Eps 3 Pedang Pusaka Dewi Khayangan - Khu Lung
Baca online Pedang Pusaka Dewi Khayangan - Khu Lung
Cersil Pedang Pusaka Dewi Khayangan - Khu Lung.
Tanya Ciek Ban Cing.
"Hal itu karena mereka salah menduga cayhe sebagai orang kepercayaan seseorang yang mereka sebut Hong Lo cianpwe Oleh karena itu mereka segera melepaskan din cayhe kembali,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Lao siu telah mengikuti Lo ceng cu selama berpuluh tahun Hampir seluruh dunia pernah dijelajahl Lao siu Apakah sepatah dua patah katamu itu dapat menipu Lao siu?' tanyanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana dugaan Ciek Cong koan sen din'?"
Tanya Yok Sau Cun.
"pada saat itu Hu toanio belum tahu asal usulmu Melihat kau datang dan Tian Hua san ceng, dia sengaja membiusmu dan membawamu ke tsmpat ini pada tengah malam Tetapi pemimpin pergerakan itu sendiri tahu siapa dirimu, malah meminta engkau meneruskan sandiwara yang telah kau perankan Mereka mengantar kau kembali supaya menjadi matamata bagi mereka,"
Sahut Ciek Ban Cing. Hati Yok Sau Cun panas sekali. Dia tertawa dingin.
"Apa yang dikatakan Ciek Cong koan hanya berdasarkan dugaan saia Apakah masih ada bukti lain yang tebih konkret?" .
"Tentu saja Lao siu masih ada bukti lainnya Yaitu perkataan yang keluar dari mulut Hu toanio sendiri bahwa kau adalah orang sendiri Apakah aku hanya mengada-ada?" .
"Dari siapa kau dengar centa itu?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Kau tidak perlu tanya siapa yang mengatakannya Lao siu hanya mgin tahu apakah benar Hu toanio pernah mengucapkan katakata itu?" .
"Tidak salah. Hu toanio memang pernah mengatakannya." . Yok Sau Cun terdiam sesaat Dia mengerti urusan sudah semakin runyam. Waktu itu Siau cui kouwnio sedang menyadarkan aku, namun ketahuan oleh Hu toanio Dia sengaja mengucapkan katakata. itu di depan Siau cui kouwnio. Mana boleh dipercaya begitu saja? "
Sahut Yok Sau Cun.
"Kalau katakata Hu toanio tidak dapat dipercaya, lalu katakatamu memang bisa dipercaya?"
Tanya Ciek Ban Cing ketus "Apalagi kami bernasil menemukan dirimu di tempat ini".
"Cayhe dan Ciok kouwnio justru datang untuk menolong Siau cui yang dibawa oleh Hu toanio.".
"Orang dan Tian Hua san ceng tidak perlu dikhawatirkan kalian berdua,"
Kata Ciek Ban Cing. Ciok Ciu Lan tidak dapat menahan kekesalannya lagi.
"Yok Siangkong kalau orang tidak membutuhkan perhatian kita. iebih baik kita pergi saja,"
Katanya. Mata Ciek Ban Cing tajam menusuk.
"Pergi? Apakah kalian pikir begitu mudah?". Ciok Ciu Lan mencibirkan bibirnya,.
"Apa yang kalian kehendaki?" . 'Kalian berdua Iebih baik ikut Lao siu kembati ke Tian Hua san ceng untuk diadili"
Sahut Ciek Ban Cing. Yok Sau Cun berusaha keras mehahan hatinya yang sudah marah sekali.
"Bagaimana kalau cayhe tidak mau ikuf?"
Tanyanya dingin.
"Keputusan itu bukan di tangan kalian,"
Sahut Ciek Ban Cing. Yok Sau Cun merasakan seakan dadanya hampir meledak.
"Keturunan Yok tidak Terima dihina orang!"
Teriaknya.
"Kalau kau sudah Lao siu lumpuhkan nanti, lihat apa kau masih bisa berkeras?"
Kata Ciek Ban Cing garang Begitu perkataannya setesai, tangan kanannya segera terulur Lima jannya berbentuk cakar, mencengkeram ke arah dada Yok Sau Cun.
"Yok Siangkong, hati hati' Kirn ka sin adalah jago nomor satu dari perguruan Eng jiau buni"
Tenak Ciok Ciu Lan cemas. Rupanya julukan Ciek Ban Cing adalah Kirn Ka sin (Dewa berjari emas).
"Tidak apaapa Cayhe tidak perduli seberapa tinggi ilmunya itu,' sahut Yok Sau Cun sambil menggeser tubuhnya menghindari serangan tersebut.
"Kalau tidak perduli, mengapa kau tidak membalas"
Teriak Ciek Ban Cing Sekali lagi jannya direntangkan dan menerjang ke arah bahu pemuda itu.
Kali mi Yok Sau Cun tidak sungkan lagi Dia segera mengeluarkan pedang lentuylya Tubuhnya mencelat setinggi satu depa Serangan Ciek Ban Cing luput lagi Namun dengan kecepatan yang sulit diuraikan dia memutar tubuhnya dan mengambil posisi setengah jongkok Bagaikan seekor harimau yang siap menerkam kedua kakmya dihentakkan, tubuhnya menerjang Yok Sau Cun Pemuda itu kelabakan Dia menjatuhkan din nya tiarap di atas tanah Dengan gaya seekor ular melata dia menyelusup ke depan.
Terkaman Ciek Ban Cing melewati arah kepalanya Yok Sau Cun menekuk kedua lututnya dan sekali loncat dia sudah berdiri kembali.
Gulungan pedang masih tergenggam di tangannya Dia merasa kurang sopan mela wan orang tua dengan senjata tajam, sedangkan Ciek Ban Cing sendiri hanya bertangan kosong.
Ciek Ban Cing semakin penasaran Dia menjulurkan tangan untuk menangkap pergelangan tangan Yok Sau Cun.
Dia sudah berhasil menyentuh tangan itu, ketika Yok Sau Cun menendang dadanya dengan kekuatan penuh Untung saja dia berhasil mundur satu langkah sebelum tendangan itu sampaj Tapi dengan demikian ia juga tidak berhasil memegang pergelangan tangan Yok Sau Cun Hatinya sempat tercekat.
Dia tahu tipuan yang digunakan Yok Sau Cun tadi adalah sebuah jurus dari Butong pai yang bernama Kung ciok san bue (Burung merak mengibaskan ekor) "Apakah pemuda ini murid Butong pai'?"
Pikirnya dalam hati.
Tapi dia tidak ingin berpikir lebih lantut Kini dia merentangkan kembali kedua tangannya serta mengkepakkepak Gerakan tubuhnya cepat bukan main seperti seekor burung elang di angkasa Yok Sau Cun mengeluarkan serangan kaget Dia segera mengerahkan ginkangnya untuk menghindarkan diri Kedua orang itu saling menyerang dengan hebat Ciek Ban Cing mendapat kenyataan bahwa Yok Sau Cun bukan saja dapat bergerak cepat namun ilmu silatnya juga campur aduk.
Jurus yang digunakannya berlainan terus.
Kadangkadang dia menyerang dengan Jurus Siaulim pai.
Kadang dia berkelit dengan jurus Hua san pai.
Lalu Kong to tong pal Pat kua, bahkan ada beberapa jurus dari golongan hitam seperti Mo kauw Namun jurus itu sudah banyak mengalami perubahan sehingga tidak begitu keJi dan ganas.
Pada saat itu, Yok Sau Cun baru sadar bahwa apa yang dikatakan suhunya memang benar "
Belajar ilmu silat bukan hanya penting menyerang sa|a Yang terutama ia lah bagaimana mengelakkan diri dan serangan lawan Suhu mengajarkan berbagai macam cara menangkis dan meloloskan diri dalam keadaaan terancam, sedangkan bagaimana kau membalasnya, hal itu akan terlatih sendiri bila kau senng melakukan pertarungan Asa!
kau bisa menguasai dengan baik semua ajaran Suhu ini, maka kau tidak usah ragu lagi menginjakkan kaki dalam dunia Kangouw ".
Yok Sau Cun justru mengandalkan dmu mengelakkan diri ini untuk melawan Houw jiau Sun.
Song Bun Cun bahkan Song C "
Ng San Dansekarang melawan Ciek Ban Ong Orang tua yang satu ini sudah lama mengikuti Song Ceng San llmu silatyang dimilikinya saat mi, boleh dikatakan sLidah termasuk jago kelas satu datam duma Bulim Yok Sau Cun dapat mengimbangmya sudah termasuk lumayan Apalagi dia kalah dalam pengalaman.
Ciek Ban Cing meloncat ke depan dan sekali melompat tubuhnya melambung ke alas dan menyerang Yok Sau Cun dengan terkaman kedua kaki depan yang kuat Yok Sau Cun yang sejak .tadi waspada cepat mengeiak dan menyusup di bawah perut laki-laki itu.
Tubrukan yang luput itu membuat Ciek Ban Cing semakin marah Dia menggereng keras Tubuhnya memutar bagai angin puyuh Yok Sau Cun merasa matanya berkunang Dia segera mengumpulkan hawa murni dalam tubuhnya dan memejamkan mata Dia mempertaJam pendengaran nya Ciek Ban Cing masih dengan gerakan memutar menyapu ke arahnya Yok Sau Cun membuka matanya seketika Dia metesat ke kin sebanyak lima langkah Tubuhnya membalik.
Tinju sebelah kanannya dihantamkan kepada Ciek Ban Cing dengan nekat.
Sungguh tidak sangka kalau cara berkelahi yang asalasalan itu malah membawa hasil.
"Duk!!!!"
Tubuh Ciek Ban Cing berputar beberapa kali kemudian berubah fadi lambat.
Ketika akhirnya terhenti, kakinya masih tidak dapat berdiri dengan mantap.
Gerakannya masih limbung, dia menatap Yok Sau Cun dengan terpesona Dia tahu, seandai nya Yok Sau Cun bermaksud jahat Pasti dadanya yang akan terhantam dan dia tentu sudah terluka dalam Namun sasaran pemuda itu hanya mengenai bahunya dan hanya memmbulkan sedikit rasa sakit.
"Manusia she Yok Jurus tadi hebat sekali Dengan kata lain Lao siu mengaku kalah denganmu ".
"Kalau kau memang mengaku kalah, biarkan kami pergi dan sini,"
Kata Ciok Ciu Lan.
"Katakata Lao siu masih betum selesai Meskipun kalah. Lao siu belum mau sudah Apalagi hal irn menyangkut keselamatan Lao ceng cu,"
Sahut Ciek Ban Cing. Ciok Ciu Lan kesal sekali Matanya merah membara.
"Ciek Ban Cing, apakah kau masih mem punyai rasa malu'?"
Teriaknya.
"Apa pun yang kouwnio katakan, tetap tidak akan mecubah keputusan mi."
Dia menenangkan perasaannya sesaat Kakinya kembali memasang kudakuda untuk menyerang.
"Ciok kouwnio, biarkan Ciek Congkoan bertarung sampai puas,"
Kata Yok Sau Cun.
Dia menanti sambil berdiri dengan tenang Melihat tubuh lawannya mulai bergerak, matanya memandang dengan awas Beberapa kali pertarungan telah membuat pengalamannya bertambah Otaknya juga berpikir lebih cepat.
Sekarang dia segera dapat terpikir jurus apa yang akan digunakannya untuk menangkis serangan lawan Sekarang telapak tangan Ciek Ban Cing difulurkan keduaduanya Dia tidak menggunakan jurus cakar elangnya lagi Mungkin inilah Jurus andalannya selama mi.
Yok Sau Cun mengerahkan smkana dan menyambut serangan itu dengan kekerasan.
"Blam'i'"
Keduanya termundur beberapa langkah Memang Yok Sau Cun masih kalah sedikit dalam hal Iwekang, namun dia lebih meraih keuntungan dari usianya Dia masih muda Daya tahannya dalam pertempuran lebih kuat dibandingkan dengan Ciek Ban.
Cing Dia termundur sejauh empat langkah, sedangkan Ciek Ban Cing hanya dua langkah.
Tetapi nafasnya masih tersengal sengal Yok Sau Cun sendiri sudah mulai kembali seperti biasa.
Keduanya terhenti sejenak.
Tiba-tiba mata Ciek Ban Cing bersmar terang.
"Coba kau terima lagi beberapa serangan Lao siu mi'"
Teriaknya.
Tadi dia dilawan dengan kekerasan oleh pemuda itu, ternyata Iwekangnya cukup tinggi Ciek Ban Cing lebih berhatihati seka rang Dia tahu sulit mengalahkan Yok Sau Cun, tapi rasa setianya kepada Song Lao ceng cu mengharuskan dirinya mengadu jiwa dengan anak muda tersebut Sekarang tenaga dalam yang sudah dilatihnya selama berpuluh tahun dihimpun pada kedua tetapak.
Dengan seruan lantang, dia meneriang Terlihat kedua tangannya bergerak cepat Sekaligus delapan jurus dikeluarkannya Jurus ini sangat hebat Angin yang ditimbulkan oleh kedua telapak itu menerbitkan suara menderuderu Dapat dibayangkan betapa kuat tenaga yang terkandung di dalamnya.
Dia adalah seorang tokoh dalam dunia Bulim.
Berpuluh tahun pula dia menyertai Song loya cu Tentunya kirn Ka sin bukan hanya sekedar nama kosong seperti apa yang terlihat sekarang.
Yok Sau Cun dibuatnya kalang kabut Dia bagaikan seeker cacing kepanasan yang menggeliat geliat Hatinya bingung seksli menghadapi serangan yang gencar itu Dia tahu kalau tidak cepatcepat mencan jalan pemecahannya, dia pasti akan segera terhantam oleh telapak tangan laki-laki itu Pikirannya dipusatkan kepada lawan Sambil berkelit ke sana ke man, otaknya bekerja Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya.
Dia ingat langkah ajaib yang diajarkan oleh gurunya itu Siapa tahu bisa dipakai untuk menyelamatkan diri'?
Kakinya segera mundur tiga langkah Dengan penuh keyakinan dia mulai mengatur langkah pertama Tampaknya hatinya jauh lebih tenang sekarang Dia meneruskan gerakannya tanpa perduli kemana pun lawan menyerangnya.
Mata Ciek Ban Cing bersinar aneh Sambil menyerang, dia memperhatikan gerakan yang dilakukan anak muda itu.
Hatinya tergetar Serangannya menjadi perlahan .
"Kau adalah ".
"Ciek Cong koan, tidak perlu banyak bicara dengannya,"
Kata Song Bun Cun dengan nada tidak sabar. Siapa tahu, Ciek Ban Cing malah menarik kembali telapak tangannya.
"Kongcu, Lao siu sedang berpikir, kalau Lao ceng cu sudah melepaskan Yok Siang kong, tentu pandangannya tidak akan salah Lebih baik biarkan saja dia pergi,"
Sahutnya. Ciok Ciu Lan terpana Nada bicara Ciek Ban Cing tiba tiba saja berubah Otaknya memang sangat cerdas Diamdiam dia ber pikir dalam hati.
"Ciek Ban Cing tadi hanya mengatakan dua patah "Kau adalah "
Kata kata selanjutnya tidak sempat diteruskan.
Sekarang nada bicaranya menjadi lunak.
Mungkinkah dia sudah mengenali asalusul Yok Siangkong'"'.
Wajah Song Bun Cun berubah kaku Dia memandang Ciek Ban Cing dengan dingin.
Bibirnya menyunggingkan senyum meng ejek.
"Ciek Congkoan, sekian lama bertarung toh belum kelihatan hasilnya Lebih baik kau mundur dan biarkan kongcu yang membereskannya" .
"Kongcu, setelah dipikirpikir, kita tidak boleh menyalahgunakan perkataan yang sudah dmcapkan oleh Lao ceng cu " .
"Tidak usah banyak bicara lag;,"
Kata Song Bun Cun sambjl mengangkat tangannya 'Sudan terang dia sekomplotan dengan manusia jahat itu Masa kita harus membiarkan dia pergi begitu saja?
Wajah Ciek Ban Cing memperlihatkan perasaan serba salah.
"Hal ini masih belum pasti bukan?" . Song Bun Cun tidak memperduhkannya [agi Dia rnaju beberapa langkah Pedangnya diangkat ke atas dan ditudingkan kepada Yok Sau Cun.
"Urusan kita di rumah peristirahatan itu juga belum selesai Sekarang kita teruskan dan lihat siapa di antara kita yang ilmunya lebih tinggi Lihat pedangi"
Bentaknya sambij langsung menyerang. Yok Sau Cun mundur beberapa langkah.
"Song heng .."
Panggilnya.
"Manusia she Yok, tidak perlu mengoceh lagi Kecuali bila kau bersedia menyerah dan membiarkan kami membawa kau dan nona itu pulang ke Tian Hua san ceng,"
Kata Song Bun Cun. Yok Sau Cun hilang kesabarannya. Dia tertawa dingin.
"Song heng, kalau cayhe sudah menemukan obat pemunah itu, dengan sendirinya akan cayhe antarkan ke Tian Hua san ceng Tidak ada seorang pun yang dapat memaksa cayhe Sedangkan cayhe tidak mungkin me nyerah Perlu Song heng ketahui, cayhe hanya enggan bergebrak dengan Song heng karena memandang wajah Song loya cu, sama sekali bukan karena takuti' serunya.
Song Bun Cun tertawa terbahak-bahak.
"Bagus sekali kata kata mutiaramu Tidak ingin bergebrak dengan Kongcu, tapi juga tidak mau menyerah Kalau kau keluar dari sini dengan merangkak seperti seekor anjing, mungkin Kongcu akan membiarkannya" .
"Kongcu .!"
Panggil Ciek Ban Cing yang merasa perkataan Kongcunya sungguh tidak sopan. Yok Sau Cun menatapnya dengan mata merah membara. Kesabarannya sudah habis sama sekali.
"Song Bun Cun! Jangan menghina sampai keterlaluan!'' teriaknya.
"Cringji!'"
Pedang lenturnya dihentakkan. Kaku seperti sebatang pinsil besi Ciok Ciu Lan terkejut melihat pedang itu.
"Yok Siangkong Bagaimana pedangmu bisa putus ujungnya?" . Yok Sau Cun sama sekali tidak tahu bahwa Song foya cu berhasil menebas pedangnya tempo hari Ha! itu disebabkan dirinya yang melayang dan jatuh terduduk Dia tidak sempat metihatnya dan langsung memasukkannya kembali ke balik pakaian Sampai saat mi baru digunakannya lagi Dia sendiri terkejut mendengar katakata Ciok Ciu Lan.
"Kemungkinan besar pedang ini tertebas ketika cayhe bertandmg dengan Song loya cu Cayhe merasa tidak enak telah merusak Ran pedang pusaka Ciok kouwnio,"
Sahut Yok Sau Cun sambil tertunduk dengan wajah tersipu sipu. Wajah Ciok Ciu Lan juga merah padarn.
"Yok Siangkong Jangan berkata demikian Pedang itu telah kuberikan kepadamu Apapun yang terjadi dengan pedang itu, tidak ada sangkut pautnya lagi denganku,"
Katanya. Song Bun Cun kesal melihat kedua ocang itu.
"Manusia she Yok di sini bukan tempat untuk kalian berkasih-kasihan. Kongcumu ini juga tidak mempunyai kesabaran sebanyak itu Lihat pedangi" . Pergelangan tangannya berputar. Pedangnya ditudingkan ke depan Gerakannya ini hanya tipuan belaka Dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia akan segera mulai menyerang. Pedang Yok Sau Cun juga sudah tergenggam di tangan, tapi dia belum bergerak Matanya menatap Song Bun Cun dengan tajam.
"Kalau Song heng berkeras ingin bergebrak juga, cayhe tentu akan menemani Tapi ada satu hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu Kelau sudah saling menyerang, apa lagi dengan senjata tajam, tentu ada yang akan terluka. Bukankah terlalu tidak berharga?"
Katanya.
"Kau masih mau mungkir? Kau membawa surat beracun dan membuat ayahku celaka, sesudah itu kau masih bersilat lidah memperdaya ayahku sehingga percaya kepadamu dan melepaskan dirimu begitu saja Tapi Siau cui terang terangan mendengar Hu toanio mengatakan bahwa kau adalah orang sendiri Ketika kami cepatcepat menyusul kemari, kau bahkan ada di markas penjahat ini. Apakah di dunia ini ada begitu banyak kebetulan?"
Bentak Song Bun Cun.
Semakin berkata, hatinya semakin marah.
Pedang di tangannya digetarkan "Sudah.
Kongcu telah mengatakan semuanya.
Lihat pedang!".
Serangannya kali ini bukan tipuan lagi Pedangnya mengeluarkan cahaya yang menyllaukan mata Terlihat pedang bergetar keras bagaikan sebuah kipas besar Serangan itu tepat menyerah ke jantung Yok Sau Cun.
"Piauko."
Dan luar berkumandang teriakan yang mengandung kekesalan Kemudian disusul dengan .
"Cringh"
Pedang Song Bun Cun yang sedang meluncur di tengah jalan terkibas ke samping.
Di antara Yok Siangkong dan Song Bun Cun sudah bertambah seorang gadis dengan sebilah pedang di tangan Pakaiannya berwarna hijau.
Dialah yang mengibas pe dang Song Bun Cun tadi Dia tentu saja Hui Fei Cin kouwnio Di belakangnya terlihat Siau cui yang melangkah dengan tenang Pakaiannya juga berwarna hijau Di pinggangnya terselip sebilah pedang pendek Tampaknya kedua orang itu melakukan perjalanan dengan tergesa gesa Nafas mereka masih memburu.
Song Bun Cun menarik pedangnya kernball.
Bibirnya menyunggmgkan senyurnan.
"Piau moi' Bagairnana kau juga bisa datang ke tempat mi?"
Tanyanya. Hui Fei Cin memasukkan kembali pedangnya.
"Piauko Mengapa kau demikian keras kepala? Baru mendengar sepatah perkataan Siau cui, langsung memaksa Yok Sau Cun bergebrak Mengapa kau tidak berpikir, apa sebabnya Hu toanio yang sudah berhasil meringkus Siau cui, melepaskannya kembali'? Ha! ini membuktikan bahwa dia memang sengaja membiarkan Siau cui menyebarkan apa yang didengarnya Dengan demikian, kalau kita tidak berhasil menemukan Hua toanio, kita pasti akan mencari Yok Siangkong. Bukankah biasanya kau sangat cerdik dan berpikiran panjang? Mengapa kali inii bisa tertipu siasat manusia-manusia jahat itu?"
Kata-katanya tajam dan ketus sekali Siapa pun yang mendengarnya, akan segera tahu bahwa hatinya memang sangat marah. Song Bun Cun tampaknya sangat takut kepada piaumoinya itu Dia tersenyum lebar.
"Aku dan Ciek Cong koan bergegas datang ke tempat ini Kami menemukan markas manusia Jahat itu Tidak tahunya kedua orang ini juga ada di sini Tentu saja kami curiga "
Sahutnya. Hui Fei Cin melink sekilas kepada Ciok Ciu Lan Dia tidak membiarkan Song Bun Cun meneruskan perkataannya.
"Apakah piauko sudah menanyakan kepada Yok Siangkong atau nona ini, mengapa mereka bisa berada di tempat ini?" .
"Menurut Yok heng, mereka datang untuk menolong Siau cui Tentu saja katakatanya tidak bisa dipercaya,"
Sahut Song Bun Cun.
"Mengapa tidak dapat dipercaya" ? Justru karena Siau cui ingin menolong Yok Siangkong, maka ia kena ditawan oleh Hu toanio Yok Siangkong bergegas kemari unluk menolongnya, memangnya salah? Ini malah membuktikan bahwa Yok Siangkong adalah seorang manusia yang mengingat budi orang lain Justru karena Piauko terlalu percaya kepada diri sendiri dan tidak pernah mempercayai orang lain maka terjadi hal seperti ini' "
Katanya ketus.
"Apa yang dikatakan Piau siocia memang ada benarnya "
Kata Ciek Ban Cing yang berdiri di samping. Hui Fei Cin menofehkan kepalanya.
"Ciek Congkoan, apakah kau sudah me meriksa bahwa tempat mi benar benar tidak ada orang lam?"
Tanyanya.
"BetuI Lao siu sudah memenksa seluruh ruangan dalam rumah ini Tampaknya sudah tidak ditinggali orang lagi Dan karena kita menemukan nona ini dan Yok Siangkong, maka terjadi salah paham,"
Sahutnya.
"Waktu Ciek Congkoan masuk ke rumah ini, apakah melihat seorang kakek yang su~ dah tua renta'?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Ketika lao siu masuk ke rumah ini, tidak melihat seorang pun,"
Sahut Ciek Ban Cing dengan tegas.
"Aneh sekali, ketika kami masuk tadi ada seorang penjaga rumah yang sudah tua sekali Dia tidak membiarkan kami masuk sehingga Ciok kouwnio terpaksa menotoknya.
Bagaimana dia bisa menghilang?' kata Yok Sau Cun.
Sekali lagi Hui Fei Cin melink ke arah Ciok Ciu Lan.
"Apakah Yok Siangkong masih menemukan halhal yang lain'?"
Tanyanya.
"Tidak .. Orangorang di rumah ini tampaknya sudah kabur semua Keadaannya jauh berlaman dengan kemann malam Tetapi ada beberapa |ejak yang tertinggal Ketika cayhe sedang memenksa lebih lanjut, Ciek Congkoan dan Song heng masuk ke man,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Oh ya .. Lao siu mendengar dan centa Siau cui bahwa Yok Siangkong semalam dibawa ke man oleh Hu toanio Sebetulnya apa yang terjadi?"
Tanya Ciek Ban Cing.
"Rupanya Ciek Congkoan belum menanyakan dengan jelas langsung menyerang Yok Siangkong, sindir Hui Fei Cin sambil mencibirkan bibirnya. Wajah Ciek Ban Cing merah seketika Dia mengelapkan tangannya dan berkata "
Harap Piau siocia mau memaafkan Lao siu adalah orang kasar sehmgga tidak memakal peraturan,"
Sahutnya. Yok Sau Cun kemudian menceritakan sekali lagi apa yang dialaminya tadi malam Ciek Ban Cing sampai terpana dibuatnya.
"Kalau begitu, tempat ini memang markas para penjahat Kemungkinan besar karena kedok Hu toanio telah terbuka, maka mereka bergegas memnggalkan tempat ini,"
katanya.
"Yok Siangkong, tadi kau mengatakan bahwa orang yang bersama-sama dengan Hu toanio tadi adalah laki-laki she Yu yang menitipkan surat berisi racun kepadamu,' tanya Hui Fei Cin.
"Tidak salah Meskipun cayhe tidak sempat melihat jelas raut mukanya namun dari nada suaranya, cayhe bisa mengenali"
Sahut Yok Sau Cun. 'Hm "
Hui Fei Cin menganggukkan kepalanya berkali-kali "
Kern ungki nan besar keberadaannya bersama Hu toanio di Hu kian adalah untuk mendengar gerakgerik yang teriadi di Tian Hua san ceng Tempat mi memang markas mereka Sedangkan Tiong kouwnio yang ditemui Yok Siangkong kemann malam pasti salah satu pentolan mereka "
Matanya mengerfing sekali "Yok Siangkong, menurut centamu, kau dibawa mereka dalam keadaan mata tertutup Apakah ini tempat di mana kau bertemu dengan Tiong kouwnio itu'?" .
'BetuI Cayhe ingat dengan jelas Di tempat ini tadmya ada sebuah meja bundar dan beberapa kursi Sekarang tentu sudah dipindahkan Bahkan di lantai mi sengaja ditaburkan kotoran dan debu Tapi cayhe pasti tidak keliru."
Sahut Yok Sau Cun yakin.
"Ciek Congkoan, kau bawa beberapa orang untuk memenksa daerah sekitar sini. Kemungkinan rombongan penjahat itu masih bersembunyi dan belum pergi,"
Kata Song Bun Cun. Ciek Ban Cing menganggukkan kepalanya.
"Baik. Lao siu segera melaksanakan,' sahutnya. Dia segera mengajak enam laki-laki tinggi besar yang berpakaian pengawal menyertainya Song Bun Cun menoleh ke arah Hui Fei Cin.
"Piaumoi apakah kita perlu berpencar untuk ikut mencari?".
"Semalam ketika Yok Siangkong tersadar dia menemukan dirinya dikurung dalam se buah ruangan bawah tanah Kalau saja kita dapat menemukan ruang bawah tanah tersebut, kemungkinan bisa menemukan jejak lain yang tertinggal,"
Sahut Hui Fei Cin.
"Piaumoi sungguh cerdas, kalau kau tidak mengemukakannya aku sendiri tentu tidak akan terpikirkan,"
Kata Song Bun Cun.
"Sayangnya mata Yok Siangkong sedang tertutup saat itu, entah apakah Yok Siangkong masih bisa mengingatnya?"
Kata Hui Fei Cin.
"Memang mata cayhe sedang tertutup saat itu, namun diamdiam cayhe berusaha mengingatnya dalam hati Kalau tidak salah, cayhe meiewati dua lorong panjang, menembus lima pintu Seluruhnya berjumlah limaratus tuiuh puluh tiga tindak "
Sahut Yok Sau Cun.
"Yok Siangkong benar-benar orang yang penuh perhatian terhadap segala hal"
Kata Ciok Ciu Lan sambil tertawa Entah dia bermaksud menyindir atau memang mengatakan hal yang sebenarnya?.
'Cayhe hanya menuruti nasehat suhu Ka tanya, jadi manusia itu harus tenang dalam keadaan segenting apa pun Meskipun hal yang kecil, tetap tidak boleh diremehkan Ketika itu mata cayhe sedang tertutup jadi tidak tahu berada di tempat apa Hanya bisa mengingat secara diamdiam dengan harapan dapat menemukan jalan untuk melarikan diri Oleh karena itu, cayhe berusaha mengingat jalan keluar itu."
Sahutnya tersipu sipu.
Dan pembicaraan kedua orang itu, Hui Fei Cin dapat merasakan bahwa hubungan mereka sangat dekat, namun dia tidak enakhati menanyakan di mana mereka terkenalan Oleh sebab itu, dia melanjutkan perkataannya tentang hal yang sedang diselidiki.
"Bagus sekali kalau Yok Siangkong masih mengingatnya Mari kita selidiki sekarang juga" . Semua orang meninggalkan taman tersebut. Song Bun Cun mengibaskan telapak tangannya.
"Yok heng, silahkan,"
katanya.
"Cayhe harus bertindak sebagai penunjuk jalan, maaf cayhe mendahului ' sahut Yok Sau Cun sambi!
mendahului mereka berjalan di muka.
Ciok Ciu Lan ]uga tidak sungkan lagi Dia segera mengikuti di belakang Yok Sau Cun Hati Hui Fei Cin merasa tidak enak Tapi dia juga tidak banyak bicara, hanya menginngi di belakang gadis itu Sedangkan Siau cui adalah pelayan Hui Fei Cin, sudah pasti dia mengintili nonanya Dengan demikian Song Bun Cun terpaksa berjalan di bansan paling akhir Tetapi, karena di sisi Yok Sau Cun sekarang ada Ciek kouwnio maka perasaannya lebih lega Dengan tangan menggeng' gam pedang, dia berjalan di barisan paling ujung Tampangnya terlihat gagah dan tampan.
Beberapa orang itu melewati lorong panjang Tiba-tiba di tikungan depan, Yok Sau Cun berhenti Matanya menatap ke dinding sebelah kanan.
Bibirnya tersenyum lebar Ciok Ciu Lan yang beijalan di belakangnya menjadi heran.
"Yok Siangkong, apa yang sedang kau perhatikan?"
Tanyanya. 'Ketika cayhe keiuar dari ruang bawah tanah dengan mata tertutup serta duringi oieh seorang gadis bergaun pendek, cayhd merasa tangannya menarik ke arah kin."
Sahutnya.
"Apa hubungannya dengan perhatianmu pada dinding ini?"
Tanya Ciok Ciu Lan.
"Kalau dia menarik sebelah tangan Cayhe, bukankah masih ada tangan sebelahnya yang nganggur?"
Sahut Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan kebingungan namun Hui Fei Cin mengeluarkan suara kaget.
"Apakah Yok Siangkong meninggalkan suatu tanda di dinding ini'>"
Tanya Hui Fei Cin.
"BetuI,"
Sahut Yok Sau Cun sambil menganggukkan kepalanya "Ketika cayhe ditarik oleh gadis itu, secara sembunyi-sembunyi cayhe menggoreskan ujung kuku ke dinding sebelah kanan Hal mi membuktikan bahwa semalam cayhe memang dibawa melalui lorong ini" .
Semua orang ikut melihat ke dinding yang ditunjuk oleh Yok Sau Cun Ternyata me mang ada guratan kuku yang cukup dalam tertera di sana Kalau SBJB tidak dijelaskan lebih dahulu, tentu tidak akan ada orang yang memperhatikannya karena guratan itu hanya samarsamar.
"Yok Siangkong ternyata orang yang berpikiran panjang,"
Kata Hui Fei Cin.
"Hui Siocia terlalu memuji Cayhe sendiri tidak sengaja melakukannya siapa sangka han mi akan bermanfaat"
Sahut Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan tidak ingin melihat Yok Sau Cun banyak bicara dengan Hui Fei Cin Dia segera menukas.
"Yok Siangkong, sekarang kita tel,ah menemukan sebuah petunjuk Dengan demikian waktu kita jadi tidak terbuang siasia Man kita lanjutkan penyelidikan ini" . Yok Sau Cun tidak berkata apa-apa lagi. Dengan mengikuti goresan kuku pada dinding itu, mereka berjalan terus Sampai di Ujungnya mereka membelok ke sebuah gang yang sempit, kemudian menembus Ke belakang Di dindmg sebelah kanan, kembali terlihat guratan kuku Karena lorong itu tidak mempunyai pintu penghubung maka mereka tidak perlu mencari tapi hanya maju sampai ujungnya Di sana ada sebuah pintu besar Bahkan di depannya terlihat sebuah rantai yang dikaitkan dengan gembok.
"Tadi kau mengatakan bahwa ada lima pintu yang kau lewati, ini adalah pintu kelima,"
Kata Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun mengangguk kecil Diamenjulurkan tahgan dan mematahkan gembok tersebut Pintu dibukanya. Terdengar seruan dari mulut Ciok Ciu Lan.
"Rupanya pintu ini menembus ke taman belakang,"
Katanya.
"BetuI Ruang bawah tanah itu memang dibangun dalam taman ini"
Sahut Yok Sau Cun.
"Wah Kalau begini jadi sulit. Seandainya lorong tadi yang kau lalui semalam tidak heran, kau masih meninggalkan tanda karena jalannya yang sempit sekali Tidak heran kau bisa menjulurkan tangan untuk menggores dinding tersebut Namun di sini adalah sebuah taman yang luas. Tentu kau tidak bisa meninggalkan tanda apaapa Bagaimana kita bisa menemukan ruang bawah tanah itu'?"
Kata Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun tertawa lebar.
"Tanda yang ada di sini tentu bukan guratan kuku,"
Sahutnya.
"Apakah kau juga meninggalkan tanda di sini''"
Tanya Ciok Ciu Lan dengan mata terbelalak.
"Ketika cayhe dibawa melalui taman mi, cayhe merasakan tanahnya agak lunak ".
"Pada kentungan pertama tadi malam me mang turun huian lebat"
Sahut Ciok Ciu Lan menerangkan.
"Karena menginjak tanah lunak itu maka cayhe berpikir pasti tidak sedikit jeiak kaki cayhe yang tertinggal di sini Oleh k'arena itUi setiap beberapa langkah, cayhe sengaia me nambah tenaga pada telapak kaki supaya meninggalkan jejak yang dalam Seharusnya sampai sekarang masih ada " .
"Yok heng ternyata memang banyak akal,"
Kata Song Bun Cun.
Semuanya masuk ke dalam taman itu.
Baru berjalan beberapa langkah, pada tanah yang agak lembab ternyata memang ada jeiak kaki yang tertinggal.
Karena waktu itu adalah tengah hari, maka jetak kaki itu se makin jelas.
Taman itu sangat luas Untung saja ada |ejak kaki sebagai petunjuk Tidak berapa jauh melangkah.
mereka sampai pada sebuah jembatan kecil.
Di bawahnya ada sebuah aliran air Kemudian mereka sampai pada gunung buatan yang banyak menghias rumahrumah besar Di atasnya tertanam pohon pohon palem berukuran sedang Membuat pemandangan semakin indah Di depan gunung buatan itu terdapat padang rumput yang luas Karena sekarang hampir rnasuk musim dingin maka rumput rumput itu berwarna kekuningan.
"Tanah lunak yang pertama dunjak Yok heng pasti rumput rumput ini,"
Kata Song Bun Cun sambil menunjuk dengan ujung kakinya. Yok Sau Cun maju beberapa langkah Dia berdiri dan memperhatikan sekitarnya Kemudian kepalanya dianggukkan.
"Betul. Pertamatama keluar dari ruang bawah tanah, cayhe sempat mendengar getaran daun yang tertiup angin,' sahut Yok Sau Cun.
"Kalau begitu kemungkinan besar ruangan bawah tanah itu terletak di bawah gunung buatan,"
Kata Ciok Ciu Lan.
"Man' Kita penksa tempat ini,"
Ajak Song Bun Cun.
Dia mendahului yang lain memenksa gu nung buatan itu Di samping kanan ternyata ada sebuah goa Mereka memasukinya Di dalamnya terdapat sebuah gang kecil yang sempit sekali Mereka berjalan menelusunnya Di bagian Ujung ada sebuah pintu Song Bun Cun membuka pintu tersebut Tempat itu adalah sebuah ruang tamu.
Di tengah tengah ada sebuah meja segi delapan Di sudut ada sebuah pintu lagi Rumah itu ternyata demikian ruwet Entah siapa yang membangunnya?
Sekali lagi.
Song Bun Cun mendahuiui yang lainnya membukakan pin tu Terdengar seruan kekecewaan dan mulut beberapa orang.
Termasuk Yok Sau Cun sendiri Di balik pintu itu ternyata hanya ada sebuah dapur.
Mereka memperhatikan sekitar ruangan Jtu sejenak.
Tampaknya tidak ada yang mencun'gakan Mereka pun mundur kembali ke ruang tamu tadi.
Di bagian kin ada sebuah jendela bundar yang dapat melihat pemandangan di taman Mereka berpencar untuk mencari ruang bawah tanah yang dikatakan Yok Sau Cun Namun semuanya berkumpul kembafi ke ruang tamu itu tanpa hasil apaapa Akhirnya mereka keluar dan goa itu.
Song Bun Cun memandangi gunung buatan itu dengan termangumangu Kemudian dia menoleh kepada Yok Sau Cun.
"Coba Yok heng ingatingat lagi Apakah tempatnya tidak salah'? Mengapa kita tidak berhasil menemukannya?" .
"Cayhe tidak mungkin salah ingat Dari jejak yang cayhe tmggalkan, sudah ]elas ruangan bawah tanah itu terletak di sekitar tempat ini,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Kita sejak tadi menelusun jejak yang ditinggalkan Yok heng. tapi sampai batas jembatan ini tidak ada jejak lagi Mungkinkah ruangan bawah tanah itu tidak berada di 'sekitar sini?"
Tanya Song Bun Cun.
"Meskipun mata cayhe semalam tertutup, tapi tanah lunak yang diinjak cayhe tidak saiah lagi rumputrumput ini. Di jembatan memang tidak ada jeiak Hal ini disebabkan tenaga dalam cayhe yang kurang tinggi sehingga tidak sanggup meninggalkan jejak di alas batu Tapi menurut cayhe, ruangan bawah tanah itu pasti ada di sini Hanya saja kita befum menemukan pintu masuknya "
Sa hut Yok Sau Cun. Mereka terdiam sekian lama Masing ma sing sibuk ikut berpikir Tiba tiba Yok Sau Cun mengeluarkan seruan terkejut.
"Ah... cayhe ingat ketika dibawa keluar dari ruang bawah tanah semalam hanya berjalan beberapa langkah saja sudah tercium udara segar Berarti ruang bawah tanah itu pasti berada di sekitar gunung buatan ini "
Katanya.
"Man kita cari sekali lagi"
Ajak Ciok Ciu Lan. Mereka berpencar sekali lagi. Setiap pohon disibak oleh mereka namun tetap tidak ada hasilnya.
"Di sekitar sini pasti ada pintu rahasia,"
Kata Ciok Ciu Lan.
"Pintu rahasia apa'?"
Tanya Hui Fei Cin.
"Aku pernah dengar cerita dart ibuku, bahwa ada beberapa komplotan terselubung yang takut gerakgenk mereka' diketahui orang Biasanya komplotan ini mempunyai tempat pertemuan dengan pintu rahasia Kalau bukan anggota mereka sendiri, tentu tidak tahu di mana letaknya pintu rahasia tersebut Sedangkan untuk membuka pintu rahasia, setalu ada tombol yang tersembunyi. Asal kita dapat menemukan tombol tersebut maka pintu rahasia itu akan terbuka sendiri,"
Sahut Ciok Ciu Lan menjelaskan.
"Kalau begitu. kita coba masuk kembali ke dalam goa. Sejak tadi kita hanya mencari pintu menuju ruang bawah tanah, sama sekali tidak memperhatikan tombol apa pun Siapa tahu apa yang dikatakan Ciok kouwnio ada benarnya."
Kata Song Bun Cun memberi saran. Beramai-rarnai mereka kembali ke dalam goa Hampir sepeminuman teh mereka meraba ke sana ke man tapi masih juga tidak ada hasilnya Hui Fei Cin hampir putus asa.
"Di mana tombol itu sebenarnya? Apa lagi tempat ini tidak tertembus cahaya sehingga remangremang Lagipula kita tidak mempunyai korek api, untuk melihat jelas saja sulit. Piauko. mungkin lebih baik kita ajak Ciek Congkoan ke mari saja Dia sudah berpengalaman di dunia kangouw. Siapa tahu dia bisa menemukan tombol pembuka pintu rahasia itu,"
Katanya.
"Aku punya korek api,"
Sahut Ciok Ciu Lan. Dia mengeluarkan sebuah korek api dari ikat pinggangnya.
"Ces!"
Dinyalakannya api itu dan diangkatnya untuk menymari dinding goa tersebut.
Ditelusun dan kin ke kanan Lalu dinding sebelahnya lagi Bagian ujung dinding goa itu merupakan tempat yang tergelap karena letaknya yang di p0j0k Ciok Ciu Lan melihat sebuah lekukan di dalam dinding tersebut.
"Mungkin di sini tombolnya " . Tangannya segera menyusup ke dalam lekukan yang cukup dalam itu Terasa tangannya meraba sebuah gelang besi Dia berusaha menariknya Terdengar suara deritan samarsamar di telinga mereka.
"Dentan itutampaknya berasal dari bawah tanah,"
Kata Yok Sau Cun.
Baru saja ucapannya selesai terdengar suara benda berat yang bergeser.
Mata mereka semua menoleh ke arah sumber suara itu Dinding batu sebelah kanan tibatlba berputar dan terbuka.
Di dalamnya gelap gulita, namun t'erlihat ada tangga yang menuju ke bawah.
"Ciok kouwnio sungguh pandai Kalau tidak ada engkau, mungkin untuk selamanya kita juga tidak bisa menemukan tempat mi,"
Kata Hui Fei Cin.
"Hui Siocia terlalu memandang tinggi aku."
Sahut Ciok Ciu Lan Korek api di tangannya diangkat tinggitinggi "Biar aku berjalan di muka agar ada penerangan ".
Perlu diketahui korek api zaman itu lain dengan zaman sekarang Korek yang ada di tangan Ciok Ciu Lan dapat bertahan lama seperti sebuah obor.
"Ciok kouwnio, lebih baik cayhe yang t>erjalan di depan ' kata Yok Sau Cun menawarkan diri. Ciok Ciu Lan tersenyum manis.
"Tidak apaapa Aku yang jalan lebih dahulu juga sama saja,"
Sahutnya.
Dia segera menuruni tangga batu itu Yok Sau Cun takut terjadi apa-apa pada gadis itu, maka dia segera mengikuti di belakangnya.
Begitu Juga yang lain, tiba-tiba ada sesuatu hal yang terlintas di benak Hui Fei Cin.
"Siau cui, kau tinggal di smi saja Jangan sampai kita terkurung di dalam. Kalau terjadi sesuatu atau ada orang yang tidak kenal datang, maka kau harus bertenak memanggil kami, mengerti'?"
Katanya.
"Baik,"
Sahut Siau cui Dia naik kembali ke atas.
Tangga batu itu tidak terlalu panjang Di sebelah kiri terdapat dua buah pintu besi Keduanya tidak terkunci Mereka mendorong pintu yang pertama Rupanya hanya sebuah gudang tempat penyimpanan botol botol arak yang sudah kosong Mereka se gera membuka pintu satunya lagi.
Ruangan ini juga gudang namun yang tersimpan di dalamnya adalah berbagai keperluan rumah tangga yang sudah tidak terpakai.
Di sudut dalam terdapat sebuah pintu lagi.
Mereka membuka pintu itu Dalamnya kosong melompong.
"Dalam ruangan inilah cayhe disekap tadi malam,"
Kata Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan mendahului mereka masuk ke dalam. Diedarkannya api itu ke sekeliling ruangan.
"Di sini tidak ada patunjuk apa pun. Tarnpaknya komplotan para penjahat itu memang sudah kabur.".
"Rasanya ini bukan markas mereka. Kemungkinan hanya tempat pertemuan sementara,"
Kata Yok Sau Cun kecewa.
"Kalau memang bukan markas mereka, mengapa harus dipasang tombol rahasia?"
Tanya Hui Fei Cin. Song Bun Cun tersenyum lebar.
"Ini bukan termasuk hal yang mengherankan Banyak orang kaya yang takut harta bendanya dirampok, ada juga yang membangun ruang rahasia untuk penyimpanan harta tersebut Hanya berdasarkan ruang bawah tanah ini, kita belum dapat memastikan bahwa mi markas mereka ' katanya menjelaskan.
"Kalau demikian kita naik kembali saja,"
Sahut Hui Fei Cin.
Keempat orang itu naik ke alas dan meninggalkan ruang bawah tanah tersebut.
Tampak Siau cui masih berdiri di tempat semuia dengan pedang pendek di tangan.
Dia tidak menemukan apaapa Hal ini membuktikan bahwa Tiong kouwnio bersama komplotannya memang sudah kabur.
Mereka keluar dari gunung buatan Dari kejauhan tampak bayangan tinggi besar Ciek Ban Cing mendatangi dengan tergopogopoh.
"Apakah Ciek Cong koan menemukan sesuatu hal yang genting?"
Tanya Song Bun Cun sambil menghampin dengan langkah lebar.
Hui Fei Cin Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan juga memburu ke sana Setelah melewati aliran air Ciek Ban Cing sampal pada jernbatan kecil Dia menghentikan langkahnya dan membungkuk dengan sikap hormat.
"Kongcu, Piau Siocia, ternyata kalian ber ada di sini,"
Sapanya.
"Apakah Ciek Cong koan menemukan sesuatu'?"
Tanya Song Bun Cun.
"Lao sm sudah memeriksa seluruh rumah dan daerah sekitar Tidak ada apaapa yang mencurigakan. Tetapi Lao ceng cu meng utus Song hin menyusu! ke mari dan menyuruh Kongcu serta Piau siocia segera kembali ke Tian Hua san ceng,"
Sahut Ciek Ban Cing.
"Apakah Song hin tahu mengapa Tia meminta kami kembali?"
Tanya Song Bun Cun cemas.
"Menurut Song hin, ada tamu yang datang dan Yang ciu,"
Sahutnya.
"Siapa yang datang dari rumahku?"
Tanya Hui Fei Cin.
"Lao siu tidak tahu. Song hin hanya mengatakan bahwa Lao ceng cu memmta Kongcu dan Piau siocia kembali aegera. Tampaknya ada persoalan mendesak yang Lao ceng cu ingin rundingkan dengan kalian berdua,"
Sahutnya.
"Kalau begitu, Piau moi man kita berangkat segera,"
Ajak Song Bun Cun sambil mendahului jalan di muka. Hui Fei Cin menganggukkan kepalanya dan menoleh kepada Yok Sau Cun.
"Yok Siangkong, jangan lupa |anjimu untuk berkunjung ke Yang ciu,"
Katanya.
Katakata itu diucapkan dengan nada berbisik.
Mungkin hanya Yok Sau Cun seorang yang bisa mendengamya karena dia berdirl tepat di sisi Yok Sau Cun Belum lagi anak muda itu memberikan jawaban, Hui Fei Cin, Siau cui dan Ciek Ban Cing sudah mengikuti Song Bun Cun melangkah keluar.
Tetapi di telinga Yok Sau Cun masih terasa berkumandang suara lembut dan penuh harapan itu!.
"Yok Siangkong orangnya sudah pergi Apa lagi yang kau renungkan'?"
Sindir Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun terkejut "Eh ... Apa yang kau katakan?"
"Aku lihat sebelum pergi tadi, Hui Siocia itu mengucapkan sesuatu kepadamu,"
Kata Ciok Ciu Lan dengan bibir mencibir. Terhhat rona merah di pipi Yok Sau Cun "Tidak .. tidak ada apaapa. Dia hanya mengucapkan selamal tinggal,"
Sahutnya gugup.
"Tidak usah mengatakannya. Apa yang diucapkannya kepadamu, tidak seharusnya aku tanyakan. Hm... man kita pergi,"
Ajak Ciok Ciu Lan. Setelah meninggalkan gedung beaar itu, Yok Sau Cun melihat ke sekitarnya Tidak tampak satu orang pun.
"Ciok kouwnio, aku tetap beranggapan bahwa gedung ini mencungakan.".
"Oleh sebab itu, kita harus segera pergi dan sini,"
Sahut Ciok Ciu Lan tersenyum.
"Apa yang nona maksudkan?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Kalau kita pergi berarti kita tidak menaruh cunga apaapa pada gedung ini".
"Apakah kita perlu kembali lagi nanti?"
Lanya Yok Sau Cun.
"Tentu saja harus Namun bukan sekarang,"
Sahut Ciok Ciu Lan "Kapan'?". Ciok Ciu Lan mendongakkan kepalanya "Ssst Ada yang datang "
Katanya Dan arah depan terlihat seorang laki laki dengan dandanan penduduk biasa mendatangi Yok Sau Cun tidak berkata apaapa i lagi Mereka melewati jalan setapak dan berjalan menuju kota Senja han mereka sudah sampai di sana.
"Kita cari tempat untuk beristirahat Malam nanti kita kembali lagi,"
Kata Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya Tiba-tiba terdengar suara seseorang berseru.
"Man... mari..Saudara berdua, kemarilah! Duduk sebentar agar kita dapat berbincang-bincang." . Yok Sau Cun menolehkan wajahnya ke arah suara itu. Tampak di tikungan jalan besar, ada seorang laki-laki yang duduk di belakang sebuah meja Di atas kepalanya tergantung secank kain bertuliskan Peramal sakti Tidak tepat tak usah bayar! Wajah laki-laki tua itu kurus kecil seperti kepala tikus. Di atas bibirnya menjuntai dua buah kumis panjang Usianya hampir enam puluh an. Matanya sipit, hidungnya pesek, giginya agak tonggos Wajahnya kekuningan Ku rusnya tinggal tulang dibungkus kulit Dia mengenakan pakaian yang warnanya sudah pudar. Tangannya memegang sebuah kipas yang besar dan lebar. Dia sedang menunjuk kepada Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan Wajahnya menampilkan senyuman yang lebih mirip senngai seekor tikus.
"Manusia berpatok pada kata jodoh Seng mia lo (Peramal tua) dan kalian dapat bertemu di sini juga karena ada jodoh He..he... he . saudara berdua berjatan dengan tergesa-gesa Pasti ada hal yang genting di depan mata. Marl duduk di sini sebentar. Kita berbincangbincang sejenak Seng mia lo kirn jui (Mulut emas memiliki ramalan yang selalu tepat). Tidak tepat, saudara berdua boleh segera angkat kaki,"
Katanya. Yok Sau Cun tidak memperdulikannya. Ciok Ciu Lan terpana mendengar peramal itu berkata.
"Saudara berdua berjalan dengan tergesa-gesa, pasti ada hal yang genting di depan mata"
Oia menjadi tertarik Kakinya berhenti melangkah Dia menoleh ke arah Yok Sau Cun.
"Yok Siangkong, bagaimana kalau kita cobacoba?"
Katanya.
"Orang-orang semacam itu semuanya hanya menipu untuk mencari makan Buat apa mencoba?"
Sahut Yok Sau Cun.
"Coba kita tanyakan hal genting apa yang membuat kita tergesa-gesa'?"
Kata Ciok Ciu Lan. Terdengar suara tawa dari mulut peramal itu.
"Apa yang dikatakan kouwnio itu memang benar Orang meramal untuk mencegah musibah, bukan bertanya tentang rezeki saja. Siapa tahu dapat dijadikan patokan apabila hendak melaksanakan suatu rencana"
Sahutnya. Ciok Ciu Lan melangkah menghampirinya. '.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau ada persoalan gawat yang sedang kami hadapi"
Tanyanya.
"Seng mia lo melihatnya dan wajah kalian berdua,"
Sahutnya.
"Coba kau lihat, apakah persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik?"
Tanya Ciok Ciu Lan.
"Kouwnio tampaknya sedang menguji Seng mia lo Bagaimana kalau kouwnio mengambil sebuah ciam si (Sumpil yang ada tulisannya, biasanya terdapat di kelenleng)?" .
"Tidak Ciam si kadang-kadang bisa diatur. Bagaimana kalau menuliskan satu huruf saja?"
Tanya Ciok Ciu Lan.
"Boleh boleh Silahkan kouwnio menulis huruf apa saja Nanti Seng mia lo berusaha meramalnya.".
"Yok Siangkong, kira kira huruf apa yang harus kululis?"
Tanya Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Matanya melihat sebuah pedati yang ditarik seekor sapi Dia menyahut sekenanya.
"Tulis saja huruf Gu (sapi).".
"Seng mia lo, bagaimana?"
Tanya Ciok Ciu Lan.
"Boleh . Tapi karena huruf itu dipilih oleh Siangkong ini, maka Seng mia lo akan meramalnya lebih dahulu,"
Sahut peramal Itu.
"Coba katakan,"
Ujar Ciok Ciu Lan.
"Huruf yang dipilih oleh Siangkong ini adalah 'Gu' Kalau garis alasnya dibuang maka yang terbaca adalah huruf Wu'. Kalau dari huruf 'Gu' tadi ditambahkan sebuah kumis di bawahnya. akan terbaca huruf 'Sit' (hilang). Huruf 'Wu' artinya siang Namun karena hufuf itu diambil dari huruf 'Gu' tanpa kepala, berarti bukan siang tapi malam Sedangkan huruf 'sit' didapatkan dan huruf Gu' yang ditambah segaris. Apakah artinya bahwa ada orang yang menghitang kemann malam? Sedangkan 'Gu' yang dilihat Siangkong tadi, diinngi oleh seseorang Hal ini berarti hilangnya orang tersebut kemarin malam karena dibawa orang. Dan apabila huruf 'Gu' tadi ditambah segaris iagi di bawahnya, maka akan terbaca huruf 'Seng' (Hidup) Hal ini berarti bahwa orang yang menghilang tadi malam meskipun dibawa oleh seseorang tapi sekarang dalam keadaan baikbaik saja,"
Kala peramal itu menjelaskan.
Yok Sau Cun lerpana mendengar keterangan tersebut, Apakah peramal ini benarbenar bermulut emas sehingga apa yang ditebaknya selalu tepat Kalau tidak, bagaimana dia bisa tahu bahwa tadi malam dia dibawa oleh seseorang namun berhasil kembali dengan selamat Tetapi, pikiran lain melintas Iagi di benaknya Apakah peramal ini merupakan satu komplolan dengan para penjahat itu.
"Hai..Seng mia lo, aku yang meminta diramalkan, seharusnya kau menghitung perkiraanku."
Sahut Ciok Ciu Lan.
"Baiklah Seng mia lo lihat ada beberapa hal yang sama dengan Siangkong ini Tapi karena huruf 'Gu' tadi dipilih oleh Siangkong ini, maka Seng mia lo berani memastikan bahwa yang hilang semalam bukan kouwnio tapi Siangkong ini Sedangkan 'Gu' yang dipilih kouwnio bila ditambah satu kumis juga menjadi kata sin Tapi karena huruf itu sebelulnya pilihan Siangkong ini maka berarti 'sin' yang disebut di sini bukan bermakna hilangnya dan kouwnio tapi memberi makna bahwa kouwnio akan kehilangan sesuatu Sedangkan huruf Gu' yang dibuang kepalanya menjadi Wu' (Malam) Namun karena kejadian semalam dialami lebih dahulu oleh Siangkong ini dan baru diketahui kouwnio kemudian, maka berarti bukan malam kemarin tapi malam ini" .
"Maksudmu, aku akan kehilangan sesuatu malam ini'?"
Tanya Ciok Ciu Lan terkejut.
'Betul Namun ada suatu hal lagi yang perlu diketahui kouwnio Apabila kouwnio menernui kesulitan apapun, ambillah jalan menuju arah barat Dengan demikian, jiwa kouwnio masih dapal dipertahankan."
Katanya lebih lanjut.
"Sudahlah. Kau mengoceh sembarangan Aku yang mendengar juga tidak perlu dimasukkan daiam hati."
Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan uang beberapa sen.
Diletakkannya di atas meja dan mengajak Yok Sau Cun meninggalkan tempat peramal itu.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah, terdengar si peramal berseru "Kouwnio, berhenti dulu'".
"Apalagi . Bukankah ongkosnya sudah kubayar"
Bentak Ciok Ciu Lan. Peramal itu lersenyum lebar.
"Apa yang kouwnio berikan tadi masih jauh dari cukup "
Sahutnya. Ciok Ciu Lan menjadi marah mendengar perkataannya.
"Berapa yang kau pinta?".
"Paling sedikit lima tail,"
Sahut peramal itu.
"Lima tail'? Bukankah sama saja kau menipu?"
Bentak Ciok Ciu Lan.
"Kalau Siangkong ini, Seng mia lo meramal dengan gratis Tapi lain dengan kouwnio Seng mia lo sudah memberikan jalan untuk menghindarkan diri dan marabahaya, maka bayarannva tidak dapat disamakan dengan orang lain " .
"kau."
Mata Ciok Ciu Lan mendelik Karena marah.
"Sudahlah "
Kata Yok Sau Cun sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan uang sebanyak lima tail Dia segera mengajak Ciok Ciu Lan meninggalkan tempat itu.
Selelah agak jauh, Ciok Ciu Lan berpaling sekali lagi kepada laki-laki tukang ramal tadi.
"Tampaknya dia bukan peramal biasa,"
Katanya.
Yok Sau Cun mengangkat tubuhnya.
Mereka mengisi perut di sebuah kedai bakmi di perbatasan kota Setelah itu bergegas menuju Cang ciu.
Mereka memmla dua kamar di penginapan Hinlong Pelayan membawakan leko berisi teh dan dua baskom air hangat unluk mencuci muka Kemudian dia rnengundurkan diri.
Yok Sau Cun sudah mencuci muka Dia duduk sambil menikmali teh hangat Dia melihat Ciok Ciu Lan berjalan ke kamarnya Dia segera berdiri dan membukakan pintu.
"Ciok kouwnio, apakah kita harus berma lam di sini?"
Tanyanya Ciok Ciu Lan menulupkan kembali pinlu kamar Dia menyahut dengan suara rendah.
"Siapa yang bilang kita akan bermalam di sini'?"
Malam ini kita harus cepat-cepat kembali ke Wi su kan Kita akan memeriksa sekali lagi gedung besar itu."
Sahutnya. Yok Sau Cun menuangkan secangkir teh unluk gadis itu.
"Kalau begitu, buat apa kita datang ke tempat yang begini jauh'?"
Tanya pemuda itu tidak mengerti.
"Tuan besar. Ini yang dinamakan siasat "Perangkap tikus"
Kemungkinan besar mereka mengulus orang unluk mengikuti kita Kalau mereka lihat kita pergi sedemikian jauh, mereka tentu mengira kita tidak menaruh curiga lagi pada gedung itu Seandainya tempat itu memang markas mereka maka komplolan itu akan kembali ke sana dengan hati lapang Mereka pasli tidak menyangka kita bakal kembali lagi Oleh sebab itu, malam mi kita balik tanpa sepengetahuan siapa pun Tapi, kepergian kita ini hanya unluk mencari bukti yang berharga atau petunjuk di mana kita bisa mendapalkan obat penawar bagi Song loya cu Sekali-kali jangan turun tangan tidak perlu."
Kata Ciok Ciu Lan mengingatkan Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Ciok kouwnio memang banyak pengalaman Cayhe berhasil memetik hasilnya dari pengalaman kouwnio" . Ciok Ciu Lan tertawa lebar.
"Aku sejak kecil sudah sering mengikuti ibu berkelana Tidak pernah menjadi kutu buku seperti dirimu,"
Katanya.
"Karena ingin memenuhi permintaan Cia su, cayhe sekarang |uga berkecimpung di dunia Bulim Kelak masih mengharapkan bimbingan Kouwnio " . Mala Ciok Ciu Lan menjadi cerah sekelika Dia memandang Yok sau Cun dengan seksama. 'Asal kau tidak keberatan, aku tentu de ngan senang hati memberitahukan apa yang aku ketahui "
Dia menarik napas sekali "Yok Siangkong, tadi kau mengatakan bahwa kau ingin rnemenuhl permintaan suhumu Apa sebelulnya permintaan itu'?" .
Yok Sau Cun tidak menutupi.
Dia menceritakan apa kedua permintaan suhunya dan bagaimana dia berusaha memenuhinya.
"Menilik dan ceritamu, permintaaan suhumu yang pertama adalah menemukan putra tunggalnya yang menghilang enambelas tahun yang lampau Pada waktu itu usianya baru duabelas tahun, berarti sekarang sudah tumbuh dewasa. Dia mempunyai tahi lalat merah di alis sebelah kanan Panggilannya kelika kecil adalah Liong Koan. Selain itu, tidak ada pelunjuk lagi Aih.. Dunia ini begitu luas Ke mana kau hendak mencarinya Sedangkan permintaan kedua lebih sulit lagi Song loya cu akan memenuhi permintaan itu kalau kau sanggup menerima satu jurus ilmu pedangnya Tetapi Song loya cu mendapat gelar Bulim it kiam' yaitu jago pedang nomor satu di Bulim Satu jurus ilmu pedangnya lebih sulit ditandingi daripada seratus jurus ilmu pedang jago lain."
Kata Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun tertawa gelir Ciok Ciu Lan kasihan melihatnya.
"Oh ya . Yok Siangkong, kalau menurut pendapatku, tampaknya Song loya cu dan suhumu saling kenal Mengapa waktu itu kau tidak mencoba bertanya kepadanya, apa permintaan kedua suhumu itu?"
Tanyanya.
"Tidak perlu bertanya Cayhe tidak sanggup menerima satu jurus ilmu pedang Song loya cu Tanya pun tidak ada gunanya Pada suatu hari, kalau cayhe sanggup menerima satu jurus ilmunya itu Tanpa ditanyakan dia juga akan menjelaskannya kepadaku,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Apa yang kau katakan ada benarnya juga,"
Kata Ciok Ciu Lan Dia merenung sejenak Sekali tagi dia menarik nafas panjang.
"Namun . aih, Jago-jago Bulim yang dikenal ibuku memang banyak, tapi tidak ada seorang pun yang sanggup menandingi Song loya cu. Kalau tidak, ibu mungkin bisa memohon mereka membimbingmu '.
"Tidak. , Cayhe yakin suatu han pasti sanggup menerima satu jurus itu, namun yang paling penling adalah memunahkan racun dalam lubuh Song loya cu, cayhe sudah berjanji akan menemukan obal pemunah itu sampai dapat,"
Sahut Yok Sau Cun legas.
"Persoalan ini tidak terlalu sulit.
Asal malam ini kita bisa membuktikan bahwa yang meracuni Song loyacu adalah komplotan ini, maka aku akan meminia ibu mengambilkan obal pemunah tersebut.
Kemungkinan besar, dengan menghargai ibuku, mereka akan memberikannya' sahut Ciok Ciu Lan.
Tiba-tiba Yok Sau Cun teringat sesuatu.
"Peramal yang kita temui hari ini sangat aneh Tampaknya dia sudah tahu apa yang kita rencanakan malam ini,"
Katanya.
"Orang itu hanya penipu Kata-katanya hanya berdasarkan dugaan,"
Sahut Ciok Ciu Lan.
"Bukankah kau sendiri yang memaksa mendengar apa yang akan dikatakannya?"
Goda Yok Sau Cun.
"Aku loh bukan orang bodoh Siapa yang bisa percaya ocehan seorang peramal pemeras seperii itu? aku hanya penasaran mendengar dia berkata bahwa kita sedang menghadapi persoalan gawal Rasanya dia bukan satu komplolan dengan para penjahal itu,"
Kata Ciok Ciu Lan sambil tertawa.
"Aku letap merasa curiga "
Sahut Yok Sau Cun.
"Pembicaraan kita tidak akan ada habisnya kalau berdebal seperti ini Aku ke mari unluk mengalakan bahwa matam ini kita harus kembali lagi ke Wi sukan Sekarang masih ada cukup banyak waktu.
Lebih balk kita memulihkan tenaga untuk berjagajaga kalau terjadi sesuatu nanti,' kata Ciok Ciu Lan.
Tidak menunggu Yok Sau Cun menyahut, dia segera kembali ke kamarnya sendiri Yok Sau Cun naik ke atas tempat tidurnya Dia duduk dengan sikap bersila.
Tidak lama kemudian, pikirannya sudah kosong dan tenang.
Entah berapa lama sudah berlalu.
Kelika dia membuka matanya, ruangan kamarnya gelap-gulita Sudah waktunya menyalakan penerangan Dan depan kamar lerdengar seorang pelayan menyapa.
"Kek kuan..kalian ingin makan di luar alau Siaujin pesankan beberapa macam hidangan unluk diantarkan ke dalam kamar?" . Yok Sau Cun turun dan lempal lidur Belum lagi dia menjawab, terdengar suara Ciok Ciu Lan mendahuluinya.
"Kami tidak ke mana mana Suruh lukang masak memilihkan beberapa macam hidangan yang lezal dan aniarkan ke dalam kamar."
Pelayan itu mengiakan dan mengundurkan diri Pintu kamar dibuka Ciok Ciu Lan melangkah masuk Dia tersenyum melihat Yok Sau Cun yang sudah duduk di kursi.
"Ternyata Yok Siangkong sudah bangun. Aku gembira kau masih bermimpi".
"Apakah kau sempat tidur tadi'?"
Tanya Yok Sau Cun. Ciok Cin Lan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa lidur kalau pikiran sedang kaiul,"
Sahutnya. Pelayan tadi masuk kembali sambil membawakan teko berisi air teh Yok Sau Cun menunggu pelayan itu keluar, baru benanya.
"Apakah kita langsung berangkat sehabis makan nanti?".
"Masih terlalu pagi Jangan sampai ada yang tahu Lebih baik menunggu sampai kentungan perlama ' kata Ciok Ciu Lan.
"Cayhe menurut saja apa kata kouwnio,"
Sahut Yok Sau Cun.
Kali ini pelayan masuk membawa beberapa macam sayuran dan nasi Dia meletakkannya di alas me|a dan mempersilahkan kedua lamu itu menikmatinya.
Mereka makan dengan cepal.
Setelah selesai, Ciok Ciu Lan bangkit.
"Aku kembali ke kamar sekarang Kau juga pura pura memadamkan lilin lalu lidur Kentungan pertama nanti kau keluar melalui jendela samping. Aku menunggumu di ujung jalan. Tinggalkan saja beberapa tail untuk pembayaran kamar dan makanan,"
Katanya. Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.
"Cayhe sudah mengerti.".
"Dan jendela samping, ada dua cumah penduduk. Kau harus lewat tempat itu karena keadaannya iebih gelap Di sana ada sebuah gang kecil. Bila kau jalan terus maka akan menembus ujung jalan,"
Kaia Ciok Ciu Lan menjelaskan Sekali lagi Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.
'Cayhe sudah mengingalnya".
Ciok Ciu Lan membuka pmlu kamar dan keluar Yok Sau Cun merapatkan kembali pintu tersebut dan meniup lilin supaya padam Keadaan di dalam kamar itu gelap kembaii Dia naik ke alas tempat tidur tanpa berganti pakaian.
Yok Sau Cun adalah turunan lerpelajar Dia belum pernah menjadi Ya heng jin (Orang yang berjalan malam) Hatinya agak tegang Seperti mendapatkan mainan baru Lama sekali rasanya waktu berlaiu Tepat kenlungan pertama berbunyi, dia meloncat bangun Dan sakunya dia mengambil dua pecahan uang perak dan diletakkan di atas meja Dengan hati hati dia membuka Jendela samping Selelah melongok ke kiri dan kanan, dia melompali jendela tersebut Kemudian ia merapatkannya kembali.
Sejak kecil dia sudah berlatih silal.
Ginkangnya tentu saja sudah cukup tinggi Dia hanya belum berpengalaman menjadi Ya heng jin.
Dengan sigap dia meloncat ke atap rumah penduduk Langkah kakinya nngan sekali.
Seperti sehelai daun yang tertiup angin dan hinggap di atas rumah orang.
Dia turun kembali ketika melihat gang kecil yang disebutkan Ciok Ciu Lan tadi Dengan mengendap endap, dia berjalan terus Di u]ung jalan lerlihat sesosok bayangan tinggi kurus Bukankah itu Ciok Ciu Lan?.
Gadis itu juga sudah melihat kedatangannya Dia segera maju mendekati.
"Apakah ada yang melihat dirimu?"
Tanyanya.
"Tidak'"
Sahut Yok Sau Cun tegas "Tadi ada sesosok bayangan yang muncul dari atap rumah seberang Aku hampir saja menduga dirimu Tapi dia mengambil arah utara Gerak tubuhnya sangat cepat Kemudian aku melihat kau rnuncul dari gang kecil itu, maka aku segera tahu bahwa yang tadi bukan engkau Ginkang orang itu sangat tinggi Entah dia melihat engkau tidak barusan'?"
Kata Ciok Ciu Lan.
"Rasanya tidak Waktu cayhe metewali gang kecil, tidak merasa adanya orang lain,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Untunglah... Mari kita berangkal sekarang,"
Ajak Ciok Ciu Lan. Mereka melangkah dengan tergesa-gesa Sebentar saja sudah sampai di bawah tembok perbatasan kota. Ciok Ciu Lan mengajak Yok Sau Cun ke tempat yang sepi.
"Man kita naik,"
Katanya.
Kedua tangannya menempel di tembok.
Dengan sigap merayap ke atas Jurus yang digunakannya adalah Cecak merayap Yok Sau Cun juga menempeikan kedua tangannya ke tembok itu Tapi dia menyalurkan lenaga ke telapak tangannya dan sekali hentak melayang meloncali tembok tersebut llmu yang digunakannya adalah Burung walel mencari sarang.
"Yok Siangkong, ginkangmu linggi seka li,"
Kata Ciok Ciu Lan kagum.
"llmu Ciok kouwnio juga luar biasa,"
Sahut Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan melirik sambil tersenyum.
"Kalau dibandingkan dengan Yok Siangkong, masih terpaut jauh " . Dia memberi isyarat dengan tanganny agar melanjutkan perjalanan Mereka melesat menuju luar kota.
"Dari sini Wi su kan hanya memerlukan waktu setengah kentungan. Umumnya Ya heng jin, dua ketungan sebelumnya sudah bergerak Lebih beik kita sampai di sana lebih dim, agar tidak kepergok orang lain Di depan gedung itu ada padang rumput yang luas. Tidak ada tempat untuk menyembu nyikan diri Di sana memang terdapst be nyak pohon Namun jaraknya terlalu jauh sehingga tidak dapat mengintai dengan je las Aku rasa, sebaiknya kita masuk dan laman belakang Tempat itu lebih sesuai un tuk pengintaian "
Kata Ciok Ciu Lan.
"Cayhe sudah menyatakan akan menurut apa kata Ciok kouwnio,"
Sahut Yok Sau Cun. Mata Ciok Ciu Lan yang bening menatapnya dengan penuh perhatian. Ada sinar ce merlang terpancar dari mala itu.
"Kata-kataku belum selesai Kedatangan kita malam ini hanya untuk menyelidiki Ja ngan sampai ada yang tahu Teriebihlebih jangan bergebrak dengan siapapun juga"
Katanya.
"Apakah cayhe ada tampang suka mencan keributan'?"
Tanya anak muda itu sambil tersenyum.
"Aku hanya mengingatkan bahwa kedatangan kita bukan untuk berkelahl,"
Kata Ciok Ciu Lan sambil mencibirkan bibirnya. Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.
"Cayhe sudah tahu Man kita melanjulkan perjalanan,"
Sahutnya.
Ciok Ciu Lan tersenyum sekilas dia melesat mendahului anak muda itu Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya Dia juga segera mengerahkan ginkang Dua sosok bayangan bagai burung yang lerbang di malam hari Satu di depan satu lagi di belakang Tidak sampai setengah kentungan mereka sudah liba di Wi su kan.
Ciok Ciu Lan menghindan jalan besar Dia mengambil jalan kecil Selelah menempuh dua li Dia berhenti.
"Sudah sampai,"
Katanya dengan nada berbisik.
Mata Yok Sau Cun memandang ke depan Dalam kegelapan, samarsamar lerlihat gedung yang besar itu Jarak antara mereka dan gedung itu kirakira masih ada setengah li.
Dengan pandangan mereka yang tajam, mereka dapat melihat tidak ada sedikit pun penerangan yang nyala di dalam gedung itu.
Hati Yok Sau Cun Jadi curiga.
"Apakah kawanan penjahal itu benarbenar sudah pergi'? Mengapa tidak ada penerangan sama sekali?" . Ciok Ciu Lan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada penerangan juslru menandakan bahwa mereka sudah mempunyai ren cana lertentu,"
Sahutnya.
"Apakah mereka sudah menduga kalau kita akan datang kembali malam harinya'?"
Tanya Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan tertawa kecil.
"Apa yang mereka persiapkan bukan untuk menghadapi kita. Mari. tempat ini tidak aman kalau berdiam terlalu lama,"
Sahutnya.
Dia mengajak Yok Sau Cun mengikutinya Mereka menghindan pintu depan.
Dengan mengambil arah berputar, mer'eka tiba di laman belakang.
Jaraknya memang belum terlalu dekat.
Kebetulan di sana banyak terdapat pohon buah Karena hari gelap dan daundaun pohon itu sangat rimbun Maka tidak mudah kepergok orang Ci0k Ciu Lan memberi isyarat dengan tangan Sekejap kemudian mereka sudah menyelinap di dalam hutan buah itu.
Yok Sau Cun melihat Ciok Ciu Lan sangat berhati-hati Dia berjalan dengan mengendapendap Ditelusurmya pohon pohon yang lebat agar bayangannya tidakterpantui oleh cahaya rembulan Kirakira setengah )alan, Ci0k Ciu Lan menghentikan langkah kakinya.
"Jarak dan sini ke taman belakang gedung itu tidak terlalu jauh Kita menunggu dulu sejenak baru menyelinap kesana ,"
Katanya.
Yok Sau Cun tidak berani terlalu besar hati melihat sikap Ciok Ciu Lan yang demikian waspada Dia melangkah maju beberapa tindak Dia juga menghindari tempat yang dapat memantulkan bayangannya Di arahkannya pandangan ke depan Di bagian luar hutan buah merupakanpadang rumput Tembok belakang taman itu sangat tinggi bagai sebuah benteng yang kokoh.
Kecuali suara jangkrik, hanya kesenyapan yang menyelimuti suasana sekitar.
Tiba-tiba hatinya tergetar, telmganya menangkap suara sayup sayup percakapan dua orang manusia Tidak lama kemudian menyusul tubuh yang nngan melayang turun di tengah hutan buah Perlu diketahui bah wa sejak kecil dia sudah berlatih Iwekang aliran murni Walaupun sedikit suara atau gerakan sa)a Panca mderanya segera akan membenkan reaksi Cuma sa)a dirinya sen diri tidak menduga kalau Iwekang yang dimilikinya telah mencapai tahap sedemikian tinggi.
Begitu perasaannya tergugah, dia segera menjawil lengan baju Ci0k Ciu Lan.
"Cepat menunduk! Ada orang datang,"
Katanya. Ciok Ciu Lan sama sekali tidak mendengarapaapa Hatinya merasaheran Namun dia menuruti juga permintaan anak muda itu. Dalam waktu sekejap saja, terdengar suara "Sret'"
Yang nngan Sesosok bayangan melayang turun.
Jaraknya tiga depa dengan mereka.
Dalam kegelapan.
tampak orang itu bertubuh pendek kecil Kepalanya memakai kopiah warna hitam, pakaiannya seperti seOrang tosu Warnanya hitam pula.
Di punggungnya terselip sebatang pedang panjang Tangannya menggenggam sebuah tasbih berwarna putih berkilauan, Melihat gerakannya ketika melayang turun tadi Kecepatannya bagai petir yang menyambar Mereka dapat menduga bahwa ilmu silat orang itu pasti sangat tinggi Tapi penampilannya menunjukkan dia bukan orang baikbaik.
Baru saja orang itu melayang turun, di belakangnya menyusul sesosok bayangan kurus meioncat ke sisinya Tubuh orang yang kedua ini tinggi kurus,.
"Suhu .!"
Panggil orang yang kedua.
Rupanya suara orang ini yang tadi menggetarkan hati Yok Sau Cun Begitu dia membuka mulut, Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan segera mengenalinya.
Dia adalah pemuda berwajah hitam yang ada di kedai makan milik Houw jiau Sun tempo hari.
Orang yang berpakaian itu bersiehem sekali.
"Murid.,. apakah gedung Ini yang kau katakan'?".
"BetuI Gedung besar ini,"
Sahut anak muda itu.
"Kau mengatakan bahwa Hek Houw Sin Cao Kuang Tu )uga menaruh hormat ketika bertemu dengan bocah she Tiong itu?"
Tanyanya kembali. Anak muda berwajah hitam itu mengiakan kembali.
"Aneh sekali Siapa sebetulnya gadis itu'?".
"Apakah Suhu juga tidak tahu'?". Orang berpakaian hitam itu tertawa terkekehkekeh.
"Suhu toh tidak melihat orangnya, bagaimana bisa mengenah? Tetapi kalau dia berhasil menawan Hui taihiap, tampaknya ilmu silatnya tinggi juga,"
Katanya. Hati Yok Sau Cun tergetar. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Bukankah Hui taihiap itu ayah dan Hui fei Cin sio cia'?".
"BetuI"
Terdengar sahutan dari mulut anak muda itu "Bahkan dia hanya menggunakan tiga jurus untuk melumpuhkannya ". Sekali Yok Sau Cun terkejut.
"Ayah Hui fei Cin siocia adalah seorang tokoh dunia persilatan temanteman dunia kangouw men)ulukinya Wi yang taihiap Tetapi dia berhasil dikalahkan oleh tiong kouwnio dalam tiga jurus saja Kalau memang benar, Jmu manusia she Yu yang menitipkan .surat kepadanya untuK disampaikan kepada Song lo ya cu lebih mengerikan lagi ' katanya dalam hati.
"Suhu, apakah kita perlu masuk ke dalam?"
Tanya anak muda itu.
"Kita toh sudah sampai di sini tentu saja harus masuk ke dalam "
Sahut orang tua berpakaian hitam itu. Dia segera mengedarkan pandangannya ke gedung besar tersebut.
"Muridku, mari kita masuk "
Ajaknya.
Baru saja perkataannya selesai tanpa ada gerakan sedikit pun, tubuhnya mencelat hinggap di atas tembok gedung itu dan , menghilang Pemuda berwajah hitam itu mengikuti di belakang suhunya.
Namun ilmu meringankan tubuhnya masih terpaut jauh.
Ketika melesat meninggalkan tempat itu terdengar suara gemerisik rumput yang diinjaknya.
Ciok Ciu Lan memandangi kedua orang itu sampai menghilang di balik tembok gedung tersebut.
"Yok Siangkong, tahukah kau siapa Hek pao tojin (Pendeta berpakaian hitam) itu?"
Tanyanya.
"Cayhe belum pernah berkelana di dunia kangouw, mana mungkin bisa tahu siapa orang itu? Kalau mendengar dan nada bicara Ciok Kouwnio tampaknya tojin itu mempunyai nama besar"
Sahut Yok Sad Cun.
'Dia bernama Hek I cun yang (Penggapai matahan berpakaian hitam) Nama aslinya Kongsun Kian Oh ya pemuda berwajah hitam tadi bukankah anak muda yang pernah bertemu dengan kita di Kwa ciu?
Waktu itu kita masih belum tahu asatusulnya Ternyata dia merupakan anak mund Hek t cun yang Berarti dia yang disebut Hek hai ji (Bocah hitam) "
Kata Ciok Ciu Lan.
"Apakah kita juga ikut masuk sekarang?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Tampaknya kau begitu ingin masuk ke dalam. Sebetulnya ada tokoh yang berilmu demikian tinggi seperti Hek I cun yang, yang mewakiii kita menyelidiki keadaan di dalam dan kita menunggu hasil di sini, merupakan jalan pemecahan yang terbaik "
Kata Cio Ciu Lan.
"Kita bersembunyi di sini sedangkan di hadapan kita ada tembok tinggi sebagai penghalang. Apa yang terjadi di dalam tidak kita ketahui Kalau kita menyelinap ke gunung buatan yang kita datangi kemann, pasti bisa melihat segalanya dengan jelas Lagipula di sana banyak pohon siong yang menutupf diri kita sehingga tidak mungkin kepergok orang lain,"
Sahut Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan merapikan rambutnya yang tergerai.
"Kalau kau memang mendesak ingin masuk Marii"
Sahutnya.
"Biar cayhe yang jalan di depan,"
Kata Yok Sau Cun.
Dengan gerakan ringan, dia segera menyelinap keluar dan hutan buah tersebut Kakinya dihentakkan, tubuhnya melayang ke atas tembok tanpa suara sedikit pun Kemudian dia meloncat ke gunung buatan tersebut.
ilmu menngankan tubuh Ciok Ciu Lan tidak setinggi Yok Sau Cun Dia harus me nutui tiga kali baru sampai di belakangnya.
"Yok Siangkong, cepat kemari' panggilnya. Yok Sau Cun menghampirinya.
"Gunung buatan ini lebih tinggi dari tembok gedung itu Memang semua pemandangan dalam taman dapat terlihat jelas namun tempat ini juga paling dicurigai orang.
Lebih baik kita can tempat persembunyian yang lain saja '.
Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya Mereka mengendap endap sekitar tempat itu Akhirnya mereka menemukan sebuah batu besar yang terhalang oleh pohon pohon yang nmbun Tempat itu pas untuk dua orang sa|a dan mereka dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas dan batu ter sebut.
Jangan kata saat itu tengah malam, dan keadaan sekitar sangat gelap Biar pun siang hari juga susah ditemukan Orang Belum lama kedua orang itu berjongkok menyembunyikan diri, tiba tiba terdengar suara.
"Srseet!
Sesosok bayangan entah melayang turun dan sebelah mana, persis hinggap di alas gunung buatan.
Otak Ciok Ciu Lan bekerja dengan cepat.
Dia menarik Yok Sau Cun agar menunduk kan kepalanya Pemuda itu menurut Hatinya kagum sekali kepada kesigapan gadis itu.
"Untung saja Ciok kouwnio tadi memper ingatkan Tampaknya gunung buatan itu mempunyat fungsi yang banyak Kalau kami tadi tidak segera menemukan tempat ini, pasti sudah kepergok oleh orang ' katanya dalam hati.
Tempat persembunyian mereka memang sangat sempit Begitu keduanya menundukkan kepala wajah mereka )adi saiing menempe!
Seumur hidupnya Yok Sau Cun be lum pernah berdekatan dengan perempuan Hatinya berdebar debar Dia dapat mencium harum yang terpancar dan rambut Ciok Ciu Lan Perasaannya melayanglayang Hampir saja dia lupa bahwa di dekat gunung buatan itu ada seseorang yang entah kawan atau lawan.
Ya heng jin itu tampaknya tidak mengetahui ada dua orang yang sedang menyembunyikan diri di batik batu besar itu Dia memandang sekitarnya sekilas lalu melon cat menurum gunung.
Ciok Ciu Lan mengangkat kepalanya memperhatikan orang tersebut Kelihatan nya orang itu bertubuh sedang Di pung gungnya terseiip sebatang pedang panjang Dia tecus menurum bagian aliran sungai Tiba-tiba tangannya terangkst ke atas dan menepuk satu kali Kemuoian dia melesat dan menghilang dalam kegelapan.
Tepa!
pada saat itu dan bagian kin dan Ranan gunung buatan meloncat ketuar dua orang Mereka segera mengikuti orang per tama tadi dan juga menghilang dalam hutan kecil Karena keadaan sangat gelap Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan tidak sempat melihat wajah kedua orang itu Namun dan caranya yang melongok ke kanan kin dan mengerahkan gmkang ketika melayang.
tentunya tujuan mereka juga menyehdiki ge dung ini.
"llmu yang dimiliki tiga orang tadi cukup tmggi. Tampaknya orang yang menyatroni gedung ini tidak sedikit Juga,"
Kata Ciok Ciu Lan.
Dia menolehkan kepalanya.
Ketika itu, dia baru tersadar bahwa pipi mereka sangat dekat sehingga ketika menoleh sempat saling menyentuh sekilas Yok Sau Cun semakm terpesona.
Natas Ciok Ciu Lan yang harum menerpa hidungnya, membuat hatinya semakin berdegupdegup Gadis itu malu sekafi, dia segera menolehkan wajahnya kembali.
Yok Sau Cun sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakannya Sampai wajah gadis itu berpaling kembali dia baru sadar Wajahnya yang tampan menjadi merah pa dam seketika.
"Ciok kouwnio apa yang kau katakan?"
Tanyanya.
"Aku sedang berbicara kepadamu, pikiranmu sendiri melayang ke mana?".
"Cayhe cayhe sedang berpikir. apakah kita perlu masuk ke dalam'?"
Sahut Yok Sau. Cun gugup.
"Kau lihat keadaan dalam taman sunyi senyap, sedikit gerakan pun tidak ada Kalau apa yang kuterka tidak salah, kemungkinan besar sejak tadi dalam kegelapan sudah ada yang mengintai,"
Kata Ciok Ciu Lan sambil mencibir.
Tepat pada saat itu, terlihat dua titik sinar melayang di kejaunan Perlu diketahui, bagi seorang yang melatih ilmu silat, diperlukan mata Ya heng jin, yaitu dapat melihat jauh meski dalam kegelapan Sekarang tiba-tiba ada dua titik sinar, tentu saja makin kentara.
Ternyata yang terlihat itu adalah dua buah lentera.
Tentunya ada orang yang menenteng Lentera itu berjumlah dua buah Dapat dipastikan orang yang datang berjumlah dua Yok Sau Cun menaiamkan matanya Dan kejauhan terlihat langkah mereka yang gemulai Pemuda itu dapat memastikan bah wa yang datang adalah dua orang gadis.
"Ciok kouwnio. kedua orang yang menenteng lentera itu adalah anak gadis,"
Katanya. Iwekang Ciok Ciu Lan lebih cetek Dia baru dapat menangkap dua titik sinar saia Belum terlihat bayangan manusianya.
"Tampaknya kedua gadis itu menuju kemari Kemungkinan besar mereka adalah pe layan Tiong kouwnio itu Hitung hitung kedatangan kita malam ini tidak sia sia juga,"
Sahutnya.
Kedua lentera Itu menembus jalan setapak di antara pepohonan.
Terkadang cahayanya bergoyanggoyang karena tiupan angin.
Terkadang menghilang sejenak dalam nmbunnya pohon tetapi makin lama makin mendekat.
Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah sampai di bagian aliran air Kali ini Ciok Ciu Lan dapat melihat dengan jelas.
Ternyata yang membawa lentera adalah dua orang gadis yang mengenakan rok pendek.
Mereka beqalan berdampingan Tangan yang satunya membawa lentera Sedangkan tangan yang lainnya membawa sebuah keranjang Entah apa isi keranjang tersebut Sekarang mereka sudah sampai di atas jembatan.
"Rasanya tujuan mereka tidak mungkin gunung buatan itu,"
Kata Ciok Ciu Lan sambii menggefengkan kepalanya.
"Aneh orang yang pertama tama masuk ke taman ini adalah Hek i tojin dan mundnya Mengapa mereka tidak terlihat lagi?" .
"Kalau sampai saat inl mereka belum menunjukkan diri, kemungkinan besar mereka fuga sedang bersembunyi,"
Sahut Ciok Ciu Lan.
Kedua gadis itu menuruni jembatan Mereka berhenti di tempat itu.
Lentera yang mereka bawa digantungkan di atas ranting pohon.
Keranjangnya juga diletakkan di tanah Seteiah itu, mereka mengeluarkan sebuah kam lap dan membersihkan meja per segi yang terdapat di samping jembatan Seteiah itu mereka membuka keranjang yang terletak di tanah Yang seorang mengeluarkan sebuah teko terbuat dan emas dan beberapa cawan dari bahan yang sama Juga beberapa macam peralatan makan se perti sumpit mangkok dan yang lainlam Gadis yang satunya lagi mengeluarkan se buah tempat pedupaan Dia meletakkannya di sisi jembatan dan dinyalakannya Sekejap saja sudah tercium harum yang menyegarkan.
Ciok Ciu Lan tertawa dingin.
"Gadis yang bernama Tiong kouwnio ini sungguh banyak lagaknya" . Pada saat itu. lubang gua yang kemann mereka periksa muncul dua buah lentera iagi Namun langkah kaki kedua orang ini lebih cepat dari yang tadi Dalam waktu seke)ap saja mereka sudah tiba di sisi jembatan. Yang membawa lentera itu juga dua orang gadis Yang satunya membawa sebatang pedang, sedangkan gadis yang lainnya membawa sebuah kurungan minp kandang, Di belakang mereka terlihat seorang gadis yang )uga mengenakan rok pendek Langkahnya anggun sekali. 'Dialah Tiong kouwnio."
Bisik Yok Sau Cun.
Di belakang Tiong kouwnio masih ada seorang nenek tua renta yang berjalan dengan pinggang membungkuk.
Siapa lagi kalau bukan Hu toanio.
Kedua gadis yang berjalan dimuka segera menggantungkan lentera yang dibawa mereka Suasana )adi terang dan semarak dengan adanya keempat lentera tersebut.
Ditambah lagi beberapa gadis yang sibuk kian keman membuet pemandangan itu bagaikan sebuah lukisan hidup Tiong kouwnio dengan langkah lemah gemulai berfalan ke sisi )embatan.
Dia duduk di atas sebuah kursi yang telah tersedia di sana.
Gadis yang membawa sebuah kurungan segera menghampiri Tiong kouwnio Dia membuka ku rungan tersebut Isinya ternyata sebuah harpa besar.
Kedua orang yang sedang bersembunyi itu sampai termangu mangu Aneh sekali Seumur hidupnya belum pernah mereka melihat orang membawa harpa dalam kurungan seperti kandang itu Gadis itu meletakkan harpa tersebut di samping Tiong kouwnio Ciok Ciu Lan memperhatikan gadis itu Usia nya pasti tidak lebih dan duapuluh Begitu tafsirannya Alisnya berbentuk indah namun agak tipis Raut wa)ahnya cantik )elita Sayangnya mimik wajah itu terlalu kaku dan dingira Gadis itu bagaikan putri es yang rupawan.
"Sudah terang komplotan penjahat lagaknya dibuat seperti putri kaum terpelajar Memetik harpa menikmati malam Thian justru tidak mengabulkan Malam ini tidak berbintang bahkan gelap bagai kuburan "
Pikir Ciok Ciu Lan dalam hati.
Tapi, meskipun malam tidak berbintang dan suasana gelap.
Apalagi kalau tidak ada lentera yang dibawa para gadis pelayan itu, Tiong kouwnio tampaknya sangat menikmati keindahan malam Dia mengangkat harpa tersebut dan diletakkan di pangkuannya.
"Tingi Tengi Tong!"
Dia menjentikkan jarinya yang halus di atas senar harpa itu.
Memang umumnya kalau seseorang ingin memamkan harpa, mereka pasti menyesuaikan nadanya terlebih dahulu Namun bunyi yang dijentikan oleh )ari Tiong kouwnio itu bukan hanya penyesuaian nada sebab bagi telinga Ciok Ciu Lan terasa bagaikan petir yang menyambar.
Tidak' Masih lumayan kalau suara petir menyambar Suara harpa ini membuat hatinya berdegupdegup Keringat dmgin mengucur Serta kepalanya berat bagai dibebani sebuah batu yangbesar Yok Sau Cun terkejut Dia segera mengulurkan tangan memapahnya.
"Ciok kouwnio, apa yang terjadi'?". Tangan Ciok Ciu Lan mendekap dadanya Matanya berkerut kerut.
"Yok Siangkong, suara harpa ini aneh sekali,"
Sahutnya. 'Bagaimana anehnya?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Apakah kau tidak merasakannya?"
Ciok Ciu Lan malah baUk bertanya.
"Tidak. Sebetulnya apa yang terjadi dengan dirimu?".
"Ketika mendengar dentingan harpa itu, jantungku berdebar-debar, kepalaku berat sekali ..."
Nafasnya makin terengah-engah. Belum lagi nada bicaranya selesai, di samping jembatan terdengar lagi suara.
"Ting! Tengi Tong!"
Tubuh Ciok Ciu Lan bergetar. Wajahnya pucat pasi Kedua ta ngannya cepatcepat ditutupkan ke telinga.
"Celaka sua... ara harpa ini ada... lah semacam ilmu sesat yang ."
Beberapa patah kata ini dmcapkan nya dengan susah payah Tubuhnya jatuh terkulai.
Yok Sau Cun panik sekali Dia tidak per dulikan lagi perbedaan antara laki-laki dan perempuan Dengan tangan gemetar dia me meluk tubuh Ciok Ciu Lan.
"Berusahalah untuk tenang Sebetulnya apa yang terjadi?"
Tanyanya cemas.
Suara harpa tetap berbunyi, memperdengarkan irama yang indah Yok Sau Cun tidak mengerti Nafas Ciok Ciu Lan makin memburu.
Matanya bahkan mendelik ke atas.
Keempat anggota tubuhnya menggelepargelepar, seperti seorang yang terkena racun jahat.
Yok Sau Cun memeluknya semakin erat Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tibatiba otaknya bekerja Suatu ingatan terlintas di benaknya Dia segera mengulurkan tangan dan ditempelkan di punggung Ciok Ciu Lan Disalurkannya hawa murni ke tubuh gadis itu Ternyata cara ini sangat ampuh.
Ciok Ciu Lan bagaikan baru terbebas dari penyakft yang parah Nafasnya mulai teratur Matanya tidak mendeffk lagi Kaki dan tangannya juga melemah perlahan Dia menarik natas dalam dalam.
"Terima kasih Kalau kau tidak segera menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhku, kemungkinan besar jantungku akan tergetar putus oleh irama itu " .
"Begitu gawaP Kalau demikian mengapa cayhe tidak merasakan apa pun?"
Tanya Yok Sau Cun heran. Tepat pada saat itu, terdengar suara.
"Sreettt!!'"Sesosok tubuh melayangturun di dekat jembatan.
"Perempuan rendah! Apakah kau masih belum mau berhenti?"
Bentaknya.
Sesosok bayangan yang melayang turun itu ternyata laki-laki pendek kecil yang bernama Hek i tojin Di tangan kanannya tergenggam sebuah tasbih.
Sedangkan tangan kirinya mencekal seseorang.
Rupanya pemuda berwajah hitam itu.
Nafasnya sedang tersengalsengal Orangnya sudah tidak sadar.
Suara harpa sudah berhenti Mata Tiong kouwnio yang bening itu menyipit.
"Hu popo coba kau lihat, siapa yang mengganggu kesenangan kita" . Hu toanio mengiakan Dia segera melangkah mendekati jembatan Terangterangan dia sudah melihat Hek i tojin tapi sengaja seperti tidak melihat.
"Tiong kouwnio sedang memainkan harpa. Siapa yang datang mengganggu?"
Teriaknya lantang. Hek i tojin menggeletakkan mundnya di etas tanah Dia menekan sekejap bagian punggungnya Setelah mundnya dapat berdiri dengan tegak, dia mengeluarkan suara tawa tergelakgelak.
"Lohu!"
Sahutnya. Pakaian yang dikenakannya adalah pa kaian tojin Tapi dia menyebut dirinya sen diri. 'Lohu'. Rasanya sangat tidak sesuai Hu toanio melinknya sekilas.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tanyanya ketus. Sinar mata Hek i tOJin bagai kilat yang menyambar.
"Kau adalah perempuan siluman, Hu toanio He he Apakah kau tidak mengenali Lohu lagi?" . Hu toanio terlawa sumbang.
"Kaum keroco di dunia Bulim ini sudah banyak yang pernah kulihat Mana mungkin aku mengingatnya satu persatu?" . Ciok Ciu Lan telap bersandar di dada Yok Sau Cun Dia berkata dengan suara rendah.
"Hu toanio berani bicara tidak sopan kepada Hek i tojin pasti karena ada Tiong kouwmo sebagai tulang punggung Kalau tidak, biar pun dia mempunyai nyali sebesar gunung juga harus berpikir tiga kali dulu "
Katanya. Mata Hek i tojin semakin tajam.
"Hu pocu, kau berani bicara dengan nada demikian kepada Lohu Biar lohu memberi pelajaran kepadamu " . Lengan bajunya dikibaskan Suaranya se perti angin topan menerjang ke arah Hu toanio. Nenek itu tentu saja tidak berani menyambutnya Dia rnundur beberapa langkah de ngan kalang kabut Tepat pada saat itu, terlihat tangan Tiong kouwmo menyentil Tempat pedupaan yang terletak di sampingnya me mang sedang menyala, bahkan keharuman nya membuat perasaan segar Tampak bara api di dalam pedupaan itu melayang oleh sen tilannya. Dengan kecepatan yang mengagum kan melesat ke arah Hek i tojin.
"Rupanya dia menyalakan pedupaan itu bukan hanya ingin rnencium baunya yang harum saia Dia dapat menggunakannya sebagai sen|ata rahasia" . Hek i tojin tentu tahu kelihaian serangan itu Dia segera menarik kembali lengan ba|u nya Ketika itu bara api sudah hampir men capai dirinya Dia mengulurkan tangan kiri nya dan mengibas sekali lagi Sedangkan tangan kanannya mencekal leher muridnya dan meloncat rnundur beberapa tmdak Hu toanio segera kernbali ke samping meja majikannya.
"Hu popo siapa orang ini?"
Tanya Tiong kouwnio.
"Menjawab pertanyaan kouwnio, orang ini mendapat sebutan Hek i tojin Nama aslinya Kongsun Kian."
Sahut Hu toanio dengan tubuh membungkuk.
"Bagaimana dengan asal usulnya?"
Tanya gadis itu kembali.
"Menurut centa yang tersebar dia berasal dari Pak hai, kemudian pindah... pindah. ke ..".
"Tidak usah dilanjutkan lagi Dia menamakan dirinya sendiri Hek i t0(in Cukup me menuhl syarat perguruan kami "
Tuk Tiong kouwnio. Hu toanio tertawa lebar.
"Seandainya kouwnio menganggap orang ini cocok untuk dijadikan pengikut Tahan saJa dia di sini,"
Sahutnya.
Mendengar dan nada bicaranya.
dia seperti menganggap rendah orang itu.
Di dalam dunia Bulim, nama Hek i tojin cukup menggetarkan Tetapi Hu toanio malah menganjurkan mengangkatnya sebagai pengikut Tiong kouwnio.
Qadis itu berdehem sekali.
Tangannya diangkat kembali.
Jarinya kali ini menyentil ke pedupaan, tetapi yang terlihat bukan satu titik bara apl sa)a namun tiga titik Dengan kecepatan yang mengejutkan melesat ke arah Hek i toiin.
Tampaknya cfia sungguh sungguh ingin menahan orang itu.
Hek i tojin tergelak-gelak Pergelangan tangannya diangkat Beberapa butir tasbihnya mencelat ke udara Kalau dikatakan aneh juga Butiran tasbih yang seialu dibawanya berwarna putih Bahkan berkilauan seperti mutiara Namun begitu melayang di udara, terdengar suara percikan Dan butiran tasbih itu memijar asap berwarna hitam dan seperti dapat diatur melayang ke arah jembatan.
Tiong kouwnio yang melihat Hek I tojin menyebarkan asap hitam, segera menjentik kan jannya, meskipun jarak asap itu masih agak jauh Kali ini terlihat berpuluh titik bara api memijar menjadi asap kehijauan Jarak kedua orang itu tidak terlalu dekat, namun cara mereka bertempur boleh dibilang mengagumkan.
Asap h'tam melawan asap hijau.
Dan yang lebih aneh lagi, asapasap itu seperti dapat dikendalikan Kedua asap itu saling mendesak Balk yang hitam atau pun yang hijau, samasama tidak mau mengalah.
Yok Sau Cun tidak tahu asap hitam yang menyebar dan butiran tasbih itu terbuat dan bahan apa Namun dia melihat dengan jelas kalau asap hijau yang dipercikkan Tiong kouwnio berasal dari tempat pedupaan.
Biasanya bara apt yang terdapat di pedupaan adalah semacam hio wangi atau kemenyan Benda itu seperti debu Apabtlater tiup angin langsung buyar Namun Tiong kouwnio ternyata dapat mengendalikannya sehingga berupa asap hiJau yang beterbangan Tangannya tidak henti menjentik begitu )uga Hek i t0)in Tasbih di tangannya terus dilemparkan Seakan tidak habishabisnya Siapa pun tidak ada yang mau mengalah.
Meskipun Tiong kouwnio hanya duduk di atas kursi, letapi jentikan jannya seperti bermafn di udara Sebetulnya kedua orang itu sedang menyalurkan hawa murni masmgmasing Seperti sedang mengadu kekuatan Pertarungan ini sangat menegangkan Walaupun tidak terdengar benturan senjata atau pun teriakan lantang, namun keadaan mereka jauh lebih berbahaya dan orang yang bertempur langsung Sepeminuman teh sudah berlalu.
"Tiong kouwnio dapat bertanding dengan Hek i tojin dalam keadaan seimbang, hal ini membuktikan bahwa ilmu silatnya memang tinggi sekali Tidak heran kalau mulutnya berani sesumbar,"
Kata Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun kebingungan.
"Tahukah kau apa yang mereka perebutkan?"
Tanyanya.
"Tidak tahu Tapi dalam asap kedua orang itu pasti terkandung sesuatu " . Tiba-tiba terdengar suara tawa tergelak gelak dan Hek i tojin.
"Budak cilik. Ternyata Tok liong teng (Racun tanduk naga) hanya demikian saja,"
Katanya.
Pergelangan tangannya berputar dengan cepat Kali ini terlihat berpuluh puluh tasbih memercik di udara dan memmbulkan awan hitam.
Seperti asap juga laksana kabut Awan hilam itu menenang ke arah kepala Tiong kouwnio.
Dia sudah memperkirakan dengan tepat Tentunya Tiong kouwnio akan men)entikkan bara api dalam jumlah yang banyak Sebe lumnya dia sudah bersiapsiaga Tenaga dalamnya dihimpun dan dengan hembusan yang kuat menyapu asap hi)au gadi itu sehingga membuyar di udara Dengan demikian percikkan tasbihnya tidak akan mendapat halangan apa pun.
Tiong kouwmo tampaknya tidak ambil perduli.
"Nona besarmu juga ttdak memandang sebelah mata terhadap Hek ceng si (Percikan hitam halus) itu,"
Sahutnya.
Dengan sigap dia mengambil harpanya dan diletakkan di pangkuan Dalam seke)ap saja.
terdengar irama merdu mengalun Makin lama makin cepat Suaranya makin lama makin menyeramkan Sebentarsebentar berubah Terkadang seperti suara gunung meletus, terkadang seperti gempa bumi, terkadang seperti kilat menyambarnyambar Orang yang mendengarkannya akan membayangkan seperti suara yang dimainkannya Sementara itu, terlihat asap hitam yang sedang memenuni udara buyar dengan sendirinya.
Hek i tojin dapat merasakan gelagat yang kurang baik Dia segera menutulkan kakmya dan mencelat sejauh beberapa depa Sampaisampai mundnya sendiri tidak diperdulikannya lagi Rupanya pemuda berwajah hitam itu sudah jatuh pingsan sejak tadi.
Tubuhnya terkulai di tanah Hek i tojin sendiri sedang menahan sebisanya Mana mungkm dia sempat memikirkan muridnya lagi?.
Kali ini, Yok Sau Cun dapat merasakan hatinya berdegupdegup Telinganya terasa pekak sekali Sedangkan Ciok Ciu Lan yang ada di pelukannya, terlebihlebih lagi Wajahnyakembali pucat seperti tadi Bergerak pun tidak.
"Celaka'"
Pikir Yok Sau Cun dalam hati Tubuhnya sendiri mulai lemas Dia segera mengumpulkan hawa murninya dan diedar kan ke seluruh tubuh Untung saja dia segera pulih Kalau tidak, akibatnya sulit dibayangkan Sedangkan seorang tokoh besar seperti Hek i tojin sa|a sampai lan terbintbirit dan tidak memperdulikan nasib mundnya.
Hal ini membuktikan bahwa ilmu memetik harpa Tiong kouwnio sudah sampai puncaknya Apabila sejak kecil dia tidak mempelajan ilmu Yang tian ci kang.
tentu dia )uga tidak dapat menahan suara tersebut.
Tiba-tiba dia tersadar, dok Ciu Lan masih datam keadaan gawat Diulangnya kembali cara yang tadi digunakannya untuk memulihkan gadis itu Dia segera menempetkan tangannya di punggung Ciok Ciu Lan Baru saJa hawa murninya mulai tersalur ke dalam tubuh gadis itu Tiong kouwnio yang melihat Hek I tojin lan terbintbirit segera menghentikan permainan harpanya Tampak wajahnya menunjukkan kelelahan yang sangat Kenngat besarbesar menetes dan kemngnya Hal ini membuktikan bahwa dia juga sudah mengerahkan segenap tenaga untuk memainkan harpa maut itu.
Ciok Ciu Lan yang bersandar di dada Yok Sau Cun menarik nafas panjang.
"Lihai sekali permainan harpanya ".
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Tanya Yok Sau Cun khawatir.
Ciok Ciu Lan mengembangkan senyuman manis.
'Begitu permainan harpanya berhenti aku juga segera pulih kembali.
Kau tidak perlu menyalurkan hawa murnimu lagi Aih Harpanya itu sangat aneh.
Seumur hidup aku belum pernah mendengar bahwa ada seseorang yang memainkan harpa untuk mengacaukan konsentrasi lawan."
Katanya. Yok Sau Cun menarik kembali tangannya dan punggung gadis itu Baru sa(a dia hendak membuka mulut tiba-tiba terdengaf Ciok Ciu Lan mengeluarkan seruan terkejut.
"Cepat lihai Bukankah itu Song Bun Cun dan Hui Fei Cin'?
Apa gerangan yang terjadi dengan mereka?''.
Dengan panik Yok Sau Cun melongokkan kepalanya lewat batu tersebut Dia meman dang ke arah yang ditunjuk Ciok Ciu Lan Di bagian aliran air ternyata ada empat orang yang sedang mendatangi.
Yang berjalan paling depan adalah se orang pemuda gagah dengan pakaian berwarna biru langit Di pmggangnya terselip sebatang pedang Siapa lagi kalau bukan Song Bun Cun?
Di belakangnya menginngi dua orang gadis bertubuh langsing Mereka adalah Hui Fei Cin dan pelayannya Siau cui Di deretan paling akhir berjalan seorang lakilaki sebagai pengawal.
Sekali Irhat saja, sudah dapat dipastikan bahwa ketiga orang itu dijaga ketat olehnya Laki-laki itu mengenakan pakaian berwarna hijau Ukuran tubuhnya sedangsedang saja.
Usianya sekitar empat puluh ke atas Wajahnya kurus.
Yok Sau Cun memperhatikan laki-laki itu dengan seksama Matanya menyiratkan sinar kemarahan.
"Rupanya dial"
Serunya perlahan. Ciok Ciu Lan menolehkan kepalanya.
"Siapa yang kau maksudkan?' tanyanya "
Laki laki berpakaian hijau yang mengiringi ketiga kawan kita, adalah orang yang purapura terluka dan memperalat cayhe mengantarkan surat beracun kepada Song loya cu Yaitu manusia yang mengaku She Yu Man kita keluar Cayhe ingin menanyakannya di hadapan Song heng."
Katanya penuh semangat. Dia langsung bersiap untuk menunjukkan diri Dengan panik Ciok Ciu Lan menariknya kembah dan mencegahnya.
"Sabar sedikit. Kita dengar duiu apa yang mereka katakan Setelah mengerti alasan kedua pihak, kita masih belum terlambat untuk turun tangan " . Mendengar kata-kata itu, Yok Sau Cun terpaksa menahan dirinya Sementara itu, Song Bun Cun beserta yang iainnya sudah sampai di batas jembatan Laki laki she Yu itu segera mendahului di depan mereka Dia membungkuk dengan hormat.
"Lapor Tfong kouwnio, Siaujin berhasit memergoki tiga orang ini, setelah tertawan, Siau jin segera membawanya kemari dan melaporkan kepada Tiong kouwnio.' katanya.
Tiong kouwnio mendongakkan wajahnya sedikit.
"Hu popo. giring kemarii".
"Baik,"
Sahut Hu toa nio. Kemudian dia menoleh ke arah laki-laki she Yu tadi Tiong kouwnio memerintahkan agar kau menggiring tawanan ftu kemarii "
Tenaknya lantang.
"Tidak heran kalau mereka mandah sa)a digiring ke sana ke mari Ternyata jalan da rah mereka dalam keadaan tertotok,"
Bisik Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun mengerutkan keningnya.
"Dengan kepandaian yang dimiliki Song heng. rasanya mustahil dapat ditawan orang begitu saja,"
Sahutnya.
"Kau lupa permainan harpa perempuan siluman itu Lihai sekali bukan? Sampaisampai seorang tokoh terkenal seperti Hek I tojin rela meninggalkan muridnya dan melarikan diri seperti pengecut. Mereka bertiga pasti terpengaruh oleh irama harpa tersebut dan dalam keadaan setengah sadar dibokong oleh laki-laki she Yu."
Kata Ciok Ciu Lan.
"Kita harus mencari akal untuk membebaskan mereka,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Jangan berkata-kata apaapa sekarang Lihat, tampaknya Tiong kouwnio ingin mengaiukan beberapa pertanyaan,"
Kata Ciok Ciu Lan.
Yok Sau Cun segera mengikuti pandangan mata Ciok Ciu Lan Ketika itu, Song Bun Cun, Hui Fei Cin dan Siau cui sudah diginng melintasi jembatan Mereka berhenti di hadapan gadis itu Tiong kouwnio tetap duduk di tempat semula Matanya menatap tiga orang itu secara bergantian.
"Siapa kalian? Siapa yang menyuruh kalian datang keman?"
Tanyanya.
"Menjawab pertanyaan Tiong kouwnio. pemuda ini bernama Song Bun Cun Dia adalah putra tunggal Bulim Toa lo Song Ceng San Sedangkan gadis ini bernama Hui Fei Cin. Dia adalah putri kesayangan Wi Yang taihiap Hui Kian Sai"
Kata laki laki she Yu itu. Mata Tiong kouwnio berkilauan mendengar keterangan tersebut.
"Ternyata orang yang mempunyai asal usul lumayan.".
"Kaiau dibandingkan dengan ham partai besar dunia Bulim. terhitung apa kalian ini? Kalau memang ada kemampuan mengapa tidak lepaskan Kongcumu dan mencoba mengadu ilmu sejati Kalau sampai Kongcu mu kalah, mati pun tidak akan mengerulkan kening sekejap,"
Sahut Song Bun Cun tan tang.
"Apakah kau tidak senang diperlakukan demikian?"
Tanya Tiong kouwnio dengan nada datar.
"Tentu saja Kongcumu tidak senang "
Sahut Song Bun Cun.
"Tadinya aku berniat melepaskan kalian begitu saja, tapi karena kau tidak senang, maka aku ingin membuat matamu terbuka lebih lebar,"
Katanya. Matanya mengerling sekilas.
"Yu Kim Piau, lepaskan mereka'"
Perintahnya. Ciok Ciu Lan mengeluarkan seruan terkejut.
"Dia adalah Ceng sat ciu (Pembunuh bayaran bertangan ringan) Yu Kim Piau."
Katanya.
"Apakah dia sangat terkenal?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Di daerah Kang lam namanya sangat terkenal llmu andalannya adalah Cesal ciang (Telapak hijau maut). Itu adalah sejenis ilmu dan golongan sesat di daerah perbatasan. Menurut cerita yang tersebar, siapa pun yang terkena racun tersebut dalam waktu setengah hari tubuhnya akan menghijau dan tidak tertolong lagi,"
Rata Ciok Ciu Lan menjetaskan. Sementara mereka bercakapcakap Laki-laki she Yu sudah membebaskan lalan darah ketiga orang tersebut.
"Bagaimana kau akan membuat mata kami terbuka'?"
Tanya Song Bun Cun.
"Ayahmu sejak dua puluh tahun yang lalu sudah terkenal sebagai Bulim it kiam, ilmu pedangnya menggetarkan dunia kangouw Aku yakin kau tentunya sudah mewarisi cukup banyak Biarlah kita bertanding ilmu pedang saja,"
Kata Tiong kouwnio.
"Bulim it kiam, nama besar yang diberikan kepada ayahku. tapi sejak semula ayah sudah mengatakan bahwa beliau tidak sanggup menerimanya Cayhe juga tak pernah mengatakan bahwa ilmu pedang keluarga kami amat tinggi Tetapi cayhe memang sejak kecil sudah berlatih ilmu pedang Kalau kouwnio memang ingin memberi pelaiaran, baiklah kita bertanding dengan ilmu pedang."
Sahut Song Bun Cun tenang. Yok Sau Cun menganggukkan kepala dengan diam-diam. Ucapan Song Bun Cun itu bagus sekali Sama sekali tidak menyombongkan nama besar ayahnya.
"Baik sekali."
Kata Tiong kouwnio dingin Dia menolehkan kepalanya Tangannya menggapai salah satu gadis yang membawa lentera tadi.
"Cun Hong!".
"Hamba di sini,"
Sahut salah seorang gadis yang berusia muda sekali.
"Coba kau terima beberapa jurus ilmu pedang Song Sauya itu,"
Perintah Tiong Kownio.
"Hamba menerima perintah,"
Sahut Cun Hong. Dia mengeluarkan sebatang pedang pendek dari selipan ikat pinggangnya Dengan langkah gemulai dia maju ke depan Song Bun Cun marah sekali.
"Kouwnio memenntahkan seorang pelayan cihk meladam cayhe, apakah memang kouwnio tidak memandang sebelah mata pada Kongcumu ini?"
Bentaknya.
"Kalau kau sanggup mengalahkannya, aku tentu akan turun tangan sendiri,"
Sahut Tiong kouwnio ketus.
Cun Hong mendekati u)ung jembatan dengan langkah tenang Mukanya yang berbentuk kuaci itu sanga't manis, apalagi usianya masih muda sekali, mungktn tidak lebih dan enambejas tahun Tampangnya sangat menawan tapl karena Song Bun Cun tadi memanggilnya sebagal pelayan cilik, wajahnya berubah cemberut.
"Apakah pelayan bukan manusia? Yang kita pertarungkan adalah pedang bukan derajat diri kita Dalam bertarung, yang kuat menang, yang kalah ditindas, itu sudah rnerupakan hukum alam. Kalau kau sanggup mengalahkan aku. nanti baru bicara besar toh belum terlambat,"
Katanya.
Lidah pelayan cilik itu tajam sekali Sama sekali tidak memaafkan kata-kata Song Bun Cun yang dianggapnya menyakitkan itu Anak muda itu sampai terbungkam dibuatnya Siau cui segera maju ke depan dengan dada ditegakkan.
"Piau sauya . Biar budak menerima beberapa jurus darinya.".
"Song Bun Cun menganggukkan kepalanya.
"Baik,"
Sahutnya. Siau cui mengeluarkan pedang pendek dan selipan pinggangnya Dia maju lagi satu langkah dan tersenyum kepada Cun Hong.
"Bagaimana kalau kita yang mencoba kepandaian?"
Tanyanya.
"Kau ingin bergebrak denganku'?"
Suara Cun Hong terdengar dingin.
"Apakah aku tidak pantas bergebrak denganmu'?"
Tanyanya Siau cui. Cun Hong tersenyum tipis.
"Tentu saja boleh,"
Sahutnya.
"Bagus Kalau begitu kita car! tempatyang lebih luas,"
Ajak Siau cui.
"Tidak perlu. Untuk benanding ilmu pedang, para ko ciu hanya memerlukan tempat untuk berpijak. Meskipun hanya sepetak keen sudah cukup Aku tentu saja belum dapat disebut Ko ciu. namun jembatan itu rasanya sudah cukup besar Kita bertanding di atas jembatan itu saja,"
Kata Cun Hong angkuh. Siau cui tentu saja tidak mau kalah gertak.
"Kalau kau memang mau bertanding di atas jembatan, ayolah. Kau pikir aku takuf?"
Bentaknya.
"Mengadu ilmu pedang harus menggunakan kepandaian sejati, bukan dengan mulut besar sudah dapat mengalahkan lawan,"
Sahut Cun Hong. Dada Siau cui serasa akan meledak karena mendongkol.
"Bagus... Kau sudah boleh melancarkan serangan."
Katanya. Cun Hong mengangkat pedang pendeknya ke atas.
"Kalian adalah tamu Aku sepatutnya mengalah. Kau mulailah lebih dulu,"
Sahutnya. Siau cui benci sekali melihat lagaknya yang konyol Rasanya ingin dalam sekali tusuk ia menyerang agar budak itu mati saja.
"Kalau demikian keinginanrnUi aku tidak sungkan lagi."
Dengan gerakan kilat, pedang pendeknya menghunjam ke depan.
Jurus ini sangat lihai.
Apalagi dia sudah mefatih sampai matang.
tentu saja tidak dapat dianggap ringan.
Sementara itu, Song Bun Cun dan Hui Fei Cin sudah mundur beberapa langkah dan memperhatikan jalannya penarungan dengan seksama Hui Fei Cin melihat Siau cui membuka permulaan yang bagus sekali Diam diam dia menganggukkan kepalanya Cun Hong sendiri tadinya dipenntahkan untuk melawan Song Bun Cun.
sekarang digantikan oleh seorang budak, tentu saja dia tidak memandang sebelah mata "Bagus sekali,"
Katanya dingin Pedang di tangannya juga dipular dengan cepat Sinarnya sepeni pelangi yang indah Dengan keyakinan penuh dia menyambut serangan Siau cui dengan kekerasan "Trang""".
Terdengar suara benturan yang nyanng Pedang di tangan mereka samasama tof getar Keduanya mundur satu langkah.
Tu buh Cun Hong berputar dengan panik Pedang pendek di tangannya ditarik kembali dengan segera.
Siau cui juga menekuk pinggangnya dengan gaya yang manis.
Pedang pendeknya juga segera ditarik kembali Tubuhnya berdiri dengan tegak Pergelangan tangannya diputar dan sekaligus dikeluarkannya tiga jurus berturut turut.
Cun Hong terperanjat melihat serangan itu, dia mengelit dengan kelabakan Tubuhnya bergeser ke kin dan kanan Langkah kakinya mundur terus.
Song Bun Cun mendengus dingin.
"Dengan kepandaian cakar ayam begitu berani beranian ingin bertanding dengan Kongcul"
Katanya ketus. Sementara itu, Cun Hong kembali mundur satu langkah Siau cui sama sekali tidak membennya kesempatan.
"Kalau kau mundur lagi. maka lembatan ini tentu tidak cukup untuk kita mengadu kepandaian,"
Sindirnya.
Wajah Cun Hong merah padam Dia menjadi nekad.
Pedangnya digerakkan dengangaya memutar, Kakinya maju dua langkah.
Dia menenang Siau cut tanpa memperdulikan serangan gadis itu, Tubuhnya miring kesamping Gerakannya tiba-tiba berubah.
Tangannya bergerak dengan gaya yang aneh Tidak sepsrti sedang mengadu ilmu dengan pedang, Tapl dengan tangan kosong Siau cul merasa matanya berkunangkunang Dia tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakan pedang pendeknya Cun Hong yang merasa di atas angin makin bersemangat.
Dengan cepat ia menusuk ke depan Siau cui tidak tahu harus berbuat spa Pedang pendeknya diangkat ke atas untuk diadukan dengan pedang Cun Hong Ternyata dia sudah termakan siasat budak cilik itu, Karena memang itulah yang diharapkan oleh Cun Hong Pergelangan tangannya memutar dengan cepat Padang pendek Siau cui seakan dililit oleh gulungan angin kencang,.
"Trangg!!!. Pedang pendek Siau cui tedepas dari tangan dan melayang di udara Cun Hong mundur dua langkah Bibirnya mengembangkan senyuman mengejek.
"Kau bukan tandinganku Lebih baik suruh saja majikanmu menghadapikui"
Katanya. Siau cui hampir menangis mendengar ejekan itu Dia tidak memunggut kembali pedang pendeknya yang terjatuh di tanah. Dengan tangan kosong dia menyerbu ke arah Cun Hong.
"Biarlah aku mengadu jiwa denganrnui"
Teriaknya. Hui Fei Cin segera maju mencegahnya.
"Siau cui, kembali'"
Bentaknya.
"Siocia. aku belum kalah!"
Sahut gadis itu kesal.
"Pedangmu saja sudah terlepas dari tangan, masih tidak mau mengaku kalah'"
Sindir Cun Hong sambil mencibirkan bibirnya. Siau cui masih mau menyahut, tapi Hui Fei Cin mengibaskan tangannya.
"Tidak usah berkata apa-apa lagi Kembalilah!" . Siau cui mendengus satu kali kepada Cun Hong Dia terpaksa mundur ke samping Hui Fei Cin Mata gadis itu sedang memandang Song Bun Cun.
"Piauko. biar aku yang menghadapinya ".
"Piaurnoi harus berhati-hati llmu pedang budak ilu biasa-biasa saja, tapi geifkan la ngannya sangat aneh,"
Kata Song Bun Cun. Hui Fei Cin mengembangkan senyuman lebar.
"Karena itulah aku ingin menghadapinya,"
Sahutnya. Dia maju ke depan beberapa langkah.
"Cun Hong, kau juga balik!"
Teriak Tiong kouwnio. Cun Hong tampak terpana.
"Tiong kouwnio Budak ". Tiong kouwnio tidak membiarkan dia membantah lebih lanjut.
"Kau sudah memenangkan satu kali pertandingan Sekarang mereka mengganti orang lain. Kita juga harus mengganti orang."
Katanya. Cun Hong tidak berani membantah lagi Setelah mengucapkan sepatah kata 'Baik' Dengan langkah lebar dia kembali ke sisi nonanya. Sia Ho Kau sambut beberapa jurus dan Hui toa siocia."
Ujar Tiong kouwnio. Gadis yang berdiri di sebelah kanannya segera menyahut.
"Budak terima perintah "
Dia melangkah ke depan Hui Fei Cin. Cadar di muka Hui Fei Cin bergerakge rak Dia menunggu sampai Sia Ho berada di hadapannya.
"Apakah kita juga bertanding dengan pedang?"
Tanyanya lembut.
"Budak menerima perintah Tiong kouwnio untuk melayam Siocia Tentu saja bertanding dengan pedang,"
Sahut Sia Ho.
"Bagus sekali Kita juga tidak perlu sungkan lagi Keluarkanlah seniatamu,"
Kata Hui Fei Cin.
Sia Ho mengeluarkan sebatang pedang pendek dari selipan pinggangnya.
Pedangnya itu persis seperti yang digunakan Cun Hong tadi Dia berdiri menanti.
Pedang yang dibawa oleh Hui Fei Cin malam ini bukan pedang Cen Ku kiam yang terkenal di dunia kangouw itu Tangannya diangkat ke atas.
'Cring!'.
Terdengar suara yang nyaring Pedang itu terbuat dari bahan baja putih dengan sebuah rantai panjang menjuntai di bagian ujungnya Bayangan Hui Fei Cin yang mempesona terpantaul di aliran air.
apalagi dengan pedang yang berkilauan Makin indah dipandang mata Sekali lihat saja, orang akan tahu bahwa yang ada di tangannya adalah sebilah pedang pusaka.
Hui Fei Cin mendongakkan wajahnya Pedangnya telah tergenggam di tangan.
"Kau boleh mulai sekarang,"
Katanya. Dia benar-benar pantas menjadi putri kesayangan Wi Yang taihiap Sikapnya anggun dan menawan.
"Tidak! Budak menerima perintah majikan berarti mewakili Tiong kouwnio Sebagai seorang tamu yang harus dihormati, maka Siocia yang harus mulai dulu,"
Sahut Sia Ho. Nada bicaranya sangat ramah, karena dia melihat Hui Fei Cin juga begitu ramah terhadapnya Sekarang gadis itu sedang tersenyum manis ".
"Kalau demikian, aku juga tidak perlu sungkan lagi,"
Kata Hui Fei Cin.
Pedangnya diputar, kilauan sinar putih menebar di sekelilmg Hui Fei Cin maju beberapa tindak dan menusuk ke arah Sia Ho Serangannya ini hanya percobaan saja, dia hanya ingin menyelidiki dahulu permainan pelayan itu Ternyata Sia Ho tenang tenang saja Tubuhnya berkelit ke kiri.
Dan lengan bajunya yang lebar tiba-tiba dikeluarkan lagi sebatang pedang pendek Pedang tersebut dibagi di kedua belah tangannya Dengan gerakan yang sangat cepat, menyambut serangan Hui Fei Cin.
'Trang' Trang".
Dia tidak berhenti sampai di situ saja Pedang di tangan kirinya ditarik kembali, sedangkan yang ada di tangan kanan menusuk dari bawah.
Hui Fei Cin terkejut sekali.
Dia tidak menyangka pelayan itu begitu lihai.
"Benar apa yang dikatakan orang Di bawah pimpinan seorang panglima besar tidak ada Prajurit yang lemah. Seorang pelayan saja sudah memiliki kepandaian begitu tinggi, apa lagi Tiong kouwnio itu,"
Pikirnya dalam hati Sekarang dia lebih waspada.
Gerakannya lebih dipectimbangkan Dia mundur dua langkah menghadapi tusukan pedang Sia Ho, namun sekali lagi dia terkejut Baru saja pedang di tangan kanannya berhasil dihmdari, pedang pendek di tangan kiri gadis itu sudah menyambarnya.
Hui Fei Cin sampai mandi kenngat men jaga diri dan serangan yang tiba liba da tangnya itu.
Serangan itu berbahaya sekali Hui Fei Cin mengangkat pedangnya dan menangkis.
Berpijarlah bungabunga api yang menyilaukan mata.
Song Bun Cun Siau cui serta Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan menonton "pertandingan itu dengan hati tegang Mereka belum tahu siapa yang akan menang atau kalah.
Sebetulnya dalam hal tenaga dalam, ke duanya tampak seimbang, tapi dalam hal kecepatan gerakan, Hui Fei Cin mungkin masih kalah sedikit dengan gadis pelayan itu Perlahanlahan dia mulai terdesak dan mundur terus Tiba-tiba pedang Sia Ho menyambar.
HUI Fei Cin dengan cepatnya mengelak, pedangnya menyambar dan mengurung Sia Ho.
tapt dia kalah cepat karena sepasang pedang pendek pelayan itu telah disilangkan dan diadukan dengan pedangnya Untuk sesaat Hui Fei Cin kehilangan keseimbangan Tangannya terasa kesemutan dan.
"Cring'". Pedangnya terlepas dan tangan Sia Ho meloncat mundur beberapa langkah.
"Hui toa siocia terima kasih atas pelajar anmu hari ini katanya la mengambil pe dang Hui Fei Cin yang terjatuh di tanah dan di sodorkannya kepada gadis itu.
"Hui toa siocia Terimalah kembali pedangmu ini,"
Lanjutnya. Hati Hui Fei Cin masih berdebardebar, tapi wajahnya tenang sekali.
"Terima kasih kembali Di bawah pimpinan seorang panglima besar memang tidak ada prajurit yang lemah Aku kalah dengan puas Pertandingan ini telah membuat mataku terbuka,"
Sahutnya. Diterimanya pedang yang disodorkan itu. Sia Ho membungkukkan badannya dengan hormat.
"Hui toa siocia memandang budak terlalu tinggi" . Dia segera mengundurkan diri ke samping Tiong kouwnio Ciok Ciu Lan menoleh kepada Yok Sau Cun di tempat' persembunyiannya.
"Yok Siangkong, apakah kau juga melihatnya?".
"Apa yang kau maksudkan dengan juga melihat'?"
Tanya Yok Sau Cun dari mana datangnya mereka itu'? Mengapa aku tidak pernah mendengar ibu menceritakan tentang komplotan yang mempunyai kepandaian demikian hebat ".
"Yang pertama memakai sebatang pedang pendek,yang kedua menggunakan sepasang pedang, entah yang dua lagi mempunyai keistimewaan apa?"
Sahut Yok Sau Cun sambil menggelengkan kepalanya.
Song Bun Cun yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Hui Fei Cin mengalami kekalahan di bawah sepasang pedang pendek Sia Ho.
tentu saja terkejut sekali Tapi dia tidak mau menampilkan perasaan tersebut di depan lawan Dia segera mengembangkan senyuman lebar.
"Piau moay. kalah atau menang dalam suatu pertandingan adalah hal yang lumrah Sekarang tentunya giliran Kongcu,"
Katanya. Dia melangkah dengan lebar kehadapan rombongan lawan.
"Tiong kouwnfo, apakah kau akan turun ke arena atau mengutus pelayanmu yang lain?"
Tanya Song Bun Cun. Tangan kin Tiong kouwnio melambal ke arah pelayannya.
"Ciu Suang giliranmu!"
Perintahnya dengan nada dingin.
Ciu Suang adalah gadis yang berdiri di ujung sebelah kanan dan dia juga yang membawakan kurungan berisi harpa tadi.
Dia segera mengiakan tapi baru saja kakinya melangkah beberapa tindak.
tiba-tiba dia berhenti Dia berdiri terpaku di tempatnya beberapa saat Song Bun Cun tahu bahwa Tiong kouwnio sedang mengisikinya dengan ilmu Coan Im Jut Bit Yaitu semacam ilmu yang berbicara tanpa mengeluarkan suara dan hanya tertuju pada orang tertentu Sesaat kemudian terlihat dia melangkah lagi sampal ke badapan Song Bu Cun.
'Apakah kouwnio yang akan bertanding dengan Kongou?"
Tanya Song Bun Cun tenang.
Alis Ciu Suang sangat indah Bibirnya mungit Membuat orang yang melihatnya terpesona Namun sesual namanya (Ciu Suang berarti kesejukan di musim gugur) wajahnya juga sangat dingin.
"Apakah masih perlu disangsikan?" . Tangannya menghunus sepasang pedang panjang dan balik punggungnya.
"Bagus sekali'"
Kata Song Bun Cun mernuii "Silahkan kouwrno mulai". Ciu Suang melinknya sekilas.
"Tiong kouwnio sudah berpesan, tuan rumah harus mengalah terhadap tamunya Tapi .".
"Tapi apa?"
Tanya Song Bun Cun.
"llmu pedang Tian Hua san ceng sangat terkenal Pertandingan kita kali ini juga menggunakan pedang apakah ada batasnya?" . Song Bun Cun terpana.
"Apa maksud kouwnio?"
Tanyanya tidak mengerti.
"Tuan rumah selalu mengikuti permintaan tamunya Kau boleh kemukakan sendiri, kirakira dalam berapa jurus kau sanggup mengalahkan aku, maka kita menggunakan berapa jurus yang kau inginkan itu sebagai batas kalah atau unggul?"
Kata Ciu Suang.
Ucapan itu sangat sombong Juga sangat cerdik.
Song Bun Cun sejak kecil belajar ilmu pedang, meskipun dia belum mencapai ke sempurnaan, tapi sebagian besar ilmu pedang Song Ceng San telah diwansi oleh nya.
Walaupun jago kelas satu di Bulim saat ini sangat banyak, namun mereka belum tentu dapat mengalahkan Song Bun Cun dengan mudah Sekarang seorang gadis yang masih bau kencur malah menanyakan berapaJurus yang dia sanggup mengalahkannya'?
Bukankah ini berarti tidak memandang sebelah mata Tian Hua san ceng"?
Wajah Song Bun Cun agak berubah mendengar perkataan Ciu Suang.
"Silahkan kouwnio yang kemukakan sendiri,"
Sahutnya datar.
"Tidak Berapa jurus yang akan kau perlukan untuk mengalahkan aku, toh aku tidak tahu Kalau yang kuajukan terlalu sedikit, belum tentu kau dapat mengalahkan aku dalam jumtah tersebut. Kalau aku mengatakan terlalu banyak sama saja artinya aku memandang rendah Tian Hua san ceng Untuk menghadapi seorang budak saja, masa kau perlu menggunakanjurus sebanyak itu. 0!eh karena itu, aku jadi serba salah Karena hal ini menyangkut nama balk Tian Hua san ceng, maka lebih baik kau yang menentukan sendiri "
Kata Ciu Suang.
Dalam hati Song Bun Cun marah sekali.
Tetapi karena pihaknya telah dua kali mengalami kekalahan, maka dia berpikir kembali.
Sebetulnya dia ingin mengajukan sepuluh jurus, namun rasanya kurang tepat Kalau dalam sepuluh jurus dia tidak dapat mengalahkan pelayan itu, bukankah dm sendiri harus mengaku kalah?
Tetapi kalau dia meng ajukan terlalu banyak, sebagai Sau ceng cu dari Tian Hua san ceng, untuk menghadapi seorang gadis cilik saja memerlukan jurus sebanyak itu, bukankah memalukan?
Untuk sesaat Song Bun Cun kebmgungan Dia ti dak tahu bagaimana harus menjawab.
Ciu Suang tidak membtarkan berpikir lama lama.
"Bagaimana'? Apakah kau tidak mempunyai keyakinan untuk mengalahkan aku'1'"
Sindirnya tajam. Song Bun Cun panas sekali mendengar pernyataannya.
"Sungguh budak yang memiliki lidah ta jam, Kongcu sedang mempertimbangkan Apalagi untuk mengambil nyawamu, rasanya tiga jurus sudah cukup Tapi untuk mengalahkanmu tanpa terluka, mungkin duapuluh jUrus adalah keputusannya " . Dua puluh jurus Memang tepat dengan ilmu pedang pemnggalan Tian San Yi su yang hebat dan belum pernah ada orang yang sanggup memecahkannya Dia mengatakan duapuluh jurus untuk melawan ssorang budak cilik berusia belasan, sebetulnya dia juga sudah dalam keadaan terpaksa.
"Jiwa seorang budak sama sekali tidak berharga Apalagi dalam mengadu ilmu Pedang memang tidak bermata Kalau memang terpaksa, silahkan bunuh aku Tidak usah berpikir panjang Tetapi aku [ngin penjelasan, sebetulnya berapa jurus yang Song Kongcu inginkan, tiga atau duapuluh'?"
Tanya Ciu Suang.
"Pedang Kongcu ini tidak pernah membunuh orang yang tidak melakukan kejahatan besar. Kita bertanding duapuluh jurus saja."
Sahut Song Bun Cun. Hui Fei Cin diamdiam berpikir "Piauko mendapat didikan langsung dari paman, malam ini penampilannya sungguh tenang, jawabannya juga tepat Sungguh jauh berbeda dengan biasa"
Dia menatap pemuda itu sejenak. Ciok Ciu Lan menjawi! lengan baju Yok Sau Cun.
"Budak yang bernama Ciu Suang itu memaksa Song Bun Cun mengatakan berapa jurus yang diperlukan untuk mengalahkannya Aku yakin pasti dia mempunyai rencana tertentu"
Katanya.
"Apa salahnya?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Di mana salahnya, aku juga tidak tahu Pokoknya ada sesuatu yang tidak beres,"
Sahut Ciok Ciu Lan. Sementara itu, terdengar sahutan dari Ciu Suang.
"Baiklah. Dua puluh jurus. Sekarang kau sudah boleh mulai menyerang ".
"Kouwnio harap berhati-hati. Kongcu mulai menyerang "
Dalam waktu sekejap, mimik wajahnya berubah menjadi serius.
Tangan yang menggenggam pedang, terangkat perlahan-lahan Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam Menatap lurus ke arah pedangnya.
Ciu Suang yang berdiri di hadapannya juga sudah melihat waiah Song Bun Cun yang demikian tenang Tiba-tiba timbul perasaan hormat dalam hatinya Tepat pada saat itu, Song Bun Cun mulai menyerang Gerakannya sangat lambat, namun kelambatan itu hanya pembukaan saja.
Sampai di tengah jalan, pedang itu meluncur dengan cepat Begitu cepatnya sehingga seperti kilat yang menyambar Sasarannya adalah bahu kin Ciu Suang.
Mata gadis itu memang sejak tadi sudah terpaku pada pedang Song Bun Cun yang bergerak lambat.
Penampilannya sangat tenang Begitu pedang itu meluncur sampai di tengah jalan Tubuhnya juga mencelat Dengan mudah dia berhasil menghindarkan diri Song Bun Cun terkejut seiak tadi dia sudah memperhatikan bagaimana siau cui dan Hui Fei Cin dikalahkan maka dan itu, dia memilih jurus yang satu ini sebagai pembukaan Siapa sangka gadis cilik itu dapat berkelit dengan mudah?
Bahkan perubahan jurus tersebut belum sempat dikeluarkannya sama sekali.
"Bagus!"
Tanpa sadar mulutnya berseru Serangannya kali ini tetap secepat tadi, tapi jurus yang digunakannya sangat barlainan Dia mengangkat sebelah kakinya ke belakang dan seperti orang yang sedang bermain ski salju meiuncur menyerang Ciu Suang.
Tubuhnya memutar beberapa kali, namun tikaman pedangnya tetap menuju ke depan Dia sekaligus mengerahkan tiga jurus ampuhnya.
Ciu Suang sempat terperaniat namun ilmunya memang hebat Dapat dipastikan orang yang melatih mereka luar biasa.
Kete nangannya mengagumkan.
Meskipun serangan Song Bun Cun sangat berbahaya, tapi dia menghadapinya tanpa panik sedikit pun Sekali kakinya dihentakkan, tubuhnya melayang ke atas tembok |embatan Dengan alas jembatan itu, dia menutui sekali lagi dan melayang melewati kepala Song Bun Cun.
Kemudian secepat kilat tubuhnya memutar Dan menikam pemuda itu dari belakang Dari pihak penyerang, Song Bun Cun menjadi pihak yang diserang Untung saja reaksinya cepat, dia membahkkan tubuh dan menangkis sepasang pedang gadis itu.
"Trangi"
Song Bun Cun mencelat ke atas dan turun dengan tenang Dia mengira paling tidak gadis itu akan terpental oleh pantulan tenaga benturan pedang tadi Tapi sekali lagi dia terkejut gadis itu bersalto di udara dan melayang turun dengan gaya yang indah.
Satu hal lagi yang menciutkan hati Song Bun Cun Dia mendapat kenyataan bahwa ilmu yang digunakan gadis itu seakan memang sengaja dicyptakan untuk mengimbangi kepandaian yang dimilikinya Meskipun dia menyerang dengan Jurus apa pun, gadis itu segera mengetahui cara untuk menandinginya Song Bun Cun berteriak lantang Dia memutar pedangnya dengan cepat Pertandingan berlangsung semakin seru dan menegangkan Yang satu menyerang, sedangkan yang lainnya mempertahankan diri.
Wajah Ciu Suang mulai merah padam Keringatnya mulai mengucur, tapi dia bertahan mati-matian llmunya sangat mengagumkan.
Meskipun dia seperti sudah kewalahan, tapi ilu hanya karena dia kalah tenaga saja dengan Song Bun Cun Sedang Ran serangan pemuda itu sendiri, berhasil dielakkan dengan manis.
Tiba-tiba Ciu Suang melayang mundur sejauh lima tindak Wajahnya penuh keringat.
Nafasnya tersengalsengal Namun bibirnya tersenyum.
"Sudah lewat duapuluh jurus, apakah kau masih belum mau berhenti?"
Tanyanya dingin. Song Bun Cun menarik pedangnya kembali Wajahnya muram. Kepalanya mengangguk-angguk "Ternyata sudah duapuluh jurus lebih. Kongcu mengaku kalah...."
Sahutnya sendu.
Ciu Suang menatapnya beberapa saat Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun Wajahnya tiba-tiba berubah Dengan langkah lebar dia segera kembali ke sisi Tiong kouwnio.
Song Bun Cun menjura dalam-dalam "Malam ini kami mengaku kalah.
Selamat tinggal,"
Katanya. Dia menoleh kepada Hui pei Cin "Piaumoi man kita pergi "Dia segera melangkah.
"Song Kongcu, berhenti sebentar!"
Terdengar seruan Tiong kouwnio. Song Bun Cun berhenti melangkah Dia membalikkan tubuhnya "Apakah Tiong kouwnio bermaksud menahan kami?"
Tanyanya. Tiong Kouwnio bangkit dan tempat duduknya Bibirnya menyunggingkan senyum datar.
"Aku tadi sudah mengatakan bahwa sama sekali tidak ada maksud menahan kalian di sini. Tetapi ada satu persoalan yang aku harap kalian mau duduk bersama agar kita dapat membicarakannya" . Dan tempat persembunyiannya, Yok Sau Cun melihat rombongan kawannya mengalami kekalahan tiga kali berturut-turut.
"Ciok kouwnio, mari kita keluar Cayhe ingin menemui manusia she Yu untuk me minta obat pemunah,"
Katanya Dia segera berdiri. Ciok Ciu Lan sedangmelamun Dia t.erkejut melihat Yok Sau Cun yang bermaksud mengunjukkan diri Dia segera menarik tangannya.
"Untuk apa kau keluar?"
Tanyanya.
"Song heng belum tahu bahwa manusia she Yu yang membawanya ke man adalah orang yang menitipkan surat beracun ke pada cayhe Mumpung Song heng masih ada di sini, cayhe akan melucutj kedoknya dan meminta obat pemunah racun " .
"Tunggu dulu Aku tenngat sesuatu hal,"
Kata Ciok Ciu Lan.
"Hat apa?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Aku sedang berpikir, Tiong kouwnio mengajak keempat pelayannya tinggal di sini, kemungkinan besar demi Tian Hua san ceng Song toya cu sudah lama mendapat sebutan Bulim it kiam llmu yang mereka pelaian, semuanya khusus untuk menandingi ilmu Song loya cu " .
"Apa yang kau katakan memang tidak salah,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Tetapi, karena nama Song loya cu sudah lama menggetarkan dunia kangouw, mereka tidak berani menghadapinya langsung Oleh karena itu, mencan jalan lain, misalnya mem peralat engkau membawakan surat beracun itu kepadanya" .
"Tidak salah ".
"Ofeh karena itu, aku rasa obat pemunah itu tidak ada di tangan manusia she Yu,"
Kata Ciok Ciu Lan.
"Kalau begitu di tangan siapa'?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Manusia she Yu itu juga menjalankan perintah saja".
"Maksudmu... obat pemunah itu ada di tangan Tiong kouwnio'?"
Tanya Yok Sau Cun terperanjat. Ciok Ciu Lan tertawa lebar.
"Akhirnya kau berpikir juga,"
Sahutnya.
"Kalau demikian, kita temui Tiong kouwnio dan minta obat penawar dannya,"
Kata Yok Sau Cun.
"Untuk mendapatkan obat penawar itu, harus menguasai Tiong kouwnio dulu Tapi keempat pelayannya tidak mudah dihadapi Ah Ada sebuah akal" .
"Apakah kau menemukan jalan yang baik'?"
Tahya Yok Sau Cun.
"Akal ini sangat berbahaya, tapi tidak ada salahnya kalau kita coba Dekatkan telingamu!"
Kata Ciok Ciu Lan'. Yok Sau Cun menempelkan telinganya ke bibir Ciok Ciu Lan Gadis itu segera menguraikan akal yang terpikir olehnya tadi Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Baiklah Kita jalankan rencana ini,' sahutnya. Sementara itu, Song Bun Cun yang mendengar perkataan Tiong kouwnio segera menolehkan wajahnya ke arah Hui Fei Cin.
"Piaumo, bagaimana pendapatmu?"
Tanyanya.
"Kita toh sudah datang ke man. Apalagi sudah mengalami kekalahan tiga kali berturutturut. Orang meminta kita duduk ber sama. Apakah kita enak hati menolaknya?. Biar kita dengarkan apa yang ingin dibicarakan nanti,"
Sahut Hui Fei Cin.
"Apa yang dikatakan Piaumoi benar juga Mari kita kesana '. Baru saja perkataannya selesai, terde ngar suara panggilan yang lantang.
"Song heng, tunggu sebentar" . Song Bun Cun merasa suara itu tidak asing di telinganya Dia segera menoleh Terlihat dua bayangan melesat dan balik batu besar yang terhalang oleh pohon pohon rimbun. Mereka adalah Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan. Mereka tidak melintasi jembatan. Sebetulnya dari balik batu besar itu harus melintasi jembatan lebih dekat dengan tempat Song Bun Cun Tapi mereka mengambil jaian memutarj. Hui Fei Cin merasa hatmya ber getar aneh melihat kemunculan Yok Sau Cun yang bersama Ciok Ciu Lan.
"Apakah Yok heng berniat menyatakan sesuatu kepada cayhe?"
Tanya Song Bun Cun yang agak terpana melihat kehadiran kedua orang itu. Yok Sau Cun mengembangkan senyuman.
"Cayhe juga ingin meminta pelajaran dari Tiong kouwnio. Kebetulan kekurangan dua saksi Karena So heng dan Hui siocia ada di sini, maka memnita kalian berdua menjadi saksinya saja"
Dia mangedipkan mata ke pada pemuda itu. Song Bun Cun tidak mengerti apa maksudnya. Namun dia dapat menduga bahwa Yok Sau Cun mempunyai alasan sendiri "Baiklah Entah bagaimana kami harus bersaksi?"
Tanyanya.
"Song heng tunggu sebentar, biar cayhe rundingkan syaratnya dengan Tiong kouwnio,"
Kata Yok Sau Cun Matanya segera mengalih kepada gadis itu la mengangkat tangannya dan menjura dalam-dalam.
"Selamat bequmpa kembali, semalam Tiong kouwnio mengutus orang membawa cayhe pulang ke rumah Hu toa nio, cayhe masih belum sempat mengucapkan terima ka sih Biar cayhe mengatakannya sekarang" .
"Yok Sau Cun, aku hanya memandang wajah Hong lo cianpwe, maka menyucuh orang mengantar engkau pulang Tidak disangka, siang ini kau mengajak mereka memenksa rumah ini dan sekarang kembali lagi untuk membiarkan dirimu tertangkap,"
Kata Tiong kouwnio dingin. Yok Sau cun tertawa lebar.
"Tiong kouwnio, aku ingin menjelaskan satu hal Cayhe dengan Hong locianpwe yang kau katakan sama sekali tidak ada hubungan apa apa Kau mengatakan kedatangan cayhe malam ini agar diri sendiri tertangkap Sungguh tidak sedap didengar Sedangkan kedatangan cayhe dengan memanjat tembok malam ini, adalah untuk mencan seseorang,"
Sahutnya.
"Siapa yang kau can?' tanya Tiong kouwnio datar. Yok Sau Cun menunjuk ke arah laki-laki yang berdiri di samping jembatan.
"Yu heng itulah yang ingin cayhe ternui Dialah laki laki yang menitipkan surat agar disampaikan kepada Song loya cu Akibatnya cayhe jadi kambing hitam. ." . Song Bun Cun mendengar Yok Sau Cun mengatakan bahwa yang menitipkan surat adalah lakiiaki yang membawa mereka tadi, segera menghunus pedangnya "Rupanya engkau yang mencelakal ayahku !"
Bentaknya sambil menyerbu ke arahnya. Yok Sau Cun cepatcepat menarik tangannya.
"So heng, kau adalah saksi cayhe maka kau harus menunggu sampai perkataan cayhe selesai"
Sekali lagi dia mengedipkan mata kepada anak muda tersebut. Hui Fei Cin juga sempat melihat isyarat mata yang dibenkan Yok Sau Cun barusan Dia membantu membujuk piaukonya.
"Piauko, biarkan Yo Singkong menyelesaikan ucapannya, nanti masih ada waktu untuk menanyakan orang itu,"
Katanya.
Song Bun Cun terpaksa menahan kemarahannya Dia berdiri tanpa berkata apa-apa tagi Sementara itu, Yok Sau Cun menoleh kembali kepada gadis Tiong.
'Oleh karena itu, tadinya tufuan kedatangan cayhe malam ini adalah untuk meminta obat penawar dari Yu Kirn Piau Namun setelah direnungkan sekali lagi, tampaknya Yu heng ini juga hanya men|ajankan perintah $aja Dia belum tentu memiliki obat pemunah itu, maka ...
". Dia sengaja menghentikan ucapannya, Tiong kouwnio mendengus sekali.
"Maka kau mencari aku bukan?"
Sahutnya. Yok Sau Cun tersenyum manis.
"Tebakan Tiong kouwnio sungguh tepat Maksud cayhe memang demikian ".
"Apakah kau tidak menganggap dirimu sedang mencari kesusahan sendiri?"
Tanya Tiong kouwnio sinis.
"Mungkin juga Tapi pada akhir pertandmgan baru dapat terbukti benar atau tidak,"
Sahut Yok Sau Cun sambil tertawa dengan gaya santai.
"Dengan cara apa kau ingin bertanding?"
Tanya Tiong kouwnio.
"Seperti dalam perjudian setengah angka pun dihitung Maka dan itu, cayhe mengharapkan sebuah pertandingan yang adil dengan kouwnio,"
Sahutnya.
"Setengah angkapun dihitung?"
Tiong kouwnio tertawa dingin "Kau ingin bergebrak dengan aku?".
"Apakah Tiong kouwnio tidak berani bertaruh dengan cayhe?".
"Kalau kau ingin bergebrak dengan aku, kau harus mengalahkan dulu pelayanku baru pantas menghadapi aku,"
Katanya dingin.
"Hal ini cayhe sudah tahu Silahkan kouwnio pilih salah seorang pelayan kouwnio. Cayhe akan menemani dengan senang hati,"
Sahut Yok Sau Cun tenang Tiong kouwnio menolehkan kepalanya ke arah empat pelayan itu.
"Tong Suat, kau hadapi dia beberapa jurus,"
Penhtahnya. Tong Suat segera maju dan mengiakan. Yok Sau Cun tersenyum ramah.
"Tong Suat kouwnio; silahkan keluarkan pedangmu,"
Katanya. Tong Suat mengeluarkan sepasang pedang dari balik punggungnya.
"Mana pedangmu'?"
Tanyanya. Tangan Yok Sau Cun disentakkan.
"Cring!"
Pedang lenturnya telah digenggam dalam tangan.
"Tong Suat kouwnio, hati-hati!"
Seru Yok Sau Cun Secepat kilat pedangnya telah men]adi tegak lurus dihunjam ke depan Dia mengarah ke pergelangan tangan nona itu.
Dalam keadaan panik, Tong' Suat mencelat mundur Pedang Yok Sau Cun tetap mendesaknya Tempat berdiri Tong Suat kebetulan sangat dekat dengan Ciok Ciu Lan Gadis itu sejak tadi sudah menyiapkan sejumlah batu kecil di tangan Dengan diamdiam dia menyentil batu-batu itu.
Perlu diketahui, bagaimana pun Ciok Ciu Lan adalah putri kesayangan Be hua popo Perempuan itu sangat terkenal dengan ilmu Tian li san hua (Bidadari menyebar bunga) nya Dia dapat menimpukkan delapanbelas macam senjata rahasia sekaligus Sedangkan Ciok Cin Lan sejak kecil dididik olehnya.
Meskipun kepandaiannya belum setinggi Be nua popo, tapi paling tidak, dia juga dapat menimpukkan sembilan macam senjata rahasia pada saat yang bersamaan Lagipula timpukkannya itu selalu tepat di sasaran Dengan demikian Tong Suat sama sekali tidak menyadan adanya penyerang gelap Begitu salah satu jalan darah terkena salah satu batu kecil yang disentil oleh Ciok Ciu Lan.
dia segera terkulai tanpa bangun lagi.
Gerakan Yok Sau Cun kali ini sangat cepat dan aneh Orangorang yang ada di tempat itu tidak tahu apa yang terjadi Mereka hanya melihat sinar pedang yang berkilauan menerjang ke arah Tong Suat, sebelum sempat melihat dengan jelas, gadis itu sudah roboh.
Pada saat itu Song Bun Cun dan Hui Fei Cin sampal terpana melihat hasil serangan anak muda ttu Terutama Song Bun Cun, dia sudah pernah bertarung dengan Yok Sau Cun Setahunya, ilmu silat pemuda itu memang cukup tinggi, tapi ton masih setmgkat di bawahnya Bagaimana mungkin dalam waktu dua hari saja dapat maju begitu he bat?
Dia dapat melumpuhkan Tong Suat hanya dalam satu jurus saja'?.
Setelah mengalahkan Tong Suat, Yok Sau Cun segara menggulung kembaii pedang lenturnya.
Dia menghampin Tiong Kouwnio dan tersenyum lebar.
"Cayhe sudah meraih kemenangan Kalau Tiong kouwnio kurang yakin, boleh mengutus seorang lagi untuk menguJi cayhe,"
Katanya.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanya Tiong kouwnio.
"Jangan khawatir Cayhe hanya menotok jalan darahnya dengan Ujung pedang. Bu kan hat yang mengancam jiwa,"
Sahut Yok Sau Cun tersenyum simpul. Sekali lagi Tiong kouwnio menggapai salah satu pelayannya.
"Cun Hong, kau hadapi dia!"
Perintahnya.
"Budak melaksanakan perintah!"
Sahut Cun Hong. Dia segera maju ke depan Yok Sau Cun. Dikeluarkannya sepasang pedang dari balik punggung. Tindakannya sengaja dilambatlambatkan.
"Kau boleh mulai sekarang,"
Katanya. Dia sengaja berlaku santai Yok Sau Cun dapat menangkap maksud hatinya dia tersenyum lebar.
"Tampaknya nona tidak akan membalas kalau cayhe tidak mendahului Kalau demikian, cayhe tidak sungkan lagi,"
Sahutnya.
"Cring!"
Sekali lagi pedang lenturnya dihentakkan sehingga menjadi kaku Dia menudingkannya ke depan Cun Hong.
"Kouwnio, hati-hati!"
Teriaknya Dengan ]urus Siau cu Tian lam (Sambil tertawa menuju ke arah Tian lamj dia mulai menyerang.
Jurus ini adalah sebuah tipuan.
Ternyata Cun Hong masuk dalam perangkapnya.
Katika melihat Yok Sau Cun meluruskan pedangnya, dia mengira pemuda itu akan mengulangi kembaii serangan tiba-tiba yang dilakukan pada Tong Suat tadi, tubuhnya segera melayang ke alas dan dengan gerakan kilat menebas ke arah kepala pemuda itu Siapa sangka, pedang Yok Sau Cun hanya meiuncur sampai tengah jalan, kemudian ditariknya kembali Pemuda itu berkelit ke samping dan menyapu pedangnya ke pergetangan tangan lawan.
"Sayang sekali kouwnio terlambat sedikit"
Serunya.
Pedang lentur di tangan kanannya kembali ditarik kembali.
Tanpa disangkasangka telapak tangan kirinya menepuk ke depan.
Pada saat itu, tubuh Cun Hong baru saja mendarat Tubuhnya segera limbung tersapu tepukan angin telapak Yok Sau Cun Ciok Ciu Lan tidak menyianyiakan kesempatan itu Batu kecil ditangannya segera disentilkan.
Belum lagi tubuh Cun Hong tegak kembali, dia jatuh terkulai di atas tanah dan tidak' terbangun lagi.
Kedua orang yang bertarung tadi bergerak dengan sangat cepat.
Mereka hanya melihat hantaman telapak tangan Yok Sau Cun telah melumpuhkan Cun Hong Orangorang yang ada di taman itu terpana semuanya.
Song Bun Cun sampai mengerutkan keningnya Mata Hui Fei Cin di balik cadar tampak berkilau Siapa pun tidak ada yang menyangka bahwa lumpuhnya kedua gadis tadi adalah hasil kerja Ciok Ciu Lan.
Yok Sau Cun mengangkat wajahnya Dia memandang ke arah Tiong kouwnio dengan tenang dan bibir tersenyum.
"Tiong kouwnio, apakah cayhe sudah pantas bergebrak dengan nona?"
Semakin tenang penampilan Yok Sau Cun, wajah Tiong kouwnio pun semakin dingin.
Peria hanlahan dia bangkit dari tempat duduknya Sepasang mata yang tajam memandang Yok Sau Cun dengan tatapan menusuk Dia maju beberapa tirrdak Matanya tidak beratih dari Yok Sau Cun.
"Sudah cukup,"
Sahutnya ketus Sia Ho dan Ciu Suang yang berdiri di sampingnya segera memanggil serentak.
"Tiong kouwnio, budak " . Tiong kouwnio tidak membiarkan mereka meneruskan ucapannya Tangan kirinya terangkat perlahan Maksudnya mencegah mereka bicara.
"Ambii pedangku!"
Perintahnya. Ciu Suang tidak berani membantah. Dia segera menyodorkan pedang panjang dengan gagang berbentuk kepala garuda Tiong kouwnio menyambutnya Dengan langkah tenang dia menghampiri Yok Sau Cun.
"Kau boleh bebaskan kedua budak itu sekarang!"
Perkataannya bagai sebuah perintah yang tidak boleh dibantah siapa juga.
Yok Sau Cun pemah bertemu dengannya tadi malam.
Lagipula tempat duduk mereka hanya dihalangi sebuah meja bundar.
Dua kali dia mengucapkan maaf, meskipun wa jahnya dingin dan kaku, tapi masih mengembangkan senyuman.
Jadi dia tidak merasa kan apa pun Sekarang, dia berdiri dihadapannya.
Juga di bawah cahaya lentera Dia merasa penampilan wajahnya sangat jauh berbeda dengan semalam.
Tampaknya pucat sekali Sepasang sinar matanya dingin menusuk Orang yang memandangnya mungkin akan bergidik Tetapi, sekaligus membLyt penampilannya begitu mempesona.
pedang Yok Sau Cun belum disimpan.
Dia menjura dalamdalam dengan bibir tersenyum lebar.
"Tiong kouwnio, tentang ini harap maafkan. Kedua pelayanmu itu tidak dapat dibebaskan sampai pertandingan antara kita berakhir, karena...." . Yok Sau Cun mendongakkan wajahnya dan membalas tatapan gadis itu.
"Karena apa?"
Tanya Tiong kouwnio datar.
"Karena kedua pelayan semuanya memiliki pedang. Itmu mereka sangat hebat Sedangkan beberapa teman cayhe ini juga memegang pedang, untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan, terpaksa harus menyiksa mereka untuk samentara,"
Kata Yok Sau Cun. Tiong kouwnio mendengus sekali "Baik Kau boleh mulai menyerang "
"Tidak Cayhe tadi sudah menyatakan, pertandingan kita kali ini adalah semacam pertaruhan Menang atau kalah, siapa pun jangan menyesal Tentu saja ada sesuatu yang harus dipertaruhkan bukan?"
Sahut Yok Sau Cun. Tiong kouwnio tampaknya tidak sabar melihat sikap Yok Sau Cun.
"Apa yang ingin kau jadikan taruhan?"
Tanyanya.
"Kedatangan cayhe malam im adalah untuk meminta obat pemunah,"
Kata Yok Sau Cin. Di wajah Tiong kouwnio tersirat hawa amarah.
"Apakah kau yakin dapat mengalahkan aku?"
Tanyanya.
"Pertandingan ini adalah sebuah pertaruhan. Tentu saja cayhe berusaha meraih kemenangan dan mendapatkan obat pemunah racun,"
Sahut Yok Sau Cun.
"Bagaimana kalau aku yang menang?"
Tanya Tiong kouwnio.
Meskipun wajahnya dingin dan kaku, tapi ketika berkata terlihat sedikit rona wajah merah di pipinya Bagaimana pun dia adalah seorang gadis yang jarang berdekatan dengan seorang pemuda.
"Kalau cayhe kalah di tangan kouwnio, cayhe bersedia menurut apa perkataanmu,"
Sahut Yok Sau Cun serius.
"Baik."
Senyum tersimpul di bibirnya.
"Apakah Marus dibataskan dengan berapa jurus?".
"Tentang itu, cayhe serahkan kepada Tiong kouwnio saja.". Tiong kouwnio merenung sejenak.
"Bagaimana kalau limapuluh jurus?". Sekali lagi Yok Sau Cun menjura.
"Cayhe sudah mengatakan akan menurut perkataan Tiong kouwnio saja.".
"Kau sungguh pandai bicara,"
Kata gadis itu sambil tersenyum Sebuah senyuman yang dingin namun membawa keindahan tersendiri.
"Kouwnio memuji cayhe terlalu tinggi."
Yok Sau Cun menolehkan kepalanya ke arah Song Bun Cun dan Hui Fei Cin "Cayhe dan Tiong kouwnio telah bersepakat untuk menentukan kalah menang dalam limapuluh Jurus.
Harap So heng dan Hui siocia bersedia menjadi saksi".
Pergelangan tangan Tiong kouwnio bergerak perlahan Pedang berkepala garudanya diangkat ke atas Tangan kirinya menggenggam sarung pedang.
"Silahkan,"
Katanya.
"Cayhe yang memohon pelajaran. Sudah seharusnya Tiong kouwnio yang mulai lebih dahulu,"
Sahut Yok Sau Cun. Tiong kouwnio tidak sebal melihat kecerewetannya lagi.
"Kalau begitu aku akan mulai menyerang,"
Katanya Pedang panjang diulurkan Dengan sekali putaran, dia menusuk ke depan, Tetapi serangannya ini hanya lewat di bahu Yok Sau Cun.
Belum benar-benar bermaksud melukainya.
Ciok Ciu Lan sudah lama berkelana di dunia kangouw Bagaimana mungkin dia tidak tahu?
Diamdiam dia tertawa dingin dalam hati Yok Sau Cun mundur setengah langkah.
Dia menghindar dari tusukan pedang Tiong kouwnio.
Pedang lenturnya dikerahkan Jurus yang digunakannya adalah Kui Fu tong ceng (Membuka pintu melalui lorong).
Serangannya dikeluarkan.
Jurus ini tantu saja bukan untuk mendesak lawan Dia hanya membafas kehormatan yang' dilakukan oleh Tiong kouwnio tadi.
Dia juga belum menyerang secara serius.
Hanya sebagai pemanasan saja Rasanya tidak pantas sekali menyerang langsung mengeluarkan jurus yang keji.
Ciok Ciu Lan melihat kedua orang itu saling melink.
Di hatinya timbul perasaan sebal Apalagi setelah melthat gerakan kedua orang itu seperti mainmain saja.
Dia bertambah kesal.
"Yok Siangkong, pertarungan ini hanya ada lima Jurus, Kalau kau dapat memenangkan partarungan tersebut, maka kau akan mendapatkan obat penawar Satu jurus pun tidak boleh mengatah!"
Teriaknya lantang.
"Tidak boleh mengalah,"
Yang diucapkannya seperti sebuah jarum menusuk di hati Tiong kouwnio.
Mengapa harus mengalah?
Dalam suatu pertarungan, mengatah adalah hal yang pantang Kata-katamu itu sangat menusuk hati Apalagi bagi pendengaran Tiong kouwnio Apalagi yang mengucapkannya adatah gadis yang datang bersama Yok Sau Cun.
Wajah Tiong kouwnio berubah hebat.
Dia mendengus dingin Sinar pedang berkilauan Pedangnya digerakkan ke samping, menuju bahu Yok Sau Cun.
Pedang lentur pemuda itu segera dikibaskan .
Perlahanlahan berubah kaku.
Dia melihat pedang Tiong kouwnio seperti bintang kejora yang melayang dengan cepat.
Dalam sekejap, dia tidak sempat menggantigaya serangannya.
Pedang lenturnya tidak dige rakkan, tetapi tubuhnya tiba-tiba berjongkok Kakinya menyapu ke depan Jurus ini perubahannya sangat cepat.
Yang digunakannya adalah sebuah jurus dariKunlun pai yang bernama Ceng liong jau san (Naga hijau mengitan gunung).
Apa yang terjadi kemudian persis seperti hujan badai.
Sinarsinar yang terpancar dari pedang mereka bagaikan petir salmg menyambar.
"Trangg' Suaranya menggelegar.
Kedua pedang saling membentur Kemudian terpisah lagi dengan tubuh keduanya yang terhuyung-huyung.
Yok Sau Cun merasakan bahunya panas membara Sedangkan Tiong kouwnio merasa pergelangan tangannya ngilu dan kesemutan.
Mereka sama-sama terdesak mundur satu langkah Benturan kali ini membuktikan bahwa Iwekang keduanya sama kuat."
Baru saja Yok Sau Cun memantapkan kedudukan kakinya, Tiong kouwnio sudah memutar pergelangan tangannya dan menikam tiga kali berturutturut.
Angin yang terpancar dari serangannya menderu-deru.
Yok Sau Cun akhirakhir ini sudah melangsungkan beberapa kali pertarungan Pengalamannya sudah bertambah.
Langkah kakinya tidak kelabakan lagi Dengan tenang dia menunggu sampai serangan Tiong kouwnio di depan mata Dengan gerakan yang manis dia mengelit menghindarinya Dalam saat yang bersamaan pedangnya juga membalas dua kali tikaman.
"Tampaknya kau bukan murid perguruan Bo liang pai,"
Kata Tiong kouwnio sinis.
"Apa yang membuat Tiong kouwnio mengira cayhe murid perguruan Bo tiang pai?"
Tanya Yok Sau Cun.
"Karena pedang yang kau gunakan adalah benda pusaka Bo liang pai"
Sahut Tiong kouwnio. Yok Sau Cun sendiri terpana mendengar keterangan tersebut.
"Rupanya begitu".
"Meskipun mulut kedua orang itu saling bertanya dan menyahut, namun gerakan mereka tidak berhenti Mereka masih saling menyerang dengan seru.
Jurusjurus yang dilancarkan juga makin lama makin aneh Kedua bayangan mereka seperti angin yang bergerak kian kemari Terkadang mundur, terkadang maju.
Tidak terdengar lagi suara pembicaraan kedua orang itu.
Sebentar saja dua puluh Jurus telah lewat Jurus yang dikeluarkan oieh Yok Sau Cun, makin lama makin matang dan aneh.
Setiap gerakan dan jurus yang dikerahkannya adalah campuran dan berbagai aliran terkemuka di dunia Bulim Walaupun jurus tersebut sebenarnya sederhana sekali, namun dimainkan oleh pemucfa itu dengan indah dan banyak perubahan Seiuruh jurus campur aduk itu menjadi rangkaian ilmu yang sempurna.
Pedang Tiong kouwmo bagaikan sebuah senjata yang bermata.
Dia mendesak Yok Sau Cun terus menerus Tapi biar bagaimana pun dia berusaha, tetap saja ia tidak sanggup mengenai tubuh Yok Sau Cun.
Tiong kouwnio merasakan sendiri bahwa pertarungan mereka sudah mencapai duapuluh jurus lebih, tap!
masih dalam keadaan seimbang Belum terlihat siapa yang akan menang atau kalah.
Sejak semula Tiong kouwnio menampilkan keangkuhan.
Dia mana dapat menahan kedongkolan hatinya.
Dalam sekejap, gerakannya segera berubah.
Pedang di tangannya dikibaskan, menimbulkan cahaya berkilauan bagai bunga api di angkasa Laksana bintang bertaburan di malam hari.
percikannya bagai hu|an Dengan indah menyebar ke seiuruh bumi.
Seluruh tubuh Yok Sau Cun bagai tertutup kilauan pedang, Untuk sesaat dia panik.
Sedangkan seorang turunan ahli pedang seperti Song Bun Cun saja tidak dapat melihat dengan jelas.
Dia juga tidak tahu bagaimana melepaskan diri dan serangan maut itu?.
Waiah Hui Fei Cin memang tertutup oleh sehelai cadar yang tipis, jadi tidak terlihat raut mukanya yang terkejut Tetapi tangannya yang sedang menggenggam pedang, sejak tadi sudah berkeringat dingin.
Tanpa sadar tubuhnya gemetar.
Sedangkan Ciok Qiu Lan merasa hatinya tegang sekali Deburan jantungnya seakan hampir meledak.
Sampai nafasnya pun terlihat memburu.
Tepat pada saat itu, terdengar suara gedebukan yang keras Disusul dengan.
"Tring! Tring!"
Suara senar harpa yang diputuskan Serta dentingan senjata yang membisingkan Tampaknya situasi di pinggir jembatan telah mengalami perubahan.
Kepala setiap orang menoleh dengan cepat Namun tiba-tiba cahaya lentera padam.
Keadaan jadi gelap gulita Terlihat sesosok bayangan sambil tertawa terbahakbahak melintasi jembatan dengan kecepatan seperti seekor bangau besar yang sedang terbang di angkasa Dia mengambil arah utara.
Tiong kouwnio yang sedang bertarung sengit dengan Yok Sau Cun tidak memperdulikannya lagi.
"Kongsun Kian! Kau ber'ani merusakkan harpa pusakaku!"
Bentaknya Dia mendorong Yok Sau Cun Kedua kakinya menutui, tubuh bersama pedang melayang dalam waktu yang bersamaan Menimbulkan segurat petangi Tubuhnya masih di tengah udara, terdengar mulutnya berteriak.
"Kalian jaga mereka baikbaik Siapa pun yang datang malam ini, tidak boleh dibiarkan pergi."
Kata-katanya belum selesai, orangnya sudah menghilang dalam kegelapan.
Mendengar nada suaranya itu, tampaknya Kongsun Kian menggunakan kesempatan selagi dia bertarung dengan Yok Sau Cun, mengendap serta diamdiam lalu merusakkan harpa mautnya serta menolong muridnya yang tadi ditinggalkan Tidak heran kalau Tiong kouwnio begitu marah dan ingin niengejarnya sampai dapat Justru karena seharihannya dia memang terbiasa bersikap angkuh dan dingin maka dia mengumbar kemarahannya karena Hek i tojin membuat rusak harpa mautnya sehingga orang yang datang malam ini pun tidak dibiarkan pergi lagi.
Ketika Yok Sau Cun bertarung dengan Tiong kouwnio tadi, dalam pandangan orangorang dia bagaikan terkurung oleh sinar pedang gadis itu dan dengan nekad dia menyelinap ke dalam sinar pedang itu dan meloloskan diri Bahayanya jangan dikatakan lagi.
Sekarang dia meirhat Tiong kouwnio tiba-tiba melepaskan dirinya dan mengejar Hek I tojin.
Pedang yang sedang berkilau menusuk pandangannya tiba-tiba buyar Dia segera menarik nafas panjang.
Pedang lenturnya di simpan kembali.
Ciok Ciu Lan segera menghampirinya Dia bertanya dengan nada khawatir.
"Yok Siangkong, apakah kau baikbaik saja?" . Sementara itu, Hui Fei Cin juga sedang mendekat ke arahnya. Karena Ciok Cin Lan sudah mengemukakan dulu pertanyaan yang ingin diajukannya, maka dia berlagak acuh saja. Yok Sau Cun tersenyum lebar.
"llmu Tiong kouwnio memang sangat tinggi, tapi cayhe masih bisa mengimbanginya." . Baru saia perkataannya selesai, tampak Hu toanio dengan dnringi Sia Ho, Cun Hong, Tong Suat mengurung mereka. Ciu Suang berada di belakang. Rupanya dia bersama Yu Kirn Piau yang melepaskan jalan darah kedua gadis Cun Hong dan Tong Suat. Mereka menghadang jalan pergi rombongan Song Bun Cun. Song Bun Cun menggenggam pedangnya erat-erat.
"Apa yang kalian inglnkan?"
Tanyanya.
"Apakah kalian tidak mendengar perintah. Hu toanio bahwa siapa pun yang datang malam ini tidak boleh dibiarkan pargi. Labih baik kalian menurut saja. tunggu sampal Tiong kouwnio kembali baru dibicarakan lagi,"
Kata Hu toanio sambil mencibir.
"Mengapa kita harus menunggu sampai dia kembali?"
Tanya pemuda itu.
"Kalian harus menunggu sampal dia kembali, Tidak mau juga harusl"
Sahut Hu toanio garang,. Yok Sau Cun mengerutkan keningnya, Sajenak kemudian dia tertawa lebar.
"Cayhe tadinya memang bermaksud menunggu Tiong kouwnio kembaM Pertafungan kami yang limapufuh jurus belum selesai, masih tidak tahu siapa yang menang atau kalah. Tapi nada bicara kalian sangat memaksa, cayhe jadi enggan menunggu lagi. Kalau Tiong kouwnio kembali nanti, tolong sampaikan bahwa cayhe, Yok Sau Cun besok akan kembali lagi,"
Katanya.
"Kalau Yok Sauhiap berkeras ingin pergi, bukankah sama saja dengan bermaksud menyulitkan kami orang bawahan?"
Kata Yu Kirn Piau. Mata Ciok Ciu Lan bersinar tajam. Dia tertawa mengejek.
"Tampaknya kalian begitu yakin dapat menghalangi kami?"
Sindirnya. Hui Fei Cin menolehkan kepalanya Tangannya menggapai sekali.
"Yok Siangkong, Piauko man kita pergi,"
Ajaknya.
"Kalian tidak mungkin berlalu dari sini"
Tiba-tiba terdengar ucapan parau orang tua.
Dalam kegelapan, muncul seseorang yang menghampiri mereka Mata setiap orang beralih ke arah suara tersebut Tampak orang yang datang itu adalah seorang laki laki berusia lanjut dengan pakaian hitam Rambutnya dikepang Wajahnya penuh kenput Rambut dan^anggutnya sudah memutih Punggungnya bungkuk, sehmgga berjalan pun susah payah Yok Sau Cun terpana Bukankah dia adalah orang tua penjaga pintu yang kemann ditotok oleh Ciok Ciu Lan?.
Mata orang tua itu buram, jalannya juga lambat sekali Ciok Ciu Lan dengan mudah berhasil menotok jalan darahnya namun ketika rombongan Song Bun Cun datang, mereka tidak melihat adanya orang tua tersebut.
Saat ini dia berjalan dengan tenang, tangannya memegang sebuah pipa tembakau yang terbuat dari rotan Langkahnya lambat laut mendekati jembatan Tampaknya untuk melangkahkan kakinya saja, dia harus mengerahkan seluruh kekuatan Sedangkan matanya yang sayu dan berwarna abu abu, hampir tidak terlihat jelas bola matanya dalam kegelapan tidak ada kesan bahwa dia pernah belajar ilmu silat.
Hu toanio yang melihat kedatangan orang tua itu menjadi cerah dalam seketika.
"Kebetulan sekali kedatangan Sen lo di sini " . Orang tua itu tidak menunggu sampai perkataannya selesai.
"Lao han sudah tahu "
Sahutnya.
"Untung saja Sen lo keburu datang, Tiong kouwnio berpesan " . Orang tua itu tampaknya tidak senang Hu toanio bicara terus Dia mengibaskan tangannya.
"Bukankah Lao han sudah mengatakan bahwa mereka tidak mungkin meninggalkan tempat ini? Satu orang tidak akan!" . Yok Sau Cun merasa aneh dalam hati Orang tua itu tsrangterangan tidak mengerti ilmu silat. Bahkan kemarin Ciok Ciu Lan dengan mudah menotok jalan darahnya Andaikata dia memang bisa ilmu silat, mana mungkin dia memblarkan Ciok Ciu Lan menotoknya tanpa melawan? Tapi, kaiau mendengar nada suara Hu toanio, dia seakan sangat hormat kepada Lo kuan ke ini.
"Asalkan Sen lo menahan pemuda she Yok ftu, orang iainnya kita bisa hadapi,"
Kata Cun Hong. Mata orang tua yang buram itu mengerling ke arah Yok Sau Cun sekilas.
"Maksudmu bocah ini?' tanyanya.
"BetuI,"
Sahut Cun Hong. Orang tua itu mengisap plpa tembakaunya sekali Dia menunjuk pemuda she Yok dengan pipanya itu.
"Bocah cilik .. Dari perguruan mana kau berasal?"
Tanyanya. Yok Sau Cun sekarang sudah membuktikan bahwa orang tua itu adalah seorang jago yang pandai menyembunyikan kepandaiannya.
"Cayhe berasal dari perguruan mana, rasanya tidak ada hubungannya dengan Lao cang' sahutnya dingin. Tentu saJa ada hubungannya, Siapa tahu kau adalah murid salah seorang kenalan lama Lao nan Oengan demikian kalau aku turun tangan nanti, mesklpun tetap harus ditawan tapi aku bisa meringankan sedikit tanganku agar kau tidak terluka,"
Sahutnya.
"Bagaimana kalau cayhe bukan murid kenalanmu?"
Tanya Yok Sau Cun,.
"Dengan demikian Lao han tidak perlu sungkan lagi" . Dia tidak membiarkan Yok Sau Cun membantah psrkataannya "Kalau Lao han turun tangan, kalau tidak sampai mati, paling tidak cacat Oleh sebab itu, sebelumnya lebih baik persoalan dijelaskan " . Yok Sau Cun tertawa tawa. Tentang ini Lao cang harap tidak usah khawatir Suhu cayhe tidak mungkin kenalan Lao cang,' sahutnya.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau Suhumu bukan kenalan Lao han?"
Tanya orang tua itu.
"Karena cayhe sendiri tidak tahu siapa she dan nama Suhu,"
Sahut Yok Sau Cun tenang, Mata buram orang itu mengerling sekilas.
"Bagaimana mungkin? Masa ada murid yang tidak tahu she dan nama Suhunya sendiri?" . Cun Hong metihat kedua orang itu bicara tanpa berhenti Hatinya menjadi tidak sabar.
"Sen lo, dia toh tidak tahu siapa nama gurunya Buat apa kau persoalkan hubung"
An segala?"
Katanya dingin Wajah orang tua itu tampak tidak senang Namun dia mana han perasaan hatinya.
"Lao han melihat beberapa gerakannya tadi mirip dengan seorang kenalan lama Oleh sebab itu sengaja Lao han bertanya supaya jangan kesalahan " .
"Sekarang toh sudah ditanyakan Kau sudah boleh turun tangan bukan'"
Kata Cun Hong sinis.
Yok Sau Cun mendengar Cun Hong men desak orang tua itu agar segera bergebrak dengannya Seakan asal orang tua itu turun tangan maka semua persoalan menjadi beres Tibatjba timbul rasa ingin menang dalam dirinya.
"Lao cang, Cun Hong kouwnio sudah mendesak agar kau turun tangan. Cayhe juga ingin mencoba seranganmu yang katanya kalau tidak mati. paling sedikit cacad itu Tidak usah sungkansungkan lagi Silahkan keiuarkan iimu Lao Gang yang paling ganas,"
Katanya. Orang tua itu mengisap pipa tembakaunya dua kali Tiba tiba pinggangnya ditegakkan Dari mulutnya disemburkan asap pipa tembakau tadi.
"Bocah busuk, terimalah'.
Dengan jurus Pan liong bu pu (Rombongan naga menyapu jalanan) dia merandek ke samping Yok Sau Cun Tangan kanannya diremangkan lima jari yang hitam dan kurus ditekuk seperti cakar dan menyerang bahunya.
Begitu tangannya diulurkan, jari yang tadinya biasa-biasa saja tiba tiba menjulur kuku panjang Kuku itu seperti pisau pendek tajamnya Angin yang ditlmbulkan terasa panas Sekali lihat saja, Yok Sau Cun tahu serangan itu tidak dapat dianggap enteng Dia segera mundur satu langkah, dengan aialb dirinya dapat Input dan serangan itu.
Mau tidak mau, orang tua itu kagum juga tarhadap kecepatan Yok Sau Cun.
"Bagus sekali!"
Teriaknya.
Hati Yok Sau Cun lebih mantap.
Jurus yang digunakan tadi adalah Pit kiam sin huat yang diajarkan suhunya Ternyata mamang membawa pengaruh yang balk.
Sekarang dia tidak perduli serangan apa pun yang dikeluarkan oleh orang tua itu Dengan keyakinan besar, dia terus melanjutkan jurusjurus tadi.
Orang tua itu semakin heran.
Sebetulnya ilmu yang dimiliki orang tua itu sangat hebat, Namun duabelas jurus telah dikeluarkannya, dia tetap tidak sanggup menyantuh tubuh Yok Sau Cun.
Sedangkan pamuda itu tidak sekali pun baias menyerang, dia hanya berkelit ke kiri dan kanan.
tangkah Itu pula yang' digunakannya ketika menghadapi Tiong kouwnio tadi Hati orang tua itu terperanjat sekali.
"Entah iimu apa yang digunakan bocah ini?"
Pikirnya dalam hati Namun orang tua itu sudah mempunyai nama besar sejak berpuiuhpuluh tahun yang ialu Mana mungkin dia mau mengaku kalau begitu saja?
Dia segera merubah gerakannya, Pipa tembakaunya dihisap berkalikali.
Asapnya menyembur ke muka Yok Sau Cun.
Pemuda itu kelabakan, tetapi dia berusaha menenangkan hatinya Dia metoncat ke atas.
Tubuhnya hinggap di atas pohon Asap itu buyar tertiup angin dan melintas di bawah tubuhnya Yok Sau Cun melayang turun kembali Dia tertawa lebar.
"Ilmu Loa cang yang mematikan atau paling tidak membuat cacad itu telah cayhe pelajan,"
Sindirnya.
Orang tua itu marah sekali Seumur hidupnya baru kali ini dia merasa dipermainkan oleh seorang bocah ingusan Tangannya dengan cepat merogoh sesuatu dan sakunya Dia menaburkannya ke plpa tembakau Sekaii [agi plpa itu dihisapnya Asapnya disemburkan Kali ini terlihat asap berwarna hitam menyembur dan mulutnya Sekali lihat saja, orang tentu tahu bahwa asap Itu beracun.
Ciok Ciu Lan terkeJUt sekati melihat perbuatan orang tua itu.
"Dia adalah Hun bu pao (Macan tutui kabut kematian) Yok Siangkong, hati-hati'"
Teriaknya panik.
"Apa yang kau teriakkan?"
Tanya Yu Kirn Piau dingin Telapak tangannya diuturkan Menepuk ke arah gadis itu.
Ciok Ciu Lan.
tahu julukannya Ceng sat ciu Ilmu telapaknya memang ganas sekali Dia tidak berani menyambut dengan kekerasan Dia mundur dengan cepat.
Pedang pendek yang terselip di pinggang segera dihunus.
"Ciok kouwnio, harap mundur Orang ini mencelakai ayahku dengan racun Biar aku yang menghadapinya,"
Tukas Song Bun Cun segera menghadang di depan Ciok Ciu Lan. Baru saja perkataannya selesai, serangkum angin yang harum menerpa hidungnya, Cun Hong telah berdiri di sampingnya.
"Bagian kami sudah ditentukan Kau seharusnya bertarung dengan aku." . Song Bun Cun sekarang sudah tahu kalau ilmu andalan Cun Hong adalah San ciu to Riam (Tangan kosong seperti pedang) Hati nya marah sekali.
"Budak can mati!"
Bentaknya dingin Dia tidak menunggu sampai gadis itu menyerang terlebih dahulu Telapak tangannya menghantam ke samping.
Cun Hong tertawa dingin Tubuhnya berkelebat Dia maiu dengan nekad.
Tangannya direntangkan Terkadang menepuk, terkadang menghantam.
Sampai tubuhnya berada tepat di samping Song Bun Cun.
Telapak kanannya secepat angin menerpa dada pemuda itu.
Bukan saja gerakannya yang cepat, kedua tangan yang menepuk dan menghantam dengan kalang kabut membuat serangannya tebih berbahaya.
Song Bun cun mengira dia hanya ahit dalam ilmu pedang saja, tidak tahunya ilmu telapak gadis itu juga begitu lihai Tangan kanannya menggenggam pedang kakinya mundur tiga langkah Dengan gerakan cepat pula dia menusuk ke depan.
Tampaknya Cun hong benar-benar nekat Dia tidak memperdulikan serangan Song Bun Cun Tubuhnya malah diasongkan ke depan Telapaknya tetap menghaniam bagi an tubuh yang paling berbahaya Song Bun Cun tidak membiarkannya sekali ini Pedangnya ditarik kembali Telapak tangan kirinya segera menyambut serangan Cun Hong.
Sementara itu, Sia Ho dan Ciu Suangjuga tidak tinggal diam Mereka menerfang ke arah Hui Fei Cin dan Siau cui.
Pertarungan makin seru Di bagian Yok Sau Cun juga terus bertarung dengan sengit.
Dia tidak sempat menghindar dari asap yang disemburkan oleh orang tua itu.
Hidungnyaterasa pedih.
Tidak sedikit asap hitam yang dihisapnya.
"Ternyata serangan kakek ini memang sangat keji,"
Pikirnya dalam hati.
Dengan gerakan cepat, dia segara menyambar pergelangan tangan orang tua itu Sekali putar, dia menghentak dengan keras Tubuh orang tua itu dilemparnya.
Orang tua itu sama sekali tidak menyangka akhirnya akan jadi begitu Baru saja pergelangan tangannya tercengkeram, tahutahu tubuhnya sudah melayang.
Tapi bagaimana pun, dia adalah seorang tokoh tua yang sudah banyak peagalaman.
Selagi masih di udara, tubuhnya segera bersalto Dengan mantap dia melayang kembali ke tanah.
Dia berdiri termangumangu di tempatnya Sedangkan pada saat yang bersamaan, telinga Yok Sau Cun mendengar teriakan nyaring.
Dia menolehkan kepalanya Terlihat Ciok Ciu Lan terhantam jatuh Rupanya dia kalah jauh dibandingkan Yu Kirn Piau Telapak tangan laki-laki tersebut berhasil menghantamnya sehingga terpental dan jatuh di atas jembatan.
Yok Sau Cun menghampiri dengan tergesa gesa.
Pada saat itu, Yu Kirn Piau juga sedang mendekati Ciok Ciu Lan dan bermaksud menghantamnya sekali lagi.
Melihat Yok Sau Cun, dia mengalihkan telapak tangannya menghantam ke arah pemuda itu.
Yok Sau Cun sedang mencemaskan keadaan Ciok Ciu Lan Dengan jurus yang sama.
dia segera mencengkeram pergelangan tangan Yu Kirn Piau dan melemparkannya sehingga terjatuh ke dalam Lumpur.
"Ciok kouwnio .. Ciok kouwnio "
Panggil Yok Sau Cun. Kedua mata Ciok Ciu Lan terpejam erat. Wajahnya berubah hijau Sepatah pun dia tidak menjawab.
"Ciok kouwnio."
Teriak Yok Sau Cun sekali lagi.
Nafas gadis itu melemah Seperti sedang sekarat.
Yok Sau Cun makin cemas.
Gadis itu tetap bungkam Yok Sau Cun tidak berpikir panjang lagi Dia segera membopong tubuh gadis itu Baru tubuhnya berputar, terdengar teriakan Hu tpanio...
"Tong Suat, halangi dia!". Sesosok bayangan berkelebat, menghadang di depan Yok Sau Cun. Pemuda itu sedang cemas. Dia tidak mau membuang waktu. Dengan serampangan pergelangan tangan gadis itu diputarnya Sekali hentak, Tong Suat melayang ke udara. Dia segera melangkah dengan lebar. Karena paniknya, dia membentur tubuh Ciu Suang dan Siau cui yang sedang bertarung Sekali lagi tangannya digerakkan, kali ini Ciu Suang terlempar olehnya. Siau cui menggunakan kesempatan itu untuk meloncat mundur Dia melihat Song Bun Cun dan Hui Fei Cin yang masih bertarung dengan sengit.
"Siocia, Piau sauya, cepat kita pergi!"
Teriaknya.
Mendengar teriakan itu.
Song Bun Cun dan Hui Fei Cin segera mundur dan berlari mengikuti belakang Yok Sau Cun Hu toanio marah sekali.
Dig menggereng dengan suara keras, Secepat kilat dia menerjang ke arah pemuda itu.
Yok Sau Cun seakan sudah yakin sekali dengan ilmunya melempar orang Dia menggunakan cara ampuh itu untuk menghadapi Hu toanio.
Belum lagi dirinya sadar bahwa pergelangan tangannya dicengkeram orang, tubuh Hu toanio telah terpental ke dalam lumpur bersamaan dengan Yu Kirn Piau.
Cun Hong dan Sia Ho melihat rombongan Yok Sau Cun melangkah pergi.
Mereka segera melangkah dengan maksud mengejar.
Baca Juga: Anak Berandalan 5
Baca Juga: Beruang Salju 6