Eps 5 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung
Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung
Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.
Begitu berhasil memukul mencelat musuhnya, Gi Peng-bwee sama sekali tidak memandang lagi ke arahnya, dengan gerakan cepat dia meluncur ke atas tiang layar yang menancap diatap bangunan itu.
"Celaka!"
Pekik Hoa Toa-koh dalam hati.
Sebuah tentangan segera dilancarkan keatas layar perahu, begitu layar itu tertendang robek, dia segera mengaitnya dengan ujung kaki.
Dengan meminjam kaitan ujung kakinya diatas layar sebagai titik berat, tubuhnya berputar bagai gangsingan, kemudian dengan meminjam tenaga pusaran itu secepat anak panah tubuhnya menubruk ke arah Gi Peng-bwee.
Belum sempat Gi Peng-bwee tiba ditempat tujuan, Hoa Toa-koh sudah menyusul tiba dari tengah udara.
Dalam kagetnya dia segera membalik tubuh sambil melepaskan sebuah pukulan.
"Blaaaam!"
Empat tangan saling beradu, kedua orang wanita itu sudah saling menggempur di tengah udara.
Kali ini Hoa Toa-koh menyerang dengan meminjam tenaga pusingan, sedang Gi Peng-bwee harus menyerang sambil melompat ke atas, ketika pukulan saling beradu, jelas dialah yang berada dipihak rugi, tubuhnya langsung terpental oleh tenaga getaran Hoa Toa-koh.
Kini giliran Hoa toa-koh yang berlarian menuju puncak tiang tanpa memperdulikan lawannya lagi.
Siapa sangka baru saja tubuhnya bergetar, lima titik cahaya tajam tiba-tiba menyergap datang dari depan mata.
Rupanya dibalik sepasang ujung baju Gi Peng-bwee tersembunyi senjata rahasia yang cukup lihay, meski tubuhnya terpental ke samping namun tangannya sama sekali tidak menganggur, hujan senjata rahasia pun menyelimuti angkasa.
Hoa Toa-koh menghentikan gerakan tubuhnya sambil menyampok runtuh ke lima titik cahaya tajam itu, tapi segera muncul lagi lima titik cahaya yang disertai desingan angin tajam mengancam tubuhnya.
Meskipun serangan dua tabung senjata rahasia yang dilancarkan Gi Peng-bwee dalam keadaan tergesa tidak seberapa akurat, namun tidak disangkal cukup membuat Hoa Toa-koh terhambat gerak majunya.
Sekalipun secara mudah Hoa Toa-koh mampu merontokkan senjata rahasia itu, namun ketika dia selesai merontokkan ancaman tersebut, Gi Peng-bwee sudah keburu menyusul tiba, sepa-sangan tangannya dengan disertai deruan angin pukulan segera meneternya habis-habisan.
Dalam waktu singkat kedua orang itu kembali bertarung belasan jurus banyaknya.
Jurus pukulan yang digunakan kedua orang ini sama-sama aneh, hebat dan gencarnya, sementara langkah kaki mereka pun tiada hentinya bergeser terus menuju ke arah patahan tiang layar yang menancap dipuncak bangunan.
Kedua orang ini bukan saja kepandaian silatnya hampir sejajar, kecerdasan mereka pun hampir berimbang.
Kedua orang itu sama-sama tahu, meskipun tiang layar itu sudah patah namun asal mereka dapat melompat ke atas puncak patahan kayu itu maka dialah yang akan dianggap sebagai pemenang, oleh sebab itu siapa pun tidak ingin membiarkan lawannya mendekati tiang tersebut.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan hatinya kebat kebit, walaupun pengalamannya dalam menghadapi pertarungan cukup banyak namun belum pernah dia jumpai pertarungan sesengit dan setegang ini.
Dalam waktu yang relatip singkat, sudah beberapa kali kedua orang itu memperoleh kesempatan untuk meraih kemenangan, tapi setiap kali selalu berhasil digagalkan pihak lawan.
Hoa Toa-koh melancarkan serangannya makin gencar, diiringi deruan angin pukulan yang menderu secara beruntun dia menggunakan jurus Pek nio tiau hong (ratusan burung menerpa angin), Huang hong si sim (lebah kalap mengerumuni putik bunga) dan Sam cun hui soh (tiga bunga terbang melayang).
Ke tiga jurus serangan itu dilancarkan secara berantai, terkadang seperti rangkaian tali, terkadang mirip serat sutera, semuanya merupakan jurus serangan yang lincah dan mematikan.
Tapi begitu ke tiga jurus itu lewat, mendadak gerak serangannya berubah jadi keras dan ganas, seperti aliran air disungai kecil mendadak berubah jadi gulungan air bah yang muncul dari balik dam yang jebol.
Biarpun serangannya ganas dan dahsyat namun sesungguhnya dia mengambil sikap bergerak mundur, setiap kali akan mundur dia bergerak maju duluan, asal Gi Peng-bwee berkelit ke samping, dia pun berusaha mendesak maju lagi mendekati tiang itu.
Siapa tahu Gi Peng-bwee justru menggunakan taktik serangan dibalas serangan, mendadak dia menerobos masuk lewat deruan angin pukulannya, kemudian dengan jari tangannya yang tajam bagai pedang, dia sodok perut bagian bawah perempuan itu.
Jurus serangan ini ganas lagi licik, hanya kaum wanita yang akan menggunakannya, sementara dalam kalangan dunia persilatan pun kecuali kaum kurcaci atau karena terdesak keadaannya, mereka tidak akan sudi mengeluarkan serangan semacam itu.
Hoa Toa-koh jarang sekali bertarung melawan kaum wanita, menghadapi serangan macam begini dia jadi terkesiap, dia tidak tahu apakah jurus berikut akan jauh lebih hebat daripada jurus sebelumnya.
Dalam keadaan seperti ini, dia tidak punya waktu untuk berpikir panjang, terlebih tidak ingin adu jiwa bersama lawannya, maka gerak serangannya ditekan lebih ke bawah dan menyambut datangnya ancaman itu.
Tiba-tiba dia merasa serangan lawan disertai tenaga dalam yang sangat tajam dan hebat, begitu tangannya menyentuh jari tangan musuh, seketika tubuhnya terhisap kuat.
Dengan perasaan makin terkesiap pikirnya.
"Dia ingin beradu tenaga dengan aku?"
Saat ini dia tidak punya pilihan lain, terpaksa sambil mengerahkan tenaganya dia lawan tekanan kuat dari lawan.
Perlu diketahui, pertarungan semacam ini sangat menguras tenaga, sekali terjadi pertarungan maka tidak akan berhenti sebelum ada yang tewas, oleh sebab itu jarang sekali orang persilatan mau melakukan pertarungan semacam ini kecuali benar-benar terjalin dendam kesumat yang sangat mendalam.
Melihat kejadian itu diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dia tahu Gi Peng bwee pastilah termasuk seorang gadis yang besar rasa ingin menangnya.
Diapun mengerti pertarungan semacam ini tidak mungkin bisa diketahui menang kalahnya dalam setengah sampai satu jam, maka perhatiannya kembali dialihkan kearena pertarungan yang ada diujung perahu.
Tampak cahaya perak berkilauan ditempat itu, sekeliling perahu seolah terbungkus dalam lapisan cahaya yang tebal.
Gi Cing-kiok dengan satu melawan empat bergerak kian kemari di antara kilauan cahaya senjata yang beraneka ragam, sekalipun tubuhnya lincah namun lambat laun gerakannya semakin melamban, jelas dia sudah kepayahan.
Berbeda dengan ke empat gadis lebah yang mengepungnya, mereka bergerak amat santai, maka sambil tertawa tegurnya.
"Adik-adik, jangan sampai kehilangan nyawa sendiri, biarkan saja tulang kakinya seorang yang remuk...."
Yau Su-moay amat geram mendengar ejekan itu, sambil memegangi kakinya yang sakit dia berteriak.
"Perketat serangan kalian, cari modal balik ditambah bunganya, kalian tebas kedua kaki miliknya"
Gi Cing-kiok tertawa terkekeh.
"Adikku, apakah kalian tidak kuatir saudara-saudaraku pun datang membuat perhitungan?"
Mendadak dengan babatan tangan dan sodokan jari tangannya dia lancarkan tujuh jurus serangan berantai.
Kini kawanan gadis lebah itu tidak sanggup tertawa lagi, mereka sadar perkataan itu bukan bualan belaka, sekalipun pertarungan berhasil mereka menangkan namun akibatnya bisa amat parah, perasaan kuatir pun mencekam hati semua orang.
Sui Leng-kong yang bertarung melawan dua orang pun sudah bertempur ratusan jurus lebih.
Kalau semula dia masih canggung menggunakan jurus serangan, lambat laun gerakannya bertambah mahir dan lancar, kini tubuhnya dapat bergerak cepat bagaikan sambaran petir, setiap jurus serangan yang dilancarkan pun cepat, ganas dan telengas.
Masih untung semua jurus serangan yang digunakan meski aneh dan sakti namun tidak termasuk ganas, biar hebat namun tidak telengas, kendatipun begitu kawanan gadis lebah itu keteter juga hingga berada di bawah angin.
Sebagaimana diketahui, Sui Leng-kong tumbuh dewasa didasar jurang yang gersang dan amat berbahaya, setiap saat dia selalu berkeinginan dapat keluar dari tempat itu, maka ilmu meringankan tubuhnya dilatih lebih khusus dan tekun hingga kehebatannya jauh diluar perkiraan siapa pun.
Oleh karena itu walaupun dalam pertarungan yang berlangsung dia rugi karena kekurangan pengalaman, namun gerakan tubuhnya yang cepat dan lincah boleh dibilang membuat orang lain susah menangkapnya.
Itulah sebabnya sekalipun jurus serangannya agak lemah, namun posisinya justru lebih kuat dan diatas angin.
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan hal ini hati kecilnya merasa terkejut bercampur gembira, tidak tahan dia menghela napas panjang.
Tiga ratus gebrakan kemudian dua orang gadis lebah itu mulai tidak kuat menahan diri, serentak teriaknya.
"Saudara-saudaraku, kemarilah satu orang, bantulah kami!"
Yo Pat-moay yang sedang bertarung melawan Gi Cing-kiok segera melompat ke udara dan berlarian mendekat.
Pertarungan antara Gi Peng-bwee melawan Hoa Toa-koh juga sudah mencapai puncaknya, butiran keringat mulai bercucuran membasahi tubuh mereka.
Kedua orang itu berdiri saling berhadapan, kelopak mata mereka makin lama berkembang makin lebar sementara tempat pijakannya berbunyi gemerutukan, masih untung ruang perahu itu cukup kokoh, kalau tidak, mungkin sedari tadi mereka berdua sudah terjerumus jatuh ke bawah.
Kini mereka berdua sama-sama punya pikiran untuk melepaskan diri, maka yang dipikirkan adalah bagaimana secepatnya merobohkan lawan, bagaimana secepatnya menggapai puncak tiang.
Thiat Tiong-tong masih mengawasi jalannya pertarungan diatap bangunan perahu itu tanpa berkedip, sekalipun mimik mukanya tidak menampilkan perubahan namun perasaan hatinya bergejolak.
Orang-orang itu sesungguhnya tidak punya ikatan permusuhan ataupun dendam, tapi sekarang mereka bertarung mati-matian tidak lain karena dirinya.
Sekalipun bagaimana akhir dari pertarungan ini, siapa menang siapa kalah masih susah diramalkan, namun pihak mana pun yang menang atau kalah pasti akan membuatnya memikul beban yang sangat berat, dia sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka, tentu saja kecuali Sui Lengkong....
Kini Sui Leng-kong sudah terperosok dalam posisi dibawah angin, jurus serangan Yo Pat-moay yang ganas dan mantap, kaitan terbang yang sebentar menyerang dari jauh sebentar menyerang dari jarak dekat semakin menguasahi keadaan.
Dan kemampuan yang luar biasa itu sudah memaksa Sui Leng-kong berulang kali terperosok ke dalam lingkaran arus empat macam senjata tajam lainnya.
Meskipun dia dapat menghindari setiap ancaman dengan mengandalkan kelincahan rubuh nya, namun jurus serangan yang kelewat lembek dan ringan justru merupakan titik kelemahan yang mematikan.
Perasaan hati Thiat Tiong-tong mulai bergelora, paras mukanya mulai berubah, kini sorot matanya tidak memperhatikan orang lain lagi melainkan hanya berputar mengikuti gerakan badan Sui Leng-kong.
Setiap kali gadis itu terperosok dalam mara bahaya, paras mukanya segera berubah hebat, setiap kali Sui Leng-kong melepaskan kesempatan baik untuk meraih kemenangan, diapun menghela napas panjang....
perasaan cintanya yang tulus terhadap Sui Leng-kong, perlahan-lahan mulai tumbuh dan mengalir keluar, meski selama ini selalu terpendam dalam dasar hatinya.
Tapi sayang seluruh kekuatan tubuhnya sudah lenyap, walaupun melihat Sui Leng-kong berada dalam posisi berbahaya namun dia tidak mampu berbuat apa apa.
Padahal Sui Leng-kong pernah selamatkan jiwanya.
....
Dia, seandainya tidak ada Sui Leng-kong, mungkin sudah sejak dulu mati di dasar jurang yang gersang.
Dia menarik napas panjang lalu bergumam.
"Aku harus berusaha.... harus berusaha...."
Tapi dalam keadaan dan saat seperti ini, kecuali datang pasukan dari langit, apa lagi yang bisa dia lakukan?
Saat itu seluruh perhatian Li Ji-ci sedang tertuju pada tiga arena pertarungan yang sedang berlangsung.
Deruan angin serta desingan senjata bercampur aduk menciptakan satu irama yang aneh, ditambah lagi deburan ombak yang menggulung membuat keadaan semakin mengerikan.
Thiat Tiong-tong mulai menggerakkan kakinya, perlahan-lahan berjalan menuju ke buritan perahu.
Dia seolah terbayang akan sesuatu, cahaya tajam sempat melintas diwajahnya.
Tiba-tiba....
"Byuuuurr!"
Terdengar ada sesuatu benda tercebur ke dalam air.
Dengan perasaan terkejut Li Ji-ci segera berpaling, tapi dia sudah tidak nampak bayangan tubuh Thiat Tiong-tong.
Dalam kagetnya buru-buru dia lari menuju ke buritan perahu, di antara pusaran air sungai tampak tubuh Thiat Tiong-tong terapung diatas permukaan air.
Dengan wajah berubah hebat Li Ji-ci segera berseru.
"Aduh celaka, dia terjun ke air"
Kawanan gadis yang sedang bertarung serentak tersentak kaget, teriak mereka bersama.
"Siapa?"
"Dia.... Thiat...."
Belum selesai dia bicara, suara pertarungan seketika terhenti, Gi Cing-kiok, Sui Leng-kong maupun kawanan gadis lebah itu berbondong-bondong sudah berlarian menuju buritan perahu.
Seperti apa yang diduga Thiat Tiong-tong, siapa pun tidak ada yang bertarung lagi.
....
Thiat Tiong-tong tahu, kini satu-satunya jalan untuk selamatkan Sui Leng-kong hanya berbuat begitu, maka dia terpaksa harus mengorbankan diri, menceburkan diri ke dalam air.
Arus sungai Huangho sangat deras, ombak pun cukup besar, sekalipun kawanan gadis lebah itu mengerti ilmu berenang namun tidak seorang pun berani turun ke dalam air, sementara Thiat Tiong-tong yang tercebur pun tidak nampak terapung kembali.
"Ka.... kalian...."
Dengan suara gemetar dan wajah berubah Sui Leng-kong berseru.
Kawanan gadis lebah itu hanya berpaling menengok wajahnya, tidak seorangpun melakukan sesuatu tindakan.
Mendadak Sui Leng-kong lari menuju ke tepi perahu, dia siap menceburkan diri ke dalam sungai, tapi perbuatannya itu segera dicegah Gi Cing-kiok.
Sambil memeluk erat pinggangnya perempuan itu berseru.
"Adikku, apakah kau bisa berenang?"
Sambil menggigit bibir dan pejamkan mata Sui Leng-kong menggeleng.
"Bocah goblok"
Seru Gi Cing-kiok sambil menghentakkan kakinya.
"kalau tidak mengerti berenang, dengan cara apa kau hendak menolongnya?"
Tiba-tiba air mata jatuh berlinang membasahi wajah Sui Leng-kong, katanya dengan suara gemetar.
"Aku.... aku tidak bisa membiarkan dia.... dia mati tanpa berusaha menolongnya...."
Gi Cing-kiok memeluk pinggang nona itu semakin kencang, sementara kepada kawanan gadis lebah itu umpatnya.
"Hei, apakah kalian orang mampus semua? Kenapa tidak ada yang terjun ke sungai untuk memberi pertolongan?"
Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut dengan nada ketus.
"Kami tidak punya hubungan apa-apa dengannya, kenapa harus pertaruhkan nyawa untuk memberikan pertolongan?"
Gi Cing-kiok tidak tahu siapa yang mengucapkan perkataan itu, kembali makinya.
"Perempuan keji berhati buas, kau! Ternyata hatimu begitu tega, melihat orang kalap pun enggan menolong!"
Terdengar Li Ji-ci berkata pula setelah menghela napas.
"Bila diapun tidak mengerti ilmu dalam air, setelah tercebur ke sungai, besar kemungkinan jiwanya tidak akan selamat, sekalipun kami berusaha menolongnya, paling banter juga hanya menaikkan jenasahnya"
"Tidak, dia belum mati"
Teriak Sui Leng-kong dengan wajah basah oleh air mata.
"diapun tidak bakal mati.... dia.... dia.... selamanya dia tidak akan mati...."
Tiba tiba terlihat Yo Pat-moay berjalan menuju ke tepi perahu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Pat-moay, apa yang hendak kau lakukan?"
Tegur Li Ji-ci dengan kening berkerut.
"Pergi menolongnya!"
Sahut Yo Pat-moay dengan wajah hijau membesi.
"Kau edan? Sekalipun kau mengerti ilmu dalam air, tapi arus di sungai Huangho berbeda jauh dengan arus di sungai Tiangkang, buat apa kau mesti menyerempet bahaya...."
Yo Pat-moay sama sekali tidak menengok sekejappun ke arahnya, dia segera menceburkan diri ke dalam sungai.
Sui Leng-kong merasakan lututnya jadi lemas, sambil berlutut dan air mata bercucuran keluhnya.
"Ooh Thian.... kumohon, lindungilah keselamatan jiwanya, dia.... dia adalah orang baik, jangan biarkan dia mati"
Gi Cing-kiok mengepal sepasang tinjunya kencang, sedemikian kencangnya hingga ruas jari tangannya nampak putih memucat. Kembali Sui Leng-kong berbisik.
"Nona itupun seorang yang baik, nona, terlepas apakah kau berhasil menolongnya atau tidak, selama hidup aku akan berterima kasih kepadamu"
Waktu itu hanya Gi Peng-bwee dan Hoa Toa-koh belum menghentikan pertarungan mereka, empat buah telapak tangan masih saling menempel, siapa pun tidak ada yang berniat menarik kembali tangannya.
Sekalipun mereka berdua dapat mengikuti perubahan yang terjadi, namun siapa pun di antara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah.
Sebab mereka berdua telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, disamping melindungi diri, mereka pun berusaha mendesak lawannya, siapa pun yang menarik tenaga dalamnya duluan, maka dia pasti akan diterjang oleh kekuatan lawannya.
Dalam keadaan seperti itu, biarpun ada bendungan di sungai Huangho yang jebol pun mereka tidak akan melepaskan diri, tentu saja terkecuali jika kedua orang itu menarik kembali tangannya bersamaan waktu.
Sudah barang tentu mereka tidak ingin melakukan pertaruhan itu, siapa pun tidak mau resiko menarik diri, maka sekalipun perasaan hati mereka dicekam kepanikan dan kegelisahan, namun empat tangan tetap menempel satu dengan lainnya.
Pada saat yang kritis itulah mendadak terdengar segulung desingan angin berkelebat lewat ditengah udara.
Dibalik desingan angin terlihat setitik bayangan hitam bergerak cepat.
"Bluuuk!"
Bayangan hitam itu menghajar telak diatas tiang layar.
Seketika itu juga terjadi kobaran api diatas tiang tersebut, api setan dengan cepat merambat diseluruh tiang dan menimbulkan kebakaran.
Gi Peng-bwee maupun Hoa Toa-koh sama sama terkesiap, tapi dengan adanya kejadian ini, secara tiba-tiba ke empat buah tangan mereka pun saling terpisah....
Sebagaimana diketahui, sekalipun tangan mereka masih saling menempel, sesungguhnya perasaan hati kedua orang itu sudah dicekam kegelisahan dan rasa panik sehingga tanpa disadari tenaga dalam yang mereka kerahkan pun sudah semakin melemah.
Maka ketika terjadi kejutan yang diluar dugaan ini, tanpa sadar kekuatan tenaga dalam mereka pun semakin melemah, begitu tekanan melemah, telapak tangan mereka pun berpisah.
Bagaimana pun juga pertarungan mati-matian yang berlangsung bertujuan untuk memperebutkan tiang layar itu.
Dan sekarang, tiang itu sudah terbakar hebat.
Tanpa terasa ke dua orang perempuan itu berdiri tertegun, hembusan angin membuat kobaran api semakin membara, kini jilatan api yang membakar tiang itu makin membara.
Kontan saja kedua orang itu sama-sama melepaskan sebuah pukulan dan menghajar tiang yang terbakar itu hingga mencelat ke dalam sungai.
Sambil memandang ke arah Gi Peng-bwee, Hoa Toa-koh tertawa getir, ujarnya.
"Kita sudah melakukan pertarungan yang percuma hampir setengah harian lamanya, toh akhirnya tidak ada yang berhasil mencapai puncak tiang itu"
Gi Peng-bwee hanya menghela napas dan tidak berbicara.
Saat itulah dari tengah derasnya arus sungai Huangho, terlihat ada sebuah sampan bergerak mendekat sambil menembusi ombak.
Seorang lelaki bertubuh tinggi besar berdiri diujung sampan itu, ketika semakin mendekat terdengar dia membentak nyaring.
"Cepat bebaskan Hay Tay-sau, kalau tidak, peluru api Bi lek Liat hwee tan ku akan segera memusnahkan perahu kalian"
Sekalipun harus menentang angin, teriakan itu kedengaran nyaring dan penuh tenaga. Hoa Toa-koh segera berkerut kening, gumamnya.
"Ternyata Bi lek hwee pun ikut datang kemari"
Lelaki itu mengenakan pakaian ketat berwarna hitam, rambut dan jenggot putihnya berkibar terhembus angin, tangannya memegang sebuah gendawa emas sementara dipinggangnya tergantung sebuah kantung terbuat dari kulit macan.
Dalam pada itu Gi Peng-bwee sudah menghampiri Sui Lengkong sambil menghiburnya, sedang Hoa Toa-koh pun telah berkumpul dengan saudara saudaranya, ketika mendengar Thiat Tiong-tong menceburkan diri ke dalam sungai, diapun berkerut kening sambil menghela napas.
Kemudian dengan cepat dia mendekati Yau Su-moay, menanyainya beberapa patah kata dengan suara lirih, lalu sambil menuju ke ujung perahu teriaknya lantang.
"Apakah yang datang adalah Bi lek hwee locianpwee?"
"Kecuali lohu, masa ada yang lain?"
Sahut Bi lek hwee dengan suara keras.
"Apakah locianpwee datang untuk mengajak adik-adikku bermain?"
"Kentut!"
Teriak Bi lek hwee gusar.
"cepat katakan, dimana Hay Tay-sau?"
"Hay Tay-sau? Tidak melihat dia datang kemari!"
"Pangbui!"
Kembali Bi lek hwee membentak gusar.
"kalau tidak segera mengaku, jangan salahkan lohu akan membakar perahumu"
Tangan kirinya segera diangkat, tangan kanan menarik gendawa dan siap melepaskan peluru apinya. Hoa Toa-koh segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Loya, kalau ingin dibakar, bakar sajalah, kalau perahuku sampai terbakar, biar aku mengajak serta seluruh saudaraku untuk pindah ke rumahmu!"
Bi lek hwee tertegun, sejak terjun ke dalam dunia persilatan belum pernah dia bertemu dengan perempuan macam begini, tentu saja dia pun tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Setelah mengerlingnya sekejap, kembali Hoa Toa-koh berkata.
"Loya, bila tidak ada urusan lain, silahkan duduk diatas perahu, kami sudah sediakan arak dan sayur, selain itu juga ada...."
Setelah tertawa cekikikan, tiba-tiba dia merendahkan suaranya sambil menambahkan.
"Bila kau anggap adik adikku kurang cantik, disini pun terdapat murid wanita dari Kui bo...."
Bi lek hwee jengkel bercampur mendongkol, namun diapun tak dapat berbuat apa-apa.
Sementara itu sampan yang ditumpanginya telah bergerak semakin mendekat, tampaknya pendayung sampan itu sangat menguasahi medan, ilmu mendayungnya juga hebat, tidak lama kemudian dia sudah bersandar ditepi perahu besar itu.
Rupanya setelah meninggalkan perkampungan keluarga Li, Bi lek hwee yang bertemu dengan Hay Tay-sau ditengah jalan merasa saling mencocoki, maka merekapun melakukan perjalanan bersama, sebelum Hay Tay-sau berangkat duluan ke perahu itu, dia pernah berpesan kepada Bi lek hwee agar menunggunya di sampan.
Bi lek hwee dengan tabiatnya yang berangasan dan tidak sabaran merasa tidak tahan untuk menanti terlalu lama, sesudah menunggu sesaat akhirnya dia pun menyusul ke situ.
Melihat Bi lek hwee gusar setengah mati, Hoa Toa-koh tertawa semakin keras.
Perempuan inipun termasuk orang yang selamanya tidak pernah menampilkan perasaan hati diwajahnya, selama ini dia selalu sembunyikan perasaan hatinya dibalik senyuman, maka ketika semua orang melihat perempuan itu tertawa makin keras, siapa pun tidak bisa menduga kejadian apa yang bakal berlangsung di perahu itu.
Terdengar dia berkata lagi sambil tertawa.
"Loya, kau akan naik kemari atau tidak?"
Bi lek hwee teramat gusar, dadanya naik turun menahan emosi, akhirnya sambil meraung gusar teriaknya.
"Kenapa, kau bukan seorang lelaki, kalau kau lelaki, hmmm... hmmm.... hmmm... hmmm...."
"Maaf, akupun agak jengkel kenapa ibuku melahirkan aku sebagai seorang wanita, sayangnya, mau dibatalkan pun sudah terlambat"
"Kalau kau berani mencelakai Hay Tay-sau, lohu akan...."
"Aduuh mak, Hay Tay-sau adalah jago kenamaan, kungfunya jauh lebih tangguh daripada kami semua, mana mungkin kami bisa mencelakainya, lagipula...."
Setelah tertawa lembut, terusnya.
"Dia begitu gagah, begitu berjiwa laki laki, mau menyukainya pun masih tidak sempat, masa kami tega mencelakai jiwanya?"
"Dia jelas datang kemari, kenapa sekarang tidak nampak?"
"Aduuh, loyacu, perkataanmu lebih aneh lagi, dia toh seorang lelaki tinggi besar dan lagi bukan anak-anak, akupun bukan ibunya, masa aku tahu ke mana ia telah pergi? loya, aku rasa kau tak perlu mencarinya lagi, ayoh naik dan beristirahatlah sejenak, toh kau juga bukan bapaknya, kenapa mesti bersusah susah untuk mencarinya?"
Ucapannya yang selalu dibumbui kata aduh membuat Bi lek hwee berdiri tertegun, setelah dipikir sejenak, diapun mulai merasa bahwa perkataannya ada benarnya juga.
Maka setelah berpikir sejenak, dengan kening berkerut diapun manggut-manggut, gumamnya.
"Yaa benar, mungkin saja dia telah pergi ke tempat lain, kawanan nona ini tidak ada permusuhan apapun dengannya, buat apa mesti mencelakai dirinya?"
"Nah, begitu baru benar loya"
Seru Hoa Toa-koh.
"ayohlah, naik dan beristirahatlah sejenak"
"Tidak usah, lohu akan segera pergi mencari Hay Tay-sau, dia...."
Mendadak sambil menuding dia membentak nyaring.
"Itu dia, bukankah itu adalah dia!"
Hoa Toa-koh terperanjat, mengikuti arah yang ditunjuk dia berpaling.
Benar saja, di depan pintu ruangan telah berdiri sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar, dia tidak lain adalah Hay Tay-sau!
Hay Tay-sau yang sudah ditotok tiga buah jalan darahnya oleh Hoa Toa-koh.
Dia berdiri dengan tangan kiri mencekak pinggang sementara ditangan kanannya menjinjing tubuh seseorang, sorot matanya memancarkan sinar kegusaran yang membara, begitu membara-nya hingga cukup untuk melumat nyali siapa pun.
Bi lek hwee tidak sanggup menahan diri lagi, sambil membentak nyaring dia melompat naik ke ujung perahu.
"Saudara Hay, kau tidak apa-apa bukan?"
Tegurnya begitu tiba diatas perahu besar. Mendadak Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, sahutnya.
"Ada apa dengan aku?"
