Eps 7 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung
Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung
Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.
Thiat Tiong-tong menghela napas sedih, sambil berdiri mematung, dia mulai membayangkan kembali sikap mesra yang diperlihatkan Sui Lengkong selama ini, dia tidak bisa membayangkan apa jadinya bila gagal menemukan kembali gadis tersebut.
Mungkin dia sendiri sanggup menjalani kehidupan yang penuh penderitaan dan siksaan hidup, tapi bagaimana dengan Sui Leng-kong?
Mampukah dia melewati hari-harinya dalam kenangan serta kerinduan?
Suara keleningan kian lama kian bertambah dekat, seorang penjaja makanan dengan tangan kiri membawa keranjang, tangan kanan mem-bawa poci arak berjalan mendekat, keleningan yang terikat diatas keranjang makanan berbunyi tiada hentinya.
Penjaja makanan itu mulai berteriak.
"Daging sapi, arak putih, harum, sedap.... murah...."
Perlu diketahui, tempat dimana mereka berada sekarang adalah tempat yang termasuk daerah wisata, banyak orang yang pagi-pagi naik gunung untuk bersembahyang, sehingga tidak heran kalau sejak fajar sudah ada penjaja makanan yang berkeliling.
Tergerak hati Thiat Tiong-tong menyaksikan penjaja makanan itu, segera bisiknya.
"Saudara Ai, tunggu sebentar, biar aku tengok dulu keadaan di depan sana"
Dengan langkah lebar dia menghampiri penjaja makanan itu, mengeluarkan uang dan memberi arak serta daging.
Dengan senyuman ramah penjaja makanan itu melayani pesanannya, tapi tujuan utama Thiat Tiong-tong bukan untuk membeli arak, maka diapun mencari keterangan apakah melihat ada rombongan orang yang baru lewat dari situ.
Dia kuatir Ai Thian-hok menaruh curiga, oleh sebab itu diajaknya penjaja makanan itu menyingkir agak jauh.
Penjaja makanan itu menatapnya berapa saat, lalu menjawab.
"Tidak ada"
Jawaban tersebut seketika membuat Thiat Tiong-tong sangat kecewa, diam-diam dia menghela napas dan tidak berminat lagi untuk membeli arak. Tiba tiba penjaja makanan itu bertanya lagi.
"Apakah toaya bermarga Thiat?"
"Dari mana kau bisa tahu?"
Dengan perasaan terperanjat Thiat Tiong-tong bertanya.
"Apakah toaya punya lima tahil perak?"
Kembali penjaja makanan itu bertanya sambil tertawa.
Thiat Tiong-tong tahu, pertanyaan itu pasti ada alasannya, maka tanpa banyak cakap dia merogoh ke dalam sakunya mengeluarkan sekeping perak dan diperlihatkan dihadapan orang itu.
Dengan mata terbelalak penjaja makanan itu mengawasi kepingan uang ditangan pemuda itu, akhirnya dia merogoh ke dalam keranjangnya, membongkar barang dagangannya dan mengeluarkan selembar daun selebar telapak tangan dari dasar keranjang itu.
Dalam sekilas pandang Thiat Tiong-tong dapat melihat kalau daun lebar itu berisi penuh dengan ukiran tulisan.
Kembali penjaja makanan itu bertanya sambil tertawa.
"Daun ini harganya lima tahil perak, apakah toaya berninat untuk membelinya?"
Andaikata berganti orang lain, mereka pasti menganggap penjaja makanan itu sudah sinting karena memikirkan uang dan pergi meninggalkannya.
Tapi Thiat Tiong-tong yang teliti dan sangat berhati-hati dapat menduga kalau ukiran diatas daun pasti berisikan tulisan, satu ingatan segera melintas lewat, tegurnya.
"Darimana kau dapatkan daun itu?"
Penjaja makanan itu tidak menjawab, dia hanya mengawasi uang ditangan pemuda itu sambil tertawa cengar cengir.
Thiat Tiong-tong tersenyum, dia melemparkan kepingan perak itu ke dalam keranjang makanannya.
Dengan kegirangan penjaja makanan itu berkata.
"Tadi ada sebuah kereta kuda yang sangat indah dan mewah melalui hutan ini, pelancong kaya semacam ini tidak mungkin akan membeli daganganku maka pada mulanya aku tidak menaruh perhatian"
Setelah menyembunyikan kepingan perak tadi ke balik tumpukan barang dagangannya, kembali dia melanjutkan.
"Siapa tahu kereta kuda yang paling belakang tiba-tiba berhenti, katanya mau membeli daging sapi. Suara itu merdu, manis dan enak didengar, buru-buru aku pun berlari mendekat, dari dalam kereta segera terdengar ada suara lelaki yang berkata sambil tertawa"
"setelah hidup selama banyak tahun dalam kuil, tidak heran kalau kau jadi rakus makanan, mungkin kecuali kau, tidak ada orang lain yang sudi makan daging semacam itu". Maka dia pun minta aku mengiriskan daging, tapi harus dipotong tipis-tipis. Aku tahu ini pesanan istimewa maka daging kuiris setipis mungkin. Siapa tahu tatkala aku sedang mengiris daging itulah, telingaku secara tiba-tiba menangkap lagi suara bisikan yang manis dan merdu"
"Apa yang dia katakan?"
Tidak tahan Thiat Tiong-tong menukas.
"Dia minta aku menunggu di persimpangan jalan ini, bila melihat ada seorang pemuda bertanya kepadaku apakah melihat ada serombongan manusia lewat disini, maka aku disuruh menjual daun itu kepadanya dengan harga lima tahil perak. Suara bisikan itu seakan bergema dari sisi telingaku, padahal disitu tidak ada orang, baru aku merasa terperanjat sambil mengangkat kepala, kulihat ada seseorang menampakkan diri dari balik jendela dan memandang kearahku sambil tertawa, aku duga pasti dialah yang barusan berbicara denganku!"
Thiat Tiong-tong tahu, suara bisikan itu pasti disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara, diam-diam pikirnya dengan keheranan.
"Tenaga dalam Sui Leng-kong tidak hebat, dia belum mampu menggunakan ilmu menyampai-kan suara, jangan-jangan yang memberi kisikan adalah Yin Ping?"
Terdengar penjaja makanan itu berkata lagi sambil tertawa.
"Wajah itu benar benar amat cantik, bahkan jauh lebih cantik daripada bidadari dari kahyangan, saking kesemsemnya hampir saja jari tangan ini kuiris sendiri. Ketika melihat aku berdiri terpesona, diapun mengeluarkan sekeping uang perak serta selembar daun ini dan menyerahkannya kepadaku, tapi aku tetap tidak percaya, masa ada orang mau membeli daun ini seharga lima tahil perak!"
Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menyambut daun itu, pikirnya.
"Dia tahu kalau aku pasti akan mencari berita diseputar sini, juga tahu kalau penjaja makanan itu pasti akan mencoba beradu untung dengan menunggu ditempat ini, bila Sui Leng-kong bisa berpikir begitu, Yin Ping pasti bisa menduga pula ke situ, aneh, tapi kenapa dia harus meninggalkan pesan secara rahasia bahkan menyampaikan dengan ilmu menyampaikan suara? Jelas dia berbuat begitu lantaran kuatir ketahuan manusia aneh itu. Pesan apa yang dia tinggalkan pada daun itu?"
Berpikir sampai disini, dia segera periksa daun itu dengan seksama, benar juga segera terbaca beberapa tulisan disitu, tulisan itu berbunyi.
"Bila ingin bertemu kembali, cepat berangkat ke kaki bukit Lau-san di Lu-tang, hati-hati!"
Setelah membacanya berulang kali, Thiat Tiong-tong merasakan darah panas bergolak dirongga dadanya, dengan kegirangan dia berpikir.
"Aku.... aku punya harapan untuk berjumpa lagi dengan Sui Leng-kong..."
Dia tahu bawah bukit Lau-san pasti merupakan tempat tinggal si manusia aneh itu, pikirnya lebih jauh.
"Kenapa Yin Ping mau memberitahukan rahasia ini kepadaku? Untuk mengukir tulisan diatas daun pun sudah banyak menguras pikiran dan tenaganya, jangan-jangan dia berbuat demikian karena kasihan aku berpisah dengan Sui Lengkong?"
Tapi ingatan lain segera melintas lewat, seakan sadar akan sesuatu, pikirnya lebih jauh.
"Aaah, benar, bagaimanapun dia sudah punya umur, sudah waktu baginya untuk memikirkan masa tuanya nanti, tentu dia berniat hidup berdampingan dengan manusia aneh itu hingga kakek nenek, tapi kuatir kehadiran Sui Leng-kong akan menyingkirkan dia dari pandangan orang itu. Maka dia membantuku untuk merampas balik Sui Leng-kong. Aaaai! Yin Ping wahai Yin Ping, kecerdasan otakmu memangjauh diatas siapa pun* Sementara dia masih melamun, penjaja makanan itu sudah melarikan diri dari situ, kelihatannya dia kuatir Thiat Tiong-tong menyesal, maka sehabis menyembunyikan uang perak itu, dia mengambil langkah seribu. Perlahan-lahan Ai Thian-hok berjalan mendekat, cepat Thiat Tiong-tong menyongsong kedatangannya, dia menyangka rekannya datang mencari berita, siapa tahu Ai Thian-hok sama sekali tidak menunjukkan kecurigaannya. Tanpa ragu lagi, dia segera membimbing Ai Thian-hok dan beranjak pergi dari situ.
"Saudaraku, kita mau ke mana? Apa perlu aku temani?"
Tanya Ai Thian-hok kemudian. Dengan sedih Thiat Tiong-tong berpikir.
"Walaupun keikut sertaannya akan menjadi beban bagiku, tapi apakah aku tega membiarkan dia pergi seorang diri? Lagipula.... akupun tidak tahu Kiu cu Kui bo saat ini berada dimana"
Berpikir begitu, sambil tertawa tergelak sahutnya.
"Siaute sadar, perjalanan kali ini penuh dengan rintangan dan kesulitan, dengan pengalaman dan pengetahuan siaute yang begitu cetek, jelas merupakan satu masalah besar. Bila Ai-heng bersedia, bantulah aku sekali ini!"
"Baik, mari kita berangkat!"
Sahut Ai Thian-hok sambil tersenyum.
Selain terharu, Thiat Tiong-tong pun menghela napas sedih, sepanjang perjalanan dia selalu berusaha mengelabuhi rekannya, dia takut Ai Thian-hok jadi bosan hidup gara-gara mengetahui telinganya sudah mulai tuli.
Ternyata Ai Thian-hok seakan tidak menyadari akan hal itu, sepanjang perjalanan dia selalu mencari kesempatan untuk menuturkan semua pengalaman dan pengetahuannya tentang dunia persilatan kepada anak muda tersebut.
Suatu hari tibalah mereka di kota Cu-shia diwilayah Lu-tang, jaraknya dengan bukit Lau-san sudah tidak terlalu jauh lagi.
Saat itu udara terasa hangat, aneka bunga mekar dengan indahnya, sudah hampir setahun pemuda itu meninggalkan Perguruan Tay ki bun.
Membayangkan kembali semua pengalamannya selama ini, Thiat Tiong-tong tidak tahu haruskah merasa sedih atau gembira, walaupun dia sudah banyak mengucurkan darah dan keringat demi perguruan, diapun tidak tahu apakah semua perbuatannya bisa dimaklumi gurunya atau tidak.
Bagaimana pula keadaan saudara perguruan lainnya selama setahun ini?
Bagaimana pula dengan keadaan luka yang diderita Im Ceng?
Biarpun ada Un Tay-tay yang melindunginya, namun dia tetap merasa amat kuatir.
Apalagi dihati kecilnya masih menyimpan sebuah rahasia yang amat besar, setiap menjelang tengah malam, di saat sepi manusia, dia seringkah bergumam seorang diri.
"Waktunya sudah hampir tiba, jangan lupa.... jangan sampai lupa...."
Setibanya di kota Cu-shia, walaupun dihati kecilnya Thiat Tiong-tong ingin melanjutkan kembali perjalanannya, namun lantaran kuatir Ai Thian-hok kelewat lelah, maka menjelang senja dia pun mencari tempat penginapan untuk beristirahat, berdua dia duduk terpekur sambil minum arak.
Ketika malam semakin kelam, selera minum kedua orang itu makin meningkat, siapa pun enggan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Selama ini Thiat Tiong-tong selalu berusaha untuk bicara keras, agar Ai Thian-hok dapat menangkap pembicaraannya secara jelas, akibatnya saat ini tenggorokannya benar-benar sedikit agak parau.
Setiap kali Ai Thian-hok tidak dapat menangkap isi pembicaraan secara jelas, Thiat Tiong-tong selalu berseru sambil tertawa.
"Tenggorokan siaute memang semakin parau, bayangkan, kemarin sewaktu minta air, jarak tiga meter pun orang tidak mendengar teriakanku, tentu nya toako juga makin pusing bukan untuk menangkap ucapanku?"
Ai Thian-hok tersenyum tanpa menjawab, lewat sesaat kemudian tiba-tiba setitik air mata membasahi kelopak matanya. Melihat itu dengan terperanjat Thiat Tiong-tong bertanya.
"Toa.... toako, kenapa kau bersedih hati?"
Ai Thian-hok duduk tanpa bergerak, sampai lama kemudian ia baru berkata pelan.
"Saudaraku yang bodoh, memangnya kau sangka toako benar-benar tidak tahu?"
"Toako, apa yang kau ketahui?"
"Berulang kali kau minta aku membantumu, membimbingmu, padahal kau tidak tega meninggalkan diriku bukan? Padahal kau kasihan kepada toako lantaran sudah buta, tuli lagi bukan?"
Sekujur tubuh Thiat Tiong-tong bergetar keras, air mata kembali jatuh bercucuran, sambil memegang bahu Ai Thian-hok kuat-kuat, ujarnya gemetar.
"Toako, kau.... sejak kapan kau tahu akan hal ini?"
"Sewaktu tiba di kaki bukit, toako sudah mengetahuinya!"
Sahut Ai Thian-hok sambil menghela napas. Kemudian setelah tertawa pedih, lanjutnya.
"Kau tidak menyangka bukan, meski toako sudah buta lagi tuli, namun masih mampu berdiri tegak, mampu berjalan, masih punya selera makan, tidur dengan nyenyak?"
Thiat Tiong-tong hanya mengawasi raut mukanya yang kaku itu dengan termangu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan hatinya sekarang, dalam waktu sesaat pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Bukan saja seluruh kemewahan dan keindahan dunia tidak bisa dilihat dan dinikmati lagi, kedudukan terhormat dalam dunia persilatan, nama harum di antara umat persilatan pun harus dia tinggalkan untuk selamanya.
Seandainya dia hanya seseorang yang pasrah pada nasib, mungkin keadaan jauh agak mendingan, tapi dia adalah seorang jagoan sejati yang besar ambisinya dan tinggi cita-citanya, mungkinkah dia sanggup menghadapi pukulan batin ini?
Tapi kenyataannya sekarang, pukulan batin yang belum tentu dapat dihadapi siapa pun tidak sampai merobohkan dirinya, ia masih dapat bertahan dengan tenang, bersikap seakan tidak pernah terjadi sesuatu, bukan hanya orang lain saja, bahkan Thiat Tiong-tong sendiripun tidak menyangka.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya terdengar Ai Thian-hok berkata kembali.
"Saudaraku, kau jangan lupa, keteguhan batin seorang lelaki terbentuk karena tempaan penderitaan dan siksaan, biarkan saja tubuh berubah jadi cacad, biarkan saja tubuh dan phisikmu berubah tidak berguna, yang penting hatimu belum menjadi cacad, pikiranmu masih berguna, itu semua sudah lebih dari cukup"
"Aaaa, kelihatannya memang gampang, padahal sulit untuk dilakukan"
Pikir Thiat Tiong-tong didalam hati.
"berapa orang sih di dunia ini yang sanggup melakukan hal tersebut?"
Sekalipun perasaan hatinya amat pedih, namun diliputi perasaan kagum yang tidak terhingga. Tiba-tiba Ai Thian-hok bangkit berdiri, setelah menghela napas panjang, ujarnya.
"Waktu sudah larut malam, mari kita tidur!"
Sewaktu kembali, tubuhnya berjalan sangat tegak.
Malam itu Thiat Tiong-tong tidak dapat tidur nyenyak, hingga fajar menjelang tiba dia baru bisa terlelap tidur.
Ketika dia mendusin dari tidurnya, Ai Thian-hok telah pergi dari situ sambil meninggalkan sebuah surat yang ditindihkan dibawah sebuah kotak kecil dari kayu.
Tulisan diatas kertas sangat kacau dan susah dibaca, namun secara lamat-lamat masih bisa terbaca.
"Meski belajar pedang susah, ternyata mendapat kawan sejati jauh lebih susah, memperoleh seorang adik macam kau membuat aku rela mati, oleh sebab itu aku tidak ingin membuat susah kau, sepanjang-panjangnya jalanan akhirnya akan tiba diujungnya juga, mungkin mulai kini aku akan berkelana ke ujung dunia dan entah sampai kapan baru bersua kembali.
"Sebuah kotak kayu yang sudah banyak tahun kusimpan kuberikan sebagai kenangan, semoga hiante tidak usah mencariku lagi"
Membaca surat itu sambil memegang kotak kayu kecil, Thiat Tiong-tong merasakan seluruh tubuhnya gemetar keras, rasa sedih menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Bukit Lau-san terletak di daerah Ciau-ciu (Propinsi Shoatang) yang terletak di pesisir laut, udara amat hangat, karena berada disepanjang laut, tidak heran kalau banyak pelancong yang berkunjung ke situ.
Setibanya dikaki bukit, Thiat Tiong-tong mulai berjalan mengelilingi seluruh tanah perbukitan, namun dia tidak berhasil menemukan seorang manusiapun diseputar sana.
Akhirnya dia mencari seorang penebang kayu yang dijumpainya di kaki bukit dan bertanya apakah pernah menjumpai sekelompok manusia aneh diseputar sana, tapi penebang kayu itu menjawab tidak pernah dijumpai sesuatu yang aneh.
Thiat Tiong-tong merasa panik bercampur kecewa, mencari hingga menjelang senja, akhirnya dia duduk termangu dibawah pohon sambil mengawasi lembayung dikaki bukit, pikirnya.
"Mungkinkah dia membohongi aku? Jangan-jangan mereka menuju ke barat sementara aku menuju ke timur hingga selama hidup tidak akan berhasil menemukan mereka kembali?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar suara meong bergema dari sisi pepohonan, menyusul kemudian terlihat seekor kucing berbulu putih muncul dari balik semak.
Kucing itu kelihatan gagah dan keren, jauh lebih gagah dari kucing biasa, sepasang matanya yang berwarna hijau seolah memancarkan cahaya api, binatang itu tidak lain adalah Ping-nu, kucing kesayangan Yin Ping.
Tidak terkirakan rasa girang Thiat Tiong-tong menyaksikan kemunculan kucing itu, segera serunya.
"Meong, apakah kau datang menjemputku?"
Tampaknya Ping-nu sangat mengerti bahasa manusia, sepasang matanya yang hijau nampak memandang anak muda itu berulang kali, kemudian diiringi suara meong, kucing itu lari menuju ke atas bukit.
Thiat Tiong-tong tidak berani berayal, segera dia mengikuti di belakangnya.
Kecepatan gerak kucing pintar itu ternyata sama cepatnya dengan gerakan tubuh seorang jago persilatan, tampak bulu putihnya yang halus memantulkan cahaya bianglala ketika tertimpa cahaya senja.
Thiat Tiong-tong berlarian dengan sepenuh tenaga, dia tidak berani berayal hingga ketinggalan, lebih kurang sepertanak nasi kemudian mereka telah melampaui punggung bukit dan memasuki hutan yang lebat.
Angin gunung yang berhembus kencang, mendatangkan hawa dingin yang menggigit.
Biarpun udara dingin, peluh sempat membasahi punggung Thiat Tiong-tong, setelah melampaui berapa tikungan bukit, lagi-lagi kucing itu mengeong, kemudian menerobos masuk ke balik semak disisi dinding tebing dan melenyapkan diri.
Thiat Tiong-tong tertegun, buru-buru dia berlarian mendekat sambil melakukan pemeriksaan.
Ternyata di antara dinding bukit itu terdapat sebuah jalan setapak selebar satu meter, jalan sempit itu tertutup oleh lebatnya semak belukar sehingga kalau tidak dicari dengan seksama, sulit untuk ditemukannya.
Dengan kegirangan kembali Thiat Tiong-tong berpikir.
"Dibalik celah sempit ini pastilah tempat tinggal manusia aneh itu"
Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya lebih jauh dengan sedih.
"Berbicara dari kungfu yang kumiliki, kendati pun berhasil menemukan tempat tinggalnya, bukan berarti aku dapat menyelamatkan Leng-kong secara gampang...."
Sementara dia masih melamun, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur sambil tertawa merdu.
"Bocah bodoh, apa yang sedang kau tengok disitu?"
Dengan perasaan terkejut Thiat Tiong-tong berpaling, entah sejak kapan dua orang gadis berambut hitam telah berdiri dibawah sinar senja yang mulai redup.
Mungkin karena dia sedang melamun hingga kurang konsentrasi, maka tidak diketahui kehadiran mereka berdua.
Kedua orang gadis itu mengenakan jubah panjang terbuat dari sutera yang halus, lembut lagi longgar, satu berwarna merah yang lain berwarna hijau dan panjangnya selutut hingga nampak jelas sepasang betisnya yang putih halus, kaki mereka terbungkus oleh sepatu terbuat dari rumput yang datar dan amat sederhana.
Mereka berdua tidak lain adalah gadis yang pernah ikut bersama manusia aneh itu mengunjungi lembah kong-kok-san.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur girang, terkejut karena jejaknya ketahuan lawan, girang karena dugaannya ternyata tidak meleset, disitulah tempat tinggal manusia aneh itu.
Dengan matanya yang jeli nona berbaju hitam itu memperhatikan wajah Thiat Tiong-tong berapa saat, kemudian tegurnya sambil tertawa.
"Ternyata perhitungan kokcu tidak meleset, kau benar-benar datang kemari!"
"Yaa, kalau memang sudah datang, ayohlah masuk ke dalam"
Sambung nona berbaju hijau itu pula.
"apa lagi yang kau perhatikan?"
"Darimana dia tahu kalau aku bakal kemari?"
Tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.
Dia duga manusia aneh itu benar-benar seorang manusia sakti yang bisa melihat masa depan, hingga apa yang bakal terjadi sudah diketahui terlebih dulu olehnya.
Tentu saja dia tidak mengira kalau manusia aneh itu sesungguhnya adalah seorang jagoan silat yang berbakat alam, sekalipun tidak dapat meramal masa depan, namun perhitungan serta dugaannya selalu tepat.
Ketika dia saksikan Yin Ping yang dihari biasa jarang meninggalkan dirinya tahu-tahu keluar lembah secara diam-diam, dia segera menduga kalau perempuan itu menaruh rasa cemburu terhadap Sui Leng-kong hingga sengaja memancing kedatangan Thiat Tiong-tong ke situ untuk menolong gadis tersebut.
Sementara masih kaget bercampur ragu, kawanan gadis itu telah meluruk maju mendekat, satu menarik tangan Thiat Tiong-tong, yang lain menarik lengan bajunya sembari berseru.
"Kokcu kami sudah menunggu, ayoh cepat masuk!"
Tanpa membuang waktu lagi mereka menarik anak muda itu memasuki celah sempit di antara dinding bukit dan menuju ke dalam lembah.
Thiat Tiong-tong hanya merasakan bau harum semerbak terendus disisi hidungnya, dia mencoba meronta namun tidak berhasil.
Celah sempit itu lembab, gelap lagi tertutup rapat oleh semak yang lebat, untuk melewatinya maka orang harus berjalan satu per satu, begitulah, Thiat Tiong-tong dengan diapit dua orang gadis itu, satu di depan yang lain di belakang, berjalan menelusuri jalan setapak itu hampir seperminum teh lamanya.
Tiba-tiba pemuda itu merasakan pandangan matanya jadi terang, ternyata pemandangan dihadapannya telah berubah jadi amat lebar dan terbuka, hembusan angin yang semilir ditambah bau harum bunga yang harum, membuat suasana disitu terasa nyaman dan mengesankan.
Rupanya disudut celah yang sempit tadi merupakan sebuah lembah bukit yang luas dan lebar, lembah itu dikelilingi perbukitan diseke-lilingnya dengan pepohonan yang rimbun dan sebuah sungai kecil yang mengalir tenang.
Sepanjang sungai kecil itu penuh ditumbuhi pohon Yang-liu, di antara rimbunnya dedaunan lamat-lamat tampak sebuah bangunan indah yang muncul dibalik bukit.
Di depan bangunan indah itu merupakan sebuah tanah lapang dengan rumput yang dipotong pendek tapi rapi, diatas hamparan rerumputan nan hijau tergeletak puluhan macam alat musik, meja catur dan lain sebagainya.
Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau di dunia pun terdapat alam seindah nirwana, tidak urung dia berdiri tertegun berapa saat lamanya.
Terdengar nona berbaju merah itu berseru sambil tertawa cekikikan.
"Saudara-saudaraku, apa indahnya melihat ikan disungai? Cepat kemari dan lihatlah si burung bodoh ini...."
Rupanya disepanjang sungai kecil, dibalik pepohonan yang rimbun berkumpul belasan orang gadis cantik.
Kawanan gadis itu hanya mengenakan kain tipis yang terbuat dari sutera, ketika berlarian terhembus angin, tampaklah dengan jelas lekukan tubuh mereka yang montok dan indah, ternyata dibalik kain sutera tipis itu, mereka berada dalam keadaan telanjang bulat.
Thiat Tiong-tong hanya merasakan rangsangan yang hebat setelah melihat kawanan gadis bugil itu, buru-buru dia pejamkan matanya rapat rapat dan tidak berani memperhatikan lebih jauh.
Dalam waktu singkat kawanan gadis itu sudah berada disisi tubuhnya, ada yang menarik bajunya, ada yang menarik lengan bajunya, bau harum yang menusuk hidung muncul dari empat arah delapan penjuru.
Thiat Tiong-tong merasa gugup bercampur panik, dia mencoba mendorong kawanan gadis itu, tapi begitu jari tangannya menyentuh tubuh yang halus, lembut bagaikan kapas, dengan perasaan takut cepat dia menarik kembali tangannya.
Sekalipun dia adalah seorang lelaki sejati berhati baja, tidak urung dibikin kelabakan juga setelah berada dalam kerumunan gadis bugil.
Terdengar seorang gadis muda berseru sambil tertawa cekikikan.
"Coba lihat tampangnya, dulu saja dia nampak gagah perkasa dan banyak akal hingga manusia pengecut takut mati itu dibuat kelabakan setengah mati, siapa sangka kalau hari ini dia sendiri yang justru seperti burung dungu"
Ditengah gelak tertawa yang riuh, seorang gadis lain membelai pipi Thiat Tiong-tong dengan lembut, lalu katanya sambil menghela napas.
"Sejak bertemunya tempo hari, aku sudah ingin mengelus pipinya, coba kalian lihat wajahnya, oooh.... macam pahatan saja, sungguh indah dan mengesankan, akhirnya keinginanku itu kesampaian juga hari ini"
"Tidak heran kalau nona cilik itu mati-matian menunggu kehadirannya"
Seru gadis yang lain pula.
"biar kokcu sudah membujuk dan merayu dengan cara apapun, dia tetap tidak menggubris dan ambil perduli, rupanya dia memang tampan sekali"
Kelihatannya gadis itu baru pertama kali ini bertemu Thiat Tiong-tong, bukan saja mengaguminya, bahkan nona itu seperti menyesal kenapa bukan dia yang dicintai pemuda itu.
Sementara Thiat Tiong-tong sendiri merasa sedikit agak lega setelah tahu kalau Sui Leng-kong masih berada dalam keadaan selamat.
Tiba-tiba dari seberang sungai kecil terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring.
"Tamu sudah tiba kenapa tidak dipersilahkan masuk? Kawanan gadis itu sama-sama membuat muka setan sambil menjulurkan lidahnya kemudian menarik tangan pemuda itu dan diajak menyeberangi jembatan kecil.
"Tolong lepaskan tangan kalian"
Pinta Thiat Tiong-tong.
"aku bisa berjalan sendiri!"
Sambil tertawa kawanan gadis itu melepaskan tangannya.
Thiat Tiong-tong menghembuskan napas lega, dia mencoba celingukan kesana kemari, ternyata setelah menyeberangi sungai mereka menelusuri sebuah jalan setapak yang terbuat dari batu warna warni, dikedua sisi jalan setapak itu penuh ditumbuhi aneka bunga yang indah dan semerbak.
Jalan setapak itu langsung menghubungkan tempat itu dengan sebuah bangunan mungil, saat itulah kembali terdengar seseorang berseru dari balik ruangan sambil tertawa.
"Tamu agung datang dari jauh, ayoh para budak, cepat ajak dia masuk ke dalam, aku malas untuk keluar menyambut"
Nona berbaju merah itu tertawa lirih sambil menutupi mulutnya, dia segera berjalan duluan menuju ke sebuah serampi samping, ketika membuka pintu pagar maka bergemalah suara keleningan yang merdu.
Manusia aneh itu dengan jubah merahnya sedang duduk diatas sebuah alas tidur yang terbuat dari batu kemala putih, di depan pembaringan adalah sebuah meja pendek dengan sebuah vas berisi aneka bunga dan sebuah jamban berisi aneka buah buahan.
Beberapa orang gadis cantik berdiri disekelilingnya sambil meniup seruling dan bermain khiem, ketika melihat kemunculan Thiat Tiong-tong, meski irama musik tidak berhenti namun kerlingan mata kawanan gadis itu hampir semuanya tertuju ke arah anak muda itu.
Ke empat dinding ruangan itu bersih berkilat bagai cermin, suasana dalam ruangan pun indah bagai sebuah lukisan, ketika Thiat Tiong-tong mencoba mengawasi sekitar situ, dia tidak tahu ada berapa banyak gadis cantik yang berada disana, dia pun tidak tahu ada berapa banyak kerlingan mata yang tertuju ke wajahnya.
Sambil tertawa tergelak manusia aneh itupun berseru.
"Wouw, seorang penebar bibit cinta yang luar biasa. Tidak nyana kau rela menempuh perjalanan sejauh ribuan li hanya untuk menyusul seorang nona. Tentu sudah kelelahan bukan selama perjalanan? Mari, mari, mari, duduklah kemari"
Seorang gadis yang duduk diatas pembaringan batu itu segera bangkit berdiri dan memberikan tempat duduknya. Thiat Tiong-tong segera berpikir.
"Kalau ku tampik ajakan itu, dia pasti menduga hatiku cupat dan takut kepadanya...."
Maka sambil tersenyum diapun berjalan mendekat dan duduk.
Dia memang seorang pemuda yang cerdas, pemberani dan tidak terbiasa terkekang oleh adat yang bertele-tele, kendatipun dia sedikit lupa diri ketika menyaksikan suasana bak berada di nirwana tadi, namun hanya sekejap kemudian dia sudah berhasil mengen-dalikan diri.
"Kau berani minum arak dan makan buah yang tersedia disini?"
Tantang manusia aneh itu lagi sambil tertawa. Thiat Tiong-tong tersenyum, sahutnya.
"Berbicara dari ilmu silat yang cianpwee miliki, buat apa mesti meracuni arak dan buah itu jika ingin membunuhku? Jangan lagi baru secawan dan sebiji buah, disuruh menghabiskan tiga kati pun aku sanggup"
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... bagus!"
Serunya.
Dia bertepuk tangan, seorang gadis muncul menghidangkan arak wangi, arak itu berwarna hijau dan harum baunya.
Thiat Tiong-tong tahu, bila orang itu mengijinkan dirinya bertemu Sui Leng-kong maka dia tidak usah banyak bicara, sebab banyak omongpun tidak ada gunanya, oleh karena itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mulai meneguk arak sambil menikmati buah-buahan.
Kawanan gadis cantik yang berada disekitar sana hanya berdiri menonton sambil tertawa cekikikan, melihat itu si manusia aneh itu segera menegur sambil tertawa.
"Dasar budak cilik, apa yang kalian tertawakan, cepat tunjukkan kebolehan kalian dihadapan tamu!"
Kawanan gadis itu menyahut, irama musik pun berubah, dari nada yang halus lembut berubah jadi keras dan cepat, beberapa orang di antara mereka sudah mulai bertepuk tangan sambil menyanyi, ada pula yang tampil ditengah ruangan dan mulai menari.
Tarian yang dibawakan kawanan gadis itu lembut dan indah, liukan pinggul yang bergetar bagai liukan ular ditambah dengan kibaran baju yang memperlihatkan betis putih mereka, membuat suasana disitu benar benar mengobarkan rangsangan syahwat.
Kerlingan mata merekapun menggetarkan sukma, diiringi senyuman manis yang memikat tiba-tiba seorang gadis penari menjatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu.
Tapi Thiat Tiong-tong tetap duduk sambil memegang cawan, bukan saja tidak memandang kearah nona itu, menyentuh pun tidak.
Melihat sikapnya yang kaku itu sambil tersenyum manusia aneh itu mengulapkan tangannya.
"Sudahlah"
Dia berseru.
"biar kuajak sang tetamu mengunjungi tempat lain"
Begitu dia selesai bicara, nyanyian dan tarian berhenti seketika, nona yang berada dalam pelukan Thiat Tiong-tong pun ikut bangkit berdiri, sambil menowel ujung hidungnya dia mengumpat lirih.
"Dasar kau.... lebih kaku dari sebatang balok kayu"
Thiat Tiong-tong hanya menghembuskan napas lega, cepat dia ikut bangkit berdiri.
Sejujurnya, barusan diapun sedikit terangsang oleh ulah gadis cantik itu, masih untung dia sudah terbiasa menyembunyikan perasaan hingga orang lain tidak mengetahuinya.
Kembali manusia aneh itu berkata sambil tertawa.
"Jarang sekali ada orang yang sanggup berkunjung kemari, tapi sekarang kau sudah datang, berarti kaulah tamu agung kami. Kalau tidak kuajak melihat-lihat sekitar sini, kau pasti akan menuduhku berjiwa sempit!"
Diam diam Thiat Tiong-tong berpikir.
"Sampai sekarang dia sama sekali tidak menyinggung soal Sui Leng-kong, jangan-jangan dia sedang mengajakku untuk menjum-painya?"
Sementara dia masih termenung, manusia aneh itu sudah beranjak pergi terlebih dulu.
Setelah melewati berapa serambi dan beberapa bangunan rumah, Thiat Tiong-tong baru sadar kalau kesemuanya itu terdiri dari satu kesatuan bangunan besar, kendatipun dari luar bangunan itu kelihatan biasa tidak ada keistimewaan tapi dalamnya nyaris seluruhnya dibangun dari batu pualam putih yang bening dan berkilat hingga bangunan itu mirip sebuah istana salju yang bening bagai cermin.
Perabot maupun dekorasi dalam ruangan pun indah, sederhana tapi penuh artistik, sama sekali tidak meninggalkan kesan kemewahan yang berlebihan.
Tidak tahan kembali Thiat Tiong-tong berpikir sambil menghela napas.
"Tampaknya manusia aneh ini memang seseorang yang sangat pandai menikmati hidup"
Manusia aneh itu berjalan terus tiada hentinya, setelah melalui beberapa bilik, tiba-tiba Thiat Tiong-tong merasakan pandangan matanya silau, ternyata mereka telah tiba disebuah ruangan besar yang dipenuhi aneka batu permata, zamrud, intan permata serta benda berharga lainnya, boleh dibilang seluruh benda yang berada disitu rata rata indah dan mahal harganya.
Thiat Tiong-tong pernah menjumpai tumpukan batu permata yang amat banyak ketika berada dalam gua harta tempo hari, waktu itu dia menganggap tumpukan barang berharga itu luar biasa dan tiada duanya dikolong langit, siapa tahu bila dibandingkan tumpukan harta yang dijumpai di tempat ini, apa yang pernah dilihatnya dulu ternyata masih tidak seberapa.
Tidak tahan lagi dia menghela napas panjang.
Dari atas sebuah meja, manusia aneh itu mengambil sebilah pedang yang gagangnya penuh ditaburi batu permata, ujarnya sambil tertawa.
"Aku percaya kau memiliki ketajaman mata yang luar biasa, bagaimana menurut pandangan-mu tentang pedang ini?"
Sewaktu ibu jarinya memencet sebuah tombol.
"Criiiing!"
Pedang itu sudah diloloskan dari sarungnya.
Di antara dentingan suara yang nyaring bagai pekikan naga, cahaya pedang segera memancar ke empat penjuru, sinar yang amat menyilaukan mata membuat setiap benda yang berada dalam ruangan terlihat sangat jelas.
"Pedang bagus!"
Tidak tahan Thiat Tiong-tong berteriak memuji. Sekulum senyuman bangga tersungging di ujung bibir manusia aneh itu, sambil memandang sekeliling ruangan itu sekejap ujarnya.
"Seluruh harta karun yang berada dalam ruangan ini merupakan hasil jerih payah leluhurku yang mengumpulkan sedikit demi sedikit, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Jarang dijumpai di tempat lain"
"Bagaimana pula dengan kawanan nona cantik tadi?"
Kembali manusia aneh itu bertanya sambil tertawa.
"Semuanya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan"
Tiba-tiba manusia aneh itu menarik muka, katanya dengan nada berat.
"Asal kau bersedia mengabulkan satu permintaanku, seluruh harta karun yang berada disini boleh kau angkut pergi, seluruh gadis cantik yang kau jumpai tadipun boleh kau pilih sesuka hatimu"
"Apa permintaanmu itu?"
Tanya Thiat Tiong-tong dengan perasaan hati sedikit tergerak.
Manusia aneh itu tidak menjawab, dia tekan sebuah tombol diatas dinding batu kemala, tiba tiba muncul sebuah jendela kecil yang terbuat dari kaca kristal, tidak tahan Thiat Tiong-tong melongok ke dalam.
Diseberang jendela merupakan sebuah ruangan mungil, didalam ruangan tersedia sebuah pembaringan yang terbuat dari batu kemala, seorang nona berbaju putih dengan rambut sebahu dan wajah cantik bak bidadari duduk termenung disitu, siapa lagi kalau bukan Sui Leng-kong?
Di depan maupun dibelakang tubuhnya penuh bertumpuk aneka macam benda mestika yang mahal harganya, ada buah segar, ada pakaian indah, ada perhiasan mahal....
ada pula setumpuk buku dan seekor burung kakaktua yang indah bulunya.
Segala sesuatu yang tersedia disitu boleh dibilang merupakan benda benda yang paling disukai setiap wanita dikolong langit.
Tapi Sui Leng-kong duduk diatas ranjang dengan wajah murung, kendatipun dia sedang memegang se
Jilid buku, namun matanya tidak memandang ke arah buku itu, dia hanya duduk melamun.
Thiat Tiong-tong seketika merasakan hatinya bergolak keras, hampir saja dia berteriak memanggil.
Sambil tersenyum manusia aneh itu segera berkata.
"Walaupun kau dapat melihatnya namun dia tidak dapat melihatmu, biar kau berteriak sampai serak pun jangan harap dia mendengar suara teriakanmu"
Thiat Tiong-tong tertawa dingin.
"Mengakunya saja seorang bulim cianpwee, tapi bisanya hanya menyekap seorang nona, enghiong macam apa pula dirimu itu"
Ejeknya. Dia segera membuang muka dan tidak memperhatikan dirinya lagi. Manusia aneh itu sama sekali tidak menanggapi, katanya lagi perlahan.
"Asal kau bersedia mengatakan dihadapannya bahwa selama hidup tidak akan bertemu lagi dengannya, seluruh harta karun dan wanita cantik yang ada disini boleh kau bawa pergi"
Siapa yang tidak akan terpikat, siapa yang tidak akan tertarik dengan harta karun serta wanita cantik?
Dia yakin Thiat Tiong-tong tidak bakal menampik tawarannya itu.
Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.
"Hahahaha.... kusangka cianpwee adalah seorang tokoh yang luas pengetahuannya, siapa tahu... hehehehe.... memangnya cianpwee anggap cayhe adalah manusia semacam itu?"
Serunya. Berubah paras muka manusia aneh itu, serunya sambil tertawa dingin.
"Jangan lupa, sampai detik ini dia masih berada dalam cengkeramanku, bila aku menggunakan kekerasan, memangnya dia bisa terbang ke langit?"
Thiat Tiong-tong kembali tertawa.
"Walaupun cianpwee salah menilai tentang diriku namun cayhe tidak bakal salah menilai diri cianpwee, bila kau ingin menggunakan kekerasan, buat apa mesti menunggu sampai hari ini!"
Walaupun manusia aneh ini suka main wanita, tapi dia selalu bersikap angkuh dan tinggi hati, perkataan dari Thiat Tiong-tong barusan tepat menyentuh perasaan hatinya, kontan saja sikap maupun wajahnya berubah jadi lebih lembut dan ramah.
Dia berjalan mengelilingi ruangan itu satu lingkaran, kemudian sambil menghentikan langkahnya berkata.
"Kau sudah pernah melihat kepandaian silatku, bagaimana kalau aku membantu musuh-musuh besarmu menghadapi dirimu?"
"Kepandaian silat yang cianpwee miliki sangat tangguh, belum pernah kujumpai sebelum ini, bila kau membantu musuh-musuhku, sudah jelas aku tidak mampu melawan kalian"
Kembali manusia aneh itu tersenyum.
"Bila kau bersedia mengabulkan permintaanku, aku segera akan turun tangan membantumu urttuk membunuh seluruh musuh besarmu itu!"
Janjinya.
Sesungguhnya manusia ini berwatak aneh, selama hidup dia paling enggan mencampuri urusan dunia persilatan, kalau bukan dipaksa oleh keadaan, tidak nanti dia akan mengucapkan perkataan tersebut.
Hal inipun antara lain disebabkan sejak kecil dia sudah hidup manja, apa yang diinginkan selama ini, tidak ada yang berani menentang, semuanya dapat diperoleh secara gampang.
Dalam perkiraannya semula, Sui Leng-kong pun akan diperoleh dengan gampang sekali tanpa harus menggunakan paksaan, siapa tahu, walau sudah menggunakan cara apa pun Sui Leng-kong tetap tidak menggubris dirinya.
Semakin dingin sikap Sui Leng-kong terhadapnya, semakin bersemangat manusia aneh ini mengejarnya, namun diapun tidak ingin memperoleh gadis itu dengan cara paksaan, oleh sebab itu dia berusaha menjebak Thiat Tiong-tong dengan segala iming-iming, agar Sui Leng-kong mematikan perasaannya terhadap pemuda ini.
Itulah sebabnya dia menggunakan pelbagai cara dan upaya memaksa Thiat Tiong-tong untuk mengabulkan permintaannya.
Benar saja, Thiat Tiong-tong mulai tertarik dengan tawaran itu, dengan hati berdebar pikirnya.
"Bila dia mau membantu, sudah jelas dendam kesumat Perguruan Tay ki bun akan terbalas"
Tapi ingatan lain kembali melintas.
"Tapi benarkah tindakanku ini, mengorbankan Sui Leng-kong demi masalah pribadi? Lagipula.... balas dendam atas penghinaan yang dialami Perguruan Tay ki bun menjadi kewajiban setiap anak muridnya, mana boleh aku libatkan orang lain?"
Berpikir sampai disitu diapun tertawa hambar sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Benar-benar manusia yang tidak tahu diri!"
Umpat manusia aneh itu sangat gusar.
"Weess!"
Dia ayunkan telapak tangannya langsung membacok tubuh Thiat Tiong-tong, serangannya cepat melebihi sambaran petir.
Biarpun melihat datangnya serangan itu, Thiat Tiong-tong tidak mencoba untuk menghindar, segera terasa olehnya angin dingin menggulung wajahnya, tajam bagai sayatan pisau dan dingin menyesakkan napas.
"Kau pingin modar?"
Bentak manusia aneh itu gusar.
Ditengah bentakan nyaring, pada detik yang terakhir dia tarik kembali serangannya itu.
Terkesiap juga Thiat Tiong-tong melihat kesaktian lawan, apalagi melihat kemampuannya mengontrol tenaga pukulan, tapi dia berkata juga sambil tertawa hambar.
"Bila cianpwee benar-benar akan menggunakan ilmu silatmu, jelas aku bukan tandinganmu, buat apa mesti bersusah payah menghindarkan diri?"
Manusia aneh itu tertegun, telapak tangannya yang siap melancarkan bacokan lagi segera ditarik kembali, dengan gemas da menghentakkan kakinya sambil melontarkan pukulan ke muka.
Kasihan barang mestika yang berada dihadapannya, termakan pukulan itu benda-benda berharga itu segera mencelat ke empat penjuru dan hancur berantakan.
Dengan wajah tidak berubah jengek Thiat Tiong-tong dingin.
"Biarpun tenaga pukulan cianpwee sangat hebat, ternyata nyalimu kecil sekali"
"Apa kau bilang?"
Teriak manusia aneh itu gusar.
"Kalau cianpwee memang bernyali, kenapa tidak berani membiarkan aku bertemu dengan-nya?"
Lagi-lagi manusia aneh itu tertegun, tiba-tiba bentaknya.
"Ikut aku!"
Sambil bicara dia segera beranjak pergi.
Thiat Tiong-tong tahu, orang itu sudah termakan oleh ejekannya, dengan girang dia segera mengikuti di belakangnya menelusuri sebuah serambi panjang yang terbuat dari batu pualam.
Meskipun antara ruangan penyimpan harta dengan ruangan dimana Sui Leng-kong tersekap hanya dipisahkan oleh sebuah dinding, namun jalan untuk menuju ke sana ternyata amat jauh dan penuh dengan liku-liku dan tikungan, orang akan tersesat bila tidak mengikuti petunjuk jalan.
Dalam sekilas pandang Thiat Tiong-tong dapat menangkap kalau letak jalan berliku itu diatur sesuai dengan ilmu barisan, namun dia tidak menggubris, kini dirinya sudah berada dalam sarang harimau, maka dia tidak akan ambil perduli terhadap persoalan lain.
Beberapa saat kemudian tibalah mereka diujung sebuah jalan, suara nyanyian Sui Leng-kong terderigar bergema dari balik tirai.
Suara nyanyiannya merdu merayu, terdengar dia sedang bersenandung.
"Janganlah sakit rindu, rindu membuat kau cepat tua. Dari pada pikiran pusing dan jenuh, lebih baik sakit rindu"
"Hmm, apa enaknya sakit rindu?"
Dengus manusia aneh itu sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, tapi begitu bertemu Sui Leng-kong, seluruh hawa amarahnya hilang lenyap seketika.
Sui Leng-kong pun sudah melihat kehadiran Thiat Tiong-tong yang berada di belakangnya, dia sedikit tertegun sambil memandang melongo, tidak tahu harus sedih atau gembira, bahkan buku yang berada dalam genggaman pun terjatuh tanpa terasa.
Sorot mata mereka saling menatap tanpa berkedip, seakan tidak ingin saling berpisah kembali.
Menyaksikan adegan itu, manusia aneh tersebut merasa murung bercampur masgul, dia tidak dapat mengutarakan bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Lama kemudian akhirnya dia berteriak keras.
"Setelah saling bertemu kenapa tidak segera bicara!"
Namun sepasang muda mudi itu masih saling menatap tanpa bicara, dalam keadaan seperti ini, biar ada berjuta patah kata pun tidak sepotong kata yang mampu diutarakan, mereka merasa berdiam diri jauh lebih mesrah ketimbang bicara.
Dari atas meja manusia aneh itu memetik berapa biji anggur, sambil mengunyah dia berjalan mondar mandir di antara ke dua orang itu, tanpa sadar anggur berikut bijinya tertelan semua.
Sebetulnya anggur itu dari jenis yang langka, selain manis pun harum, tapi sekarang dia tidak bisa membedakan bagaimana rasanya buah itu, mulutnya bergumam terus tiada hentinya.
"Gampang! Gampang.... aaai, susah! Susah! Susah!"
Terdengar suara cekikikan berkumandang dari balik pintu, Yin Ping sambil membopong kucing kesayangannya, Ping-nu berjalan masuk ke dalam.
Sambil berjalan ke samping Thiat Tiong-tong dan tertawa, ujarnya.
"Adik cilik, tahukah kau apa yang dia maksud sebagai gampang? Dan apa pula yang susah?"
Dengan penuh rasa berterima kasih Thiat Tiong-tong meliriknya sekejap, kemudian sahutnya sambil tersenyum.
"Gampang untuk membunuhku saat ini juga, namun meski berhasil membunuhku, kalau ingin Sui Leng-kong melupakan aku, sulitnya melebihi mendaki ke puncak langit"
Sambil tersenyum Yin Ping berpaling ke arah manusia aneh itu, tanyanya.
"Benarkah yang dia katakan?"
Manusia aneh itu tertawa.
"Pemuda yang kau giring kemari tentu saja memiliki kecerdasan otak yang luar biasa"
"Kalau memang luar biasa, berarti kaupun tahu kalau selama hidup jangan harap bisa membuat gadis itu berpaling darinya, kalau memang begitu.... lebih baik bebaskan saja dirinya! "Hmm, tidak segampang itu!"
Seru manusia aneh itu sambil menarik muka. Tiba-tiba Sui Leng-kong melompat bangun dan menjatuhkan diri berlutut dihadapannya, sambil menyembah pintanya.
"Dari pada kau menyekapku terus disini hingga menimbulkan rasa benciku terhadapmu, lebih baik bebaskanlah aku, selama hidup aku tidak akan melupakan kebaikanmu!"
Ucapan itu diutarakan dengan air mata berlinang, wajahnya kelihatan menyedihkan sekali, jangankan manusia biasa, orang berhati baja pun pasti akan tergerak hatinya setelah menyaksikan raut mukanya itu.
Manusia aneh itu memandangnya berapa kejap, kemudian ujarnya sambil tertawa getir.
"Tentu saja aku tidak berharap kau membenciku, Cuma.... biarpun aku bebaskan dirimu dan persilahkan kau segera pergi dari sini, tapi apa gunanya kau selalu teringat kebaikanku? Apa manfaatkan bagiku pribadi?"
"Kalau begitu.... kalau begitu bunuh saja aku!"
"Aaaai, apalagi disuruh membunuhmu.... mana aku tega?"
Manusia aneh itu mendongakkan kepalanya menghela napas panjang.
"Kau enggan membebaskannya, tidak ingin membunuhnya pula, apa sebenarnya maksudmu?"
Tegur Thiat Tiong-tong.
"Benar"
Seru Yin Ping pula sambil tertawa.
"sebenarnya apa keinginanmu, paling tidak biarlah orang lain mengerti, kalau keadaan dibiarkan berlarut terus semacam ini, memangnya kau anggap selamanya aku tidak bisa cemburu?"
"Ooh, rupanya kaupun mengerti cemburu...."
Manusia aneh itu tertawa geli. Kemudian setelah berjalan mondar-mandir berulang kali sambil menggendong tangan, mendadak dia menghentikan langkahnya seraya berseru.
"Aaah, ada akal!"
"Bagaimana?"
Tanya Thiat Tiong-tong cepat.
"Bila kau berhasil menembusi delapan barisanku, kalian berdua akan segera kubebaskan!"
Berubah paras muka Yin Ping.
"Tapi.... tapi delapan barisan Pat-bun-tin itu...."
Serunya sambil tertawa paksa.
"Tapi kenapa!"
Tukas manusia aneh itu sambil tertawa.
"tempo hari, aku sendiripun harus menembusi delapan barisan itu sebelum mendiang ayah mengijinkan aku turun gunung!"
"Siapa pun tahu kalau kau adalah seorang manusia berbakat alam dalam dunia persilatan, ada berapa orang di dunia ini yang mampu menandingimu? Sementara dia.... aaai, dia pun tidak terlalu jelek!"
"Hahahaha.... kalau memang tidak terlampau jelek, apa salahnya kalau dicoba?"
Jelas perkataan terakhir ini sengaja ditujukan kepada Thiat Tiong-tong. Diam diam pemuda itu berpikir.
"Kalau kau saja mampu menembusi, kenapa aku tidak?"
Selama pertarungan itu berlaku adil, dia memang merasa tidak perlu takut untuk menghadapinya, maka dengan suara lantang sahutnya.
"Baik!"
"Kalau begitu, ikutlah aku!"
Kata manusia aneh itu sambil tersenyum.
Selesai bicara, dia bergerak terlebih dulu mengajak beberapa orang itu menuju ke dalam sebuah bilik batu.
Bilik batu itu berbentuk segi delapan dengan delapan buah pintu, setiap pintu ditutup dengan sebuah tirai berwarna, masing-masing berwarna merah, kuning tua, kuning muda, hijau tua, hijau muda, biru, ungu dan hitam.
Tidak diketahui apa isi dibalik setiap pintu tersebut.
Di depan pintu bertirai itu terdapat beberapa buah meja batu dengan bangkunya, buah buahan segar, arak wangi serta teh harum tersedia lengkap disitu komplit dengan cawan-cawan kemalanya.
"Delapan pintu sudah terlihat, tapi dimana letak barisan nya...."
Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir.
Terdengar manusia aneh itu bertepuk tangan sekali, kecuali pintu berwarna hitam, dari ke tujuh pintu lainnya segera bermunculan tujuh orang gadis cantik yang mengenakan pakaian berwarna warni.
Setiap gadis itu mengenakan pakaian sesuai dengan warna pintunya, yang merah memakai baju merah, yang hijau mengenakan baju warna hijau.
Ke tujuh orang gadis itu rata-rata berwajah cantik rupawan, selain beda warna, potongan pakaian yang mereka kenakan pun berbeda satu dengan lainnya, ada yang memakai gaun lebar, ada yang memakai gaun pendek, ada yang bercelana ketat, ada pula yang bercelana pendek.
Sambil menghela napas dihati, pikir Thiat Tiong-tong.
"Hampir semua gadis itu cantik jelita, entah dari mana saja dia mengumpulkannya, gadis secantik inipun masih tidak pantas menjadi bininya, aku lihat...."
Belum selesai dia berpikir, tampak ada enam orang gadis cantik telah maju mengepungnya.
"Barisan inikah yang harus kutembusi?"
Thiat Tiong-tong segera menegur dengan kening berkerut.
"Hahahaha.... tepat sekali", jawab manusia aneh itu dengan tawa tergelak.
"barisan semacam ini hanya ada di nirwana dan jangan harap menemukan keduanya dikolong langit. Jadi meski nanti kau gagal menembusi ilmu barisan ini, paling tidak kau punya hokkie untuk menikmatinya"
"Bagaimana aku harus menembusinya, dengan cara apa menentukan menang kalahnya?"
"Ilmu barisan ini bernama ilmu barisan bidadari telanjang...."
Manusia aneh itu menerangkan sambil tertawa. Begitu mendengar nama tersebut, sepasang alis mata Thiat Tiong-tong berkerut semakin kencang. Terdengar manusia aneh itu berkata lebih jauh.
"Biarpun ilmu silat yang dimiliki ketujuh orang budak cilik ini tidak terlampau tinggi, namun kemampuan mereka sangat hebat, ketika mereka bertujuh mengepung dirimu nanti, sambil menelanjangi diri sendiri mereka pun akan berusaha menelanjangi dirimu, ketika mereka selesai melucuti semua pakaian yang dikenakan sementara pakaian mu sama sekali tidak berhasil dilucuti oleh mereka, maka kau akan dianggap memenangkan setengah dari pertarungan ini, sisanya yang setengah.... hahahaha.... lebih baik kita bicarakan nanti saja setelah kau berhasil menangkan setengah pertandingan ini"
Thiat Tiong-tong merasa tercengang bercampur kaget, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak.
Sementara Sui Leng-kong sendiripun hanya bisa berdiri melongo dengan pipi bersemu merah, merah lantaran jengah.
Gelak tertawa manusia aneh itu semakin menunjukkan kebanggaan, ujarnya lagi.
"Aku yakin belum pernah ada jago persilatan yang pernah menjumpai ilmu barisan bidadari telanjangku ini, barangsiapa berhasil menembusnya, kungfu yang dimiliki boleh dibilang sangat hebat!"
Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir.
"Meskipun ilmu barisan ini langka dan luar biasa hebatnya, toh aku bukan orang mati yang tidak mampu berkelit, masa akan kubiarkan mereka meloloskan pakaianku...."
Berpikir begitu segera tanyanya dengan suara keras.
"Berapa lama waktu yang mereka bertujuh butuhkan untuk melucuti semua pakaiannya?"
"Hahahaha.... mereka bertujuh akan tidak berhenti melepaskan pakaian, melepas terus sampai benar-benar telanjang!"
Thiat Tiong-tong berpikir sejenak, kemudian katanya lagi dengan suara lantang.
"Bagaimana pula jika aku berhasil merobohkan mereka semua di saat ketujuh orang itu sedang menanggalkan pakaiannya dan berhasil lolos dari dalam barisan?"
"Jika kau mampu merobohkan mereka semua, tentu saja kaulah yang akan keluar sebagai pemenang"
Kembali Thiat Tiong-tong berpikir.
"Biarpun kungfu yang mereka bertujuh miliki cukup tangguh, bukankah mereka harus menanggalkan pakaiannya satu per satu, dalam keadaan begini mana mungkin mereka bisa bersilat? Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan itu untuk merobohkan mereka?"
Berpikir sampai disini, diapun membenahi pakaian sendiri seraya menyahut.
"Baiklah, silahkan nona semua mulai turun tangan"
Kawanan gadis cantik itu tertawa merdu, dengan cepat mereka bergerak maju dan mengelilingi anak muda itu dari jarak berapa meter, belum lagi tubuhnya yang bahenol, cukup gelak tertawa mereka yang merdu pun sudah mampu menggetarkan hati.
Tiba-tiba Sui Leng-kong berteriak keras.
"Tunggu sebentar, bagaimana pula jika dia.... dia kalah?"
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.... jika dia kalah, akan kuberi satu kesempatan lagi, coba kau lihat ukiran manusia di dinding sekeliling ruangan, hampir semuanya terukir gerakan untuk memecahkan barisan ini, asal dalam tujuh hari dia berhasil mempelajari kungfu yang tertera di dinding dan mampu menjebol barisan ini.... hahahaha.... aku jadi teringat, dulu akupun harus mempelajari cara untuk menjebol ilmu barisan ini dalam tujuh hari"
Sui Leng-kong mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, benar saja, diatas dinding penuh dengan ukiran manusia yang melakukan gerakan silat, tanpa terasa dia menundukkan kepalanya seraya berkata.
"Kalau begitu cara kerjamu cukup adil"
"Hahahaha... kalau tidak adil, kenapa aku tidak turun tangan sendiri? Kalau ingin bersaing dengan seseorang, tentu saja kita mesti kalahkan dia secara adil"
Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke muka pintu bertirai hitam, ujarnya lebih jauh sambil tertawa.
"Bagaimana kalau geser kemari untuk menonton jalannya pertarungan?"
Sambil tertawa Yin Ping mengintil di belakangnya, sementara Sui Leng-kong melirik sekejap ke arah manusia aneh itu sembari berpikir.
"Meskipun orang ini rada menjengkelkan, ternyata ada banyak hal sikapnya tidak terlepas dari sikap seorang kuncu"
Pikiran ini seketika menimbulkan kesan baik dihati kecilnya, setelah menghela napas imbuhnya.
"Padahal kau sudah memiliki begitu banyak gadis cantik, kenapa.... kenapa justru tidak mau melepaskan aku?"
Manusia aneh itu hanya bersandar diatas ranjangnya tanpa menjawab, sementara Yin Ping menyahut setelah tertawa terkekeh.
"Adikku, terus terang aku beritahu, semakin kau tolak keinginannya, dia semakin berminat untuk mendapatkan dirimu"
"Be.... begitu rendahkah pandangan seorang lelaki?"
Bisik Sui Leng-kong agak tertegun.
Ungkapan ini kontan membuat manusia aneh itu tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, sedangkan Yin Ping tertawa makin terpingkal.
Lewat sesaat kemudian manusia aneh itu baru menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir, lalu sambil bertepuk tangan serunya.
"Irama musik, barisan segera mulai!"
Ketika suaranya yang nyaring bergema keluar dari ruangan, irama musik pun segera berkumandang.
Irama musik yang dibawakan lembut, halus dan amat menyegarkan perasaan, berbareng itu juga kawanan gadis cantik itu mulai berputar mengelilingi arena sembari membawakan gerak tarian yang indah.
Melihat ke tujuh orang gadis itu hanya berputar tanpa ada niat turun tangan, tidak tahan Thiat Tiong-tong segera berseru.
"Ayohlah mulai tanggalkan pakaian kalian!"
Tapi secara tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu, kontan pipinya berubah jadi merah padam lantaran jengah. Terdengar Yin Ping sudah mengumpat sambil tertawa cekikikan.
"Dasar lelaki tidak tahu malu, masa memaksa gadis muda untuk menanggalkan pakaiannya...."
Sui Leng-kong sendiri meski pikirannya dipenuhi dengan pelbagai masalah, tidak urung dia ikut tertawa juga setelah mendengar perkataan itu.
Dalam pada itu irama musik tiba-tiba berubah, dari alunan yang memanjang berubah jadi irama yang semakin lembut.
"Kau tidak perlu tergesa-gesa"
Terdengar nona berbaju merah itu menyahut sambil tertawa ringan.
"sekarang kami akan mulai telanjang...."
Terlihat dia memutar separuh tubuhnya sambil menggerakkan jari tangannya yang lentik, mantel sutera yang berada dipundaknya bagaikan selapis awan berwarna merah melayang ke arah depan Thiat Tiong-tong.
Jangan dilihat mantel sutera merah itu halus dan ringan, ketika dilempar dari tangannya segera terdengar suara deruan angin tajam yang memekikkan telinga.
Kehebatan daya serangannya ternyata tidak berada dibawah kemampuan sebilah senjata yang amat lihay.
Thiat Tiong-tong tidak berani berayal, cepat dia menggerakkan tubuhnya untuk menghindar.
Waktu itu seorang nona berbaju kuning tua telah melepaskan gaun pendeknya dan dilontarkan ke arah tubuhnya.
Di antara kibaran kain, tampak ujung gaun itu mengancam jalan darah Ciang bun hiat di iga Thiat Tiong-tong, bukan saja ilmu Huat hiat jiu hoat yang digunakan jarang dijumpai dalam dunia persilatan, ketepatannya mengarah sasaran pun sangat mengerikan.
Dalam kagetnya cepat Thiat Tiong-tong maju selangkah sambil menekuk pinggang.
Suara tertawa cekikikan kembali berkumandang dari belakang tubuhnya, selembar selendang hijau dengan membawa desingan angin tajam telah mengancam Ming bun hiat di tulang belakangnya.
Setelah bertarung tiga gebrakan, Thiat Tiong-tong mulai sadar bahwa setiap gerakan nona-nona itu ketika menanggalkan pakaiannya ternyata mengandung jurus serangan yang sangat lihay.
Sekalipun setiap gerakan yang mereka lakukan sangat halus, lembut, hangat dan penuh godaan, namun perubahan jurus serangan yang digunakan susah ditebak arah sasarannya bahkan kerja sama ke tujuh orang itu boleh dibilang sangat rapat bagaikan jaring langit, jurus demi jurus dilancarkan secara berangkai dan tiada putusnya, boleh dibilang mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk berganti napas.
Bukan hanya begitu, irama musik yang dipadukan dengan gerak tarian esotik cukup membuat perasaan setiap lelaki berdebar keras, gampang menimbulkan rangsangan yang membuat pikiran jadi kalut.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut, keheranan bercampur ngeri, meskipun dengan sekuat tenaga dia masih mampu mempertahankan diri, namun belasan gebrakan kemudian peluh sudah mulai membasahi punggungnya, gerak serangan yang dilancarkan pun mulai bertambah sulit.
Perlu diketahui, jurus serangan yang dilancarkan berdasarkan gerakan menanggalkan pakaian boleh dibilang merupakan gerak serangan yang aneh dan tidak pernah dijumpai dalam dunia persilatan, apalagi menggunakan pakaian sebagai pengganti senjata, hal ini cukup membuat orang kerepotan dibuatnya.
Apalagi ketika ditambah dengan irama musik serta tarian esotik yang gampang bikin pikiran jadi kalut, boleh dibilang ilmu barisan bidadari telanjang ini merupakan sebuah ilmu barisan yang sangat mematikan.
Sui Leng-kong yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena pun diam-diam mulai tercekat perasaan hatinya.
Terdengar manusia aneh itu berseru sambil tertawa.
"Coba kalian saksikan ilmu barisan tujuh bidadariku, pantas bukan disebut sebagai barisan nomor wahid dikolong langit!"
Yin Ping menghela napas panjang.
"Aaaai, ilmu barisan lain meski ada yang sangat lihay namun kalah uniknya dibandingkan ilmu barisan, biarpun ada yang unik namun tidak ada yang menggetarkan sukma seperti kawanan gadis muda itu. Selama mengembara di dalam dunia persilatan, pelbagai macam ilmu barisan telah kujumpai namun jarang ada yang selihay, seaneh, seunik dan sedemikian merangsang hati orang seperti saat ini. Aaaai, harus diakui ilmu barisan ini sangat tangguh dan mungkin hanya keluarga mu yang mampu menciptakan ilmu barisan semacam ini"
Dengan penuh kebanggaan manusia aneh itu tertawa terbahak bahak.
"Hahahaha.... tontonan hebat masih berada di belakang, tunggu saja saatnya nanti"
Dalam pada itu irama musik kembali berubah, kali ini iramanya mirip sekali dengan dengusan serta desisan seorang wanita yang hampir mencapai orgasme.
Senyuman yang menghiasi kawanan gadis cantik itu kelihatan semakin menggoda, pakaian yang dikenakan pun sudah sebagian di tanggalkan, ada yang tampak pahanya yang putih, ada yang kelihatan lengannya yang mulus, ada pula yang kelihatan sebagian payudaranya yang montok dan merangsang, bahkan ada pula yang gaunnya sudah turun dibawah perut....
Sebagaimana diketahui, warna pakaian yang mereka kenakan sama sekali berbeda, cara mereka menanggalkan pakaian pun berbeda, itulah sebabnya jurus serangan yang digunakan pun terdiri dari aneka ragam cara, tapi semua jurus serangan yang digunakan boleh dibilang ampuh dan mematikan.
Thiat Tiong-tong telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan diri, angin pukulan yang menderu serta gerak serangan yang aneh telah dia gunakan namun masih terasa sulit untuk menanggulangi ancaman yang tiba.
Mendadak terdengar si nona berbaju kuning muda berseru sambil tertawa.
"Coba lihat, indah bukan paha ku?"
Di antara gerakan jari tangannya yang lentik, ikat pinggangnya sudah dilepas dan gaun panjang yang dikenakan pun mulai terlepas ke bawah.
Kemudian kaki kanannya menggaet ke samping, tahu-tahu paha putihnya sudah melayang kemuka melancarkan serangkaian tendangan berantai.
Dengan jurus burung belibis terbang bersama, dia tendang pinggang Thiat Tiong-tong, karena harus mengangkat tinggi kakinya, otomatis bagian tubuhnya yang paling rahasia pun terlihat dengan jelas.
Kontan Thiat Tiong-tong merasakan jantungnya berdebar keras, ketika melihat datangnya tendangan berikut, karena merasa tidak sanggup menghadapinya, cepat dia melompat mundur ke belakang.
"Hahahaha.... kau tetap terkena tendangan ku!"
Seru nona berbaju kuning itu sambil tertawa.
Sepatunya ditendangkan keras-keras ke depan, diiringi desingan angin tajam, benda itu meluncur keluar bagaikan sambitan sebuah senjata rahasia.
Jurus serangan ini sangat tangguh, siapa pun tidak akan berpikir sampai ke situ.
Waktu itu tubuh Thiat Tiong-tong masih berada ditengah udara, ketika melihat ada empat buah sepatu menyergap tiba dari arah belakang dengan membawa desingan angin tajam, cepat dia rentangkan lengan sambil melepaskan tendangan, maksudnya dua buah sepatu yang datang paling duluan hendak dirontokkan terlebih dulu.
Siapa sangka sepatu itu meluncur datang dengan ketepatan yang luar biasa, sedikitpun tidak kalah dengan kehebatan senjata rahasia, tahu-tahu dua buah sepatu yang berada dibelakang meluncur lebih cepat, mendahului sepatu sebelumnya dan menghantam sepasang lutut anak muda itu.
Kejadian ini sama sekali diluar dugaan Thiat Tiong-tong, melihat tidak ada tempat lagi untuk berkelit, cepat tubuhnya berjumpalitan di udara kemudian meluncur turun ke bawah, sambil pejamkan mata dia lontarkan sepasang kepalan-nya ke depan.
Anak muda ini merasa tidak tega untuk menyaksikan bagian tubuh terlarang dari si nona yang kelihatan sewaktu melontarkan tendangan, itulah sebabnya dia melancarkan serangan sambil pejamkan mata, tapi angin pukulan yang menderu memaksanya mau tidak mau harus mundur.
"Jurus serangan bagus!"
Puji Yin Ping sambil bertepuk tangan.
"Belum tentu bagus sekali"
Tukas manusia aneh itu cepat.
"bagaimana menurutmu Sui Siau-moay?"
Saat itu Sui Leng-kong sudah dibuat berkunang matanya oleh gerak serangan kawanan gadis itu, jangan lagi menjawab, belum tentu dia mendengar pertanyaan itu.
Seorang nona berbaju ungu tiba-tiba mengangkat kakinya, gaun panjangnya yang lebar segera tersingkap lebar hingga tertinggal celana ketatnya berwarna hijau muda serta sebuah kaos tipis yang membalut paha mulusnya.
Waktu itu kelima ujung jari kirinya yang tajam sudah ditusukkan ke dalam kaos sementara tangan kanannya memegang ujung yang lain, begitu ditarik diapun meloloskan kaos kaki tadi kemudian disabetkan ke muka.
Bagaikan sebuah cambuk panjang, kaos itu meluncur ke depan dan menghajar wajah Thiat Tiong-tong, serunya sambil tertawa merdu.
"Coba kau endus bau kaos kakiku!"
Menggunakan kesempatan itu kakinya melancarkan japitan dari atas dan bawah, hebatnya luar biasa.
Thiat Tiong-tong benar-benar dibuat menangis tidak bisa tertawapun tidak dapat, mana mungkin dia berani menghadapi jurus serangan semacam itu.
Belum sempat bertindak sesuatu, dari arah belakang kembali terdengar seseorang berseru sambil tertawa.
"Kalau kau segan mengendus miliknya, coba-lah mengendus milikku ini!"
Betul saja, lagi lagi selembar kaos kaki berwarna hijau muda meluncur tiba bagaikan sebuah bianglala.
Biar keteter hebat dan terjerumus ke dalam kondisi yang berbahaya, Thiat Tiong-tong sama sekali tidak panik, dengan satu lompatan kilat dia menerobos kemuka dan meloloskan diri dari datangnya ancaman.
Sebenarnya diapun bisa menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan, meski belum tentu akan melukai lawan, paling tidak bisa meringankan beban tekanan yang datang.
Siapa sangka begitu sorot matanya terbentur dengan sepasang paha yang putih mulut iu, kembali hatinya ragu, jurus serangan yang sudah dipersiapkan pun tidak sanggup lagi dilanjutkan.
Sementara itu gaun baju si nona berbaju merah yang berada dihadapannya telah ditanggalkan semua, kini dia hanya mengenakan selembar pakaian dalam yang tipis dan berwarna merah menyala, warna merah yang amat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih.
Tidak jelas dengan cara apa nona itu melepaskan pakaian dalamnya yang ketat, yang pasti dengan jurus serangan yang ampuh pakaian dalam itu langsung menggulung ke atas kepala pemuda itu.
Tanpa berpikir panjang Thiat Tiong-tong melontarkan sepasang kepalannya ke depan, dengan jurus Hek hau tau sim (macan hitam mencuri hati) dia hantam dada lawan.
Rupanya setelah melancarkan serangannya tadi, pertahanan di depan dada nona berbaju merah itu terbuka lebar, satu kesempatan baik baginya untuk merobohkan lawan.
Jurus serangan macan hitam mencuri hati pun merupakan sebuah gerakan yang mengubah posisi menyerang jadi bertahan, sebuah gerakan yang paling pas untuk memunahkan datangnya ancaman.
Tapi baru saja jurus serangan itu dilontarkan, pemuda itu segera merasa gelagat tidak benar, ternyata dada nona itu sudah berada dalam keadaan bugil, Thiat Tiong-tong hanya merasakan matanya berkunang, terutama setelah menyaksikan sepasang payudara si nona yang montok merangsang, serangannya tidak lagi mampu dilanjutkan.
Semua kejadian itu berlangsung dalam waktu singkat, begitu dia lengah tahu-tahu sepasang lengannya berhasil digapit lawan.
Nona bebaju merah itu tertawa cekikikan, pakaian dalamnya langsung dikerudungkan keatas kepala Thiat Tiong-tong, sementara ke sepuluh jari tangannya mulai melepaskan kancing pakaian pemuda itu.
Terkejut bercampur gusar Thiat Tiong-tong berusaha meronta, siapa tahu jalan darah Ci ti hiat dikedua belah ketiaknya sudah tertotok, kontan seluruh tubuhnya tidak mampu bergerak lagi.
Menyaksikan kesudahan pertarungan itu, manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Budak sekalian, jangan robek pakaiannya, mengerti? Kalian mesti melucutinya satu per satu, dengan begitu baru akan tampak kehebatan dari ilmu barisan tujuh bidadari"
"Kalau mesti merobek pakaiannya, kenapa mesti menunggu sampai sekarang?"
Sahut nona berbaju merah itu sambil tertawa.
"hey, tidak usah kuatir, kami tidak bakal merusak sebuah kancing baju mu pun!"
Baru selesai dia bicara, pakaian atas Thiat Tiong-tong telah dilucuti olehnya, hal ini membuat pemuda itu berdiri kaku.
Dia mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, tampak kawanan gadis cantik yang mengelilingi tubuhnya sedang memandang sambil tertawa, meskipun sebagian sudah memperlihatkan kaki dan tangan mereka yang putih mulus, namun tidak seorangpun di antara mereka yang sudah berada dalam keadaan bugil, hal ini membuktikan bahwa dialah yang telah menderita kekalahan.
Terdengar si nona berbaju kuning muda yang berada disamping kanannya menegur sambil tertawa.
"Apa yang kau perhatikan? Kalau ingin menyalahkan, salahkan diri sendiri, coba kalau bisa bertahan sebentar saja, niscaya kami.... kami...."
"Hey budak cilik1 si nona berbaju hijau muda yang berada disisinya segera menyela.
"kalau ingin bicara, cepatlah bicara, kenapa mesti malu malu kucing?"
Nona berbaju kuning muda itu segera tertawa cekikikan.
"Coba kalau kau bisa bertahan sebentar lagi, sudah pasti mata mu akan kenyang melihat pemandangan indah, tahu?"
Sambil berkata dia membusungkan dadanya yang montok.
Cepat-cepat Thiat Tiong-tong memejamkan matanya, entah karena malu atau merasa masgul.
Sementara itu si nona berbaju merah telah berseru sembari mengibarkan pakaian atas yang dikenakan Thiat Tiong-tong.
"Pakaian orang lelaki memang selalu bau, bau keringat, bau kelakian, siapa di antara kalian yang mau...."
Belum selesai dia bicara, sesosok bayangan manusia telah melesat ke tengah udara dan meluncur ke depan dengan gerakan indah, orang itu tidak lain adalah Sui Leng-kong.
Nona itu berdiri dengan wajah murung bercampur sedih, namun sinar matanya memancarkan cahaya kegusaran, hardiknya.
"Bawa kemari!"
Sambil berbicara dia merebut pakaian yang berada ditangan gadis berbaju merah itu.
Cepat si nona menarik tangannya sambil menyembunyikan pakaian itu ke belakang tubuhnya, setelah mundur dua langkah, serunya.
"Cisss, tidak tahu malu, pakaian ini toh bukan milikmu, kenapa kau yang berusaha merebutnya!"
"Bawa.... bawa kemari baju itu!"
Gadis ini memang tidak terbiasa ribut dengan orang lain, kini saking jengkelnya dia sampai tidak mampu berkata-kata, wajahnya yang semula putih pucat kini berubah jadi merah dadu, tapi justru menambah kecantikan wajah-nya.
Untuk berapa saat manusia aneh itu hanya bisa mengawasi dengan wajah kesemsem.
Terdengar nona berbaju merah itu berkata lagi.
"Huuuh, apa gunanya pakaian bau ini bagi kami? Tapi kalau kau menginginkan, aku justru sengaja tidak mau serahkan kepadamu, bukan begitu adik adikku?"
Sejak awal kawanan gadis cantik itu memang sudah merasa cemburu kepada Sui Leng-kong yang dianggapnya telah merebut perhatian serta kasih sayang manusia aneh itu terhadap mereka, kontan saja semua orang bertepuk tangan sambil bersorak.
"Betul, betul, jangan berikan kepadanya!"
Sui Leng-kong menggigit ujung bibirnya menahan rasa mendongkol, tanpa terasa air mata berlinang membasahi pipinya. Melihat lawannya menangis, kawanan gadis cantik itu semakin gembira, teriaknya lagi.
"Hooree, coba lihat, dia mulai menangis. Toaci, coba lihat, dia menangis begitu sedih, kasihanilah dia, berikan saja baju bau itu!"
"Waah, tidak nyana wajah bulat telurnya nampak semakin cantik waktu menangis"
Seru nona berbaju merah itu sambil tertawa.
"sayang aku bukan lelaki, kau semakin manja, aku semakin tidak akan mengembalikan kepadamu!"
Sui Leng-kong berdiri termangu ditempat dengan kepala tertunduk semakin rendah, dia nampak amat mengenaskan.
Sedih bercampur kasihan segera menyelimuti perasaan hati Thiat Tiong-tong, sambil menghela napas pikirnya.
"Leng-kong kelewat lemah dan lembut, tidak heran banyak orang ingin menganiaya dirinya!"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba....
"Plook, plook, plook!"
Terdengar tiga kali suara tepukan bergema memecahkan keheningan.
Ternyata Sui Leng-kong dengan kecepatan bagaikan hembusan angin telah menghadiahkan masing-masing satu tamparan ke wajah nona berbaju merah, kuning muda dan hijau itu, tamparan yang muncul secara tiba-tiba dan diluar dugaan membuat kawanan gadis cantik itu berdiri tertegun.
"Tamparan yang bagus.... tamparan yang bagus!"
Puji manusia aneh itu sambil tertawa tergelak. Sembari membesut air matanya, Sui Leng-kong kembali berteriak keras.
"Letakkan pakaian itu dan keluar!"
Mimpi pun kawanan gadis cantik itu tidak menyangka kalau si nona yang kelihatan lemah lembut itu tiba-tiba berubah jadi begitu galak dan buas, untuk sesaat mereka hanya berdiri saling berpandangan dengan wajah tertegun.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur girang, pikirnya lagi.
"Cepat amat Leng-kong berubah, berubah jadi amat tegar!"
Mana di tahu kalau Sui Leng-kong sebenarnya berwatak keras dan sangat ulet, kalau bukan begitu, mana dia tahan hidup seorang diri di dasar lembah yang gersang dan penuh penderitaan.
Hanya saja sejak kecil dia sudah terlatih bisa menyembunyikan watak pemberontaknya sehingga sekilas pandang dia nampak sangat lemah dan penurut, andaikata orang lain tidak mendesaknya hingga terpojok, tidak mungkin dia akan memperlihatkan watak pemberontaknya itu.
Mendadak dia pungut gaun merah dan hijau yang tergeletak ditanah lalu tanpa hujan tanpa angin langsung ditimpukkan ke wajah kawanan gadis itu.
Terkejut bercampur panik kawanan nona cantik itu segera berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri, dalam waktu singkat suasana menjadi amat gaduh.
Sambil lari menuju ke depan pintu, nona berbaju merah itu tiba-tiba berpaling seraya berseru.
"Siapa yang kesudian dengan baju bau, nih, ambil kembali!"
Dari kejauhan dia timpuk pakaian itu ke arahnya. Begitu Sui Leng-kong menyambar pakaian tersebut, manusia aneh itu sudah berseru pula sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, bagus sekali, tidak nyana segerombol kucing liar berhasil ditaklukan oleh seekor kelinci kecil"
"Hahahaha.... kelihatannya tidak gampang bagi seekor luwak untuk mencicipi daging kelinci!"
Sindir Yin Ping sambil tertawa terkekeh.
"Yaa, kalau aku luwak maka kau adalah siluman rase"
Sambung manusia aneh itu sambil tergelak pula. Sui Leng-kong seolah tidak mendengar pembicaraan mereka, setelah termangu berapa saat, dia baru berjalan menghampiri Thiat Tiong-tong sambil berbisik.
"Ini.... ini pakaianmu, kenakanlah!"
Thiat Tiong-tong tahu gadis itu harus mengalami penghinaan gara-gara dirinya, dia tidak tahu harus merasa manis atau getir, sahutnya sambil menerima kembali pakaiannya.
"Baik.... akan kukenakan"
"Dalam tujuh hari mendatang...."
"Dalam tujuh hari mendatang aku harus mencoba mempelajari semua yang ada disana, selama dia sanggup belajar memecahkan barisan itu dalam tujuh hari, akupun pasti sanggup melakukan hal yang sama"
Kemudian selesai mengenakan kembali pakaiannya, dia melanjutkan.
"Mereka tidak bakal mampu melucuti kembali pakaianku ini"
Sui Leng-kong mengawasinya tanpa berkedip, meskipun tidak berkata namun sorot matanya dipenuhi dengan pancaran sinar mesra dan rasa cinta, selain itu dia pun menaruh kepercayaan penuh terhadap pemuda itu.
Yin Ping melirik manusia aneh itu sekejap, kemudian sambil sengaja menghela napas panjang gumamnya.
"Benar-benar pasangan yang serasi, yang lelaki tampan yang wanita cantik, mereka memang pantas hidup berpasangan...."
Sambil membopong Ping-nu, kucing kesayangannya dia berjalan keluar meninggalkan tempat itu. Manusia aneh itu mendengus dingin, katanya.
"Dalam tujuh hari mendatang, walaupun kau boleh mempelajari cara memecahkan ilmu barisan, namun dilarang meninggalkan ruangan ini walau selangkah pun"
"Tujuh hari mendatang merupakan waktu yang amat berharga bagiku"
Jawab Thiat Tiong-tong.
"biar kau menggunakan tandu besar yang digotong delapan orang pun, tidak mungkin aku tinggalkan ruangan ini barang selangkah pun"
"Benar"
Sambung Sui Leng-kong pula.
"akupun tidak akan mengganggumu, kau.... kau harus pelajari secara seksama!"
Selesai bicara, gadis itu membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ, namun ketika tiba dipintu depan, tidak tahan dia berpaling lagi. Sambil tertawa dingin manusia aneh itu berkata.
"Hmmm, dia begitu mencintai dirimu, kalau aku tidak memberi sedikit siksaan kepadamu, kau tidak akan bisa memahami perasaan hatinya"
"Ketika cianpwee sedang menyiksa aku, dapat dipastikan kau sedang merasa cemburu bukan?"
Ejek Thiat Tiong-tong sambil tertawa.
"Hahahaha.... tepat sekali, tepat sekali, jika aku tidak cemburu, kenapa mesti menyiksa dirimu"
Ditengah gelak tertawa, dia meninggalkan ruangan itu.
"Siksaan apa?"
Tanya Sui Leng-kong yang berdiri di depan pintu terperanjat. Manusia aneh itu tidak menjawab, dia hanya bersenandung.
"Kalau ingin menjadi malaikat, latihlah otot dan tulang dengan keletihan, latihlah ketahanan tubuh dengan lapar...."
Suaranya makin lama semakin jauh dan akhirnya bersama Sui Leng-kong lenyap dari pandangan mata.
BAB 19 Perempuan Bercadar dari Kahyangan Setelah berada dalam ruangan seorang diri, Thiat Tiong-tong mulai memperhatikan setiap lukisan yang ada di dinding sekeliling tempat itu, ternyata setiap gerakan yang terpampang disana merupakan sebuah gerak serangan yang amat tangguh.
Biarpun ada di antara ukiran itu yang satu lukisan merupakan satu gerakan jurus, tapi ada pula yang harus dirangkai dari lima, tujuh ukiran untuk membentuk satu jurus serangan, tapi setiap gerakan yang tertera boleh dibilang ada sangkut pautnya antara yang satu dengan lainnya, semua merupakan gerakan jurus langka yang mengerikan.
Thiat Tiong-tong kembali berpikir.
"Manusia aneh ini berjiwa besar tapi sayang wataknya sedikit nyentrik, susah untuk dibedakan baik buruknya, tapi kalau tidak aneh, mana mungkin dengan segampang itu dia serahkan rahasia ilmu silat yang begini hebat kepada orang lain?"
Dasarnya dia memang gemar belajar silat, tidak terkirakan rasa gembiranya setelah mene-mukan pelajaran ilmu silat yang begini hebat, cepat dia membuang seluruh pikirannya dan pusatkan segenap perhatiannya untuk mempelajari jurus-jurus silat itu.
Seorang nona dengan membawa alat waktu yang berisi pasir berjalan masuk, katanya sambil tertawa.
"Bila pasir yang ada diatas gelas ini habis tertumpah ke bawah, berarti satu hari telah berlalu"
Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk mempelajari jurus silat, dia hanya mengiakan sekenanya tanpa berpaling sedikit pun.
Dia mencoba membandingkan antara jurus silat yang berada diatas dinding dengan jurus silat yang dipergunakan kawanan gadis tadi, segera terasa bahwa ilmu pukulan melepaskan pakaian yang digunakan gadis gadis itu meski tangguh dan ampuh, namun jurus silat yang tertera diatas dinding justru merupakan tandingan dari serangan mereka.
Terkadang jurus serangan itu nampaknya sangat biasa dan sederhana, tapi bila direnungkan kembali maka terasalah bila serangan tersebut mampu membuat para gadis itu serasa terbelenggu dan tidak sanggup melakukan serangan lagi.
Thiat Tiong-tong benar-benar dibuat mabuk kepayang, makin diperhatikan semakin terlihat semua kelebihan dan kesaktian jurus serangan itu, sampai pada akhirnya dia mulai menemukan jurus-jurus pertahanan yang tertera diatas dinding itu, jurus pertahanan yang meliputi.
mengunci, menutup, menghadang, memotong, membelenggu dan lain-lainnya.
Bila direnungkan lebih mendalam maka ditemukan bahwa semua jurus pertahanan itu kelihatannya sengaja diciptakan untuk menghadapi jurus jurus serangan dari ilmu pukulan melepaskan baju yang mengutamakan tehnik menendang, memukul, menyambar, menusuk, membacok dan mengait.
Thiat Tiong-tong termasuk seorang pemuda cerdas yang encer otaknya, dalam sekilas pandang saja dia sudah menemukan semua kelebihan yang dimiliki jurus serangan itu, tidak tahan pikirnya sambil menghela napas.
"Kalau bukan manusia sakti, bagaimana mungkin dapat menciptakan jurus serangan sehebat ini?"
Menanti dia tengok kembali tabung pasir penunjuk waktu, dijumpai bahwa pasir yang ada diatas telah habis, ini menunjukkan kalau satu hari telah dilewatkan tanpa terasa.
Waktu boleh berlalu dengan cepat, tapi perut yang lapar tidak bisa dibiarkan begitu saja, sekarang Thiat Tiong-tong baru merasa kelaparan.
Buah-buahan serta minuman yang ada diatas meja entah sejak kapan sudah diambil pergi, disitu hanya nampak seorang nona muda yang sedang berdiri mengawasinya sambil tertawa.
"Nona!"
Tanpa terasa Thiat Tiong-tong maju menghampiri seraya menjura.
"Ada apa? Kelaparan?"
Tukas nona itu sambil tertawa. Thiat Tiong-tong tertegun, serunya tergagap.
"Dari mana nona bisa tahu?"
Kembali nona muda itu tertawa hingga nampak sepasang lesung pipinya yang dalam, ujarnya.
"Sudah cukup lama kunantikan perkataanmu itu, tapi nampaknya perutmu sama sekali tidak ambil perduli atas teriakan lapar...."
Nona ini meski tidak terlampau cantik, namun kulit tubuhnya putih dan kerlingan matanya indah, dia tampil dengan membawa sebuah gaya yang cukup mengesankan.
"Bila nona tidak keberatan, bolehkah aku minta sedikit makanan...."
Nona itu kembali tertawa, sambil membenahi rambutnya yang panjang dia menukas.
"Dia minum cuka (cemburu), kau makan hati, masa sudah lupa dengan perkataan itu? Lagipula...."
Setelah tertawa terkekeh lanjutnya.
"Biarpun dikolong langit terdapat lelaki yang berjiwa besar, tidak mungkin akan menyiapkan hidangan lezat untuk menjamu musuh cintanya bukan?"
Kembali Thiat Tiong-tong tertegun.
"Jadi.... jadi...."
Sekarang dia baru mengerti apa yang dikatakan manusia aneh itu sebagai "latihlah ketahanan tubuh dengan lapar", cuma....
tanpa makan dan minum, sanggupkah dia bertahan selama tujuh hari?
Sambil mengerdipkan matanya yang jeli, nona itu membaringkan diri diatas ranjang batu lalu katanya lagi.
"Dia suruh aku menyampaikan kepadamu, boleh saja bila ingin makanan dan minuman, cuma...."
Dia menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa dan tidak melanjutkan kembali kata katanya.
"Cuma kenapa?"
Tanya Thiat Tiong-tong tanpa sadar.
"Bila kau tidak bermusuhan lagi dengannya berarti kau adalah tamunya, tentu saja sebagai tuan rumah yang baik dia akan menjamu tamunya dengan baik, kalau tidak.... maka dia akan menyiapkan hidangan bila kaupun bekerja untuknya".
"Ooh, jadi ini yang dimaksud sebagai latihlah otot dan tulang dengan keletihan!"
Kembali pemuda itu berpikir, meski kheki namun diapun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi dia suruh aku mengerjakan apa?"
Tanyanya kemudian sambil menghela napas. Nona itu sengaja membalikkan sedikit tubuhnya hingga nampak paha nya yang putih mulus, sambil tertawa genit sahutnya.
"Mengerjakan apa? Itu mah harus menunggu perintah dariku"
Biarpun gadis itu telah beberapa kali berganti gaya untuk menggodanya, Thiat Tiong-tong berlagak seolah sama sekali tidak melihat, katanya kemudian dengan nadaketus.
"Kalau memang begitu silahkan nona memberi perintah!"
Tiba-tiba nona itu bangkit berdiri, umpatnya.
"Buta, buta, memangnya kau seorang lelaki buta?"
Selama ini dia menganggap dirinya adalah seorang nona yang gampang membuat lelaki terangsang dan tergoda, dia jadi mendongkol bercampur jengkel setelah melihat sikap dingin pemuda itu.
Setelah memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.
"Baik, aku akan segera memberi perintah, cepat pijat dulu badanku kemudian pijat kakiku!"
Sambil berkata dia berbaring kembali ke atas ranjang sambil memperlihatkan sepasang pahanya yangputih mulus.
Andaikata Im Ceng yang menghadapi kejadian seperti ini, niscaya dia sudah melontarkan pukulannya tanpa berpikir panjang, sebaliknya bila Sim Sin-pek yang menghadapi kejadian ini....
hmmm, dapat dipastikan kejadiannya pasti berbeda.
Tapi Thiat Tiong-tong hanya tersenyum, dia benar-benar duduk disamping ranjang dan mulai memijat kaki nona itu.
Sepasang kaki yang dimiliki nona itu benar-benar putih mulus tanpa cacad, dari tumit hingga ke pahanya selain empuk, putih dan halus, boleh dibilang tidak nampak setitik noda hitampun.
Lama-kelamaan Thiat Tiong-tong terangsang juga dibuatnya, sekarang dia baru tahu kalau setiap bagian tubuh yang dimiliki gadis itu benar-benar menarik dan menggoda napsu.
Melihat perubahan yang ditampilkan Thiat Tiong-tong, nona itu segera tertawa cekikikan, serunya.
Ternyata kau tidak buta!"
Kakinya yang mulus segera diangkat dan didekatkan ke wajah pemuda itu. Mengendus bau harum semerbak, Thiat Tiong-tong justru tersadar kembali dari kesilafannya, sambil tertawa katanya.
"Sungguh tidak kusangka wajah serta potongan badanmu sangat menggoda hati lelaki...."
Mendadak dari luar pintu terdengar seseorang berkata sambil tertawa.
"Nona Sui, coba lihat lelaki gagah pujaan hatimu, tidak kusangka dia hebat juga dalam soal rayuan...."
Nona yang berbaring diatas ranjang itu ikut tertawa terkekeh sambil berkata.
"Bukan Cuma soal rayuannya hebat, pijatan-nya juga sangat enak.... aduuh.... pelan dikit.... yaa. Pijat lebih ke atas...."
Tanpa berpaling pun Thiat Tiong-tong tahu kalau manusia aneh itu sengaja hendak mempermalukan dirinya dengan membawa Sui Lengkong datang menonton, tapi dia menanggapi kesemuanya itu dengan senyuman.
Terdengar Sui Leng-kong berkata lembut.
"Bila tidak berbuat begitu, mana mungkin ia bisa bertahan selama tujuh hari, dia.... dia berbuat kesemuanya itu demi aku, semakin banyak siksaan yang dia derita, aku akan semakin baik terhadapnya, lagipula.... biarpun dia mencintai gadis lain, aku tetap akan mencintainya"
Perkataan itu disampaikan dengan sederhana tapi cukup membuat orang tidak mampu membantah.
Meski Thiat Tiong-tong hanya tersenyum saja setelah mendengar perkataan itu, namun pelbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.
Untuk sesaat suasana jadi sangat hening, tampaknya manusia aneh itu sudah dibuat tertegun oleh perkataan tadi.
Terdengar Yin Ping menghela napas sambil bergumam.
"Tidak aneh kalau pemuda itu berpaling pun tidak, ternyata dia sudah tahu kalau nona Sui sangat mempercayainya"
Setelah menghela napas panjang, kembali gumamnya.
"Kalau sudah seia sekata, kenapa takut menghadapi godaan iblis...."
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, dia tahu perempuan itu sengaja hendak membuat jengkel manusia aneh itu. Siapa tahu manusia aneh itu tidak menjadi marah, malah ujarnya sambil tertawa tergelak.
"Hahahaha.... sungguh kagum melihat Sui Leng-kong yang tidak cemburuan, sayang aku tidak punya rejeki untuk mendapatkan nya. Baiklah, anggap kerja rodi hari ini telah usai, beri dia makanan!"
Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menghentikan pijatannya, pikirnya.
"Ternyata dia memang tidak malu disebut seorang lelaki sejati"
Dua orang nona muncul membawa pelbagai hidangan, Thiat Tiong-tong yang sejak tadi sudah kelaparan tidak membuang waktu lagi, dia siap menerkam semua hidangan yang ada.
Siapa tahu si nona kembali menghalangi niatnya itu, katanya sambil tertawa ringan.
"Hidangan ini disiapkan khusus untuk majikan, kalau kuli mah makan disebelah sana"
Sambil berkata ia menuding ke arah lain.
Thiat Tiong-tong berpaling ke arah yang ditunjuk, diatas sebuah baki kayu tersedia semangkuk air putih dan sebiji mantau keras.
Tapi mana mungkin sebiji mantou bisa membuat kenyang perutnya yang sedang lapar?
Masih mending kalau tidak dimakan, begitu selesai melahap mantau tersebut, dia merasa semakin kelaparan hingga susah ditahan.
Tampak nona muda itu dengan nikmatnya melahap hidangan yang tersedia, sembari bersantap katanya tertawa.
"Kalau kau hentikan perlawanan, apa pun yang ingin kau santap, kami pasti akan mempersiapkannya, lagipula...."
Setelah mengerling genit, tambahnya.
"Kau boleh membawa pergi semua barang berharga serta gadis cantik yang ada disini, aku... aku pun bersedia pergi mengikutimu!"
Dia sengaja menyingkap belahan bajunya hingga secara lamat lamat tampak kulit badannya yang putih mulus.
Thiat Tiong-tong hanya melirik sekejap ayam goreng serta bebek panggang yang ada diatas meja, kemudian setelah menghela napas panjang dia berjalan balik ke depan dinding ruangan.
Nona muda itu tertawa dingin, tiba-tiba dia melompat turun dari ranjang batunya lalu dengan cepat melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan, teriaknya keras.
"Coba lihat, apakah aku kalah bila dibandingkan dengan dia?"
Tubuh bugil yang indah, putih dan montok segera terpampang jelas di depan mata.
Thiat Tiong-tong hanya berpaling sambil melirik sekejap, kemudian sambil tertawa dia melanjutkan kembali pengamatannya keatas dinding, sama sekali tidak ambil perduli lagi.
Andaikata dia tidak berani berpaling tadi, mungkin si nona muda itu tidak terlalu kheki, namun pemuda itu berpaling tanpa terpikat sedikitpun, hal ini membuat si nona merasa seakan dipermalukan, tiba-tiba diambilnya seluruh pakaiannya dari lantai kemudian satu demi satu ditimpukkan keatas wajah Thiat Tiong-tong.
Begitulah, selama berapa hari beruntun nona itu berusaha dengan pelbagai cara untuk menyiksa Thiat Tiong-tong, bukan saja semakin sering harus kerja rodi, mantau yang disediakan pun makin lama semakin bertambah kecil.
Selama itu, manusia aneh itupun berulang kali mengajak Yin Ping dan Sui Leng-kong sekalian untuk makan minum berpesta pora disekitar sana, tapi Thia Tiong-tong tetap acuh, seakan-akan dia tidak pernah menyaksikan kejadian seperti itu.
Seluruh pikiran dan perhatiannya tertuju diatas dinding, mempelajari seluruh gerak silat yang tertera disana, diapun merasa mendapat kemajuan yang pesat, dengan dasar ilmu silat yang dimiliki ditambah kecerdasan otak serta daya ingatnya yang bagus, tentu saja tidak sulit baginya untuk menyerap semua pelajaran yang ada.
Menjelang hari ke tujuh, nyaris seluruh lukisan yang tertera diatas dinding sudah berhasil dia hapalkan diluar kepala, dia yakin dengan menggunakan jurus serangan apapun, mustahil pihak lawan bisa merobohkan dirinya.
Saat itu, kendatipun kondisi tubuhnya sudah melemah namun semangatnya justru semakin berkobar, seluruh tubuhnya seakan dipenuhi oleh kekuatan hidup yang menyala.
Mendadak nona muda itu muncul kembali, duduk persis dihadapannya, lalu ujarnya sambil tertawa.
"Hari ini adalah hari ke tujuh, kalau selama ini sikapku kurang baik terhadapmu, harap kau jangan marah"
"Nona merpati tidak usah sungkan, masa aku akan menyalahkan dirimu"
Sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa.
Kini dia sudah mengetahui nama gadis ini, ternyata semua gadis yang ada disitu diberi nama dengan sebutan unggas.
Nona merpati menghela napas panjang, katanya lagi.
"Berapa jam lagi kita akan bertarung kembali, kali inipun kau tidak bakalan menang, jadi tidak perlu menaruh pengharapan yang terlalu besar"
Tampaknya Thiat Tiong-tong sudah mempunyai rencana yang matang, sahutnya sambil tertawa.
"Aku hanya berharap nona mau bersikap lebih sungkan"
"Aku sendiri mah tidak bakalan menyusahkan kau, tapi ke enam saudaraku yang lain...."
Belum selesai nona itu berbicara, tiba-tiba Thiat Tiong-tong merasakan telinganya amat sakit bagai tersambar geledek saja, membuat perasaan hatinya bergetar keras hingga tidak sanggup bergerak.
Semula dia mengira dengan kemampuannya sekarang pasti akan berhasil membendung semua serangan dari kawanan gadis itu, tapi setelah diingatkan kembali oleh nona merpati bahwa mereka bukan hanya terdiri dari satu orang melainkan bertujuh, hatinya tersentak kaget.
Dengan kerja sama tujuh orang, bila gerak serangan seseorang terbendung, rekannya dapat segera menutup kegagalan itu.
Apalagi sisa waktunya tinggal tiga, empat jam lagi, mungkinkah baginya untuk menemukan jalan lain yang bisa digunakan untuk menghadapi kerja sama tujuh orang itu?
Untuk sesaat pemuda itu hanya bisa berdiri kaku dengan keringat bercucuran deras.
"Hey, kenapa kau?"
Tanya nona merpati keheranan. Sambil tertawa getir sahut Thiat Tiong-tong.
"Hanya sisa berapa jam terakhir pun apa nona tidak bisa membiarkan aku beristirahat sejenak dengan tenang?"
Ketika menyaksikan perubahan sikap maupun wajah sang pemuda yang semula begitu bersemangat, tiba-tiba berubah jadi sangat aneh, nona merpati menghela napas panjang, tanpa bicara lagi dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Thiat Tiong-tong duduk seorang diri dengan pikiran kusut dan perasaan putus asa, hilang sudah semangat dan minatnya untuk mempelajari sisa berapa jurus silat itu.
Kini kondisi musuh yang jauh lebih kuat sudah tertera jelas, dia sadar kendatipun dia memiliki kemampuan yang lebih hebatpun mustahil bisa digunakan dalam keadaan seperti ini.
Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, baru kali ini dia merasa sedih bercampur kecewa.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya keheningan dipecahkan oleh gelak tertawa manusia aneh yang muncul diiringi Yin Ping, Sui Leng-kong serta kawanan gadis cantik itu.
Tujuh hari sudah lewat, kau telah siap?"
Tegur manusia aneh itu sambil tertawa.
"Sudah!"
Jawab ThiatTiong-tong kaku.
"Bila kali ini kau menderita kekalahan lagi, aku segera akan menghantar kau turun gunung, tapi.... hahaha.... karena kuanggap tidak terlalu besar kesempatanmu untuk meraih kemenangan, lagi pula sudah berhari-hari kau menderita kelaparan, baiklah kita bersantap dulu sebelum melanjutkan pertarungan!"
Thiat Tiong-tong tidak ingin berdebat, maka tidak selang berapa saat kemudian hidangan telah disiapkan.
Beberapa saat kemudian terlihat ke tujuh orang nona muda itu sudah munculkan diri di dalam ruangan.
Pakaian yang dikenakan kawanan nona itu masih terdiri dari pelbagai macam warna, hanya kali ini jumlah yang mereka kenakan jauh lebih banyak.
Di antara mereka bertujuh, nona merpati dengan baju coklatnya yang nampak paling menawan hati.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya.
"Buat apa mereka mengenakan pakaian yang lebih banyak dan sengaja memperpanjang waktu, toh aku...."
Satu ingatan tiba-tiba melintas lewat dalam benaknya, sambil tertawa terbahak-bahak dia segera bangkit berdiri. Sui Leng-kong paling kuatir melihat perubahan sikap pemuda itu, segera teriaknya.
"Ke.... kenapa kau?"
Thiat Tiong-tong tidak menjawab, dia mulai duduk dan bersantap, setelah kenyang dan semangatnya bertambah kembali, dia baru melompat bangun.
"Sekarang sudah dapat dimulai?"
Tanya manusia aneh itu kemudian sambil tersenyum. Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba dia melucuti pakaian sendiri satu per satu, sambil melepaskan bajunya diam-diam dia melirik sekejap ke arah lawan.
Benar saja, paras muka manusia aneh itu seketika berubah hebat.
Sui Leng-kong turut panik juga, teriaknya.
"Kau.... kau...."
Dengan bertelanjang dada, Thiat Tiong-tong menyerahkan pakaiannya ke tangan Sui Leng-kong.
Dengan termangu nona itu menerimanya, tapi setelah tertegun berapa saat, mendadak dia bertepuk tangan dan serunya sambil tertawa.
"Kau.... kau menang! Kau menang!"
Sambil melompat bangun, dia menggenggam tangan Thiat Tiong-tong erat-erat dan melompat-lompat saking girangnya.
"Kau memang bocah pintar!"
Puji Yin Ping pula sambil tertawa. Kawanan nona cantik itu saling bertukar pandangan, mereka betul-betul dibuat tidak habis mengerti. Salah seorang di antaranya segera berteriak.
"Bertarung saja belum, bagaimana mungkin bisa menang?"
Oleh karena selama ini belum pernah seorang manusia pun mampu menjebol barisan mereka, maka mereka pun tidak tahu bagaimana cara untuk menjebol ilmu barisan tersebut.
Sambil tertawa terbahak-bahak seru Thiat Tiong-tong.
"Apakah celana termasuk baju?"
Kawanan gadis itu kembali tertegun.
"Celana ya celana, tentu saja bukan pakaian"
Sahut nona berbaju merah itu kemudian. Dia mengira pemuda itu sudah pikun hingga mengajukan pertanyaan semacam itu.
"Kalau celana tidak termasuk baju, maka sekarang aku sudah tidak mengenakan pakaian lagi, padahal taruhan kita adalah bila kalian sampai selesai melepaskan pakaian yang dikenakan namun belum berhasil melepaskan sebuah pakaianku pun, berarti akulah yang menang. Kini aku tidak mengenakan pakaian, sekalipun akhirnya berhasil kalian robohkan pun, kemenangan tetap menjadi milikku"
Kawanan gadis itu jadi melongo dan berdiri terbelalak, serentak mereka berpaling ke arah manusia aneh itu.
Tampak manusia aneh itu masih duduk bersila diatas ranjang tanpa bicara, wajahnya kaku tanpa perubahan.
Nona berbaju merah itu segera memprotes.
"Kenapa kau.... kau melepas dulu pakaian-mu...."
"Kalian saja boleh menambah pakaian yang dikenakan, kenapa aku tidak boleh mengurangi?"
Tukas Thiat Tiong-tong cepat.
"apalagi sebelum pertarungan dimulai, toh tidak ada ketentuan berapa banyak pakaian yang harus kukenakan"
Sesudah menghela napas panjang, lanjutnya.
"Ilmu barisan ini boleh dibilang merupakan sebuah ilmu barisan yang amat langka, cara untuk menjebol barisan inipun sangat unik, boleh dibilang kehebatannya tidak terkirakan di kolong langit!"
"Tapi.... tapi...."
"Tidak usah bicara lagi"
Tiba-tiba manusia aneh itu menghardik.
"anggap saja dia yang menang. Kalau tidak berbuat begitu, siapa yang mampu mempelajari ilmu untuk menjebol barisan tersebut hanya dalam tujuh hari yang singkat!"
"Berarti dahulu kaupun menggunakan cara yang sama untuk memenangkan pertaruhan ini?"
Tanya Yin Ping sambil tertawa.
"Benar"
Jawab manusia aneh itu sambil tertawa tergelak. Kembali Yin Ping menghela napas panjang, ujarnya sambil tersenyum.
"Walaupun kau adalah srigala pemogoran, ternyata sikapmu sangat terbuka dan berani mengaku terus terang"
Sorot matanya dipenuhi dengan pancaran sinar pujian serta rasa kagum.
Walaupun manusia aneh itu berlagak seolah tidak mendengar, namun tidak dapat menutupi rasa bangga yang tampil diwajahnya.
Terdengar Yin Ping berkata lebih jauh.
"Bukan saja berterus terang bahkan adil dan bijaksana, bila kau sengaja mengajukan persoalan yang pelik untuk mengajaknya bertaruh, bukankah kemenangan pasti berada dipihakmu?"
Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong saling bertukar pandangan sekejap, dalam hati kecilnya mereka berpikir.
"Benar juga perkataan ini"
Sui Leng-kong menatap sekejap wajah manusia aneh yang sedang diliputi perasaan bangga itu, tiba-tiba ujarnya.
"Ada orang berkata, bila dirinya dipuji oleh orang yang dicintai, maka rasa gembiranya akan luar biasa sekali"
"Memang begitu"
"Ada pula orang berkata, perempuan hanya bisa memuji orang yang dicintai, bila dia tidak menyukai orang itu, jangan harap dia akan mengucapkan kata-kata pujian"
"Adik cilik, tidak nyana kaupun sangat memahami hal semacam itu"
Seru Yin Ping sambil tertawa terkekeh.
"Kalau memang kau menaruh cinta kepadanya sementara diapun menaruh perasaan kepadamu, kenapa kalian berdua tidak hidup berdampingan hingga tua nanti? Kenapa kalian harus memberi kesempatan kepada pihak ke tiga untuk mengacau hubungan kalian berdua? Kalau berganti aku yang menghadapi kejadian seperti ini.... aaai, oleh sebab itulah aku sungguh tidak mengerti, kenapa kalian berdua harus.... harus berbuat begini?"
Mendengar perkataan itu, senyuman yang menghiasi wajah Yin Ping maupun manusia aneh itu hilang seketika, sinar aneh memancar keluar dari balik mata perempuan itu.
Manusia aneh itu menarik mukanya dan segera berkata dingin.
"Hmm, kau jangan keburu senang dulu, barisan yang berhasil kau lalui baru setengahnya, apalagi masih ada delapan pintu lain yang menanti, delapan pintu dengan delapan persoalan sulit, ingin lolos dari delapan pintu itu secara gampang? Huuh, tidak usah bermimpi disiang hari bolong"
"Betul, memang lebih sulit lolos dari ke delapan pintu itu ketimbang naik ke langit"
Sambung Yin Ping sambil membelai bulu Ping-nu, si kucing kesayangannya.
"untung saja sisa waktu yang tersedia sudah tidak banyak lagi"
Berubah paras muka Thiat Tiong-tong maupun manusia aneh itu, tanya mereka serentak.
"Apa maksud perkataammu itu?"
Baru selesai mereka bertanya, mendadak terdengar suara keleningan emas berkumandang datang dari kejauhan.
Perlahan-lahan Yin Ping melompat turun dari pembaringannya, setelah menyapu sekeliling tempat itu sekejap, katanya.
"Coba dengar, suara keleningan kembali berbunyi, bukankah kita sudah kedatangan tamu lagi!"
Manusia aneh itu memandang dua kejap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara dia melompat turun dari ranjangnya dan beranjak pergi dengan langkah lebar.
Melihat wajah serius yang ditampilkan manusia aneh itu, tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong, tanpa terasa dia berpaling pula ke arah kawanan gadis itu.
Ternyata mereka pun memperlihatkan wajah kaget bercampur keheranan.
Dengan kening berkerut terdengar nona merpati berkata.
"Sudah banyak tahun lembah kami jarang didatangi orang luar, siapa pula yang datang kali ini? Apakah Yin hujin sudah menduga jauh sebelumnya?"
Yin Ping tidak menggubris pertanyaan itu, sambil membelai Ping-nu, kucingnya, dia berkata.
"Sayangku, disini bakal ada keramaian, mau ikut lihat?"
Sembari berkata, diapun ikut beranjak pergi. Kawanan nona itu saling bertukar pandangan dengan wajah tertegun, kembali terdengar nona merpati berkata.
"Kau ingin tetap tinggal disini, atau ikut bersama kami?"
Thiat Tiong-tong tahu, andaikata dia tetap tinggal disitu, dapat dipastikan pintu ruangan akan ditutup kembali, maka tanpa ragu jawabnya sambil tertawa. Tentu saja ikut menonton keramaian"
Walaupun kawanan gadis itu tahu kalau gelagat tidak beres, namun mereka masih tersenyum sambil saling bergurau, mengiringi Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong, tibalah semua orang di sebuah bangunan gedung yang amat besar.
Namun kawanan gadis itu tidak berani masuk, mereka hanya mengintip secara diam-diam dari balik jendela.
Gedung itu amat besar dan luas, kecuali batu batu pilar besar boleh dibilang tidak ada perabot lainnya, ke empat dinding batunya memancarkan sinar kehijauan yang menyeramkan, jauh berbeda dengan kemewahan dari ruangan semula.
Manusia aneh itu berdiri ditengah ruangan, kini dia telah berganti pakaian dengan mengenakan satu stel baju berwarna hitam, kepalanya diikat dengan tali berwarna hiam pula, wajahnya tanpa senyuman dan sikapnya secara tiba-tiba berubah jadi amat serius.
Thiat Tiong-tong sangat keheranan, dia tidak habis mengerti apa sebabnya sikap manusia aneh itu berubah jadi begitu serius, seolah-olah sedang menghadapi serbuan musuh tangguh saja.
Tentu saja dia tidak tahu kalau lembah tersebut sudah banyak tahun tidak pernah dikunjungi orang luar, kehadiran orang-orang asing tersebut sungguh diluar dugaannya.
Tentu saja kehadiran Thiat Tiong-tong di lembah tersebut merupakan pengecualian, karena kehadiran pemuda itu sudah seijin dan sepengetahuan manusia aneh itu.
Yin Ping sambil membopong kucingnya berdiri jauh disudut ruangan, ia berdiri dengan wajah senyum tidak senyum, matanya mengerling berulang kali keempat penjuru sementara tangannya membelai bulu kucing kesayangannya.
Suasana didalam gedung amat sepi, tapi terasa hawa tekanan yang luar biasa beratnya.
Tiba-tiba bergema suara teriakan nyaring dari luar pintu.
"Yin hujin tiba!"
Dua orang gadis muda menyingkap tirai di depan pintu, seorang nanek berambut putih yang mengenakan jubah hijau, bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang dan membawa hawa setan yang menggidikkan hati, perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam ruangan.
Walaupun wajahnya sudah amat tua namun biji matanya masih bening bercahaya, tangan kirinya berpegangan di puncak seorang bocah berusia tiga, empat belas tahunan sementara tangan kanannya membawa sebuah tongkat berwarna hitam.
Mengikuti di belakangnya adalah sekelompok muda-mudi berpenampilan mencolok, yang lelaki tinggi semampai berwajah tampan, sedang yang wanita bertubuh ramping berwajah cantik jelita.
Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong nyaris menjerit tertahan setelah menyaksikan kemunculan rombongan manusia itu, ternyata mereka adalah Kiu cu Kui bo beserta para anak muridnya, antara lain Gi Cing-kiok serta si bocah pincang.
Pemuda tampan yang ada dibelakang Kui bo itu meski nampak tanpa cacad, namun dia bisu lagi tuli, orang itu tidak lain adalah murid ke delapan dari Kiu cu Kui bo yang disebut orang persilatan sebagai Bu im to hun, Lak-jiu Longkun (pemuda bertangan telengas mencabut nyawa tanpa suara).
Ketika masuk ke dalam gedung, Kui bo Yin Gi hanya menyapu sekejap wajah adiknya, Yin Ping, kemudian setelah manggut-manggutkan kepala dia langsung berjalan menuju ke hadapan manusia aneh itu.
Padahal dua bersaudara ini sudah banyak tahun tidak pernah bersua muka, namun perjumpaan mereka hanya ditandai dengan saling mengangguk belaka, sikap yang begitu dingin boleh dibilang melampaui sikap orang asing saja.
Sui Leng-kong ikut tertegun menyaksikan adegan tersebut.
Terdengar Yin Gi telah berkata dengan nada dingin.
"Walaupun kau bergelar Bu lim Kui cay (manusia berbakat setan dari dunia persilatan), namun kehadiranku kali ini pasti diluar dugaanmu bukan?"
Paras muka manusia aneh itu sama sekali tidak berubah, sahutnya sambil tertawa hambar.
"Selama ini cara kerja dua bersaudara Yin selalu penuh rahasia dan misterius, aku sudah banyak melihat dan mengetahuinya, kenapa mesti tercengang oleh kehadiranmu?"
"Memang lebih bagus begitu!"
Yin Gi tertawa dingin, dia segera mengambil tempat duduk dan tidak bicara lagi.
"Kau jauh-jauh datang kemari, apakah tujuannya hanya untuk duduk?"
"Kalau tidak duduk memangnya mesti kenapa?"
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... kalau masih ada urusan lain harap segera disampaikan"
"Tentu saja akan kusampaikan, hanya sekarang saatnya belum tiba"
"Mau menunggu sampai kapan?"
"Hingga tamu lain berdatangan"
"Masih ada tamu lain?"
Berubah hebat paras muka manusia aneh itu.
Yin Gi tertawa dingin tanpa menjawab, Gi Cing kiok serta pemuda bisu tuli itu segera berdiri di belakang tubuhnya, sementara bocah pincang itupun berdiri disisinya, hanya saja dengan matanya yang besar dia celingukan ke sana kemari.
Manusia aneh itu berpaling melotot Yin Ping beberapa kejap, cepat Yin Ping mendongakkan kepalanya sambil membuang muka.
Saat itulah suara keleningan kembali bergema, seorang gadis berjalan masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Dia muncul sambil membawa selembar kartu nama berwarna putih, wajahnya kelihatan kaget bercampur tercengang, sambil berjalan masuk gumamnya berulang kali.
"Aneh, sungguh aneh, lagi-lagi kedatangan tamu"
Setelah menerima kartu nama itu dan menengoknya sekejap, dengan wajah berubah seru manusia aneh itu.
"Persilakan tamu untuk masuk"
Tidak selang berapa saat kemudian terdengar suara langkah manusia disusul munculnya seorang kakek berjubah panjang dan seorang pemuda tampan yang menggembol pedang.
Thiat Tiong-tong maupun Sui Leng-kong merasa terkejut, pekik mereka hampir berbareng.
"Kenapa mereka ayah beranak pun ikut datang?"
Ternyata kakek dan pemuda yang barusan munculkan diri tidak lain adalah Li Lok-yang dan Li Kiam-pek.
Dengan langkah lebar Li Lok-yang melangkah masuk ke dalam ruangan, seraya menjura memberi hormat, katanya dengan suara dalam.
"Banyak tahun tidak bersua, hampir setiap detik setiap saat aku memikirkan anda, tidak disangka justru anda yang mengirim undangan, meski undanganmu sedikit diluar dugaan, namun akupun tidak berani untuk menolak datang"
Setelah mendongakkan kepalanya tertawa keras, lanjutnya.
"Orang yang berdagang sangat mementingkan catatan nota, aku pikir jiwa dagang anda mungkin bangkit secara tiba-tiba hingga ingin mengajak diriku untuk membuat perhitungan"
Lalu setelah memberi hormat kepada Yin Gi, diapun mengambil tempat duduk.
"Undangan apa?"
Tanya manusia aneh itu dengan wajah membeku.
"Aneh, masa lupa dengan undangan yang ditulis sendiripun? Bukankah kau undang kami semua untuk datang ke bukit Lau-san pada hari ini? Jangan-jangan kau sudah terjangkit penyakit pelupa?"
"Bagaimana caramu menemukan jalan tembus ke lembah ini?"
"Ini pertanyaan yang lebih aneh lagi"
Kata Li Lok-yang.
"bukankah sepanjang jalan kau sudah memasang petunjuk yang sangat jelas, aku toh bukan orang buta, masa tidak bisa membaca petunjuk tersebut!"
Manusia aneh itu mendengus dingin, setelah termenung berapa saat katanya kemudian dengan nada nyaring.
"Bila kedatangan tamu lagi, kalian tidak usah membunyikan keleningan, juga tidak usah memberi laporan, persilahkan saja mereka semua masuk ke mari"
Dua orang gadis muda itu menyahut dan berlalu. Kembali manusia aneh itu berkata.
"Bangunkan aku setelah mereka semua datang kemari!"
Selesai bicara dia segera duduk bersila, memejamkan mata dan mengatur pernapasan, tampangnya seperti orang yang sudah tertidur. Diam-diam Sui Leng-kong menarik ujung baju Thiat Tiong-tong, bisiknya.
"Aneh, kenapa Li Lok-yang pun ikut kemari? Coba lihat wajahnya, dia seperti mempunyai dendam kesumat dengan manusia aneh itu"
"Aaai, apa yang terjadi hari ini memang sangat aneh, aku sendiripun dibikin tidak habis mengerti"
Sahut Thiat Tiong-tong sambil menghela napas. Mereka berdua hanya melongok dari luar jendela, oleh sebab itu orang lain tidak dapat melihat kehadiran mereka. Kembali Sui Leng-kong berkata.
"Kalau dilihat situasinya sekarang, besar kemungkinan kartu undangan yang diterima Li Lok-yang bukan berasal dari manusia aneh itu, tapi.... siapa pula yang menyebar undangan itu ?"
Thiat Tiong-tong melirik sekejap ke arah Yin Ping, setelah berpikir sejenak sahutnya.
"Aku rasa...."
Belum selesai dia bicara, lagi lagi terlihat empat, lima orang berjalan masuk ke dalam ruangan.
Dandanan dari berapa orang ini sangat aneh, tingkah lakunya juga aneh, bila ditinjau dari cara mereka berjalan, jelas kungfu yang dimiliki sangat hebat, yang lebih aneh lagi, walaupun mereka datang sejalan namun masing-masing tidak bertegur sapa.
Beberapa orang itu memperhatikan sejenak situasi didalam ruangan lalu masing-masing mengambil tempat duduk, mulutnya komat kamit seperti sedang bergumam, meski tidak jelas apa yang mereka ucapkan namun dari nadanya bisa diduga kalau tidak berniat baik.
Beberapa orang gadis muncul menghidangkan air teh, Kui-bo sekalian menerima empat cawan teh tanpa bicara.
Seorang lelaki bermata gede segera berseru sambil tertawa dingin.
"Kami datang kemari untuk membuat perhitungan, buat apa mesti dihidangkan air teh!"
Begitu diterima, dia segera membanting cawan itu ke atas lantai.
"Perkataan sicu tepat sekali"
Seorang tojin bertubuh kurus kering menimpali sambil tertawa dingin.
"siapa tahu dengan minum air teh ini, pinto justru akan lebih cepat kembali ke langit barat, tidak boleh diminum.... tidak boleh diminum...."
Ke empat orang itu sambil menggerutu sembari membuang cawan air teh mereka ke lantai. Li Lok-yang yang menyaksikan hal itu segera tersenyum, katanya.
"Kalau dibilang dia sering berbuat tidak senonoh, itu memang benar. Tapi kalau dibilang dia suka mencelakai orang dengan racun, itu mah belum pernah terjadi"
Seraya berkata dia mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya.
"Jadi kau membantunya berbicara?"
Bentak lelaki bermata gede itu gusar. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari luar pintu gerbang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... kita datang untuk membuat perhitungan, masa orang sendiri malah gontok-gontokan lebih dulu, sungguh menggelikan"
Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, kembali terlihat dua sosok bayangan manusia melangkah masuk ke dalam ruangan.
Kedua orang ini mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, berjidat tinggi dan penuh bercambang, mereka tidak lain adalah Bi Lek hwee serta Hay Tay-sau.
Diam-diam Thiat Tiong-tong terperanjat, dia tidak menyangka kalau ke dua orang itupun bisa muncul disitu.
Setelah memandang sekejap sekeliling ruangan, sambil tergelak ujar Hay Tay-sau.
"Bagus, bagus sekali, ternyata yang hadir adalah sobat-sobat lama, kenapa tuan rumah bukannya menyambut kedatangan tamu malahan ditinggal tidur mendengkur"
"Tuan rumah hanya akan mengadakan penyambutan bila semua tamunya telah hadir"
Seru Li Lok-yang.
"Tepat, dengan begitu dia memang mengirit banyak tenaga"
Kata Hay Tay-sau tertawa. Kemudian setelah memandang lelaki bermata gede itu sekejap, lanjutnya.
"Tidak nyana lo-heng pun punya perselisihan dengan tuan rumah disini, bagus, bagus sekali"
"Hahahaha.... kelihatannya hanya lohu seorang yang datang untuk menonton keramaian"
Kata Bi Lek hwee sambil tertawa keras.
"kenapa kau tidak perkenalkan beberapa orang jago itu kepadaku?"
"Kau pasti sudah kenal dengan Kui-bo hujin serta saudara Li bukan"
Ucap Hay Tay-sau. Sambil menuding ke arah lelaki bermata gede itu, terusnya.
"Jika loko inipun tidak kau kenal, berarti pengetahuanmu betul-betul amat cetek, bikin malu aku saja"
Lelaki bermata gede itu melotot sekejap ke arahnya, mimik mukanya kelihatan sedikit aneh.
"Sebenarnya siapa sih orang itu?"
Desak Bi Lek hwee lagi. Hay Tay-sau tertawa terbahak-bahak.
"Repot kalau aku mesti perkenalkan satu per satu"
Katanya.
"pokoknya ke empat orang itu kalau bukan seorang pemimpin dunia persilatan, pastilah piau pacu yang namanya telah menggetarkan delapan penjuru"
Serentak ke empat orang manusia berdandan aneh itu melompat bangun dari tempat duduk-nya, perasaan kaget bercampur tercengang melintas diwajah mereka.
Sudah banyak tahun ke empat orang itu tidak pernah berkelana dalam dunia persilatan, tentu saja mereka dibuat terperanjat setelah identitas mereka dibongkar oleh Hay Tay-sau.
"Aku tidak kenal kau, dari mana kau bisa mengetahui tentang aku?"
Bentak lelaki itu keras.
Hay Tay-sau tertawa terbahak-bahak, belum sempat menjawab pertanyaan itu mendadak terdengar lagi suara langkah kaki yang gaduh, kembali muncul enam tujuh orang dalam ruangan itu.
Sui Leng-kong yang bersembunyi dibalik jendela segera menggenggam tangan Thiat Tiong-tong erat-erat, gumamnya.
"Mereka.... mereka juga ikut datang"
Thiat Tiong-tong manggut-manggut, sepasang alis matanya berkerut makin kencang.
Ternyata beberapa orang yang baru saja munculkan diri tidak lain adalah Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau, Seng Toanio, Seng Cun-hau serta siucay muda berilmu tnggi yang dibikin keok oleh Liu Ho-ie.
Kembali terjadi kegaduhan ditengah ruangan, mereka yang mengenal saling menyapa, hanya siucay muda itu yang nampak sangat angkuh, tanpa perduli dengan siapa pun dia langsung mengambil tempat duduk.
Sambil tertawa Hay Tay-sau pun berseru.
"Sudah cukup lama aku kenal dengan kalian semua, tapi tidak nyana kalau memiliki musuh yang sama, apalagi bakal berjalan di perahu yang sama, ini menunjukkan kalau dunia memang sempit, cukup dengan seutas tali sudah dapat mengikat orang yang tidak ada sangkut pautnya dihari biasa menjadi satu!"
"Buat kami mah terhitung permusuhan baru, memangnya dengan hengtay merupakan permusuhan lama?"
Tanya Hek Seng-thian tersenyum.
"Benar!"
Sahut Hay Tay-sau sambil menarik kembali senyumannya.
Pada saat itulah tiba-tiba manusia aneh itu membuka matanya, dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling ruangan, meski hanya sekejap namun seolah olah telah menatap wajah setiap orang yang hadir.
Seketika suasana jadi hening, puluhan pasang mata bersama dialihkan ke wajahnya, meski ketajaman mata setiap orang berbeda namun hampir semuanya menunjukkan rasa benci dan dendam yang mendalam.
"Kalian semua datang kemari karena menerima undangan?"
Tegur manusia aneh itu perlahan.
"Kalau bukan menerima undanganmu, dari-mana bisa menemukan tempat persembunyianmu?"
Sahut tojin kurus kering itu sambil tertawa seram. Manusia aneh itu tertawa dingin, tiba-tiba dia membalikkan tubuh, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah Yin Ping tanpa berkedip, tegurnya.
"Aku yakin kaulah yang telah membantu aku menyebar surat undangan itu?"
"Meskipun bukan aku, tapi rasanya tidak beda jauh"
Sahut Yin Ping tanpa berubah muka. Kui-bo Yin Gi mendengus dingin, selanya.
"Ji-moay mengirim kabar kepadaku, akulah yang menyebar undangan serta memberi petunjuk jalan, sekarang kau sudah mengerti bukan?"
"Hahahaha.... mengerti, sejak awal sudah mengerti!"
Manusia aneh itu tertawa seram. Diam-diam Thiat Tiong-tong merasa bergidik, pikirnya setelah menghela napas.
"Padahal dihari biasa dia nampaknya sangat mencintai orang ini, tidak disangka secara diam-diam telah mengumpulkan semua musuh besar-nya untuk datang menyatroni, seakan dia baru puas setelah melihat dia hancur dan tercerai berai. Permusuhan apa pula yang membuatnya sangat mendendam? Karena cinta yang tidak kesampaian atau mungkin karena alasan lain...."
Dalam pada itu Sui Leng-kong telah menghela napas pula.
"Sungguh keji perempuan ini!"
Saking kesemsemnya mereka berdua menyaksikan peristiwa itu hingga sama sekali tidak tahu sejak kapan kawanan gadis cantik yang berada disekitarnya pergi meninggalkan tempat itu.
Menanti mereka berdua mengalihkan kembali sorot matanya, ditengah ruangan telah bertambah dengan kehadiran tujuh, delapan orang wanita berjubah panjang warna hitam yang mengenakan kain cadar berwarna hitam pula.
Beberapa orang itu berdiri berjajar dekat dinding ruangan, tidak ada yang tahu mereka datang dari mana dan sudah berapa lama berada disitu, malahan para jagopun tidak ada yang tahu semenjak kapan mereka sudah berdiri di belakang tubuh mereka.
Di antara kawanan jago hanya manusia aneh dan Yin Ping yang berdiri menghadap ke arah mereka, tapi lantaran dibagian tengah terpisah oleh sekelompok jago silat yang sedang dicekam perasaan dendam, maka mereka pun tidak sempat melihat dengan jelas kehadiran perempuan-perempuan itu.
Untuk sesaat suasana didalam ruangan teramat kalut dan tegang, tampaknya setiap jago yang hadir mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan manusia aneh itu, siapa pun ingin segera turun tangan untuk membuat perhitungan.
Tapi orang orang itu tampaknya merasa jeri menghadapi kehebatan kungfu manusia aneh itu hingga siapa pun enggan turun tangan terlebih dulu, siapapun tidak ingin buka suara paling dulu.
Kendatipun suasana ditengah ruangan amat tegang dan dipenuhi manusia, namun hanya gelak tertawa si manusia aneh yang bergema diseluruh ruangan, gelak nyaring yang menindih diatas suara orang lain, membuat setiap orang merasakan telinganya mendengung keras.
Menunggu hingga gelak tertawanya agak mereda, Yin Ping baru bicara sambil tertawa terkekeh.
"Sudah cukupkah tertawamu? Para penagih hutang telah datang, tertawapun tidak ada gunanya, lebih baik carilah cara yang tepat untuk melunasi semua hutangmu!"
Biarpun suara tertawanya tidak senyaring tertawa manusia aneh itu, namun suaranya tinggi melengking sangat menusuk pendengaran, membuat para pendengar merasakan hatinya bergidik.
Kini semua orang baru sadar kalau kungfu yang dimiliki perempuan itu ternyata sangat tangguh.
"Betul, hutang memang harus dibayar"
Kata manusia aneh itu dengan suara dalam.
"tapi hutang apa yang telah kubuat dan bagaimana caraku untuk membayar, lebih baik kalian saja yang menjelaskan!"
Dalam perkiraan Thiat Tiong-tong, kawanan jago itu pasti akan berebut bicara, siapa tahu setiap orang menutup mulutnya rapat-rapat, meski tidak mengucapkan sepatah katapun namun sorot mata kebencian justru memancar semakin tebal.
Dengan sorot mata yang tajam manusia aneh itu menyapu sekejap seluruh ruangan, kembali ujarnya sambil tertawa dingin.
"Li Lok-yang, Hay Tay-sau, meski kungfu kalian berdua tidak seberapa hebat namun nama baik kalian cukup bagus, coba kalian yang bicara lebih dahulu!"
Li Lok-yang saling bertukar pandangan sekejap dengan Hay Tay-sau, namun kedua orang itu tetap menggigit bibir tidak bicara.
Manusia aneh itu segera mengalihkan pandangan matanya kearah empat manusia berdandan aneh itu, katanya.
"Lam ki tok siu (kakek racun dari kutub selatan) Ko Thian-siu, kau yang hidup lebih lama ketimbang lainnya, coba terangkan dendam sakit hati apa yang terjalin antara kalian dengan aku?"
Seorang kakek berjubah sutera dengan sulaman tulisan 'siu' atau panjang usia didada-nya, memegang sebuah tongkat baja berkepala naga dan berkepala botak nampak berdiri bergetar, tanpa menjawab dia berpaling ke arah lain.
Kembali manusia aneh itu mengalihkan sorot matanya ke arah seorang lelaki berjubah hijau yang membawa sebuah kipas lipat, orang ini meski usianya sudah lanjut namun kumis dan jenggotnya dicukur bersih dan licin sehingga penampilannya mirip seorang pemuda pelajar saja.
"Giok Hu-li (rase kemala) Yo Kun, bagaimana pula dengan dirimu?"
Paras muka si rase kemala segera berubah jadi semu merah, namun diapun membungkam diri dalam seribu bahasa.
"Kuay ho Cun yang (Cun Yang hidup gembira) Lu Pin, kau saja yang bicara?"
Kata manusia aneh itu kemudian.
Tosu kurus kering itu bukan saja tidak menjawab, dia malah mundur satu langkah.
Meski dandanannya seperti orang beribadah namun seluruh tubuhnya dihiasi dengan pelbagai macam lencana, mutiara dan batu permata hingga lebih mirip dengan seorang lelaki hidung bangor.
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Kalau kalian bertiga enggan bicara, berarti Sin lip pa ong (raja bengis bertenaga sakti) Siang Ji-yu yang bakal bicara bukan?"
Lelaki bermata gede itu mendengus, kepalannya langsung dihantamkan keatas tiang batu yang berdiri disisinya.
"Blaaaam!"
Diiringi suara keras, batu tiang yang sangat keras itu seketika retak dan gumpil beberapa bagian.
Begitu nama keempat orang itu disebut, Bi lek-hwee maupun Hek Seng-thian sekalian berubah wajahnya, meski mereka belum pernah bersua dengan keempat orang itu namun tahu kalau jejak mereka sangat misterius dan wataknya antik, bukan cuma ilmu silatnya hebat, cara kerja mereka pun bengis, keji dan telengas.
Apalagi manusia yang bernama Sin lek Pa ong, dia mempunyai ratusan orang anak buah yang tersebar di seantero dunia persilatan, bukan saja cara kerjanya menakutkan, banyak pula korban yang tewas ditangan mereka.
Keempat orang ini boleh dibilang sudah menanamkan satu kekuatan yang tidak boleh dianggap enteng, jangan lagi manusia biasa, partai Siau-lim serta Bu-tong pun tidak akan berani mengusik mereka secara sembarangan.
Hanya saja kawanan manusia ini sudah banyak tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, tidak heran kalau kemunculannya secara mendadak hari ini segera menimbulkan kehebohan.
Yang membuat Thiat Tiong-tong keheranan adalah kehadiran beberapa orang itu yang jelas hendak menuntut balas karena terikat dendam dengan manusia aneh itu, tapi mengapa mereka enggan buka suara?
Dalam pada itu sorot mata manusia aneh itu sudah dialihkan ke wajah Suto Siau, tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, sambil menggoyangkan tangannya dan tertawa Suto Siau berseru.
"Kami berjumlah banyak, jadi mending paling belakangan saja"
Manusia aneh itu tertawa, sementara dihati kecilnya keheranan, dia tidak tahu kenapa kawanan manusia pengecut yang takut mati itu berani menyatroni tempat tinggalnya hari ini, mungkinkah mereka punya backing kuat?
Kembali sorot matanya beralih ke wajah siucay muda itu, namun ketika melihat sinar matanya yang begitu tajam, sepasang keningnya langsung berkerut kencang.
Tiba-tiba terdengar Kui bo Yin Gi berkata dengan nada dingin.
"Baiklah, kalau semua orang enggan bicara, biar aku yang mewakili mereka untuk berbicara!"
Berubah hebat paras muka Hay Tay-sau maupun Siang Ji-yu, teriak mereka hampir berbareng.
"Dari mana kau bisa tahu soal dendam kami?"
Dari nada suaranya jelas terdengar kalau mereka enggan Yin Gi menyinggung soal rahasia hatinya. Yin Gi tertawa dingin, ujarnya.
"Orang bilang tidak ada dendam yang lebih berat daripada pembunuhan terhadap orang tua dan bini direbut orang, walaupun kalian tidak punya dendam karena orang tua yang terbunuh namun bini kalian telah dirampas olehnya, mana boleh dendam semacam ini tidak dibalas? Mengenai.... dengan cara apa dendam ini akan dibalas, persilahkan masing-masing mengambil keputusan sendiri"
Habis berkata dia mendongakkan kepalanya dan tertawa dingin.
Dalam waktu singkat paras muka Hay Tay-sau sekalian berubah jadi pucat pias, Li Kiam-pek merasakan tubuhnya gemetar keras, sambil mundur tiga langkah dia genggam gagang pedangnya kencang-kencang.
Bi Iek-hwee melirik Hay Tay-sau sekejap, kemudian pikirnya sambil menghela napas.
"Bila dilihat dari tingkah lakunya, Hoa Toa-koh jelas adalah bininya dulu, entah bagaimana ceritanya sampai tertipu oleh orang ini. Apa mau dikata tampaknya orang ini memang playboy kelas kakap, setelah dibuat mainan berapa saat akhirnya ditinggalkan begitu saja hingga mau tidak mau terpaksa Hoa Toa-koh harus bekerja jadi begal...."
Berpikir sampai disitu dia menghembuskan napas lega, gumamnya.
"Beruntung sepanjang hidup lohu tidak pernah beristri...."
Thiat Tiong-tong sendiripun baru sadar apa yang sebenarnya telah terjadi, pikirnya.
"Tidak heran kalau semua orang enggan berbicara, sebagai tokoh persilatan kenamaan, tentu saja mereka tidak ingin aib keluarganya ketahuan orang"
Mendadak terdengar Sin lip Pa Ong Siang Ji-yu tertawa dingin, sambil melotot ke arah Yin Gi jengeknya.
"Betul, bini kami memang dipermainkan orang ini, tapi bagaimana pula dengan dirimu? Kenapa kalian kakak beradik bisa menjalin permusuhan dengannya?"
Berubah hebat paras muka si induk setan (kui bo) Yin Gi setelah mendengar perkataan itu, sampai berapa saat dia tidak sanggup berkata-kata.
"Hahahaha...."
Kembali Siang Ji-yu tertawa tergelak.
"kalian tidak punya bini, berarti kalian lah yang telah dipermainkan olehnya...."
Gi Cing-kiok membentak gusar, bersama si bocah pincang dan pemuda bisu tuli serentak mereka menyerbu ke depan. Terdengar si bocah pincang mengejek dengan nada keras.
"Pa-ong, percuma kau bertenaga sakti, buktinya melindungi bini sendiripun tidak mampu, huuuh, tidak tahu malu, tidak tahu malu...."
Siang Ji-yu membentak nyaring, bagaikan sambaran geledek dia lontarkan sebuah pukulan ke depan, bentaknya.
"Setan cilik, kau cari mampus!"
Deruan angin pukulan yang memekikkan telinga sungguh dahsyat dan menakutkan.
Tiba-tiba terasa pandangan mata jadi kabur, dua bersaudara Yin telah menghadang di depan bocah itu sambil melepaskan satu pukulan, pukulan lembut yang seketika memunahkan serangan dahsyatnya.
"Murid-muridku, cepat mundur!"
Terdengar Yin Gi menghardik. Sebaliknya Yin Ping sambil membopong kucingnya berseru sambil tertawa terkekeh.
"Kami dua bersaudara telah menyebar undangan untuk mengundang kedatangan kalian semua, memangnya bertujuan untuk menghadapi kami berdua?"
Siang Pa-ong (raja bengis Siang) tertegun.
"Soal ini...."
Bisiknya.
"Betul"
Kata Yin Ping sambil tertawa.
"gara-gara bertemu dengan lelaki pemogoran semacam dialah watak toaci ku jadi berubah sangat aneh, sedang aku sendiri, hidupku hancur musnah ditangannya, oleh karena dia memusnahkan diriku terlebih dulu maka akupun ganti memusnahkan kaum lelaki, akibatnya aku mesti menyandang nama busuk. Kalau rasa benciku tidak merasuk hingga ke tulang sumsum, buat apa kali ini mesti berpura-pura baik dengan menyambanginya? Aku sengaja berbuat begitu karena aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nasib tragis akan menimpa dirinya, aku ingin menyaksikan sendiri bagaimana hidupnya hancur dan nyawanya melayang!"
Walaupun sedang berbicara sambil sumpah serapah, namun senyuman manis masih menghiasi bibirnya. Hal ini membuat Siang Pa-ong diam-diam bergidik. Terdengar manusia aneh itu tertawa seram.
"Hahahaha.... betul, hidup kalian memang musnah ditanganku, dosa dan kesalahan ini memang aku yang mesti bertanggung jawab, tapi kalau menginginkan kehancuran dan kematian-ku, hmmm!"
Sambil menghentikan gelak tertawanya, dia menambahkan.
"Aku rasa tidak segampang itu!"
"Mungkin saja apa yang kau ucapkan ada benarnya"
Kata Yin Ping sambil tertawa.
"kalau mesti satu lawan satu, jelas kungfu kami semua masih bukan tandinganmu, tapi kalau kami maju bersama.... hmmm, apayang bisa kau perbuat?"
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.... kalian berjumlah banyak, memangnya anak buahku sedikit?"
Sambil bertepuk tangan bentaknya.
"Budak sekalian ayoh cepat keluar, kita buktikan jumlah mereka yang lebih banyak atau kita?"
Suara bentakannya nyaring dan menggaung hingga ke dalam ruangan.
Sampai suara pantulannya lenyap ternyata tidak ada jawaban, bayangan pun tidak nampak.
Agak berubah paras muka manusia aneh itu, teriaknya lagi penuh kegusaran.
"Budak sialan, budak busuk, memangnya kalian sudah mampus semua?"
Kui-bo Yin Gi tertawa dingin, jengeknya.
"Meskipun belum mampus, paling tidak sudah hampir!"
Mendadak paras muka manusia aneh itu berubah jadi pucat pias, setelah tertegun berapa saat bentaknya.
"Bagus, bagus, tidak heran dari sembilan setan laki dan tujuh setan perempuan hanya tiga orang yang hadir, ternyata yang lain sedang memberesi anak muridku, tapi.... mereka toh tidak salah tidak berdosa, kalau ingin menuntut balas, seharusnya langsung mencari aku"
Hay Tay-sau dengan cepat menyingkap bajunya sambil membuka lebar dadanya, sambil maju dengan langkah lebar katanya.
"Semua orang menunggu untuk memungut keuntungan dari orang lain, tampaknya aku harus turun tangan duluan!"
"Hmm, kalau hanya kau seorang mah bukan tandinganku, lebih baik maju serentak bersama yang lain!"
Jengek manusia aneh itu dingin.
"Hahahaha.... Hay Tay-sau bukan orang yang suka mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak!"
"Bagus!"
Puji manusia aneh itu sambil mengacungkan jempol.
"aku akan mengalah tiga jurus untukmu!"
"Mau mengalah tiga jurus terserah, tidak mengalahpun terserah, tapi sebelum turun tangan aku ingin menyampaikan beberapa patah kata terlebih dulu!"
"Kalau orang lain yang masih banyak bicara pada saat seperti ini, mungkin aku sudah iris lidahnya, tapi kalau Hay Tay-sau yang ingin berbicara, cepat katakan!"
"Walaupun kau telah menanggung semua dosa kesalahan ini, aku tahu kesalahan tersebut tidak sepantasnya dipikul kau seorang, paling tidak kawanan perempuan busuk itupun harus turut bertanggung jawab...."
Paras muka beberapa orang segera berubah hebat. Dengan gusar Siang Pa-ong berteriak pula.
"Kentut busuk!"
Kembali Hay Tay-sau tertawa keras.
"Perkataanku memang tidak enak didengar, tapi aku tetap akan mengatakannya. Terus terang, bekas bini-bini kita pun bukan merupakan manusia baik, orang bilang tepuk tangan tidak akan bunyi kalau tidak disambut telapak tangan yang lain. Dulu kawanan perempuan busuk itu pasti terpikat olehnya karena dia muda, banyak duit, berilmu tinggi dan kuat, kalau tidak, mana mungkin mereka akan tinggalkan kita untuk kabur bersamanya. Bajingan ini sendiri meski suka main perempuan dan pantas mampus, namun kawanan perempuan busuk kita yang sudah disia-siakan pun pantas mampus juga!"
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur kagum setelah mendengar perkataan itu, sebaliknya Siang Pa-ong dan Rase kemala sekalian meski memperlihatkan wajah gusar, namun tidak seorang pun di antara mereka yang buka suara untuk membantah, jelas apa yang dikatakan Hay Tay-sau memang benar.
Andaikata dia bukan seorang lelaki gagah yang berjiwa terbuka, mana mungkin perkataan semacam itu sanggup diutarakan?
Untuk sesaat suasana dalam ruangan jadi hening dan sepi.
Akhirnya sambil tertawa tergelak manusia aneh itu berkata.
"Tidak kusangka masih ada manusia di dunia ini yang bersedia bicara jujur dan bijaksana, lebih tidak kusangka kalau orang itu ternyata adalah musuh besarku sendiri, hahaha.... hahahaha...."
Setelah tergelak berapa saat, lanjutnya.
"Aku tahu, walaupun kau sudah bicara jujur dan bijaksana, toh rasa mendongkol harus dilampiaskan juga, baiklah, mari, kita bermain beberapa gebrakan!"
"Rasa mendongkol ini sudah kupendam banyak tahun, pertama karena aku tahu bukan tandinganmu, kedua karena gagal menemukan jejakmu, setelah berjumpa hari ini.... mari, lihat serangan!"
Ditengah bentakan nyaring, dia lontarkan tinjunya menghantam dada manusia aneh itu.
Melihat datangnya serangan, manusia aneh itu tidak menghindar maupun berkelit, semua orang tahu kalau kungfunya hebat, mereka menyangka manusia aneh itu bakal mengeluarkan ilmu simpanannya.
Siapa tahu baru selesai ingatan tersebut melintas lewat.
"Blaaaam!"
Pukulan Hay Tay-sau yang sangat dahsyat itu sudah bersarang telak di dada manusia aneh itu.
Betapa pun hebatnya kungfu yang dimiliki manusia aneh itu, berat juga baginya untuk menerima pukulan Hay Tay-sau yang dahsyat, kontan tubuhnya mundur berapa langkah dengan sempoyongan, paras mukanya bertambah pucat.
"Kau...."
Hay Tay-sau berteriak kaget.
"kenapa kau...."
Manusia aneh itu tertawa paksa setelah mengatur napas berapa saat.
"Cukup dari perkataanmu tadi, aku merasa tidak seharusnya bertarung melawanmu, itulah sebabnya biar kuterima pukulan ini sebagai pelampiasan rasa mangkelmu!"
Ketika para jago menyaksikan dia mampu menerima sebuah pukulan dari Hay Tay-sau dan akibatnya bukan saja tidak terluka parah bahkan segera mampu berbicara, mau tidak mau semua orang merasa terkejut bercampur kagum.
Setelah berdiri tertegun berapa saat lantaran kaget, Hay Tay-sau baru bisa berkata.
"Selama hidup cukup banyak manusia aneh yang pernah kujumpai, tapi rasanya belum pernah bertemu dengan manusia berwatak sangat aneh macam kau"
"Lohu juga belum pernah bertemu"
Sela Bi Lek hwee tidak tahan. Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.... aku memang tidak pernah menutupi semua kekuranganku"
Setelah menatap wajah lawannya berapa saat, kembali Hay Tay-sau berkata dengan lantang.
"Baik! Dengan pukulan tersebut, hutang piutang di antara kita kuanggap impas sudah. Tapi sayang mulai sekarang aku tidak dapat lagi menyaksikan kau digebuki orang, akupun tidak dapat membantumu, terpaksa aku mesti angkat kaki dari sini"
Tidak menunggu perkataan itu selesai diucapkan, dia sudah membalikkan tubuh dan beranjak pergi.
"Hey, tunggu aku sebentar"
Teriak Bi Lek hwee buru-buru. Baru saja orang ini siap mengejar rekannya, Suto Siau telah keburu menarik ujung bajunya sambil berbisik.
"Kita termasuk lima perkumpulan yang membentuk satu persekutuan, sudah sepantas-nya bila kau datang bersama, pergipun bersama, masa hengtay akan meninggalkan tempat ini dengan begitu saja?"
Bi Lek hwee melirik Hek Seng-thian sekalian dengan kening berkerut, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia kebaskan tangannya melepaskan diri dari cengkeraman lalu beranjak pergi dari situ menyusul Hay Tay-sau.
"Lelaki sejati!"
Puji manusia aneh itu sambil menghela napas, tapi belum selesai bicara dia sudah batuk tiada hentinya.
Si Rase kemala sekalian berempat saling bertukar pandangan sekejap, mereka tahu orang tersebut sudah menderita luka dalam gara-gara pukulan dari Hay Tay-sau tadi, tampaknya mereka sudah siap memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan.
Tapi belum sempat mereka bertindak, tiba-tiba terdengar Li Kiam-pek membentak nyaring.
"Orang lain boleh saja mengampuni dosamu, tidak bagiku!"
Sambil membentak dia meloloskan pedangnya dan langsung melancarkan sebuah tusukan ke tubuh manusia aneh itu.
Li Lok-yang menjerit kaget, dengan wajah berubah cepat dia melompat ke depan.
Sungguh cepat gerak serangan yang dilancarkan Li Kiam-pek, dalam waktu singkat dia telah melepaskan tujuh buah tusukan maut, hampir semua serangannya ditujukan ke bagian mematikan di tubuh lawan.
Begitu lolos dari ke tujuh buah serangan kilat, manusia aneh itu segera berteriak nyaring.
"Li Lok-yang, cepat perintahkan dia untuk berhenti menyerang"
"Siapa bilang aku akan berhenti menyerang!"
Bentak Li Kiam-pek dengan wajah sedih bercampur gusar.
Mendadak dia genggam pedangnya dengan ke dua belah tangan, lalu sekuat tenaga melancarkan sebuah tusukan ke depan.
Walaupun jurus serangan yang digunakan adalah jurus serangan beradu jiwa, namun pertahanan tubuh bagian atas maupun bawahnya terbuka lebar, bertemu dengan jago tangguh semacam manusia aneh itu, boleh dibilang serangan semacam ini hanya sebuah tindakan untuk menghantar kematian sendiri.
Sambil menjerit kaget Li Lok-yang melompat maju ke depan, tampak manusia aneh itu miringkan tubuhnya menghindar dari serangan yang datang, kemudian dengan kedua jari tangannya secepat kilat dia jepitujung pedang lawan.
Padahal tusukan yang dilancarkan Li Kiam-pek disertai tenaga serangan yang luar biasa, namun begitu terjepit jari tangan lawan, senjata-nya bukan saja tidak mampu bergerak lagi, bahkan seluruh kekuatannya seolah lenyap dan menguap dengan begitu saja.
Sadar kalau keinginannya untuk balas dendam kandas ditengah jalan, pemuda itu merasa sedih bercampur putus asa, mendadak dia buang senjatanya kemudian menumbukkan kepalanya keatas dinding ruangan.
Buru-buru Li Lok-yang memeluk tubuh putranya dan menariknya kuat-kuat.
Dengan suara parau Li Kiam-pek segera menjerit.
"Jangan tarik aku.... jangan tarik aku.... ibu.... dia.... dia orang tua.... ananda tidak dapat membalaskan sakit hati dan penghinaan ini, lebih baik...."
Mendadak manusia aneh itu tertawa terbahak bahak, sambil membuang pedangnya ke lantai dan gelengkan kepalanya berulang kali, serunya.
"Li Lok-yang, tampaknya sudah terjadi kesalahpahaman pada anakmu yang berangasan itu, dia tidak tahu kalau permusuhan yang terjalin di antara kita berdua berbeda jauh dibandingkan dengan yang lain!"
"Apa.... apa yang kau katakan?"
Tanya Li Kiam-pek dengan tubuh bergetar keras. Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya.
"Anak bodoh, memangnya kau anggap ibumu adalah perempuan rendah macam begitu?"
Traaaang.... !"
Pisau belati yang ada dalam genggaman Li Kiam-pek segera rontok ke tanah, serunya tergagap.
"Tapi.... tapi...."
Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya.
"Aku terikat dendam dengannya lantaran sewaktu diselenggarakan transaksi terbuka dulu, dia pernah merampok sejumlah barang mestika milik keluarga kita dan waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa"
"Hahahaha...."
Manusia aneh itu ikut tertawa tergelak.
"perkampungan barang mestika dikota Lokyang merupakan sebuah perkam-pungan kenamaan, tentu saja nama besar itu tidak boleh rusak gara-gara barang mestikanya berhasil dirampok orang, biar sudah kehilangan pun terpaksa hanya bisa menelan ludah sambil membungkam diri"
Li Lok-yang kembali menghela napas.
"Peristiwa yang memalukan ini sudah tersimpan hampir puluhan tahun lamanya, coba kalau bukan terjadi kesalahan paham, tidak mungkin aku akan menyinggungnya lagi"
"Hari ini kau sudah mengungkapnya di depan umum, berarti kau sudah siap untuk menuntut balik barang jarahan tersebut bukan?"
"Sepuluh tahun berselang, ilmu silatku memang bukan tandinganmu, tapi selama berapa tahun ini aku telah melatih tekun kungfuku, hari ini, apa pun hasilnya, aku tetap akan beradu jiwa denganmu!"
"Kalau memang begitu, mari...."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Lam-ki-tok-siu sudah menukas duluan dengan nada dingin.
"Hey orang she-Li, lebih baik nanti saja kau pamerkan kejelekanmu, sekarang biar kami berempat yang menghadapinya lebih dahulu!"
Sebelum Li Lok-yang mengatakan sesuatu, dengan gusar Li Kiam-pek telah menukas.
"Hmm, apa yang kalian berempat andalkan untuk mendahului kami?"
"Kami andalkan ini!"
Jawab Lam-ki-tok-siu Ko Thian-siu dingin.
Bukan saja suara orang ini dingin bagaikan salju, perubahan mimik mukanya pun susah dikenali orang.
Sambil berkata dia pungut pedang yang tergeletak dilantai itu lalu dengan sekali tekuk dia sudah patahkan senjata tersebut jadi dua bagian.
Kemudian sambil menyodorkan separuh bagian ke tangah Li Kiam-pek, ujarnya dingin.
"Pedang ini milikmu, kukembalikan sekarang kepadamu!"
Pedang milik Li Kiam-pek ini merupakan pedang mestika keluarganya, walaupun bukan senjata mestika macam pedang milik Kan-ciang atau Mo-shia, namun ketajaman dan kehebatannya boleh dibilang luar biasa.
Selama ini dia amat menyayangi senjata andalannya itu dan tidak pernah meninggalkan tubuhnya, tidak heran kalau Li Kiam-pek merasn kaget, sedih dan sakit hati setelah melihat senjata tersebut dipatahkan orang.
Untuk sesaaat dia merasa tidak tega hingga bersiap untuk menerimanya kembali.
Mendadak terdengar manusia aneh itu membentak nyaring.
"Pedang itu sudah dilumuri racun, jangan disentuh"
Dengan terperanjat Li Kiam-pek menarik kembali tangannya, benar saja, dia saksikan pedangnya yang semula berkilauan kini telah berubah jadi hijau kusam dan sama sekali tidak bersinar, tentu saja dia semakin tidak berani untuk menerimanya.
Hanya dalam sekali sentuhan, si kakek beracun ini mampu meracuni seluruh tubuh pedang tersebut, kemampuannya melepaskan racun boleh dibilang sangat menakutkan, kenyataan ini bukan saja membuat Li Lok-yang dan putranya menjadi terperanjat, semua orang yang hadir pun berubah hebat wajahnya.
Terdengar si kakek beracun dari kutub selatan itu tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Hahahaha... memangnya kau anggap julukan-ku sebagai si kakek beracun hanya julukan kosong!"
Begitu tangannya digetarkan, dua titik cahaya pedang segera meluncur menembusi angkasa.
"Sayang kalau pedang sebagus itu dibuang begitu saja!"
Teriak si rase kemala Yo Kun tertawa.
Tubuhnya segera melesat ke depan, ternyata gerakan tubuhnya jauh lebih cepat ketimbang gerakan pedang itu, dalam sekali gulungan tahu-tahu dia sudah menggulung kedua potongan pedang itu ke dalam sakunya.
Hanya dalam waktu singkat dia dapat menangkap pedang itu dan melayang balik ke posisi semula, bukan saja gerakannya cepat bagai petir bahkan gayanya sangat indah.
Menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang di demonstrasikan si Rase kemala, baik lawan maupun kawan serentak bersorak memuji.
Hanya sederet perempuan berjubah hitam berkain cadar yang tetap berdiri tanpa gerak, bila orang tidak menaruh perhatian secara khusus, sulit rasanya untuk mengetahui kehadiran mereka.
Tampak si Rase kemala menggetarkan sepasang ujung lengannya, kutungan pedang segera berserakan diatas lantai.
"Sayang kalau dibuang"
Seru Lu Pin sambil tertawa.
"lebih baik digunakan sebagai barang rongsok saja!"
Dia membungkukkan tubuh sambil memungut kutungan pedang itu, lalu sambil berjalan menuju ke tiang batu yang gumpil berkat gempuran dari Sin lek Pa ong tadi, ujarnya lebih jauh sambil tertawa.
"Walaupun tenaga sakti milik Siang sicu menakutkan, sayang tindakannya kurang menghormati tuan rumah, masa sebuah tiang batu yang bagus dibikin gumpil, biarlah pinto menggunakan kutungan pedang ini untuk memperbaikinya kembal!"
Sambil berkata dengan tangan kanan memegang kutungan pedang, tangan kiri memegang gumpilan batu cadas, dia menghimpun tenaga dalamnya di dada.
Diiringi suara pekikan nyaring, tahu-tahu dia tancapkan kutungan pedang itu ke dalam gumpilan batu, kemudian memantek gumpilan tadi diatas tiang bekas gumpilan.
Biarpun batu cadas itu keras namun orang ini mampu menembusi batu tadi bagaikan menusuk sepotong tahu saja, bukan saja gampang bahkan tidak menimbulkan suara, hal ini segera memancing aplus keras dari semua yang hadir.
Selesai memperbaiki gumpilan batu cadas itu, Lu Pin bertepuk tangan sambil berkata lagi.
"Liatwi tidak perlu bersorak memuji, sebab tanpa obat penawar racun yang sudah kulumurkan terlebih dulu ditanganku, niscaya saat ini aku sudah mati keracunan!"
Tanpa berubah muka, dengan tinjunya raja bengis bertenaga sakti berhasil menghancurkan batu cadas, kakek beracun dari kutub selatan mematahkan pedang bagai mematahkan bambu bahkan berhasil melumurinya dengan racun, kemudian Rase kemala mampu mengejar pedang secepat petir, Lu Pin menusuk batu bagai menusuk tahu.
Demonstrasi kemampuan yang dilakukan ke empat orang ini boleh dibilang mengerikan sekali.
Tanpa terasa Thiat Tiong-tong dan Sui Lengkong saling berpegangan tangan dengan kencang, mereka benar-benar tercekat dibuatnya.
Dalam pada itu si kakek racun dari kutub selatan telah mengerling sekejap ke arah Li Kiam-pek sambil berkata.
"Dengan kemampuan yang kami berempat miliki, apakah cukup pantas untuk berebut denganmu?"
Li Kiam-pek berdiri terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat dia tak mampu berkata kata. Sambil tertawa tergelak manusia aneh itupun berseru.
"Kalau toh sudah berhasil berebut tempat, silahkan turun tangan, tidak kusangka dalam belasan tahun terakhir kungfu yang kalian berempat miliki telah bertambah maju pesat!"
"Biarpun telah maju pesat namun sayang masih belum bisa menandingimu"
Kata kakek racun dari kutub selatan sambil tertawa seram.
"setelah kami berempat rundingkan, terpaksa kami akan turun tangan bersama-sama!"
Dengan cepat ke empat orang itu menyebarkan diri ke empat penjuru dan mengepung manusia aneh itu ditengah arena.
Manusia aneh itu sendiri meski berdiri santai tanpa berubah wajah, padahal secara diam-diam dia telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
"Hati-hati"
Seru si Rase kemala kemudian sambil menjura.
"aku...."
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring.
Meski suara itu tidak terlalu keras namun terdengar seperti tusukan jarum yang menembusi gendang telinga, membuat telinga setiap orang terasa sakit sekali.
Dengan perasaan terkejut si Rase kemala berempat berpaling, sekarang mereka baru melihat ada dua orang wanita berjubah hitam berkain cadar perlahan lahan berjalan mendekat.
Cara berjalan ke dua orang ini sangat aneh, meski sedang melangkah ke depan namun bahunya tidak bergerak, kaki pun tidak bertekuk, seolah-olah mereka sedang melayang di antara mega saja.
Baru saja semua orang melihat jubah panjangnya bergoyang, tahu-tahu mereka sudah tiba di depan arena.
Baik manusia aneh maupun si rase kemala sekalian sama-sama merasa tercengang, ternyata mereka tidak dapat menebak siapa gerangan perempuan bercadar itu, datang dari mana dan apa tujuan kedatangannya.
Lu Pin segera menyapa dengan lantang.
"Apakah li-sicu ada petunjuk?"
"Kalian berempat tidak boleh turun tangan"
Jawab perempuan bercadar yang ada disisi kiri lembut.
Suaranya enteng, datar, sama sekali tidak emosi, namun nadanya tegas bagaikan sedang memberi suatu perintah, seolah-olah perkataan yang telah dia ucapkan, orang lain tidak dapat merubahnya kembali.
Si Rase kemala sekalian berdiri tertegun, tapi kemudian mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
Hanya si kakek racun dari kutub selatan yang tidak berubah paras mukanya, dengan suara mendalam tanyanya.
"Kenapa kami berempat tidak boleh turun tangan?"
"Sebab ditempat luaran, kalian berempat pun banyak membunuh dan memperkosa wanita baik-baik. Bila kau boleh menodai bini orang, kenapa orang lain tidak boleh menodai binimu, apa hak kalian untuk turun tangan?"
"Manusia macam apa kau ini, berani amat mencampuri urusan kami!"
Bentak Siang pa-ong gusar.
"Thian punya kuasa tidak punya kekuatan, tidak bisa turun tangan sendiri mencampuri urusan dunia, oleh sebab itu Beliau tidak segan meminjam tangan kami untuk menuntut keadilan bagi umat wanita di dunia ini"
"Hahahaha.... kalau begitu kalian mengaku sebagai utusan Thian?"
"Tepat sekali!"
Setiap perkataan yang diucapkan perempuan bercadar ini selalu datar, lembut, penuh kedamaian, tidak seorangpun dapat melihat bagai-mana mimik muka mereka dibalik kain cadarnya.
Tapi jawaban "tepat sekali"
Itu disampaikan dengan daya pengaruh yang sangat luar biasa, membuat orang tidak berani menyangkal kalau mereka benar-benar utusan yang datang dari langit, membuat setiap umat dunia tidak berani membangkang perintah mereka.
Sekalipun siang Pa-ong terhitung seseorang yang keras kepala pun tidak urung bergidik juga sehabis mendengar perkataan itu, untuk sesaat semua orang hanya bisa saling berpandangan dengan mulut membungkam.
Lewat berapa saat kemudian, Lu Pin baru mendehem perlahan dan berkata sambil menuding ke arah manusia aneh itu.
"Kalau kalian ingin menuntut keadilan bagi kaum wanita, kenapa tidak kau urus bajingan itu, buat apa kalian malah mengurusi kami?"
"Kedatangan kami memang ingin menyaksikan bagaimana pembalasan menimpa dirinya"
Sahut perempuan bercadar itu.
"tapi sekarang waktunya belum tiba, tentu saja kami tidak akan membiarkan kalian berempat turun tangan terlebih dulu"
"Lalu siapa yang lebih berhak untuk turun tangan?"
"Orang yang khusus diutus Thian!"
Tiba-tiba Siang Pa-ong membentak gusar.
"Apa itu utusan Thian, utusan Tee, berlagak sok tahyul, aku tidak percaya dengan permainan busuk macam begitu, enyah kau dari sini!"
Sebuah pukulan langsung dilontarkan ke tubuh perempuan itu.
"Mana mungkin tenaga manusia bisa melawan tenaga langit, kau berani turun tangan?"
Jengek perempuan bercadar itu.
Sementara Siang Pa-ong masih melengak, ujung lengan baju perempuan bercadar itu telah balik menumbuk keluar.
Cepat siang Pa-ong menarik kembali serangannya sambil membentak.
"Kita maju bersama, biar dia berangkat duluan!"
Ditengah bentakan nyaring secara beruntun lima pukulan dilontarkan, dengan tenaga gwakangnya yang sempurna, boleh dibilang serangan ini mengerikan sekali.
Perempuan bercadar hitam itu hanya sedikit menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu dia sudah menghindari keempat buah pukulan pertama, menanti Siang Pa-ong melepaskan pukulan yang terakhir, mendadak perempuan itu menghentikan tubuhnya dan sama sekali tidak menghindar lagi.
Sewaktu menggempur batu tiang cadas tadi, semua orang telah menyaksikan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dimiliki Sin-lek-Pa-ong, maka betapa terkejutnya semua orang ketika menyaksikan gempuran dahsyat itu langsung menghantam ke tubuh perempuan itu, dalam perkiraan mereka, tulang belulang perempuan bercadar itu tentu akan hancur berantakan.
Siang Ji-yu sendiripun merasa kegirangan setengah mati, dia sangka pukulannya bakal merobohkan lawan.
Siapa tahu baru saja ujung kepalan itu menyentuh pakaian yang dikenakan perempuan bercadar itu, tiba-tiba pakaian tersebut bergeser cekung ke dalam, tenaga pukulan yang amat dahsyat itu seolah kerbau lumpur yang tercebur ke dasar samudra, hilang lenyap dengan begitu saja.
Tidak terlukis rasa terkejut yang dialami si raja bengis Siang, tapi dia tidak sempat berpikir lebih jauh karena perempuan bercadar itu sudah berbalik menggulung lengannya dengan ujung bajunya.
Dalam waktu sekejap dia rasakan segulung tenaga murni yang tidak dapat dilawan menyusup masuk melalui ujung baju itu, tidak kuasa lagi tubuhnya terangkat meninggalkan permukaan tanah dan tahu-tahu tubuhnya yang tinggi besar itu sudah melayang di udara, melewati diatas kepala si Rase kemala dan...
"Blaaam!"
Menumbuk diatas dinding ruangan, terperosok ke lantai dan tidak sanggup merangkak bangun lagi.
Meskipun si Rase kemala sekalian tahu kalau lawan telah menggunakan ilmu tenaga dalam sebangsa Can ie cap pwee tiap (menyentuh baju terperosok delapan belas kali), tidak urung perasaan hati mereka tercekat juga.
Biarpun tidak jelas berapa usia perempuan bercadar itu, namun mereka sadar bahwa dikolong langit dewasa ini hanya berapa gelintir manusia yang berhasil mencapai tingkatan ilmu sehebat itu.
Sebagaimana diketahui, tadi perempuan bercadar itu hanya menghisap dengan bajunya, tahu-tahu seluruh tenaga pukulan dari Siang pa-ong sudah lenyap tidak berbekas, lalu ketika mengebaskan bajunya, tahu-tahu tubuhnya sudah terpelanting, sampai matipun Siang pa-ong tidak menyangka kalau dia bakal dipecundangi dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
Begitu mencium lantai, dia jatuh pingsan berapa saat, kemudian ketika mencoba merangkak bangun, lagi lagi kepalanya terasa amat pening hingga untuk ke dua kalinya dia mencium lantai.
Dalam pada itu perempuan bercadar tadi telah berpaling ke arah si Rase kemala Yo Kun, ujarnya lembut.
"Sekarang kau sudah percaya bukan kalau tenaga manusia tidak akan menangkan tenaga langit?"
"Soal ini...."
Berubah paras muka si Rase kemala Yo Kun, tiba-tiba dia menghela napas panjang.
"percaya, aku percaya.... !"
Sambil berkata dia menjura dan menyembah.
Pada saat itulah mendadak terlihat puluhan titik cahaya perak yang lembut bagaikan bulu melesat keluar dari punggungnya dan langsung menyergap dada serta lambung perempuan itu.
Senjata rahasia itu dilepaskan tanpa memberi tanda, begitu meluncur, kecepatannya melebihi sambaran kilat, sungguh membuat orang diluar dugaan dan sulit untuk menghindar.
Inilah ilmu yang paling diandalkan dan dibanggakan selama ini.
"Cing pai hoa cuang toan hun ciam (jarum pemutus nyawa dalam kemasan punggung), selain sangat lihay dan beracun, banyak sudah jagoan tangguh dalam dunia persilatan yang kehilangan nyawa diujung jarumnya. Perubahan ini terjadi diluar dugaan, saking kagetnya Sui Leng-kong yang bersembunyi diluar jendela sampai menjerit tertahan. Siapa sangka perempuan bercadar iu hanya mengembangkan ujung bajunya, tahu-tahu seluruh hujan jarum perak itu sudah tergulung ke balik pakaiannya dan lenyap dengan begitu saja. Mendadak si Rase kemala, Lu Pin serta kakek racun dari kutub selatan menjerit kaget, sambil menuding ke arah perempuan bercadar itu mereka bertiga berseru dengan nada gemetar.
"Kau.... kau.... kau...."
"Jadi kalian sudah tahu siapakah kami?"
Tukas perempuan bercadar itu tenang. Tiba-tiba manusia aneh mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, selanya.
"Hahahaha.... mungkin baru sekarang mereka tahu, padahal semenjak kalian masuk kemari, aku sudah tahu siapa gerangan kalian semua"
"Memang paling baik kalau sudah tahu"
"Tidak nyana kalian bakal membantuku...."
"Orang yang semestinya datang menuntut balas kepadamu hingga kini belum muncul, kami hanya kuatir kau mampus duluan ditangan orang lain!"
Potong perempuan itu dingin. Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.... memangnya kau anggap dengan andalkan beberapa orang ini sudah mampu melukai aku!"
Tiba-tiba dia turun tangan secepat kilat, cakarnya langsung mencengkeram tengkuk si kakek racun dari kutub selatan dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi di udara.
Selama ini kawanan jago itu belum pernah menyaksikan dia mendemonstrasikan kemampuan silatnya, tidak terlukiskan rasa terperanjat mereka setelah menyaksikan kemampuannya mencengkeram si kakek racun hanya dalam satu gebrakan tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Si kakek racun dari kutub selatan sendiripun seakan merasakan sekujur tubuhnya lemas tidak bertenaga, nyaris dia tidak mampu bergerak, bisa dibayangkan sampai dimana rasa ngeri dan takutnya saat itu.
"Mau.... mau apa kau?"
Jeritnya ketakutan.
"Serahkan dulu obat penawar racunmu"
Perintah manusia aneh itu sambil tertawa.
"Ada.... ada disaku ku, yang merah dioleskan dihidung, yang putih ditelan"
Belum selesai ia berkata, manusia aneh itu sudah mengeluarkan sebuah kotak emas dari sakunya dan berkata sambil tersenyum.
"Aku yakin kau tidak berani berbohong.... ambillah!"
Tiba-tiba dia melemparkan kotak itu ke arah perempuan bercadar itu.
"Buat apa benda ini?"
Tanpa terasa perempuan itu bertanya. Manusia aneh itu tertawa, katanya.
"Kelihatannya kalian berdua adalah para dewi yang baru saja masuk ke dalam kalangan dewa dewi hingga pengalamannya sangat cetek, kalian terlalu pandang rendah kemampuan kakek racun"
"Jangan-jangan...."
"Hahahaha.... ketika kakek racun menuding dengan jari tangannya tadi, kau sudah terkena racun jahatnya!"
Sekujur tubuh perempuan bercadar itu bergetar keras, secara beruntun dia mundur berapa langkah.
"Obat pemunah racun telah kuserahkan, kenapa kau belum lepaskan aku?"
Terdengar kakek racun dari laut selatan berteriak.
"Aku tahu, kau licik dan banyak akal busuknya, meski kami tidak takut menghadapimu tapi kehadiranmu ditempat ini sangat memuakkan, pergilah!"
Dia segera melemparkan tubuh kakek racun itu keluar dari pintu gerbang, sementara tubuhnya menerjang ke sela tubuh si Rase kemala dan Lu Pin sambil melepaskan satu pukulan.
Dengan hati tercekat si Rase kemala berkelit ke samping sementara Lu Pin buru-buru membalikkan tubuh sambil mencabut pedangnya, tapi sayang baru saja pedang itu dicabut setengah inci, pukulan si manusia aneh yang semula tertuju ke tubuh Yo Kun tahu-tahu sudah berganti menceng-keram tubuhnya.
Sepanjang hidup belum pernah Lu Pin menghadapi serangan sedemikian cepatnya, sambil berjumpalitan di udara dan kabur keluar pintu, teriaknya keras.
"Belum terlambat bagi seorang Kuncu untuk membalas dendam tiga tahun kemudian, tunggu saja pembalasanku!"
Belum selesai dia berbicara, lagi-lagi terlihat sesosok bayangan manusia meluncur keluar, dia sangka manusia aneh itu mengejarnya, saking kagetnya dia sampai bergulingan beberapa kali diatas tanah.
Ternyata bayangan tubuh itu terbanting persis disamping tubuhnya, orang itu tidak lain adalah si Rase kemala Yo Kun.
"Kenapa kaupun terlempar keluar...."
Tanya Lu Pin terkesap. Yo Kun menghela napas panjang, sahutnya.
"Bangsat ini sangat lihay, kecepatan geraknya melebihi setan, belum sempat aku melihat jelas tahu-tahu...."
Belum selesai dia bicara, kembali terlihat sesosok bayangan tubuh terlempar ke udara, kali ini yang dilempar keluar adalah si raja bengis bertenaga sakti Siang Ji-yu.
Suto Siau sekalian mulai kuatir dengan keselamatan mereka, perasaan ngeri dan takut mulai mencekam perasaan masing-masing, mereka tidak menyangka kalau manusia aneh itu mampu melempar keluar empat jago tangguh dari dunia persilatan dalam waktu singkat.
Sementara itu dua orang wanita bercadar hitam tadi telah mundur ke sudut ruangan, tapi obat penawar racun itu belum ditelan, tampaknya dia sedang berunding masalah itu dengan beberapa orang wanita lainnya.
Sambil tersenyum manusia aneh itu berseru.
"Kenapa kalian berdua tidak segera menelan obat penawar racun itu? Jangan-sampai gagal masuk ke lingkungan dewi akhirnya malah terjerumus ke liang iblis...."
Seorang wanita bercadar dengan perawakan tubuh paling kecil dan pendek, tiba-tiba mengambil kotak itu sambil tampil ke depan, katanya.
"Kau anggap para dewi dari perguruan Ong bo (ibu suri) gampang mati karena keracunan!"
Nada suara orang ini jauh lebih dingin, kaku dan keras ketimbang dua orang rekannya, bahkan sama sekali tidak berperasaan. Agak berubah paras muka manusia aneh itu, serunya.
"Jadi kalian enggan...."
"Betul, kami enggan menerima kebaikanmu!"
Tukas perempuan kecil pendek itu sambil membuang kotak tadi ke lantai kemudian berjalan balik ke rombongannya tanpa melirik sekejap pun ke arah manusia aneh itu.
Thiat Tiong-tong merasa hatinya tergerak setelah menyaksikan gerak-gerik yang aneh dari kawanan perempuan itu, khususnya setelah mendengar sebutan "thian"
Dan "Dewi"
Yang mengandung unsur tahyul. Pikirnya dengan hati terkejut bercampur girang.
"Jangan-jangan mereka adalah para jago yang pernah disinggung dalam Bi hay hu...."
Mendadak terasa pandangan mata jadi kabur, kembali ada empat sosok bayangan manusia yang terlempar masuk satu demi satu dan bertumpukkan menjadi satu.
Tampak ke empat orang itu tergeletak tanpa bergerak maupun bersuara, mereka tidak lain adalah si Rase kemala sekalian.
"Siapa?"
Bentak manusia aneh itu dengan wajah berubah.
"Sebelum kami tiba, siapa pun dilarang keluar dari sini!"
Seseorang menyahut dengan suara yang aneh, suara itu seakan wujud seakan pula tidak berwujud.
"Kalau memang sudah datang, kenapa tidak segera masuk?"
Hardik manusia aneh itu. Siucay muda yang selama ini hanya duduk diatas bangku batu itu tiba-tiba tertawa dingin, katanya sepatah demi sepatah berkata.
"Kalau saatnya telah tiba, tentu saja mereka akan masuk"
"Siapa pula kau?"
Tegur manusia aneh itu.
Pemuda siucay itu hanya membalikkan biji matanya tanpa menjawab, kelihatannya manusia aneh itu ingin bertanya lebih lanjut, tapi pada saat yang bersamaan dari luar pintu kembali muncul serombongan manusia.
BAB 20 Sukma Terbang Nyawa Buyar Waktu itu, keadaan para jago sudah macam burung yang ketakutan oleh suara busur, begitu mendengar suara langkah manusia, serentak mereka berpaling dengan perasaan kebat kebit.
Ternyata rombongan manusia yang muncul kali ini adalah kawanan gadis anak buah manusia aneh itu.
Tampaknya manusia aneh itupun sedikit tercengang melihat kemunculan mereka, baru saja akan menegur Yin Gi, begitu berpaling dia menjumpai kalau dua bersaudara Yin ternyata sudah kabur dari situ.
Perginya dua bersaudara Yin dan munculnya kawanan gadis yang tertawan merupakan peristiwa yang diluar dugaan siapa pun, hal ini menunjukkan kalau peristiwa itu berkembang semakin aneh dan penuh misterius.
Kawanan gadis itu muncul dengan rambut awut-awutan tidak karuan, pakaian lusuh dan wajah pucat pias bagaikan mayat, bahkan sorot mata mereka yang semula jeli pun kini kelihatan buram seperti orang blo'on.
Begitu melihat mimik muka kawanan gadis tersebut, dengan wajah berubah manusia aneh itu segera berseru.
"Kiu yu in hong! (angin dingin sembilan sukma)"
Begitu mendengar teriakan tersebut, perempuan bercadar hitam yang berada disitupun nampak bergetar keras tubuhnya. Tiba-tiba siucay muda itu mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, katanya.
"Hahahaha.... ternyata kau cukup berpengalaman, dalam sekilas pandang sudah mengenali ilmu simpanan perguruan kami!"
"Apa hubunganmu dengan Hong Lo-su?"
Bentak manusia aneh itu lagi.
"Kurang ajar!"
Umpat siucay muda itu dengan gusar.
"berani amat kau sebut nama guruku, hmm! Tidak nyana nyalimu cukup besar!"
Manusia aneh itu segera menghentakkan kakinya berulang kali, sambil menarik Li Lok-yang, katanya serius.
"Saudara Li, kau harus segera mundur dari sini, kawanan gadis itu sudah tertiup buyar sukmanya oleh ilmu Kiu yu in hong, kini kesadaran mereka sudah hilang, jangan lagi terhadapmu, aku pun bisa jadi akan mereka lukai"
Bergidik hati Li Lok-yang mendengar perkataan itu, jeritnya tertahan.
"Kiu yu in hong? Tertiup buyar sukmanya...."
Belum selesai dia bergumam, tiba-tiba dari tengah udara telah berkumandang suara yang sangat aneh.
"Terlambat! Terlambat sudah! Tidak ada yang bisa lolos.... tidak ada yang bisa kabur...."
Paras muka manusia aneh itu kelihatan semakin tegang, baru saja dia dorong Li Lok-yang dan Li Kiam-pek masuk ke balik pintu di mana Thiat Tiong-tong sedang menyembunyikan diri, kawanan gadis itu sudah mulai menggerakkan tubuhnya.
Li Lok-yang berdua kelihatan agak tertegun juga ketika menyaksikan kehadiran Sui Leng-kong di tempat itu, namun mereka berempat sama sekali tidak berbicara karena perhatiannya segera tersedot oleh kejadian yang sedang berlangsung diluar sana.
Tampak belasan gadis itu sudah mulai bergerak mengepung manusia aneh itu, walaupun kesadaran mereka telah hilang namun serangan yang dilancarkan tetap ganas, keji dan mematikan, malahan mereka lebih banyak menyerang daripada bertahan, seakan-akan sudah tidak ambil perduli lagi dengan keselamatan diri.
Karena jurus nekad mereka, otomatis muncul banyak kelemahan di antara gerak serangannya, tapi manusia aneh itu merasa sayang dan kasihan untuk turun tangan keji, mana mungkin dia tega membunuh kawanan gadis yang selama ini disayanginya?
Oleh sebab itulah kendatipun dalam jurus serangannya kawanan gadis itu banyak memperlihatkan titik kelemahan, dia hanya bisa menghela napas sambil mengabaikan kesempatan baik itu, tidak heran kalau dalam waktu singkat dia sudah dibikin kalang kabut oleh kerubutan itu.
Saat itu walaupun suara yang bergema di udara telah berhenti, namun sebagai gantinya muncul suara suitan yang terkadang muncul terkadang hilang, suara itu mengalun semakin mendekat dan nadanya bagaikan jeritan serta tangisan setan.
Perempuan pendek kecil yang menonton jalannya pertarungan itu tiba-tiba membentak nyaring.
"Kenapa kau masih menyayangi nyawa perempuan-perempuan itu? Memangnya kau sudah bosan hidup?"
Manusia aneh itu menghela napas panjang, dengan cepat dia menotok roboh seorang gadis, tapi kawanan gadis lainnya seakan sama sekali tidak melihat, mereka masih menerjang ke depan tanpa memperdulikan keselamatan sendiri.
"Mari kita turun tangan!"
Bentak perempuan kecil pendek itu tiba-tiba. Dengan kening berkerut siucay muda itu segera menghadang dihadapan mereka, tegurnya dengan nada dingin.
"Sisa sukma yang gentayangan di angkasa belum pupus, tidak seorang manusiapun didunia ini yang boleh mencampurinya!"
"Kecuali utusan dari Langit, siapa pun dilarang mencabut nyawanya"
Tukas perempuan bercadar itu cepat.
Begitu mereka berdua berdiri saling berhadapan, masing-masing pihak segera merasakan hawa dingin yang memancar keluar dari tubuh lawannya.
Mendadak dari kejauhan berkumandang suara pekikan nyaring bagaikan pekikan burung hong yang segera membuyarkan suara jeritan tangis macam teriakan setan itu.
"Aaah datang sudah!"
Pekik perempuan bercadar itu tanpa sadar, meski tidak nampak perubahan mimik mukanya namun dapat ditangkap nada girang dibalik ucapan tersebut.
"Hong Lo-su, mau apa kau datang kemari?"
Terdengar suara yang merdu bagai pekikan burung hong itu menegur.
"Dimana angin dingin dari sembilan sukma datang menyatroni, tentu saja akan ada nyawa yang terbang dan sukma yang buyar!"
Sahut suara seperti tangisan setan itu sepatah demi sepatah, meski diucapkan sangat lambat namun kedengaran amat menyeramkan.
"Kau tidak boleh mengusik orang yang berada disini"
"Siapa datang duluan, dia yang berhak turun tangan, siapa datang belakangan, dipersilahkan segera angkat kaki!"
"Kalau begitu kau ingin menjajal kemampuanku?"
Pembicaraan kedua orang itu seolah datang dari atas awan, membuat siapa pun yang mendengar tidak bisa membedakan suara tersebut berasal dari kejauhan atau dari tempat yang dekat.
Setelah berhenti sesaat, terdengar suara lengking seperti tangisan setan itu kembali berkumandang.
Walaupun berasal dari satu sumber namun kedengaran seolah datang dari empat arah delapan penjuru.
Tiba-tiba terdengar pekikan nyaring bergema menembusi angkasa, namun suara tangisan setan itu masih bergema tiada hentinya.
Dua macam suara itupun bergema silih berganti, bukan saja menggema di seluruh angkasa bahkan membuat siapa pun merasakan hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.
Manusia aneh itu memandang sekejap sekeliling ruangan, tiba-tiba tubuhnya berputar kencang, bagaikan sebuah kincir angin dia menembusi angkasa, melepaskan diri dari kepungan para gadis dan melesat ke luar pintu gerbang.
Belum lagi tubuhnya hinggap di tanah, bentaknya lirih "cepat ikut aku!"
Tanpa berpikir panjang Thiat Tiong-tong sekalian segera mengintil di belakangnya, menelusuri jalanan yang berliku-liku dan melewati berlapis-lapis pintu gerbang tebal.
Setiap kali sehabis mereka melewati pintu gerbang itu, si manusia aneh tadi segera menekan sebuah tombol rahasia, sebuah lapisan batu cadas yang amat besar dan berat pun seketika menutup jalan lewat.
Dari sikap gugup, gelagapan dan panik yang diperlihatkan manusia aneh itu, Thiat Tiong-tong sadar bahwa musuh yang munculkan diri tentu merupakan musuh dengan kungfu yang luar biasa hebatnya.
Tidak tahan iapun bertanya.
"Apakah yang datang adalah orang orang dari Bi hay hu?"
"Dari mana kau tahu?"
Tanya manusia aneh itu tertegun. Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, belum sempat mengucapkan sesuatu tiba-tiba manusia aneh itu berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Kau anggap aku benar-benar takut menghadapi mereka? Hmmm, hmmm, siapa pun yang bakal datang, aku tidak bakal takut"
"Kalau memang tidak takut, kenapa mesti kabur?"
Tanya Sui Leng-kong. Sekali lagi manusia aneh itu menghela napas sedih, ujarnya.
"Kenapa lagi kalau bukan demi kau"
"Kabur demi aku?"
Sui Leng-kong semakin keheranan.
"Walaupun aku tidak takut menghadapi mereka, tapi kepandaian silat yang dimiliki orang itu kelewat tangguh, untuk menjaga ke selamatan-ku sendiri mah tidak masalah, tapi aku tahu dari kelompok yang datang saat ini paling tidak ada sebagian orang yang datang demi kalian berdua, kalau sampai waktu itu ada orang hendak mencelakaimu, apa dayaku?"
Tiba-tiba serunya lagi dengan suara keras.
"Bagaimana pun kalian adalah tamuku, sekalipun aku mesti mati karena tidak sanggup menghadapi mereka, tidak akan kubiarkan orang lain melukai kalian, itulah sebabnya terpaksa aku harus membawa kalian menuju ke tempat yang aman lebih dulu!"
"Aaah, tidak kusangka ternyata kau adalah orang baik"
Sui Leng-kong menghela napas panjang.
"terima kasih banyak.... tapi sekarang, sekeliling tempat ini sudah terkepung rapat, memangnya masih ada tempat lain yang aman?"
"Tentu saja ada, disinilah tempatnya"
Menengok tempat yang dituding orang itu, tanpa terasa semua yang hadir jadi tertegun.
Rupanya mnusia aneh itu telah membawa mereka balik ke ruang gedung semula, sementara tempat yang ditunjuk tidak lain adalah pintu hitam di antara delapan pintu warna-warni lainnya.
Menduga dibalik pintu tersebut tentu tersedia pelbagai alat jebakan dan alat rahasia, semua orang mulai merasa sedikit agak lega.
Tiba di depan pintu berwarna hitam itu, mimik muka manusia aneh itu berubah jadi amat serius, langkahnya semakin diperingan, dengan sikap yang amat menghormat dia menyingkap tirai di depan pintu dan masuk ke dalam.
Ternyata dibalik tirai itu merupakan sebuah pintu yang terbuat dari batu cadas, pintu itu pelahan-lahan bergerak naik ke atas, kalau didengar dari suaranya, dapat diduga kalau batu cadas itu beratnya luar biasa.
Ketika semua orang menyaksikan apa yang terbentang dibelakang pintu batu itu, sekali lagi mereka dibuat tercekat.
Ternyata dibelakang pintu batu terbentang sebuah lorong batu yang panjangnya berapa meter, diujung lorong merupakan sebuah kolam yang lebar dengan gemercik air yang lirih.
Sejauh mata memandang, air dalam kolam iu berwarna hijau muda dengan disekelilingnya tumbuh aneka pepohonan, sebuah pemandangan alam yang sangat indah.
Tapi begitu berjalan mendekat, semua orang baru tahu kalau kolam air itu luasnya hanya belasan meter, adapun pepohonan hijau yang berada disekelilingnya tidak lebih hanya lukisan yang ditempelkan di atas dinding sekeliling sana, lukisan itu sedemikian hidupnya sehingga ketika dipandang dari kejauhan, orang akan mengira mereka berada disebuah tanah pegunungan yang indah.
Diatas kolam yang sejuk dengan air yang jernih itu terlihat beberapa ekor angsa sedang berenang dengan santainya, selain itu tampak pula sebuah sampan kecil yang mengapung diatas permukaan, sekeliling sampan tertutup oleh kain sutera berwarna hitam sehingga sulit bagi orang luar untuk melihat jelas keadaan dalam sampan tersebut.
Yang terlihat hanya kepulan asap dupa berbau harum yang menyebar keluar dari balik kain sutera dan menyebar kemana-mana, bau harum semerbak yang membuat suasana disana lebih mirip dengan sebuah nirwana.
Kalau tadi semua orang dicekam dalam suasana tegang dan penuh dengan hawa pembunuhan, maka sekarang yang tampak justru ketenangan dan kelegaan, membuat semua orang mabuk kepayang, terbuai oleh keadaan yang mengesankan.
Dalam pada itu manusia aneh tadi sudah menjatuhkan diri berlutut, wajahnya nampak amat hormat dan serius, setelah menyembah berapa kali ujarnya perlahan.
"Ananda memberi hormat kepada ibu"
Sementara semua orang masih keheranan menyaksikan sikap hormat orang itu, ucapannya semakin membuat semua orang terperangah, pikirnya tanpa terasa.
"Ternyata dia masih mempunyai seorang ibu.... tapi kenapa ibunya berdiam di tempat yang begitu terpencil dan rahasia?"
Dari balik kain sutera yang mengelilingi sampan itu terdengar suara seorang wanita bertanya.
"Ooh, kau telah datang? Mau apa datang kemari?"
Nada suaranya begitu halus, lembut dan sedap didengar, jauh lebih lembut ketimbang suara Un Tay-tay, lebih menawan daripada suara Sui Lengkong, sedikitpun tidak terkesan suara seorang ibu terhadap putranya.
Sekali lagi semua orang tercengang, coba kalau manusia aneh itu tidak memanggilnya "ibu", dapat dipastikan semua orang akan menyangka perempuan yang berada disampan itu adalah seorang nona muda dan bukan ibu kandungnya.
Dengan cepat manusia aneh itu berkata.
"Sebenarnya ananda tidak berani datang mengusik kau orang tua, tapi...."
"Delapan belas tahun berselang kau telah bersumpah, sebelum mencapai kesuksesan kau tidak akan menginjak lagi sampan ini dan bertemu denganku, masa kau sudah lupa?"
Ujar perempuan itu dingin.
"Tapi hari ini ananda harus berjumpa dengan ibu karena...."
Kembali perempuan dalam sampan itu menukas sambil tertawa dingin.
"Sewaktu aku mengangkat sumpah, kalian ayah beranak toh sudah tahu kalau aku akan mulai melatih ilmu sinkang ini dan sejak itu sulit bertemu lagi dengan kalian berdua, tapi waktu itu kalian berdua sedang asyik-asyiknya menjadi kesenangan diluaran, main perempuan ke sana kemari, karena kuatir kehadiranku akan meng-halangi ulah kalian maka siapa pun enggan mencegah aku! Khususnya bapakmu, dia secara khusus mendirikan tempat latihan bagiku disini, kelihatannya saja dia kuatir aku kesepian di saat sedang berlatih diri, padahal...."
"Ibu, disini hadir orang luar"
Tukas manusia aneh itu rikuh. Tapi perempuan dalam sampan itu seakan tidak mendengar, lanjutnya.
"Padahal dia ingin secepatnya menyingkirkan aku, agar ulahnya diluar tidak terganggu...."
Tampaknya sudah lama perempuan itu memendam perasaan hatinya sehingga begitu diutarakan, semua perkataan mengalir keluar bagaikan gulungan arus sungai, membuat semua orang melongo dan terbungkam dalam seribu bahasa.
Dengan wajah masam manusia aneh itu berseru.
"Ibu, waktu itu kau bertekad ingin mempelajari lmu sakti itu, meski ananda sadar bahwa hal ini tidak gampang namun ananda tidak berani menghalangi niat ibu...."
"Jika dulu tidak menghalangi aku, mau apa hari ini datang menjumpai aku?"
Tukas perempuan dalam sampan itu.
"Hari ini ananda sedang dirundung masalah besar, karena itu ananda ingin meminjam tempat tinggal kau orang tua untuk menghindari musibah ini, kalau tidak, mungkin hari ini ananda...."
"Kalau tahu bakal begini, kenapa berbuat tidak senonoh dimasa lalu"
Tukas perempuan itu sambil tertawa dingin.
"aku percaya inilah hutang yang dibuat oleh kalian ayah beranak dimasa lalu hingga sekarang mereka berdatangan kemari untuk menagih hutang, bukan begitu?"
Manusia aneh itu menunduk rendah tanpa menjawab.
"Tapi siapa sih yang telah datang? Kenapa membuat kau ketakutan? Sungguh aneh"
Kembali perempuan itu berkata.
"Yang datang adalah Coh Sam-nio dan Hong Lo-su, ibu, sekalipun kau enggan menolongku, masa akan kau biarkan mereka berdua bertindak semena-mena dihadapanmu?"
"Apa? Coh Sam-nio dan Hong Lo-su?"
Perempuan dalam sampan itu berseru kaget.
Kalau didengar dari nada suaranya, tampak kalau perempuan yang sudah lama menutup diri ini tergerak hatinya setelah mendengar kedua nama itu, lamat-lamat paras muka manusia aneh itu kelihatan kegirangan.
Lewat lama kemudian terdengar perempuan dalam sampan itu berkata lagi dengan nada perlahan.
"Aku yang hidup seorang diri disini sudah matikan perasaan, sekalipun seluruh anggota Bi hay-hu datang kemaripun, hatiku tidak bakal tergerak, pergilah kau dari sini!"
Biarpun dia berbicara dengan suara lambat, namun nadanya menunjukkan kalau dia sama sekali tidak tergerak hatinya.
Agaknya manusia aneh itupun tahu kalau keputusan ibunya sudah bulat dan tidak mungkin bisa dirubah lagi, perasaan kecewa bercampur sedih melintas diwajahnya, sambil bangkit berdiri ujarnya.
"Kalau memang begitu, ananda mohon diri!"
Semua orang yang hadir bukan orang bodoh, dari pembicaraan antara ibu beranak itu mereka segera dapat menyimpulkan bahwa perempuan itu dimasa lalu pasti pernah merasa sakit hati karena melihat ulah suami dan putranya yang bermain wanita dimana-mana, dalam keputus asaan diapun memutuskan untuk melatih sejenis ilmu silat yang amat sulit.
Dari sini dapat disimpulkan juga bahwa dimasa lampau perempuan ini tentu mempunyai nama dan kedudukan yang tinggi didalam dunia persilatan, buktinya manusia macam Coh Sam-nio dan Hong Lo-su pun menaruh perasaan segan terhadapnya.
Melihat perempuan itu menolak permintaan putranya meski tahu kalau mara bahaya sedang mengancam, kembali semua orang menghela napas panjang, mereka merasa sikap perempuan itu kelewat tega.
Hanya Sui Leng-kong seorang yang tidak tahan untuk menghela napas sedih, karena tanpa terasa dia terbayang kembali masa kesepian yang dialaminya hampir delapan belas tahun, karena dia tahu betapa tersiksanya rasa kesepian, betapa menderitanya hidup seorang diri.
Kebetulan Thiat Tiong-tong sedang berpaling memandang ke arahnya, dengan cepat pemuda itupun dapat menyelami perasaan hatinya saat itu.
Kembali ke ruang utama, paras muka semua orang nampak murung dan berat, tidak tahan Li Lok-yang berkata sambil menghela napas.
"Bukan siaute banyak mulut, tabiat ibumu benar-benar kelewat aneh"
Tidak menunggu manusia aneh itu menjawab, dengan suara berat Thiat Tiong-tong telah menyela.
"Jika saudara Li pernah merasakan betapa tersiksa dan menderitanya hidup seorang diri, tidak mungkin kau akan mengucapkan perkataan itu!"
Dengan pandangan terharu dan penuh rasa terima kasih, Sui Leng-kong memandang sekejap ke arah pemuda itu. Sekonyong-konyong terdengar suara Hong Lo-su kembali berkumandang.
"Coh Sam-nio, kita berdua tidak usah saling berebut lagi, bagaimana kalau kita bicarakan tentang pertukaran syarat?"
"Apa syaratmu, cepat katakan!"
Seru Coh Sam-nio dengan suaranya yang merdu bagaikan burung hong.
"Semua perempuan yang hadir disini boleh kau bawa pergi, sementara yang lelaki tinggalkan untukku"
Sebelum Coh Sam-nio menjawab, kembali Hong Lo-su berkata lebih jauh.
"Kalau kita berdua mesti bertarung lagi, paling tidak kau maupun aku mesti bertarung hampir delapan sampai sepuluh tahun, apa gunanya?"
"Bagaimana dengan kawanan gadis yang sudah dibuat sinting olehmu?"
"Aku bertanggung jawab untuk membuatnya tersadar kembali"
"Baik! kita putuskan begitu saja"
Walaupun terhalang oleh dinding ruangan yang sangat tebal, ternyata suara pembicaraan ke dua orang itu masih mampu menembusinya, bahkan terdengar amat jelas, kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki ke dua orang tokoh persilatan itu kontan saja membuat semua jago saling berpandangan dengan hati tercekat.
Setelah menghela napas, ujar manusia aneh itu.
"Bila mereka berdua bertarung duluan, kita bisa menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasil, siapa tahu.... aaai, kenapa watak mereka berdua bisa berubah banyak!"
Tiba-tiba terdengar Hong Lo-su berseru sambil tertawa.
"Hey Siau hong liu (tukang pemogoran cilik), kau tidak usah duduk tenang sambil menonton harimau berkelahi, lebih baik tampilkan dirimu, memandang diatas wajah ayah ibumu, locu tidak akan menyusahkan kau!"
"Kalau mampu masuklah sendiri, kami akan menunggu kedatangan mu!"
Tantang manusia aneh itu dengan lantang. Suara teriakannya nyaring dan jelas, tajam bagaikan emas yang menembusi batu cadas. Hong Lo-su segera tertawa tergelak.
"Hahahaha.... kau sangka locu tidak mampu masuk?"
Tiba tiba bentaknya.
"Sin hu lek si (kapak sakti bertenaga kuat) ada dimana?"
"Siap!"
Seseorang segera menyahut. Jawaban itu diucapkan dengan suara bagaikan guntur, membuat kendang telinga semua orang bergetar dan mendengung keras.
"Ngo ting-kay-san siap membantu, hancurkan lapisan batu itu hingga remuk berkeping!"
"Baik!"
Menyusul kemudian terdengar suara getaran keras bergema diseluruh ruangan, tampaknya Sin-hu-lek-si dan Ngo-teng-kay-san, dua orang anak buah Hong Lo-su yang bertenaga raksasa mulai turun tangan membongkar lapisan batu cadas, tidak lama kemudian lapisan pintu batu pertama berhasil dihancurkan.
"Apakah masih ada jalan lewat di belakang sana?"
Tanya Li Lok-yang dengan kening berkerut.
"Bangunan ini dibangun dengan bersandar pada bukit, kecuali kita memiliki ilmu menembus batu karang, kalau tidak.... aaai, kalau tidak meski punya sayap pun sulit untuk melewatinya!"
Li Lok-yang termangu berapa saat lamanya, kemudian sambil menatap wajah Li Kiam-pek dan menghela napas, katanya.
"Aaai, tidak seharusnya kuajak kau datang kemari!"
"Ayah yang tidak seharusnya datang kemari!"
Sela Li Kiam-pek cepat.
Ayah dan anak berdua itu saling menguatirkan keselamatan lawannya sehingga keselamatan sendiri malah terabaikan.
Thiat Tiong-tong sendiripun sambil menatap wajah Sui Leng--kong katanya sedih.
"Adikku, kau...."
"Aku tak mau menjadi adikmu"
Tukas Sui Lengkong sambil menggeleng dan tertawa pedih. Jawaban tersebut membuat Thiat Tiong-tong tertegun, serunya tertahan.
"Ke.... kenapa?"
"Karena aku ingin menjadi istrimu, bukan jadi adikmu!"
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya jadi kecut, bisiknya.
"Tapi...."
Sebenarnya dia ingin bilang kalau Thian telah menakdirkan mereka tidak bisa jadi suami istri maka siapa pun tidak dapat merubah suratan tersebut, namun terbayang bagaimana saat itu mereka sedang menghadapi kesulitan, apa gunanya menyakitkan hati si nona lagi, maka dia pun menutup rapat mulutnya.
Namun dihati kecilnya dia segera mengambil keputusan, apabila mereka masih bisa keluar dari situ dalam keadaan selamat maka dia harus menyingkir jauh-jauh, agar tali cinta mereka berdua tidak terikat semakin mendalam yang pada akhirnya susah dicabut kembali.
Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berkata dengan nada dingin.
"Kalau dilihat dari situasi sekarang, tampaknya bukan saja kau gagal menjadi adiknya, apalagi menjadi bininya!"
Sementara itu suara batu cadas yang dibongkar orang terdengar makin lama semakin mendekat, diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas sedih, dia sadar apa yang diucapkan memang bukan perkataan bohong.
Mendadak terdengar Li Kiam-pek berseru sambil membusungkan dada.
"Masa dengan tenaga gabungan kita berlima pun masih tidak sanggup menghadapi mereka?"
"Kalau manusia semacam kau mah biar ditambah lima puluh orang lagi juga tidak bakal mampu menahan setengah jurus serangan lawan!"
Sahut manusia aneh itu dingin.
"Kau...."
Dengan perasaan tersinggung Li Kiam-pek membentak. Tapi belum sempat mengucapkan sesuatu, lagi-lagi dia sudah ditarik ayahnya. Sambil menghela napas ujar Li Lok-yang kemudian.
"Sebenarnya siapa yang telah datang? Kenapa begitu lihay? Apa yang dinamakan orang orang dari Bi hay hu?"
Pertanyaan itu persis seperti apa yang ingin diketahui oleh Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong, sudah berapa kali mereka ingin melontarkan pertanyaan itu namun tidak juga ada kesempatan, maka saat ini mereka segera pasang telinga dan mendengarkan dengan seksama.
Manusia aneh itu menghela napas panjang, katanya.
"Dari luar sampai disini semuanya terdapat sebelas buah pintu batu cadas, sampai sekarang mereka masih belum berhasil menjebol enam lapis pintu, mumpung masih ada waktu, baiklah, akan kuterangkan sedikit asal usul dari beberapa orang itu"
Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat tidak ada yang membantah maka diapun berkata lebih jauh.
"Bait pertama dari syair Bi hay hu mengisahkan tentang enam orang tokoh maha sakti yang bercokol dikolong langit saat ini...."
Biarpun Li Lok-yang ayah beranak memiliki pengetahuan yang amat luas pun kelihatannya mereka belum pernah mendengar tentang syair Bi hay hu, tanpa terasa tanyanya.
"Boleh tahu apa kata bait pertama dari syair tersebut?"
Dengan mata terpejam pelan pelan manusia aneh itu berbisik.
"Bila kau bergerak, hujan angin bagaikan kegelapan, kilat guntur jalan beriring, bila kau tenang, tubuh bersih bagai cermin, sinar hijau menyelimuti angkasa"
Sewaktu mengucapkan bait syair itu, nada suara manusia aneh itu kedengaran khusus dan menaruh hormat, mimik mukanya pun memper-lihatkan keseriusan.
"Jadi siapa saja ke enam orang tokoh sakti itu?"
Tanya Li Lokyang lagi.
"Angin, hujan, petir dan guntur, empat tokoh sakti dari dunia persilatan!"
"Bila angin, hujan, petir dan guntur melambangkan nama empat orang tokoh, berarti Hong Lo-su si angin dari keempat adalah salah satu di antaranya!"
Manusia aneh itu tertawa, ucapnya.
"Walaupun ilmu pukulan Kiu yu in hong ciang sangat beracun dan jahat, walaupun ilmu pembuyar sukmanya menakutkan, sesungguhnya Hong Kiu-yu hanya menempati urutan paling buncit di antara ke empat orang tokoh itu"
"Bagaimana dengan Coh Sam-nio?"
"Si Sambaran kilat Coh Sam-nio tiada tandingannya dalam ilmu meringankan tubuh!"
Tergerak hati Thiat Tiong-tong setelah mendengar perkataan itu, selanya.
"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan...."
"Ruyung guntur Lui Toa-bong merajai sembilan propinsi, dia menempati urutan pertama, si hujan asap Hoa Siang-soat tiada tandingan dalam ilmu senjata rahasia, dia menempati urutan ke dua"
"Berarti yang dimaksudkan peluru angin pemutus sukma adalah Hong Lo-su!"
Kata Thiat Tiong-tong lagi.
"Benar!"
Thiat Tiong-tong termenung sejenak, kemudian.
"Bila ditinjau dari bait syair yang tercantum dalam Bi hay hu, meski ke empat tokoh sakti itu sangat tangguh, namun kelihatannya mereka masih harus waspada terhadap orang yang disebut "kau"
Dalam syair itu, apakah "kau"
Disini melambangkan seseorang yang memiliki posisi amat tinggi dan ilmu silat yang jauh diatas kemampuan ke empat orang itu? Lalu siapakah tokoh maha sakti itu?"
"Hey anak muda, ternyata kau memang cerdik"
Puji manusia aneh itu sambil tertawa.
"walaupun kata "kau"
Hanya terdiri dari satu suku kata, sebenarnya dia melambangkan dua orang, seorang lelaki, seorang wanita, yang satu gerak, yang lain tenang, merekalah yang memimpin dunia persilatan selama ini"
"Boleh tahu siapa nama mereka berdua?"
Tiba-tiba paras muka manusia aneh itu berubah amat serius, katanya.
"Jit-ho (ratu siang) memiliki watak bergerak bagaikan matahari, dia suka mencampuri ketidak adilan yang ada di dunia ini, Ya-tee (kaisar malam) memiliki watak tenang, yang dia utamakan adalah keselamatan dan kenikmatan tubuh!"
Dalam pada itu suara batuan yang hancur terdengar semakin mendekat dan semakin nyaring, tapi pikiran dan perhatian semua orang sedang terhanyut oleh kisah dongeng tersebut hingga tidak seorangpun yang menggubris.
Li Lok-yang tidak kuasa menahan diri, kembali dia bertanya.
"Bila ke enam orang itu adalah tokoh paling sakti dalam dunia persilatan, seharusnya nama mereka amat tersohor dan menggetarkan kolong langit, kenapa cayhe sekalian tidak pernah mendengarnya?"
Manusia aneh itu tertawa angkuh, selanya.
"Menurut kau, bagaimana dengan ilmu silatku?"
"Ilmu silatmu tinggi bagaikan langit dan dalam bagaikan samudra, susah diukur"
"Siapa namaku?"
Tanya manusia aneh itu lagi. Li Lok-yang tertegun, sahutnya kemudian sambil menggeleng.
"Tidak tahu!"
"Nah itulah dia"
Kata manusia aneh itu kemudian dengan wajah sungguh sungguh.
"bila seseorang sudah melatih ilmu silatnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, mereka tidak butuh nama, tidak butuh kedudukan, sekalipun mereka melakukan satu pekerjaan yang menggetarkan seluruh kolong langitpun, belum tentu mereka mau mengakui nama aslinya, oleh sebab itu walaupun hasil karya mereka banyak yang menggemparkan kolong langit, namun begitu ditanya siapa nama mereka, kebanyakan umat persilatan pasti akan kebingungan dibuatnya"
"Aku rasa belum tentu begitu"
Tukas Thiat Tiong-tong tiba-tiba dengan kening berkerut.
"dulu, ketika Im dan Thiat dua orang sianseng menggemparkan sungai telaga, meski nama mereka tersohor namun kedua orang tokoh itupun bukan manusia yang mencari nama"
"Bila dunia sedang kacau, tidak mencari nama pun secara otomatis nama itu akan diperoleh dengan sendirinya"
Ucap manusia aneh itu serius.
"Im dan Thiat cianpwee hidup dimasa kekalutan, tentu saja tidak bisa kau bandingkan dengan mereka"
Mendengar dia sangat menaruh hormat terhadap leluhurnya, Thiat Tiong-tong segera merasakan gejolak perasaannya mereda kembali. Terlihat sepasang mata manusia aneh itu berkilat, kembali ujarnya.
"Sebenarnya antara orang orang Bi hay hu dan Perguruan Tay ki bun terjadi persaingan secara diam-diam, tapi semenjak Perguruan Tay ki bun kehilangan se
Jilid kitab pusakanya yang bernama Sin kang Po Iiok, anak murid generasi berikutnya mengalami kemunduran yang sangat drastis, kemerosotan pamor Perguruan Tay ki bun yang luar biasa jika dibandingkan puluhan tahun berselang membuat orang merasa sedih dan menyesal"
"Perguruan Tay ki bun pernah kehilangan se
Jilid kitab pusaka?"
Tanya Thiat Tiong-tong keheranan.
"sebagai murid perguruan, kenapa aku tidak pernah tahu tentang persoalan ini?"
Manusia aneh itu tersenyum misterius, katanya.
"Kitab pusaka ini memang sengaja dihilangkan oleh para cianpwee Perguruan Tay ki bun di masa lalu, tentu saja mereka tidak bakal mengungkit kembali kejadian itu"
Thiat Tiong-tong semakin tercengang bercampur keheranan, serunya.
"Kalau betul kitab pusaka itu berisikan pelajaran ilmu silat yang maha sakti, bagaimana mungkin para cianpwee kami sengaja menghilangkannya? Aku tidak habis mengerti"
"Tentang masalah ini...."
"Blaaaam!"
Tiba-tiba suara getaran keras berkumandang memecahkan keheningan, di antara percikan kerikil dan debu yang beterbangan di udara, pintu batu cadas lapisan terakhir telah berhasil dihancurkan orang.
Seorang lelaki kekar bertelanjang dada menyelinap masuk melalui celah pintu yang jebol itu, tapi dengan cepat dia mundur kembali ke belakang, kelihatannya raksasa itu tidak lain adalah si kapak sakti bertenaga raksasa.
Siucay muda itu menyelinap masuk duluan, setelah menengok sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya dengan angkuh.
"Guru kami empat malaikat telah menunggu di luar pintu, kenapa tuan rumah tempat ini belum juga munculkan diri guna melakukan penyambutan?"
"Kalau mau masuk, masuk saja, kalau tidak mau masuk, berdiri saja di depan pintu"
Jengek manusia aneh itu ketus.
"Kurangajar, besar amat nyalimu...."
Belum selesai teriakan siucay muda itu, dari luar pintu sudah kedengaran seseorang berkata sambil tertawa seram.
"Kau enggan keluar untuk menyambut kedatanganku, ini masih mendingan, masa Coh Sam-nio yang datang dari jauh pun tidak kau sambut kedatangannya?"
"Aku mah tidak berani disambut sendiri oleh Siau Huang-cu (Pangeran kecil)"
Suara Coh Sam-nio baru bergema, tahu-tahu segulung angin harum sudah berkelebat lewat dan sesosok bayangan hijau sudah muncul di depan mata.
Buru-buru Thiat Tiong-tong memperhatikan dengan lebih seksama, ternyata Coh Sam-nio adalah seorang perempuan kecil mungil, bertubuh ramping, lemah gemulai dan mengenakan pakaian ketat berwarna hijau dengan renda berwarna perak.
Dia tidak lebih hanya seorang perempuan lemah.
Walaupun wajahnya sudah dimakan usia, namun tidak menutup sisa kecantikannya dimasa lampau, khususnya sepasang biji matanya yang bening dan tajam bagai sambaran petir.
Ketika menengok lagi orang yang berada di belakangnya, ternyata orang itu memiliki perawakan tubuh yang kurus kering, jangkung bagaikan sebuah gala bambu, mukanya kurus tinggal tulang belulang yang dibungkus kulit, persis seperti wajah tengkorak.
Sewaktu berdiri di belakang Coh Sam-nio, ketinggian tubuhnya ternyata satu kali lipat dari perempuan itu, dia mengenakan sebuah jubah yang lebar dan longgar.
Semua orang tahu, lelaki ceking ini tidak lain adalah Kiu yu im hong khek yang amat tersohor itu, sehingga tanpa terasa mereka pandang wajahnya lebih lama.
Siapa tahu masih mendingan kalau tidak dipandang, begitu diperhatikan lebih seksama maka semua orang segera merasakan pancaran kekuatan yang menghisap sorot mata mereka, membuat semua orang susah untuk mengalihkan kembali perhatiannya ke arah lain.
"Ooh, kalian berdua sudah datang"
Kata manusia aneh itu kemudian.
"baik, silahkan duduk!"
Tiba-tiba dia berjalan ke hadapan Thiat Tiong-tong sekalian, mengebaskan lengan bajunya dan memisahkan mereka dari sorot mata lawan.
Pada saat itulah Thiat Tiong-tong sekalian baru bisa menghembuskan napas lega, cepat mereka geser pandangan matanya ke arah lain dan tidak berani memandang lagi ke arahnya.
Sewaktu ke empat orang itu saling bertukar pandangan, terlihat peluh dingin telah membasahi jidat masing-masing.
Terdengar Hong Kiu-yu berkata sambil tertawa seram.
"Ada apa? Kau takut kuhisap nyawa dari beberapa orang itu? Hehehehe.... ayohlah, pandang aku sekejap lagi"
"Hong Lo-su, kau terlalu tidak tahu sopan santun"
Sela Coh Sam-nio sambil tertawa.
"siau Hong-cu, harap kau jangan gusar"
Sekali lagi semua orang merasakan hatinya tergerak setelah mendengar manusia aneh itu disebut Siau Huang-cu (pangeran cilik), pikir mereka hampir berbareng.
"Jangan-jangan manusia aneh ini adalah putranya Ya-Tee sang kaisar malam?"
Terdengar Coh Sam-nio berkata lebih jauh.
"Belakangan kian hari aku merasa semakin malas, sebetulnya aku tidak berniat keluar rumah, tapi akhir-akhir ini Jit ho nio nio mendadak mengundangku, katanya terakhir ini kau sering mempermainkan kaum wanita dan dia minta aku membantunya untuk mencabut nyawamu, terpaksa akupun kemari, siapa tahu Hong Lo-su bersikeras ingin berebut denganku, terpaksa aku pun memberi kesempatan kepadanya untuk membunuhmu terlebih dulu!"
Meskipun sedang membicarakan soal pembunuhan, nada suara perempuan ini tetap tenang, lembut dan kedengaran sangat halus.
Tampaknya manusia aneh itu sama sekali tidak dibuat gusar, malah katanya sambil tersenyum.
"Kalau memang Jit ho Nio nio menitahmu untuk membunuhku, masa kau malah mengalah untuk orang lain? Tidak kuatir dikemudian hari kau yang dibunuh Jit ho Nio nio?"
Coh Sam-nio kembali tertawa.
"Sebenarnya aku pun enggan mengalah, tapi berapa orang dewi anak buah Jit ho Nio nio telah berdatangan semua, untuk selamatkan nyawa berapa orang nona cilikmu serta nyawa dari setan perempuan, terpaksa mereka harus bertukar syarat dengan Hong Lo-su. Sekarang, biar kau sodorkan tengkukmu dihadapanku pun tidak nanti aku akan membunuhmu, kedatanganku kali ini hanya ingin menonton keramaian saja"
Setelah mencari tempat duduk, sepasang matanya yang jeli mengawasi terus tubuh Sui Lengkong tanpa berkedip.
"Padahal aku sendiripun tidak ingin menjagalmu"
Ujar Hong Lo-su pula.
"kedatanganku hanya ingin minta berapa orang dari tanganmu"
Lalu sembari menggapai katanya lebih jauh.
"Kemari kau!"
Siucay muda itu segera berjalan mendekat dengan sikap yang sangat hormat.
"Siapa saja yang kau inginkan, cepat beritahu kepadanya!"
Perintah Hong Lo-su lebih jauh. Dengan suara lantang siucay muda itu berseru.
"Yang kami inginkan adalah Thiat Tiong-tong, Sui Lengkong...."
Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap, pikir-nya keheranan.
"Aneh, ternyata kedatangan Hong Lo-su benar benar lantaran urusan kami berdua, jangan jangan gembong iblis inipun telah dibeli oleh Suto Siau sekalian?"
Sewaktu manusia aneh tadi memberitahukan kepadanya bahwa kedatangan semua orang hari ini lantaran dia dan Sui Leng-kong, pemuda itu masih tidak percaya, dia sangka ucapan tersebut hanya bertujuan untuk merebut simpatik Sui Leng-kong.
Tapi sekarang dia benar-benar percaya, bahkan selain keheranan, hatinya pun amat tercekat.
Terdengar siucay muda itu berkata lebih jauh.
"Kecuali mereka berdua, masih ada seorang lagi yang mengenakan pakaian pengantin!"
Sekali lagi semua orang dibuat tercengang, siapa pula orang yang mengenakan pakaian pengantin itu?"
Tampak manusia aneh itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, belum sempat mengucapkan sesuatu, Coh Sam-nio dengan wajah berubah hebat telah bangkit berdiri seraya berkata.
"Tunggu dulu, orang yang mengenakan pakaian pengantin itu tidak boleh diserahkan kepadamu"
"Aneh, sungguh aneh"
Hong Lo-su segera bergumam.
"mana ada orang yang datang menonton keramaian ikut mencampuri urusan orang"
"Urusan lain boleh saja tidak kucampuri tapi masalah ini aku tetap akan mencampurinya"
Mendadak manusia aneh itu tertawa terbahak bahak, selanya.
"Hahahaha.... mencampuri atau tidak, yang jelas jangan harap kalian bisa membawa pergi ke tiga orang ini"
Dengan cepat dia melintangkan tubuhnya dihadapan Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong. Hong Lo-su tertawa seram, serunya.
"Kau bersedia atau tidak, ke tiga orang itu tetap harus kau serahkan kepadaku!"
Tiba-tiba bentaknya.
"Mana si kapak sakti bertenaga raksasa?"
"Siap!"
Suara keras bagaikan geledek bergema dari luar pintu.
Bersama dengan bentakan itu, seorang lelaki tinggi besar telah muncul dengan langkah lebar.
Langkah kakinya sangat bebal dan kaku, persis seperti langkah seekor gorilla, ketika berjalan di antara Suto Siau sekalian, sepasang tangannya segera direntangkan ke samping.
Kawanan jago yang tersampok tangannya pun seketika roboh bertumbangan keempat penjuru, tapi Sin hu Lek su seakan tidak melihat, dia masih melangkah maju dengan bebal.
Ditangannya dia memegang sebuah kapak raksasa dengan gagangnya sepanjang dua meteran dan mata kapak sebesar roda kereta, tidak jelas berapa bobotnya, tapi yang jelas sewaktu bergesek dengan lantai batu, percikan bunga api segera memancar keempat penjuru.
Sambil menuding ke arah Thiat Tiong-tong kembali Hong Lo-su memberi perintah.
"Tangkap dulu orang itu!"
Selama ini Thiat Tiong-tong tidak berani menatap mata setan dari Hong Lo-su, setelah mendengar ucapan tadi dia baru mendongakkan kepalanya, tapi begitu melihat wajah si kapak sakti, mendadak anak muda itu menjerit keras.
"Ada.... ada apa?"
Dengan hati tercekat Sui Lengkong bertanya.
Thiat Tiong-tong seolah tidak mendengar pertanyaan itu, sepasang matanya menatap wajah lelaki raksasa itu tanpa berkedip, terdengar dia berbisik dengan nada gemetar.
"Paman Sim, ke... kenapa bisa kau?"
Siapa pun tidak menyangka kalau si kapak sakti yang diandalkan Hong Lo-su ternyata tidak lain adalah si lelaki bertelanjang kaki yang membawa panji sakti dari Perguruan Tay ki bun.
Dalam terkejutnya, tanpa berpikir panjang lagi Thiat Tiong-tong menerobos maju ke depan menyongsong kedatangannya, dengan nada bergetar sapanya.
"Paman Sim, kenapa kau pun berada disini? Janganjangan...."
Waktu itu si kapak sakti sedang mengawasi wajah pemuda itu tanpa berkedip, belum sempat menunjukkan sesuatu reaksi, Hong Lo-su dengan wajah menyeramkan telah berkata sepatah demi sepatah.
"Dialah orangnya!"
"Cepat minggir!"
Dengan hati tercekat manusia aneh itu membentak.
"sukmanya telah...."
Belum selesai dia berkata, lelaki raksasa itu sudah mengayunkan tinjunya langsung meng-hajar dada ThiatTiong-tong.
Mimpi pun Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau paman Sim nya bakal melancarkan serangan mematikan di saat seperti ini, belum sempat menjerit kaget, dadanya sudah terhajar pukulan itu dengan telak.
Kapak sakti punya julukan lain sebagai si pembuka gunung, bisa dibayangkan betapa besar dan kuatnya pukulan tersebut.
Tampak tubuh Thiat Tiong-tong bagaikan layang layang putus tali mencelat keluar dari balik tirai berwarna hitam itu dan sampai lama kemudian baru terdengar tubuhnya yang terbanting di tanah.
Rupanya ketika mereka menerjang masuk tadi, pintu batu itu sama sekali tidak diturunkan kembali, coba kalau bukan begitu, batok kepala Thiat Tiong-tong saat ini pasti sudah menumbuk diatas batu cadas dan hancur berantakan.
Sui Leng-kong menjerit kaget, wajahnya berubah jadi pucat pasi, tubuhnya sempoyongan nyaris roboh, kelihatannya dia berniat menyusul keluar dari situ.
Terdengar Hong Lo-su mendengus dingin lalu menjengek.
"Belum pernah ada orang yang lolos dari kepalan si kapak sakti dalam keadaan hidup, hanya saja.... aaaai, kelewat sayang sampai terjadi hal seperti ini!"
Belum selesai mendengar perkataan itu, Sui Leng-kong sudah roboh tidak sadarkan diri.
Suto Siau sekalian pun belum pernah menyaksikan medan pertarungan semacam ini, untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri tertegun saking kagetnya.
Dalam pada itu si manusia raksasa bertelanjang kaki itu masih berdiri kaku ditempat, berdiri dengan wajah tanpa perubahan, tanpa mimik muka.
Terdengar Hong Lo-su kembali memberi perintah sambil menuding ke arah Sui Leng-kong.
"Masih ada seorang lagi, tapi jangan kau lukai jiwanya!"
Selangkah demi selangkah lelaki raksasa itu maju mendekat, setiap kali dia mengayunkan kakinya, berkumandanglah suara getaran seperti suara tambur yang dipukul nyaring.
Manusia aneh itu tahu, Hong Lo-su telah menggunakan obat-obatan untuk merangsang munculnya seluruh kekuatan tersimpan dari lelaki raksasa itu, kemampuan dan kekuatan si kapak sakti saat ini boleh dibilang susah dihadapi dengan kekuatan biasa, tapi dia tetap menggertak gigi sambil maju menyongsong.
Sambil menggetarkan kapak raksasanya lelaki itu membentak nyaring.
"Mampus bagi yang menghalangi aku!"
Sambil berkata kapaknya diayunkan melancarkan sebuah bacokan.
Kendatipun si manusia aneh itu memiliki kungfu yang amat lihay pun tampaknya dia tidak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat tubuhnya berkelit ke samping dengan kecepatan bagaikan ikan melejit, kemudian sambil memutar tangan dia lepaskan sebuah bacokan balasan.
Serangan mautnya ini meski tidak menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, namun bila terkena, bisa dipastikan korbannya bakal tewas.
Siapa tahu pukulan yang bersarang telak ditubuh lelaki raksasa itu hanya menimbulkan sedikit getaran, bukan saja tidak sampai roboh, sebaliknya selangkah demi selangkah dia menerobos maju semakin ke depan, sambil pentangkan telapak tangan raksasanya, dia cengkeram tubuh Sui Leng-kong.
Di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba terlihat cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu Sui Lengkong yang tergeletak ditanah sudah hilang lenyap tidak berbekas.
Kapak sakti nampak tertegun, dia seolah tidak mengerti kenapa sasarannya bisa hilang secara mendadak, dengan wajah kebingungan dia segera berpaling.
Rupanya Sui Leng-kong telah disambar oleh Coh Sam-nio, hanya cukup menutulkan ujung kakinya tahu-tahu Coh Sam-nio sudah balik ke posisinya semula, meski sedang membopong seseorang namun gerakan tubuhnya masih cepat bagai sambaran petir.
Sambil tertawa dingin Hong Lo-su atau Hong Kiu-yu ini menjengek.
"Banyak tahun tidak bersua, ternyata ilmu meringankan tubuh yang kau miliki bertambah hebat"
"Terlalu memuji, terlalu memuji"
"Serahkan gadis itu kepadaku, buat apa kita mesti bentrok sendiri"
Coh Sam-nio tersenyum.
"Mata setanmu tidak perlu menatapku, tidak mungkin sukmaku akan tergaet olehmu, masa kaupun ingin bentrok denganku gara-gara nona ini?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, sekawanan perempuan bercadar hitam itu telah bermunculan ditempat itu. Sambil berpaling kembali Coh Sam-nio bertanya.
"Bagaimana dengan nona-nona itu?"
"Sudah ada yang membawa pergi mereka"
Jawab perempuan kecil pendek itu cepat.
"Disini masih ada seorang lagi, coba bawa pulang dirinya!"
"Baik, biar aku saja yang membawanya pulang!"
Sela Hong Lo-su tiba-tiba sambil menerobos maju ke hadapan Coh Sam-nio.
Dengan perawakan tubuhnya yang tinggi lengkung, dia memiliki ukuran kaki yang panjang sekali, dalam satu kali langkah satu setengah meter lelah dilampaui, sepasang lengannya pun punya ukuran mendekati dua meter sehingga ujung tinjunya yang berkibar terhembus angin persis seperti sepasang sayap lebar.
Coh Sam-nio yang kecil kurus nyaring terkurung dibawah hembusan angin serangannya yang tajam, kelihatannya sulit bagi perempuan itu untuk meloloskan diri, posisinya ketika itu seperti seekor burung alap-alap yang sedang menerkam anak ayam, keadaannya amat berbahaya.
"Kau tidak bakal mampu menangkapku!"
Ejek Coh Sam-nio sambil tertawa. Terlihat cahaya perak berkelebat lewat, entah bagaimana tahu-tahu dia sudah mundur sejauh empat meter lebih, kembali jen geknya.
"Asal kau mampu menyentuh tubuhku, nona ini segere kuserahkan kepadamu!"
"Hmmm, biarpun halilintar itu cepat, jangan dianggap angin kalah cepatnya"
Seru Hong Lo-su sambil tertawa seram, baru selesai bicara tubuhnya sudah berputar satu lingkaran didalam ruangan itu.
Walau secepat apapun dia bergerak, namun sekilas cahaya perak itu selalu bergerak selangkah lebih cepat dihadapannya.
Paras muka manusia aneh itu dingin bagaikan salju, tanpa mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba dia menghalang jalan pergi Coh Sam-nio.
Tampaknya cahaya perak itu segera akan terperosok masuk ke dalam pelukan manusia aneh itu, tiba-tiba di saat yang terakhir, entah dengan cara bagaimana tahu-tahu cahaya itu sudah menyambar lewat dari sisi tubuhnya.
Akibat kejadian ini, nyaris manusia aneh itu saling bertumbukan dengan Hong Lo-su yang sedang melakukan pengejaran.
Sambil tertawa terkekeh Coh Sam-nio pun berseru.
"Kau yang membopong nona ini, biar aku bermain sebentar dengan ke dua orang bocah itu"
Perempuan kecil pendek bercadar itu hanya merasakan pandangan matanya silau, tahu-tahu Sui Leng-kong sudah berada dalam pelukannya.
BAB 21 Aliran Silat Sejati Selama hidup belum pernah kawanan jago itu menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat, mereka hanya mendengar suara deruan angin yang saling menyambar melalui sisi tubuh, membuat ujung baju mereka berkibar, hingga pada akhirnya tubuh Coh Sam-nio berubah jadi sekilas cahaya perak yang berputar di antara dua bayangan abu-abu, sulit untuk dibedakan lagi mana bayangan tubuh dan mana cahaya.
Lama-kelamaan para jago merasakan matanya mulai berkunang-kunang dan kepala terasa pening, akhirnya mereka pejamkan mata dan tidak berani melihat lagi.
Sementara si kapak raksasa itu hanya berdiri dengan mata melotot dan mimik muka hambar, sekalipun matanya terbelalak lebar padahal tidak ada bayangan apapun yang terlihat olehnya.
Coh Sam-nio masih berputar sambil tertawa merdu, sedang napas Hong Lo-su kedengaran mulai tersengkal, sampai pada akhirnya suara gelak tertawa itu semakin nyaring sedang suara napas yang tersengkal pun makin keras.
Akhirnya Hong Lo-su menghentikan langkahnya sambil berkata.
"Aku tidak.... tidak akan mengejar lagi"
"Bagaimana? Mengaku kalah?"
Tanya Coh Sam-nio.
"Andai tubuhku kecil pendek macam kau, belum tentu ilmu meringankan tubuhku kalah dari kau"
Dalam pada itu si manusia aneh itu pun turut menghentikan pengejarannya, dengan dada naik turun karena tersengkal, ujarnya pula.
"Sehebat apa pun ilmu meringankan tubuh seseorang, paling juga dipakai untuk menyelamatkan diri, apa hebatnya!"
Coh Sam-nio tertawa, sambil berkelebat lewat dari sisi tubuhnya, dia tepuk bahu lelaki itu dan berkata.
"Jika ingin beradu ilmu adu nyawa, kenapa tidak mencari Hong Lo-su? Bukankah dia sedang mengincar nyawamu!"
"Aku memang sedang mencarinya!"
Bentak manusia aneh itu nyaring, secepat kilat dia lancarkan tiga jurus pukulan. Hong Lo-su tertawa seram.
"Hehehehe.... akupun sedang mencari kau, asal berhasil menangkap dirimu, masa aku kuatir tidak bisa mendapatkan si pemakai baju pengantin?"
Selama pembicaraan berlangsung, kedua orang itu sudah saling menggempur sebanyak belasan jurus.
"Kalian berdua boleh bertarung sepuasnya, biar aku yang menengok ke dalam!"
Seru Coh Sam-nio sambil tertawa. Dia melompat ke depan dan langsung menyelinap masuk ke balik tirai berwarna hitam itu.
"Celaka"
Pekik Hong Lo-su.
"rupanya dia ingin mencari keuntungan!"
Setelah melepaskan tiga gempuran keras, tubuhnya mundur ke belakang dan siap menyusul Coh Sam-nio.
Pada saat itulah Coh Sam-nio yang baru saja menyelinap masuk, kini sudah muncul kembali dengan wajah berubah hebat, begitu melihat Hong Lo-su sedang menyelinap masuk, cepat dia berkelit ke samping dan serunya sambil tertawa.
"Kau ingin masuk ke dalam? Silahkan!"
"Dasar siluman rase"
Umpat Hong Lo-su setengah bergumam.
"permainan busuk apa lagi yang sedang kau lakukan?"
Baca Juga: Pendekar Kembar 9
Baca Juga: Lembah Nirmala Khu Lung