Naga Dari Selatan 10

Eps 10 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

Dalam setiap pertempuran, tak pernah mereka lupa akan kode itu.

Kini setelah 10 tahun berpisah, pertama kali bersatu kembali mereka sudah menghadapi seorang musuh tangguh macam Ang Hwat.

Teringat akan kode itu, mereka menjadi geli sendiri.

Ang Hwat ter-longong2, dikiranya mereka itu terlalu keisengan saja bertingkah seperti anak2.

Disamping itu diapun menganggap orang terlalu memandang rendah padanya, hingga kini dia berlaku sangat hati2 sekali.

Dengan gerak jongliong-jut-chiu (naga hijau menjulurkan cakar), dia loncat lagi sampai 2 meter tingginya, lalu memutar senjatanya tadi.

Dirinya se-olah2 terbungkus dalam lingkaran sinar, yang agak dekat tubuhnya sinarnya hitam yang jauh dari dirinya, sinarnya ber-kilau2an.

Panjang senjatanya itu tak kurang dan 4 meteran.

Yang per-tama2 terdesak mundur yalah Ceng Bo siangjin, sedang Kang Siang Yanpun tak berdaya untuk maju mendesak.

Kini baru terbukalah mata sekalian orang, betapa lihaynya kepala gereja Ang Hun Kiong itu.

Kang Siang Yan -Ceng Bo siangjin, dua tokoh yang pernah menggemparkan dunia persilatan, ternyata tak mudah untuk merebut kemenangan.

Tanpa terasa mereka sama leletkan lidah mengagumi.

Sedang diantara para peonton, adalah The Go yang paling bangga gembira.

"Lian-moay, kau ketahui tidak ? Senjata sucou itu disebut im-yang-pian (ruyung im-yang). Separoh bagian muka yang ber-kilau2an itu, terbuat dari besi murni, dapat kencang dapat pula lemas. Dibawah kolong langit, tiada seorangpun yang dapat tahan menghadapinya!"

Ucapan The Go itu tampaknya ditujukan pada Bek Lian, tapi pada hakekatnya, supaya sekalian orang sama mengetahui hal itu.

Mulut Bek Lian hanya mengiakan saja, namun hatinya terjadi pertentangan hebat.

Ia b--erlainan hal dengan sekalian orang itu.

Sebenarnya ia tak mempunyai hati sama sekali untuk berhamba pada pemerintah Ceng, maupun untuk melawannya.

la berharap ibunya menang, tapi demikian tentu akan bermusuhan dengan gereja Ang Hun Kiong yang berarti pula menyulitkan hubungannya dengan The Go.

Namun kalau mengharap kemenangan difihak Ang Hwat, kecintaannya terhadap sang ibu masih melekat dalam.

Inilah faktor yang menjadi pertentangan hati Bek Lian.

Berat nian ia menimbangnya.

Sedang digelanggang sana, tampak Ang Hwat sudah.

mempunyai gambaran jelas akan kekuatan kedua lawann ya itu.

Ceng Bo terang tak selihay Kang Siang Yan.

Yang lemah harus digempur dulu, demikian dia tetapkan rencana-nya.

Tiba2 im-yang-pian berhenti berputar sejenak, tapi siku kirinya menyodok Kang Siang Yan.

"Bagus!"

Seru Kang Siang Yan, siapapun tak mau membabat dengan pedang tapi melancarkan hantaman thay-imciang-nya yang hebat.

Tapi ternyata sodokan siku Ang Hwat tadi hanya gertak kosong.

Begitu hantaman Kang Siang Yan tiba, cepat2 dia tarik lengannya untuk menghadang, kemudian meminjam tenaga dorongan Kang Siang Yang yang hebat itu, dia layangkan tubuhnya memburu pada Ceng Bo, wut....., wut....., wut......, im-yang-pian menjulur, sampai lima enam meter panjang.

Ujungnya.

yang melengkung runcing itu berhamburan memagut jalan darah i-hu-hiat, tham-tiong-hiat, ki-kwat-hiat, ki-bun-hiat, hun-cui-hiat, khi-hay-hiat, semuanya jalan darah besar dibagian dada dan perut orang.

Antara i-hu-hiat dan khi-hay-hiat jaraknya antara setengah meter, namun ujung pian itu dapat digerakkan sekaligus untuk menutuknya.

Dan yang lebih hebat lagi, tutukan itu bukan saja digerakkan dengan tenaganya sendiri pun didorong juga oleh hantaman Kang Siang Yan tadi.

Ceng Bo gugup dan putar pedangnya dengan seru untuk melindungi dirinya.

Tapi ternyata Ang Hwat sudah memperhitungkan hal itu.

Begitu lawan memutar pedang, diapun segera melesat kesamping sembari gerakkan tangannya.

Wut......, ujung pian itu dapat melengkung untuk memagut punggung Ceng Bo.

Maka betapa terperanjatnya Ceng Bo ketika baru saja dia mainkan pedang atau pagutan ujung pian itu sudah menghilang dengan tiba2.

Pada lain saat dia rasakan punggungn ya ada angin menyambar.

Tahu bahwa musuh beralih menyerang dari belakang, namun dia tak berdaya untuk secepat itu memutar tubuhnya.

Diam2 dia mengeluh.

Tapi syukur disana masih ada Kang Siang Yan.

Tahu sang suami terancam bahaya, ia segera bersuit nyaring, macam hantu meringkik.

Dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh untuk mengisar kaki dalam ilmu sakti thay-im-lianseng, tanpa menggerakkan kaki, tahu tubuhnya sudah berkisar dibelakang Ceng Bo.

Dengan Kut-cu-tho-kang, salah sebuah jurus dari ilmu pedang hoan-kang-kiam-hwat, ia babat sepasang kaki Ang Hwat.

Dengan gemas Ang Hwat terpaksa batalkan tutukann ya kearah punggung Ceng Bo tadi, karena harus loncat menghindar dari babatan pedang.

Dalam pada itu, Ceng Bopun sudah sempat memutar tubuh dan terus lancarkan serangan hay-li-long-hoan.

Ini serasi dengan sabetan Kang Siang Yan yang menggunakan jurus kut-cu-tho-kang tadi.

Yang satu membabat turun yang lain menyerang keatas.

Ang Hwat kebutkan lengan bajunya untuk menghalau serangan Ceng Bo, kemudian lingkarkan im-yang-pian untuk membuyarkan serangan Kang Siang Yan, sedang kakinya segera dienjot loncat keluar dari kalangan pertempuran.

Bahwa dia dapat berbareng menangkis dua macam serangan, serta lolos dari kepungan yang sedemikian gencarnya, menandakan bagaimana tinggi kepandaiannya itu.

Para hadirin yang menyaksikannya, sama mengucurkan keringat dingin.

Tio Jiang kepal2 tinjunya, sedang Yan-chiu membeliakkan matanya lebar2, mulutnya komat kamit menggerutu sendirian.

Tengah ia asyik memperhatikan jalannya pertempuran itu, se-konyong2 bahunya terasa ditepuk orang.

Kala itu Ceng Bo dan Kang Siang Yan saling bertukar pandangan, kembali mereka berdua saling main mata.

Yan-chiu menduga bahwa suhu dan subonya itu tentu akan melancarkan serangan yang lebih dahsyat lagi.

Sudah tentu, ia curahkan seluruh pqrhatiannya untuk menyaksikan.

Mengira ada orang karena tak kelihatan lalu menepuk bahunya, Yan-chiu tanpa menoleh kebelakang lagi, terus menyisih kesamping.

Tapi kembali disitu, pahanya terasa dicubit orang.

Cubitan itu sakit juga, hingga sebagai seorang gadis, gusarlah Yan-chiu karena malunya.

Cepat2 dia berpaling kebelakang dan hai, kiranya sikurang-ajar itu ternyata seorang to-thong (imam anak2), sekira 12-an tahun umurnya.

Demi melihat wajah to-thong itu menyenangkan, Yan-chiu tak jadi marah tapi lalu memberi isyarat supaya anak itu jangan mengganggunya lagi.

Tapi to-thong itu segera menimpukkan segulung kertas kecil, terus memutar tubuh berjalan pergi.

Yan-chiu yang cerdas segera mengerti bahwa anak itu tentu mempunyai urusan penting tapi kuatir diketahui orang, jadi berbuat begitu.

Buru2 dijemputnya gulungan kecil itu lalu dibukanya.

Kiranya disitu terdapat beberapa huruf yang berbunyi begini.

"Cici, kami mendapat kesulitan, lekas tolongi! -Hong."

Tiba2 teringat Yan-chiu bahwa sejak ia datang kegereja Ang Hun Kiong yang terachir ini, ia tak berjumpa lagi, dengan Kuan Hong dan Wan Gwat, kedua imam anak2 yang dikenalnya itu. Tanda tangan "Hong"

Itu, terang adalah Kuan Hong. Apa yang dinyatakan "dalam kesulitan"

Itu, tentulah karena menunjuki ia (Yan-chiu) akan jalan dibawah tanah dari gereja Ang Hun Kiong itu, maka sekarang mendapat hukuman berat.

Yan-chiu benar genit dan nakal, tapi ia, sudah mendapat gemblengan pendidikan budi pekerti dari Ceng Bo siangjin, jadi terhadap budi dan dendam, dapatlah ia menarik garis yang tajam.

Memandang kesebelah sana, ternyata to-thong yang menimpukkan gulungan surat tadi masih berada tak jauh dari, situ dan melambaikan tangan kepadanya.

Serentak berdirilah dia lalu menghampiri kesana.

Kala itu Ang Hwat cinjin sudah terlibat dalam pertempuran dengan Kang Siang Yan -Ceng Bo lagi.

Semua, orang sama menahan napas dan mencurahkan seluruh perhatiannya, jadi mereka tak menghiraukan gerak gerik Yan-chiu lagi.

To-thong itu berjalan kesebelah barat dan.

Yan-chiu tetap mengikutinya.

Membiluk pada sebuah ujung.

dinding, barulah to-thong itu berhenti.

Ternyata disitu keadaannya sunyi dengan orang.

"Siao-totiang, apakah Kuan Hong dan Wan Gwat berdua menyuruhmu mencari aku?"

Tegur Yan-chiu.

"Ya, jangan banyak bicara lagi, lekas ikut aku!"

Sahut to-thong itu dengan suara pelahan.

Demikianlah setelah.

ber-biluk2 beberapa tikungan, tibalah Yan-chiu pada sebuah, ruangan yang tak dikenalnya.

To-thong itu masuk kedalam sebuah kamar, lalu mengambil seprangkat pakaian tosu (imam) dan suruh Yan-chiu memakainya.

Dasar gadis nakal, Yan-chiu gembira sekali dengan permainan itu.

Pakaian itu segera dikenakan, rambutnya disingkap keatas, lalu memakai kopiah gereja.

Ai, benar2 mirip seorang tosu muda.

To-thong itu cekikikan menahan gelinya.

Begitulah to-thong itu segera membawanya berjalan lagi.

Membiluk ketimur menikung kebarat, beberapa orang penghuni gereja itu dijumpainya, tapi tiada seorangpun yang curiga pada Yan-chiu.

Akhirnya tibalah mereka pada sebuah thian-keng (halaman didalam rumah) yang tak seberapa besar.

Ditengah thian-keng itu terdapat sebuah perapian dupa terbuat dari tembaga.

Ditilik rupanya, alat itu sudah seribu tahun lebih umurnya.

Disamping perapian dupa itu tampak ada dua orang hweshio bertubuh tinggi besar tengah duduk ber-cakap2 sambil menikmati arak.

To-thong itu segera menarik Yan-chiu kesamping.

"Cici, kau tadi melihat tidak ? Kuan Hong dan Wan Gwat berada dibawah perapian pedupaan itu tadi!"

Katanya.

"Bagaimana dibawah situ bisa dibuat menutup orang?"

Tanya Yan-chiu.

"Karena disitu terdapat lubang terowongannya,"

Sahut si to-thong.

Yan-chiu menjadi jelas.

Ketika dilihatnya kedua penjaga imam itu masih enak2an saja meneguk arak sehingga tak tahu akan kedatangan orang, Yan-chiu segera mendapat akal.

Dicabutnya tusuk kondenya, lalu dijentikkan dengan lwekang.

Kedua imam itu sedang sama mengangkat cawannya saling memberi toast (selamat), tahu2 jalan darahnya suan-ki-kiat-telah kena ditutuk oleh tusuk konde.

Bluk....., bluk....., tubuh mereka sama menggelepar jatuh dan araknya bergelimpangan membasahi lantai.

GAMBAR 73 Sekali Yan Chiu yang sudah menyamar sebagai Tosu, mengayun tangannya, dua tusuk-kondenya melayang dan robohlah kedua imam penjaga itu.

Sebat sekali Yan-chiu segera berlari menghampiri perapian tembaga itu, terus ditarik se-kuat2nya.

Tapi hai......, raganya seluruh tenaga telah dikeluarkan namun perapian itu sedikitpun tak berkisar.

Ia melampaui kearah to-thong tadi, siapa dengan memakai kain penutup muka, ber-larian2 menuju kebelakang perapian itu, lalu menunjuk pada telinga perapian yang sebelah kiri.

Yan-chiu mengerti, lalu mendorongnya.

Benar juga perapian perdupaan itu segera berkisar kesamping dan terbukalah sebuah lubang, kira2 2 meter besarnya.

Dengan diikuti oleh Yan-chiu masuklah to-thong itu kedalam.

Ha, kiranya disitu merupakan sebuah jalanan dibawah tanah, tingginya hampir setombak, dindingnya terbuat daripada batu merah yang kokoh, penerangannya cukup.

Ketika tiba diujung jalan dan membiluk, tibalah mereka pada sebuah pintu besar yang memakai terali besi.

Didalam terali besi itu, tampak Kuan Hong dan Wan Gwat tengah digantung.

Ketika melihat kedatangan Yan-chiu, wajah kedua anak itu berseri girang lalu hendak berseru, tapi ternyata tak dapat karena mulutnya tersumbat sebuah bola besi.

Melihat terali besi itu hanya sebesar jari tangan, Yan-chiu menaksir kekuatannya.

Dilekatkannya kedua tangannya pada dua buah terali.

Lebih dahulu ia salurkan lwekang ajaran suhunya (Ceng Bo), setelah tenaga dalam itu beredar, barulah ia kerahkan lwekang ajaran Tay Siang Siansu dan mementangnya .......

amboi, terali itu melengkung bengkok menurutkan pentangan tangan.

Dengan kegirangan sekali, Yan-chiu segera menyusup masuk, terus membuka tali borgolan kedua imam anak2 itu.

Serta merta Kuan Hong dan Wan Gwat jatuhkan diri ditanah berlutut, sembari menghaturkan terima kasih kepada Yan-chiu.

"Ai...., sudahlah, jangan banyak beradatan, ayuh kalian lekas melarikan diri sana!"

Ujar sito-thong kecil tadi. Tapi masih Kuan Hong dan Wan Gwat memandang kearah Yan-chiu dengan sorot mata meminta pelindungan.

"Baiklah, kalian boleh lekas menuju ke Cin Wan Kuan di Lo-hu-san. Kalau urusan disini sudah beres, aku tentu kesana juga!"

Kata Yan-chiu.

Kembali kedua anak itu menghaturkan terima kasih nan tak terhingga.

Yan-chiu sendiripun girang bukan kepalang karena telah berhasil menolongi orang.

Begitulah mereka berempat kembali menyusur lubang rahasia itu untuk muncul keatas.

Perapian dupa itu didorongnya menutup lagi dan tanpa menghiraukan apakah kedua, imam yang tertutuk tadi mati atau hidup, mereka lalu tinggalkan tempat itu.

---oodwkz0kupayoo---Ketika tiba pada dua buah ruangan, tiba2 dari arah muka sana terdengar ada orang berseru.

"Chiu-yap, kau sembunyi dimana ? Tamu perlu pelayanan, jangan enak menghilang."

Kuan Hong dan Wan Gwat terkejut pucat wajahnya.

Buru2 mereka menyelinap bersembunyi kesamping.

Yang dipanggil "Chiu-yap", adalah to-thong kecil yang menjadi penunjuk jalan Yan-chiu itu.

Juga to-tong kecil itu pucat lesi wajahnya dan hentikan langkahnya.

Karena tak kenal jalanan, Yan-chiupun ikut berhenti.

Pada lain saat muncullah seorang tosu, terus berseru dengan garangnya.

"Hai.....,kebetulan, ayuh lekas kalian berdua kesana. Jangan sembarangan jalan2 ke-mana2, awas bisa dihukum dibawah penjara tanah ya!"

Ketika tosu itu muncul tadi, Yan-chiu buru2 tundukkan kepalanya.

Syukurlah tosu itu tak mengamat-amatinya dengan perdata.

Sedang Chiu-yap karena ketakutan tak dapat ber-kata2.

Adalah Yan-chiu yang cerdas tangkas itu, segera memberi penyahutan mengiakan.

"Ayuh, ikut padaku!"

Seru tosu itu sembari berjalan.

Jarak imam itu dengan Yan-chiu hanya satu meter.

Andai kata mau, mudahlah Yan-chiu untuk merobohkannya.

Tapi karena tadi imam itu mengatakan "sitetamu minta pelayan", timbullah pertanyaan dalam hati Yan-chiu.

Rombongan suhunya sudah berada diatas dan malah sudah bertempur dengan tuan rumah.

Pernah suhunya mengatakan bahwa pemerintah Ceng telah mengirim beberapa orang jagoannya kelas satu ke Ang Hun Kiong.

Ah, yang dimaksud "tetamu"

Itu tentulah kawanan jagoan itu.

Sampai saat suhunya bertempur dengan Ang Hwat, jagoan2 itu masih belum menampakkan diri, mengapa ia tak mau gunakan kesempatan eebagus itu untuk menyelidiki keadaan mereka?

Cepat2 ia memberi isyarat lambaian tangan pada Chiu-yap supaya jangan takut, namun anak itu tetap terkalang lidahnya tak dapat berbicara.

Setelah melalui dua buah ruangan, tibalah mereka pada sederet gedung yang indah buatannya, mirip dengan kediaman kaum hartawan.

"Jiwi cianpwe, to-thong yang akan melayani cianpwe sudah datang!"

Seru sitosu itu sembari membungkuk. Dari dalam rumah mewah itu, terdengar sebuah suara melengking, menyahut.

"Suruh mereka masuk kemari!"

Tiba2 tosu itu menabok kepala Yan-chiu, lalu memesannya.

"Baik2lah melayani, didalam situ adalah Hwat Siau dan Swat Moay yang termasyhur. Sucou turun gunung untuk menyambutnya sendiri!" . Bukan kepalang mendongkolnya Yan-chiu ketika mendapat persen tabokan itu. Tapi demi didengar nama Hwat Siau dan Swat Moay, kejutnya bukan olah2. Terpaksa dia tahankan amarahnya dan hanya deliki mata kearah tosu itu. Tapi delikan matanya itu hampir saja menggagalkan rencananya.

"Siapa namamu, mengapa aku belum pernah melihatmu ?"

Tanya tosu itu karena curiga. Yan-chiu seperti disengat kala. Tapi belum lagi ia memperoleh kata2 untuk men yahut, dari dalam rumah kembali terdengar suara lengkingan yang menusuk daun telinga.

"Lekas masuklah!"

Karena sang tetamu agung yang mendesaknya, barulah tosu itu tak mau banyak bertanya lagi lalu menyuruh Yan-chiu dan Chiu-yap masuk dengan lantas.

Dengan napas longgar, Yan-chiu segera menolak daun pintu masuk.

Tapi ketika mengawasi kedalam ruangan, matanya kembali terbelalak.

Kiranya alat perabot dalam gedung yang begitu mewahnya itu, hanya sebuah balai2 saja.

Dua orang tengah duduk bersila diatas balai2 itu.

Yang seorang kepalanya lancip rambutnya keriwis2 (jarang).

Kalau tiada memakai sanggul, sepintas pandang orang tentu mengiranya seorang lelaki.

Ia mengenakan jubah warna hijau.

Wajahnya juga sangat aneh, putih ke-hijau2an warnanya, mirip dengan sebuah mayat hidup.

Sedang yang satunya seorang lelaki bertubuh kurus, ya sedemikian kurusnya hingga tinggal tulang terbungkus kulit sad ya.

Dia han ya memakai celana panjang saja, tubuhnya bagian atas tak memakal baju.

Tulang rusuknya menonjol-masuk aneh bentuknya.

Dadanya melesek, masuk, warna kulitnya sok2an, sok merah sok kuning tak berketentuan..Ketika memasuki ruangan itu, Yan-chiu merasakan suatu hawa yang panas.

Tapi ketika dia berkisar kesamping ternyata disitu terasa dingin, hingga hampir membuatnya menggigil.

Buru2 ia salurkan Iwekang untuk melindungi diri.

Chiu-yap yang berdiri diluar pintu, tak henti2nya menggigil.

Ketika Yan-chiu masuk, bermula kedua orang aneh itu diam tak menghiraukan.

Tapi kemudian tiba2 wajah siorang lelaki itu mengunjuk keheranan.

"Murid Ang Hun Kiong angkatan keberapakah kau In!?"

Tegurnya. Otak Yan-chiu bekerja keras. Kalau menyebut angkatannya keliwat tinggi, tentu akan menimbulkan kecurigaan mereka. Maka dengan chidmatnya ia segera menyahut.

"Angkatan ketiga!"

Orang itu mendengus dan meng-amat2i Yan-chiu dengan seksama, kemudian memandang kearah Chiu-yap.

Tiba2 dia tertawa ter-loroh2, suaranya mirip dengan ayam betina yang habis bertelur.

Yan-chiu tak tahu apa yang digelikan orang itu.

Namun ia rasakan bulu romanya sama berdiri.

Seluruh ruangan disitu serasa diliputi dengan suasana yang aneh.

Diam2 Yan-chiu menduga jangan2 kedua orang inilah yang disebut Hwat Siau dan Swat Moay itu.

Tapi tak tahu ia, yang mana Hwat Siau, yang mana Swat Moay itu.

Selagi dia tengah menimang2, ruangan itu makin lama makin panas rasanya.

Kiranya sembari ketawa itu, wajah siorang laki2 itu makin merah warnanya.

Hawa yang disemburkan dari mulutnya itu menyerupai uap panas yang dimuntahkan lava gunung berapi.

Apa boleh buat Yan-chiu terpaksa kerahkan lwekangnya untuk bertahan.

Tapi dalam pada itu tahulah kini ia, bahwa siorang laki2 itu tentu Hwat Siau adanya.

Pernah suhunya mengatakan, bahwa sepasang suami isteri itu meyakinkan ilmu lwekang im-yang-cui-hwat-kang, yang satu Iwekang cui (air) yang lain lwekang hwat (api).

Lihaynya tiada tertara.

Syukurlah tiba2 Hwat Siau hentikan ketawanya, Ialu menatap kearah Yan-chiu, ujarnya.

"Usiamu masih begitu muda apalagi hanya murid angkatan ketiga dari gereja ini, tapi kau memiliki lwekang yang begitu bagus. Apakah sebelum menjadi murid disini kau sudah memiliki kepandaian lain?"

Kini baru Yan-chiu tersadar bahwa pertahanannya dengan lwekang tadi telah dapat diketahui orang. Kalau dirinya sampai ketahuan, ah celaka. Dengan mengucurkan keringat dingin, buru2 ia menyahut.

"Ya, memang benar begitu!"

Sekalipun Hwat Siau bercuriga, namun mengingat bahwa penjagaan gereja Ang Hun Kiong sedemikian kokohnya hingga tak perlu dikuatirkan akan adanya musuh menyelundup, maka diapun tak mau mengurus lebih panjang.

"Ambilkan dua baskom air!"

Serunya.

GAMBAR 74 Menyangka Yan Chiu sebagai imam pelayan, Hwat Siau dan Swal Moay memerlntahkan dia mengambilkan baskom berisi air guna melatih Lwekang mereka.

Yan-chiu lekas2 berlalu menghampiri Chiu-yap.

Tak berselang berapa lama anak itu datang dengan membawa dua baskom air, terus disambuti Yan-chiu.

"Yang satu letakkan dihadapanku, yang lain dihadapannya!"

Kembali Hwat Siau memerintahnya.

Dalam kesempatan itu, Yan-chiu melirik kepada Swat Moay, siapa tampak masih meramkan mata tiada ber-kata2.

tapi ketika baskom diletakkan dihadapannya, iapun segera mengetahui lalu masukkan tangannya kanan kedalam air.

Hwat Siaupun berbuat serupa.

Tak berselang lama, kedengaran Hwat Siau menyuruh.

"Ambil baskom itu kesana dan baskom itu kemari!"

Yan-chiu tak mengerti apa maksudnya perpindahan tempat itu, tapi ia pun mengerjakan juga.

Tapi ketika tangannya menyentuh air baskom dihadapannya Hwat Siau, buru2 ia menarik pulang tangannya dan hampir saja mulutnya menjerit kesakitan.

Kiranya air baskom Hwat Siau panasnya seperti air mendidih, sedang air dibaskom Swat Moay tadi dinginnya melebihi es.

Sepanjang hidupnya, belum pernah Yan-chiu menyaksikan ilmu kepandaian yang sedemikian ganasnya itu.

Tapi ia tetap belum jelas, bagaimana ilmu itu dipergunakan untuk menyerang musuh.

Kedua suami isteri itu memasukkan tangannya masing2.

Air yang mendidih menjadi dingin dan yang dingin menjadi mendidih.

Ber-turut2 lima enam kali mereka saling tukar secara begitu.

"Latihan"

Itu berlangsung kira2 hanya satengah jam saja.

"Bikin repot kau lagi ni. Coba panggilkan ke 18 orang itu kemari dan setelah itu kau boleh beristirahat!"

Kembali Hwat Siau memberi perintah.

Sungguh mati, Yan-chiu tak tahu apa yang dimaksudkan dengan "ke 18 orang itu".

Tapi dikarenakan ilmu kepandaian sepasang suami isteri itu sedemikian saktinya, iapun tak berani banyak cincong.

Ketika menghampiri Chiu-yap dilihatnya tubuh anak itu basah kuyup bersimpah peluh (mandi keringat).

"Cici, ayuh kita lekas melarikan diri saja!"

Bisik anak itu dengan nada gemetar.

"Mereka suruh kita panggilkan ke 18 orang, apa sih itu ?"

Sahut Yan-chiu. Tapi serta mulutnya mengucap begitu, pikirannya terkilas sesuatu. Yang dimaksud dengan "ke 18 orang"

Itu, apa bukan ke 18 jagoan yang dibawa oleh kedua suami isteri itu sendiri ?

Dengan memanggil kawanan jagoan itu, terang kedua kepala jagoan itu hendak mengadakan rundingan penting, yalah rencana untuk membasmi para kaum gagah yang tergabung dalam rombongan Ceng Bo siangjin.

Ah...., kalau sedemikian halnya, sungguh bukan suatu hal yang kecil artinya.

Biarpun nanti andaikata dirinya sampai kepergok mereka dan menjadi korban, tak apalah.

Pokok asal dapat menyelamatkan bencana yang akan menimpa para pejoang kemerdekaan itu.

Juga dalam hal itu, rasanya lebih penting daripada rencananya untuk menolong Koan Hong dan Wan Gwat.

Ya betapapun halnya, ia harus dapat "mencari"

Dengar, rencana, mereka itu.

"Usah kau gelisah, bantulah aku untuk memanggilkan ke 18 orang itu. Ah...., urusan itu penting sekali, ayuh lekas kesana!"

Yan-chiu tambahkan lagi keterangannya, lalu ajak anak itu cepat2 berlalu.

(Oodwkz-kupay-oO) BAGIAN 41 .

RENCANA KEJI Dengan setengah menyeret Chiu-yap yang masih dengkelen (gemetar kakinya) itu, Yan-chiu sampai didepan gedung disebelah tempat ruangan Hwat Siau dan isterinya tadi.

Kiranya rumah itu kosong, maka Yan-chiu segera ajak anak itu masuk dari jendela.

Setelah menutup daun jendela, ia lalu tempelkan telinganya pada dinding tembok yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan sebelah tempat Hwat Siau -Swat Moay tadi.

Ai, kiranya kedengaran juga pada saat itu Hwat Siau tengah pasang omong dengan isterinya.

"Niocu, kali ini kalau kita dapat berhasil dengan usaha yang luar biasa hebatnya ini, kaum persilatan diseluruh jagad, tentu akan tunduk pada kita,"

Kata Hwat Siau.

"Koanjin, kata2mu itu benar adanya. Tadi kudengar laporan bahwa Ang Hwat cinjin sudah bertempur dengan Hay-te-kau dan Kang Siang Yan. Biarkan mereka berkelahi mati2an sendiri, kita tinggal enak2an memetik buahnya!"

Sahut Swat Moay. Niocu berarti nyonyah, digunakan oleh seorang lelaki untuk menyebut isterinya. Dan "koajin"

Berarti suami, bahasa sebutan yang diucapkan oleh seorang wanita kepada suaminya.

"Niocu, belum2 jangan banyak bicara dulu, kita harus menjaga telinga diruangan sebelah ini!"

Kata Hwat Siau.

Yan-chiu seperti dipagut ular, tapi pada lain saat ia dapat berlaku tenang lagi.

Diam2 ia menyeringai urung, masa manusia macam begitu masih berbicara dalam bahasa halus.

Se-konyong2 dari luar terdengar derap kaki orang mendatangi menuju keruangan Hwat Siau.

Dari suara derap kaki, terang ada beberapa orang jumlahnya.

Hening sejenak.

"Bagaimana keadaaan diluar ?"

Tiba2 Hwat Siau memecah kesunyian.

"Masih bertempur!"

Sahut suatu suara yang mengguntur laksana genta. Hwat Siau mendengus, tanyanya pula.

"Apakah segala sesuatu sudah disiapkan diterowongan itu ?"

"Sudah beres semua. Tinggal sekali sulut, sumbunya akan menjalar tepat kebawah ruangan yang dibuat bertempur itu!"

Kembali siorang yang lantang suaranya itu menyahut.

Lagi Yan-chiu tersentak kaget, malah kali ini jawaban atas terkaannya itu, disana kedengaran Hwat Siau tertawa terkekeh2 macam iblis menangis, ujarnya.

"Apabila pekerjaan besar itu berhasil, Sip-ceng-ong tentu akan memberi hadiah besar. Saudara2 sekalian boleh menikmati hari tua dengan kesenangan dunia, maka harap sukalah bekerja dengan hati2. Apakah tak perlu memeriksa sekali lagi ?"

"Ah, tak usahlah. Apabila cayhe (aku) yang memasang obat peledak sampai setengah jalan macet, jangan panggil aku si Hwat-yok-ong (raja dinamit) lagi!'' kata lain orang yang rupanya penasaran karena Hwat Siau tak memandang mata pada pekerjaannya. Hwat Siau mengekeh lagi, ujarnya.

"Harap cunke (anda) jangan meradang dulu. Sebelum dapat menduduki wilayah Kwiciu, hati Sip-ceng-ong tetap belum puas. Dia taruh harapan besar pada Li Seng Tong, tapi tiada tahunya orang itu mendadak sontak berpaling haluan. Sudah tentu kedudukan Lam Beng kini agak kuat. Manusia penghianat macam begitu harus dilenyapkan. Ang Hwat cinjin itu pun jangan sampai tahu rencana kita ini. Nanti apabila saudara melihat pertempuran keatas lagi, begitu mereka sudah ber-tele2, harap saudara2 lekas tinggalkan tempat ini dan menunggu aku dikaki gunung. Biarlah kami yang menyulut dinamit itu sendiri, biarkan mereka habis ludas semua tiada seorangpun yang dapat lolos. Setelah itu, nanti kita lakukan penyelidikan tempat harta karun kim-jiang-giok-toh itu!"

Keheranan Yan-chiu makin men-jadi2.

la baru tahu betapa ganasnya kaki tangan kaum penjajah Ceng itu.

Sampai pun Ang Hwat cinjin yang sudah jual tenaga untuk mereka pun akan dibinasakan.

Tentang harta karun kim jiang-giok-toh itu, belum pernah la mendengarnya dari siapapun juga.

Ah, syukurlah ia "mencuri"

Percakapan mereka, kalau tidak ai........

yang dimaksudkan dengan terowongan dibawah tanah itu, tentulah lubang gua yang berada dibawah perapian perdupaan itu.

Ah, kalau ia tak lekas2 bertindak, tentu hancur binasalah semua orang gagah dan seluruh cindil abang gereja Ang Hun Kiong itu!

Dan yang penting baginya, sukonyapun akan turut sirna.

Yan-chiu tak mau berayal lagi.

Setelah orang2 disebelah kamar itu sama pergi, ia segera loncat keluar dari jendela.

Tapi sampai sekian lama mencari kesana-sini, tak dapat ia tiba ditempat perapian tadi.

Makin gugup ia, makin tak dapat menemukan arah yang benar.

Yan-chiu sudah mandi keringat.

Akhirnya diputuskan untuk mencari seseorang guna menanyakan jalan.

Tengah ia men-cari2 orang, tiba2 disebelah muka sana ada 3 sosok tubuh kecil, aha, kiranya mereka bertiga adalah Kuan Hong, Wan Gwat dan Chiu-yap.

Wajah ketiga anak itu cemas sekali tampaknya dan baru agak lega ketika melihat Yan-chiu.

"Cici, kita tak dapat lolos !"

Seru mereka.

"Sst...., jangan kesusu pergi dulu,"

Sahut Yan-chiu dengan berbisik.

"kita masih mempunyai suatu tugas yang maha penting. Dimanakah letak mulut jalanan dibawah tanah itu ? Apakah jalanan itu dapat menembus sampai dibawah ruangan pertempuran itu ?"

Diluar dugaan ketiga imam anak2 itu sama menggeleng, sahutnya.

"Yang kami ketahui Yalah jalanan dibawah tanah itu sepanjang 30-an meter, yalah yang kita masuki tadi. Adakah jalanan itu bisa tembus sampai dibawah ruangan pertempuran, kami tak mengetahuinya!"

Tiada lain jalan kecuali Yan-chiu ajak ketiga anak itu untuk masuk kedalam jalanan terowongan dibawah perapian perdupaan tadi.

Kiranya disitu kedua imam tadi masih mendelik tiada berkutik.

Tapi ketika Yan-chiu hendak masuk kedalam lubang terowongan, tiba2 dari balik hiolo (tempat perdupaan) itu berkelebat dua sosok bayangan.

Masing2 terus menyerang dengan golok.

"Kura2 yang bernyali besar, berani melepaskan tawanan penting!"

Mereka mendamprat.

Karena tak bersiaga hampir saja Yan-chiu termakan golok.

Untung Kuan Hong dan Wan Gwat cepat menarik kedua kaki Yan-chiu untuk ditariknya keluar.

Kiranya kedua penyerangnya itu adalah dua tosu penjaga.

Ketika tiba gilirannya untuk menjaga, dilihatnya kedua kawannya sudah tak berkutik lagi dan tempat perapian dupa itu berkisar terbuka.

Mereka menyusup masuk dan dapatkan kedua tawanan Kuan Hong dan Wan Gwat sudah lenyap.

Buru2 mereka naik keatas dan justeru berpapasan pada Yan-chiu Yang tengah hendak menyusup turun.

Walaupun kakinya ditarik keatas, tapi kepalanya masih belum sempat keluar.

Ketika golok, kedua tosu Itu melayang Yan-chiu segera gunakan ilmu gong-chiu-toh-peh-jim (dengan tangan kosong merampas senjata) ajaran Tay Siang Siansu.

Tempo diadu dengan The Go, ia berhasil merampas pedang kuan-wi-kiam dari tangan anak, muda itu, karena mengandal ilmu tersebut.

Itu saja si Cian-bin Long-kun The Go, apalagi hanya kedua tosu saja.

Sekali gerak, dapatlah ia menyambar golok mereka dan begitu menariknya, golok sudah terpental jatuh.

Ketika ia susuli mendorong, kedua tosu itu lantas menggelepar jatuh mencium tanah.

Kuan Hong dan Wan Gwat buru2 menubruknya dan menutuk jalan darah pelemas mereka lalu diseretnya keluar.

"Bagus!"

Yan-chiu tepuk2 memuji.

"Ah, cici sendiri yang lihay!"

Seru.

kedua an Dinding dan atap terowongan situ terbuat daripada bahan beton yang dikapur putih; tiada terdapat sela2 lubang sedikitpun jua.

Saking mendongkolnya, Yan-chiu cabut kopiah imam-nya dan tanggalkan jubah pertapaan yang dipakainya itu.

"Huh, jubah ini tebal dan berat, dalam hawa sepanas ini, bagaimana kalian dapat tahan memakainya ?"

Ketiga anak itu tak mengerti mengapa cicinya itu marah2 Tapi mereka tak berani menanyakan. Ketika berempat hendak menyusur keluar, tiba2 diatas (luar) sana ada orang berseru.

"Keempat binatang kecil itu berada didalam. Salah seorang dari mereka sangat lihay, jangan2 mata2 musuh yang menyelundup kemari. Lekas tutup mulut pintunya dan lapor pada toa-supeh!"

"Ya, jangan kasih mereka lolos!"

Sahut dua orang kawannya lagi.

Tahulah Yan-chiu bahwa gerak geriknya telah kepergok musuh.

Biar bagaimana ia harus dapat menobros keluar dari terowongan itu.

Bukan karena sayang akan jiwanya sendiri, tapi kuatir kalau tak dapat menggagalkan rencana Hwat Shiu yang ganas itu.

Ia segera berjongkok, lalu dengan gerak han-te-pat-jong ia hendak loncat menobros keatas.

Tapi mendadak lubang terowongan itu tertutup.

Masih untung ia cepat2 berdaya untuk mencapai dasar bagian bawah perapian itu untuk kemudian loncat turun lagi kebawah.

Coba tidak, tentu kepalanya akan terbentur besi tempat perapian itu.

Paling tidak ia tentu akan pusing tujuh keliling.

GAMBAR 75 Karena tak menemukan jalan keluar dari terowongan dibawah tanah itu, Yan Chiu dan ketiga iman kecil itu menjadi kelabakan kian kemari.

Setelah mengetahui tak dapat keluar dari mulut lubang itu.

Yan-chiu menanyakan pada ketiga anak itu adakah terowongan dibawah tanah itu dapat dibobol tembus keluar.

Ketiga to-thong itu menggeleng dengan wajah kecemasau dim mengatakan bahwa tempat api perdupaan itu beratnya tak kurang 3 ribu kati.

Yan-chiu gelisah seperti semut diatas kuali panas.

la berlari menghampiri kamar tutupan sana untuk mencabut sebatang terali (jeruji) besi.

Dengan benda itu ia me-nusuk2 seluruh dinding terowongan hingga guguran temboknya sama bertebaran ke-mana2.

Melihat kelakuan Yan-chiu sekalap itu, ketiga to-thong itu menjadi ketakutan dan sembunyi lekas2 pada ujung dinding.

Setelah puas "mengamuk"

Itu, rupanya Yan-chiu menjadi tenang dan duduk ditanah.

Kini ia garuk2 kepalanya untuk mengasah otak.

Diam2 ia memaki dirinya sendiri yang sudah begitu gegabah masuk keterowongan situ.

Seharusnya setelah tak dapat menemukan jalanan dibawah tanah itu, ia pergi saja memberi tahukan pada suhunya.

Mungkin dalam sekian banyak, orang itu, tentu mempunyai bermacam pendaphat yang bagus.

Kini ia tersikap dalam terowongan itu seorang diri dengan ketiga anak yang tak mempunyai kepandaian apa2.

Saking geramnya, kembali ia hendak "mengamuk"

Lagi. Tapi se-konyong2 mulut terowongan tadi terbuka dan disana terdengar orang berseru.

"Selain Kuan Hong Wan Gwat dan Chiu-yap, masih ada siapa lagikah yang berada dalam terowongan itu ?"

Mendengar nada suara itu, wajah ketiga to-thong menjadi pucat lesi.

"Cici, itulah toa-supeh, habis sudah riwayat kita!"

Seru mereka bertiga dengan penuh kecemasan.

Yang dimaksudkan dengan toa-supeh itu bukan lain adalah Ciang Tay-bing, itu toa-mo (iblis pertama) dari kawanan su-mo (4 iblis) gereja Ang Hun Kiong.

Tak yakin Yan-chiu, adakah ia sanggup menghadapi Tay-bing itu.

Hanya ia berharap agar Tay-bing itu masuk seorang diri.

Dengan tenaga 4 orang, mungkin juga ia dapat mengatasi toa-mo itu.

Maka ia memberi isyarat tangan agar ketiga to-thong itu jangan membuka suara.

"Yang satu itu merupakan wajah baru, yang asing, umurnya masih muda, mungkin dia orang baru dari gereja ini !"

Kedengaran ada orang berkata, disebelah atas sana.

"Ngaco! Sudah lebih dari setahun ini kita tak mendatangkan orang baru, mana bisa terdapat wajah asing disini ?"

Bentak Ciang Tay-bing.

"Jangan2 Hwat siau yang membawanya!"

Orang itu masih membantah.

"Dia hanya membawa 18 orang jagoan kelas satu dari pemerintah Ceng, yaitu pasukan berani-mati-nya Tolkun sendiri. Mana bisa ada yang berumur muda? Sudah, jangan banyak bicara lagi, biar aku turun kebawah untuk memeriksanya!"

Bentak Ciang Tay-bing untuk yang kedua kalinya.

Yan-chiu siap sedia.

Begitu Tay-bing loncat turun, ia segera enjot tubuhnya keatas atap dinding terowongan.

la jarinya pada sela2 kecil yang terdapat pada dinding atas dari terowongan itu.

Dengan berbuat begitu dapatlah ia rapatkan tubuhnya lekat2 pada dinding atas itu.

Cara Itu tak ubah seperti ilmu bik-hou-yu-jiang (cicak merayap didinding) yang sakti.

Sebenarnya Yan-chiu tak mengerti akan ilmu mengentengi tubuh yang sakti itu, tapi sejak ia makan biji kuning mustika dalam batu tempo hari, tubuhnya serasa enteng lincah macam burung waled saja.

Cukup dengan gunakan sedikit tenaga, dapatlah ia merapat pada dinding atas tanpa kesukaran sedikitpun juga.

Ketika yang didapati hanya Kuan Hong, Wan Gwat dan Chiu-yap bertiga siapa tengah menggigil ketakutan, Tay-bing segera menghardiknya.

"Hem...., sungguh berani mati benar kalian ini, hendak coba2 melarikan diri ya ? Siapa kawanmu yang seorang lagi tadi, ayuh lekas katakan!"

Chiu-yap adalah sahabat karibnya Kuan Hong dan Wan Gwat. Cepat2 dia jatuhkan diri berlutut seraya menyahut dengan menangis.

"Kesemuanya ini adalah kesalahan tecu, tiada sangkut pautnya dengan mereka berdua!"

Kiranya Chiu-yap itu adalah murid Ciang Tay-bing, maka dia membahasakan dirinya sebagai te-cu (murid).

Mengingat hubungan antara guru dan murid, ia harap suhunya itu akan menaruh belas kasihan.

Tapi kali ini ternyata Ciang Tay-bing marah benar2.

Ini disebabkan dia menaruh dugaan bahwa "siwajah baru yang asing"

Itu, adalah mata2 musuh yang menyelundup kesitu.

"Lekas katakan, siapa dan dimana kawanmu yang seorang itu!"

Bentaknya seraya angkat tangan hendak menempeleng kepala Chiu-yap.

Ketika tampak Ciang Tay-bing seorang diri saja masuk, Yan-chiu sudah lantas putar otak cara bagaimana ia dapat sekali pukul bikin knock-out.

Tiba2 ia teringat akan jubahnya yang dibukanya itu tadi.

Ya, dapatlah ia gunakan benda Itu untuk alat senjata.

Sepelahan mungkin ia segera lolos jubah itu, tapi walaupun demikian tak urung terdengar berkeresekan juga dan itu cukup membuat Ciang Tay-bing dongakkan kepala untuk memandang keatas.

Melihat saatnya sudah tiba, Yan-chiu segera apungkan diri melayang turun.

"Yang satu ada disinilah!"

Seru sigadis.

Cepat dan sebat Yan-chiu bertindak hingga Ciang Tay-bing tak keburu bersiap.

Tahu2 kepalanya telah kena terkerudung jubah itu.

Dalam kejutnya Tay-bing segera menghantam kalang kabut dan kasihan Ciu-yap, oleh karena dia hendak maju menubruk jadi kena hantaman yang dahsyat itu.

Dengan mengeluarkan jeritan ngeri, rubuhlah, anak itu tak bernyawa lagi........

Pilu hati Yan-chiu, tapi dalam keadaan segenting itu terpaksa ia kuatkan hatinya, terus menyelinap kebelakang Tay-bing.

Setelah menjemput terali besi, ia segera menyapu sekuat2nya dengan jurus "menyapu seribu lasykar".

Mendengar sambaran angin, hendak Tay-bing menghindar, tapi oleh karena kepalanya dikerukup jubah jadi dia gelagapan sendiri, bluk tulang betisnya remuk dan jatuhlah dia terjerembab kemuka.

Yan-chiu tak mau kepalang tanggung.

Dengan sebat ia menutuk jalan darah ci-tong-hiat dipunggung orang itu.

Huk......, hanya sekali iblis nomor satu Ang Hun Kiong itu berkuik akan kemudian tak dapat berkutik lagi.

GAMBAR 76 Cepat sekali Yan Chiu kerudung jubahnya keatas kepalanya Ciang Tay-bing hingga murid Ang Hwat Cinjin itu kerupukan berusaha melepaskan diri.

Setelah dapat memberesi, kedengaran Yan-chiu mengambil napas, kemudian menarik lepas jubah dikepala Taybing.

"Coba lihat sekarang, siapakah yang satu itu!"

Ciang Tay-bing hanya deliki matanya tapi tak dapat mengucap apa2.

"Kau sayang jiwamu tidak ?"

Bentak Yan-chiu sembari lekatkan ujung jeruji besi kedada orang, kalau sayang jiwa begitu kubuka jalan darahmu kau harus menjawab setiap pertanyaanku dengan jujur.

Kalau kau sudah bosan hidup, asal tanganku bergerak, dadamu tentu akan berhias sebuah lubang!"

Yan-chiu percaya sebagai murid pertama dari Ang Hwat, orang she Ciang itu tentu tahu akan rahasia jalanan dibawah itu.

Tapi ia salah terka.

Ciang Tay-bing itu ternyata juga bukan bangsa yang takut mati.

Tadi dia dapat dirobohkan itu karena diserang secara begitu mendadak.

Dia mengangguk dan Yan-chiupun segera pakai ujung terali besi untuk menutuk buka jalan darahnya.

Tay-bing segera salurkan lwekang, kecuali sakit nyeri pada bagian betisnya dia rasakan tubuhnya tetap segar.

Dengan lwekang dan gwakangnya yang kokoh, lalu tulang patah itu tak menjadikan soal.

Walaupun ujung jeruji besi dilekatkan didadanya, dia tak ambil pusing.

Sekalipun begitu, dia pura2 mengerang kesakitan, tapi dalam pada itu diam2 dia salurkan lwekang kearah lengannya kiri, siap sedia digunakan setiap waktu.

"Jalanan dibawah tanah dari Ang Hun Kiong yang dapat tembus sampai dibawah gelanggang pertempuran itu terletak dimana, ayuh lekas bilang!"

Yan-chiu mulai ajukan pertanyaan. Ciang Tay-bing menggeliat, tapi tetap enggan menyahut.

"Jangan bergerak!"

Bentak Yan-chiu sembari ajukan iijung terali besi.

Ciang Tay-bing insyaf bahwa lwekang sinona itu cukup kuat, maka diapun tak mau sembarangan bertindak.

Kalau sekali pukul tak kena, tentu dia akan mendapat siksaan yang lebih hebat lagi.

"Itu adalah rahasia gereja Ang Hun Kiong, sebenarnya tak boleh sembarang memberitahukan orang. Tapi oleh karena aku sudah jatuh dalam kekuasaanmu, bagaimana lagi ? Tapi siapakah nama nona ini ?"

Ciang Tay-bing coba merigulur waktu.

"Aku bernama Liau Yan-chiu, lekas bilangkan pintu masuk jalanan itu!"

"Baiklah, kau dengarkan yang jelas. Keluar dari sini, langsung melewati 3 buah ruangan, biluk kekiri, biluk kekanan lagi, dari situ memiluk kekanan lagi, lalu mundur kebelakang, lalu berputar kebarat..........."

Sengaja dia mengatakan dengan cepat, tapi Yan-chiu mengira kalau karena ketakutan dia sudah mengatakan dengan sebenarnya, maka didengarkannyalah dengan penuh perhatian.

Mulutnya tak henti2nya mengulang kata2 yang diucapkan Tay-bing itu.

Makin lama Tay-bing makin cepatkan keterangannya dan buyarlah perhatian Yan-chiu terpikat kesitu.

Merasa saatnya sudah tiba, Ciang Tay-bing segera bertindak.

Se-konyong2 tangannya kiri mendorong terali besi lalu tangannya kanan membarengi dengan hantaman kedada sinona.

Ciang Tay-bing telah gunakan seluruh sisa kekuatannya, cepat dan sebat.

Ketika Yan-chiu tersadar, ia sudah tak keburu lagi untuk menghindar.

Dalam gugupnya, dia gerakkan tangannya yang mencekal terali besi tadi untuk menghalau.

Benar separoh bagian dapat dibuyarkan tapi yang separoh lagi tetap bersarang kedadanya.

Seketika itu dadanya terasa sesak dan mulutnya memancarkan rasa manis.

Dalam murkanya, ia teruskan terali besinya itu untuk menghantam rusuk (iga) Tay-bing hingga tulangnya patah lagi beberapa biji, Tapi pada saat tangannya itu menurun (karena habis menghantam), Tay-bingpun berhasil menutuk jalan darahnya dibagian paha.

Seketika itu tak ampun lagi, mendeproklah Yan-chiu rubuh ketanah.

Sewaktu rubuh, mata dan kepala Yan-chiu ber-kunang2 tapi hatinya masih sadar dan memaksa dirinya untuk berusaha membuka jalan darah yang tertutuk itu.

Pikirannya hanya satu harus lekas2 mendapatkan jalanan dibawah tanah itu, atau kalau terlambat, habislah seluruh isi penghuni Ang Hun Kiong.

Ciang Tay-bing adalah murid kepala dari Ang Hwat cinjin, seorang akhli tutuk besar didunia persilatan.

Tututkannya tadi menggunakan ciong-chiu-hwat (tutukan berat), yaitu tutukan jalan darah melalui tulang.

Lewat sekian saat, Yan-chiu baru dapat tersadar, namun serongga dadanya terasa sesak sakit sekall.

Ketika menoleh kearah Tay-bing didapatinya orang itu lebih payah lagi lukanya.

Mukanya pucat seperti kertas, napasnya memburu.

Kuan Hong dan Wan Gwat menelungkupi, mayat Chiu-yap dan menangis tersedu sedan.

Yan-chiu tak dapat berbuat apa2 karena tak berkutik.

Marah dan gelisah merangsang benaknya dan ketika hawa perasaannya itu naik keatas kepala, matanya serasa gelap dan pingsanlah ia tak sadarkan diri.

---oodwkz0tahoo---Sekarang mari kita tengok keadaan diruang pertempuran itu.

Pertempuran makin menghebat dan ganas.

Melihat, dengan ilmupedang han-kang-kiam-hwat tak memberi hasil, Kang Siang Yan segera berganti dengan ilmu thay-im-lianseng.

Begitu menjungkir-putarkan tangkai pedang, tubuhnya segera merapat kedekat Ang Hwat, dari situ ia terus lancarkan hantamannya yang tak bersuara itu.

Ang Hwat cukup kenal akan thay-im-ciang tersebut.

Dia insyaf sampai dimana kelihayan pukulan itu, maka cepat2 dia tekan im-yang-pian supaya menjulur panjang kemudian dengan gerak po-gwat-siu-kwat (memeluk rembulan menjaga keraton), dia gerak2an im-yang-pian untuk melindungi tubuhnya.

Kalau Kang Siang Yan nekad teruskan hantamannya, jalan darah pada telapak tangannya pasti akan tertutuk pian.

Maka belum sampai tangannya menghantam, tiba2 ia urungkan dan berganti dengan serangan Kok-ho-jo-kiau (melintasi sungai menarik jembatan).

Cepat dan hebatnya serangan itu telah membuat Ang Hwat tak dapat menduganya lebih dahulu.

Tempo dahulu Lamhay Ho Liong-poh dengan mengandal ilmu thay-im-lian-seng tersebut telah malang melintang merajai seluruh wilayah Kwisay dan Kwitang, sehingga suku bangsa Li yang tinggal dikepulauan Lam-hay sama mengagungkannya sebagai dewi malaekat.

Keistimewaan dari ilmu lwekang itu, dapat digerakkan sekehendak hati pada setiap saat dengan sedikitpun tak mengeluarkan suara apa2.

Betapapun tajam alat indera dari seorang persilatan yang berkepandaian tinggi, namun terhadap serangan yang tak mengeluarkan suara itu, mati juga kutunya.

Bahwa Kang Siang Yan dapat dengan tiba2 merobah gerak serangannya, dari menyerang dada berganti menyerang kaki, telah membuat datuk persilatan macam Ang Hwat cinjin kesima juga.

Dia segera miringkan kaki kirinya lalu gunakan tangkai pian untuk membentur serangan orang.

Melihat serangan kedua tak berhasil, tangan kiri Kang Siang Yan yang masih mencekali pedang tadi segera dibuat menusuk dengan gerak kang-sim-poh-lou (salah satu jurus dari hoan-kang-kiam-hwat) Jurus2 yang berlangsung tadi, dilakukanya dengan kesebatan yang luar biasa, sehingga sudah sejak tadi Ceng Bo ketinggalan spoor.

Ketika Kang Siang Yan lancarkan serangan pedang yang terachir Itu barulah Ceng Bo sempat untuk gerakkan yap-kun-kiam menusuk punggung Ang Hwat.

Hanya sayang dia bergerak dengan jurus hay-lwe-sip-ciu sedang Kang Siang Yan tadi dengan kang-sim-poh-lou, pasangan permainan yang tidak serasi.

Ang Hwat rasa sudah hampir sejam lamanya dia bertempur tanpa berkesudahan.

Kalau sampai tak dapat menundukkan kedua suami isteri itu, dimata pemerintah Ceng, namanya tentu akan jatuh harga.

Maka andaikata Ceng Bo tak menyerangnya, diapun tetap akan mencarinya.

Maka kebenaran sekali kini Ceng Bo maju menyerang lagi.

Merasa ada sambaran angin serangan senjata dari arah belakang, se-konyong2 dia tarik sepasang lengannya kebelakang, lebih dahulu yang kiri kemudian yang kanan.

Dua buah sikunya dibenturkan kebelakang tubuhnya.

Dalam pada itu lengan jubahnya mengibas kemuka untuk menghalau pukulan thay-im-ciang dari Kang Siang Yan itu.

Dengan dua buah ciu-jui (benturan siku tangan) Itu walaupun dia cukup tahu takkan mengenai tubuh Ceng Bo, tapi tenaga lwekang yang disalurkan disitu tentu akan memberi hasil.

Tepat juga perhitungan itu.

Seketika itu Ceng Bo rasakan dadanya sesak terhimpit tenaga dahsyat.

Dalam keadaan seperti saat itu sudah tentu dia tak berani adu lwekang dengan Ang Hwat, maka buru2 dia tarik pulang pedangnya.

Ang Hwat mundur selangkah, sebelum Kang Siang Yan mengejar dia sudah lancarkan 3 hantaman untuk menahannya.

Membarengi Kang Siang Yan mundur, dia gerakkan lengannya.

Im-yang-pian menjulur sampai 4 kali panjangnya, tahu2 menutuk kearah Ceng Bo yang berada disebelah belakang tadi.

Kaget Ceng Bo bukan buatan, hendak dia menghindar terang sudah tak keburu lagi.

Jalan satu2nya dia segera meniarap telentang kebawah dengan gerak tiat-pian-kio, wut.......hanya beberapa centi saja ujung pian itu menyambar diatas dadanya.

Walaupun berbahaya, namun Ceng Bo merasa longgar napasnya karena mengira bahaya sudah lewat.

Tapi Ang Hwat bukan kepala gereja Ang Hun Kiong yang menduduki salah satu mahkota cabang persilatan didunia persilatan, kalau hanya begitu saja kepandaiannya.

Hampir 40 tahun lamanya dia benamkan diri dalam peyakinan im-yang-pian itu, sehingga ruyung itu se-olah2 sudah menjadi salah satu anggauta badannya yang dapat digerakkan menurut sesuka hatinya.

Sekalipun saat itu dia membelakangi Ceng Bo namun punggungnya bagaikan mempunyai mata, dapat melihat tegas bagian2 jalan darah musuh.

Baru saja mulut Ceng Bo bernapas longgar, atau tiba2 im-yang-pian itu sudah menjulur lagi satu buku (kira2 setengah meter) dan cukup dengan sedikit gerakan tangan, ujung ruyung lemas itu sudah melengkung kebawah dan menutuk jalan-darah hoa-kay-hiat didada Ceng Bo.

GAMBAR 77 Dengan tangkasnya Ang Hwat Cinjin menyabet kedepan, menyusul menyikut kebelakang hingga terpaksa Kang Slang Yan berkelit dan Ceng Bo Siangjin menyingkir mundur.

Hoa-kay-hiat, merupakan alat penutup bagi alat2 jeroan dalam dada.

Jangan lagi terkena tutukan seorang achli besar macam Ang Hwat, sedang ditutuk oleh seorang persilatan biasa saja, tentu sudah akan membuat siorang itu kalau tidak binasa tentu terluka parah.

Ceng Bopun cukup menginsafi hal itu.

Tapi apa daya, dia sudah tak kuasa untuk menghindar lagi.

Itulah disebabkan setelah bahaya ancaman pian sudah lewat diatas dadanya, buru2 dia hendak terus angkat tubuhnya bangun.

Siapa tahu, im-yang-pian telah dapat dimainkan secara begitu luar biasa.

Jadi ketika ujung ruyung itu melengkung hendak memagut, justeru dada Ceng Bopun terangkat naik, maka tampaknya seperti menyongsong.

Semua orang yang menyaksikan sama menahan napas karena mengira Ceng Bo tentu akan tamat riwayatnya.

Tapi se-konyong2 dalam saat2 yang segenting itu terdengarlah suara orang menggerung keras, lalu menyusul sebuah benda hitam yang bentuknya panjang dan besar melayang kearah im-yang-pian, trang .....begitu ujung im-yang-pian itu terpental, benda hitam itupun jatuh menggedebuk ketanah.

Kala semua mata mengawasi, kiranya benda hitam panjang itu adalah sebuah pikulan kayu bakar, sedang siorang yang melontarkannya tadipun serentak juga sudah tegak berdiri.

Hai, kiranya si Ma Cap-jit yang bergelar Hoasan kiau-cu (pencari kayu dari gunung Hoasan).

Sewaktu ujung ruyung terpental, dengan sebat Ceng Bopun segera menggeliat loncat kesamping.

Namun Ang Hwat cepat goyangkan tangann ya dan ujung ruyung itu bagaikan seekor ular, segera menerkam betis Ceng Bo.

Sekali tarik, buk....

menggeleparlah Ceng Bo jatuh ketanah.

Ceng Bo lekas2 hendak gunakan gerak "ikan lele berjumpalitan"

Untuk loncat keudara.

Tapi baru tubuh melayang, Ang Hwat sudah mengirim sebuah hantaman.

Jurus serangan ber-tubi2 itu hanya berlangsung dalam sekejab mata saja, hingga Kang Siang Yan yang menyurut kebelakang karena diburu oleh hantamannya tadi, belum sempat balas menyerang.

Walaupun hanya 3 bagian tenaga yang digunakan Ang Hwat dalam hantamannya itu, tapi karena tubuh Ceng Bo sedang melayang diatas jadi dia tak berdaya untuk menangkis, bluk ..........

sekali ini benar2 dia jatuh knock-out.

Gempar suara jatuhnya itu, namun tak sampai membuat Ceng Bo luka dalam, kecuali apabila Ang Hwat segera susuli lagi dengan sebuah hantaman fatal (mematikan) tentu celakalah siangjin itu.

Tapi mimpipun tidak, kalau begitu jatuh ditanah, Ceng Bo secepat kilat sudah babatkan yap-kun-kiam bret ............

jubah bagian bawah dari Ang Hwat telah terpapas robek.

Sayang karena terlambat sedikit, ujung yap-kun-kiam itu tak berhasil mengenai daging kaki lawan.

Sekalipun begitu, hal itu cukup membuat Ang Hwat gusar sekali.

Dia anggap serangan itu sebagai suatu hinaan besar.

Dan pandangannya akan arti pertempuran itu makin nyata kau atau aku yang binasa!

Sedang difihak Ceng Bo pun tak kurang beringasnya, Tahu dirinya terancam, setelah membabat tadi terus susuli lagi dengan serangan kedua.

Tepat sesaat itu, Kang Siang Yan-pun sudah mengirim serangan membalas.

Ang Hwat mengaum keras.

Im-yang-pian tiba2 menyurut lagi hingga tinggal setengah meter panjangnya, untuk menyongsong pedang Kang Siang Yan itu.

Bahwa pedang kuan-wi-kiam milik wanita gagah itu adalah pedang pusaka yang dapat memapas segala macam logam, diketahui juga oleh Ang Hwat.

Tapi cara tangkisannya tadi, memang tepat sekali, tring.....

ujung ruyung itu persis menutuk bilah pedang itu.

Dan dalam pada itu, sempat pula dia melancarkan hantaman kearah Ceng Bo.

Kala itu Ceng Bo tengah merangsang maju menyerang, jadi sukarlah kiranya untuk Menghindar, krek......, lengan bahunya sebelah kanan terasa sakit sekali dan otomatis terkulai kebawah sampaipun jarinya tak kuasa lagi untuk mencekal yap-kun-kiam, tring.......

jatuhlah pedang pusaka itu ketanah.

Melihat itu Kui-ing-cu segera enjot kakinya melayang kemuka.

Sedang difihak sana Su-mo Im Thian-kui dan Sam-mo Long Tek-san juga menobros maju, menyambut Kui-ing-cu.

Dalam sekejab saja, ketiganya sudah saling berhantam.

The Go yang sedari tadi mengawasi jalannya pertempuran itu dengan seksama, segera tak mau men-sia2kan kesempatan sebagus itu.

Sekali tangan menekan meja, tubuhnya melayang kemuka dan tangannya segera hendak menjemput yap-kun-kiam.

Tapi berbareng pada saat itu, Ma Cap-jit pun tampil kegelanggang untuk menjemput pikulannya.

Sekali ayunkan pikulannya, bluk......

terpelantinglah The Go mencium tanah.

Memang lihay sekali ilmu permainan pikulan dari si Pencari Kayu Hoasan Ma Cap-jit itu.

Kalau si The Go meringis berkenalan dengan lantai, adalah yap-kun-kiam sudah berada ditangan Ma Cap-jit.

The Go sapukan pandangan matanya keseluruh gelanggang.

Disana Kui-ing-cu masih bertempur rapat dengan Im Thian-kui dan Long Tek-san, tapi sebelah pipi dari orang she Long itu sudah begap matang biru.

Rupanya dia sudah terima "hadiah"

Dari Kui-ing-cu.

Kang Siang Yan dan Ang Hwat tertegun berhenti bertempur.

Sedang rombongan.

Ceng Bo sudah sama serempak bangkit, trang...., tring......, disana sini terdengar suara gemeroncang-gemerincing dari senjata dilolos.

Untuk melawan Ma Cap-jit, terus terang saja, dia sudah tobat tujuh turunan kalau disuruh mencium tanah lagi.

Jalan satu2nya ialah lekas2 mengundang supaya Hwat Siau dan Swat Moay serta ke 18 jagoan itu, keluar membantu.

Baru dia hendak bertindak, atau dari tengah ruangan besar sana muncul beberapa belas orang.

Walaupun dandanan mereka seperti imam dari Ang Hun Kiong situ, tapi mata The Go yang celi segera mengetahui bahwa mereka itu bukan lain adalah rombongan jagoan yang dibawa Hwat Siau.

Begitu muncul disitu, mereka lalu sama duduk dipinggir gelanggang.

Buru The Go menghampirinya.

"Ah....., liatwi sudah datang, tentu hendak membantu kami liwat dan Swat kedua cianpwe itu dimana?"

Ujarnya. Seorang bertubuh kurus jangkung yang rupanya menjadi kepala rombongan, segera menyahut dengan garang.

"Ai......., takut apa? Satu lawan satu atau secara keroyokan, sama saja. Langit sudah akan roboh, siapa yang dapat menyelamatkan diri ? Mengapa ter-buru2 begitu macam ?"

The Go mendapat hidung panjang. Kalau pada hari2 biasa, dia tentu sudah marah. Tapi dikarenakan dia memerlukan tenaga mereka, jadi terpaksa ditelannya saja amarahnya itu.

"Ah, memang, memang!"

Serunya ikut2an tertawa.

Hidung sikurus itu mendengus selaku jawaban, lalu alih pandangannya kearah gelanggang.

Ya, memang ke 18 jagoan itu sedang melakukan perintah Hwat Siau untuk melihat jalannya pertempuran.

Apabila sudah tiba saatnya, mereka disuruh lekas2 memberitahukan kepada Hwat Siau agar dapat menyulut sumbu dinamit.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 42 .

PAHIT EMPEDU Pada saat itu Ceng Bo sudah dipapah Ko Thay untuk kembali ketempat duduknya.

Lengannya kanan telah dipatahkan oleh hantaman Ang Hwat.

Betapapun lihaynya, tetap dia tak kuat menahan rasa sakitnya.

Kepalanya basah kuyup dengan keringat.

Tio Jiang sibuk tak keruan tak tahu apa yang hendak diperbuat.

Rasanya ia rela menggantikan luka suhunya itu.

Ko Thay memijat lengan itu dan dapatkan bahwa bagian tulang yang remuk itu tak seberapa besar, jadi masih ada harapan untuk sembuh lagi.

Dia suruh Tio Jiang cabut dua batang terali (jeruji) lankan dan sepotong kayu papan.

Lengan Ceng Bo yang patah itu segera dipres dengan potongan papan itu, kemudian dibalut dengan kain.

Ceng Bo tahankan sakitnya, sepatahpun tak mengerang.

matanya memandang kearah 18 orang yang baru datang itu.

Diantara sekian banyak jagoan itu, hanya seorang yang dikenalnya sebagai orang kelahiran Kwitang yang pernah belajar silat digunung Ngo-tay-san.

Orang itu mahir sekali dalam ilmu senjata rahasia.

Setelah habis pelajarannya, dia segera menganas didaerah Kwiciu, tapi kena dikalahkannya.

Sejak itu tak pernah dia bersua dengan orang itu lagi.

Ah, tak kira kalau kini dia sudah berhamba pada pemerintah Ceng.

Orang yang dikenalnya, itu bernama Pui Hoan berjejuluk Boan-thian-ce (bintang bertaburan dilangit).

Saat itupun tengah memandang Ceng Bo dengan sorot mata menggagah (menantang).

Rupanya dia belum lupa akan peristiwa 10 tahun yang lampau itu.

Lain2 yang ke 17 orang itu sama bertubuh kekar garang.

Lebih2 siorang jangkung kurus yang duduk dimuka sendiri itu.

Pelipisnya agak menonjol, air mukanya aneh entah dari cabang persilatan mana dia itu.

Se-konyong2 terdengarlah suara jeritan mengaduh dan sesosok tubuh gemuk terbang melayang.

Aha, kiranya itulah tubuh Long Tek-san yang kena disengkelit kemudian ditendang oleh Kui-ing-cu.

Dalam waktu dan tempat seperti itu, tetap Kui-ing-cu tak lupa akan kenakalannya.

Ketika tubuh Long Tek-san tadi melayang diatas ke 18 orang jagoan itu, Kui-ing-cu segera gerakkan dua buah serangan kosong dan entah bagaimana caranya tubuh Long Tek-san berhenti dengan tiba2, lalu jatuh menimpa kebawah.

GAMBAR 78 Tahu2 Su-mo Long Tek-san telah mencelat kena disengkelit Kui-ing-cu terus melayang ketempat duduk ke-18 jagoan yang dibawa datang oleh Hwat Siau dan Swat Moay itu.

"Sahabat Long, berdirilah yang jejak!"

Serentak berbangkitlah sikurus jangkung tadi seraya menyanggapi tubuh Long Tek-san.

Merah padam selebar muka Long Tek-san yang lalu mengambil tempat duduk.

Melihat sukonya tak berani maju lagi, Im Thian-kuipun lalu putar tubuhnya hendak angkat kaki seribu.

Tapi, Kui-ing-cu rupanyapun tak mau mengejarnya, Malah hanya ber-teriak2 menyuruhnya lekas lari.

"Lari kencang, ayuh lekas lari yang kencang!"

Serunya.

---oodwkz0tahoo---Im Thian-kui tak peduli setan belang apa lagi.

Dia benar2 lari se-kencang2nya menurut anjuran musuhnya tadi.

Melihat adegan lucu itu, ke 18 jagoan tersebut sama ter-bahak2.

Menandakan bahwa mereka tak memandang mata, lagi pada orang2 Ang Hun Kiong.

Merahlah daun telinga The Go.

Tapi ketika melirik kearah Ang Hwat didapatinya sang sucou itu masih menjublek diam ditengah gelanggang, berhadapan pandang dengan Kang Siang Yan.

Walaupun nampaknya kedua tokoh tersebut berdiam diri, tapi ternyata mereka itu tengah mengadu lwekang dengan jalan saling lekatkan senjatanya masing2.

Ketika im-yang-pian membentur pedang kuan-wi-kiam tadi, cepat2 Ang Hwat salurkan lwekangnya untuk menyampok jatuh senjata lawan.

Tapi baru saja lwekang Ang Hwat menyalar kearah im-yang-pian, siang2 Kang Siang Yan mengerti maksud orang.

Maka betapalah kejut Ang Hwat ketika didapatinya saluran lwekangnya itu telah mendapat reaksi hebat berupa sebuah dorongan lwekang yang kuat.

Buru2 diapun segera "tancap gas penuh", mengerahkan seluruh lwekangnya.

Sejak berhasil memahamkan ilmu lwekang thay-im-lian-seng, belum pernah Kang Sing Yan berjumpa dengan musuh setangguh Ang Hwat ini.

Memang karena urusan Yan-chiu, ia telah "bentrok"

Dengan Tay Siang Siansu.

Tapi karena paderi itu sudah tak memikirkan akan gengsi dan nama kosong, begitu "kortsluiting" (benturan aliran lestrik) sebentar, paderi itu segera angkat kaki.

Kini berhadapan dengan Ang Hwat lainlah halnya.

Seluruh kebiasannya telah ditumplak habis, maka walaupun digelanggang situ terjadi hiruk pikuk tak keruan, kedua seteru itu tetap tulikan telinga butakan mata, seluruh perhatian dan semangatnya ditujukan pada pergulatan seru itu.

Gaya Kang Siang Yan gemulai nampaknya, namun mengandung kekuatan baja yang kokoh.

Beberapa kali Ang Hwat coba undang seluruh tenaganya untuk mendesaknya, tapi selalu dibuyarkan oleh lawan.

Sebaliknya untuk melukai Ang Hwat pun sukar juga bagi Kang Siang Yan.

Hampir lebih dari setengah jam pergulatan itu berlangsung, namun tetap sama kuatnya.

Saking geramnya se-konyong2 Ang Hwat mengeluarkan suara menggerung laksana singa mengaum, dahsyatnya bukan buatan.

Tapi berbareng pada saat itu, Kang Siang Yan pun melengking nyaring macam jangkerik berbunyi.

Suasana dalam ruangan itu pekak dengan aum dan denging.

Hanya saja jelas kedengaran bahwa lengking suara Kang Siang Yan itu dapat menembus pecah suara aum Ang Hwat.

Se-konyong2 lengan mereka menurun kebawah dan pada lain saat tampak ada selingkar api merah dan segumpal asap sama2 meluncur kebelakang.

Tempat yang diinjak mereka itu, tampak ada 4 buah telapak kaki sedalam 3 dim.

Lantai ruangan itu terbuat dari batu marmar hijau yang kokoh, kalau toh sampai "amblong"

Sedemikian dalamnya, mudahlah dibayangkan sampai ditingkat mana kepandaian kedua tokoh besar itu.

Sekalian orang sama leletkan lidah, sedang ke 18 orang yang sikapnya amat congkak itu, diam2 juga tergetar hatinya.

Kini kedua tokoh itu saling berpandangan.

Saking cemas akan keselamatan isterinya, lupalah Ceng Bo akan sakitnya tadi.

Bek Lianpun sudah berulang kali hendak berdiri tapi selalu dicegah The Go.

Kini tak dapat lagi ia menahan perasaan hatinya dan menjerit.

"Mah !"

Adalah karena teriakan Bek Lian itu maka perhatian Kang Siang Yan agak terganggu dan adalah karena sedikit lubang itu, maka Ang Hwat sudah segera loncat menerjangnya lagi.

Tak peduli.

bagaimana hebatnya bahaya yang mengancam dihadapannya itu, namun Kang Siang Yan masih perlukan "mencuri"

Kesempatan untuk berpaling menengok puterinya.

Serta dilihatnya Bek Lian tak kurang suatu apa, barulah ia turunkan tubuhnya kebawah lalu melejit kesamping untuk menghindar.

Memang sedemikian besarlah kasih seorang ibu terhadap anaknya.

Sekalipun ia dapat menghindar dari terjangan lawan, namun karena tak dapat balas menyerang, berarti ia kalah satu set.

Tanpa memberi kesempatan lagi, Ang Hwat sudah ayunkan im-yang-pian-nya untuk menutuk jalan darah si-peh-hiat.

Jalan darah itu terletak dibawah mata.

Dalam gugupnya Kang Siang Yan segera menghantam pian itu.

Separoh bagian atas dari plan itu sebenarnya sangat lemas, hanya karena kepandaian Ang Hwat maka ujung itu dapat kencang lurus macam sebuah alat pit.

Ujungnya dapat ditolak kesamping oleh hantaman Kang Siang Yan tadi, tapi pangkalnya cepat digerakkan Ang Hwat untuk menusuk dada lawan.

Jalan satu2nya bagi Kang Siang Yan yalah menyelinap kebelakang musuh.

la segera bergerak dengan cepat sekali, tapi Ang Hwatpun tak kalah sebatnya.

Baru Kang Siang Yan lewat disisinya, kepala Ang Hun Kiong itupun sudah memutar tubuhnya kebelakang.

Disitulah dia "cegat"

Lawan.

Belum lagi Kang Siang Yan dapat mengambil posisi kaki, atau dia sudah mencambuk dengan im-yang-pian.

GAMBAR 79 Dengan gaya yang khas, Kang Siang Yan putar pedangnya sedemikian dahsyatnya hingga Ang Hwat Cinjin dipaksa bertahan melulu tak sempat menyerang lagi Kang Siang Yan bukan jago sembarang jago.

Untuk menyambut hajaran pian musuh, ia gerakkan pedangnya untuk membabat.

Sekali ini Ang Hwat salah terka akan kelihayan ilmu thay-im-lian-seng.

Dalam kesempurnaannya, ilmu itu dapat dikuasai penuh menurut sekehendak hatinya.

Biar Ang Hwat lihay, tapi tetap dia tak dapat menyelamatkan im-yang-piannya lagi.

Tring.........

kutunglah buku yang teratas dari pian itu terbabat kuan-wi-kiam.

Begitu ujungnya terpapas, maka berhamburanlah ber-puluh2 jarum halus menyambar keluar.

Entah berapa banyakkah batang2 jarum itu, tapi yang nyata saja sesaat itu terdengarlah bunyi macam nyamuk men-denging2.

Teranglah jarum2 itu keluar dari lubang pangkal imyang-pian tadi.

Dan memangnya im-yang-pian itu diperlengkapi dengan senjata rahasia jarum halus untuk menggempur para akhli lwekang yang menjadi lawannya.

Jarum2 yang halus itu akan menyusup melalui jalan darah terus masuk kejantung, Betapa lihaynya seorang akhli Iwekang, namun menghadapi senjata yang sedemikian ganasnya itu, tak urung akan binasa juga jiwanya.

Insyaf akan keganasan senjata itu, Kang Siang Yan sampai kucurkan keringat dingin.

Cepat2 la putar pedangnya dengan gencar sembari berteriak dengan murkanya.

"Hai, imam siluman tua, tebal sekall kulit mukamu"

Dalam kedudukan sebagai ketua sebuah cabang persilatan, memang tak selayaknya Ang Hwat gunakan senjata rahasia macam begitu.

Ya, walaupun hal itu terjadi diluar kemauannya, tapi dengan memiliki senjata macam begitu saja itu sudah berarti mengunjuk mentalitiet peribadinya yang ganas.

Maka merah padamlah selebar muka kepala gereja Ang Hun Kiong seketika itu.

Dari malu, dia menjadi marah.

Tanpa menyahut sepatah pun, dia segera-putar pian untuk menghajar.

Demikianlah kedua tokoh itu kembali terlibat dalam pergumulan yang seru.

Mendengar ibunya memaki "imam siluman tua", Bek Lian mengeluh dalam hati.

Kedepannya, hubungannya dengan The Go pastilah akan menemui kesukaran besar.

Bek Lian yang dibutakan oleh api asmara itu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

"Engkoh Go, mamah dan sucou, telah bertempur sedemikian serunya, rasanya urusan kita tentu kapiran, maka lebih baik sedangnya mereka tengah bertempur, kita tinggalkan tempat ini menuju kesalah sebuah pulau di Lam-hay. Disana kita, dapat menuntut penghidupan yang aman dan tenteram, ah......, betapakah bahagianya!"

Bisiknya kepada sang kekasih yang ,manja' itu.

Sewaktu melihat sucounya terlibat dalam pertempuran yang sangat lama, hati The Go dicengkeram oleh kegelisahan.

Atas pernyataan Bek Lian, tadi, dia hanya mendengus "hem......"

Selaku jawaban.

Tapi tiba2 terkilas dalam benaknya suatu rencana yang jahat.

Tadi sewaktu Bek, Lian meneriaki ibunya, Kang Siang Yan segera terdesak dibawah angin oleh sucounya.

Ah, mengapa dia tak suruh Bek Lian mencobanya lagi?

Tapi kali ini jangan sampai keblinger gagal lagi.

Otaknya bekerja.

Dibayangkannya, kalau Kang Siang Yan kalah, rombongan Ceng Bo tentu dapat diatasi.

Dengan begitu terbukalah kesempatan baginya menggabungkan diri pada rombongan Hwat Siau, untuk menghadap Sip-ceng-ong Tolkun.

Dengan memiliki kepandaian bun dan bu (sastera dan ilmu silat), masakan Tolkun takkan memandang mata kepadanya?

Misalnya saja, kalau dia tuturkan bagaimana dahulu dengan menuruti usul rencananya (The Go) dapatlah Li Seng Tong menduduki daerah, Kwiciu, tentu dia akan mendapat pujian tinggi dari menteri Ceng itu.

Soal berpaling haluan, itu tiada sangkut pautnya dengan dia.

Coba jenderal itu tak berlaku begitu, pastilah saat ini dia sudah mengenakan pakaian pembesar tinggi dari kerajaan Ceng!

Ah......., kalau mengingat itu, terkutuklah jenderal she Li Itu!

Terkilas pula dalam lubuk kenangannya, bagaimana dengan tindakannya secara radikal, ganas dan setempo melewati garis2 perikemanusiaan dahulu itu, telah dapat mengangkatnya ketempat kedudukan yang tinggi (dekat dengan orang besar), maka mengapa sekarang tidak?

Bukantah ujar2 kuno mengatakan "kalau tidak ganas itu bukan seorang lelaki?"

Jika dia tak berlaku begitu, bagaimana dia dapat melaksanakan pekerjaan besar dan mencapal kedudukan tinggi ?

Sampai pada puncak pertentangan batinnya, wajahnya menampilkan hawa pembunuhan dan berserulah dia menegas.

"Apa katamu tadi?"

Mendengar penyahutan sedemikian kerasnya itu, Bek Lian terkesiap.

Tapi api asmara yang telah membakar seluruh hati sanubarinya itu telah membuatnya buta..., buta hati..., buta mata...., buta malu...., ya pendek kata lupa se-gala2nya.

Tanpa malu didengar orang lagi, ia segera mengulangi kata2nya tadi.

Wajah The Go mengerut kening dan mulutnya mendengus deham "hem......"

Diiringkan dengan seringai-tawa kejam, melengkinglah mulutnya.

"Perempuan hina, siapa yang kesudian ber-senang2 hidup bersama kau?!"

Bek Lian tak percaya akan alat pendengarannya. Wajahnya berobah seketika.

"Engkoh Go, apa katamu itu?"

Ia menegas. Kembali The Go tertawa iblis, serunya.

"Belum pernah ada seorang gadis me-ngejar2 seorang lelaki macam kau ini!"

Suaranya sengaja diucapkan dengan keras hingga sekalian orang diruangan situ sama mendengarnya. Kini semua mata ditujukan kepada kedua orang muda itu.

"Engkoh Go, kau ini bagaimana? ....... Apakah kau tidak cinta padaku?"

Seru Bek Lian dengan ter-bata2. The Go tertawa gelak2, sahutnya.

"Apakah kau tetap bertebal kulit ?"

Saat itu Tio Jiang sudah dapat meraba apa yang telah dipertengkarkan sang suci dengan kekasihnya itu. Darahnya serasa berhenti berdenyut ketika hawa kemarahannya menguap naik. GAMBAR 80

"Apa katamu, engkoh Go?"

Bek Lian menegas karena nista The Go itu. Mendadak gumpulan darah menyembur keluar dari mulutnya.

"The Go, kau ini bangsat!"

Teriaknya memaki. Dia tak pandai bermain lidah, jadi hanya begitu saja caranya memaki. Makian pertama meluncur, diapun sudah tak dapat melanjutkan lagi makian berikutnya.

"Siaoko, apakah kau tahu artinya kata "bangsat"

Itu? Bukalah telingamu lebar?. Seorang lelaki yang galang galung dengan wanita2 yang tak tahu malu itu pasti akan ternoda namanya. Itulah dia yang pantas disebut 'bangsat'!"

Saking berkobarnya api kemarahan dalam hatinya, dengan ter-huyung2 bangkitlah Bek Lian dari kursinya.

Dengan jari yang menggigil gemetaran, ia menuding The.

Go, mulutnya komat kamit tapi sampai sekian lama tak dapat melancarkan kata2.

Setelah sekian saat bibirnya bergemeretukan, akhirnya dapatlah ia mengucap dengan nada ter-putus2.

,,Kau .....

kau ......

sampaipun anak yang kukandung ini ......

juga tak mau tahu lagi?"

Bek Lian telah dijelmakan sebagai seorang gadis jelita yang dapat membuat sirik hati para bidadari.

Sejak kecil ia, dimanjakan dengan kasih sayang sang ayah.

Adalah karena sekali salah pilih menyintai seorang manusia berhati serigala macam pemuda tampan The Go, achirnya ia harus mengalami derita siksaan bathin yang sedemikian mengenaskan itu.

Sampai2

"rahasia"

Yang sebenarnya tak pantas dikeluarkan itu, terdengar juga oleh sekian banyak orang.

Ia telah memetik buah yang ditanamnya sendiri..........

Wajah Ceng Bo pucat lesi, sedang tangan Tio Jiang menggigil gemetar.

The Go tak kepalang tanggung.

Kembali 'dia tertawa sinis' serunya.

"Nona Bek, kau dan aku baru saja setengah tahunan berjumpa, tapi perutmu sudah sedemikian besarnya, anak itu ......ha,..... ha!"

Dari ucapan itu jelaslah kiranya bahwa The Go tak mengakui kandungan Bek Lian sebagai anaknya.

Atau lebih tegas lagi, dia menganggap Bek Lian itu serupa dengan wanita lacur.

Kalau achli pemikir menelurkan teori bahwa dunia ini berputar, mungkin orang masih belum 100 persen mempercayainya karena orang tak merasakan perputaran bumi itu.

Tapi bagi Bek Lian hal itu memang suatu kenyataan.

Bumi yang dipijaknya serasa ber-putari, alam diaekelilingnya gelap gelita dan huak ........

segumpal darah menyembur dari mulutnya dan orangnyapun lalu terhuyung jatuh menelungkupi meja, wur...., wur.....

tak henti2nya mulutnya menyembur darah segar...............

Apa yang dipercakapkan oleh Bek Lian dan The Go tadi, terdengar juga oleh Kang Slang Yan.

Tapi karena dia tengah bertempur mati2an dengan Ang Hwat, ia tak dapat berbuat apa2.

hanya dalam batinnya ia menetapkan keputusan, bahwa setelah selesai pertempuran itu ia tentu akan me-robek2 tulang belulang pemuda itu.

Tapi Bek Lian terus menerus muntah darah, ia tak dapat berdiam diri saja.

Setelah melancarkan sebuah gerak serangan kosong, segera ia loncat menghampiri Bek Lian.

Pikirnya kalau tak lekas2 ditolong, Bek Lian tentu putus jiwanya!

Tapi ternyata Ang Hwat tak mau kasih hati.

Begitu Kang Siang Yan hendak loncat menyingkir, dia segera gerakkan piannya untuk menyabat punggungnya.

Betapapun keinginan, Kang Siang Yan untuk lekas2 menolong Bek Lian, namun terpaksa ia harus menghalau serangan maut itu dulu.

Secepat kilat ia berputar tubuh saegera ia lancarkan 3 buah serangan pedang ber-turut2, sehingga Ang Hwat terpaksa mundur beberapa tindak.

Tapi tatkala ia hendak berputar, lagi untuk menghampiri Bek Lian, pian Ang Hwat cinjin sudah merangsangnya lagi.

Pada saat itu hati dan pikiran Kang Slang Yan hanya pada Bek Lian seorang.

Sedikitpun ia tak mempunyai semangat untuk bertempur lagi.

Adalah karena lawan tetap melibatnya, terpaksa ia melayaninya dengan seru.

Sekalipun begitu kedahsyatan pedang dan pukulannya sudah tak sehebat tadi.

Melihat siasatnya berhasil, puaslah The Go.

Tampak Bek Lian muntah2 darah sedemikian rupa, dia tetap tertawa dingin tak menghiraukan sama sekali.

Oleh karena sekalian orang tak mengerti duduk perkaranya, apalagi sedari permulaan muncul digelangang situ mereka berdua (Bek Lian dan The Go) tampaknya rukun ber-kasih2an, jadi mereka hanya keheranan melihati saja.

Berbeda dengan Kui-ing-cu, Ih Liok dan lain2.

Wajah mereka menampilkan kemarahan dan bersikap hendak menghajar pemuda bangsat itu.

Tapi Ceng Bo yang berhati baja itu segera memberi isyarat tangan mencegahnya disertai dengan makian terhadap puterinya itu.

"Biar ia, merasakan buah perbuatannya sendiri!"

Hanya Tio Jiang yang tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Sembari loncat ketengah gelanggang, dia meneriaki sumoaynya.

"Siao Chiu, jangan lepaskan bajingan Itu!"

Tadi para kawan2nya Ceng Bo sibuk menolongi siangjin itu dan nengikuti jalannya pertempuran Kang Siang Yan dengan Ang Hwat.

Mereka tak tahu sama sekall kemana gerangan lenyapnya sigenit Yan-chiu tadi.

Kui-ing-cu dan Ih Liok menyapukan matanya untuk mencari sigenit kesekeliling gelanggang situ, tapi tiada ada.

Dipanggilnya ber-ulang2pun, tidak menyahut.

Ai, kemana ia?

Para tokoh2 itu mulai gelisah.

Mungkin kegelisahan para cianpwe itu akan lebih besar lagi kalau mengetahui bahwa pada saat dan detik itu Yan-chiu menggelepar dibawah tanah tak ingat diri lagi!

Kala Tio Jiang memburu kearah The Go tadi, belum lagi dia sampai kesana tiba2 tubuhnya tampak meregang kaku lalu rubuh ketanah.

Mulutnya ber-buih2 mengeluarkan busa.

"Arak yang dihidangkan kawanan anjing itu ada racunnya!"

Se-konyong2 ada orang berteriak dengan nyaring cemas.

Oleh karena penulis hanya mempunyai sebuah Mata pena, pada hal banyaknya kejadian2 yang berlangsung pada waktu yang bersamaan itu, jadi terpaksa sekaligus tak dapat memaparkan.

Maka baiknya kita tinggalkan dulu suasana hiruk pikuk yang terjadi digelanggang pertempuran akibat rubuhnya Tio Jiang itu, Kini mari kami ajak pembaca mengikuti keadaan Yan-chiu yang pingsan tak sadarkan-diri itu dulu.

---oodwkz0tahoo---Pada waktu ia tersadar, didapatinya kaki dan tangannya sudah dapat digerakkan.

Sudah tentu ia heran dibuatnya.

Rupanya Kuan Hong dan Wan Gwat tahu apa yang diherankan cicinya itu, maka buru2 mereka berebut memberi keterangan.

"Cici, ilmu penutuk jalan darah dengan melalui tulang, karena kami berkelakuan baik, sucou telah menurunkan barang dua buah kepada kami. Ternyata ada gunanya juga ilmu itu!"

Kini baru jelaslah Yan-chiu mengapa kaki dan tangannya saat itu dapat digerakkan.

Buru2 ia menanyakan berapa lamanya ia pingsan tadi.

Kedua anak itu mengatakan hanya sebentar saja.

Yan-chiu duduk mengambil napas, Walaupun dadanya agak terasa sakit, tapi tiada mengakibatkan suatu apa.

Itulah disebabkan karena ia dulu memakan biji kuning mustika batu itu.

"Ayuh, kita lekas2 mencari mulut jalanan dibawah tanah itu!"

Serunya seraya loncat bangun. Tapi berbareng pada, saat itu, mulut pintu lubang disebelah atas sana menjadi gelap pula dan pada lain-saat kedengaran orang berseru memanggil.

"Toa-supeh!"

Yan-chiu cepat menjemput terali besi serta memberi isyarat mata, pada Kuan Hong dan Wan Gwat. Walaupun masih kecil rupanya kedua imam anak2 itu cerdas juga. Mereka menangkap maksud Yan-chiu.

"Toa-supeh berada disinilah!"

Serunya menyahuti.

Beberapa tosu yang berada diatas itu segerera turun kebawah.

Jelas diketahui Yan-chiu bahwa mereka berjumlah 6 orang.

la taksir dapat mengatasi mereka.

Maka belum lagi mereka menghampiri dekat, ia sudah menerjangnya.

Terowongan situ walaupun diberi lampu penerangan, tapi tetap gelap remang2.

Ketika tosu yang berjalan dimuka sendiri melihat ada, angin menyambar, dia kira kalau Ciang Tay-bing atau toa-supehnya, maka buru2lah dia berseru.

"Toa-supeh, ampun ......."

Belum sempat dia melanjutkan kata2nya minta ampun, atau ujung terali besi Yan-chiu sudah menusuk dadanya.

Sekali dorong tubuhnya terjerembab kebelakang menjatuhi ketiga kawannya yang berada dibelakangnya.

Begitu ketiga orang itu jatuh tumpang tindih, Kuan Hong dan Wan Gwat segera menubruk untuk menutuk jalan darah mereka.

Sedang Yan-chiupun secepat kilat sudah menerjang lagi kemuka dan mencekik leher kedua imam yang berjalan paling belakang sendiri.

"Awas, kalau berani bercuit, nyawamu kucabut!"

Melihat bahwa toa-supehnya (Ciang Tay-bing) menggeletak ditanah dalam keadaan tiga perempat mati, kedua orang itu copot nyalinya.

Takut kalau dipergoki orang lagi, Yanchiu seret kedua imam itu keujung dinding sana lalu mulai mengorek keterangan.

"Kalian ini siapakah yang mengetahui adanya jalanan dibawah tanah yang menembus ruangan pertempuran sana? Ayuh, katakan yang benar, supaya badanmu tetap bernyawa!"

Salah seorang dari kedua imam itu yang janggutnya sudah mulai putih, segera menyahut dengan ter-bata2."

Sejak 10 tahun lamanya siao-to (aku) menjadi tosu di Ang Hun Kiong sini, belum pernah mendengar akan hal itu!"

Sedang kawannya yang seorang menyatakan bahwa kecuall terowongan disitu itu, tiada lain jalanan dibawah tanah lagi.

Saking gelisahnya, Yan-chiu banting2 kaki lalu benturkan kepala kedua imam itu kedinding, hingga pingsanlah mereka.

"Kalau benar jalanan itu tidak ada, dimanakah mereka memasang dinamit itu ?"

Yan-chiu ber-sungut seorang diri seraya menghela napas. Tapi baru ia mengucapkan kata2 itu, atau Kuan Hong dan Wan Gwat segera berebut menanyakan.

"Cici, apa yang kau katakan tadi?"

"Ah, kau anak kecil tahu apa!"

Seru Yan-chiu dengan uring2an.

"Memang lain2 hal aku tak tahu, tapi apa itu yang kau sebut 'dinamit' pernah aku mendengarnya,"

Bantah Kuan Hong dengan jebikan bibirnya.

Girang Yan-chiu tak terkata.

Semangatnya segar lagi.

Ia menduga tentulah kedua to-thong itu menjadi murid kesayangan Ang Hwat.

siapa tahu mungkin mereka mengetahui rahasia itu.

Tapi pada lain saat, ia geleng2kan kepala.

Bukankah, kedua anak itu beberapa hari lamanya di "gantung"

Dibawah tanah, bagaimana mereka tahu akan hal Itu? Maka Yan-chiupun tak mau bertanya lagi.

"Cici, mengapa kau tak menanyakan lagi?"

Kuan Hong menegurnya dengan sibuk.

Dengan menghela napas, terpakaa Yan-chiu ceritakan juga tentang bencana yang hendak dibawakan rombongan jagoan itu dengan rencananya memasang dinamit dibawah tanah.

Mendengar itu kedua anak itu saling berpandangan.

"Cici, bukankah orang yang memasang dinamit itu seorang yang bertubuh gemuk kate?"

"Entahlah!"

Sahut Yan-chiu. Tapi pada lain saat ia memperoleh pikiran baru dan menyusuli pertanyaan.

"Apakah kalian mengetahuinya?"

"Kemaren ada dua orang, satu pendek gemuk dan yang lain bertubuh tinggi besar, lewat dimuka kamar tutupan kami dengan membawa sebuah bungkusan besar. Entah apa yang dipercakapkan waktu itu, hanya antara lain mereka mengatakan sekali meledak pasti akan habis seluruhnya. Kami berduapun tak menaruh perhatian. Lewat sekian lama baru kelihatan mereka lalu lagi dikamar situ, tapi sudah tak membawa bungkusan lagi!"

"Hai, kiranya terowongan itu masih ada tembusannya lagi? Ayuh kita lekas2 mencarinya!"

Seru Yan-chiu kegirangan.

Tapi sampai sekian saat, merabah kesini mengorek kesana, tetap tak memperoleh apa2.

Terowongan dibawah tanah itu tetap merupakan sebuah lorong sepanjang 8 tombak.

Kalau menurut keterangan Kuan Hong, kedua orang itu kemaren lalu dimuka kamar tahanan, jadi nyata kalau mulut jalanan rahasia tentu berada diujung lorong terowongan Itu.

Yan-chiu gunakan terali besi untuk me-nutuk2 dinding terowongan tapi tetap nihil hasilnya.

Saking gemasnya Yan-chiu banting terali besi itu kebawah; tring.........

"Hai, kiranya mulut jalanan rahasia itu berada dibawah lantai. Celaka, tadi aku hanya mencarinya diatas dinding saja!"

Serunya berjingkrak kegirangan.

Lantai itu tiada tampak ciri2 yang luar biasa.

Yan-chiu gunakan ujung terali untuk mengoreknya dan berhasil menjungkit dua ubin warna hijau.

Begitu ubin terangkat, disitu terdapat sebuah tutupan besi dan dua buah kunci.

Yanchiu me-mutar2 kunci itu kekanan kiri lalu menarik dan mendorongnya.

Krek....., krek......, tiba2 terbukalah sebuah lubang berbentuk pesegi, besarnya menyerupai mulut terowongan dibawah perapian dupa itu.

Yan-chiu menghembuskan napas lega, lalu melambai pada kedua anak itu diajak masuk.

Didalam jalanan rahasia dibawah tanah itu, gelapnnya bukan main.

Lewat beberapa saat kemudian, barulah mata, Yan-chiu agak biasa dengan keadaan disitu.

Ternyata lorong jalanan rahasia itu panjang sekali.

Mereka bertiga terus menyusur kemuka, namun belum berhasil menemukan sumbu dinamit pun tak mengetahui batas manakah yang tembus pada ruangan pertempuran itu.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 43 .

BERGENIT DENGAN MAUT Tiba2 didengar diatas dinding jalanan rahasia ada suara hiruk pikuk.

Bermula Yan-chiu tertegun, tapi pada lain saat berbalik menjadi girang, serunya.

"Disinilah. Suara hiruk pikuk itu tentu menandakan adanya orang2 yang berada diruang pertempuran. Kita harus lekas2 berpencar untuk mencari tempat dinamit itu!"

Baru saja ia mengucap begitu, tiba2 disebelah atas terdengar suara orang tertawa mengekeh.

"Ai, keliru! Yang ketawa mengekeh itu tentulah Hwat Siau dan isterinya. Kemungkinan besar mereka sudah akan turun kebawah untuk menyulut dinamit. Kalau masih belum berhasil menemukan, celaka sudah!"

Yan-chiu mengeluh sendirian.

Ia menyusur kemuka lagi.

Belum beberapa jauh, diatas langit jalanan itu kembali terdengar ada suara "duk..., duk.....

Lagi2pun Yan-chiu tertegun berhenti.

Tiba2 terasa ada getaran keras dan dari atas langit jalanan situ, dindingnya sama berguguran.

Yan-chiu makin sibuk tak keruan.

Sebaliknya dengan penuh keyakinan kedua to-thong itu menyatakan bahwa diatasnya situlah ruangan pertempuran itu.

"Itu tentulah sucou tengah unjuk kelihayannya, menginjak hancur marmar lantai. Kalau tidak masakan bisa kejadian begini!"

Kata mereka berdua.

Yan-chiu sependapat dengan dugaan kedua to-thong itu.

Baru ia hendak suruh mereka berpencar mencari, tiba2 terdengarlah kumandang orang ber-cakap2.

Astaga, itulah suara Hwat Siau dan Swat Moay yang mendatang.

"Koanjin, terang kalau kedua mulut jalanan dibawah tanah ini dibuka orang. Bahkan disana tadi terdapat mayat2 bergelimpangan. Jangan2 rencana kita bocor ini!"

Seru yang perempuan. ,,Niocu, ayangan kuatir. Siapa yang berani mencabut kumis harimau, biarlah dia bertamasya keakherat sana!"

Kata sileiaki.

Dari kumandang suaranya, nyata mereka masih terpisah jauh dari tempat Yan-chiu bertiga.

Pada lain saat tampak api dinyalakan.

Rupanya kedua suami iateri itu sudah mulai akan menyulut sumbu.

Yan-chiu makin cemas seperti dikejar setan.

la mendongak dan hai, benda apakah yang menonjol dilangitan dinding itu?

Tanpa buang tempo lagi, la segera loncat keatas dan menarik benda itu kebawah.

Ketika di-amat2inya, itulah salah seutas sumbu yang menyambung keluar tempat Hwat Siau sana.

Cepat ia memijat sekuat2nya dan putuslah kabel sumbu itu.

"Hwat Siau Swat Moay, silahkan menyulut. Habis menyulut kau tentu lari ter-birit2. Siapa tahu sampai ditempat ini sumbunya sudah putus, jadi dinamit itu takkan meledak, ha, ha!"

Yan-chiu berkata seorang diri dengan gea dan puas. Entah bagaimana, api yang menerangi tempat Hwat Siau Itu tiba2 padam.

"Hai, mengapa kau padamkan api itu?"

Hwat Siau menegur isterinya.

"Kalau ada orang mengetahui rencana kita, dan siang2 memutuskan kabel dinamit itu, bukantah sia2 saja jerlh payah kita ini? Rasanya kalau tak memeriksa tempat dinamit itu, tak lega, hatiku. Diatas masih bertempur seru, kalau menjenguk kesana, rasanya takkan terlambat!"

Sahut Swat Moay. Hwat Siau puji ketelitian isterinya, serunya.

"Benar, benar! Kalau sampai terjadi begitu memang sia2 sajalah segala jerih payah kita ini!"

Pada waktu kata2nya yang terakhir itu diucapkan, suaranya sudah dekat sekali dengan tempat Yan-chiu yang kelabakan setengah mati.

Untuk melawan kedua iblis itu, terang ia tak mampu ia ambil putusan nekad.

Dijemputnya dinamit itu, terus dibawanya lari kemuka.

Kira2 empat lima tombak jauhnya mereka bertiga berhenti sejenak.

Tapi pada, saat itu kumandang suitan Hwat Siau melengking ditelinga mereka.

Suitan itu aneh dan seram kedengarannya, hingga membuat bulu roma berdiri.

Menyusul dengan itu Hwat Siau segera menghamburkan kata2nya yang mengguruh laksana guntur berbunyi.

"Entah ko-chiu (jago silat) manakah yang mengganggu-usik pekerjaan kami berdua suami isteri ini?. Seorang jantan tak nanti berbuat secara menggelap, silahkan keluar!"

Saking gelinya disebut seorang ko-chiu, pecah mulut Yan-chiu bercekikikan.

Memang genit betul dara Lo-hu-san Itu.

Masa dalam keadaan sedemikian genting berbahaya itu ia masih berani main2!

Dan karena ketawa Itu, kini ketahuanlah sudah tempat persembunyiannya.

Tapi diluar dugaan, kedua suami isteri itu tak berani gegabah menyerbunya.

Memang adat sepasang suami isteri itu berlainan.

Silelaki berangasan, tapi isterinya lebih cermat dan teliti.

Kala mereka tiba ditempat dinamit situ, Yan-chiu sudah menyingkir kira2 5 tombak jauhnya dan bersembunyi ditempat gelap.

Demi melihat kabel (sumbu) putus dan dinamitnya lenyap, Swat Moay mereka dugaan, bahwa rencana pendinamitan itu dirahasiakan sekali, terbukti dari kenyataan bahwa sekalipun Ang Hwat cinjin tak diberitahukan hal itu.

Kecuali ke 18 jagoan sebawahannya itu, tiada setan lagi yang tahu.

Kalau toh ternyata ada orang yang tahu, dia tentunya seorang ko-chiu yang dapat mencuri dengar rencana persiapannya.

Menilik kepandaian mereka (Hwat Siau -Swat Moay), orang yang dapat mencuri dengar pembicaraan itu, tentulah seorang jago yang berkepandaian tinggi.

Dengan purbasangka itulah maka lebih dulu Hwat Siau telah mengajukan pertanyaannya tadi.

Dengari terdengarnya suara ketawa Yan-chiu tadi, makin cenderunglah mereka akan dugaannya tadi.

Setelah berhasil menggondol dinamit dia memutuskan kabel, orang itu tetap berada disitu tak mau melarikan diri, terang kalau bukan seorang yang memiliki kepandaian ber-lebih2an, tentu tak Bernyali sebesar itu.

Saking gusarnya, Hwat Siau terus hendak turun tangan tapi cepat dicegah sang isteri.

"Koanjin, janganlah kite sampai berkubur bangkai disini. Ke 18 orang kita itu sudah turun gunung, kita terpencil sendirian. Kalau ribut2, Ang Hwat tentu akan mengetahui peristiwa dinamit ini. Kalau sampai demikian, kita pasti tergencet hebat. Kasih aku yang memberesinyalah!"

Hwat Siau dapat dibikin mengerti. Dan dengan suara nyaring melengking Swat Moay sudah kedengaran berseru.

"Kesaktian cunke (anda) itu, kami suami isteri berdua sangat mengagumi sekali. Diempat penjuru lautan ini, semuanya adalah saudara. Kalau cunke sudi membantu urusan kami kali ini, budi ini tentu akan kami ukir sampai mati !"

Yan-chiupun tahu mengapa mereka tak menyerbunya itu, sinakal dengan lega hati ia terus mundur lagi kesebelah dalam.

Dari Ceng Bo den Tay Siang Siansu, ia sudah mewarisi ilmu mengentengi tubuh yang sempurna, ketambahan setelah minum mustika batu itu, gerakannya makin enteng dan lincah.

Pengundurannya itu tadi, sedikitpun tak menerbitkan soara apa2.

Tapi iapun ternyata hanya dapat beringsut sejauh 2 tombak saja, karena ketika berpaling kesebelah dalam hatinya segera mengeluh cemas.

Kiranya sampal ditempat itu, jalanan dibawah tanah situ sudah buntu.

Disekeliling situ tiada jalan tembusan lagi.

la, andaikata ada, pada saat itu terang ia tak sempat menyelidikinya.

Kegelisahan Yan-chiu, sukar dilukiskan.

"Niocu, rupanya sahabat Itu tak mempedulikan kita!"

Tiba2 kedengaran Hwat Siau berkata dengan iringan tertawa sinis. Tapi rupanya sang isteri masih berputus asa, serunya.

"Kami berdua suami isteri yang bodoh ini, adalah Hwat Siau dan Swat Moay dari Tiang-peksan. Oleh karena baru pertama kali berkunjung kedaerah selatan, jadi tak faham akan golongan orang gagah didaerah ini, sehingga dalam perjalanan itu kita lalai untuk membuat kunjungan kehormatan. Apabila bersalah terhadap saudara, mohon saudara sudi memberi maaf se-besar2nya. Dengan tak memberi jawaban suatu apa, apakah saudara benar2 tak suka berkenalan dengan kami?"

Tu lihatlah!

Bagaimana merendah Swat Moay dalam kata2nya itu.

Ia tetap jerikan Yan-chiu yang dikiranya seorang jago sakti itu.

Jadi kecemasannya tak lebih kurang darl Yan-tihiu sendiri.

Memang dalam keputusan asa, Yan-chiu audah membulatkan tekadnya.

Kalau saja kedua orang itu berani menerjang, ia sudahh siap untuk menyambutnya dengan melemparkan dinamit itu.

Sekalipun tidak meledak, tapi sekurang2nya dinamit itu pasti akan pecah berantakan.

Biarkan ia seorang diri binasa, asal sekian banyak orang gagah pejoang kemerdekaan itu tak sampai lebur.

Semangatnya me-nyala2 dan nyalinyapun besar.

Mati untuk perjoangan kemerdekaan negara, adalah mati sahid.

Walaupun jasadnya hancur lebur, tapi namanya tetap bersemarak diagungkan sepanjang masa!.

Dan kalau dipikir lebih jauh, lambat atau laun, manusia itu tentu akan mati, pendirian Yan-chiu makin teguh.

Orang menyohorkan suami isteri Hwat Siau-Swat Moay itu sebagai jagoan silat yang sakti.

Tapi apa yang dapat dibanggakan oleh mereka berdua itu?

Andaikata Yan-chiu nanti binasa, bukantah ia akan lebih disanjung dan diabadikan sebagai seorang Srikandi, jauh lebih terhormat daripada Hwat Siau dan Swat Moay itu?

Pandangan terhadap nilai kedua suami isteri jagoan itu menurun beberapa derajat.

Maka atas ulangan pertanyaan Swat Moay tadi, ia hanya menyambutnya dengan sebuah tertawa dingin menghina.

Mendengar itu Hwat Siau dan Swat Moay terkesiap.

"Kalau benar2 cunke tak mau keluar, cayhe (aku) hendak mohon pengajaran barang sejurus!"

Dalam istilah2 yang maksudnya menyelomoti orang (menipu), ada salah satu yang berbunyi demikian "mengobati kuda mati se-olah2 binatang itu seperti hidup".

Dan Yan-chiu yang teringat akan peribahasa itu, segera mempraktekkannya.

Dengan melengkingkan nada suaranya setajam mungkin, berserulah ia "Hem......, siapa kalian karena takut lalu menakuti orang itu, akupun sudah mengetahuinya.

Ah......., heran, mengapa Tolkun mengutus sebangsa kantong nasi macam kalian berdua itu untuk melakukan tugas sebesar ini!"

Keheranan kedua suami isteri makin men-jadi2.

Dari nada suaranya teranglah itu seorang wanita, tapi mengapa sedemikian beraninya?

Sewaktu berkunjung kedaerah selatan situ, pernah dari salah seorang ke 18 jagoan itu mereka mencari keterangan tentang tokoh2 dunia persilatan didaerah selatan.

Kesemuanya mengemukakan Kui-ing-cu, Ang Hwat cinjin, Tay Siang Siansu dan Kang Siang Yan, adalah empat datuk besar dari daerah situ.

Lain2nya seperti Ceng Bo siangjin, Sin-eng Ko Thay, Nyo Kong-lim dan lain2, walaupun cukup kosen, tapi tak ber-lebih2an.

Tapi terhadap "tokoh"

Yang melengking nada suaranya dan yang begitu bernyali besar untuk memanggil nama Tolkun tanpa sebutan gelarnya, belum pernah mereka mendengarnya!

Dan ternyata mereka merasa jeri juga, tak berani gegabah menyerbu.

Sebelum mati berpantang ajal.

Yan-chiu gunakan tepat sekali ajaran pepatah itu.

Ini disebabkan ia berada didalam lorong jalanan rahasia, sehingga musuh dapat dikelabuinya.

Coba ditempat yang lebar, tak nanti ia dapat mempermainkan Hwat Siau dan Swat Moay yang memiliki panca indera tajam itu.

Memang tempat itu membantu banyak kepada Yan-chiu.

Kumandang suara Hwat Sisu Swat Moay, telah bergulung campur dengan kumandang nada suaranya (Yan-chiu), apalagi sengaja ia buat nadanya itu sedemikian rupa.

"Kang Siang Yan kah?"

Kedua suami isteri itu bertukar pandang seraya men-duga2 dalam hati. Tapi mengingat bahwa tokoh itu masih berada diatas dan sedang terlibat dalam pertempuran dengan Ang Hwat, tentu bukan dianya.

"Sukakah kiranya cunke memberitahukan nama dan gelaran cunke yang mulia itu? Walaupun kepandaian kami berdua memang cetek, tapi kalau benar2 cunke hendak menghalangi pekerjaan ini, rasanya tak mudah jugalah!"

Kembali Swat Moay berseru. Yan-chiu mengambil keputusan, sedapat mungkin ia hendak ulur waktu hingga mudah2an nanti terjadi suatu perobahan yang tak terduga.

"Bangsa 'kantong nasi' macam kalian itu, hendak melawan aku? Nyalimu sih besar juga berani datang kedaerah Selatan sini, tapi ternyata hanya begitu macam kepandaianmu, masakan Lamhay Hu Liong-poh saja kalian sudah tak mengenalnya!"

Untuk mengaku seorang lelaki terang akan.

ketahuan karena ia bernada perempuan, maka cepat2 ia sembarangan mengaku sebagai Hu Liong-poh, Itu tokoh wanita yang menduduki mahkota tertinggi dalam dunia persilatan daerah selatan.

Benar juga, kedua suami isteri itu segera tersentak kaget mendengarnya.

Memang nama tokoh wanita itu sangat berkumandang dikolong jagad, tapi menurut kabar sudah lama meninggal.

Apakah desas desus itu bohong belaka?

Tanpa terasa kedua suami isteri itu berjajar bahu membahu, yalah sikap yang dilakukan apabila mereka berhadapan dengan musuh yang tangguh.

Andaikata Yan-chiu tak ngoceh lagi, se-kurang2nya pastl dalam sejam lamanya Hwat Siau dan Swat Moay tak berani berkutik.

Tapi entah bagaimana ia merasa kuatir sendiri jangan2 lawan tak mempercayai keterangannya tadi, maka pada lain saat ia segera beraeru.

lagi.

"Huh, sampaipun anak murid dari beliau siorang tua itu saja kalian tak mengetahui, masih mau mengagulkan diri begitu macam!"

"Melukis ular tapi diberi kaki", kata2 ini menyatakan bahwa karena bermaksud hendak menyempurnakan pekerjaannya, kalau tak dipikir masak2, sebaliknya bisa malah merusak pekerjaan itu seluruhnya. Memang pengetahuannya tentang tokoh2 persilatan, Yan-chiu masih kurang. Sebaliknya walaupun Hwat Siau dan Swat Moay itu selalu berdiam didaerah utara dan hanya sekali itu datang kedaerah selatan, tapi mereka cukup faham bahwa Hu Liong-poh itu tidak mempunyai barang seorang muridpun juga. Pengakuan Yan-chiu segera terbuka kedoknya.

"Koanjin, dia bohong, Hu Liong-poh tak pernah menerima murid!"

Bisik Swat Moay kepada suaminya.

"Benar, kita harus lekas2 turun tangan, kalau terlambat tentu akan gagal!"

Sahut Hwat Siau.

Walaupun jaraknya dengan Yan-chiu hanya terpisah 3 tombak, tapi dengan kepandaian sakti yang dimilikinya itu, mereka dapat bergerak tanpa dapat diketahui.

Tahu2 Hwat Siau sudah maju kemuka dan jelas kelihatan dimuka sana tampak ada sesosok tubuh kecil langsing.

Kini tahulah mereka kalau diselomoti orang.

Masih Yan-chiu tak merasa akan perobahan posisi itu, maka masih juga ia enak2an mengancam.

"Mengapa kalian tak lekas2 tinggalkan tempat ini? Menilik sesama kaum persilatan, janganlah hendaknya sampai meretakkan perhubungan..........."

Belum sampai ia menyelesaikan kata2nya itu atau Hwat Siau yang sudah jelas akan sandiwara itu, segera berkisar maju dan mengirim hantaman.

GAMBAR 81 dan baru Yan Chiu hendak meneruskan sandiwaranya atau mendadak Hwat Siau sudah menubruk maju terus melontarkan serangan ganas Terik panas membara laksana hawa ditengah muaim kemarau, adalah perasaan Yan-chiu kala dia menerima hantaman itu.

Memang ilmu lwekang yang diyakinkan Hwat Siau itu adalah lwekang yan-hwat (api positip).

Lwekang itu dapat menyalurkan hawa sepanas api.

Ilmu itu adalah warisan dari seorang persilatan aneh dari jaman Song, bernama Hwat Bu-hay (api tak mempan) yang tinggal dipulau Bu-ti-to dilaut Pak-hay.

Lwekang yang di yakinkan itu berlawanan sifatnya dengan yang difahamkan oleh Swat Moay.

Apabila menghadapi musuh tangguh, selalu kedua suami isteri itu bahu membahu Saking tak tahannya dibakar lwekang itu, Yan-chiu loncat mundur.

Hwat Siau murka karena dipermainkan tadi.

Kini dengan beringas, dia loncat menerkam tangan sinona.

Karena tak dapat mundur lagi, Yan-chiu menghindar kesamping.

Tapi diaini ia segera rasakan hawa dingin merangsang tubuhnya, hingga sampai menggigil gemetar.

Dalam sibuknya, segera ia loncat keatas untuk menggelantung, kemudian loncat kebawah lagi.

Dengan jalan begitu, barulah ia dapat terlolos dari hantaman maut.

Dalam pada itu iapun segera siap untuk melemparkan dinamit itu.

Tapi saat itu Hwat Siau dan Swat Moay sudah maju berbareng hingga ia, tak mempunyai kesempatan sama sekali.

Hanya pada lain kejab saja, atau Yan-chiu segera rasakan lengannya seperti terjepit besi, sakitnya bukan olah2.

"Aii........."

Mulutnya melengking keluh, dan dinamit yang dipegang itupun jatuh ketanah, dan cepat2 dipungut oleh swat Moay.

"Koanjin, putusan sumbunya, masih dapat disambung. Kau jaga dia, biar aku yang memasangnya lagi!"

Seru Swat Moay.

Hwat Siau mengiakan dan lalu menepuk bahu Yan-chiu siapa terus saja mendeprok ketanah tak dapat berkutik.

Tapi dalam keadaan itu, masih jelas ia, melihat kedua suami isteri itu sibuk memasang dinamit dan menyambung kabelnya lalu menyulutnya.

Suara sumbu menyala men-desis2 dan mereka lalu mundur, terus lenyap dari situ.

Penderitaan Yan-chiu kala itu sukar dilukiskan.

Matanya melihat bahaya, namun badan tak berdaya.

Seingatnya saejak sebesar itu, baru pertama kali itu ia, mengalami siksaan yang sedemikian hebatnya.

Sis...., sis......, sis....., demikianlah sumbu itu terus merayap.

---oodwkz0tahoo---Baik kita tinggalkan dulu Yan-chiu yang tengah menantikan maut itu dan mari kita tengok kembali keruangan pertempuran sana.

Seperti diketahui kala Tio Jiang rubuh dengan mulut berbuih busa, sekalian orang gagah sama menuduh bahwa arak yang dihidangkan orang Ang Hun Kiong itu tentu ditaruhi racun.

Saat itu suasana hiruk pikuk bukan buatan.

"Manusia yang tak tahu malu, mengagungkan diri sebagal datuk cabang persilatan, tapi tak tahunya sedemikian licik dan keji perbuatannya, menaruh racun dalam arak. Sungguh biadab!"

Sekalian orang2 gagah dalam rombongan Ceng Bo ber-teriak2 dengan marah.

GAMBAR 82 Heran sekali Ceng Bo Siangjin ketika mendadak melihat Tio Jiang menggeletak dengan mulut mengeluarkan busa dan kemudian telah sadar sendiri, ia menjadi ragu2 apakah sang murid itu mempunyai penyakit ayan ?

Ang Hwat marah besar, tapi ketika melirik kearah Tio Jiang dilihatnya memang pemuda itu dalam keadaan pingsan tak ingat dan mulutnya mengeluarkan busa.

Diapun terperanjat, dan karena sedikit meleng itu, hampir2 ia kena digenjot Kang Siang Yan, cepat ia pusatkan perhatiannya kembali menghadapi lawannya itu.

Dalam pada itu, karena sama mengira sudah keracunan, beberapa orang diantaranya yang aseran terus ikut mengerubut kearah Ang Hwat Cinjin dan The Go.

Melihat gelagat jelek, lekas2 The Go keluarkan Ceng-ong-sin dan diabat-abitkan, hingga para pengeroyok itu terpaksa mundur.

"Berhenti semua!"

Se-konyong2 Ang Hwat Cinjin membentak sambil melompat mundur.

Karena suara gertakan keras itu, semua orang menjadi terpengaruh dan berhenti bertempur.

Begitu pula Hang Siang Yan ikut tertegun.

Dan selagi Ang Hwat Cinjin hendak menyangkal tak menaruh racun didalam arak, tiba2 terdengar seorang berkata dengan dingin.

"Bocah itu tentu terkena racun obat 'Sip-jit-tui-hun-tan' milik kepala suku Biau, Kiat-bong-to, tiada sangkut-pautnya dengan siapapun."

Waktu semua orang berpaling, kiranya yang bicara adalah satu diantara 18 jago dimeja sana, yang berperawakan liecil, orang kenal dia bernama Can Bik San, berjuluk "Ngo-tok-lian-cu-piau"

Atau piau berantai panca bisa, yaitu karena lima macam racun yang dibuat merendam senjata rahasianya, saking jahat racun yang dipakainya itu, asal lecet saja sasarannya, pasti jiwa akan melayang.

Sebab itu, nama Can Bik San dengan cepat terkenal.

Tapi karena kelakuannya yang tidak pandang kawan atau lawan, maka ia terdesak dikediamannya dan terpaksa menggabungkan diri pada pemerintah Ceng.

Kini melihat suasana kacau-balau, boleh jadi akan merusak rencananya, maka cepat ia bersuara untuk menghilangkan curiga semua orang.

Ketika semua orang memandang Tio Jiang, pemuda itu ternyata sudah baikan, busanya sudah sedikit, wajahnya mulai memerah.

Dengan menahan sakit dilengannya, Ceng Bo Siangjin mendekati muridnya itu dan memeriksa pernapasannya, tapi urat nadi Tio Jiang berjalan biasa, tampaknya bukan terkena racun.

Karuan Ceng Bo sangat heran, kalau pemuda ini tidak keracunan, lalu kenapa mendadak roboh dengan mulut berbusa?

Jangan2 punya penyakit ayan!

Selagi Ceng Bo ragu2, terdengar Tio Jiang sudah bisa bersuara seperti orang baru bangun tidur.

Ceng Bo pikir dalam keadaan demikian, kalau pertarungan dilakukan secara kerubutan, tentu takkan menguntungkan pihaknya, apalagi pihak musuh masih ada dua jago yang belum turun kalangan.

Maka serunya.

"Harap semua orang kembali tempat duduknya masing2!"

Tapi baru selesai perkataannya, mendadak-terdengar suara jeritan ngeri.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 44 .

ANJING GILA Kiranya ketika mendengar bentakan keras dari Ang Hwat Cinjin tadi, Kang Siang Yan agak tertegun.

Tapi ternyata Ang Hwat tak menyerang, maka Kang Siang Yan buru2 menghampiri Bek Lian.

Tapi pada saat itu keadaan Bek Lian sudah keliwat payah.

Keguncangan yang, dideritanya adalah sedemikian hebat, hingga kandungannya turut bergerak keras.

Sekali mulut menguap, segumpal darah segar muntah keluar dan limbunglah ia antara sadar tak sadar..........

Masih ia dapat mengenali wajah ibunya, tapi karena tenaganya sudah habis, sepasang bibirnya yang pucat seperti tak berdarah itu ber-gerak2, namun tak dapat mengeluarkan sepatah katapun jua!

Melihat puteri biji matanya mengalami penderitaan yang sedemikian sengsaranya, kemurkaan Kang Siang Yan meluap.

Ia deliki mata kearah The Go, dimana saat itu justeru sedang memandang kearah Bek Lian dan Kang Siang Yan.

Pancaran mata Kang Siang Yan ternyata sedemikian ber-api2, hingga jantung The Go serasa berdebar keras.

"Bangsat, tak nanti kau terlepas dari tanganku!"

Pikir Kang Siang Yan.

la anggap jiwa Bek.

Lian lebih utama dahulu, maka segera ia salurkan lwekang untuk menjalankan perdarahan tubuh Bek Lian.

Lewat beberapa jurus kemudian, barulah Bek Lian kedengaran menangis.

"Sudah, nak, jangan menangis. Biar ibumu yang membalaskan!"

Hibur Kang Siang Yan dengan rawan.

Mendengar itu The Go takut setengah mati.

Kalau Kang Siang Yan sampai turun tangan, habislah riwayatnya.

Dari segala macam siasat membela diri, angkat kaki adalah yang paling selamat.

Sebat sekali dia lalu hendak ngacir, tapi ternyata Kang Siang Yan lebih sebat darinya.

Hanya tampak tubuhnya berguncang sedikit, atau tahu2 wanita gagah itu sudah berada disampingnya dan terus ulurkan tangannya hendak mencengkeram.

Cian-bin Long-kun The Go coba hendak menangkis dengan ular ceng-ong-sin, tapi cukup dengan dua buah jari saja Kang Siang Yan telah dapat menjepit erat2 angsang ular itu, hingga tak dapat berkutik lagi.

Malah berbareng itu, lima buah jari tangan kirinya mencengkeram bahu The Go, menekan bagian tulang pi-peh-kun.

Maka seketika itu The Go rasakan kesakitan hebat dan mengeranglah dia dengan jeritan seram.

"Hem, kukira kau seorang jantan, berani berbuat berani tanggung resiko, tak tahunya hanya bangsa 'kantong nasi', belum mati sudah men-jerit2 ketakutan!"

Kang Siang Yan menyeringai.

Wajah The Go berobah pucat lesi, butiran keringat sebesar kacang hijau ber-ketesa turun dari dahinya.

Mukanya seperti orang dicekik setan tampaknya.

Kang Siang Yan sentuhkan lengannya ketangan The Go dan kelima jari sianak muda yang mencekali ular itu segera kendor.

Tahu2 ceng-ong-sin sudah pindah ketangan Kang Siang Yan.

Karena angsangnya dipijat, ular itu tak dapat berkutik, hanya lidahnya saja yang menjulur surut.

Demi dirangsang oleh kebenciannya terhadap "mantu"nya yang manis itu, Kang Siang Yan acungkan ular ceng-ong-sin kemuka The Go.

Bau amis segera menyampok hidung The Go ketika lidah ceng-ong-sin itu terpisah hanya setengah dim dari kulit mukanya.

Hilang semangat The Go dibuatnya dan serentak merintih dia dengan ter-iba2.

"Gakbo, ampun! Siausay mengaku salah!"

GAMBAR 83

"Ampun, Gakbo (ibu mertua) ."

Teriak The Go ketika kena dicengkeram Kang Siang Yan. Terjentik sanubari Kang Siang Yan mendengar rintihan sang "menantu"

Itu.

Puterinya sudah terlanjur memilihnya dan sudah pula mengandung, kalau dia dibunuh, berarti juga Bek Lian nanti akan menjadi janda sebelum kawin.

Suatu hal yang memalukan sekali.

Tanpa terasa tangan wanita gagah itu disurutkan kebelakang untuk menarik ular ceng-ong-ain.

"Hong-moay, jangan kena diakali bangsat itu! Dia tak boleh diberi hidup lagi!"

Kedengaran Ceng Bo siangjin berseru demi dilihatnya sang isteri hendak membatalkan rencana.

Juga Thaysan-sim-tho Ih Liok berteriak keras2 untuk menganjuri, hingga membuat Kang Siang Yan menjadi serba salah.

Dilain fihak, Ang Hwat cinjin gelisah sekali.

Dia sangat sayang anak muda itu melebihi dari semua murid2nya.

Namun hendak dia menolong, berarti akan mempercepat kematian The Go, karena terang nanti Kang Siang Yan tentu akan turun tangan lebih lekas.

Jadi keadaan cinjin itupun seperti 'sibisu makan getah' atau menderita tapi tak dapat menyatakan.

Maka sekalipun dia seorang jago lihay, namun tak dapat berbuat apa2 untuk menolong muridnya.

Tiba terkilas dalam pikirannya sebuah siasat.

Digenggamnya dua buah thi-lian-cu (senjata rahasia berbentuk biji terate) dan wut...., wut.......

melayanglah dua buah thi-lian-cu, satu kearah kepala ular ceng-ong-sin dan satu kelengan Kang Siang Yan!

Tokoh macam Ang Hwat sebenarnya tak perlu menggunakan senjata rahasia lagi.

Tapi karena keadaan memaksa, terpaksa dia gunakan thi-lian-cu, suatu senjata rahasia yang dikuasainya sejak dia masih muda.

Dan kuatir kalau dua buah thi-lian-cu tadi akan gagal, dia merogoh kedalam saku dan menyusuli lagi dengan ber-puluh2 buah.

Tak kurang dari 30-an buah thi-lian-cu menabur kearah Kang Siang Yan, laksana hujan tercurah dari langit, suaranya meng-aum2 memecah angkasa.

Jaraknya dengan Kang Siang Yan hanya terpisah setombak lebih, jadi persentasinya tentu mengenai.

Kang Siang Yan sedikitpun tak sayang akan ular ceng-ong-sin, tapi ia tak sudi lengannya sampai terkena senjata rahasia yang lihay itu.

Ia cukup sadar thi-lian-cu merupakan suatu senjata rahasia yang berbahaya, sekalipun orang memiliki ilmu thiat-po-san (tak mempan senjata) namun sukarlah rasanya untuk menahan serangan senjata tersebut yang dilepas oleh seorang tokoh macam Ang Hwat cinjin.

Namun kalau hendak menghindar berarti memberi kesempatan The Go lari, suatu hal yang tak dikehendaki Kang Siang Yan.

Tiba2 dalam keadaan yang serba sulit itu, terdengarlah suara bergemerincing.

Ah, kiranya Kui-ing-cu telah bertindak dengan sebat.

Tokoh aneh itu tahu bahwa Ang Hwat hendak membinasakan ceng-ong-sin agar The Go terhindar dari pagutan maut.

Tahu juga dia bahwa Kang Siang Yan tak ambil mumet dengan ular sakti yang diperoleh susah payah oleh oleh Sik Lo-sam, maka cepat dia ambil sebuah sendok perak yang sekali dipijat menjadi patah macam sebuah senjata rahasia, lalu ditimpukkan.

Oleh karena dia lebih dekat dengan Kang Siang Yan, maka sekalipun tak dapat membikin jatuh tapi se-kurang2nya dapatlah kepingan sendok itu membuat thi-lian-cu itu miring arah layangnya dan jatuh kesamping!

Kalau tadi Kiang Siang Yan masih ragu2, kini dengan adanya tindakan Ang Hwat itu, ia menjadi beringas.

Sekali mendorong, The Go segera terjerembab kedalam taburan hujan thi-lian-cu.

Ber-puluh2 thi-lian-cu menghujani tubuh pemuda culas itu.

Ceng Bo lega, tapi sebaliknya Bek Lian masih merasa iba melihatnya.

Ting..., ting...., ting...., ber-puluh2 thi-lian-cu telah menghantam tubuh The Go, tapi begitu kena semua senjata rahasia itu pada jatuh ketanah.

Sedikitpun anak muda itu tak kena apa2, malah terus gunakan gerak hong-cu-may-cin, berosot kesamping terus lari sipat kuping!

Kang Siang Yan terlongong karena kekebalan sang "mantu"

Yang manis itu, hingga tak keburu menangkapnya.

Dan ketika ia tersadar hendak mengejar, Ang Hwat telah menyambutnya dengan hantaman yang dahsyat.

Dalam beberapa kejab saja, keduanya telah saling berhantam sampai 10 jurus, kemudian baru saling surut kebelakang.

Ang Hwat tertawa ter-kekeh2.

"Kang Siang Yan, kau juga seorang cianpwe, mengapa memusuhi seorang anak? Kalau pinto tak keburu unjukkan sedikit permainan, namamu tentu tercemar!"

Saking gusarnya Kang Siang Yan buang ceng-ong-sin, serunya.

"Imam tua Ang Hwat, kau ngoceh apa itu? Kalau harini belum kucincang tulang belulang anak itu, jangan harap aku tinggalkan tempat ini!"

Ang Hwat jebirkan bibirnya, menyeringai.

"Kau hendak tinggalkan tempat ini? Hem, rasanya harus memerlukan idinku dahulu!"

Keduanya siap hendak bertempur lagi, rupanya kedua fihak makin lebih ngotot dari tadi.

GAMBAR 84 Meski dibanting kelantai oleh Kang Siang Yan, tapi Ceng-ong-sin bukan sembarangan ular, begitu menyentuh tanah, segera badannya meringkuk sambil menjulurkan kepalanya keatas.

Melihat kesempatan itu, cepat Can Bik San melompat maju hendak menangkapnya, tapi Kui-ing-cu tak mau ketinggalan, segera iapun melayang maju terus menghantam.

Dilempar oleh orang macam Kang Siang Yan, apapun tentu hancur.

Tapi ceng-ong-sin bukan ular sembarang ular.

Binatang itu merupakan suatu benda ajaib yang jarang terdapat didunia.

Begitu jatuh ditanah terus melingkar dan angkat kepalanya sembari menjulur2kan lidahnya, siap menyerang orang yang hendak mengganggunya.

Melihat kesempatan sebagus itu, Ngo-tok-lian-cu-piau Can Biksan segera tampil hendak menangkap.

Tapi Kui-ing-cu dengan sebatnya segera apungkan tubuhnya keatas.

Belum orangnya tiba ditanah, pukulannya sudah menderu datang.

Can Bik-san merasa ada suatu tenaga dahsyat menekannya.

Hendak dia menghindar tapi sudah tak keburu.

Tiga batang piauw kecil yang bergemerlapan cepat dia timpukkan kelawan.

Orang she Can itu biasa saja ilmunya silat.

Kepandaian yang diandalkan, hanyalah ilmunya menyabit piau dengan kedua tangannya maju berbareng.

Piaunya itu berbentuk bulat panjang, mempunyai tiga buah ujung yang sangat tajam.

Tapi karena puncak ujungnya itu semuanya bundar, jadi sewaktu melayang tak menerbitkan suara apa2.

Perhatian Kui-ing-cu dicurahkan untuk, mencegah orang merampas ceng-ong-sin, maka sedikitpun dia tak mengira kalau orang she Can itu sedemikian ganasnya.

Dalam gugupnya dia segera gunakan tenaga dalam untuk menghindar kesamping, tapi hasilnya ternyata runyam.

Sebagaimana telah diketahui, karena menolong Sik Lo-sam yang terkena hantaman Kang Siang Yan tempo hari, dia telah kekurangan lwekang dan tenaga murni.

Maka bukan kepalang kagetnya demi diketahui bahwa gerakannya kini tak segesit dahulu.

Dua buah piau hanya terpisah beberapa dim disisi tubuhnya, tapi nomor tiga yang terachir tepat sekali menyusup kepahanya.

Seketika dia rasakan bagian anggauta tubuhnya mati-rasa.

Cepat2 dia cabut piau beracun itu, begitu tubuh menurun dia sapukan kaki dan berbareng menangkap ceng-ong-sin.

Menurunkan tubuh, mengaitkan kaki, mencabut piau dan menangkap ular, 4 macam gerakan dia lakukan berbareng sekaligus.

Can Bik-san yang biasa saja ilmunya silat, mana dapat bertahan diri atas kemarahan Kui-ing-cu itu.

Krek......, krek.......

kedua kakinya patah tersapu gerakan Kui-ing-cu.

Syukur kawan2nya lekas maju menolong.

Kedelapan belas orang itu saling memberi isyarat mata.

Yang tujuhbelas segera keluar dari gereja Ang Hun Kiong itu, sementara yang satu lalu memberitahu pada Hwat Siau dan Swat Moay supaya lekas2 bertindak.

Pada saat itu perhatian Ang Hwat tengah dicurahkan untuk menghadapi Kang Siang Yan, jadi dia tak mempunyai keluangan untuk mengurusi orang2nya itu.

Sedang difihak Ceng Bo dan kawan2 sedikitpun tak mengetahui akan adanya suatu rencana yang ganas itu.

Mereka mengira, orang2 itu membawa Can Bik-san keluar untuk diobatinya.

Ada beberapa orang yang mengetahui kedahsyatan piau buatan orang2 suku Thiat-theng-biauw itu segera menganjurkan supaya Kui-ing-cu potong saja bagian daging yang terkena piau itu.

Tapi piau buatan suku Biauw itu sangatlah hebatnya.

Tadipun adanya Tio Jiang tak hujan tak angin sekonyong2 menjadi seperti orang kalap tak sadarkan diri, adalah terkena pengaruh racun dari pil cap-jit-tui-hun-tan (merampas jiwa dalam 10 hari) buatan suku Thiat-thengbiauw, ketika Tio Jiang minum teh yang dihidangkan Kitbong-to digunungnya.

Walaupun dengan gunakan lwekang dia muntahkan lagi teh beracun itu, namun sisa sedikit yang masuk kedalam perut cukup membuatn ya tak sadar, begitu waktunya tiba.

Tapi karena lwekangnya kini maju pesat, maka dapatlah pengaruh obat racun yang hanya sedikit itu, dipunahkan dan diapun segera ingat diri pula.

Sebaliknya racun piau Can Bik-san itu disebut "hong-sinsan" (obat membikin gila).

Walaupun dengan sebat sekali Kui-ing-cu segera mencabutnya, namun racun tersebut sudah keburu masuk kedalam pembuluh darah dan naik keatas.

Amputasi atau pemotongan sebagian anggauta badan, hanya berguna terhadap racun biasa.

Namun racun buatan Kit-bong-to itu lain sifatnya.

Sekalipun andaikata paha Kui-ing-cu itu dipotong semua, akan sia2 jua.

Dan begitu racun merangsang, pikiran Kui-ing-cu sudah limbang, jadi begitu ada orang mengajak bicara, biji matanya membalik, sikapnya beringas.

menakutkan, sehingga kawan2nya sama terkesiap jeri.

Sebaliknya The Go bergendang paha, serunya.

"Ho, orang itu terkena ngo-tok-lian-hoan-piau. Dia bakal seperti anjing gila, mana mau dengar kata2mu ? !"

Ceng Bo terperanjat dan deliki mata, sedang Thaysan sin-tho Ih Liok segera memaki habis2an.

"Mengapa si Cianbin long-kun tetap sehat walafiat? Marilah kami mundur dahulu."

Kiranya Ang Hwat telah memperhitungkan bahwa Kang Siang Yan tentu akan membuat The Go sebagai umpan, maka taburan thi-lian-cu tadi dia gunakan trick (permainan).

Dalam jarak yang sudah diukurnya begitu mengenai tubuh, puluhan thi-lian-cu itu hilang daya kekuatannya dan jatuh berhamburan ketanah.

Sedemikian indah permainan kepala gereja Ang Hun Kiong itu, hingga Kang Slang Yan sampai kena dikelabuhi dan lepaskan The Go.

Bermula The Go sudah paserah nasib, tapi serentak terasa taburan thi-lian-cu itu sudah punah dayanya, tahulah dia maksud sucounya itu.

Dan sebagai orang yang cerdas, dapatlah dia menggunakan kesempatan itu, se-bagus2nya.

Demikianlah rahasia kekebalan The Go.

Sekarang mari kita ikuti keadaan Kui-ing-cu lagi.

Begitu terkena penyakit anjing gila, Kui-ing-cu lupa daratan tak kenal mana lawan maupun kawan.

Sampaipun Kang Siang Yan dan Ang Hwat sama alihkan pandangannya kepada tokoh itu, siapa tampak matanya menjadi merah membara.

"Kui-heng, kau bagaimana?"

Seru Ceng Bo, Ko Thay dan si Bongkok dengan serempak. Namun Kui-ing-cu kembali menggerung keras.

"Ang Hwat cinjin, mengapa sampai seorang buaya darat macam Can Bik-san, kau ajak berserekat?"

Teriak Ceng Bo Siangjin.

Sekalipun Ang Hwat membantu pemerintah Ceng, tapi dia seorang ketua dari sebuah aliran cabang persilatan, jadi se-kurang2nya dia masih memegang kehormatan.

persilatan.

Tahu Kui-ing-cu belum apa2 sudah kena piau beracun, diapun agak kurang enak.

Berpaling kebelakang, didapatinya hanya ada dua orang muridnya saja.

"Tek-san undanglah Ngo-tok-lian-cu-piau Can Bik-san kemari!"

Katanya kepada Ji-mo Long Tek-san, siapa mengiakan dan terus berlalu.

Pada saat Itu, se-konyong2 Kui-ing-cu loncat setombak lebih tingginya.

Diatas udara dia berjumpalitan dan begitu menginjak tanah, kembali dia perdengarkan teriakan aneh sampai dua kali.

Sepasang matanya makin beringas merah.

Oleh karena tahu bagaimana kelihayan tokoh itu, kawan2nya tak berani menghampiri, malah sama menyingkir.

Juga Ceng Bo cemas akan perobahan sahabatnya itu.

Oleh karena Can Bik-san belum muncul maka Ceng Bo segera perintah kawan2n ya menyingkir saja.

Begitulah ketika dia memberi aba2, kawan2nya sama bubar dan tinggalkan ruangan itu.

Pun seorang tokoh2 macam Ang Hwat dan Kang Siang Yan tak urung cemas juga.

Kang Siang Yan segera menggendong Bek Lian sedang Ang Hwat pun lalu menarik tangan The Go untuk diajak berlalu.

Menurut anggapan orang banyak, hanya Tio Jiang seorang yang paling akrab sekali hubungannya dengan Kui-ing-cu.

Tapi keadaan anak itu baru saja sembuh terkena racun, jadi kasihan kalau sampai kena apa2.

Dalam pada itu, Kui-ing-cu makin men-jadi2 keadaannya.

Sepasang matanya ber-api2 dan se-konyong2 dia pentang kedua lengannya.

Lengan kanan masih tetap mencekali ceng-ong-sin, sedang tangannya kiri menghantam dua kali pada sebuah tiang sepemeluk lengan besarnya, Tiang besar itu rompal bertebaran ke-mana2.

Kui-ing-cu rupanya masih penasaran dan digeragotinyalah tiang itu.

"Kui locianpwe, kau ini kena apa?"

Tio Jiang yang merasa kasihan segera bertanya.

Kui-ing-cu angkat kepalanya dan deliki mata pada Tio Jiang sembari tertawa meringkik, sehingga Tio Jiang berdiri bulu romanya.

Kui-ing-cu undur selangkah.

Kembali dia tertawa meringkik dan tiba2.....

bang....., bang....., bang....., tahu2 tiang itu didorongnya rubuh sehingga ujung rumah itu ambruk sebagian.

Orang2 yang sama menyingkir disebelah luar ruangan itu, makin cemas.

"Coba tengok lagi, mengapa sdr. Can itu belum kemari!"

Ang Hwat banting2 kakinya seraya menyuruh Im Thian-kui, siapa lalu pergi dengan lekas.

Sementara itu Ceng Bo yang terus menerus mengikuti keadaan Kui-ing-cu, dapatkan bahwa tokoh itu kini melekatkan pandangannya kepada Tio Jiang.

"Jiang-ji, kembalilah lekas, jangan cari bahaya!"

Serunya memanggil sang murid.

Tapi sudah terlambat.

Membarengi seruan Ceng Bo, Kui-ing-cu yang sudah lupa orang itu segera menghantam dada sianak muda.

Tio Jiang tak berani menangkis, maka cepat dia menghindar saja.

Tapi walaupun gila, ternyata kepandaian Kuiing-cu masih utuh.

Secepat kilat diaa berputar, terus mencengkeram dada Tio Jiang.

Dalam gugupnya Tio Jiang surutkan dadanya kebelakang.

Benar badannya terhindar, tapi bajunya kena tersambar robek.

Robekan baju itu digigit2 Kui-ing-cu, dikunyah lalu dimakannya dengan lahap.

Tio Jiang kucurkan keringat dingin.

Kalau tadi dia sampai kena tercengkeram, mungkin dia akan mengalami nasib serupa seperti bajunya itu.

Saking getar perasaannya, cepat2 dia loncat dua tiga tombak keluar.

Tapi Kui-ing-cu sudah terlanjur mengawasinya.

Melihat orang bergerak, diapun segera membayangi, sehingga kini mereka saling kejar2an.

Selagi mengejar itu, Kui-ing-cu kerjakan kaki tangannya.

Tiang, meja, kursi, ya pendekn ya 10-an meja perjamuan berikut semua kursinya, telah sungsang sumbal habis diamuknya.

Sebenarnya Tio Jiang kalah cepat larinya dengan Kui-ing-cu, tapi karena Kui-ing-cu menghajar meja kursi, jadi sampai sekian lama dapatlah dia terhindar.

Sebuah meja dari kayu mahoni yang keras dan kokoh, sekali hantam dapat dipecah menjadi dua belah oleh Kui-ing-cu.

Sudah tentu hati Tio Jiang kebat kebit dibuatnya.

Puncak kecemasannya memuncak, ketika Kui-ing-cu lepaskan kepala ceng-ong-sin, hingga ular itu kini me-lingkar2.

Tapi rupanya Kui-ing-cu tak menghiraukan.

Tio Jiang makin gelisah, tapi pada saat itu Yan-chiu yang telah ditutuk jalan darahnya dalam jalanan rahasia dibawah tanah, lebih2 cemas lagi perasaannya.

Kiranya begitu ketujuh belas orang2 pemerintah Ceng itu mengundurkan diri mereka lalu melapor pada sepasang suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay.

Kedua orang ini segera turun masuk diterowongan bawah tanah untuk menyulut sumbu bahan peledak (dinamit).

Karena kena tertutuk jalan darahnya, Yan-chiu tak dapat menghalangi.

Pada saat Ceng Bo perintahkan kawan2nya keluar dari ruangan itu, sumbu obat peledak tengah disulut Hwat Siau.

Benar tak berdaya, tapi pikiran Yan-chiu masih terang dan dapat membayangkan bagaimana ngerinya nanti apabila dinamit itu meledak.

Hatinya berdoa agar sumbu itu pelahan saja nyalanya, namun matanya melihat jelas bagaimana api sumbu itu menjalar dengan cepat makin lama makin dekat.

Saking diterkam, ketakutan, ia sudah layap2 antara sadar tak sadar.

Tiba2 ia mendengar suara "bang.............."

Yang keras sekali, sehingga ia tersentak kaget.

Suara atap dan tiang gempar menggelegar, malah ada beberapa pecahan genting yang jatuh menimpa badannya, sehingga buru2 ia menutup mata menanti ajal.

Tapi heran, setelah tebaran debu dan pecahan atap itu sirap, suasananya masih tetap hening saja.

la rasakan dirinyapun tiada kurang suatu.

apa.

Lekas2 ia membuka mata dan hai, kiranya sisa sumbu itu masih antara 4 meter panjangnya.

Sudah tentu ia tak mengetahui bahwa suara gelegar yang gempar itu berasal dari tiang yang dihantam rubuh oleh Kui-ing-cu tadi.

Guncangan itu membikin sumbu ikut terpental, kini kira2 dua meter saja dari tempatnya.

Sumbu itu tetap menyala dengan cepatnya, sesenti demi sesenti terus menjalar hingga kini hanya tinggal 2 meter.

Pada lain saat, tinggal 11/2 meter, satu meter, setengah meter.........

duk, duk, duk, demikian jantung Yan-chiu berdetak keras.

Suatu siksaan urat syaraf hebat yang belum pernah dialaminya selama ini!

Tiba2 terdengar derap kaki orang mendatangi.

Dua sosok tubuh kecil ber-lari2an masuk, terus menghampiri Yan-chiu.

Yang satu mengangkat kepala dan yang satu menggotong kaki, kedua anak itu membawa Yan-chiu menyusur terowongan.

Yan-chiu cepat mengenali mereka sebagai Kwan Hong dan Wan Gwat, itu kedua to-thong (murid imam) dart Ang Hun Kiong.

Sudah tentu girangnya bukan kepalang.

Sewaktu masih sempat mengerlingkan mata, dilihatnya sumbu itu sudah menyala sampai dipangkal penghabisan.

Asap ber-kepul2 mengiring suara desisan.

Kiranya kedua to-thong itu membawa Yan-chiu kemulut jalanan keluar dari terowongan itu.

Dalam kegirangannya, Yan-chiu diam2 sesali kebodohan kedua anak itu.

Bukantah tak perlu jerih payah menggotong dan cukup menginjak saja toh sumbu itu tentu padam.

Sayang ia tak dapat berkutik dan berbicara.

Adalah ketika sudah berhasil dibawa keluar dart terowongan rahasia itu, barulah kedengaran suara ledakan yang maha dahsyat.

Kedahsyatannya melebihi letusan meriam tentara Ceng tempo hari.

Sampaipun Yan-chiu yang berbaring ditanah pada jarak yang cukup jauh, ikut merasa berguncang keras.

Sirapnya ledakan dahsyat itu diausul dengan gulungan asap yang memenuhi udara, kemudian gelegaran atap dan dinding beserta alat2 perabotnya, muncrat hancur beterbangan keempat penjuru.

Saking takutnya, Kuan Hong dan Wan Gwat sampai pucat lesi serta ter-longong2 sampai sekian lama.

"Oh, sedikit saja kami terlambat datang, cici ini tentu takkan ketolongan,"

Akhirnya setelah suasana hening lagi, Kuan Hong baru kedengaran buka suara.

"Sekarang kita hendak kemana nih ? Rasanya nasib kami tergantung pada cici!"

Sahut Wan Gwat.

Disamping berterima kasih pada kedua anak itu, hati Yan-chiu terasa sunyi rawan sekali.

Bukantah satu2nya orang yang dikasihi (Tio Jiang) ikut binasa bersama seluruh rombongannya?

Ditempat sebesar gereja Ang Hun Kiong itu, hanya tinggal dirinya bertiga yang masih hidup.

Adakah hidup itu mash berarti baginya lagi?

Air mata bercucuran mengalir pada kedua belah pipinya ...............

Melihat keadaan Yan-chiu yang sedemikian itu, kedua tothong itu segera menutuki tubuh Yan-chiu, pikirnya coba2 hendak membuka jalan darahnya yang tertutuk itu.

Sebagai anak murid seorang akhli tutuk, kedua anak itupun sedikit2 mengerti juga ilmu tutuk.

Tapi habis sekujur badan Yan-chiu ditutukinya, tetap mereka tak mengerti macam ilmu apa yang digunakan untuk menutuk Yan-chiu itu.

Kiranya sepasang suami isteri Hwat Siau -Swat Moay itu memiliki suatu ilmu tutukan yang luar biasa.

Bukan saja tutukan itu menggunakan tenaga dalam yang dapat menembus urat2 dibawah tulang pun selain 36 urat nadi besar dan 72 urat kecil, masih memahami pula 13 buah jalan darah yang sukar dan aneh letaknya.

Segala macam ilmu tutukan Iainnya, tak dapat menolong.

Sekalipun Ang Hwat sendiri yang datang, rasanya tak mudah untuk memberi pertolongan cepat2, apalagi kedua anak itu.

Urat Yan-chiu yang terkena tutukan itu yalah yang disebut urat goh-si-hiat.

Letaknya ditengah sela2 tulang pundak.

Sekali Hwat Siau menyentuh bahu Yan-chiu, maka mengalirlah lwekangnya untuk menutup jalan darah yang sukar letaknya itu.

Jadi taruh kata orang mengerti adanya ke 13 buah jalan darah istimewa itu, kalau Iwekangnya kurang sempurna juga percuma sajalah.

Itu saja tadi karena buru2 hendak menyulut sumbu, Hwat Siau hanya menekan pe-lahan2, coba tidak siang2 Yan-chiu pasti sudah melayang jiwanya dengan seketika.

Dan karena kurang keras tekanannya itu, maka secara kebetulan, saja dapatlah Kwan Hong dan Wan Gwat menutuk lepas jalan darah pembisu, hingga seketika berkaoklah Yan-chiu "ah.......", serunya dengan lega, karena kini ia sudah dapat bicara lagi sekalipun kaki tangannya masih belum dapat bergerak.

"Cici, bagaimana kami berdua ini?"

Kedua anak itu buru2 membungkuk kebawah dan bertanya.

Sebenarnya Yan-chiu kepingin menangis untuk melonggarkan kesesakan hatinya, karena ia sendiri tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Tapi demi melihat wajah kedua anak yang mohon perlindungan itu, seketika timbullah semangatnya pula.

"Lebih dahulu angkutlah aku keruangan yang hancur itu!"

Sahut Yan-chiu.

Perintah mana, segera dikerjakan dengan segera.

Tapi baru masuk beberapa tindak diterowongan itu tadi, ternyata hampir seluruh lorong disitu terhalang oleh puing atap dan lantai.

Syukurlah kedua anak itu mengerti ilmu silat, jadi walaupun dengan susah payah achirnya berhasillah mereka menyusuri lorong terowongan yang berliku2 itu dan kini tiba disebuah jalan lurus datar.

Keadaan tempat itu hancur tak keruan, kutungan kayu bekas kaki meja dan kursi berserakan disana sini.

"Cici, ini ruangan pertempuran tadi!"

Kata kedua anak itu.

Yan-chiu mengawasi keseluruh ruang situ, tapi untuk keheranannya tiada terdapat barang sesosok mayat pun juga.

Yang tampak, kecuali puing dan kutungan kayu, ada lagi sebuah lubang besar pada lantai.

Hati Yan-chiu seperti disayat melihat pemandangan yang merawankan itu.

Dalam anggapannya, dinamit itu maha dahayatnya, sehingga mayat2 orang2 yang berada diruangan pertempuran itu sama hancur sirna menjadi abu semua.

"Adakah kalian tahu akan jalan, singkat turun kegunung. Kita harus lekas2 turun dan atur rencana membalas dendam sedalam lautan ini!"

Tanya Yan-chiu pada lain saat setelah ia teringat kemungkinan kedua benggol kaki tangan pemerintah Ceng itu melakukan pengejaran.

"Ya, ada. Baik kita ambil jalan itu saja!"

Sahut Kuan Hong dan Wan Gwat.

Mereka lalu memanggul Yan-chiu terus keluar dari pintu belakang gereja itu.

Pagar tembok gereja Ang Hun Kiong itu masih utuh lierdiri dengan kokohnya.

Bentuk pemandangan gereja itu memang indah sekali.

Tapi ah......, hanya beberapa hari saja gereja itu telah meminta korban puluhan jiwa kaum gagah persilatan.

Malah suhu dan suhengnya sudah binasa.

Memikir sampai disini kembali Yan-t yhiu berduka sekali.

Jalan singkat itu ternyata naik turun tak rata, hingga dengan susah payah kedua to-thong itu memanggul Yan-chiu.

Tiba dikaki gunung mataharipun sudah terbenam.

Kedua anak gereja itu segera lepas pakaian imam dan berganti dengan pakaian biasa.

Menjelang tengah malam, lagi2 mereka harus memutari sebuah gunung, hingga saking lelahnya napas kedua anak itu memburu keras.

Rasanya untuk keluar dari gunung Ko-to-san dan mencari penginapan dikota, sukarlah.

Yang nyata saja samar2 dari kejauhan sana ada sebidang tanah pekuburan yang luas.

"Ayuh, kita beristirahat dikuburan sana! Ah, kalau aku dapat bergerak tentu tak sampai membuat kalian begini lelahnya!"

Kata Yan-chiu.

"Ai, janganlah cici mengatakan begitu. Kalau cici tak menolong kami, siang2 kami tentu sudah mati!"

Sahut Kwan Hong dan Wan Gwat sambil mengusap keringatnya.

Tiba dipekuburan luas itu, tampak ada sebuah kuburan besar yang dikelilingi dengan puhun jati tua yang batangnya hampir sepemeluk lengan besarnya.

Dimuka kuburan itu ada dua buah orang2an batu dan dua kuda batu.

Tulisan pada batu nisan itu sudah tak jelas karena dihapus hujan clan angin berpuluh tahun.

Hanya menilik bentuknya, kuburan itu tentu kepunyaan bangsa pembesar tinggi atau orang hartawan.

Lantai dimuka dan dibelakang kuburan itu sudah sama rusak, penuh ditumbuhi rumput alang2 setinggi orang.

Suasana disitu cukup menyeramkan, lebih2 kalau puhun jati ber-derak2 ditiup angin malam dan burung hantu menyanyi lagu kematian.

Karena masih kanak2, walaupun mengerti ilmu silat namun Kuan Hong dan Wan Gwat tak terlepas dart rasa takut.

Melihat itu Yan-chiu mendampratnya.

"Huh, kalian kan sudah belajar ilmu silat mengapa masih bernyali seperti tikus begitu? Ketika dahulu aku mulai naik Lo-hu-san, usiaku masih lebih kecil dari kalian sekarang ini. Ya, marilah kita berstirahat dahulu disini. Ya, bagaimana kalian mengetahui kalau aku berada didalam terowongan dibawah tanah !tu?"' "Ada seorang engkoh menyuruh kami mencarimu disitu. Karena tak kenal dia, aku tak mengatakan apa2 padanya dan hanya mencarinya sendiri. Begitu masuk kedalam terowongan, kami membaui asap mesiu maka buru2 kami menyelamatkanmu lebih dadulu!"

Sahut Kuan Hong yang rupanya lebih cekat bicara dari Wan Gwat.

"Siapakah orang itu?"

"Alisnya tebal, orangnya baik, dia menyebutmu sumoay!"

Kalau tubuh Yan-chiu dapat bergerak, mungkin saat itu ia tentu akan lompat me-nari2.

"Itulah suko Tio Jiang!"

Serunya kegirangan.

"Kami tak kenal padanya, harap cici jangan sesalkan kami!"

Melihat sikap ke-kanak2an yang wajar dari kedua anak itu, Yan-chiu tak tega mendamprat dan hanya menanyakan dimana mereka menjumpai orang muda itu.

Kuan Hong dan Wan Gwat memberitahukan, bahwa pemuda Itu berada diruang samping sebelah ruangan pertempuran itu.

"Mengapa dia berada disitu, apa dia tak turut berkelahi?"

Yan-chiu menegas dengan keheranan.

"Dia dan seluruh rombongannya semua tak berkelahi, digelanggang pertempuran situ hanya terdapat seorang gila karena terkena racun piau, tengah mengamuk sendirian. Engkoh itu dan orang2 sama menyingkir disana dan kebenaran telah berpapasan dengan kami, lalu menyuruh kami mencarimu!"

Menerangkan Wan Gwat.

"Siapakah yang terkena piau beracun itu dan bagaimana kejadiannya?"

Tanya Yan-chiu.

"Kami sendiri tak begitu jelas. Hanya kami mengetahui sucou memanggil orang she Can, karena ada seorang jago lihay terkena senjata piau. Selebihnya karena kami perlu menolongmu lebih dahulu, maka kami tak mendengar apa2 lagi. Hanya sepatah kata dari sucou yang termakan dalam hati kami yang peringatannya tentang 'obat peledak', dan inilah yang mendorong kami lekas2 mencarimu" (Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 45 . DI CENGKERAMAN IBLIS Yan-chiu meminta keterangan yang lebih jelas lagi, tapi ternyata kedua anak itu tak mengetahui apa2 pula. Hanya satu hal yang mereka tahu pasti, bahwa dalam ruangan pertempuran itu sudah bersih dengan orang2. Yan-chiu menghela napas panjang, ujarnya.

"Sudahlah, kalau capai kalian boleh tidur. Aku sendirti tak dapat tidur!"

"Aaauh......... kami tak tidur, hendak menjaga cici!"

Kedua anak itu menguap lebih dahulu sebelum berkata.

"Tolol, mengapa tak tidur? Apakah kita tak dapat naik keatas pohon?"

Seru Kuan Hong kemudian.

Kedua anak itu segera memanjat sebatang pohon siong dan mempersiapkan tempat pembaringan pada salah satu dahannya.

Kemudian mereka menaikkan Yan-chiu.

Tempat itu ditutupinya dengan daun2, lalu mereka sendiri juga berbaring.

Oleh karena capai dan kantuk, mereka bertiga terus hendak tidur.

Tapi tiba2 terdengar suara seseorang memaki.

"Keparat, siang2 aku sudah tahu kalau orang she Can itu bukan barang baik. Lihat gerak geriknya, 'ekor ayam' (dinamit) itu tentu akan rusak ditangannya! Kalau para saudara ini tidak dibekali kaki panjang oleh orang tua, tentu siang2 akan ikut serta dengan kawanan anjing itu menghadap Giam-ong!"

Nada suaranya berlogat utara, kasar dan memakai bahasa daerah.

"Lo Lou, jangan kau menggerutu panjang pendek begitu, ya? Kukira dalam urusan itu tentu terselip sesuatu rahasia, jadi tidak se-mata2 karena urusan itu saja!"

Sahut yang seorang. Sikasar tadi tertawa dingin, serunya.

"Kau adalah gudang pikiran lautan akal, sedang aku adalah seorang telur tolol. Segala macam akal ini itu aku tak dapat mengerti!"

Hening beberapa jurus, lalu kedengaran lagi suara orang berkata.

"Lo Lou, kau jangan memotong ucapan orang dulu. Aku yang tanya kau yang menjawab, mau tidak?"

"Baik, tanyalah!"

"Lo Lou, sebelum menakluk pada pemerintah Ceng, kita adalah persaudaraan sehidup semati. Kalau ada apa2, sisute tentu akan membantumu, kau percaya tidak ?"

"Sudah tentu percaya!"

"Sekalipun dunia persilatan memberi julukan pada siaote sebagai Siau-bin-hou (si Rase bermuka tertawa), tapi hanya terhadap orang lain. Kau harus mempercayai kata2ku ini, itulah yang terutama!"

Yan-chiu sepertinya sudah pernah kenal akan suara sikasar yang dipanggil Lo Lou atau Lou situa itu.

Kalau tak salah dialah orang yang menghadang ketika ia bersama Tio Jiang pergi jalan2 hendak menyelidiki keadaan dalam Ang Hun Kiong tempo hari.

Ah, sayang kini badannya belum dapat bergerak, jadi tak dapatlah ia menengok orang itu.

Kalau benar dianya, orang itu tentulah adalah dua dari 18 jago pemerintah Ceng yang dikirim kegereja Ang Hun Kiong untuk membasmi para orang gagah itu.

Tapi mengapa begini malam mereka berada ditempat situ?

Sebelum Yan-chiu dapat memecahkan pertanyaannya itu, kedengaran si Siau-bin-hou berkata pula.

"Lo Lou, kedua orang Itu aneh bentuknya, manusia bukan iblispun tidak. Tentang ilmu kepandaiannya, entahlah. Tapi yang terang saja sedangnya kita berdua belum pernah bertemu muka dengannya, dia sudah tak mempercayai kita. Nah, sudah jelas kau sekarang?"

"Hem, jadi mereka berani berbuat begitu?"

Sikasar Lo Lou menegas.

"Huh, bukan saja mereka hendak mengangkangi pahala, pun berniat hendak mengambil sendiri kim-jong-giok-toh !"

Siau-bin-hou menambahi minyak kedalam api. Dan benar juga terdengarlah suara hantaman yang dahsyat dan menyusul ada sebatang pohon tumbang bergemuruh.

"Cici, sikasar itu sungguh bertenaga besar. Sekali hantam dia dapat merobohkan sebatang pohon sebesar mulut piring!"

Bisik Kuan Hong.

Tapi cepat2 Yan-chiu melarangnya mengeluarkan suara.

Pernah Yan-chiu mendengar mulut Hwat Siau mengatakan 'kim-jong-giok-toh' atau usus emas perut kumala.

Kini tanpa sengaja mendengar Siau-bin-hou mengucapkan kata2 itu juga, teranglah dia itu komplotan yang tergabung dalam 18 jago pemerintah Ceng.

Si Lo Lou itu mungkin adalah yang bernama Swe-pay-lat-au Lou Ting.

Hantamannya tadi adalah ilmu warisan keturunan keluarga Lou yang disebut toa-swe-pay-chiu.

Sedang si Siau-bin-hou itu tentulah si Kui-ce-to-toan (setan licin kaya muslihat) Song Hu-liau.

GAMBAR 85 Diam2 Yan-chiu dan kedua imam kecil itu mendengarkan pembicaraan kedua orang dibawah pohon itu.

"Kedua yau-kuay (siluman) itu bernyali besar sekali. Terus terang saja, kali ini turun kedaerah selatan kalau tidak diperingatkan oleh pemerintah, tiada orang yang tunduk kepada kedua manusia itu! Hem....., ketika nama kita berdua saudara ini menggetarkan daerah Kwan-gua, kita tak mendengarkan dulu siapa mereka itu. Untuk melaksanakan urusan ini, mereka masih hijau!"

"Ah, sudah tentu mereka belum cukup bijak!"

Si Siau-bin-hou tertawa menyeringai.

"kalau tiada alasan kuat, diapun tak berani mencari perkara pada kita. Sedari kita turun gunung, entah lewat berapa lama baru terdengar ledakan dahsyat itu ? Dalam pada waktu itu, apa saja yang dikerjakan oleh kedua orang itu? Mengapa setelah ledakan meletus, mereka tak kelihatan turun gunung? Malah sebaliknya Ang Hwat siimam tua itu tampak ber-lari2an turun dan mengamuk siapa yang dijumpainya?"

Mendengar itu Yan-chiu girang sekali. Kalau Ang Hwat cinjin belum binasa, suhu dan rombongannya terang juga tidak.

"Ya...., ya....., benar!"

Kedengaran Lou Ting buka suara lagi.

"Mengapa siimam Ang Hwat mengamuk seperti kerbau gila? Orang kita sudah terluka 7 atau 8 orang, tapi tetap kedua manusia iblis itu belum muncul, melainkan gunakan tanda rahasia menyuruh kita orang melarikan diri saja? Bukantah ini menandakan bahwa mereka hendak meminjam tangan Ang Hwat untuk membasmi kita orang ini, lalu mengangkangi sendirl semua pahala itu?"

Tanya Siau-bin-hou panjang lebar. Tapi baru keduanya sedang bertanya jawab itu, tiba2 terdengar seseorang berseru.

"Saudara Lou dan Song, kalian berada dimana?"

"Huh, sijahanam itu datang!"

Damprat Lou Ting dengan murkanya. Tapi Siau-bin-hou lekas2 mencegahnya, kemudian berseru keras2.

"Kami disini!"

Dari derap kaki yang mendatangi, teranglah bukan melainkan dua orang saja. Sedang yang bertanya tadi tak salah lagi adalah Hwat Siau.

"Selain kami sepasang suami isteri, masih ada 8 saudara lain yang berada disini Ang Hwat cinjin belum binasa, entah bagaimana yang lain2nya. Kalau mereka sampai terhindar dari maut, wah kita tentu turun harga. Bila kembali kekota raja, kemungkinan besar kekuasaan yang diberikan pada kita itu tentu akan dicabut kembali. Kerajaan Lam Beng meskipun tergolong kecil, tapi mereka menguasai kedua wilayah Kwiciu (Kwiesy, Kwitang). Bagaimana kedudukan mereka, kita belum jelas. Sekali keluar kita sudah menderita kerugian besar begini, sungguh sukar dipertanggung jawabkan. Ngo-tok-lian-cu-piau Can-heng sudah dibunuh Ang Hwat cinjin. Sebelumnya kami sepasang suami isteri sudah memesannya supaya ber-hati2, tapi ternyata dia gegabah melukai orang, jadi sudah selayaknya menerima bagian macam itu!"

Kata Hwat Siau dengan nada macam seorang pembesar memberi koreksi.

Ketika ke 18 jago lihay bersama sepasang suami isteri Hwat Siau -Swat Moay hendak menuju kedaerah selatan, mereka telah dipanggil oleh menteri besar raja muda Sip-ceng-ong Tolkun.

Pangeran bangsa Boan yang memegang kekuasaan besar dalam pemerintahan Ceng itu, sejak mengetahui bahaya yang ditimbulkan oleh pembalikan diri dari Li Seng-tong yang.

menyebabkan kembalinya kedaulatan Lam Beng diwilayah Kwiciu, dia buru2 kembali kekota raja dan memanggil sepasang suami isteri Hwat Siau Swat Moay untuk diserahi memimpin ke 18 jagoan.

Tugasnya, mengadakan gerakan subversif di Kwiciu dan kedua kalinya untuk mencari harta karum 'kim-jong-giok-toh' (usus emas perut permata atau dalam arti kiasannya sebuah harta karun besar).

Dihadapan Tolkun, ke 18 jagoan itu tak berani bercuit.

Tapi dalam perjalanan demi tampak tokoh Hwat Siau dan Swat Moay Itu tiada memiliki sesuatu perbawa yang mengesankan bahkan bentuk wajah tak sedap dipandang, mereka sama kurang puas.

Ke 18 jagoan itu, adalah orang2 liar, dari kalangan hek-to (aliran hitam), jadi gerak geriknya kasar.

Kedua suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay itu, sejak mendapat warisan pelajaran ilmu sakti yang-hwat-kang (api positip) dan im-cui-kang (air negatip) dari dua orang kuayhiap, (pendekar aneh) kerajaan Song yang bernama Hwat-bu-hay dan Cui-bu-hoa, mereka berdua lalu memendam diri digunung Tiang-pek-san untuk meyakinlsan ilmu Itu.

Walaupun dalam tahun2 terachir Itu nama kedua suami isteri itu makin menjulang, tapi bagaimana kepandaian mereka yang sesungguhnya, tiada seorangpun yang pernah mengetahuinya.

Apalagi dasarnya mereka tak tahu akan tata kesopanan, dunia persilatan, maka dengan memiliki ilmu kepandaian yang sakti itu, sudah tentu mereka tak memandang mata pada ke 18 jagoan itu.

Dan inilah yang manimbulkan reaksi ketidak puasan dari ke 18 orang itu.

Dalam peristiwa menghancurkan gereja Ang Hun Kiong Itu, kalau rencana tersebut berhasil, sudah terang tak ada urusan apa2.

Tapi keadaan berjalan tak sebagaimana yang direncanakan.

Begitu ledakan dinamit mengguntur, ke 18 jagoan itu menunggu kabar baik dari Hwat Siau dan Swat Moay dibawah gunung.

Tapi ternyata yang muncul adalah Ang Hwat cinjin.

Ke 18 jagoan itu telah dihamuk porak poranda oleh ketua dari gereja Ang Hun Kiong itu, hingga hampir separoh jumlahnya yang terluka dan binasa.

Dan ketika Hwat Siau -Swat Moay tiba, mereka tak ulur tangan memberi bantuan, sebaliknya menyuruh mundur saja.

Suatu hal yang menimbulkan kemarahan pada jagoan2 itu.

Lou Ting yang paling berangasan adatnya, segera serentak berbangkit dan tertawa mengejek.

Melihat bakal ada 'pertunjukan' hebat, Yan-chiu segera suruh Kwan Hong dan Wan Gwat mengangkatkan kepalanya agar ia dapat mengintip dari sela2 daun.

Pada saat itu tampak Lou Ting melolos sebatang tiok-ciat-kong-pian (ruyung baja yang ber-buku2).

Sedang Hwat Siau dan Swat Moay masih tetap duduk bersila saling membelakangi punggung.

"Lou-heng mau apa itu?"

Tanya Hwat siau.

"Manusia Yang tak punya muka, siapa, yang sudi kau panggil heng (engkoh) atau te (adik)? Segala apa hanya mendengarkan ocehan setan bantal (perempuan) saja, sungguh celaka!"

Damprat Lou Ting.

"Orang she Lou, bersihkanlah mulutmu itu!"

Seru Hwat Siau dengan sindiran tajam. Lou Ting maju selangkah seraya menantang.

"Kalau tidak bersih, kau mau apa? Biar kulabrak kakek moyangmu 18 turunan!"

Ucapan itu ditutup dengan hantaman pian kearah kepala Hwat Siau.

Tegas dilihat Yan-chiu, walaupun Lou Ting itu seorang kasar berangasan, tapi ilmunya silat tidak lemah.

Hantamannya itu keras dan cepat sekali.

Senjatanya itu terbuat dari bahan baja murni dan hantamannya itu sekaligus diserangkan pada kedua suami isteri itu.

Hwat Siau dan isterinya rupanya sudah merasa kalau ke 18 jagoan anak buahnya itu tak menyukai mereka.

Tapi kedua suami isteri itu cukup mengetahui bahwa ke 18 jagoan itu hanya pandai dalam ilmu silat saja, tapi buta ilmu surat jadi tak punya siasat apa2.

Beda dengan Hwat Siau dan Swat Moay, kedua macam ilmu silat dan sastera, semua dikuasal.

Hal ini menambah besar rasa meremehkan mereka kepada jagoan2 itu.

Sip-ceng-ong Tolkun sangat mengindahkan sekali kepada suami isteri itu, maka selain ditugaskan memegang pimpinan atas diri ke 18 jagoan itu, juga diserahi tugas menyiarkan berita tentang adanya harta karun kim-jong-giok-toh itu.

Sepasang suami isteri itu cukup menyadari bahwa ke 18 jagoan itu sebenarnya tak ber-sungguh2 setia menghamba pada pemerintah Ceng.

Begitu harta karun itu dapat diketemukan, tipis kemungkinan mereka mau berhamba lagi.

Oleh karena itu, kedua suami isteri Hwat Siau -Swat Moay yudah ber-siap2 membuat rencana.

Begitu dilihatnya Lou Ting berdiri dengan beringas, diam2 kedua suami isteri itu sudah kerahkan lwekangnya.

Kala ruyung Lou Ting melayang kearah kepala Hwat Siau -Swat Moay, diam2 Siau-bin-hou bersorak dalam hati, namun mulutnya tetap ber-pura2 mencegah.

"Apa2an itu Lo Lou? Ada apa2 kan dapat dirunding?"

Demi melihat kedahsyatan ruyung Lou Ting yang sedemikian mengejutkan, tahulah kedua suami isteri itu bahwa permainan pian itu adalah warisan ilmu dari keluarga Lou di Soasay.

Buru2 keduanya menekan tanah untuk beralih kesamping.

Lou Ting sudah terlanjur mengumbar amarah.

Sekalipun hantamannya pian Itu tak menemui sasarannya, namun dia tak kuasa menahan gerak serangannya tadi.

Pian itu terdiri dari 9 buku (ruas), setiap buku 9 kati beratnya jadi semuanya ada 81 kati beratnya.

Bluk......., begitu ruyung menghantam tanah, letikan api dari batu yang hancur sama bertebaran keempat penjuru.

Ketujuh orang kawannya, begitu melihat Lou Ting kalap, ada beberapa kawannya yang bersikap bendak ikut tampil membantu.

"Bagus, anjing bergigitan dengan anjing, biar mampus semua!"

Yan-chiu bersorak dalam hati.

Tapi ketika dia mengawasi kearah sana, ternyata pertempuran sudah mulai.

Kiranya sebelum para jagoan itu bergerak, sikasar Lou Ting sudah mengamuk.

Tadi serangan pertamanya dapat dihindari dengan mudah oleh kedua suami iateri itu sambil masih tetap duduk bersila.

Dan kini karena tahu akan kedahsyatan ilmu pian si Lou Ting yang tak boleh dibuat main2 itu, sepasang suami Isteri itu segera memutar tubuh masing.

Yang satu dari sebelah kirl, yang lain dari sebelah kanan, sama berbareng mengulurkan tangan untuk menerkam tumit Lou Ting.

Begitu sebat gerakan Hwat Siau dan Swat Moay itu, hingga Lou Ting tak keburu berkelit lagi.

Yang dirasakan, seketika itu separoh tubuhnya terasa dingin tapi yang separoh terasa panas.

Dinginnya seperti es, panasnya macam air mendidih.

Benar lwekang Lou Ting kurang sempurna, tapi gway-kang (tenaga luar) dimilikinya dengan sempurna.

Sekalipun demikian, tak urung dia harus menjerit keras saking kesakitan.

Jeritannya Itu makin lama makin lemah sampai pada achirnya tiba2 dia berteriak.

"Siau-bin-hou, kedua iblis ini benar2 mempunyai ilmu siluman!"

Sedikitpun sikasar itu tak mengetahui bahwa Hwat Siau dan Swat Moay telah melancarkan serangan lwekang istimewa.

Maka dalam sekejab saja, putuslah sudah ke 13 urat iatimewa dalam tubuhnya.

Habis mengucap, kepalanya segera terkulai kesamping dan ketika Hwat Siau Swat Moay lepaskan tangannya, sikasar Lou Ting sudah tak bernyawa lagi GAMBAR 86 Dengan gusar Lou Ting ayun ruyungnya keatas kepala Hwat Siau, tapi sedikit mengegos Hwat Siau dapat menghindarkan serangan itu.

Kejadian itu telah menyirapkan darah ketujuh kawan2 jagoan lainnya.

Bukan setahun dua, tapi sudah hampir lebih dari 20 tahun lamanya nama Lou Ting menjagoi daerah perairan sungai Hongho.

Ilmu swe-pay-chiu warisan keluarga Lou sangat ,dimalui orang.

Diantara ke 8 jagoan yang masih hidup Itu, Lou Ting tergolong salah seorang yang terlihay, tapi ah, dalam hanya sejurus saja dia sudah binasa ditangan suami isteri Hwat Siau Swat Moay.

Terpesona akan kejadian yang tak di-duga2 itu, kawanan jagoan itu sama ter-longong2.

Lewat beberapa jurus kemudian baru terdengar siiblis Wanita Swat Moay tertawa meringkik, lalu berkata dengan pe-lahan2.

"Tujuan kita datang kedaerah selatan ini, yalah untuk melaksanakan perintah pemerintah Ceng. Barang siapa yang berhianat, Lou Ting itu adalah contohnya. Sip-ceng-ong pernah mengatakan, bila kim-jong-giok-toh sudah diketemukan, kita semua akan turut merasakan kenikmatan. Walaupun begitu gempar orang mengagungkan harta karun kim-jong-giok-toh itu, tapi kami berdua suami iateri tak kepingin atau mempunyai maksud untuk menemaninya sendiri!"

Para jagoan itu hanya mengiakan saja. Sedang sirase Song Hu-liu segera mengunjukkan kepandaiannya.

"Huh, itu sih salah Lo Lou sendiri yang mau cari sakit. Dia tak menghiraukan nasehat kawan2. Harap, jiwi memaafkan!"

Mendengar itu Hwat Siau dan Swat Moay tampak lega, serunya.

"Adakah orang2 itu binasa semua, masih belum diketahui jelas. Konon kabarnya mereka hendak membangun Thian Te Hwe lagi. Ini merupakan suatu hal yang berbahaya, karena mereka sudah cukup mempunyai pengalanqan dalam peperangan tempo hari. Rasanya merekapun pasti sudah mendengar tentang kim-jong-giok-toh itu, jadi untuk membangun tentara yang kuat, mereka tentu lebih dahulu mengalihkan perhatian untuk mencari harta karun itu. Sebaliknya apabila tentara Ceng berhasil masuk kedaerah Kwiciu lagi tentu akan mengalami kesukaran besar dalam keuangan. Maka kalau sampai tak dapat menemukan harta karun itu, pasti akan mengalami kegagalan pula.

"Kita kini hanya berjumlah 9 orang. Tugas kita sekarang yalah berpencar untuk menyelidiki harta karun itu sampal dapat. Sip-ceng-ong pernah berkata, harta karun itu tak ternilai jumlahnya, berupa zamrud pusaka permata, upeti Yung dibawa oleh menteri Thio Wan pada jaman dahulu tentu saja diantara kalian yang berhasil menemukannya, kalian bertujuh akan mendapat seperseribu bagian dari harta karun itu. Itu saja akan dapat kalian nikmati sampal tujuh turunan, mengerti?"

Ketujuh jagoan itu kembali mengiakan.

Yan-chiu mengira kalau kim-jong-giok-toh itu tentu sebuah harta pusaka, tapi mengapa sedangkan pemerintah Ceng mengetahui tetapi ia sendiri tak pernah mendengarnya?

Juga Ceng Bo Siangjin tak pernah menceritakan hal itu.

Teringat ia akan kata2 Ki Cee-tiong tempo hari, bahwa kesulitan utama untuk membangun Thian Te Hui yalah soal keuangan.

Kerajaan Lam Beng sudah sedemikian ciut wilayahnya, rakyatnya miskin jadi sukar untuk diorganisir suatu pertahanan yang kuat.

Kalau benar ada harta karun itu, ah bereslah persoalan itu.

la, hanya berharap, mudah2an suhu suko dan sekalian orang gagah pada selamat, agar ia dapat menyampaikan berita yang menggirangkan itu.

Pada lain saat ke 7 jagoan itu sudah sama minta diri.

Yang disitu hanya Hwat Siau dan Swat Moay.

Kedengaran Hwat Siau memangil "niocu" (isteriku), tapi, tiba2 dia segera membentak kerasa.

"Siapa Itu yang belum mau angkat kaki? Kepingin meniru Lou Ting, ya?"

Kiranya oleh karena lwekang Yan-chiu lebih dalam, jadi ia dapat menguasai pernapasannya.

Tapi Kuan Hong dan Wan Gwat tidak demikian.

Napasnya berat, hingga dengan cepatnya dapat ditangkap pendengaran Hwat Siau dan Swat Moay yang tajam.

Tadi karena banyak orang, masih belum kentara.

Tapi begitu keadaan sepi, segera dapat diketahul.

Hwat Siau mengira kalau diantara ke 7 jagoan itu ada yang masih hendak main gila bersembunyi diatas pohon, sudah tentu dia membentaknya dengan marah.

Tangan Kuan Hong dan Wan Gwat gemetar dan terlepaslah tubuh Yan-chiu jatuh kebawah, bluk........

Disana Hwat Siaupun tak kurang herannya dan diapun segera menghampiri lalu mencengkeram punggung sinona.

Jangan lagi kini Yan-chiu sudah tak dapat bergerak, andaikata ia masih segar bugar, tetap tak nanti ia dapat meronta dari cengkeraman besi dari manusia iblis itu.

Jari tengahnya telah menekan jalan darah leng-thay-hiat, cukup dengan gunakan lwekang sedikit saja, habislah sudah riwayat nona genit dart Lo-hu-san itu.

Begitu cepat dan cepat gerakan tokoh aneh itu.

Suatu ilmu kepandaian yang jarang dimiliki oleh kaum persilatan umumnya.

"Ah-thau, jadi kau masih hidup?"

Seru Hwat Siau dengan keheranan demi dilihatnya siapakah nona itu. Yan-chiu tahu bahwa kali ini ia tak nanti dapat lolos dari cengkeraman maut. Namun sebelum ajal, biarlah ia puas-kan dulu hatinya.

"Dan kau sendiri mengapa tidak mampus ?!"

Serunya balas memperolok. Saking gusarnya Hwat Siau terus hendak turunkan tangan ganas, tapi buru2 dicegah isterinya.

"Koajin, tahan dulu. Jalan darah goh-ai-hiat budak perempuan ini masih tertutuk, jadi terang diatas pohon tentu masih ada lain orang yang menjatuhkannya!"

"Siapa yang diatas pohon ?"

Seru Hwat Siau sembari mendongak.

Kuan Hong dan Wan Gwat terbeliak kaget dan berjatuhan kebawah.

Tapi rupanya Hwat Sisu masih belum puas melihat yang turun itu hanya dua orang anak.

Dia kira tentu masih ada orang lagi.

"Kalau tak mau turun, aku tentu gunakan kekerasan!"

Serunya dengan murka.

"Huh, sudah tiada orang lagi, jangan ketakutan seperti melihat setan!"

Yan-chiu memperolok dengan sebuah tertawa dingin.

Suatu hal yang sudah tentu tak dapat diterima Hwat Siau dan wut....., wut....., daun pohon siong yang runcing2 macam pohon cemara sama rontok berhamburan ketanah.

Wut....., wut...., wut...., wut...., kembali Hwat Siau susuli lagi dengan 4 buah hantaman dan dahan serta ranting pohon itu gugur semua, hingga pohon itu berobah menjadi gundul.

Kini baru Hwat Siau percaya akan keterangan Yan-chiu.

"Hem, kau kerja apa disitu tadi ?"

Kini Hwat Siau alihkan perhatiannya kepada Kuan Hong dan Wan Gwat, kemudian bertanya kepada Yan-chiu. Tapi sebaliknya kini Yan-chiu malah menjadi tenang.

"Bukalah dahulu jalan darahku ini!"

Kata sigadis.

"Cara bagaimana kau dapat terhindar dari ledakan dinamit itu?"

Tanya Swat Moay.

"Ya......!, bukalah dahulu jalan darahku ini, atau biar matipun aku tak mau mengatakan!"

Sahut Yan-chiu dengan tegusnya.

Oleh karena ingin lekas2 mengetahui kejadian yang aneh itu, maka kedua suami isteri itu berbareng sama Iekatkan jarinya kebahu Yan-chiu.

Yan-chiu rasakan sakit sekali, tapi sekarang ia dapat bergerak.

Tapi oleh karena lama menjadi kaku, maka agak lama baru ia dapat pulih lagi.

"Nah, katakanlah sekarang!"

Perintah Swat Moay. Mata Yan-chiu tertumbuk akan kedua anak yang saling berdampingan merapat dengan wajah ketakutan. Diam2 timbullaih rasa kasihannya, biarlah ia mati asal kedua anak kecil itu hidup.

"Luluskan dahulu sebuah permintaanku dan nanti segera kuterangkan se-jelas2-nya!"

Katanya.

"Soal apa?!"

Bentak Hwat Siau dengan gusar.

"Lepaskan kedua anak ini!"

"Ya..!, pergi...., hayo pergi dari sini!"

Hwat Siau mengenyahkan Kuan Hong dan Wan Gwat. Bermula kedua anak itu tak mau, tapi segera Yan-chiu mendesaknya seraya berbisik.

"Tunggulah aku ditempat yang kukatakan itu. Kalau aku tak mati, aku tentu akan mencarimu disana!"

Dengan mengusap air matanya, kedua anak itu ayunkan langkahnya yang berat.

Berulang kali mereka berpaling kebelakang untuk melihat kearah Yan-chiu.

Setelah mereka lenyap dari pemandangan, barulah Yan-chiu mulai membuka suara.

"Kalian tanyakan aku mengapa tak binasa karena ledakan itu bukan? Nah, dengarlah.

"tiada seorangpun yang binasa karena ledakan itu !!!"

Sebenarnya ia sendiri tak mengetahul bagaimana kejadiannya, tapi ia tahu kalau kedua suami isteri itu senang mendengar mereka binasa semua.

Maka untuk membikin panas hati orang, sengaja dia tekankan keterangannya itu dengan tandas.

"Mengapa?"

Tanya Hwat Siau dengan keheranan.

"Aku yang memberitahukan mereka!"

Sahut Yan-chiu. Swat Moay terkekeh.

"Kau benar2 seorang budak yang tangkas bicara. Kalau kau bisa bergerak, mengapa tak menginjak padam sumbu itu saja?!"

Yan-chiu kalah alasan (logika), tapi ia pantang mundur, sanggahnya.

"Itu supaya kalian bergirang hati dahulu!"

Swat Moay mengkal tapi juga seperti di-kili2 hatinya.

"Habis siapa yang membuka jalan darahmu?"

Tanpa dipikir panjang lagi, ia segera menyahut;

"Aku sendiri yang membukanya", tiba2 ia tersadar akan kekliruannya. Bukantah tadi ia jatuh dari pohon dalam keadaan masih tertutuk? Maka buru2 ia susuli kata2.

"Tapi kemudian kututuk lagi!"

Hwat Siau tak mengerti kalau Yan-chiu memang sengaja omong merambang (ngawur) oleh karena mengerti toh bakal mati.

Dia kira Yan-chiu itu seorang nona yang gila dan suka ugal2an.

Tapi Swat Moay yang ternyata lebih cermat, dapat mengetahui maksud tujuan Yan-chiu, katanya.

"Ahthau, bagaimana kepandaian kami berdua, rasanya kau sudah menyaksikan sendiri. Kalau kau tak omong sejujurnya biar kau rasakan penderitaan, mati tidak hidup tidak!"

Memang Yan-chiu pernah mendengar orang berkata 'lebih menderita daripada mati', tapi bagaimana rasanya kesusahan derita itu, belum pernah ia mengalami, maka dengan sekenanya saja ia menyahut.

"Lekas bunuh saja aku ini! Ah, entah bagaimana nasib suhu dan suko. Kalau mereka sudah binasa, perlu apa aku hidup sendirian?"

Mendengar itu, barulah Swat Moay mengetahui bahwa sebenarnya nona itu tak mengetahui tentang kejadian itu.

"Koanjin, budak ini tangkas sekali, ia faham daerah Kwiciu, rasanya sangat leluasa untuk membawanya sebagai pengunjuk jalan!"

"Niocu, kalau ia minggat, kan malah runyam!"

Sahut Hwat Siau. Swat Moay meringkik, serunya.

"Tutuk saja jalan darahnya chit-jit-hiat, masa ia bisa lari?"

Hwat Siau juga terkekeh, sembari mengenakan jubah merah.

Hendak Yan-chiu menanyakan apa yang disebut chit-jit-hiat.

(jalan darah 7 hari) itu, tapi secepat kilat tangan Swat Moay sudah mencengkeram dadanya hingga ia tak sempat menghindar.

Seketika itu ketiaknya terasa kesemutan, tapi tak lama terus hilang.

"Ah-thau, ingat didalam perjalanan kita tentu bertemu dengan macam2 keadaan, kalau kau tak dengar kata, silahkan kau pergi sesuka hatimu. Chit-jit-hiat-mu sudah kena kututuk, jika bukan aku yang membukanya, dalam 7 hari kemudian, sekujur tubuhmu pasti tegang regang, urat nadi dan jalan darahmu putus semua, tapi kau tak sampai binasa. Cukup ditempeli secarik kertas saja, tubuhnya serasa lebih sakit dari diiris pisau. Kalau kau sanggup menerima penderitaan itu, silahkan kau lari. Kalau tidak, kau harus ikut pada kami barang kemanapun jua!"

Kata Swat Moay dengan tawar.

Tercekat hati Yan-chiu mendengar siksaan yang ngeri itu.

Ah...., inilah mungkin yang dinamakan "lebih sakit daripada mati".

Baca Juga: Perguruan Sejati 8

Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger