Ceritasilat Novel Online

Pendekar Panji Sakti 8

Eps 8 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.

Walaupun dihati kecilnya sudah muncul kecurigaan, tidak urung tubuhnya tetap menyelinap masuk.

Manusia aneh itu seketika menghentikan langkahnya dengan sorot mata berkilat, tampaknya dia sudah menduga apa yang telah terjadi.

Benar saja, terdengar Hong Lo-su menjerit kaget kemudian kabur keluar dengan wajah berubah, dengan mata melotot besar dan menuding ke balik tirai, gumamnya.

"Ternyata dia.... dia belum mati"

"Aaai, toh sudah kubilang, jangan kedalam, siapa suruh kau bersikeras ingin masuk juga"

Coh Sam-nio menghela napas panjang. Kebetulan waktu itu Sui Leng-kong baru mendusin dari pingsannya, begitu mendengar perkataan itu segera jeritnya kegirangan.

"Jadi dia.... dia belum mati?"

"Adik kecil"

Kata Coh Sam-nio.

"lelaki mu mah susah untuk hidup lagi, yang kami maksudkan adalah orang lain, belum tentu kau kenal dengan orang itu"

Ucapan "susah untuk hidup lagi"

Diterima Sui Leng-kong bagaikan sambaran petir, kontan dia jatuh pingsan lagi. Dalam pada itu Hong Lo-su telah berteriak lagi dengan suaranya yang parau.

"Hujin, kalau memang kau belum mati, kenapa tidak segera munculkan diri untuk bertemu?"

Dari balik tirai hitam segera berkumandang suara aneh yang lembut, halus, manis dan indah, menjawab sepatah demi sepatah kata.

"Betul, aku memang belum mati, apakah kau ingin bertemu aku?"

"Aku.... aku...."

Hong Lo-su bersin berulang kali dengan tubuh menggigil. Melihat itu Coh Sam-nio segera menyindir sambil tertawa dingin.

"Dasar manusia tidak berguna, percuma dihari biasa kau menyebut dirimu sebagai enghiong"

Sambil membusungkan dada Hong Lo-su segera berteriak lagi.

"Benar, cayhe memang ingin bertemu hujin"

"Tunggu saja sejenak, aku segera akan munculkan diri, siapa tahu sekalian kubawa benda yang kalian inginkan, jangan pergi dulu"

"Tentu saja kami tidak akan pergi!"

Sahut Hong Lo-su cepat.

Lain dimulut lain dalam kenyataan, tanpa sadar kakinya makin lama semakin bergeser keluar pintu.

Meskipun dia merasa berat hati untuk meninggalkan tempat itu, namun dalam kenyataan dia merasa ketakutan setengah mati terhadap orang diatas sampan itu.

Perempuan kecil pendek bercadar hitam itu diam-diam mendekati Coh Sam-nio, lalu bisiknya.

"Apa.... apakah dia?"

"Betul, memang dia!"

Jawab Coh Sam-nio sambil kabur keluar ruangan.

Perempuan bercadar itu segera merasakan tubuhnya bergetar keras, baru saja dia membalikkan tubuh siap kabur dari situ, mendadak manusia aneh itu sudah menghadang di depan pintu sambil menegur.

"Ibuku minta kalian tetap tinggal disini, siapa yang berani pergi?"

"Siapa bilang aku mau pergi?"

Teriak Hong Lo-su dengan mata melotot. Benar saja, dia segera mengambil tempat duduk, kemudian sambil melirik ke arah Coh Sam-nio, sindirnya.

"Coh Sam-nio, kau hendak kabur?"

"Hmm, kalau kau tidak kabur, kenapa aku mesti pergi"

Meskipun kedua orang itu masih berbicara sok gagah, padahal semangat mereka betul-betul sudah runtuh. Manusia aneh itu sendiripun merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya dengan perasaan girang.

"Asal ibu mau keluar, sementara Thiat Tiong-tong sudah mampus, jelas kenyataan ini sangat menguntungkan posisiku"

Andai dia tahu keadaan yang sebenarnya, mungkin manusia aneh itu tidak akan menghalangi kepergian Hong Lo-su serta Coh Sam-nio, sebab perkataan dari ibunya tadi sesungguhnya hanya bertujuan mengusir mereka pergi dari tempat itu.

Waktu itu suasana didalam ruangan berubah jadi hening sepi tidak kedengaran sedikit suara pun, yang paling merasa takut dan kuatir adalah Suto Siau sekalian, bukan saja mereka tidak tahu duduknya persoalan, bahkan tidak bisa menduga untung rugi yang bakal menimpa mereka.

Rupanya Thiat Tiong-tong meski ilmu silatnya tidak terlampau hebat, namun reaksi serta kecerdasan otaknya boleh dibilang luar biasa.

Ketika melihat pukulan yang menghantam dadanya susah dihindari lagi, dia segera manfaatkan kesempatan itu untuk melompat mundur sambil menjatuhkan diri ke tanah.

Sayang tenaga pukulan dari si Kapak sakti memang kelewat kuat dan dahsyat, kendatipun sudah menghindar toh dia tetap terhantam hingga mencelat.

Begitu tubuhnya mencelat sejauh empat depa, dia segera menerobos ke balik tirai hitam dan tercebur ke dalam kolam.

Waktu itu kesadarannya belum punah, seandainya berganti orang lain dia pasti tidak berani menggunakan tenaganya lagi dan membiarkan tubuhnya tercebur ke dalam kolam.

Berbeda dengan Thiat Tiong-tong, dengan pertaruhkan keselamatan jiwanya dia segera menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya dan berusaha keras melejit ke samping, maka ketika terjatuh ke bawah, tubuhnya persis terjatuh diatas sampan itu.

Begitu memuntahkan darah segar, anak muda itupun jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti dia mendusin kembali, hidungnya segera mengendus bau harum semerbak yang menyegarkan seluruh tubuhnya.

Dia tidak tahu kalau bau harum itu berasal dari dupa mestika yang khusus didatangkan dari negeri Thian-tok (India) yang disebut Thian say than.

Konon bagi orang yang sedang berlatih tenaga dalam bila mengendus bau dupa ini maka kemajuan yang dialami bakal pesat, bila seseorang sedang terluka dalam yang parah pun dapat segera mendusin dari pingsannya.

Baru saja Thiat Tiong-tong tersadar dari pingsannya, tiba-tiba dari sisi telinganya terdengar seseorang berkata.

"Dalam keadaan terluka parah kau masih tidak segan menggunakan sisa kekuatan yang dimiliki agar terjatuh tepat diatas sampan, apakah kau mempunyai sesuatu tujuan?"

Suara itu lembut, halus dan indah, satu keindahan yang tiada keduanya dikolong langit, Thiat Tiong-tong pernah mendengar sebelumnya, tahu kalau orang yang menegurnya adalah ibunda dari manusia aneh itu, dia merasa terkejut bercampur girang.

Terkejut karena tidak menyangka kalau tindakannya yang sengaja menjatuhkan diri keatas sampan ternyata dapat ditebak orang, buru-buru katanya.

"Isi perut boanpwee sudah terluka parah"

Baru bicara sepatah kata, napasnya sudah tersengkal-sengkal, maka setelah menarik napas baru lanjutnya.

"Bila tidak ada yang menolong, boanpwee pasti tewas setelah tercebur ke air, padahal usiaku masih muda, aku tidak ingin cepat mati"

Kembali suara lembut itu bertanya.

"Bukankah kau tahu kalau tubuhmu tercebur ke dalam air, belum tentu aku mau menolong, tapi bila terjatuh dihadapanku, mau tidak mau aku harus menolong?"

"Harap hujin maklum, walaupun luka dalam yang boanpwee derita sangat parah, namun dengan kemampuan yang hujin miliki, kau pasti bisa selamatkan jiwaku, itulah sebabnya boanpwee mengharapkan begitu"

"Kelihatannya kau bicara jujur...."

Selesai mengucapkan perkataan itu, dia tidak berbicara lagi.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan kerongkongannya sangat kering dan dadanya sesak sehabis mengucapkan kata-kata itu, setelah pejamkan mata dan beristirahat sejenak dia baru membuka matanya kembali, dia ingin melihat bagaimana tampang wajah nyonya ini.

Kalau didengar dari suaranya yang halus lembut, dia sangka nyonya ini pasti memiliki wajah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, siapa sangka, begitu dipandang seketika itu juga hatinya terperanjat.

Dibawah remang remangnya cahaya redup, asap dupa yang mengepul tipis dan lapisan kain hitam yang mengelilingi sampan, tampak hujin itu duduk bersila diatas sebuah bantal untuk bersemedi, tubuhnya telah menyusut kecil hingga tinggal seonggok kerangka, kulit mukanya kuning kehitam-hitaman dan tinggal kulit pembungkus tulang, rambutnya sudah pada rontok sehingga nyaris gundul kelimis, keempat anggota tubuhnya pun kurus kecil seperti anggota tubuh seorang bayi, yang paling menonjol hanya kulit perutnya yang bulat menonjol keluar.

Begitu aneh dan menyeramkan penampilan perempuan ini, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan berubah muka dan menjerit kaget.

Tapi Thiat Tiong-tong tidak terbiasa berubah muka, walaupun perasaan terkejut mencekam perasaan hatinya namun sama sekali tidak di tampilkan keluar, diam-diam dia menghela napas sambil pikirnya.

"Dimasa lampau hujin ini pasti cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tampangnya berubah aneh pasti lantaran melatih sesuatu ilmu sakti, tidak heran kalau dia enggan bertemu siapa pun"

Berpikir sampai disitu, perasaan iba dan simpatik segera menyelimuti hatinya, perasaan itupun tanpa sadar diperlihatkan keluar.

Hujin itu hanya membuka sedikit sepasang matanya, dia sama sekali tidak berbicara.

Thiat Tiong-tong hanya memandangnya dua kejap dan tidak berani menengok wajahnya lagi, dia mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, disamping bantal bersemedi terdapat sebuah anglo untuk dupa, disampingnya terdapat se

Jilid kitab tipis, diatas kitab itu tertulis.

"Aliran silat sejati, Kia ie sinkang"

Hatinya kontan tergerak, dia merasa nama ilmu silat itu sangat aneh, pikirnya.

"Tidak heran kalau Hong Lo-su berkoar-koar menginginkan orang yang mengenakan pakaian penganten, tampaknya kitab pusaka inilah yang dimaksud, Kia ie sinkang, ilmu sakti baju pengantin"

Baru selesai dia berpikir, terdengar hujin itu bertanya lagi.

"Siapa namamu, apakah kau berasal dari Perguruan Tay ki bun?"

Dalam hati Thiat Tiong-tong merasa keheranan, darimana dia bisa mengetahui asal usulnya, namun segera mengiakan dengan hormat.

"Biarpun masih muda, ternyata kau bisa menaruh simpatik terhadap kesepian yang dialami orang lain, tidak gampang untuk bersikap begitu"

Kembali hujin itu berkata.

Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasa terperanjat, kini dia baru sadar, rupanya semua pembicaraannya dengan Li Lok-yang sewaktu berada di luar gua tadi telah terdengar oleh hujin ini dengan sangat jelas.

"Kenapa kau tidak nampak ketakutan setelah melihat wjahku?"

Lagi-lagi hujin itu bertanya.

"Boanpwee tidak pernah kenal takut, apalagi hujin sangat cerdas dan memiliki kemampuan yang luar biasa, apalah arti dari kulit luar, apa pula arti dari sebuah penampilan, bagi boanpwee yang tersisa hanya rasa hormat dan kagum"

Secerca kehangatan melintas diwajah sang hujin yang dingin kaku, pelan-pelan katanya.

"Biarpun kecantikan atau keburukan kulit wajah seseorang tidak sebanding dengan kecerdasan dan kemampuan, tapi ada berapa banyak manusia di dunia ini yang tidak menilai seseorang dari penampilannya!"

Thiat Tiong-tong tidak berani menanggapi, napasnya saja yang kedengaran makin terengah.

"Kalau masih mampu bergerak, merangkaklah mendekat"

Perintah hujin itu lembut.

"Apakah hujin bersedia memberi pertolongan?"

Tanya pemuda itu kegirangan.

"Bila tidak menderita luka parah yang mengancam keselamatan jiwa, tidak mungkin kau berani menerobos kemari, sekarang kau sudah muncul dihadapanku, ini berarti di antara kita berdua memang berjodoh, paling tidak sudah sepantasnya bila kuselamatkan nyawamu"

Dengan kegirangan Thiat Tiong-tong mengucapkan terima kasih kemudian berusaha keras merangkak maju mendekati perempuan itu, tapi lukanya memang kelewat parah, sewaktu berbicara pun banyak mengeluarkan tenaga, walaupun jarak yang berapa meter saja baginya seakan sedang melalui bukit dan jurangyang amatjauh.

Hujin itu sama sekali tidak membantunya untuk merangkak mendekat, dia hanya mengawasi dari kejauhan, mendadak bisiknya.

"Ada yang datang!"

Walaupun tidak mendengar sesuatu namun tidak tahan Thiat Tiong-tong menengok juga, dari balik kain sutera hitam benar saja dia saksikan sesosok bayangan manusia berwarna perak sedang menyelinap masuk.

Dia tahu orang itu tidak lain adalah Coh Sam-nio, kembali hatinya tercekat.

Waktu itu Coh Sam-nio sendinpun amat terkejut setelah melihat asap tipis yang muncul dari balik sampan, seketika dia menghentikan tubuhnya disisi kolam sembari menegur.

"Siapa yang berada diatas sampan?"

Hujin itu tidak menjawab, tiba-tiba dia meniup asap tipis yang berada diatas sampan itu, sekilas cahaya putih segera menyambar keluar dari balik tirai dan bagaikan segulung hawa pedang langsung menyergap ke tubuh Coh Sam-nio.

Terdengar Coh Sam-nio menjerit kaget, tanpa mengucapkan sepatah katapun buru-buru dia mundur keluar.

Ketika Hong Lo-su menyelinap masuk pula ke situ, sang hujin dengan menggunakan cara yang sama, meniupkan segulung asap putih untuk memukul mundur sang pendatang.

Hong Lo-su sambil menjerit ketakutan segera melarikan diri pula dari tempat itu.

Tidak terlukiskan rasa kagum Thiat Tiong-tong menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya.

"Entah sampai kapan aku baru bisa melatih kemampuanku hingga taraf setangguh itu"

Tampak sang nyonya sedang pasang telinga mendengarkan sesuatu, mimik wajahnya kelihatan amat serius. Lewat berapa saat kemudian baru terdengar suara aneh Hong Lo-su berkumandang dari luar sana.

"Kalau toh hujin belum mati...."

Berikut terjadilah tanya jawab yang semuanya bisa diikuti dan didengar Thiat Tiong-tong dengan sangat jelas. Lewat berapa saat kemudian terdengar manusia aneh itu berkata.

"Kalau ibuku minta kalian tetap ditempat, siapa yang berani pergi dari sini!"

Begitu mendengar perkataan putranya, dengan wajah berubah sang hujin segera mengumpat.

"Anak sialan! Aku lagi berusaha menakut-nakuti mereka agar pergi, dia malah sengaja menahan mereka semua"

"Kenapa hujin...."

Belum habis Thiat Tiong-tong bertanya, nyonya itu sudah menukas.

"Bukankah aku sudah berniat menolongmu? Kenapa melihat kau merangkak dengan susah payah, aku sama sekali tidak berniat menolong?"

Sambil berkata dia membuka matanya, memandang pemuda itu dengan sorot mata setajam cahaya lentera.

"Jangan-jangan.... hujin sudah tidak mampu bergerak?"

Tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.

"Benar"

Pemuda itu segera menghembuskan napas dingin, bisiknya.

"Soal ini.... soal ini...."

"Persoalan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, kemarilah, kita bicarakan lagi setelah lukamu sembuh nanti"

Tidak selang berapa saat kemudian Thiat Tiong-tong sudah merangkak tiba dihadapannya.

Perlahan-lahan nyonya itu menempelkan telapak tangan kirinya diatas jidat Thiat Tiong-tong lalu menyalurkan tenaga dalamnya menembusi nadi dan mengikuti aliran darah menuju ke jalan darah penting di jantung, sementara tangan kanannya ditempelkan diatas jalan darah Siang-ci-hiat.

Terasa telapak tangan itu makin lama semakin panas, menyusul gerakan tadi pemuda itu merasakan sekujur tubuhnya jadi panas sekali.

Sebetulnya waktu itu dia sudah amat lemah, lelah dan kehabisan tenaga, namun begitu merasakan mengalirnya tenaga baru, seketika itu juga semua keluhan tadi hilang tidak berbekas.

Lewat berapa saat kemudian tenaga aliran yang semula tenang dan lembut tiba-tiba berubah jadi dua gumpalan bara api yang membuat anak muda itu merasakan sekujur tubuhnya seakan menggelembung besar dan hampir meledak, kerongkongannya terasa mengering, matanya berubah jadi merah membara.

Dalam terkejutnya buru-buru dia kerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, mendadak teringat olehnya kalau saat itu sedang berada dalam keadaan terluka parah, darimana datangnya kekuatan untuk melawan?

Belum habis pikiran itu melintas, dia merasakan tumbuhnya satu kekuatan baru dari pusatnya.

Ternyata tenaga dalam yang disalurkan nyonya tadi kini telah berubah menjadi kekuatan miliknya.

Dalam terkejut bercampur girangnya tanpa berpikir lebih jauh kenapa tenaga dalam nyonya itu bisa begitu cepat melebur dan menyatu dengan tenaga dalam milik sendiri, buru-buru Thiat Tiong-tong mengerahkan tenaga dalamnya dan berusaha memunahkan kekuatan hawa panas itu.

Lewat berapa saat kemudian bukan saja hawa panas itu tidak lenyap malah sebaliknya makin lama semakin bertambah kuat.

Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba Thiat Tiong-tong merasa bahwa hawa murni yang ada didalam tubuhnya bukan saja dapat melebur hawa panas tadi menjadi kekuatan, bahkan semakin cepat datangnya hawa panas itu, makin cepat pula dia berhasil melebur kekuatan itu.

Kini hawa murni yang berada dalam tubuh Thiat Tiong-tong dari lemah berubah jadi kuat, bagaikan bola salju yang menggelinding dari puncak bukit, makin ke bawah bola salju itu semakin membesar.

Di antara asap dupa yang mengepul, tampak paras muka nyonya itu dari kuning kehitam-hitaman berubah jadi kuning kemerah-merahan, lalu dari kemeraan berubah jadi pucat, perut bagian bawahnya yang semula membuncit makin lama makin mengempes dan mengecil.

Ternyata tenaga dalamnya yang sudah dilatih hampir belasan tahun lamanya itu kini mengalir masuk ke dalam tubuh Thiat Tiong-tong bagaikan bendungan sungai yang jebol, bukan saja mengalir deras bahkan sama sekali tidak terbendung lagi.

Berapa jam sudah lewat tanpa terasa, kawanan jago itu masih menunggu di dalam ruangan.

Sui Leng-kong bersandar dalam pelukan seorang perempuan bercadar sambil memandang langit langit ruangan dengan mata mendelong, tiada air mata lagi disudut matanya, air mata seolah sudah mengering.

Si kapak sakti berdiri kaku dengan kapak masih terhunus, namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Li Kiam-pek berjalan mondar mandir macam semut kepanasan, kelihatannya dia sudah habis kesabarannya sementara Li Lok-yang tetap duduk ditempat tanpa bereaksi.

Suto Sau dan rombongannya ada yang duduk menunggu ada pula yang berdiri, semua orang memperlihatkan perasaan tidak tenang, sedang si siucay muda itu mengumpulkan buah-buahan dan makanan dari sekitar sana, sayang tidak seorang pun yang berselera untuk bersantap.

Manusia aneh itu sendiri mesti tidak menunjukkan perubahan sikap namun perasaan hatinya sangat tidak tenang, pikirnya.

"Bukankah ibu sudah berjanji akan keluar, kenapa sampai sekarang belum juga menampakkan diri?"

Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio berdiri dimuka dinding batu sambil bergendong tangan, mereka berdua sedang mengawasi jurus silat yang terukir diatas dinding dan nampaknya sudah dibuat kesemsem.

"Bagus.... bagus, ternyata memang jurus bagus"

Terdengar Coh Sam-nio bergumam tiada hentinya. Meski dia sedang memuji padahal matanya tidak mengawasi dengan seksama, hanya pikirnya diam-diam.

"Walaupun makhluk perempuan itu tidak menampakkan diri, tapi jika ditinjau dari kemampuannya mengirim asap bagaikan pedang, jelas kungfunya telah mengalami kemajuan yang amat pesat, apa yang mesti kulakukan bila mereka ibu dan anak mengerubuti aku bersama? Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan saat ini untuk bekerja sama dengan Hong Lo-su untuk menjagal dulu si makhluk kecil itu?"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah rekannya,. Waktu itu Hong Lo-su pun sedang mengawasi dinding sambil tertawa seram.

"Hebat, hebat, benar-benar jurus yang hebat!"

Sedang dihati kecilnya ia berpikir.

"Dari pada ibu beranak turun tangan bersama, ada baiknya kujagal dulu si bajingan cilik ini, tapi.... aku tidak yakin dengan kekuatanku seorang...."

Berpikir sampai disitu diapun mengalihkan sorot matanya ke arah Coh Sam-nio.

Dalam waktu singkat sorot mata mereka telah saling berpandangan, meski hanya sekilas namun ke dua belah pihak segera mengerti apa yang dipikirkan lawannya.

Sambil menghela napas Coh Sam-nio pun berkata.

"Aaai, pangeran cilik, kenapa ibunda mu belum juga menampakkan diri?"

"Bila kau tidak sabaran, kenapa tidak ditanyakan langsung kepada dia orang tua?"

Jengek sang pangeran.

"Aaai, kalau aku mah tidak berani bertanya, Hong Lo-su, kau saja yang pergi bertanya"

Hong Lo-su tertawa terkekeh, potongnya.

"Dia langsung marah begitu bertemu aku, lebih baik kau saja, wajahmu toh jauh lebih sedap dipandang"

Sembari berkata, selangkah demi selangkah mereka berjalan menghampiri manusia aneh itu.

Paras muka manusia aneh itu sama sekali tidak berubah, dia seolah tidak menyadari akan hal itu, tiba-tiba tegurnya sambil tertawa.

"Kalian tidak sabar menunggu, ada apa, ingin berkelahi dulu denganku?"

Coh Sam-nio serta Hong Lo-su seketika berdiri tertegun, tapi dengan cepat Coh Sam-nio berkata seraya tertawa.

"Pangeran, ternyata kau pintar sekali, dugaan-mu lagi-lagi tepat, Hong Lo-su ingin menjagal dirimu terlebih dulu!"

"Dasar siluman rase"

Diam-diam Hong Lo-su mengumpat.

"lagi lagi dia mengumpankan diriku, tapi, bagaimana pun bocah keparat ini memang harus disingkirkan, daripada semakin kerepotan bila makhluk tua itu sudah munculkan diri nanti"

Maka sambil tertawa seram ujarnya.

"Menjagal mah tidak berani, tidak ada salahnya bukan kalau kita berkelahi sambil membuang waktu!"

Ujung bajunya segera dikebaskan keluar, segulung angin puyuh langsung menghantam ke tubuh manusia aneh itu.

"Hati-hati pangeran"

Teriak Coh Sam-nio sambil tertawa.

"angin dingin Hong Lo-su sangat lihay, eeei Hong Lo-su, kau pun mesti hati-hati, kepalan Si hoa kun (ilmu pukulan mempermainkan bunga) sang pangeran tidak boleh dipandang enteng"

Sementara pembicaraan berlangsung, Hong Lo-su sudah terlibat pertarungan seru melawan manusia aneh itu, setiap pukulan yang dilepaskan selalu disertai selapis hawa dingin yang menggidikkan, hawa dingin yang lebih tajam dari pada sayatan pisau tajam.

Adapun jurus serangan yang digunakan manusia aneh itu enteng dan lincah, lembut seolah-olah tidak bertenaga.

Dengan wajah penuh senyum sebentar dia menowel dagu Hong Lo-su, sebentar mencubit pipinya, dia seakan sedang menggoda seorang wanita saja.

"Wah, ternyata ilmu pukulan mempermainkan bunga miliknya memang sangat hebat"

Pikir Li Kiam-pek diam-diam sambil tertawa geli. Li Lok-yang yang menyaksikan pertarungan itupun merasa amat terkejut, pikirnya.

"Ilmu pukulan ini benar-benar sangat lihay, bukan saja sasarannya aneh, bikin orang sama sekali tidak terduga bahkan memiliki perubahan yang begitu rumit dan sakti"

Tiba-tiba terdengar Coh Sam-nio berseru sambil tertawa.

"Hong Lo-su, kelihatannya sang pangeran sudah tertarik kepadamu, coba lihat, dia sedang menjahilimu habis-habisan, lebih baik kawin saja dengannya"

Tidak terlukiskan rasa gemas Hong Lo-su, saking jengkelnya dia sampai menggertak gigi kuat kuat.

"Sialan!"

Umpatnya.

"kau si nenek busuk enak-enakan, malah suruh aku yang kerepotan. Kapak sakti, kau berada dimana?"

"Siap!"

Sahut kapak sakti cepat.

Dengan gerakan burung hong pentang sayap Hong Lo-su melepaskan gempuran ke arah manusia aneh itu dengan tangan kanannya sementara jari tangan kirinya menuding ke arah Coh Sam-nio sambil membentak keras.

"Cepat ajak dia berkelahi"

"Baik!"

Jawab kapak sakti cepat, senjata kapak raksasanya langsung dibacokkan ke depan.

"Kurang ajar"

Umpat Coh Sam-nio sambil tertawa.

"tidak heran kalau Lui lotoa mengatakan kalau Hong Lo-su bukan orang jahat melainkan orang sinting, tapi masa kau tidak bisa berpikir, memangnya monyet besar ini mampu menyentuhku!"

Tubuhnya berkelebat cepat menghindarkan diri dari bacokan maut itu, tapi si kapak sakti segera mau dengan langkah lebar, sambil mengejar terus sepanjang jalan dia melepaskan beberapa kali bacokan.

Biarpun kapak saktinya menakutkan dan tenaga serangannya mengerikan, namun bagaimana mungkin dia mampu melukai Coh Sam-nio yang tersohor karena ilmu meringankan tubuhnya yang nomor wahid.

Yang merasakan akibatnya justru Suto Siau sekalian, begitu melihat lelaki raksasa itu mengayunkan kapaknya, cepat mereka kabur sipat kuping.

Si kapak sakti sama sekali tidak ambil perduli siapa yang dijumpai, dengan mata melotot besar dia langsung menghadiahkan sebuah bacokan maut begitu bertemu orang yang menghalangi jalan perginya.

Ditengah kekacauan terdengar Hong Lo-su tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Nah begini baru ramai namanya.... aduh, serangan hebat"

Sambil memutar tubuh, dia lepaskan sebuah jurus serangan balasan.

"Ayoh monyet besar"

Teriak Coh Sam-nio pula sambil tertawa.

"cepatan sedikit...."

Tiba-tiba dia melepaskan sebuah bacokan kilat ke arah Hong Lo-su, menanti lawannya berkelit, perempuan itu kembali berlari menjauh. Kontan Hong Lo-su mencaci maki kalang kabut.

"Sudah, tidak usah mengumpat lagi"

Jengek Coh Sam-nio.

"aku selalu bertindak adil...."

Kali ini dia melejit balik sambil melepaskan tiga buah pukulan secara berantai.

Tampak tubuhnya bergerak lincah, sebentar bergeser ke kanan melepaskan satu pukulan ke arah Hong Lo-su, sebentar kemudian menendang si manusia aneh itu, bedanya serangan ke arah Hong Lo-su dilakukan perlahan sebaliknya serangan kepada manusia aneh itu jauh lebih berat.

Hong Lo-su bukan orang bodoh, tentu saja diapun tahu kalau secara diam-diam perempuan itu sedang membantunya, dengan hati girang pikirnya.

"Tidak kusangka nenek busuk ini banyak akalnyajuga!"

Saat itu senyuman sudah sirna dari wajah manusia aneh itu, jelas dia mulai kepayahan menghadapi kerubutan dua orang tokoh sakti itu. Dengan semangat berkobar Hong Lo-su segera berseru.

"Selewat lima puluh gebrakan lagi, akan kusuruh kau roboh ke tanah!"

"Tidak mungkin dalam lima puluh gebrakan"

Sela Coh Sam-nio sambil tertawa.

"paling tidak butuh tujuh puluh gebrakan lagi!"

Li Lok-yang cukup berpengalaman dalam hal pertarungan, dia pun dapat melihat dengan jelas kalau manusia aneh itu tidak mungkin mampu bertahan tujuh puluh gebrakan lagi.

Pertarungan antara jago tangguh selalu dilakukan dengan gerakan cepat, dalam waktu singkat enam puluh gebrakan sudah lewat, sebagai jago kawakan dia mulai membuat perhitungan, andaikata tujuh puluh gebrakan kemudian manusia aneh itu kalah, apa yang harus mereka ayah beranak lakukan?

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong merasakan hawa panas yang mengalir keluar dari telapak tangan perempuan itu tiba-tiba berhenti ditengah jalan, ketika dia mencoba untuk mengatur pernapasan, bukan saja seluruh lukanya telah sembuh malahan tenaga dalamnya mengalami kemajuan yang amat pesat.

Dalam kejut bercampur girangnya diapun berseru.

"Terima kasih banyak hujin!"

Tapi begitu membuka mata, betapa terperanjatnya anak muda ini, ternyata sang nyonya duduk sambil pejamkan mata, peluh sebesar kacang kedele membasahi seluruh jidatnya, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat.

Dengan hati tercekat buru buru Thiat Tiong-tong berseru.

"Boanpwee tidak tahu kalau tenaga dalam hujin bakal menderita kerugian yang separah ini, tahu begini, boanpwee tidak akan berani memohon kepada hujin!"

Waktu itu napas sang nyonya tersengkal sengkal, tapi perutnya yang semula membuncit kini sudah rata kembali. Sampai lama kemudian dia baru bergumam sambil tertawa.

"Aku mengerti sekarang.... aku mengerti sekarang...."

Biarpun nada suaranya tetap manis dan indah, namun suaranya berubah jadi amat lemah.

"Nyonya, apa yang kau pahami?"

Tanya Thiat Tiong-tong keheranan.

"Persoalan pelik yang membelengguku selama belasan tahun baru hari ini berhasil kupahami.... dupa dalam hiolo telah padam, coba kau tekan hiolo itu hingga gepeng!"

"Boan.... boanpwee tidak punya kemampuan untuk berbuat begitu!"

"Dicoba saja!"

Thiat Tiong-tong tidak berani membangkang, dengan ragu diambilnya hiolo tersebut.

Hiolo itu tingginya satu setengah meter dan terbuat dari tembaga, bukan saja berat bobotnya, lapisannya pun keras dan susah dirusak dengan senjata.

Sambil tertawa getir pikir pemuda itu.

"Tampaknya nyonya ini menilai kelewat tinggi kemampuan tenaga dalamku"

Maka dengan sekuat tenaga dia tekan hiolo tembaga itu, dalam perkiraannya hiolo tersebut bakal patah jadi dua bagian.

Siapa tahu begitu dia tekan, hiolo yang keras dan kuat itu seketika tertindih hingga gepeng.

Thiat Tiong-tong benar-benar terperanjat, saking kagetnya dia sampai melongo dan berdiri terbelalak, memadang hiolo yang gepeng itu hampir saja dia tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.

"Bila kau ingin membuat gepeng hiolo ini dihari biasa, mungkin susahnya seperti memanjat ke langit, tahukah kau apa sebabnya hari ini dapat kau lakukan segampang membalikkan tangan?"

Tanya sang nyonya.

"Boan.... boanpwee tidak tahu!"

"Ini disebabkan karena tenaga dalam yang telah kulatih dengan susah payah selama puluhan tahun telah habis kau hisap, kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki saat ini kendatipun belum sampai tiada duanya dikolong langit, namun tidak banyak jagoan dalam dunia persilatan dewasa ini yang mampu menandingi kehebatanmu"

Thiat Tiong-tong semakin tertegun, dia tidak tahu harus bersedih hati atau merasa girang.

Lama setelah berdiri termangu dengan keringat bercucuran, tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut sembari berkata.

"Boanpwee pantas mati, boanpwee tidak tahu...."

"Ehmm, ketika mendengar berita yang luar biasa ini kau bukan saja tidak gembira, sebaliknya malah gugup dan menyesal, ini membuktikan kalau kau masih punya liangsim, padahal.... aaaai, semua kejadian adalah kehendak Thian, kau tidak perlu menyesal"

"Tapi.... tapi gara-gara boanpwee, tenaga dalam milik hujin telah.... telah kuhisap semua, bagaimana.... bagaimana mungkin boanpwee bisa.... bisa bersikap tenang...."

Nyonya itu tertawa.

"Alasan dibalik semua kejadian ini sangat aneh"

Ucapnya.

"bahkan aku sendiripun semula tidak tahu apa sebabnya, aaai, tapi untung sekarang aku sudah paham!"

"Boleh.... boleh aku bertanya kenapa hujin...."

"Semenjak enam belas tahun berselang, ilmu sakti yang kulatih adalah ilmu dari aliran sejati, Kia ie sinkang, ilmu sakti baju pengantin. Walaupun sejak awal sudah kuketahui kalau ilmu ini maha sakti, maha susah dilatih dan sangat mendalam, namun aku sadar, seandainya ilmu tersebut berhasil kupelajari maka aku akan menjadi jagoan yang tiada duanya dikolong langit. Aku pun tahu, kedua orang cousu pendiri Perguruan Tay ki bun pun bisa menjagoi kolong langit lantaran sempat mempelajari ilmu maha sakti ini. Itulah sebabnya aku pun mengambil keputusan nekad, meninggalkan semua keduniawian dan secara khusuk mempelajari ilmu sakti ini"

Tiba-tiba saja Thiat Tiong-tong jadi teringat dengan perkataan dari manusia aneh tadi, tidak lahan selanya.

"Be.... benarkah kitab pusaka ilmu maha sakti itu secara sengaja dihilangkan oleh mendiang pendiri Perguruan Tay ki bun?"

Dia betul-betul tidak habis mengerti, kenapa mendiang leluhurnya harus menghilangkan kitab maha sakti itu secara sengaja, bukankah kitab tersebut berisikan ilmu sakti yang tiada tandingannya dikolong langit?

Hanya saja dia tidak tahu bagaimana harus mengajukan pertanyaan itu.

Terdengar sang nyonya menjawab.

"Betul.... sejak berlatih ilmu sakti itu, aku sudah sadar kalau ada gelagat tidak beres, sebab begitu aku mulai melatih diri, tiba-tiba saja tenaga murniku berubah seolah mengering, susah dialirkan dan susah dihimpun, tapi aku tidak ambil perduli dengan gejala tersebut, aku nekad tetap melatihnya. Siapa tahu kendatipun tenaga murniku makin dilatih semakin bertambah dahsyat, namun setiap kali berusaha menyalurkan tenaga dalam, aku selalu merasakan penderitaan yang luar biasa, setiap kali hawa murniku mengalir, akan kurasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit seolah-olah ditusuk dengan beribu batang jarum tajam"

Setelah menghela napas, lanjutnya.

"Penderitaan itu jauh lebih tersiksa ketimbang penderitaan macam apa pun yang ada di dunia ini, bila kuhentikan latihanku, tenaga dalamku segera akan membuyar, penderitaan dikala buyarnya tenaga dalam betul betul tidak tertahankan oleh siapa pun. Itulah sebabnya walaupun aku sadar bahwa gejala ini mirip orang yang menghisap madat, makin dihisap semakin ketagihan namun aku terpaksa harus berlatihnya terus. Begitu tenaga murniku bertambah kuat, siksaan yang kuterima pun bertambah berat, dalam keadaan begini terpaksa kuhimpun tenaga dalam itu dibawah Tan-tian, tidak kubiarkan hawa murni itu mengalir kemana-mana, akibatnya tubuh bagian bawahku mulai kehilangan tenaga sebelum akhirnya lumpuh total"

Thiat Tiong-tong hanya berdiri melongo dengan mata terbelalak semakin besar, tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan, walau begitu, sekarang dia sudah tahu apa sebabnya perut sang nyonya kelihatan buncit dan membesar.

Terdengar nyonya itu berkata lagi.

"Biarpun tenaga murniku semakin bertambah kuat dan dahsyat, tapi apa gunanya bila tidak bisa kugunakan? Bayangkan saja, ketika aku mesti menghimpun tenaga dalam untuk menghadapi lawan, namun aku harus merasakan juga siksaan yang luar biasa seperti ditusuk jarum, mana mungkin bisa kukembangkan jurus silatku untuk bertarung? Waktu itu aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, kusangka aku telah salah berlatih. Bila meninjau dari nama ilmu tersebut, ilmu baju pengantin, sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa bisa disebut begitu meski aku mengerti apa yang disebut sebagai ilmu aliran sejati"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Ilmu aliran sejati berarti ilmu yang berkembang atas kesadaran diri, atau dengan perkataan lain, semakin aku menyadari akan keadaan yang sejati, semakin sukses kupelajari ilmu tersebut. Sayangnya biar sudah belasan tahun, biarpun sudah kupikirkan siang malam, aku belum juga mengerti kata kunci itu, sebaliknya semakin kupikirkan aku semakin goblok, semakin menderita!"

Thiat Tiong-tong ikut menghela napas panjang, namun dia tidak berani berkomentar, dia tidak tahu apa yang mesti diu capkan. Nyonya itu berkata lebih jauh.

"Ketika melihat kau terluka parah, ketika melihat kejujuran serta kepolosanmu, walaupun timbul perasaan ibaku untuk mengobati dan menyelamatkan jiwamu, namun akupun ingin melihat bagaimana reaksimu ketika kusalurkan tenaga dalam hasil latihanku ke dalam tubuhmu, kalau bukan ingin menjadikan dirimu sebagai kelinci percobaan, kenapa aku mesti bersusah payah dengan menahan penderitaan membantu mengobatimu, apalagi kita bukan sanak bukan keluarga"

Thiat Tiong-tong menundukkan kepalanya, tidak berani komentar. Kembali nyonya itu berkata.

"Siapa tahu ketika hawa murniku mengalir ke dalam tubuhmu, ternyata kau tidak menunjukkan reaksi apa pun, dalam herannya akupun menambah kekuatan hawa murniku. Pada saat itulah kau mulai menghisap tenaga dalamku, ketika aku mencoba melawan ternyata kedua jenis tenaga dalam itu berasal dari sumber yang sama, itulah sebabnya hawa murniku langsung melebur menjadi satu dengan tenaga dalammu dan mulai terhisap tanpa bisa dicegah lagi, menanti aku menyadari akan hal ini, mau kutarik balik tenaga dalamku pun sudah tidak mungkin lagi"

"Aaah, rupanya begitu!"

Pikir Thiat Tiong-tong seolah baru menyadarinya.

Selama pembicaraan berlangsung, nyonya itu nampak sangat kelelahan, peluh membasahi hampir seluruh tubuhnya.

Tapi dia tampil lebih gembira, lebih ramah dan santai, dengan napas tersengkal lanjutnya.

"Begitu kehilangan tenaga dalamku, akhirnya akupun menyadari akan semua masalahku, sekarang aku benar-benar amat gembira!"

Perlahan-lahan lanjutnya.

"Sekarang aku baru mengerti, kenapa ilmu sakti ini disebut ilmu sakti baju pengantin. Rupanya yang dimaksudkan adalah membuatkan baju pengantin untuk dikenakan pada orang lain, bila baju pengantin telah selesai dijahit, orang lainlah yang akan mengenakannya, sementara si tukang jahit meski sudah bersusah payah dan merasakan berbagai siksaan dan penderitaan, namun sayang dirinya bukan sang pengantin. Artinya ilmu sakti ini memang khusus dilatih untuk dinikmati orang lain, biarpun sang pelatih penuh penderitaan namun dia pribadi tidak akan menikmatinya. Tidak heran pihak Perguruan Tay ki bun membuang jauh-jauh kepandaian sakti itu"

Semakin mendengar Thiat Tiong-tong merasa semakin tercengang, kini peluh telah membasahi seluruh tubuhnya.

Sinar kegusaran melintas dari balik mata nyonya itu, tapi sejenak kemudian dia sudah berkata lagi sambil tertawa.

"Akupun mengerti sekarang kenapa ilmu tersebut disebut aliran sejati, rupanya arti dari pemahaman itu sendiripun khusus ditujukan bagi orang lain!"

"Tapi.... tapi.... kenapa tenaga sakti itu mendatangkan penderitaan ditubuh hujin sementara setibanya ditubuh boanpwee justru.... justru...."

Nyonya itu menghela napas panjang.

"Mungkin hal ini disebabkan tenaga sakti ini kelewat keras dan kuat"

Katanya.

"tapi setelah melalui pelatihanku selama belasan tahun, ketika menyusup ke dalam tubuhmu maka hawa panasnya telah hilang lenyap, selain itu mungkin juga karena berasal dari aliran yang sama maka tenaga murni itu segera membaur secara alami"

Berbicara sampai disini diapun pejamkan mata tanpa bicara lagi, sementara tempat duduknya telah basah kuyup oleh peluh yang bercucuran makin deras dari tubuhnya.

Thiat Tiong-tong segera menjatuhkan diri bersujud, bisiknya.

"Budi kebaikan yang nyonya berikan benar-benar tidak terhingga, boanpwee... boanpwee tidak tahu bagaimana harus membalasnya...."

Bicara sampai disini dia jadi sesenggukan dan tidak sanggup melanjutkan lagi.

Dia bisa membayangkan betapa sedih dan menyesalnya nyonya itu, terutama ketika secara tiba-tiba menjumpai tenaga dalam yang dilatihnya dengan susah payah selama belasan tahun, berpindah tangan dengan begitu saja ke tubuh orang lain.

Nyonya itu tertawa pedih, ujarnya.

"Dalam peristiwa ini, kau tidak berniat dan akupun tidak sengaja, bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan dirimu, hanya saja.... hanya saja aku nilai ilmu sakti itu benar-benar kelewat kejam dan tidak berperasaan"

"Boanpwee.... boanpwee...."

Thiat Tiong-tong tidak sanggup menahan diri lagi, air mata menetes keluar saking sedihnya. Nyonya itu menghela napas panjang, katanya.

"Semuanya ini karena kehendak Thian.... ilmu tersebut memang milik Perguruan Tay ki bun sementara kaupun murid Tay ki bun, mungkin Thian memang menghendaki Perguruan Tay ki bun bangkit kembali seperti semula hingga mengirimmu datang kemari, coba kalau bukan kejadian ini, biar kau berlatih tiga puluh tahun lagipun belum tentu bisa menuntut balas atas atas dendam kesumatmu"

Thiat Tiong-tong yang mendengar perkataan itu jadi keheranan, pikirnya.

"Kungfu yang dimiliki Suto Siau sekalian tidak terlalu tangguh, kenapa dia bilang biar berlatih tiga puluh tahun lagipun belum tentu bisa menuntut balas?"

Tapi dalam keadaan begini dia tidak ingin berpikir terlalu jauh, sembari bersujud kembali katanya.

"Budi kebaikan hujin tidak akan boanpwee lupakan untuk selamanya, hujin, bila kau tidak memberi kesempatan kepada boanpwee untuk membalas budi kebaikan ini, boanpwee bisa menyesal sepanjang hidup"

"Dalam kejadian ini, tidak ada masalah balas budi atau tidak dan kaupun tidak perlu menyinggungnya lagi, cuma.... bila kau bersedia melakukan berapa pekerjaan bagiku, aku pasti akan sangat berterima kasih!"

"Katakan saja hujin, biar harus terjun ke lautan api pun pasti akan kulaksanakan!"

Nyonyaitu menghela napas panjang, ujarnya.

"Di antara berapa orang gadis anak buah putraku itu ada seorang nona yang buta matanya, selama banyak tahun dialah yang menghantar makanan untukku, aaai, agar bisa mengirim makanan untukku dan tahu kalau aku tidak ingin diketahui orang lain, dengan ikhlas dia telah membutai mata sendiri. Aku harap kau bisa temukan gadis itu dan sampaikan rasa terima kasihku yang tidak terhingga kepadanya"

"Biar harus naik ke langit atau masuk ke bumi pun boanpwee pasti akan mencarinya sampai ketemu"

Nyonya itu termenung berapa saat lamanya, kemudian setelah menghela napas katanya lagi.

"Walaupun putraku tidak berbakti, bagaimanapun akulah yang melahirkan dia, aaai, perseteruanku dengan ayahnya mungkin membuat posisinya terjepit hingga melahirkan sikap semacam itu, sekarang tenaga dalammu jauh melebihi dia, aku berharap kau bisa menjaga keselamatannya, jangan biarkan dia tewas di bunuh orang"

"Boanpwee pasti akan menghormati dia sebagai kakakku dan berusaha mengajaknya melakukan kebajikan"

"Anak baik.... anak baik...."

Nyonya itu tersenyum. Lewat sesaat kemudian kembali ujarnya.

"Bawalah kitab pusaka 'aliran sejati, ilmu sakti baju pengantin' ini dan tolong hadiahkan kepada seseorang"

Berkilat sepasang matanya, sinar penuh kebencian dan rasa dendam. Thiat Tiong-tong merasakan hatinya tercekat, tanyanya tanpa terasa.

"Di.... dihadiahkan kepada siapa?"

Dia tahu, jika kitab pusaka itu dihadiahkan kepada orang lain, maka hal ini ibarat sedang membunuh orang itu, membunuhnya secara keji.

"Hadiahkan kepada seseorang yang pernah kau jumpai, orang yang paling serakah, paling egois, paling kejam dan tidak pernah mau berpikir untuk orang lain"

Sebenarnya Thiat Tiong-tong merasa kuatir bila kitab pusaka itu harus dihadiahkan kepada seseorang yang baik dan bijaksana, dia baru merasa lega setelan mendengar perkataan itu.

"Boanpwee siap melaksanakan!"

Ujarnya sambil menghembuskan napas lega.

Kalau disuruh menyerahkan kitab itu kepada orang baik, Thiat Tiong-tong memang merasa tidak tega, tapi kalau dihadiahkan kepada orang keji yang kemaruk dan egois, dengan senang hati dia akan melaksanakannya.

Kembali nyonya itu berkata.

"Aku telah menyiapkan sepucuk surat yang kuselipkan didalam kitab pusaka itu, ketika kau sudah bertekad akan menyerahkan kitab tersebut kepada seseorang, tidak ada salahnya buka surat itu dan baca dulu isinya"

"Baik!"

"Aaaai.... akhirnya keinginanku kesampaian juga"

Kata sang nyonya sambil menghela napas.

"tapi aku ingin sekali bertemu dengan anak durhakaku itu, bersediakah kau memanggilnya untukku? "Boanpwee segera laksanakan!"

"Tapi jangan biarkan orang ke tiga memasuki sampan ku ini barang selangkah pun"

Kata nyonya itu lagi dengan mata berkilat.

"aku.. aku tidak ingin orang lain menyaksikan keadaanku sekarang!"

Dengan hormat Thiat Tiong-tong menyahut Kembali nyonya itu pejamkan matanya, meski dia kelihatan sangat lelah namun wajahnya justru tampil lebih tenang.

BAB 22 Keunikan di Balik Pukulan Li Lok-yang duduk disudut ruangan sambil mengawasi seluruh ruangan, dia saksikan Sui Lengkong masih bersandar dipelukan perempuan bercadar itu, bukan saja posisi tubuhnya sama sekali tidak berubah, bahkan sepasang matanya sama sekali tidak berkedip.

Gerakan tubuh Coh Sam-nio masih seperti seutas benang perak yang bergerak cepat kesana kemari, biarpun lelaki raksasa itu tidak sanggup menyusulnya, tapi gerakan tubuhnya sama sekali tidak mengendor kendatipun sudah ratusan kali dia mengitari ruangan itu sambil mengayunkan kapak raksasanya, tubuhnya masih tegar bagaikan baja, seakan-akan dia tidak pernah mengenal arti dari kelelahan.

Pertarungan antara Hong Lo-su melawan manusia aneh itu kembali berlangsung empat, lima puluh gebrakan.

Sambil tertawa aneh Hong Lo-su pun berseru.

"Dua puluh jurus, yaa, dua puluh jurus lagi sudah cukup!"

"Baik, aku akan menghitungnya untukmu"

Kata Coh Sam-nio sambil tertawa.

"satu, dua.... aaah, jurus siang hong jiu (sepasang puncak tangan)mu sangat bagus.... empat, ehmm, hampir sudah...."

Biarpun sedang menghitung, perempuan itu sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, semakin lambat gerak serangan dari manusia aneh itu, paras mukanya pun ikut makin serius.

"Sebelas.... dua belas.... aaah, celaka, dua puluh jurus masih tidak cukup. Hey Hong Lo-su, bagaimana kalau kubantu dengan satu jurus serangan!"

Kebetulan waktu itu tubuhnya sedang bergerak lewat dari sisi manusia aneh itu, tangan kirinya segera dikebaskan, ke lima ujung jari tangannya yang runcing langsung mengancam tubuh lawan.

Tampak ibu jari dan jari telunjuknya ditekuk membentuk satu lingkaran, sementara jari tengah, jari manis dan kelingkingnya setengah dipentang, mengancam tiga buah jalan darah penting dibawah iga musuh.

Pada saat yang bersamaan Hong Lo-su dengan kelima jari tangannya yang mirip cakar burung mencengkeram ke arah dada lawan.

Manusia aneh itu sadar, seandainya dia sampai dicengkeram ke lima jari tangan itu, niscaya dadanya akan berlubang tembus sampai ke tulang, apalagi jika terkena sambaran tiga jari tangan Coh Sam nio, dapat dipastikan dia akan terluka parah.

Di saat yang kritis itulah tiba-tiba terlihat dia menarik tubuhnya ke belakang, tidak jelas bagaimana caranya, tahu-tahu jubah lebarnya itulah dilepas dari tubuh dan dikebaskan ke muka bagaikan selapis awan mendung yang menyelimuti angkasa.

Biarpun pun hanya sebuah baju blacu, namun ditangannya benda itu sudah berubah menjadi sebuah senjata yang dipenuhi tenaga dalam.

Hong Lo-su tidak berani bertindak gegabah, segera membentak.

"Jurus bagus!"

Sambil membalikkan tubuh, dia menyingkir ke samping.

"Ternyata hebat juga!"

Seru Coh Sam-nio pula sambil tertawa, sambil memutar pinggang kembali pergelangan tangannya digetarkan, jari tengah, jari manis dan kelingkingnya ditarik balik sementara ibu jarinya mendadak berganti arah dan cepat menyentil keluar.

Sekalipun jari tangannya tidak pernah menyentuh tubuh manusia aneh itu, tapi....

"Wessss!"

Ternyata muncul segulung hawa murni dari ujung jarinya langsung mengancam jalan darah thay yang hiat di atas kening lawan.

Manusia aneh itu bergetar keras, bahunya terasa dingin, rupanya angin serangan itu menimbulkan sebuah mulut luka yang memanjang, darah segar bercucuran dari luka itu.

"Haaaah.... Sian thian ceng khie!"

Pekiknya terperanjat.

"Benar sekali, rupanya kau mengerti juga kwalitas barang!"

Jengek Coh Sam-nio sambil tertawa, waktu itu tubuh lawannya lagi-lagi sudah ngeloyor pergi.

Mendadak terasa segulung angin kencang bagaikan bukit thay-san menindih kepala langsung menghantam kepala manusia aneh itu, rupanya si lelaki raksasa itu telah menghadang jalan lewatnya sambil menghadiahkan sebuah bacokan.

Merasa betapa dahsyatnya bacokan tersebut, manusia aneh itu tidak berani menyambut keras melawan keras, cepat dia mengegos ke samping.

"Hey, jangan lupa masih ada aku!"

Mendadak terdengar suara tertawa menyeramkan berkumandang dari belakang, ternyata Hong Lo-su telah menyusup tiba sambil melepaskan satu pukulan.

Dalam posisi demikian, seandainya dia ingin menghindari serangan tersebut maka tubuhnya akan terjerumus dalam bacokan maut kapak raksasa itu, posisi yang demikian gawat seketika membuat hati semua orang tercekat.

Manusia aneh itu tidak jadi kalut menghadapi kejadian tersebut, tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia lepaskan sebuah tendangan ke depan sementara jubah ditangannya langsung menggulung ke atas senjata kapak lawan.

Dengan kelembutan jubah itu dia hadapi sifat keras senjata kapak lawan, ternyata lilitannya berhasil mengunci gerakan senjata itu.

Dengan geram lelaki raksasa itu berusaha membetot balik senjatanya, namun gagal.

Jubah itu sudah terbetot hingga lurus menegang, tiba-tiba tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, jubah itu seketika terbelah jadi dua, baik lelaki raksasa itu maupun si manusia aneh sama-sama terhuyung mundur satu langkah.

Hong Lo-su yang baru saja lolos dari tendangan maut manusia aneh itu segera melihat datangnya peluang bagus, begitu menjumpai tubuh lawan terhuyung mundur, sambil menyeringai seram dia membentak.

"Inilah jurus ke sembilan belas!"

Sepasang kepalannya di ayunkan berbareng kedepan.

Tatkala melihat manusia aneh itu lagi-lagi terancam pukulan maut, di antara kawanan jago yang hadir ada yang bersorak girang, ada yang menjerit kaget, ada pula yang segera pejamkan matanya, tidak tega untuk menyaksikan lebih jauh.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara pekikan keras bergema bagaikan suara guntur.

"Hong Lo-su, kau berani!"

Seorang pemuda berbaju hitam telah munculdari balik tirai hitam, siapa lagi orang ini kalau bukan Thiat Tiong-tong?

Biarpun Hong Lo-su tidak takut langit tidak takut bumi, tidak urung wajahnya berubah juga, kepalan tangannya yang hampir menyentuh tubuh manusia aneh itu segera ditarik balik lagi.

Jeritan kaget kembali bergema diseluruh ruangan, ada yang berteriak girang, ada pula yang mengeluh kecewa, yang sedang berdiri seketika terduduk saking kagetnya sementara yang sedang duduk bersentak berdiri saking terperanjatnya.

"Kau belum mati...."

Jerit mereka hampir berbareng.

"Aaah, kau belum mati!"

Teriak Sui Leng-kong pula kegirangan.

Tapi saking kegirangannya, belum sempat nona itu berdiri tegak, lagi-lagi tubuhnya roboh lemas, ternyata dia kembali jatuh pingsan.

Di antara sekian jago yang hadir disitu, hanya Coh Sam-nio seorang yang tidak berani menghentikan gerakan tubuhnya, sebab si lelaki raksasa dengan kapak mautnya masih mengejar ketat di belakangnya.

Si kapak sakti ini hanya tahu melaksanakan perintah Hong Lo-su, kecuali titah darinya, perkataan siapa pun tidak akan dia gubris.

Thiat Tiong-tong berjalan menuju ke tengah ruangan dengan langkah lebar, sikapnya amat santai seolah tidak pernah terjadi sesuatu, bukan saja tidak nampak bekas terluka malahan sinar wajahnya kelihatan jauh lebih cerah dan bercahaya.

"Hey anak muda, bukankah kau sudah terhajar pukulan maut dari Kapak sakti? Kenapa masih bisa muncul dengan langkah lebar?"

Teriak Hong Lo-su sambil mengucak matanya.

"boleh tahu apa alasannya?"

Kemudian sambil memberi tanda, hardiknya.

"Hey raksasa, hentikan ulahmu!"

Kapak sakti segera menyahut dan menghentikan langkahnya. Thiat Tiong-tong tidak menanggapi pertanyaan itu, sebaliknya dia balik menegur.

"Paman Sim adalah seorang enghiong hohan, Kenapa kau buat dia seperti patung, apa yang terjadi? Cepatjelaskan!"

"Kurangajar amat kau si bocah busuk"

Hong Lo su tertawa seram.

"Hong toaya sedang bertanya kepadamu, semestinya jawab dulu dengan sopan, kini malah berani badik bertanya!"

"Hmmm, jika hari ini kau mau mengaku terus terang apa yang telah kau lakukan terhadap paman Sim kemudian memulihkan kembali kesadarannya, mungkin urusan akan kusudahi sampai disini, jika tidak, hmmm! Hmmm!"

Mendengar ucapan anak muda itu, Coh Sam-nio segera berteriak sambil bertepuk tangan.

"Hahahaha.... banyak amat kejadian aneh ditahun ini, ternyata ada juga anak muda yang berani bicara macam begitu terhadap Hong Lo-su, hebat, hebat sekali!"

"Kalau tidak kenapa?"

Terdengar Hong Lo-su meraung gusar.

"Kalau tidak, akan kuberi pertunjukkan menarik untukmu!"

Ancam Thiat Tiong-tong, lalu sambil berpaling ke arah Coh Sam-nio tambahnya.

"hey kau, jika nona Sui tidak segera kau kembalikan kepadaku, hmmm! Tunggu saja bagianmu!"

Diam-diam para jago mengusap keringat dingin, luapan pemuda itu sama artinya sudah bosan hidup, bahkan manusia aneh itu pun diam-diam ikut mengguatirkan keselamatannya, dia bersiap turun tangan menolong.

Siapa tahu Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio hanya saling bertukar pandangan sekejap, bukan saja tidak gusar, gejala naik darah pun tidak kelihatan.

Rupanya kedua orang ini adalah manusia manusia licik yang banyak pengalaman, mereka sudah keheranan ketika tahu Thiat Tiong-tong tidak mampus, kecurigaannya makin tebal setelah melihat kepongahan yang ditunjukkan pemuda itu, mereka tahu pemuda itu berani bersikap garang karena punya backing yang kuat, sedang backingnya justru merupakan orang yang paling mereka takuti.

Tanpa terasa sorot mata mereka berulang kali melirik ke balik tirai hitam, ketika tidak menjumpai sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan, kedua orang itu makin tercengang dibuatnya.

Akhirnya Coh Sam-nio tidak dapat menahan diri, segera menegur.

"Bocah busuk ini kelewat tidak tahu adat, Hong Lo-su, lebih baik berilah sedikit pelajaran kepadanya!"

"Hahahaha...."

Hong Lo-su tertawa tergelak.

"selama ada Sam-nio disini, mana berani siaute bertindak lancang"

Dengan suara lantang kembali Thiat Tiong-tong berseru.

"Pertanyaan yang kuajukan kepada kalian berdua lebih baik segera dijawab dan dilaksanakan, kalau tidak, jangan salahkan aku tidak sungkan lagi!"

Alis matanya mulai berkerenyit menunjukkan muka gusar, tampangnya kelihatan angker menakutkan.

Li Kiam-pek merasa kagum bercampur terkesan menyaksikan hal itu, kalau bisa diapun ingin turut menunjukkan kebolehannya.

Sementara Hek Seng-thian sekalian meski licik dan banyak akal, namun sejak berulang kali dipermainkan pemuda itu, mereka sudah membencinya hingga merasuk tulang, melihat lagaknya sekarang, mereka masih mengira pemuda itu sedang membuat tipu muslihat.

Diam-diam Suto Siau menarik tangan Hek Seng-ihian sambil bisiknya.

"Kelihatannya Hong locianpwee belum tahu seluk beluk pemuda bangsat itu hingga kena gertak, padahal kita tahu dengan jelas sampai dimana kemampuan kungfu bajingan itu"

"Betul"

Hek Seng-thian mengiakan.

"sudah berulang kali bajingan itu menipu kita, kali ini kita tidak boleh sampai tertipu lagi. Saudara Suto, kau yang akan maju duluan atau aku?"

Belum sempat Suto Siau menjawab, terdengar Neng Toa-nio telah berseru duluan.

"Hong locianpwee, jika kau tidak sudi bertarung melawan monyet itu, biar aku saja yang memberi pelajaran kepadanya, agar dia tahu apa artinya menghormati angkatan tua!"

Ternyata sejak tadi dia sudah merasa mendongkol bercampur gusar terhadap Thiat Tiong-tong.

Melihat ada yang mau menggantikan posisi mereka, tentu saja Hong Lo-su serta Coh Sam-nio jadi kegirangan setengah mati, serentak mereka menyahut.

"Bagus sekali!"

Sambil menghentakkan toyanya Seng Toa-nio melompat maju ke depan, Seng Cun-hau yang membuntuti dari belakangnya buru-buru berseru.

"Ibu, biarlah ananda saja yang maju!"

Kuatir ibunya menghadapi mara bahaya, cepat dia mendahului ibunya. Siapa tahu Seng Toa-nio memang ibarat jahe, makin tua makin pedas, teriaknya.

"Tidak, kali ini kau jangan ikut campur!"

Lagi-lagi dia menerobos maju mendahului putranya, dengan toya disilangkan di depan dada tantangnya.

"Ayoh maju!"

Seng Cun-hau panik bercampur cemas, sambil menengok ke arah Thiat Tiong-tong pintanya.

"Thiat-heng...."

Biarpun dia tidak melanjutkan kata-katanya, namun kerdipan matanya sudah mengartikan kalau dia minta Thiat Tiong-tong mengampuni ibunya.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, diapun mengangguk.

"Ayoh maju, apa lagi yang kau tunggu?"

Terdengar Coh Sam-nio berteriak keras.

"Tidak usah menunggu!"

Jawab Seng Toa-nio sambil mengayunkan toyanya melancarkan satu sapuan.

Jangan dilihat dia sudah tua, ternyata tenaganya sama sekali tidak tua, ketika toyanya menyapu keluar, lamat-lamat terdengar suara gemuruh angin dan guntur yang kencang.

Secara beruntun Thiat Tiong-tong mengalah sebanyak tiga jurus, sambil menghela napas pikirnya.

"Memandang wajah anakmu, biarlah hari ini kuampuni nyawa mu satu kali!"

Secara sembarangan diapun balas melancarkan berapa buah pukulan.

Bila dibandingkan dulu, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari semula, biarpun berapa buah pukulan itu dilancarkan sekenanya namun terasa kalau kekuatan pukulannya jauh diatas kemampuannya dulu.

"Bangsat, rupanya kepandaianmu maju pesat!"

Bentak Seng Toa-nio keras.

Dia tidak tahu kalau tenaga dalam Thiat Tiong-long sudah mencapai tingkatan yang menakutkan, maka dia sama sekali tidak jeri, kembali toyanya dihantamkan keatas kepala lawan.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membalik tangannya sambil mencengkeram, belum sempat semua orang melihat jurus apa yang dia gunakan, tahu-tahu ujung toya Seng Toa-nio telah ditangkapnya kuat-kuat.

Hanya manusia aneh itu yang tahu, jurus itu tidak lain adalah jurus silat yang tertera diatas dinding.

Dalam waktu singkat Seng Toa-nio merasakan segulung tenaga yang sangat kuat merembes masuk melalui toyanya, sadar kalau dia tidak akan mampu melawan kekuatan tersebut dengan perasaan kaget dia siap melepaskan senjata andalannya.

Siapa tahu pada saat yang bersamaan Thiat Tiong-tong mengendorkan juga tangannya, hanya saja sisa kekuatan yang berada dalam toya itu belum hilang sama sekali, Seng Toa-nio merasakan pergelangan tangannya sakit sekali, tidak ampun senjata toya itu segera terlepas dan jatuh ke tanah.

"Kenapa Seng Toa-nio?"

Ejek Thiat Tiong-tong sambil tersenyum.

"tiba-tiba kejang otot?"

Biarpun Seng Toa-nio makin tua rasa ingin menangnya makin menjadi, namun dia cukup pandai membaca situasi, sadar kalau kemampuan-nya mustahil bisa menghadapi lawan, cepat dia manfaatkan kesempatan itu untuk mengundurkan diri.

Sengaja gumamnya berulang kali.

"Aaai, sudah tua, sudah tua.... sudah tidak berguna lagi...."

Kemudian sambil memungut kembali toyanya kembali dia berkata.

"Bagaimana? Mau diteruskan lagi pertarungan nya?"

Satu pertanyaan yang mencerminkan keraguan hatinya, menunjuk kan ketidak yakinan dirinya, andaikata dia benar-benar mau bertarung terus, buat apa mesti mengajukan pertanyaan semacam itu?

Buru-buru Seng Cun-hau maju melerai sambil membujuk.

"Ibu, lebih baik kau beristirahat dulu!"

Tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Thiat Tiong-tong dengan senyum terima kasih.

Thiat Tiong-tong membalas dengan senyuman pula, biar tidak berkata-kata namun senyuman itu sudah menunjukkan perasaan kagum masing-masing orang kepada lawannya.

Suto Siau sekalian walaupun termasuk orang licik dan banyak akal, agaknya mereka belum tahu kalau Seng Toa-nio sudah menderita kerugian, sebab sampai matipun mereka tidak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki Thiat Tiong-tong sudah mencapai puncak kesempurnaan.

"Biar aku orang she-Hek beri pelajaran yang setimpal kepada bangsat ini"

Teriak Hek Seng-thian lantang.

Waktu itu Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio sedang merasa sangsi, sebab mereka belum bisa melihat ampuh tidaknya kepandaian silat yang dimiliki Thiat Tiong-tong, mendengar ucapan tersebut segera serunya dengan girang.

"Bagus, cepat kasih pelajaran kepadanya!"

"Thiat Tiong-tong"

Seru Hek Seng-thian kemudian.

"kendatipun kau licik dan banyak akal, kali ini akan kuhadapi dirimu dengan bersungguh hati, akan kulihat permainan busuk apa lagi yang bisa kau lakukan!"

Thiat Tiong-tong segera merasakan semangatnya bangkit kembali, pikirnya.

"Bila arwah leluhur perguruan mengetahui, saksikanlah muridmu akan membantai musuh besar pertama perguruan kita ini!"

Sambil berpikir dia maju selangkah, bentaknya dengan suara berat.

"Kalau pingin menghantar kematianmu, ayohlah cepat turun tangan!"

Tampak Hek Seng-thian mulai melangkah maju kedepan, biarpun wajahnya masih memperlihatkan perasaan bangga namun langkahnya berat dan sangat berhati-hati.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Thiat Tiang tong, sambil mengendalikan hawa amarah yang membara di dadanya, dia berpikir.

"Aaah keliru besar, saat ini suhu maupun susiok tidak hadir disini, bila aku langsung membunuhnya, tentu kelewat enak buat bajingan ini, ke dua tidak akan melampiaskan rasa benci dan dendam suhu serta susiok terhadapnya, lagipula aku tidak boleh "menggebuk rumput mengejutkan ular', jadi merangsang Suto Siau sekalian untuk merancang siasat busuk lain"

Melihat perubahan wajah anak muda itu, Hek Seng thian sangka lawannya takut kepadanya, semangat dan keberaniannya kontan meningkat, sambil tertawa terbahak katanya.

"Kalau aku mengalah tiga jurus, belum tentu kau bersedia menerimanya, lihat serangan!"

Jurus serangannya sungguh amat cepat, begitu dilancarkan, dalam waktu singkat dia telah melepaskan dua jurus serangan berantai. Hmm, biar aku saja yang mengalah tiga jurus untukmu"

Jengek Thiat Tiong-tong dingin.

Betul saja, dia sama sekali tidak membalas, secara beruntun pemuda itu menghindarkan diri dari ke tiga jurus serangan lawan.

Sebagaimana diketahui dia telah berlatih tekun mempelajari jurus serangan yang tertera diatas dinding ruangan, selama tujuh hari, kemajuan dan manfaat yang diraihnya boleh dibilang luar biasa, jurus yang tertera diatas dinding itu kebanyakan berupa jurus bertahan dan jurus menghindar, itulah sebabnya tidak sulit bagi Thiat Tiong-tong untuk menghindari ke tiga jurus serangan lawan.

Padahal serangan dari Hek Seng-thian amat cepat dan ganas, sayangnya jangan lagi melukai lawan, menyentuh ujung bajunya pun tidak mampu.

Bagi Hong Lo-su sekalian yang berilmu tinggi, gerakan itu masih tidak seberapa.

Berbeda dengan Suto Siau sekalian, diam-diam mereka terkesiap dibuatnya, terlebih bagi Li Kiam-pek, tidak tahan dia berseru memuji.

Cukup banyak pengalaman Hek Seng-thian dalam menghadapi pelbagai pertarungan, meski saat ini dia merasa terperanjat namun tidak membuatnya panik, cepat telapak tangannya dibalik kemudian serangkaian serangan dahsyat kembali dilontarkan.

Thiat Tiong-tong memang berniat menggunakan lawannya itu sebagai pasangan berlatih, khususnya mempraktekkan ilmu silat yang berhasil dipelajari dari dinding ruangan, semua gerakan mengunci, membendung, menghindar, melejit nyaris dikeluarkan semua, selama pertarungan berlangsung boleh dibilang dia hanya bertahan sambil menghindar, tidak setengah jurus serangan pun yang dilancarkan.

Sebagaimana diketahui, jurus silat itu khusus dirancang untuk menghadapi barisan tujuh dewi yang tangguh, dengan sendirinya sangat berlebihan ketika menghadapi Hek Seng-thian.

Puluhan gebrakan kemudian tampak serangan yang dilancarkan Hek Seng-thian makin lama makin bertambah cepat, peluh pun mulai bercucuran membasahi jidatnya, kelihatan sekali kalau dia mulai gugup bercampur panik menghadapi gerakan labuh lawan yang aneh.

Tiba-tiba terdengar Suto Siau berseru keras.

"Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu selalu turun tangan bersama, sekalipun menghadapi musuh dalam jumlah yang lebih banyak pun tidak pernah mengubah kebiasaan. Hari ini tidak seharusnya Hek tayhiap maju seorang diri, bukan begitu Pekji-te?"

Walaupun perkataan itu ditujukan kepada Pek Seng bu, namun karena suaranya lantang, boleh dihilang hampir semua yang hadir ikut mendengarnya, jelas dia bermaksud mengambil kesempatan bagi Pek Seng-bu untuk turun tangan.

Tidak menunggu sampai ucapan itu selesai diutarakan, Pek Seng-bu sudah melompat maju sambil berseru.

"Tepat sekali perkataan itu"

Dengan sekali lompatan dia sudah terjun ke arena pertarungan dan melepaskan pukulan maut. Kembali Suto Siau berkata sambil tertawa.

"Sayang ditempat dan saat seperti ini sulit bagi bocah keparat itu mencari bantuan, padahal semakin banyak yang terlibat pertarungan, kehebatan kungfu dua bintang putih dan hitam baru nampak kehebatannya!"

Dia tahu, dengan posisi manusia aneh itu mustahil baginya untuk melibatkan diri dalam pertarungan ini, Li Lok-yang sebagai jagoan yang sangat hati-hati tidak mungkin akan terlibat pula di dalam air keruh, oleh sebab itu perkataan tersebut tampaknya sengaja tertuju pada Li Kiam-pek seorang.

Benar saja, kelihatannya Li Kiam-pek memang ada niat untuk melibatkan diri dalam pertarungan itu, namun setelah mengamati berapa saat, kembali dia mengurungkan niatnya.

Tampak olehnya meski dikerubuti dua jagoan tangguh, namun Thiat Tiong-tong masih dapat bertahan dengan santainya, bukan saja tidak melancarkan serangan balasan, bahkan dia seolah sedang mempermainkan ke dua orang lawannya itu.

Kenyataan ini bukan saja membuat Li Kiam-pek keheranan, kawanan jago lain pun mulai tercengang dibuatnya.

Sebagaimana diketahui, kerja sama antara Hek Seng-thian dengan Pek Seng-bu boleh dibilang sangat hebat dan serasi, bukan saja jurus serangan mereka saling mengisi bahkan manusia macam Liong bun ngo pa (lima manusia bengis dari pintu naga) yang begitu hebatpun keok ditangan mereka, apa yang dikatakan Suto Siau memang bukan bualan saja.

Tapi kenyataannya sekarang, Thiat Tiong-tong, seorang pemuda tidak ternama, bukan saja mampu menghadapi serangan mereka berdua bahkan sama sekali tidak melacarkan serangan balasan, sampai setua ini belum pernah Suto Siau sekalian menyaksikan ketangguhan ilmu silat semacam ini, tidak heran bila mereka mulai terperangah dan melongo dibuatnya.

Diam-diam Suto Siau berpikir.

"Jarang ada jagoan yang peroleh kemajuan pesat dalam waktu sedemikian singkat, bila hari ini tidak berusaha melenyapkannya, berapa lama kemudian kami semua pasti akan dibikin kerepotan!"

Berpikir begitu, tiba-tiba teriaknya keras.

"Lima rejeki (ngo-hok) selalu bersekutu dan mati hidup bersama, aku Suto Siau tidak bisa membiarkan dua saudaraku bertarung sendirian..."

Meskipun perkataan itu seolah sedang bergumam seorang diri, dalam kenyataan memang sengaja ditujukan kepada semua orang. Kontan Li Kiam-pek mengumpat dengan gusar.

"Oooh... sampai disitukah kehebatan Ngo hok beng (persekutuan lima rejeki), rupanya kalian tidak lebih hanya kelompok yang mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak"

Suto Siau berlagak seolah tidak mendengar, sambil melompat maju teriaknya keras.

"Hek toako, Pek jiko, beristiralaht dulu kalian berdua, biar siaute yang kasih pelajaran kepada bangsat ini!"

Dia tahu Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu tidak bakalan mundur dari arena pertarungan, maka sambil berteriak dia pun melepaskan berapa jurus serangan ke arah Thiat Tiong-tong.

Betul saja, baik Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu tidak ada yang berniat mundur, sebaliknya jurus serangan yang dilancarkan malah jauh lebih gencar dan ganas.

"Huuh, jagoan macam apaan itu!"

Teriak Li Kiam-pek gusar. Sambil menggulung bajunya dia siap terjun kearena, tapi segera dicegah oleh Li Lok-yang sambil berbisik.

"Kita saksikan dulu kebolehannya, andaikata tidak sanggup, belum terlambat untuk menolongnya"

Menanti Li Kiam-pek menengok kembali ke arena, terlihat olehnya meski sudah ketambahan satu orang ternyata situasi pertarungan sama sekali tidak berubah.

Kalau semula Thiat Tiong-tong harus berjongkok sambil berkelit ke sana kemari sebelum lolos dari ancaman lawan, mana sekarang langkah kakinya bertambah kacau, dia seakan-akan sempoyongan kesana-kemari, gerakannya makin lemas tidak bertenaga, macam orang yang mengidap penyakit parah, tapi anehnya betapapun dahsyat dan hebatnya serangan lawan, asal dia menggerakkan tubuhnya, semua ancaman hilang lenyap seketika.

Terkadang pihak lawan tiga orang dengan enam kepalan melancarkan serangan berbareng, pukulan dari enam buah tangan yang tampaknya segera akan mengenai sasaran dan mustahil dihindari lagi itu, hanya dengan satu geseran kaki saja, semua ancaman terhindar dengan begitu saja.

Dengan mata terbelalak saking kagetnya gumam Li Kiam-pek.

"Ilmu pukulan apaan ini?"

"Itulah Ping wi mo ciang (ilmu pukulan penyakitan)!"

"Apa.... apa yang disebut Ping wi mo ciang?"

"Salah satu ilmu pukulan yang tertera diatas dinding"

Li Kiam-pek terbelalak tidak habis mengerti, sementara Coh Sam-nio, Hong Lo-su maupun perempuan bercadar sekalian tanpa terasa berpaling dan mengawasi sekejap gerakan jurus yang tertera diatas dinding.

Tapi beberapa orang itu hanya memperhatikan berapa kejap kemudian bersama-sama berpaling lagi ke arah lain.

Sambil tertawa dingin manusia aneh itu segera mengejek.

"Aku tahu kalian adalah jago-jago ternama yang tinggi statusnya, sekalipun mukanya cukup tebal pun tidak bakalan mencuri belajar ilmu pukulanku itu, kalau bukan begitu, masa akan kukatakan secara terbuka!"

"Kau memang sangat cerdik"

Ucap Coh Sam-nio sambil tertawa.

"Betul"

Hong Lo-su menimpali.

"aku toh tidak ingin menderita sakit, buat apa mesti mempelajari ilmu penyakitan!"

"Hahahaha.... kau ngerti apa"

Seru manusia aneh itu sambil tertawa tergelak.

"padahal ilmu penyakitan ini diambil dari...."

Mendadak dia tersentak kaget, sadar kalau ucapan Hong Lo-su bermaksud menjebaknya agar menerangkan lebih banyak tentang ilmu pukulan itu, seketika dia membungkam diri.

Tidak wajar bagi seseorang dengan ilmu silat dan status seperti Hong Lo-su untuk mengucapkan perkataan yang tidak berbobot macam begitu.

Kali ini Hong Lo-su yang tertawa tergelak.

"Hahahaha.... rupanya kau cerdik sekali!"

Pujinya.

Ternyata ilmu pukulan penyakitan ini mengambil makna dari perkataan yang berbunyi 'bidadari langit menyebar bunga, tiada sentuhan yang meninggalkan noda", artinya gerakan dari jurus serangan itu mirip hujan bunga yang datang dari langit, tapi jangan harap ada sekuntum kelopak bunga pun yang bisa menyentuhnya.

Ilmu penyakitan merupakan ilmu tandingan dari barisan bidadari, kelebihan dari ilmu pukulan itu adalah mengandalkan jumlah yang sedikit untuk mengendalikan yang banyak, dengan ketenangan mengatasi gerakan, biarpun harus menghadapi kerubutan musuh seorang diri, ketangguhannya justru semakin berkembang.

Thiat Tiong-tong telah mempelajarinya secara tekun selama tujuh hari, boleh dibilang seluruh inti sari dari ilmu pukulan itu sudah diingatnya tanpa disadari, yang tersisa sekarang hanya membiasakan diri dalam perubahan setiap gerakan.

Andaikata sejak awal Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan Suto Siau turun tangan berbareng, Thiat Tiong-tong yang belum terlalu hapal menggunakan jurus serangan itu niscaya akan menderita kekalahan total.

Tapi pada awal pertarungan justru hanya Hek Seng-thian seorang yang turun tangan, hal ini sama artinya memberi pasangan berlatih bagi Thiat Tiong-tong untuk membiasakan diri dengan gerak serangan barunya.

Menanti Thiat Tiong-tong sudah mulai terbiasa dengan jurus barunya, lagi lagi muncul Pek Seng-bu yang menjadi sasaran latihannya.

Menanti Suto Siau terjun ke arena pertempuran, bukan saja Thiat Tiong-tong sudah mampu menahan serangan ke tiga orang itu, bahkan diapun telah berhasil memahami banyak inti perubahan dari jurus serangan barunya dan menggunakan rahasia ilmu penyakitan itu dengan sebaik-baiknya.

Maka gerakan tubuhnya dari berkelit kian kemari pun berubah menjadi berdiri tenang, sekalipun begitu, semua serangan lawan tidak satu pun yang mampu menyentuhnya.

Setelah menyaksikan berapa saat, terdengar Hong Lo-su berkata sambil tertawa dingin.

"Benar, ilmu pukulan ini memang agak aneh, tapi aku rasa hanya bocah bodoh yang cocok mempelajari ilmu pukulan semacam ini"

Bertarung melawan orang hanya mengandalkan pertahanan tanpa menyerang, bagaimana mungkin bisa meraih kemenangan? Tampaknya itulah yang dimaksud Hong Lo-su. Manusia aneh itu segera tertawa, sahutnya.

"Sabar dulu, tunggu saja saat pertunjukan!"

Belum selesai dia berseru, terdengar Suto Siau kembali berteriak.

"Seng Toa-nio, keponakan Seng, memangnya kedatangan kalian berdua hari ini hanya untuk menonton keramaian?"

Baru saja Seng Cun-hau hendak menampik dengan berdalih 'mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak bukan watakku', siapa tahu Seng Toa-nio telah melompat maju duluan.

Rupanya sejak menderita kerugian tadi, Seng Toa-nio selalu merasa jengkel bercampur gusar, ketika mendengar teriakan tadi diapun berpikir.

"Dengan empat melawan satu, masa tidak mampu menjagal bocah busuk itu!"

Maka sambil mengayunkan toyanya, dia langsung menghantam batok kepala Thiat Tiong-tong.

Menanti Seng Cun-hau berusaha mencegah, keadaan sudah terlambat.

Terdengar Suto Siau kembali berseru sambil tertawa.

"Seng Toa-nio, kau khusus menyerang dari jarak jauh sementara kami akan menyerang dari jarak dekat, kita kepung dia dari kiri, kanan, atas, bawah, jauh dan dekat, saksikan saja nanti mau kabur ke mana lagi bocah keparat ini!"

Ke empat orang itu segera merasakan semangatnya bangkit kembali, bentaknya hampir berbareng.

"Mau kabur kemana kau!"

Perlu diketahui, ke empat orang itu merupakan tokoh tokoh kenamaan didalam dunia persilatan, tindakan main keroyoknya sudah terhitung perbuatan yang sangat memalukan, andaikata kerubutan itu gagal merobohkan Thiat Tiong-tong, jelas kejadian itu akan semakin menghancurkan reputasi mereka semua.

itulah sebabnya ke empat orang ini bertekad untuk membinasakan Thiat Tiong-tong secepatnya untuk selamatkan reputasi sendiri, tidak heran kalau serangan yang dilancarkan pun terhitung jurus jurus ganas dan telengas yang sangat mematikan.

Dengan satu langkah sempoyongan tubuh Thiat Tiong-tong seolah jatuh terjerembab ke tanah, tapi begitu pukulan dan sambaran toya lawan menyambar lewat dari tubuhnya, mendadak dia sapu tubuh Hek Seng-thian dengan tangan kirinya, menyusul kemudian mengunci jurus serangan dari Pek Seng-bu, sementara telapak kanannya menahan toya Seng Toanio dengan satu dorongan ke atas, satu dorongan lemah yang seolah-olah tanpa disertai tenaga.

Namun begitu terkena dorongan lemah itu, toya Seng Toa-nio langsung berganti sasaran dan menghantam ke arah Suto Siau serta Hek Seng-thian.

Tenaga serangan dari toya itu pada dasarnya sudah sangat kuat, ketika ditambah dengan tenaga dorongan dari Thiat Tiong-tong kali ini, kekuatannya jadi sangat mengerikan.

Suto Siau dan Hek Seng-thian tahu kehebatan serangan itu, mereka tidak berani menerima dengan kekerasan, tergopoh-gopoh ke dua orang itu melompat mundur hampir tujuh meter jauhnya.

"Hei, apa apaan kau ini!"

Umpat Hek Seng-thian gusar.

Merah padam selembar wajah Seng Toa-nio, untuk sesaat dia tidak mampu berkata-kata.

Suto Siau sadar, serangan itu bukan timbul atas kemauan Seng Toa-nio pribadi, cepat tukasnya.

"Sudah, jangan banyak bicara, ayoh kita serang lagi"

Kini mereka bertiga semakin membenci Thiat Tiong-tong, dengan garang kawanan jago itu kembali meluruk maju melakukan pengerubutan. Sambil tertawa tergelak manusia aneh itu berseru.

"Hahahaha.... sudah tahu bukan sekarang, inilah kehebatan dari taktik dengan sedikit mengungguli banyak, dengan bertahan mematahkan serangan. Siapa bilang ilmu pukulan ini tidak bisa meraih kemenangan?"

Tampaknya diapun sudah meniru cara Suto Siau, walaupun perkataan tersebut seolah sedang mengejek Hong Lo-su, padahal dia sedang memberi petunjuk kepada Thiat Tiong-tong.

Pada dasarnya pemuda itu memang cerdas dan punya daya tangkap yang mengagumkan, begitu mendengar ucapan tersebut, dia segera memahami maksudnya.

Saat itu Pek Seng-bu dengan jurus Tok coa sin hiat (ular beracun mencari liang) sedang menyerang tiba, Thiat Tiong-tong segera membalik tangan kirinya sambil melepaskan serangan balasan, ketika tenaga dalamnya disalurkan, gerak serangan dari Pek Seng-bu tanpa disadari berbelok sasaran dan secara kebetulan menghadang ancaman toya dari Seng Toa-nio.

Dengan perasaan kaget kedua orang itu cepat buyarkan serangannya, kebetulan tangan kiri Thiat Tiong-tong sudah menempel diujung toya Seng Toa-nio, begitu dihisap sambil mendorong, toya maut dari Seng Toa-nio itu langsung menyapu ke tubuh Suto Siau.

Pada saat yang bersamaan tangan kanan Thiat Tiong-tong berhasil juga menggiring pukulan dari Hek Seng-thian untuk menghantam tubuh Suto Siau.

Ketika Suto Siau melihat ayunan toya Seng Toa-nio serta pukulan Hek Seng-thian ternyata ditujukan ke tubuhnya, dalam kaget dan ngerinya tanpa berpikir panjang lagi dengan jurus Ya be hun cong (kuda liar merentangkan bulu) dia balas menggempur ke dua orang rekannya.

"Blaaamm!"

Diiringi benturan keras Suto Siau telah saling beradu pukulan dengan Hek Seng-thian hingga masing-masing mundur berapa langkah, Seng Toa-nio sendiri mesti tergopoh-gopoh menarik kembali serangannya, tidak urung ujung senjata itu menyapu juga diatas bahu Suto Siau.

Sapuan itu cukup dahsyat, akibatnya Suto Siau menjerit kesakitan, tubuhnya roboh terjungkal, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, rasa sakit yang luar biasa terasa hingga merasuk ke tulang sumsum.

Para jago tidak menyangka kalau jurus serangan yang dimiliki Thiat Tiong-tong ternyata begitu hebat, tanpa melakukan serangan nyatanya dia sanggup memaksa ke empat orang lawannya saling membunuh bahkan satu di antaranya roboh terluka, kenyataan ini bukan saja membuat semua orang terkesiap bahkan cukup menggelikan.

Li Kiam-pek tidak sanggup menahan diri lagi, sambil bertepuk tangan tertawa terbahak-bahak teriaknya.

"Hei, kalau toh merasa rikuh lantaran empat orang mengerubuti satu orang, tidak perlu kalian saling gontok-gontokan sendiri!"

Sambil mengggigit bibir menahan sakit, Suto Siau segera melompat bangun, serunya.

"Aku tidak apa-apa, jangan kita dikerjai bajingan ini"

Dengan wajah hijau membesi kembali ke empat orang itu maju melancarkan serangannya.

Tapi saat itu Thiat Tiong-tong telah berhasil menguasahi inti sari dari ilmu pukulan tersebut, bukan saja dia semakin percaya diri, semangat pun semakin berkobar, dia cukup menggunakan tehnik membendung, menangkis dan menggiring, ke empat musuhnya telah berhasil dipancing untuk saling menyerang dan saling gontok gontokan sendiri.

Melihat itu manusia aneh tersebut tertawa terbahak-bahak, teriaknya.

"Hahahaha.... betul, betul sekali, begitulah intinya, kalau tadi kau sudah mampu berlatih hingga taraf ini, tanpa melepas pakaian pun barisan tujuh bidadari pasti dapat kau jebol"

Sekarang Thiat Tiong-tong baru tahu, ternyata beginilah caranya untuk menjebol pertahanan ilmu barisan tujuh bidadari, membayangkan kembali bagaimana dia harus melepaskan pakaian yang di kenakan, tidak tahan merah padam selembar wajahnya.

"Terima kasih cianpwee atas petunjukmu!"

Serunya tanpa terasa.

"Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku, terima kasih saja pada dirimu sendiri!"

Tukas manusia aneh itu.

Tanya jawab yang berlangsung antara kedua orang ini hanya dipahami oleh mereka berdua, para jago lainnya hanya berdiri kebingungan tidak habis mengerti.

Dalam pada itu jurus serangan yang digunakan Suto Siau berempat kian lama kian bertambah lemah, oleh karena semua serangan yang mereka gunakan dalam kenyataan sebagian besar tertuju pada orang sendiri, maka siapa pun tidak berani lagi menggunakan jurus mematikan.

Tiba-tiba Seng Toa-nio menghentakkan kakinya sambil membuang senjata toyanya ke lantai, teriaknya.

"Hei bocah busuk, ternyata kau punya ilmu hitam!"

Kemudian tanpa membuang waktu dia membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan langkah lebar.

Kini dalam arena tinggal Hek Seng-thian serta Suto Siau berdua, sedang Suto Siau sudah terluka bahunya, kendatipun serangan masih dilancarkan namun hati kecil mereka benar-benar sudah dibuat tergidik dan pecah nyalinya.

Mendadak terdengar Hong Lo-su menjengek.

"Cara begini juga dianggap berkelahi? Huuuh, sungguh memalukan!"

Begitu perkataan terakhir diucapkan, tubuhnya yang kurus kering bagaikan bambu itu sudah meluncur ke depan, tidak jelas bagaimana cara-nya, terdengar dua kali jeritan ngeri bergema, tahu tahu tubuh Suto Siau dan Hek Seng-thian sudah terlempar keluar.

Masih untung lemparan itu menggunakan tenaga yang sangat diperhitungkan, Suto Siau maupun Hek Seng-thian berhasil hinggap ditanah tanpa cedera, kedua orang jagoan itu hanya bisa saling bertukar pandangan, siapa pun tidak bisa mengutarakan bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Dengan sorot mata tajam Hong Lo-su memperhatikan Thiat Tiong-tong berapa kejap, katanya kemudian.

"Heehehe.... ternyata dalam dunia persilatan telah muncul seorang jagoan muda, kenapa aku Hong Lo-su bisa tidak tahu? Sungguh memalukan!"

"Anda terlalu memuji!"

Sahut Thiat Tiong-tong singkat.

"Hmm, kalau berita ini sampai tersiar keluar, aku bisa malu dibuatnya"

Ujar Hong Lo-su lebih jauh dengan nada dingin.

"tampaknya hari ini aku mesti membunuhmu, agar dalam dunia persilatan tidak pernah ada manusia macam kau!"

Berbicara sampai disini diapun mendongakkan kepalanya dengan perasaan bangga dan tertawa terbahak-bahak.

"Kalau memang mau begitu, silahkan turun tangan!"

Tantang Thiat Tiong-tong sambil tersenyum.

Diam-diam Hong Lo-su terkejut juga melihat kemampuan pemuda itu mengendalikan diri, dia tidak menyangka ejekannya sama sekali tidak memancing kemarahan lawan.

Setelah mengamati kembali berapa kejap, pujinya.

"Luar biasa.... luar biasa!"

"Hei apanya yang luar biasa?"

Ejek Coh Sam-nio.

"Coba lihat tampangnya, tidak salah jadi pentolan Khong tong pay, selewat berapa tahun lagi, bukankah dia akan muncul sebagai Kaisar malam ke dua? Aaai, kita mesti menjagalnya hari ini"

"Kau berani? Kau tidak malu?"

Kembali Coh Sam nio mengejek sambil tertawa. Hong Lo-su tertawa terkekeh.

"Kau sangka aku tidak tahu kalau dirimu lebih berhasrat menjagalnya ketimbang aku? Bocah busukk, kalau sampai si peluru angin sambaran petir pun ingin menggorok lehermu, lebih baik bunuh diri saja"

"Kalau memang begitu, apa salahnya kalau kalian berdua maju bersama!"

Kata Thiat Tiong-tong.

"Huuuh, kalau hanya mengandalkan sedikit kemampuanmu itu mah baru cukup menghadapi berapa gelintir boanpwee yang tidak becus.... kalau ingin menghadapi kami berdua.... hmmm, hmmm, percumalah!"

"Sudah, tidak usah banyak bicara lagi, kalau ingin bertarung, cepat turun tangan!"

Tukas Thiat Tiong-tong cepat. Kendatipun hatinya kebat kebit juga, perasaan itu sama sekali tidak ditampilkan keluar.

"Celaka"

Pikir Hong Lo-su setelah melihat ketenangan lawannya.

"kalau dilihat gayanya yang sangat tenang, jangan-jangan dia masih memiliki kepandaian simpanan?"

Tiba-tiba dia tertawa tergelak, serunya.

"Bocah busuk, kalau Hong Lo-su mesti bertarung sendiri denganmu, itu mah namanya yang tua menganiaya yang muda.... begini saja, muridku, coba kau mewakili aku untuk memberi sedikit pelajaran kepada cecunguk ini"

Rupanya orang ini termasuk orang yang menganiaya kaum lemah tapi takut menghadapi yang kuat, dia tidak pernah mau bertarung jika sama sekali tidak yakin menang.

"Betul"

Seru Coh Sam-nio kembali mengejek.

"kalau muridnya keok nanti, gurunya baru maju"

Siucay muda itu benar-benar ganas, begitu diperintahkan untuk menyerang, dia langsung menerjang ke muka sambil melepaskan pukulan, dalam waktu singkat dia telah melancarkan tujuh buah pukulan berantai.

"Hahahaha.... kalau gurunya lambat seperti orang penyakitan, muridnya justru cepat macam orang kebelet"

Teriak Coh Sam-nio sambil tertawa.

"hahaha.... tidak kusangka bocah muda itu pun ingin jadi pemimpin"

Biarpun serangan yang dilancarkan pemuda siucay itu cepat, gerakan tubuh Thiat Tiong-tong jauh lebih cepat, begitu pergelangan tangannya digetarkan, dia sudah berganti tiga jurus serangan, dua tangkisan ditambah satu tendangan.

"Sebuah gerakan yang hebat"

Puji semua jago tanpa terasa.

Pertarungan pun berlangsung makin lama semakin bertambah cepat, begitu cepatnya hingga membuat pandangan mata semua orang jadi kabur.

Hong Lo-su melirik Coh Sam-nio sekejap, katanya kemudian sambil tertawa seram.

"Hei, kita tidak usah berbincang soal lain, coba lihat, lewat berapa tahun kemudian, julukanmu sebagai si sambaran petir harus kau serahkan kepada orang itu"

Coh Sam-nio segera menarik wajahnya, senyuman yang semula menghiasi bibirnya hilang lenyap seketika.

Hong Lo-su yang berulang kali diejek perempuan itu tanpa bisa menjawab, sekarang menjadi sangat bangga setelah melihat lawannya dibuat membungkam diri, sekali lagi dia tertawa terbahak bahak.

Cepat Hong Lo-su mengalihkan perhatiannya ke tengah arena, begitu mengetahui keadaan yang sesungguhnya, seketika gelak tertawanya jadi melemah.

Sebagaimana diketahui, ilmu pukulan penyakitan yang diyakini Thiat Tiong-tong merupakan ilmu yang khusus diciptakan untuk menjebol ilmu barisan tujuh bidadari, sekarang pemuda itu berhasil menguasahi seluruh inti sari dan rahasia ilmu pukulan itu, secara otomatis diapun sangat memahami gerakan jurus yang digunakan ke tujuh bidadari didalam barisannya.

Sekarang jurus serangan yang digunakan sudah bukan jurus pertahanan lagi, dia mulai melancarkan serangan balasan dengan gaya melepaskan baju lawan, kendatipun dia tidak benar-benar melucuti pakaian musuh, namun sasaran dan gerakan yang digunakan justru amat pas dan disertai perubahan yang diluar dugaan.

Biarpun biasanya jurus serangan itu digunakan oleh tujuh orang sekaligus, tapi Thiat Tiong-tong justru berhasil menggabungkannya menjadi satu, malah kecepatannya berapa kali lipat diatas kecepatan kawanan gadis itu.

Kini gerak serangannya ibarat serangan yang dilakukan beberapa orang secara bersama-sama, biarpun ada serangan yang lebih awal dan lebih belakangan, namun ketika mendekati sasaran justru seolah serangan yang datang secara serentak.

Siucay muda itu sendiri meski berasal dari perguruan kenamaan, mimpipun dia tidak mengira kalau dikolong langit terdapat gerakan jurus sedemikian anehnya, terpaksa dia harus mengandalkan ilmu meringankan tubuh untuk berkelit kian kemari..

Hingga detik itu, walaupun serangan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong amat cepat, dalam hal ilmu meringankan tubuh dia masih belum mampu melampaui musuhnya, padahal sebelum ini ilmu meringankan tubuh merupakan kepandaian andalannya.

Setelah memperoleh kemajuan yang pesat dalam tenaga dalam serta ilmu silatnya, ilmu meringankan tubuh malah sebaliknya menjadi bagian yang terlemah, itulah sebabnya walaupun berhasil merebut posisi diatas angin, untuk sesaat lamanya belum berhasil mengendalikan lawan.

Kembali manusia aneh itu berkata dengan lambat.

"Bertahan tanpa menyerang, kelembekan menimbulkan kerugian, menyerang tanpa bertahan, keberangasan menimbulkan kerugian. Mau menyerang atau bertahan, diam dan gerak harus saling mengisi, kemenangan tentu bisa diraih"

Satu ingatan segera melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, tangan kanannya dari dalam berputar setengah busur ke arah luar, lima jarinya dipentangkan lebar, sementara tangan kirinya bagaikan ranting bunga yang lembut menggiring serangan lawan bergerak ke arah luar kemdian memunahkannya.

Tiba-tiba siucay muda itu merasakan tenaga dalamnya hilang lenyap tidak berbekas disusul datangnya ancaman serangan dari lawan, dalam terperanjatnya buru-buru dia merangkap sepasang kepalannya sambil dihentak keluar.

Jurus serangan ini dari posisi menyerang berubah jadi posisi bertahan, kekuatannya luar biasa dan sangat tepat sasaran.

Hong Lo-su kontan bertepuk tangan dan berseru sambil tertawa.

"Hahahaha.... muridku, bagus sekali jurus Jian kun it kie (gempuran alam semesta) mu itu!"

Belum selesai dia tertawa, tampak tangan kanan Thiat Tiong-tong menyusut sambil menggiring, tahu-tahu tenaga musuh yang amat dahsyat itu berhasil digiring ke samping, ketika tangan kirinya berputar dari kanan ke arah kiri, sepasang iga lawan mulah berada dalam ancaman maut.

Dua serangan yang digabung jadi satu ini lagi lagi merupakan penggabungan jurus serangan ilmu penyakitan serta barisan tujuh bidadari, satu ancaman yang sangat berbahaya.

Terhuyung-huyung siucay muda itu mundur berapa langkah, peluh dingin bercucuran membasahi wajahnya, sementara paras muka Hong Lo-su ikut berubah hebat.

Terdengar manusia aneh itu tertawa terbahak bahak, teriaknya.

"Ooh, ternyata murid peluru angin cuma begitu kemampuannya!"

Paras muka siucay muda itu dari pucat berubah jadi menghijau, dari hijau berubah jadi merah, tiba-tiba dia membentak nyaring, kepalan-nya disodok ke depan diikuti serudukan tubuhnya, rasa malu bercampur marah membuat pemuda siucay itu jadi nekad dan berniat adu jiwa Kembali satu ingatan melintas lewat dalam benak Thiat Tiong-tong, dia tidak menghindar, tidak berkelit ataupun menangkis, sambil melangkah maju dia sambut datangnya serangan lawan dengan ke dua telapak tangannya.

Ternyata saking asyiknya bertarung, dia sudah lupa untuk menyembunyikan kehebatannya, kini dia berhasrat untuk menjajal tenaga dalamnya.

Melihat tindakan pemuda itu, paras muka para jago berubah hebat, manusia aneh itu pun menjerit kaget.

"Celaka!"

Dia tahu tenaga dalam yang dimiliki Thiat Tiong-tong tidak terhitung tangguh, bagaimana mungkin dia sanggup menghadapi murid andalan dari perguruan peluru angin?

Sadar kalau sudah tidak mungkin lagi mencegah terjadinya bentrokan itu, manusia aneh itu hanya bisa menghentakkan kakinya dengan gegetun, diam-diam dia mengomel, Thiat Tiong-tong betul-betul tidak tahu diri, bukannya menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk mengarahkan lawan, sebaliknya malah mengambil resiko besar....

Siapa tahu belum selesai ingatan tersebut melintas....

"Blaaaam!"

Terjadi benturan keras yang mnnekikkan telinga menyusul jerit kesakitan seseorang, sesosok bayangan manusia mencelat ke tengah udara mengikuti semburan darah segar yang ber ceceran kemana-mana.

Ternyata Thiat Tiong-tong masih berdiri tegak dengan sorot mata bersinar tajam, kenyataan ini bukan saja diluar dugaan manusia aneh itu, para jago yang hadir di arena pun sama-sama terkesiap dibuatnya.

Diam-dam manusia aneh itu berpikir.

"Jurus serangannya mengalami kemajuan pesat lantaran dia telah mempelajari rahasia jurus diatas dinding ruangan, tapi.... kenapa tenaga dalamnya pun mengalami kemajuan sepesat ini? Apa yang telah terjadi?"

Alasan tersebut bukan saja tidak dipahami olehnya, bahkan terpikir pun tidak.

Dalam pada itu siucay muda tadi sudah terkapar tidak sadarkan diri, darah segar membasahi seluruh tubuhnya.

Hong Lo-su tahu kalau muridnya terluka parah, tapi dia melirik sekejap pun tidak.

"Tidak kau tengok keadaan dari murid kesayanganmu itu?"

Ejek Coh Sam-nio sambil tertawa. Hong Lo-su mendengus dingin.

"Hmmm, ilmu tenaga dalam perguruan kami hebat dan luar biasa, tapi dia enggan mempelajarinya, yang diajari justru ilmu sebangsa beradu nyawa, manusia macam begini memang pantas untuk mampus, buat apa ditengok lagi!"

"Kejam amat guru semacam ini"

Pikir Thiat Tiong-tong.

"hanya manusia sebangsa Sim Sin-pek yang cocok menjadi muridnya!"

Ketika menengok ke sekeliling tempat itu, dia baru sadar ternyata Sim Sin-pek sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.

Padahal belum lama berselang dia masih menjumpai orang itu, kenapa tahu-tahu dia sudah lenyap tidak berbekas?

Diam-diam dia terperanjat, sebab dia sadar walaupun kungfu yang dimiliki Sim Sin-pek tidak terhitung tinggi, namun kelicikan dan kebusukan hatinya betul-betul menakutkan.

Pada saat itulah mendadak terdengar manusia aneh itu membentak keras.

"Celaka!"

Menyusul kemudian terasa segulung angin pukulan lunak yang berhawa dingin menyergap tiba tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Thiat Tiong-tong terkesiap, sadar kalau ia sedang dibohongi Hong Lo-su, dalam kagetnya cepat dia mundur beberapa langkah, kemudian tanpa menggubris keadaan disekelilingnya lagi dia duduk bersila ditanah.

Terdengar manusia aneh itu berteriak gusar.

"Sungguh memalukan, kau sebagai seorang ketua perguruan besar, ternyata perbuatanmu lebih busuk dari seorang kurcaci, kau tidak malu dengan perlakukan busukmu itu?"

Terdengar Hong Lo-su tertawa seram.

"Hehehehe.... aku Hong Lo-su tidak lebih hanya ingin menjajal kemampuannya, kalau sudah berani muncul dalam dunia persilatan, mata mesti awas dan telinga mesti perhatikan empat arah delapan penjuru, siapa suruh dia begitu tidak becus?"

Menyusul perkataan itu terasa angin pukulan menderu-deru, tampaknya kedua orang itu sudah terlibat dalam pertarungan yang amat seru.

Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur gusur, dia pun merasa sangat menyesal dan malu, tapi saat ini tubuhnya seolah terjerumus ke dalam liang salju yang amat dingin, bukan saja sekujur tubuhnya gemetar keras, bahkan saking kedinginan nya sepasang gigi saling beradu tiada hentinya.

"Sungguh lihay ilmu pukulan Kiu yu im hong miliknya...."

Demikian ia berpikir.

Dalam keadaan begini, anak muda itu tidak berani berpikir yang lain lagi, kini dia hanya berharap bisa secepatnya memaksa keluar pengaruh hawa dingin dari tubuhnya, cepat dia bersemedi mengatur pernapasan.

Dia mengatakan tidak berani berpikir, tapi mana mungkin anak muda itu bisa tidak berpikir?

Mula-mula dia teringat bagaimana sang hujin sedang menantinya didalam sampan, lalu teringat bagaimana dia sudah terluka sementara situasi di arena pertempuran sudah nampak jelas hasilnya, di mana manusia aneh itu kemungkinan besar terancam jiwanya, kemudian teringat pula bagaimana Suto Siau sekalian yang sedang menanti kesempatan untuk membalas dendam, dalam posisi begini, mana mungkin dia bisa bersemedi dengan tenang?

Tiba-tiba terdengar Coh Sam-nio berkata sambil tertawa.

"Kungfu yang dimliki Hong Lo-su memang tidak hebat, dia bisanya cuma main bokong, dengan kungfu macam begini mana mungkin kau bisa menandingi sang pangeran? Kelihatannya aku mesti membantu dia"

Sekalipun umpatannya tertuju kepada manusia aneh itu, jurus serangannya justru diarahkan ke tubuh manusia aneh.

"Hahahaha...."

Hong Lo-su tertawa terbahak.

"makian yang bagus, makian yang bagus...."

Ke dua orang tokoh ampuh ini segera bekerja sama melancarkan serangan secara bertubi-tubi, mereka berniat menghabisi dulu manusia aneh itu sebelum tokoh lihay yang ada didalam gua itu munculkan diri.

Dengan satu melawan dua, belasan gebrakan kemudian manusia aneh itu sudah terjerumus ke dalam posisi yang amat berbahaya.

Dalam pada itu Sui Leng-kong berada dalam keadaan tidak sadarkan diri, rupanya perempuan bercadar itu kuatir si nona kelewat terpukul batinnya maka dia totok jalan darah tidurnya agar gadis itu dapat berisitrahat dengan tenang.

Si siucay muda itu masih tergeletak tidak sadarkan diri, sedang lelaki raksasa bertelanjang kaki berdiri kaku dengan mata melotot.

Suto Siau dan Hek Seng-thian saling bertukar pandangan sekejap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kedua orang itu mulai menggeserkan tubuhnya bergerak menghampiri Thiat Tiong-tong yang masih duduk bersemedi.

Ketika mendengar ada suara langkah kaki menghampirinya, Thiat Tiong-tong segera tahu kalau Suto Siau sekalian sedang berniat membokongnya, waktu itu dia sama sekali tidak bertenaga untuk melakukan perlawanan, maka sambil menghela napas pikirnya.

"Aaai, sudahlah!"

Di saat yang kritis itulah mendadak terdengar seorang perempuan bercadar menghardik keras.

"Hey, apa yang hendak kalian berdua lakukan?"

"Aaah, tidak melakukan apa-apa!"

Sahut Suto Siau cepat sambil tertawa.

"Kalau tidak melakukan apa-apa, lebih baik diam diri ditempat, jangan bergerak sembarangan!"

Dalam hati Suto Siau mengumpat habis-habisan, dia tahu bila kesempatan baik ini terbuang percuma maka jangan harap mereka punya peluang lagi untuk membuat perhitungan dengan Thiat Tiong-tong.

Sekalipun begitu, mereka tidak berani bertindak gegabah, sebab mereka tahu kepandaian silat yang dimiliki perempuan bercadar itu masih jauh diatas kemampuan mereka, oleh sebab itu meski dalam hati mereka memendam rasa benci dan dendam namun senyuman paksa tetap ditampilkan diatas wajah.

Baru saja Thiat Tiong-tong menghembuskan napas lega, tiba-tiba dari sisi telinganya terdengar seseorang berbisik.

"Cepat atur pernapasanmu!"

Menyusul kemudian terasa ada sebuah telapak tangan menempel diatas punggungnya.

Rupanya sewaktu mengundurkan diri tadi, secara kebetulan dia mundur ke tengah kerumunan perempuan bercadar itu, telapak tangan yang membantunya sekarang tidak lain berasal dari perempuan bercadar itu.

Dalam waktu singkat dia merasa ada segulung hawa panas mengalir masuk melalui punggungnya kemudian membaur dengan tenaga dalamnya dan berputar mengitari tubuh.

Perlu diketahui, tenaga dalam yang dimilikinya termasuk aliran hawa Yang, itulah sebabnya ketika sang Hujin mengalirkan tenaga dalamnya, dengan cepat hawa murni itu terserap ke dalam tubuhnya.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya waktu itu, sesungguhnya sudah lebih dari cukup baginya untuk mengusir hawa dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya, apalagi dengan dibantunya tenaga dalam oleh perempuan bercadar itu, dalam waktu singkat asap putih telah mengepul keluar dari ubun-ubunnya.

Suto Siau sekalian yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur gusar, mereka tahu sesaat kemudian hawa dingin beracun akan tersapu bersih dari tubuh anak muda itu, yang membuat mereka gemas adalah kenapa perempuan bercadar itu membantunya?

Tidak selang berapa saat kemudian Thiat Tiong-tong telah dua kali menjalankan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh, kini paras mukanya telah berubah jadi merah segar, tapi rasa tercengang melintas dalam benaknya.

"Aneh, kenapa perempuan bercadar itu membantuku?"

Tapi sebelum dia mengajukan pertanyaan, terdengar seseorang kembali berbisik.

"Kau tidak usah terkejut maupun keheranan, kaupun tidak perlu banyak bertanya, asal kau menyusul ke pulau Siang cun to, segala sesuatunya akan jelas dengan sendirinya"

Dengan sekali lompatan Thiat Tiong-tong bangkit berdiri, dia ingin bertanya lagi, tapi kawanan perempuan bercadar itu telah duduk mematung, karena wajahnya bercadar, tidak jelas bagaimana mimik muka mereka saat itu.

"Pulau Siang-cun-to.... pulau Siang-cun-to...."

Secara lamat-lamat Thiat Tiong-tong merasa seolah pernah mendengar nama pulau itu, namun lupa mendengar dari siapa dan ditempat mana, melihat sikap kawanan perempuan bercadar itu, dia tidak berani banyak bertanya lagi.

Ketika menengok kembali ke arena pertarungan, dia jumpai manusia aneh itu sudah basah kuyup bermandikan keringat, posisinya amat berbahaya dan jiwanya dalam keadaan kritis.

Melihat itu Thiat Tiong-tong segera membentak gusar.

"Hong Lo-su, buktikan kalau kau mampu melukai aku!"

Tidak terlukiskan rasa kaget Hong Lo-su melihat kemunculan anak muda itu, belum sempat berpikir lebih jauh, Thiat Tiong-tong sudah melesat maju ke depan, tangan kirinya membabat ke samping sementara tangan kanannya menusuk lurus kemuka, dalam waktu sekejap dia sudah melepaskan dua jurus serangan kilat.

Manusia aneh itu seketika merasakan semangatnya bangkit kembali, tapi saat ini tenaga dalamnya telah menderita kerugian besar, walaupun Hong Lo-su berhasil disingkirkan oleh serangan maut Thiat Tiong-tong, namun dia tetap kewalahan menghadapi gempuran Coh Sam-nio.

Bagaikan sambaran petir tubuh Coh Sam-nio gentayangan disekeliling tubuhnya, sebentar ke sana sebentar kemari, bagaikan sukma gentayangan saja perempuan itu menempel ketat disisi tubuh manusia aneh itu.

Tiba-tiba dia berseru sambil tertawa.

"Hong Lo-su, si raksasa mu sudah mampus?"

Saat itu Hong Lo-su masih dicekam perasaan kaget bercampur ragu, dia tidak menyangka secepat itu Thiat Tiong-tong dapat memulihkan kembali kekuatannya, karena sangsi diapun tidak berani menyerang pemuda itu secara sembarangan.

Ketika mendengar teriakan Coh Sam-nio, dengan perasaan girang segera hardiknya.

"Kapak sakti, ada dimana kau? Cepat bantu aku membantai bajingan ini!"

Lelaki raksasa itu mengiakan dan langsung maju menyerbu sambil mengayunkan kapak raksasanya. Kembali Hong Lo-su berseru sambil tertawa seram.

"Untuk menghadapi manusia macam kau, tidak perlu aku mengerubuti kalian berdua!"

Cepat tubuhnya melejit ke samping, lagi-lagi dia membantu Coh Sam-nio menyerang manusia aneh itu.

Bagaikan banteng terluka lelaki raksasa itu menerjang maju ke depan, kapak raksasanya diayunkan kesan kemari melancarkan serangan ke tubuh Thiat Tiong-tong secara bertubi tubi.

Thiat Tiong-tong cemas bercampur kaget, dengan nada gemetar serunya.

"Paman Sim.... paman Sim.... kau.... kau...."

Kendatipun dia memiliki kemampuan yang luar biasa dengan jurus serangan yang mematikan pun mustahil bagi pemuda ini untuk menghadapi paman Sim nya, padahal serangan kapak maut dari manusia raksasa itu boleh dibilang semuanya merupakan jurus mematikan, asal Thiat Tiong-tong terbentur sedikit saja, niscaya tubuhnya akan hancur lebur dan nyawanya melayang.

Dalam pertarungan ini jelas posisi Thiat Tiong-tong sangat dirugikan.

Sambil bertepuk tangan dan tertawa tergelak Suto Siau mengejek.

"Horee.... bagus, bagus sekali, keponakan dan paman saling gontok-gontokan sendiri, sungguh sebuah pertunjukkan yang menarik!"

Semakin Thiat Tiong-tong merasa panik bercampur cemas, jurus serangannya makin bertambah kacau, dipihak lain keadaan manusia aneh itu lebih mengenaskan lagi, dalam sepuluh gebrakan yang berlangsung dia tidak mampu melepaskan sebuah jurus serangan balasan pun.

Jago pedang berhati merah Seng Cun-hau tidak tega menyaksikan keadaan itu, cepat dia buang muka ke arah lain, sementara Li Lok-yang ayah beranak meski pingin turun tangan membantu, apa mau dikata kungfu mereka kelewat cetek, punya kemauan tidak punya kekuatan, tentu saja mereka tidak berani bertindak sembarangan.

Dalam keadaan seperti inilah tiba-tiba dari balik tirai hitam berkumandang suara tertawa yang manis lagi lembut, kemudian terdengar seseorang berkata.

"Sebelum aku turun tangan, siapa yang berani turun tangan secara sembarangan!"

Biarpun suaranya lembut, halus dan sedap didengar namun reaksinya justru melebihi suara guntur yang menggelegar disiang hari bolong, membuat hati semua orang tercekat.

Dengan cepat Hong Lo-su dan Coh Sam-nio berjumpalitan di udara sambil mundur sejauh berapa kaki, dengan suara keras Hong Lo-su segera menghardik.

"Kapak sakti, ada dimana kau? Cepat hentikan seranganmu!"

Waktu itu lelaki raksasa tersebut sedang mengayunkan kapaknya setengah jalan, begitu mendengar bentakan, seketika itu juga dia menghentikan bacokannya, coba lengannya tidak memiliki tenaga luar biasa, mustahil dia mampu melakukan hal itu.

Dalam waktu singkat perhatian semua orang tertuju ke satu arah, belasan pasang mata bersama-sama memandang ke balik tirai hitam itu, tidak seorangpun berani berisik atau bersuara.

Hanya Thiat Tiong-tong seorang yang diam-diam menghela napas, dia tahu tenaga dalam yang dimiliki hujin itu sudah nyaris punah, apa yang bisa dilakukan perempuan itu paling hanya menggertak dari balik tirai dan mustahil berani menampilkan diri.

Siapa tahu tirai hitam itu mendadak disingkap orang, dari balik ruangan muncullah tubuh seseorang.

Dia mengenakan jubah panjang hingga ke lantai, rambutnya disanggul tinggi, matanya bening bagai kaca, pinggangnya ramping bagai ranting pohon liu, wajahnya cantik jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan, selain cantik, perempuan itu anggun dan penuh wibawa, membuat siapa pun tidak berani menatap wajahnya kelewat lama.

Diiringi jeritan tertahan serentak semua jago bangkit berdiri, manusia aneh itu segera menjatuhkan diri berlutut, sementara kawanan perempuan bercadar yang selama ini hanya duduk pun serentak bangkit berdiri.

Terlebih Thiat Tiong-tong, dia nyaris tidak percaya dengan apayang dilihatnya.

Yang membuat semua orang terkejut adalah wajahnya yang sama sekali tidak nampak tua atau keriputan kendatipun nyonya ini sudah puluhan tahun hidup mengasingkan diri, andaikata tenaga dalamnya tidak mencapai puncak kesempurnaan, darimana mungkin dia bisa tampil awet muda?

Sebaliknya yang membuat Thiat Tiong-tong kaget adalah penampilan nyonya ini, jelas penampilannya sewaktu bersua tadi bukan begini, kenapa secara tiba-tiba wajahnya berubah awet muda dan cantik?

Semakin dipikir dia semakin tidak habis mengerti, akhirnya setelah memandang lagi berapa kejap, dia tidak berani memandang lebih jauh, buru-buru anak muda ini jatuhkan diri berlutut.

"Coh Sam-nio"

Dengan suara lembut Hujin itu menegur.

"lama tidak bersua, apakah kau masih berada dalam keadaan baik?"

"Berkat berkah dari hujin!"

Sahut Coh Sam-nio sambil tundukan kepalanya rendah-rendah. Kalau diwaktu biasa dia pandai bicara, maka sekarang, untuk menyampaikan berapa patah kata pun dibutuhkan tenaga ekstra.

"Bagaimana dengan Hong Lo-su?"

Kembali Hujin itu menegur.

"Berkat.... berkat...."

Sebetulnya Hong Lo-su ingin meniru jawaban dari Coh Sam-nio, namun kata berikut ternyata tidak sanggup dia ucapkan.

"Siapa yang barusan bertarung? Rasanya bukan kalian berdua bukan?"

Kata hujin itu tertawa.

"Ooh bu.... bukan...."

Buru-buru Hong Lo-su menyahut.

"Aku percaya para dewi dibawah pimpinan Jit ho (Ratu matahari) tidak akan berani bertindak sembrono!"

"Ucapan hujin tepat sekali"

Jawab perempuan bercadar itu cepat.

Meskipun jawaban itu disampaikan dengan nada datar dan tenang, namun gerak-gerik mereka mulai menunjukkan sikap tidak tenang.

Sambil menarik wajahnya kembali sang hujin berpaling ke arah Suto Siau sekalian, tegurnya ketus.

"Berarti kalian?"

"Bu.... bukan...."

Jawab Suto Siau gelagapan, saking gugup dan takutnya dia tidak sanggup bicara lebih jauh karena sepasang giginya terlanjur saling beradu.

"Kalau memang tidak ada yang berkelahi, berarti aku sudah salah mendengar"

Ujar nyonya itu lembut. Semua orang menundukkan kepalanya tanpa bersuara, tidak ada yang berani mengatakan "hujin tidak salah dengar", apalagi mengatakan"

Hujin telah salah dengar". Setelah tertawa hambar, nyonya itu berkata lagi.

"Hong Lo-su, Coh Sam-nio, sudah banyak tahun tidak bersua, rasanya kalian telah berhasil mempelajari berapa jurus baru, apakah hari ini ingin mempamerkan kelebihan kalian itu?"

"Hong Lo-su yang ingin kemari, siaumoay tidak tahu masalahnya!"

Buru-buru Coh Sam-nio menghindar. Hong Lo-su jadi terperanjat, teriaknya panik.

"Kau.... kau...."

Dalam kaget dan gusarnya meski dia ingin menyangkal, namun saking paniknya bukan saja tidak mampu berkata-kata bahkan seluruh otot hijaunya pada menonjol keluar.

Kembali nyonya itu menghela napas panjang, katanya lebih jauh.

"Setelah datang kemari, tentunya kalian enggan pulang dengan tangan hampa bukan? Tapi akupun percaya kalian tidak ingin bertarung melawanku, bagaimana baiknya sekarang?"

Semua orang membungkam, tidak seorangpun berani bersuara. Setelah termenung berapa saat kembali nyonya itu berkata.

"Begini saja, biar kusuruh Thiat Tiong-tong yang baru hari ini kuterima sebagai muridku untuk melayani kalian barang satu dua jurus, bagaimana?"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya lagi sambil tertawa.

"Tentu saja dia masih bukan tandingan kalian karena baru hari ini kuajarkan ilmu silat kepadanya, harap kalian jangan melukainya"

Ketika semua orang mendengar Thiat Tiong-tong yang baru sehari belajar silat darinya ternyata sudah memiliki kepandaian sehebat itu, diam-diam merasa terkejut bercampur ngeri.

"Tiong-tong!"

Terdengar nyonya itu berseru.

"ayoh bangun. Layani kedua orang cianpwee ini barang satu dua jurus"

Thiat Tiong-tong menyahut dan segera bangkit berdiri, kini dia merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tenaga segar, apalagi mendengar nyonya yang cantik bagai bidadari itu memanggilnya sebagai murid, rasa gembiranya tidak terlukiskan dengan perkataan.

Hong Lo-su segera berpikir.

"Kalau muridnya saja sudah begini ampuh apalagi gurunya, sekalipun aku mampu mengalahkan muridnya, kalau sampai gurunya maju sendiri, bukankah bakal habis riwayatku"

Setelah melirik Coh Sam-nio sekejap, mendadak dia mendekap perut sendiri sambil berteriak keras.

"Aduh celaka, perutku sakit.... aku mau.... mau...."

Sembari berteriak dia segera kabur sipat kuping meninggalkan tempat itu.

"Dasar manusia tidak becus!"

Diam-diam Coh Sam nio mengumpat. Terdengar sang hujin berkata sambil tertawa.

"Kalau Hong Lo-su sedang sakit perut, kau minta pelajaran dari Coh Sam-nio saja!"

"Aaah hujin sedang bergurau"

Buru-buru Coh Sam-nio berkata.

"mana berani siaumoay bertarung melawan keponakan Thiat"

Bagaimana pun dia jauh lebih berani ketimbang Hong Lo-su, sesudah tertawa paksa, ujarnya lebih jauh.

"Sebetulnya siaumoay ingin menemani hujin berapa saat lagi, apa daya.... aaai, biarlah siaumoay mohon diri lebih dulu"

Walaupun dia masih mampu berbicara, namun begitu selesai berkata tubuhnya sudah kabur dari ruangan itu.

Kawanan perempuan bercadar itu pun saling memberi tanda, setelah membaringkan Sui Leng kong ke lantai, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka ikut mengundurkan diri dari situ.

Melihat semua orang sudah kabur, Suto Siau sekalian tentu saja tidak berani bercokol lebih lama disitu, dengan sempoyongan mereka kabur terbirit-birit meninggalkan ruangan itu.

Dari kejauhan terdengar Hong Lo-su berteriak keras.

"Kapak sakti, berada dimana kau?"

"Siap!"

Sahut lelaki raksasa itu sambil siap berlalu.

"Paman Sim, tunggu sebentar"

Dengan perasaan terkesiap Thiat Tiong-tong menghadang jalan perginya.

Siapa tahu lelaki raksasa itu langsung membalikkan tubuh sambil melepaskan sebuah bacokan maut, mau tidak mau terpaksa Thiat Tiong-tong harus berkelit ke samping.

Begitu dia menghindar, lelaki raksasa itupun berlari meninggalkan ruangan.

Thiat Tiong-tong sangat menguatirkan keselamatan saudara seperguruannya ini, dia tidak rela membiarkan pamannya terjatuh ke tangan Hong Lo-su, baru saja siap melakukan pengejaran....

"Tiong-tong, balik kemari"

Tiba-tiba terdengar nyonya itu berseru. Biarpun hanya berapa patah kata namun mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa bagi Thiat Tiong-tong, seketika itu juga dia berhenti.

"Kau tetap tinggal disini, biar aku yang berjaga-jaga diluar"

Manusia aneh itu segera berbisik.

"Tapi...."

"Kalian berdua tetap tinggal disini...."

Perintah sang hujin cepat. Baru selesai bicara, peluh telah membasahi seluruh tubuhnya, tidak ampun perempuan itu roboh lemas ke tanah.

"Ibu, kenapa.... kenapa kau?"

Manusia aneh itu menjerit kaget.

"Hujin, kau.... kau...."

Thiat Tiong-tong menjerit pula tertahan.

Ditengah teriakan kaget kedua orang itu segera lari mendekat.

Tampak nyonya itu tergeletak dengan wajah pucat pias bagai mayat, napasnya sangat lemah dan tinggal satu dua di antara tenggorokannya, dia sudah berada dalam keadaan sekarat.

Tanpa membuang waktu Thiat Tiong-tong maupun manusia aneh itu segera menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah penting ditubuh sang hujin dan menyalurkan hawa murninya.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga gabungan kedua orang ini, sekalipun nyonya itu tidak mampu lagi menyerap tenaga murni tersebut, namun berapa saat kemudian paras mukanya nampak jauh lebih cerah.

Sambil membuka matanya dan tertawa pedih, bisik nyonya itu.

"Setelah tenaga sinkang ku buyar, raut wajahku lambat laun pulih kembali seperti sedia kala, tapi aku tahu inilah secercah cahaya terakhirku sebelum padam, tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini!"

Thiat Tiong-tong mengerti apa yang dimaksud, lain dengan manusia aneh itu, dia dibuat kebingungan dan tidak habis mengerti oleh perkataan ibunya. Waktu itu sebetulnya dia pingin bertanya.

"Tenaga sinkang apa? Kenapa bisa buyar?"

Namun dalam suasana begini, mana mungkin dia mampu mengutarakannya keluar? Terdengar nyonya itu berkata lagi.

"Kalian berdua tidak usah bersedih hati, Thian menghendaki kematianku dalam keadaan seperti ini sudah merupakan satu kemurahan yang luar biasa, aku berharap dikemudian hari kalian bisa saling menganggap sebagai saudara sendiri"

Kedua orang itu, yang satu adalah putra kandung darah dagingnya sendiri, sementara yang lain adalah orang yang mewarisi seluruh jerih payahnya, seluruh hasil karya latihan tekunnya selama banyak tahun.

Thiat Tiong-tong saling berpandangan sekejap dengan manusia aneh itu, dengan sedih mereka saling mengangguk.

Dengus napas nyonya itu mulai memburu, ujarnya lagi.

"Sementara waktu meski Coh Sam-nio dan Hong Lo-su kabur karena takut kepadaku, tapi mereka berdua adalah orang yang banyak curiga, tidak mungkin mereka akan pergi dengan begitu saja, tidak lama kemudian pasti akan balik lagi kemari"

"Ibu tidak usah kuatir, ananda sekalian yakin masih mampu membendungnya"

Sahut manusia aneh itu cepat. Nyonya itu menggeleng, ujarnya sambil tertawa sedih.

"Saat ini kalian berdua masih bukan tandingan mereka berdua, tidak usah beradu nyawa, aku masih membutuhkan kalian berdua untuk melanjutkan generasi"

Thiat Tiong-tong serta manusia aneh itu menundukkan kepalanya, mereka tidak berani banyak bicara lagi. Terdengar nyonya itu berkata lebih jauh.

"Coba kalian berdua perhatikan lukisan yang tertera di dinding sekeliling ruangan ini, di antara pemandangan alam yang sangat indah, disitulah tempat aku dikebumikan, ditempat itu masih.... masih terdapat pula banyak rahasia, bukan saja Coh Sam-nio dan Hong Lo-su selalu ingin mengetahuinya, orang lain pun.. uhuuh.. uhuuu.... kalian berdua harus berjanji kepadaku, kalian.... kalian harus menunggu.... menunggu selama dua puluh hari sebelum keluar dari situ.... uhuuu uhuuu.... jangan bertarung... bertarung lagi dengan Hong...."

Bukan saja dia batuk semakin keras, napasnya pun semakin sesak hingga susah untuk melanjutkan kembali perkataannya.

Dalam keadaan dan situasi seperti ini betapapun sulitnya persoalan, biarpun diancam dengan golok atau kapak, terpaksa mereka harus mengabulkan permintaannya itu.

Dengan sedih kedua orang itu mengiakan.

Nyonya itu berkata lagi.

"Selama hidup aku.... aku telah malang melintang di kolong langit, sebelum mati bisa.... bisa mendapat pewaris, aku.... aku akan mati dengan mata meram, tapi.... tapi masih ada.... masih ada...."

Buru-buru Thiat Tiong-tong dan manusia aneh itu menyalurkan tenaga murninya untuk menunjang perempuan itu. Setelah menghela napas nyonya itu berkata lagi.

"Aku tidak bisa banyak bicara lagi, kalian perhatikan.... perhatikan lukisan itu.... perhatikan diujung jalan buntu, jangan lupa.... rahasia dari.... dari pakaian pengantin dari.... dari Perguruan Tay ki bun.... budi atau dendam hanya.... hanya ayahmu seorang yang.... yang tahu.... dia belum mati.... belum mati hingga kini.... dia bisa membohongimu.... jangan harap bisa membohongi aku...."

Perlahan-lahan sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.

"Apa? Ayah belum mati?"

Teriak manusia aneh itu terperanjat.

"berada dimana dia...."

Tapi ucapannya segera terpotong ditengah jalan, mendadak matanya terbelalak lebar, mulutnya melongo besar....

tiba-tiba kedua orang itu menangis tersedu-sedu, ternyata sebelum menyelesaikan perkataannya, nyonya itu sudah pergi menghadap ke langit barat, berangkat dengan diiringi sekulum senyuman.

Nyonya itu pergi dengan wajah yang tetap cantik dan menawan hati, matanya terpejam rapat, walaupun Thian telah mencabut kembali nyawanya namun tidak merenggut kecantikan wajahnya yang rupawan.

Bagaimana pun Thiat Tiong-tong serta manusia aneh itu adalah manusia luar biasa, kesedihan yang luar biasa tidak membuat mereka kehilangan akal dan kecerdasan, sambil menahan rasa sedih manusia aneh itu segera membopong jenasah ibunya.

Thiat Tiong-tong membalikkan tubuhnya membopong Sui Leng-kong, sementara siucay muda itu masih tergeletak tidak sadarkan diri, tidak seorangpun yang memperdulikan nasibnya.

Manusia aneh itu menghela napas panjang, dari dalam saku dia mengambil sebungkus obat dan dilempar ke samping tubuhnya, kemudian dia baru berkata.

"Saudaraku, mari ikut aku"

Panggilan "saudaraku"

Itu seketika membuat Thiat Tiong-tong terharu, gejolak perasaan dalam dadanya nyaris membuatnya tidak mampu mengendalikan diri, sampai sesaat kemudian dia buru menyusul di belakangnya.

Kedua orang itu menutup kembali pintu batu, melewati lorong rahasia dan balik lagi ke tepi kolam dengan pemandangan alam yang indah, saat itu sampan sudah bersandar ditepian, walaupun tirai halus masih berkibar seperti sedia kala, namun pemiliknya sudah pergi jauh diujung langit sana.

Setelah naik keatas sampan, Thiat Tiong-tong menyembunyikan kitab pusaka itu ke dalam sakunya, kemudian mereka berdua mulai meneliti lukisan yang terbentang diatas dinding ruangan.

Tampak empat penjuru merupakan bukit nan hijau dengan pepohonan yang rindang di antara mega berwarna putih, lukisan itu tidak mirip pemandangan di alam manusia melainkan pemandangan diatas langit, sebuah sungai kecil mengalir tenang di antara pepohonan dan awan.

Kedua orang itu merupakan orang yang berotak cerdas dan luar biasa, mereka cukup mengerti apa yang dimaksudkan dengan "perhatikan diujung jalan buntu", maka perhatian mereka mulai ditujukan ke arah aliran sungai itu, kemudian menelusuri ke bawah, melewati pepohonan, mengelilingi bangunan pagoda lalu dari sudut bangunan berputar berliku-liku sampai suatu ujung yang tiba-tiba lenyap tidak berbekas, ujung itu merupakan sebuah bukit tinggi dengan lapisan awan yang sangat tebal.

Kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap, mereka tahu.

"perhatikan diujung jalan buntu"

Yang dimaksud sang hujin pastilah tempat diseputar sana.

Tapi dinding batu diseputar sana kelihatan rata berkilat, sama sekali tidak nampak tombol rahasia atau sesuatu benda yang mencurigakan, kendati kedua orang ini cerdas dan tajam matanya, tidak urung untuk sesaat dibuat kebingungan juga.

Mereka mencoba mendayung sampan itu lebih mendekati dinding batu, namun belum berhasil juga menemukan sesuatu pertanda.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong berkata.

"Lukisan disekeliling dinding ini tampak indah dan sangat hidup kecuali lukisan yang menggambarkan aliran sungai itu, coba lihat lukisan dibagian itu kelihatan kaku dan mati, sama sekali tidak menarik, nampaknya bukan berasal dari hasil karya seseorang yang sama"

"Betul juga perkataanmu itu, pasti ada sesuatu yang tidak beres dibalik kesemuanya ini"

Sahut manusia aneh itu.

"Cuma...."

Belum selesai dia berkata, mendadak tampak Thiat Tiong-tong mengambil air kolam kemudian diguyurkan keatas dinding batu itu, ketika air mengalir sepanjang dinding, mendadak terlihat warna diseputar lukisan sungai itu berubah warna dan muncullah riak air yang bersisik, seakan dalam air terdapat ikan yang sedang berenang.

Lukisan semacam inilah baru mirip lukisan seorang seniman hebat, sementara lukisan pepohonan yang ada dibawah bukit itu mendadak lenyap tidak berbekas setelah terkena guyuran air, kini muncullah sebuah pintu berwarna kuning emas, diatas pintu terlukis dua buah gelang lembaga, di antara gelang itu terlihat pula berapa bulatan kecil.

Thiat Tiong-tong sangat kegirangan, segera serunya.

"Tidak heran kalau lukisan diseputar aliran sungai nampak kaku dan mati, ternyata ada orang yang telah menambahkan warna lain untuk menutupi lukisan asli, kalau begitu rahasianya pasti berada disini"

Manusia aneh itu menghela napas panjang, pujinya.

"Aaai, tidak kusangka selain bernyali besar dan pemberani, kau pun sangat teliti dan cermat, bisa jadi kunci rahasia untuk membuka pintu rahasia tersebut terletak pada ke dua gelang tembaga itu"

"Benar, kau punya pisau belati?"

Manusia aneh itu menggeleng, dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong berpikir sejenak, tiba-tiba dia mencabut sebatang tusuk konde emas dari rambut Sui Leng-kong kemudian melakukan guratan melingkar diseputar gelang tembaga itu.

Tapi tidak nampak sesuatu gejala pun kendatipun sudah mengguratnya berapa saat.

Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berkata.

"Biasanya yang lurus akan berubah jadi kebalikan, coba kau gurat dengan berlawanan arah jam"

Thiat Tiong-tong menurut dan menggurat berlawanan jarum jam, benar saja di antara dinding batu segera berkumandang suara gemerincing nyaring.

Menyusul kemudian diatas dinding batu dengan lukisan pintu itu mulai bergerak ke samping dan muncullah sebuah liang gua setinggi satu setengah meter.

Tidak terlukiskan rasa girang kedua orang itu, tanpa ragu lagi mereka segera menerobos masuk ke dalam liang gua itu.

Siapa tahu begitu didorong dari arah dalam, pintu itu segera merapat kembali bahkan sama sekali tidak meninggalkan bekas, terutama ketika noda air sudah mengering, pintu emas itu lenyap seketika, dalam keadaan begini siapa pun jangan harap bisa menemukan sesuatu pertanda.

Dibelakang dinding merupakan sebuah lorong, meski sempit namun tidak terlalu panjang, diujung lorong merupakan sebuah ruang batu yang sangat lebar, mutiara sebesar kelengkeng tersebar disekeliling ruangan dan memancarkan sinar yang sangat terang.

Andaikata ditempat lain Thiat Tiong-tong menjumpai ruangan semacam ini, niscaya dia akan keheranan dibuatnya, karena dia cukup mengerti akan keunikan dan kehebatan tuan rumah disini, oleh sebab itu semua keanehan yang ada disana sudah berada dalam dugaannya.

Ditengah ruangan tersedia dua buah peti mati yang ternyata terbuat dari tembaga hijau, ketika tersorot sinar terang dari mutiara-mutiara itu, terlihat dengan jelas garis-garis pahatan yang tertera diatas peti mati itu.

Kecuali dua buah peti mati tembaga, didalam ruangan pun tersedia lengkap aneka perabot layaknya rumah tinggal seorang bangsawan kaya raya, ada meja, bangku, almari, khiem, catur, buku, lukisan serta perlengkapan lainnya, bahkan setiap benda yang tersedia terbuat dari bahan berkwalitas nomor satu.

Kain tirai halus melapisi sisi ruangan lain, indah, mewah dan sangat mentereng.

Justru kehadiran ke dua buah peti mati tembaga ditengah ruang batu itulah membuat suasana disitu terasa aneh dan penuh kemisteriusan.

Manusia aneh itu telah membuka tutup peti mati dan membaringkan jenasah ibunya ke dalam, air mata telah membasahi seluruh wajahnya, meski tangisannya tidak bersuara namun nampak jelas betapa sedihnya orang itu.

Sementara itu Thiat Tiong-tong pun telah menyadarkan kembali Sui Leng-kong, secara ringkas dia menceritakan pengalamannya selama ini, Sui Leng-kong kaget bercampur tercengang, dia pun girang bercampur sedih.

Akhirnya mereka bertiga pun berlutut di depan peti mati itu dan melakukan penghormatan terakhir.

Dalam suasana sedih ke tiga orang itu hanya berlutut di depan peti mati tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya, sampai entah berapa lama kemudian, mungkin satu hari sudah lewat, mereka bertiga baru merasa lapar bercampur dahaga, saat ituiah mereka baru menjumpai kalau didalam gua tersedia aneka macam jinsom dan benda mestika lainnya yang bisa digunakan untuk menangsal perut.

Tapi mereka kesulitan menemukan air minum, di saat sedang kebingungan kembali mereka bertiga menemukan berapa puluh guci arak wangi.

Asal ada arak berarti masalah dahaga pun dapat teratasi pula.

Hagi Thiat Tiong-tong biar minum seribu cawan pun tidak masalah, apalagi manusia aneh itu, dengan takaran minumnya yang luar biasa mereka hanya minum terus tanpa bicara.

Hanya Sui Leng-kong seorang yang kepayahan, baru secawan, paras mukanya telah berubah jadi merah padam.

"Arak ini benar-benar keras!"

Tiba-tiba manusia aneh itu bergumam.

Dalam seharian penuh, mereka bertiga sama sekali tidak berbicara, kali ini merupakan kali pertama dia berbicara, namun selesai bergumam lagi-lagi dia membungkam diri.

Sebetulnya Sui Leng-kong enggan untuk minum arak lagi, tapi rasa dahaga yang luar biasa memaksanya secara diam-diam meneguk lagi dua cawan.

Sampai lama kemudian Thiat Tiong-tong baru buka suara, tanyanya.

"Toa.... toako, boleh tahu siapa namamu?"

"Aku dari marga Cu bernama Cau"

"Boleh tahu toako adalah...."

"Putra kaisar malam"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh.

"Sudah siaute duga sejak awal, hanya saja...."

Ketika menyaksikan wajahnya hijau membesi lantaran rasa duka yang mendalam, tidak tahan dia pun menghentikan perkataannya dan tidak bicara lagi.

Cu Cau sama sekali tidak menghentikan tegukan araknya, secawan demi secawan dia minum terus tiada hentinya, tiba-tiba sambil tertawa tergelak ujarnya.

"Putra kaisar malam, sebuah julukan yang keren bukan?"

Kembali dia menenggak tiga cawan arak, mendadak sambil membuang cawannya dia mulai menangis tersedu-sedu.

Thiat Tiong-tong sadar, kendatipun lelaki itu berusaha tampil dengan wajah senyuman, sesungguhnya banyak kedukaan yang dia alami, pikirnya.

"Lebih baik biarkan saja dia menangis sepuasnya"

Karena berpendapat begitu diapun tidak berusaha membujuk atau menghibur. Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menghela napas perlahan, bisiknya.

"Menangislah, menangislah sepuasnya, kalau bisa kepedihan didalam hati, keluarkan saja semuanya lewat tangisan...."

Cu Cau tidak menggubris, dengan tangannya menepuk diatas bahu tiba-tiba dia bersenandung lantang.

"Jalan kesana, jalan kemari, yang dicari hanya bunga dan pohon liu, jalan kesana, jalan kemari, lidak lepas dari cawan emas berisi arak, hahahaha.... cawan emas berisi arak!"

Sebetulnya Thiat Tiong-tong ingin menghiburnya, tapi ingatan lain segera melintas lewat.

"Kami bertiga sama-sama sedang murung dan sedih, apa salahnya menggunakan kesempatan ini untuk minum sampai mabuk"

Berpikir begitu, sambil tertawa nyaring dia pun mulai meneguk arak cawan demi cawan.

"Saudara cilik"

Kata Cu Cau kemudian.

"perselisihan kita dimasa lampau tidak perlu disinggung kembali, sejak kini kita adalah saudara, bukan begitu.... ? baik, asal kau mengangguk, mari kita habiskan secawan arak ini"

Kembali ke dua orang itu menghabiskan secawan arak. Mendadak Cu Cau berkata lagi.

"Saudara cilik, tahukah kau betapa sedihnya perasaan koko.... hahaha.... ayoh minum secawan lagi"

Begitulah sambil meneguk arak, Cu Cau tiada hentinya bersenandung sambil berteriak keras. Sui Leng-kong menghela napas panjang, bisiknya.

"Hanya seorang pendekar sejati yang bisa menangis bisa bersenandung semau hati, biar romantis asal berhati lurus dia tetap seorang pendekar, Cu.... Cu toako, aku kagum kepadamu"

"Kau.... kau memanggil toako kepadaku?"

Bisik Cu Cau.

"Karena Thiat Tiong-tong memanggilmu begitu, tentu saja aku pun akan melakukan hal yang sama"

"Aaaai, ternyata kau memanggil aku toako lantaran dia?"

"Tidak, sebutan toako muncul dari hati sanubariku sendiri"

"Tampaknya kau sama sekali tidak menaruh kesan jelek terhadapku"

"Sejak awal sudah kuketahui kalau kau memang orang baik"

Kata Sui Leng-kong agak mabuk, kemudian sambil menuding ke arah Thiat Tiong-tong lanjutnya.

"bila tidak ada dia, mungkin saja.... mungkin saja aku dapat mencintaimu"

"Bagus! Bagus! Kalau kau bisa, kenapa aku tidak...."

Teriak Cu Cau sambil tertawa keras, tapi gelak tertawanya lambat laun makin sirna, sehabis meneguk lagi berapa cawan arak kembali dia menangis tersedu sambil bersenandung.

"Ingin bertanya, takut bertanya, bertanya hanya menambah kepedihan, ketika musim semi menyelimuti kolam, kupu dan bangau saling bersua, kenapa tiada kesempatan untuk bertautan...."

Dengan sedikit mabuk sahut Sui Leng-kong.

"Kalau memang takut bertanya, mengapa masih bertanya?"

Menyaksikan betapa terpikatnya Cu Cau terhadap Sui Lengkong, diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, katanya tiba-tiba.

"Adik Leng-kong, aku tahu kau memang sangat baik terhadapku"

"jadi kau.... kau benar-benar tahu?"

Tanya Sui Leng-kong kegirangan.

"Benar, tapi perasaan kita berdua hanya terbatas hubungan antara kakak dan adik, jangan lupa kau adalah adikku"

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dia sendiripun mengeluh didalam hati, mengapa nasib selalu mempermainkan orang.

Perlu diketahui, peraturan adat waktu itu masih berlalu sangat ketat, antara saudara Tong pun dilarang untuk mengikat tali perkawinan.

Isak tangis Sui Leng-kong semakin menjadi, jeritnya.

"Tidak, aku tidak mau jadi adikmu, aku tidak mau jadi adikmu!"

Tiba-tiba serunya kepada Cu Cau.

"Maukah kau menerima aku sebagai adikmu?"

"Tidak, aku tidak mau kau menjadi adikku!"

Tampik Cu Cau.

"Kenapa?"

"Kenapa pula kau tidak mau jadi adiknya?"

Sui Leng-kong tertegun, akhirnya setelah menghela napas uj arnya.

"Betul, betul, ternyata alasannya sama...."

Lama sekali dia termangu, kelopak matanya terasa makin lama semakin berat sebelum akhirnya dia tertidur nyenyak.

Dalam pada itu Cu Cau hanya memandang kejahuan dengan pandangan mendelong, dalam waktu sekejap dia seolah telah berubah semakin tua.

Thiat Tiong-tong tidak tega untuk memandang lebih jauh, cepat dia membalikkan tubuh dan mulai membolak-balik buku yang ada dimeja.

Kini didalam hatinya sudah mengambil keputusan, dia bertekad untuk menjodohkan Sui Leng-kong dengan Cu Cau, pertama karena lelaki itu belum hilang jiwa pendekarnya, ke dua untuk membalas budi kebaikan ibunya yang telah tiada.

Begitu mengambil keputusan, Thiat Tiong-tong tidak mau berpikir lebih jauh lagi kendatipun perasaan hatinya amat pedih, dia mulai memeriksa kitab yang ada dimeja, ternyata isinya hanya kitab kitab syair dan sejarah.

Mendadak dia jumpai se

Jilid kitab tipis yang bersambul kain kuning terselip di antara kitab pujangga, ketika dibuka terbacanya berapa huruf yang berbunyi.

"Wan Siu-tin dari Hangciu, tahun Kengcu bulan satu tanggal delapan. Kho siok-cu dari Siokciu, tahun Kengcu bulan satu tanggal sepuluh...."

Ternyata isinya adalah deretan nama perempuan serta saat terjadinya pertemuan, tanpa keterangan lain. Diam-diam Thiat Tiong-tong keheranan, ketika membalik ke halaman dua, terbacalah.

"Sui Ji-song dari Ho-pan, Tahun Kengcu bulan empat tanggal enam belas"

Kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar keras, cepat dia sembunyikan kitab itu ke dalam sakunya, sementara hatinya berdebar keras, dia tidak mengira kalau nama Sui Ji-song tercantum pula disitu, khususnya dia tidak ingin Sui Leng-kong melihat akan hal itu.

Pada saat itulah mendadak terjadi goncangan keras diatas dinding batu diikuti suara ledakan, meski suaranya tidak terlalu keras namun tidak lama kemudian hawa panas dan pengab mulai menyelimuti ruangan dalam.

Baru saja Thiat Tiong-tong mengernyitkan alis matanya, terdengar Cu Cau berseru.

"Saudaraku, terima ini!"

Ternyata diapun sedang membalik balik tumpukan buku dan menemukan se

Jilid kitab ilmu pedang yang ditulis ibunya, maka sambil dilempar ke arah Thiat Tiong-tong katanya.

"Kitab itu berisi ilmu pedang Siau hiang kiam hoat, pelajari baik-baik!"

Sudah cukup lama Thiat Tiong-tong tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat sebuah ilmu pedang itmpuh yang bernama Siau hiang (penyayat harum), konon ilmu tersebut sudah lama punah, tidak nyana aku justru mendapatkannya hari ini.

Dalam kaget bercampur girangnya dia berseru.

"Toako, bagaimana dengan kau?"

Cu Cau tertawa pedih, ujarnya.

"Ilmu pedang Siau hiang kiam sut mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan jurus, kecepatannya tiada duanya dikolong langit, dengan kelincahan pergelangan tanganmu, cocok sekali untuk mempelajari kepandaian semacam ini, sedang aku.... aaaai, aku sudah tidak berniat belajar pedang lagi"

Sambil duduk kembali dia meneguk arak, terkadang sambil memegangi peti mati dia menangis tersedu-sedu, kadangkala dia bersenandung sambil tertawa terbahak-bahak.

Sui Leng-kong sendiri meski tidak berani mabuk lagi namun dia pun tidak pernah betul-betul sadar, hanya Thiat Tiong-tong seorang yang masih berkobar semangatnya, dia tidak ingin membuang waktu dengan percuma, maka waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk mempelajari ilmu pedang itu.

Entah berapa lama sudah lewat, menurut perhitungan Thiat Tiong-tong kalau bukan dua puluh hari paling tidak setengah bulan sudah lewat, maka diapun berniat untuk meninggalkan tempat itu.

Saat itulah Cu Cau baru membenahi pakaiannya sambil bangkit berdiri, mereka bertiga saling berpandangan dengan murung, tampak raut muka rekannya kelihatan jauh lebih kucal dan lusuh.

Maka setelah bersama-sama menyembah dihadapan peti mati, mereka pun bersama-sama meninggalkan tempat itu.

Membuka pintu batu dari arah dalam ternyata jauh lebih mudah, namun Thiat Tiong-tong segera merasakan tangannya menyentuh bebatuan yang panas, padahal seharusnya batuan disitu dingin, satu ingatan melintas dalam benaknya.

Dalam waktu singkat pintu sudah terbuka lebar, mereka bertiga pun secara beruntun keluar dari gua, tapi dengan cepat mereka semua berdiri tertegun.

Air kolam yang semula hijau bening kini sudah mengering setengah, dinding batu sekitar ruangan yang hijau penuh lumut sekarang sudah hangus hitam, sampan ditengah kolam lenyap tidak berbekas, sebagai gantinya tersisa berapa keping kayu hangus yang terapung diatas permukaan air.

Dalam sekilas pandang mereka bertiga tahu kalau kebakaran dahsyat baru saja padam ditempat itu, buru-buru mereka keluar dari lorong rahasia, sepanjang mata memandang yang terlihat hanya kayu hangus serta puing yang berserakan dimana-mana.

Semua keindahan, semua kemegahan dan kemewahan telah punah tidak berbekas, yang tersisa kini hanya sebuah bangunan batu, bangunan kosong yang berdiri sendu dihembus angin barat.

Keluar dari bangunan batu, aneka bunga, tanah berumput, pohon liu, maupun jembatan kecil kini tersisa seonggok abu, tempat indah bak surgawi yang dulu menyelimuti tempat itu, kini hilang lenyap tidak berbekas bahkan suasananya jauh lebih mengenaskan ketimbang neraka gersang.

Untuk sesaat semua orang berdiri tertegun, berdiri melongo, seolah tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.

Mendadak Cu Cau menepuk bahunya dan menegur sambil tertawa.

"Saudara cilik, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku ingin tahu siapa yang telah melakukan perbuatan keji ini!"

Bisik Thiat Tiong-tong sambil menghela napas.

"Memangnya kau kuatir dia akan bersembunyi sepanjang masa, buat apa mesti disedihkan"

Sahut Cu Cau cepat. Kemudian setelah mendongakkan kepalanya tertawa lantang, katanya lebih jauh.

"Apalagi semua benda itu hanya benda duniawi, dibakar habis pun tidak jadi masalah, toh tempat ini dibangun oleh manusia, harta pun dikumpulkan manusia, dia bisa membakarnya sampai habis, memangnya aku tidak bisa membangunnya kembali? Hahahaha.... saudara cilik, yang penting kita punya kemampuan, apa susahnya untuk mengumpulkan kembali harta yang tercecer"

Melihat betapa lapangnya pikiran dan hati lelaki ini, kontan Thiat Tiong-tong menaruh kesan yang sangat baik terhadapnya, kembali dia berpikir.

"Jika adik Leng-kong bisa memperoleh suami macam dia, aku akan lega sekali, cuma...."

Tiba-tiba serunya sambil tertawa.

"Dengan memberanikan diri siaute ingin menasehati satu dua patah kata kepada toako"

"Katakan saja!"

"Toako, dalam segala hal kau sangat mengagumkan, hanya sifat pemogoranmu yang bikin orang tidak tahan"

"Hahahaha.... orang suka pemogoran di saat dia masih muda, apalagi aku...."

Mendadak dia menarik kembali senyumannya.

"kalau tidak menjumpai kekasih hati yang mencocoki, apa yang bisa kuperbuat selain cari kesenangan di luar...."

"Berarti jika toako sudah menemukan gadis yang mencocoki hatimu maka kau tidak akan main perempuan lagi?"

"Betul, bila aku sudah menemukan gadis yang cocok maka sejak itu tidak akan bermain perempuan lagi.... hei, kenapa kau bertanya begitu?"

"Aaah tidak apa-apa...."

Sahut Thiat Tiong-tong samon tertawa.

"bagus, bagus sekali! Tanpa membuang waktu lagi dia berjalan dulu keluar dari lembah. Diluar lembah masih merupakan sebuah dunia yang tenang dan penuh kedamaian, tiba-tiba Thiat Tiong-tong memaksa Cu Cau untuk duduk diatas sebuah batu gunung, kemudian ujarnya.

"Toako, harap menerima tiga kali sembah sujudku"

"Aaah, tidak ada urusan apa-apa kenapa kau mesti bersujud kepadaku?"

Kata Cu Cau tertawa. Dengan wajah serius sahut Thiat Tiong-tong.

"Sujudku yang pertama untuk berterima kasih atas budi kebaikan dari ibunda, sujud ke dua karena toako mau menerima aku sebagai saudara...."

Sambil bicara dia sudah mulai bersujud. Sekilas perasaan sedih melintas diwajah Cu Cau, tapi sebentar kemudian dia sudah berkata lagi sambil tertawa.

"Baiklah, dua persembahanmu akan toako terima semua, tapi untuk apa sujudmu yang ke tiga?"

"Siaute mohon toako mau berkunjung ke sebuah rumah gubuk dibawah bukit Ong wo san yang disebut gubuk cay seng cau gwa (tumbuh lagi diladang lain) untuk menjumpai seseorang, tolong sampaikan surat siaute kepadanya"

Sambil berkata dia mengeluarkan sepucuk surat yang tampaknya telah dipersiapkan semenjak masih berada dalam ruang rahasia tadi.

"Itu mah gampang, kenapa kau mesti bersujud kepadaku?"

Tanya Cu Cau.

"Siaute berharap toako mau memandangnya sebagai saudara sendiri serta merawat dirinya, tapi siaute berani jamin orang ini adalah seorang lelaki luar biasa di dunia ini!"

"Kalau dibilang dia adalah seorang lelaki luar biasa, biar kau tidak bicara apapun surat ini pasti akan kusampaikan"

"Terima kasih toako"

Sekali lagi Thiat Tiong-tong bersujud dihadapan lelaki itu. Kemudian sambil menarik tangan Sui Lengkong, ujarnya pula.

"Adik Leng-kong, aku pun ingin memohon sesuatu kepadamu, apakah kau bersedia mengabulkan?"

Sui Leng-kong menghela napas panjang.

"Aaai.... apa pun permintaanmu, yang baik atau yang jelek, asal sudah kau sampaikan maka aku pasti akan mengabulkannya"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, ujarnya cepat.

"Aku minta kau mengikuti Cu toako menuju ke bukit Ong wo san, minta kepadamu untuk bersikap baik terhadap Cu toako, juga bersikap baik terhadap orang yang berada di rumah gubuk itu"

Berubah paras muka Sui Leng-kong, katanya perlahan.

"Karena sudah kau sampaikan, aku pasti akan mengabulkan, tapi.... tapi.... jangan kau sangka aku tidak memahami niatmu"

"Apa yang kau pahami?"

Tanya Thiat Tiong-tong sambil tertawa paksa.

"Aku tidak ambil perduli apa yang kau pikirkan"

Ucap Sui Leng-kong sepatah demi sepatah.

"asal kau tahu saja, apa pun yang bakal terjadi aku tidak bakal kawin dengan orang lain dalam hidupku kali ini kecuali dengan kau seorang"

Biarpun perkataan itu disampaikan secara tegas namun wajahnya masih tenang tanpa emosi, jelas entah sudah berapa kali perkataan itu diucapkan olehnya didalam hati. Berubah paras muka Thiat Tiong-tong.

"Tapi.... tapi.... kau.... aku...."

Sui Leng-kong tertawa hambar, tukasnya.

"Akupun tahu saudara itu tidak mungkin jadi suami istri, aku hanya menyesal kenapa nasibku begini jelek, aku bertekad selama hidup tidak akan menikah.... Cu toako, mari kita berangkat!"

Dari sikap serta mimik mukanya, Thiat Tiong-tong tahu kalau gadis itu tidak akan mengubah keputusannya walau dalam keadaan seperti apa pun, dia merasa sedih bercampur murung, cepat pemuda itu membuang wajahnya ke arah lain.

Tampak Cu Cau berdiri sambil bergendong tangan, wajahnya senyum tidak senyum, andaikata dia bukan manusia luar biasa, batinnya pasti akan tersiksa setelah mendengar perkataan dari Sui Leng-kong itu.

Setelah menghela napas sedih kata Thiat Tiong-tong lagi.

"Toako, kau.... sebenarnya kau hidup santai dan penuh kecerian, gara-gara siaute, sekarang kau mesti berkelana dalam dunia persilatan!"

Padahal bukan perkataan itu yang ingin disampaikan, hanya saja setelah ucapan itu sampai di bibir, dia tidak tega untuk mengucap-kannya. Cu Cau tertawa, sahutnya.

"Aku memang sudah lama berniat berkelana dalam dunia persilatan, ingin melihat dunia sambil menambah pengalaman, inilah kesempatan baik untukku, hanya saja.... aku tetap merasa keheranan"

"Apa yang toako herankan?"

"Kau minta aku menuju ke bukit Ong wo san, sementara kau sendiri hendak ke mana?"

"Sebetulnya siaute yang punya janji di bukit Ong wo san, apa daya saat ini siaute mempunyai persoalan lain yang jauh lebih penting sehingga mau lidak mau harus minta toako...."

"Apakah urusan pentingmu itu tidak bisa kau utarakan?"

Thiat Tiong-tong tertawa pedih, ujarnya.

"Persoalan ini panjang untuk diceritakan.... tapi siaute berjanji, begitu urusan itu selesai pasti akan segera menyusul ke sana dan bertemu kembali dengan toako dan adik Leng-kong"

"Sudahlah, kalau kau enggan membicarakannya, tidak usah disinggung lagi, yang penting aku tetap mempercayaimu!"

Sambil bangkit berdiri serunya.

"Baik, Sui Leng-kong, kita berangkat!"

Tanpa membuang waktu dia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu diikuti Sui Leng-kong di belakangnya.

Hingga bayangan tubuh kedua orang itu lenyap dari pandangan, Sui Leng-kong tidak pernah berpaling walau sekejappun.

Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali, dia tahu bila Sui Lengkong masih mau berpaling, urusan agak mendingan.

Dalam kenyataan dia sama sekali tidak menengok, hal ini menunjukkan kalau rasa sedihnya sudah mencapai puncak tertinggi.

Diam-diam dia menghela napas, gumamnya.

"Toako, Leng-kong, bukannya aku enggan membicarakan urusan penting itu, aku justru kuatir bila kuutarakan maka kalian berdua tidak bakalan meninggalkan diriku lagi, semoga sejak kini kalian berdua bisa hidup bahagia.... bila beruntung aku berhasil menyelesaikan ke dua tugasku itu, kita masih punya kesempatan untuk bersua lagi dikemudian hari, sebaliknya bila aku gagal.... berarti...."

Perlahan dia mengangkat tangannya sambil menggosok matanya, lalu selangkah demi selangkah berjalan menelusuri jalan bukit menuju ke bawah gunung.

BAB 23 Saling Punya Rencana Padahal persoalan penting yang memenuhi benak Thiat Tiong-tong saat ini bukan hanya dua hal saja.

Kenapa paman Sim nya bisa terjatuh ke tangan liong Lo-su?

Bagaimana keselamatan perguruannya?

Apakah sudah dihabisi oleh si tangan beracun itu?

Rahasia apa yang terdapat dibalik budi dendam perguruan Tay ki bun?

Duduk perkara yang sebenarnya dari beberapa masalah itu merupakan hal penting baginya untuk segera ditelusuri, dia bahkan merasa sedetikpun tidak bisa menahan diri lagi, namun sebelum melakukan penyelidikan atas ke tiga masalah tersebut, pertama-tama dia harus menemukan Hong lo su serta paman Sim nya terlebih dulu, sedang mengenai masalahnya yang terakhir, dia masih teringat dengan ucapan Cu hujin kepada Cu Cau menjelang ajalnya.

"Semua budi dendam serta rahasia yang menyangkut Perguruan Tay ki bun hanya diketahui secara jelas oleh ayahmu seorang, dia belum mati.... sekalipun Kaisar malam belum mati, tapi dimanakah dia? Siapa yang tahu akan hal ini? Pertolongan serta bantuan dari kawanan perempuan bercadar itu jauh diluar dugaan siapa pun, bukan cuma membantu, mereka bahkan mengundangnya untuk berkunjung ke pulau Siang cun-to. Salah satu dari tiga permintaan Cu hujin yang harus dia laksanakan adalah menemukan wanita penghantar nasi yang buta matanya itu, padahal seluruh gadis itu kemungkinan besar sudah diangkut balik ke pulau Siang cun-to oleh perempuan-perempuan bercadar itu, karenanya pulau Siang cun-to telah menjadi salah satu target yang wajib dikunjungi, siapa tahu di pulau tersebut dia akan berhasil mendapatkan berita tentang Hong Lo-su serta kaisar malam. Setelah melakukan pembenahan secara kilat atas semua masalah pelik yang sedang dihadapi, Thiat Tiong-tong segera mengambil keputusan, bagaimana pun juga dia harus berkunjung dulu ke pulau Siang cun-to. Ketika sinar senja belum hilang sama sekali dari cakrawala, Thiat Tiong-tong sudah duduk disebuah batu cadas dikaki gunung, tempat dimana dia pernah duduk sebelum naik gunung tempo hari. Dengan termangu dia duduk disitu, menerawang kejauhan dengan mata sayu, dia tidak tahu dimanakah letak pulau Siang cun-to, apakah ada umat persilatan yang mengetahui tempat itu? "Kalau ditinjau dari makna namanya, jelas pulau Siang cun-to berada di tengah lautan!"

Demikian dia berpikir.

Maka setelan membenahi bajunya, berangkatlah pemuda itu menuju ke arah timur.

Ketika tiba di pesisir pantai, walaupun dia sudah berulang kali mencari berita dari para nelayan yang sudah puluhan tahun hidup di lautan, tapi ternyata todak seorang pun yang pernah mendengar tentang pulau Siang cun-to.

Seorang nelayan tua yang wajahnya penuh keriput berkata begini.

"Sudah hampir lima puluhan tahun aku hidup dilautan, asal disini terdapat sebuah pulau yang bernama Siang cun-to, mutahil aku tidak mengetahuinya"

Mendengar jawaban itu, Thiat Tiong-tong percaya apa yang dikatakan bukan omong kosong belaka, tidak tahan diapun menghela napas panjang.

"Aaai, apabila kau orang tua pun tidak tahu, rasanya memang tidak ada pulau tersebut di luar lautan"

"Perkataan siauya tepat sekali"

Thiat Tiong-tong menghabiskan dua hari lamanya untuk menelusuri sepanjang pesisir pantai, namun hasilnya tetap nihil, yang dia peroleh tidak lebih hanya bau asin air laut yang menempel diatas pakaiannya.

Dengan perasaan masgul dan putus asa terpaksa dia berbalik lagi menuju ke arah barat, tidak sampai satu hari dia sudah melewati bukit Go-uau dan tiba di kota Meh-shia.

Setelah menempuh perjalanan seharian penuh, saat itu Thiat Tiong-tong berencana mencari tempat penginapan, baru saja dia melahap semangkuk mie, mendadak terdengar ada orang berteriak keras.

"Cepat lihat, cepat lihat, kawanan Seng-kou (bibi suci) kembali melewati tempat ini!"

Sebagian besar orang yang berada dalam warung itu serentak berlarian keluar, bahkan satu demi satu menjatuhkan diri berlutut ditepi jalan.

Terdorong rasa heran dan ingin tahu, tidak tahan Thiat Tiong-tong ikut berjalan keluar dari warung.

Tiba-tiba dia merasa ada orang menarik ujung bajunya sambil berbisik.

"Seng kou sudah tiba, kenapa kau tidak berlutut?"

Thiat Tiong-tong tidak ingin membantah, terpaksa dia pun ikut berlutut. Tidak selang berapa saat kemudian terdengar orang-orang diujung jalanan mulai bersorak sorai.

"Seng kou.... seng kou...."

Ditengah teriakan dan sorak sorai yang gegap gempita tampak ada enam, tujuh orang perempuan berjubah panjang warna hitam dan mengenakan kain cadar berwarna hitam berjalan lewat.

Gaya mereka sewaktu berjalan aneh sekali, bahunya tidak nampak bergerak, tangan pun tidak nampak diangkat, asal sepasang kakinya menutul diatas tanah maka tubuh mereka pun bergerak dengan sangat ringan.

Sekalipun begitu, ternyata mereka dapat bergerak cepat sekali, cepat dan ringan bagaikan sedang menunggang angin.

Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur kegirangan, bukankah mereka adalah para utusan yang dikirim Ratu matahari dari pulau Siang cun-to?

Tapi kalau dilihat dari potongan tubuh orang orang itu, kelihatannya mereka bukan kawanan wanita yang muncul di tempat kediaman Cu Cau tempo hari.

Diam-diam Thiat Tiong-tong pun berpikir.

"Perduli mereka adalah rombongan yang tempo hari atau bukan, asal mereka sedang balik ke pulau Siang cun-to, aku dapat mengintil dari belakangnya"

Dibelakang rombongan wanita bercadar hitam itu mengikuti sebuah kereta kuda yang tertutup rapat pintu serta jendelanya. Saat itulah terdengar orang yang menariknya agar berlutut itu berbisik.

"Kelihatannya kau berasal dari luar daerah, tahukah kau, bukan saja kawanan Seng kou itu berwelas asih bahkan memiliki ilmu yang luar biasa"

Thiat Tiong-tong tahu kawanan orang dusun itu telah memandang kawanan perempuan bercadar itu bagaikan malaikat, itulah sebabnya mereka menaruh sikap yang begitu menghormat.

Namun kalau didengar dari nada bicaranya, besar kemungkinan para wanita bercadar itu pasti pernah melakukan perbuatan terpuji, entah mengapa, ternyata secara diam-diam Thiat Tiong-tong ikut merasa gembira.

Tidak selang berapa saat kemudian kawanan wanita bercadar itu sudah melewati jalanan itu, selama ini tidak seorangpun di antara mereka yang pernah celingukan kesana-kemari, mereka berjalan secara teratur dengan mata memandang ujung hidung, hidung memandang ke hati.

Kini sorak sorai telah berakhir, semua orang pun telah bangkit berdiri.

Diam-diam Thiat Tiong-tong melampaui kerumunan orang banyak dan mulai menguntit jauh di belakang kawanan wanita bercadar itu.

Untung saat itu malam sudah menjelang tiba sehingga gerak-geriknya sama sekali tidak menimbulkan perhatian orang.

Tapi Thiat Tiong-tong tidak berani menempel kelewat dekat, diakuatir jejaknya ketahuan.

Tiba-tiba seorang perempuan bercadar yang berjalan paling belakang menghentikan langkah-nya dan menengok ke belakang.

Dengan hati tercekat Thiat Tiong-tong segera berpikir.

"Jangan-jangan jejakku ketahuan mereka dan dianggap punya niat jahat"

Dia tidak ingin terjadi bentrokan secara langsung dengan kawanan wanita bercadar itu, maka cepat tubuhnya menyelinap ke samping siap menyembunyikan diri.

Siapa tahu perempuan bercadar yang berdiri ditengah remang remangnya cuaca itu ternyata menggapai ke arahnya.

Sadar kalau tidak mungkin bersembunyi lagi, terpaksa sambil bulatkan tekad Thiat Tiong-tong berjalan menghampiri.

"Kemari!"

Bisik perempuan bercadar itu sambil menyelinap ke sisi jalan dan bersembunyi ke balik pepohonan. Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pikirnya.

"Kalau dibilang dia adalah salah satu di antara kawanan perempuan yang pernah kujumpai berapa waktu berselang, kenapa tindak tanduknya begitu sok rahasia? Kalau dibilang dia berasal dari kelompok lain, dari mana bisa kenal aku?"

Walaupun pelbagai kecurigaan menyelimuti perasaan hatinya toh pemuda itu tetap berjalan mendekatnya.

Bagaikan sukma gentayangan perempuan berbaju hitam itu berdiri di bawah rindangnya pepohonan, kembali dia berbisik.

"Kemarilah lebih dekat"

"Cianpwee"

Ujar Thiat Tiong-tong sedikit sangsi.

"apakah kau ada sesuatu petunjuk? Cayhe...."

Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu tertawa ringan, tegurnya.

"Masa kau sudah tidak mengenali suaraku lagi?"

Suaranya manis, indah, lembut dan penuh daya tarik.

"Un Tay-tay!"

Teriak Thiat Tiong-tong, menjerit lantaran kaget.

"Betul!"

Dengan jari tangannya yang lentik perempuan berbaju hitam itu melepaskan kain cadar penutup wajahnya, maka terlihatlah sebuah raut muka yang cantik bak bunga mekar dengan mata yang bening bagai permukaan air danau.

Siapa lagi dia kalau bukan Un Tay-tay?

Terkejut bercampur girang seru Thiat Tiong-tong lagi.

"Kenapa.... kenapa kau bisa bergabung dengan mereka?"

Kemudian seakan teringat akan sesuatu, tanyanya lagi terperanjat.

"Bagaimanakeadaan Im samteku?"

Sekilas rasa murung bercampur sedih melintas dibalik mata Un Tay-tay, sahutnya setelah menghela napas.

"Aaai... panjang untuk menceritakan kejadian ini, aku hanya bisa memberitahukan secara ringkas"

"Samte, dia.... apakah lukanya telah sembuh?"

"Bukan hanya lukanya sudah sembuh, malah kungfu nya maju sangat pesat"

"Si.... siapa yang telah menolongnya?"

Tanya Thiat Tiong-tong kegirangan.

"Bu-si thaysu!"

"Ketua Siau-lim-pay?"

Thiat Tiong-tong semakin girang.

"aaah, tampaknya samte memang punya rejeki baik, tidak nyana Bu-si thaysu mau meringankan tangan mengajarinya ilmu silat"

Ternyata Bu-si thaysu dari Siau-lim-pay ini bukan saja merupakan Pendeta sakti nomor satu dijagad saat itu, nama maupun kedudukannya dalam dunia persilatan pun amat tinggi dan terhormat, jarang ada yang bisa menandinginya.

Tapi sudah cukup lama pendeta itu hidup mengasingkan diri, dalam belasan tahun terakhir nyaris belum pernah ada yang berjumpa dengan-nya, tidak heran kalau Thiat Tiong-tong kegirangan setengah mati setelah mendengar kabar itu.

"Hari itu dengan susah payah akhirnya aku berhasil membawanya keluar dari lorong bawah tanah"

Cerita Un Tay-tay.

"sesuai dengan nasehatmu, akupun langsung menghantarnya ke kuil Siau-lim-sie di bukit Siong-san"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Kuil Siau-lim amat ketat penjagaannya, aku tidak habis mengerti dengan cara apa kau bisa masuk ke dalam kuil dan berjumpa dengan Bu-si thaysu?"

"Kau tidak perlu tahu dngan cara apa aku berhasil masuk ke dalam kuil"

Sahut Un Tay-tay sambil tertawa sedih.

"pokoknya aku berusaha masuk, berusaha bertemu Bu-si thaysu dan minta kepadanya untuk mengobati luka Im Ceng"

Dari tertawanya yang begitu pedih, Thiat Tiong-tong segera tahu kalau pengalaman yang dialaminya selama itu pasti penuh kegetiran dan kesedihan, sebab dia tahu kendatipun perjalanan dari pintu kuil Siau-lim hingga ke depan kamar Hong tiang kelihatannya datar dan halus, dalam kenyataan jauh lebih sulit ketimbang mendaki bukit terjal atau menuruni jurang curam.

Tapi berhubung Un Tay-tay nampaknya enggan bercerita, tentu saja Thiat Tiong-tong kurang leluasa untuk mendesaknya lebih jauh, tentu saja dia tidak menyangka kalau kegetiran dan kesulitan yang harus dilaluinya selama ini kecuali Un Tay-tay seorang, mungkin orang lain tidak akan mampu melampauinya.

Rupanya hari itu ketika Un Tay-tay dengan membopong Im Ceng tiba di kuil siau-lim, dia sudah berada dalam keadaan lelah dan kehabisan tenaga, dengan segala daya dan upaya dia ingin bertemu tianglo kuil tapi selalu ditolak oleh para pendeta penerima tamu diluar pintu.

Menyaksikan pintu kuil tertutup rapat Un Tay-tay hanya bisa berlutut di depan pintu sambil menangis dan merengek, sebesar apa pun nyalinya tidak mungkin dia berani menerjang masuk secara paksa.

Sayangnya walaupun dia sudah berlutut setengah malaman, walau suara tangisannya telah membuat dia jadi parau, namun penghuni kuil Siau-lim tetap tidak ambil perduli, menggubris pun tidak.

Hal ini bukan disebabkan jiwa para pendeta Siau-lim yang kelewat keji dan tega, masalahnya nama dan pamor Siau-lim-pay kelewat besar, kelewat termashur, dalam ratusan tahun terakhir ada begitu banyak orang yang naik gunung mohon bantuan.

Menghadapi permintaan yang begitu meluber tentu saja pihak Siau-lim-pay tidak bisa mengabulkannya, apalagi di antara mereka yang datang, banyak di antaranya merupakan penjahat kambuh atau tokoh jahat yang kabur kesitu karena sedang diburu petugas negara atau para penegak keadilan.

Malah ada banyak di antaranya yang pura-pura berlagak sakit atau terluka, padahal sebetulnya berniat mencuri belajar ilmu silat partai itu, jika pihak Siau-lim-pay menerima semua permintaan itu, bukankah tempat suci sang Buddha bakal berubah jadi tempat yang nista, kotor dan penuh dosa.

Itulah sebabnya pihak Siau-lim-sie menerapkan peraturan yang sangat ketat, kecuali ada yang merekomendasi atau orang itu benar-benar seorang pendekar sejati, jangan harap yang lain bisa melangkah masuk ke dalam kuil.

Un Tay-tay tidak ada yang memberi rekomendasi, diapun bukan seorang pendekar kenamaan, bukan hal yang aneh jika permintaannya ditampik mentah-mentah.

Entah suatu keberuntungan atau justru merupakan satu musibah, di saat yang amat menyulitkan itulah mendadak terasa ada angin berhembus lewat, entah sejak kapan, tahu-tahu dibelakang tubuhnya telah muncul seorang kakek berjubah ungu.

Biarpun angin yang ditimbulkan sewaktu datang amat ringan ternyata dia memiliki perawakan tubuh tinggi besar, sekilas pandang, kakek itu mirip malaikat raksasa yang datang dari langit.

Dia mempunyai alis mata yang tebal dengan mata yang tajam, dagunya memelihara cambang berwarna merah keungu-unguan, setelah memperhatikan Un Tay-tay beberapa saat lalu menegur.

"Nona cilik, kenapa kau menangis?"

Ternyata dia memiliki suara yang keras bagai guntur yang menggelegar di angkasa.

Melihat kemunculan orang itu Un Tay-tay nampak terperanjat, namun setelah melihat kakek itu tidak berniat jahat, secara ringkas dia pun menuturkan kisah kejadiannya.

Selesai mendengar penuturan itu, si kakek tinggi besar itu kontan tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... kalau ingin bertemu Bu-si hweesio mah gampang sekali, tapi aku tidak pernah mau membantu orang tanpa imbalan, kecuali setelah berhasil nanti kaupun berjanji mau memberi upah kepadaku"

"Walaupun siauli tidak punya apa-apa, tapi masih memiliki sedikit uang"

"Hahahaha.... buat apa uang? Aku sudah memiliki banyak sekali, lagipula buat apa aku mesti menolongmu kalau cuma gara-gara sedikit barang rongsok? Aaah, masa kau pandang begitu tidak berharga diriku?"

"Tapi kecuali uang, siauli benar benar tidak.... tidak memiliki benda lain sebagai imbalan"

"Kalau begitu lanjutkan saja berlututmu!"

Kata si kakek sambil berjalan menuju ke arah pintu.

Melihat kondisi Im Ceng yang makin lama semakin bertambah parah, Un Tay-tay sadar bila tidak diberi pertolongan secepat mungkin, bisa jadi keadaan akan terlambat.

Akhirnya sambil menggigit bibir dia berteriak keras.

"Cianpwee, tunggu sebentar"

"Apakah kau sudah teringat ada benda lain yang bisa diberikan kepadaku?"

Tanya kakek berjubah ungu itu sambil membalikkan tubuh.

"Benar!"

"Apa itu?"

Berkilat sepasang mata si kakek.

"Tubuhku!"

Kakek berjubah ungu itu segera mendongak-kan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha,.... betul, betul sekali! Kalau bukan lantaran menunggu jawaban ini, buat apa aku mesti membuang banyak waktu, biarpun jawaban sedikit agak terlambat, paling tidak toh membuktikan kau memang perempuan pintar"

Tiba-tiba dia menghentikan gelak tertawanya, kemudian ujarnya lagi dengan nada keras.

"Tapi ingat, kau sendiri yang rela menjanjikan hal itu, aku tidak pernah berusaha memaksamu, jadi sampai waktunya kau jangan mencoba ingkar janji"

"Bagaimana kalau sebaliknya kau gagal mengajak kami masuk ke dalam?"

Un Tay-tay balik bertanya, meski wajahnya tetap tenang, meski pancaran matanya tetap hangat namun perasaan hatinya telah mendingin, mati!

"Kalau tidak sanggup membawamu masuk, akan kuserahkan batok kepalaku ini"

"Tapi.... sekalipun kau dapat membawa masuk kami berdua, akupun tidak bisa langsung...."

"Aku tahu, kau masih ingin menemani bocah muda setengah mampus itu berapa hari lagi bukan"

Tukas kakek berjubah ungu itu cepat.

"Bukan berapa hari, tapi berapa puluh hari"

Kembali kakek berjubah ungu itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... perempuan yang sangat lihay, sebelum ini belum pernah kujumpai perempuan macam kau, baiklah, kuberi waktu selama empat puluh hari, selewat empat puluh hari, tubuhmu akan menjadi milikku"

"Tapi perasaan hatiku tetap akan menjadi milikku sendiri"

Sambung Un Tay-tay segera. Kakek berjubah ungu itu agak tertegun, tanyanya tanpa terasa.

"Berapa nilai hatimu itu?"

"Harus ditukar dengan nyawamu!"

"Hahahaha.... bagus, bagus sekali"

Kembali kakek berjubah ungu itu tertawa tergelak.

"tidak nyana di usia senja aku bisa bertemu perempuan macam kau, sayang perjumpaan kita tidak terjadi lebih awal"

"Sekalipun perjumpaan terjadi lebih awal, kau tetap tidak akan peroleh apa-apa"

Arti perkataan itu jelas sekali, maksudnya andaikata aku bukan sedang memohon bantuanmu, mana mungkin akan kuserahkan tubuhku kepadamu? Kembali kakek berjubah ungu itu tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, bagus sekali.... cepat sebut, siapa namamu"

"Un Tay-tay!"

Sekali lagi kakek berjubah ungu itu memperhatikan tubuhnya berapa kejap, mendadak dia membalikkan tubuh dan berteriak keras.

"Hei, apakah ada hwesio didalam kuil? Kalau masih ada yang hidup, cepat keluar!"

Suaranya yang keras bagai guntur membuat daun jarum pohon siong yang tumbuh disekitar sana rontok berguguran.

Tidak selang berapa saat kemudian, pintu kuil dibuka orang dan muncul seorang pendeta berjubah abu-abu, tampaknya dia dibuat terperanjat oleh suara teriakan itu.

Walau masih nampak kaget namun sambil menahan diri pendeta itu segera memberi hormat seraya bertanya.

"Sicu ada urusan apa?"

"Aku ingin bertemu Bu-si!"

Sekali lagi paras muka pendeta itu sedikit berubah, apalagi melihat orang itu begitu berani menyebut langsung nama hongtiang nya.

"Cousu sudah banyak tahun tidak menerima tamu!"

Kembali sahutnya dengan kening berkerut.

"Hmm, orang lain boleh saja tidak dijumpai, tapi dia harus bertemu aku"

"Boleh tahu nama sicu?"

Tanya pendeta itu dingin.

"Hmm, kau belum berhak untuk mengetahui namaku!"

Bentak kakek berjubah ungu itu keras. Tiba-tiba dia membalikan tubuh, sepasang tangan dilontar keluar dari balik bajunya dan....

"Blaaaam!"

Sebatang pohon siong yang tumbuh disisi pintu kuil seketika terhajar patah jadi dua bagian, separuh bagian di antaranya berikut daun dan ranting langsung roboh ke arah pendeta itu.

Menyaksikan betapa dahsyatnya kemampuan lawan, rasa ngeri bercampur takut segera memancar keluar dari balik wajah pendeta itu, tanpa banyak bicara lagi tergopoh-gopoh dia lari masuk ke dalam kuil.

Un Tay-tay sendiripun berdiri terbelalak menyaksikan kehebatan kakek itu.

Terdengar si kakek kembali berseru sambil tertawa tergelak.

"Hahahaha.... kalau aku tidak sedikit mendemonstrasikan kemampuanku, pendeta itu pasti tidak akan memberi laporan"

Tidak selang berapa saat kemudian tampak seorang pendeta berjenggot putih muncul dari balik ruangan, tapi begitu bertemu dengan kakek berjubah ungu itu, paras mukanya seketika berubah hebat.

"Hui-keng, kau masih kenali aku?"

Bentak kakek berjubah ungu itu.

"Aaah, rupanya cianpwee yang datang"

Buru-buru Hui-keng, pendeta berjenggot putih itu menjura dalam dalam.

"pinceng segera akan memberi kabar kepada guru, pinceng rasa suhu pasti akan segera datang menyambut"

"Cepat, cepat!"

"Baik, baik!"

Kembali Hui-keng masuk ke dalam kuil dengan tergesa-gesa.

Sudah cukup lama Un Tay-tay tahu kalau Hui-keng thaysu termasuk salah satu pendeta kenamaan dari Siau-lim-pay, dia tidak menyangka kalau hwesio itu menaruh rasa takut, jeri bercampur hormat terhadap kakek berjubah ungu itu, kenyataan tersebut membuat perasaan hatinya makin tercekat.

Tidak selang berapa saat kemudian, pintu kuil dibuka lebar-lebar dan muncullah tujuh orang pendeta beralis putih, sambil memberi hormat serentak mereka berseru.

"Hongtiang mempersilahkan sicu untuk masuk"

Kakek berjubah ungu itu mendengus dingin.

"Hmmm, aku lihat lagak si hwesio tua itu makin lama semakin besar"

Serunya.

"dia berani tidak menyambut kedatanganku.... Un Tay-tay, bopong dia dan ikut aku masuk!"

Benar saja, para pendeta Siau-lim itu tidak ada yang berani menghalangi, mereka membiarkan Un Tay-tay dengan membopong Im Ceng masuk ke dalam ruang kuil.

Tampak dua baris pendeta berdiri berjajar sepanjang jalan, di antara asap dupa yang harum, paras muka mereka nampak serius, sepasang tangan dirangkap di depan dada, tubuh mereka sama sekali tidak bergerak, dalam sekilas pandang wajah mereka mirip patung patung Buddha yang terbuat dari batu cadas, membuat suasana terasa makin mencekam.

Un Tay-tay mencoba untuk melirik sekejap, tapi setelah menyaksikan suasana tersebut dia tundukkan kepalanya semakin rendah, tidak berani memandang lagi.

Mereka berjalan jauh sekali ke dalam halaman kuil, dari jalan beralas batu berubah jadi jalan beralas pasir halus, lalu dari pasir halus beruba jadi jalan berbatu kerikil.

Entah berapa lama mereka sudah berjalan, akhirnya tibalah disebuah tempat dengan alas rerumputan yang hijau dan lembut, lamat-lamat terendus bau kayu cendana yang harum, dia tahu mereka sudah tiba di ruang Hongtiang, hal ini membuatnya semakin tidak berani celingukan.

"Bu-si lo-hweesio, apakah kau ada di dalam?"

Terdengar kakek berjubah ungu itu menegur.

Dari balik ruangan yang tertutup tirai bambu, tirai yang sudah berubah menjadi warna kuning karena asap dupa, terdengar seseorang menyahut dengan suara berat dan mantap.

"Tamu lama yang datang berkunjung, silahkan masuk"

"Selamanya aku tidak akan mengunjungi ruangan yang dipenuhi bau cendana"

Tampik kakek berjubah ungu itu cepat.

"Harap maklum, lolap pun tidak pernah keluar ruangan untuk menyambut sendiri kedatangan tamu!"

"Kau tidak perlu keluar, aku hanya ingin bertanya satu hal"

"Tanyakah saja!"

Ucap orang dibalik tirai bambu.

"Kau masih akan mengurusi persoalan itu atau tidak?"

"Persoalan yang mana?"

Kakek berjubah ungu itu kontan tertawa dingin.

"Persoalan yang mana tidak perlu lagi dijelaskan, kita sama-sama sudah tahu dengan sangat jelas. Selama puluhan tahun, persoalan itu tidak pernah mengusik kau maupun aku, sekarang sebetulnya kau masih mau mengurusi atau tidak?"

Orang dibalik tirai bambu itu termenung berapa saat, kemudian ia baru menjawab.

"Mengurus adalah tidak mengurus, tidak mengurus adalah mengurus, sicu mendesak terus untuk menanyai hal ini, apakah kau sudah mulai merasa asor!"

"Hey hwesio tua, permainan busuk apa yang sedang kau lakukan, aku tidak paham"

Seru kakek berjubah ungu itu sambil berkerut kening.

"Mengerti adalah tidak paham, tidak paham adalah mengerti"

"Hahahahaha.... bagus.... bagus, kini aku telah datang sia-sia, tidak datang juga tidak sia-sia, urusan itu mau meledak juga boleh, tidak meledak pun juga boleh"

"Omintohud, akhirnya sicu memahami juga"

Sekali lagi kakek berjubah ungu itu terbahak bahak.

"Panji besar adalah panji kecil, panji kecil adalah tiada panji, cinta adalah dendam, cinta adalah benci.... perkataanku benar bukan?"

"Kau sudah mengerti.... kau sudah mengerti!"

Kakek berjubah ungu itu mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak, mendadak ujarnya lagi.

"Ada seseorang yang setengah mampus mohon pertolonganmu, kini sudah kubawa kemari, mau ditolong atau tidak terserah kau sendiri, mau membiarkan dia mampus di depan kamar Hongtiang mu pun tidak ada sangkut pautnya denganku.... pergilah!"

Ketika mengucapkan kata yang terakhir tiba-tiba dia tangkap tubuh Un Tay-tay serta Im Ceng kemudian melemparnya ke dalam kamar Hongtiang. Serunya lagi sambil tertawa tergelak.

"Empat puluh hari kemudian, kemana pun kau pergi, aku tetap bisa menemukan dirimu kembali"

Un Tay-tay hanya merasakan desingan angin berhembus lewat dari sisi telinganya, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur masuk ke dalam ruangan melalui jendela.

Dia sangka bantingannya kali ini paling tidak akan membuatnya kesakitan setengah mati, siapa tahu penggunaan tenaga yang dilakukan kakek berjubah ungu itu ternyata sangat tepat.

Baru saja Un Tay-tay terkesiap, tahu-tahu tubuhnya sudah berdiri tegap didalam ruangan, sementara gelak tertawa kakek berjubah ungu itu kedengaran semakin jauh, sesaat kemudian suasana sudah pulih kembali dalam keheningan.

Suasana didalam kamar hongtiang amat hening dan sepi, Bu-si thaysu duduk bersila bagaikan sebuah patung dewa.

Un Tay-tay tidak berani menatap wajahnya, dia hanya berlutut sambil memohon.

"Siapa kau? Siapa pula dia?"

Tanya Bu-si thaysu.

"Siauli Un Tay-tay, dia adalah Im Ceng, murid Perguruan Tay ki bun"

Begitu mendengar kata Tay ki bun, sepasang alis mata Bu-si thaysu nampak sedikit bergetar, katanya lagi dengan suara dalam.

"Apakah sebelumnya kalian berdua tidak pernah kenal dengan manusia berbaju ungu itu?"

Mendengar pertanyaan itu dengan keheranan Un Tay-tay berpikir.

"Thaysu ini sama sekali tidak pernah meninggalkan pintu kamar, dari mana dia tahu kalau orang tua itu mengenakan baju ungu, dari mana pula bisa tahu kalau aku tidak kenal dengannya?"

Meski terperanjat bercampur keheranan, dia tidak berani berbohong, apayang dialaminya selama ini pun diceritakan secara ringkas.

Selesai mendengar penuturan itu, Bu-si Thaysu mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, katanya.

"Buddha maha pengasih, Buddha maha penyayang.... ternyata dia yang menghantar murid Tay ki bun untuk berobat disini.... takdir, takdir!"

Makin didengar Un Tay-tay semakin keheranan, namun dia tidak berani banyak bertanya.

"Baik!"

Ujar Bu-si Thaysu kemudian.

"pinceng akan mengobati lukanya, kau boleh pergi!"

Mimpi pun Un Tay-tay tidak menyangka kalau pendeta sakti dari Siau-lim-pay ini dengan begitu mudah menyanggupi permintaannya, dia merasa terkejut bercampur kegirangan, namun ketika mendengar dia diharuskan pergi, dengan agak gugup serunya.

"Tapi siauli...."

"Ajaran Buddha mengutamakan hukum sebab akibat"

Tukas Bu-si Thaysu cepat.

"kau telah menyanggupi permintaannya berarti kau telah menanamkan sebab, karena ada sebab tentu ada akibat, akibat yang harus kau selesaikan sendiri, jangan mengurusi orang lain"

"Siauli telah menyanggupi permintaannya, tentu masalah ini akan kuselesaikan sendiri"

Kata Un Tay-tay dengan air mata bercucuran.

"siauli hanya memohon kepada thaysu, ijinkan lah siauli berdiam selama berapa hari disini, menunggunya hingga dia sembuh dari lukanya"

Bu-si Thaysu pejamkan mata sambil termenung berapa saat, gumamnya kemudian.

"Orang yang kelewat romantis pasti akan tersiksa karena cinta.... aaai.... dihalaman luar sana terdapat sebuah kamar kayu bakar, tinggallah disana, setiap hari kau hanya boleh masuk halaman ini selama setengah jam"

"Terima kasih Thaysu"

Un Tay-tay berseru sambil menyembah.

"Pinceng hanya bisa melanggar peraturan sampai disini, sekarang pergilah!"

Ketika selesai mengisahkan pengalamannya, kembali Un Tay-tay tertawa getir, dia tidak ingin orang lain ikut bersedih hati atas kemalangan yang menimpa dirinya. Terdengar Un Tay-tay berkata lebih jauh.

"Sebenarnya kuil Siau-lim-sie tidak menampung kaum wanita, tapi kali ini Bu-si Thaysu telah melanggar kebiasaan, dia ijinkan aku tinggal disitu bahkan setiap hari aku diijinkan menengok Im Ceng satu kali"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, ujarnya.

"Sikap baik Bu-si Thaysu terhadapmu sama artinya kalau kau telah berhutang budi kepadanya"

Darimana dia tahu penderitaan yang harus dialami Un Tay-tay selama berdiam dalam gudang kayu bakar, darimana dia tahu kalau perempuan itu hanya berdiam dalam sebuah gudang kayu bakar?

"Ternyata Bu-si Thaysu bukan saja memiliki ilmu silat yang hebat, diapun memiliki ilmu pertabiban yang luar biasa, tiga hari kemudian luka yang diderita Im Ceng sama sekali telah sembuh, bahkan dia dapat bergerak"

Setelah tertawa pedih, lanjut perempuan itu.

"Melihat lukanya begitu cepat telah sembuh, tentu saja aku merasa amat girang, apalagi ketika mendengar Bu-si Thaysu akan mengajarinya ilmu silat, rasa senang ku tidak terlukiskan, tapi.... tapi...."

"Tapi kenapa?"

Tanya Thiat Tiong-tong ketika melihat perubahan aneh di wajahnya.

"Sejak awal hingga akhir, ternyata Im Ceng tidak pernah mengajakku bicara, walau hanya sekecap pun"

Thiat Tiong-tong tertegun.

"Kenapa.... kenapa bisa begitu...."

Bisiknya. Membayangkan kembali bagaimana pengorbanan yang dilakukan Un Tay-tay demi selamatkan nyawa Im Ceng, melihat nasib tragis yang menimpanya sekarang tidak urung pemuda itupun ikut merasa sedih.

"Dia bahkan tidak menengok sekejappun ke arahku"

Ujar Un Tay-tay sambil tertawa pedih.

"tapi aku tahu kalau dulu sudah kelewat melukai hatinya, maka aku tidak menyalahkan dia"

"Apakah sekarang kau sudah benar-benar jatuh hati kepadanya?"

Un Tay-tay hanya tutup mulutnya tanpa menjawab, sementara air matanya berurai makin deras.

"Apakah karena dia tidak menggubrismu maka kau enggan menceritakan semua kedukaan dan penderitaan yang kau alami kepadaku? Apakah lantaran itu kau menguraikan kejadian ini secara ringkas?"

Tidak kusangka ternyata dia memahami perasaan hatiku, hanya dia yang memahami perasaan hatiku!"

Batin Un Tay-tay dengan air mata berurai.

Sekarang dia merasa sedih, diapun merasa berterima kasih, entah kenapa, perasaan hatinya terhadap Thiat Tiong-tong saat ini tinggal perasaan sayang seorang adik terhadap kakaknya, sama sekali tidak ada perasaan cinta muda mudi.

Perlu diketahui, bila seorang wanita yang sudah kenyang pengalamannya dalam hal bercinta jatuh hati atau tergerak hatinya terhadap seseorang, maka perasaan cintanya itu akan lebih teguh dan murni daripada emas.

Dulu, walaupun dia pernah tertarik oleh penampilan Thiat Tiong-tong, namun rasa tertariknya itu hanya merupakan rangsangan yang bersifat sementara, berbeda dengan Im Ceng, pemuda itu benar-benar telah meluluhkan perasaan hatinya, perubahan yang terjadi saat itu mungkin hanya dia seorang yang memahaminya.

Tiba-tiba dia tertawa, sambil mengalihkan pokok pembicaran katanya.

"Siapa bilang aku menderita dan tersiksa? Kehidupanku selama ini selalu enak dan bahagia, aku.... aku hanya tidak bisa melupakan sorot mata Im Ceng sewaktu terluka dulu, pandangan matanya terhadapku, sekalipun setelah sembuh dia tidak menggubrisku, tapi perasaan hatinya tidak bisa berbohong, Thiat toako.... kau tentu bisa memahami perasaan hatiku ini bukan? Biarpun sejak kini aku tidak bisa bertemu lagi dengannya, aku tidak akan perduli"

Begitu mendengar dia merubah panggilan terhadap dirinya menjadi toako, Thiat Tiong-tong tahu kalau perasaan hatinya sekarang sudah kembali ke jalan benar. Tidak tahan diapun bertanya.

"Siapa bilang kau tidak bisa bertemu lagi dengannya?"

"Sebab aku sudah akan pergi jauh sekali!"

Kata Un Tay-tay sedih.

Ternyata setiap malam dia tidur dalam gudang kayu bakar, sementara siang hari selalu berada dalam halaman dalam selama setengah jam, terkadang dia malah tidak bersua dengan Im Ceng, sekalipun bertemu, Im Ceng tidak pernah mau ambil perduli terhadapnya.

Dalam keadaan begini terpaksa Un Tay-tay harus menahan linangan air matanya, begitu setengah jam berlalu, dia harus segera balik ke gudang kayu, untuk mengisi waktu yang senggang dan menghibur hati yang murung, diapun tiap hari memotong kayu.

Dia tinggal di kuil Siau-lim hampir dua puluhan hari, dalam waktu yang relatip singkat dia telah memotong hampir setiap potong kayu bakar menjadi ranting yang kecil, membuat ke lima jari tangannya yang lentik berubah jadi kasar penuh dengan lapisan kulit tebal.

Kalau dia makin hari semakin sayu dan lusuh sebaliknya Im Ceng makin hari semakin bercahaya terang, wajahnya makin merah, dari caranya berlatih silat dapat diketahui kalau ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan yang pesat.

Kendatipun Im Ceng nyaris tidak menggubrisnya, namun Un Tay-tay tidak pernah mau menyia-nyiakan waktu selama setengah jam yang dimilikinya, setiap hari dia selalu muncul di sana, mengawasi wajah Im Ceng yang makin segar, memandang sikapnya yang makin dingin.

Terlepas dia sedih atau gembira, Un Tay-tay selalu berusaha tampil dengan senyuman menghiasi wajahnya, walaupun di masa lalu dia sudah terlalu sering berpura-pura mencintai lelaki, menipu kaum pria, tapi kini cinta yang tumbuh dalam hatinya adalah cinta sejati, hanya sayangnya cinta yang sejati justru tidak ingin dia perlihatkan secara terang-terangan.

Hari itu, dengan susah payah dia menanti hingga tiba saatnya kunjungan, dengan membawa secercah pengharapan dia memasuki halaman dalam, dia berharap hari ini Im Ceng mulai mau memperdulikan dirinya.

Siapa tahu ketika tiba di dalam halaman, tiba-tiba dia jumpai Im Ceng telah pergi meninggalkan tempat itu.

Dia merasa terkejut, tercekat, ngeri bercampur masgul, tanpa berpikir panjang diapun menyerbu masuk ke dalam kamar Hong tiang.

Tampaknya Bu-si Thaysu sudah menduga maksud kedatangannya, dengan suara dalam ujarnya.

"Ooh, kau sudah datang, bagus, bagus, duduklah dahulu, dengarkan berapa patah kataku"

Menyaksikan sikap dari Bu-si Thaysu ini, Un Tay-tay tidak berani bertindak sembrono, terpaksa dia duduk sambil menahan lelehan air mata. Dengan suara berat kembali Bu-si Thaysu berkata.

"Tentunya kau sudah tahu bukan kalau dia telah pergi, lolap yang menghantarnya pergi, demi suatu persoalan yang maha besar dan berat, mau tidak mau dia harus pergi"

"Meng.... mengapa dia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku?"

Tanya Un Tay-tay dengan berurai air mata. Bu-si Thaysu menghela napas panjang.

"Ketika hendak pergi, lolap pun pernah bertanya apakah dia ingin bertemu denganmu, diapun sudah mempertimbangkan masalah ini cukup lama, tapi akhirnya memutuskan untuk tidak bertemu"

"Ke.... kenapa dia begitu tega?"

"Tiada rasa cinta berarti cinta, aaaai.... dari pada cinta lebih baik tiada cinta, justru karena setiap benda di dunia ini memiliki rasa cinta maka kehidupan manusia terjerumus dalam pelbagai kemurungan dan siksaan"

"Thaysu, boleh tahu dia telah pergi ke mana?"

Tanya Un Tay-tay lagi sambil menangis.

"Pulau Siang cun-to!"

Bu-si Thaysu menghela napas.

"sekalipun sudah lolap katakan pun belum tentu kau akan mengetahuinya"

"Siang-cun-to, di mana letaknya?"

"Lolap sendiripun tidak tahu, dia harus mencari sendiri letak tempat itu, dengan tabiatnya, tidak mungkin dia akan berbalik ditengah jalan sebelum menemukan tempat itu...."

Tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi wajahnya, dia melanjutkan.

"Dimana pun adalah tempat tujuan, dimana pun bukan tempat tujuan, aaai.... lagi-lagi lolap berfilsafat...."

"Thaysu, karena urusan apa dia harus pergi ke Siang cun-to?"

"Ada sebab tentu menimbulkan akibat, ada akibat tentu karena ada sebab, akibat yang muncul hari ini dikarenakan sebab dimasa lalu, tentu saja dia punya alasan untuk kesana, tentu ada persoalan hingga mesti ke sana...."

Perlahan-lahan pendeta itu memejamkan matanya dan tidak berbicara lagi.

Un Tay-tay tahu banyak bertanya pun tidak ada gunanya, maka setelah memberi hormat, dengan sedih dia meninggalkan kamar Hongtiang dan berjalan keluar dari pintu kecil halaman belakang.

Baru saja dia melangkah keluar dari pintu, pintu kecil itu sudah tertutup rapat, kalau selama berapa hari ini pintu tersebut hanya setengah tertutup maka kini pintu itu tertutup rapat sekali.

Un Tay-tay sadar, setelah hari ini dia berjalan keluar dari kuil Siau-lim maka jangan harap dia bisa masuk lagi ke tempat itu, dengan membawa rasa sedih yang luar biasa dia pun menelusuri jalan setapak menuju ke depan sana.

Dia tidak tahu ke arah mana dia pergi, terlebih tidak tahu harus kemana dia pergi.

Lama sekali dia berjalan hingga tiba disisi sebuah sungai kecil, saat itulah Un Tay-tay baru berjongkok, mengambil air dan membasahi tenggorokanya.

Waktu itu sinar matahari senja telah menyelimuti angkasa, cahaya keemas emasan memantul diatas permukaan air, menyinari wajahnya.

Ketika sinar senja semakin redup, seluruh cahaya pun mulai menghilang, tak ada yang terlihat lagi disekeliling permukaan air.

Mengawasi kegelapan yang mulai menyelimuti angkasa, dengan sedih Un Tay-tay bergumam.

"Mengapa kehidupan manusia bagaikan aliran air sungai, keindahan selalu berlangsung cepat, kenapa aku harus hidup terus di dunia ini? Apakah sedang menanti saat menjadi gundiknya makhluk berjubah ungu itu?"

Ditengah hembusan angin malam yang semakin dingin, Un Tay-tay merasa hatinya makin pedih, makin putus asa, akhirnya dia mendongak-kan kepalanya menghela napas panjang, dia siap mengambil keputusan pendek.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur.

"Benarkah kau ingin mati?"

Suaranya dingin dan sangat hambar.

Dengan cepat Un Tay-tay membalikkan tubuh, seketika itu juga dia merasakan munculnya hawa dingin dari telapak kaki menerjang naik ke ubun ubunnya.

Ternyata dibelakang tubuhnya, lebih kurang sejauh satu depa, entah sejak kapan telah berdiri sesosok bayangan wanita berbaju hitam, kecuali ujung gaunnya yang berkibar ketika terhembus angin, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya sama sekali tidak nampak bergerak.

Kemunculannya ditempat dan saat seperti ini bukan saja menimbulkan perasaan seram, bahkan mudah menimbulkan prasangka lain yang lebih mengerikan.

Dengan perasaan bergidik Un Tay-tay segera berpikir.

"Dia.... sebenarnya dia ini manusia, atau setan gentayangan?"

Tapi ingatan lain segera melintas lewat, pikirnya lebih jauh.

"Perduli amat, toh aku bakal segera amati, mau siluman rase, mau setan gentayangan, kenapa aku mesti takut"

Maka dengan memberanikan diri diapun menyahut.

"Benar, aku memang ingin mati, mau apa kau?"

Dengan nada yang sedih perempuan berbaju hitam itu menyahut.

"Usiamu masih sangat muda, sekarang kau berkata ingin mati, ini dikarenakan dorongan emosimu sesaat, padahal sebentar lagi belum tentu kau masih ingin mati"

"Apalah arti dari kehidupan, kenapa aku masih ingin hidup"

"Kalau begitu kau pasti sedang dirundung perasaan sedih yang luar biasa! Apakah orang yang kau cintai telah menyia-nyiakan dirimu, meninggalkan dirimu dengan begitu saja?"

Rasa sedih kembali menusuk perasaan Un Tay-tay, sambil menghentakkan kakinya dia menjerit keras.

"Kau tidak usah ikut campur!"

Kemudan sambil menutup wajah sendiri dia lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Siapa tahu baru saja dia berlarian beberapa saat, tiba-tiba dijumpai perempuan berbaju hitam itu bagaikan sukma gentayangan saja, tanpa menimbulkan sedikit suara pun kembali sudah menghadang dihadapannya.

"Kau.... kau.... sebenarnya apa mau mu!"

Teriak Un Tay-tay.

"Aku pun orang yang sedang bersedih hati, sedang ingin mati, kalau kau memang bertekad ingin mati, lebih baik kita mati bersama-sama saja"

Ujar perempuan berbaju hitam itu perlahan. Diam diam Un Tay-tay berpikir.

"Ooh, rupanya kau sedang menjajal apakah aku benar-benar ingin mati? Bila kemudian mengetahui aku tidak ingin mati maka kau akan mengejekku, mempermalukanku? Baik, aku akan mati dihadapannya"

Maka sambil sengaja tertawa tergelak serunya.

"Baik, tidak kusangka dalam perjalanan menuju ke alam baka, aku bakal punya teman...."

"Ikut aku!"

Bisik perempuan itu tiba-tiba, sambil menarik tangan Un Tay-tay dia segera bergerak menuju ke barat.

Un Tay-tay merasakan tangan perempuan itu dingin bagaikan es, persis tangan orang yang sudah mati, selain dingin diapun merasakan munculnya semacam tenaga aneh yang membawa tubuhnya, tanpa kuasa dia ikut berlarian mengintil di belakangnya.

Sepanjang perjalanan diapun merasa ujung kakinya nyaris tidak menempel tanah, ketika memperhatikan pula pakaian hitam dan cadar hitamnya yang berkibar terhembus angin, nyaris tubuh perempuan itu seakan sedang melayang di angkasa saja.

Biarpun Un Tay-tay bertekad ingin mati, tidak urung berdiri juga bulu kuduknya setelah menyaksikan kejadian ini.

Jalan perbukitan makin lama semakin curam dan berbahaya, di antara tebing-tebing tinggi yang terjal terbentang jurang yang tidak terkira dalamnya, asal terpeleset sedikit saja niscaya tubuhnya akan hancur lebur.

Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu menghentikan langkahnya sambil berkata.

"Sudah sampai, disinilah tempatnya"

Ditengah kegelapan malam yang mencekam, Un Tay-tay menjumpai dirinya berdiri diatas sebuah batu gunung yang besar di puncak tebing yang tinggi lagi curam, dibawah tebing terbentang kegelapan yang luar biasa, tidak jelas seberapa dalam jurang dihadapannya itu.

"Apa lagi yang kau tunggu?"

Tanya perempuan berbaju hitam itu lagi.

"ayohlah cepat melompat!"

Un Tay-tay tertawa pedih, sahutnya.

"Sebuah tempat mencari mati yang indah...."

Mendadak raut muka banyak orang yang pernah dikenalnya dulu satu per satu melintas dibenaknya, tidak kuasa lagi tubuhnya mulai gemetar keras....

"Bila kau enggan mati, masih sempat untuk kembali"

Kembali perempuan berbaju hitam itu berkata dingin.

"Aku.... aku...."

Mendadak wajah seram kakek berjubah ungu itu serta wajah Im Ceng yang begitu dingin kaku terlintas kembali dalam benaknya, sambil menggigit bibir segera teriaknya.

"Kenapa aku harus kembali!"

Sambil pejamkan mata dia segera melompat ke dalam jurang.

Begitu tubuhnya meluncur ditengah udara, benaknya seketika terasa bagaikan mau pingsan, lamat-lamat terdengar perempuan berbaju hitam itu berkata sambil tertawa.

"Tidak salah lagi, kau...."

Kata berikut sudah tidak sempat terdengar lagi, karena dia merasa tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan seseorang.

Un Tay-tay merasa terkejut bercampur terkesiap, selain itu diapun merasa keheranan, sampai lama kemudian dia baru berani membuka matanya kembali, tampak enam orang wanita berbaju hitam dengan dandanan yang sama telah berdiri disekelilingnya.

Ketika dia mendongakkan kepalanya, batu dari mana dia melompat tadi ternyata persis berada diatas kepalanya, jarak dengan permukaan tanah paling sepuluh depa, tentu saja yang terlihat olehnya dari atas hanya kegelapan malam yang mencekam karena saat itu memang ditengah malam buta.

"Tampaknya kau sudah dibuat kaget"

Kata perempuan berbaju hitam yang membopongnya dengan perlahan, meski suaranya dingin dan hambar namun jelas memperlihatkan perasaan kuatir.

Un Tay-tay segera meronta sambil melompat turun, serunya dengan marah.

"Aku sudah bertekad untuk mati, kenapa kalian masih mempermainkan orang bernasib buruk macam aku!"

Perempuan berbaju hitam itu menghela napas panjang, sahutnya.

"Justru kau adalah orang yang bernasib jelek, maka kami pun melakukan hal ini"

"Kenapa?"

"Sebab kami semua adalah orang yang bernasib jelek, maka kami akan menampung semua perempuan bernasib jelek, tapi bila dia belum bertekad untuk mencari mati, berarti nasibnya belum betul-betul jelek"

"Oleh sebab itu kalian ingin menjajal aku bukan? Tapi kalian...."

Perempuan berbaju hitam itu tertawa pedih, tukasnya.

"Kami semua pernah mati satu kali, maka kaupun harus mati satu kali sebelum dapat bergabung ke dalam kelompok kami"

Perempuan yang lain menyambung dengan nada dingin.

"Kini kita semua adalah orang yang sudah mati, lewat beberapa hari kau akan tahu bahwa rasanya menjadi orang mati ternyata jauh lebih enak dari pada menjadi orang hidup"

Dengan perasaan bergidik Un Tay-tay celingukan memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia tidak jelas saat ini sebenarnyia sudah mati atau masih hidup, tiba-tiba jeritnya.

"Aku tidak ingin jadi orang mati.... aku tidak ingin jadi orang mati...."

"Kau telah mati satu kali, memangnya ingin hidup lagi?"

Perempuan berbaju hitam itu menegur ketus. Dengan bulu kuduk pada berdiri dan perasaan ngeri yang luar biasa, Un Tay-tay mundur dua langkah, serunya.

"See.... sebenarnya siapa kalian? Ke.... kenapa aku harus bergabung ke dalam kelompokmu?"

"Setelah menjadi orang mati, kau dapat menjadi utusan langit, dapat menuntutkan keadilan bagi wanita-wanita lain dikolong langit yang menderita, masa kau tidak bersedia?"

Dalam menuturkan kisahnya kali ini, Un Tay-tay bercerita secara jelas dan mendetil, membuat Thiat Tiong-tong yang mendengarkan jadi bergidik.

Sampai disini, dia tidak tahan lagi untuk menghela napas seraya berkata.

"Tidak heran kalau tindak-tanduk serta cara berbicara mereka begitu dingin dan hambar, rupanya meski mereka belum mati namun perasaan mereka sudah mati.... bagaimana selanjutnya? Apakah kau...."

Setelah menghela napas lanjut Un Tay-tay.

"Perasaan hatiku telah mati, tentu saja akupun bergabung dengan mereka, lihatlah sekarang akupun mengenakan jubah hitam dengan kain cadar hitam, walaupun banyak keraguan muncul dihatiku, namun mereka melarangku banyak bertanya, hanya ujarnya. kalau perasaanmu sudah mati, buat apa mesti memikirkan urusan lain! Maka akupun terpaksa mengikuti mereka, sepanjang jalan asal bertemu wanita yang teraniaya, mereka pasti turun tangan menolong hingga akhirnya tiba disini"

"Tahukah kau, ke mana mereka hendak pergi?"

"Pulang....

"jawab Un Tay-tay sambil menghela napas.

"seandainya dalam kereta tidak terdapat dua orang yang menderita sakit aneh, mungkin aku sudah sejak kemarin tiba ditempat mereka dan mungkin.... mungkin selama hidup tidak akan berjumpa lagi denganmu"

Thiat Tiong-tong tersenyum, katanya.

"Tempat dimana kalian tuju kebetulan merupakan tempat yang akan kudatangi, hanya saja.... seandainya tidak bertemu kau, akupun tidak tahu harus kemana untuk mencarinya"

"Dari mana kau bisa tahu hendak kemana kami pergi?"

Tanya Un Tay-tay keheranan.

"Panjang untuk diceritakan, tapi aku tahu kalian hendak balik ke pulau Siang cun-to!"

"Siang cun-to...."

Seakan terperanjat, sekujur tubuh Un Tay-tay bergetar keras.

"ternyata pulau Siang cun-to!"

Tiba-tiba dia seperti teringat kalau tempat yang hendak dituju Im Ceng pun pulau Siang cun-to, tanpa terasa sekujur tubuhnya gemetar keras.

Menyaksikan perubahan sikap perempuan itu, dengan keheranan Thiat Tiong-tong segera bermanya.

"Memangnya kau belum tahu dengan nama pulau Siang cun-to ini?"

"Mereka hanya menyatakan hendak pulang, tapi tidak pernah menjelaskan mau pulang ke mana? Terkadang aku malah mengira mereka hendak mengajakku pulang ke atas langit atau ke dasar bumi"

Thiat Tiong-tong terbungkam beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya setelah menghela napas.

"Bagaimana pun juga, kau...."

Mendadak di antara hembusan angin berkumandang suara aneh seperti suara seruling yang ditiup kencang, paras muka Un Tay-tay segera berubah hebat, cepat bisiknya.

"Mereka sedang mendesakku agar segera kembali"

"Bagaimana kalau aku mengikutimu?"

Buru buru Thiat Tiong-tong bertanya. Dengan kening berkerut Un Tay-tay berpikir sejenak, sahutnya kemudian sambil menghela napas.

"Baiklah! Tapi kami berencana akan beristirahat sejenak dalam kuil Seng bo bio di depan sana hingga kentongan ke empat sebelum berangkat, datang saja diwaktu itu, Cuma gerak-gerikmu mesti sangat hati-hati, kalau sampai ketahuan mereka, bisaberabe!"

Ketika menyelesaikan katanya yang terakhir, dia sudah pergi sangat jauh.

Secara tidak sengaja Thiat Tiong-tong telah bertemu dengan Un Tay-tay, diapun sudah mengetahui banyak peristiwa yang terjadi, walaupun dibalik kisah tersebut terdapat beberapa kejadian yang sangat menyedihkan hati, bagaimana pun jauh lebih banyak berita gembiranya daripada kejadian duka.

Khususnya setelah mendengar kabar kalau Im Ceng bukan saja sudah sembuh dari lukanya bahkan telah diajari ilmu silat oleh Bu-si Thaysu, seorang pendeta sakti di saat itu, kenyataan yang betul-betul membuat Thiat Tiong-tong merasa amat gembira.

Diam-diam dia berpikir.

"Masih cukup waktu hingga kentongan ke empat, kenapa aku tidak minum dulu beberapa cawan arak di rumah makan, anggap saja untuk merayakan keberhasilan samte!"

Dengan cepat dia pun berjalan menuju ke arah rumah makan.

Waktu itu kerumunan orang disepanjang jalan raya telah bubar, tapi dalam rumah makan masih ada orang sedang memperbincangkan kehadiranan wanita suci itu, ketika dari kejauhan Thiat Tiong-tong melihat papan nama di depan warung, dia pun mempercepat langkahnya.

Tiba-tiba dia saksikan ada dua sosok bayangan manusia yang sangat dikenalnya sedang berangkulan memasuki rumah makan itu, meski hanya sekilas namun Thiat Tiong-tong segera kenal mereka sebagai Sim Sin-pek dan Im Ceng.

Kedua orang ini sangat dikenalnya, dia merasa tidak mungkin salah melihat, tapi mengapa mereka berdua bisa memasuki rumah makan sambil berangkulan, bahkan kelihatannya akrab sekali?

Satu kenyataan yang mimpi pun tidak pernah disangka Thiat Tiong-tong.

Dengan perasaan heran bercampur cemas cepat dia menghentikan langkahnya, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya.

"Kenapa mereka berdua bisa jalan bersama? Pasti Sim Sin-pek dengan lidah berbisanya telah membohongi samte hingga dia menaruh kepercayaan penuh terhadapnya, dibalik kesemuanya ini pasti terdapat intrik serta rencana busuk!"

Membayangkan apa yang bakal terjadi, tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh Thiat Tiong-tong, pikirnya.

"Beruntung kejadian ini segera kuketahui, anggap saja nasib samte memang belum sial benaran"

Seandainya berganti orang lain, niscaya akan segera menerjang masuk dan melabrak mereka.

Tapi Thiat Tiong-tong adalah orang yang sangat hati-hati dan berpikiran cermat, dia tahu kesalahan paham Im Ceng terhadapnya sudah kelewat mendalam, seandainya dia menerjang masuk sekarang, bukan saja Im Ceng tidak bakal mempercayai perkataannya, bisa jadi dia malah akan menyerang dirinya habis-habisan.

Sekalipun berada dalam posisi yang amat pelik, tapi otak Thiat Tiong-tong berputar cepat, tiba-tiba dia menyelinap ke balik sebuah lorong gelap, dari sudut lorong menemukan seorang lelaki miskin dan segera serunya.

"Hei, ingin kau mendapat rejeki tidak?"

Lelaki miskin itu memang sedang kelaparan saking miskinnya, tentu saja dia kegirangan setengah mati, sahutnya sambil melompat bangun.

"Mau berkelahi, mau menggertak orang, urusan apa pun silahkan tuan perintahkan"

"Aku tidak meminta kau melakukan apa pun"

Sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

"asal kau bersedia menanggalkan pakaianmu itu!"

Tidak selang beberapa saat kemudian, Thiat Tiong-tong telah muncul kembali dari balik lorong sambil mengenakan pakaian milik lelaki miskin itu, wajahnya telah dilumuri lumpur, rambutnya ditutupi sebuah topi kumuh dan ditangannya menenteng setengah renteng uang receh.

Sekalipun dia tidak pandai menyaru muka, tapi kemampuannya menirukan lagak orang memang cukup mengagumkan.

Dengan mata setengah juling dan tangan kiri garuk-garuk bawah ketiaknya, selangkah demi selangkah dia berjalan masuk ke dalam rumah makan.

"Tringg!"

Dia melemparkan setengah renteng uang receh itu ke meja kasir, kemudian teriaknya.

"Tauke, cepat siapkan kacang goreng dan arak, aku minta arak bagus!"

Sambil berteriak, diam-diam dia melirik sekejap ke arah Im Ceng dan Sim Sin-pek, kemudian dengan gaya yang dibuat-buat sengaja duduk di meja samping mereka berdua.

Dengan gaya seakan kuatir tertukar kutu busuk dari atas uang receh itu, sang ciangkwee memungut uang tersebut dengan kedua jari tangannya, kemudian dengan kening berkerut dan menggelengkan kepalanya berulang kali dia bergumam.

"Aaaai, dasar kere, hidangan enam ketip pun tidak mampu order, tahunya minum, minum melulu... masih minta arak bagus lagi, kenapa semua kere dikolong langit selalu lagaknya bau... pelayan, siapkan arak bagus untuk tuan kere itu!"

Thiat Tiong-tong yang mendengar omelan itu hanya tertawa geli tanpa komentar.

Dia tidak berani duduk menghadap Im Ceng serta Sim Sin-pek, maka dicarinya tempat duduk yang membelakangi mereka, betul juga, dia segera mendengar Sim Sin-pek sedang menjilat pantat.

Selang beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar Im Ceng berteriak keras.

"Sebetulnya kau tahu tidak dimana letak pulau Siang cun-to? Kau harus bicara jujur, persoalan ini bukan masalah yang bisa dibuat main-main"

Terdengar Sim Sin-pek segera menyahut sambil tertawa dibuat-buat.

"Bila siaute tidak tahu, buat apa mesti membohongi toako"

"Aaaai, ternyata kau lumayan juga orangnya, tidak disangka meski kita tidak pernah kenal tapi kau baik sekali terhadapku, sementara saudaraku sendiri justru manusia busuk berhati binatang!"

"Toako, buat apa kau singgung lagi manusia she Thiat itu"

Kata Sim Sin-pek sambil tertawa.

"menyinggung kembali manusia busuk, bangsat pemogoran macam dia hanya akan menghilangkan selera minum kita saja"

"Benar"

Jawab Im Ceng dengan suara lantang.

"mari, aku harus menghukum diriku dengan secawan arak"

Kemudian setelah meneguk habis isi cawan-nya, mendadak ia menggebrak meja dan menghela napas berulang kali, menggunakan kesempatan itu Sim Sin-pek segera membujuknya agar meneguk lagi beberapa cawan arak.

Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan itu diam-diam hanya bisa tertawa getir, pikirnya.

"Tampaknya Im Ceng sedang dalam perjalanan menuju pulau Siang cun-to dan tanpa sengaja telah bersua dengan Sim Sin-pek sekalian, maka mereka menggunakan pulau Siang-cun-to sebagai umpan untuk memancingnya masuk perangkap, tapi aneh, kenapa Sim Sin-pek tidak mencoba membokongnya, tidak nampak juga dia berusaha mengorek rahasia lainnya, rencana busuk apa lagi yang sedang dia lakukan?"

Karena berhasrat untuk membongkar rencana busuk yang sedang dilakukan Sim Sin-pek terhadap Im Ceng, maka diapun tidak melakukan sesuatu tindakan.

Selama ini Sim Sin-pek hanya berbicara ke sana kemari, sekalipun inti pembicaraan tidak berarti namun kemampuan orang ini berbicara memang luar biasa, sampai Thiat Tiong-tong sendiripun ikut terpikat untuk mendengarnya.

Tiba-tiba Sim Sin-pek mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya perlahan.

"Padahal kalau mesti bicara jujur, siaute sendiripun tidak terlalu jelas dimana letak pulau Siang cun-to"

"Jadi.... jadi kau sengaja mempermainkan aku?"

Tegur Im Ceng dengan wajah berubah.

"Toako jangan gelisah dulu"

Buru-buru Sim Sin-pek membujuk sambil tertawa dibuat-buat.

"sekalipun siaute tidak terlalu jelas, tapi kujamin pasti dapat menghantar toako tiba di Siang cun-to dengan aman!"

"Bagaimana caranya?"

"Hari ini silahkan toako minum arak sepuasnya, besok kita ke pesisir pantai, akan siaute cari beberapa orang tukang perahu yang sering pergi ke pulau Siang cun-to, asal ombak tenang angin lancar, lusa pagi kita sudah akan tiba di pulau Siang cun-to dengan selamat"

"Kau memang saudaraku yang hebat"

Puji Im Ceng sambil tertawa.

"mari kita bersulang!"

Thiat Tiong-tong yang menyaksikan peristiwa itu, diam-diam menghela napas, pikirnya.

"Tidak nyana walaupun kungfu yang dimiliki samte telah mencapai kemajuan yang pesat, tapi sepak terjangnya masih gegabah, berangasan dan terburu napsu, ucapan bajingan tengik macam begitu pun dia percaya"

Dia sadar tidak ada seorang tukang perahu pun di pesisir yang pernah berlayar ke pulau Siang cun-to, tapi dia pun kesulitan untuk membongkar kebohongan tersebut di saat seperti ini, diam-diam dia mulai cemas bercampur gelisah.

Waktu minum arak berlalu sangat cepat, ketika bubaran, waktu sudah menunjukkan tengah malam, waktu itu Im Ceng sudah mabuk berat, selesai membayar rekening Sim Sin-pek memayangnya keluar dari rumah makan.

Thiat Tiong-tong kaget bercampur cemas, kembali pikirnya.

"Samte memang selalu gegabah, masa dalam keadaan beginipun dia masih berani minum sampai mabuk berat, seandainya Sim Sin-pek menggunakan kesempatan ini untuk mencelakainya, mungkin dia bakal mati tanpa sadar"

Maka secara diam-diam dia pun mengintil di belakang Sim Sin-pek.

Meskipun saat ini dia sanggup merobohkan Sim Sin-pek secara gampang dan selamatkan Im Ceng, tapi dia yakin disamping Sim Sin-pek seorang, dia pasti masih memiliki komplotan lain di seputar sana.

Untuk menyelidiki rencana busuk apa yang sedang direncanakan manusia busuk ini, maka Thiat Tiong-tong pun tidak segera turun tangan, sebab kungfu yang dimilikinya sekarang sudah jauh diatas kemampuan Sim Sin-pek, bila orang itu berniat mencelakai saudara seperguruannya, dia percaya secara gampang rencana keji itu dapat digagalkan.

Sekalipun begitu, tidak sekejap mata pun dia berani mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

Jalan raya itu amat hening, tidak kedengaran suara apun, tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun, sewaktu Sim Sin-pek dengan mema-yang Im Ceng tiba di ujung jalan, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan mulai celingukan kesana-kemari.

Cepat Thiat Ticng-tcng menyelinap ke samping jalan dan menyembunyikan diri dibalik kegelapan, saat itulah terdengar suara kereta kuda berkumandang ditengah keheningan malam, sebuah kereta berlari cepat dari sudut kiri jalan dan melaju ke arah depan.

Berkilat sepasang mata Sim Sin-pek, dia segera bersuit nyaring.

Belum selesai bersuit, sebuah kereta besar lain yang dihela dua ekor kuda telah muncul disana dan seketika berhenti di depan kedua orang itu.

Dengan satu gerakan cepat Sim Sin-pek menarik tubuh Im Ceng masuk ke dalam ruang kereta itu, kereta pun kembali berlarian meninggalkan tempat itu, satu kerja sama yang sangat bagus, nyaris tidak ada sedikit waktupun yang terbuang dengan percuma.

Dari sini dapat disimpulkan kalau cara kerja Sim Sin-pek memang sangat rapi dengan perencanaan yang sempurna, ada atau tidak orang yang menguntit, sejak awal dia sudah persiapkan orang untuk mengelabuhinya.

Bila saat itu ada yang menguntit, tentu orang itu akan terpedaya hingga lolos penguntitannya.

Untung Thiat Tiong-tong bukan manusia bodoh, begitu mendengar suara kereta kuda, dia segera menduga kalau ada hubungannya dengan Sim Sin-pek, maka sebelum kereta tiba ditempat tujuan, dia sudah bergerak duluan.

Ketika kereta berhenti sejenak memberi peluang Sim Sin-pek untuk naik ke dalam kereta, Thiat Tiong-tong pun ikut menyusup ke sisi kereta sambil berpegangan kencang.

BAB 24 Rahasia yang Makin Berlapis Bersama dengan suara ringkikan kuda serta debu yang beterbangan, tiba-tiba dari dalam kereta terdengar seseorang berbicara, rupanya dalam ruang kereta telah menanti seseorang.

Thiat Tiong-tong segera menempelkan telinganya disisi dinding kereta dan memperhatikan dengan seksama.

Terdengar orang itu berkata.

"Ehmmm, cara kerjamu kali ini bagus sekali, sama sekali tidak meninggalkan jejak"

Dari suara pembicaraan orang itu, Thiat Tiong-tong segera mengenalinya "sebagai suara dari Han-hong Pocu, Leng It-hong, sudah cukup lama orang ini tidak pernah ada kabar beritanya, sekarang secara tiba-tiba muncul disitu secara misterius, jelas dibalik kesemuanya ini tentu terdapat intrik serta rencana besar lainnya.

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, terdengar Leng It-hong telah berkata lebih jauh.

"Secara diam-diam kau telah meninggalkan Hek Seng-thian dan bergabung dengan lohu, hal ini membuktikan kalau ketajaman matamu sungguh mengagumkan, pilihanmu memang sangat tepat, bila persoalan ini berhasil, lohu pasti tidak akan melupakan semua jasamu!"

"Terima kasih banyak atas binaan serta perhatian loya!"

"Dewasa ini, ada begitu banyak jago tangguh yang bermunculan dalam dunia persilatan, dengan kungfu yang dimiliki Hek Seng-thian, paling banter mereka hanya bisa berteriak dipinggiran, mana mungkin punya kesempatan untuk melakukan usaha besar"

Ketika berbicara sampai disitu, Leng It-hong tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa terbahak bahak.

"Perkataan loya memang sangat tepat"

Sahut Sim Sin-pek sambil tertawa pula.

"bukan saja mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa, bahkan manusia macam Hong Lo-su pun belum tentu mampu menandingi kehebatan ilmu silat yang dimiliki kau orang tua!"

"Bocah cilik sudah pandai jilat pantat"

Umpat Leng It-hong sambil tertawa.

"hehhehehe.... asal kau jujur dan mau bekerja untukku, apa salahnya lohu akan wariskan kepandaian sinkang tersebut kepadamu"

Sim Sin-pek tahu, meski sedang mengumpat padahal hati kecilnya bangga sekali, cepat dia mendesak lebih jauh.

"Asal boanpwee bisa mempelajari satu persen saja kepandaian yang kau orang tua miliki, hatiku sudah akan merasa puas sekali!"

Jilatan pantat ini benar-benar membuat Leng It-hong kegirangan setengah mati, kembali dia tertawa tergelak.

"Bagus, bagus, bagus, selama beberapa hari ini kau pasti sangat lelah, sekarang beristirahatlah dulu, besok masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan"

"Baik, terima kasih atas perhatian kau orang tua"

Pembicaraan yang berlangsung membuat Thiat Tiong-tong kaget bercampur tercengang, kejadian ini sungguh diluar dugaan, dia tidak mengira kalau Leng It-hong sudah bentrok dengan Hek Seng-thian sekalian bahkan secara diam-diam berdiri sebagai pihak lawan.

Sim Sin-pek kembali menghianati gurunya dengan bergabung ke pihak Leng It-hong, dengan kelicikan serta kepintaran Sim Sin-pek, andaikata kekuatan serta daya pengaruh pihak Leng It-hong tidak jauh melebihi Hek Seng-thian sekalian, mana mungkin Sim Sin-pek bersedia bergabung dengannya?

Padahal kelompok Hek Seng-thian didukung oleh Hong Lo-su, kekuatan mereka boleh dibilang sangat tangguh, kalau sekarang posisi Leng It-hong bisa jauh melebihi kelompok mereka, bukankah kejadian ini terasa lebih aneh lagi?

Thiat Tiong-tong merasa sangat keheranan, pikirnya.

"Jangan-jangan Leng It-hong memang memiliki kepandaian silat maha sakti yang dihari biasa jarang diperlihatkan.... ahh tidak mungkin, tidak betul, kalau dilihat caranya bergerak serta sorot matanya, sekalipun kungfu yang dimiliki mungkin lebih tangguh ketimbang Hek Seng-thian, Pek Seng-bu sekalian, kehebatannya juga tidak seberapa, tidak mungkin bisa mengungguli Hong Lo-su, tapi kenapa Sim Sin-pek bersekongkol dengannya.... ? aaaah, betul, bisa jadi ada tokoh sakti yang mendukung Leng It-hong, tapi siapa pula orang itu.... ?"

Hanya membutuhkan waktu singkat dia telah berhasil menganalisa persoalan ini secara terperinci dan jelas, sekalipun ada selisihpun dia percaya selisihnya tidak terlalu jauh.

Kereta kuda masih berjalan terus tiada hentinya, sambil menarik hawa murninya Thiat Tiong-tong mulai mengatur pernapasan, dalam waktu sekejap dia sudah merasakan tubuhnya enteng bagai kapas.

Ketika semedinya sudah mencapai puncak, dia merasa tubuhnya sudah seolah tidak berada diatas kereta lagi, melainkan berbaring dibalik awan tebal yang empuk, sama sekali tidak terasa letih.

Kereta itu berlarian hampir tiga jam lamanya, waktu itu bintang yang bertaburan di angkasa telah lenyap dari pandangan, ke dua ekor kuda jempolan itupun sudah mengeluarkan buih putih diujung mulutnya.

Thiat Tiong-tong tahu saat ini dia sudah melewati waktu perjumpaannya dengan si iblis jahat, tapi demi keselamatan Im Ceng, terpaksa dia harus mengabaikan semua persoalan untuk semen tara waktu.

Mendadak terdengar Leng It-hong membentak nyaring.

"Berhenti!"

Ketika kereta sudah berhenti, kembali Leng It-hong berkata.

"Kau tetap tinggal disini menjaga keparat she Im itu, jangan teledor, jangan lengah!"

"Kau orang tua tidak usah kuatir"

"Setelah kepergianku nanti, kau baru boleh membebaskan totokan jalan darahnya dan berusaha mententeramkan hatinya"

Sim Sin-pek tertawa.

"Waktu itu dia sedang mabuk berat, bagaimana mungkin tahu kalau jalan darahnya sudah tertotok, asal tecu berbicara satu dua patah kata, tanggung dia akan takluk seratus persen"

"Baik, perhatikan kembang api yang akan kulepas nanti, begitu melihat kembang api, kau segera mengajak orang she-Im itu menyusul ke situ, sebelum melihat kembang api, jangan sekali kali turun dari kereta"

"Baik!"

Cepat Thiat Tiong-tong menaik tubuhnya dan menyembunyikan diri di dasar kereta, terlihat sepasang kaki melangkah turun dari atas kereta, sepasang kaki dengan sepatu rumput yang nyaris terbuka hingga kelihatan seperti bertelanjang kaki saja, tampaknya aneh sekali.

Setelah sepasang kaki yang melangkah turun tadi, tidak nampak orang lain ikut turun dari kereta, diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir keheranan.

"Jangan-jangan dia adalah Leng It-hong? Tapi aneh, kenapa macam begitu dandanannya?"

Diambilnya beberapa biji batu dari tanah kemudian disambit ke arah perut ke dua ekor kuda itu, karena kesakitan kedua ekor kuda itu meringkik panjang lalu berlarian ke muka, terjadi kehebohan dan kepanikan.

"apa yang terjadi?"

Terdengar Sim Sin-pek menegur dari dalam kereta.

"Mungkin kedua ekor kuda itu sedang edan, tidak ada masalah!"

Jawab sang kusir cepat. Sementara pembicaraan berlangsung, Thiat Tiong-tong telah manfaatkan saat kekalutan itu untuk menyusup keluar dari tempat persembunyiannya, sambil tertawa geli pikirnya.

"Untung Sim Sin-pek sangat penurut dan tidak ikut turun, dengan begitu aku dapat bertindak lebih leluasa"

Bayangan manusia yang sedang bergerak di depan sana adalah seseorang yang mengenakan jubah lebar yang pendek, rambutnya disanggul macam seorang tosu, kakinya mengenakan sepatu rumput dan membawa sebuah keranjang bambu yang besar.

Thiat Tiong-tong semakin tercengang setelah mengetahui orang itu adalah seorang tosu, dia mulai sangsi, dirinya yang salah mengenali suara orang, atau Leng It-hong memang betul-betul sudah menjadi seorang tosu?

Dia tidak berani bergerak kelewat dekat, karena itu hanya mengintil terus agak jauhan, gerakan tubuh tosu itu sangat enteng, dapat dilihat kalau kepandaian yang dimilikinya memang cukup tangguh.

Walaupun saat ini tenaga dalam yang dimiliki Thiat Tiong-tong sangat tangguh, namun dia belum sempat melatih ilmu meringankan tubuh yang hebat, masih untung hawa murninya cukup sempurna sehingga gerakan tubuhnya lebih enteng.

Setelah menguntit kurang lebih seperminum teh lamanya, lamat-lamat dia mulai mendengar suara deburan ombak dikejauhan sana, disusul terlihatlah cahaya lentera diatas perahu nelayan dibalik kegelapan.

Kehidupan kaum nelayan memang amat susah, fajar belum lagi menyingsing mereka sudah berlayar ke tengah samudra untuk menangkap ikan, titik cahaya lentera diatas perahu justru menimbulkan pemandangan yang mengesankan ditengah kegelapan malam.

Tosu itu masih bergerak terus dengan cepatnya, berjalan menuju ke pesisir.

Tanpa ragu Thiat Tiong-tong mengikuti di belakangnya, dia tahu Im Ceng tidak akan terancam bahaya dalam keadaan seperti ini, satu hal yang membuat perasaan hatinya jadi lega.

Baca Juga: Pedang Abadi Khu Lung

Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert