Ceritasilat Novel Online

Pendekar Panji Sakti 3

Eps 3 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.

Sementara itu Suto Siau telah berkata lagi sambil tersenyum.

"Sekalipun persoalan yang kuketahui tidak terlalu banyak, sayang apa yang kalian berdua ketahui justru jauh lebih sedikit"

Tanpa sadar kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap, tiba-tiba Pek Seng-bu berkata sambil menarik muka.

"Apa yang kami ketahui memang amat minim, itulah sebabnya ada satu persoalan yang ingin ditanyakan kepada saudara Suto"

"Aaah, terhadap sesama saudara tidak perlu berlagak sungkan"

"Dalam kamar itu terdapat anak murid Perguruan Tay ki bun sementara kami berdua-pun sedang bersiap menghajarnya, kenapa saudara Suto malah menghalangi dengan melancarkan serangan bokongan? Untung nyawaku masih dilindungi Thian, kalau tidak, bukankah sudah tewas ditangan saudara Suto sedari tadi?"

Suto Siau segera menukas.

"Pokoknya siapapun yang akan mengusik bajingan she-Im itu hari ini, siaute dengan taruhan nyawa tetap akan menghalanginya"

"Apa maksud perkataanmu?"

Berubah paras muka Hek Seng-thian. Pek Seng-bu pun menambahkan sambil tertawa dingin.

"Apakah saudara Suto telah bergabung dengan pihak Perguruan Tay ki bun?"

Kembali Suto Siau tersenyum.

"Tahukah kalian berdua, siapakah perempuan yang sedang menemani bocah she-Im itu didalam kamarnya?"

"Perduli amat siapakah dia, aku...."

"Perempuan itu adalah gundik kesayanganku"

Tukas Suto Siau lagi. Kembali Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu berdiri tertegun.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Tanya Pek Seng-bu.

"saudara Suto, kau harus memberi penjelasan"

Kini dia sudah berbaring disamping Suto Siau, menghimpin lawannya dari kiri dan kanan.

"Apakah kalian tidak melihat bekas jari tangan berwarna hijau itu?"

Kata Suto Siau.

"Siaute bisa sampai disini karena membuntuti kode rahasia itu, sekarang kalian berdua sudah mengerti bukan?"

Diam-diam Hek Seng-thian berdua merasa lega, pikirnya.

"Ternyata dia mempunyai rencana lain, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rahasia kami berdua"

Berpikir sampai disitu, sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Hek Seng-thian.

"Gerak-gerik saudara Suto sangat rahasia dan mencurigakan, darimana siaute berdua bisa mengetahui rencanamu?"

Katanya.

"Ceritanya panjang sekali, tempat ini tidak cocok untuk berbicara, bagaimana kalau kujelaskan setibanya di kamar kalian berdua?"

"Kamar kami ada di halaman nomor tiga belas"

"Kalau begitu ayoh kita berangkat"

Menanti bayangan tubuh ke tiga orang itu sudah lenyap dari pandangan, dari balik wuwungan rumah kembali muncul sesosok bayangan manusia.

"Apa yang telah terjadi?"

Gumamnya.

Dibawah cahaya rembulan tampak bayangan itu mengenakan baju hitam dengan wajah ditutupi kain kerudung hitam, ternyata dia tidak lain adalah Thiat Tiong-tong.

Sewaktu mendengar ada seorang murid Perguruan Tay ki bun muncul ditempat itu, dia sudah menduga delapan puluh persen orang itu adalah Im Ceng, hanya saja karena pemuda ini, jadi orang sangat berhati-hati dalam setiap tindakan maka sebelum menemui rekannya itu terlebih dulu dia awasi gerak gerik Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.

Menanti dia saksikan kedua orang musuhnya siap melancarkan serangan dan diapun siap menghalangi, tidak disangka seseorang yang lain telah bergerak duluan.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menghalangi Hek Seng-thian berdua ternyata adalah Suto Siau, terlebih tidak mengira kalau perempuan cantik yang datang bersama Im Ceng ternyata adalah gundik kesayangan Suto Siau.

Dengan kecerdasan otaknya tidak sulit bagi-nya untuk menduga apa gerangan yang telah terjadi.

Tidak kuasa lagi peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, pemuda itu berpikir.

"Jika sam-te benar-benar mengajak perempuan itu pulang ke rumah, jelas dia telah melakukan satu pelanggaran yang menakutkan"

Thiat Tiong-tong sendiripun cukup memahami tabiat dari Im Ceng, ketika pemuda itu telah mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, maka jangan harap ada orang yang bisa menghalanginya.

Ketika bayangan manusia masih muncul dibalik jendela tadi, Thiat Tiong-tong pun dapat melihat dengan jelas gerak-gerik mereka berdua yang nampak begitu mesrah, kenyataan ini membuat pikirannya bertambah kuatir.

Dia sadar, bila berharap Im Ceng mau sadar dari perbuatannya, dia harus berhasil mengumpulkan bukti yang cukup untuk mengungkap intrik yang sedang dilakukan perempuan itu serta membongkar identitas sebenarnya dari dirinya.

Dia pun sadar, perempuan itu pasti seorang musuh tangguh yang pernah dijumpai selama ini, perempuan cantik yang genit, licik lagi pintar, perempuan yang tidak gampang dihadapi.

Apalagi dibelakangnya terdapat kekuatan yang begitu besar menunjang segala perbuatannya, dia merasa tidak yakin bisa menangkan pertarungan adu akal semacam ini.

Untuk bisa menangkan semua pertempuran, dia harus berhasil menangkap titik kelemahannya, tapi apa yang menjadi titik kelemahannya?

....

Daya tarik barang permata merupakan godaan yang paling susah dilawan oleh perempuan manapun.

Tiba-tiba dia terbayang kembali dengan perkataan yang pernah diucapkan wanita itu, tidak kuasa lagi sekulum senyuman menghiasi bibirnya.

Cahaya lampu mulai menerangi seluruh sudut ruangan, saat pasaran bebas kembali di mulai.

Gedung utama keluarga Li nampak jauh lebih ramai ketimbang tiga hari sebelumnya, setiap sudut tempat hampir dipenuhi oleh gelak tertawa, suara pembicaraan, asap tembakau yang pedas serta bau parfum yang harum semerbak.

Transaksi, jual beli, adu akal, adu kepintaran pun berlangsung dalam suasana hiruk pikuk.

Ouyang hengte, Ouyang bersaudara yang merupakan keluarga kaya raya dari wilayah Kanglam hadir jauh lebih awal dari hari-hari biasa, mereka mengenakan pakaian yang indah sementara sepasang mata yang liar mengawasi kawanan gadis aneh dimeja sebelah tanpa berkedip.

Kawanana ratu lebah dari Heng-kang masih tetap bersikap acuh, sama sekali tidak memandang sekejappun ke arah mereka, semakin mereka tidak acuh kawanan kongcu itu semakin getol menarik perhatian.

Hong Pak-ban yang ada di meja nomor dua berkilatan sepasang matanya, bagaikan seekor anjing pemburu, dia awasi terus sekeliling pasar dengan seksama, tampaknya transaksi yang berlangsung kemarin telah mendatangkan laba cukup banyak baginya.

Phoa-an kemala Phoa Seng-hong dengan tenang berdiri di belakang majikannya, sementara seorang wanita cantik yang duduk dibelakangnya berulang kali mencuri-curi untuk meraba telapak tangannya.

Im Ceng dan Un Tay-tay pun hadir di arena, merekapun sempat bertemu dengan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Suto Siau yang berada disudut gedung, namun mereka berlagak seolah-olah tidak mengenalinya.

Melihat itu Im Ceng membatin.

"Ooh, ternyata mereka sudah tidak teringat lagi siapa aku"

Mendadak terdengar gelak tertawa bergema memenuhi angkasa, seseorang berseru dengan nyaring.

"Aku datang lagi!"

Hay Tay-sau dengan bertelanjang dada dan membawa sebuah karung goni berjalan masuk ke dalam ruangan, transaksi yang sedang berlangsung pun berhenti seketika, dengan keheranan semua orang mengawasi tokoh aneh itu.

"Blaaam!"

Dia letakkan karung goninya keatas meja, lalu serunya sambil tertawa tergelak.

"Hari ini aku akan lebih repot, siapa yang menginginkan barangku, cepat ajukan penawaran"

Belum sempat orang lain berbicara, Hong Pak-ban sudah bangkit berdiri seraya berseru.

"Ada berapa banyak barang yang kau bawa? Lohu akan memborong semuanya"

Hay Tay-sau berlagak berpikir sejenak kemudian baru menjawab.

"Tetap tiga puluh macam, tapi harganya...."

Buru buru Hong Pak-ban goyangkan tangan-nya berulang kali, tukasnya sambil tertawa.

"Kalau mau dagang mesti adil, kalau kemarin berharga lima ratus tahil, hari inipun harus sama harganya"

"Harus sama?"

Hay Tay-sau garuk garuk kepalanya.

"Tentu saja"

Dia mengeluarkan selembar uang kertas dan melanjutkan.

"disini ada uang senilai lima belas ribu tahil, persis untuk memborong semua barangmu"

Buru-buru dia letakkan uang kertas itu diatas meja kemudian buru-buru mengambil karung goni itu dan dibawa balik, kelihatannya dia kuatir kalau Hay Tay-sau tiba-tiba menyesal dan membatalkan transaksi itu.

Tanpa berpaling lagi Hong Pak-ban berseru.

"Transaksi sudah selesai, tidak usah banyak bicara lagi!"

Mendadak Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, serunya.

"Padahal barang yang ada dalam karung ku itu hanya laku dijual dua tahil perak, jika kau ngotot ingin membelinya dengan harga lima ratus tahil, yaa.. apa boleh buat"

Semua orang merasa terkejut bercampur geli, Hong Pak-ban yang terkenal sangat pelit, ternyata kali ini benar-benar dipedundangi orang.

Pucat pias selembar wajah Hong Pak-ban, buru-buru dia tuang isi karung itu diatas meja, benar saja, benda yang ada disitu hanya barang rongsok yang tidak ada nilainya.

Dalam terkejut bercampur gusarnya dia berteriak keras.

"Bangsat! Kau berani menipuku?"

"Siapa yang menipumu?"

Balik Hay Tay-sau dengan wajah berubah.

"bukankah kau yang ngotot ingin memborongnya, kalau kau berani menyebut kata menipu lagi, segera akan kupenggal batok kepalamu"

"Bruuuk!"

Hong Pak-ban jatuh terduduk diatas bangkunya, sementara Hay Tay-sau sama sekali tidak memandang kearahnya lagi, dia serahkan uang kertas itu ke tangan Li Lok-yang sambil ujarnya.

"Li toako, tolong bagikan uang ini kepada fakir miskin, aku akan pergi duluan!"

Diiringi gelak tertawa yang nyaring, dia beranjak pergi dari ruangan dengan langkah lebar.

Diam-diam semua orang bersorak memuji, khususnya Im Ceng, dia merasa amat kagum dengan orang itu.

Tiba-tiba Hong Pak-ban berpaling ke arah Phoa Seng-hong, hardiknya.

"Cepat kejar, cepat kejar dia!"

"Apanya yang dikejar?"

Phoa Seng-hong balik bertanya dengan wajah gelap, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Hong Pak-ban semakin murka, sambil melompat bangun dia tuding wajah lelaki itu dan umpatnya.

"Lohu telah mengeluarkan uang banyak untuk mengundangmu, memangnya aku suruh kau makan tidur melulu?"

Sekilas senyuman licik melintas diatas wajah Phoa Seng-hong, jengeknya.

"Kau toh dengan rela hati membeli barang itu, kalau sampai tertipu salahkan diri sendiri, masa marah dengan orang lain?"

"Kurangajar, kau ingin memberontak.... kau...."

"Tutup mulut!"

Bentak Phoa Seng-hong sambil tertawa dingin.

"toaya mu sudah tidak mau bekerja lagi, ini uangmu, aku kembalikan semua, mulai sekarang mau dibunuh mau dirampok, tidak ada urusannya lagi dengan aku"

"Bagus, kau.... kau... aku.... aku...."

Paras muka Phoa Seng-hong berubah hebat.

"Apa kau, kau? Pergilah mampus!"

Seru Phoa Seng-hong sambil tertawa dingin, ia segera berlalu dari situ. Air muka dua orang wanita cantik yang ada disisi Hong Pek-ban ikut berubah, tiba-tiba mereka berteriak sambil mengejar.

"Siau Phoa, Siau Phoa, mau kemana kau? Jangan pergi...."

Hong Pak-ban semakin naik pitam, ibarat minyak bertemu api, amarahnya benar-benar memuncak.

"Budak sialan, balik!"

Umpatnya.

Tapi mereka seolah tidak mendengar teriakan itu, dalam waktu singkat ke dua orang wanita itu sudah keluar dari ruang gedung.

Tidak tahan semua orang pun tertawa kegelian, ketika Hong Pek-ban melihat tiada wajah simpatik disekitar sana, dengan jengkel dia hentakkan kakinya dan ikut menerjang keluar dari ruangan.

Siapa tahu baru tiba di depan pintu, kebetulan seseorang sedang melangkah masuk kedalam, tidak ampun mereka pun saling bertumbukan.

Kontan Hong Pak-ban mencaci maki kalang kabut sambil mundur berapa langkah.

"Budak sialan, buta matanya!"

Orang yang kena ditumbuk itu adalah si kakek aneh, semua orang tahu segera ada pertunjukan menarik yang akan terjadi. Terdengar kakek itupun mulai balas memaki.

"Kau sendiri yang budak sialan, kau sendiri yang buta matanya, macam anjing busuk!"

"Sialah, sudah menumbuk aku masih berani memaki, mau memberontak!"

Hong Pak-ban makin sewot. Belum selesai dia berkata, wajahnya sudah ditampar kakek aneh itu berapa kali.

"Bagus.... kau... kau berani memukulku!"

Kakek itu tertawa dingin.

"Hmm, uangmu tidak bisa menangkan uang-ku, kekuasaanmu pun tidak bisa menangkan kekuasaanku, ada apa? Masih kurang? ingin ditampar lagi?"

Sambil memegangi pipinya Hong Pak-ban termangu sesaat, akhir nya dia baru teringat kalau dalam segala hal dia memang kalah dari orang itu, maka tanpa banyak bicara lagi dia melarikan diri terbirit birit.

Sekali lagi gelak tertawa bergema memenuhi angkasa.

Kakek aneh itu dengan punggung bungkuk kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruangan, yang membuat orang kecewa adalah ketidak hadiran si gadis cantik itu, sekarang yang mengintil di belakangnya hanya ke dua orang bocah ajaib.

Transaksi yang berlangsung dalam gedung pun seketika berkembang jadi lebih bergairah dan hidup sejak kehadiran kakek aneh itu.

Banyak orang ingin mencari keuntungan dari kakek aneh yang kaya raya itu, barang berharga yang langka dan luar biasa indahnya pun segera dikeluarkan dari tempat penyimpanan.

Meskipun kakek itu tua lagi bungkuk, namun banyak menjadi perhatian perempuan perempuan cantik, namun dia hanya bersandar diatas pembaringan empuk yang khusus dibawa sendiri sambil setengah memejamkan matanya.

Sekilas pandang orang mengira dia sedang beristirahat, padahal tidak seorang manusia pun yang lolos dari pengamatannya.

Menjelang malam tiba-tiba Gin-siepoa bangkit berdiri sambil membuka sebuah kotak kulit yang berada disisinya, dari dalam kotak itu dia mengeluarkan seuntai kalung, anting anting dan perhiasan kepala yang terbuat dari berlian.

Satu set perhiasan berlian itu selain terdiri dari berlian yang indah, juga dihiasi dengan untaian mutiara sebesar buah kelengkeng, begitu benda itu dikeluarkan, decak kagum seketika memenuhi seluruh ruangan.

Sepasang mata Un Tay-tay terbelalak lebar, cahaya kerakusan memancar keluar dari balik matanya yang indah, ini pertanda dia akan mengorbankan segala yang dimiliki demi mendapatkan barang perhiasan itu.

Lelang pun dimulai, harga dibuka dari sepuluh ribu tahil perak, ketika tawaran mencapai lima belas ribu tahil perak, yang tersisa hanya tinggal Un Tay-tay, Kim Ji-kongcu serta Ouyang Hengte.

Akhirnya Un Tay-tay dengan tawaran enam belas ribu tahil perak berhasil mengalahkan mereka semua, senyum kepuasan dan rasa bangga pun segera tersungging di ujung bibirnya.

Belum selesai dia bergembira mendadak kakek itu mendeham sambil berseru.

"Dua puluh ribu tahil!"

Un Tay-tay tertegun, dia seperti tercengang, seperti juga gusar, segera teriaknya lagi.

"Dua puluh empat ribu tahil!"

Dia sudah meneriakkan seluruh harta kekayaan yang mampu dikeluarkan olehnya saat ini.

Sekulum senyuman aneh kembali tersungging diujung bibirnya, perlahan-lahan dia memperlihatkan ke limajari tangannya.

"Apakah anda menawar dengan harga lima puluh ribu tahil perak?"

Tanya siepoa perak sambil tersenyum. Jawaban yang dibutuhkan merupakan kepastian.

"Bertransaksi ditempat ini, begitu harga disepakati maka kau mesti membayar secara kontan!"

Kembali siepoa perak menambahkan.

Dengan perlahan kakek aneh itu memberi kode kepada bocah yang ada disisinya, tidak lama bocah itu sudah mengeluarkan setumpuk uang kertas.

Gien siepoa memandang sekeliling ruangan sekejap, decak kagum, seruan kaget kembali bergema diseluruh tempat.

Un Tay-tay duduk termangu dibangkunya dengan wajah pucat pias, jelas dia merasa sedih, gusar bercampur kecewa.

Biasanya, jika dia sudah berminat dengan suatu benda maka dengan menghalalkan secara cara dia akan berusaha mendapatkannya, bahkan bila perlu menggadaikan nyawa pun akan dia lakukan.

Tentu saja dalam keadaan dan situasi seperti ini, mustahil baginya untuk melakukan cara-cara yang biasa dia gunakan.

Setelah transaksi disetujui, kotak perhiasan itupun dihantar kan ke hadapan si kakek aneh itu.

Suto Siau yang berada disudut ruangan segera berbisik sambil tertawa ringan.

"Kali ini Tay-tay ketanggor batunya!"

"Yaa, lima puluh ribu tahil perak hanya untuk membeli sekotak perhiasan, kecuali kakek aneh itu siapa lagi yang berani melakukan?"

Sambung Hek Seng-thian. Dalam pada itu Im Ceng sudah bangkit dari tempat duduknya sambil berkata lembut.

"Tay-tay, mari kita pergi!"

Un Tay-tay tidak menjawab, dia masih mengawasi kotak perhiasan yang berada disisi kakek aneh itu dengan termangu. Im Ceng kembali menghela napas panjang, sembari membungkukkan tubuhnya dia berbisik.

"Apakah perhiasan itu begitu penting artinya bagimu?"

"Aku tidak tahu"

Un Tay-tay menggeleng.

"Aku hanya tahu betapa sedih hatiku jika gagal mendapatkan benda yang ingin kudapatkan"

Im Ceng tertegun, tanpa sadar dia duduk kembali ke bangkunya.

Pada saat itulah dari luar pintu gedung terdengar suara ringkikan kuda yang ramai diikuti enam belas orang lelaki kekar melompat turun dari kuda kudanya dan masuk ke dalam gedung.

Begitu berada dalam ruangan, orang-orang itu segera menggetar kan pergelangan tangannya dan mengibarkan sebuah panji yang terbuat dari kain sutera.

Dari ke enam belas lembar panji itu, hampir semuanya bercorak sama, dasar hitam dengan sulaman tulisan berwarna merah darah.

"Bi lek tong! Kawanan lelaki pembawa panji itu memecahkan diri menjadi dua regu, masing-masing regu berdiri disisi undak-undakan hingga mencapai pintu gerbang. Mereka semua berdiri tegak bagai sebatang tombak, paras mukanya serius dan sangat amat berat. Kembali terjadi kehebohan dalam ruangan.

"Bi leik-hwee telah datang!"

Diam-diam Suto Siau pun mengerutkan dahinya sambil berpikir.

"Mau apa dia datang kemari? Kenapa paras muka Hek Seng-thian langsung berubah? Jangan-jangan dia sudah melakukan satu perbuatan yang takut diketahui orang?"

Sementara dia masih berpikir terlihat seorang kakek berjenggot panjang, bertubuh tinggi kekar, berwajah merah bercahaya dan mengenakan pakaian indah melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tindakan lebar.

Pakaian yang dikenakan sangat indah dan mewah, jenggot panjangnya pun terawat sangat rapi, sinar matanya berkilat penuh dengan kebanggaan.

Buru-buru Li Lok-yang maju menyambut seraya menyapa.

"Selamat datang hengtay, tidak nyana kau pun mau ikut meramaikan suasana di tempat ini"

Sambil mengulapkan tangannya dan tertawa tergelak tukas Bi lek-hwee.

"Di antara saudara sendiri tidak perlu banyak berbasa-basi"

Kemudian sambil menyapu sekejap ke seluruh ruangan, tambahnya.

"Kedatangan siaute kali ini adalah untuk mencari Hek Seng-thian, ada berapa hal perlu kubicarakan dengannya"

Waktu itu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Suto Siau telah bangkit dari tempat duduknya. Sambil tertawa paksa dan menjura seru Hek Seng-thian cepat.

"Siaute berada disini, entah urusan apa kau mencariku?"

"Aku tahu kalau kau berada disitu"

Seru Bi lek-hwee dengan suara lantang.

"aku mau bertanya, kemana kau sudah membawa murid pertamaku? Hmm, delapan puluh persen pasti diajak melakukan hal-hal yang tidak baik!"

Dia benar-benar tidak pandang sebelah mata terhadap orang lain, teguran itu dilontarkan di hadapan umum. Sekali lagi paras muka Hek Seng-thian berubah, sambil berlagak pilon sahutnya.

"Siapa? Maksudmu keponakan Lui? Sejak berpisah berapa bulan berselang, siaute belum pernah bersua lagi dengannya"

"Kau sungguh tidak melihatnya?"

"Aah, masa hengtay tidak percaya dengan perkataan siaute?"

"Sialan, sudah mampus ke mana bocah itu! Hek lote, jangan marah, jangan marah, anggap saja aku telah salah menuduhmu tadi"

Tabiat orang tua ini benar benar milik geledek, datangnya cepat, pergipun sangat cepat. Thiat Tiong-tong yang duduk sambil setengah memejamkan matanya segera merasa tergerak hatinya.

"Aah, ternyata Hek Seng-thian telah berbohong dengan sengaja mengelabuhi mereka, ini peluang bagus untukku!"

Sebuah rencana segera melintas dalam benaknya, sikapnya pun semakin santai.

Dengan santainya dia bangkit berdiri lalu beranjak keluar dari ruangan, sementara dua orang bocah lelaki itu mengikuti di belakangnya sambil membawa kotak perhiasan itu.

Tiba di belakang halaman yang sepi dan agak redup cahayanya, Thiat Tiong-tong segera memperlambat langkahnya, sesosok bayangan manusia tampak melintas lewat, ternyata dia adalah Gin siepoa.

"Merepotkan kau!"

Seru Thiat Tiong-tong sambil tersenyum. Siepoa perak mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribuan dan diserahkan kepada pemudaku, lalu bisiknya.

"Sebetulnya apa tujuan kau orang tua melakukan hal ini?"

Thiat Tiong-tong memicingkan matanya sembari tertawa terkekeh.

"Lohu hanya ingin menggoda nona itu, Cuma, jangan sekali-kali kau ceritakan kejadian ini kepada orang lain"

Dengan penuh pengertian siepoa perak manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa.

"Tanpa bersusah payah aku telah menerima bayaran tiga ribu tahil perak dari kau orang tua, tentu saja aku akan menjaga rahasia ini baik baik"

Selesai menjura kembali dia ngeloyor pergi dari situ.

Thiat Tiong-tong tersenyum penuh kebanggaan, ternyata perhiasan itu memang merupakan barang mestika miliknya.

Dia tahu manusia macam Gien siepoa yang pandai berdagang merupakan orang yang bisa diajak kerja sama, maka dia menyuapnya dan memainkan sandiwara tadi agar Un Tay-tay masuk perangkap.

Pada saat itulah mendadak dari balik semak terdengar seseorang menyindir sambil tertawa dingin.

"Orang bilang tua tua keladi makin tua makin menjadi, ternyata ungkapan ini memang sangat tepat"

"Siapa disitu?"

Meskipun agak terperanjat, dia tidak ingin membongkar penyaruan sendiri, maka sengaja berlagak terengah-engah dia menghampiri semak tanaman disisi jalan dengan langkah lebar.

Dibawah cahaya rembulan terlihat ada sepasang laki perempuan sedang berpelukan dengan mesrahnya, perempuan itu ternyata tidak lain adalah gundik Hong Pek-ban.

Saat ini dia nampak berbaring dengan napas tersengkal dan pakaian awut-awutan tidak rapi.

Ketika menyaksikan kemunculan Thiat Tiong-tong, wajahnya bukan saja tidak tampil rasa malu, malahan sambil tertawa cabul memperketat rangkulannya pada tengkuk lelaki itu.

Sementara sang lelaki berwajah putih pucat, dia tidak lain adalah Phoa Seng-hong.

Sambil memegang dada sendiri seperti orang kaget, serunya sambil tertawa.

"Hey orang tua, bila kau berhasil menggaet perempuan genit tadi, tidak ada salahnya untuk menikmati surga dunia ditempat ini"

"Betul, disini amat menarik"

Sambung perempuan itu pula, sambil cekikikan.

"Kami bisa melihat orang lain, tapi orang lain tidak bisa melihat kami, cobalah sendiri, kau pasti akan merasa senang!"

Dalam hati Thiat Tiong-tong menyumpahi, tapi diluaran katanya.

"Apa kau bilang? Lohu tidak paham"

"Hahahaha.... cayhe pun orang satu aliran denganmu, masa kau ingin berbohong di depanku? Menurut pengalamanku yang berpuluh tahun, perempuan itu memang seekor ikan bagus bahkan segera akan terkait oleh umpanmu, Cuma.... si bocah berpipi licin itu nampaknya merupakan jagoan yang berilmu tinggi, orang macam begitu tidak gampang dihadapi, bila rencanamu sampai ketahuan.... hmmm hmmm.... rasanya sulit untuk menghadapinya!"

Thiat Tiong-tong pun berlagak seolah tebakan Phoa Seng-hong itu benar, dia membungkam diri dalam seribu bahasa. Kembali Phoa Seng-hong berkata sambil tertawa.

"Tapi jika disampingmu terhadap seorang pengawal semacam aku, dapat dipastikan bajingan muda itu tidak akan berani berkutik!"

Diam diam Thiat Tiong-tong tertawa dingin, pikirnya.

"Tidak nyana bajingan ini sedang mengincar aku"

Tapi diluaran sengaja ujarnya.

"Jadi kau ingin menjadi pengawal pribadiku?"

"Aku sudah kehilangan pekerjaan, tentu saja harus mencari pekerjaan baru"

Kembali Thiat Tiong-tong berpikir.

"Hmm, kau ingin memperalat aku? Memangnya aku tidak bisa memperalat dirimu?"

Berpikir begitu segera serunya.

"Kau anggap memang gampang untuk bekerja denganku?"

"Masa kau tidak menginginkan hal yang sama sama menguntung kan?"

Phoa Seng-hong balik bertanya.

"Kalau ingin menjadi pengawalku, kau mesti taati semua perintahku"

"Tentu saja"

"Kalau begitu sekarang juga bangkit berdiri dan ikuti aku"

Tanpa berpikir panjang Phoa Seng-hong bangkit berdiri, tapi perempuan itu segera menarik pakaiannya sambil berseru.

"Setelah tertarik dengan orang lain, masa kau akan tinggalkan aku?"

"Lepaskan!"

Hardik Phoa Seng-hong dengan wajah sedingin es.

"Kalau tidak kulepas mau apa kau?"

Perempuan itu masih berlagak manja dengan memeluk kaki Phoa Seng-hong erat-erat.

Siapa tahu secara tiba-tiba Phoa Seng-hong melayangkan sebuah tendangan, langsung menginjak jalan darah Ciang tay hiat di depan dada perempuan itu.

Jalan darah Ciang tay hiat berhubungan langsung dengan denyut jantung, merupakan salah satu jalan darah kematian, mana mungkin perempuan itu mampu menahan diri?

Tiba-tiba tubuhnya mengejang, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tubuhnya sudah roboh terkapar.

"Sungguh kejam hati orang ini!"

Pikir Thiat Tiong-tong dengan perasaan terkesiap. Paras muka Phoa Seng-hong sama sekali tidak berubah, ujarnya lagi sambil tertawa.

"Coba kau lihat cara kerjaku sebagai seorang pengawal, agar dia tidak membocorkan rahasia-mu, aku tidak segan untuk membungkam mulut perempuan itu untuk selamanya, bagiku tugas lebih penting ketimbang cinta!"

Sementara itu ke dua orang bocah ajaib itu sudah berdiri dengan wajah pucat pias, Thiat Tiong-tong sendiripun berlagak ketakutan, sengaja bisiknya dengan suara gemetar.

"Kau.... kau berani membunuh orang disini? Bagaimana kalau sampai ketahuan Li Lok-yang?"

Phoa Seng-hong tertawa dingin.

"Aku bertindak demi majikanku, bagaimana akhir dari persoalan ini, semuanya tergantung bagaimana sikap Tuan"

"Lho.... kenapa kau limpahkan semua kesalahan dan tanggung jawab ini kepada lohu?"

"Jika kau tidak bersedia bertanggung jawab, terpaksa aku akan menguarkan semua rahasiamu tadi kepada khalayak ramai"

Dia tahu orang tua tersebut sudah berada dalam kendalinya, karena itu sikapnya nampak amat bangga. Thiat Tiong-tong sengaja berkerut kening, setelah termenung sejenak serunya.

"Kalau begitu.... kalau begitu...."

Tiba-tiba wajahnya cerah kembali, sambungnya.

"Mumpung semua orang masih berkumpul dalam gedung, cepat kau kirim mayat ini ke dalam kamar orang lain!"

"Usul yang bagus!"

Puji Phoa Seng-hong sambil tertawa.

"Bagaimana pun jahe memang makin tua makin pedas!"

"Orang yang ada dimeja tiga belas sangat memuakkan, diapun pernah menyalahi lohu, kirim saja mayat ini ke dalam kamar mereka!"

"Bagus sekali, bagus sekali, Hek Seng-thian memang sangat menyebalkan!"

Sambil membopong mayat perempuan itu katanya lagi.

"Aku segera akan balik"

"Kalau begitu akan lohu tunggu dalam tendaku"

"Baik!"

Dengan sekali lompatan dia sudah melesat ke atas wuwungan rumah dan lenyap dari pandangan mata.

Sinar bangga memancar keluar dari balik mata Thiat Tiong-tong, ketika dia berjalan lewat di depan ruangan yang ditempati Hong Pak-ban, tiba-tiba terlihat ada dua sosok bayangan manusia sedang bersembunyi dibalik kegelapan.

Satu ingatan segera melintas lewat, ternyata kedua orang itu adalah si nenek berbaju rombeng serta pemuda pincang itu.

Semenjak menelan jinsom berusia ribuan tahun, ketajaman matanya sudah melebihi orang lain, meski berada dalam kegelapan namun dia dapat melihat lawan dengan sangat jelas.

Dengan cekatan dia segera bersembunyi dibalik sudut dinding, sementara dua orang bocah itu saling bertukar pandangan sekejap dan segera berlalu melewati jalanan lain.

Mereka memang sudah mendapat pendidikan ketat dan tidak pernah mencampuri urusan rahasia majikannya, mereka pun tidak mau membocorkan rahasia majikannya sekalipun dia adalah seorang perampok.

Ketika mendengar suara langkah manusia, kedua orang itu segera berpaling, tapi mereka kembali berlega hati setelah mengetahui yang muncul hanya dua orang bocah.

Selang berapa saat kemudian pemuda pincang itu baru berbisik.

"Suhu, si tua Hong sudah kembali, kenapa bangsat itu belum juga munculkan diri? Tecu sudah sedikit tidak sabaran"

"Kenapa mesti gelisah"

Sahut si nenek sambil tertawa dingin.

"aku yakin dia masih belum kabur dari sini, anggap saja memang rejeki dia bisa hidup berapa hari lebih lama"

Thiat Tiong-tong bertambah curiga, batinnya.

"Ternyata dua orang nenek dan cucunya ini adalah guru dan murid, berarti mereka memang sengaja menyamar, tapi apa tujuannya? Sayang pengetahuanmu tentang jago persilatan amat cetek hingga tidak bisa mengenali asal usul mereka"

Sementara dia masih berpikir, pemuda pincang itu sudah melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berkata.

"Biar tecu tengok ke depan sana, apakah bangsat itu masih ada didalam gedung?"

Pemuda itu bukan sama memiliki gerakan tubuh yang aneh bahkan kecepatan tubuhnya luar biasa, sama sekali tidak menunjukkan gejala seperti orang cacad.

Nenek berpakaian rombeng itu sama sekali tidak menghalangi, tampaknya dia merasa sangat yakin dengan kemampuan silat yang dimiliki pemuda itu.

Thiat Tiong-tong semakin tercengang.

Dia bisa menduga kalau sasaran yang sedang dicari kedua orang itu adalah Phoa Seng-hong, hanya tidak diketahui perselisihan apa yang terjalin di antara mereka bertiga.

Disekeliling halaman gedung kedua ini merupakan tanah be rumpun, cahaya lentera yang menerangi bangunan itupun tak mencapai tempat tersebut sehingga suasana diseputar sana terlihat sangat remang-remang.

Mendadak terdengar suara gelak tertawa kembali bergema memecahkan keheningan.

Terlihat ada tujuh delapan orang gadis muncul dari balik kegelapan sambil bersendang gurau.

Gerak gerik mereka sangat ringan dan cekatan, ternyata mereka adalah rombongan ratu lebah.

Setelah berada ditempat yang sepi, merekapun tidak berlagak alim lagi.

Terdengar seorang gadis bertubuh kecil ramping berkata sambil menghela napas.

"Orang tua aneh itu jelas kaya raya, sayang orangnya kelewat tua, kalau tidak...."

Seorang gadis tinggi semampai segera menanggapi sambil tertawa.

"Yau su-moay bukan saja suka duit, juga senang orang tampan, lain bagiku, asal dia berduit, biar tua juga tidak masalah"

"Siapa suruh kau macam pengumpul barang rongsok? Aku rasa terhadap si bintang pembawa bencana pun kau punya selera...."

"Waah, kalau orang itu mah aku tidak berani mengusiknya"

Sahut gadis lain sambil menjulurkan lidahnya.

"Kenapa tidak berani mengusiknya? Asal ada kesempatan, aku tetap akan menggaetnya, akan kulihat seberapa banyak harta kekayaannya"

Mendadak terdengar suara gelak tertawa disusul seseorang berseru.

"Hahahaha.... tampaknya aku memang ketimpa rejeki, siapa yang mau menggaet aku, silahkan kemari"

Gelak tertawa itu nyaring dan lantang, jelas suara dari si bintang pembawa bencana Hay Tay-sau.

Dengan tangan sebelah membawa buli-buli arak, pakaian bagian dadanya dibiarkan terbuka, dia berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Kontan saja sekawanan ratu tawon itu heboh, ada yang menjerit kaget, ada yang menutupi wajahnya, ada pula yang tertawa ter pingkal-pingkal.

Seorang gadis berwajah bulat segera menuding kearah nona yang sedang menutupi wajahnya sambil berseru.

"Dia, dia orangnya, dia yang mau menggaetmu"

"Kau ini...."

Seru si nona itu malu.

"kalau berani bicara lagi...."

Dengan wajah bersemu merah karena malu dia berusaha mengejar rekannya, tapi dengan satu kali sambaran Hay Tay-sau telah menangkap tangannya dan memeluknya erat erat.

"Ooh, rupanya kau si budak cilik yang mau denganku?"

Seru Hay Tay-sau sambil tertawa tergelak.

"mari, coba kulihat wajahmu"

Sambil berkata dia memegang dagu gadis itu, dipandangnya berapa kejap kemudian menggesekkan jenggotnya yang kaku bagai duri diatas wajahnya.

"Hahahaha... kau takut tidak?"

Serunya sambil tertawa.

Dengan napas tersengal gadis itu berteriak minta ampun, sementara tangan yang lain justru merangkul Hay Tay-sau erat-erat.

Siapa tahu secara tiba-tiba Hay Tay-sau mendorong tangan nya seraya berseru.

"Kalau baru budak cilik macam kau, masih belum pantas untuk manggaetku!"

Ditengah gelak tertawa yang keras dia segera beranjak pergi.

Gadis itu segera terdorong hingga jatuh terduduk ditanah, untuk sesaat dia nampak tertegun, malu bercampur gusar, akhirnya sumpah serapahpun bergema memenuhi udara.

"Laki-laki sialan, laki-laki bau.... dasar laki dungu!"

Kembali gelak tertawa bergema disekeliling tempat itu. Tiba-tiba terdengar ada suara seseorang yang sedang berseru.

"Nona-nona sekalian, urusan apa yang membuat kalian gembira? Apakah boleh siauseng ikut meramaikan suasana?"

Ternyata Ouyang bersaudara telah menyusul kesana.

Seketika itu juga kawanan ratu tawon itu menghentikan gelak tertawanya, semua orang mengernyitkan alis dan sambil tundukkan kepala, tutup mulut rapat-rapat mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Sambil menggoyang kipasnya Ouyang hengte mengintil di belakang mereka.

Hay Tay-sau yang berdiri dikejauhan sambil minum arak segera berseru sambil tertawa keras.

"Anak-anak, balik saja, jangan sampai mengganggu sarang lebah, kalau sampai disengat bisa berabe akibatnya"

Seorang pemuda di antaranya membalikkan tubuh, tampaknya hendak mengumpat tapi dia segera ditarik lengannya oleh rekan yang lain. Hay Tay-sau tertawa tergelak, mendadak hardiknya.

"Siapa disitu? Mau apa bersembunyi di sana?"

Thiat Tiong-tong terperanjat, tapi dia segera lega setelah melihat arah yang dituju Hay Tay-sau adalah tempat persembunyian nenek berbaju rombeng.

Pada saat itulah dari balik halaman kedua berkumandang suara jeritan ngeri yang amat nyaring.

Ditengah jeritan, terlihat Hong Pak-ban dengan tubuh bermandikan darah dan pakaian tidak rapi berlarian keluar dengan langkah limbung.

"Li Lok-yang, Li Lok-yang, ada dimanakau?"

Hay Tay-sau melompat ke hadapannya, mencengkeram bahunya dan menegur.

"Hey, kau sudah edan?"

Dengan sekali ayunan, dia tampar wajah orang itu keras-keras. Setelah kena tamparan, agaknya kesadaran Hong Pak-ban pulih kembali, dia termangu sejenak kemudian baru gumamnya.

"Aku telah membunuh orang! Aku telah membunuh dia"

"Siapa yang kau bunuh?"

"Gin-sian.... perempuan hina itu, dia kabur dengan lelaki lain bahkan akan membunuhku, maka aku telah membunuhnya lebih dulu"

"Goblok!"

Umpat Hay Tay-sau dengan gusar.

"gara-gara perempuan hina kau sampai membunuh? Memangnya berharga?"

Hong Pak-ban kembali termangu, akhirnya dia menangis tersedu-sedu.

Sementara itu Li Kiam-pak, tuan muda perkampungan keluarga Li dengan membawa empat orang centengnya telah menyusul tiba, dari kejauhan sana masih terdengar suara langkah kaki yang ramai.

Thiat Tiong-tong tahu, kesemuanya ini hanya lagu pembukaan sebelum kekalutan lain yang lebih parah, kelihatannya keluarga pedagang kaya ini segera akan menghadapi satu huru-hara yang belum pernah dialaminya setelah hidup damai sekian tahun.

Maka dia pun melompat masuk ke dalam halaman kedua secara diam-diam, betul saja, dia saksikan mayat perempuan cabul itu sudah tergeletak diatas lantai, disampingnya masih terlihat ada sebuah peti.

Tampaknya perempuan jalang itu sudah tergila-gila dengan Phoa Seng-hong sehingga diputuskan untuk kabur sambil mencuri barang perhiasan, tidak tahunya niat itu ketahuan Hong Pak-ban sehingga terjadilah kasus pembunuhan itu.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dengan cepatnya dia menyelinap lewat dan kembali ke tendanya.

Sebelum melangkah masuk, dia sudah mendengar Phoa Seng-hong yang berada dalam ruang tenda sedang berkata sambil tertawa.

"Nona, selanjutnya kita akan menjadi satu keluarga, masa kau usir aku dari sini?"

Menyusul kemudian terdengar suara dayangnya Si-jin menghardik.

"Enyah kau dari sini! Jika berani bersikap kurang ajar lagi kepada nona kami, jangan salahkan kalau kau kehilangan nyawa"

Dengan langkah lebar Thiat Tiong-tong berjalan masuk ke dalam tenda, dia saksikan Sui Leng-kong duduk disudut tenda sementara dayangnya Si-jin menghadang dihadapannya.

Begitu melihat kehadirannya, dayang itu segera berseru.

"Aah, untung majikanku sudah kembali"

"Coba tanyakan sendiri kepadanya, benarkah dia yang suruh aku datang kemari?"

Kata Phoa Seng-hong sambil berpaling dan tertawa.

"Apa tugasmu telah selesai?"

Tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah serius.

"Sudah kulakukan dengan sempurna, siapa pun tidak akan menaruh curiga kepadaku"

"Satu gelombang belum mereda sudah muncul gelombang yang lain, mungkin saja kau dapat lolos dari persoalan ini, tapi jangan harap bisa lolos dari kasus yang lain!"

"Apa maksudmu?"

Berubah paras muka Phoa Seng-hong.

"Hong Pak-ban telah mewakilimu melakukan pembunuhan, jelas hutang piutang ini tidak akan lari dari pundakmu, kemudian.... Hay Tay-sau juga tidak bakal melepaskan dirimu"

Phoa Seng-hong segera tertawa.

"Hong Pak-ban yang melakukan pembunuhan tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, manusia she-Hay itu pun merupakan musuh bebuyutanku selama banyak tahun, belum tentu dia bisa berbuat banyak kepadaku"

"Sayang situasinya saat ini sudah jauh berbeda, lagipula kau masih dihadang musuh tangguh lain yang jauh lebih lihay, orang yang berniat menghabisi nyawamu"

"Siapa?"

"Si nenek berpakaian rombeng serta pemuda pincang"

Phoa Seng-hong agak tertegun, setelah berpikir sejenak katanya.

"Mereka.... rasanya mereka tidak punya dendam sakit hati apa apa denganku...."

Tapi belum selesai bicara, paras mukanya telah berubah hebat, lanjutnya.

"Aah dia, jangan-jangan dia...."

"Sudah kau ingat asal-usulnya?"

Dengus Thiat Tiong-tong dingin. Phoa Seng-hong mundur berapa langkah dengan sempoyongan kemudian duduk lemas diatas bangku, gumamnya.

"Apa.... apa yang dia katakan?"

"Dia bilang akan mencabut nyawamu!"

Phoa Seng-hong mulai membesut wajahnya, membesut butiran keringat yang membasahi seluruh wajahnya.

"Di depan lohu saja kau mengibul dan bicara sombong sehingga lohu percaya kalau kau memang seorang enghiong hohan yang kosen dan ampuh kepandaian silatnya, siapa tahu.... hehehe.... baru ketemu seorang nenek dan bocah cilik, kau sudah ketakutan setengah mati, Huuh! Kalau enghiong semacam ini mah.... kamsia saja, lohu tidak pingin menggunakannya"

Tampaknya Phoa Seng-hong hendak mengumbar api kemarahannya, tapi baru saja bangkit berdiri dia sudah terduduk kembali.

"Benar, aku memang takut kepadanya"

"Braaak!"

Sambil menggebrak meja, lanjutnya dengan nyaring.

"Tapi kecuali dia, bila ada orang yang berani bersikap kurangajar kepada diriku, Hmm! Aku tetap mampu untuk memenggal batok kepalanya!"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Siapa dia? Kenapa kau begitu takut kepadanya?"

Dia bertanya.

"Dia.... namanya.... Aai, biar kuberitahu pun percuma, toh kau tidak bakal kenal"

Bibirnya telah ikut berubah jadi pucat tanpa warna darah, dia seolah tidak berani menyebut nama tersebut karena kuatir bila namanya disinggung maka bencana besar segera akan tiba.

"Kau tidak berani mengatakan?"

"Sekalipun tidak berani kusebut, memangnya kau mau apa?"

"Lebih baik perkecil suaramu, jangan sampai teriakanmu kedengaran olehnya!"

Phoa Seng-hong tertegun, hawa amarahnya lenyap seketika, dengan lesu dia tundukkan kepalanya.

"Tapi duduk melulu disini pun bukan cara penyelesaian yang tepat"

Kata Thiat Tiong-tong lagi.

"Apakah kau kuatir terseret oleh masalahku ini? Sekarang kau sudah menjadi majikanku, tentu saja kalau aku menghadapi persoalan, kaupun harus ikut menghadapinya"

"Mana boleh begitu"

Sengaja Thiat Tiong-tong berseru dengan wajah berubah.

"lebih baik kau cepat pergi dari sini!"

"Pergi? Jika Dia sudah tahu kalau peristiwa tersebut merupakan perbuatanku, memangnya aku masih bisa kabur? Tahukah kau siapa dia? Tahukah kau betapa lihaynya dia? Bila dia sudah muncul disini, bukan hanya aku seorang yang bakal sial, mungkin keluarga Li pun ikut tertimpa kemalangan!"

Nada ucapannya sama sekali tanpa luapan emosi, hal ini menunjukkan betapa takut dan ngerinya orang itu.

Thiat Tiong-tong berlagak seolah-olah ikut gugup dan ketakutan.

Phoa Seng-hong melirik Sui Leng-kong sekejap, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Terpaksa aku hanya bersembunyi disini, kau tidak bakal mampu mengusirku lagi, sebab bila aku harus mati, kaupun harus ikut mendampingi kematianku"

Thiat Tiong-tong sengaja termangu beberapa saat lamanya, dia seakan sudah tidak sanggup bicara lagi.

Sui Leng-kong tahu, rekannya itu cerdas dan punya kemampuan melebihi siapa pun, dibalik tindakannya itu dia pasti punya tujuan tertentu, maka diapun ikut membungkam.

Lewat berapa saat lamanya Thiat Tiong-tong baru menghela napas panjang sambil bertanya.

"Kecuali cara ini, memangnya tidak ada cara yang lain lagi?"

Sambil tertawa dingin Phoa Seng-hong menggeleng.

"Aah, lohu punya satu siasat...."

Seru Thiat Tiong-tong kemudian.

"Siasat apa?"

"Di antara sekian banyak kawanan tokoh persilatan yang hadir disini kecuali kau dan orang she-Hay itu, apakah masih terdapat tokoh lain yang agak menonjol namanya?"

"Suto Siau, Bi lek Hwee, lalu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, semuanya merupakan tokoh-tokoh kenamaan yang punya nama dan pengaruh besar dalam dunia persilatan"

"Hanya berapa orang itu saja? Hehehe,.... asal lohu menyampaikan berapa patah kata kepada mereka, sudah pasti orang orang itu akan membantumu dengan sepenuh tenaga"

"Sungguh?"

Phoa Seng-hong merasa semangatnya bangkit kembali.

"asal berapa orang itu mau membantu, situasi pasti akan berubah drastis, tapi mana mungkin mereka mau membantuku?"

"Tentu saja lohu punya siasat bagus, asal kau menurut, semuanya pasti beres!"

"Bila kali ini kau benar-benar bisa membantuku dengan siasat jitumu, dikemudian hari bila kau tertimpa persoalan macam apa pun, aku pasti akan membantumu dengan sepenuh tenaga"

Thiat Tiong-tong menuju ke samping meja tulisnya, menulis dua pucuk surat lalu disegel rapat-rapat, pesannya.

"Mula-mula kau harus berusaha agar bisa berbicara empat mata dengan Bi lek Hwee, serahkan surat ini kepadanya, asal dia sudah membaca isi surat ini kujamin orang itu akan membantumu dengan sepenuh tenaga, kau mesti paksa dia untuk angkat sumpah lebih dulu kemudian baru mengeluarkan surat yang kedua"

Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak Phoa Seng-hong menerima surat itu. Kembali Thiat Tiong-tong menulis dua pucuk surat, kemudian katanya lagi.

"Serahkan kedua pucuk surat ini kepada Suto Siau, caranya persis seperti cara pertama tadi"

Kemudian dia pun menulis lagi dua pucuk surat dan minta Phoa Seng-hong menyerahkan kepada Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.

Dalam keadaan terdesak dan terancam jiwanya, Phoa Seng-hong tidak bisa berbuat lain kecuali mencoba cara yang ditawarkan itu.

Dengan wajah serius kembali Thiat Tiong-tong berpesan.

"Jangan sekali kali salah menyerahkan surat sebab kalau tidak kau bakal tertimpa bencana besar, kaupun jangan sekali kali menyinggung tentang lohu, kalau tidak, mereka tidak bakalan mau membantumu"

Dengan wajah termangu Phoa Seng-hong mengawasi lawannya, dia merasa kakek aneh itu makin lama semakin penuh misteri, akhirnya dia menyingkap tirai, menengok sekejap keadaan diluar kemudian baru melesat pergi dari situ.

Menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan, Thiat Tiong-tong baru bergumam sambil tertawa dingin.

"Manusia cabul yang licik dan buas, Suto Siau, Pek Seng-bu, kali ini kalian akan dibuat pusing olehnya!"

Sui Leng-kong ikut menghela napas panjang, katanya.

"Aa.... aku benar-benar bodoh, se... sebetulnya apa.... yang kau.... kau lakukan? A... aku tidak mengerti!"

Dengan pandangan halus dan lembut Thiat Tiong-tong mengawasi gadis itu sekejap, lalu sahutnya.

"Aku sedang menyiapkan siasat berantai, akan kubuat orang-orang itu tidak seorangpun bisa lolos dari cengkeramanku"

"Ber.... bersediakah... me... menerangkan.... kepada... ku?"

"Akan kubuat Suto Siau dan Pek Seng-bu sekalian saling gontok gontokan sendiri, lalu akan kugunakan nenek misterius itu untuk memburu Phoa Seng-hong, padahal mereka sudah kujebak untuk angkat sumpah sehingga mau tidak mau harus melindungi Phoa Seng-hong, akibatnya nenek misterius itupun tidak bakal melepaskan mereka semua, ditambah dengan munculnya mayat dikamar Hong Pak-ban, sudah pasti Li Lokyang serta Hay Tay-sau tidak akan berpangku tangan belaka, pada akhirnya situasi akan bertambah kalut"

Sui Leng-kong hanya mengawasi pemuda itu dengan termangu, waktu itu Thiat Tiong-tong telah melepaskan jubah luarnya hingga kelihatan pakaian ringkasnya yang berwarna hitam, dia pun mengeluarkan sebuah kain kerudung hitam dan dikenakan diwajahnya.

Dalam mengerjakan tugas apapun dia memang selalu melakukan dengan cepat, seolah-olah membawa sebuah irama yang aneh, ringan, cepat dan mengalir lancar.

Dari bawah pembaringan kembali dia mengeluarkan sebilah pedang, Sui Leng-kong segera berjalan menghampiri dan membantunya mengikatkan pedang tersebut dipunggung.

"Aku akan pergi sebentar"

Bisik pemuda itu kemudian. Sui Leng-kong manggut-manggut, tanyanya sambil menghela napas sedih.

"Kau.... kau akan ke mana? Aku.... aku boleh tahu?"

"Aku hanya akan keluar sejenak"

"Apa.... apakah aku bi.... bisa membantumu..."

"Selama ada aku disini, tidak akan kubiarkan kau pergi menyerempet bahaya"

Kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa lembut, kemudian sambil menyingkap tirai pintu dia beranjak pergi.

"Kau.... kau mesti berhati-hati"

Terdengar Sui Leng-kong berpesan.

Seketika itu juga muncul suatu perasaan aneh didalam hatinya, dia tidak tahu apakah perasaan itu merupakan luapan cinta ataukah hanya gejolak emosi, namun tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari hari hari biasa.

Tapi hanya sejenak kemudian perasaan tegang kembali menye-limuti perasaan hatinya, sebab walaupun segala sesuatu telah direncanakan secara rapi tapi dia tahu yang paling sulit adalah bagaimana caranya agar Im Ceng mengetahui rahasia dari wanita yang berada disisinya.

Baru saja tiba diluar pintu, dari kejauhan sudah terlihat sesosok bayangan tubuh yang ramping bergerak mendekat, gerak-geriknya lemah gemulai seperti ranting pohon liu bahkan disertai gelombang ayunan yang menggetarkan hati.

"Aah, ternyata dia muncul juga!"

Pikir Thiat Tiong-tong dengan perasaan girang. Berpikir sampai disitu, cepat-cepat dia menyelinap balik ke dalam tendanya.

"Kenapa kau balik lagi?"

Tanya Sui Leng-kong keheranan. Buru-buru Thiat Tiong-tong menggoyangkan tangannya sambil berbisik.

"Kalian cepat menyingkir dulu ke belakang!"

Dengan gerakan cepat dia melepaskan kain kerudung hitamnya, berbaring diatas pembaringan, menindih pedangnya dibawah bantal dan menutupi tubuh sendiri dengan selimut.

Sui Leng-kong bersama Si-jin dan kedua orang bocah itupun sudah menyingkir, seakan-akan asal ada perintah dari Thiat Tiong-tong maka tanpa syarat mereka akan mentaatinya, bahkan bertanya pun tidak.

Baru saja semuanya selesai, terasa desingan angin berhembus lewat, diiringi bau harum yang semerbak, dalam tenda telah muncul sesosok bayangan manusia.

Orang itu memperhatikan sekejap sekeliling tenda, lalu serunya perlahan.

"Ada orang disini?"

Suaranya merdu, genit dan menawan hati.

"Tempat ini bukan kuburan, masa tidak ada orangnya?"

"Loya-cu, pandai amat berbicara"

Orang itu tertawa ringan.

"Siapa bilang aku sudah tua?"

"Apa jeleknya tua? Anak muda suka berangasan dan gampang emosi, sebaliknya orang yang agak tua lebih mengerti sayang pada orang lain"

Sembari berbicara, Un Tay-tay sudah melangkah masuk ke dalam tenda. Sambil tertawa dingin Un Tay-tay melangkah maju ke depan, lalu sambil bertolak pinggang serunya kepada Sui Leng-kong.

"Usiaku jauh lebih tua darimu, semestinya kau banyak belajar dariku"

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, Thiat Tiong-tong sudah menarik tangannya sambil melayangkan sebuah tamparan.

"Bagus, kau berani memukul aku!"

Teriak Un Tay-tay sambil mencak-mencak kegusaran.

Dengan wajah hijau membesi kembali Thiat Tiong-tong melayangkan dua kali tamparan.

Dia menaruh rasa kasihan terhadap Im Ceng, sementara terhadap perempuan ini justru menaruh rasa benci dan dendam, tidak heran kalau tamparannya dilakukan sangat keras.

Bekas sepuluh jari tangan yang merah membengkak pun seketika muncul diatas wajah Un Tay-tay.

Kebuasan dan sifat liarnya yang nyaris ditonjolkan seketika hilang lenyap tidak berbekas, dengan air mata bercucuran dan nada gemetar bisiknya.

"Kumohon, jangan ditampar lagi, aku.... aku rela tunduk dibawah perintahnya!"

"Kau.... kau tidak usah tunduk...."

Seru Sui Leng-kong cepat, air mata nyaris meleleh juga diwajahnya.

Dalam waktu singkat suasana jadi hening dan tidak kedengaran sedikit suarapun.

Tiba-tiba terdengar suara genta dibunyikan bertalu-talu, menyusul kemudian terlihat seorang pelayan keluarga Ting berlarian masuk dengan langkah tergopoh.

Dengan sedikit sangsi dia memandang sekejap sekeliling tenda, kemudian dengan kepala tertunduk ujarnya.

"Atas perintah majikan, dipersilahkan semua tamu berkumpul di ruang depan, ada urusan penting yang akan dirundingkan"

"Sudah tahu!"

Sahut Thiat Tiong-tong sambil mengidapkan tangannya.

Pelayan itu mengiakan sambil mundur, namun tidak tahan dia melirik lagi berapa kejap untuk memperhatikan pemandangan aneh didalam tenda itu.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, ujarnya kemudian dengan suara dalam.

"Si-jin, temani nona beristirahat dulu, aku akan mengajak dia ke ruang depan"

"Kau.... kau tidak boleh aku.... ikut?"

Tanya Sui Leng-kong.

"Lebih baik kau jangan ikut dulu"

Dalam pada itu sepasang pipi Un Tay-tay masih merah membengkak, namun sekulum senyum kepuasan menghiasi wajahnya.

BAB Terjadi Perubahan Langit yang sangat cerah dengan sinar matahari berwarna kuning emas.

Tapi suasana dalam gedung utama keluarga Li yang bermandikan cahaya matahari justru dicekam dalam ketegangan yang berat dan meenyesakkan napas, bahkan setiap orang merasa napasnya jadi berat.

Semua meja sudah terisi penuh manusia, semua orang duduk dengan perasaan kebat kebit, wajah serius.

Beratus pasang mata sama sama tertuju ke wajah Li Lok-yang.

Waktu itu Li Lok-yang sambil bergendong tangan, berkerut kening, berjalan mondar mandir di antara kerumunan orang banyak, beberapa kali dia menengok keluar pintu gedung sambil bertanya.

"Apakah semuanya telah hadir?"

Setiap orang duduk dengan pikiran yang kalut, bahkan Phoa Seng-hong pun duduk saling berhadapan dengan Hay Tay-sau, siapa pun yang mendonggakkan kepalanya, dia akan segera terbentur dengan sorot mata lawan yang penuh dengan kebencian.

Tiba-tiba terlihat seorang pemuda berbaju pulih yang berwajah sedih, berpakaian lusuh dan memegang sebilah pedang melangkah masuk dengan sempoyongan, dia memandang sekeliling ruangan sekejap kemudian duduk kembali kebangkunya, penampilan orang ini pada hakekatnya seperti dua orang yang berbeda bila dibandingkan berapa hari berselang.

"Ada apa dengan bajingan itu?"

Pikir Suto Siau dengan kening berkerut, dia semakin keheranan ketika tidak melihat Un Tay-tay berada bersamanya.

"Blaaam!"

Tiba-tiba Im Ceng meletakkan pedangnya diatas meja keras keras, lalu teriaknya.

"Hey tuan rumah, apa punya arak? Aku ingin minum sampai mabuk"

"Harap hengtay tunggu sebentar"

Jawab Li Kiam-pek sambil mendekat.

Tiba-tiba dia saksikan paras muka pemuda itu berubah hebat, dari balik matanya seakan memancar keluar sinar berapi api.

Li Kiam-pek agak tertegun, tapi dengan cepat dia sadar kalau kemarahan pemuda berbaju putih itu bukan tertuju kepadanya, tapi diarahkan ke belakang tubuhnya.

Ketika berpaling, dia pun saksikan kakek aneh itu muncul bersama perempuan cantik pasangan pemuda berbaju putih itu.

Suto Siau terlebih kaget lagi, tanpa terasa dia melompat bangun sambil melotot besar.

Un Tay-tay sama sekali tidak melirik kearahnya, diapun tidak memandang ke arah Im Ceng, malah sambil menggandeng tangan kakek aneh itu berjalan menuju ke tempat duduknya.

Jarang ada yang tahu hubungan sesungguhnya dari berapa orang itu, kebanyakan orang hanya merasa agak kaget bercampur keheranan setelah melihat sikap Suto Siau dan Im Ceng yang lepas kendali.

Pelayan keluarga Li yang berdiri dipintu gerbang sudah mulai mencocokkan para tamu yang telah hadir dalam ruangan dengan daftar tamunya, kemudian sambil memberi hormat dia melaporkan.

"Semua tamu telah hadir!"

Li Lok-yang seketika menghentikan langkah kakinya, kemudian dengan suara berat katanya.

"Aku merasa tidak enak karena sepagi ini sudah mengganggu ketenangan anda semua"

Para tamu tahu pasti ada kelanjutan dari perkataannya itu, maka semua orang hanya pasang telinga tanpa menimbrung. Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Anda sekalian jauh-jauh datang kemari, sebagai tuan rumah sudah seharusnya aku melayani kalian dengan sebaik-baiknya, tapi sekarang, mau tidak mau terpaksa aku harus mempersilahkan anda semua untuk segera pulang ke rumah masing-masing"

Salah satu di antara Ouyang hengte segera bangkit berdiri, teriaknya.

"Waktu selama sepuluh hari belum lewat, kenapa tuan rumah sudah mengusir tamunya?"

Kawanan pemuda pemogoran ini memang khusus datang untuk mencari peluang mendekati sekelompok ratu tawon, tentu saja mereka jadi gelisah setelah tahu kalau pertemuan segera akan dibubarkan.

Sekali lagi Li Lok-yang menghela napas panjang.

"Betul, pertemuan selama sepuluh hari memang belum lewat, tapi dalam berapa hari mendatang pasti akan terjadi gelombang badai ditempat ini, cayhe betul-betul tidak tega membiarkan kalian semua terlibas dalam pusaran dan pergolakan ini"

"Waah, apalagi kalau bakal ada pergolakan ditempat ini"

Teriak salah satu anggota Ouyang hengte dengan suara keras.

"kami bersaudara tidak sepantasnya kabur dari sini, melarikan diri di saat ancaman tiba bukan watak dari kami bersaudara"

Perkataan itu diucapkan dengan lantang dan penuh dengan semangat kesatriaan, tidak tahan dia melirik sekejap ke arah kawanan perempuan yang duduk disudut lain.

Tapi dengan suara berat Li Lok-yang segera berkata.

"Kalian masih muda, mana tahu berbahayanya dunia persilatan, bila sekali sampai terlibat dalam lingkaran setan ini, selama hidup jangan harap bisa lolos kembali"

Sesudah menghela napas, lanjutnya.

"Apalagi musuhku ini sangat lihay, sulit mencari orang yang mampu menandingi kemampuan mereka, sebentar lagi banjir darah mungkin akan melanda tempat ini, jika kalian tidak segera pergi, bila sampai orang orang itu tiba disini, aku mungkin tidak berkesempatan lagi untuk melindungi keselamatan kalian. Terus terang, orang itu buas dan kejam, belum pernah dia biarkan lawannya hidup, begitu pertarungan berkobar, siapa hidup siapa mati susah diramalkan, jadi aku harap kalian segera pergi dari sini"

Dari sikapnya yang amat serius, ucapannya yang penuh diliputi rasa takut dan ngeri, semua orang tahu kalau persoalan yang bakal terjadi amat berat, berubah paras muka setiap orang, sedang kawanan pemuda dari keluarga Ouyang pun sama-sama bergidik, serentak mereka duduk kembali dan tidak berani banyak bicara.

Kembali Li Lok-yang menjura seraya berkata.

"Saudara sekalian, kereta kuda telah disiapkan dan setiap saat anda semua dapat berangkat meninggalkan tempat ini, karena keadaan mendesak dan cayhe sendiripun tidak bisa berbuat lain, mohon kalian sudi memaafkan"

Semua orang tahu kalau setiap ucapan Li Lok-yang lebih berat dari bukit karang, apa yang dia ucapkan tidak pernah merupakan omong kosong tanpa dasar, oleh sebab itu tak seorangpun yang buka suara untuk bertanya lagi.

Para pedagang sejati, para keluarga kecil, para orang kaya yang takut urusan tergopoh-gopoh bangkit berdiri meninggalkan tempat dan segera berbenah untuk angkat kaki dari situ.

Ada di antara mereka yang berpamitan dengan Li lok-yang, ada pula yang tidak sempat berpamitan lagi, dalam waktu singkat ruang gedung utama sudah berubah jadi sepi kembali.

Ada juga berapa orang jago silat serta sahabat karib Li Lokyang yang bicara soal setia kawan, mereka enggan pergi dari situ.

Namun setelah dibujuk rayu berulang kali oleh Li Lok-yang, maka mereka pun ikut berlalu dari situ.

Muka gedung utama pun jadi amat hening dan sepi, yang masih tersisa sekarang tinggal Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Im Ceng yang masih tetap duduk sambil pelototi Un Tay-tay serta Thiat liang hong.

"Saudara, kenapa kau masih belum pergi?"

Tegur Li Kiam pek sambil menghampiri Im Ceng.

"Aku tidak bakal pergi!"

"Kenapa? Bukankah ayahku telah menerangkan dengan sangat jelas?"

Sambil menuding ke arah Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian, Im Ceng berteriak.

"Kalau mereka tidak pergi, kenapa aku harus pergi?"

Biarpun sedang memberi jawaban, namun sorot matanya tidak pernah bergeser dari wajah Un Tay-tay.

Suto Siau saling bertukar pandangan sekejap dengan Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.

Sambil tersenyum Pek Seng-bu segera berseru.

"Saudara, tidak nyana kau bersedia mati hidup bersama kami, kau memang tidak malu disebut seorang enghiong hohan, cayhe ucapkan terima kasih terlebih dulu!"

"Mati hidup memang bukan sebuah kejadian besar!"

Teriak Im Ceng.

"Sungguh?"

"Tentu saja sungguh"

Jawab Im Ceng gusar.

"memangnya kau tahu siapakah aku?"

Thiat Tiong-tong mulai merasa tegang, dia kuatir Im Ceng benar-benar dipengaruhi emosi sehingga mengakui identitas yang sebenarnya, jika sampai terjadi hal seperti itu tentu saja sulit bagi Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian untuk berlagak pilon lagi.

Perlu diketahui, situasi pada saat ini amat sensitip, kedua belah pihak sama-sama mempunyai rencana, kedua belah pihak pun menyangsikan sesuatu, hanya Im Ceng seorang yang belum tahu kalau jejaknya sebetulnya sudah ketahuan orang semenjak awal.

Untung saja Pek Seng-bu segera tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Selama kalian tidak pergi, akupun tidak bakal meninggalkan tempat ini"

Teriak Im Ceng lagi dengan suara keras.

"suatu saat nanti kalian bakal tahu siapakah aku!"

Dengan menggenggam kotak pedangnya, dia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Sekali lagi Pek Seng-bu saling bertukar pandangan dengan Suto Siau.

Kini Pek Seng-bu menjura ke arah Thiat Tiong-tong sambil berkata.

"Situasi saat ini sangat gawat, kenapa losianseng masih belum pergi?"

Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Hahahaha.... lohu telah merebut kekasih pemuda itu, jika berjalan keluar dari sini, mungkin pemuda itu segera akan datang mencari lohu untuk diajak beradu nyawa"

Dalam pada itu Li Lok-yang telah perintahkan anak buahnya untuk melakukan persiapan di empat penjuru, terdengar suara bentakan lirih diikuti suara langkah kaki yang tegang berkumandang tiba.

Perkampungan yang diwaktu biasa nampak tanpa penjagaan, begitu terjadi perubahan segera berubah menjadi sebuah benteng yang kokoh dengan penjagaan yang sangat kuat.

Para pelayan yang dihari biasa berlaku santun, dalam waktu singkat telah berubah menjadi penjaga yang kosen.

Diluar pintu gerbang suara kuda dan kereta bergema silih berganti, banyak orang mulai kabur meninggalkan perkampungan itu.

Sambil bergendong tangan Thiat Tiong-tong berjalan menuju keluar pintu gerbang.

Dia seolah-olah sedang memperhatikan situasi diluaran, padahal semua gerak gerik yang terjadi di belakang tubuhnya tidak satu pun yang lolos dari pengelihatannya.

Suto Siau menyangka dia tidak memperhatikan keadaan di belakangnya, dengan satu langkah pelan dia menghampiri Un Tay-tay, kemudian setelah melotot sekejap, tegurnya sambil menggigit bibir.

"Kau sudah edan?"

Un Tay-tay tertawa terkekeh-kekeh, sengaja dengan suara keras sapanya.

"Suto tayhiap, ada urusan apa?"

Suto Siau terkesiap, benar saja, Thiat Tiong-tong segera berpaling. Terpaksa sambil tertawa sahutnya.

"Ooh,.... tidak apa apa, tidak apa apa!"

Ketika berjalan balik, hatinya merasa gemas sekali, saking jengkelnya ingin sekali dia menghajar mampus Un Tay-tay dengan sekali pukulan.

Un Tay-tay segera menarik ujung baju Thiat Tiong-tong sambil berseru.

"Lebih baik kita pulang saja, daripada kelewat lama disini aku malah dipermainkan orang lain"

"Betul"

Li Kiam-pek segera menimpali.

"lebih baik losianseng pulang saja!"

"Sementara waktu lohu akan kembali ke halaman belakang"

Kata Thiat Tiong-tong dengan wajah serius.

"tapi bukan berarti aku akan pergi meninggalkan tempat ini, kalian tidak bakalan bisa mengusir aku dari sini"

Sementara Li Kiam-pek masih termangu, Thiat Tiong-tong sudah beranjak pergi.

Memandang bayangan punggung mereka hingga lenyap dari pandangan, Phoa Seng-hong menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Aaai, orang itu memang aneh sekali, bukannya melarikan diri malah tetap tinggal disini menunggu kematian"

"Masih untung tidak banyak manusia pengecut yang takut mati macam dirimu di dunia ini"

Sindir Hay Tay-sau sambil tertawa dingin.

"Apa kau bilang?"

Teriak Phoa Seng-hong sambil menggebrak meja, dia gusar sekali.

"Mau apa kau?"

Balas Hay Tay-sau tidak kalah kerasnya. Li Lok-yang segera menarik wajahnya.

"Harap kalian berdua segera duduk kembali"

Tegurnya dengan suara keras.

"saat ini kita sedang berada disatu perahu, jika tidak bekerja sama secara erat, mungkin perahu ini bakal terbalik dan tenggelam!"

"Hahahaha.... saudara Li tidak perlu khawatir"

Kala Hay Tay-sau sambil tertawa tergelak.

"kami hanya bergurau saja"

"Braaak!"

Dia kembali ke bangkunya dan tidak menengok lagi ke arah Phoa Seng-hong.

Semang pelayan berbaju hitam tiba-tiba berlari masuk dengan wajah gugup bercampur ketakutan, napasnya tersengkal-sengkal, telinga kanannya berlumuran darah, ternyata daun telinganya telah dikutungi orang.

"Ada apa?"

Tegur Li Lok-yang dengan wajah berubah. Sambil memegangi telinganya yang berdarah dan mengatur napasnya yang tersengkal, sahut pelayan itu.

"Hamba mengikuti perintah dengan numpang kereta keluar dari sini, tapi belum sampai diujung jalan telah muncul orang yang menghadang kereta tersebut serta melakukan pemeriksaan"

"Aah, ternyata dugaanku tidak salah"

Seru Pek Seng bu sambil menghela napas.

"rupanya mereka telah melakukan penjagaan yang ketat diseputar wilayah ini, mereka tidak mungkin membiarkan kita menyelinap keluar dan melarikan diri"

"Bagaimana kemudian?"

Tanya Li Lok-yang lebij jauh. Sambil menahan rasa sakit sahut pelayan itu.

"Tampuknya mereka sangat hapal dengan identitas semua orang yang berada di sini, mereka yang tidak tersangkut dibiarkan jalan lewat, melihat keadaan tersebut hamba tidak berani meneruskan perjalanan, sebenarnya hamba ingin kembali untuk melaporkan kejadian ini kepada loya, siapa tahu satu di antara mereka, yang semula seperti orang yang bisu lagi tuli, mendadak maju ke depan menangkap hamba, tanpa banyak bicara dia segera mengurungi daun telingaku"

"Orang yang bisu lagi tuli?"

Phoa Seng-hong menjerit kaget.

"tidak disangka dia pun ikut datang kemari!"

Paras muka Hek Seng-thian ikut berubah hebat, katanya.

"Aku dengar ke sembilan orang murid Kiu cu kui bo (setan wanita berputra sembilan) adalah orang-orang yang cacad, apa mungkin si manusia bisu tuli itu adalah salah satu di antaranya?"

"Di antara deretan murid Kiu cu kui bo, orang ini terhitung paling keji, buas dan telengas"

Sahut Phoa Seng-hong sambil menghela napas.

"bahkan dialah yang pernah membuat siaute sangat menderita, kedatangannya kali ini...."

Mendadak dia bersin beberapa kali dan tidak bicara lagi. Hek Seng-thian menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Kiu cu Kui bo sudah banyak tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, bagaimana mungkin kau bisa berseteru dengannya? Apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu seperti sekali tonjok menghantam diatas sarang lebah?"

"Soal ini.... aaai, tidak akan selesai diceritakan dengan satu dua patah kata"

Hay Tay-sau mendengus dingin, gumamnya sambil menggeleng.

"Susah diceritakan dalam sepatah dua patah kata? Jika urusannya tidak menyangkut masalah wanita, aku manusia she-Hay berani mengutungi batok kepala sendiri"

Semua orang mengira Phoa Seng-hong pasti akan ribut lagi dengan orang itu, siapa sangka dia hanya tertunduk lesu tanpa mengucapkan sepatah katapnun, tanpa terasa semua orang saling bertukar pandangan, mereka tahu apa yang dikatakan Hay Tay sau pasti benar.

Mendadak terjadi kegaduhan diluar pintu gerbang, kawanan manusia yang semula antri memuat barang untuk kabur dari situ, kini berbondong bondong menyingkir ke samping dan membuka sebuah jalan lewat.

"Apa yang terjadi?"

Seru Li Lok-yang sambil melompat keluar.

Tampak seorang lelaki botak dengan seluruh tubuh dipenuhi kudis, dengan mengenakan baju kasar terbuat dari goni yang aneh sekali bentuknya sambil menuntun seekor keledai kecil perlahan-lahan berjalan mendekat.

Gerak gerik orang itu sangat bodoh macam orang kebingungan, persis seperti orang idiot, bahkan keledai yang dituntun pun berjalan dengan lesu tanpa semangat.

Di punggung keledai yang lemas itu justru mengangkut sebuah karung goni yang besar lagi berat, membuat keledai kecil yang kurus lemah macam sudah berapa bulan tidak pernah mendapat ransum ini nyaris tidak dapat bernapas.

Walaupun manusia dengan keledainya nampak sangat buruk dan tidak sedap dipandang, namun dalam situasi dan saat seperti ini justru mendatangkan perasaan seram yang aneh dan penuh diliputi misteri.

Sambil menghadang di depan pintu gerbang hardik Li Lok yang.

"Sobat, siapa kau? Mau apa datang kemari?"

Manusia idiot itu tertawa lebar, sahutnya.

"Hartawan Li, kau berwajah toapan banyak hokki, umurmu pasti panjang sekali, hamba hanya datang kemari untuk minta sedekahmu"

Sesaat Li Lok-yang berkerut keningnya, kemudian sambil mendongakkan kepala tertawa keras sahutnya.

"Sobat, kau sudah jauh-jauh datang kemari, tentu saja aku tidak boleh membuat kau kecewa, ambillah!"

Ditengah bentakan dia mengayunkan tangannya melemparkan sekeping perak ke arah orang itu, sambitan itu sangat kuat dan cepat, desingan angin tajam menusuk pendengaran.

"Hahahaha.... terima kasih loya"

Seru si idiot sambil tertawa terkekeh.

Sewaktu kepingan perak itu tiba dihadapannya, tiba-tiba dia membalik telapak tangannya, mendadak tenaga sambitan yang menyertai kepingan perak itu lenyap tidak berbekas, dengan tenang dan lembut tahu-tahu benda tersebut sudah mendarat diatas tangannya.

Berubah hebat paras muka Li Lok-yang.

"Hebat sekali kungfu mu sobat, cayhe masih ingin menjajal lagi"

"Waah... waaah.... tauke sudah memberi persen, sekarang mau diminta kembali?"

Seru si idiot sambil tertawa.

"baik, baiklah... biar aku kembalikan dengan benda lain"

Mendadak dia hajar pantat keledai itu, diiringi ringkikan kesakitan, keledai itu dengan kepala tertunduk langsung menerjang ke tubuh Li Lok-yang, saking kesakitannya terjangan binatang itu sangat cepat dan hebat.

Sambil mengebaskan ujung bajunya Li Lok-yang mengegos ke samping, menanti dia berpaling lagi, ternyata si manusia idiot itu sudah lenyap entah lari ke mana.

Keledai itu langsung menerjang masuk ke ruang tengah, dua orang pelayan buru-buru lari mendekat sambil mencoba menghentikan larinya binatang itu, meski kedua orang itu bertubuh kekar, ternyata mereka tidak mampu menahan tubrukan keledai itu, kontan tubuh mereka roboh terguling ke tanah.

Li Kiam-pek segera menghampiri keledai itu sambil bentaknya.

"Jangan kalian sakiti binatang itu, cepat buka bungkusan dipunggungnya, periksa apa isinya?"

Sementara itu semua orang sudah maju mengerubung, ternyata isi karung goni yang terikat kencang diatas pelana keledai itu adalah tiga sosok mayat dalam keadaan bugil.

Kulit tubuh ketiga sosok mayat itu telah berubah warna, mimik mukanya nampak mmnyeringai seram, kulit dan ototnya mengejang keras, tampaknya sebelum kematian mereka telah mengalami siksaan dan penderitaan yang luar biasa, tapi anehnya tidak dijumpai sebuah luka pun ditubuh mereka.

Ketika terendus bau busuk yang memualkan menyeruak keluar dari karung goni itu, buru-buru semua orang mundur berapa langkah.

"Mayat siapakah itu?"

Tanya Li Lok-yang kemudian. Semua orang hanya saling berpandangan kemudian menggeleng. Lama sekali Li Lok-yang termenung, akhirnya dengan suara keras serunya.

"Bagaimanapun juga, kita harus kirim ke tiga buah mayat itu ke halaman belakang, sediakan tiga buah peti mati dan kubur mereka dengan layak"

Ayah beranak ini selama hidup tidak pernah menyiksa hewan, merekapun tidak pernah memandang enteng orang yang sudah mati, boleh dibilang jiwa ksatria dan kebajikannya sangat mengagumkan.

Ketika semua orang balik kembali ke ruang tengah, Phoa Seng-hong yang selama ini hanya duduk terpekur tiba-tiba wajahnya berubah hebat, sambil mengangkat kepalanya dia menjerit kaget.

"Celaka!"

"Apa yang terjadi?"

Tanya Hek Seng-thian dan Suto Siau hampir bersamaan waktunya. Dengan sorot mata penuh ketakutan Phoa Seng-hong menuding keluar jendela, serunya dengan nada gemetar.

"Cepat! Cepat bakar ke tiga sosok mayat itu hingga menjadi abu, harus dibakar sampai habis"

"Kenapa?"

Tanya Li Lok-yang keheranan.

"Kita semua sudah tertipu"

Teriak Phoa Seng-hong sambil menghentakkan kakinya berulang kali.

"lelaki idiot itu tidak lain adalah Un sat kui cu (setan penyebar penyakit menular) dari Kiu cu Kui bo!"

"Apa? Setan penyebar penyakit menular?"

Seluruh tubuh Li Lok-yang bergoncang keras.

"Konon kedatangan orang itu selalu membawa penyakit menukar yang akan berakibat menjalarnya penyakit endemi diseluruh wilayah kota...."

Phoa Seng-hong menghela napas panjang.

"Sepuluh tahun berselang, perkumpulan cap pwee Lohan pang di kota Bu han yang begitu kosen dan besar pengaruhnya runtuh karena seluruh anggotanya mati tertular penyakit aneh, bisa dibayangkan betapa lihay dan menakutkan orang itu"

"Menjalarnya penyakit epidemi biasanya disebabkan oleh bencana alam"

Sela Li Kiam-pek tidak tahan.

"kekuatan apa yang dimiliki setan penyebar penyakit menular itu untuk menularkan penyakit jahat disebuah wilayah?"

Selama ini Bi lek hwee hanya membungkam mulut, lama-kelamaan dia tidak sabar juga, segera teriaknya pula.

"Apa pula yang terjadi dengan ke tiga sosok mayat itu? Kenapa kau minta membakarnya sampai ludas?"

"Setan penyebar penyakit menular pandai menggunakan pelbagai macam obat beracun, sewaktu menyebarkan penyakit menular, selain menggunakan air untuk media penularan, terkadang dia pun menyebar racun lewat makanan dan mayat manusia"

"Lohu makin mendengar semakin keheranan"

"Ke tiga sosok mayat itu jelas merupakan orang-orang yang tewas karena terjangkit penyakit sangat menular, bila seseorang bersentuhan dengan tubuh jenasah itu maka dia akan segera tertular pula jenis penyakit yang sama, seorang menulari sepuluh orang, sepuluh orang menulari seratus manusia, tidak sampai berapa hari kemudian semua manusia yang berada diwilayah ini dapat terjangkit punyakit menular itu!"

Belum selesai dia berbicara, paras muka semua jago telah berubah hebat. Li yok yang yang segera maju selangkah menghadang di depan pintu gerbang, serunya lantang.

"Cepat bakar jenasah jenasah itu sampai menjadi abu, kemudian pendam abu mereka didalam tanah, gali yang agak dalam!"

"Bukan cuma ke tiga sosok mayat itu yang harus dibakar sampai habis, selain itu semua orang yang barusan pernah bersentuhan dengan mayat itupun harus segera diusir dari sini"

Sambung Phoa Seng hong.

"Mengusir dari sini?"

Mendadak Li Lok-yang membalikkan tubuh sambil menghardik.

"apakah kau minta aku mengusir anak buahku agar mereka mati dibantai orang diluar sana?"

"Kalau tidak mengusir mereka dari sini, maka kita semua hanya akan menunggu mati karena tertular penyakit jahat itu, Kiu cu Kui bo pun tidak perlu susah susah turun tangan sendiri!"

Li Lok-yang tertegun, sampai lama sekali dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun sementara peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran.

Sorot mata semua orang sudah tertuju ke arahnya, tahu akan gawat dan seriusnya masalah, semua orang menantikan jawabannya.

Perlu diketahui, waktu itu ilmu pengobatan belum semaju jaman sekarang, sebagian besar jago persilatan sama sekali tidak mengetahui teori penyebaran sebuah wabah penyakit, oleh karena itu semua orang menganggap kejadian ini sebagai suatu peristiwa yang mengerikan dan penuh diliputi misteri.

Bila pada jaman itu ada orang terserang penyakit kolera atau penyakit pes, dapat dipastikan nyawa mereka pasti akan melayang tanpa ada kesempatan tertolong lagi.

Dengan menggunakan mayat dari orang yang mati karena terserang wabah penyakit menular itulah si setan penyebar penyakit menyebarkan bakteri jahat ke tubuh orang lain, pengetahuannya yang lebih maju daripada orang lain menghantarkan dirinya menjadi salah satu tokoh kenamaan dalam dunia persilatan.

Lama sekali Li Lok-yang termenung, tiba-tiba dengan kening berkerut serunya.

"Apa pun yang bakal terjadi, aku tidak bisa mengusir anak buahku untuk menghantar kematian diluar sana"

Air muka semua orang berubah makin hebat. Sambll tertawa dingin, Suto Siau segera berseru.

"Kalau begitu saudara Li memang berharap kita semua ikut mati lantaran tertular penyakit jahat itu?"

"Mati hidup ada ditangan takdir, sekalipun harus mati, kita tidak boleh meninggalkan nama busuk sebagai orang yang tidak bijak dan tidak setia kawan, jelek-jelek kita harus mati sebagai seorang lelaki ksatria"

"Dan pada mati dengan nama harum, mending hidup dengan nama busuk"

Sela Suto Siau ketus.

"bila saudara Li pingin mati, silahkan saja mati sendirian, cayhe sekalian mah tidak ingin menyumbangkan nyawa dengan percuma, saudara Hek, saudara Pek, saudara Phoa, betulkan perkataan siaute?"

"Tepat sekali"

Jawab Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan Phoa Seng-hong dengan wajah hijau membesi.

"Kalau begitu kau mau apa?"

Teriak Li Lok-yang keras. Suto Siau tertawa seram.

"Jika kau tidak segera menurunkan perintah, terpaksa cayhe sekalian akan merampas kekuasaanmu!"

Sambil berbicara dia memberi kode, lalu bersama Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu mengepung Li Lok-yang di tengah arena.

"Merampas kekuasaanku?"

Li Lok-yang berteriak keras.

"memang nya kalian ingin membunuh ku?"

"Jika keadaan memaksa, terpaksa cayhe sekalian harus berbuat begitu"

Mereka berempat mulai menggeser kakinya perlahan-lahan mendekati Li Lok-yang.

"Criiiing!"

Terdengar dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, Li Kiam-pek telah meloloskan pedangnya. Tiba tiba Hay Tay-sau menggebrak meja keras keras, teriaknya.

"Barang siapa berani mengusik Li Lok-yang ayah beranak, aku akan menghajarnya hingga terbelah dua"

Phoa Seng-hong membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia melancarkan sebuah serangan menghantam dada Hay Tay-sau.

"Bocah keparat"

Umpat Hay Tay-sau sambil tertawa seram.

"sudah cukup lama aku ingin menjagal dirimu"

Ditengah gelak tertawa dia melancarkan lima buah pukulan, tenaga serangannya keras lagi kuat bahkan disertai tenaga yang bisa menjebol batu karang.

Phoa Seng-hong dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya berkelit ke samping, dalam waktu singkat diapun telah melancarkan lima jurus serangan balasan.

Meskipun Phoa Seng-hong mempunyai julukan yang tidak sedap didengar, ternyata ilmu silat maupun gerakan tubuhnya sangat tangguh, langkah kakinya aneh tapi hebat, jauh diluar dugaan siapa pun.

Dipihak lain Li Kiam-pek telah terlibat pertarungan melawan Pek Seng-bu, terdengar angin pedang mendesir, cahaya senjata menggulung, bagaikan diamuk angin puyuh dan hujan lebat, seluruh angkasa diselimuti oleh cahaya tajam yang menggidikkan hati.

Sesudah bertarung berapa gebrakan, Pek Seng-bu merasa makin terkesiap, sekalipun dia tidak pernah memandang rendah kemampuan silat dari putra keluarga Li ini, namun mimpi pun dia tidak menyangka kalau kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki pemuda itu sudah mencapai tingkatan yang begitu mengerikan.

Li Lok-yang masih berdiri dengan sepasang lengan lurus ke bawah, mimik mukanya tetap tenang tanpa terdorong gejolak emosi, namun hawa murninya telah dihimpun menyelimuti seluruh tubuhnya.

Beberapa kali Hek Seng-thian dan Suto Siau ingin melancarkan gempuran, namun setelah menyaksikan ketenangan sikap yang di perlihatkan Li Lok-yang, untuk sesaat mereka jadi ragu dan tidak berani sembarangan turun tangan.

Pada saat itulah kembali terdengar suara langkah kaki berkumandang datang dari kejauhan, sebelas orang lelaki berbaju hitam dengan wajah berat dan serius, seakan akan sedang memikul beban ribuan kati melangkah naik ke atas undak undakan rumah.

"Mau apa kalian datang kemari?"

Dengan kening berkerut Li Lok-yang segera menegur. Lelaki yang berada dipaling depan menjawab dengan kepala tertunduk.

"Hamba sekalian telah membakar ketiga jenasah itu dan menguburnya, tapi karena kurang berhati hati, hamba semua telah bersentuhan dengan ketiga sosok mayat itu"

Lelaki ke dua segera menimpali.

"Kami minta kalian segera menghentikan pertarungan, dengarkan dulu sepatah dua patah kata hamba"

Baru selesai dia bicara, pertarungan seketika terhenti.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Tegur Li Lok-yang dengan nada berat.

"ayo cepat mundur dari sini!"

Lelaki yang berada dipaling depan menundukkan kepalanya makin rendah, katanya.

"Loya, kau tidak usah bertarung lagi melawan mereka hanya gara-gara keselamatan hamba sekalian, sudah banyak tahun hamba semua bekerja untuk loya, hamba semua tidak ingin menyusahkan dirimu lagi"

"Apa yang hendak kalian lakukan?"

Bentak Li Lok-yang dengan wajah berubah hebat.

"Kini hamba semua telah menjadi sumber pembawa bencana, kami semua tidak berani hidup terus di dunia ini, apalagi sebagai pembawa bencana yang akan mencelakai orang banyak"

Bisik lelaki itu sedih. Li Lok-yang semakin terharu, emosinya makin gejolak, teriaknya lantang.

"Kalian segera mundur dari sini, apapun akibatnya, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk melindungi kalian semua"

"Budi yang loya dan kongcu berikan kepada hamba semua berat bagai bukit karang, hamba semua...."

Tiba-tiba perkataan lelaki itu berubah jadi sesenggukan, butiran air mata jatuh berlinang. Lelaki yang ke tiga segera berkata pula.

"Sekarang posisi hamba sekalian sudah terjepit, kami tidak bisa mengikuti loya dan kongcu lagi, kami tidak bisa berbakti lagi...."

"Betul, betul sekali"

Timbrung Phoa Seng-hong cepat.

"jika kalian masih setia kepada Li toako, tidak seharusnya mendatangkan kesulitan baginya, lebih baik cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!"

"Tidak perlu kau banyak ngebacot!"

Bentak Li kiam pek gusar. Tiba-tiba lelaki ke empat mengangkat lengannya tinggi-tinggi, kemudian serunya.

"Loya dan kongcu berada diatas, terimalah penghormatan terakhir dari hamba mu!"

Ditengah seruan nyaring, ke sebelas orang lelaki itu serentak menjatuhkan diri berlutut.

"Mau apa kalian?"

Teriak Li Lok-yang pedih.

"tanpa perintahku, siapapun di antara kalian tidak boleh mati, mengerti?"

"Maafkan kami loya, kali ini terhamba hamba semua akan melawan perintahmu"

Ujar lelaki pertama sambil terisak.

"sekalipun hamba akan mati dan jadi setan, kami tetap akan berusaha melindungi loya"

"Kalian segera bangkit berdiri"

Hardik Li Lok-yang sambil menghentakkan kakinya.

Tiba-tiba terlihat raut wajah lelaki itu mengeong keras, percikan darah segar menyembur keluar dari dada dan lambungnya, sambil mundur dengan gontai dia tertawa seram.

"Saudara semua, aku berangkat duluan!"

Ke sepuluh orang lelaki sisanya ikut tertawa sedih sambil berseru.

"Loya, hamba berangkat duluan"

Masing masing orang segera menghantam ke dada sendiri dengan telapak"

Tangan, semburan darah segar pun menggenangi permukaan lantai.

Rupanya sejak awal mereka telah sembunyikan pisau belati tajam dibalik ujung bajunya, ketika pisau itu menghujam ke dada hingga tinggal gagangnya, biar Li Lok-yang memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali orang sekarat pun tidak mungkin bisa selamat kan nyawa mereka lagi.

Li Kiam-pek tidak kuasa menahan rasa sedihnya, dia peluk mayat anak buahnya sambil menangis tersedu sedu.

Li Lok-yang sendiripun berdiri kaku bagai mayat hidup, hanya butiran air mata yang meleleh keluar membasahi pipinya.

Suto Siau, Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu hanya berdiri mematung, sikap ksatria yang diperlihatkan kawanan lelaki itu membuat mereka terperana, sampai lama sekali, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Kini suasana amat hening, kecuali angin yang berhembus lewat tak kedengaran suara yang lain.

Di tengah halaman luar terlihat gerombolan manusia masih saling berdesakan disitu, ada yang merupakan pedagang permata yang belum sempat pergi, ada pula anak buah keluarga Li.

Tapi sebagian besar orang orang itu berdiri dengan mata berkaca, bahkan ada pula yang wajahnya telah basah oleh air mata.

Thiat Tiong-tong berdiri jauh disudut ruangan, kendatipun air mata tidak sampai meleleh keluar namun pancaran sinar matanya penuh mengandung penderitaan yang dalam.

Sebuah pertikaian yang sebenarnya amat sederhana telah dia ciptakan menjadi satu masalah yang pelik, masalah yang membuat banyak nyawa tidak berdosa harus melayang dengan percuma.

Sekalipun dia berbuat begitu demi kesetiaannya terhadap perguruan, namun berbicara soal liangsim, dia merasa amat menyesal dan bersedih hati.

Sekarang dia baru sadar, bunuh membunuh yang terjadi dalam dunia persilatan ternyata merupakan satu peristiwa yang kejam dan penuh penderitaan.

Sampai semua orang sudah pada bubaran, dia masih berdiri kaku disitu, mengawasi sesosok demi sesosok mayat yang berlumuran darah digotong pergi melalui hadapannya.

Sekonyong-konyong terdengar suara genta yang dibunyikan bertalu-talu berkumandang dari kejauhan, suara itu tinggi meleng-king dan tajam sekali.

Menyusul kemudian terdengar suara seorang bocah bersenandung dari tempat kejauhan dengan suara yang nyaring.

"Bila lonceng kematian berdentang, ayam anjing tersapu punah, Li Lok-yang wahai Li Lok-yang.... apakah hatimu bimbang?"

"Aku akan beradu nyawa dengan kalian!"

Bentak Li Kiam-pek nyaring.

Sambil memutar pedangnya dia siap menerjang keluar, tapi belum sampai kakinya melangkah keluar dari pintu, dia sudah ditarik kembali oleh seseorang.

Memandang dari tempat kejauhan, kembali Thiat Tiong-tong melihat Phoa Seng-hong berjalan keluar ke undak-undakan diluar pintu gerbang, lalu sambil bergendong tangan dia memandang ke arahnya sambil tersenyum dan memberi hormat.

Sekali lagi pemuda ini merasakan hatinya amat pedih, cepat dia membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke halaman belakang.

Waktu itu Im Ceng sedang berdiri dibawah pohon waru tepat di depan halaman rumahnya, dia sedang mengawasi tirai yang berada ditengah halaman, Thiat Tiong-tong dapat menangkap sorot matanya yang pedih bercampur gusar, mendadak setelah meninju batang pohon keras keras, pemuda itu membalikkan tubuh dan kabur dari situ.

Thiat Tiong-tong termenung lama sekali, dia baru tersadar ketika mendengar suara senandung bergema dari balik tirai.

"Sunyi sepi loteng barat seorang diri, rembulan bersinar bagai sabit, Pohon tinggi halaman nan sepi, Kugunting tidak putus, kuatur tetap kalut, Inikah kesenduan dari sebuah perpisahan? Inilah perasaan yang menyiksa di hati?"

Itulah bait syair yang dipelajari Sui Leng-kong sejak berapa hari berselang, bait lagu yang sedang disenandungkan dengan nada yang begitu pedih dan menggetarkan hati, mendatangkan suatu perasaan berpisah yang amat sedih dan pedih.

Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat, seakan-akan timbul sebuah firasat jelek dari dalam hatinya.

Dengan langkah lebar dia menerjang masuk ke dalam tenda, segera terlihat olehnya Un Tay-tay sedang bersandar di bangku utama sementara Sui Leng-kong dan Cian-jin berdiri jauh di sudut ruangan.

Dibawah kaki mereka berdua terlihat dua buah buntalan kecil, pakaian yang mereka kenakan pun amat sederhana, malah tusuk konde mutiara yang semula dikenakan disanggul Sui Leng-kong, kini sudah tidak nampak.

"Mau apa kalian?"

Tegur Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

"Nona mau pergi, maka akupun akan menemani nona pergi dari sini"

Jawab Cian-jin dengan kepala tertunduk. Thiat Tiong-tong menyerbu masuk ke dalam, serunya lagi dengan nada gemetar.

"Kau benar-benar akan pergi?"

Sui Leng-kong manggut-manggut.

"Inilah surat yang ditinggalkan nona"

Sambung Cian-jin sambil menyodorkan secarik kertas. Thiat Tiong-tong segera merampas kertas itu dnn membaca isinya.

"Aku sudah tidak kesepian lagi, aku ingin pergi, aku tidak mau menjadi adikmu tapi aku hanya bisa menjadi adikmu, bukankah lebih baik pergi dari sini?"

"Kenapa kau tidak mau menjadi adikku? Kenapa kau harus pergi?"

Teriak Thiat Tiong-tong dengan suara keras.

Perlahan-lahan Sui Leng-kong mendongakkan kepalanya, butir air mata meleleh dari kelopak matanya.

Meski dia tidak bicara namun dari tetesan air matanya Thiat Tiong-tong dapat membaca suara hatinya, dapat melihat rasa cinta yang mendalam dari gadis tersebut.

Perasaan hatinya mendadak bergetar keras, dia mundur berapa langkah dan terduduk diatas bangku.

Benar, dia tidak ingin menjadi adiknya karena yang dia butuhkan adalah semacam rasa cinta yang jauh lebih mendalam.

Tapi, dia tidak sanggup memberikan apa yang diharapkan semen-tara nona itupun tidak bisa menerima apa yang bisa dia berikan.

Maka gadis itupun memutuskan untuk pergi, pergi meninggalkan tempat itu.

Perlahan-lahan dia menggerakkan langkahnya, ketika lewat disamping Un Tay-tay, bisiknya lirih.

"Kau.... kau harus baik baik menjaga.... menjaganya!"

Perkataan itu diucapkan dengan lelehan air mata, ungkapan perasaan yang amat memedihkan.

"Adikku, kau tidak usah kuatir"

Jawab Un Tay-tay sambil tertawa ringan.

"enso pasti akan menjaganya baik-baik"

Dengan kepala tertunduk Sui Leng-kong berjalan keluar dari tenda. Terdengar dia berkata lagi dengan nada sesenggukan.

"Semua.... semuanya ini memang... memang milik.... milikmu.... kau.... kau...."

Ketika perkataan terakhir diucapkan, suara itu sudah berada ditempat yang amat jauh.

Bagaikan seorang panglima perang yang baru kalah dimedan laga, seluruh badan Thiat Tiong-tong terasa lemas tidak bertenaga, perasaan kosong dan hampa yang dia rasakan sulit diungkap dengan kata-kata dan tidak mungkin bisa dirasakan siapa pun.

Lama, lama kemudian tiba-tiba Un Tay-tay menegur sambil tertawa.

"Orangnya sudah pergi jauh, Thiat Tiong-tong, apa lagi yang kau sedihkan?"

Kata "Thiat Tiong-tong' bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.

Thiat Tiong-tong merasakan telinganya mendengung keras, dengan kaget dia melompat bangun, sambil melompat ke depan perempuan itu hardiknya.

"Darimana kau bisa mengetahui namaku?"

"Thiat Tiong-tong!"

Dengan tenang Un Tay-tay mengupas jeruk sambil menikmatinya dengan santai.

"keberhasilanmu melawan si jago pedang berhati ungu dan kehebatanmu kabur dari kepungan berlapis telah membuat namamu tersohor dalam dunia persilatan, masa kau belum tahu?"

Dengan satu gerakan cepat Thiat Tiong-tong menggerakkan telapak tangannya mencengkeram sepasang bahu wanita itu, kembali hardiknya.

"Mau bicara tidak?"

Ketika cengkeramannya diperketat, sepasang bahu Un Tay-tay seolah hendak remuk saja, jeruk yang berada dalam genggamannya ikut terjatuh ke lantai. Tapi dia masih tertawa santai, katanya lembut.

"Lepaskan dulu tanganmu, aku akan bicara"

"Kau berani menantangku?"

Thiat Tiong-tong semakin gusar.

"aku bukan orang yang sudi ditantang apalagi diancam, jika kau tidak segera menjawab, akan kujagal dirimu hidup-hidup"

Un Tay-tay tertegun, dia merasakan sepasang bahunya sakit bagaikan diiris-iris, dia memang malah terbiasa mengancam orang bila menghadapi setiap persoalan, tidak disangka hari ini dia justru bertemu dengan lelaki kaku yang tidak sudi diancam.

Senyuman diwajahnya hilang lenyap seketika, jawabnya dengan suara gemetar.

"Adikmu yang mengatakan"

"Apa yang dia katakan?"

Teriak Thiat Tiong-tong gusar.

"Ketika kau sedang pergi tadi, dia selalu bergumam memanggil namamu, begitu mendengar suara gumamannya, aku segera menebak kalau kau adalah penyaruan dari Thiat Tiong-tong"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, perlahan dia mengendorkan cengkeramannya. Sambil tertawa genit kembali Un Tay-tay melanjutkan.

"Lagipula.... seharusnya sejak awal aku sudah bisa menduga kalau kau tidak mungkin seorang kakek peyot, seluruh kulit, daging dan ototmu masih kencang dan keras, sama sekali belum mengendor...."

Perempuan ini benar benar seorang perayu lelaki yang ulung dan berpengalaman, dalam keadaan seperti ini dia mampu menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Thiat Tiong-tong sambil berbisik.

"Sebenarnya macam apa sih kenyataanmu, coba biar kuperiksa...."

Belum selesai dia berkata, Thiat Tiong-tong telah mengayunkan kembali tangannya menghadiahkan sebuah tamparan.

"Mau apa kau?"

Jerit Un Tay-tay kaget. Kembali Thiat Tiong-tong mengayunkan tangannya sekali lagi, bentaknya.

"Thiat Tiong-tong hanya ada ketika tidak ada orang, mengerti?"

Mendadak Un Tay-tay tertawa cekikikan.

"Orang ganteng, kau memang bodoh. Mulai sekarang aku akan mengikuti dirimu terus, masa aku tega mencelakaimu?"

Katanya. Thiat Tiong-tong mendengus dingin. Tiba tiba dari luar tenda terdengar seseorang berseru.

"Lo sianseng, apakah kau ada di dalam? Cayhe Li Kiam-pek ingin minta petunjukmu"

Thiat Tiong-tong segera mendorong tubuh Un Tay-tay sambil berseru.

"Silahkan masuk"

Li Kiam-pek menyingkap tirai sambil melangkah masuk ke dalam, ujarnya lagi sambil menjura.

"Semua tamu telah pergi meninggalkan tempat ini, cayhe mendapat perintah dari ayah untuk menghantar lo sianseng berangkat meninggalkan tempat ini"

"Ooh, jadi kau sedang mengusir tamu?"

Tegur Thiat Tiong-tong ketus.

"Bukan, bukan sedang mengusir tamu, melainkan hanya niat baik dari ayahku saja"

Kata Li Kiam-pek sambil menghela napas panjang.

"Sebentar lagi pertempuran bakal berkobar, bila lo -sianseng tidak...."

"Hmmm! Maksud baik apa"

Tukas Thiat Tiong-lung gusar.

"Pentang matamu lebar-lebar, memangnya kau anggap lohu adalah manusia yang bisa datang ketika diundang dan pergi waktu diusir?"

"Lo sianseng, ucapanmu kelewat serius!"

Dengan kening berkerut Li Kiam-pek tertawa dingin. Un Tay-tay segera menarik ujung baju Thiat Tiang-tong sambil berbisik.

"Kenapa sih kau tidak mau pergi? tempat ini...

"Kau tidak usah ikut campur"

Tukas Thiat Tiong-tong sambil menyingkirkan tangannya.

"lohu justru sengaja mau tetap tinggal disini, mau apa kalian?"

"Yaa sudah, mau pergi atau tidak, urusanmu sendiri"

Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang lagi bunyi genta yang dibunyikan bertalu-talu. Menyusul suara genta tadi, teriakan si bocah lelaki itu bergema kembali.

"Lonceng ke dua telah berbunyi, jalan tertutup ransum terputus, setengah langkah keluar dari pintu, ditanggung nyawa akan melayang!"

Berubah hebat paras muka Li Kiam-pek setelah mendengar ucapan tersebut, katanya.

"Sekarang mau pergi pun jangan harap kau bisa pergi lagi"

"Bagaimana baiknya sekarang?"

Seru Un Tay-tay dengan wajah pucat.

"kami adalah tamu kalian, sudah sepantasnya bila keluarga Li berusaha melindungi keselamatan kami"

Li Kiam-pek menghela napas panjang sambil berlalu dari situ. Tampak ke dua orang bocah lelaki itu berlari masuk dari luaran sambil berteriak gugup.

"Mereka telah pergi semua!"

"Siapa yang telah pergi?"

Tanya Un Tay-tay.

"Kusir kereta dan koki sudah pada kabur, enci Cian-jin juga telah pergi, loya, kenapa kau belum pergi?"

Bocah lelaki yang lain segera menambahkan dengan nada kuatir.

"Coba kau lihat halaman rumah yang lain, kini hampir semuanya kosong tidak berpenghuni, hawa kematian serasa menyelimuti setiap tempat, sungguh membuat hati ngeri dan takut"

Sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel Un Tay-tay ikut berkata.

"Padahal kau adalah orang pintar, kenapa mesti melakukan tindakan yang amat bodoh? Asal kabur dari sini, bukankah tidak ada urusan lagi, bahkan sambil bergendong tangan bisa menyaksikan musuhmu satu per satu mampus dalam perkampungan ini, sampai waktunya bukan cuma dendammu bisa terbalas, orang yang kau inginkan pun dapat diperoleh, bukankah hal tersebut sangat menyenangkan?"

Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya.

"Siapa sangka kau justru bersikeras ingin tetap tinggal disini, memangnya kau senang menemani musuh-musuh besarmu itu untuk mati bersama?"

"Hmm! Jika disini hanya tersisa musuh-musuh besarku, sejak awal aku sudah pergi meninggalkan tempat ini, jangan lagi tetap tinggal disini, biar kau tarik lenganku pun jangan harap aku mau berada disini"

Kata Thiat Tiong-tong dingin.

"Memangnya kau tinggal disini demi Li Lok-yang, Hay Tay-sau sekalian""

Seru Un Tay-tay keheranan.

"waah, ini aneh sekali namanya, masa kau mempunyai hubungan yang akrab dengan mereka?"

"Sekalipun tidak mempunyai hubungan yang akrab, tapi mereka adalah jago-jago berhati lurus dan bersih, terhadap kawanan manusia jahat berhati busuk, aku bisa saja menggunakan cara yang paling keji untuk menghadapi mereka, tapi terhadap para ksatria berhati lurus, aku hanya mempunyai sebuah cara saja"

"Apa caramu?"

"Menghadapi mereka dengan kejujuran dan kesetiaan!"

Un Tay-tay tertegun berapa saat lamanya, lama kemudian dia baru menghela napas sambil bergumam.

"Goblok, benar-benar goblok!"

Meskipun mulutnya bergumam terus, namun tidak sepatah kata pun berani diucapkan.

Ke dua orang bocah lelaki itu hanya tertegun sambil mengawasi perempuan itu dengan mata terbelalak besar.

Setelah tercekam dalam suasana yang amat hening berapa saat lamanya, tiba-tiba terdengar lagi tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di udara, disusul kemudian suara hentakan manusia serta suara langkah kaki yang ramai, bahkan secara lamat-lamat terdengar pula suaara desingan anak panah yang memenuhi angkasa.

Terdengar seseorang dengan suara parau berlarian sambil berteriak.

"Celaka, celaka, semua hewan yang berada dalam kandang telah mati secara mengerikan!"

Teriakan tersebut penuh dicekam perasaan ngeri bercampur seram, berkumandang dari arah belakang menuju ke ruang depan.

Dua orang bocah lelaki itu saling bertukar pandangan sekejap, kendatipun mereka berdua termasuk bocah cerdas yang memiliki kepintaran luar biasa, bagaimana pun usia kedua orang itu masih kelewat muda, setelah mendengar jeritan ngeri yang begitu menyayat hati, tidak urung tubuh mereka gemetar juga saking takutnya.

Dengan wajah pucat seru Un Tay-tay.

"Bagaimana baiknya sekarang? Hey,kenapa kalian masih belum juga membenahi semua intan permata serta barang barang berharga itu? Jika kekacauan sudah terjadi, kalian bakal tidak sempat bebenah"

"Hmm! Kalau orang pun hampir mampus, apa gunanya barang berharga itu?"

Dengus Thiat Tiong-tong dingin. Un Tay-tay tertegun, tiba-tiba dia mulai menangis, sambil menubruk ke dalam pelukan pemuda itu serunya berulang kali.

"Aku tidak mau mati, aku tidak pingin mati, kau harus menjamin agar aku tidak sampai mati...."

Thiat Tiong-tong sekali lagi mendengus dingin, dia segera mendorong tubuh perempuan itu dari pelukannya. Suara genta kembali bergema, sang bocah pun kembali bersenandung.

"Bunyi genta untuk ke tiga kalinya, malaikat maut telah tiba, persiapkan peti mati dan bersiaplah berangkat ke tanah pekuburan!"

Dua orang bocah lelaki itu mulai menggigil keras saking takutnya, mereka berdua berdiri saling merapatkan badan.

Pada saat itulah Li Kiam-pek yang berpakaian ringkas menyelinap masuk lagi sambil berseru.

"Kekacauan segera akan terjadi, semua orang dipersilahkan berkumpul di ruang utama, kita harus bersatu padu melakukan perlawanan"

Un Tay-tay seketika menghentikan isak tangisnya, serunya.

"Kalau kami semua berkumpul di ruang Utama, bagaimana dengan barang-barang ini?"

Biarpun kematian sudah di depan mata, ternyata perempuan ini masih belum dapat melupakan intan permata dan barang-barang ber harga itu.

"Semua barang yang tertinggal disini akan kami uruskan"

Sahut Li Kiam-pek dingin.

"asal kita semua belum mati, kujamin barang kalian tidak bakal ada yang hilang"

Thiat Tiong-tong termenung sejenak, katanya kemudian.

"Kalau begitu ayoh kita berkumpul!"

Maka berangkatlah mereka semua meninggalkan tenda menuju ke ruang utama, waktu itu satu pasukan lelaki kekar berbaju hitam bersenjata golok dan tombak telah mengepung sekeliling ruangan itu rapat-rapat.

Li Lok-yang telah menghimpun seluruh kekuatan yang dimilikinya ditempat tersebut.

Cahaya senja masih memancarkan sinarnya yang kemerah-merahan, ketika cahaya itu menimpa ujung golok segera terhiaslah sinar yang menyilaukan mata.

Paras muka semua orang nampak serius dan berat, biarpun mendekati seratusan orang yang berkumpul diseputar halaman gedung, namun tidak kedengaran suara apapun kecuali suara langkah kaki yang bergeser.

Semua lampu yang ada di ruang utama telah dinyalakan, ditengah senja yang redup, cahaya lentera itu kelihatan suram, membuat ruang utama yang sangat luas nampak lebih menyeramkan dan menggidikkan hati.

Meja kursi yang semula memenuhi ruang utama, kini ada sebagian besar telah disingkirkan, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau sedang berkumpul disebuah sudut ruangan sambil berbisik-bisik merundingkan sesuatu, entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Bi lek hwee serta si bintang pembunuh sedang menikmati arak langsung dari dalam guci, beberapa kali mereka perdengarkan gelak tertawa yang amat keras, suara tertawa yang memecahkan keheningan.

Phoa Seng-hong duduk seorang diri disisi meja dari Li Lokyang, saat itu dia sedang menggotong mata pedangnya dengan seksama, entah berapa kali dia sudah menggosok hingga mata pedangnya nampak berkilat tajam.

Im Ceng hanya berdiri di depan gedung tanpa berbuat apa-apa, ketika melihat kemunculan Thiat Tiong-tong dan rombongan, tiba-tiba dia membalikkan tubuh sambil masuk ke dalam, mencabut keluar pedangnya, duduk persis dihadapan Phoa Seng-hong dan mulai menggosok pedangnya.

Mendadak Li Lok-yang berkata dengan suara dalam.

"Aku sudah bersiap-siap melakukan pertahanan ditempat ini, meskipun tidak tahu bisa bertahan sampai kapan, akupun tidak tahu apakah pertahanan ini bakal jebol atau tidak, tapi sudah kuputuskan akan melawan mereka hingga titik darah penghabisan"

Dengan sorot matanya yang tajam dia menyapu sekejap wajah semua orang yang hadir, kemudian lanjutnya.

"Kini kalian semua berada ditempat ini, berarti bukan saja akan menderita bersama bahkan akan mati hidup bersamaku!"

"Memang seharusnya begitu!"

Seru Hay Tay-hau sambil menggebrak meja keras-keras. Dengan pandangan berterima kasih Li Lok-yang memandang sekejap ke arahnya, kemudian lanjutnya.

"Oleh sebab itu di saat kesulitan belum lewat, terpaksa kalian tidak akan peroleh pelayanan yang sepantasnya"

"Apalah artinya tidak peroleh pelayanan yang pantas!"

Seru Bi-lek hwee pula sambil menggebrak meja.

"Hahahahaha.... bagus, bagus sekali"

Seru Li Lok yang sambil tertawa tergelak.

"asal kita benar-benar dapat bekerja sama dengan baik, biar menang kalah belum ketahuan hasilnya, saudara sekalian, mari kita bersantap dulu, setelah kenyang bersantap kita baru persiapkan diri untuk menghadapi pertarungan berdarah!"

Suara jawaban bergema gegap gempita, tidak lama kemudian muncul berapa orang lelaki berbaju hitam yang segera menyiapkan meja berjamuan ditengah ruangan.

Sejak dicekam perasaan gelisah, ngeri dan kuatir, sebagian besar orang seakan sudah lupa untuk bersantap, kini begitu mengendus bau harumnya hidangan dan arak, kontan saja semua orang mulai merasakan perutnya keroncongan.

Thiat Tiong-tong memandang keluar sekejap, tiba-tiba ujarnya dengan suara dingin.

"Semua hewan yang ada di kandang telah mati keracunan, jika dalam hidangan itupun dicampuri racun, bukankah kita semua bakal mampus seperti hewan hewan di halaman belakang?"

"Semua hidangan dibuat dibawah pengawasan serta penjagaan yang sangat ketat"

Sahut Li Kiam-pek cepat.

"kecuali Kiu cu Kui bo memiliki kepandaian yang luar biasa, kalau tidak, dengan cara apa dia akan meracuninya?"

"Kiu cu Kui bo memiliki banyak macam cara untuk menyebarkan racun jahatnya"

Kata Phoa Seng-hong pula.

"kemampuannya meracuni orang sangat hebat dan diluar dugaan, memang lebih baik jika kita bersikap lebih berhati-hati!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dari sakunya Li Lok-yang telah mengeluarkan sebatang jarum berwarna perak dan dicelupkan pada hidangan tersebut, dalam waktu singkat jarum perak itu berubah jadi hitam pekat.

Berubah hebat paras muka semua orang, Li Lok-yang sendiripun nampak tertegun, akhirnya dengan wajah tidak habis mengerti dia menengok ke arah Li Kiam-pek.

"Apa yang telah terjadi?"

Seru Li Kiam-pek pula keheranan. Phoa Seng-hong menghela napas panjang.

"Aaai, aku rasa mereka telah menebarkan racun dalam setiap sumur yang ada disini"

Katanya.

"Biar kuperiksa"

Seru Li Kiam-pek sambil berlari keluar.

Semua orang saling berpandangan tanpa bicara, suasana hening pun mencekam seluruh ruang gedung.

Tidak selang berapa saat kemudian Li Kiam-pek sudah muncul kembali dengan wajah gelisah bercampur cemas.

"Ternyata benar juga"

Serunya.

"ke empat sumur utama yang ada dalam gedung telah diracuni mereka!"

"Kalau begitu dalam nasi pun pasti ada racunnya"

Sambung Phoa Seng-hong.

"Betul-betul manusia berhati iblis"

Umpat Hek Heng thian gusar.

"memangnya dia ingin kami semua mati kelaparan disini? Saudara Li, bagaimana kalau kita sembelih ayam dan bebek lalu dipanggang saja tanpa menggunakan air?"

Li Kiam-pek menghela napas panjang.

"Semua ayam, itik, babi dan kambing yang kami miliki telah mati keracunan"

Katanya.

Sekujur tubuh Hek Seng-thian bergetar keras, dia tidak banyak bicara lagi.

Mengawasi hidangan lezat yang menyiarkan bau harum semerbak, namun tidak dapat di santap, kontan saja semua orang merasa semakin kelaparan dan amat tersiksa.

Harus diketahui manusia adalah besi, nasi adalah baja, biarpun seorang enghiong hohan, sulit baginya untuk menahan rasa lapar.

Paras muka Li Lok-yang dingin bagaikan es, setelah termenung sambil berpikir berapa saat mendadak teriaknya keras.

"Kiam-pek, perintahkan orang untuk mencari semua telur ayam dan telur itik yang masih tersisa, kemudian ambil arak yang tersimpan di gudang bawah tanah!"

Li Kiam-pek menyahut dan segera berlalu.

"Bagus, bagus sekali"

Seru Hay Tay-sau pula sambil tertawa.

"telur ayam, telur itik, arak segelan di gudang bawah tanah, benda seperti ini tidak mungkin bisa diracuni biar dilakukan seorang malaikat pun. Hahahaha.... kalau begitu kita semua tidak perlu mati kelaparan lagi!"

Dengan termangu Li Lok-yang mengawasi para anak buahnya yang berada di halaman luar, air mukanya berubah makin berat dan serius.

Tidak selang berapa saat kemudian Li Kiam-pek telah mengangkut semua telur dan arak yang ada ke dalam ruangan.

Keluarga Li merupakan sebuah keluarga kaya raya, tentu saja simpanan araknya sangat banyak, ketika ditumpuk ke dalam ruangan hampir memenuhi separuh ruangan lebih, tapi telur yang berhasil dikumpulkan tidak lebih hanya dua keranjang, ditambah satu keranjang besar berisi daging ayam asap serta ikan asin.

"Hanya sebanyak ini?"

Tanya Li Lok-yang sambil menghela napas sedih.

"Semua sayuran yang akan dipergunakan di dapur, sebagian besar dibeli pada hari itu juga...."

Li Lok-yang kembali menghela napas panjang, tukasnya.

"Ada berapa banyak telur ayam yang berhasil dikumpulkan?"

"Tadi sudah kusuruh orang menghitung, jumlah keseluruhan ada lima ratus tujuh puluh dua butir!"

"Lima ratus tujuh puluh dua butir?"

Seru Phoa Seng-hong sambil tertawa.

"itu hanya cukup untuk menangsel perut selama berapa hari!"

"Hengtay jangan lupa"

Sela Li Lok-yang dingin.

"Dihalaman luar masih terdapat seratus dua puluhan saudara, mereka pun butuh telur itu untuk mengisi perutnya"

Phoa Seng-hong tertegun, akhirnya dia terduduk kembali di bangkunya, sekujur tubuh terasa sangat lemas. Setelah menghela napas kembali Li Lok-yang berkata.

"Beruntung, setiap tahun keluargaku bersama para dayang, tentu pergi ke kuil untuk pasang hio, kalau tidak, aaai! Tidak bisa kubayangkan bagaimana situasinya saat itu"

Tiba-tiba Suto Siau menyela.

"Barusan cayhe telah membuat perhitungan, disini terdapat seratus empat puluh orang, berarti setiap orang mendapat jatah empat butir telur dan masih tersisa dua belas butir"

"Henglay, cermat amat perhitunganmu...."

Seru Li Lok-yang sambil tertawa. Mendadak Phoa Seng-hong bangkit berdiri, teriaknyanya.

"Kami adalah tamu dari keluarga Li, apakah kitapun harus mengalami nasib yang sama dengan para budak dan pelayan itu?"

"Mereka semuapun dilahirkan oleh ayah dan ibunya, sama seperti kita semua, kenapa mereka tidak pantas memperoleh perlakuan yang sama dengan kita?"

"Sekalipun sama-sama manusia, toh tingkat sosial kita jauh berbeda"

Teriak Phoa Seng-hong.

"Apanya yang beda?"

Sela Hay Tay-sau gusar.

"justru para saudara dari Li toako jauh lebih berperikemanusiaan ketimbang dirimu, apalagi kalau dinilai dari jiwanya yang berbudi serta kesetiaan mereka, Hmmm! Orang-orang itu justru jauh melebihi watak busukmu"

Phoa Seng-hong tertawa dingin.

"Hmm, sudah tahu kalau dalam keadaan seperti ini tidak mungkin orang lain membiarkan kita bertarung, kau sengaja memanasi hatiku dengan kata-kata busukmu...."

"Sekalipun tidak berada dalam situasi seperti sekarangpun, aku tetap akan mengucapkan perkataan itu"

"Sudahlah, kalian berdua tidak usah ribut lagi"

Tukas Li Lokyang sambil menghela napas.

"sisanya yang dua belas butir bisa dibagi rata khusus untuk mereka yang ada di ruangan ini"

"Hahahaha...."

Hay Tay-sau tertawa tergelak.

"aku bukan sedang rebutan jatah telur, aku hanya merasa tidak tahan mendengar suara kentut busuk dari bajingan itu"

Li Lok-yang segera perintahkan orang untuk membuat empat onggok api unggun ditengah halaman dan menumpangkan empat buah wajan raksasa diatasnya, untuk menggodok telur mereka tidak berani menggunakan air sumur yang sudah keracunan, maka digunakan bekas air cuci muka yang dipergunakan kemarin.

Ketika telur sudah matang dan dihantar ke ruang tengah, benar saja, setiap orang mendapat jatah lima butir.

Hay Tay-sau segera mengambil jatah telurnya dan membuka guci arak, seteguk minum arak satu gigitan makan telur, dalam waktu sekejap dia sudah menghabiskan ke lima butir telur jatahnya.

Bi lek hwee kelihatan sedikit sangsi ketika habis makan telur ke empat, tapi setelah meneguk berapa cawan arak, akhirnya dia pun menghabiskan telur yang ke lima, setelah itu dia mulai tidur diatas meja.

Sambil menghela napas Phoa Seng-hong mengupas sebutir telur, diamatinya dulu dengan seksama lalu dipotong jadi delapan bagian dan dimakan dengan perlahan, sementara ke empat butir telur lainnya disimpan ke dalam saku dengan hati-hati.

Orang lain ada yang cuma makan dua butir, ada pula yang makan tiga butir, kawanan jago yang sudah terbiasa bersantap mewah ini meski hari ini mesti makan telur ayam yang tawar tidak ada rasanya, ternyata semua orang bisa menaikmatinya dengan puas.

Sambil tertawa tergelak kembali Hay Tay-sau berseru.

"Hahahaha,.... baru hari ini aku tahu ternyata telor ayam godok pun rasanya sangat nikmat"

Hanya Im Ceng seorang yang duduk sambil makan sebutir telur, sorot matanya seakan tidak sengaja melirik sekejap ke arah Un Tay-tay yang duduk disamping Thiat Tiong-tong, akhirnya dia tidak sanggup lagi untuk makan butir telur ke dua.

Seorang diri dia menghabiskan separuh guci arak, ketika paras mukanya mulai berubah jadi merah padam akhirnya dia mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Un Tay-tay dengan main melotot.

Malam semakin larut, sudah tidak terdengar suara pembicaraan manusia dalam ruang utama, api unggun di halaman luarpun sudah padam, kegelapan malam yang sepi membuat suasana ditempat itu terasa makin berat dan mencekam.

Sepintas lalu semua orang yang ada dalam diruang utama seakan sudah terlelap tidur, padahal tidak seorangpun benar-benar bisa memejamkan matanya.

Berulang kali Phoa Seng-hong merogoh kedalam sakunya meraba ke empat butir sisa telur ayamnya, tapi setelah di keluarkan, dipandang sekejap akhirnya dimasukkan kembali ke dalam saku.

Ketika tengah malam sudah lewat, akhirnya Im Ceng roboh dalam keadaan mabuk berat, dia bersandar dimeja sementara mulutnya mengigau berulang kali, ketika didengarkan dengan seksama, lamat-lamat terdengar kalau dia sedang memanggil nama Un Tay-tay.

Thiat Tiong-tong duduk bersandar dibangku dengan mata terpejam, namun hatinya terasa sedih dan amat tersiksa.

Dengan langkah kaki yang ringan Li Lok-yang berpatroli kian kemari, tiba-tiba terdengar Li Kiam-pek bertanya.

"Ayah, kau tidak tidur sebentar?"

"Tidurlah, ayah tidak bisa tidur!"

"Ananda juga tidak bisa tidur, mungkinkah mereka akan datang pada malam ini?"

Sambil menghela napas Li Lok-yang gelengkan kepalanya berulang kali, dia berjalan menuruni undak-undakan di depan gedung dan memandang sekejap sekawanan lelaki kekar yang hampir semuanya sedang mengawasi dinding pekarangan dengan mata melotot.

"Semoga mereka melancarkan serangan pada malam ini"

Mendadak terdengar Suto Siau berbisik dari belakang.

"mumpung kami semua masih punya semangat bertarung, kalau tidak, cukup dua hari saja, mungkin.... aaai!"

"Yaa, kalau dua hari lagi mereka belum datang juga, terpaksa kita harus menyerbu keluar"

Jawab Li Lok-yang sedih.

"Musuh berada di kegelapan sementara kita berada ditempat terang, jika bersikeras hendak menyerbu keluar, mungkin lebih banyak bahayanya daripada selamat, lagipula.... bukankah saudara Li mempunyai harta kekayaan yang amat banyak disini"

Li Lok-yang tertunduk lesu, sampai lama sekali tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dengan perasaan tidak tenang, hati berdebar dan penuh kewaspadaan, semua orang melewatkan malam itu dengan penuh penderitaan, akhirnya fajar pun mulai menyingsing.

Semua orang pun mulai bangkit berdiri dan berjalan mondar mandir disekeliling ruangan, hanya saja karena perasaan dan pikiran setiap orang terasa berat penuh beban, siapa pun tidak ingin banyak bicara.

Im ceng yang baru sadar dari mabuk merasakan kepalanya amat sakit dan pening, kembali dia membuka guci arak dan mulai meneguk lagi dengan rakusnya.

Biarpun baru lewat satu malam, namun wajahnya kelihatan jauh lebih lesu, kusam dan mengenaskan.

"Saudara Phoa"

Mendadak Thiat Tiong-tong berjalan menghampiri Phoa Seng-hong sambil menepuk bahunya.

"bersedia menemani lohu untuk berjalan-jalan di halaman luar?"

"Tentu saja bersedia"

Jawab Phoa Seng-hong Buru-bur Un Tay-tay ikut bangkit berdiri, tapi Thiat Tiong-tong segera menghardik.

"Kau tetap tinggal disini!"

Dengan wajah masgul Un Tay-tay manggut-mauggut, akhirnya dia duduk kembali.

"Tidak ada salahnya bila ingin berjalan-jalan ditengah halaman, tapi kalian harus lebih berhati-hati"

Li Lok-yang mengingatkan. Setelah keluar dari gedung, sambil tertawa licik tanya Phoa Seng-hong.

"Loya-cu, apakah ada siasat busuk lagi yang hendak kau suruh aku lakukan?"

"Dugaanmu tepat sekali!"

"Disini kelewat banyak orang, mari kita berbicara di belakang saja"

Bisik Phoa Seng-hong dengan semangat berkobar. Berkilat sepasang mata Thiat Tiong-tong.

"Asal kau dapat memancing keluar Hay Tay-hau, Li Lok-yang, Li Kiam-pek serta Im Ceng dari dalam gedung, aku akan ajarkan sebuah siasat bagus untuk meloloskan diri dari sini"

"Sungguh?"

Seru Phoa Seng-hong kegirangan.

"Kalau tidak percaya yaa sudahlah!"

"Apa susahnya untuk melakukan hal itu"

Seru Phoa Seng-hong kemudian, dia membalikkan tubuh dan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Tidak lama kemudian tampak Hay Tay-sau dengan menarik tangan Li Lok-yang dan Li Kiam-pek berjalan keluar dari ruang gedung, mereka segera terlibat perbincangan dengan para lelaki kekar ditengah halaman.

Menyusul kemudian Im Ceng dengan langkah sempoyongan ikut berjalan keluar, sambil berjalan pemuda itu bergumam tiada hentinya.

"Selama hidup aku tidak ingin melihatmu lagi, selama hidup aku tidak ingin melihatmu...."

"Sekarang giringlah mereka menuju ke belakang gedung, cari tempat persembunyian yang tertutup dan suruh mereka menunggu disitu, persoalan lainnya biar aku yang selesaikan"

Kata Thiat Tiong-tong lagi.

"Baik!"

Phoa Seng-hong segera mendekati Im Ceng dan menggandeng lengannya. Im Ceng yang mabuk segera meronta melepaskan diri dari genggaman, teriaknya.

"Mau apa kau?"

Phoa Seng-hong dapat mengendus bau arak yang menusuk penciuman, segera jawabnya.

"Kau sudah mabuk berat, mari kuajak kau mencari angin"

Diam-diam dia menotok jalan darah lemas dan jalan darah bisunya.

Im Ceng yang tidak bisa berkutik, mulutpun tidak dapat berbicara langsung diseret menuju ke belakang gedung, menanti Phoa Seng-hong berpaling lagi, dia sudah tidak menjumpai jejak Thiat Tiong-tong.

Terpaksa dia mencari sebuah jendela yang tersembunyi dan membuat sebuah lubang kecil diatas kertas jendela, bisiknya.

"Cepat kau tengok ke arah dalam sana!"

Biarpun Im Ceng tidak mampu bicara namun hati kecilnya merasa gusar sekali, pikirnya.

"Kau memaksa aku berbuat begitu? Hmm, aku justru sengaja tidak mau melihat!"

Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat. Melihat itu Phoa Seng-hong kembali berpikir.

"Tampaknya pemuda ini benar-benar keras kepala, biarpun kupaksa juga percuma, belum tentu dia mau membuka matanya untuk melihat...."

Ketika dia sedang serba salah, tiba-tiba Thiat tiong tong sudah muncul disampingnya sambil berkata dengan suara berat.

"Coba lihat, dia sudah mabuk hebat sampai mata pun tidak sanggup dibuka, masa kau masih menyuruhnya membuka mata?"

Mendengar perkataan itu kontan Im Ceng naik pitam, pikirnya.

"Siapa bilang aku mabuk? Hmm, aku justru mau mementang mataku lebar-lebar"

Benar saja dia segera membuka matanya lebar-lebar dan mengintip keluar melalui lubang diatas jendela.

Phoa Seng-hong benar-benar merasa kagum bercampur geli, dia tidak menyangka dengan sepatah kata saja Thiat Tiong-tong sudah dapat membuat Im Ceng membuka matanya kembali, segra pikirnya.

"Tua bangka ini ternyata hebat, rupanya dia bisa memahami perasaan hati seorang setan arak"

Perlu diketahui, orang yang semakin takut mabuk biasanya dia semakin tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang mabuk. Sambil menepuk bahu Phoa Seng-hong kata Thiat Tiong-tong kemudian.

"Tugasmu telah selesai, sekarang pergilah cepat!"

Walaupun rasa ingin tahu menyelimuti perasaan Phoa Seng-hong, sekalipun dia ingin turut menyaksikan pertunjukan apa yang bakal berlangsung ditengah ruangan, namun menyaksikan sorot mata Thiat Tiong-tong yang mengerikan, pada akhirnya dia pergi juga.

Kini Thiat Tiong-tong bersama Im Ceng berdiri berjajar di depan jendela sambil mencuri lihat ke luar....

Waktu itu Un Tay-tay sudah bangkit berdiri siap berjalan keluar, tapi dia segera dihadang jalan perginya oleh Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.

"Mau apa kalian?"

Tegur Un Tay-tay kemudian.

"Saudara Suto ingin berbicara denganmu"

Kata Pek Seng-bu ketus.

"Apa yang perlu dibicarakan, aku tidak mengenalinya"

Seru Un Tay-tay dengan wajah berubah. Tiba-tiba Suto Siau mencengkeram urat nadinya dan mengejek sambil tertawa dingin.

"Perempuan rendah, kau berani mengatakan tidak kenal aku? Sialan, aku sudah sepuluh tahun memeliharamu, memelihara seekor anjing saja tahu balas budi, masa memelihara kau tidak tahu budi?"

Un Tay-tay yang kena dicengkeram mulai merasakan separuh tubuhnya linu dan kesemutan, buru-buru dia tampilkan senyuman genitnya dan berseru sambil tertawa.

"Aaii, masa diajak bergurau pun kau marah-marah. Jangan sok serius!"

Thiat Tiong-tong yang mengintip dari balik jendela mulai tertawa dingin, pikirnya.

"Ternyata dugaanku tidak meleset, asal aku tinggalkan ruang gedung, Suto Siau pasti tidak tahan untuk menginterogasi perempuan rendah itu"

Dia mencoba menengok ke samping, dilihatnya Im Ceng sedang mengintip dengan mata terbelalak besar dan wajah diliputi perasaan terkejut, keheranan bercampur ngeri, jelas pemandangan yang terbentang di depan matanya seketika memmbuat rasa mabuknya hilang separuh.

Terdengar Suto Siau menegur lagi dengan suara dingin.

"Aku suruh kau mengintil disamping pemuda itu sambil mencari tahu sarangnya, kenapa setengah jalan kau lepaskan dia dan malahan menempel disamping tua bangka sialan itu?"

Mendengar sampai disini, peluh dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh Im Ceng. Melihat perubahan sikap pemuda itu, Thiat tiong tang segera berpikir.

"Aku rasa ini sudah lebih dari cukup, kalau sampai Suto Siau mendesak lebih jauh, bisa jadi perempuan itu malah sekalian menghianati aku"

Berpikir sampai disitu dia segera menghantam daun jendela hingga bergetar keras, dengan cekatan dia sambar tubuh Im Ceng lalu secepat kilat menyelinap ke dalam deretan bangunan rumah disamping lain.

Jeritan kaget seketika berkumandang dari dalam ruang tengah, Suto Siau, Hek Seng-thian sekalian secepat kilat meluncur keluar dari ruangan.

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak menggubris mereka, sambil membopong Im Ceng menyembunyikan diri, dia segera menepuk bebas totokan jalan darah ditubuh pemuda itu dan menegur.

"Kau sudah mendengar dengan jelas?"

"Perempuan rendah!"

Umpat Im Ceng sambil menyeka butiran keringat dari jidatnya.

"Kalau sudah tahu jika dia hanya seorang perempuan rendah, tidak sepantasnya kau menderita lantaran dia. Jika kau masih bersedih hati gara-gara perempuan itu, berarti kau memang bukan seorang lelaki!"

Lama sekali Im Ceng tertunduk melamun, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Saat ini situasi sangat gawat"

Kembali Thiat Tiong-tong berkata.

"sekalipun mereka sudah tahu kalau kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun, tidak mungkin orang-orang itu bakal turun tangan terhadapmu, cuma kau pun jangan melakukan tindakan ngawur"

Im Ceng manggut-manggut, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya, sambil menatap lurus wajah Thiat Tiong-tong, tegurnya.

"Kau.... siapakah kau sebenarnya? Kenapa segala persoalan seolah tidak dapat mengelabuhi dirimu?"

Sinar matanya penuh dengan perasaan terkejut, keheranan bercampur perasaan hormat yang tinggi. Thiat Tiong-tong tidak berani beradu mata dengannya, sembari berpaling ujarnya.

"Siapakah aku? Suatu hari kelak kau pasti akan tahu sendiri"

"Kenapa tidak kau katakan sekarang?"

"Sebab bila kuungkap sekarang, keadaan pasti akan mengalami perubahan drastis"

Nada ucapannya dipenuhi rasa serius, berat dan menyeramkan, membuat siapa pun yang mendengartidak berani banyak bertanya lagi. Mendadak terdengar seseorang membentak nyaring.

"Siapa disitu?"

Ditengah bentakan keras, terdengar suara ujung baju yang tersampok angin berkumandang membelah angkasa. Buru-buru Thiat Tiong-tong berbisik dengan suara berat.

"Gunakan kesempatan ini untuk kabur, biar aku yang menghadapi mereka"

Seraya berkata, dia berjalan keluar dengan langkah lebar.

Secara beruntun Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu meluncur tiba ditempat itu, ketika menyaksikan thiat Tiong-tong yang muncul dengan langkah santai, tidak kuasa mereka berdua berteriak.

"Aaah, rupanya kau!"

"Betul, memang lohu, ada urusan?"

"Ditengah kekacauan, mau apa kau berada disini?"

Tegur Hek Seng-thian dengan suara berat.

"Jalan-jalan...."

Sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin, kemudian tanpa perdulikan kedua orang itu lagi dia melanjutkan perjalanannya sambil bergendong tangan.

"Aku lihat tua bangka ini makin lama semakin bertambah aneh"

Gumam Hek Seng-thian dengan kening berkerut.

"Akupun merasakan kemisteriusan orang ini, mula-mula aku curiga kalau dia adalah penyamaran dari anggota Perguruan Tay ki bun, tapi setelah menyaksikan hubungannya dengan Im ceng, aku pun merasa sepertinya tidak mirip"

"Jangan jangan mereka sedang bermain sandiwara?"

Bisik Hek Seng-thian setelah termenung sejenak. Dengan cepat Pek Seng-bu menggeleng.

"Pemuda she-Im itu emosinya tinggi dan berangasan sekali, jika ditilik dari penderitaan hatinya, jelas siksaan itu bukan cuma pura-pura, dalam hal ini siaute berani menjamin"

Sekalipun ke dua orang ini termasuk jagoan yang licik dan berakal banyak, namun mereka tidak berhasil juga untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya dibalik kesemuanya itu.

Akhirnya Hek Seng-thian berkata.

"Sekalipun orang tua ini mempunyai rahasia, selama tidak ada sangkut pautnya dengan kita, lebih baik tidak usah kita campuri!"

Dalam pada itu ke dua belas orang centeng keluarga Li yang sedang mendapat giliran bertugas pun nampak bersiap-siap dengan wajah tegang, anak panah sudah dibentang diatas busur, golok pun sudah diloloskan dari sarung, dengan perasaan waswas mereka sedang melakukan penggeledahan disekeliling tempat itu.

Li Kiam-pek muncul dari samping seraya berseru.

"Silahkan saudara semua kembali ke ruang tengah, saudara-saudara yang lain pun silahkan kembali ke pos masing masing, jangan semba-rangan bergerak"

Ketika tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan diseputar itu, semua orang pun balik kembali ke ruang tengah.

Waktu itu sebenarnya Li Lok-yang sedang berjalan mondar mandir di depan gedung, ketika melihat semua orang sudah kembali, dia segera menghentikan langkahnya dan berkata dengan suara dalam.

"Sekarang, kekuatan yang kita miliki harus dihimpun jadi satu, pikiran dan perasaan harus tetap tenang, jangan sampai hanya disebabkan sedikit suara yang mencurigakan, seluruh kekuatan bubar kesana kemari, dalam situasi yang membingungkan, musuh bisa manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan!"

"Tapi hanya bertahan melulu tanpa melakukan perlawanan apapun jelas bukan cara terbaik"

Seru Bi lek hwee dengan suara lantang.

"Apakah saudara mempunyai usul lain?"

Tanya Li Lok yang.

Bi lek hwee tertegun, kontan dia tutup mulut dan tidak buka suara lagi.

Matahari makin lama semakin meninggi, perasaan semua orang pun semakin kalut bercampur gelisah, sisa telur yang mereka simpan pun sudah mulai dikeluarkan untuk menangsal perut yang lapar, dalam keadaan begini, biar di antara mereka mempunyai hubungan persauda-raan pun, siapa saja sudah tidak saling mengalah lagi.

Melihat orang lain makan telur, tiba-tiba Hay tay sau merasakan perutnya berbunyi keras saking laparnya, suara yang keras kedengaran semakin nyaring ditengah keheningan yang mencekam sehingga tidak tahan banyak orang berpaling ke arahnya.

Sembari tertawa tergelak dan memegangi perut sendiri, dia berseru.

"Hahahaha.... biarpun aku seorang enghiong, apa mau dikata perutku tidak mau diajak kompromi"

"Dasar maling konyol"

Umpat Bi lek hwee sambil mengambil guci araknya.

"ternyata menahan lapar memang merupakan siksaan yang sangat menderita, terus terang, perut lohu pun sudah mulai berontak dan tidak mau menurut"

Phoa Seng-hong mengeluarkan sisa telur yang dimilikinya dan sengaja berjalan mondar mandir dihadapan Hay Tay-sau, sambil berjalan dia menggigit telurnya, mengunyah dengan perlahan lalu menghela napas.

Dengan mata melotot sebesar gundu, Hay Tay-sau mengikuti gerakan telurnya kian kemari, akhirnya saking tidak tahannya dia meludah sembari mengumpat.

"Sialan, apa enaknya telur godokan?"

"Hahahaha.... memang tidak enak, memang tidak enak"

Sahut Phoa Seng-hong sambil tertawa tergelak, dia semakin menikmati telurnya dengan gaya yang dibuat-buat.

Dengan wajah merah padam Hay Tay-sau melompat bangun, tanpa sadar Phoa Seng-hong ikut mundur satu langkah.

"Jangan kuatir bocah busuk"

Hay Tay-sau segera tertawa tergelak.

"tidak bakalan kurampas telur milikmu"

Kontan gelak tertawa bergema memecahkan keheningan, suasana yang semula tegang pun sedikit lebih mengendor, bahkan sekulum senyuman sempat menghiasi pula wajah Im Ceng.

Tapi sayang keadaan para lelaki kekar yang berjaga diluar halaman sudah mulai layu dan lemas, kendatipun ilmu silat yang mereka miliki diatas rata-rata, namun setelah kelaparan seharian, tubuh mereka sudah mulai melemas, kepala pusing dan mata pun mulai berkunang.

Mengawasi keadaan diluar halaman, Li Lok-yang menghela napas panjang, gumamnya dengan alis mata berkenyit.

"Senja.... paling banter hanya bisa bertahan sampai senja nanti...."

Sekonyong-konyong suara genta kembali berdentang, suara si bocah pun kembali bersenandung.

"Genta berbunyi untuk ke empat kalinya, bila perut mulai kelaparan, kuberi berapa kerat daging babi"

Ditengah suara senandung, tiba-tiba dari luar tembok pekarangan bermunculan belasan batang bambu yang lebih tinggi daripada dinding, diujung bambu terikat daging babi yang sudah dipanggang matang, daging-daging itu mulai bergoyang dihembus angin.

Kulit babi berwarna kuning tampak berkilauan ketika tertimpa sinar matahari, bau harum yang semerbak tersebar mengikuti hembusan angin, sekalipun semua orang tidak ingin mengendus juga tidak sudi memandang, tidak urung tersiksa dalam perasaan hatinya.

Langkah kaki kawanan lelaki dalam halaman mulai kalut, sepasang mata mereka pun terbelalak semakin lebar.

Tiba-tiba terdengar seorang lelaki kekar mengumpat.

"Sialan, maknya, ayam itik sudah terbiasa bagi kami, apa anehnya dengan daging babi? Saudara sekalian, buat apa kita perhatikan barang haram itu?"

Dia langsung mengambil sebatang anak panah dan dibidikkan ke arah daging babi itu.

Siapa tahu ketika anak panah tiba diluar dinding pekarangan, tiba-tiba arahnya berubah kemudian langsung rontok ke atas tanah.

Melihat persiapan yang begitu ketat diluar dinding sana, perasaan semua orang makin berat dan tercekam.

Thiat Tiong-tong ikut mengawasi daging babi panggang berwarna kuning itu, mendadak dia jadi teringat dengan senandung Sui Leng-kong tentang daging babi, tidak tahan diapun bersenandung.

".... Kucicipi kulit babi yang berminyak, sudah terpanggang hingga menguning, kuiris sekerat daging, kupersilahkan kau mencicipi, kupersilahkan kau mencicipi...."

Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya, namun perasaan hatinya justru terasa lebih sendu dan murung.

Hay Tay-sau yang masih berjalan mondar mandir dalam ruangan tiba-tiba menghentikan langkahnya, setelah meludah ke lantai, kembali umpatnya.

"Kujamin daging babi itu pasti masam rasanya, lebih baik jangan dimakan! Lebih baik jangan dicicipi!"

"Biarpun belum tentu masam rasanya, kujamin pasti beracun...."

Sambung Li Lok-yang sambil tertawa.

Belum selesai dia bicara, mendadak tampak ada belasan sosok bayangan manusia meluncur naik ke atas tiang bambu itu.

BAB Sang Mutiara Pembetot Sukma Ke sepuluh orang itu ada lelaki ada wanita, ada lelaki berlengan tunggal ada pula manusia kudisan berkepala botak, tapi ada juga gadis gadis cantik berpakaian warna warni.

Dalam genggaman mereka masing-masing menggenggam sebilah pisau belati, gerakan tubuhnya ringan dan cepat, dalam waktu singkat mereka sudah berdiri diujung bambu, tubuh mereka bergoyang mengikuti hembusan angin, seakan-akan setiap saat bisa terbang ke angkasa.

Dengan wajah berubah Phoa Seng-hong segera berbisik.

"Orang orang itu adalah Kiu Kui cu (Sembilan setan) serta Jit Moli (tujuh iblis wanita) dari perguruan Kiu cu Kui bo, aneh, kenapa mereka menampakkan diri secara tiba-tiba? Permainan busuk apa yang sedang mereka persiapkan?"

Setelah berdiri tegak diujung bambu, mendadak kawanan manusia itu berjumpalitan dengan kepala dibawah kaki diatas, gaya mereka bagaikan orang yang tiba-tiba terpeleset hingga jatuh ke bawah.

Tapi pada saat itulah ujung kaki mereka dengan cekatan menggaet kembali ujung bambu, lalu dengan pisau belatinya mereka mulai mengiris daging babi tadi dan menikmatinya dengan lahap.

Seorang lelaki berlengan tunggal segera berseru sambil tertawa tergelak.

"Sudah kalian lihat, semua daging babi ini tidak beracun, asal kalian punya nyali, silahkan saja dicicipi!"

"Lepas panah!"

Bentak Li Lok-yang keras.

Hujan anak panah kontan berhamburan di udara menyambar tubuh sekawanan manusia tersebut.

Kawanan laki perempuan yang ada diujung bambu tertawa ringan, tiba-tiba mereka melambung ke udara dan menyongsong datangnya hujan anak panah itu.

Tampak bayangan manusia berkelebat di-tengah hujan panah, ternyata semua anak panah yang dibidikkan telah mereka tangkap semuanya, tidak satu pun dibiarkan rontok ke tanah.

Dalam waktu singkat hujan panah dan bayangan manusia hilang lenyap tidak berbekas, yang tersisa hanya ke sepuluh kerat daging babi panggang serta suara ejekan dari kawanan manusia itu.

Berubah hebat paras muka Suto Siau, gumamnya.

"Ilmu ginkang yang hebat, ilmu telapak tangan yang tangguh, tampaknya kungfu yang dimiliki kawanan manusia itu sama sekali tidak dibawah kemampuan kita semua"

Li Lok-yang menghela napas panjang.

"Dengan melakukan tindakan tersebut, bukan saja mereka hendak membuktikan kalau daging babi itu tidak beracun dan memancing semua orang untuk berebut, mereka pun ingin memamerkan juga kebolehan ilmu silat yang dimilikinya!"

Hay Tay-sau memandang sekejap sekitarnya, tiba-tiba dia melompat ke tengah halaman, dari sakunya dia mengeluarkan seutas tali panjang, dibuatkan simpul hidup diujungnya kemudian dilontarkan keluar.

"Dasar maling"

Kontan Phoa Seng-hong mengejek sambil tertawa dingin.

"tidak aneh kalau kamana pun pergi selalu menggembol peralatan untuk mencuri!"

Sementara ejekan bergema, tali simpul itu telah berhasil menjerat sepotong daging babi panggang.

Sambil membentak keras Hay Tay-sau segera menarik kembali talinya, babi panggang itupun terpental dan lepas dari ujung bambu.

Siapa tahu pada saat itulah terlihat sesosok bayangan manusia melesat ke udara dari luar dinding, pisaunya langsung membabat ke arah ujung tali itu.

"Kau berani!"

Hardik Hay Tay-sau gusar, tubuhnya secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ikut melesat ke udara, telapak tangan kirinya diayunkan cepat, dia langsung membacok tubuh bayangan manusia itu, ternyata ilmu pukulannya sangat mengerikan.

Bayangan manusia itu memiliki perawakan tubuh kurus kering, cepat goloknya diputar membabat pergelangan tangan Hay Tay-sau, gerakan tubuh yang dimiliki orang inipun sangat hebat, kecepatannya berganti jurus diudara bagaikan ikan yang berenang di air.

Dengan tangan kanannya Hay Tay-sau menyambut daging babi itu, tangan kirinya diputar kembali dan kali ini berusaha merampas senjata lawan.

Kembali terdengar seseorang mengejek sambil tertawa dingin.

"Setelah keluar dari dinding pekarangan, kau masih ingin balik?"

Seorang lelaki bermata tunggal melejit ke udara bagaikan seekor burung rajawali, tangan kirinya diayun ke depan menahan telapak kaki lelaki kurus kering tadi sementara tangan kanannya menghajar dada Hay Tay-sau.

Tubuh lelaki kurus kering yang sedang meluncur ke bawah itu seketika melambung lagi berapa meter ke udara, kali ini dia mengayunkan kakinya menendang wajah Hay Tay-sau.

Menghadapi serangan dari kiri kanan, tenaga dalam Hay Tay-sau mulai tersendat, meski dia berhasil menghindari ke dua jurus serangan itu, tampak tubuhnya segera akan terjatuh ke luar dinding pekarangan, kalau sampai terjadi begitu, jelas keadaannya sangat berbahaya.

Dengan wajah berubah kawanan jago dalam ruangan berbondong-bondong menerobos keluar halaman, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu serentak turun tangan, di antara ayunan telapak tangannya, puluhan titik cahaya bintang seketika disambitkan ke arah dua orang yang berada diluar dinding.

Menggunakan kesempatan itu Hay Tay-sau membentak keras, sembari membusungkan dada menyambut pukulan dari lelaki bermata tunggal, dia meminjam tenaga serangan tersebut untuk mencelat ke belakang, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali, dia melayang turun ke dalam halaman rumah.

"Kau terluka?"

Bi lek hwee segera menegur.

"Hahahaha.... kulit tubuhku mah lebih tebal dari kulit badak, masa pukulan macam begitu bisa melukaiku? Satu pukulan ditukar dengan sepotong daging babi, rasanya jual beli ini tidak kelewat merugikan!"

Sambil mengacungkan jempolnya Bi lek hwee berseru memuji.

"Lelaki hebat, lelaki jempolan! Hahahaha... hey anak setan cucu setan yang berada diluar tembok, dengarkan baik-baik! Pukulan kalian hanya dianggap orang sebagai sebuah garukan!"

Waktu itu semua bayangan manusia yang semula ada diujung bambu, kini sudah melompat turun bahkan tidak kedengaran seorang pun yang menanggapi teriakan itu.

Dengan membawa babi panggang hasil rampasannya Hay Tay-sau balik ke dalam ruangan, dia mengambil sebilah pisau dan serunya sambil tertawa.

"Setiap orang dapat seiris daging, kecuali sahabat yang tadi makan telur sambil mengejek dihadapanku!"

Sambil berkata dia mulai mengiris daging babi itu. Kemudian selesai mengiris, kembali Hay Tay-sau berkata sambil tertawa.

"Bagaimana pun daging babi ini kuperoleh dengan cara mencuri, rasanya ada orang memang tidak sudi makan daging curian!"

Phoa Seng-hong mendengus dingin.

"Hmmm, daging yang mereka iris boleh saja tidak beracun, memangnya kau anggap dibagian yang lain tidak dibubuhi racun?"

Hay Tay-sau tertegun, kontan umpatnya.

"Sialan, memangnya lantaran tidak kebagian daging lantas kau mau menakut-nakuti orang?"

Sekalipun berkata begitu, tidak urung dia hentikan juga irisannya.

Dari dalam saku Pek Seng-bu mengeluarkan sebatang jarum perak dan ditusukkan ke dalam daging, seketika itu juga jarum perak itu berubah jadi hitam pekat.

Paras muka Hay Tay-sau kontan berubah hebat, saking tertegunnya dia sampai tidak mampu bicara.

Menyaksikan kejadian ini semua orang hanya bisa menghela napas di hati.

Suto Siau pun segera mendorong pergi Phoa Seng-hong sambil ujarnya.

"Masih untung pukulan bajingan tadi tidak kelewat berat, kalau tidak benar-benar rugi besar"

Dengan perasaan kaku Hay Tay-sau manggut-manggut, mendadak percikan darah segar mulai meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Ternyata pukulan lelaki bermata tunggal tadi meski dilancarkan ditengah udara, namun tenaga serangannya sangat tangguh.

Sejak awal Hay Tay-sau sudah merasakan gelagat tidak menguntungkan, hanya saja karena dia tidak ingin menghilangkan harapan rekan lainnya maka dia memaksakan diri menahan rasa sakit, paling tidak luka dalamnya baru akan diperlihatkan setelah semua orang mencicipi daging babi itu, siapa sangka daging tersebut tetap tidak bisa terjamah.

Hanya Im Ceng seorang yang tidak banyak bicara, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke tengah halaman, dari tangan kawanan jago disitu dia minta sebuah gendawa lalu panah demi panah dibidikkan ke tengah udara.

Anak panah tampak meluncur bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat ke sepuluh kerat daging babi yang tergantung diujung bambu sudah rontok semua ke tanah.

Sorak sorai segera bergema memecahkan keheningan, Suto Siau sekalian yang menyaksikan kehebatan itu diam-diam merasa terkejut, hanya Un Tay-tay seorang yang berlagak seolah tidak melihat.

Baru berhenti suara sorakan, dari luar dinding terdengar seseorang berseru dengan nada dingin.

"Bidikan yang jitu! Ilmu memanah yang hebat! Kepandaian yang mengagumkan! Siapa yang melakukan bidikan? Apa berani berdiri diatas dinding pekarangan?"

"Jangan terpancing!"

Bentak Thiat Tiong-tong tanpa sadar. Terdengar Im Ceng menyahut dengan lantang.

"Sauya berdiri ditengah halaman, kalau ingin melihat, silahkan saja datang kemari!"

Dengan tangan kiri memegang busur, ditangan kanannya telah disiapkan tiga batang anak panah.

"Bagus, biar kutengok manusia macam apakah dirimu!"

Orang diluar dinding tertawa ringan.

Tampak sesosok bayangan tubuh seorang gadis melayang di udara dan meluncur tiba, gerakan tubuh perempuan itu sangat indah dan menawan, bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan.

"Perhatikan baik-baik!"

Bentak Im Ceng nyaring. Anak panah segera dibidikkan ke depan dalam posisi segitiga, diiringi desing angin tajam serangan tersebut langsung mengancam tubuh pendatang.

"Waah, ternyata hebat juga!"

Seru gadis itu sambil tertawa merdu.

Sepasang tangannya diangkat tinggi-tinggi untuk menyambut ke dua batang anak panah pertama, sementara sebuah tendangan kilat menghadang anak panah ke tiga.

Gerak serangannya kembali dilakukan dengan lemah gemulai, persis seperti bidadari yang sedang menari.

Siapa tahu saat itulah Im Ceng telah menyiapkan bidikan berikut, hardiknya.

"Masih ada lagi!"

Kembali tiga anak panah melesat dengan cepatnya, meskipun ke tiga serangan itu tidak dilepas berbarengan namun selisih gerakan nya tidak berbeda banyak.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu terdengar gadis itu menjerit kaget dan terjatuh ke luar pagar.

Sambil mengelus jenggotnya Bi lek hwee tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... mereka telah melukai seorang anggota kita, sekarang kita pun balas hadiah itu. Wah... waah.... pertarungan ini benar-benar menarik, betul-betul berarti!"

Rasa gembira hanya sejenak menyelimuti perasaan semua orang, tidak lama kemudian suasana berubah hening kembali, rasa lapar yang luar biasa seakan iblis keji yang sedang mencekik leher mereka.

Menjelang senja, sudah banyak lelaki kekar dihalaman luar yang tidak mampu menahan diri, mereka mulai bersandar disudut dinding.

Dibawah sinar matahari senja, suasana ditempat itu tampak lebih muram, kusam dan mengenaskan.

Mulut setiap orang sudah terjahit rapat karena rasa lapar, tidak ada yang bicara, tidak ada yang minum arak.

Bahkan keinginan untuk minum arak pun sudah ikut lenyap.

Mengawasi matahari senja yang menyinari jagad, tiba-tiba Li Lok-yang berkata dengan suara berat.

"Lohu sudah putuskan akan menyerbu ke luar, adakah di antara kalian yang bersedia mengikutiku?"

Perkataan itu bagaikan sebuah lecut yang mencambuk tubuh setiap orang, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Im Ceng serta Bi lek-hwee seperti kena dihajar keras, serentak mereka melompat bangun dari bangkunya.

"Mati hidup menang kalah tergantung pada gempuran kali ini"

Kata Suto Siau sambil tertawa.

"Li toako, sebelum mengambil keputusan terakhir, lebih baik pertimbangkan lagi masak-masak!"

"Selama hidup aku selalu bertindak sangat hati-hati, tapi saat ini aku sudah tidak punya jalan lain kecuali melakukan pertaruhan terakhir ini!"

Bicara sampai disitu tiba-tiba dengan sorot mata setajam sembilu dia melanjutkan.

"Dari pada mati terkepung ditempat ini, lebih baik tewas dalam pertempuran!"

Jika menunggu dua hari lagi, mungkin saja akan datang bintang penolong...."

"Tidak, keputusanku sudah bulat, hengtay tidak perlu banyak bicara lagi, bila ada orang yang ingin keluar dari sini, silahkan saja bertahan ditempat ini, cayhe tidak bakalan memaksa!"

Kalau diwaktu biasa dia selalu bicara halus, lembut penuh kedamaian maka perkataannya sekarang lebih keras dari baja. Setelah memandang sekejap seputar sana, tambahnya.

"Siapa yang bersedia mendampingi aku untuk bertarung, silahkan acungkan tangan!"

Bi lek-hwee dan Im Ceng segera mengacungkan tangannya, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap, akhirnya sambil angkat tangan serunya.

"Saudara Suto, kau...."

"Tentu saja siaute harus turut bergabung"

Tukas Suto Siau sambil tertawa getir.

"Aaah, ada sekian banyak jago yang ikut sudah lebih dari cukup, Hay Tay-sau masih terluka sedang lo sianseng ini tidak pandai bersilat, tentu saja mereka harus tetap tinggal disini"

"Masih untung Hay tayhiap sudah tertidur"

Bisik Li Kiam-pek.

"kalau sampai kedengaran dia.."

"Siapa bilang aku sudah terluka dan susah bergerak?"

Tiba-tiba Hay Tay-sau melompat bangun sambil berteriak keras.

"siapa bilang aku sudah tertidur? Bila kalian ingin menyerbu keluar, biar aku yang menjadi pembuka jalan"

"Seharusnya aku yang menjadi pembuka jalan!"

Buru-buru Li Kiam-pek mengayunkan pedang siap melangkah pergi. Bi lek hwee tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... tugas sebagai pembuka jalan sudah menjadi milikku seorang, kalian tidak perlu berebut lagi dengan lohu"

Serunya.

"Kenapa?"

Tanya Hay Tay-sau dan Im Ceng hampir berbareng. Sambil menepuk kantung kulit yang tergantung dipinggangnya Bi lek hwee berkata.

"Didalam kantungku terdapat puluhan butir Bi lek cu (peluru peledak), kekuatannya melampaui kehebatan ribuan prajurit, dengan mengandalkan benda ini aku bisa membuka sebuah jalan berdarah"

"Kalau memang begitu, tanggung jawab sebagai pembuka jalan kuserahkan kepada hengtay"

Tukas Li Lok-yang segera.

"sementara sauhiap dan putraku biar menjadi pembantu"

Lalu sambil berpaling ke arah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu, lanjutnya.

"Aku harap Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu menjadi barisan paling belakang, sedang aku dan saudara Suto akan berada dibarisan tengah, apapun yang terjadi dan bagaimanapun sengitnya perta-rungan, aku harap bagian depan maupun barisan belakang harus saling berhubungan, jangan sampai masing-masing kelompok kehilangan kontak!"

"Bagaimana dengan aku?"

Teriak Hay Tay-sau gusar.

"memangnya kau sudah melupakan aku?"

Perlahan-lahan Li Lok-yang menghampirinya.

"Mengenai hengtay...."

Tiba tiba dia menotok jalan darah dibahunya dan melanjutkan.

"lukamu belum sembuh, lebih baik jangan sembarangan bergerak"

Hay Tay-sau mendongkol bercampur jengkel, namun dia sudah tidak mampu berdebat lagi. Sembari berpaling, Li Lok-yang kembali berkata dengan nada berat.

"Saudara-saudara yang berada diluar, siapkan busur kalian, jangan biarkan siapa pun menerobos masuk kemari!"

"Biar cayhe yang berjaga disini!"

Phoa Seng-hung segera nyelutuk. Sambil tertawa dingin Li Kiam-pek melirik sekejap ke arahnya, kemudian jengeknya.

"Memang tidak ada orang yang suruh kau ikut keluar!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, semua orang sudah mengencangkan tali pinggang dan meloloskan senjata andalan. Im Ceng sambil mengayunkan pedangnya tiba-tiba berseru sambil menghela napas.

"Aaai, seandainya dia berada disini, keadaan pasti lebih mendingan!"

"Siapa?"

Tanya Li Kiam-pek.

"Dia adalah suhengku, kecerdasan dan kecekatannya seratus kali lipat lebih hebat ketimbang aku, meski dalam situasi yang kalut pun dia dapat menghadapi dengan tenang, hanya sayang...."

Dia melirik Suto Siau sekejap, lalu dengan penuh perasaan dendam lanjutnya.

"Sayang dia sudah menghianati perguruan, menganggap bajingan sebagai ayah, jika aku berjumpa lagi dengannya, pasti akan kuhajar dia habis habisan!"

Thiat Tiong-tong merasakan timbulnya hawa dingin dari dasar hatinya, diam-diam dia pejamkan mata. Sambil menggenggam pedangnya kencang kencang, Li Lok-yang berseru lagi.

"Sekarang matahari senja belum tenggelam, inilah saat yang tepat untuk melangsungkan pertarungan berdarah, ayoh teman, kita segera menyerbu ke luar!"

Seketika itu juga cahaya pedang dan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh ruang utama. Mendadak Thiat Tiong-tong mengangkat kepalanya dan berkata pula dengan suara dalam.

"Kini keadaan sudah berkembang makin gawat, apa pun yang akan kalian lakukan diluar sana, lohu pasti akan berjaga-jaga ditempat ini, tapi...."

Setelah menyapu sekejap wajah semua orang yang hadir, dia menambahkan.

"Bila dalam setengah jam kemudian kalian belum berhasil meraih kemenangan, kuanjurkan lebih baik cepatlah balik kemari, hindari pengorbanan yang tidak berguna"

"Memang seharusnya begitu"

Sahut Suto Siau.

"bila dalam setengah jam kita tidak peroleh hasil, lebih baik secepatnya mundur kemari dan kita membuat perencanaan yang lain"

"Baik!"

Kata Li Lok-yang kemudian setelah termenung sejenak.

"Lohu akan menggunakan tambur sebagai tanda"

Ujar Thiat Tiong-tong lagi.

"bila suara tambur berhenti, itu berarti waktu selama setengah jam telah tiba!"

Li Lok-yang manggut-manggut, Li Kiam-pek segera perintahkan orang untuk mengambil tambur.

Semangat tempur kawanan lelaki kekar ditengah halaman kembali berkobar, suasana keheningan yang semula mencekam seluruh bangunan dalam waktu singkat terbakar kembali oleh semangat tempur yang meluap.

Diiringi bentakan keras Bi lek hwee menerjang keluar dari halaman, Im Ceng dan Li Kiam-pek dengan pedang terhumus mengikuti di belakangnya Kedua orang ini selain sama-sama masih muda, tampan, gerak geriknya amat cekatan.

Bi lek-hwee menyambar sebuah busur, kemudian sambil bersuit nyaring melayang ke atas dinding pekarangan.

Dalam waktu singkat dia telah merogoh segenggam peluru Bi lek cu, dengan menggunakan Ilmu Bi lik ciang Tan ta kim kiong (pukulan geledek menghamburkan gendewa emas) dia melepaskan serangan mematikan.

Terdengar serangkaian suara desingan tajam menggema membelah angkasa, belasan peluru peledak segera berhamburan ke angkasa dan menimbulkan serangkaian ledakan dahsyat disekeliling tempat itu.

Diluar dinding pekarangan merupakan sebuah tanah lapang yang luas, pepohonan yang rimbun tumbuh dikejauhan sana, sebuah jalan raya dengan alas batu membentang hingga ke dalam hutan.

Tampak bayangan manusia bergerak kian kemari diatas jalanan tersebut, ketika melihat datangnya serangan mematikan, serentak mereka membubarkan diri ke empat penjuru.

Terdengar sibocah pincang itu berteriak keras.

"Yang meng hantar kematian sudah keluar, jangan biarkan mereka balik kembali!"

Bayangan manusia kembali bergerak ditengah hutan, seseorang menyahut sambil tertawa seram.

"Mereka tidak bakalan bisa balik lagi!"

"Setan cilik, kena kau!"

Mendadak Bi lek hwee membentak nyaring. Sekali lagi serangkaian peluru peledak berhamburan di udara. Bocah pincang itu tertawa tergelak.

"Hahahaha.... setan tua, kau tidak bakal bisa menyentuh tubuhku...."

Sambil memutar tubuh dia melesat naik keatas tiang bambu, kemudian ejeknya lagi.

"Hey setan tua, apa kau berani naik ke atas?"

Belum selesai teriakan itu, hujan anak panah telah beterbangan mengancam tubuhnya, buru-buru bocah pincang itu merosot turun ke bawah dengan jurus "menenteng orang mati".

Tiba-tiba terlihat cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu Im Ceng sudah merangsek maju ke depan sambil melancarkan tiga jurus serangan pedang, seketika itu juga bocah pincang tersebut terkurung dalam kepungan.

"Bocah busuk, hebat juga ilmu pedangmu!"

Seru bocah pincang itu sambil mengerdipkan matanya.

Tubuhnya berputar beberapa lingkaran mengelilingi cahaya pedang itu, dalam waktu sekejap dia melancarkan pula tiga jurus serangan balasan.

Paras muka Im Ceng berubah berat dan serius, permainan pedangnya makin berat dan penuh tenaga.

Kembali bocah pincang itu melayani pertarungan sebanyak tiga gebrakan, kini wajah senyum nakalnya telah lenyap, mendadak jeritnya.

"Bocah keparat ini lihay sekali, kalian cepat datang membantu!"

Belum selesai dia berteriak, kembali muncul dua sosok bayangan manusia dari sisi kiri dan kanan, seorang gadis berbaju abu-abu dan seorang nona berbaju hijau, gerakan tubuh mereka cepat sekali bagai sambaran kilat.

Sambil membalikkan tubuh dan menarik kembali senjatanya, bocah pincang itu berseru sambil tertawa.

"aku sudah tidak tahan lagi, lebih baik kalian saja yang menemaninya bermain!"

Dengan dua tiga kali jumpalitan, dia segera menyingkir jauh jauh.

"Dasar setan cilik"

Umpat si nona berbaju abu-abu sambil tertawa.

"sudah kabur dari medan pertarungan, masih banyak bicara...."

Ditengah suara tertawanya yang merdu, ujung bajunya menari kian kemari, sekejap mata dia sudah melancarkan berapa jurus serangan.

Dalam pada itu si nona berbaju hijau telah meluluskan pula sebuah rantai perak sepanjang satu setengah meter, serunya sambil tertawa.

"Ngo-moay, kau menyerang jarak dekat, aku menyerang jarak jauh, coba kita lihat bocah ini dapat bertahan berapa jurus!"

Walaupun Im Ceng tidak pernah suka bertarung melawan perempuan, tapi sekarang dia sudah terkurung oleh jurus serangan ke dua orang gadis yang aneh, sakti dan cepat sehingga sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Disisi lain, Li Kiam-pek telah bertarung melawan seorang lelaki berewok bermata satu, orang itu bersenjatakan sebatang golok panjang dan sebilah golok pendek, perawakan tubuhnya tinggi besar bagaikan setengah bangunan pagoda.

Suara tambur begitu berkumandang, pertarungan pun berlangsung makin seru.

Jurus serangan yang dipergunakan dua orang itu sama-sama keras, cepat dan ganas, terdengar suara benturan senjata berkumandang silih berganti, tiga titik cahaya tajam saling menyambar dan saling membabat dengan serunya.

Biarpun lelaki bermata satu itu berperawakan tinggi besar, namun gerak geriknya sama sekali tidak lamban ataupun bebal, golok panjang dan golok pendeknya melancarkan serangan secara bergantian, jurus serangan yang digunakan pun ganas, telengas dan aneh.

Sebaliknya ilmu pedang Li Kiam-pek berasal dari aliran lurus yang mengutamakan kemantapan dan ketenangan, sekalipun harus menghadapi lelaki kekar yang banyak pengalaman, namun dua ratus gebrakan kemudian menang kalah masih susah ditentukan.

Sementara kedua orang itu masih asyik saling menyerang, terdengar Bi lek hwee berteriak keras.

"Jangan melibatkan diri dalam pertarungan berkepanjangan, cepat terjang! Cepat terjang!"

Ditengah bentakan nyaring, lagi-lagi dia melontarkan serentetan peluru peledak.

Mendadak terdengar suara tertawa seram bergema dari balik hutan, terlihat sesosok bayangan manusia meluncur datang sambil mengebaskan bajunya berulang kali.

Ditengah deruan angin kencang, peluru peledak yang beterbangan di angkasa itu seketika terpental balik ke belakang, bukan Cuma terpental ke belakang bahkan segera berhamburan di dalam halaman keluarga Li.

Ledakan demi ledakan pun bergetar diseluruh gedung, jeritan kaget bergema memecahkan keheningan.

Berubah hebat paras muka Li Lok-yang, teriaknya.

"Jangan kau gunakan lagi peledak Bi lek cu!"

Dengan pedang terhunus dia menyambut kedatangan bayangan manusia itu.

Tampak bayangan manusia yang baru muncul dari balik pepohonan itu segera melayang turun ke tanah, ke dua ujung bajunya berkibar ketika terhembus angin, bentuknya persis seperti sepasang sayap kelelawar, bahkan ketika sudah berdiri diatas permukaan, ujung bajunya kelihatan makin panjang hingga terjulai diatas tanah.

Dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi tapi kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya menonjol tinggi, kelopak matanya mendelong ke dalam, bila diamati sekilas pandang mirip sekali dengan seorang lelaki buta.

Begitu melihat kemunculan orang itu, si bocah pincang segera bertepuk tangan sambil bersorak sorai, teriaknya tertawa.

"Bagus, bagus sekali! Ternyata toako juga telah datang, sekarang akan kulihat masih ada berapa banyak senjata rahasia yang kalian miliki, ayoh keluarkan semua!"

Tercekat perasaan hati Bi lek hwee mendengar seruan itu, dengan suara keras segera tegurnya.

"Apakah kau adalah Ai Thian-hok?"

Semua jago senjata rahasia yang ada dikolong langit pasti bergidik hatinya bila mendengar nama Ai Thian-hok disebut orang, bukan saja bergidik bahkan boleh dikata merasa takut hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Biarpun dia buta namun sangat ahli dalam meluncurkan pelbagai jenis senjata rahasia yang ada dikolong langit, ketajaman pendengarannya luar biasa, seakan-akan disekujur tubuhnya memiliki mata yang tajam.

Dengan wajah yang dingin tanpa perasaan orang itu menyahut.

"Benar, siapa yang akan menemani aku si buta untuk bermain berapa gebrakan?"

Suaranya begitu ketus, dingin, kaku, sama sekali tidak berperasaan.

Dengan satu langkah cepat Li Lok-yang melompat melampaui Bi-lek hwee sambil menyelinap maju ke depan, setelah memandang orang itu dari atas hingga ke bawah, katanya dengan nada berat.

"Rupanya kaulah murid pertama dari Kiu cu Kui bo!"

"Betul!"

Seru bocah pincang yang berdiri jauh di belakang Ai Thian-hok.

"dialah toa-suko kami!"

"Kehadiran suhengmu benar-benar merupakan satu penghormatan bagiku"

"Li sianseng kelewat memuji"

Tukas Ai Thian-hok ketus. Li Lok-yang tertegun.

"Darimana kau bisa tahu kalau cayhe adalah Li Lok-yang?"

Ai Thian-hok tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... biarpun sepasang mataku buta, hatiku tidak buta, dalam situasi dan keadaan seperti ini, siapa lagi yang masih bisa bicara sopan dan penuh sungkan kepadaku kecuali Li Lokyang?"

"Orang bilang bintang pembunuh yang tidak bermata biasanya tajam dalam perasaan, setelah perjumpaan hari ini, nyata sekali kalau ucapan tersebut bukan kosong belaka"

"Li sianseng begitu memuji diriku, apakah kau menginginkan Ai Thian-hok melakukan sesuatu untukmu?"

Tanya Ai Thian-hok sambil menghentikan gelak tertawanya.

Sekalipun sedang tertawa, paras mukanya tetap kaku tanpa perasaaan.

Dan kini, begitu dia berhenti tertawa, raut mukanya nampak semakin dingin menakutkan, seolah-olah perasaan hatinya memang terbuat dari bongkahan salju abadi, siapa pun di dunia ini tidak ada yang mampu menggerakkan perasaan hatinya.

"Betul"

Sahut Li Lok-yang sambil tertawa keras.

"cayhe memang ingin mengajak anda untuk bertaruh"

"Hmmm, setiap kali aku she-Ai sedang menduduki posisi diatas angin, aku tidak pernah mau bertaruh dengan siapa pun, Li sianseng, tampaknya keinginanmu itu tidak bakalan terkabul!"

Sekali lagi Li Lok-yang tertegun, sebenarnya dia ingin mempertaruhkan keselamatan dirinya untuk mengajak Ai Thian-hok mempertaruhkan keselamatan saudara-saudara seperguruannya.

Terdengar si bocah pincang tertawa tergelak.

"Hahahaha.... bertaruh atau tidak kau tetap berada di pihak yang kalah, apa lagi yang ingin kau pertaruhkan?"

Serunya.

"kau boleh saja membohongi orang lain, tapi jangan harap bisa membohongi toako ku!"

"Li sianseng"

Kembali Ai Thian-hok berkata, bila kau ingin bertarung, cayhe pasti akan menerima tantanganmu itu, cuma ada baiknya kau bersihkan dulu bekas kulit telur yang menempel didalam alas sepatumu, daripada mengganggu gerak-gerikmu nanti"

Tanpa sadar Li Lok-yang memeriksa alas sepatu sendiri, benar saja, ternyata alas sepatunya memang tertempel bekas kulit telur yang banyak, andaikata tidak diberitahu Ai Thian-hok, mungkin dia sendiripun tidak bakal menyadari.

Ai Thian-hok yang buta sepasang matanya ternyata memiliki ketajaman pandang melebihi manusia yang bermata normal, padahal kalau dilihat kelopak matanya yang mendelong, jangan lagi tidak nampak ada biji mata, cukup dilihat dari bentuknya pun sudah menyeramkan sekali, jelas dia bukan orang yang berlagak buta....

tapi, kenapa dia bisa tahu kalau alas sepatunya ada bekas kulit telur?

Dalam waktu singkat perasaan hati Li Lok-yang dicekam dalam ketakutan dan kengerian yang luar biasa.

"Kau tidak perlu keheranan darimana aku bisa mengetahui akan hal tersebut"

Terdengar Ai Thian-hok berkata lagi.

"aku tahu karena dari suara langkah kakimu tadi dapat kudengar suara kulit telur yang menempel di sol sepatumu"

"Darimana kau bisa tahu kalau suara tersebut berasal dari kulit telur?"

Ai Thian-hok tertawa tergelak.

"Hahahaha.... semua bahan makanan sudah keracunan, aku duga kalian pasti makan telur ayam untuk memperpanjang umur, tidak aneh jika dalam situasi serba kalut, kulit telur akan berceceran di mana-mana, oleh sebab itulah aku menduganya, ternyata dugaanku memang benar"

Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang, pikirnya.

"Aai, ternyata Ai Thian-hok memang seorang jagoan yang sangat hebat dan luar biasa"

Sebagaimana diketahui, pertempuran sengit sedang berlangsung waktu itu, seluruh udara, diliputi suara dentingan senjata yang nyaring, suara bentakan yang keras serta suara tambur yang menggelegar bagai halilintar.

Tapi dalam keadaan seperti itu, ternyata di dapat menangkap suara langkah kaki orang lain, ketajaman pendengarannya boleh dibilang sangat mengerikan, ditambah lagi kemampuannya untuk menganalisa serta mengambil kesimpulan, kehebatan yang dimiliki orang ini benar-benar luar biasa.

Bi lek-hwee yang selama ini hanya berdiri dibelakang Li Lokyang sambil menahan diri, saat ini sudah tidak mampu mengendalikan diri lagi, segera bentaknya nyaring.

"Ai Thian-hok, ternyata mulutmu hebat, perasaanmu juga hebat, lohu ingin membuktikan apakah tanganmu juga trampil dan hebat?"

Gendewanya digetarkan, dengan satu langkah cepat dia menerobos maju ke depan, dengan ujung lamur dia totok jalan darah Ciang tay hiat di antara dada dan lambung Ai Thian-hok.

Sambil berjumpalitan maju ke depan, si bocah pincang itu menghardik.

"Toako ku hanya ingin bertarung melawan Li lok yang, mau apa kau banyak urusan? Hmm, biar sauya saja yang menemanimu bermain berapa gerakan!"

Ditengah bentakan, sepasang kakinya meluncur datang dengan kecepatan tinggi, langsung menendang wajah lawannya.

Menghadapi serangan semacam ini terpaksa Bi lek hwee harus selamatkan diri dengan mengegos ke samping, teriaknya penuh amarah.

"Kau sudah tahu kalau selama hidup lohu paling pantang bertarung melawan bocah dan kaum wanita, mau apa kau datang kemari?"

Bocah pincang itu tertawa terkekeh.

"Hahaha.... kau tidak ingin bertarung melawanku? Huuuh, ketahuilah, aku pun belum tentu sudi bertarung melawanmu. Kalau toh kau belum menerima mutiara pengganti nyawa, lebih baik menyingkir saja ke samping dan tidak usah turut campur dalam persoalan ini!"

"Sialan!"

Umpat Bi lek hwee gusar.

Tinjunya langsung disodokkan ke depan dan menghantam ke tubuh seseorang yang sedang bertarung melawan Hek Seng-thian.

Biarpun dia berada dalam keadaan gusar, namun orang ini tetap tidak ingin bertarung melawan anak-anak dan kaum wanita, sekalipun wataknya agak kasar ternyata kekasarannya cukup simpatik.

Sementara itu Pek Seng-bu serta Suto Siau sekalian masing-masing sudah menemukan lawannya, pertarungan sengit pun berkobar di tanah lapang diluar pagar dinding.

Dari balik pepohonan terlihat bayangan manusia bergerak kian kemari, meskipun serangan yang mereka lancarkan sangat tangguh, ternyata orang orang itu belum juga berhasil membuka sebuah jalan berdarah ditempat itu.

Perlahan-lahan Li Lok-yang dan Ai Thian-hok bergerak semakin mendekat, namun hingga detik ini mereka belum sampai bertarung barang satu gebrakan pun.

Dengan wajah penuh senyuman si bocah pincang itu memukul satu jurus kekiri, menendang kemudian kekanan, tiba-tiba dia berjumpalitan lagi di udara dan balik ke dalam hutan sambil berseru.

"Suhu telah tiba!"

Benar saja, terlihat Kiu cu Kui bo didampingi dua orang gadis cantik telah munculkan diri dari balik pepohonan.

Perempuan itu berjalan mendekat dengan langkah tertatih, pakaian yang dikenakan pun amat sederhana.

Sebaliknya dua orang gadis yang mendampinginya justru berpakaian amat mewah dan indah, dandanannya sangat mencolok mata.

Li Lok-yang sangat terkesiap....

ternyata wanita cantik yang saat itu berdiri disamping Kiu cu Kui bo tidak lain adalah wanita cantik yang mendampingi si kakek aneh tadi.

Tentu saja dia tidak memahami betapa rumitnya hubungan mereka semua, timbul perasaan ragu dan curiga dalam hatinya.

Siapa tahu di saat dia masih tertegun dan bediri penuh keraguan itulah Ai Thian-hok sudah melambung ke tengah udara, tampak sepasang ujung bajunya berkibar terhembus angin, persis seperti seekor kelelawar yang sedang terbang di angkasa.

Ujung bajunya panjang lagi lebar, dibalik kelembutan terselip kekerasan, inilah dua jenis senjata pembunuh yang paling aneh dan hebat, ketika sepasang ujung bajunya diputar, sehebat apapun kepandaian silat yang dimiliki lawan, jangan harap bisa mendekati tubuhnya dalam waktu singkat.

Dalam pada itu kawanan lelaki kekar yang bertahan dibalik halaman mulai merasa sangat gelisah, mereka hanya bisa mendengar suara berlangsungnya pertarungan dari balik dinding tanpa bisa mengikuti jalannya pertarungan.

Lama kelamaan ada sebagian centeng yang tidak mampu menahan diri lagi, ada di antara mereka yang mulai memanjat ke atas dinding pagar untuk menonton jalannya pertempuran.

Paras muka Thiat Tiong-tong sendiripun nampak amat serius, dia masih memukul tambur tiada hentinya.

Un Tay-tay dengan wajah murung dan kesal duduk mendampinginya, perempuan itupun sama sekali tidak berbicara.

Sepuluh orang lelaki kekar yang semula berkumpul disudut halaman sambil berbisik-bisik, tiba-tiba berteriak keras dan serentak mereka lari kedepan pintu gerbang yang tertutup rapat.

Seseorang dengan cepat mengayunkan goloknya membacok ke pintu gerbang....

"Mau apa kalian?"

Tegur Phoa Seng-hong dengan wajah berubah.

"Kami akan menyerbu keluar!"

Sahut para centeng.

Baru selesai mereka bicara, tiba-tiba suara tambur berhenti berbunyi.

Tidak lama setelah bunyi tambur berhenti, tampak Hek Seng-thian muncul terlebih dulu ke dalam ruangan, seluruh tubuhnya basah oleh darah, dadanya naik turun tidak beraturan, senjata andalannya juga telah hilang.

"Hengtay, kau terluka?"

Tegur Phoa Seng-hong dengan wajah berubah. Hek Seng-thian manggut manggut.

"Bahu.... bahu kiriku...."

Mendadak dia jatuh terduduk di lantai.

Dari luar dinding pagar kembali terdengar suara teriakan keras menyusul kemudian tampak Pek Seng bu dan Suto Siau kabur masuk dengan gerakan cepat, paras muka ke dua orang inipun nampak kusam dan kelelahan, butiran keringat bercucuran membasahi jidatnya.

Walaupun Thiat Tiong-tong tidak dapat mengikuti jalannya pertarungan diluar pagar, namun setelah menyaksikan raut muka beberapa orang itu, dia dapat membayangkan betapa sengit dan hebatnya pertarungan yang baru berlangsung diluar sana.

Masih memegangi pemukul tambur dia segera berlari keluar dari halaman, teriaknya keras.

"Masih ada yang lain?"

Dengan peluh bercucuran Pek Seng-bu segera menuding ke luar halaman. Saat itulah terdengar Li Lok-yang yang berada diluar halaman berteriak keras.

"Saudara sekalian, cepat mundur kembali, biar cayhe yang melakukan penghadangan"

Menyusul kemudian terdengar seseorang menyambung sambil tertawa dingin.

"Biarpun jalan keluar tersumbat, kalau ingin mundur tidak bakalan dihadang orang, kau tidak perlu kuatir!"

Baru selesai ucapan tersebut bergema, Li Lok-yang, Li Kiam-pek, Bi lek hwee dan Im Ceng secara beruntun telah mundur balik ke dalam halaman, tapi wajah ke empat orang inipun nampak sangat mengenaskan, baju yang mereka kenakan basah kuyup oleh keringat.

Setelah mengatur pernapasan sejenak Li Lok-yang baru menghela napas panjang, dengan kepala tertunduk dia berjalan mondar mandir dalam ruangan.

Ditinjau dari wajahnya yang murung dan helaan napasnya yang sedih, bisa diketahui bahwa persoalan yang sedang dihadapi sangat gawat.

Ketika tiba kembali dalam ruang tengah, perasaan hati semua orang pun ikut nampak berat.

Setelah berjalan mondar mandir berapa saat, akhirnya Li Lokyang menuju ke depan undak-undakan batu dan berseru dengan nada berat.

"Saudara sekalian, harap dengarkan dulu perkataanku"

Perlahan-lahan para centeng yang berada ditengah halaman bergeser mendekat dan berkumpul menjadi satu.

Menyaksikan kawanan jago yang di hari-hari biasa selalu gesit dan cekatan bagai seekor harimau, kini, meskipun berusaha tampil dengan penuh semangat namun tidak dapat menutupi perasaan kecewa dan sedihnya, tidak kuasa lagi dia merasakan hatinya sangat pedih.

"Kalian cepat buang senjata masing-masing! dan mengangkat tinggi ke dua belah tangan, asal kalian tidak melakukan perlawanan, sekeji dan sebuas apapun tidak mungkin Kiu cu Kui-bo akan mencabut nyawa kalian semua. Aku tahu, kalian sudah banyak tahun mengikuti aku, tapi hari ini, terus terang aku merasa tidak sanggup melindungi keselamatan kalian lagi, harap kalian jangan menyalahkan aku"

Belum selesai dia berkata sudah terjadi kegaduhan di antara para centeng itu, maka ketika dia menyelesaikan perkataannya, kawanan lelaki kekar itu segera teriak bersama.

"Biar harus matipun kami tidak akan pergi"

"Bila tetap tinggal disini, kalian hanya akan menghantar kematian saja"

Kata Li Lok-yang sedih. Seorang centeng segera melompat keluar sambil berteriak.

"Loya selalu baik dan sayang kepada hamba semua, biar harus mati pun hamba lebih rela mati bersama loya"

Seorang rekannya segera menimpali.

"Biarpun hamba sekalian hanya orang bodoh, tapi kami bukan manusia kurcaci yang takut mati, jika loya memaksa hamba semua untuk pergi, terpaksa hamba akan mati duluan disini"

Lama sekali Li Lok-yang berdiri tertegun sambil mengawasi anak buahnya, mendadak sambil menghentakkan kakinya dia berpaling dan beranjak pergi, lamat-lamat butiran air mata nampak mengembang dalam kelopak matanya.

Un Tay-tay segera bertanya lirih.

"Masa kita benar-benar tidak punya harapan untuk menyerbu keluar dari tempat ini?"

Selama ini dia hanya menguntil terus disamping Thiat Tiong-tong, sedetik pun tidak ingin meninggalkan dirinya.

Tanpa bicara Li Lok-yang mengangguk.

Un Tay-tay tertegun berapa saat, tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari ruangan.

Suto Siau maupun Im Ceng nampak seakan hendak menggerakkan tubuhnya, namun siapa pun tidak ada yang mengejarnya.

Perlahan-lahan Li Lok-yang berjalan mendekati Hay Tay sau, sembari membebaskan totokan jalan darahnya dia berkata.

"hengtay, harap kau jangan marah!"

"Kenapa aku mesti menyalahkan dirimu?"

Teriak Hay Tay-sau sambil bangkit berdiri.

"mendengar perkataanmu yang begitu patah semangat, hampir saja aku mati lantaran jengkel"

Li lok yang tertawa getir.

"Bukannya cayhe ingin mengucapkan kata-kata yang patah semangat, hanya saja situasi dan keadaan yang kita hadapi sekarang memang lebih banyak bahayanya daripada selamat"

Hay Tay-sau membelalakkan matanya lebar-lebar, sementara orang yang lain seolah mengakui akan kebenaran perkataan tersebut.

"Ayoh, kalian bicaralah"

Teriak Hay Tay-sau kemudiann "sebenarnya kalian mampu tidak untuk bertempur melawan mereka?"

Li lok yang mendongakkan kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian katanya.

"Saudara Hay, saat ini kau tidak usah banyak bertanya lagi, kita tunggu saja senja menjelang nanti, kita berdua sekali lagi mencoba untuk menerjang keluar dari sini"

"Nah, itu baru kata-kata yang bersemangat"

Teriak Hay tay-sau sambil menggebrak meja. Perlahan-lahan Li Lok-yang mengalihkan sorot matanya kewajah Thiat Tiong-tong, kemudian bertanya.

"Kami berhasil atau tidak meloloskan diri dari sini, yang pasti anda tidak bakalan mati"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Tanya Thiat Tiong-tong.

"Orang terdekat yang berada disamping Kiu cu Kui bo saat ini tidak lain adalah istrimu yang lembut dan cantik jelita itu!"

Berubah hebat paras muka Thiat Tiong-tong.

Sementara itu Li Lok-yang sudah berlalu dari hadapannya, ucapan tersebut kembali menimbulkan kegaduhan bagi kawanan jago lainnya, mereka memang tidak mengetahui asal usul Thiat Tiong-tong yang sebenarnya, tanpa terasa pikirnya.

"Mungkinkah dia adalah jagoan yang dikirim Kiu cu Kui bo untuk membantunya dari dalam?"

Waktu itu Li Lok-yang sudah berdiri di depan gedungnya sambil bergendong tangan, dia saksikan disudut halaman ada berapa orang centengnya sedang mencabut rumput dan menguliti kulit pohon secara diam-diam.

Rasa pedih seketika menyelimuti perasaan hatinya, buru-buru dia berpaling ke arah lain, tidak tega untuk memandangnya lebih jauh.

"Ooh Thian!"

Keluhnya dihati.

"aku Li Lok-yang selalu berbuat baik terhadap siapa pun, kenapa nasibku harus berakhir dalam keadaan yang begini tragis?"

Perasaan hatinya amat sakit dan tersiksa, tanpa disadari apa yang sedang dia pikirpun terucapkan keluar secara jelas, tentu saja nada keluhannya amat pedih dan memilukan hati.

Tiba-tiba Hay Tay-sau menggebrak meja sambil mengumpat.

"Li toako selalu bersikap jujur dan setia kawan, heran, kenapa ditempat ini justru muncul pengkhianat"

"Siapa pengkhianatnya?"

Tanya Li Kiam-pek cepat.

"Dia!"

Sambil berteriak, Hay Tay-sau segera menuding langsung ke arah Thiat Tiong-tong.

Sebenarnya semua orang sedang memikirkan persoalan itu, tidak heran kalau kegaduhan segera terjadi setelah mendengar teriakan itu.

Dengan suara keras Bi lek hwee segera berteriak.

"Benar, orang ini sangat mencurigakan, gerak-geriknya penuh misterius, dia pasti musuh yang sengaja menyusup kemari"

Li Lok-yang segera berpaling menatap wajah Thiat Tiong-tong, dia sangka pemuda itu pasti akan berusaha menyangkal atau berkelit.

Siapa sangka Thiat Tiong-tong sama sekali tidak menyangkal, dia hanya berdiri kaku disitu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Hay Tay-sau membentak nyaring.

"Terlepas bagaimana akhir dari pertempuran yang bakal berlangsung hari ini, kita tidak boleh membiarkan penghianat ini tetap hidup di kolong langit, mari kita bantai dulu dirinya"

"Benar, harus kita bantai dulu bajingan itu"

Serentak semua orang menyahut.

Sambil berteriak, semua orang mulai menggeserkan langkahnya mengepung Thiat Tiong tong, rasa jengkel, benci dan mendongkol yang selama ini menyelimuti perasaan semua orang pun seketika dilampiaskan ke tubuh pemuda itu.

Saking takutnya ke dua orang bocah lelaki itu sudah berdiri menggigil dengan wajah menghijau dan bibir pucat pasi, sambil menarik baju Thiat Tiong-tong mereka berusaha menarik pemuda itu untuk kabur.

Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya.

"Semua orang berkeinginan begitu, apa lagi yang hendak kau katakan?"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya.

"Siasat berantai yang kulakukan telah menciptakan situasi berubah jadi begini rupa, boleh dibilang harapanku sudah tercapai, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau maupun Bi lek hwee tidak ada yang bisa kabur lagi dalam keadaan selamat, hanya sayang berapa lembar nyawa tidak bersalah harus ikut menjadi korban, aaai! "Sebenarnya betulkah tindakanku ini? Benarkah langkah yang kuambil?"

Berpikir sampai disitu, perasaan kecewa segera menyelimuti hatinya, dia pun tidak ingin melakukan perlawanan lagi.

"Betul"

Katanya kemudian sambil menghela napas.

"aku telah mencelakai kalian, bunuhlah aku!"

Tantangan ini justru membuat semua orang termangu. Tiba tiba terdengar seseorang berseru.

"Bila kalian ingin membunuhnya, lebih baik sekalian bunuhlah aku!"

Dibawah sorot cahaya senja yang redup, Un Tay-tay berjalan masuk dengan langkah perlahan.

Saat itu tubuhnya sudah dipenuhi dengan aneka macam perhiasan serta intan permata yang memantulkan cahaya berkilauan ketika tertimpa sinar senja, sambil tertawa ringan lanjutnya.

"Aku dapat mengenakan intan permata yang paling kusukai, dapat mati disisi orang yang paling kusayangi, nasibku jauh lebih beruntung daripada nasib kalian yang harus mati di medan pertempuran, bila kalian hendak turun tangan, ayohlah cepat turun tangan!"

Ternyata dia kabur keluar dari ruang gedung tadi tidak lebih hanya ingin mengambil perhiasan mahal itu dan mengenakannya.

"Turun tangan yaa turun tangan, siapa takut!"

Teriak Hay Tay-sau keras. Waktu itu Un Tay-tay sudah berdiri disamping Thiat Tiong-tong, kembali dia bertanya.

"Siapa yang akan turun tangan?"

Semua orang saling bertukar pandangan, siapapun tidak ingin menghabisi nyawa dua orang yang sama sekali tidak melakukan perlawanan di saat kematian mereka sendiri menjelang tiba, tanpa sadar mereka malah mundur dua langkah.

Entah sejak kapan langit telah semakin redup dan gelap, dalam keadaan seperti ini tidak ada orang lagi yang pergi menyulut lilin, suasana dalam ruangan pun makin lama semakin gelap.

Pintu gerbang yang tadi sudah ditutup rapat oleh Phoa Seng-hong, entah sejak kapan telah terbuka lebar kembali.

Ditengah remang-remangnya kegelapan, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan putih berjalan keluar dari balik pintu, dalam kegelapan, bayangan Itu bagaikan sesosok sukma gentayangan yang sedang bergerak mendekat.

Ketika bayangan itu semakin mendekat, semua orang dapat melihat raut mukanya yang cantik jelita, ternyata dia tidak lain adalah Sui Leng-kong.

Berubah paras muka Li Lok-yang, segea ujarnya.

"Apakah nona datang untuk menyampaikan pesan dari Kiu cu Kui bo?"

Sui Leng-kong sama sekali tidak menggubris, melirik sekejap pun tidak, dia langsung berjalan menuju kehadapan Thiat Tiong-tong.

"Kau sudah keluar dari sini, mau apa balik lagi kemari?"

Tanya Thiat Tiong-tong sambil tertawa sedih.

"Jika kau hidup, akupun akan pergi dalam keadaan hidup"

Sahut Sui Leng-kong perlahan.

"bila kau benar-benar ingin mati, akupun tidak ingin hidup, tentu saja aku harus datang kemari untuk menemanimu"

Meskipun perkataan itu menyangkut masalah mati hidupnya, namun dia ucapkan dengan santai dan tenang, perasaan tenangnya yang luar biasa membuat setiap patah katanya pun dapat diucapkan dengan lancar.

"Jadi kalian berdua bukan anak buah Kiu cu Kui bo?"

Hay Tay-sau segera menegur dengan kening berkerut.

"Walaupun dia ingin menerimaku sebagai muridnya, tapi aku lebih suka mati!"

Jawab Sui Leng-kong perlahan. Hay Tay-sau tertegun, peluh segera bercucuran bagaikan air hujan, teriaknya kemudian.

"Wouw.... hampir saja aku salah membunuh!"

Dia segera menampar wajah sendiri dua kali, kemudian katanya lagi.

"Lo sianseng, aku mohon maaf atas kelancanganku tadi!"

Thiat Tiong-tong tertawa hambar, sahutnya.

"Bagaimana pun kita semua toh bakal mati, mati lebih cepat atau lebih lambat sama sekali tidak ada bedanya, bila waktunya telah tiba, silahkan saudara Li mencoba lagi untuk menerjang keluar!"

Kemudian dia berpaling ke arah Sui Leng-kong dan menambahkan sambil menghela napas.

"Aaai, hanya sayang.... kau harus mati penasaran"

Sui Leng-kong tertawa.

"Apakah kau berharap aku hidup terus?"

Dia bertanya.

"Betul, aku lebih suka mengorbankan segala-galanya demi kehidupanmu"

"Kau pun berharap semua orang yang berada disini dapat hidup terus?"

Kembali Sui Leng-kong bertanya.

"Apa kau bilang?"

Thiat Tiong-tong terkesiap.

"Jika kau benar-benar ingin mengorbankan segalanya, dapat melupakan semua budi dan dendam, aku pun punya cara agar semua orang yang berada disini tetap hidup, apakah kau tersedia?"

Dalam kegelapan meski tidak dapat melihat jelas perubahan wajah semua orang, namun seluruh ruangan segera timbul kegaduhan, jelas setiap orang yang hadir disitu sudah tergerak hatinya oleh perkataan tersebut.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan seluruh tubuhnya jadi tegang, serunya.

"Sungguh perkataanmu itu?"

Sui Leng-kong manggut-manggut, dia segera membalikkan badan sambil berbisik.

"Ikutilah aku!"

Dengan gerakan tubuh yang enteng dia meninggalkan ruangan tengah, tanpa sadar Thiat tiong-tong mengikuti di belakangnya.

Gadis cantik yang aneh ini seolah-olah memiliki semacam daya kekuatan yang luar biasa didalam perkataan maupun gerak-geriknya, membuat siapa pun merasa sangat percaya dengan apa yang dia ucapkan.

Semua orang hanya mengawasi bayangan tubuh mereka berdua berjalan keluar dari halaman lalu lenyap dibalik kegelapan dengan mata terbelalak, tidak ada yang berusaha menegur, lebih-lebih tidak ada yang berniat menghalangi.

Kegelapan malam diluar pintu terasa berat bagai baja, keheningan dan kegelapan yang menyelimuti seluruh permukaan bumi seakan menghimpit suasana ditempat itu hingga tidak mampu mengeluarkan sedikit suarapun.

Tanpa bersuara Thiat Tiong-tong mengikuti di belakang Sui Leng-kong, berjalan masuk ke dalam hutan yang gelap, bahkan dibalik hutan pun sama sekali tidak terdengar suara apapun, suara angin, suara jangkrik, seakan semuanya sudah tersumbat mati oleh kegelapan malam yang mencekam.

Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat, perasaan bergidik muncul di dalam hatinya, langkah kakinya makin ringan, makin cepat, akhirnya secercah cahaya yang lirih muncul ditengah hutan itu.

Cahaya api berwarna hijau bagaikan api setan menerangi seluruh hutan, bayangan manusia tampak bergerak kian kemari dibalik pepohonan, seakan-akan disitu sedang diselenggarakan pertemuan para sukma gentayangan.

"Apakah sudah datang?"

Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara menyeramkan.

"Yaa, sudah datang!"

Jawab Sui Leng-kong, Ditengah pepohonan yang rimbun terdapat sebuah tanah lapang, berpuluh titik cahaya mutiara yang hijau bergoyang disekeliling tempat itu, bergoyang bagaikan mata sukma gentayangan yang sedang bergerak.

Dibawah cahaya mutiara hijau tampak bayangan manusia sedang duduk mengelilingi seseorang, cahaya yang memantul diwajah mereka, membiaskan sinar hijau yang menyeramkan di tubuh kawanan manusia tersebut.

Orang yang duduk ditengah bukan lain adalah Kiu cu Kui bo yang amat termasyur dikolong langit.

Waktu itu dia sudah berganti baju dengan mengenakan sebuah gaun berwarna hijau pupus, rambutnya disanggul tinggi, dia sedang duduk bersila.

Thiat Tiong-tong langsung berjalan menuju ke hadapannya.

Kiu cu Kui bo memperhatikan berapa kejap wajah pemuda itu, kemudian sambil tertawa seram ujarnya.

"Anak murid Perguruan Tay ki bun memang selalu memiliki nyali yang jauh lebih besar daripada siapa pun!"

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah anggota Perguruan Tay ki bun?"

Tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

"Aku yang beritahu"

Kata Sui Leng-kong perlahan.

"Dia bilang kau menggembol panji darah milik Perguruan Tay ki bun, benarkah ucapannya?"

Lanya Kiu cu Kui bo lagi.

"Perkataannya tidak pernah bohong"

"Keluarkan dan perlihatkan kepadaku!"

Thiat Tiong-tong melirik Sui Leng-kong sekejap, tiba-tiba dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan panji berdarah yang disimpan dalam sakunya, kemudian dengan sekali getaran dia sudah mengibarkan panji tersebut.

Dengan satu gerakan cepat Kiu cu Kui bo melompat bangun sambil mengawasi panji berdarah itu dengan sorot mata yang tajam, dia mengawasi hampir setengah perminum teh lamanya, mengamati tanpa berkedip sedikitpun juga.

"Sudah kau lihat dengan jelas?"

Tegur Thiat Tiong-tong kemudian. Mendadak Kiu cu Kui bo mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, setelah duduk kembali, katanya perlahan.

"Ternyata memang panji darah yang dulu pernah memerintah di seluruh kolong langit!"

Saat itulah Sui Leng-kong baru berkata lagi.

"Dia orang tua bilang, dikolong langit saat ini hanya panji berdarah itu yang bisa menyelesaikan pengepungan yang dilakukannya hari ini, karena itulah aku baru memanggilmu datang kemari"

"Sungguh?"

Seru Thiat Tiong-tong dengan penuh semangat.

"Benar"

Kiu cu Kui bo manggut-manggut.

"dulu, perguruan kami pernah menerima budi dari panji ini, kamipun pernah bersumpah, asal bertemu dengan panji darah sama seperti bertemu dengan pemilik panji itu, maka semua yang dikatakan pemegang panji akan ku taati tanpa membantah"

"Kalau begitu...."

Thiat Tiong-tong jadi sangat kegirangan.

"Tunggu sebentar"

Mendadak Kiu cu Kui bo membentak keras sambil menukas.

"sekalipun kau memiliki panji sakti itu, tahukah kau peraturan apa yang harus dipegang oleh pemegang panji?"

Thiat Tiong-tong kembali tertegun, dalam benaknya dia seakan masih memiliki sedikit bayangan yang buram, tapi sudah banyak tahun panji sakti tidak pernah munculkan diri, kebanyakan anggota generasi terakhir Perguruan Tay ki bun boleh dibilang telah melupakan akan hal ini.

Perlahan-lahan Kiu cu Kui bo berkata lagi.

"Dulu, meskipun Im dan Thiat dua orang cianpwee pernah memimpin kolong langit dengan mengandalkan panji sakti itu, namun karena kuatir kehadiran mereka akan sangat mengganggu umat persilatan lainnya, maka mereka pun membentuk sebuah peraturan bagi pemegang panji sakti!"

Pada hakekatnya Thiat Tiong-tong sama sekali tidak mengetahui tentang peraturan itu, karenanya dia tidak berani menimbrung. Dengan suara dingin kembali Kiu cu Kui bo melanjutkan.

"Panji sakti sudah banyak tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, tentang peraturan yang berlaku, apakah kau akan pulang dulu bertanya kepadanya, ataukah akan mendengarkan lewat penuturanku sekarang?"

"Cianpwee adalah seorang tokoh persilatan vang termashur, aku percaya kau tidak bakal membohongi orang"

"Sebutkah dulu nama dari pemegang panji sakti!"

Kata Kiu cu Kui bo kemudian dengan nada lierat.

"Thiat Tiong-tong!"

"Thiat Tiong-tong!"

Bentak Kiu cu Kui bo keras.

"kau seharusnya memegang panji itu dengan kedua belah tanganmu, berdiri tegap dan pejamkan mata, sejak itu maka setiap ucapan yang kau katakan akan merupakan perintah dari panji sakti, oleh sebab itu kau tidak boleh lagi berbicara sesuka hatimu tanpa dipikirkan dulu, mengerti?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Ada satu hal lagi yang perlu kau ingat, perintah hanya boleh diucapkan bila persoalan itu menyangkut mati hidup seseorang, lagipula perintahmu tidak boleh melebihi sepuluh patah kata!"

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya. Tidak boleh melampaui sepuluh patah kata? Bagaimana caraku menurunkan perintah?"

Dia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, suasana disitu dicekam dalam keheningan, tampaknya semua orang sedang mendengarkan dengan seksama.

Paras muka Kiu cu Kui bo pun berubah amat serius, dia tidak berkata apa-apa lagi.

Perlu diketahui, dulu para pendiri Perguruan Tay ki bun selalu bertindak dengan berdasarkan jiwa ksatria, walaupun panji sakti itu diciptakan dari lumuran darah para penjahat dan kaum laknat, namun mereka sama sekali tidak pernah menggunakan alasan balas budi untuk menguasai dan mengendalikan umat persilatan.

Sebagai ungkapan rasa terima kasih umat persilatan kepada mereka berdua, maka ditetapkan peraturan yang tidak pernah tertulis ini, yakni dimana panji sakti muncul maka semua orang wajib mentaati perintahnya.

Im dan Thiat cianpwee berduapun sadar, bila mereka tidak mengikat diri dengan peraturan maka lama-kelamaan mereka akan menjadi jumawa dan memberi perintah semaunya sendiri.

Karenanya merekapun menetapkan, jika tidak menyangkut mati hidup seseorang maka mereka tidak boleh memberi perintah, sekalipun harus menurunkan perintah pun tidak boleh melampaui sepuluh patah kata.

Peraturan ini berlaku turun-temurun dan harus ditaati oleh setiap orang yang memegang panji sakti itu.

Hanya sayang karena belakangan Perguruan Tay ki bun tertimpa bencana, daya pengaruhnya juga tidak sekuat dulu, meski ada panji sakti pun belum tentu ada orang mau menuruti perintahnya, oleh sebab itu para ciangbunjin nya tidak pernah juga mewariskan peraturan ini kepada generasi berikut.

Dengan sepasang tangan memegang panji sakti itu, perlahan-lahan Thiat Tiong-tong memejamkan matanya, berbagai pikiran berkecamuk didalam benaknya, dia mulai bertanya kepada diri sendiri.

"Apa yang harus kuucapkan dalam perintahku?"

Bila dia mengatakan.

"Harap lepaskan mereka semua dalam keadaan hidup", ini berarti termasuk musuh besar Perguruan Tay ki bun pun akan dibebaskan, dia tidak ingin menggunakan panji sakti untuk menyelamatkan para musuh perguruannya. Jika dia mengatakan.

"Bebaskan saudara seperguruanku!"

Maka semua orang yang ada dalam gedung keluarga Li akan turut mati terkepung, dia tidak tega untuk mencelakai Li Lokyang dan putranya yang berjiwa ksatria dan amat seti kawan itu.

Sebaliknya bila dia mengatakan"

"bebaskan saudara seperguruan ku dan anggota keluarga Li"

Maka orang orang seperti Hay Tay-sau serta para centeng yang bukan bermarga Li akan tewas secara mengenaskan disitu.

Tentu saja dia tidak tega mencelakai kawanan manusia yang tidak bersalah itu.

Untuk sesaat dia hanya berdiri kaku, tidak sepatah kata pun mampu diucapkan keluar.

Mendadak terdengar Kiu cu Kui bo berseru.

"Bila tidak segera kau sampaikan, perintahmu tidak berlaku lagi"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkan.

"Sebenarnya perintah inipun ada batas waktunya yakni sampai hitungan ke sepuluh, biarpun aku tidak menghitung tapi aku rasa waktunya sudah tiba!"

Dalam cemas dan gelisahnya buru-buru Thiat Tiong-tong berseru.

"Menyingkir dan memberi jalan kebebasan, segera mundur dari sini"

Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong menurunkan kembali tangannya, namun dia masih berdiri kaku, peluh dingin membasahi jidatnya dan bercucuran membasahi seluruh pakaian yang dikenakan.

Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menghela napas panjang sambil berkata.

"Kusangka kau akan mengucapkan kata-kata itu"

"Perkataan apa?"

Tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

"Bebaskan orang yang ingin kubebaskan!"

Sekujur tubuh Thiat Tiong-tong segera gemetar keras, sepasang matanya terbelalak lebar, tiba-tiba dia menjerit keras lalu muntahkan darah segar, darah yang segera menodai panji sakti dalam genggamannya.

"Kee.... kenapa kau?"

Tanya Sui Leng-kong terperanjat. Dengan air mata berlinang kata Thiat Tiong-tong.

"Kenapa tidak terpikir olehku akan kalimat perintah itu?"

Begitu selesai berkata, kembali dia memuntahkan darah segar, tubuhnya ikut roboh terkapar ke atas tanah. Buru-buru Sui Leng-kong memeluk tubuhnya dan berseru dengan air mata bercucuran.

"Kau jangan menyalahkan diri sendiri, jangan menyalahkan diri, dalam keadaan seperti ini, siapa pun pasti akan merasa tegang"

Ai Thian-hok yang duduk disamping Kiu cu Kui bo tiba-tiba menyindir sambil tertawa dingin.

"Jika seorang lelaki sejati ingin membalas dendam, seharusnya andalkan kepandaian sendiri, jangan manfaatkan kemampuan orang untuk hapuskan sakit hatimu, lelaki macam apa itu?"

Perkataan tersebut bagaikan sebuah lecut yang menghajar tubuhnya.

Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergetar keras, bagaikan kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin, dia termangu berapa saat lamanya, kemudian sambil melompat bangun serunya.

"Terima kasih banyak atas petunjukmu, akan kuingat terus perkataan ini!"

Ai Thian-hok berseru nyaring.

"Menggunakan siasat bagus untuk menghadapi orang baik, sekalipun kau lakukan itu dengan cara yang jujur dan gagah, namun perbuatan semacam ini tidak patut dilakukan oleh seorang lelaki macam kau...."

"Kata-kata yang indah ini akan selalu kuingat dalam hati"

Perlahan-lahan Ai Thian-hok bangkit berdiri, tambahnya dengan suara dalam.

"Oleh karena kuhormati kau sebagai seorang lelaki sejati, maka aku baru berbicara begitu, Suhu, mari kita pergi!"

"Boleh tahu siapa nama anda?"

Teriak Thiat tiong-tong.

"Perguruan kami hanya satu kali mendengarkan perintah dari panji sakti, itupun demi mewujudkan sumpah yang pernah diucapkan dulu, bila kita bersua lagi dikemudian hari mungkin kita akan berhadapan sebagai musuh, buat apa kau tanyakan soal ini?"

Sambil mengebaskan ujung bajunya dia segera bangkit berdiri. Si bocah pincang buru-buru berjumpalitan dua kali di udara dan melayang turun di sisinya, teriaknya.

"Suheng, aku ikut bersamamu"

"Bocah nakal"

Seru Ai Thian-hok sambil tersenyum.

"kenapa kau selalu berjumpalitan? Memangnya sudah tidak bisa ilmu meringankan tubuh!"

Sambil menarik tangan bocah pincang itu, dia segera meninggalkan hutan dengan langkah lebar.

Kawanan manusia berbaju hijau yang berada diseputar hutan pun beramai-ramai bangkit berdiri, ketika berjalan lewat dari samping Thiat Tiong-tong, satu per satu mereka mengawasi pemuda itu dengan seksama.

Orang yang berjalan di belakang bocah pincang itu adalah seorang lelaki berlengan tunggal yang memiliki perawakan tinggi besar, wajahnya selalu muram tapi langkahnya ringan bagaikan sedang melayang.

Dibelakang lelaki berlengan tunggal adalah si manusia kudis yang mirip orang idiot, sambil menengok kearah Thiat Tiong-tong dan tertawa, ujarnya.

"Kami telah membuatmu kelaparan hampir dua hari, maaf, maaf."

Lelaki bermata juling yang mengikuti di belakangnya segera tertawa seram.

"Saudara Thiat"

Serunya.

"lebih baik jangan kelewat dekat dengan orang ini, hati-hati kalau sampai tertular penyakit kudisnya"

Dibawah sinar mutiara berwarna hijau, raut muka orang ini benar-benar lebih menakutkan daripada setan.

Tanpa sadar Thiat Tiong-tong mundur selangkah kebelakang, melihat itu sambil tertawa tergelak ke dua orang itu berjalan keluar meninggalkan hutan.

Dibelakang mereka adalah seorang lelaki cebol yang berwajah kusut, bermata tikus, berbibir seperti babi dan giginya bertaring, waktu itu dia sedang mengawasi Thiat Tiong-tong bagaikan seekor ular berbisa.

Begitu menyaksikan tampang orang itu kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergidik dan sangat muak, tidak kuasa dia mundur selangkah lagi.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran seorang menimpali sambil tertawa.

"Harap hengtay jangan berkerut kening, meskipun wajah beberapa orang ini sedikit kurang sedap dipandang, namun hati mereka jauh lebih haik ketimbang lelaki tampan"

Orang ini berdada ayam dan bungkuk punggungnya, suaranya keras bagai gembrengan pecah.

Dibelakang orang ini adalah seorang lelaki tinggi besar bagaikan sebuah pagoda, wajahnya kasar dan dipenuhi burik sebesar mata uang emas.

Ke enam orang itu ditambah dengan Ai Thian-hok yang buta serta si bocah pincang berjumlah persis delapan orang, satu demi satu mereka berjalan lewat dibawah sinar mutiara berwarna hijau sehingga kelihatan bagaikan sukma gentayangan.

Kembali Thiat Tiong-tong berpikir.

"Kiu cu Kui bo memang luar biasa, entah darimana dia peroleh anak muridnya ini, masih ada satu orang lagi, bagaimana pula tampangnya?"

Dia kembali berpaling, tampak seorang pemuda berbaju putih yang berwajah tampan berjalan mendekat sambil menjura, sambil menengok ke arahnya pemuda itu melemparkan sekulum senyuman.

Pemuda ini bukan cuma tampan, gerak geriknya amat sopan, senyumannya sangat ramah.

Kenyataan ini jauh diluar perkiraan Thiat Tiong-tong, buru buru dia balas memberi hormat seraya berkata.

"Hati hati dijalan hengtay!"

Tapi pemuda itu segera menggelengkan kepalanya sambil menuding ke telinga dan mulut sendiri, ternyata walaupun dia memiliki panca indera yang genap dan empat anggota badan yang sempurna, namun selain tuli, diapun bisu.

Tidak perlu ditanya lagi ke sembilan orang itu tidak lain adalah sembilan setan yang paling tersohor dan paling misterius dalam dunia persilatan, sembilan jagoan andalan Kiu cu Kui bo.

Setelah ke sembilan orang itu keluar dari hutan, dibelakang mereka mengikuti enam orang gadis cantik berbaju warna warni.

Biarpun ke sembilan orang setan adalah kawanan manusia cacad yang berwajah aneh lagi jelek, tapi ke tujuh iblis wanita justru cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bukan saja rambutnya disanggul indah, matanya bening, senyuman pun sangat menawan hati.

Perempuan pertama adalah seorang gadis berbaju ungu, sambil mendekati Thiat Tiong-tong katanya sambil tertawa.

"Jit-moay kami menaruh perhatian yang begitu besar terhadapmu, aku pikir kau tentu seorang pemuda yang tampan, bersediakah kau tunjukkan wajah aslimu?"

Lima orang gadis cantik lainnya segera maju mengerubung.

"Siapakah jit-moay kalian itu?"

Tanya Thiat l'iong-tong kaget.

"Dia!"

Seru gadis berbaju ungu itu sambil menuding ke arah Sui Leng-kong.

Thiat Tiong-tong tercekat hatinya, tanpa terasa dia berpaling kea rah Sui Leng-kong.

Kembali gadis berbaju ungu itu tertawa cekikikan.

"Sebentar lagi dia akan pergi bersama kami, sekarang per hatikan dulu wajahnya beberapa kejap!"

"Leng-kong, kau.... kau.... ?"

"Sui Leng-kong sudah bergabung dalam perguruan kami dan menempati urutan paling buncit dari Jit sian cu (tujuh orang dewi)"

Kata Kiu cu Kui bo dingin.

"berarti mulai saat ini kau akan jarang sekali dapat bertemu dengannya"

"Tujuh dewi?"

"Betul, ke tujuh orang murid wanita ku persis seperti tujuh dewi yang baru turun dari kahyangan, mereka tidak bisa menjamah semua kehidupan keduniawian"

"Bukankah kau sudah mempunyai tujuh orang murid yang persis menempati posisi tujuh wanita iblis, kenapa kau harus memaksa dia bergabung denganmu?"

"Lo-jit sudah dinodai Phoa Seng-hong, dia sudah bukan perawan lagi, kini Sui Leng-kong muncul, kebetulan sekali dia bisa menempati tempat kosong itu"

"Apakah kau tidak akan mengakui muridmu yang sudah ternoda?"

"Kalau dewi sudah ternoda oleh napsu duniawi, tentu saja dia tidak berhak menempati posisi sebagai dewi lagi"

Bentak Kiu cu Kui-bo dengan suaara nyaring.

"sekalipun aku harus mewakilinya melakukan pembalasan dendam, namun dia pun harus diusir keluar dari perguruan"

"Hmm, aku tidak percaya kalau anak muridmu benar-benar dapat menjaga keperawanan tubuh mereka"

Jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin. Kiu cu Kui bo tertawa terbahak bahak.

"Hahahaha.... aku justru akan suruh kau mempercayainya"

Ditengah gelak tertawa yang keras, dia memberi tanda sambil serunya.

"Anak anak, tunjukkan kepadanya!"

Gadis berbaju merah itu segera tertawa cekikikan, ujarnya.

"Thiat siangkong, pentang matamu lebar lebar"

Sambil berkata dia menggulung lengan bajunya dan mem perlihatkan pergelangan tangan-nya yang putih dan mulus.

Kelima orang gadis lainnya segera mengikuti gerakannya dengan menggulung lengan baju masing-masing.

Thiat Tiong-tong segera memperhatikan dengan seksama, biarpun hanya disinari cahaya hijau yang redup dari mutiara, namun ke lima buah lengan tersebut kelihatan begitu putih, halus dan lembut, bagaikan lengan orok yang baru lahir.

Pada ke enam lengan yang putih itu, tepatnya dibawah bahu, terlihat ada sebuah tahi lalat berwarna merah cerah, warna merah itu segar dan kontras dibalik kulit tubuh yang putih, tapi jelas dapat dilihat kalau benda itu tidak lain adalah tahi lalat tanda keperawanan.

Tidak kuasa lagi Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya.

"Nama besar tujuh wanita iblis sudah tersohor di seantero dunia persilatan, selama ini orang beranggapan mereka adalah sekawanan iblis wanita yang cabul dan suka merusak kaum pria, tak disangka ternyata mereka adalah gadis-gadis suci yang bisa menjaga keperawanan masing-masing. Phoa Seng-hong telah menodai seorang gadis suci bersih, tidak heran jika orang lain datang mencarinya untuk membalas dendam"

Tiba-tiba terlihat ada sesosok bayangan manusia melintas masuk ke dalam hutan, orang itu berbaju putih dengan gerakan tubuh yang cepat dan lincah, dia tidak lain adalah Im Ceng, anak murid Perguruan Tay ki bun.

Setibanya ditempat tersebut, dia segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan cepat berdiri dihadapan Thiat Tiong-tong dengan sikap melindungi.

"Im kongcu, mau apa kau datang kemari?"

Tidak tahan Thiat Tiong-tong bertanya.

"Aku menguatirkan keselamatanmu, maka tidak tahan untuk kemari menengokmu!"

Thiat Tiong-tong seketika merasakan hawa panas bergolak dalam dadanya, serunya lagi.

"Aku sama sekali tidak kenal dengan Im kmigcu, kenapa Im kongcu menaruh perhatian besar terhadapku?"

"Kau telah selamatkan aku dari jebakan wanita busuk, tanpa pertolonganmu, mungkin aku akan menjadi manusia paling berdosa bagi Perguruan Tay ki bun, budi ini sangat besar, mana boleh aku tidak membalasnya?"

"Jadi kaupun anak murid Perguruan Tay ki bin?"

Tegur Kiu cu Kui bo tiba-tiba sambil menarik muka.

"Benar"

Sahut Im Ceng sambil membusungkan dada.

"akulah Im Ceng, putra dari ciangbunjin perguruan Tay ki bun, mau apa kau?"

"Kalian berdua sama-sama anggota Perguruan Tay ki bun, kenapa bilang tidak saling mengenal? Sebenarnya sandiwara apa yang sedang kalian mainkan dihadapanku?"

Tegur Kiu cu Kui bo lagi dengan suara keras.

Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar keras, sementara Im Ceng dengan perasaan terperanjat segera berpaling, mengawasi rekannya tajam tajam sembari menghardik.

"Jadi kaupun anggota Perguruan Tay ki bun? Siapa bilang kaupun anggota Perguruan Tay ki bun?"

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong terbungkam, tidak mampu berbicara. Kiu cu Kui bo kembali berkata.

"Orang ini memiliki panji sakti dari Perguruan Tay ki bun, mana mungkin dia bukan anggota Perguruan Tay ki bun? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Cepat katakan!"

"Aku mempunyai kesulitan yang tidak bisa diungkap...."

Thiat Tiong-tong menghela napas sedih.

"Suhu"

Sui Leng-kong segera menimbrung.

"lebih baik kau orang tua jangan mendesaknya lagi!"

Dengan pandangan dingin Kiu cu Kui bo memandang Thiat Tiong-tong berapa kejap, kemudian ujarnya.

"Baiklah, sepuluh hari kemudian aku akan mengundangmu untuk menjelaskan persoalan ini, sementara waktu aku bebaskan dirimu"

"Terima kasih suhu"

Cepat Sui Leng-kong menyembah. Kiu cu Kui bo menarik lengan bajunya, dengan sekulum senyuman ramah menghiasi bibirnya dia berbisik.

"Anak baik, ayoh kita pergi!"

Sui Leng-kong manggut-manggut, tanpa bicara dia menengok mengawasi Thiat Tiong-tong sekejap, waktu itu Thiat Tiong-tong juga sedang menatapnya, ketika empat mata saling bertemu, mereka seolah merasa ada banyak perkataan yang hendak disampaikan, namun tidak sepatah katapun mampu diutarakan.

Tatapan mata yang berlangsung cukup lama seolah telah saling menjalin suatu perasaan cinta yang tidak terhingga.

Akhirnya Sui Leng-kong telah pergi, pergi dengan membawa bau harum, pergi dengan meninggalkan perasaan kehilangan yang mendalam.

Setelah bayangan tubuh ke dua orang itu lmyap dari pandangan, Im Ceng baru melotot kearah Thiat Tiong-tong, tiba-tiba dia mencengkeram bahunya sambil berteriak.

"Mereka telah pergi, bagaimana penjelasanmu kepadaku?"

"Saat ini aku masih belum dapat memberi penjelasan"

"Kau tidak dapat menjelaskan berarti kau memang anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, jika kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, hari ini jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"

Hardik Im ceng. Thiat Tiong-tong tertawa getir.

"Sekalipun aku hanya anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, tapi kulakukan hal ini toh demi menyelamatkan nyawa kalian semua, kenapa kau malah ingin membunuhku? Membalas air susu dengan air tuba?"

Dengan penuh amarah kembali Im Ceng berteriak.

"Kau telah selamatkan nyawa dari begitu banyak musuh besar Perguruan Tay ki bun dengan menggunakan panji sakti milik perguruan kami, bagaimana mungkin aku bisa berterima kasih kepadamu?"

"Walaupun aku telah selamatkan jiwa mereka, tapi akupun telah selamatkan nyawa dari begitu banyak lelaki ksatria dari gedung keluarga Li, apakah kau sudah melupakan akan hal ini?"

"Bagaimana pun juga, aku harus bertanya dulu kepadamu, darimana kau dapatkah panji sakti itu?"

"Soal inipun kau tidak perlu tahu"

"Panji darah adalah panji sakti pusaka perguruan, kenapa aku tidak berhak untuk mengetahuinya?"

Teriak Im Ceng makin gusar.

"Walaupun kau tidak perlu tahu, namun kau punya hak untuk mengambil balik"

"Panji sakti itu berada dimana sekarang?"

Dari dalam sakunya Thiat Tiong-tong mengambil keluar panji darah itu, lalu dengan suara berat ujarnya.

"Panji sakti ini merupakan pusaka perguruan, pemegangnya mempunyai kedudukan diatas posisi ciangbunjin, setelah kau mendapatkan kembali panji ini, kuharap bertindaklah lebih berhati-hati!"

Baru saja Im Ceng akan menerima panji sakti itu, mendadak dia mundur selangkah sambil berseru.

"Bila kau bukan anggota Perguruan Tay ki bun, tidak mungkin kau akan serahkan panji sakti itu kepadaku, pun tidak akan mengetahui seluk beluk perguruan sejelas itu. Sebaliknya bila kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun, kenapa harus mengakui bahwa dirimu gadungan? Tadinya aku benar-benar tidak habis mengerti dengan persoalan ini, tapi sekarang aku sudah tahu"

"Karena apa?"

Tidak tahan Thiat Tiong-tong berseru.

"Karena dalam Perguruan Tay ki bun terdapat seorang murid murtad yang tidak berani berjumpa denganku"

Kata Im Ceng sepatah demi sepatah kata.

"karena merasa bersalah, dia jadi malu sendiri"

"Apa yang telah dia lakukan?"

Tanya Thiat Tiong-tong dengan perasaan terkesiap. Sinar berapi api memancar keluar dari balik mata Im Ceng, dia tertawa dingin.

"Hmm, di saat aku sedang terluka parah, ketika nyawaku sedang diujung tanduk, dia telah meninggalkan aku, bahkan dengan tebalkan muka mengaku musuh sebagai ayah"

"Kalau memang begitu, kenapa kau bisa hidup hingga sekarang?"

"Untung lukaku waktu itu sangat parah hingga tidak dijaga secara ketat, tampaknya mereka baru akan menginterogasi setelah aku sadar dari pingsanku!"

"Benarkah perkataanmu itu?"

Berubah wajah Thiat Tiong-tong.

"Buat apa aku berbohong?"

Teriak Im Ceng gusar.

"semua kejadian itu kualami sendiri, pelajaran itu kuperoleh dari cucuran darah, buat apa aku mesti berbohong?"

"Aaai, kau salah paham!"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Salah paham?"

Im Ceng tertawa seram.

"kalau salah paham, kenapa kau tidak berani bertemu aku?"

Thiat Tiong-tong tertegun.

"Aku...."

"Thiat Tiong-tong!"

Teriak Im Ceng semakin gusar.

"urusan sudah jadi begini, buat apa kau masih berlagak pilon? Kalau bukan Thian maha adil sehingga aku sempat mendengarkan pembicaraanmu dengan Suto Siau, kalau bukan nasibku lagi mujur hingga sempat kabur dari musibah itu, mungkin di kolong langit benar-benar tidak ada yang tahu akan perbuatan terkutukmu yang telah menghianati perguruan dan menjual rekan sendiri. Sekarang Thian telah memberi kesempatan kepadaku untuk bisa bertemu lagi denganmu, apa lagi yang hendak kau katakan? Thiat Tiong-tong, serahkan nyawamu!"

Dengan cekatan Thiat Tiong-tong membalik tubuhnya, mundur sejauh tiga langkah, serunya sambil menghela napas sedih.

"Samte, sekalipun ingin membunuhku, seharusnya dengarkan dulu penjelasanku"

Im Ceng tertawa dingin.

"Percuma, biar kau menjelaskan sampai lidahmu berbunga pun tidak bakal aku percaya lagi kepadamu"

"Sebetulnya waktu itu aku hanya membohongi Suto Siau agar dia percaya kepadaku, kemudian baru mencari kesempatan untuk melarikan diri"

Dia tidak segan mempertaruhkan nyawa sendiri untuk ditukar dengan keselamatan Im Ceng, tapi kini Im Ceng justru menaruh kesalah pahaman yang begitu mendalam terhadapnya.

"Apakah waktu itu kaupun kabur dari sana?"

Jengek Im Ceng sambil tertawa dingin. Thiat Tiong-tong mengangguk sedih.

"Waktu itu aku kabur dengan penuh penderitaan, bila kuceritakan, belum tentu kau mau percaya"

"Tentu saja aku tidak akan percaya"

Im Ceng tertawa seram.

"jangan lagi persoalan lain, waktu itu kau terluka parah bahkan sudah terjatuh ke tangan Suto Siau, bagaimana mungkin masih sempat melarikan diri?"

"Tapi begitulah kenyataannya, kau ingin bagaimana baru mau percaya?"

"Biar kau bunuh akupun, aku tetap tidak akan percaya!"

Teriak Im Ceng nyaring.

Baru selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari luar hutan berkumandang suara gelak tertawa seseorang.

Baca Juga: Legenda Kelelawar 2

Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert