Eps 11 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.
Genjotannya ini seperti mengarah ke bawah, Kek Lam-wi dipaksa lompat ke atas, tak tahunya segulung tenaga pukulan tiba-tiba sudah menerjang tiba di depan dada.
Ternyata Lenghou Yong menggunakan cara mendekat memukul ke tempat jauh, merupakan gerakan tunggal pula dari salah satu jurus Tay-cui-pi-jiu yang liehay itu.
Bila ilmu ini diyakinkan mencapai taraf yang tinggi, memukul batu seperti menekan tahu.
Kini jotosannya mengincar bagian bawah, namun tenaganya justru menjurus ke atas, tingkatan ilmu pukulannya ini masih terhitung kelas dua.
Tapi taraf kepandaiannya memang lebih tinggi dari Kek Lam-wi, meski ilmu yang dilontarkan ini belum mencapai tingkat yang sempurna, Kek Lam-wi toh sudah mengeluh kepayahan.
Lompatan Kek Lam-wi ke atas ini justru seperti memapak dan memberikan dadanya untuk dimakan pukulan lawan, kontan tubuhnya terjungkal jumpalitan.
Agaknya sebelumnya tak pernah terpikir oleh Ti Nio bahwa pertempuran bakal berlangsung seperti ini, karuan dia melongo kaget di tempatnya.
Beruntun Lenghou Yong sudah melontarkan tiga kali serangan, diapun lupa menghitungnya lagi.
Melihat Kek Lam-wi terjungkal jatuh, kaget dan girang Kwik Su-to bukan main, lekas dia tenangkan hati dan berteriak.
"Jurus keenam."
Jelas tampak Kek Lam-wi bakal terjungkal jatuh dengan kepala bocor, tak tahunya di kala tubuhnya terjengkang membalik itulah, tiba-tiba dia ulur serulingnya ke bawah menutul dulu ke tanah, meminjam pantulan tenaga tutulan ini, dengan tangkas dia jumpalitan pergi serta berdiri tegak di atas kakinya.
Meski tidak terjungkal jatuh, tapi kakinya goyah sempoyongan, jelas dia tidak tahan lagi, tampak serulingnya menuding seraya membentak dengan suara serak gemetar.
"Bangsat tua, biar aku adu jiwa dengan kau. Huuuaaah,"
Tiba-tiba dia memuntahkan darah segar. Lenghou Yong tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Anak bagus, kematian sudah di depan mata masih bertingkah. Kalau kau tahu diri lekas serahkan seruling itu, kalau tidak jiwamu pasti amblas,"
Dengan langkah lebar dia mendesak maju seraya ulur tangan mencengkram ke arah Kek Lam-wi.
Seperti orang mabuk langkah Kek Lam-wi gentayangan mundur, sikapnya seperti gentar dengan kedua tangannya terpaksa dia angsurkan seruling dan berkata.
"Baiklah, seruling ini kuserahkan."
Kali ini giliran Lenghou Yong yang melengak, pikirnya.
"Bocah ini jelas sudah terluka dalam, meski tidak mampus juga takkan mampu melawan lagi. Bila kubunuh dia, Ti-lothau mungkin bisa melabrak aku, baiklah, setelah kuperoleh seruling itu anggaplah pertikaian inipun lunas,"
Maka dia ulur tangan hendak menyambut.
Tak nyana di antara sambaran kilat, mendadak Kek Lam-wi memutar serulingnya sehingga Lenghou Yong tak berhasil memegangnya.
Sambil bersenandung Kek Lam-wi kerjakan seruling secepat kilat.
Seketika Lenghou Yong merasakan pandangannya berkunang-kunang, bayangan seruling seolah-olah merubungnya dari berbagai penjuru mengurung dirinya.
"Anak keparat,"
Hardiknya murka.
"berani kau menipu aku,"
Dengan menggertak kedua tangannya bergerak dengan jurus Hengsau-jian-kun.
Di tengah sambaran bayangan seruling dan gempuran kepalan tangan, tampak Kek Lam-wi gunakan gerakan Siphiong-hoan-hun (mengempeskan dada membalik mega) selincah burung walet tubuhnya menerobos pergi tiga tombak.
Sebaliknya Lenghou Yong terdengar menggeram sekali, mukanya tampak membesi hijau.
Maka legalah hati Ti Nio, dengan girang segera dia berteriak.
"Jurus ke tujuh, jurus ke delapan,"
Ternyata baru sekarang Kek Lam-wi melancarkan serangan menggunakan jurus-jurus tunggal yang dia ajarkan.
Kenapa sejauh ini baru Kek Lam-wi melancarkan jurus serangan tunggal ini?
Soalnya jurus serangan tunggal ini harus dilancarkan sesuai kesempatan yang ada, baru hasilnya bisa berlipat ganda dan akibatnya pasti fatal bagi sang lawan.
Kalau tanpa perhitungan matang, terpaut serambut saja, akan sia-sia perjuangan mengadu jiwa ini.
Harus diketahui ketiga jurus tunggal ciptaan Ti Nio yang diajarkan kepada Kek Lam-wi adalah hasil saringan yang diperolehnya dari cangkokan King-sin-pit-hoat, ketiga jurus itu khusus diciptakan untuk menghadapi ilmu andalan Lenghou Yong.
Betapapun Kungfu Kek Lam-wi memang ketinggalan jauh dibanding Lenghou Yong, bila begitu bergebrak Kek Lamwi lantas melancarkan ketiga jurus tunggal itu, dengan kekuatan ketiga jurus tunggal itu saja rasanya masih belum mampu mengalahkannya, harapan menangpun terlampau tipis.
Oleh karena itu Kek Lam-wi mencari akal dan mengatur tipu daya, dia tetap menggunakan kemampuan sendiri dikombinasikan langkah ajaib ajaran Ti Nio, memperlihatkan titik kelemahan sendiri sehingga lawan takabur dan memandang rendah dirinya, setelah tiba saat yang dinantikan baru dia menyergap dengan serangan telak.
Baru dua jurus dari tiga jurus tunggal yang dipelajari dia lancarkan, ternyata telah berhasil menutuk Jian-kin-hiat Lenghou Yong.
Untung Lenghou Yong sempat berkelit sedikit, kalau tidak tulang pundaknya pasti bolong tertembus serulingnya.
Sayang Lwekang kedua lawan terpaut amat jauh, meski dengan Jong-jiu-hoat Kek Lam-wi berhasil menutuk Hiat-tonya, namun dalam waktu sekejap Lenghou Yong berhasil kerahkan hawa murni membobol Hiat-to yang tertutuk.
Akan tetapi jurus Heng-sau-jian-kun yang dilancarkan untuk balas menyerang Kek Lam-wi betapapun mengurangi pula perbawa kekuatannya sehingga Kek Lam-wi sempat melompat jauh kesana dan siaga menunggu reaksi musuh.
Lenghou Yong murka, bentaknya.
"Anak keparat, kau main tipu daya, kalau tidak kubunuh kau, aku bersumpah takkan jadi manusia."
Kek Lam-wi menjengek.
"Seruling kuberikan, salah siapa, kau tidak becus menerimanya? Kalau tidak terima boleh maju lagi, kan belum genap sepuluh jurus, masih ada sisa dua jurus, memangnya kau mampu berbuat apa terhadapku? Hm, jika kau tidak mampu membunuhku, nah, coba saja rasakan, akulah yang akan menggorok lehermu."
Bercekat hati Lenghou Yong, pikirnya.
"Betul, tinggal dua jurus lagi, kenapa aku terburu emosi,"
Lekas dia tekan perasaan, diam-diam kerahkan Lwekang, dengan mendelik dia menatap tajam ke arah Kek Lam-wi.
Sikap Kek Lam-wi kelihatan lebih tenang, tiba-tiba diangkat serulingnya terus ditiupnya.
Mendadak Lenghou Yong membentak.
"Nih, sejurus saja kumampusi jiwamu, kenapa harus dua jurus,"
Kumandang suaranya orangnyapun menubruk tiba, kedua lengannya terpentang seperti burung elang yang kelaparan menyambar kelinci, Kek Lam-wi hendak diterkamnya, dimana gerakan kaki tangannya ternyata menimbulkan deru angin kencang.
Ti Nio berteriak.
"Jurus ke sembilan,"
Mau tidak mau suaranya terdengar gemetar.
Ternyata dia tahu jurus ini Lenghou Yong menggunakan seluruh kekuatannya, Eng-jiau dan Tay-cui-pi-jiu dilontarkan bersama menjadi satu jurus gabungan yang liehay.
Ti Nio tahu kondisi Kek Lam-wi sekarang memang lebih sedikit menguntungkan dari gebrak tadi, serta melihat serangan Lenghou Yong yang dibakar oleh amarahnya itu, betul-betul hatinya amat kuatir akan keselamatan Kek Lam-wi, dia bertanya-tanya, apakah jurus terakhir dari tiga jurus tunggal yang dia ajarkan kepada Kek Lam-wi masih mampu untuk mengalahkan musuh.
Begitu menubruk dekat, kontan Lenghou Yong merasa segulung hawa hangat menerpa mukanya, kulit mukanya menjadi panas dan perih.
Lekas Lenghou Yong melengos dan meleng kepala, bentaknya.
"Anak keparat, main licik apa kau ini, kau kira aku takut."
Seperti diketahui seruling mustika Kek Lam-wi merupakan pusaka Bulim yang jarang ada bandingannya, hawa hangat yang ditiup keluar dari batang seruling itu ternyata dapat digunakan menyerang dan melukai musuh.
Lwekang Lenghou Yong jauh lebih tinggi dibanding Kek Lam-wi, meski dia tidak sampai terluka, mau tidak mau dia terhenyak sebentar.
Kembali Kek Lam-wi bersenandung mengiringi gerakan serulingnya, kini seruling panjang itu bergerak dengan jurusjurus ilmu pedang, secepat anak panah tiba-tiba meluncur keluar, dia lancarkan jurus terakhir dari tiga jurus tunggal yang diajarkan Ti Nio itu.
Jurus ini dinamakan Li Khong memanah batu, merupakan jurus terampuh dari jurus tunggal itu.
Terdengar "Crak"
Seruling meluncur secepat anak panah menancap amblas ke pundak Lenghou Yong, sudah tentu tulang pundak kirinya putus dan remuk.
Lenghou Yong melolong panjang, suaranya seperti serigala yang terluka, sebelum terjungkal roboh dia sempat mendorong kedua telapak tangannya, Kek Lam-wi dihantamnya mencelat sejauh tiga tombak.
Lekas Ti Nio memburu kesana serta memapahnya berdiri, wajah Kek Lam-wi pucat pias, mendadak dia menjerit dan menumpahkan darah segar sebanyak-banyaknya.
Akhir dari duel ini ternyata roboh bersama, luka-luka Kek Lam-wi kelihatannya lebih parah dari lawannya.
Tapi akhir dari pertempuran ini sungguh diluar dugaan Ti Nio dan Kek Lam-wi sendiri.
Maklum Kungfu Lenghou Yong hakikatnya jauh lebih tinggi dibanding Kek Lam-wi, bila Hiat-to di pundaknya tidak kena tutuk lebih dulu, serta wajahnya diterpa hawa panas pula, meski jurus terakhir itu Kek Lam-wi mampu melukai lawan, jiwanya pasti melayang seketika karena gempuran kedua tangan musuh.
Meski kedua pihak sama-sama roboh dan terluka, tapi batas sepuluh jurus yang dijanjikanpun telah genap.
Karena tulang pundak kiri remuk, karuan tambah murka Lenghou Yong, mukanya beringas seliar serigala, bentaknya.
"Anak kurcaci, biar aku adu jiwa dengan kau,"
Begitu menubruk maju mendadak dia menyerang pula sekali.
Karena tulang pundak kiri remuk, lengan kirinya sudah tidak mampu bergerak lagi, maka seluruh sisa kekuatannya dia himpun di lengan kanan, pukulannya ini boleh dikata sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang pernah dilatihnya, perbawanya jauh lebih hebat dibanding tamparan kedua telapak tangannya tadi, maka pukulan ini tidak boleh dipandang remeh.
Tapi serangan dahsyat ini sudah terhitung jurus ke sebelas.
Ti Nio sedang memapah Kek Lam-wi, dengan tubuhnya dia melindunginya sembari mengebas lengan baju, bentaknya.
"Sepuluh jurus sudah genap, kau ingin berhantam lagi boleh aku iringi kehendakmu."
Jarak hanya lima langkah, kedua kekuatan dahsyat saling tumbuk maka terdengarlah suara "Pyaaaar"
Bagai ledakan halilintar.
Sambil menggandeng Kek Lam-wi, Ti Nio tergentak mundur tujuh langkah baru kuat berdiri di atas kakinya pula, pada hal Lwekangnya setingkat lebih tinggi dari Lenghou Yong, sungguh tidak pernah disangkanya bahwa gempuran terakhir Lenghou Youg sedahsyat ini, mau tidak mau tersirap darahnya.
Sebaliknya Lenghou Yong tetap berdiri tegak di tempatnya, tapi sekejap lain tampak tubuhnya limbung bergontai dua kali.
"Huuuuaaaah"
Darah segar menyembur dari mulutnya.
Lwekangnya jelas bukan tandingan Ti Nio, apalagi setelah terluka parah, setelah adu kekuatan secara kekerasan ini, keadaannya sudah tentu lebih parah.
Insaf meski nekad juga dirinya tak ungkulan mengalahkan Ti Nio, terpaksa dengan lesu dia mundur teratur, pikirnya.
"Biarlah aku berusaha mengulur waktu, biar mereka takabur sebentar."
Lekas Ti Nio jejal sebutir Siau-hoan-tan yang memang sudah dia siapkan ke mulut Kek Lam-wi, Siau-hoan-tan ini diberikan oleh Lim Ih-su yang memperoleh dari Hong-tiang Siau-lim-pay, diam-diam dia pegang urat nadi Kek Lam-wi, meski lukanya parah, namun urat nadinya syukur tidak terluka, dengan kasiat Siau-hoan-tan, yakin jiwanya bisa tertolong.
Maka dengan lega hati dia menoleh ke arah Lenghou Yong serta menjengek.
"Sepuluh jurus sudah genap, janjimu bisa dipercaya tidak?"
Kwik Su-to segera tampil ke muka, katanya.
"Kukira akan keterlaluan bila Lenghou Tayjin dipaksa bunuh diri? Apalagi Lenghou Tayjin juga telah kehilangan sebelah lengannya, kukira..."
"Kukira bagaimana?"
Bentak Ti Nio. Semula Kwik Su-to hendak bilang, kukira anggaplah urusan selesai sampai disini, tapi serta dipelototi oleh Ti Nio nyalinya kuncup seketika, dengan tergagap dia menjawab.
"Kukira, apakah Ti-siansing bisa menggunakan cara lain, syukur bisa persoalan dibikin damai. Luka Kek-siauhiap tentu tidak ringan, untuk ini aku rela mengganti ongkos pengobatannya."
"Memangnya siapa sudi menerima uang busukmu,"
Semprot Ti Nio.
"jangan kau lupa kau ini seorang wasit. Bila kau suka mengabaikan kedudukanmu dan berdiri di pihak Lenghou Yong, itupun boleh, kau boleh sebagai tambahan rentenya. Tapi rente itu tak perlu dibayar dengan uang."
Dasar pikun, atau mungkin karena ketakutan, meski dia tahu nada Ti Nio agak menyindir, tapi dia masih tidak tahu, tanyanya.
"Kalau rente tidak dibayar dengan uang lalu dibayar dengan apa, harap Ti-siansing menjelaskan."
Ti Nio berkata tawar.
"Agaknya kau suka rela membayar rentenya itu?"
Bercekat hati Kwik Su-to, katanya gelagapan.
"Kalau aku mampu mengeluarkan. Aku sih ingin mendamaikan persoalan ini."
"Baik, kau dengarkan,"
Seru Ti Nio.
"dua puluh tahun yang lalu Lenghou Yong membunuh ayah Kek Lam-wi, yaitu suhengku. Sesuai kalkulasi kaum pedagang macammu yang memberikan rente kepada peminjam, tentunya tak usah dua puluh tahun kau sudah akan memperoleh kembali modalmu yang semua dari rente itu. Sekarang biarlah kuberi muka kepada kau, rentenya tidak kutuntut terlalu tinggi, biar kuhitung satu tambah satu saja, nah lekaslah kaupun serahkan jiwamu untuk mengiringi kematiannya."
Karuan Kwik Su-to berjingkrak kaget, arwahnya serasa terbang ke awang-awang, teriaknya sambil goyang-goyang tangan.
"Wah, rentenya itu aku, aku tak berani membayarnya,"
Dengan gemetar dia melangkah mundur seperti takut dibekuk Ti Nio untuk mencabut nyawanya.
Pada saat itulah sayup-sayup terdengar oleh Ti Nio di tempat kejauhan ada suara pertempuran, kuatir urusan berbuntut panjang segera dia membentak.
"Lenghou Yong, kau bereskan dirimu sendiri, atau aku yang turun tangan? Kini sebagai seorang wasit aku harus bertindak adil, kuhitung sampai tiga, bila kau masih belum bertindak, terpaksa kuwakili kau mencabut jiwamu."
Lenghou Yong tertawa getir, katanya.
"Jelek-jelek aku ini terhitung seorang kosen di Bulim, mana aku sudi mati secara terhina? Biar kugorok leherku sendiri dan kuserahkan kepada kalian,"
Di kala dia berpura-pura mencabut golok hendak menggorok leber sendiri itu, di bawah penerangan rembulan yang remang-remang, tiba-tiba tampak dua bayangan sedang berlari kencang bagai terbang mendatangi kemari.
oooOOOooo Tari Ciok-sing, In San dan Toan Kiam-ping serta Han Cin akhirnya tiba di Lo-gau-kio, karena siang kurang leluasa mengembangkan Ginkang di depan umum, maka pada kentongan ketiga baru mereka sampai di suatu tempat yang tak jauh letaknya dari Lo-gau-kio.
Kala itu mereka berada di atas sebuah bukit kecil, dari pengkolan bukit dari kejauhan mereka sudah nampak Lo-gau-kio.
Tengah malam di tanah tegalan yang sunyi.
Tiba-tiba Han Cin menghela napas, katanya.
"Lenghou Yong mungkin belum tiba di Lo-gau-kio, kebetulan kita menyusul tiba pada waktunya."
Tan Ciok-sing yang lari di paling depan mendadak mempercepat larinya, Han Cin kira orang buru-buru ingin sampai ke tempat tujuan, tapi In San justru bersuara heran, katanya.
"Agaknya ada orang di depan,"
Belum habis dia bicara, di depan memang muncul satu orang. Orang itu mendadak berhadapan dengan Tan Ciok-sing, kedua pihak sama-sama melongo, orang itu lantas berseru.
"Tiangsun Pwecu, wah aku, kau bukan..."
Tan Ciok-sing sudah menjengek.
"Poyang Gun-ngo, kau keliru menyambutku. Tapi aku yakin kau bukan khusus mau menyambut kedatangan Pwecumu bukan? Untuk apa kau sembunyi disini?"
Ternyata Poyang Gun-ngo memang diundang Lenghou Yong untuk memberi bantuan padanya.
Satu lari yang lain mengudak di belakang, lekas sekali, di keremangan malam Lo-gau-kio sudah tampak di sebelah depan.
Tapi apakah di atas jembatan ada orang, dari jarak sejauh ini masih belum kelihatan.
Di kala kedua orang adu lari dengan tancap gas, mendadak terdengar sebuah lolong jeritan yang menyayat hati.
Itulah jeritan Lenghou Yong yang pundaknya tertembus seruling Kek Lam-wi, Poyang Gun-ngo dan Tan Ciok-sing sama-sama kaget.
Karena mereka tidak bisa membedakan suara jeritan siapa.
Kedua orang hampir bersamaan mencapai jembatan.
Dalam pada itu, di atas jembatan Ti Nio sedang paksa Lenghou Yong "bunuh diri".
Karena tak mungkin mengulur waktu lagi, sudah tentu kaget dan murka pula hati Lenghou Yong, pikirnya.
"Orang yang sudah kujanjikan kenapa masih belum kunjung tiba?"
Apa boleh buat terpaksa dia pelan-pelan melolos golok dan siap menggorok leher sendiri, pada detikdetik terakhir sebelum ajalnya ini dia masih mengharap munculnya keajaiban.
Bintang penolong memang muncul secara mendadak, sebelum golok menggorok leher itulah di kala dia angkat kepala memandang kesana, dilihatnya dua orang seperti adu kecepatan lari sedang berlomba mendatangi, bayangan orang di depan sudah mencapai ujung jembatan.
Karuan bukan kepalang girang hati Lenghou Yong, pikirnya.
"Sungguh tak nyana Tiangsun Pwecu juga sudi membantu kesulitanku. Dengan kekuatan gabungan Poyang Gun-ngo dan Tiangsun Pwecu, umpama Bak-pangcu dari Hoay-yang-pang tidak datang juga tidak jadi soal, yakin mereka sudah berkelebihan untuk menghadapi Ti-lothau,"
Saking senangnya lekas dia berteriak.
"Tiangsun Pwecu, Poyang-ciangkun, tepat sekali kedatangan kalian."
Hampir dalam waktu yang sama Poyang Gun-ngo dan Tan Ciok-sing juga berteriak. Dengan suara gemetar Poyang Gun-ngo berteriak.
"Lenghou-siansing, apakah kau terluka?"
Sementara Tan Ciok-sing berteriak juga.
"Ti-lopek bagaimana keadaan Kek-toako?"
Mendengar suara Tan Ciok-sing, bukan main kaget Lenghou Yong, rasa girangnya seketika kuncup tak berbekas.
Sebaliknya Ti Nio kegirangan.
Dia sudah melihat jelas yang mengudak Poyang Gun-ngo adalah Tan Ciok-sing, segera dia berseru senang.
"Poyang Gun-ngo, apakah kau mau membayar rente Lenghou Yong?"
Melihat Ti Nio berada di atas jembatan, mana Poyang Gunngo berani maju, lekas dia menghentikan langkah dan bertanya bingung.
"Membayar rente apa?"
"Rente Lenghou-siansing yang hutang jiwa terhadap mereka,"
Lekas Kwik Su-to menimbrung.
"mereka menuntut jiwa sebagai rentenya."
Sudah tentu ciut nyali Poyang Gun-ngo, teriaknya berjingkrak mundur.
"Wah, maaf, aku tidak bisa membayar rentenya itu,"
Baru saja kakinya menginjak ujung jembatan, segera dia lompat turun ke pinggir sungai terus lari sipat kuping melalui gili-gili.
Sementara itu Tan Ciok-sing sudah mencapai pertengahan jembatan, dia tiada niat mengejarnya.
Ti Nio segera membentak.
"Nah, tiada orang yang sudi membayar rentemu, lekas kau bereskan dirimu sendiri, masih tunggu apa lagi?"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar bunyi air dikayuh serta luncuran sebuah perahu di atas air, dari semak daun welingi sana, tiba-tiba muncul sebuah sampan meluncur ke arah jembatan.
Seorang laki-laki besar, berpunggung lebar, berdada bidang berdiri di depan sampan.
Ti Nio curahkan perhatiannya kepada Tan Ciok-sing yang mengudak Poyang Gun-ngo, maka setelah sampan kecil itu dikayuh sampai di bawah jembatan baru dia mendengar dan melihatnya.
Tengah malam buta rata untuk apa sampan kecil dikayuh ke bawah jembatan?
Sudah tentu timbul rasa curiga Ti Nio, sayang dia sadar setelah terlambat.
Baru saja dia menoleh hendak mendesak Lenghou Yong bunuh diri pula, tiba-tiba Lenghou Yong sudah menekan batu singa di pinggir jembatan terus melompat jumpalitan dan tepat hinggap di atas sampan dengan enteng.
Laki-laki besar yang berdiri di depan sampan itu ternyata bukan lain adalah Bak Bu-wi, Hoay-yang-pang Pangcu yang dahulu sering bersekongkol melakukan berbagai kejahatan di Bulim.
Mendengar berita temannya ini hidup makmur di kota raja, maka Bak Bu-wi jadi ketarik dan sengaja menyusulnya ke kota raja, dia harap temannya suka membantu sehingga dia bisa memperoleh pangkat dan kedudukan di kota raja, baru kemarin dia tiba.
Kedatangan kawan lama yang mahir berenang ini sungguh amat kebetulan bagi Lenghou Yong.
Pada hal Bak Bu-wi belum lagi mendapat kebaikan apapun dari dia, orang justru telah memperalat dirinya lebih dulu.
Sesuai yang diduga Tan Ciok-sing, Lenghou Yong memang manusia licik yang tidak mudah ditipu?
Meski dia kemaruk harta namun secara diam-diam diapun sudah mengatur teman-temannya di sekitar Lo-gau-kio.
Poyang Gun-ngo'dia pula yang mengundang, dia dimintai berjaga-jaga di atas daratan, sementara Bak Bu-wi diharuskan siap siaga dari sungai.
Rencana rapi yang diaturnya ini tenyata diluar tahu Kwik Su-to Di atas darat dan di air sudah ada teman yang siap bantu memberi pertolongan bila mana perlu, sudah tentu dia tidak perlu kuatir menghadapi bahaya.
Tak nyana perhitungannya meski sempurna-betapapun Thian memang lebih berkuasa.
Mimpipun dia tak pernah bahwa Tan Ciok-sing dan In San bisa kebetulan keluar dari istana raja di hari itu pula dan kebetulan pula di saat dirinya menghadapi jalan buntu, Poyang Gun-ngo kebentur mereka berdua.
Kini tinggal Bak Bu-wi seorang yang boleh diharapkan untuk menolong dirinya, seperti seorang yang kecebur ke air layaknya, bila bisa menangkap setangkai jeramipun dia tidak akan melepaskannya, demikian pula dia mengincar tepat waktunya untuk loncat ke atas sampan.
Sampan itu berlaju pesat mengikuti arus air yang deras.
Ti Nio tidak bisa berenang, terpaksa dia hanya mencaci maki belaka.
Tiba-tiba Tan Ciok-sing berseru.
"Kalian tak usah gugup, biar aku ringkus mereka kembali,"
Lompat ke atas batu singa di pinggir jembatan sekuat tenaga dia menjejak sekerasnya, secepat kilat tubuhnya meluncur ke depan, lalu jumpalitan dua kali di udara dan meluncur turun tepat di atas sampan.
Betapa sempurna Ginkangnya, sungguh mengagumkan, Ti Nio tak urung tepuk tangan memuji.
"Bagus, kau bocah ini mengantar jiwa,"
Bentak Bak Bu-wi, kontan dia ayun gayung terus mengemplang.
"Krak"
Kembali api berpijar.
Gayung besinya yang lebar dan tebal itu ternyata terpapas sebagian besar.
Maklum Tan Ciok-sing membawa Pek-hong-kiam warisan Thio Tan-hong.
Sayang karena rintangan ini Tan Ciok-sing tak mampu mencapai sampan, karena di kala pedang dan galah beradu, dari samping Lenghou Yong bantu membokong dengan pukulan jarak jauh.
Setelah memapas putus gayung lawan daya kekuatan luncuran tubuh Tan Ciok-sing sudah habis, kedorong oleh angin pukulan lagi, tanpa ampun dia sudah kecebur kedalam air.
Bak Bu-wi tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Anak keparat, unjukan kegagahanmu di hadapan Hay-liong-ong di dasar air,"
Di tengah gelak tawanya dia gunakan sisa gayungnya itu mengebut sampan yang meluncur mengikuti arus, lekas sekali sampan sudah meluncur ke tengah sungai.
Namanya saja sungai ini Ing-ting-ho (sungai tenang abadi) pada hal arusnya bergelombang airnya berpusar, banyak batu-batu karang berbahaya di dasar sungai, bila tidak pandai mengendalikan sampan, salah membentur karang dan sampanpun bisa hancur dan orangpun mati kelelap di dasar air.
Beberapa kejap lagi masih belum kelihatan Tan Ciok-sing menongolkan kepalanya, karuan Ti Nio kuatir, tapi dia sendiri tak pernah belajar berenang, terpaksa hanya gugup membanting kaki dan memukul telapak tangan sendiri.
Di samping In San tertawa katanya.
"Ti-cianpwe tidak usah kuatir. Tan-toako mahir berenang, dia takkan mati tenggelam. Kini pasti sedang bekerja di dasar air untuk menghadapi musuh."
Tiba-tiba tampak kepala Tan Ciok-sing muncul di permukaan air, serunya lantang.
"Kenapa tergesa-gesa. Biar kuantar kalian menghadap raja laut saja."
Tiba-tiba tampak sampan kecil itu bergoyang-goyang meluncur melewati sela sela karang sempit.
Tampak Bak Buwi angkat gayungnya, berbareng Lenghou Yong juga memukul ke permukaan air dengan Bik-khong-ciang, dengan gabungan kekuatan kedua orang ini, meski gelombang tinggi hampir menelan sampan mereka, sampan tetap melaju ke depan.
Kali ini Tan Ciok-sing tidak kelihatan muncul lagi.
Ti Nio berkata.
"Marilah kita ikuti sampan itu, Wi-tit, kau masih bisa lari?"
Kek Lam-wi menarik napas, sahutnya.
"Aku masih mampu lari,"
Sejak menelan Siau-hoan-tan sampai sekarang sudah berselang setengah sulutan dupa, kasiat obat sudah bekerja dalam tubuhnya.
Meski hawa murninya belum pulih, Lwekang sudah berhasil dihimpunnya sedikit, untuk berlari dia masih lebih kuat dibanding laki-laki kekar biasa.
Ti Nio genggam tangan kanannya, diam-diam dia bantu salurkan tenaga dan menyeretnya pula.
Lekas sekali mereka sudah turun ke pesisir terus membuntuti sampan itu dari pinggir sungai.
Kwik Su-to cari kesempatan hendak ngacir pergi.
Ti Nio keburu membentak.
"Urusan belum selesai, kau sebagai wasit mana boleh pulang lebih dini."
In San mencabut pedang, katanya mengancam.
"Tan-toako belum kembali, kau sudah mau lari? Kalau mau lari boleh kau terjun ke air sekalian."
Han Cin menimbrung.
"Betul bila Tan-toako tidak kembali kitapun lempar dia ke air."
Apa boleh buat terpaksa Kwik Su-to ikut mereka mengudak sampan itu, dalam hati diam-diam dia berdoa supaya Tan Ciok-sing tidak mati tenggelam.
Sampan kecil itu meluncur secepat kuda dibedal kencang di tengah arus sungai yang bergolak tapi para pengejar yang berlari-lari di pinggir sungai mengembangkan Ginkangpun tidak ketinggalan.
Tiba-tiba Han Cin berteriak.
"Ayah, tuh lihat, bukankah itu Tan-toako?"
Ti Nio menoleh ke arah yang ditunjuk, tampak sesosok bayangan seperti ikan terbang melesat di permukaan air lalu lenyap pula ditelan gelombang.
Sesaat kemudian, tiba-tiba tampak sampan kecil itu berputar tidak terkendali pula di tengah sungai.
Sebentar lagi, sampan itu miring dan mulai karam.
In San tepuk tangan girang, serunya.
"Gelagatnya sampan itu akan dibikin karam oleh Tan-toako."
Terdengar Bak Bu-wi membentak.
"Kurcaci, berani kau bikin tenggelam sampanku, biar kusikat dulu jiwamu,"
Dayung kutung dibuang, segera dia keluarkan sepasang garpu besar terus terjun kedalam air.
Ti Nio dan lain-lain terpaksa berhenti dan menonton di pinggir sungai, tampak air bergolak semakin besar, pertempuran di bawah air ternyata berjalan amat seru, sehingga sukar dibedakan mana Tan Ciok-sing mana Bak Buwi, semua menonton dengan hati tidak tentram, telapak tanganpun berkeringat dingin.
Terutama Ti Nio, dia jelas tahu kemampuan Bak Bu-wi, pikirnya.
"Hoay-yang-pang adalah sindikat terbesar di perairan, sebagai Pangcu Hoay-yang-pang, terang ilmu di bawah air Bak Bu-wi amat liehay. Di atas daratan jelas Tan Ciok-sing bisa menyikatnva dengan mudah, tapi di air mana dia menjadi tandingannya."
Mendadak terdengar suara jeritan dan gaduh, Lenghou Yong berkaok-kaok.
"Bak-toako, kemarilah tolong aku."--Kiranya perahu itu kena ditusuk bolong dasarnya oleh pedang mustika Tan Ciok-sing, arus sungai sederas itu pula, lobang itu menjadi semakin melebar dan airpun masuk semakin banyak. Akhirnya sampan itu penuh air dan air berputar semakin keras di tengah sungai, kebetulan di depan ada karang, kontan sampan itu kebentur pecah dan hancur berantakan. Dalam pada itu dua orang yang lagi berhantam di tengah sungaipun telah berakhir, tampak seorang berenang secepat ikan terbang ke seberang sana melarikan diri. Jarak cukup jauh gelombangpun besar sehingga sulit diketahui siapa yang melarikan diri itu. Lekas sekali airpun tenang kembali, orang banyak sama menunggu sambil menahan napas, namun hati gelisah bukan main. Pertama mereka melihat pakaian koyak terhanyut minggir ke tepi, In San lari meraihnya serta diperiksa, akhirnya dia menghela napas lega, katanya.
"Yang melarikan diri itu adalah Bak Bu-wi."
Belum habis dia bicara, tampak seorang menongolkan dirinya, lalu dengan langkah sempoyongan berlari di pesisir.
Semua orang jadi melenggong karena orang yang mentas ke atas daratan dengan tubuh lunglai ini ternyata adalah Lenghou Yong.
Perih hati In San, segera dia memburu maju seraya membentak.
"Kau, telah mencelakai..."
Sebelum dia sempat mengucap 'Tan-toako', tiba-tiba dia sudah mendengar suara Tan Ciok-sing berseru.
"Aku gusur keparat ini kembali, Kektoako, silahkan kau menjatuhkan vonismu,"
Lekas sekali Tan Ciok-singpun sudah berada di atas daratan.
Ternyata karena Lwekang Lenghou Yong cukup tangguh, meski tidak pandai berenang, didalam air dia kuat menahan napas.
Ilmu bermain didalam air Tan Ciok-sing jelas jauh lebih liehay dari lawannya, tapi dia hanya membekuknya tanpa melukainya pula, terus di gelandang naik ke atas darat.
Ti Nio segera membentak.
"Kau bereskan diri sendiri, atau aku yang turun tangan?"
"Susiok hutang darah ini biar aku sendiri yang menagih padanya,"
Demikian seru Kek Lam-wi, semangatnya seperti bergelora, langsung dia menubruk maju sambil mengangkat serulingnya, makinya.
"Hutang harus dibayar, tepat tidak akan menuntut bayaranmu?"
Lenghou Yong sudah lemah kehabisan tenaga, mana kuat bertempur lagi, apalagi tulang pundak kiri sudah cacad, begitu dia menangkis dengan lengan kanan.
"Krak"
Tulang lengannya terpukul remuk pula.
Seketika dia menjerit sekeras-kerasnya seperti binatang yang sekarat menjelang ajalnya, mendadak dengan beringas dia mencelat bangun terus menubruk.
Kek Lam-wi kira orang berlaku nekad hendak menubruk dirinya, maka dia menyurut selangkah sambil melintang seruling di depan dada, bila lawan benar menyeruduk dirinya, dia sudah siap hendak mengepruk batok kepalanya biar pecah Tak nyana Lenghou Yong tidak menubruk atau menyeruduk ke arah Kek Lam-wi tapi dia benturkan kepalanya di atas batu besar yang.
berada tak jauh di pinggir sungai.
Kepala pecah otakpun berhamburan, jiwapun melayang seketika.
Agaknya dia insaf jiwanya takkan bisa selamat lagi, dari pada tersiksa dan terhina, lebih baik bunuh diri, maka mumpung masih ada sisa tenaga, sebelum Kek Lam-wi menamatkan riwayatnya, dia nekad benturkan kepalanya di atas batu.
Sesaat lamanya Kek Lam-wi berdiri terlongong, akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut serta meratap pilu.
"Ayah, hari ini sakit hatimu berhasil kutuntut balas, semoga arwahmu beristirahat tenang di alam baka,"
Setelah musuh pembunuh ayah mampus, dia sendiripun merasa seluruh tubuh sakit dan lunglai, tak kuasa lagi dia berdiri, pelan-pelan meloso jatuh lemas. Ti Nio memapahnya, katanya.
"Hiantit, patut kuberi selamat bahwa kau berhasil menuntut balas kematian ayahmu. Sudahjah, sekarang mari kita pulang."
Semua orang putar balik ke atas jembatan dengan perasaan riang gembira. Hanya Kwik Su-to yang bermuram durja. Ti Nio membentak.
"Sekarang sudah tiada urusanmu, lekas enyah."
Tiba-tiba Kwik Su-to berlutut di depannya, malah ratapnya.
"Ti-loyacu, aku mohon kepada kau, jangan kau mengusirku pergi!"
Ti Nio tidak sempat pikirkan nasib orang, sejenak dia melengak, bentaknya.
"Eh, kenapa tidak enyah?"
Pada saat itulah tampak dua ekor kuda mendatangi menarik dua kereta dan berhenti di ujung jembatan.
Seorang laki-laki yang pegang kendali salah satu kereta segera melompat turun sambil tertawa tergelak-gelak, serunya.
"Selamat, kuhaturkan selamat akan keberhasilan kalian menunaikan tugas. Sayang aku datang terlambat, sehingga tidak sempat saksikan kau memenggal batok kepala musuhmu."
Laki-laki ini bukan lain adalah Tio Kan-loh, ketua Kaypang cabang Pakkhia.
Ternyata dia kuatir terjadi sesuatu diluar dugaan, maka dia siapkan dua buah kereta untuk bertindak bilamana perlu.
Ti Nio berkata.
"Masih ada kabar gembira perlu kuberitahukan kepada kau, kalian belum pernah kenal, nah lekas kemari kupcrkenalkan, inilah Tio thocu dan inilah Tan Ciok-sing Tan-siauhiap."
Baru sekarang Tio Kan-loh tahu bahwa Tan Ciok-sing dan In San berdua berhasil menyelamatkan diri dari istana raja, rasa girangnya lebih besar lagi setelah memberi hormat kepada Tan Ciok-sing berdua, segera dia berkata.
"Orang banyak memang sedang menunggu kau pulang bersama nona In, mari silahkan naik kereta."
Tan Ciok-sing berkata.
"Ti-locianpwe, silahkan naik dulu bersama Kek-toako."
"Tio-thocu, Tio-thocu,"
Teriak Kwik Su-to.
"tolong kau selamatkan jiwaku."
Sejak tiba Tio Kan-loh sebetulnya sudah melihat dia berlutut di tanah, baru sekarang dia menoleh dan menjengektanya.
"Eh, apa yang sedang kau lakukan? Mau jadi anak Lenghou Yong yang berbakti?"
Ti Nio berkata.
"Kusuruh dia pulang, dia tidak mau."
"Kenapa tidak mau pulang?"
Tanya Tio Kan-loh. Dengan meringis Kwik Su-to berkata.
"Tio-thocu, yakin kaupun sudah tahu. Akulah yang mengajak Lenghou Yong kemari memenuhi undanganmu, kini Lenglou Yong sudah mati, mana aku bisa pulang ke Pakkhia pula? Untung bila pihak mereka tiada yang tahu. Pada hal Poyang Gun-ngo dan Bak Bu-wi sudah melihat kehadiranku disini, bila perkara pembunuhan ini diusut, batok kepalakupun bisa dipenggal, kau suruh aku pulang, bukankah berarti aku harus menyerahkan jiwa ragaku?"
"Lalu apa kehendakmu?"
Tanya Tio Kan-loh.
"Mohon Tio-thocu sudi menerimaku sebagai kacungmu."
"Lho, hartawan besar di kota raja yang terkenal seperti kau masa terima jadi kacung pengemis? Tapi umpama kau mau minta sedekah pada penduduk, Kaypang kami juga tidak boleh sembarangan menerima murid."
Demikian ujar Tio Kan-loh.
"Tak berani aku mengharapkan dapat diterima sebagai murid Kaypang, semoga aku bisa mendarma baktikan tenagaku untukmu saja, terserah tugas apapun aku rela melakukan. Tio-thocu, tolong kau bermurah hati mengingat kali ini akupun bekerja dengan baik..."
Tio Kan-loh menepekur sebentar, pikirnya.
"Orang ini terhitung bejat, namun dalam peristiwa ini dia memang besar andilnya, sehingga Lenghou Yong dipancing kemari dan terbunuh oleh Kek-siauhiap, kini baru sadar akan akibatnya dan kesulitannya ini juga lantaran aku yang menyeretnya."
Melihat orang diam saja, lekas Kwik Su-to mendesak.
"Aku hanya mengharap jiwa selamat, soal harta dan rumah boleh kutinggalkan seluruhnya. Bila perkara ini diusut, bukan mustahil harta benda dan rumahku pasti disita dan disegel, tapi aku punya simpanan emas di beberapa tempat yang pasti tidak mereka ketahui, dengan senang hati akan kuserahkan seluruhnya kepada kalian, semoga kalian sudi melindungi aku."
"Bedebah,"
Maki Tio Kan-loh.
"siapa sudi menerima uang busukmu, tapi mengingat kau pernah melakukan kebaikan demi kepentingan kami, baiklah sementara boleh kau berlindung di tempat kami,"
Dia datang dengan seorang murid Kaypang bergoni lima, maka dia pesan kepada murid Kaypang itu supaya membawa Kwik Su-to pergi, sementara boleh menetap di suatu tempat rahasia untuk melindungi jiwa raganya.
Kwik Su-to munduk-munduk kegirangan sambil menyatakan terima kasih.
Tio Kan-loh tidak berani membawa Kwik Su-to ke markas cabang Kaypang di Pit-mo-giam karena dia sudah tahu martabat laki-laki gendut ini, maka dia bertindak cukup hati-hati.
Tak nyana akhirnya terjadi juga peristiwa yang menyakitkan hati ibarat mengundang serigala masuk kedalam rumah, sehingga Kaypang yang berada di kota raja mengalami grebekan besar dan tertumpas hampir habis.
Tentang peristiwa ini baiklah kami kisahkan lain kesempatan.
Setelah murid Kaypang itu membawa Kwik Su-to pergi.
Tio Kan-loh bantu memapah Kek Lam-wi naik ke atas kereta, rombongan tujuh orang ini segera menuju ke Say-san.
Dua kali di tengah jalan mereka kepcrgok pasukan negeri yang memeriksa surat jalan, untung mereka semua menyamar orang-orang desa, tanya jawab secara lancar dan bebas, disogok beberapa keping uang perak lagi, untung tidak sampai menimbulkan keributan.
Bila mereka tiba di cabang Kaypang di Pit-mo-giam, haripun sudah mulai gelap.
Bukan main senang dan kaget orang-orang gagah yang berada didalam markas setelah mendapat berita menggembirakan ini, semua keluar dan merubung maju menyambutnya, dengan penuh perhatian mereka mendengar kisah perjalanan Tan Ciok-sing yang menghadap Baginda Raja.
Semua sama memberi selamat dan pujian serta mengangkat jempol.
Loh In-hu berkata.
"Apa yang pernah diucapkan raja, entah merdu atau tidak perkataannya, aku tetap tidak bisa percaya."
Lim Ih-su tertawa, katanya.
"Ucapan raja memang tidak boleh dipercaya, tapi raja kan juga takut mati. Demi keselamatannya, betapapun dia harus memperhatikan pesan tulisan berdarah yang ditinggalkan Tan-hengte itu."
Tan Ciok-sing berkata.
"Aku hanya menakut-nakutinya saja, mungkin dia betul-betul ciut nyalinya dan mau tidak mau harus berpikir dua belas kali sebelum bertindak. Tapi aku yakin yang betul-betul ditakuti adalah Kim-to Cecu, takut bila dia tidak angkat senjata melawan musuh, rakyat akan mendukung Kim-to Cecu, itu berarti kedudukannya sebagai rajapun bakal goyah."
Kaypang Pangcu Liok-kun-lun tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.
"Apa yang kau katakan memang betul, bila dinilai secara keseluruhan Baginda Raja itu tetap takut terhadap kekuatan rakyat jelata. Tapi dalam hal ini jangan kita terlalu optimis dengan pendapat sendiri, kukira dari hasratnya ingin meneken surat perjanjian damai dengan musuh, sampai dia dipaksa untuk melawan musuh itu di dalamnya tentu terdapat banyak liku-liku yang tidak bisa dimengerti orang lain."
"Itu sudah pasti,"
Lim Ih-su mendukung pendapat ini.
"untung batas waktunva hanya tiga bulan, tiga bulan kemudian kita akan tahu apakah janji pertama dari raja bakal terlaksana tidak."
Setelah berhasil menuntut balas, perasaan Kek Lam-wi longgar dan lega, hatinya riang dan gembira, lekas sekali dalam tiga hari kesehatannya sudah hampir pulih.
Demikian pula keadaan Loh In-hu, boleh dikata sembilan puluh persen sudah sehat kembali, hanya Sia-cin Hwesio saja yang terluka paling parah, dia masih perlu banyak istirahat.
Hari ke empat seorang murid Kaypang yang berhasil lolos keluar dari kota raja membawa sebuah berita ke Pit-mo-giam.
Sesuai dugaan Liok Kun-lun, berita pertama yang dibawa murid Kaypang ini adalah.
"penjagaan"
Diperkeras di seluruh kota raja.
Berita kedua adalah, Liong Bun-kong pura-pura sakit dan minta cuti, selama beberapa hari tidak masuk istana menghadap raja.
Jabatannya sebagai sekretaris militer masih dipegangnya tapi praktek kerjanya sudah diserahkan ke sekretariat.
Sementara kedudukannya sebagai Kiu-bun-te-tok yang paling berkuasa di seluruh kota raja sudah diserah terimakan kepada Komandan Gi-lim-kun Bok Su-kiat sebagai penjabat sementara.
"Bagus, janji pertama dari raja muda itu telah dilaksanakan separo,"
Seru Lim Ih-su.
Berita ketiga adalah Duta besar Watsu secara diam-diam telah meninggalkan kota raja, tapi Poyang Gun-ngo dan Ma Toa-ha dua busu pengawalnya masih ditinggal di rumah keluarga Liong.
Kedua orang ini memang ditahan oleh Liong Bun-kong untuk bantu menjaga keselamatannya.
Liok Kun-lun berkata.
"Setelah kehilangan seorang Lenghou Yong, kini mendapat ganti Poyang Gun-ngo dan Ma Toa-ha, usaha kita untuk membunuhnya jadi lebih sulit lagi. Tapi aku jadi curiga, bahwa Duta besar rahasia Watsu mau meninggalkan kedua Busunya pasti ada latar belakangnya, bukan melulu untuk bantu melindungi keselamatan bangsat tua itu."
Sim Lan salah satu utusan Kim-to Cecu berkata.
"Itu Sudah gamblang, kedua Busu ini memang sengaja ditanam di kota raja sebagai mata-mata mereka. Aku jadi ingat akan satu hal, kukira hal ini perlu kita perhatikan juga."
"Soal apa?"
Tanya Lim Ih-su.
"Baginda jelas tidak akan membocorkan pembicaraannya dengan kita kepada siapapun, tapi konsep perjanjian damai yang telah dibuat Liong Bun-kong dengan Duta rahasia Watsu itu ditahan oleh raja, kukira Duta besar Watsu juga pasti menduga bahwa di belakang persoalan ini pasti ada terjadi perobahan yang merugikan pihaknya."
"Lalu bagaimana?"
Tanya Tan Ciok-sing.
"Setiba di negerinya mungkin Watsu akan segera kerahkan pasukannya menyerbu kemari, kukira dalam dua hari ini bersama Ciu Hok aku harus segera kembali ke markas."
"Tunggu lagi beberapa hari, setelah aku membereskan urusan dinas dalam Kaypang, ingin aku pergi bersama kalian,"
Demikian ujar Liok Kun-lun.
Berita ke empat tidak begitu penting, namun menyangkut pribadi Toan Kiam-ping.
Perkara yang menimpa keluarga Toan sehingga keluarga Toan di Tayli dicopot kedudukannya oleh penguasa setempat adalah gara-gara hasutan Liong Seng-bu yang menggosok pamannya Liong Bun-kong.
Kini setelah Liong Bun-kong sendiri sibuk mengurus nasib sendiri, maka perkara inipun terbengkalai.
"Selamat Toan Kongcu,"
Seru Sim Lan.
"sekarang kau boleh pulang ke kampung halaman dengan bebas dan leluasa."
Merah muka Toan Kiam-ping, katanya.
"Aku amat menyesal kenapa dulu kehidupanku terhimbau oleh kesenangan melulu, kini kawan-kawan sedang sibuk mondar mandir demi kepentingan nusa dan bangsa, memangnya aku harus pulang menjadi "Siau-ongya"
Yang bernama kosong belaka?"
"Bagus,"
Puji Sim Lan.
"kau punya pengertian yang obyektif, aku amat kagum padamu. Tapi aku tetap anjurkan kau pulang saja."
"Kenapa?"
Tanya Toan Kiam-ping.
"Bukan maksudku menganjurkan kau pulang menjadi Siauongya, tapi pulang untuk bantu menyelesaikan suatu tugas."
"Tugas apa yang bisa aku bantu menyelesaikan?"
"Tayli adalah kampung halaman dan tempat kelahiranmu, rakyat Tayli terhadap keluarga Toan kalian amat hormat tunduk dan patuh, sepulang kau ke kampung halaman, banyak kerja yang harus kau kerjakan. Umpamanya menjelaskan kepada rakyat jelata cara bagaimana harus melawan serangan penjajah, dengan tenaga dan darah daging sendiri melindungi kampung halaman, jangan terlalu percaya kepada kekuatan kerajaan yang sudah keropos, ini hanya salah satu contoh. Di rumah kau akan jauh lebih berguna dari pada disini. Ini bukan melulu pendapatku, tapi juga didukung oleh Kim-to Cecu."
"Betul,"
Timbrung Ti Nio.
"penjelasanmu cukup menyeluruh. Hiantit, kali ini kau pulang bukan lagi sebagai Siau-ongya, tapi pulang sebagai salah seorang teman laskar rakyat. Bila kau sudah memahami hai ini, maka kau akan hidup tentram lahir dan batin."
"Bagus sekali uraian Ti-locianpwe,"
Ucap Sim Lan.
"tapi sepatah kata kurasa kurang tepat diucapkan."
Ti Nio melengak, tanyanya. ."Perkataan yang mana?"
"Toan-kongcu bukan pulang sebagai teman kami."
Toan Kiam-ping melenggong, tanyanya.
"Apakah aku belum setimpal sebagai teman laskar rakyat?"
Sim Lan tertawa lebar, katanya.
"Kau adalah orang kita sendiri."
Toan Kiam-ping tertegun, entah haru atau saking senang, tanpa kuasa air matanya meleleh, serunya lantang.
"Terima kasih, kalian teramat menghargai diriku, baik, besok juga aku pulang ke Tayli."
Ti Nio berkata.
"Besok biar aku antar kau dan anak Cin pulang. Ucapan Sim-thauling sekaligus menyadarkan aku. Setelah mengantar kalian pulang ke Tayli, segera akupun akan kembali ke Khong-goan, disana aku yakin banyak pula yang bisa kukerjakan."
Pembicaraan selesai larut malam.
Hari kedua hadirin mengantar pemberangkatan mereka bertiga.
Sakit Kek Lam-wi sudah delapan puluh persen sembuh, setelah perjamuan usai, seorang diri dia menyatakan ingin mengantar mereka.
Sebelum berpisah Ti Nio berkata.
"Hiantit, sungguh menggembirakan sakit hatimu sudah terbalas. Kini tinggal satu saja keinginanku."
"Susiok, besar sekali bantuanmu kali ini sehingga aku berhasil menuntut balas, tak perlu aku berbincang soal budi dan kebaikan, keinginan apa yang belum kau orang tua capai, bila perlu tenagaku silakan perintahkan saja."
Ti Nio tertawa, ujarnya.
"Keinginanku ini memang hanya kau saja yang bisa menyelesaikan."
"Apakah itu?"
Desak Kek Lam-wi. Han Cin tertawa cekikikan, katanya.
"Kau sepintar ini masa tidak bisa menerkanya? Seperti juga ayah, akupun ingin supaya kau lekas mencari Toh-cici dan mengajaknya pulang."
"Betul,"
Ujar Ti Nio.
"pernikahan anak Cin tidak perlu kupikirkan lagi. Maka keinginanku yang terakhir adalah supaya selekasnya minum arak pernikahanmu dengan nona Toh."
Yang benar, tanpa disinggung Ti Nio dan putrinya, meski luka-lukanya belum sembuh seluruhnya, hati dan pikiran Kek Lam-wi sudah lama terbang menyelusuri jejak Toh So-so.
Sayang dia tidak tahu dimana kini Toh So-so berada.
Lekas sekali tiga hari telah berselang, kini luka-lukanya sudah sembuh seluruhnya.
Hari itu di atas Pit-mo-giam seorang diri dia berlatih King-sin-pit-hoat yang diajarkan Ti Nio, tiba didengarnya seorang berseru memuji.
"Bagus,"
Waktu dia menoleh, dilihatnya Tan Ciok-sing dan In San lari mendatangi.
"Kek-toako,"
Seru In San "Selamat ya kau berhasil mempelajari ilmu tutuk nomor satu di kolong langit ini, dendammu sudah terbalas, betapa riang hati Toh-cici bila tahu akan hal ini."
Di hadapan teman baik tidak perlu malu-malu, Kek Lam-wi berkata.
"Kurasakan aku sudah tak tertahan lagi, ingin rasanya sekarang aku sudah mendekapnya, cuma kemana aku harus mencarinya."
"Aku ini orang perempuan, sedikit banyak bisa menyelami perasaan sesama jenisnya,"
Demikian In San mengutarakan pendapatnya.
"aku yakin bukan maksud Toh-cici sengaja mau menjauhi kau, dia pasti berada di suatu tempat yang mudah kau temukan."
"Coba kau terka, dimana kiranya dia berada,"
Tanya Kek Lam-wi.
"Kukira kau sendiri yang harus menerkanya, coba kau pikirkan kemana saja dulu kau bertamasya umpamanya, di tempat yang paling mengesankan dan mengasyikan."
Kek Lam-wi jadi sadar, katanya.
"Betul, seharusnya aku pulang ke kampung halamannya untuk mencarinya. Di kala kami dibuai asmara dulu, dia paling suka bertamasya di Ji-sikio mendengar irama serulingku."
Kek Lam-wi dan Toh So-so adalah kelahiran Yang-ciu. Ji-si-kio adalah salah satu obyek pariwisata yang terkenal di Yang-ciu.
"Lukamu sudah sembuh, lekaslah kau susul dia kesana?"
In San menganjurkan serta memberi dorongan mental.
"Tapi,"
Kek Lam-wi masih ragu-ragu.
"Tapi apa?"
Desak In San.
"Seorang diri aku meninggalkan orang banyak disini, apa tidak rikuh. Apalagi luka Liok-ko (Sia-cin Hwesio) belum sembuh."
Tan Ciok-sing menimbrung.
"Mungkin kami bisa mengiringi kau. Tentang luka-luka Sia-cin Taysu, banyak orang yang merawatnya, kukira tidak usah kau pikirkan."
Kek Lam-wi melengak, katanya.
"Bukankah kalian akan menetap disini sampai bangsat tua Liong digulingkan dari kedudukannya? Kenapa kalian mau menemani aku pergi ke Yang-ciu?"
"Justru lantaran persoalan itulah maka aku mencari kau,"
Ujar Tan Ciok-sing.
"Sudah bicara sebanyak ini, aku masih bingung, sebetulnya menyangkut soal apa?"
"Kau tahu di Thay-ouw ada seorang Lo-enghiong bernama Ong Goan-tin bukan?"
"Maksudmu Cong-cecu Ong Goan-tin dari 36 kepala markas perairan di Tay-ouw?"
Tan Ciok-sing mengiakan.
"Sebagai orang kelahiran Kanglam, sudah tentu aku tahu akan Bengcu para pahlawan perairan di Kanglam yang terkenal itu? Sebetulnya beliau adalah teman baik ayahku almarhum, waktu kecil aku pernah melihatnya sekali."
"Lebih bagus kalau begitu, Tan-toako, arah yang kita tuju ternyata tepat,"
Kata In San.
"Ada apa dengan Ong Goan-tin? Soal apa pula yang ingin kalian bicarakan denganku?"
Tanpa merasa sudah tiba di markas Kaypang. Tan Ciok-sing berkata.
"Setelah bertemu dengan Sim-thauling, kau akan jelas duduk persoalannya."
Di kala mereka memasuki balairung, kebetulan mendengar percakapan Liok-pangcu dengan Sim Lan.
"Urusan dinas dalam Kaypang sudah kubereskan, hari ini juga aku bisa pergi bersama kalian, aku sudah mengirim kabar dengan burung pos, supaya semua murid-murid Kaypang di berbagai cabang, bila sempat menyiapkan diri, dalam jangka tiga bulan semua sudah harus berangkat dan kumpul di markas kalian siap menunaikan tugas,"
Demikian Liok Kun-lun berkata.
Kaypang adalah serikat besar, muridnya laksaan jumlahnya, tersebar di segala pelosok.
Dengan pernyataan Liok Kun-lun itu.
berarti kekuatan Kim-to Cecu-bertambah laksaan tenaga yang tangguh.
Sim Lan kegirangan, katanya.
"Dapat memperoleh bantuan Pangcu besar ini, sungguh bukan kepalang besar artinya, kini yang masih harus kita rundingkan adalah siapa yang tepat untuk diutus ke Thay-ouw?"
Lim Ih-su berkata.
"Barusan Ciok-sing keluar mencari Lamwi. Jit-te adalah kelahiran Kanglam. Kupikir biarlah dia, dia... Nah itu kebetulan dia sudah datang. Jit-tc, ada persoalan ingin kami bicarakan dengan kau."
"Barusan Tan-toako sudah menjelaskan kepadaku, katanya aku diutus ke Thay-ouw menemui Ong Goan-tin Cong-cecu dari tiga puluh enam kepala perairan disana?"
"Betul, cuma kami kuatir kesehatanmu belum pulih,"
Ucap Lim Ih-su.
"Kesehatanku sudah pulih, To'ako tak usah kuatir. Entah untuk urusan apa kalian ingin mengadakan kontak dengan Ong Goan-tin?"
"Begini,"
Sim Lan menjelaskan.
"tanggal dua puluh dua bulan delapan adalah hari ulang lalimi Ong Goan-tin, sebelum k.mu kemari, Cecu ada pesan supaya kami hadir dalam perjamuan li.in ulang tahunnya itu mewakili beliau Tapi waktu mendesak sck.ii.ni)' tidak mungkin kami pergi kesana, tapi Cecu juga ada pesan bila perlu boleh diwakilkan orang lain yang cocok di antara kita. Mewakili pihak kita memberi selamat hari ulang tahunnya."
"Lahirnya memberi selamat ulang tahun, tugas yang nyata adalah merangkul Ong Goan-tin kedalam barisan kita untuk bergabung melawan penjajah. Jelaskan kepadanya bagaimana maksud dan tindakan kita yang sudah kita rencanakan bersama."
"Baik. Segera aku boleh berangkat."
Kata Kek Lam-wi tegas.
"tapi apakah aku boleh mewakili Cecu kalian?"
"Kitakan orang sendiri, Kek-jithiap tidak usah sungkan, tapi terus terang aku agak kuatir bila kau berangkat seorang diri, lebih baik..."
Tan Ciok-sing segera menimbrung.
"Aku bersama nona In justru ingin mohon persetujuanmu, biarlah kami menemani perjalanan Kek-toako."
Sim Lan tertawa lebar, katanya senang.
"O, jadi kalian memang sudah ada maksud?"
In San berjingkrak, serunya tepuk tangan.
"Jadi, kau setuju?"
Sim Lan berkata.
"Sebetulnya aku memang memancing kalian uutuk menampilkan diri. Menurut apa yang diketahui, di masa hidupnya ayahmu pernah menanam budi terhadap Ong Goan-tin, demikian pula hubungan kental ayahmu dengan Cecu kami, Ong Goan-tin juga tahu amat jelas."
"Tadi Kek-toako juga bercerita, katanya semasa hidupnya dulu ayahnya juga punya hubungan kental dengan Ong Goantin, waktu kecil diapun pernah melihat Ong Goan-tin,"
Demikian timbrung In San.
"Maka itu kita putuskan kalian bertiga harus berangkat, membawa nama kita untuk memberi selamat ulang tahunnya. Tan-siauhiap dan nona In boleh mewakili markas kita, sementara Kek-jit-hiap mewakili Pat-sian. Begitu terasa lebih berbobot."
Coh Ceng-hun menyela.
"Urusan sudah selesai dibicarakan, baiklah mari kita minum bersama untuk mengantar keberangkatan mereka."
"Kami juga ingin berangkat hari ini juga,"
Ucap ln San. Lim Ih-su melenggong, katanya.
"Ulang tahun Ong Goantin adalah tanggal dua puluh dua bulan delapan, hari ini baru tanggal dua puluh enam bulan tujuh, jadi masih satu bulan lebih. Setengah bulan sudah lebih cukup untuk menempuh perjalanan dari sini ke Tay-ouw, kenapa harus buru-buru, beberapa hari lagi baru berangkat juga masih belum terlambat."
In San tertawa, katanya.
"Disini kalian melarangku menuntut balas kepada bangsat tua she Liong, aku jadi sebal. Kini mumpung ada kesempatan bisa bertamasya ke Kanglam, Kek-toako kelahiran Yang-ciu, orang Kanglam cekek dia bisa ajak kami berparivvisata."
Lim Ih-su maklum, pikirnya.
"Kiranya Jit-te ingin pulang ke rumah, kenapa aku jadi pikun, bukankah dia ingin lekas-lekas menemukan Pat-moay?"
Maka cepat dia berkata.
"Baiklah, dari pada disini kalian juga terlalu iseng."
Dalam perjamuan perpisahan Sim Lan kembali memberi petunjuk yang berharga, begitu perjamuan usai masingmasing lantas berangkat ke arah tujuan sendiri-sendiri.
Supaya tidak menimbulkan kesulitan di perjalanan, In San berpakaian laki-laki.
Bertiga mereka naik kuda, siang malam menempuh perjalanan, hanya enam hari propinsi Hopak dan Soatang telah mereka lewati, kini mulai memasuki propinsi Kangsoh.
Pemandangan alam Kanglam memang permai mempersona, ln San dan Ciok-sing tidak habis memuji, mereka melek huruf, maka tidak sedikit pula syair-syair yang mereka karang dan menjadi buah pembicaraan di sepanjang jalan.
Tengah berjalan, tiba-tiba tampak di depan sana dibedal seekor kuda yang berlari kencang ditelan debu yang mengepul tinggi di belakangnya.
Tiba-tiba Tan Ciok-sing bersuara heran.
"Toako, kenapa kau?"
Tanya In San.
"apakah penunggang kuda di depan itu menimbulkan kecurigaanmu?"
"Ya, kulihat bayangan punggungnya seperti pernah kukenal,"
Sahut Tan Ciok-sing.
"Benar, aku pun merasa seperti kenal dia, siapakah dia?' sela Kek Lam-wi.
"Siapakah dia?"
Tiba-tiba tanpa berjanji mereka berdua sama berteriak.
"Seperti Poyang Gun-ngo?"
Tapi In San masih ragu-ragu, katanya sesaat kemudian.
"Menurut pandangan kalian hari itu, dia dipendam di kota raja sebagai spion, lalu untuk apa pula seorang diri dia berada di Soh-ciu?"
"Pendapat kami tetap tidak berobah, sebagai spion yang dipendam, tugasnya tidak melulu di kota raja saja,"
Demikian kata Tan Ciok-sing.
"Maksudmu kedatangannya ke Kanglam ini juga dalam rangka tugasnya?"
In San menegas.
"Kukira demikian,"
Sahut Tan Ciok-sing.
"Sayang kita hanya melihat bayangan punggungnya saja. Tidak yakin apa betul pasti dia,"
Ucap In San ragu-ragu. Kek Lam-wi berkata.
"Di depan ada sebuah gardu minuman, mari kita menghilangkan dahaga sambil tanya kepada nenek penjual wedang. Syukur orang itupun marrtpir ke gardu minuman itu."
Gardu minuman itu didirikan di pinggir jalan letaknya tepat di persimpangan jalan.
Lurus ke depan menuju ke Soh-ciu bila ke kiri dan ke kanan menuju ke kota-kota kecil di sekitarnya.
Jarak masih ada setengah li, tapi dari kejauhan mereka sudah melihat adanya gardu minuman ini.
Dalam gardu, si nenek penjual teh tengah asyik bicara dengan cucu perempuannya.
Cucunya masih berusia tiga atau empat belas tahun.
Meski jarak masih setengah li, tapi mereka sama memiliki Kungfu tinggi, pendengarannya jelas lebih tajam dari orang lain, maka pembicaraan didalam gardu minuman ini, mereka bisa mendengarkan dengan jelas.
Agaknya si nenek meski sudah tua namun pandangannya masih tajam, dari kejauhan diapun telah melihat kedatangan mereka bertiga, serunya heran.
"Eh, hari ini yang menempuh perjalanan naik kuda koh lebih banyak dari biasanya,"
Perlu diketahui orang-orang Kanglam terutama di daerah Soh-ciu dan Hang-ciu kalau bepergian suka berjalan kaki, bila menempuh perjalanan, mereka suka naik perahu. Nona kecil itu berkata.
"Laki-laki naik kuda tidak perlu dibuat heran, nona cantik yang lemah gemulai seperti hendak jatuh ditiup angin ternyata juga pandai menunggang kuda sebesar ini baru pertama kali ini aku melihatnya."
Mendengar ucapan nona kecil ini tergerak hati Kek Lam-wi, lekas dia pecut kuda dilarikan lebih kencang. Di depan sana nona kecil keplok tangan seraya berjingkrak senang.
"Ou, kencang benar lari kuda itu,"
Sementara dalam hati dia membatin.
"Orang ini agaknya memburu waktu menempuh perjalanan, mana mungkin dia bakal mampir ke warung kami, jualan kami hari ini mungkin tidak akan terjual habis lagi."
Tak kira tengah dia melamun memikirkan nasib, tiga ekor kuda tiba-tiba berhenti di depan gardu, suara ringkik kuda membuatnya berjingkrak kaget. Si nenek segera menyapa.
"Tuan-tuan, silakan mampir minum dulu barang dua cangkir. Kami menyediakan arak dan teh wangi."
Tan Ciok-sing mendahului melangkah masuk, katanya.
"Arak kami tidak mau, tapi tarip teh akan kami bayar dua kali lipat,"
Sembari bicara dia merogoh kantong mengeluarkan kepingan perak terus disodorkan kepada si nenek. Si nenek menerima uang itu, tapi dia berkata.
"Tiada aturan begitu, harga arak memang dua kali lipat tarip teh, kalian hanya minum teh mana boleh aku menerima bayaran tarip arak?"
"Nanti dulu, kami belum habis bicara,"
Sela Kek Lam-wi,"
Arak kami tidak minum, tapi kami ingin makan nyamikan atau kue apa yang tersedia disini. Apa kalian ada menyediakan bebek goreng?"
Nenek itu tertegun, katanya.
"Tuan, kiranya kau kelahiran sini? Siapa shemu?"
Ternyata Kek Lam-wi bicara dengan logat orang Soh-ciu asli.
"Aku she Kek,"
Ujar Kek Lam-wi.
"temanku ini she lan. Aku kelahiran Yang-ciu, tapi ada famili yang tinggal di Soh-ciu, maka sering aku tinggal di Soh-ciu."
"Goreng bebek memang ada, tapi tinggal beberapa potong saja, harganya juga cuma seketip saja."
"Ah, kenapa diperhitungkan sejelas itu,"
Ucap Kek Lam-wi tertawa.
"keluarkan saja seluruhnya."
Karena Kek Lam-wi pandai bicara bahasa Soh-ciu, sikap si nenek tampak lebih ramah dan simpatik. Setelah menghabiskan secangkir teh Kek Lam-wi berkata.
"Popoh, aku ingin tanya seseorang kepada kau!" '"Siapa?"
Balas tanya si nenek.
"Ada seorang nona yang berdandan begini dan potongan begitu, apa pernah lewat sini?"
"Iya, agaknya ada, kalau tidak salah dia menunggang seekor kuda putih, kira-kira satu jam yang lewat."
Nona kecil itu menimbrung.
"Nona itu cantik benar, diapun pandai bicara bahasa Soh-ciu kita."
Semula Tan Ciok-sing melenggong, tapi lekas diapun paham.
"O, kiranya dia mencari tahu jejak Toh So-so. Ya, maklum, bila dibanding, jelas Toh So-so jauh lebih penting dari pada Poyang Gun-ngo,"
Demikian batinnya.
"'Apa betul?"
Girang Kek Lam-wi.
"arah mana yang dia tempuh?"
"Jalan di tengah itu,"
Sahut si nenek.
"Pasti dia menuju ke Soh-ciu,"
Ujar Kek Lam-wi.
"Pernah apa sih kau dengan nona itu,"
Tanya si nenek.
"Dia adalah Piaumoayku,"
Sahut Kek Lam-wi.
"tapi aku sendiri belum tahu bila hari ini dia bakal datang ke Soh-ciu."
Nona kecil ttu tertawa geli, katanya.
"Tak heran kesenangannya ternyata seperti sama kau."
Kek Lam-wi melengak, tanyanya.
"Kesenangan apa?"
"Seperti kau, diapun suka makan goreng bebek,"
Ujar nona kecil.
"diapun hanya minum teh pantang minum arak, sebelum berangkat dia minta dibungkuskan dua ekor bebek goreng. Maka sisanya, ya cuma sedikit ini."
Diam-diam Kek Lam-wi membatin.
"So-so memang suka makan goreng bebek, tapi biasanya tak pernah makan sebanyak itu. Em, ya, mungkin dia beli lebih banyak supaya menguntungkan nenek dan cucunya ini. Atau mungkin dia juga tahu aku suka makan goreng bebek, setiba di Soh-ciu, meski dia ' tidak bisa menghabiskan sebanyak itu, dia tetap membelinya juga."
Nona cilik itu tertawa pula, katanya.
"Lekaslah kau kejar Piaumoaymu itu, kalau terlambat dia mungkin terkejar seorang yang lain."
Kek Lam-wi tertegun, tanyanya.
"Siapa mengejarnya?"
"Seorang tamu yang usianya kira-kira sebaya kau tapi dia tidak mampir minum arak atau teh, begitu mendengar Piaumoaymu berangkat belum lama, segera dia cemplak kudanya terus mengudaknya."
Kek Lam-wi ragu-ragu, pikirnya.
"Siapakah pemuda itu? Teman yang dikenal So-so sebaya dengan aku hanya Cioksing Toako saja. Em, bukan mustahil cakar alap-alap telah menguntit jejaknya."
Nona cilik itu tertawa, kataaya.
"Lho, koh malah melamun, kenapa tidak lekas kau susul Piaumoaymu?"
Si nenek tertawa, omelnya.
"Budak kecil banyak ngomong saja, tuan ini toh tidak buru-buru, kenapa kau malah yang menjadi kuatir?"
"Popoh,"
Kata Kek Lam-wi.
"Aku masih ingin tahu tentang seseorang."
"O, siapa lagi yang yang ingin kau ketahui?"
Tanya si nenek.
"Seorang laki-laki yang tampangnya luar biasa,"
Lalu dia gambarkan tampang Poyang Gun-ngo dan dandanannya.
"Tidak lama setelah Piaumoaymu pergi memang ada seorang laki-laki penunggang kuda lewat, tapi dia tidak menghentikan kudanya yang dilarikan sekencang angin, mataku yang sudah tua ini tidak melihat jelas tampangnya."
"Arah mana yang ditempuhnya?"
Kek Lam-wi menegas.
"Kalau tidak salah membelok ke arah kiri."
Kek Lam-wi kuatir Toh So-so kebentrok dengan Poyang Gun-ngo, kini setelah tahu Poyang Gun-ngo membelok ke kiri, arah yang berbeda, maka legalah hatinya. Tapi ia berpikir.
"Entah apakah orang itu betul Poyang Gun-ngo? Tapi bila betul Poyang Gun-ngo, seorang diri dia meninggalkan kota raja sudah cukup mencurigakan, setiba disini tidak langsung ke Soh-ciu lalu kemana dia? Apa ini tidak lebih mengherankan."
Apa yang ingin mereka ketahui sudah diperoleh keterangan sejelasnya. Maka bergegas mereka meninggalkan gardu minum itu. Di samping merasa senang In San juga merasa curiga, katanya.
"Kek-toako menurut pendapatmu, nona penunggang kuda itu apa bukan Toh-cici?"-ternyata dia teringat pada seorang lain tapi supaya tidak mengecewakan Kek Lam-wi, maka dia tidak utarakan jalan pikirannya. Ternyata Kek Lam-wi amat yakin, sahutnya.
"Aku yakin pasti dia."
Setiba di Soh-ciu, Kek Lam-wi berkata.
"Mari kucarikan hotel lebih dulu baru berusaha menemukan So-so. Hotel terbaik di Soh-ciu berada di Say-cu-lim saja."
"Apa tidak lebih baik kami ikut kau mencari Toh So-so, setelah menemukan dia baru cari hotel?"
Kek Lam-wi menetapkan.
"Familinya itu keluarga miskin, penduduk biasa yang tidak pandai main silat. Bila sekaligus kita bertiga menunggang kuda mampir ke rumahnya mencari So-so, mungkin bisa menarik perhatian orang banyak, ini bisa mendatangkan kesulitan bagi mereka."
Mendengar penjelasannya, In San segera batalkan niatnya menemani dia mencari Toh So-so.
Say-cu-lim terletak jauh diluar kota maka Kek Lam-wi ajak mereka kesana, sepanjang jalan dia ceritakan asal-usul dari Say-cu-lim yang terkenal itu.
"Sai-cu-Iim merupakan daerah wisata yang terkenal di Soh-ciu,"
Demikian Kek Lam-wi mulai bercerita.
"Konon Say-cu-lim hanya satu di antara kebon raya yang terkenal di Soh-ciu, apa betul?"
Tanya In San.
"Bukan itu saja. Kira-kira seratus tahun yang lalu, di kalaThio Su-seng angkat dirinya menjadi raja di Soh-ciu Saycu-lim pernah dipugar menjadi istananya. Belakangan setelah Thio Su-seng gugur di medan perang, Say-cu-lim disita oleh yang berwajib dan dijual kepada hartawan besar yaitu Kiuthay-say-cu In Thian-cian yang berjuluk Soh-ciu-pa (buaya Soh-ciu)."
"Kisah ini pernah kudengar dari cerita ayah,"
Ujar In San.
"Tan-toako, bila diurutkan sedikit banyak In Thian-cian ini ada sangkut pautnya dengan kau."
Tan Ciok-sing-heran, katanya.
"In Thian-cian kan sudah mati puluhan tahun yang lalu, bagaimana mungkin ada sangkut pautnya dengan aku?"
"Setelah In Thian-cian berkuasa di Say-cu-lim, kebon raya ini dia jadikan gelanggang pertandingan dan tempat mesum. Pernah suatu ketika gurumu Thio Tan-hong lewat sini, sengaja dia ingin mengajar adat buaya darat ini, suatu kali dia membuat keributan di gelanggang perjudiannya itu. In Thiancian kalah puluhan laksa tahil perak, tapi tidak mau bayar akhirnya dia pukul luka parah. Konon In Than-cian akhirnya mati saking jengkel, sejak itu gelanggang perjudian dan tempat mesum di Say-cu-lim ditutup dan pulih kembali seperti sediakala."
Tan Ciok-sing tertawa, katanya.
"Sungguh menyenangkan cara Suhu menyelesaikan peristiwa itu. Kebon raya sebaik itu mana boleh diinjak dan dirusak oleh kawanan buaya darat? Bila kejadian kebentur di tanganku akupun akan bertindak demikian."
"In Thian-cian mati lantaran dendam kepada gurumu,"
Demikian ujar In San tertawa.
"bila keturunannya tahu kau adalah murid penutup Thio Tan-hong, coba katakan apa yang bakal mereka lakukan? Yakin mereka tidak akan melupakan dendam sakit hati sejak puluhan tahun lalu itu, maka sasaran pasti ditujukan pada dirimu."
"O, jadi Say-cu-lim sekarang masih berada di tangan keturunan orang she In itu?"
Tanya Tan Ciok-sing.
"Betul,"
Ujar Kek Lam-wi.
"sekarang dikuasai oleh In Kip, cucunya In Thian-cian. Tiga puluh tahun setelah In Thian-cian mati, kira-kira sepuluh tahun yang lalu Say-cu-lim dia bangun kembali sebagai kebon wisata serta dibangun hotel-hotel."
"Bagaimana martabat In Kip itu?"
Tanya Tan Ciok-sing.
"Kabarnya tidak sewenang-wenang, seperti kakeknya dulu, tapi dia juga tamak dan loba. Hotel yang dibangun dalam Saycu-lim itu cukup terkenal di Kanglam, hotel kelas satu yang khusus menerima para hartawan atau orang yang tebal kantongnya, menyediakan pula tempat mewah untuk para pembesar atau keluarga raja. Taripnya mencekik leher, ongkos menginap semalam, cukup untuk ongkos setengah bulan keluarga sedang."
"Kalau hanya tamak harta dan tidak melakukan kejahatan sih, kita tidak usah perdulikan dia,"
Kata Tan Ciok-sing. Kek Lam-wi tertawa, katanya.
"Bagaimana mungkin mereka tahu bahwa kau adalah murid Thio Tayhiap? Dan lagi In Kip tak mungkin memegang tampuk pimpinan sendiri di hotel itu, tak gampang untuk memergokinya. Kita boleh tidak usah kuatir menginap disana."
"Bukan kita takut dia menuntut balas,"
Ucap In San.
"cuma tadi menyinggung kisah Say-cu-lim maka sekalian aku ceritakan kepada Tan-toako."
Tak terasa mereka telah tiba di Say-cu-lim.
Hotel yang dibangun di kebon raya ini memang luar biasa, bentuk bangunannya megah dan angker, jelas dikerjakan oleh arsitek yang terkenal dan berpengalaman, entah berapa duit yang ditanam untuk membangun proyek sebesar ini.
Diluar mereka tanya kepada penjaga pintu tentang kamar dan taripnya, setelah Kek Lam-wi memberi sekeping uang perak baru penjaga pintu ini mengantar mereka masuk kedalam.
Penjaga pintu membawa mereka ke kantor hotel lalu mengundurkan diri.
Seorang petugas lantas keluar menyambut, mereka bertiga minta dua kamar, petugas itu mengamat-amati mereka dengan seksama, dandanan mereka mirip pelajar, pakaiannya meski tidak mewah, kelihatannya seperti anak keluarga hartawan, baru dia mencatat nama dan alamat serta berkata.
"Disini tiada kamar yang disewakan."
Kek Lam-wi melenggong, katanya.
"Tapi kami sudah tanya jelas kepada penjaga pintu, katanya masih banyak kamar kosong."
Petugas itu berkata.
"Mungkin dia tidak menjelaskan peraturan disini."
"Peraturan apa?"
Tanya Kek Lam-wi.
"Disini kami tidak menyewakan kamar, kalau mau nginap harus menyewa sebuah villa, bagaimana kalau kusediakan villa yang ada lotengnya? Di atas atau di bawah ada kamar dan sebuah ruang tamu. Kebetulan cocok untuk tempat tinggal kalian bertiga."
"Baik,"
Kata Kek Lam-wi.
"sementara kami akan menginap dua hari."
Petugas itu berkata pula.
"Menurut aturan, tarip harus dibayar kontan sehari sepuluh tahil perak. Kuda kalian setiap ekornya dikenakan tarip makan setahil setiap hari, tarip ini termasuk ongkos perawatan dan istal."
Harga masa itu sekuintal beras putih paling baik paling mahal dua tahil perak, sepuluh tahil cukup untuk ongkos makan keluarga miskin setahun lamanya.
Diam-diam Tan Ciok-sing melelet lidah.
Kek Lam-wi mengeluarkan sekeping emas, petugas menimang, berkata.
"Emas ini berat tiga tahil lima ketip, dinilai harga pasaran adalah tiga puluh lima tahil perak."
Kek Lam-wi berkata.
"Sisanya tidak usah dikembalikan, catat saja di buku mungkin kami akan menginap lebih lama bila perlu."
Melihat orang mampu mengeluarkan uang emas, sikap si petugas lantas berubah ramah, katanya dengan seri tawa sambil munduk.
"Kalian ingin makan apa, bisa dipesan lebih dulu, segala macam masakan kami sediakan dan dikerjakan oleh koki-koki berpengalaman."
Kek Lam-wi berkata.
"Mereka berdua akan makan malam disini, aku akan keluar menyelesaikan urusan, mungkin agak malam baru kembali."
"Baiklah,"
Petugas itu mengiakan.
"nomor tembaga ini boleh kau simpan, terserah kapan kau akan kembali, tidak jadi soal."
Kek Lam-wi tertawa, katanya.
"Keras juga tata tertib kalian disini."
"Ya demi menjaga ketentraman para tamu yang menetap disini. Dengan membawa nomor tembaga sebagai bukti penginap disini, kami tidak perlu takut orang-orang yang tidak bertanggung jawab mencari keuntungan pura-pura jadi tamu disini,"
Segera dia panggil dua orang disuruhnya membawa kuda tunggangan mereka, serta mengantar mereka menuju ke sebuah rumah yang dimaksud.
Rumah ini terletak di tengah dua gunungan menghadap sebuah telaga buatan, pemandangan memang permai menyejukan perasaan, cocok dengan selera mereka.
Kebetulan letak rumah ini berada di pojok kebon dan berjauhan dengan villa-villa yang lain.
Setelah meletakan buntalannya, segera Kek Lam-wi keluar hendak menemui famili Toh So-so di kota Soh-ciu.
Setelah makan malam Tan Ciok-sing dan In San mengobrol panjang lebar, mereka menunggu dengan sabar, tanpa terasa kentongan kedua sudah jelang, tapi Kek Lam-wi belum juga pulang.
"San-moay,"
Kata Tan Ciok-sing.
"naiklah ke loteng, badanmu penat, tidurlah dulu."
In San tertawa.
"Sekarang hilang rasa kantukku. Aku mau menunggu Kek Lam-wi pulang, yakin dia akan kembali membawa kabar gembira,"
Tengah mereka bicara lantas terdengar suara ringkik kuda..In San berseru heran.
"Eh, malam selarut ini masih juga ada tamu yang menginap kesini?"
Maklum hotel di Say-cu-lim ini berbeda dengan hotel di kota umumnya, letaknya saja sudah jauh dari keramaian kota, yang menginap disini hanyalah para hartawan atau keluarga pembesar yang iseng dan berfoya.
Mereka yang menempuh perjalanan jauh dan memburu waktu tidak mungkin mau menginap disini, meski cetek pengalaman, namun In San menjadi curiga.
"Dari ringkik kuda itu dapat dinilai tunggangannya itu adalah kuda jempolan,"
Ujar Tan Ciok-sing, segera dia mendekam pasang kuping mendengarkan suara dari tanah.
Letak villa mereka menginap jauh dari kantor hotel, namun mereka memiliki Lvvekang tinggi, pendengarannya juga teramat tajam, dengan mendekam pasang kuping, lapat-lapat Ciok-sing mendengar percakapan orang.
"Kudaku ini kalian harus memeliharanya dengan baik. Aku perlu dua villa?"
Kata sang tamu yang baru datang.
"Ya, ya, segera kami suruh orang merawatnya dengan baik. Syukurlah Toaya hari ini sudi mampir..."
Terdengar kuasa hotel berkata. Sebelum dia habis bicara, tamu itu sudah mendengus, katanya.
"Cukup asal kau tahu siapa aku ini, tidak usah, tidak usah,..."
Percakapan selanjutnya suaranya lirih Tan Ciok-sing tidak mendengarnya lagi. Sesaat kemudian didengarnya tamu itu berkata.
"Aku ingin tahu jejak dua orang..."
Tan Ciok-sing pasang kuping mendengarkan dengan seksama, sayarg percakapan selanjutnya tidak terdengar, namun lapat-lapat dia mendengar seorang petugas hotel mengatakan.
"Oo kuda putih..."
In San berkata.
"Suara tamu ini seperti sudah kukenal, namun sukar diingat siapa dia sebenarnya. Pemilik hotel bersikap begitu hormat kepadanya, kukira dia punya asal-usul yang tidak kecil."
"Dia sedang mencari dua orang, bukan mustahil sasarannya adalah kita,"
Kata Tan Ciok-sing.
"Masa? Apa yang dia tanyakan, tadi aku kurang jelas."
"Aku juga tidak jelas, tapi kudengar seorang menyinggung soal kuda putih."
In San kaget, katanya sesaat kemudian.
"Kuda putih? Kalau begitu bisa diduga, maksud petugas itu menjawab pertanyaan itu, berarti menunjukkan bahwa salah seorang dari dua orang itu menunggang kuda putih."
"Lalu?"
"Kalau dugaanku ini tidak meleset, itu berarti yang dia cari bukan kita."
Sampai disini, mereka mendengar pula ringkik kuda, ringkik dari tiga ekor kuda.
"Kedengarannya, tiga ekor kuda sedang tarung. Tarung di istal. Karena bila datang dari luar pantasnya kita mendengar derap kakinya."
Tengah Ciok-sing bicara In San sedang menepekur.
"Adik San,"
Tanya Ciok-sing lirih.
"apa yang sedang kau pikirkan?"
"Mereka bicara tentang kuda putih, entah seekor atau dua ekor?"
"Memangnya ada sangkut pautnya?"
Ujar Tan Ciok-sing tertawa, diam-diam dia merasa heran entah kenapa dalam keadaan seperti In San justeru memikirkan hal yang tidak perlu.
In San ragu dan curiga, belum sempat dia buka suara, pembicaraan di kantor hotel kembali terdengar nyata.
Itulah suara kacung yang tadi disuruh membawa kuda ke istal, suaranya gugup.
"Celaka Toaya, kuda, kudamu itu..."
Katanya diucapkan dengan napas sengal-sengal. Tamu itu lantas membentak.
"Kudaku kenapa."
Kacung itu berkata.
"Kudamu ditendang keluar oleh dua ekor kuda putih, kini sedang mengamuk dan terlepas, lari pontang panting di kebon. Aku, aku tidak mampu mengekangnya."
In San berjingkrak girang, katanya.
"Nah, betul dugaanku, ternyata dua ekor kuda putih."
Tan Ciok-sing masih bingung, katanya.
"Kuda tamu itu jelas bukan kuda sembarangan, kenapa kalah menghadapi kedua ekor kuda putih?"
"Memangnya kau tahu bahwa kuda putih itupun kuda jempolan?"
Ciok-sing goyang tangan, supaya dia tidak bicara lagi. Agaknya tidak perhatikan perkataan In San, tapi sedang memikirkan urusan lain. Ternyata tamu itupun merasa heran, katanya.
"Masa iya, Hwe-liong-ki memang bertabiat kasar, beruntung kalau dia tidak mengusik tunggangan orang lain, mana mungkin dia yang disepak keluar oleh kuda lain orang malah?"
"Lapor Toaya,"
Kata kacung itu.
"Toaya memang tidak salah, kudamu dulu yang mengusik kuda lain, tapi dia akhirnya tidak mampu menandingi kedua ekor kuda putih itu."
"Aneh, Hwe-liong-ki masa kalah, dia terluka tidak?"
Tanya tamu itu.
"Entah, kini dia sedang blingsatan di kebon, apapun diterjangnya, aku tidak berani mendekatinya."
Kepala kantor agaknya menjadi gugup akan kejadian diluar dugaan ini, katanya kebingungan.
"Dia masih bisa lari, tentunya tidak terluka. Toaya, apakah kau perlu menemui pemilik kedua ekor kuda putih itu untuk minta ganti rugi?"
Tamu itu berkata.
"Binatang berkelahi juga sudah umum, kalau sudah berkelahi kalau tidak menang tentu kalah, buat apa harus menuntut segala? Urusan sekecil ini kenapa harus cari perkara, salah-salah aku ditertawakan orang. Baiklah, biar aku menjinakkan Hwe-liong-ki."
Sudah tentu petugas kantor munduk-munduk serta mengumpak, segera dia ikut berlari keluar menuju ke kebon belakang untuk menyaksikan sang tamu menjinakkan kuda tunggangannya.
Tan Ciok-sing dan In San sama-sama diam seperti ada yang dipikirkan, tiba-tiba Tan Ciok-sing menepuk paha, katanya.
"Ya, aku sudah tahu."
"Kau tahu apa?"
Dalam hati In San berpikir.
"mungkin dia sudah menebak siapa pemilik kedua ekor kuda putih itu?"
Tan Ciok-sing berkata.
"Tamu itu adalah Bak Bu-wi."
In San tersenyum, katanya.
"Maksudmu Bak Bu-wi yang malam itu pernah bergebrak dengan kau di Loh-gau-kio itu?"
"Betul, pasti tidak salah, tamu ini adalah Bak Bu-wi, Hoayyang-pang adalah sindikat gelap di Kanglam yang berkuasa di perairan, agaknya dia pulang dan sembunyi di sarang sendiri."
"Semula tujuannya hendak mencari tulang punggung macam Liong Bun-kong bangsat tua itu, kini terpaksa dia kembali, tapi aku jadi curiga, kembalinya kali ini pasti ada apaapa yang sedang diembannya."
"Betul. Bukan mustahil kedatangan Poyang Gun-ngo kemari juga atas undangannya."
"Betul, dia minta dua villa yang lain pasti disiapkan untuk Poyang Gun-ngo."
"Seorang diri juga tidak perlu menggunakan sebuah villa, kemungkinan dia mengundang juga beberapa orang, entah siapa?"
"Peduli apa maksud tujuannya, apakah dia sekongkol dengan Poyang Gun-ngo, manusia macam dia setelah kebentur di tanganku, aku tidak akan memberi ampun kepadanya."
"Baiklah, setelah larut malam nanti, kita selidiki keadaannya,"
Demikian usul Tan Ciok-sing. Waktu itu sudah mendekati kentongan ketiga, namun Kek Lam-wi masih belum kunjung pulang. Tan Ciok-sing mengajak.
"Mari kita selidiki dulu situasi disini, kembalinya nanti menunggu kedatangan Kek-toako pula."
Diam-diam mereka-melompat keluar dari jendela, setelah mengitari gunung-gunungan terus menuju ke timur, di sebelah timur terdapat belasan villa, letaknya tersebar tidak teratur di antara pepohonan dan gunung-gunungan.
Tiba-tiba dari depan menghembus angin lalu, hidung ln San seketika mengendus-endus, katanya tertawa.
"Toako, ada bau aneh yang terbawa angin, kau bisa membedakan bau apa?"
"Sedikit bacin, kalau tidak salah mirip bau najis kuda."
"Ringkik kuda tadi berkumandang dari arah sana, istal kuda pasti berada disana. Biar aku kesana melihatnya."
"Kau ingin melihat kedua ekor kuda putih itu?"
In San mengiakan.
"Orangnya lebih penting dari kuda, kita temukan dulu Bak Bu-wi baru nanti kita tengok binatang empat kaki itu,"
Demikian kata Tan Ciok-sing, dia kira In San hanya sekedar memuaskan rasa ketariknya saja. In San tertawa, katanya.
"Kemungkinan kedua ekor kuda putih itu justru lebih penting dari Bak Bu-wi. Mencari Bak Buwi harus memeriksa satu villa ke villa yang lain, kedua kuda putih itu justru bisa segera kutemukan di istal, biarlah aku kesana memeriksanya."
Tergerak juga hati Tan Ciok-sing, katanya.
"Baiklah, kalau kularang tentu kau uring-uringan, baiklah kita bertindak sesuai rencana tadi, pergilah ke istal, aku berjaga disini."
Diam-diam In Sin menuju ke istal, belum lagi dia memasuki pintu, kedua ekor kuda putih seperti sudah tahu kedatangannya, keduanya lantas meringkik dan berjingkrakjingkrak sambil melongokan lehernya keluar.
Melihat sikap mereka yang kesenangan, , seperti hendak menerjang keluar dari kandang.
Lekas In San ulur tangannya mengelus kepalanya, katanya tertawa.
"Kalian memang cerdik pandai dan peka perasaan, kalian tidak pangling kepadaku,"
Kedua kuda itu mengulur kepalanya menggosok-gosok lengan In San. In San berpikir.
"Bila mereka meringkik terus-terusan, mungkin bisa mengundang orang kemari,"
Maka dia berkata tertawa.
"Baiklah, setelah aku bertemu dengan majikan kalian besok aku kembali."
Cepat-cepat dia kembali ke tempat semula, dilihatnya Tan Ciok-sing menyongsongnya, mimik dan sikapnya kelihatan aneh. Tanpa berjanji mereka buka mulut bersama.
"Kau temukan apa?"
"Coba kau terka?"
"Tidak kau yang ceritakan dulu."
Akhirnya In San bercerita lebih dulu.
"Tan-toako, aku sudah bertemu dengan kedua ekor kuda putih itu. Mereka adalah milik teman kita."
"Ha, jadi kuda putih milik Kanglam Sianghiap itu?"
"Iya, kau tidak menduga bukan? Coba katakan apakah kedua ekor kuda ini tidak jauh lebih penting dari Bak Bu-wi?"
"Semula aku memang menduga akan kedua ekor kuda putih itu. Tapi mereka masih berada di markas Kim-to Cecu, sementara kedua ekor kuda itu berada di Pakkhia, bagaimana mungkin secepat ini sudah berada di Sohciu?"
"Memangnya kau lupa, Sim dan Ciu kedua Thauling sehari lebih dini meninggalkan Pakkhia, tentu dia sudah tiba di markasnya?"
Seperti diketahui kedua ekor kuda putih itu semula dipinjam mereka, belakangan mereka pinjamkan pula kepada Toan Kiam-ping dan Khong Ling-tck dan dibawa ke Pakkhia. Kata Ciok-sing tertawa.
"Kau memang betul. Aku yang ceroboh, masa urusan sepele begini juga harus dipikir simpang siur. Mungkin Toan-toako serahkan kedua ekor kuda putih itu kepada Sim dan Ciu dua Thauling untuk kembalikan kepada Kanglam Sianghiap di markas Kim-to Cecu. Kanglam Sianghiap kelahiran Soh-ciu, mendengar kita datang ke Kanglam hendak memberi selamat ulang tahun kepada Ong Goan-tin, tentu mereka mohon izin kepada Kim-to Cecu untuk pulang ke kampung halaman pula. Karena mereka menunggang kedua ekor kuda putih ini, maka dia lebih dulu sampai disini."
"Mungkin mereka akan menemui kita di pesta Ong Goantin, sungguh tidak nyana bakal sama-sama menginap di hotel yang sama di hari yang sama pula."
"Kalau dugaanku tidak meleset, pasti orang yang tadi kulihat adalah mereka."
Kejut dan girang In San, tanyanya.
"Kau sudah melihat mereka?"
"Aku melihat mereka, sebaliknya mereka tidak melihat aku. Tapi mereka kuatir bila kau melihatnya,"
Ternyata di waktu kedua ekor kuda putih itu meringkik berulang kali, Tan Cioksing melihat dua bayangan orang lari munduk-munduk ke arah istal, tapi begitu melihat In San keluar, cepat-cepat mereka mengkeret tubuh menyembunyikan diri.
"Mungkin mereka kuatir kuda putih itu dicuri orang maka keluar memeriksanya. Yakin mereka belum melihat jelas diriku. Toako, sekarang apa yang harus kita lakukan? Cari mereka lebih dulu atau mencari jejak Bak Bu-wi?"
"Aku sudah tahu dimana tempat tinggal mereka. Nah, di villa itu, tadi aku melihat mereka masuk kesana."
Villa itu juga terletak di tengah terapit dua gunungan, membelakangi sebidang hutan bambu, seperti juga letak villa yang di tempati Tan Ciok-sing berdua, letaknya di pojokan yang menyendiri.
Hubungan In San dengan Ciong Bin-siu, salah satu dari Kanglam Sianghiap seperti kakak adik, katanya.
"Setelah tahu tempat tinggal mereka, marilah kita temui mereka dulu. Percakapan Bak Buwi dengan pemilik hotel dapat kita simpulkan, bahwa kedatangannya mungkin menguntit jejak mereka. Mari kita beritahu hal ini kepada mereka."
"Betul, temui kawan lebih dulu baru kita labrak musuh,"
Ujar Tan Ciok-sing,"
Ditambah tenaga mereka berdua, tentu lebih mudah untuk mencari jejak Bak Bu-wi didalam hotel ini,"
Sambil sembunyi-sembunyi dengan langkah hati-hati mereka menuju ke villa yang dituding Ciok-sing tadi.
"Toako,"
Tiba-tiba In San teringat sesuatu.
"kedatangan Kanglam Sianghiap memang suatu hal yang menyenangkan, tapi bagi Kek-toako, kurasa justru bisa mengecewakan dia."
"Betul, nenek penjual teh tadi bilang nona penunggang kuda pandai berbahasa Soh-ciu, kemungkinan dia adalah Ciong-lihiap jadi bukan Toh So-so seperti yang diduganya."
"Ya, Kek-toako salah duga aku jadi kuatir. Bila dia tidak menemukan Toh-cici seharusnya sudah kembali kenapa sampai sekarang belum pulang?"
Sampai disini pembicaraan mereka, tiba-tiba dilihatnya dua bayangan orang. Lekas Ciok-sing tarik lengan In San sembunyi di belakang pohon, di pinggir telinganya dia berbisik.
"Yang datang adalah Bak Bu-wi."
In San masih belum melihat jelas, dia berjongkok dan tanyanya lirih.
"Temannya siapa?"
"Entah siapa, tapi kelihatannya bukan Poyang Gun-ngo."
Lekas sekali kedua orang ini sudah lewat mengitari gunungan di depan sana.
"Kau masuk lebih dulu,"
Kata Ciok-sing.
"biar aku gebah mereka,"
Seperti diketahui dia pernah gebrak melawan Bak Bu-wi, dia yakin dirinya cukup mampu mengatasinya.
Meski dia tidak tahu siapa teman Bak Bu-wi, tapi kalau bukan Poyang Gun-ngo, dia yakin dirinya masih mampu mengalahkannya pula.
Yang dia kuatirkan justru Kanglam Sianghiap berdua bila mereka tidak menginsafi bahwa dirinya telah diincar musuh, maka dia suruh In San masuk lebih dulu supaya urusan tidak jadi kapiran.
Baru saja In San berlalu, Bak Bu-wi dan temannya itupun telah dekat, Bak Bu-wi pun bicara bisik-bisik dengan temannya itu, tapi dengan mendekam di tanah Tan Ciok-sing masih bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
Didengarnya laki-laki yang tidak dikenal itu berkata lirih.
"Lobak, kau tidak salah lihat bukan? Jangan sampai terjadi huru hara disini."
"Walau aku belum pernah melihat bocah bernama Kwik Ingyang dan genduk bernama Ciong Bin-siu itu, tapi kuda tunggangan mereka adalah kuda jempolan yang terkenal, umpama anak buahku salah melihat orang, yakin tidak akan salah mengenali kudanya."
Orang itu tertawa enteng, katanya.
"Ya, betul. Tujuan kita memang kedua ekor kuda itu, umpama penunggangnya bukan Kanglam Sianghiap, setimpal juga kali ini turun tangan."
"Satu hal perlu kuperingatkan kepada kau,"
Ujar Bak Bu-wi.
"jangan kita membuat keributan di Say-cu-lim sehingga membuat kaget tamu yang lain. Kanglam Sianghiap jelas harus kita hadapi, tapi jangan sampai terjadi banjir darah disini."
"Kau kuatir pemilik hotel disini kerembet perkara sehingga dagangannya jatuh pamor?"
Kata orang itu.
"jangan kuatir, keuntungan tetap akan kuprioritaskan untuk Lo In."
"Bukan demi dagangan In Kip melulu, kita masih akan pinjam tempatnya ini untuk mengail ikan yang lebih besar. Setengah bulan lagi, di waktu Ong Goan-tin mengadakan pesta ulang tahunnya, yakin tidak sedikit orang persilatan yang terkenal berdatangan memberi selamat kepadanya, yang menginap disini tentu tak terhitung jumlahnya. Bila malam ini terjadi keributan, orang luar sampai tahu, biar tersiar luas di luaran, orang-orang itu takkan mau menginap disini pula, hubungan kita dengan Lo In tentu diketahui mereka pula."
"Em, ya,"
Orang itu tertawa.
"Say-cu-lim ini dijadikan gelanggang untuk memancing ikan besar, memang itulah akal muslihat yang telah direncanakan oleh Liong-tayjin."
"Betul. Jangan kau kira kedudukan Liong-tayjin sekarang kelihatan goyah, padahal dia cukup pandai melihat gelagat dan menyelami jalan pikiran Sri Baginda, yakin akan datang saatnya tenaganya akan diperlukan lagi."
Orang itu berkata.
"Mana aku berani memandang rendah Liong Taijin, ketahuilah, Hu-congkoan juga berpesan demikian kepadaku."
Bak Bu-wi tertawa, katanya.
"Apa betul? Agaknya kita memang sependapat."
"Lalu bagaimana pendapatmu?"
"Lebih baik sekali tembak kena sasaran, sebelum mereka sempat bersuara kita sudah membekuk mereka. Tapi Kungfu Kanglam Sianghiap memang tidak lemah, aku sedang mempertimbangkan apakah perlu aku menggunakan Ke-bingngo-ko-hoa-hun-siang?"
Orang itu agak kurang senang, katanya.
"Dupa wangi biasa digunakan oleh kaum bajingan pemetik bunga, perbuatan rendah yang memalukan kaum persilatan, apa tidak menjatuhkan pamor kita. Meski Kwik Ing-yang dan Ciong Binsiu dijuluki Kanglam Sianghiap, aku sih tidak gentar menghadapi mereka."
Di tempat sembunyinya Ciok-sing berpikir.
"Besar mulut orang ini, agaknya kedudukannya lebih tinggi dari Bak Bu-wi."
Dari percakapan kedua orang ini, sedikit banyak Tan Cioksing sudah meraba lika-liku persoalannya, pikirnya pula.
"Kiranya seorang diutus Liong Bun-kong dan yang lain diutus Hu Kian-seng untuk menjebak dan mencelakai orang gagah yang berdatangan bakal memberi selamat pesta ulang tahun Ong Goan-tin. Syukur malam ini kebentur di tanganku, betapapun aku tidak berpeluk tangan sehingga rencana jahat mereka tercapai. Tapi cara apa yang tepat untuk menghadapi kedua bangsat ini?"
Maklum dia sendiri juga tidak ingin membuat keributan disini sehingga perkaranya menjadi besar dan tersiar di luaran.
Tengah dia menimang-nimang, Bak Bu-wi dan temannya itu sudah dekat, tak jauh dari tempat sembunyinya.
Mendadak Tan Ciok-sing memperoleh akal.
"Kenapa aku tidak pura-pura menjadi ronda lalu menghajar mereka supaya kapok,"
Menurut gambarannya mereka akan ditutuk Hiat-tonya dan dicemplungkan ke empang teratai. Maka cepat dia melompat keluar seraya membentak.
"Pencuri bernyali besar,"
Ciok-sing sengaja mengecilkan suaranya, apalagi dia sudah merias diri menjadi bentuk wajah yang lain, di malam gelap lagi Bak Buwi mana bisa mengenalinya.
Bak Bu-wi kaget, memang dia sangka peronda, lekas dia berseru lirih.
"Husss, jangan teriak aku adalah Bak..."
Betapa cepat gerakan Tan Ciok-sing belum Bak Bu-wi bicara habis, tahu-tahu dirinya sudah terbekuk orang.
Jelek-jelek Bak Bu-wi adalah seorang Pangcu, ilmu silatnya juga tidak lemah, dalam kagetnya lekas dia gunakan Toh-baucoat-kak, pundak ditekan ke bawah berbareng kedua lengan disendai, pikirnya hendak mengkelit jatuh Tan Ciok-sing, sayang dia kalah cepat dan kurang cekatan reaksinya, serangan Tan Ciok-sing secepat kilat juga, mengikuti gerakan lawan kedua jari-jari tangannya meremas kencang urat nadinya, seketika Bak Bu-wi lunglai dan jatuh semaput.
Sergapan Tan Ciok-sing berlangsung teramat cepat dan sekejap saja, tahu-tahu Bak Bu-wi telah berhasil dibekuknya.
Tetapi temannya itu ternyata memiliki gerakan yang tangkas juga di kala Tan Ciok-sing membalik hendak menubruknya, tahu-tahu terasa angin kencang menerjang dirinya, ternyata orang telah ayun telapak tangannya membelah ke dadanya.
Serangan telapak tangan ini laksana kilat menyambar, sasarannyapun mematikan, dalam saat-saat sekritis itu, hakikatnya Tan Ciok-sing harus berusaha menyelamatkan diri sebelum dia sempat menyambar tubuh Bak Bu-wi untuk menangkis serangan musuh.
Syukur Tan Ciok-sing kini sudah merupakan ahli silat, begitu angin pukulan lawan menerpa tiba, dia lantas tahu lawan ini betul seorang lawan tangguh, terpaksa dia lempar tubuh Bak Bu-wi mendadak gunakan gerakan Hong-tiam-thau, sembari berkelit dia menyelinap ke samping menyongsong pukulan lawan secara kekerasan pula.
"Pyaaaarr", ledakan bagai geledek terjadi akibat dari benturan telapak tangan kedua pihak. Ciok-sing merasa seperti diterjang kekuatan dahsyat bagai gugur gunung yang tak kuasa dibendungnya, tanpa kuasa dia tergentak mundur beberapa langkah. Orang itu bersuara heran, agaknya dia kaget akan kepandaian Tan Ciok-sing, bentaknya.
"Siapa kau?"
Mulut bicara, kaki tangan bergerak maju, jari tangan tergenggam, kini dia robah serangan dengan Tay-lik-ing-jiau-kang, mencengkram tulang pundak Ciok-sing.
Sudah tentu Tan Ciok-sing tidak mau memberi kesempatan pada lawan untuk merebut inisiatif.
Dengan telapak tangan kiri dan jari tangan kanan, secara gesit dia balas menyerang.
Terdengar pula benturan keras "Blang"
Kali ini Ciok-sing tergetar lebih keras dan tergentak mundur delapan langkah, dengan ujung kaki menutul tanah beruntun dia berputar dua kali baru kuasa menegakan badan pula.
Kali ini orang itu menjerit melengking, meski suaranya tidak keras, namun kedengarannya aneh.
Ternyata dalam adu kekuatan kali ini meski Tan Ciok-sing menderita rugi lebih besar, tapi orang itupun mengalami cidera yang lumayan, kalau dinilai secara adil, kedua pihak sama-sama terluka.
Serangan telapak tangan diselingi tutukan jari Tan Ciok-sing meski tidak kuasa melawan gempuran musuh, tapi dengan jari sebagai ganti pedang, Ciok-sing melancarkan jurus Hian-niauhoat-sa dari jurus ilmu pedang yang liehay.
Dalam kegelapan hakikatnya orang itu tidak melihat jelas dan tidak menduga bahwa Tan Ciok-sing mampu melancarkan serangan liehay menakjubkan ini sehingga pergelangan tangannya kena ketutul ujung jari tangan.
Bukan saja pergelangan kesemutan, seluruh lengan terasa sakit dan lunglai tak dapat digerakan lagi.
Karuan kejutnya bukan main, pikirnya.
"Untung bukan Lau-hong-hiat di tengah telapak tanganku yang tertutuk kalau tidak Kungfu yang kulatih puluhan tahun ini bakal buyar dan sia-sia belaka."
Sudah tentu orang itu kini sudah tahu bahwa Tan Ciok-sing bukan peronda, tapi justru dia tidak tahu asal-usulnya maka rasa kejutnya lebih besar.
Hakikatnya dia tidak berani membuat keributan disini, Bak Bu-wi ditawan musuh lagi, mana berani dia tinggal lebih lama pula disini, mumpung lawan tergentak mundur, lekas dia samber Bak Bu-wi yang celentang tak jauh disana terus dibawa lari sipat kuping.
Setelah berputar dua kali baru Tan Ciok-sing mampu berdiri tegak.
Sementara itu bayangan orang itu sudah menghilang di semak-semak sana sambil memanggul tubuh Bak Bu-wi.
Diam-diam Ciok-sing kaget, pikirnya.
"Orang itu memanggul Bak Bu-wi, pada hal pergelangan tangannya terkena tutukanku, tapi masih kuat berlari secepat itu, agaknya Lwekangnya masih lebih tinggi dari aku."
Sementara itu ln San belum masuk ke villa itu, walau dia yakin Tan Ciok-sing tidak akan kalah menghadapi kedua musuhnya tapi dia merasa prihatin juga akan keselamatannya, sebelum melihat jelas hasil tindakan Ciok-sing rasanya kurang lega masuk ke rumah.
Maka setiba di depan pintu dia malah berhenti dan menonton dari kejauhan sambil bertolak pinggang, di samping menjaga segala kemungkinan dan membantu Ciok-sing bila perlu, diapun menghadang Kanglam Sianghiap bila mereka menerjang keluar serta membuat keributan yang tidak diinginkan.
Setelah melihat orang itu lari memanggul Bak Bu-wi, Tan Ciok-sing masih belum menghampiri dirinya, karuan kagetnya bukan main.
Lekas dia berlari balik dan tanya perlahan.
"Toako, kenapa kau?"
Tan Ciok-sing kerahkan hawa murni dan berputar tiga kali ke sekujur badannya, rasa sesak dadanya seketika lenyap, sahutnya.
"Syukur tidak sampai terluka dalam."
Lega hati In San tapi dari nada Ciok-sing dia merasa Toakonya menderita rugi maka kagetnya lebih besar lagi, tanyanya.
"Apakah orang itu begitu liehay?"
Tan Ciok-sing tertawa getir, katanya.
"Semula kukira dia hanya membual saja, tak kira dia memang memiliki Kungfu yang liehay. Terus terang, dia adalah musuh tangguh yang baru pertama kali ini kuhadapi, Lwekangnya masih lebih unggul dibanding Hu Kian-seng atau Bok Su-kiat, kira-kira setaraf dengan Koksu Watsu yang bergelar Milo Hoatsu itu. Tapi meski kali ini aku menderita rugi, diapun tidak memperoleh keuntungan, lukanya mungkin tidak lebih ringan."
"Seliehay itu?"
In San melelet lidah.
"Toako, apa betul keadaanmu tidak mcngkuatirkan!"
"Untung di malam gelap, kalau di siang hari aku jelas bukan tandingannya. Kau tak usah kuatir dengan ajaran Lwekang Suhu yang kuyakinkan, meski melawan dua kali pukulan dahsyatnya, aku tidak gampang dilukai Kelak bila bersua kembali, kita harus melawannya dengan Siang-kiam-hap-pik yakin aku dapat mengalahkan dia."
"Lekas kau masuk beristirahat. Apa kau bisa menggunakan ginkang? Kalau tidak bisa biar aku undang mereka keluar."
"Biar kucoba dulu, mari kau gandeng aku."-Ilmu Ginkang atau gerakan tubuh yang diajarkan Thio Tan-hong ada sebuah gerakan yang dinamakan Pi-gi-siang-hwi (pentang sayap berganda), dikembangkan dua orang yang bergandengan tangan serta melompat bersama, yang tangguh membantu yang lemah sehingga satu sama lain saling isi sehingga lompatan bisa mencapai sejauh mungkin. Tembok tidak tinggi, In San pikir umpama Ciok-sing belum mampu mengembangkan Ginkang, dirinya yakin masih mampu menggandengnya lompat ke atas. Tak nyana begitu tangan bergandengan, belum lagi In San kerahkan tenaga, tahu-tahu terasa tubuhnya menjadi enteng dan tertarik mumbul ke atas tembok. Tujuan semula dia yang hendak bantu Ciok-sing, kenyataan justru dia yang ditarik Tan Cioksing. Baru sekarang dia tahu bahwa Lwekang Tan Ciok-sing memang amat tangguh dan tidak kurang suatu apapun. Di kala mereka bergandengan melompat tinggi dan menutul di atas tembok serta bergandengan turun kedalam, di saat ujung kaki menyentuh tanah, tiba-tiba terasa angin kencang menerjang tiba, dua batang pedang tahu-tahu sudah menusuk tiba. Ciok-sing mahir mendengar suara membedakan senjata, dia tahu ujung pedang mengincar Ci-tong-hiat di bawah ketiak. Ci-tong-hiat adalah Hiat-to pelemas, agaknya pembokong hanya bertujuan menawan dirinya hidup-hidup, jadi tidak bertujuan membunuhnya. Sudah tentu Ciok-sing tahu siapa penyerang ini dan tahu bahwa orang salah sangka dikira dirinya adalah musuh, namun cara turun tangannya pakai perhitungan. Maka diapun hanya kerahkan sedikit tenaga menjentik dengan jari tengah, pedang lawan dijentiknya pergi dengan Tan-ci-sin-thong. Sementara setangkas kupu tahu-tahu In San bergerak dengan gerakan Joan-hoa-yau-jiu-sin-hoat, sekali bergerak tubuhnya sudah menyingkir kesana. Mereka sama-sama memperlihatkan gerakan yang sudah dikenal baik oleh penyerangnya, maka dua orang seketika bersuara heran.
"Ciong-cici,"
Lekas In San berseru perlahan.
"jangan membuat gaduh, aku bersama Tan-toako."
Kedua penyerang itu memang Kanglam Sianghiap, ternyata mereka juga mendengar pertarungan diluar, maka diam-diam mereka sudah siap menyambut musuh di pekarangan.
Kejut dan senang hati Ciong Bin-siu, katanya.
"In-moaycu, kiranya kau, kenapa kau berubah jadi pemuda seganteng ini? Kalau tidak salah masih ada dua orang, siapa mereka dan kemana?"
"Kedua orang itu hendak berbuat jahat kepada kalian sudah digebah pergi oleh Tan-toako,"
Sahut In San. Kwik Ing-yang kaget, katanya.
"Apa yang terjadi?"
"Panjang ceritanya, mari bicara didalam,"
Ajak Tan Cioksing. Setiba di rumah Kwik Ing-yang menyulut lampu, melihat noda darah yang mengotori pakaian Ciok-sing, Kwik Ing-yang kaget, tanyanya.
"Tan-toako, kau terluka?"
"Terluka sedikit, tidak apa-apa,"
Sahut Tan Ciok-sing. Karena pedangnya dijentik dengan Tan-ci-sin-thong, Kwik Ing-yang maklum apa yang dikatakan Tan Ciok-sing memang bukan pura-pura. Katanya tertawa.
"Ya, dengan bekal Kungfumu sekarang, berapa orang dalam Kangouw sekarang yang mampu melukai kau. Tapi orang itu mampu meloloskan diri dari tanganmu, liehay juga dia, siapa dia?"
Maka Tan Ciok-sing tuturkan kejadian diluar barusan secara singkat.
"Jadi kalian bentrok dengan Bak Bu-wi, Hoay-yang-pang Pangcu."
Ciong Bin-siu menimbrung.
"Pada hal tujuan mereka adalah kami. Tan-toako, syukur kau membantu secara diam-diam, kalau tidak mungkin kami tidak akan lolos dari tipu daya mereka berdua."
"Bak Bu-wi tidak perlu dibuat takut,"
Ucap Tan Ciok-sing.
"tapi temannya itu baru terhitung lawan tangguh."
Kwik Ing-yang berkuatir. katanya.
"Setelah terjadi peristiwa ini, asal-usul kita tak bisa disembunyikan lagi. Kukira tempat ini tidak lagi cocok bagi kami,"
"Apa sekarang juga kita harus pindah dari sini'.'"
Tanya Ciong Bin-siu.
"Kita memang harus meninggalkan tempat ini. Tapi juga tidak perlu tergesa-gesa,"
Kata Ciok-sing, lalu percakapan Bak Bu-wi dengan temannya yang dia curi dengar dia ceritakan kepada Kanglam Sianghiap.
"Hm, kurcaci, tadi mereka hendak menjadikan Say-cu-lim sebagai gelanggang memancing ikan, arti kata lain hendak menjaring orang-orang gagah yang bakal menginap disini. Keji benar rencana mereka,"
Demikian kata Kwik Ing-yang gemes. In San teringat sesuatu, katanya.
"Ciong-cici, apakah kemarin kau mampir di sebuah gardu minuman membeli dua ekor goreng bebek?"
"Benar, sejak kecil aku suka makan goreng bebek, maka diluar kota aku sudah membelinya untuk kubawa pulang,"
Demikian sahut Ciong Bin-siu.
"Waktu itu Kwik-toako tidak bersama kau, benar tidak?"
In San menegas.
"Bagaimana kau bisa tahu sejelas ini?"
"Nenek yang empunya gardu minuman itu yang cerita kepadaku."
"Betul. Ing-yang pergi menguntit orang yang dicurigai, maka di simpang jalan dia berpisah dengan aku. Kira-kira setengah hari kemudian baru dia menyusulku."
"Kwik-toako,"
Tanya In San.
"siapa yang kau curigai sampai perlu kau menguntitnya?"
"Orang-orang Bu-san-pang,"
Sahut Kwik Ing-yang. In San melenggong, katanya.
"Bu-san-pang yang mahir menggunakan senjata rahasia beracun itu? Kalau tidak salah pernah kudengar Kim-to Cecu membicarakan Bu-san-pang ini, tapi tidak banyak yang kuketahui."
"Semula Bu-san-pang hanya sebuah kumpulan kecil di Sujwan, namun namanya cukup terkenal. Memang mereka pandai menggunakan senjata rahasia beracun dan sudah terkenal di Kangouw. Dipimpin seorang Tho-su perempuan, biasa dipanggil Bu-sam Niocu. Sepak terjangnya kanan kiri tidak menentu, tidak jahat juga tidak lurus, tapi belakangan ini aktif mereka lebih menjurus ke arah yang sesat. Maka tahun yang lalu, waktu Bu-sam Niocu menemui Kim-to Cecu dan mohon diterima untuk menggabung ke barisan laskar rakyat telah ditolak oleh Kim-to Cecu secara tegas."
"Gembong jahat begitu memangnya dia juga hendak memberi selamat ulang tahun kepada Ong Goan-tin?"
Kata Ciok-sing.
"Memangnya, aku juga sedang curiga,"
Ucap Kwik Ingyang.
"Di tengah jalan begitu melihat jejak orang itu, timbul keinginanku untuk mencari tahu apakah di antara mereka ada Bu-sam Niocu?"
"Apa kau kenal dia?"
Tanya In San.
"kenapa aku tidak pernah dengar."
"Aku kenal dia,"
Sahut Kwik Ing-yang.
"tapi dia tidak mengenalku."
"Lho, kenapa?"
Tanya In San.
"Kim-to Cecu pernah menggambarkan tampangnya kepada kami, tampangnya agak berlainan dengan paras perempuan umumnya, mukanya kasar tingkah lakunya lebih menyerupai laki-laki, di pelipis kirinya ada goresan bekas bacokan golok."
"Kau berhasil menguntit mereka? Apa betul dia?"
Ciok-sing mendesak.
"Setiba di persimpangan jalan, kami tidak tahu jalan mana yang mereka tempuh, terpaksa aku berpisah dengan adik Binsiu. Aku memilih jalan pertama yang menuju ke kiri, kira-kira setengah sulutan dupa aku sudah menyandak rombongan orang itu. Bu-sam Niocu memang berada dalam rombongan itu. Supaya tidak menarik kecurigaan mereka, setelah aku melampaui rombongan mereka, aku berputar agak jauh lalu kembali ke arah datangku semula. Kudaku lari kencang, di waktu lewat di sampingnya, sekilas aku meliriknya, kudapati sikapnya menaruh curiga terhadapku."
"Aku justru yang harus mencurigai dia,"
Sela Ciong Bin-siu.
"sarangnya jauh berada di Su-jwan, entah kenapa tahu-tahu muncul di Soh-ciu?"
Kwik Ing-yang lantas teringat sesuatu, katanya.
"Betul, pernah kudengar Sim dan Ciu dua Thauling bicara, katanya kalian bersama Kek Lam-wi meninggalkan kota raja. Kek Lamwi hendak menyusul calon istrinya, tiba waktunya juga akan pergi ke Thay-ouw memberi selamat ulang tahun kepada Ong Goan-tin, betul?"
Tan Ciok-sing mengiakan.
"Sekarang dia pergi ke Yang-ciu seorang diri atau..."
"Dia masih bersama kami dan menginap juga di Say-cu-lim. Tapi sekarang dia sedang keluar."
"Tak heran dia tidak muncul disini, dia kemana?"
Tanya Ciong Bin-siu.
"Mencari seorang famili Toh So-so yang tinggal di Soh-ciu, mencari tahu jejaknya,"
Ciok-sing menerangkan. Ciong Bin Siu sadar katanya tertawa.
"Makanya kalian tanya sejelasnya itu kepada nenek penjual teh itu. Jadi Kek Lamwi mengira aku ini adalah Toh Soso ?"
In San menghela nafas katanya "Iya. Sudah tentu dia tidakk kira kau bakal berada disini."
"Sungguh aku menyesal Kek toako harus kecewa karenanya. Apa besok dia sudah kembali?'' "Dia bilang, begitu mendapat kabar, berhasil tidak menemukan nona Toh, dia akan pulang memberitahu kepada kami."
Kata Ciok-sing. Kwik Ing-yang kaget, kalanya.
"Jelas dia tidak akan menemukan Toh So-so, seharusnya sekarang dia sudah pulang. Waktu kalian meninggalkan villa..."
"Setelah kentongan ketiga baru kami keluar, waktu itu Kektoako masih belum pulang,"
Ujar Tan Ciok-sing.
"Kemungkinan sekarang dia sudah pulang,"
Ucap In San.
"mari kita kembali."
Kwik Ing-yang berkata.
"Bila Kek-toako sudah pulang, tolong kalian ajak dia kemari."
"Sekarang sudah menjelang fajar,"
Kata Ciok-sing.
"biar setelah terang tanah kami akan kemari."
"Begitupun baik,"
Ujar Kwik Ing-yang.
"daripada kalian mondar mandir, celaka bila kepergok peronda, tentu menimbulkan kecurigaan,"
Dari perkataan itu Tan Ciok-sing sudah maklum bahwa Kwik Ing-yang berdua tentu sudah tahu asall usul pemilik hotel ini, namun dia sudah tidak sempat membicarakan hal ini dengan mereka.
Seperti waktu keluarnya tadi, diam-diam mereka melompati pagar tembok, setiba di villa kediaman mereka.
Langsung mereka menuju ke kamar di bawah loteng, dimana sudah diatur kamar Ciok-sing bersama Kek Lam-wi.
Baru saja mereka melangkah memasuki pintu samping, terasa kesiur angin menyampuk tiba, seperti ada sebuah senjata panjang menutuk ke Jian-kim-hiat di pundak Tan Ciok-sing.
Ciok-sing mengangkat jarinya menjepit seraya bersuara lirih.
"Kek-toako, inilah aku."
Kek Lam-wi menyerang dengan King-sin-pit-hoat, begitu menghadapi serangan orang dia lantas tahu siapa yang menyerangnya, apalagi setelah jarinya menjepit senjata lawan, terasa memang bulat licin, yaitu seruling kemala hangat milik Kek Lam-wi.
Kek Lam-wi lantas menyalakan lampu, katanya.
"Kalian pergi kemana, kenapa sekarang baru kembali? aku tidak tahu apa yang kalian alami, aku jadi curiga ada orang datang hendak menyergapku lagi."
Mendengar 'menyergap lagi' Ciok-sing jadi kaget, tanyanya.
"Apa yang kau alami? Apakah di tengah perjalanan pulang kau disergap orang?"
"Ya, memang aku dibokong, tapi bukan di Say-cu-lim. Mungkin penyerang itu tidak bermaksud membunuhku, maka aku hanya luka-luka ringan, kalian tak usah kuatir."
"Apa yang telah kau alami? Lekas kau terangkan,"
Desak Tan Ciok-sing.
"Aku justru ingin cepat tahu apa yang kalian alami disini, sehingga perlu kalian keluar bersama, kalau tidak hatiku tidak akan tentram."
"Baik, akan kuuraikan dua hal kepada kau. Pertama, kami bentrok dengan Bak Bu-wi dan seorang jago kosen yang belum diketahui namanya. Kedua, Kanglam Sianghiap juga tinggal di Say-cu-lim ini. Baru saja kami pulang dari kediamannya di villa yang lain. Karena banyak yang kami bicarakan, baru sekarang kami pulang."
Senang tapi juga kecewa hati Kek Lam-wi, katanya.
"Agaknya aku salah kira, Ciong-lihiap kusangka adik So-so. Berita apa yang mereka bawa, kalian bentrok dengan Bak Buwi, bagaimana kelanjutannya?"
"Perlahan-lahan kujelaskan. Sekarang ceritakan pengalamanmu,"
Desak Ciok-sing. Dia sudah perhatikan sikap dan mimik Kek Lam-wi agak kurang normal.
"Aku sudah menemui famili adik So-so itu, dia bilang hakikatnya tidak tahu kalau adik So-so sudah pulang ke Sohciu. Aku amat kecewa, aku lantas pulang."
"Kira-kira tiga li sebelum aku sampai di Say-cu-lim, mendadak aku diserang dengan senjata rahasia, serangan pertama berhasil kukelit, tapi serangan kedua mengenaiku dengan telak. Penyerang gelap itu memiliki Ginkang yang bagus, karena terluka tak berani aku mengudaknya, terpaksa aku berusaha mengobati dulu luka-lukaku."
Mendengar Kek Lam-wi terkena senjata rahasia, Tan Cioksing kaget, tanyanya.
"Kau terkena senjata rahasia apa? Bagaimana luka-lukamu?"
"Tidak soal, hanya kulit dagingku saja yang lecet, tapi senjata rahasia yang digunakan itu agaknya punya asal-usul yang patut diperhatikan. Nah kalian periksa."
Di bawah lampu Tan dan In memeriksa senjata rahasia itu dengan seksama, tampak bentuk senjata rahasia itu mirip seekor kupu-kupu kecil, ada sayap yang tipis tapi sisinya tajam.
Pakaian Kek Lam-wi sobek karena ketajaman senjata rahasia ini sehingga kulit dagingnya ikut tergores sedikit.
In San membolak-balik senjata rahasia itu sekian lamanya, katanya setelah menepekur "Ouw-tiap-piau seperti ini jarang terlihat.
Kek-toako, kalian Pat-sian luas pergaulan dan banyak pengetahuan umpama belum pernah lihat pasti pernah dengar.
Tahukah kau termasuk aliran mana senjata rahasia sejenis ini?"
"Apa kalian pernah dengar nama Bu-san-pang,"
Tanya Kek Lam-wi. In San kaget, kalanya.
"Bu-san-pang yang serba ahli menggunakan senjata rahasia itu? Baru tadi Kanglam Sianghiap membicarakan asal-usul Bu-san-pang itu dengan kami."
"Ouw-tiap-piau ini adalah senjata rahasia tunggal yang biasa digunakan oleh Bu-san-pang Pangcu yang bernama Busam Niocu."
Ciok-sing betul-betul kaget, tanyanya.
"Senjata rahasia tunggal Bu-sam Niocu? Kurasa tidak boleh dianggap enteng. Lekas kau telan Bik-ling-tan peninggalan guruku ini..."
Bik-ling-tan dibuat dari sari Thian-san-soat-lian (teratai salju) kasiatnya dapat memunahkan seratus jenis racun, merupakan obat pemunah racun yang tak ternilai dan paling sulit didapat.
Tapi Kek Lam-wi mandah tertawa saja, katanya kalem.
"Terima kasih akan kebaikanmu Tan-heng, luka seringan ini tak usah menggunakan Bik-ling-tan yang tak ternilai itu. Walau senjata rahasia ini milik Bu-sam Niocu, tapi Ouw-tiappiau ini tidak mengandung racun. Setelah kububuhi Kim-jongyok, rasa sakit telah hilang."
"Senjata rahasia tunggal Bu-sam Niocu ternyata tidak beracun, berita aneh,"
Kata In San heran.
"Maka itu, tadi aku katakan dia tidak bermaksud membunuhku. Kenapa pula kalian membicarakan Bu-san-pang dengan Kanglam Sianghiap?"
"Di tengah jalan mereka bersua dengan rombongan orang Bu-san-pang. Kira-kira sejam Bu-Sam Niocu tiba di Soh-ciu lebih dulu dari kita,"
Lalu In San ceritakan pembicaraannya dengan Kwik Ing-yang.
"Bu-san-pang jauh berada di Su-jwan barat, jejak mereka jarang keluar dari Sam-siap, kenapa mendadak berada di Sohciu? Di waktu Kanglam Sianghiap membicarakan hal ini dengan kami, kami sudah menduga-duga dan tidak habis mengerti, sekarang aku baru paham ternyata maksud tujuan mereka hendak menyergap Kektoako,"
Demikian ujar In San. Kek Lam-wi geleng-geleng kepala, katanya.
"Jauh-jauh mereka meluruk ke Soh-ciu ini aku yakin bukan lantaran mau menyergap aku saja."
"Tindak-tanduk mereka memang aneh, kalau tidak ingin membunuh Kek-toako kenapa pula membokong kau? Buat apa mereka mencari gara-gara terhadap Pat-sian? Bukankah mencari permusuhan?"
"Aku juga belum dapat menyelami tujuan mereka yang sebenarnya, tapi belakangan terjadi pula suatu peristiwa yang ada sangkut pautnya dengan orang-orang Bu-san-pang?"
"Peristiwa apa?"
Tan dan In tanya bersama. Sebelum berkata Kek Lam-wi memejam mata mendengarkan sesuatu dengan cermat, Tan Ciok-sing berkata.
"Diluar yakin tiada jejak manusia."
Kek Lam-wi berkata lirih.
'Diluar tiada orang mencuri dengar.
Tapi kita harus ingat, kita menginap di hotel milik In Kip, jelas punya maksud jahat, tidak boleh tidak harus hatihati.
Marilah kita bicara di atas loteng saja, siapa tahu di belakang dinding ada telinga."
Melihat sikapnya bersitegang leher, entah kejadian apa yang pernah dialaminya, mau tidak mau Tan Ciok-sing dan In San ikut merasa risau.
Setiba di kamar di atas loteng, Kek Lam-wi menutup pintu, baru melanjutkan pembicaraan.
"Waktu aku pulang kemari sudah mendekati kentongan ke empat. Aku keluarkan nomor tembaga itu, setelah penjaga memeriksa, baru pintu itu dibuka membiarkan aku masuk."
"Melihat kau selarut itu baru pulang, sudah tentu penjaga pintu merasa heran,"
Ujar In San tertawa.
"Sebaliknya, yang merasa kaget dan heran justru adalah aku, bukan dia."
"Lho mengapa?"
"Pintu kebon terbuka, begitu aku melangkah masuk, didalam sudah ada seorang menyongsong kedatanganku. Coba terka siapa dia?"
"Mana aku bisa menerkanya, lekas kau terangkan saja siapa dia?"
In San gugup.
"Kuasa hotel itu,"
Ujar Kek Lam-wi.
"Ya, memang tidak terduga, kuasa hotel memang angkuh, tapi uang memang licin, selarut itu dia masih menunggu kau pulang. Em, mungkin lantaran kau menyogoknya dengan uang emasmu itu."
Kek Lam-wi tertawa, katanya.
"Uang emas itu mungkin penyebab sehingga dia tidak memandang rendah kita, tapi aku yakin sikapnya itu bukan lantaran uang emas itu sehingga dia perlu bermuka-muka terhadap kita."
"Lalu lantaran apa?"
Tanya In San.
"Jangan terburu nafsu,"
Ujar Tan Ciok-sing tertawa.
"dengarkan saja cerita Kek-toako."
Kek Lam-wi meneruskan ceritanya.
"Dengan laku hormat kuasa hotel itu berkata terhadapku. 'Kek-ya telah pulang, mohon maaf, aku terlambat menyambut.' Aku bilang kenapa selarut ini kau masih belum tidur? Dia bilang. 'Aku memang menunggu Kek-ya pulang.'-Aku bilang terima kasih. Waktu itu aku sudah mulai curiga, maka aku ulur tangan berjabatan dengan dia sebagai tanda terima kasih."
"Berjabat tangan sekaligus kau menjajal Lwekangnya?"
Tanya Ciok-sing.
"Betul, aku mencobanya."
"Bagaimana hasilnya?"
"Susah diukur."
Ciok-sing kaget, serunya.
"Kuasa hotel itu bertampang biasa, ternyata seorang kosen?"
"Mungkin Lwekangku yang terlalu cetek dan belum lama ini mengalami luka-luka, maka kurasa Lwekangnya susah diukur. Bila kau Tan-toako yang menjajal dia, jelas berbeda. Waktu aku mencobanya, semula hanya kukerahkan tiga bagian tenaga terus bertambah sampai delapan sembilan bagian kekuatanku, namun sikapnya tetap biasa seperti tidak merasa apa-apa, wajahnya tetap bersenyum dan berkata supaya aku tidak usah sungkan, tapi dia ternyata tidak memberi reaksi."
"Meski kesehatan Kek-heng baru sembuh, tapi dia memiliki Kungfu sebaik itu, boleh terhitung sebagai jago kosen kelas satu di Kangouw. Lalu bagaimana?"
"Akhirnya dia undang aku ke kantornya untuk bicara, katanya ada urusan penting yang hendak dibicarakan,"
Demikian tutur Kek Lam-wi.
"waktu itu aku ragu-ragu, namun kupikir apa halangannya mendengar penjelasannya, maka aku ikut masuk ke kantor."
Sampai disini Kek Lam-wi merogoh keluar selembar undangan, katanya.
"Setelah duduk dia mengeluarkan kartu undangan ini, katanya majikannya mengundangku untuk menghadiri perjamuan."
Undangan itu hanya ditujukan kepada Kek Lam-wi seorang, waktu Tan Ciok-sing buka kartu undangan hanya terdapat beberapa baris tulisan yang mengharap kehadirannya dalam perjamuan yang diadakan di suatu tempat pada tanggal dan hari yang sudah ditentukan, di bawah tertanda ln Kip.
Tan Ciok-sing manggut-manggut, katanya.
"Kiranya dia sudah tahu bahwa kau adalah Kek-jithiap dari salah satu Patsian, tak heran sikapnya menjilat kepadamu."
"Untung mereka belum tahu asal-usulku dan Tan-toako,"
Demikian In San.
"bila In Kip sudah tahu, tak mungkin hanya Kek Lam-wi seorang saja yang diundang."
Kek Lam-wi meneruskan.
"Tahu tak mungkin mengelabui orang, tapi aku yakin In Kip pasti tidak berani mencari setori dengan Pat-sian, maka aku coba mengorek keterangannya.
"Apa aku saja yang diundang?"
"Kuasa hotel berkata. 'Maaf, majikan ada pesan, undangan ini khusus hanya untuk Kek-jitya saja. Beliaupun mengharap supaya soal undangan ini Jitya tidak memberitahu kepada orang lain, termasuk kedua temanmu itu."
In San tertawa, katanya.
"Persoalan sudah jelas. Aku jadi tidak mengerti kenapa mereka bertindak secara sembunyisembunyi?"
Tan Ciok-sing juga mendapat firasat, undangan In Kip kali ini bukan mustahil merupakan muslihat jahat.
"Memangnya aku juga merasa keki akan sikap mereka yang sembunyi-sembunyi, tapi aku hendak menolak undangan ini, kuasa hotel itu sudah mengeluarkan dua benda, katanya. 'Inilah pemberian majikanku untuk Kek-jithiap!' -Melihat benda itu seketika aku telan kembali ucapan yang mau kulontarkan."
"Dua benda apakah itu?"
Tanya In San.
"Inilah yang pertama, kau periksa dengan seksama,"
Ujar Kek Lam-wi. Kontan In San bersuara heran, katanya.
"Bukankah ini Ouw-tiap-piau, senjata rahasia tunggal milik Bu-sam Niocu itu, untuk apa kau mengeluarkan pula?"
Kek Lam-wi tertawa, katanya.
"Inilah Ouw-tiap-piau yang telah dilumuri racun jahat, kena darah mencekik leher, kau harus hati-hati, jangan sampai tanganmu tergores luka keluar darah. Yang satu ini adalah Ouw-tiap-piau yang tadi kalian periksa, tidak beracun.' In San letakan kedua Ouw-tiap-piau itu di atas meja, jajar dan teliti, kalau tidak diperhatikan orang sulit melihat perbedaannya, piau kupu-kupu yang beracun, sayapnya sedikit berwarna ungu. In San heran, tanyanya.
"In Kip memberikan piau beracun milik Bu-sam Niocu kepada kau, apa maksudnya?"
"Kau boleh lihat dulu benda yang kedua ini,"
Ujar Kek Lamwi, yang dikeluarkan kali ini adalah sebentuk tusuk kondai terbuat dari batu kemala.
"Batu kemala terbaik, buatannyapun halus dan rajin. Hm, piau beracun ditambah tusuk kondai, kado yang diberikan In Kip kepada kau tidak murah nilainya. Tapi sifat kedua kado ini justeru berlainan. Kau bisa menerka arah maksudnya?"
"Sudah kupahami,"
Ujar Kek Lam-wi.
"Apa tujuannya?"
Kalem suara Kek Lam-wi.
"Inilah tusuk kondai yang biasa dipakai di atas sanggul So-so."
In San keplok tangan, serunya.
"Tak heran, aku seperti pernah melihat tusuk kondai ini."
Tutur Kek Lam-wi lebih jauh.
"Setelah menyerahkan kedua kado ini kepadaku, kuasa hotel berkata pula. 'Majikanku bermaksud meminjam kembang dipersembahkan kepada sang Budha. Jikalau Kek-jithiap ingin bertemu dengan pemilik kedua benda ini, maka Kek-jithiap harus hadir tepat pada waktu perjamuan yang ditentukan."
In San manggut dan paham, katanya.
"Sekarang aku tahu tujuan mereka. Melalui kedua kado ini In Kip memperingatkan dirimu, bahwa Toh-cici kini jatuh ke tangan orang-orang Busan-pang. Kalau kau ingin menolong Toh-cici, maka kau harus tunduk akan keinginan mereka."
Kek Lam-wi tertawa getir, katanya.
"Betul, agaknya In Kip ada intrik dengan Bu-san-pang, So-so digunakan untuk mengancam diriku. Hanya aku tidak tahu apa yang mereka inginkan atas diriku?"
"Mereka hanya mengundang kau saja, dilarang memberitahu kepada kami, dari sini dapat kita simpulkan, bila terjadi kekerasan kuatir tidak menguntungkan mereka. Hm, cara yang keji mereka gunakan karena mereka sudah menduga bahwa kau pasti berusaha menolong nona Toh, dalam keadaan seperti sekarang kau hanya bisa tunduk akan perintah mereka."
Ln San bertanya.
"Apakah In Kip mengundang kau di rumahnya?"
Dia pikir bila tahu alamat In Kip, bersama Tan Ciok-sing dia siap meluruk kesana memberi bantuan bilamana perlu.
"Entahlah,"
Sahut Kek Lam-wi.
"kuasa hotel bilang, bila tiba waktunya dia akan utus seorang menjemput dan mengantar aku. Dia suruh aku berusaha cari alasan meninggalkan kalian,"
Agaknya dia juga sudah meraba jalan pikiran In San, lalu menambahkan.
"Kalau benar So-so terjatuh ke tangan mereka, tiada gunanya kalian ikut kesana."
Ciok-sing dan In San tanya bersama.
"Jadi bagaimana keputusanmu, pergi atau tidak?"
Kek Lam-wi masih bimbang, katanya.
"Bagaimana menurut pendapat kalian?"
"Kemungkinan setelah mencelakai Toh-cici, jiwamupun bakal direnggut mereka,"
Kata ln San.
"Sebetulnya bila mereka mau merenggut jiwaku tak usah susah payah mengatur tipu daya segala. Pertama, waktu Busam Niocu menyergapku, dia bisa menggunakan piau beracun, sejak itu jiwaku pasti sudah melayang. Kedua, dengan taraf kepandaian kuasa hotel, bila tadi mendadak dia turun tangan keji. pasti aku sudah mampus atau terluka parah di tangannya."
Berpikir sejenak akhirnya Tan Ciok-sing berkata.
"Uraianmu memang betul. Agaknya tujuan utama mereka bukan menginginkan jiwamu, kemungkinan di belakang persoalan ini ada suatu rencana keji, kau disudutkan dan terpaksa harus tunduk serta berjanji membantu mereka."
"Tapi bila benar So-so di tangan mereka, bagaimana juga aku tak bisa berpeluk tangan."
"Sudah tentu,"
Ucap Tan Ciok-sing dan In San bersama. Maka tetap keputusan Kek Lam-wi, katanya.
"Betapapun berbahaya, aku sudah pasti akan menyerempetnya."
Dalam hati kecil Tan Ciok-sing merasakan cara ini kurang tepat, namun dalam keadaan mendesak begini, tiada cara lain yang dapat mereka simpulkan untuk menolong Toh So-so.
Demi keselamatan Toh So-so, maka Tan Ciok-sing tidak mungkin merintangi kehendak Kek Lam-wi.
Tanpa merasa mereka bicara semalam suntuk fajarpun telah menyingsing.
Memandang keluar jendela, Kek Lam-wi jadi teringat, katanya.
"Kanglam Sianghiap masih menguatirkan dirimu, kini sudah terang tanah, sepantasnya aku kesana menemui mereka. Tapi dalam situasi seperti sekarang ini, kurasa tidak leluasa. Tan-toako, tolong kau saja yang menyampaikan berita ini kepada mereka."
"Baiklah,"
Sahut Tan Ciok-sing. Baru saja dia beranjak hendak turun ke bawah loteng, tiba-tiba didengarnya ada orang membuka pintu di bawah. Lekas Kek Lam-wi berkata.
"Jangan gegabah, kalau tujuannya hendak menyergap orang, tidak mungkin dia berani masuk dari pintu depan."
"Baiklah, biar kuturun melihatnya, bila ada urusan akan kupanggil kau,"
Ucap Ciok-sing lalu beranjak keluar. Setiba di bawah loteng, ternyata seorang kacung muda berusia tujuh belasan membawa sapu.
"Aku yang menyapu dan membersihkan villa ini,"
Ucap kacung muda itu.
"maaf, gerak-gerikku teramat kasar sehingga tuan terjaga bangun sepagi ini."
Lega hati Tan Ciok-sing, pikirnya.
"Tak heran dia mempunyai kunci duplikat,"
Katanya.
"O, tidak apa-apa, sejak tadi aku sudah bangun."
Ciok-sing duga Kek Lam-wi sudah dengar perkataan si kacung, maka dia merasa tidak perlu naik ke atas memberitahu. Maka dia ajak kacung ini ngobrol.
"Kau, amat rajin bekerja, sepagi ini kau sudah mulai bekerja."
Kacung muda itu mengikuti Ciok-sing masuk ke kamar, tiba-tiba dia merendahkan suara berbisik.
"Tuan, adakah kau ini Tan Ciok-sing Tan-siauhiap?"
Tan Ciok-sing terperanjat, lekas dia menoleh dan tanya.
"Siapa kau?"
"Aku utusan Seng Toa-coan. Cong-piauthau dari Ceng-lam Piaukiok untuk menyerahkan surat kepada kau. Beliau kurang leluasa kemari mencari kalian,"
Sahut si kacung. Seng Toa-coan adakah kenalan baik Kek Lam-wi sejak leluhur mereka, hal ini Tan Ciok-sing sudah tahu. Curiga dan tidak tentram hati Tan Ciok-sing, katanya.
"O, jadi kau ini bukan kacung yang biasa membersihkan tempat ini?"
"Tidak,"
Sahut si kacung.
"aku memang kacung yang diupah oleh hotel disini. Tapi akupun adalah murid Seng-congpiauthau, hal ini tiada seorangpun dalam hotel ini yang tahu."
Tan Ciok-sing maklum ternyata kacung ini sengaja ditanam di Say-cu-lim sebagai mata-mata dan bekerja sebagai kacung, spion yang memberi informasi kepada Seng Toa-coan, Cioksing tanya.
"Ada kabar apa?"
"Seng-cong-piauthau suruh aku menyampaikan, diharap kalian tengah hari nanti pergi ke Ham-san-si diluar kota."
"Tengah hari?"
Diam-diam Tan Ciok-sing menerawang, bertepatan dengan Kek Lam-wi yang harus menghadiri perjamuan undangan In Kip."
Kacung itu berkata lebih lanjut.
"Seng-cong-piauthau bilang, bila kalian bertiga tidak bisa pergi, seorang saja juga tidak jadi soal, tapi diharap Tan Tayhiap sendiri yang harus kesana."
"Apa kau tahu siapa pula yang diundang untuk ke Hamsan-si?"
Tanya Ciok-sing.
"Bukan Seng-cong-piauthau yang mengundangmu ke Hamsan-si, siapa dia aku tidak tahu. Tapi Seng-cong-piauthau bilang orang itu menunjuk dirimu dan hendak berhadapan langsung dengan kau. Bila kau sudah berhadapan dengan dia, kau akan tahu siapa dia."
"Baiklah, aku akan datang tepat pada waktunya. Masih ada berita lain?"
"Ada. Tapi bukan berita yang dikirim Seng-cong piauthau untuk disampaikan kepada kau, tapi berita yang berhasil kucuri dengar."
"Bagus, coba kau terangkan."
"Kuasa hotel sudah tahu asal-usul kalian."
Hal ini sudah dalam rekaan Tan Ciok-sing, namun tak urung dia bertanya.
"Darimana kau tahu bila kuasa hotel sudah tahu?"
"Semalam kira-kira kentongan ketiga, kudengar kuasa hotel berbicara dengan seorang di kantornya."
"Siapa yang dia ajak bicara?"
"Berapa kali mereka menyebut nama Hu Kian-seng, orang itu kalau tidak salah adalah orang utusan Hu Kian-seng. Aku sudah tahu shenya, tapi tidak tahu namanya. Shenya itu kedengarannya juga aneh."
"Dia she apa?"
"Dalam daftar seratus she tidak tercantum. Kudengar kuasa hotel memanggil dia Tang-bun Siangsing."
Sampai disini pembicaraan mereka ln San juga turun dari loteng, kebetulan melangkah masuk kamar, katanya.
"Percakapan kalian kudengar semua, boleh dilanjutkan."
"She rangkap seperti Tang-bun jarang ada di Tionggoan. Kemungkinan dia dari suku minoritet."
In San paham seluk beluk persilatan, segera dia menimbrung.
"Di jaman dynasti Song, ada seorang maha guru silat kenamaan bernama Tang-bun Bong, beliau tinggal di sebuah pulau kecil yang terpencil di lautan timur. Di kalangan Bulim orang sama menjulukinya Tang-hay-liong, entah orang ini adalah keturunannya?"
"Tak usah kita mereka bagaimana asal-usulnya. Cepat atau lambat kita toh bakal berhadapan. Teruskan saja kisahmu."
Kacung itu meneruskan.
"Kuasa hotel berlaku hormat dan menyanjungnya, katanya. 'Tang-bun-siansing, kau memperoleh dukungan dari Hu-congkoan, Sri Baginda juga menghargai kau, kelak paling sedikit kau pasti bisa menjabat wakil Komandan Gi-lim-kun, bila tiba waktunya, harap kau tidak lupa bantu siaute mencapai kedudukan yang lumayan.'"
"Orang itu tertawa, katanya. 'Disini kau sudah jadi kuasa hotel, kedudukan dan hasilmu tidak kalah dari jabatan kecil di istana. Memangnya kau masih belum puas? Bicara terus terang, tujuan hidupku bukan ingin menjabat pangkat, yang kuharap hanyalah dapat mendirikan suatu aliran tersendiri, dengan tubuh luarku ini setia terhadap kerajaan. Bila kau ingin mengejar pangkat dan harta, kukira bukan persoalan sukar bagi aku, asal kali ini kau mau membantu kami sekuat tenaga jasamu tidak kecil itu sudah merupakan pelicin jalan bagi kesuksesanmu kelak.'-Sampai disini pembicaraan mereka makin lirih seperti bisik-bisik. Dari tempat sembunyiku diluar tidak mendengar apa-apa pula. Sesaat kemudian baru kedengaran mereka tertawa besar. Kudengar kuasa hotel mengucapkan perkataan yang kurasa aneh."
"Omongan aneh apa?"
Ciok-sing menegas.
"Tamu she Tang-bun itu setelah tertawa riang berkata. 'Setelah urusan selesai, Baginda sendiri juga akan merasakan kebaikanmu.'"
In San kaget, selanya.
"Begitu penting. Dari pembicaraan ini dapat kita duga bahwa rencara keji yang mereka atur tentu tidak kecil artinya."
Diam-diam Tan Ciok-sing seperti sudah menduga akan suatu hal, tapi dipikir-pikir akhirnya dia urung bicara, katanya kemudian "Masih ada berita lagi?"
"Tiada lagi,"
Ujar si kacung.
"kalian tingggal disini, setiap langkah harus hati-hati."
Setelah kacung pergi, Tan dan ln naik ke loteng pula dan berunding dengan Kek Lam-wi.
Kek Lam-wi berkata "Pembicaraan kalian di bawah aku sudah dengar jelas.
Kalian boleh menepati undangan ke Ham-san si itu.
Bila aku bisa kembali tanpa kurang suatu apa.
akan kususul kalian ke Ham-san-si.
Umpama mengalami sesuatu boleh kalian mencari perhitungan dengan kuasa hotel disini."
Meski menguatirkan keselamatan Kek Lam-wi dalam menghadiri undangan In Kip, tapi urusan tidak boleh ditunda dan tidak mungkin dicegah, terpaksa mereka bekerja sesuai rencana.
Waktu Ciok-sing dan In San tiba di villa Kanglam Sianghiap, mereka siap sarapan pagi yang disediakan pihak hotel, Ciok-sing tuturkan bahwa Kek Lam-wi sudah pulang dan terangkan pula berita yang dicuri dengar oleh kacung muda itu kepada mereka.
Tiba-tiba tergerak hati In San, segera dia keluarkan tusuk kondai perak.
Tusuk kondai ini biasanya dia tusukan di atas sanggul rambutnya kiri, karena menyamar laki-laki maka tusuk kondai dia simpan didalam baju.
Tusuk kondai ini satu persatu dia masukan kedalam masakan, ternyata warnanya tidak berubah, maka dia berkata tertawa.
'Kuasa hotel ternyata tunduk akan perintah orang itu, makanan ini tidak diberi racun."
Habis mendengar cerita Ciok-sing, Kwik Ing-yang berkata.
"Entah siapa yang mengundang kalian untuk bertemu di Hamsan-si. Bahwa yang diundang adalah kalian bertiga saja, aku dan Bin-siu lebih baik tidak usah ikut kesana."
"Lalu kalian mau kemana?"
Tanya In San.
"Dengan Bin-siu kami sudah berencana akan ke Thay-ouw dan naik ke Tong-thing-san barat. Pengalaman kalian disini akan kulaporkan kepada Ong Goan-tin. Umpama Kek-jithiap mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, semoga Ong Goantin bisa mencari akal membantunya."
"Ya, begitupun baik. Sekarang juga kami akan berangkat dulu,"
Ujar Ciok-sing. Kwik Ing-yang teringat satu hal, katanya.
"Seharusnya kita sudah meninggalkan hotel ini, tapi bila kita sudah meninggalkan tempat ini, suatu tugas yang amat penting jadi sukar diselesaikan."
"Tugas apa?"
Tanya In San.
"Say-cu-lim memang tempat berbahaya, tapi boleh juga dianggap sebagai arena pertempuran, cuma bukan pertempuran adu senjata atau pukulan."
Ciok-sing sadar, katanya.
"Betul, keluar dari tempat berbahaya ini, memang dapat menghindari serangan musuh, namun untuk menyelidik gerak gerik musuh jadi lebih sukar."
"Cekak aos saja. Mana yang baik, kita tetap tinggal disini, atau segera meninggalkan tempat ini."
"Tiada jarum yang runcing dua ujungnya,"
Ujar Tan Cioksing.
"menurut situasi yang kita hadapi sekarang, lebih baik untuk sementara kita meninggalkan tempat ini."
"Maksudmu suatu ketika kita akan kembali?"
In San menegas.
"Urusan kelak, bicarakan kelak. Sekarang kau harus segera berangkat bersamamu."
"Betul, sebelum tengah hari kalian harus tiba di Ham-san-si memenuhi undangan itu, dari pada terlambat lebih baik datang lebih dini. Biar kugambarkan letak Ham-san-si sekedarnya, supaya kalian tidak perlu mencarinya ubekubekan."
OooOOOooo Sebelum Tan Ciok-sing dan In San keluar pintu besar dari kebon raya ini tiba-tiba tampak kuasa hotel menyongsong mereka sambil tertawa seri.
"Tuan berdua kenapa sepagi ini sudah keluar?"
Tanya kuasa hotel. Tergerak hati Ciok-sing, katanya.
"Benar. Tadi aku mencarimu ke kantor tidak ketemu, kebetulan bersua disini."
Diam-diam kuasa hotel terkejut, pikirnya.
"Apakah Kek Lam-wi menuturkan kejadian semalam kepada mereka?"
Tapi dengan sikap tenang dan wajar dia bertanya.
"Ada urusan apa?"
"Kami akan keluar menyambangi seorang teman, malam nanti akan kembali pula. Kemarin kami hanya membayar sewa kamar dua hari, kupikir akan kutambah dua hari lagi,"
Sembari bicara dia merogoh keluar sebutir kacang emas langsung diserahkan kepada kuasa hotel, katanya pula.
"Sebutir kacang emas ini untuk melunasi sewa kamar, coba diperiksa, apakah bobotnya sudah cukup?"
Lega hati kuasa hotel, batinnya.
"Kiranya mencariku mau membayar sewa kamar, bikin hatiku dag dig dug saja,"
Segera dia goyang tangan, katanya.
"Uang sewa pemberian Kek-ya kemarin masih banyak kelebihannya."
"Anggaplah sebagai pembayaran sewa kamar kemarin. Berapa yang dia berikan adalah urusannya, kami tidak ingin nginap dan kamar gratis disini."
"Betul. Biar dia membayar ongkosnya sendiri, kamipun membayar pengeluaran kami. Ciangkui, kalau kau tidak mau terima artinya kau memandang rendah kami berdua,"
In San menimbrung. Diam-diam senang hati kuasa hotel, pikirnya.
"Kedengarannya mereka agak sirik terhadap Kek Lam-wi, biar kucoba korek keterangan mereka,"
Lalu dia berkata.
"Kalian begini terbuka tangan, biarlah hamba menerima kebaikan ini,"
Sembari bicara dia terima kacang emas itu terus dimasukkan kedalam kantong lalu bertanya dengan sikap adem ayem.
"Apakah Kek-ya tidak keluar bersama kalian?" --dia kuatir bila uang emas tidak diterima, salah-salah bisa menimbulkan rasa curiga orang. Oleh karena itu terpaksa dia merelakan diri dianggap laki-laki tamak yang suka terima sogok.
"Kek-ya tadi bilang katanya mau tinggal di rumah familinya, tidak mau tinggal bersama kami lagi,"
Sahut Tan Ciok-sing. Semakin senang hati kuasa hotel, pikirnya.
"Kiranya Kek Lam-wi menggunakan alasannya untuk memencar diri dengan mereka. Perhitungan In-toaya memang tepat dan sempurna, dia yakin Kek Lam-wi pasti terjeblos kedalam permainannya."
Maka dia berkata.
"O, kiranya begitu. Baiklah aku tidak berani menunda waktu kalian untuk menyambangi teman, dua nomor tembaga ini harap kalian suka menyimpannya. Meski larut malam baru pulang, dengan menunjukan tembaga ini kalian bisa keluar masuk dengan leluasa."
Sambil bercakap-cakap mereka keluar dari Say-cu-lim, cukup jauh mereka meninggalkan kebon raya, keduanya lantas celingukan, setelah yakin tiada orang memperhatikan, In San lantas berkata.
"Toako, kenapa kau memberi keuntungan sebesar itu kepada kuasa hotel, melihat tampangnya aku sudah sebal."
"Berdagang siapapun harus keluar modal. Kaukan anak pintar, memangnya kau tidak bisa meraba maksud tujuanku."
"Baik, coba biar kuterka,"
Kata In San lalu menepekur, akhirnya dia tersenyum, katanya.
"Kuduga, kau sedang mengatur tipu daya supaya pihak musuh merasa bimbang dan serba curiga?"
"Betul. Kau memang cerdik, sekali tebak kena sasaran. Tujuanku justru supaya mereka tidak bisa meraba sepak terjang kita sesungguhnya. Bukan saja membuat mereka serba curiga, kitapun bisa bertindak secara isi kosong serba berlawanan."
"Betul. Dengan membuang sebutir uang emas kita masih punya hak untuk kembali dan menginap pula di hotel itu."
Tiada habis bahan pembicaraan mereka, sepanjang jalan tidak pernah merasa kesepian, tanpa merasa sebelum tengah hari mereka tiba di Ham-san-si terletak di atas sebuah bukit di seberang Hong-kio, empat puluh li diluar kota Soh-ciu ke arah barat.
Bukit ini dipenuhi pohon beringin.
Merupakan salah satu daerah pariwisata yang terkenal juga di bilangan Soh-ciu.
Kala itu permulaan bulan delapan saatnya kembang mekar semerbak pemandangan nan molek dan permai disini sungguh amat mempesona.
Lama In San terpukau di atas jembatan, katanya kemudian setelah menghela napas.
"Sayang baru hari ini aku sempat bertamasya disini!"
Walau Ham-san-si merupakan salah satu obyek pariwisata, namun pengunjung yang suka sembahyang di biara ini amal jarang, hari itu kebetulan bukan hari raya maka kecuali mereka berdua tiada orang lain yang keluyuran di tempat ini.
Cukup lama mereka mondar mandir di bilangan biara yang sudah tua dan kurang terurus ini, jangan kata seorang Hwesio keluar menyambut, seorang kacungpun tidak kelihatan.
Untung keadaan dalam biara cukup memuaskan untuk ditonton, dinikmati serta diresapi.
In San tertawa, katanya lirih.
"Kenapa tidak kelihatan orang itu keluar? Apa tidak perlu mengundang Hwesio disini mencari tahu padanya?"
"Siapa nama orang itu dan bagaimana asal-usulnya kan kita tidak tahu, bagaimana kau akan tanya kepada Hwesio disini. Yang terang waktunya belum tiba, masih beberapa kejap lagi baru tepat tengah hari, kau tidak usah gugup, tunggu saja dengan sabar,"
Demikian bujuk Tan Ciok-sing. In San tertawa geli sendiri, katanya.
"Benar, salah kita datang terlalu dini."
Tengah bicara mereka terus maju ke depan, tiba-tiba didengarnya dua kali suara "Tok-tok". In San berbisik.
"Seperti ada orang main catur."
"Benar, itulah suara buah catur yang dijatuhkan di atas papan catur, agaknya pertandingan sedang mencapai puncak yang paling menegangkan,"
Ujar Tan Ciok-sing tertawa.
"Bagaimana kau tahu?"
"Buah catur mengetuk berat di atas papan, ini menandakan orang yang pegang buah catur teramat tegang perasaannya."
Betul juga, suara serak seorang terdengar berkata.
"Hwesio tua ini tidak suka main caplok. Ai naga-naganya permainanku kali ini pasti kau kalahkan."
Suara seorang lain berkata juga dengan tertawa.
"Aku sih apa boleh buat kalau aku tidak mau 'caplok' salah-salah pionku yang kau lalap malah."
Tan Ciok-sing melenggong, sontak dia berjingkrak girang, serunya.
"Ha, kiranya Tam Tayhiap."
Di kala dia bicara dengan In San, didengarnya orang itu sedang berkata kepada Hwesio tua.
"Betapapun Taysu memang lebih unggul, sungguh tak nyana kau masih punya akal seliehay itu untuk menyudutkan raja dan merebut kedudukan penting. Nah, tamuku sudah datang, biarlah aku mengaku kalah saja."
Kini In San juga sudah mendengar suaranya, kontan dia berteriak girang.
"Paman Tam, paman Tam."-Saking girang mereka tidak hiraukan tata tertib lagi, seperti lomba lari saja sama memburu ke arah datangnya suara. Tampak di kamar semadi sana seorang hwesio tua sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki, siapa lagi kalau bukan Kim-to-thiciang Tam Pa-kun. ? Tam Pa-kun tertawa, katanya.
"Maaf ya, aku tidak duga kalian datang sepagi ini, maka tidak menyambut kalian diluar. Inilah Hong-tiang biara ini Kiau-jan Taysu."
Kiau-jan Taysu berkata.
"Kalian tidak usah rikuh dan banyak peradatan, hwesio tua akan menunaikan tugas sembahyang, maaf aku harus mengundurkan diri."
Tam Pa-kun adalah teman karib ayah In San semasa hidupnya, melihat dia In San seperti berhadapan dengan famili sendiri, saking senang air mata berkaca-kaca, katanya dengan lidah agak kelu.
"Sungguh tidak diduga, kiranya kau paman Tam. Dua hari yang lalu, Seng Toa-jan bilang kau sudah menuju ke Thay-ouw. Kukira sebelum pesta ulang tahun Ong Goan-tin aku tidak akan bisa bertemu dengan kau."
"Aku malah tahu kau pasti datang bersama Ciok-sing,"
Ujar Tam Pa-kun tertawa.
"tapi bila di tempat lain bersua dengan kau, mungkin aku tidak berani mengenalimu. Sejak kapan kau belajar merias diri, dandananmu sungguh mirip dan tampan sekali."
"Seng Toa-jan bilang kalian datang bersama Kek Lam-wi, salah satu dari Pat-sian. Dan menginap di Soh-ciu, kenapa tidak kelihatan? Apa ada urusan penting sehingga dia harus ke tempat lain?"
"Betul,"
Ujar Ciok-sing.
"dia kebentur suatu kejadian yang tak terduga, pergi memenuhi undangan lain."
"Memenuhi undangan siapa?"
Tanya Tam Pa-kun.
"Undangan dari majikan Say-cu-lim In Kip."
Tam Pa-kun kaget serunya.
"Memenuhi undangan In Kip? Apa yang terjadi?"
Terlebih dulu Tan Ciok-sing tuturkan pengalaman Kek Lamwi. Sesaat Tam Pa-kun berpikir, katanya kemudian.
"Kurasa persoalan ini agak ganjil."
"Dalam hal apa paman merasa curiga?"
Tanya In San.
"Tiga hari yang lalu putri Ong Goan-tin yang bernama Ong Kui-ih pernah melihat Toh So-so di Yang-ciu, baru kemarin Ong Kui-ih kembali ke Tong-thing-san. Berita tentang hijrahnya kawanan Bu-san-pang ke Kanglam, Ong Goan-tin juga sudah memperoleh laporan rahasia. Setelah mereka menyeberang sungai besar dan berada di selat sungai, sepanjang jalan jejak mereka sudah diawasi oleh anak buah Ong Goan-tin. Kemarin sore aku sudah turun gunung. Menurut laporan yang diterima sore itu kawanan Bu-san-pang langsung menuju ke Soh cin jadi jelas tidak pernah berputar ke Yangciu. Diperhitungkan dari kecepatan perjalanan mereka tidak mungkin dalam dua hari ini Bu-san-pang mempunyai kesempatan untuk menculik Toh So-so di Yang-ciu. Maka aku yakin di belakang kejadian ini pasti ada muslihat keji."
"Tapi Kek-toako yakin bahwa tusuk kondai itu memang milik Toh-cici. In Kip menyerahkan tusuk kondai itu bersama senjata rahasia tunggal milik Bu-sam Niocu kepada Kek-toako, mana mungkin dia tidak percaya bila Toh-cici sudah terjatuh ke tangan kawanan Bu-san-pang."
"Bagaimana duduk persoalannya, aku sendiri juga belum bisa memberi kesimpulan. Tapi dari keadaan menurut cerita kalian, aku yakin In Kip dan Bu-san-pang belum ada niat mencelakai jiwa Kek Lam-wi."
"Aku justru kuatir mereka sedang mengatur suatu rencana yang lebih keji."
"Undangan itu jelas bukan bermaksud baik, ini tidak perlu diragukan. Tapi asal Kek-jithiap sementara tidak akan mengalami bahaya, kita akan berusaha menolongnya. Coba kalian bicarakan persoalan lain."
"Di Soh-ciu, kami bertemu dengan seseorang, kurasa orang ini justeru lebih penting dan harus diperhatikan dari pada Busam Niocu."
"Siapa dia?"
Tanya Tam Pa-kun.
"Seorang Busu Watsu yang terkenal."
"Em ya, maksudmu adalah Poyang Gun-ngo?"
"Betul ternyata paman Tam juga sudah tahu."
"Ya. Jejak Poyang Gun-ngo, waktu aku masih berada di markas Ong Goan-tin sudah kuketahui. Salah satu sebab kenapa aku harus buru-buru datang ke Soh-ciu lebih dini dari rencana semula juga lantaran keparat ini."
"Kami kira setiba di Soh-ciu, dia akan menginap di hotel dalam Say-cu-lim, tapi semalam tidak kelihatan batang hidungnya."
"Aku malah sudah tahu dimana dia sekarang."
"Dia sembunyi dimana?"
Tanya Ciok-sing girang.
"Seperti Bu-sam Niocu, diapun sembunyi di rumah In Kip."
"O mereka memang berintrik, syukur kita bisa bereskan dua persoalan ini sekaligus, kita akan tuntut kepada In Kip."
"Kita memang harus membuat perhitungan dengan In Kip. Tapi untuk menuntut orang kepadanya, kita harus mencari daya dan akal yang tepat, kalau tidak salah-salah kita bakal menggagalkan urusan besar."
"Sudah pasti. Mana boleh kita main serampangan. Lalu dengan cara apa paling tepat? Paman sudah memikirkannya?"
"Kupikir malam nanti akan bertandang ke tempat kediaman In Kip, dengan cara apa untuk menghadapi dia, biarlah kita bertindak melihat gelagat saja. Kalian tidak boleh ikut, tapi boleh membantuku secara diam-diam."
Sudah tentu Tan Ciok-sing dan In San kegirangan, katanya.
"Maksud kami memang malam nanti akan menyatroni rumah In Kip, kalau paman mau bertindak, lebih baik."
"Tadi . kalian ceritakan pertemuanmu dengan Bak Bu-wi di Say-cu-lim agaknya belum jelas dan menyeluruh, akhirnya bagaimana?"
"Memang hal itu akan kuberitahukan kepada paman, Bak Bu-wi sih tidak perlu kita buat kuatir tapi seorang yang bersama dia itulah, kepandaiannya ternyata luar biasa."
"O, macam apa orang itu?"
Secara terperinci Ciok-sing ceritakan pertempuran singkat malam itu dengan orang tak dikenal itu, Tam Pa-kun terperanjat, katanya.
"Kedatangan orang ini di Soh-ciu ternyata belum kita ketahui. Tak heran kau hampir kecundang. Kungfu orang ini memang jauh lebih unggul dari Poyang Gun-ngo kira-kira setaraf dengan Koksu dari negeri Watsu Milo Hoatsu."
Ciok-sing girang, tanyanya.
"Paman tahu siapa dia?"
"Orang itu punya she rangkap Tang-bun bernama tunggal Cong. Konon ayahnya orang Han, ibunya orang Mongol. Sejak kecil dia dibesarkan di Mongol, jejaknya tidak pernah menginjak Tionggoan. Kungfu orang ini memang terlalu aneh, membekal kombinasi aliran barat dan Tionggoan, namun bentuk kepandaiannya justeru berbeda dengan perguruan silat manapun. Konon dia pingin mendirikan aliran tersendiri, tujuan semula hendak membantu Khan agung dari negeri Watsu, tapi di Watsu sudah ada Milo Hoatsu, dirinya kemungkinan kurang dihargai, maka terpaksa dia kembali ke Holin tapi belakangan dia meninggalkan negeri itu. Suatu ketika aku bertemu dengan dia di bawah Ki-lian-san, waktu itu dia tahu siapa aku, aku tidak tahu siapa dia. Dia paksa aku bertanding, beruntung aku tidak sampai kalah tapi juga hanya setanding alias seri."
Lalu Tan Ciok-sing tuturkan laporan yang diperoleh dari si kacung. Tam Pa-kun menepekur, katanya, kemudian.
"Kalau demikian, orang itu sudah memperoleh kepercayaan Sri Baginda, kedatangannya ke Soh-ciu ini kemungkinan bukan hanya menyelidik siapa-apa orang-oramh yang ada hubungannya dengan Ong Goan-tin."
Sebetulnya Tan Ciok-sing cenderung mencurigai suatu hal lain, namun bila hal ini dia utarakan salah-salah dirinya bisa disangka mengumpak harga diri sendiri maka dia batalkan niatnya itu, katanya.
"Lebih baik dia diperalat oleh Sri Baginda, dari pada dia bekerja demi kepentingan Khan agung bangsa Watsu. Firman apa yang sedang diembannya sekarang, kitapun tidak perlu pusing memikirkannya."
In San menyela.
"Tapi orang ini tidak bisa membedakan salah benar, tidak punya pendirian lagi. Peduli dia bekerja untuk siapa. Pendek kata aku yakin apa yang dia lakukan pasti perbuatan jahat?"
"Itu sudah jelas. Ada orang ini di pihak musuh kita perlu hati-hati,"
Tam Pa-kun memperingatkan.
"Paman tadi bilang kedatanganmu ke Soh-ciu lebih dini untuk mencari tahu jejak Poyang Gun-ngo, itu hanya salah satu sebab, lalu apa pula sebab yang lain?"
"Aku akan menyambut kedatangan seorang teman dan melindunginya ke Tong-thing-san. Kalian tentu ingin tahu siapa orang itu?"
"Kalau boleh beritahu kepada kami, aku ingin tahu,"
Ujar Ciok-sing. Tam Pa-kun tertawa lebar.
"Dia sekampung halaman dengan kau, kaupun pernah bergebrak dengan dia. Dia amat menghargaimu, aku tahu dia pun ingin sekali bertemu dengan kau."
Tan Ciok-sing kegirangan, serunya tepuk paha.
"Maksud paman adalah It-cu-king-thian Lui Tayhiap."
"Betul. Lui Tayhiap Lui Tin-gak. Karena dia ibarat pohon besar mendatangkan angin, maka terhadap Seng Toa-coan akupun tidak jelaskan tentang dirinya."
"Entah kapan Lui Tayhiap bakal datang?"
"Semula sudah dijanjikan akan bertemu disini besok. Tapi kini urusan ada sedikit perobahan."
"Perobahan apa?"
"Semalam setiba aku di Soh-ciu, aku menerima kabar yang dititipkan kepada seorang murid Kaypang, supaya aku menemuinya di Hay-ling pada tanggal delapan belas bulan delapan. Pihak Kaypang mengirim kabar ini melalui burung pos, hanya kabar-kabar sepatah kata saja. Entah karena apa dia mendadak merobah waktu dan tempat pertemuan itu?"
"Hay-ling bukankah berada di muara Ci-tong-kang? Konon Hay-ling adalah tempat tamasya, disana kita bisa menyaksikan pasang surutnya air laut?"
"Betul. Tanggal enam belas sampai delapan belas bulan delapan, justeru saatnya air laut pasang. Terutama tanggal delapan belas, kabarnya adalah hari ulang tahun malaikat laut, damparan air pasang di Ci-tong-kang pada hari itu konon merupakan tontonan yang menakjubkan, dan daerah yang tepat untuk menyaksikan tontonan hebat itu adalah Hay-ling."
"Lui Tayhiap justru memilih hari itu untuk bertemu dengan paman disana, mungkinkah mau ajak paman menyaksikan tontonan disana?"
In San bertanya heran.
"Lui Tayhiap memang suka tamasya. Tapi kupikir menjelang hari ulang tahun Ong-lo-cecu, sebelumnya dia sudah menjanjikan supaya aku menemani dia kemari menyampaikan selamat ulang tahun, kurasa tidak mungkin dia seiseng itu mau ajak aku kesana menonton kebesaran alam."
"Ulang tahun Ong Goan-tin adalah tanggal dua puluh dua bulan delapan bukan?"
Tanya ln San.
"Ya, dalam jangka empat hari setelah pulang dari Hay-ling masih sempat pergi ke Thay-ouw memberi selamat ulang tahun kepada Ong-lo-cecu. Tapi perjalanan akan tergesa-gesa. Biasanya tindak tanduk Lui Tayhiap penuh perhitungan, kukira mungkin ada Suatu urusan penting lainnya yang perlu dibereskan disana."
In San termenung sejenak, katanya kemudian.
"Mumpung malaikat laut ulang tahun, mestinya merupakan tontonan gratis yang menyenangkan. Aku ingin ikut paman kesana, tapi setelah memperoleh berita tentang perjamuan In Kip yang dihadiri Kek-toako."
Tan Ciok-sing juga ingin pergi, tanyanya.
"Kau kuatir Kektoako..."
"Bila Kek-toako dapat menemukan Toh-cici disini, sudah jelas kita bisa berangkat bersama ke Hay-ling. Tapi apa yang diucapkan paman Tam, pertemuan itu pasti bukan bermaksud baik, maka kurasa biarlah hal itu ditunda saja."
"Benar, bila Kek-toako tidak berhasil menemukan Toh-cici, kita menemaninya ke Yang-ciu, kala itu jelas tidak sempat pergi ke Hay-ling pula."
Tam Pa-kun tertawa, katanya.
"Akupun ingin pergi sama kalian, hari ini baru tanggal tiga, masih setengah bulan lagi, soal ini tidak usah dipikirkan. Tugas utama sekarang adalah membantu Kek Lam-wi secara diam-diam. Kalian tahu alamat In Kip?"
"Sudah kuselidiki dengan jelas,"
Sahut Ciok-sing.
"Bagus, pergilah ke rumah keluarga In dan siap-siap bertindak Nanti ikut aku menemui In Kip "
Tan Ciok-sing dan ln San mengiakan bersama. Baru mereka hendak berlalu Tam Pa-kun berseru.
"Nanti dulu."
"Masih ada pesan lain paman?"
Tanya In San.
"Aku teringat satu hal. Kau sudah belajar tata rias dari Han Cin bukan?"
"Ya, sudah lumayan yang kupelajari. Apa paman juga ingin menyamar?"
Tanya ln San.
"ln Kip memang tidak pernah melihat aku, tapi tamutamunya bukan mustahil ada yang mengenal aku."
"Paman ingin nyamar jadi apa?"
"Terserah, apa saja boleh. Lebih mirip orang biasa lebih baik."
"Baiklah, paman menyamar tabib kelilingan saja."
"Baik juga. Tampangku ini memang mirip gelandangan, tanpa menyamar juga sudah mirip."
Setelah bantu Tam Pa-kun menyamar, bersama Tan Cioksing berdua mereka meninggalkan Ham-san-si.
Waktu itu mentari sudah doyong ke ufuk barat, senja sudah hampir jelang.
000OOO000 Waktu itu Kek Lam-wi sudah berada di rumah keluarga In, tapi bukan rumah kediaman In Kip sehari-hari, tapi di sebuah villa In Kip yang lain.
Kuasa hotel itu yang mengiringi dan menunjukkan jalannya.
Di tengah perjalanan baru Kek Lam-wi tahu she dan nama aslinya.
Di kala Kek Lam-wi tanya namanya, dia serahkan setangkai kipas lempit kepada Kek Lam-wi, katanya tersenyum.
"Hari ini cuaca luar biasa, permulaan bulan delapan memang panas. Kek-jitya silakan kau pakai kipas ini, nanti kujelaskan perlahan-lahan."
Kek Lam-wi menduga kipas lempit ini pasti kurang beres, setelah dia tarik dan dibentang, di tengah kertas kipas itu memang berukir sebuah tengkorak dengan mulutnya yang terbuka lebar, kelihatan seram dan menakutkan.
Kek Lam-wi kaget, katanya.
"Kiranya kau anggota Giamong-pang?"
Giam-ong-pang adalah sindikat gelap yang beroperasi di utara Su-jwan, biasa merampok kaum pedagang dan main bunuh semena-mena.
Ketuanya bernama Giam Cong-po, wakilnya bernama Ong Cong-king dan Koan Cong-yau, bila ketiga she mereka digabung menjadi Giam Ong Koan, maka golongan hitam sama menyebut mereka sebagai Giam-ongpang.
Dua puluh tahun yang lalu mereka merajalela di utara Su-jwan, entah kenapa belakangan jejak mereka tahu-tahu lenyap.
Kabar yang tersiar diluar mengatakan mereka ditumpas oleh seorang pendekar besar yang tidak bernama sehingga orang-orang Giam-ong-pang lari pontang panting ke empat penjuru.
Tapi apakah cerita ini betul dan dapat dipercaya, tidak seorangpun yang tahu kecuali mereka yang bersangkutan.
Setelah asal-usul orang tahu, sikap Kek Lam-wi menjadi dingin hatinya muak, katanya dingin.
"Ternyata kau ini salah satu pimpinan Giam-ong-pang, entah kau ini she Ong atau she Koan?"
Kuasa hotel ini berusia lima puluhan, menurut yang diketahui usia Toa-thau-ling Coan Cong-po sudah enam puluh lebih, maka Kek Lam-wi yakin bahwa dia bukan pimpinan tertinggi dari Giam-ong-pang.
Kuasa hotel tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Kek-jithiap memang luar biasa pengetahuan dan pengalamannya, sekali pandang lantas tahu asal-usulku. Aku memang she Koan, dua puluh tahun yang lalu namaku tercantum paling bawah didalam Giam-ong-pang."
Kek Lam-wi berpikir.
"Giam-ong-pang dan Bu-san-pang sama-sama bercokol di Sujwan, tak heran setelah Bu-sam Niocu berintrik dengan In Kip, sekalian dia menarik orangorang Giam-ong-pang ini,"
Maka dengan tawar dia berkata.
"Kiranya kau ini Sam-thauling dari Giam-ong-pang, orang she Kek berlaku kurang hormat, harap suka dimaafkan."
Koan Cong-yau terima kembali kipas lempitnya, katanya tersenyum lebar.
"Aku tahu Kek-jithiap tidak pandang sebelah mata terhadap orang-orang Giam-ong-pang kita, tapi itu sudah dua puluh tahun yang lalu. Sekarang aku sudah bertobat dan kembali ke jalan lurus, justru karena aku tidak berani anggap Kek-jithiap sebagai orang luar, maka aku rasa tidak perlu main sembunyi terhadap kau."
Sudah tentu Kek Lam-wi tidak mau percaya akan ocehannya, tapi demi keselamatan Toh So-so terpaksa dia harus bermuka-muka meski merasa sebal terhadap manusia yang satu ini. Katanya tawar.
"Terima kasih akan maksud baik Koan-siansing. Bicara soal lurus dan sesat, sayang aku terlambat dilahirkan, di kala pang kalian angkat nama dan berkecimpung dalam percaturan Kangouw, aku masih bocah yang ingusan, tidak berani aku memberi penilaian."
Koan Cong-yau jalan di depan menunjukkan jalan, lekas sekali mereka menuju ke sebuah bukit.
Di depan mereka dihadang sebuah batu gunung raksasa, tengah batu besar ini merekah berdinding rata seperti diiris saja.
Tergerak hati Kek Lam-wi tiba-tiba terasa adanya sesuatu yang ganjil, katanya.
"Bukankah batu ini adalah batu pedang dimana dahulu Goong mencoba pedangnya?"
"Betul, ini juga merupakan salah satu obyek pariwisita di Soh-ciu ini, Kek-jithiap dulu pernah bertamasya kemari bukan?"
Kata Koan Cong-yau.
"Waktu kecil pernah kemari satu kali,"
Ujar Kek Lam-wi.
"gunung ini dinamakan Thian-ping-san bukan?"
"Kek-jithiap dapat berada di tempat yang pernah dikunjungi pula, yakin hatimu pasti amat gembira."
Namun sikap Kek Lam-wi sama sekali tidak memperlihatkan rasa gembira, rona mukanya malah berubah, katanya.
"Intoacengcu majikanmu itu apakah berada diatas gunung ini?"-Seperti diketahui alamat rumah In Kip sudah dia selidiki, jelas bukan di atas gunung ini. Koan Cong-yau tertawa lebar, katanya.
"Kek-jithiap tidak usah curiga, aku tidak akan kesasar. Di atas gunung ada villa majikan. Cukong bilang mengadakan pertemuan di atas gunung didalam villanya agak tenang dan nyaman. Villa itu konon dahulu adalah tempat pelesir Go-ong di jaman Samkok, kali ini cukong sengaja menggunakan tempat bersejarah ini untuk menyambut tamu agungnya."
Kek Lam-wi berpikir.
"Dia mengundangku ke villanya, jelas kuatir aku mengajak bantuan. Hm, permainan ini ternyata terduga juga oleh dia. Tan-toako hanya tahu alamat rumahnya, takkan mungkin menyusul kemari."
Dalam keadaan kepepet begini, bila dia tetap memenuhi undangan, itu berarti seorang diri dia harus berani menghadapi banyak resiko berhadapan dengan In Kip dan kawan-kawannya, bantuan yang diharapkan juga sukar kemari.
Mundur atau maju?
Urusan sudah terlanjur sejauh ini, maka dia jelas tidak mau mengalah dan mengunjuk kelemahan sendiri, akhirnya dia nekad, pikirnya.
"Demi keselamatan So-so, peduli sarang naga atau gua harimau, hari ini aku harus mengobrak-abrik tempat ini bila perlu."
Dengan langkah enteng dia ikuti terus kemana Koan Congyau membawanya, setelah menyelusuri jalanan kecil berbatu yang bulak belok kian kemari melampaui beberapa gundukan bukit kecil, akhirnya tiba juga di villa In Kip.
Villa ini dibangun tepat di tengah kebon, tumbuh-tumbuhan disini terawat dan teratur rapi, keindahan alamnya tidak asor dibanding Say-cu-lim.
Kek Lam-wi mengikuti Koan Cong-yau, menyusuri lagi sebuah lorong panjang memasuki taman kembang, didalam taman gunung-gunungan tersebar, serambi berpagar, ada air mancur, empang teratai dan sangkar burung besar.
Di gundukan tanah tinggi sana, dibangun sebuah gardu pemandangan yang cukup besar.
Didalam gardu itu tiga orang tengah menunggu.
Seorang laki-laki dengan tubuh buntak bundar berdandan seorang hartawan, seorang perempuan setengah baya berpotongan tinggi kurus, dan seorang lagi laki-laki blasteran yang tampangnya lebih mirip orang asing, sorot matanya tampak berkilat tajam, Thay-yang-hiat di kedua pelipisnya tampak menonjol keluar, selintas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang ahli Lwekeh yang kosen.
Kek Lam-wi kenal perempuan kurus tinggi itu dia bukan lain adalah Bu-san-pang Pangcu, Bu-sam Niocu adanya.
Dari kejauhan Koan Cong-yau sudah berseru.
"Tamu agung kita telah tiba."
Laki-laki buntak bundar seperti hartawan itu segera berdiri dan menyongsong keluar, katanya dengan gelak tertawa.
"Kek-jithiap memang dapat dipercaya. Mohon maaf orang she In menyambut kurang hormat."
Kek Lam-wi balas menghormat, katanya tawar.
"Tuan ini tentu In-toa-cengcu adanya."
"Ya, benar. Cayhe memang In Kip,"
Sahut laki-laki buntak itu.
"kapan Kek-jithiap pernah berkunjung ke tempat kediamanku, silahkan masuk, sebagai tuan rumah akan kuperkenalkan dua sahabat lain kepada kau. Nah, inilah Busam Niocu yang datang dari Sujwan barat."
Tawar suara Kek Lam-wi, sapanya.
"Bu-pangcu, kemarin agaknya kita pernah bertemu?"
Dengan mimik tertawa tidak tertawa, mulut Bu-sam Niocu ngakak dua kali, katanya.
"Pandangan Kek Tayhiap memang tajam. Maaf ya akan kelancanganku kemarin tapi tentunya Kek-jithiap juga tahu bila aku tidak bermaksud jahat, kemarin aku hanya bantu In Cengcu mengundangmu kemari."
"Terima kasih akan bantuanmu mengundangku kemari,"
Ujar Kek Lam-wi.
"orang she Kek merasa beruntung dapat menghadiri pertemuan disini."
In Kip dan Bu-sam Niocu merasakan nada ucapannya yang mengandung sindiran, namun In Kip pura-pura bodoh, katanya tertawa.
"Kita sesama kaum persilatan yang mencari nafkah di Kangouw kurasa tidak perlu banyak basa-basi. Mari kuperkenalkan seorang sahabat lagi kepada Kek-jithiap, inilah Tang bun-siansing yang baru datang dari kota raja."
Laki-laki blasteran seperti peranakan orang Han campur Mongol ini segera berdiri sambil ulur telapak tangannya segede kipas berjabatan tangan dengan Kek Lam-wi, katanya.
"Sudah lama aku dengar dan kagum akan kebesaran nama Pat-sian, selamat bertemu."
Diam-diam Kek Lam-wi bersiaga, ternyata dia kecele, karena Tang-bun Cong ternyata tidak kerahkan tenaga menjajalnya.
Di waktu berjabatan tangan, diam-diam Kek Lam-wi perhatikan pergelangan tangan orang seperti ada sebuah goresan kuku.
Mendengar nama orang ini Tang-bun Cong, tergerak hati Kek Lam-wi, pikirnya.
"Pasti orang inilah yang semalam bentrok dengan Tan-toako,"
Maklum jarang ada orang menggunakan she rangkap "Tang-bun", kacung cilik yang ditanam oleh Seng Toa-coan di Say-cu-lim hanya berhasil mencuri dengar bahwa laki-laki ini she Tang-bun, namun siapa namanya tidak diketahui.
Waktu bentrok dengan lawannya semalam, Tan Ciok-sing gunakan jari tangan sebagai pedang berhasil menjojoh pergelangan tangan orang.
Semua kejadian itu sudah diceritakan Tan Ciok-sing kepada Kek Lam-wi.
Meski Kek Lam-wi sudah menduga asal-usul orang ini, namun dia pura-pura tidak tahu.
Ala kadarnya dia basa-basi lalu berkata kepada In Kip.
"Entah untuk keperluan apa In Cengcu mengundangku kemari?"
"Sudah lama aku mengagumi nama besar Kek-jithiap, selalu aku berangan-angan untuk bisa bersahabat dengan kau."
Kek Lam-wi menyambut dingin basa-basi orang, katanya.
"Terima kasih penghargaan In Cengcu padaku. Kurasa perhatian In Cengcu tidak sesuai dengan maksud sebenarnya?"
Sikap In Kip tetap sopan dan hormat, katanya ramah.
"Kenapa Kek-jithiap bilang demikian? Orang she In betul-betul amat mengagumimu dan ingin bersahabat dengan Kek-jithiap. Ya mumpung Kek-jithiap sudi memenuhi undanganku, sekalian memang ingin kurundingkan suatu urusan kepada Kekjithiap."
Kek Lam-wi terbahak-bahak, katanya.
"Nah kan begitu. Lantaran ada urusan maka kau mencariku, tanpa ada persoalan akupun tak akan berkunjung kemari, lebih baik kita bicara secara blak-blakan saja. Tentang bersahabat segala, terus terang orang she Kek tidak berani."
"Kek Tayhiap ternyata amat supel dan suka terus terang, baiklah kita bicara secara gamblang saja, dua benda yang kuberikan kepada Kek-jithiap itu, tentunya sudah kau terima dengan betul, aku hanya pinjam tangan untuk menyampaikan pemberian orang saja, harap tidak berkecil hati. Tapi untuk itu tidak sedikit juga memeras keringatku baru kedua benda itu bisa sampai ke tangan Kek-jithiap. Kek-jithiap amat pintar, tentunya kau sudah meraba kemana maksud tujuanku."
"Betul. Lantaran kedua benda itu maka aku sudi datang kemari. Akan tetapi, In Cengcu perkataanmu kurasa hanya benar separo saja."
In Kip melengak, tanyanya.
"Tentang hal apa yang dimaksud Kek-jithiap? Apa bisa diterangkan?"
Terlebih dulu Kek Lam-wi keluarkan piau beracun itu, katanya.
"Kado yang ini tentunya kau pinjam dari Bu-pangcu bukan? Aku tahu inilah senjata rahasia tunggal Bu-pangcu, kado bernilai sebesar ini aku tidak berani menerimanya, baiklah sekalian kukembalikan bersama yang kuterima kemarin siang itu,"
Lalu dia timpukan piau beracun itu ke arah Bu-sam Niocu.
Kuatir lawan menimpuk dengan gerakan aneh, Bu-sam Niocu tidak berani menyambut dengan tangan telanjang, baru saja dia angkat tangan hendak mengebas dengan lengan baju, didengarnya "klotak".
tahu-tahu piau beracun miliknya itu sudah jatuh di meja, amblas kira setengah senti.
Tidak susah untuk menimpuk piau amblas ke permukaan meja, yang susah adalah tenaga yang digunakan ternyata tepat dan pas-pasan, Bu-sam Niocu kira piau beracun itu akan melesat ke mukanya, tak nyana di tengah jalan tahu-tahu anjlok jatuh ke bawah.
Tanpa berhenti Kek Lam-wi keluarkan pula sebuah senjata rahasia milik Bu-sam Niocu yang tidak beracun, kali ini dia menjentik dengan jari telunjuk sehingga piau itu melesat seperti kilat, yang diincar adalah piau yang menancap di permukaan meja itu, sehingga piau itu mencelat mumbul.
Tenaga jentikan yang dikerahkan kali ini ternyata lebih sukar dan menakjubkan lagi.
Sebagai seorang ahli senjata rahasia, mau tidak mau dia memuji keliehayan Kek Lam-wi.
Seperti tertawa tidak tertawa, dia berkata.
"Kepandaian bagus, Kekjithiap. Kedua senjata rahasiaku ini hanya merupakan undangan belaka, bahwa Kek-jithiap sudah memenuhi undangan, baiklah kuterima kembali undanganku ini."
Kini Kek Lam-wi keluarkan tusuk kondai milik Toh So-so itu, katanya.
"Piau beracun tadi, In Cengcu boleh bilang kado yang dipinjam dari orang lain. tapi tusuk kondai ini, aku tahu siapa pemiliknya, kukira tak mungkin kau bisa meminjamnya?"
"O, jadi Kek-jithiap tadi bilang omonganku betul separo, yang kau maksud tentang ini? Tapi peduli tusuk kondai itu kupinjam atau hasil rampasan, sekarang sudah kuserahkan kepada Kek-jithiap maksudkukan baik."
"Terima kasih akan kebaikanmu,"
Jengek Kek Lam-wi.
"terhadap pemilik barang ini kurasa kalian tidak bermaksud baik. Cekak aos saja. Pertama aku tanya kepada Bu-pangcu, pemilik tusuk kondai ini apakah sudah terjatuh ke tanganmu? Apa yang kau lakukan atas dirinya?"
"Urusan semakin gamblang, tidak usah melantur jauh-jauh, biarlah aku terus terang saja. Memang betul Toh So-so terjatuh di tanganku tapi boleh kau tidak usah kuatir, meski aku punya piau beracun yang mematikan, namun tidak kugunakan terhadapnya, sedikitpun dia tidak kurang suatu apa."
Bercahaya pandangan Kek Lam-wi, desisnya.
"Baiklah, sementara aku percaya akan omonganmu, sekarang tolong beri kesempatan kepadaku untuk menemuinya."
Kembali Bu-sam Niocu ngakak dengan mimik muka kaku, katanya.
"Kek-jithiap kau ini kan laki-laki pintar, betapa jerih payah kami baru berhasil mengundang Toh-lihiap kemari, setelah itu baru berhasil pula mengundangmu kemari. Tidak perlu banyak bicara lagi, kami memang ingin memohon sesuatu kepadamu. Soal apa, marilah sekarang bicarakan permintaan itu kurasa masih terlalu pagi."
"Baik, apa kehendak kalian, lekas utarakan saja."
"Tentang persoalan itu, baiklah In-cengcu saja yang bicara."
In Kip batuk kering dua kali lalu berdiri dan berkata sopan.
"Seperti yang telah kukatakan tadi kami ingin bersahabat dengan Kek-jithiap. Tapi perlu diingat, aku ini orang dagang, bersahabat dan berdagang adalah dua soal yang berbeda. Tidak sedikit modal yang sudah kukeluarkan, tentunya Kekjithiap tidak membiarkan aku dirugikan."
"Asal kau tidak menarik keuntungan dari pribadiku, aku sudah amat berterima kasih. Boleh kau sebutkan berapa nilainya."
"Kek-jithiap bukan orang dagang, perkataanmu ini apa tidak berkelebihan. Berdagang harus cari untung dan menghitung rentennya pula, bagi pembeli mungkin merasa dikibuli, sebaliknya si penjual merasa telah memperoleh sedikit keuntungan sepantasnya."
"Tapi harus dikalkulasi dulu apakah aku mampu membayar sekalian rentennya tidak."
"Kau pasti mampu membayarnya. Karena bila kau tidak mampu melunasinya, kami sudah siap membantumu."
Kek Lam-wi ragu-ragu, pikirnya. 'Mungkinkah mereka mengincar serulingku?"
Katanya.
"Kalau begitu, tolong In Cengcu jelaskan saja, berapa sih rentennya yang harus kubayar sekalian?"
"Sepantasnya cukup satu ganti satu, barter secara adil, tapi bila dikenakan rentennya pula, maka aku menuntut satu ditukar dua."
Kek Lam-wi kaget, baru sekarang dia sadar, yang mereka tuntut adalah manusia bukan barang mustika, tanyanya.
"Siapa yang kalian inginkan?"
Kalem suara In Kip.
"Tan Ciok-sing dan In San. Mereka menginap satu villa dengan kau bukan?"
"Makanya mereka suruh aku mengelabui Tan-toako, ternyata hendak meminjam tanganku mencelakai Tan-toako dan nona In. Agaknya bukan saja mereka tahu asal-usul Tantoako berdua, penyamaran ln San juga sudah mereka ketahui. Biar aku bersabar dulu, dengar apa pula tuntutan mereka,"
Lalu dia berkata.
"Benar, mereka adalah kawanku tinggal sevilla pula dengan aku. Entah untuk apa In Cengcu menginginkan mereka berdua?"
Pelan In Kip berkata.
"Usia Kek-jithiap masih muda, muagkin kau tidak tahu peristiwa Bulim masa lalu. Tapi Lim Tayhiap dan Loh-jihiap dari Pat-sian kalian adalah tokoh-tokoh angkatan tua yang tahu seluk beluk kaum persilatan, yakin mereka tahu akan hal itu. Bukan mustahil Kek-jithiap pernah dengar cerita mereka,"
Secara tidak langsung dia bilang bahwa Kek Lam-wi hanya pura-pura bodoh saja. Kek Lam-wi justeru membodoh, katanya.
"Terlalu banyak yang pernah diceritakan Lim-toako dan Loh-jiko tentang peristiwa besar kaum persilatan masa lampau, entah peristiwa mana yang dimaksud In Cengcu?"
"Peristiwa memalukan dan merupakan penghinaan bagi diriku,"
Ujar In Kip ketus.
"Sebetulnya aku tidak ingin menyinggung soal ini, kini supaya barter itu tercapai, terpaksa aku membeber sejarah. Empat puluh tahun yang lalu, kakekku Thian-cian-kong mati lantaran ulah Thio Tan-hong."
"Oo, peristiwa itu agaknya pernah kudengar,"
Ucap Kek Lam-wi. In Kip melanjutkan.
"Sudah kuselidiki, Tan Ciok-sing adalah murid Thio Tan-hong. Dan kau adalah kawannya, malah hubungan kalian teramat intim, yakin kau pasti tahu akan hal itu."
"Apa pula sangkut paut persoalan ini dengan nona In?"
Keluarga Thio dan In punya hubungan karib turun temurun, kalau Tan Ciok-sing adalah murid penutup Thio Tan-hong, sementara In San adalah satu-satunya keturunan keluarga In yang masih hidup.
Apalagi menurut apa yang kuketahui mereka adalah calon suami istri, kenapa dikatakan tiada sangkut pautnya?"
Kalau menuruti adat Kek Lam-wi sebelum ini, mungkin emosinya sudah meledak.
Tetapi setelah peristiwa di kota raja karena kecerobohannya hampir saja dia kecundang, hal itu merupakan pelajaran yang berharga, sehingga sikapnya kini jauh berbeda, lebih tabah dan mantap.
Diam-diam dia berpikir.
"Thio Tan-hong memang musuh besar keluarga In, tapi setelah empat puluh tahun baru akan menuntut balas terhadap murid penutupnya, perkara ini rasanya terlalu dipaksakan. Kuduga urusan bukan melulu soal menuntut balas sakit hati leluhurnya saja."
In Kip berkata pula.
"Aku tahu Kek-jithiap dan Coh-lihiap adalah calon suami istri pula. Betapapun baik hubungan sesama sahabat, kurasa calon isteri lebih penting? Bagaimana pendapat Kek-jithiap tentang barter ini?"
Kek Lam-wi pura-pura terpekur, katanya sesaat kemudian.
"Mereka punya tangan punya kaki. Kungfunya juga lebih tinggi dari aku, cara bagaimana aku harus serahkan mereka kepadamu?"
Seketika cerah rona muka In Kip, senyumnya lebar, dia kira Kek Lam-wi sudah terbujuk, katanya.
"Pepatah ada bilang tusukan tombak mudah di kelit, bidikan panah sukar diduga. Kalau Kek-jithiap mau membokong mereka, apa susahnya? Bu-sam Niocu adalah ahli dalam racun, dia punya obat bius yang tidak berwarna, tiada rasanya. Sebagai teman baik mereka yakin kau tidak akan dicurigai."
"Menaruh racun secara diam-diam adalah perbuatan rendah kaum kotor, apakah tidak menurunkan derajat kita sebagai jagoan kosen?"
Jengek Kek Lam-wi.
"Bernyali kecil bukan laki-laki, tidak berani bertindak keji bukan seorang jago silat. Sebagai cucu dan menuntut balas sakit hati leluhurnya, memangnya aku harus pikirkan sebanyak itu? Apalagi aku toh hanya hubungan dagang dengan Kekjithiap saja, yang kuharapkan hanya kontrak dagang ini sama disepakati, peduli amat bagaimana barang itu akan diperoleh. Kek-jithiap, bila kau mau meneken kontrak dagang ini, kurasa kaupun tidak usah pikirkan tetek bengek, setia kawan atau budi pekerti segala."
"Baiklah,"
Ujar Kek Lam-wi.
"kalau toh In-cengcu menginginkan aku bicara soal dagang, biarlah aku belajar bagaimana untuk menjadi seorang pedagang yang baik."
In Kip kegirangan, serunya.
"Betul. Bila harga sudah disetujui, bayar lunas seketika. Kek-jithiap boleh membuka harga, kan masih bisa dirundingkan."
"Dua tukar satu, apalagi yang bakal kuperoleh adalah calon isteriku, kurasa kontrak dagang ini aku tetap di pihak yang dirugikan."
"Keuntungan apa pula yang ingin Kek-jithiap peroleh, boleh kau katakan saja."
"Orang berdagang memang boleh tawar menawar dan bayar lunas seketika. Bila kedua pihak ada niat menyelesaikan jual beli ini sepantasnya kedua pihak harus blak-blakan supaya salah satu pihak tiada yang dirugikan."
"Betul, betul. Barang tulen harga pas, sama untung sama dirasakan. Itulah prinsip dagang yang kuanut. Memangnya sejak tadi aku sudah ingin blak-blakan dengan Kek-jithiap, berdagang secara adil dengan nilai harga yang pantas,"
Yang diharapkan mengejar keinginan, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa perkataan sendiri serba kontras.
"Kau berdagang adalah pantas kalau ingin untung tapi keuntungan itu juga harus pantas, maka ingin aku tahu lebih dulu, dari jual beli ini berapa keuntungan yang bakal kau dapatkan, baru aku mau teken kontrak dagang ini secara adil."
"Bukankah tadi sudah kujelaskan. Keuntungan yang kutuntut adalah dapat menuntut balas kematian leluhurku saja."
"Kurasa In Cengcu tidak jujur. Menurut apa yang kuketahui meski Tan Ciok-sing dan In San boleh dipaksakan sebagai musuh besar keluargamu, tapi dibicarakan dari segi dagang, ibarat nota lama yang tidak pernah ditagih sejak leluhurmu dulu, kukira tidak usah kau berjerih payah hendak menuntut balas lagi, Tapi, untung juga aku tahu akan satu hal, mereka terhitung buronan, dari mereka In Cengcu bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi."
In Kip tertawa tergelak-gelak, serunya.
"Kek-jithiap bilang tidak pandai berdagang, kau justru seorang ahli dagang. Baiklah, agaknya kau ada minat menyelesaikan jual beli ini, aku boleh tak usah pura-pura dan main sembunyi-sembunyi dengan kau. Biarlah kuperkenalkan pula seorang teman kepada kau."
Lalu dia panggil kuasa hotel dan berbisik-bisik kepadanya, Koan Cong-yau segera mengundurkan diri. Tidak lama, tampak seorang Busu Watsu beranjak datang, serunya sambil melangkah masuk kedalam gardu.
"Kek-jithiap, tanpa berkelahi kita tidak akan pernah kenal. Sungguh tak nyana bakal bertemu kau disini."-Busu Watsu ini bukan lain adalah Poyang Gun-ngo.
"Dulu kalian berjuang demi kepentingan pihak masingmasing, hakikatnya tidak pernah bermusuhan pribadi. Bahwa Kek-jithiap mau melaksanakan jual beli ini, maka selanjutnya kalian boleh terhitung orang sendiri,"
Demikian In Kip mengumpak.
"Sebelum jual beli ini positip, hubungan sesama kawanpun belum boleh terjalin. In Cengcu, kau belum menjawab persoalanku tadi."
"Berarti aku sudah menjawabnya bukan. Setelah kau berhadapan dengan Poyang-siansing, masakah masih tidak mengerti kenapa aku begitu getol membekuk Tan Ciok-sing dan In San?"
"Maaf, otakku memang tumpul, kuharap kau menjelaskan lebih terperinci."
Poyang Gun-ngo menyela.
"Bicara terus terang istilah yang digunakan In Cengcu tentang berjuang untuk masing-masing pihak juga hanya benar separo."
"Dan yang separo lagi?"
Kek Lam-wi menegas.
"Aku memang demi Khan Agung kita, tapi bila kau bekerja demi rajamu yang goblok itu, maka kau akan menyesal tujuh turunan. Raja kalian sedang marah-marah karena perbuatan yang kalian lakukan justru tidak dia sukai."
"Tolong diterangkan lebih jelas,"
Pinta Kek Lam-wi.
"Memangnya apa yang belum jelas?"
Seru Poyang Gun-ngo aseran.
"Tan Ciok-sing dan In San adalah manusia yang diincar raja kalian, hubungan jual belimu dengan In Cengcu ini, hakikatnya adalah In Cengcu mewakili raja kalian. Tidak percaya boleh kau tanyakan kepada Tang-bun-siansing ini dialah yang diutus rajanya untuk menyelesaikan perkara ini."
Tang-bun Cong yang sejak tadi diam saja kini menyela, katanya setelah tertawa.
"Tidak berkelahi tidak akan berkenalan. Kita kini adalah sesama kawan, akupun tidak perlu bermuka-muka di hadapan Kek-jithiap. Temanmu Tan Cioksing berani menyelundup ke istana, mengancam dan menyakiti Baginda, ini perbuatan durhaka yang patut dihukum mati. Aku mendapat perintah rahasia Baginda menguntitnya sampai ke Kanglam, buronan Tan Ciok-sing dan In San akan kubekuk dan digusur ke kota raja."
Poyang Gun-ngo menyambung.
"Oleh karena itu meski kita bekerja demi kepentingan masing-masing, tujuannya adalah sehaluan. Bila Kek-jithiap sudi membantu kita, bukan saja raja kalian akan berterima kasih kepada kau. Khan Agung kita juga akan menaruh simpatik kepada kau. Bila jual beli ini sudah jadi, keuntungan akan berlipat ganda."
Sekarang sudah jelas duduk persoalannya, Kek Lam-wi membatin.
"Ternyata raja goblok itu masih ada niat melanjutkan perjanjian damai itu dengan pihak Watsu. Padahal konsep perjanjian damai itu terampas oleh Tan Cioksing, maka tidak heran bila mereka berdaya upaya hendak membekuk Tan Ciok-sing ke kota raja, dikiranya surat perjanjian damai itu bisa direbut kembali dari Tan Ciok-sing,"
Sebab utama ini memang terduga oleh Kek Lam-wi, tapi masih ada pula sebab sampingan, sebelum meninggalkan istana, Tan Ciok-sing meninggalkan peringatan darah yang ditulisnya di kain sutra dengan darah, peringatan itu selalu mengganjal perasaan sang raja sehingga susah tidur dan tidak doyan makan.
Pura-pura serius Kek Lam-wi menunduk seperti memeras otak, agak lama kemudian baru dia berkata.
"Banyak terima kasih, kalian sudah bicara panjang lebar, kini tiba saatnya akupun harus bicara dengan sejujurnya, kita berjuang demi kepentingan masing-masing, itu memang istilah yang tepat, tapi..."
Seperti tidak sengaja dia mendekati In Kip sambil melirihkan suaranya. In Kip kira dia punya rahasia, katanya.
"Tapi apa, bila Kekjithiap ada kesulitan, boleh bicarakan saja terus terang untuk dirundingkan beramai. Kalau tidak boleh juga kau beritahukan kepadaku seorang,"
Karena ingin mendengar penjelasan Kek Lam-wi tanpa sadar diapun maju ke depan lebih dekat.
"Yang hadir disini semua adalah teman baikmu tidak jadi soal kujelaskan. Berjuang demi kepentingan masing-masing? Kalau Poyang Gun-ngo berjuang demi Khan Agung yang dijunjungnya, sebaliknya aku berjuang demi kepentingan rakyat jelata."
Baru saja In Kip tertegun.
"apa maksudmu", belum sempat dia tanya kepada Kek Lam-wi, mendadak Kek Lam-wi sudah menyergapnya, secepat kilat dirinya telah dicengkeramnya. Ilmu silat In Kip sebetulnya tidak lemah, tapi Kek Lam-wi menggunakan jurus tunggal yang diajarkan Ti Nio, begitu berhasil mencengkramnya kontan dia persen lagi dengan tutukan King-sin-pit-hoat, mana In Kip mampu berkutik? Sementara ujung pedang Poyang Gun-ngo sudah mengincar punggung, demikian pula Ouw-tiap-piau beracun Bu-sam Niocu juga meluncur ke bawah ketiaknya yang terbuka. Gerakan ketiga pihak sama-sama cepat.
"Trang"
Kek Lamwi memang sudah siaga, serulingnya terayun ke belakang menyampuk pergi pedang Poyang Gun-ngo, belakang kepalanya seperti tumbuh mata saja, dengan telak dia patahkan serangan pedang lawan.
Karuan Poyang Gun-ngo mencelos, pikirnya.
"Baru berselang satu bulan lebih. Kungfu bocah keparat ini ternyata maju sepesat ini."
Bersamaan dengan gerakan serulingnya menangkis tusukan pedang Poyang Gun-ngo, sekalian tubuh Kek Lam-wi berputar setengah lingkar, kebetulan dia tarik dan putar badan In Kip yang gede bundar itu ke kiri sebagai tameng untuk menutup lobang di ketiaknya, secara langsung dia sambut timpukkan senjata rahasia Bu-sam Niocu dengan tubuh In Kip.
Bentaknya.
"Berapa banyak senjata rahasiamu boleh timpukan seluruhnya."
Senjata rahasia Bu-sam Niocu dapat disambitkan tidak bisa ditarik balik, di kala jiwa ln Kip terancam oleh timpukan Ouwtiap-piau, tiba-tiba terdengar "Tring"
Tahu-tahu senjata rahasia beracun itu jatuh di atas tanah.
Ternyata kena dijentik pergi oleh Koan Cong-yau yang menyamar sebagai kuasa hotel.
Dia berdiri dalam jarak paling dekat dengan In Kip, dengan dua jari dia menjentik, padahal ujung jarinya tidak menyentuh senjata rahasia, tenaga jentikan jarinya sudah cukup mampu menjatuhkan senjata rahasia itu.
Jentikan jari rangkap ini kirakira setaraf dengan Bik-khong-ciang.
Cuma dengan jari sebagai telapak tangan apalagi bekerja tepat pada waktunya dengan tenaga yang diperhitungkan pula, kungfu ini jauh lebih susah diyakinkan dari Bik-khong-ciang.
Walau In Kip tidak terluka, kawan-kawannya itu jadi raguragu, tiada yang bertindak secara gegabah untuk menolongnya.
Kek Lam-wi menyeringai tawa, desisnya.
"Marilah kita bicarakan jual beli lainnya. In Toa-cengcu tolong kau antar aku keluar, siapapun kularang ikut. Setiba di bawah bukit, aku akan bebaskan kau."
Hiat-to di tengkuk In Kip dicengkramnya, sedikit dia kerahkan tenaga, kontan In Kip menjerit kesakitan, serunya.
"Baik, baik, terserah kehendakmu."
"Minggir,"
Bentak Kek Lam-wi, sambil menenteng seruling, dia gusur In Kip keluar dari gardu.
Sedangkan Bu-sam Niocu, Poyang Gun-ngo dan Koan Cong-yau menyurut mundur, tiada satupun di antara mereka yang berani bertindak.
Tapi waktu Kek Lam-wi gusur In Kip lewat di depan Tangbun Cong, mendadak Tang-bun Cong menghardik sekali sambil layangkan kepalannya menjotos perut In Kip.
Bila yang dijotos Kek Lam-wi, secara reflek dia akan menangkis.
Tapi yang dijotos justeru perut In Kip yang gendut itu, hal ini diluar dugaan Kek Lam-wi.
Memangnya dia gusur In Kip di depan sebagai tameng, mana dia tahu bukan saja Tang-bun Cong tidak kuatir, yang dijotos malah tawanannya.
Yang dijotos memang perut In Kip, tapi yang terkena akibat dari jotosan itu secara langsung justru Kek Lam-wi.
Mendadak Kek Lam-wi merasakan diterjang oleh segulung tenaga hebat sedahsyat gugur gunung tanpa kuasa cengkraman jarinya mengendor, maka In Kip lolos dari cengkramannya.
Ternyata Tang-bun Cong meyakinkan sejenis ilmu yang dinamakan Kekbu-thoan-kang (menyalur tenaga melalui benda), meski jotosannya mengenai perut In Kip, padahal perut In Kip itu hanya dipinjam untuk menyalurkan tenaga pukulannya ke sasaran yang diincarnya, hakikatnya In Kip tidak terluka sedikitpun juga.
Begitu In Kip lolos dari cengkraman Kek Lam-wi, kontan Bu-sam Niocu menjentik jari kelingkingnya, serunya dengan cekikik genit.
"Kek-jithiap, aku bermaksud baik menahanmu disini, lekas kau istirahat saja."
Hidung Kek Lam-wi dirangsang serangkum bau wangi, tubuhnya seketika limbung, kepala pusing, kaki enteng, kontan dia jatuh semaput. In Kip mengelus dada, katanya.
"Tang-bun-siansing, Busam Niocu, terima kasih akan bantuan kalian membekuk bocah ini. Cuma Bu-sam Niocu harap kau tidak meracunnya sampai mati."
Bu-sam Niocu tertawa, katanya.
"In Cengcu tak usah kuatir, masa aku akan membuatmu rugi? Aku hanya menggunakan obat bius saja, tanpa menggunakan obat penawarku, dua belas jam kemudian, meski dia bisa siuman sendiri, paling cepat tiga hari lagi baru dia pulih kesehatannya."
In Kip tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Bagus sekali. Dalam jangka tiga hari ini, kita bisa menggunakan dia untuk memancing dagangan besar lainnya."
"Maksud Cengcu hendak memancing Tan Ciok-sing dan In San?"
Tanya Koan Cong-yau.
"Betul,"
Sahut In Kip.
"Kemungkinan dia memberitahukan pertemuan rahasia dengan kita ini kepada Tan Ciok-sing, bocah itu tidak gampang dipancing dan ditipu."
In Kip berkata.
"Anak-anak muda yang mengagulkan diri sebagai kaum pendekar itu paling mengutamakan setia kawan. Meski tahu disini ada perangkap kukira bocah she In dan keparat she Tan itu tetap akan meluruk kemari."
Kek Lam-wi hanya sedikit menghirup Bit-hun-san, kalau tiga bulan yang lalu, mungkin dia sudah tidak ingat diri lagi.
Tapi setelah memperoleh ajaran tambahan Lwekang dari Susioknya-Ti Nio, Lwekangnya sekarang sudah jauh lebih maju.
Kini meski kesadarannya makin pudar, namun keadaannya tidak pati rasa sama sekali.
Mendengar percakapan mereka, dalam hati diam-diam dia mengeluh.
Kehilangan seruling bukan jadi soal, yang dia kuatirkan adalah kawan yang mungkin ikut terperangkap musuh.
Maklum bila Tan dan In datang tepat pada waktunya, dengan gabungan mereka bertiga, situasi mungkin bisa mereka robah.
Kini Kek Lam-wi sudah jadi tawanan, umpama mereka sempat menyusul kemari juga tidak akan mampu menolong dirinya lagi, celaka bila dirinya dijadikan sandera.
Kek Lam-wi sudah duga bahwa ln Kip akan memancing Tan Cioksing dan ln San kemari seperti memancing dirinya dengan Toh So-so.
"semoga mereka tidak senasib aku,"
Demikian batin Kek Lam-wi.
Tapi dia sendiri yakin bahwa Tan dan In demi menolong dirinya, pasti bertindak seperti yang diduga In Kip, meski tahu ada perangkap, mereka tetap akan menerjang datang.
Kek Lam-wi jadi putus asa dan kecewa pula, ingin rasanya kerahkan Lwekang memutus urat nadi hingga mati supaya tidak tersiksa oleh musuh, supaya tidak membuat kapiran teman pula.
Untuk memutus urat nadi diperlukan Lwekang yang tangguh, padahal tenaga untuk bergerak saja dia tiada mana mampu bunuh diri?
Tengah pikirannya melayang, tiba-tiba didengarnya langkah gugup datang, lalu didengarnya In Kip bertanya.
"Ongkoankeh, ada apa kau datang tergopoh-gopoh?"
Dengan napas tersengal orang itu berkata.
"Ada dua orang anak muda menerjang kedalam rumah mengobrak-abrik, katanya mau mencari Kek Lam-wi dari Kanglam-pat-sian."
Hal itu sudah dalam dugaan In Kip, katanya tertawa.
"Kurasa bukan dua laki-laki? Kalau dugaanku tidak keliru, salah seorang adalah seorang cewek jelita."
"Betul, semula aku tidak bisa membedakan, tapi setelah bergebrak beberapa jurus, akupun sudah tahu. Budak itu mahir memainkan ilmu golok keluarga In yang dikombinasikan dengan permainan pedang, kuduga dia adalah putrinya In Hou."
"Jadi seorang yang lain sudah pasti adalah Tan Ciok-sing bocah keparat itu."
Koankeh atau pengurus rumah tangga ini belum pernah melihat Tan Ciok-sing, namun pernah dengar tentang ilmu pedang Tan Ciok-sing yang luar biasa itu, maka dia mengangguk.
"Betul, walau dia tidak menyebutkan nama, kurasa memang dia adanya."
"Untung sebelumnya sudah kuperhitungkan,"
Ujar In Kip tertawa riang.
"dia mengobrak-abrik rumahku mencari Kek Lam-wi, itu berarti dia di pihak yang dirugikan. Kalian sudah membekuknya belum?"
"Amat menyesal, mereka berhasil meloloskan diri."
Lega hati Kek Lam-wi.
"Untung mereka tidak masuk perangkap,"
Demikian batinnya, pengaruh obat bius mulai bekerja didalam tubuhnya, karena perasaan lega seketika dia tak kuat benahan lagi, pikiran gelap diapun jatuh pulas, sayang dia tidak sempat mendengar pembicaraan selanjutnya.
In Kip berkata.
"Disana ada Bak-pangcu dan beberapa Thaubak, ada pula Kun-lun-kiam-khek Kwik Tiang-ceng yang dia undang mewakili aku, ditambah kau pula kenapa masih tidak mampu melayani kedua muda-mudi itu?"
Perlu diketahui Ong-koankeh ini bukan lain adalah Ong Cong-king alias Ji-pangcu dari Giam-ong-pang, sejak Giamong-pang bubar belasan tahun yang lalu, pemimpin besar mereka Giam Cong-po tidak karuan paran jejaknya.
Sementara Ong Cong-king dan Koan Cong-yau demi menyambung hidup, terpaksa terima menjadi pembantu In Kip.
Ong Cong-king diangkat jadi Koankeh, sementara Koan Cong-yau diangkat sebagai kuasa perhotelan di Say-cu-lim.
Walau kedua orang ini sudah menemui jalan buntu dan akhirnya terima diperbudak.
Tetapi lantaran di kalangan hitam dulu mereka mempunyai kedududukan baik, maka In Kip tidak berani main-main dan menghargainya.
Sementara Kwik Tiangceng adalah jago pedang kenamaan dari Kun-lun-pay, kenal baik dengan Bak Bu-wi, kebetulan dia bertamu di Hoay-yangpang, maka Bak Bu-wi menariknya untuk membantu kei|a di rumah keluarga In.
Kemarin malam Bak Itu wii memang terluka, namun lukanya tidak terlalu parah.
Sementara Ong Cong-king dan Kwik Tiang-ceng terhitung jago kelas tinggi di kalangan Kangouw.
In Kip kira dengan tenaga beberapa orang ini dia tidak usah kuatir bakal terjadi sesuatu yang merugikan di rumahnya.
Diluar tahunya, kejadian justru diluar dugaannya.
Setelah mengatur napas dan menyeka keringat Ong Cong-king berkata pula.
"Bocah she Tan dan budak she In itu memang liehay, pedang mereka bergabung hanya tiga jurus Kwik Tiang-ceng sudah terluka oleh pedang mereka. Untung jumlah orang kita banyak, semua melabraknya beramai-ramai sehingga kedua bocah itu digebah lari."
Diam-diam In Kip kaget, pikirnya.
"Tak heran semalam Tang-bun-siansing kena dirugikan oleh Tan Ciok-sing,"
Kejadian yang merugikan dirinya semalam, sudah tentu tidak pernah diceritakan oleh Tang-bun Cong sendiri, tapi Koan Cong-yau tahu akan kejadian itu. Ong Cong-king berkata lebih lanjut.
"Cukong harap dimaafkan. Majikan muda, dia..."
In Kip hanya punya seorang putra tunggal bernama In Hou, mendengar Ong Cong-king menyinggung putranya, dia terperanjat.
"Apa anak Hou, dia kenapa?"
Tanyanya kaget. '"Tuan muda terluka sedikit,"
Sahut Ong Congking.
"Luka apa?"
"Terluka oleh Hun-kin-joh-kut-jiu-hoat she Tan keparat itu. Setelah melukainya, bocah itu masih menutuk Hiat-tonya pula, untung dia tidak tahu kalau dia tuan muda, kalau tidak..."
Sudah tentu In Kip tidak sabar mendengar ocehannya, tanyanya gugup.
"Apakah sekarang dia sudah cacat?"
"Tulangnya yang patah sudah kusambung dan kuobati, kurasa tidak sampai cacat, cuma Kungfunya mungkin harus dilatih ulang."
Lega hati In Kip, katanya.
"Aku punya kekayaan sebanyak ini, umpama dia tidak pandai main silat juga hidupnya tidak akan kapiran."
"Tapi, tapi..."
Berkerut alis In Kip.
"Tapi apa lagi?"
"Tuan muda ditutuk jalan darah pelemas tubuhnya, kami tidak mampu membukanya."
Jalan darah pelemas tidak segenting jalan darah mematikan, tapi bila kelamaan dan tidak mampu membukanya tutukan itu bakal menimbulkan akibat fatal bagi kesehatan tubuh.
Karuan In Kip gugup lagi, serunya.
"Kenapa kalian tidak lekas menggotong kemari?"
"Tuan muda sudah kubawa kemari. Soalnya luka-luka Hunkin-joh-kut itu pantang mengalami getaran luar. Maka aku tidak berani membawanya menunggang kuda atau menggendongnya. Kini di perjalanan, dia naik kereta yang dilampiri kasur empuk. Yang pegang kendali adalah Thio Tiang-tui, si Kaki Panjang, cukong tidak usah kuatir,"
Si Kaki Panjang adalah kusir In Kip yang paling pandai.
In Kip tekan amarahnya supaya dia tidak marah-marah terhadap Ong Cong-king, betapapun hatinya tidak bisa lega.
Berulang dia membanting kaki, serta berkaok-kaok suruh anak buahnya keluar menyambut putranya telah tiba.
Merah padam muka Ong Cong-king saking malu, dia minggir ke samping, berdiri mematung seperti ayam jago yang kalah di arena.
Untung mereka tidak menunggu lama, yang diharappun telah tiba.
Tampak empat Keh-ting memanggul sebuah usungan, putranya yang terluka itu diturunkan di hadapannya.
Melihat muka putranya pucat hijau, noda darah yang mengotori pakaiannya masih belum dibersihkan, sungguh perih dan kaget hatinya, katanya gelisah.
"Tang-bun-siansing, mohon kau suka menolongnya. Aku yakin kau pasti dapat membebaskan tutukan Hiat-to putraku."
Tang-bun Cong memang ahli Tiam-hiat, mahir membuka tutukan Hiat-to dari berbagai aliran.
Ong Cong-king tahu akan keahliannya maka buru-buru membawa majikan mudanya kemari.
Dengan tenang Tang-bun Cong berkata.
"Baiklah biar kucoba." --Perlahan dia menepuk punggung dan kedua ketiak In Hou masing-masing tiga kali.
"Hauuaaah"
Kontan In Hou memuntahkan sekumur riak kental, mulutnya mampu bersuara dan bicara.
"Ayah, anak dianiaya keparat itu, kau harus membalaskan sakit hatiku."
"Siauya tidak usah kuatir,"
Ucap Koan Cong-yau.
"Tan Cioksing adalah buronan baginda, kita beramai memang hendak menangkapnya."
"Ayah,"
Kata In Hou pula.
"kau sudah berterima kasih kepada Ong-koankeh belum, kali ini berkat pertolongannya, kalau tidak akibatnya sungguh sukar dibayangkan."
In Kip melengak, pikirnya.
"Sebagai Koankeh dia tidak mampu mengatasi kesulitan sehingga kedua bocah itu membual keributan, sudah untung kalau aku tidak menyalahkan dia, kenapa aku harus berterima kasih kepadanya malah,"
Tapi demi memberi muka kepada Ong Cong-king, dengan tawar dia berkata.
"Oh, ya, berkat usaha Ong-koankeh sehingga musuh digebah pergi, aku memang harus berterima kasih kepadamu."
"Bukan soal itu yang kumaksud,"
Kata In Hou.
"Ongkoankeh, apa kau belum jelaskan kepada ayah?"
Ong Cong-king tersenyum, katanya.
"Itu sudah kewajibanku, buat apa siauya menyinggungnya."
Karena ingin tahu, terpaksa In Kip mendesak tanya. Tapi Ong Cong-king mandah tertawa saja tanpa mau buka suara.
"Ayah,"
Kata In Hou.
"Bila kukatakan kau akan lebih marah lagi. Keparat itu bukan saja menganiaya aku, juga Sam Ihnio."
Sam Ih-nio yang dikatakan In Hou adalah gundik In Kip yang ketiga, In Kip punya seorang istri dengan empat gundik, yang paling disayang justru adalah gundik yang ketiga ini.
Kejut dan gugup In Kip dibuatnya, serunya gusar.
"Tan Ciok-sing keparat itu memang kurang ajar, bagaimana dia bisa menganiaya Sam Ih-nio?"
"Dia menerobos masuk ke kamar Sam Ih-nio, entah apa yang dilakukan, kudengar Sam Ih-nio menjerit-jerit minta tolong, segera aku memburu kedalam, sayang Kungfu anak kurang becus, bukan saja tidak mampu menolong Sam Ih-nio, jiwa sendiri hampir saja melayang. Untung Ong-koankeh datang tepat pada saatnya, sehingga anak dapat diselamatkan. Pakaian Sam Ih-nio sudah tidak karuan, tapi untung juga karena kenekatanku, dia tidak sampai mengalami gangguan lebih buruk."
Legalah hati In Kip, lekas dia menyatakan terima kasih kepada Ong Cong-king, dan mencaci maki Tan Ciok-sing.
Ternyata diluar tahunya bahwa peristiwa itu justru tidak pada tempatnya.
Hakikatnya peristiwa itu hanya bualan putranya belaka.
Cuma dalam bualan itu ada beberapa patah kata yang benar, namun istilah "aniaya"
Terhadap gundik ketiga itu bukan Tan Ciok-sing yang melakukan, tapi justru putranya sendiri.
Diluar tahu In Kip, In Hou putra tunggalnya sejak lama sudah main serong dengan gundik ketiga itu.
Di waktu Tan Ciok-sing dan In San mengobrak-abrik rumahnya mencari jejak Kek Lam-wi, kebetulan dia kepergok sedang tidur seranjang di kamar gundik ketiga itu.
Memang secara kebetulan saja, tujuan utama hendak membekuk In Kip, justru putranya yang lagi main serong ini ketangkap basah.
Karena In Kip tidak ketemu, terpaksa Tan Ciok-sing memberi sedikit tanda mata kepada In Hou baru meninggalkan tempat itu.
000OOO000 Ong Cong-king pandai menjilat, dia merangkul majikan muda ini demi kepentingannya, sudah logis kalau dia bantu menutupi peristiwa memalukan ini.
In Hou amat berterima kasih akan bantuannya ini, maka berhadapan langsung dia bicara akan kebaikan Ong Cong-king.
Sudah tentu In Kip juga seekor rase yang licin, namun tak berani dia menduga bahwa putranya ini mencuri gundiknya, setelah mendengar cerita bohong dia anggap kejadian sesungguhnya, maka wajahnya tampak merah padam.
Ong Cong-king berkata.
"Setelah tidak menemukan Cengcu, keparat Tan Ciok-sing itu mungkin mengompres keterangan salah seorang anak buah kita, bukan mustahil sudah tahu Cengcu disini, sebentar mungkin menyusul kemari."
Seperti api disiram minyak, amarah In Kip makin berkobar, serunya.
"Aku justru kuatir keparat itu tidak kemari. Disini kita banyak orang, Kek Lam-wi sudah tergenggam di tangan kita, apa pula yang harus ditakuti? Bila dia berani datang, biar kupatahkan tulangnya dan kubeset kulitnya."
Ong Cong-king tertawa, katanya.
"Harap Cukong tidak marah. Jelas kita tidak akan mendiamkan keparat itu, tapi jangan lupa dia adalah buronan yang diminta oleh Baginda."
Seketika padam amarah In Kip, katanya.
"Bila tidak kupatahkan tulangnya dan membeset kulitnya, aku akan menyiksanya juga sampai puas baru akan kuserahkan kepada Baginda. Hm, aku justru kuatir dia tidak berani kemari."
Tengah bicara, mendadak dari kejauhan berkumandang sebuah suara, itulah suara tabib kelilingan yang berkaok-kaok tentang kemahirannya mengobati berbagai penyakit, suaranya sengaja ditarik panjang.
"Khusus menyembuhkan berbagai penyakit aneh dan sukar disembuhkan, terutama menyambung tulang memulihkan otot dari urat, tanggung sekali diobati sembuh seperti sedia kala, tidak cacat tiada bekas."
Mendengar suara tabib kelilingan ini, semua orang jadi melenggong dan saling pandang.
Perlu diketahui villa In Kip ini terletak di tengah-tengah bukit didalam kebon yang luas arenanya, tabib kelilingan itu terang tidak boleh sembarang masuk kedalam kebonnya itu berarti dia mengumandangkan suaranya jauh diluar pintu besar.
Padahal villa dimana sekarang mereka berada ada setengah li dari pintu bugar, melewati berlapis pintu dan hutan yang tersebar lagi Habis tertegun Tang-bun Cong segera berkata.
"Tabib kelilingan ini kurang beres suaranya menggunakan ilmu mengirim suara gelombang panjang."
In Kip bercekat, katanya.
"Mungkin keparat itu yang datang?"
In Hou mandengarkan seksama, katanya.
"Tidak mirip, suara keparat itu aku dapat mengenalinya."
"Suara orang ini serak tua,"
Timbrung Koan Cong-yau.
"kukira bukan samaran bocah itu."
Sebetulnya In Kip juga seorang Kangouw yang pengalaman, dia pun dapat membedakan suara serak dan muda.
Tapi kejadian amat mendadak, mau tidak mau perasaan yang masih gundah dan kebat kebit itu belum hilang, maka dia tidak memikirkan sejauh itu.
Kini mendengar Koan Cong-yau yang sudah tahu dari dekat tentang pribadi Tan Ciok-sing, rasa curiganya lenyap seketika.
In Hou berkata.
"Ayah, bila dia betul seorang tabib tulen dan bukan membual, coba kita panggil dia masuk, biarlah anak menjadi percobaan untuk menguji kepandaiannya."
Seperti diketahui In Hou dipelintir lengannya oleh Tan Cioksing dengan Hun-kin-joh-kut sehingga tulang-tulang patah urat keseleo, tulangnya sudah dibetulkan Ong Cong-king, sehingga tidak sampai cacat, namun selanjutnya dia tidak akan bisa bermain silat lagi.
Tabib kelilingan ini mengagulkan diri pandai menyambung tulang segala, karuan In Hou mengharap luka-lukanya bisa sembuh cepat dan pulih seperti sedia kala.
Hobby Tang-bun Cong belajar silat, maka dia berkata.
"Mendengar ilmu mengirim suara gelombang panjangnya itu, aku jadi ingin menjajalnya. Bukankah kita ingin membekuk keparat itu? Umpama betul tabib kelilingan ini adalah komplotannya, dia berani mengantar jiwanya kemari, kita tidak usah takut menghadapinya. Bila dia bukan komplotan bocah itu, bukan mustahil kita bisa merangkul seorang tenaga yang dapat diandalkan."
Bu-sam Niocu tertawa, katanya.
"Kekuatiran In-cengcu juga harus dipikirkan, begini saja aku punya akal,"
Lalu dia berbisik-bisik di pinggir telinga In Kip. In Kip girang, wajahnya berseri, serunya.
"Bagus, bagus, dengan akal itu legalah hatiku, boleh segera kau siapkan. Ong-koankeh, tolong kau undang tabib kelilingan itu kemari."
Tang-bun Cong berdarah campuran Han dan Mongol, Poyang Gun-ngo orang Watsu, wajah mereka mudah dilihat sebagai orang asing.
Karena itu sebelum tahu seluk beluk tabib kelilingan ini, menurut rencana mereka, untuk sementara tidak unjuk diri saja, maka mereka sembunyi di belakang pintu angin.
Tidak lama kemudian Ong Cong-king membawa seorang tabib kelilingan itu masuk, usianya kira-kira lima puluhan, perawakannya kurus tinggi, mukanya kuning kering, tampangnya biasa tiada yang istimewa.
Justru tiada keistimewaannya, maka dia lebih mirip pemain akrobatik yang suka kelilingan di Kangouw mencari nafkah.
Melihat tampang orang biasa saja, selintas pandang In Kip amat kecewa, namun lekas dia berpikir.
"Manusia tidak boleh dinilai dari wajahnya, air tidak bisa diukur dengan gantang. Bukan mustahil tabib keliling ini benar-benar memiliki kepandaian,"
Maka dia persilakan tabib itu duduk dan memberi hormat, katanya.
"Tolong tanya siapa she dan nama Siangsing?"
Tabib itu bersuara sumbang.
"Hamba she Koan, bernama Put-ping."
She Koan (mengurus) bernama Put-ping (tidak adil) jadi kalau digabung menjadi Koan Put-ping (mengurus yang tidak adil). Bercekat hati In Kip, batinnya.
"Aneh juga nama tabib kelilingan ini,"
Tapi mengingat orang-orang yang hidupnya mengembara di Kangouw kebanyakan memang nyentrik, maka tidak perlu dibuat heran bila dia menggunakan namanama yang aneh pula.
"Entah siapa yang sakit disini, sakit apa?"
Tanya tabib kelilingan, agaknya dia tidak suka ngobrol.
"Putraku kurang hati-hati jatuh dari punggung kuda sehingga tulang patah otot keseleo, kudengar Siansing ahli menyambung tulang dan otot, entah Siangsing bisa menyembuhkannya seperti sedia kala?"
Tabib kelilingan itu tertawa lebar, katanya.
"Bukan aku suka mengagulkan diri, jangan kata tulang patah, umpama lengan putus atau paha patah juga aku bisa menyambungnya pula sampai sembuh tanpa meninggalkan bekas. Dalam jangka sebulan dia sudah akan mampu mengangkat barang berat."
"Bagus sekali,"
Seru In Kip senang.
"bila putraku sembuh seperti apa yang Siangsing katakan, berapa saja ongkosnya pasti kubayar."
Tawar suara tabib kelilingan.
"Soal bayaran boleh tidak usah dirisaukan. In-toacengcu, nama besarmu sebagai hartawan nomor satu di Kanglam terkenal di seluruh jagat, memangnya aku kuatir kau tidak akan membayar maha padaku? Biarlah aku periksa dulu luka-luka putramu."
"Baiklah, biar kusuruh putraku keluar. Silakan kau minum teh sambil menunggunya sebentar,"
Lalu dia tuangkan secangkir teh dan disuguhkan sendiri kepada tabib kelilingan, lalu diapun isi cangkir sendiri mengiringi orang minum.
Tabib kelilingan seperti tidak menaruh curiga sedikitpun, angkat cangkir terus ditenggaknya habis.
Dengan mulut berkecek-kecek lidah menjulur keluar dia memuji.
"Wah, teh harum dan sedap."
Legalah hati ln Kip, diam-diam dia tertawa dalam hati.
"Dugaan Bu-sam Niocu memang tidak meleset, mungkin kepandaian mengobati tabib kelilingan ini amat liehay. Kenyataan dia bakal kecundang juga oleh akalnya."
Ternyata dalam air teh itu sudah dicampur Hap-kut-san oleh Bu-sam Niocu.
Supaya tabib kelilingan ini tidak curiga, sebelumnya In Kip sudah minum obat penawarnya, maka dia berani mengajak tamunya ini minum bersama.
Hap-kut-san bikinan Bu-sam Niocu ini daya kerjanya lambat, masuk mulut tidak terasa, namun dalam jangka setengah jam orang tanpa sadar akan lunglai tak mampu mengeluarkan tenaga.
Jangan kata berjalan, mengangkat tangan atau kakipun rasanya berat.
Begini rencana mereka, bila tabib ini betul-betul baik hati mau menyembuhkan luka-luka In Hou, setengah jam kiranya cukup untuk menyambung tulang dan membetulkan otot.
Jadi sebelum dia menyadari dirinya keracunan, obat penawar yang sudah disiapkan dalam air teh di cangkir lain akan disuguhkan pula, hakikatnya dia tidak tahu bahwa dirinya pernah keracunan.
Bila tabib keliling ini melakukan sesuatu sampai harus bergebrak dan turun tangan, khasiat obat bius itu akan kumat dan bekerja lebih dini dari waktunya, umpama ln Hou dia tangkap untuk sandera juga tidak perlu dibuat kuatir lagi.
Adanya akal bulus yang diatur Bu-sam Niocu ini, dijaga pula oleh Ong Cong-king dan Koan Cong-yau dua jago yang dapat diandalkan, maka In Kip yakin segalanya akan berjalan lancar sesuai rencana, tanpa menguatirkan apa-apa dia serahkan putranya untuk diperiksa.
Melihat si tabib setelah minum teh malah memuji teh wangi dan enak, diam-diam dia tertawa senang, katanya.
"Itulah Liong-kin-teh yang diseduh dengan air embun, agaknya Siansing memang penggemar teh, silahkan minum secangkir lagi."
Tabib kelilingan berkata.
"Teh baik jangan minum banyakbanyak, lebih bagus disimpan saja. Nanti setelah menyembuhkan putramu, pelan-pelan akan kunikmatinya lagi."
In Kip tahu sampai dimana khasiat Hap-kut-san buatan Busam Niocu, sebetulnya secangkir juga cukup untuk melumpuhkan tabib ini, supaya tidak menimbulkan rasa curiganya, maka dia berkata dengan tertawa.
"Siansing agaknya ahli dalam soal minum, baiklah setelah mengobati putraku nanti, akan kusuguh pula Siansing beberapa cangkir."
Mana dia tahu, padahal Tabib kelilingan juga tengah tertawa dalam hati.
Tabib kelilingan yang memperkenalkan diri dengan nama Koan Put-ping ini, tanpa kami jelaskan tentu para pembaca sudah menduga siapa dia sebenarnya.
Dia bukan lain adalah Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun.
Setelah Tan Ciok-sing dan In San pergi, tiba-tiba dia teringat.
"In Kip adalah rase tua yang licin, walau dia berpesan kepada kuasa hotel supaya Kek Lam-wi merahasiakan pertemuan hari itu terhadap Tan Ciok-sing, tidak mungkin dia tidak siaga bila Kek Lam-wi membocorkan pertemuan itu. Maka alamat pertemuan itupun sudah diatur sedemikian rupa di tempat lainnya."
Dari mulut Kiau-jan Taysu dia mendapat tahu bahwa In Kip punya sebuah villa di atas Thian-ping-san, maka setelah menyamar jadi tabib kelilingan segera dia menuju ke Thianping-san.
Dan secara kebetulan In Hou terluka, diluar dugaan klop dengan rencananya menyamar tabib kelilingan.
In Kip ternyata ketipu dan mengundangnya masuk.
Saat mana kedua pihak sama tertawa dalam hati, In Kip kira Tam Pa-kun betul sudah masuk perangkap, diluar tahunya, berkepandaian tinggi nyali Tam Pa-kun memang keliwat besar, meski tahu di atas gunung ada harimau, dia justru naik ke gunung dan lewat disana.
Diam-diam Tam Pa-kun kerahkan Lwekangnya untuk mencegah Hap-kut-san bekerja dalam tubuhnya, kedua pihak punya perhitungan sendiri, sementara itu Ong Cong-king sudah memapah In Hou keluar dari dalam.
Sengaja Tam Pa-kun bermain sandiwara, sebagaimana lazimnya seorang tabib dia periksa urat nadi serta memeriksa lengan yang terluka katanya.
"In-toacengcu, ingin aku bicara, tapi mungkin kedengarannya kurang pantas, entah perlu tidak kuucapkan?"
Yang dipikir In Kip adalah putranya lekas sembuh, maka katanya.
"Silakan katakan saja Siansing."
"In-toacengcu, untuk menolong putramu, maka tidak sepantasnya kau berbohong kepadaku,"
Secara, blak-blakan dia membongkar kebohongan In Kip. In Kip justru kaget dan gembira, pikirnya.
"Agaknya tabib kelilingan ini memang membekal kepandaian tulen,"
Namun dia pura-pura bodoh, tanyanya.
"Kenapa Siansing bilang begitu. Orang she In yakin tidak menipumu, harap Siansing memberi petunjuk."
"In-cengcu,"
Ujar Tam Pa-kun kalem.
"tadi kau bilang putramu jatuh dari punggung kuda sehingga tulang patah urat keseleo. Tapi menurut pemeriksaanku, kukira kejadian tidak demikian?"
"Waktu putraku jatuh, aku tak ada di rumah, aku hanya mendengar laporannya saja."
"Kalau begitu putramu ini yang bohong?"
Lekas In Hou berkata.
"Siansing, tak usah kau peduli apakah aku ini bohong atau tidak, coba katakan menurut pemeriksaanmu, apa kau tahu kenapa aku terluka?"
"Baiklah biar kuterangkan, coba cocokan apakah analisaku betul. Luka-lukamu ini bukan lantaran jatuh, tapi lenganmu dipelintir patah dengan Hun-kin-joh-kut oleh seorang ahli silat yang liehay. Orang yang melukai kau, kalau tidak salah seorang pemuda yang berusia belum genap dua puluh."
In Hou ayah beranak betul-betul kaget, teriaknya bersama tanpa berjanji.
"Dari mana kau tahu?"
"Hun-kin-joh-kut adalah ilmu yang sukar diyakinkan, setiap turun tangan harus diperhitungkan baru hasilnya akan dapat diagulkan. Oleh karena itu bila ilmu ini dilatih sampai taraf yang sempurna, kebanyakan adalah jago silat yang usianya sudah mencapai setengah baya, seorang jago silat seusia itu dengan bekal kepandaiannya yang liehay, kebanyakan pula mempunyai ketabahan dan kesabaran yang luar biasa, dia tidak akan semau gue turun tangan melukai orang dengan ilmu yang ganas ini, tapi sekali turun tangan dia tidak akan kenal kasihan lagi. Dari hasil pemeriksaaan luka-luka di lengan putramu ini, meski latihan Hun-kin-joh-kut orang itu sudah termasuk taraf tinggi, namun waktu turun tangan dia diburu oleh emosi sehingga tenaga yang dikerahkan terlalu dipaksakan, ini jelas menandakan bahwa hatinya saat itu sedang marah atau tidak sabar lagi. Dan lagi, bagi orang yang sudah tua, tenaga dalamnya lebih condong agak lunak, terutama di waktu melukai lawan dengan gerakan Hun-kinjoh-kut, karena itu gerakan ini tidak memerlukan tenaga yang besar. Tapi orang itu bukan saja menggunakan tenaga yang diburu nafsu, tenaganya teramat kasar pula, maka aku berani memastikan bahwa penyerang itu usianya masih muda meski sudah memiliki Kungfu yang tinggi. Entah betul tidak uraianku?"
"Betul,"
Teriak In Hou.
"betul sekali. Siansing, kau seperti menyaksikan sendiri, bangsat itu usianya mungkin memang belum genap dua puluh tahun."
Tam Pa-kun berkata sungguh-sungguh.
"Seorang tabib harus tahu sebab musabab datangnya penyakit, barulah dia bisa membuat resep dan memberikan obat yang tepat. Untung aku tahu akar asal mula luka-luka ini berdasarkan pengalaman puluhan tahun, kalau aku percaya begitu saja bahwa tulang ini patah lantaran jatuh dari punggung kuda, bukankah aku akan memberikan obat yang salah? Akibatnya kau sendiri yang akan mengalaminya."
Lekas Ong Cong-king melerai, katanya.
"Siansing tidak usah marah, begitulah kejadiannya, Siauya tidak ingin bila Loya tahu dia berkelahi dengan orang, maka dia berbohong., Untuk ini Loya memang benar-benar tidak tahu."
Segera ln Kip pura-pura memaki putranya, katanya kemudian.
Baca Juga: Kereta Berdarah 2
Baca Juga: Elang Pemburu 3