Naga Dari Selatan 12

Eps 12 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

Tio Jiang teringat, bahwa lintah itu dapat mengisap darah, baik yang beracun maupun tidak.

Adakah peracunan darah dari luka yang diberikan Hwat Siau itu, sudah dihisap habis oleh binatang2 itu?

Dengan kedua tangan, dia mencabuti habis lintah2 itu Benar lukanya masih bernoda, tapi kini sudah tak sakit lagi rasanya.

Hal itu sangat menggirangkan Tio Jiang, karena tanpa sengaja dia telah sembuh dari lukanya.

Kini dia nyatakan hendak pergi ke Lo-hu-san.

"Suko, jangan ter-buru2 kesana dulu. Temanilah aku pesiar ke-mana2 barang sebari dua hari saja"

Buru2 Yanchiu mencegahnya.

"Kenapa?"

Tanya sang suko. Tetap Yan-chiu tak mau mengatakan yang sebenarnya, sahutnya.

"Aku ingin jalan2 bersamamu. Kalau sudah berada di Lo-hu-san, banyak pekerjaan dan banyak orang jadi kurang menggembirakan!"

"Siao Chiu, suhu dan lain2 saudara pasti me-nunggu2 kita, mengapa kita seenaknya pesiar sendiri ?"

Yan-chiu tak dapat mengatakan penderitaannya, yani mengenai jalan darah chit-jit-hiat yang tertutuk itu.

Menurut perhitungannya, kini sudah berjalan 5 hari, jadi jiwanya tinggal 2 hari lagi.

Biarlah dalam hari2 yang terakhir Itu, ia puaskan hatinya berada didamping sang suko.

Maka demi mendengar Tio Jiang menolak itu, ia marah2 sembari banting2 kaki.

"Aku belum pernah minta apa2 padamu. Sekarang aku hanya minta kau mengawani aku barang dua hari saja dan kau sudah menolak!"

Sampai disitu hatinya pilu sekall, katanya pula dengan suara tak lampias.

"Mungkin hanya hidup dua hari saja, apa kau tetap tak mau mengawani aku?" ' Tio Jiang terkesiap, tegasnya.

"Siao Chiu, kau mengatakan apa itu?"

Tahu kelepasan omong, buru2 Yan-chiu menutupi, dengan tertawa.

"Nasib orang tak dapat ditentukan. Apa yang terjadi besok hari, kita tak tahu. Ayuh, temanilah aku barang dua hari saja!"

"Ya, baiklah. Tapi kemana kita hendak pesiar?"

Akhirnya Tio Jiang mengalah. Yan-chiu berpikir sejenak lalu menyahut.

"Ke Kwiciu dulu!"

Hanya ketika Thian Te Hui mengadakan tantangan luitay dengan sam-tianglo gereja Ci Hun Si tempo hari, Tio Jiang pernah tinggal beberapa hari di Kwiciu.

Tapi dalam waktu itu, dia tak mempunyai kesempatan untuk menikmati tempat2 pemandangan yang indah dari daerah itu.

Subonya (ibu guru) Kang Siang Yan sudah menuju ke Lo-hu-san, jadi rasanya disana tentu takkan terjadi apa2.

Kini Yan chiu berkeras mengajaknya pesiar, apalagi kini dia tahu sudah bagaimana perasaan hati sumoaynya itu terhadap dirinya, jadi tak enaklah rasanya untuk menolak.

Memang dalam hati kecilnya, diapun mempunyal suatu 'perasaan' ter-hadap sumoaynya itu.

Hanya saja perasaan itu secara sadar, tak segelap ketika tempo hari dia membabi buta terhadap Bek Lian.

Kala dia mencintai sucinya, dia hanya dirangsang oleh impian yang muluk2, impian yang menjadikan dia seperti orang kalap, buta kenyataan, Tapi kini terhadap Yan-chiu, dia merasakan suatu kebahagiaan hidup yang indah murni.

Memang dicinta dan menyinta, adalah suatu berkah kebahagiaan hidup insani.

Begitulah keduanya segera ayunkan langkahnya menuju ke Kwiciu.

Belum lama berjalan, tibalah mereka digereja Kong Hau Si.

Yan-chiu lebih luas pengetahuannya ilmu surat daripada sukonya.

Demi melihat gereja itu, ia segera hentikan langkahnya.

"Suko, gereja Kong Hau Si ini merupakan sumber leluhur dari para siansu dan cousu yang menjadi soko guru dari dunia persilatan. Ketika Tat Mo Cuncia menginjak daerah Tiongkok, beliau telah menetap disini. Ilmu pelajaran yang dipancarkan gereja itu, berkembang sampai 6 jaman, puncak kejayaannya terjadi ketika pada jaman ahala Tong. Disitu terdapat pula masoleum jenazah Liok-cou (soko guru ke 6) Hui Leng. Berulang kali' Tay Siang Siansu mengatakan padaku, bahwa sumber ilmu lwekang sakti dari partai gereja itu, berpokok pada ajaran Liok-cou tersebut. Ayuh, kita masuk me-lihat2!"

Tio Jiang menurut saja.

Gereja Kong Hau Si merupakan salah sebuah yang terbesar dari 4 gereja di Kwiciu.

Sudah tentu segala apa, baik alat?

dan upacara persembahyangan maupun perhiasan2nya, serba meriah agung.

Asap pendupaan selalu ber-kepul2 dari para pengunjungnya yang tak berkeputusan jumlahnya itu.

Setelah me-lihat2 arca2 dan patung2 dewa yang terdapat diruangan besar, mereka berdua lalu menuju keruangan sembahyangan yang berada disebelah barat.

Tapi baru berjalan beberapa tindak, tampak para paderi disitu sama ber-lari2 keluar.

Berbareng dengan saat itu terdengarlah seruan berisik dari luar pintu.

Para pengunjung yang tengah bersembahyang, sama menyingkir semua..

"Sicu, harap menyingkir dahulu!"

Tiba2 ada seorang paderi meminta pada Tio Jiang dan Yan-chiu. Yan-chiu kurang senang tampaknya. Ia pura2 tak mendengar dan malah deliki mata kepada hweshio itu.

"Mengapa harus menyingkir?"

"Nona, harap jangan marah. Keluarga Hui-kok-kong hendak bersembahyang kemari!"

Sahut hweahio itu dengan mengisak napas. Mendengar nama "Hui-kok-kong" (gelar bangsawan) itu, kedua anak muda itu sama terkesiap heran.

"Suko, bukankah Hui-kok-kong itu gelar dari Li Seng Tong?"

Tanya sigadis.

Tio Jiang mengiakan.

Ketika Li Seng Tong menakluk pada Lam Beng, kerajaan Lam Beng telah menganugerahkan pangkat Tong-an-peh (panglima wilayah timur), tapi Li Seng Tong menolak.

Lain Beng menaikkan lagi dengan pangkat raja muda, tapi tetap dia tak mau.

Kerajaan Lam Beng bohwat (tobat) benar terhadap jenderal itu.

Ini disebabkan karena sewaktu menakluk, kekuatan tentara yang dibawa Li Seng Tong itu jauh lebih kuat dari kerajaan Lam Beng sendiri.

Akhirnya terpaksalah Lam Beng memberi gelar Hui-kok-kong (kakek raja yang berjasa besar).

Dengan seluruh anak buahnya dia menjaga wilayah Kwiclu sebelah utara, sehingga dengan demikian untuk sementara waktu aman tenteramlah kedudukari baginda Eag Lek dikota raja Siau Ging.

Oleh karena mati hidupnya kerajaan Lam Beng boleh dibilang tergantung padanya, maka seluruh menteri kerajaan, rakyat jelata sampaipun kaum gereja sama mengindahkan sekali kepadanya.

Bahwa seorang pemuda dan pemudi macam Tio Jiang dan Yan-chiu berani memanggil nama Li Seng Tong, telah membuat hweshio itu ketakutan setengah mati lalu buru2 ngacir.

Pada saat itu tampak ada sebuah tandu besar berhenti dimuka pintu gereja.

Dibelakang masih ada rerotan tandu2 kecil.

Lima orang hamba perempuan ter-sipu2 membukakan pintu tandu dan memimpin keluar seorang wanita.

Melihat siapa adanya wanita agung itu, tak dapat Yan-chiu mengendalikan tertawanya.

"Kukira siapa, tak tahunya dia! Apakah sekarang dia sudah menjadi nyonya Li Seng Tong?"

Tanya Yan-chiu kepada sukonya.

"Siapa tahu!"

Juga Tio Jiang merasa heran.

Siapakah gerangan nyonya bangsawan itu?

Ia tak-lain tak-bukan adalah si Lamhay-hi-li Ciok Siao-lan.

Walaupun pada saat itu ia ditabur dengan pakaian kebangsawanan yang bertaburkan ratna mutu manikam, tapi dari kerut dahinya, tampak tegas sinar kedukaan.

Setelah masuk kedalam ruangan besar, ia menerima dupa dari seorang hweshio, lalu komat-kamit entah apa yang didoakan itu.

"Suko, coba terka, ia mendoa apa itu?"

Tanya Yan-chiu.

"Ah, apa lagi kalau bukan mohon pada Po-sat (dewa) aupaya memberkahi Li Seng Tong dengan kemenangan!"

Yan-chiu menggeleng, ujarnya.

"Kukira tidak begitulah. la mendoa pada Po-sat supaya membantunya mencarikan Cian-bln Long-kun!"

Ketika mengucapkan kata2

"Cian-bin Long-kun"

Itu, nada Yan-chiu agak tinggi.

Oleh karena pada saat itu orang2 sama bersembahyang jadi suasana hening sekali, maka Ciok Siao-lanpun dapat mendengarnya dan terus berpaling kebelakang.

Demi melihat siapa yang berada dibelakangnya sana, tanpa terasa berserulah ia dengan terkejut girang.

"Hai ........"

Mulut berteriak, tangan menekan meja dan tubuhnya terus loncat melayang kearah Tio Jiang dan Yan-chiu.

Sewaktu para dayang sahaya sama terbeliak kaget, ia sudah menghampiri kedua anak muda tadi seraya mengucapkan tegur salam yang hangat.

"Ah, Po-sat sungguh maha pengasih. Selama setahun ini, aku jarang bersua dengan kaum persilatan. Tak kusangka hari ini dapat berjumpa dengan kalian disini. Adakah kalian mengetahui dimana Cian-bin Long-kun sekarang ini?"

Yan-chiu memandang sukonya, se-olah2 hendak dia katakan "tu lihat, benar tidak dugaanku tadi."

"Dia berada di Giok-li-nia gunung Lo-hu-san!"

Sahut Tio Jiang. Girang Siao-lan bukan kepalang, ujarnya.

"Tuhan maha kuasa, tak men-sia2kan harapan orang!"

"Ciok Siao-lan, The Go itu seorang manusia, yang berhati binatang, bukan orang"

"Ah, kalian benci padanya!"

Buru2 Siao-lan menukas kata2 Tio Jiang itu "tapi apa yang kulakukan selama ini rasanya masih ada kelebihannya untuk menebus kedosaannya!"

"Apa yang kau lakukan.?"

Tanya Yan-chiu.

"Apa kau tak tahu bahwa karena akulah maka Li Seng Tong membalik diri terhadap kerajaan Ceng? Dia cinta padaku, ini cukup kuketahui. Tapi hatiku hanya pada engkoh Go seorang. Oleh karena kini sudah kuketahui dimana tempat beradanya, aku tentu akan mencarinya!"

Kata Siao-lan dengan bersemangat.

Tio JIang dan Yan-ciiiu terkesiap.

Tempo mereka berjumpa dengan Siao-lan digedung Li Seng Tong tahun yang lalu, itu waktu tentara Ceng tengah dikerahkan untuk mengepung Hoasan.

Setelah Hoasan selesai, Li Seng Tong ditugaskan untuk membasmi kawanan bajak Lamhay (laut selatan) yang menentang pemerintah Ceng.

Ah, disitulah dia berjumpa dengan asigadis hitam manis itu.

Tentu Lamhay hi-li atau gadis nelayan dari Lamhay Ciok Siao-lan Itulah yang menganjurkan agar jenderal itu dengan seluruh anak tentaranya di Kwiciu, menakluk pada kerajaan Lam Beng.

Apabila Li Seng Tong mau menuruti usulnya itu, Siao-lan rela menyerahkan diri pada jenderal itu.

Sebagaimana telah diketahui, Li Seng Tong yang.

sudah tergila-gila akan sigadis hitam manis itu, telah berpaling haluan terhadap kerajaan Ceng dan dengan seluruh anak buahnya menakluk pada Lam Beng.

Dan kini menjadilah Ciok Siao-lan nyonya, bangsawan agung Hui-kok-kong Li Seng Tong.

Mimpipun tidak kedua anak muda itu bahwa Siao-lan telah memainkan peranan besar dalam menentukan nasib kerajaan Lam Beng yang pada hakekatnya sudah senin kamis menunggu keruntuhannya.

Sebagai seorang pejoang kemerdekaan, tergerak hati Tio Jiang.

Dia tahu bahwa nona itu masih tetap mencintai The Go.

Bahwa dengan keberangkatan Kang Siang Yan ke Giok-li-nia, The Go pasti akan mengalami malapetaka hebat telah membuat Tio Jiang buru2 menganjurkannya.

"Kalau pergi lekaslah pergi, terlambat sedikit saja dia pasti sudah binasa!"

Siao-lan tak mau banyak bertanya lagi. Ia melangkah kemuka tandu untuk mengambil senjata sam-ko-hi-jat (garu penusuk ikan), kemudian serunya kepada pengawalnya.

"Pulang beritahukan kepada ciangkun (jenderal), bahwa aku pergi!"

Serentak ada dua pengawal menghadangnya.

"Nyonya, janganlah!"

Serunya mencegah.

Sekali tarik, ia lepaskan baju kebesarannya itu.

Kini ia kembali mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan kulit ikan, yalah macam dandanan yang dikenakan seperti tempo ia masih berada dilautan.

Kiranya niat untuk mencari The Go itu sudah lama direncanakan.

Se-waktu2 diketahui tempat tinggal pemuda tambatan hatinya itu, ia segera akan bertolak kesana.

Sring...., sring...., sring, ia bolang balingkan hi-jatnya.

Begitu kedua pengawalnya tadi menyingkir, ia segera melesat keluar pintu gereja.

Gegap gempita keadaan saat itu.

Barisan pengawal segera coba menghadangnya, tapi karena nona hitam manis itu bukan seorang yang lemah ilmu silatnya, jadi merekapun tak kuasa mencegahnya.

Sekejab saja, siao-Ian sudah lari jauh2.

Melihat kejadian itu, Tio Jiang dan Yan-chiu tak henti2-nya menggeleng kepala.

"Ah......, diluaran sini terlalu berisik, mari kita masuk saja!"

Ajak Yan-chiu.

Baru membiluk pada sebuah ruangan, ternyata keadaan disitu jauh bedanya dengan diluar tadi.

Suasana disitu hening tenteram sekali.

Demikian kedua muda mudi itu melihat2 keadaan tempat itu untuk beberapa lama.

Kalau hati Yan-chiu resah tak keruan, adalah Tio Jiang tak putusnya menghela napas mengagumi keindahan gereja agung itu.

Bukan saja pagodanya yang disebut Cian-hud-tha (pagoda seribu arca) serta Lo-han-tong (ruangan yang penuh dengan arca lukisan para orang gagah), sampaipun barisan pohon bodi raksasa yang menjulang tinggi mengatapi halaman gereja itu dari sinar mataharl yang terik, telah membuatnya kagum tak terhingga.

Dihala menikmati pemandangan segala seuatu yang terdapat dalam gereja besar itu, timbullah suatu perasaan lain dalam lubuk hati Tio Jiang.

Serasa dia berada dalam dunia lain yang dilingkupi oleh ketenangan dan ketenteraman abadi.

Jalan punya jalan, tibalah mereka pada eebuah pagoda 7 tingkat yang tinggin ya hampir 2 tombak.

Dimuka pagoda itu terdapat plakat yang bertullskan "Liok-cou gi hwat thak" (menara tempat rambut Liok-cou).

Dari situ membiluk, sampailah pada sebuah dinding tembok.

Pemandangan yang terdapat disitu hanyalah semak belukar rumput yang menjalar liar, merupakan sebuah tempat yang tak terurus Iagi.

Tanpa sengaja Tio Jiang melihat kearah dinding itu dan se-konyong2 dia tertegun kesima.

"Siao Chiu!"

Dia meneriaki sumoaynya.

"Ah, disini tak ada apa2nya, ayuh kita pergi saja!"

Sahut Yan-t yhiu.

"Tunggu sebentar!"

Seru Tio Jiang sembari melangkah maju kearah dinding. Tiba2 dia menghantam tepian dinding sebelah atas yang segera gugur sebagian besar.

"Siao Chiu, lihatlah kemari!"

Seru Tio Jiang sembari menunjuk pada sebuah bagian dinding.

-Ketika.

Yan-chiu menghampiri, dilihatnya pada batu merah dinding itu terdapat ukiran beberapa huruf kecil dan disebelahnya terdapat lukisan sebatang golok bulan sabit.

"Apa2an ini, ayuh pergi saja!"

Seru Yan-chiu.

Melihat lukisan golok bulan sabit itu, teringatlah Tio Jiang akan ilmu golok yang dilihatnya dibatu besar tempat kediaman suku Thi-thing biau digunung Sip-ban-tay-san tempo hari.

Tapi oleh karena tangannya sudah keburu ditarik Yan-chiu, jadi dia tak dapat menegasi lagi dengan seksama.

Begitu setelah tinggalkan pagoda Gi-hwat-thak situ, kembali mereka, menuju keruangan Liok-cou-tian.

Tiba2 dari arah muka tampak ada lima enam orang berjalan mendatangi, Hendak Yan-chiu menyingkir, tapi telah keburu dipergoki mereka salah seorang dari mereka itu segera ayunkan tubuhnya menghadang didepan kedua anak muda itu.

Melihat penghadangannya itu, Tio Jiang menyurut setindak kebelakang sembari turunkan tubuhnya kebawah.

Wut........., dia kirim sebuah hantaman.

Tapi orang itupun gerakan tangannya untuk menangkis.

Tio Jiang tak mau adu kekerasan, cepat2 dia tarik pulang tangannya.

Tapi justeru sebelumnya orang itu maju setindak untuk memburunya.

Terpaksa Tio Jiang tarik tangan sumoaynya untuk diajak loncat beberapa tindak kesamping.

Namun lagi2 kawanan orang itu maju mengepung.

"Hwat Siau dan Swat Moay, mengapa kalian selalu hendak mencelakai kami berdua?"

Seru Tio Jiang dengan murka. Memang tak salah kiranya. Orang2 itu adalah Hwat Siau dan Swat Moay, Hek-bin-sin Ho Gak, Sam-chun-ting Ciu Sim-i dan rombongannya.

"Apa kerja kalian disini?"

Swat Moay tertawa sinis. Oleh karena tak tahu isi yang sebenarnya dari teguran orang itu, menyahutlah Tio Jiang secara jujur, bahwa dia hanya pesiar me-lihat2 keadaan gereja agung Itu.

"Hem, dikolong langit yang. sedemikian luas kalian tak melulu pesiar, tapi sebaiknya perlu mengunjungi tempat ini ya?"

Kembali Swat Moay menyeringai.

"Ada apanya yang dibuat heran?"

Tanya Tio Jiang. Swat Moay perdengarkan suara dingin. Ekor matanya melirik kearah Yan-chiu, lalu mengancam halus.

"siao-ah-thau, kalau benar2 kau tak takut mati, jangan bicara sejujurnya. Apakah benar2 kalian hanya datang pesiar saja?"

Heran Yan-chiu dibuatnya mengapa orang bertanya dan me-negas2 begitu. la pun menggagah (memandang dengan menantang) pada wanita iblis itu dan balas bertanya.

"Kalau ya bagaimana, jika tidakpun bagaimana?"

Belum isterlnya menyahut, Hwat Siau sudah naik darah.

Maju selangkah dia lancarkan sebuah tamparan.

Tio Jiang buru2 menghindar kesamping.

Dengan tubuh miring menurut gerak gaya hong-cu-may-ciu (sigila menjual arak), dia tusuk lambung orang pada jalan darah te-ing-hiat.

"Ha, mau mengajak berkelahi?"

Seru Hwat Siau sembari menghindar. Tio Jiang seorang jujur polos. Terang bahwa dia bukan lawan orang itu, namun tak dapat dia berbohong main siasat.

"Terserah, berkelahipun boleh!"

Seru Tlo Jiang sembari tegakkan tubuh.

Begitu tangan kanan dipalangkan kemuka dada, tangan kiri maju mendorong.

Dia jujur, tapi orang menjadi curiga.

Memang Swat Moay tak percaya kalau kedua anak muda itu hanya pesiar saja digereja situ.

Maka begitu melihat sikap Tio Jiang keras, sudah tentu ia makin curiga.

Ini memang sudah lazim terhadap orang yang berniat busuk, Karena takut dicurigai, dia tentu banyak curiga terhadap lain orang.

Justeru dia berjumpa dengan seorang jujur macam Tio Jiang.

Atas dorongan tenaga Tio Jiang yang maha dahsyat itu, Hwat Siau segera menangkis lalu hendak balas menyerang.

Tapi tiba2 dicegah oleh isterinya.

Setelah mengetahui disekeliling tempat situ tiada lain orang lagi, berkatalah Swat Moay kepada Yan-chiu.

"Apakah kalian sudah menemukan dan apakah rombonganmu segera menyusul datang?"

Bermula tak tahu Yan-chiu apa yang dikatakan oleh Swat Moay itu.

Tapi setelah direnungkan sejenak, ia mendapat juga sedikit penerangan.

Bukan sebulan dua bulan tapi hampir satu tahun lamanya kedua suami isteri itu membawanya (Yan-chiu) mengidari seluruh tempat diwilayah Kwiciu.

Maksud mereka yalah untuk menyelidiki adanya harta karun kim-jiang-giok-toh itu.

Jadi teranglah sudah kini, kalau mereka tentu hendak mencari harta karun itu.

Dilihat naga2nya, apakah mereka sudah mengetahui tempat beradanya harta besar itu?

Apakah digereja Kong Hau Si sini tempatnya?

Ah, biarlah ia 'bergerak turut tiupan angin' saja.

"Benar, rombonganku sudah datang secara besar2an!"

Sahutnya.

"Siao Chiu ........!"

Seru Tio Jiang dengan heran, tapi cepat diberi isyarat mata, oleh sumoaynya.

Makin keras dugaan Swat Moay.

Teriakan Tio Jiang itu diartikan supaya sumoaynya jangan memberitahukan.

Pada hal tidak demikian, karena Tio Jiang sendiripun merasa heran.

"Oo, mereka belum datang bukan?"

Tanya Swat Moay. Yan-chiu mendongak tertawa keras, ujarnya.

"Benar, tapi kalianpun bakal takkan mendapatnya!"

"Siao-ah-thau, kalau kubuka jalan darahmu chit-jit-hiat itu, lalu kau bagaimana?"

Tanya Swat Moay, Tio Jiang terbeliak kaget.

"Chit-jit-hiat apa? Siao-chiu, apa jalan darahmu ditutuknya ?"

"Engkoh kecil, benar begitu. Orang yang kau kasihi itu, hanya tinggal 2 hari hidupnya! Ha....., ha......, kau gelisah tidak ?!"

Teringat Tio Jiang bahwa sejak pertemuannya Yan-chiu paling belakang ini, memang sang sumoay itu berlaku aneh sikapnya. Ah, jadi demikian halnya. Tak terasa, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

"Siao Chiu, ayuh kita lekas menobros keluar minta pertolongan pada suhu!"

Swat, Moay tertawa iblis .

"ilmu tutuk pada jalan darah istimewa itu, dikolong jagad ini hanya kami berdua saja yang kuasa membukanya!"

"Kalau begitu, ayuh bukakanlah!"

Seru Tio Jiahg dengan serentak. (Oo-dwkz-tah-oO) BAGIAN 52 . PERANG TANDING Hwat Siau dan Swat Moay tertawa ter-kekeh2, ujarnya.

"Wahai, apakah didunia ini terdapat hal yang begitu murahnya?"

"Habis, apa maksud kalian?"

Bentak Tio Jiang dengan gusar.

"Selekas kau katakan dimana letak 'kim-jiang-giok-toh' itu, selekas itu pula akan kubuka jalan darah siao-ah-thau itu!"

Swat Moay menyahut dengan berbisik.

Usus emas perut permata atau kim-jiang-giok-toh yang dimaksudkan itu, serambut dibelah tujuhpun Tio Jiang tak tahu sama sekali.

Maka terbeliaklah dia.

Kala dia belum dapat menyahut, Yan-chiu sudah menyanggapinya.

"Jangan mimpi kejatuhan rembulan! Jangan lagi tidak tahu, sekalipun tahu, tak nanti kami memberitahukan kepada kalian bangsa budak Ceng !"

Merah darah muka Swat Moay seperti kepiting direbus.

"Kau tidak takut mati, ha?!"

Bentaknya. Yan-chiu tertawa sinis, sahutnya.

"Kaulah yang takut mati!!! Kalau tak menemukan 'kim-jiang-giok-toh' tuanmu pasti takkan memberi ampun padamu !"

Kata2 yang terakhir itu, tepat sekali mengenai kandungan hati Swat Moay.

Karena lama sekali Hwat Siau dan Swat Moay bersama ke 18 jagoan didaerah selatan tiada kabar beritanya, maka Sip-ceng-ong Tolkun segera mengutus Hek-bin-sin Ho Gak dan kawan2 menyusul dengan pesan.

lain2 persoalan misalnya gerakan Thian Te Hui dan sebagainya tidaklah begitu penting.

Tapi yang mutlak adalah soal harta karun peninggalan Thio Hian Tiong itu, harus didapatkan.

Maka dapat dibayangkan betapa gelisah hati kedua suami isteri itu karena Yan-chiu menolak keras untuk memberitahukan letak harta karun itu.

Tapi sebagal kepala jagoan yang kenyang pengalaman, mereka tetap menguasai perasaannya.

"Ratakan Kong Hau Si, pasti akan ketemu. Apanya yang susah sih?"

Swat Moay tertawa dingin. Tapi mulut Yan-chiu yang tajam itu segera menusukkan lagi kata2 yang pahit.

"Disini adalah daerah kekuasaan kerajaan Tay Beng, mana dapat kalian ber-suka2 sendiri ! Ayuh, kalau benar2 mempunyai kepandaian, mari unjukkanlah !"

Walaupun mulutnya menggarang, namun hatinya tak lepas dari kegoncangan.

Tanpa disangka-sangkanya, perpesiarannya ke gereja Kong Hau Si itu telah mempunyai arti yang penting.

Kiranya gereja agung itu menjadi simpanan dari harta karun yang menjadi buah bibir setiap orang.

Mengingat betapa pentingnya hal itu terhadap kelangsungan gerakan Thian Te Hui menentang penjajah, Yan-chiu membuladkan tekadnya dan memperkecil harga jiwanya sendiri.

Swat Moay adalah kepala jagoan yang mempunyai kepandaian tinggi.

Tapi dalam menghadapi keadaan yang sepenting itu, mereka tak berani sembarangan turun tangan.

Jadi kedua fihak sama2 gelisah, yang satu kuatirkan kepandaian fihak lawan, yang lainpun takut2 kalau rahasia harta karun itu tetap tak diketahuinya.

Pada saat2 kedua fihak berdiam diri, tiba2 dari ujung ruangan sana tampak muncul seseorang.

Mata Yan-chiu yang tajam segera dapat menangkapnya.

"Kiau-jisiok!"

Serunya dengan girang. Orang itu mengenakan ikat kepala warna putih hitam, sikapnya gagah dan memang tak lain adalah Kiau To.

"Siao Chiu, kaupun disini!"

Iapun segera menyahut dengan gembira. Tapi begitu tampak Hwat Siau dan Swat Moay berada disini, segera dia kerutkan alisnya.

"Hai, kiranya kedua saudara Song yang 'mulia' juga berada disini!"

Serunya sembari mencabut jwan-pian.

Tanpa banyak ini-itu lagi, dengan jurus ceng-coa-jut-cui (ular hijau keluar keair) dan kuay-bong-jan-mo (ular melibat batu), dia segera menghantam kearah salah seorang dari rombongan Hwat Siau yang berada disamping situ.

Orang itu tak keburu berkelit hingga kakinya kiri kena tergubat.

Sekali Kiau To menyentakkan tangannya, orang itu segera terlempar keatas atap rumah, geluduk....., geluduk......

Berdasarkan dengan suara keras itu, muncullah sekawan hweshio.

Demi menampak Kiau To, mereka segera menegur dengan serempak.

"Kiau sicu, ada urusan apa?"

Kiau To dahulu adalah seorang murid hweshio dari gereja Liok Yong Si, jadi banyaklah para hweshio Kong Hau Si situ yang mengenalnya.

Sebaliknya Kiau To pun cukup tahu bahwa walaupun gereja Kong Hau Si situ menjadi tempat pangkalan menetap Tat Mo Cuncia, tapi para hweshio gereja situ tiada seorangpun yang mengerti ilmu silat.

"Harap kalian menyingkir saja. Orang2 itu adalah kawanan budak bangsa Ceng, satupun tak boleh diberi ampun !"

Sahut Kiau To.

Orang yang dilontarkan keatas atap rumah tadi, memang salah satu dari sisa ke 18 jagoan yang dipimpin oleh Hwat Siau.

Dengan munculnya Kiau To, Hwat Siau dan rombongannya segera menduga bahwa rombongan Thian Te Hui dengan tokoh2nya seperti Kui-ing-cu, Ceng Bo siangjin, Kang Siang Yan dan lain-lain sudah tiba disitu.

Cepat Hwat Siau bersuit keras selaku tanda, kemudian dengan dipeloporinya dia segera menerjang kemuka.

Sesaat tangan Hwat Siau menghantam kemuka, Kiau To segera rasakan dadanya sesak untuk bernapas.

Tapi dengan empos semangatnya, Kiau To segera gunakan pangkal jwanpian (ruyung lemas) untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat didada lawan.

Hwat Siau kisarkan tangannya kesamping untuk merebut ruyung.

Duapuluh tahun lamanya Kiau To melatih diri dalam permainan ilmu ruyung.

Jadi ruyung itu se-olah2 menjadi bagian dari tubuhnya yang dapat digerak-goyangkan menurut sang kemauan.

Disempurnakan lagi dengan ilmu ruyung Liok-kin-pian-hwat yang kaya dengan gerak perobahan sukar diduga itu, Kiau To laksana seekor harimau yang mempunyai sayap.

Gerakan Hwat Siau tadi memang sebat sekali, tapi mana dapat semudah itu dia hendak merebut ruyung Kiau To?

Sekali tangan Kiau To menurun, tiba2 ruyung yang tegak lurus itu berobah mendatar untuk menyapunya.

Maka betapapun lihaynya kepala jagoan pemerintah Ceng itu, namun dalam sesingkat waktu tak dapatlah dia lolos darl libatan -Kiau To.

"Berpencar lolos!"

Kedengaran dia menyerukan kawannya.

Mendengar seruan itu swat Moay segera mendahului tampil kemuka, tapi Tio Jiang tak mau membiarkan begitu saja, lalu menghadangnya.

Tahu bahwa dirinya bukan lawan wanita iblis itu, namun Tio Jiang tetap memburunya dengan mati2-an.

Yan-chiupun tak mau berpeluk tangan.

Begitu dia, merampas sebatang pentung dari salah seorang hweshio, ia segera main menyapu, Ruangan disitu amat sempit.

Tatkala Yan-chiu "menari"

Dengan pentungnya, rombongan Hwat Siau tak dapat pencarkan diri dan terpaksa terdesak diujung sudut.

Dari kawanan kaki tangan pemerintah Ceng itu, rupanya sam-chun-ting Ciu Sim-i yang paling lincah, ketambahan pula tubuhnya kate kecil.

Seperti kelinci menyusup, dia segera menobros di-sela2 kawannya dan serta sudah tiba dimuka terus menempur Yan-chiu dengan tan-to (golok).

Melihat ada lubang kesempatan, Hek-bin-sin Ho Gak enjot tubuhnya keatas.

Pada saat2 dia merasa akan dapat mencapai wuwungan atap, se-konyong2 ada deru senjata mengaum diudara dibarengi dengan kilauan cahaya berkilat.

Saking kagetnya buru2 dia surutkan kepalanya kebelakang, tapi tak urung segumpal rambut kepalanya telah terpapas.

Mendongak keatas dilihatnya ada seorang wanita mencekal sepasang gelang kim-kong-lun.

Gelang itu besar dan kecil, pada kedua lingkarannya, dalam dan luar terdapat gigi2 yang tajam.

"Siao-ko-ji (engkoh kecil), kemana perginya adikku?"

Serunya meneriaki Tio Jiang.

Ya, memang wanita itu bukan lain adalah Kim-kong-lun Ciok ji-soh, itu kakak ipar dari Lamhay hi-li Ciok siao-lan.

Melihat itu, Swat Moay makin sibuk.

Hantamannya dilancarkan ber-tubi2, hingga tubuh Tio Jiang menggigil dan saking tak tahannya segera menyingkir kesamping.

Kesempatan itu tak di-sia2-kan Swat Moay.

Sesosok bayangan hitam, berkilap loncat keluar.

Melihat isterinya sudah lolos, Hwat Siaupun segera bernapsu.

Tiga-buah serangan dia lancarkan ber-turut2, Begitu Kiau To terdesak kesamping dia lalu menobros keluar.

Sam-chun-ting Ciu Sim-i mau tiru2.

Kuatir dia kalau terpencil sendirian.

Tapi saat itu Yan-chiu sudah kedengaran menyahut pertanyaan Ciok ji-soh tadi, serunya.

"Ciok ji-soh, lebih dahulu bantuilah kami menghajar kawanan bangsat ini, nanti kukasih tahu padamu!"

Perangai Ciok ji-soh juga keras.

Semua 'bajak dari lautan Lamhay sama memakluminya.

Kalau tidak demikian, masakan seorang wanita macam ia, dapat mengepalai keluarga Ciok untuk merajai lautan situ?

Dengan berseru keras, ia loncat turun.......

wut..........

ia, hantam perut dan dada Ho Gak dengan gerak giok-tho-se-seng (kelinci kumala loncat kebarat).

Orang she Ho yang bermuka tembong itu, pun juga bukan orang lemah.

Menyingkir kesamping, dia sudah siapkan sepasang poan-koan-pit (senjata macam alat pena pit).

Tring......, dideringkannya sepasang pit itu satu sama lain, yang satu keatas yang lain menurun, masing2 menutuk jalan darah ing-hiang-hiat dan cui-hun-hiat si nyonya.

"Bagus!"

Seru Ciok ji-soh sembari tangkiskan kim-konglunnya.

Tring......, kedua senjata itu saling berbentur.

Seperti diketahui, lingkaran dalam dan luar dari gelang Itu mempunyai gigi tajam, gunanya untuk mengait senjata lawan.

Begitu saling berbentur, ia segera putar tangannya lalu menarik se-kuat2nya seraya membentak keras2 .

"Lepas!"

Tangan Ho Gak serasa kesemutan dan hampir dia lepaskan cekalannya.

Tapi sebagai jago kawakan, dia tak mau menyerah begitu mudah.

Dibiarkan saja pitnya itu ditarik, tapi disamping itu dia gerakkan pit satunya untuk menutuk jalan darah cui-hun-hiat lawan.

Menghadapi gerakan orang yang begitu.

lihay, terpaksa Ciok ji-soh tak jadi mengait pit.

Begitu empos semangat, ia mengisar kakinya dalam gerak chit-che-poh (langkah 7 bintang) menghindar.

Kemudian ia kembangkan sepasang kim-kong-lunnya untuk berserabutan menghantam sepasang pit dari Hek-bin-sin Ho Gak yang hendak mengarah jalan darahnya itu.

Begitulah kedua seteru itu terlibat dalam pertempuran seru.

Difihak sana, Kiau To masih heran memikirkan mengapa suami isteri Hwat Siau Swat Moay itu lari tunggang langgang untuk lolos.

Diukur kepandaiannya, terang dia bukan lawan dari sepasang suami isteri itu.

Sesaat dia ter-longong2 dan ketika tersadar dia segera tumpahkan kemarahannya kepada dua orang dari rombongan Hwat Siau yang masih berada disitu.

Salah seorang dari mereka yang juga bersenjata jwan-pian, coba berusaha untuk menobros lolos.

Tapi sekali membentak Kiau To telah membikin terkesiap orang itu.

Membarengi itu, tahu2 jwan-pian Kiau To menyambar.

Orang itu menjadi gelagapan, lalu gerakkan jwan-piannya untuk menangkis.

Kiau To tertawa dingin.

Sekali membalik tangan, dia libatkan jwan-pan ke jwan-pian musuh.

Begitu saling menggubat, Kiau To lalu menariknya kuat2.

Orang itu terhuyung2 terjerumus kemuka.

Sekali Kiau To menghantam kebatok kepala, tanpa bersuara lagi orang itu sudah tamat riwayatnya.

Tapi walaupun mati, orang itu tetap mencekal jwan-piannya.

Dan karena tadi sengaja Kiau To lepaskan jwan-pian untuk menghantam dengan pukulan tangan, maka jwan-piannya pun masih terlibat pada jwan-pian korban itu.

Kiau To mengawasi keaekeliling gelanggang.

Dilihatnya disana Yan-chiu masih bertempur seru dengan Ciu Sim-i, sedang Tio Jiang tengah "bergumul"

Rapat dengan salah seorang yang bergegaman ho-chin-kao (gaetan tangan).

Kiau To keisengan.

Tubuh mayat orang yang bersenjata jwan-pian tadi diangkatnya, terus di-putar2 macam senjata untuk menyerang Ciu Sim-i.

Oleh karena menghadapi Yan-chiu yang hanya bersenjatakan pentung kayu, Ciu Sim-i berada diatas angin.

Tapi baru saja dia hendak laksanakan niatnya untuk menobros keluar, tiba2 ada angin menyambar dari belakang.

Dalam gugupnya dia berpaling kebelakang, hai, kiranya ada segumpal benda hitam besar melayang kearah dirinya.

Dalam kegugupannya, tak dapat dia meneliti benda apakah itu, karena dia buru2 terus loncat kesamping.

Tapi tepat pada saat itu, pentung Yan-chiu menyapu, auk......lambungnya kena, sakitnya bukan kepalang, tapi terpaksa dia tahankan dan terus hendak lari.

Tapi pada detik itu, Kiau To menyongsongnya dengan sebuah hantaman.

Ciu Sim-i gregetan (marah).

Dia babat tangan Kiau To dengan goloknya, sehingga Kiau To terpaksa tarik pulang tangannya.

Membarengi itu Ciu Sim-i loncat menobros keluar.

Tapi belum lagi kakinya menginjak tegak diatas lantai, Yan-chiu sudah memburu tiba.

Sekali sodok, ujung pentungnya tepat mengenai jalan darah tay-meh-hiat dilambung orang, gedebuk ........

jatuhlah Ciu Sim-i mencium tanah.

"Wah, begini lho!"

Berseru Kiau To memuji seraya tunjukkan jempol tangannya.

Yan-chiu hanya tersenyum pahit, terus menghampiri kearah Tio Jiang untuk mengepung orang yang bersenjata ho-chiu-kau tadi.

Sedang Kiau Topun segera mendekati Ciok-ji-soh dan serunya.

"Cok-ji-soh, kau mundurlah!"

"Ngaco!"

Bentak Ciok-ji-soh seraya deliki mata kepada Kiau To.

Bukannya terima kasih, ia masih merasa terhina oleh Kiau To.

Sepasang gelang kim-kong-lun diputar makin seru.

Setiap gerakannya merupakan gerak serangan yang hebat.

Oleh karena Ho Gak tiada hati untuk melawan sungguh2 hingga terlibat lama disitu, maka sibuk juga dia kini dibuatnya.

"Ai....., terhadap bangsa budak macam begini, tak usah pakai rasa sungkan memegang teguh kesopanan persilatan lagi. Dapat satu kita bunuh satu!"

Seru Kiao To melihat kesempatan sebagus itu.

Dan tanpa menghiraukan perasaan Ciok ji-soh lagi, dia segera julurkan jwan-piannya macam seperti pit untuk menutuk jalan darah jip-tong-hiat dipunggung Ho Gak.

Jip-tong-hiat, merupakan jalan darah berbahaya dari tubuh orang.

Ho Gakpun cukup mengetahuinya.

Tapi celakanya, dia sedang diburu oleh Ciok ji-soh.

Dengan sepasang gelang roda yang bergigi tajam, nyonya itu seperti orang kerangsokan setan, hingga dia tak dapat menghindar dari tutukan Kiau To tadi.

Huk....., jantungnya serasa berhenti berdetak ketika ujung ruyung Kiau To tepat mengenai jalan darah berbahaya itu.

Tanpa kuasa lagi, tubuhnya terjerembab jatuh kemuka.

Justeru pada saat itu Ciok ji-soh tengah lancarkan serangan thui-jong-ong-gwat (mentiorong jendela melihat rembulan).

Separoh bagian lebih dari kum-kong-lun telah bersarang didada Hek-bin-sin Ho Gak.

Darah menyembur keluar dan jiwanyapun melayang keakherat.............

Waktu membantu sukonya tadi, Yan-chiu sudah lantas gunakan ilmu gong-chiu toh-peh-jim (dengan tangan kosong merampas senjata musuh).

Ilmu itu ajaran dari Tay Siang Siansu, terdiri dari 6 jurus.

Orang itu kesima heran melihat Yan-chiu "menari", tapi pada lain saat dia segera menjadi gelagapan ketika tahu2 senjatanya ho-chiu-kau pindah ketangan sinona.

Sebenarnya tak tahu Yan-chiu akan ilmu permainan senjata ho-chiu-kau itu.

Tapi demi melihat bentuk senjata gaetan itu, kecuali ujung melengkung dan berbentuk seperti bulan sabit, hampir menyerupai dengan pedang biasa, maka begitu merampas segera pindahkan ho-chiu-kau itu ketangan kiri (ilmu pedang boan-kang-to-hwat ajaran Kang Siang Yan dimainkan dengan tangan kiri).

Sekali ia lancarkan gerak kut-cu-tho-kang, ujung ho-chiu-kau itu sudah menowel betis orang itu.

Berbareng pada waktu itu, Tio Jiang telah merangsang dengan salah satu jurus hong-cu-may-ciu yang disebut "keringkan lagi 3 cawan".

Jalan darah tay-kay-hiat orang itu terkena tutukan Tio Jiang.

Sedang membarengi dengan itu Yan-chiu susuli dengan sebuah hantaman.

Tak ampun lagi dada orang itu menjadi "amblong"

Jadi hanya dalam waktu setengah jam, 4 orang jagoan rombongan Hwat Siau telah ber-turut2 dikirim keakhirat.

Teringat bahwa dirinya telah menjadi korban dari siksaan Hwat Siau dan Swat Moay, Yan-chiu tumpahkan kebenciannya kepada Ciu Sim-i.

Dengan mencekal ho-chiu-kau ia berlari2an menghampiri Sam-chun-ting Ciu Sim-i, lalu hendak mengeraplang batok kepalanya.

Tapi buru2 dicegah Kiau To.

"Siao Chiu, jangan!"

"Kenapa?!"

Tanya Yan-chiu......

"Tinggalkan sebuah mulut yang dapat kita tanyai keterangan!"

Sahut Kiau To. Yan-chiu mengiakan. Setelah mengambil napas sejenak, baru dia bertanya pula.

"Kiau-jisiok, bagaimana kau bisa tiba kemari?"

"Ah, panjang nian ceritanya!"

Sahut Kiau To.

Dia pesan para hweshio disitu supaya mengurusi korban2 tadi, kemudian dengan sebelah tangan dijinjingnya tubuh Ciu Sim-i kekamar hweshio.

Disitu barulah dia menuturkan apa yang terjadi di Giok-li-nia.

Mendengar bahwa kedua kaki The Go sudah dikutungi, Tio Jiang dan Yan-chiu menghela napas.

Bukan karena kasihan pada si Cian-bin Long-kun tapi karena turut memikirkan perasaan Ciok Siao-lan apabila tiba di Giok-li-nia dan menampak keadaan sang kekasih.

Ah, betapa pilu hati nona hitam manis itu !

"Ah, biarlah budak itu hatinya terguyur air dingin!"

Ujar Ciok-ji-soh.

Kiau To buru2 menanyakan halnya dan diapun turut menghela napas setelah tahu peraoalan Ciok Siao-lan itu.

Yan-chiu dan Tio Jiang masing2pun menceritakan pengalamannya selama itu.

Teringat akan kejadian yang menimpa diri Yan-chiu, dengan air mata ber-linang2 berkatalah Tio Jiang.

"Siao Chiu, apakah kau benar2 hanya tinggal 3 hari saja hidup? Ah, kukira kau hanya bergurau saja !"

Yan-chiu tertawa getir.

"Tiga hari terus menerus selalu didampingmu, cukuplah sudah rasanya. Apa yang patut disedihkan?"

Mulutnya mengucap begitu, tapi hati Yan-chiu hancur di-remas2.

"Kalau demikian halnya, 'kim-jiang-giok-toh' itu tentu berada dalam Kong Hau Si sini! Belasan ribu saudara di Lohu-san telah minta tolong pada kerajaan Lam Beng, tapi raja rupanya tak menghiraukan. Sebenarnya kita masih ada setitik harapan untuk minta bantuan Li Seng Tong. Namun disebabkan soal Ciok Siao-lan, dia tentu timpahkan kemarahannya kepada kita. Kini masih pentinglah artinya harta karun itu bagi gerakan kita!"

Kiau To alihkan pembicaraan.

"Walaupun lolos, tapi dipercaya Hwat Siau dan Swat Moay itu tentu kembali kesini lagi. Entah apakah mereka juga sudah mencium bau tentang tempat harta karun itu?"

Ujar Tio Jiang.

"Ah, mudahlah!"

Sahut Kiau To terus memijat lambung Ciu Sim-i hingga yang tersebut belakang itu mengerang kesakitan. Tapi setelah Kiau To menampar mulutnya, orang itu tak berani berteriak lagi.

"Sebenarnya dimanakah letak kim-jiang-giok-toh itu, ayuh lekas bilang!"

Bentak Kiau To.

"Di Kong Hau Si sini, tapi entah terletak dibagian mana!"

Sahut Ciu Sim-i."

"Huh, masih berani membangkang!"

Kembali Kiau To membentaknya dengan bengis.

"Kau tentu menyiksa aku, kalau benar tahu sungguh2 mengapa aku tak mau mengatakan?"

Sahut orang she Ciu itu dengan wajah minta dikasihani. Melihat itu, Tio Jiang segera menyela.

"Tadi Hwat Siau dan Swat Moay mau membayar jiwa Yan-chiu asal ditunjuki tempat harta itu. Jadi terang mereka belum tahu juga. Ah......., alangkah baiknya kalau kita mengetahui tempat tempat itu! Sungguh kurela menukarkan rahasia tempat itu dengan jiwa Yan-chiu, asal ia bisa hidup terus!"

Kiau To juga merasa sayang tak tahu tempat itu. Sebaliknya Yan-chiu tak setuju.

"Kiau-jisiok, suko, kalian ini bagaimana? Dengan mendapatkan harta karun itu, belasan saudara Thian Te Hui akan mendapat ransum cukup dan dapat menahan serbuan tentara Ceng ke Kwiciu. Bukantah jutaan rahayat akan tertolong? Pantaskah selembar jiwaku ini berharga lebih dari sekian banyak orang?"

Kiau To dan Tio Jiang pilu mendengarnya.

Memandang kewajah sinona itu, sifat ke-kanak2-annya masih jelas kelihatan.

Tapi bahwasanya ia dapat mengucap kata2 sedemikian luhurnya itu, tentulah buah gemblengan Ceng Bo siangjin.

Su Go-hwat, Bun Thian-siang dan lain-lain pahlawan, dijunjung dan diagungkan karena memiliki sifat2 ksatryaan yang luhur.

Namun kalau teringat akan diri sinona yang masih begitu muda-belia, kedua orang itu tak tega melihati ia sampai binasa.

Tanpa terasa butiran air mata ber-ketes2 turun dari pelapuk mata Tio Jiang.

Lama kelamaan, Yan-chiupun tak kuasa lagi menahan kesedihannya.

Ia segera jatuhkan kepalanya kedada sang suko dan pecahlah sedu sedannya mengiring hamburan air matanya ..........

"Hai, sudahlah jangan menangis. Aku tak percaya kalau dikolong dunia ini tiada orang yang dapat membuka jalan darahmu itu. Lebih perlu berusaha menolong jiwanya daripada mati2an mencari harta itu!"

Seru Ciok ji-soh. Ia seorang wanita keras, tapi menghadapi suasana yang sedemikian merawankan, iapun tak tega.

"Andaikata kita berhasil menemukan harta itu, kita rela membagi separoh bagian asal Hwat Siau mau menolongi jiwa Yan-chiu. Rasanya kalau Bek-heng berada disini, diapun tentu akan memutuskan begitu!"

Kata Kiau To.

Dia hanya turuti perasasn hatinya terhadap Yan-chiu.

Seorang macam Hwat Siau dan Swat Moay, mana mau diberi separoh bagian saja?

Bukantah dengan begitu Thian Te Hui akan tetap berdiri?.

Akhirnya karena tak dapat memikir lain daya, Tio Jiang menanyakan tokoh2 achli tutuk yang termasyhur didunia persilatan.

"Sudah tentu Ang Hwat cinjin dari Ang Hun Kiong. Tapi tempat itu sedemikian jauhnya, kira2 perjalanan 3 hari baru sampai kesana!"

Sahut Cio ji-soh. Kiau To menghela napas, ujarnya.

"Ang Hun Kiong sudah diledakkan oleh kaki tangan pemerintah Ceng. Ang Hwat cinjin entah menghilang kemana. Sedang suhuku juga tak ketahuan beradanya. Kedatanganku ke Kong Hau Si ini, juga mencarinya. Ah....., hanya 3 hari waktunya!"

"Habis, bagaimana nih!"

Dalam kecemaean Tio Jiang sampai tak lampias suaranya.

"Ai, sudahlah, usah ribut2! Mati hidupku ini tak penting, yang terutama kita harus berusaha mencari tempat harta itu!"

Ujar Yan-chiu dengan tenang.

Ketenangan itu diperoleh selama hampir satu tahun ia dicengkeram oleh Hwat Siau dan Swat Moay itu.

Rupanya peringatan itu menyadarkan Kiau To dan Tio Jiang.

Memang adakah nantinya harta itu diangkut semua ke Lo-hu-san atau untuk barter dengan nyawa Yan-chiu, tapi yang perlu harta itu harus diketemukan dulu!

Lebih dulu Kiau To menutuk jalan darah si Ciu Sim-i, kemudian dia menanyai keterangan pada hweshio yang sudah puluhan tahun tinggal di Kong Hau Si situ.

Tapi mereka semuanya sama menggeleng tak tahu.

Hanya Ti-khek-ceng (hweshio penyambut tetamu) mengatakan bahwa ada belasan orang datang menginap digereja situ sampai hampir 3 bulan lamanya.

Bertalian dengan harta karun itu, kini hweshio itu baru timbul kecurigaannya terhadap orang2 itu.

Tapi pada hakekatnya, Kiau To tak dapat pengunjukan apa2 dari keterangan itu.

Dia pesan pada hweshio bagian pengurus gereja, bahwa kalau terjadi apa yang mencurigakan, supaya lekas2 memberitahukan padanya.

Setelah itu Kiau To lalu ajak kedua anak muda itu kembali kedalam kamar.

Begitupun Ciok ji-soh.

"Rombongan orang yang disebut oleh Ti-khek-ceng itu, tentulah membawa barang2 berharga. Karena simpanan harta itu disebut kim-jiang-giok-toh, maka tentu berada didalam patung. Setiap patung arca besar kecil harus kita periksa. Ayuh, kita berpencar mencarinya, masakan tak dapat?"

Yan-chiu mengobarkan semangat yang disambut, dengan baik oleh ketiga kawannya. Tapi baru mereka hendak bergerak, tiba2 terdengar orang hiruk pikuk berteriak2.

"Ada pencuri! Ada pencuri!"

Ketika keempat orang itu keluar menanyakan, ternyata diloteng tempat penyimpan kitab2 (perpustakaan) telah terjadi pencurian sejumlah besar kitab2 gereja.

Dugaan bahwa Hwat Siau dan kawan2 tentu tak mau sudah dan kini coba2 men-cari2 diruang perpustakaan itu, diakui kebenarannya oleh keempat orang itu.

Sedemikian besarnya gereja Kong Hau Si itu tapi sedemikian kecil jumlah mereka berempat.

Walaupun Hwat Siau dan Swat Moay, hanya dua orang, tapi mereka berempat terang bukan tandingannya.

Namun kalau melapor ke Lo-hu-san, berarti akan kurang seorang tenaga lagi.

Karena keadaan sangat mendesak, akhirnya diputuskan mereka akan berjoang mati2an untuk berebut dengan lawan.

Sudah tentu dalam perebutan itu tak terbatas pada ilmu silat saja, tapi pun harus mengandalkan kecerdasan otak.

Artinya siapa yang lebih dahulu menemukan tempat harta itu, dialah yang menang.

Begitulah tanpa terasa tahu2 hari sudah malam.

Setelah mengisi perut, mereka lalu mulai berpencar mencari.

Nanti tengah malam akan balik berkumpul lagi diruangan situ.

Kiau To lebih faham akan keadaan gereja situ, maka dia segera membentangkan peta letak seluruh tempat gereja itu kepada Tio Jiang bertiga.

Dia sendiri lalu berniat hendak menyelidiki ruang Tay-hiong-po-tian, Ciok ji-soh ke ruang Ka-lan-tian yang terletak disebelah jendela timur dari Tay-hiong-po-tian, Yan-chiu keruang Lo-han-tong sedang Tio Jiang menyelidiki Swi-hud-kek, Hong-boan-tong.

dan lain-lain.

Apabila berpapasan dengan musuh dan perlu bantuan supaya bersuit.

Habis mengatur pembagian tugas, mereka berempat mulai bekerja.

---oodwkz0tahoo---Pertama, marilah kita ikuti Kiau To.

Tiba diruang Tayhiong-po-tian, didapatinya penerangan disitu masih terang benderang, asap dupa ber-kepul2.

Para hweshio tengah melakukan latihan sembahyang dan membaca kitab.

Dikedua sisi arca Hud (Buddha) yang besar, ber-jajar2 para hweshio.

Suara bok hi (dua potong kayu alat sembahyang), kedengaran berbunyi terus menerus.

Dengan ber-indap2 Kiau To segera enjot tubuhnya keatas altar (persada) kayu yang berada dikedua samping dari 5 paturig malaekat.

Patung malaekat itu menurut cerita Hong Sin, adalah keempat saudara yakni Mo Le-hong, Mo Le-ceng, Mo Le-hay dan Mo Le-siu.

Setelah meninggal, mereka dijadikan malaekat oleh Kiang Cu Ge, masing2 ada yang membawa pedang, pipeh (harp), payung dan ular yang melambangkan kegarangan senjata, kehalusan musik, kebesaran alam (hujan) dan ketaatan.

Pada setiap gereja besar, tentu terdapat keempat malaekat penjaga itu.

Sebelum gereja Kong Hau Si menderita kerusakan akibat pendudukan serdadu2 yang berperang, keempat patung malaekat kim-kong Itu tak kurang dari 2 tombak tingginya.

GAMBAR 95 Dengan ber-indap2 segera Kiau To melompat kepanggung arca itu buat memeriksa patung2 yang disangka tempat penyimpanan harta karun itu.

Ketika tangan Kiau To agak keras menekan, maka terasalah patung itu berguguran.

Dia mengira kalau patung2 itu terbuat dari tanah, tapi ketika diketuknya dengan jari ternyata suaranya seperti kayu.

Terang kalau disitu tiada terdapat sesuatu apa.

Begitulah dalam sekejab saja, keempat patung telah diperiksanya dengan teliti.

Perbuatan itu dilihat juga oleh beberapa hweshio, tapi mereka tak berani mencegahnya karena diperingatkan oleh Kiau To.

Patung besar kecil seisi ruangan situ itu habis diperiksa, seluruhnya, tapi tiada terdapat sesuatu apa.

Ketika dia hendak berlalu, tiba2 terlihat ada salah seorang hweshio tundukkan kepala hingga sampai mengenai dada.

Oleh karena yang lain2 tak begitu, maka timbullah kecurigaan Kiau To.

Tapi dalam suasana seperti itu, tak dapatlah dia bertindak secara gegabah, memeriksa muka orang selagi para hweshio tengah bersembahyang.

Maka lebih baik dia dekati saja.

Tapi baru saja berjalan beberapa tindak, hweshio tadi sudah melenyapkan diri.

Kejut Kiau To tak terhingga.

Hwat Siau dan Swat Moay masih belum tinggalkan tempat itu, kalau saja hweshio itu tadi penyaruan salah satu dari mereka, wah tentu repot juga.

Cepat Kiau To melangkah keluar untuk menuju keruang Ka-lan-tian.

Disitu tampak Ciok ji-soh tengah berdiri dibahu sebuah arca Buddha.

Kiau To memberi peringatan dengan bisik2 bahwa Hwat Siau dan Swat Moay menyaru jadi hweshio.

Setelah itu dia ber-gegas2 menuju keruang Lo-hantong untuk memberitahukan juga pada Yan-chiu.

Ruang Lo-han-tong itu terletak di-tengah2 gereja situ.

Begitu masuk, Kiau To dapatkan suasana disitu agak luar biasa.

Penerangannya suram, sedang patung Kim-lo-han yang terdapat disitupun aneh tampaknya.

Tapi Yan-chiu tak kelihatan bayangannya.

"Siao Chiu, Siao Chiu!"

Bisiknya memanggil nona genit itu sembari mengelilingi ruangan tersebut. Tapi tiada penyahutan sama sekali.

"Huh, kemana perginya budak perempuan itu?"

Kiau To ber-sungut2. Baru dia hendak tinggalkan ruang itu, tiba2 serasa ada angin dingin menyambar. Dan berbareng itu, terdengar suara "bluk......"

Dan padamlah ruangan Lo-han-tong itu menjadi gelap gelita.

Sudah tentu Kiau To gelagapan.

Terang kalau perbuatan itu bukan Yan-chiu yang melakukan tapi kemungkinan besar tentu Swat Moay atau Hwat Siau.

Lekas2 dia menyelinap kesamping, bersembunyi dibelakang patung Lo-han.

Sekejab saja matanya sudah menguasai keadaan disitu dan samar2 tampak ada sesosok bayangan hitam loncat kian kemari ber-putar2.

Gerakannya sebat sekali.

Entah apa yang dilakukan-nya itu.

Kiau To biarkan saja kejadian itu berlangsung sampa3 sekian saat.

Se-konyong2 diluar ruangan sana terdengar derap kaki.

Tiba diambang pintu, terdengarlah suara seruan "......hi"

Dari nada suaranya, itulah Yan-chiu.

Mendengar itu bayangan tadi buru2 melesat bersembunyi dibalik salah sebuah patung lainnya.

Tersirap darah Kiau To menyaksikan hal itu.

Kalau saja Yan-chiu masuk, terang ia bakal celaka.

Baru dia (Kiau To) mengambil keputusan hendak nyalakan api lampu tiba2 terdengar orang berseru.

"Jangan lari!"

Yan-chiu tak jadi masuk, tapi dalam pada itu diatas genteng terdengar suara injakan kaki orang.

Kiau To kuatir kalau2 terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan.

Sesaat dia sudah terus hendak menyusul keluar tapi pada lain saat ter-kilaslah dalam pikirannya jangan2 didalam ruangan situ benar2 terdapat sesuatu rahasia, maka dia urungkan niatnya dan menantikan perkembangan selanjutnya.

Tapi hampir setengah jam lamanya, tetap keadaan masih sunyi2 saja.

Kalau tak mengingat betapa gawatnya urusan itu, turut perangainya, tadi2 dia tentu sudah memberosot keluar.

---oodakz0tahoo---Kita, tinggalkan dulu Kiau To dan marilah kita ikuti Ciok ji-soh.

Setelah mendapat kisikan dari Kiau To, Ciok ji-soh lalu tinggalkan ruangan situ menuju keruang Liok-cou-tian.

Begitu masuk, ia terpesona melihat patung Liok-cou yang terdapat diruangan situ.

Arca Hui Leng, Liok-cou (soko guru angkatan ke-6) dari agama Buddha yang terbuat daripada bahan tanah liat, sudah banyak kali Ciok ji-soh melihatnya diberbagai gereja.

Tapi yang mirip seperti "hidup", baru sekali ini ia menyaksikannya.

Tulang belulang dari tubuhnya yang sedemikian kurus, sebuah demi sebuah tampak dengan nyatanya.

Sedang matanyapun tampak ber-kilau2an memandang kearahnya.

Walaupun sudah banyak pengalamannya sebagai kelana dunia persilatan, namun Ciok ji-soh tetap seorang wanita yang percaya akan agama.

Melihat keangkeran Liok-cou tersebut, iapun merasakan kerendahan hati.

Maka serta merta ia membungkuk memberi hormat dengan chidmat, serunya.

"Siao-li-cu Ciok ji-soh, apabila terdapat kesalahan2 terhadap Posat, sudilah memberi ampun !"

"Habis berdoa, baru ia berani mendekati untuk menusuk dengan jari.

Astaga, benar2 ia terkejut bukan kepalang.

Tusukan jarinya tadi mengeluarkan bunyi seperti menusuk kayu lapuk.

Ai, tentulah Liok-cou murka ni, demikian pikirnya lalu buru2 keluar.

Tiba diambang pintu, hatinya kepingin sekali lagi melihat patung itu dan menoleh ia, hai .......

tring, .......

tring, sebat sekali ia siapkan sepasang gelang kim-kong-lunnya !

Kiranya patung Liok-cou Hui Leng itu sudah berobah keadaannya.

Jelas tadi dilihatnya bahwa patung itu mengenakan pakaian warna kelabu (dari tanah), tapi mengapa kini berobah menjadi jubah warna putih.

Benar tulang2 dadanya masih nampak dengan jelas, tapi pancaran sinar matanya sudah lain.

"Siapa yang main gila itu ?!"

Seru Ciok ji-soh dengan setengah berbisik.

Oleh karena sampai sekian saat tiada penyahutan, iapun segera masuk kembali untuk menutuk patung itu lagi.

Dan ternyata bunyinyapun tak sama lagi.

Sayang ia terlalu dipengaruhi oleh rasa kesujutan.

Diam2 ia mengira perbuatannya tadi telah membuat amarah Liokcou, sehingga menimbulkan kejadian luar biasa seperti itu.

Maka buru2 ia tinggalkan tempat itu untuk mendapatkan Kiau To.

Tapi baru melalui dua buah ruangan samping, didengarnya suara orang bertempur diatas genteng.

Ketika mengawasi keatas, dilihatnya Yan-chiu tengah bertempur dengan seseorang yang bertangan kosong.

Tanpa berayal lagi, Ciok ji-soh terus loncat keatas genteng.

Dan tanpa menanyakan apa2 lagi, ia terus menyerang dari belakang.

Orang itu terjepit, antara pedang dan kim-kong-lun.

Tapi ternyata dia bukan makanan empuk.

Dengan tangkasnya dia menurunkan tubuh dan menyelinap kesamping.

Kalau Ciok ji-soh tak lekas2 menahan kimkong-lunnya, pasti akan berbenturan sendiri dengan pedang Yan-chiu.

Kala menginjak tepian payon, tampak payon itu cekung kebawah tapi tak sampai roboh.

Dan membarengi dengan tenaga injakannya itu, orang tadi laksana burung waled sudah loncat turun dan menghilang dalam kegelapan.

GAMBAR 96 Baru saja Ciok ji-soh keluar, segera dilihatnya Yan-chiu sedang bertempur dengan seorang diatas genteng, cepat iapun melompat Keatas untuk membantunya.

"Nona Yan, siapakah orang itu?"

Tanya Ciok ji-soh.

"Aku sendiripun tak melihatnya jelas, tapi dia memakai dandanan seperti seorang hweshio dan mukanya memakai kerudung. Apakah kau mendapat hasil?"

Sahut Yan-chiu balas bertanya.

"Ai, sial benar. Tidak berhasil menemukan suatu apa bahkan telah membuat Liok-cou gusar!"

Kata Ciok ji-soh lalu menuturkan kejadian yang dialamin ya tadi.

"Akupun nihil. Baru hendak masuk keruang Lo-han-tong, lampunya sama padam. Diluar pintu seperti ada orang mengejar, lalu aku menyongsongnya, tapi tiada tampak seorangpun jua. Ketika aku hendak balik masuk kedalam ruangan itu lagi, tahu2 ada angin pukulan menyambar dari belakang. Aku dipikatnya keatas genteng. Rupanya kepandaiannya lebih unggul dari aku. Sewaktu kau datang, dia segera ngacir tadi itu!"

Keduanya sama heran, tapi tak dapat memecahkan rahasia kejadian tadi. Kala itu sudah tengah malam dan Ciok ji-soh segera ajak Yan-chiu pulang lagi kekamarnya saja.

"Dengan menyelidiki cara begini, susahlah kita mendapat hasil. Tadi Kiau loji mengatakan Hwat Siau dan Swat Moay menyamar jadi hweshio, disamping itu ada lain orang lagi yang mengacau dibelakang layar. Baik kita rundingkan lagi siasat untuk menghadapi mereka!"

Kata Ciok ji-soh. Tak lama setelah mereka berdua tiba dikamar, Kiau To pun datang.

"Aneh....., aneh......! Terang dalam ruang Lo-han-tong terdapat seorang yang bersembunyi, tapi berulang kali kuhardiknya dan 3 buah batu kulemparkan ternyata tiada barang seorang manusia pun disitu!"

Kiao To menerangkan dengan menggerutu.

"Ah, kalau bukan si Hwat Siau dan Swat Moay siapa lagi. Baik kita tunggu kedatangan suko saja!"

Tapi hampir lewat tengah malam, tetap Tio Jiang belum muncul.

(Oo-dwkz-tah=oO) BAGIAN 53 .

PATUNG HIDUP "Bukan melainkan mempunyai kepandaian yang tinggi, pun dia seorang yang cermat, seharusnya tak nanti dia sampai lalai.

Kalau menilik kejadian2 aneh yang kita, alami tadi, jangan2 dia mendapat kesulitan!"

Kata Kiau To. Juga Yan-chiu cemas, katanya.

"Kedua suami isteri itu, terutama yang perempuan (Swat Moay) kecerdasannya tidak dibawah Cian-bin Long-kun. Bukan mustahil kalau suko mengalami kesukaran dari mereka!"

Ciok ji-soh pun sibuk. Pada lain saat ia berbangkit.

"Biar kususulnya!"

Serunya.

"Aku ikut. Siao Chiu, kau tunggu dulu disini jangan pergi ke-mana2!"

Serentak Kiau To menunjangnya.

Sebenarnya Yan-chiu tak suka ditinggal, tapi mengingat kalau2 nanti Tio Jiang kembali kesitu dan tiada mendapatkan seorangpun, tentu akan bingung, maka terpaksa ia mengiakan.

Tak lama sepeninggal Kiau To dan Ciok ji-soh, Yan-chiu segera merasa kesepian.

Dan kesepian itu menimbulkan kerawanan hati yang bukan2.

Setiap insan tentu takkan terluput dari kematian.

Mereka tiada gelisah karena tak mengetahui apabila saat kematiannya itu tiba.

Bahwa mengetahui hari kematian itu adalah suatu siksaan batin yang maha hebat, dirasakan sendiri oleh Yan-chiu.

Terkenang.

akan nasibnya yang menyedihkan itu, tanpa terasa air matanya bercucuran.

Ketika ia hendak mengusapnya, se-konyong2 matanya tertumbuk akan seorang hweshio yang entah bilamana tahu2 sudah berada dikamar situ.

Mukanya memakai kain kerudung, tak lain yalah hweshio yang memikatnya dari ruang Lo-han-tong tadi.

Siang tadi Yan-chiu titip pada salah seorang hweshio supaya membelikan sebatang pedang.

Pedang itu secepat kilat dilolos dan diserangkannya dengan jurus it-wi-tok-kang.

Walaupun pedang itu benda "pasaran", tapi jurus yang digunakan itu bukan olah2 hebatnya hingga seketika itu ratusan sinar pagutan pedang memburu ketenggorokan hweshio gadungan itu.

Tapi orang itu hanya ganda tertawa saja.

Secepat dia menyambar sebuah ciok-tay (tempat lilin) tring, ditangkisnya pedang Yan-chiu.

Sebenarnya jurus it-wi-tok-kang itu dapat diperkembangkan lagi dalam 7 perobahan.

Tapi.

tekanan ciok-tay itu rasanya ber-puluh2 kati beratnya.

Hendak Yan-chiu menggerakkan pedangnya, tapi tak dapat.

"Kau siapa?"

Bentaknya dengan kaget. Tangan kiri orang itu pe-lahan2 menyingkap kerudung mukanya dan dengan tertawa menyahutlah dia.

"Hampir setahun suntuk berkumpul, masa cepat lupa?"

Ai....., kiranya si Swat Moay. Setan benar wanita itu, untuk mencapai tujuannya, ia rela menggunduli rambut.

"Mengapa kau masih berada disini? Apa mau menunggu mati?!"

Seru Yan-chiu dengan murka. Swat Moay tertawa mengejek.

"Entahlah, siapa yang menunggu kematiannya disini nanti!"

Sahutnya. Terpegang kandungan hatinya, Yan-chiu bungkam.

"Siao-ah-thau, sebaiknya kau omong terus terang saja, bukankah rombonganmu belum mengetahui tempatnya juga?"

Mendengar bahwa fihak Hwat Siau dan Swat Moay belum berhasil menemukan tempat simpanan harta karun itu, diam2 Yan-chiu girang.

Benar ia tinggal dua hari satu malam nyawanya, tapi seketika itu ia tak merasa cemas lagi.

"Bagus, coba saja siapa nanti yang lebih dahulu menemukannya!"

Sahutnya.

Tiba2 Swat Moay gontaikan tangannya.

Entah senjata rahasia macam apa yang dilepaskan itu, tapi tahu2 Ciu Sim-i yang tengah menggeletak dilantai situ sudah terbuka jalan darahnya dan terus bangkit berdiri.

Yan-chiu tak membiarkan Swat Moay menolongi orang itu.

Secepat kilat berputar kebelakang, tangkai pedangnya disodokkan kejalan darah orang she Ciu Itu.

Cepat dan tepat gerakannya kali ini, hingga Ciu Sim-i yang tak mengira sama sekali akan serangan kilat itu, segera mendeprok lagi kelantai.

Yan-chiu sudah memperhitungkan, begitu ia menutuk jalan darah Ciu Sim-i, Swat Moay pasti akan menolonginya.

Maka secepat habis memberesi Ciu Sim-i, secepat itu pula ia sudah berputar kebelakang lagi untuk songsongkan ujung pedangnya kearah Swat Moay.

Melihat gerakan yang lihay dari sinona itu, bukannya turun tangan tapi sebaliknya Swat Moay malah menghamburkan pujian.

"Ilmu pedang yang lihay, gerakan yang bagus ! Hanya sayang sekali, walaupun sebelah kakinya melangkah ketingkat kepandaian yang sempurna, sebelah kakinya yang satu lagi sudah masuk kepintu akhirat !"

Lagi2 hati Yan-chiu tersayat dengan ucapan Swat Moay ftu. Tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Swat Moay bersorak dalam hati.

"Siao-ah-thau, kau tak ingin mati bukan?"

Bujuknya dengan nada merayu.

Sedemikian halus merawan rayuan itu hingga timbullah pertentarigan dalam batin Yan-chiu.

Mati melawan penjajah mati sahib namanya.

Kematian yang berharga sekali.

Ini ia tiada menyesalkan sedikitpun juga.

Tapi dalam hati kecilnya, sesungguhnya ia tak ingin mati.

Ya, dara yang menginjak masa sweet seventeen (17 tahun) adalah ibarat sekuntum bunga yang tengah memperkembang biakkan keharumannya, jadi siapakah yang suka disuruh mati?

Dalam dua hari ini, Yan-chiu pun mempunyal perasaan begitu.

"Tak rela mati tak suka mati."

Bahwa bujuk rayuan yang sedemikian merawankan Itu telah mencengkeram kalbunya itulah sudah jamak. Maka tanpa diinsyafinya Iagi, menyahutlah ia dengan serta merta .

"Ah, sudah barang tentu tak suka mati !"

Itu hanya menurutkan suara hatinya. Maka dikala sang pikiran sadar, buru2 ia menyusuli dengan kata2 bengis.

"Apa pedulimu?"

Tapi Swat Moay menertawakan, ujarnya.

"Kalau tak suka mati, itulah mudah. Tetap kau ikut mereka untuk mencari tempat harta itu, begitu berhasil kau harus membakar tumpukan kayu bakar yang kusediakan ditempat pagoda itu. Dan kala itu, jalan darahmu tentu akan kubuka. Ingat, waktunya hanya tinggal 2 hari satu malam saja, kalau tak berhasil menemukan, kau boleh terima nasib saja. Kalau kau menurut perintahku ini, tentu bakal selamat. Untuk kepercayaan itu, Hwat Siau dan Swat Moay masih suka memberikan !"

Selama mendengari kata2 Swat Moay itu, Yan-chiu termangu2 saja. Habis memberi "tekanan"

Itu, tanpa menunggu jawaban orang Swat Moay segera sudah melesat keluar. Lewat beberapa saat kemudian, barulah Yan-chiu tersadar.

"Jangan kau ........ ngaco belo!"

Serunya.

Dua perkataan yang terdahulu, diucapkan dengan keras, karena mengira Swat Moay masih berada disitu.

Tapi dua patah yang dibelakang nadanya sudah lemah, karena sudah diketahui kalau Swat Moay ternyata sudah menghilang.

Saking tergetar perasaannya, sampaipun telapak tangan Yan-chiu basah dengan keringat dingin.

Kembali Yan-chiu merasa kesepian.

Karena sukonya tetap belum datang, ia segera berjalan keluar dan berhenti dibawah lonceng besar dari gereja itu.

Hatinya makin sunyi rawan.

Tanpa terasa kakinya mengayun langkah.

Tiba2 dilihatnya disebelah muka ada sebuah bayangan hitam.

Ketika mendongak mengawasi, kiranya itulah bayangan dari pagoda Hwat-tha (tempat menyimpan rambut Liok-cou).

Yakni pagoda yang dijanjikan oleh Swat Moay tadi.

"Ai....., mengapa aku datang kemari?"

Keluhnya dengan suara tak lampias. Tapi pada lain saat hatinya serasa berbicara sendiri.

"Bukantah kau sendiri yang datang kemari?"

Kesedihan dan kecemasan berkecamuk menjadi satu dalam rongga hati Yan-chiu.

Begitu hebat rasa itu mencengkeramnya, hingga sesaat kepalanya terasa pening dan matanya ber-kunang2.

Karena gemetar tak dapat berdiri dengan jejak, iapun duduklah ditanah.

Dalam kesesakan napas, matanya tertumbuk akan seonggok kayu bakar yang tertumpuk dimuka pagoda itu.

Melihat itu, telinganya serasa me-ngiang2 lagi dengan nada ucapan Swat Moay tadi .......

"begitu berhasil, kau harus lekas2 membakar tumpukan kayu yang kusediakan ditempat pagoda itu ....... untuk kepercayaan itu, Hwat Siau dan Swat Moay masih tetap suka memberikan" ................ Yan-chiu dekap telinganya, supaya menghilangkan suara itu. Tapi rasanya suara itu tetap mengiang-ngiang dianak telinganya. Saking gusarnya, serentak ia berbangkit dan lari membabi buta menuju kearah timur. Karena tak menghiraukan suatu apa, se-konyong2 kakinya tersandung pada suatu benda dan terpelantinglah ia sampai tiga empat meter jauhnya. Kalau saja ilmunya mengentengi tubuh tak lihay dan tempo hari tak minum mustika batu, tentu jatuhnya itu akan tele2 dan babak belur. Cepat2 ia bangun dan ketika mengawasi kepada benda yang membentur kakinya tadi, kiranya itulah sebuah benda bulat yang menonjol keatas kira2 seperempat meter tingginya. Ia meringis, tapi dalam kesialannya itu ia mendapatkan kesadarannya lagi. Itulah disebabkan karena rasa kaget, sehingga pikirannya terang kembali. Serta sadar, didapatinya dirinya berada diluar gereja, hal mana membuatnya terperanjat sekali. Bukantah kalau nanti sukonya kembali dan tak mendapatkan dirinya (Yan-chiu), dia pasti akan mencarinya? Dengan begitu, tentu akan saling cari mencari nanti. Tapi dimanakah kini ia berada itu? Tadi karena lari membabi buta, hingga sampai tersesat. Kini setelah mencari arah dengan seksama, ia mengambil putusan menuju keruang Tay-hiong-tian lebh dahulu. Begitulah segera ia ayunkan langkah kesana. Tapi ketika melalui benda hitam yang membentur kakinya tadi, se-konyong2 is dapatkan benda itu seperti memancarkan sinar cahaya berkilau. Buru2 ia berhenti untuk memeriksa. Astaga, kiranya itulah sebuah mulut perigi (sumur)! Perigi itu memang aneh, tingginya dipermukaan tanah hanya kurang lebih seperempat meter saja. Tapi ketika ia menjenguk kedalamnya, ternyata lubangnya sangat dalam sekali, airnya berkilauan memantulkan hawa dingin. Yan-chiu lalu tinggalkan tempat itu tapi baru saja sang kaki melangkah, tiba2 ia merasa dalam pantulan cahaya perigi itu amatlah anehnya. Permukaan air yang ditimpah oleh cahaya bintang telah menimbulkan pancaran-balik (refleksi) mengkilap bagaikan perak, tercampur biru gelap dan sedikit ke-hijau2an. Yan-chiu coba mengisar kesamping sedikit dan cahaya itupun tak kelihatan lagi. Mengawasi ke cakrawala, tampak rembulan masih dalam bentuknya sisir (tanggal muda).

"Mungkinkah harta karun itu berada disini?"

Tiba2 ter-kilas suatu pikiran olehnya.

Tapi pada lain saat ia menertawai pikirannya itu sendiri.

Desas desus tentang kim-jianggiok-toh yang sudah ber-tahun2 tersiar itu, tentunya berada didalam patung sehingga sukar diketemukan.

Kalau berada, didalam sumur, cukup dengan menguras (mengambil) airnya, sumur itu pasti kering dan harta karunpun mudah diketemukan.

Memikirkan soal harta karun teringatlah ia akan ancaman Swat Moay tadi.

Seketika timbullah khayalannya.

apabila benar2 ia nanti dapat menemukan harta itu, adakah ia hendak menyulut kayu bakar Itu?

Ah, pening kepalanya memikirkan hal itu.

Tadi karena ia bingung memecahkan persoalan Itu, ia sampai lari tak karuan dan tersesat disitu.

Memang soal "kebenaran"

Itu tak semudah seperti yang diucapkan oleh mulut anak kecil.

Kalau nanti dirinya dihadapkan dengan kenyataan, belum tentu dia akan dapat mengambil keputusan yang tepat!

Sampai sekian saat Yan-chiu ter-mangu2 disisi perigi itu.

Setelah itu ia menuju keruangan besar.

Ditengah jalan dilihatnya diatas atap ada orang ber-lari2an.

Mata Yan-chiu yang tajam segera dapat mengenalinya itu sebagai Hwat Siau dan iapun tak menghiraukan lagi terus kembali kekamarnya.

Disitu Kiau To dan Ciok ji-soh sudah menunggu, tapi Tio Jiang tetap belum kelihatan.

"Kemana Tio Jiang? Kau tadi kemana saja? Jangan2 dia tadi sudah datang dan pergi lagi! Dan Ciu Sim-i ini mengapa sudah mampus ?"

Ber-tubi2 Kiau To menyambutnya dengan pertanyaan. Yan-chiu menelan ludahnya dan menyahut dengan ter-bata2

"Aku ...... akupun bingung juga, baru aku hendak keluar dia (Ciu Sim-i) telah berhasil membuka jalan darahnya dan hendak melarikan diri, maka terus kubunuhnya!"

Entah apa sebabnya ia sendiri tak tahu, mengapa ia tak mau menceritakan kedatangan Swat Moay tadi.

Turut adat perangainya, mulut amat tangkas bicara, lebih2 terhadap orang sendiri tak pernah ia menyimpan rahasia.

Heran, mengapa kali ini ia sampai ter-putus2 bicaranya apalagi mau berbohong.

Kiau To tak memperhatikan ciri2 itu dan hanya menuturkan rencananya.

"Siao Chiu, untuk mencari Ang Hwat cin jin, sukarlah rasanya. Tapi menurut pendapatku, apabila bisa mendapatkan suhuku, itu sudah cukup, Kuingat dahulu Thian Te Hui memelihara berpuluh ekor merpati pos untuk mengirim berita. Burung itu luar biasa pintarnya. Kupikir untuk melepaskan mereka lagi keempat penjuru. Siapa tahu, suhu tentu akan dapat menerima berita, itu!"

Girang Yan-chiu mendengar itu, tapi pada lain saat tawar pula hatinya karena walaupun harapan itu ada namun tipis sekali kemungkinannya.

"Kalau memangnya sudah suratan nasibku, biarlah aku binasa. Usah membuat sibuk Tay Siang Siansu dan lain2 orang,"

Ujarnya dengan tersenyum pahit. Brak......, tiba2 Kiau To meninju meja hingga hancur.

"Kau tak nanti kami biarkan mati, apakah kau tak mengerti akan perasaan orang?"

Yan-chiu terbeliak kaget dan menatap Kiau To.

"Ai....., Siao Chiu,"

Kiau To menghela napas.

"bagaimana sampai hati kami membiarkan kau meninggal ? Ai..... , memang perangaiku ini berangasan harap kau jangan marah!"

"Bagus, itulah sifat ksatrya namanya! Barang siapa yang marah, aku tentu menentangnya!"

Seru Ciok ji-soh sambil tunjukkan jempolnya.

Berhadapan dengan dua tokoh yang berwatak lurus terus terang, hati Yan-chiu terhibur juga.

Kiau To segera menuju kedusun Cek-wi-hong untuk mengambil merpati2 pos itu.

Setelah diikat dengan surat untuk Tay Siang siansu, maka ber-puluh2 burung itu dilepaskannya.

Ketika burung2 itu meluncur keangkasa, mendoalah Kiau To.

"Merpati, merpati! Jiwa Yan-chiu, tergantung padamu!"

Pada masa Thian Te Hui masih jaya, merpati2 itu dilatih untuk mengirim surat keberbagai penjuru.

Jadi apabila Tay Siang siansu masih berada diwilayah Kwicu, tentulah akan diketemukan.

Sepeninggal Kiau To, tiba2 pintu kamar digereja itu didebur keras dan masuklah Tio Jiang dengan wajah pucat.

Serta masuk, mulutnya segera berhamburan dengan kata2 aneh.

"Huh, aneh, aneh sekali! Masakan didunia ini terdapat peristiwa segaib itu, kalau tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, biar dibunuh mati tak nanti aku mau mempercayai !"

"Keanehan apa, lekas katakan!"

Seru Ciok ji-soh. Tapi sebaliknya melihat sukonya ter-sengal2, Yan-chiu menyuruhnya beristirahat dulu sebentar. Setelah memulangkan napas, barulah Tio Jiang mulai menutur.

"Posat dari Kong Hau Si ini dapat mengeluarkan kesaktian. Percaya atau tidak itu terserah padamu !" . Ciok ji-soh tertawa geli, ujarnya.

"Siao-ko-ji (engkoh kecil), seperti aku, kau tentu berpapasan dengan Hwat Siau!"

Ciok ji-soh lalu tuturkan pengalamannya sendiri diruang Liok-cou-tian. Tapi untuk keherannya, Tio Jiang menggeleng, sahutnya.

"Bukan, bukan begitu. Hwat Siau seorang yang bertubuh kurus kering. Tapi yang kulihat diruang Sui-hud-kek itu, adalah sebuah patung Bi-lek-hud yang perutnya gendut dan tubuhnya pendek. Masakan aku tak dapat membedakannya?"

Ciok ji-soh cepat2 mendesaknya supaya menceritakan kejadian itu.

"Sekeluarnya dari sini, asal ketemu patung atau arca, baik kecil maupun besar, tentu kuamat-amati dengan perdata. Tapi kesemuanya itu tak mengunjukkan tanda apa2,"

Tio Jiang mulai menutur.

"tiba diruang Sui-hud-kek, disitu penerangannya terang benderang. Kukira hal Itu adalah perintah dari pengurus gereja, tapi anehnya disitu tiada terdapat barang seorang hweshiopun yang tengah membaca kitab. Dengan loncat dari jendela kumasuk dari belakang ruangan itu. Disitu aku sudah dikejutkan oleh sebuah patung setinggi orang, yang tampaknya tengah deliki mata kepadaku. Kemudian setelah masuk kedalam ruangan, kembali semangatku terbang demi melihat patung Bi-lek-hud yang berada disitu, nampaknya sedang menyeringai tertawa kepadaku !"

"Ai, mungkin pandanganmu kabur!"

Tukas Ciok-ji-soh.

"Memang orang tentu menganggap mataku kabur. Tapi demi kumendekati untuk memeriksanya, tiba2 dari arah belakang terdengar suatu suara dan cepat2 kuberputar si, celaka.......... kiranya hanya seekor kucing loncat dari jendela. Baru kuhendak berpaling kemuka lagi, punggungku terasa ditiup oleh hawa panas! Saat itu aku sudah berdiri didekat. patung Bi-lek-hud dan disitu tiada barang seorangpun kecuali patung itu. Saking kaget ketakutan, aku segera loncat keluar dari jendela lagi dan sekali enjot kaki aku melayang keatas wuwungan. Dari situ dengan mengaitkan kaki pada tepian wuwungan, kuayunkan tubuhku untuk melongok kebawah. Ah, benar juga diruangan situ tiada barang seorang manusiapun kecuali patung Bi-lek-hud yang masih tetap tertawa berseri itu ! GAMBAR 97

"...... saking kagetnya cepat aku melompat keluar dan mengaitkan kakiku keatas emperan dan tubuhku menggantung kebawah untuk melongok kedalam .........."

Demikian Tio Jiang bercerita.

"Kuberanikan diri lagi untuk masuk dan menghampiri patung hud itu.

"Kumengangguk kepada Bi-lek-hud itu dan astaga, Bi-lek-hud yang hanya sebuah patung ternyata dapat mengeluarkan suara seperti kayu berkereyotan !"

"Hai, sudahlah! Teranglah patung itu penyaruan dari manusia!"

Tukas Ciok ji-soh dengan serentak.

"Benar, memang lwekang Hwat Siau itu bukan olah2 saktinya. Kalau dia mengempos dada, tubuhnya dapat berobah menjadi gemuk. Ya, aku sudah pernah menyaksikannya sendiri!"

Yan-chiu turut menimbrung. Tio Jiang lanjutkan pula ceritanya dengan kurang bernapsu.

"Ah, dia telah menghambat pekerjaan kita. Memang kala itu siapa yang tak ketakutan menampak ada patung dapat tertawa, dapat meniup hawa? Begitulah aku segera tinggalkan ruangan itu dan menuju keruang Lo-han-tong. Tapi begitu masuk, disitu gelap sekali hi, aneh, kalau benar Hwat Siau adanya, mengapa dia tak mencelakai aku?"

"Perlu apa mereka hendak mencelakaimu sekarang? Bukantah lebih banyak orang yang mencari harta itu, lebih baik baginya. Nanti apabila sudah diketemukan rasanya belum terlambat untuk membunuhmu!"

Kata Yan-chiu.

"Ah, masa ada orang sekejam itu hatinya! Siao Chiu, kau tentu mengalami penderitaan selama setahun ikut mereka."

Yan-chiu berpaling ketempat yang agak gelap untuk menghapus air matanya.

Sedang Ciok ji-soh lalu memberitahukan Tio Jiang tentang kepergian Kiau To tadi.

Oleh karena mereka bertiga tak mempunyai lain rencana yang bagus, terpaksa mereka hanya duduk diam disitu menunggu kedatangan Kiau To, siapa syukurlah tak lama sudah muncul.

"Usaha kita pada malam ini, rasanya sudah cukup sampai disini dulu. Mengingat hubungan antara suhu dengan Yan-chiu, rasanya beliau tentu takkan membiarkan begitu saja!"

Kata Kiau To.

Begitulah mereka lalu beristirahat dan malam itupun tiada kejadian apa2 yang penting.

---oo-dwkz0tah-oo---BAGIAN 54 .

ASMARA MURNI Sekarang mari kita ikuti perjalanan Ciok Siao-lan sigadis hitam manis yang hendak menyusul The Go ke Lo-hu-san.

Ditengah jalan ia menghajar dua orang kongcu (anak orang hartawan atau pembesar).

Tanpa hiraukan mereka ber-kaok2, nona itu segera cemplak kuda mereka terus dicongklangkan se-kencang2nya.

Antara Kwiciu ke Lo-hu-san hanya seperjalanan seratusan li jauhnya.

Dua ekor kuda kedua kongcu tadi, dengan bergiliran dinaikinya.

Oleh karena kedua ekor kuda itu termasuk kuda2 pilihan maka belum setengah malam saja, dapatlah ia tiba digunung itu.

Tapi begitu ia kendorkan kendali, kedua ekor kuda Itu segera mendeprok ketanah.

Kiranya kedua bintang itu sudah putus jiwanya saking kelelahan.

"Siapa?!"

Tegur seorang peronda malam demi Siao-lan menginjak puncak Giok-li-nia.

"Aku, perlu apa banyak bertanya ini itu? Aku hendak mencari Cian-bin Long-kun The Go!"

Kala itu The Go sudah diseret kelapangan untuk sesaji sembahyangan bendera.

Sudah tentu para penjaga malam menduga kalau nona itu hendak menolongi The Go.

Seketika itu tampillah lima orang penjaga dan memakinya.

"Budak hina, serahkan tanganmu untuk diringkus!"

Trang...., trang...... dalam gusarnya Siao-lan sudah menyengkelit rubuh salah seorang dari penjaga malam itu, lalu menobros masuk.

"Jangan lepaskan budak hina itu!"

Riuh rendahlah kawanan penjaga itu ber-teriak2 untuk memberi peringatan kepada kawan2nya.

Siao-lan gugup dan mainkan garu penusuk ikan dengan gencar.

Walaupun la berhasil merubuhkan beberapa orang, tapi kawanan penjaga itu makin lama makin banyak jumlahnya.

Suara hiruk pikuk mereka telah membikin kaget Ki Ce-tiong siapa terus loncat menyongsongnya dengan tongkatnya.

Siao-lan makin kalap.

Tanpa menghiraukan setan belang lagi, begitu ada sesosok tubuh melayang datang, ia segera menusuknya.

Tapi melihat pengacau itu hanya seorang wanita, Ki Ce-tiong buang senjatanya lalu julurkan jarinya untuk menyambar senjata lawan.

"Lepas!"

Serunya sembari menyentak se-kuat2nya.

Siao-lan rasakan tangannya kesemutan dan tahu2 senjatanya berpindah ketangan lawan (Kiau To) yang segera menimpukkannya kearah sebatang puhun yang berada didekat situ.

Baru penusuk ikan itu menyusup masuk sampai beberapa centi dalamnya, tangkainya ber-goyang2.

Gegap gempita, para anak buah Thian Te Hui menyaksikan kelihayan pemimpinnya.

"Hai, kiranya kaukah?"

Tegur Ki Ce-tiong demi mengetahui siapa lawannya tadi.

"Jangan banyak bicarakan yang tidak2, mana Cian-bin Long-kun!"

Sahut Siao-lan dengan dada berombak.

Ki Ce-tiong pernah melihat sekembalinya dari kepulauan Lam-hay, Li Seng Tong membawa nona itu ber-sama2 ke Kwiciu.

Maka diapun lalu menanyakan mengapa nona itu tidak berada pada Li Seng Tong tapi datang ke Lo-hu-san.

"Mencari The Go!"

Sahut Siao-lan dengan tegas. Sebagai seorang gadis, sebenarnya tak pantas ia berkata begitu. Tapi tersurung oleh panggilan hati, ia buang rasa malu dan menyatakannya dengan terus terang.

"Mengapa mencarinya?"

Tanya Ki Ce-tiong terkesiap. Tengah mereka bertanya jawab, muncullah Ceng Bo siangjin kesitu dan bertanya.

"Baiklah Ki-heng bawa ia naik keatas gunung dulu, nanti ditanyai lagi!"

Ditengah perjalanan Siao-lan menuturkan maksud kedatangannya.

Baik Ki Ce-tiong maupun Ceng Bo adalah orang2 yang mempunyai hati welas asih.

Mereka kasihan pada Siao-lan, tapi teringat bahwa The Go sudah buntung kakinya, mereka saling berpandangan.

Setiba di Giok-li-nia, berkatalah Ceng Bo.

"Nona Ciok, boleh dikata setiap orang persilatan tentu menghendaki jiwa Cian-bin Longkun. Adakah kau mengetahui hal itu ?"

"Sudah tentu aku tahu, kalau tidak masakan aku korbankan diri untuk menebus dosanya?"

Sahut Siao-lan. Ceng Bo terdiam sejenak, lalu berkata pula.

"Kali ini dalam pembentukannya yang kedua kali, Thian Te Hui telah memutuskan untuk membuatnya sesaji sembahyangan bendera........."

"Jadi engkoh Go sudah meninggal?!"

Tukas Siao-lan dengan serempak. Ceng Bo menghela napas, ujarnya.

"Mati sih belum........"

Baru mendengar sampai disini, kedengaran Siao-lan~ menghembuskan napas longgar. Dapat dibayangkan betapa kasih sayang nona hitam manis itu kepada The Go.

"Nona Ciok, baiklah kuberitahukan padamu tapi harap kau jangan berduka. Kedua kaki The Go kini sudah buntung!"

Siao-lan terbeliak kaget, tapi pada lain saat wajahnya mengunjuk pendirian yang teguh, serunya.

"Asal dia itu tetap engkoh Go, sekalipun hanya mempunyai sebuah jari, tetap tiada bedanya!"

Ceng Bo dan Ki Ce-tiong tak dapat berbuat apa2.

Dalam kebatinan mereka hanya mengharap, setelah mendapat pelajaran yang pahit itu, mudah2an anak muda itu kembali kejalan yang benar, sehingga dapat ber-sama2 Siao-lan melewati sisa penghidupannya dengan bahagia.

Tapi dalam pada itu, Ceng Bopun teringat akan nasib puterinya sendiri Bek Lian, bidadari yang menjelma didunia ini rela mencukur rambut menjadi rahib (nikoh) dikarenakan perbuatan yang tak bertanggung jawab dari The Go.

Siangjin itu memanjatkan doa mudah2an puterinya diberi keteguhan imam dalam usahanya menebus dosa itu.

Diam2 dia mengakui, bahwa hanya dalam waktu dua tahun, saja, didalam penghidupannya telah terjadi perobahan yang besar.

Sembari ber-cakap2 itu, tibalah mereka dimuka sebuah pondok.

"Nona Ciok, silahkan kau masuk sendiri!"

Ujar Ceng bo.

Membayangkan bahwa dalam beberapa kejab lagi la bakal berjumpa dengan pemuda tambatan jiwanya, tanpa terasa hatinya berdeburan keras.

Mendorong pintu didapatinya dalam pondok itu remang2 penerangannya, karena disitu hanya terdapat sebuah pelita dengan sumbunya sebesar biji kedele.

Sesosok tubuh membujur diatas pembaringan.

Air mata kegirangan dan kesedihan, ber-ketes2 membasahi kedua belah pipinya.

Dengan ber-indap2 ia mendekati pembaringan itri.

Disitu dihapusnya air matanya, kemudian setelah tertegun beberapa jurus, barulah mulutnya kedengaran memanggll dengan berbisik.

"Engkoh Go...., engkoh Go.....!"

Tapi baru dua kali ia memanggil, pecahlah tangisnya tersedu sedan ............

---oodwkz-0tah-oo---Telah diterangkan dimuka bahwa sepasang kaki The Go telah dipapas kutung oleh Ceng Bo siangjin.

Syukur Kang Siang Yan keburu datang menolongi dan memberi obat penghenti darah.

Ceng Bo pun berpendapat bahwa dengan sudah menjadi invalid begitu, The Go tentu akan sudah insyaf, maka diapun malah memberikan obat juga.

The Go dibawa kesebuah pondok.

Ketika tersadar, dia tak berkata apa2.

Hanya dalam hatinya ter-bayang2 akan tingkah laku Ceng Bo siangjin dan orang2 Thian Te Hui terhadap dirinya.

Betapapun jahatnya seseorang, tapi dalam nuraninya dia tentu masih mempunyai setitik hati yang baik.

Demikianlah The Go yang pada saat itu mendapat penerangan bathin, menyesal atas perbuatan2nya yang lalu.

Dalam keadaan limbung antara sadar tak sadar karena lukanya itu, hatinya selalu mengacai (bercermin muka) kehidupan yang dituntutnya selama ini.

Matanya meram tapi hatinya melek.

Ketika ada suara berisik orang ber-cakap2 diluar, dia kira kalau orang2 Thian Te Hui.

Sebagai orang yang masih mempunyai rasa malu, dia lalu pura2 tidur tak mau menemui mereka.

Bahkan ketika ada orang berseru "engkoh Go", dia tetap tak percaya pendengarannya.

Dia serasa mengalami "impian ditengah hari" (sesuatu yang mustahil).

Namun dia paksakan diri untuk menggeliat, demi tampak Ciok Siao-lan berdiri dihadapannya, dia tetap belum percaya.

Dia meramkan pelapuk matanya dan mengenangkan kejadian pada 2 tahun berselang.

Ditempat itu (Lo-hu-san) jugalah Ciok Siao-lan telah mengusapkan keringat dimukanya (The Go), tapi dia malah menjadi gusar dan melukainya.

Dia merasa, dalam kehidupannya itu, banyak nian menyakiti hati dan mencelakai orang.

Tapi yang paling hebat sendiri, yalah menyakiti hati dua orang gadis.

Yang satu Bek Lian dan yang lain Ciok Siao-lan.

Melihat wajah Cian-bin Long-kun pucat lesi bagai kertas, hati Siao-lan serasa disayat dengan sembilu.

Seketika pecahlah tangisnya mengiring air mata.

Lari menubruk kemuka, berserulah ia.

"Engkoh Go, kau bagaimana? Aku ini Siao-lan, Siao-lan yang selalu setia menyintai kau!"

Kini barulah The Go tahu bahwa dirinya masih sadar dan bahwa yang dilihatnya itu benar Siao-lan. Dirangsang oleh rasa kemenyesalan, air matanya berhamburan keluar.

"Engkoh Go, bagaimanapun juga Po-sat masih melindungi. Kalau aku tak mengunjungi gereja Kong Hau Si dan berjumpa dengan Tio Jiang dan Liau Yan-chiu, tentu aku tak tahu kau berada disini. Kini syukurlah aku telah dapat menjumpaimu, aku .............. takkan meninggalkan kau lagi. Engkoh Go, ayuh kita cari tempat yang sunyi untuk beristirahat dengan tenang,"

Sebentar menangis sebentar tertawa Siao-lan membawakan kata2-nya.

The Go mencekal erat2 tangan nona itu tanpa mengucap sepatah katapun.

Tak berapa lama haripun sudah terang tanah.

Dengan selimut Siao-lan menggendong The Go keluar dari pondok itu.

Ketika berpapasan dengan Ceng Bo, The Go tundukkan kepala tak berani memandangnya.

Ceng Bo nasehati Siao-lan jangan buru2 membawa pergi The Go, karena lukanya masih belum sembuh betul.

Tapi Siao-lan tak kena dicegah.

GAMBAR 98 Siao-lan membungkus The Go dengan sehelai selimut, lalu memondongnya meninggalkan Ceng Bo Siangjin dan kawan2 nya di Lo-hu-san...........

Begitulah singkatnya saja, besok tengah malam, mereka sudah tiba digereja Kong Hau Si.

"Kita menghaturkan terima kasih dahulu kepada Po-sat, setelah itu kita tinggalkan dunia ramai ini untuk mencari ketenangan hidup!"

Kata Siao-lan. Dia berteriak minta pintu, tapi belum ia melangkah keruang Tay-hiong-po-tian, tiba2 muncullah sesosok tubuh yang bukan lain adalah Tio Jiang.

"Hai, kiranya kau, Ciok Ji-soh telah lama menunggumu!"

Ujar Tio Jiang.

Dengan girang sekali Siao-lan minta Tio Jiang membawanya kepada kakak iparnya itu.

Tiba dikamar mereka, disana sudah kelihatan Kiau To, Ciok Ji-soh dan Yan-chiu tengah berpikir keras.

Kiranya tempat penyimpan harta karun itu masih belum dapat diketemukan.

Dalam pada itu, nyawa Yan-chiu hanya tinggal sehari dua malam saja.

Sebagai seorang wanita yang beradat lurus, Ciok Ji-soh tuturkan semua kejadian pada Siao-lan, termasuk diri Yanchiu.

Tiba2 berkatalah The Go.

"Aku yang rendah hendak menghaturkan suatu pendapat, entah saudara2 disini suka mendengarkan tidak."

Walaupun tahu kalau tadi Siao-lan membawa masuk The Go, tapi selama itu Kiau To dan Tio Jiang tak menghiraukannya.

Mendengar orang yang dicap sebagai penghianat itu hendak menyatakan sesuatu, diam2 Kiau To dan Tio Jiang memakinya.

Tapi kata2 makian itu ditelannya kembali karena teringat bahwa si Cian-bin Long-kun itu seorang pemuda yang cerdik cendekia.

Dalam hal kecerdasan, jarang terdapat ta.ndingannya didunia persilatan.

Bahwa hanya karena salah asuhan sajalah, maka orang muda itu telah tersesat menjadi seorang penghianat.

Rasanya tiada ada jeleknya untuk mendengarkan buah pikiran orang muda itu.

Begitulah tanpa berjanji sebelumnya, Kiau To dan Tio Jiang saling menukar isyarat mata, masing2 setuju untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan orang itu.

Kiau To yang perangainya kaku, tak mau bicara apa2.

Tapi Tio Jiang yang jujur, segera membuka mulut.

"Entah Cian-bin Long-kun mempunyai buah pikiran apa?"

"Huh, apa2an dia!"

Yan-chiu ber-sungut2. The Go tak mau menghiraukan, setelah mengatur napas, berkatalah dia.

"Kurasa tempat harta karun itu, sangat pelik sekali. Yang disuruh menyembunyikan harta itu oleh Thio Hian-tiong, tentulah orang2 kepercayaannya. Bahwa orang persilatan sampai dapat mendengar soal harta karun itu, tentulah siasat anak buah Thio Hian-tiong itu sendiri untuk membuang bekas. Entah bagaimana pendapat saudara2 tentang penilaianku itu!"

Kiau To berempat seperti disadarkan.

"Wahai, mengapa kita tak dapat memikir sampai disitu? Hal itu sesungguhnya amat sederhana sekali!"

Seru mereka. Didalam hati mereka mengagumi kecerdasan The Go. Setelah mengambil napas, The Go melanjutkan pula kata2nya.

"tapi Thio Hian-tiong bukannya tak mengetahui bahwa betapapun rahasianya tempat harta itu, namun pasti bakal diketahui orang. Tapi dia sudah memperhitugkan, dikala orang2 sama mencari kim-jiang-giok-toh ........ Hai, bukantah, saudara2 mengatakan bahwa Hwat Siau dan Swat Moay berada didalam gereja ini? Kata2ku tadi tentu dapat dicuri dengarnya!"

Oleh karena pada saat itu Kiau To dan Tio Jiang sudah menaruh kepercayaan pada The Go, maka mereka berdua segera memburu keluar untuk memeriksanya.

Benar juga, tampak ada dua sosok bayangan hitam lari kearah utara.

Ditilik dari arah berangkatnya, mereka tentu habis berada disitu.

"Mereka benar mendengari diluar. Tapi kini mereka sudah lari jauh, The-heng tak usah kuatir apa2 lagi!"

Kata Kiau To dengan geramnya. Bahwa mulut seorang berangasan macam Kiau To meluncurkan kata2

"The-heng" (saudara The), telah membuat semangat The Go timbul lagi. Setelah merenung sejenak, tangannya menuding kearah luar jendela dan mulutnya segera berkata .

"Tapi akupun hanya men-duga2 saja. Kata orang 'yang kosong itu berisi, yang isi itu kosong'. Harta karun disembunyikan didalam perut arca. Hanya karena sangat dirahasiakan sekali, jadi orang tak dapat menemukannya dan lalu mengambil kesimpulan harta karun itu sebenarnya tak ada. Dan anggapan itu, dapat menyelamatkan harta karun itu!"

Diantara keempat orang itu, Ciok Ji-sohlah yang paling lamban ( tumpul ) otaknya.

Diam2 ia memaki pada anak muda itu yang dikatakan jual petai kosong (membual atau omong kosong) saja.

Sebaliknya Yan-chiu cukup cerdas untuk menangkap maksud si Cian-bin Long-kun.

Melongok keluar jendela didapatinya suami isteri Hwat Siau -Swat Moay itu baru saja loncat kearah wuwungan rumah disebelah muka untuk lari pergi.

Berputar kedalam ruangan, memujilah Yan-chiu.

"Cian-bin Long-kun, aku tunduk padamu!"

"Kali ini mereka benar2 pergi. Dengan Ilmunya mengentengi tubuh, bukan mustahil kalau mereka dapat pergi datang secepat kilat!"

Kata The Go.

Kini barulah Ciok Ji-soh tahu mengapa The Go ber-kata2 begitu tadi.

Kiranya memang sengaja diperdengarkan kepada Hwat Siau -Swat Moay yang mendekam diluar jendela.

Juga Kiau To dan Tio Jiang merasa kagum atas kecerdikan The Go.

Dalam soal kecerdasan, mereka berdua mengaku kalah jauh dengan Cian-bin Long-kun.

Kini mereka mencurahkan perhatian untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan The Go lebih lanjut.

Dengan membawa lukanya Itu, sebenarnya semangat The Go lemah sekali.

Digendong Siao-lan menempuh perjalanan yang sedemikian jauhnya itu, luka2 dipahanya kambuh lagi dan mengucurkan darah pula.

Tapi demi dilihatnya orang2 yang dahulu membencinya tujuh turunan kini mengunjuk sikap mengindahkan kepadanya, hatinya menjadi besar.

Bukan karena gila hormat, tapi karena insyaf bagaimana bedanya semangat perjoangan ber-api2 yang diunjuk oleh Tio Jiang dan kawan2 dalam membela negara dan bangsa, dengan kelakuannya (The Go) yang selama itu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri serta mencelakai saudara2 sebangsa.

"Tegasnya, kalau hanya men-cari2 pada semua arca digereja itu, tentu akan sia2. Walaupun bangunan gereja Kong Hau Si ini sedemikian besarnya, tapi rasanya dapat juga diselidiki sampai habis!"

Habis berkata itu napas The Go tampak ter-sengal2 kepayahan. Buru2 Siao-lan menasehatinya supaya jangan berbanyak bicara dulu. Tapi The Go tak menghiraukan, ujarnya.

"Sudah beberapa hari kalian berada digereja ini, masakan dikompleks (lingkungan) gereja ini tiada terdapat tempat yang agak mencurigakan?"

Mendengar itu Yan-chiu seperti disadarkan.

Teringat ia sumur kecil yang membentur kakinya itu, seperti memancarkan cahaya yang aneh.

Tapi di-pikir2 rasanya mustahil harta karun itu berada didalam sumur yang sedemikian ke-cilnya.

la menarik lengan Tio Jiang untuk diajak keluar.

Ciok ji-soh dan Kiau Topun ber-turut2 meninggalkan kamar itu.

Jadi yang berada disitu hanyalah Ciok Siaolan dan The Go berduaan.

Dapat menyumbangkan pikiran untuk membantu, The Go serasa terhibur hatinya.

"Siao-lan, apa kau tak mau bantu mereka mencarinya?"

Tanyanya kepada Siao-lan.

"Tidak, aku tak mempedulikan segala apa kecuali hendak mendampingimu!"

Sahut sinona hitam manis, The Go menghela napas, ujarnya ter-iba2.

"Siao-lan, aku selalu menyakiti hatimu.."

Buru2 Siao-lan dekap mulut The Go, serunya dengan mesra.

"Engkoh Go, aku tak pernah sesalkan kau. Bagaimanapun kau memperlakukan diriku, aku tetap setia cinta padamu!"

Habis berkata, Siao-lan menangis.

Sesal The Go tak kunjung habis.

Dahulu ketika dia masih utuh cakap, dia tak menghiraukan nona itu.

Sebaliknya biarpun kini dia sudah menjadi aeorang invalid, nona itu tetap setia.

"Siao-lan, dalam kehidupan sekarang ini, aku telah men-sia2-kan kau. Mudah2an dalam penitisan besok, kita dapat bersatu se-lama2nya,"

Katanya sembari menghela napas.

"Mengapa? Apakah karena nona Bek?"

Tanya Siao-lan.

"Ah, nona Bek konon kabarnya sudah mencukur rambut menjadi rahib (nikoh) sudah tentu ia tak mau campur dengan keduniawian lagi. Pun aku juga yang mencelakainya. Kini kedua kakiku sudah buntung, menjadi seorang Invalid"

"Sudahlah! Sekalipun kau meninggal, aku tetap menyintaimu!"

Terharu The Go mendengar pra-setya dari nona itu.

Digenggamnya tangan nona itu erat2 tanpa mengucap sepatah katapun, hanya dua pasang mata saling berpandangan, merangkai seribu kata bahasa asmara.

Adalah pada saat mereka diayun dalam buaian kebahagiaan, tiba2 dari mulut jendela terdengar suara ketawa.

Menyusul dengan bunyi "brak"

Dari daun jendela terpentang, muncullah seorang hweshio.

"Cian-bin Long-kun seharusnya mengganti nama dengan Hong-liu Long-kun (pemuda akhli merayu) barulah tepat. Ho....., suatu adegan yang romantis benar2 ini!"

Seru hweshio itu.

The Go terperanjat mendengar nada suara itu.

Ketika mendongak kemuka, benarlah apa yang diduganya itu.

Hweshio gadungan itu ternyata Swat Moay adanya.

Diam2 The Go mengeluh dalam hati.

Swat Moay seorang yang ganas, dalam keadaan seperti sekarang dia bukan tandingannya.

Siao-lanpun Idem, tak nanti dapat menandingi wanita lihay itu.

Namun sebagai seorang yang cerdik, dia berusaha untuk mengekang kegelisahannya.

Dengan memain senyum, berkatalah dia.

"Ah....., cianpwe menggoda saja!"

Sebaliknya Siao-lan yang belum kenal siapa hweshio itu segera menanyakan kepada The Go.

Mencuri suatu kesempatan, The Go memberi isyarat dengan kerlingan mata agar Siao-lan lekas keluar memanggil Kiau To dan Tio Jiang.

Tapi sayang Siao-lan tak mengerti dan malah bertanya lagi.

"Dia hendak apa kemari ini?"

Swat Moay sebal mendengar itu, lalu loncat masuk. Dalam kegugupannya The Go paksakan tertawa dan menyahut kepada Siao-lan.

"Cianpwe ini adalah seorang pendekar dari Tiang-pek-san yang menjadi orang kepercayaan Sip-ceng-ong dari kerajaan Ceng. Orang menggelarinya sebagai Swat Moay!"

Dengan keterangan itu, The Go percaya, sekalipun Siao-lan itu sangatlah bodohnya namun dengan mengetahui adanya seorang jagoan Ceng yang menjadi musuh Thian Te Hui, ia tentu sadar dan tentu akan lekas2 lari keluar untuk memanggil bantuan.

Tapi kode The Go itu tetap macet lagi.

Walaupun tahu bahwa kehadirannya seorang kepala jagoan Ceng itu tentu merugikan The Go dan dirinya sendiri, namun Siao Lan tak memikir untuk memanggil Kiau To dan kawan2.

Bahkan ia malah mencekal senjatanya hi-jat untuk di-goyang2-kan hingga thiat-hoan (gelang besi) yang tersalut pada ujung hi-jat itu berkerontangan bunyinya.

Dan begitu tampak Swat Moay menghampiri dekat, ia segera membentaknya.

"Karena kau orangnya pemerintah Ceng, sanalah jangan dekat2 pada engkoh Go!"

The Go mengeluh gelisah. Sebaliknya Swat Moay perdengarkan suara ketawa iblis.

"Harap cianpwe jangan mencelakai dia, silahkan tanya padaku saja. Siao-lan, lekas cari Kisu To dan engsomu sana!"

Kata The Go.

Oleh karena otak Siao-lan begitu buntu, maka dia terpaksa menyatakan maksudnya itu dengan terang2an.

Sebenarn ya bukan tak tahu Siao-lan bahwa keadaan saat Itu amat berbahaya sekali.

Tapi dipengaruhi oleh rasa kasihnya kepada The Go, ia tak tegah biarkan pemuda itu seorang diri menghadapi musuri.

Jadi sebaliknya dari pergi, ia malah berseru.

"Jangan takut, engkoh Go! Biar kugebah hweshio ini!"

Siao-lan tak mengetahui kalau hweshio itu sebenarnya seorang wanita.

la tetap mengira kalau hweshio itu seorang hweshio tulen.

Begitu gerakkan hijat, dengan jurus hun-cui-hwat-boh (pecah air menda yung ombak), ia tusuk perut orang.

Hi-jat atau senjata garu ikan itu, panjangnya hampir 2 meter.

Sedang ruangan situ amatlah sempitnya.

Tapi dengan dapat memainkan senjata itu sedemikian rupa, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Siao-lan telah mempunyai latihan yang mahir dalam permainan senjata itu.

Tapi sayang lawannya adalah Swat Moay, yang jauh berlipat ganda dari ia.

Belum hi-jat menusuk kemuka, tangan Swat Moay sudah dijulurkan menerkam.

Ciok Siao-lan mengisar kesamping lalu menusuk ulu hati.

Tapi lagi2 hal Itu sudah diperhitungkan Swat Moay.

Ini bukan dikarenakan ia mahir akan permainan hi-jat Lam-hay-cak-jat, tapi oleh sebab gerak permainan ilmu sllat itu pokoknya hampir serupa.

Setelah gagal menyerang perut, hi-jat tentu akan ditusukkan kedada.

Ini adalah dalil.

Dan menunggulah tangan kanan Swat Moay didadanya.

Begitu hi-jat menusuk, cukup dengan dua buah jarinya, ia sudah dapat menyepitnya erat2.

Bahwa hi-jatnya serasa menusuk kaget, kemudian seperti ditarik keras, telah membuat Siao-lan terperanjat sekali.

Ketika diawasinya, ternyata ujung senjatanya telah dijepit jari lawan.

Hendak ia menariknya kuat2, tapi sedikitpun ternyata tak dapat bergerak.

"Capung membentur tiang batu!"

Tertawa Swat Moay dengan sinis.

Begitu ketiga jarinya dikatupkan melingkar, ujung hi-jat yang besarnya sama dengan jempol tangan itu, segera melengkung bengkok.

Kini baru Siao-lan tahu lihay hingga mulutnya menganga.

Maka cukup dengan menyentak sedikit saja, hi-jat Itu sudah pindah ketangan Swat Moay, siapa lalu sodokkan tangkai hi-jat kemuka.

Seketika terkulailah Siao-lan rubuh ketanah karena jalan darahnya kian-ceng-hiat tertusuk.

The Go tersentak kaget.

Dengan tahankan sakit, dia paksakan diri untuk mengangkat tubuhnya.

Dilihatnya Siao-lan sudah tak berkutik lagi ditanah.

Dengan menghela napas panjang, dia terlentang lagi dipembaringan.

Swat Moay masih sengaja hendak unjuk kegarangan.

Sekali ia banting hijat itu kelantai, maka menyusuplah ujung senjata itu sampai setengah meter dalamnya.

"Cian-bin Long-kun, apakah selama ini kau baik2 saja?"

Tanyanya.

Satu2nya jalan bagi The Go yalah mengulur waktu, mudah2an Kiau To dan kawan2 segera kembali.

Oleh karena tak dapat mencari lain alasan, maka disingkapnyalah selimut yang menutup kakinya itu.

Melihat kedua kaki pemuda itu sudah buntung, berserulah Swat Moay.

"Ah, siasat orang Thian Te Hui itu, keliwat ganas!"

"Siasat cianpwe, juga tak kurang ganas dari itu. Sucouku menyatakan. 'rekening itu harua dibayar oleh cianpwe berdua'!"

Sahut The Go tak kalah sinisnya.

"Apakah Ang Hwat cinjin juga datang kemari?"

Tanya Swat Moay dengan kejutnya. The Go ganda tertawa tak mau menyahut. Tapi Swat Moay seorang cerdas. Dalam lain kejab saja, ia sudah dapat menduga bahwa kata The Go itu hanya gertakan saja.

"Cian-bin Long-kun, kalau kali ini kau mau bekerja sama dengan kami, tanggung takkan mengalami kerugian lagi! Jika berhasil mendapatkan harta karun itu, cukup dengan 1% saja bagianmu, kau pasti akan dapat menikmati penghidupan yang senang sampai akhir hidupmu!"

Swat Moay salah rabah siapakah Cian-bin Long-kun yang baru itu. Dengan ucapan itu, terbangkitlah penyesalan The Go. Dia menyorot perjalanan hidupnya yang lalu, Adalah karena "temaha akan keuntungan"

Itu, sehingga kini namanya ternoda dan badannya cacad.

Telah menjadi tekadnya, dengan sisa hidupnya sebagai orang cacad itu hendak dia menebus kedosaannya.

Dan tadi diapun sudah memulaikannya dengan membantu pikiran pada Kiau To dan Tio Jiang.

Seketika merah padamlah selebar muka Cian-bin Longkun.

Tiba2 dia menghantam papan pembaringan dan berseru.

"Kata2-mu itu salah. The Go yang sekarang ini, bukanlah The Go yang dahulu. Sekalipun seluruh harta karun itu diberikan padaku, tak nanti aku sudi galang gulung dengan kamu lagi!"

Swat Moay tersentak kaget, tapi ia segera tertawa mengejek, serunya.

"Bagus, seorang Cian-bin Long-kun yang patriot dan luhur. Siapakah yang membawa tentara Ceng masuk ke Kwiciu? Siapakah yang menjadi perencana hancur leburnya ke 72 markas Hoa-san itu ? Apakah kau kira mereka mau mengampuni kau sungguh? Apakah mereka tidak menggunakan kau sebagai alat sementara, lalu kelak menghukummu lagi!!"

Kening The Go mengucurkan keringat sebesar butir kedele.

Diam2 terbit pertentangan dalam batinnya.

Memang kedosaannya itu sukar mendapat keampunan.

Kalau dia bekerja sama dengan pemerintah Ceng lagi, mungkin din akan mendapat kenikmatan hidup.

Tapi terkilas pula dalam pikirannya, bahwa orang2 macam Ceng Bo siangjin dan kawan2 itu, adalah orang2 gagah yang jujur perwira.

Bagi mereka merah tetap merah, putih tetap putih.

Dalam beberapa jam saja berkumpul dengan mereka, dia mendapat kesan akan kejujuran dan keluhuran budi mereka.

Terang mereka takkan seperti yang dituduhkan Swat Moay tadi, yakni kelak akan menghukumnya lagi.

Malah bukti menyatakan kalau bercampur gaul dengan orang2 macam Hwat Siau dan Swat Moay itu, besar bahayanya.

Diam2 dia mengutuk wanita ganas yang berlidah racun itu, sehingga hampir saja menggoyahkan pikirannya menjurus kejalan yang celaka.

"Kalau mengharapkan The Go masuk dalam perserekatan kawanan tikus lagi, mungkin seperti menantikan halilintar berbunyi ditengah hari!"

Ujarnya dengan tegas. Wajah Swat Moay berobah, sembari menyambar hijat. dia mengancam.

"Baik, kau boleh puaskan hatimu memain lidah. Tapi akupun tak mau membiarkan kau menjadi penasehat dari Thian Te Hui. Biar kucabut nyawamu dululah!"

"Kalau mau bunuh lekaslah bunuh, jangan buang tempo mengomong yang tak berguna!"

Sahut The Go dengan tak gentar.

Sebaliknya Swat Moay menjadi terkesiap.

Seorang pemuda yang kemaruk pangkat dan harta, kini dalam beberapa hari saja sudah berobah menjadi seorang jantan yang perwira.

Tapi tiba2 ia mendapat siasat bagus.

"Kau jatuh giliran yang kedua, lebih dahulu anak perempuan inilah!"

Aerunya. Berputar kebelakang ia aegera angkat hi-jat menusuk dada Siao-lan.

"Tahan!"

Se-konyong2 The Go berseru kaget.

"Bagaimana, apa sudah berobah haluan?"

Tanya Swat Way.

Dalam beberapa kejab itu, pikiran The Go, sudah berobah.

Dahulu dia men-sia2kan nona itu sedemikian rupa, sebaliknya kini ternyata nona Itu tetap setia.

Untuk kesetiaan itu, dia berjanji pada diri sendiri hendak membalas budi.

Sudah tentu dia tak tegah biarkan nona itu binasa.

Namun untuk menolong sinona, berarti dia harus meluluskan permintaan Swat Moay, suatu hal yang bertentangan dengan prinsip hidupnya yang baru.

Ber-ketes2 butir keringat mengucur dari dahinya, karena, sang pikiran pepat memecahkan kesukaran itu.

Tampak Swat Moay mengangkat hijat, kini ujung senjata itu terpisah satu meter dari dada Siao-lan.

"Cian-bin Long-kun, pikirlah masak2. Akan kuhitung satu sampai 10, dan ujung hi-jat ini akan menurun sampai setengah meter!"

Serunya.

Menurut perhitungan waktu, menghitung 1 sampai 10 itu hanya memakan waktu, 10-an detik saja.

Belum lagi The Go mendengar jelas apa yang dikatakan Swat Moay itu, atau wanita ganas itu sudah mulal menghitung dan tahu2 sudah sampai hitungan yang ke 10.

Tanpa pedulikan suatu apa lagi, ujung hi-jat itu meluncur turun dengan pesatnya.

Dalam kejutnya The Go menjerit, tapi ternyata lwekang Swat Moay sudah mencapai tingkat kesempurnaan, dapat menguasai gerak tenaga menurut sekehendak hatinya.

Walaupun turunnya hi-jat itu sedemikian pesat, tapi tepat pada setengah meter kebawah, senjata itu dapat berhenti.

Melirik kepada The Go, kembali mulut wanita itu mulai menghitung dari 1 lagi.

Saking menahan kesesakan napas, dada The Go serasa panas.

Napasnya memburu keras dan matanya ber-kunang2.

Dia paksakan untuk mengangkat kepalanya yang berat itu.

GAMBAR 99 Waktu The Go menoleh, tahu2 dilihatnya senjata garu itu sudah dekat di dada Ciok Siok-lan Mengawasi kemuka.

Samar2 tampak olehnya, ujung hijat itu sudah menurun setengah meter.

Dan sebelum dia sadar, didengarnya Swat Moay sudah menghitung sampai bilangan ke 6.

Dan pada saat itu, The Go sudah pingsan tak Ingat orang lagi.

Tapi karena Swat Moay membelakangi The Go, jadi ia tak tahu akan keadaan anak muda itu.

Malah ia sudah mereka (merencanakan) rencana, kalau nona itu tak dibunuhnya, The Go pasti akan mengira kalau ia (Swat Moay) hanya main gertak saja.

Jadi untuk menundukkan kekerasan hati anak muda itu, jiwa nona itu harus dikorbankan.

Dan seperti bunyi mitraliyur, mulutnya berhamburan menghitung 7, 8, 9.

Begitu mengucap 10, ujung hi-jatpun meluncur turun "Omitohut, siancay....., siancay.......!"

Se-konyong2 pada saat2 yang genting meruncing itu, terdengar suara seorang hweshio mengucapkan tegur keagamaan.

Nada seruan itu luar biasa sekali kedengarannya.

Seluruh ruangan situ se-olah2 dicangkum oleh gema suara atau kalau dalam kiasan bahasa daerah (Jawa) orang mengatakan "turut ngusuk" (menyalur diantara tiang bandar dan penglari atap).

Begitu ulem (kumandang) namun begitu ramah wajar bagai melukiskan suatu suasana kehampaan yang agung.

Sampaipun seorang tokoh macam Swat Moay mau tak mau menjadi tersentak kaget juga.

Dan ujung hi-jat yang hanya terpisah satu dim dari dada Siao-lan itu tertahan oleh getaran suara tadi, hingga tak dapat langsung mengenai badan.

Dalam tersadarnya, secepat kilat Swat Moay berpaling kearah pintu.

Hai, kiranya diambang pintu tampak ada seorang hweshio tinggi besar, berwajah merah berseri seperti bayi.

Hweshio tua itu mengenakan jubah warna putih dan mencekal sebatang sik-sian-ciang (tongkat pertapaan terbuat dari timah), sedang mengawasi kearahnya.

Berdebar hati Swat Moay menampak hweshio yang berwajah sedemikian ramahnya itu.

Cahaya wajah yang bebas dari segala dendam permusuhan terhadap siapapun juga.

Api kemarahan yang bagaimana hebatnyapun rasanya seperti sirna daya ditatap oleh cahaya muka yang seagung itu.

Sekalipun begitu jelas tampak oleh Swat Moay bagaimana sikap hweshio itu sedemikian tenang laksana laut, kokoh laksana gunung.

Sebagai seorang tokoh persilatan tahulah sudah Swat Moay bahwa kini ia berhadapan dengan seorang achli lwekang dan gwakang (tenaga luar) yang istimewa.

Adalah pada saat ia terpesona itu, si hweshio sudah ayunkan langkahnya pe-lahan2 menuju ketempat pembaringan The Go.

Sewaktu lewat disisi Siao-lan, dia pun mengerlingkan pandangannya sebentar, menengok nona itu.

"Siancay...., siancay.....! Mengapa sicu (anda) menahan kesakitan begitu rupa?"

Bisiknya dengan halus.

Dan cukup dengan menyentuhkan ujung tongkatnya kebahu Siao-lan dengan pelahan, terbukalah sudah jalan darah sinona yang tertutuk tadi.

Tapi tetap sinona tak berani bergerak, karena ujung hi-jat ditangan Swat Moay itu masih tetap berada satu dim diatas dadanya.

Rupanya hal itu diketahui juga oleh sihweshio.

"Harap sicu hematkan tangan, agar nona ini dapat berbangkit,"

Katanya kepada Swat Moay.

Kata2 itu bukan merupakan suatu perintah, karena nadanya begitu ramah halus.

Tapi seperti terkena daya penarik kuat, tanpa merasa Swat Moay mengangkat pula hi-jat keatas.

Barulah ketika didapatinya Siao-lan loncat bangun, Swat Moay menjadi tersadar dari kehilangan peribadinya tadi.

Ya, mengapa ia begitu serta merta mendengar kata2 si hweshio?

Bukantah tadi ia sudah menetapkan rencana bagus?

Mengapa hanya dengan sepatah dua kata2 hweshio itu saja, ia sudah kehilangan faham?

Begitu kesadarannya pulih, la segera berseru keras terus menyerang hweshio pengacau itu.

Swat Moay cukup insyaf bahwa hweshio itu tak boleh dibuat main2.

Maka sebelum orang berjaga, ia sudah mendahului dengan sebuah serangan mendadak yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga, bahkan sekaligus ia salurkan juga lwekang im-cui.

Sedemikian dingin hawa lwekang Itu menabur, hingga Siao-lan menggigil bergemetaran.

Saat itu The Gopun sudah tersadar.

Begitu didapatinya Siao-lan berada disisinya, dia lekas menggenggam tangan sinona.

GAMBAR 100 Begitu tersadar dari kesimanya, dengan sengit Swat Moay terus ayunkan garu ikannya untuk menyerang Tay Yang Siansu.

Sebaliknya hweshio itu enak2 saja tampaknya.

Dia masih diam saja ketika ud yung hi-jat yang mengeluarkan hawa sedingin es itu hampir mengenal tubuhnya.

Hanya tampak tangannya bergerak sedikit untuk melintangkan tongkat pertapaannya.

Trang......

bergerontanganlah bunyi hijat dan tongkat timah berbenturan.

Untuk kekagetan Swat Moay, didapatinya lwekang im-cui itu menjadi sirna daya, lenyap bagai sebentuk jarum jatuh didalam samudera.

Hendak la menarik pulang senjatanya, tapi tak mampu.

(Oo-dwkz-0-tah-oO) BAGIAN 55 BERPANTANG AJAL Baru kini Swat Moay terperanjat bukan buatan.

Takut kalau lawan keburu menyalurkan lwekang balasan yang terang tak dapat ia tahan, buru2 ia lepaskan cekalannya ....

trang........

, jatuhlah hi-jat Itu berkerontangan ketanah.

Sedang iapun sudah loncat mundur beberapa tindak.

"Sicu, lepaskan golok pembantai (jagal), kembalilah kejalan yang terang. Dengan mengenakan jubah pertapaan itu, masakan kau tak mengerti akan ajaran gereja!"

Kedengaran hweshio itu berkata. Belum lagi Swat Moay menyahut, The Go sudah terbuka hatinya. Serentak dia seperti mendapat penerangan batin, serunya bertanya.

"Yang tak mengenakan pakaian pertapaan, apakah dapat menerima penerangan dari mahkota gereja ?"

"Pintu kerajaan gereja itu selalu terbuka lebar!"

Sahut si hweshio dengan tersenyum.

The Go yang berotak cerdas segera dapat menangkap kata2 si hweshio itu.

Dia ter-mangu2 diam merenung.

Sebaliknya Swat Moay yang loncat mundur tadi, tetap penasaran, serunya.

"Hweshio, adakah kau ini Tay Siang siansu dari Liok-yong-si ?"

"Benar2 itulah gelaran lo-ceng!"

Sahut si hweshio tua.

Swat Moay seperti terpagut ular, serempak ia loncat keluar dari jendela.

Nama Tay Siang siansu sejajar dengan nama Ang Hwat cinjin dan Kang Siang Yan.

Tapi ilmu kepandaiannya ternyata sukar dijajaki lwekang im-cui yang dimiliki itu, sekalipun air panas yang tengah mendidih begitu terbentur tentu akan segera berobah menjadi air es.

Namun dengan mudahnya, lwekang im-cui tadi telah dihapus sirna daya oleh si hweshio.

Ilmu lwekang yang dipunyai si hweshio itu, benar2 telah mencapai tingkat kesempurnaan total.

Demikianlah sembari lari melintasi beberapa ruangan, ia masih merenungkan kejadian tadi.

Tiba2 tampak sesosok bayangan hitam menghadang sembari berseru.

"Niocu, hasilkah?"

"Sudahlah, jangan tanya hal itu. Tay Siang siansu tiba kemari!"

Sahut Swat Moay kepada orang itu yang bukan lain adalah suaminya, si Hwat Siau adanya. Juga Hwat Siau tak kurang terperanjatnya.

"Habis bagaimana baiknya?!"

Tanyanya. Swat Moay merenung sampai sekian jenak, baru kedengaran ia berkata.

"Tak perlu kuatir, kita masih mempunyai sehelai kartu terakhir. Budak perempuan she Liau itu, masakan mau mandah mati begitu saja!"

Begitulah sepasang suami isteri itu lalu merundingkan siasat lebih lanjut.

---oo0dwkz^tah0oo---Dan kita, kembali tengok keadaan ruangan tadi.

Setetelah Swat Moay ngacir pergi, Tay Siang siansu menghampiri pembaringan dan meng-elus2 kepala The Go.

Seketika The Go rasakan dirinya nyaman sekali.

"Mohon taysu mencukur rambutku!"

Tiba2 The Go berseru.

"Jodohmu belum sampai, mengapa hendak menjadi orang pertapaan ?"

Sahut Tay Siang Siansu dengan tertawa.

"ingatlah hati nurani itu adalah Hud, dan Hud tentu akan bersemayam didalam hati sanubari. Itu sudah cukup."

The Go mengangguk. Tiba2 pintu terpentang dan masuklah seseorang seraya berseru.

"Suhu!". Kemudian terus berlutut memberi hormat. Dia adalah Kiau To. Dibelakang mengikuti dua orang wanita, Ciok ji-soh dan Yan-chiu, Melihat Kiau To, tertawalah Tay Siang siansu, ujarnya.

"Ilmu silat bertambah maju, kecerdasan sebaliknya mundur!"

"Mohon suhu sudi menerangkan kesesatan murid itu,"

Kata Kiau To sembari menundukkan kepala.

"Apa yang dirasa baik, lakukanlah. Tiada kesesatan mengapa harus dibenarkan ?"

Sahut Tay Siang sembari kebutkan lengan bajunya.

Tanpa dikehendaki, Kiau To tersentak bangun.

Sedang Yan-chiu ketika menampak Tay Siang siansu, begitu kegirangan sekali hingga sampai mengucurkan air mata.

"Lo-hweshio!"

Serunya dengan ter-iba2.

Tenang2 saja Tay Siang siansu mengangkat kepala mengawasi Yan-chiu sembari menyungging senyuman.

Tapi begitu menatap dirl Yan-chiu, seri wajahnya segera berobah menjadi keren (ber-sungguh2), sehingga sekalian orang yang berada disitu sama tersentak kaget.

"Lo-hweshio, bagaimana?"

Tanya Yan-chiu. Tay Siang tak menyahut hanya ulurkan tangannya. Dengan 3 buah jari dia memeriksa polo (pergelangan) tangan Yan-chiu.

"Siancay.......! Nona kecil ini akan menuju kealam baka!"

Katanya kemudian.

"Suhu, bukantah karena menerima surat dari merpati pos itu, suhu lalu datang kemari?"

Buru2 Kiau To berseru dengan kaget.

"adalah karena jiwanya terancam maut, maka aku mohon suhu menaburkan kemurahan hati untuk menolongnya !"

Tay Siang siansu hanya mendehem didalam tenggorokan, lalu menatap Yan-chiu dan berseru.

"Aneh...., aneh...., sungguh aneh !"

Adalah Ciok ji-soh yang berwatak berangasan, karena tak mengerti apa yang diucapkan siansu itu, segera berseru.

"Lo-hweshio, apakah kau mempunyai daya untuk menolongnya? Lekaslah memberi pertolongan !"

Tay Siang menggeleng, sahutnya.

"Jalan darah ki-hiat (istimewa) diluar pembuluhnya telah ditutuk lwekang oleh orang. Kepandaian lo-ceng terbatas, hanya tahu sampai disitu saja. Untuk menolongnya, dikuatirkan akan membikin kapiran !"

Ucapan itu membuat sekalian orang serasa diguyur air dingin.

Tadi Kiau To tengah melanjutkan usaha mencari tempat harta.

karun itu disekeliling gereja Kong Hau Si situ.

Sedang Yan-chiu dan Tio Jiang tengah memeriksa mulut sumur yang memancarkan sinar aneh itu.

Mendengar para hweshio mengatakan bahwa Tay Siang siansu datang, mereka ber-gegas2 menemuinya.

Mereka menyongsong dengan penuh harapan.

Dikiranya begitu Tay Siang siansu datang, Yan-chiu tentu akan tertolong.

Tapi nyatanya, apa yang disumbarkan oleh Swat Moay itu benar adanya.

Tay Siang siansu pun tak berdaya menolongnya !

Tay Siang siansu adalah paderi agung yang tinggi martabatnya, sudah tentu dia tak mau berbohong.

Mendengar keterangannya tadi, serentak Yan-chiu terus lari keluar.

Tio Jiang buru2 memburunya, tapi nona itu sudah lenyap tak ketahuan kemana.

Dengan gelisah Tio Jiang kembali kedalam ruangan dan segera jatuhkan diri berlutut dihadapan Tay Siang.

"Biar bagaimana kumohon siansu sudi menolong jiwa Siao Chiu itu!"

Serunya ter-iba2 dengan suara tak lampias. Tay Siang menggeleng, ujarnya.

"Harap siaoko bangun. Banyak nian urusan didunia ini yang tak dapat dicegah usaha manusia, mengapa harus disedihkan?"

Kembali hati Tio Jiang seperti diguyur es.

"Siansu, apakah benar2 tiada daya lagi ?"

Tanyanya. Belum Tay Siang menyahut, Kiau To tiba2 sudah membuka mulut.

"Suhu, tadi berulang kali suhu menyatakan aneh, apakah artinya itu?"

"Bukantah nona itu pernah memakan mustika yang bermanfaat sekali terhadap badannya?"

Tanya Tay Siang. Mendengar itu timbul lagi harapan Tio Jiang, serunya .

"Ia memang pernah memakan mustika batu peninggalan dari Tat Mo Cuncia."

"Ai......., makanya wajah nona itu memancarkan sinar kehijau2-an, jauh berbeda dengan kebanyakan orang."

"Adakah hal itu akan menolongnya?"

Tanya Tio Jiang pula.

Sampai sekian jurus Tay Siang tak menyahut.

Suasana diruangan situ menjadi sedemikian heningnya, sehingga seumpama ada sebatang jarum jatuh kelantai, tentu akan kedengaran juga.

Hati sekalian orang ber-debar2.

Akhirnya berkatalah Tay Siang.

"Sukar...., sukar....! Harus dilihat apakah ia sanggup menderita siksaan itu tidak ? Kini belum waktunya mengatakan, nanti saja apabila sudah saatnya baru kuterangkan !"

Oleh karena masih ada setitik sinar harapan, Tio Jiang serta merta haturkan terima kasih kepada Tay Siang.

"Siaoko, sedemikian murah kasih Hud, harus kau menjaga dirimu baik2 jangan gelisah!"

Ujar Tay Siang.

Tio Jiang tak mengerti apa yang dimaksudkan ucapan siansu itu.

Yang dipikirkan yalah keselamatan Yan-chiu.

Kegelisahan apapun juga, dia tak takut asal sumoaynya selamat.

Sehabis mengucap kata2 yang sukar ditebak itu, Tay Siang lalu menuju kesudut ruangan untuk duduk bersemadhi.

Ciok Siao-lan menceritakan apa yang telah terjadi diruangan tadi, dan kini makin teballah kepercayaan sekalian orang kepada The Go.

Ketika Tio Jiang mengemukakan mulut perigi kecil itu, The Go yang penuh dengan pengalaman segera berkata .

"Mulut perigi itu disebut Tat Mo Keng (perigi Tat Mo). Ketika Tat Mo cuncia dari India datang kemari, gereja Kong Hau Si ini masih bernama Hwat Seng Si. Maka menunjuklah Tat Mo ketanah seraya berkata. 'Didalam tanah ini terdapat emas.' Ber-duyun2lah rakyat menggali tanah itu. Sampai sekira 10-an tombak dalamnya, penggalian sampai dibatu padas dan airpun keluar, tapi emas tetap tak terdapat. Rakyat menuduh Tat Mo membual, namun berkatalah guru besar itu. 'Tak dapat diketemukan dengan penggalian biasa!'. Sejak itu perigi disebut perigi Tat Mo. Mulutnya meskipun kecil, tapi dasarnya makin dalam dan lebar, dapat dibuat menyimpan harta karun !"

"Hai, kalau begitu ayuh kita pergi kesana!"

Seru Kiau To kegirangan.

"Baiklah cari dulu Yan-chiu untuk diajak pergi bersama2,"

Kata Tio Jiang yang disetujui juga oleh Kiau To.

Begitulah keduanya segera tinggalkan ruangan itu.

Kemana gerangan perginya Yan-chiu?

Kiranya dengan hati patah sigenit itu lari keluar melalui dua buah tikungan, lalu berhenti diujung tembok, menangis tersedu sedan.

Ia kuras air matanya, menangis dan menangis saja.

Tiba2 terasa bahunya ditepuk orang.

la kira kalau itu tentulah sukonya yang hendak menghibur.

"Suko, Tay Siang siansupun tak berdaya lagi. Adakah dengan begini saja kita akan berpisah se-lama2nya?"

Orang yang menepuk itu tertawa, serunya.

"Nona kecil, kalau tak mau berpisah, itulah mudah! Apakah kau sudah mengetahui tempat simpanan harta karun Itu?"

Yan-chiu seperti tersengat kala.

Ketika secepatnya ia berpaling kebelakang ternyata yang menepuk bahunya itu adalah Swat Moay.

Sedang disebelah belakangnya lagi, terdapat Hwat Siau.

Buru2 Yan-chiu geliatkan bahu untuk tnenghindari Langan wanita !tu.

"Jangan pedulikan aku!"

Serunya.

"Siao Chiu, orang macam Tay Siang siansupun tak berdaya! Kau tak menghendaki tenagaku? Apakah kau benar2 hendak tinggalkan dunia yang indah ini, rela menjadi setan gentayangan?"

Swat Moay tertawa iblis. Yan-chiu teramat gusarnya. Dengan se-kuat2nya ia menghantam, tapi Swat Moay menyongsongnya menangkap tangan Yan-chiu, serunya.

"Siao Chiu, ini adalah kesempatan yang terakhir. Coba kau hitung, berapa lama lagikah kau dapat bernapas?"

Yan-chiu tak berdaya. Memang dalam hati kecilnya ia tak kepingin mati. Tapi biar bagaimana tak sudi ia menyerah pada Swat Moay.

"Usah kau pedulikan tentang jiwaku lagi, akan kutanggung sendiri!"

Sahutnya dengan tawar. Swat Moay tak marah, ujarnya.

"Baiklah! Kalau kau ingat pesanku, asal kau sulut tumpukan kayu bakar itu, aku tentu segera datang!"

Tanpa tunggu jawaban orang, wanita itu segera melenyapkan diri.

Seketika timbullah sesal Yan-chiu.

Benar2 ia ingin mengejar wanita itu untuk memberitahukan tentang sumur kecil itu.

Tapi baru saja kakinya melangkah setindak, terkilas pada pikirannya.

"Tidak, tidak! Mati biarlah mati, apa peduli!"

Sang mulut berkeras, namun hatinya mengeluh.

"Ah, lebih baik suruh Swat Moay membuka jalan darah, biar bagaimana, asal aku dapat hidup bahagia didamping suko."

Kembali sang kaki melangkah, tapi lagi2 berhenti. Sampai sekian saat ia tertegun, tak dapat mengambil keputusan. Akhirnya keperwiraan hati telah menang.

"Ah, biarlah! Suhu mengatakan kalau aku sudah tak berayah-bunda. Kalau tiada ditolong suhu, tentu aku sudah dibinasakan orang jahat. Kalau memang sudah suratan takdir tahun ini aku harus mati, mengapa aku harus mohon belas kasihan? Daripada mati sia2, lebih baik kuturun kedalam sumur untuk menyelidikinya. Sekalipun aku tak dapat berenang, tapi aku dapat menutup jalan hawa!"

Setelah membulatkan tekad, ia lalu menuju kesumur Tat Mo.

Setiba disitu tanpa banyak pikir lagi, ia terus terjun kebawah, blung..........

Bagi orang yang tak dapat berenang, begitu terjun ke air, tentu akan gelagapan.

Juga Yan-chiupun demikian.

la terus silam sampai satu tombak lebih dalam, baru teringat untuk menutup lubang hawa.

Sekali mengerahkan semangat, tubuhnya segera melayang naik.

Kecuali gelap remang2 dari cahaya air, ia tak melihat sesuatu apa lagi.

Ia mulai hembuskan napas dan tubuhnyapun tenggelam lagi kebawah.

Tak berselang berapa jurus, kakinya telah menginjak dasar perigi.

la pentang matanya sembari meng-geliat2kan kaki tangan.

Tapi selain air, tiada tampak apa2 lagi.

Dalam keputusan asa, tubuhnya serasa hendak mengapung keatas lagi.

Buru2 ia gunakan ilmu cian-kin-tui, untuk menjaga keseimbangan tubuh, lalu berjaIan kemuka.

Ilmu cian-kin-tui (tindihan seribu kati) yang digunakan itu, se-kurang2nya mempunyai kekuatan beberapa ratus kati beratnya.

Tadi pertama kali menginjak dasar perigi, rasanya dasar itu lunak karena terdiri dari lempung dan lumpur.

Tapi waktu dia gunakan ilmu membikin berat badan itu, kakinya melesak masuk lagi dan menginjak dasaran yang keras datar.

Buru2 ia membungkuk untuk merabahnya.

Ai....., kiranya dasar itu terbuat daripada papan batu.

Girangnya Yan-chiu bukan kepalang.

Dengan kedua tangan, ia menyingkap lumpur yang membenam dasar itu.

Air menjadi keruh dengan hamburan lumpur, tapi ia tak ambil peduli.

Tangannya merabah-rabah terus dan untuk kegirangannya akhirnya ia telah dapat merabah dua buah rantai besi!

"Kalau dibawah papan besi ini terdapat simpanan harta karun, sekalipun nyawa menjadi korban, rasanya masih berharga juga.

Demikian ia merenung dan dengan mengundang seluruh kekuatannya, ia menarik rantai besi itu, dan ..........

terangkatlah papan batu itu keatas.

Tapi berbareng dengan itu, Yan-chiupun hampir terhuyung jatuh.

Lumpur makin mengeruhkan air disekitarnya.

Setelah papan batu terangkat, tampaklah suatu cahaya mengilau memancar dari dasar air.

Saking girangnya, lupalah Yan-chiu kalau ia berada didalam air.

Menjeritlah ia karena dimabuk kegirangan itu dan masuklah seteguk air lumpur kedalam mulutnya.

Buru2 ia menutup mulut, tapi berbareng itu, tangannya serasa ditarik keatas oleh riak air.

Sekalipun ia coba kerahkan cian-kin-tui, namun tetap sempoyongan.

Dan berbareng itu hidung seperti tertampar keras, kepala pening mata berkunang.

Hendak ia menutup hidung, tapi sudah tak keburu, kelutuk, kelutuk, kembali mulutnya terminum beberapa teguk air lumpur.

Sedang riak-putaran airpun terasa makin kuat.

Perut Yan-chiu sudah kembung minum air lumpur, dan keadaannyapun sudah limbung, kakinya tak dapat berdiri kokoh lagi.

Bluk........, ia membentur dinding perigi dan rubuhlah ia tak sadarkan diri Diceritakan, sewaktu Tio Jiang memburu mencari Yan-chiu tadi, sigenit itu sudah loncat masuk kedalam perigi, jadi sudah tentu Tio Jiang tak dapat menemukannya.

Kembali kedalam kamar, dia berkata kepada Kiau To.

"Ayuh, kita pergi saja, tak usah tunggu ia lagi!"

Begitulah Kiau To beserta Ciok ji-soh dan Tio Jiang menuju kesumur Tat-mo-keng.

Belum lagi mendekati tempat itu, dari kejauhan sudah tampak ada dua sosok bayangan sedang membungkukkan badan memandang kedalam perigi itu.

Mereka bukan lain adalah Hwat Sisu dan Swat Way.

Kiranya setelah pergi tadi, Swat Moay bersembunyi disuatu tempat untuk menunggu apa yang hendak dilakukan Yan-chiu.

Dilihatnya nona itu lari menuju ke sumur dan loncat masuk kedalamnya.

Timbullah kecurigaan Swat Moay, jangan2 nona itu telah mengambil putusan pendek untuk bunuh diri.

Celaka, serunya seorang diri.

Kartu atau pion satu2nya yang diharapkan telah gagal lag!.

Terang tempat harta karun itu makin jauh dari harapannya.

Dengan berputus asa, mereka berdua sudah mengambil putusan untuk kembali keutara saja melapor pada Sip-ceng-ong.

Tapi baru kakinya hendak diayun, tiba2 Yan-chiu berhasil membuka papan batu, hingga permukaan sumur itu memancarkan cahaya yang gilang kemilau.

Kegirangan kedua suami isteri itu sukar dilukiskan.

"Niocu, benda itu berada disini!"

Seru Hwat Siau.

"Benar, kiranya budak perempuan mengetahui tapi ia berkeras kepala lebih suka mati daripada menyerah pada kita. Ho, tak mudahlah!"

Sahut isterinya.

Seketika Hwat Siau lantas hendak turun kedalam perigi, tapi dicegah isterinya yang mengatakan lebih baik tunggu kalau Yan-chiu sudah naik keatas lagi.

Adalah karena keayalan itu, datanglah Tio Jiang dan Kiau To.

Kalau musuh lama saling berjumpa, bagaikan banteng yang merah matanya.

Kiau To lari mendahului dan belum orangnya tiba, jwan-piannya yang terbuat dari otot kerbau itu sudah melayang menyapu.

Bahwa Tay Siang siansu tak ikut serta, telah membuat Hwat Siau berbesar hati.

Dia cukup yakin tentu dapat membereskan ketiga lawannya itu.

Sekali merabah pinggang, pek-kim-tiu-tay atau sabuk sutera emas putih, sudah berada ditangannya.

Ketika tangannya menyongsong kemuka, selendang yang panjangnya hampir 10 meter itu tanpa bersuara apa2 sudah menjulur kemuka.

Kiau To bernapsu sekali untuk mengalahkan lawan.

Apalagi karena hari sudah menjelang gelap, jadi dia tak dapat melihat jelas akan adanya selendang emas putih itu lagi.

Dia menerjang maju, kira2 5 meter jauhnya dari Hwat Siau, barulah kepala jagoan Ceng itu menyentakkan selendangnya keatas.

Selendang itu penuh disaluri dengan lwekang, sehingga merupakan seekor ular hidup.

Tempo bertanding dengan Ceng Bo di Lo-hu-san beberapa hari yang lalu, dia telah berhasil melibat imam gagah itu hingga tak berdaya.

Tertampar oleh kibasan selendang itu, seketika itu rubuhlah Kiau To.

Hanya karena dia cukup kuat kepandaiannya, begitu rubuh buru2 dia sodokkan pian ketanah untuk menahan tubuh.

Mengandal ruyungnya itu sebagai tongkat, dia berjumpalitan.

Ketika berdiri jejak, dia menundukkan kepala untuk mengawasi, hai....kiranya selembar selendang.

Bluk....., saking gusarnya dia menghantam ketanah hingga tanah itu sampai berlubang.

Tapi Hwat Siau siang2 sudah menyentakkan selendangnya keatas lagi.

Hanya deru anginnya yang gemuruh mendesing-desing, namun dari arah mana benda itu me-nyambar2 sukar diduganya.

Kejut Kiau To bukan kepalang.

Dia buru2 mundur.

Tapi Hwat Siau meluncur maju memburunya.

Tangannya bergerak dan me-legut2lah selendang itu bagaikan ratusan ekor ular berbisa hendak memagut Kiau To.

Sebenarnya Kiau To cukup tahu akan kelihayan musuh dan diapun sudah berlaku sangat hati2 sekali.

Namun menghadapi senjata musuh yang sedemikian luar biasanya itu, bingung juga dia dibuatnya.

Satu2-nya jalan, terpaksa dia putar jwan-pian begitu rupa, sehingga merupakan lingkaran sinar yang tak dapat ditembus oleh hujan, guna melindungi diri.

Dan ternyata siasat itu berhasil.

Untuk beberapa saat, memang Hwat Siau tak berdaya untuk menggempurnya.

Sedang disebelah sana.

Ciok ji-soh dan Tio Jiang sudah bertempur melawan Swat Moay.

Boan-thian-kok-hay, mengarungi langit melintasi laut, salah satu jurus dari to-hay-kiam-hwat telah dilancarkan Tio Jiang, namun Swat Moay tetap tegak tak mau menyingkir.

Tahu-'2 dia gerakkan lengannya melintang, dan tangan itu sudah mencekal senjata.

Trang......, ketika kedua senjata itu berbenturan, Tio Jiang segera rasakan ada suatu tenaga dingin menyalur kearahnya.

Buru2 dia gunakan jurus ceng-wi-tian-hay untuk diteruskan menusuk tenggorokan orang.

GAMBAR 101 Disebelah sini Kiau To terus tempur dengan Hwat Siau dengan serunya, disisi sana Tio Jiang dan Ciok ji-soh pun ikut mengeroyok Swat Moay.

Adalah tepat pada saat itu, Ciok ji-sohpun sudah tiba dan serangkan kim-kong-lun pada Swat Moay, menuju bawah dan atas.

Tapi gerakan Swat Moay itu luar biasa gesitnya.

Dengan menggeliat kesamping ia sudah dapat menghindari serangan Ciok ji-soh dan Tio Jiang.

Bahkan berbareng dengan itu, ia sudah dapat mengirim sebuah serangan balasan kepada Ciok ji-soh.

Ciok ji-soh terkesiap kaget.

Bukan saja karena menampak kegesitan lawan pun juga dengan senjatanya yang luar biasa anehnya itu.

Bentuknya macam sebuah lingkaran besar berwarna hitam.

Tapi anehnya senjata itu ada kalanya tampak berbentuk pesegi, tapi ada kalanya berbentuk bulat.

Entah senjata apa itu namanya, hanya yang jelas, senjata itu tak mengeluarkan sedikit suara apapun.

Tahu2 kalau melayang dekat, lantas menerbitkan putaran tenaga yang hebat.

Baru Ciok ji-soh hendak mengangkat kim-kong-lnn menangkisnya, atau ia sudah tersentak kemuka dan gentayangan rubuh.

Dalam gugupnya, bttrtt2.....

ia kerahkan tenaga untuk menarik kim-kong-lun kebelakang sembari ayunkan tuhuhnya untuk menahan tenaga sedotan Swat Way.

Tapi Swat Moay hanya mengekeh tertawa, tahu2 ia berkisar menyerang Tio Jiang.

Kini barulah Ciok ji-soh dapat melihat jelas bahwa senjata yang dimainkan oleh Swat Moay itu tak lain tak bukan hanyalah sebuah mantel angin.

Mantel dipakai untuk menahan serangan angin, tapi ditangan Swat Moay, benda itu telah berobah menjadi suatu senjata yang hebat, hingga hampir2 Ciok ji-soh celaka dibuatnya.

Diam2 Ciok ji-soh mengagumi kepandaian lawan yang memiliki ilwekang sedemikian tingginya.

Tapi dalam pada itu, ia terkejut sekali demi mendapatkan bahwa tenaga sedotan Swat Moay yang sedemikian kuatnya tadi, dalam sekejab mata saja sudah hilang musna.

"Gila!"

Diam2 Ciok ji-soh mengeluh.

Tadi sewaktu disedot, Ciok ji-soh menarik kebelakang kim-kong-lun untuk melindungi jalan2 darah berbahaya pada tubuhnya.

Dan dalam pada waktu itu, ia kerahkan tenaganya untuk menyentakkan tubuhnya menahan sedotan lawan.

Bahwasanya tenaga sedotan Itu dapat lenyap dengan seketika, menandakan sampai dimana penguasaan Swat Moay akan ilmu lwekangnya.

Jelas diketahui, betapa jauh terpaut kepandaiannya (Ciok ji-soh) dibanding dengan lawan.

Bukan saja Swat Moay dapat menyerang dengan lwekang yang maha dahsyat, pun dapat menariknya pulang sembarang waktu.

Karena dilepaskan, Ciok ji-soh yang tak keburu menguasai tenaganya itu telah terjerembab jatuh kebelakang, bum....., bagian belakang batok kepalanya terbentur pagar persegi.

Dengan menjerit keras, ia loncat bangun lagi.

Ketika tangan merabah kebelakang batok kepalanya, ternyata bagian kepala itu beloboran darah.

Perangai Ciok ji-soh sangatlah kerasnya.

Bahkan melebihi kerasnya dari orang lelaki kebanyakan.

Tapi bahwa kali itu ia jatuh knock-out sampai beloboran darah kepalanya, telah membuat matanya ber-kunang2 kepalanya pusing tujuh keliling.

Buru2 ia loncat kesamping, lalu ngelumpruk duduk ditanah, tak dapat berdiri lagi.

Tapi sebagai seorang jago betina yang tak mau kalah dengan orang lelaki, ia tetap keraskan hati.

"Siao-ko-ji, aku knock-out. Kau seorang diri saja layani wanita iblis itu!"

Serunya kepada Tio Jiang.

Rupanya is paksakan diri untuk berseru, ini ternyata dari napasnya tampak memburu ter-sengal2 habis mengeluarkan kata2 itu.

Terpaksa Tio Jiang bermain single dengan Swat Moay.

Memang pada waktu akhir2-ini kepandaian Tio Jiang makin bertambah maju dengan pesatnya.

Tapi berhadapan dengan Swat Moay, tetap dia tak berdaya.

Apalagi menghadapi senjata luar biasa dari lawan itu, Tio Jiang hanya dapat bertahan saja.

Satu2-nya keuntungan Tio Jiang yalah dia menggunakan pedang pusaka yang dapat menabas kutung segala macam logam.

Memang Tio Jiang hendak menarik keuntungan dari senjatanya itu.

Begitu senjata musuh melayang layang, dia barengi untuk menabasnya, tapi selincah burung, mantel Swat Moay itu terbang keatas.

Begitulah dalam 3 jurus, pedang Tio Jiang telah kena dirangkum dalam libatan lingkaran angin mantel.

Tio Jiang sempat memperhatikan juga akan Ciok ji-soh yang ternyata masih mendeprok ditanah belum dapat bangun itu.

Sudah tentu hal itu membuatnya bingung.

Dan kebingungan inilah yang menyebabkan gerakannya agak lambat.

Sedikit lubang itu saja telah dapat diketahui oleh Swat Moay.

Mengalihkan kakinya kesamping, wanita itu kebutkan mantelnya keatas dan ujung baju mantel itu tepat hendak menampar jalan darah Tio Jiang., Syukur Tio Jiang cukup tangguh dengan serangan itu.

Dengan gunakan permainan pedang to-hay-kiam-hwat sembari dicampur dengan gerak tubuh hong-cu-may-ciu (sigila menjual arak), tubuhnya ber-geliat2 menghindar.

Benar dia berada dibawah angin, namun dalam 10 jurus saja rasanya tak nanti Swat Moay dapat merebut kemenangan.

---oo0dwkz^tah0oo---BAGIAN 56 .

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG Kembali pada partai Kiau To lawan Hwat Siau, rupanya jalannya pertandingan makin berat sebelah.

Kiau To hanya dapat membungkus dirinya dengan lingkaran sinar jwan-pian sembari loncat kesana menghindar kemari.

Benar2 dia hanya dapat bertahan tak mampu balas menyerang lagi.

Selendang sutera Hwat Siau makin bergelora hidup, dan makin gencar serangannya.

Selendang itu se-olah2 membungkus lingkaran sinar jwan-pian.

Kedua seteru itu sama mainkan senjata yang bersifat lemas.

Jwan-pian atau ruyung lemas Kiau To itu ada kira2 tiga meter panjangnya.

Sewaktu diputar, dapat menjadi sebuah lingkaran yang membungkus dirinya.

Tapi oleh karena selendang si Hwat Siau lebih panjang lagi, jadi dapatlah dibuat melingkungi lingkaran jwan-pian itu.

Pemandangan yang disuguhkan dari kedua permainan itu, memang sangat menarik sekali.

Tenaga himpitan yang dibawa oleh gelombang selendang Hwat Siau itu makin lama makin terasa hebat.

Malah tidak cukup disitu saja kehebatan itu.

Sambaran selendang yang mengeluarkan bunyi men-deru2 itu, disertai pula dengan hawa panas yang merangsang tubuh Kiau To.

Diserang secara begitu luar biasa, betul2 telah membuat Kiau To mati kutu didalam terperanjatnya.

Melirik kesebelah sana didapatinya Tio Jiangpun pontang-panting tak keruan keadaannya.

Sedang Ciok ji-soh mendumprah ditanah tak dapat berdaya suatu apa.

"Ciok ji-soh, apakah kau terluka berat?"

Tiba2 dia tergerak pikirannya untuk menegur wanita keras hati itu.

Dalam sepeminum teh lamanya itu, setelah beristirahat dan menyalurkan hawa dalam, Ciok ji-soh merasa agak baikan.

Maka serunya menyahut.

"Tak jadi halangan apa2!"

"Mengapa tak memanggil bantuan?"

Seru Kiau To.

Seruan itu telah menyadarkan Ciok ji-soh.

Bukantah tokoh silat gereja yang sukar dicari tandingannya, Tay Siang siansu, itu berada disini?

Ai, mengapa ia setolol Itu tak mau mengundangnya kemari, tapi berkeras mau melawan sendiri musuh yang terang bukan lawannya itu?

Plak, ia menampar mukanya sendiri selaku menghukum diri atas ketololannya itu.

Serentak loncat bangun, ia terus hendak lari, tapi bluk....., tahu2 ia terjatuh lagi.

Mengapa?

Kiranya Hwat Siau dan Swat Moay cukup tahu apa artinya kalau Ciok ji-soh berhasil mengundang Tay Siang siansu kesitu.

Sudah tentu mereka tak mau membiarkan nyonya gagah itu untuk masuk kedalam gereja.

Begitu nyonya itu mengayun tubuh, Hwat Siau segera sentakkan selendang yang dengan cepatnya segera melegat-legut menyerang.

Karena Ciok ji-soh tak bersiaga, maka ia dipaksa mencium tanah lagi.

Tapi wanita yang keras kepala itu, dengan cepatnya merangkak bangun lagi, lalu memberosot lari kemuka.

Hwat Siau menggerung.

Selendangnya berobah menjadi sebuah lingkaran yang meluncur keatas kepala Ciok ji-soh.

Kiau To mengeluh kaget.

Ketika Ceng Bo bertanding dengan kepala, jagoan Ceng itu, diapun menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kehebatannya selendang itu.

Dia insyaf, sekali Ciok ji-soh sampai kena terlibat selendang itu, jiwa nyonya itu tentu terancam dan dia sendiripun pasti tak mampu menolonginya.

Bagi seorang ksatrya macam Kiau To, menolong kawan adalah suatu kewajiban mulia sekalipun andai kata jiwanya sendiri sampai berkorban untuk itu.

Loncat keatas, dia balingkan jwan-pian untuk menghantam selendang.

Hantamannya itu dilancarkan dengan seluruh tenaganya.

Oleh karena Hwat Siau tak mengira kalau Kiau To berani berbuat senekad itu, maka selendangnyapun kena kehantam dengan tepatnya.

Ujung selendang yang selingkar tadi, telah terpental keatas dan Ciok ji-sohpun dapat menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap 3 tombak jauhnya.

Diganggu secara begitu, Hwat Siau timpahkan kemarahannya kepada Kiau To.

Lingkaran ujung selendangnya tadi kini berbalik melibat jwan-pian Wau To.

Dan sekali menyentak, berserulah Hwat Siau dengan bengianya.

"Lepas!"

Watak Kiau Topun keras seperti baja.

Dia bertekad tak mau lepaskan jwan-piannya.

Bahkan senjata itu dicekalnya erat2.

Tapi sesaat itu dia rasakan tangannya sakit bukan alang kepalang.

Kulit telapak tangannya sampai terbeset, namun dia berkeras hendak mempertahankan.

Tapi bagaimanapun juga, tokh akhirnya jwan-pian itu kena terkait oleh tarikan selendang Hwat Siau.

Kesemuanya itu hanya berlangsung dalam waktu beberapa kejab saja.

Dengan tertawa menghina, Hwat Siau alihkan selendangnya mengejar Ciok ji-soh lagi.

Ciok jisoh berputar kebelakang untuk menangkis dengan sepasang kim-kong-lunnya.

Tapi tangkisannya itu bukan saja menghantam angin, bahkan sebaliknya malah kena terlibat lingkaran selendang.

Hendak ia mencoba melepaskan diri, namun sia2 jua.

Adalah pada saat yang genting meruncing itu, se-konyong2 dari atas tembok sana terdengar orang berseru dengan menggeledek.

"Keparat, macam berkelahi apa itu? Hai, mana si kui-ah-thau (budak perempuan nakal) ?"

Dalam suasana sehening malam itu, auara seruan itu se-olah2 memecah bumi kedengarannya.

Memang diluar dugaan Hwat Siau dan Swat Moay bahwa pertempuran itu akan berjalan sampai sekian lama.

Perhitungannya, dalam dua tiga gebrak saja mereka tentu dapat membereskan Kiau To bertiga.

Dan ini memang harus begitu, karena mereka harus lekas2 masuk kedalam perigi agar jangan sampai kedahuluan orang.

Dua puluh jurus lebih telah berlangsung, tapi berkat perlawanan yang nekad dari ketiga orang itu, Hwat Sisu dan Swat Moay terpaksa menggigit jari.

Seruan yang mengguntur tadi, telah membuat Hwat Siau terperanjat.

Namun sebagal jago kawakan, dia tak menjadi gugup dengan gangguan itu.

Selanjutnya tetap dilingkarkan kearah kim-kong-lun.

Dengan gunakan tenaga lemas dia menarik dan itu saja sudah cukup menyeret Ciok ji-soh sampai setombak jauhnya.

Setelah itu barulah dia mendongak keatas.

Sesosok tubuh macam sebuah menara tampak berdiri diatas wuwungan rumah.

Tinggi orang itu tak kurang dari 2 meter lebih dan perawakannya begitu gagah perkasanya.

Pada lain saat, tampak ada dua sosok bayangan lagi, tiba disamping orang tinggi besar tadi.

Hanya cara kedua orang itu naik keatas wuwungan, adalah aneh juga.

Kedua sosok bayangan hitam itu naik dengan menggunakan tangan, kemudian baru tegak berdiri.

Astagafirullah!

..........

Begitu berdiri kedua sosok tubuh itu kira2 hampir 3 meter tingginya.

Orang pertama yang boleh dikatakan sudah jangkung tadi, begitu berjajar dengan kedua bayangan hitam itu telah berobah menjadi semacam anak kecil saja.

Betapa kejutnya Hwat Siau dapat dibayangkan.

"Niocu, dari 36 jalan!"

Tiba2 dia menyerukan isterinya.

Seruan itu rupanya sebuah tanda rahasia yang lengkapnya adalah begini.

'dari 36 jalan, lari adalah yang paling selamat'.

Jadi maksudnya dia hendak mengajak sang isteri kabur saja.

Tapi baru saja ucapannya itu diserukan, atau dari kejauhan sudah tampak mendatangi ber-puluh2 batang obor.

Kiranya sewaktu mendengar seruan mengguntur dari sijangkung tadi, para hweshio gereja situ sama terperanjat.

Dengan membawa obor, mereka ber-bondong2 menghampiri keluar.

Dalam sekejab saja suasana disitu menjadi terang benderang laksana siang hari.

Dari cahaya obor, dapat Swat Moay melihat jelas siapa2 yang berdiri diatas wuwungan itu.

Si jangkung pertama tadi, adalah seorang laki2 yang gagah perawakannya.

Sedangkan kedua sosok tubuh yang hampir 3 meter tingginya itu, kiranya bukan manusia melainkan dua ekor orang-utan!

Juga Kiau To, Tio Jiang dan Ciok ji-soh sudah dapat mengetahui siapa2 yang datang itu.

"Nyo cecu, kiranya kaulah!"

Serempak Kiau To dan Tio Jiang berseru dengan berbareng. Benar, memang sijangkung itu bukan lain adalah Nyo Kong-lim itu toa-cecu (pemimpin pertama) dari ke 72 markas Hoasan.

"Memang akulah!"

Nyo Kong-lim menyeringai tertawa.

Dan bluk....., loncatlah dia turun.

Kedua orang-utan itupun ikut turun.

Taringnya yang menonjol dimulut, menampilkan kebuasan yang mengerikan orang.

Sebagai orang persilatan yang banyak makan asam garam, Hwat Siau dan isterinya cukup menginsyafi sampai dimana kelihayan bangsa binatang begitu itu.

Setelah saling bertukar isyarat mata, mereka berdua loncat keatas rumah.

"Keparat, belum apa2 sudah mau ngacir!"

Seru Nyo Kong-lim nikasar au.

Memang sekalipun memiliki kepandaian yang hebat, kedua suami Isteri itu adalah bangsa manusia licik.

Bukannya berhenti menyambuti tantangan Nyo Kong-lim sebaliknya mereka malah enjot pula kakinya untuk loncat keatas wuwungan rumah yang kedua.

Tapi adalah pada saat itu, dari sebelah luar tembok gereja, loncat masuk beberapa orang.

Dua dari mereka tampak menghunus dua batang pedang yang bergemerlapan cahayanya.

Melihat jalanan dipegat, Hwat Siau dan Swat Moay loncat balik lalu tegak saling membelakangi bahu.

Wut, Nyo Kong-lim mencabut sam-cat-kun (toya yang mempunyai 3 buku), terus loncat keatas.

Kiau To, Tio Jiang dan Ciok ji-soh pun mengikuti dari belakang.

Kedua binatang itupun tak mau ketinggalan, turut melompat keatas.

Sewaktu melihat Tio Jiang agaknya kedua orang utan itu seperti bertemu dengan sahabat lama.

Mereka menyeringai tertawa, tapi sebaliknya Tio Jiang malah ber-jingkrak kaget dibuatnya.

Saat Itu ada ratusan hweshio dengan mencekal obor, menyuluhi wuwungan.

Tampak diantara rombongan orang2 yang datang itu tadi, yang berada disebelah depan dandanannya seperti seorang pertapaan (imam), berwajah agung dan mencekal sebatang pedang pusaka.

Memang dia bukan lain Ceng Bo siangjin adanya.

Yang berada disisinya adalah Kang Siang Yan In Hong.

Sebelah kanan dan kiri di-apit Kui-ing-cu dan Thaysan sin-tho Ih Liok.

Dibelakangnya terdapat Ki Ce-tiong yang menghunus sepasang song-kian, serta Sin-eng Ko Thay.

Kini belasan orang itu sama mengepung Hwat Siau dan Swat Moay.

Setelah yakin bahwa kedua kepala benggolan kaki tangan pemerintah Ceng itu tak dapat lolos, bertanyalah Ceng Bo kepada Kiau To.

"Kiau-heng, bagaimana Yan-chiu? Dan lain2 saudara?"

Kiau To sebenarnya masih belum hilang keheranannya mengapa sekalian tokoh2 kawan seperjoangannya itu dapat tiba digereja Kong Hau Si pada saat yang begitu tepat.

Setelah merenung sejenak barulah dia sadar, bahwa kedatangan kawan2 itu adalah hasil dari undangan yang disebarkan dengan merpati posnya.."Ah, terlalu panjang untuk diceritakan.

Lebih baik bereskan dahulu kedua manusia busuk itu!"

Sahutnya dengan girang.

Kulit tangannya yang terbeset karena ditarik Hwat Siau tadi masih berlumuran darah.

Sewaktu dia menuding kepada Hwat Siau dan Swat Moay, tangannya yang merah berdarah itu tampak memberi pemandangan yang mengerikan sekali sewaktu ditimpa cahaya penerangan obor.

Hwat Siau dan isterinya tampak gelisah sekali.

Rombongan Ceng Bo adalah jago2 keras semua.

Apalagi masih ada Tay Siang siansu.

Jadi dapatkah mereka menyelamatkan jiwa kali ini, adalah suatu pertanyaan besar.

Maka betapapun lihaynya kepandaian kedua suami isteri itu, tak urung tercekat juga hatinya.

"Apakah saudara baik2 saja?"

Tanya Ceng Bo kepada sepasang suami isteri itu. Demikian toleransi (kesabaran) siangjin itu, sampaipun kepada musuh besar, dia tetap memberi tegur salam pergerejaan yang ramah.

"Bek-heng mengapa suka membuang waktu saja, labrak sajalah........."

Seru si kasar Nyo Kong-lim sembari kibar2kan sam-ciat-kunnya. Tertumbuk akan hadirnya Kang Siang Yan, berserulah dia sembari menuding.

"Hai, kiranya kaupun berada disini."

Kang Siang Yan tak mau hiraukan si kasar itu. Melangkah maju bersama suaminya, mereka berhadapan dengan Hwat Siau Swat Moay. Melihat itu tertawalah Swat Moay dengan sinisnya.

"Mengapa kamu sekalian perlu turun tangan lagi? Kami berdua suami isteri akan serahkan tangan ditangkap!"

Tahu kalau kedua kepala jagoan itu bukan bangsa yang tak berguna, berserulah sibongkok Ih Liok.

"Mengapa?!"

"Hehehe ! ..."

Swat Moay mengekeh.

"Kami berdua suami isteri tak memiliki 3 kepala 6 tangan, bagaimana dapat melayani kamu sekalian?"

Kini tahulah sekalian orang kemana jatuhnya kata2 Swat Moay itu.

Jadi suami isteri durjana itu kuatir kalau dikeroyok.

Sudah tentu bangkitlah kemarahan orang binyak.

Lebih2 Kang Siang Yan yang terus menyatakan kepada suaminya.

"Ing-ko, cukup kami berdua yang majulah!"

"Ing-ko" (kanda Ing), tanpa terasa mulut si Bongkok mengulangi kata2 yang merdu dari Kang Siang Yan ketika membahasakan Bek Ing atau Ceng Bo siangjin.

"Heh, Kang Siang Yan, betapa merdu ucapan Ing-ko itu. Rasanya sudah 10 tahun lebih saudara Bek Ing rindu dengan ucapan itu!"

Si Bongkok menggoda.

"Huh......., lagi2 mulutmu yang lancip itu cengar-cengir ya!"

Kang Siang Yan menyeringai.

Bahwa setelah 10 tahun berpisah karena salah faham kini kedua suami iateri gagah itu sudah berbaik kembali, telah disambut dengan perasaan girang oleh sekalian orang gagah.

Tapi diantara sekian banyak yang merasa gembira itu, hanya Tio Jiang yang tampak gelisah.

Dia tetap kuatir akan keselamatan Yan-chiu yang tetap tak muncul hingga saat itu.

Dia seperti mendapat firasat kalau sumoaynya itu dalam keadaan berbahaya.

"Suhu, Siao Chiu entah pergi kemana!"

Katanya melapor kepada sang suhu dengan nada merengek. Kemudian dengan ter-bata2 dia menuturkan apa yang telah terjadi dengan sumoaynya Itu.

"Ayuh, lekas cari dianya!"

Seru sekalian orang sebelum Ceng Bo menyatakan apa2. Hwat Siau dan isterinya yang mengetahui beradanya sigenit itu, dengan tertawa getir segera mengejek.

"Ya, carilah! Toh nantinya kamu hanya mendapat sesosok bangkai saja!"

Saking gusarnya Tio Jiang segera menyerang kedua suami isteri jahat itu dengan sebuah jurus hay-lwe-sip-ciu.

Tapi siang2 kedua suami isteri itu sudah angkat tangannya masing2 dan tahu2 pedang Tio Jiang telah terdorong oleh suatu tenaga yang kuat.

Bahkan orangnyapun terhuyung mundur sampai beberapa tindak.

"Setengah jam yang lalu, budak perempuan itu menceburkan diri kedalam sumur. Jadi kalau nanti diketemukan, bukantah bakal merupakan mayat belaka?"

Kembali kedua suami isteri itu mengejek.

Sudah tentu sekalian orang gusar sekali, tapi dalam pada itu tak tahu, mereka sebabnya mengapa Yan-chiu sampat mengambil keputusan yang pendek itu.

Berisik sekalian orang sama memperbincangkan soal itu.

Sebenarnya dengan mengemukakan persoalan Yan-chiu itu, hendak kedua suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay itu mengalihkan perhatian orang.

Dan ketika siasatnya itu berhasil dimana semua orang sama asyik membicarakan sigenit, mereka bersorak didalam hati.

Mencuri kesempatan itu Hwat Siau dan isterinya segera kisarkan kakinya mundur, lalu se-konyong2 memburu kebelakang.

Yang berada dibelakang mereka adalah Tio Jiang dan Kiau To.

Dasarnya Tio Jiang sudah kacau balau pikirannya memikirkan keadaan sang sumoay, maka dia tak bersiaga sama sekali.

Apalagi kedua suami isteri itu telah gunakan seluruh tenaganya untuk menerjang, maka Tio Jiangpun serasa sesak napasnya karena di-himpit oleh dua buah tenaga dahsyat.

Buru2 Tio Jiang angkat pedangnya untuk menangkis, tapi dalam pada itu, Swat Moay dan Hwat Siau sudah dapat membuka sebuah lubang lolos.

Kini tersadarlah semua orang bahwa mereka telah kena dipedayai.

Serempak mereka maju mengejar.

Tapi dalam sekejab itu saja, Hwat Siau dan Swat Moay sudah berada beberapa meter disebelah muka, suatu jarak yang membuat kedua suami isteri kegirangan sekali karena yakin tentu dapat lolos.

Tapi se-konyong2 dari arah belakang terasa ada sambaran angin yang berbau amis.

Dalam kesibukannya, kedua suami isteri itu tak sempat untuk menoleh kebelakang lagi dan hanya gerakkan tangannya menghantam kebelakang.

Blak....., blak...., kiranya tepat sekali hantaman itu mengenai sasarannya, tapi bukan suara menjerit kesakitan yang terdengar melainkan gerungan yang dahsyat.

Dan berbareng dengan itu, sebuah tangan raksasa berkilat dihadapannya.

Ketika mereka mendongak mengawasi, hai kiranya kedua orang utan itu tengah merangsangnya!

Kiranya walaupun sekalian orang itu dapat diselomoti, tapi kedua binatang itu tetap waspada.

Ini disebabkan karena tak mengerti apa yang tengah dikatakan oleh orang2 itu dengan Hwat Siau dan Swat Moay.

Yang diketahui oleh kedua binatang itu, yalah Hwat Siau dan Swat Moay dikepung oleh orang banyak.

Maka begitu kedua suami isteri itu hendak lolos, dengan sigapnya kedua binatang itu maju menghadang.

Seperti diketahui, bangsa orang utan yang tinggal di pegunungan Sip-ban-tay-san itu gemar berloncatan dan berlari2an.

Jadi dalam soal kegesitan, mereka tak dibawah jago silat kelas utama.

Dengan memiliki kulit yang tebal keras, benar2 mereka merupakan makhluk yang lihay.

Dua buah hantaman kedua suami isteri tadi, cukup mereka kuat menahannya.

Adalah karena kelambatan beberapa detik itu saja, cukuplah sudah bagi Kang Siang Yan, Kui-ing-cu dan rombongannya untuk mengejar tiba.

Mereka menyusul turun darl atas wuwungan.

Kembali mereka mengepung kedua suami isteri jagoan Itu.

Nyo Kong-lim menghalau kedua orang utan itu, kemudian menerangkan asal usul mereka.

"Ketika dua hari aku tersesat dalam bi-kiong (istana sesat) gunung Sip-ban-tay-san (sebagaimana halnya dengan Tio Jiang tempo hari), bersua dengan kedua binatang itu yang berada disitu. Pada lain tempat, kujumpai simpanan ransum makanan, entah siapa yang telah menaruhkan disitu. Setelah men-cari2 selama setengah tahun, barulah aku dapat keluar dari tempat itu. Kalau tadi tak ada kedua orang utan itu yang menghadang, tentulah kedua bangsat itu dapat lolos!"

Seenaknya saja sikasar itu bercerita, se-olah2 bukan sedang menghadapi pertempuran, sehingga membuat sekalian orang geli dibuatnya. Adalah tak jauh dari situ, tampak sumur Tat-mo-keng.

"Biarlah aku yang turun memeriksanya!"

Seru Tio Jiang.

Tanpa menunggu idin sang suhu lagi, dia terus loncat turun kedalam sumur.

Air sumur itu sudah hening kembali.

Lapisan lumpur yang ber-golak2 tadi pun sudah tenang menutup dasar sumur lagi.

Ilmu berenang Tio Jiang sangat bagus.

Begitu tiba didalam air, dia segera membuka mata untuk mengawasi kesekeliling situ.

Dalam kepekatan air sumur yang kehitam2an itu, samar2 tampak ada 3 larik cahaya berkilau.

Tio Jiang meluncur kebawah dasar dan tangannyapun menyentuh tubuh Yan-chiu.

Dilihatnya badan nona itu sudah seperti "terbungkus"

Lumpur.

Dengan terharu duka, dibawanya sang sumoay timbul kepermukaan air.

Dari mulut sumur yang hanya tiba dimasuki tubuh seseorang, disorongkannya tubuh Yan-chiu keatas.

Syukur disebelah atas sudah ada orang yang cepat2 menyambuti untuk menarik Yan-chiu kedaratan.

Mulut, telinga dan hidung nona itu terbungkus lumpur semua, entah masih hidupkah dia itu ?

Buru2 diambil air untuk mengguyur mukanya sampai bersih.

Hai, kiranya cahaya muka sigenit itu masih tetap seperti orang hidup.

Tio Jiang menelungkupi tubuh sang sumoay, menangis tersedu sedan.

Kemarahan sekalian orang ditimpahkan kepada Hwat Siau dan Swat Moay.

Benar Yan-chiu itu seorang nona genit yang nakal, tapi ia sangat tangkas lincah dan mempunyai bakat bagus.

Sifatnya yang ramah riang terhadap orang, telah meninggalkan kesan yang mendalam kepada sekalian orang.

Jadi kalau mereka penasaran atas meninggalnya nona itu, itulah sudah pada tempatnya.

---o-dwkz-0-tah-o---"Hong-moay, ayuh kita lebih dahulu membalaskan sakit hati Siao Chiu!"

Seru Ceng Bo kepada Kang Siang Yan sembari aiapltan pedang.

"Baiklah!"

Sahut sang isteri sembari kontan menyerang tenggorokan Swat Moay dengan jurus pah-ong-oh-kang.

Melihat isterinya sudah mendahului, Ceng Bopun segera menyusuli dengan sebuah jurus Tio-ik-cut-hay.

Suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay itu insyaf, bahwa kali ini mereka bakal menghadapi suatu pertempuran hebat.

Jadi mereka sangat ber-hati2 sekali.

Mereka berdiri saling merapat punggung, supaya dapat bahu membahu bertempur Begitu tusukan pedang memburu, Hwat Siau mundur selangkah sembari gontaikan selendang sutera untuk melibat kedua pedang lawan.

Sedang Swat Moaypun dorongkan sepasang tangannya kemuka untuk menghantam kaki Kang Siang Yan dan Ceng Bo.

Selendang sutera anyaman benang emas putih itu, me-lingkar2 bagaikan seekor naga menari.

Tapi pedang Kang Siang Yan dan Ceng Bo itu adalah pedang pusaka songhong-kiam (sepasang burung cenderawasih) yang dapat dibuat membelah segala macam logam.

Karena gugupnya lupalah sejenak Hwat Siau akan hal itu.

Maksudnya dia hendak melibat kedua pedang itu, tapi tak tahunya ujung selendang telah kutung menjadi 3 potong.

Kini selendang itu hanya tinggal 2 tombak panjangnya.

Sedang untuk serangan Swat Moay tadi, Kang Siang Yan dan Ceng Bo ber-sama2 loncat keudara untuk menghindarinya.

Selagi masih diatas, pedang berganti gaya dalam jurus Kut-ji-thou-kang dan Boan-thian-kok-hay.

Dua batang pedang yang memancarkan sinar ke-hijau2an memburu dari 4 jurusan, laksana sebuah jaring pedang yang hendak memperangkap Hwat Siau dan Swat Moay.

Jangankan Hwat Siau dan Swat Moay yang merasakan sendiri, sedang sekalian orang yang melihat saja, sudah sama kabur pandangannya dan ter-longong2 mengawasi pemandangan yang menakjubkan itu.

GAMBAR 102 Sambil merapatkan punggung mereka, Hwat Siau dan Swat Moay keluarkan lwekang mereka yang hebat untuk menempur Ceng Bo dan Kang Siang Yan.

Dengan ditabasnya kutung selendangnya itu, Hwat Siau terdesak dibawah angin.

Dan serta menampak rangsangan jaring pedang yang begitu rapat, dengan gugupnya Hwat Siau segera gentakkan selendangnya menjadi lurus kaku, lalu menyodok kaki Ceng Bo.

Berbareng dengan itu, tangannya kiri menyusuli sebuah hantaman.

Dua buah serangan itu, dia tujukan kearah Ceng Bo siangjin semua.

Ini disebabkan karena dia cukup tahu bahwa siangjin Itu lebih lemah dari isterinya (Kang Siang Yan).

Se-lemah2nya, Ceng Bo juga bukan jago sembarangan.

Sudah tentu dia tak begitu mudah dirubuhkan dengan serangan itu.

Setelah loncat keatas sedikit, mulutnya bersuit keras dan pedangnyapun berganti jurus dengan ceng-wi-tian-hay.

Seperti berulang kali kami lukiskan, ilmu pedang to-hay-kiam-hwat itu, jurus berikutnya lebih hebat dari jurus yang terdahulu.

Ceng-wi-tian-hay merupakan jurus kedua, baik gaya dan perbawanya jauh lebih hebat dari jurus pertama tadi.

Tapi hantaman yang dilancarkan Hwat Siau tadi mengandung tenaga kuat yang panas sekali rasanya, sehingga Ceng Bo serasa terhimpit napasnya.

Buru2 dia kerahkan hawa dalam untuk bertahan.

Telah diterangkan diatas tadi bahwa suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay itu bertempur dengan saling tempelkan punggung masing2.

Kala itu se-konyong2 kaki mereka berkisar dan berobahlah kini posisi mereka.

Hwat Siau menghadapi Kang Siang Yan sedang Swat Moay melayani Ceng Bo.

Kiranya kedua suami isteri jagoan itu, sudah mempunyai latihan bersama yang sempurna sekali.

Begitu berkisar, Swat Moay sudah lantas lancarkan dua buah hantaman.

Belum lagi hawa panas tadi dirasakan hilang oleh Ceng Bo, atau kini ada lagi rangsangan hawa dingin datang.

Begitu cepat dan sebat perobahan itu berlangsung, hingga Ceng Bo yang tak keburu bersiap, seketika menggigil kedinginan.

Begitu pula Hwat Siau yang menghadapi Kang Siang Yan, sudah segera melancarkan serangan lwekang panas, jadi keadaan Kang Siang Yanpun serupa dengan Ceng Bo.

Tapi disebabkan lwekang nyonya gagah itu jauh melebihi sang suami, jadi serangan lwekang panas dingin yang ber-tubi2 dilancarkan itu, dapat juga ditahannya.

Pedangnya tetap memain dengan lincahnya.

Walaupun gerakan Ceng Bo agak lambat karena menghadapi tekanan lwekang yang aneh itu, namun dengan paksakan diri dapat juga dia langsungkan jurus ke 4, 5 dan 6.

Maju merapat dengan Kang Siang Yan, dia selalu membura kearah bagian jalan darah yang berbahaya dari musuh.

Hwat Siau dan isterinya tetap gunakan siasat ber-putar2.

Dan perputaran itu makin lama makin pesat.

Walaupun hanya dengan sepasang tangan kosong, namun pukulau Iwekang yang sebentar memancarkan hawa panas dan sebentar hawa dingin lama kelamaan telah membuat Ceng Bo kepayahan juga.

Karena terlalu lama menahan napas untuk menolak serangan lwekang musuh, hawa dalamnya merangsang naik sehingga mukanya menampilkan cahaya merah membara.

Melihat keadaan sang suami, Kang Siang Yan kaget sekali.

Mengisar kaki mendekati, bertanyalah ia.

"Kau bagaimana?"

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 3

Baca Juga: Badai Awan Angin Pendekar Sejati Liang

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger