Naga Dari Selatan 11

Eps 11 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

Tapi masakan aku tak dapat mencari orang yang sanggup menolong diriku itu?

Yan-chiu berpikir keras untuk menggali lubuk peringatannya.

"Ah-thau, dengarkanlah! Chit-jit-hiat itu tiada terdapat dalam kitab pelajaran ilmu tutuk yang manapun juga. Diseluruh kolong dunia ini, hanya kami berdua yang dapat menutuk dan membukanya. Kalau kau pikir yang tidak2, itu berarti mencari kematian sendlri.!"

Kata Swat Moay yang rupanya tahu apa yang dipikirkan Yan-chiu itu.

Terjadi perbantahan dalam pikiran Yan-chiu sendiri.

KaIau ia merat paling banyak ia bermaksud hendak menemul suhu dan sukonya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Dan bukantah sampai saat itu sukonya Itu tetap belum mengetahui isi hatinya, jadi suatu pengorbanan yang sia2 saja namanya.

Ah....., lebih baik ia mengikuti saja barang kemana perginya kedua suami isteri itu, karena bukantah mereka juga bermaksud akan menyelidiki tempat harta karun itu?

Setelah menetapkan rencananya, lebih dahulu ia tertawa keras, baru kemudian mengejek.

"Siapa yang bermaksud akan lari? Bukantah hal itu berarti aku jeri padamu?"

Hwait Siau dan Swat Moay kalah bicara. Tapi oleh karena perlu memakai tenaganya, apalagi yakin nona itu tentutuk dapat melarikan diri, maka mereka lalu ajak Yan-chiu berjalan.

"Kemana?"

Tanya Yan-chiu.

Kedua suami isteri itupun tertegun.

Mereka sendiripun tak tahu hendak ayunkan langkahnya kemana.

Harta karun kim-jong-giok-toh itu hanya didengarnya dari mulut Ngo-tok-lian-cu-piau Can Bik-san dan dari kabar yang tersiar dikalangan kaum persilatan hekto daerah Kwitang.

Jadi mereka berdua sendiripun tak tahu jelas.

Kiranya ketika dahulu timbul kekacauan, maka Thio Hian Tiong segera mamancing diair keruh.

Pemimpin ini segera kerahkan anak buahnya untuk mengganas dan merampok.

Dia sadar, bahwa seorang tokoh macam dia itu andaikata sampai tergencet, rahayat pasti takkan mengampuninya.

Maka siang2 dia sudah mempersiapkan rencana.

Diangkutinya semua barang2 berharga hasil rampokannya selama bertahun2 itu ke Kwitang.

Harta karun itu disembunyikan secara rahasia sekali.

Kalau gerakannya itu sampai gagal, dia mundur ke Kwitang dan dari situ dengan mengangkut seluruh harta kekayaannya, hendak dia berlayar keluar negeri.

Walaupun betapa cermatnya Thio Hian Tiong menyembunyikan harta karun itu, namun tak urung bocor juga hingga menimbulkan desas-desus tentang adanya kim-jong-giok-toh itu dikalangan persilatan.

Pemerintah Ceng belum berapa lama menduduki Tiongkok, jadi segala tata negara belum dapat berjalan dengan lancar.

Oleh karena achir tahun pemerintah Beng itu terbit bencana alam dan paceklik, maka negara menghadapi kesulitan besar dalam hal keuangan.

Rakyat sudah sedemikian miskinnya, jadi sukar untuk diperas dengan pajak yang lebih berat lagi.

Maka bertindaklah Sip ceng-ong Tolkun, mengutus Hwat Siau dan Swat Moay beserta ke 18 jagoan untuk menyeiidiki harta karun itu.

Memang, kalau benar desas-desus itu sungguh ada, siapa saja yang menemukan baik pemerintah Ceng, atau Lam Beng maupun Thian Te Hui, pasti akan merupakan sumbangan yang tak kecil artinya.

Maka tanpa menunggu bagaimana hasil ledakan dinamit digereja Ang Hun Kiong itu, Hwat Siau dan Swat Moay segera ber-gegas2 mulai melakukan penyelidikan tempat harta itu.

"Budak perempuan, jangan usil. Kau tinggal tunggu perintah saja, sekalipun mendaki gunung golok, kau harus mengikuti. Masuk kedalam laut, kaupun harus ikut masuk. Sudah, sejak ini kau tak boleh lancang bertanya lagi!"

Hwat'Siau membentaknya.

Tiba2 terdengar suara orang bersenanjung menghampiri datang.

Dari nada senanjungnya itu, terang ia itu seorang perempuan.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 46 .

DUKA MERANA Tersirap darah Yan-chiu mendengar nada itu.

Mengapa orang itu bisa datang kemari ?

Kalau ia, tak kena apa2, terang suhu dan sukonya tentu juga selamat.

Hati Yan-chiu serasa terang gembira.

Benar juga ketika dekat, orang yang bersenandung (nyanyi2 kecil) itu ternyata seorang perempuan muda.

Walaupun mengunjuk rasa kedukaan sehingga pucat lesi wajahnya, namun tak mengurangkan kecantikannya yang luar biasa itu.

Nada senanjung itu, sukar ditebak, entah melukiskan kegirangan atau kesedihan.

Begitu melihat ketiga orang tersebut (Hwat Siau, Swat Moay, Yan-chiu) ia hanya mengangkat kepala sambil mengerlingkan ekor mata, sebentar, lalu bersenandung pula.

"Daun kuning tiada angin rontok sendiri, awan dimusim rontok tiada hujan tapi mendung terus. Kalau dunia ini memang ada percintaan sampai kaki nini, suka benci kasih hanya tinggal kenangan, kemanakah hendak kucarinya!"

Hati Yan-chiu serasa tertikam. Ia memangnya seorang nona yang berhati welas asih. Begitu dihidungnya berkembang kempis, air matanya mengalir deras dan mulutnya segera berseru dengan suara terharu.

"Lian suci!". Kiranya wanita muda itu bukan lain adalah Say-hong-hong Bek Lian. Sekalipun tak menyetujui akan keperibadian sucinya itu, namun dalam keadaan begitu, tak tega ia untuk tak menegurnya. Yan-chiu tak mengetahui bahwa sucinya itu telah dihianati cintanya oleh The Go. Tapi yang nyata saja, sucinya itu kini begitu kurus kering ibarat tulang terbungkus kulit. Sengaja ia, berseru keras2, namun agaknya Bek Lian se-olah2 tak menghiraukan.

"Suka duka benci kasih hanya tinggal kenangan, kemanakah hendak kucarinya? Suka duka benci kasih hanya tinggal kenangan, kemanakah hendak kucarinya?"

Demikian mulutnya berulang kali bersenanjung sembari sang kaki melangkah kemuka. Mendengar, Yan-chiu memanggil "suci"

Kepada gadis itu, Hwat Siau dan Swat Maoy timbul kecurigaannya.

Ya, tak salah lagi kiranya, gadis itu adalah anak perempuan dari Kang Siang Yan yang dijumpainya didalam gereja Ang Hun Kiong kemaren dulu.

Mengapa ia sekarang pura2 menjadi orang gila ?

Adakah hendak menarik perhatian Kang Siang Yan supaya datang kesitu?

Ah, rasanya nona itu (Bek.

Lian) tentu mengetahui apa yang terjadi dalam gereja Ang Hun Kiong ketika dinamit meledak.

Setelah saling memberi isyarat mata, kedua suami isteri itu segera lompat majau menghadang dimuka Bek Lian, serunya.

"Hai, berhenti dahulu !"

Bek Lian tertegun, lalu menghindar kesamping tanpa menghiraukan Swat Moay, yang berdiri tepat dihadapannya.

Swat Moay ulurkan tangannya untuk menepuk pelahan2 dan itu saja sudah cukup untuk membuat Bek Lian menggigil kedinginan.

"Aduh, dinginnya! Engkoh Go, nyalakan api untuk memanasi pakaian. Nanti kita tinjau lagi tempat apakah disini ini!"

Bek Lian mengoceh sendiri.

Swat Moay makin heran.

Pada hal saat itu Bek Lian terkenang akan kejadian kala ia, bersama The Go terombang-ambing ditengah lautan, kemudian terdampar dipulau kosong.

Disitu The Go segera nyalakan api dan malam itu adalah untuk pertama kali ia serahkan diri pada The Go.

Sudah tentu kenangan itu tergurat dalam2 pada lubuk ingatannya.

"Hai, kau pura2 gila ya?"

Kembali Swat Moay membentaknya. Karena kerasnya bentakan itu, Bek Lian terkesiap sampai beberapa saat. Pada lain saat tiba2 ia menangis tersedu sedan.

"Ma, anakmu ini sungguh bernasib malang! Ayah hendak membunuh aku!"

Serunya meratap tangis. Hwat Siau menghampiri datang. Setelah memperhatikan keadaan nona itu sesaat, dia berkata kepada isterinya.

"Niocu, nona ini gila karena patah asmara, sudahlah jangan mempedulikannya!"

Yan-chiu mencekal lengan Bek Lian yang beberapa kall di-guncang2kan seraya bertanya.

"Lian suci, dimana suhu dan Jiang suko ? Ya, dimana sekarang mereka itu ?"

Namun Bek Lian se-olah2 tak mendengarnya, hanya terus menangis saja. Akhirnya setelah sekian lama menangis, se-konyong2 Bek Lian tertawa.

"Ah, sudah tentu aku ini menjadi milikmu sampai diakhir jaman!"

Yan-chiu kewalahan benar2. Tiba2 terdengarlah suatu suara orang memanggil2. Walaupun agak lemah karena jaraknya yang jauh, namun apa yang diteriakkannya itu jelaslah sudah.

"Lian-ji, kau berada dimana?"

Suara itu makin mendekati dan berobahlah wajah Swat Moay seketika.

"Koanjin, ayuh lekas pergi, itulah Kang Siang Yan!"

Serunya kepada sang suami. Tapi rupanya Hwat Siau tak memandang mata pada Kang Siang Yan, sahutnya.

"Takut apa sih?" .

"Bukannya takut, tapi pada saat ini lebih baik kita, jangan cari perkara dengan orang itu dulu!"

Menerangkan Swat Moay.

Dan dalam beberapa detik pembicaraan itu saja, suara Kang Siang Yan sudah makin mendekat.

Buru2 Swat Moay tarik Yan-chiu untuk diajak sembunyi ditempat yang gelap.

Yang didengar hanya ucapan Kang Siang Yan ketika menjumpai Bek Lian yakni "Ah Lian", karena pada waktu itu Yan-chiu dapatkan dirinya sudah diseret jauh dari tempat Bek Lian tadi.

Dalam cengkeraman sepasang suami isteri iblis itu, Yan-chiu tak dapat lobs lagi.

Setiap 6 hari, urat nadi Yan-chiu yang tertutuk itu dibuka sekali, tapi hanya untuk beberapa waktu saja, kemudian ditutuk lagi.

Dengan begitu Yan-chiu tetap berada dalam genggaman kedua iblis itu.

---oodwkz0tahoo---Demikianlah dengan singkat saja, musim rontok telah berganti dengan musim semi atau berarti sudah berganti tahun.

Tahun itu merupakan tahun ke 5 dari pemerintahan kaisar Sun Ti dari kerajaan Ceng, dan tahun ke 2 dari kerajaan Lam Beng, yang dirajai oleh baginda Ing Lek.

Kala itu sudah menginjak bulan dua, sudah hampir 10 bulan lamanya Yan-chiu berada ber-sama2 kedua suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay.

Selama dalam 10 bulan itu, Yan-chiu sudah makin dewasa, perangai ke-kanak2an makin berkurang.

Ia tak suka banyak bicara lagi, satu2nya harapan yalah supaya dapat berjumpa dengan suhu atau orang2 gagah yang dikenalnya.

Baginda Ing Lek bersemayam dikota raja Siau Ging.

Hwat Siau dan isterinya sudah menjelajahi seluruh pelosok propinsi Kwitang dan sebagian dari Kwisay, tapi selama itu mereka tak berani datang ke Siau Ging, karena kuatir kebentrok dengan para wi-su (bayangkari) istana dan ketahuan kedoknya.

Sebab hampir semua pelosok Kwiciu sudah dikunjungi, akhirnya diputuskan untuk menyusup kekota Ko-yau-koan yang termasuk dalam lingkungan Siau Ging.

Sedari Li Seng Tong berbalik haluan menakluk pada kerajaan Beng, maka perlawanan terhadap pemerintah Ceng timbul dari daerah timur dan utara.

Dan untuk sementara waktu, kerajaan Lam Beng agak aman.

Maka kota Ko-yau-koanpun ramai sekali.

Begitu masuk kekota itu, disitu terdapat dua buah jalan besar.

Mereka bertiga memilih salah sebuah.

Tapi baru berjalan tak berapa lama, tiba2 terdengar suara teriakan orang.

"kereta pesakitan datang, ayuh minggir...., minggir.....!"

Menyusul dengan itu gerobak2 dari 3 buah kereta beroda tiga yang didorong oleh beberapa serdadu tampak mendatangi.

Kepala dari pesakitan2 itu menonjol keluar diatas lantai atap kereta.

Bermula Yan-chiu tak menghiraukan, karena mengira pesakitan itu tentulah bangsa penjahat.

Tapi ketika tanpa disengaja matanya tertumbuk pada kepala salah seorang pesakitan, seketika pucatlah wajahnya.

Hendak ia berteriak, tapi tenggorokannya serasa tersumbat suatu arang hingga tak dapat mengeluarkan suara.

Ia memburu maju, tapi baru saja melangkah beberapa tindak, punggungnya sudah dicengkeram kencang2 oleh Swat Moay (lihat gambar diatas).

"Hm, ah-thau, kau hendak melarikan diri?"

Dalam pada Yan-chiu me-ronta2 itu, kereta pesakitan sudah berjalan jauh, hingga saking marahnya Yan-chiu banting2 kaki berseru.

"Kau bilang tidak takut aku melarikan diri bukan ? Tapi mengapa baru aku bergerak sedikit saja kau sudah begitu ketakutan?"

Kata2 itu sengaja ia, ucapkan keras2, sehingga banyak orang yang sama berhenti mengawasi. Hal mana membuat kedua suami isteri itu gugup dan membentaknya.

"Awas, kui-ah-thau, kalau berani membangkang tentu akan segera kubunuh!"

Berlainan dengan sikapnya dahulu, kini Yan-chiu tak mau sungkan lagi, dengan separoh meratap ia, meminta kelonggaran.

"Jiwi cianpwe, idinkanlah aku mengejar kereta pesakitan itu tadi untuk berbicara beberapa patah pada sipesakitan. Bukantah jalan darah ki-hiat-ku telah kalian tutuk ? Kalau dalam 5 hari tak kembali, aku pasti mengalami siksaan hebat, masakan aku tak sayang akan jiwaku?"

"Apamu sipesakitan itu ?"

Tanya Swat Moay.

"Yang dua aku tak kenal, tapi yang satunya itu adalah sukoku!"

"Hem, kami ber-sama2 kesana!"

Swat Moay mengerang.

Yan-chiu yakin bahwa kepala yang menonjol diatas kereta pesakitan itu, adalah Tio Jiang.

Dalam tahun yang terakhir ini, bayangan Tio Jiang makin melekat dalam sanubarinya, maka walaupun dalam keadaan rambut kusut masai muka kotor, namun Yan-chiu masih tetap dapat mengenalnya.

Begitu permintaannya disetujui, ia lupa segala apa.

Ditengah hari bolong, diantara sekian banyak orang, ia segera gunakan ilmu berjalan cepat.

Sekali berloncatan macam burung walet (seriti), ia sudah melampaui dua buah jalanan dan tampaklah kini ketiga kereta pesakitan itu disebelah muka sana.

"Jiang suko, Jiang suko!"

Serunya sambil memburu kemuka seraya terus menarik baju kedua serdadu yang mendorong kereta itu. Seketika kedua serdadu itu mendeprok ketanah seperti kehilangan tenaga.

"Jiang suko!"

Seru Yan-chiu seraya mendekap terali kereta. Dari sepasang matanya, butir2 air menetes bercucuran. Tio Jiangpun terkesiap mendengar seruan Yan-chiu itu, hingga sampai beberapa saat dia ter-longong2.

"Siao Chiu dimanakah sekarang kita ini ?"

"Jiang suko, kenapa kau sampai begini? Bukantah ini kota. Ko-yau-koan?"

Kata Yan-chiu dengan terharu dan girang.

Tio Jiang menghela napas.

Baru dia hendak menyahut, ketiga perwira yang mengiring kereta pesakitan itu sudah menghampiri datang dengan beringas.

Salah seorang cepat melolos goloknya dan membentak.

"Perempuan liar dari mana ini, yang berani bicara dengan pesakitan ? Kalau dituduh hendak merampok pesakitan, kau tentu dihukum tabas kepala!"

Mendengar. kini Tio Jiang disebut pesakitan negeri, marah Yan-chiu bukan kepalang. Tanpa tunggu siperwira habis bicara, ia sudah mendampratnya.

"Fui, kentut busuk, ayuh lekas enyah!" . Siperwira terkesiap kaget. Mimpipun tidak dia kalau sinona begitu katak (garang). Setelah tersadar, segera dia julurkan goloknya kemuka dada Yan-chiu, seraya mengancam.

"Kalau kau berkeras kepala, tentu ku ........"

Belum lagi siperwira menyelesaikan kata2nya, Yan-chiu sudah menyepit ujung golok dengan dua buah jari, lalu disentakkan kebelakang.

Perwira itu hanya seorang militer yang bertubuh kokoh kekar, dalam hal ilmu silat sudah tentu dia tak sepersepuluhnya kepandaian Yan-chiu.

Bluk......

bukan saja goloknya terlepas, orangnya pun turut tertarik dan jatuh kemuka.

"Aku tak mau pergi. Ayuh, beri hormat padaku dengan 3 kali anggukan kepala?"

Seru Yan-chiu sembari tancapkan batang golok ketengkuk siperwira.

Serasa terbang semangat siperwira dibuatnya, hingga tak dapat berkata apa2.

Dalam pada itu, kedua kawan perwira yang melihat kejadian itu, segera ber-teriak2.

"Pemberontak mengacau, pemberontak mengacau!"

Dengan memutar golok, mereka maju menyerang, tring....., tring....., Yan-chiu menangkis dengan goloknya dan tangan kedua perwira itu merasa kesemutan.

Sekali dua Yan-chiu menggerakkan goloknya lagi, kedua golok lawan sudah terlepas dan kedua perwira itupun terhuyung mundur beberapa tindak.

"Kereta pesakitan dirampok......! Kereta pesakitan dirampok......!"

Entah bagaimana serdadu2 pendorong kereta itu sama2 berlarian seraya berteriak2.

Dalam sekejab saja, terjadilah kekacauan.

Orang2 sama2 berserabutan lari, toko2 sama2 menutup pintu hingga dalam waktu yang singkat saja, jalanan yang semula hiruk pikuk itu kini menjadi sunyi senyap.

Yang masih tertampak hanya beberapa gelintir orang yang bernyali besar serta Hwat Siau dan Swat Moay yang berdiri dikejauhan.

Ko-yau-koan meskipun dekat dengan kediaman raja, tapi tak lebih tak kurang dari sebuah kota kecil saja.

Dalam sekejab waktu saja, peristiwa Yan-chiu itu sudah tersiar diseluruh kota.

"Siao, Chiu, jangan bikin onar!"

Tio Jiang memberi peringatan.

Sedang kedua pesakitan yang lain itu, tinggal diam saja.

Yan-chiu tak habis mengerti, mengapa Tio Jiang tak dapat keluar dari sebuah kereta yang terbuat dari pada kayu.

Maka segera ia tabaskan goloknya untuk menghancurkan terali kayu itu, tapi hai, goloknya telah membentur besi logam.

Kiranya terali (ruji) kereta itu terbuat daripada besi baja dan ketika diperiksanya, terali itu hanya satu dim besarnya.

Tiba2 terkilas dalam pikiran Yan-chiu, bahwa pada 10 bulan yang lalu ketika menolong Kuan Hong dan Wan Gwat didalam gereja Ang Hun Kiong, ia telah dapat mendorong terbuka terali besi.

Cepat golok dibuangnya, kemudian dicekalnya dua buah terali terus dingangakannya, krek, krek, putuslah terali itu.

Dengan ber-nyala2 segera ia mematahkan terali2 besi kereta itu semua.

Didapatinya tangan dan kaki Tio Jiang diikat dengan rantai besi sebesar jari.

Siku dan pergelangan tangannya tampak bekas noda2 lecetan berdarah.

Melihat itu hati Yan-chiu makin meluap.

"Jiang suko, siapa yang menyiksamu sedemikian rupa? Bilanglah, tentu akan kucincang lebur orang itu!"

Yan-chiu menjerit seperti orang kalap.

Bahwa Tio Jiang itu seorang pesakitan penting, seluruh kota situ sudah lama mengetahuinya.

Jadi orang yang hendak dicincang oleh Yan-chiu itu bukan lain adalah baginda sendiri.

Orang2 yang tadinya masih bernyali untuk melihat ramai2 disitu, kini sudah sama ngacir bubar.

Hwat Siau dan Swat Moaypun segera mengumpat diujung jalan, menantikan perkembangan selanjutnya.

Walaupun Yan-chiu sangat bernapsu menghujani pertanyaan, namun Tio Jiang hanya menghela napas saja tak menyahut.

"Akupun tak tahu!"

Akhirnya dia memberi keterangan.

"Tio-heng, jangan takut mengatakan! Terhadap orang2 macam begitu, memang pantas dicincang seperti yang dikatakan nona ini tadi!"

Tiba2 kedua pesakitan itu turut bicara.

Yan-chiu segera menghampiri kereta mereka untuk membuka terali besi, begitu juga borgolan yang mengikat kaki tangan mereka.

Tapi ketika ia, hendak membuka borgolan rantai Tio Jiang, anak muda itu sudah mendahului gerakkan tangannya sendiri untuk mematahkan rantai borgolannya.

Tanpa menghiraukan rasa sungkan apa2 lagi, Yan-chiu segera rubuhkan kepalanya kedada sang suko untuk menangis ter-isak2.

Biar bagaimana ia adalah seorang gadis remaja.

Tadi memang ia sangat garang sekali melabrak serdadu dan perwira pengawal kereta pesakitan itu.

Tapi kini ia laksana seekor anak kambing yang jinak.

Terkenang akan penderitaannya selama 10 bulan ini, apalagi chit-jit-hiatnya masih tertutuk dan Tio Jiang menjadi pesakitan negara.

Nasib sial yang ber-turut2 menimpah pada diri mereka itu, telah membuat Yan-chiu menangis tersedu sedan.

"Sudahlah, Siao Chiu, jangan menangis!"

Tio Jiang menghibur.

"Bagaimana kau dapat lolos dari Ang Hun Kiong?"

Yan-chiu menyapu air matanya dan hendak memberi penyahutan, tapi tiba2 terdengar derap kaki kuda mendatangi.

Pada lain saat, jalanan itu telah dikepung dengan pasukan berkuda yang tak terhitung jumlahnya.

Empat orang buciang (panglima) dengan garang menobros kemuka.

Demi melihat ketiga pesakitan itu sudah terlepas, mereka terbeliak kaget.

Salah seorang dari mereka menusuk Tio Jiang dengan tombak, tapi anak muda itu cepat menghindar kesamping.

Dalam murkanya, Yan-chiu hendak menangkap tombak orang, tapi ternyata buciang itu bukan seorang jago lemah.

Tombak diputar laksana kitiran, begitu diturunkan kebawah, lalu ditusukkan kepada sinona.

Yan-chiu tak mau unjuk kelemahan.

Ia membungkuk kebawah sambil merapat.

maju.

Disambarnya goloknya yang terletak ditanah tadi, tangkai golok itu disodokkan keperut kuda sibuciang tadi.

Sudah tentu kuda itu meringkik tersentak keatas dan membarengi dengan itu, Yan-chiu segera memapas tombak sibuciang hingga kutung menjadi dua.

Kebenaran pula kutungan tombak itu tepat melayang mengenai punggung sibuciang, aduh .........

ia mengerang dan jatuh kebawah, lalu diinjak oleh Yan-chiu.

"Ayuh, siapa yang berani maju lagi?"

Ketiga huciang (bawahannya buciang) melihat pemimpinnya tertangkap, tak berani ambil tindakan keras.

Mereka hanya perintahkan anak buahnya untuk mengepung rapat2 tempat itu sambil ber-teriak2.

Entah sudah berapa kali Tio Jiang dan Yan-chiu bertempur melawan kawanan tentara Ceng.

Tapi kejadian itu mengambil tempat dihutan, tidak seperti.

saat itu ditengah jalanan ramai apalagi pasukan Beng itu semua berkuda.

Kalau mereka sama menyerang rapat, kemungkinan besar bisa keinjak mati.

Maka Yan-chiu segera gunakan akal.

Begitu ada seorang serdadu mau menghampiri dekat, cepat2 ia jiwir telinga panglima tadi, serunya.

"Lekas suruh mereka mundur!"

Tapi ternyata panglima itu juga seorang jantan.

Dalam kota raja orang berani main rampas pesakitan ditengah hari bolong, berani pula melawan tentara pemerintah, andaikata pemberontak2 itu bisa melarikan diri, dia (buciang) pun akan mendapat hukuman mati.

Maka dengan kertek gigi, dia tahan kesakitan tak mau menyahut.

Melihat itu Yan-chiu gelisah sendiri.

"Jiang suko, ayuh kita serbu!"

Akhirnya ia berseru. Tio Jiang ragu2 tampaknya, tapi Yan-chiu secepat kilat sudah mengambil keputusan.

"Terimalah panglima ini!"

Serunya seraya melempar tubuh sibuciang kearah kawanan tentara Beng, Yan-chiu, menyambar sebuah rantai besi, tangannya kiri mencekal sebatang golok, serunya;

"Tolol, kalau tak menyerbu, apa mau tunggu kematian ?"

Tio Jiang tersadar, lalu menjemput sebatang rantai untuk di-putar2.

Tapi begitu mengetahui pemimpinnya tak kurang apa2, ketiga huciang itu segera maju merapat.

Pada jarak dua tombak, mereka kedengaran berteriak keras2.

"Serbu!"

Dari empat jurusan, kuda mendesak maju.

Hiruk pikuk kud2, meringkik, se-olah2 memecah bumi.

Yan-chiu sibuk sekali.

Untung pada saat2 yang berbahaya itu, se-konyong', terdengar dua buah suitan aneh.

Menyusul dengan itu, dua sosok bayangan, satu merah satu hitam, meluncur turun dari atas wuwungan sebuah rumah.

Bayangan merah menghamperi Tio Jiang, bayangan hitam mendekati Yan-chiu.

Mereka ternyata adalah suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay.

Tanpa berkata ba atau bu, Swat Moay segera mengepit Yan-chiu dibawah ketiak, kemudian sekali enjot kakinya, Swat Moay bawa Yan-chiu melayang keatas wuwungan.

Gerakannya bagai seekor burung waled.

Sebaliknya Hwat Siau yang hendak meniru perbuatan isterinya, telah mengalami kesukaran terhadap Tio Jiang.

Begitu tangan Hwat Siau mengulur, Tio Jiang turunkan bahunya lalu mengirim sebuah hantaman kemuka.

Hwat Siau tersentak kaget.

Cengkeramannya luput, malah berbalik didorong oleh tenaga dahsyat.

Cepat dia robah gerakannya, memutar tangan untuk merangsang bahu sianak muda.

Tapi dia tetap tak mau menghindar dari sodokan Tio Jiang tadi, maka tangan Tio Jiangpun tepat dapat mengenai sasarannya dan uh tangannya itu serasa memegang api membara.

Dalam pada dia terkejut, tahu2 bahunya sudah tercengkeram tangan Hwat Siau.

Hendak dia meronta, tapi sekali diputar tahu2 tubuhnya sudah pindah diatas pundak Hwat Siau.

Tepat pada saat itu pasukan berkuda lawan sudah merapat dekat.

Hwat Siau perdengarkan suara ketawa mengejek, sekali enjot sang kaki, dia melayang keatas wuwungan rumah.

Saking herannya, pasukan berkuda itu ter-longong2 kesima.

Untuk melampiaskan kemengkalannya, mereka segera menghujani kedua pesakitan dengan tombak dan golok, hingga tubuh mereka tercincang hancur.

Sampai kerajaan Beng berhijrah kedaerah selatan dan berganti dengan nama Lam Beng (Beng Selatan), namun adat kebiasaan buruk dari para pembesar sipil dan militer masih melekat dalam2.

Hanya membunuh dua orang pesakitan yang tak berdaya, mereka menghaturkan laporan keatas kalau pemberontak yang hendak merampas pesakitan itu dapat dibunuh semua.

Hal ini untuk menutupi kelemahan mereka dan mengidamkan pahala dan hadiah.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 47 .

MENGUNDANG HARIMAU BUAS Sekarang marilah kita, ikuti perjalanan Hwat Siau dan Swat Moay.

Dengan mengepit kedua anak muda itu mereka menuju keluar kota.

Tiba ditepi sungai, karena sudah tiada tentara yang, mengejar, mereka lepaskan Tio Jiang dan Yan-chiu.

Diam2 Yan-chiu merasa berterima kasih atas tindakan suami isteri itu.

Hal ini disebabkan kerinduannya pada sang suko.

Hampir setahun berpisah masa baru bertemu saja sudah menghadapi bahaya maut.

Sebaliknya Tio Jiang yang jujur, menganggap bahwa kedua orang yang menolonginya itu tentulah kaum cianpwe persilatan, maka tanpa ragu2 dia segera haturkan terima kasih.

"Ah, sama2 kaum persilatan, mana tega berpeluk tangan mengawasi hengtay (saudara) dicelakai kawanan serdadu? Usah banyak peradatanlah!"

Sahut kedua suami isteri itu.

Jawaban itu, merupakan jawaban yang lazim diucapkan oleh para orang gagah budiman.

Tanpa menyelidiki dulu siapakah kedua suami isteri itu, kembali Tio Jiang haturkan terima kasih, serunya.

"Bagaimana tak harus menghaturkan terima kasih? Dari mana jiwi mengetahui berita penangkapanku itu? Adakah jiwi ini datang dari Lo-husan ?"

Menduga ada sesuatu, buru2 Swat Moay gunakan ilmu thoan-im-jip-bi (menyusupkan suara) untuk bertanya kepada Yan-chiu.

"Siau-ah-thau, adalah dia itu kekasihmu? Kami telah menolongmu tadi, sekarang harap kau jangan buka suara apa2, nanti tentu kubuka jalan darahmu itu agar kau dapat pergi dengan bebas, mau tidak?"

Oleh karena hati Yan-chiu hanya tertumpah pada diri sang suko, iapun mengiakan dengan serta merta. Melihat isyarat itu, baru Swat Moay memberi penyahutan pada Tio Jiang.

"Benar, kami baru saja datang dari Lo-hu-san. Eh, mengapa siaoko dapat mengetahuinya?"

Yan-chiu terkesiap.

Terang dia bersama kedua suami isteri itu baru datang dari Lok-jiang keselatan sini (Kauyau-koan), tapi mengapa Swat Moay memberi keterangan begitu?

Ia taruh kecurigaan, tapi belum mengetahui sebab2nya.

"Ah, sungguh tak nyana kalian begitu lekas mengetahui berita itu. Dengan dua orang saudara aku menuju ke Kau-yau-koan, tapi belum sampai menghadap raja, sudah ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan, dianggap sebagai pesakitan jahat. Turut keterangan sipir penjara, raja telah mempersalahkan kami berserekat pada sisa anak buah Thio Hian Tiong. Jadi kami digolongkan dengan kawanan pemberontak. Ah, mereka tak mengetahui bagaimana semangat perjoangan dan jiwa patriot dari saudara2 kita itu!"

Tio Jiang menghabisi keterangannya dengan menghela napas panjang pendek.

Sebagai seorang benggolan dinas intelligence (rahasia) pemerintah Ceng, walaupun keterangan itu tiada awal mula, tapi Swat Moay segera dapat menarik kesimpulan bahwa kini digunung Lo-hu-san sana telah siap berkumpul para orang gagah yang bersedia untuk membantu pada kerajaan Lam Beng.

Tapi raja Ing Lek yang tidak mempunyai kebijaksanaan itu, malah menganggap mereka itu hendak memberontak, maka Tio Jiang yang ditugaskan oleh kawan2nya menjadi utusan, telah dijebloskan dalam penjara.

Diam2 Swat Moay bersorak dalam hati.

Kawanan orang gagah yang hendak dibunuh dengan dinamit digereja Ang Hun Kiong tetapi gagal itu, kini ternyata ditolak mentah2 oleh pemerintah Lam Beng.

Ah, ini merupakan kesempatan yang bagus untuk mengembangkan aksi subversifnya (gerakan dibawah tanah).

Apabila Tio Jiang pulang dan mereka (Hwat Siau dan Swat Moay) menambahkan api, sudah tentu para orang gagah itu akan ber-jingkrak2 marah.

Dan inilah suatu landasan yang subur-untuk mengadu domba dan menghancurkan mereka.

"Ah, sungguh kurang ajar betul, sekarang saudara2 kita itu tentu putus asa!"

Akhirnya Swat Moay berkata dengan menghela napas, pura2 ikut bersedih.

"Ah, tidak! Ketika aku datang suhu pernah mengatakan, bahwa sekalipun pemerintah Beng mengadakan aksi perobahan haluan, kita tak boleh gugup dan cemas. Masakan sebelum diadakan pemilihan untuk jabatan Toa-ah-ko (pemimpin pertama) dan ji-ah-ko (pemimpin kedua), kita terus akan turun gunung begitu saja?"

Tanya Tio Jiang.

Kaget dan girang Swat Moay mendengarnya.

Kaget, karena dalam 10 bulan saja, kawanan orang gagah itu sudah berhasil membangun lagi organisasi Thian Te Hui.

Dugaan ini didasarkan atas ucapan Tio Jiang tentang pemilihan toa-ah-ko dan ji-ah-ko itu.

Girang, karena kebenaran sekali ia (Swat Moay) dapat mengetahui hal itu.

Dengan begitu sebelum organisasi itu berhasil dibentuk, dapatlah mereka berdua (Hwat Siau dan Swat Moay) menyusup kedalam untuk memecah belah.

"Oh, begitu. Kami berdua sebenarnya siap hendak menuju ke Lo-hu-san. Ketika tiba disini dan mendengar berita tentang pemerintah Beng menangkap 3 pemberontak, yang kami duga salah seorang tentu -Tio-heng sendiri, maka kami ber-gegas2 datang kemari untuk memberi pertolongan,"

Buru2 Swat Moay menyahut dengan mengikuti perobahan angin.

Sebagai seorang yang jujur, Tio Jiang tak menyangka sesuatu dalam ucapan Swat Moay itu.

Tidak demikian dengan Yan-chiu yang saking herannya terus hendak bertanya, tapi selalu dicegah dengan isyarat mata oleh Swat Moay hingga terpaksa tak jadi.

Biasanya otak sinona itu cerdas, tapi pada saat itu ternyata belum dapat menginsyafi betapa gawatnya urusan itu.

Malah dia hanya buru2 menanyakan pada sukonya.

"Suko turut katamu itu suhu, Thaysan Sintho dan kawan2 semua tak ada yang binasa bukan ? Ai, aku telah tersiksa pikiran karena mengira kamu sama binasa!"

"Kami semuapun mengira kalau kau yang sudah binasa!"

Jawab Tio Jiang.

Dengan ucapan itu, masing2 ternyata saling perhatikan nasibnya satu sama lain.

Tio Jiang minta Yan-chiu menuturkan pengalamannya ketika berada digereja Ang Hun Kiong itu.

Tapi sebaliknya sinona, meminta sukonya yang menceritakan pengalamannya lebih dahulu.

"Ayuh, kita teruskan perjalanan dulu!"

Sahut Tio Jiang, siapa lalu memanggil sebuah perahu untuk menuju ke Kwichiu terus kembali ke Lo-hu-san.

Hwat Siau dan Swat Moaypun tanpa ragu2 lagi ikut naik kedalam perahu itu.

Didalam perjalanan itu, barulah Tio Jiang tuturkan apa yang telah dialaminya selama itu.

Kiranya dalam pertemuan dalam gereja Ang Hun Kioii pada 10 bulan yang lampau itu, yalah pada saat Kui-ing-cu berobah menjadi gila dan sekalian orang gagah rombongan Ceng Bo sama menyingkir, jarak waktunya hanya terpaut sedikit dengan ledakan dinamit itu.

Itu waktu karena tak tega melihat keadaan Kui-ing-cu, Tio Jiang segera menghampiri dan hendak mengucap beberapa patah kata pada tokoh itu.

Tapi karena sudah kalap dan lupa se-gala2nya.

Kui-ing-cu lalu mengejar anak muda itu, siapa karena ketakutannya segera lari menuju keruangan samping.

Kui-ing-cu tetap mengudaknya, hingga sekalian orang gagah yang menguatirkan keselamatan Tio Jiang ikut memburu kesana.

Dalam sekejap saja, berpuluh-puluh orang gagah dalam rombongan Ceng Bo itu sama meninggalkan ruangan pertempuran dan menuju kesamping.

Kang Siang Yan dengan memimpin Bek Lian pun ikut kesana.

Tapi dalam pada itu, tak lepas2nya ia memandang The Go dengan sorot mata beringas, hingga membuat nyali pemuda culas itu serasa copot dan tak berani berpisah dengan Ang Hwat cinjin.

Juga Ang Hwat yang melihat Can Bik-san tak kunjung datang itu, merasa curiga dan ikut tinggalkan ruangan itu.

Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba2 terdengarlah ledakan yang dahsyat dari arah belakangnya.

Berbareng lengan itu, atap wuwungan ruangan situ ambruk, lantainya muncrat.

Ledakan itu sedahsyat gunung meletus.

Syukurlah, mereka sudah terpisah jauh, jadi meskipun ketimpah pecahan atap dan dinding, namun tak sampai membahayakan jiwanya.

Ang Hwat terbeliak kesima dan ter-longong2 sampai beberapa jenak.

Tapi Thaysan sin-tho Ih Liok sudah segera berseru keras.

"Ang Hwat cinjin, kau telah ditipu oleh siasat yang keji dari pemerintah Ceng!"

Ang Hwat seperti disadarkan.

Sekilas merenung, segera dia menggerung keras.

Dengan memimpin tangan The Go, dia menobros keluar.

Kang Siang Yan mengikutinya dari belakang.

Tapi oleh karena tak faham akan seluk beluk jalanan dalam gereja itu, maka begitu tiba diluar, ia sudah tak menampak lagi bayangan Ang Hwat dan The Go.

Ternyata Ang Hwat lari kebawah gunung Ko-to-san.

Disitu dia berjumpa dengan ke 18 jagoan yang tengah menunggu kabar dari Hwat Siau dan isterinya.

Melihat mereka, murka Ang Hwat tak dapat ditahan lagi.

Sekali bergerak, dia lancarkan dua buah serangan sekali gus dan hasilnya, seketika itu juga ada 4 orang jagoan lihay, telah diterkamnya binasa.

Rupanya kepala gereja Ang Hun Kiong itu telah umbar kemarahannya benar?.

Dalam beberapa kejab saja, dia sudah dapat melukai separoh lebih dari ke 18 jagoan itu.

Tujuh orang dari rombongan jagoan itu yang ilmu kepandaiannya agak mendingan, walaupun dengan ter-birit2 tapi dapat juga lari menyelamatkan jiwanya.

Habis mengamuk, Ang Hwat ter-mangu2 sampai beberapa lama.

Kini dia merasa rencananya itu, malah mencelakai dirinya, seperti apa yang pepatah katakan "barang siapa menggali lubang, dia pasti akan terperosok sendiri".

Bukan melainkan kehilangan pamor nama, pun gereja yang berpuluh tahun dibangun itu, hanya dalam sehari saja sudah rusak hancur.

Kesedihan hatinya, sukar dilukiskan.

Dengan menghela napas dalam, dia ajak The Go tinggalkan tempat itu.

Tak antara berapa lama ketua gereja Ang Hun Kiong itu berlalu, dengan berserekat beberapa kawan akhirnya Ceng Bo berhasil dapat menguasai Kui-ing-cu, siapa setelah dapat ditutuk jalan darahnya lalu digotong turun gunung.

Untunglah karena tenaganya sudah banyak berkurang, maka Kui-ing-cu tanpa banyak susah dapat ditundukkan.

Coba dia masih seperti dahulu, siapakah yang sanggup melayaninya?

Tiba dikaki gunung, dilihatnya disitu berserakan beberapa mayat.

Mereka mulai men-cari2, tapi Can Bik-san tak dapat diketemukannya.

Rombongan orang gagah itu mulai gelisah.

Ah, mengapa tak menyelidiki mayat2 yang bergelimpangan itu?

Mayat2 itu sama putus kaki tangannya dan hancur tulang belulangnya.

Terang mereka dibunuh oleh Ang Hwat cinjin.

Begitulah rombongan orang gagah itu mulai menyelidiki mayat2 itu satu demi satu dan akhirnya berhasillah mereka mendapat mayat Can Bik-san terserak dalam sebuah semak belukar.

Dari kantong baju orang she Can itu diketemukan sebuah bungkusan hong-sin-san (obat pemunah sakit gila), lalu diminumkan kedalam mulut Kui-ing-cu.

Setelah minum obat itu, mata Kui-ing-cu yang dulunya mendelik dapat merapat kembali dan tidur dengan pulasnya.

Sejak peristiwa digereja Ang Hun Kiong itu, para orang gagah sama menginsyafi bagaimana ganasnya tindakan pemerintah Ceng itu untuk membasmi mereka.

Akhirnya diputuskan untuk membangunkan lagi perkumpulan Thian Te Hui.

Mereka berpencar untuk menghubungi sekalian orang gagah dari pelbagai daerah dan menetapkan suatu waktu pertemuan dipuncak Giok-li-nia gunung Lo-hu-san.

Sebelum Tio Jiang berangkat ke Siau Ging, digunung Lo-hu-san sudah berkumpul ribuan orang gagah dari empat penjuru.

Disamping itu sejumlah besar para petani dan rakyat dari wilayah Hokkian, Kwiciu dan lain2 tempat.

Mereka yang pernah mengalami siksaan dari keganasan tentara Ceng, mereka yang lolos dari kepungan digunung Hoasan, sama berduyun2 datang kegunung Lo-hu-san.

Jumlahnya tak kurang dari 7 sampai 8 ribu orang.

Juga Ceng Bo siangjin mengirim orang untuk berhubungan dengan anak buah Thio Hian serta anak buah Giam-ong.

Dari koordinasi itu, dapatlah diterima lagi seribuan orang lebih.

Dengan mempunyai lasykar rakyat dan petani itu, selain dapat menjaga perbatasan sebelah timur dari propinsi Kwitang, dapat digunakan untuk pertahanan didaerah Kangsay untuk bergabung dengan pasukan Li Seng Tong, pun dapat digunakan untuk menghalau tentara Ceng yang menduduki Hokkian.

Sungguh suatu angkatan perang yang cukup mempunyai dayaguna, karena semangat bertempur mereka ber-nyala2.

Tapi satu hal yang menjadi kesulitan besar, yakni soal ransum makanan bagi sekian banyak orang.

Ada beberapa saudara, misalnya Sin-eng Ko Thay dan beberapa orang yang kaya, telah menjadi habis seluruh harta kekayaannya untuk beli kuda dan alat2 pelengkapan perang, jadi soal ransum itu tetap merupakan problim beban yang maha berat.

Oleh karena mereka hendak berjoang guna kepentingan rakyat, jadi tak maulah mereka menjalankan cara yang lazim digunakan oleh kaum perampok dan begal dikalangan lioklim (kaum begal).

Soal sulit itu telah diperundingkan dan akhirnya diputuskan, mengirimkan seorang utusan untuk menghadap pada kaisar Ing Lek dikota raja Siau Ging.

Mohon supaya pemerentah Beng memberi bantuan ransum seperlunya, dan menyerahkan tampuk pimpinan gerakan para patriot itu pada kerajaan Beng.

Asal dipergunakan untuk menghalau penjajah Ceng, relalah sudah setiap orang gagah itu mengorbankan jiwa raganya.

Tio Jiang telah dipilih untuk melakukan tugas perutusan itu.

Selama setengah tahun ini bukan saja ilmu kepandaian anak muda itu bertambah maju dengan pesatnya, tapi semua orang sama mengindahkan akan watak perangainya yang jujur luhur itu.

Maka pilihan untuk menjalankan tugas yang berat itu, jatuh kepadanya.

Namun mimpipun tidak, kalau pemerintah Beng telah mencap "pemberontak"

Pada gerakan kaum patriot di Lo-husan itu.

Jumlahnya hampir 10 ribu orang, ah......, bukantah gerakan macam Thio Hian Tiong akan timbul lagi ini?

Bukan ransum yang diterima tapi sebaliknya Tio Jiang telah dijebluskan dalam penjara.

Tio Jiang yang keliwat jujur itu, pun tak mengerti apa sebabnya pemerintah Beng menangkapnya itu.

Coba tiada Yan-chiu yang menolonginya, dia pasti akan mati dengan penasaran!

Begitulah setelah habis mendengari kisah yang dibawakan Tio Jiang itu, Yan-chiu dan kedua suami isteri itu mempunyai kesan lain.

Yan-chiu tak puas2nya memandang gerak gerik sukonya kala menceritakan kisahnya itu.

Dahaga kerinduannya selama hampir setahun itu, rasanya masih belum terlepas puas.

Sehingga lupalah ia akan diri kedua suami isteri itu.

Bukantah mereka berdua itu merupakan benggolan kaki tangan pemerintah Ceng?

Urusan mendirikan lagi Thian Te Hui digunung Lo-hu-san itu, seharusnya tak boleh dikatakan kepada orang lain lebih2 pada kaki tangan musuh.

Itu suatu rahasia besar yang pantang diketahui oleh sembarang orang.

Hwat Siau dan Swat Moay telah menetapkan suatu rencana untuk menghadapi kawanan orang gagah di Lo-hu-san itu.

Apabila hal itu berhasil, pahala besar terbayang dimatanya.

Tio Jiang tak mengetahui siapakah sebenarnya kedua suami isteri itu.

Karena melepaskan kangennya kepada Yan-chiu, tak putus2lah dia bercerita ini itu.

Malam itu Hwat Siau berunding dengan isterinya cara bagaimana mereka dapat menyusup kedalam Lo-hu-san.

"Kecuali budak perempuan itu, lain orang tak kenal kita, jadi tak sukarlah rasanya untuk menyusup kesana!"

Kata Swat Moay.

"Kalau begitu, lebih baik kita habisi jiwa budak itu saja."

"Lebih baik dua2nya sama sekali, karena kalau yang satu masih hidup, mungkin membahayakan. Tapi jangan malam ini, nanti setelah melalui Kwiciu, kita turun tangan, masa mereka dapat lari kemana,"

Ujar Swat Moay.

Hwat Siau menyetujui pikiran isterinya itu.

Keesokan harinya, perahu tiba disekitar perairan Sam-cui.

Tukang perahu berlabuh untuk membeli ikan dan beras.

Melihat keindahan alam diperairan situ, Tio Jiang dan Yan-chiu kepingin ber-jalan2.

Tio Jiang loncat kedaratan dan Yan-chiupun hendak mengikutinya tapi Swat Moay segera berseru bengis.

"Siao-ah-thau, jangan pergi ke-mana2!"

Yan-chiu tertegun dan tak berani membangkang.

la cukup menginsyafi, bahwa dengan jalan darahnya chit-jit-hiat masih ditutuk, apabila ia sampai membangkang, pasti celaka akibatnya.

la hanya berdiri pada buritan perahu seraya memberi isyarat tangan supaya Tio Jiang kembali.

"Siao Chiu, mengapa kau tak naik kedaratan melihat-lihat pemandangan sebentar?"

Seru Tio Jiang dengan keheranan.

"Aku tak kepingin pesiar Suko, kaupun jangan pergi, temanilah aku disini saja!"

Sahut Yan-chiu dengan hati yang getir.

Tio Jiang cukup kenal bahwa sumoaynya itu seorang nona yang doyan pesiar, tapi mengapa harini ia tak mau naik kedaratan?

Ah, jangan2 karena sudah makin dewasa, kini perangainya agak berobah.

Walaupun menaruh kecurigaan, tapi mau juga dia kembali naik kedalam perahu dan duduk disamping Yan-chiu.

Banyak nian isi kalbu Yan-chiu yang hendak dicurahkan, tapi entah bagaimana, mulutnya serasa berat mengatakannya.

Tio Jiangpun tak dapat mencari bahan2 untuk pembicaraan, jadi keduanya se-olah2 diam membisu saja.

Se-konyong2 terdengar ribut2 didaratan sana.

"Kau, kau mengapa begitu kurang ajar?"

Seru seorang tua dengan suara ter-bata2. Pada lain saat, terdengar suara orang ketawa lepas dan nyaring.

"Apanya yang kurang ajar? Pak tua, jangan ribut2 ya?"

Menyusul dengan itu, terdengar suara tubuh jatuh ketanah.

Rupanya itulah siorang tua tadi.

Sementara itu, dari semak pohon muncul keluar seorang pemuda sembari tangannya menjinjing dua ekor ikan yang masih hidup.

Orang itu mengenakan pakaian warna biru dan ikat kepala dari seorang mahasiswa.

Melihat dia, hati Tio Jiang dan Yan-chiu berdebur keras.

Selama berjalan itu, orang muda tersebut tak henti2-nya berpaling kebelakang.

Benar juga, ada seorang tua ter-huyung2 lari mengejarnya.

GAMBAR 87 Selagi Yan-chiu dan Tiu Jiang duduk termenung diburitan perahu, tiba2 dari balik pohon sana muncul satu pemuda sastrawan dengan menjinjing dua ekor ikan disebelah tangannya.

Ternyata pemuda itu bukan lain adalah The Go.

"Apakah tiada undang2 lagi, maka siang hari bolong berani merampas milik orang?!"

Teriak orang tua itu. Namun pemuda itu hanya ganda tertawa saja sembari angkat sebelah kakinya siap untuk menendang pak tua itu. Pada saat itu Tio Jiang sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi.

"The Go, kau berbuat apa disitu?!"

Bentaknya dengan lantang.

Saking kagetnya, dua ekor ikan yang dipegangi orang muda yang ternyata si The Go itu, terlepas jatuh.

la buru2 berpaling kebelakang dan dapatkan Tio Jiang beserta Yanchiu tengah berdiri diburitan perahu seraya memandangnya dengan sorot mata yang gusar.

Celaka, satu saja dia tak sanggup menghadapi apalagi kini dua orang sekaligus hendak melabraknya.

Secepat kilat dia mendapat akal.

Dirakupnya kedua ekor ikan tadi, lalu ditimpukkan kearah Yan-chiu dan Tio Jiang, dan berbareng itu dia loncat kebelakang hendak angkat kaki seribu.

Sudah tentu kalini Tio Jiang tak mau melepaskan musuhnya itu.

Setelah menangkis ikan yang melayang kearahnya itu, dia segera enjot kakinya melayang kedaratan seraya berseru.

"Jangan lari!"

The Go berpaling kebelakang dan mengeluh. Mengapa gerakan anak muda musuhnya (Tio Jiang) itu sedemikian pesatnya? Teranglah itulah gerakan ilmu mengentengi tubuh "i-seng-hoan-wi"

Yang lihay.

Mana dia dapat menandinginya?

Hari itu sucounya (Ang Hwat cinjin) pergi, mungkin dua tiga hari lagi baru kembali, jadi terang dia harus menghadapi sendiri.

Kiranya sejak meninggalkan Ko-to-san, Ang Hwat menyembunyikan diri ditempat situ.

Benar ilmu kepandaian The Go juga makin bertambah maju, tapi biar bagaimana tetap masih kalah dengan Tio Jiang yang giat belajar itu.

Kemaren begitu Ang Hwat pergi, penyakit The Go segera angot kembali, dia berkeliaran keluar dan terbitkan onar.

Celakanya, kali ini dia ketemu Tio Jiang, saingan lamanya.

Jalan satu2nya, yalah melarikan diri se-kuat2nya.

Tapi ketika dia menoleh kebelakang dan dapatkan Yan-chiu tak turut mengejar masih tetap berdiri diburitan perahu, dia menjadi keheranan dan tertegun berhenti.

Dalam pada itu, Tio Jiang sudah hampir mendatangi.

The Go gelagapan dan teruskan larinya lagi.

Namun Tio Jiang ternyata jauh lebih cepat dari dia, malah kini sudah ulurkan tangan untuk menerkam.

Tanpa menoleh lagi The Go kibaskan tangannya kebelakang.

Dengan jurus pia-yu-tong-thian (masih ada dunia lain), dia tutuk jalan darah lo-kiong-hiat ditelapak tangan Tio Jiang.

Yang digunakan untuk menutuk, yalah sebuah benda yang hitam warnanya.

GAMBAR 88 Ketika merasa Tio Jiang hendak mencengkeram dari belakang, tanpa menoleh cepat The Go keluarkan ruyung nya terus menyabet kebelakang.

Tio Jiang cepat mengenali benda hitam itu sebagai im-yang-pian (pian-im-yang) kepunyaan Ang Hwat cinjin.

Sewaktu digereja Ang Hun Kiong pernah Tio Jiang melihat pian istimewa Itu dapat didulur-surutkan sekehendak sipemakai.

Buru2 dia tarik pulang cengkeramannya tadi.

Benar juga, berbareng pada saat itu, plan itu se-konyong2 menjulur sampai setengah meter panjang keudara.

Kalau saja Tio Jiang tadi tak keburu menarik tangannya, betapapun lihaynya tetap dia pasti akan menderita kerugian.

The Go cukup yakin bahwa jurusnya pia-yu-tong-thian tadi, kaya dengan gerak perobahan.

Sekalipun tak dapat melukai Tio Jiang, tapi se-kurang2nya dapat juga untuk, menghadang lawan.

Dan setelah melancarkan serangan itu, The Go segera lanjutkan berlari kemuka masuk kedalam sebuah hutan.

Ketika Tio Jiang mengejar, disitu ternyata terdapat beberapa petak rumah yang sekelilingnya dipagari dengan pohon bambu.

"Cian-bin Long-kun, main sembunyi macam tikus begitu, bukan laku seorang jantan! Ayuh, keluar dan ikut aku ke Lo-hu-san. Seorang laki2, berani berbuat tentu berani menanggung resikonya, mengapa bersembunyi'?"

Tapi terhadap seorang macam The Go, sia2 sajalah segala macam ucapan ksatrya yang kosong itu.

Tahu kalau Tio Jiang tentu mengejar, dia tak mau masuk kedalam rumah sebaliknya lalu menyusup kesamping dan terus loncat bersembunyi diatas sebatang pohon.

Oleh karena mengira dia bersembunyi dalam rumah, Tio Jiang meneriakinya sampai berulang kali, namun tetap tiada berjawab.

Akhirnya Tio Jiang bermaksud hendak menobros masuk kedalam rumah itu.

Tapi tiba2 dari arah belakang terdengar seseorang berseru dengan nada dingin.

"Tio-heng, perahu sudah akan berangkat, mengapa tak lekas2 kembali?"

Tio Jiang terperanjat, Itulah suatu ilmu mengentengi tubuh yang sakti hingga sama sekali dia tak mengetahui kalau orang, itu sudah berada dibelakangnya.

Ketika berpaling kebelakang, ternyata Hwat Siau sudah berada disitu.

"Harap tunggu dahulu setelah kutangkap orang itu, baru nanti naik keperahu!"

Kata Tio Jiang.

Tapi ternyata Hwat Siau bercuriga, jangan2 anak muda itu sudah mengetahui rahasia mereka berdua, sehingga hendak meloloskan diri.

Maka dia segera mencari ke-mana'2 dan akhirnya sampai ditempat situ.

Diatas pohon, The Go dapat melihat jelas kedatangan Hwat Siau itu.

Rasanya dia pernah melihat tokoh itu bersama isterinya.

Tapi waktu mendengar Hwat Siau memanggil "Tio-heng"

Pada Tio Jiang, herannya tak habis2. Namun sebagai seorang durjana yang cerdas otaknya, dalam waktu singkat saja dia dapat merabah persoalan itu.

"Tentu ada sebabnya, sampai tokoh pemerintah Ceng itu berbuat begitu. Kemungkinan besar mereka telah dapat mengetahui dari mulut Tio Jiang dan Yan-chiu bahwa rombongan orang gagah dibawah pimpinan Ceng Bo siangjin telah membentuk organisasi besar di Lo-hu-san. Sucou (Ang Hwat) karena merasa dihianati itu, tak sudi lagi berhubungan dengan pemerintah Ceng, tapi aku masih bebas! Kedua suami isteri itu tentu memerlukan bantuan, kalau aku dapat mengulurkan tanganku ......"

Berpikir sampai disini dia menjadi kegirangan.

Dua kali sudah The Go menghambakan tenaganya kepada pemerintah Ceng, tapi dua kali itu pula dia gagal melaksanakan rencananya.

Semestinya dia harus sudah insyaf.

Tapi sebaliknya begitu membaui jejak Hwat Siau dan Swat Moay untuk menggempur rombongan orang gagah, kembali dia meluap lagi nafsunya.

Dari sini dapat ditilik sampai dimana martabat orang muda yang gila pangkat dan harta itu, hingga tak segan menjadi penghianat, rela pula mengorbankan seorang isteri.

Setelah menetapkan rencananya, dia segera melorot turun seraya berseru.

"Orang she Tio, jangan bermulut besar! The toaya ada disini!"

Melihat The Go muncul, Tio Jiang menduga keras kalau pemuda saingannya itu bermaksud hendak mengikutinya naik ke Lo-hu-san. Maka dengan gemas dia menyahut.

"Cianbin-long-kun, itu barulah laku seorang jantan!"

The Go memandangnya dengan menghina, kemudian memberi hormat kepada Hwat Siau, ujarnya.

"Cianpwe, sudah lama kita tak berjumpa!"

Melihat munculnya sianak muda itu secara mendadak, wajah Hwat Siau berobah seketika. Tapi The Go yang licin segera dapat menebak pikiran orang, maka buru2 dia berkata.

"Sucouku sedang bepergian, disini hanya tinggal aku seorang diri!"

Ucapan itu dimaksudkan untuk menenangkan kegelisahan Hwat Siau yang merasa telah kesalahan terhadap fihak Ang Hun Kiong.

Tapi Hwat Siau belum dapat pulih ketenangannya.

Syukurlah pada saat itu Swat Moay dengan memimpin Yan-chiu tampak mendatangi.

Wanita itupun terbeliak, namun setelah mendengar kata2 The Go tadi, ia menjadi tenang kembali.

Baik Cian-bin Long-kun maupun kedua suami isteri Hwat Siau Swat Moay itu adalah orang julik yang cerdas, jadi cukup dengan bertukar sepatah dua patah perkataan saja, masing2 sudah dapat menyelami maksudnya.

Swat Moay cukup mengetahui bahwa The Go benci tujuh turunan pada rombongan Ceng Bo, maka kalau mereka (Hwat Siau dan Swat Moay) bisa dapatkan bantuan dari pemuda itu pastilah akan besar faedahnya.

Cepat Swat Moay memberi isyarat mata pada The Go, kemudian mulutnya pura2 mendamprat.

"Orang she The, kali ini kau takkan lolos. Ayuh, ikut pada kita tidak?!"

The Go mengerti apa yang disandiwarakan oleh Swat Moay, diapun tahu bahwa kedua suami fateri itu adalah orang kepercayaan Sip-ceng-ong Tolkun yang memegang kekuasaan besar dalam pemerintahan Ceng.

Maka tanpa banyak pikir lagi, dia segera tundukkan kepala pura2 menyesal dan patuh.

Yan-chiu heran mengapa Swat Moay membantu sukonya untuk menangkapkan The Go, namun kenyataan memang begitu.

Malah ketika sudah dibawa kedalam perahu, The Go segera ulurkan kedua tangannya, bertanya.

"Tio-heng, apakah tanganku ini tak diikat?"

"Kita sekalian adalah orang2 persilatan, jadi tak usahlah!"

Sahut Tio Jiang, pemuda yang jujur itu.

Yan-chiu pernah mengalami pil pahit dari The Go, ya walaupun tak sebanyak dan sehebat seperti Tio Jiang, namun ditinjau dari kelakuan anak muda itu (The Go) yang begitu kejam membuang cinta kasih Bek Lian, ia percaya penyerahan dirinya kali ini tentu tak sewajarnya.

Disitu tentu terselip sesuatu, tapi apa dan bagaimana Yan-chiu belum dapat menyingkap.

Maka iapun tinggal diam saja dan hanya mengerahkan seluruh perhatiannya pada perkembangan yang akan terjadi nanti.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 48 .

PEMILIHAN UMUM Mereka berlayar kearah barat dan menjelang tengah hari, tibalah di Kwiciu.

Kala itu, didalam kota Kwiciu sudah sangat ramainya.

Kuatir terbitkan hal2 yang tak diinginkan, Swat Moay usul supaya mengambil jalan mengitari saja dan tak usah masuk kota.

Oleh karena kepingin buru2 tiba di Lo-hu-san, Tio Jiangpun menyetujui.

Begitu malamnya setelah melintasi kota Keng-seng, mereka segera lanjutkan perjalanan ke Lo-hu-san.

Malam itu rembulan remang, hawanya dingin dan angin malam tak henti2nya mengantar bunyi burung kukukbeluk.

suatu suasana yang memberikan alamat kurang balk.

Tio Jiang dan Yan-chiu berjalan dimuka sedang kedua suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay mengikutinya dari belakang.

Diam2 Yan-chiu mencatat dalam hati bahwa The Go sebenarnya mempunyai banyak sekali kesempatan untuk melarikan diri, tapi nyatanya tidak mau, bahkan senantiasa berada dekat Hwat Siau dan Swat Moay kasak kusuk entah apa yang dirundingkannya, Kini Yan-chiu sudah memastikan bahwa kepergian ketiga orang ke Lo-hu-san itu, tentu tak bermaksud baik.

Tapi sayangnya, selama ini ia tak mempunyai kesempatan untuk memberitahukan hal itu kepada sukonya.

Dalam kesempatan yang sebaik seperti pada saat Itu, ia harus bertindak.

Namun ia agak meragu, mengingat Swat Moay tempo hari telah menolong jiwanya dari kepungan tentara Lam Beng.

Lama setelah merenung akhirnya ia ambil ketetapan untuk mengatakan juga.

"Suko, kalau misalnya kau hanya hidup untuk 3 hari saja, apa yang kau lakukan?"

Tanyanya. Tio Jiang menghela napas. Setelah beberapa saat berpikir, menyahutlah dia.

"Apa yang hendak dikerjakan itu, banyaklah kiranya! Ai......, Siao Chiu, perlu apa kau tanyakan hal itu ? "

Kini giliran Yan-chiu yang menghela napas, lalu berkata.

"Suko, andai kata ada seseorang yang menolong jiwamu, bagaimana tindakanmu?"

"Tentu saja, kubalas budinya!"

"Tapi kalau penolongmu itu ternyata seorang jahat............ taruh kata saja semisal Cin-bin Long-kun, lalu kau bagaimana ?"

"Kalau itu, lain halnya. Sudah beberapa kali dia berhamba pada penjajah Ceng, merugikan kepentingan rahayat. Soal budi perseorangan, itulah nomor dua. Jadi tak dapat kita lepaskan orang Itu!"

Mendengar jawaban itu, Yan-chiu terperanjat.

la mengagumi sukonya itu.

Diam2 ia membatin, jangan2 tindakannya terhadap kedua suami isteri selama ini, kurang benar.

Segera ia membuat suaranya serendah mungkin, membisikinya.

"Suko, jadi kalau menurut anggapanmu, Hwat Siau dan Swat Moay kedua orang itu, walaupun telah menolong jiwa kita namun juga tak boleh dibantu?"

"Siao Chiu, kau bicara apa itu?"

Menegas Tio Jiang seraya tertawa karena rupanya dia tak mendengar jelas.

"lebih baik kita mati daripada mengatakan kalau kedua orang itu menolong kita!"

Yan-chiu dongakkan kepala memandang lekat2 kearah sukonya.

Tio Jiang dapatkan dalam sorot mata sumoaynya itu tiada lagi dari seorang anak perempuan kecil, tapi pandangan mata seorang gadis dewasa.

Tio Jiang ke-malu2an dibuatnya.

"Suko, kau ini bagaimana? Kalau tempo terkepung tentara. Beng di Siau Ging, kita tak dapat lolos, apa kau lebih suka binasa daripada suruh kedua suami isteri itu menolongmu?"

Tanya Yan-chiu pula.

"Binasa ditangan bangsa sendiri adalah jauh lebih utama dari pada ditolongi oleh kaki tangan pemerintah Ceng!"

Sahut Tio Jiang dengan tegas ringkas. Tubuh Yan-chiu menggigil bergemetaran.

"Suko, ah, repotlah ini! Yang menolongi kita, memang Hwat Siau dan Swat Moay!"

Hampir Tio Jiang tak mempercayai pendengarannya. Serentak dia berdiri bertanya keras.

"Siao Chiu, apa katamu tadi ?"

"Benar, yang menolongmu itu adalah Hwat Siau dan Swat Moay!"

Tiba2 Hwat Siau mendahului menyahut.

Dan berbareng pada saat itu, Tio Jiang rasakan ada angin panas menyambar disisinya dan tahu2 orang lelaki kurus yang bermula dikiranya seorang cianpwe itu, kini sudah menghadang disebelah muka.

Dengan bercekak pinggang, sikurus Itu menatap mereka (Tio Jiang dan Yan-chiu) dengan tajam sekali.

Dalam gugupnya Tio Jiang berpaling kebelakang dan disana siwanita kuruspun menyeringai iblis memandangnya.

Jadi kini Tio Jiang dipegat dari muka belakang oleh kedua suami isteri itu.

Ah, jadi mereka itulah Hwat Siau dan Swat Moay, itu sepasang suami isteri yang menjadi orang kepercayaan pemerintah Ceng!

Celaka, tadi dia telah memberitahukan semua apa yang terjadi di Lo-hu-san.

Keringat dingin membasahi tubuh Tio Jiang.

Sedang pada saat itu, terdengar The Go tertawa panjang.

Darah Tio Jiang serasa mendidih.

"Siao Chiu, tak nyana kau ... kau juga ikut pada mereka!"

Dia damprat sang sumoay. Yan-chiu tak dapat menyatakan kesukaran yang dideritanya, maka dengan ter-isak2 ia menyahut.

"Suko, aku hanya belum mengatakan saja........... mereka melarang aku berkata apa2. Setelah berjumpa denganmu, kegirangan telah membuat aku lupa segala apa. Suko, dalam pandanganmu hanya terdapat Lian suci seorang. Kau tak memikirkan bagaimana aku......... memikirkan dirimu. Ah........, toh aku hanya mempunyai waktu 3 hari untuk hidup. Mati ber-sama2 kau, adalah suatu kebahagian!"

Walaupun tak mengerti persoalannya, namun kini barulah Tio Jiang terbuka hatinya bahwa sumoaynya itu telah menaruh hati padanya.

Bukan sehari dua, melainkan sudah lama sekali.

Tapi oleh karena keadaan pada saat itu sangat genting, burul dia berkata.

"Siao Chiu, yang kita hadapi ini bukan terbatas persoalan kita berdua. Kalau ketiga orang Itu sampai ikut naik ke Giok-li-nia, entah akan mendatangkan bahaya apa saja. Jerih susah setengah tahun, tak boleh rusak dalam sehari saja. Ayuh, lekas kita berjalan!"

Dengan menarik lengan Yan-chiu, dia menobros kesebelah kiri.

Tapi disitu Hwat Siau sudah menghadang.

Tio Jiang sudah menduga akan hal itu, maka dia surutkan tubuhnya mendongak, lalu melayang datar keluar.

Gerak itu mengunjukkan suatu penguasaan ilmu lwekang yang sempurna.

Tapi Hwat Siau dan Swat Moay menyerang berbareng.

Swat Moay sudah siang2 menunggu dibelakang, belum kaki Tio Jiang menginjak tanah, wanita jahat itu sudah lepaskan hantaman.

Tio Jiang rasakan punggungnya terasa dingin, sebenarnya dapat dia menghindar kesamping, tapi sesaat terkilas pada pikirannya untuk lolos dua orang terang tak mungkin, maka lebih baik dia bertahan sendiri, tapi dapat lemparkan sumoaynya keluar.

Menilik kepandalan mengentengi tubuh dari sumoay itu, tentu akan dapat melompat lima enam tombak jauhnya dan bisa melarikan diri.

Begitu mengambil keputusan, begitu dia hanya miringkan tubuhnya sedikit untuk menyambut serangan Swat Moay.

Dan berbareng pada saat itu, dengan tangan kanan dia samber tubuh Yan-chiu terus dilemparkan keatas sampai setombak tingginya.

Dan untuk menghadang kemungkinan Swat Moay mengejar sang sumoay, dia segera gunakan jurus tong-cu-pay-hud (anak memuja Buddha), menghantam kedada siwanita seraya berseru nyaring.

"Siao Chiu, lekas naik keatas gunung memberitahukan suhu, jangan bikin kapiran urusan besar!"

Sewaktu melayang diatas, Yan-chiu masih belum mengerti maksud sukonya.

Tapi serta Tio Jiang meneriakinya begitu, baru jelaslah ia.

Tapi bagaimana ia tega biarkan sukonya bertempur seorang diri melawan Hwat Siau dan Swat Moay ?

Bukankah itu berarti membiarkan dia mati?

Dalam detik2 yang genting, pilihannya jatuh pada diri Tio Jiang daripada rombongan orang gagah yang berada di Lo-hu-san itu.

Ah, memang begitulah kalau hati sedang dicengkeram asmara.

Ia melirik kebawah dan dapatkan sukonya sedang menyerang Swat Moay.

"Tidak, kalau binasa biarlah ber-sama!"

Serunya.

Mulut mengucap, tubuh sudah berjumpalitan diudara.

Dengan gerak gan-lok-ping-sat (burung meliwis mendatar turun dipasir, ia meluncur ketanah terus lancarkan permainan ugo-hok-kun (ilmu silat 5 kelelawar).

Dua buah jurus yang istimewa dart permainan ilmu silat itu, yani jurus song-hok-seng-hang (sepasang kelelawar berbaris sejajar) dan ngo-hok-lim-bun (5 kelelawar tiba dipintu), ia serangkan sekali gus.

Ngo-hok kun itu, kecuali harus disertai ilmu lwekang pun yang penting harus dimainkan dengan ilmu kepandaian mengentengi tubuh yang tinggi.

Sedari makan mustika batu, tubuh Yan-chiu selincah burung walet, jadi serangannya tadipun laksana angin pesatnya.

Merasa hantaman Tio Jiang itu cukup kuat untuk menghancurkan batu, Swat Moay menyurut kebelakang, tapi tak disangkanya sama sekali kalau Yan-chiu meluncur balik dan melancarkan dua buah serangan.

Serangan pertama song-hok-seng-hang dapat dihindari, tapi untuk serangan yang kedua yani ngo-hok-lin-bun, tak dapat wanita itu menyingkir lagi.

Blak...., blak...., blak...., blak...., blak...., 5 buah hantaman tepat jatuh diperut Swat Moay.

Benar lwekang Yan-chiu tak sehebat Swat Moay, namun karena nona itu kalap hendak mengadu jiwa, jadi pukulannya tadipun keras juga hingga membuat Swat Moay meringis.

Namun ia tak dapat memutar diri karena tengah tumpahkan perhatiannya kepada Tio Jiang.

Kini ia rangkapkan sepasang tangan lalu mendorong kemuka sianak muda.

Jurus ini disebut thian-it-seng-cui (Alam pertama kali mengadakan air), salah sebuah jurus yang paling lihay dari ilmu im-cui-kang.

Mengetahui sumoaynya tak mau mendengarkan perintahnya dan berkeras untuk ber-sama2 mengadu jiwa, bukannya terima kasih tapi sebaliknya Tio Jiang marah sekali.

"Siao Chiu, kalau kau tak lekas pergi, aku tak mau mengaku sumoay lagi padamu!"

Tapi baru saja dia berteriak begitu, serangan thian-it-seng-cui sudah tiba.

Karena tak tahu akan kelihayan serangan itu, dia buru2 surutkan kembali tangannya untuk dibuat menangkis.

Tapi begitu berbentur, segera tubuhnya merasa kedinginan, celaka.......

demikian dia mengeluh terus dengan ter-sipu2 miringkan tubuhnya untuk gunakan jurus hong-cu-may-ciu meloloskan diri.

Tapi secepat kilat Swat Moay susuli lagi dengan sebuah dorongan, hingga Tio Jiang yang belum sempat menginjak bumi itu, merasti punggungnya sangat dingin sekali.

Masih dia berusaha untuk menghuyung kemuka, tapi kepalanya serasa pening mata ber-kunang2.

"Tio-heng, berdirilah yang jejak!"

Seru Hwat Siau sembari tertawa keras.

Masih telinga Tio Jiang mendengar seruan itu, tapi tubuh2nya ter-putar2 dan matanya berpudaran dan bluk........

jatuhlah dia tak kabarkan diri lagi.

Yan-chiu terperanjat melihat sukonya dirubuhkan oleh kedua suami isteri itu.

"Siao-ah-thau, berdamping dengan kekasih, kau puas tidak?"

Swat Moay tertawa menyeringai.

Tapi Yan-chiu tak menghiraukan hanya terus menubruk tubuh sukonya.

la menangis keras, tapi air matanya tak keluar, karena sudah habis.

Hwat Siau tak mau buang banyak waktu.

Begitu tangan diangkat, segera dia hendak menghantam kepala sinona.

Tapi tiba2 dia tersentak kaget, karena mendengar suara tangisan bayi.

Dan pada lain saat terdengar seorang wanita membujuknya.

"Jangan menangis, buyung! Biar nenek mencarinya siapa yang mengganggu tidurmu ini, nanti nenek usir mereka, sudah jangan menangis!"

Bujuk rayuan itu bernada kesayangan seorang nenek terhadap cucu yang dikasihinya. Tapi Hwat Siau dan Swat Moay sudah ketakutan setengah mati.

"Ayuh, lekas pergi!"

Swat Moay bisiki suaminya.

Sekali gerak, Hwat Siau sudah meluncur setombak jauhnya.

Tapi disitu ia berhenti sejenak untuk kibaskan tangannya kearah Yan-chiu.

Yan-chiu tak bersiaga sama sekali, sesaat dia merasa seperti disamber hawa panas hingga seketika ia tak dapat bernapas!

Swat Moay, Hwat Siau dan The Go bertiga secepat kilat sudah lari menuju sebuah jalanan kecil.

Dengan kepandaian mengentengi tubuh yang sempurna, menjelang terang tanah, mereka sudah masuk ke Lo-hu-san.

Oleh karena pernah mengunjungi Giok-li-nia, jadi The Go faham akan jalanan disitu.

Dia terkenang akan kunjungannya pertama digunung situ bersama orang kawannya serta pertemuannya yang pertama kali dengan Bek Lian.

Ketika matahari menjulang diufuk timur, mereka sudah tak seberapa jalih dari Giok-li-nia.

Dari kejauhan tampak dipuncak itu terdapat barisan kemah ber-jajar2, dan hixuk pikuk suara orang.

The Go berhenti, katanya.

"Kita harus bekerja menurut rencana kita itu"

"Cian-bin Long-kun, kalau kali ini berhasil, nanti dihadapan Sip-ceng-ong kami berdua tentu akan mengusulkan dirimu!"

Kata Swat Moay. The Go pura2 merendah. Makin mendekati ketempat itu, tampak the-Go makin beraksi seperti orang yang bersedih, hingga membuat Hwat Siau geli.

"Niocu, kalau ada salah seorang dari mereka yang mengenali kita, bukankah urusan akan menjadi runiam ?"

Tanya Hwat Siau pada sang isteri.

"Hem, hal itu siang2 sudah kupikirkan,"

Ujar Swat Moay sembari mengeluarkan dua stel pakaian dari buntelannya. ternyata pakaian itu pakaian biasa (orang preman).

"Sejak kita datang keselatan sini, belum pernah menampakkan muka. Dengan berganti pakaian tak nanti ada orang yang mengenali kita lagi!"

Benar juga setelah bersalin pakaian, keduanya menjadi orang baru.

Sekalipun orang yang pernah berjumpa, namun dalam sesingkat waktu, sukarlah untuk mengenalinya.

Apalagi selama itu mereka telah bekerja dengan cermat sekali.

Ketika digereja Ang Hun Kiong, selain Ang Hwat cinjin, keempat muridnya dan The Go serta Kang Siang Yan dan Bek Lian, tiada seorang lain lagi yang pernah melihatnya.

Orang hanya mendengar namanya tapi belum pernah melihat wajahnya.

Mereka segera membawa The Go lanjutkan perjalanan.

Terdengar suara petasan dipasang dengan gempar, pertanda bahwa hari itu Thian Te Hui akan mengadakan pemilihan pemimpin.

Memang sebagian besar dari orang2 itu berasal dari daerah Kwiciu.

Turut naluri kebiasaan rakyat daerah itu, setiap ada peristiwa besar, tentu membakar mercon untuk meramaikan.

Begitu tiba, dilihatnya banyak sekali jumlahnya orang2 yang berkumpul disitu.

Barisan kemah walaupun kasar pembuatannya, namun ber-jajar2 secara teratur sekali.

Sepasang suami isteri itu sudah menjelajahi kedua propinsi Kwitang dan Kwisay.

Tak sedikit jumlahnya kemah tentara Beng yang dilihatnya.

Kecuali orang sebawahan Li Seng Tong yang agak lumayan, lain2nya itu tak ubahnya seperti macam sarang burung saja.

Tapi apa yang dilihatnya dipuncak Giok-li-nia situ, sungguh membuatnya kagum.

Kalau mereka dibiarkan saja, kelak pasti akan menjadi suatu bahaya besar bagi kedudukan pemerintah Ceng.

Sembari berjalan mereka bertiga tak henti2nya memeriksa keadaan disekelilingnya.

Tiba dikaki gunung, segera mereka dihadang oleh para penjaga yang menanyai maksud kedatangannya.

"Harap saudara melapor ke Giok-li-nia sana bahwa persaudaraan Song dari Liau-tang, Song Hou dan Song Pa datang mengunjuk hormat kemari beserta orang tawanan Cian-bin Long-kun The Go!"

Seru Swat Moay dengan sengaja membesarkan nada suaranya.

Nama Song Hou dan Song Pa, cukup termasyhur.

Walaupun mereka tinggal didaerah Liau-tang, namun setiap kaum persilatan kenal akan namanya.

Penjaga itu juga bukan sembarang orang persilatan, jadi merekapun menjadi girang atas kedatangan kedua tokoh lihay itu.

Buru2 disuruh seorang bawahannya untuk melapor keatas gunung.

Kala itu para tokoh2 terkemuka sedang bermusyawarah.

Antaranya terdapat Ceng Bo siangjin, Ki Ce-tiong, Kiau To, Kui-ing-cu, Thaysan sin-tho Ih Liok, Sin-eng Ko Thay dan lain2nya.

Mendengar laporan tentang kedatangan kedua saudara she Song itu, mereka sama bergirang.

Kegirangan mereka makin besar demi mendapat laporan bahwa Cian-bin Long-kun The Go telah ditangkap oleh kedua saudara Song Itu serta dibawanya kesitu juga.

Hanya sibongkok Ih Liok yang berpendapat lain, katanya .

"Kedua saudara Song itu tinggal diwilayah Liau-tang yang jauh sekali. Daerah itu masih merupakan kantong kaki tangan pemerintah Ceng. Untuk apa mereka datang kemari?"

"Mungkin karena mendengar induk gerakan kami ini makin besar, mereka datang untuk membantu. Biar bagaimana karena toh mereka jauh2 sudah perlukan datang, sungkanlah kita untuk menolaknya!"

Kata Ceng Bo siangjin.

Dipikir sanggahan siangjin itu beralasan, Ih Liokpun ikut turun gunung menyambutnya.

Apa yang mereka jumpai adalah dua orang lelaki kurus (Swat Moay juga menyamar jadi orang lelaki), semangatnya ber-api2, pelipisnya agak menonjol, pertanda lwekangnya mendalam.

Dengan mereka ikut seorang pemuda yang lemah berantai tak bersemangat, bukan lain yalah Cian-bin Long-kun The Go !

Maju menghampiri kemuka, Ceng Bo ulurkan tangan menjabat seraya memberi salam.

"Cayhe adalah Ceng Bo, apakah tuan2 berdua ini persaudaraan Song? Ah, sudah lama cayhe sangat mengagumi nama jiwi!"

Hwat Siau menjabat tangan Ceng Bo dengan hangat mesra, sahutnya.

"Cayhe adalah Song Hou dan ini adikku Song Pah. Mendengar siangjin dan lain2 saudara membangunkan organisasi melawan Ceng membantu Beng, kamti berdua sengaja jauh2 dari Liau-tang datang kemari untuk menggabungkan diri. Disamping itu kami hendak menyampaikan berita duka pada, siangjin serta menyerahkan orang ini untuk sesaji upacara penaikan bendera!"

Lebih dahulu Ceng Bo perkenalkan kedua saudara Song itu kepada saudara2 lainnya.

Tiba giliran Kui-ing-cu, sejak tenaganya sudah pulih kembali dia pun kumat lagi penyakitnya suka ugal2an, dia segera mengetahui bahwa lwekang dari kedua persaudaraan Song itu luar biasa coraknya serta teramat sempurnanya.

Mungkin tidak dibawah Ih Liok, Ko Thay dan Ceng Bo siangjin.

Menilik dalam pembicaraan kedua saudara Song itu selalu membawa diri merendah, Kui-ing-cu tak menyangka jelek.

Namun sekalipun begitu, tetap ia ingin mencoba sampai dimana tinggi rendahnya lwekang mereka itu.

Begitu berjabat tangan, dia segera meng-guncang2kannya sampai 3 kali.

Dalam pengguncangannya itu diam2 dia salurkan lwekang, apabila lwekang lawan kurang dalam, pasti akan tak tahan.

Menjaga agar sang tetamu jangan sampai mendapat malu, Kui-ing-cu hanya gunakan 3 bagian dari tenaganya..

Hwat Siau bukan anak kemaren sore.

Tahu sudah dia akan maksud orang hendak mengujinya itu.

Diam2 diapun kerahkan lwekang, dengan tertawa tawar dia halau lwekang Kui-ing-cu via guncangan tangan tadi.

Kemudian seolah2 tak terjadi suatu apa, berkatalah dia dengan tertawa.

"Heng-tay (saudara) terlalu sungkan sekalilah!"

Sekalian orangpun tahu kalau Kui-ing-cu tengah menguji kepandaian orang, maka mereka buru alihkan pembicaraan untuk melerainya.

Perangai Hwat Siau bengis, tapi dalam menghadapi urusan sepenting itu, dia terpaksa mengendalikan diri.

Ah, memang urusan didunia ini seringkali terjadi karena kebetulan saja.

Coba tadi Kui-ing-cu salurkan lwekang ketelapak tangan untuk memijat, sudah tentu Hwat Siau akan salurkan lwekang untuk melawannya juga, dan ilmunya yang-hwat (api positip) tentu akan ketahuan.

Telapak tangannya pasti akan berobah merah membara, dan walaupun Kui-ing-cu tak dapat "menelanjangi"

Penyaruannya dengan seketika, namun se-kurang2nya dapatlah dia menaruh curiga.

Kini bukan saja Kui-ing-cu tak dapat mengetahui peribadi aseli dari Hwat Siau, pun sebaliknya dia malah merasa dirinya agak "keterlaluan"

Memperlakukan tetamu.

Diam2 dia menyesal dan terkikislah kecurigaannya.

Bagi kaum persilatan, tidaklah banyak berlaku sungkan.

Hanya dengan beberapa patah kata perkenalan, mereka sudah seperti sahabat lama.

Ceng Bopun segera menanyakan berita yang hepdak dibawakan Hwat Siau tadi.

Kedua suami isteri itu main aksi, katanya.

"Urusan ini sungguh lain dari yang lain, setelah bertemu dengan para thaubak (kepala regu anak buah), baru dapat kami haturkan."

Ceng Bo tak mau mendesak, lalu ajak mereka berdua.

naik gunung.

Tak antara berapa lama, kembali ada 3 atau 4 puluh orang be-ramai2 datang kegunung situ.

Mereka ter-diri dari para orang gagah yang baik nama maupun kepandaiannya sudah terkenal didunia persilatan.

Mereka datang kesitu untuk menggabungkan diri.

Diantara sekian banyak orang baru, ada dua orang yang membuat Hwat Siau dan Swat Moay terbeliak kaget.

Juga kedua oorang itupun tak.

kurang kejutnya.

Namun dalam beberapa detik saja, mereka segera dapat menguasai diri dan berlaku se-olah2 tidak terjadi suatu apa.

Ceng Bo perkenalkan mereka sama lain.

Kiranya salah satu dari kedua orang tadi yang bertubuh kate bernama Ciu Sim-ih, bergelar sam-chun-ting (si Paku 3 dim).

Sedang yang satunya, pada mukanya terdapat sebuah tanda hitam (tembong), bernama Hek-bin-sin Ho Gak atau si Malaekat berwajah hitam.

Hwat Siau dan Swat Moay tahu jelas bahwa kedua orang itu adalah benggolan dinas rahasia dari pemerintah Ceng.

Mungkin karena mereka (Hwat Siau dan Swat Moay) lama belum berhasil, maka Tolkun telah mengirim kedua jagoan itu, dan dengan licinnya mereka dapat menyelundup masuk ke Giok-li-nia.

Dihadapan sekian banyak orang, Hwat Siau dan isterinya hanya mengucapkan tegur salam seperlunya saja.

Memang dalam phase pembentukan sebuah organisasi yang beranggautakan sekian banyak orang itu, sukarlah untuk menjaga kemungkinan perembesan pijat2 dalam selimut (musuh dalam selimut).

Maka yang perlu diselesaikan lebih dahulu, ialah mengangkat seorang pemimpin.

Pada pemimpin itulah ditaruh seluruh kekuasaan untuk memegang tampuk pimpinan, demi kelancaran gerakan besar itu.

Pada lain saat, barulah Hwat Siau menjelaskan apa berita yang dibawanya itu.

"Ada seorang saudara, bernama Tio Jiang, adakah dia itu anggauta perserekatan kita ini?"

"Itulah muridku. Bagaimana dia?"

Buru2 Ceng Bo menyahut.

"Ai, sayang, sayang!"

Seru Hwat Siau sembari geleng2 kepala.

"Dia menuju ke Siau Ging, apakah ditengah jalan mendapat bahaya?"

Tanya sibongkok Ih Liok. Lagi2 Hwat Siau menggeleng kepala sebelum mend yawab.

"Dia tak mendapat bahaya suatu apa ditengah jalan. Hanya setibanya dikota Siau Ging, terus ditangkap oleh kaisar Ing Lek sebagai pemberontak, kemudian dihukum penggal kepala! ! "Adakah hal itu benar?!"

Seru Ceng Bo dengan terbeliak.

"Mengapa kami berdua saudara harus berbohong ."Kaisar Ing Lek menuduh kita ini tak ubahnya seperti macam Thio Hian Tiong dan Li Seng Tong. Mengumpulkan anak buah dan kuda karena hendak memberontak. Inilah 'keistimewaan' dari pemerintahan Siau Ging, semua orang sudah maklum, jadi tak perlu disangsikan lagi!"

Ucapan Hwat Siau itu termakan betul2 dalam hati sekalian orang gagah.

Memang dengan mengutus Tio Jiang menghadap kaisar Ing Lek, mereka sudah menduga belum tentu pemerintah Siau Ging menyetujuinya.

Namun tidak menduga, kalau sedemikian hebat kesudahannya.

Suasana menjadi panas dengan luapan kemarahan.

"Jahanam, ayuh kita serbu Siau Ging dan usir kaisar gila itu. Apa sih kaisar itu, toa-ah-ko dari Thian Te Hui, itulah yang pantas menjadi kaisar!"

Seru salah seorang.

"Keparat, kita ini dianggap sebagai Thio Hian Tiong? Basmi saja raja begitu!"

Seru lagi yang lain. Juga Hekbin-sin Ho Gak turut memaki dengan suara lantang.

"Setan lanat, apakah dunia ini sudah tiada ada kebenaran lagi?!"

Hati Ceng Bopun dirangsang kemurkaan hebat.

Namun dia cukup sadar, bahwa kalau dia umbar kemarahan menurut kemauan mereka, paling banyak hanya dapat memuaskan hati orang2 itu sad ya.

Diantara sekian ban yak orang, hanya Kui-ing-cu-lah yang dianggapnya paling lihay sendiri kepandaiannya.

Maka buru2 dia melirik kearah tokoh itu, siapa ternyata tahu juga akan maksud imam gagah itu.

Segera tokoh yang aneh itu bersuit keras bagaikan ringkikan naga.

Seketika itu siraplah hiruk pikuk suara dalam ruangan situ.

Kini semua mata ditujukan kearah Ceng Bo siangjin untuk menantikan apa yang hendak diutarakannya itu.

Wajah Ceng Bo menampilkan kedudukan dan kemarahan, jadi untuk beberapa saat tak dapat dia mengucap apa2.

Tak tahu dia bagaimana hendak memulaikan kata2-nya.

Dia seorang yang berperibadi lurus perwira.

Tio Jiang adalah muridnya yang paling dikasihi.

Hubungan antara guru dan murid itu bagaikan ayah dengan puteranya.

Dibawah asuhannya.

Tio Jiang telah menjadi seorang patriot yang menyerahkan segenap jiwa raganya untuk kepentingan negara dan rakyat bangsanya.

Jadi dalam perjoangan, boleh dianggap Tio Jiang itu sebagai seorang kawan seperjoangan yang setia.

Berita kematian dari murid kesayangannya itu, telah membuat hati Ceng Bo seperti disayat sembilu pedihnya.

Kalau menuruti kemauan sekalian kawan itu untuk menyerbu Siau Ging, tentulah kaisar Ing Lek akan memanggil Li Seng Tong untuk menghadapinya.

Dengan begitu, perbatasan daerah akan menjadi kosong.

ini berarti mengundang penjajah Ceng untuk menyerbunya.

Setelah merenung beberapa jurus, akhirnya imam itu berpendapat bahwa sakit hati adalah urusan kecil, yang utama penting adalah urusan negara.

"Harap saudara2 sekalian tenang. Dengan tindakan itu terhadap kita, paling2 fihak kerajaan hanya bersalah karena kurang bijaksana. Tapi demi untuk kepentingan negara, se-kali tak boleh kita tinggalkan gi (kebenaran), Kesampingkan saja soal itu dan jangan diungkat lagi!"

Kata Ceng Bo dengan tegas, walaupun hatinya hancur mengenang nasib muridnya. Pernyataan perwira itu mendapat sambutan baik dari Thaysan sin-tho Ih Liok, Sin-eng Ko Thay dan lain"

Orang gagah yang menjunjung keluhuran semangat cinta negeri.

Tapi reaksi lain timbul dari kawanan pijat's dalam selimut itu yakni Hek-bin-sin Ho Gak dan Sam-chun-ting Ciu Sim-i.

Mereka salah terka siapakah Ceng Bo siangjin, imam perwira yang berbudi luhur itu, yang mendahulukan kepentingan nekara dari kepentingan peribadi.

Menyelami bahwa ada sementara orang gagah lainnya yang dapat di-ombang-ambingkan pendiriannya, majulah Hok Gok kemuka dengan berseru keras.

"Keliru! Kita kaum gagah persilatan, selamanya tak mau mandah diperbuat se-wenang2 oleh fihak pemerintah. Seorang pemuda ksatrya macam saudara Tio Jiang itu telah dibinasakan secara penasaran sekali oleh fihak kerajaan. Kalau suhu dari saudara Tio Jiang itu tak mau membalaskan sakit hatinya, kita kaum persilatan yang menjunjung semangat setiakawan, tak mau berpeluk tangan mengawasi saja!"

GAMBAR 89 Dengan licin Hek-bin-tui Ho Gak terus berseru menghasut.

"Tidak, kita sebagai orang persilatan tidak bisa antapkan seorang pemuda perwira seperti saudara Tio Jiang dibinasakan begitu saja oleh raja yang tak kenal gelagat itu, kita segera harus bertindak !"

Siapakah tokoh Hek-bin-sin Ho Gak dan Sam-chun-ting Ciu Sam-i itu, sebenarnya sekalian orang2 gagah itu tak mengetahui jelas.

Tapi seruannya tadi, telah membangkit rasa symphati dari sementara orang.

Sikate Ciu sim-i ternyata seorang yang lincah sekali.

Diantara sekian ribu orang, dia menyusup kesana sini untuk melakukan provokasi.

Suasana kembali menjadi gaduh.

Berulang kali Ceng Bo berseru menenangkan, tapi tak dapat menguasai suasana riuh itu.

Memang perwatakan dari para orang gagah yang hampir semuanya terdiri dari kaum persilatan itu.

paling menguta.nakan budi dan dendam.

Setiap budi tentu dibalas, dendam harus dihimpas.

Segala apa didasarkan atas suara hati, tak mau berfikir panjang tentang akibat dikemudian harinya.

Pemuda Tio Jiang memiliki kepandaian tinggi, tapi rendah hati jadi dapat menawan simphati orang.

Berita kematiannya, telah membangkitkan kemarahan umum dan ketekadan untuk menuntutkan balas.

Pernyataan Ceng Bo tadi terlalu kabur pada anggapan mereka.

Ditambah minyak oleh Ho Gak dan Ciu Sim-i, maka menyalalah semangat dendam mereka.

Untuk mengatasi keadaan, terpaksa Ceng Bo siangjin bersuit keras.

Tapi belum lagi dia sempat membuka suara, Hwat Siau telah mendahului berseru nyaring.

"Sukakah sekalian saudara mendengar sedikit omonganku?"

Lwekang Hwat Siu sangat tinggi, jadi seruannya tadi menggema laksana guntur.

Dengan suitan Kui-ing-cu tadi, walaupun berbeda nadanya, tapi setingkat hebatnya.

Tapi kalau dibanding dengan suitan Ceng Bo, terang lebih tinggi.

Sekalian orang sama terkesiap.

"Cayhe berdua saudara baru saja datang, seharusnya tak boleh banyak bicara. Tapi mengingat ujar2 orang kuno 'kalau dua hati bersatu, emaspun dapat dibelah', kupikir kedatangan kita semua kemari ini yalah untuk satu tujuan. Tak boleh membawa mau sendiri. Kudengar hari ini perserekatan kita Thian Te Hui hendak memilih pimpinan. Turut pendapatku yang cupat, biarlah kita jangan bertengkar dulu. Setelah terpilih ketua, segala sesuatu harus menurut perintah pimpinan. Barang siapa yang membangkang, akan berlaku undang2 militer. Kalau kita belum2 sudah berselisih pendapat, itu berarti mem-buang2 waktu saja. Nah, bagaimana pendapat saudara2 sekalian?"

Lihatlah betapa lihaynya Hwat Siau.

Tak kecewalah dia itu menjadi orang pilihan pemerintah Ceng, karena dia itu memang seorang bun-bu-song-jwan (achli silat dan sastera).

Ucapannya itu kena benar, tiada seorangpun yang membantah.

Malah Kui-ing-cu dan Thaysan sin-tho Ih Liok serempak berseru.

"Benar, tepat sekali! Apabila Thian Te Hui yang beranggauta puluhan ribu itu tiada pimpinan yang tegas, bukankah akan menjadi semacam sarang tawon saja? Oleh karena baru, orang gagah dari empat penjuru sudah berkumpul semua digunung ini, sebaiknya Ki-heng dan Kiau-heng lekas memulaikan upacara untuk memilih ketua!"

Dari tengah2 orang banyak, tampillah Ki Ce-tiong dan Kiau To, itu toa-ah-ko dan ji-ah-ko dari Thian Te Hui dahulu.

Kepergian Kiau To dari gereja Ang Hun Kiong untuk mencari suhunya (Tay Siang Siansu) ternyata tak berhasil.

Ketika mendengar kabar gereja itu dimusnakan dinamit, dia ber-gegas2 menuju kesana.

Tapi ditengah jalan telah berpapasan dengan Ko Thay yang memberitahukan tentang persiapan yang diadakan digunung Lo-hu-san.

Dia segera mengikut Ko Thay pergi kegunung tersebut.

Ki Ce-tiong dan Kiau To adalah pimpinan lama dari Thian Te Hui, maka Kui-ing-cu menereaki mereka supaya keluar.

Dan ini tidak mendapat tentangan dari orang banyak.

Keduanya sama berbaju hitam, bercelana putih, mengenakan ikat kepala sebagai seorang militer.

Juga sepatu mereka separoh hitam separoh putih.

Itulah pakaian seragam (uniform) dari Thian Te Hui.

Dari saku bajunya Ki Ce-tiong mengeluarkan 4 buah thong-pay (piagam atau plaket dari tembaga) panjang 1 dim, lebar 2 dim.

Tangan kanan kiri masing2 memegang 2 thong-pay, dan orangnya tegak berdiri dengan chidmat.

Kiau To menghamperi kearah seonggok tumpukan kayu bakar yang sudah disiapkan disitu lebih dahulu.

Setelah nyalakan api, terus dilempar ketengah onggok kayu itu.

Terkena tiupan angin, kayu bakar itu segera berkobar.

Habis membakar, Kiau To lalu mundur kebelakang berdiri disamping Ki Ce-tiong.

Suasana pada saat itu tampak khidmat sekali.

Semua orang sama menahan napas, tiada yang bicara sendiri.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 49 .

LELATU YANG BERBAHAYA Setengah jam kemudian api yang marong itu, menjadi reda, dan kini tinggal setumpuk lelatu setinggi satu meter, tapi masih mengeluarkan bunyi letikan.

KI Ce-tiong maju selangkah, berseru lantang.

"Dengan gagalnya Thian Te Hui yang lama, tampuk pimpinan ketua yang dijabat olehku, orang she Ki ini, turut berakhir. Bahwasanya kini atas dukungan para enghiong hohan dari seluruh penjuru Thian Te Hui akan dibangun lagi, aku aiorang she Ki tak mau terus mengangkangi kurai ketua Itu. Ho-pay (tanda kekuasaan) dari keempat tampuk pimpinan pada saat ini berada disini. Enghiong siapa sajapun yang nanti dipilih menjadi ketua, silahkan mengambil ho-pay ini dari unggun lelatu. Sejak itu, saudara2 anggauta Thian Te Hui, harus taat dan tunduk pada perintah pimpinan, seperti kebaktian seorang putera terhadap orang tuanya!"

Habis berkata itu, keempat thong-pay tadi terus dilemparkan kedalam unggun lelatu.

Walaupun api unggun sudah reda, namun cukup panas untuk membakar thong-pay tersebut.

Ini bukan dimaksud untuk menyukarkan ketua baru nanti, tapi sekedar upacara simbolis yang berfatwa (bermakna).

hendaknya tampuk pimpinan jangan jeri menghadapi kesukaran.

Tradisi lni dimulaikan sejak pendirian Thian Te Hui pada masa kerajaan Beng sebelum hijrah keselatan.

Dan menurut tradisi itu pula, begitu thong-pay dilempar kedalam unggun lelatu, pemilihan ketua akan dapat berjalan dengan cepat dan lancar.

Oleh karena sebelumnya, orang sudah mempunyai calon yang pantas diangkat.

Tapi dengan menyelundupnya Hwat Siau Swat Moay kedua kepala jagoan pemerintah Ceng disitu, pemilihan berjalan dengan seret kalau tak mau dikatakan agak kacau.

"Hay-te-kau Bek Ing seorang tokoh yang berkepandaian tinggi dan berbudi luhur, selayaknya dia diangkat menjadi toa-ah-ko Thian Te Hui!"

Tiba2 kedengaran Kisu To berseru nyaring.

Gemuruh riuh orang menyambut usul itu dengan gembira.

Melihat gelagat jelek, Swat Moay segera memberi isyarat mata kepada Hek-bin-sin Ho Gak, siapa rupanya mengerti.

Tampil kemuka, Ho Gak segera berseru dengan nyaring juga.

"Rasanya ucapan Kiau-heng itu kurang tepat! Bangunnya Thian Te Hui lagi kali ini, menghadapi tugas yang maha berat. Sekalipun Ceng Bo siangjin namanya cukup termasyhur dan budinya sangat luhur, tapi ada beberapa hal yang masih kurang. Pertama, kepandaiannya silat tidak cukup untuk menundukkan orang banyak. Kedua, tidak berhasrat menuntut balas atas kematian sdr. Tio Jiang. Adalah kita semua yang menganggap diri sebagai orang gagah persilatan ini rela diperbuat se-mau2nya oleh fihak pemerintah ? Ketiga, dia masih termasuk seorang pertapaan yang menurut keagamaan. Dengan dia menjadi ketua, bukan kita sekalian ini akan menjadi imam nantinya? Kukatakan, hal ini tidak tepat!"

Merah padam muka Kiau To karena gusarnya ada orang menentang usulnya.

"Turut katamu, siapakah yang pantas menjadi toa-ahko?"

Tanyanya dengan marah. Menuding kearah Hwat Siau, Ho Gak serentak berseru.

"Kedua persaudaraan Song, namanya menggetarkan daerah selatan sampai utara. Ilmunya silat menjagoi seluruh gelanggang. Meskipun aku belum kenal, tapi telah lama kudengar Song lotoa (Song Hou) itu seorang bun-bu-songcwan. Orang tawanan yang dibawanya itu. Cian-bin Longkun The Go sibebodoran dunia persilatan, kalau dibuat sesaji bendera, tentu akan lebih membangkitkan semangat para saudara sekalian. Terhadap orang itu, Ceng Bo siangjin sudah lama memaukannya, tapi sampai sekian waktu masih belum dapat membekuknya. Pertanda bahwa kepandaian kedua saudara Song itu jauh melebihi dari dia. Jabatan toa-ah-ko, sudah pada tempatnya kalau diserahkan pada Song lotoa!"

Diam2 Hwat Siau bergirang didalam hati, namun terpaksa dia harus menyalakan kesungkanannya.

"Cayhe orang baru, mana boleh merebut kedudukan setinggi itu? Kuharap sahabat itu suka menimbang lagi yang lebih panjang!"

Bluk......., serentak bangunlah Sam-chun-ting Ciu Sim-i, terus berseru keras2.

"Demi kepentingan negara dan rahayat, mengapa main merendah diri? Dengan Song lotoa menjadi toa-ah-ko, pasti akan memimpin kita sekalian untuk menuntut balas pada raja Lam Beng, kemudian melawan tentara Ceng, melaksanakan tugas bersama yang mulia ini!"

Seketika itu, tidak sedikit jumlahnya orang yang memberi persetujuan.

Fihak Ko Thay, Ih Liok, Kui-ing-cu dan kawan2 sedikitpun tak menyangka kalau bakal menghadapi kejadian seperti hal itu.

Untuk lain2 jabatan, aih.....

tak mengapa.

Tapi kedudukan toa-ah-ko itu, merupakan motor yang utama dan teramat gawat penting.

Karena ketika dipertengahan pemerintahan kaisar Ceng Tik dari ahala Tay Beng, Thian Te Hui pernah mengalami penghianatan dari dalam.

Syukurlah waktu itu sam-ah-ko dapat bertindak dengan tegas, membunuh biangkeladi penghianatan itu serta menghukum berat gerombolannya.

Kedudukan toa-ah-ko, mempunyai kekuasaan yang mutlak.

Jadi apabila sampai jatuh ketangan orang yang-tak bertanggung jawab, tentu akan rusak binasa akibatnya.

Sampaipun seorang tokoh macam Kui-ing-cu yang tinggi ilmu kepandaiannya, tak berani memegang jabatan itu.

Hanya seorang tokoh macam Ceng Bo siangjin yang mempunyai peribadi kuat.

Dengan dia sebagai toa-ah-ko, barulah Thian Te Hui mempunyai dayaguna (potensi) untuk melawan penjajah Ceng.

Penentangan dari fihak Ho Gak dan Ciu Sim-i itu, harus ditindas.

Maka melantanglah suara sibongkok Ih Liok di-tengah2 permusyawaratan.

"Berbicara tentang kepandaian silat, sekalipun saudara Bek Ing tak sangat melebihi orang, tapi kebesaran nama Hay-te-kau, cukup mengesankan. Tentang dirinya itu seorang imam, apanya yang perlu dikuatirkan. Andaikata yang jadi toa-ah-ko itu seorang piau-thau (kepala perusahaan mengantar barang), adakah kita semua ini lantas menjadi pegawai kantor piauhang? Pencalonan Hayte-kau sebagai toa-ah-ko, rasanya tak perlu diperdebatkan lagi!"

"Dan barang siapa yang menentang, silahkan berhadapan dengan aku orang she Kiau ini!"

Kiau To turut menambahkan.

"Hm, permainan anak2!"

Hek-bin-sin Ho Gak menyahut dengan sinis.

"kalau toh tak boleh lain orang lagi selain Hay-te-kau, perlu apa diadakan pemilihan? Kalau siang2 tahu begini, apa gunanya kita ribut2 naik kemari. Ayuh, kita sama bubaran sendiri untuk ngeluruk ke Siau Ging membereskan raja buta itu!"

Sesaat itu tidak sedikit jumlahnya orang yang serentak mengiakan.

Ceng Bo merasa tak enak, karena tersebab dirinya lalu timbul pertengkaran.

Memang sama sekali dia tak mengetahui kalau Thian Te Hui sudah kemasukan pijat2 dalam selimut.

Dia hanya mengira, kejadian itu timbul karena perselisihan pendapat mengenai tokoh yang dicalonkan.

Memang kejadian itu sering terdapat dikalangan persilatan.

Baginya yang penting adalah usaha melawan penjajah Ceng.

Soal dirinya duduk atau tidak menjadi pemimpin, itu tak dipusingkan.

Ini memang tegas menjadi pendiriannya.

"Harap saudara2 jangan pergi dahulu! Nah, siapa lagi yang hendak mengemukakan calonnya?"

Katanya dengan ter-sipu2. Seketika itu juga lantas terdengar ada orang berseru.

"Kui-ing-cu! Kui-ingcu!"

Ceng Bo ulangi penawarannya kepada orang banyak kalau masih ada lain calon lagi. Tapi setelah sampai dua kali, tiada orang menyahut, barulah dia berkata.

"Persoalan ini mudah diputuskan. Baik diadakan pertandingan silat untuk menentukannya, jadi perlu apa mesti ramai2?"

Kejut Kui-ing-cu bukan terhingga mendengar pernyataan Ceng Bo itu.

"Bek-heng, kau..........."

"Ing-cu-heng, kita harus bertindak menurut jalan yang benar, atau kedudukan tanpa kewibawaan diindahkan orang, apa gunanya!"

Tukas Ceng Bo akan pernyataan heran Kui-ing-cu itu.

Kui-ing-cu terdiam diri.

Pikirnya, kalau persoalan itu terjadi antara dia dengan siangjin itu, ah mudahlah.

Asal dia pura2 mengalah sedikit, tentu beres.

Tapi kini soalnya menjadi gawat dengan munculnya "Song lotoa"

Itu.

Dilihat naga2nya, orang itu mempunyai lwekang yang lebih tinggi dari Ceng Bo.

Kalau benar Ceng Bo tak dapat menandinginya, urusan pasti akan ber-larut2.

Taruh kata dia keluarkan seluruh kepandaiannya untuk memenangkan kedua orang itu Ceng Bo dan Hwat Siau, bagaimana kalau dia nanti dipilih menjadi toa-ah-ko?

Pertama, dia tak inginkan jabatan itu dan kedua kali karena memang dia merasa kurang cakap untuk kedudukan itu.

Sebaliknya dilain fihak, Hwat Siau menyambut dengan girang atas usul Ceng Bo itu.

Diam2 dia telah siapkan rencana.

Se-kurang2nya, dalam pertandingan itu Ceng Bo pasti takkan keluar sebagai pemenang.

Tapi biar bagaimana, diam2 dia taruh perindahan atas kejujuran imam itu.

"Cayhe tiada mempunyai pendapat apa2, tersilah kepada saudara2 sekalian!"

Buru2 dia berkata.

Pikir punya pikir, orang2 itu tiada mendapat jalan lain kecuali menyetujui usul Ceng Bo tadi.

Mereka menyatakan persetujuannya.

Dalam pada itu, setelah memeras otak, Kui-ing-cupun telah dapatkan suatu siasat.

Ya, hanya dengan begitulah nantinya Ceng Bo akan dapat diangkat menjadi toa-ah-ko.

Sekalipun rencana itu mengandung resiko, tapi apa boleh buat.

Rencananya itu adalah begin!

lebih dahulu dialah yang akan bertanding melawan Song lotoa.

Dia nanti pura2 kalah, tapi dalam pada itu hendak dia "peras"

Tenaga orang she Song itu sampai habis, agar apabila berhadapan dengan Ceng Bo, mudahlah imam itu mengatasinya. Rencana itu memang cukup baik, tapi dia tak memperhitungkan akan "pion kecil"

Yang dimainkan oleh fihak lawan.

Dan justeru pion atau hal kecil yang tak berart.

itulah yang akan merusakkan rencananya tadi.

Memang segala apa itu sering2 mengalami kegagalan dikarenakan satu dua faktor kecil yang tak berarti.

Dan kesalahan Kui-ing-cupun terletak pada hal itu.

Setelah tetap dengan rencananya, berserulah Kui-ing-cu.

"Sahabat Song, ayuh kita main2 dulu barang beberapa jurus, bertanding secara bun atau secara bu!"

Pertandingan "bun"

Yakni masing2 mengunjuk demonstrasi kepandaian sendiri, mana, yang lebih hebat, dialah yang menang. Sementara secara "bu"

Yalah secara bertempur satu sama lain.

Thaysan sin-tho Ih Liok bermula heran mengapa Kui-ing-cu hendak turun kegelanggang dahulu, tapi setelah direnungkan sejenak, tahulah dia apa maksud tujuan tokoh itu.

Juga dia anggap siasat Kui-ing-cu itu cukup sempurna."

"Kita kan orang sendiri. Pertandingan bu, tentu merenggangkan persahabatan jadi lebih baik secara bun saja!"

Ih Liok buru2 menyusuli.

Diam2 Kui-ing-cu girang mendengar usul Ih Liok itu.

Karena dalam pertandingan adu lwekang secara bun, paling menghabiskan tenaga lwekang.

Dan ini akan memberi kesempatan baik untuk Ceng Bo mengambil kemenangan nanti.

Maka buru2 dia mengiakan.

Hwat Siau tak tahu kemana arah tujuan usul itu, tapi isterinya yang ternyata lebih cerdik segera dapat mencium bau.

Buru2 ia berkata, kepada sang suami.

"Koanjin, Kuiing-cu itu tentu akan mengalah terhadapmu. Pertandingan bu itu lazimnya terdiri dari 3 babak. ilmu mengentengi tubuh, ilmu main senjata dan ilmu lwekang. Yang dua dimuka dia tentu mengalah, tapi untuk yang penghabisan yalah mengadu lwekang, dia tentu akan berjoang mati2an untuk mengalahkan kau. Sebaiknya dalam bagian itu, kau mengalah saja. Dua kali menang, sekali kalah, masih menang artinya. Kepandaian dari Ceng Bo siangjin itu hanya biasa saja, jadi jangan sampai dia mendapat kemenangan secara begitu murahnya!"

Kini baru terbukalah mata, Hwat Siau. Maju kemuka dia memberi hormat kepada Kui-ing-cu, serunya.

"Lama sudah kudengar kebesaran nama cunke sebagai pendekar terkemuka dari kedua propinsi Kwi. Sebenarnya aku tak berani lancang mengunjukkan permainan jelek, tapi karena sekalian saudara menghendakinya, apa boleh buat terpaksa aku memberanikan diri. Dalam hal ini harap cunke suka memberi pengunjukan!"

Begitu merendah ucapan itu dirangkai Hwat Siau, namun Kui-ing-cu telah mengambil putusan untuk memenangkan babak pertama Itu.

"Bagaimana kalau kita adu kepandaian mengentengi tubuh dahulu?"

Tanyanya.

Hwat Siau setuju.

Ditepi tanah datar Giok-li-nia situ terdapat sebuah bukit setinggi 5 tombak.

Bentuknya mirip dengan bung (bibit bambu), dari bawah sampai atas merupakan karang yang hanya ditumbuhi rotan, jadi tiada dapat dipijak kaki.

"Kita berlomba naik keatas puncak sana, coba saja siapa yang akan mencapainya lebih dahulu!"

Kata Kui-ingcu.

Hwat Siau melirik keatas puncak dan mengiakan.

Diapun hendak memenangkan pertandingan babak pertama itu.

Mereka berdua sama mundur dan sekalian orang banyakpun menyingkir kesamping.

Sedang Kiau To segera melolos jwan-pian, katanya.

"Apabila kukebutkan jwan-pian ini, jiwi boleh segera mulai!"

Setelah masing2 siap, Kiau To segera kebutkan jwanpian, dan meluncurlah dua sosok tubuh keatas.

Kui-ing-cu jejakkan kaki dan tubuhnya lurus melambung keatas.

Pada lain saat dia julurkan tangan untuk menekan karang dan dengan meminjam tenaga tekanan itu, lagi2 dia melayang setombak tingginya.

GAMBAR 90 Sekali Kiau To memberi tanda maka meloncatlah Kui-ing-cu melambung tinggi keatas.

Hwat Siau pun tidak mau ketinggalan, cepat iapun merayapi bukit karang itu dengan ilmu "bik-hou-yu-jiang"

Atau cecak merayap dinding, segera ia menyusul lawannya dalam perlombaan itu.

Sebaliknya Hwat Siau menggunakan cara lain.

Menghamperi karang, dia gunakan kaki dan tangan untuk merayap, dengan jurus bik-hou-yu-jiang (cicak merayap dinding).

Namun jangan dikira merayap asal merayap, karena rayapan itu menggunakan ilmu yang sakti, hingga dapatlah dia menyamai loncatan Kui-ing-cu tadi.

Keduanya berada setinggi dua tombak, dan nyata2 mereka sama lihaynya.

Kui-ing-cu empos semangat, kedua tangannya ditebaskan kekarang, hingga menimbulkan tenaga-balik yang kuat.

Dibarengi dengan gerak peh-ho-jong-thian (burung ho menobros langit), dia melayang lagi sampai hampir dua tombak.

Dengan menancap gas itu, dapatlah dia melampaui lawan sampai setengah meter jauhnya.

Dan gemuruh riuhlah sorak sorai orang2 yang menontonnya.

Tapi Hwat Siau tak mau kehilangan muka.

Selagi Kuiing-cu menebaskan tangan tadi, dia sudah merayap dengan pesatnya, hingga hampir menyamai lawan.

Puncak sudah tinggal berapa meter saja.

Dan Kui-ing-cupun segera melakukan "pukulan"

Yang penghabisan.

Dengan gerak yancu-bwan-sim (burung waled membalik diri), dia menjejakkan kaki dan tubuhnya seperti rocket meluncur keatas.

Ketika kakinya menginjak puncak yang runcing itu, Hwat Siaupun sudah tengel2 naik, tapi sudah tak dapat menempatkan lagi kakinya karena sudah diduduki oleh lawan.

Kui-ing-cu gerakkan kakinya untuk meluncur kebawah, sembari tertawa.

"Maaf"

Hwat Siau meringis tak dapat berbuat apa2 kecuali pura2 berlaku ksatrya, sahutnya.

"Ah, ilmu mengentengi tubuh cunke, benar2 sakti. Kalau terus melambung, tentu akan mencapai angkasa. Aku merasa tunduk!"

Dalam pada mengucap kata2 itu, mata Hwat Siau melirik kearali isterinya, seraya menggerutu dalam hati.

"Ah, niocu, niocu, kau suka memintari. hingga salah menaksir orang!"

Babak pertama telah memberi kesudahan yang menguntungkan pada Kui-ing-cu. Ber-gegas2 si Bongkok menyambut kedatangan Kui-ing-cu, seraya ber-bisik2.

"Ing-heng, ilmu kepandaian orang itu aneh benar, dikuatirkan Bek-heng sukar untuk memenangkannya. Apakah tidak lebih baik kau menangkan saja pertandingan ini, kemudian nanti kau mengalah pada Bek-heng?"

"Akupun berpendapat begitu,"

Kui-ing-cu menghela napas.

"tapi peribadi Bek-heng rasanya kau sudah cukup mengenal. Sekali dia sudah mengatakan mengadakan pilihan dengan bertanding, tak nanti dia mau menerima maksud orang untuk mengalah! Dan lagi orang2pun tentu mengetahui, nantinya tetap mereka tak mau tunduk pada Bek-heng. Ketaatan inilah yang justeru dibutuhkan untuk mengendalikan sebuah perserekatan besar macam Thian Te Hui lni!"

Ih Liok dapat memahami.

Babak kedua, yalah adu kelihayan memainkan senjata.

Setelah berunding dengan isterinya, Hwat Siau dianjurkan harus memenangkannya.

Oleh karena kalau sampai kalah, Ceng Bo sianjin pasti terpilih menjadi toa-ah-ko.

Hwat Siau segera pasang kuda2.

Tangannya kiri sedikit diangkat keatas.

Sekalian mengira, orang itu tentu hendak memainkan ilmu silat tangan kosong.

Tapi diluar dugaan, setelah beberapi kali membolak-balikkan tangan, tahu2 tangannya sudah mencekal sebuah gulungan benda merah.

Dan sekali lengannya digoyangkan, gulungan merah itu segera bertebar menjadi selembar angkin (selendang) panjang, lebarnya antara setengah dim.

Bermula orang2 sama mengira, angkin sutera merah itu tentulah senjata istimewa dari tokoh itu.

Tapi setelah diawasinya dengan perdata, ternyata salah.

Angkin itu adalah angkin biasa yang mudah didapat dipasar atau toko.

Panjangnya ada 4 tombak.

Tertiup angin, angkin itupun berkibaran.

Melihat keheranan orang, berkatalah Hwat Siau.

"Benda biasa, kepandaian biasa. Angkin ini tiada sesuatu yang luar biasa, tapi biarlah kumainkan untuk penambah kegembiraan saudara2 sekalian!"

Habis mengucap, lengannya bergoyang.

Setelah bergoyang gantai laksana ombak mendampar, angkin itu lalu lurus terkulai ketanah.

Kemudian sekali berputar tubuh, angkin itu menebar keatas dengan mengeluarkan auara men-deru2.

Itulah gerak ilmu pedang dan semua orangpun sudah sama mengetahuinya.

Tapi yang membuat orang sama terperanjat, yalah dengan benda yang lemas sepanjang 4 tombak itu, dapatlah Hwat Siau menggunakannya menjadi semacam senjata yang keras.

Riuh rendah orang2 bertampik sorak.

Masih Hwat Siau hendak unjuk demonstrasi yang mengherankan.

Dia putar angin itu seru sekali hingga merupakan sebuah lingkaran api, kemudian membungkus dirinya didalam lingkaran itu.

Saking serunya, tubuhnya se-akan2 lenyap dibungkus lingkaran merah.

Setelah beberapa kali orang gempar memuji, barulah dia bersuit pelahan dan tiba2 hilanglah lingkaran itu, sebagai gantinya tampak dia berdiri tegak ditempat.

Lingkaran angkin merah itu telah ditarik dan disimpannya lagi dengan cepat sekali.

Sampaipun dalam mata seorang tokoh macam Kui-ingcu, tetap tak dapat membayangkan cara bagaimana tadi orang itu menyimpan angkinnya.

Kini giliran Kui-ing-cu.

Dia mempertunjukkan ilmu pedang.

Walaupun cukup mempesonakan, namun tak sehebat dan seluar biasa permainan Hwat Siau tadi.

Secara sportif, dia mengaku kalah.

Menang satu, kalah satu, jadi serie.

Babak ketiga atau yang penghabisan yalah adu lwekang.

Teringat akan pasan sibongkok Ih Liok tadi, Kui-ing-cu agak meragu.

Kalau dia harus memenangkan, terang dia bakal menjadi toa-ah-ko, suatu kedudukan yang tak diingini apalagi memang tak cakap untuk menjabatnya.

Namun kalau mengalah, jangan2 lawan mengetahui dan tak mau keluarkan tenaganya sungguhan.

Ah....., baik dia gunakan taktik begini, pada permulaan dia akan mengunjuk kepandaian betul2 hingga lawan terpancing mengeluarkan seluruh kebisaannya.

Setelah itu pada detik2 terakhir, barulah dia nanti mengalah.

Siasat ini lebih sempurna dan lebih maju dari rencananya semula tadi.

Tapi biar bagaimana, tetap dia tak mengira kalau nanti masih terdapat kekurangan yang mutlak.

Dia usulkan suatu cara dan Hwat Siaupun menyetujui.

Segera dia suruh orang untuk menebang sebatang puhun setinggi dua orang dan besarnya sepemeluk lengan orang.

Cara bertanding, setiap orang harus memelintir batang puhun itu sampai patah.

Barang siapa yang lebih dulu dapat 'memelintir sampai patah, dialah yang menang.

Ternyata puhun yang disiapkan itu lebih dari sepeluk orang besarnya.

Sekalipun digergaji, juga makan waktu yang lama.

Tadi belasan orang dengan gunakan kapak dan beliung menabas puhun itu, namun tetap menggunakan waktu lebih sejam lamanya baru dapat memenggalnya putus.

Sekalipun kedua tokoh itu nanti dapat memelintir putus, namun tenaga lwekang mereka pasti habis dibuatnya.

Dan ini memang yang dikehendaki Kui-ing-cu untuk memeras tenaga lawan.

Begitulah keduanya segera mulai bertanding.

Yang satu memelintir ujung sini, yang lain mengerjakan ujung sana.

Dalam pelintiran pertama, Kui-ing-cu telah dapat merontokkan kulitnya.

Dalam tiga kali memelintir, batang puhun sudah memperlihatkan bekas telapak tangannya, kira2 setengah dim dalamnya.

Sebaliknya Hwat Siau yang percaya akan omongan isterinya bahwa lawan tentu mengalah, tetap enak2an saja merabah2 batang itu.

Tapi ketika melihat Kui-ing-cu sudah sedemikian cepatnya, dia segera deliki mata kearah sang isteri.

Pesan isterinya dibuang dan dikerahkannya tenaga yang-hwat-kang.

Sepasang tangannya me-melintir2 dengan cepatnya hingga dalam waktu singkat kemudian, barulah dia dapat menyamai lawan.

Tampak gerakan lawan itu, Kui-ing-cu teramat girangnya.

Kini sengaja dia perlambat pelintirannya, sekalipun begitu bubuk kayu atau rontokan kepingan kecil2 (tatal) tak hentitnya berguguran ketanah.

Hwat Siau sebaliknya ngotot benar.

Sampaipun tubuhnya ikut berputar-putar mengelilingi batang kayu itu.

GAMBAR 91 Dengan lwekang yang sama-sama hebatnya, Kui-ing-cu berusaha menghabiskan tenaga Hwat Siau dalam perlombaan memelintir batang pohon, sebelum cecunguk itu bertanding melawan Ceng Bo Siangjin Demikian kedua saingan itu, masing2 unjukkan kepandaiannya yang mengagumkan.

Tahu2 dua jam telah berlalu.

Karena keliwat gunakan tenaga, Hwat Siau sudah keletihan.

Gerakannya kinipun makin lambat, dahinya ber-ketes2 mengucurkan peluh.

Kui-ing-cu dapat mengetahui hal itu.

Tapi gerakannya malah lebih cepat.

Jadi gambaran itu telah mengunjuk tegas, bahwa lwekang Kui-ing-cu lebih unggul.

Memang Hwat Siau mempunyai kesulitan sendiri.

Dia tak berani keluarkan ilmunya lwekang yang terlihay yakni sam-cay-liat-hwat-ciang.

Dengan ilmu lwekang sakti itu, begitu tangan bersentuhan dengan batang kayu, kayu itu pasti akan terbakar menjadi arang, jadi mudah untuk dipatahkan.

Tapi kalau dia sampai mengeluarkan ilmu itu, terang peribadinya akan diketahui lawan.

Jadi hatinya mulai resah.

Demi tampak Kui-ing-cu makin cepat, dia segera empos seluruh semangat, lalu mati2an mengitari batang kayu itu seraya kerjakan tangannya dengan kuat2.

Lewat beberapa jurus kemudian terdengarlah suara "bluk", putuslah ujung dari batang puhun itu.

Sampai disini barulah Hwat Siau berhenti untuk melihati lawannya.

Kiranya lewat beberapa detik kemudian barulah Kui-ing-cu dapat mematahkan ujung yang satunya.

Hwat Siau seperti mendapat lotre girangnya.

Tapi mendadak tubuhnya serasa kosong lunglai, matanya berkunang kabur.

Buru2 dia salurkan semangatnya untuk menenangkan diri.

Betul perasaannya agak nyaman, tapi kaki tangannya serasa lemah lunglai tak bertenaga.

Keadaan itu tak luput dari pandangan mata Kui-ing-cu yang tajam.

"Sahabat Song sungguh memiliki lwekang yang luar biasa. Silahkan kini bertanding dengan Bek-heng untuk memperebutkan kedudukan toa-ah-ko!"

Serunya dengan gembira.

Kini semua orang alihkan perhatiannya untuk menyaksikan pertandingan Ceng Bo siangjin lawan Hwat Siau.

Bahkan Ceng Bo sudah tampil kemuka seraya menawarkan bertanding secara bun atau bu.

Tapi secepat kilat, Swat Moay segera menyela ditengah seraya berseru.

"Tahan dulu!"

"Mengapa?"

Tanya Ceng Bo.

"Kita harus berpegang pada keadilan bukan ? Toa-ah-ko atau siao-ah-ko itu bukan mutlak. Tapi kalau kalah bertanding, nama persaudaraan Song pasti akan tercemar. Tadi kakakku habis bertanding dengan Kui-ing-cu dalam suatu cara, yang menghabiskan tenaga. Siapapun tentu mengetahui akan hal itu. Kalau Ceng Bo Siangjin hendak bertanding dengan orang yang sudah lelah, adakah itu pantas? Kuusulkan supaya pertandingan ini dipertangguhkan sampai besok pagi saja!"

Mendengar itu Kui-ing-cu dan Ih Liok mengeluh dalam hati "percuma, percuma".

Mereka mulai menginsyafi faktor kekurangan-sempurna rencana mereka.

Kalau orang lain tentu menolaknya, tapi tokoh macam Ceng Bo tentu lain halnya.

Dan dugaan kedua orang itu memang beralasan.

"Ucapan Song-heng itu memang beralasan. Tadi aku agak chilaf, harap dimaafkan!"

Sahut Ceng Bo dengan serentak.

Dia terus mundur dari gelanggang dan minta agar Kiau To simpan lagi thong-pay kekuasaan dari Thian Te Hui itu.

Malamnya Kui-ing-cu berunding dengan kawan2.

Dengan sudah beristirahat satu malam, tenaga Hwat Siau tentu akan pulih segar dan Ceng Bo sudah tentu bukan tandingannya.

Rupanya siangjin itu tak menghiraukan harapan orang banyak, karena berduka memikirkan kebinasaan Tio Jiang.

Juga Hwat Siau mengadakan pembicaraan dengan isterinya, Hek-bin-sin Ho Gak, Sam-chun-ting Ciu Sim-i dan lainnya.

Mereka bersuka ria menyambut hasll rencananya.

Berkata Swat Moay.

"Besok begitu menerima thong-pay kekuasaan toa-ah-ko, pertama yang harus dikerjakan yalah menutuk jalan darah pembisu dari The Go dan menyajykan anak muda itu untuk sesaji sembahyangan bendera. Setelah itu, kalian harus menuntut supaya toa-ah-ko menggerakkan anak buah Thian Te Hui menyerang Siau Ging guna membalaskan sakit hati Tio Jiang. Ha...., ha..., serbuan besar itu tentu akan merepotkan fihak Siau Ging. Dua2nya akan mengalami keruntuhan, sungguh sedap menikmati pemandangan itu!"

Keesokan harinya, kembali api unggun dinyalakan dan Ki The-tiong lemparkan thong-pay kedalam unggun lelatu.

Ceng Bo dan Hwat Siau tampil kemuka.

Si bongkok ih Liok cukup yakin bahwa ilmu pedang to-hay-kiam-hwat Ceng Bo, tiada lawannya didunia.

Apalagi siangjin itu memakai pedang Pusaka yap-kun-kiam yang lihay.

Maka dia memberi kisikan agar Ceng Bo mengusulkan 3 macam pertandingan.

Pertama, adu ilmu mengentengi tubuh.

Kedua, bertempur dengan pedang dan Ketiga, adu ilmu lwekang.

Si Bongkok memperhitungkan, babak pertama siangjin itu tentu kalah.

Tapi dalam babak kedua yang bertempur dengan senjata, siangjin itu tentu dapat merebut kemenangan malah sedapat mungkin harus dapat melukai lawan.

Dan untuk babak terakhir, kemenangan tentu difihak Ceng Bo.

Rupanya usul itu disetujui Ceng Bo dan mendapat persetujuan juga dari Hwat Siau.

Begitulah babak pertama segera dimulai, adu ilmu mengentengi tubuh mendaki puncak bukit yang runcing tadi.

Tapi ketika Ceng Bo baru mendaki separoh lebih, Hwat Siau sudah berada diatas puncak sembari tertawa keras.

Jadi babak pertama itu, Hwat Siau menang.

Hal itu memang sudah diperhitungkan.

Maka ketika Ceng Bo meluncur turun, si Bongkok segera mendekatinya dan berkata.

"Bek-heng, sepuluh tahun yang lalu karena tak percaya kabar2 yang disiarkan orang bahwa karena jeri akan ancaman kau telah serahkan pedangmu pada musuh, aku telah menjadi orang gagu dan merobah diriku menjadi imam Hwat Kong dibiara Cin Wan Kuan. Maksudku tak lain bukan yalah hendak membuktikan kebenaran berita itu. Sebenarnya tak ada rencanaku untuk menetap di Giok-li-nia sampai 6 tahun, tapi oleh karena tertarik akan peribadimu maka aku tak mau meninggalkan tempat itu. Apabila Sik Lo-sam tak memecahkan rahasia diriku, akupun tentu tetap tak mau pergi."

"Bek-heng, dalam pandanganku aibongkok ini, kau adalah orang gagah nomor satu dikolong langit. Kedudukan toa-ah-ko, kupercaya bagimu bukan soal yang mutlak. Tapi terhadap kepentingan sekian 'puluh ribu saudara2' yang bernaung dibawah panji Thian Te Hui, dirimu itu merupakan faktor yang teramat penting. Dalaih pertandingan babak kedua nanti, apabila ada kesempatan menang, janganlah men-sia2kannya. Menangkanlah, ingat bahwa kau sedang bertempur guna kepentingan belasan ribu saudara!"

Pesan itu diucapkan dengan sungguh dan termakan betul dalam hati Ceng Bo hingga untuk beberapa saat aiangjin Itu termenung.

"Baiklah, akan kuturut pesan Ih-heng itu!"

Sahutnya kemudian, lalu melolos yap-kun-kiam.

Ditimpa oleh cahaya matahari, pedang itu ber-kilau?an cahayanya.

Setelah pasang kuda2, segera dia mempersilahkan Hwat Siau.

Sebaliknya ketika memandang kearah Hwat Siau, sekalian orang sama terkesiap heran.

Ditangan "Song lotoa"

Itu tiada lain senjata kecuali gulungan angkin merah kemaren itu lagi.

Ceng Bo siangjin sendiripun heran.

Untuk dibuat demonstrasi, angkin Itu sih boleh juga.

Tapi kalau untuk bertempur melawan musuh, masa dapat digunakan?

Ditilik tingkat lwekangnya, orang itu belum mencapai tingkat kesempurnaan seperti yang dilukiskan sebsgai "mematah daun dapat melukal orang, menghambur bunga dapat mematikan lawan".

Tapi mengapa dia berbuat begitu naif?

Tapi selagi Ceng Bo me-nimang2 pikirannya, Hwat Siau sudah rangkapkan kedua tangan memberi hormat seraya berseru.

"Siangjin, maafkanlah!"

GAMBAR 92 Dengan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hoat Ceng Bo Siangjin terlibat dalam pertandingan memperebutkan Toa-ah-ko dengan Hwat Siau yang menyamar sebagai Song Hou Sekali tangan melambai, bertebaranlah angkin sepanjang 4 tombak itu bergerak melayang kearah Ceng Bo.

Melihat gerakan yang aneh dari angkin yang lemah gemulai itu.

Ceng Bo memperhitungkan andaikata muka sampai kena kesabet angkinpun tak nanti merasa kesakitan.

Maka begitu dia bergerak dengan jurus Tio-ik-cut-hay memapas keatas, kutunglah ujung angkin itu sepanjang 1 meter.

Dengan dibawa tiupan angin, kutungan angkin itu ber-kibar2 melayang keudara.

Kecuali Swat Moay seorang, Ceng Bo siangdiin maupun sekalian orang sama heran memikirkan kediadian itu.

Terang dalam beberapa tabasan angkin itu akan habis, dan bagaimana nanti Hwat Siau hendak menghadapi pedang pusaka macam yap-kun-kiam itu ?

Dengan tangan kosongkah ?

Adalah dalam saat orang2 sedang men-duga2 itu, Ceng Bo siangjin sudah melancarkan jurus kedua yakni boa-thian-kok-hay.

Pagutan ujung pedang laksana hujan mencurah.

Tujuh macam serangan isi dan serangan kosong dari ilmu pedang itu telah dimainkan secara mengagumkan sekali.

Hwat Siau tampak kerepotan menghindar kekanan kiri.

Ketujuh serangan itu sama, menghasilkan 7 buah kuntungan angkin masing2 sepanjang setengah meter.

Andaikata angkin itu merupakan tubuh orang, itu berarti 7 buah luka.

Dari gambaran ini, nyatalah sudah bahwa ilmu pedang to-hay-kiam-hwat Ceng Bo siangdiln Itu, merupakan ilmu pedang yang menjagoi seluruh gelanggang perpedangan.

Melihat "Song lotoa"

Tak mau membalas serangan, timbul kicurigaan Ceng Bo.

Adakah dia, sengaja hendak mengalah?

Kalau benar demikian, tak selayaknya dia melukai orang itu.

Tapi pada lain kilas, teringatlah dia akan pesan Ih Liok tadi.

Tanpa berayal lagi, dia segera lancarkan jurus cing-wi-thian-hay untuk menusuk tenggorokan Hwat Siau.

Tapi kali ini, Hwat Siau mengambil lain haluan, begitu pedang berkelebat, dia sudah mendahului menyelinap kebelakang Ceng Bo.

Ceng Bo tak memandang mata, karena mengira angkin itu hanya sutera merah biasa.

Maka secepat membalik diri, dia segera menusuk lagi.

Se-konyong2 Hwat Siau lemparkan gulungan angkin itu sama sekali keudara sembari me-mutar2kannya.

Anehnya walau tadi sudah terpapas beberapa meter, angkin merah itu masih tetap panjang, tak kurang dari 3 tombak panjangnya.

Kini angkin itu menjadi 7 atau 8 buah lingkaran diudara.

Ketika tusukan Ceng Bo tiba, Hwat Siau menghindar kesamping sembari tarik turun lingkaran angkin tadi kebawah.

Karena merupakan benda yang ringan, ketika bertebaran turun, angkin itu sedikitpun tak mengeluar suara apa2.

Hanya tahu2 tubuh Ceng Bo telah tergubat.

Hendak Ceng Bo mencongkel dengan pedang, tapi sudah tak keburu.

Melihat jaringannya sudah mengenai, secepat kilat Hwat Siau loncat mundur dan mengikatlah angkin itu erat2 kepada tubuh Ceng Bo.

Bermula Ceng Bo mengira, bahwa asal dia kerahkan lwekangn,ya, tentu putuslah angkin sutera itu.

Tapi hai....!, ketika dia hendak gerakkan lengannya kiri, ternyata tak mampu bergerak.

Sedang dalam saat itu, Hwat Siau kedengaran tertawa lebar sembari berseru.

"Siangjin, maafkanlah! Menilik hasil pertandingan itu dimana Ceng Bo kena kejirat basah tanpa dapat berkutik, rasanya sudah cukup berbicara jelas. Jadi pertandingan ketiga tak usah dilanjutkan lagi, karena dua kali sudah kalah. Sehabis Hwat Siau mengucap tadi, barulah Ceng Bo dapat keluar dari jaring angkin itu. Ketika di-amat2i dengan perdata, kiranya angkin itu berlainan dengan angkin yang kemaren. Pada kedua tepiannya, ternyata terbuat dari anyaman kawat logam yang halus. Ah, makanya tadi dia tak mampu meronta! Sebagai seorang ksatrya, serentak berka-talah Ceng Bo.

"Kedudukan toa-ah-ko 'Thian Te Hui, harap song-heng suka menerimanya!"

Tanpa banyak bicara lagi, Hwat Siau segera menghampiri unggun lelatu dan manjemput salah satu thong-pay yung terbesar.

Thong-pay itu sudah membara panas, tapi oIeh karena dia jago ilmu lwekang yang-hwat-kang (api positip), jadi sedikitpun tak jeri.

Thong-pasy itu dipegangnya, lalu berserulah dia kepada sekalian orang.

"Aku yang rendah kini menjadt toa-ah-ko, harap sekalian saudara suka membantu!"

Thaysan sin-tho Ih Iiok lemas tak bersemangat, tapl sebaliknya Ceng Bo diam saja sikapnya.

Saat itu lalu dilakukan lain2 pilihan dengan kesudahan Ceng Bo siangjin menjadi ji-ah-ko, Ki Ce-tiong menjadi sam-ah-ko dan Ko Thay menjadi su-ah-ko.

Setelah susunan pimpinan Thian Te Hui terpilih lengkap, berserulah Hwat Siau dengan lantang.

"Kini bawalah bebodoran dunia persilatan d Cian-bin Long-kun The Go keluar, terserah bagaimana saudara2 hendak menghukumnya!"

Sehabis mengucapkan perintah pertama itu, dia memberi isyarat ekor mata kepada sang isteri.

Dalam hati kecil Hui-ing-cu dan lain orang yang menunjang pencalonan Ceng Bo sebegai toa-ah-ko tadi, tetap tidak puas akan hasil pemilihan itu.

Bahwa seorang baru terus saja berhasil merebut kedudukan toa-ah-ko, mereka tetap tidak dapat menerima.

Maka dengan waspada, diikutilah tindakan yang dilakukan oleh toa-ah-ko itu.

Asal nyeleweng, mereka segera akan bertindak.

Maka demi nampak tindakan pertama untuk membunuh The Go sebagai sesaji sembahyang bendera itu, telah disambut dengan lega oleh kelompok Kui-ing-cu dan kawan-kawan.

Diam2 mereka menganggap kedua besaudara Song itu juga bangsa orang gagah kesatrya sejati.

Rasa antipahti (tidak senang) pun menurun beberapa derajat.

Tak berapa lama, The Go dibawa keluar.

Sejak datang ke Giok-li-nia situ, dia disekap dalam tahanan, jadi tak tahu sama sekali apa yang terjadi diluaran selama itu.

Pada pikirnya, begitu Hwat Siau sumi isteri sudah menyelesaikan pekerjaan besar itu.

Dia tentu akan dibawa kekota raja menghadap Sip-ceng-ong Tolkun untuk menerima pangkat sebagai budak bangsa Ceng.

Demi dengan tangan terikat dia keluar, segera dilihatnya berpuluh orang gagah deliki mata kepadanya dengan sorot gusar.

Malah jelas kelihatan ada beberapa yang memancarkan sorot mata ber-api2.

Hatinya berdebar keras.

Ketika mengalihkan pandangan kesebelah muka, disana terdapat Hwat Siau tengah memegang thong-pay toa-ah-ko berdiri dibawah sebuah bendera putih hitam.

Bendera itu terpancang ditengah lapangan, ber-kibar2 ditiup angin.

Sebagai seorang durjana yang cerdas, dia tersirap kaget menghadapi kenyataaan itu.

Terang Hwat Siau telah menggunakan siasat "habis melintasi jembatan, lalu mengangkat jembatan itu", atau artinya setelah berhasil Hwat Siau hendak membasmi mulutnya (membunuhnya).

Tak peduli bagaimana, dia hendak nekad memanggil Hwat Siau.

Biar kalau toh mati, sama2 dalam satu liang.

Baru dia ngangakan mulut hendak berseru, atau Swat Moay tampak mengangkat tangan dan sebuah batu kecil melayang.........

hek!, lambungnya terasa kesemutan dan mulutnya tak dapat bersuara lagi.

Jalan darah pembisu, telah kena tertutuk.

Sedemikian cepat gerakan Swat Moay tadi, apalagi gerakan itu tanpa bersuara sama sekali.

Maka kecuali The Go yang merasa, tiada seorang lainpun yang mengetahui kejadian itu.

Sekalian orang itu tahunya hanya puas dan geram melihat The Go.

Seluruh perhatian ditumpahkan kearah anak muda yang pintar keblinger itu.

The Go coba kerahkan semangatnya untuk melepaskan jalan darahnya itu, tapi sia2 saja.

Membayangkan bahwa dalam beberapa detik nanti, dia bakal menerima kematian secara ngeri sekali, tanpa terasa ber-butir keringat sebesar biji kedele menetes turun dari selebar mukanya.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 50 .

HALILINTAR DI SIANG HARI Hwat Siau sedikitpun tak merasa sayang akan nasib orang muda itu.

Itulah upahnya orang yang suka berhamba pada kaum penjajah, pikirnya.

"Benar dengan penghianat ini aku belum pernah bercidera, tapi karena dia telah melakukan perbuatan merugikan rakyat, memimpin tentara Ceng masuk kewilayah Swiciu, mencelakai tiga laksa saudara2 Thian Te Hui digunung Gwat-siu-san, melakukan penggeropyokan pada ke 72 markas Hoasan dan lain2 kejahatan, maka kalau manusia macam begitu tak disirnakan, kita bangsa Han tentu tiada punya muka lagi. Nah, silahkan siapa saja saudara yang hendak mulai turun tangan!"

Seru Hwat Siau dengan tertawa dingin. Gegap gempita sekalian orang menyambut pernyataan Hwat Siau yang "ksatrya"

Itu.

Dan sekali melesat, tampillah Thaysan sin-tho Ih Liok, Dia menyiakkan orang2 itu kesisi untuk memberi jalan.

Sebagaimana telah kita ketahui, ketika di Hoasan dia diselomoti mentah2 oleh The Go, dia telah memapas kuntung jari kirinya selaku sumpah.

"Kalau tak dapat mencincang lebur tubuh The Go, biarlah luka jarinya itu busuk rusak!"

Bahwa kini kesempatan untuk melaksanakan sumpahnya itu terbentang di depan mata, telah membuatnya beringas seperti harimau lapar melihat kambing.

Dengan meringis berikeriyutan macam srigala mengunjukkan taring, setindak, demi setindak dia maju menghampiri kearah The Go.

Sepasang matanya ber-api2.

Dalam keadaan begitu, segala kecerdaaan dan akal siasat yang dimiliki Cian-bin Long-kun, sia2 semua.

Kedua tangannya diikat, jalan darah pembisu ditutuk.

Masih dia kerahkan seluruh lwekangnya untuk berseru keras menelanjangi keadaan diri Hwat Siau yang aseli, namun tak berdaya.

Suaranya tak mau keluar.

Dan yang nyata, disebelah muka sana tampak si Bongkok, dengan sorotan mata buas, jari tangan kiri yang kuntung, ber-indap2 mendatangi seperti hendak menelannya hidup2.

Sesal kemudian tak berguna.

Rupanya pepatah ini diakui kebenarannya oleh The Go.

Pada detik2 kematian meregut itu ter-bayang2 perbuatannya dimasa lampau yang penuh berlumuran dosa itu.

Taruh kata saat itu dia kuasa berseru unttk membuka kedok Hwat Siau, rasanya tiada seorangpun yung mau mempercayainya.

Memang setiap kejahatan itu tentu menimbulkan penyesalan dikemudian hari, tapi sesal kemudian tak berguna, demikian bunyi pepatah diatas.

Yang lebih mengesan dalam lubuk kenangannya pada detik2 terakhir itu, yalah diri Bek Lian.

Bagaimana bahagia hari2 berdampingan dengan sijelita itu, dan bagaimana tulua ichlas nona itu mempersembahkan kasihnya, tapi ah, bagaimana pula kejamnya dia menghancurkan hati nona itu hingga kandungann ya sampai hampir gugur.

Dan ai...., Ciok Siao-lan, sihitam manis yang ter-gila2 padanya itu, telah dia persakiti tubuh dan hatinya.

"Chuh"........... tahu2 segumpal ludah menampar kemukanya. Itulah semburan Ih Liok yang walaupun hanya dengan air ludah tapi cukup membuat The Go nyeri kesakitan hebat, seperti dikebut dengan sapu kawat. Seketika mukanya ber-gurat2 mengeluarkan darah. Dia cukup sadar bahwa dengan jatuh ditangan musuh macam si Bongkok, dia tentu mengalami siksaan yang maha hebat. Tapi dalam keadaan seperti saat itu, apa daya? Dia meramkan kedua mata paserah nasib. Si bongkok deliki mata memandang sejenak padanya dan timbullah keheranannya. Biasanya The Go itu seorang seorang pemuda yang tangkas bicara, mengapa saat itu membisu saja? Adakah dia sudah bertobat? Tapi apa peduli. Berpaling kebelakang,dia berseru.

"Saudara yang manakah suka meminjami aku sebilah pisau untuk membelek hati bangsat ini. Coba kita lihat bagaimana warnanya!"

GAMBAR 93

"Chuh"

Tiba2 The Go dipersen ludah oleh si Bongkok Ih Liok, berbareng baju si pemuda dirobek dan belati siap mencingcang tubuh The Go yang culas itu.

Serentak Ceng Bo mencabut yap-kun-kiam untuk diserahkan, tapi Ih Liok menolaknya.

"Pedang ini terlampau tajam, sekali dodet sudah selesai. Itu terlalu enak baginya. Aku maukan sebilah yang tumpul, supaya dapat men-dobet2nya sampai lama!"

Ceng Bo sebenarnya kasihan juga, tapi karena sekalian orang mengunjuk kemurkaan, jadi diapun tak berani melarangnya.

Pada lain saat ada seorang yang mengantari Ih Liok sebatang pedang pendek, terbuat daripada besi biasa.

"Bagus, inilah yang cocok!"

Seru si Bongkok. Berputar kearah The Go dia berkata.

"Orang she The, tahukah kau entah berapa banyak jiwa yang melayang ditanganmu? Kalau hanya mengganti selembar jiwa, apakah kau masih tidak terima?"

Dari kerut wajahnya yang gelisah ketakutan, dapat diketahui bagaimana perasaan hati The Go saat itu.

Namun tetap dia tak dapat berkata apa2.

Tadi semprotan ludah si Bongkok, telah membuat mukanya berlumuran darah, hingga dari seorang pemuda tampan kini dia berobah menjadi simuka merah.

Namun mencari jalan hidup adalah pembawaan setiap insan.

Dalam kebingungannya itu, dia telah memperoleh selarik sinar harapan.

Atas pertanyaan si Bongkok "apa kau masih tidak terima"

Tadi, dia mengangguk dua kali, sembari mengawasi kebawah.

Ih Liok heran, lalu melihat kebawah kearah yang diawasi The Go.

Ternyata kaki kanan The Go tengah ber-gerak2 seperti menulis sesuatu.

Tapi karena tanah disitu merupakan batu padas, jadi apa yang dituliskan itu tak dapatlah si Bongkok mengetahuinya.

Memang bermula si Bongkok agak tertegun memikirkan, tapi demi teringat sudah berapa kali dia makan getah dari siasat orang muda yang selicin belut Itu, tak mau dia menghiraukannya lagi.

Cret............, ujung pedang pendek itu menikam bahu The Go.

Begitu dicabut, darah menyembur keluar.

Saking sakitnya, hampir pingsan The Go dibuatnya.

"Tikaman kesatu!"

Seru si Bongkok.

Karena si Bongkok tak menghiraukan tulisan kakinya tadi, habislah sudah harapan The Go.

Dengan mata melotot dia deliki suami isteri Hwat Siau Swat Moay, tapi kedua orang itu tetap tenang2 saja se-olah2 seperti tak kejadian suatu apa.

Ea Liok angkat tangann ya hendak melancarkan tikaman yang kedua, saking tak tega berserulah Ceng Bo.

"Ih-heng, lekaslah habisi saja nyawanya!"

Belum si Bongkok menyahut atau dari lamping gunung sana terdengar hiruk pikuk suara orang ber-teriak2.

Lama2 dengan cepatnya suara gaduh itu menjalar kepuncak dan berbareng itu laksana kilat sesosok bayangan hitam meluncur datang.

Belum sempat sekalian orang melihat siapakah orang itu, siorang sudah mendahului berteriak dengan nyaring.

"Tahan!", kemudian terus memburu kearah si Bongkok untuk merebut pedangnya tadi. Si Bongkok melawan dan barulah mengetahui kalau lawannya itu bukan lain adalah Kang Siang Yan. Dia turunkan pedang kebawah terus dibabatkan. Tapi tanpa berkisar kaki, Kang Siang Yan miringkan tubuhnya sedikit, lalu julurkan tangan untuk menerkam siku si Bongkok. Keduanya bertempur rapat. Disana, Ceng Bopun cepat dapat mengenal bahwa yang datang itu adalah isterinya. Dia terperanjat disamping mengeluh atas seruan isterinya tadi, yang terang hendak memenolongi The Go lagi. Beberapa kali dia gagal membunuh pemuda penghianat itu karena pada. detika terakhir, isterinya selalu datang mencegah. Ah......, biar bagaimana kali ini harus diselesaikan, jangan sempat gagal lagi. Dikala sang isteri masih sibuk melayani si Bongkok, cepat dia memburu kearah The Go dan menabas ...................... Walaupun kepandaian Kang Siang Yan lebih unggul dari si bongkok, namun dalam tiga empat gebrak sukarlah untuknya mengalahkan. Waktu melihat suaminya lari menghampiri The Go, ia sudah was-was. Begitu tangan Ceng Bo diangkat, ia pun segera lontarkan gumpalan benda yang semula sudah dikepitnya tadi. Bermula Ceng Bo tak menghiraukannya benda apa yang diIontarkan isterinya itu, pokok asal yap-kun-kiam melayang tiba, kepala The Go tentu menggelinding. Maka diapun tak mau kurangi gerak tabasannya tadi. Tapi demi benda, itu hampir tiba dihadapannya, bukan kepalang kejutnya! Itulah seorang orok bayi yang bagus wajahnya. Buru2 dia hendak tarik pulang tabasannya, agar jangan sampai mengenai orok itu. Tapi sukarnya bukan kepalang. Tadi karena kuatir membikin kapiran urusan, dia sudah menabas se-kuat2-nya, jadi untuk menariknya secara mendadak, tak seemudah kemauan sang hati. Namun bila diteruskan tabasanya itu, The Go dan orok itu pasti akan terbelah kutung. Dalam gugupnya, dia kerahkan tenaganya untuk menurunkan tangannya, cret ........ popok (pakaian) orok itu terpapas rowuk dan kedua belah kaki The Go pun terpisah dari pahanya. Darah segar memuncrat laksana air pancuran dan rubuhlah The Go tak ingat diri.......... GAMBAR 94 Disamping Kang-siang-yan merintangi niat si Bongkok yang hendak menghabiskan jiwa The Go, disebelah sana Ceng Bo Siangjin cepat bertindak, sekali pedangnya menyabet, terkuntunglah kedua kaki The Go. Ceng Bo tak mau hiraukan adakah The Go itu mati atau belum. Yang dipikirkan hanya siorok tadi. Begitu menabas, dia segera membungkuk kebawah untuk menyanggapi orok itu. Diam2 dia kucurkan keringat dingin, karena ngeri memikir nasib siorok yang hampir saja menjadi korban pedangnya. Mengawasi kearah Kang Siang Yan, dilihatnya sang isteri Itu sudah berhasil merebut senjata si Bongkok dan dengan 3 buah hantaman berhasillah ia mengundurkan lawan. Ceng Bo geram sekali terhadap isterinya itu. Betapapun kecintaannya terhadap sang isteri namun urusan negara adalah diatas segala. Dia anggap sang isteri itu membawa kemauan sendiri, datang2 membikin ribut.

"Hong-moay, hari ini adalah upacara persembahyangan bendera Thian Te Hui, mengapa kau mengadu biru bikin onar?"

Serunya dengan gusar.

Sepanjang ingatnya, belum pernah dia sedemikian marahnya terhadap isteri yang dikasihinya itu.

Kang Siang Yan buru2 menghampiri The Go, lalu menutuk ke 12 jalan darah besar pemuda itu, untuk memberhentikan pendarahan.

Setelah itu baru dia mendongak menatap Ceng Bo siangjin, sahutnya.

"Aku mengadu biru? Kalau terlambat sedikit aku datang kemari, orang2 Thian Te Hui akan menjadi tumpukan bangkai semua!"

"Hong-moay, apa maksudmu?"

Menegas Ceng Bo dengan terperanjat. Tidak menyahut pertanyaan sang suami, sebaliknya Kang Siang Yan memandang kearah orang banyak. Satu demi satu, diawasinya dengan perdata, kemudian berseru nyaring .

"Swat Moay dan Hwat Siau, dimana kedua orang Itu? Ayuh, mengapa tak berani unjuk diri bertempur secara ksatrya?"

Mendengar wanita gagah itu menantang tokoh Swat Moay dan Hwat Siau, bukan olah2 terkejutnya orang2 sekalian.

"Apa katamu?"

Serempak Kui-ing-cu, Ceng Bo siangjin, Ko Thay dan si Bongkok berseru.

Namun Kang Siang Yan tak mau menjawab.

Ia mondar mandir menyusup keluar masuk dalam kelompok orang yang ber-jubal2 itu.

Dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh sakti thay-yang-lian-seng, ia menyusup keluar masuk.

Yang dirasakan oleh ribuan orang disitu, hanyalah semacam deru angin menyambar saja.

Hal mana membuat orang2 sama kagum dibuatnya.

Setelah tak berhasil menemukan yang dicari, barulah kedengaran ia berkata keheranan.

"Ai......, kemana lenyapnya kedua bangsat itu?"

"Hong-moay, apakah sesungguhnya yang kau ucapkan itu?"

Tanya Ceng Bo.

"Apa......? Apa kalian tak mengetahui bahwa Swat Moay dan Hwat Siau menyelundup kemari ?"

Kang Siang Yan balas bertanya.

Kini baru semua orang sama termadar, mereka saling celingukan kesana sini.

Semua anggauta masih lengkap, kecuali kedua saudara Song, Hek-bin-sin Ho Gak dan Sam-chun-ting Ciu Sim-i yang tak kelihatan batang hidungnya.

Saat itu barulah semua orang mengetahui duduk perkaranya.

Kang Siang Yan, gerak gerikmu selama ini menimbulkan anti pathi orang.

Tapi kali ini kami semua berhutang budi seru Kui-ing-cu seraya tunjukkan jempol jarinya selaku memuji.

"Fui ....., siapa sudi mendengar ocehanmu itu. Kalau bukan Thio Jiang yang memberitahukan padaku, aku juga tak tahu!"

Sahut Kang Slang Yan.

"Apa .... ? Tio Jiang belum binasa"

Seru Ceng Bo dengan terperanjat.

"Mati sih belum, tapi tengah meregang jiwa (sekarat). Yan-chiu berada disampingnya!"

"Hai......., ternyata Yan-chiu juga masih hidup!"

Seru sekalian orang dengan girangnya. Ceng Bo yang sedari tadi masih mengempo siorok, segera bertanya .

"Hong-moay, dari manakah orok ini?"

"Itulah cucu-luar-mu sendiri! Masa kau tak mengenalnya, bukankah wajahnya mirip dengan kau!"

Ceng Bo meng-amat2i dengan tajam dan benar dapatkan wajah orok itu agak mirip dengan dirinya. Tapi demi teringat bahwa orok itu adalah anak Bek Lian dan The Go, meluapIah kemarahannya.

"Mari ambillah, aku lebih suka tak mengakuinya sebagai cucu!"

Serunya seraya angsurkan orok itu kepada sang isteri.

"Orang tuanya yang salah, mengapa anaknya di-ikut2kan?"

Kang Siang Yan menghela napas sambil menyambuti orok itu, lalu di-tepuk2nya pe-lahan2.

"Nenekmu ini tetap menyayangimu nak, jangan takut!"

Melihat tingkah laku seorang wanita gagah macam Hang Siang Yan tetap tak meninggalkan sifat2 kasih sayang seorang nenek terhadap cucunya, Kui-ing-cu dan semua orang sama tertawa geli.

Kang Siang Yan tampak menciumi orok itu, lalu ujarnya.

"Orok ini tak boleh dilahirkan tanpa melihat ayahnya!"

Habis berkata begitu, Hang Siang Yan melirik kearah The Go.

Kini kedua kaki The Go sudah kutung dan setelah ke 12 urat besarnya ditutuk Kang Siang Yan, timbullah perobahan dalam dirinya.

Jalan darah pembisu yang tertutuk tadi, sudah terbuka sendiri.

Keadaannya seperti orang limbung, sadar2 tidak.

Tapi serta merasa dapat ber-kata2, segera dia paksakan bicara dengan ter-putus2.

"Kedua saudara Song sebenarnya......Hwat Siau .......... dan Swat Moay"

Habis ber-kata2, kembali dia pingsan.

"Kakinya sudah buntung, orangnya pun telah kalian siksa sedemikian rupa. Pandanglah mukaku dan lepaskanlah dia!"

Se-konyong2 meluncur kata perikemanusiaan dari bibir Kang Siang Yan.

Bahwasanya seorang wanita keras macam Kang Siang Yan, dapat mengucap kata2 yang sedemikian halus merawankan, telah membuat orang2 ter-heran2, Memang kedatangan Kang Siang Yan kepuncak Giok-li-nia situ, pertama untuk memberitahukan suaminya bahwa Hwat Siau dan Swat Moay menyelundup kesitu dan kedua kalinya juga untuk urusan The Go.

Kiranya setelah peristiwa digereja Ang Hun Kiong selesai dan masing2 orang sama berpencar, keadaan Bek Lian sangat mereras sekali.

Bek Lian telah kehilangan peribadinya.

Ia berkeliaran ke-mana2 seperti orang gila.

Setelah dua hari mencarinya, barulah Kang Siang Yan mendapatkan puterinya yang bernasib malang itu.

Bahwa anaknya sampai menemui nasib yang sedemikian mengenaskan, kemarahan Kang Siang Yan sudah memuncak.

Tapi dikarenakan keadaan Bek Lian sedemikian rupa, terpaksa ia, tak dapat meninggalkannya.

Maka, dicarinya sebuah tempat per-istirahatan yang sunyi disekitar sungai situ untuk tempat menetap sementara, perlu merawat penyakit Bek Lian.

Tiga bulan kemudian, barulah kesehatan Bek Lian ber-angsur2 pulih.

Tapi pada saat itu, ia melahirkan seorang orok.

Melihat orok itu sangat mungil, Kang Siang Yan merasa gembira.

Tapi sebaliknya, Bek Lian sendiri tetap berduka.

Ia tak senang kepada anak kandungnya itu, sehingga menyusuipun tak mau.

Apa boleh buat, Kang Siang Yan terpaksa menggendong orok itu keatas gunung, untuk mencari binatang alas.

Baik serigala, harimau, rusa, dan lain2 binatang berkaki empat, diburunya kemudian diperas air susunya untuk orok itu.

Pada kebalikannya, pertumbuhan badan orok itu luar biasa sehatnya.

Belum lagi setengah tahun umurnya, orok itu sudah hampir menyamai seperti seorang berusia satu tahun.

Pada hari itu, rupanya Kang Siang Yan membawa cucunya ketempat yung agak jauh, hingga dua hari baru pulang.

Tapi tiba dirumah, ternyata Bek Lian sudah menghilang.

Ia hanya meninggalkan secarik tulisan yang menyatakan sebagai berikut.

Bunda, Anak telah merasa sesat jalan dan terjerumus dalam lumpur duka nestapa.

Berdasarkan ajaran2 luhur dari ayah, seharusnya anak tak layak hidup didunia lagi.

Tapi mengingat anak belum dapat membalas budi ayah bunda selama ini, kalau harus bunuh diri tentu akan lebith put-hau (tak berbakti) lagi.

Oleh karena itu, hendak anak tinggalkan nyawa dalam hayat untuk mengabdikan diri menjadi nikoh (paderi perempuan) selaku penebus dosa.

Selama hayat masih dikandung badan, tentu akan dapat berjumpa pula.

Harap jangan mencari lagi, karena niat anak sudah tetap.

Bek Lian Kang Siang Yan termangu.

Betapapun halnya, tetap ia hendak mencari puterinya itu.

Tapi rupanya niat Bek Lian itu tetap.

Dua hari yang lalu, ketika Kang Siang Yan keluar pintu, iapun segera terus berkemas tinggalkan pondok itu.

Dua hari Kang Siang Yan baru pulang dan selama itu entah sampai kemana Bek Lian mengayun langkahnya.

Lebih dari sebulan Kang Siang Yan mencari jejak puterinya itu, tapi tetap hilang tak ketahuan rimbanya.

Akhirnya terpaksa ia lepaskan penyelidikannya, kembali pulang kepondoknya tadi.

Syukurlah, ada sang cucu sebagai kawan.

Pada waktu Tio Jiang dan Yan-chiu bertempur melawan suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay, hiruk kegaduhannya telah membuat orok itu terbangun kaget dan menangis.

Telinga Kang Siang Yan yang tajam, segera dapat mengetahui bahwa suara ribut2 itu terjadi karena ada perkelahian kaum persilatan.

Orang persilatan saling membalas dendam itu sudah jamak, iapun tak ambil pusing.

Tapi yang menjengkelkan hatinya, ribut2 itu sudah membikin kaget cucunya.

Maka sembari menghibur bujuk, dibawanya orok itu keluar untuk melihat ribut2 itu.

Tapi begitu ia muncul, Hwat Siau dan isterinya sudah buru2 ngacir, tertinggal Tio Jiang dan Yan-chiu menggeletak ditanah luka parah.

Bermula Kang Siang Yan kira mereka sudah binasa, tapi serta diperiksa ternyata jantungnya masih berdetak.

Dan untuk kekagetannya, kedua orang itu ternyata Tio Jiang dan Yan-chiu adanya.

Sejak pertemuannya dengan Ceng Bo di Hoasan tempo hari, sebenarnya ia sudah berbaik lagi dengan sang suami itu.

la berjanji setelah mendapatkan pedang kuan-wi-kiam, ia akan memulai penghidupan baru ber-sama2 suaminya.

Tapi adalah belakangan karena urusan Bek Lian dan The Go, kembali ia bentrok dengan Ceng Bo.

Perangai Kang Siang Yan memang aneh.

Ia selalu membawa kemauannya sendiri.

Tempo digereja Ang Hun Kiong, ia berdiri difihak Ang Hwat cinjin dan Hwat Siau dan Swat Moay.

Kemudian baru setelah mengetahui kebinatangan hati The Go, ia tersadar dan menggabungkan diri pada Pihak suaminya.

Dan waktu gereja tersebut dihancurkan dengan dinamit, makin tegas keiakinannya terhadap Ceng Bo.

Kedua anak muda itu adalah murid suaminya, jadi tak beda dengan muridnya juga.

Benar pernah, Yan-chiu menipu mengeruk kepandaiannya tapi itu karena gara2 Kui-ing-cu apalagi hal itu tak menjadi soal baginya.

Kedua anak muda itu segera diangkut kedalam pondok dan diupayakan supaia tersadar.

Hampir setengah harian Tio Diiang tak ingat diri.

Begitu membuka mata, tanpa menghiraukan siapa, yang berada dibadapannya, dia segera berseru.

"Lekas..., lekas...! Hwat Siau dan Thian-bin Long-kun semua pergi ke Gwat-li-nia!"

Setelah berulang kali mendengar seruan itu, barulah Kang Siang Yan menangkap maksudnia.

Tay-hiat atau urat nadi besar kedua anak itu dltutuknya, supaya mereka dapat mengaso tenang.

Yan-chiu tak menghiraukan suatu apa.

Ia merasa dalam beberapa hari ajalnya sudah akan tiba.

Biarkan Kang Siang Yan berbuat apa saja ia tak peduli.

Ia hanya baringkan diri disamping sukonya dan ber-bisik2 apa saja yang sang mulut Ingin mengatakan.

Luka Tio Jiang tidak ringan, dengan sadar tak sadar dia hanya mendangari saja dan mengiakan.

Kang Siang Yan menggendong cucunya, tarus berangkat menuju ke Giok-li-nia.

Kedatangannya itu tepat sekali, dimana si bongkok tengah menggorok The Go.

Kemudian Kang Siang Yan mengakhiri penuturaannya, lalu memintakan keringanan untuk The Go.

Sekalian orang berpendapat bahwa dengan kedua kakinya buntung, The Go sudah menjadi orang tanpadaksa (invalid), rasanya cukup untuk menghukumnya.

"Kang Siang Yan, aku pernah bersumpah kalau tak mencingcangnya sampai hancur lebur, lukaku ini akan busuk !"

Thatsan sin-tho Ih Liok menyanggah.

"Ih Liok", sahut Kang Siang Yan.

"Segala apa jangan main mutlak2an. Tadi sewaktu tersadar, dia tak mengucapkan apa2 tapi lantas mengatakan soal Hwat Siau dan Swat Moay. Apakah itu tak kau anggap dia masih mempunyai liang-sim (hati baik) ?"

Si Bongkok tertawa.

"Kang Slang Yan, bilakah kau belajar falsafat macam Tay Siang Siansu itu ?"

Kang Siang Yan deliki mata kepadanya.

"Ya, sudahlah,"

Ih Liok mengalah.

"dengan memandang muka kalian Kang Siang Yan dan Hay-te-kau berdua, aku sibongkok suka mengampuninya, Tapi awas, kalau kelak dia berbuat jahat lagi, aku tentu akan meminta pertanggungan jawabmu berdua!"

"Hai, Ih-heng, mengapa aku di-bawa2?"

Ceng Bo tertawa getir. Si Bongkok tertawa.

"Huh, siapa yang tak mengetahui hubungan suami-isteri kalian kini saling berebut mengempo cucu! Bagaimana hendak meniadakan dirimu?"

Ceng Bo dan Kang Siang Yan saling berpandangan sembari ketawa.

Mengingat bahwa betapa jahat si Cian-bin Long-kun itu dahulunya, tapi dengan kedua kakinya sudah buntung dia sudah tak berdaya lagi, maka sekalian orangpun menyetujui keputusan untuk memberi keringanan.

Ceng Bo segera suruh gotong orang muda itu kedalam biara, kemudian dia segera mengajukan pertanyaan kepada sekalian orang.

"Toa-ah-ko sudah melarikan diri, habis bagaimana urusan ini?"

"Sudah tentu Hay-te-kaulah yang menjadi toa-ah-ko!"

Serempak sekalian orang berseru.

Disamping itu, mereka menyerukan supaya Kiau To menjadi siao-ah-ko.

Ceng Bo tak mau banyak bicara lagi.

Segera dia pegang pucuk pimpinan.

Tindakan pertama yalah mengatur susunan organisasi.

Thian Te Hui yang beranggautakan lebih dari 10 ribu orang Itu, dibagi menjadi 10 tay-tong (batalyon).

Setiap taytong dipimpin oleh tongcu dan wakil tongcu.

Dibawah taytongcu (pemimpin taytong) diangkat lagi 20 orang siao-tongcu yang masing2 menguasai 100 anak buah.

Dengan penyusunan itu, terdapatlah suatu organisasi yang rapi.

Melihat itu diam2 Kang Siang Yan mengagumi kecakapan suaminya.

Selesai menetapkan susunan Thian Te Hui, berkatalah Ceng Bo kepada sang isteri.

"Hong-moay, mari kita turun untuk menjenguk bagaimana keadaan Siao Ciu dan Jiang-ji itu!"

"Astaga!"

Tiba2 Kang Siang Yan seperti orang dlsadarkan, mereka luka parah tiada orang yang merawati, aku seharusnya lekas2 kembali.

"Kau mempunyai tugas berat, tak perlu pergi. Kalau dapat menemukan Tay Siang Siansu untuk meminta beberapa butir pil sam-kong-tan, lebih baik lagi. Tapi kalau tidak, biarlah aku sendiri saja yang merawat."

Girang hati Ceng Bo mendengar kesanggupan sang isteri itu.

Dan tanpa berayal lagi, Kang Siang Yan terus minta diri.

Setelah itu Ceng Bo segera mengadakan rundingan dengan para tay-tongcu dan hu-tongcu (wakil tongcu) untuk rencana penyerangan selanjutnya.

Tapi dalam rundingan itu, mereka terbentur pada kenyataan pahit tiada ransum, tiada uang!

Tanpa ransum, tentara tak dapat bergerak.

Jadi sekalipun lasykar sudah terkumpul sampai ribuan jumlahnya, tapi tiada gunanya bahkan menimbulkan kesulitan besar mengenai jaminan makanan mereka.

Perang tanpa makan bagaimana jadinya?

Tadi menurut penuturan Kang Siang Yan, sekalipun Tio Jiang tak sampai terbunuh, tapi dia sudah dianggap sebagai pemberontak.

Jadi hubungan dengan fihak kerajaan Lam Beng, sudah putus.

Hal ini diinsyafi benar oleh para perunding, hingga sampai sekian saat mereka tak dapat menyatakan apa2.

"Apakah sekalian saudara pernah mendengar tentang cerita kim-jong-giok-toh yang tersiar dikalangan persilatan?"

Tiba2 ada seorang tongcu memecah kesunyian.

Sudah sejak beberapa tahun ini, Ceng Bo selalu mondar mandir sibuk dengan usaha pergerakan Thian Te Hui Tambahan pula dia orangnya jujur bersih, jadi walaupun pernah juga dia mendengar desas desus harta karun itu, namun tak dihiraukannya.

"Belum pernah mendengar!"

Sahutnya.

"Benar, sejak dari Ang Hun Kiong mencari suhu, akupun pernah, mendengar hal itu. Katanya harta karun Itu simpanan dari Thio hian Tiong. Tapi tiada seorangpun yang tahu akan hal itu dengan jelas. Ada sementara orang persilatan yang melakukan penyelidikan, ada juga orang2 yang tak ketahuan asal usulnya turut memancing diair keruh,"

Ujar Kiau To. Ceng Bo merenung sejenak, lalu berkata.

"Ya, biarpun harta karun itu ada, tapi apa gunanya? Apakah orang dapat memakan emas berlian?"

"Ah, bukan begitu!"

Sahut lh Liok.

"dengan harta dapat kita memperolch ransum. Kwisay berbatasan dengan Siam dan Annam (Vietnam), kedua negeri itu merupakan gudang beras. Jangan lagi hanya belasan ribu sedang ratusan ribu orang pun tiada menjadi soal!"

Semangat sekalian hadirin tergugah.

Tapi kim-jong-giok-toh itu se-olah2 merupakan mythos (dongeng) saja, ada desas desusnya tapi tiada kenyataannya.

Menilik namanya, harta karun itu mempunyai hubungan dengan susunan tubuh orang, tapi masakan perut (toh) terdapat hartanya?

Tapi ah....., kemungkinan besar hal itu terdapat pada bangsa patung.

Karena belum mendapat pegangan yang pasti, terpaksa untuk sementara itu Ceng Bo belum mau menggerakkan tentaranya.

Satu2nya usaha yalah mengadakan hubungan dengan Li Seng Tong.

Dan ini baik kita tinggalkan dulu untuk mengikuti perjalanan Kang Slang Yan turun dari Lo-hu-san tadi.

---oodwkz0tahoo---Dengan ber-gegas2 wanita gagah itu kembali kepondoknya, tapi tiba disitu ternyata Tio Jiang dan Yan-chiu, sudab tak kelihatan batang hidungnya, keadaan tempat itu kalang kabut seperti bekas digarong orang.

Hanya dua hari ia berlalu dan keadaan mereka begitu payah, andai kata naik ke Giok-li-nia tentu juga berpapasan, tapi nyatanya kedua anak itu sudah lenyap.

Kemanakah gerangan mereka itu ?

demikian Kang Siang Yan bertanya sendiri.

Tiba2 terkilas pada pikirannya, bahwa ketika dia tiba di Giok-li-nia tadi, Hwat Siau dan isterinya sudah cepat2 menghilang.

Ah....., apa tak mungkin mereka lolos dan mencari kedua anak muda itu.

Kalau demikian halnya, ia sangat malu.

Bukantah tadi ia sudah menyatakan hendak menjaga Tio Jiang dan Yan-chiu?

Jika mereka jatuh ketangan suami isteri ganas itu, terang akan celaka.

Ah....., ia bertanggung jawab atas kejadian itu!

Cepat2 ia kemasi pakaian sang cucu, lalu titipkan orok itu kepada keluarga petani yang tinggal didekat situ.

Kemudian seorang diri ia berangkat mencari jejak kedua anak muda itu.

Tapi dunia begini luas, kemanakah ia hendak mencarinya.

Memang dugaan Kang Siang Yan itu salah.

Pada waktu ia tiba dan merampas senjata si Bongkok, Hwat Siau dan Swat Moay yang melihat gelagat jelek, terus memberi isyarat mata kepada Ho Gak dan Ciu Sim-i.

Membarengi kesempatan keadaan kacau balau, mereka berempat segera menyelinap angkat kaki langkah seribu.

Oleh karena keadaan hiruk pikuk, jadi tiada seorangpun yang mengetahui akan tindakan mereka itu.

Baru ketika Kang Siang Yan mencari gerombolan Hwat Siau Itu, orang2 sama mengetahul kalau mereka sudah lari ngacir.

Demi melihat usahanya gagal, Hwat Siau dan Swat Moay marah.

"Aneh, mengapa Kang Siang Yan tahu kalau kita berada di Giok-li-nia?"

Tanya Hwat Siau.

"Huh....., masih bertanya! Siapa lagi kalau bukan anak haram yang kau hajar tapi belum mampus itu. Begitu Kang Siang Yan datang, dia tentu menceritakan semuanya!"

Hwat Siau banting2 kaki, serunya.

"Jahanam! Budak Iaki dan perempuan itu tentu masih berada dihutan sana. Ayuh, kita hajar mereka se-puas2nya!"

Begitulah setelah berunding, keempat orang itu segera menyerbu ketempat Tio Jlang dan Yan-chiu di sana.

(Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 51 .

DITOLONG LINTAH Kini kita tengok keadaan Tio Jiang den Yan-chiu ketika masih berada dipondok.

Setelah beristirahat sekian lama.

Tio Jiang coba mengambil napas salurkan jalan darahnya.

Peredaran darahnya dapat berjalan baik, tapi tenaganya tetap masih letih sekali.

Bagian yang tertutuk oleh Hwat Siau tadi, rasanya sakit membara.

Dalam rambangannya (ocehan) itu, sebentar Yan-chiu menangis, sebentar tertawa, Sebalik dari dihibur, Tio Jiang malah terpaksa menghibur.

Menjelang tengah malam, tetap keduanya masih belum dapat tidur.

Dalam kebatinan, Yan-chiu merasa puas kalau mati didamping sukonya.

Dan ah...., mengapa tak ia tuturkan sejujurnya tentang peristiwa "pertunangan"

Sukonya dengan sucinya itu. Tapi ai....., bagaimana ia hendak memulainya? Kedengaran ia menghela napas.

"Ah, Lian-suci ternyata juga seorang yang setia akan kekasihnya!"

Coba2 ia mencari jalan dalam pembicaraan. Tapi ternyata Tio Jiang hanya mendengus saja, tanpa. menyahut apa2.

"Suko, dalam hatimu, kau tentu mempersalahkan suci yang kau anggap melanggar janji pertunangan, bukan?"

Tetap Tio Jiang tak menyahut.

"Ai....., sungguh cepat nian jalannya waktu. Kini sudah hampir 2 tahun lamanya. Malam itu bukankah kau tengah terluka berat terkena hantaman thiat-sat-ciang sikepala gundul dari Ci Hun Si?"

Terkenang akan periatiwa yang getir itu, hati Tio Jiang merasa pilu.

"Siao Chiu, jangan ungkat perkara itu lagi!"

Yan-chiu tertawa menyeringai. Se-konyong2 ia kencangkan tenggorokannya lalu menirukan nada suara "Bek Lian"

Ketika berjanji pada malam pertunangan itu.

"Aku berjanji suka menjadi isterimu, tenang2lah beristirahat supaya lekas sembuh! Kata Kiau-susiok, kau telah makan 4 butir pil sam-kong-tan......."

Tapi baru ia menirukan sampai disitu, serentak bergeliatlah Tio Jiang untuk duduk dan membentaknya.

"Siao Chiu !"

"Mengapa?"

Bantah Yan-chiu. Kata2 yang diucapkan tadi memang persis seperti yang dikatakan "Bek Lian"

Pada malam itu, suatu detik yang berkesan lekat dalam lubuk kenangan Tio Jiang.

Sudah tentu dia tak mau mengingat hal2 yang menyakiti hati itu.

Dan saking marahnya karena perbuatan sumoaynya itu, dia tak dapat menyahut pertanyaan Yan-chiu itu.

"Ah...., suko...., suko....!"

Yan-chiu menghela napas.

"kau tentu masih menganggap bahwa yang berjanji sanggup menjadi isterimu itu Lian suci, bukan? Malam itu, ia tak berada disitu tapi mengikut suhu ke Kwiciu untuk mencari berita. Yang merawat lukamu, yang kau tanyai apakah suka menjadi isterimu tidak itu, bukan lain yalah aku!"

Tio Jiang seperti dipagut ular kejutnya.

"Siao Chiu, apakah kau bicara benar? Atau karena kuatir hatiku terluka, kau lantas mengatakan begitu?"

Tanyanya.

"Aku seorang yang dalam sebentar lagi akan meninggal, perlu apa harus membohongimu?"

Kata Yan-chiu terus mengeluarkan sepotong ko-giok (batu kumala) dari bajunya.

Seperti diketahui, kumala itu waktu ia kalah judi dirumah perjudian si Oey Bi-long dikota Bo-bing-hian pernah diambil oleh pemilik rumah perjudian itu.

Tapi ketika terjadi ribut2 ia berhasil mengambilnya kembali.

"Coba lihatlah, benda apa ini?". tanyanya sembari serahkan kumala itu pada sukonya. Kini barulah Tio Jiang sadar mengapa Bek Lian dan Kang Siang Yan menyangkal terjadinya pertunangan itu. Serasa hatinya menjadi rawan.

"Ah, kiranya Lian suci tak pernah menyukai aku! Aku sendirilah yang gila basah!"

"Dari awal sampai akhir, ia hanya mencintai The Go seorang,"

Yan-chiu menambahi.

"sejak The Go digebah pergi oleh Kiau-susiok, suci seperti kehilangan semangat. Kau sendirilah yang tolol!"

Kini Tio Jiang berbalik dapat tertawa, ujarnya.

"Siao chiu, bicara terus terang, sudah sejak tahun yang lalu demi mengetahui sepak terjang Lian-suci yang sedemikian itu, hatikupun sudah tawar kepadanya!"

Masih Yan-chiu tak mengetahui perasaan Tio Jiang yang sebenarnya.

Ia tetap mengira, sukonya itu tak tahu akan perasaannya (Yan-chiu) dan tetap menyintai sucinya.

Memang ia lupa akan sifat2 Tio Jiang yang serba jujur itu, tak seperti Cian-bin Long-kun yang achli mencumbu rayu.

Beberapa kali Yan-chiu secara halus menyatakan perasaan hatinya, tapi selama itu tampaknya Tio Jiang tetap tak mengerti.

Dan inilah yang membuat Yan-chiu kepada kesimpulan bahwa sukonya itu masih tetap terkenang akan Bek Lian.

Maka demi mendengar pernyataan Tio Jiang tadi, ia setengah kurang percaya.

"Benarkah itu? Mengapa?"

Ia menegas. Tio Jiang berpikir sejurus, menyahut.

"Kuanggap ..... kuanggap sejak turun dari gunung, sepak terjang Lian suci itu, tak memenuhi angan2ku. Ia bertindak bertentangan dengan ajaran2 petuah orang hidup yang diwejangkan."

Dengan susahnya barulah Tio Jiang dapat menguraikan apa yang terkandung dalam hatinya.

Hati Yan-chiu serasa girang mendengarnya.

Tapi demi teringat bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa hari 1agi, ia merasa resah juga.

Ingin benar ia, mencurahkan isi hatinya seketika itu, karena pikirnya, itulah kesempatan terakhir yang se-bagus2nya.

Tapi mengingat sukonya itu buta cinta, ia kuatir jangan2 malah menerbitkan salah faham nanti.

Maka dengan mengigit gigi, ia tahankan lidahnya.

Sebaliknya karena melihat ia diam saja, Tio Jiang tampak merenung.

Diam2 dia meneliti bahwa dalam ucapan sumoaynya itu terselip sesuatu yang aneh.

"Astaga, kiranya ia diam2 mencintai aku?"

Katanya dalam hati.

Tapi sekalipun kini dapat dia merabah hati sang sumoay, namun tetap mulutnya tak mau menanyakannya.

Dia hanya berdiam diri saja.

Kala itu malam sudah jauh larut.

Suasana disekeliling situ ditelan oleh kesunyian lelap.

Kedua anak muda itu masih berkelap kelip matanya, memandangi sumbu lampu yang memancarkan cahaya.

Yan-chiu menghela napas, tapi tiba2 terdengar ada orang berkata2 diluar rumah.

"Mengapa tengah malam buta begini, rumah ini masih ada penerangannya2 Ayuh, kita periksa!"

Menyusul ada beberapa suara orang mengiakan.

Tio Jiang dan Yan-chiu kaget dibuatnya.

Malah serentak Yan-chiu sudah loncat bangun, melihat kesana sini.

Demi dilihatnya dibagian belakang pondok itu terdapat sebuah jendela, buru2 ia berseru.

"Suko, ayuh kita merayap keluar jendela itu!"

Tio Jiang juga menginsyafi bahaya yang bakal dihadapinya itu.

Dengan sekuat usaha dia merayap jendela itu.

Baru saja dia jatuh keluear jendela, atau disebelah luar mana sudah terdengar orang mengetuk pintu.

Mengapa kedua suko sumoay begitu ketakutan?

Kiranya suara orang yang didengarnya itu adalah suara Hwat Siau.

Cukup mereka sadari, sekalipun tidak dalam keadaan terluka, masih mereka tak mampu melawan momok itu.

Maka jalan satu2nya, yalah melarikan diri.

Untunglah disebelah luar jendela itu merupakan semak rumput, jadi waktu Tio Jiang jatuh tadi tak sampai mengeluarkan suara apa2.

Mereka lalu merayap disepanjang halaman rumput.

Bang....., bang...., terdengar pintu dihantam orang.

Oleh karena lukanya ringan, jadi Yan-chiu dapat merayap lebih cepat.

Sedang baru merayap 3 tombak jauhnya, napas Tlo Jiang sudah ter-sengal2.

Yan-chiu makin gelisah dan kembali didengarnya Hwat Siau berseru keras.

"Tempat pembaringan ini masih terasa hangat, terang orangnya masih belum jauh. Entah siapa mereka itu, tapi yang paling perlu kita ringkus dulu!"

Mendengar itu Tio Jyiang segera suruh sumoaynya lari lebih dahulu.

"Siao Chiu, lekas lari dahulu. Aku terluka parah......tak dapat bergerak lagi!"

"Suko, mengapa kau selalu berpikir demikian. Selalu tak mengerti bagaimana orang orang ikhlas untuk mati disampingmu!"

Sampai sekian besarnya, belum pernah Tio Jiang mendengar ada seorang wanita begitu mesra terhadap dirinya.

Lelaki manakah yang takkan besar hatinya, kalau mendengar ada seorang gadis mengucap kata2 begitu terhadapnya?

Sesaat hati Tio Jiang serasa bahagla dan kekuatannyapun bertambah.

"Tidak, Siao Chiu! Kita akan hidup ber-sama2. Belum lagi jatuh ketangan musuh, mengapa kau ucapkan kata2 mati?"

Serunya kemudian.

Tukar menukar pernyataan itu, melebihi seribu kata yang manis.

Memang kebahagiaan yang murni itu terletak pada kesederhanaan.

Segala yang berkilau itu belum tentu emas adanya.

Memang kena betullah ujar yang mengatakan begitu itu.

Gaya lahiriyah yang ber-lebih2an itu, kebanyakan kosong melompong.

Yang satu mengatakan 'mati ber-sama2' dan yang lain menyatakan 'hidup ber-sama2'.

Adakah lain kata2 lagi dalam kamus-asmara yang lebih sederhana tapi lebih murni daripada bahasa yang diucapkan oleh Tio Jiang -Yan-chiu itu tadi ?

Tanpa disadari, Yan-chiu tarik tangan sukonya untuk diajak merayap pe-lahan2.

Kira2 setombak jauhnya, tiba2 disebelah muka tampak ada cahaya kilauan air.

Berpaling kearah rumah, Yan-chiu dapatkan keempat musuh itu sudah pencarkan diri untuk mencarinya.

Sedang disebelah muka situ ternyata ada sebuah payau (kolam) besar.

Satu2nya jalan bersembunyi didalam payau situ.

la memberitahukan maksudnya itu kepada sang suko.

Begitulah keduanya segera benamkan diri kedasar payau.

Tapi sebelumnya, mereka mencari 2 batang pelepah alang2.

Pelepah alang2 yang tengahnya merupakan pipa berlubang itu, dimasukkan kedalam mulut sedang ujung lainnya dijulangkan keatas permukaan air.

Ini untuk menyalurkan napas dikala mereka terbenam dalam dasar air.

Tak berapa lama berada dalam air, Tio Jiang rasakan pundaknya gatal2 enak.

Dan itu tepat pada bagian lukanya.

Tapi dia tak berani bergerak merabahnya karena kuatir menerbitkan goncangan air.

Kira2 setengah jam lamanya, barulah Yan-chiu berani munculkan kepala dipermukaan air.

Dilihatnya keadaan disekeliling situ sudah sunyi senyap.

la duga Hwat Siau berempat sudah pergi.

Tapi baru saja ia hendak berbangkit keatas, tiba2 didengarnya dalam rumah itu ada semacam suara lagi.

Terpaksa ia batalkan niatnya.

Sebenarnya kalau itu waktu Yan-chiu terus lanjutkan niatnya tadi, ia akan selamat tak kurang suatu apa, karena yang berada dalam rumah itu bukan lain adalah Kang Siang Yan.

Tapi bagaimana Yan-chiu dapat mengetahui hal Itu?

Jadi ia tak dapat dipersalahkan.

Baru sejam kemudian, ia berani muncul lagi.

Kini Tio Jiangpun ikut merayap keatas daratan.

Tapi demi melihat bahu Tio Jiang, berdirilah bulu roma Yan-chiu.

"Suko, lihatlah pundakmu itu!"

Serunya menjerit.

Pada waktu naik kedarat, tenaga Tio Jiang sudah bertambah, luka yang mengontar-ngontar dibahunya itupun sudah tak terasa sakit lagi.

Maka heran dia dibuatnya mendengar jeritan sumoaynya tadi.

Ketika memeriksa bahunya, diapun bergidik.

Kiranya pada bagian luka dibahunya itu penuh dikerumuni lintah.

Bukan seekor dua ekor, tapi berpuluh2 ekor jumlahnya!

Dirangkumnya beberapa ekor, dan nyatalah binatang2 Itu gemuk2 semua berisi darah.

Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 9

Baca Juga: Pendekar Gelandangan Khu Lung

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger