Ceritasilat Novel Online

Pendekar Panji Sakti 6

Eps 6 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.

Sesosok bayangan manusia tampak berdiri berapa meter dari arena pertarungan, berdiri di tengah hujan angin, sahutnya sambil tertawa dingin.

"Kalau aku sedang mengumpatmu lantas kenapa? Hahahaha.... kau tidak lebih cuma seorang lelaki buta yang hampir mampus"

Waktu itu malam sudah kelap, ditambah hujan angin sedang ber langsung membuat suasana diseputar sana cukup gelap, siapa pun tidak ada yang melihat jelas siapa gerangan orang itu?

Sekujur tubuh Ai Thian-hok gemetar keras, tiba-tiba teriaknya.

"Kemari kau, sekalipun aku ingin mati, paling tidak aku baru mati setelah berhasil membunuhmu!"

"Bagaimana kalau kau tidak sanggup membunuhku?"

Jengek bayangan itu sambil tertawa dingin.

"Sehari aku tidak mampu membunuhmu, sehari pula aku orang she-Ai tidak akan mati!"

Teriak Ai Thian-hok gusar. Tiba-tiba dia kebaskan sepasang lengan bajunya dan melesat ke arah bayangan manusia itu dengan kecepatan tinggi. Bayangan manusia itu segera tertawa tergelak.

"Hahahaha.... kau tidak bakal sanggup membunuhku!"

Kata terakhir diucapkan dari tempat yang cukup jauh, namun Ai Thian-hok bagaikan bayangan tubuh saja, mengintil ketat dibelakangnya.

"Toako,...."

Bocah pincang itu segera berteriak keras.

"toako...."

Cepat dia menyusul dari belakang.

"Entah siapakah orang itu"

Kata Hay Tay-sau kemudian sambil tertawa.

"dia betul betul sangat hebat, hanya menggunakan beberapa patah kata saja telah berhasil selamatkan selembar nyawa Ai Thian-hok dari kematian!"

"Apakah kita perlu menyusulnya?"

Tanya Bi Lek-hwee. Mengawasi kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, Hay Tay-sau gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak mungkin terkejar, tidak mungkin terkejar...."

Dalam pada itu Un Tay-tay telah membopong tubuh Im Ceng dan berjalan meninggalkan tempat itu.

Semua orang mengikuti dibelakangnya tanpa bicara, perasaan hati mereka rata-rata berat dan murung.

Setelah memasuki perkampungan dan tiba dipintu gerbang kedai tukang besi, mereka tidak menemukan kereta kuda disitu, sang kusir yang tahu gelagat tidak menguntungkan juga ikut raib dari sana.

Air muka Un Tay-tay yang murung nampak sedikit berubah, gumamnya tanpa terasa.

"Ba.... bagaimana sekarang?"

"Lebih baik nona tetap tinggal disini...."

Bu Ceng hiong mengusulkan.

"Biar aku periksakan keadaan lukanya"

Kata Liu ho-ie, si nona berbaju hijau itu pula.

Ketika Un Tay-tay mencoba menengok, orang yang berada dalam pelukannya memejamkan matanya dengan wajah pucat pasi, sekilas pandangnya seolah sudah tidak bernapas lagi.

Rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya membuat air mata perempuan itu bercucuran tanpa terasa, butiran air mata meleleh dari pipinya dan jatuh membasahi sepasang mata Im Ceng yang ter tutup rapat.

Begitu basah oleh air mata, mendadak terdengar Im Ceng merintih perlahan lalu membuka kembali mulanya.

Secara lamat-lamat dia merasa ada sesosok bayangan manusia sedang berdiri dihadapannya, bayangan itu semula kabur tapi lambat laun makin bertambah jelas....

saat itulah Liu Ho-ie sedang berdiri dihadapannya sambil memeriksa keadaan luka yang dideritanya.

Begitu melihat jelas paras muka perempuan itu, Im Ceng segera meronta bangun sambil berteriak.

"Dia.... dia.... dia adalah orang Han hong po, Tay-tay.... cepat.... cepat pergi dari sini...."

Dia tidak pernah melupakan paras muka Liu Ho-ie yang dingin tanpa perubahan mimik itu, tapi dia hanya teringat kalau perempuan berwajah dingin ini adalah anggota benteng Han hong po yang hendak menginterogasi dirinya.

Tio Kie-kong yang kebetulan berjalan masuk buru-buru menjelaskan sambil menghela napas.

"Kongcu, kau salah paham, hari itu...."

Tapi sayang waktu itu Im Ceng yang sedang terluka dalam berada dalam keadaan setengah sadar, bukan saja dia tidak mendengar penjelasan itu, sebaliknya malah berteriak sambil meronta dalam pelukan Un Tay-tay.

"Bagus.... bagus, Han hong po, aku akan beradu jiwa denganmu.... aku akan beradu jiwa!"

Tangannya mulai memukul kian kemari diimbangi tendangan yang membabi buta, seolah olah dia memang siap beradu jiwa. Un Tay-tay memeluknya semakin kencang, serunya dengan air mata bercucuran.

"Baik, kita pergi, kita pergi...."

Dia segera bangkit berdiri dan berlarian dibawah hujan angin sambil membopong pemuda itu. Melihat itu Tio Kie-kong menghentakkan kakinya berulang kali sambil menghela napas, teriaknya.

"Ini.... ini.... Ho-ji, kita kejar...."

"Toa-tia tidak usah kuatir"

Tukas Liu Ho-ie sambil memandang dingin bayangan tubuh yang makin menjauh itu.

"dia tidak bakalan mampus!"

Selesai bicara dia membalikkan tubuh dan masuk kembali ke dalam kamarnya.

Hay Tay-sau serta Bi Lek-hwee hanya bisa saling bertukar pandangan tanpa bicara, mereka mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

Fajar sudah mulai nampak menyingsing diufuk timur, suara ayam berkokok pun lamat lamat kedengaran memecahkan keheningan, hujan angin semalaman suntuk pun berakhir juga.

Un Tay-tay berlarian dengan sepenuh tenaga sambil membopong tubuh Im Ceng.

Sepanjang jalan tiada hentinya dia menengok keadaan orang yang berada dalam pelukannya, mengawasi pemuda yang masih tidak sadarkan diri itu, untuk pertama kalinya dia menyadari kalau anak muda yang tergila-gila kepadanya itu ternyata seorang lelaki baja yang berhati sekeras batu karang.

Untuk sesaat dia merasa sedih bercampur menyesal, dulu dia sudah menyia-nyiakan cinta kasih pemuda ini, perempuan itu tidak tahu, apakah dikemudian hari masih ada kesempatan baginya untuk membayar hutangnya ini?

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya terlihat cahaya terang mulai muncul di langit timur, tapi suasana disekelilingnya terasa tetap hening dan sepi, dengus napas Un Tay-tay mulai berat dan tersengkal-sengkal.

Selama tahun terakhir dia lebih banyak memperhatikan keindahan tubuh ketimbang kehebatan kungfunya, tidak heran kalau saat ini dia sudah kehabisan tenaga.

Sekalipun begitu dia sama sekali tidak memperlambat langkahnya, perempuan itu ingin secepatnya tiba di rumah dan mengobati luka yang diderita Im Ceng, bila dapat menolong pemuda itu, apalah artinya kelelahan dan kehabisan tenaga baginya?

Permukaan tanah makin lama semakin tinggi, kini mereka sudah berada di daerah pegunngan.

Sepertanak nasi kemudian mereka sudah tiba di dataran rata diatas perbukitan itu, dibalik hutan yang lebat lamat-lamat terlihat cahaya lentera memancar keluar dari remangnya cuaca.

Sambil menghembuskan napas lega Un Tay-tay bergerak menuju ke dalam hutan itu.

Ditengah hutan terdapat sebuah bangunan rumah, sekilas mirip sebuah kuil, inilah tempat persembunyian yang digunakan Un Tay-tay untuk menghindari pencarian orang, memang jarang orang luar yang mengetahui letak tempat ini.

Perempuan ini selain pintar, diapun memiliki kemampuan luar biasa yang jarang dimiliki orang lain.

Hanya dalam waktu yang relatip singkat bukan saja dia berhasil menemukan tempat itu, bahkan telah mengubah kuil bobrok itu menjadi sebuah tempat tinggal yang nyaman, malah dia sempat pula membeli dua orang dayang yang jujur dan setia.

Satu-satunya persoalan yang membuat dia menyesal adalah masalah kusir kereta itu....

Tapi begitu dia menerobos masuk ke dalam hutan, sorot matanya segera terhenti pada sebuah kereta kuda yang diparkir persis di depan pintu rumahnya, kereta mewah miliknya!

Dengan perasaan girang ia pun berpikir.

"Ooh, ternyata kusir itu tidak sabar menunggu hingga balik duluan kemari!"

Maka tanpa sempat berteriak memanggil dayangnya, dia langsung menerobos masuk ke dalam.

Cahaya lentera masih menyinari ruangan, sambil mengatur napasnya yang tersengkal Un Tay-tay pun berteriak memanggil.

"Ying-ji, Yan-ji, apakah kalian belum tidur? cepat siapkan air panas..."

Sambil berteriak dia menerobos masuk ke dalam ruangan, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya berdiri terbelalak, dibawah sinar lentera, tampak ke dua orang dayang setianya sudah mati membujur kaku dilantai.

Tidak ada benda yang berantakan dalam ruangan, tapi dua gumpalan darah masih nampak mengembang, seakan peristiwa berdarah ini belum luma terjadi.

Un Tay-tay merasakan hatinya bergidik, tidak tahan dia bersin berulang kali, pikirnya.

"Jangan-jangan Suto Siau berhasil menemukan tempat ini?"

"Blaaaam!"

Mendadak pintu ruangan tertutup kembali.

Telapak tangan Un Tay-tay sudah basah oleh keringat dingin, untuk sesaat dia tidak berani membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia mendengar suara dengus napas yang berat bergema dari arah belakang.

Tergopoh-gopoh dia lari maju berapa langkah hingga tiba disudut dinding, kemudian dengan cepat membalikkan tubuh, berdiri dengan menempelkan punggungnya diatas dinding yang dingin dan mendongakkan kepalanya.

Seorang pemuda berpakaian kusut berdiri dengan menempel dipintu, tangannya menggenggam sebilah pisau belati, mukanya penuh dicekam perasaan gugup, panik dan takut.

Begitu sepasang mata mereka saling bertemu, kedua orang itu sama-sama terperanjat sambil menjerit tertahan.

"Aaah, rupanya kau!"

Un Tay-tay kenal dengan pemuda berpakaian lusuh itu, begitu pula dengan pemuda itu.

Ternyata lelaki dengan pakaian yang amat kusut ini tidak lain adalah Sim Si-pek!

Walaupun dia ditendang Hay Tay-sau hingga tercebur ke sungai, ternyata nyawanya tidak sampai tamat, setelah bersusah payah mencapai daratan, diapun mulai melarikan diri terbirit-birit.

Dalam keadaan yang mengenaskan, mula-mula dia ingin mencari dulu rumah penduduk, mencari pakaian kering dan makanan.

Apa mau dikata ternyata dia tiba di perkampungan pandai besi itu, maka dicarilah rumah penduduk yang terbesar, pemuda itu berniat merampas pakaian, uang dan hidangan yang tersedia disana.

Siapa tahu begitu melongok lewat jendela, dia saksikan Hay Tay-sau sedang duduk sambil meneguk arak, kejadian ini membuatnya terkesiap dan ketakutan setengah mati.

Dalam keadaan begini dia tidak berani bergerak lagi, dengan tubuh gemetar cepat dia menyelinap ke balik kegelapan dan menyem-bunyikan diri.

Kemudian datang Un Tay-tay sekalian dan terjadilah keributan, semua peristiwa itu dapat dia ikuti dari balik kegelapan dengan jelas, perasaan hatinya sempat terkesiap ketika mendengar Un Tay-tay datang bersama adik seperguruan Thiat Tiong-tong, masih untung malam itu hujan angin sedang berlangsung hingga kehadirannya disana sama sekali tidak diketahui siapa pun.

Menanti semua orang mengejar Ai Thian-hok dan Im Ceng yang hendak bertarung, dia baru secara diam-diam melompat keluar dari tempat persembunyian, merampas kereta kuda dan melarikan diri.

Tapi rasa lapar, kaget, kedinginan dan letih yang menyiksa dirinya membuat dia tidak mampu mcnguasahi diri lagi, setelah menempuh perjalanan berapa saat diapun jatuh tidak sadarkan diri dalam ruang kereta.

Kedua ekor kuda penghela kereta itu memang kuda-kuda jempolan, biarpun tidak dikendalikan orang, mereka dapat berjalan balik ke tempat semula secara otomatis, maka Sim Si-pek pun dibawa menuju ke tempat tinggal Un Tay-tay.

Ketika tersadar kembali dari pingsannya, Sim Si-pek menjumpai kereta itu sudah diparkir di depan pintu rumah, karena tidak ada tujuan lain maka dia pun menerobos masuk ke dalam gedung itu, disitu dia menjumpai ada dua orang dayang tersebut.

Tentu saja dayang-dayang itu menjerit kaget, maka tanpa banyak bicara dia membunuh mereka berdua, mimpi pun dia tidak menyangka secara tiba-tiba Un Tay-tay bakal muncul pula disitu.

Un Tay-tay sendiripun tidak menyangka murid Hek Seng-thian bisa muncul di tempat persembunyiannya, begitu berhasil mengen-dalikan rasa kiigetnya diapun menegur.

"Kenapa kau datang kemari? Bahkan membunuh ke dua orang dayangku?"

Sim Si-pek memandang perempuan itu sekejap, buru-buru dia menjura dan menyahut dengan senyuman dibuat-buat.

"Mana berani keponakan membunuh dayang duri bibi, sewaktu tiba disini aku jumpai mereka sudah mati"

Un Tay-tay tahu kalau dia sedang bohong, tapi tidak berusaha untuk mengungkapnya, setelah mengiakan diapun membaringkan Im Ceng keatas bangku.

Kemudian dengan senyum dikulum perlahan dia menghampiri Sim Si-pek, katanya sambil tertawa.

"Kenapa pakaianmu begitu kusut dan mengenaskan, bagaimana kalau bibi mencarikan pakaian kering untukmu?"

Sim Si-pek berpikir sejenak kemudian tertawa dingin, pikirnya.

"Tampaknya dia sembunyikan golok dibalik senyuman, berarti sekarang juga dia ingin membunuhku"

Perlu diketahui, tindakan Suto Siau yang menyimpan bini muda ditempat lain meski berhasil mengelabuhi istrinya, bukan berarti bisa mengelabuhi rekan-rekannya, malah dia sering mengundang Hek Seng-thian sekalian minum arak ditempat tinggal Un Tay-tay, tentu saja dalam setiap kunjungan Sim Si-pek selalu turut serta bersama gurunya, oleh sebab itu boleh dibilang dia sangat mengetahui watak istri muda Suto Siau ini.

Maka tidak menanti Un Tay-tay datang mendekat, dia sudah berkelit berapa langkah ke belakang, katanya lagi sambil tertawa.

"Tecu mendapat perintah guru untuk menyampaikan salam kepada bibi, mana berani merepotkanmu dengan pekerjaan sepele...."

Dalam hati kecilnya Un Tay-tay merasa terkesiap, tapi perasaan itu tidak ditampilkan diwajahnya, malah sambil tertawa merdu kata-nya.

"Suhumu menyuruh kau datang menjenguk? Kenapa dia tidak datang sendiri? Apa takut Suto Siau cemburu?"

Sekalipun dia pintar dan pandai menyesuaikan diri, namun mimpi pun tidak menyangka kalau waktu itu Sim Sin-pek telah menghianati Hek Seng-Ihian, karenanya meski senyuman masih tersungging diujung bibir, jantungnya justru berdebar keras.

Sambil berusaha membaca situasi, kembali Sim Sin-pek menyahut seraya bertanya.

"Guru minta keponakan datang lebih awal, maksudnya untuk meninjau dulu apakah ada tempat disini, sebentar dia orang tua akan menyusul kemari"

Tampaknya dia bermaksud menggunakan kata ancaman itu untuk mengendalikan Un Tay-tay, agar tidak berani melancarkan serangan kepadanya.

Un Tay-tay mengerlingkan matanya berulang kali, katanya sambil tertawa manja.

"Aaah, siapa bilang tidak ada tempat? Aduh, tentu saja disini amat leluasa untuk menampung kalian semua, cepatlah pulang dan suruh dia kemari!"

Dalam hati Sim Sin-pek tertawa dingin, pikirnya.

"Asal kaki depanku pergi dari sini, mungkin kaupun akan mengikuti jejakku kabur dari tempat Ini. Hmmm! Biarpun kau terhitung pintar, tapi jangan disangka aku Sim Sin-pek pun orang bodoh, mana mungkin akan kulepaskan kesempatan baik ini dengan begitu saja!"

Maka sambil tertawa katanya.

"Tapi aku lihat tempat tinggal bibi kurang leluasa, masa siautit berani melaporkan kepada suhu?"

"Waaah, dimana letak ketidak leluasaan itu?"

Sambil melirik Im Ceng yang tidak sadarkan diri di bangku sekejap, kata Sim Sin-pek.

"Siautit kenal juga dengan murid dari Perguruan Tay ki bun ini, setelah disini melihat kehadirannya, masa siautit berani membohongi guru?"

"Aduh mak, kau maksudkan dia?"

Un Tay-tay tertawa cekikikan.

"cepat pulang dan beritahu kepada Hek Seng-thian, katakan kalau aku sudah bosan dengan dia dan kini bermaksud menyerahkan kembali kepadanya"

"Sungguh?"

"Setiap kali bertemu, sepasang mata suhumu tiada hentinya memperhatikan gerak-gerikku, memangnya aku tidak tahu apa maksud dia mengirim kau kemari? Paling-paling juga lantaran ingin.... ingin berbuat begituan denganku!"

Sim Sin-pek mmutar biji matanya berulang kali, lalu katanya sambil tertawa.

"Siapa sih yang tidak tertarik dengan perempuan cantik macam bibi? Siapa pun tentu ingin berbuat begituan setelah berjumpa dengan-mu"

"Bagaimana dengan kau? ingin begituan tidak?"

Tanya Un Tay-tay sambil membusungkan dadanya dan tertawa genit.

Saat itu seluruh pakaian yang dikenakan basah kuyup oleh air hujan hingga nyaris menempel lekat ditubuhnya, dibawah cahaya lentera, tampak jelas setiap lekukan tubuhnya yang montok dan menggiurkan itu.

Sim Sin-pek tidak kuasa menahan dirinya, ditatapnya setiap lekukan tubuh perempuan itu dengan mata melotot, kemudian sembari diam diam menelan air liur katanya jengah.

"Siautit pun termasuk orang lelaki, siapa bilang tidak ingin? Aku ingin sekali.... cuma tidak berani!"

Kembali Un Tay-tay mengerling genit, sesudah memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, tangannya mulai meraba ke pakaiannya dan perlahan-lahan melepaskan kancing bajunya, satu....

dua....

Gerak geriknya dilakukan begitu halus, begitu lembut dan begitu naluri, membuat mata orang urakan tidak melihat gerak tangannya yang sedang melepas kancing, membuat perhatian orang seratus persen tertuju pada pakaiannya yang mulai melorot ke bawah kaki....

Tiba-tiba dia membuka lebar seluruh pakaiannya, tubuh bugilnya yang putih, lembut dan montok seketika tampil dihadapan Sim Sin-pek.

"Apakah sekarang kau masih tidak berani?"

Tanyanya lembut. Sim Sin-pek berdiri terkesima, berdiri terbelalak dengan mulut melongo, dia hanya merasa biji tenggorokannya naik turun....

"Kemarilah, apa lagi yang kau tunggu?"

Bisik Un Tay tay sambil mengerling nakal.

Perlahan-lahan Sim Sin-pek melangkah maju ke depan, seakan sama sekali tidak mampu membangkang, dia maju mendekat dengan wajah iri kesima.

Senyuman Un Tay-tay semakin menggiurkan, lapi didalam hati dia mulai mengghitung langkah kakinya.

"Selangkah, dua langkah.... asal kau maju tiga langkah lagi, maju dua langkah lagi...."

Sementara itu Sim Sin-pek yang melangkah maju dengan wajah terkesima pun secara diam-diam menghitung pula langkah kaki sendiri.

"Selangkah, dua langkah.... aku cukup maju selangkah lagi.... hahahaha... Un Tay-tay, permainan busukmu mungkin bisa membohongi orang lain, namun jangan harap bisa menipuku, selama ini kau tidak berani turun tangan sebaliknya malah memikatku dengan cara begini, jelas hal ini dikarenakan kau sudah kehabisan tenaga bukan? Kau ingin aku masuk perangkap? Huuuh, baiklah, aku akan gunakan siasat untuk kontra siasat busukmu itu...."

Sekali lagi dia awasi tubuh bugil yang indah lagi montok itu, kemudian bukannya maju dia malah mundur satu langkah.

Thiat Tiong-tong segera menyembunyikan diri begitu melihat si nona berbaju hijau itu mendemonstrasikan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat, orang lain gagal menemukan jejaknya, padahal secara diam-diam dia justru memperhatikan gerak-gerik setiap orang.

Tatkala semua rombongan memasuki perkampungan pandai besi, diapun mengikuti semua peristiwa itu secara jelas, justru kemunculan Un Tay-tay serta Im Ceng yang mendadak jauh diluar dugaannya.

Tapi dalam sekilas pandang dia sudah mengenali si manusia cacad itu adalah Tio Kie-kong, oleh karena kuatir Tio Kie-kong membuka identitas dirinya dihadapan Bi Lek-hwee, maka secara diam-diam dia kabur menyembunyikan diri.

Dia mengikuti rombongan sampai disitupun gara-gara ingin bertemu dengan Tio Kie-kong, perasaan hatinya jadi lega setelah tahu bahwa ditempat itu selain hadir Tio Kie-kong juga terdapat nona berbaju hijau itu, dia tahu Im Ceng tidak bakalan menderita kerugian.

Dan pada saat itulah matanya yang tajam dapat melihat ada dua sosok bayangan manusia sendang bergerak diluar hutan, ketika dia menyusul kesana maka diketahui bahwa kedua orang itu tidak lain.

adalah Ai Thian-hok serta si bocah pincang.

Maka diapun menghentikan kedua orang itu.

Betapa terkejut dan girangnya bocah pincang itu setelah tahu kalau dia belum mati, secara ringkas diapun menceritakan keadaan Sui Leng-kong dan dua bersaudara Lengyang mengenaskan.

Thiat Tiong-tong merasa amat terharu setelah mengetahui kejadian tersebut, dia bertekad akan pergi mencari mereka, setelah bertanya arah kepergian gadis-gadis itu, dia pun serahkan selembar uang kertas dan minta si bocah pincang untuk menyampaikannya kepada Im Ceng.

Ketika bocah pincang itu pergi menjumpai Un Tay lay, dia sendiri berangkat mencari Sui Leng.

Tapi bagaimanapun dia merasa tidak berlega hati memikirkan keselamatan Im Ceng, maka setelah berjalan berapa saat dia balik kembali ke tempat semula, secara kebetulan dia pun mendengar ucapan dari Ai Thian-hok yang ingin mati.

Muka dengan menggunakan ucapan yang tajam dia membangkitkan amarah serta keinginan hidup Al Titian hok.

Dalam pikirannya, asal bisa lolos dari pengejaran Ai Thian-hok maka orang buta itu tidak mungkin tahu siapa yang telah membuatnya marah, begitu Ai Thian-hok pun tidak mungkin bisa membunuhnya.

Tanpa sangka Ai Thian-hok selain memiliki gerakan tubuh yang cepat, ketajaman pendengarannya pun diluar dugaan Thiat Tiong-tong, meski pemuda itu telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikipun dia tidak pernah berhasil lolos dari pengejaran lawan.

Ke arah mana pun Thiat Tiong-tong lari, Ai Thian-hok dengan lengan bajunya yang menderu deru selalu menempel ketat di belakangnya, dalam keadaan begini dia tidak berani berpaling, apalagi memperlambat gerak larinya.

Kejar mengejarpun berlangsung hampir satu jam lamanya, sekujur tubuh Thiat Tiong-tong telah basah kuyup oleh keringat, saat itu mereka berdua sudah memasuki wilayah pegunungan.

Di antara pepohonan yang lebat akhirnya Thiat Tiong-tong berhasil menemukan bangunan rumah yang terpencil itu.

Berada dalam posisi seperti ini dia tidak punya pilihan lain kecuali menerobos masuk ke dalam bangunan, dia ingin menggunakan bangunan rumah itu untuk menyembunyikan suara angin yang terbawa ketika melarikan diri, dia berusaha ingin melepaskan diri dari pengejaran si kelelawar buta itu.

Pada saat itulah Sim Sin-pek sedang maju untuk langkahnya yang terakhir.

Mendadak terasa cahaya lentera jadi redup, sesosok bayangan manusia sudah menerobos masuk lewat jendela.

Baik Sim Sin-pek maupun Un Tay-tay sama sama tercekat, buru-buru mereka mundur dua langkah.

Tapi begitu tahu kalau orang yang muncul adalah Thiat Tiong-tong, serentak merekapun menjerit kaget.

Thiat Tiong-tong sendiripun tidak kalah kagetnya, tapi dengan kemampuan menyesuaikan dirinya yang tidak tertandingi cepat dia bereaksi, begitu kakinya melayang turun ke lantai, secepat kilat tangannya mencengkeram baju Sim Sin-pek.

Waktu itu sebenarnya Sim Sin-pek sudah ketakutan setengah mati, paras mukanya berubah makin pucat setelah melihat datangnya ancaman, bibirnya gemetar dan giginya saling beradu, meski ingin mohon ampun namun tidak sepatah kata pun mampu diucapkan.

Thiat Tiong-tong dengan sorot matanya setajam pisau mengawasi wajahnya tanpa berkedip.

Meski hanya sekejap, namun bagi perasaan Sim sin pek, pandangan itu terasa lama sekali.

Kini dia hanya bisa menanti Thiat Tiong-tong melancarkan serangan untuk mencabut nyawanya.

Siapa tahu pemuda itu tidak melakukannya, malah berbisik.

"Cepat enyah dari sini! Kalau sampai terkejar lagi olehku, akan kucabut nyawa anjingmu"

Sambil berkata dia benar-benar melepaskan cengkeramannya.

Untuk sesaat Sim Sin-pek berdiri tertegun, dia tidak mengira akan lolos dari kematian, tanpa berpikir panjang lagi dia segera melompat keluar melalui jendela dan melarikan diri terbirit-birit.

Meski Un Tay-tay pintar pun dia tidak mengerti apa maksud Thiat Tiong-tong dengan tindakannya itu, dengan mata terbelalak lebar tanyanya keheranan.

"Kenapa kau.... kau...."

Belum selesai ia bertanya, Thiat Tiong-tong sudah membekap mulutnya sambil menarik perempuan itu ke sudut ruangan, bahkan dia segera tutup napas dan tidak berani menghembuskan napasnya secara keras.

Ternyata pemuda itu sedang menggunakan siasat keong emas kabur dari cangkangnya.

Dengan dia menerobos masuk ke dalam ruangan sementara Sim Sin-pek kabur keluar, Ai Thian-hok yang buta diharapkan tidak bisa membedakan kalau orang tersebut bukan dirinya.

Menanti Ai Thian-hok sadar akan kekeliruannya, Thiat Tiong-tong bisa manfaatkan kesempatan itu untuk lari ke arah lain.

Un Tay-tay mengawasinya dengan mata terbelalak lebar, mengawasinya dengan terkejut, pakaian dibagian dadanya masih dalam keadaan terbuka lebar, bau harum semerbak terendus dari balik tubuhnya.

Dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong segera berpaling ke arah lain.

Pada saat itulah dari luar ruangan terdengar suara Ai Thian-hok sedang berseru dengan nada dingin.

"Hmm, jangan harap kau bisa membohongi aku, gerak tubuh yang digunakan orang itu sama sekali tidak mirip dengan gerakan tubuhmu!"

Suara yang dingin hambar itu diucapkan dengan tenaga yang kuat dan menggema dari empat arah delapan penjuru, membuat orang susah untuk menduga berasal dari manakah suara itu.

"Ai Thian-hok!"

Pekik Un Tay-tay dengan wajah berubah.

Sekarang dia baru tahu kalau orang yang semalam membangkitkan amarah Ai Thian-hok ternyata adalah Thiat Tiong-tong.

Sementara itu sang pemuda itupun tercekat hatinya.

"Ai Thian-hok memang sungguh lihay"

Pikirnya dihati.

"ternyata dia bisa membedakan dari suara angin yang terbawa oleh gerakan Sim Sin-pek sama sekali berbeda dengan gerakan tubuhku"

Baru saja ingatan itu melintas, dengan suara dingin kembali Ai Thian-hok berkata.

"Aku akan menghitung sampai angka tiga, bila kau belum keluar juga, akan kubakar ludas rumah ini, sampai waktunya jangan harap siapa pun bisa keluar dari sini!"

Thiat Tiong-tong terkesiap, buru-buru dia bergesar menuju ke depan pintu. Baru saja Un Tay-tay akan menarik tangannya, Thiat Tiong-tong sudah membuka pintu depan dan melangkah keluar menuju halaman.

"Satu...."

Terdengar suara Ai Thian-hok yang dingin kaku mulai menghitung. Thiat Tiong-tong langsung berjalan menuju ke tengah halaman, dia berjalan tanpa bersuara.

"Dua...."

Kembali Thiat Tiong-tong berjalan maju dua langkah, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.

"Kalau sekarang aku kabur tanpa diketahui jejaknya oleh Ai Thian-hok, dia pasti menyangka aku masih bersembunyi dalam ruangan, kalau sampai dia bakar rumah ini, bukankah aku akan mencelakai jiwa Im Ceng serta Un Tay-tay?"

Berpikir sampai disitu, diapun berteriak lantang.

"Aku berada disini!"

Ketika berteriak, tubuhnya sudah berada lebih kurang empat meter dari posisi semula.

Ketika Un Tay-tay menyusul keluar dari pintu, terasa ada hembusan angin kuat meluncur turun dari atas wuwungan rumah, sesosok bayangan manusia bagaikan kelelawar telah meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat bayangan tubuh itu sudah lenyap dibalik kegelapan.

Dia memandang termangu hujan angin yang masih berderai di depan mata, lalu memandang pula Im Ceng yang masih tidak sadarkan diri, mendadak dia berlutut di depan undak-undakan, air mata bercucuran membasahi pipinya.

Baru pertama kali ini dia merasakan begitu kesepian, begitu kesendirian, begitu menderita dan tersiksa.

Dia seakan merasa balik pada jaman masa kecilnya dulu, masa dimana tiada orang yang memperhatikan, memberi bantuan bahkan menggubrisnya, seluruh rasa percaya diri, seluruh kekuatan yang dimiliki seakan lenyap dengan begitu saja.

Dia merasa pemandangan yang terbentang di depan mata seakan hanya selapis kegelapan.

Untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa memiliki uang banyak pun tidak ada gunanya jika tiada orang mau menaruh perhatian pada dirinya, harta tidak menjamin kebahagiaan....

Menanti perempuan itu balik kembali ke kamarnya, saat itu Thiat Tiong-tong sudah berada jauh dari situ.

BAB 15 Siau-lim-sie Kecil Thiat Tiong-tong belum berhasil lolos dari pengejaran Ai Thian-hok yang menempel lekat bagaikan bayangan, pakaiannya yang basah kuyup membuat langkah kakinya kian lama kian bertambah berat.

Sekalipun selama ini dia tidak pernah berpaling, namun pemuda itu dapat merasakan telapak tangan lawan yang berada hanya berapa inci di belakang tubuhnya, kenyataan tersebut menambah beban tekanannya yang besar, paling tidak membuatnya bergidik.

Meskipun beberapa kali dia ingin membalikkan tubuh untuk bertempur, namun setiap kali terbayang apapun hasil pertarungan tersebut, yang ada hanya siksaan....

bila dia berhasil mengungguli lawannya, Ai Thian-hok pasti akan bunuh diri, sebaliknya jika dia kalah dan mati, Ai thian hok pun tetap akan bunuh diri....

padahal tujuannya melarikan diri kali ini adalah demi menyelamatkan nyawa orang yang sedang mengejarnya, yang bisa dia lakukan kini hanya tertawa getir.

Orang yang sedang melarikan diri ternyata kabur demi menyelamatkan nyawa orang yang mengejarnya, mungkin sejak dulu hingga sekarang belum pernah terjadi peristiwa semacam ini.

Ditengah hujan angin, suasana ditanah perbukitan itu nampak amat sendu, jalan setapak yang semula hanya berlumut dan licin, makin keatas jalan semakin susah ditempuh, bukan saja terdiri dari tanah perbukitan yang terjal bahkan terasa gersang dan gundul.

Makin lama Thiat Tiong-tong semakin sulit untuk menentukan arah, ditanah perbukitan yang terjal dia hanya bisa belok ke kiri menikung ke kanan dengan harapan bisa meninggalkan Ai Thian-hok makin jauh.

Siapa tahu deruan angin tajam yang ditimbulkan Ai Thian-hok dari ke dua lengan bajunya masih menderu disamping telinga, jangan dilihat tanah tebing itu curam, licin dan terjal, ternyata dia sanggup melaluinya jauh lebih cekatan daripada orangyang bermata normal.

Tanpa terasa ke dua orang itu semakin dalam menembusi tanah pegunungan itu, kini mereka sudah mencapai pinggang gunung.

Posisi Thiat Tiong-tong sekarang ibarat menunggang di punggung harimau, hatinya makin gelisah bercampur cemas, setelah melewati sebuah tikungan terjal tibalah dia disebuah tanah yang dikelilingi tebing tinggi, tempat itu mirip sekali dengan sebuah jalan buntu.

"Mati akui"

Keluhnya didalam hati.

Tapi dia tidak bisa berhenti begitu saja, betul juga ternyata ia telah tiba disebuah lembah yang sekelilingnya penuh dtumbuhi pepohonan.

Dibalik pepohonan yang rimbun tampak berdiri tiga buah bangunan rumah, di depan bangunan itu terpampang sebuah papan nama, hanya sayang Thiat Tiong-tong tidak punya waktu untuk meneliti tulisan tersebut.

Bau harum daging rebus yang menusuk hidung mengepul keluar dari balik bangunan rumah itu, tampaknya ada seseorang melongokkan kepalanya dari balik jendela dan mengamati Thiat Tiong-tong beberapa kejap.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring ber kumandang keluar dari balik ruangan, begitu nyaring bentakan itu membuat sepasang telinga Thiat Tiong-tong mendengung keras.

Menyusul kemudian pintu rumah dibuka orang dan muncullah seorang lelaki tinggi besar, gemuk penuh lemak, berambut panjang dan mengenakan baju pendeta yang sudah penuh noda minyak, celananya digulung tinggi-tinggi hingga nampak kakinya yang penuh berbulu.

"Berhenti!"

Bentaknya sambil melotot besar ke arah anak muda itu.

Dari suara bentakan yang begitu bertenaga, Thiat Tiong-tong tahu kalau orang ini pasti memiliki kungfu yang hebat, tapi dia tidak bisa menduga asal-usul orang itu apalagi melihat dandanannya yang setengah padri setengah orang awam.

Dalam hati dia berkeluh, dari belakang muncul Ai Thian-hok yang menempel terus secara ketat sementara dihadapannya muncul seorang makhluk aneh yang menakutkan.

Berada dalam keadaan begini dia tidak berani banyak urusan, cepat tubuhnya berputar dan melintas lewat dari sisinya.

Siapa tahu orang itu lagi-lagi mendelik lebar, tubuhnya yang gemuk bergerak cepat dan kembali dia sudah menghadang jalan lewat Thiat Tiong-tong, ternyata gerakan tubuhnya cepat bagaikan hembusan angin.

Posisi Thiat Tiong-tong saat ini benar-benar amat kritis, di depan menjumpai penghadang sementara dibelakang menghadapi musuh yang mengejar.

Pemuda itu segera merasa, walaupun orang yang berada dihadapannya berdiri dengan mata melotot, namun sama sekali tidak menunjukkan sikap marah, maka buru-buru serunya sambil menjura.

"Tolong, berilah jalan lewat!"

Kembali dia bergeser ke samping dan siap melintas dari sisi tubuhnya. Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berteriak keras sambil tertawa terbahak bahak.

"Hahahahaha.... anak muda, kau betul-betul tidak becus, masa karena tidak sanggup melawan orang lantas sipat telinga kabur terbirit-birit!"

Sementara dia berbicara, Thiat Tiong-tong sudah mencoba menerobos ke kiri dan ke kanan sebanyak tiga kali, tapi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki manusia aneh ini betul-betul sudah mencapai puncak kesempurnaan, biar ke mana pun anak muda itu menerobos, dia selalu dapat menghalanginya secara tepat.

Dalam pada itu Ai Thian-hok telah tiba juga ditempat kejadian, tapi dia hanya berdiri jauh dari ke dua orang itu, berdiri lebih kurang sepuluh meter dari sang pemuda, katanya dingin.

"Biarkan dia lewat!"

"Aneh"

Gumam manusia aneh itu keheranan.

"kau tidak mampu mengejarnya sementara aku telah membantumu menghalangi jalan perginya, masa sekarang kau malah suruh aku membebaskannya lagi? Memangnya kalian sedang bermain petak umpat? Hahahaha.... bagus, bagus sekali, kalau memang sedang bermain petak umpat, bagaimana kalau aku ikut ambil bagian?"

Habis berkata kembali dia tertawa terbahak bahak. Tingkah pola orang aneh itu sungguh membuat Thiat Tiong-tong kheki bercampur geli, pikirnya.

"Jangan-jangan aku bertemu orang sinting?"

Maka sembari menjura katanya lantang.

"Kenapa kau halangi jalan pergiku?"

"Kenapa kau mesti kabur?"

"Aku melarikan diri atau tidak, apa sangkut pautnya denganmu?"

Tanya Thiat Tiong-tong tertegun. Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Selama hidup pinceng paling tidak betah melihat orang melarikan diri, siapa suruh kau kabur ke sini? Anggap saja memang lagi apes!"

"Darimana kau tahu kalau aku sedang kabur?"

Manusia aneh itu tertegun, kemudian sahutnya sambil tertawa.

"Aaah! Betul, betul, darimana pinceng tahu kalau kau sedang kabur? Siapa tahu kalian memang sedang bermain petak umpet? Kalau bukan begitu,masa diapun minta aku membebaskanmu?"

Dia berpaling dan memandang sekejap wajah Ai Thian hok yang dingin, kaku, penuh diliputi hawa napmi membunuh, tidak tahan tanyanya lagi.

"Hey, kenapa kau mengejarnya terus, sebetulnya untuk apa?"

"Untuk mencabut nyawanya!"

Jawab Ai Thian-hok dingin. Tiba-tiba dia merangsek maju ke depan, ujung bajunya dikebaskan berulang kali mengancam tiga bilah jalan darah penting di dadanya, kembali hardiknya.

"Kau mau bebaskan dia atau tidak?"

"Aneh, betul-betul sangat aneh...."

Gumam manusia aneh itu lagi sambil mengegos ke samping.

Sebenarnya dia sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap kemampuan orang, siapa nangka ilmu menotok jalan darah yang dimiliki Ai Thian-hok benar-benar sangat hebat, begitu serangan dilancarkan, gerakan demi gerakan saling menyusul.

Kendatipun manusia aneh ini memiliki kungfu yang hebat, tak urung dibuat kelabakan juga, selain repot menghindarkan diri, kata berikutpun tidak sanggup lagi dilanjutkan.

Sambil melancarkan seangkaian ancaman maut, terdengar Ai Thian-hok berteriak keras.

"Thiat Tiong-tong! Kenapa kau masih belum kabur?"

"Aduh celaka!"

Pekik Thiat Tiong-tong didalam hati, kini Ai Thian-hok sudah mengenali suaranya, berarti persoalannya tidak mungkin bisa diselesaikan dengan begitu saja.

Dalam pikiran yang kalut dia siap bergerak melarikan diri dari situ.

Tiba-tiba manusia aneh itu membentak nyaring, sepasang lengannya direntangkan ke kedua sisi, tangan kirinya mencengkeram bahu Thiat Tiong-tong sementara tangan kanannya bergerak secara berantai menerobos masuk ke balik bayangan lengan baju Ai Thian-hok.

Melihat gerak serangan yang digunakan amat sederhana dan bersahaja, Thiat Tiong-tong sangka dengan mudah dia bisa menerobos lewat, sementara tangan kirinya menangkis, tubuhnya melanjutkan terobosannya ke depan.

Siapa sangka di antara berkelebatnya bayangan tangan, entah dengan cara apa, mendadak jari tangan manusia aneh itu sudah menempel diatas bahunya.

Dalam terkejut bercampur ngerinya Thiat Tiong-tong mundur ke belakang sejauh empat meter lebih, lamat-lamat dia merasa bahunya agak sakit.

"Sreeet.... !"

Lagi lagi terdengar suara kain robek, kali ini lengan baju milik Ai Thian-hok yang tersambar hingga sobek.

Dengan perasaan terkesiap Ai Thian-hok berjumpalitan di tengah udara dan melayang turun tiga meter dari sisi tubuh anak muda itu.

Mereka berdua beranggapan kungfu yang dimilikinya sudah amat hebat dan sempurna, tapi mereka tidak menyangka kalau dikolong langit ternyata terdapat jurus serangan yang demikian aneh sehingga satu gebrakan pun tidak sanggup mereka hadapi.

Khususnya bagi Ai Thian-hok, sudah banyak tahun dia menjelajahi dunia persilatan, dengan mengandalkan sepasang lengan bajunya entah berapa banyak jago pernah dihadapi, dan selama ini belum pernah ada yang mampu bertanding seru melawannya.

Tapi sekarang, cukup hanya dalam satu gebrakan manusia aneh itu berhasil merobek lengan bajunya, kenyataan ini selain membuat-nya terkesiap, diapun merasa amat sedih.

Lama setelah termenung akhirnya dia menghela napas sedih sambil bergumam.

"Kungfu yang hebat!"

"Jangan kau ambil perduli kungfuku hebat atau tidak, pinceng ingin tahu saja, kenapa kau ingin mencabut nyawanya, kenapa kau minta pula kepadaku untuk membiarkan dia kabur?"

Dengan gusar Ai Thian-hok menjawab.

"Selama hidup aku orang she-Ai...."

Sebetulnya dia ingin bilang kalau selama hidup tidak suka orang lain menolongnya, tapi secara tiba-tiba teringat pula kalau kungfu yang dimiliki orang Itu jauh diatas kemampuannya, buat apa pula dia sok jagoan dihadapannya?

Berpikir sampai disitu diapun menutup kembali mulutnya dan menghela napas panjang.

"Hei, kenapa hanya bicara separuh?"

Tegur orang aneh itu gelisah.

"kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu?"

Sambil tertawa getir Ai Thian-hok siap membalikkan tubuh untuk berlalu dari situ. Buru-buru manusia aneh itu goyangkan tangannya seraya berseru.

"Tunggu dulu, tunggu dulu, kau mengejarnya dan dia melarikan diri, kemudian aku menghadang jalan larinya sementara kaupun paksa aku untuk membiarkan dia kabur, sebenarnya kenapa kau mengejarnya? Dan kenapa pula kau mesti melarikan diri?"

Jelas pertanyaan terakhir ditujukan kepada Thiat Tiong-tong. Sambil tertawa getir sahut Thiat Tiong-tong.

"Aku kabur lantaran ingin menyelamatkan jiwanya!l"

Seandainya bukan lantaran Ai Thian-hok sudah mengenali suaranya, tidak mungkin dia aka mengucapkan perkataan tersebut, tapi sekarang mau tidak mau dia harus berbuat begitu, sebab kalau tidak, kemungkinan besar antara mereka berdua akan terikat dendam sakit hati yang berkepanjangan.

Paras muka Ai Thian-hok berubah hebat seketika dia menghentikan langkahnya seray membalikkan tubuh.

Sambil membenahi rambutnya yang kacau, manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... kau kabur lantaran ingin menolongnya? Hahahaha.... ungguh satu kejadian yang aneh, belum pernah kujumpai peristiwa semacam ini"

Tiba-tiba sambil menarik wajahnya dia melanjutkan.

"Hari ini, bila kalian berdua tidak menerangkan kejadian ini dengan sejelas-jelasnya, jangan harap bisa kabur dengan begitu saja dari sini"

Kontan Ai Thian-hok naik pitam, tegurnya.

"Memangnya kau anggap dengan andalkan kemampuanmu, lantas kau boleh mencampuri urusan orang lain dengan seenaknya...."

Mendadak ia teringat kalau kungfu orang itu memang luar biasa hebatnya, maka setelah menghela napas cepat dia tutup mulut.

Perlu diketahui, walaupun wataknya angkuh dan nyentrik namun semakin nyentrik seseorang, biasanya dia makin suka berterus terang, kalau menang akan bilang menang, kalau kalah pun akan mengakui kekalahan, orang semacam ini tidak nanti akan tebalkan muka dengan berjaga gengsi.

Karena sangat bisa menerima kenyataan, maka kendatipun hawa amarah masih membara dalam dadanya, terpaksa dia harus menahan diri.

Manusia aneh itu berpaling dan memandangnya sekejap, kembali dia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... apakah kalian berdua merasa amat tersiksa dan tidak berani bicara banyak lantaran kungfu yang pinceng miliki kelewat tangguh?"

Thiat Tiong-tong segera berpaling ke arah Ai Thian-hok, dalam dugaannya tidak mungkin orang itu akan mengakuinya. Siapa tahu Ai Thian-hok dengan lantang segera mengakui.

"Benar!"

Seketika Thiat Tiong-tong tertegun, tanpa terasa timbul perasaan kagum dihati kecilnya.

"Nah, beginilah gaya seorang lelaki sejati, tidak malu dia menjadi seorang pendekar hebat!"

Terdengar manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Sebetulnya kalian berdua tidak usah bersedih hati, sebab kungfu sehebat tadi hanya pinceng kuasai dua tiga jurus belaka, itupun dapat belajar dari mencuri!"

Ai Thian-hok termenung berapa saat lamanya, kemudian menjawab.

"Biar cuma dua tiga jurus, sebetulnya sudah lebih dari cukup, siapa lagi manusia di dunia ini yang mampu menghadapinya!"

"Betul!"

Sambung Thiat Tiong-tong pula sambil menghela napas.

Dia telah membayangkan kungfu dari jago-jago persilatan yang pernah dijumpainya selama ini, dan rasanya memang tidak seorangpun sanggup menghindarkan diri dari jurus serangan aneh itu.

Manusia aneh itu segera tertawa tergelak.

"Hahahaha.... padahal banyak sekali jagoan di kolong langit yang sanggup mengungguli pinceng, malah ada tiga sampai lima orang yang mampu merobohkan aku hanya dalam satu gebrakan"

"Sungguh?"

Seru Ai Thian-hok dengan wajah berubah.

"Buat apa pinceng berbohong?"

"Tapi menurut apa yang kudengar, jagoan nomor wahid di kolong langit...."

"Menurut apa yang kau ketahui, ada berapa banyak jagoan kelas satu?"

Tukas manusia aneh itu. Setelah termenung sejenak sahut Ai Thian-hok.

"Tujuh partai besar dunia persilatan sudah memiliki sejarah yang panjang, kendatipun ciangbunjin dari ke tujuh partai sudah lama menutup diri, namun mereka semua terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan"

"Betul, masih ada yang lain?"

"Lu Ji-long dari Kwan-gwa, meski tidak pernah masuk perbatasan namun nama pendekarnya sudah lama menghebohkan dunia persilatan, kemudian keluarga Su dari Thay-gwan, Cu bu kiam dari Kanglam, Giok Na-cha dari Siong-yang, Tham It-lui dari Ho pan. Meski kungfu ke empat partai ini lebih mengutamakan tehnik, namun kepiawian mereka sangat luar biasa. Jika ilmu silat Giok-Nacha dari Siong-yang lebih mengutamakan kelincahan serta kecepatan berganti jurus, maka keluarga Tham dari Ho-pan lebih mengutamakan ilmu tendangan, mereka mendapat julukan 'Seutas cambuk dari Sin-kui, mengungguli dewa hidup', kehebatannya tidak terbantahkan!"

"Betul. Beberapa orang itu memang patut disebut jagoan kelas satu!"

"Ilmu Pat-ki-si dari perguruan Lak-hap di An-hui, ilmu pukulan mayat hidup keluarga Yan dari Seng-ciu, ilmu pedang Hui hong Wu liu kiam dari bukit Pa-san semuanya memiliki kelebihan yang tidak boleh dianggap enteng"

Sambung Ai Thian-hok lebih lanjut.

Biarpun dihari biasa dia jarang bicara, tapi begitu menyinggung masalah ilmu silat, ternyata pengetahuannya yang sangat luas.

Kembali lanjutnya setelah menarik napas panjang.

"Selain itu masih ada lagi Thiat hiat dari Perguruan Tay ki bun yang paling misterius jejaknya dan paling ganas ilmu pukulannya, anak murid mereka pun rata-rata memiliki kungfu yang hebat!"

Mendengar orang itu menyinggung soal perguruannya, tanpa terasa Thiat Tiong-tong merasakan semangatnya berkobar kembali.

"Betul"

Terdengar manusia aneh itu menghela napas panjang.

"Thiat hiat Tay ki bun memang sempat menghebohkan dunia persilatan, bahkan tiada tandingan dikolong langit, tapi sayang...."

"Tapi sayang apa?"

Tanpa terasa Thiat Tiong-tong bertanya. Manusia aneh itu meliriknya sekejap, kemudian baru melanjutkan.

"Tapi sayang ilmu silat Perguruan Tay ki bun sudah banyak yang punah, kungfu yang dimiliki anak muridnya sekarang paling banter hanya satu dua persen dibandingkan para cianpwee nya dulu"

Tergerak hati Thiat Tiong-tong setelah mendengar perkataan itu, tapi sebelum ia sempat berbicara, Ai Thian-hok sudah berkata duluan.

"Walaupun ilmu silat dari Perguruan Tay ki bun cukup tangguh, namun ilmu silat dari Ngo hok lian huan, lima keluarga turun temurun yang bermusuhan dengan mereka pun terhitung sangat hebat, ilmu pukulan tenaga yin dari Leng It-hong khusus diciptakan untuk menghadapi ciangbunjin dari Perguruan Tay ki bun, akibatnya jarang sekali dia menampilkan kungfu simpanannya itu. Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu merupakan pasangan kerjasama yang hebat, lalu siang-seng-piau-ki boleh dibilang juga jarang ada yang menandingi kehebatannya"

"Hmm, kalau main keroyok apa hebatnya? Biar menangpun tidak gagah"

Dengus orang aneh itu. Ai Thian-hok tidak menanggapi, ujarnya lebih jauh.

"Kalau berbicara soal senjata rahasia, peluru api dari Bi lek tong maupun jarum Thian li ciam milik Seng Toa-nio terhitung jagoan nomor wahid dalam dunia persilatan"

"Cari kemenangan dengan andalkan amgi? itu lebih parah!"

"Seng Toa-nio memang termashur, namun kalah jauh bila dibandingkan putranya, Seng Cun-hau, putranya ini merupakan salah satu anggota dalam deretan kelompok Jay hong kun kiam (kelompok pedang pelangi), dia menjadi tenar berbareng dengan Ang-eng (elang merah), Bi-gwat (rembulan hijau), Mo-liong (naga hitam), Lan-hong (angin biru), Ui-koan (mahkota kuning) dan Cui-yan (walet hijau pupus), walaupun ke tujuh orang ini usianya rata-rata masih muda, tenaga dalamnya masih terbatas, namun ilmu pedangnya cukup meyakinkan, asal ditempa berapa saat lagi, tidak sulit bagi mereka untuk menjadi jago kenamaan"

"Betul"

Manusia aneh itu manggut manggut.

"analisamu memang sangat tepat, masih ada yang lain?"

Thiat Tiong-tong yang berada disamping tidak bisa menahan diri lagi, selanya.

"Kiu cu Kui bo beserta murid muridnya memiliki kungfu yang hebat, namanya termasuk dalam deretan nomor wahid dan boleh dibilang merupakan jagoan tangguh saat ini, kenapa kau lupa menyinggungnya?"

"Betul, betul"

Seru manusia aneh itu sambil bertepuk tangan.

"pada tiga puluh tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki Yin Gi sudah terhitung hebat, aku percaya tiga puluh tahun kemudian kungfunya pasti jauh lebih maju"

"Siapa itu Yin Gi?"

Tanya Thiat Tiong-tong tercengang.

Ternyata meski nama besar Kiu cu Kui bo termashur dalam dunia persilatan, namun nama aslinya Yin Gi jarang diketahui orang, bagaimana Ai Thian-hok tidak kaget setelah mendengar manusia aneh itu mampu menyebut nama gurunya secara tepat?

Terdengar manusia aneh itu tertawa terkekeh kekeh.

"Ooh rupanya kau murid Kui bo? Biarpun pinceng tahu namanya tapi tidak kenal dengan orangnya!"

Dari senyuman orang yang kelewat dipaksakan, lalu mendengar manusia aneh itu buru-buru melamur, Thiat Tiong-tong tahu dibalik kesemuanya itu pasti ada teka teki yang tidak beres.

Tampaknya Ai Thian-hok pun tidak bisa menebak rahasia dibalik manusia aneh itu, setelah termenung sejenak ujarnya.

"Aku rasa tidak ada jagoan lagi dalam dunia persilatan yang lebih tangguh ketimbang nama-nama tadi"

"Hahahaha.... menurut pendapatmu bagaimana dengan kungfu yang pinceng miliki?"

Tiba-tiba manusia aneh itu bertanya sambil tertawa tergelak. Ai Thian-hok menghela napas panjang.

"Kecuali ketujuh ciangbunjin dari tujuh partai besar serta guruku yang memiliki ilmu silat sangat hebat, mungkin kemampuanmu pun susah dicarikan tandingannya dalam dunia persilatan"

"Hahahaha.... terima kasih, terima kasih...."

Seru manusia aneh itu tertawa tergelak. Tiba tiba dia berhenti tertawa, dengan serius lanjutnya.

"Tapi kami semua tidak akan mampu menandingi sebuah ujung jari saja milik seseorang!"

"Siapa dia?"

Tanya Ai Thian-hok terperanjat. Sebelum manusia aneh itu menjawab, mendadak Thiat Tiong-tong menyela.

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma, thaysu, kau pernah mendengar ucapan ini?"

Berubah paras muka manusia aneh itu, serunya sambil menatap tajam wajah anak muda itu.

"Kau kenal dengan mereka berdua?"

Dari perubahan mimik muka manusia aneh itu, Thiat Tiong-tong dapat menduga kalau ke dua orang yang disebut pasti memiliki asal-usul yang luar biasa, tidak tahan diapun menghela napas panjang.

"Cayhe sendiripun hanya sempat mendengar nama itu dari cerita orang"

"Kau ingin tahu soal ke dua orang itu?"

"Kalau thaysu bersedia menerangkan, tentu saja cayhe siap mendengarkan"

Manusia aneh itu berpikir sebentar, kemudian ujarnya.

"Kalau ingin mendengar kisahnya, ayoh ikut aku masuk ke dalam"

Selesai bicara diapun beranjak menuju ke ke tiga rumah pondokan itu.

Tanpa terasa Thiat Tiong-tong dan Ai Thian-hok mengikuti dari belakang.

Sekarang Thiat Tiong-tong baru dapat melihat dengan jelas tulisan yang tertera diatas papan nama ilu.

"Kuil siau-lim-sie kecil"

Melihat tulisan ini anak muda tersebut kontan merasa terkejut, keheranan bercampur geli, pikirnya nambil tertawa getir.

"Aneh betul manusia ini, masa ke tiga rumah pondokannya juga disebut Kuil Siau-lim-sie kecil, entah bagaimana reaksi para pendeta Siau-lim jika membaca tulisan itu?"

Tapi pikiran lain segera melintas, mendadak tningat olehnya kalau tempat itu letaknya di belakang bukit Siong-san, jaraknya dengan kuil Siau-lim-sie tidak terlampau jauh, kalau dilihat dari keberanian manusia aneh ini mencantumkan nama tersebut, bisa diduga kalau kemungkinan besar dia mempunyai hubungan yang akrab dengan kuil tersebut.

Ruangan di bangunan tengah cukup besar dan luas, tapi sayang acak-acakan, semua barang nyaris ditumpuk menjadi satu, dari buku, pedang, catur, khiem sampai sumpit, mangkuk, kuali, semuanya berada di satu tempat yang sama.

Disudut sebelah kiri terdapat rak kayu tempat buku, didalam rak itu berjajar berapa

Jilid kitab sementara diatas rak terpampang tulisan besar yang berbunyi.

"Cong keng khek" (ruang penyimpan kitab). Disamping rak buku itu tergeletak berapa batang golok dan pedang yang dianggapnya sebagai ruang Lohan. Diruang bagian tengah terdapat sebuah meja bobrok, diatas meja terletak sepasang lampu minyak, sedang dibagian tengahnya terpampang tulisan "Toa hiong po tien". Sementara disudut kanan ruangan terdapat sebuah anglo kecil, diatas anglo terdapat kuali yang mengepulkan uap panas, bau harum semerbak memancar keluar dari kuali itu, rupanya disitulah letak dapur. Menyaksikan kesemuanya itu Thiat Tiong-tong merasa heran, kaget bercampur geli, hampir semua ruangan yang ada di kuil Siau-lim, terdapat pula disitu, hanya saja bukan cuma kadarnya yang begitu rendah, pada hakekatnya bikin orang merasa geli saja. Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Tempo hari, setelah pinceng diusir dari perguruan maka akupun membangun kui Siau lim-sie kecil-kecilan disini sebagai pertanda protes, bagaimana menurut pendapatmu?"

Thiat Tiong-tong hanya bisa mengiakan, karena dia memang tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku. Mendadak dengan wajah serius manusia aneh itu berkata lagi.

"Kalian harus tahu, kendatipun pinceng makan daging minum arak, namun Buddha tetap berada dalam hatiku, selama Buddha masih berada dalam hatiku, maka apa salahnya bila kupandang tempat ini sebagai kuil Siau-lim-sie kecil-kecilan?"

Dari kata gurauan, Thiat Tiong-tong dapat menangkap makna lain dari perkataannya itu, maka sahutnya sambil tertawa.

"Perkataan thaysu betul juga, Bodhi bukan terletak pada pohonnya melainkan rasa percaya dihati, jika kita mau bersungguh hati maka semuanya pasti bermakna"

"Bagus, bagus sekali, pandangan yang tepat.."

Manusia aneh itu segera bertepuk tangan sambil tertawa.

"Boleh tahu siapa saja yang menurut thaysu betul-betul tokoh silat yang luar biasa itu?"

"Boleh saja bila kau berharap pinceng menceritakan kisah besar ini, cuma kalianpun mesti jelaskan dulu peristiwa yang sedang kalian berdua lakukan, kalau tidak pinceng betul-betul bisa mati karena sesak napas"

Thiat Tiong-tong tahu watak orang ini selain aneh, rasa ingin tahunya juga sangat besar, terpaksa diapun menghela napas panjang, katanya.

"Sebenarnya antara aku dengan Ai thayhiap tidak ada dendam sakit hati atau permusuhan apapun, hanya saja...."

Secara ringkas diapun menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kendatipun penjelasan itu seolah ditujukan kepada manusia aneh itu, padahal yang benar dia ingin memberi penjelasan kepada Ai Thian-hok, agar orang itupun mengetahui kejadian yang sesungguhnya.

Didalam ruangan itu hanya terdapat sebuah bangku bobrok, itupun sudah ditempati manusia aneh itu, terpaksa Thiat Tiong-tong harus berbicara sambil berjalan mondar-mandir, diam-diam diapun mengawasi perubahan wajah dari Ai Thian-hok.

Ketika menyaksikan paras muka Ai Thian-hok berubah jadi sedih, seakan sudah merasa tenteram dan dingin perasaannya, sama sekali enggan mencari gara-gara lagi, diam-diam pemuda itu merasa kegirangan.

Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu membentak nyaring, tubuhnya melompat bangun dari atas bangku lalu menubruk ke arah Thiat Tiong-tong sambil merentangkan sepasang lengannya.

Dengan perasaan kaget bercampur terkesiap, buru-buru anak muda itu mundur sejauh tiga langkah.

Terdengar manusia aneh itu berkata dengan nada berat.

"Kalian boleh berkeliaran ke mana pun dalam kuil Siau-lim-sie kecil ini, tapi jangan sekali-kali kalian sentuh pintu ke ruangan tersebut"

Rupanya sewaktu berjalan mondar mandir tadi, tanpa disadari Thiat Tiong-tong telah bersandar disebuah pintu yang ada disisi kiri.

Mendengar peringatan itu, dengan perasaan heran anak muda itu berpikir.

"Apa anehnya dengan ruangan ini?"

Tapi dia memang sudah terbiasa pandai mengendalikan diri, walaupun wajahnya sama sekali tidak berubah, sambil melanjutkan penuturannya diam diam dia mulai awasi pintu sempit itu dengan lebih seksama.

Pintu itu tertutup rapat dan sama sekali tidak ada celahnya sehingga tidak nampak apa isinya, hingga dia selesai bercerita pun pemuda itu tetap tidak berhasil menemukan apa-apa.

Waktu itu si manusia aneh tadi sudah balik dan duduk kembali di bangkunya, sambil mengipasi anglo kecilnya kembali dia berkata sambil tertawa keras.

"Beruntung kalian berdua tiba disini, kalau sampai bertarung habis-habisan, bukankah kejadian ini malah akan meninggalkan rasa penyesalan?"

Paras muka Ai Thian-hok masih tetap tanpa perasaan, dia tidak menanggapi perkataan itu, hanya tanyanya dengan nada dingin.

"Siapa saja yang menjagoi dunia persilatan selama ini?"

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma...."

Gumam manusia aneh itu sambil memejamkan matanya. Mendadak dia membuka matanya kembali dan melanjutkan.

"Hek Seng-thian, Pek Seng-bu maupun Bi gwat kiam khek sudah menjadi jagoan tenar dikolong langit saat ini, tahukah kalian berdua siapa guru mereka semua?"

Thiat Tiong-tong ingin memberi kesempatan kepada Ai Thian-hok untuk berbicara, sebab dia tahu kalau banyak bicara maka ke inginannya untuk tetap hidup akan semakin tumbuh, oleh sebab itu meski dia tahu jawabannya namun tetap tutup mulut.

Benar saja, Ai Thian-hok segera menjawab.

"Walaupun Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu mengaku kalau kungfu mereka berasal dari warisan keluarga, padahal yang benar mereka mempelajari ilmu silatnya dari Kok thian seng, seorang begal budiman yang tersohor namanya dimasa lalu!"

"Betul, walaupun Kok Thian-seng memiliki kungfu yang sangat hebat, sayang nama dan pamornya kurang sedap, itulah sebabnya Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu enggan mengaku sebagai muridnya!"

"Aku dengar Bi gwat kiam-khek selain berwajah cantik, hatinya telengas, orang ini berasal dari aliran lurus, hanya sayang memiliki watak yang tidak berbeda dengan gurunya, Gwat-hoa Siancu!"

"Betul sekali, tidak nyana kau sangat menguasahi kejadian-kejadian lama. Tapi tahu-kah kau bagaimana nasib selanjutnya dari Kok thian-seng serta Gwat-hoa siancu?"

"Kedua orang ini satu hidup di selatan yang lain hidup di utara, boleh dibilang saat itu tiada tandingannya, tapi justru di saat nama mereka terorbit hingga puncaknya, tiba-tiba kabar beritanya hilang lenyap tidak berbekas, oleh sebab itu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Bi-gwat kiam-khek hanya sempat mempelajari tiga puluh persen kemampuan guru-gurunya, banyak berita dan dugaan yang kemudian muncul dan beredar dalam dunia persilatan karena hilangnya ke dua tokoh ini, ada yang bilang mereka berdua telah pulang ke langit barat...."

Setelah merandek sejenak dan termangu, dengan wajah agak berubah gumam Ai Thian-hok lebih jauh.

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma...."

Manusia aneh itu ikut menghela napas.

"Itulah dia, kejadian yang benar adalah Kok Thian-seng serta Gwat-hoa siancu telah dipecundangi oleh si Ruyung guntur dan Peluru angin, meski tidak jelas bagaimana nasibnya, namun aku duga lebih banyak bahayanya ketimbang selamat!"

Thiat Tiong-tong merasa tercekat hatinya, dia tahu Kok thian-seng dan Gwat-hoa siancu adalah jago-jago yang tanpa tandingan selama puluhan tahun, tidak disangka ternyata mereka telah dikalahkan orang.

Sebagaimana diketahui, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Bi-gwat kiam-khek yang baru menguasahi tiga bagian kungfu gurunya saja sudah dapat menjagoi kolong langit, bisa dibayangkan betapa lihaynya Kok Thian-seng dan Gwat-hoa siancu itu.

Agak berubah juga paras muka Ai Thian-hok, lewat sesaat kemudian dia baru berkata lagi.

"Heran, kenapa cayhe tidak pernah dengar orang membicarakan soal si Ruyung guntur dan Peluru angin?"

Manusia aneh itu menghela napas panjang.

"Kalau Kui-bo saja enggan menyinggung nama busuk ke dua orang malaikat buas itu, mana berani orang lain membicarakannya?"

Berubah hebat paras muka Ai Thian-hok, dia segera membungkam diri dalam seribu bahasa. Thiat Tiong-tong pun merasakan hatinya terkesiap, pikirnya.

"Jika Seng Toa-nio sampai bisa mengundang ke dua orang itu untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, bukankah nasib kami semua bakal habis secara tragis?"

Dalam pada itu si orang aneh itu sudah membuka penutup kualinya untuk memeriksa apakah masakannya sudah matang, kemudian ujarnya pula.

"Biarpun ilmu silat yang dimiliki Ruyung guntur dan Peluru angin sangat hebat, namun mereka pun amat takut terhadap seseorang"

"Siapa dia?"

Tanya Ai Thian-hok dengan tubuh tergetar. Manusia aneh itu tidak menjawab, hanya gumamnya.

"Bila kau bergerak, hujan angin bagai langit gelap, guntur kilat jalan beriring. Bila kau tenang, langit cerah bagai cermin, bintang bersinar rembulan bercahaya!"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Tanya Ai Thian-hok melongo. Manusia aneh itu seolah tidak mendengar, dengan mata terpejam gumamnyalebih jauh.

"Ombak samudra serasa suram, bukit dan pepohonan serasa tidak berwarna, sebagai pimpinan dari semua kehidupan, kepentingan umum harus diutamakan!"

Tiba-tiba dia membuka matanya kembali, dengan sorot mata setajam bintang malam tanyanya.

"Kau pernah mendengar pantun dari Bi lok bu?"

"Apa hubungannya Bi lok-bu dengan jago jago hebat dalam dunia persilatan?"

Batin Ai Thian-hok. Manusia aneh itu tertawa tergelak, katanya.

"Justru isi dari Bi lok-bu menceritakan berapa tokoh aneh dalam dunia persilatan, makna yang terkandung dalam setiap patah katanya memang susah untuk diterangkan secara ringkas"

Thiat Tiong-tong maupun Ai Thian-hok meski merupakan jago silat yang pandai mengendalikan emosi dan jalan pikirannya, tidak urung dibuat keheranan juga oleh ungkapan tersebut, tanpa terasa dengan perasaan ingin tahu tanyanya.

"Makna apa? Siapa pula tokoh silat yang dimaksud?"

Manusia aneh itu mengambil semangkuk daging yang sudah matang dari kuali kemudian berkata.

"Pantun itu sebenarnya berisi pujian terhadap keindahan alam jagad, tapi sejak puluhan tahun berselang seseorang telah menggunakan potongan bait syait itu untuk melukiskan beberapa orang tokoh silat, kata-kata tersebut adalah. tokoh silat yang menghebohkan dunia jagad, semuanya terhimpun dalam Bi-lok-bu!"

Ketika mengendus bau harum semerbak dari daging rebus itu, Thiat Tiong-tong serta Ai Thian-hok segera merasa perutnya jadi lapar, tapi lantaran tuan rumah tidak mengundang mereka untuk bersantap, tentu saja mereka tidak bisa mengambil Hendiri hidangan yang ada.

Tampak manusia aneh itu bangkit berdiri, sambil membawa mangkuk berisi daging katanya lagi sambil tertawa.

"Biar pinceng hantar dulu mangkuk berisi daging ini kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan"

Thiat Tiong-tong tertegun, meski ingin mendengar secepatnya namun diapun tidak dapat berbuat apa-apa.

Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke pintu sempit itu, berjalan dengan sangat hati-hati, seolah kuatir kalau kuah daging itu tumpah dari mangkuk, senyuman yang semula menghiasi wajahnya kini sudah lenyap, mimik mukanya berubah jadi sangat serius.

Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pikir-nya.

"Entah siapa yang berada disitu? Kenapa sikap manusia aneh itu jadi begitu hormat dan serius?"

Ai Thian-hok tidak bisa melihat, tapi dengan telinganya dia berusaha mendengarkan dengan seksama. Begitu tiba di depan pintu ruangan, mendadak manusia aneh itu berbisik lirih.

"Meong.... meong...."

Ternyata dia menirukan suara kucing. Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pikir-nya.

"Masa dalam ruangan itu hanya berisi kucing?"

Tampak manusia aneh itu dengan sangat hati-hati mendorong pintu ruangan dan berjalan masuk, serunya sambil tertawa.

"Kau...."

Mendadak terdengar jeritan kaget bergema memecahkan keheningan disusul suara mangkuk yang pecah, terlihat daging kuah itu berhamburan diatas tanah.. Disusul kemudian.

"Blaaaam!"

Pintu ruangan dibuka lebar.

Tanpa sadar Thiat Tiong-tong melongok ke dalam, ternyata dibalik pintu merupakan sebuah ruangan kecil, biar kecil namun peralatannya sangat lengkap, ada pembaringan, ada kaca berhias, diatas ranjang bertumpuk pakaian, disisi cermin terlihat sisir kayu wanita, bahkan diatas sisir masih tertinggal berapa helai rambut.

Waktu itu orang aneh tersebut masih berdiri disisi cermin dengan wajah terperanjat, tertegun dan melongo, bagaikan orang yang tersambar petir saja.

Siapa yang menyangka didalam kuil Siau-lim-sie kecil ternyata terdapat kamar tidur wanita, kenyataan ini benar-benar membuat orang terkesima.

Tapi ruangan mungil itu dalam keadaan kosong, tidak nampak bayangan manusia atau makhluk lainnya, kain tirai yang bergoyang terhembus angin hanya membiaskan dinding dibaliknya.

Dengan ketajaman mata Thiat Tiong-tong, sekali pandang dia sudah tahu kalau dinding itu terbuat dari tembaga hijau, hanya sebagai kamuflase maka diluarnya ditambah dengan lapisan kapur dan tanah hingga orang yang tidak berpengalaman akan menyangka ruangan itu hanya sebuah ruangan biasa.

Tapi siapa pun yang tersekap dalam ruangan itu, jangan harap dia bisa lolos dengan mudah.

Dengan wajah kebingungan manusia aneh itu celingukan kian kemari, gumamnya.

"Ke mana dia pergi, ke mana dia pergi...."

Tiba-tiba dia menjumpai sebuah liang disudut ruangan, liang itu menjorok jauh ke dalam tanah.

Sambil membentak dia segera menendang ranjang itu hingga tersingkir, ternyata bawah ranjang sudah dipenuhi dengan tumpukan tanah.

Tampaknya orang yang berada dalam ruangan Itu telah menyusun rencana pelarian yang matang, secara diam-diam dia telah menggali lorong bawah tanah, untuk menampung tanah bekas galiannya maka dia sembunyikan dibawah kolong ranjang.

Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri melongo dengan penuh tanda tanya.

Terdengar manusia aneh itu berteriak lagi.

"Dia telah pergi, dia.... bahkan dia pun mengajak serta Ping-nu...."

Mendadak dia melompat kehadapan Thiat Tiong-tong, mencengkeram bahunya dan pinta-nya.

"Bila kau bersedia membantuku, dikemudian hari aku pasti tidak akan melupakan kebaikan-mu!"

"Katakan saja!"

Jawab pemuda itu tergagap.

"Dia telah melarikan diri, bakal terjadi keonaran besar diluar sana, bagaimana pun pinceng harus membekuknya kembali, untuk sementara tolong urusi tempatku ini!"

Dia tidak menunggu pemuda itu bersedia atau tidak, begitu selesai bicara tubuhnya langsung menerobos masuk ke dalam liang bawah tanah itu.

Menanti Thiat Tiong-tong menyusul ke sana, bayangan tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas.

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri tertegun dimuka lorong bawah tanah, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Terdengar Ai Thian-hok berkata.

"Kini hatiku sudah sangat kecewa, ambisiku telah padam dan aku tidak ingin kembali ke dunia keramaian, aku bisa mewakilimu untuk merawat tempat ini, jika ingin pergi, pergilah!"

Thiat Tiong-tong tertawa pedih, dia membalikkan tubuh sambil berjalan balik, bisiknya.

"Soal kejadian semalam...."

"Yang sudah lewat biarlah lewat, apa gunanya dibicarakan lagi"

Tukas Ai Thian-hok cepat.

"dengan kemampuan silat yang kumiliki, andaikata diumpat si ruyung guntur atau peluru angin pun aku tidak bisa berbuat apa kecuali menelan ludah!"

Thiat Tiong-tong tahu kalau jalan pikirannya sudah terbuka, saat ini dia tidak tahu harus gembira atau terharu?

Belum sempat menjawab sesuatu, tiba-tiba dia jumpai ada sepucuk surat tertindih dibawah meja hias, surat itu tidak ditemukan manusia aneh itu karena saat tadi dia sedang panik bercampur kaget.

Surat itu berbunyi begini.

"Akhirnya aku peroleh kebebasan, tidak mungkin kau bisa temukan jejakku, matikan saja niatmu itu, kau menderita lantaran aku, tapi semuanya itu atas keikhlasanmu sendiri, rasain! Tertanda. Yin Ping"

Walaupun surat itu ditujukan untuk manusia aneh itu, tapi Thiat Tiong-tong tahu Ai Thian-hok pasti mengetahui latar belakang dari semua kejadian itu, maka sewaktu menemukan surat tadi dia sengaja membacanya agak keras.

Benar saja, paras muka Ai Thian-hok yang semula tenang seketika berubah hebat setelah mendengar nama "Yin Ping"

Disebut, jeritnya keras.

"Yin Ping, Yin Ping.... ternyata dia berada disini!"

"Siapa itu Yin Ping?"

Pikir Thiat Tiong-tong keheranan, satu ingatan melintas dalam benak-nya, segera teriaknya.

"Yin.... Yin Ping.... jangan jangan dia ada hubungannya dengan gurumu...."

"Benar, Yin Ping adalah sam-moay guruku!"

Jawab Ai Thian-hok perlahan, wajahnya yang semula dingin hambar, segera terlintas perasaan ngeri, geram bercampur dendam.

Thiat Tiong-tong tahu orang ini aneh watak-nya dan sudah terbiasa hidup menyendiri, dia menganggap kematian sebagai sesuatu hal yang lumrah, tapi kenyataannya saat ini dia justru menunjukkan rasa takut dan seram yang tebal, dibalik kesemuanya itu jelas terdapat alasan tertentu.

Semakin dipikir dia merasa semakin keheranan, ujarnya kemudian.

"Tidak aneh kalau manusia aneh itu mengetahui nama asli Kiu cu Kui-bo, ternyata dia pun punya hubungan dengan adiknya...."

Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraa, lanjutnya.

"Aku dengar gurumu punya tiga bersaudara, dulu mereka tersohor karena kecantikan wajahnya bahkan selalu mengembara bersama, kemu-dian kenapa masing-masing berjalan secara terpisah?"

Ai Thian-hok hanya mendengus tanpa menjawab. Thiat Tiong-tong tahu, dia pasti mengetahui rahasia dibalik kejadian ini, maka dengan nada menyelidik katanya.

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya di antara tiga bersaudara keluarga Yin, adik ke tiga dibilang tercantik tapi juga terkeji...."

Belum selesai dia berbicara, mendadak terdengar suara seorang wanita yang halus lembut berkumandang datang diiringi suara tertawanya yang merdu.

"Terima kasih atas pujianmu, tapi aku tidak berani menerima semua pujian itu.... !"

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang manis dan merdu, jangankan lelaki lain, Thiat Tiong-tong yang berhati baja dan susah tergoda pun tidak urung goyah juga perasaan hatinya setelah mendengar ucapan tadi.

Dia celingukan kian kemari namun empat penjuru sepi tidak nampak sesosok bayangan manusia pun, jangan lagi sang pembicara, darimana asal suara itupun tidak ketahuan olehnya, hal mana membuat Thiat Tiong-tong amat terperanjat, bahkan paras muka Ai Thian-hok pun ikut berubah.

Kedua orang itu hanya bisa mengepal tinjunya tanpa bersuara, ditengah keheningan yang mencekam itulah tiba-tiba dari balik almari kayu kecil disisi meja rias berkumandang suara Kemerutuk yang nyaring.

Kemudian diikuti pintu almari terbuka perlahan, dan muncullah sebuah tangan yang halus lembut dengan jari jemari yang panjang, lentik dan indah.

Thiat Tiong-tong tidak pernah menyangka kalau didunia ini ternyata terdapat jari tangan sedemikian indahnya, terlebih tidak mengira kalau dari balik sebuah almari kecil bisa menerobos keluar tubuh seseorang, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri mematung saking kagetnya.

Pintu almari itu terbuka makin lebar, suara lertawa yang bergema dari balik almari pun semakin menggetarkan sukma.

Tiba-tiba terdengar Ai Thian-hok membentak nyaring, secepat kilat dia menghadang dihadapan Thiat Tiong-tong dan menghalangi pandangannya, kemudian dengan nada gemetar teriaknya.

"Cepat berpaling ke arah lain, jangan kau pandang perempuan itu!"

Teriakan panik, kaget bercampur ngeri itu belum pernah didengar Thiat Tiong-tong sebelumnya, untuk sesaat dia hanya berdiri tertegun.

Menanti dia siap membalikkan tubuh, terdengar perempuan yang berada dalam almari itu sudah berkata sambil tertawa merdu.

"Keponakanku, kau tidak perlu takut, aku sudah mengerudungi wajahku hingga meski terlihat pun juga tidak menjadi masalah"

Ditengah pembicaraan, terendus bau harum semerbak yang tebal dari balik almari.

Disusul kemudian, Thiat Tiong-tong hanya merasakan matanya jadi kabur, tahu-tahu dalam ruangan telah bertambah dengan seorang wanita cantik bergaun merah yang bertubuh tinggi semampai, berpinggang ramping dan berambut disanggul tinggi.

Dia mengenakan kain kerudung merah diwajahnya, meski tersamar namun masih dapat terlihat kecantikan wajahnya yang menggiuran, kecantikan wanita ini sungguh mengejutkan bagaikan menyaksikan sekuntum bunga indah yang muncul dari balik kabut.

Kain cadar tipis itu membuat wajah cantiknya nampak makin misterius, semakin memiliki daya tarik yang luar biasa, membuat setiap orang tanpa sadar semakin ingin melihat, ingin tahu sejauh mana kecantikan wajah perempuan itu dari balik kain cadarnya.

Thiat Tiong-tong merasakan sorot matanya seolah tidak bisa dikendalikan, seakan ingin sekali melihat wajah perempuan itu, dia tidak mampu melawan hasratnya yang besar untuk menatap wajahnya.

Hal ini membuat hatinya terkesiap, pikirnya.

"Almari itu amat kecil lagi sempit, jangankan orang dewasa, seorang bocah pun belum tentu mampu bersembunyi disitu, tapi nyatanya dia dapat bersembunyi disana, ini membuktikan kalau ilmu penyusut tulangnya Sut-kut-hoat sudah mencapai tingkatan yang luar biasa!"

Ketika mencoba berpaling ke arah rekannya, kembali dia tertegun.

Ternyata Ai Thian-hok sendiripun berdiri mematung ditempatnya, sama sekali tidak bergerak.

Perempuan cantik itu masih saja tertawa merdu, setelah mengerling pada Thiat Tiong-tong sekejap, tiba-tiba dia menghadap ke arah Ai Thian-hok Kembari menyapa.

"Sudah lama tidak bertemu, baik-baikkan kau?"

Meski Ai Thian-hok berusaha keras mengendalikan gejolak emosinya, tidak urung ujung jarinya krlihatan mulai gemetar keras.

Kembali perempuan cantik itu mengerling sekejap kesekeliling ruangan, katanya lebih jauh sambil tertawa.

"Rupanya si goblok telah pergi, melihat lorong bawah tanah yang kugali, dia sangka aku sudah kubur lewat terowongan itu, hahahaha.... siapa sangka aku justru masih tetap tinggal disini, biar dia mau menebakpun tidak bisa, mau ditemukan pun tidak dapat. Hey, menurut kau, cerdik tidak tindakan yang telah dilakukan enso cilikmu ini?"

"Benar benar seorang perempuan licik!"

Batin Thiat Tiong-tong dengan hati tercekat.

Dia tahu, perempuan inilah Yin Ping, tapi dia tidak menyangka kalau penampilan perempuan ini justru nampak jauh lebih muda ketimbang Kiu cu Kui bo.

Ai Thian-hok masih berdiri tanpa bergerak, butiran keringat telah membasahi jidatnya.

Dengan selembar saputangan yang diambil dari sakunya, Yin Ping menyeka peluh dijidatnya itu, kemudian setelah menowel pipinya kembali dia bei kata sambil tertawa.

"Bocah bodoh, kenapa berdiri termangu? Kenapa tidak memanggil enso mu?"

Ai Thian-hok masih tidak bicara, tidak bergerak maupun melawan, dia seakan benar-benar tertegun dibuatnya.

Sementara Thiat Tiong-tong masih tercengang bercampur keheranan, tiba-tiba terlihat Yin Ping berpaling ke arahnya dan berseru sambil tertawa.

"Hei, tolonglah aku, betulkan letak pembaringan itu, mau bukan?"

Ucapannya merdu, senyumannya manis, penuh daya pikat, membuat orang lain merasa tidak tega untuk menampik permintaannya.

Benar saja, Thiat Tiong-tong benar-benar membantunya menggeser pembaringan itu dan diletakkan pada posisi yang benar.

"Dasar bocah pintar...."

Kembali Yin Ping berkata sambil tertawa, dia segera melepaskan Ai Thian-hok dan duduk diatas ranjang.

Langkah tubuhnya halus dan lembut, goyangan pinggulnya menawan, setiap gerakan, setiap tingkah polanya seakan mengandung daya pikat yang luar biasa, tidak tahan kembali Thiat Tiong-tong menengok ke arahnya.

"Bocah bodoh, apa yang kau lihat?"

Tegur perempuan itu sambil tertawa. Merah jengah selembar wajah anak muda itu, buru-buru dia berpaling ke arah lain.

"Bagaimana kalau kulepas kain cadarku ini, agar kau bisa melihat wajahku lebih jelas?"

Kembali Yin Ping berkata sambil tertawa. Baru saja Thiat Tiong-tong ingin mengucap-kan kata "baiklah", mendadak terdengar Ai Thian-hok membentak nyaring.

"Kau tidak boleh melihat wajahnya!"

Suara bentakan itu sangat parau, paras mukanya berubah sangat menakutkan. Yin Ping segera tertawa terkekeh kekeh.

"Hahahaha.... oya, aku hampir lupa beritahu kepadamu, setiap lelaki yang pernah melihat wajahku, akan kucongkel matanya hingga buta, agar dalam benaknya selalu tersimpan kesan wajahku, tapi jangan kuatir, meski sedang mencongkel matamu, kau tidak akan merasa tersiksa atau kesakitan, menderita sedikitpun tidak, bayangkan sendiri betapa baiknya hatiku bukan?"

Semua perkataan itu disampaikan dengan tutur kata yang lembut dan mesra, seakan dia sedang menceritakan satu kejadian yang penuh dengan kelembutan dan kehangatan, seperti juga seorang kekasih yang sedang mengutarakan isi hatinya.

Kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan hawa dingin muncul dari lubuk hatinya, membuat dia tercekat, membuat dia merinding.

Sambil mempermainkan ujung bajunya dengan jari tangan yang lentik, kembali Yin Ping berkata.

"Kalau memang ingin melihat wajahku, lihatlah, sekalipun berakibat buta matanya, toh cukup berharga untuk dilakukannya"

Suaranya yang begitu merdu dan indah, wajahnya yang begitu cantik, bau harum yang begitu memikat, benar-benar membuat orang rela menjadi buta asal dapat memandang sekejap saja ke tuahnya.

Thiat Tiong-tong sudah merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya, sementara jari tangan Yin Ping yang lentik sudah mulai menyingkap ujung cadarnya, memperlihatkan sedikit dagunya yang putih halus bagai pahatan pualam.

Ai Thian-hok bermandikan keringat dingin, walaupun sepasang matanya telah buta, namun dia seolah dapat menyaksikan kejadian saat itu, karena dulu dia sendiripun pernah mengalami peristiwa semacam ini.

Tanpa terasa dalam benaknya terlintas kembali semua kejadian lama yang pernah dia alami....

Saat itu adalah sebuah malam yang indah, seorang perempuan cantik dengan mengenakan kain sutera yang tipis berjalan menghampiri seorang pemuda, wajahnya mengenakan sebuah cadar tipis.

"Kau ingin melihat?"

Dia bertanya lembut.

Telapak tangan pemuda itu sudah basah oleh peluh dingin, akhirnya dengan gemetar dia mengangguk, maka pemuda itupun menyaksikan selembar wajah yang membuatnya tidak pernah melupakan untuk selamanya.

Semenjak saat itu, selamanya dia tidak dapat melihat lagi benda-benda lain!

Mungkinkah sejarah akan berulang kembali?

Dia tahu Yin Ping sedang mendekati Thiat Tiong-tong selangkah demi selangkah, daya pikat yang terpancar dari tubuhnya memang sulit untuk dilawan.

Tiba-tiba terdengar Thiat Tiong-tong berkata dengan nada dingin .

"Seandainya kau lebih muda dua, tiga puluh tahun, aku pasti akan melihatnya, sayang kau sudah tua, sudah jadi nenek tua, sekalipun memiliki ilmu awet muda, tapi kalau dibayangkan justru amat memuakkan!"

Sekujur tubuh Yin Ping gemetar keras, senyuman diwajahnya lenyap seketika, kali ini giliran dia yang jadi tertegun!

Mimpi pun dia tidak menyangka kalau pemuda itu ternyata begitu dingin, perasaannya begitu beku dan perkataan-nya begitu tajam.

Tidak tahan Ai Thian-hok ikut membesut butiran keringat yang membasahi jidatnya, diam-diam dia menghela napas, pikirnya.

"Perasaan pemuda ini benar-benar terbuat dari batu cadas dan baja, kalau tidak, mana mungkin dia bisa melawan godaan!"

Hanya orang yang pernah mengalami peristiwa itu yang tahu, betapa besar dan hebatnya daya pikat yang dimiliki Yin Ping, juga hanya mereka yang tahu betapa misterius, betapa kuatnya rangsangan yang terpancar keluar dari kerlingan mata dibalik kain cadarnya.

Yin Ping sendiripun dibuat kelabakan, daya pikat yang misterius ibarat lapisan baja yang melindungi tubuhnya, tapi sekarang lapisan baja itu berhasil ditembusi secara gampang oleh tusukan Thiat Tiong-tong yang dingin dan sinis.

Dia semakin kalut, Thiat Tiong-tong justru semakin tenang, kembali ujarnya sambil tertawa dingin.

"Waktu berlalu bagaikan air yang mengalir, selamanya tidak akan balik kembali, tahukah kau, selanjutnya kau sudah tidak mampu memikat orang lain lagi?"

Yin Ping mundur berapa langkah, duduk kembali ditepi pembaringan.

"Aku anjurkan kepadamu, lebih baik pergilah dari sini, makin jauh makin baik"

Kata Thiat Tiong-tong lebih lanjut.

"bukan saja tempat ini sudah tidak cocok untuk menampung dirimu, bahkan diseluruh kolong langit sudah tidak ada tempat lagi untukmu!"

Diam-diam Ai Thian-hok bersorak gembira, seluruh dendam, sakit hati dan kebencian yang dipendamnya selama banyak tahun seolah sudah terlampiaskan.

Tidak seorang korban buta ditangan Yin Ping yang pernah menuntut balas kepada perempuan itu, karena kebutaan mereka disebabkan kerelaan dan keikhlasan sendiri, tapi sekarang, Thiat Tiong-tong telah mewakili orang orang itu untuk membuat pembalasan.

Siapa sangka tiba-tiba saja Yin Ping tertawa cekikikan, katanya.

"Anak baik, bagus sekali perkataanmu, ternyata ada orang berani mengumpatku dengan kata muak, satu kejadian yang belum pernah kubayangkan sebelumnya!"

"Aku justru kuatir dikemudian hari akan semakin banyak orang yang akan memakimu dengan kata-kata tersebut!"

"Aduh, tidak kusangka ciciku bisa menerima seorang murid yang begitu bagus macam dia!"

"Orang itu murid Perguruan Tay ki bun!"

Sela Ai Thian-hok tiba-tiba. Kali ini paras muka Yin Ping yang berubah hebat, gumamnya.

"Tay ki bun.... Tay ki bun.... hehehe... sayangnya semua anggota Perguruan Tay ki bun hanya punya ayah tidak punya ibu!"

Thiat Tiong-tong merasakan telinganya mendengung keras, tubuhnya bergetar bagai tersambar petir dan guntur, hawa panas bergelora dalam rongga dadanya, dengan suara gemetar dia berteriak.

"Apa.... apa kau bilang?"

"Bukankah apa yang kukatakan telah kau dengar dengan sangat jelas?"

Ejek Yin Ping sambil tertawa cekikikan, saking kerasnya dia tertawa sampai tubuhnya pun ikut bergoyang.

Thiat Tiong-tong tidak dapat menjaga ketenangan hatinya lagi, tapi semakin dia kehilangan kendali, tertawa Yin Ping semakin menggetarkan hati.

Dengan penuh amarah Thiat Tiong-tong membentak.

"Jika kau berani bicara sembarangan lagi....

"Kalau dibilang kau beribu, coba tunjukkan di mana ibumu?"

Ejek Yin Ping lagi sambil tertawa lerkekeh.

Tubuh Thiat Tiong-tong mulai gontai, akhirnya dia jatuh terduduk diatas bangku.

Ternyata tujuan utama dari Perguruan Tay ki bun adalah balas dendam, lantaran kuatir kasih sayang seorang ibu dapat memperlemah semangat inang anak didiknya, maka sejak dilahirkan setiap anggota perguruan sudah dipisahkan dari kasih sayang seorang ibu, bahkan sejak dapat berjalan mereka sudah mendapat pendidikan ketat untuk belajar silat, hingga boleh dibilang mereka tidak kenal macam apakah kasih sayang seorang ibu, malah tidak tahu bagaimana wajah ibunya.

Yin Ping sengaja menghela napas panjang, katanya lagi sambil tertawa.

"Seekor anak domba saja merasakan kasih sayang induknya, tapi sayang anggota Perguruan Tay ki bun tidak ada yang tahu dimanakah ibu mereka, benar-benar lebih mengenaskan nasibnya ketimbang seekor binatang...."

"Tutup mulut!"

Bentak Thiat Tiong-tong sewot.

"Aah, betul, aku benar-benar minta maaf, padahal hanya iseng saja menyinggung soal itu, aku tidak bermaksud melukai hatimu"

"Darimana kau bisa mengetahui masalah tentang Perguruan Tay ki bun?"

"Bila kau ingin tahu darimana aku bisa mengetahui kesemuanya ini, lebih baik pulang dulu dan tanyakan kepada...."

Mendadak terdengar suara ketukan pintu yang amat ramai berkumandang dari luar rumah. Lalu terdengar suara seorang wanita berseru dengan napas tersengkal.

"Adakah seseorang dalam rumah? Bolehkah aku masuk untuk bersembunyi?"

Nada suaranya panik dan penuh ketakutan, tapi Thiat Tiong-tong merasa sangat mengenal suara itu.

Perasaan hatinya tercekat, untuk sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa, mendengarkan perkataan Yin Ping dulu sampai selesai baru keluar membuka pintu atau buka pintu dulu tanpa menggubris perkataan perempuan ini.

Siapa tahu Yin Ping hanya tersenyum dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Thiat Tiong-tong merasakan otaknya sangat kalut, tanpa membuang waktu lagi dia melompat keluar ruangan menuju ke pintu depan.

Terdengar Yin Ping yang berada dibelakangnya kembali memuji sambil tertawa.

"Hebat juga ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bocah ini!"

Ketika menengok ke luar, dia menjumpai ada seorang wanita yang menggendong tubuh seseorang berdiri di depan pintu, perempuan itu tiada hentinya menengok ke belakang dengan wajah gelisah bercampur cemas.

Ternyata mereka tidak lain adalah Un Tay-tay dan Im Ceng.

BAB 16 Dunia yang Sempit Betapa terkejutnya Un Tay-tay ketika mengetahui orang yang membukakan pintu adalah Thiat Tiong-tong, serunya tertahan.

"Ke.... kenapa kau bisa berada disini?"

"Kau sendiri? Kenapa datang kemari?"

Un Tay-tay tidak menjawab, dengan cepat dia melangkah masuk ke dalam ruangan, setelah menurunkan Im Ceng, cepat dia merapatkan kembali pintunya kemudian baru menghembuskan napas panjang, tubuhnya mulai roboh dengan lemas.

Cepat Thiat Tiong-tong memayangnya, kemudian bertanya lagi dengan kening berkerut.

"Kenapa kau?"

Biarpun hanya pertanyaan singkat bahkan disampaikan dengan nada dingin dan kaku, namun dibalik ucapan tersebut justru terselip perasaan kuatir serta perhatian yang hangat.

Un Tay-tay yang menggeliat dalam rangkulan-nya merasa hatinya manis bercampur hangat, tapi begitu memandang tubuh Im Ceng yang tergeletak di tanah, cepat dia melompat bangun, tundukkan kepala dan menyahut.

"Aku cukup baik!"

Melihat sikap dan tingkah laku perempuan itu jauh berbeda dibandingkan berapa hari berselang, lalu melihat pula keadaan Im Ceng yang tergeletak ditanah, dengan cepat Thiat Tiong-tong memahami apa yang telah terjadi, tampaknya perempuan itu sudah tumbuh benih cintanya terhadap Im Ceng.

Maka dengan senyuman dikulum ujarnya.

"Ooh, kau baik sekali"

"Tapi situasinya sangat tidak menguntungkan, Hek Seng-thian dan Suto Siau sekalian berhasil menemukan jejakku, untung aku cukup cekatan dan berhasil melarikan diri, kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah terjatuh ke tangan mereka"

Dari perubahan mimik mukanya sewaktu lari masuk ke dalam ruangan tadi, Thiat Tiong-tong sudah menduga kalau telah terjadi sesuatu, tapi dia tidak menyangka kalau urusannya begitu gawat dan serius, buru-buru dia bertanya dengan suara dalam.

"Jadi beberapa orang itu berhasil menemukan dirimu? Tapi, darimana mereka bisa mengetahui tempat persembunyianmu?"

"Sim Sin-pek yang membawa mereka ke situ"

"Sim Sin-pek?"

Ulang Thiat Tiong-tong keheranan.

"tapi dia sudah menghianati Hek Seng-thian, mana mungkin...."

Tapi ingatan lain segera melintas, ujarnya kemudian sambil tertawa dingin.

"Aaah benar, walaupun Sim Sin-pek telah berhianat, namun Hek Seng-thian yang merasa kalau muridnya licik dan banyak akal serta paling cocok menjadi pembantu utamanya, tentu tidak ingin melukai perasaan hatinya, malah bisa jadi dia justru amat menyukainya, waah, kalau sampai mereka berdua bekerja sama, sudah pasti akan semakin banyak kejahatan yang bakal dilakukan"

"Begitu melihat mereka datang, aku segera membopong dia.... Im Ceng dan melarikan diri, dalam panik aku tidak sempat lagi memilih jalan hingga kabur menuju ke jalan buntu ini, dalam keadaan panik bercampur gugup kujumpai ada kuil siau-Iim-sie kecil disini, maka akupun lari masuk, tidak disangka ternyata malah bertemu kau disini"

Sambil menghembuskan napas lega diapun membopong kembali tubuh Im Ceng, seakan asal ada Thiat Tiong-tong maka persoalan segawat apa pun pasti dapat terselesaikan.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, pikirnya.

"Biarpun bertemu rombongan Suto Siau, semestinya dia tidak perlu gugup atau panik, kesemuanya itu pasti lantaran memikirkan keselamatan Im Ceng...."

Tiba-tiba dia bertanya.

"Kau sudah melihat kemunculan mereka?"

"Yaa, sudah kusaksikan dengan jelas sekali, tidak mungkin keliru!"

Berubah hebat paras muka Thiat Tiong-tong, ujarnya.

"Kau melihat kemunculan mereka, mustahil mereka tidak melihatmu, padahal kedatangannya adalah untuk mencari kau, aneh, bila mereka sudah melihatmu, dengan watak Suto Siau masa dia akan membiarkan kau kabur dengan begitu saja?"

Un Tay-tay tertegun, dengan wajah agak berubah serunya.

"Soal ini.... soal ini...."

Sambil tertawa dingin Thiat Tiong-tong bicara lebih lanjut.

"Suto Siau memang paling senang mengulur senar untuk memancing ikan besar, dia memang sengaja membiarkan kau kabur lantaran secara diam-diam dia sudah membuntutimu, ingin tahu kemana kau akan kabur"

Sekujur tubuh Un Tay-tay gemetar keras, bisiknya agak tergagap.

"Kau.... kau yakin akan hal itu?"

"Tentu saja sangat yakin, bahkan saat ini besar kemungkinan mereka telah datang kemari!"

Pemuda ini selain mempunyai hati yang sekeras baja, kecerdasan otaknya juga luar biasa, walaupun da sempat kalut pikirannya namun setelah menghadapi perubahan yang diluar dugaan, seketika itu juga pikirannya dapat menjadi tenang kembali.

Mendadak terdengar Ai Thian-hok berkata.

"Tentara datang panglima perang menghadang, air bah datang tanah membendung, jika mereka datang, kita hadapi mereka!"

Melihat tokoh persilatan itupun hadir disitu, Un Tay-tay semakin terperanjat dibuatnya.

Sebaliknya Thiat Tiong-tong merasa berterima kasih sekali setelah mendengar perkataan itu, dia maju menghampiri dan menggenggam tangannya erat-erat, mereka berdua tidak banyak bicara lagi, namun semua kesalahan paham dimasa lalu justru melumer dalam genggaman tersebut.

Un Tay-tay semakin tertegun dibuatnya, tapi dengan cepat dia memahami apa yang terjadi, tanpa terasa pikirnya.

"Pikiran dan perasaan lelaki enghiong macam mereka benar-benar terbuka dan tidak sempit, sulit rasanya untuk melampaui mereka"

Thiat Tiong-tong pun membopong tubuh Im Ceng dari tangan Un Tay-tay dan membaringkannya diatas ranjang.

"Aduh mak"

Yin Ping kontan berteriak sambil tertawa.

"sebetulnya ranjang itu milik siapa sih, kenapa kalian tidak minta ijin duluan?"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Hmm, jika adik keempat tahu kalau ranjang ini pernah kau tiduri, mungkin dia lebih suka tidur diatas ujung golok ketimbang berbaring diatas ranjangmu...."

"Aduuh.... bukankah diluar banyak golok? Kenapa tidak kau persilahkan dia tidur diujung golok diluar sana?"

Kembali Yin Ping berseru sambil tertawa. Thiat Tiong-tong tertegun, belum sempat dia menjawab, Un Tay-tay diiringi tertawanya yang merdu telah menimpali.

"Enciku yang baik, toh kau belum ingin tidur, kasihanilah dia yang sedang terluka, biarlah dia tiduran sejenak disana!"

Yin Ping memperhatikan perempuan itu berapa saat, lalu kembali tertawa merdu.

"Aduh mak, manis amat orangnya, manis juga mulutnya, baiklah, memandang diatas wajahmu biarlah dia tiduran sejenak disitu!"

Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, pikirnya.

"Tabiat kedua orang itu nyaris hampir sama, jika mereka harus beradu kemampuan, mungkin keduanya sama-sama akan merasa kalau telah bertemu lawan tanding"

Sementara itu Yin Ping telah mengawasi sekejap tingkah pola Un Tay-tay yang merawat Im Ceng dengan penuh kasih sayang, sambil menggelengkan kepala dan tertawa katanya.

"Orang ini adalah sutenya, berarti dia pun anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Cici memang pintar, sekali tebak lantas benar!"

"Adikku, cici ingin menasehatimu, semua orang Perguruan Tay ki bun adalah manusia yang tidak punya perasaan, sekarang kau bersikap begitu baik kepadanya, belum tentu dikemudian hari dia akan bersikap baik pula kepadamu"

Un Tay-tay tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa.

"Kalau didengar dari perkataan cici, tampak-nya dulu kau pernah tertipu oleh anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Soal ini.... soal ini...."

"Jika cici pun pernah tertipu, tentu saja aku tidak berani untuk tidak tertipu juga!"

Sambung U] Tay-tay lagi sambil tertawa.

"Dasar budak cilik, tajam amat lidahmu, cici benar-benar takluk kepadamu!"

Tiba-tiba terdengar lagi suara orang sedang mengetuk pintu depan. Belum sempat orang lain berbicara, Ai Thian hok sudah menyahut duluan.

"Biar aku saja yang membukakan pintu!"

Sambil berbicara, dia segera melesat maju k depan. Un Tay-tay dan Thiat Tiong-tong hanya bisa saling bertukar pandangan, jantung mereka terasa berdetak keras.

"Siapa?"

Terdengar Ai Thian-hok menegur sambil membuka pintu. Terdengar suara seorang pemuda menjawab.

"Suhu mengutus cayhe untuk menghantar sebuah hadiah...."

"Memangnya kau tahu siapa yang tinggal disini?"

Tegur Ai Thian-hok.

"berani amat kau sembarangan menghantar hadiah"

"Suhu perintahkan kepada tecu untuk datang menghantar, maka tecu pun datang kemari, jika tuan rumah tempat ini enggan untuk menerima-nya, tecu rasa nona yang barusan masuk tentu menghendakinya"

Un Tay-tay melirik Thiat Tiong-tong sekejap kemudian menghela napas panjang.

"Ternyata dugaanmu tepat sekali"

Terdengar YinPing berseru sambil tertawa.

"Kalau memang ada yang datang menghantar barang, kenapa mesti ditolak kebaikan hatinya? Bawa kemari!"

"Silahkan, tecu menanti jawaban"

Kata pemuda itu.

Ai Thian-hok mendengus, dia melangkah masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kotak yang terbuat dari kayu.

Baru saja Thiat Tiong-tong hendak mengambilnya, Yin Ping sudah merebut duluan.

Tercekat juga perasaan hati pemuda ini setelah menyaksikan betapa cepatnya gerakan tubuh perempuan itu.

Sementara itu Yin Ping telah membuka kotak kayu itu seraya berseru.

"Kalau isinya barang bagus, aku...."

Mendadak terdengar dia menjerit kaget, lalu serunya lagi sambil tertawa merdu.

"Aduh mak, kalau barang beginian mah aku tidak sudi, ambillah kembali!"

Dia segera melemparkan kotak itu ke depan.

Thiat Tiong-tong sangka perempuan itu hendak menguji tenaga dalamnya, siapa tahu kotak itu melayang dengan perlahan keatas tangannya, seakan barang itu disodorkan ke hadapannya saja.

Tapi suara tertawa perempuan itu sekarang sudah mengandung tertawa senang karena siap melihat orang lain menghadapi bencana.

Diam-diam Thiat Tiong-tong berkerut kening, pikirnya.

"Entah kotak kayu itu berisi apa, tapi aku yakin tentu bukan barang bagus, kalau tidak, tidak mungkin dia kelihatan begitu senang!"

Perlahan-lahan dia membuka kotak kayu itu, ternyata isi kotak yang begitu indah dan terbuat dari kayu cendana itu tidak lebih hanya sebutir batok kepala manusia yang pucat pias!

Thiat Tiong-tong tidak perlu menengok untuk kedua kalinya pun sudah segera mengenali kepala itu sebagai milik Phoa Seng-hong.

Ketika pergi bersama Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan Suto Siau, Phoa Seng-hong berdandan sebagai seorang kakek untuk menggantikan peranan Thiat Tiong-tong, tapi sekarang yang dihantar hanya batok kepalanya, ini membuktikan kalau rahasia penyaruannya sudah ketahuan.

Melihat isi kotak itu ternyata sebutir batok kepala, Un Tay-tay langsung menjerit kaget, diapun secara lamat-lamat dapat menduga akan peristiwa ini.

Setelah sempat terkejut, dengan cepat Thiat Tiong-tong berhasil mengendalikan kembali perasaan hatinya, di mulai berpikir.

"Kelihatannya Sim Sin-pek yang kabur ketakutan secara kebetulan telah bersua dengan Hek Seng-thian sekalian, dalam ketakutannya dia tidak menyangka kalau Hek Seng-thian bakal memaafkan perbuatannya, sebagai imbalan dia pasti bercerita telah bertemu aku dan Un Tay-tay, rupanya waktu itu Phoa Seng-hong yang masih menyaru sebagai aku masih ada bersama mereka, begitu rahasia penyaruannya terbongkar, Suto Siau pasti membunuhnya kemudian baru mengejar Un Tay-tay, dia tidak tahu kalau Un Tay-tay sebetulnya sudah kehilangan kontak denganku, disangkanya perempuan itu pasti akan datang mencariku, maka mereka sengaja membebaskan Un Tay-tay dengan harapan bisa mengintilnya. Aaaai, siapa sangka kalau tanpa sengaja Un Tay-tay justru berhasil menemukan aku disini. Aaai.... kini, mereka malah, berhasil menemukan jejakku pula!"

Walaupun persoalan ini sangat rumit, tapi bagi Thiat Tiong-tong bukan halangan, dia segera berhasil menebak jalannya peristiwa.

Setelah termenung dan berpikir sejenak, diapun melangkah keluar dengan cepat.

Ai Thian-hok mengintil terus di belakangnya, dia seakan tidak ingin membiarkan pemuda itu pergi seorang diri.

Saat itu di depan pintu telah berdiri seseorang, dia tidak lain adalah Sim Sin-pek yang berdiri dengan senyuman dikulum.

Begitu melihat Thiat Tiong-tong, kontan dia tertawa tergelak sambil berkata.

"Tidak disangka ternyata paman Suto betul-betul pandai meramal, ternyata hengtay benar-benar berada disini, apakah hadiah dari guruku telah kau terima?"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Tidak kusangka kau masih berani kemari, tidak kuatir aku menjagal dirimu terlebih dulu?"

Sim Sin-pek tertawa lebar, katanya.

"Kecuali hadiah yang tadi, guruku masih mempunyai hadiah lain yang lebih berharga untuk dipersembahkan kepadamu, bila hengtay membunuhku lebih dulu, jelas kau tidak akan menerima kado istimewa itu!"

"Kado apa?"

Tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah. Sim Sin-pek tertawa licik.

"Kado yang harus kusampaikan telah ku hantar, sekarang siaute ingin mohon diri terlebih dulu"

Katanya.

"tapi sebelum kado istimewa itu sampai disini, kuharap hengtay jangan pergi dulu"

"Hmm, kalau aku suka, siapa yang bisa menghalangiku?"

Jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

"Kalau begitu tidak ada salahnya buat hengtay untuk mencoba"

Kata Sim Sin-pek seraya menjura, kemudian dia mundur tiga langkah dan tiba-tiba bersuit nyaring.

Berbareng dengan suara suitan itu, dari empat penjuru segera berkumandang suara gelak tertawa yang sangat nyaring, menyusul kemudian terdengar orang berteriak lantang.

Thiat Tiong-tong benar-benar berada disini, bagus, bagus sekali"

Beberapa orang itu buka suara bersama, tutup mulutpun bersama-sama, jelas mereka memang sudah janjian dengan suara suitan sebagai pertanda.

Dari gelak tertawa yang begitu nyaring, Thiat Tiong-tong tahu kalau kawanan jago itu rata-rata berilmu tinggi bahkan tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan, kenyataan ini membuatnya terkesiap, dia tidak menduga kalau Suto Siau telah mengundang bala bantuan.

Yin Ping yang menyaksikan anak muda itu masuk ke dalam dengan kepala tertunduk, kontan saja tertawa terkekeh, katanya.

"Tidak kusangka ada begitu banyak jago tangguh yang telah berkumpul disini, kelihatannya mereka telah mengepung kalian rapat-rapat, jangan harap kalian bisa kabur lagi dari sini!"

Paras muka Thiat Tiong-tong berubah jadi hijau membesi, tidak tahan dia melirik Im Ceng sekejap.

"Betul"

Ujar Yin Ping lagi sambil tertawa.

"dengan kepandaian silat dan kecerdasan otakmu, rasanya tidak sulit untuk melarikan diri dari sini, tapi adik seperguruan kesayanganmu itu, hehehehe.... mungkin bakal berakhir dengan mengenaskan!"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, sambil menjura kepada Un Tay-tay katanya.

"Luka yang diderita su-te perlu segera diobati, di depan bukit sana terletak kuil Siau-lim-sie, sebagai perguruan nomor wahid dikolong langit, lagipula sebagai pendeta yang welas asih, asal nona bisa menghantarnya ke situ, aku yakin para pendeta tinggi Siau-lim-pay pasti tidak akan berpeluk tangan belaka"

"Tapi.... tapi.... dengan cara apa kita bisa meloloskan diri?"

"Meskipun rumah ini sudah terkepung, namun...."

Tiba tiba Yin Ping menukas.

"Kalau kau memang punya kemampuan, jangan gunakan lorong bawah tanahku!"

Begitu rahasianya terbongkar, Thiat Tiong-tong tidak mampu berkata lagi, dia hanya bisa berdiri termangu.

"Enciku yang baik...."

Un Tay-tay segera berseru sambil tertawa.

"Adikku manis, kau tidak usah takut, asal ikut aku, cici jamin kau pasti bisa keluar dari sini lewat pintu gerbang, kujamin kau tidak usah menerobos liang bawah tanah"

"Sungguh?"

"Siapa yang bohong? Aku sudah mengirim surat dan sebentar pasti ada yang datang menjemputku, orang-orang yang akan menjemputku.... hehehehe.... tidak ada yang berani mengusiknya!"

Yin Ping tertawa lebar.

"Tapi dia...."

"Waah, orang itu mah seorang enghiong besar, aku tidak berani mencampurinya!"

"Kalau begitu aku pun tidak akan pergi"

"Adikku, bukannya aku melarangmu kabur lewat lorong bawah tanah, kau mesti tahu, kalau lewat sana maka kau mesti merangkak, mana mungkin kau bisa merangkak sambil membawa orang sakit? Tadi, aku tidak lebih hanya ingin menjengkelkan hatinya saja!"

Walaupun dihati kecilnya Thiat Tiong-tong merasa amat gusar, namun diapun tahu kalau apa yang dikatakan perempuan itu memang benar. Tiba-tiba terdengar Un Tay-tay berkata.

"Enciku yang baik, bagaimana kalau aku sanggup membawanya pergi dari sini?"

Yin Ping tertawa cekikikan.

"Panggilan mu yang manis dan mesra telah membuat hatiku jadi lembek, bila kau sanggup, pergilah! Tapi kalau enghiong besar itu yang akan pergi, aku akan segera berteriak, agar orang lain segera menghadang jalan keluarnya!"

"Terima kasih...."

Ucap Un Tay-tay. Kemudian sambil berpaling ke arah Thiat Tiong-tong, katanya lagi perlahan.

"Aku telah mengundang datangnya musuh tapi mesti kabur terlebih dulu, aku benar-benar merasa tidak enak kepadamu, tapi demi dia...."

"Kau tidak usah banyak bicara lagi"

Tukas Thiat Tiong-tong cepat.

"aku sudah paham!"

Un Tay-tay mendongakkan kepalanya memandang pemuda itu berapa kejap, sorot matanya terkandung pelbagai macam perasaan yang bercampur aduk, perasaan yang sulit diungkap dengan perkataan.

Sampai lama, lama kemudian, akhirnya dia baru berkata.

"Jagalah dirimu baik-baik!"

Dibopongnya tubuh Im Ceng dengan di bungkus selembar selimut, kemudian setelah menerobos ke dalam liang dengan jalan mundur, dia menarik tubuh Im Ceng secara perlahan-lahan.

Tampaknya Yin Ping sama sekali tidak menduga kalau perempuan itu benar-benar mampu menerobos keluar lewat liang itu, untuk sesaat dia hanya mengawasi dengan termangu, kemudian sambil tertawa getir katanya.

"Dasar bocah yang sedang mabuk asmara, tidak nyana liang bawah tanahku justru telah digunakan untuk selamatkan nyawa anggota Perguruan Tay ki bun"

Tiba-tiba dia mengulapkan tangannya sambil menambahkan.

"Yaa sudalah, kalau kau ingin pergi, pergilah!"

Thiat Tiong-tong tertegun, bisiknya keheranan.

"Kau.... kau...."

"Tidak usah keheranan"

Tukas Yin Ping sambil tertawa.

"biar jahat dan keji tapi khususnya terhadap anggota Perguruan Tay ki bun, aku... aaai, bila kau bertemu lagi dengan Im Kiu-siau nanti, sampaikan salamku kepadanya"

Makin lama Thiat Tiong-tong merasa semakin keheranan, pikirnya.

"Mungkinkah dia mempunyai sesuatu hu.... hubungan dengan paman Im.... ?"

Tapi ketika dia ingin bertanya lagi, Yin Ping telah berbaring diatas ranjang dan enggan untuk berbicara lagi. Untuk sesaat Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri mematung.

"Kenapa kau tidak ikut pergi?"

Tanya Ai Thian-hok keheranan. Dengan mata terpejam dan kemalas-malasan sahut Yin Ping.

"Aku mempunyai tujuanku sendiri, kau tidak usah mengurusinya"

"Terima kasih untuk pertolonganmu hari ini, semua hutang piutang di antara kita berdua kuanggap sudah impas"

Mendadak Yin Ping membuka matanya lebar lebar, serunya sambil tertawa tergelak.

"Hahahaha.... aku tidak sangka kaupun bersedia kabur dengan merangkak lewat liang bawah tanah, tampaknya lorong yang kugali hampir dua bulan lamanya ini tidak digali dengan sia-sia"

"Kalau aku tidak mau pergi, Thiat Tiong-tong pasti tidak akan pergi"

Sahut Ai Thian-hok dingin.

"padahal dia masih mengemban banyak tugas berat, buat apa aku mesti menyusahkan dia!"

Thiat Tiong-tong merasa terharu sekali, sebetulnya dia termasuk seorang pemuda yang keras kepala dan ingin menangnya sendiri, namun sehabis mendengar perkataan itu, bisiknya sambil menghela napas panjang.

"Saudara Ai, kau pergilah!"

"Kau jalan duluan, aku akan mengiringi di belakang"

Tiba-tiba Yin Ping berseru sambil tertawa.

"Kau tidak pingin melihat kado keduamu yang telah dihantar kemari?"

Membayangkan beban berat yang berada dipundaknya, Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat, namun akhirnya dia menghela napas panjang.

"Aaai, tidak usah dilihat lagi!"

Sambil berkata dia menyusutkan badan dan siapa merangkak masuk ke liang bawah tanah. Pada saat itulah, mendadak dari luar sana terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring.

"Saudara Thiat, kadomu sudah datang, biarpun kau seorang jagoan muda, aku jamin kau pasti akan terperanjat sesudah melihat kado itu"

Tergerak hati Thiat Tiong-tong, seketika dia menghentikan langkahnya.

"Perduli apa pun kado itu, lebih baik jangan dilihat, ayoh cepat pergi!"

Seru Ai Thian-hok dengan suara dalam. Kembali terdengar gelak tertawa bergema dari luar rumah.

"Saudara-saudaraku"

Seru orang itu.

"tidak usah mengepung rumah itu lagi, mari kita berkumpul untuk menjumpai jagoan itu. Setelah melihat kado tersebut, kujamin saudara Thiat tidak bakalan pergi dari sini meski kita minta dia pergi"

Kembali Thiat Tiong-tong merasakan hatinya tergerak, cepat dia melompat keluar dari lorong bawah tanah dan berkata sambil tertawa getir.

"Siaute hanya ingin mengintip sekejap, silahkan saudara Ai berangkat duluan, siaute segera akan menyusul!"

Belum selesai dia berbicara, tubuhnya sudah menerjang keluar. Sementara Ai Thian-hok menghela napas sedih, terdengar Yin Ping pun berbisik sambil menghela napas.

"Aaaai, jika dia tidak pergi sekarang, mungkin selamanya dia tidak bakal bisa pergi!"

Kedengaran sekali kalau dia pun merasa sayang dengan tindakan pemuda itu. Dengan wajah sedikit berubah mendadak Ai Thian-hok berkata.

"Aku sudah tiga puluh tahun kenal dengan dirimu, menjadi buta gara-gara kau, menjadi murid Kiu cu Kui bo pun gara-gara kau, tapi hari ini aku baru tahu kalau kaupun punya perasaan"

Yin Ping termenung berapa saat kemudian kembali tertawa terkekeh.

"Punya sih punya, Cuma minim sekali"

"Terlepas banyak atau sedikit, kau tidak seharusnya mencemari nama baik orang lain"

"Aduh mak, nama siapa yang ku cemari? Kau menjadi buta toh atas kemauan sendiri.... gara-gara ingin melihat aku, justru lantaran kasihan melihat kau menjadi buta maka aku hantar kau ke tempat tinggal ciciku, ciriku juga hanya mau menerima orang cacad sebagai muridnya karena diapun sedang menjumpai masalah sedih"

Lambat laun wajah Ai Thian-hok semakin diselimuti rasa pedih, bentaknya. Tutup mulut!"

"Kau sendiri yang memulai mengungkit kejadian lama, kenapa malah marah kepadaku!"

Sahut Yin Ping sambil tertawa dingin. Ai Thian-hok menghela napas panjang.

"Aaai, sebetulnya bukan persoalan itu yang kumaksud"

Katanya.

"aku hanya ingin tahu, meski kau telah selamatkan anak murid Perguruan Tay ki bun, kenapa pula mesti mencemari nama baik guru mereka?"

"Memangnya kenal denganku berarti telah mencemari nama baiknya?"

Seru Yin Ping sambil tertawa dingin.

"kalau begitu maksudmu, ooh betapa banyaknya umat persilatan yang namanya tercemar gara-gara aku!"

"Dalam tiga puluh tahun terakhir, perbuatanmu mana yang tidak kuketahui, kalau bukan pada sepuluh tahun berselang kau dikepung delapan orang pendeta sakti dari Siau-lim-sie hingga jejaknya lenyap, mungkin aku memiliki catatan lengkap tentang sepak terjangmu. Hmmm, dalam jangka waktu ini, kapan sih kau pernah berhubungan dengan para petinggi Perguruan Tay ki bun? Buat apa kau sengaja mengucapkan perkataan semacam itu dihadapan Thiat Tiong-tong? Hmm, hmmm, jadi kau berharap mereka guru dan murid saling menaruh curiga sementara kau menonton keramaian?"

"Betul, sepuluh tahun berselang aku memang sengaja merayu seorang murid Siau-lim-pay lantaran kudengar peraturan perguruan mereka sangat ketat dan para muridnya amat disiplin, akibatnya aku ditangkap delapan orang pendeta sakti dan diberi hukuman berat dihadapan Siau-lim cousu, hmmm, hmmm, waktu itu ternyata tidak seorang manusia pun yang mau datang menolongku"

Ai Thian-hok tertawa dingin.

"Hmm, bila waktu itu kau mampus, mungkin orang yang mengurusi mayatmu pun tidak ada, bahkan saudara kandungmu sendiripun membencimu hingga merasuk ketulang sumsum, siapa lagi yang mau menolongmu?"

"Hahahaha.... tapi kenyataannya aku toh belum mati, tentu saja ada orang yang tidak segan diusir dari pintu perguruan Siau-Lim-sie agar bisa hidup bersama aku. Dia bahkan mengaku di depan cousuya nya kalau bukan aku yang menggaetnya, melainkan dialah yang menggaetku. Buktinya kawanan hwesio itu tidak mampu berbuat banyak, terpaksa mereka bebaskan aku dan mengusirnya dari perguruan. Waktu itu aku tidak mampu bergerak, terpaksa harus pergi mengikutinya"

"Dan orang itu menolongmu serta membawanya kemari?"

Tanya Ai Thian-hok gusar.

"Betul, meski dia telah selamatkan aku namun mengurungku disini bagaikan tawanan, mana tahan aku hidup terkekang maka sejak tahun-tahun terakhir dimana pengawasannya mulai kendor, akupun mulai menggali liang bawah tanah"

"Dia hanya kuatir kau pergi mencelakai orang lagi hingga menyekapmu disini, tapi nyatanya diapun ikut menemanimu, kalau bukan lantaran rasa cinta yang amat, tidak mungkin dia akan berbuat begitu"

"Benar, dia memang mencintai aku, cemburu yaa?"

Ejek Yin Ping sambil tertawa merdu.

"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu"

Seru Ai Thian-hok gusar.

"yang aku tanyakan hanya urusanmu dengan Perguruan Tay ki bun...."

"Kau juga tidak usah mencampuri urusanku dengan Perguruan Tay ki bun"

Potong Yin Ping sambil menarik muka.

"tapi ada satu hal perlu kusampaikan, apa yang kukatakan bukan hanya bualan kosong.... !"

"Jadi kau dengan Perguruan Tay ki bun benar benar...."

Ai Thian-hok agak tertegun.

"Kau tidak usah tanya lagi"

Kembali tukas Yin Ping sambil tertawa dingin.

"ada sementara persoalan yang selamanya tidak bakal kukatakan kepadamu"

Tiba-tiba terdengar suara jeritan Thiat Tiong-tong berkumandang dari luar pintu.

Ternyata ketika anak muda itu keluar dari pintu rumah, dihadapannya segera terlihat ada delapan, sembilan orang manusia yang berdiri sambil mengawasinya, hanya sayang waktu itu senja yang gerimis sehingga sulit baginya untuk melihat jelas raut muka orang orang itu.

Tapi dengan cepat dia dapat melihat Suto Siau muncul dari rombongan sambil berjalan mendekat, lagaknya nampak sangat gembira dan bangga.

Begitu bertemu Thiat Tiong-tong, dia segera menjura, tertawa dan menyapa.

"Lama tidak bersua saudara Thiat membuat pikiran siaute benar-benar risau bercampur kangen"

Thiat Tiong-tong tahu, orang ini banyak akalnya dan pandai berpura-pura, maka sambil menahan rasa dongkolnya dia segera menyahut sambil menjura.

"Siaute sendiri pun selalu mencari saudara Suto untuk menyampaikan ucapan terima kasihku!"

"Terima kasih untuk apa?"

Tanya Suto Siau agak tertegun.

"Phoa Seng-hong memang seorang bangsat tukang pemogoran, sudah lama siaute ingin melenyapkan dia, tidak disangka saudara Suto telah mewakili siaute untuk melakukannya"

"Ooh... ooh.... aaah... aaah.... hahahahaha.... !"

Melihat suara tertawanya sangat aneh, meski dihati kecil Thiat Tiong-tong merasa keheranan namun tidak urung dia berkata lagi sambil sengaja tertawa keras.

"Apalagi hengtay masih akan memberi kado lain untukku, siaute betul-betul menjadi tidak tenang"

"Aah, mana, mana"

"Lantas mana kadonya?"

Tanya Thiat Tiong-tong kemudian.

"setelah menerimanya, siaute juga akan pergi dari sini"

Dia memang sengaja bicara santai, seakan-akan kalau ingin pergi maka dia bisa melakukannya dengan mudah sekali. Suto Siau kembali tertawa tergelak.

"Jangan terburu napsu dulu, mari, biar siaute kenalkan dulu dengan berapa orang sahabat"

Dia membalikkan tubuh, lalu serunya lagi sambil tertawa keras.

"Hengtay sekalian, kemarilah, mari kuperkenalkan dengan tokoh maha sakti ini!"

Dari balik rombongan manusia segera terdengar suara orang menyahut.

Selain Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu berdua yang masih berdiri dengan wajah berseri, disitu hadir lima orang lainnya.

Dari ke lima orang itu, seorang bertubuh tinggi besar dan amat kekar, seorang kurus pendek, kecil dan membawa sepasang golok baja dipunggung-nya, seorang lagi tidak lain adalah Sim Sin-pek.

Selain itu terdapat lagi dua orang, seorang lelaki dan seorang wanita, yang lelaki berperawakan tinggi kurus, kepalanya memakai kopiah tinggi, ketika berdiri di antara kerumunan orang banyak, dia seperti seekor bangau yang berdiri ditengah kerumunan ayam.

Yang perempuan berperawakan gemuk dan pendek, sewaktu berdiri disamping lelaki berkopiah itu, ketinggian tubuhnya hanya mencapai dadanya.

Walaupun berada dalam pandangan umum, namun mereka berdua tetap saling berpelukan dengan mesranya, satu tinggi satu pendek, satu gemuk satu kurus, meski nampak lucu dan menggelikan dalam pandangan orang lain, tapi mereka sendiri justru sangat menikmatinya.

"Tentunya saudara Thiat sudah mengenali saudara Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu bukan!"

Ujar Suto Siau kemudian sambil tertawa.

"Tapi aku rasa saudara Hek justru baru pertama kali ini berjumpa dengan siaute!"

Sambung Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

Memang benar, baru kali ini Hek Seng-thian melihat raut wajah yang sebenarnya dari pemuda itu, melihat wajahnya yang sedikit berwarna hitam, meski bukan termasuk lelaki tampan, namun asal memandangnya lebih lama maka tanpa terasa akan terpikat kepadanya, diam-diam diapun berpikir.

"Ternyata dia memang berwajah seorang lelaki jantan, tidak aneh kalau banyak sekali perempuan terpikat kepadanya"

Maka sambil menjura katanya dingin.

"Walaupun belum pernah bersua, namun sudah lama kukagumi nama besarmu!"

Suto Siau segera menuding ke arah lelaki tinggi besar itu, berkata lagi sambil tertawa.

"Saudara ini adalah piausu nomor wahid dari perusahaan ekspedisi kami, orang persilatan menyebutnya Kim kong su tuo (kantung buku bertubuh malaikat) Lok Put-kun"

"Selamat bersua"

Lok Put-kun manggut manggutkan kepalanya.

Biarpun Thiat Tiong-tong tahu kalau orang ini cukup ternama dalam perusahaan ekspedisi, namun hatinya mendongkol juga melihat lagak tengiknya, maka sambil tertawa tergelak ejeknya.

"Hahahaha.... ternyata memang mirip sekali dengan patung tanah liat dalam kelenteng"

Seketika berubah paras muka Lok Put-kun, tapi Suto Siau telah berkata lagi sambil menuding lelaki pendek bergolok itu.

"Dia adalah Ban tee hui hoa (bunga terbang memenuhi tanah) Phang Kong, Phang tayhiap, seorang jago nomor wahid dalam ilmu golok lantai Tee tong to"

"Tidak berani"

Lelaki kecil pendek dengan sepasang golok dipunggungnya itu segera menjura sambil tertawa.

Melihat sikap orang ini cukup sopan, Thiat Tiong-tong pun menanggapi dengan sopan pula meski dihati kecilnya merasa agak terperanjat, sudah cukup lama dia mendengar nama besar dari Phang Kong ini, khususnya ilmu golok berantainya yang hebat.

Setelah mendehem berapa kali, dengan wajah serius Suto Siau berkata lebih jauh.

"Kedua orang itu adalah Chee Toa-ho dan Sun siau-kiau suami istri"

Ketika melihat ke dua orang ini bukan saja lucu lagaknya, nama yang mereka sandangpun amat aneh, tidak tahan dia berseru sambil tertawa.

"Selamat berjumpa, selamat berjumpa"

Lelaki berkopiah itu langsung menarik wajahnya sambil mencengkeram gagang pedang dipinggangnya, tapi perempuan disampingnya segera menyela sambil tertawa.

"Siau-chee, sudahlah, dia toh tidak mengenal kita, jangan salahkan kalau sikapnya kurang sopan"

Sambil bicara diam-diam dia mengerling sekejap ke arah Thiat Tiong-tong. Dalam pada itu Suto Siau telah berkata lagi dengan suara keras.

"Mungkin saudara Thiat belum tahu soal nama sebenarnya dari Chee-heng suami istri, tapi nama besar Ui koan Kiam khek (jago pedang berkopiah kuning) dan Bi gwee kiam khek (jago pedang rembulan hijau) pasti sudah pernah mendengarnya bukan?"

Nama besar kelompok jago pedang pelangi, Jay hong kun kiam amat tersohor dalam dunia persilatan, tentu saja Thiat Tiong-tong pernah mendengar nama besar mereka, diapun tahu kalau ilmu pedang yang dimiliki si jago pedang berkopiah kuning begitu cepat dan luar biasa hingga dijuluki orang sebagai jago pedang tercepat disepanjang sungai besar.

Maka setelah mengamati ke dua orang itu sekali lagi, ujarnya sambil tersenyum.

"Cayhe hanya pernah mendengar tentang nama besar Ci sim kiam khek (jago pedang berhati merah), tentang nama besar kalian berdua.... rasanya baru pertama kali ini mendengarnya"

Chee Toa-ho berkerut kening, menjengek sambil tertawa dingin.

"Dari penuturan Cun-hau aku dengar dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago pedang kilat lagi, tidak kusangka ternyata hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau kencur!"

"Sama-sama, sama-sama!"

Sahut Thiat Tiong-tong tertawa.

"Ayoh sini, sini...."

Teriak Chee Toa-ho gusar.

"cabut pedangmu, biar kuberi pelajaran kepadamu!"

Sambil berkata dia sudah mencabut keluar separuh pedangnya. Kembali Sun Siau-kiau meraih lengannya sambil menghibur.

"Siau-chee, kenapa mesti terburu-buru!"

"Hahahaha.... betul, betul"

Seru Suto Siau pula sambil tergelak.

"paling tidak, kita mesti menunggu sampai saudara Thiat melihat kadonya lebih dahulu!"

"Hmm, kalau sudah melihat kadonya, mungkin dia sudah tidak mampu bertarung!"

Jengek Chee Toa-ho sambil tertawa dingin. Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap, tapi diluaran dia berkata sambil tertawa tergelak.

"Walaupun aku hanya mengerti ilmu silat kucing kaki tiga, tapi bila kau ingin menjajalnya, setiap saat aku pasti akan melayani keinginanmu itu"

Suto Siau segera memberi tanda, Sim Sin-pek dengan langkah cepat berlalu dari situ.

"Saudara Suto"

Seru Chee Toa-ho lagi dengan suara dalam.

"bagaimanapun juga hari ini siaute harus memberi pelajaran yang setimpal kepada bocah keparat ini, kau mesti memberi kesempatan kepadaku untuk menghajarnya terlebih dulu"

"Tentu saja, tentu saja!"

Tiba-tiba terdengar Lok Put-kun berteriak lantang.

"Saudara Chee, kalau ingin memberi pelajaran kepadanya tolong jangan sampai kau mencabut nyawanya, sebab aku orang she-Lok juga pingin menjajal kemampuannya!"

Suara orang ini sangat nyaring, memang berimbang dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar.

"Hari ini silahkan saja kalian beradu kepandaian dengan saudara Thiat, cuma saja dalam urusan pribadi antara siaute dengannya.... hmmm, hmmm.... kalian jangan turut campur"

"Hahahaha.... yang penting jangan sampai kalian cabut nyawanya!"

Kata Hek Seng-thian menambahkan sambil tertawa tergelak.

Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan itu merasa gusar sekali, namun perasaan marahnya sama sekali tidak diperlihatkan keluar, malah serunya sambil tertawa tergelak.

"Hahahaha.... kalian tidak perlu kuatir, cayhe yakin sampai lima tahun lagi pun belum tentu aku sudah mati"

Sementara dia masih tertawa, tampak Sim Sin-pek dengan memimpin berapa orang lelaki berbaju hitam yang mendorong sebuah kereta berbentuk aneh berjalan mendekat.

Kereta itu berbentuk empat persegi dengan panjang dan lebar kurang lebih dua setengah meter, bentuknya mirip sekali dengan sebuah peti raksasa, hanya saja di ke empat sudutnya diberi roda hingga dapat bergerak.

Thiat Tiong-tong tidak dapat menebak permainan busuk apa yang sedang dipersiapkan Suto Siau, tapi dia tahu kalau orang ini licik, busuk dan jahat, dia suka sekali membuat kejutan, bisa diduga isi peti tersebut pasti sesauatu yang sangat aneh.

Suto Siau nampak berdiri dengan perasaan amat bangga, katanya sambil tertawa terbahak.

"Hahahaha.... siaute tidak punya kado istimewa yang harus diberikan, oleh sebab itu sengaja kubuatkan sebuah anak tangga tiga susun untuk dipertontonkan kepadamu"

"Wah, tidak kusangka saudara Suto adalah seorang tukang kayu handal"

Sindir Thiat Tiong-tong sambil tertawa. Suto Siau tidak menanggapi, dia memberi tanda sambil berseru.

"Terapkan anak tangganya!"

"Siap!"

Sahut Sim Sin-pek cepat.

Dia berjalan menuju ke belakang kereta, disitu terdapat sebuah roda pemutar, ketika dia mulai memutar roda itu, atap kereta tiba-tiba terbentang lebar.

Lalu sebuah anak tangga sepanjang empat meter pun perlahan-lahan menjulur ke tengah udara, diujung tangga terikat sebuah benda sepanjang satu setengah meter yang terbungkus selembar kain minyak, tidak diketahui benda apakah yang terbungkus rapi itu.

"Aku mohon kepada saudara yang ada disitu untuk segera membuka penutup kain itu!"

Seru Suto Siau kemudian.

"Pertunjukan segera akan dimulai, biar siaute saja yang membuka kain penutupnya!"

Seru Phang Kong sambil tertawa.

"Wah,... bagus, bagus sekali, jika saudara Phang yang turun tangan, pasti hebat sekali!"

Suto Siau bertepuk tangan.

Sudah lama Thiat Tiong-tong mendengar tentang kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Boan tee hui hoa (bunga terbang memenuhi tanah).

Dia tahu orang itu adalah seorang perampok ulung yang mampu menyatroni seribu rumah dalam satu malam.

Disamping ingin mengetahui sampai dimana kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, yang lebih penting lagi adalah dia pingin tahu benda apa yang terbungkus rapi itu.

Dalam pada itu Phang Kong sudah membenarkan letak pakaiannya dan menjura.

"Maaf, aku akan pamer kejelekan!". Tidak nampak gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dipuncak kereta. Dalam perkiraan orang banyak, dia pasti akan menggunakan gerakan tubuh sebangsa burung bangau terbang ke angkasa untuk menaiki puncak tangga itu, siapa tahu dia malah meluruskan sepasang tangannya ke bawah, lalu selangkah demi selangkah naik ke atas. Sebagaimana diketahui, anak tangga itu lurus tegak ke atas, bukan saja tak ada terap untuk menaikinya bahkan tidak gampang untuk melompatinya. Tapi sekarang bukan saja dia tidak perlu berpegangan, malah dengan tubuh tegap menaiki tangga itu satu demi satu, jelas satu pekerjaan yang tingkat kesulitannya amat tinggi. Jika ilmu bhesi nya tidak kuat, niscaya tubuhnya akan roboh terjungkal. Tidak kuasa lagi semua orang bersorak-sorai memuji, begitu juga dengan Thiat Tiong-tong, mau tidak mau dia harus mengakui kehebatan lawan. Disamping itu, diapun merasa tercekat hatinya sebab dia sadar setiap musuh yang dihadapinya hari ini merupakan jago-jago yang amat tangguh. Sementara dia masih berpikir, Phang Kong sudah memegang ujung kain itu dan berseru sambil tertawa.

"Lihatlah sekarang!"

Mendadak dia bersalto di udara, berikut kain pembungkus itu dia melayang turun ke bawah.

Tangga itu mempunyai ketinggian empat meteran, ditambah lagi selisih dari kereta ke tanah maka seluruhnya mencapai enam meteran.

Saat ini tubuhnya seakan jatuh tergelincir dari ketinggian.

Baru saja semua orang menjerit kaget, tahu tahu Phang Kong sudah berdiri tenang diatas tanah dengan senyuman dikulum, sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Tampaknya dia memang berniat memamerkan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.

Tanpa sadar sorot mata Thiat Tiong-tong bergerak ke bawah mengikuti tubuhnya, kemudian dia baru mendongak kembali, namun begitu melihat benda yang berada diujung tangga, setenang apa pun pemuda itu tidak urung dia menjerit juga.

Ternyata diujung tangga itu terikat tubuh seseorang, orang itu berbaju putih namun sekarang sudah kotor oleh lumpur, rambutnya kusut dan awut-awutan, kepalanya tertunduk lunglai, tidak jelas apakah masih hidup ataukah sudah mati?

Biarpun berada ditengah hujan gerimis dan lapisan kabut, namun Thiat Tiong-tong dapat melihat dengan sangat jelas, ternyata orang itu tidak lain adalah Sui Leng-kong!

Kepalanya serasa disambar geledek, matanya berkunang dan hawa panas menggelora dalam dadanya.

Meskipun sikap dan penampilannya terhadap Sui Leng-kong selama ini dingin dan asing, namun sesungguhnya dia menaruh perasaan cinta yang membara, meski beberapa kali dia seakan membiarkan Sui Leng-kong pergi meninggalkan dirinya, padahal setiap saat setiap detik dia selalu memimpikan dan merindukan, kalau bukan karena ingin menyelamatkan Sui Leng-kong dari kesulitan, tidak mungkin dia rela terjun ke dalam sungai untuk mencari mati.

Dan kini, akhirnya dia berhasil menemukan Sui Leng-kong.

Namun kejadian tragis yang menimpa gadis itu membuat hawa amarahnya langsung memuncak, sambil membentak nyaris dia siap menerjang naik ke atas.

"Jika kau berani bertindak sembarangan, dia segera akan kehilangan nyawa!"

Ancam Suto Siau tiba-tiba.

Sekalipun dia tidak berusaha turun tangan, namun beberapa patah perkataannya justru memiliki daya pengaruh yang luar biasa.

Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar keras, dia mundur sejauh tiga langkah, tangan dan kakinya jadi dingin kaku, seluruh tubuhnya jadi lemas seolah kehilangan tenaga.

"Dia.... dia belum mati?"

Bisiknya. Suto Siau tersenyum, sahutnya.

"Meskipun dia belum mati, tapi dengan satu gerakan tangan aku bisa membuatnya hidup tidak bisa mati pun sengsara, kalau tidak percaya, silah-kan saja dicoba!"

Thiat Tiong-tong mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, terlihat olehnya tangan kanan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau serta Sim Sin-pek telah disembunyikan ke balik saku bajunya, jelas mereka sedang menggenggam senjata rahasia.

Beberapa orang itu adalah jago-jago senjata rahasia, bila dia bergerak sembarangan maka asalkan orang orang itu turun tangan bersama, maka walaupun dia punya tiga kepala enam lengan pun, jangan harap sanggup menghalangi beberapa orang itu.

Terlebih tubuh Sui Leng-kong terikat kencang, semakin sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Dalam sekilas pandang dia sudah tahu kalau perkataan Suto Siau bukan gertak sambal belaka, tanyanya.

"Kenapa dia.... dia bisa terjatuh ke tanganmu?"

Meski air mata tidak sampai bercucuran, namun kelopak matanya telah basah oleh genangan air mata. Terdengar Suto Siau tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... soal itu mah.... dikemudian hari kau toh bakal tahu sendiri!"

Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat, tiba-tiba dia berteriak keras.

"Baiklah, Thiat Tiong-tong mengaku kalah!"

"Hehehehe.... jika mengaku kalah berarti kau mesti menurut, selanjutnya apa pun yang akan kami perintahkan, kau tidak boleh membangkang"

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya sakit bagaikan diiris-iris, dia sadar, bila permintaan itu dikabulkan berarti dia telah mengkhianati perguruan dan tidak akan lolos dari hukuman, sebaliknya bila ditolak, bagaimana caranya untuk menolong Sui Leng-kong?

Tiba-tiba terdengar desingan angin berkumandang dari belakang tubuhnya, ternyata Ai Thian-hok yang mendengar jeritan kagetnya telah menyusul tiba, tegurnya dengan suara dalam.

"Siapa yang telah terjatuh ke tangan mereka?"

Dia hanya mendengar tanya jawab yang sedang berlangsung, namun tidak dapat melihat Sui Lengkong yang terikat diujung tangga.

Thiat Tiong-tong tahu kalau rekannya ini bersifat keras dan berangasan, lantaran kuatir dia turun tangan secara sembarangan hingga mencelakai keselamatan Sui Leng-kong maka sahutnya lirih.

"Hengtay tidak kenal dengan orang ini"

"Apakah perlu turun tangan?"

"Di saat harus turun tangan, tampaknya aku harus mohon bantuanmu"

Sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa sedih.

Suto Siau sama sekali tidak menggubris walau melihat ke dua orang itu berkasak-kusuk dengan suara lirih, dia yakin kemenangan pasti berada dipihaknya maka dia hanya mengawasi dengan senyuman dikulum, dalam hati ia cuma merasa heran kenapa kedua orang ini bisa ada bersama.

Phang Kong sekalian pun mengenali orang itu sebagai murid pertama Kiu cu Kui bo, tanpa terasa paras muka mereka sedikit berubah.

Mendadak terdengar pendekar pedang berkopiah kuning membentak keras.

"Saudara Suto, sebelum bangsat itu memberikan jawabannya, bagaimanapun siaute harus bertarung dulu dengannya, sebab jika dia sudah menyerah, pertarungan kami akan gagal!"

"Tapi saudara jangan...."

"Tidak usah kuatir, aku tidak bakal mencelakai nyawanya"

Tukas Chee Toa-ho sambil tertawa dingin.

"Thiat Tiong-tong, ayoh maju!"

Dalam keadaan seperti ini mana mungkin Thiat Tiong-tong punya selera untuk bertarung, dia menghela napas panjang.

"Cayhe...."

Kembali Chee Toa-ho tertawa dingin, potongnya.

"Jika kau tidak berani bertarung, akan kupotong dulu kedua belah telingamu"

Sambil menggetarkan pergelangan tangannya, di antara berkuntum bunga pedang, dia lancarkan sebuah babatan ke depan. Dengan cepat Thiat Tiong-tong berkelit ke samping.

"Kenapa kau tidak membalas?"

Tegur Ai Thian-hok dingin. Belum sempat Thiat Tiong-tong menjawab, dari sisi kiri kembali berkelebat sekilas cahaya pedang. Terdengar Sun Siau-kiau berseru sambil tertawa merdu.

"Anak muda, kupinjamkan pedangku!"

Ternyata cahaya pedang itu berasal dari pedang yang dilontarkan ke arahnya, terpaksa Thiat Tiong-tong menyambutnya.

Baru saja pedang berada dalam genggaman, secara beruntun Chee Toa-ho sudah melancarkan tujuh jurus serangan kilat, gerak serangan orang ini benar-benar cepat dan kilat, dalam waktu singkat dia sudah melancarkan tujuh jurus serangan.

Dengan cekatan Thiat Tiong-tong berkelit ke sana kemari menghindarkan diri dari ke tujuh buah serangan itu, perasaan hatinya waktu itu sangat kalut, dia sama sekali tidak berminat untuk melakukan pertarungan.

Serunya setelah menghela napas panjang.

"Biarlah aku mengaku kalah saja, kau...."

"Kalau menyerah kalah, ayoh berlutut dan menyembah dulu kepadaku!"

Hardik Chee Toa-ho.

Biarpun sedang bicara, serangannya sama sekali tidak berhenti, dalam waktu singkat kembali dia lancarkan tujuh buah serangan.

Waktu itu rasa gelisah telah mengobarkan amarah Thiat Tiong-tong, kini dia tidak kuasa menahan diri lagi, pikirnya.

"Bagaimanapun aku harus bertarung habis habisan dulu melawannya!"

Cahaya pedang dikembangkan, dia sambut datangnya ancaman lawan.

"Triiing, triiiing, triiiing...."

Serangkaian suara benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, dalam waktu singkat dia balas melancarkan tujuh serangan dan membendung seluruh ancaman dari Chee Toa-ho dengan keras lawan keras.

"Jurus pedang yang amat cepat!"

Pikir semua orang dengan perasaan kaget.

Tiba-tiba Chee Toa-ho melompat mundur berapa langkah, dia tarik sarung pedangnya dari pinggang dan membantingnya keras-keras ke tanah.

Buru-buru Sun Siau-kiau memungutnya sambil berteriak.

"Eei... jangan dibanting, nanti rusak!"

Baru berapa patah kata terucapkan, kembali terdengar benturan nyaring bergema secara beruntun, ternyata kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak berapa gebrakan.

Sebagaimana diketahui, kedua orang ini sama-sama mengandalkan kecepatan dalam jurus serangannya, karena cepat maka suara benturan yang terjadi tidak terlalu keras, tapi deruan angin pedangnya bagaikan menyayat angkasa.

Dalam waktu singkat belasan gebrakan kembali lewat.

Thiat Tiong-tong mulai berpikir.

"Kelihatannya jurus pedang yang dimiliki orang ini tidak terlampau mengejutkan, dia hanya mengandalkan kecepatan untuk menundukkan lawan, tampaknya aku harus menggunakan tehnik cepat untuk mengalahkan dirinya!"

Berpikir sampai disitu tiba-tiba dia menggetarkan pedangnya dan secepat kilat melancarkan empat belas jurus serangan, dalam ke empat belas jurus serangan itu jurus yang satu lebih cepat daripada jurus yang lain, dalam waktu singkat seluruh angkasa hanya dilapisan bunga pedang yang membuat orang silau matanya.

Chee Toa-ho sama sekali tidak berkelit, dia sambut datangnya serangan itu dengan bergerak maju, sebagai orang sombong yang tinggi hati, diapun ingin menggunakan tehnik cepat untuk menghadapi lawannya, maka begitu serangan dari Thiat Tiong-tong menyambar tiba, dia segera menyambutnya dengan serangan pula.

Kedua orang itu bertarung cepat, semua perubahan jurus dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Lagi-lagi terdengar suara dentingan nyaring yang menggelegar di angkasa, Chee Toa-ho telah menyambut tujuh serangan Thiat Tiong-tong kemudian membalas dengan delapan serangan berantai, ketika serangan terakhir dari anak muda itu menyapu tiba, dia segera menyongsong dengan maju ke depan.

Sayang gerakan tubuhnya terlambat satu langkah.

"sreeet!"

Tahu-tahu pedang Thiat Tiong-tong sudah menyambar lewat dari sisi senjatanya, langsung mengancam dada..

Pertarungan antara dua jago pedang memang sering ditentukan oleh satu langkah, begitu Chee Toa-ho salah langkah, tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindarkan diri, tampaknya ujung pedang milik Thiat Tiong-tong segera akan menembusi dadanya.

Siapa tahu pada saat itulah cahaya pedang ditangan Thiat Tiong-tong bergetar kencang kemudian tubuhnya mundur berapa meter ke belakang, dengan sekali sentakan, pedang itu sudah menancap diatas permukaan tanah.

Baru saja semua orang menjerit kaget setelah melihat kekalahan yang dialami Chee Toa-ho, Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin telah berseru lebih dulu.

"Bila masih ada yang ingin beradu kepandaian, tunggu sampai aku selesai berbicara dulu!"

Chee Toa-ho berdiri mematung ditempat sambil menundukkan kepalanya, mengawasi ke lima robekan yang ada dibaju bagian dadanya, rupanya didalam getaran pedangnya tadi, Thiat Tiong-tong telah melepaskan lima bacokan maut.

Kini dia hanya berdiri dengan perasaaan terkejut, ngeri bercampur malu, untuk berapa saat tidak mampu mendongakkan kepalanya lagi.

Sun Siau-kiau segera maju menghampiri, memeluk pinggang suaminya dan menghibur.

"Siau-chee, jangan bersedih hati, kalah yaa sudah, entar biar aku balaskan dendammu!"

Kini kawanan jago itu hanya bisa saling bertukar pandangan dengan perasaan terkesiap.

"Sebuah jurus pedang yang sangat cepat"

Pikir mereka berbareng.

Sementara itu Suto Siau merasa amat gembira, dia tidak menyangka Thiat Tiong-tong yang memiliki ilmu pedang selihay itu berhasil ditaklukan olehnya, ketika makin dipikir dia merasa semakin bangga, tidak tahan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... apa yang ingin kau sampaikan? Saudara Thiat, katakan saja"

"Darimana aku bisa tahu kalau saaat ini dia sudah mati atau masih hidup? Jika kau berharap aku menyetujui usulmu, paling tidak berilah kesempatanku agar berbicara dengannya!"

"Itu mah gampang!"

Sambil berkata Suto Siau segera memberi tanda dengan kerlingan mata.

Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Lok Put-kun sekalian segera mundur ke sekeliling kereta dan berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan.

Sekalipun Suto Siau merasa kemenangan sudah berada dipihaknya, namun setelah menyaksikan kelihayan ilmu pedang Thiat Tiong-tong, dia tetap tidak berani bertindak gegabah, dia kuatir anak muda itu menyerang kereta tersebut dan berusaha menolong tawanan.

Mendadak terlihat Suto Siau mengayunkan tangannya, sekilas desingan angin tajam segera menghantam tubuh Sui Leng-kong.

Baru saja Thiat Tiong-tong berseru kaget, sambil tertawa tergelak Suto Siau kembali berkata.

"Saudara Thiat tidak perlu kuatir, aku hanya ingin membebaskan totokan jalan darahnya"

Baru selesai dia bicara, terdengar Sui Leng-kong sudah merintih lirih sambil mengangkat wajahnya.

Kelihatannya gadis itu tidak menyangka kalau tubuhnya berada ditempat ketinggian, ketika menengok ke sekeliling tempat itu, meski telah mendusin namun serasa bagai dalam alam impian, seluruh tubuhnya terasa dingin sekali.

Melihat nona itu mulai bergerak, Thiat Tiong-tong girang, sedih bercampur gusar, teriaknya cepat.

"Ji-moay...."

Sui Leng-kong hanya cukup menundukkan kepalanya, dia segera dapat melihat wajah Thiat Tiong-tong yang sedang memandangnya dengan cemas, untuk sesaat dia tidak tahu harus terkejut atau gembira, jeritnya.

"Toako...."

Mereka berdua sama-sama mempunyai beribu patah kata yang ingin disampaikan, namun setelah saling memanggil, tidak sepotong perkataan pun yang mampu diutarakan, meski hanya berjarak berapa meter namun dalam perasaan mereka berdua seakan dipisahkan oleh benua yang berbeda.

Ketika mendengar teriakan 'toako' tadi, Ai Thian-hok nampak mengernyitkan alis matanya kemudian membentak.

"Sui Leng-kong, kaukah disitu? Siapa yang berani menyiksa sumoay ku?"

Bentakan yang begitu nyaring membuat semua orang terkesiap, penjagaan pun semakin diperketat.

Tadi, dalam pandangan Sui Leng-kong hanya ada Thiat Tiong-tong seorang, setelah dikejutkan oleh suara bentakan itu, dia baru sadar kalau disitu masih hadir orang lain, katanya dengan nada gemetar.

"Toa suheng, kau.... kau ada disitu juga!"

"Suheng ada disini, sumoay tidak usah takut, aku akan datang menolongmu"

Sambil membentak keras Ai Thian-hok bersiap siap menerjang ke atas.

"Tunggu sebentar"

Tiba-tiba Sui Leng-kong berteriak.

"aku.... aku sudah bukan.... bukan sumoaymu lagi"

"Apa kau bilang?"

Seru Ai Thian-hok dengan gusar setelah tertegun sesaat.

"kau.... kau pasti sudah melantur...."

Perlu diketahui, pada jaman itu sekali orang mengangkat seseorang menjadi gurumu maka selama hidup orang itu tetap akan menjadi muridnya, sebab rasa hormat terhadap guru merupakan masalah yang paling penting.

Tidak heran kalau Ai Thian-hok jadi amat gusar telah mendengar Sui Leng-kong tidak mengakui Kiu cu kui bo sebagai gurunya, kendatipun begitu, dia tetap berusaha me1indunginya, dengan mengatakan dia sudah melantur.

Siapa tahu Sui Lengkong berkata lebih jauh.

"Tidak, kau.... aku tidak melantur, aku.... aku sudah menjalani penghormatan terakhir dihadapan Kui bo, menerangkan kalau mulai sekarang sudah bukan muridnya lagi!"

Mendengar gadis itu menyebut langsung gelar gurunya, Ai Thian-hok sadar kalau apa yang dikatakan bukan bohong, dalam terkejut bercampur gusarnya dia segera menuding ke atas sambil mengumpat.

"Kau.... jadi kau telah menghianati perguruan!"

"Ji-moay"

Thiat Tiong-tong ikut membentak.

"kau.... kau sudah gila?"

Perlu diketahui, mengkhianati perguruan merupakan dosa yang luar biasa besarnya dalam dunia persilatan, tidak heran kalau Thiat Tiong-tong ikut panik setelah mendengar pernyataan itu, tidak kuasa lagi dia ikut memaki.

"Benar, aku telah menghianatinya"

Kata Sui Leng-kong lebih jauh.

"tapi dia telah memaafkan dosaku"

"Mengkhianati perguruan merupakan dosa besar, mana mungkin suhu mengampunimu?"

Tegur Ai Thian-hok marah. Dengan air mata bercucuran kata Sui Leng-kong lagi.

"Aku tidak percaya kalau dia sudah mati, aku ingin pergi mencarinya, andaikata dia mati, akupun tidak ingin hidup, maka aku.... aku tidak ingin menjadi murid orang lain!"

Biarpun beberapa patah kata itu disampaikan sangat sederhana dan tanpa ujung pangkal, namun dibalik kesemuanya itu justru terkandung rasa cinta yang lebih dalam dari samudra.

Thiat Tiong-tong sangat terharu hingga air matanya tidak terbendung lagi, pikirnya.

"Aaah benar, justru gara-gara ingin menemukan aku, maka dia terjatuh ke tangan Suto Siau"

Ai Thian-hok sendiripun berdiri mematung sambil berpikir.

"Benar, dia sudah bertekad akan mati bersama Thiat Tiong-tong, dia pasti kuatir kematiannya akan membuat suhu bersedih hati, oleh sebab itu dia putuskan dulu hubungan antara guru dan murid"

Tidak tahan lagi hidungnya terasa kecut, buru-buru serunya.

"Bagaimanapun juga aku harus membawa mu menjumpai suhu, jangan harap orang lain bisa mengusik dirimu"

"Terlebih kau sendiri, jangan mencoba sembarangan bergerak!"

Sela Suto Siau sambil tertawa dingin.

Baru selesai dia bicara, ujung lengan baju Ai Thian-hok sudah menyambar kedepan wajahnya.

Merasakan betapa kuat dan dahsyatnya kebasan ujung lengan itu, Suto Siau enggan menerima dengan kekerasan, cepat dia mundur sejauh satu meter lebih.

"Weesss!"

Tubuh Ai Thian-hok bagaikan seekor kelelawar sudah menerjang naik ke atas, langsung meluncur ke arah dimana Sui Leng-kong barusan berteriak.

Seketika Hek Seng-thian dan Suto Siau mengawasi ketat gerak-gerik Thiat Tiong-tong, sementara itu Pek Seng-bu dan Lok Put-kun ikut melesat naik ke tengah udara.

Baru saja tubuhnya melambung ke tengah udara, Ai Thian-hok telah mendengar datangnya deruan angin pukulan dari samping kiri dan kanan, cepat dia kebaskan ujung lengannya, dengan ujung lengan sebelah kiri menyongsong Pek Seng-bu sementara ujung lengan kanannya menyambar Lok Put-kun.

Buru-buru Pek Seng-bu menggaetkan kakinya diatas tangga itu sambil menarik tubuhnya mundur ke belakang, serangan dari Ai Thian-hok pun mengenai sasaran kosong.

Sementara Lok Put-kun dengan mendorong sepasang telapak tangannya menyongsong datangnya ancaman dengan keras melawan keras.

"Blaaaaamm!"

Benturan keras menyebabkan tubuh Lok Put-kun tergetar hingga rontok ke bawah, namun Ai Thian-hok sendiripun ikut tergetar tubuhnya sehingga mencelat ke arah sisi kiri.

Waktu itu tubuhnya masih melambung di udara dan tidak punya tempat untuk meminjam tenaga, serangan yang datang dari sisi kiri harus dihindari dengan susah payah.

Berbeda dengan Pek Seng-bu yang kaki kirinya tergaet diatas tangga, tubuhnya bisa bergetar secara bebas, begitu serangan pertama gagal, serangan berikut segera dilontarkan.

Tatkala Ai Thian-hok mengerahkan segenap kekuatannya untuk beradu kekuatan, siapa tahu Pek Seng-bu segera menarik kembali tangannya sambil melancarkan sebuah tendangan.

Ai Thian-hok yang berilmu tinggi sayang tidak bisa melihat dengan jelas kejadian yang sebetulnya, dia tidak menyangka kalau lawannya punya tempat berpijak, selain itu diapun tidak mengira pihak lawan dapat merubah jurus serangannya di tengah udara.

Namun Sui Leng-kong maupun Thiat Tiong-tong dapat mengikuti kesemuanya itu dengan jelas sekali, dalam terkejutnya belum sempat mereka berteriak, tahu-tahu Ai Thian-hok sudah termakan oleh tendangan itu hingga mencelat dan terjatuh ke bawah bagaikan layang-layang yang putus benang.

Baru saja Thiat Tiong-tong hendak menggerakkan bahunya, dengan nada dingin Suto Siau segera mengancam.

"Kau sudah tidak mau dengan nyawanya?"

Kontan saja pemuda itu bergidik, dia tidak lagi mampu menghimpun tenaga serangannya.

Pada saat itulah mendadak dari balik rumah gubuk melesat lewat sesosok bayangan manusia, dengan cepat bayangan itu menyambar tubuh Ai Thian-hokyang sedang mencelat di udara kemudian sekali lagi melesat masuk ke dalam rumah.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya kabur, secara lamat-lamat mereka sempat melihat sesosok bayangan manusia berbaju merah yang bertubuh langsing melesat lewat kemudian lenyap dari pandangan, demikian cepatnya gerakan tubuh orang itu nyaris bagaikan sesosok sukma gentayangan.

Kenyataan ini seketika membuat perasaan hati semua orang tercekat.

Suto Siau sendiripun segera berpikir.

"Ternyata dia masih mempunyai pembantu, kalau sekarang aku tidak memaksanya untuk menjawab, mungkin semakin panjang larut malam, semakin banyak impian yang bakal timbul...."

Berpikir sampai disitu segera hardiknya.

"Thiat Tiong-tong, bagaimana keputusanmu?"

"Apa yang kau inginkan?"

Thiat Tiong-tong balik bertanya dengan sedih.

"Kau harus angkat sumpah, berjanji selama hidup akan mentaati semua perintahku"

"Kemudian?"

Suto Siau tertawa seram.

"Kecuali itu, kau harus memusnahkan seluruh kepandaian silat yang dimiliki, tapi siaute jamin selama hidup kau tidak bakal kekurangan sandang pangan"

Sui Leng-kong yang mendengar perkataan itu kontan menjerit dengan nada gemetar.

"Kau.... kau sungguh keji...."

Suto Siau tertawa tergelak.

"Hahahaha.... yang kuinginkan hanya batok kepalanya, buat apa dengan ilmu silatnya?"

Dia menjengek.

Sebetulnya dia berencana akan menarik Thiat Tiong-tong menjadi pembantu utamanya, namun ketika teringat betapa hebatnya kungfu yang dimiliki pemuda ini, sebagai orang yang licik dan banyak akal, dia segera sadar bahwa menahan pemuda itu sama artinya dengan menyimpan bom waktu disamping tubuhnya, ketimbang setiap hari harus waspada, mending dia musnahkan dulu ilmu silatnya kemudian baru memaksanya untuk menunjukkan tempat persembunyian Perguruan Tay ki bun.

Dalam posisi tidak berilmu, di saat pemuda itu berada dalam keadaan mati tidak hiduppun susah, terpaksa dia akan menuruti semua permintaan-nya.

Makin dibayangkan dia merasa semakin bangga, akhirnya tidak tahan lagi dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Thiat Tiong-tong hanya merasakan tangan kakinya jadi dingin, sepasang matanya merah membara, teriaknya.

"Bila ingin aku sanggupi permintaan mu itu, hmmmm, lebih baik jangan bermimpi disiang hari bolong"

"Gara-gara ingin mencari dirimu dia tertangkap, masa kau tega tidak menolongnya?"

Ejek Hek Seng-thian sambil tersenyum. Sambil tertawa tergelak Suto Siau menambahkan.

"Bila saudara Thiat enggan menolongnya, siaute pun tidak masalah, bagaimanapun toh.... haaahahaha.... belakangan siaute sedang kesepian, aku memang sedang mencari cewek lain untuk menemani ku!"

Kembali Thiat Tiong-tong merasa tercekat, membayangkan makna dibalik perkataan Suto Siau itu tanpa terasa tubuhnya gemetar keras. Akhirnya setelah menghela napas panjang katanya.

"Seandainya aku menyanggupi permintaan-mu, apakah kau akan membebaskan dia?"

"Soal ini mah...."

Suto Siau tertawa seram. Mendadak terdengar Sui Leng-kong yang berada ditengah udara bersenandung keras.

"Lelaki harus mengutamakan rasa setia-kawan, Bila cinta membelenggu, impian membelenggu, kesetiakawanan akan lenyap, Bila cinta dan kesetiakawanan saling membelenggu, apa cinta yang harus didahulukan? Atau setia kawan yang harus diutamakan?"

Ketika mendengar gadis itu mulai menyanyi, semua orang kontan berdiri tertegun, apalagi bagi Phang Kong sekalian, meski berilmu tinggi namun mereka adalah orang kasar yang tidak pernah makan bangku sekolah, sambil tertawa geli pikirnya.

"Ternyata gadis ini takut mati, rupanya dia sedang berusaha menggunakan kata cinta untuk membujuk Thiat Tiong-tong dan memintanya untuk menyanggupi permintaan orang"

Suto Siau sendiri meski cerdas dan banyak akal, namun untuk sesaaat diapun tidak mengerti apa maksud senandung itu.

Berbeda dengan Thiat Tiong-tong yang sudah satu pikiran dengan Sui Leng-kong, seketika perasaan hatinya tercekat, pikirnya.

"Aaah benar, dia minta aku jangan terlalu merisaukan cinta kasihku dengannya hingga mengabaikan budi perguruan yang lebih tinggi dari bukit karang"

Dengan air mata berlinang kembali Sui Lengkong bersenandung.

"Manusia hidup seratus tahun, semuanya hanya semu belaka, Kemewahan keduniawian sekejap lenyap tidak berarti, semuanya tidak abadi. Kalau tidak tahan dengan udara dingin di tanah perbukitan, Ingatlah dengan kehangatan duniawi!"

Sekali lagi semua orang dibuat termangu oleh senandung itu, meski mereka ikut kesemsem namun tetap tidak paham apa maksud dari senandung tersebut. Thiat Tiong-tong nampak bertambah sedih, pikirnya.

"Dia bilang kehidupan manusia bagai impian, tidak berharga untuk dikenang, dia pun minta aku jangan merisaukan mati hidupnya, dia.... ternyata dia bertekad akan mati"

Melihat Thiat Tiong-tong tertunduk sedih, kembali Sui Lengkong tertawa pedih sambil bersenandung lebih jauh.

"Bila keinginan sulit terpenuhi, Kita bersua kembali di alam lain, Rambut hitam wajah cantik segera memutih, buat apa terlalu dipikirin? Ingatlah selalu ooh sang kekasih, Di saat musim gugur telah bertemu, Semuanya akan lebih indah dari sebelumnya"

Thiat Tiong-tong benar-benar merasa amat pedih, pikirnya.

"Dia minta aku jangan memikirkan kesenangan keduniawian, bertemu lagi dengannya setelah berada di alam baka, dia bilang hidup didunia cepat menua, tapi dialam baka akan hidup abadi, selamanya tidak pernah berpisah lagi, tapi.... meski dia telah berjanji begitu, mana tega aku biarkan dia hidup dalam kesengsaraan?"

Untuk sesaat suasana disekeliling tempat itu hanya dipenuhi oleh suara senandung Sui Lengkong, sama sekali tidak kedengaran suara yang lain lagi.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar gelak tertawa yang sangat nyaring berkumandang dari kejauhan.

Kemudian terdengar suara seorang lelaki berseru sambil tertawa terbahak bahak.

"Hahahaha.... nyanyian bagus, nyanyian bagus, sayangnya meski bagus lagunya, salah bait syairnya, coba kau dengar lagu senandungku ini!"

Menyusul kemudian terdengar orang itu bernyanyi dengan suara nyaring.

"Hidup manusia hanya seratus tahun, mengapa tidak di nikmatinya. Walau kehidupan dewa konon bahagia, siapa yang pernah membuktikan? Kebahagiaan yang semu bagaimana mungkin dibandingkan kenikmatan yang nyata? Nikmati dulu kehidupan dunia, baru dilanjutkan kebahagiaan dewa!"

Suara nyanyian itu amat nyaring dan bergaung diseluruh perbukitan, gema suara yang seolah datang dari empat penjuru membuat orang sulit untuk tahu dari jarak seberapa jauh suara nyanyian itu berasal.

Dengan perasaan terperanjat semua orang menengok ke empat penjuru, namun tidak tampak sesosok bayangan manusia, kecuali burung yang terbang balik ke sarang, hujan rintik yang membasahi bumi serta suara gaungan yang menggema dimana-mana, tidak nampak seorang-pun diseputar sema.

Dengan nada terkejut Suto Siau segera berseru.

"Siapa yang telah datang? Begitu dahsyat tenaga dalam yang dimilikinya!"

Belum selesai dia berkata, tiba-tiba tampak setitik bayangan putih melesat keluar dari balik pepohonan bagaikan seekor burung walet.

Menanti bayangan putih itu sudah melayang turun ke permukaan tanah, semua orang baru mendapat tahu kalau bayangan putih itu tidak lain adalah seekor kucing berbulu putih mulus dengan mata berwarna hijau.

Ketika mendekam ditanah, kucing itu nampak amat manja dan lucu, tapi nampak juga galak seperti seekor harimau.

Tampaknya binatang itu seakan keheranan dengan hadirnya begitu banyak orang ditanah perbukitan yang sepi, sepasang matanya yang hijau berkilat mengawasi beberapa kali seputar arena.

Bukan si kucing saja yang keheranan, kawanan jago pun sangat tercengang dengan kehadiran kucing aneh itu, sorot mata semua orang pun sama-sama tertuju ke tubuh binatang itu.

Dari dalam rumah gubuk tiba-tiba terdengar suara panggilan yang merdu diiringi suara tertawa yang lengking.

Ting-nu!

Ping-nu!

Kucing putih itu segera melompat bangun dan melesat masuk ke dalam rumah.

Semua yang hadir memang tidak ada yang tahu asal-usul kucing itu, tidak demikian dengan Thiat Tiong-tong, dia tahu kucing itu adalah binatang peliharaan Yin Ping yang pergi mencari bala bantuan.

Dengan kehadiran kembali kucing tersebut, dapat ditebak kalau bala bantuan yang ditunggu tunggu telah tiba pula disitu.

Thiat Tiong-tong segera berpikir.

"Rupanya liang bawah tanah yang digali Yin Ping bukan tersedia untuk dirinya, melainkan untuk si kucing itu, jelas dia sengaja mengirim kucing itu untuk mencari bantuan, sementara dia sendiri tetap menunggu disini karena sedang menanti kehadiran orang itu"

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa yang diundang Yin Ping untuk datang menjemputnya?

Kawanan jago yang hadir meski tidak tahu liku-liku dibalik kesemuanya ini, namun mereka pun ingin tahu jagoan macam apakah yang memiliki tenaga dalam begitu sempurna sehingga dapat melantunkan nyanyian dengan begitu nyaring.

Maka tidak kuasa lagi belasan pasang mata bersama-sama dialihkan ke arah mana berasalnya suara nyanyian itu.

Hanya Sui Leng-kong seorang tetap menundukkan kepalanya, peristiwa apa pun yang berlangsung disitu, tidak satupun yang dapat merubah rasa pedih dan murung dihati kecilnya.

BAB 17 Kaki Lembut Bagaikan Bunga Salju Lewat sesaat kemudian, dari bawah bukit berkumandang suara irama musik yang amat merdu.

Irama musik itu membawakan lagu yang riang dan gembira, seakan sama sekali tidak ada kemurungan dan kesedihan, pelbagai kegembiraan duniawi seperti menikmati rembulan ditengah kebun bunga, menonton wanita cantik dimuka ranjang nyaris terangkum di balik irama musik tersebut.

Kendatipun semua orang yang hadir masing-masing mempunyai persoalan pribadi, namun setelah mendengar irama musik itu, pikiran dan perasaan seolah menjadi lega dan lapang kembali.

Menanti irama lagu itu makin lama semakin bertambah nyaring, makin lama semakin mendekat, suasana malam yang sepi dengan hujan gerimis yang basah pun seolah olah telah berubah menjadi suasana yang cerah dengan bulan sedang purnama, aneka bungamemancar-kan bau harum...

Pada saat itulah dari balik irama musik berkumandang pula suara tertawa yang merdu dengan suara pembicaraan yang ramai bagaikan burung nuri sedang berkicau.

Enam-tujuh orang nona berbaju indah dengan membawa payung bambu dan seruling, sambil tertawa sembari meniup seruling bergerak mendekat dengan langkah yang lemah gemulai.

Pakaian yang mereka kenakan adalah gaun pendek yang sangat longgar, bagian bawahnya tidak bergaun panjang melainkan hanya mengenakan celana ketat sebatas dengkul hingga bagian betisnya yang putih mulus terlihat jelas.

Kaki mereka yang putih mulus bagai salju pun tidak ditutupi dengan kaus maupun sepatu melainkan hanya mengenakan bakiak yang serasi warnanya dengan warna pakaian mereka.

Bukan hanya irama musik dan suara tertawa mereka saja yang merdu, wajah mereka pun nampak cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Ditengah kerumunan gadis gadis itu terlihat pula sebuah bangku berbentuk tandu yang dilengkapi dengan penutup dibagian atasnya diusung berapa orang, tandu itu tampaknya memang dirancang secara khusus hingga bisa terhindar dari sengatan matahari maupun curahan hujan.

Empat orang gadis berdandan serupa menggotong tandu itu dengan senyuman menghiasi wajah mereka, biar sedang menggotong sebuah tandu namun mereka seakan tak menggunakan sedikit tenaga pun.

Diatas tandu itu duduk seorang manusia yang sangat aneh.

Dia mengenakan pakaian blacu yang sangat longgar, wajahnya cerah bagai bulan purnama.

Meskipun sekilas pandang dia seakan sedang duduk diatas tandu itu, tapi bila diperhatikan lebih seksama maka akan terlihat kalau sepasang kakinya tetap menginjak tanah.

Ternyata tandu itu hanya wujudnya saja sebagai sebuah tandu namun dalam kenyataan sama sekali tidak berfungsi, sebab walaupun orang itu kelihatannya sedang ditandu, padahal dia sedang berjalan dengan kaki sendiri.

Tidak heran kalau kawanan gadis penggotong tandu itu nampak begitu ringan dan santai, sementara orang itupun berwajah penuh senyuman cerah, bagaikan seorang saudagar kaya yang baru berhasil meraih keuntungan jutaan tahil emas.

Manusia aneh itu memiliki kening yang sangat lebar, sepasang alis matanya tebal dengan matanya yang berbinar, kesemuanya ini membuat dia nampak cerdas dan berwibawa.

Kendatipun sebagian besar jago yang hadir disitu banyak pengalaman dalam dunia persilatan, tidak urung mereka tertegun juga setelah menyaksikan kehadiran manusia aneh itu.

"Aaah, akhirnya kau datang juga"

Terdengar suara merdu berkumandang dari balik rumah. Manusia berpakaian blaco itu tertawa tergelak, sahutnya.

"Hahahaha... setelah menerima pemberitahuan yang dibawa kucing hujin, cayhe segera melakukan perjalanan siang malam untuk menyusul kemari"

Dengan langkah lebar dia langsung berjalan menuju ke arah rumah gubuk, terhadap kawanan jago yang hadir disitu, jangan lagi menyapa, melirik sekejap pun tidak.

Kawanan gadis muda yang mengiringinya segera mengikuti pula disampingnya.

Saat itu irama lagu telah berhenti berdendang, seorang wanita cantik berbaju merah yang membopong seekor kucing putih, perlahan-lahan berjalan keluar dari balik rumah.

Dengan sorot mata tidak berkedip manusia aneh itu mengawasi perempuan itu lekat-lekat, tiba-tiba dia menghela napas panjang sambil berkata.

"Aaaai! Tidak disangka meski baru berpisah tiga hari, namun perpisahan ini serasa bagaikan puluhan tahun, benar-benar bagaikan pepatah yang mengatakan. sehari tidak bersua, serasa tiga musim gugur telah berlalu"

"Tiga hari apa?"

Sahut Yin Ping sambil tertawa.

"kita sudah belasan tahun tidak pernah bersua!"

"Aaah masa iya?"

Seru manusia aneh itu sambil menggosok matanya dan menggeleng.

"tidak betul, tidak betul, kalau benar sudah ada belasan tahun, masa wajahmu masih kelihatan begitu muda dan cantik?"

Yin Ping kontan tertawa terkekeh.

"Mulutmu memang selalu manis, orang mati pun akan bangkit kembali setelah mendengar perkataanmu itu"

Kedua orang itu berbincang sambil tertawa tergelak, seakan mereka benar-benar menganggap orang lain seperti orang mati.

"Selama banyak tahun, pernahkah kau datang mencariku?"

Tanya Yin Ping lagi.

"Bukan Cuma mencari, entah sudah berapa banyak sol sepatuku yang robek gara-gara berkeliaran kian kemari"

Yin Ping memandangnya dengan manis, tanyanya lagi dengan nada sedih.

"Kalau memang mencariku, kenapa sekarang kau tidak bertanya bagaimana keadaanku belakangan ini?"

"Hari ini dapat bertemu lagi denganmu sudah merupakan satu kepuasan yang luar biasa, buat apa mesti menanyakan urusan yang lewat? Kalau mau bertanya, semestinya bertanya apa yang selanjutnya akan kita lakukan"

"Aku memang sengaja meminta kau yang datang menjemputku karena aku ingin membuktikan apakah kau telah berubah pikiran atau belum, jika kau telah berubah berarti tidak mungkin akan datang men jemputku, bukan begitu?"

"Bila aku tidak datang menjemputmu, maka kau pun tidak akan datang mencari aku bukan?"

Yin Ping manggut-manggut. Sambil tertawa tergelak kembali manusia aneh itu berkata.

"Untung sampai detik ini aku belum pernah berubah pikiran"

Yin Ping melirik sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya sambil tertawa.

"Betul hatimu memang belum berubah, tapi orangnya telah berubah, kalau dulu kau paling suka tampil keren, tampil necis dan suka berdandan, maka sekarang penampilanmu seenaknya sendiri, tampil sembarangan"

Manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Hahahaha.... tepat sekali"

Serunya.

"tiga puluh tahun berselang bukan saja aku selalu tampil rapi, necis dan suka berdandan, bahkan aku mesti tampil prima, jauh lebih prima dari siapa pun, tapi tiga puluh tahun kemudian...."

Dia memandang sekejap kawanan gadis yang berada disekelilingnya, kemudian melanjutkan.

"Sekarang aku baru sadar, sebagai manusia kita tidak boleh menjadi budaknya pakaian, tidak boleh menjadi budaknya dandanan dan penampilan, pakaian model apa yang paling enak dikenakan, model itulah yang akan kukenakan"

Yin Ping mengedipkan matanya berulang kali, kembali ujarnya sambil tertawa.

"Baiklah, apa yang kau katakan tentang penampilan masih bisa kuterima, tapi bagaimana pula dengan tandumu itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa seperti perahu karam saja?"

Untuk kesekian kalinya manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... tentu saja ada alasannya kenapa aku berbuat begitu, coba bayangkan sendiri, bila aku duduk diatas tandu sementara mereka harus menggotong dibawah sana, sekalipun dimulut mereka tidak berkata-kata, bisa dipastikan perasaan hatinya tertekan dan tidak enak, bila mereka merasa tidak nyaman, bagaimana mungkin aku bisa menikmati kesenangan, sebaliknya bila kubuat keadaan seperti ini.... hahahaha.... aku masih tetap dapat menikmati betapa bahagianya ditandu gadis-gadis cantik, sementara mereka yang menggotong tandu pun merasa gembira, tak akan menggerutu dalam hati, kau senang, akupun senang.... nah, keadaan seperti inilah yang paling menyenangkan"

Keterangan semacam ini nyaris belum pernah terdengar sebelumnya, tidak heran kalau semua orang melongo dibuatnya. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Yin Ping menghela napas panjang, katanya.

"Setelah berpisah belasan tahun, meski kau masih tetap suka menikmati hidup tapi taraf kenikmatanmu benar-benar telah mencapai suatu keadaan yang luar biasa"

Semua orang yang hadir pun untuk sesaat seakan lupa dengan situasi yang sedang dihadapi, setiap orang nyaris dibuat kesemsem dan terperana oleh tindak tanduk serta penuturan manusia aneh itu.

Suto Siau pun sadar bahwa manusia aneh itu memiliki kepandaian silat yang luar biasa, dia berharap orang itu segera membawa pergi perempuan cantik berbaju merah itu sehingga tidak mengganggu urusannya.

Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba manusia aneh itu berpaling, sorot matanya yang tajam mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ketika menatap wajah Thiat Tiong-tong, dia seakan mengawasinya beberapa kejap lebih lama.

Thiat Tiong-tong berdiri murung ditengah hujan, seluruh tubuhnya basah kuyup, keningnya berkerut, namun pelbagai alasan yang menghinggapi dirinya tidak sampai melenyapkan kegagahan serta keperkasaan dirinya.

Sementara kawanan gadis cantik itupun diam-diam saling berbisik sambil melempar kerlingan mata dan senyuman manis ke arah pemuda itu.

"Apakah orang-orang itu sahabatmu?"

Tanya manusia aneh itu kemudian sambil berpaling. Yin Ping tertawa terkekeh.

"Hanya pemuda yang menarik perhatian adik-adik kecilmu itu saja yang kukenal, menurut pendapatmu, dia termasuk manusia berbakat kelas berapa?"

Manusia aneh itu ikut tertawa tergelak.

"Hahahaha.... kalau kawanan budak itupun sampai ikut terpikat, tentu saja dia termasuk orang yang hebat, hanya sayang wajahnya murung dan penuh kesedihan sehingga tercermin kalau jiwanya sedikit agak sempit"

Thiat Tiong-tong hanya mengawasi orang itu sambil tertawa hambar, dia seakan tidak ingin menjawab tanggapan itu.

Manusia aneh itu sama sekali tidak memperhatikan kawanan jago lainnya, mendadak dia melompat turun dari tandunya, kemudian sambil menjura berkata.

"Hujin, silahkan naik tandu!"

Pundaknya tidak nampak bergerak, ujung lengan bajunya sama sekali tidak bergoyang, tahu tahu tubuhnya sudah melayang maju ke depan, hal ini memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya luar biasa sekali.

"Kau suruh aku menaiki tandu semacam itu?"

Terdengar Yin Ping berteriak sambil tertawa.

"terima kasih, aku mah tidak sudi untuk menaikinya"

"Hahahaha.... kenapa kau pun berubah jadi hidup sederhana? Tandu semacam ini belum tentu bisa kau naiki dihari biasa!"

Yin Ping tertawa lebar, akhirnya dia berjalan menuju ke depan.

Suto Siau menyangka mereka segera akan pergi, diam-diam dia menghembuskan napas lega.

Siapa tahu manusia aneh itu berjalan menghampiri tangga itu, sambil menengadah tegurnya.

"Udara diatas dingin dan basah, kau tidak kedinginan dengan pakaian tipismu?"

Sui Leng-kong menghela napas panjang, senandungnya.

"Tiada hawa dingin dipuncak ketinggian, Apa nian keinginan mu?"

"Hahahaha.... aku adalah seorang lelaki yang paling menyayangi gadis lembut, nona cantik wahai nona cantik, bersediakah kau kembali ke alam dunia?"

"Dia tidak bakal mau turun ke bawah!"

Bentak Suto Siau tiba-tiba. Sambil tertawa manusia aneh itu melirik sekejap ke arahnya, kemudian bertanya.

"Dari mana kau bisa tahu?"

Buru-buru Suto Siau menjura seraya berseru.

"Cianpwee gagah dan perkasa, boanpwee yakin kau adalah seorang pertapa sakti yang tidak suka mencampuri urusan keduniawian, bagaimana kalau boanpwee sekalian segera menghantar dengan hormat keberangkatan cianpwee turun dari gunung?"

"Ehmmm, berapa patah katamu memang kedengaran sopan dan sedap didengar, baiklah, asal kau turunkan gadis itu, kami semua segera akan pergi dari sini"

Suto Siau tertegun, dengan wajah berubah tanyanya.

"Kenapa cianpwee ingin melepaskan dirinya?"

Sebelum manusia aneh itu menjawab, Yin Ping sambil tertawa telah memotong duluan.

"Kelihatannya penyakit lamamu kambuh kembali, asal melihat nona cantik lalu pingin membawanya pulang, bukan begitu?"

"Hahahaha.... bagaimanapun kau tetap orang yang paling tahu dengan watakku, setelah bertemu gadis berbakat semacam ini, mana boleh kubiarkan dia hidup menderita dalam dunia persilatan? Tentu saja harus kubawa pulang"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, terjadi kegemparan di antara kawanan jago itu.

Suto Siau tidak berani bertindak gegabah, sekalipun orang aneh itu berwajah putih tanpa jenggot, bertubuh gemuk pendek dan bicaranya semau sendiri, namun dia sadar kungfu yang dimilikinya luar biasa hebatnya.

Oleh sebab itu dia segera menarik tangan Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sekalian untuk berunding.

Di antara sekian jago yang hadir, sebetulnya Thiat Tiong-tong yang merasa paling gusar, tapi ingatan lain segera melintas dalam benakya.

"Jika bukan orang itu yang turun tangan, siapa lagi yang bisa menurunkan Leng-kong dari atas sana? Bagaimana pun biar dia selamatkan Leng-kong terlebih dahulu sebelum menolong dirinya"

Berpikir sampai disitu dia pun mendongakkan kepalanya dan memberi tanda kepada Sui Lengkong.

Kebetulan Sui Leng-kong sedang menatap kearahnya, sekalipun suasana sangat redup namun begitu sorot mata mereka berdua saling bertemu, jalan pemikiran kedua belah pihak pun seakan sudah tersambung.

Yin Ping sambil membopong kucing putihnya hanya mengawasi mereka berdua dengan senyuman dikulum, sementara kawanan gadis lainnya hanya menundukkan kepala mengawasi kaki sendiri yang putih bagaikan bunga salju, tampang mereka mirip orangyang sedang iri.

Sementara Suto Siau sekalian sedang berunding, jago pedang berkopiah kuning dan jago pedang rembulan berdiri sedikit dikejauhan tanpa ikut berbicara, hanya suara Lok Put-kun yang kedengaran paling nyaring.

Orang ini berperawakan tinggi besar, ketika berdiri di antara rekan lainnya, tubuhnya nampak jauh lebih tinggi dari siapa pun, ketika itu dengan wajah penuh amarah sedang berteriak.

"Siapa takut, siapa takut kepadanya!"

Suto Siau kelihatan manggut-manggut, tiba tiba dia berbalik dan menghampiri manusia aneh itu sambil berkata.

"Apa yang hendak cianpwee lakukan bila cayhe sekalian enggan melepaskan dirinya?"

"Itu mah bisa berakibat fatal"

Jawab manusia aneh itu sambil bergendong tangan dan tertawa.

Beberapa patah kata itu diucapkan amat santai seolah tidak bertenaga, namun setiap patah kata yang terucap kedengaran begitu tajam dan menusuk pendengaran.

Berubah hebat paras muka Suto Siau sekalian, dari enam orang yang hadir ada tiga orang di antaranya yang berakal licik, serentak mereka saling bertukar tanda.

Sambil menjura Suto Siau segera berkata.

"Perempuan itu mempunyai kaitan yang erat dengan kami semua, bahkan menyangkut sederet persoalan, sekalipun kami semua bersedia membiarkan cianpwee membawanya pergi, tapi bagaimana pertanggungan jawab kami bila kelak orang lain menanyakannya?"

Kemudian setelah tertawa tergelak, lanjutnya.

"Apalagi cayhe sekalian masih belum tahu siapa nama cianpwee"

"Bocah keparat, hebat amat kau"

Tukas Yin Ping tiba-tiba.

"bukankah kau ingin tahu dulu namanya kemudian baru dipertimbangkan, kalau bisa dilawan kalian lawan, kalau tidak bisa dilawan kalian akan kabur, bukan begit?"

"Kalau memang begitu, bagaimana kalau cianpwee tunda dulu selama berapa hari, menunggu cayhe sudah undang semua rekan, agar mereka pun dapat menyaksikan kehebatan cianpwee, kemudian perempuan itu baru diajak pergi dari sini?"

Dalam hati dia sudah mengambil keputusan, asal hari ini bisa menggunakan Sui Leng-kong untuk memaksa Thiat Tiong-tong menyerah, apa susahnya untuk serahkan kembali gadis itu kepadanya.

Yin Ping yang mendengar perkataan itu segera tertawa terkekeh.

"Oooh.... mau pakai siasat mengundang pasukan bantuan? Bertarung setelah bala bantuannya tiba?"

Manusia aneh itu berkata pula sambil menuding ke arah Suto Siau.

"Hahahaha.... tidak kusangka dalam dunia persilatan telah muncul seorang tokoh secerdik kau, tampaknya aku mesti membuka mataku lebar lebar"

"Tidak berani, tidak berani, entah bagaimana pendapat cianpwee dengan usul tadi?"

Kata Suto Siau.

"Selama hidup aku paling tidak suka memaksakan kehendak, bila hari ini aku bersikeras membawa pergi nona ini, paling tidak peristiwa ini pasti akan mencoreng wajah kalian semua"

Thiat Tiong-tong berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, sebaliknya Suto Siau sekalian berseri, buru-buru dia menjura seraya berkata.

"Ternyata cianpwee memang bijaksana, boanpwee ucapkan banyak terima kasih"

Manusia aneh itu tertawa perlahan, katanya lagi.

"Oleh sebab itu...."

Dia berhenti sejenak, menunggu perhatian semua orang sudah tertuju ke arahnya, dia baru melanjutkan.

"Oleh sebab itu kuputuskan, hari ini aku akan membuat kalian semua menyerahkan nona itu ke tanganku dengan perasaan rela dan ikhlas...."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, paras muka Suto Siau sekalian telah berubah hebat sementara Yin Ping tertawa terpingkal-pingkal.

Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap, sementara Pek Seng-bu secara diam-diam menjawil tubuh Lok Put-kun.

Mereka berdua tahu, persoalan yang dihadapi pada malam ini tidak mungkin bisa diselesaikan secara damai, tapi mereka sendiripun tidak berani bertindak secara gegabah, oleh sebab itu diputuskan untuk mendorong Lok Put-kun agar menjajal terlebih dulu kepandaian silat yang dimiliki manusia aneh itu.

Lok Put-kun memang seorang jago yang kasar, berangasan dan bertemperamen tinggi, sejak tadi dia sudah mendongkol sambil menahan diri, maka setelah diberi tanda untuk turun tangan, mana mungkin dia bisa menahan diri?

Dengan suara keras kontan hardiknya.

"Mengharapkan kami serahkan nona itu kepadamu? Hmm, jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Dengan langkah lebar dia maju ke muka, begitu tiba di depan manusia aneh itu, sambil merentangkan sepasang tangannya yang besar bagai kipas, bentaknya.

"Mari, mari, mari, kalau punya kemampuan, layani dulu berapa jurus seranganku!"

Dari suara gemerutuk yang dipancarkan dari tulang belulang Lok Put-kun ketika merentangkan telapak tangannya, Thiat Tiong-tong tahu kalau kepandaian gwakang yang dimiliki orang ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

"Anak muda, kau belum pantas bertarung melawanku"

Jengek manusia aneh itu sambil tertawa.

"Kentut"

Bentak Lok Put-kun gusar.

"jika takut menghadapiku, lebih baik...."

"Baiklah"

Potong manusia aneh itu kemudian.

"dalam satu jurus bila aku tidak sanggup membuatmu terjungkal, bagaimana kalau anggap saja aku yang kalah?"

Ketika kedua orang ini berdiri saling berhadapan, terlihatlah perbedaan mereka yang sangat mencolok, kalau yang satu bertubuh tinggi besar, kekar berotot dan hitam, maka yang lain bertubuh gemuk, putih dengan anggota badan yang lembut halus.

Yang satu bicara keras bagai bunyi genta, sementara yang lain lembut bagai orang bercanda.

Sekalipun Suto Siau sekalian tahu kalau manusia aneh itu memiliki kungfu yang luar biasa, namun Lok Put-kun pun bukan manusia sembarangan, dia sudah banyak tahun mengembara dalam dunia persilatan, sekalipun cara kerjanya sedikit gegabah namun pengalamannya dalam menghadapi musuh tidak lemah.

Kendatipun ilmu silat yang dimiliki manusia aneh itu jauh melebihi lawannya, tapi kalau ingin menghajarnya hingga jatuh terpelanting dalam satu gebrakan saja, jelas lebih susah daripada naik ke langit.

Maka Suto Siau sekalian jadi amat girang setelah mendengar orang itu sesumbar dengan tantangannya.

Hek Seng-thian kuatir Lok Put-kun tidak pandai bicara, maka dengan langkah cepat dia maju ke depan sembari menegaskan.

"Cianpwee, lagi bergurau atau sungguhan?"

"Siapa yang sedang bergurau denganmu"

Jawab manusia aneh itu sambil tertawa.

"Kalau memang begitu, apa yang hendak cianpwee lakukan bila kalah?"

"Kalau kalah, aku akan segera turun gunung dengan merangkak"

Semenjak tadi Lok Put-kun sudah mencak mencak kegusaran, mendengar perkataan itu kembali teriaknya penuh amarah.

"Kalau aku yang kalah, bukan saja akan turun gunung dengan merangkak, bahkan aku akan menyembah delapan kali kepadamu"

"Hahahaha.... aku kuatir sampai waktunya kau sudah tidak mampu menyembah lagi"

Hek Seng-thian girang sekali setelah mendengar perkataan itu, cepat ujarnya sambil tertawa.

"Saudara Lok tidak usah banyak bicara lagi, cepat minta berapa petunjuk dari cianpwee itu, saudara Lok hanya cukup melancarkan satu jurus serangan saja dan ingat, jangan sampai dibuat terjungkal olehnya"

"Ayohlah!"

Kata manusia aneh itu kemudian sambil menggulung lengan bajunya.

Dia berdiri amat santai, tidak menyiapkan diri, tidak pula menghimpun tenaga dalamnya, seakan seorang lelaki dewasa yang siap menghadapi seorang bayi cilik.

Lok Put-kun sendiri meski tampil dengan wajah penuh amarah, dihati kecilnya dia pun tidak berani gegabah, sesudah mendengus dingin dia silangkan kepalannya di depan dada sambil bertekuk lutut, kuda kudanya segera diperkuat.

Kuda kuda dalam bentuk begini merupakan sebuah kuda kuda yang paling dasar, khususnya bagi orang yang berlatih tenaga gwakang, bhesi semacam ini boleh dibilang sangat kokoh dan sulit digoyang kendatipun didorong oleh dua puluhan orang lelaki kekar.

Terlihat dia menarik lambungnya dengan menancapkan sepasang kakinya ke dalam tanah, lalu pikirnya.

"Bocah gendut, akan kulihat dengan cara apa kau akan membuat aku roboh terjungkal"

Thiat Tiong-tong sendiripun diam-diam bersorak memuji setelah menyaksikan kuda-kuda orang itu, disamping kagum diapun merasa terperanjat, ingin diketahui dengan cara apa manusia aneh itu akan membuatnya roboh terjungkal.

Diiringi bentakan nyaring Lok Put-kun mulai melontarkan pukulannya, ditengah angin pukulan yang menderu deru dengan jurus Thay san ya teng (bukit thay-san menindih kepala) dia bacok batok kepala orang itu.

Jurus serangan ini meski kasar dan sederhana namun terkandung dasar utama dari ilmu pukulan, boleh dibilang Lok Put-kun sangat menguasainya.

Apalagi dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar, seperti nama jurus serangan itu, kekuatannya boleh dibilang bagaikan tindihan dari sebuah bukit Thay-san.

Tidak urung para jago bersorak memuji juga setelah melihat kehebatan pukulan itu.

Manusia aneh itu masih berdiri dengan senyuman diwajah, dia tidak menghindar pun tidak berusaha berkelit.

Diam-diam Lok Put-kun kegirangan, pikirnya.

"Sekalipun kau ingin menggunakan tenaga dalammu untuk mentalkan aku, tidak nanti tubuhku akan roboh terjungkal"

Sambil memperkuat kuda kudanya sekali lagi dia menghujamkan kepalannya ke bawah.

"Blaaaam!"

Sepasang pukulan maut dari Lok Put-kun segera bersarang telak diatas bahu manusia aneh itu.

Ternyata orang itu tidak mementalkan tubuh lawannya dengan getaran tenaga dalam, tubuh Lok Put-kun masih tetap berdiri bagaikan sebuah pagoda baja, sebaliknya tubuh manusia aneh itupun terhajar bagaikan sebuah paku yang tertancap ke dalam tanah.

Semua orang merasa terkejut bercampur girang, Lok Put-kun sendiripun agak termangu melihat hasil pukulannya itu.

Belum sempat ingatan ke dua melintas lewat, mendadak terdengar manusia aneh itu berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sekarang, berbaringlah kau!"

Secepat kilat dia menggetarkan sepasang tangannya mencengkeram ke depan, karena tubuh pendeknya sebagian menancap di tanah, maka arah serangannya persis mengarah sepasang kaki Lok Put-kun yang tinggi besar.

Waktu itu Lok Put-kun sedang memperkokoh sepasang kakinya dengan sepenuh tenaga, mimpi pun dia tidak menyangka kalau lawannya akan menggunakan jurus serangan tersebut untuk mengancam kakinya.

Dalam keadaan begini sulit baginya untuk menghindarkan diri, tahu-tahu sepasang kakinya terasa sakit hingga merasuk tulang, diiringi jeritan kaget tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar ke udara dan roboh terkapar diatas tanah.

Kenyataan semacam ini sungguh diluar dugaan siapa pun, kawanan jago yang hadir hanya bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak, tidak seorangpun mampu mengeluarkan suara jeritan.

Diiringi suara tertawa nyaring manusia aneh itu melompat keluar dari dalam tanah, sebuah liang yang cukup dalam segera muncul diatas tanah.

Menggunakan tubuh untuk menancap ke dalam tanah yang keras, kepandaian silat semacam ini boleh dibilang belum pernah terdengar dalam dunia persilatan, seandainya tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tidak akan percaya dengan kenyataan tersebut.

"Kenapa kau belum menyembah kepadaku?"

Terdengar manusia aneh itu menegur.

Lok Put-kun membentak keras, dia berusaha merangkak bangun, siapa sangka bantingan tersebut ternyata kuat sekali, bantingan keras yang membuat sekujur tubuhnya linu dan sakit, baru merangkak setengah jalan, kembali tubuhnya roboh terjengkang.

Pek Seng-bu menghela napas panjang, cepat dia membangunkan rekannya itu.

Lok Put-kun memandang Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sekejap, kemudian memandang pula ke arah manusia aneh itu, tiba-tiba sambil mendekap dibahu Pek Seng-bu, dia mulai menangis tersedu-sedu.

Menyaksikan hal ini Suto Siau hanya bisa mendongkol bercampur geli.

Manusia aneh itupun tertawa lebar, ujarnya kemudian.

"Masih ada lagi yang ingin menjajal kemampuanku?"

Semua orang hanya saling berpandangan, siapa pun tidak berani menjawab. Manusia aneh itu segera mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak, serunya lagi.

"Jika kalian tidak keberatan, akupun tidak akan berlaku sungkan lagi"

Sambil berpaling serunya.

"Murid muridku, cepat turunkan nona itu"

Tampak kawanan nona itu saling mendorong di antara rekan sendiri dengan wajah cemberut, ternyata tidak seorangpun yang bersedia turun tangan. Yin Ping yang melihat itu tertawa terkekeh, katanya.

"Bila kalian ingin mengikutinya, mulai sekarang harus belajar tidak cemburuan, kalau tidak, tanggung kalian akan mampus duluan karena mendongkol"

Kawanan nona itu tertawa geli, akhirnya sambil dorong mendorong mereka berjalan mendekat. Manusia aneh itu berpaling ke arah Yin Ping kemudian serunya.

"Jika semua wanita didunia mirip kau, aku benar-benar tidak usah pusing dan bingung"

Suto Siau sekalian hanya bisa pasrah dan membiarkan kawanan nona itu merangkak naik keatas tangga, siapa pun sadar, kepandaian silat yang dimiliki mustahil bisa mencegah niat manusia aneh itu.

"Tunggu sebentar!"

Mendadak terdengar bentakan keras berkumandang dari puncak tangga.

Ketika semua orang mendongakkan kepalanya, tampak Sim Sin-pek entah sejak kapan telah berdiri dipuncak tangga.

Rupanya perhatian semua orang waktu itu sedang tertuju pada kehebatan kungfu manusia aneh itu sehingga tidak ada yang memperhatikan gerak geriknya.

Tampak tangannya yang satu digunakan untuk berpegangan pada puncak tangga, sementara tangan kirinya ditempelkan diatas jalan darah pek hwee hiat di ubun ubun Sui Leng-kong, sambil tertawa dia berseru.

"Siapa pun kalau berani maju selangkah lagi, telapak tanganku ini segera akan kutabokkan ke bawah. Waktu itu terpaksa cianpwee hanya bisa membawa pulang seorang nona cantik yang sudah mati kaku, hahahaha.... aku rasa pasti tidak ada artinya bukan!"

Jalan darah pek hwee hiat merupakan jalan darah terlemah ditubuh manusia, biasanya hanya terpukul ringan saja bisa berakibat luka parah, apalagi jika Sim Sin-pek menghantamnya dengan sepenuh tenaga, dapat dipastikan nyawa Sui Lengkong pasti melayang.

Manusia aneh itu segera memerintahkan kawanan gadis itu untuk mundur, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya.

"Siapa kau? Apayang hendak kau lakukan?"

Thiat Tiong-tong ikut merasa panik, dia genggam sepasang tinjunya kuat kuat. Perlahan-lahan Sim Sin-pek berkata.

"Aku hanya seorang angkatan muda yang tidak bernama, saat ini tidak ada permintaan lain kecuali berharap setelah aku turun ke bawah nanti, cianpwee dan sekalian nona-nona itu tidak mengusik seujung rambutku"

Mendengar permintaan yang sangat sederhana, tanpa berpikir panjang lagi manusia aneh itu menyanggupi.

"Baiklah, aku kabulkan permintaanmu, sekarang bawalah nona itu turun ke bawah!"

Semula Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu menyangka Sim Sin-pek sedang membantu mereka untuk memaksakan kehendaknya, mereka jadi mendongkol bercampur kecewa setelah mendengar perkataan itu.

Tidak tahan lagi Pek Seng-bu menyelinap ke belakang Chee Toa-ho dan diam-diam memberi tanda kepadanya.

Siapa tahu Sim Sin-pek berlagak seolah tidak melihat, setelah menotok jalan darah ditubuh Sui Leng-kong dia membebaskan ikatan talinya sambil berseru.

"Minggir semua!"

Kemudian dengan cepat dia melompat turun ke bawah.

Kini biarpun ikatan tali ditubuh Sui Leng-kong telah dilepas namun tubuhnya masih tetap tidak mampu bergerak, dia hanya bisa mengawasi Thiat Tiong-tong dengan mata mendelong, entah berapa banyak patah kata yang terkandung dibalik sorot matanya itu.

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya pedih bagaikan disayat-sayat, seandainya orang yang menghadapi kejadian tersebut saat ini adalah Im Ceng yang bertemperamen tinggi, niscaya tanpa berpikir panjang dia sudah menerkam ke depan.

Tapi Thiat Tiong-tong bukan Im Ceng, dia sadar kekuatannya seorang diri bukan saja tidak akan mampu berbuat banyak, sebaliknya justru bisa mengancam keselamatan jiwa Sui Lengkong, oleh sebab itu sambil menggertak gigi dia menahan diri tanpa bergerak.

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar dia maju mendekat.

"Cianpwee"

Sim Sin-pek segera berseru sambil tertawa.

"aku harap...."

Dengan cepat dia mendorong Sui Leng-kong ke depan. Dengan lembut manusia aneh itu memegang bahu nona itu, katanya sambil tertawa.

"Anak baik, meski kau tidak meminta sesuatu kepadaku, tapi akupun tidak bakal merugikan dirimu"

"Terima kasih cianpwee"

Seru Sim Sin-pek sambil membungkukkan tubuh memberi hormat. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi sambil tertawa.

"Nona Sui cerdas dan berparas cantik, dia tidak malu disebut bidadari dari dunia, tapi sayang...."

Dia menggelengkan kepalanya, tutup mulut dan tidak berbicara lagi.

"Tapi sayang kenapa?"

Tidak tahan manusia aneh itu bertanya.

"Tapi sayang nona itu sudah kucekoki dengan sedikit obat beracun"

Sahut Sim Sin-pek sambil tertawa.

"bila racun itu tidak segera diobati maka dalam dua jam kemudian dia akan mati dengan pendarahan dari tujuh lubang inderanya"

"Kau.... kau.... dimana kau simpan obat pemunah itu?"

Teriak manusia aneh itu gusar.

"Ada dalam saku boanpwee"

"Bawa kemari!"

Hardik manusia aneh itu sambil menggetarkan tangannya mencengkeram tubuh Sim Sin-pek. Dengan cekatan pemuda itu mundur berapa langkah, ujarnya lagi sambil tertawa.

"Bukankah tadi cianpwee sudah berjanji tidak akan menyentuh seujung rambut boanpwee, masa sudah lupa dengan janji tersebut?"

Dengan wajah tertegun manusia aneh itu menarik kembali tangannya. Kembali Hek Seng-thian serta Suto Siau sekalian merasa terkejut bercampur girang, pikir mereka.

"Tidak disangka ternyata bocah ini pintar juga"

Dengan wajah penuh kebanggaan Sim Sin-pek tersenyum, ujarnya.

"Walaupun ilmu silat yang kumiliki tidak sebanding dengan kehebatan cianpwee, tapi racun obat yang kugunakan terbuat dari gabungan tiga puluh enam macam ramuan yang tidak mungkin bisa dipunahkan siapa pun"

"Apa yang kau inginkan?"

Tanya manusia aneh itu kemudian sambil menurunkan kembali tangannya.

"Bila cianpwee tidak ingin membawa pulang sesosok mayat, lebih baik serahkan dulu kepada-ku, atau kalau tidak.... silahkan cianpwee menyanggupi tiga buah syaratku"

"Kentut, kau anggap kami bisa diancam?"

"Tentu saja, tentu saja, mana mungkin cianpwee bisa kuancam"

Seru Sim Sin-pek sambil tersenyum.

"sayangnya nona ini cantik bak bidadari, perawakan tubuhnya jugaramping menggiurkan...."

Tidak tahan manusia aneh itu berpaling memperhatikan sekejap gadis cantik yang berada disisinya, walaupun paras mukanya waktu itu pucat pias namun alis matanya yang lentik, biji matanya yang bening, pinggangnya yang ramping serta tubuhnya yang gemetar ketika terhembus angin, benar-benar mendatangkan daya pikat yang luar biasa.

Dibandingkan dengan kecantikan Yin Ping maka nona ini nampak lebih polos, lebih bersih dan alim, sesosok tubuh wanita yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Tidak tahan lagi dia menghela napas panjang, ujarnya kemudian.

"Apa syaratmu, cepat katakan!"

Sim Sin-pek tertawa bangga, cepat dia berpaling ke arah Hek Seng-thian, setelah memberi hormat ujarnya.

"Tecu tidak berani mendahului guru, untuk syarat yang pertama silahkan suhu yang tentukan"

"Anak pintar!"

Puji Hek Seng-thian tertawa. Setelah termenung berapa saat, dia baru berpaling seraya berkata.

"Saudara Suto...."

Sejak tadi Suto Siau sudah menunggu kesempatan untuk berbicara, ia segera menyahut sambil tertawa.

"Kami semua hanya minta kepada cianpwee untuk menyerahkan sebuah tanda pengenal, jika suatu saat kami berada dalam keadaan bahaya hingga mesti mencari cianpwee dengan membawa tanda pengenal itu, cianpwee wajib memberikan bantuannya dengan sepenuh tenaga"

Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tahu Suto Siau ingin meminjam kekuatan yang dimiliki manusia aneh itu untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun.

Kendatipun Perguruan Tay ki bun memiliki kawanan jago yang amat banyak, namun belum ada seorang pun di antara mereka yang sanggup menandingi kepandaian silat manusia ini.

Terdengar manusia aneh itu mendengus dingin.

"Apa syaratmu yang ke dua?"

Ia bertanya. Sim Sin-pek tertawa, ujarnya.

"Obat racun yang kugunakan memiliki susunan bahan racun yang amat rumit dan unik, untuk memunahkan sama sekali pengaruh racun tersebut, dibutuhkan obat penawar yang mesti diminum sebanyak tiga puluh enam kali setiap sepuluh hari selama satu tahun beruntun"

Setelah berhenti sejenak dan tertawa, lanjutnya.

"Oleh sebab itu cianpwee harus membawa serta cayhe untuk pulang ke rumahmu, agar disamping belajar silat dari cianpwee, boanpwee pun bisa memunahkan racun didalam tubuhnya"

"Baik"

Teriak manusia aneh itu gusar.

"ternyata kaupun pingin belajar ilmu silatku"

Setelah melirik Sui Leng-kong sekejap, tidak tahan dia menghela napas panjang, tanyanya lagi.

"Apa syaratmu yang ke tiga?"

Sim Sin-pek memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil perlahan-lahan berjalan menghampiri Thiat Tiong-tong, katanya sambil tersenyum.

"Syarat yang ke tiga.... cianpwee mesti tangkap orang ini dan memaksanya untuk...."

Mendadak Thiat Tiong-tong melancarkan serangan secepat kilat, sepasang telapak tangan-nya menyerang bersama secepat sambaran kilat, yang ke atas membabat tenggorokan Sim Sin-pek sementara yang ke arah bawah menghantam ke arah dadanya.

Dengan terkesiap Sim Sin-pek miring ke samping, jeritnya ketakutan.

"Cianpwee, kau telah berjanji...."

"Janji cianpwee tidak termasuk melarang aku melancarkan serangan!"

Tukas Thiat Tiong-tong cepat.

"Hahahaha.... benar!"

Seru manusia aneh itu kegirangan.

Berubah hebat paras muka Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu, serentak mereka bergerak siap melancarkan serangan.

Tanpa menghentikan gerak serangannya Thiat Tiong-tong segera berseru lantang.

"Cianpwee pun tidak pernah berjanji tidak akan menyerang orang lain, silahkan cianpwee menghadang siapa pun yang ingin turut mencampuri urusan ini, biar aku yang merebut obat penawar racunnya!"

"Hahahaha.... baik!"

Seru manusia aneh itu sambil tertawa tergelak, kemudian sambil menarik wajahnya dia mengancam.

"bila ada yang berani turun tangan sembarangan, jangan salahkan kalau aku tidak kenal ampun!"

Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu merasa hatinya miris, serentak mereka menghentikan langkahnya.

"Awasi mereka"

Perintah manusia aneh itu kemudian sambil memberi tanda.

"jangan biarkan orang-orang itu bertindak sembarangan"

Kawanan gadis muda itu menyahut dan berdiri berjajar persis dihadapan Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu, meski begitu lirikan mata mereka justru berulang kali dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong.

Serangan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong ibarat bunga terbang yang melayang di udara terhembus angin topan, meskipun jurus serangan yang digunakan tidak termasuk aneh, namun kecepatan geraknya susah diikuti dengan mata telanjang.

Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Sim Sin-pek memang bukan tandingannya, apalagi sejak awal sudah timbul perasaan jeri dihati kecilnya, bertarung dalam perasaan kebat kebit membuat dia tidak mampu konsentrasi secara prima.

Tidak sampai sepuluh gebrakan kemudian, dia sudah tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan.

"Serangan yang amat cepat!"

Puji manusia aneh itu sambil tersenyum.

"Bagaimana bila dibandingkan semasa mudamu dulu?"

Tanya Yin Ping tertawa.

Manusia aneh itu hanya tersenyum tanpa menjawab.

Sementara itu jurus serangan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong makin lama semakin bertambah cepat, Sim Sin-pek sudah keteter hebat, gerakan tubuhnya sudah kalut dan peluh telah membasahi seluruh tubuhnya.

Suto Siau sekalian merasa terkejut bercampur gusar, khususnya Hek Seng-thian, dia menghentakkan kakinya berulang kali, sementara Pek Seng-bu telah masukkan tangannya ke dalam saku dan secara diam-diam menggenggam senjata rahasia.

Dia memiliki julukan sebagai pendekar bertangan tiga, sudah barang tentu ilmu melepaskan senjata rahasianya sudah mencapai tingkat yang luar biasa.

Belasan tahun berselang, sewaktu diadakan pertandingan ilmu di antara orang orang perusahaan ekspedisi dua sisi sungai besar yang diadakan di perkampungan keluarga Thio, Pek Seng-bu pernah menggunakan tiga jenis senjata rahasia untuk memadamkan sebelas buah lampu lentera diruang utama.

Ternyata tidak seorangpun di antara ratusan jago silat yang hadir waktu itu mengetahui dengan cara apa dia melepaskan senjata rahasianya, itulah sebabnya orangpun memberi julukan si pendekar bertangan tiga kepadanya.

Kini situasi yang dihadapi sangat gawat, dalam keadaan terdesak sekali lagi dia berencana ingin melumpuhkan Thiat Tiong-tong dengan mengandalkan senjata rahasianya.

Siapa tahu baru saja dia menggenggam senjata rahasia andalannya, mendadak terendus bau harum yang lembut berhembus lewat dihadapan-nya.

Tahu-tahu seorang gadis bercelana hijau telah setengah merebahkan diri dalam pelukannya sambil berbisik lembut.

"Kau sedang merogoh benda apa sih? Boleh aku lihat?"

"Lihay amat ketajaman mata nona ini"

Batin Pek Seng-bu dengan perasaan kaget, cepat sahutnya.

"Ooh... ti.... tidak ada apa-apa...."

Sambil menyahut dia menarik kembali tangannya dari dalam saku.

"Pelit amat kau, masa dilihat sebentar pun tidak boleh?"

Seru nona itu lagi sambil tertawa merdu, kini pipinya yang halus dan lembut nyaris sudah menempel diatas wajahnya, bau harum semakin menusuk penciuman.

Baru saja Pek Seng-bu merasa terangsang, tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicengkeram oleh ke lima jari lentik gadis itu, rasa sakit yang merasuk ke dalam tulang membuat dia tidak sanggup menarik kembali telapak tangannya.

"Triing.... triiing.... triiing.... !"

Diiringi dentingan nyaring, senjata rahasia yang berkilat tajam terjatuh semua dari balik sakunya dan berserakan diatas tanah.

"Aduh mak...."

Teriak nona itu lagi sambil tertawa merdu.

"benda itu mah tidak boleh dibuat mainan...."

Dengan ujung kakinya dia sapu benda itu hingga mencelat jauh dari sana, kemudian sambil menowel pipi Pek Seng-bu dan menjulurkan lidahnya si nona kembali menyodok pinggangnya.

Seketika Pek Seng-bu merasakan separuh tubuhnya jadi kaku, untuk berapa saat dia sama sekali tidak mampu bergerak.

Untuk kesekian kalinya kawanan jago itu merasa terkesiap, seorang dayang saja sudah berilmu sehebat itu apalagi si manusia aneh sebagai majikannya, semakin tidak ada orang yang berani bertindak gegabah.

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong telah melancarkan belasan jurus, dibawah kurungan angin pukulan yang menderu deru, Sim Sin-pek berusaha menggeser tubuhnya mendekati Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian.

Apa mau dikata angin pukulan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong mengurungnya begitu rapat, jangan lagi bergeser, air pun tidak mungkin bisa menembusi lapisan pukulan yang menghimpit-nya.

Padahal dalam pertemuan sebelumnya, Suto Siau sekalian merasa kepandaian silat pemuda itu belum sedahsyat sekarang, mereka tidak menyangka hanya terpaut berapa saat, kungfu yang dimiliki anak muda itu telah mengalami kemajuan yang demikian pesat.

Tentu saja beberapa orang itu tidak tahu kalau Thiat Tiong-tong telah berhasil memperoleh kitab pusaka ilmu silat peninggalan ayahnya dalam gua rahasia itu, kenyataan yang mereka saksikan saat ini membuat hati orang orang itu semakin tercekam.

Mendadak Thiat Tiong-tong menyodokkan tangannya ke depan, langsung mencengkeram urat nadi padapergelangan tangan Sim Sin-pek.

Jurus serangan yang dia gunakan amat sederhana tanpa perubahan jurus yang aneh, namun Sim Sin-pek tidak mampu menghindarkan diri, walaupun dia sempat menarik ke belakang pergelangan tangannya, namun jalan darah Ci tie hiatnya tahu-tahu sudah tergenggam lawan.

Dalam terperanjatnya secara beruntun Sim Sin-pek mengeluarkan gerakan Pa ong sia ka (raja bengis menanggalkan tameng), Lip coan jian gun (memutar roda dunia), Huan cuan kim si (menggulung balik serat emas) untuk meloloskan diri dari sergapan musuh.

Siapa tahu telapak tangan Thiat Tiong-tong yang telah menempel diatas pergelangan tangan-nya seakan susah ditanggalkan lagi, walaupun secara beruntun dia telah berganti dengan berapa gerakan, namun jari tangan lawan masih menempel ketat, kenyataan ini membuat hatinya tercekat bercampur panik, peluh sebesar kacang kedele mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

"Sudah kau ketahui, siapakah aku?"

Jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

"Tahu...."

Sahut Sim Sin-pek dengan nada gemetar.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong mencengkeram dagunya dan menjapitnya kuat kuat.

Rupanya pemuda itu memang sengaja memancing Sim Sin-pek agar mengucapkan kata "tahu", sebab di saat dia mengutarakan kata "ta.."

Mulutnya berada pada posisi terbuka, saat itulah Thiat Tiong-tong mencengkeram dagunya sehingga dia sama sekali tidak mampu merapatkan mulutnya lagi.

Secepat kilat ThiatTiong-tong merogoh ke dalam sakunya, mengambil sebutir pil berwarna hitam kemudian setelah dijejalkan ke mulut Sim Sin-pek, tangan kirinya mendorong bagian bawah dagunya dan menekan ke atas kuat-kuat.

"Glegekk...."

Sim Sin-pek telah menelan pil itu ke dalam perutnya. Thiat Tiong-tong segera tertawa terbahak bahak, tegurnya.

"Hahahaha.... sudah tahu, pil apa yang kau telan?"

Waktu itu Sim Sin-pek merasakan bau amis yang busuk dan aneh muncul dari balik tenggorokannya, tatkala satu ingatan melintas didalam benaknya, dengan wajah berubah pucat lantaran ngeri, jeritnya gemetar.

"Maa.... masa pil beracun?"

"Tepat sekali!"

Jawab Thiat Tiong-tong tergelak.

"kau butuh obat penawarnya?"

Sementara Sim Sin-pek masih termangu, Yin Ping beserta kawanan gadis lainnya sudah tertawa terkekeh lantaran geli. Manusia aneh itu berseru pula sambil tertawa.

"Bagus, bagus sekali, inilah yang dinamakan siapa menanam kebusukan, dia akan menulai bencana. Senjata makan tuan!"

"Sayangnya obat racunku jauh lebih mengerikan"

Thiat Tiong-tong menambahkan.

"jika dalam satu jam tidak peroleh obat penawarnya, maka racun itu akan mulai bekerja, seluruh tubuh akan mulai membusuk lalu mengelupas kulitnya satu demi satu.... oooh, tidak terkirakan rasa sakit dan tersiksanya"

Pucat pias selembar wajah Sim Sin-pek, sepasang kakinya terasa lemas, tubuhnya menggigil keras, nyaris dia roboh terjungkal ke tanah saking takut dan ngerinya.

Sambil menyodorkan sebuah botol obat dari dalam sakunya, dia berseru lirih.

"Botol ini.... botol ini berisikan obat penawar racun untuk.... untuk nona Sui.... !"

"Ooh, kau pingin barter obat penawar racun denganku?"

Tanya Thiat Tiong-tong. Sim Sin-pek mengangguk berulang kali tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Hanya satu botol ini?"

Kembali Thiat Tiong-tong bertanya. Sembari merangkak bangun dari atas tanah sahut Sim Sin-pek.

"Mana mungkin hamba memiliki obat beracun yang diramu dari tiga puluh enam macam bahan beracun? Tadi.... tadi hanya bergurau saja.... obat racun itu hanya obat racun biasa, penawarnya pun hanya satu macam"

"Sungguh?"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Sung.... sungguh, bila berbohong biar aku mati disambar geledek"

Terdengar Yin Ping menghela napas sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaaai.... dilihat tampangnya sih gagah dan ganteng, sayang jiwanya pengecut, ternyata begitu takut mampus, sayang.... aaaai! sungguh sayang!"

Sim Sin-pek pura-pura tidak mendengar, nyaris botol yang berada dalam genggamannya terjatuh ke tanah. Sambil tertawa dingin Thiat Ti menyambut botol obat itu.

"Baa.... bagaimana dengan obat... obat penawar racunku...."

Teriak Sim Sin-pek tiba tiba.

"Penawar racun apa? Mana aku punya obat penawar racun!"

Sahut Thiat Tiong-tong sambil menarik wajahnya. Pecah nyali Sim Sin-pek setelah mendengar jawaban itu, dia roboh terduduk diatas tanah, setengah menangis jeritnya.

"Saudara Thiat, kau...."

"Apa? Kau memanggil aku dengan sebutan apa?"

Tukas Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

"Paa.... paman Thiat, empek Thiat, tolonglah aku...."

Rengek Sim Sin-pek dengan wajah hampir menangis.

"berbuatlah bajik, berbuatlah mulia, tolonglah aku, tolong hadiahkan obat penawar racun untukku!"

"Lain kali masih berani mencelakai orang?"

"Tidak berani, lain kali hamba tidak berani lagi"

Dengan sorot tajam Thiat Tiong-tong mengamati wajah pemuda itu beberapa saat, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Hahahaha.... dasar manusia dungu, dasar goblok, racun apa yang kau telan tadi? Obat itu tidak lebih hanya obat luka luar"

Sim Sin-pek tertegun, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri melongo sambil mengawasi kawanan gadis itu tertawa terpingkal pingkal. Kembali Thiat Tiong-tong berkata sambil tertawa.

"Kalau tidak berbuat begitu, memangnya kau bersedia menyerahkan obat penawar racun itu? Obat luka luar belum pernah ditelan orang, rasanya kau telah menjadi orang pertama yang mencicipinya, bagaimana? Enak bukan rasanya?"

Sim Sin-pek hanya berdiri terbelalak dengan mulut melongo, jangan lagi berbicara, dia sendiri-pun bingung mesti menangis atau tertawa.

Ditengah gelak tertawa yang riuh, paras muka Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian telah berubah jadi pucat pias bagai mayat.

Dengan jengkel Suto Siau menghentakkan kakinya berulang kali keatas tanah, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya setelah menghela napas panjang katanya.

"Mari kita pergi!"

"Betul, sudah waktunya kalian harus pergi"

Manusia aneh itu menambahkan. Dengan gemas Suto Siau melotot berapa kejap ke arah Thiat Tiong-tong, sementara Hek Seng-thian dengan benci mengumpat.

"Tunggu sajasuatu saat nanti...."

Akhirnya sambil menggertak gigi, bersama Pek Seng-bu sekalian beranjak pergi dari situ. Jago pedang berkopiah kuning melotot juga ke arah Thiat Tiong-tong seraya berkata.

"Kelompok jago pedang pelangi pasti akan minta pelajaran lagi dikemudian hari"

"Baik, akan kutunggu"

Sahut Thiat Tiong-tong santai.

Bi gwat kiam kek melirik sekejap ke arah pemuda itu sambil melemparkan senyuman manis, tapi dia segera ditarik pergi Chee Toa-ho.

Menanti semua orang sudah berlalu, Sim Sin-pek baru seakan tersadar kembali, tergopoh-gopoh dia bangkit berdiri sambil berteriak ketakutan.

"Suhu tunggu aku...."

Dengan sempoyongan dia lari menyusul rombongannya.

Rombongan jago itu datang secara gagah perkasa tapi harus angkat kaki dalam keadaan yang mengenaskan, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Setelah musuh tangguh berhasil dipukul mundur, Thiat Tiong-tong merasa semangatnya berkobar kembali, pikirnya.

"Dengan kedudukan manusia aneh itu, rasanya mustahil dia akan menggunakan cara paksa untuk merampas obat penawar racun ini, apalagi obat sudah berada ditanganku, masa dia tetap bersikeras akan membawa pergi Sui Leng-kong?"

Belum habis ingatan itu melintas lewat, tiba-tiba terdengar manusia aneh itu menegur sambil tertawa.

"Anak muda, kau tidak datang memohon kepadaku?"

Thiat Tiong-tong melongo, pikirnya keheranan.

"Seharusnya kau yang datang memohon kepadaku, kenapa malah aku yang harus memohon kepadamu?"

Berpikir begitu segera tanyanya.

"Mohon.... mohon apa?"

"Mohon kepadaku agar melolohkan obat penawar racun itu kepadanya! Kalau tidak, bila aku telah membawanya pergi sedang dia mati gara-gara keracunan, memangnya kau tidak akan bersedih hati?"

"Soal ini.... soal ini...."

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, ujarnya lagi dengan bangga.

"Telah kuputuskan untuk membawa pergi nona itu, jadi obat penawar racun itu akan kau serahkan atau tidak, itu menjadi urusanmu sendiri"

Paras muka Sui Leng-kong pucat pias, tubuhnya gontai dan gemetar keras.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasa gusar bercampur kaget, dia merasakan hatinya sakit bagaikan diiris-iris.

Yin Ping segera maju menghampirinya, setelah menghela napas pelan katanya.

"Serahkan obat penawar itu kepadanya!"

"Tapi.... tapi...."

"Aaai, anak bodoh, bila kau sama sekali tidak ambil perduli dengan keselamatan nona itu, dialah yang akan memohon kepadamu. Tapi kau sudah menunjukkan sikap kuatirmu atas keselamatan jiwanya, tentu saja kau yang harus memohon kepadanya"

Dengan perasaan sedih Thiat Tiong-tong termenung sejenak, dia tahu apa yang diucapkan perempuan itu ada benarnya juga, sebab dia lebih suka menyaksikan Sui Leng-kong pergi meninggalkan dirinya ketimbang menyaksikan Sui Leng-kong mati karena keracunan.

Terhadap masalah yang tidak mungkin bisa teratasi, dia memang tidak ingin membuang waktu terlalu banyak, maka obat penawar itu segera disodorkan ke muka.

"Ternyata kau memang seorang pemuda yang cerdas"

Kata manusia aneh itu sambil menyambut botol itu. Sementara Sui Leng-kong dengan air mata bercucuran bisiknya gemetar.

"Kau.... kau...."

"Kau harus menunggu aku"

Ucap Thiat Tiong-tong sambil menggigit bibir.

"biar harus mati pun aku tetap akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu!"

Walaupun hanya berapa patah kata singkat namun jauh melebihi beribu patah kata.

"Sampai mati aku tetap akan menunggumu"

Janji Sui Lengkong pula tegas. Biarpun dia sedang menangis sedih, namun berapa patah kata itu diucapkan secara tegas dan tandas. Manusia aneh itu segera tertawa tergelak, ejeknya.

"Hey anak muda, tidak usah menunggu lagi, walaupun saat ini dia bicara secara tegas, kujamin tiga sampai lima hari lagi dia sudah akan melupakan dirimu untuk selamanya"

Thiat Tiong-tong sudah membalikkan tubuhnya, dia sama sekali tidak menggubris ucapan tersebut. Yin Ping datang menghampiri, bisiknya.

"Dia masih berada didalam rumah gubuk, meski terluka namun tidak sampai membahayakan jiwanya, baik baiklah kau rawat lukanya"

Dengan pandangan kosong Thiat Tiong-tong mengangguk, kemudian dia mendengar suara langkah kaki, suara isak tangis Sui Leng-kong, suara hiburan dari manusia aneh itu yang kian lama kian menjauh.

Sebenarnya bisa saja dia mengintil dari belakang, namun bila teringat Ai Thian-hok yang terluka gara-gara dia, tanpa sangsi lagi sambil menggertak gigi dia lari masuk ke dalam gubuk.

BAB 18 Barisan Bidadari Telanjang Ai Thian-hok masih duduk bersila di dalam rumah gubuk dengan wajah hambar, tanpa perasaan.

"Ai-heng!"

Thiat Tiong-tong menyapa sambil menghela napas pelan.

"Sui Leng-kong telah dibawa kabur orang, mari kita segera berangkat, dengan begitu kita tidak akan kehilangan jejak mereka, cuma.... apakah saudara Ai masih sanggup bergerak?"

"Kenapa kau bicara dengan setengah berbisik? Aku tidak mendengar apa yang kau katakan"

Sahut Ai Thian-hok dengan wajah bingung. Ucapan itu disampaikan dengan nada sangat keras, bagaikan orang yang sedang berteriak. Thiat Tiong-tong terkesiap, pikirnya kaget.

"Jangan-jangan... gendang telinganya terluka?"

Padahal selama ini dia mengandalkan ketajaman pendengarannya untuk menggantikan matanya yang buta, jika sekarang telinganya jadi tuli, boleh dibilang dia menjadi cacad total, seorang tokoh sakti pun menjadi manusia yang tidak berdaya.

Thiat Tiong-tong merasakan tangan kakinya jadi lemas, nyaris dia tidak sanggup berdiri tegak.

Tiba-tiba Ai Thian-hok bangkit berdiri, sambil mencengkeram bahu anak muda itu katanya dengan suara gemetar.

"Kenapa kau tidak berbicara, apakah... apakah aku sudah tidak.... tidak bisa mendengar lagi...."

Lantaran daya pendengarannya melemah, dengan sendirinya nada suaranya bertambah nyaring dan keras.

Thiat Tiong-tong menyaksikan raut mukanya kaku sedikit mengejang, wajah panik dan ketakutan yang terpampang saat itu belum pernah terlihat sebelumnya.

Biasanya meski berada dalam kondisi yang amat kritis pun dia tidak pernah berubah muka, tapi sekarang paras mukanya telah mengalami perubahan yang luar biasa, hal ini membuktikan kalau menjadi tuli merupakan satu kenyataan yang jauh lebih menyiksa ketimbang mati dibunuh.

Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali, terpaksa sambil menyerakkan suaranya dia menjawab.

"Tenggorokan siaute agak sakit, mungkin suaraku jadi parau lantaran kecapaian selama berapa hari belakangan, mana mungkin saudara Ai tidak bisa mendengar"

Ai Thian-hok menghembuskan napas lega, senyuman kembali menghiasi wajahnya.

"Anak muda memang tidak tahan uji"

Katanya.

"baru mendapat siksaan begitu tenggorokan sudah jadi serak, masih mending kakakmu...."

Thiat Tiong-tong merasakan air mata mengembang dalam kelopak matanya, tapi dia memaksakan diri untuk tertawa keras sambil menyahut.

"Yaa.. tentu saja, siapa yang mampu menandingi saudara Ai!"

"Tadi kau bilang hendak mengejar seseorang?"

"Benar!"

"Kalau begitu mari kita segera berangkat, biarpun loko terluka namun tidak akan mengganggu, aku masih sanggup melakukan perjalanan"

"Justru siaute yang merasa agak tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan"

Kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa paksa.

"Kalau begitu biar aku tuntun dirimu"

Thiat Tiong-tong segera membesut air matanya dan melangkah keluar dari situ sambil merangkul bahu Ai Thian-hok, tapi baru keluar dari rumah gubuk itu, air matanya telah jatuh berlinang.

Melakukan pengejaran seorang diripun belum tentu berhasil menyusul manusia aneh itu, apalagi sekarang harus disertai Ai Thian-hok yang nyaris cacad total, boleh dibilang jauh lebih sulit daripada naik ke langit.

Hingga sekarang dia masih belum mengetahui asal-usul manusia aneh itu, bila gagal menyelidiki asal usulnya, mungkin sepanjang masa sulit baginya untuk menyelamatkan Sui Lengkong.

Tapi bagaimana pula dengan Ai Thian-hok?

Apakah harus ditinggalkan seorang diri?

Cahaya fajar mulai muncul diujung langit, hujan angin pun sudah berhenti sejak tadi.

Di tengah cahaya fajar yang redup, mereka berdua menelusuri jalan perbukitan yang penuh lumpur, melihat sisajejak kaki yang tertinggal diatas lumpur, diam-diam Thiat Tiong-tong merasa amat girang.

Siapa tahu ketika tiba disebuah persimpangan, tiba-tiba jejak kaki itu menjadi kacau dan semakin sulit dilihat, dengan perasaan terkejut Thiat Tiong-tong berusaha berjongkok sambil meneliti arah yang dituju, sayang dia tidak berhasil menemukan sesuatu.

Ai Thian-hok yang menunggu berapa saat tiba-tiba bertanya.

"Apakah Yin.... Yin Ping melakukan perjalanan bersama orang yang sedang kau kejar?"

Suara pertanyaan itu sangat nyaring hingga bergaung diseluruh perbukitan, namun dia sendiri sama sekali tidak mendengar apa apa.

"Benar"

"Kalau begitu dia melalui jalanan yang ini!"

Sambil berkata dia menuju ke arah sebelah kiri. Thiat Tiong-tong terkejut bercampur keheranan, pikirnya.

"Selain tuli diapun buta, aneh, darimana bisa tahu arah yang digunakan Yin Ping?"

Setelah berjalan sesaat, tak tahan dia pun menyatakan keheranannya. Sambil tersenyum sahut Ai Thian-hok.

"Bau harum yang tersebar dari tubuh Yin Ping sangat tebal, bau itu masih tersisa di udara fajar yang bersih, jadi gampang untuk dilacak jejaknya, coba kalau berada ditempat keramaian, belum tentu aku dapat mengendus bau harumnya itu"

Disamping kagum, Thiat Tiong-tong pun merasa amat terharu, setelah menempuh perjalanan berapa saat lagi lambat laun mereka sudah menuruni tanah perbukitan, matahari semakin tinggi di angkasa dan memancarkan cahaya emasnya menyinari seluruh jagad.

Sayang bayangan tubuh manusia aneh beserta Yin Ping sekalian sudah hilang lenyap tidak berbekas.

Pada saat itulah dari kejauhan sana, dari balik pepohonan hutan bergema suara keleningan merdu, disusul kemudian muncul seorang penjaja makanan yang membawa sebuah poci.

"Sekarang ke arah mana kita harus pergi?"

Tanya Thiat Tiong-tong kemudian. Sambil tertawa getir Ai Thian-hok menggeleng, sahutnya.

"Udara diseputar sini lembab dan berbau tanah, aku tidak bisa mengendus bau harumnya lagi"

Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 6

Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert