Eps 4 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung
Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung
Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.
Menyusul gelak tertawa itu, Suto Siau melayang masuk ke dalam hutan, serunya lagi sambil tertawa.
"Tiong-tong, kalau toh dia tidak percaya yaa sudahlah, buat apa kau mesti mengajaknya berdebat?"
"Betul-betul manusia berhati keji!"
Umpat Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah. Dia sadar, dengan sikap dan perkataan Suto Nian, kesalahan pahamnya dengan Im Ceng bakal bertambah mendalam. Betul saja, Im Ceng kontan tertawa seram.
"Bagus, bagus sekali!"
Teriaknya.
"Thiat Tiong-tong wahai Thiat Tiong-tong, kendatipun kau berusaha mungkir, kini Suto Siau sudah mewakilimu mengakui, apa lagi yang akan kau katakan?"
Dengan sekali lompatan Thiat Tiong-tong menyerbu ke hadapan Suto Siau.
"Hahahaha.... urusan telah berkembang jadi begini, buat apa kau membohonginya lagi?"
Kembali Suto Siau berkata sambil tertawa.
Sambil tersenyum dia segera menggapai ke luar lilitan, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Phoa Seng hong segera bermunculan dari balik pepohonan.
Kembali Suto Siau melanjutkan sambil tertawa.
"Bagaimana pun juga, semua orang yang hadir disini adalah orang orang kita, apalagi yang mesti kautakuti?"
"Benar"
Sambung Pek Seng-bu sambil tertawa pula.
"asal kita habisi nyawanya, didunia ini tidak mungkin ada orang yang mengetahui rahasiamu lagi, dan kau tetap bisa menjadi mata-mata dalam Perguruan Tay ki bun!"
Dengan penuh kemarahan dan rasa dendam Thiat Tiong-tong menggigit bibir sambil menutup rapat mulutnya, dia sadar, fitnahan ini tidak mungkin bisa dibantah dengan alasan apa pun.
Dalam pada itu Im Ceng telah mengepal tinjunya kencang kencang, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu mendadak teriaknya.
"Thiat Tiong-tong, aku beritahu padamu, sekalipun harus pertaruhkan nyawa aku tetap akan berusaha kabur dari sini!"
"Huuh, murid Perguruan Tay ki bun bisanya kabur juga?"
Ejek Hek Seng-thian sambil tertawa dingin.
"Aku harus kabur dari sini karena aku ingin menyiarkan penghianatannya ke seluruh dunia, agar semua orang tahu akan perbuatan busuk yang dia lakukan"
Jerit Im Ceng makin gusar.
Begitu selesai bicara, dia langsung menerjang ke arah Pek Seng-bu.
Dari kejauhan Suto Siau segera memberi kerdipan mata kepada Pek Seng-bu, tampaknya Pek Seng-bu memahami rencana rekannya....
saat itulah kepalan Im Ceng telah menyodok tiba.
Saat ini dia hanya berniat meloloskan diri secepatnya, tidak heran kalau tenaga pukulan yang dilontarkan sangat dahsyat, dengan tangan kiri melindungi dada, kepalan kanannya menyodok ke iga Pek Seng-bu, belum lagi serangannya tiba, angin pukulan yang kuat sudah mengibarkan ujung baju lawan.
Cepat Pek Seng-bu mengayunkan tangannya dan langsung membabat urat nadi di pergelangan tangan lawan.
Siapa tahu serangan dari Im Ceng itu hanya serangan tipuan, baru sampai setengah jalan, kepalan kirinya mendadak memutar keluar dari bawah ketiak kanannya dan menghantam dagu Pek Seng-bu dengan jurus Sik po thian keng (batu hancur langit bergetar).
Agaknya Pek Seng-bu tidak menyangka kalau dia akan mengubah jurus serangannya secepat itu, sementara dia masih kaget dan gugup, Im Ceng lelah melancarkan serangkaian tendangan berantai, tiga jurus serangan seakan dilancarkan hampir berbareng.
Di antara deruan angin tendangan dan bayangan pukulan, tubuh Pek Seng-bu terdorong maju sejauh berapa, langkah, seolah termakan oleh pukulan dari Im Ceng, langkahnya jadi gontai hingga terpaksa harus menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat.
Pertarungan antara ke dua orang itu berlangsung hanya sekejap mata, tujuan utama Im ceng memang ingin cepat lolos dari kepungan, dia tidak mau bertarung lebih jauh, setelah berputar di tengah udara secepat kilat tubuhnya melesat keluar dari hutan.
Suto Siau dan Hek Seng-thian serentak membentak nyaring.
"Kejar! Mau kabur ke mana kau!"
Tubuh mereka berdua tetap berdiri menggencet disamping Thiat Tiong-tong, biar teriakannya nyaring, kaki mereka sama sekali tidak bergeser.
Ketika Im Ceng sudah pergi jauh, Pek Seng-bu buru berkata sambil tertawa tergelak.
"Hahahaha.... bagaimana dengan lagakku pura-pura kalah? Sudah cukup persis belum?"
"Betul-betul mirip, betul-betul hebat"
Puji Suto Siau sambil bertepuk tangan.
"Tapi sejujurnya, gerak serangan bajingan itu cukup tangguh!"
"Sehebat secanggih apapun gerak serangannya, memang dia benar benar mampu kabur dari sergapan saudara Pek hanya dalam tiga gebrakan?"
Tukas Suto Siau sambil tertawa.
Ke tiga orang itu saling berpandangan sambil tertawa tergelak, suara tertawa mereka penuh diliputi perasaan bangga dan puas.
Sesaat kemudian Suto Siau baru berpaling ke arah Thiat Tiong-tong, katanya.
"Tahukah kau, apa sebabnya kami bertiga tidak menghabisi nyawa Im Ceng, sebaliknya malah membiarkan dia kabur?"
"Hmm. Kau memang berniat mengadu domba kami berdua"
Dengus Thiat Tiong-tong sinis. Sekali lagi Suto Siau tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... tepat, tepat sekali"
Katanya.
"dengan membiarkan dia melarikan diri kali ini, sama artinya aku telah menciptakan seorang musuh bebuyutan untukmu, selama hidup jangan harap dia bisa melepaskan dirimu dengan begitu saja"
Dalam hati kecilnya Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali, namun diluaran sahutnya dengan ketus.
"Hmmm, kami adalah sesama saudara seperguruan, sekalipun timbul kesalahan paham, akhirnya toh akan beres dengan sendirinya"
"Benarkah?"
Jengek Suto Siau sambil tertawa licik.
"mendengar kan perkataanmu saja tidak sudi, bahkan dalam pikirannya hanya ingin menghabisi nyawa murid murtad secepatnya, mana mungkin kesalahan paham ini bisa diselesaikan begitu saja"
Hampir meledak rasa mendongkol Thiat Tiong-tong setelah mendengar perkataan itu, tidak tahan teriaknya.
"Bajingan laknat, kau...."
"Betul, aku memang bajingan laknat"
Tukas Suto Siau lagi sambil tertawa.
"tapi bila dibandingkan nama busukmu dikemudian hari, mungkin posisiku jauh lebih mendingan ketimbang kau"
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Saudara Thiat, sekarang kau sudah menjadi murid murtad dari Perguruan Tay ki bun, bukan saja Im Ceng ingin membunuhmu, gurumu pasti akan berusaha menjalankan peraturan perguruan, kalau dugaanku tidak salah, kawanan jago persilatan yang menganggap diri mereka sebagai para pendekar sejati pun tidak bakalan melepaskanmu dengan begitu saja. Hahahaha.... mulai sekarang kau akan menghadapi ancaman di mana-mana, tidak ada tempat lagi bagimu untuk tancapkan kaki dalam dunia persilatan, saudara Thiat, aku pikir kau pasti menyadari akan hal ini bukan"
"Sekalipun begitu, tidak ada urusannya denganmu!"
Kembali Suto Siau tertawa dingin.
"Seharusnya hengtay tahu diri, dengan situasi yang kau hadapi sekarang semestinya paling cocok bila bergabung dengan kami semua, kalau tidak...."
"Kalau tidak kenapa?"
Tukas Thiat Tiong-tong.
"Hahahaha.... kalau tidak bakal terjadi apa, masa hengtay sendiripun tidak tahu?"
"Betul"
Sambung Hek Seng-thian pula sambil tertawa.
"lebih baik kau ambil keluar semua harta karun yang diperoleh dari dalam gua dan bersama kami membangun satu usaha besar, tindakan ini lauh lebih menggembirakan daripada harus menerima tekanan dari Perguruan Tay ki bun"
"Jangan didesak terus"
Cegah Pek Seng-bu cepat.
"apa salahnya kalau kita beri kesempatan lagi untuk saudara Thiat agar bisa dipertimbangkan kembali usulan ini!"
"Betul, betul sekali"
Seru Phoa Seng-hong pula sambil tertawa keras.
"lebih baik kita balik dulu ke gedung keluarga Li sambil menikmati hidangan dan arak, urusan lain toh bisa kita bicarakan perlahan-lahan"
Ke empat orang ini benar benar telah menggunakan semua cara mengancam, membujuk, merayu maupun memaksa untuk menggiring pemuda itu masuk ke dalam perangkap.
Tapi sikap Thiat Tiong-tong justru berubah makin dingin, kaku, tanpa sedikit perasaaanpun, siapa pun tidak dapat menduga apa gerangan yang sedang dia pikirkan.
"Hengtay, mari kita pergi!"
Kata Suto Siau kemudian sambil merangkul bahu pemuda itu.
Thiat Tiong-tong tidak bisa menyingkir, terpaksa dia keluar dari dalam hutan mengikuti ke empat orang itu dan menuju ke gedung keluarga Li.
Diluar pintu gerbang terlihat ada sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, agaknya Un Tay-tay sedang berdiri di depan pintu sambil mengawasi situasi diseputar sana.
Sambil menuding bayangan manusia itu seru Suto Siau seraya tersenyum.
"Sekarang kita sudah menjadi orang sendiri, siaute pun tidak ingin merahasiakan sesuatu lagi kepadamu, tahukah hengtay siapa sebenarnya Un Tay-tay ini?"
Tidak menunggu jawaban dari lawan, dia segera menambahkan.
"Un Tay-tay sebenarnya adalah istri simpanan-ku, tapi bila hengtay memang berminat dengannya, siaute bersedia segera putus hubungan dengan perempuan ini!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Un Tay-tay sudah melompat keluar dari balik pintu dan mendekati mereka semua, ketika melihat Thiat Tiong-tong berjalan berdampingan dengan Suto Siau, bahkan mereka tampak berhubungan begitu akrab, perempuan itu seketika menghentikan langkahnya dan berdiri termangu, saking tertegunnya sampai perkataan yang hampir terucap keluar pun segera ditelan kembali.
Sambil tertawa terbahak-bahak Suto Siau segera berkata.
"Un Tay-tay, mulai sekarang saudara Thiat adalah orang sendiri, kau tidak dilarang untuk berhubungan mesra dengannya sekalipun berada dihadapanku"
Un Tay-tay mengangkat wajahnya, memandang Thiat Tiong-tong dengan termangu.
Sorot mata Thiat Tiong-tong sama sekali tanpa emosi, tiba-tiba Un Tay-tay menutupi wajah sendiri dan lari masuk ke dalam sambil menangis tersedu-sedu, pakaian yang dikenakan kelihatan bergelombang kencang ketika tertimpa cahaya malam.
"Hahahaha.... bagus, bagus sekali!"
Kembali Suto Siau tertawa terbahak bahaka.
"tidak kusangka ternyata dia benar-benar sudah jatuh hati kepada saudara Thiat, benar-benar satu peristiwa yang patut dirayakan"
Sekalipun gelak tertawanya nyaring, namun tidak dapat menutupi rasa cemburunya yang meluap.
Perlu diketahui, dia sama sekali tidak pernah menyukai Un Tay-tay namun diapun enggan ditinggalkan perempuan itu, apalagi membiarkan dia jatuh cinta kepada lelaki lain.
Tapi berhubung dia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan Un Tay-tay, tentu saja tidak sebesar penderitaan yang dialami dalam hatinya....
inilah keegoisan seorang lelaki, lelaki mana pun tidak akan tahan menghadapi penderitaan karena ditinggalkan perempuan, bahkan seringkah dia lebih suka membiarkan penderitaan tersebut dirasakan oleh perempuan itu sendiri....
menikmati penderitaan orang lain, bagi orang tertentu justru merupakan semacam kenikmatan.
Ditengah gelak tertawa nyaring, cahaya lentera segera menerangi seluruh ruangan, Li Lok-yang dan Li Kiam-pek berdua muncul dari balik pintu.
Bi lek hwee dan Hay Tay-sau mengikuti dibelakangnya, hampir semua orang tampil dengan wajah tegang, senjata masih terhunus, tampaknya mereka belum tahu kalau kepungan diluar telah dibubarkan.
Ketika menyaksikan sikap Suto Siau sekalian yang tampak begitu santai, Li Lok-yang tertegun, tanyanya keheranan.
"Apakah hengtay sekalian tidak apa apa?"
"Kalau disini ada saudara Thiat, semua urusan tentu akan beres dengan sendirinya"
Sahut Suto Siau sambil tertawa nyaring.
"Mana Kiu cu Kui bo?"
"Mungkin saat ini sudah berada setengah li dari sini"
Wajah Li Lok-yang yang tegang pun perlahan-lahan mengendor kembali, namun sorot matanya yang tajam masih diliputi tanda tanya besar dan mengawasi wajah Suto Siau serta Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, jelas dia berharap bisa mendengarkan kisah kejadian yang sebenarnya.
Namun Suto Siau sengaja tidak bicara, sementara Thiat Tiong-tong pun seakan sudah menjadi orang bisu, tidak sepotong perkataanpun yang diutarakan.
Hanya Pek Seng-bu yang berkata sambil tersenyum.
"Kiu cu Kui bo pasti mempunyai alasan yang kuat untuk memberi muka kepada kita semua, toh sekarang orangnya sudah pergi, buat apa saudara Li banyak bertanya lagi"
Benar saja, Li Lok-yang tidak bertanya lagi, lapi dia semakin menaruh curiga terhadap asal usul Thiat Tiong-tong, dengan kening berkerut dia persilahkan tamunya untuk masuk ke dalam mangan.
Gedung keluarga Li yang semula sunyi senyap pun dalam waktu singkat muncul kembali kehidupan....
perasaan hati yang selama ini tertekan oleh bayang-bayang kematian, dalam waktu singkat telah hilang tak berbekas.
Perasaan sedih dan iba seringkah merupakan ungkapan perasaan yang paling nyata dalam setiap peristiwa....
di saat manusia menghadapi rasa takut dan ngeri dalam menghadapi kematian, biasanya perasaan mereka akan jadi kaku dan hilang rasa, tapi sekarang semua orang mulai merasa sedih dan iba terhadap rekan rekannya yang tewas, mulai merasa betapa berharganya nyawa yang dimiliki.
Cara kerja keluarga kenamaan ini memang luar biasa, tidak sampai berapa saat kemudian semua jenazah telah dikubur, bahan makanan yang dibutuhkan pun sudah didatangkan, bahkan pintu gerbang yang semula kotor oleh darah pun kini sudah berkilat dan bersih sekali.
Sayang nyawa yang terlanjur melayang tetap melayang, selamanya tidak bisa kembali lagi.
Selama ini Suto Siau, Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu tidak pernah bergeser setengah inci pun dari sisi Thiat Tiong-tong.
Hay Tay-sau dengan matanya yang tajam bagai elang juga mengawasi terus gerak gerik Phoa Seng-hong.
Bi lek hwee sambil bergandong tangan sebentar duduk, sebentar berdiri, dia nampak tidak tenang, sedangkan Li Lokyang dan putranya meski nampak sangat repot namun keningnya berkerut kencang, agaknya ada masalah berat yang mengganjal hati mereka.
Tiba tiba Hay Tay-sau tertawa dingin sambil menyindir.
"Ada sementara orang walaupun kelihatannya pintar, padahal gobloknya setengah mati, semestinya ada peluang untuk diam-diam kabur, dia justru hingga sekarang masih bercokol disini"
Phoa Seng-hong sengaja berpaling ke arah lain, dia berlagak seperti tidak mendengar perkataan itu. Sebaliknya Bi lek hwee tidak bisa menahan, diri, segera tegurnya.
"Siapa yang hengtay maksudkan?"
"Biarpun pertempuran sudah berlalu tapi biang kerok yang menimbulkan musibah ini justru masih bercokol dengan tenangnya, orang semacam ini masa kita biarkan berlagak terus?"
Paras muka Phoa Seng-hong berubah hebat, Bi lek hwee pun kelihatan mulai naik pitam, dengan penuh amarah dia berpaling ke arah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu lalu hardiknya.
"Betul, pertempuran sudah lewat, pertikaian di antara kitapun sudah saatnya untuk diselesaikan!"
"Kita toh sesama saudara sendiri"
Ujar Hek Seng-thian sambil tersenyum.
"kalau memang ada persoalan, mari kita bicarakan baik baik"
"Kembalikan dulu muridku sebelum berbicara!"
Bentak Bi lek hwee nyaring.
"Bila hengtay mengajak aku ribut dalam suasana dan situasi seperti ini, rasanya kaulah yang bakal rugi"
Ujar Hek Seng-thian dengan tenangnya, kemudian sambil tersenyum dan berpaling ke arah Suto Siau, lanjutnya.
"bukan begitu saudara Suto?"
"Kelihatannya memang begitu"
Jawab Suto Siau sambil tersenyum. Berubah paras muka Bi lek hwee.
"Jadi saudara Suto akan membantunya?"
Suto Siau hanya tersenyum tanpa menjawab, orang ini nyaris sepanjang hari hanya menampilkan senyuman hambarnya, membuat orang susah menebak arti sesungguhnya dari senyuman itu.
Bi lek hwee mencoba memandang sekejap sekeliling tempat itu, agaknya berusaha mencari bantuan, tapi anak buahnya sudah keburu pergi dari situ sedang orang lain pun sama sekali tidak berminat untuk mencampuri urusan ini.
Diam-diam dia menghela napas, selain kecewa hatinya panas dan marah.
Untunglah pada saat itu Li Lok-yang muncul kembali dengan langkah lebar, dengan nyaring dia berseru.
"Jika kalian masih ada urusan lain, silahkan dilanjutkan setelah mengisi perut!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.
"Waktu itu akupun ada berapa patah kata yang ingin kusampaikan kepada kalian semua"
Tidak lama kemudian diatas meja telah ditata hidangan yang meski tidak terlampau lezat namun cukup mengenyangkan perut.
Dalam keadaan situasi seperti ini, biarpun dia seorang.
peminum juga tidak ada selera untuk minum arak, biarpun dia banyak masalah pun untuk sesaat semuanya dikesampingkan dulu, hidangan sudah berada di depan mata, sementara waktu mereka tidak ingin mengurusi hal yang lain kecuali mengisi perut secepatnya.
Sejak dulu hingga sekarang, kelaparan merupakan musuh paling besar bagi umat manusia, sehebat dan setangguh apapun seorang enghiong, tidak nanti dia sanggup melawan rasa lapar.
Kini suara yang terdengar dalam ruangan hanyalah suara orang bersantap, selang sesaat kemudian tiba-tiba Hek Seng-thian meletakkan kembali sumpitnya seraya berteriak kaget.
"Aduh celaka!"
Paras mukanya ikut berubah.
"Ada apa?"
Cepat Suto Siau bertanya.
"Ada seseorang yang tidak ikut bersantap!"
"Benarkah.... ooh"
Li Lok-yang mengernyitkan alis matanya, setelah melirik Thiat Tiong-tong sekejap, serunya sambil ber paling.
"Kiam-pek, kenapa kau tidak mengundang.... nyonya itu untuk ikut bersantap...."
Belum selesai dia berkata, Hek Seng-thian sudah lari keluar.
"Sungguh aneh"
Gumam Hay Tay-sau dengan kening berkenyit.
"sejak kapan dia mencemaskan bini orang yang tidak ikut bersantap, ini namanya kaisar tidak gelisah justru sang thaykam yang panik"
Siapa tahu belum selesai dia berkata, Pek Seng-bu sudah ikut berlarian pula meninggalkan ruangan.
Suto Siau meski lebih dapat mengendalikan diri dan sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya, namun kelihatan sekali kalau wajahnya berubah.
Tentu saja ke tiga orang ini kuatir Un Tay-tay dengan membawa harta karun melarikan diri terlebih dulu, sementara Bi lek hwee dan Hay Tay-sau sekalian sama sekali tidak tahu duduknya persoalan, tentu saja mereka sangat keheranan setelah melihat kegugupan ke tiga orang itu.
S Setelah mendeham berapa kali, Suto Siau berbisik ke sisi telinga Thiat Tiong-tong.
"Saudara Thiat, harta karun itu apakah kau gembol dalam sakumu?"
Thiat Tiong-tong termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya ketus.
"Bila kau jadi aku, akan kau simpan dimana barang-barang itu? Mana ada tempat yang jauh lebih aman daripada disisi diri sendiri?"
Suto Siau tertegun, akhirnya sambil menghentakkan kakinya dia berseru.
"Waah, kalau begitu runyam sudah urusannya!"
Buru-buru dia beranjak dari tempat duduknya dan ikut lari keluar dari ruangan. Tapi baru setengah jalan, dia sudah menghentikan kembali langkahnya. Melihat itu Thiat Tiong-tong segera berseru.
"Aku sudah tidak punya tempat untuk dituju, rasanya kau tidak perlu menjaga disisiku lagi"
Suto Siau segera mengerdipkan matanya memberi kode kepada Phoa Seng-hong, kemudian baru melanjutkan kembali perjalanannya keluar dari ruangan.
Perlu diketahui, ke tiga orang ini menganggap harta karun adalah segala-galanya, oleh sebab itu persoalan yang lain mereka anggap sudah tidak penting lagi.
Li Lok-yang dan Hay Tay-sau sekalian, hanya bisa saling berpandangan dengan mulut melongo.
Sambil menggebrak meja Bi lek hwee kontan mengumpat.
"Permainan busuk apa yang sebenarnya sedang mereka bertiga lakukan? Benar-benar bikin hatiku mendongkol!"
"Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak segera menyusul mereka untuk memeriksa sendiri?"
Sela Thiat Tiong-tong.
"Aaah, benar juga! Lohu memang seharusnya menyusul ke sana!"
Seru Bi lek hwee. Tanpa sadar Hay Tay-sau ikut pula beranjak pergi. Tiba-tiba Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, gumamnya.
"Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan, harta karun ku itu nampaknya akan merenggut beberapa lembar nyawa manusia lagi"
Berubah hebat paras muka Li Lok-yang, cepat dia melompat bangun sambil berseru.
"Sudah terlalu banyak manusia yang kukubur hari ini, aku tidak ingin terjadi pembunuhan lagi ditempat ini, Kiam-pek, ayoh ikut aku!"
Belum selesai bicara, tubuhnya sudah melangkah keluar dari ruangan.
Li Kiam-pek melirik Thiat Tiong-tong dan Phoa Seng-hong sekejap kemudian buru-buru keluar dari situ, ketika tiba diluar pintu, dia membisikkan sesuatu ke telinga anak buahnya, mungkin dia minta anak buahnya untuk memperhatikan gerak-gerik ke dua orang itu.
Maka saat ini dalam ruangan hanya tersisa Thiat Tiong-tong dan Phoa Seng-hong dua orang.
"Jadi kau diperintahkan mereka untuk mengawasi aku?"
Tanya Thiat Tiong-tong kemudian.
"Cayhe hanya ingin menemani hengtay"
"Hmm, sekarang kau menjual tenaga untuk mereka, tunggu saja ketika mereka berkeinginan untuk melenyapkan biang keladi dari semua peristiwa ini, aku kuatir tidak ada orang lagi yang mau menjual tenaga untukmu"
Phoa Seng-hong tersenyum.
"Aaah, belum tentu begitu"
Jelas antara dia dengan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu sekalian sudah ada perjanjian khusus sehingga dia nampak begitu tenang.
"Jangan lupa"
Kata Thiat Tiong-tong lagi.
"Kiu cu Kui bo sedang menunggumu setiap saat, kau pun jangan lupa kalau aku memiliki kekuatan yang bisa mengundurkan kekuatan Kiu cu Kui bo dari sini"
Phoa Seng-hong tertunduk sambil termenung, tapi wajahnya sudah sedikit berubah, lewat sejenak kemudian tiba-tiba dia mendongak sambil berkata.
"Apa yang kau inginkan dariku? Coba dijelaskan lebih dulu"
"Jika kau bersedia bekerja sama denganku, bukan saja selanjutnya tidak ada ancaman jiwa bahkan dengan kesempatan ini kau bisa mendapat nama serta keuntungan materi secara bersamaan"
"Benarkah ada keuntungan semacam ini didunia ini? Apa yang harus kulakukan?"
"Asal kau bersedia mengenakan topeng kulit manusia yang kubeli dengan harga mahal ini, kemudian mengenakan juga pakaianku, persoalan yang lain bisa dihadapi menurut keadaan"
"Apa yang harus kuperbuat?"
Tanya Phoa Seng-hong dengan mata terbelalak lebar.
"Perawakan tubuhmu sembilan puluh persen mirip tubuhku, asal kau bisa mengatakan alasan yang tepat, enggan melepaskan topengmu, mereka pasti tak dapat mengenalimu lagi"
"Perawakan badan boleh mirip, tapi suaraku..."
Thiat Tiong-tong segera tersenyum.
"Padahal logat suaraku sekarangpun bukan suara asli, karena sudah kubuat-buat, jadi setiap orang dapat menirukannya. Lagipula aku memang tidak suka bicara, asal kau kurangi pembicaraan yang tidak penting maka semuanya akan beres"
Phoa Seng-hong kembali tertawa dingin, katanya.
"Dengan menyamar jadi kau, meski aku berhasil mengelabuhi mereka semua namun apa keuntungannya bagiku? Hmm keuntungan bagimu jauh lebih banyak ketimbang bagiku"
"Siapa bilang tidak ada manfaatnya? Dengan menyamar jadi aku berarti manusia yang bernama Phoa Seng-hong telah lenyap, orang orang yang datang mencari balas harus pergi ke mana untuk menemukan Phoa Seng-hong?"
"Apakah masih ada manfaat lain?"
Tanya Phoa Seng-hong setelah berpikir sejenak.
"Setelah kau menyamar jadi Thiat Tiong-tong, mereka pasti akan berusaha membaikimu karena mereka memang ingin memperalat Thiat Tiong-tong, menggunakan kesempatan ini kau bisa 'mengaduk air menangkap ikan', aku percaya kau pasti sudah sangat terbiasa dengan perbuatan semacam ini"
Akhirnya sekulum senyuman menghiasi ujung bibir Phoa Seng-hong.
"Pada masa itu kau bahkan bisa menyelidiki banyak rahasia, bukan cuma kau bisa mengancam mereka bahkan kau pun bisa peroleh banyak keuntungan dariku"
Kembali Thiat Tiong-tong berkata. Meski Phoa Seng-hong belum menjawab, namun dari senyuman diwajahnya dapat disimpulkan kalau dia sudah mulai tertarik.
"Secara garis besar itulah yang kumaui"
Ujar Thiat Tiong-tong lebih jauh.
"tentu saja dalam perkembangan nanti masih terdapat beribu macam perubahan, aku percaya dengan kecerdasanmu, semua masalah pasti bisa teratasi, jadi akupun tidak usah menerangkan lebih jauh"
"Sampai kapan sandiwara ini baru akan berakhir?"
Tanya Phoa Seng-hong kemudian.
"Asal kau tidak membongkar rahasiaku, setelah sampai suatu saat tertentu aku bakal muncul lagi mencarimu, waktu itu kaupun bisa kabur untuk menyembunyikan diri"
Setelah dipikir punya pikir, Phoa Seng-hong merasa bahwa dengan berbuat begitu sesungguhnya tiada kerugian apa pun bagi dirinya, malah banyak manfaat dan keuntungan yang bisa diperolehnya, tentu saja diapun tidak akan memikirkan sampai dimana kerugian yang bakal diderita orang lain.
Walaupun ditengah halaman terdapat sekawanan centeng sedang meronda, namun kelaparan yang telah diderita banyak hari dan kini merekapun sudah makan kenyang, keadaan tersebut membuat mereka mulai terkantuk-kantuk.
Thiat Tiong-tong segera menarik tangan Phoa Seng-hong dan bersembunyi di belakang pembatas ruangan.
Tidak lama kemudian muncullah Thiat Tiong-lang dengan wajah aslinya serta Phoa Seng-hong yang kini telah berubah menjadi si kakek aneh.
"Mirip tidak suaraku?"
Tanya Phoa Seng-hong kemudian dengan suara parau. Thiat Tiong-tong tersenyum.
"Kalau suaramu lebih rendah sedikit lagi, kujamin orang lain tidak bisa mengenalimu lagi"
Katanya. Setelah melalui berapa hari penyaruan, kulit wajahnya yang semula hitam berkilat kini terlihat sedikit putih pucat dan kusut. Phoa Seng-hong segera membetulkan letak pakaiannya lalu berbisik.
"Bagaimana cara kita berhubungan dikemudian hari?"
"Kita menggunakan kata sandi "Merubah wajah"
Untuk melakukan kontak dan bintang bersegi tujuh sebagai tanda rahasia, setiap saat kita bisa saling berhubungan"
"Baik! Kau boleh segera berangkat"
Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menggeleng.
Ketika untuk pertama kalinya menyaksikan senyuman pemuda itu, Phoa Seng-hong merasakan hatinya bergetar keras, raut wajahnya yang tampan terasa memiliki daya pikat yang susah dilawan.
Tanpa terasa pikirnya.
"Aku sebagai seorang pria pun langsung terpikat oleh senyuman wajahnya, apalagi seorang wanita...."
Sementara itu Thiat Tiong-tong sudah melompat keluar melalui jendela sambil berbisik.
"Sementara waktu aku masih akan tetap tinggal disini!"
Dengan sekali lompatan dia sudah menyusup naik ke atas wuwungan rumah.
Gedung bangunan ini selain kuno dan tua, luasnya bukan kepalang, tiang penglarinya sangat lebar dan luas, cukup dapat menampung puluhan orang tanpa bisa diketahui orang yang ada dibawahnya.
Diam-diam Phoa Seng-hong keheranan, dia tidak habis mengerti kenapa pemuda itu belum juga kabur dari situ, tapi dia tidak banyak membantah dan segera duduk dengan tenang disana, karena sepak terjang serta kecerdasan otak anak muda itu benar-benar telah membuat hatinya takluk.
Berapa saat kemudian terdengar suara desingan angin tajam berkelebat lewat.
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah berlari masuk ke dalam ruangan dengan wajah gelisah, begitu tiba dihadapan Phoa Seng-hong segera bentaknya nyaring.
"Dimana Un Tay-tay?"
Thiat Tiong-tong yang mengintip dari atas tiang penglari diam-diam merasa kegirangan, dia tahu Pek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah menganggap Phoa Seng-hong sebagai dirinya.
Tapi diapun sedikit terkejut bercampur keheranan setelah mendengar kalau Un Tay-tay benar-benar telah pergi.
Dalam pada itu Phoa Seng-hong telah menggeleng dengan wajah kaku, dia malah balik bertanya.
"Ooh, jadi dia sudah pergi?"
"Masa kau tidak membuat janji dengannya?"
Bentak Hek Seng-thian lagi.
"Kenapa aku harus membuat janji dengannya?"
Jawab Phoa Seng-hong dengan suara yang direndahkan dan sangat parau, benar saja, logat bicaranya persis sekali dengan logat bicara Thiat Tiong-tong.
Sambil menghentakkan kakinya berulang kali, kembali Hek Seng-thian berseru.
"Tahukah kau, semua harta karun yang kau miliki telah dibawa lari perempuan sundal itu? Kenapa kau tidak nampak panik?"
"Aah, harta karun hanya barang keduniawian, kenapa aku mesti panik?"
Hawa membunuh seketika melintas diwajah Pek Seng-thian, teriaknya penuh amarah.
"Tahukah kau, semua harta karun itu milikku? Semua ini gara gara ulahmu sehingga persoalan besar jadi kacau balau!"
Didalam gusarnya hampir saja dia turun tangan untuk melakukan pembunuhan.
Untung saja di saat yang kritis Suto Siau telah muncul pula disana, dia memang melakukan pencarian dengan lebih seksama sehingga baliknya lebih terlambat.
Melihat mimik muka Hek Seng-thian yang diliputi kegusaran, dia tahu orang itu sedang sakit hati karena kehilangan peluang untuk memiliki sejumlah harta yang tidak ternilai harganya.
Cepat dia menariknya ke samping sambil berbisik.
"Biarpun Un Tay-tay telah melarikan sejumlah harta karun, namun orang she Thiat ini jauh lebih berharga lagi, bila dia bersedia bergabung dengan kita, lebih banyak keuntungan yang bakal kita peroleh, saudara Hek, kau tidak boleh mencelakainya!"
Hek Seng-thian tertegun berapa saat, akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... siaute hanya merasa sakit hati bagi kehilangan yang diderita saudara Thiat, masa harta karun sebanyak itu dilarikan seorang perempuan sundal!"
"Dia tidak bakal bisa kabur terlalu jauh, siaute jamin akan membantu saudara Thiat untuk menemukannya kembali"
Janji Suto Siau dingin, lalu setelah memandang sekejap sekeliling ruangan, tiba-tiba serunya lagi dengan wajah berubah.
"kemana perginya Phoa Seng-hong?"
"Dia sudah kabur!"
Jawab 'Phoa Seng-hong' cepat. Kebetulan Hay Tay-sau sedang melangkah masuk ke dalam ruangan, mendengar itu segera teriaknya.
"Kabur kemana dia?"
"Kalian toh tidak pernah minta aku untuk menjaganya, bagaimana mungkin aku bisa tahu kemana kaburnya orang itu?"
Dengan kening berkerut Suto Siau segera tertawa paksa, selanya.
"Cayhe pun merasa bangsat ini rada aneh, kenapa...."
"Aku dengar bajingan ini paling pandai menggaet kaum wanita"
Sela Hek Seng-thian dengan wajah berubah.
"jangan-jangan Un Tay-tay sudah tergaet juga olehnya sehingga mereka berdua kabur bersama?"
Kontan Suto Siau tertawa dingin, selanya.
"Biarpun Un Tay-tay jalang, dia tidak bakalan tertarik dengan lelaki busuk macam Phoa Seng-hong, jadi saudara Hek tidak perlu kuatir" 'Phoa Seng-hong' merasa mendongkol sekali setelah mendengar umpatan yang dialamatkan kepada dirinya itu, namun dia tidak bisa berbicara apa-apa karena itu rasa jengkelnya hanya di simpan didalam hati. Diluaran dia malah manggut-manggut tanda setuju, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Umpatan yang bagus! Umpatan yang sangat tepat!"
Dengan geram Hay Tay-sau berseru lagi.
"Mungkin bajingan itu tahu kalau aku tidak akan mengampuninya, maka diam-diam kabur dari sini. Bajingan keparat! Biar kau kabur ke langit atau menyusup ke dalam bumi, aku tetap akan mencarimu hingga ketemu!"
Tabiat orang ini benar-benar keras dan berangasan, begitu berkata akan pergi, belum lagi selesai bicara dia benar-benar sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Dalam kegelapan malam, aku rasa perempuan jalang itupun tidak bakal pergi terlalu jauh"
Kata Suto Siau kemudian.
"asal kita lakukan pengejaran bersama, delapan puluh persen kita pasti dapat menyusulnya"
"Memang seharusnya begitu!"
Sambung Hek Seng-thian. Suto Siau segera berpaling ke arah 'Phoa Seng-hong' dan bertanya.
"Bagaimana pendapat saudara Thiat?"
Perlahan-lahan 'Phoa Seng-hong' bangkit berdiri, sahutnya.
"Kalau bersatu kedua belah pihak sama-sama untung, kalau tercerai berai kedua belah pihak sama-sama buntung...."
"Aaah, saudara Thiat betul-betul seorang manusia berbakat yang hebat, pandai sekali kau menilai situasi"
Seru Suto Siau kegirangan.
"saudara Hek, saudara Pek, urusan ini tidak bisa ditunda lagi, ayoh kita segera berpamitan dengan tuan rumah!"
Ke tiga orang ini memang tidak membawa perbekalan apa-apa, benar saja, mereka langsung berpamitan dengan tuan rumah.
Meskipun dimulut Li Lok-yang berlagak menahan mereka, namun tawarannya sudah tidak sehangat semula.
Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diatas tiang penglari menengok ke bawah, dia saksikan Li Lok-yang berdiri termangu beberapa saat lamanya, kemudian dengan menyeret langkah kakinya yang berat, dia padamkan lilin yang ada diseluruh ruangan.
Kini didalam ruang gedung yang luas hanya tersisa sebuah lentera, cahaya lentera yang redup membuat suasana disitu terasa amat sepi dan redup.
Setelah menanti beberapa saat lagi hingga sama sekali tidak kedengaran ada suara, Thiat Tiong-tong baru melompat turun dari atas tiang penglari dan menyelinap keluar melalui jendela.
Malam semakin kelam, tapi dia masih menanti, masih melakukan pencarian, tapi siapa yang dinantikan dan siapa pula yang dicari?
Akhirnya dari sebuah sudut nun jauh disana, dibalik kegelapan malam, di antara pepohonan terdengar suara gemerisik yang lirih serta desingan angin lembut, meski suaranya lirih namun Thiat Tiong-tong tidak mau melepaskannya dengan begitu saja.
Terlihat sesosok bayangan manusia menyelinap keluar dari balik pepohonan, lalu dengan sigap mengawasi sekejap sekeliling tempat itu.
Setelah memperhatikan sekejap suasana disitu, akhirnya orang itu munculkan diri, dia mengenakan baju berwarna hitam dengan saputangan warna hitam membungkus kepalanya, hanya sepasang matanya yang jeli nampak berkilauan.
Thiat Tiong-tong menahan napas, akhirnya dia dapat melihat dengan jelas wajah bayangan itu, dia tidak lain adalah Un Tay-tay.
Tangan kirinya membawa sebuah kotak peti sementara tangan kanannya membawa karung goni, baru berjalan berapa langkah kembali dia menghentikan tubuhnya sambil memasang telinga.
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa dingin, pikirnya.
"Ternyata Un Tay-tay memang sangat pintar, sadar kalau sulit baginya kabur dari sini, dia putuskan untuk tetap tinggal di tempat ini"
Dengan sangat berhati-hati Un Tay-tay menyelinap keluar kemudian melompat naik ke atas wuwungan rumah, tidak jauh dari tempat persembunyian Thiat Tiong-tong, sambil mendekam diatas atap rumah, dia mengatur napasnya yang sedikit tersengkal.
Waktu itu Thiat Tiong-tong sudah memilih sebuah tempat yang paling tersembunyi untuk dirinya, oleh sebab itu dia dapat mengikuti semua gerak-gerik Un Tay-tay, sebaliknya Un Tay-tay sama sekali tidak dapat melihat tempat persembunyiannya.
Ketika napasnya yang tersengkal mulai tenang kembali, dia segera mengikat karung goni itu di punggungnya, lalu setelah membetulkan ikat pinggangnya diapun mengikat kencang sepatunya.
Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong mulai menggerakkan tubuhnya, hawa murni telah dihimpun dalam lengannya, dia siap melancarkan sergapan untuk membekuk perempuan itu dalam sekali serangan.
Ketika sudah selesai bebenah ternyata Un Tay-tay tidak langsung pergi dari situ, sebaliknya dia malah mengendorkan tubuhnya sambil berbaring diatas atap, entah apa yang sedang dipikirkan.
Mendadak sorot matanya memancarkan sinar kesedihan bercampur amarah yang meluap, gumamnya lirih.
"Suto Siau, kau telah merusak hubunganku dengannya, aku tidak akan mengampuni dirimu!"
Baru bicara sampai disitu, dia seakan tersadar akan kesilafannya, buru-buru perempuan itu tutup mulutnya kembali.
Thiat Tiong-tong bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menangkap maksud dari perkataannya itu.
Dia telah memperhitungkan secara tepat bahwa Un Tay-tay tidak bakalan berani kabur di saat seperti itu, maka dia sengaja menunggunya disitu, rencananya akan dia tangkap perempuan itu bahkan mungkin menghabisi nyawanya sambil mengambil balik harta karun itu.
Tapi sekarang, secara tiba-tiba dia berganti haluan.
"Harta karun yang ada disini paling banter cuma satu bagian dari seluruh harta yang ada, bagian ini merupakan bagianku, kenapa tidak kuserahkan sementara waktu kepadanya, agar dia bisa menggunakan harta tadi untuk menghadapi Suto Siau sekalian? Dengan kepintaran serta ketelengasannya, ditambah dengan kecantikan wajahnya, bukankah dia justru merupakan musuh paling tangguh bagi Suto Siau?"
Ternyata dia telah membagi harta karun itu menjadi sepuluh bagian, di antaranya tiga bagian dia sisihkan sebagai beaya dari sebuah misi rahasia....
apakah misi rahasia itu?
Tidak ada yang tahu kecuali dia sendiri, sebab hal ini merupakan masalah paling rahasia yang dia miliki.
Dua bagian yang lain dia sisihkan untuk Im Ceng, agar dia bisa menggunakan beaya tersebut untuk balas dendam.
Sui Leng-kong juga memperoleh dua bagian, gadis ini pernah menjaga harta karun itu, pernah merawat dan menemani kakek yang cacad lagi kesepian, sudah sewajarnya bila dia peroleh bagian itu.
Untuk darah daging keluarga Im yang masih dalam rahim Leng Cing-peng, diapun sisihkan satu bagian, sementara sisanya yang satu bagian akan dia berikan kepada Tio Ki-kong yang telah selamatkan jiwanya serta jiwa Im Ceng.
Akhirnya Un Tay-tay bangkit berdiri dan melesat turun dari wuwungan rumah, wanita memang tidak pernah lebih sabar dari kaum pria, walaupun saat itu dia merasa lapar, letih dan lemah namun gerakan tubuhnya tetap lincah dan gesit.
Tidak selang berapa saat kemudian dia sudah meninggalkan gedung perkampungan dan menyusup masuk ke dalam hutan.
Thiat Tiong-tong menguntil dari kejauhan, walaupun dia tidak menyesal telah menyerahkan harta tersebut kapadanya, namun sebenarnya diapun telah menyerahkan sebuah tugas besar kepada perempuan itu.
Kini dia ingin menyaksikan semua tingkah lakunya, apakah dia memang mampu memikul tanggung jawab besar itu?
Setibanya didalam hutan Un Tay-tay baru memperlambat langkahnya dan menghembuskan napas panjang.
Baru saja dia akan beristirahat sejenak, mendadak terlihat sesosok bayangan manusia melompat turun dari atas pohon, melayang turun persis dihadapannya dan mengawasi perempuan itu sambil tertawa.
Dalam terkejut dan gugupnya, paras muka Un Tay-tay berubah hebat.
Bayangan manusia itu membawa sebuah buntalan ditangan kirinya, dalam buntalan terlihat cahaya hijau yang berkilauan, dengan wajah cengar-cengir orang itu sedang mengawasi wajahnya tanpa berkedip.
Setelah berhasil mengendalikan diri, Un Tay-tay baru dapat melihat jelas wajah orang itu, ternyata dia tidak lain adalah si bocah pincang, anak murid Kiu cu Kui bo.
Tidak kuasa lagi dia segera menegur.
"Bukankah kalian sudah pergi semua? Kenapa kau masih berada di sini?"
Bocah pincang itu tertawa terkekeh, sambil menuding bungkusan ditangan kirinya dia menyahut.
"Mereka semua memang sudah pergi, aku datang untuk mengumpulkan kembali mutiara hijau yang tergantung disekitar hutan"
"Setelah semua mutiara hijau diambil, sudah sepantasnya kau segera pulang"
Kata Un Tay-tay sambil menarik napas dalam.
"kenapa masih ada disini? Tidak kuatir dicari suhumu?"
Bocah pincang itu hanya mengawasi payudara Un Tay-tay yang montok tanpa berkedip, sementara senyuman masih menghiasi bibirnya.
"Ciss.... tidak tahu malu"
Umpat Un Tay-tay sambil tertawa.
"hey setan cilik, berapa usiamu tahun ini?"
"Empat belas"
"Wouw, baru berusia empat belas sudah pandai melihat perempuan, siapa yang mengajari mu?"
Sambil membesut ingus dari hidungnya, bocah pincang itu kembali tertawa terkekeh.
"Masa melihat wanita cantik pun harus diajari orang?"
"Aku dengar kau mempunyai banyak suci yang cantik-cantik, seharusnya kau segera pulang untuk menengok mereka, kenapa masih menghalangi perjalananku disini?"
Dengan wajah bersungguh-sungguh bocah pincang itu menghela napas panjang.
"Betul, aku memang mempunyai banyak suci, tapi mereka semua masih kanak kanak, bukan wanita beneran"
"Ooh, jadi perempuan macam aku baru terhitung wanita beneran?"
Kata Un Tay-tay sambil tertawa. Menggunakan kesempatan itu kembali si bocah pincang mengamati payudara Un Tay-tay yang montok, teriaknya sambil bertepuk tangan.
"Waah, semuanya asli dan bukan bohong-bohongan, kau memang seorang wanita yang seratus persen asli dan mantap!"
Kontan saja Un Tay-tay tertawa terpingkal-pingkal.
"Tidak kusangka dengan usia sekecil ini, kau pandai juga menilai seorang wanita, sayang usiamu masih kelewat muda"
"Siapa bilang aku kelewat muda?"
Teriak bocah pincang itu dengan mata mendelik.
"sekalipun usiaku baru empat belas, namun kondisi tubuhku tidak beda jauh dengan lelaki berusia dua puluh empat"
Dengan lembut Un Tay-tay meraba pipinya, lalu berbisik.
"Ketika kau sudah berusia dua puluh empat, mungkin aku sudah tua sekali, lebih baik lihatlah sekarang!"
"Betul, aku memang akan memperhatikan mu baik-baik"
Benar saja, bocah itu langsung mengawasi perempuan itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, bahkan mengamatinya berulang kali.
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan kejadian itu dari dalam hutan diam-diam merasa mendongkol bercampur geli.
Bocah pincang itu tampaknya memang aneh dan nakal, biar kecil orangnya tapi banyak akalannya, sampai Un Tay-tay yang biasanya bertabiat anehpun dibuat tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah memperhatikan wanita itu berapa saat, tiba-tiba bocah pincang itu gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, gumamnya.
"Aaai, aku menyesal kenapa perjumpaan ini tidak terjadi di saat aku sudah dewasa nanti, yaa, apa lagi yang bisa kukatakan!"
Un Tay-tay tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa cekikikan, lama kemudian baru serunya.
"Sudah cukup belum kalau melihat? Sekarang biarkan aku pergi!"
Setelah menghela napas lagi, bocah pincang itu manggut-manggut dan beranjak pergi, tapi baru berapa langkah ia sudah berpaling seraya berkata.
"Barusan aku melihat Im kongcu mu itu"
"Di mana?"
Tanya Un Tay-tay dengan wajah berubah.
"Kau ingin kuajak menjumpainya?"
"Kau tahu dia berada dimana sekarang?"
"Tentu saja tahu!"
"Kau akan mengajakku ke sana?"
Kembali Un Tay-tay bertanya sambil mempermainkan biji matanya. Seketika si bocah pincang itu berkerut kening.
"Kalau soal ini.... tapi...."
"Tapi kenapa?"
Umpat Un Tay-tay sambil tertawa.
"bukankah kau yang akan mengajakku ke sana? Memangnya sekarang jadi tidak berani? Sungguh memalukan!"
"Kenapa aku tidak berani mengajakmu?"
Si bocah pincang itu segera membusungkan dadanya.
"asal aku diperbolehkan menciummu sekali saja, kita segera berangkat"
Un Tay-tay benar-benar terpingkal dibuatnya, sambil menuding bocah itu umpatnya.
"Dasar setan cilik.... dasar setan cilik...."
Saking terpingkalnya, dia sampai tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Apa yang kau tertawakan? Kalau tidak mau yaa sudah"
Seru bocah pincang itu sambil menarik muka.
"Baik, baiklah, cici akan membiarkan kau menciumku!"
"Sungguh?"
Teriak bocah itu kegirangan. Sambil setengah memejamkan matanya Un Tay-tay menyodorkan wajahnya ke hadapan bocah itu, serunya sambil tertawa.
"Ayohlah!"
Mendadak bocah pincang itu menarik kembali senyumannya, setelah meletakkan buntalan itu ke tanah dan menarik napas panjang, dia pentang tangannya lebar-lebar dan segera memeluk tubuh Un Tay-tay dengan kencangnya.
Dengan napas tersengkal sengkal seru Un Tay-tay.
"Setan cilik! Perlahan sedikit.... perlahan sedikit.... aduh, kau...."
Tiba-tiba dia mendorong tubuh bocah itu sementara paras mukanya berubah jadi merah padam. Thiat Tiong-tong yang berada dalam hutan kembali menghela napas panjang, pikirnya.
"Un Tay-tay memang seorang perempuan cantik yang sangat langka, jangan lagi lelaki dewasa, sampai bocah cilik pun terpikat oleh kecantikan wajahnya...."
Dia tidak tahu, justru semakin muda bocah itu apalagi di saat menginjak usia puber, napsu birahi-nya semakin berkobar, apalagi bertemu dengan wanita matang yang begitu cantik dan montok.
Dengan sempoyongan bocah pincang itu mundur berapa langkah lalu berdiri termangu-mangu, sepasang matanya menatap kosong ke tempat kejauhan, dia seakan akan jadi bodoh secara mendadak.
Sebaliknya Un Tay-tay mulai membenahi rambutnya yang kusut.
Mendadak terdengar bocah pincang itu tertawa tergelak, kemudian setelah bersalto beberapa kali di udara teriaknya keras keras.
"Aku telah menciumnya, aku telah menciumnya, ooh.... dia sungguh harum!"
"Hey setan cilik, kau sudah gila!"
Umpat Un Tay-tay sambil tertawa.
"Betul, aku sudah gila, aku sudah gila.... aku benar-benar sudah gila!"
Jerit bocah pincang itu sambil tertawa dan melompat-lompat.
"Bila kau bersedia mengabulkan satu permintaanku, aku akan mengijinkan kau untuk mencium sekali lagi"
"Sungguh?"
Bocah itu tertegun dan tergagap.
"Adik cilik, kapan cici pernah membohongi-mu?"
"Cepat katakan, cepat katakan"
Teriak bocah pincang itu sambil mencak mencak.
"asal aku diijinkan mencium lagi, apa pun permintaanmu pasti akan kukabulkan!"
"Kau harus berjanji mau membawaku ke sana, tapi kau tidak boleh ikut masuk, dan kaupun harus berjanji tidak akan menceritakan persoalan ini kepada siapa pun"
"Jangan lagi hanya permintaan begitu, sepuluh kali lipat lebih sulitpun tetap akan kukabulkan"
"Bocah manis...."
Seru Un Tay-tay sambil tertawa merdu, dia segera maju mendekat, memeluknya dan menciumi wajahnya yang burik berulang kali.
Menanti Un Tay-tay melepaskan pelukannya, tiba-tiba bocah pincang itu roboh terjungkal ke tanah.
"Hey, kenapa kau?"
Jerit Un Tay-tay kaget. Belum habis ia berteriak, bocah pincang itu sudah melompat bangun lagi sambil berjumpalitan berapa kali, teriaknya sambil tertawa.
"Dalam tiga bulan mendatang, bila aku cuci muka maka aku adalah seorang telur busuk"
"Tiga bulan tidak cuci muka? Waaah... seperti apa baunya"
Un Tay-tay terkekeh.
"Kalau aku bilang tidak mencuci, aku tidak akan mencuci"
Sambil berteriak bocah pincang itu mengambil kembali buntalannya dan menarik lengan Un Tay-tay sambil berseru.
"ayoh kita berangkat!"
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan semua kejadian merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya.
"Mau apa perempuan busuk ini mencari jite? Jangan-jangan dia akan mencelakainya lagi. Tapi.... bukankah dia sudah berpisah dengan Suto Siau, rasanya tidak mungkin dia akan mencelakai jite, tapi jite begitu mencintainya, bila dia balik ke sana, dengan watak jite, hubungan mereka berdua bisa jadi akan terjalin kembali. Biarpun perempuan ini belum tentu akan mencelakai jite, tapi dengan tabiatnya yang cabul dan nakal, cepat atau lambat dia bakal melukai hati jite lagi.... lagipula...."
Dalam pada itu si bocah pincang itu sudah menarik Un Tay-tay untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak boleh berpangku tangan dalam persoalan ini"
Akhirnya Thiat Tiong-tong mengambil keputusan, dengan cepat dia menyusul dari belakang.
Bocah pincang itu menarik tangan Un Tay-tay menuju ke tengah hutan, arah yang dituju bukan ke arah kota besar tapi tempat yang makin lama semakin terpencil dan sepi.
Lebih kurang setengah li kemudian, bocah pincang itu baru menghentikan langkahnya.
"Sudah sampai?"
Tanya Un Tay-tay.
"Yaa, sudah sampai"
Dengan termangu bocah itu mengangguk.
Un Tay-tay mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, namun diseputar sana hanya terlihat berapa batang pohon yang rimbun, tidak sesosok bavanean manusia nun vane terlihat disana.
"Dimana?"
Tanya perempuan itu lagi dengan kening berkerut.
"Di depan sana"
"Kalau masih di depan sana, kenapa kau berhenti?"
Bocah pincang itu termangu berapa saat lamanya, mendadak dia menghela napas panjang.
"Setelah kepergianmu kali ini, aku tidak tahu apakah masih berkesempatan untuk bertemu lagi denganmu"
"Bocah bodoh, jangan mengucapkan kata-kata dungu"
Bujuk Un Tay-tay sambil tertawa.
"aku toh bukan pergi untuk mati, tentu saja kita masih bisa bertemu lagi"
Bocah pincang itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sekalipun bisa bertemu lagi, akupun tidak tahu akan terjadi di bulan dan tahun berapa"
"Bila kau ingin bertemu aku, setiap saat kau boleh datang mencariku"
"Perduli berada di mana pun kau bersedia memberitahukan jejakmu itu kepadaku?"
Seru si bocah kegirangan. Un Tay-tay manggut-manggut.
"Adikku sayang, perduli cici berada dimana pun pasti akan kuberitahukan kepadamu, ayoh, tertawalah untuk cici"
Bocah pincang itu benar-benar tertawa lebar, sambil membangkitkan kembali semangatnya dia berseru.
"Ayoh kita berangkat!"
"Tunggu sebentar"
Kali ini Un Tay-tay gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau sungguh aneh...."
"Apanya yang aneh?"
Un Tay-tay menghela napas panjang.
"terus terang kuberitahu, cici memang seorang manusia aneh, selain aneh juga kesepian dan penuh derita...."
Dia mendongakkan kepalanya dan memandang ke angkasa dengan pandangan sendu. Bocah itu ikut menghela napas.
"Kau begitu cantik, entah berapa banyak lelaki didunia ini yang menyukaimu, kenapa kau bisa kesepian? Aku benar benar tidak mengerti"
"Aku sangat membenci semua orang yang mencintaiku, tapi orang yang kucintai justru tidak suka kepadaku, bagaimana mungkin aku tidak kesepian? Oleh sebab itu aku harus berupaya dengan segala cara untuk menghilangkan rasa kesepian ini"
"Bukankah Im kongcu amat mencintaimu?"
"Bukan, bukan dia orangnya"
Un Tay-tay menggeleng.
"Lalu siapakah dia?"
Lama sekali Un Tay-tay termenung, akhirnya sambil tertawa paksa ujarnya.
"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi, sekarang aku bukan saja sudah tidak mencintainya bahkan membencinya setengah mati"
"Tidak masalah, bukankah masih ada aku yang mencintaimu"
Teriak bocah pincang itu lantang. Un Tay-tay balas tertawa.
"Aku pun menyukaimu, itulah sebabnya sekarang aku bersedia menemanimu, kau adalah lelaki ke dua yang pernah kucintai sepanjang hidupku ini"
"Sungguh?"
Berkilat sepasang mata bocah pincang itu. Dengan lembut Un Tay-tay mengelus lagi wajahnya, katanya halus.
"Sayang kau hanya seorang bocah, sedang aku sudah hampir tua, aku hanya bisa menyukaimu sebagai seorang adik, mengerti?"
Dengan pandangan bodoh hocah pincang itu mengangguk, tiba-tiba teriaknya.
"Bagaimanapun juga, setelah aku dewasa nanti, jika kau belum juga kawin dengan orang lain, aku tetap akan menikaimu"
Dia tidak berbicara lagi, sambil menarik baju Un Tay-tay segera melanjutkan kembali perjalanannya.
Thiat Tiong-tong yang berdiri dibalik kegelapan hanya berdiri termangu.
Berapa saat lamanya, dia mulai bertanya kepada diri sendiri.
"Benarkah dia sangat aneh?"
Ketika mendongakkan kembali kepalanya, terlihat ke dua orang itu sudah mulai menyusup masuk ke dalam hutan.
Thiat Tiong-tong tidak ragu lagi, dia segera menyusul dari belakang.
BAB Pembicaraan di Kuil Terpencil Di balik hutan terlihat ada sebuah kuil, Un Tay-tay dan bocah pincang itu sudah berhenti jauh di depan kuil bobrok itu.
"Adikku, kau mesti ingat baik-baik"
Ujar Un Tay-tay kemudian dengan suara ringan.
"ada sementara wanita meski tubuhnya kotor namun dia memiliki jiwa yang sangat bersih, meskipun dia mencelakai orang, namun ini semua disebabkan orang-orang itu memang tidak tahu diri, masih belum pantas menjadi lelaki, oleh sebab itu apa yang akan terjadi dikemudian hari, kau harus menjadi seorang lelaki sejati, mengerti?"
Dengan perasaan setengah mengerti setengah tidak bocah pincang itu manggut-manggut.
"Bila aku telah memperoleh kediaman tetap pasti akan datang mengabarimu"
Kata Un Tay-tay lagi.
"sekarang kau cepatlah pergi!"
Dengan sangat penurut bocah pincang itu membalikkan tubuh, tiba-tiba dia berpaling lagi seraya bertanya.
"Kenapa sih kau bisa menyukai aku? Hingga sekarang aku masih tidak habis mengerti, bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"
Un Tay-tay tersenyum.
"Karena kau menyukai aku dengan bersungguh hati, tidak punya pikiran dan niat lain, maka akupun menyukaimu"
Bocah pincang itu tertegun berapa saat, kemudian sambil bersorak-sorai baru beranjak pergi dari situ.
Memandang hingga bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan, kembali Un Tay-tay berdiri termangu, akhirnya setelah menarik napas panjang, sambil menenteng peti itu dia berjalan menuju ke arah kuil dengan langkah lebar.
Kuil itu sudah lama terlantar, dua belah pintu gerbangnya juga entah sudah sejak kapan dicuri orang sebagai bahan bakar, tanaman ilalang tumbuh liar disepanjang halaman, daun kering berserakan memenuhi lantai, apalagi ketika terhembus angin malam, segera menimbulkan suara gemersik yang ramai.
Ketika suara itu dipadukan dengan suara jendela yang bergoyang, terciptalah sebuah irama malam yang sendu.
Setelah melalui halaman kuil yang dipenuhi daun kering, menaiki undak-undakan batu yang dilapisi lumut dan menembusi kosen pintu yang dipenuhi sarang laba laba, sampailah perempuan itu dalam ruang kuil yang bobrok, lembab dan gelap.
Seketika itu juga Un Tay-tay mengendus bau busuk yang tajam berhembus keluar dari ruang kuil, suasana disana benar-benar mengenaskan, meja altar tampak sudah sangat bobrok, kain tirai robek sana sini, entah sudah berapa lama tidak pernah dijamah para jemaahnya.
Ditengah hembusan angin malam, hawa dingin terasa semakin menggigilkan tubuh, angin yang berhembus masuk melalui jendela, menggoyangkan kain tirai yang bobrok, ternyata ruang kuil itu kosong tidak berpenghuni.
Un Tay-tay mulai ragu, pikirnya penuh curiga.
"Jangan-jangan aku dibohongi setan cilik itu?"
Tapi baru lewat ingatan tersebut, dia sudah mendengar suara napas orang yang lirih berkumandang keluar dari bawah meja altar bobrok itu.
Dia agak sangsi tapi kemudian melanjutkan hngkahnya, per lahan-lahan menyingkap taplak meja altar dan melongok ke bawah...
Benar saja, dia menyaksikan Im Ceng sedang tertidur di situ.
Menyaksikan hal ini, tidak tahan Un Tay-tay menghela napas, pikirnya.
"Aaai, suhengnya begitu hati-hati dan selalu waspada, sementara sutenya begitu sembrono, biarpun sangat lelah, tidak seharusnya dia tidur di tempat seperti ini!"
Dia benar-benar tidak habis mengerti, kenapa dua orang.
seperguruan ternyata memiliki tabiat yang jauh berbeda, Thiat Tiong-tong cekatan dan penuh waspada, berada dalam situasi sekritis apa pun, bukan saja mampu melindungi diri bahkan masih sempat menolong orang lain.
Sebaliknya Im Ceng begitu berangasan, emosinya sangat tinggi dan sepak terjangnya begitu sembrono, sekalipun dia berdarah panas dan selalu ingin membela hal hal yang tidak adil, tapi dia justru tidak mengerti bagaimana harus menata diri, bagaimana harus memikirkan diri sendiri.
Mungkin dia tidak tahu kalau dua bersaudara seperguruan ini sebenarnya memiliki satu kesamaan yang paling besar....
mereka berdua sama-sama berjiwa pendekar dan berhati ksatria, sekalipun cara bertindak dan cara yang digunakan sangat berbeda namun tujuan yang hendak mereka capai sebenarnya tidak jauh berbeda.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong yang bersembunyi dibawah wuwungan rumah pun mulai merasa amat iba, pikirnya.
"Ji-te wahai Ji-te, sekalipun kau memiliki keberanian seperti Thiat Tiong-tong, meski memiliki kepandaian yang tangguh, namun tabiatmu sangat menguatirkan, aku benar-benar tidak tega membiarkan kau berkelana seorang diri di dalam dunia persilatan!"
Tiba-tiba ia dengar Un Tay-tay menghela napas panjang, kemudian menepuk bahu Im Ceng berulang kali.
"Siapa?"
Bentak Im Ceng sambil terjaga dari tidurnya.
Sembari membentak dia melompat bangun, tampaknya pemuda itu lupa kalau sedang tidur dibawah meja altar, tidak ampun meja itu tertumbuk hingga mencelat ke belakang dan hancur berserakan.
Un Tay-tay mundur selangkah, memandanginya tanpa bicara.
Begitu tahu siapa yang datang, paras muka Im ceng berubah hebat, hardiknya.
"Rupanya kau!"
"Benar, memang aku!"
"Mau apa kau datang kemari?"
"Datang mencarimu?"
"Hahahaha.... bagus, tidak nyana kau masih punya muka untuk berjumpa denganku"
Im Ceng mendongakkan kepalanya tertawa seram.
Un Tay-tay tidak bicara apa apa, dia hanya menatapnya berapa saat kemudian setelah menghela napas dia membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ.
Melihat wanita itu hampir mencapai pintu keluar, tiba-tiba Im Ceng melejit ke udara dan mnighadang jalan perginya.
"Kau sebentar datang sebentar pergi, memangnya sudah edan!"
"Kusangka kau sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadapku, maka aku datang mencarimu"
Kata Un Tay-tay ketus.
"tapi setelah menyaksikan tampangmu sekarang, aku tahu kau belum bisa melupakan aku, terpaksa aku harus segera pergi dari sini"
"Siapa bilang aku tidak bisa melupakan dirimu? Aku justru amat membencimu"
Seru Im Ceng gusar.
"Antara cinta dan benci sebenarnya hanya dipisahkan oleh sebuah garis yang tipis, walaupun sekarang kau membenciku, tidak lama kemudian kau bakal mencintaiku lagi"
"Kau sangka bisa menebak suara hatiku?"
Un Tay-tay tidak menanggapi pertanyaan itu, kembali dia menghela napas panjang.
"Maukah kau mendengarkan kisah asal usulku?"
Dia bertanya.
"Manusia macam apakah dirimu?"
Im Ceng tertawa dingin.
"Kalau ingin tahu, duduklah dulu, biar aku bercerita"
Walaupun masih menunjukkan rasa gusar, Im Ceng duduk juga ke lantai. Un Tay-tay meletakkan petinya ke lantai kemudian duduk diatas peti itu, ujarnya perlahan.
"Sejak kecil aku hidup tanpa ayah tanpa ibu, aku dipelihara seorang ayah angkat, dia adalah seorang lelaki yang berhati mulia namun selalu hidup dalam ketidak puasan, dia anggap semua orang didunia ini bersalah kepadanya, maka setiap hari dia hanya pergi minum arak bahkan minum sampai mabuk berat.
"Padahal orang di kolong langit tidak pernah berbuat sesuatu terhadapnya, justru dia sendiri yang memandang rendah kemampuan diri, karena watak tersebut bukan saja dia hidup terasing, pekerjaan pun ikut terbengkelai"
Dia pejamkan mata sambil menghela napas panjang, lama kemudian baru lanjutnya.
"Dia tidak memiliki keahlian apapun untuk mencari nafkah, kepandaian silat pun tidak hebat, pekerjaan apapun tidak mau dia lakukan, saban hari dia selalu berkata begini terhadap dirinya.
"manusia macam aku, mana boleh melakukan pekerjaan rendah yang memalukan, kalau harus bekerja, aku harus melakukan satu usaha besar", maka kerjanya setiap hari hanya luntang lantung kian kemari, katanya mah ingin melakukan usaha besar, tapi usaha besar macam apa yang akan dilakukan? Bahkan dia sendiripun tidak tahu, dia hanya beritahu kepadaku, suatu hari nanti dia pasti akan kaya raya.
"Waktu itu usiaku masih sangat kecil, hidup kami sangat menderita dan penuh siksaan, bukan saja harus berdiam dalam kuil bobrok, makan pun tidak pernah kenyang, hingga mencapai usia lima belas tahun, pakaian yang kukenakan pun masih selembar pakaian yang sudah kukenakan sejak berumur sepuluh tahun.
"Padahal gadis berusia lima belas tahun memiliki bagian tubuh yang tidak berbeda dengan wanita dewasa, akibatnya setiap hari ada sekawanan pemuda pengangguran yang melototi tubuhku, aku berusaha menutupi bagian yang satu namun tidak dapat menutupi bagian yang lain, akhirnya akupun pasrah, biarkan mereka menonton sepuasnya, maka.... tahun itu ada berapa orang pemuda pengangguran yang meloloh ayah angkatku hingga mabuk berat, menggunakan kesempatan itu mereka memperkosa aku secara bergilir, keesokan harinya kulaporkan kejadian ini kepada ayah angkat, didalam gusarnya dia mencari kawanan pemuda pengangguran itu dengan berbekal golok, tentu saja tanpa hasil.
"Sejak itu ayah angkatku minum arak semakin banyak, tentu saja semakin mabuk, dia tidak pernah mengurusi diriku lagi, akhirnya dia pergi entah ke mana.
"Kemudian aku pun berkenalan dengan seorang pelatih kuda dari peternakan Lok-jit, dia mengerti silat dan terhitung seseorang yang punya duit dan punya pengaruh ditempat itu, akupun berusaha memikatnya.
"Tentu saja dia langsung terpikat oleh rayuanku, asal ada permintaanku, dia tidak pernah menampik, maka mula-mula aku minta kepadanya untuk menghabisi nyawa kawanan pemuda pengangguran yang pernah memperkosaku!"
"Manusia begundal macam itu memang pantas dibunuh!"
Sela Im Ceng geram. Un Tay-tay tertawa hambar, lanjutnya.
"Tapi setelah berjumpa dengan Suto Siau, pemilik peternakan Lok-jit, akupun mengambil keputusan untuk mengail ikan kakap ini.
"Dengan menggunakan pelbagai cara aku berusaha mendekatinya, tatkala pada akhirnya dia mulai memperhatikan aku, mulai merayuku, dengan air mata berlinang akupun berkata kepadanya bahwa aku tidak bisa menghianati si pelatih kuda itu.
"Maka keesokan harinya Suto Siau perintahkan pelatih kuda itu untuk menemaninya pergi mengembala sekawanan kuda, mereka berangkat berdua tapi ketika balik tinggal Suto Siau seorang.
"Kepadaku Suto Siau berkata bahwa si pelatih kuda itu terjatuh dari kudanya karena kurang hati-hati hingga mati terpijak kawanan kuda, tentu saja aku mengerti apa yang terjadi, namun diluar aku berlagak sangat sedih.
"Maka ditengah suasana kesedihan itulah aku menjadi perempuan simpanan Suto Siau.
"Aku bersumpah tidak akan hidup miskin lagi dikemudian hari, dengan pelbagai cara aku berusaha membuat senang Suto Siau, lambat laun aku pun memiliki gedung yang indah, memiliki kebun yang luas, pakaian yang mewah dengan aneka perhiasan yang mahal harganya, dari seorang wanita miskin berubah jadi wanita kaya yang terhormat, melompat keluar dari kubangan lumpur dan hidup dalam bangunan gedung yang indah, akhirnya apa yang kucita-citakan terwujud sudah"
Ketika perempuan itu menghentikan ceritanya, Im Ceng pun ikut terbungkam dalam seribu bahasa.
Angin masih berhembus lewat, cukup lama suasana dicekam dalam keheningan yang luar biasa.
Lama kemudian, akhirnya sekulum senyuman yang sangat dingin menghiasi wajah Un Tay-tay yang putih memucat, terusnya.
"Sejak saat itu aku berusaha mengisi semua kekuranganku, belajar membaca, belajar silat, aku tidak ingin terperosok lagi ke lembah kenistaan, aku ingin terbang lebih tinggi lagi.
"Menanti aku merasa kemampuanku sudah cukup tangguh maka akupun mulai membalas dendam, mulai merayu lelaki, mempermainkan mereka lalu membunuhnya.
"Dalam dua tiga tahun terakhir, entah sudah berapa banyak lelaki yang tidak kuat menahan godaan tewas ditanganku, tapi aku tidak pernah menyesali perbuatanku ini"
"Cukup, tidak usah dilanjutkan!"
Tiba tiba Im Ceng berteriak keras. Un Tay-tay mendengus dingin, katanya.
"Aku sengaja menceritakan semua pengalamanku ini dengan tujuan agar kau tahu perempuan macam apakah diriku ini, tentang lelaki aku sudah mengetahui kelewat banyak, terhadap lelaki semacam kau, tidak mungkin aku pernah mencintainya, jadi kau harus putuskan semua ingatanmu tentang aku, jangan berharap dan jangan menanti, sebab kau bakal kecewa"
Im Ceng mengepal tinjunya kuat-kuat, teriaknya.
"Terhadap dirimu, bukan saja aku sudah putus asa, bahkan.... bahkan...."
"Bila kau pandang rendah aku, bila pandang jijik tubuhku, hal ini jauh lebih bagus lagi"
Sela Un Tay-tay sambil tertawa hambar. Tiba tiba Im Ceng bangkit berdiri, teriaknya.
"Kalau tahu begini, kenapa kau masih datang mencariku?"
"Sekarang Suto Siau sudah bersekongkol dengan suhengmu Thiat Tiong-tong, Suto Siau amat membenciku, dia tidak mungkin akan lepaskan aku maka terpaksa aku harus membunuhnya terlebih dulu, sementara aku.... aku amat membenci Thiat Tiong-tong, aku ingin membunuh mati dirinya"
"Kedua orang itu pun merupakan dua orang yang harus kubunuh"
Ujar Im Ceng penuh kebencian.
"Tepat sekali"
Un Tay-tay tertawa ringan. Im Ceng segera mendongakkan kepalanya dan bertanya.
"Jadi kau ingin bekerja sama denganku untuk menghadapi mereka?"
"Tepat sekali, bila ingin mengandalkan kekuatan masing-masing untuk menghadapi mereka, jelas kepandaian kita belum mampu mengungguli, terpaksa aku harus bekerja sama denganmu, dengan begitu baru ada kesempatan untuk meraih kemenangan"
"Bagaimana mungkin aku bisa bekerja sama denganmu?"
"Kenapa tidak mungkin? Kau bisa manfaatkan kecerdasan dan kelicikanku sementara aku bisa memanfaatkan kekuatan dan ilmu silatmu, tapi kau mesti ingat baik-baik, kita hanya saling memanfaatkan, sama sekali tidak ada ikatan perasaan apapun, tatkala urusan sudah selesai, kau boleh pergi menurut keinginanmu dan akupun akan lewat melalui jalanku"
Im Ceng kembali berdiri termangu, jelas dia sangat ragu dan tidak berani mengambil keputusan. Melihat itu Un Tay-tay segera tertawa dingin.
"Kenapa? Apa lagi yang kau pikirkan? Tidak berani?"
"Siapa bilang aku takut!"
"Hmmm, mana aku tahu apa yang kau takuti?"
Ejek perempuan itu makin ketus. Dengan geram Im Ceng berteriak.
"Asal bisa membunuh Suto Siau, lalu menangkap hidup-hidup murid murtad dari Perguruan Tay ki bun, agar aku bisa menyaksikan dia mati mengerikan dibawah hukuman siksaan.... mati seperti.... seperti toako ku dulu, apa pun tidak perlu kutakuti, apa pun akan kulakukan"
Kelihatannya dia tidak pernah bisa melupakan toakonya mati ditarik dengan lima ekor kuda, terlebih terhadap Thiat Tiong-tong yang mendapat perintah untuk menjadi algojo, rasa bencinya serasa merasuk hingga ke tulang sumsum.
"Nah, begitulah baru tampang seorang lelaki bernyali"
Puji Un Tay-tay sambil tersenyum.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Kesempatan pasti akan datang, bila kesempatan sudah tiba, tidak sedikit yang mesti dilakukan"
Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diluar jendela diam-diam tersenyum geli.
Pertama dia merasa yakin bahwa investasi yang ditanamkan pada diri Un Tay-tay bukanlah penanaman modal yang sia sia....
paling tidak Un Tay-tay sudah menunjukkan sikapnya untuk menganggap Suto Siau sebagai musuh dan siap melawannya dengan sepenuh tenaga.
Kedua dia merasa berterima kasih sekali kepada Un Tay-tay karena bersedia mengemukakan sikapnya terhadap Im Ceng, dengan didampingi Un Tay-tay yang licik paling tidak Im Ceng yang berangasan akan peroleh banyak bantuan, satu hal yang membuatnya sangat lega.
Mengenai perasaan Un Tay-tay terhadap dirinya, Thiat Tiong-tong tidak ingin membahasnya lebih jauh, diam-diam dia melompat turun dari wuwungan rumah.
Mendadak dia saksikan ada sesosok bayangan manusia menyelinap mendekat dengan kecepatan tinggi.
Dalam terkejutnya dia mengira jejak mereka sudah ketahuan oleh Suto Siau beserta komplotannya, cepat dia melompat naik lagi ke atas wuwungan rumah.
Bayangan manusia itu kelihatan membalikkan tubuhnya, ternyata dia tidak lain adalah si bocah pincang, murid Kiu cu Kui bo..
Dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong segera berpikir.
"Ternyata setan cilik inipun bukan manusia yang bisa dipercaya"
Maka dia pun menggapai ke arahnya sambil membalikkan tubuh dan bergerak menjauhi bangunan kuil. Baru tiba diluar pagar, bocah pincang itu sudah menyusul tiba, tegurnya dengan mata melotot.
"Kenapa kau berkerut kening, mau apa mencari aku?"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Aaai, bukankah kau sudah menyanggupi Un Tay-tay? Tidak seharusnya kau datang mengintip"
Bocah pincang itu tertegun, mendadak dia mengebaskan tangannya perlahan.
Thiat Tiong-tong segera mengendus bau harum yang semerbak menerpa hidungnya, kontan kepalanya terasa pening kemudian roboh terjungkal ke tanah, tidak sadarkan diri.
Dengan satu gerakan cepat bocah pincang itu melepaskan ikat pinggangnya dan mengikat tubuh Thiat Tiong-tong kuat-kuat, gumamnya.
"Jangan salahkan aku berbuat begitu kepadamu, kalau mau disalahkan, salahkan dirimu sendiri kenapa tahu kelewat banyak"
Selesai mengikat tubuh Thiat Tiong-tong, dia panggul tubuh pemuda itu dipunggungnya, lalu bergumam lagi.
"Jika kau beritahu Un Tay-tay kalau aku datang mengintip, dia pasti tidak akan suka kepadaku lagi, aku harus mencari akal agar kau tidak berani mengatakannya"
Tapi diapun tidak tahu siapakah anak muda ini dan darimana asal usulnya, dia tidak berpikir kenapa pemuda itu bisa mengetahui begitu banyak persoalannya.
Oleh sebab ragu maka dia tidak berani turun tangan keji.
Dengan membopong Thiat Tiong-tong yang lemas, secepatnya dia melesat pergi menjauhi tempat itu.
Tempat itu terletak diluar kota, setelah menembusi hutan tibalah dia disebuah tanah pertanian yang luas.
Berhubung dia harus membawa seseorang, bocah pincang itu tidak berani kembali ke tempat gurunya, sementara otaknya berpikir keras bagaimana caranya mengatasi soal orang yang diculik, langkah kakinya bergerak tiada hentinya.
Setelah berjalan berapa saat, perasaan hatinya makin lama semakin bertambah gelisah, akhirnya tibalah ditepi ladang pertanian, disitu terbentang sebuah jalan kecil menuju ke arah tiga buah rumah gubuk.
Dalam rumah gubuk itu bukan saja ada cahaya lentera bahkan terdengar suara gesekan roda penggiling yang berisik, tampaknya rumah itu adalah sebuah kedai kecil yang menjual cairan kedele.
Setelah ragu sesaat akhirnya bocah pincang itu berpikir.
"Baiklah, biar kuteguk dulu semangkuk susu kedele dan makan dua potong tahu panas sebelum melanjutkan perjalanan"
Dengan langkah lebar dia mendekati bangunan rumah itu.
Di depan rumah gubuk terdapat sebuah tenda yang amat sederhana, dibawah tenda tersedia dua tiga buah meja kursi yang lapuk.
Sebuah lentera yang tidak terlalu terang tergantung ditengah tenda, menyinari wajah seorang kakek berambut putih, berbadan bungkuk dan mengenakan pakaian amat sederhana, saat itu dia sedang menggiling kedele dengan ogah-ogahan.
"Apakah ada yang dijual?"
Bocah pincang itu segera bertanya lantang.
"Susu kelede yang harum, tahu yang hangat, butuh berapa pun kami tersedia"
"Kalau begitu cepat hidangkan"
Seru si bocah sambil membanting tubuh Thiat Tiong-tong ke tanah, kemudian sengaja gumamnya lagi.
"pencuri ini sungguh berat, setelah digelandang ke kantor polisi, aku harus menghajarnya berapa kali"
"Ooh, rupanya tuan kecil adalah seorang opas"
Sapa si kakek sambil memicingkan matanya dan tertawa.
"Benar, benar, dugaanmu tepat sekali!"
Buru-buru bocah pincang itu menyahut. Kakek itu segera berpaling seraya berseru.
"Toa-nio, ada tuan opas ingin minum susu kedele, cepat ambilkan mangkuk yang agak bersih"
Dari dalam guduk terdengar seseorang menyahut, lalu terlihat seorang nyonya muda bergaun hijau, berikat kepala hijau dengan menggendong bayinya yang masih merah berjalan keluar.
Dia membawa sebuah mangkuk porselen yang bersih, menuangnya dengan susu kedele lalu disodorkan ke hadapan bocah pincang itu.
Melihat perempuan itu sembari menggendong bayi harus bekerja melayaninya, bocah pincang itu merasa rikuh sendiri, baru saja dia hendak bangkit membantu, tiba-tiba teringat olehnya kalau dia adalah seorang 'opas', sepantasnya seorang opas tidak berlaku sopan, akhirnya diapun duduk kembali dengan santainya.
Kelihatannya nyonya bergaun hijau itupun merasa takut sekali berhadapan dengan opas, kepalanya tertunduk sangat rendah, sambil berdiri dihadapan bocah pincang itu tanyanya lembut.
"Apakah thayjin masih ada perintah lain?"
"Siapkah dua potong tahu panas"
Jawab bocah pincang itu sengaja memperberat nadanya. Nyonya bergaun hijau itu mengiakan dan segera berlalu, dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga si kakek. Sambil tertawa kakek itupun berkata.
"Nyonya kami bilang koanjin pasti sudah amat lelah karena memburu buronan, karena itu harus dilayani dengan istimewa, dia suruh aku tambahkan berapa macam bumbu dalam tahu ini"
Diam-diam bocah pincang itu tertawa geli, pikirnya.
"Tidak nyana ada gunanya juga mengaku sebagai seorang opas"
Dengan membawa semangkuk tahu kakek itu masuk ke dalam gubuknya, tidak lama kemudian dia sudah muncul kembali seraya berkata.
"Koanjin, cobalah semangkuk tahu ini"
Sambil berkata dia sodorkan semangkuk tahu yang masih panas ke hadapan bocah pincang itu, benar saja, tahu itu sudah diberi berapa bahan penyedap dan gorengan minyak hingga baunya harum semerbak.
Dalam hati kecilnya bocah pincang itu bertambah geli, pikirnya.
"Tampaknya mereka sangat takut kepadaku, mungkin menagih uang pun tidak berani...."
Maka dengan lahapnya dia makan semangkuk tahu itu hingga ludas bersih.
"Bagaimana rasanya?"
Tanya kakek itu kemudian.
"Bagus, enak sekali"
"Semangkuk tahu itu memang semuanya bagus, hanya ada satu hal yang kurang bagus"
Kakek itu berkata lagi sambil tertawa.
"Apanya yang kurang bagus?"
"Siapa yang sudah makan tahu itu berarti dia bakal kehilangan nyawa"
Berubah paras muka bocah pincang itu, sambil mendorong meja dia melompat bangun dan melompat ke hadapan kakek itu, teriaknya sambil mencengkeram baju kakek itu kuat-kuat.
"Jadi kedai ini sebuah kedai gelap?"
Kakek itu hanya menatapnya sambil tertawa tergelak, sama sekali tidak berbicara.
Bocah pincang itu segera merasakan kepalanya mulai pening dan pandangan matanya berkunang-kunang, ke empat anggota tubuhnya lemas tidak bertenaga, dia sadar keadaan tidak beres, dengan penuh kegusaran sebuah pukulan langsung dilontarkan ke tubuh kakek itu.
Dengan cekatan si kakek mengigos ke samping lalu mendorongnya perlahan, bocah pincang itu langsung roboh terjungkal ke lantai.
Tatkala tubuhnya terjungkal, dengan penuh rasa dendam pikirnya.
"Tidak nyana aku sebagai anggota perguruan Kiu cu kui bo akhirnya harus roboh terjungkal ditangan orang"
Belum lagi ingatan itu selesai melintas, dia sudah jatuh tidak sadarkan diri.
"Roboh kau, roboh kau...."
Seru si kakek sambil bertepuk tangan, kemudian sambil berpaling tanyanya dengan senyuman masih menghiasi wajahnya.
"nona, sebenarnya siapakah orang ini? Kenapa kau merobohkan dirinya?"
"Aku sendiri juga kurang tahu siapakah dia"
Jawab perempuan bergaun hijau itu.
"tapi aku kenal dengan orang yang ditangkapnya itu, cepat kita gotong masuk ke dua orang itu!"
Dibawah cahaya lentera yang redup, tampak wajah cantiknya sama sekali tidak berbedak maupun bergincu, sekalipun pakaian yang dikenakan amat sederhana namun tidak menutupi kecantikan wajahnya yang menawan.
Sikap maupun tingkah laku kakek itupun kelihatan menaruh hormat terhadap si nona, dia tak berani banyak bertanya lagi dan segera menggotong masuk Thiat Tiong-tong serta bocah pincang itu.
Biarpun wajahnya sudah penuh keriput, usianya sudah agak lanjut, namun kekuatan lengannya masih hebat, biarpun sekaligus harus menggotong tubuh dua orang, dia tampak tidak kepayahan.
Perabot yang ada dalam ruang gubuk itu amat sederhana, tapi suasana amat bersih, tidak nampak ada setitik debu pun.
Sambil menggendong bayinya, nyonya bergaun hijau itu mengikuti di belakangnya, sambil menuding ke arah Thiat Tiong-tong ujarnya.
"Coba kau periksa orang itu, apakah tertotok jalan darahnya atau pingsan karena dicekoki obat pemabuk"
"Siangkong ini nampak lemas seperti kapas, kelihatannya dia roboh karena obat pemabuk"
Jawab si kakek setelah memeriksanya secepat, saat ini sorot matanya tajam sekali.
Setelah membaringkan bayinya diatas ayunan, perempuan berbaju hijau itu mengambil semangkuk air dingin dan mencoba dilolohkan ke mulut Thiat Tiong-tong, siapa tahu pemuda itu tetap tidak sadarkan diri, bahkan ketika kepalanya diguyur air dingin pun sang pemuda tetap pingsan.
"Lihay betul obat pemabuk ini!"
Gumam kakek itu dengan kening berkerut. Perempuan bergaun hijau itu menghela napas panjang, ujarnya.
"Padahal orang ini selalu hati-hati dan penuh kewaspadaan, ilmu silatnya terhitung tangguh, kenapa bisa dikerjai bocah cilik?"
"Sebenarnya siapa sih siangkong ini? Kenapa nona sangat menguatirkan dirinya?"
Kembali perempuan bergaun hijau itu menghela napas.
"Dialah Thiat Tiong-tong dari Perguruan Tay ki bun!"
Sahutnya. Berubah paras muka kakek itu.
"Jadi dia.... dia adalah.... nona ke dua...."
"Sstt tutup mulut! Ada orang datang"
Mendadak perempuan itu menggoyangkan tangannya. Baru selesai bicara, suara langkah manusia sudah berjalan mendekat dari kejauhan, lalu terdengar seseorang berkata dengan suara dalam.
"Omitohud, bolehkah aku si pendeta minta sedekah semangkuk susu kedele untuk menghilangkan dahaga?"
"Kau jaga disini, biar aku yang tengok keadaan diluar"
Bisik perempuan itu lirih.
Dengan cepat dia berjalan keluar dari ruangan, sekalian merapatkan kembali pintunya.
Dalam remang remangnya kegelapan malam terlihat ada seorang pendeka berjubah abu-abu yang mengenakan sepatu rumput, berkaos kaki putih dan mengenakan sebuah topi bambu berdiri disisi gilingan kedele.
Kelihatannya dia datang dari kejauhan, ini terlihat dari pakaiannya yang penuh debu dan pasir, topi bambu dikenakan rendah rendah sehingga menutupi separuh wajahnya, yang terlihat hanya jenggot panjangnya yang hitam.
Dengan kepala tertunduk kembali orang itu berkata.
"Li sicu, bersediakah kau memberi sedekah untuk aku si pendeta?"
Perempuan berbaju hijau itu ingin pendeta tersebut secepatnya pergi dari situ, maka setelah menuang semangkuk susu kedele dan mengambil sepotong tahu, dia sodorkan di depan sang pendeta seraya berkata.
"Thaysu, silahkan dicicipi!"
"Li sicu berhati mulia, Pousat tentu akan melindungi mu"
Seru pendeta itu kemudian sambil tertawa.
"Terima kasih atas doa thaysu, silahkan dicicipi"
Perlahan-lahan pendeta itu duduk di bangku, kembali ujarnya.
"Pousat pasti akan melindungi Li-sicu selalu banyak rejeki dan selamat, selamanya jejaknya tidak ketahuan orang"
"Thaysu, apa katamu?"
Berubah paras muka nyonya berbaju hijau itu.
"aku tidak mengerti maksudmu"
"Nona Leng, benarkah kau tidak mengerti?"
Kata pendeta itu sama sekali tidak berpaling. Sekujur badan perempuan berbaju hijau itu bergetar keras, wajahnya berubah makin hebat, tapi dia masih memaksakan diri untuk tertawa.
"Siapa sih nona Leng itu? Jangan-jangan thaysu salah melihat orang!"
"Leng Cing-soat, nona Leng"
Kata pendeta itu sambil tertawa.
"sejak kepergianmu, semua orang berusaha menemukan jejakmu, orang menyangka kau telah bersembunyi ditengah hutan lebat, siapa sangka seorang putri cantik yang sudah biasa hidup dimanja, kini bersembunyi disebuah dusun terpencil sambil menjual susu kedele"
"Siapa kau sebenarnya?"
Bentak perempuan berbaju hijau itu terperanjat.
Perlahan-lahan pendeta itu berpaling, melepaskan topi bambunya dan perlihatkan sepasang alis matanya yang tebal, sepasang matanya yang tajam serta hidung bengkoknya seperti paruh burung elang.
Biarpun dibawah dagunya tumbuh jenggot pendek, namun usianya masih sangat muda, walaupun bertampang ganteng, sayang wajahnya yang pucat pasi menimbulkan kesan dingin yang menggidikkan hati.
Leng Cing-soat memandang orang itu sekejap, tiba-tiba ia mundur dua langkah.
"Nona Leng, apakah kau sudah mengenali siaute?"
Tanya pendeta itu lagi sambil tersenyum. Sekulum senyuman manis tiba-tiba tersungging diujung bibir Leng Cing-soat, katanya sambil tertawa ringan.
"Bukankah kau adalah Sim toate? Mana mungkin aku tidak bisa mengenalimu?"
Ditengah senyuman manis mendadak tangannya secepat kilat menyapu ke depan, sepuluh jari tangannya yang tajam bagai pedang langsung membabat sepasang mata dan tenggorokan pendeta itu, sementara kakinya melepaskan tendangan kilat menghajar Tan-thian di perutnya.
Jurus serangan yang digunakan selain aneh juga ganas dan telengas, apalagi selisih jarak mereka berdua sangat dekat, asal tersambar ujung jarinya dapat dipastikan akan mendatangkan bencana kematian.
Siapa sangka kelihatannya pendeta itu sudah menaruh waspada sejak awal, sambil tertawa terbahak-bahak katanya.
"Hahahaha.... untung sejak awal siaute sudah tahu kalau dibalik senyuman nona tersembunyi golok, kalau tidak, mungkin aku sudah kehilangan nyawa saat ini"
Selesai tertawa tubuhnya sudah meloncat ke udara dan menghindarkan diri.
"Hmm, sekarang pun kau tetap tidak punya harapan untuk hidup!"
Ejek Leng Cing-soat sambil tertawa dingin.
Tubuhnya bagai bayangan saja langsung menempel ketat disamping pendeta itu, sepasang tangannya berputar kencang menciptakan bayangan pukulan yang menyelimuti angkasa.
Setelah memunahkan berapa jurus serangan lawan, kembali pendeta itu berteriak keras.
"Nona, jangan menyerang dulu, kedatangan siaute kali ini sama sekali tidak bermaksud jahat"
Berada ditengah udara, dengan jurus Si jin ti (menjinjing orang mati) dia mencelat sejauh satu meter lebih.
"Kalau memang tidak bermaksud jahat, kenapa gerak gerikmu mencurigakan dan wajahmu tampil dengan menyamar? Memangnya kau berharap nonamu akan membebaskan kau sehingga dapat pulang menyampaikan berita?"
Pendeta itu menghela napas getir, ujarnya.
"Nona Leng, tahukah kau kalau nasib siaute saat ini tidak beda jauh dengan nona? Kini aku sudah menjadi manusia gelap yang takut bertemu orang, oleh sebab itulah terpaksa siaute harus menyamar seperti ini"
Leng Cing-soat tampak agak ragu, dia perhatikan sekejap pendeta itu kemudian katanya sambil tertawa dingin.
"Sim Sin-pek, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai perkataanmu?"
"Seandainya Leng locianpwee berhasil menemukan nona, paling banter dia akan minta nona untuk pulang ke rumah"
Kata pandeta itu sambil menghela napas.
"sebaliknya bila guruku yang menemukan jejakku, dia bisa jadi akan mencabut nyawaku!"
"Hek Seng-thian hanya memiliki seorang murid, kenapa ingin membunuhmu?"
"Sebab siaute telah menghianati guruku!"
Sahut pendeta itu sambil tertawa getir.
Ternyata pendeta ini tidak lain adalah pemuda yang ikut bersama Hek Seng-thian memasuki gua harta karun dan kemudian menghianati gurunya dengan melarikan diri di saat bahaya mengancam, dia bernama Sim Sin-pek.
Ketika mengetahui kalau Hek Seng-thian tidak tewas didalam gua harta, pemuda ini segera tahu kalau gurunya tidak nanti akan lepaskan dirinya dengan begitu saja.
Lantaran ketakutan, dia tidak berani tampil lagi dalam dunia persilatan, untuk merahasiakan identitasnya maka dia menyamar menjadi seorang pendeta yang berkelana kemana-mana.
Tidak nyana didalam pengembaraannya dia bertemu dengan Leng Cing-soat.
Padahal sejak awal dia memang sudah punya maksud jahat terhadap Leng Cing-soat, setelah memperoleh kesempatan, agar menghilangkan kecurigaan orang maka diapun sengaja menciptakan sebuah cerita untuk membohongi perempuan itu.
Dasar dia memang pandai bersilat lidah, tidak heran kalau cerita karangannya segera membuat orang percaya.
Sebagai penutup kembali dia menghela napas panjang, perlahan ujarnya.
"Itulah sebabnya guruku tidak ingin membiarkan siaute hidup terus, kalau siaute tidak menyamar dan kabur dari dunia persilatan, mungkin...."
"Hmmm, percuma kau bersilat lidah dengan memutar balikkan dunia, aku tidak bakal percaya kepadamu"
Dengus Leng Cing-soat ketus.
Bagaimana pun dia adalah seorang wanita, melihat betapa ibanya orang itu, sekalipun dimulut mengatakan tidak percaya, padahal dia sudah mempercayainya berapa bagian.
Tiba tiba Sim sin-pek berlutut, sumpahnya.
"Jika cayhe bohong, biar langit menghukum dan menumpasku dari muka bumi!"
"Apa gunanya kau bersumpah?"
Jengek Leng Cing-soat lagi sambil tertawa dingin.
"Kini siaute telah menghianati perguruan dan kabur dari dunia persilatan"
Katanya.
"jika nona pun menaruh curiga kepadaku, biarlah siaute mati dihadapan nona saja daripada membuatmu kuatir"
Leng Cing-soat tertawa dingin, dia membuang muka dengan mendongakkan kepalanya memandang angkasa. Kembali Sim Sin-pek berkata.
"Asal bisa cuci bersih nama siaute dari segala tuduhan dan fitnahan, kenapa mesti takut mati? Siaute hanya memohon agar nona menjadi saksi atas semua pengakuan ini, jangan lupa siramlah kuburan siaute nanti dengan satu dua cawan arak kegetiran"
"Kalau ingin mati, matilah! Tidak bakal ada yang menghalangi niatmu"
Sim Sin-pek menghela napas panjang, dari dalam sakunya dia cabut keluar sebilah pisau belati yang amat tajam kemudian siap digorokkan keatas tenggorokan sendiri.
Tampaknya dia sudah memahami sifat Leng Cing-soat yang ketus diwajah namun hangat didalam hati, dia yakin gadis itu tidak akan membiarkan dirinya mati bunuh diri, oleh sebab itu tusukan belatinya dilakukan dengan sepenuh tenaga.
Paras muka Leng Cing-soat agak berubah ketika melihat pendeta itu mencabut pisau belati, maka begitu melihat dia benar-benar menggorok leher sendiri, diiringi bentakan nyaring tubuhnya melejit ke depan, secepat kUat tangannya menghajar pergelangan tangan Sim Sin-pek yang menggenggam senjata.
"Triiing!"
Pisau belati itu terjatuh ke tanah, namun mata pisau yang tajam tidak urung melukai juga leher Sim Sin-pek hingga muncul sebuah mulut luka yang memanjang.
Darah segar meleleh keluar membasahi jubah Sim Sin-pek yang abu-abu, terdengar dia menghela napas sedih.
"Aaaai, kalau toh nona pun tidak percaya kepadaku, biarlah siaute mati dihadapanmu!"
Tampaknya Leng Cing-soat masih kuatir kalau dia akan mencoba bunuh diri lagi, dengan satu tendangan dia menyepak pisau belati itu hingga mencelat jauh, katanya kemudian.
"Aku percaya kepadamu!"
"Sungguh?"
Sim Sin-pek kegirangan. Leng Cing-soat menghela napas panjang.
"Luka mu tidak serius bukan? Cepat ikut aku masuk ke dalam, biar kubalut lukamu itu"
"Siaute bersedia mati untuk membuktikan ketulusan hatiku, asal nona percaya kepada siaute, biar harus mati saja tidak masalah apalagi hanya luka sekecil ini"
Leng Cing-soat mengerdipkan matanya berulang kali, tampaknya dia terharu oleh pernyataan itu.
Perlu diketahui, sudah sejak lama Sim sin-pek menaruh rasa suka terhadapnya, setiap kali bertemu nona ini, dia selalu bicara dengan lembut, sopan dan penuh keriangan.
Sebaliknya Leng Cing-soat sudah banyak tahun hidup menjauh dari keluarganya, kemiskinan, kesepian membuatnya sangat menderita, maka pertemuannya kali ini sama halnya seperti bertemu sanak sendiri, tidak heran kalau dengan cepat dia menaruh keper-cayaan penuh terhadap segala perkataannya.
Sim Sin-pek mengikuti dibelakangnya masuk ke dalam ruangan, pikirnya dengan girang.
"Dia sudah lama hidup kesepian, sekarang-pun menaruh simpatik kepadaku, menganggap aku senasib sependeritaan dengannya, asal membuang sedikit waktu, tidak susah rasanya untuk menggiring dia masuk ke dalam pelukanku"
Baru saja dia memandang sekejap sekeliling ruangan, tiba-tiba terlihat ada sepasang mata yang tajam sedang mengawasinya tanpa berkedip, sorot mata itu penuh dengan pengalaman, sorot mata yang penuh kecurigaan serta rasa tidak percaya kepada siapa pun.
Sim Sin-pek segera kenal sorot mata itu sebagai pandangan mata dari Leng Cuan-hok, pengurus rumah tangga benteng Han hong po di masa lampau.
Maka sambil tertawa licik sapanya.
"Lo-coongkoan, masa kau tidak kenal aku?"
Leng Coan-hok manggut perlahan, sorot matanya kembali dialihkan ke wajah Leng Cing-soat.
Padahal secara lamat-lamat dia sudah mengikuti semua pembicaraan dan kejadian yang berlangsung diluar rumah tadi, hanya persoalannya tidak terlalu jelas.
Secara ringkas Leng Cing-soat menceritakan apa yang terjadi, kembali tambahnya.
"Ketika aku sedang meninggalkan Han hong po tempo hari, gerak gerikku ketahuan Hok-tia, tapi dia tidak mencegah perbuatanku sebaliknya malah ikut aku melarikan diri"
Setelah menghela napas, terusnya.
"Selama berapa tahun belakangan, seandainya tidak ada dia, mungkin akupun tidak bisa hidup hingga kini"
Membayangkan kembali rasa takut yang harus dihadapinya ketika kabur dari pengejaran, perjuangannya untuk mempertahankan hidup, penderitaannya karena membayangkan kematian suaminya, keraguannya ketika mempertimbangkan tempat untuk menyembunyikan diri serta siksaan batin yang harus dirasakannya ketika hidup menyendiri, tidak kuasa lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Saat itulah Sim Sin-pek telah menemukan Thiat Tiong-tong serta bocah pincang yang tergeletak tidak sadarkan diri dilantai, segera tanyanya.
"Siapa pula ke dua orang ini?"
"Yang seorang adalah Thiat Tiong-tong dari Perguruan Tay ki bun, sedang yang lain adalah...."
Mendadak Leng Coan-hok terbatuk-batuk, jelas dia hendak mencegah Leng Cing-soat menjelaskan persoalan itu. Leng Cing-rsoat tertawa pedih, katanya.
"Mulai sekarang Sim-pek sudah menjadi anggota keluarga kita, aku pikir persoalan apa pun yang sedang kita hadapi, tidak perlu dirahasiakan kepadanya lagi"
"Tapi...."
"Sudah, tidak perlu banyak bicara lagi"
Terpaksa Leng Coan-hok menundukkan kepalanya sambil perlahan-lahan membalikkan tubuh, sorot mata orang tua ini nampaknya sudah berhasil menebak niat buruk dari Sim sin-pek, hanya untuk sesaat dia belum bisa membuktikannya.
Dia berjalan mendekati ayunan, menundukkan kepala dan mengawasi bocah yang sedang tertidur lelap.
Sambil tertawa paksa kata Sim Sin-pek kemudian.
"Perkataan Hok-tia ada benarnya juga...."
"Aaaai.... bagaimana pun kita adalah manusia yang hidup bermasyarakat"
Tukas Leng Cing-soat sambil menghela napas.
"sedikit banyak kita harus belajar menaruh kepercayaan kepada orang lain"
Kalau dibilang perkataan itu ditujukan untuk Sim sin-pek, maka lebih tepat kalau dibilang ucapan mana sengaja dialamatkan untuk Leng Coan-hok, akan tetapi kakek itu sama sekali tidak berpaling.
Mengawasi bayangan punggungnya yang rentan dan tua, timbul perasaan menyesal dihati kecil Leng Cing-soat, kembali ujarnya.
"Hok-tia, bagaimana kalau hari ini kita menutup usaha lebih awal?"
Dengan kepala tertunduk Leng Coan-hok menyahut. Sambil tertawa paksa kembali Sim Sin-pek berkata.
"Nona dapat bersembunyi disini sambil membuka warung usaha, cara ini bagus sekali, siapapun tidak akan menduga sampai disini"
"Yaa, semuanya ini adalah berkat ide dari Hok-tia"
Sahut Leng Cing-soat sambil menghela napas.
Mendadak dia jumpai Sim Sin-pek meski sedang mengajaknya berbicara, namun sorot matanya berulang kali melirik Thiat Tiong-tong yang tidak sadarkan diri, tidak tahan segera tegurnya.
"Apa yang sedang kau perhatikan? Memangnya kau kenal dengan orang itu?"
Buru-buru Sim Sin-pek menarik kembali sorot matanya, sambil tertawa paksa dia menyahut.
"Aaah, mana mungkin siaute kenal orang ini?"
Hanya dalam satu lirikan mata, dia sudah menjumpai diujung saku Thiat Tiong-tong terdapat sebuah benda yang mirip sekali dengan panji darah, panji yang pernah dijumpai ketika berada dalam gua harta karun.
Panji darah itu semestinya hendak Thiat Tiong-tong serahkan kepada Im Ceng, tapi ditampik oleh pemuda itu sehingga hingga kini disimpan dalam sakunya.
Apa mau dibilang benda pusaka itu sekarang justru ditemukan oleh Sim sin-pek yang berhati busuk dan penuh dengan akal licik ini.
Kontan saja Sim Sin-pek merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.
"Orang she-Thiat ini bisa peroleh panji tersebut, berarti dia pun sudah mendapatkan seluruh harta karun itu...."
Maka sambil berlagak tidak sengaja dia bungkukkan tubuhnya.
Dibawah sorot cahaya lentera yang redup dia mencoba memastikan apakah benda yang tersumbul keluar dari saku Thiat Tiong-tong benar-benar adalah panji darah, pusaka dari Perguruan Tay ki bun atau bukan.
Sementara dia masih mengamati dengan serius, kebetulan pada waktu itu Thiat Tiong-tong sedang membuka matanya.
Di saat pemuda itu belum teringat akan semua peristiwa yang terjadi, pandangan pertama yang muncul dihadapannya adalah wajah orang itu, selembar wajah yang seakan akan....
akan....
Tiba-tiba dia teringat kembali dengan wajah orang ini, dia masih ingat dengan jelas, wajah tersebut tidak lain adalah wajah sang pemuda yang telah menghianati gurunya dan melarikan diri dari gua harta.
"Aaaah, rupanya kau!"
Pada saat yang bersamaaan, ketika Thiat Tiong-tong tersadar dari ingatannya, Sim Sin-pek telah mengambil keputusan, dia tidak boleh membiarkan Thiat Tiong-tong berteriak, tidak boleh membiarkan pemuda itu membocorkan kebohongannya, dan yang lebih penting lagi dia harus mendapatkan seluruh harta karun yang dimiliki Thiat Tiong-tong.
Demi mendapatkan harta karun yang tidak ternilai harganya, dia tidak sempat lagi mengurusi kecantikan Leng Cing-soat, dalam waktu sedetik Sim Sin-pek telah menyodokkan jari tangan kirinya sambil membalik lengan kanannya.
Jari tangan kirinya digunakan untuk menotok jalan darah didada kanan Thiat Tiong-tong sementara tangan kanannya berbalik meloloskan sebilah pisau belati.
Ditengah kilatan cahaya tajam, secepat petir dia menghujamkan pisau belati itu ke atas dada Leng Cing-soat.
Gadis itu menjerit kesakitan, sambil mendekap mulut luka didadanya dengan kedua belah tangan, dia menjerit gemetar.
"Hok-tia...."
Dengan langkah terhuyung dia mundur ke samping ayunan.
Kasih sayang seorang ibu membuat Leng Cing-soat yang terluka parah tidak pernah lupa untuk melindungi keselamatan putra kesayangannya....
ditengah jerit kesakitan, bayi itu mulai menangis keras.
Sambil menyeringai seram Sim sin-pek membalikkan tubuhnya, selangkah demi selangkah menghampiri ayunan.
Waktu itu Leng Coan-hok sedang memegang lentera sambil masuk ke dalam ruangan, dengan mata merah membara dia lempar lentera itu ke tanah kemudian tubuhnya langsung menerkam ke arah Sim Sin-pek.
Cepat Sim sin-pek sedikit merendahkan tubuhnya sambil merentangkan tangannya ke kiri kanan, dengan jurus Hong hong siang tian ci (burung hong pentang sayap) tangan kirinya men dorong roboh Leng Cing-soat sementara tangan kanannya memukul mundur Leng Cioan-hok.
Dengan sempoyongan Leng Coat-hok mundur ke belakang, kini orang tua itu sudah sangat geram, umpatnya dengan wajah merah padam.
"Bajingan keparat, nona bersikap baik kepadamu, tidak nyana kau justru tega melukainya...."
"Hmm, kalau tidak kejam bukan seorang lelaki"
Jengek Sim sin-pek sambil tertawa licik.
"tua bangka Leng, hari ini akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari seorang lelaki sejati macam aku!"
Ditengah gelak tertawa menyeramkan, dia merangsek maju menghampiri orang tua itu. Leng Coan-hok mendongakkan kepalanya tertawa keras, teriaknya.
"Mundur kau bangsat, lohu tidak sudi mati ditanganmu!"
Kini rambut putihnya awut-awutan, darah meleleh diujung matanya, sikap ksatria seorang abdi dalam yang dengan setia dan gigih membela majikannya membuat Sim Sin-pek sedikit tertegun, tidak sadar dia segera menghentikan langkahnya.
"Nona"
Teriak Leng Coan-hok kemudian dengan pedih.
"lohan tidak becus, aku tidak bisa melindungimu lagi"
Tiba-tiba dia menubrukan kepalanya ke atas dinding bata.
"Duuuuk!"
Percikan darah segar berhamburan di mana-mana, jenasah orang tua itu terpuruk disudut ruangan dalam keadaan mengenaskan.
Leng Cing-soat mencoba meronta untuk bangkit berdiri, darah telah membasahi seluruh dadanya, tusukan pisau belati itu terbenam hingga tinggal gagangnya.
"Hok-tia...."
Jeritnya gemetar.
"ooh anakku... anakku...."
Isak tangis bayi itu semakin bertambah keras.
"Anak apa?"
Jengek Sim Sin-pek sambil tertawa.
"apakah anak jadah dari orang she Im itu?"
Tiba-tiba dia melompat ke samping ayunan, lalu serunya lagi sambil tertawa seram.
"Baiklah, Biar toaya kirim dia ke neraka, agar dalam perjalanan ke alam baka nanti dia bisa menemanimu!"
Ke lima jari tangannya bagai kaitan langsung mencengkeram bayi yang tertidur di ayunan itu.
Diiringi jeritan lengking yang amat tajam, tergopoh gopoh Leng Cing-soat menerkam tiba, dengan tubuhnya yang berlumuran darah dia berusaha melindungi bayinya yang masih tertidur dalam ayunan.
Dibawah cahaya lentera terlihat paras muka gadis itu telah berubah pucat kehijau-hijauan, sinar matanya memancarkan rasa benci yang berapi api, dengan penuh rasa dendam jeritnya.
"Kalau kau berani menyentuhnya, biar jadi setan pun aku tidak akan mengampunimu!"
Sekalipun Sim Sin-pek keji dan buas, tidak urung bergidik juga hatinya setelah mendengar ancaman itu. Kembali Leng Cing-soat berseru diiringi isak tangis yang memedihkan hati.
"Kau tidak ada dendam sakit hati denganku, kalau ingin bunuh aku, bunuhlah, tolong ampuni lah anakku yang tidak berdosa!"
Isak tangis yang memedihkan hati mengiringi ucapannya yang sendu, sungguh membuat suasana dicekam kedukaan yang mendalam. Sim Si-pek segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Hahahaha.... ampuni dia? Hmm, hmmm! Kalau mencabut rumput tidak seakar akarnya, dikemudian hari pasti akan menjadi bibit bencana. Sebetulnya perkataan itu sering diajarkan ayahmu kepadaku, hehehe.... tidak disangka hari ini harus kugunakan untuk menghadapimu!"
Belum habis tertawa, mendadak Leng Cing-soat menerjang maju lagi dengan cepat, dia cabut keluar pisau belati yang menancap di dadanya, semburan darah segar segera memancar keluar dari mulut luka membasahi wajah Sim Sin-pek.
Seketika itu juga Sim Sin-pek merasakan ada semburan cairan panas bagaikan guyuran air mendidih memancar keatas wajahnya, dalam keadaan terperanjat buru-buru dia gunakan tangannya untuk melindungi mata, saat itulah pisau belati ditangan Leng Cing-soat telah menghujam tiba.
Dalam situasi seperti ini, mimpipun Sim Sin-pek tidak menyangka kalau Leng Cing-soat yang terluka parah masih memiliki kekuatan sebesar itu, tidak ampun tubuhnya langsung roboh terkapar ke tanah, pisau belati yang tajam meski tidak sampai menembusi jantungnya, namun rasa sakit yang luar biasa akibat tusukan senjata membuatnya kesakitan setengah mati.
Perasaan sakit bercampur ngeri membuat sukmanya seakan melayang meninggalkan raga.
Leng Cing-soat sendiripun tidak tahu darimana munculnya kekuatan sebesar itu, bisa jadi tenaga itu muncul dari keberaniannya untuk melindungi anaknya, mungkin juga muncul karena rasa sedih dan gusarnya, begitu pisau belati itu menghujam telak ditubuh Sim sin-pek, telapak tangan kirinya langsung membabat ke atas tenggorokannya.
Sim Sin-pek meraung keras, sepasang lengannya direntangkan ke samping membuat tubuh Leng Cing-soat mencelat ke tengah udara, tapi dia sendiripun telah mengggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki hingga pingsan seketika itu juga.
Leng Cing-soat yang sesungguhnya sudah terluka parah pun jatuh tidak sadarkan diri setelah mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki, di antara sekian banyak orang hanya Thiat Tiong-tong seorang tetap berada dalam kondisi sadar, meski jalan darahnya tertotok.
Dia hanya bisa menyaksikan drama yang amat tragis itu berlangsung di depan mata, pemuda itu hanya bisa menonton tanpa memiliki kekuatan untuk mencegah, hal mana membuat perasaan hatinya sedih bercampur gusar.
Sementara itu lentera yang dilempar si kakek ke lantai sudah berkobar menjadi jilatan api yang membesar, api mulai membakar meja, bangku, dinding serta wuwungan rumah.
Dalam waktu singkat seluruh bangunan rumah itu sudah terkubur dalam lautan api.
Isak tangis sang bayi makin lama makin bertambah lemah, akhirnya menjadi serak sebelum berhenti sama sekali....
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya sakit bagaikan disayat, dia tahu bayi tersebut adalah darah daging keluarga Im, nasib bayi itu sungguh tragis, sebelum lahir sudah menimbulkan begitu banyak gelombang masalah, membuat ibunya harus mengembara dalam dunia persilatan, membuat ayahnya harus mati secara mengenaskan, dan kini, setelah dilahirkan, lagi-lagi dia harus mengalami pengalaman yang begitu menyiksa dan mengenaskan.
Air mata mulai mengembang dalam kelopak mata Thiat Tiong-tong, sambil menahan amarah dan benci, dia hanya bisa mengawasi kobaran api yang semakin membesar, tampaknya seluruh penghuni rumah gubuk itu akan terkubur dalam kubang api yang membara.
Kini dia hanya berharap Leng Cing-soat bisa tersadar dari pingsannya dan selamatkan darah daging keluarga Im, bahkan diapun berharap si bocah pincang dapat sadar dari pingsannya.
Tapi sayang, harapannya hanya harapan yang sia sia.
Orang yang tersadar paling duluan ternyata adalah Sim Sin-pek.
Ketika Sim Sin-pek membuka matanya, kobaran api sudah mulai menjilat di depan mata.
Dalam terkesiapnya cepat dia melompat bangun, dalam gugup dan ngerinya tidak sempat lagi baginya untuk memikirkan persoalan lain.
Hanya satu yang terpikir olehnya waktu itu, dia harus mendapatkan harta karun itu, sebab siapa pun yang bisa memperoleh harta karun tersebut, perjalanan hidupnya pasti akan berubah secara drastis.
Isak tangis sang bayi telah berhenti, kobaran api semakin membara, Sim Sin-pek tidak sempat menggubris persoalan lain lagi, dia segera sambar tubuh Thiat Tiong-tong dan melarikan diri dari lautan api.
BAB 10 Sampan Harum di Sungai Han-sui Kegelapan malam menjelang tibanya fajar terasa amat hening, sepi dan dingin menggigil.
Lidah api yang berkobar hebat membuat pemandangan disekeliling tempat itu berubah jadi ungu kepucat-pucatan.
Sambil mengempit tubuh Thiat Tiong-tong, Sim sin-pek melarikan diri sekuatnya.
Sebelum fajar menyingsing dia telah kabur keluar dari balik hutan menuju ke arah kuil.
Pada saat yang bersamaan kebetulan Im Ceng dan Un Tay-tay baru saja meninggalkan tempat itu.
Takdir yang mengatur perjalanan hidup Thiat Tiong-tong ternyata begitu aneh dan kejam.
Andaikata Im Ceng dan Un Tay-tay sedikit lebih lambat meninggalkan tempat itu, mungkin nasib yang dialami Thiat Tiong-tong pun akan berubah secara drastis.
Kini kuil bobrok itu terasa hening, sepi dan amat dingin.
Cahaya yang redup menyinari kain tirai yang berlapis sarang laba-laba, ruang kuil yang dipenuhi rumput ilalang membuat suasana terasa begitu sendu dan mengenaskan.
Sim Sin-pek mencabut keluar pisau belati dari dadanya, lalu membungkus mulut lukanya dengan kain, dia buang jubah pendetanya yang berlumuran darah dan berganti satu stel jubah pendeta berwarna biru.
Rupanya untuk menghindari pengejaran Hek Seng-thian, didalam piauhoknya telah tersedia berbagai macam pakaian, hari ini menyamar jadi hwesio, mungkin besok sudah berganti jadi seorang tosu.
Kemudian dia totok jalan darah penting di ruas ke empat anggota tubuh Thiat Tiong-tong, membuat pemuda itu dapat ber bicara, kesadaran tetap utuh namun ke empat anggota tubuhnya sama sekali tidak mampu bergerak.
Dengan pandangan dingin Thiat Tiong-tong mengawasi wajahnya, kemudian ujarnya perlahan.
"Jadi kau tidak segan melumuri tanganmu dengan darah lantaran ingin memaksa aku mengatakan dimana harta karun itu kusembunyikan?"
"Hahahaha tepat sekali, ternyata kau memang sangat pintar!"
Sahut Sim Sin-pek sambil tertawa tergelak.
"Kalau begitu kuanjurkan kepadamu, lebih baik matikan saja harapanmu itu!"
Sekulum senyuman licik segera menghiasi wajah Sim Sin-pek yang tampan, katanya pula.
"Kau tidak takut mati? Hmmm, tahukah kau, dibalik ke empat patah kata itu sebenarnya terkandung maksud yang buas dan jahat?"
"Kau tidak akan berani membunuhku!"
"Hahahahaha kelihatannya kau yakin sekali dengan ucapanmu itu"
Sim Sin-pek tertawa latah.
"kenapa aku tidak berani membunuhmu?"
"Selama aku masih hidup, paling tidak masih terdapat pengharapan dihati kecilmu untuk memaksa aku tunjukkan tempat penyimpanan harta karun itu, bila kau membunuhku, selama hidup jangan harap bisa tahu dimana harta karun itu tersimpan"
Sim Sin-pek segera menarik kembali senyumannya, sikap Thiat Tiong-tong yang begitu dingin dan tenang telah membuatnya terbelalak kagum, membuatnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Kembali Thiat Tiong-tong berkata.
"Tentu saja kau dapat menggunakan pelbagai cara siksaan untuk memaksa aku mengatakan dimana harta karun itu tersimpan, tapi jangan harap memperoleh sepatah kata pengakuanpun dari mulutku, selama aku masih hidup, suatu hari kau pasti tidak akan lolos dari cengkeramanku, sampai waktunya aku pasti akan menggunakan penyiksaan yang sepuluh kali lipat lebih mengerikan untuk balas dendam, bila tidak percaya, silahkan saja dicoba!"
Dia mengucapkan perkataan itu dengan wajah tenang, nada suaranya juga amat tenang, tapi justru ketenangan sikapnya membuat perkataan itu kedengaran lebih menakutkan. Sim Sin-pek segera tertawa seram.
"Hahahahaha.... kau sangka perkataanmu akan membuat aku ketakutan? Tentu saja akan kucoba, harus dibuktikan dulu bagaimana caramu untuk lolos dari cengkeramanku!"
"Hmm, kalau tidak takut, kenapa kau gunakan suara tertawamu untuk menutupi perasaan takut dihatimu?"
"Plook!"
Sim Sin-pek langsung menampar wajah Thiat Tiong-tong keras-keras, kemudian sambil menyeringai seram ejeknya.
"Aku telah menghajarmu, ayoh tunjukkan, apa yang bisa kau perbuat?"
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bergerak, ejeknya.
"Makin keras kau memukul, semakin memperlihatkan betapa takutnya hatimu saat ini"
Sebuah tendangan keras kontan membuat Thiat Tiong-tong mencelat sejauh satu setengah meter lebih, Sim Sin-pek membungkuk kan tubuhnya dan mencengkeram bahu anak muda itu, teriaknya.
"Thiat Tiong-tong, aku beritahu, bagaimanapun aku tetap akan memaksamu untuk menunjukkan dimana harta karun itu tersimpan, tidak ada yang bisa menghalangiku, dan sebelum matahari terbenam jika kau tetap tidak menjawab, akan kupotong lenganmu terlebih dulu, hmmm, akan kubuktikan kau yang lebih tangguh atau aku yang lebih tangguh!"
Thiat Tiong-tong hanya tertawa dingin, ia pejamkan matanya dan tidak berbicara lagi.
Mendadak Sim Sin-pek bangkit berdiri, membopong tubuh Thiat Tiong-tong dipunggungnya kemudian menggunakan kesempatan di saat kabut pagi masih menyelimuti permukaan, dia ngeloyor keluar dari dalam kuil dan bergerak menuju ke utara.
Sesudah berjalan sekian lama, terdengar suara riak air yang memecah ditepian sungai, tampaknya mereka sudah berada di tepi selatan sungai Huangho.
Kabut tebal masih menyelimuti sepanjang tepi sungai, tumbuhan gelugu yang tinggi bergoyang ditengah kabut dan menimbulkan suara gemerisik yang riuh.
Kelihatannya Sim Sin-pek sedang mencari perahu untuk menyeberang, dia berdiri ditepi sungai sambil berteriak-teriak, namun suara teriakannya yang nyaring seakan tidak mampu menembusi lapisan kabut yang tebal dan berat.
Lewat lama kemudian baru terdengar suara gemericik air, terlihat sebuah sampan muncul dari balik kabut.
"Pemilik perahu, bersediakah kau membawaku menyeberang ke dermaga Beng-shia?"
Teriak Sim Sin-pek.
"Ayoh naiklah!"
Sahut nelayan yang berada dijung sampan sambil memberi tanda. Ditengah pembicaraan, sampan itu telah menepi, Sim Sin-pek melompat naik ke buritan perahu dan membaringkan Thiat Tiong-tong, katanya.
"Temanku ini mengidap penyakit parah, dapatkah kau mendayung lebih cepat?"
"Cepat, cepat sekali"
Sahut pemilik sampan itu sambil tertawa. Suara tertawanya merdu dan lembut, mirip sekali dengan suara seorang wanita. Tergerak perasaan hati Sim Sin-pek, dengan wajah agak berubah tegurnya.
"Kau seorang wanita?"
"Kenapa?"
Sahut pemilik perahu sambil tertawa.
"memangnya kalau perempuan lantas tidak bisa mendayung?"
Dia berpaling sambil menekan gala panjangnya ke dasar sungai, sampan pun bergerak menuju ke tengah sungai itu.
Arus sungai Huangho sangat deras dan besar, sebetulnya tidak cocok untuk menyeberang dengan menggunakan sampan kecil seperti ini.
Sambil berdiri diujung sampan, mengawasi gelombang yang tinggi dan arus air yang deras, Sim Sin-pek merasa dirinya seakan berdiri ditengah awan, dia merasa hawa dingin mulai menyusup melalui dasar kakinya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sepasang keningnya mulai berkerut kencang, dia tidak tahan kembali bertanya.
"Apa sampan ini bisa digunakan untuk mencapai dermaga Beng-shia?"
"Tidak bakal sampai!"
Jawab si nona.
"Kalau tidak bakal sampai, kenapa kau suruh aku naik?"
Teriak Sim Sin-pek dengan wajah berubah. Nona itu tertawa cekikikan.
"Kau sendiri yang paksa naik, siapa sih yang mengundangmu naik ke sampan ini?"
"Cepat bawa aku balik ke daratan!"
Hardik Sim Sin-pek. Nona itu perlahan-lahan berpaling, sambil tertawa cekikikan kembali ujarnya.
"Meskipun perahu ini tidak bisa membawamu menyeberang ke dermaga Beng-shia, namun masih ada perahu yang lain!"
Sim Sin-pek merasa sepasang matanya yang muncul dari balik topi, topi bambu yang lebar, tampak sangat indah bagaikan air di musim gugur, senyumannya manis bagai bunga yang mekar, dipandang dari balik kabut, nona itu kelihatan cantik sekali.
Dia dilahirkan dari wilayah utara dan sama sekali tidak pandai berenang, berdiri diujung sampan membuat kepalanya mulai pening dan pandangan matanya berkunang, sekalipun muncul kecurigaan dihati kecilnya namun dia tidak berani bertindak gegabah.
Terpaksa dia bertanya lagi.
Tapi dimana perahu yang akan membawaku ke kota Beng-shia?"
"Itu dia, bukankah berada disitu?"
Sahut nona itu sambil mendayung dengan tangan kirinya dan menuding dengan tangan kanannya.
Benar saja, dari balik kabut terlihat ada bayangan sebuah perahu berlayar, cahaya lentera yang memancar keluar dari perahu itu membuat suasana disitu tampak bagaikan selapis cahaya kuning keemas-emasan.
"Sam-ci (kakak ke tiga)!"
Teriak nona itu sambil menggoyangkan tangannya.
"ada tamu yang ingin menyeberang!"
"Persilahkan dia naik kemari!"
Sahut suara merdu dari atas perahu berlayar itu.
"Baik, aku segera akan merapat ke sisi perahu!"
Walaupun perasaan curiga Sim Sin-pek makin meningkat, namun dia berusaha mengendalikan diri, cepat dia bungkukkan tubuh membopong Thiat Tiong-tong dan secara diam-diam menotok jalan darah pingsannya.
"Waaah, kabut hari ini sungguh besar"
Terdengar nona itu bergumam.
"Sam-ci, cepat turunkan tali"
Terlihat bayangan tali segera dilempar turun dari atas perahu, ternyata sebuah tangga yang terbuat dari tali.
"Kekoan, kau bisa merangkak naik?"
Tanya si nona kemudian sambil tertawa.
"Tidak usah merepotkan!"
Sahut Sim Sin-pek cepat.
Ujung kakinya segera menutul permukaan sampan dan tubuhnya sudah melambung ke udara, dia memang sengaja akan mempamerkan kehebatan kungfunya, agar pemilik perahu itu tidak sembarangan mengusiknya.
Oleh sebab itu meski harus membopong seseorang, namun gerakan tubuhnya tetap enteng dan lincah, dalam sekali lompatan tubuhnya sudah mencapai ketinggian satu setengah meter lebih, tahu-tahu dia sudah melayang turun di ujung perahu dengan ringan.
"Kepandaian yang sangat hebat!"
Terdengar seseorang memuji dari ujung perahu sambil tertawa.
Seorang nona berpakaian ketat warna hijau sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum, kulit tubuh yang putih, potongan badannya yang ramping membuat dia nampak cantik menawan.
Perabot serta dekorasi yang ada dalam ruang perahu pun nampak indah, mewah dan megah.
Cahaya yang terpancar dari lentera tembaga menyinari tirai yang terbuat dari sutera halus, vas bunga hijau kemala serta gorden yang indah, dari dekorasi yang ada, dapat disimpulkan kalau pemiliknya adalah sebuah keluarga ternama atau orang kaya.
Tampaknya nona berpakaian ketat itu dapat menebak kecurigaan Sim Sin-pek, tapi dia tidak memberi kesempatan kepada tamunya untuk berbicara, ujarnya sambil tertawa ringan.
"Silahkan kekoan bersitirahat disini, biar aku ambilkan air teh"
Suara tertawanya masih menggema, tubuhnya sudah menyelinap masuk ke ruang belakang.
Sim Sin-pek segera merasa dirinya seakan terjerumus ke dalam sebuah perangkap yang misterius, dia seolah merasakan datangnya ancaman mara bahaya dari sekeliling ruang perahu yang mewah.
Gadis yang berada diperahu itu memiliki kulit tubuh yang putih dan halus, suaranya merdu bagaikan kicauan burung nuri, jelas bukan gadis yang biasa hidup kasar, apalagi menjadi nelayan atau tukang dayung perahu.
Jangankan di sungai yang sepi, biar di telaga See-ow pun jarang dijumpai perahu semegah ini, apalagi sekarang berada di sungai Huangho yang sepi dengan arus yang begitu deras.
Perasaan hatinya terkejut bercampur curiga, dia tidak tahu apa yang bakal dilakukan kawanan gadis itu terhadapnya.
Sementara itu dari balik ruang perahu kembali terdengar suara tertawa seseorang yang merdu, seorang gadis berbaju putih dengan pinggang yang ramping bagai ranting pohon liu, dengan membawa nampan berisi poci teh berjalan keluar.
Poci hijau dan cawan kemala yang berada diatas nampan kemala, semuanya merupakan benda-benda antik yang mahal harganya.
Dengan matanya yang jeli nona berbaju putih itu memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, kemudian ujarnya lembut.
"Silahkan minum teh!"
Sesudah meletakkan nampak teh diatas meja, kembali dia berjalan masuk dengan langkah yang lemah gemulai.
"Nona, jangan pergi dulu!"
Tiba-tiba Sim Sin-pek melompat bangun sambil berteriak.
"Ada urusan apa?"
"Aku hanya berniat menyeberang ke dermaga kota Beng-shia, kemudian menuju ke timur...."
"Aku tahu"
"Tapi.... tapi.... tempat ini...."
"Apa jeleknya dengan tempat ini?"
Ujar nona berbaju putih itu sambil berpaling dan tersenyum, ketika tubuhnya lenyap dibelakang ruangan, lamat-lamat terdengarlah alunan musik yang merdu.
Sim Sin-pek semakin gelisah, dia tahu ada mara bahaya ditempat itu, tapi dia tidak tahu dimanakah letak mara bahaya tersebut, terlebih dia tidak tahu kapan bahaya itu baru mengancam.
Padahal sebelum datangnya mara bahaya itu, dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi sebagai orang yang licik dan berakal bulus, dia tidak nanti akan menghadapi pertarungan yang tidak yakin bisa dimenangkan.
Sekeliling ruang perahu tertutup oleh tirai sutera yang halus, Sim Sin-pek seakan merasa ada banyak pasang mata sedang mengawasinya dari balik tirai, membuat dia sangat tidak leluasa, membuatnya amat tidak tenang.
Dia mengambil poci air teh dan memenuhi cawannya, air teh berwarna hijau lembut dan memancarkan bau harum semerbak.
Tapi baru saja dia tempelkan cawan itu diatas bibir, kembali dia meletakkannya kembali.
"Kekoan tidak usah kuatir"
Seseorang segera berseru lembut dari balik ruangan.
"air teh yang berada dalam poci tidak akan mengandung racun"
Tirai disingkap orang, Sim Sin-pek segera merasakan pandangan matanya jadi silau, seorang perempuan cantik bersanggul tinggi dengan pakaian yang indah telah muncul dari balik ruangan dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.
Gerak-geriknya seakan membawa semacam tenaga gaib yang tidak terlukiskan dengan kata, membuat orang sulit untuk memperhatikan usianya, bahkan sama sekali tidak dapat menebak berapa usianya sekarang.
Tanpa terasa Sim Sin-pek bangkit berdiri.
Terdengar perempuan itu dengan suara lembut berkata lagi.
"Adik-adikku telah mengundang kedatangan siangkong, bila sikap siangkong masih begitu kikuk, aku jadi merasa sangat tidak enak hati"
"Hujin tidak perlu bersikap sungkan terhadap aku orang beribadah, pinto hanya berharap hujin mau menghantarku ke dermaga Beng-shia, soal lain pinto tidak berani mengganggu"
Dengan sepasang matanya yang jeli perempuan cantik itu memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, tiba-tiba dia tertawa ringan.
"Siangkong, bila kau mengaku sebagai orang beribadah, terpaksa aku pun harus membahasai diri sebagai pinnie!"
Berubah paras muka Sim Sin-pek. Sementara itu perempuan cantik itu sudah duduk dibangku disampingnya, kembali ujarnya sambil tertawa.
"Siangkong tidak perlu banyak curiga, kami tidak punya maksud mencelakai siangkong"
Dia menuang secawan teh lalu diteguknya satu tegukan, kemudian katanya lebih jauh sambil tertawa.
"Didalam air teh tidak ada racunnya, kami tidak pernah punya ingatan untuk mencelakai orang dengan menggunakan obat beracun, hanya saja soal ongkos menyeberang mungkin kami menarik sedikit lebih banyak daripada ongkos yang ditarik perahu lain"
Kembali sekulum senyuman yang menawan tersungging diujung bibirnya, sambil menatap Sim Sin-pek ujarnya.
"Biarpun agak mahal, tapi kami jamin tidak akan membuat tamu kami kecewa, pasti akan kami buat para tamu merasa rela untuk mengeluarkan ongkos sebesar itu"
Kembali perasaan hati Sim Sin-pek tercekat, serunya.
"Darimana hujin tahu kalau cayhe memiliki banyak uang? Siapa tahu aku justru tidak memiliki setengik uang pun, kalau sampai tidak punya uang lantas bagaimana?"
Perempuan cantik itu segera tertawa terkekeh.
"Mata pat-moay (adik ke 8) ku paling jahat, dia pandai membedakan mana orang kaya mana orang miskin, penilaiannya tidak pernah meleset"
Sim Sin-pek segera mengambil ketetapan hati, ujarnya.
"Hahahaha tampaknya aku memang sedang ketimpa rejeki, ternyata tempat ini adalah sarang perempuan yang berubah bentuk, setelah datang, tentu saja aku harus menikmati semua kesenangan yang tersedia"
Dari sakunya dia mengeluarkan sekeping perak dan diletakkan diatas nampan air teh, kemudian setelah meneguk habis isi cawannya, dia menoleh ke arah perempuan cantik itu dan berkata sambil tertawa.
"Kalau memang begitu, silahkan hujin memberi petunjuk bagaimana supaya cayhe merasa ikhlas mengeluarkan uang banyak"
Ternyata dia cukup royal, uang yang diletakkan diatas baki itu paling tidak beratnya mencapai sepuluh tahil perak, tentu saja dia harus berusaha mencari balik modalnya.
Perempuan cantik itu sama sekali tidak memandang ke arah uang perak itu, melirikpun tidak, katanya hambar.
"Sebetulnya air teh itu dihidangkan gratis, tapi bila siangkong bersedia memberi sedikit imbalan, tentu saja aku harus mewakili para dayang untuk mengucapkan terima kasih"
Dia bertepuk tangan perlahan, seorang dayang kecil berusia dua, tiga belas tahunan, berbaju hijau, muncul dari balik ruangan dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Singkirkan baki teh dan ucapkan terima kasih kepada siangkong"
Perintah perempuan cantik itu.
"Terima kasih siangkong atas tip yang diberikan"
Dayang cilik itu memberi hormat lalu dengan membawa baki itu mundur ke ruang belakang.
Sim Sin-pek hanya berdiri bingung, matanya terbelalak dan mulutnya terbungkam.
Tampak nyonya cantik berbaju mewah itu kembali berpaling, katanya sambil tertawa ringan.
"Segala kenikmatan duniawi tersedia didalam perahu ini, walaupun wajah para adikku biasa-biasa saja, namun mereka pandai menyanyi maupun menari"
Dia menengok wajah Sim Sin-pek, tertawanya nampak begitu menggetarkan sukma. Diam-diam Sim Sin-pek tertawa dingin, pikirnya.
"Kelihatannya perempuan ini hendak memeras sejumlah uangku, hmm, biarkan saja dia sediakan hidangan atau nyanyian atau tarian, tapi setibanya di daratan nanti, hmmm! Hmmm!"
Dengan kerlingan mata yang indah nyonya cantik itu kembali bertepuk tangan tiga kali.
Diiringi suara tertawa cekikikan yang merdu, dari balik tirai muncul tujuh delapan orang gadis berbaju indah.
Tiga orang gadis yang tadi mendayung sampan, melempar tali dan menyuguhkan teh, sekarang telah berganti dengan pakaian indah dan berbaur di antara gadis gadis itu.
Suara tertawa yang memikat, kerlingan mata yang menggoda ditambah bau harum semerbak yang mengggelitik....
tanpa terasa Sim Sin-pek duduk terperangah dibuatnya, saking tertegunnya hingga sejak kapan hidangan disiapkan pun tidak dia rasakan.
"Siangkong, coba lihat, apakah semuanya ini cukup memuaskan?"
Terdengar nyonya berwajah cantik itu bertanya sambil tertawa.
"Memuaskan apa?"
Tanya Sim Sin-pek sambil matanya tetap menatap kawanan gadis cantik itu.
"Cukup memuaskan hatimu untuk membayar seribu tahil perak!"
"Apa? Seribu tahil perak?"
Teriak Sim Sin-pek sambil tertawa seram.
"hujin, rupanya kau sedang bergurau?"
Padahal diapun tahu kalau perkataan itu bukan gurauan, karena itu gelak tertawanya kontan terhenti. Kembali nyonya cantik itu berkata lagi dengan nada hambar.
"Segala sesuatu yang berada disini harus kau lakukan secara ikhlas, bila di anggap tidak setara dengan nilai uang yang dibayar, setiap saat kau bisa memerintahkan mereka untuk singkirkan semua hidangan yang ada"
Sim Sin-pek tertegun berapa saat, dia mencoba memandang sekeliling ruangan itu, terasa olehnya, sorot mata kawanan gadis tersebut tiba-tiba berubah jadi dingin bagaikan salju.
Terpaksa sahutnya sambil tertawa serak.
"Tidak, cayhe sama sekali tidak bermaksud begitu"
"Kalau memang tidak bermaksud begitu, silahkan siangkong lunasi dulu ongkos yang harus dibayar"
"Aku sedang melakukan perjalanan jauh, mana mungkin kugembol uang sebanyak itu?"
Nyonya cantik itu tertawa hambar.
"Pat-moay!"
Serunya.
"dia bilang tidak menggembol uang sebanyak itu"
Gadis yang mendayung sampan tadi, kini muncul dengan mengenakan gaun berwarna ungu, dengan senyuman dikulum sorot matanya yang bening mengawasi sekejap Sim Sin-pek, seolah dia sudah dapat menebak rahasia hati orang itu.
"Meski usiamu masih muda namun sorot matamu tajam, langkah kakimu ringan, jelas memiliki kungfu yang sangat tangguh dan pernah mendapat petunjuk dari guru kenamaan"
Katanya lembut.
"tingkah lakumu, sepak terjangmu selalu menampilkan rasa percaya diri yang kuat, ini menandakan asal usul keluargamu pasti ternama. Tapi sekarang, selain sudah menyamar jadi seorang tosu bahkan wajahmu nampak gugup dan tergesa-gesa, ini menunjukkan kalau kau sedang kabur dari pengejaran dan siap bergelandangan dalam dunia persilatan. Dengan latar belakang keluarga serta perguruanmu, masa kau mau hidup bergelandangan dalam kondisi susah dan tersiksa? Itu berarti sebelum melarikan diri, kau pasti sudah menggembol sejumlah uang sebagai bekal, bukan begitu?"
Hanya dengan berapa kalimat yang sederhana dia berhasil membongkar rahasia Sim Sin-pek, kenyataan ini seketika membuat pemuda itu tertegun dan sampai lama sekali tidak mampu berbicara.
Tampaknya gadis berbaju ungu itu dapat menebak apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, sambil menatap wajahnya lekat-lekat dan senyuman masih tersungging diujung bibirnya dia bertanya lagi.
"Bukan begitu?.... bukan begitu?...."
Akhirnya Sim Sin-pek menghela napas panjang.
"Hujin, silahkan suruh orang menyingkirkan semua hidangan itu"
Katanya perlahan.
"cayhe hanya pingin menumpang sampai di dermaga Beng-shia"
Gadis berbaju ungu itu segera tertawa cekikikan.
"Pelit amat kau.... hahahaha.... semua rahasiamu berhasil kutebak, tapi aku benar-benar tidak menduga kalau watakmu amat pelit!"
Dari atas meja, tangan kirinya mengambil poci perak sementara tangan kanannya mengambil sepasang sumpit, senyuman masih menghiasi wajahnya, dengan cepat dia masukkan sumpit perak itu ke dalam poci perak, katanya.
"Saudaraku semua, kalau toh orang tidak sudi memberi muka kepada kita semua, buat apa kita tetap tinggal disini? Ayoh pergi!"
Diiringi suara tertawa yang merdu, kawanan gadis itu mengundurkan diri ke balik tirai. Nyonya cantik itupun berkata sambil tertawa ringan.
"Silahkan siangkong menikmati air teh, kami akan mengundurkan diri!"
Dengan penuh sopan santun mereka telah mengundurkan diri, dalam waktu singkat disitu hanya tinggal Sim Sin-pek seorang yang masih berdiri terpaku bagai patung, perasaan hatinya makin tercekat bercampur keheranan.
Ketika menyaksikan gadis bergaun ungu itu memperlihatkan kungfunya yang hebat, dia sangka kejadian itu pasti akan berkembang lebih jauh, siapa sangka mereka semua justru mengundurkan diri dengan sikap yang sopan, bukan saja tidak berniat memaksa bahkan tidak menunjukkan perasaan tidak puas.
Setelah termangu sesaat dengan perasaan bercampur aduk, akhirnya dia menghembuskan napas lega.
Ketika menengok kembali ke atas meja, terlihat hidangan lezat dan arak wangi masih tertata rapi disitu, bau harum yang menusuk hidung membuat selera makannya tiba-tiba muncul.
Tapi Sim Sin-pek segera mengingatkan diri sendiri.
"Mereka sama sekali tidak memaksa aku, berarti akupun tidak boleh menyentuh hidangan tersebut. Hmmm! Akan kulihat, kalau aku enggan menyentuh hidangan kalian, dengan cara apa kalian akan merampok uang milikku"
Kemudian pikirnya lebih jauh.
"Mungkin saja mereka tidak berani menyusahkan aku lantaran mengetahui kalau latar belakangku berasal dari keluarga, kenamaan. Aaai! Kalian memang kawanan gadis cantik bedebah, coba kalau saat ini aku masih ada urusan lain, tidak nanti akan kulepaskan kalian semua dengan begitu saja"
Dipandangnya Thiat Tiong-tong sekejap, kemudian pikirnya lagi.
"Setibanya di Beng-shia, aku harus membeli sebuah perahu dan berlayar menuju ke timur, setelah berada di perahu pasti akan kuberi pelajaran kepadanya, akan kulihat apakah dia tidak akan mengungkap tempat penyimpanan harta karun itu?"
Terbayang betapa gembiranya kehidupan dia setelah mendapatkan harta karun itu, makin dipikir Sim Sin-pek merasa semakin senang, entah berapa lama sudah lewat, mendadak perutnya mulai keroncongan, sekarang dia baru teringat kalau sudah cukup lama tidak menangsal perutnya.
Begitu ingatan tersebut muncul, makin dibayangkan perutnya terasa makin lapar, sampai pada akhirnya dia benar-benar tidak kuasa menahan rasa laparnya lagi.
"Aneh"
Demikian dia berpikir.
"di hari biasa, walaupun sehari semalam tidak makan pun tidak pernah kurasakan kelaparan seperti sekarang, kenapa keadaanku hari ini aneh sekali?"
Memandang hidangan lezat yang tertata rapi di depan mata, kepalanya semakin pusing dan matanya makin berkunang, dia seakan tidak bisa memikirkan persoalan lain lagi kecuali rasa lapar yang semakin menyengsarakan.
Dia berusaha keras mengalihkan sorot matanya ke arah lain, apa mau dikata sepasang matanya seolah tidak mau menurut perintah, setiap saat setiap detik pikirannya membayang-kan terus betapa lezatnya menggigit ayam goreng dan hidangan lezat lainnya.
Membayangkan kecutnya buah bwee mungkin saja bisa mencegah dahaga, tapi membayangkan sayap ayam goreng bukan berarti bisa menangsal perutnya yang lapar, semakin dilihat dia merasa semakin kelaparan, sekarang permukaan lambungnya seolah mau robek saking laparnya.
Sambil menelan air liur kembali pikirnya.
"Kenapa aku tidak menyumpit setiap hidangan satu sumpitan saja? Siapa tahu dengan cara begitu mereka tidak tahu kalau aku sudah dahar"
Berpikir begitu diam-diam dia menggerakkan tangannya menghampiri hidangan dimeja. Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa ringan sambil nyelutuk dari balik tirai.
"Kelihatannya uang perak yang dimiliki orang ini memang dimasak dengan air obat, sudah kelaparan seperti itupun masih tidak rela merogoh kocek"
"Aku hanya berharap di saat dia sudah tidak tahan dengan rasa laparnya secara diam-diam "Jarang sekali kujumpai manusia persilatan yang begitu pelit macam kau"
Seru Yo Pat-moay sambil tertawa, dia berpaling sambil tepuk tangan, serunya.
"Ciu-koh, bawa masuk arak dan hidangan, hangatkan sebentar"
"Tidak usah, tidak usah dihangatkan"
Seru Sim Sin-pek cepat.
Tapi pada saat itulah telah muncul seorang koki berwajah pucat, berambut awut-awutan dengan membawa sebuah baki dan dipinggangnya terikat selembar celemek, dia masuk dengan kepala tertunduk rendah.
Perlahan-lahan dia meletakkan setiap hidangan dan arak keatas baki, kemudian dengan kepala tertunduk masuk kembali ke ruang belakang, sejak awal hingga akhir dia tidak pernah mendongakkan kepalanya barang sekali pun, sambil berjalan tiada hentinya dia terbatuk ringan.
Memandang semua hidangan sudah dibawa masuk, tidak tahan Sim Sin-pek menghela napas panjang.
Gadis yang ada dipaling depan segera berseru sambil tertawa.
"Kau telah mengeluarkan uang, maka biarlah aku senandungkan sebuah lagu untukmu!"
Diambilnya alat musik pie-pa lalu disentilnya dengan halus, sebuah lagu yang merdu pun disenandungkan dengan indahnya.
Sambil menyanyi, dia meliuk-liukkan tubuh nya berjalan mendekat, kemudian duduk didalam pangkuan Sim Sin-pek.
Senyuman menghiasi terus wajahnya, seakan senyuman itu selalu tampil polos dan suci, tapi tingkah lakunya justru begitu jalang dan cabul.
Walaupun berada dihadapan orang banyak, namun dia tidak canggung untuk duduk dalam pelukan pemuda itu, baginya, tingkah laku semacam itu seakan dianggapnya satu kejadian yang lumrah.
Gadis lainnya pun ikut mengelilingi Sim Sin-pek sambil tertawa cekikikan, mereka dengan menggunakan sikap yang paling polos dan suci, melakukan perbuatan yang paling jalang dan cabul, bukan saja tidak rikuh atau malu, mereka seolah menganggap hal semacam ini adalah wajar.
Seorang gadis yang tampaknya sangat alim, dengan pinggang yang ramping dan kulit, tubuh yang halus berseru secara tiba-tiba.
"Yau su-moay, percepat permainan pie-pa mu!"
"Waah, rupanya Li ji-ci akan mulai dengan pertunjukkannya"
Teriak Yau Su-moay sambil tertawa cekikikan.
"hey anak muda, kau memang sedang hokki besar!"
Sentilan ke lima jari tangannya diatas senar pun dipercepat, lagu yang dibawakan pun makin cepat.
Gadis yang dipanggil Li ji-ci itu merentangkan lengannya ke samping, perlahan-lahan dia membuka pakaian dibagian dadanya, sementara pinggangnya yang ramping mulai meliuk-liuk mengikuti irama musik pie-pa yang berirama cepat.
Wajahnya tampil begitu anggun, halus dan sopan, bahkan tidak secerca senyuman pun yang menghiasi bibirnya, tapi liukan tubuhnya begitu panas, begitu cepat dan begitu jalang.
Wajah suci dengan tubuh jalang, biasanya perempuan semacam ini yang paling cepat membangkitkan birahi kaum lelaki, Sim Sin-pek duduk dengan terperana, mulutnya melongo, matanya terbelalak lebar, dia seolah sudah kesemsem dibuatnya.
"Blaaaam!"
Tiba-tiba dari luar ruang perahu terdengar suara benturan keras, mendadak pintu ruangan dibuka orang secara paksa, kemudian tampak seorang lelaki tinggi besar penuh bercambang melangkah masuk sambil tertawa nyaring.
Kawanan gadis itu segera menjerit kaget, tarian, nyanyian seketika terhenti semua.
Dengan sorot mata yang berapi lelaki bercambang itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian serunya sambil tertawa keras.
"Hahahaha.... rupanya di tempat ini sedang diselenggarakan hiburan yang menawan, tampaknya kedatanganku sebagai tamu tidak diundang tepat waktu"
Yau Su-moay segera melompat bangun dari pangkuan Sim Sin-pek, dengan mata melotot hardiknya.
"Hay Tay-sau, mau apa kau kemari?"
Dengan langkah lebar Hay Tay-sau berjalan masuk ke ruang perahu, begitu duduk dikursi utama, dia naikkan kaki kirinya keatas bangku sambil berseru.
"Kenapa kalian belum pulang?"
Kelihatannya Yau Su-moay masih menaruh dendam kepada orang ini, kontan dia tertawa dingin.
"Kami mau pulang atau tidak, apa urusanmu!"
"Hahahaha.... sarang lebah liar yang biasanya malang melintang di sungai Tiangkang kenapa bisa pindah wilayah operasinya ke sungai Huangho? Masa kalian benar benar telah diusir oleh bocah cilik dari Siok-siu hingga tidak punya tempat berteduh?"
"Kau tidak usah mencampuri urusan kami!"
Teriak Yau Sumoay makin gusar.
"Hey cewek, sekalipun aku pernah menolakmu, toh kau tidak perlu begitu dendam kepadaku, belajarlah bersikap lebih lembut dan halus, siapa tahu aku akan berubah pikiran"
Ditengah tertawa cekikikan para lebah yang lain, Yau Su-moay menghentakkan kakinya berulang kali dengan jengkel, teriaknya.
"Hey si berewot, kelihatannya kau ingin mampus"
Dengan menggunakan senjata Pie-pa dia langsung hantam batok kepala Hay Tay-sau.
Belum sempat serangan itu dilancarkan, sebuah tangan yang lembut telah menggenggam pergelangan tangannya.
Yau Su-moay semakin jengkel, teriaknya.
"Toaci, berewok ini sangat memuakkan, kau mesti bantu aku untuk balas dendam!"
Nyonya cantik itu hanya tertawa hambar, sama sekali tidak ambil perduli teriakan saudaranya, setelah meletakkan alat pie-pa ke meja, dia berpaling dan ujarnya kepada Hay Tay-sau sambil tertawa.
"Lama tidak bersua, tidak kusangka kau masih seperti sedia kala"
Berubah paras muka Hay Tay-sau bertemu perempuan ini, gelak tertawanya yang keras seketika sirna, katanya perlahan.
"Setiap orang tahu, toaci dari Heng kang it wo li ong hong (segerombol raja lebah) adalah seorang wanita misterius, akupun sudah lama mendengar nama besarnya, tidak kusangka ternyata kaulah orangnya!"
Ucapan tersebut sangat tenang dan halus.
Kalau seorang lelaki kasar tiba-tiba berbicara secara halus dan tenang, perkataannya malah kedengaran sedikit menyeramkan.
Kawanan gadis lainnya segera saling bertatap muka dengan wajah tertegun, siapa pun tidak menyangka, bukan saja toaci mereka kenal dengan Hay Tay-sau bahkan ternyata mereka berdua adalah sahabat lama.
Sekarang Sim Sin-pek baru tahu kalau rombongan wanita itu tidak lain adalah Heng kang it wo li ong hong gerombolan lebah yang paling memusingkan kepala, diam-diam dia mengeluh pahit, kali ini dia benar-benar telah mengusik sarang lebah yang paling ganas.
Seorang wanita koki berbaju hijau, dengan membawa senampan hidangan lezat muncul kembali didalam ruangan dengan kepala tertunduk rendah.
Begitu meletakkan semua hidangan diatas meja, kembali dia membalikkan tubuh berlalu, kepalanya bukan saja tidak pernah didongakkan, mata pun tidak pernah melirik, seakan dia sama sekali tidak memikirkan semua peristiwa yang sedang terjadi dalam ruang perahu.
Dengan tangannya yang besar Hay Tay-sau menarik semua hidangan itu kehadapannya, lalu dengan rakus melahap semua hidangan yang ada.
Sim Sin-pek sendiri meski kelaparan setengah mati, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini dia tidak dapat turun tangan berebut, terpaksa sambil menahan air liur dia hanya awasi orang itu menghabiskan semua hidangan yang ada.
Sekarang matanya sudah berkunang-kunang, hawa amarah telah membakar hatinya, masih untung dia masih dapat mengendalikan diri sehingga tidak sepatah katapun diucapkan.
Nyonya cantik itupun hanya mengawasinya dengan tenang, karena dia tidak bersuara, tentu saja rekan yang lain semakin tidak berani berkicau, untuk sesaat semua orang hanya mengawasi Hay Tay-sau menghabiskan seluruh hidangan dimeja tanpa bicara.
Akhirnya Sim Sin-pek tidak kuasa menahan diri lagi, dia menghela napas panjang.
Sambil tertawa ringan nyonya cantik itu berkata.
"Jika kedatanganmu untuk menengok aku, sekarang sudah saatnya untuk berbicara bukan?"
Sambil membesut mulutnya yang berminyak, Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya tertawa latah, teriaknya.
"Aku datang menengokmu? Kenapa aku harus menengokmu.... ?"
Mendadak dia menghentikan tertawanya, sambil bangkit berdiri ujarnya lagi.
"Aku sengaja datang kemari karena ingin memberitahu kepada kalian, meski keluarga Ouyang dari Kanglam mempunyai keturunan yang tidak becus, namun keluarga kenamaan ini merupakan sebuah keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran serta kesetiaan, pemiliknya Ouyang Li adalah seorang ciankwee yang berbudi luhur dan pantas dihormati, aku harap kalian jangan sampai mencelakai Ouyang hengte"
"Mereka yang datang menghantar diri, apa sangkut pautnya dengan kami?"
Jengek Yau Su-moay sambil tertawa dingin.
"Sekalipun mereka terpikat oleh godaan wanita, sepantasnya kalian pun tahu diri, setelah mendapatkan harta orang, tidak seharusnya mencelakai nyawa mereka"
Nyonya cantik itu segera tersenyum, katanya.
"Aku tidak menyangka si perampok ulung yang sudah lama tersohor dalam dunia persilatan, Thian sat seng (bintang pembunuh) ternyata sekarang berhati penuh welas asih"
"Bila kau enggan menuruti nasehatku, cepat atau lambat pasti akan menyesal"
Ujar Hay Tay-sau gusar.
"sedang hubungan antara kita berdua, baik budi maupun kesetia kawanan sudah lama putus, jadi tidak ada lagi persoalan yang perlu dibicarakan lagi!"
Mendadak dia membalikkan tubuh, diatas wajahnya yang keras lamat-lamat terlintas perasaan sedih yang mendalam. Tiba-tiba Sim Sin-pek ikut bangkit berdiri, teriaknya.
"Jangan pergi dulu!"
"Anak muda, mau apa kau teriaki aku?"
Tegur Hay Tay-sau seraya berpaling.
"Akupun akan pergi mengikuti Hay tayhiap"
Sahut Sim Sin-pek sambil tertawa paksa.
"Kalau begitu ayohlah!"
Mendadak nyonya cantik itu membalikkan tubuhnya dengan ringan, tidak nampak gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah menghadang di depan pintu, tanyanya sambil tertawa lembut.
"Siapa yang mau pergi?"
"Mau apa kau?"
Hardik Hay Tay-sau dengan mata melotot. Nyonya cantik itu tersenyum.
"Siapa pun tidak boleh membawa pergi tamu dari kami bersaudara, apalagi kau pun sudah datang kemari, aku masih ingin berbincang-bincang denganmu!"
"Kalau aku ingin membawa pergi seseorang, siapa pun jangan harap bisa menghalangi!"
Teriak Hay Tay-sau semakin gusar. Ucapan nyonya cantik itu makin lama semakin lembut, katanya sambil tertawa merdu.
"Kalau aku tidak mau menghindar, masa kau tega melancarkan serangan kepadaku?"
Hay Tay-sau memperhatikannya berapa saat, tiba-tiba dia tertawa seram.
"Caramu itu sudah lama tidak mempan bagiku!"
Teriaknya.
Mendadak dia mengayunkan tangannya, langsung membabat tenggorokan nyonya cantik itu.
Paras muka nyonya cantik itu sama sekali tidak berubah, kelihatannya dia sudah menduga akan hal itu, tampak pinggangnya ditekuk, dengan satu gerakan yang ringan tubuhnya sudah lolos dari babatan maut itu.
Sepasang tangan Hay Tay-sau melancarkan serangkaian serangan berantai, dalam waktu singkat dia sudah lepaskan tujuh buah pukulan, semua serangan dilancarkan cepat dan ringan, seolah-olah bukan muncul dari seorang lelaki kasar macam dia.
"Hey, kenapa aliran ilmu silatmu kembali berubah?"
Ejek nyonya cantik itu sambil tertawa.
Ditengah pembicaraan, kembali pinggangnya meliuk-liuk bagaikan seekor ular, tubuhnya bergerak lincah ditengah kilauan bayangan serangan, tanpa bergeser setengah inci pun dia sudah menghindari ke tujuh buah serangan itu.
Sim Sin-pek yang menyaksikan jalannya pertarungan itu kontan merasa hatinya bergidik.
Yau Su-moay yang berdiri disampingnya segera berbisik.
"Kau tidak bakal lolos dari sini, lebih baik duduklah kembali!"
Mendadak terdengar Hay Tay-sau membentak keras, sepasang tangannya didorong berbareng ke depan.
Gerak serangannya tiba-tiba berubah, jurus serangan yang digunakan juga ikut berubah, pukulan yang dilontarkan dari ke dua belah tangannya benar-benar memiliki daya kekuatan yang luar biasa, angin pukulan yang dahsyat membuat semua tirai dalam ruang perahu bergetar keras.
"Aduh mak, kau benar-benar ingin memukulku?"
Teriak nyonya cantik itu nyaring.
Mengikuti deruan angin pukulan yang kuat, tubuhnya mundur ke arah pintu perahu.
Melihat ada kesempatan baik, Hay Tay-sau segera menyusul ke depan sambil merangsek maju.
Terasa pandangan matanya kabur, tahu-tahu nyonya cantik itu sudah melompat masuk lagi bagai sehelai daun kering, ejeknya sambil tertawa.
"Lama tidak bersua, kelihatannya sekarang kau bertambah gemuk!"
Sambil berkata dengan tangannya dia seolah hendak menowel pipi Hay Tay-sau.
Sebetulnya Hay Tay-sau sudah menyiapkan serangannya untuk dilancarkan, tapi bila dia lanjutkan serangan tersebut, maka sasarannya akan persis menghantam sepasang payudara nyonya cantik itu.
Setelah sedikit agak sangsi, tubuhnya yang tinggi besar mundur kembali ke belakang.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu.
"Hey, kenapa kau malah ingin jatuhkan diri ke dalam pelukanku?"
Terlihat dua pasang telapak tangan telah menyambar tiba dari kiri dan kanan dengan kecepatan bagaikan petir, itulah serangan yang dilancarkan Yau Su-moay serta Yo Pat-moay.
Meski jurus serangan kedua orang itu cepat, namun tenaga pukulannya sangat ringan, seakan mereka berdua hanya ingin bercanda saja.
Hay Tay-sau rentangkan sepasang tangannya dengan jurus burung hong pentang sayap, sebuah tendangan dilontarkan menghajar ketiak kiri nyonya cantik itu.
Yau Su-moay kembali menggerakkan tubuhnya, kali ini dia menyelinap ke belakang tubuhnya.
Hay Tay-sau membalikkan tangannya sambil mencengkeram.
"Praaang!"
Mangkuk dan cawan yang ada di meja segera berhamburan ke empat penjuru, saling bertumbukan hingga hancur sementara sisa hidangan yang ada segera berhamburan ke arah kawanan gadis lainnya.
Diiringi jeritan kaget kawanan lebah itu berhamburan ke samping untuk menghindar, tapi sayang ruang perahu tidak terlalu lebar, tidak urung tubuh mereka ternoda juga oleh ceceran minyak dan hidangan.
Kontan saja Yau Su-moay menjerit keras.
"Dia telah mengotori pakaian kita, harus minta ganti kerugian!"
Tujuh, delapan orang gadis berbaju warna warni itu serentak meluruk ke depan melakukan pengepungan.
Kembali Hay Tay-sau mengayunkan tangan kanannya merontokkan sebuah lentera, sementara tangan kirinya memutar meja itu bagaikan gangsingan, hardiknya nyaring.
"Hey anak muda, bukankah kau ingin melarikan diri? Kenapa tidak membantu aku melancarkan serangan?"
Sim Sin-pek masih berdiri melongo, tampaknya untuk sesaat dia belum tahu apa yang harus dilakukan. Dengan nada dingin Yo Pat-moay segera berkata.
"Masih agak mending jika kau hanya menonton pertarungan dari samping arena, bila berani sembarangan turun tangan, hmm! Akan kubuat kau tidak pernah bisa turun lagi dari perahu ini!"
Baru saja akan mengayunkan langkahnya, seketika Sim Sin-pek mengurungkan niatnya dan mundur kembali tanpa membantah. Melihat itu dengan kening berkerut Hay Tay-sau kontan mengumpat gusar.
"Anak jadah, setan pengecut, demi kau aku rela berkelahi, tidak nyana kau justru macam cucu kura-kura, menyembunyikan kepalamu dibalik batok!"
Sim Sin-pek hanya berdiri sambil bergendong tangan, dia berdiri disisi Thiat Tiong-tong yang bersandar dibangku sambil tertawa, seakan umpatan tersebut bukan ditujukan kepadanya.
Saat itulah terlihat bayangan manusia bergerak lewat, dari balik ruang perahu telah bermunculan aneka macam bunga, tujuh orang nona dengan tujuh macam warna berdiri berjajar disekeliling tempat itu.
Nyonya cantik tadi masih berjaga di depan pintu ruangan dengan senyuman dikulum, katanya.
"Adik-adikku, kalian tidak perlu melukainya, toh cepat atau lambat dia bakal roboh juga"
Tercekat perasaan hati Hay Tay-sau sehabis mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Aaah, jangan jangan hidangan tadi beracun!"
Sambil meraung keras dia langsung menerjang kepungan kawanan lebah cantik itu dan menerkam ke tubuh nyonya cantik di depan pintu.
"Waah, kau ingin beradu jiwa?"
Ejek nyonya cantik itu tertawa.
"Bila hari ini kau celakai nyawaku...."
"Aku mencelakai apa?"
Tukas nyonya cantik itu sambil tertawa ringan.
Kendatipun Hay Tay-sau masih menyerang dengan sepenuh tenaga, namun dia sudah mulai merasakan rasa letih yang susah dilawan.
Setelah bertarung belasan gebrakan kemudian tiba-tiba nyonya cantik itu berseru.
"Adik-adikku, obat yang ada dalam tubuhnya sudah mulai kambuh, kemarilah kalian!"
Serentak para gadis lebah dari Heng-kang meluruk maju bersama, diiringi suara tertawa cekikikan mereka membanting tubuh Hay Tay-sau yang tinggi besar keatas lantai kemudian menindihnya beramai-ramai.
Sambil tertawa terkekeh seru Yau Su-moay.
"Hey berewok, aku mau lihat apakah kau bisa galak lagi? Akan kucabuti berewokmu sampai gundul!"
Tiba-tiba nyonya cantik itu menarik kembari senyumannya dan berkata.
"Adik-adik, jangan kalian usik dia, lebih baik dikirim dulu ke gudang bagian bawah"
Yau Su-moay dan Yo Pat-moay saling bertukar pandangan sekejap, sementara gadis lebah lainnya pun ikutan mengerdipkan mata secara diam-diam, entah siapa yang berteriak duluan, tiba-tiba ada yang berseru sambil tertawa.
"Wah, rupanya toaci sudah jatuh hati dengan berewok itu!"
"Dasar setan cilik...."
Umpat nyonya cantik itu tertawa. Dia berjalan menuju ke belakang ruangan, tapi secara tiba-tiba menghentikan kembali langkahnya, sembari menuding ke arah Sim Sin-pek, ujarnya.
"Pat-moay, coba tebak benda paling berharga apakah yang dimiliki siangkong ini?"
Yo Pat-moay memutar biji matanya berulang kali, lalu sahutnya.
"Dia bilang sedang menghantar orang sakit, padahal orang sakit itu jelas sudah ditotok jalan darahnya, tapi setiap saat setiap detik dia tidak pernah lupa memperhatikan orang itu, seakan kuatir secara mendadak orang itu bangkit berdiri dan melarikan diri, maka menurut aku...."
Setelah menuding ke arah Sim Sin-pek yang wajahnya berubah hebat, dia menuding pula ke arah Thiat Tiong-tong yang masih semaput diatas bangku, terusnya.
"Jadi menurut aku, barang paling berharga yang dia bawa adalah dia!"
"Hahahaha.... Pat-moay, ternyata kau memang cerdik"
Puji nyonya cantik itu sambil terkekeh.
Dalam pada itu sudah ada berapa orang menggotong tubuh Hay Tay-sau ke ruang belakang, sambil tersenyum perempuan itupun menyusul di belakangnya.
Ruang perahu yang acak-acakan seketika tercekam dalam keheningan yang luar biasa, kini yang tersisa hanya Yo pat-moay dan Yau Su-moay.
Yau Su-moay memandang Sim Sin-pek sekejap, lalu memandang pula ke arah Thiat Tiong-tong Sim Sin-pek tidak kuasa menahan diri lagi, tanpa sadar dia menghadang di depan Thiat Tiong-tong dengan wajah hijau membesi, namun senyuman paksa masih tampil dibibirnya.
"Bukankah kau sedang berkelana dalam dunia persilatan karena ingin menghindari pengejaran? Kenapa memandang begitu penting orang sakit itu? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Tanya Yo Pat-moay kemudian. Sim Sin-pek tertegun berapa saat, dia agak tergagap.
"Soal ini.... soal ini...."
"Tidak usah kuatir"
Tukas Yo Pat-moay sambil tertawa.
"asal kau menurut, kamipun tidak akan menanyai urusan tentang dia lagi, bukan begitu Su-ci?"
"Benar"
Sahut Yau Su-moay.
"sekarang kau sudah menjadi milik kami berdua, jadi paling baik bila kau menuruti semua perkataan kami"
"Ruangan ini sangat kacau, lebih baik kau ikut aku menuju ke bawah!"
Ajak Yo Pat-moay kemudian sambil tertawa.
"Tapi.... tapi.... bukankah kita hampir tiba di dermaga Beng-shia?"
"Perahu ini tidak akan menuju dermaga Beng-shia"
"Lantas perahu ini akan menuju ke mana?"
Agak berubah paras muka Sim Sin-pek.
"Tidak akan kemana-mana!"
"Nona, rupanya kau sedang bergurau?"
Dengan hati mendelu Sim Sin-pek tertawa paksa.
"Siapa yang lagi bergurau?"
Sahut Yau Su-moay sambil tertawa.
"dilihat dari jauh perahu ini adalah perahu, dilihat dari dekatpun tetap sebuah perahu, sayangnya meski perahu namun tidak mampu bergeser, jangan lagi berlayar, bergeser setengah inci pun tidak mungkin"
Dalam pada itu Yo Pat-moay sudah tertawa terpingkal-pingkal. Sim Sin-pek pun ingin ikut tertawa, sayang dia tidak mampu tertawa lagi, tanyanya tergagap.
"Apa maksud perkataanmu?"
"Arus sungai Huangho sangat deras, hanya perahu kecil yang bisa menyeberanginya, jika perahu sebesar ini yang mesti menyeberang, belum berapa langkah mungkin perahunya sudah karam duluan"
"Oleh sebab itu perahu ini tidak akan bergeser"
Sambung Yau Su-moay.
"karena perahu ini bukan perahu melainkan sebuah bangunan rumah yang dibangun diatas air!"
"Kalau memang perahu ini tidak bisa bergerak, bagaimana caranya bisa sampai disini?"
"Perahu ini adalah rumah tinggal kami bersaudara di sungai Tiangkang, ketika kami pindah ke sungai Huangho, sayang rasanya untuk meninggalkan bangunan tersebut maka dengan segala cara kami berusaha memindahkannya kemari"
"Kenapa tidak membangun sebuah yang baru? Kenapa mesti bersusah payah mengangkutnya kemari?"
Tanya Sim Sin-pek keheranan.
"Memangnya perahu ini bisa dibangun dengan seenaknya?"
Kata Yo Pat-moay sambil tertawa.
"Coba turunlah ke bawah"
Saran Yau Su-moay.
"maka kau segera akan mengetahuinya"
Kini Sim Sin-pek sudah tidak bebas, terpaksa dia menggendong Thiat Tiong-tong dan diiringi dua orang gadis itu turun ke bawah geladak.
Ternyata ruang belakang perahu itu merupakan sebuah kamar baca, empat dindingnya di penuhi rak buku.
Yo Pat-moay mendorong perlahan rak buku yang berada didinding sebelah kiri, rak tersebut segera bergeser ke samping dan terbukalah sebuah lorong bawah tanah yang rapi dan bersih.
Dibawah lorong itu berjajar ruangan ruangan yang banyak sekali, semua bangunan sangat indah dan rapi, tidak ada sedikit tempat luang pun yang dibiarkan kosong.
Kini semua pintu ruangan berada dalam keadaan tertutup rapat, dari balik kamar lamat-lamat terdengar suara tertawa yang merdu.
Sambil menarik ujung baju Sim Sin-pek, Yau Su-moay membawanya memasuki ruang kamar nomor empat.
Tempat itu merupakan sebuah ruangan yang kecil tapi rapi, disitu tersedia ranjang terbuat dari gading, meja bulat, gorden sutera, hampir semua perapot rumah tangga tersusun rapi dalam ruang yang sempit itu.
Bagaikan orang yang kehilangan akal sehat Sim Sin-pek duduk hampir setengah jam lamanya dalam ruangan itu sebelum akhirnya suara keleningan nyaring bergema dari dinding sebelah.
Paras muka Yau Su-moay dan Yang Pat-moay berubah hebat, tergesa gesa mereka lari keluar ke pintu ruangan.
Sebelum meninggalkan tempat itu Yau su-moay menyempatkan diri berpaling seraya berseru.
"Kau tunggu saja disitu, jangan sembarangan bergerak"
Belum habis perkataan itu diucapkan, mereka berdua sudah pergi entah ke mana.
Pintu ruangan kembali tertutup rapat, kini Sim Sin-pek baru teringat kalau dia sedang kelaparan, dengan perasaan heran pikirnya.
"Apa yang telah terjadi? Mengapa mereka nampak gugup dan tergesa-gesa?"
Rasa curiga itu hanya melintas sejenak didalam benaknya, segera pikirannya dirisaukan kembali oleh keadaan yang sedang menimpa dirinya.
Enta berapa lama sudah lewat, tiba-tiba dia mendengar ada seseorang mengetuk pintu.
Sim Sin-pek tidak tahu siapa yang sedang mengetuk pintu, tapi sahutnya dengan cepat.
"Masuk!"
Koki yang berbaju hijau itu muncul kembali dengan kepala tertunduk, ditangannya membawa baki berisi sayur dan arak, setelah meletakkan diatas meja, kembali dia berlalu dengan kepala tertunduk.
Sim Sin-pek kegirangan setengah mati, diam-diam pikirnya.
"Sayang aku tidak sempat melihat dengan jelas raut muka koki itu, dia cantik atau jelek? Kalau cantik, aku mesti berterima kasih kepada-nya secara baik-baik"
Dalam waktu singkat dia telah melahap seluruh hidangan itu hingga ludas, tapi tidak setetes arakpun yang disentuhnya, satu-satunya kebanggaan baginya selama hidup adalah tidak pernah menyentuh arak.
Pertama, dia menganggap minum arak dapat mengacaukan pikiran.
Kedua, dia menganggap arak tidak seharum dan selezat sari buah.
Sayangnya, meski tidak setetes arakpun yang disentuh, namun belum lama dia letakkan sumpitnya, kepala sudah terasa pusing sekali, matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa sangat berat.
Dia sadar gelagat tidak beres, dalam terperanjat dia segera melompat bangun.
Belum sempat tubuhnya berdiri tegak, dia sudah roboh terjungkal keatas tanah, begitu roboh tubuhnya tidak mampu bergerak lagi.
Setelah keadaan berkembang seperti ini, ternyata dalam hidanganpun masih dicampuri obat pemabuk, mimpi pun dia tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini.
Belum sampai seperminum teh dia tidak sadarkan diri, perempuan berdandan koki itu sudah membuka kembali pintu ruangan, setelah menengok sekejap perlahan-lahan dia menyelinap masuk ke dalam.
Akhirnya pada saat itulah dia mendongakkan kepalanya, dalam ruang perahu tidak nampak cahaya sang surya, yang ada hanya cahaya lentera, ketika sinar lentera menyinari wajahnya, terlihatlah sebuah raut muka yang amat cantik, namun dibalik wajah cantik dan nampak masih muda itu terselip rasa sedih yang mendalam.
Dia seakan-akan pemah jadi sangat tua dalam satu waktu yang singkat, perasaan hatinya seakan pernah hancur lebur karena suatu persoalan, oleh sebab itu usianya mesti masih muda namun wajahnya nampak selalu murung dan duka.
Begitu masuk ke dalam ruangan, tanpa ragu dia langsung menghampiri Thiat Tiong-tong dengan langkah cepat, kemudian menotok bebas jalan darahnya.
Perasaan ketika tertotok jalan darahnya memang merupakan sebuah pengalaman yang aneh.
Tapi perasaan itu jauh berbeda dengan perasaan orang yang baru mendusin dari pingsan, bila mendusin dari pingsan maka ada jangka waktu tertentu kesadaran orang masih buram, sebaliknya orang yang tersadar setelah jalan darahnya dibebaskan, dia akan seketika tersadar kembali.
Begitu membuka matanya, Thiat Tiong-tong segera melihat ada selembar wajah cantik yang amat dikenalnya muncul di depan mata, ternyata dia tidak lain adalah Leng Cing-peng.
Dengan perasaan terperanjat dia segera melompat bangun, ditatapnya wajah Leng Cing-peng dengan termangu, untuk sesaat dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Leng Cing-peng pun hanya memandangnya sambil tersenyum, dia tidak berbicara, sambil menarik ujung baju pemuda itu tubuhnya segera menyelinap keluar dari ruangan.
Suara tertawa cekikikan sudah tidak kedengaran lagi, dengan gerakan paling cepat Leng Cing-peng menerobos lorong sempit yang berlikuliku dan sepi langsung menuju ke buritan perahu disana letak dapur tempatnya bekerja.
Disisi anglo terdapat sebuah pintu rahasia, sebetulnya pintu itu dipakai untuk membuang air kotor dan sampah, setelah membuka pintu, diatas permukaan air tampak tertambat sebuah sampan kecil.
Waktu itu hari menunjukkan tengah hari, awan tebal menyelimuti angkasa, ombak disungai pun terasa amat besar.
Tatkala Thiat Tiong-tong melompat ke ujung sampan, dia merasa seakan berdiri ditengah awan sejak dibius bocah pincang, apa yang kemudian terjadi dirasakan bagaikan sebuah impian.
Dengan cekatan Leng Cing-peng memutuskan tali pengikat sampan, perahu kecil itupun bergerak mengikuti ombak, kemudian dia mengambil dua buah dayung kayu dan mendayung dengan sepenuh tenaga menuju ke pantai seberang.
Dalam keadaan seperti ini dia seolah-olah tidak ada yang bisa dibicarakan, dia pun seolah-olah tidak ingin banyak bicara, sambil duduk membelakangi Thiat Tiong-tong yang duduk diujung sampan, dia hanya mendayung dengan sepenuh tenaga.
Ayunan dayung menimbulkan percikan air, percikan airpun membasahi tubuh Thiat Tiong-tong, tapi pemuda itu hanya mengawasi bayangan punggungnya yang kurus dengan termangu.
Sampai lama kemudian dia baru menyapa.
"Nona Leng, baik-baikkah kau?"
Leng Cing-peng sama sekali tidak membalikkan tubuhnya, dia hanya mengangguk perlahan.
Dengan termangu Thiat Tiong-tong mengawasi gadis yang sudah dua kali menyelamatkan jiwanya itu, dia membayangkan pula betapa mendalamnya rasa cinta nona itu kepadanya, tapi kemudian dia membayangkan pula ikatan permusuhan yang terjalin antara dia dengan keluarga Leng....
Sampan bergerak diombang-ambingkan ombak, pikirannya sama persis seperti gelombang ombak itu, bergelora, bergejolak dan tidak pernah tenang.
Sampai lama kemudian dia baru bertanya lagi dengan sedih.
"Nona, mengapa kau lakukan perbuatan ini?"
"Aku telah dilupakan orang, dilupakan masyarakat luas, kalau tidak kulakukan pekerjaan ini, apa yang harus kuperbuat?"
Sahut Leng Cing-peng tanpa berpaling.
Dia lebih suka hidup sebagai orang bawahan, lebih suka menyiksa diri untuk mengurangi kepedihan dan kesedihan yang menyayat hatinya, dia lebih rela hidup tersiksa daripada diperbudak laki-laki.
Oleh sebab itu setelah melarikan diri dari kuil terpencil, meninggalkan Thiat Tiong-tong, dia pun mulai mengembara kemana-mana hingga suatu ketika berjumpa dengan kawanan gadis lebah, diapun bergabung dengan mereka.
Meskipun kawanan lebah itu bersikap hangat dan mesra terhadap kaum lelaki, namun sikap mereka terhadap gadis yang hidup sebatang kara ini sangat dingin dan hambar, andaikata Leng Cing-peng tidak berjumpa lagi dengan Thiat Tiong-tong, mungkin sisa hidupnya harus dilewatkan dalam penderitaan dan siksaan.
Kini dia tidak ingin berpaling, tidak berani berpaling, karena wajahnya telah dibasahi butiran air mata.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasa amat pedih setelah membayangkan betapa sepi dan menderitanya kehidupan gadis itu, ujarnya lirih.
"Nona Leng, apa rencanamu selanjutnya?"
"Jangan kuatir"
Sahut Leng Cing-peng sedih.
"aku cukup mengetahui kesulitanmu, aku tidak akan merecoki mu lagi, apalagi menjadi bebanmu"
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergejolak, tidak tahan dia ingin membelai rambutnya dengan tangan yang gemetar.
Seandainya dia benar benar menyentuh bahu gadis itu, dapat dipastikan nona itu akan membalikkan tubuhnya dan menubruk ke dalam pelukannya.
Tapi sebelum jari tangannya menyentuh, sambil menghela napas dia menarik kembali tangannya.
Sejauh mata memandang, hanya ombak menggulung yang terpampang di depan mata, sama sekali tidak nampak daratan ditanah seberang.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong merogoh ke dalam sakunya, lalu melepaskan sebuah anak kunci dari segerombol kunci lainnya, kemudian ujarnya perlahan.
"Di rumah uang Kwan-gwan dikota Kayhong, aku menyimpan sebuah peti besi, peti itu sebenarnya hendak kuhadiahkan kepada cicimu, tapi sekarang akan kuserahkan anak kunci ini untukmu, ambillah peti besi itu dan selanjutnya kau tidak perlu berkelana lagi"
"Kenapa tidak kau serahkan sendiri kepadanya?"
Tanya Leng Cing-peng dengan kepala tertunduk.
"akupun sudah lama tidak pernah bersua dengannya"
Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasakan hatinya amat pedih, katanya tergagap.
"Cicimu.... cicimu dia...."
Tiba tiba Leng Cing-peng berpaling, dengan wajah berubah serunya.
"Kenapa dengan dia?"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, belum sempat menjawab, tiba-tiba dari balik gulungan ombak terlihat ada sebuah sampan sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.
Ternyata sampan itu adalah sebuah rakit yang terbuat dari kulit kambing, sebuah benda paling ringan yang dapat bergerak cepat ditengah arus sungai Huangho yang deras.
Dalam waktu singkat rakit itu sudah berhasil menyusul sampan kayu yang ditumpangi Leng Cing-peng.
Berubah hebat paras muka Leng Cing-peng, tampak olehnya ada tiga lima sosok bayangan manusia berdiri diatas rakit kulit kambing itu, semuanya adalah wanita.
Ditengah gulungan ombak sungai yang berarus deras, dalam waktu singkat kedua sampan itu sudah makin mendekat.
"Kau cepat kabur dengan menumpang sampan ini, biar aku yang menghadang mereka"
Bisik Leng Cing-peng cepat. Thiat Tiong-tong segera berpikir.
"Bagaimana pun juga, aku tidak akan membiarkan kau menderita gara-gara aku!"
Meski tidak mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba dia melambung ke tengah udara.
Ketika rakit kulit kambing itu semakin mendekat, dia dapat melihat kalau berapa orang gadis berbaju warna warni itu tidak lain adalah kawanan lebah dari Heng-kang Li ong hong, hanya saja kawanan lebah itu tidak ada yang mengenalinya.
Terdengar Yau Su-moay mencaci maki dari atas rakitnya dengan nada geram.
"Ciu-koh, kami selalu bersikap baik kepadamu, melihat kau sebatang kara maka kami menampungmu, siapa tahu kau berani membawa kabur orang yang berhasil kami tangkap, hmmm, tampaknya kau sudah bosan hidup?"
Li Ji-ci, si nona berwajah suci bertubuh jalang berdiri dengan wajah sedingin salju, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia melemparkan seutas tali panjang ke arah sampan, diujung tali terikat sebuah jangkar kecil.
"Triiing!"
Diiringi dentingan nyaring, jangkar itu langsung terpantek diatas sampan kayu, menggunakan peluang itu rakit kulit tadi segera melesat maju lebih dekat, Yau Su-moay mengayunkan tangannya berulang kali, tiga titik cahaya tajam langsung menyambar ke tubuh Leng Cing-peng.
Dengan dayungnya Leng Cing-peng berusaha menangkis datangnya kilatan cahaya itu, tapi sebelum dia bertindak, kilatan cahaya tadi sudah dihajar miring oleh pukulan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong dan tercebur ke dalam sungai.
Yo Pat-moay segera melompat maju dari belakang tubuh Li Ji-ci, telapak tangannya secepat kilat menangkis dayung kayu yang diayun oleh Leng Cing-peng.
"Praaak!"
Dayung itu patah jadi dua bagian.
Ternyata tangan Yo Pat-moay telah mengenakan sebuah sarung tangan yang terbuat dari serat perak.
Benturan keras yang membuat dayungnya patah ini membuat Leng Cing-peng kehilangan keseimbangan, apalagi berada ditengah gulungan ombak yang besar dan arus yang deras, tubuhnya tidak mampu lagi berdiri tegak, buru-buru dia melejit setinggi berapa meter ke udara.
"Hmm, rupanya kau ingin mampus!"
Bentak Yo Pat-moay sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba dari balik ujung bajunya meluncur keluar seutas tali panjang, bagaikan seekor ular sanca langsung melilit sepasang kaki gadis itu.
Leng Cing-peng bertubuh lemah dan bukan seorang gadis yang suka banyak bergerak, bukan saja dia tidak pernah melatih ketahanan tubuh, ilmu silat yang dipelajari pun tidak cukup tinggi.
Hatinya jadi amat gugup setelah kehilangan tenaga sewaktu tubuhnya masih melambung di udara, melihat datangnya ancaman tersebut, cepat dia buang tubuhnya ke samping.
Walaupun dia berhasil menghindari ancaman itu, namun si nona jadi semakin gugup ketika melihat tidak ada tempat berpijak lagi baginya.
Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang bertarung puluhan jurus banyaknya melawan Yau Su-moay.
Ombak menggulung makin keras, sampan dan rakit pun terombang ambing dimainkan arus air yang deras.
Mereka berdua, seorang berdiri diujung sampan, yang lain berdiri diatas rakit, sama-sama bergerak di antara gulungan ombak, serangan yang dilancarkan meski sama-sama hebatnya, namun karena permukaan selalu bergelombang membuat jurus serangan pun tidak pernah tepat pada sasaran.
Apalagi bagi Thiat Tiong-tong yang dibesarkan diwilayah gurun, boleh dibilang dia tidak pandai ilmu berenang.
Kini kepalanya mulai terasa pening, matanya berkunang-kunang dan perutnya mulai mual.
Sekalipun kepandaian silatnya hebat pun, paling banter hanya tiga bagian yang bisa digunakan.
Li Ji-ci dengan menggunakan jangkarnya berusaha menahan laju sampan itu, serunya.
"Su-moay, aku lihat kungfu bocah ini cukup tangguh, apakah perlu aku membantumu?"
"Tidak perlu"
Sahut Yau su-moay sambil tertawa, kemudian ujarnya lagi.
"hey anak muda, kami tidak berniat jahat kepadamu, kenapa tidak balik saja bersama kami?"
Belum sempat Thiat Tiong-tong menjawab, mendadak terdengar seseorang menjerit kaget, diikuti "Byuuurrr!"
Suara seseorang tercebur ke dalam air.
Ternyata Leng Cing-peng gagal menemukan tempat berpijak hingga tidak ampun tubuhnya tercebur ke dalam sungai.
Thiat Tiong-tong sangat terperanjat, tanpa menggubris musuhnya lagi dia siap menerjang ke muka untuk memberi pertolongan.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak, terlihat ada dua titik cahaya perak menyongsong kedatangannya, cahaya itu bergerak sangat cepat bahkan membawa desingan angin yang tajam bagaikan suara rentetan mercon.
Thiat Tiong-tong tidak berusaha menghindar, dia menyongsong datangnya serangan itu dengan keras melawan keras.
Siapa tahu kedua titik cahaya perak itu ternyata benda hidup, tahu-tahu arah sasarannya berubah dan kali ini mengancam lambung anak muda itu.
Thiat Tiong-tong yang menghadapi serangan dari muka belakang, apalagi diapun tidak berani melambung ke udara, terpaksa melepaskan satu pukulan lewat bawah ketiaknya, seluruh kekuatan dicurahkan ke dalam pukulan itu, dia sambut datangnya serangan Yau Su-moay dengan keras lawan keras.
Meskipun serangan ini dilancarkan belakangan, ternyata tiba lebih duluan daripada serangan dari Yau Su-moay.
Mimpipun Yau Su-moay tidak menyangka kalau gerak pergelangan tangannya begitu lincah dan hidup, perubahan jurus pun dapat dilakukan sangat cepat.
Tidak sempat membatalkan serangan sebelumnya, terpaksa dia terima ancaman itu dengan keras lawan keras.
"Duuuk!"
Benturan keras membuat kuda-kudanya limbung, tubuhnya kontan terjengkang ke belakang.
Masih untung Li Ji-ci berada di belakangnya, cepat-cepat dia memeluk tubuhnya kencang-kencang.
Sekalipun serangan tangan kirinya mendatangkan hasil, ternyata gerak tangan kanannya untuk menangkap cahaya perak dihadapannya sedikit agak lamban.
Baru saja tangannya bergerak.
"Triiing!"
Tahu-tahu kedua cahaya perak itu sudah saling membentur lalu terbang berpisah ke arah yang berlawanan, kemudian setelah membentuk setengah lingkaran busur, cahaya itu menghimpit datang lagi dari kiri dan kanan.
Demikian cepatnya perubahan yang terjadi pada cahaya perak itu membuat orang susah untuk mengetahui senjata apakah itu.
Ternyata benda itu adalah tali panjang yang berada ditangan Yo Pat-moay, hanya saja dikedua ujung tali masing-masing terikat sebatang senjata macam Poan koan pit, mirip juga mata tombak yang tajam.
Dengan hadirnya ke dua jenis senjata itu, bukan saja ketika berada dalam genggaman bisa digunakan senjata genggam, dapat pula dipakai sebagai senjata pelontar yang mematikan.
Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang pening kepalanya oleh ayunan ombak, begitu melihat ada cahaya perak berkilat dihadapannya, dia jadi merasa amat silau, oleh sebab itu serangan yang dilancarkan pun ikut sedikit lambat.
Ketika secara tiba-tiba muncul dua cahaya perak yang menggencet dari kiri kanan langsung mengancam jalan darah Thay-yang-hiat nya, cepat dia tekuk pinggangnya menengadah ke belakang, sementara sepasang lengannya direntang ke samping.
Siapa tahu begitu jurus serangannya berubah, gerak ancaman dari ke dua cahaya perak itupun ikut berubah, mendadak dari dua cahaya berubah jadi satu cahaya, dengan jurus Pek hong koan jit (bianglala putih menembusi matahari) cahaya itu langsung menggempur ke arah bawah.
Walau menghadapi bahaya Thiat Tiong-tong tidak menjadi kalut, cepat dia menarik kembali tangannya, lalu dengan gerakan Tong cu Pay kwan im (bocah cilik menyembah Kwan-Im) dia tangkap cahaya perak itu dengan kedua belah tangannya.
Tapi dia lupa kalau tubuhnya masih berdiri diatas sampan, jelas keadaannya jauh berbeda bila dibandingkan bertarung di tanah daratan, ketika segulung ombak menggoncangkan sampannya, posisi tubuhnya pun ikut terlempar ke atas, kini seluruh dadanya malah membusung ke muka menyongsong datangnya ancaman maut itu.
Tampaknya sulit bagi pemuda itu untuk menghindarkan diri...
Setelah berulang kali berganti jurus dengan gerakan yang begitu cepat, kini jarak tubuhnya dengan posisi Leng Cing-peng tinggal sejangka lagi.
Sebaliknya Yau Su-moay sedang memeluk tubuh Li Ji-ci yang hampir roboh, sedang lengan kiri Li Ji-ci pun sedang menahan tubuh saudaranya, otomatis kekuatan yang tersalur di lengan kanannya sedikit lebih lemah.
Akibatnya tarikan tali pun jadi kendor, rakit itu segera dihantam ombak hingga berpisah lagi sejauh berapa meter.
Ketika cahaya perak menggempur ditubuh Thiat Tiong-tong tadi, kebetulan ada ombak menggulung tiba, hal ini membuat tubuh Thiat Tiong-tong maju menyongsong cahaya perak itu, tapi rakitpun ikut tergulung hingga terpisah berapa meter, akibatnya sewaktu cahaya perak itu menyentuh tubuh Thiat Tiong-tong, tubuh Yo Pat-moay ikut terlempar mundur ke belakang.
Dari rangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu singkat, serangan Liang gin siang hui cha (cahaya perak terbang menyilang) yang dilancarkan gadis itu meski sempat menyentuh pakaian Thiat Tiong-tong, namun tenaga serangannya pun ikut lenyap tidak berbekas.
Berhasil lolos dari bahaya maut membuat Thiat Tiong-tong kontan saja bermandikan keringat dingin.
Arus air mengalir sangat deras, waktu itu tubuh Leng Cing-peng masih terapung diatas permukaan air, rupanya nona itupun tidak mengerti ilmu dalam air, akibatnya tubuhnya makin terpisah jauh dari sampan.
Dia mencoba meraih buritan sampan dengan sepasang tangannya, sayang kekuatan yang dimilikinya tidak mampu untuk berbuat begitu.
Ditengah hembusan angin dan gulungan ombak, gadis itu mulai berteriak minta tolong, jeritannya bercampur aduk di antara suara air dan angin, membuat suaranya kedengaran amat mengenaskan.
Begitu berhasil lolos dari serangan musuh, Thiat Tiong-tong tidak ambil perduli urusan apa pun, dia segera membalikkan tubuh siap terjun ke sungai untuk menolong gadis itu.
Tapi Li Ji-ci segera menarik kembali talinya kuat-kuat, rakit kulit pun bergeser lagi lebih mendekat, Yo Pat-moay serta Yo Su-moau sekali lagi mengepungnya rapat-rapat membuat anak muda itu sama sekali tidak mampu bergerak.
Thiat Tiong-tong tahu kepandaian silat yang dimiliki kawanan gadis lebah itu masih jauh dibawah kemampuannya, menurut analisa paling banter dalam tiga lima jurus kemudian dia sudah mampu menghajar mereka hingga tercebur ke air.
Apa mau dikata begitu serangan dilancarkan, ternyata semua perhitungannya meleset jauh, bukan saja serangannya tidak sehebat di saat biasa, bahkan ketepatan sasaran maupun besarnya kekuatan yang dia gunakan jauh dari bayangannya semula.
Tentu saja dia lupa bahwa dirinya saat itu sedang mabuk laut, jangan lagi menyerang dengan sepenuh tenaga, mengangkat barang seberat sepuluh kati pun belum tentu dia mampu melakukan.
Begitu tahu apa yang diharapkan sulit tercapai, Thiat Tiong-tong merasa gelisah bercampur gusar.
Sambil tertawa dingin Yau Su-moay segera mengejek.
"Asal kau bersumpah mau menuruti perkataan kami dan segera balik bersama kami, kamipun akan segera menolongnya!"
Thiat Tiong-tong tidak menjawab, sambil menggertak gigi sekuat tenaga dia melancarkan tiga jurus serangan.
Ditengah hembusan angin dan gulungan ombak, suara teriakan minta tolong itu makin lama makin bertambah lemah.
Kembali Yo Pat-moay berkata dengan nada dingin.
"Bukan kami bersaudara tidak mau turun tangan menolong, justru kaulah yang enggan memberi pertolongan"
Sepasang tangannya melancarkan serangan lebih ganas, secara beruntun dia pun melepaskan lima jurus serangan.
"Betul"
Seru Yau Su-moay pula sambil tertawa ringan.
"asal kau bersedia, cukup Yo Pat-moay menggerakkan tangannya maka dia akan segera tertolong, padahal kamipun tidak bersikap...."
"Baiklah!"
Mendadak Thiat Tiong-tong membentak keras.
"Jadi kau bersedia?"
Tandas Yau su-moay sambil angkat bahunya.
"Yaa, aku bersedia"
Sambil berkata dia segera menurunkan sepasang tangannya.
Dengan gerakan cepat Yo Pat-moay menggunakan senjata peraknya untuk menotok jalan darah Ji swan, ciang tay dan Ki bun hiat di depan dadanya.
Demi selamatkan jiwa Leng Cing-peng, sekali pun kawanan gadis lebah itu akan segera mencabut nyawanya pun dia tidak akan melawan.
Sebagaimana diketahui, pemuda ini adalah seorang lelaki yang pandai mengendalikan diri, berotak dingin dan cerdas, semua keputusan yang dia ambil tentu sudah melalui pertimbangan yang sangat matang, dia tidak ingin mengambil keputusan karena dorongan emosi sehingga harus menyesal dikemudian hari.
Terdengar Yau Su-moay berseru sambil tertawa dingin.
"Ciu-koh pagar makan tanaman, kenapa kita mesti selamatkan nyawanya? Lebih baik biarkan saja dia mati tenggelam"
"Tapi kita sudah menyanggupi permintaannya!"
Tukas Yo Pat-moay.
"Hmmm, kalau kita tidak menolong, dia bisa apa?"
Jengek Yau su-moay sambil berpaling.
Tampak olehnya Thiat Tiong-tong sedang berdiri sambil pejamkan mata, wajahnya nampak sangat dingin.
Wajahnya yang teguh seakan patung dewa yang mendatangkan daya pikat amat besar.
Yau su-moay tidak menyangka dalam situasi seperti inipun anak muda itu tidak menunjukkan perasaan gusar.
Darimana dia tahu kalau Thiat Tiong-tong tidak pernah mengumbar amarahnya demi sesuatu masalah yang tidak mungkin bisa dia hadapi.
Setelah memutar biji matanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa.
"Yaa sudah, mari kita tolong dia, tadi aku hanya bergurau.... masa janji yang sudah dipenuhi mesti diingkari kembali?"
Baru selesai ia berkata, tali panjang Yo Pat-moay sudah dilemparkan ke depan.
Saat itu seluruh tubuh Leng Cing-peng nyaris hampir tenggelam, kini yang terlihat diatas permukaan air tinggal sedikit wajahnya serta ke sepuluh jari tangannya yang mencakar kian kemari, keadaannya amat mengenaskan.
Ketika Yo Pat-moay melemparkan talinya, dengan tepat tali itu melilit pergelangan tangannya, gadis itu segera membalikkan tangan sambil mencengkeramnya mati-matian, tampaknya dia tidak ingin melepaskan cengkeramannya lagi.
Maka Yo Pat-moay pun segera menarik talinya dan menarik tubuh Leng Cing-peng keluar dari dalam air sungai.
Saat itu dia sudah berada dalam keadaan tidak sadar, giginya terkatup kencang, wajahnya kuning bagai kertas.
Yo Pat-moay segera membaringkan tubuhnya diatas rakit, sementara Yau Sumoay pun telah memindahkan tubuh Thiat Tiong-tong.
Dengan sekali tendangan Li Ji-ci menarik kembali jangkarnya, mereka bertiga pun mulai mendayung rakit itu menembusi ombak sungai.
Tampaknya ke tiga orang gadis ini sudah terbiasa dengan arus deras, meskipun harus melawan arus dan ombak, ternyata mereka dapat mengendalikan rakit itu dengan santai.
Sembari mendayung, Yau su-moay tiada hentinya mengawasi wajah Thiat Tiong-tong, akhirnya sambil tertawa ringan dia menegur.
"Hey, siapa namamu?"
Thiat Tiong-tong tidak menjawab, dia hanya pejamkan matanya.
"Hey, kenapa kau tidak bicara?"
Kembali Yau su-moay menegur.
"aku toh tidak menotok jalan darah bisumu, kenapa kau malah jadi bisu?"
Melihat anak muda itu tetap tidak menggubris, dengan kening berkerut Yau su-moay segera berteriak.
"Kau tidak perduli pertanyaanku? Baik, kalau kau tetap membisu, jangan salahkan kalau sekari tendang kubuang perempuan itu ke dalam sungai!"
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membuka matanya lebar-lebar, cahaya kegusaran memancar keluar dengan buasnya. Kontan Yau su-moay tertawa dingin, ejeknya.
"Mau apa kau? Bisa apa kau?"
Akhirnya Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dengan perasaan apa boleh buat katanya.
"Cayhe Thiat Tiong-tong, apa lagi yang nona inginkan?"
Sambil picingkan matanya yang bulat Yau Su-moay melirik pemuda itu sekejap, kemudian katanya.
"Aku.... ? apa yang aku inginkan? Aku.... aku menginginkan kau...."
Sambil tertawa cekikikan dia segera menghentikan ucapannya. Li Ji-ci ikut tertawa cekikikan, serunya.
"Lo-su, aku rasa kau tidak usah banyak mulut, yang penting harus mendayung terus, toaci sedang menunggu kita!"
Benar saja, Yau su-moay segera mendayung dengan lebih cepat lagi, namun sepasang matanya masih mengawasi Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, tiba-tiba dia menendang pemuda itu perlahan.
Melihat itu Li Ji-ci segera menegur sambil tertawa.
"Hey budak setan, kelihatannya penyakit lamamu kambuh lagi, sampai kapan sifatmu itu baru akan berubah?"
Yau Su-moay hanya menggigit bibirnya sambil tertawa cekikikan.
Selama ini hanya Yo Pat-moay yang tidak banyak bicara, pandangan matanya memandang terus ke depan, meski usianya paling muda namun kawanan gadis lebah lainnya seperti agak jeri kepadanya.
Saat itulah tiba-tiba dia berpaling sambil berkata.
"Sudah sampai!"
BAB 11 Pasukan Gadis Lebah Di antara kabut yang tebal, benar saja terlihat bayangan perahu yang besar muncul di depan mata, meski berada disiang hari namun perahu itu masih bermandikan cahaya lentera, membuat permukaan sungai tampak berkilauan tajam.
Diujung perahu lamat-lamat kelihatan berdiri sesosok bayangan manusia yang tiada hentinya melongok ke tempat kejauhan, begitu melihat rakit kulit itu bergerak mendekat dengan menerjang ombak, mendadak dia lari masuk ke ruang perahu.
Ketika rakit kulit semakin mendekat, tiba-tiba Yau Su-moay menubruk ke depan dan memeluk tubuh Thiat Tiong-tong, begitu rapat dia memeluk membuat anak muda itu menghela napas didalam hati dan segera pejamkan matanya.
Kini semakin banyak bayangan manusia yang muncul dari balik ruang perahu, namun suasana tetap hening.
Saat itulah Yau Su-moay berbisik disisi telinga pemuda itu.
"Aku akan bebaskan dua buah jalan darahmu, agar kau bisa berjalan masuk sendiri...."
Lalu setelah menggigit ujung telinga Thiat Tiong-tong, tambahnya sambil tertawa ringan.
"Setan cilik, lihatlah, betapa sayangku kepadamu!"
Sambil berkata dia segera menotok bebas dua buah jalan darah ditubuh pemuda itu.
Dalam keadaan begini, Thiat Tiong-tong tidak tahu harus tertawa atau marah, sekalipun sepasang kakinya bisa menginjak tanah akan tetapi sepasang tangannya masih belum mampu bergerak, kekuatan tubuh pun hilang lenyap tidak berbekas, kini dia hanya bisa berdiri dengan badan lemas.
Dalam pada itu Yau Su-moay telah menarik kembali senyuman diwajahnya, selesai membetulkan letak pakaian dan membereskan rambutnya, sambil mendongakkan kepala dia berjalan menuju ke ruang perahu dengan langkah lebar.
Tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong setelah melihat kejadian itu, pikirnya.
"Kalau dilihat sikapnya yang begitu serius, jangan-jangan di perahu sudah kedatangan seseorang?"
Waktu itu Yau Su-moay sudah tiba di depan pintu ruangan, sambil setengah menyingkap tirai pintu, ujarnya dengan nada berat.
"Toaci, bocah itu telah berhasil kutangkap kembali, apakah boleh membawanya masuk?"
"Bawa masuk kedalam!"
Seseorang segera menyahut dari balik ruang perahu. Yau Su-moay berpaling, bisiknya sambil menggapai.
"Masuklah!"
Setelah sangsi sejenak akhirnya Thiat Tiong-tong melangkah maju ke depan, dia yakin perahu itu pasti sudah kedatangan seseorang, hanya tidak bisa ditebak siapakah orang itu.
"Orangnya sudah datang!"
Seru Yau Su-moay lagi sambil menyingkap lebar tirai di depan pintu.
Cahaya lentera yang bening memancar keluar dari balik ruang perahu, menyinari wajah Thiat Tiong-tong yang angkuh, menyinari pula tubuhnya yang berdiri tegap.
Beberapa pasang mata jeli yang ada dalam perahu, kini tertuju semua ke tubuh Thiat Tiong-tong, mata-mata yang indah itu seketika terbelalak semakin besar dan lebar.
Sorot mata Thiat Tiong-tong dingin bagaikan salju, tapi dibalik sikapnya yang dingin justru terselip daya tarik yang luar biasa besarnya.
Tatapan matanya seakan sama sekali tidak bergeser, namun setiap sudut dalam ruang perahu itu, setiap lembar wajah, setiap gerakan, seakan tidak ada yang lolos dari perhatiannya.
Ruang perahu yang kacau dan acak-acakan karena ulah Hay Tay-sau tadi, sekarang telah tertata rapi, bersih dan indah seperti sedia kala.
Kawanan lebah duduk mengelilingi nyonya cantik itu, duduk disisi kiri dan kanann, pada sisi kanan ruang perahu duduk juga tiga orang gadis yang bersandar diatas selembar permadani.
Kawanan lebah yang biasanya riang dan penuh gelak tertawa, kini tampil dengan wajah tegang dan serius, sebaliknya ke tiga orang gadis cantik yang duduk diatas permadani itu justru bersikap amat santai dan kemalas-malasan.
Mimpipun Thiat Tiong-tong tidak menduga kalau salah satu di antara ke tiga orang gadis cantik itu tidak lain adalah Sui Lengkong!
Di saat sorot matanya bertemu dengan sinar mata Sui Leng-kong yang bening itulah, sedikit perubahan terjadi diatas wajahnya yang kaku bagaikan arca, perubahan tersebut sangat kecil dan sulit ditemukan siapa pun.
Sementara Sui Leng-kong sendiripun tidak kuasa menahan diri, dia telah bangkit berdiri.
Meskipun dia berusaha mengendalikan gejolak perasaan hatinya, namun tidak dapat menutupi rasa girang dan kaget yang terlintas diwajahnya.
"Apakah orang ini yang nona sekalian maksudkan?"
Nyonya cantik itu segera bertanya sambil tertawa. Sui Leng-kong manggut-manggut. Nona cantik yang duduk disamping kiri Sui Leng-kong segera berkata sambil tertawa.
"Hoa Toa-koh, tidak disangka kalian sangat jujur, betul, dialah yang kami inginkan!"
Hoa Toa-koh, nyonya cantik itu segera tertawa tergelak.
"Hahahaha.... sejak kapan Hoa Toa-koh pernah berbohong kepada kalian semua? Apalagi yang datang adalah saudara-saudara dari perguruan Kui bo"
Rupanya nona cantik itu tidak lain adalah pimpinan tujuh iblis wanita dari perguruan Kui bo, dia tertawa pula.
"Aku Gi Peng-bwee selalu bicara blak-blakan, asal kau ijinkan kami membawanya pulang, persoalan apapun kami akan anggap beres dan tidak akan dipersoalkan lagi"
Hoa Toa-koh memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba ujarnya.
"Adikku, kalau tidak salah aku hanya pernah berkata kalau ditempat kami nampaknya ada seseorang macam begitu, bukankah aku tidak pemah berjanji akan melepaskannya bukan?"
Paras muka Gi Peng-bwee seketika berubah hebat, selapis hawa dingin menyelimuti wajahnya. Tapi Hoa Toa-koh berlagak seolah tidak melihat, ujarnya lebih jauh.
"Kalau nona Gi suka bicara blak-blakan maka Hoa Toa-koh pun tidak suka bicara berbelit-belit, ketika Kui bo cianpwee minta orang, seharusnya kami segera menyerahkan orang tersebut, tapi asal usul pemuda ini sedikit rada aneh, setiap orang menganggapnya sebagai harta yang tidak ternilai harganya, maka kami pun merasa agak berat hati untuk membiarkannya pergi, bila aku mengabulkan permintaan nona Gi, bagaimana pula pertanggungan jawabku terhadap mereka?"
"Lantas.... lantas kau.... kau...."
Sui Lengkong membelalakkan matanya lebar lebar. Saking panik dan gelisahnya, penyakit gagapnya kembali kambuh.
"Adikku"
Tukas Hoa Toa-koh cepat.
"bicaramu tidak jelas, lebih baik biar nona Gi saja yang berbicara!"
Terpaksa Sui Leng-kong duduk kembali, tapi butir air mata telah membasahi matanya karena jengkel.
Sejak kecil dia sudah terbiasa menderita, maka walaupun hatinya sangat mendongkol namun dia sanggup mengendalikannya, kendatipun saat ini seharusnya rasa sabarnya telah mencapai pada batas toleransi.
Gi Peng-bwee dengan wajah dingin belum sempat mengucapkan sesuatu, iblis wanita yang lain telah bangkit berdiri sambil tertawa.
Gadis ini tidak biasa sembarangan bicara, namun senyuman selalu menghiasi wajahnya, terdengar dia berkata perlahan.
"Hoa Toa-koh, bila kau tidak mau membebaskan dia, bagaimana cara kami memberikan pertanggungan jawab kepada guru? Tolonglah, bebaskan dia!"
Tubuhnya yang lemah lembut, nada suaranya yang lembut tidak bertenaga ditambah tubuhnya yang kurus kering membuat kawanan lebah Heng kang li ong hong segera merasakan hatinya iba dan penuh rasa kasihan.
Hoa Toa-koh segera tertawa, serunya.
"Aduhh.... tidak heran orang bilang Gi Cing-kiok lebih cantik dari bunga seruni, sampai aku Hoa Toa-koh pun merasa tidak tega untuk menolak permintaan nona"
"Kalau begitu Toa-koh bersedia membebaskan dia bukan?"
Tanya Gi Cing-kiok sambil tertawa.
"Kalau aku bebaskan dia, adikku pasti marah kepadaku, bila tidak kubebaskan dia, nona sekalian pun pasti akan mendendam kepadaku, kalau begitu lebih baik begini saja...."
Senyuman diwajahnya nampak lebih lembut, lanjutnya.
"Bagaimana kalau nona semua memperlihatkan sedikit kepandaian, agar kami pun dapat mengaguminya"
"Aduuh.... bicara pulang pergi ternyata Hoa Toa-koh menginginkan kami bersaudara pamerkan kejelekan, itu mah gampang sekali, kenapa tidak Toa-koh perintahkan sejak tadi"
"Perintah sih tidak berani, Cuma...."
Mendadak Yau Su-moay tampil ke depan, tukasnya.
"Toaci, lebih baik biar adik yang temani nona Gi bermain berapa gebrakan, bila adik beruntung bisa menangkan partai ini, bagaimana kalau kongcu itu serahkan kepadaku?"
"Bagaimana kalau kau kalah?"
Tanya Gi Cing-kiok. Yau Su-moay memutar biji matanya berulang kali kemudian tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau aku kalah, biarlah saudaraku yang lain menemani rekan-rekan nona Gi untuk bermain berapa gebrakan!"
"Aduh... nonaku, pintar amat kalian"
Seru Gi Cing-kiok sambil tertawa ringan.
"kalau begitu bukankah kalian yang lebih diuntungkan?"
"Ciciku, pandanglah usiaku yang masih kelewat muda, mengalahlah sedikit untuk kami!"
Gi Cing-kiok tertawa cekikikan.
"Bagus sih memang bagus, Cuma sayang ada satu hal yang kurang bagus"
Katanya.
"Apa yang kurang bagus?"
"Kau begitu lemah lembut bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh diair, kalau sampai cici salah sasaran hingga melukaimu, hatiku pasti akan amat sedih!"
Yau Su-moay gelengkan kepalanya berulang kali, serunya.
"Tidak mungkin, aku tahu cici baik hati, kau tidak mungkin tega melukai orang lain"
Li Ji-ci yang berdiri dibelakang Thiat Tiong-tong diam-diam menjawil tangan Yo Pat-moay, bisiknya sambil tertawa.
"Untung kita punya Yau Su-moay, kalau tidak, entah siapa yang sanggup menghadapi Gi Cing-kiok!"
"Sekalipun Yau Su-moay sudah tampilkan diri, belum tentu dia sanggup menghadapinya!"
Sahut Yo Pat-moay sambil tertawa hambar. Sementara itu Gi Cing-kiok telah berkata lagi sambil tertawa ringan.
"Benar juga perkataanmu, aku memang tidak tega melukaimu, tapi ada baiknya kita mencoba dulu, tapi.... kita harus bertarung di mana?"
Yau Su-moay memutar biji matanya berulang kali, katanya kemudian.
"Bagaimana pun pertarungan kita toh cuma main main, jadi bertarung dimana pun sama saja, bagaimana kalau diujung perahu saja?"
Tidak menunggu jawaban orang lain dia beranjak dulu menuju ke luar ruangan, ketika lewat disisi Thiat Tiong-tong, tidak lupa dia menowel pipi anak muda itu.
Ujung depan perahu luasnya hanya sekitar sepuluh sampai lima belas meter, dengan sebuah kapur Yau Su-moay segera membuat sebuah lingkaran seluas lima meteran.
Melihat tingkah laku gadis itu, Gi Peng-bwee segera berbisik.
"Perempuan itu amat licik, kau mesti berhati hati"
"Masa aku kalah licik darinya?"
Sahut Gi cing-kiok sambil tertawa.
Waktu itu Sui Leng-kong sudah berada di depan Thiat Tiong-tong, dia seakan ingin mengucapkan sesuatu, melihat ada dua gadis lain berdiri di belakangnya, akhirnya sambil tertawa ringan katanya.
"Kau tidak usah kuatir...."
Kemudian mengikuti rombongannya berjalan menuju ke luar. Selesai membuat lingkaran dengan kapur, sambil bertepuk tangan kata Yau Su-moay.
"Bagaimana kalau kita bertarung dalam lingkaran ini? Siapa yang keluar duluan dari lingkaran itu, dialah yang kalah"
Diam diam Hoa Toa-koh tertawa geli, pikirnya.
"Ternyata Su-moay memang pintar sekali, dia tahu kawanan iblis wanita dari perguruan Kui bo rata-rata berhati bengis dan telengas, dengan membuat garis lingkaran tersebut sama artinya dia telah mempersiapkan jalan mundur, bila dalam pertarungan nanti dia tidak sanggup melawan, asal keluar dari garis maka jiwanya tidak akan sampai melayang, apalagi dengan senjata andalan-nya, dalam pertarunganpun dia akan mendapat-kan banyak keuntungan"
Berpikir begitu, tentu saja dia segera tertawa tanda setuju.
Gi Cing-kiok sendiripun hanya mengerdipkan mata tanpa menunjukkan keberatan, malah dengan langkah santai segera berjalan masuk ke dalam lingkaran.
"Enci Gi, kau tidak menggunakan senjata?"
Tanya Yo Pat-moay kemudian sambil tertawa.
"Adikku, kau saja yang gunakan senjata!"
Sahut Gi Cing-kiok sambil tertawa.
"Terima kasih banyak cici"
Begitu selesai berbicara, mendadak dari balik bajunya meluncur keluar dua titik cahaya keperak-perakan, diiringi desingan angin tajam cahaya itu langsung menghantam bahu dan lutut Gi Cing-kiok.
Ternyata senjata yang digunakan kawanan gadis lebah itu adalah benda yang diikatkan diujung tali, ada senjata yang berbentuk seperti sebuah pit, ada yang seperti jangkar, sementara senjata yang digunakan Yau Su-moay adalah sepasang kait perak berbentuk bulan sabit.
Senjata semacam ini dapat digunakan untuk menyerang jarak jauh, dapat pula dipakai untuk pertarungan jarak dekat, memiliki kelebihan dari serangan senjata rahasia namun tidak memiliki kelemahan sebagai senjata amgi, kini dalam satu jurus serangan dia gunakan dua gerakan yang berbeda, semuanya dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat.
"Aduuuh.... lebah yang sangat lihay"
Teriak Gi Cing-kiok sambil tertawa.
"begitu mengatakan akan menyerang, langsung saja melancar kan serangan, baik, cici akan mengalah tiga gebrakan"
Pinggangnya ditekuk ke samping, dengan mudah dia menghindari ancaman itu. Diam-diam Hoa Toa-koh ikut merasa girang, pikirnya.
"Jika dia langsung melancarkan serangan balasan sehingga Su-moay tidak punya peluang untuk mengembangkan senjatanya, mungkin harapannya untuk menang masih ada, tapi jika dia membiarkan Su-moay melancarkan serangan duluan, dapat dipastikan tubuhnya akan segera dipaksa keluar dari lingkaran"
Tampak Yau Su-moay menghentakkan tangannya, cahaya perak segera berputar kencang, ke kiri dia menyerang dengan jurus Soat lok han bwee (salju turun bunga bwee membeku), ke kanan menyerang dengan jurus Han bwee toh coat (bunga bwee berkembang indah), sementara ke arah bawah secara beruntun melancarkan dua serangan berantai dengan jurus Sam cun hui soh (tiga bunga terbang melayang) serta Ping hun tho hoa (bunga tho bersimpang siur).
Begitu ke dua jurus serangan itu berlalu, maka seluruh kehebatan senjata kait terbang nya pun segera berkembang lebih luas.
Perlu diketahui satu satunya kelemahan yang dimiliki senjata semacam ini adalah tidak bisa mengembangkan serangan dalam keadaan tergesa-gesa, maka ketika Gi Cing-kiok mengatakan akan mengalah, tiga jurus kepadanya, hal ini justru sesuai dengan kehendak hatinya, dalam gembiranya dia pun mengembangkan permainan jurusnya dengan perasaan lega.
Siapa tahu tiba-tiba Gi cing-kiok berseru sambil tertawa.
"Aduh... aku tidak bisa mengalah tiga jurus kepadamu, dua jurus saja!"
Ditengah gelak tertawanya dia langsung menerobos masuk ke tengah cahaya perak.
Waktu itu jurus serangan Han bwee toh coat dari Yau sumoay sudah mencapai diujungnya sementara jurus berikut Sam cun hui soh belum lagi dimulai, di saat tenaga lama habis sementara tenaga baru belum muncul, itulah titik kelemahan yang paling menakutkan.
Belum hilang rasa terperanjat Yau su-moay, Gi cing-kiok telah menerobos masuk melalui celah kelemahan itu.
Senjata kait terbang itu tangguh dalam serangan jarak jauh tapi lemah diserangan jarak dekat, dengan tangan kirinya Gi Cing-kiok langsung mencengkeram tali panjang itu sedang tangan kanannya langsung dihantamkan ke dada Yau Su-moay.
Biar terkesiap didalam hati, Yau su-moay masih tampil dengan senyuman dibibir, teriaknya.
"Cici, ternyata aku tertipu oleh akal muslihatmu!"
Sebuah tendangan langsung diarahkan ke pergelangan tangan lawan.
Gi Cing-kiok segera mengubah tabokan menjadi babatan, kini dia membabat pergelangan kaki Yau su-moay sementara tangan kanannya segera memotong tali panjang itu hingga putus.
Tiba tiba terdengar desingan angin tajam menyambar lewat dari arah belakang, rupanya sebatang kait perak sedang membacok dari belakang tubuhnya.
Mengikuti gerak serangan itu, Yau su-moay dengan gaya Burung belibis terbang bersama menjejakkan kaki kanannya ke tanah sementara kaki kirinya diayunkan ke muka, dalam satu jurus dengan tiga gerakan menghajar ke tubuh lawan.
Gi Cing-kiok sama sekali tidak bingung, tanpa berpaling mendadak tubuhnya menerobos maju ke muka, tahu-tahu tangan kanannya sudah mengangkat kaki kiri lawan tinggi-tinggi.
"Sreeet!"
Kaitan perak itu menyapu lewat persis diatas kepalanya.
Saat ini asal telapak tangannya mendorong ke depan, niscaya tubuh Yau Su-moay akan roboh terjungkal.
Tapi saat itulah Yau su-moay telah menyambar kembali senjata kaitan peraknya yang meluncur balik, ke empat jari tangannya segera disusupkan ke dalam sarung pelindung tangan diujung senjata itu dengan meninggalkan ibu jari serta jati tengahnya.
Begitu pergelangannya berputar, dia sapu bahu dan tengkuk Gi cing-kiok.
Bila Gi Cing-kiok tetap mendorong telapak tangannya ke depan, niscaya dia sendiripun akan terluka diujung senjata kaitan.
Kedua orang itu sama-sama bertubuh ramping, sama-sama bertarung dengan senyuman dibibir, namun jurus serangan yang digunakan semuanya cepat lagi tepat, ganas lagi telengas, dalam waktu sekejap mereka telah saling menyerang berapa gebrakan.
Tatkala semua orang masih mengikuti jalannya pertarungan dengan perasaan tegang, mendadak...
"Traaang!"
Sesosok bayangan manusia melompat ke tengah udara.
Rupanya di saat yang amat kritis itulah, ketika senjata kait ditangan Yau su-moay belum sempat dibacokkan ke bawah, Gi cing-kiok telah menyambar sebatang senjata kaitan yang lain.
Tali yang mengikat kaitan itu sudah dia patahkan, ujung tali masih berada dalam genggamannya.
Maka ketika dia dorong senjata kaitan itu ke depan, tubuhnya manfaatkan kesempatan itu miring ke samping kanan, akibatnya sewaktu Yau Su-moay membabatkan senjatanya ke bawah, bacokan itu persis ditangkis oleh senjata kaitan ditangan kirinya.
Begitu sepasang senjata kaitan saling membentur, tubuh Yau Su-moay bergetar keras dan mencelat sejauh tiga meter ke tengah udara, tampaknya dia segera akan tercebur ke dalam sungai.
Ditengah jeritan kaget, sekilas cahaya perak meluncur keluar dari tangan Yo Pat-moay, lagi lagi....
"Triiing!"
Sambaran kait terbang itu langsung menggaet senjata kaitan rekannya.
Menggunakan kekuatan benturan itu Yau Su-moay berjumpalitan berapa kali di udara, lalu dengan kepala dibawah kaki diatas bagaikan seekor burung walet dia terbang balik ke posisi semula.
Sekalipun dia sudah kalah, namun gerakan tubuhnya yang indah dan menawan segera mengundang tampik sorak dari rekan rekannya.
"Bagus!"
Tidak tahan Sui Leng-kong ikut berteriak memuji.
Siapa tahu baru saja sepasang kakinya melayang turun diatas geladak, mendadak tubuhnya mundur sempoyongan, ternyata dia tidak mampu berdiri tegak lagi.
Dengan wajah berubah Yo Pat-moay segera memayang tubuhnya.
"Su-ci, kenapa kau?"
Tegurnya. Paras muka Yau Su-moay pucat pias bagai mayat, peluh dingin bercucuran membasahi jidatnya, sambil menahan rasa sakit yang luar biasa ujarnya dengan nada gemetar.
"Ka.... kakiku.... mungkin.... mungkin tidak bisa digunakan lagi!"
Cepat Yau Pat-moay berjongkok memeriksa lukanya, tampak darah segar meleleh keluar dari balik sepatu kainnya, cepat dia mencopot kaus kakinya, ternyata tulang kaki gadis itu sudah hancur berantakan.
Paras muka kawanan lebah lainnya seketika ikut berubah, sementara Gi cing-kiok tetap berdiri ditempat seakan tidak pernah terjadi sesuatu apapun, malah ujarnya sambil tertawa.
"Aduh adiku.... apakah seranganku kelewat keras hingga membuat kau terluka parah?"
Setelah memukul perlahan tubuh sendiri, lanjutnya.
"Tanganku ini memang agak kelewatan, masa membedakan keras atau enteng saja tidak bisa? Untung hanya kaki yang terluka, coba kalau wajah cantiknya yang tergores...."
Mendadak Hoa Toa-koh melompat bangun, katanya sambil tertawa paksa.
"Sekalipun tidak sampai menggores luka wajahnya, tapi kalau seorang nona jadi pincang kakinya, siapa lagi yang mau mengawininya di kemudian hari?"
Gi Cing-kiok tertawa terkekeh.
"Aaah, tidak jadi soal, adik ku yang ke sembilanpun seorang pincang, bila adik ini benar-benar jadi pincang, bukankah mereka jadi pasangan yang paling serasi?"
Gi Peng-bwee yang berdiri disamping menyambung pula dengan nada dingin.
"Biarpun kiu te pincang, tapi akalnya banyak dan amat cerdas, coba kalau bukan dia, belum tentu kami bisa melacak sampai disini"
Thiat Tiong-tong yang berdiri jauh diluar pintu seketika merasa hatinya amat lega, pikirnya.
"Ternyata dialah yang memberi petunjuk hingga gadis gadis itu dapat melacak sampai disini, bila dia tidak mati berarti Leng Cing-soat pun belum tentu mati"
Belum habis ingatan itu melintas, situasi diujung perahu kembali telah terjadi perubahan. Rupanya kawanan gadis lebah itu sudah menyerbu ke depan dan mengepung rapat-rapat Gi Cing-kiok bertiga.
"Kenapa?"
Terdengar Gi Cing-kiok berseru sambil tertawa.
"memangnya kalian nona-nona cantik mau main kerubut? Hey Hoa Toa-koh, beginikah ajaranmu kepada mereka?"
"Siapa suruh kau melukai Su-moay mereka"
Kata Hoa Toa-koh sambil tertawa.
"jika mereka ingin main kerubut untuk membalaskan dendam cicinya, akupun tidak bisa berbuat banyak"
Sembari membesut keringat dingin yang membasahi jidatnya, Yau Su-moay berkata pula sambil tertawa paksa.
"Cici yang baik, kalianpun jangan harap bisa kabur dari sini, paling tidak kau mesti membayar ganti rugi sebuah kaki juga untukku!"
"Baik, akan kuganti!"
Seru Gi Cing-kiok sambil tertawa.
Setelah memberi tanda kepada Sui Leng-kong, mendadak sepasang tangannya diayunkan ke depan menghajar enam buah jalan darah penting ditubuh tiga orang gadis lebah.
Bersamaan waktu Sui Leng-kong telah menyelinap ke depan Thiat Tiong-tong, dalam berapa gebrakan ia berhasil pukul mundur Li Ji-ci yang berada di depan pemuda itu, kemudian tanyanya.
"Jalan darah.... jalan darah apa yang terluka ditubuhmu?"
"Jalan darah siang-bun...."
Sahut Thiat Tiong-tong.
Sementara mulutnya berbicara, tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak, meski jurus serangannya tidak ganas namun gerakan tubuhnya lincah dan cepat.
Lagi-lagi dia memukul mundur Li Ji-ci hingga sejauh berapa langkah, kemudian tangan kanannya secepat kilat meluncur ke tubuh Thiat Tiong-tong dan berusaha membebaskan jalan darahnya.
Siapa tahu paras muka Thiat Tiong-tong tiba-tiba berubah hebat, ternyata ada dua desingan angin tajam membokong tiba dari belakang tubuh Sui Leng-kong.
"Leng-kong, cepat menyingkir!"
Teriak Thiat Tiong-tong tercekat.
Siapa tahu bagi Sui Leng-kong dia lebih rela tubuhnya terluka daripada mengurungkan niatnya untuk menotok bebas Thiat Tiong-tong, bukan saja dia tidak berkelit, bahkan dengan gerakan yang tidak berubah dia lanjutkan perbuatannya.
Jangan dilihat tubuhnya lemah gemulai, ternyata tabiatnya keras kepala dan sedikit kaku.
Dalam terperanjatnya tiba-tiba sepasang kaki Thiat Tiong-tong didorong lurus ke bawah, biarpun tenaga dalamnya telah punah namun pengalamannya dalam menghadapi musuh amat matang, arah yang ditujupun sama sekali tidak melenceng.
Karena gerakannya itu mau tidak mau tangan Sui Leng-kong pun ikut berputar ke bawah sementara badannya turut membungkuk ke depan.
Dua titik cahaya perak itu melesat lewat persis dari atas kepala gadis itu, tapi akibatnya tubuh Thiat Tiong-tong lagi-lagi diseret Li Ji-ci hingga terpisah agak jauh.
Dalam waktu singkat ke dua titik cahaya perak itu telah membelenggu seluruh gerakan tubuh Sui Leng-kong, gadis itu mencoba menerjang ke kiri maupun ke kanan, berusaha menghampiri Thiat Tiong-tong, namun begitu kesempatan baik lewat dengan begitu saja, diapun tidak ada peluang lagi untuk mendekati anak muda itu.
Dipihak lain Gi Cing-kiok telah terkepung juga ditengah kerubutan tujuh delapan macam senjata dari kawanan gadis lebah.
Ujung perahu itu tidak terlalu lebar, tampaknya kawanan gadis lebah itu kuatir senjata mereka saling membentur di antara senjata rekannya hingga tidak berani menggunakan senjata jarak panjangnya, maka serangan yang dilancarkan pun hanya sebatas serangan jarak pendek.
Waktu itu sepasang pedang, sepasang senjata cakar, sepasang poan-koan-pit dan sepasang senjata kaitan mengepung Gi Cing-kiok rapat rapat, ditengah berkelebatnya cahaya keperak-perakan, terselip suara dentingan nyaring bagai irama dari surga.
Dalam pada itu Gi Peng-bwee telah menghampiri Hoa Toa-koh, sambil menatap lawannya dia berkata dingin.
"Biarkan adik-adik kecil itu bertarung diujung perahu, lebih baik kita berdua bertarung didalam ruangan saja!"
Hoa Toa-koh berpaling menatap lawannya sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa ringan.
"Kenapa mesti didalam? Disini pun juga tidak apa-apa!"
"Ketika kita sedang bertarung, apakah ada orang lain yang akan membantu mu?"
"Hahahaha.... siapa lagi yang akan datang membantu!"
Gi Peng-bwee menyapu sekejap suasana di sekitar situ, kecuali Yau Su-moay yang sudah terluka serta Li Ji-ci yang masih menarik tubuh Thiat Tiong-tong, benar saja tidak seorang gadis lebah pun yang nampak menganggur.
Dia tidak berbicara lagi, dengan mata menatap tajam gerak-gerik lawannya, selangkah demi selangkah dia menghampiri Hoa Toa-koh.
"Kau maupun aku adalah toaci mereka semua"
Ujar Hoa Toa-koh sambil tertawa.
"sudah sepantasnya kita perlihatkan sikap sebagai seorang kakak paling tua, kalau gebuk-gebukan begitu saja apa tidak kuatir akan ditertawakan orang lain?"
"Apa yang kau hendaki? Katakan saja"
"Kalau begitu kemarilah!"
Dengan sekali jejak tubuh Hoa Toa-koh melambung ke tengah udara lalu meluncur ke arah tiang layar perahu.
Di antara kibaran ujung baju, dia sudah mengambil posisi di sisi kiri.
Diam-diam Gi Peng-bwee mengernyitkan dahinya, namun tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera menyusul naik keatas dan mengambil posisi disisi kanan.
Dipandang dari bawah, kedua orang yang berdiri diatas tiang layar itu bagaikan dua bidadari yang siap terbang menuju ke atas awan.
Biarpun layar bergoyang kencang karena hembusan angin, ke dua orang itu saling berhadapan tanpa bergerak.
"Apa yang akan ditandingkan?"
Tanya Gi Peng-bwee kemudian. Sambil menuding ujung tiang yang berapa meter menjulang tinggi ke angkasa, ujar Hoa Toa-koh.
"Kita harus saling berebut naik ke puncak tiang itu, siapa yang mencapai duluan, dialah yang menang"
"Kalau siapapun tidak berhasil mencapai ke situ?"
Tanya Gi Peng-bwee sambil tertawa hambar.
"Yang tetap hidup dialah yang menang!"
"Kapan akan dimulai?"
"Kita sama-sama bergerak menuju ke tengah tiang lalu saling bertepuk tangan, begitu suara tepukan bergema, saat itulah pertarungan di mulai!"
"Baik! Jika pukulan tersebut dapat membunuhmu, aku rasa pertandinganpun tidak perlu dilanjutkan"
"Hahahaha.... nona Gi, kau memang sangat pintar!"
Padahal pertarungan yang bakal berkobar merupakan pertarungan mati hidup, namun ke dua orang wanita cantik itu membicarakannya dengan begitu santai, seolah-olah sedang bercanda saja.
Perlu diketahui, walaupun pertarungan semacam ini nampaknya serba baru dan sangat menarik, padahal merupakan pertarungan yang menentukan mati hidup.
Kedua orang itu butuh mengerahkan seluruh kepandaian silat, kecerdasan serta kekuatan tersembunyi yang dimilikinya untuk saling beradu.
Bukan saja kesempatan untuk meraih kemenangan sama rata, siapa pun tidak dapat meraih posisi yang lebih menguntungkan.
Asal ada salah satu pihak lemah dalam hal tenaga dalam atau ilmu meringankan tubu, ilmu pukulan, ilmu pedang, senjata rahasia maupun kecerdasan, maka jangan harap dia bisa lolos dari per tarungan ini dalam keadaan hidup.
Perlahan-lahan kedua orang itu mulai menggeser tubuhnya bergerak menuju ke tengah tiang.
Meskipun senyuman masih menghiasi wajah mereka berdua, namun sorot matanya nampak begitu serius dan tegang.
Setiap mereka melangkah satu tindakan, selisih jarak makin mendekat, ketegangan pun nampak semakin bertambah tebal.
Ketika tubuh mereka berdua sudah berada pada jarak satu meter, dimana masing-masing pihak sudah dapat meraih tubuh lawan, tiba-tiba senyuman yang menghiasi wajah mereka hilang lenyap seketika.
Perlahan-lahan Gi Peng-bwee mendorong telapak tangannya ke muka, di antara jari jemarinya yang lembut dan halus, terselip tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Menyaksikan datangnya ancaman itu, mendadak Hoa Toa-koh berseru sambil tertawa.
"Ooh sebuah tangan yang sangat indah!"
Mengiringi suara tertawanya, secepat kilat dia melepaskan pula sebuah pukulan. Padahal kata "secepat kilat"
Rasanya masih belum cukup untuk melukiskan betapa cepatnya serangan yang dia lancarkan.
Ujung jari telunjuk, jari tengah dan jari kelingkingnya menepuk perlahan sendi jari kelingking Gi Peng-bwee, ketika terdengar suara "Bluuk!"
Tahu-tahu tubuhnya sudah melambung ke udara.
Waktu itu Gi Peng-bwee sudah menghimpun seluruh kekuatannya tapi belum sampai dilontarkan keluar, perlu diketahui sendi jari kelingking merupakan bagian tangan yang terlemah, menanti Gi Peng-bwee siap melontarkan kekuatannya, tubuh Hoa Toa-koh sudah melambung berapa meter ke udara, tampaknya dia segera akan mencapai puncak tiang.
Perempuan lebah ini memang banyak akal dan sangat pintar, tampaknya dia tahu kalau Gi Peng-bwee hendak menjatuhkan dia dengan mengandalkan kekuatan tenaga pukulannya, maka dia pun menghindari bentrokan tersebut dengan mengambil langkah lain yang sama sekali diluar dugaan.
Dari semua orang yang hadir di perahu itu, hanya Thiat Tiong-tong seorang yang dapat mendongakkan kepalanya mengikuti jalannya peristiwa itu.
Dia jadi amat terperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya.
"Sungguh lihay Hoa Toa-koh ini, dalam keadaan begini jika Gi Peng-bwee tidak ingin kalah maka hanya ada satu cara yang bisa dia lakukan...."
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, angin pukulan yang dilancarkan Gi Peng-bweee tiba-tiba berganti arah.
"Blaaaam!"
Kali ini dia menghajar tiang layar itu kuat-kuat.
Serangan itu dilancarkan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan itu, tidak ampun tiang layar yang besarnya mencapai mulut mangkuk itu patah jadi dua.
Tenaga pukulan yang kuat membuat tiang layfer yang patah itu mencelat sejauh berapa meter kemudian setelah berpusing di udara, tiang itu langsung meluncur lurus ke bawah....
"Blummmm!"
Langsung menghujam diatas atap bangunan perahu..
Waktu itu Hoa Toa-koh masih berada ditengah udara dalam usahanya mencapai puncak tiang, begitu tiang patah dan jatuh ke bawah, bukan saja dia langsung kehilangan sasaran, diapun kehilangan tempat untuk berpijak.
Ketika kekuatan tubuhnya lenyap, mau tidak mau terpaksa dia melayang turun kembali ke bawah, pujinya didalam hati.
"Sungguh cerdas gadis ini!"
Thiat Tiong-tong sendiripun segera memuji didalam hati.
"Tidak kusangka dalam keadaan yang gawat dia masih dapat menemukan cara sehebat ini, untung otaknya encer dan segera menemukan cara untuk menanggulangi, coba terlambat sedikit saja niscaya dia akan kalah"
Tidak menunggu tubuh Hoa Toa-koh menyentuh tanah, sekali lagi Gi Peng-bwee mendorong sepasang telapak tangannya ke depan, gulungan angin pukulan sedahsyat amukan gelombang samudra langsung menerjang tubuh perempuan lebah itu.
Saat itu Hoa Toa-koh belum sempat menyentuh tanah, termakan hembusan angin pukulan itu, tubuhnya bagaikan layang-layang yang putus benang langsung meluncur ke tengah sungai.
Baca Juga: Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam 2
Baca Juga: Naga Kemala Putih 5