Pendekar Pemetik Harpa 10

Eps 10 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

"Anak Cin, kaulah yang harus memaafkan aku, vonismu terlalu ringan untuk menghukum kesalahanku,"

Air mata bercucuran, ingus mengalir pula, tapi wajah Ti Nio dihias secerah senyum bahagia.

"walau dia bukan ayah kandungmu, tapi dialah orang yang paling baik terhadapmu selama ini. Dia lebih kandung, lebih erat dan dekat dari ayahmu sendiri. Yang harus disesalkan adalah aku, sebagai ayah kandungmu, tapi kapan aku pernah memberikan kebaikan kepadamu, kau malah menderita lahir batin..."

Lekas Han Cin mendekap mulut ayahnya, katanya.

"Ayah, jangan kau menyiksa dirimu, peristiwa masa lalu sukar dikatakan kesalahan terletak pada siapa, kini aku sudah berada dalam haribaanmu, buat apa masa lalu dikenang pula? Ayah, kenapa kau bilang tidak pernah memberi kebaikan kepadaku, semalam bukankah kau telah menyelamatkan jiwaku?"

Ti Nio menyeka air mata, katanya.

"Anak Cin, terima kasih bahwa kau sudi memaafkan aku. Memang, marilah kita ayah beranak membuka lembaran baru, mulai hidup dari lembaran permulaan. Kau boleh tidak usah berubah she, kau paham maksudku?"

Han Cin juga menyeka air mata, sahutnya.

"Anak mengerti. Aku adalah putri keluarga Han tapi juga putri keluarga Ti. She apa tidak begitu penting."

"Selama belasan tahun ini, bagaimana kalian ayah beranak hidup? Ah, terlalu banyak yang ingin kuketahui? Cara bagaimana kau bisa meyakinkan ilmu setinggi ini, bukan ayahmu yang mengajar Kungfu kepadamu bukan?"

"Anak belajar Kungfu kepada Gi-hu, ayah belum pernah menyatakan dia pandai main Kungfu malah."

"O, kau masih punya seorang Gi-hu lagi?"

"Gi-huku bernama Khu Ti, beliau semayam di Ong-gu-san. Beliau adalah kawan paling karib ayah dalam masa tuanya. Ayah, soal ini biarlah kelak kuceritakan kepadamu."

"Aku juga ada sebuah cerita yang akan kututurkan kepadamu."

"Cerita apa?"

Tanya Han Cin, dirasakan mimik ayahnya agak aneh, seperti mau bicara tapi sungkan.

"Tentang seruling batu pualam warisan keluarga kita itu."

Sampai disini pembicaraan mereka, mereka mendengar irama seruling.

Seruling yang ditiup oleh Kek Lam-wi.

Ternyata Liok Kun-lun sudah mengatur segala sesuatu untuk pemberangkatan Tan Ciok-sing dengan In San, besok pagi sebelum fajar menyingsing mereka sudah harus masuk kota dan tinggal di rumah salah seorang murid Kaypang, maka mumpung waktu masih ada setengah hari mereka diharuskan menghafalkan gambar peta tentang seluk beluk istana raja, malam nanti mereka sudah harus masuk ke istana.

Perjamuan perpisahan khusus diadakan tengah malam.

Secara bergantian para hadirin menyuguh arak, waktu tiba giliran Kek Lam-wi, dia berkata.

"Tan-toako, biar kutiup seruling untuk mengantar pemberangkatanmu, nanti akupun ingin mendengar petikan harpamu."

"Baiklah, marilah kita sama-sama main sebuah lagu instrumental seruling dan harpa, lagu apa yang ingin kau mainkan?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Inilah lagu ciptaanku sendiri, silahkan kau periksa,"

Ucap Kek Lam-wi. Setelah membaca lagu ciptaan Kek Lam-wi, Tan Ciok-sing berkata.

"Bagus, gubahanmu teramat bagus,"

Lalu dia angsurkan lagu itu kepada In San dan berkata.

"Adik San, coba kau yang bernyanyi."

Melihat sikap mereka wajar, riang dan mantap, menghadapi tugas berat yang kemungkinan menghadapi mara bahaya seperti berpulang keharibaan orang tua, sungguh haru Kek Lam-wi bukan main.

Lebih haru lagi setelafi paduan lagu seruling dan harpa mengiringi nyanyian ln San yang memilukan, hadirin sama menunduk dan menghela napas rawan, pikiran mereka hanyut oleh suasana haru yang menusuk kalbu menjelang perpisahan ini, Tan Ciok-sing curahkan seluruh perasaan hatinya pada petikan senar harpanya.

"Tak"

Pada ritme terakhir, senar harpa putus seutas. Tan Ciok-sing dorong harpanya terus berdiri, katanya.

"Nona Han, tolong kau simpan harpaku ini, kalau aku tidak kembali, tolong kau serahkan harpaku ini kepada Toan-toako."

"Jangan berpikir begitu Tan-toako,"

Ucap Han Cin.

"aku yakin kau akan kembali bersama In-cici."

Tan Ciok-sing tertawa tergelak gelak, katanya.

"Semoga aku berhasil menunaikan tugas suci ini, mati atau hidup sudah tidak terpikir lagi olehku,"

Di tengah gelak tawanya itu dia berputar sambil soja kepada seluruh hadirin, lalu dia ajak ln San berlalu dengan jalan beradu pundak.

Liok Kun-lun sendiri mengantar mereka keluar kota.

Sementara hadirin yang lain tetap berada di ruang perjamuan yang terang benderang, rasa haru mereka masih belum tentram, sehingga tiada seorangpun yang ngantuk dan ingin tidur.

Kek Lam-wi masih berdiri terlongong sambil memegangi serulingnya, lama baru dia menyadari bahwa entah sejak kapan Ti Nio dan Han Cin tengah mengawasi seruling pualam yang dipegangnya seperti sedang melamunkan sesuatu.

Kek Lam-wi jadi heran, batinnya.

"Kenapa Susiok dan nona Han baru sekarang datang?"

"Anak Cin, boleh kau beritahu kepada Kok-suhengmu,"

Demikian kata Ti Nio. Kek Lam-wi melenggong, katanya.

"Nona Han, kau angkat Susiok sebagai guru?"

Ti Nio tersenyum, katanya.

"Dia bukan muridku tapi adalah putriku. Kalau dibicarakan dia boleh terhitung Sumoaymu juga."

Kaget dan heran Kek Lam-wi, namun lekas sekali dia sudah mengerti, pikirnya.

"Tak heran, malam itu Susiok begitu matimatian melindungi dan menolong Han Cin."

Ti Nio berkata pula.

"Kalian tentu tidak menduga, baru hari ini aku sendiri tahu bahwa dia sebetulnya adalah putriku. Keluarga Kek dan keluarga Ti adalah seperguruan, keluarga yang sudah kental sejak beberapa generasi. Maka Lam-wi kuanggap sebagai keponakanku sendiri, selanjutnya kalian boleh akrab .seperti saudara sekandung saja."

Maka Han Cin segera maju memberi hormat kepada Kek Lam-wi sebagai Suheng, hadirinpun maju mengucap selamat kepada mereka, kesibukan dan keramaian disini tanpa terasa telah mengesampingkan Toh So-so malah.

Secara diam-diam dari samping Toh So-so menyaksikan dan memperhatikan, teringat kejadian malam itu, hatinya kecut, hambar tidak karuan rasanya.

Han Cin juga teringat akan satu hal, mengawasi seruling pualam di tangan Kek Lam-wi, diam-diam dia membatin.

"Waktu ayah bercerita, berulang kali dia menyinggung seruling pualam warisan keluarganya, seruling pualam Kek Lam-wi ini kalau ditiup juga mengeluarkan lagu yang indah dan merdu, entah apakah seruling pualam milik ayah itu?"

Yang menjadikan pandangannya terpesona adalah seruling di tangan Kek Lam-wi, tapi Toh So-so yang memperhatikan dari samping justru tidak tahu kalau Han Cin memperhatikan seruling itu, karuan semakin ruwet pikirannya.

Akhirnya Kek Lam-wi menyadari juga bahwa sikap dan mimik orang agak ganjil, lekas dia berkata.

"Han-cici masih menguatirkan keadaan Toan-toako, marilah lekas kita temani dia pulang biarlah kabar baik ini dia sampaikan sendiri kepada Toan-toako,"

Lahirnya dia seperti berolok-olok kepada Han Cin, yang terang kata-katanya ditujukan kepada Toh So-so.

Waktu mereka tiba di rumah keluarga Coh, kebetulan Toan Kiam-ping sudah siuman, melihat mata Han Cin merah dan bengkak habis menangis.

Toan Kiam-ping kira orang terlalu prihatin dan menguatirkan kesehatan dirinya, maka lekas dia berkata.

"Kenyataan koh aneh, setelah tidur pulas, keadaanku jauh lebih baik. Adik Cin, tak usah kau kuatir akan diriku."

Ti Nio berkata dengan tertawa.

"Cara tutukan yang kugunakan tadi memang khusus untuk membantu pulihnya kesehatanmu, tanggung dalam sepuluh hari, kau sudah pulih seperti sediakala."

"Sepuluh hari sebentar juga sudah lalu,"

Ujar Han Cin senang.

"Toan-toako, kau harus beristirahat dengan baik."

"Betul, Ti-locianpwe, kau banyak bekerja demi menolong jiwaku, maaf aku belum sempat menghaturkan terima kasihku,"

Demikian kata Toan Kiam-ping. Ti Nio berkata.

"Urusan sekecil ini buat apa ditaruh dalam hati."

"Aku jelas harus berterima kasih kepadamu, apalagi semalam aku tak sempat melindungi nona Han, demi pertolonganmu sehingga dia bebas dari mara bahaya, entah bagaimana aku harus membalas kebaikanmu."

Ti Nio terkekeh geli, katanya.

"Dia ini putriku, sepantasnya akulah yang harus berterima kasih kepadamu, mana boleh persoalan diputar balik malah?"

Terbeliak kaget dan senang hati Toan Kiam-ping, katanya.

"O, jadi Ti Tayhiap adalah ayahmu, kenapa kau tidak pernah ceritakan hal ini kepadaku?"

"Aku sendiri juga baru tahu,"

Sahut Han Cin cekikikan. Setelah mendengar penjelasan Han Cin, bukan kepalang senang hati Toan Kiam-ping, katanya tertawa.

"Nona Han, sungguh amat menggirangkan. Baiklah aku terus terang, beberapa jam sebelum ini, aku tidak tahu kesehatanku bisa sembuh secepat ini, pernah timbul pikiranku begini, tidak jadi soal aku mati, tapi kematianku akan menjadikan kau sengsara, itu berarti aku berdosa terhadap kau. Kita, senasib sepenanggungan, tiada sanak tiada kadang, setelah aku berada di alam baka, siapa yang akan mendampingi dan menghibur kau? Kini persoalan sudah jelas, ternyata kau masih punya seorang ayah yang baik dan arif hijaksana, umpama penyakitku takkan sembuh, aku akan berangkat dengan perasaan lega dan tentram ke dunia lain."

Berlinang air mata Han Cin mendengar limpahan perasaan Toan Kiam-ping yang blak-blakan ini, katanya.

"Toan-toako, jangan kau berpikir yang tidak genah. Aku yakin kau akan selamat dan sehat kembali,"

Wajahnya tampak berseri tawa dengan perasaan lega dan terhibur. Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

"Memangnya sekarang kau tak perlu kuatir untuk diriku, akupun tidak perlu menguatirkan kau, lalu apa pula yang kau tangisi?"

Diam-diam Ti Nio menyaksikan dan mendengarkan percakapan muda mudi ini, sebodoh-bodohnya juga dia sudah menduga bahwa putrinya ternyata sudah cintrong sama Toan Kiam-ping, dan Toan Kiam-ping juga membalas cintanya dengan setulus hatinya.

Hubungan mereka jelas sudah bukan merupakan hubungan sesama teman biasa.

Setelah perjamuan usai, perasaan Ti Nio tak bisa tentram, diam-diam dia berpikir.

"Dari pesan Tan Ciok-sing kepada anak Cin tadi, seolah-olah hubungan anak Cin dengan Toan Kiam-ping adalah pasangan kekasih yang sudah matang, entah bagaimana perasaan anak Cin bila dia memang sudah punya pujaan hati, angan-anganku mungkin tidak bisa terlaksana." --lalu dia ajak Han Cin keluar dan berjalanjalan ke hutan dimana tadi mereka berbincang-bincang.

"Ayah,"

Kata Han Cin membuka suara lebih dulu.

"bukankah kau ingin menceritakan sebuah kisah yang lain?"

"Betul,"

Ujar Ti Nio.

"kisah ini harus di mulai dari sebatang seruling pualam."

Tergerak hati Han Cin, katanya.

"Seruling dalam kisahmu itu, bukankah seruling pualam yang sekarang berada di tangan Kek Lam-wi itu?"

"Kau memang pintar, sekali tebak kena sasaran. Seruling pualam itulah dimana masa mudaku dulu kugunakan untuk didengar ibumu."

"Bukankah seruling itu warisan keluarga kita?"

"Betul, belum ada setahun Lam-wi datang ke Khong-goan menemui aku sebagai Susioknya. Tapi sejak dia masih orok dahulu, aku sudah pernah melihatnya sekali. Seruling pualam itu juga bukan warisan keluarga Ti kita."

"Tapi ayah, kau pernah bilang..."

"Dulu waktu aku minta seruling ini dari ayah aku juga kira seruling ini adalah warisan keluarga kita, padahal aku belum tahu asal-usulnya. Baru hari ini..."

Seperti mengenang masa lalu. dia beristirahat sejenak, barulah memulai menceritakan kisah seruling pualam itu kepada putrinya.

"Hari itu, sehari setelah aku pulang dari Hang-ciu. Gerombolan perampok ternyata mulai mengganas di daerah Soh-ciu dan Hang-ciu, terutama kota Hang-ciu sudah dikuras habis-habisan, berita buruk tersiar dari utara bahwa agresor Watsu ternyata telah mengepung kota raja, bila kota raja sampai diduduki musuh, maka dapatlah dibayangkan apa yang bakal terjadi."

"Akhirnya ayah berkeputusan supaya aku mengungsi ke tempat lain, tapi dia hanya menyuruh aku seorang diri pergi."

"Kenapa kakek tidak mengungsi sekalian?"

"Ayah bilang dia harus mengurus harta warisan leluhur, katanya dia cukup mengusai situasi dan keadaan, banyak kenalan pula di kota kelahiran sendiri, meski malapetaka bakal datang, yakin berkat luasnya pergaulannya, kesulitan apapun pasti dapat diatasi, maka aku disuruhnya pergi sendiri, tak usah menguatirkan keselamatan ayah bunda."

Yang benar ini hanya alasan ayahnya belaka.

Setelah beberapa tahun berselang baru Ti Nio tahu akan sebab musabab kenapa ayah bundanya tidak mau mengungsi.

Ternyata waktu itu secara rahasia ayahnya telah bergabung dalam laskar rakyat dan mengadakan gerakan bersenjata siap melawan agresor membela tanah air."

"Ayah kuatir karena Kungfuku belum memadai di samping aku adalah anak tunggal pula, sehingga dia berpikir agak egois, mementingkan keselamatan diriku untuk menyambung keturunan kelak."

Ti Nio melanjutkan ceritanya.

"Sebelum berangkat, ayah menyerahkan dua barang kepadaku serta berpesan wantiwanti. Yaitu sebatang seruling pualam, dan pelajaran Tiamhiat hasil ciptaannya setelah diperdalam sekian tahun dengan segala daya dan tenaganya---yaitu gambaran pelajaran Kingsin-pit-hoat.

"Ayah bertanya kepadaku. 'Tahukah kau asal-usul seruling pualam ini?' Waktu itu akupun bertanya seperti kau tanya kepadaku tadi. 'Apakah seruling ini bukan warisan leluhur kita?'"

"Ayah geleng-geleng kepala, katanya. 'Bukan. Seruling ini pemberian seorang teman kepadaku. Walau aku boleh mewariskan kepadamu sebagai warisan keluarga, tapi bila keturunan temanku itu betul-betul memiliki bakat yang tinggi, aku masih mengharapkan seruling ini akan dikembalikan kepada yang berhak menerimanya.'"

"Sudah tentu aku tidak habis heran, apakah teman ayah itu tidak terlalu royal? Seruling pusaka yang diincar setiap insan persilatan rela diberikan kepada ayah? Siapakah teman ayah itu? Timbul berbagai tanda tanya dalam benakku."

"Ayah lantas berkata. 'Apa kau masih ingat Kek-supek? Beberapa tahun lampau pernah dia membawa putranya bertamu di rumah kita.'"

"Lama aku mengingat-ingat baru akhirnya aku teringat, kira-kira tujuh tahun yang lalu, memang pernah datang seorang Kek-supek dengan putranya yang menginap beberapa lama di rumah kita. Putranya itu sebaya dengan aku, aku juga ingat namanya Kek Bin-yang. Hanya tiga malam mereka menginap, waktu itu karena menghadapi persoalan Piaumoay dan Sute sehingga aku terpukul lahir batin, adalah jamak kalau aku melupakan teman baik masa kanak-kanak dulu, kalau ayah tidak menyinggung, terang aku sudah melupakannya. Sampai disini Han Cin sudah paham beberapa bagian, tanyanya.

"Jadi seruling pualam itu adalah pemberian Keksupek kepada kakek? Sementara bocah yang waktu itu bernama Kek Bin-yang, tentu adalah ayah kandung Kek Lamwi bukan?"

"Tepat sekali. Mungkin juga lantaran berjodoh setelah berjerih payah sekian tahun lamanya, di puncak Sing-siok-hay di pegunugan Kun-lun, Kek-supek berhasil memetik segumpal batu pualam hangat serta membuatnya jadi sebatang seruling."

"Jelas batu pualam itu sukar diperoleh, kenapa dia rela memberikan kepada kakek."

"Soalnya bakat ayah paling baik di antara sesama saudara seperguruan, seruling pualam hangat itu bisa membantu ayah mempercepat latihan ilmu Tiam-hiat yang sedang diyakinkan, oleh karena itu apapun dia minta ayah menerima hadiah mahal yang tiada taranya itu. Beliau berkata yang diharapkan adalah kekayaan perguruan dan memperluas ajarannya, meski sukses yang dicapai kelak bukan hasil karya kedua tangannya diapun ikut bangga akan usaha dan perjuangannya lalu apa arti sebatang seruling pualam ini."

Han Cin menghela napas, katanya.

"Kek-supek ayah itu ternyata berjiwa besar dan berlapang dada."

"Bukan hanya itu saja,"

Kata Ti Nio lebih lanjut.

"Ayah pernah bilang juga bahwa dia pernah mendapat budi pertolongau Kek-suhengnya itu. Tanpa bantuan dan dorongan Kek-suhengnya itu, ayah takkan bisa rajin dan tekun mempelajari serta memperdalam ilmunya, entah berapa kali pula mara bahaya yang telah dihindarinya selama berada di damping sang suheng. Tapi cerita sampingan ini bukan tujuanku yang utama untuk berbincang dengan kau disini, malam ini secara ringkas saja akan kukisahkan hubungan kental antara keluarga Ti kita dengan keluarga Kek, tentang seluk beluknya biarlah ditunda dulu saja pada lain kesempatan,"

Maka pembicaraan dia putar balik ke malam itu, bagaimana ayahnya berpesan kepadanya. Sebelum berangkat ayah berpesan kepadaku.

"Aku memperoleh bantuan dan pertolongan Kek-suheng. sampai sejauh ini tak mampu membalasnya, waktu dia menyerahkan seruling ini kepadaku kami ada janji dua hal. Sekarang aku tiada waktu mencarinya ke Kwa-ciu, terpaksa biarlah kau yang mewakili aku mencapai keinginanku."

"Aku tanya tentang kedua hal perjanjian itu. Ayah menjelaskan. 'Waktu itu kami sama-sama tahu istri masingmasing sudah hamil. Maka perjanjian pertama antara kami ialah bila anak kita sama-sama laki-laki, mereka harus angkat saudara, bila sama-sama perempuan, harus jadi kakak beradik pula. Bila laki dan perempuan, kelak mereka harus menjadi suami isteri."

"Tahun itu waktu dia bertandang ke rumah kita membawa anaknya, mengingat usia kalian masih kecil, dia sedang terlibat urusan penting lagi, maka dia hanya menginap tiga hari di rumah kita terus pergi ke lain tempat, maka tidak sempat mengadakan upacara untuk pengangkatan saudara kalian. Maka aku mengusulkan supaya menunda setelah kalian dewasa baru akan mengundang sanak saudara untuk menyaksikan upacara persaudaraan kalian, sekaligus akan kujelaskan pula seluk beluknya, supaya orang banyak tahu sepak terjang Kek-suheng selama ini, di samping itu maksudnya adalah supaya kalian juga tahu hubungan keluarga kita yang intim."' "'Dalam situasi seperti sekarang upacara angkat saudara yang kuharapkan dulu jelas tidak mungkin diadakan lagi. Tapi asal kau berhasil menemukan Kek-suheng dan anaknya, tak usah pakai perjamuan segala, secara sederhana boleh kalian lakukan upacara ala kadarnya saja, maksudnya juga tidak bakal luntur.'"

"Setelah patah hati, memang aku ingin memperoleh seorang teman karib sebagai pelepas rindu dan sepi, sungguh bukan main senang hatiku setelah mendengar penjelasan ayah, peduli apapun yang bakal terjadi, aku harus mencari mereka sesuai pesan ayah."

"Lalu ayah menjelaskan hal kedua, beliau amat berterima kasih dan merasa hutang budi akan kebaikan dan pemberian seruling Kek-suhcngnya, maka diam-diam dia bersumpah dalam hati, kapan dia berhasil meyakinkan ilmu sakti, dia akan ajarkan juga ilmunya itu secara merata kepada putra Keksuheng. Dulu Suheng mengharap dengan seruling pualam itu dapat membantu dia sukses mempelajari ilmu Tiam-hiat tingkat tinggi, kini harapan itu telah terkabul, dia sudah berhasil meyakinkan King-sin-pit-hoat dengan seruling pualam itu. maka ayah suruh aku serahkan gambar penjelasan pelajaran King-sin-pit-hoat hasil jerih payahnya kepada Keksuheng dan anaknya."

"Ayah bilang. 'Baru tahun lalu aku berhasil menyelami seluruh pelajaran Kmg-sin-pit-hoat ini dan berhasillah kupelajari ilmu tutuk tunggal yang tiada taranya. Sayang situasi semakin gawat, jelas diriku tak mungkin pergi mencari Kek-suheng dan menyerahkan pelajaran Tiam-hiat itu kepadanya. Kau sendiri belum sempurna mempelajarinya, kau juga masih perlu mendapat bantuan seruling pualam itu, tapi sepanjang jalan kau boleh mempelajari dan mengingat gambar penjelasan ini, bila mereka ayah dan anak mau ngungsi bersama kau, kau masih boleh belajar bersama mereka.'" '"Seruling ini akupun ada maksud dikembalikan kepada pemiliknya semula. Tapi seruling ini memang barang pusaka, kau harus tepat menyerahkan kepada yang berhak. Bila putra Kek-suheng memang punya bakat belajar silat, baru boleh kau serahkan seruling ini kepadanya, kalau tidak lebih baik jangan kau kembalikan,' setelah diberi wejangan pula, hari itu juga aku berangkat membawa seruling dan Pit-kip, mengungsi ke selatan. Tapi setiba di Kwa-ciu, ternyata situasi disini juga genting dan tidak aman, dua hari sebelum aku tiba di Kwa-ciu, aku sudah tahu bahwa aku dikuntit orang. Sayang pengalamanku cetek tapi sebagai kambing yang baru keluar kandang tidak takut berhadapan dengan harimau, meski aku merasa curiga, namun aku tidak ambil di hati."

"Setiba di Kwa-ciu, seperti rencana semula aku bekerja tanpa membuang waktu mencari Kek-supek. Keluarga Kek ternyata cukup terkenal dan disegani di daerah Kwa-ciu, sekali aku mencari tahu pada penduduk setempat lantas kucapai rumahnya."

"Setiba aku di rumah keluarga Kek, satu peristiwa terjadi sungguh diluar dugaanku."

Han Cin menyela.

"Mungkin mereka juga sudah mengungsi?"

"Bukan. Aku hanya bertemu dengan Kek Bin-yang."

"Lho, lalu ayahnya?"

"Dengan pakaian blaco (pakaian duka cita) Kek Bin-yang keluar menyambut kedatanganku, ayahnya, Supekku telah neninggal."

"Kira-kira tiga bulan yang lalu, gerombolan perampok telah beroperasi di Kwa-ciu, gerombolan perampok ini ditunjang oleh pihak Watsu, di antara anggotanya tidak sedikit terdapat jago-jago silat dari bulim. Demi melindungi rakyat sekota, Supek kerahkan tenaga yang ada, dia pimpin rakyat melawan gerombolan perampok itu, sayang seorang diri Supek kewalahan dikeroyok musuh sebanyak itu, akhirnya dia terluka parah, penyakitnya tak terobati lagi."

"Ibu Kek Bin-yang masih hidup, dia juga sudah menikah, punya seorang anak, lahir setelah ayahnya meninggal, waktu itu usianya sudah genap dua bulan, orok itu bukan lain adalah Kek Lam-wi yang akhirnya menjadi salah satu anggota Patsian."

"Aku singgung perjanjian Supek dengan ayah tempo dulu, bibi Kek memberi tahu kepadaku, katanya sebelum suaminya ajal dia juga memberitahu soal ini padanya. Katanya bila aku tidak datang di Kwa-ciu, mereka juga akan ke Kim-ling mencari ayah dan aku."

"Dia amat senang karena aku sudah datang lebih dulu untuk memenuhi janji itu, malam itu kami bersembayang bersama, minum tiga cangkir arak sebagai sumpah setia untuk selanjutnya menjadi saudara angkat seperti saudara sekandung sendiri. Tapi waktu aku menyerahkan catatan ilmu silat karya ayah dan kembalikan seruling kepada mereka, ibu beranak itu menolak dan tidak mau mempelaj arinya."

"Bercerita masa lalu bibi Kek amat sedih dan pilu, tapi juga amat senang. Dia bilang yang penting hubungan kedua keluarga tetap terjalin dengan baik, dapat menyaksikan putra angkat bersaudara dengan diriku, hatinya sudah amat tenang dan lega. Tapi bila dia menyinggung kenangan lama, dia amat sendu dan rawan, dia mengatakan..."

Sampai disini Ti Nio berhenti sambil mengawasi putrinya seperti memikirkan sesuatu. Tak tahan Han Cin bertanya.

"Apa yang dikatakan?"

Heran dia kenapa sang ayah seperti bimbang. Akhirnya Ti Nio berkata.

"Bibi Kek berkata. Besar harapannya supaya kedua keluarga kita dapat mencontoh leluhur kita, dia tanya apakah aku sudah menikah?"

Melonjak jantung Han Cin, tanyanya.

"Lho, untuk apa dia tanya soal ini?"

"Dia harap aku dapat mengikat suatu perjanjian juga dengan putranya. Bila kelak sama-sama punya anak laki-laki harus angkat saudara, punya anak perempuan sebagai kakak seadik, kalau laki perempuan harus jadi suami isteri."

Karuan Han Cin melenggong dan menjublek sekian lama. Ti Nio melanjutkan.

"Dari cerita suaminya bibi sudah tahu bahwa ayah ada maksud mengawinkan Piaumoay dengan aku. Bibi berkata dengan tertawa kepadaku. 'Dulu waktu Bin-yang pulang dari rumahku sering dia mengomel, katanya kau selalu mengeloni Piaumoay dan sering tidak menghiraukan dia. Kini Bin-yang sudah punya anak, yakin kaupun sudah menikah dengan Piaumoaymu?'"

Sudah tentu di samping kaget Han Cin amat gugup, namun rikuh pula menanyakan apa jawaban sang ayah terhadap bibi Kek.

Ti Nio seperti tahu perasaan putrinya, sekilas dia lirik putrinya, dalam hati diam-diam dia mengeluh, katanya kemudian.

"Sudah tentu aku malu menceritakan persoalan Piaumoay kepada bibi, terpaksa aku mencari alasan bahwa kepandaianku belum sempurna, belum ada pikiran berumah tangga. Hakikatnya aku tidak pernah menyinggung Piaumoay, tak pernah pula aku mengutarakan maksudku supaya kelak kita juga mengikat perjanjian itu, sengaja aku alihkan pokok pembicaraan. Melihat sikapku yang dingin dan tidak ambil perhatian, mungkin bibi agak salah paham padaku, maka selanjutnya diapun tak pernah menyinggung soal ini."

Sampai disini Ti Nio tertawa getir, katanya lebih lanjut.

"Ai, mana dia tahu bahwa mulutku tak mungkin bicara karena pengalaman pahit yang pernah kuresapi, kalau dia salah paham, yah, biarlah."

"Terus terang waktu itu aku berpikir begini. Kalau aku bisa berkeputusan sendiri, sudah tentu aku senang mengikat perjanjian itu dengan Kek-suheng. Tapi Piaumoay adalah bini orang lain, putriku juga sudah bukan anakku lagi. Kelak apakah dia masih sudi mengakui aku sebagai ayah, aku juga tidak tahu. Kalau aku tidak setimpal jadi seorang ayah, mana berani aku sembarangan mengikat janji dengan orang lain?"

Mendengar cerita ayahnya yang terakhir ini baru legalah hati Han Cin, pikirnya.

"Syukur ayah tidak menerima tawaran keluarga Kek kalau terjadi urusan tentu serba runyam. Ai, ayah bukan kau tidak setimpal jadi ayahku, tapi kau tidak atau belum bisa menyelami isi hati putrimu,"

Sudah tentu dia juga rikuh dan malu mengutarakan perasaan hatinya kepada sang ayah.

"Situasi masih genting, tapi setelah mengalami perampokan besar-besaran itu untuk sementara Kwa-ciu boleh dihitung agak aman dan tentram. Perhitunganku semula akan menginap beberapa hari di rumah keluarga Kek, menurunkan pelajaran Kungfu yang kuterima dari ayah kepada Kek-suheng. Tak nyana hari kedua, terjadilah bencana yang tak pernah terbayang sebelumnya."

Han Cin kaget, katanya.

"Bencana apa?"

"Kalau dibicarakan kesalahan ada padaku. Maklum waktu itu aku cetek pengalaman dan tidak pernah berkelana di Kangouw, kedatanganku ke rumah keluarga Kek sekaligus memancing kedatangan gerombolan perampok pula."

Han Cin paham seketika, katanya.

"O, jadi orang-orang yang sehari sebelumnya selalu menguntit ayah itu?"

"Betul orang yang menguntit aku itu ternyata juga seorang ahli, dia tahu seruling yang kubawa adalah barang pusaka, tujuan mereka hendak merebut seruling pualam."

"Mereka saksikan aku masuk ke rumah keluarga Kek, mungkin merasa kekuatan sendiri kurang ungkulan, maka malam itu mereka tidak turun tangan."

"Tapi hari kedua mereka mengundang bantuan yang berkepandaian tinggi, permulaan yang diundang ialah tokoh yang tiga bulan lalu pernah dikalahkan Supek, tapi Supek sendiri setelah memukul mundur kambrat-kambratnya, dalam keadaan lemah kehabisan tenaga diapun terkena sekali pukulan dahsyat yang mematikan dari pentolan perampok.

"Bersama Bin-yang aku bahu membahu melawan serbuan musuh, pertempuran amat sengit dan dahsyat, kawanan perampok kita babat dan tumpas, tidak sedikit yang kami bunuh dan lukai tapi karena harus melindungi oroknya yang masih kecil, Bin-yang juga terpukul parah oleh Toa-cui-pi-jiu pentolan perampok itu, isi perutnya tcrluka tak mungkin disembuhkan lagi.

"Bagaimana akhirnya?"

Tanya Han Cin tegang. Bercucuran air mata Ti Nio, suaranya sember.

"Toa-cui-pijiu kepala rampok itu memang terhitung ilmu tunggal yang hebat di kalangan bulim, dinilai lwekangnya pada waktu itu, jelas aku bukan tandingannya, bahwa aku dapat kalahkan dia adalah berkat kesaktian seruling pualamku ini, dengan melancarkan King-sin-pit-hoat aku dapat melawannya sama kuat. Sayang lwekang dan latihan silat Kek-suheng jauh di bawahku, pukulan Toa-cui-pi-jiu itu telak mengenai dada lagi, mana kuat dia bertahan? Sungguh kasihan, setelah terluka parah, pesanpun tak bisa diutarakan, dengan air mata bercucuran dia hanya bisa menuding oroknya yang masih dalam gendongan, dengan sorot matanya yang berlinang air mata dia memohon dan melimpahkan perasaannya, setelah aku berjanji barulah dia berangkat dengan meram."

Han Cin amat haru, katanya menghela napas.

"Sejak kecil ternyata Kek-suheng juga sudah hidup menderita. Kalau aku setahun kehilangan ibu, dia baru dua bulan sudah ditinggalkan ayahnya."

Ti Nio berkata.

"Betul. Lantaran nasib kalian sama, maka aku mengharap kalian harus saling berkasih sayang."

Entah sengaja atau tidak kata-katanya, tapi bagi yang mendengar justru tahu kemana juntrungan kata-kata ini.

Han Cin rasakan perkataan sang ayah mengandung dua unsur, kontan jantungnya berdetak.

Tapi diluar tahunya di balik hutan sana, ada pula seorang, yang sembunyi dan mencuri dengar pembicaraan mereka, hatinyapun terketuk mendengar perkataan Ti Nio terakhir, jantungnya juga berdebar keras.

Orang itu bukan lain adalah Toh So-so.

Memang sengaja dia sembunyi di tempat itu lebih dulu untuk mendengar percakapan Ti Nio dengan putrinya, karena sejak malam kemarin, dalam jangka sehari semalam ini, banyak gejala yang menimbulkan rasa was-was dalam hatinya, perasaan hatinya yang paling sensitif memberi ingat padanya, sehingga dia memperoleh suatu fisarat.

Bahwa pertemuan ayah dan anak ini bukan melulu persoalan mereka berdua, tapi juga menyangkut hubungan langsung dengan Kek Lam-wi.

Kini Ti Nio memang tidak membicarakan hal itu secara gamblang, namun dia sudah menduga apa yang akan dikatakan Ti Nio kepada putrinya, mendengar sampai disini, mau tidak mau timbul rasa jelusnya, dalam hati dia tertawa dingin.

"Memangnya kalian senasib sepenanggungan, biarlah aku mengalah, silahkan kalian saling berkasih sayang."

Tak kuasa dia menahan rasa haru dan sedihnya, semula dia sudah ingin tinggal pergi, namun dia masih kuat menahan emosinya, tempat sembunyinya di semak rumput sejauh belasan langkah, dia mendekam tanpa berani bergerak serta mendengar lebih lanjut.

Terdengar Ti Nio sedang berkata.

"Setelah Kek-suheng meninggal semula aku akan bawa ibu dan isteri serta putranya pindah ke tempat lain, tapi bibi bilang membawa orok kecil mengungsi amat tidak leluasa, maka dia berkukuh untuk membawa cucunya pulang ke rumah orang tuanya. Keluarga bibi tinggal di atas gunung, disana memang tepat untuk menghindari huru hara. Bibi juga mengajakku kesana, tapi karena aku masih ada urusan lain, kuharap masih bisa menemukan ibumu maka aku tolak ajakan mereka."

"Seruling pualam dan buku gambar penjelasan King-sin-pithoat karya ayah kutinggalkan kepada mereka, sebagai hadiah untuk keponakan bila kelak dia sudah tumbuh dewasa, bibi dan Suso (isteri Bin-yang) juga mengerti sedikit Kungfu, dengan membekal seruling pualam itu, paling tidak mereka masih mampu membela diri. Apalagi seruling itu memang milik keluarga mereka, setelah kubujuk dan kujelaskan panjang lebar, akhirnya mereka mau menerima kedua barang itu."

Baru sekarang Han Cin tahu bahwa seruling pualam itu setelah mengalami berbagai peritiwa yang rumit dan berbelitbelit akhirnya terjatuh ke tangan Kek Lam-wi. Ti Nio melanjutkan ceritanya.

"Setelah aku menyerahkan seruling dan Pit-kip, aku berkata kepada bibi.

"Bibi, pesan yang pernah kau sampaikan pasti takkan kulupakan. Semoga kelak bila aku kembali kesini, Lam-tit sudah tumbuh dewasa, masih ada kesempatan untuk aku menunaikan angan-angan leluhur."

Mau tidak mau tergetar pula hati Han Cin mendengar penuturan sang ayah."

Angan-angan apa yang hendak ditunaikan ayah? Kesempatan apa pula yang dia tunggu selama ini? Bukan secara tidak langsung perkataan ayah itu merupakan janji pula terhadap Bibi dan Susonya?"

Han Cin tidak tahu apakah kedua janda keluarga Kek itu maklum akan tujuan perkataan sang ayah, tapi Han Cin sendiri paham.

Itu berarti, tanpa ditanya lagi diapun sudah tahu apa jawabannya.

Sudah tentu Han Cin tidak berani tanya, tapi Ti Nio sudah menjelaskan sendiri.

"Aku bertekad untuk melakukan dua hal untuk membalas budi kebaikan keluarga Kek. Tugas pertama adalah menuntut balas bagi kematian Kek-supek dan Kek-suheng."

"Lwekang kepala perampok itu teramat tinggi dan lebih unggul dari aku, maka aku harus menyempurnakan Kungfuku baru akan dapat mengalahkan dia, maka aku harus latihan lebih giat dan rajin mempertinggi ilmu, tanpa bantuan seruling pualam, aku harus dapat mengalahkan kepala rampok itu."

"Pada hal siapa nama dan asal-usul kepala rampok itu, sedikitpun aku tidak tahu, untuk menuntut balas, aku harus mencari tahu dan menyelidiki jejaknya. Tidak lama kemudian gerombolan perampok itupun telah bubar, jejak kepala rampok itupun tak diketahui parannya."

Han Cin masgul, katanya.

"Wah, lalu kemana untuk menyelidiki nya?"

"Untung walau aku tidak tahu nama dan asal-usulnya, tapi aku tahu akan Kungfunya, Toa-ciu-pi-jiu yang diyakinkan itu boleh terhitung ilmu tunggal dalam bulim, setelah beberapa tahun berselang, yakin kepandaiannya itu tentu telah diyakinkan lebih sempurna, namanya juga pasti amat tenar. Dari sini pasti dapat aku menemukan jejaknya, syukurlah akhirnya aku berhasil menemukan jejak pembunuh Keksuheng dan Kek-supek."

"Siapakah orang itu?"

Tanya Han Cin.

"Dia bukan lain adalah jago nomor satu di bawah bangsat tua she Liong, yaitu Lenghou Yong."

Han Cin tersentak sadar dan paham, katanya.

"O, kiranya dia. Tak heran sengaja jauh-jauh kau dari Khong-goan menyusul ke kota raja. Kecuali salah seorang keponakanmu adalah satu di antara Pat-sian, tujuan yang utama adalah hendak menuntut balas. Entah apakah Kek-suheng sudah tahu bahwa Lenghou Yong adalah pembunuh kakek dan ayahnya?"

"Dia masih belum tahu."

"Kenapa tidak kau beritahu kepadanya?"

"Karena sebelum kemarin malam aku bertemu dengan Lenghou Yong, aku belum yakin kalau dialah musuh kita."

"Sebelum ini, aku sudah mencari tahu, tokoh liehay yang mahir menggunakan Toa-cui-pi-jiu dalam kalangan Kangouw hanyalah Lenghou Yong, tapi Lenghou Yong sudah disogok oleh Liong Bun-kong untuk menjadi pengawal kepercayaannya, apakah betul dia adalah kepala rampok yang dulu itu, aku harus membuktikan sendiri."

Ti Nio berkata gregeten.

"Dua puluh tahun lamanya aku mencari musuh besar, kemarin malam akhirnya aku dapat menemukan dia."

"Sesuai dugaan, Toa-cui-pi-jiu yang diyakinkan Lenghou Yong jauh lebih hebat dari dua puluh tahun lalu, namun tampangnya tidak berubah besar bedanya, sekali pandang aku lantas tahu bahwa dialah memang kepala rampok yang dulu itu. Ai. tapi aku yakin, dia pasti tidak mengenali diriku lagi."

Sampai disini dia meraba rambut kepalanya yang sudah beruban, katanya setelah menghela napas.

"Dua puluh tahun lalu aku adalah pemuda yang gagah perkasa dan jauh lebih muda dari dia, tapi kini aku sudah jadi kakek tua yang bpruban. Mana mungkin dia masih mengenaliku?"

Mengawasi rambut ayahnya yang sudah beruban, muka yang sudah berkeriput, Han Cin merasa ikut pilu, pikirnya.

"Usia ayah sekarang paling baru empat puluh lebih, namun kelihatannya sudah seperti kakek reyot berusia enam puluhan lebih,"

Han Cin tahu bukan lantaran kehidupan yang tidak kenal kasihan ini merubah sang ayah menjadi laki-laki yang loyo, tapi lantaran teramat sedih dan merana sehingga ayahnya bak kembang yang layu sebelum saatnya, demikian batin Han Cin.

Dia dapat meresapi betapa rawan perasaan sang ayah selama ini.

Untuk mengalihkan kepedihan hati sang ayah, dengan tawa dipaksakan Han Cin berkata.

"Kan lebih baik kalau dia tidak mengenalimu. Bila dia tahu kau adalah musuhnya bukan mustahil dia sudah bersiap-siap sebelumnya."

"Betul. Lantaran itulah semalam aku tidak membongkar perbuatannya dulu. Sudah tentu, dalam situasi seperti semalam, akupun tiada tempo untuk membuat perhitungan dengan musuh besar itu."

Han Cin tertawa pula. katanya.

"Ayah. usiamu belum tua, Kungfumu juga tidak terbengkalai bukan. Tapi Toa-cui-pi-jiu Lenghou Yong memang teramat liehay, yakin seperti apa yang ayah katakan, taraf kepandaiannya sekarang pasti jauh lebih tinggi dibanding dua puluh tahun yang lalu. Tapi ayah, Kungfumu sendiri selama dua puluh tahun ini juga pasti sudah melompat maju, walau pandangan putrimu tidak tajam tapi aku sudah tahu dan yakin demikian. Semalam waktu kau melabraknya, bukankah kau berada di atas angin. Sayang semalam bukan pertarungan satu lawan satu, kalau tidak dalam jangka seratus jurus, jiwanya pasti terenggut di tangan ayah."

Ti Nio tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.

"Seratus jurus kurasa terlalu diagulkan, dalam jangka tiga ratus jurus, yakin aku dapat mengambil jiwanya. Sayang semalam aku tiada kesempatan untuk menuntut balas padanya. Tapi padri asing yang menggantikan dia itu, kepandaiannya ternyata lebih tangguh lagi. Kalau keponakan Lam-wi tidak serahkan seruling pusaka kepadaku, hampir aku tidak kuasa menghindari mara bahaya."

Han Cin berkata.

"Seorang Kuncu menuntut balas, sepuluh tahun belum terlambat. Ayah kau sudah menunggu dua puluh tahun, apa salahnya bersabar beberapa hari lagi. Padri asing itu datang bersama utusan Watsu, tak lama lagi pasti pulang ke negerinya. Kapan ayah mau menuntut balas kepada Lcnghou Yong, memangnya kuatir takkan berhasil?"

Ti Nio manggut-manggut, katanya.

"Betul. Akupun berpikir demikian. Baiklah, soal menuntut balas ini boleh dikesampingkan dulu. Kini aku akan utarakan keputusanku yang kedua pada kau."

"Angan-angan yang kedua", mendengar perkataan sang ayah, serasa berdebar jantung Han Cin. Walau teka teki belum terjawab, namun dia sudah meraba angan-angan apa yang hendak dikatakan oleh ayahnya. Melihat perubahan mimik muka putrinya, Ti Nio menghela napas, katanya kalem.

"Mungkin kau tidak ingin mendengarnya, tapi aku tetap akan beritahu padamu."

"Itulah angan-angan bersama dua keluarga Kek dan Ti kita, dua puluh tahun yang lalu meski aku tidak memberi jawaban tegas kepada Bibi Kek, namun dalam hati kecilku waktu itu aku sudah berjanji, kuharap kelak bisa meneruskan perjanjian leluhur kedua keluarga kita."

"Waktu itu aku berpikir begini. Aku yakin suatu ketika pasti akan bisa menemukan ibumu dan Suteku, akan kusampaikan maksud hatiku ini dan mohon persetujuan mereka. Waktu itu aku berpikir, kesalahan yang pernah kulakukan, tak berani aku mohon maaf kepada mereka, tapi demi masa depan putriku, apalagi keluarga Kek merupakan keluarga persilatan, umpama hubungan kedua keluarga tidak intim, perjodohan inipun boleh dikata setimpal dan sama bobotnya."

Mulut Han Cin sudah terpentang, dia ingin bicara, tapi tidak tahu dari mana dia harus bicara.

"Anak Cin,"

Kata Ti Nio.

"biarlah aku bicara sampai habis, baru kau boleh utarakan isi hatimu."

"Dua tahun yang lalu, kudengar kabar dalam usia yang masih muda Kek Lam-wi sudah angkat nama sebagai salah satu dari Pat-sian, betapa senang hatiku. Tapi belakangan setelah aku menyaksikan Kungfunya, terus terang, aku amat menyesal dan gegetun pula. Tapi aku sendiri yang menyebabkan penyesalan itu."

Mendengar sang ayah tiba-tiba membicarakan Kungfu Kek Lam-wi, tanpa merasa Han Cin melengak, tapi bila sang ayah tidak bicara soal jodoh, sikapnya sih tidak begitu kikuk. Pikirnya.

"Kungfu Kek-suheng kan hebat, entah soal apa yang disesalkan ayah?"

Ti Nio seperti dapat meraba pikiran putrinya, katanya.

"Kalau dibanding jago silat kalangan Kangouw umumnya, kepandaian Kek-suhengmu memang terhitung kelas wahid. Tapi sayang dia tidak mempelajari ilmu silat kelas tinggi, Kungfu kelas tinggi yang betul-betul murni."

Tak tahan Han Cin bertanya.

"Bukankah kau sudah serahkan gambar penjelasan King-sin-pit-hoat kepadanya? Bukankah ilmu itu sudah terhitung Kungfu kelas tinggi?"

"Waktu aku menyerahkan gambar penjelasan itu taraf kepandaianku sendiri jelas tidak setinggi latihanku sekarang, gambar penjelasan itu hanya mengajarkan cara dan pemecahan ilmu Tiam-hiat, tentang rahasia menyalurkan hawa murni dan Iwekang, kalau hanya berdasarkan gambar penjelasan itu saja tetap takkan bisa melatihnya sampai taraf yang paling tinggi. Apalagi mantra yang harus digunakan untuk melancarkan ilmu Tiam-hiat berdasarkan gambar penjelasan itu, baru beberapa tahun belakangan ini berhasil kuselami."

"Kalau demikian, sekarang juga belum terlambat kau mengajarkan kepadanya."

"Betul. Aku memang sudah siap mengajarkan kepadanya. Aku sudah berkeputusan dalam waktu dekat ini akan kuserahkan dua hadiah kepadanya. Kuharap kau dapat membantu ayah menunaikan harapanku itu."

Han Cin tersentak kaget, teriaknya.

"Ayah..."

Ti Nio goyang-goyang tangan supaya dia tidak ribut dan biarlah dia bicara habis.

"Kedua hadiah itu akan kuserahkan sebagai mas kawinnya. Hadiah pertama adalah batok kepala Lenghou Yong kedua adalah ilmu Tiam-hiat tunggal ajaran keluarga Ti kita. Anak Cin, aku amat senang, kau sudi mengakui aku sebagai ayah, maka aku harap kau suka membantu ayah mencapai angan-angan terakhir."

Han Cin menghela napas, katanya.

"Ayah, ada beberapa patah kata, entah pantas tidak ku utarakan'.'"

"Aku justru ingin mendengar isi hatimu, boleh kau katakan. Bagaimana?"

"Ayah, bukan putrimu tidak tunduk akan petuahmu, tapi tindakanmu ini tidak akan membawa kebaikan bagi segala pihak, termasuk Kek-suheng tentunya."

"Kenapa? Justeru mengingat hubungan turun temurun tiga generasi dari keluarga Kek dan Ti, maka aku ingin menjodohkan kau dengan dia. Aku malah akan bantu dia menuntut balas, akan kuajarkan pula ilmu tingkat tinggi, bagaimana kau bilang akan tidak menguntungkan dia malah?"

"Ayah, sukalah kau tidak mencampur adukan persoalan menuntut balas, meyakinkan ilmu dengan perjodohan."

"Baik coba kau jelaskan, kenapa soal jodoh ini tidak atau kurang baik?"' "Ayah, maaf bila aku bicara terus terang dan sejujurnya. Bagi kau tindakanmu ini jelas demi kebaikanmu, untuk keluarga Kcksupek, tapi bicara dari pihak Kek-supek sendiri, mungkin dia bisa mengomel dan salahkan kau terlalu banyak mencampuri urusan anak muda."

Ti Nio sudah tahu apa yang hendak dikatakan tapi dia tetap bertanya.

"Kenapa?"

"Dalam kalangan Kangouw, siapa tidak tahu bahwa Kek Lam-wi dan Toh So-so, dua di antara Pat-sian ini adalah sepasang kekasih yang sudah memadu cinta? Ayah, apakah kau tidak tahu akan hubungan mereka?"

Han Cin menyinggung nama Toh So-so, dia tidak tahu pada hal Toh So-so sambunyi di semak-semak tak jauh dari tempatnya berada.

Tapi sayang sekali dia tidak lebih dini menyebut nama Toh So-so, bila sejak tadi namanya disinggung, perkembangan selanjutnya mungkin berbeda dengan kenyataan yang bakal terjadi.

Ternyata di kala mendengar Ti Nio hendak menyerahkan dua hadiah besar sebagai pesalin pernikahan putrinya, secara diam-diam Toh So-so lantas menyelinap pergi.

Semenit yang lalu dia masih dekat di depan mata, namun kini, meski dia belum pergi jauh, namun percakapan Ti Nio dan putrinya sudah tidak terdengar lagi olehnya.

"Bukan aku tidak tahu,"

Ujar Ti Nio.

"tapi kau hanya tahu yang satu, tidak tahu yang lain."

"Apanya yang lain?"

"Menurut apa yang kuketahui walau mereka sering bersama, tapi belum ada ikatan jodoh, apa lagi kulihat watak mereka berbeda. Nona she Toh itu kulihat suka membawakan perangai putri bangsawan, suka ngambek dan brengsek, sebaliknya Kek-suhengmu adalah laki-laki yang tidak suka dikekang dan dibatasi."

Sebetulnya hati Han Cin dirundung kegelisahan, tapi mendengar perkataan sang ayah, tak urung dia cekikikan geli.

"Apa yang kau tertawakan, anak Cin?"

"Ayah, kukira itu hanya jalan pikiranmu yang dimabuk angan-angan belaka."

Ti Nio kurang senang, katanya.

"Memangnya menurut hematmu mereka adalah pasangan yang setimpal?"

"Cinta muda mudi ibarat orang minum air panas atau dingin dapat diketahuinya sendiri. Apakah mereka cocok satu dengan yang lain, orang lain sukar memberikan putusannya. Yang penting bila mereka merasa cocok, pastilah cocok."

Ti Nio berjingkat, pikirnya.

"Benar, dulu aku juga berpendapat aku dengan Piaumoay adalah pasangan setimpal, Han-sute jelas tidak cocok dengan dia. Tapi akhirnya jalan pikiran mereka justru jauh berbeda dengan maksudku. Bila mengenang peristiwa masa lalu, tidak bisa tidak aku harus mengaku, bila tidak lantaran aku yang membuat mereka celaka, sekarang mungkin mereka masih hidup sebagai suami isteri yang bahagia,"

Maka dengan tawa getir dia berkata.

"Mungkin selama hidupku ini terlalu tekun latihan silat, sehingga tidak banyak yang kuketahui tentang sepak terjang anak-anak muda sekarang."

Han Cin berkata lebih lanjut.

"Asal mereka sudah saling cinta, meski tanpa ikatan jodoh apa pula halangannya? Watak berbeda juga tidak jadi soal. Memangnya tiada manusia yang mirip dalam dunia ini, asal mereka bukan manusia yang berdiri di bidang yang berlawanan meski perangai berbeda, satu sama lain bisa saling mengalah dan saling koreksi. Di depan mata kita sudah ada contohnya. Seperti Tan Ciok-sing Toako dengan In San-cici, mereka juga tiada ikatan dari orang tua, pakai mak comblang segala, sudah tentu tanpa perjanjian nikah segala. Apalagi mereka keturunan dari dua keluarga yang berbeda, tabiatnya juga berlainan. Tapi siapapun mengakui bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang saling cinta setulus hati, memangnya siapa yang akan menentang dan mengatasi keburukan mereka?"

Sebetulnya dia sendiri bersama Toan Kiam-ping juga merupakan contoh teladan, tapi dia rikuh untuk membicarakan awak sendiri.

Kalau sang putri bicara panjang lebar adalah sang ayah merasa gundah dan ruwet pikiran.

Maklum Ti Nio adalah seorang Tayhiap, selama hidupnya paling berpegang pada sumpah dan janji, oleh karena itu meski dia tahu uraian putrinya masuk akal.

Tapi dia juga amat berat untuk mengingkari apa yang pernah diucapkan maka dia berkata.

"Apakah betul mereka saling cinta setulus hati, aku tidak enak tanya kepada Lam-wi. Tapi soal jodoh ini adalah usul nenek dan ibunya di waktu dia masih bayi dulu. Walau waktu itu aku tidak memberi jawaban positip, namun dalam hati kecilku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bila dia belum terikat dengan nona Toh itu, kukira apa salahnya katau dia menikah dengan gadis lain. Lebih baik begini saja, setelah aku memenggal kepala Lenghou Yong, baru akan kusuruh orang membicarakan soal jodoh ini. Kala itu bila dia tidak setuju, akupun tidak akan memaksa, terhitung aku tidak mengingkari kehendak orang tuanya."

Han Cin berkata.

"Kalau ayah berbuat demikian, itu berarti ayah sengaja melakukan kesalahan. Pertama, kau memberi bantuan budi kepadanya, untuk membarlas kebaikan budimu ini, meski dia menjadi menantumu juga terpaksa. Kau sudi putrimu menikah dengan laki-laki yang dipaksa baru mau menerima aku sebagai isterinya? Apalagi..."

"Apalagi apa?"

Urusan sudah terlanjur sejauh ini, Han Cin tidak perlu main malu-malu lagi, katanya.

"Apalagi kau belum tanya bagaimana pendapatku?"

Getir suara Ti Nio.

"Tanpa kau jelaskan aku sudah tahu, kau menyukai Toan-kongcu bukan?"

"Betul, diapun amat menyukai aku."

"Apakah kalian sudah mengikat janji untuk hidup sampai tua?"

Merah muka Han Cin, katanya.

"Keluarganya kena musibah, kedatangannya ke kota raja kali ini untuk menuntut balas, mati hidup masih sukar diramalkan."

Ti Nio menghela napas lega, katanya.

"Kalau demikian, kalian belum ada janji pernikahan?"

Kalem suara Han Cin.

"Semalam waktu kami meluruk ke gedung keluarga Liong, kami sudah sumpah bersama. Meski kita dilahirkan bukan pada hari bulan dan tahun yang sama, tapi biarlah mati pada hari bulan dan tahun yang sama."

Meski bukan sumpah setia menentukan perjodohan, namun pernyataan itu merupakan sumpah setia untuk sehidup semati. Maknanya sudah lebih gamblang. Ti Nio tertunduk diam, lama kemudian baru dia bersuara.

"Bukan Toan Kiam-ping tidak baik tapi dia keturunan keluarga bangsawan, leluhurnya pernah jadi raja dan dia sendiri adalah seorang pangeran, aku kuatir dia akan membawa sifat jeleknya yang suka disanjung dan diladeni."

"Kini keluarganya sudah berantakan, tiada bedanya dengan kita sebagai insan persilatan yang terlantar. Jangan kata tata kehidupannya biasa jauh berbeda dengan para pangeran umumnya, meski betul dulu dia membawa watak anak bangsawan, kini setelah mengalami musibah dan digembleng sedemikian rupa, yakin dia akan merubah pandangannya terhadap kehidupan ini. Apalagi aku justru menyenangi dia karena dia orang yang berperangai demikian, bukan lantaran leluhurnya dahulu adalah keluarga kerajaan."

Tahu bahwa urusan tak mungkin dirobah pula, akhirnya Ti Nio menghela napas, katanya.

"Seorang laki-laki sejati harus menepati janji, mungkin kali ini aku tidak dapat menepati janjiku dulu, sungguh aku malu terhadap arwah Kek-suheng di alam baka,"

Tak tahan Han Cin membantah.

"Ayah, dahulu ayah bundamu bukankah juga pernah berjanji kepada nenek luarku, supaya kau menikah dengan Piaumoay?"

Kata-kata ini bagai godam yang memukul dada Ti Nio sampai dia berjingkat kaget roman mukanyapun seketika berubah pucat.

"Betul, 'perintah orang tua' itulah penyebab tragedi yang menyedihkan dahulu. Akupun terlalu tunduk pada perintah orang tua, justru karena aku merasa adanya perintah itu sehingga perjodohan itu sudah resmi dan sepantasnya, maka aku melakukan perbuatan terkutuk itu. Piaumoay justru pemberani, dia melawan kehendak orang tua dan menyukai Han-sute. Kalau demikian, apa pula arti janji para leluhur? Perkataan anak Cin memang tidak salah, soal jodoh adalah urusan besar, betapapun jodoh tidak boleh dipaksa, kalau anak-anak muda sama tidak jatuh cinta kenapa perjodohan harus dipaksakan. Aku sudah membuat celaka ibu anak Cin, betapapun tak boleh mencelakainya lagi,"

Ucapan putrinya tadi memang amat melukai gengsi dan harga dirinya, tapi sekaligus telah mencegah terulangnya tragedi yang tidak diinginkan.

"Anak Cin terima kasih kau telah menyadarkan aku. Aku memang bukan ayah yang baik, hampir saja aku melakukan kesalahan lagi. Baiklah kalau kalian memang sudah sama cinta, akupun tidak akan memaksamu,"

Luka lama sanubari Ti Nio kembali ditusuknya sampai darah bercucuran, namun karena rasa sakit luka lama inilah sehingga dia sadar kembali dari kesalahan, dengan berlinang air mata dia minta maaf kepada putrinya.

Senang dan duka hati Han Cin, katanya sambil memeluk sang ayah.

"Ayah, kau adalah ayah yang baik, ayah yang dapat membedakan kebenaran, putrimu amat berterima kasih kepadamu. Ayah sebetulnya engkau tidak perlu gelisah, masih ada cara sempurna untuk menyelesaikan persoalan ini."

Ti Nio melenggong, katanya.

"Cara sempurna bagaimana?"

"Bukankah kau ingin membalas kebaikan keluarga Kek yang telah menahan budi kepada dua generasi keluarga kita?"

"Memangnya, aku ingin melanjutkan perjanjian leluhur kita, justru karena itu. Tapi kini..."

Han Cin menukas dengan tertawa.

"Dua kado yang kau siapkan untuk kau berikan kepada Kek Lam-wi masih boleh kau serahkan, malah tetap boleh kau serahkan sebagai pesalin."

"Lho, maksudmu..."

"Boleh kau berikan sebagai kado pernikahan Kek Lam-wi dengan Toh-cici. Kau sudah anggap dia sebagai keponakan sendiri, kaupun boleh memungut Toh-cici sebagai putrimu."

Ti Nio sadar, pikiran pepatnya terbuka, katanya.

"Betul, tanpa mengikat perjodohan dengan pihak keluarga sendiri, aku masih pantas membalas kebaikan keluarga Kek. Memang, otakku yang bebal ini kenapa tidak bisa berpikir menyimpang, untung kau memberi ingat kepadaku. Anak Cin, kau boleh lega hati. Aku pasti bertindak seperti akal tadi."

Saking senang, Han Cin sampai berjingkrak seraya berteriak.

"Ayah, kau memang ayahku yang baik."

"Jangan memuji aku,"

Ujar Ti Nio tertawa sambil mengelus rambut anaknya.

"sekarang mari pulang, kita tengok keadaan Kiam-ping." 000OOO000 Diluar dugaan Ti Nio dan Han Cin, saat mana ternyata Kek Lam-wi berada di pinggir ranjang Toan Kiam-ping. Toan Kiam-ping berkata.

"Ti Tayhiap banyak terima kasih akan bantuanmu, sehingga sakitku sudah sembuh, mana berani..."

Sebelum dia bicara habis. Ti Nio sudah menukas dengan tertawa lebar.

"Sengaja aku kemari untuk menyampaikan berita baik."

Toan Kiam-ping sudah menerka dalam hati, seketika sorot matanya bersinar, tanyanya.

"Kabar baik apa?"

Ti Nio tersenyum, katanya.

"Anak Cin adalah anak kandungku, persoalannya dengan kau sudah dia jelaskan kepadaku. Maka menurut maksudku setelah sakitmu sembuh biarlah kalian bertunangan dulu. Setelah tiga tahun kau berkabung, baru adakan upacara pernikahan,"

Lalu secara ringkas dia ceritakan bagaimana mereka ayah dan anak bertemu kembali setelah berpisah dua puluh tahun lamanya.

Mendengar berita gembira ini sungguh bukan kepalang senang hati Toan Kiam-ping, katanya tersipu-sipu.

"Banyak terima kasih pada paman yang sudi menyerahkan putrimu kepadaku. Mohon maaf karena Siau-tit sedang sakit, tidak bisa memberi sembah hormat kapada kau orang tua."

"Toan-toako,"

Sela Kek Lam-wi tertawa,"

Kenapa kau membahasakan diri sebagai Siau-tit lagi, seharusnya kau menggunakan istilah Siau-say (menantu),"

Pada hal dalam hati dia sedang dirundung persoalan, meski memberi ucapan selamat setulus hati, namun tawanya kelihatan agak dipaksakan.

"Kek-toako,"

Ujar Toan Kiam-ping.

"jangan kau menggodaku melulu aku sih akan menunggu minum arak bahagia kau bersama nona Toh."

Guram air muka Kek Lam-wi, katanya.

"Jangan melibatkan diriku, aku mana punya rejeki sebesar itu."

Toan Kiam-ping melengak, baru dia hendak tanya apa maksud perkataannya, Han Cin sudah mendahului.

"Kek-suko, ada satu hal ayah hendak memberitahu kepada kau, tapi soal ini panjang kalau dibicarakan..."

"Baiklah, marilah kita bicara diluar, jangan mengganggu Toan-toako yang perlu istirahat."

Han Cin mendahului keluar, katanya.

"Dimana Toh-cici?"

"Entahlah. Dia meninggalkan sepucuk surat tapi tidak menjelaskan kemana dia pergi."

Tergetar hati Han Cin, katanya tergagap.

"Surat, apa yang dikatakan dalam surat?"

"Dia suruh aku tanya satu hal kepada kau."

Mendengar hal ini seperti disambar geledek kaget Han Cin, mukanya seketika merah berubah hijau bergantian, sekuatnya dia tenangkan diri, tanyanya dengan suara gemetar.

"Soal, soal apa?"

Untung Kek Lam-wi kira karena dia mendengar Toh So-so menghilang sehingga hati merasa kaget dan gugup, tidak terpikir akan akibat lain. Katanya.

"Dia bilang Ti-susiok dan kau tahu siapa pembunuh ayahku. Sejak pagi tadi Ti-susiok diundang Liok-pangcu dan Lim-toako untuk berunding menyelesaikan urusan besar, pada hal aku ingin lekas tahu terpaksa aku tanya kau saja."

Sadarlah Han Cin akan duduk persoalannya.

"Ternyata percakapanku dengan ayah di hutan telah dicuri dengar oleh Toh-cici,"

Setelah tahu akan hal ini, meski dia merasa rikuh dan kikuk kaget lagi, namun dari nada pembicaraan Kek Lamwi agaknya Toh So-so tidak menyinggung persoalan yang menyulitkan bagi mereka yang kini berhadapan, legalah hatinya, katanya.

"Betul, kemarin malam ayah sudah berhasil menyelidiki dengan betul, siapa pembunuh ayahmu."

Berita ini sementara telah menentramkan perasaan Kek Lam-wi yang tidak tentram karena kehilangan sang pujaan, hatinya memperoleh getaran baru yang menambah semangat jantannya. Lekas dia bertanya.

"Lekas beritahu kepadaku siapakah dia?"

Pelan-pelan Han Cin berkata.

"Pembunuh ayahmu dulu adalah Lenghou Yong."

Kek Lam-wi melenggong sesaat lamanya, katanya kemudian.

"Tak heran So-so bilang demikian. Ai, tapi jalan pikirannya itu belum tentu pasti benar..."

Tanpa merasa Han Cin melengak, sebelum orang bicara habis segera dia bertanya.

"Apa yang dikatakan Toh-cici, boleh kau beritahu kepadaku?"

"Dia mendorongku untuk belajar silat lebih tekun dan rajin, dengan tanganku sendiri menuntut balas kepada musuh. Dia kuatir kehadirannya di dampingku akan mengganggu pelajaranku, dia berkeputusan untuk meninggalkan aku."

Ternyata To So-so tidak selesai mendengar percakapan Ti Nio dengan Han Cin, secara diam-diam dia tinggal pergi dengan membawa hati yang luka, hati yang rawan. Diam-diam dia berpikir.

"Memang Lam-ko amat mencintai aku, tapi kalau cintanya dibanding kedua hadiah itu, lalu dia akan memilih diriku atau mau menerima kedua hadiah itu?"

Sudah tentu dia tidak bisa memberikah jawaban Kek Lam-wi, tapi dia bisa meresapi derita dan goncangan hatinya.

Dendam orang tua sedalam lautan.

Hal ini diresapinya dengan jelas, cita-cita Kek Lam-wi yang terbesar justru menuntut balas kematian ayahnya.

Sering kali Kek Lam-wi bilang demikian kepadanya.

"Sia-sia aku dilahirkan di dunia ini, siapa pembunuh ayahku, sejauh ini aku masih tak berhasil menyelidikinya,"

Setiap kali menyinggung persoalan yang satu ini, selalu dia merasa masgul dan menderita tekanan batin, seperti hampir gila rasanya.

"Kini siapa pembunuh ayahnya sudah diketahui, tapi dengan bekal kepandaian Lam-ko sekarang, jelas dia bukan tandingan Lenghou Yong. Tanpa bantuan sang Susiok, entah kapan dia baru akan berhasil menuntut balas?"

"Ai, kalau dia sukar berkeputusan memilih yang mana, biarlah aku saja yang memilih jalan hidupku sendiri."

"Lam-ko memang amat mencintai aku, akupun setulus hati mencintainya. Demi cintaku kepadanya, aku rela membantu dia mencapai cita-cita,"

Demikianlah, setelah dia berkeputusan, dengan berlinang air mata dia menulis sepucuk surat ditinggalkan untuk Lam-wi, lalu secara diam-diam dia tinggal pergi.

Sudah tentu Kek Lam-wi tidak percaya akan alasan yang ditulis dalam suratnya itu, setelah dipikir-pikir bolak-balik tetap dia tidak peroleh jawaban, rasa masgul yang menekan perasaan hati tak kuasa lagi dilimpahkan di hadapan Han Cin.

"Sungguh aku tidak mengerti, kenapa dalam saat-saat seperti ini dia justru meninggalkan aku."

Sudah tentu Han Cin tahu sebabnya.

Bagaimana jalan pikiran Toh So-so diapun bisa menyelami.

Ai, tapi mungkinkah dia menjelaskan secara gamblang kepada Kek Lam-wi?

Hari pertama telah pergi, hari kedua telah lalu, hari ketiga juga sudah berselang.

Toh So-so tetap tak kembali.

Tan Ciok-sing dan In San juga tidak kunjung pulang.

Toh So-so menghilang adalah persoalan kecil, padahal menurut rencana Tan Cioksing dan ln San hari kedua sudah harus pulang, tapi sudah tiga hari masih tidak melihat bayangan mereka, kemungkinan mereka telah mengalami musibah di istana raja.

Sambil memindah alamat markas pusatnya, pihak Kaypang bekerja paling sibuk menyebar anak muridnya mencari tahu, namun tiga hari telah pergi, hasilnya tetap nihil.

Lebih menguatirkan lagi karena Thaykam kecil kenalan Coh Cenghun dan biasa mengadakan kontak dengan Kaypang selama ini tidak muncul.

Malam itu Thaykam kecil ini sudah berjanji akan membantu Tan Ciok-sing dan In San dari dalam, sebelumnya sudah dijanjikan juga bila terjadi sesuatu diluar dugaan, dalam jangka tiga hari dia akan berusaha memberi kabar kepada pihak Kaypang.

Sebagai salah satu Thaykam yang bisa meladeni sang Raja dari dekat, sering dia mencari alasan disuruh memberi barang keperluan para selir untuk bolos keluar istana.

Thaykam yang menjaga pintu tahu kedudukannya dalam istana yang telah dipercayai oleh Baginda maka dia bisa keluar masuk dengan bebas.

Tapi selama tiga hari ini, bayangannya masih tidak kelihatan.

Titip kabar kepada orang lain juga tidak.

000OOO000 Bagaimana keadaan Tan Ciok-sing dan ln San sekarang?

Pengalaman mereka harus diceritakan dari permulaan malam pertama.

Gedung istana raja berada didalam lingkungan Jikcin-ceng.

Jik-cin-ceng ada empat pintu, pintu tengah dinamakan du-bun, di atas tembok ada dibangun sebuah gedung berloteng yang dinamakan Ngo-hong-lau, para Wisu yang berdinas malam sebagian tinggal di atas Ngo-hong-lau ini, sudah tentu masuk dari pintu tengah ini tidak mungkin.

Pintu timur dinamakan Tang-hoa-bun, pintu barat dinamakan Say-hoa-bun, semuanya berada dalam lingkungan aliran sungai pelindung kota, sungainya lebar airnya dalam, betapapun tinggi Ginkang seseorang tak mungkin bisa melampauinya.

Hanya pintu utara yang dinamakan Sin-bubun, menghadap ke King-san.

Bagi ahli silat yang memiliki Ginkang tinggi, masih mampu naik dari Sin-bu-bun dan menyelundup kedalam istana.

Dari petang Tan Ciok-sing dan ln San sembunyi di King-san, kira-kira menjelang kentongan ketiga baru mereka mengembangkan Ginkang memanjat ke Sin-bu-bun, padahal di bawah Sin-bu-bun dijaga Wisu, namun di atas tembok tiada bangunan apapun, begitu berada di Sin-bu-bun, langsung mereka melambung ke arah Ni-an-tiam, para Wisu di bawah mimpi juga tidak mengira ada orang berani menyelundup kedalam istana, hakikatnya mereka tidak tahu sama sekali akan kedatangan Tan Ciok-sing dan ln San.

Genteng istana terbuat dari kaca yang licin, untung Ginkang Tan Ciok-sing dan ln San sudah tinggi, setelah melampaui beberapa wuwungan istana kaca akhirnya mereka tiba di Sin-ling-kiong.

Di sinilah letak peristirahatan permaisuri Sia-hoa-wan berada di belakang Sin-ling-kiong.

Thaykam kecil yang berjanji hendak membantu mereka sebelumnya sudah mengadakan kontak hendak bertemu dengan mereka di Simhiang-ting.

Mendekam di wuwungan Sin-ling-kiong, dengan seksama mereka perhatikan keadaan di bawah.

Malam itu cuaca gelap, namun lapat-lapat terlihat bayangan para Wisu yang meronda hilir mudik.

Ternyata pintu gerbang Sin-ling-kiong tepat berhadapan dengan pintu timur dari Giong-hoan didalam Siahoa-wan, pada setiap pintu masuk adalah pantas kalau selalu dijaga oleh kawanan Wisu.

Dua Wisu tampak hilir mudik saling berhadapan, betapapun tinggi Ginkang seseorang, bila dia harus loncat turun dari atap genting yang tinggi, jejaknya pasti konangan oleh para penjaga itu.

Lalu bagaimana baiknya?

Berkerut alis Tan Ciok-sing, sekilas berpikir akhirnya dia mendapat akal.

Setelah diperhatikan dilihatnya kedua Wisu itu yang satu ke arah timur yang lain ke arah barat, setelah melangkah tiga puluhan tindak, lalu sama-sama putar balik.

Tan Ciok-sing diam-diam memelintir dua butir tanah lempung dari bawah sepatunya, di kala kedua Wisu itu memutar balik mendadak dia menjentik dengan jari, kedua butir tanah lempung itu diselentik ke arah dua pucuk pohon yang terletak di kiri kanan.

Ternyata burung yang bersarang di pucuk pohon itu menjadi kaget dan terbang berhamburan mengeluarkan suara berisik.

Sudah tentu kedua Wisu itu kaget mendengar suara ribut dari kicau burung yang kaget dan terbang berhamburan di malam yang gelap ini, sekilas perhatian mereka tertuju kesana, dan sebelum saatnya membalik, serempak mereka mendongak melihat burung-burung yang beterbangan itu.

Kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan oleh Tan Ciok-sing berdua, sigap sekali mereka melompat turun secepat kilat.

Bak umpama selembar daun jatuh, tanpa mengeluarkan suara, bila kedua Wisu itu membalik badan, dan melangkah balik secara berhadapan pula, Tan Ciok-sing berdua sudah menyelinap kesana sembunyi di balik rumpun kembang.

Salah seorang Wiu ternyata jadi curiga, katanya.

"Aneh tanpa sebab masakah burung-burung di atas pohon bisa kaget beterbangan?"

Wisu yang lain tertawa, katanya.

"Kau ini memang sudah kenyang dan terlalu nganggur, burung mau terbang biar terbang, peduli amat dengan kau, buat apa pikirkan sebabnya mereka terbang."

Walau curiga, tapi mengingat dari pada terembet urusan, lebih baik bersikap masa bodoh habis perkara.

Dengan merunduk Tan Ciok-sing dan ln San terus menggeremet maju di antara rumpun kembang, berkat ketangkasan gerak-gerik mereka, akhirnya mereka berhasil menyelinap kedalam Sia-hoa-wan.

Setelah diperhatikan disini ternyata tiada Wisu yang meronda hilir mudik, legalah hati mereka.

Sia-hoa-wan ternyata amat besar dan luas, empat penjuru tidak kelihatan ujungnya.

Pohon-pohon tua banyak terdapat didalam taman kembang ini, gunung-gunungan yang dibangun serba indah, telaga buatan, pepohonan yang terawat serta gardu pemandangan yang dibangun bertingkat tersebar seperti-biji biji catur yang sengaja disebar menurut posisi dan kedudukan yang sudah diperhitungkan.

Berada di Sia-hoa-wan yang luas dan besar, dimanapun kau mudah mendapatkan tempat untuk sembunyi.

Namun di tempat seluas ini cara bagaimana mereka harus menemui Thaykam kecil itu, jelas ini memerlukan tenaga dan pikiran.

Mereka terus maju menyibak kembang menyingkirkan dahan, dengan hati-hati dan penuh perhatian mereka sedang menggeremet ke arah sebuah belumbang, tiba-tiba dilihatnya sinar api berkelebat.

Tan Ciok-sing sembunyi di tempat gelap, waktu dia pasang mata, tampak dua Wisu menenteng lampion sedang mengiringi seorang pemuda yang berpakaian perlente dengan mantel bulu rase sedang bergontai ke arah sini.

In San kaget, segera dia berbisik di pinggir telinga Tan Ciok-sing.

"Toako, coba kau perhatikan, orang ini seperti bukan orang Han, seperti sudah pernah kukenal."

"Betul, keparat ini kalau tidak salah adalah seorang Pwecu yang pernah kita temui di penginapan rumah bangsat tua she Liong itu."

"Tidak salah,"

In San juga ingat sekarang.

"keparat ini malam itu pernah bergebrak melawan Wi-cui-hi-kiau Lim Tayhiap. Menurut Lim Tayhiap Kungfunya cukup liehay, taraf kepandaiannya malah lebih tinggi dari Poyang Gun-ngo dan ke empat jago-jago Watsu lainnya."

"Kemarin baru Liok-pangcu berhasil mencari tahu, keparat ini bernama Tiangsun Co. Konon adalah putra seorang Ongya di Watsu."

Terdengar Tiangsun Co sedang bicara.

"Guruku semestinya akan datang sendiri, tapi setelah dia berunding dengan Ongya, dirasakan bahwa aku seorang diri mewakili dia juga sudah lebih dari cukup. Putusannya ini yakin membuat kalian kecewa bukan?"

Wisu yang di depan berkata.

"Ah kenapa bilang begitu, kapan kita bisa mengundang Pwecu kemari. Siang tadi Hucongkoan kebetulan juga ada membicarakan kau Pwecu..."

Agaknya Tiangsun Co ketarik, sebelum orang bicara habis dia sudah bertanya.

"Oh, jadi Hu-congkoan kalian juga mengenal diriku, apa yang dikatakan?"

"Hu-congkoan memuji Pwecu sebagai tunas muda yang jarang bandingannya dalam negeri sendiri, usia muda pandai bekerja, cerdik dan tangkas serta perkasa. Kali ini sebetulnya dia ingin mengundang Pwecu bersama Milo Hoatsu, namun dia kuatir Pwecu tidak sudi memberi muka kepadanya. Apalagi karena hubungan kita baru terjalin sekali ini, maka kami juga tidak berani bertindak terlalu berani. Tapi kedatangan kau seorang juga sudah cukup. Sungguh tak nyana bahwa Pwecu sendiri sudi kemari, terus terang kita lebih senang menyambut kedatanganmu dari pada kedatangan Milo Hoatsu."

Tiangsun Co tertawa bingar, katanya.

"Kalian terlalu menyanjungku, mana bisa aku dibanding guruku?"

"Bukan kami suka berolok-olok, memang begitulah Hucongkoan mengutarakan isi hatinya."

"Kenapa demikian?"

"Gurumu meski seorang Koksu, jabatan tinggi besar gengsinya. Tapi bicara soal urusan dinas dan kekeluargaan, mana dia bisa dibanding Pwecu yang langsung keturunan kerabat istana, di hadapan Khan Agung, jelas kau lebih mudah bicara bukan? Banyak persoalan yang tidak mungkin kami bicarakan dengan gurumu, kita bisa bebas bicara dengan Pwecu."

"Itu memang betul,"

Ucap Tiangsun Co.

"banyak terima kasih akan penghargaan Hu-congkoan kalian kepadaku, terus terang sudah lama aku juga amat mengagumi Hu-congkoan kalian."

Diam-diam Tan Ciok-sing membatin di tempat persembunyiannya.

"Kiranya mereka telah tiba di Pakkhia, namun berani bergerak secara bebas bukan saja berintrik dengan Liong Bun-kong, kedatangan Tiangsun Co kali ini jelas ada janji pertemuan rahasia dengan Hu-congkoan yang paling berkuasa di istana raja, entah muslihat apa pula di belakang pertemuan mereka nanti? Sayang tugas berat perlu segera dibereskan, tiada tempo untuk mencari tahu ada intrik apa pula antara Tiangsun Co dengan Hu-congkoan."

Tan Ciok-sing berkata bisik-bisik.

"Orang macam apa Hucongkoan itu, apa kau tahu?"

"Pernah kudengar paman Ciu membicarakan dia, konon Congkoan istana dalam bernama Hu Kian-seng, Kungfunya tidak lebih asor dibanding Bok Su-kiat,"

Sembari menjelaskan dia gandeng tangan Ciok-sing diajak memutari sebuah gunungan, menyelinap di antara semak kembang terus merunduk ke depan.

Tak lama kemudian tampak kemilau cahaya yang timbul dari refleks permukaan air, ternyata belumbang sudah kelihatan tak jauh di sebelah depan.

In San berbisik di dekat telinga Tan Ciok-sing.

"Gardu di depan itu adalah Sim-hiang-ting. Coba kau periksa lebih dulu, adakah orang di sekitarnya?"

Ketajaman matanya melihat di tempat gelap tidak sejeli Tan Ciok-sing, maka dia suruh Ciok-sing memeriksanya.

Tan Ciok-sing memandang ke depan dengan seluruh ketajaman matanya, namun tidak kelihatan ada bayangan seorangpun disana.

Diam-diam hatinya kaget, pikirnya.

"Celaka, bila Thaykam kecil itu tiba-tiba ingkar janji, cara bagaimana kita bisa bertemu dengan Baginda Raja."

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba dilihatnya bayangan seorang muncul di gardu di seberang sana entah dari mana dia muncul.

Waktu Tan Ciok-sing mendongak, dilihatnya rembulan tepat di tengah cakrawala, waktu kebetulan tepat kentongan ketiga.

Diam-diam dia tertawa geli dan lega, pikirnya.

"Thaykam kecil ini berjanji kentongan ketiga ternyata dia muncul tepat pada waktunya, agaknya aku malah yang terlalu gelisah."

Baru saja Tan Ciok-sing mau unjuk diri sambil menberikan tanda isyarat.

Pada saat itulah, mendadak didalam gardu tahu-tahu sudah muncul pula bayangan seorang.

Tampak tangan orang ini merenggut kuduk Thaykam kecil, katanya menyeringai.

"Tengah malam buta rata, untuk apa kau berada disini, main sembunyi-sembunyi lagi?"

Gemetar suara Thaykam kecil.

"Aku, aku tidak bisa tidur, kemari mencari angin."

Orang itu mendengus, jengeknya.

"Bulan sembilan saatnya menjelang musim dingin, kau cari angin apa disini? Dan lagi mencari angin kemari kenapa tidak berjalan terang-terangan dari pintu, koh malah merangkak keluar dari lobang di bawah tanah?"

Ternyata di samping Sim-hiang-ting terdapat sebuah gunungan palsu.

Di bawah gunungan ini terdapat sebuah gua yang tembus ke Sim-hiang-ting.

Thaykam kecil dan orang itu sama-sama merangkak keluar dari gua tersembunyi itu.

Sudah tentu Thaykam kecil tak mampu menjawab.

Orang itu berkata.

"Terus terang sudah lama aku memperhatikan dirimu. Kau sering bolos ke pasar di pintu timur dan mampir di sebuah warung minuman mengadakan pertemuan rahasia dengan orang-orang yang tidak dikenal asal-usulnya, kau kira aku tidak tahu? Sayang sejauh ini aku tidak berhasil mendapatkan bukti. Hehe, malam ini belangmu betul-betul sudah kubongkar, hayo lekas berterus terang,"

Habis dia bicara terdengar tenggorokan Thaykam kecil bersuara berkerutuk. Walau Tan Ciok-sing tidak melihat air mukanya tapi dia tahu Thaykam kecil itu sedang disiksa supaya mengaku.

"Hayo mengaku terus terang,"

Ancam orang itu.

Di saat memperoleh kesempatan ganti napas, benak Thaykam kecil sudah berpikir putar balik.

Dia teringat akan keluarganya yang sudah tiada, hidup menyendiri dalam keadaan melarat dan menderita, teringat betapa manis dan baik budi orang Kaypang yang telah menolongnya dari kesengsaraan, dia tahu pula betapa besar arti tugas yang sedang diembannya ini, maka dengan mengertak gigi pelanpelan dia mendongak, katanya mendesis.

"Aku, tiada yang perlu kukatakan."

Ternyata sejak kecil dia sudah ditinggal mati ayah bunda, tiada sanak tiada kadang dia hidup terlunta sejak kecil, suatu ketika dia ditolong orang Kaypang dan berusaha menanamnya didalam istana raja, disini dia dikebiri menjadi Thaykam.

Sudah beberapa tahun dia hidup didalam lingkungan istana, namun sejauh ini hidupnya masih belum tentram, akhir tahun yang lalu baru dirinya diangkat ke istana dalam untuk melayani raja, barulah kehidupannya disini lebih mending, meski sudah hidup serba berkecukupan tapi dia tidak pernah melupakan kebaikan orang-orang Kaypang, tidak pernah lupa akan pesan ayah bundanya sebelum ajal mereka dahulu.

Kini dalam benaknya dia berpikir.

"Tio-thocu amat percaya padaku, maka dia menugaskan aku menjadi agen disini, tugasku berat tapi besar dan penting artinya. Walau aku tidak tahu untuk apa mereka mengutus orang untuk menemui Baginda Raja, namun dia menduga urusan besar ini pasti menyangkut kepentingan rakyat banyak, mana boleh aku menjual mereka."

Agaknya orang itu yakin dengan mudah dia akan berhasil mengompres keterangannya, tak nyana dengan tegas dia menjawab.

"Tidak", hal ini betul-betul diluar dugaannya. Setelah menjengek sekali orang itu tertawa dingin.

"Baik, kau tidak mau bicara, biar kugusur kau kehadapan Hu-congkoan, di kantornya ada delapan belas jenis alat siksa, setiap jam boleh diganti alat siksa lain supaya derita yang kau alami bisa merata, yakin kau akan dilayani dengan puas dan santai. Coba saja waktu itu, kau mau bicara tidak?"

Waktu dia hendak seret Thaykam kecil itu keluar dari Sim hiang-ting, baru saja langkah kakinya bertindak, mendadak dilihatnya sesosok bayangan orang seperti elang menyambar kelenci menubruk ke arah dirinya, belum lagi orang itu sempat bersuara, mendadak dadanya terasa kesemutan, Hian-ki-hiat di dada telak tertimpuk oleh tanah lempung timpukan Tan Ciok-sing.

Sudah tentu lemas pegangan orang itu.

"Bluk"

Kontan dia tersungkur jatuh.

Sementara Thaykam kecil terhuyung bebas lalu menggelendot di lankan dengan pandangan rnenjublek.

Lekas Ciok-sing bebaskan tutukan Hiat-to di tubuh Thaykam kecil, tangan kanan terulur, di Yang-ciang dia tekan tiga kali, lalu menekan pula tiga kali di In-ciang.

Inilah isyarat yang telah mereka janjikan sebelumnya.

Sungguh kaget dan girang Thaykam kecil bukan main, katanya.

"Kau utusan pihak Kaypang syukurlah akhirnya kau datang juga."

"Maaf, aku datang terlambat selangkah, sehingga kau menderita,"

Demikian ucap Tan Ciok-sing.

"Sekarang tak usah banyak bicara, beritahu padaku, apakah orang ini wisu yang bertugas malam ini?"

"Dia ini pimpinan barisan wisu, tapi malam ini bukan dia yang berdinas,"

Sahut Thaykam kecil.

Ciok-sing tidak perlu kualir, segera ia turun tangan, sekali remas dia gunakan Jong-jiu-hoat menggetar pecah urat nadi pemimpin barisan Wisu, tanpa mengeluarkan suara jiwa orang itu melayang seketika.

"Dimana sekarang Baginda berada, kau tahu?"

Tak sempat menyembunyikan mayat orang itu, segera dia tanya kepada Thaykam kecil. Thaykam kecil menjawab.

"Baginda ada di Long-gak-kek, tadi aku melihat dia sedang membaca laporan dinas, kudengar dia berpesan kepada Thaykam yang berdinas di kamar bukunya, katanya dia malam ini hendak tidur di kamar tulis, tidak seperti biasanya dia harus tidur bergiliran di kamar selirnya. Agaknya malam nanti dia akan tidur jauh malam, mumpung ada kesempatan, kau bisa menemuinya disana. Kau tahu letak Long-sim-tiam,"

Dalam gambar peta yang dibuat Thaykam kecil ada diterangkan dengan jelas, karena tempat itu merupakan gedung bangunan yang cukup besar, Tan Cioksing yakin tidak sulit untuk mencarinya, katanya.

"Aku tahu."

"Kalau demikian maaf aku tidak antar kalian kesana,"

Ucap Thaykam kecil.

Sementara itu In San berada diluar gardu mengawasi keadaan sekitarnya, Thaykam kecil tahu dia datang bersama Tan Ciok-sing.

Untung dalam jangka waktu yang pendek ini tiada rombongan ronda yang lewat disini.

Thaykam kecil ini tidak bisa main silat, jikalau dia disuruh mengunjukkan tempatnya mungkin bisa menambah beban mereka malah.

Maka Tan Ciok-sing berkata.

"Baiklah, kau tak usah kuatir, aku pasti dapat temukan tempat itu. Tolong mayat ini kau yang mengurusnya." -Dalam hati dia membatin, setengah jam lagi bakal bertemu dengan Baginda, umpama mayat orang ini ketemu orang juga tidak jadi soal lagi. Baru saja Tan Ciok-sing hendak berlalu, Thaykam kecil itu mendadak berkata.

"Hiapsu, tunggu sebentar..."

"Masih ada persoalan apa?"

Tanya Tan Ciok-sing menoleh. Sikap Thaykam kecil agak ganjil, sesaat kemudian baru berkata.

"Bila kau bertemu dengan Tio-thocu, tolong sampaikan kepadanya, katakan bahwa aku tidak pernah melupakan petuahnya."

Karuan Tan Ciok-sing melenggong, pikirnya.

"Dalam saat segenting ini, kau masih mengoceh kepersoalan yang tidak perlu,"

Katanya.

"Baik, pesanmu pasti kusampaikan,"

Lalu dia ajak In San berlalu.

Setelah meninggalkan Sim-hiang-ping baru Tan Ciok-sing menelaah pesan Thaykam kecil yang dirasakan agak ganjil, serta mimik mukanya yang aneh, mau tidak mau dia menaruh curiga, belum jauh mereka pergi, sayup-sayup tiba-tiba didengarnya suara rintihan seseorang.

Tan Ciok-sing .

terperanjat, katanya.

"Lekas balik, kita lihat apa yang terjadi?"

"Lihat apa?"

Tanya In San heran. Maklum pendengarannya tidak setajam Tan Ciok-sing, meski dia mendengar sesuatu suara dari Sim-hiang-ting, namun dia tidak bisa membedakan suara apa itu.

"Mungkin Thaykam kecil itu mengalami sesuatu,"

Ujar Tan Ciok-sing.

Tadi mereka melihat Thaykam kecil itu telah menyeret mayat orang itu kedalam gua di bawah gunungan, maka begitu tiba di Sim-hiang-ting, langsung mereka juga menyusup kedalam gua, seketika mereka terbelalak kaget, ternyata sebatang belati tampak menancap di dada Thaykam kecil, tubuhnya roboh berdampingan di samping mayat tadi dan masih kelejetan, ternyata dia menggunakan belati yang tergantung di pinggangnya mayat itu untuk membunuh diri.

Lekas Tan Ciok-sing menubruk maju serta menutuk beberapa Hiat-to untuk mencegah darah mengalir keluar, tapi belati itu menembus jantung, mana mungkin jiwanya ditolong lagi?

Pertolongan pertama yang dilakukan paling hanya memperpanjang napasnya sehingga dia masih bisa bertahan hidup beberapa kejap lamanya.

Lambat laun Thaykam kecil membuka mata, katanya lirih.

"Kenapa tidak lekas kau tunaikan tugasmu?"

"Kau, kenapa kau bertindak senekat ini?"

Ujar Tan Ciok-sing gugup.

"Cepat atau lambat peristiwa ini pasti terbongkar, dan lagi aku kuatir bila kejadian ini terlalu cepat diketahui mereka, aku sendiri tidak yakin apakah di bawah siksaan mereka aku kuat bertahan untuk tidak mengaku."

Tahu jiwanya tak mungkin ditolong lagi, terpaksa Tan Cioksing berkata.

"Adakah pesanmu yang lain?"--Segera dia dekatkan telinganya di mulut orang, didengarnya suara yang keluar dari mulut Thaykam kecil selirih bunyi nyamuk.

"Aku, aku sudah tidak punya orang tua, tiada sanak tidak punya kandang, tiada yang perlu kau repotkan. Tolong saja kau sampaikan pesanku tadi kepada Tio-thocu,"

Habis bicara matanya terpejam, napaspun putus. Tan Ciok-sing menyembah tiga kali terhadap jenazah Thaykam kecil, katanya.

"Walau Thaykam ini tidak pandai silat, namun dia patut disebut seorang pendekar besar."

In San menghibur.

"Sekarang bukan saatnya bersedih, marilah kita dengarkan pesannya, lekas mengerjakan tugas kita yang penting."

Mereka segera mengembangkan Ginkang, sepanjang jalan ini dengan mudah mereka menghindari kawanan Wisu yang mondar mandir.

Lekas sekali mereka sudah mengitari Yongsim-tiam, Long-gak-kekpun telah tampak di depan mata.

Long-gak-kek merupakan gedung bertingkat dua, mereka sembunyi di tempat gelap, mendongak ke atas, tampak kamar di atas loteng memang ada sinar lampu yang menyorot keluar, bayangan seorang tampak juga di atas jendela sutra, dari gayanya tampaknya sedang membaca sesuatu, pastilah Baginda Raja sedang membaca laporan dinas.

Di bawah loteng di depan pintu berdiri dua Wisu.

Dalam hati Tan Ciok-sing mereka.

"Kungfu kedua Wisu ini pasti lebih tinggi, tanah lempung kecil mungkin tak kuasa menutuk Hiat-to mereka,"

Terpaksa dia menyerempet bahaya, dengan Kim-ci-piau (mata uang emas) menggunakan cara menimpuk menutuk Hiat-to.

Mata uang itu memang meluncur secepat kilat, baru saja kedua Wisu itu membuka mulut hendak berteriak, Hiat-to pelemas di tubuh mereka telah tertimpuk dengan telak.

Kontan tubuh mereka bergetar sekali, tapi mereka tetap berdiri tegak di tempat masing-masing tanpa dapat bergerak lagi.

Kecuali seorang ahli silat yang kebetulan lewat di depan mereka, orang lain takkan tahu kalau mereka sudah dikerjai orang.

Seluruh perhatian Baginda Raja sedang ditujukan pada laporan yang dibacanya, hakikatnya tidak ambil peduli dan tidak tahu apa yang terjadi diluar.

Tapi diluar kamar bukunya dijaga pula seorang jago kosen dari istana, dengan jelas jago kosen ini mendengar luncuran kedua mata uang dan kedua Wisu yang jaga di bawah seketika bungkam.

Sudah tentu timbul rasa curiga jago kosen ini, tapi mimpi juga dia tidak pernah menduga ada orang luar yang berani datang ke istana yang terlarang, sudah tentu tak pernah terbayang pula olehnya bahwa ada pembunuh hendak mengincar jiwa junjungannya.

Tanpa bersuara atau mengganggu Baginda, diam-diam dia beranjak dari tempatnya, dengan berjinjit-jinjit dia turun dari loteng tanpa diketahui siapapun.

Tan Ciok-sing memang menanti kedatangannya, begitu kaki orang melangkah keluar pintu, kontan dia persen orang dengan timpukan sebentuk mata uang.

Tak nyana jago kosen ini memiliki kepandaian tinggi, mata uang itu sempat dijentiknya pergi.

Namun demikian, walau mata uang itu dijentiknya jatuh, jari tangan sendiripun sakit bukan main, malah seluruh lengan kanannya pegal dan linu tak mampu bergerak lagi.

Dalam waktu singkat terasa angin kesiur menerjang tiba, tahu-tahu Tan Ciok-sing di kiri dan ln San di kanan sudah menyergapnya bersama.

Walau orang ini boleh terhitung jago kosen, namun bila dibanding Komandan Gi-lim-kun Bok Su-kiat dan kepala barisan Bayangkari Hu Kian-seng masih kalah jauh, padahal taraf kepandaian Tan Ciok-sing kira-kira sembabat dengan Bok Su-kiat, cukup Tan Ciok-sing seorang sudah mampu membekuk dia, apalagi ada ln San membantunya?

Akibatnya meski dia melawan sekuat tenaga, hanya tiga gebrak dia mampu melawan, kontan dia terpukul roboh oleh Tan Cioksing, celakanya diapun tidak sempat bersuara minta tolong.

Tapi waktu tubuhnya jatuh masih mengeluarkan suara gedubukan, suaranya jelas lebih keras dari mata uang yang jatuh tadi.

Baginda Raja yang sedang asyik membaca di kamar bukunyapun mendengar suara gedubukan ini.

Dengan kaget dia meletakkan laporan dinas yang dibacanya, tanyanya kepada seorang Thaykam di sampingnya.

"Siau-cu-cu, kau dengar tidak, barusan Tim mendengar seperti ada benda apa yang jatuh diluar?"

Siau-cu-cu she Bong bernama Tit, salah seorang Thaykam berkuasa yang paling dipercaya dan disayang Baginda, ambisinya besar, pandai menjilat dan berusaha untuk menyampaikan suatu permintaan tertentu kepada Baginda Raja.

Katanya.

"Biar hamba keluar melihatnya, mungkin sesuatu yang jatuh tertiup angin kencang. Tiga Wisu yang dinas jaga malam ini di Long-gak-kek semua berkepandaian tinggi, Baginda tidak usah kuatir apa-apa."

Baginda Raja berkata.

"Tim yakin takkan ada sesuatu yang terjadi, baiklah tak usah kau keluar melihatnya."

"Terima kasih Baginda,"

Ucap Bong Tit. Baginda berkata pula.

"Barusan Tim ada membaca sebuah laporan, baru aku tahu diluar ternyata telah terjadi sesuatu yang menggemparkan, tapi Tim masih dikelabui sejauh ini. Tim jadi ingat rencana yang pernah kau usulkan beberapa hari yang lalu, jikalau diluar kekuasaan kepala Bayangkari didirikan lagi sebuah badan yang dinamakan Say-tio, em, ya, rencana ini, rencana ini..."

"Harap Baginda periksa dengan baik,"

Lekas Bong Tit mengumpak.

"maksud hamba adalah supaya Baginda lebih banyak memilih orang kepercayaan untuk disebar mata kuping (mata-mata)..."

Ternyata Say-tio atau suatu badan intelejen yang akan dipimpin sendiri oleh Bong Tit.

Bukan saja kekuasaan dan operasinya hendak menandingi kepala Bayangkari yang paling berkuasa di seluruh bilangan istana, diapun ingin memiliki kekuasaan besar untuk membunuh dan menghukum siapa saja yang dinilainya perlu dihukum atau dibunuh.

Belum habis mereka berbicara mendadak "Biang"

Daun pintu tahu-tahu menjeplak keras didorong orang dari luar. Orang yang menerjang masuk jelas adalah Tan Ciok-sing dan In San berdua. Bong Tit membentak.

"Hoan Tiong-cu, keparat gila kau? Ada urusan apa kau main terjang..."

Hoan Tiong-cu adalah jago kosen yang jaga diluar kamar dan ditutuk oleh Tan Cioksing dengan timpukan mata uang tadi.

Tapi setelah melihat jelas siapa yang menerjang masuk ternyata muda mudi, yang laki bukan Thaykam dan yang perempuan juga bukan dayang, maka mulutnya yang memangnya berkaok itu seketika melompong lebar tak kuasa meneruskan kata-katanya.

Waktu Tan Ciok-sing menegas, Baginda Raja ternyata adalah pemuda yang berusia dua puluh lima atau duapuluh enam tahun, sementara Thaykam yang dipangil Siau-cu-cu yang bernama Bong Tit berusia sekitar tiga puluhan.

Baginda Raja kelihatan jauh lebih tenang dan tabah, bentaknya.

"Siapa kalian? Untuk apa main terjang ke kamar buku Tim?"

Perlu diketahui Baginda Raja bernama Cu Kian-sin, bila dinilai sesungguhnya raja ini tidak begitu jelek.

Sejak umur delapan belas tahun dia dinobatkan sebagai raja (tahun 1465), belum lama setelah dia mencuci bersih nama baik Ih Cian yang pernah menjabat sekretaris militer di waktu ayah bagindanya dulu menjadi raja, sayang nasib Ih Cian amat jelek, akhirnya dia mati oleh komplotan dorna yang memfitnahnya.

Karena Cu Kian-sin (raja) ini pernah melakukan perbuatan yang mulia ini maka Liok Kun-lun, dan Lim Ih-su mempunyai kesan yang cukup baik dan menaruh angan-angan kepadanya.

Tapi sayang sekali semakin dewasa dia justru semakin lemah hati dan mudah dijilat, segan menggunakan otak sehingga kawanan dorna memperoleh kesempatan untuk berkomplot dan pegang kuasa untuk mengelilinginya, dia dianjurkan hidup foya-foya dan dimabuk kesenangan, sehingga akhirnya dia menjadi raja bulan-bulanan dan dijadikan boneka oleh kawanan dorna yang berkuasa.

Belakangan setelah dia mengangkat Bong Tit dan mempercayakan dia mendirikan Say-tio, dia lebih diperalat untuk memberantas para pembesar yang setia dan jujur, sehingga pemerintahannya semakin bobrok.

Ini terjadi di belakang hari, disini kami tidak bercerita berkepanjangan.

Meski berwatak lemah, betapapun dia seorang raja sedikit banyak masih punya wibawa, kini dengan menabahkan hati dia membentak, padahal jantungnya berdebur keras, sehingga sikapnya masih kelihatan tenang dan agung sebagaimana seorang raja, jelas dia jauh lebih tenang dibanding Bong Tit yang sudah gemetar di pinggir sana.

""Baginda boleh tidak usah takut,"

Ujar Tan Ciok-sing.

"ada urusan penting yang ingin kami sampaikan kepada paduka, jadi tak usah dibuat kuatir."

Di kala Tan Ciok-sing bicara, In San sekali berkelebat telah menubruk ke arah Bong Tit serta menutuk Hiat-tonya.

"Bluk"

Kontan Bong Tit terkulai roboh tidak ingat diri.

Baru sekarang Cu Kian-sin ambil perhatian, dilihatnya In San adalah seorang gadis belia yang cantik rupawan, tapi gadis rupawan ini ternyata tega turun tangan sekeji dan seliehay ini, mau tidak mau dia kaget dan jeri pula.

"Kau, kau bilang tidak bermaksud jahat, lalu, kenapa kalian melukai Thaykam yang mendampingiku?"

Sesaat kemudian baru Cu Kian-sin kuasa bertanya dengan gelagapan. Lekas In San berlutut, katanya.

"Mohon paduka suka memaafkan kekurang ajaran hamba, soalnya urusan yang hendak kami laporkan teramat penting dan hanya paduka saja yang boleh tahu. Terpaksa hamba bertindak kasar menutuk Hiat-to penidur Thaykam ini. Setelah dua belas jam, dia akan siuman sendiri."

Melihat orang menyembah dan memberi hormat selayaknya, legalah hati Cu Kian-sin, katanya.

"Nona memiliki kepandaian setinggi ini, sungguh jarang terlihat olehku. Baiklah kuampuni kesalahanmu, silahkan bangun, Nona, kau belum menjelaskan kepada Tim, siapa kau sebenarnya?"

Setelah rasa jerinya sedikit tawar, mau tidak mau dia jadi kepincut melihat kecantikan In San, diam-diam dia membatin.

"Nona manis ini cantiknya bagai kembang, lebih jelita dari selir yang beberapa hari yang lalu kugauli."

In San adalah gadis polos dan suci murni, sedikit banyak dia masih membawakan wataknya yang kekanak-kanakan, mana dia tahu bahwa sang raja padahal kepincut oleh kecantikannya, melihat orang kesima mengawasi dirinya tak tertahan dia cekikik geli, katanya.

"Waktu kecil dulu hamba pernah bertemu dengan Baginda, tapi Baginda pasti sudah lupa."

Cu Kian-sin terheran-heran, katanya.

"Kau pernah melihat Tim, jadi, kau, siapakah kau?"

In San berkata.

"Kakekku adalah Bu-conggoan In Jong, ayahku adalah In Hou pernah menjabat Komandan Gi-lim-kun. Waktu kecil pernah ayah membawaku bermain-main di Siahoa-wan, waktu itu kebetulan Baginda sedang naik perahu memetik buah teratai di telaga buatan bersama beberapa dayang, ayah memberitahu padaku bahwa kau adalah Thaycu (pangeran)."

Cu Kian-sin tertawa, katanya.

"O, jadi kau ini cucu In Jong, putri In Hou. Kakekmu dulu amat berjasa terhadap ayah Baginda almarhum, sayang ayahmu tidak mau bekerja untuk Tim. Apakah ayahmu baik-baik saja?"

"Terima kasih akan perhatian Baginda, sayang sekali ayah telah lama meninggal."

"Sayang, sayang sekali, apakah kau punya saudara?"

"Ayah ibuku hanya melahirkan aku seorang."

"Wah harus disayangkan. Mengingat kau adalah keturunan pembesar setia, sebetulnya Tim ingin menganugrahi jabatan dalam kalangan pemerintahan untuk sanak kadangmu, sayang keluargamu tiada lelaki yang bisa menerima anugrahku ini. Tapi pembesar perempuan sekarang juga sudah umum, bagaimana kalau kau tinggal di istana menjadi pembesar perempuanku yang utama. Apalagi ilmu silatmu amat bagus, kau boleh menjadi pengawal pribadiku, bila senggang boleh kau ajarkan kepandaian kepada para dayang dan selirku supaya mereka pandai menjaga diri."

"Terima kasih atas penghargaan Baginda, aku tidak ingin jadi pembesar. Bicara soal Kungfu, dibanding Tan-toako ini, aku masih kalah jauh, bila Baginda ingin dibantu orang yang berkepandaian tinggi..."

Agaknya Cu Kian-sin tidak senang dan tidak sabar mendengar In San mengangkat orang lain, segera dia menukas.

"Soal lain biarlah dibicarakan nanti. Tim ingin tanya padamu, apa kehendakmu? Kalau tidak jadi pengawal, lalu, kau jadi, jadi..."

Belum terpikir olehnya anugrah apa yang tepat untuk dia berikan kepada In San, Tan Ciok-sing yang menunggu di samping sejak tadi juga sudah tidak sabar lagi, pikirnya.

"Baginda lalim ini ternyata suka mengurus tetek bengek, kenapa tidak dia gunakan otaknya, tengah malam buta rata kami menyelundup ke tempat kediamannya yang terlarang dan terjaga ketat, memangnya hanya ingin ajak ngobol sama kau?"

Mengingat waktu amat mendesak, dia tidak peduli apakah tindakannya kurang ajar atau merendahkan derajat Baginda, segera dia tampil ke muka serta menjura, katanya.

"Siau-bin (rakyat jelata) Tan Ciok-sing, ada urusan penting ingin lapor kepada paduka yang mulia, mohon maaf akan kelancangan kami ini."

Dia hanya menjura tanpa berlutut, menurut aturan jaman itu, pemberian hormat itu ditujukan kepada sesama orang yang setingkat.

Jadi kalau diusut menurut perundangundangan kerajaan, boleh dikata Tan Ciok-sing sudah melanggar aturan yang patut dihukum penggal kepala karena dianggap kurang ajar terhadap rajanya.

Karuan Cu Kian-sin gusar, bentaknya.

"Memangnya matamu tidak melihat Tim sedang bicara dengan nona In ini? Kau ada keperluan apa boleh dibicarakan nanti. Kalau tidak kau keluar saja, biar nona In mewakili kau bicara saja,"--jikalau ada Wisu di dekatnya, tentu dia sudah suruh pengawalnya membekuk Tan Ciok-sing.

"Aku tahu,"

Bantah Tan Ciok-sing.

"urusanku teramat penting dan tidak boleh ditunda-tunda, jikalau Baginda tidak selekasnya memberi putusan dan bertindak membereskannya, kemungkinan kawanan dorna akan bergerak lebih dulu."

In San berkata dengan tertawa.

"Tan-toako ini berwatak berangasan, Baginda, mohon kau maafkan kelancangannya. Tapi apa yang dikatakan memang benar."

Cu Kian-sin lantas melirik dingin kearah Tan Ciok-sing, katanya.

"O, jadi kau mau laporan apa terhadap Tim? Siapa itu pembesar dorna? Coba jelaskan."

Tan Ciok-sing berkata.

"Kedatanganku ini demi memperjuangkan kepentingan rakyat jelata. Bicara soal mengadu, bolehlah dikata mengadu untuk memperjuangkan nasib rakyat. Tapi lebih penting lagi adalah demi kepentingan tanah air dimana sekarang Paduka berkuasa. Seharusnya aku harus melampirkan surat laporan, namun kuatir kawanan dorna juga ada kaki tangan di dekat Baginda, maka terpaksa kami memberanikan diri menghadap langsung kemari. Pembesar dorna itu adalah..."

Sampai disini dia ulur jari tengah tangan kanan, lalu menggores huruf di permukaan meja tulis raja, nama orang yang ditulisnya dengan gaya indah dan kuat itu adalah 'Liong Bun-kong'.

Meja yang licin mengkilap terbuat dari kayu cendana yang keras itu ternyata tergores dalam oleh gerakan jari tangan Tan Ciok-sing, melihat demontrasi kehebatan ilmu jari Tan Cioksing ini, Cu Kian-sin seketika berdiri mematung, sekujur badan menjadi dingin lemas seperti diguyur air dingin, otaknya yang kepincut oleh kecantikan In San tadi seketika sadar.

Diamdiam dia membatin.

"Mereka datang bersama, sikap In San begitu mesra terhadap anak muda ini, agaknya hubungan mereka tentu sudah teramat intim. Bocah ini dapat menggores huruf di permukaan meja, jikalau jarinya yang sekeras baja itu mengetok tubuh Tim, wah pasti celaka aku ini,"

Mengingat kedudukan dan situasi yang dihadapinya sekarang, seolaholah dirinya sudah berada di genggaman bocah she Tan ini, mana berani dia bertingkah dan unjuk kewibawaan sebagai seorang raja?

In San tertawa, katanya.

"Toako. di meja Baginda kau menulis nama pembesar dorna itu, apa kau tidak takut dilihat orang lain? Apalagi meja Baginda ini begini antik, setelah kau gores dengan huruf-huruf pembesar keparat itu menjadi lenyap nilai ke antikannya, selanjutnya tentu tak bisa dipakai lagi, sungguh sayang."

"Kukira tidak jadi soal, biarlah aku hapus saja,"

Ujar Tan Ciok-sing, sekenanya telapak tangannya menghapus di permukaan meja, eh, seperti main sulap belaka, ketiga goresan huruf itu ternyata lenyap tak berbekas lagi, namun di permukaan meja bertumpuk serbuk halus.

Setelah membersihkannya, Tan Ciok-sing berkata.

"Permukaan meja ini terpaksa kuhapus sedikit dekuk ke bawah dan tidak rata lagi, untuk ini harap Baginda memberi maaf."

Karuan semakin ciut nyali Cu Kian-sin, cukup lama kemudian baru dia kuasa bicara.

"Itu soal kecil, tak usah dirisaukan. Entah karena apa Hiap-su (tuan pendekar) mengatakan Liong-siangsu (sekretaris Liong) adalah pembesar dorna?"

"Secara diam-diam dia mengadakan intrik dan meneken surat perdamaian dengan pihak Watsu. Duta rahasia utusan Watsu itu masih berada di rumahnya, apakah Baginda tidak tahu?"

Tanya Tan Ciok-sing. Cu Kian-sin pura-pura kaget, katanya.

"O, apa betul ada kejadian itu? Sungguh Tim tidak tahu sama sekali."

"Kalau demikian nyali Liong Bun-kong sungguh teramat besar, diluar tahu raja dia berani bertindak diluar garis kekuasaannya. Mohon Baginda menghukumnya sebagai penghianat bangsa menjual negara."

"Tapi apakah Hiapsu bukan mendengar fitnah orang lain?"

Tanya Cu Kian-sin.

"Ketahuilah menghukum pembesar tinggi merupakan perkara dinas yang luar biasa, apalagi Tim tidak bisa menerima pengaduan sepihak lalu mempercayainya demikian saja, bila kau bisa mengunjukkan bukti dan kenyataan bahwa dia penghianat dan penjual tanah air, barulah hukuman bisa segera dilaksanakan."

"Baginda menginginkan bukti dan kenyataan, kukira ini bukan soal sulit, coba Baginda periksa inilah surat perjanjian permohonan damai yang di tanda tangani oleh Liong Bunkong sendiri."

Cu Kian-sin terima konsep surat permohonan perdamaian itu serta membaca dan memeriksanya dengan seksama, diamdiam hatinya amat kaget dan badan menjadi lunglai, mulutpun terkancing tak mampu bersuara.

Dia kaget bukan karena reaksi surat perdamaian ini terlalu merendahkan derajat dan martabat bangsa.

Pada hal isi dan makna dari surat perjanjian ini sebelumnya sudah dia ketahui.

Surat-surat yang tadi dia periksa dan baca adalah lampiran surat perjanjian damai dari laporan rahasia Liong Bun-kong atas hasil kerjanya, jadi isi yang tertulis di dalamnya kira-kira sama dengan konsep surat perjanjian yang diserahkan Tan Ciok-sing kepadanya.

Yang membuatnya kaget adalah surat sepenting ini, bagaimana bisa Liong Bun-kong tidak menyimpannya di tempat rahasia sehingga terjatuh ke tangan Tan Ciok-sing?

Agaknya In San dapat meraba jalan pikirannya, katanya.

"Beberapa malam yang lalu kami memperolehnya langsung dari tangan Liong Bun-kong di rumahnya. Dengan mata kepala kami sendiri kami saksikan duta rahasia Watsu itu menginap di rumahnya, sayang kami tidak berhasil membekuk Duta rahasia Watsu itu."

In San berkata lebih lanjut.

"Tulisan tangan Liong Bunkong, tentunya Baginda cukup mengenalnya, jangan dicurigai bahwa surat yang kami serahkan ini palsu."

Jantung Cu Kian-sin benar-benar berdegup keras, lekas dia berkata.

"Nona In, dua generasi keluargamu adalah pembesar setia terhadap kerajaan, apa yang kau katakan, masa Tim tidak percaya."

"Kalau Baginda percaya kami tidak main curang, coba periksa surat perjanjian itu, apakah tidak terlalu merendahkan derajat dan martabat bangsa serta negara?" --lalu dia serobot surat perjanjian itu dari tangan Cu Kian-sin serta membaca bagian yang penting.

"Pertama. Kerajaan Bing dilarang menempatkan pasukannya di kota Tay-tong, itu berarti mengosongi dan membuka pintu membiarkan tentara Watsu masuk tanpa rintangan menduduki tanah kita. Kedua. daerah barat kota Yong-ciu dan utara Liong-ciu diserahkan kepada pihak Watsu, itu berarti menyerahkan tanah dan rakyat kita kepada musuh di bawah kekuasaan penjajah, tanpa berperang musuh telah menduduki tanah perdikan kita. Ketiga. setiap tahun harus mengirim tiga ratus laksa tahil perak sebagai upeti kepada raja Watsu, itu berarti darah dan keringat rakyat diperas untukmemperkuat rangsum dan perongkosan angkatan perang musuh. Keempat. Dynasti Bing diharuskan menggabung kekuatan pasukannya untuk membersihkan perbatasan dan tangan kaum..."

Sampai disini sengaja Tan Ciok-sing merandek, lalu bertanya kepada Cu Kian-sin.

"Untuk yang ke empat ini tentunya Baginda merasa menguntungkan bagi kerajaan di bawah pemerintahanmu bukan? Entah Baginda tahu atau tidak siapakah 'kaum pemberontak"

Yang akan disapu bersih oleh pihak Watsu dengan kekuatan pasukan kerajaan kita?"

Sudah tentu Cu Kian-sin tahu, tapi mana dia berani terus terang, terpaksa pura-pura tidak tahu, tanyanya.

"Siapa?"

Tan Ciok-sing berkata.

"Yaitu Kim-to Cecu Ciu San-bin, yang menggabung seluruh kekuatan laskar rakyat membendung beberapa kali intervensi pasukan besar Watsu."

In San ikut memberi penjelasan.

"Ayah Ciu San-bin yaitu Ciu Kian dahulu pernah diangkat sebagai kepala staf pasukan besar yang berkuasa di Tay-tong di kala ayahmu almarhum bertahta dulu, belakangan Ciu Kian dipaksa untuk memberontak oleh kelicikan dan fitnah Ong Tin yang berkuasa waktu itu, walau akhirnya Ciu Kian menduduki gunung mengangkat diri sebagai raja penyamun, namun selamanya dia pantang bentrok dengan pihak kerajaan, sejauh ilu dia masih setia dan loyal kepada tanah air dan bangsa serta rajanya. Mereka ayah beranak dua generasi membuka ladang bercocok tanam demi kesejahteraan laskar rakyat yang dipimpinnya, belum pernah mereka membegal dan merampas hak milik pemerintah. Yang diincar selalu adalah milik pihak Watsu. Baginda, coba katakan, laskar rakyat yang berjuang demi rakyat dan membela tanah air, bolehkah dianggap sebagai kaum pemberontak?"

Terpaksa Cu Kian-sin menanggapi.

"Kalau seperti apa yang kau katakan, sudah tentu tidak boleh dianggap kaum pemberontak."

Tan Ciok-sing meneruskan komentarnya.

"Syarat ke empat ini justru yang paling keji dan jahat, secara langsung Baginda sendiri harus menghancurkan negara yang dikuasainya."

"Pendek kata,"

Timbrung In San.

"bila Baginda menuruti syarat yang diajukan itu, menanda tangani perjanjian ini, itu berarti rakyat dan tanah air kita terancam malapetaka dan kemelut. Maka kami mohon Baginda suka bertindak dan berkeputusan dengan tegas, jangan kena pengaruh oleh orang lain."

"Baiklah,"

Ucap Cu Kian-sin.

"tolong kalian suka memikirkan cara bagaimana Tim harus bertindak?"

Tan Ciok-sing tidak sungkan lagi, katanya.

"Menurut pendapatku, paduka harus berani bertindak tegas dan memikirkan kepentingan bangsa dan negara, menyikat pembesar dorna, membersihkan aparat pemerintah dari anasir-anasir jahat, angkat senjata melawan serbuan kaum penjajah."

Cu Kian-sin mendengarkan sambil manggut-manggut, sesaat dia menunduk menepekur, lalu dia pegang poci teh kecil di atas meja menuang secangkir kecil terus ditenggak habis.

Seolah-olah minum teh untuk membangkitkan semangatnya, dengan semangat menyala baru dia bisa memusatkan pikirannya.

Setelah minum baru Cu Kian-tin seperti teringat sesuatu, katanya tertawa.

"Nona In kau adalah tamuku, kita boleh tidak persoalkan perbedaan derajat, adalah pantas kalau Tim menyambutmu sebagai tamuku. Selama ini kau disini, aku belum sempat menyuguh barang secangkir teh. Inilah daun teh keluaran Kiu-kang yang diseduh dengan air embun, rasa dan baunya amat harum, silahkan kaupun minum secangkir,"

Lalu dia ambil cangkir yang lain serta hendak mengisinya dengan air teh.

Sejak magrib tadi setelah memasuki istana, sampai kentongan ketiga ini In San memang belum minum, apalagi karena terlalu tegang dan was-was tadi tidak dirasakan, kirii dia benar-benar merasa haus sekali.

Mencium bau teh, dalam hati dia berpikir.

"Entah bagaimana rasanya air teh yang diminum raja, mumpung ada kesempatan aku dapat mencicipinya disini,"

Segera dia maju mendekat serta merebut poci dari tangan Cu Kian-sin serta menuangnya secangkir penuh. Katanya.

"Terima kasih atas pemberian secangkir teh ini, mana berani menyusahkan Baginda, biarlah aku mengisinya sendiri."

Jiwa In San memang masih kekanak-kanakan, ingin merasakan bagaimana rasanya air teh pemberian raja, namun tak pernah dia mengabaikan kewaspadaan.

Namun dia melihat Baginda sudah minum dulu secangkir, air teh yang dia tuang sendiri keluar dari poci yang sama, maka dia pikir teh yang boleh diminum raja, tentu boleh juga dia minum.

"Tan-hiapsu,"

Kata Cu Kian-sin.

"kau sudah bicara panjang lebar, tentunya mulutmu juga sudah kering silahkan kaupun minum secangkir. Sungguh harus disesalkan, hanya ada orang Thaykam yang biasa melayani aku di kamar buku ini, sepantasnya Thaykam yang meladeni kalian berdua."

"Baginda tidak usah sungkan, aku tidak dahaga,"

Sahut Tan Ciok-sing. Namun In San sudah menuang secangkir penuh, katanya tertawa.

"Toako, In-bu-teh ini memang enak rasanya, Baginda sudi memberimu secangkir, marilah kau habiskan secangkir ini."

Melihat In San tidak menunjukan reaksi apa-apa setelah minum secangkir, maka dengan lega hati Tan Ciok-sing segera habiskan juga secangkir teh itu. Setelah minum Tan Ciok-sing berkata.

"Urusan besar negara sebetulnya aku tidak berani banyak bicara. Tapi nuraniku memberontak setelah melihat kenyataan ini, terpaksa aku memberanikan diri menyampaikan persoalan yang sebenarnya, mohon Baginda berpikir lagi lebih seksama."

"Kau mau bicara apa boleh silahkan katakan saja,"

Kata Cu Kian-sin.

"Menurut pendapatku, damai dengan musuh tak ubahnya sekandang dengan harimau. Jikalau kita mohon perdamaian sesuai perjanjian ini, tanpa menempatkan pasukan di perbatasan dan harus menyerahkan sebagian tanah perdikan kita, bila kekuatan musuh semakin melebarkan sayap, tentu lebih sukar kita membendungnya, dan hal itupun hanya tentram untuk sementara, bila pasukan besar Watsu benarbenar dikerahkan, maka tanah kekuasaan Baginda yang luas ini akan dicaplok habis oleh musuh."

Cu Kian-sin menunduk seperti memeras otak agaknya dia tidak terpengaruh oleh penjelasan Tan Ciok-sing dan masih mengukuhi pendapat sendiri.

Apa boleh buat terpaksa Tan Ciok-sing menggunakan caranya yang terakhir, katanya.

"Bila paduka tetap tidak mau memberi putusan untuk melawan intervensi musuh, terpaksa biarlah kita menempuh jalannya sendiri-sendiri."

Bercekat hati Cu Kian-sin, katanya angkat kepala.

"Apa yang kau maksud dengan menempuh jalannya sendirisendiri?"

Kalem suara Tan Ciok-sing.

"Terpaksa kami akan menyebarluaskan dan mengumumkan surat permohonan perdamaian ini ke seluruh negeri, akan kami desak Kim-to Cecu angkat senjatanya mengundang para patriot untuk membela tanah air dan bangsa. Aku yakin rakyat pasti mendukung perjuangan kita yang mulia."

Cu Kian-sin betul-betul kaget, pikirnya.

"Kalau betul demikian, mungkin sebelum pasukan Watsu menyerbu tiba, kedudukanku sebagai raja inipun tak kuasa dipertahankan lagi,"

Maka tersipu-sipu dia berkata.

"Kesetiaan kalian memang patut dipuji. Baiklah, biarlah Tim memikirkan hal ini semasak-masaknya."

Cu Kian-sin bertingkah dan pura-pura mengerutkan kening menepekur dan memeras otak, tak lama kemudian dia membuka mata dan berkata.

"Walau sudah sejak beberapa generasi merupakan ancaman serius bagi kepentingan kerajaan kita. Sejak peristiwa Tobok, ayah Baginda tertawan musuh dan kekalahan total merupakan suatu yang memalukan, memangnya Tim tak pernah berpikir untuk menuntut balas? Syukurlah kalian dari golongan pendekar sudi angkat senjata membela tanah air dan bangsa, adalah pantas kalau Tim menelaah saran-saran kalian dan akan kupikirkan dengan baik. Tan-hiapsu, kau ingin menjabat apa?"

Tan Ciok-sing girang, katanya.

"Kalau demikian, paduka siap memberantas kaum dorna dan menyikat anasir-anasir jahat serta melawan serbuan musuh dari luar. Kalau demikian halnya, kami sebagai rakyat yang menjunjungmu siap bertempur sampai titik darah terakhir demi membela kerajaan. Tapi kami akan bekerja diluar lingkungan kerajaan, yakin jauh lebih bermanfaat dari pada bertugas di kalangan pemerintahan, maksud baik Baginda tak berani kami menerima."

"Baiklah, kalau kau tidak mau menjabat pangkat, seorang laki-laki memang punya cita-citanya sendiri, Tim tidak akan memaksamu."

"Entah kapan kiranya tekad paduka itu bisa terlaksana? Untuk ini kami memberanikan diri mohon jawaban paduka untuk menentukan batas waktunya, supaya Kim-to Cecu dan para patriot yang lain bisa tentram serta bersiap siaga,"

Maklum Tan Ciok-sing kuatir raja muda usia ini hanya mulutnya saja bicara tapi tidak bisa dipercaya, jawabannya itu hanya mengada-ada untuk mengulur waktu belaka.

Maka dia menuntut jawaban positip dari Cu Kian-sin.

Mengkerut alis Cu Kian-sin, katanya.

"Memaklumkan perang dengan Watsu merupakan urusan besar negara, ini menyangkut kejayaan dan keruntuhan bangsa dan negara betapapun urusan tidak boleh tergesa-gesa. Sampaipun persiapan melengkapi angkatan perang dari kerajaan kitapun harus dilaksanakan secara rahasia supaya musuh tidak mengetahui,"

Secara tidak langsung dia menjawab pernyataan Tan Ciok-sing tadi, umpama Tan Ciok-sing memaklumkan soal ini ke seluruh negeri, bahwa Baginda Raja bertekad angkat senjata melawan penjajah, hal itupun takkan bisa dilaksanakan lagi.

Tan Ciok-sing berkata.

"Tapi paduka harus melakukan suatu tindakan drastis yang cukup menggemparkan dan membangkitkan semangat juang rakyat umumnya, lebih cepat lebih baik, hal ini amat perlu untuk memantapkan situasi dan menentrarnkan hati rakyat."

"Menurut pendapatmu, tindakan apa yang harus Tim dahulukan?"

In San berkata.

"Kalau paduka masih ada kesulitan untuk angkat senjata melawan serbuan musuh penjajah, lebih baik kau memberantas kaum dorna yang merongrong kepentingan negara, hal ini yakin akan mendapat dukungan sepenuhnya dari segala lapisan."

Cu Kian-sin berkata.

"Konon Liong Bun-kong ada permusuhan dengan keluargamu, apa betul?"

"Betul,"

Sahut In San naik darah.

"Bangsat she Liong itu pembunuh ayahku, tapi kehadiranku disini bukan lantaran dendam pribadi."

"Aku tahu. Peduli untuk pribadi atau demi urusan dinas, adalah pantas kalau aku memberi keadilan kepadamu. Baiklah, tiga bulan lagi, aku pasti meminjam entah alasan apa, mencopot kedudukan dan mencabut hak kekuasaannya. Bagaimana kalian puas tidak? Janjinya ini memang bukan bualan belaka, dia memang sudah berkeputusan bila perlu biarlah Liong Bun-kong dikorbankan demi memperkokoh kedudukan sendiri.

"Baik, tiga bulan kemudian, bila paduka menghadapi suatu kesulitan dan sukar menjatuhkan hukuman kepada Liong Bunkong, aku akan datang pula kemari mohon petunjuk paduka. Setelah tahu duduk persoalannya, akan kami bantu paduka menjatuhkan vonnisnya. Tapi lebih baik paduka sendiri sudah bisa berkeputusan sendiri, sehingga kami tidak perlu datang pula supaya tidak membuat kaget paduka."

Kuatir Cu Kian-sin tiba saatnya merobah haluan dan sukar berkeputusan, maka dia mendesaknya dengan kata-kata yang halus, padahal pernyataannya ini cukup serius dan merupakan ancaman pula.

Cu Kian-sin sudah tahu Kungfunya tinggi, karena nyalinya sudah ciut sudah tentu dia mengiakan berulang kali, dia berjanji dalam jangka tiga bulan segalanya pasti sudah beres.

Akhirnya Tan Ciok-sing merasa mendapat jawaban yang cukup memuaskan, baru saja dia hendak pamitan, saat itulah mendadak dirasakannya ada angin kesiur, tahu-tahu senjata rahasia sudah menyerang dekat di belakangnya.

Tampak sinar putih berkelebat.

"tring, tring"

Dua kali.

Ternyata yang menyerang tiba adalah dua bentuk uang tembaga, sekali pedang bekerja, kedua bentuk mata uang itu dipapasnya menjadi empat potong.

Sebentuk mata uang lagi menerjang ke Hiat-to besar di punggung In San, gerakan mencabut pedang In San tidak secepat Tan Ciok-sing, terpaksa dia berkelit.

Untung gerakan tubuh Menyusup Kembang Mengitari Pohon yang diyakinkannya sudah sempurna, merupakan Ginkang tingkat tinggi lagi, dalam keadaan kritis itu dia sudah menyelinap ke samping Cu Kian-sin, sekali raih dia membekuknya serta membentak.

"Siapa berani bertindak?"

Mata uang itu langsung terbang ke depan Cu Kian-sin, Tan Ciok-sing kaget, dia kuatir raja muda ini terluka oleh mata uang tembaga ini.

Tapi kejadian memang aneh, setiba di depan muka raja mata uang itu tiba-tiba berputar arah terus membelok kembali dan jatuh ke lantai dengan suara yang keras.

Ternyata penyambit mata uang ini, jauh lebih takut bila timpukan mata uangnya mengenai junjungannya, maka tenaga sambilannya diperhitungkan dengan tepat, tiga kaki di depan muka sang raja tiba-tiba bisa berputar arah sendiri dan mundur kembali.

Kedua mata uang tembaga itu bentuknya kecil, dengan tabasan pedangnya Tan Ciok-sing merontokkannya semua, namun dia rasakan telapak tangannya kesemutan, karuan kagetnya bukan main, kini menyaksikan gaya timpukannya yang aneh dan menakjubkan lagi, hatinya lebih kaget lagi, pikirnya.

"Siapa dia? Lwekangnya ternyata tidak lebih asor dibanding komandan Gi-lim-kun Bok Su-kiat, mungkinkah..."

Tengah dia membatin tampak seorang menerobos masuk dari jendela. Cu Kian-sin kontan menghardik padanya.

"Kedua orang ini adalah teman Tim, nyalimu sungguh besar, sebelum diundang dan mendapat persetujuanku, berani kau bertingkah disini."

Lekas orang itu menjatuhkan diri berlutut, serunya.

"Mohon ampun akan kelancangan hamba yang tidak tahu ini. Hamba kira Baginda diancam dan dijadikan sandera oleh kawanan pembunuh gelap, karena gugup tidak periksa lagi sehingga mengejutkan Baginda, mohon Baginda memberi ampun."

"Nona In, bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Cu Kian-sin.

"Memang tidak bisa menyalahkan dia, dia ini..."

"Dia adalah kepala pasukan Bayangkari Hu Kian-seng."

Sebetulnya Tan Ciok-sing sudah mengira orang ini adalah Hu Kian-seng, pikirnya.

"Tak heran Kim-to Cecu memuji ilmu silatnya yang hebat, ternyata memang tidak bernama kosong."

Maka Cu Kian-sin berkata bermuka-muka.

"Baiklah, kuterima permohonan ampun nona In, kelancanganmu tidak kuperpanjang urusannya. Ada urusan apa. kau kemari?"

Hu Kian-seng berdiri, dia memberi salam kepada rajanya, katanya.

"Ada sedikit urusan, paduka sedang ada tamu, biarlah kulaporkan nanti juga tidak jadi soal."

"Paduka sedang ada urusan, biarlah kami mohon diri,"

Kata Tan Ciok-sing.

"Nanti dulu, kenapa tergesa-gesa, kalau kalian begini saja, pasti membuat geger kawanan Wisu yang jaga, supaya tidak salah paham, Hu Kian-seng, wakilkan Tim mengantar kedua tamuku ini."

"Hamba terima tugas,"

Sahut Hu Kian-seng.

"baginda masih ada pesan yang lain?"

"Ya, kau pasti belum tahu siapa kedua tamu agung ini?"

"Mohon paduka suka menjelaskan,"

Ucap Hu Kian-seng.

"Nona In ini adalah cucu In Jong yang pernah menjabat Komandan Gi-lim-kun di kala ayah Baginda almarhum dulu masih bertahta, ayahnya In Hou juga pernah mendirikan pahala besar buat negara, kau harus menaruh hormat padanya. Tentang Tan-siauhiap ini..."

Mulutnya tersendat tak kuasa meneruskan kata-katanya, ternyata dia sudah lupa siapa nama Tan Ciok-sing. Tan Ciok-sing segera memperkenalkan diri.

"Aku bernama Tan Ciok-sing, delapan belas generasi kakek moyangku tiada satupun yang pernah menjabat pangkat, kau tidak perlu sungkan kepadaku."

Kalau Cu Kian-sin melupakan nama Tan Ciok-sing, adalah Hu Kian-seng amat kaget mendengar namanya.

Kejadian Bok Su-kiat bertempur melawan Tan Ciok-sing di rumah keluarga Liong tempo hari sudah dia ketahui.

Maka dalam hati dia berpikir.

"Tak heran kabarnya Bok Su-kiat sedikit dirugikan oleh bocah ini, gerakan pedang yang dipamerkan tadi memang hebat luar biasa."

Hu Kian-seng berjalan di belakang mengantar mereka keluar.

Sementara itu jago kosen she Hoan tampak masih rebah di tanah tanpa bisa bergerak.

Seperti diketahui dia tertutuk Hiat-tonya oleh Jong-jiu-hoat Tan Ciok-sing.

Waktu Hu Kian-seng lewat di sampingnya mulutnya menggerundel, sekali depak kontan dia bebaskan tutukan Hiat-tonya.

Jago kosen she Hoan itu segera melompat bangun, dengan membelalak mata dia awasi Tan Ciok-sing dan Hu Kian-seng bergantian.

Hu Kian-seng segera berkata.

"Tidak lekas kau menjaga dan melayani keperluan Baginda."

Saking keheranan jago she Hoan itu berkata.

"Ke... kedua orang ini..."

"Mereka adalah tamu Baginda, aku disuruh mengantar kedua tamu Baginda, kau tidak perlu ikut urusan..."

Jago kosen she Hoan itu segera mengiakan sambil munduk-munduk tanpa berani bicara lagi.

Yang benar dia sudah merasakan keliehayan Tan Ciok-sing, umpama disuruh urus juga, dia sudah kapok dan pecah nyalinya.

Kepandaian Hu Kian-seng dengan caranya mendepak membebaskan tutukan, mau tidak mau menimbulkan kewaspadaan Tan Ciok-sing.

Ilmu tutuk yang dilancarkan Tan Ciok-sing adalah hasil ciptaan Thio Tan-hong yang liehay dan rumit.

Jangan kata jago silat kaum persilatan, seorang ahli tutukpun belum tentu dapat membebaskan tutukan Hiat-to itu dalam waktu singkat.

Sebagai kepala barisan Bayangkan boleh dikata Hu Kianseng adalah orang yang paling dekat dengan raja, sudah tentu dia tahu isyarat apa yang telah disampaikan junjungannya kepada dia bila dia mengantar kedua tamunya ini.

Maka dia berpikir.

"Dari nada Baginda tadi agaknya dia menaksir kepada cewek ayu ini, aku harus berusaha untuk tidak melukai dia. Baiklah, biar kuhadapi dulu bocah she Tan ini. Tapi ilmu pedang bocah ini bukan olah-olah liehaynya, sekali bertindak aku harus membawa hasil."

Tanpa merasa mereka sudah tiba di Ling-bik-ti, Hu Kianseng yakin Baginda sekarang sudah meninggalkan Long-gakkck, umpama dirinya tidak berhasil membekuk Tan Ciok-sing, dia tidak perlu kuatir Tan Cok-sing putar balik kesana serta menyandera junjungannya.

Maka tanpa kuatir apa, dia turun tangan.

Saat mana dia berjalan di belakang Tan Ciok-sing, mendadak dia angkat telapak tangan terus mengenjot ke Toacui-hiat di punggung Tan Ciok-sing.

Jarak mereka begitu dekat, pukulan ini dilontarkan dengan sepenuh tenaga lagi, jikalau pukulan telak mengenai sasaran, umpama tidak mampus juga pasti terluka parah.

Diluar tahunya sejak tadi Tan Ciok-sing sudah siaga, dia siap menghadapi segala sergapan.

Begitu Hu Kian-seng menyerang dengan Jong-jiu-hoat, baru saja tangan bergerak lantas menimbulkan deru angin kencang.

Pada saat kritis itulah, begitu merasakan angin menerjang, secara reflek Tan Ciok-sing tudingkan jarinya ke belakang.

Dengan jari mengganti pedang dia melancarkan sejurus Hian-niau-hoat-sa, padahal malam amat gelap, tapi tudingan jarinya dengan tepat menjojoh ke urat nadi di pergelangan tangan lawan.

Inilah perlawanan untuk gugur bersama, jikalau kedua pihak sama tidak mau mengalah bentrok secara kekerasan, meski Tan Ciok-sing terluka parah, Hu Kian-seng sendiri juga akan terluka seluruh Siau-yang-king-meh dalam tubuhnya.

Untuk meyakinkan ilmu pukulan besinya, sedikitnya Hu Kian-seng perlu latihan sepuluh tahun lamanya baru pulih seperti sedia kala.

Jarak dekat kedua pihak menyerang dengan kencang lagi, siapapun tak sempat menggunakan otaknya.

Tan Ciok-sing sudah pertaruhkan jiwa raganya, tapi Hu Kian-seng mana mau mengadu jiwa.

Sebat sekali dia tarik tangan serta menepis ke samping, sementara kakinya bergerak dengan Ban-liong-yaupou, menghindar sambil balas menyerang.

Mulutnya ternyata tidak mau menganggur, teriaknya.

"Ada pembunuh, hayo kemari tangkap dia."

Karena terdorong oleh angin pukulan lawan, tanpa kuasa Tan Ciok-sing tersuruk ke depan beberapa langkah baru berdiri tegak pula. Dalam hati diam-diam Tan Ciok-sing amat kaget.

"Lwekangku kenapa menjadi begini tak berguna?"

Maklum meski dia tahu Lwekang Hu Kian-seng lebih unggul dari dirinya, tapi taraf Lwekangnya paling hanya setingkat tebih tinggi dari Bok Su-kiat, dia pernah bentrok langsung dengan Bok Su-kiat, maka dia yakin bila dia melawan secara kekerasan, sedikitnya dia masih kuat melawan tiga puluhan jurus, tak nyana menghadapi Bik-khongciang lawan kali ini, dirinya tidak kuasa mempertahankan diri.

Cepat sekali In San sudah mencabut pedang, bentaknya sambil tertawa dingin.

"Namanya sebagai jago kosen nomor satu dari istana raja, ternyata berbuat licik dan picik main bokong segala, tidak tahu malu."

Merah muka Hu Kian-seng, katanya.

"Nona In, urusan tidak menyangkut dirimu, silakan kau minggir."

Sudah tentu In San tidak mau minggir, belum habis Hu Kian-seng bicara, tampak sinar kemilau dingin menyilaukan mata telah membabat tiba, ternyata Tan Ciok-sing dan In San sudah melancarkan jurus gabungan ilmu pedang mereka merabunya gencar.

Sebagai ahli silat, sudah tentu H u Kianseng tahu betapa hebat rangsakan sepasang pedang ini, dilihatnya gerak gabungan sepasang pedang lawan hakikatnya tiada lobang kelemahan, jelas dirinya takkan mampu menghalau dan memisah kedua orang ini, karuan hatinya mencelos, pikirnya.

"Celaka, kalau aku gunakan Jong-jiu-hoat balas menyerang, bagaimana bisa tidak sampai melukai budak ayu ini?"

Tapi dalam posisinya yang menyangkut mati hidupnya, bagaimana mungkin dia tidak balas menyerang dengan Jongjiu-hoat?

Maka dia gunakan Siang-jongciang, ke kiri menggenjot Tan Ciok-sing, ke kanan menghantam In San.

Tapi tenaga pukulan yang dia lancarkan antara kiri dan kanan jauh berbeda.

Pukulan yang dilontarkan kepada Tan Ciok-sing menggunakan delapan puluh persen tenaganya, sementara untuk menyerang In San dia hanya menggunakan dua puluh persen saja.

Demi keselamatan sendiri hal itu harus dia lakukan tanpa banyak pikir, meski terpaksa ln San mungkin terluka dan dia dimarahi atau dihukum oleh Baginda Raja juga tidak sempat dihiraukan lagi.

In San tergetar mundur oleh pukulan ini sehingga terhuyung hampir jatuh, sementara Tan Ciok-sing tersuruk maju hampir saja jatuh terjerembab.

Baru saja Hu Kian-seng akan menyusuli dengan serangan jurus Ya-be-hun-cong menyelinap ke tengah untuk memisah kedua orang ini.

Tak kira baru saja niat ini terlintas dalam benaknya, laksana kilat menyambar, mendadak dilihatnya dua jalur cahaya pedang laksana lembayung tahu-tahu sudah membabati dari samping hendak membelah pinggangnya.

Perbawa gabungan sepasang pedang ini sungguh berbeda di luar dugaannya.

Kalau dia tidak tahu diri tetap melontarkan jurus serangan Ya-bc-huncong itu, mungkin bukan saja dia tidak mampu memisah kedudukan Tan dan ln kemudian tubuh sendiri yang bakal terbelah terpisah jadi dua.

Memang tidak malu Hu Kian-seng diangkat sebagai jago nomor satu dari barisan Bayangkari, betapa cepat reaksi dan tindakannya didalam menghadapi bahaya, di saat jiwanya tergantung pada sekali tarikan napas itu, sigap sekali dia gunakan Kan-te-pa-jong mendadak tubuhnya melambung tinggi ke atas dengan tubuh terbaring lurus, berbareng kedua kakinya menendang secara berantai ke arah Tan Ciok-sing.

Mendadak Tan Ciok-sing gunakan Hong-tiam-thau, sehingga Hu Kian-seng sempat melompat keluar dari lingkaran sinar pedang.

Namun demikian tak urung pantatnya tertusuk juga oleh ujung pedang ln San, kulit dagingnya terpapas sebagian besar.

Karena bokongnya terluka sudah tentu dia tak berani bertempur lebih lama lagi, cepat dia angkat langkah seribu.

Baru saja Tan Ciok-sing sempat menarik napas lega, waktu dia menoleh, dilihatnya In San bernapas sengal-sengal dan tubuhnya limbung.

Tan Ciok-sing kaget, lekas dia memburu maju memapahnya, katanya.

"Adik San, kenapa kau'.'"

Dengan napas sengal ln San berkata.

"Tidak, tidak apa-apa. Tapi urusan agak ganjil. Toako, menurut pendapatmu bagaimana Kungfu Hu Kian-seng bila dibanding Milo Hoatsu?"

Melihat kekasihnya tidak terluka lega hati Ciok-sing.

Tapi dia tidak habis mengerti kenapa dalam waktu , mendesak menanyakan hal ini?

"Kungfu Hu Kian-seng agaknya setingkat lebih tinggi dari Bok Su-kiat, namun jelas dia bukan tandingan Milo Hoatsu."

"Memangnya, tapi kenapa gabungan pedang kita tadi kenapa tidak mampu membunuhnya? Kelihatannya seperti jadi lemah? Bukankah urusan agak ganjil?"

Tan Ciok-sing baru sadar dan ikut merasa heran pula setelah In San menyinggung hal ini. Pikirnya.

"Betul, malam itu dengan gabungan sepasang pedang kita, malam itu Milo Hoatsu yang tangguh itupun terkalahkan oleh kita. Kini Hu Kian-seng meski juga terluka oleh pedang kita, tapi hanya dalam tiga gebrak saja kenapa aku sendiri sudah hampir tidak tahan lagi, pada hal malam itu kita masih mampu bertahan belasan jurus melawan Milo Hoatsu tanpa terdesak sedikitpun. Sepantasnya tidak seperti hari ini, apa sih sebabnya? Kenapa bisa begini?"

Tapi awak masih berada di tempat berbahaya, sudah tentu tak sempat dia banyak pikir, katanya.

"Adik San, tak usah kau pusingkan hal ini? Mumpung sekarang kita masih bisa lari marilah lekas menyingkir dari sini."

Tapi In San malah berkata.

"Ya, sekarang teringat olehku, tadi kita minum teh suguhan Baginda, mungkin kita telah dikerjai olehnya. Toako, Lwekangku jauh bukan ukuranmu, jelas aku takkan bisa lari. Mana boleh aku membantumu ikut celaka. Lekas jangan hiraukan aku, larilah seorang diri."

Tan Ciok-sing seperti diguyur air, seketika pikirannya jernih, pikirnya.

"Betul, pasti air teh itulah yang menjadi penyebabnya."

Terdengar "tangkap pembunuh"

Yang bersahutan dan ribut dan berbagai tempat tampak bayangan para Wisu berlarian dari berbagai penjuru memburu kesini. Hu Kian-seng yang terluka cukup parah dan belum lari jauh segera ikut berteriak.

"Pembunuh di arah Ling-bik-ti, lekas kalian grebek mereka."

In San jadi gugup, katanya membanting kaki.

"Seharusnya aku tidak suruh kau ikut minum teh itu, betapapun kau jangan ikut celaka bersamaku, dengarlah nasehatku, lekas kau lari, lekas lari."

Sudah tentu Ciok-sing tidak mau meninggalkan dia begini saja, katanya setelah mengertak gigi.

"Kita sehidup semati."

Pada hal Wisu yang memburu paling dekat jelas sudah kelihatan, tapi malam cukup gelap, sehingga kawanan Wisu itu juga belum melihat mereka.

Karena kepepet tiba-tiba timbul akal Tan Ciok-sing, segera dia jemput sebutir batu terus ditimpukkan kedalam empang.

Lalu dia susuli pula lemparan beberapa buah batu ke arah Long-gak-kek.

Tenaga timpukannya sudah diperhitungkan sehingga batu kedua lebih jauh dari batu pertama, batu ketiga lebih jauh pula dari batu kedua dan seterusnya, sehingga suara jatuhnya seperti langkah seorang yang lari mengembangkan Ginkang.

Habis menimpukkan batu segera dia menyelinap dan lari ke arah yang berlawanan.

Para Wisu yang berada didekat Ling-bik-ti segera berteriak ke arah belakang.

"Seorang pembunuh mencebur ke air, seorang lagi lari ke arah Long-gak-kek. Lekas pencar tenaga kalian untuk mengejar kesana. Lindungilah Baginda."

Lekas Tan Ciok-sing menggigit lidah sendiri sampai berdarah, ternyata dia menyadari kesadarannya mulai terpengaruh, rasa kantuk menyerang dirinya, tapi setelah kesakitan semangatnya mendadak terbangkit pula, maka dengan menyeret In San, dia kembangkan Ginkang Siang-ih-jihwi sambil sembunyi di antara bayang-bayang bangunan di sekitarnya dia terus menyelinap kedalam taman kembang.

Langkah In San mendadak menjadi berat dan lamban, meski Tan Ciok-sing bantu menyeretnya, namun dia sudah tidak mampu berjalan lagi.

Lekas Tan Ciok-sing memeluknya, dengan suara lirih seperti bunyi nyamuk In San berbisik di pinggir telinganya.

"Toako, aku, aku tak kuat lagi. Aku mau tidur."

Waktu Ciok-sing menunduk, benar juga terlihat matanya sudah terpejam.

Sudah tentu kejut Ciok-sing bukan main, dia kira racun telah kumat dalam tubuhnya, tapi didengarnya In San masih bernapas baik, lekas dia pegang urat nadinya, denyut nadinya juga berjalan normal.

Sesaat lagi bukan saja napasnya teratur malah dia menggeros.

Keadaannya tak ubahnya seperti seorang yang tidur lelap.

Karuan Cok-sing keheranan.

"Melihat keadaannya tidak mirip keracunan, tapi dalam keadaan genting ini kenapa dia tertidur pulas?"

Kejadian selanjutnya ternyata memang amat aneh, tanpa sadar tiba-tiba Ciok-sing sendiri juga menguap, rasa kantuk membuatnya ingin mencari ranjang empuk untuk tidur lelap di damping kekasih yang dicintai ini Untung betapapun Lwekangnya jauh lebih tangguh dari ln San, dia sadar dalam keadaan seperti ini betapapun dia tidak boleh tertidur, kembali dia menggigit lidah, supaya rasa sakit membangkitkan semangatnya dan menghilangkan rasa kantuk.

Setelah menghembus napas sekali, lekas dia gunakan ajaran Lwekang ciptaan Thio Tan-hong menyalurkan hawa murni ke pusar, sehingga tenaganya pulih beberapa bagian, dengan memeluk In San, dia maju lebih lanjut seperti bermain petak dengan para Wisu itu.

Sayup-sayup didengarnya suara Hu Kian-seng berkaokkaok di dekat empang sana.

"Agaknya bocah she Tan itu pandai berenang, hayo panggil orang yang pandai berenang untuk mengejarnya."

Dalam hati Ciok-sing membatin.

"Ternyata empang itu ada saluran yang menuju keluar istana, sayang tadi aku tidak tahu,"

Tapi meski dia tahu juga takkan bisa meloloskan diri bersama In San.

Untuk lari dengan menyelam dalam air harus menggunakan ilmu penutup pernapasan, orang lain jelas takkan bisa membantunya, kini In San sedang pulas dalam pelukannya mana mungkin dibawa lari menyelam didalam air.

Meski sekuatnya dia membangkitkan semangat, tapi rasa kantuk itu seperti gelombang pasang yang melanda terus menerus.

"Apa boleh buat, biarlah kemana aku bisa melangkah kesitulah aku pergi,"

Demikian pikir Ciok-sing pasrah pada kuasa Thian.

Tapi untung karena Hu Kian-seng tahu Ciok-sing pandai berenang dan kuatir dia lari dari saluran di dasar empang yang menembus keluar istana, di samping suruh panggil orang yang pandai berenang, diapun suruh beberapa Wisu memburu keluar istana untuk menjaga di mulut saluran serta menangkapnya.

Keributan disini ternyata menguntungkan Ciok-sing berdua untuk sembunyi kian kemari.

Dengan memeluk In San terasa bobotnya semakin berat, Ciok-sing sadar bahwa dirinya juga takkan kuat bertahan lama lagi, karena tenaga sendiri juga semakin lemah.

Mau tidak mau dia menghela napas.

"Mungkin kami takkan bisa lolos. Untung mereka tidak berani melukai adik San, asal adik San bisa hidup, biar aku mati juga tidak menjadi soal."

Terpaksa dia memilih ke arah tempat-tempat yang bersemak belukar dan jarang didatangi orang, tanpa tujuan asal terjang dan maju saja, tak lama kemudian, bukan saja In San yang dipeluknya sudah tak kuasa diseretnya, otaknya juga menjadi kosong dan berat, lambat laun kelopak mata sendiri juga tak kuasa dibuka lagi.

Setelah dia mengitari dua gunungan, Japat-lapat dilihatnya di depan ada gubuk yang dibangun dari tanah liat, bagaimana mungkin didalam taman raja seperti ini terdapat sebuah gubuk tanah liat?

Hati merasa heran, namun dia tidak sempat pikirkan keanehan ini.

Hanya ingin tidur, tidur...

Sebelum mencapai gubuk tanah liat itu dia sudah tidak kuat lagi mendadak dia tersungkur jatuh.

In San masih berada dalam pelukannya, seperti juga In San, tanpa dirasakan tahu-tahu dia sudah tidur nyenyak.

Ternyata mereka memang telah dikerjai oleh Cu Kian-sin raja muda itu, tapi bukan terkena racun.

Ternyata air teh yang mereka minum itu memang sengaja diramu oleh tabib raja yang khusus diperuntukkan Baginda Raja sendiri, kasiat teh itu dapat menenangkan pikiran memulihkan semangat, merupakan air teh yang membantu orang tidur pulas dalam jangka tertentu menurut kadar yang diminumnya.

Tapi tidak membawa efek sampingan dan berbahaya, malah membantu kesehatan badan.

Tahu bahwa dirinya malam ini akan tidur telat malam, maka sambil kerja menyelesaikan urusan dinas di kamar bukunya, kuatir dirinya terlalu lelah bekerja, Cu Kian-sin suruhkan Thaykam menyeduh sepoci teh untuk membantu tidurnya supaya lelap.

Teh itu hendak diminumnya menjelang tidur nanti malam, menghadapi kehadiran Ciok-sing berdua, karena dia menaksir In San, maka tergerak pikirannya, maka dia suguh air tehnya itu kepada In San.

Cukup lama juga mereka pulas, setelah tengah hari kedua baru mereka siurnan dari tidurnya.

Begitu membuka mata mereka jadi kebingungan dan heran, ternyata mereka tidur berdampingan di tumpukan jerami yang berserakan dalam rumah kotor dan bobrok serta berbau najis kuda.

Sambil menepuk jidat Tan Ciok-sing berkata.

"Aneh, bukankah kita berada di Sia-hoa-wan. Kenapa bisa berada di rumah petani? Tempat apakah ini?"

"Kelihatannya seperti didalam istal, jerami ini jelas adalah makanan kuda,"

Ujar In San.

"Keluarga petani mana mungkin menyimpan umpan kuda sebanyak ini, mungkin kita masih berada di istal raja,"

Demikian kata Ciok-sing.

"Toako, bagaimana perasaanmu? Kurasa semangatku baik sekali. Bukankah semalam kita minum secangkir teh beracun kenapa bisa begini?"

"Akupun amat segar, sedikitpun tidak keracunan. Tapi aku masih ingat tadi aku jatuh diluar, memangnya siapa yang memindahkan kita didalam rumah?"

Dia coba kerahkan tenaga memukul dan menendang, gerak kaki tangannya ternyata menimbulkan deru angin sehingga tumpukan jerami tergetar runtuh.

Baru saja dia hendak keluar serta memeriksa keadaan sekitarnya, dari luar telah masuk satu orang, dari dandanannya menunjukkan bahwa dia seorang Thaykam tua.

Tan Ciok-sing berjingkrak, teriaknya.

"Kau, kau siapa?"

"Jangan tegang,"

Ucap Thaykam tua.

"aku membantu kalian. Aku she Ong, seorang Thaykam yang tugas sehariharinya mengurus kuda dalam istana."

"O, jadi kaulah yang memindahkan kami kedalam rumah?"

Tanya Ciok-sing.

"Betul, kulihat kalian jatuh diluar, aku kuatir kalian kepergok kawanan Wisu maka kugotong masuk ke gudang jerami ini. Bau najis kuda disini mungkin membuat mereka tak sudi menggeledah kemari, tapi juga untung karena bau busuk itulah sehingga jejak kalian tidak ketemu mereka."

Barulah Tan Ciok-sing sadar bahwa Thaykam tua ini adalah penolong jiwa mereka, lekas dia menjura menyatakan terima kasih. In San bertanya.

"Ong-kongkong, banyak terima kasih akan budi pertolonganmu. Tapi kenapa kau sudi menyerempet bahaya untuk menolong kami?"

"Karena aku adalah teman Siau-tat-cu,"

Sahut Thaykam tua. In San bingung, tanyanya.

"Siapakah Siau-tat-cu?"

"Yaitu Thaykam kecil yang semalam bertemu dengan kalian di Sim-hiang-ting itu."

Kejut dan girang Tan Ciok-sing dan In San, tanpa janji mereka bertanya.

"Jadi urusan kami, Siau-tat-cu sudah ceritakan kepadamu?"

Dalam hati mereka amat menyesali akan kematian Thaykam kecil itu, berkorban setelah menunaikan tugas mulia, tapi siapa namanya hakikatnya mereka belum sempat tanya kepada dia. Thaykam tua berkata.

"Dia sih tidak cerita apa-apa kepadaku. Tapi secara tidak langsung bolehlah dianggap dia telah memberitahu kepadaku."

In San melongo, tanyanya.

"Bagaimana maksudnya? Boleh kau menjelaskan kepada kami?"

"Aku memang akan bercerita lebih jelas kepada kalian. Ai, teringat pada Siau-tat-cu, aku jadi perih hatiku, kalau kalian anggap aku tidak cerewet, biarlah aku bercerita sejak permulaan."

"Ong-kongkong,"

Ujar ln San.

"aku memang ingin tahu lebih banyak perihal Siau-tat-cu."

"Waktu Siau-tat-cu masuk ke istana, dia baru berusia dua belas tahun,"

Demikian Thaykam tua mulai bercerita.

"mungkin kami berjodoh, Thaykam urusan pekerja suruh aku pimpin dia melakukan kerja serabutan, akupun disuruh memberi petunjuk tentang adat istiadat serta aturan-aturan di istana kepadanya."

"Kami sama-sama dari keluarga miskin, tidak lama hubungan kami sudah seperti sanak kadang sendiri. Dia menganggap aku kakek akupun memandangnya sebagai cucu."

"Belakangan karena dia giat bekerja dan rajin belajar, suatu hari Baginda Raja ketarik padanya serta mengangkatnya sebagai Thaykam yang melayaninya dari dekat. Akupun memperoleh manfaat karena dia telah naik pangkat. Sehingga aku ditugaskan sebagai pemelihara kuda di istal kerajaan ini. Bagi orang lain tugas ini mungkin dianggap kotor dan rendah, tapi bagi aku justru tugas disini lebih bebas dan menyenangkan dari pada di istana dalam, setiap hari dihina dan diperlakukan semena-mena seperti binatang layaknya oleh Thaykam urusan kerja yang kereng dan jahat itu."

"Bagi orang lain Siau-tat-cu dianggap naik ke pucuk tangga, tapi dia tidak pernah melupakan asalnya, sering juga dia datang ke istal menengok aku dan sering mengajak ngobrol.

"Semalam diapun datang pula, dia malah ajak aku menghabiskan beberapa cangkir luak. Pada hal selama ini tak pernah dia minum minuman keras, baru semalam pertama kali aku saksikan, dia minum sebanyak itu. Kulihat sikap dan mimiknya agak aneh dan janggal, aku tanya kau ada urusan atau ada persoalan apa yang mengganjel hatinya. Tapi dia tidak mau menjelaskan. Dia hanya bilang, bila dia mengalami sesuatu, dia minta aku jangan sedih."

"Sudah tentu timbul rasa curigaku, begitu dia meninggalkan istal aku lantas menguntitnya diam-diam. Terus terang akupun pernah belajar silat. Belasan tahun berada di istana, meski memejam mata juga aku bisa mondar mandir di Sia-hoa-wan. Dari kejauhan aku menguntitnya tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk kawanan Wisu yang jaga dan ronda.

"Kulihat dia menyelinap masuk ke sebuah gua gunungan, aku tahu gua itu menembus ke Sim-hiang-ting, baru saja aku hendak mengikuti jejaknya, tiba-tiba kulihat seorang Wisu telah mendahului aku menyusup kedalam gua itu pula, saking kaget aku sampai kebingungan dan menyembunyikan diri, niatku semula kubatalkan.

"Tapi lapat-Iapat masih sempat juga kusaksikan keadaan didalam Sim-hiang-ting dari kejauhan."

"Kulihat dua bayangan besar laksana burung terbang melesat masuk kedalam Sim-hiang-ting, tentunya bayangan itu adalah kalian bukan?"

"Betul, kedua bayangan itu adalah kami,"

Ucap Tan Cioksing.

"akulah yang membunuh Wisu itu. Ai, tapi Siau-tat-cu, dia, dia..."

Teringat betapa Siau-tat-cu gugur demi tugas, tak urung berkaca-kaca air mata di kelopak matanya. Thaykam tua berkata lebih lanjut.

"Semua itu kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Setelah kalian pergi, dengan membesarkan hati aku juga menyusup kedalam gua, kutemukan mayat Wisu itu tapi juga kutemukan Siau-tat-cu rebah di atas tanah, sebuah belati menancap di dadanya. Kuraba dia seperti masih hangat dan pernapasannya amat lemah, entah dia sudah mati atau sudah sekarat."

Diam-diam Tan Ciok-sing amat menyesal, pikirnya.

"Kukira dia sudah mati, namun aku tidak seteliti orang tua ini memeriksanya,"

Yang benar, meski dia tahu Siau-tat-cu belum mati, juga dia takkan berhasil menolongnya. Apalagi waktu amat mendesak, mereka lebih perlu menemui raja lebih cepat. Thaykam tua bercerita pula.

"Pelan-pelan kucabut belati itu serta membubuhi obat di tempat lukanya, meski aku takkan bisa menolong jiwanya, betapapun aku harus berusaha. Sebelum aku berhasil mencabut belati itu, ternyata Siau-tat-cu telah siuman, pelan-pelan dia membuka mata..."

"Oh, jadi, dia tidak mati,"

Seru In San.

"Dia siuman karena rasa kesakitan yang luar biasa, namun keadaannya memang sudah teramat lemah,"

Demikian tutur Thaykam tua. Rasa girang In San seketika sirna pula.

"Setelah membuka mata dan melihat jelas diriku, dia berkata. 'Jiwaku telah tak tertolong lagi, jangan kau menyianyiakan tenagamu, lekaslah dengarkan beberapa patah pesanku.' Waktu itu aku maklum keadaannya yang sudah teramat kritis, di saat dia bisa bicara segera aku tanya kepadanya. 'Siapakah yang mencelakai kau? Lekas beritahu padaku.'"

"Siau-tat-cu berkata. 'Muda mudi itu bukan pembunuh, mereka adalah orang baik, bila mereka mengalami kesulitan, bila kau mampu dan bisa, kuharap kau sudi menolong...' suaranya semakin lirih dan lemah, pada akhir katanya kelopak matanyapun terpejam, kali ini dia betul-betul meninggal."

"Dia bunuh diri karena membantu kami,"

Kata In San. Lalu dia ceritakan kejadian semalam.

"Tanpa kau jelaskan aku juga tahu bukan kalian yang membunuh Siau-tat-cu, kalau tidak sebelum ajalnya, masakah dia mau mohon pertolonganku untuk membantu kalian? Apalagi aku sudah tahu bahwa kalian orang baik, bukan lantaran cerita Siau-tat-cu baru mau percaya pada kalian."

"Darimana kau tahu?"

Tanya In San heran. Thaykam tua itu berkata.

"Nona In, kakekmu adalah Buconggoan ln Jong dari dynasti yang dahulu dan ayahmu ln Tayhiap In Hou bukan?"

In San paham seketika, katanya.

"Agaknya kau dengar pembicaraan kawanan Wisu yang membicarakan diriku?"

Pada hal dia belum menjelaskan asal-usul dirinya kepada Thaykam kecil yang bunuh diri itu. Thaykam tua lantas berkata.

"Betul, di waktu aku menyusup kcdalam gua itu kudengar ribut-ribut kawanan Wisu yang hendak menangkap pembunuh, tak lama kemudian jenazah Siau-tat-cu dan Wisu itupun kutemukan. Untung mereka mengira pembunuh itu yang membunuh mereka, bila sampai diusut, biasanya Siau-tat-cu berhubungan dengan aku, mungkin aku bisa kena perkara. Kudengar mereka kasak kusuk, seorang Wisu yang mendengar kabar memberitahu kepada temannya, katanya Hu-congkoan sudah berpesan, bila kalian menemukan pembunuh perempuan itu, dilarang mengusik seujung rambutnya. Dari pembicaraan mereka itulah aku tahu asal-usul nona ln."

"Semasa kakekmu hidup aku pernah melihatnya, mungkin mereka tidak tahu adanya Thaykam tua macam diriku ini, tapi aku justru tahu kesetiaan mereka terhadap negara. Bicara terus terang, pembesar-pembesar jaman sekarang siapa yang patut kupuji dan kusanjung, aku hanya pengagum mereka ayah beranak."

"Nona ln, setelah tahu asal-usulmu, meski Siau-tat-cu tidak berpesan kepadaku, aku pasti akan membantu kesulitan kalian. Memangnya putri In Tayhiap bukan orang baik? Begitu aku berpikir. Kau orang baik, maka orang yang datang bersamamu memang harus kuragukan pula?"

"Waktu itu hatiku gugup setengah mati, dengan cara apa baru aku bisa menolong kalian? siapa tahu kejadian justru amat kebetulan, begitu aku kembali kutemukan kalian pulas diluar kandang kuda. Untung kawanan Wisu belum memeriksa sampai disini, maka bergegas aku sembunyikan kalian ke gudang jerami."

Habis Thaykam tua bercerita. Tan Ciok-sing lantas berkata.

"Ong-kongkong, sungguh tak tahu cara bagaimana aku harus berterima kasih kepada kau, aku kuatir urusan bisa membuat celaka."

"Kalau Siau-tat-cu berani gugur demi membantu kalian, memangnya aku harus takut mati? Apalagi kini aku sudah tahu kedatangan kalian kemari adalah menyelesaikan urusan besar menyangkut kepentingan negara dan bangsa, bila aku bisa gugur demi kesuksesan kalian, terhitung tidak sia-sia hidupku selama ini."

"Jangan berkata demikian, Siau-tat-cu sudah berkorban, betapapun kau tidak boleh ikut berkorban. Tolong carikan apa saja yang dapat kami makan, setelah tenaga pulih kami akan segera keluar."

"Coba lihat, betapa cerobohku ini, bicara melulu sampai lupa menyiapkan makanan, pada hal semalam suntuk kalian belum mengisi perut."--Tak lama kemudian dia sudah kembali membawa sepiring bakpau, katanya pula.

"Harap dimaafkan tiada makanan lain yang bisa kusuguhkan untuk kalian."

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Ah, ini justru hidangan lezat yang belum pernah kunikmati selama ini."

Setelah menghabiskan tiga bakpau, In San coba-coba menggerakkan kaki tangan, katanya kepada Tan Ciok-sing dengan tertawa.

"Toako, teh yang semalam kita minum itu agaknya memang tidak beracun, tenagaku sekarang tiada bedanya dengan keadaan semula. Mari kita cari akal untuk lolos keluar."

Lekas Thaykam tua menyela.

"Jangan kalian coba menyerempet bahaya."

"Bagaimana keadaan diluar?"

Tanya In San. Thaykam tua tertawa getir, ujarnya.

"Setelah kejadian semalam, penjagaan jelas diperketat. Kawanan Wisu dibagi dalam tiga regu untuk meronda setiap waktu, jumlahnyapun diperbesar. Terutama di Sia-hoa-wan, setiap pelosok ada orang sembunyi mengintip keadaan sekelilingnya. Seekor lalat terbangpun pasti konangan."

Ln San jadi gelisah, katanya.

"Wah, bagaimana? Liokpangcu, Lim Tayhiap, Toan-toako dan lain-lain sedang menunggu kabar kami, bila kami tidak kembali dalam waktu yang ditentukan betapa kuatir hati mereka."

"Apa boleh buat, terpaksa kalian harus sabar menunggu beberapa hari. Bila keadaan sudah kendor aku akan bantu kalian keluar dari sini,"

Demikian kata Thaykam tua. In San menghela napas, katanya.

"bila Han Cin disini, pasti kita punya akal untuk keluar."

Tan Ciok-sing tersentak sadar, katanya.

"Aku punya akal, mari kita coba."

"Akal apa?"

Tanya In San.

"Untuk ini, kami mohon Ong-kongkong suka membantu."

"Katakan saja, bila aku bisa melakukan, tugas apapun akan ku laksanakan."

"Tolong usahakan seperangkat seragam Wisu dan pakaian Thaykam kecil."

"Itu mudah, tapi besok baru aku bisa menyiapkan permintaan kalian ini."

"Toako,"

Seru In San girang.

"jadi Han-cici juga mengajarkan tata rias itu kepadamu."

"Belum sempurna apa yang pernah kupelajari, mumpung sekarang diperlukan, biarlah kupratekkan pada dirimu, apalagi malam gelap yakin kebolehanku masih bisa mengelabuhi mereka."

Thaykam tua berkata.

"Tapi cara bagaimana kalian bisa keluar dari pintu istana? Menurut apa yang kutahu Hucoangkoan sudah mengeluarkan perintah keras, siapa saja dilarang keluar istana, kecuali membawa dua benda pengenal."

"Kedua benda pengenal apa?"

Tanya Ciok-sing.

"Pertama adalah perintah langsung dari Baginda Raja dengan cap kerajaan, atau membawa lencana perintah yang dikeluarkan oleh Hu-congkoan. Itu berarti hanya Baginda Raja dan Hu-congkoan saja yang boleh memberi izin orang keluar masuk istana."

Kedua benda yang diperlukan ini jelas tidak mungkin mereka peroleh, Tan Ciok-sing berkata.

"Tak usah pedulikan soal ini, carikan dulu seragam yang kuperlukan itu."

Hari kedua Thaykam tua membawa dua perangkat pakaian yang cocok dengan perawakan mereka, maka Tan Ciok-sing segera merias In San dan diri sendiri menjadi bentuk yang berbeda, hari itu juga In San mulai belajar tingkah laku dan tata krama para Thaykam kepada Thaykam tua.

Malamnya mereka berunding cara bagaimana mereka harus menyelundup keluar dengan aman, Thaykam tua tetap menganjurkan supaya mereka tidak menyerempet bahaya.

Tiba-tiba Tan Ciok-sing berkata.

"Kau tahu dimana tempat tinggal Hu-congkoan?"

"Tahu,"

Sahut Thaykam tua.

"dia sih tidak seperti baginda harus setiap malam berpindah tempat menginap."

"Kalau demikian, lebih mudah untuk mencarinya, Ongkongkong, tolong jelaskan dimana tempat tinggalnya, cara bagaimana kami bisa kesana?"

Mereka menyamar Wisu dan Thaykam kecil, malam itu kebetulan gelap gulita, di Sia-hoa-wan mereka bisa menggeremet maju terus dengan sembunyi di antara rumput kembang dan semak-semak pepohonan, untunglah sejauh mana mereka tidak dipergoki orang.

Setiba di tempat sepi dan tidak kelihatan ada bayangan orang, In San tanya dengan suara lirih.

"Kau hendak minta lencana itu dari Hu Kian-seng secara kekerasan?"

"Ya, kemarin malam dia terluka, yakin bukan tandingan kita. Nanti kita bertindak melihat gelagat, syukur bisa kita curi lencana itu, kalau gagal kita bekuk dia sebagai sandera."

"Betul,"

Ucap In San.

"tanpa masuk sarang harimau mana dapat membekuk anak macan. Toako langkah caturmu ini sungguh tepat sekali."

Setelah maju pula beberapa kejap sesuai petunjuk Thaykam tua, mereka sudah tak jauh dari tempat kediaman Hu Kian-seng.

Di belakang rumah terdapat sebuah pohon tua tingginya melebihi tembok Tan Ciok-sing pusatkan perhatiannya mengawasi sekelilingnya, di sekitar rumah jelas tidak ada penjaga.

Mungkin karena takabur akan kepandaian sendiri yang dianggap tiada bandingan, demi membuktikan kesetiaannya kepada Baginda pula, maka seluruh anak buahnya dia kerahkan untuk membekuk pembunuh semalam.

Setelah memutar ke belakang rumah, Ciok-sing kembangkan Ginkangnya melompat tinggi ke pucuk pohon, hawa seperti membeku, dahan tidak bergoyang, sekali melambung lagi kakinya sudah menggantol payon terus ditekuk pula melingkar ke atas sehingga tubuhnya teralingaling, dengan gaya kerai menjuntai tubuhnya bergelantung mengintai kedalam.

Didalam rumah tampak Hu Kian-seng tengah duduk setengah tidur di ranjang bicara dengan seseorang.

Orang itu adalah Tiangsun Co, perlu diketahui Tiangsun Cau masuk ke istana kemarin malam, kira-kira hampir bersamaan waktunya dengan Tan Ciok-sing berdua di kala mereka menyelundup masuk.

"Ternyata keparat ini belum pergi, biar kucuri dengar pembicaraan mereka,"

Demikian batin Tan Ciok-sing. Didengarnya Tiangsun Co sedang berkata.

"Bagaimana keadaan Hu Tayjin? Lantaran persoalanku sampai Hu Tayjin terluka, sungguh aku jadi tidak enak hati."

H u Kian-seng tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Kan hanya luka luar saja, kenapa dibuat kapiran? Paling lama dua hari juga pasti sudah sembuh. Aku tak mampu membantu menyelesaikan urusan Pwecu, justru akulah yang kurang enak.'"

Dari nada tawanya dapatlah Tan Ciok-sing mengukur kekuatan Lwekangnya, ternyata memang berisi, mau tidak mau bercekat hatinya, pikirnya.

"Lwekang keparat ini memang luar biasa, secepat itu dia sudah pulih kembali. Untung aku tidak bertindak gegabah."

Tiangsun Co berkata.

"Hu Tayjin, jangan kau berkata demikian, aku tahu kau sudah bekerja giat dan mati-matian untuk kepentinganku, aku hanya heran..."

"Heran soal apa?"

"Heran, kenapa rajamu kelihatan ragu-ragu? Bukankah kau pernah bilang, kau paham dan mengerti kemana hati rajamu berkiblat, katanya dia mau berdamai dengan pihak kita."

Hu Kian-seng tidak segera menjawab, katanya kemudian.

"Apa saja yang dijanjikan Baginda kepada kau, bolehkah kau jelaskan kepadaku?"

Seperti diketahui pada malam kejadian itu Tiangsun Co gagal menemui Cu Kian-sin, karena gugup dan kaget serta ketakutan sang raja minum obat penenang dan sehari semalam tidur pulas tidak bangun-bangun, baru hari ini dia dipanggil menghadap.

"Sejak mula rajamu bilang mau berdamai, tapi soal konsep perdamaian itu dia bilang ingin mempelajarinya lagi lebih seksama. maka tidak bisa segera memberi jawaban positip. Kelihatannya ada apa-apa yang menjadi ganjelan pikirannya tapi aku sungkan mendesaknya."

"Memangnya, dua hari yang lalu tindak-tanduknya masih gamblang, malah dia memuji Liong Bun-kong kali ini bekerja dengan baik dan sesuai mencocoki seleranya. Entah kenapa mendadak berubah haluan dan bimbang? Em, mungkin lantaran dia ketakutan oleh pembunuh gelap itu?"

"Sebetulnya urusan gara-gara kalian bertindak kurang hatihati,"

Demikian ucap Tiangsun Co.

"kenapa pembunuh gelap dibiarkan menyelundup kedalam istana."

Hu Kian-seng tertawa nyengir, katanya.

"Selanjutnya kujamin takkan terjadi lagi peristiwa seperti itu."

"Bicara soal itu pula. Aku tidak percaya gara-gara kedatangan pembunuh gelap itu, rajamu lantas merubah haluan. Mungkin tidak ada sebab lainnya? Coba kau pikirkan."

"Sukar aku menerkanya,"

Ucap Hu Kian-seng gelenggeleng. Mereka tidak tahu latar belakang persoalannya, tapi Tan Ciok-sing tahu seluk beluknya. Diam-diam dia merasa senang setelah mendengar pembicaraan ini, pikirnya.

"Sesuai dugaan Kim-to Cecu, asal kami teguh melawan musuh baginda lalim itu, mau tidak mau harus berpikir dua belas kali, apa lagi setelah kubentangkan untung dan ruginya liku-liku persoalan ini, sedikit banyak bujukanku membawa hasil juga."

Sesaat kemudian didengarnya Hu Kian-seng berkata pula.

"Tiangsun Pwecu, kapan kau bisa bertandang ke tempatku ini, mumpung ada kesempatan menginaplah sehari lagi, setelah pembunuh berhasil kuringkus, kami tunggu kesempatan, akan kuusahakan mengorek keterangan dari Sribaginda."

Dingin nada perkataan Tiangsun Co.

"Aku justru tidak punya banyak tempo menunggu jawabanmu. Terus terang selama dua hari ini aku sudah sebal dan bosan disekap dalam istana ini, gerak-gerikku seperti terbelenggu saja. Kalau siang aku maklum tak leluasa keluyuran diluar, tapi malam ini aku akan keluar. Sekarang aku ingin pamitan kepada kau."

Perlu diketahui meski Tiangsun Co adalah tamu agung undangan Hu Kian-seng, namun kejadian ini dia hanya berani beritahu kepada beberapa orang kepercayaannya saja.

Lekas Hu Kian-seng minta maaf, katanya.

"Dua hari ini aku terpaksa harus istirahat menyembuhkan luka-lukaku, sehingga tidak bisa menemani Pwecu, mohon suka dimaafkan. Bila Pwecu ingin jalan dan pelesir, aku sih bisa mencari akal dan memberi fasilitas padamu."

Sikap Tiangsun Pwecu tidak sabar lagi, tukasnya.

"Kedatanganku ini bukan ingin jalan di Sia-hoa-wan, ketentuan yang sudah kami ikrarkan bersama sudah melampaui batas waktunya. Maka malam ini betapapun aku harus pulang."

Pada hal Hu Kian-seng sendiri juga kuatir bila tamunya terlalu lama disini, bukan mustahil intriknya dengan pihak musuh bisa terbongkar, maka dia berkata.

"Kalau Pwecu memaksa ingin pulang, akupun tidak memaksa lagi. Lencana dinas ini boleh Pwecu simpan untuk digunakan bila kau mau keluar istana, cukup kau perlihatkan lencana ini kepada para penjaga, mereka tidak berani menahanmu. Lebih baik kau keluar dari pintu barat, Wisu yang dinas jaga disana malam ini adalah orang kepercayaanku."

"Bagaimana aku harus keluar?"

Tanya Tiangsun Pwecu sambil menerima lencana dinas.

"Tak usah kuatir, sebentar kusuruh orang mengantarmu ke pintu barat,"

Kepalanya tertunduk memikirkan siapa yang cocok untuk menunaikan tugas ini.

Sementara Tan Ciok-sing juga mencari akal, cara bagaimana dia harus merebut lencana dinas yang dipegang Tiangsun Co.

Pada saat itulah mendadak didengarnya Hu Kian-seng membentak.

"Siapa diluar."

Tan Ciok-sing kaget, dia kira jejaknya konangan. Baru saja dia hendak menerjang keluar, syukur seseorang telah menjawab dibalik luar.

"Baginda ada perintah, Li Tiong-si kemari menyampaikan firman."--Legalah hati Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Untung aku tidak gegabah."

Ternyata dalam mengadakan pembicaraan rahasia di kamar ini sebelumnya Hu Kian-seng sudah berpesan kepada anak buahnya.

Kecuali mendengar suaranya, siapapun tidak diperbolehkan naik ke loteng.

Maka begitu mendengar langkah orang segera dia membentak tanya.

Kini mendengar ada firman baginda, sudah tentu ketentuannya itu menjadi tumbang.

Diam-diam Hu Kian-seng bimbang.

"Kenapa Baginda mengirim firmannya dalam saat begini entah ada urusan penting apa?"

Lekas dia mengenakan seragam kebesarannya serta merambat turun dari pembaringan, berdiri tegak, menyambut perintah raja. Tiangsun Co berbisik.

"Apa aku perlu menyingkir?"

Hu Kian-seng berpikir.

"Baginda sudah tahu akan kedatangan Tiangsun Co disini."

Maka dia berkata.

"Merendahkan Pvvecu saja, boleh kau pura-pura jadi pengawalku, entah bagaimana bunyi firman itu, mungkin..."

Sampai disini dilihatnya Wisu yang jaga diluar sudah membuka pintu serta menyilahkan seorang Thaykam kecil yang membawa firman raja masuk ke kamarnya.

Hu Kian-seng berlutut menerima firman raja, Thaykam kecil berkata.

"Congkoan Tayjin tak usah banyak adat Sri Baginda suruh aku kemari mengundang seseorang, segera juga aku harus kembali memberi laporan."

Mendengar Thaykam kecil "mengundang", legalah hati Hu Congkoan, tanyanya.

"Entah siapa yang diundang Baginda?"

Tidak segera membaca firman Baginda. Thaykam kecil itu malah menuding Tiangsun Co dan berkata.

"Bukankah dia ini Tiangsun Pwecu dari negeri Watsu yang tempo hari juga datang kemari?"--Tiangsun Co memang mengenakan mantel bulu musang, dandanannya memang jauh berbeda dengan kawanan Wisu. Mengira dugaannya tidak meleset, lekas Hu Kian-seng berkata.

"Pandangan Li-kongkong memang tajam, betul, dia memang Tiangsun Pvvecu."

Thaykam kecil itu tertawa, ujarnya.

"Kiranya Pwecu memang masih disini, tumben aku membuang banyak waktu. Baginda suruh aku kemari mengundang Tiangsun Pwecu."

Tiangsun Pwecu lantas membusung dada sambil bertolak pinggang, katanya sambil angkat kepala.

"Untung kau datang lebih dini, aku sudah siap pulang. Untuk apa pula Bagindamu mengundangku?"

"Hamba tidak tahu. Mohon Pwecu suka memerlukan diri memenuhi undangan Baginda."

Tan Ciok-sing yang mencuri dengar diluar, tiba-tiba memperoleh sebuah akal.

Di kala Hu Kian-seng membungkuk mengantar Thaykam kecil dan Tiangsun Pwecu keluar, diapun menjejak kaki di atas dahan, tubuhnya melambung tinggi jumpalitan dua kali di tengah udara melampaui pucuk pohon terus melayang turun secara diam-diam.

Thaykam kecil itu membawa Tiangsun Pwecu menyusuri jalanan kecil didalam taman kembang yang berliku-liku ke arah timur, maklum tamu asing ini diundang secara diamdiam, meski dia tidak takut kepergok oleh kawanan Wisu, namun dia merasa perlu hati-hati dan menghindari kesulitan.

Di tempat yang sepi sana, tampak bayangan Tan Ciok-sing dan In San keluar dari semaksemak.

Tan Ciok-sing menyamar sebagai Wisu, Thaykam kecil itu kira dia hendak mencegat jalan dan menanyai, segera dia membentak lebih dulu.

"Kurang ajar, memangnya kau tidak tahu siapa aku? Lekas enyah."

Belum lenyap suaranya, Tan Ciok-sing dan In San sudah turun tangan lebih dulu. In San tertawa mengejek.

"Aku tahu siapa kau, sayang justru kau tidak tahu siapa aku,"

Di tengah tawa dinginnya itu, secepat kilat dia menutuk Hiat-to Thaykam kecil.

Tiangsun Co adalah jago silat kosen meski kejadian teramat mendadak, betapapun dia tidak semudah Thaykam kecil itu, sekali gerak lantas tertawan, maka terdengar suara "Pak"

Secara reflek dia menyerang dengan Im-ciang secara terbalik untuk melawan tutukan jari Tan Ciok-sing, terasa telapak tangannya sakit kesemutan, baru saja mulutnya terpentang hendak menggembor, tiba-tiba selarik sinar kilat menyamber di depan mata, tahu-tahu ujung pedang Tan Ciok-sing telah mengancam tenggorokannya, dengan ilmu mengirim suara gelombang panjang dia melintir suaranya ke telinga lawannya.

"Masa kau tidak mengenalku lagi, akukan Tan Ciok-sing. Berani kau bersuara, segera kutamatkan riwayatmu disini."

Bukan kepalang kaget Tiangsun Co, memang dia tidak berani bersuara, dan berkutik lagi ujung pedang Tan Ciok-sing telah mengancam tenggorokan, dan sekali tutul dengan ujung pedangnya itu Hiat-tonya telah ditutuk.

In San membantunya menyeret tubuh mereka kedalam gua buatan, Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Terpaksa kita harus ganti pakaian lagi."

In San tahu maksudnya, katanya.

"Betul, biar aku menyamar jadi Thaykam kecil dan kau menyaru jadi Tiangsun Co,"

Segera dia memutar tubuh membelakangi diri supaya Tan Ciok-sing membelejeti pakaian Tiangsun Co dan Thaykam kecil. Tiba-tiba didengarnya Tan Ciok-sing berkata dengan tertawa riang.

"Ha, sungguh kebetulan. Aku menemukan sebuah mustika."

Tanpa merasa In San menoleh, dilihatnya Tan Ciok-sing sedang membuka baju luar Thaykam kecil serta mengambil sebuah benda dari dalam kantong bajunya, lekas In San maju dua tindak sambil tanya.

"Mustika apa?"

"Mustika lebih berharga dari lencana dinas milik Hu Kianseng,"

Ucap Tan Ciok-sing. In San segera sadar, serunya.

"Apakah cap kerajaan Baginda?"

"Ya, boleh juga dianggap sebagai firman raja, karena inilah surat perintah baginda untuk mengantar orang keluar istana yang distempel cap keTajaan."

Kiranya kali ini Tiangsun Co dipanggil oleh Cu Kian-sin untuk menyilakannya keluar istana.

Cu Kian-sin tidak berani menanda tangani perjanjian damai itu, tapi dia ingin menyampaikan beberapa patah kata kepada Tiangsun Co, serta memberi hadiah beberapa macam barang berharga, lalu akan menyuruh Thaykam kecil itu mengantarnya keluar istana.

Surat perintah itu sudah ditulisnya lebih dulu, untuk menjaga bila terjadi sesuatu dan dia tidak sempat menemui Tiangsun Co masih tetap bisa pulang.

Yang benar, Cu Kian-sin sendiri memang tidak senang kalau Tiangsun Co terlalu lama berada di istana.

Habis ganti pakaian, kembali Tan Ciok-sing perlihatkan kebolehannya merias diri sendiri menjadi Tiangsun Co, walau dalam saat mendesak, persiapan terlalu tergesa-gesa, sehingga penyamarannya tidak begitu mirip, tapi dia yakin orang-orang di istana ini yang pernah melihat Tiangsun Co tidak banyak, para Wisu dalam istana ini paling hanya beberapa gelintir saja yang pernah melihatnya, malam ini mereka belum tentu dinas jaga lagi.

Dengan membekal surat perintah Baginda lagi, untuk keluar istana pasti tidak akan mengalami banyak kesulitan.

Tapi dalam benaknya masih ada sesuatu ganjalan yang belum terlampias, langkah yang sudah digerakan tiba-tiba berhenti lagi.

In San melengak, tanyanya.

"Toako, kenapa tidak lekas berangkat?"

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Jelek-jelek kita pernah diterima dan dilayani Baginda Raja, kalau pergi tanpa pamitan kurang hormat. Maka kupikir akan kuminta tolong kepada Thaykam kecil ini untuk mengirim kabar padanya,"

Lalu dia sobek pakaian dalam Thaykam kecil yang kebetulan terbuat dari sutra putih, di atas cuilan kain inilah dia meninggalkan pesannya dengan darah.

Dengan ujung pedangnya dia tusuk jari tengah Tiangsun Co sehingga keluar darah, dengan darah Tiangsun Co inilah dia menulis pesannya di atas kain sutra itu.

Karena Hiat-to tertutuk Tiangsun Co tidak mampu bergerak atau bersuara, namun saking kesakitan tubuhnya bergetar.

Di atas sutra putih itu Tan Ciok-sing menulis demikian.

"Harap Baginda tidak lupa akan perjanjian tiga bulan. Mengkhianat dan ingkar janji tidak akan memperoleh pengampunan Thian Yang Maha Kuasa."

"Bagus,"

In San tepuk tangan.

"Sejak dulu kala, kapan seorang baginda pernah menerima tulisan darah yang menuntut peri kemanusiaannya. Yakin Cu Kian-sin bocah itu akan ketakutan setengah mati."

Tan Ciok-sing menggulung kain sutra itu serta diikat dan dijirat di leher Thaykam kecil, setelah itu dia gandeng ln San keluar dari gua gunungan.

"Jangan kita menuju ke pintu barat,"

In San memberi ingat.

"Betul, Hu Kian-seng suruh Tiangsun Co keluar dari pintu barat, biarlah kita keluar dari arah yang berlawanan saja."

Tujuh di antara sepuluh penjaga di pintu timur adalah anggota Gi-lim-kun, tiga yang lain adalah anak buah Hu Kianseng dari kesatuan Bhayangkari.

Mereka atau ketiga Wisu itu bukan kepercayaan Hu Kian-seng, mereka belum punya hak dan tidak setimpal menyambut atau melayani para tamu Hu Kian-seng.

Tapi mereka tahu bahwa komandan mereka Hu Kian-seng pernah menerima seorang tamu agung dari negeri Watsu secara diam-diam.

In San acungkan surat perintah Baginda itu kepada pemimpin barisan jaga pintu serta membentak.

"Atas perintah Baginda aku disuruh mengantar tamu. lekas siapkan kereta."

Umumnya para Thaykam itu sudah dikebiri, maka nada suaranya mirip perempuan, In San ternyata cukup mahir memerankan sandiwara ini.

Ternyata pemimpin barisan jaga pintu kota itu percaya begitu saja, maklum diapun tidak kenal Thaykam kecil yang biasa melayani Sri Baginda, setelah memeriksa surat perintah, tanda tangan dan cap kerajaan, segera dia perintahkan anak buahnya menyiapkan kereta.

Satu di antara Wisu yang jaga pada saat itu pernah melihat Tiangsun Co.

Dari samping dia pandang perawakan tubuh Tan Ciok-sing tidak mirip Tiangsun Co, mau tidak mau timbul rasa curiganya.

Tapi dia tidak pernah disuruh melayani Tiangsun Co dan dekat, tapi sebagai Wisu pesuruh yang sering disuruh mondar mandir menyampaikan perintah, dari kejauhan dia pernah melihat Tiangsun Co sekali.

Meski hati agak curiga, namun dia tidak berani yakin bahwa Tan Cioksing ini adalah samaran.

Akhirnya dia membesarkan nyali bertanya.

"Apakah tuan besar ini adalah tamu agung undangan Hu-congkoan beberapa hari yang lalu, entah apakah Congkoan Tayjin juga sudah tahu..."

Sebelum orang bicara habis, In San sudah membentak.

"Kurang ajar, kau ini barang apa, berani tanya asal-usul tamu Baginda."

Wisu itu munduk-munduk sambil menyengir, katanya.

"Hamba tidak berani. Maksud hamba hanya ingin menyampaikan sembah sujud dan salam hormat Congkoan kami kepada tamu kita."

"Hmm,"

In San menjengek.

"memangnya perlu kau menjilat pantat."

Diam-diam Tan Ciok-sing sudah keluarkan lencana dinas itu dan dibanting di hadapan Wisu itu tanpa bersuara. In San tertawa dingin pula, katanya.

"Agaknya kalian masih tidak percaya akan perintah raja yang distempel cap kerajaan? Nah, buka mata anjing kalian, coba periksa apakah itu lencana dinas komandanmu yang tulen?"

Tersipu-sipu Wisu itu pungut lencana dinas itu serta mengembalikan kepada Tan Ciok-sing dengan kedua tangannya, katanya dengan tawa menyengir kikuk.

"Bukan begitu maksud hamba. Memang hamba tidak pantas cerewet, harap Pwecu tidak berkecil hati."

Pemimpin barisan jaga itu sudah memeriksa perintah raja dan terbukti lencana dinas itupun bukan palsu, mana berani dia bercuit lagi, segera dia siapkan dua ekor kuda, Tan Ciok sing dan In San juga tidak banyak ribut, segera cemplak ke punggung kuda terus dibedal keluar istana.

Setelah mereka pergi kawanan Wisu itu saling pandang dan merasa heran dan bingung, yang cerewet tadi segera menghampiri pemimpin barisan jaga serta berkata.

"Ma-tokwi, kurasa urusan agak janggal."

"Apanya yang janggal? Surat perintah itu aku yakin bukan palsu, memangnya lencana dinas itu bukan tulen?"

"Perintah raja dan lencana dinas itu memang tulen, tapi orangnya yang palsu."

Ma-tokwi atau pemimpin barisan jaga itu kaget, tanyanya.

"Dari mana kau berani bilang begitu?"

"Pangeran Watsu itu pernah aku melihatnya sekali, wajah dan perawakannya tidak mirip dengan orang tadi. Apalagi hanya Thaykam kecil saja yang bicara dengan kita, hakikatnya tamu itu tidak pernah buka suara."

Ma-tokwi bukan pemimpin goblok, soalnya dia kebingungan setelah melihat firman raja sehingga pikirannya tidak tenang, kini setelah diingatkan baru sadar, katanya.

"Kecurigaan memang masuk akal, mungkin dia kuatir kita dengar logatnya bukan orang Watsu, maka dia tidak berani buka suara."

Wisu itu berkata.

"Tulen atau palsu sukar ditebak, lebih baik lekas laporkan kepada Komandan untuk mengejarnya?"

Ternyata komandan pasukan Bhayangkari Bok Su-kiat sedang meronda tidak jauh dari tempat itu.

Sementara itu Tan Ciok-sing dan In San mencongklang kudanya melewati dua jalan raya, tiba-tiba didengarnya di belakang ada kuda dilarikan kencang mengejar datang, seorang yang terdepan berteriak.

"Tiangsun Pwecu, harap tunggu sebentar, aku adalah Bok Su-kiat."

Bok Su-kiat kenal baik dengan Tiangsun Co, sudah tentu Tan Ciok-sing tidak berani menoleh. In San yang wakili dia menjawab.

"Bok-jongling, biarlah aku yang mengantar tamu kita, tak usah kau ikut susah payah, silakan kembali saja,"

Jawaban In San ini justru menimbulkan rasa curiga Bok Sukiat. Dengan mengerutkan kening Bok Su-kiat berpikir.

"Kalau betul orang itu Tiangsun Co, sikapnya kenapa begitu kaku seperti tidak mengenalku lagi?"

Maklum di rumah Liong Bunkong tempo hari dia pernah bertemu beberapa kali dengan Pangeran Watsu ini, dia tahu Tiangsun Co adalah Pangeran dan Tiangsun Co juga tahu bahwa dia menjabat komandan Bhayangkari, bahwa dia ingin bermuka-muka terhadap Tiangsun Co, Tiangsun Co juga tidak berani berlaku kurang hormat kepadanya.

"Apalagi Thaykam kecil ini selama ini belum pernah aku melihatnya. biasanya Baginda tidak pernah menyuruh seorang Thaykam kecil untuk mengantar tamunya?"

Semakin dipikir makin curiga, segera dia berkeputusan dan membentak.

"Kalian berhenti, kalau tidak jangan menyesal bila aku bertindak,"

Bila orang di depan itu betul Tiangsun Co mendengar bentakannya ini, sepantasnya kalau dia naik pitam dan marah-marah.

Bila sudah marah betapapun Tiangsun Co pasti akan bersuara.

Tan Ciok-sing yang menyamar Tiangsun Co sudah tentu tidak buka suara, kudanya malah dikeprak semakin kencang.

Sementara In San masih berlagak, katanya dengan tertawa dingin.

"Bok Su-kiat besar benar nyalimu, aku mendapat firman raja untuk mengantar tamu, berani kau mencegat jalan."

Sementara itu Bok Su-kiat sudah pecut kudanya dibedal lebih kencang, jarak telah diperpendek, semakin dipandang orang di depan itu jelas tidak mirip Tiangsun Co, segera dia membentak pula.

"Kalian justru yang bernyali besar, berani menyamar Thaykam dan tamu agung kita. Hayo berhenti dan menggelinding turun dari kuda kalau membangkang kematian hukumannya,"

Sembari bicara dia sudah angkat busur memasang panah terus beruntun tiga kali dia membidik ke punggung In San.

Tan Ciok-sing tahu kekuatan Bok Su-kiat yang tangguh, mendengar serangan panah berantai ini dia kuatir In San tidak kuat menahannya, di punggung kuda mendadak dia gunakan gerakan burung dara membalik tubuh, tangannya bergerak ke belakang membabat dengan pedang.

Begitu sepasang pedang bergerak, hawa pedangnya menyambar bagai lembayung, ketiga batang panah itu seketika kutung jadi enam potong.

Sudah tentu secara langsung penyamaran merekapun terbongkar.

Bok Su-kiat memang belum tahu siapa mereka, tapi dia sudah yakin bahwa Tan Ciok-sing jelas bukan Tiangsun Co, sementara In San juga bukan Thaykam tulen.

Untuk menangkis serangan panah itu, terpaksa Tan Cioksing berdua harus mengendorkan lari kuda mereka.

Pada saat itulah, dari gang kecil di sebelah depan sana tiba-tiba menerjang keluar dua ekor kuda mencegat jalan lari mereka.

Sambil keprak kudanya Bok Su-kiat membentak.

"Dua orang ini menyamar, lekas bekuk dia."

Dua orang penunggang kuda yang mencegat itu adalah jago kosen dari pasukan Bhayangkari, seorang bernama Ku Hong ahli Tay-lik-eng-jiau-kang seorang lagi bernama Pui Ou mahir menggunakan sepasang ganco.

Ku Hong menggunakan jurus Mencabut Lobak di Tanah Kering, di punggung kuda segera dia menubruk ke depan, gerakannya mirip benar dengan seekor burung rajawali yang menyambar kelinci, dia incar tulang pundak Tan Ciok-sing terus mencengkeramnya.

Jurus ini merupakan tipu mematikan yang liehay dari ilmu pukulan yang merupakan pukulan kemahirannya, bila tulang pundak tercengkram jari-jarinya, meski orang memiliki kepandaian setinggi langit juga pasti tak akan bisa berkutik lagi dengan tubuh cacat, dia kira cengkeraman liehay ini pasti berhasil membekuk lawan, diluar tahunya bahwa lawan yang dihadapinya sekarang teramat tangguh.

"Serangan bagus,"

Tan Ciok-sing membentak, dengan jurus Ki-hwe-liau-thian (angkat obor menerangi langit) Pek-hongkiam dia tuding ke atas mengincar telapak tangan Ku Hong.

Bila cengkraman lawan diteruskan, yakin telapak tangannya pasti akan berlobang tertusuk pedangnya.

Bila dia mau gerakan pedang diteruskan dengan jurus Hianniau-hoat-sa, lengan Ku Hong pasti sudah dibabatnya protol dari tubuhnya Tapi dia tidak tega turun tangan keji, gerakan pedangnya dia robah jadi tepukan mendatar, sekaligus mengerahkan Lwekang tingkat tinggi menggunakan Can-ihcap-pwe-tiat.

Ku Hong sudah menarik kedua tangan seraya menyikut, terasa dirinya seperti menumbuk sekarung kapas yang empuk, mendadak terasa pula perutnya silir dingin, ujung pedang lawan yang kemilau dingin ternyata telah menusuk luka kulit perutnya.

Karuan kagetnya bukan main, tenaga mantul yang digunakan Tan Ciok-sing segera melemparkan tubuhnya jauh kesana dan jatuh terbanting dengan tubuh celentang.

Agaknya Ku Hong berkulit tebal, cepat sekali dia sudah melompat berdiri lagi tapi dia insaf Tan Ciok-sing telah mengampuni jiwanya, maka dia tidak berani bertindak lebih jauh.

Di sebelah sana Pui Ou menghadapi In San, nasibnya tidak sebaik temannya.

Pui Ou membanggakan sepasang ganconya yang bergagang panjang peranti mengatasi golok dan pedang, maka dia keprak kudanya mencegat di depan In San, kontan sepasang ganconya menusuk dan menggantol seraya membentak.

"Lepaskan pedang."

"Belum tentu,"

Jengek In San, gerak pedangnya secepat kilat terdengar suara "Krak, tram."

Sebelum ganconya bcih.i il menggantol pedang In San, gigi gantolan di ujung ganconya sudah terbabat protol oleh pedang mustika In San. Ternyata In San juga tidak tega membunuhnya, bentaknya.

"Minggir,"

Dimana pedangnya berputar, bukan menusuk orang tapi menusuk kuda.

Saking kesakitan kuda tunggangan Pui Ou berjingkrak terus lari sambil meringkik, Pui Ou terlempar dari punggung kuda dan terbanting di jalan raya yang berlandas batu hijau, kepala bocor tulang keseleo, keadaannya lebih parah dari Ku Hong.

Melihat kepandaian kedua orang itu sedemikian liehay, diam-diam Bok Su-kiat kaget, pikirnya.

"Mungkinkah yang menyaru jadi Tiangsun Pwecu, bocah she Tan itu?"

Baru saja dia menduga, dilihatnya Tan Ciok-sing dan In San sudah melambung tinggi lompat ke atas genteng penduduk. Bok Su-kiat menghardik.

"Keparat, mau lari kemana?"

Secepat kilat diapun mengudak lompat ke atas genteng.

Rumah penduduk di sekitar sini kebanyakan milik para hartawan yang membangun rumah secara megah, tingginya ada tiga tombak.

Bu Su-kiat tidak mampu lompat setinggi itu, tapi dengan Eng-jiau-kang dia menangkap payon rumah serta menyendat tubuh sehingga badannya terbalik mumbul jumpalitan ke atas wuwungan, paling terlambat beberapa detik saja dari Tan dan In berdua, maka lekas sekali dia sudah menyandak.

Tan Ciok-sing menoleh seraya membentak.

"Bagus, Bok Su-kiat, mari hari ini kita tentukan siapa jantan siapa betina."

"Bagus, Tan Ciok-sing,"

Jengek Bok Su-kiat.

"kukira siapa bernyali besar, kiranya kau. Kau bocah keparat bernyali besar kurang ajar ini, hari ini biar merasakan keliehayanku,"

Di tengah jengek tawanya itu dia menggunakan Tay-kim-na-jiuhoat.

Kalau dia memaki Tan Ciok-sing, tapi yang jadi sasaran serangannya justru In San.

Waktu Tan Ciok-sing dan In San mewakili para ksatria mengadakan perundingan di rumah Liong Bun-kong dulu.

Secara diam-diam Tan Ciok-sing pernah saling jajal dan mengukur kepandaian masing-masing telah demonstrasikan kemahiran sendiri-sendiri.

Kalau Tan Ciok-sing gunakan pedang kilatnya mengecutkan hati lawannya, sementara Bok Su-kiat pamer Lwekangnya yang hebat, masing-masing pihak sama mengagumi keliehayan lawan.

Sayang di rumah Liong Bun-kong tempo hari mereka tidak berkesempatan untuk bergebrak secara sesungguhan.

Tahu ilmu pedang Tan Ciok-sing liehay, maka Bok Su-kiat bertindak lebih dulu menyerang titik kelemahan pihak lawan.

Dia tahu bahwa In San adalah gadis yang ditaksir oleh raja junjungannya, tapi Lwekangnya sudah diyakinkan mencapai tarap yang sempurna, dia yakin cengkramannya yang liehay serta sudah diperhitungkan itu tetap takkan merugikan atau melukai In San sedikitpun.

Serangannya ini menggunakan Cong-yan-jiu dari Kim-najiu-hoat, ilmu tunggal perguruannya yang liehay, jauh berbeda dengan Kim-na-jiu yang diajarkan berbagai perguruan lain.

Kedua lengannya satu di atas yang lain di bawah, jari tangan kiri terangkap seperti ujung tombak mencolok sepasang mata In San.

Gerakan ini hanya gertakan belaka, untuk memancing lawan memperkuat pertahanan di sebelah atas.

Pada hal telapak tangan kanan justru membabat miring laksana golok menyerang sepasang kaki In San.

Serangan menggempur timur bersuara di barat ini dilancarkan secepat kilat dan liehay luar biasa.

Diluar perhitungannya, bahwa gerakan Tan Ciok-sing ternyata melebihi kecepatannya sendiri.

Di saat kritis itu, sebelum ujung jarinya menyentuh In San, ujung pedang Tan Ciok-sing telah menanti telapak tangan kirinya yang mencolok mata In San, ujung pedang mengincar telak Lau-kiong-hiat di tengah telapak tangannya.

Sudah tentu Bok Su-kiat tidak berani meneruskan cengkramannya, di tengah jalan dia robah gerakan, jarinya menjentik dan "Creng"

Pedang Tan Ciok-sing diselentiknya membal ke pinggir, begitu tubuh merendah turun telapak tangan kanan tetap membabat kedua kaki In San.

Tapi rintangan sekejap ini sudah memberi kesempatan kepada In San untuk balas menyerang.

Sebat sekali tampak tubuhnya mendak terus melompat maju dia gunakan gerakan Burung Seriti Menyusup ke Awan, Ginkang yang liehay melambung satu tombak lebih tingginya dengan jurus Giok-lito-so dari tengah udara dia menusuk ke bawah.

Sementara meminjam tenaga selehtikan jari orang, pedang Tan Ciok-sing dipelintlir membalik dengan gerakan Sabuk Kemala Melilit Pinggang, secara telak dan serasi dia imbangi gerakan pedang ln San yang menyerang dari atas.

"Bret"

Ujung lengan baju Bok Su-kiat terpapas sebagian dan terbang berhamburan seperti kupu-kupu terbang di pucuk kembang.

Masih untung dia sempat menarik diri melompat mundur sejauh mungkin, kalau tidak lengan kanannya pasti sudah terbabat kutung.

Tenaga Lwekangnya yang hebat sempat pula menggetar pergi pedang Tan Ciok-sing terus menyurut mundur pula tiga langkah.

Namun cepat sekali sepasang pedang Tan dan In sudah memburunya dengan serangan jurus kedua.

Perbawanya bagai damparan ombak yang bergulung-gulung tak kenal putus.

Jurus gabungan pedang kali ini kekuatannya lebih hebat dari jurus pertama, daya rangsakannyapun lebih menyeluruh.

Soalnya tadi In San serambut lebih lambat mengeluarkan pedang, sehingga lawan masih sempat menjentik pedang Tan Ciok-sing, tapi gabungan dua pedang kali ini boleh dikata sudah merupakan dwi tunggal yang sukar dilawan.

Apa boleh buat Bok Su-kiat terdesak mundur pula tiga langkah, tanpa disadarinya kini dia sudah berdiri di pinggir payon.

Tan Ciok-sing membentak.

"Menggelinding turun,"

Dengan jurus Hian-niau-hoat-sa dia ikut menubruk maju, tulang pundak lawan menjadi sasaran tutukan pedangnya.

Sementara dalam waktu yang sama In San dengan jutus Payhun-tian (menyibak mega merenggut kilat), ujung pedang memancarkan cahaya dingin, menusuk ke tulang pundak kanan pula.

Bok Su-kiat menjadi sengit, sembari menghardik tangannya menjotos, Tan Ciok-sing kira lawan nekad hendak adu jiwa, melihat jotosan lawan bertenaga hebat, kuatir In San tidak kuat melawannya, lekas Ciok-sing berkisar terus pasang kudakuda, pedangnya membalik terayun memapas pergelangan tangan.

Gerakan pedangnya ini sedikit terlambat sehingga Bok Su-kiat sempat melompat sambil jumpalitan terus ke bawah genteng.

Ternyata jotosan itu kelihatannya seperti hendak mengadu jiwa, pada hal hanyalah gertakan belaka untuk cari kesempatan mengundurkan diri.

Melihat Kungfu lawan semahir itu, mau tidak mau kejut juga hatinya.

Sebaliknya bagi Bok Su-kiat yang Komandan pasukan Bhayangkari ini dalam tiga gebrak saja dirinya harus menelan kekalahan di tangan lawan mudanya, sudah tentu bukan kepalang malu dan penasaran hatinya.

Dengan gerakan burung dara jumpalitan, secara enteng dia hinggap di bumi, mulutpun terus menghardik gusar.

"Lepas panah,"-umpama In San terpanah mati juga tidak peduli lagi. Sementara itu pasukan Gi-lim-kun sudah memburu datang dari berbagai arah, anak panah segera berhamburan selebat hujan. Dengan tangan bergandeng tangan Tan Ciok-sing dan In San berlompatan dari wuwungan yang lain terus menuju ke arah barat, di jalan raya sebelah barat ternyata sudah dikepung pula, terpaksa Tan dan In harus putar kencang pedangnya untuk meruntuhkan anak panah yang dibidikkan ke arah mereka. Pasukan Gi-lim-kun itu kapan pernah menyaksikan Ginkang sehebat itu, sesaat mereka jadi melongo. Setelah bebas dari bidikan panah pasukan Gi-lim-kun, Tan Ciok-sing berdua terus tancap gas berlari ke arah pintu barat, para Wisu yang berjaga di pintu bawah, lapat-lapat melihat dua bayangan orang melambung terbang melampaui tembok tinggi, waktu ditegasi bayangan itu sudah lenyap. Pada hal mereka tahu ada orang yang melarikan diri keluar kota, namun mana mereka berani ribut. Lalai menunaikan tugas sehingga pembunuh lolos merupakan kesalahan yang bisa mengakibatkan jiwa mereka jadi korban. Sekaligus Tan dan In berlari sejauh tiga puluhan li, bila mereka tiba di rumah keluarga Coh di kaki bukit itu, haripun sudah terang tanah. Tan Ciok-sing berkata tertawa.

"Liok Pangcu dan Lim Tayhiap menunggu tiga hari, bila melihat kita tidak kunjung tiba, entah betapa gelisah hati mereka,"

Begitu dia angkat kepala, senyum tawanya seketika kuncup, tampak rumah gedung keluarga Coh sudah terbakar habis tinggal puingpuingnya saja. In San mengelus dada, katanya.

"Pasti pasukan kerajaan yang membakar rumah Coh Ceng-hun. Entah bagaimana keadaan Liok-pangcu, Lim Tayhiap dan lain-lain?"

"Di sekitar sini ada perumahan penduduk, mari kita cari kabar dari mereka,"

Demikian ajak Tan Ciok-sing.

Beberapa rumah penduduk telah mereka datangi, semua pintu besarnya terbuka lebar, tapi tiada seorangpun penghuni di dalamnya, sampaipun perabot telah kosong melompong, penduduknya entah mengungsi kemana.

Tan Ciok-sing geleng-geleng, katanya.

"Agaknya tiada harapan kita dapat mencari kabar dari penduduk. Keluarga Coh ketimpa petaka, mungkin mereka takut kerembet maka siang-siang sudah angkat kaki dari tempat kediamannya. Tiba-tiba In San bersuara heran, katanya dengan tertawa.

"Toako, pendapatmu memang beralasan, tapi yakin rekaanmu meleset, coba lihat, disana itu bukankah ada dua orang?"

Waktu itu mereka sedang turun gunung Tan Ciok-sing menoleh ke arah yang dituding In San, dilihatnya dua orang tua yang jalan tertatih-tatih, lelaki dan perempuan agaknya sepasang suami isteri.

yang lelaki memikul kayu kering yang perempuan menggendong rumput hijau, mereka sedang menuju ke atas gunung.

Tan Ciok-sing berkata.

"Sepasang kakek dan nenek ini ternyata bernyali besar, tapi di rumah mereka sudah tiada harta benda lagi, untuk apa cari kayu dan rumput?"

"Umpama mereka betul adalah mata-mata musuh, kita juga tidak perlu kuatir, mari coba kita cari tahu kepada mereka,"

Demikian In San ajukan pendapatnya.

Mereka percepat langkah turun ke bawah, setelah dekat dengan seksama dia awasi kakek dan nenek, kedua kakek nenek itu juga berhenti dan balas mengawasi mereka, sorot matanya memancar rasa heran dan bingung.

"Lo-kongkong dan Lo-popoh,"

Demikian sapa Tan Ciok-sing.

"harap kalian suka istirahat sebentar. Ingin kami mencari tahu satu hal kepada kalian."

Nenek itu berkata.

"Kami hanya tahu menebang pohon dan cari rumput, urusan lain kami tidak tahu. Maaf, kami harus lekas pulang, banyak kerjaan yang menunggu dibereskan."

In San menyodorkan sekeping uang perak kepada si nenek seraya berkata.

"Soal yang ingin kami tanya kau pasti tahu, sekedar imbalan ini harap kau suka menerimanya."

Setelah menerima uang, si nenek berkata.

"Baiklah, memandang uang perak ini, biar kudengar soal apa yang ingin kau tanyakan. Bila aku tahu pasti kuterangkan."

In San berkata.

"Di atas gunung ada sebuah keluarga Coh, tentunya kalian sudah tahu."

"Kalian teman keluarga Coh itu?"

Tanya si nenek.

"Betul,"

Tan Ciok-sing menyela.

"kami adalah kenalan baik majikan muda keluarga itu, yang bernama Coh Ceng-hun."

"Tentunya kalian adalah pembesar dari kota bukan, agaknya keluarga Coh tidak pernah ada hubungan dengan pihak kerajaan."

Tan Ciok-sing tahu si nenek merasa curiga, dia jadi bimbang apakah perlu menerangkan asal-usul sendiri kepada si nenek. Mendadak si nenek membentak.

"Bagus ya, kiranya kalian pura-pura menyaru pembesar."

Tan Ciok-sing kaget, baru saja dia akan turun tangan, tibatiba didengarnya In San juga balas membentak.

"Bagus ya, ternyata kalian juga menyamar kaum penebang."

Sampai disini, tiba-tiba In San dan si nenek sama tertawa geli, katanya.

"Han-cici, jangan kau menggoda kami lagi,"

"In-cici memang pandanganmu lebih tajam,"

Suara si nenek yang ketua-tuaan tiba-tiba berubah merdu. Tan Ciok-sing seketika sadar dan berseru sambil keplok tangan.

"Kiranya nona Han, jadi kakek ini tentunya Toantoako adanya."

Kakek itu segera mengusap muka sendiri dan kelihatanlah wajah aslinya, memang bukan lain adalah Toan Kiam-ping. Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

"Aku tidak semahir adik Cin dapat merubah suara, maka terpaksa aku pura-pura bisu."

"Justru kau tetap tidak buka suara sehingga aku curiga,"

Ujar In San.

"segera aku menduga kalian. Toan-toako, lukalukamu sudah sembuh?"

"Aku dirawat dan memperoleh pengobatan dari Giam-ongte Lau Su-tho, sudah lama sembuh, tadi aku sudah siap hendak melabrak Tan-toako malah."

Tan Ciok-sing melcngak, katanya.

"Kenapa kau hendak melabrakku?"

"Siapa suruh kau menyamar Tiangsun Co? Pandanganku toh tidak setajam adik Cin, dalam waktu sesingkat ini aku belum bisa membedakan penyamaranmu."

"Sudah tidak perlu banyak ngobrol, lekas jelaskan, bagaimana keadaan Liok-pangcu dan Lim Tayhiap dan lainlain."

"Jangan kuatir,"

Ucap Toan Kiam-ping.

"malam itu kita disergap pasukan kerajaan, rumah kediaman keluarga Coh juga dibakar mereka, untung Liok-pangcu dan Lim Tayhiap mahir memimpin dan menghadapi kejadian secara tenang sehingga korban yang jatuh tidak terlampau parah. Kawankawan yang menetap di rumah keluarga Coh semua dapat meloloskan diri dengan selamat. Kejadian sebenarnya malam itu nanti kujelaskan. Tolong kau ceritakan dulu bagaimana tugas kalian masuk ke istana, kau tahu hatiku seperti dibakar saking gelisah menunggu kalian pulang."

Mendengar orang banyak selamat, legalah hati Tan Cioksing katanya.

"Sang raja sudah berhasil kami temui, cuma bagaimana hasil anjuran kita terhadapnya, sejauh ini masih belum bisa diketahui."

Lalu pengalaman tiga hari di istana dia ceritakan, Toan Kiam-ping dan Han Cin sering tegang, dan akhirnya menghela napas lega setelah mendengar kisahnya itu. Toan Kiam-ping berkata dengan tertawa.

"Mengkhianat dan mengingkari janji akan memperoleh hukuman dari Thian Yang Maha Kuasa. Peringatan yang kau tinggalkan untuk raja itu memang tepat sekali. Sudah tentu kita takkan percaya begitu saja omongannya tapi sebaliknya dia harus memperhatikan peringatan kita itu. Paling tidak, dia tidak akan berani menanda tangani perjanjian damai itu, terhitung tugasmu sudah berhasil separo. Tan-toako, In-moaycu, tidak kecil jasa kalian."

"Ah, soal jasa segala, aku toh hanya melaksanakan rencana orang banyak yang ditugaskan kepada kami."

"Kau tidak usah sungkan,"

Sela Han Cin.

"satu hal ingin aku memberitahu kepada kalian, dari soal ini dapat dinilai bahwa tugas telah kalian laksanakan telah membawa hasil baik."

"Soal apa?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Liong Bun-kong keparat tua itu pura-pura jatuh sakit dan tidak pernah lagi menghadap raja. Menurut berita yang diperoleh Liok-pangcu, katanya Baginda ? Raja sendiri yang menganjurkan dia demikian. Para begundal keluarga Liong konon juga sama saling terka dan kebingungan, kasak-kusuk bahwa majikan mereka bakal jatuh pamor dan runtuh kedudukannya. Mereka sedang berpikir-pikir untuk mencari jalannya sendiri seumpama pohon roboh kera pun bubar."

"Batas waktu yang diberikan raja adalah tiga bulan, bila dia runtuh kukira juga tidak akan selekas ini,"

Ujar Tan Ciok-sing. Han Cin tertawa katanya.

"Manusia licik yang pandai menjilat biasanya pintar melihat arah angin memegang kemudi, mungkin mereka takkan menunggu bila puncak gunung es itu runtuh baru akan mencari daya menyelamatkan diri."

"Sekarang kalian pindah kemana?"

Tanya In San.

"Pindah ke Loh-su-san salah satu dari Say-san. Markas cabang Kaypang di Pakkhia memang didirikan di Pit-mo-giam di Loh-su-san itu?"

Demikian Toan Kiam-ping menjelaskan. Waktu itu sudah lewat lohor, diam-diam In San memperhitungkan jarak perjalanan, lalu berkata.

"Siang hari tidak leluasa kita mengembangkan Ginkang, dari sini pergi ke Loh-su-san kira-kira memakan waktu setengah hari, sekarang sudah sepantasnya kita berangkat."

Tiba-tiba Han Cin berkata.

"Malam ini kami tidak akan kembali ke Loh-su-san."

"Lho, kenapa?"

Tanya In San.

"Malam ini kami ingin pergi ke Lo-gau-kio. Letak Lo-gau-kio lebih jauh dari Loh-su-san, sebelum tengah malam nanti sudah harus tiba di Lo-gau-kio, maka tiada tempo mampir ke tempat lain lagi."

Lo-gau-kio terletak tiga puluhan li dari pintu barat Khon-anbun di Pakkhia, jembatan itu melintang di atas Ing-ting-ho menghubungi jalan raya King-si sebelah barat dan timur, merupakan satu di antara delapan tempat tamasya bagi pelancongan.

Waktu masih di Pakkhia dulu, usia In San masih kecil maka dia belum pernah kesana, tapi dia tahu akan tempat tamasya itu.

In San jadi heran, katanya.

"Lo-gau-kio adalah satu obyek tamasya di Pakkhia, yakin kalian tidak ingin tamasya malam hari di jembatan bersejarah itu bukan?"

"Terus terang kami kesana hanya ingin menyaksikan orang berkelahi. Bila kalian tidak perlu beristirahat marilah malam ini ikut kami kesana?"

Tergerak hati Tan Ciok-sing, tanyanya.

"Siapa dengan siapa yang berkelahi?"

"Malam ini Kek Lam-vvi akan menuntut balas kepada Lenghou Yong,"

Tutur Toan Kiam-ping. Tan Ciok-sing kaget, serunya.

"Lho, apa yang telah terjadi?"

"Mungkin kau belum tahu seluk beluk keluarga Kek. Dua puluh tahun yang lalu ayahnya terbunuh oleh Lenghou Yong. Tapi setelah malam kita membuat keributan di rumah keluarga Liong itu, baru ayahku memberi keyakinan berdasarkan penyelidikan yang cermat bahwa musuh pembunuh ayahnya adalah Lenghou Yong."

"Apa Lenghou Yong mau menerima tantangannya berkelahi di Lo-gau-kio?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Ayah yang mengatur. Ayah mohon bantuan seorang yang dipercaya oleh Lenghou Yong untuk datang di Lo-gau-kio. Bagaimana duduk persoalan yang sesungguhnya, karena pagipagi tadi kami sudah berangkat dari Loh-su-san, jadi kami kurang jelas karena ayah tidak sempat menjelaskan. Tapi Lenghou Yong tidak tahu bahwa Kek Lam-wi akan menuntut balas kepadanya."

Han Cin melanjutkan ceritanya.

"Kemarin secara berutun dua hari, ayahku yang bertugas kemari menunggu kalian, hari ini dia harus mengatur pertemuan Kek-suko dengan Lenghou Yong, maka kami yang ditugaskan kemari. Terus terang, kami hanya ingin coba-coba saja mengadu untung sungguh sangat kebetulan, kalian justru pulang pada saat ini pula. Tan-toako, kalian akan pulang dulu menemui Liok pangcu, atau ikut kami ke Lo-gau-kio melihat keramaian."

Tan Ciok-sing berkata lantang.

"Kawan-kawan begitu baik terhadapku, mana boleh aku berpeluk tangan, adalah sepatutnya aku ikut membantu kesulitan teman. Maka aku akan ikut kalian pergi ke Lo-gau-kio saja."

In San tanya.

"Lenghou Yong membekal Kungfu tinggi, meski Kek Lam-wi tidak lemah, bila satu lawan satu, mungkin dia bukan tandingannya. Apa kalian sudah menjanjikan aturan perkelahian?"

"Lenghou Yong tidak tahu bahwa Kek Lam-wi yang mengundangnya,"

Ujar Han Cin.

"Maksudku bagaimana Kek Lam-wi membicarakan soal itu dengan ayahmu? Menurut aturan Kangouw, umumnya menuntut balas hanya boleh berkelahi satu lawan satu."

"Aku tidak tahu,"

Ucap Han Cin.

"Tiga hari terakhir ini, ayah selalu mengawasi latihan Kek-suheng dan mengajarkan tiga jurus ilmu kepadanya."

"Tiga jurus ilmu belum tentu dapat mengalahkan Lenghou Yong,"

Kata In San.

"Malam ini ayah pasti pergi bersamanya, aku yakin ayah tidak akan membiarkan dia menderita rugi."

Tan Ciok-sing menimbrung.

"Di samping membantu Keksukomu berhasil menuntut balas, ayahmupun tidak boleh kehilangan pamor, itulah yang sulit."

Toan Kiam-ping menyela.

"Ti-locianpwe sudah memperhitungkan soal ini dengan cermat, kukira dia sudah mempersiapkan hal ini dengan matang.' Tapi Tan Ciok-sing masih kuatir, katanya.

"Meski Tilocianpwe sudah mempersiapkan secara sempurna, Lenghou Yong juga bukan kaum kroco yang mudah ditipu. Sekarang tidak perlu menduga-duga, hayo lekas berangkat saja."

"Betul,"

In San tertawa.

"kita ini kan kaum kroco dalam Bulim, bila perlu tak usah bicara aturan Kangouw segala untuk menumpasnya." 000OOO000 Malam itu bulan purnama, suasana tenang di bawah penerangan sang putri malam di Lo-gau-kio terasa semakin indah dan mempesona. Menjelang tengah malam, sang putri malam bercokol tepat di tengah langit, di atas jembatan tampak muncul bayangan satu orang, orang ini adalah Kek Lam-wi. Ing-ting-ho di bawah jembatan dahulu dinamakan Bu-tingho, damparan ombak air sungguh menerpa-nerpa dan melanda beton kaki jembatan yang kokoh, sehingga memercikan buih-buih putih yang bergulung-gulung pergi dan sirna satu persatu. Malam purnama, arus yang deras gemuruh, ketenangan malam terasa permai dan membangkitkan jiwa kesatria. Demikian perasaan Kek Lam-wi pada saat itu. Panjang Lo-gau-kio empat puluh tujuh tombak, seluruhnya terbuat dari batu Inlam, kedua sisi jembatan dipagari batubatu putih berukir, semuanya merupakan tonggak batu yang masing-masing berjumlah seratus empat puluh batang, di atas setiap batang tonggak batu itu terdapat patung singa yang mendekam garang, bentuknya mirip satu dengan yang lain. Perasaan Kek Lam-wi sekarang tak ubahnya damparan ombak air di bawah jembatan. Malam ini dia akan menentukan mati hidup dengan musuh pembunuh ayahnya.

"Mungkinkah Lenghou Yong datang?"

Rembulan sudah merambat doyong ke barat, suasana tetap sunyi tiada gerakan apa-apa. Melamun seorang diri akhirnya Kek Lam-wi terkenang kepada Toh Soso.

"Malam seperti-ini, entah dimana dia sekarang? Apakah dia sekarang juga sedang merindukan daku?"

Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan urusan disini untuk lekas-lekas meninggalkan Pakkhia menyusul Toh So-so ke Kanglam. Hari sudah larut malam Lenghou Yong belum juga kunjung tiba.

"Di kala menghadapi pertempuran mati hidup, mana boleh pikiran kacau, hati tidak tenang,"

Tiba-tiba Kek Lam-wi menyadari kesalahan, segera dia keluarkan serulingnya, dengan irama seruling dia ingin menenangkan hati dan memantapkan semangat juangnya.

Belum habis dia meniup seruling, dari seberang sana muncul dua bayangan orang.

Kek Lam-wi memicing mata melihat dengan seksama, dikenalnya satu di antara kedua orang itu memang Lenghou Yong adanya.

Setelah mendengar irama serulingnya, tiba-tiba Lenghou Yong mempercepat langkahnya.

Teman Lenghou Yong adalah laki-laki setengah umur, berperawakan buntak berpakaian sebagai hartawan.

Meski tubuhnya gembrot tapi langkah larinya ternyata cukup cepat, dengan kencang diapun mengintil di belakang Lenghou Yong.

Waktu di rumah Liong Bun-kong malam itu, meski Kek Lam-wi pernah melihat Lenghou Yong tapi suasana pada saat itu terlalu kacau dan ribut di tengah kancah pertempuran, sehingga Lenghou Yong tidak sempat memperhatikan dirinya.

Itu berarti Kek Lam-wi kenal dia, sebaliknya Lenghou Yong tidak mengenalnya.

Tapi setelah mendengar irama seruling Kek Lam-wi, tanpa merasa tergerak hatinya.

Segera dia berpaling tanya kepada temannya itu.

"Yang ingin mengadakan kontak dengan kita apakah pemuda peniup seruling di atas jembatan itu? Setiba disini boleh kau beritahu kepadaku siapa dia sebenarnya?"

"Lenghou Tayjin,"

Kata laki-laki gendut itu.

"sukalah kau percaya kepadaku, aku benar-benar tidak tahu siapakah orang ini. Aku hanya tahu dia memiliki sebuah benda antik yang ingin dijual kepada kita."

"Benda mustika macam apakah,"

Tanya Lenghou Yong. Laki-laki gendut itu gelagapan, katanya.

"Mustika apa aku juga tidak tahu. Tapi aku percaya temanku itu tidak akan menipuku. Bila Tayjin kuatir soal dagang ini boleh kita batalkan saja..."

Belum habis dia bicara Lenghou Yong sudah tertawa, katanya.

"Kau tidak tahu, aku justru sudah tahu. Betul yang dipegangnya itu memang sebuah mustika. Temanmu tidak menipu kau, dan kaupun tidak menipuku."

Legalah hati si gendut, katanya.

"Lenghou Tayjin, memangnya aku ingin mohon bantuanmu demi mencapai kedudukan yang lumayan mana berani aku ngapusi kau?"

Untuk hubungan dagang ini meski dia sebagai perantara mempertemukan jual beli itu di atas jembatan ini, pada hal seluk beluk persoalan sesungguhnya hakikatnya dia sendiri juga tidak tahu apa-apa, karena dia hanya dimintai bantuan orang lain.

Orang yang menjadi perencana pertemuan jual beli ini adalah Ti Nio, namun Ti Nio tidak pernah mengunjukan diri.

Laki-laki gembrot seperti hartawan ini bernama Kwik Su-to, di Pakkhia dia memang terkenal sebagai salah satu hartawan yang suka membeli barang-barang antik, didalam kota dia membuka belasan rumah gadai dan beberapa bank Sekarang adalah hartawan, pada hal dahulu dia adalah seorang begal tunggal.

Namanya yang asli sudah tentu bukan Kwik Su-to, nama itu dia gunakan setelah menyulap diri sebagai seorang hartawan yang suka menderma, nama itupun diperolehnya dari seorang guru sekolah kampungan setelah dibayarnya lima ketip.

Memang selanjutnya dia bisa hidup teratur dan disiplin, secara munafik dia pura-pura jadi dermawan.

Kali ini Ti Nio minta bantuan Tio Kan-loh, ketua Kaypang cabang Pakkhia, suatu malam dia mendatangi rumah hartawan she Kwik yang terkenal dermawan ini, dengan bujukan dan ancaman serta membentangkan untung ruginya, Kwik Su-to dianjurkan menghubungi Lenghou Yong untuk menyelesaikan jual beli sebuah benda mustika Kwik Su-to tahu jual beli ini takkan menguntungkan dirinya, pertemuan itu pasti tidak akan membawa penyelesaian yang baik pula, tapi dia tahu diri, kekuatan Kaypang teramat besar di kota raja, jangan kata mungkin orang-orang Kaypang bakal mencabut nyawanya, cukup bila asal-usulnya dibongkar di hadapan umum, kedok sendiri akan terbongkar, mana dia masih bisa bercokol di Pakkhia.

Apa boleh buat terpaksa dia rela menjadikan diri sebagai perantara ini.

Lenghou Yong juga tahu jelas riwayat hidupnya, tahu meski dia sudah menyulap diri sebagai hartawan yang dermawan, secara diam-diam dia masih sebagai tukang tadah pula, tidak sedikit keuntungan yang diperolehnya dari jual beli secara gelap ini.

Apalagi dia memang sedang mengharapkan bantuan Lenghou Yong, meski harus keluar sejumlah uang, syukur bila Lenghou Yong sudi bicara tentang kebaikan dirinya di hadapan Liong Bunkong, kepadanya dia ingin memperoleh jabatan di kalangan pemerintahan.

Kepada Lenghou Yong dia bilang, ada seorang teman Kangouw punya sebuah mustika yang hendak dijual, walau dia belum pernah bertemu teman itu, tapi seorang teman lain yang dapat dipercaya sebagai perantara, mereka menjanjikan untuk mengadakan pertemuan di Lo-gau-kio untuk menyelesaikan jual beli itu.

Mustika itu ingin dia beli dan akan dihadiahkan kepada Lenghou Yong, tapi dia minta Lenghou Yong sendiri melihat mustika itu, bila senang dan mencocoki selei.inv.i berapapun harganya ak;m di.i bayar.

Secara tidak langsung diapun menyatakan untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan dia mohon Lenghou Yong yang berkepandaian tinggi supaya bertindak bila mana perlu Lenghou Yong memang tamak dan loba, rakus lagi, bisa memperoleh keuntungan semudah ini sudah tentu dia amat senang dan secara suka rela dia mau mengiringi laki-laki gendut yang berusaha menjilat pantatnya ini.

Didalam persoalan jual beli ini, sekaligus menimbulkan akal bulusnya untuk suatu kepentingan sendiri.

Tersiar luas di luaran bahwa kedudukan Liong Bun-kong mulai goyah, hal ini sudah tentu sudah didengarnya pula.

Kini dia sedang giat mencari majikan baru yang patut dijadikan tulang punggung pula, dan orang yang dimaksud bukan lain adalah Hu Kian-seng, bila meleset boleh dia mengekor kepada Yu-hian-ong dari Watsu yang kini menginap di rumah kediaman keluarga Liong sebagai utusan negeri Watsu, tak lama lagi duta besar ini akan pulang ke negerinya.

Untuk ini diapun sedang memperhitungkan untung ruginya serta membandingkan satu dengan yang lain demi keuntungan pribadinya kelak, majikan mana yang dirasakan lebih menguntungkan kepada dia dirinya akan rela diperbudak.

Bila betul-betul memperoleh sebuah mustika, umpama diri sendiri tidak menyenangi juga tidak jadi soal, mustika ini boleh dia persembahkan kepada majikan baru yang akan dijunjungnya sebagai kado.

Di samping itu diapun jelas mengetahui seluk beluk kehidupan Kwik Su-to, kepada hartawan munafik asal begal tunggal yang memiliki kekayaan besar ini, dia boleh percaya dan melegakan hatinya, oleh karena itu dia ambil putusan untuk bertaruh menghadapi bahaya bila perlu.

Setiba di Lo-gau-kio, sembari berlari mendatangi Lenghou Yong segera berseru tanya.

"Apakah tuan ini yang hendak menjual barang mustikanya?"

Pelan-pelan Kek Lam-wi angkat serulingnya.

"betul,"

Sahutnya. Senang hati Lenghou Yong, tanyanya pula.

"apakah mustikamu adalah seruling ini?"

"Betul,"

Kek Lam-wi menjawab tawar.

"Tolong tanya cara bagaimana kau memperoleh seruling ini?"

Tanya Lenghou Yong.

"Mau beli boleh bayar, tidak mau boleh batal. Kenapa kau tanya sejelas ini?"

Tanya Kek Lam-wi.

"Baiklah, katakan berapa harga yang kau inginkan?"

"Aku tidak mau dibayar uang."

"O, kau ingin barter?"

"Apa betul kau ingin barter setulus hati dengan aku?"

"Sudah tentu. Boleh kau sebutkan saja apa keinginanmu,"

Diam-diam Lenghou Yong sudah merasa curiga kepada Kek Lam-wi.

"Baik, biar aku bicara secara blak-blakan, apapun aku tidak mau kecuali batok kepalamu."

Kwik Su-to berjingkrak kaget dan ketakutan. Tapi setelah mclengak sekilas Lenghou Yong malah tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Mengandal apa kau ingin batok kepalaku?"

Jengeknya sambil melirik hina sikapnya seolah-olah tidak pandang sebelah mata kepada Kek Lam-wi.

"Dengan serulingku ini,"

Jengek Kek Lam-wi dingin.

"Kau kira aku sudi memenggal kepala menyerahkan kepada kau?"

"Inilah barter secara adil, kalau tidak sudi memenggal kepala sendiri, memangnya seruling mustikaku sudi kuserahkan kepadamu dengan cuma-cuma?"

Lenghou Yong terbahak-bahak, serunya.

"Barter cara begini memang menyenangkan, tapi batok kepala ditukar seruling, meski serulingmu itu senilai satu kota, kukira barter ini tetap tidak adil."

"Betul,"

Timbrung Kwik Su-to.

"Kukira agak keterlaluan."

"Keterlaluan? Aku malah belum memperhitungkan bunganya."

Mendelik mata Lenghou Yong, bentaknya.

"Siapa kau?"

"Kau tidak kenal aku, tapi aku tahu siapa kau,"

Kata Kek Lam-wi sinis.

"O, jadi kau ingin membuat perhitungan dengan aku Lenghou Yong?"

Sorot matanya tiba-tiba beralih ke muka Kwik Su-to. Kwik Su-to merinding dan gemetar, tersipu-sipu dia berkata.

"Lenghou Tayjin urusan tidak menyangkut diriku, aku hanya jadi perantara saja. Aku toh tidak tahu liku-liku permusuhan kalian."

Tiba-tiba Lenghou Yong teringat, bentaknya.

"Bukankah kau ini Kek Lam-wi salah satu dari Pat-sian?"

Maklum Kek Lam-wi terkenal sebagai pendekar yang pandai meniup seruling di kalangan Kangouw. Meski Lenghou Yong tidak mengenalnya, tapi dia pernah mendengar namanya.

"Betul,"

Ucap Kek Lam-wi.

"laki-laki sejati duduk tidak menukar nama berdiri tidak merubah she, aku inilah Kek Lamwi adalah aku."

Diam-diam Lenghou Yong berpikir.

"Pimpinan Pat-sian Lim Ih-su malam itu hanya kuat menandingi aku, Kek Lam-wi ini orang termuda dari Pat-sian, kenapa aku takut padanya?"

Segera dia tertawa, katanya.

"Pat-sian kalian berani menentang diriku, memang tidak perlu dibuat heran, tapi aku jadi ingin tahu, kenapa kau seorang diri ingin mencariku?"

"Dua puluh tahun yang lalu, di Kwi-cu kau pernah membunuh satu orang, apakah masih ingat akan peristiwa itu?"

Lenghou Yong tersentak sadar, bentaknya.

"Jadi Kek Bingyang dari Kwi-cu itu adalah bapakmu?"

Berlinang air mata Kek Lam-wi, katanya berat.

"Betul, sekarang tentu kau sudah mengerti bukan?"

Lenghou Yong menyeringai sadis, katanya.

"Ya, aku paham sekarang, jadi kau mau menuntut balas atas kematian bapakmu. Baiklah, sekalian kujelaskan kepada kau, syukur kau menampilkan diri malah, serulingmu itu demikian pula batok kepalamu biar kurenggut bersama."

Pada saat itulah sebuah suara serak tua berkata dingin.

"Mana ada jual beli secara liar dan tidak adil seperti itu di dunia ini."

Dari belakang sebuah patung singa mendadak melompat keluar satu orang, dia bukan lain adalah Ti Nio. Lenghou Yong mencelos hatinya.

"Tua bangka ini sukar dilayani,"

Tapi lahirnya dia tenang malah bergelak tertawa.

"Apa yang kau tertawakan,"

Bentak Ti Nio.

"Ti-losiansing,"

Ujar Lenghou Yong.

"hitung-hitung kau ini kan seorang ternama, kenapa tidak tahu cara menepati aturan Kangouw?"

"Siapa bilang aku tidak tahu aturan?"

Bentak Ti Nio.

"Permusuhan dengan dia, menurut aturan hanya boleh diselesaikan kami berdua. Tapi bila kau tidak menghiraukan peraturan, anggap dirimu lebih hebat dan mau membantu dia mengeroyok aku, akupun tidak gentar, hehehe, hayolah kalian maju bersama."

Ti Nio mendengus hidung, jengeknya.

"Tidak perlu aku mewakili Kek Lam-wi menuntut balas, memang pantas bagi dirimu kalau menilai orang lain dengan karaktermu sendiri,"

"Lalu untuk apa kau datang kemari mencampuri urusan orang lain?"

"Aku datang untuk menegakkan keadilan, aku akan menyaksikan jual beli ini secara adil."

"Apa maksud perkataanmu?"

"Barter harus adil, kalau kau menginginkan serulingnya, menginginkan pula batok kepalanya, itu berarti kau bertindak secara liar dan tidak tahu malu."

Lenghou Yong tertawa dingin, katanya.

"Seruling mustika ditukar batok kepala, memangnya itu terhitung adil?"

"Sudah tentu bukan tanpa syarat kau harus menyerahkan batok kepalamu. Dengarkan dulu penjelasanku, boleh nanti kau menilai apakah putusanku adil atau tidak?"

"Baik, coba jelaskan. Bagaimana caranya baru terhitung adil menurut pendapatmu?"

"Coba katakan kau yakin berapa jurus kau dapat merampas serulingnya?"

Tanya Ti Nio. Lenghou Yong berpikir sejenak, katanya.

"Sepuluh jurus,"

Maklum Pat-sian bukan jago kroco, walau dia tidak kenal Kek Lam-wi, tapi dari urutan para Pat-sian dan bagaimana taraf kepandaian masing-masing sudah lama diketahuinya jelas.

Apalagi setelah dia pernah gebrak sebanding melawan tertua dari Pat-sian Lim Ih-su.

Usia Kek Lam-wi baru likuran tahun, jago termuda diantara Pat-sian, dinilai tingkatan dia masih terhitung angkatan muda, demi menjaga gengsi dan mempertahankan pamor, adalah logis kalau dia tidak sudi memandang Kek Lam-wi sebagai musuh seangkatan.

Sekarang diingatnya pula, di kala pertempuran sengit terjadi di rumah Liong Bun-kong dulu, pernah dia bergebrak sebentar melawan Kek Lam-wi, waktu itu cukup sekali pukulannya dia bikin lawannya ini terjungkal roboh.

Kini dia membatasi sepuluh jurus, menurut anggapannya sudah terlalu banyak.

"Baik,"

Seru Ti Nio.

"kami turuti saja keinginanmu, sepuluh jurus terbatas. Bila dalam sepuluh jurus kau mampu merampas serulingnya, seruling itu boleh kau ambil, kalau kau gagal maka kau harus serahkan batok kepalamu."

"Bagus, akupun turuti caramu ini. Tapi perlu kuperingatkan, bila aku di pihak yang menang, jangan kau nanti pungkir janji serta mencampuri urusanku ini."

"Kwik Su-to,"

Ujar Ti Nio.

"mari kaupun ikut menjadi saksi bersamaku. Saksi atau wasit adalah orang yang menegakan keadilan, dilarang membelok ke pihak manapun, nah kau boleh legakan sadja hatimu."

"Kepalanku ini tidak bermata, kalau dalam sepuluh jurus aku memukulnya mampus bagaimana?"

"Seruling tetap akan menjadi milikmu."

"Bagus, baiklah kita putuskan demikian. Kau ini wasit, boleh kau mulai menghitung, nah jurus pertama kumulai,"

Di tengah seringai tawanya dia bergerak dengan jurus Yu-liong-tam-jiau, kelima jarinya tertekuk mencengkram ke tulang pundak Kek Lam-wi.

Itulah salah satu jurus Kim-na-jiu-hoat Lenghou Yong yang sudah dilatihnya sempurna, gerakannya teramat aneh dan cepat, telak dan keji.

Entah berapa banyak jago-jago silat Kangouw yang menjadi korban keganasan jurus tunggal ini.

Tak nyana hari ini cengkramannya ternyata mengenai tempat kosong, segesit kera tahu-tahu Kek Lam-wi telah berkelit ke samping.

Seperti diketahui sejak dua kali bergebrak melawan Lenghou Yong, diam-diam Ti Nio perhatikan keliehayan dan permainannya, kecuali dia mengajar tiga jurus ilmu tunggal yang mungkin bisa merobohkan lawan meski dirinya terdesak di bawah angin, diapun mengajarkan gerakan langkah yang enteng seperti melayang, gerakan langkah itu kebetulan sekarang tepat digunakan untuk menghindari serangan Lenghou Yong.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, nah lihat serulingku,"

Demikian Kek Lam-wi membentak, mendadak serangannya terbuka mari kanan kiri, satu jurus dua gerakan, ke kiri dia menutuk Giok-kwan, ke kanan menutuk Yang-pek, kedua Hiat-to ini terletak di kanan kiri dada, merupakan tempat mematikan bila kena serangan.

Tapi meski jurus ini merupakan serangan liehay dari Kingsin-pit-hoat, namun bukan termasuk salah satu jurus dari tiga jurus liehay ajaran Ti Nio itu.

"King-sin-pit-hoat memang hebat, tapi untuk mengalahkan aku, haha, masih terlalu jauh,"

Demikian Lenghou Yong mencemooh. Sebelum dia habis bicara "Tring, tring"

Dua kali dia menjentik pergi seruling Kek Lam-wi, hampir saja Kek Lam-wi tak kuat memegang serulingnya karena jari-jarinya terasa kaku kesemutan.

Tapi jurus serangan Kek Lam-wi ini sudah cukup setimpal sehingga lawan terpaksa harus menangkis.

Tanpa berjanji Ti Nio dan Kwi Su-to berseru bersama.

"Jurus kedua."

Serangan Kim-na-jiu Lenghou Yong selanjutnya, kembali berhasil diluputkan oleh Kek Lam-wi. Tiba-tiba timbul niat jahat Lenghou Yong, pikirnya.

"Entah dari mana keparat ini mempelajari langkah yang aneh, biar aku gunakan Tay-cui-pijiu untuk menghadapinya, umpama tidak mampus biar dia terluka parah,"

Tiba-tiba gerakan telapak tangannya mengundang deru angin kencang, secara beruntun dia lancarkan dua jurus serangan yang mematikan.

Tay-cui-pi-jiu yang diyakinkan Lenghou Yong merupakan ilmu tunggal di Bulim.

Kehebatannya memang mampu membelah pilar batu dimana angin pukulannya mendampar, pakaian Kek Lam-wi tampak berkibar-kibar, koyak beterbangan, seperti tiba-tiba puluhan kupu-kupu beterbangan di udara.

Itulah adu kekuatan Lwekang, bagi yang bertenaga kuat pasti menang, yang lemah pasti kalah, untuk adu kekuatan siapapun tidak boleh main untunguntungan lagi.

Meski Kek Lam-wi mahir menggunakan langkahnya yang aneh secara tangkas, dia tetap di pihak yang dirugikan, dan kerugian yang dideritanyapun tidak kecil.

Untung meski pakaiannya tergetar pecah dan berhamburan, dia sendiri sih belum terluka parah, hal ini ternyata berada diluar perhitungan Lenghou Yong.

"Anak kurcaci, coba saja berapa jurus lagi kau kuat bertahan?"

Memperoleh angin Lenghou Yong tidak menyianyiakan kesempatan, di kala Kek Lam-wi belum berdiri tegak, mendadak dia mengenjot pula.

Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 6

Baca Juga: Rahasia Iblis Cantik 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger