunga yang dicocokkan di tumpukan tahi sapi","
Kata ayahnya. Ibu nona Wan tertawa.
"Kau terlalu memuji kecantikan puterimu sendiri,"
Kata ibu Wan Say Eng. Ayahnya pun tertawa.
"Siapa yang memuji puteriku sendiri? Dia anak kita, kau juga bagian darinya kan?"
Kata ayahnya. Ingat pembicaraan orang tuanya semalam, Wan Say Eng tampak kemerah-merahan.
"Apakah Ayah ingin aku mencari jodoh?"
Pikir nona Wan. Dia tidak tahu masalah di luaran, tapi dia tahu gadis seperti dia sudah harus dijodohkan dan menikah.
"Sekarang kau sudah dewasa,"
Kata ayahnya.
"Sekalipun kepandaianmu belum tinggi sekali, tapi sudah sama dengan kepandaian Mi Yun. Bukankah kau ingin mengalahkannya? Apa perlu kita coba dulu?"
Wan Say Eng tertawa dingin.
"Ayah, kau masih ingat masalah itu. Kami sama-sama sudah dewasa, mana mungkin aku berkelahi dengannya?"
Kata Wan Say Eng. Ayahnya tertawa.
"Memang aku tidak ingin kau berkelahi dengannya,"
Kata ayah nona Wan.
"Aku hanya ingin memberimu pekerjaan yang sulit. Jika kau bisa mengerjakannya, berarti kau sudah menang darinya. Tugas yang akan kuberikan ini merupakan permainan yang mengasyikkan, apa kau mau melakukannya?"
"Maksud Ayah permainan bagaimana?"
"Aku tahu Mi Yun punya tunangan bernama Kong-sun Po, namun mereka berdua belum pernah bertemu. Sekarang Paman Kiong menghendaki Mi Yun mencari orang itu."
Kata ayah nona Wan.
Padahal Kiong Mi Yun kabur secara diam-diam, bukan disuruh ayahnya mencari Kong-sun Po.
Tapi ayah nona Wan mengira ayah nona Kiong yang menyuruh puterinya ke Tionggoan.
Kata-kata Wan Ceng Liong ini membuat Wan Say Eng tercengang.
"Kak Mi Yun sudah punya tunangan, bukankah itu baik. Apa hubungannya dengan kita?"
Beng-sia-to-cu Wan Ceng Liong menjelaskan.
"Aku ingin kau berlomba dengan Mi Yun dengan diamdiam,"
Kata Wan Ceng Liong.
"Berlomba bagaimana?"
"Apa kau masih ingat dulu aku pernah bilang, jika kau sudah mnguasai kepandaianku, kau boleh pergi ke Tionggoan. Dengan demikian matamu akan terbuka. Maka sekarang kau boleh pergi. Aku harap kau bisa bertemu dengan Kong-sun Po dan mengajaknya pulang menemuiku. Dengan demikian Kiong Mi Yun gagal melaksanakan tugasnya, dan kau yang berhasil. Bukankah itu berarti kau yang menang?"
Kata Wan Ceng Liong.
"Ayah, jangan suruh aku merebut calon suami Kak Mi Yun. Aku tidak mau melakukannya!"
Kata nona Wan. Wan Ceng Liong tertawa.
"Kau anggap saja itu sebagai permainan. Siapa yang menyuruhmu merebut calon suami orang? Tetapi jika kau berhasil dan menyukai pemuda itu dan ingin menikah dengannya, aku tidak melarangnya. Maka Kiong Cauw Bun pun tidak bisa berbuat apa-apa?"
Kata Wan Ceng Liong pada puterinya. Sesudah mendengar penjelasan dari ayahnya, nona Wan akhirnya berpikir juga.
"Aku sering dikalahkan oleh Kak Mi Yun, sekarang apa salahnya aku bermain-main dengannya. Aku kira bukan masalah."
Pikir nona Wan.
"Kalau begitu, baiklah Ayah,"
Kata nona Wan.
"Aku hanya akan bergurau dengannya. Namun, aku tidak kenal dengan Kong-sun Po. Bagaimana aku bisa mengajaknya pulang?"
"Aku sudah mencari keterangan mengenai dia,"
Kata Wan Ceng Liong.
"Apa yang kuketahui belum tentu diketahui oleh Kiong Cauw Bun!"
Kemudian Wan Ceng Liong memberitahu puterinya tentang ciri-ciri Kong-sun Po. Nona Wan sangat cerdas, dia langsung menangkap penjelasan ayahnya. Lalu dia bertanya pada ayahnya.
"Kenapa Ayah begitu menaruh perhatian terhadap Kongsun Po? Tidak mungkin Ayah hanya ingin menyuruhku bergurau dengan Kak Mi Yun, kan? Coba Ayah jelaskan, jika tidak aku tidak mau melakukan gurauan itu!"
Kata Wan Say Eng.
"Anak Eng, kau hanya tahu aku membantu Paman Kiong belajar Cit-sat-ciang, tapi kau tidak tahu dia juga membantu aku dalam belajar Iwee-kang. Lwe-kangku dan Iwee-kang Kiong Cauw Bun satu aliran. Jika Iwee-kang itu sudah tinggi ada kemungkinan kami akan sesat. Lain dengan Kong-sun Po, dia belajar Iwee-kang aliran lurus, aku bukan ingin orangnya. Lain halnya jika kau suka menikah dengannya. Jika kau berhasil bukan hanya aku tapi kau juga mendapatkan manfaatnya. Itu bukan sekedar gurauan."
Kata Wan Ceng Liong. Saat bersama Kong-sun Po malah menganggap Wan Say Eng sedang bergurau, itu sebabnya dia jadi agak kecewa.
"Aku yakin dia tidak bisa melupakan Kak Mi Yun, maka iyu akan kupaksa dia agar menepati janjinya. Tetapi aku tidak boleh menyusahkan mereka berdua. Jika kelak mereka bertemu dan membicarakan masalah ini, aku jadi malu karenanya."
Begitu pikir nona Wan.
Wan Say Eng sudah berkelana selama enam bulan lebih, maka itu dia sudah banyak bergaul dan tahu tata-cara hidup di daratan Tiongkok.
Mengingat pesan ayahnya amat 1097 penting, dan kelak ayahnya tidak menempuh jalan sesat, maka itu dia harus membantu ayahnya membawa Kongsun Po pulang.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Bab 40 Selang sesaat Wan Say Eng kembali berpikir.
"Dia sudah mengabulkan permintaanku. Jika nanti aku butuh bantuannya, asal tidak menyimpang dari perikemanusiaan, dia pasti mau membantuku. Dia pemuda jujur dan lugu. Jika aku memohon bantuan agar dia mengajari Iwee-kang aliran lurus, aku rasa dia tidak mungkin menolak. Tetapi aku harus bicara padanya."
Tetapi menurut ayah nona Wan, pelajaran Iwee-kang aliran lurus tidak mungkin dibocorkan kepada orang lain.
Maka itu jika dia mengajak Kong-sun Po, Wan Say Eng diminta agar jangan memberitahu niat ayahnya itu pada Kong-sun Po.
Wan Say Eng ini angkuh dia tidak bersedia menerima budi orang lain.
Apalagi dia baru kenal dengan Kong-sun Po.
"Sekalipun aku membantu mengobati Ci Giok Phang, tapi karena aku ingin belajar Iwee-kang aliran lurus, apa ini bukan berarti aku merugikan dia? Jika aku bicara terusterang, mungkin dia akan mengabulkan permintaanku. Tetapi mungkin dia akan menganggap diriku rendah."
Pikir nona Wan. Lama Wan Say Eng berpikir.
"Seandainya aku tidak tahu hubungan dia dengan Kak Mi Yun, maka persoalannya akan jadi lain,"
Pikir Wan Say Eng.
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 2
Baca Juga: Pendekar Cacad 4