"Kalau tidak ada urusan yaa sudahlah, saudaraku, ayoh kita pergi saja!"
"Sebentar"
Seru Hay Tay-sau sambil menghentikan gelak tertawanya.
"aku harus membuat perhitungan lebih dulu"
Hoa Toa-koh segera tertawa ringan, ujarnya.
"Gampang sekali bila kau ingin membuat perhitungan, tapi kau harus beritahu dulu, siapa yang telah selamatkan dirimu?"
Biarpun senyuman masih menghiasi wajahnya namun senyuman itu sudah kelewat dipaksakan.
Dengan tangan sendiri dia telah menotok jalan darah Hay Tay-sau bahkan menyembunyikan tubuhnya didalam sebuah ruang rahasia dibawah ruangan, perempuan ini benar-benar tidak habis mengerti, siapa yang sanggup selamatkan dirinya.
"Kalau ingin tahu, itu mah gampang sekali!"
Seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras. Mendadak dia menyingkir ke samping, memberi jalan lewat menuju ke pintu ruangan, katanya.
"Dia berada didalam ruangan"
Sekali lagi Hoa Toa-koh merasakan hatinya bergetar keras, paras mukanya semakin pucat, lewat berapa saat kemudian dia baru menyahut sambil tertawa paksa.
"Baik, akan kulihat tokoh macam apa yang memiliki tiga kepala enam lengan"
Sambil berkata dia berjalan masuk menuju ke dalam ruangan.
"Tunggu sebentar"
Tiba-tiba Hay Tay-sau menghadang jalan perginya. Hoa Toa-koh menghela napas panjang, sambil mendongakkan kepalanya memandang lelaki kekar itu, ujarnya lembut.
"Masa kau sudah melupakan hubungan kita dimasa lalu? Benarkah kau hendak membuat perhitungan denganku hari ini?"
Paras muka Hay Tay-sau hijau membesi, ditatapnya perempuan itu dengan pandangan dingin. Kembali Hoa Toa-koh menundukkan kepalanya, setelah menghela napas sedih ujarnya lebih lanjut.
"Hari ini, ada begitu banyak orang yang berniat membunuhku, sekalipun kau enggan membantuku, tidak seharusnya kau bantu mereka itu!"
Meskipun Hay Tay-sau masih tetap membungkam, namun wajahnya yang semula dingin kaku kini mulai mencair. Setelah menghela napas sedih, kembali perempuan itu berkata.
"Bagaimana pun, dulu kita pernah punya hubungan khusus selama berapa waktu.... aaaai, sekalipun kau ingin membuat perhitungan, kenapa harus dilakukan pada hari ini?"
"Baik!"
Mendadak Hay Tay-sau membentak keras.
"akan kita perhitungkan dikemudian hari...."
"Waktu dikemudian hari masih panjang"
Sela perempuan itu lagi.
"asal hari ini aku tidak mati, dikemudian hari aku pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk melampiaskan semua rasa dendammu"
Hay Tay-sau segera mengangkat tubuh orang yang berada dalam cengkeramannya itu ke hadapan Hoa Toa-koh, ujarnya lantang.
"Bajingan ini telah menghianati aku, hari ini aku akan membawanya pergi"
"Kalau ingin kau bawa pergi, bawa sajalah!"
"Ayoh kita pergi!"
Habis berkata Hay Tay-sau bersama Bi lek hwee segera melompat turun ke sampannya, sewaktu melompat turun itulah dapat dilihat bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki perampok ulung ini memang sangat hebat.
Sekalipun dia memiliki perawakan tubuh tinggi besar dan berat, namun ketika melompat turun keatas sampan, perahu itu sama sekali bergeming.
Sambil gelengkan kepalanya berulang kali kata Bi lek hwee.
"Saudaraku, kelihatannya kau mirip sekali denganku, makan yang lembek pantang menghadapi yang keras, watak busukku juga tidak pernah berubah, begitu diajak bicara halus, hatiku pun langsung melumer"
"Tahukah kau siapakah perempuan itu?"
Tanya Hay Tay-sau sambil tertawa getir.
"Bukankah dia adalah pentolan dari kawanan lebah perempuan Heng kang li ong hong? Kemampuan perempuan ini memang sangat hebat, lohu sendiripun dibuat mati kutu oleh ulahnya"
"Hari ini dia memang pentolan dari kawanan lebah itu"
Ucap Hay Tay-sau sambil menghela napas.
"tapi dulu.... aaaai!"
"Kenapa dulu?"
Dengan geram Hay Tay-sau membanting tubuh orang yang berada dalam cengkeramannya itu ke lantai sampan, kemudian dengan mata berkilat dan menggertak gigi katanya.
"Dulu dia adalah biniku!"
Bi lek hwee terperangah, dia berdiri melongo dengan mata terbelalak, bisiknya tergagap.
"Jadi dia.... dia...."
Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya memandang awan yang bergerak di angkasa, lama kemudian dia baru berkata lagi.
"Sepanjang tahun aku selalu hidup mengembara, tapi dia.... aaaai! kalau istri tidak setia, anak tidak berbakti, buat apa aku menyinggung dirinya lagi?"
Mereka berdua sama-sama tundukkan kepalanya, perasaan hati terasa murung dan penuh kekesalan.
Pada saat itulah dari balik ruangan diatas sampan itu mendadak terdengar suara seseorang sedang merintih....
Dalam pada itu Hoa Toa-koh telah melangkah masuk ke ruang perahu sesudah menarik napas panjang, ada berapa orang gadis lebah yang melihat gelagat tidak beres, buru-buru mengintil di belakangnya.
Sui Leng-kong masih menangis terisak, Gi Peng-bwee dan Gi Cing-kiok menanti penuh kecemasan, Yo Pat-moay pun masih berusaha melakukan pencarian diatas permukaan air, berulang kali dia munculkan diri dari balik air untuk berganti napas.
Waktu itu Hoa Toa-koh sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, sembilan buah lentera yang semula menerangi seluruh ruangan kini tinggal satu lentera yang menyala, suasana terasa redup dan remang-remang.
Perempuan itu mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, namun dia tidak menemukan sesosok manusia pun.
"Jangan-jangan Hay Tay-sau membohongi aku?"
Gumamnya setelah tertegun sesaat. Belum habis dia berpikir, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berkata dengan nada yang dingin, kaku, sama sekali tanpa emosi.
"Aku berada disini!"
Dalam kagetnya Hoa Toa-koh segera membalikkan tubuh.
Dekat pintu ruangan, diatas bangku kayu berwarna merah duduk sesosok bayangan manusia, tubuhnya kelihatan kaku tanpa kehidupan hingga sepintas pandang mirip sekali dengan sesosok patung arca.
Sepasang tangan orang itu berada pada sandaran bangku, ujung bajunya yang lebar dibiarkan tergantung hingga lantai.
Walaupun wajannya sempurna, sepasang alis matanya tajam bagaikan pedang, kelopak matanya seperti kosong melompong, sama sekali tidak ada cahaya mata, juga tidak nampak bola mata yang berputar.
Raut muka orang itu luar biasa dingin dan tenangnya, seakan-akan perasaan orang ini terbentuk dari bongkahan salju abadi, rambut panjangnya yang terurai sebahu menambah kemisteriusan orang itu.
Dibelakangnya berdiri sesosok bayangan tubuh seorang wanita, wajahnya pucat pasi, tubuhnya ramping lembut, senyuman yang indah menghiasi bibirnya namun pandangan matanya penuh diliputi kedukaan....
Dia tidak lain adalah Leng Cing-peng, gadis yang ditangkap dari dalam air dan selama ini disekap dalam ruangan.
Untuk sesaat Hoa Toa-koh berdiri tertegun saking kagetnya, tapi dengan cepat dia berhasil mengendalikan diri, dengan sikap acuh tidak acuh ditatapnya wajah Leng Cing-peng sekejap, kemudian sapanya.
"Adikku, rupanya kau telah mendusin, apakah tubuhmu sudah terasa agak enakan?"
Leng Cing-peng tertegun, tampaknya dia tidak mengira kalau perempuan itu akan bersikap begitu lembut terhadapnya, bibirnya kelihatan bergetar namun tidak sepatah kata pun yang diucapkan.
Sesudah menghela napas ringan, kembali Hoa Toa-koh berkata.
"Meskipun tidak seharusnya kau bersikap begitu terhadap cici, namun cici masih tetap menaruh perhatian kepadamu, aaai, kau mesti berganti pakaianmu, coba lihat tubuhmu basah kuyup, hawa dingin bisa merusak kesehatanmu"
Sambil berkata ia berjalan mendekat, sorot matanya sama sekali tidak memperhatikan orang berambut panjang itu, kembali ujarnya sambil tertawa ringan.
"Coba lihat, aku hanya memperhatikan dirimu sampai lupa kalau disini masih ada sahabatmu"
Setelah berpaling melemparkan sekulum senyuman, lanjutnya.
"Omong omong, siapa sih temanmu ini? Kau seharusnya perkenalkan dia kepada cici!"
"Dia.... dia...."
Leng Cing-peng tergagap.
"dia bukan temanku"
Bagaimanapun gadis ini masih muda, perasaan hatinya masih kelewat lembek, bukan saja perkataan dari Hoa Toa-koh membuat semua amarahnya jadi padam, bahkan dia masih menganggap perkataan perempuan itu sebagai ucapan yang tulus dan muncul dari sanubarinya yang paling dalam.
Hoa Toa-koh seperti terperangah, serunya tertahan.
"Aaah, jadi dia bukan sahabatmu? Kenapa bisa duduk didalam ruang perhuku?"
Leng Cing-peng menggeleng perlahan, bahkan mengerdipkan matanya berulang kali seakan melarangnya bicara lebih lanjut. Namun Hoa Toa-koh berlagak seolah tidak melihat, ujarnya lebih jauh.
"Sobat, kau telah masuk ke rumahku tanpa diundang, boleh tahu apa tujuanmu? Apakah kau bersedia mengatakan sesuatu kepada aku sang pemilik rumah?"
Orang berambut panjang itu tetap duduk tidak bergerak, sepatah demi sepatah dia berkata.
"Aku adalah Ay Thian-hok"
Perkataannya amat singkat, seolah olah nama "Ay Thian-hok"
Sudah mewakili segalanya.
Benar saja, sekujur tubuh Hoa Toa-koh bergetar keras.
Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, terdengar suara isak tangis bergema makin keras dari luar ruangan, terdengar Sui Leng-kong berseru sambil menangis tersedu sedu.
"Benarkah tidak ditemukan?"
"Tidak ditemukan"
Terdengar Yo Pat-moay menyahut dengan napas tersengkal.
"tapi.. semisal dia memang mati, seharusnya jenasahnya terapung diatas permukaan air!"
Kembali terdengar Sui Leng-kong menangis tersedu sedu.
"Thiat Tiong-tong.... wahai Thiat Tiong-tong.... kematianmu benar benar-mengenaskan..."
Paras muka Leng Cing-peng berubah hebat, tubuhnya ikut gemetar keras, setelah mundur berapa langkah dengan terhuyung....
"Blaaaam!"
Tubuhnya menumbuk diatas dinding dibelakang tubuhnya.
Hoa Toa-koh sendiripun agak terperanjat, baru dia mendongakkan kepalanya, terasa pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu dia sudah kehilangan jejak bayangan tubuh Ay Thian-hok.
Menyusul kemudian terlihat Leng Cing-peng ikut pula memburu keluar dari ruangan.
Hoa Toa-koh ikut melangkah ke depan pintu, namun baru berapa langkah dia sudah membatalkan niatnya, sesudah termenung sejenak dengan kening berkerut tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan berjalan cepat menuju sudut ruangan sebelah kiri.
Ke empat dinding ruang perahu itu dilapisi gorden dan tirai.
Dia langsung menyingkap tirai sambil merogoh sesuatu ke atas dinding, sebuah lubang selebar tiga inci segera muncul diatas dinding ruangan itu, dibalik lubang terlihat sebuah kristal yang bening.
Ketika melongok dari balik kristal bening itu, bukan saja pemandangan diluar ruangan terlihat amat jelas bahkan dapat terlihat lebih besar dan jelas.
Waktu itu Leng Cing-peng, Sui Leng-kong, Gi peng-bwee dan Gi Cing-kiok sudah berdiri dibelakang Ai Thian-hok, sedangkan Yo Pat-moay dengan tubuh basah kuyup berdiri di depan kawanan gadis lebah lainnya.
Mereka seperti sedang meributkan sesuatu, hanya sayang tidak terdengar apa yang sedang dibicarakan.
Dari kejauhan sana, dari balik jendela, tampak muncul lagi berapa titik bayangan sampan yang bergerak mendekat.
Melihat kesemuanya itu Hoa Toa-koh menghela napas panjang, gumamnya.
"Orang bilang pengaruh Kiu cu-kui bo tidak boleh dipandang enteng, sekarang aku benar-benar mempercayainya"
Setelah menghentakkan kakinya dengan gemas, dia lari menuju ke ruang belakang lalu turun ke ruang bawah, dengan tergesa-gesa dia kabur menuju ke ruang rahasianya.
Tampak pintu kamarnya yang kokoh dan kuat, kini sudah hancur berantakan dihajar orang.
Sekali lagi dia merasakan hatinya bergetar keras, gumamnya sambil menggertak gigi.
"Ai Thian-hok, sungguh dahsyat tenaga pukulanmu!"
Ketika menengok ke dalam ruangan, dia saksikan hanya seprei nya yang awut-awutan tidak karuan sementar benda lainnya tetap utuh seperti sedia kala.
Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya, dengan cepat dia singkirkan selimut dan sepreinya, lalu mendorong papan ranjangnya ke samping, sebuah lubang rahasia pun muncul dibalik pembaringan.
Dibalik ruang rahasia itu terlihat ada tumpukan berapa buah karung goni, dari balik karung goni lamat-lamat terlihat cahaya mestika yang berkilauan.
Dengan cepat dia bungkus semua karung goni itu dengan kain sepreinya, senyuman yang semula nampak lembut dan cantik, kini berubah jadi senyuman licik dan penuh kekejian.
Untuk sesaat dia nampak agak sangsi, tapi akhirnya sambil menggigit bibir dia memencet lagi sebuah tombol rahasia dibalik ruangan tersebut.
"Byuuurrr!"
Air sungai yang berwarna kuning dengan cepat mengalir masuk ke dalam ruangan, dalam waktu singkat menenggelamkan ruang rahasia itu dan mulai menggenangi seluruh ruangan.
Melihat air sungai mulai menggenangi permukaan, kembali Hoa Toa-koh bergumam.
"Selamat tinggal saudara-saudaraku, selamat tinggal perahuku!"
Sambil membopong buntalan besar itu, dengan cepat dia berlari keluar meninggalkan ruangan.
Dalam pada itu kembali ada empat buah rakit kulit bergerak mendekat, dalam waktu singkat rakit rakit itu sudah merapat disisi perahu.
Pada rakit yang pertama tampak berdiri empat orang, salah satu di antaranya adalah si bocah pincang.
Waktu itu rambutnya kelihatan sudah terbakar hangus sebagian, dia berdiri sambil menggertak gigi, wajahnya penuh diliputi perasaan gusar, dendam dan sakit hati.
Orang kedua adalah seorang wanita yang sebagian rambutnya terbakar hangus, wajahnya pucat, dia menggendong seorang bayi dan tiada hentinya terbatuk batuk.
Orang itu tidak lain adalah Leng Cing-soat yang belum sembuh dari lukanya.
Dibelakangnya berdiri dua orang gadis berbaju sutera, mereka nampak sibuk memeriksa tubuh Leng Cing-soat dan sepertinya sangat menguatir-kan keadaan luka gadis itu.
Pada rakit ke dua tampak sebuah kursi, diatas kursi duduk seorang nyonya tua berbaju hijau bersanggul tinggi, dia tidak lain adalah Kiu cu Kui bo yang sudah banyak tahun hidup mengasingkan diri.
Dibelakang nenek itupun berdiri dua orang gadis berbaju sutera, seorang membawa hudtim sedang yang lain membawa tempolong kemala, biarpun rakit terombang-ambing ditengah ombak, mereka tetap berdiri tegak sekokoh batu karang.
Tidak seorang manusiapun diatas perahu yang menyadari kalau tubuh perahu mereka mulai tenggelam, karena perhatian mereka sudah tersedot oleh kehadiran dua buah rakit itu.
Terdengar Gi Peng-bwee bergumam sambil menghembuskan napas panjang.
"Aaah, akhirnya suhu datang juga"
Belum selesai ia bicara, tampak Kiu cu kui bo sudah mengebaskan tangannya, tahu-tahu tubuh berikut bangkunya sudah melayang setinggi tiga meter lebih dan meluncur ke atas perahu besar.
Berubah hebat paras muka kawanan gadis lebah itu setelah menyaksikan kelihayan orang.
Leng Cing-peng ikut menjerit sedih setelah menyaksikan perempuan berambut panjang yang berdiri diatas rakit itu.
"Cici!"
Dia berlarian menuju ke buritan perahu, setelah sangsi sejenak, akhirnya dia melompat naik ke atas rakit. Paras muka Leng Cing-soat pun sedikit berubah, bisiknya pedih.
"Adikku, kau.... kau...."
Walaupun dua bersaudara itu telah saling berjumpa, namun hubungan mereka serasa bagaikan hidup di dua dunia yang berbeda.
Dua orang gadis itu hanya saling bertatap muka dengan air mata berlinang, siapa pun tidak ada yang tahu, apakah pertemuan ini sebuah kenyataan atau hanya dalam impian?
Biarpun ada berjuta-juta perkataan yang ingin disampaikan namun tidak sepatah kata pun yang mampu diucapkan keluar.
Kawanan gadis berbaju sutera itu sama-sama tertunduk sedih, mereka tidak tega untuk menyaksikan lebih jauh.
Sementara itu si bocah pincang sambil membentak nyaring ikut melompat naik ke atas perahu, begitu tiba disamping Gi Cing-kiok, bisiknya sambil menarik ujung baju gadis itu.
"Mana orangnya?"
Gi Cing-kiok menghela napas sedih.
"Thiat kongcu telah menceburkan diri ke dalam sungai, bahkan jenasahnya pun tidak.... tidak..."
Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke arah Sui Lengkong, kemudian dengan sedih menutup mulutnya kembali. Bocah pincang itu merasakan hatinya bergetar, setelah termangu sejenak kembali tanyanya.
"Mana pula bajingan laknat itu?"
Gi Cing-kiok menggeleng.
"Saat itu pikiranku sedang kalut, tidak terlalu kuperhatikan"
"Kemungkinan besar telah dibawa pergi oleh Hay Tay-sau"
Sela Gi Peng-bwee. Sekali lagi bocah pincang itu tertegun, sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel, omelnya.
"Apa-apaan kalian ini? Masa disuruh menyelesaikan persoalan ini saja tidak becus?"
"Hmm, seandainya kau yang melaksanakan tugas ini, mungkin keadaannya akan jauh lebih parah"
Seru Gi Cing-kiok gusar.
"Kalau bukan kalian bikin ulah, mana mungkin akan terjadi peristiwa semacam ini?"
Sambung Gi Peng-bwee pula dengan nada dingin.
Bocah pincang itu hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo, dia tidak berani banyak bicara lagi.
Sementara itu Kiu cu Kui bo telah duduk dihadapan kawanan gadis lebah itu, dia duduk dengan wajah dingin bagaikan baja, agaknya nenek itu enggan berbicara dengan mereka dan sedang menunggu kemunculan pemimpinnya.
Tiba-tiba terlihat Li Ji-ci berlarian keluar dari ruangan sambil berteriak keras.
"Toaci.... dia telah melarikan diri, perahu ini.... perahu ini...."
"Kenapa dengan perahu ini?"
Tanya kawanan gadis lebah itu dengan wajah berubah. Saking kalut dan paniknya Li Ji-ci tidak ambil perduli lagi apakah disitu hadir orang lain atau tidak. Dengan napas tersengkal sengkal lanjutnya.
"Bukan saja toaci telah membawa kabur seluruh simpanan dan deposito kekayaan kita semua, bahkan membuka lubang penutup didasar perahu, sebentar lagi air akan menenggelamkan perahu ini"
Paras muka kawanan gadis lebah itu berubah makin hebat.
Sementara itu para jago anak buah Kiu cu Kui bo telah memeriksa pula keadaan perahu itu, sambil bertepuk tangan si bocah pincang itu segera berseru.
"Bagus, bagus sekali, perahu ini segera akan tenggelam"
Dengan wajah dingin menyeramkan Kiu cu Kui bo berkata.
"Kalau bukan sedang marah sekali, aku tidak akan kelewatan memojokkan orang, apalagi memaksa orang jadi anjing yang kecebur ke sungai, tapi...."
Dengan sorot mata setajam sembilu terusnya.
"Tapi kalian semua telah mencari gara-gara dengan perguruan kami, bila hari ini ingin kabur dari sini, paling tidak harus tinggalkan dulu sedikit tanda mata di tubuh masing masing"
"Tinggalkan apa?"
Tanya Yo Pat-moay.
"Karena pentolan kalian Hoa Toa-koh telah melarikan diri, sedang kalianpun hitung-hitung termasuk juga korban perbuatannya, aku tidak ingin kelewat menyusahkan kalian semua, masing-masing tinggalkan saja sebelah telinga kalian"
Berubah hebat paras muka kawanan lebah itu. Sambil tertawa seram Yau Su-moay berteriak.
"Kentut busuk! Nonamu akan pergi duluan"
Waktu itu dia berada di buritan perahu, saat itu dia sudah bersiap siap terjun ke air untuk melarikan diri.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak bergerak, tahu-tahu Ai Thian-hok yang tidak bermata itu sudah melayang melintas diatas kepalanya....
orang ini seolah memiliki banyak mata diseluruh tubuhnya, gerak-gerik setiap orang yang hadir disana seolah tidak dapat lolos dari pandangan matanya.
Kawanan lebah itu hanya mendengar deruan angin berhembus, tahu-tahu Ai Thian-hok sudah terbang melintas dari atas kepalanya, di antara kebasan ujung bajunya tahu tahu dia sudah menyambar ujung baju Yau Su-moay.
Waktu itu tubuh Yau Su-moay sudah hampir menyentuh permukaan air, tahu-tahu dia sudah kena ditangkap dan diseret balik keatas perahu.
Kembali bocah pincang itu berteriak sambil bertepuk tangan.
"Hebat, hebat, nah bila ada di antara kalian yang mampu lolos dari cengkeraman toako ku, aku akan takluk kepadanya"
Tampak Ai Thian-hok menutulkan ujung kakinya diburitan perahu, kemudian setelah membanting tubuh Yau Su-moay diatas lantai, dia melayang balik ke depan Kiu cu Kui bo dengan melintasi kepala kawanan lebah itu.
Gerakan tubuhnya lincah, gesit dan cepat, ketika diimbangi dengan ujung bajunya yang berkibar ketika meluncur, gerak-geriknya tidak berbeda dengan seekor kelelawar raksasa.
Waktu itu paras muka Yau Su-moay telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, saking kagetnya nyaris dia jatuh semaput.
"Siapa lagi di antara kalian yang memaksa aku untuk turun tangan sendiri?"
Terdengar Kiu cu Kui bo kembali menegur dengan nada dingin.
Sambil berkata dia meraup tangannya ke muka dan menjawil perlahan wajah Yau Su-moay.
Terdengar Yau Su-moay menjerit kesakitan, telinga kirinya tahu-tahu sudah berada dalam genggaman Kiu cu Kui bo.
Kembali paras muka kawanan lebah itu berubah hebat, serentak mereka emosi dan berniat untuk beradu nyawa dengan nenek itu, di antara kilatan cahaya perak terdengar suara bentrokan senjata yang nyaring bergema di udara.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Yo Pat-moay membentak nyaring.
"Pat-moay.... kita.... kita...."
Sekujur tubuh Li Ji-ci gemetar keras.
"Kita tidak akan mampu melawan mereka"
Tukas Yo Pat-moay dengan wajah hijau membesi.
"Sekalipun tidak mampu kita tetap harus...."
"Kalau melawanpun tidak mampu, apa lagi yang mau dilawan?"
Kembali Yo Pat-moay menghardik dengan suara nyaring.
"hidup lebih mendingan daripada mati konyol, tapi.... tapi.... tahukah kalian, kenapa aku harus mempertahankan hidupku?"
Kelihatannya perkataan itu telah menggetarkan perasaan hati kawanan lebah itu, serentak mereka tutup mulutnya rapat-rapat.
Setelah mendongakkan kepalanya dan menghela napas, ujar Yo Pat-moay lebih jauh.
"Kita harus tetap hidup karena kita akan balas dendam!"
Setelah memandang sekejap wajah kawanan gadis lebah itu, terusnya.
"Bagaimana pun juga kita harus temukan Hoa Toa-koh bukan? Dia tidak seharusnya tinggalkan kita semua dalam keadaan seperti ini!"
Sekarang dia langsung menyebut nama Hoa Toa-koh, hal ini menunjukkan kalau gadis ini sudah tidak mengakuinya sebagai toaci mereka lagi!
Kawanan gadis lebah itu tetap membungkam, namun mereka telah menundukkan kepalanya.
Mendadak Yo Pat-moay berpaling dan menatap wajah Kiu cu Kui bo tajam tajam, sepatah demi sepatah kata ucapnya.
"Akupun bersumpah akan mencari balas kepadamu!"
"Aku tahu!"
Jawab Kiu cu Kui bo perlahan.
"Kalau aku jadi kau, pasti akan membunuhku hari ini sebab kalau tidak, sekalipun hari ini kau hanya memotong sebelah telingaku, kemungkinan besar dikemudian hari aku akan memotong ke dua buah telingamu sekaligus!"
Secara lamat-lamat sekulum senyuman muncul menghiasi wajah Kiu cu Kui bo yang hijau dingin, sahutnya seraya mengangguk.
"Aku tahu, dan pasti akan kutunggu"
"Baik!"
Dia menengok sekejap sekeliling tempat itu, kini air sungai telah menggenangi permukaan geladak, tampaknya tidak lama kemudian perahu itu akan tenggelam.
Dengan satu gerakan cepat Yo Pat-moay mengiris sebuah telinga sendiri dan dilemparkan ke hadapan Kiu cu Kui bo, serunya.
"Seorang hanya sepotong telinga, kita tidak perlu berhutang kepadanya!"
Agaknya emosi kawanan gadis lebah itu dibangkitkan kembali oleh teriakan tersebut, diiringi teriakan keras kawanan gadis itu telah mengiris telinga masing-masing dan dilemparkan ke hadapan Kiu cu Kui bo.
"Dendam telah terikat, hutang telah terbayar, sekarang kita pergi!"
Teriak Yo Pat-moay lagi. Tanpa banyak bicara serentak kawanan gadis lebah itu terjun ke dalam sungai.
"Gadis-gadis hebat!"
Puji Kiu cu Kui-bo kemudian sambil meng hela napas panjang. Melihat perahu sudah hampir tenggelam, kembali Kiu cu Kui bo berseru.
"Mari kita pun pergi!"
Tubuh berikut bangkunya kembali meluncur ke atas rakit.
Tidak selang berapa saat kemudian semua orang sudah melompat turun ke atas rakit, kini perahu telah tenggelam, kawanan gadis lebah pun sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.
Berada diatas rakit, Leng Cing-peng serahkan anak kunci kepada Leng Cing-soat, sekalipun mereka tidak tahu kalau Thiat Tiong-tong telah menyerahkan sejumlah harta karun untuk mereka namun kejadian tersebut cukup membuat mereka sedih bercampur terharu.
Dengan air mata berlinang Leng Cing-peng berpaling dan mengawasi Sui Leng-kong tanpa bicara.
Sui Leng-kong sendiripun berdiri dengan mata penuh air mata, kini dia seolah tidak bisa melihat apa pun.
Tiba-tiba si bocah pincang itu berjalan menuju ke hadapan ke tiga orang itu, sambil menjura dalam dalam katanya dengan tergagap.
"Cici bertiga.... siaute.... siaute...."
Walaupun perkataan itu tidak lengkap, namun Sui Leng-kong, Leng Cing-soat maupun Leng Cing-peng tahu apa maksud perkataan itu...
andaikata bukan gara-gara ulahnya, tidak mungkin Thiat Tiong-tong akan mati tenggelam di sungai Huangho.
Lama sekali bocah pincang itu berdiri termangu, akhirnya kepada Ai Thian-hok yang berada di rakit lain, berteriak keras-keras.
"Toako, bolehkah aku memohon sesuatu kepadamu?"
"Permainan busuk apa lagi yang akan kau lakukan?"
Tegur Ai Thian-hok dengan suara dalam.
Kelihatannya dia sangat menyayangi saudara seperguruannya ini, sekalipun perkataan itu diucapkan tanpa senyuman, namun tanpa disadari sikapnya sudah menunjukkan kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.
Dengan suara keras kembali bocah pincang itu berteriak.
"Aku mohon toako mau menemani aku mencari Sim Sin-pek, aku ingin mencincang tubuhnya menjadi dua puluh empat potong, kemudian sepotong demi sepotong diberikan kepada anjing"
"Kenapa harus aku yang menemani?"
Bocah pincang itu menghela napas panjang, sahutnya.
"Aku.... aku kuatir tidak bisa menangkan dia, lagipula aku kuatir akan membuat gara-gara lagi, selama toako mendampingiku, akupun tidak usah kuatir lagi"
Sekulum senyuman ramah segera tersungging diwajah Ai Thian-hok, tegurnya.
"Jadi sekarang kau sudah mengerti arti takut?"
Dengan wajah merah jengah bocah pincang itu menundukkan kepalanya, ujarnya terbata-bata.
"Bukan.... bukannya aku takut, tapi... tapi...."
Setelah tertawa ringan dia menghentikan perkataannya.
"Kalau takut katakan takut, itu mah urusan biasa, kenapa mesti malu!"
Kata Ai Thian-hok serius.
"Tapi toako, kenapa kau tidak pernah takut?"
"Siapa bilang aku tidak pernah takut, kalau aku tidak takut mungkin sejak dulu sudah mati, hanya saja ada sementara persoalan biarpun kau takut toh tetap harus dilakukan"
"Ada sementara persoalan, biarpun kau tidak takutpun tidak boleh dilakukan, bukan begitu?"
Sekali lagi Ai Thian-hok tertawa lebar.
"Betul sekali, orang harus bisa memilah mana yang boleh dan mana yang tidak, hanya pendekar yang bisa memilah dalam tindakan, dia baru dihormati orang lain"
Tiba-tiba terdengar Kiu cu Kui bo menghela napas panjang, ujarnya.
"Aaaai, walaupun Thian-hok adalah muridku, namun ada banyak ajaran yang justru dia lebih paham ketimbang aku"
"Tecu tidak berani dibandingkan dengan suhu"
Cepat Ai Thian-hok menundukkan kepalanya. Kiu cu Kui bo menggeleng, kembali ujarnya sambil menghela napas.
"Pada dasarnya watakmu memang begitu, bukan berarti aku tidak mengetahui ajaran tersebut, tapi harus diakui, selama ini tindakanku kelewat emosional, napsu membunuhku kelewat berat, selama ini aku bertindak hanya menuruti suara hati sendiri, karena itu sering aku tidak bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk"
Ai Thian-hok hanya tundukkan kepalanya tidak bicara, namun wajahnya kelihatan sangat terharu. Kembali Kiu cu Kui bo berkata kepada bocah pincang itu.
"Lo-kiu, kau memang seharusnya banyak belajar dari toako mu"
"Tecu memang paling suka dengan toako"
Kata bocah pincang itu dengan kepala tertunduk. Tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi bibir Kiu cu Kui bo, gumamnya sambil menggeleng.
"Dasar bocah, aku berharap dia akan mengalami beberapa kali kerugian lagi, agar rasa takutnya makin tumbuh"
Gadis yang berdiri disamping Kiu cu Kui bo segera menimbrung sambil tertawa.
"Asal suhu mengurangi rasa sayang kepadanya, otomatis dia akan belajar makin sopan"
"Kau tidak boleh banyak bicara!"
Bentak Kiu cu Kui bo cepat, tapi tidak urung dia tertawa geli juga. Diam-diam bocah pincang itu membuat muka setan kepada gadis tersebut, kemudian katanya lagi.
"Toako, sebetulnya kau bersedia tidak menemani aku?"
"Soal ini...."
Ai Thian-hok kelihatan agak ragu.
"Thian-hok, pergilah temani dia!"
Perintah Kiu cu Kui bo kemudian. Buru-buru Ai Thian-hok mengiyakan. Terdengar gadis itu kembali berkata sambil tertawa.
"Coba lihat, suhu masih begitu memanjakan lo-kiu, tidak heran kalau dia masih ingin mencari gara-gara biar rambutnya nyaris habis terbakar"
"Bagus, rupanya kau iri, heei.... dasar perempuan julas!"
"Aaaai, dasar bocah, dia benar-benar tidak tahu aturan"
Gumam Kiu cu Kui bo sambil menggeleng.
Sekalipun dimulut dia menghela napas namun senyuman ramah justru menghiasi bibirnya.
Leng Cing-soat serta Leng Cing-peng hanya bisa mengawasi mereka dengan melongo, saking tertegunnya mereka seolah sampai lupa menangis.
Melihat canda gurau antara guru dan murid, tanpa terasa mereka berpikir dalam hati.
"Kusangka Kui bo itu kejam dan buas, apalagi terhadap anak muridnya, tidak disangka ternyata hubungan batin mereka amat akrab"
Tanpa sadar mereka pun jadi terbayang dengan keluarga mereka sendiri, titik air mata kembali berlinang membasahi pipinya.
Bocah pincang itu membalikkan tubuh menengok ke arah dua orang perempuan itu, sambil membusungkan dada teriaknya lantang.
"Nona berdua, kalian tidak usah menangis, aku pasti akan membalaskan dendam bagi kalian!"
"Aku.... aku...."
Leng Cing-soat tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia menangis sejadi-jadinya.
"Kau kenapa? Kau ingin ikut serta?"
Seru bocah pincang itu cepat.
"jangan, jangan berbuat begitu, kau sudah terluka, harus merawat pula anakmu, kau tidak boleh ikut"
"Aku...."
Serentak Leng Cing-peng dan Sui Leng-kong ikut berseru.
"Tidak bisa, tidak bisa"
Kembali bocah pincang itu berteriak keras.
"kalian adalah nona dewasa, mana boleh melakukan perjalanan bersama kaum lelaki? Bisa tidak leluasa"
Leng Cing-peng maupun Sui Leng-kong segera menundukkan kepalanya, sekalipun mereka adalah gadis gadis berperasaan, namun bila permintaannya ditampik orang, mereka tidak pernah melakukan perlawanan atau protes.
Gadis berbaju sutera itu kontan mengumpat.
"Dasar tidak tahu malu, masih bocah saja sudah mengaku seperti orang dewasa...."
"Kau.... kau...."
Teriak bocah pincang itu jengkel.
Dalam pada itu selisih jarak antara rakit itu dengan pantai tinggal berapa meter saja, tiba-tiba bocah pincang itu melompat ke arah rakit yang satu, kemudian sambil berlutut serunya.
"Suhu, bagaimana kalau tecu mohon diri lebih dulu?"
Belum sempat Kiu cu Kui bo menjawab, dia sudah melompat bangun sambil menowel pipi gadis berbaju sutera itu sambil berseru.
"Hei budak cilik!"
"Setan cilik"
Umpat gadis itu sambil tertawa dan mengumpat.
"kau.... toako, coba lihat perbuatannya, kalau kau tidak segera mengurusinya, mungkin dia tambah edan"
Tapi bocah pincang itu sudah melompat ke daratan dan kabur dari situ. Dari kejauhan terdengar dia berteriak sambil tertawa.
"Toako, kau tidak usah menggubris budak itu, dialah si budak edan, Gi Siau-hong, aku beritahu, selama hidup kau tidak bakal laku kawin"
Si nona yang bernama Gi Siau-hong itu mencak-mencak semakin gusar, teriaknya.
"Suhu, coba lihat ulahnya, Siau-hoa dia...."
Kiu cu Kui bo segera menarik tangan nona itu sambil menukas.
"Coba lihat kalian semua, seharian ribut melulu, seakan tidak ada urusan di dunia ini yang bisa membuat kalian sedih"
Kemudian sambil berpaling katanya lagi.
"Thian-hok, cepatlah pergi, kau awasi baik-baik tingkah laku Siau-hoa!"
Ai Thian-hok mengiakan dan segera melompat ke udara, dalam berapa kali lompatan dia sudah lenyap dari pandangan mata. Melihat itu Kiu cu Kui bo gelengkan kepalanya sambil menghela napas, ujarnya.
"Aku lihat belakangan ini tabiat Thian-hok makin lama makin pendiam, tapi kungfunya semakin tangguh ketimbang aku"
Di pihak lain Sui Leng-kong, Gi Cing-kiok, Gi Peng-bwee serta dua bersaudara Leng diam-diam berdoa, mereka berharap kedua orang itu bisa secepatnya menemukan Sim Sin-pek dan membalaskan dendam bagi orang yang telah meninggal.
BAB 12 Antara Budi dan Dendam Waktu itu Sim Sin-pek sudah dibanting keras keras ke atas geladak perahu oleh Hay Tay-sau.
Secara lamat-lamat Hay Tay-sau menyaksikan ada tubuh seseorang yang basah kuyup berbaring melingkar ditengah ruang perahu, tampaknya tubuh orang itu baru saja diangkat dari dalam air, kesadarannya belum pulih.
Hay Tay-sau sama sekali tidak mengenalinya, bahkan Bi lek hwee yang menyelamatkan orang itupun tidak mengenali siapakah gerangan orang tersebut.
....
Seandainya Bi lek hwee tahu, mungkin dia tidak bakalan menyelamatkan jiwanya.
Berbeda dengan Sim Sin-pek, dia kenali siapakah orang itu bahkan sangat mengenalinya.
Saat itu tubuh Sim Sin-pek sudah dibanting keras keras oleh Hay Tay-sau, kini dia berbaring dilantai sambil merintih kesakitan.
Baru saja Hay Tay-sau hendak bertanya siapa orang yang berada dalam ruang perahu, tiba-tiba terdengar Bi lek hwee membentak keras.
"Kenapa bisa kau!"
Hay Tay-sau segera berpaling, tampak Bi lek hwee sedang menuding ke arah Sim Sin-pek dengan kening berkerut.
"Bukankah kau adalah Sim Sin-pek? Kenapa bisa jadi begini?"
Tegurnya.
"Jadi kau kenali dia?"
Tanya Hay Tay-sau cepat. Bi lek hwee manggut-manggut.
"Tentu saja kenal, dia adalah murid Hek Seng-thian, bagaimana ceritanya? Kenapa dia sampai mengusikmu?"
Kontan Hay Tay-sau mencaci maki, umpatnya.
"Orang ini pengecut dan berhati busuk, di saat bahaya dia tega menghianati teman sendiri, jelas dia bukan manusia baik-baik, manusia semacam ini hanya akan meninggalkan bencana bagi umat persilatan"
"Kalau begitu antara kalian berdua tidak ada ikatan dendam atau sakit hati?"
Tegas Bi lek hwee setelah tertegun sejenak.
"Hmm! Manusia semacam itu belum pantas punya ikatan dendam denganku"
Teriak Hay Tay-sau gusar.
"Hahahaha.... betul, betul sekali, jelek-jelek begini paling tidak hanya seorang lelaki sejati yang pantas mengikat tali permusuhan dengan Thian-sat-seng!"
Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia menghela napas sambil berkata.
"Tapi sayangnya orang ini mempunyai sedikit hubungan dengan lohu"
"Hubungan apa?"
Kontan Hay Tay-sau mendelik.
"Kalau bukan dia yang datang ke Bi lek tong dan memberi laporan, lohu tidak bakal tahu kalau muridku yang tidak becus itu telah diajak pergi Hek Thian-seng!"
"Ooh, selain itu?"
"Dia tidak menerangkan kejadian sebenarnya secara terperinci, katanya dia sendiripun sedang berusaha melarikan diri, karena kasihan, lohu malah sempat memberi uang kepadanya"
"Apa? Hanya karena obrolannya yang tidak jelas, kau rela duitmu dibohongi? Inikah yang kau sebut ada sedikit hubungan?"
Bi lek Hwee sedikit tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa.
"Hahaha.... bagaimana pun juga lohu tidak tega menyaksikan dia mampus karena dibunuh.."
"Baiklah! Hukuman mati boleh diabaikan, tapi hukuman hidup tidak bisa dihindari!"
Mendadak dia lancarkan sebuah tendangan keras membuat tubuh Sim Si-pek terpental keluar dari perahu, serunya sambil tertawa tergelak.
"Hahahaha.... mau hidup, mau mampus, terserah bagaimana nasib mu nanti"
Ketika Bi lek Hwee menyusul ke tepi perahu, dia sudah tidak menjumpai bayangan tubuh Sim Si-pek lagi, maka sambil membalikkan tubuh katanya agak geram.
"Inikah yang kau maksud mengampuni jiwanya?"
"Tentu saja"
Sahut Hay Tay-sau sambil tergelak.
"toh tercebur ke sungai bukan berarti pasti mampus, bukankah kau pun telah selamatkan seseorang dari dalam air?"
Beberapa saat Bi lek Hwee termangu, akhirnya sambil menepuk bahu Hay Tay-sau teriaknya lantang.
"Ternyata kau lebih cengli ketimbang aku, ayoh kita periksa bagaimana keadaan orang yang ada dalam ruang perahu"
Thiat Tiong-tong yang berada dalam ruang perahu sudah mulai mendusin dari pingsannya.
Secara lamat-lamat dia mendengar semua pembicaran yang berlangsung di luar ruang perahu, hatinya jadi terperanjat ketika mendengar murid Hek Seng-thian berada diluar saat itu.
Tapi hatinya kembali jadi lega setelah mendengar suara tubuh seseorang yang tercebur ke dalam air.
Belum sempat ingatan lain melintas dalam benaknya, Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee sudah melangkah masuk ke dalam ruangan.
Tentu saja dia mengenali ke dua orang itu, sebaliknya kedua orang itu sama sekali tidak mengenalinya.
Ketika melihat pemuda itu sudah tersadar kembali, sambil tertawa Bi lek Hwee segera berkata.
"Aaah, rupanya bukan saja tidak mati malahan sudah tersadar kembali!"
"Hahahaha.... aku lihat selama hidupmu sudah kelewat banyak melukai orang, mungkin menolong orang lain baru pertama kali ini, bukan begitu? Kalau tidak, tidak mungkin kau menunjukkan perasaan begitu gembira"
Bi lek Hwee ikut tertawa tergelak.
"Hahahaha.... tebakanmu tepat sekali, lohu sih pernah berbuat baik, cuma soal menolong orang lain.... hehehehe.... mungkin baru kali ini kulakukan"
Sambil membungkukkan tubuh dan menepuk punggung Thiat Tiong-tong, katanya lagi lembut.
"Anak muda, apakah sudah kau muntahkan semua air yang masuk ke dalam perutmu?"
"Terima kasih lotiang atas pertolonganmu"
Ujar Thiat Tiong-tong sambil tertawa getir.
"budi kebaikanmu ini...."
Dia sendiripun tidak menyangka kalau selembar jiwanya ternyata telah diselamatkan musuh besarnya, tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya waktu itu.
Terdengar Bi lek Hwee kembali berkata dengan lembut.
"Setelah minum begitu banyak air sungai, perasaan tubuhmu saat ini tentu tidak karuan, tidak usah banyak bicara dulu, beristirahatlah baik-baik!"
Thiat Tiong-tong tidak membantah, dia benar-benar pejamkan matanya, bukan saja tidak bicara bahkan dadanya bergelombang tidak stabil, hal ini menunjukkan kalau pikiran dan perasaan hatinya amat kacau.
Selama ini Hay Tay-sau hanya menyaksikan dari samping tanpa bicara, sementara Bi lek Hwee sibuk mengambil cawan, menuang air dan mencampurkan bubuk obat ke dalam air itu.
Sesaat kemudian dia baru membangunkan Thiat Tiong-tong sambil melolohnya obat tersebut, katanya lembut.
"Makanya anak muda, lain kali mesti hati-hati kalau bertindak, bagaimana ceritanya sampai kau tercebur ke sungai?"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dia tutup mulutnya rapat-rapat tanpa menjawab.
Sebenarnya diapun ingin menolak untuk minum obat, tapi pikiran lain segera melintas, bagaimana pun jiwanya sudah diselamatkan orang ini, jadi tidak ada alasan baginya untuk menampik obat tersebut.
Mengawasi perubahan wajah pemuda itu, dengan kening berkerut Bi lek Hwee segera menegur.
"Kalau kulihat kau selalu menghela napas panjang lebar, keningpun selalu berkerut seakan ada sesuatu yang mengganjal dalam hatimu, sebetulnya persoalan apa sih yang sedang membebani dirimu?"
Thiat Tiong-tong hanya menghela napas sambil menggeleng. Sambil menepuk bahu pemuda itu kembali Bi lek Hwee berkata sambil tertawa.
"Anak muda, kau masih muda dan gagah, sekalipun ada persoalan janganlah kelewat dimasukkan ke dalam hati, kenapa? Patah hati? Jangan putus asa, jangan kuatir, orang setua lohu saja masih mampu mencari tiga bini empat gundik, apalagi pemuda tampan macam kau! Kalau ada nona yang tidak mau denganmu berarti dia buta matanya, lohu janji pasti akan kucarikan nona yang kecantikannya sepuluh kali lipat lebih hebat dari dia"
"Kakek, kau keliru"
Sambil tertawa getir Thiat Tiong-tong menggeleng.
"cayhe...."
"Haah, tebakanku salah?"
Tukas Bi lek Hwee dengan kening berkerut.
"baik, biar lohu tebak sekali lagi, bila bukan urusan patah hati, jangan jangan.... kau ada kesulitan soal ekonomi?"
Sambil menepuk bahu pemuda itu katanya lagi sambil tertawa.
"Jangan kuatir, jangan kuatir, kalau hanya persoalan ini, kau lebih tidak perlu kuatir lagi, anak muda suka foya-foya itu lumrah, apa artinya kehabisan duit?"
Sambil menuding ke arah Hay Tay-sau tambahnya lagi.
"Coba kau perhatikan tampangnya, dia itu duit kontan, berapa pun yang kau inginkan, asal bicara dengannya maka uang segera akan datang"
"Hahahaha.... hebat betul kau ini"
Teriak Hay Tay-sau sambil tertawa.
"rupanya kau memang sangat dermawan"
"Hmm, kalau kau tidak mau beri juga tidak apa-apa, lohu juga punya"
Potong Bi lek Hwee gusar.
"Lotiang...."
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang seraya menggeleng.
"Jadi bukan?"
Tanya Bi lek Hwee melongo, lama setelah termenung ia baru berteriak.
"Aaah, ditinjau dari potongan tubuhmu yang lemah lembut seperti pelajar, kau pasti sudah dibuat jengkel orang lain, jangan takut, jangan takut, katakan saja siapa orang itu, biar lohu hajar dia!"
"Lotiang keliru besar, cayhe cuma terpeleset lantaran kelewat mabuk"
"Hahahaha.... bagus, bagus sekali, terpeleset lantaran mabuk? Hay loheng, sudah kau dengar? Ternyata anak muda ini tidak beda jauh dengan kita, sama-sama setan arak"
"Kalau begitu kita mesti ajak dia minum sampai sepuasnya"
Seru Hay Tay-sau sambil tertawa pula. Buru-buru Thiat Tiong-tong meronta untuk bangun, kembali teriaknya.
"Lotiang, terus terang aku mengakui, sebetulnya aku adalah seorang manusia rendah yang tidak tahu malu, secara diam-diam aku telah mencintai ibu guruku sendiri, itulah sebabnya aku jadi mabuk berat"
Kemudian sambil sengaja menundukkan kepalanya rendah dia melanjutkan.
"Sebenarnya aku tidak pingin menceritakan persoalan ini, tapi lantaran sikap lotiang yang membuatku terharu, maka dengan tebalkan muka terpaksa aku harus mengakuinya"
Untuk sesaat Bi lek Hwee berkerut kening, tapi sebentar kemudian dia sudah menyahut sambil tertawa.
"Tidak perlu kuatir, tidak perlu kuatir, bisa dimaklumi kalau anak muda gampang melakukan kekhilafan, apalagi kaupun berani mengakui kesalahanmu, orang yang berani mengaku salah, dialah yang pantas disebut seorang lelaki sejati"
Thiat Tiong-tong tertegun.
"Soal ini.... soal ini..."
Sikap Bi lek Hwee semakin baik kepadanya, dia merasa semakin sedih, diam-diam pikirnya.
"Lebih baik aku sengaja mengakui sebagai orang yang amat jahat agar dia benci dan marah kepadaku, dalam gusarnya bisa jadi dia akan memakiku atau bahkan menendangku ke dalam sungai, kalau sampai begitu, keadaan malah lebih mendingan"
Siapa tahu apa pun yang dia katakan selalu dijawab Bi lek Hwee dengan jawaban "tidak usah takut, tidak usah takut", dia seolah sama sekali tidak menganggap perbuatannya sebagai hal yang amat buruk.
Sikap semacam ini tentu saja membuat Thiat Tiong-tong makin tertegun hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Hay Tay-sau hanya mengawasi semua tingkah laku Bi lek Hwee dengan senyuman dikulum.
"Hey tua bangka, apa yang kau tertawakan?"
Tegur Bi lek Hwee segera sambil mendongakkan kepalanya.
"Hahahaha.... Aku sedang mentertawakan dirimu, padahal dihari biasa kau selalu berangasan dan tinggi emosinya, kemana larinya keberangasanmu itu?"
Mendadak terdengar Thiat Tiong-tong berteriak gusar.
"Aku sudah mengakui semua perbuatanku yang rendah dan tidak tahu malu, tapi kau selalu menyuruhku tidak usah takut, Hmmm! Hal ini membuktikan kalau kaupun bukan manusia baik-baik!"
Anak muda ini betul betul kehabisan akal sehingga mau tidak mau terpaksa harus berlagak gusar, asal Bi lek Hwee sampai bangkit emosinya, mulai memakinya atau malah menghajarnya, maka dia akan menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sana.
Siapa tahu bukannya marah sebaliknya Bi lek Hwee malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha,.... anak baik, pada hakekatnya watakmu tidak jauh berbeda dengan watakku!"
Kemudian setelah menepuk bahu anak muda itu, ujarnya lagi sambil tertawa.
"Setelah mendengar perkataanmu itu, bukan saja lohu tidak akan marah, malah aku berpendapat apa benar kau telah melakukan perbuatan seperti itu, seandainya benar, aku yakin kau pasti punya alasan untuk dimaafkan"
Kontan Thiat Tiong-tong merasakan darah panas ditubuhnya bergelora keras, dengan sedih ia menundukkan kepalanya.
"Lotiang, kenapa kau begitu.... begitu baik kepadaku...."
Keluhnya.
Perasaan hati yang gejolak keras membuat suaranya sedikit agak sesenggukan.
Perlu diketahui, walaupun Bi lek Hwee telah selamatkan nyawanya namun dia sama sekali tidak merasa perlu berterima kasih, sebab dia tahu Bi lek Hwee bukan berniat menyelamatkan jiwanya.
Hingga Bi lek Hwee menunjukkan sikap yang begitu menaruh perhatian, dia baru betul-betul merasa terharu.
Tapi yang membuat dia benar benar merasa terharu adalah begitu percayanya Bi lek Hwee terhadap dirinya, sekalipun dia sudah mengakui telah melakukan perbuatan jahat, namun Bi lek Hwee tetap percaya kepadanya, malah berkata bahwa pasti ada alasan untuk memberi maaf kepadanya.
Sekalipun perasaan hatinya lebih keras dari baja pun tidak urung dia merasa terharu juga dibuatnya.
....
Perlu diketahui, sikap dan perhatian yang diberikan seseorang secara wajar, rasa percaya serta pengertian yang diberikan seseorang tanpa paksaan, sejak dulu memang paling gampang meluluhkan perasaan seorang lelaki sejati.
Bi lek Hwee sendiripun ikut tertegun berapa saat, akhirnya sambil mengelus jenggot sendiri yang memutih, dia berkata sambil tertawa.
"Kejadian ini memang agak aneh, lohu sendiripun tidak mengerti kenapa bisa bersikap macam begitu kepadamu"
Thiat Tiong-tong benar-benar merasakan hatinya terharu, sambil pejamkan mata dia berpikir.
"Walaupun Perkampungan keluarga Seng, Benteng Han hong po maupun Bi lek tong mempunyai dendam kesumat denganku, tapi sulit bagiku untuk melupakan budi kebaikan Seng Cun-hau yang telah menolongku, akupun tidak bisa melupakan cinta kasih dua bersaudara Leng yang begitu baik dan cinta kepada kami bersaudara.... Dan sekarang, apa mau dikata lagi lagi aku harus berhutang budi pertolongan dari Bi lek Hwee...."
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong terjebak dalam pemikiran yang kalut, sekarang dia telah disodorkan pada pilihan yang sulit, antara budi dan dendam, mana yang harus dia pilih? "Ooh Thian...."
Keluhnya didalam hati.
"apa yang harus Thiat Tiong-tong lakukan sekarang"
Mendadak terdengar Hay Tay-sau berseru sambil tertawa tergelak.
"Hahahaha.... bukan cuma kau yang heran, aku sendiripun merasa keheranan.
"Hey, apa yang sedang kau katakan?"
Tegur Bi lek Hwee.
"masa bicarapun tidak ada ujung pangkalnya, bikin aku jadi bingung"
"Bukankah kau tidak tahu apa sebabnya sikapmu begitu baik kepadanya? Aku tahu jawabannya"
"Hahahahaha.... bagus, bagus sekali, jika jawabanmu benar, lohu pasti akan mentraktirmu.... Paling tidak aku akan mengundangmu minum tiga ratus cawan arak"
"Ini disebabkan kau si tua bangka tidak pernah punya anak, baru saja mendapat seorang murid dengan susah payah, eeeh.. malah kabur dibohongi orang!"
Kemudian sambil menepuk bahu Thiat Tiong-tong, lanjutnya.
"Sementara selembar nyawa pemuda ini berhasil kau selamatkan dengan tanganmu sendiri, orang bilang. bila seseorang telah diselamatkan jiwanya, hubungan batin itu pasti melebihi hubungan orang tua. Biarpun kau tidak tahu bagaimana jalan pikiran orang, tapi kau si tua bangka secara diam-diam telah menganggap dia sebagai anak yang kau ciptaan"
"Anak yang aku ciptakan?"
Bi lek Hwee berkerut kening.
"ucapanmu benar-benar tidak enak didengar, dapatkah kau gunakan perkataan yang lebih halus?"
Sekalipun begitu, tak urung dia tertawa juga dengan nyaring, tertawa gembira!
"Hahahaha....
betul, perkataanku memang kasar dan tidak enak didengar, tapi bukankah sangat tepat?
Kalau seorang kakek yang sudah enam puluh tahunan tiba-tiba bisa punya anak, tentu saja dia akan merasa gembira sekali"
Meskipun Bi lek Hwee ingin mengumpat, namun gelak tertawa gembiranya membuat dia tidak sanggup berbicara lagi.
Thiat Tiong-tong sendiripun dibuat menangis tidak bisa tertawa pun tidak dapat, dia hanya bisa membungkam dalam seribu bahasa.
Kembali Hay Tay-sau berkata sambil tertawa.
"Kalau memang begitu, aku rasa lebih baik kau benar-benar menerimanya sebagai anak angkatmu saja, agar aku pun bisa ikut menikmati arak kegembiraan"
"Aaah kau si tua bangka, kecuali minum arak apa lagi yang bisa kau pikirkan?"
"Biarpun dimulut kau masih memakiku, padahal dalam hati kecilmu merasa sangat berterima kasih bukan?"
"Hahahaha.... betul, betul sekali, lohu memang sangat berterima kasih kepadamu"
Thiat Tiong-tong yang mendengarkan pembicaraan tersebut hanya bisa berkeluh didalam hati. Tiba-tiba Hay Tay-sau menepuk bahunya keras keras, kemudian serunya sambil tertawa tergelak.
"Kalau dia benar benar menganggapmu sebagai ayah, maka aku si tua bangka lah yang bakal dirugikan, kulihat dia masih muda, berbakat bagus dan merupakan bahan yang baik untuk dilatih ilmu silat, hey tua bangka, kenapa kau tidak mengangkatnya jadi muridmu saja?"
"Maaf, aku tidak bisa mengangkatnya menjadi guruku"
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong berseru. Bi lek Hwee segera menarik kembali senyumannya, dengan wajah berubah serunya.
"Kenapa?"
Paras muka Hay Tay-sau ikut berubah, teriaknya pula.
"Masa kau tidak tahu kalau nama besar Bi lek tong sudah amat termashur dalam dunia persilatan?"
"Tentu saja aku tahu"
"Kalau sudah tahu kenapa menolak? Jangan-jangan...."
"Yaa, jangan-jangan kau merasa malu dengan nama Bi lek tong ku itu?"
Tukas Bi lek Hwee dengan wajah agak gusar.
"Aku sama sekali tidak punya pikiran begitu"
Sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa getir.
"hanya saja.... hanya saja...."
"Hanya saja kenapa? Lohu pingin tahu penjelasanmu"
Satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, tiba-tiba dia terawa nyaring.
"Hahahaha.... cayhe merasa cocok sekali dengan kalian berdua, sebetulnya aku pingin menjadi sobat minum arak, jika sekarang aku mesti menjadi muridnya, berarti tingkatanku akan satu tingkat lebih rendah, bukan saja gerak gerikku terbatas, bagaimana mungkin aku bisa menantang kalian berdua untuk minum sampai mabuk"
Hay Tay-sau tertegun sesaat kemudian diapun tertawa tergelak.
"Betul, betul sekali!"
"Yaa, masuk diakal, sangat masuk diakal"
Teriak Bi lek Hwee pula dengan wajah berseri.
"seandainya lohu jadi kau, akupun tidak bakalan sudi menurunkan derajat sendiri dari seorang teman menjadi murid orang lain"
"Kalau begitu biar kau gagal mendapat seorang murid tapi justru mendapat seorang teman minum, bagus, bagus sekali...."
Seru Hay Tay-sau lagi.
Sementara gelak tertawa masih bergema, perahu telah merapat ditepian daratan.
Daratan itu bukan dermaga juga bukan kota, melainkan sebuah tempat yang sepi dan terpencil.
Dengan kening berkerut Bi lek Hwee segera berteriak kepada si tukang perahu itu.
"Lohu sedang buru-buru ingin minum arak, kenapa kau malah menepi disini?"
Tampaknya si tukang perahu itupun seorang anggota kangouw kawakan, mendengar pertanyaan itu dia segera tertawa, sahutnya.
"Arus sungai di depan sana amat deras, penumpang disampan ku juga kelewat banyak, kalau sampai sampan ini terbalik di depan situ, bukankah kalian akan gagal minum arak? Jadi lebih baik menepi disini saja, sekalipun lebih lambat tapi paling tidak masih ada kesempatan untuk menikmati arak"
"Aaai, pandai amat kau bersilat lidah, tahu kalau mulutmu tajam, lotoa tidak perlu menyewa perahu mu dengan ongkos lipat ganda"
"Hahahaha.... Siapa yang tidak kenal dengan aku si tukang perahu kilat Thio Sam dari sungai Huangho? Kalau kalian tidak menyewa perahuku, siapa lagi yang mampu membawa kalian melalui arus deras itu!"
Bi lek Hwee melotot besar, sampai lama sekali dia mengawasi tukang perahu itu, tiba-tiba kembali dia tertawa keras.
"Bagus, bagus sekali, anak muda, kau memang hebat, sekalipun sedikit agak jumawa tapi lohu tidak bakal marah"
"Kalau aku tidak punya kemampuan, masa berani sombong di depanmu"
Sahut si tukang perahu Thio Sam cepat.
"Kalau tidak mampu masih berani sombong, lotoa pasti sudah menendangmu sampai tercebur ke sungai"
Seru Bi lek Hwee sambil melompat naik ke daratan.
"Thio Sam"
Seru Hay Tay-sau pula sambil tertawa.
"sekalipun kau sedikit jumawa namun aku merasa cocok denganmu, cepatlah pergi membawa sedikit uang perak ini untuk minum arak, kalau dikemudian hari menjumpai kesulitan, datanglah mencari aku"
Meskipun dia mengatakan "sedikit uang perak", namun yang dilemparkan justru sekeping uang emas yang cukup besar.
"Traaang!"
Uang emas itu jatuh diatas geladak perahu, namun si tukang perahu Thio Sam sama sekali tidak meliriknya, malahan kepada Thiat Tiong-tong katanya sambil tertawa.
"Mereka senang kepadaku, akupun senang kepadamu, bila dikemudian hari kau ada urusan di seputar sungai Huangho, datanglah mencari aku si tukang perahu Thio Sam"
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong tidak tahu harus bicara apa, dengan perasaan berterima kasih dia segera menjura sambil melompat naik ke daratan.
Diiringi suara bentakan, si tukang perahu Thio Sam telah mendayung sampannya menjauh dari situ.
Waktu itu Hay Tay-sau sedang berdebat dengan Bi lek Hwee soal arah yang akan ditempuh untuk mencari kedai arak, tapi tempat diseputar sana amat sepi dan terpencil, jangan lagi kedai arak, bayangan manusia pun tidak kelihatan.
"Tahu begini...."
Keluh Hay Tay-sau dengan kening berkerut.
Belum selesai dia bicara, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang.
Seorang pemuda tampan dengan menunggang seekor kuda jempolan terlihat bergerak lebih duluan dipaling depan diikuti rekan-rekan lainnya di belakang.
Ketika tiba ditepi sungai, lamat-lamat terdengar seseorang bergumam keheranan.
"Aneh sekali, kenapa perahu besar itu bisa lenyap secara tiba-tiba?"
"Losam"
Kedengaran seorang yang lain berkata.
"kau tidak perlu gelisah, jangan-jangan masih berada di depan sana"
Ternyata rombongan manusia berkuda itu tidak lain adalah rombongan dari Ouyang bersaudara. Dengan kening berkerut Hay Tay-sau segera menegur.
"Hey anak muda, mau ke mana kalian?"
Begitu menjumpai Hay Tay-sau, paras muka Ouyang hengte pun berubah hebat, buru-buru mereka menjura lalu bukannya turun dari kuda, rombongan itu malah mempercepat lari kudanya untuk kabur lewat sisi mereka.
"Siapa sih rombongan anak muda itu? Begitu tidak tahu diri!"
Umpat Bi lek Hwee gusar. Hay Tay-sau menghela napas panjang.
"Aaaai.... ! Siapa lagi kalau bukan Ouyang hengte yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, hidup gembira dikota tidak mau malahan mencari penyakit dengan mengusik sarang lebah, untung perahu mereka sudah tenggelam, kalau tidak.... entah maksiat apa lagi yang bakal mereka perbuat, aaai.... memandang diatas wajah orang tuanya, lebih baik kita tidak usah mencampuri urusan mereka"
"Dasar kawanan lelaki hidung bangor"
Umpat Bi lek Hwee.
"mentang mentang dari keluarga kaya, lantas mau berhura-hura semau sendiri, huuuh, kalau aku jadi lotoa, ogah mencampuri urusan tetek bengek macam begitu"
Hay Tay-sau kembali menghela napas panjang.
"Aaai, sebenarnya keluarga Ouyang adalah sebuah keluarga persilatan kenamaan, dalam perkampungan merekapun penuh dengan orang cantik, aku betul-betul tidak habis mengerti, kenapa mereka justru lebih suka mengusik sarang lebah liar di tempat ini?"
"Hahahaha.... Hay lote seperti tidak mengerti saja, orang selalu bilang bunga di kebun tetangga selalu lebih indah daripada bunga dikebun sendiri, karena sudah terbiasa dengan kawanan gadis lemah lembut, tentu saja mereka akan menganggap kurang terangsang, jadi tidak heran kalau pingin berganti selera dengan memburu bunga liar"
"Waah, tidak kusangka pengalamanmu sungguh hebat"
"Berapa banyak lelaki sih di dunia persilatan yang jarang bermain perempuan macam dirimu?"
Sambil tertawa tergelak dia segera berlalu dari situ.
Tanpa erasa mereka bertiga berjalan menuju ke arah mana rombongan kuda tadi berasal.
Walaupun mereka beralasan ingin secepatnya menemukan kedai untuk minum arak, padahal mereka berjalan amat santai, semuanya berjalan dengan langkah lebar dan sama sekali tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasa inilah kesempatan baginya untuk melarikan diri, namun dia merasa tidak tega untuk berbuat begitu hingga selama inipun hanya mengintil saja.
Entah berapa saat sudah lewat, mendadak terdengar suara desingan angin tajam bergema membelah angkasa.
Tiga batang anak panah dengan membawa keliningan emas melesat diudara menyambar ke depan Hay Tay-sau.
Melihat anak panah itu Hay Tay-sau kontan saja mengumpat.
"Dasar begal tidak tahu diri, berani amat mengincar yaya mu!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, terlihat dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi. Sambil tertawa Hay Tay-sau berkata.
"Kalian berdua tidak usah panik, biar aku mencari kesenangan dulu dari orang itu"
Ke dua orang itu membawa golok besar dengan wajah ditutup kain hitam, pakaian yang dikenakan mewah dan indah. Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir keheranan.
"Orang bilang kawanan begal disepanjang pesisir Huangho miskin dan hidup susah, kenapa dua orang lelaki ini justru mengenakan pakaian yang begitu indah dan mewah?"
Baru berpikir sampai disitu, kedua orang lelaki berpakaian indah tadi sudah melintangkan goloknya sambil menghadang jalan pergi mereka bertiga. Lelaki yang berada disebelah kiri segera berseru.
"Bila kalian bertiga sedang melakukan perjalanan, silahkan mengambil jalan berputar!"
Hay Tay-sau segera maju menyongsong, dengan lagak gugup bercampur ketakutan serunya.
"Lohan-ya, kami tidak membawa uang.... kami tidak membawa uang"
"Siapa yang mau membegal uang kalian?"
Sahut lelaki itu sambil tertawa.
"ayoh cepat pergi!"
"Kalau tidak mau duit, lantas mau apa datang kemari?"
Tanya Hay Tay-sau keheranan.
"Memangnya kau sudah tuli? Kami hanya minta kalian mengambil jalan berputar, asal tidak melalui jalanan ini maka tidak ada urusan lagi"
"Waah, kelihatannya dia tidak jadi senang"
Bisik Bi lek Hwee kepada Thiat Tiong-tong. Anak muda itu tertawa lebar. Sementara itu Hay Tay-sau sambil garuk garuk kepala telah berkata lagi.
"Terus terang.... sebetulnya aku membawa banyak uang"
"Mau punya uang banyak atau tidak bukan urusan kami, cepat pergi bersama uangmu itu"
"Aku bukan saja punya uang bahkan banyak sekali jumlahnya, bila hohan berdua ingin, ambil saja dan gunakan semaumu"
Iming-iming ini kontan saja membuat lelaki berbaju perlente itu tertegun, tanpa sadar dia awasi lawannya dengan mata mendelik, pikirnya.
"Jangan-jangan orang ini sudah edan?"
Lelaki yang berada disamping kanannya tidak tahan untuk gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Manusia macam begini memang langka dan jarang dijumpai, orang tidak berniat merampok, dia malah sodorkan duitnya...."
Belum selesai dia bergumam, Hay Tay-sau sudah merogoh sakunya dan mengeluarkan segempok kertas, ternyata semuanya uang kertas dalam nominal besar.
Sambil diperlihatkan kepada dua orang lelaki itu, terdengar Hay Tay-sau berkata lagi.
"Jika kalian berdua mau, ambil saja uang ini, cayhe tidak bakal berani melawan"
Lelaki yang ada disebelah kanan menarik napas panjang, katanya kemudian.
"Sun loji, kalau toh orang ini paksa kita untuk membegal, rasanya kurang enak untuk menampik keinginannya"
"Tapi...."
Sun loji yang berdiri disisi kiri agak sangsi.
"tapi loya telah berpesan...."
"Aaah, toh dia sendiri yang menghantar diri, kalau tidak diambil rasanya kurang sopan, asal kita tidak membegal rasanya loya juga tidak bakalan marah kepada kita berdua!"
Sembari berkata dia segera menyambar tumpukan uang kertas itu. Mendadak Hay Tay-sau membentak keras, sambil menyimpan kembali duitnya dia berteriak.
"Bajingan cilik, ternyata kalian memang begal, ingin merampok duit toaya mu? Dasar bajingan bermata buta"
Kembali lelaki berbaju perlente itu tertegun, kemudin bentaknya penuh amarah.
"Semula kukira kau hanya orang sinting yang tidak waras otaknya, ternyata memang sengaja hendak mencari gara-gara"
"Hahahaha.... Benar, aku memang berniat menghancurkan mangkuk dan kuali kalian!"
Diiringi gelak tertawa keras, Hay Tay-sau mementangkan ke lima jari tangannya lebar-lebar, diiringi desingan angin tajam dia langsung mencengkeram dada lelaki itu.
Tidak terlukiskan rasa gusar dan kaget lelaki perlente itu, buru-buru dia melancarkan pukulan disertai tendangan.
Menghadapi jago kampungan semacam ini, tentu saja Hay Tay-sau tidak pandang sebelah mata pun, bentaknya.
"Roboh kau!"
Begitu tangannya memotong, lelaki itu segera roboh terjungkal diiringi jerit kesakitan.
Sun Loji yang menyaksikan betapa hebatnya kepandaian silat yang dimiliki Hay Tay-sau tentu saja semakin tidak berani berkutik, diam-diam dia membalikkan tubuh kemudian kabur terbirit-birit.
Sesudah lari berapa jauh dia baru berani mengumpat.
"Bangsat, tunggu saja pembalasan dari kami!"
Siapa tahu baru selesai dia bicara, tahu-tahu tengkuknya sudah dicengkeram Hay Tay-sau sambil mengumpat.
"Bajingan cilik, kau berani mengumpat orang!"
Dengan cepat dia mengambil segenggam Lumpur kemudian di jejalkan ke dalam mulutnya.
Sun loji tidak mampu berkutik, Lumpur itu membuatnya ingin muntah tapi sayang tidak ada yang bisa ditumpahkan keluar.
"Aaah, permainanmu macam kampungan!"
Olok Bi lek Hwee sambil gelengkan kepalanya.
"Memangnya kau anggap aku beneran sedang mempermainkan mereka?"
"Kalau bukan lagi mempermainkan orang, buat apa mesti iming-imingi mereka dengan uangmu?"
"Keliru, keliru besar"
Ujar Hay Tay-saU serius.
"mereka sengaja memaksa kita untuk berputar lewat jalan lain, tahukah kau karena apa? Masa tidak bisa kau tebak?"
Bi lek Hwee termenung sambil berpikir berapa saat, seakan baru sadar apa yang terjadi, serunya sambil bertepuk tangan.
"Aaah betul, sudah pasti konco-konconya sedang melakukan kejahatan di depan sana, maka mereka tidak ingin ada orang luar yang mengganggu pekerjaan itu"
Hay Tay-sau tersenyum.
"Kedua orang ini enggan merampok duitku karena atasannya sudah memberi perintah agar mereka tidak membegal yang kecil hingga menggagalkan sasaran yang lebih besar"
"Betul, betul, hahahaha.... kalau sampai gara-gara urusan kecil, masalah besar jadi berantakan, itu namanya begal bloon!"
"Kawanan begal ini bukan saja tidak goblok bahkan mempunyai peraturan yang ketat, jelas kelompok mereka merupakan sebuah organisasi yang ketat, pentolannya pun tentu orang kenamaan"
"Waah, tidak kusangka kau yang nampaknya goblok ternyata memiliki otak yang jernih, kalau memang begitu, kenapa kita tidak langsung ke situ untuk menengok keadan yang sesungguhnya?"
Hay Tay-sau segera melepaskan ikat pinggang Sun Loji dan dipakai untuk mengikat tubuh ke dua orang itu kuat-kuat, katanya kemudian sambil tertawa.
"Mengingat kalian masih sempat bersikap hormat, kuampuni jiwa kalian kali ini"
Tampaknya Bi lek Hwee sudah tidak sabar untuk menanti, dia sudah menarik tangan Thiat Tiong-tong unuk bergerak duluan.
Waktu itu langit sudah mulai remang-remang, senja kembali menjelang tiba.
Ditengah angin yang berhembus kencang, tiba-liba hujan mulai turun semakin deras, ditengah hujan angin inilah mereka bertiga melanjutkan perjalanannya.
"Aaah benar!"
Mendadak Thiat Tiong-tong berseru.
"Apanya yang benar?"
Tidak tahan Hay Tay-sau bertanya.
"Ouyang hengte berpakaian perlente dan menunggang kuda jempolan, rombongan semacam ini paling mencolok mata bila melewati daerah pinggiran yang miskin, jika aku pingin membegal, merekalah yang pertama kali kucegat!"
Hay Tay-sau melongo sejenak, kemudian teriaknya.
"Aah betul juga omonganmu...."
Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia segera melesat maju ke depan.
"Hey anak muda, kau sanggup menyusul lohu?"
Tanya Bi lek Hwee seraya berpaling. Dalam hati Thiat Tiong-tong tertawa geli, dia tahu orang tua inipun ingin cepat melihat keramaian, maka sahutnya.
"Ilmu meringankan tubuhku tidak bagus, mana mungkin bisa menyusulmu?"
Belum selesai dia bicara, Bi lek Hwee sudah cengkeram bahunya dan menyeret anak muda itu untuk bergerak cepat ke depan.
Kelihatannya Hay Tay-sau sangat menguatirkan keselamatan Ouyang bersaudara, dia bergerak cepat bagaikan terbang, betul saja, tidak lama kemudian sudah terlihat cahaya golok bayangan pedang segera berkelebatan ditengah hujan angin.
Dia tahu keturunan keluarga kenamaan ini hanya kerjanya main perempuan, minum arak dan berfoya-foya, dapat dipastikan ilmu silat mereka sangat cetek.
Sekalipun pedang yang digembol adalah pedang kenamaan, namun ilmu pedangnya pasti tidak seberapa hebat, dengan kemampuan semacam itu tentu saja mereka tidak akan mampu menghadapi kawanan jago dari kalangan Liok-lim yang setiap hari kerjanya memang bergelimpangan diujung senjata.
Saking cemas dan gelisahnya, belum lagi tubuhnya tiba ditempat tujuan, dia sudah membentak nyaring.
"Thian sat seng berada disini, siapa yang masih berani bertarung dihadapanku!"
Ditengah jeritan kaget dan teriakan tertahan, suara beradunya senjata seketika terhenti.
Dengan sepasang tangan melindungi dada, Hay Tay-sau meluncur di tengah udara dan menerobos masuk ke tengah kerumunan orang banyak.
Seperti apa yang diduga Thiat Tiong-tong, ternyata orang yang sedang dikepung oleh puluhan lelaki berkerudung dengan senjata lengkap itu tidak lain adalah Ouyang bersaudara.
Kini kuda kuda jempolan mereka sudah dituntun orang lain, pakaian perlente mereka pun sudah kotor oleh keringat dan Lumpur, sekalipun dalam genggaman masih memegang pedang yang tajam dan indah, namun mereka semua sudah terengah-engah macam orang kehabisan napas, wajah mereka pucat pias dan keadaannya sangat mengenaskan.
Sebaliknya puluhan lelaki berkerudung yang mengepung mereka justru kelihatan gesit dan cekatan, dari gerak gerik yang masih begitu bersemangat dapat diketahui bahwa siapa menang siapa kalah sesungguhnya sudah tertera di depan mata.
Ouyang bersaudara kelihatan sangat kegirangan begitu melihat kemunculan Hay Tay-sau, sorak mereka berbareng.
"Aaah, rupanya paman Hay telah datang! Hmm, bajingan kaum laknat, akan kulihat apakah kalian masih bisa berbangga diri?"
Belum selesai teriakan itu, tiba-tiba Hay Tay-sau sudah mengayunkan tangannya menampar wajah pemuda yang berada di paling depan, umpatnya penuh amarah.
"Kurang ajar, baru sekarang kalian mau mengakui paman Hay? Memangnya tadi kalian sudah buta semua?"
"Tadi.... tadi...."
Ouyang bersaudara tergagap tidak mampu melanjutkan katanya.
"Dasar budak yang tidak becus"
Umpat Hay Tay-sau semakin gusar.
"sudah tahu tidak punya kemampuan, masih berani mencari keonaran diluaran, hmmm! Aku pun ikut dibuat malu oleh tingkah laku kalian!"
Ouyang bersaudara hanya tundukkan kepalanya rendah-rendah, dalam keadaan begini tentu saja mereka semakin tidak berani banyak bicara.
Kembali Hay Tay-sau membalikkan tubuhnya, kepada kawanan lelaki berkerudung itu bentaknya.
"Sekarang aku sudah datang, kenapa kalian masih berdiri melongo disitu? Sana, pergi, pergi, pergi!"
Kawanan lelaki berkerudung itu masih berdiri tidak bergerak.
"Kenapa belum pergi?"
Bentak Hay Tay-sau lagi gusar.
"memangnya mau menunggu sampai aku turun tangan sendiri?"
Baru saja dia merentangkan sepasang lengannya, mendadak terdengar seseorang berkata dengan nada dingin.
"Mereka tidak mungkin berani pergi!"
Suaranya halus dan lembut, jelas suara seorang wanita, tapi sayang nadanya begitu dingin dan hambar, sama sekali tidak berperasaan.
Begitu bertemu dengan wanita tersebut, kawanan lelaki berkerudung itu serentak meluruskan tangannya ke bawah sambil membungkukkan tubuh.
Dalam pada itu Ouyang bersaudara telah menuding kantung kain yang berada ditangan perempuan itu sambil berteriak.
"Paman Hay, kantung yang berada ditangan perempuan itu adalah perhiasan milik siautit"
"Minggir kalian semua, jangan banyak bicara lagi"
Tukas Hay Tay-sau sambil membentak marah. Sementara itu gadis berbaju hijau itu sudah meletakkan kantungan kain tadi ke tanah, katanya perlahan.
"Benar, isi kantung ini adalah perhiasan mahal, apakah kalian akan mengambilnya kembali?"
"Mungkin mereka tidak mampu untuk memintanya balik, sayang masih ada orang lain yang akan memintanya"
Jengek Hay Tay-sau.
"Menurut pendapatku, toh barang perhiasan ini hendak disum-bangkan orang lain, kenapa mesti bersusah payah untuk memintanya balik?"
Seorang anggota Ouyang segera tampil dari belakang Hay Tay-sau seraya berteriak.
"Biarpun akan diberikan orang lain, bukan berarti akan di berikan kepadamu...."
Baru berapa patah kata dia berbicara.
"Ploookk!"
Kembali Hay Tay-sau sudah menghadiahkan sebuah tempelengan ke atas wajahnya. Dalam pada itu Bi lek Hwee dan Thiat Tiong-tong sudah menyusul tiba, masih berada dikejauhan orang tua itu sudah berteriak.
"Saudara Hay, kalau ingin berkelahi, silahkan saja berkelahi, masih ada lohu disini"
Dengan sepasang matanya yang jeli nona berbaju hijau itu menatap wajah Thiat Tiong-tong berapa kejap, anak muda itu segera merasakan betapa dingin dan bergidiknya sorot mata orang.
Hay Tay-sau tertawa keras.
"Hahahaha.... betul, semestinya barang perhiasan itu hendak mereka persembahkan kepada kawanan lebah itu, mereka memang tidak pantas memintanya balik"
"Kalau begitu biar aku mewakili para saudara yang lain mengucapkan terima kasih kepadamu"
Sela si nona berbaju hijau itu cepat. Tiba-tiba Hay Tay-sau menghentikan gelak tertawanya, dengan suara yang keras ucapnya.
"Sekalipun mereka tidak berhak memintanya kembali, bukan berarti akan diberikan kepadamu, piauhok itu sudah bertukar nama menjadi milik marga Hay!"
"Benarkah begitu? Coba kau panggil, apakah dia akan menyahut?"
Hay Tay-sau tertawa keras, mendadak dia membungkukkan tubuh menghampiri buntalan itu, setelah menepuknya perlahan bisiknya.
"Anakku sayang, anakku sayang, apakah kau sudah mendengar ayah sedang memanggilmu?"
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan adegan itu diam-diam tertawa geli, pikirnya.
"Biarpun orang ini berangasan dan tinggi emosinya, ternyata dia memiliki hati yang polos, dalam melakukan perbuatan apapun tidak pernah lupa untuk bergurau"
Setelah berlagak seolah sedang mendengarkan jawaban, Hay Tay-sau kembali bangkit berdiri, katanya sambil tertawa.
"Ternyata dia sudah setuju, kalian semua ikut mendengar jawabannya?"
"Benar, aku mendengarnya, aku mendengarnya, malah mendengar dengan jelas sekali"
Sahut Bi lek Hwee sambil tertawa tergelak.
"Tentu saja mendengar dengan jelas"
Kata Hay Tay-sau lagi sambil tertawa.
"hanya orang tuli yang tidak mendengarnya"
Paras muka nona berbaju hijau itu tetap dingin dan hambar, setelah menatap lawannya sekejap, dia menyahut.
"Aku pun sudah mendengarnya dengan jelas, tapi dia bilang mau ikut aku saja, jadi percuma kau mengajaknya pergi, dia pasti akan menolak"
"Omong kosong...."
"Dia sudah menjawab dengan jelas, hanya orang goblok yang akan salah dengar"
"Berubah, berubah, ternyata dunia sudah berubah"
Umpat Bi lek Hwee sambil tertawa.
"ternyata perempuan persilatan jauh lebih lihay daripada kaum lelakinya"
"Kalau begitu kau ingin paksa aku untuk turun tangan?"
Tanya Hay Tay-sau marah. Nona berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Selama hidup aku tidak pernah sudi berkelahi dengan lelaki kotor!"
"Hahahaha.... aku pun tidak sudi berkelahi dengan kaum wanita"
Seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras, kepada kawanan lelaki berkerudung itu bentaknya lebih jauh.
"kalian ingin maju secara bergantian, atau maju bersama-sama?"
Kembali nona berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Sedikit banyak Thiat-sat-seng masih punya nama dalam dunia persilatan, buat apa bertarung melawan kawanan manusia tidak ternama? Hmm, biar menang pun masa kau tidak malu untuk membawa pergi piauhok tersebut!"
"Bocah perempuan ini aneh benar"
Tidak tahan Bi lek Hwee ikut menimbrung.
"dia sendiri segan turun tangan, diapun melarang orang orangnya berkelahi melawan saudara Hay...."
"Memangnya aku harus bertarung melawan diriku sendiri?"
Sela Hay Tay-sau cepat. Mendadak nona berbaju hijau itu menuding kearah depan sambil serunya.
"Itu dia, orang yang akan bertarung melawanmu telah datang!"
Mengikuti arah yang ditunjuk Hay Tay-sau berpaling, benar saja, terlihat ada dua orang lelaki tinggi besar bagaikan sebuah pagoda sedang berlarian mendekat.
Ke dua orang itupun mengenakan kain kerudung wajah, tapi pakaian dibagian dadanya dibiarkan terbuka lebar sehingga nampak dadanya yang kekar dengan bulu dada yang lebat.
Sekalipun tidak nampak jelas wajahnya, tapi gerak-gerik mereka amat mantap dan penuh semangat, dari balik wajah yang berkerudung tampak jenggotnya yang lebat.
Tampaknya mereka terdiri dari satu tua satu muda, senjata yang digunakan adalah sepasang gada berbentuk segi delapan.
Dari tempat kejauhan lelaki setengah umur itu sudah berteriak keras.
"Siapa yang berani mencari gara-gara disini!"
Hay Tay-sau memburu maju ke depan, setelah menengoknya sekejap tiba-tiba serunya sambil tertawa tergelak.
"Hahahaha.... ternyata memang seorang lelaki sejati, kau pantas untuk bertarung melawanku"
Lelaki setengah umur itupun bergerak mendekat, setelah memperhatikan lawannya beberapa kejap, sahutnya pula sambil tertawa.
"Hahahaha.... ternyata memang seorang lelaki sejati, tak heran berani mencari gara gara disini"
Sambil menggulung ujung bajunya kembali Hay Tay-sau tertawa keras, serunya.
"Sebelum bertarung melawan aku Thian-sat-seng, kuanjurkan lebih baik siapkan dulu obat-obatan dalam sakumu"
"Hahahahaha...."
Lelaki setengah umur itu tertawa nyaring.
"lama kudengar Thiat-sat-seng pandai mencuri dan membegal, kemampuannya cukup hebat, ingin tahu mampu tidak menghadapi senjata gadaku?"
Dalam pada itu si nona berbaju hijau itu sudah menarik sang pemuda tinggi besar itu sambil berbisik.
"Kenapa kalian berdua datang kemari? Apakah urusan disitu sudah dapat diatasi?"
"Keadaan disitu sudah terkendali, aku...."
Tiba-tiba terdengar lelaki setengah umur itu berteriak keras.
"Bang-ji, berikan gadamu kepada orang she-Hay itu!"
"Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong, kenapa mesti menggunakan gadamu!"
Seru Hay Tay-sau cepat.
"Hahahaha.... kita semua adalah lelaki tinggi besar, apa artinya bertarung dengan tangan kosong? Kalau ingin bertarung, ayoh kita adu gada, coba lihat sampai dimana kekuatanku!"
"Hahahaha.... Bagus, bagus sekali, akupun sudah lama tidak menjumpai musuh tangguh, tangaku juga gatal sekali, kemari, berikan gadamu!"
Pemuda berpakaian ketat itu melompat ke depan sambil membentak.
"Sambut gada ini!"
Dia segera melemparkan gada bersegi delapan miliknya ke arah Hay Tay-sau.
"Dicoba dulu, terlalu berat tidak benda itu?"
Seru lelaki setengah umur itu sambil tertawa. Hay Tay-sau menimang sejenak senjata gada itu, lalu sahutnya sambil tertawa.
"Tidak berat, tidak berat, malah terasa agak enteng!"
Kemudian sambil melepas kancing baju bagian dadanya, dia pun perlihatkan dada kekarnya yang berwarna hitam mengkilat.
Bi-lek Hwee yang berada disisi arena jadi ikutan menggosok kepalannya, dia seakan turut merasa gatal tangan.
"Anak-anak, menyingkir kalian!"
Bentak lelaki setengah umur itu kemudian.
Serentak kawanan lelaki berkerudung itu menyingkir ke samping dan memberikan sebuah tanah lapang yang cukup luas, Ouyang bersaudara ikutan juga mundur ke samping.
"Terimalah serangan pembukaanku ini!"
Bentak lelaki setengah umur itu kemudian.
Dalam waktu singkat lengannya seakan lebih besar satu kali lipat, sambil mengayunkan tangan, senjata gadanya langsung di hantamkan kearah kepala lawan dengan jurus bukit thay-san menindih kepala.
Hay Tay-sau membentak keras, dia sambut datangnya ancaman itu dengan senjata gadanya.
"Kraakk.... !"
Diiringi benturan yang menggelegar, tubuh kedua orang itu sama-sama mundur setengah langkah.
Kembali Hay Tay-sau menerobos maju ke muka, kali ini senjata gadanya menyapu miring ke samping.
Lelaki setengah umur itu cepat membalik senjatanya untuk menangkis.
"Blaaaamm!"
Sekali lagi terjadi benturan keras yang menukikkan telinga, sedemikian kerasnya hingga tubuh kawanan lelaki berpakaian ringkas yang berada diseputar situ ikut bergetar keras.
Tidak terkecuali Ouyang bersaudara, mereka berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan wajah pucat pias.
"Bocah busuk, hebat juga kau"
Teriak Hay Tay-sau sambil tergelak.
"nih, rasain kembali berapa pukulan gadaku!"
Tubuhnya bergerak cepat, senjata gadanya bagaikan hembusan puyuh curahan hujan badai langsung menghimpit tubuh lawan.
Kini sepasang kaki lelaki setengah umur itu sudah melesak ke dalam Lumpur, sambil busungkan dada dia sambut datangnya serangan itu dengan gagah berani.
"Traaang, traaaang, traaang.... !"
Lima kali benturan keras menggelegar di angkasa, ternyata kedua orang itu sudah saling menghantam sebanyak lima kali.
Begitu dahsyat dan kerasnya suara benturan itu membuat salah satu anggota Ouyang hengte yang berdiri paling dekat merasakan sepasang lututnya jadi lemas, tiba-tiba....
"Bruuuk!"
Dia jatuh terduduk diatas Lumpur dan lupa untuk merangkak bangun kalau tidak cepat dibantu rekannya.
Paras muka Thiat Tiong-tong pun ikut berubah hebat, meskipun ilmu silat yang dimiliki lelaki setengah umur itu tidak terlampau hebat, namun kekuatan lengannya betul-betul mengagumkan.
Kini mereka berdua hanya saling menatap dengan mata melotot, sementara lengannya sama-sama terkulai lemas, tampaknya meski mereka rasakan lengannya linu dan kesemutan namun siapa pun enggan mundur setengah langkah pun.
Dengan napas tersengkal lelaki setengah umur itu tertawa tergelak, tantangnya.
"Hei orang she-Hay, bagaimana kalau kita beradu lagi?"
Walaupun gelak tertawanya masih nyaring, namun sudah jauh berkurang ketimbang tadi.
"Ayoh!"
Sahut Hay Tay-sau sambil membentak. Sekali lagi mereka berdua saling beradu gada.
"Cukup!"
Si nona berbaju hijau yang selama ini berdiri tanpa berkedip itu tiba-tiba membentak pelan.
"Cukup? Menang kalah pun belum ketahuan, kenapa mesti berhenti?"
Teriak Hay Tay-sau tidak puas. Kalau dia masih bisa bicara jelas, maka lelaki setengah umur itu sudah tersengkal-sengkal kehabisan tenaga. Nona berbaju hijau itu memandangnya sekejap, lalu ujarnya.
"Mengingat kau sanggup menghadapi delapan serangan gada pamanku, aku bersedia berikan kantung perhiasan ini untukmu!"
"Aku hanya pingin beradu kemampuan dengannya, tidak peroleh kantung perhiasan itupun tidak masalah"
Seru Hay Tay-sau gusar.
Lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya meneguk berapa tegukan air hujan, kini kain kerudung hitamnya sudah tersingkap hingga kelihatan separuh mukanya yang hitam pekat.
Sambil mengayunkan gadanya dia pun berteriak.
"Mari, mari mari, kita...."
"Kita beradu sepuluh gebrakan lagi!"
Sambung Hay Tay-sau sambil mengayunkan gadanya.
Untuk kesekian kalinya terjadi benturan keras yang memekikkan telinga, mendadak senjata gada kedua orang itu sama-sama rontok ke tanah.
Semua orang menjerit kaget, Hay Tay-sau sendiripun tertegun sesaat, tapi kemudian serunya sambil tertawa keras.
"Bagus, bagus, bagus, mengingat kehebatan senjata gadamu, aku sudah tidak mau kantung perhiasan itu lagi!"
"Kami juga tidak mau"
Teriak lelaki setengah umur itu keras. Ouyang bersaudara yang masih duduk diatas tanah segera menyambung sambil tertawa paksa.
"Jika kalian berdua tidak mau, lebih baik serahkan saja kepada kami"
Sambil berkata dia sudah merangkak bangun dan siap memungut kantung tersebut. Mendadak satu pukulan dari Bi lek Hwee membuatnya terjungkal kembali.
"Hay lote, kau jangan marah"
Terdengar Bi lek Hwee berkata.
"aku betul-betul mendongkol melihat tingkah pola cecunguk busuk ini!"
"Satu pukulan yang hebat, satu pukulan yang tepat"
Sahut Hay Tay-sau sambil tertawa.
"kalau berganti aku, pukulan tersebut pasti lebih berat lagi!"
Kemudian sambil membalikkan tubuh ujarnya lagi.
"Jika kau tidak mau, biar serahkan saja kepada saudara-saudaramu untuk minum arak"
Dengan mata melotot besar lelaki setengah umur itu mengawasinya berapa saat, akhirnya diapun ikut tertawa tergelak.
"Bagus!"
Sambil memberi tanda, teriaknya lagi.
"saudara saudara sekalian, cepat ucapkan terima kasih kepada Hay Tay-sau, kita segera pergi!"
"Tunggu dulu!"
Bentak Bi lek Hwee.
"Ada apa lagi?"
Tegur lelaki setengah umur itu.
"Lohu pun merasa tanganku mulai gatal!"
Ujar Bi lek Hwee sambil tertawa keras. Pemuda berpakaian ringkas itu segera melompat ke depan, sambil memungut senjata gada bajanya dari tanah, teriaknya lantang.
"Mari, mari, mari, biar siauya mengobati tangan gatalmu!"
Bi lek Hwee berpaling memandang kearah lelaki setengah umur itu, tegurnya sambil tertawa.
"Bocah ini anakmu atau muridmu? Tadi kau bertarung sendiri melawan Hay lote, masa sekarang kau suruh muridmu...."
Baru bicara sampai disitu tiba-tiba dia menghentikan perkataannya, dengan mata melotot besar dia awasi wajah lelaki setengah umur itu lekat lekat, kemudian perasaan kaget bercampur tercengang melintas diwajahnya, untuk sesaat dia berdiri tertegun.
"Kenapa kau?"
Tanya Hay Tay-sau keheranan. Sambil menuding lelaki setengah umur itu, Bi lek Hwee tertawa tergelak.
"Hahahaha.... lohu kenal kau, lohu kenal kau..."
Lelaki setengah umur itu bergetar keras, cepat dia menarik kain kerudung mukanya.
"Tidak usah ditutupi lagi"
Seru Bi lek Hwee sambil tertawa.
"terlambat, sudah terlambat...."
"Mungkin kau salah melihat orang"
"Kalau salah melihat, lohu bersedia mencongkel keluar sepasang biji mataku, bukankah kau adalah Bu lotoa yang bekerja sebagai pandai besi diluar Benteng Han hong po?"
Kemudian setelah tertawa tergelak, lanjutnya.
"Tidak heran tenagamu luar biasa besarnya, ternyata memang terlatih dari pekerjaan sehari harimu, tapi... sejak kapan kau berganti haluan? Lohu tidak tahu kalau sekarang kaupun jadi begal"
Merasa identitasnya telah terbongkar lelaki setengah umur itu jadi gugup dan gelagapan.
"Biarpun dulu seorang tukang besi dan sekarang berganti haluan, apa salahnya?"
Ujar nona berbaju hijau itu ketus.
"lagipula darimana kalian tahu kalau dulu menjadi tukang besi pun karena dipaksa ganti haluan oleh manusia macam kalian?"
Bi lek Hwee tertegun kemudian tertawa tergelak.
"Nona, tajam amat mulutmu...."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba terlihat dua orang lelaki berbaju hitam berlarian mendekat sambil menggotong tubuh seorang pemuda berpakaian ringkas.
Walaupun ditubuh pemuda itu tidak nampak noda darah, namun dia berada dalam keadaan tidak sadar, mukanya pucat bagai kertas, jelas sudah menderita luka parah.
Dengan wajah berubah lelaki setengah umur itu berseru.
"Bukankah tadi dia masih mampu melawan? Kenapa bisa berubah jadi begini?"
Lelaki berbaju hitam itu segera menyahut.
"Sepeninggal toaya tadi, sebetulnya hamba sekalian tidak sampai terdesak dibawah angin, siapa tahu lelaki terpelajar yang tampaknya lemah lembut itu ternyata seorang jago silat berilmu tinggi, begitu dia turun tangan, Sam sauya pun langsung terluka parah, terpaksa hamba menggotongnya kemari"
Saking gugup dan paniknya dia seakan lupa kalau disitu masih hadir orang luar, ternyata semua kejadian dituturkan secara gamblang.
Buru-buru nona berbaju hijau bersama lelaki setengah umur itu memeriksa keadaan luka yang diderita pemuda itu.
"Benar-benar berhati keji"
Umpat nona berbaju hijau itu kemudian dengan perasaan dendam.
"serangan yang amat ganas"
Diam-diam Hay Tay-sau menarik lengan Bi lek Hwee sambil bisiknya.
"Kita tidak punya ikatan dendam atau sakit hati dengan orang-orang itu, selagi mereka sedang menghadapi masalah, lebih baik kita tidak usah menyusahkan mereka lagi"
"Lohu memang tidak berniat menyusahkan mereka"
Kembali Hay Tay-sau berpaling ke arah Ouyang hengte sembari menghardik.
"Kenapa kalian masih berada disini?"
Dibentak dengan suara keras, Ouyang hengte buru-buru mundur berulang kali, akhirnya mereka pun kabur terbirit-birit meninggalkan pemuda yang masih terduduk di lantai, tampaknya dia merupakan anggota termuda yang paling lemah.
"Mau apa kau masih berada disini?"
Kembali Hay Tay-sau menghardik marah.
"Siautit harus ucapkan terima kasih dulu karena paman Hay telah selamatkan diriku"
Ucap pemuda itu sambil menjura. Mula-mula Hay Tay-sau agak tertegun, kemudian dengan wajah berseri katanya.
"Gui-ji, kau sebetulnya anak yang baik, kenapa mesti bergaul dengan kawanan manusia tidak berguna itu?"
"Sebagai saudara, siautit harus maju mundur bersama mereka"
"Aaai, baiklah, cepat pulang, sampaikan juga salamku untuk Ik-ma kalian!"
Sekali lagi pemuda itu mengiakan dengan sopan.
"Oya, katakan juga kepada saudara saudaramu"
Ujar Hay Tay-sau lebih jaun.
"perahu sarang lebah itu sudah tenggelam, suruh mereka jangan melakukan perbuatan amoral lagi"
Pemuda itu menyahut dan buru-buru berlalu. Memandang bayangan punggung pemuda itu Hay Tay-sau menghela napas panjang, gumamnya.
"Di antara Ouyang bersaudara, hanya Ouyang Gui yang paling punya semangat, tampaknya semua karya besar Ouyang Kit dikemudian hari bakal terjatuh ke tangannya. Aaai, sudahlah, ayoh kita pun pergi!"
Waktu itu lelaki setengah umur itu sudah menjura ke arahnya sambil berseru.
"Sekarang kami sedang terburu buru hendak berangkat ke tempat lain hingga tidak sempat banyak bicara lagi, kejadian hari ini pasti akan Bu Ceng-wi catat didalam hati, bila ada kesempatan, budi kebaikanmu pasti akan kubalas"
"Pergilah saudara Bu"
Hay Tay-sau tersenyum.
BAB 13 Enghiong Memesan Pedang Mendadak dari balik hujan angin terdengar suara bentrokan senjata yang ramai.
Kemudian terdengar suara seorang wanita berteriak dengan suara tinggi melengking.
"Hau-ji, kurung dia, jangan kau lukai jiwanya, asal dia mau mengakui darimana bisa kenali Thiat Tiong-tong dan mengatakan dimana Thiat Tiong-tong berada, jangan kau persulit dia"
Thiat Tiong-tong tercekat, cepat dia menyelinap ke belakang punggung Hay Tay-sau yang tinggi besar dan bersembunyi disitu.
Ditengah hujan dan angin terlihat ada segulung hawa pedang bercahaya hijau sedang mengurung dua sosok bayangan manusia, selain itu terlihat pula sesosok bayangan manusia yang lain bergerak mengikuti hawa pedang.
Ketika mereka semakin mendekat barulah tampak bayangan manusia yang berada ditengah hawa pedang itu adalah seorang lelaki berbaju ungu serta seorang manusia berkerudung hitam yang ditangan kirinya memegang golok, tangan kanannya memegang tongkat.
Disamping arena pertarungan tampak seorang nenek berambut putih yang membawa tongkat berkepala bangau sedang mengikuti jalannya pertarungan dengan seksama.
Ilmu pedang yang dikembangkan lelaki berbaju ungu itu mantap dan gencar, semuanya merupakan jurus pedang aliran lurus, dimana pedangnya berputar boleh dibilang tidak setetes air pun yang bisa menembusinya.
Sementara jurus serangan yang digunakan lelaki bergolok dan bertongkat itu meski ganas dan telengas namun langkah kakinya sama sekali tidak leluasa, kelihatannya dia pincang.
Ilmu golok yang dipergunakan pun tampak sedikit kaku dan asing, jelas ilmu tersebut baru dipelajarinya hingga kurang begitu hapal dan lancar.
Saat ini dia sudah terdesak hebat, seluruh tubuhnya sudah terkepung oleh cahaya pedang lelaki berbaju ungu itu hingga sama sekali tak mampu membalas, andaikata lelaki berbaju ungu itu memang tidak berniat melukainya, mungkin saat ini dia sudah roboh bermandikan darah.
Baru saja lelaki setengah umur dan nona berbaju hijau itu siap-siap memberikan pertolongan, mendadak terdengar Bi lek Hwee menghardik keras.
"Seng Toa-nio, cepat suruh keponakan Hau menghentikan serangannya!"
Semua orang tertegun, lelaki setengah umur itupun seketika menghentikan langkahnya.
Ternyata nenek berambut putih dan lelaki berbaju ungu itu tidak lain adalah Seng Toa-nio serta Seng Cun-hau.
Nenek itu segera berpaling, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Ooh, rupanya kau si kakek pun berada disini, kenapa suruh lo-cici menghentikan serangan? Tunggu sebentar, aku mesti paksa orang ini untuk memberitahukan jejak orang she-Thiat itu terlebih dulu sebelum kita bisa bercakap cakap"
"Tidak usah ditanya lagi"
Tukas Bi lek Hwee lantang.
"siaute tahu jelas kabar berita dari Thiat Tiong-tong"
Kelihatan orang berbaju hitam itu tergetar hatinya hingga muncul titik kelemahan dalam jurus serangannya, beruntung Seng Cun-hau memang berniat melepaskan dia hingga kesempatan itu tidak dimanfaatkan.
Terdengar Seng Toa-nio bertanya dengan keheranan.
"Kau tahu dia ada dimana?"
"Sekarang dia sudah termakan bujuk rayu Suto Siau si rase licik itu dan mengkhianati Perguruan Tay ki bun, kalau ingin mencarinya, bisa jadi saat ini dia sedang berada bersama Suto Siau serta Hek Seng-thian berdua"
"Sungguh?"
Teriak Seng Toa-nio makin tercengang. Bi lek Hwee tertawa.
"Sejak kapan siaute bisa membohongi Seng Toa-nio? Dengan mata kepala sendiri siaute saksikan Thiat Tiong-tong pergi bersama Suto Siau, malahan mereka pergi sambil bergurau, bisa jadi saat ini mereka sudah berada di peternakan Lok jit san ceng"
Seng Toa-nio termangu berapa saat, kemudian sambil gelengkan kepala dan tertawa katanya.
"Baru saja aku pergi sejenak ketempat luaran, tidak disangka sudah terjadi banyak perubahan disini, hau-ji, hentikan seranganmu!"
Seng Cun-hau segera menarik kembali pedangnya sambil mundur tiga langkah, perasaan kecewa sempat melintas diwajahnya, tampaknya dia merasa kecewa karena mendengar Thiat Tiong-tong telah menghianati perguruannya.
Thiat Tiong-tong sendiri yang bersembunyi dibelakang Hay Tay-sau ikut merasa amat sedih, pelbagai perasaan berkecamuk jadi satu dalam benaknya.
Hujan angin turun semakin deras, malam hari pun menjelang tiba, dalam situasi serba kalut seperti ini, walaupun Seng Toa-nio memiliki ketajaman mata yang luar biasa pun rupanya tidak sempat memperhatikan ke situ.
Manusia berkerudung hitam itupun berdiri sambil menurunkan senjatanya, kendatipun tidak dapat dilihat bagaimana perubahan wajahnya, namun dari sikapnya yang sedih dia seakan seperti kehilangan sesuatu.
Setelah menyapu sekejap seluruh arena, Seng Toa-nio kembali berkata sambil tertawa.
"Tidak kusangka ternyata kaupun sudah jadi seorang pentolan begal, hebat benar kekuatanmu, baik, memandang wajah Bi lek lote, kubebaskan kalian semua!"
Waktu itu si nona berbaju hijau itu sudah tiba disamping manusia berbaju hitam itu tiba-tiba selanya pula sambil tertawa dingin.
"Baik, memandang diatas wajahnya, akupun bersedia membebaskan kalian berdua!"
"Apa kau bilang?"
Dengan wajah berubah Seng Toa-nio membentak gusar.
"Walaupun aku enggan bertarung melawan kaum lelaki, tapi masih beruntung kau adalah seorang wanita"
Meskipun sorot matanya tetap dingin hambar, namun nada ucapannya lebih tajam dari mata golok. Tiba-tiba Seng Toa-nio tertawa terkekeh.
"Nona cilik"
Serunya.
"jadi kau ingin mencoba kehebatan Seng Toa-nio?"
"Rupanya kau pintar sekali, dapat menebak maksud hatiku"
Jengek nona berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.
"Aduh mak, tajam amat mulutmu, bila kemampuanmu bisa lebih hebat separuh saja dari ketajaman mulutmu, itu sudah lebih dari cukup, tapi sayangnya...."
Sambil tertawa dia sengaja menghela napas ringan, perlahan-lahan tubuhnya bergerak menghampiri nona berbaju hijau itu.
Bi lek Hwee sekalian tahu bahwa Seng Toa-nio adalah perempuan keji yang berhati telengas, kini mereka jadi menguatirkan keselamatan nona berbaju hijau itu, hanya saja semua orang merasa rikuh untuk menghalanginya.
Yang aneh, ternyata orang-orang dari pihak nona berbaju hijau itu tetap bersikap tenang, seakan mereka sangat yakin dengan kehebatan nona itu.
Terdengar SengToa-nio berkata lebih jauh.
"Cuma sayangnya, hehehe.... Coba kau periksa sepasang tanganmu, mana putih, halus, ramping lagi. Mending dipakai untuk menyulam atau menjahit, ingin bertarung melawan orang? Hmmm, hmmm...."
Diiringi senyuman dia memegang tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat.
Nona berbaju hijau itu bukan saja tidak menghindar, dia malah menyambut genggaman itu dengan balas menggenggam tangan Seng Toa-nio, ujarnya sambil tertawa dingin.
"Hmm, aku lihat tanganmu pun tidak terlalu kasar!"
Begitu sepasang tangan mereka saling berjabatan tangan, tiba-tiba terdengar Seng Toa-nio berteriak keras.
"Aduuh, tanganmu...."
Ucapannya seketika terhenti, sekujur tubuhnya nampak bergetar keras, paras mukanya berubah pucat pias.
"Bagaimana? Tanganku tidak terlalu halus bukan?"
Jengek nona berbaju hijau itu sambil tertawa, perlahan dia lepaskan genggamannya.
Seng Toa-nio melotot sekejap ke arahnya, mendadak tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan tubuh dan ngeloyor pergi.
"Hau-ji, kita pergi!"
Ucapan terakhir diutarakan dari jarak sejauh lima meter lebih.
Semua orang tercekat bercampur keheranan, tidak ada yang tahu kenapa Seng Toa-nio pergi secara tiba-tiba, kalau dibilang kungfu gadis itu dapat menggetarkan perasaan Seng Toa-nio hingga membuatnya kabur, rasanya tidak seorangpun yang mempercayainya.
Seng Cun-hau sendiripun nampak tertegun, serunya cepat.
"Kita tidak menunggu Thian-heng?"
"Kalau tidak menemukan kita, toh dia bisa pulang sendiri"
Sahut Seng Toa-nio tanpa menghentikan langkahnya.
Seng Cun-hau sendiripun menampilkan perasaan heran bercampur sangsi, buru-buru dia menjura kepada Bi lek Hwee lalu menyusul ke arah Seng Toa-nio pergi, mungkin lantaran terburu-buru, tanpa sengaja sebuah kantung sutera kecil terjatuh dari sakunya.
Menanti Bi lek Hwee memungut kantung sutera itu, bayangan tubuh Seng Cun-hau sudah pergi jauh.
Tidak tahan dia segera membuka kantung sutera itu dan memeriksa isinya, ternyata kantung itu berisi sebutir pil, Bi lek Hwee pun mengenali pil itu sebagai obat pemunah racun senjata rahasia Thian li ciam milik SengToa-nio.
Penemuan ini membuatnya semakin keheranan, gumamnya tanpa terasa.
"Aneh sekali, selama ini Cun-hau selalu bertindak hati-hati dan cermat, mustahil rasanya dia bisa kehilangan obat pemunah tanpa disadari"
Perlu diketahui, obat pemunah dari senjata andalan suatu perguruan biasanya dianggap sebagai benda mestika yang tidak ternilai harganya, jadi mustahil kalau benda mestika semacam ini bisa terjatuh dari tangan seorang jagoannya tanpa diketahui.
Ketika dia berpaling, tampak nona berbaju hijau itu sedang memegangi pergelangan tangan kanannya dengan wajah memucat, sekujur tubuhnya mulai gemetaran keras, itulah gejala terkena jarum Thian li ciam.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Bi lek Hwee, sekarang dia baru tahu, rupanya Seng Cun-hau pun mengerti kalau ibunya secara diam-diam telah sembunyikan jarum thian li ciam dibalik telapak tangannya, oleh sebab itu sewaktu berjabatan tangan tadi, kendatipun Seng Toa-nio terluka oleh getaran tenaga dalam lawan, sebaliknya nona berbaju hijau itupun terluka oleh jarum Thian li ciam.
Rupanya Seng Cun-hau tidak tega membiarkan gadis itu kehilangan nyawa, maka dia sengaja menjatuhkan obat pemunah racun itu.
Gara-gara ingatan yang bijak itulah bukan saja dia telah selamatkan jiwa nona berbaju hijau itu, diapun telah menolong ibunya.
Rupanya manusia pincang berbaju hitam serta lelaki tinggi besar Bu Ceng-hiong telah menyaksikan pula gejala yang dialami gadis itu, dalam terkejutnya serentak mereka maju mendekat.
Nona berbaju hijau itu tertawa, sambil pejamkan mata katanya perlahan.
"Sungguh hebat racun dalam jarumnya. Mungkin aku.... aku tidak tertolong lagi"
Lelaki pincang serta Bu Ceng-hiong berseru tertahan, paras muka mereka ikut berubah.
"Jangan kuatir"
Mendadak terdengar Bi lek Hwee berteriak keras.
"lohu mempunyai obat pemunahnya"
"Sung.... sungguh?"
Seru lelaki pincang itu terkejut bercampur girang.
"kau memiliki obat pemunah racun dari Thian li ciam milik Seng Toa-nio?"
"Mana mungkin lohu memilikinya"
Bi lek Hwee menghela napas panjang.
"obat ini sengaja ditinggalkan Seng Cun-hau"
Lelaki pincang itu agak tertegun tapi dia segera menyambut obat pemunah itu. Tiba-tiba nona berbaju hijau itu membuka matanya sambil bertanya.
"Kenapa dia ingin menolongku?"
"Biarpun Seng toaci kejam dan berhati telengas"
Kata Bi lek Hwee sambil tertawa getir.
"namun putranya adalah seorang Hiap-gi, seorang pendekar sejati yang tiada duanya dikolong langit"
"Kalau berganti orang lain, mungkin saat ini akupun sudah tidak bernyawa lagi"
Ucap lelaki pincang itu sambil menundukkan kepala dan menghela napas panjang.
"Haaah, tidak kusangka Ci sim kiam khek (pendekar pedang berhati merah) adalah seorang lelaki sejati"
Teriak Hay Tay-sau tiba-tiba sambil mengacungkan jempolnya.
"bagaimana pun aku harus berkenalan dengan dirinya"
Setelah menerima obat penawar racun itu, si nona berbaju hijau itupun mengeluarkan sebuah benda dan diserahkan ke tangan Bi lek Hwee seraya berkata.
"Pil ini adalah obat pemunahku, berikanlah kepadanya!"
Kemudian setelah menelan pil pemunah, dia pun duduk dibawah curah hujan dan mulai mengatur pernapasan.
Sambil menerima botol kayu dari tangan si nona, untuk berapa saat Bi lek Hwee berdiri termangu, lama kemudian dia baru menghela napas panjang seraya berkata.
"Orang bilang, menolong orang lain sama seperti menolong diri sendiri, ternyata perkataan ini memang tepat sekali"
"Meskipun Seng Toa-nio mencari penyakit buat diri sendiri, tapi memandang diatas wajah Seng Cun-hau, seharusnya kau berikan obat penawar itu secepatnya"
Kata Hay Tay-sau lantang.
"kenapa masih berdiri melongo di situ?"
"Aaah betul juga!"
Seru Bi lek Hwee, tapi baru berjalan berapa langkah kembali dia berhenti sambil menegok kearah Hay Tay-sau, terusnya dengan tertawa getir.
"tapi kemana dia pergi? Lohu mana tahu dia kabur ke mana?"
"Soal ini.... waah, bagaimana baiknya sekarang? Kalau terlambat mungkin bisa tidak sempat lagi"
Tiba-tiba dari balik hujan angin terlihat dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat dengan langkah terburu-buru.
Pemuda yang berada di depan meski masih mengenakan pakaian ringkas warna hitam namun kain kerudung mukanya telah terepas, dia berlarian dengan napas tersengkal-sengkal, keadaannya sangat mengenaskan.
Di belakangnya mengikuti seorang pemuda pelajar bertubuh jangkung dengan wajah dingin dan kaku, dipandang ditengah malam, dia mirip sekali dengan setan gentayangan.
Bagaikan bayangan tubuh saja dia menempel terus dibelakang pemuda di depannya, ketika orang yang berada di depan menghentikan larinya, pemuda pelajar itu ikut menghentikan pula gerakan tubuhnya.
Dengan napas tersengkal pemuda berbaju hitam itu berlarian mendekat, serunya sambil tertawa.
"Berbahaya, sungguh berbahaya, masih untung aku cukup cekatan, akhirnya berhasil juga aku lepas dari cengkeraman pelajar rudin itu"
"Kau pulang seorang diri?"
Tanya Bu Ceng-hiong dengan wajah berubah.
"Tentu saja seorang diri"
Jawab pemuda berbaju hitam itu dengan bangganya.
Padahal semua orang tahu kalau dia datang berduaan, tapi pemuda itu bersikeras mengatakan seorang diri, kenyataan ini membuat semua orang terkesiap.
Hal ini semakin membuktikan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda berdandan pelajar itu sudah mencapai tingkat ke sempurnaan.
Bu Ceng-hiong mendongakkan kepalanya tertawa keras.
"Hahahaha.... siangkong, hebat benar ilmu gerakan tubuhmu!"
"Suhu, kau sedang berbicara dengan siapa?"
Tanya pemuda berbaju hitam itu kebingungan.
"Dengan aku!"
Suara tertawa ringan tiba-tiba bergema dari belakang tubuhnya.
Dengan perasaan terkejut pemuda berbaju hitam itu membalikkan tubuh, tapi lagi-lagi pemuda siucay itu sudah menyelinap di belakangnya, begitu cepat dia bergerak tidak ubahnya seperti gerakan setan gentayangan.
"Cepat berbaring!"
Bentak Bu Ceng-hiong lantang.
Buru-buru pemuda berbaju hitam itu menjatuhkan diri ke tanah, ketika berpaling, dia pun menjumpai pemuda siucay itu baru saja bergerak lewat dari sisi tubuhnya, sekarang dia baru tahu kalau orang ternyata mengintil terus dari belakang, tanpa sadar peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
Walaupun seluruh tubuh pemuda siucay itu basah kuyup oleh air hujan, bahkan disana sini ternoda Lumpur, namun sikap maupun gerak-geriknya seakan masih mengenakan pakaian yang paling kering dan bersih, sedikitpun tidak nampak mengenaskan.
Setelah menyapu sekejap sekeliling arena, diapun tertawa nyaring.
"Bagus, bagus, bagus sekali"
Diam-diam Hay Tay-sau merasa amat mendongkol melihat kejumawaan pemuda pelajar itu, tidak tahan umpatnya.
"Apanya yang bagus? Kentutmu yang bagus!"
"Huuh, bau benar!"
Sambung Bi lek Hwee sambil tertawa. Senyuman diujung bibir pemuda pelajar itu lenyap seketika, ujarnya ketus.
"Kalau dipandang dari tampang kalian, nampaknya saja gagah dan perkasa, aneh, kenapa mulut kalian begitu bau!"
Hay Tay-sau pura-pura tidak mendengar, dia sengaja menarik napas panjang kemudian sambil berpaling dan menghela napas, katanya.
"Waaah, ternyata benar juga, bau! Bau sekali, bukan cuma bau, bahkan sedikit rada tengik!"
"Jangan-jangan ada kentut busuk yang susah dibuang selama banyak tahun!"
Bi lek Hwee menambahkan dengan serius.
Meskipun kawanan jago dibuat terperanjat oleh kehebatan kungfu pemuda siucay itu, tidak urung mereka tertawa geli juga setelah menyaksikan ulah Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong sudah menyelinap ke belakang kawanan lelaki berpakaian ringkas itu.
Kini hanya dia seorang yang merasa kuatir, setelah menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda siucay itu, dia sadar kemampuan yang dimiliki Hay Tay-sau serta Bi lek Hwee masih bukan tandingan orang.
Sementara itu pemuda siucay tadi sudah melirik berapa kejap ke arah mereka berdua, hawa napsu membunuh telah memancar dari balik matanya, tiba-tiba dia berkata sambil tertawa.
"Menurut wejangan guruku, aku orang she Thian tidak diperbolehkan melancarkan serangan terlebih dulu kepada orang lain"
Kemudian setelah tertawa menghina, tambahnya.
"Apakah kalian berdua berani melancarkan serangan terlebih dulu kepadaku?"
Tiba-tiba Hay Tay-sau mengambil botol kayu itu dari tangan Bi lek Hwee, setelah diletakkan diatas tanah, dengan menirukan gaya bicara pemuda itu katanya pula dengan nada dingin.
"Botol kayu inipun tidak pernah menyerang lebih dulu kepada orang lain, beranikah kau menyentuhnya terlebih dulu?"
Dasar logat bicaranya jelas dan nyaring, ketika sekarang berbicara dengan nada yang sengaja ditinggikan, kontan saja suara orang ini jadi kedengaran sangat aneh, sekali lagi semua orang tertawa terpingkal pingkal.
Rupanya pemuda siucay itu memang berbicara dengan logat menggigit bibir, logat yang biasa digunakan kaum terpelajar, tapi setelah diejek berulang kali, dia tidak kuasa menahan rasa gusarnya lagi, bentaknya penuh amarah.
"Aku sengaja akan memusnahkannya, akan kulihat dia bisa berubah jadi apa!"
Ditengah bentakan nyaring, tangannya sudah dijulurkan ke muka siap menghantam botol kayu itu, tapi lantaran kuatir kalau isi botol adalah obat beracun atau sebangsanya, maka gerak geriknya jadi ragu dan tidak berani gegabah.
Kembali Hay Tay-sau tertawa tergelak.
"Hahahaha,.... Tidak usah takut, botol kayu itu bukan berisi yang aneh-aneh, isinya adalah obat penawar untuk menyelamatkan jiwa Seng Toa-nio, bila kau menghancurkannya, nyawa Seng Toa-nio akan turut melayang"
Waktu itu ujung telapak tangan pemuda siucay itu sudah hampir menyentuh botol kayu itu, tenaga pukulan pun sudah terlanjur dilontarkan, tapi begitu mendengar perkataan tersebut, dia segera menghentikan serangan dan menarik kembali tenaga pukulannya mentah-mentah.
Ketika hawa murninya ditarik balik, botol kayu itupun ikut terhisap ke dalam tangannya.
Thiat Tiong-tong semakin terkesiap, apalagi setelah menyaksikan kemampuannya menghisap benda sekehendak hati sendiri, cepat dia putar otak dan berusaha menebak asal-usul orang itu.
Terdengar Hay Tay-sau berseru setelah tertawa tergelak.
"Hahahaha.... Kusangka dengan kemampuan yang hebat, nyalimu pun termasuk hebat juga. Tidak tahunya hanya sebuah botol kecil pun tidak berani menyentuhnya...."
"Terakhir ini memang banyak orang yang berlagak sok hebat, tapi nyatanya bernyali tikus"
Bi lek Hwee menambahkan. Pemuda siucay itu berlagak tidak mendengar, dia membuka penutup botol itu dan mengendusnya berapa kali, kemudian dengan wajah berubah serunya.
"Haaah? Can hoa swang? Memangnya Seng Toa-nio telah terluka dalam?"
Kemudian sambil berpaling katanya lagi.
"Masa di dunia saat ini masih ada orang yang mampu membuat Seng Toa-nio terluka dalam? Hmmm, semisal ada pun aku rasa pasti bukan kalian semua karena kalian tidak bakal mampu melakukannya...."
"Hahahaha.... kalau orang she Thian mungkin saja tidak mirip, aku rasa yang paling pantas adalah si tikus sawah (thian Sut)!"
"Aku rasa justru kalian berdua yang lebih mirip sepasang kura-kura hidup"
Balas pemuda siucay itu perlahan.
Dengan sikapnya yang terpelajar, semua orang tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia bakal mengumpat orang sebagai kura kura, kejadian ini membuat semua orang melongo.
Hay Tay-sau sama sekali tidak dibuat gusar oleh umpatan itu, baru saja dia akan balas mengejek, terdengar Bi lek Hwee yang sudah terlanjur naik darah membentak nyaring.
"Bocah keparat, kau sangka lohu benar-benar tidak berani menyerangmu?"
"Jika kau berani menyerang, berarti kau sudah bosan hidup"
Ejek pemuda siucay itu sambil tertawa tergelak.
Bi lek Hwee membentak nyaring, sepasang lengannya direntangkan lalu maju dengan langkah lebar, ruas tulangnya berbunyi gemerutuk, kelihatannya dia sudah menghimpun seluruh kekuatan yang dimiliki.
Pemuda siucay itupun segera menarik kembali senyuman diwajahnya, hawa napsu membunuh terlintas diwajahnya.
Thiat Tiong-tong benar-benar merasa tercekat hatinya, dia sangat kuatir nama besar Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee yang dibinanya selama puluhan tahun bakal musnah dalam sekejap.
Di saat yang kritis itulah tiba-tiba nona berbaju hijau yang sedang duduk bersemedi itu melompat bangun, tidak terlihat jelas gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah menghadang dihadapan Bi lek Hwee.
Menyaksikan gerakan tubuh yang begitu cepat, siucay itu nampak terkesiap.
"Nona, minggir kau!"
Bentak Bi lek Hwee cepat.
"Orang ini adalah musuh keluargaku"
Ucap nona berbaju hijau itu dingin.
"Seng Toa-nio pun terluka olehku, kenapa kau malah suruh aku menyingkir"
Sikapnya tetap dingin dan hambar, melirik sekejap ke arah Bi lek Hwee pun tidak.
Bi lek Hwee sendiripun agak tertegun setelah mendengar ucapan tadi, terpaksa sambil menahan rasa mendongkol dia mundur kembali.
Dengan sorot mata yang tajam siucay itu memperhatikan si nona berapa kejap, sekilas perasaan heran bercampur tidak percaya melintas diwajahnya.
"Betulkah Seng Toa-nio terluka ditanganmu?"
"Hmm, kalau tidak percaya, dicoba saja!"
Kembali siucay itu memperhatikannya beberapa saat, tiba-tiba dia tertawa tergelak.
"Sebetulnya aku mau turun tangan, tapi setelah melihat sepasang mata nona yang bening bagaikan air, aku jadi tidak tega"
"Benar-benar tidak kusangka setelah bajingan ini bertemu cewek, dia seolah berubah jadi orang lain"
Umpat Hay Tay-sau jengkel.
"coba lihat, macam tulang belulangnya lebih ringan empat kati saja"
"Hmmm! Dia memang dasarnya manusia tengik"
Lanjut Bi lek Hwee sambil mendengus dingin.
Siucay itu sama sekali tidak menggubris, sepasang matanya menatap terus sorot mata si nona tanpa berkedip, seolah dia sama sekali tidak mendengar umpatan tersebut.
Terdengar nona berbaju hijau itu berkata ketus.
"Kalau memang begitu, lebih baik hantar obat luka itu secepatnya, kalau sedikit terlambat Seng (hidup) Toa-nio bisa berubah jadi Si (mampus) Toa-nio!"
"Hahahaha... apa urusanku dia mau hidup atau mati, sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku, aku diundang bukan untuk mengurusi dia, kedatanganku khusus untuk menghadapi berapa orang teman dari Perguruan Tay ki bun!"
Kembali Thiat Tiong-tong merasa terkesiap, pikirnya.
"Jika kedatangan orang ini khusus untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, dia benar-benar akan menjadi seorang musuh yang tangguh"
Dia mencoba berpikir, kira-kira jagoan mana dari perguruannya yang mampu menghadapi pemuda ini!
Tapi hatinya semakin bimbang, sekali pun ada yang mampu mengunggulinya, bagaimana dengan guru pemuda ini?
Makin dipikir dia makn terkesiap, sekarang dia hanya ingin tahu darimana Seng Toa-nio bisa mengundang kehadiran orang ini.
Sementara itu nona berbaju hijau tadi sudah balas menatap pemuda siucay itu, kemudian tegurnya.
"Kalau begitu kau tidak ingin pergi dari sini?"
"Benar, sementara waktu masih tidak ingin pergi"
"Apa yang kau inginkan?"
Siucay itu menyapu sekejap seluruh arena, lalu tertawa keras.
"Hahahaha.... aku hanya ingin membuktikan, sobat-sobat yang pandai melukai orang dengan mulut, apakah mampu juga melukai orang dengan kemampuan silatnya?"
Kontan nona berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Keinginanmu itu tidak ada sangkut pautnya denganku, tapi sebelum berbuat begitu, kau mesti membuktikan dulu apakah kau pantas untuk tetap tinggal disini!"
"Dalam soal berbicara, bisa saja aku mengalah kepada nona, tapi kalau sudah menyinggung soal ilmu silat, aku tidak berani mengalah lagi"
"Jadi kau anggap kungfumu hebat?"
""Hebat sih tidak, cuma lebih dari cukup"
Sahut siucay itu tertawa.
"Kalau begitu akan kucoba ilmu tanganmu, bila kau sanggup melakukan apa yang kulakukan, kau boleh berbuat apa maumu"
Ujar nona berbaju hijau itu dingin. Siucay itu mengernyitkan alis matanya, tapi sejenak kemudian sudah tertawa tergelak.
"Hahahaha.... benarkah aku boleh berbuat apa mauku?"
"Hmm! Benar!"
Nona itu mendengus. Tiba-tiba dia melepaskan seutas tali pinggang sutera dari pinggangnya, begitu tangan digetarkan, tali pinggang itu seketika menegang lurus ke depan.
"Hahahaha.... itu sih gampang sekali"
Teriak siucay itu sambil tertawa.
"nona, kelihatannya kau bisa berbuat apa mauku"
Mendadak gelak tertawanya terhenti ditengah jalan dan dia tidak mampu tersenyum lagi.
Rupanya di saat itulah si nona telah menggetarkan pergelangan tangannya, ikat pinggang sutera itu langsung meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, berbareng itu si nona berkelebat maju bagaikan segumpal angin dan berjalan berapa langkah diatas ikat pinggangnya yang membentang di angkasa itu.
Menanti ikat pinggang tadi mulai meluncur ke bawah, dia baru menggetarkan kembali tangannya sambil melayang turun ke bawah.
"Inikah yang kau sebut gampang?"
Jengeknya.
"kalau begitu, coba lakukan!"
Perlahan-lahan dia sodorkan ikat pinggang sutra itu ke hadapan siucay tersebut.
Waktu itu si siucay sudah berdiri terkesiap dengan mata terbelalak mulut melongo, mana berani dia terima ikat pinggang itu?
Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee saling bertukar pandangan dengan perasaan kagum, sekalipun mereka termasuk orang-orang yang tidak mau tunduk kepada orang lain, tidak urung kedua orang itu harus mengakui juga kehebatan ilmu meringankan tubuh tersebut.
Si siucay tadi hanya mengawasi ikat pinggang sutera yang berada dihadapannya tanpa bicara, peluh dingin makin membasahi jidatnya.
"Bukankah kau anggap gampang?"
Kembali nona berbaju hijau itu mengejek sambil tertawa dingin.
"kenapa tidak berani kau lakukan?"
Sambil tertawa paksa siucay itu membesut butiran keringat dari jidatnya, ujarnya.
"Ilmu meringankan tubuh yang nona miliki benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan, aku sama sekali tidak menyangka diwilayah padang rumput di daratan Tionggoan masih ada orang memiliki kemampuan sehebat ini, peristiwa ini sungguh diluar dugaan aku orang she Thian!"
"Hmm, ini membuktikan padang rumput merupakan sarang naga gua harimau, makanya jangan sok jumawa dan berlagak"
Kata nona berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.
"jika kau tidak berani mencoba, lebih baik cepat pergi dari sini!"
"Nona, boleh tahu asal usulmu?"
"Kau tidak berhak mengetahui asal usulku"
Hardik si nona dengan wajah berubah.
"Menurut apa yang kuketahui, dikolong langit saat ini rasanya hanya orang dari utara dan orang dari selatan berdua yang mampu melatih nona dengan kungfu sehebat ini...."
Tiba-tiba pemuda berbaju hitam itu membentak keras, sambil menerjang maju bentaknya.
"Buat apa kau nerocos terus disini? Cepat enyah!"
Ditengah bentakan, secara beruntun pemuda itu melancarkan lima buah serangan, meski jurusnya tidak hebat namun angin pukulannya menderu deru, jelas dia memiliki kekuatan pukulan seberat ribuan kati.
Tanpa berpaling siucay itu melangkah ke samping sambil mengebaskan ujung bajunya, dengan sangat gampang dia sudah menghindari beberapa pukulan itu.
Terdengar dia berkata lebih jauh.
"Mengenai dua orang dari utara selatan ini, menurut apa yang kutahu...."
Tampaknya pemuda berbaju hitam itu semakin gelisah, serangan kepalannya makin ganas dan keras, bentakan nyaring yang berulang kali membuat perkataan siucay itu jadi tidak jelas terdengar.
Tiba-tiba nona berbaju hijau itu menghela napas sedih, katanya.
"Sim-ko, biarkan dia berbicara"
Walaupun nada ucapannya halus dan lembut, namun mendatangkan daya pengaruh yang besar bagi pemuda berbaju hitam itu, dia segera melompat mundur ke belakang meski rasa gusar lamat-lamat masih menghiasi wajahnya.
Hay Tay-sau sekalian kembali dibuat keheranan, mereka tidak tahu rahasia apa yang terselip dibalik kesemuanya ini, ketika mencoba berpaling, tampak wajah Bu Ceng-hiong maupun manusia cacad itupun menunjukkan sikap tegang.
Terlihat sinar mata gadis berbaju hijau itu semakin memancarkan cahaya tajam, tanyanya dengan nada berat.
"Siapa itu manusia dari utara dan selatan?"
"Walaupun nama sebenarnya kedua orang manusia aneh itu tidak banyak diketahui orang, tapi dengan kungfu yang nona miliki, masa kaupun tidak tahu nama mereka?"
Nona berbaju hijau itu kembali berkerut kening, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Terdengar siucay itu berkata lagi.
"Terlepas nona adalah murid siapa dari kedua orang manusia aneh itu, mereka memiliki hubungan yang sangat mendalam denganku, kenapa tidak kau jelaskan saja asal usulmu"
Nona berbaju hijau itu masih termenung, pandangan matanya mulai bimbang. Siucay itu menatap semakin tajam, tiba-tiba senandungnya.
"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma...."
"Ruyung guntur.... Peluru angin...."
Gumam nona berbaju hijau itu.
"Masa nona tidak kenal dengan dua patah kata itu?"
Gadis berbaju hijau itu menggeleng, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat semua orang sedang ikut mengulang ke dua patah kata itu, wajahnya terlihat makin bimbang.
Setelah tertegun sesaat, siucay itu menunjukkan wajah yang amat kecewa, dia menggeleng sambil menghela napas.
"Kalau dibilang nona bukan berasal dari perguruan mereka berdua, sesungguhnya aku merasa tidak percaya"
Mendadak terlihat nona berbaju hijau itu seakan sangat emosi, jeritnya lengking.
"Apa itu peluru angin, apa itu ruyung guntur.... aku tidak pernah mendengarnya, kau cepat pergi dari sini!"
"Tapi ilmu silat nona...."
"Cepat pergi, cepat pergi"
Teriak si nona sambil menghentakkan kakinya.
"aku tidak mau mendengarkan perkataanmu lagi!"
Kembali siucay itu termangu berapa saat, akhirnya diapun menghela napas panjang dan berkata dengan lantang.
"Kalau begitu, setahun kemudian aku pasti akan datang lagi untuk minta petunjuk!"
Sambil berkata dia mengebaskan lengan bajunya dan menerobos hujan angin untuk menjauh, tidak selang berapa saat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Tiba-tiba butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipi nona berbaju hijau itu, dia membalikkan tubuh dan mulai menangis tersedu, seolah ada satu kejadian memedihkan yang membuatnya amat berduka.
"Sim-ji, cepat hibur enci Ho...."
Bisik Bu Ceng-hiong kemudian sedih. Dengan kepala tertunduk tukas pemuda berbaju hitam itu.
"Enci Ho hanya ingin secepatnya mengetahui asal usulnya dan meninggalkan kita semua, percuma ananda menghiburnya"
"Omong kosong!"
Bentak Bu Ceng-hiong dengan suara berat. Mendadak nona berbaju hijau itu membalikkan tubuhnya dan berkata dengan suara keras.
"Ananda sudah berhutang budi kepada gi-hu (ayah angkat) serta paman, biarpun sudah mengetahui asal usulku, tidak mungkin punya pikiran untuk pergi dari sini"
Orang cacad itu menghela napas sedih, selanya.
"Kau tidak usah mendengarkan omongan Sim-ji, dia.... dia...."
"Lagipula.... mungkin selama hidup ananda tidak akan membayangkan lagi kejadian di masa lalu...."
Tiba-tiba nona itu menutupi wajah sendiri dengan tangannya kemudian kembali menangis terisak.
Pemuda berbaju hitam itu hanya mengawasi nona itu dengan termangu, kelihatan sepasang matanya mulai berkaca-kaca.
Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee ikut merasa terkesiap, mereka tidak menyangka gadis yang memiliki kungfu sangat dahsyat ini ternyata sama sekali tidak mengetahui asal usul sendiri.
Bu Ceng-hiong mendeham berapa kali, lalu sambil menjura kepada ke dua orang itu katanya sambil tertawa.
"Bantuan yang kalian berdua berikan tidak akan kulupakan untuk selamanya, suatu saat nanti pasti akan kubalas, bersediakah kalian mampir sejenak di rumahku sekalian meneguk tiga cawan arak kasar?"
Bi lek Hwee menengok rekannya, sambil tertawa sahut Hay Tay-sau.
"Kita telah merubah musuh jadi sahabat, kejadian ini memang patut dirayakan dengan meneguk tiga cawan arak"
"Bagus sekali"
Seru Bu Ceng-hiong kegirangan.
"ternyata Thian-sat-seng yang tersohor adalah seorang lelaki sejati!"
"Memangnya aku bukan lelaki sejati?"
Protes Bi lek Hwee sambil tertawa.
"ayoh berangkat, hari ini lohu akan membuktikan siapa yang bakal mabuk duluan!"
Sambil membalikkan tubuh diapun berteriak memanggil.
"Saudara cilik, saudara cilik...."
Mendadak dengan wajah berubah teriaknya.
"Hay lote, ke mana kaburnya saudara cilik kita? Kenapa tidak nampak batang hidungnya?"
Ditengah hujan angin, bayangan tubuh Thiat Tiong-tong benar-benar sudah tidak nampak, tidak diketahui sejak kapan dia tinggalkan tempat itu, tadi, perhatian semua orang sedang tersita karena terkagum-kagum oleh kehebatan ilmu meringankan tubuh nona itu sehingga tidak ada yang memperhatikan kemana perginya anak muda itu.
Sambil menghentakkan kakinya kontan saja Bi lek Hwee mengumpat.
"Bocah ini benar-benar lupa budi, lohu sudah selamatkan jiwanya, eeeh tidak tahunya dia ngeloyor pergi tanpa pamit"
"Aaah, api emosimu memang kelewatan sedikit"
Sela Hay Tay-sau sambil tertawa.
"aku lihat pemuda itu tidak mirip orang yang tidak tahu budi, bisa jadi dia pergi duluan karena ada urusan lain"
Lalu sambil menarik bahu Bi lek Hwee tambahnya.
"Ayoh kita pergi meneguk berapa cawan arak lebih dulu, jika pemuda itu benar-benar lupa budi dan tidak datang mencarimu lagi, aku bersedia mentraktir arak kepadamu"
Biarpun dimulut Bi lek Hwee masih mengumpat terus menerus, namun langkah kakinya tetap mengikuti rekannya beranjak pergi dari situ.
Bu Ceng-hiong bersama manusia cacad itu berjalan paling depan untuk membuka jalan.
Sementara pemuda berbaju hitam itu diam-diam menghampiri nona berbaju hijau itu dan berbisik sambil menundukkan kepalanya.
"Enci Ho, kalau aku salah bicara, harap kau jangan marah!"
Nona berbaju hijau itu manggut-manggut, tiba-tiba dia menarik lengan pemuda itu dan berkata lembut.
"Kau adalah saudara baikku, mana mungkin aku marah?"
Berbinar sepasang mata pemuda berbaju hitam itu, tampak sekali dia amat kegirangan. Hay Tay-sau menengok kedua orang itu sekejap, lalu bisiknya sambil tertawa.
"Loko, coba lihat itu.... kelihatannya anak muda tadi sudah mencintai nona tersebut hingga kuatir dia pergi meninggalkannya"
"Sstt, jangan mencampuri urusan orang"
Tukas Bi lek Hwee sambil tertawa.
"ayoh kita pergi minum arak!"
Di tengah malam yang hujan dan berangin, melakukan perjalanan diudara terbuka terasa sulit dan berat.
Rombongan itu membutuhkan waktu hampir setengah jam lamanya sebelum tiba disebuah dusun kecil, dimulut dusun terpampang sebuah papan nama, pada papan nama itu tertulis.
"Dusun pandai besi".
"Disinilah kami menetap, harap kalian jangan mentertawakan kejelekan rumah kami"
Kata Bu Ceng-hiong sambil tertawa.
Bi lek Hwee mengerdipkan matanya berapa kali, dia seakan ingin mengucapkan sesuatu namun akhirnya diurungkan.
Dusun itu amat teratur dan bersih, setiap bangunan rumah nampak seakan baru dibangun, saat itu terlihat ada berapa orang wanita dan bocah sedang menunggu di depan pintu, seakan sedang menunggu pulangnya suami mereka.
Sementara kawanan lelaki berkerudung hitam itupun serentak memberi hormat kepada Bu Ceng-hiong dan manusia cacad itu sebelum bubaran dan kembali ke rumah masing masing.
Semakin dipandang Bi lek Hwee semakin keheranan, akhirnya tidak tahan dia berseru.
"Aneh, sungguh aneh!"
"Aku sendiripun keheranan...."
Sambung Hay Tay-sau sambil tertawa.
"Apakah kalian berdua merasa tempat ini tidak mirip sarang perampok?"
Tukas Bu Ceng-hiong.
"Ya betul, sama sekali tidak mirip"
Sahut Bi lek Hwee sambil tertawa tergelak.
"justru itulah lohu merasa keheranan"
Bu Ceng-hiong tertawa lebar.
"Biarpun kami adalah kawanan liok-lim yang kerjanya membegal, namun kami sama sekali tidak menikmati harta tersebut, seluruh hasil begal kami gunakan untuk menolong kaum fakir miskin"
"Lantas dengan apa kalian membiayai hidup?"
"Tukang besi! Seluruh anggota kami adalah pandai besi yang handal, itulah sebabnya meski hidup di dusun yang terpencil namun order pekerjaan yang kami terima banyak sekali. Kami tidak akan sembarangan membegal, kalau ada kambing gemuk yang kebetulan lewat di seputar wilayah ini dan harta yang dibawa adalah harta tidak halal, kami baru mengenakan kain kerudung hitam dan mengubah profesi kami dari tukang besi menjadi kawanan rimba hijau"
"Bagus, bagus sekali"
Puji Bi lek Hwee sambil bertepuk tangan.
"begal semacam ini memang jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, kalau ada berapa kelompok lagi, itu jauh lebih bagus"
"Waah, kalau begitu julukan pendekar budiman yang selama ini kusandang, mulai hari ini harus kuhadiahkan kepadamu!"
Kata Hay Tay-sau pula sambil tergelak.
Ditengah gelak tertawa yang nyaring, tibalah mereka di depan sebuah bangunan rumah yang cukup lebar.
Walaupun bangunan itu cukup luas namun bentuknya amat sederhana dan jelek, di depan pintu ruangan tergantung sebuah papan nama, diatas papan nama itu bertuliskan.
"Tangan sakti pandai besi, khusus membuat berbagai macam perkakas"
Dibelakang pintu gerbang merupakan sebuah ruangan yang lebarnya berapa meter, dalam ruangan itu dipenuhi berbagai peralatan pandai besi serta perkakas yang telah selesai dibuat, ada golok, ada pedang, peralatan pertanian dan lain lain.
Setelah melalui ruangan yang merupakan bengkel kerja itu, orang baru tiba disebuah ruangan lain yang merupakan ruang tamu, diseluruh ruangan tampak tumpukan guci arak.
Menyaksikan hal itu Hay Tay-sau segera berteriak sambil tertawa.
"Waah,.... tempat semacam ini benar-benar mencocoki seleraku!"
"Betul"
Sambung Bi lek Hwee sambil tertawa pula.
"setibanya ditempat ini, lohu jadi tidak ingin pergi kemana-mana lagi"
Setelah menyuguhkan air teh panas, Bu Ceng-hiong memperkenalkan juga pemuda berbaju hitam tadi kepada mereka seraya berkata.
"Dia adalah putraku Bu Bong, sedikit rada blo'on, harap kalian berdua sudi memberi petunjuk!"
Bi lek Hwee memperhatikan sekejap pemuda itu, tampak olehnya dia memiliki alis mata yang tebal dengan mata yang lebar, tubuhnya tinggi kekar dan penuh berotot.
Menyaksikan itu katanya sambil gelengkan kepala dan tertawa getir.
"Betapa senang bila lohu pun memiliki seorang putra macam dia"
Sampai tua dia tidak berputra, tidak heran kalau hatinya sedih setiap kali melihat kegagahan putra orang. Waktu itu Hay Tay-sau sudah memandang sekeliling tempat itu sekejap, tiba-tiba serunya.
"Rasanya tadi ada seorang rekan yang memiliki kungfu golok bercampur ilmu toya yang hebat, kenapa sekarang tidak nampak?"
"Dan nona berbaju hijau itu"
Sambung Bi lek Hwee.
"kemampuannya betul-betul membuat lohu sangat kagum!"
Bu Ceng-hiong tertawa getir, sahutnya.
"Oleh karena asal usul nona Liu sedikit rada aneh, wataknya juga turut antik dan rada nyentrik, tapi dia...."
Mendadak dia menghela napas panjang dan menghentikan kata-katanya.
Pada saat itulah si orang cacad tadi munculkan diri, bukan saja tubuhnya cacad, wajahnya pun dipenuhi dengan mulut luka hingga kelihatan amat mengenaskan.
Bu Ceng-hiong segera memperkenalkan Bi lek Hwee dan Hay Tay-sau kepadanya, entah disengaja atau tidak, ternyata orang cacad yang dipanggil "Tio toako"
Itu sama sekali tidak menyinggung soal namanya.
Bercawan-cawan arak telah diteguk, tubuh pun mulai terasa hangat dan segar, sementara hujan angin ditempat luaran turun semakin deras.
Mendadak Tio toako berkata.
"Tadi kalian berdua bilang, Thiat Tiong-tong sudah memasuki peternakan Lok-jit, benarkah ucapan itu?"
"Lohu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja kejadian yang benar"
Sahut Bi lek Hwee. Tio toako kelihatan agak tertegun, gumamnya kemudian sambil menghela napas.
"Benarkah itu? Mana mungkin bisa begitu?"
Berbinar sepasang mata Bi lek Hwee.
"Jadi hengtay pun kenal dengan Thiat Tiong-tong?"
Tanyanya.
"Ooh tidak, tidak, cayhe hanya secara kebetulan pernah mendengar nama ini, aku sama sekali tidak mengenalnya"
Buru-buru Tio toako membantah. Dengan pandangan yang tajam Bi lek Hwee memperhatikan wajah Tio toako yang penuh luka itu berapa kejap, mendadak sambil menggebrak meja teriaknya.
"Lohu selalu punya perasaan seakan kenal dengan anda, heran, dmana kita pernah bertemu?"
Paras muka Tio toako tampak agak berubah, Bu Ceng-hiong segera mengangkat cawannya mengajak kedua tamunya meneguk arak.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara ringkikkan kuda dan putaran roda kereta, kelihatannya ada kereta kuda yang berhenti di depan sana.
Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru lantang.
"Apakah tuan rumah ada? In hujin dan kongcu khusus kemari untuk memesan berapa macam perkakas!"
Bu Ceng-hiong berkerut kening, cepat dia menjura seraya berbisik.
"Maaf, terpaksa sementara aku tidak menemani"
"Ditengah hujan angin seperti inipun masih ada yang datang memesan peralatan, Bu-heng, aku lihat pekerjaanmu cukup sukses"
Kata Hay Tay-sau sambil tertawa.
Sementara itu Bu Ceng-hiong sudah melangkah keluar dari pintu ruangan, benar saja, di depan gerbang telah berhenti sebuah kereta kuda yang indah, dari kusir maupun bentuk kereta yang indah, dapat diketahui kalau mereka berasal dari keluarga berada.
Si kusir kereta yang telah berdiri disisi pintu segera bertanya.
"Apakah toako adalah penguru s tukang besi?"
"Betul"
Jawab Bu Ceng-hiong tertawa.
"boleh tahu anda ingin memesan apa?"
"Tunggulah sejenak, ada pembeli besar yang akan memberi order kepadamu"
Ujar sang kusir sembari membukakan pintu kereta, sepasang lelaki perempuan yang mengenakan pakaian mewah segera muncul dari balik ruang kereta mewah itu.
Dalam pada itu Bu Bong yang ada dalam ruangan sedang menemani para tamunya minum arak.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berkumandang dari luaran sana, suaranya halus dan merdu.
"Apakah disini terdapat bahan baja yang bagus untuk ditempa menjadi sebilah pedang? Kami datang karena mengagumi nama anda, jadi jangan kau gunakan bahan jelek untuk menempa pedangku"
Bi lek Hwee segera bergumam.
"Perempuan jaman sekarang pun ikut-ikutan memesan pedang, tampaknya jaman telah berubah"
Terdengar Bu Ceng-hiong menjawab.
"Apa yang ingin nyonya pesan? Katakan saja bentuk serta ukurannya, ditanggung barang akan terwujud dengan kwalitas tinggi"
"Sebetulnya pesananku bukan yang aneh aneh, hanya barang sederhana saja, coba ambillah kertas dan catat ukuran yang kuinginkan, jangan sampai salah membuat"
Diikuti kemudian suara orang sedang menggosok tinta bak. Kembali tedengar perempuan itu berkata.
"Kau buatkan dulu sepasang pedang jantan betina, panjangnya delapan puluh senti dengan lebar satu koma tujuh senti, berat pedang yang satu sembilan kati sementara yang lain delapan kati, Cuma kau mesti perhatikan secara khusus, kedua bilah pedang ini tidak boleh ada perbedaan, gagang pedangnya harus dibuat dengan bentuk melengkung dan diberi pelindung tangan yang cukup kuat, sedang ujung gagang pedang mesti dibuat kosong dalamnya, agar bisa diisi dengan dua tabung jarum lembut.... sudah kau catat dengan jelas?"
Hay Tay-sau yang berada dalam ruangan menghembuskan napas panjang sambil berkata pula.
"Perempuan itu selain seorang ahli, tampaknya kungfu yang dimiliki hebat juga, kalau tidak, buat apa dia pesan senjata semacam ini!"
"Tapi kalau didengar suaranya, dia lebih mirip seorang penjual suara"
Sambung Bi-lek Hwee. Sementara itu Bu Ceng-hiong yang berada diluar telah berkata lagi.
"Semuanya telah tercatat dengan jelas, apa lagi yang ingin hujin pesan?"
"Aku ingin memesan berapa tabung jarum bwee hoa ciam, semua contoh gambarnya ada disini, biarpun bukan termasuk senjata rahasia khusus, tapi kau tidak boleh menggunakan lagi gambar tersebut untuk membuatkan bagi orang lain"
"Jual beli pun ada peraturannya, perusahaan kami tidak ingin melanggar aturan yang berlaku"
"Bagus sekali, adikku, kau ingin memesan apa lagi, cepat katakan sendiri"
Seru perempuan itu kemudian sambil tertawa. Menyusul kemudian terdengar seorang pemuda berkata.
"Pedang, aku butuh sebilah pedang, beratnya harus tiga puluh enam kati dengan panjang satu meter sembilan inci, masalah yang lain boleh sesukamu!"
Kalau nada suara perempuan tadi lembut dan enak didengar, maka suara pemuda ini berat dan amat menyesakkan napas.
Sekali lagi Hay Tay-sau yang berada didalam ruangan menghembuskan napas panjang, gumamnya.
"Pedang yang sangat berat, aku rasa lelaki ini pasti lebih jagoan, aku jadi ingin tahu macam apa tampangnya"
"Dibelakang tumpukan guci arak itu terdapat jendela kecil, kau bisa mengintip dari situ"
Saran Bu Bong sambil tertawa.
Sembari berkata dia segera singkirkan berapa guci arak dari tumpukan, benar saja, disitu terdapat sebuah jendela kecil, diluar jendela adalah berapa peralatan besi hingga sewaktu mengintip, orang yang berada diluar tidak akan mengetahuinya karena tertutup oleh peralatan tersebut, sebaliknya orang yang ada didalam ruangan dapat melihat keadaan diluar dengan jelas sekali.
Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee segera mengintip ke luar ruangan.
Saat itu Bu Ceng-hiong sedang duduk di depan meja sambil menulis, terdengar dia berseru keheranan.
"Pedang seberat tiga puluh tujuh kati? Selama hidup belum pernah kutempa pedang seberat itu, masa tidak keberatan?"
Seorang pemuda berbaju perlente berdiri membelakangi jendela, dia berdiri persis disamping Bu Ceng-hiong.
"Aku memang butuh pedang yang berat"
Terdengar pemuda itu menyahut. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi seperti orang bergumam.
"Kalau tidak kugunakan pedang yang berat, mana mungkin bisa mengungguli pergelangan tangannya yang gesit dan lincah"
Hay Tay-sau yang mendengar perkataan itu segera berpikir.
"Dengan berat mengatasi kecepatan, dengan kekakuan menangkan kelincahan, tidak nyana pemuda itu memiliki kemampuan yang berat, tapi siapakah orang ini?"
Ketika mencoba menengok lagi, kebetulan si wanita berbaju indah dan bersanggul tinggi itu sedang memalingkan wajahnya dari sudut ruangan.
Dibawah cahaya lentera, terlihat perempuan itu memiliki senyuman yang manis dengan sepasang mata yang bening, membawa daya pikat yang luar biasa.
Namun Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee nyaris menjerit kaget setelah menyaksikan raut mukanya yang cantik.
Ternyata perempuan cantik itu tidak lain adalah Un Tay-tay.
Dengan kerlingan matanya yang genit dan suara tertawanya yang merdu, dia berkata.
"Sudah kulihat berapa jenis senjata buatan sini, ternyata memang sangat bagus, adikku, apa lagi yang kau inginkan?"
Pemuda berbaju perlente itu sama sekali tidak berpaling, hanya sahutnya dengan suara berat.
"Aku butuh tujuh pasang borgol tangan dan kaki, borgol itupun harus dibuat seberat mungkin dan ditempa dengan bahan baja berkwalitas tinggi, agar tidak mudah patah"
"Borgol tangan dan kaki?"
Seru Bu Ceng-hiong dengan perasaan terkejut.
"Yaa betul"
Jawab pemuda itu sambil tertawa dingin.
"untuk memborgol orang hutan yang buas"
Dibalik suara tertawanya terkandung nada dingin, sinis dan penuh kebencian, membuat Bu Ceng-hiong kembali tertegun.
Perlahan pemuda itu berjalan meninggalkan ruangan, langkah kakinya ringan nyaris tidak membawa sedikit suarapun.
Sekali lagi Bu Ceng-hiong terkesiap, buru buru serunya sambil tertawa.
"Siapa namamu tuan, kapan akan mengambil barang pesanan ini?"
"Kau tidak perlu mengetahui namaku"
Jawab pemuda itu sambil membalikkan tubuhnya, sorot mata yang tajam mengawasi wajah Bu Ceng-hiong lekat-lekat.
"yang penting cepat selesaikan pesanan itu"
Dibawah cahaya lentera tampak sorot matanya tajam bagai mata pisau, meski wajahnya putih memucat namun raut mukanya terhitung tampan, hanya sayang terselip perasaan sedih, gusar dan dendam kesumat yang mengerikan.
Diam-diam Bu Ceng-hiong menghela napas, pikirnya.
"Sungguh tampan lelaki ini!"
Sementara itu Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee kembali dibuat terperanjat setelah menyaksikan wajah tampan itu.
"Aaah, rupanya dia!"
Pikir mereka hampir berbareng.
Ternyata orang itu tidak lain adalah Im Ceng.
Waktu itu mereka berdua tidak menyadari kalau paras muka Tio toako yang berada dibelakang mereka pun mengalami perubahan yang luar biasa.
Ternyata Tio toako ini tidak lain adalah Tio Ki-kong, lelaki yang telah pertaruhkan nyawanya untuk selamatkan Im Ceng dari dalam hutan.
Setelah menyelamatkan Im Ceng, dia hantar pemuda itu ke tempat tinggal Bu Ceng-hiong, siapa sangka Im Ceng yang sok pintar malah menaruh kesalahan paham sehingga akhirnya melarikan diri.
Waktu itu Tio Ki-kong sedang menangisi Thiat Tiong-tong yang terjatuh ke dalam jurang....
Thiat Tiong-tong sendiri yang berada didasar jurang, lamat-lamat juga mendengar suara isak tangisnya.
Tidak lama kemudian dia bertemu dengan kawanan jago dari Han hong po, dalam pertarungan yang sengit kendatipun kawanan jago dari Han hong po berhasil ditumpas, namun dia sendiripun menderita luka yang cukup parah.
Menanti dia berjuang mati-matian balik ke tempat tinggal Bu Ceng-hiong, waktu itu Im Ceng telah melarikan diri.
Sadar kalau tempat persembunyian mereka tidak bisa di pertahankan lagi, maka dia pun mengajak Bu Ceng-hiong kabur ke situ.
Ditempat yang baru mereka membangun sebuah pedesaan dengan mengumpulkan anak buah, Tio Ki-kong yang cacad pun berlatih mati matian untuk menguasahi ilmu golok dan tongkatnya guna mengimbangi kecacatan tubuhnya.
Untuk menunjang hidup, dia bergabung dengan Bu Ceng-hiong membuka usaha pandai besi, sementara untuk menyalurkan jiwa kependekarannya mereka merampok dan membagikan uang jarahannya kepada fakir miskin.
Sekarang, setelah berjumpa lagi dengan Im Ceng, sebenarnya dia ingin menerjang keluar untuk menjelaskan semua kesalaham paham yang terjadi, dia ingin menerangkan betapa setia kawannya Thiat Tiong-tong terhadap anak muda itu.
....
Seandainya saat itu dia benar-benar tampil untuk menerangkan kesalah pahaman tersebut kepada Im Ceng, mungkin peristiwa selanjutnya akan mengalami perubahan besar, Thiat Tiong-tong pun tidak perlu lagi menanggung tuduhan yang menyakitkan hati.
Tapi sayang Tio Ki-kong mengurungkan niatnya setelah melirik Bi lek Hwee sekejap, dia kuatir kejadian tersebut justru akan mencelakai jiwa Im Ceng dan membongkar identitas dirinya yang sebenarnya.
Pikirnya kemudian.
"Lebih baik kukuntit Im Ceng secara diam-diam...."
Dalam pada itu Un Tay-tay sudah berjalan mendekati Bu Ceng-hiong sambil tertawa, katanya.
"Tabiat adikku memang kurang baik, harap kau jangan marah, asal barang pesanan kami diselesaikan secara baik, aku tidak akan melupakan kebaikanmu"
Sambil berkata tiba-tiba dia mencubit lengan Bu Ceng-hiong sambil katanya lagi.
"Kekar amat ototmu, binimu pasti amat bahagia memiliki suami macam dirimu"
Bu Ceng-hiong agak tertegun, paras mukanya seketika berubah jadi merah padam.
Sambil tertawa merdu, kembali Un Tay-tay menggoyangkan pinggulnya berulang kali di hadapannya.
Im Ceng berdiri dengan wajah masam, dia seperti sengaja tidak memandang ke arahnya, tapi akhirnya tidak tahan dia berjalan menghampiri dan mendorong perempuan itu ke samping.
"Hey, apa apaan kau ini?"
Tegur Un Tay-tay sambil tertawa merdu. Im Ceng sama sekali tidak memandang ke arahnya, dengan wajah hijau membesi ujarnya.
"Tukang besi, tulis yang jelas, diatas ke tujuh borgol itu harus diukir nama"
"Nama apa?"
Tanya Bu Ceng-hiong sambil mendehem.
"Borgol pertama diberi nama Thiat Tiong-tong", borgol ini harus dibuat sangat berat, agar dia tidak mampu bangkit lagi untuk selamanya!"
Bu Ceng-hiong yang siap menulis kelihatan bergetar keras hatinya, nyaris dia tidak mampu menulis nama itu. Im Ceng berlagak seolah tidak melihat, kembali lanjutnya.
"Ke enam nama lainnya adalah Leng It-hong, Pek Seng-bu, Hek Seng-thian, Suto Siau, Seng Cun-hau dan.... Bi lek Hwee!"
Kebanyakan orang persilatan hanya tahu nama Bi lek Hwee, dan tidak seorang pun yang mengetahui nama asli orang tua itu, tidak heran kalau Im Ceng agak berhenti sejenak sebelum menyebutkan namanya.
Kembali semua orang yang berada dalam ruangan terperanjat, terlebih Bi lek Hwee, dengan penuh amarah dia siap menggempur jendela itu.
Untung Hay Tay-sau sudah menduga ke situ, buru-buru dia tangkap pergelangan tangannya.
"Kau jangan...."
Belum sempat Bi lek Hwee menyelesaikan perkataannya, lagi-lagi mulutnya sudah didekap tangan Hay Tay-sau.
"Bukannya aku banyak urusan"
Ujar Hay Tay-sau kemudian.
"aku rasa perselisihanmu dengan pihak Perguruan Tay ki bun harus diselesaikan secara baik-baik, apa sih manfaatnya bergabung dengan kawanan manusia macam Hek Seng-thian?"
Merah padam selembar wajah Bi lek Hwee, serunya.
"Tapi bocah keparat itu telah menyiapkan sebuah borgol untukku, bukankah kejadian ini keterlaluan?"
"Soal ini.... soal ini...."
Untuk sesaat Hay Tay-sau tergagap. Tapi setelah memandang sekeliling tempat itu sekejap, ujarnya lagi sambil tertawa.
"Coba kau lihat siapa yang telah datang, urusanmu lebih baik nanti saja dibicarakan lagi"
"Baik, baik, kau memang gembong iblis yang menyusahkan aku saja"
Keluh Bi lek Hwee sambil menghela napas.
"sekarang lepaskan tanganku dulu, lohu berjanji tidak akan sembarangan berulah!"
Kini, diapun telah menyaksikan perubahan yang terjadi diluar sana....
Rupanya di saat Im Ceng sedang menyebutkan ke enam nama itu dan Un Tay-tay sedang mengawasi Bu Ceng-hiong yang sedang menulis sambil tertawa, mendadak terdengar bentakan keras berkumandang dari luar pintu.
Menyusul suara bentakan itu tampak sesosok bayangan manusia melesat masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan tinggi.
"Hahahaha.... Ternyata berada disini"
Terdengar orang itu berseru sambil tertawa keras.
Belum sempat Un Tay-tay membalikkan tubuhnya, orang itu sudah melayang turun disampingnya, menarik tangannya dan mengawasinya tanpa berkedip, ternyata dia tidak lain adalah bocah pincang itu.
Sekali lagi Im Ceng berkerut kening, sebaliknya senyuman lebar segera menghiasi wajah Un Tay-tay.
Dengan cepat dia menowel pipi bocah pincang itu dan menegur sambil tertawa.
"Hey setan cilik, darimana kau tahu kalau cici berada disini?"
Bocah pincang itu mengerdipkan matanya sambil menarik napas panjang, sambil menggenggam tangan perempuan itu makin kencang, katanya sambil tertawa.
"Aduuh.... Kau makin lama semakin harum, makin dipandang makin cantik, aku ingin sekali menciummu"
"Dasar setan cilik"
Seru Un Tay-tay sambil menepuk tubuhnya.
"cici sedang bertanya padamu, sudah kau dengar belum? Darimana kau tahu kalau cici berada disini?"
"Ada yang memberitahukan kepadaku!"
"Siapa?"
Tanya Un Tay-tay dengan mata terbelalak semakin lebar.
"Ditengah jalan tadi aku telah bertemu seseorang, dia yang beritahu kalau kau berada disini, malah dia sempat menitipkan sesuatu dan minta aku untuk menyerahkannya kepada si bibit cinta buta"
"Siapa itu bibit cinta buta? Siapa pula orang itu?"
Seru Un Tay-tay sambil tertawa. Bocah pincang itu mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan sambil tertawa menuding ke arah Im Ceng.
"Aduh.... dasar setan cilik, masa kau beri nama seburuk itu untuknya!"
Un Tay-tay tertawa terpingkal-pingkal.
Paras muka Im Ceng berubah hebat.
Bocah pincang itu tidak bicara lagi, sambil tertawa dia sodorkan surat itu ke hadapannya.
Im Ceng berdiri dengan wajah penuh amarah, diapun tidak menerima sodoran surat itu.
"Kalau dia tidak mau menerima, biar aku saja yang menerimanya!"
Seru Un Tay-tay kemudian sambil tertawa. Tapi begitu sampul surat dibuka dan mengeluarkan isinya, kembali perempuan itu menjerit kaget.
"Aduh mak.... Uang senilai satu juta lima ratus tahil perak!"
Ternyata isi surat itu adalah sepuluh lembar uang kertas yang bernilai satu juta lima ratus ribu tahil perak!
Kendatipun dalam ruangan dihadiri oleh kawanan jago yang selama ini menganggap uang bagai tinja, tidak urung mereka terkesiap juga setelah mendengar nilai uang tersebut.
Sambil membasahi bibirnya dengan ludah, bocah pincang itu membelalakkan matanya bulat-bulat, lama kemudian dia baru menghela napas dan bergumam sambil tertawa.
"Aduh mak, tahu ada duit senilai satu juta setengah, akan kusimpan lebih lama lagi dalam sakuku"
"Kalau aku jadi kau, uang tersebut tidak bakalan kuserahkan"
Seru Un Tay-tay pula sambil tertawa.
"hei setan cilik, kau jangan keliru, uang itu untuk diserahkan kepadaku atau untuk dia?"
"Kalau duit itu milikku, pasti akan kuserahkan kepadamu!"
Un Tay-tay segera berpaling kearah Im Ceng, tanyanya pula sambil tertawa terkekeh.
"Bagaimana dengan kau? Akan kau berikan kepadaku atau tidak?"
"Uang yang tidak tahu asal usulnya tidak pernah aku maui!"
Jawab Im Ceng dengan nada berat.
"Aduh.... Kalau kau tidak mau, berikan saja kepadaku, tapi.... eeei, disini ada sepucuk surat yang ditujukan kepadamu!"
Dia mengambil secarik kertas warna kuning dan diserahkan kepada Im Ceng. Diatas surat itu tertera berapa tulisan yang berbunyi.
"Uang sebesar satu juta lima ratus ribu tahil perak, dipersiapkan bagi Perguruan Tay ki bun untuk membalas dendam dan membangun kembali kejayaan perguruan, jangan ditanya uang ini berasal dari mana, harap kau, Im Ceng pergunakan sebaik-baiknya"
Berubah hebat paras muka Im Ceng selesai membaca tulisan itu, bentaknya.
"Siapa yang serahkan surat ini kepadamu?"
"Buat apa kau banyak bertanya, pokoknya ambil saja uang itu, kalau tidak mau... hehehehe.... pasti ada orang lain yang mau menerimanya"
Seru bocah pincang itu. Sementara Im Ceng masih tertegun, tiba-tiba Un Tay-tay memanggil lembut.
"Adik cilik, kemarikan telingamu, cici ingin mengajukan pertanyaan kepadamu"
Sambil cengar cengir kegirangan bocah pincang itu berjalan mendekat dan menyandarkan tubuhnya dalam pelukan perempuan itu.
"Ayoh terus terang kepadaku"
Bisik Un Tay-tay kemudian.
"bukankah uang ini berasal dari.... Dia, Thiat Tiong-tong yang suruh kau serahkan kepadanya?"
Bocah pincang itu mengerdipkan matanya berapa kali, tapi akhirnya dia tertawa juga.
"Benar, dugaanmu memang sangat tepat"
Un Tay-tay segera menghembuskan napas panjang, bisiknya lagi.
"Orang ini memang rada aneh...."
"Coba kemarikan telingamu"
Kata bocah pincang itu kemudian.
"akupun ingin bertanya sesuatu kepadamu"
Un Tay-tay membungkukkan tubuhnya, bocah pincang itu segera menempelkan bibirnya diatas telinga perempuan itu, setelah menarik napas panjang, serunya sambil tertawa.
"Terus terang beritahu kepadaku, kenapa kau begitu harum?"
"Dasar setan cilik!"
Umpat Un Tay-tay sambil memukul kepalanya.
Mendadak tampak Im Ceng menggerakkan tubuhnya dan menyelinap ke samping bocah pincang itu, secepat kilat dia cengkeram perge-langan tangannya sambil membentak.
"Apa kau bilang?"
"Kau tidak usah ikut campur!"
Sahut bocah pincang itu keras, sekuat tenaga dia mencoba meronta, tapi sayang cengkeraman Im Ceng begitu kuat bagai japitan baja, bagaimanapun dia meronta tetap tidak berhasil melepaskan diri.
"Persoalan ini ada hubungannya dengan aku, tentu saja aku harus ikut campur!"
Kata Im Ceng gusar.
"Ooh, rupanya cemburu nih yaa? Hehehehe.... Jangan kelewat banyak makan cuka (cemburu maksudnya), masa lelaki macam kau pun besar rasa cemburunya, aku punya mata, aku toh boleh bebas melihat. Cepat lepaskan tanganmu"
Bukan mengendorkan cengkeramannya, ke lima jari tangan Im Ceng malah menjepit makin kuat, ujarnya gusar.
"Coba kalau bukan usiamu masih muda, hari ini aku tidak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja.... Hmm! Jika kau tidak mengaku, jangan harap kulepaskan dirimu!"
Saking sakitnya peluh telah bercucuran membasahi jidat bocah pincang itu, tapi teriaknya pula sambil tertawa paksa.
"Biar usiaku masih kecil, tapi aku lebih hebat ketimbang kau, tidak macam dirimu itu.... tahunya hanya sakit rindu!"
"Kurangajar, tajam amat mulutmu!"
Bentak Im ceng semakin gusar.
"Kau mau lepas tangan tidak?"
Teriak bocah pincang itu. Im Ceng tertawa dingin, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, terdengar bocah pincang itu telah berteriak keras.
"Toako, cepat kemari, ada orang menganiaya aku!"
Belum selesai dia berteriak, terasa hembusan angin menyambar lewat, di antara cahaya api yang bergoyang tahu-tahu di depan pintu telah bertambah dengan seorang manusia berbaju hitam.
Sepasang ujung bajunya dibiarkan berkibar ke bawah, tubuhnya tegak bagai sebatang tongkat baja, mukanya kaku seperti patung, meski tiada pancaran cahaya namun membawa daya kekuatan yang menggidikkan.
Im Ceng terkesiap, menggunakan kesempatan itu bocah pincang tadi sudah meronta dari cengkeramannya sambil berteriak.
"Kalau memang punya kemampuan, ayo bertarunglah melawan toako ku, berani ngak?"
Dia segera menyelinap ke belakang manusia berbaju hitam itu dan bersembunyi dibalik Ai Thian-hok.
"Hmm, rupanya murid pertama kui bo, aku memang ingin menjajal kemampuanmu"
Kata Im Ceng dingin.
"Kalau begitu turun tangan saja, aku akan mengalah dua jurus untukmu!"
Sahut Ai Thian-hok dingin.
Kata katanya singkat, pendek dan dingin.
Pada saat itulah Un Tay-tay sudah menyelinap maju dan berdiri di antara Im Ceng dengan dirinya.
Setelah menghadang di depan Ai Thian-hok, katanya sambil tertawa lembut.
"Urusan kanak-kanak biarlah diselesaikan sendiri oleh kanak-kanak, buat apa kita orang dewasa mencampurinya!"
Paras muka Ai Thian-hok tetap dingin dan kaku, sama sekali tidak menunjukkan reaksi.
"Padahal tidak ada urusan yang kelewat serius antara mereka berdua"
Kata Un Tay-tay lebih jauh.
"lebih baik kita pergi saja, aku punya arak wangi, bagaimana kalau kau temani aku meneguk berapa tawan"
Tiba-tiba Ai Thian-hok mengebaskan bajunya sambil membentak.
"Minggir kau!"
Segulung deruan angin pukulan menyambar keluar, membuat cahaya lentera dalam ruangan berkedip-kedip.
Un Tay-tay merasakan tubuhnya tergetar keras hingga mundur dengan sempoyongan, tapi dia masih berkata sambil tertawa.
"Semoga kau bisa melihat aku, dengan begitu kau tidak akan membangkang perkataanku!"
"Seorang lelaki dewasa menganiaya anak kecil, bahkan minta dilindungi perempuan, huuuh! Orang ini betul-betul bikin hati kecewa!"
Tiba tiba bentaknya.
"Ayoh kemari, kita bertarung!"
Sementara Un Tay-tay seakan masih ingin mengucapkan sesuatu, Im Ceng sudah menerobos lewat dari samping tubuhnya sambil membentak.
"Kalau berani, kita bertarung diluar!"
Sambil membentak dia langsung menerobos keluar dan berdiri dibawah hujan angin. Ai Thian-hok mengebaskan bajunya, di antara api yang bergoyang, diapun sudah menyelinap keluar.
"hey setan cilik"
Un Tay-tay segera berteriak.
"cepat bujuk toako ku, jangan berkelahi"
"Kenapa aku harus membujuknya"
Sahut bocah pincang itu sambil tertawa ringan.
"kalau keparat itu sudah mati terbunuh, bukankah uang itu akan menjadi milikmu"
"Kalau sampai toakomu membunuhnya, selama hidup aku tidak akan menggubrismu lagi!"
Ancam Un Tay-tay sambil menghentakkan kakinya.
"Aaaai.... Ternyata kau mencintainya"
"Bukan, bukan mencintai, kau tidak bakal tahu, selamanya kau tidak bakal tahu"
Bocah pincang itu tertegun, tiba-tiba serunya sambil tertawa.
"Ooh, aku tahu, bukankah kau cemas lantaran dia adalah adik seperguruannya Thiat Tiong-tong?"
Kemudian sambil bertepuk tangan lanjutnya.
"Baiklah, aku merasa cocok juga dengan orang she Thiat itu, memandang diatas wajahnya, biar aku minta kepada toako untuk mengampuni jiwanya!"
"Nah, begitulah baru anak baik-baik"
Seru Un Tay-tay sambil tertawa lebar.
Mereka berdua pun bersama sama menyusul keluar pintu.
Bu Ceng-hiong hanya memandang mereka dengan mulut melongo dan mata terbelalak, sedang Bi lek Hwee, Hay Tay-sau, Tio Ki-kong maupun Bu Bong segera menyusul keluar.
Kembali Tio Ki-kong menghela napas, pikirnya.
"Setelah kepergiannya kali ini, entah sampai kapan salah paham ini baru bisa diselesaikan"
Terdengar Bi lek Hwee berseru sambil menghela napas.
"Sayang, sayang!"
"Apanya yang sayang?"
Tanya Hay Tay-sau.
"Bocah muda itu bukan tandingan Ai Thian-hok, kalau dia sampai mampus ditangan Ai Thian hok, bukankah aku tidak bisa melampiaskan rasa mendongkolku"
"Haah, jadi orang tadi.... Orang tadi adalah Ai Thian-hok?"
Seru Tio Ki-kong pula terperanjat.
"Benar, orang ini telengas, sudah lama lohu mengetahui tentang dirinya!"
"Celaka!"
Jerit Tio Ki-kong dengan wajah berubah, tiba-tiba teriaknya keras.
"Ho-ji,Ho-ji!"
Baru saja ia berteriak, nona berbaju hijau itu sudah muncul dengan cepat sekali, gerakan tubuhnya yang secepat kilat ditambah wajahnya yang dingin kaku membuat dia seakan terbungkus oleh selapis misteri.
"Anak Sim, kau tetap disini melayani tamu"
Seru Bu Ceng-hiong kemudian, diapun ikut melompat keluar dari pintu. Bu Bong membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia menjura dan berseru.
"Harap kalian berdua menunggu sebentar, biar keponakan pergi membantu ayah"
Begitu selesai bicara, diapun segera berlalu. Kini tinggal Bi lek Hwee saling berpandangan dengan Hay Tay-sau.
"Dasar bocah!"
Gumam Bi lek Hwee kemudian sambil tertawa getir dan menggeleng,.
"Kelihatannya Tio toako itu punya hubungan yang cukup dekat dengan Perguruan Tay ki bun"
Kata Hay Tay-sau.
"tak heran dia buru buru pergi memmbantu setelah mengetahui anak muda itu dalam keadaan berbahaya!"
Bi lek Hwee berkerut kening, katanya pula.
"Ilmu silat yang dimiliki nona itu sangat tangguh, dia cukup mampu menghadapi Ai Thian-hok. Lohu jadi ingin ikut nonton keramaian"
"Benar, pertemanan akbar semacam ini memang tidak boleh dilewatkan dengan begitu saja!"
"Tapi kedai ini...."
Tiba-tiba Hay Tay-sau menghampiri sang kusir, sambil menepuk bahunya dia berseru.
"Kau baik-baik jaga kedai ini, jangan ke mana-mana"
Pukulan itu membuat sang kusir terbungkuk kesakitan, sahutnya dengan wajah getir.
"Baa... baik...."
Hay Tay-sau tertawa tergelak, dia segera menarik tangan Bi lek Hwee dan beranjak pergi dari situ.
Menanti bayangan tubuh kedua orang itu sudah pergi jauh, sang kusir baru membanting topinya keras-keras sambil mengumpat.
"Mereka perintah kalian, sekarang kalian perintah aku, dasar aku yang lagi sial!"
Tiba-tiba terlihat ada sesosok bayangan manusia melompat naik ke atas kereta kuda lalu mencemplak kudanya kuat-kuat. Dengan perasaan kaget kusir itu menjerit.
"Perampok, berani amat kau rampas kudaku!"
Dengan cepat dia memburu ke depan sambil berusaha merebut kembali kudanya, tapi sebuah ayunan cambuk dengan telak menghajar diatas wajahnya.
Sambil menjerit kesakitan buru-buru dia menutupi wajahnya, menanti dia membuka matanya kembali, kereta kuda itu sudah lenyap dari depan mata.
BAB 14 Cinta Seorang Wanita Cantik Dengan darah mendidih didada Im Ceng berlarian kencang ditengah hujan angin, dibelakangnya menyusul Ai Thian-hok.
Karena kuatir Un Tay-tay menghalangi niatnya, dia sengaja berlarian hingga keluar dari dusun sebelum menghentikan langkahnya.
"Jadi kau akan bertarung disini?"
Tegur Ai Thian-hok dingin.
"Benar!"
Dari sakunya Im Ceng mencabut keluar sebilah pisau kemudian membuat garis lingkaran selebar empat meter keliling.
"Kau tidak merasa garis lingkaran ini kelewat lebar?"
Kembali Ai Thian-hok mengejek.
"Perduli lingkaran yang kubuat kelewat besar atau kecil, pokoknya hari ini sebelum menang kalah ditentukan, siapa pun jangan harap bisa meninggalkan lingkaran ini barang setengah langkah pun!"
Ujar Im Ceng gusar. Ditengah kilauan cahaya tajam, tahu-tahu pisau belati itu sudah menancap diatas tanah.
"Baik, aku akan mengalah tiga jurus untukmu, cepatlah turun tangan!"
"Hahahaha.... Kau sangka aku orang she-Im nkan menyerang orang buta duluan!"
Im Ceng tertawa seram.
Mendadak sekujur tubuh Ai Thian-hok gemetar keras, begitu kerasnya hingga rambut panjang yang terurai hingga ke pundak pun ikut bergetar keras, mukanya yang sudah menyeramkan, kini semakin mengerikan hingga mirip setan gentayangan yang muncul ditengah hujan angin.
Si bocah pincang yang kebetulan baru tiba disitu dan mendengar ucapan dari Im Ceng, paras mukanya seketika berubah hebat, serunya sambil menghentakkan kakinya berulang kali.
"Celaka, celaka, kali ini siapa pun tidak ada yang bisa selamatkan dia lagi!"
"Kenapa?"
Tanya Un Tay-tay terkejut. Setelah menghembuskan napas panjang, bisik bocah itu.
"Toako ku paling benci kalau ada orang memakinya buta, selama ini belum pernah ada yang lolos dalam keadaan hidup"
Un Tay-tay terkesiap, ketika menatap wajah Ai Thian-hok yang mengerikan, tanpa terasa hawa dingin menyusup keluar dari lubuk hatinya, untuk sesaat dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba terdengar Im Ceng membentak lantang.
"Bila ada siapa pun berani melangkah masuk ke dalam lingkaran ini untuk membantu Im Ceng, aku orang she-Im segera akan bunuh diri dihadapannya!"
"Bagus sekali"
Seru Ai Thian-hok dengan suara dalam.
"kita tidak perlu berhenti sebelum ada yang mampus!"
Un Tay-tay yang mendengar perkataan itu kembali menghentakkan kakinya berulang kali, keluhnya.
"Heran, kenapa kalian kaum lelaki selalu bersikap aneh, padahal tiada dendam sakit hati apa pun di antara mereka berdua, kenapa harus bertarung sampai mati?"
Si bocah pincang itupun ikut berseru dengan wajah masam.
"Toako, hajar saja dia dengan berapa tonjokkan, buat apa mesti mencabut nyawanya? Dia.... dia toh tidak menganiaya aku...."
"Kalau kau berani cerewet lagi, akan kupotong lidahmu terlebih dulu!"
Ancam Ai Thian-hok.
Si bocah pincang itu bergidik, sambil merentangkan tangannya tanda menyerah, dia hanya gelengkan kepalanya berulang kali.
Kini Ai Thian-hok telah berdiri saling berhadapan dengan Im Ceng, ditengah hujan angin, pakaian yang mereka kenakan telah basah kuyup, meski kedua belah pihak sama-sama menanti lawannya melancarkan serangan lebih dulu, namun suasana sudah mencapai puncak ketegangan, setiap saat pertarungan dapat berkobar.
Terdengar suara langkah kaki yang ramai bergema mendekat, ternyata Tio Ki-kong dan nona berbaju hijau itu telah menyusul tiba.
"Toa-tia, kau suruh aku membantu pemuda itu?"
Terdengar nona berbaju hijau itu bertanya.
"Benar, cepatlah tolong dia!"
Nona berbaju hijau itu menghela napas panjang, gumamnya.
"Walaupun aku enggan bertarung melawan kaum lelaki, tapi aku tidak ingin membangkang perintah dari toa-tia"
Perlahan-lahan dia berjalan mendekati garis lingkaran. Dengan cepat Un Tay-tay menghadang dihadapannya, ujarnya setelah menghela napas.
"Bila kau membantunya, dia akan segera bunuh diri, aku paling paham tentang tabiatnya, apa yang telah diucapkan tidak pernah akan dirubah kembali"
Nona berbaju hijau itu tertegun, dia berpaling menengok Tio Ki-kong sekejap, tapi Tio Ki-kong sendiripun hanya berdiri kaku, sampai lama sekali tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Hei setan cilik"
Un Tay-tay berpaling ke arah bocah pincang itu.
"benarkah kau sudah kehabisan akal?"
"Satu satunya jalan untuk mencegah pertarungan ini adalah minta kepada orang she-Im itu agar tidak melancarkan serangan duluan, toako ku tidak pernah menyerang duluan"
Belum selesai dia berkata, terlihat Im Ceng sudah menerjang maju sambil melontarkan sebuah pukulan ke depan. Melihat itu sekali lagi Un Tay-tay menghela napas.
"Aaai, seandainya kau tidak berkata begitu, belum tentu dia akan melancarkan serangan, tapi begitu mendengar perkataanmu, dia pasti akan menyerang duluan"
"Darimana kau bisa mengetahui wataknya itu?"
Tanya si bocah pincang itu dengan mata terbelalak.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Im Ceng sudah melancarkan tiga jurus serangan.
Ai Thian-hok berdiri tegak, dia menunggu sampai ke tiga jurus serangan itu selesai dilancarkan, sepasang ujung bajunya baru dikebaskan berulang kali di udara.
Kembali bocah pincang itu berkata.
"Apa yang telah toako katakan, dia pun tidak pernah akan meru bahnya, kalau berjanji akan mengalah tiga jurus, dia tetap akan mengalah sebanyak tiga jurus!"
Selama ini sepasang tangan Ai Thian-hok selalu disembunyikan dibalik bajunya, sepasang lengan bajunya itu berputar bagaikan naga sakti di angkasa, dalam waktu singkat dia pun telah balas melancarkan tiga jurus serangan.
Biarpun ke tiga jurus serangan itu ganas dan dahsyat, ternyata Im Ceng pun hanya menempelkan sepasang kepalannya diatas pinggang sambil berkelit kian kemari.
Ketika tiga jurus serangan itu lewat, terdengar Im Ceng membentak keras.
"Aku telah membayar lunas ketiga jurus serangan mu itu!"
Si bocah pincang tertegun melihat hal itu, sementara Un Tay-tay menengok sekejap ke arahnya lalu tertawa ringan.
"Aku mengalah tiga jurus lagi untukmu!"
Terdengar Ai Thian-hok menghardik. Betul saja, dia menanti sampai Im Ceng selesai melancarkan tiga jurus serangan sebelum balas melancarkan pukulan. Hmmm, aku justru akan mengalah lagi untukmu!"
Teriak Im Ceng gusar.
Ditengah bentakan, Ai Thian-hok telah melancarkan tiga jurus serangan dengan gerakan Siang go peng gwee (Siang-go kabur ke bulan), Hong tiong liu im (angin bergerak awan mengalir) dan Im po jit lay (awan buyar matahari muncul), terasa angin pukulan berpusing dengan dahsyatnya.
Selewat ke tiga jurus serangan itu, semestinya dia harus melanjutkan dengan jurus Gwee gi seng huan (rembulan bergeser bintang berpindah), Kim Jim po hu (roda emas memecah kabut) dan Tiang liong koan jit (bianglala menembusi sang surya), karena rangkaian jurus itu merupakan enam jurus serangan berantai.
Tapi begitu selesai menggunakan jurus Im po jit lay tadi, Ai Thian-hok sama sekali tidak melanjutkan kembali serangannya, dia seolah dengan sengaja mengalah kepada Im Ceng.
Benar saja, kepalan Im Ceng langsung menyambar tiba, serangan keatas mengarah wajah, serangan bawah mengancam lambung, angin pukulan yang menderu-deru membuat ujung jubah Ai Thian-hok beterbangan kencang.
Meski Ai Thian-hok berilmu tinggi pun tidak urung tubuhnya terdesak mundur juga sejauh dua langkah.
Kejadian ini langsung menyulut api amarahnya, wajah yang dingin kaku berubah hebat, bentaknya.
"Sambut lagi ke tiga jurus seranganku ini!"
Gulungan angin pukulan dahsyat segera dilontarkan dari balik lengan bajunya.
Ke tiga jurus serangan ini meski jauh lebih dahsyat, namun dibalik gerak serangan itu dia sengaja membuka garis pertahanannya, khususnya pada jurus serangan yang ke tiga, sepasang lengannya malah dipentangkan lebar sehingga pertahanan dibagian dadanya terbuka sekali.
Siapa tahu Im Ceng tetap tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk melontarkan pukulan mautnya, dia bersikeras menunggu sampai ke tiga jurus serangan itu lewat baru melancarkan balasan.
Sewaktu melancarkan serangan pun dia sama sekali tidak memusingkan soal pertahanan, hampir segenap tenaga pukulan yang dimilikinya digunakan untuk menghimpit musuh.
Dalam keadaan seperti ini, kendatipun Ai Thian-hok sangat marah pun tidak ada gunanya, karena dia memang tidak bisa berbuat banyak terhadap pemuda keras kepala ini.
Sekalipun ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih unggul ketimbang Im Ceng, tapi jurus serangan yang berulang kali tidak dapat digunakan secara tuntas membuat kemampuan silatnya menderita banyak kerugian, sebaliknya Im Ceng yang nekad justru menyerang jauh lebih girang dan ganas.
Sebagaimana wataknya yang berangasan, kasar dan gampang naik darah, diwaktu biasapun dia tidak pernah memikirkan soal pertahanan apalagi dalam menghadapi pertarungan semacam ini.
Tidak heran kalau untuk sesaat menang kalah sulit ditentukan.
Si bocah pincang yang menonton jalannya pertarungan itu jadi berdiri terbelalak dengan mulut melongo, tidak tahan dia gelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
"Benar-benar watak baunya memuakkan, belum pernah kujumpai orang berwatak sebau itu!"
Gumamnya.
"Hari ini kau telah menjumpainya bukan?"
Sahut Un Tay-tay tertawa.
"nah, bagi anak kecil macam kau, anggap saja menambah pengetahuanmu!"
Sekalipun senyuman masih menghiasi bibirnya, padahal dalam hatinya perempuan ini merasa tegang sekali.
Ke tiga jurus serangan yang dilancarkan Ai Thian-hok kian lama kian bertambah susah untuk dihadapi, Im Ceng harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menghindarkan diri, meski beruntung dapat lolos dari ancaman, tidak urung butiran keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Waktu itu Bi lek Hwee serta Hay Tay-sau telah menyusul tiba disitu, mereka berdua pun ikut tercekat setelah menyaksikan jalannya pertarungan.
Tiba-tiba terdengar Ai Thian-hok berpekik nyaring, sepasang tangannya yang selama ini disembunyikan dibalik lengan baju, tiba-tiba keluar dan secepat kilat melepaskan tiga pukulan.
Kalau tadi deraan angin dari lengan bajunya sudah dahsyat, maka angin pukulan yang dilepaskan saat ini jauh lebih hebat lagi.
Im Ceng berhasil menghindar dari pukulan yang pertama, tapi pukulan ke dua sempat menyambar ujung bahunya, membuat dia terpental ke belakang dan harus berjumpalitan berapa kali agar tidak roboh terjengkang.
Ai Thian-hok tidak melanjutkan dengan serangan ke tiga, bahkan dia sengaja membuka pertahanan tubuh bagian bawahnya.
Jika Im Ceng gunakan kesempatan itu untuk menyerang dari tengah udara, kendatipun belum tentu bisa unggul, paling tidak dia masih bisa merebut posisi yang lebih menguntungkan.
Tapi dasar kepala batu, dia lebih baik mati konyol daripada memanfaatkan kesempatan itu, sambil menggigit bibir dia meluncur turun ke bawah.
Tatkala tubuhnya menyentuh permukaan tanah, hawa murninya yang kalut belum sempat dihimpun kembali, saat itulah sepasang tangan Ai Thian-hok menyerang dengan jurus Bai jut to hay (mendorong keluar tumpahan samudra) sudah menyodok kearah lambungnya.
Buru-buru Im Ceng berusaha menjejakkan kakinya untuk melambung kembali ke udara, sayang Ai Thian-hok tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berganti napas, angin pukulan yang kuat seketika menghantam tubuhnya, membuat dia roboh terjengkang ke tanah.
Tanpa terasa jeritan kaget bergema dari sisi arena.
Baru saja Ai Thian-hok menggerakkan langkahnya, Un Tay-tay segera berteriak keras.
"Sekarang giliran dia...."
Sambil tertawa dingin Ai Thian-hok segera membatalkan langkahnya.
Im Ceng yang terjengkang ke tanah cepat merangkak bangun, biarpun dia menggertak gigi menahan rasa sakit, namun noda darah terlihat membasahi ujung bibirnya.
"Pemuda ini betul-betul kepala batu!"
Gumam Hay Tay-sau sambil menghela napas. Bi lek Hwee ikut menggeleng pula sambil menghela napas.
"Aku tidak menyangka Perguruan Tay ki bun memiliki murid sekeras itu, kelihatannya dia jauh lebih kepala batu ketimbang watakku!"
Si bocah pincang turut bergumam pula.
"Sudah banyak tahun toakoku tidak pernah menggunakan sepasang tangannya, tapi kali ini dia dipaksa untuk menggunakannya, meskipun dia kalah, seharusnya dia kalah dengan bangga"
"Kalah yaa kalah, apanya yang perlu menjadi bangga!"
Seru Un Tay-tay sambil melotot.
Im Ceng dengan langkah sempoyongan dan sepasang mata merah membara, selangkah demi melangkah mendekati Ai Thian-hok, lengan kirinya tampak terkulai ke bawah, jelas luka dibahu kanannya cukup parah.
Sekalipun terluka, semangatnya sama sekali tidak berkurang, begitu tiba dihadapan Ai Thian-hok, bentaknya.
"Hati hati kau!"
Dia mengayunkan tangannya dan langsung disodokkan ke depan.
Biarpun pukulan ini sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, sayang tenaga yang dimiliki sudah teramat minim, sekalipun pihak lawan tidak pandai silat pun, belum tentu serangan ini sebut dapat merobohkan dirinya.
Tentu saja secara mudah Ai Thian-hok berhasil menghindarkan diri dari ke tiga serangan itu.
"Apakah ke tiga jurus serangan berikut masih akan kau lancarkan?"
Terdengar Hay Tay-sau menegur dengan suara keras. Ai Thian-hok tidak menanggapi, wajahnya tetap hambar tanpa perubahan apapun.
"Tua bangka sialan"
Umpat Hay Tay-sau gusar.
"lebih baik bertarung satu babak dulu melawanku sebelum bicara lain"
Baru saja dia hendak menggerakkan tubuh-nya, tiba-tiba Im Ceng berpaling seraya mengancam.
"Kalau kau berani maju membantu, sekarang juga aku akan bunuh diri dihadapanmu"
"Tapi jurus keduanya tidak mungkin bisa kau hindari!"
Seru Hay Tay-sau cemas. Im Ceng tertawa seram.
"Dari mana kau tahu kalau aku tidak sanggup menghindari.... sekali pun tidak mampu kuhindari, apa urusannya denganmu!"
Kemudian sambil membusungkan dada, hardiknya.
"Orang she-Ai, ayoh maju!"
"Hmm, memandang kau sebagai seorang lelaki, kuberi waktu lagi bagimu untuk mengatur napas"
Kata Ai Thian-hok dingin. Kontan Im Ceng mendelik, tapi sebelum dia menjawab, Un Tay-tay sudah berteriak lebih dahulu.
"Im lote, kau tidak boleh mati, uangmu sebesar satu juta lima ratus ribu tahil perak masih berada ditanganku, dan lagi kau.... kau masih begitu muda, masih banyak waktu bagimu untuk menikmati keduniawian, biarlah orang lain membantumu, boleh bukan? Setelah ini aku.... aku pasti akan baik-baik melayanimu...."
Ucapan tersebut disampaikan dengan nada pedih dan penuh kepiluan, tapi Im Ceng jangan lagi menuruti, menengok sekejap ke arahnya pun tidak.
"Jadi.... Jadi kau tidak menyukai aku?"
Kembali Un Tay-tay berseru.
"tahukah kau betapa sukaku kepadamu, bila kau mati, apa.... apa yang harus kuperbuat?"
Perkataan sendu yang disampaikan ditengah hujan angin begini, betul-betul membuat perasaan siapa pun merasa iba.
Paras muka Im Ceng turut berubah, tiba-tiba dia muntahkan darah segar, tapi segera teriaknya.
"Aku telah mengatur napasku, kenapa kau belum juga turun tangan?"
Otot wajah Ai Thian-hok nampak mengejang keras, ujarnya perlahan.
"Tadi kau mengatakan buta, apakah sedang mengumpatku?"
"Bukan mengumpatmu, bukan mengumpatmu, yang dia maki bukan kau!"
Buru-buru Un Tay-tay berteriak. Baru habis perempuan itu menjerit, Im Ceng dengan nada berat telah berteriak.
"Kau memang buta, tentu saja kau yang kumaki!"
Paras muka Ai Thian-hok berubah makin suram, kembali tegurnya.
"Apakah sekarang kau siap menarik kembali ucapanmu?"
"Aku toh tidak salah bicara, kau memang buta"
Teriak Im Ceng semakin gusar, kemudian sambil bertepuk dada lanjutnya.
"perkataan seorang lelaki yang telah diucapkan, sampai mati pun tidak akan ditarik balik!"
"Baik...."
Ai Thian-hok menarik napas panjang, perlahan-lahan dia mengangkat tangannya. Butir air mata tanpa terasa bercucuran membasahi pipi Un Tay-tay, teriaknya sambil menghentakkan kaki.
"Kenapa kau.... kau begitu bodoh, apa.... apa salahnya menarik balik perkataanmu tadi, bila kau mencabut makianmu, dia tidak bakal mencelakaimu lagi!"
"Hahahahaha...."
Im Ceng mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"bagi seorang lelaki sejati, hidup tidak menyesal kenapa harus takut menghadapi mati! Hari ini bisa melihat kau menangis, hatiku sudah teramat gembira. Hei orang she-Ai, cepat turun tangan!"
Begitu dia selesai bicara, telapak tangan Ai Thian-hok telah tiba dihadapannya, begitu cepat gerak serangan yang dilancarkan, dalam waktu singkat dia sudah melepaskan tiga jurus pukulan.
"Blaaaam!"
Sekali lagi bahu kanan Im Ceng termakan sebuah pukulan.
Begitu kuat dan kerasnya pukulan tersebut, kontan tubuh pemuda itu mencelat ke belakang dan terguling di tanah.
Keadaan yang begitu mengenaskan membuat para penonton tidak tega untuk menyaksikannya lebih lanjut, sebagian di antara mereka segera pejamkan mata atau membuang pandangan kearah lain.
Tapi Im Ceng memang bandel, kembali dia merangkak bangun dan bergerak mendekati Ai Thian-hok.
"Kau masih ingin bertarung terus?"
Tegur Ai Thian-hok dengan wajah sedikit berubah.
"Belum pernah ada anggota Perguruan Tay ki bun yang minta ampun kepada orang lain!"
Sahut Im Ceng dengan napas tersengkal.
Telapak tangannya bergerak ke depan menggunakan jurus Sin liong tam jiau (naga sakti pentangkan cakar), tapi sayang sepasang bahunya sudah terluka hingga sulit baginya untuk mengangkat lengannya.
Tidak heran kalau serangan itu dilancarkan sangat lambat, tidak ubahnya seperti seorang kakek yang sedang memberikan sesuatu benda kepada seorang bocah bayi, serangan yang mustahil dapat mengenai sasarannya.
Semua orang menghela napas sedih, melihat Im ceng sudah tidak sanggup mengangkat lengannya, jelas sudah mustahil baginya untuk menyelesaikan ke tiga juru sserangannya.
Akhirnya setelah bersusah payah Im Ceng berhasil juga mengangkat lengannya, tangan itu inci demi inci diangkat keatas, inci demi inci mendekati A i Thian-hok...
mendadak.
"Plaaaak!"
Ternyata serangan dari Im Ceng itu bersarang telak di wajah Ai Thian-hok.
....
Sebagaimana diketahui, sepasang mata Ai Thian-hok sama sekali buta, selama ini dia hanya mengandalkan suara angin untuk menentukan gerak serangan lawan, tapi kali ini, serangan dari Im ceng dilakukan sangat lamban, bahkan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.
Ai Thian-hok sangka dia sudah tidak mampu mengangkat lengannya lagi hingga sama sekali tidak berjaga, selain itu diapun merasa susah untuk melanjutkan pertarungan itu, sehingga akhirnya pukulan itu malah bersarang telak.
Dalam waktu singkat semua orang dibuat terkesima dan termangu untuk berapa saat lamanya.
Im Ceng sendiripun nampak agak tertegun, tapi kemudian dia tertawa tergelak, teriaknya.
"Hei orang she-Ai, akhirnya aku... aku berhasil menghajarmu..."
Tiba-tiba hawa murninya buyar, dia pun roboh tidak sadarkan diri. Un Tay-tay tidak tahu harus terkejut atau gembira, cepat dia menubruk maju ke depan. Hay Tay-sau pun ikut tertawa keras, bentak-nya.
"Ai Thian-hok, apakah kau masih punya muka untuk melanjutkan pertarungan ini? Kalau bernyali, ayoh tarung melawan aku!"
Tapi Ai Thian-hok hanya berdiri kaku ditempat, dia seolah tidak mendengar tantangan itu.
Diatas wajah Tio Ki-kong yang penuh bekas luka bacokan, lamat-lamat muncul juga cahaya merah, sambil berpaling ke arah nona berbaju hijau itu, katanya.
"Demi anak muda semacam ini, apakah cukup berharga bagimu untuk turun tangan?"
Diatas wajah si nona berbaju hijau yang putih pucat, kini muncul pula cahaya merah karena luapan emosi, tiba-tiba teriaknya keras.
"Ai Thian-hok, beranikah kau menerima berapa jurus serangan dari aku Liu Ho-ie?"
Bi lek Hwee sendiripun merasakan napasnya tidak teratur, saat itu dia ikut berkata pula.
"Meskipun lohu bermusuhan dengan Perguruan Tay ki bun, namun hari inipun aku akan bertarung juga demi dirinya!"
Akan tetapi Ai Thian-hok masih tetap berdiri kaku tanpa bergerak, dia membiarkan air hujan dan angin menerpa wajahnya, raut muka yang semula dingin kaku kini berubah semakin dingin, sama sekali tidak nampak secerca cahaya kehangatan sedikit pun.
Bergidik perasaan hati bocah pincang itu setelah melihat perubahan mimik muka toakonya yang menyeramkan, tidak tahan panggilnya dengan nada gemetar.
"Toako...."
Perlahan-lahan Ai Thian-hok mendongakkan kepalanya, kemudian sambil menggapai bisiknya.
"Kemari kau!"
Dengan wajah getir bocah pincang itu berjalan mendekat, katanya dengan nada gemetar.
"Toako, kau.... bila kau enggan bertarung melawan mereka, siaute bersedia menggantikan posisimu"
"Tidak usah banyak bicara lagi"
Tukas Ai Thian-hok sambil tertawa pedih.
"berdiri dihadapanku"
Dengan perasaan sangsi selangkah demi selangkah bocah pincang itu maju mendekat.
Mendadak Ai Thian-hok membenahi pakaiannya kemudian menjatuhkan diri berlutut dihadapannya dan menyembah berapakali.
Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini bukan saja membuat bocah pincang itu terbelalak dengan mulut melongo, orang lain pun ikut terperanjat dibuatnya.
Setelah tertegun berapa saat akhirnya bocah pincang itu turut berlutut pula dengan air mata bercucuran, serunya gemetar.
"Toako, kau.... apa yang kau lakukan?"
"Sembah sujudku ini kutujukan untuk suhu, tolong sampaikan kepada dia orang tua, katakan, tecu Ai Thian-hok sudah tidak bisa membalas budi kebaikannya lagi"
"Toako, kau.... kau...."
Bocah pincang itu semakin terkesiap. Ai Thian-hok tertawa getir.
"Setelah hidup malang melintang dalam dunia persilatan, hari ini wajahku telah kena dihajar orang tanpa terasa, apakah aku masih punya muka untuk hidup terus di dunia ini?"
"Tapi.... tapi.... toako, kau toh berhasil melukainya terlebih dulu!"
Ai Thian-hok melompat bangun dari tanah, dengan wajah berat tukasnya.
"Keputusanku sudah bulat, kau tidak usah banyak bicara lagi, tolong sampaikan juga kepada semua saudara yang lain, katakan kalau toako mohon diri terlebih dulu!"
Bocah pincang itu mendekap ditanah sambil menangis tersedu sedu, begitu sedihnya bocah itu membuat kawanan jago lain pun ikut terharu.
Pada saat itulah mendadak dari kejauhan muncul sesosok bayangan manusia, orang itu berhenti ditempat kegelapan dan segera menyembunyikan diri.
Sayang waktu itu semua orang sedang berdiri terperanjat hingga tidak seorang pun yang menyadari akan kehadirannya.
Terdengar Ai Thian-hok tertawa tergelak berulang kali, kemudian ujarnya lantang.
"Orang she-Im itu bisa memandang kematian sebagai hal yang lumrah, kenapa aku Ai Thian-hok tidak bisa? Kiu-te, jangan lupa, di saat seorang lelaki sejati menjelang ajal, dia harus mati sebagai seorang enghiong!"
Selesai bicara ia segera mengayunkan telapak tangannya siap dihantamkan keatas ubun ubun sendiri.
Sambil menangis terisak bocah pincang itu segera menubruk ke depan, memeluk pinggangnya kuat-kuat, membuat toakonya mundur berapa langkah dengan terhuyung, kemudian teriaknya keras.
"Toako, kau tidak boleh mati...."
Tiba tiba Hay Tay-sau ikut berteriak lantang.
"Memangnya kau anggap mati dalam keadaan begini merupakan kematian seorang enghiong? Huuuh, kalau memang bernyali, ayoh lanjutkan hidupmu, tahukah kau masih ada berapa banyak orang yang ingin menantangmu bertarung?"
Ai Thian-hok menangkap sepasang lengan bocah pincang itu, sambil berusaha melepaskan cengkeramannya, dia menghardik.
"Kiu-te, lepaskan tanganmu!"
Tapi sampai mati pun bocah pincang itu enggan melepaskan cengkeramannya. Sekonyong-konyong dari kejauhan sana terdengar seseorang tertawa dingin. Lalu terdengar seseorang dengan nada sinis menjengek.
"Buat apa kalian membujuknya? Manusia buta macam dia memang tidak berarti hidup terus di dunia ini, kenapa tidak biarkan dia pergi mampus saja!"
Semua orang terperanjat, terlebih Ai Thian-hok, dengan tubuh bergetar keras dan wajah berubah hebat, bentaknya.
"Siapa yang berani mencaci maki aku?"
Baca Juga: Lembah Nirmala 10
Baca Juga: Merpati Pedang Purba 1