Eps 3 Elang Pemburu - Gu Long
Baca online Elang Pemburu - Gu Long
Cersil Elang Pemburu - Gu Long.
Bahkan berkat jasa Ni Siau-cong yang bertindak sebagai perantara, dia berhasil menjadi tamu agung dari Ang ang.
Malam itu, ketika Phoa Kiseng, Phoa tayjin dari kota Chi lam sedang bercakap cakap dengan Ni Siau cong, tiba tiba dari tengah bangunan rumah yang dihuni Ang ang kembali muncul asap berwarna ungu.
Pada saat itulah Phoa tayjin yang dikenal orang sebagai seorang sarjana yang lemah lembut ternyata menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi untuk meluncur ke arah sumber asap ungu itu dengan kecepatan tinggi, disusul kemudian oleh Leng Giok hong dan Ni Siau Cong Saat itulah mereka kembali mendengar jeritan ngeri dari Ang-ang, dan ketika mereka menyusul ke dalam kamar tidurnya, tampak nona Ang yang cantik jelita itu sudah tergeletak mati di atas ranjangnya.
Mati dibunuh seseorang.
Ada satu orang masih berdiri di tepi ranjang sambil memegang pisau yang penuh noda darah.
Orang itu ternyata tak lain adalah Thia Siau cing.
Yang aneh, pada waktu itu dayang kesayangan Ang ang, yaitu Wan wan, sama sekali tak kelihatan batang hidungnya.
"Apa mungkin ini yang dikatakan orang lantaran cinta kembali jadi kebencian?"
Ujar Oh Kim siu sedih.
"Orang kuno sering berkata, batasan antara cinta dan benci itu mirip sekali dengan mata pisau, dan batasan seperti inilah yang paling sukar dipertahankan secara baik."
Setelah tertawa lebar, terusnya lagi sembari melirik ke arah Po Ing.
"Maka dari itu kau mesti hati-hati, siapa tahu suatu hari nanti aku pun bakal bunuh kau?!"
"Tapi pembunuh yang menghabisi nyawa Ang ang bukan Thia Siau cing!"
Kata Po Ing.
"Bukan? Bukti maupun orangnya sudah ada, bahkan tertangkap basah. Kenapa kau masih berkata bukan dia pembunuhnya?"
"Sekalipun ada orang menyaksikan dengan mata kepala sendiri drama pembunuhan berdarah itu, aku tetap akan mengatakan bahwa pembunuhnya bukan dia!"
"Kenapa?"
Tanya Oh Kim siu keheranan.
"Apakah dikarenakan kau selalu menganggap dalam kasus ini kelebihan seseorang dan kekurangan seseorang?"
"Benar!"
"Tapi... Phoa tayjin memang pembesar yang ditugaskan di kota Chi lam untuk membongkar kasus pembunuhan ini. Kenapa kau bilang kelebihan seseorang?"
"Karena dulunya dia adalah satu orang tapi kemudian berubah jadi dua orang. Satu orang sebagai pembesar eselon empat yang terpelajar dan lemah, dan seorang lagi sebagai jagoan dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat tinggi!"
Setelah termenung berpikir sejenak, kembali Po Ing berkata.
"Yang tidak kuketahui, sebenarnya dia jenis manusia yang mana? Seorang pembesar lemah yang tahunya hanya baca buku dan belajar? Ataukah seorang jago dari sungai telaga yang sudah terbiasa bunuh orang dalam hidupnya?"
Oh Kim siu ikut termenung sambil peras otak, sampai lama kemudian ia baru berkata.
"Terlepas dia merupakan orang yang kau anggap sebagai kelebihan atau bukan, yang pasti tidak seharusnya gadis kecil bernama Wan wan tidak berada di tempat kejadian. Menurut kau, mungkinkah dia dibunuh si pembunuh yang sesungguhnya karena sewaktu terjadinya pembunuhan berdarah, dia hadir di situ sebagai saksi mata?"
"Kecurigaanmu memang sangat beralasan, oleh sebab itu sisa pertanyaan yang harus dijawab tinggal satu."
"Soal apa?"
"Kalau betuI dia telah dibunuh untuk membungkam mulutnya mayatnya berada di mana?"
"Mayatnya tidak ditemukan?"
"Tidak ditemukan,"
Jawab Po Ing.
"Bahkan seluruh bangunan dan halaman sudah dibongkar, tapi jejaknya tetap tak ketahuan."
"Ya, padahal waktu itu Phoa Ki seng dan Leng Giok hong berada di situ. Tak mungkin si pembunuh setelah melakukan pembunuhan berdarah masih punya cukup waktu untuk membawa kabur jenasah Wan-wan, karena waktu untuk dirinya sendiri pun tidak banyak."
"Betul!"
"Oleh karena itu analisis yang mengatakan Wan wan dibunuh sama sekali tak masuk diakal."
"Benar!"
"Lalu... mungkinkah dia sendiri yang mengambil keputusan untuk melarikan diri? Kenapa dia kabur sementara nona yang begitu dekat hubungannya dengan dia mati terbunuh? Bahkan sampai kini jejak tubuhnya tidak ketahuan? Mugkinkah si dayang cilik ini mempunyai satu rahasia?"
Oh Kim siu tahu, hanya Wa-wan sendiri yang bisa menjawab teka teki ini. Tapi Wan wan sudah lenyap. Dia menjadi orang yang disebut Po Ing sebagai "kekurangan seseorang."
Mustahil dia bisa menjawab pertanyaan itu.
"Masih untung kita masih mempunyai kelebihan seseorang,"
Kata Oh Kim siu.
"Selama ini Phoa Ki seng dikenal sebagai seorang pembesar yang punya kemampuan besar. Paling tidak terhadap kasus ini dia pasti mempunyai rahasia yang lebih banyak ketimbang yang diketahui orang lain."
"Tapi kita mesti bertanya kepada yang mana?"
Kata Po Ing.
"Bertanya kepada Phoa tayjin, atau bertanya kepada Phoa tayhiap?"
"Kedua orang itu sebetulnya adalah satu orang yang sama, bertanya kepada yang mana pun rasanya sama saja."
"'Tidak sama,"
Jelas Po Ing.
"Kalau ingin bertanya kepada Phoa tayjin, maka kita harus berpakaian necis, menghaturkan kartu nama dan mohon bertemu dengannya."
"Aaah, kurang menarik kalau harus berpenampilan resmi!"
"Kalau begitu kita harus memakai Ya heng ie (pakaian ketat untuk berjalan malam), menggembol senjata tajam dan mengunjungi kantor pengadilan di tengah malam buta. Apa pun yang bakal terjadi kita harus berhasil mengorek sedikit berita dari mulutnya!"
"Nah yang ini baru menarik!"
Seru Oh Kim siu dengan mata berkilat. Po Ing menghela napas panjang.
"Menarik sih memang menarik. Yang dikuatirkan justru kita tak berhasil mempermainkan orang lain, sebaliknya orang lain yang mempermainkan kita."
Ilmu silat yang dikuasai Phoa Ki seng pada dasarnya memang hebat dan penuh misteri.
Ditambah Leng Giok hong yang belakangan namanya amat tersohor dalam dunia persilatan, masih ditambah pula dengan kawanan jago dari Lak san bun yang tersebar di seputar rumah pengadilan kota itu.
Mereka memang nyata merupakan satu kelompok manusia yang tak mudah dihadapi.
Oh Kim siu tidak berbicara, dia hanya tertawa terkekeh kekeh seakan akan sama sekali tak perduli dengan kekuatiran kekasihnya.
Di saat suara tertawanya amat riang dan nyaring itulah, tiba tiba tubuhnya melesat keluar dari ruang kereta dengan kecepatan bagai burung walet yang terbang di angkasa.
Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya mungkin belum terhitung sebagai lima besar dalam urutan jago kenamaan dunia persilatan.
Bahkan dalam urutan sepuluh besar pun tidak tercantum.
Namun keindahan gerak tubuhnya betul betul mempersonakan hati siapa pun yang melihatnya.
Bahkan ketika ia sudah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki pun, gerak tubuh perempuan itu masih sangat menggiurkan bagai seorang nona yang sedang jalan santai di bawah pepohonan yang rindang.
Apalagi ketika bajunya tersingkap hingga nampak sepasang kakinya yang putih mulus dan kecil itu, keindahannya benar benar tak terlukis dengan kata.
Sekali lagi Po Ing menghela napas panjang, sambil tertawa getir gumamnya.
"Hai, sampai sekarang penyakit yang terbawa sejak masih nona kecil berusia enam tujuhbelas tahun masih belum juga hilang.."
Sementara itu tubuh Oh Kim-siu sudah melejit keluar kemudian melayang ke atap ruang kereta, disusul kemudian terdengar beberapa kali suara bentakan nyaring serta hembusan angin pukulan yang menderu deru.
Po Ing seolah olah seperti tidak mendengar suara itu.
Bahkan misalnya mendengar pun, urusan tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Kini dia pejamkan kembali sepasang matanya.
Ketika matanya dibuka kembali, di hadapannya kini telah bertambah dengan satu orang.
Pejabat Eselon Empat Orang itu berwajah angker penuh wibawa dengan sorot mata yang sangat tajam.
Senyumannya penuh simpatik dan ramah.
Dia mengenakan baju berwarna biru, nyaris tak terlihat perhiasan apapun menghiasi tubuhnya.
Perhiasan yang tampak hanya sebuah benda berbentuk cincin yang berwarna hitam pekat, berbentuk sangat aneh, tidak jelas berbuat dari emas atau besi yang melingkar di jari manisnya.
Po Ing tampak sedang mengerutkan dahinya dan pura-pura tidak memperhatikan cincin itu, padahal setiap waktu setiap saat dia selalu melirik ke arah benda tadi.
Semakin banyak ia melirik, sorot matanya nampak berubah semakin berat dan serius hingga akhimya raut mukanya ikut berkerut kencang.
Belum pernah ia memperlihatkan mimik muka seserius ini, kendatipun di saat ia bertemu dengan Liu Cing ho yang punya julukan sebagai Bu tek kim kiam (pedang emas tanpa tandingan).
Mungkinkah cincin berwarna hitam pekat itu termasuk juga sebagai sebuah senjata maut yang bisa digunakan untuk membunuh orang?
Akhimya lelaki setengah umur yang mengenakan jubah berwarna, biru itu tak bisa menahan diri.
Dia buka suara lebih dulu, suaranya rendah, berat tapi penuh tenaga dengan nada memerintah yang tegas dan tandas, ia berseru.
"Tuan Po Ing!"
"Ya!"
Sahut Po Ing, lalu balik bertanya.
"Phoa tayjin?"
"Benar ... !"
Po Ing tersenyum, ujarnya lagi.
"Phoa tayjin, hebat betul gerakan tubuhmu. Orang lain selalu berkata bahwa aku punya mata elang telinga kelinci hidung anjing, tapi kali ini... nyaris aku pun tak tahu sedari kapan Phoa tayjin telah tiba di sini."
Phoa Ki seng mendeham beberapa kali, lalu sambil mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya.
"Tentunya Po sianseng telah berjumpa dengan Kwan jiya?"
"Ya, sekarang dia sudah pulang ke guanya di wilayah barat laut, pergi menengok adik kesayangannya yang patut dikasihani dan sudah banyak tahun hidup menjanda,"
Hidup menjanda memang benar, tapi patut dikasihani mah belum tentu! jika Kwan sam koh-nay nay patut dikasihani, maka tak ada orang lagi yang perlu dikasihani dalam dunia saat ini.
"Apakah si Lamkong yang tempo dulu pernah malang melintang di kolong langit dengan mengandalkan golok besarnya juga ikut pergi ke barat laut?"
Tanya Phoa Ki seng lagi.
"Kenapa dia selalu memata matai dia?"
"Pertama, karena dia suka. Kedua, karena dia sedang menganggur, dan ketiga, siapa tahu dia sedang menunggu kesempatan untuk membunuh Kwan ji?"
Jawab Po Ing.
"Kau toh mengerti, bukan satu pekerjaan yang gampang untuk membunuh Kwan Ji. Apalagi menunggu datangnya kesempatan macam itu, Mungkin lebih sulit daripada mendaki ke langit."
Sementara itu suara pertarungan dan gerak putar tubuh yang bergema dari atap kereta tiba tiba makin menjauh.
Jelas orang yang sanggup bertarung sekian lama melawan Oh Kim siu itu bukan seorang jagoan sembarangan.
Tiba tiba terdengar Phoa Ki-seng mengalihkan kembali pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya kepada Po Ing.
"Mana Wan wan?"
"Wan wan?"
"Aku lihat Po sianseng sudah tahu tentang kasus yang menimpa Kwan Ji, tentunya juga sudah jelas mendalami seluk beluk kasus pembunuhan ini. Aku pikir kau tak mungkin tak kenal soal Wan-wan bukan?"
"Ada satu persoalan yang hingga kini tak kupahami,"
Kata Po Ing tawar.
"Tolong tanya sebetulnya tempat ini adalah ruang Sidang pengadilan kota Chi lam atau dalam kereta ku?"
Phoa tayjin tak malu disebut seorang jago kenamaan yang punya kemampuan hebat dalam pengendalian emosi.
Wajahnya sama sekali tak berubah walaupun mendapat ejekan seperti itu.
Setelah tarik napas dan berbatuk batuk, kembali katanya.
"Aku hanya secara iseng mengajukan pertanyaan itu. Semisal Wan wan bisa ditemukan, maka kehadirannya akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Sebab kalau tidak... mungkin nyawa Thia kongcu akan berakhir sebelum ujung musim gugur tahun ini."
"Sebelum akhir musim gugur? Kenapa?"
"Sebab dia sudah banyak hari mogok makan. Bukan cuma mogok makan dan mogok minum, bertemu dengan orang lain pun tak mau. Terpaksa kami pun tak berani memaksa,"
Jelas Phoa Ki seng.
"Jika seorang narapidana sampai mati kelaparan di dalam penjara milik pemerintah, siapa pun tak bisa lolos dari tanggung jawab ini."
Po Ing termenung dan berpikir sejenak, lalu serunya keras.
"Kalau begitu biar kutengok dirinya lebih dulu."
"Kau tak bakal bertemu dengannya. Siapa pun tak bisa bertemu dengannya, termasuk Po sianseng sendiri. Aku rasa tak mungkin aku memberi pengecualian kepadamu."
Tiba tiba berkilat sepasang mata Po Ing. Sambil memandang Phoa Ki seng dengan mata melotot serunya.
"Berani kau taruhan denganku?"
"Taruhan? Taruhan apa?"
"Aku pertaruhkan kopiah jabatan eselon empat yang kau kenakan itu!"
"Jika kau kalah?"
"Kalau aku kalah, kupertaruhkan batok kepalaku!"
"Berapa lama batasannya?"
"Sehari semalam,"
Jawab Po Ing.
"Bila sampai besok pada saat yang sama seperti sekarang aku belum berjumpa dengan Thia Siau cing, anggap saja aku yang kalah."
Lama sekali Phoa Ki seng mengawasi lawannya, akhimya sambil tertawa ia berkata.
"Po sianseng, kau memang seorang penjudi sejati. Sudah kuduga Po sianseng pasti akan mengajak aku hertaruh!"
Tampaknya ia benar benar sudah tahu, sebab kereta kuda itu sudah berhenti, berhenti persis di belakang tembok pekarangan kantor pengadilan kota Chi lam.
Halaman di balik tembok pekarangan itu tak lain adalah tempat tahanan yang digunakan Phoa tayjin untuk mengurung para narapidana.
XI.
Kawanan jago Tangguh Di luar tembok pekarangan terdapat sebuah lorong panjang.
Dua tiga kaki di depan kereta itu berhenti terdapat sebuah warung teh.
Waktu itu fajar baru menyingsing, saat yang paling ramai bagi warung teh untuk melayani tamunya.
Banyak orang mencari sarapan di situ; ada pedagang kecil, ada penjual kelontong, keliling, pelbagai lapisan masyarakat hampir berkumpul di sana.
Memandang dari kejauhan, warung teh itu nampak tak berbeda jauh dengan kebanyakan warung teh di negeri ini.
Tapi sewaktu Po Ing masuk ke dalam warung, ia segera menemukan bahwa keadaan di situ sama sekali berbeda.
Di antara tetamu yang Sedang sarapan dalam warung itu ternyata paling tidak sepuluh orang adalah jago silat berkepandaian tinggi dari dunia persilatan.
Sebetulnya ada jago silat dari dunia persilatan sedang sarapan di warung the bukanlah satu kejadian yang aneh.
Justru keanehan terletak pada sorot mata mereka yang begitu tajam, sepasang kening dengan jalan darah tay-yang hiat yang begitu menonjol serta sepasang kulit tangan yang begitu berkilat dengan aliran darah yang nampaknya begitu cepat di bawah kulit tangan mereka.
Jelas orang orang itu memiliki ilmu silat yang sangat luar biasa.
Di waktu biasa, bukan satu pekerjaan yang gampang untuk bertemu dengan seorang saja di antara kawanan jago lihay itu.
Terlebih tak mungkin mereka berkumpul jadi satu bila tak ada suatu perkara yang amat serius.
Jika mereka sampai berkumpul jadi satu, maka di tempat itu pasti sudah terjadi satu peristiwa besar yang sangat menghebohkan dan menggemparkan sungai telaga.
Sekalipun belum terjadi, tak perlu diragukan peristiwa itu segera akan terjadi.
...
Kasus asap ungu kini sudah berakhir, kejadian menghebohkan apa lagi yang bakal terjadi di tempat itu?
Po Ing mencari tempat duduk, memesan air teh dan makanan kecil, bahkan membeli selembar kertas yang berisi acara opera yang akan mengadakan pertunjukkan hari itu.
Sekilas dia seperti sedang membaca kertas acara opera.
Padahal secara diam diam dia awasi kawanan jago tangguh itu, Memperhatikan sorot mata mereka, gerak gerik mereka, gaya sewaktu ambil cawan, gaya sewaktu duduk bahkan memperhatikan juga gerak tangan mereka termasuk ruas ruas persendian jari tangan mereka.
Tentu saja dia pun tahu kalau kehadirannya mustahil bisa mengelabuhi mereka.
Dia sendiri memang tak ingin mengelabuhi mereka.
Dia sengaja berbuat begini tak lain hanya ingin memberi muka kepada mereka semua.
Dengan cepat ia berhasil menemukan tanda khusus dari seorang jagoan kelas satu, dan ternyata tanda khusus itu ditemukan di tubuh mereka semua.
Jagoan tangguh macam mereka sebetulnya tak mungkin bisa diutus atau diperintah oleh seseorang.
Sebab setiap orang dari mereka sanggup berdiri sendiri setiap orang mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk memerintah orang lain.
Oleh sebab itu kehadiran mereka di sini seharusnya mustahil dikarenakan sedang menjalankan perintah seseorang.
Po Ing coba peras otak untuk memecahkan persoalan itu.
Tapi ia tetap gagal untuk menemukan jagoan tangguh manakah dalam dunia persilatan saat ini yang sanggup memberi perintah kepada mereka semua.
Yang lebih penting lagi adalah Po Ing seharusnya bisa mengenali asal usul mereka dengan cepat.
Dari sepuluh orang jagoan tangguh seperti itu, paling tidak dia seharusnya kenal lima sampai enam orang di antaranya.
Tapi sekarang jangan lagi lima enam orang.
Seorang pun di antara mereka tak ada yang dikenal Po Ing.
Tak bisa disangkal lagi kawanan jago tangguh itu pasti sudah dirubah wajahnya sedemikian rupa sehingga identitas aslinya menjadi kabur.
Hal ini semakin membuktikan bahwa ada seorang jago yang lebih tangguh lagi dari mereka yang telah melakukan perubahan wajah tersebut.
Bukan saja dia memiliki kepandaian merias muka yang bebat, bahkan sangat mahir mengubah identitas seseorang.
Setahu Po Ing, sudah tak banyak jago dalam dunia persilatan saat ini yang memiliki kemahiran merubah wajah seampuh ini.
Kalau ada pun paling banter cuma ada dua orang.
Kedua orang ini pun merupakan jago jago yang biasa hidup menyendiri.
Mereka punya pandangan yang sangat tinggi.
Di hari biasa teramat jarang bergaul dengan orang lain.
Bukan satu pekerjaan yang gampang untuk mengundang mereka keluar, apalagi berkarya demi orang itu.
Kehebatan apa yang Sebenarnya dimiliki orang misterius itu?
Bagaimana caranya untuk mengundang mereka?
Po Ing menghela napas panjang.
la mulai merasa semenjak campur tangan dirinya, persoalan itu telah berubah makin lama semakin rumit.
Di antara sekian banyak jago tangguh yang hadir di situ, orang yang paling menarik hati Po Ing adalah seorang kakek kecil berwajah kuning kepucat pucatan.
Tampaknya usia orang itu sudah tua sekali.
Giginya berwarna kuning dan tinggal berapa biji yang belum tanggal.
Sepasang cakar tangannya panjang persis seperti cakar burung, kuku di jari kelingking tangan kanannya dipelihara sampai panjang sekali, begitu panjang hingga hampir menggulung jadi satu lingkaran, Bukan satu pekerjaan yang gampang untuk memelihara kuku jari tangan sampai sepanjang itu.
Paling tidak butuh duapuluh tahun untuk memperoleh kuku sepanjang itu.
Yang lebih aneh lagi adalah kakek yang kurus kecil itu ternyata memiliki sorot mata yang tajam sekali, setajam sinar matahari yang memantul di atas permukaan air, membuat orang yang memandangnya merasakan satu kegembiraan yang tak terlukiskan dengan kata.
Sorot mata kakek kurus kecil itu mirip sekali dengan sorot mati seorang nona kecil.
Jika dia berniat merubah identitas sendiri menjadi seseorang yang lain, seharusnya dia bisa menggunakan selapis kristal yang tipis untuk menutupi sorot matanya itu, menahan kilatan cahaya yang memancar dari matanya.
Tapi dia justru tidak berbuat begitu.
Dia seperti sengaja meninggalkan titik kelemahan itu agar orang lain bisa menyelidiki identitas dirinya yang sebenarnya.
Po Ing merasa semakin tertarik dan gembira dengan penemuannya ini....Jangan jangan si kakek kurus kecil itu benar benar adalah seorang nona kecil?
Atau mungkin dia adalah Wan-wan, seseorang yang telah "berkurang"
Itu?
Sorang pelayan warung yang kurus dan lemah dengan membawa sebuah teko air teh berjalan mendekat.
Ketika tiba disisi kakek kurus kecil itu, tiba-tiba kakinya sempoyongan.
Bukan saja tubuhnya akan segera jatuh menimpa di tubuh kakek kurus itu, air teh panas yang berada di tekonya juga nampaknya segera akan mengguyur di tubuh kakek itu.
Hampir semua orang yang berada dalam warung berteriak kaget, malahan ada orang yang berlarian untuk datang membantu.
Tapi kalau.
berbicara dari situasi saat itu, tampaknya tak seorang pun bisa memberikan bantuannya.
Yang lebih penting lagi adalah kawanan jago tangguh yang berhasil dikenali Po Ing tadi ternyata tetap duduk tak berkutik di tempat semula, seakan akan mereka memang sengaja hendak menonton keramaian itu.
Seperti juga mereka telah memperhitungkan kalau si kakek kurus itu punya kemampuan untuk menghadapi situasi itu dan tak perlu orang lain mencampurinya.
Mereka tidak bergerak, tentu saja Po Ing pun tidak bergerak.
Tapi kakek kurus kecil itu tak bisa tak bergerak.
Siapa yang tahan jika sekujur badannya diguyur sepoci besar air teh yang masih mendidih?
Tapi seandainya dia melakukan gerakan, maka tindakan itu sama halnya dengan membongkar identitas sendiri, agar orang lain tahu asal-usul ilmu silatnya dan membiarkan orang tahu kalau dia adalah seorang jagoan tangguh berilmu tinggi.
Sementara Po Ing masih putar otak memperkirakan tindakan apa yang akan digunakan kakek kecil itu, tampak langkah kaki si pelayan tahu tahu sudah berdiri stabil.
Bukan saja air teh dalam teko yang dibawanya tidak mengguyur ke tubuh kakek kecil itu, bahkan muncrat keluar setetes pun tidak.
Ternyata di saat yang paling kritis itulah tiba tiba kakek kecil itu menggerakkan tangannya mendorong sikut pelayan yang memegang poci teh itu perlahan.
Si pelayan segera merasakan ada segumpal kekuatan yang sangat besar menstabilkan keseimbangan tubuhnya.
Dia merasa ada segumpal aliran hawa panas yang mencengkeram semua ruas tulang di tubuhnya, seperti ada tujuhdelapanbelas buah tangan yang memegangi badannya secara bersamaan.
Sebetulnya dorongan itu sangat enteng dan sederhana, bahkan orang lain tak sampai menaruh perhatian khusus ke situ.
Namun Po Ing yang menyaksikan hal ini seperti melihat sesuatu kejadian yang amat mengagetkan hatinya.
Begitu terkesiap hatinya hingga kelopak matanya pun ikut berkerut.
Pada saat yang bersamaan, mendadak ia mendengar ada orang berbisik ke arahnya dari belakang dengan suara rendah.
"Harap ikuti aku!"
Suara orang itu sangat aneh.
Di balik suara yang parau terkandung nada tajam yang menusuk telinga, bahkan nada suara itu begitu aneh hingga sulit baginya untuk membedakan suara tersebut berasal dari suara seorang lelaki atau suara seorang wanita?
...
Sejak masuk ke dalam warung teh, Po Ing sudah menemukan ada beberapa orang di antara mereka yang sulit dibedakan lelaki atau perempuan.
Yang bisa dipastikan saat ini adalah suara bisikan tersebut sama sekali tidak mengandung maksud jahat.
Bila orang itu berniat jahat, sesungguhnya dia tak perlu buka suara.
Kalau bisa membokong dari belakang punggung Po Ing, buat apa banyak bicara?
Ketika Po Ing berpaling, lagi-lagi dia merasa terperanjat, seolah-olah dia telah menyaksikan satu kejadian yang mengejutkan hati.
Padahal yang terlihat olehnya saat itu hanya seseorang, satu orang dengan selembar wajah dan sepasang mata.
Sepasang mata yang membuat Po Ing amat terperanjat!
XII.
Ilmu Sakti Yang Menggetarkan Dunia Orang itu berperawakan sedang, usianya sekitar empatpuluh tahunan.
Kalau dibandingkan orang biasa, ia lebih kurus dan lemah.
Saat itu ia mengenakan baju berwarna abu abu.
Wajahnya sangat sederhana, jenggotnya tak seberapa banyak bahkan dibiarkan tumbuh tak beraturan; seorang lelaki setengah umur yang amat bersahaja.
Yang lebih penting lagi adalah sepasang matanya sangat biasa.
Kecuali Po Ing, mungkin orang lain tak akan merasakan sesuatu yang istimewa dengan orang ini.
Sudah barang tentu tak akan dibuat terperanjat oleh kehadirannya.
Apa yang membuat Po Ing sangat terperanjat?
Tak sepatah kata pun yang dia ucapkan, dengan mulut terbungkam ia berjalan keluar mengikuti di belakang orang itu.
Di luar ruangan adalah sebuah halaman yang tidak terlalu besar juga tak terlalu kecil.
Kayu bakar ditumpuk di sisi halaman, di seberang sana adalah sederet bangunan rumah rata, asap putih mengepul dari balik ruangan itu.
Bahkan kelihatan banyak pelayan yang hilir mudik di sana.
jelas tempat itu adalah dapur.
Ketika berjalan menyeberangi halaman itulah, mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung.
Ketika lelaki setengah umur yang kurus dan lemah itu berjalan sampai di tengah halaman, tiba-tiba perawakan tubuhnya seakan-akan telah berubah.
Bukan saja badannya menjadi lebih tinggi dua inci, bahunya juga menjadi lebih lebar berapa inci.
Hanya sepasang tangannya yang sejak tadi berada di luar baju masih tetap nampak panjang dan lembut.
Sepasang tangan yang halus dan tak pernah dipakai untuk mengangkat tong berisi air.
Semakin berjalan ke depan, perawakan badannya seolah olah berubah semakin tinggi dan besar.
Sekalipun tidak nampak bagaimana mimik mukanya saat itu, namun kalau dipandang dari belakang, dia seakan akan telah berubah menjadi seseorang yang lain.
Menyaksikan semua perubahan yang sangat mengejutkan itu, Po Ing malahan tidak kaget.
Dia seperti sudah menduga sejak awal kalau akan terjadi banyak perubahan pada tubuh orang itu.
Bahkan seberapa mengejutkannya perubahan itu, asal perubahan terjadi pada orang ini maka perubahan tersebut dipandangnya sebagai suatu kejadian yang sangat biasa.
Jalan punya jalan, tiba tiba orang itu melambung ke udara lalu dengan sekali lompatan dia sudah naik ke atap rumah di seberang sana.
Waktu melompat dia seperti orang biasa yang sedang, naik ke anak tangga saja, sama sekali tak ngotot atau pun mengeluarkan banyak tenaga.
Ketika tiba di atap rumah, perawakan tubuh orang itu seperti semakin bertambah besar; kini setiap ayunan langkah kakinya paling tidak bisa mencapai dua-tiga kaki.
Ilmu meringankan tubuh semacam ini memang pernah dibicarakan orang persilatan di masa lalu.
Tapi orang yang benar-benar pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri mungkin cuma berapa orang saja.
Po Ing segera mengikuti di belakangnya.
Sambil mengembangkan jubah panjangnya, Po Ing melayang di tengah udara bagaikan seekor rajawali sakti.
Satu kali dia pernah menggunakan gerakan itu untuk melewati sebuah lembah lebar di puncak gunung Hoa san.
Inilah ilmu sakti andalannya, juga merupakan ilmu meringankan tubuh yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh ini, nama Po Ing pernah berada pada urutan ke empat.
Tapi sekarang, Po Ing harus mengerahkan tenaga yang paling besar untuk bisa mengikuti di belakang orang itu dengan susah payah.
Orang itu sama sekali tidak berpaling, katanya dengan suara hambar.
"Belakangan ini kau terlalu banyak mencampuri urusan tetek bengek. Selain kelewat banyak bertaruh, kau pun kelewat banyak minum. Tampaknya kau harus pulang bersama aku untuk makan berpantang selama beberapa hari."
Po Ing segera tertawa.
"Kau makan barang tak berjiwa, aku makan daging. Kau menikmati kehidupan yang tenang dan tak terganggu banyak urusan, aku lebih suka hidup dengan urusan tetek bengekku. Lebih baik kita berdua saling mempertahankan kehidupan semula."
Kalau ditinjau dari nada pembicaraan ini, jelas mereka berdua sudah saling kenal sejak lama.
Bukan saja saling mengenal, bahkan sudah kenal sangat lama.
Hubungan mereka pun amat akrab.
Siapakah orang ini?
Mungkinkah dia adalah salah satu dari tiga tauke yang mengadakan sarang perjudian?
Mereka berhenti di atas gunung gunungan di tengah sebuah kebun bunga.
Kebun bunga itu indah sekali, aneka jenis bunga yang sedang mekar menyiarkan bau harum semerbak.
Di seberang gunung-gunungan itu adalah sebuah ruang yang sangat indah, perabot dalam ruangan itu hampir semuanya diatur dengan rapi dan bersih, sepasang lian tergantung di sisi pintu.
"Mabuk arak membuat kuda jempolan harus dicambuk."
"Kasih cinta yang terlambat membuat wanita cantik terbengkalai."
Di atas meja tersedia arak.
Tak banyak jumlah arak itu tapi baunya sangat kental.
Tersedia pula hidangan sayur; semua hidangan sedikit jumlahnya tapi dibuat sangat lezat.
Lelaki setengah umur itu kini telah berubah menjadi tinggi besar dan sangat kekar, dan wajahnya pun ikut berubah.
Kalau semula dia mempunyai wajah yang sangat bersahaja, sekarang telah berubah menjadi begitu angker dan penuh wibawa.
Wajah itu membawa hawa pembunuhan yang sangat gelap, bagaikan awan gelap yang menyelimuti angkasa menjelang datangnya hujan badai, membuat dada orang yang melihatnya terasa seperti terhimpit.
Po Ing memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.
Sebentar dia pandang orang itu, sebentar mengawasi arak dan sayur yang ada di atas meja, lalu sambil menghela napas panjang gumamnya.
"Kelihatannya belakangan ini kau makan lebih sedikit."
"Semenjak Sie Hong ing mati karena penyakit ginjal, aku memang makan Iebih sedikit. Tapi tidak makan toh tidak bisa,"
Sahut orang berbaju abu abu itu sambil tertawa.
"Sungguh tak disangka penyakit ginjal adalah penyakit yang susah diobati."
"Kalau begitu seharusnya kau tetap tinggal di atas gunung untuk menenteramkan hati. Kemunculanmu kali ini betul-betul membuat aku terperanjat!"
Kata Po Ing. Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Melihat kehadiranmu dalam persoalan ini, aku lihat kasus ini tampaknya jauh lebih serius sepuluh persen daripada apa yang kubayangkan semula."
"Bukan hanya sepuluh persen, paling tidak enam tujuhpuluh persen lebih serius daripada apa yang kau pikirkan!"
Tiba tiba ia bertanya lagi kepada Po Ing.
"Kau sempat lihat tidak siapakah kakek kecil yang nyaris terguyur air mendidih tadi?"
"Tentu saja dia tak bakal terguyur air mendidih,"
Sahut Po Ing sambil mengangguk.
"Jika Siau hun siau cing ie (si baju hijau pembetot sukma) sampai mati terguyur air mendidih, waah... itu baru satu kejadian yang sangat menggelikan!"
Si baju hijau pembetot sukma, si jubah merah pencabut nyawa.
Sedikit sekali orang dalam dunia persilatan yang bisa sejajar nama besarnya dengan kakek Li si jubah merah, apalagi bila urutan namanya masih di atas orang ini.
Bisa dibayangkan sampai di mana kehebatan ilmu silat yang dimiliki si baju hijau pembetot sukma.
Kepandaian apa yang sebenarnya dia miliki?
Tak banyak orang persilatan yang mengetahui hal ini, sebab kepandaian yang dia kuasai benar benar kelewat banyak.
Hampir semua aliran ilmu silat yang ada di dunia kangouw saat ini diketahui olehnya, terutama dalam hal ilmu melepaskan senjata rahasia dan keterampilan lainnya.
Ci Kim-hoat menaruh nama besarnya pada urutan ke dua dari jago paling tangguh di kolong langit.
Ilmu bersalin rupa yang dia miliki pun termasuk nomor wahid.
Tak disangkal kawanan jago tangguh yang hadir dalam warung teh itu hampir semuanya telah dirubah identitasnya.
Oleh sebab itulah pertanyaan yang hendak diajukan Po Ing sekarang adalah.
"Apakah dia dan mereka adalah satu kelompok?"
"Benar!"
"Bagaimana mungkin kawanan jago yang selama ini malang melintang sendirian dan selalu meletakkan matanya di atas ubun-ubun bisa satu kelompok dengannya?."
"Karena mereka mempunyai satu organisasi yang istimewa!"
"Dan oraug orang itu adalah anggota organisasi itu?"
"Benar!"
"Organisasi ini bisa menjaring begitu banyak jago tangguh, bahkan sampai si baju hijau pembetot sukma pun termasuk satu di antaranya, kehebatan dan kedahsyatan organisasi ini benar-benar mengerikan!"
Kata Po Ing sambil menghela napas.
"Kelihatannya, belakangan ini aku memang terlalu banyak mengurusi masalah tetek bengek sehingga munculnya satu organisasi yang begitu dahsyat pun sampai tak kedengaran!"
Setelah termenung sejenak, kembali tanyanya.
"Dengan hadirnya mereka semua di sini, jelas menunjukkan kalau organisasi misterius itu telah bersiap siap ikut campur dalam kasus ini. Tapi kenapa mereka harus mencampuri urusan ini?"
Orang berbaju abu abu itu tidak menjawab. Pertanyaan ini harus dijawab Po Ing sendiri, dan pertanyaan ini hanya ada satu jawabannya.
"Mereka campur tangan dalam kasus ini karena si pembunuh juga merupakan anggota dari organisasi ini!"
Dengan kening berkerut Po Ing berkata lagi.
"Jika jagoan macam Siau cing pun sudah ikut campur dalam kasus ini, kelihatannya akan menjadi sangat sulit bila kita hendak mengusik pembunuh yang sesungguhnya."
Orang berbaju abu abu itu tertawa hambar.
"Pikiranmu kelewat jauh,"
Katanya.
"Hingga sekarang kita masih belum tahu siapakah pembunuh yang sebenarnya. Darimana kita bisa mengusiknya?"
"Berarti kau pun menganggap Thia Siau cing bukan pembunuh yang sebenarnya?"
Orang berbaju abu abu itu seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian ditahan kembali.
Mendadak wajahnya kelihatan sangat letih hingga paras mukanya ikut berubah semakin menghitam.
Tiba tiba dia ulapkan tangannya sembari berkata.
"Aku sangat lelah, kau boleh pergi."
"Pergi ke mana?"
"Mencari Thia Siau cing!"
Sesungguhnya dia memang harus segera mencari Thia Siau-cing. Banyak persoalan dan teka-teki yang baru bisa dipahami dia bertemu dengan pemuda itu.
"Tapi, apakah tidak kelewat pagi untuk pergi mencarinya sekarang?"
Tanya Po Ing.
"Apa tidak lebih baik menunggu setelah hari gelap nanti?"
"Kalau menunggu sampai malam nanti, penjagaan di tempat itu akan semakin ketat dan gawat. Kalau pergi sekarang justru di luar dugaan mereka,"
Kata orang berbaju abu abu itu menjelaskan.
"Apalagi orang yang sedang dipenjara persis di sebelah kamar tahanan itu adalah seorang perampok ulung yang sudah mengundurkan diri. Harta kekayaannya sangat banyak, maka dia sudah menyogok semua pegawai dan penjaga yang berada dalam penjara itu. Tiap hari ada orang rumah yang datang mengirim sayur dan arak. Bila kau bisa temukan cara terbaik untuk menggantikan petugas penghantar makanan, rasanya tak sulit bagimu untuk bisa bertemu dengan Thia Siau cing!"
Po Ing menghela napas panjang.
"Penyakitmu membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat. Alangkah baiknya jika kau tak usah banyak berpikir. Kalau kali ini kau tak perlu turun tangan, lebih baik jangan ikut ikutan."
Orang berbaju abu abu itu tertawa angkuh, sahutnya.
"Bukan urusan yang mudah untuk memaksaku ikut ikutan. Apalagi di kolong langit saat ini tinggal berapa orang saja yang pantas untuk bertanding denganku!"
XIII.
Serangan Kilat Sesuai dengan rencana yang dibuat orang berbaju abu abu itu, dengan sangat mudah Po Ing berhasil menemukan Thia Siau cing.
Satu satunya masalah yang patut disesali adalah Thia Siau-cing enggan bertemu dengannya.
Ruang penjara yang dihuni Thia Siau cing berhubungan dengan kamar penjara yang dihuni perampok ulung itu.
Biarpun ilmu silat yang dimiliki perampok itu tidak hebat, tapi cara kerjanya sangat mengagumkan.
Selama duapuluh tahun malang melintang di kalangan Liok lim, harta kekayaan yang berhasil dihimpunnnya sudah amat banyak.
Setelah mengundurkan diri, dia pun pandai menyembunyikan ketenarannya.
Oleh sebab itu orang persilatan banyak yang mengira dia sudah lenyap tak berbekas.
Siapa tahu begitu Phoa Ki seng tiba di kota Chi lam dan menjadi pembesar di kota itu, ekor rasenya segera terbongkar.
Tidak sampal setengah bulan, dia sudah berhasil ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Ternyata dia kenal dengan Po Ing.
Sekalipun harus mengamatinya sampai lama tapi pada akhirnya dia mengenali juga.
Begitu mengenali siapa yang berada di hadapanya, perampok itu jadi ketakutan setengah mati, sampai sampai kakinya jadi lemas semua.
Apa saja yang ditanyakan Po Ing, dia langsung jawab dengan jelas.
Menurut penuturannya semenjak Thia Siau cing masuk ke dalam ruang penjara, dia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun.
Bahkan dia selalu mogok makan maupun minum.
Itulah sebabnya kondisi tubuhnya saat ini sangat loyo dan tak bertenaga.
Menurut kondisi yang ada saat ini, rasanya memang tak ada orang lagi yang bisa menyelamatkan jiwanya.
Jika seseorang sudah punya niatan untuk mati, siapa pula yang bisa selamatkan jiwanya?
Po Ing tidak segera pergi walaupun menghadapi kenyataan seperti ini.
Dia malah mengambil bangku yang biasa dipakai sipir penjara dan duduk di pintu masuk penjara.
Sipir penjara yang ada di kamar sebelah buru buru menuangkan secawan air teh untuknya.
Po Ing duduk dengan santainya di atas bangku sambil menikmati air teh panas.
Dia seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
Selama ini, hanya si perampok yang berbicara terus sementara Thia Siau cing hanya duduk di sudut ruangan.
Jangan lagi bicara, mengangkat kepalanya pun tidak.
Lewat berapa saat kemudian, tiba tiba Po Ing berseru.
"Akhirnya kau datang juga, aku tahu kau pasti akan datang kemari!"
Yang muncul memang Phoa Ki seng. Dia masih mengenakan jubah kebesarannya sebagai pembesar eselon empat, tapi kopiah kebesarannya telah dicopot dan berada di tanganya.
"Lagi lagi kau yang berhasil menangkan pertaruhan ini, makanya aku khusus kemari untuk mempersembahkan kopiah kebesaran ini kepadamu."
"Ehm, tampaknya kau sudah ikhlas dengan kekalahan ini."
"Biarpun aku kalah bertaruh hingga mesti kehilangan kopiah kebesaran, masih untung ada barang lain yang belum sampai kalah kupertaruhkan,"
Ujar Phoa Ki seng sambil tertawa.
"Nyawaku belum sampai kalah dipertaruhkan!"
"Setiap orang hanya memiliki selembar nyawa, apa gunanya kau pertahankan nyawamu itu?"
Po Ing sengaja bertanya.
"Memannya kau pingin beradu nyawa?"
Padahal dia sama sekali tak membayangkan kalau Phoa Ki-seng bakal beradu nyawa.
Beradu nyawa hanya perbuatan orang tolol, seorang jagoan yang benar tangguh jarang sekali melakukan perbuatan ini.
Tapi kali ini, Phoa Ki seng telah melakukannya.
Tak bisa dipungkiri dia memang terhitung seorang jagoan yang berilmu tinggi, bahkan termasuk jagoan kelas satu di dunia.
Tapi begitu serangan dilancarkan dia selalu menggunakan serangan serangan maut yang mengadu jiwa.
Ketika jurus serangan macam itu digunakan dalam ruang penjara yang sempit, maka ancaman bahaya yang tercipta pun semakin mengerikan.
Po Ing tidak menjadi terdesak karena serangan lawan.
Sambil mengembangkan bajunya hingga tubuhnya melambung di udara bagai sayap burung elang, ia seperti daun bakau yang terombang ambing oleh arus laut, setiap saat seperti dapat berputar menuju ke arah yang berbeda, bahkan seringkali melancarkan serangan dari sudut yang mustahil bisa dilakukan kebanyakan orang.
Ketika gerakan tubuh semacam ini dikembangkan di dalam tempat yang sempit, maka kekuatan yang timbul pun semakin mencengangkan hati.
Thia Siau cing belum juga berpaling, sebaliknya perampok yang berada di ruang sebelah sudah dibuat terperangah dan berdiri tertegun.
Dalam tiga sampai lima gebrakan kemudian, Po Ing telah sekali berhasil mendesak Phoa Ki seng hingga tak sanggup melancarkan serangan balasan.
Dia tampak mulai keteter dan segera akan mengalami kekalahan total.
Tapi Po Ing tak pernah melancarkan serangan yang mematikan.
Seakan akan tak disengaja dia selalu mendesak Phoa Ki seng hingga mundur berulang kali, tapi setiap kali selalu menyediakan jalan kehidupan baginya.
Pada saat itulah pintu kamar dari ruang penjara di sebelah ruang Thia Siau cing tiba tiba terbuka lebar, si perampok yang sudah lama mengundurkan diri dari Liok lim dan selama ini hanya berdiri, tertegun itu tiba tiba melompat keluar bagai seekor harimau kelaparan.
Bahkan dengan ilmu Pa nau kang (ilmu cakar harimau) yang jauh lebih hebat dari Eng jiau kang, dia serang urat nadi di kening kiri Po Ing yang menonjol keluar.
Sipir penjara yang tadi menuangkan air teh untuk Po Ing pun kini ikut melancarkan serangan kilat.
Kepandaian silat yang dia gunakan adalah sejenis ilmu pukulan keras yang mengandung tenaga lunak.
Di antara jurus jurus serangan yang sebentar lembek bagai sutera, sebentar keras bagai baja itu, dia selipkan juga ilmu-ilmu pukulan sejenis Han yang sin ciang dari aliran Mokau.
Kemungkinan besar orang ini adalah sisa sisa pengikut aliran Mokau di masa silam.
Orang ke tiga menerjang masuk dari luar pintu, ilmu silat yang digunakan adalah ilmu pukulan Kim kong ciang yang berhawa pukulan keras.
Deruan angin pukulan yang tajam dan kuat hampir menutup seluruh jalan mundur Po Ing.
Ketiga orang ini bukan saja memiliki ilmu silat yang hebat, serangan yang mereka lancarkan pun sama sekali diluar dugaan.
Dalam sekilas pandangan saja Po Ing segera mengenali mereka adalah orang yang pernah muncul di warung teh tadi, bahkan paling tidak ia berhasil mengetahui asal-usul ilmu silat yang digunakan kedua orang itu.
Setelah mereka munculkan diri, mungkinkah si baju hijau pembetot sukma juga akan segera menampilkan diri?
Persoalan inilah yang sesungguhnya amat dikuatirkan Po Ing.
Sangat tidak beruntung apa yang paling dikuatirkan justru segera akan terjadi.
Di atas bangku panjang yang tadi didudukinya, tiba tiba sudah bertambah dengan seseorang.
Orang itu adalah seorang kakek kecil yang sangat sederhana.
Melihat kemunculan kakek kecil itu, Po Ing sangat terperanjat.
Phoa Ki seng segera memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari ruang penjara.
Siapa pun orangnya, bila dia sudah tahu asal usul yang sebenarnya dari kakek kecil itu, mereka pasti akan dibuat terkesiap setelah menyaksikan kemunculannya.
Sementara itu Po Ing tak mampu mencegah kepergian Phoa Ki seng.
Dia pun tak mampu melakukan pengejaran, sebab semua jalan perginya telah dihadang orang.
Terdengar kakek kecil itu dengan menggunakan suaranya yang tinggi melengking dan sangat aneh bertanya kepada Po Ing.
"Po toa tauke, apakah kau sudah teringat akan sesuatu?"
"Soal apa?"
"Semua orang berkata, tempat di mana aku pernah kunjungi, semua barang yang ada di situ kemungkinan besar beracun. Apakah kau percaya dengan cerita ini?"
"Tentu saja percaya!"
"Apakah kau tidak berpikir, kemungkinan besar dalam air teh yang kau minum tadi juga mengandung racun?"
"Mungkin saja!"
"Tampaknya kau telah menghabiskan air teh tersebut. Apa sedikit pun kau tidak merasa takut?"
"Oooh, takut sekali!"
Namun sikap maupun gerak gerik Po Ing masih amat santai, tak sedikit pun perasaan takut yang dia perlihatkan.
"Justru karena takut maka aku telah bertindak sangat hati hati,"
Kata Po Ing santai.
"Karena aku sangat berhati hati, maka air teh yang kau berikan tadi sama sekali tak kuminum biar cuma satu tegukan pun!"
Lama sekali kakek kecil itu mengawasi wajahnya, tiba tiba ia tertawa terkekeh, kemudiam dia ambil keluar kantung berisi tembakau dan mulai menyulut huncwee yang berada di tangannya.
Asap putih yang tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya.
Dari balik asap huncweenya yang putih tebal itulah kembali dia berkata dengan suara yang aneh, seperti suara kaca yang bergesekan dengan benda logam.
"Tahukah kau bahwa aku masih memiliki sejenis dupa pemabuk yang sangat beracun? Dupa pemabuk itu bernama Cap-li siau hun cing ie san (bubuk hijau pembetot sukma sejauh sepuluh li)..."
"Ya, aku pernah dengar nama itu."
"Kira kira kau takut tidak jika dalam huncweeku ini telah kutaruh bubuk hijau pembetot sukma itu?"
"Wah... takut... takut sekali!"
"Sayang sekali, walaupun kau takut tapi tak mampu kabur dari sini. Sekalipun kau bisa menahan napas, sampai berapa lama kau bisa tahan napasmu itu?"
"Yaaa, aku memang sedang menguatirkan persoalan ini."
"Lantas apa rencanamu selanjutnya?"
"Sekarang aku belum menemukan cara terbaik untuk menghadapi ancaman itu,"
Ujar Po Ing sambil menghela napas.
"Bila sampai akhirnya aku tetap gagal menemukan cara yang terbaik, yah... apa boleh buat. Terpaksa aku biarkan kau meracuni aku sampai mati!"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh kakek kecil itu manggut-manggut, sahutnya.
"Bukan suatu kejadian yang sulit untuk mati terkena racunku. Bila kau menahan napas, mungkin masih bisa bertahan beberapa saat lagi. Tapi kini, kau bicara melulu, aku kuatir..."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, tubuh Po Ing sudah mundur dengan langkah sempoyongan. Mukanya yang semula merah kini telah berubah jadi pucat pias. Terdengar kakek kecil itu berkata lagi.
"Tapi kau tak perlu kuatir, aku tak akan meracunimu hingga mati. Paling banter aku hanya akan membuat kau pingsan berapa saat."
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Bahan obat-obatan yang dibutuhkan untuk membuat bubuk hijau ini mahal harganya. Aku tak tega untuk memakainya terlalu banyak..."
Po Ing sudah tak sanggup berbicara lagi. Mungkin apa yang diucapkan si kakek kecil itu sudah tak terderigar lagi olehnya. Tiba tiba terdengar seseorang berseru sambil tertawaa tergelak.
"Hahaha... ternyata Po Ing yang begitu menggemparkan sungai telaga tak lebih hanya begitu saja!"
Suara tertawa itu sangat keras dan nyaring, penuh rasa bangga dan nada mengejek.
Tapi rasa bangga itu hanya, berlangsung sekejap.
Tiba tiba terlihat Po Ing yang setengah sadar itu sudah tertawa keras sambil melejit ke udara, kemudian dengan menggunakan gerakan seekor rajawali dia meluncur melewati atas kepala kawanan jago itu.
Begitu berhasil melewati para jago, dengan gerakan selicin ikan yang berenang dalam air, dia melejit ke luar dari ruang penjara melalui sudut yang tak terduga siapa pun!
Tahu tahu dia sudah lolos dari kepungan mereka.
Orang yang semula tertawa mengejek, kini tak sanggup tertawa lagi.
Sementara si kakek kecil segera berseru sambil tertawa terkekeh kekeh ' "Hahaha, ...
mesti diakui Po Ing yang tersohor di kolong langit memang punya ilmu andalan!"
XIV.
Hukuman Mati Bagi Po Ing, bukan pekerjaan yang terlalu sulit bila ingin kabur dari tempat itu; entah mau kabur ke arah mana pun.
Bahkan ada banyak orang yang beranggapan bahwa di kolong langit saat ini tak ada tempat yang mampu menahan dia, juga tak seorang manusia pun yang sanggup menghalangi dia.
Padahal cara yang dia gunakan adalah sebuah cara yang sederhana, tapi justru cara yang paling sederhana memberikan hasil yang paling manjur.
Tidak terkecuali kali ini.
Biasanya, orang yang berhasil kabur dari cengkeraman maut si baju hijau pembetot sukma pasti akan mengalami perubahan besar.
Berubah dari seorang manusia hidup menjadi sesosok mayat hidup.
Tapi tidak demikian dengan Po Ing.
Setelah berhasil kabur dari cengkeraman maut itu, dia tetap sehat walafiat tak kekurangan apa Pun.
Hanya butuh waktu satu sentilan jari dia telah berhasil loIos dari kamar penjara dan tiba di halaman luar.
Tapi dengan cepat dia telah melihat seseorang, seseorang yang sama sekali tak terduga bisa terlihat pada saat dan keadaan seperti ini.
Dia telah melihat Phoa Ki-seng.
Halaman luas itu merupakan halaman yang khusus dipakai untuk menyimpan kayu bakar serta batu arang.
Persis di tengahnya tumbuh sebuah pohon besar.
Ketika itu Phoa Ki seng sedang berdiri seorang diri di bawah pohon.
Orang yang tadi masih menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk meloloskan diri, sekarang justru berdiri santai di bawah pohon, Sama sekali tak terlihat ada maksud atau niat untuk melarikan diri.
Bahkan sangat mirip pada saat ini, di tempat ini dia sedang menanti kedatangan seseorang.
Siapa yang dia tunggu?
Po Ing ingin sekali menghampiri untuk menanyakan hal ini sampai jelas.
Tapi belum sampai dia bergerak, ada seseorang bergerak lebih cepat darinya; seorang pemuda tampan bertubuh tegap, berpakaian rapi dengan kecepatan tinggi telah muncul ke hadapan Phoa Ki seng.
Gerakan tubuh orang itu sangat cepat.
Belum sempat Po Ing mengetahui siapa gerangan orang itu, dalam sekejap mata dia telah tiba di hadapan Phoa Ki seng.
Bahkan sambil tersenyum telah menyapa pembesar eselon empat ini.
Phoa Ki seng tampak balas menyapa, bahkan mulai berbicara.
Tampaknya mereka sudah saling kenal, bahkan akrab sekali hubungannya.
Sayang jarak Po Ing dengan mereka jauh sekali, apalagi nada bicara mereka berdua amat rendah dan lirih hingga sulit bagi Po Ing untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan.
Dia hanya melihat paras muka kedua orang itu sangat gembira.
Berapa saat kemudian, kira-kira mereka telah berbicara sebanyak belasan kata, tiba tiba pembicaraan berakhir.
Po Ing ingin sekali maju menghampiri mereka, dia ingin tahu siapakah pemuda itu?
Tapi akhirnya niat itu diurungkan, sebab secara lamat lamat ia sudah bisa menduga siapa gerangan pemuda itu.
Tampaknya pemuda itu segera akan berlalu...
tiba tiba dia membalikkan badan dan mengatakan sesuatu lagi kepada Phoa Ki seng.
Untuk sesaat lamanya Phoa Ki-seng nampak ragu, dia seperti sedang mempertimbangkan jawaban apa yang harus diucapkan...
Pada detik itulah mendadak pemuda itu mencabut keluar sebilah pisau belati, dengan mata pisau yang berkilat setajam halilintar dia tusuk ulu hati Phoa Ki seng kuat kuat.
Raut muka Phoa Ki seng segera mengejang keras.
Rasa terkejut bercampur ngeri segera membayangi wajahnya.
Tapi dengan cepat perasaan kaget berubah jadi rasa takut yang luar biasa...
Pemuda itu masih berdiri tenang di tempat.
Ia sedang memandang lawannya dengan pandangan sangat dingin, tak terlintas pikiran untuk melarikan diri dari tempat kejadian.
Apakah dia tidak kuatir Po Ing menuntut pertanggungan jawabannya?
Dalam pada itu sekujur tubuh Phoa Ki seng telah mengejang keras, dia seperti ingin menjerit minta tolong tapi sayang otot tenggorokannya sudah mulai mengejang juga.
Tak setitik suara pun yang sanggup diucapkan.
Terpaksa ia berpaling ke arah Po Ing, memandangnya dengan sinar mata penuh permohonan, minta belas kasihannya untuk menolong jiwanya...
Dalam keadaan seperti ini, bila Po Ing masih tetap berlagak pilon, tidak bertanya juga tidak mendengar, maka pastilah Po Ing adalah seorang yang sudah mati.
Yang lebih aneh lagi ternyata pemuda itu masih belum punya niat untuk pergi dari situ, malahan dengan ramah dan penuh sopan santun dia menyapa.
"Apakah tuan adalah Po Ing sianseng?"
"Ya, akulah Po Ing!"
"Barusan Po sianseng telah melihat bagaimana aku membunuh orang dengan pisau. Tapi sikapku hingga kini masih tetap tenang seolah olah tak ada kejadian apa pun. Tentunya kau merasa agak heran bukan?"
"Betul, aku memang merasa heran."
"Tahukah Po sianseng, kenapa aku masih tetap bersantai ria walaupun baru saja membunuh seseorang?"
"Tidak tahu... Bukan cuma tak tahu, menebak pun tak bisa."
"Aku bisa membunuh tanpa harus kuatir lantaran kedudukanku!"
"Oh ya?"
"Aku dari marga Leng bernama Giok hong, komandan polisi dari sektor kriminal. Pembunuhan yang kulakukan semuanya sesuai dengan prosedur hukum."
Ternyata anak muda ini adalah jago nomor wahid dari golongan Lak-san bun, komandan polisi Leng Giok hong. Tapi Po Ing tidak merasa tercengang, sebab hal ini sudah terduga olehnya sejak awal kejadian.
"Sekalipun kau adalah seorang komandan polisi dari sektor kriminal, rasanya tak ada hukum yang mengatakan bahwa seorang komandan polisi boleh sembarangan membunuh,"
Kata Po Ing kemudian.
"Biarpoun dia seorang petugas hukum, jika melanggar peraturan dengan melakukan pembunuhan, dia tetap harus menerima hukuman."
"Tentu saja ini tergantung pada siapa yang telah dibunuh,"
Jelas Leng Giok hong.
"Bila orang itu adalah seorang buronan kelas kakap, bukan saja tak berdosa, bahkan bisa peroleh pahala besar!"
"Phoa Ki seng adalah seorang pejabat tinggi eselon empat, dosa apa yang telah dia lakukan? Sekalipun dia telah bersalah, sepantasnya kalau hukuman dijatuhkan setelah melalui persidangan yang adil."
Leng Giok hong tidak langsung menjawab, dari sakunya dia keluarkan secarik surat perintah, surat perintah yang sangat resmi dari kerajaan.
"Segera tangkap buronan kelas kakap Phoa It hui, nama lain Phoa Kiseng. Tak perlu melalui persidangan, segera laksanakan hukum mati di tempat!"
Dalam surat perintah itu bukan saja dilengkapi dengan cap jabatan pembesar perbagai propinsi, disahkan juga oleh Menteri Kehakiman.
"Cukup tidak surat perintah ini?"
Tanya Leng Giok hong kemudian.
"Ya, cukup!"
"Biarpun Phoa Ki seng adalah seorang pejabat tinggi negara dengan pangkat setingkat eselon empat, tapi dia mempunyai sisi lain. Dulu dia adalah seorang perompak ulung yang biasa mangkal di seputar sungai Huangho. Bukan saja menguasai ilmu silat tinggi, ilmu dalam airnya pun sangat mahir."
Setelah menghela napas panjang, kembali Leng Gok hong melanjutkan.
"Orang ini menguasai bun (sastra) maupun bu (ilmu silat) secara mahir. Sesungguhnya dia termasuk seorang jago berbakat alam yang langka di dunia persilatan saat ini."
Po Ing ikut menghela napas.
"Sayangnya bila harus dibandingkan dengan seseorang yang lain, dia masih ketinggalan jauh sekali,"
Katanya.
"Siapa yang kau maksud?"
"Kau!"
Sahut Po Ing hambar.
"Bila dia lebih tangguh darimu, bagaimana mungkin bisa berakhir tragis di tanganmu?"
Berbicara sampai di situ dia tidak melanjutkan lagi, hanya serunya.
"Selamat tinggal!"
Tiba tiba Leng Giok hong berseru, Po sianseng, kelihatannya urusan di sini telah selesai semua. Mau ke mana kau?"
"Aku harus pergi menengok seseorang, seorang yang tak bernama!"
Leng Giok hong tertawa.
"Orang yang tak bernama rasanya selalu lebih menakutkan daripada orang yang bernama. ."
"Itu sih tergantung.
"Tergantung?"
"Tergantung siapakah orang tak bernama itu. Seringkali ada manusia tak bernama yang menemui ajalnya sebelum menyadari apa yang telah terjadi."
"Itu pun tergantung,"
Sela Leng Giok hong.
"Tergantung siapakah manusia tak bernama itu."
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Aku kenal dengan seorang manusia tak bernama. la pernah membantai tigabelas orang jago silat yang menggetarkan Sungai telaga dalam dalam waktu sekejap mata."
Po Ing menatapnya tajam-tajam, lalu tanyanya perlahan.
"Bukankah manusia tak bernama yang kau maksudkan adalah dirimu sendiri?"
Leng Giok hong tertawa.
"Aku hanya tahu, di kolong langit saat ini hanya ada dua orang manusia tak bernama yang paling menakutkan."
"Oh ya?"
"Konon, dari tiga orang toatauke pemilik Rumah Perjudian, dua di antaranya adalah manusia tak bernama. Mereka bisa membantai orang hanya dalam waktu satu kedipan mata saja!"
"Ohhh ... !"
Kembali Leng Giok hong tertawa, lanjutnya.
"Untung sekali kau bukanlah satu di antara kedua orang itu. Sebab kau adalah orang kenamaan, orang yang sangat ternama."
Po Ing tertawa tergelak.
"Tepat sekali perkataanmu itu,"
Katanya.
"Tak malu kau menjabat sebagai seorang komandan polisi dari sektor kriminal. Sayangnya ada satu hat yang masih belum kau pahami!"
"Soal apa?"
Mendadak Po Ing menghentikan gelak tertawanya, lalu sepatah demi sepatah kata lanjutnya.
"Orang yang ternama pun sama saja bisa membunuh orang!"
Leng Giok hong tidak bicara lagi, sementara Po Ing juga tutup mulutnya.
Mereka berdua saling berpandangan dengan mata tajam, namun wajah mereka tidak menampilkan hawa nafsu membunuh yang menakutkan.
Angin musim gugur selalu berhembus kencang, jauh lebih kencang dari hembusan angin di musim lain.
Deru angin yang kencang membuat daun kering pada berguguran.
Dalam suasana yang membeku itulah kedua orang itu saling berpandangan tanpa melakukan sesuatu gerakan pun.
Sampai lama kemudian akhirnya Leng Giok hong menghembuskan napas panjang, katanya.
"Jangan sekarang, saat ini tidak cocok. Kalau ingin bertarung seru, lebih baik pilih waktu yang lebih tepat."
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Sebelum menghitung saat yang baik, sebelum memilih tempat yang menguntungkan, pertarungan jangan dilakukan. Apalagi kalau hawa nafsu membunuh belum muncul, Iebih baik pertarungan ditunda."
Po Ing sangat setuju dengan ucapan itu.
"Bila harus turun tangan di saat tak ingin turun tangan, kekalahan pasti akan terbentang di depan mata."
"Untungnya, cepat atau lambat, suatu saat nanti pertarungan pasti dapat dilangsungkan."
"Semua orang persilatan tahu kalau Po sianseng amat jarang turun tangan. Selama duapuluh tahun malang melintang dalam dunia persilatan, dia hanya tiga kali bertarung,"
Kata Leng Giok-hong.
"Tapi kau tak usah kuatir, aku pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertarung melawanku."
XV.
Analisis Saat ini tengah hari sudah.
menjelang tiba.
Setelah beristirahat hampir satu jam lamanya, kakek berbaju abu abu yang tak bernama itu sudah nampak lebih segar.
Paras mukanya sudah mulai memerah, sementara jidatnya yang semula kehitam hitaman, kini sudah nampak pantulan cahaya.
Dia sedang bersantap, semua bahan makanan yang disantapnya telah melalui seleksi yang amat ketat.
Tak boleh kelewat berminyak, juga tak boleh sama sekali tak berminyak.
Tak boleh kelewat berprotein, tapi juga tak boleh kekurangan protein.
Hidangan sebangsa daging-dagingan serta kacang kacangan tidak boleh makan kelewat banyak, tapi juga tak boleh kekurangan.
Sedang minuman sebangsa arak jangan lagi diminum, disentuh pun jangan.
Penyakit ginjal atau lever memang penyakit yang sangat merepotkan.
Selama ini dia jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.
Hal ini dikarenakan sepanjang tahun ia selalu bertarung melawan keganasan penyakit itu.
Mengenai hidangannya, Po Ing sama sekali tak tertarik.
Seringkali dia merasa keheranan bagaimana mungkin seseorang bisa melanjutkan hidup hanya mengandalkan bahan makanan semacam ini.
Manusia berbaju abu abu itu melahap hidangannya dengan penuh nikmat.
Katanya.
"Jika kau, menganggap jenis makanan ini sangat lezat maka makanan itu akan sangat lezat kalau dimakan."
Inilah prinsip hidup yang selalu dipegangnya. Ketika Po Ing muncul di situ, dia baru saja selesai melahap satu piring bihun yang dimasak dengan terong. Kepalanya segera didongakkan.
"Apakah kau telah berjumpa dengan Thia Siau cing?"
Tanyanya.
"Sudah"
Jawab Po Ing.
"Sayangnya dia seperti tidak melihat kehadiranku."
"Bagaimana dengan Wan wan? Sudah mendapat kabar beritanya?"
"Sama sekali belum,"
Po Ing menggeleng.
"Tapi aku telah bertemu dengan Phoa Ki seng serta Leng Giok hong. Si baju hijau pembetot sukma ternyata muncul juga di situ. Ilmu bersalin rupa yang dia kuasai benar benar nomor wahid di kolong langit! Sampai sekarang aku masih belum melihat wajah aslinya."
Semua persoalan itu sama sekali tidak ditanggapi orang berbaju abu abu itu sebagai hal yang luar biasa. Sebaliknya pertanyaan yang diajukan orang berbaju abu abu itu justru sangat mencengangkan hati.
"Bagainiana dengan Phoa Ki-seng?"
Tanyanya kepada Po Ing.
"Phoa Ki seng sudah mati di tangan Leng Giok hong atau di tangan si baju hijau?"
Po Ing termasuk orang yang jarang terkejut, tapi kali ini dia benar benar terkesiap. Serunya tak tertahan.
"Darimana kau bisa tahu kalau Phoa Ki seng telah mati ditangan orang lain?"
Orang berbaju abu abu itu tertawa.
"Banyak persoalan di dunia ini hampir semuanya selalu begini; yang sepantasnya mati memang seharusnya segera mati, yang terlalu banyak mengetahui persoalan juga harus segera mati."
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Phoa Ki seng dan Wan-wan adalah mereka yang terlalu banyak tahu tentang persoalan ini."
"Apa yang mereka ketahui?"
Tanya Po Ing tak tahan. Orang berbaju abu abu itu tidak menjawab, dia malah balik bertanya.
"Apa saja yang telah kau ketahui?"
Po Ing termenung dan mulai berpikir, lewat lama kemudian dia baru menjawab.
"Aku tahu sejak permulaan mereka sudah keliru, bukan saja keliru pilih orang juga keliru memilih jalan!"
"Lanjutkan..."
"Mereka selalu menganggap Thia Siau cing dan Ang ang adalah sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Ang ang terpaksa kawin dengan orang lain hanya lantaran Sam Kou nay nay tidak setuju dengan perkawinan mereka. Kemudian setelah menikah ia mengalami lagi nasib yang tragis. Dalam keputus asaan dan kekecewaanya akhirnya dia menceburkan diri menjadi seorang pelacur."
"Kenapa dia tidak melakukan pekerjaan lain, tapi ngotot menjadi seorang pelacur?"
"Maksudmu kenapa tidak menjadi nikoh saja? Sama sama jauh dari pergaulan orang banyak?"
"Mungkin.."Sayang apa yang kita bayangkan selama ini keliru besar,"
Kata Po Ing.
"Ang ang bisa terjun sebagai pelacur bukan lantaran kegagalannya kawin dengan Thia Siau cing, tapi semuanya disebabkan Tuan muda Pek!"
"Pek Sian kui?"
"Pek Sian kui adalah suami Ang ang. Dia adalah keturunan dari Pek sam ya dari Hong yan-sam yu,"
Jelas Po Ing. Setelah tarik napas panjang, kembali lanjutnya.
"Keluarga Pek adalah sebuah keluarga persilatan kenamaan di wilayah Kou siok. Semenjak kecil tuan muda Pek adalah seorang bocah ajaib. Sayang kepandaian yang dipelajari bukan ilmu silat, melainkan sastra. membuat syair, main khim, melukis dan berpantun.
"Untuk ukuran sebuah keluarga yang termashur karena ilmu silatnya, bocah semacam ini dianggapnya sebagai anak yang put-hau, anak tidak berbakti yang merusak citra keluarga.
"Oleh sebab itu semua orang beranggapan perkawinannya dengan Ang ang tidak harmonis. Ang ang pasti tak puas dengan kemampuan suaminya, karenanya setelah ditinggal mati dan hidup menjanda, ia sama sekali tidak bersedih hati karena perasaan cintanya selarna ini hanya tertambat pada kekasih lamanya Thia Siau cing seorang."
Setelah tertawa getir, Po Ing melanjutkan.
"Padahal, analisis kita selama ini keliru besar!"
"Oh ya?"
"Ang ang tak pernah memikirkan Thia Siau cing. Hubungan percintaan antara mereka berdua hanya bertepuk sebelah tangan. Hanya Thia Siau-cing yang selama ini masih mencintai gadis itu. Sebaliknya Ang ang tak pernah menanggapinya, dia tak pernah masukkan perasaan cinta pemuda itu ke dalam hatinya!"
"Padahal orang yang benar benar dia pikirkan dan perhatikan adalah suaminya Pek kongcu,"
Sambung orang berbaju abu abu itu.
"Baginya, Thia Siau cing tak lebih hanya seorang sahabat yang tumbuh jadi dewasa secara bersama sama."
"Walaupun Thia Siau cing sangat mencintainya, tapi dengan hubungan yang sudah terjalin selama ini, tak mungkin dia akan membohongi perasaan pemuda itu. Ang ang pasti sudah memberitahu Thia Siau cing secara jujur bagaimana perasaan hatinya yang sebenarnya."
"Betul"
Po Ing mengangguk.
"Tak mungkin dia tega untuk rnembohongi bekas kekasihnya. Dia pasti sudah bercerita secara jujur."
"Ya, memang seharusnya begitu."
"Oleh karena itu, terjunnya Ang ang sebagai pelacur bukan lantaran masalah Thia Siau cing. Dalam hal ini aku berani memastikannya."
"Lalu untuk siapa dia jadi pelacur?"
"Tentu saja demi Pek kongcu!"
Po Ing menjelaskan lebih jauh.
"Semenjak kematian Hong yan-sam yu secara beruntun, keluarga Pek dari kota Kou siok sudah tak di kenal sebagai keluarga persilatan yang unggul karena ilmu silatnya. Waktu itu Pek kongcu sudah bersiap siap mengubah citra keluarganya. Dia ingin orang lain mengenali keluarganya sebagai satu keluarga sastrawan yang pandai dalam ilmu bun (sastra). Sayang sekali Pek Sam ya selama masih berkelana di dalam dunia persilatan banyak mengikat tali permusuhan dengan orang banyak. Tentu saja musuh-musuhnva tak mau melewatkan peluang tersebut dengan begitu saja. Akibatnva dalam semalaman seluruh keluarga besar Pek telah terbantai habis. Hanya Ang ang seorang yang berhasil meloloskan diri, itupun berkat pertolongan dari Lenghou Put heng yang secara kebetulan sedang berkunjung malam itu. Tujuhpuluh lembar nyawa keluarga Pek tertumpas pada malam itu juga!"
"Tampaknya tidak banyak orang persilatan yang mengetahui kasus berdarah ini?"
Kata orang berbaju abu abu itu.
"Ya, hal ini disebabkan si pembunuh melakukan pembantaian dengan sadis dan kejamnya. Kelewat telengas! Bahkan dalam hal ini menyangkut juga nama baik dari kaum wanita yang ada di keluarga Pek. Oleh sebab itu hanya beberapa orang saja yang mengetahui peristiwa ini. Banyak yang tak tega untuk menceritakannya kembali."
"Siapakah pembunuhnya?"
"Hingga kini siapa pembunuhnya masih merupakan tanda tanya besar,"
Jawab Po Ing;
"Pernah ada orang yang melakukan penelitian atas seluruh musuh besar dari Pek Sam ya semasa hidupnya. Tapi sewaktu terjadinya kasus pembantaian itu, ternyata tak satu pun di antara mereka yang berada di sekitar kota Kou siok."
"Karena keluarga suami sudah terbantai habis, sedang dia sendiri pun mungkin mengalami pelecehan seks yang sangat memalukan, dalam sedih dan dendamnya maka dia pun terjun sebagai seorang pelacur,"
Kata orang berbaju abu abu itu.
"Mungkin inilah sebab utama kenapa Ang ang terjun sebagai pelacur kelas tinggi."
"Secara garis besar memang seharusnya begitu, tapi bagaimana kejadian yang sesungguhnya mungkin hanya Ang ang sendiri yang bisa jelaskan."
"Menurut pendapatmu masih ada alasan apa lagi selain alasan tadi?"
"Mungkin tujuan yang paling utama kenapa Ang ang jadi pelacur adalah untuk mencari jejak pembunuh sesungguhnya."
"Mencari pembunuh sesungguhnya? Kenapa harus jadi seorang pelacur?"
"Nah, di sinilah kunci utama dari semua persoalan. Asal kita temukan Ang ang maka semua persoalan akan menjadi jelas!"
"Tapi Ang ang sudah mati!"
"Kalau begitu kita harus mencari orang yang paling dekat dengan Ang ang!"
"Wan wan?"
"Betul!"
Po Ing membenarkan.
"Ada masalah tertentu yang tak mungkin Ang ang bicarakan dengan Lenghou Put heng. Hanya di hadapan Wan wan ia bisa menumpahkan seluruh isi hatinya. Oleh sebab itu rahasia dari Ang-ang mungkin hanya diketahui Wan-wan seorang."
"Sayang sekali Wan wan telah lenyap secara tiba tiba di saat Yang paling kritis. Hingga kini tampaknya belum ada yang mengetahui kabar beritanya."
"Kemungkinan besar masih ada seseorang yang tahu, hanya orang ini yang mengetahui segalanya,"
Tegas Po Ing.
"Siapa yang kau maksud?"
"Phoa Ki seng!"
Kembali Po Ing menjelaskan.
"Sewaktu terjadi peristiwa berdarah pagi itu, hanya Phoa Ki seng yang berada di gedung seputar tempat tinggal Ang ang. Waktu itu kemungkinan besar Wan wan sudah merasakan gelagat tidak menguntungkan, maka ia gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Phoa Ki-seng pasti melihat kejadian ini, maka dia pun menghalangi kepergiannya, bahkan mungkin menyembunyikan dia di suatu tempat yang paling aman. Phoa Ki seng adalah pembesar kota Chi lam, tentu saja dia sangat menguasai medan di sekitar situ. Bukan pekerjaan yang terlalu sulit baginya untuk menyembunyikan seseorang."
"Masuk di akal!"
Puji orang berbaju abu abu itu.
"Waktu itu asap ungu sudah mulai muncul dari dalam gedung, disusul kemudian ditemukannya Thia Siau cing sambil menggenggam pisau berdarah berdiri di depan ranjang sang korban, bahkan dengan cepat mengakui dia sebagai pembunuhnya!"
Lanjut Po Ing.
"Setelah kejadian berkembang jadi begitu, apa pun yang ingin diucapkan Pho Ki-seng juga tak ada gunanya lagi, maka diapun membungkam."
"Ehmm, masuk di akal."
"Semenjak kehadiranku di kota Chi-lam, berulangkali Pho Ki-seng mencari kesempatan untuk bertemu denganku. Rupanya dia ingin mencari kesempatan untuk membeberkan rahasia itu kepadaku."
"Kenapa dia tidak langsung saja membawa pergi menemui Wan-wan? Kenapa dia malah membawamu ke warung penjual teh itu?"
"Karena dia tahu, di dalam warung penjual teh itu hadir banyak sekali jago tangguh yang khusus datang untuk menyelesaikan persoalan ini. Semua orang tak ingin melihat Thia Siau-cing bebas dari sangkaan!"
Jelas Po Ing.
"Phoa Kiseng sengaja membawaku ke sana alasannya tak lain hanya ingin tahu apakah kemampuanku bisa digunakan untuk menghadapi kawanan jago tersebut."
"Bila kemampuanmu tak sanggup menghadapi mereka, tak ada gunanya Phoa Ki-seng membeberkan rahasia tersebut kepadamu? "Benar,"
Po Ing mengangguk.
"Phoa Ki seng memang seorang yang sangat berhati hati dalam melakukan pekerjaannya."
"Tapi sampai akhir pun dia tak sempat memberitahukan rahasia itu kepadamu?"
"Benar! "
Po Ing membenarkan.
"Oleh karena itu ketika tiba waktunya dia ingin membeberkan rahasia itu kepadaku, waktu sudah terlambat. Padahal sewaktu masih berada di dalam ruang penjara Thia Siau cing, aku masih mengira dia sengaja ingin menghindari aku. Rupanya dia ingin memancing aku keluar untuk mengejarnya lalu menggunakan kesempatan itu mengajakku pergi menemui Wan wan. Dia sengaja mengajakku bertarung tak lebih hanya sengaja ingin diperlihatkan kepada orang lain."
Setelah berhenti sebentar untuk tarik napas, lanjutnya.
"Ketika berpapasan dalam ruang penjara tadi, aku mengira si baju hijau sekalian khusus meluruk ke situ karena ingin menolong Thia Siau cing. Sungguh tak disangka ternyata mereka datang untuk membunuh Phoa Ki seng. Tak heran kalau dia menungguku di tengah halaman. Sayang sebelum aku tiba di situ, dia sudah keburu dibantai orang."
"Yang membunuhnva adalah Leng Giok hong?"
"Benar, Leng Giok hong membawa surat perintah resmi dari kerajaan. Dia diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati kepadanva. Ditinjau dari peristiwa ini, bisa disimpulkan kalau dia pun termasuk salah satu anggota dari organisasi rahasia itu. Selama ini dia tinggal di kota Chi lam tak lain hanya ingin mengaburkan identitas aslinya."
"Bagaimana dengan Leng Giok hong? Apakah dia pun termasuk salah satu anggota organisasi rahasia itu?"
"Kemungkinan besar begitu!"
Orang berbaju abu abu itu manggut manggut, katanya.
""Itulah sebabnya setelah Wan-wan melarikan diri dari tempat kediaman Ang ang, Phoa Ki seng sama sekali tidak berniat masuk ke dalam kamar untuk membekuk si pembunuh sadis itu, karena mungkin dia juga tahu kalau pembunuh yang sesungguhnya adalah Leng Giok hong! justru lantaran peristiwa ini, organisasi rahasia itu pasti beranggapan bahwa Phoa Ki seng hendak berkhianat. Mereka pun segera mengutus orang untuk melenyapkan jiwanya!"
"Betul"
Po Ing mengangguk.
"Oleh karena itu dalam kasus berdarah ini, tinggal dua teka teki yang belum terjawab!"
"Dua hal yang mana?"
"Pertama, kenapa Ang ang ngotot ingin jadi pelacur? Kedua, kenapa Leng Giok hong harus membunuh perempuan itu?"
Ingin mencari musuh besamya bukan berarti harus jadi seorang pelacur, di balik teka teki ini pasti terdapat satu alasan yang amat besar.
Leng Giok hong membantai Ang ang bukan saja melewati satu perencanaan yang cermat dan teliti, bahkan dia masih di dukung oleh satu organisasi maha dahsyat yang menjadi tulang punggungnya.
Sekalipun Leng Giok hong adalah pembunuh yang telah membantai seluruh keluarga Pek, dan kali ini dia bantai Ang ang hanya sebagai tindakan mencabut rumput hingga akamya, tapi berbicara dari status dan kedudukan Ang ang dalam percaturan dunia persilatan, rasanya tak berharga baginya untuk berbuat berlebihan semacam ini.
Dua persoalan yang merupakan teka teki besar ini memang betul betul sukar dijelaskan.
Kecuali..."
Kecuali Wan wan tahu akan rahasia itu, sedang kita berhasil menemukan dia tepat pada waktunya."
"Sayang sekali sebelum Phoa Ki seng sempat membeberkan jejaknya, dia sudah keburu mati dibantai orang,"
Ujar manusia berbaju abu abu itu.
"Tapi untung... kadangkala orang mati juga bisa membocorkan sedikit rahasia!"
"Kali ini rahasia apa yang telah dibocorkan orang mati?"
"Paling tidak Phoa Ki seng telah beritahu kepada kita bahwa dia mengetahui Wan wan bersembunyi di mana. Kemungkinan besar tempat itu terletak dekat sekali dengan gedung besar yang ditempati Ang ang semasa hidupnya,"
Kata orang berbaju abu abu itu. Kemudian tanyanya lagi kepada Po Ing.
"Jika kau menjadi Phoa Ki seng, kira kira Wan wan akan kau sembunyikan di mana?"
Po Ing termenung sambil putar otak, lalu jawabnya dengan serius.
"Malam sewaktu terjadinya kasus pembunuhan itu, Phoa Ki seng selalu berkumpul dengan Ni Siau cong di atas sebuah loteng sambil mengamati situasi. Sewaktu dia menjumpai Wan wan melarikan diri, kemungkinan besar dia akan sembunyikan gadis itu dalam bangunan loteng tersebut."
"Ehmmm, kemungkinan besar memang begitu."
"Tapi setelah Thia Siau cing mengaku dia sebagai pembunuhnya, dan kasus pun kemudian ditutup, Phoa Ki seng pasti akan memindahkan Wan wan ke suatu tempat yang jauh lebih aman. Untuk menghindari pengawasan orang banyak, tempat itu pasti terletak di sekitar loteng itu."
Kemudian ia mengambil satu kesimpulan.
"Tempat itu, kemungkinan besar adalah gedung besar yang pernah didiami Ang-ang semasa hidupnya!"
Tampaknya orang berbaju abu abu itu setuju sekali dengan analisis yang dibeberkan Po Ing. Paras mukanya nampak jauh lebih cerah dan bersinar. Kembali Po Ing berkata.
"Sejak terjadinya peristiwa pembunuhan berdarah itu, gedung tersebut selalu dibiarkan kosong dan terbengkalai. Bahkan kemungkinan besar telah disegel pihak kerajaan. Berarti semua penghuni yang ada di dalam gedung pasti telah diusir keluar semua, sedang orang luar tak mungkin masuk ke dalam. Gedung kosong yang terbengkalai semacam ini rasanya merupakan tempat yang paling cocok untuk menyembunyikan diri."
Setelah berhenti sejenak lanjutnya.
"Apalagi Wan wan sudah cukup lama berdiam di situ. Sekalipun ada orang yang menerobos masuk ke dalam, dengan sangat mudah ia bisa menghindarkan diri dari pengawasan orang orang itu."
"Jadi kau simpulkan saat ini mereka pasti berada dalam gedung besar itu?"
"Aku hanya memastikan Wan wan berada di situ."
"Bagaimana dengan Ni Siau cong?"
"Kalau Ni Siau cong sih susah dikatakan,"
Sahut Po Ing sambil tertawa getir.
"Keluarga Ni banvak memiliki rahasia yang tak diketahui orang luar, jadi sulit bagiku untuk menebaknya."
"Keluarga Ni memang merupakan satu keluarga persilatan yang sangat aneh. Ada orang bilang mereka adalah kelompok keluarga dari golongan bandit, selain mahir dalam ilmu meringankan tubuh, mereka pun menguasai Suo kut kang (ilmu mengunci, tulang), Sut kut hoat (ilmu menciutkan tulang), ilmu bersalin rupa, senjata rahasia, dupa pemabuk, obat racun... asal kepandaian yang berhubungan dengan kaum bandit hampir semuanya mereka kuasai,"
Kata orang berbaju abu abu itu menjelaskan.
"Kalau soal itu memang tak perlu diragukan lagi. Tapi selain itu semua, konon keluarga mereka juga masih mempunyai banyak hal yang aneh!"
"Ya, memang ada yang berkata bahwa dari keluarga mereka pernah muncul beberapa orang jago yang sangat mahir dalam tenaga dalam. Bahkan ada yang berhasil melatih ilmu Bu tong-khikang yang maha dahsyat. Hanya saja, sewaktu melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, mereka seringkali berganti nama,"
Kata orang berbaju abu abu itu. Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.
"Malahan ada yang bilang, satu di antara keempat tianglo dari Bu tong pay berasal dari keluarga Ni!"
"Menurut aku, kepandaian paling khas yang dimiliki keluarga Ni adalah sistim mereka untuk bertukar berita dan informasi,"
Kata Po Ing.
"Sewaktu mereka saling bertukar informasi dan kabar, kalau bukan anggota keluarga Ni, jangan harap kalian bisa merasakannya!"
"Konon kaum wanita dari keluarga ini pun termasuk orang-orang yang sangat aneh, bahkan mereka semua adalah orang kenamaan di dalam dunia persilatan."
Berbicara sampai di sini, tiba-tiba orang berbaju abu abu itu mengalihkan pokok pembicaraan. Tanyanya kepada Po Ing.
"Tahukah kau kita berada di mana sekarang?"
Po Ing langsung tersenyum.
"Bila tebakanku tak salah, seharusnya tempat kita berada sekarang adalah halaman belakang dari gedung yang pernah ditempati Ang ang!"
Orang berbaju abu abu itu ikut tertawa, bahkan suara tertawanya amat keras.
"Belakangan ini kemajuan yang berhasil kau capai memang sangat mengagumkan. Tak heran kalau setiap kali bertaruh pasti menang. Tampaknya dewa uang pun kalah bertaruh melawan kau!"
"Berapa orang dari dewa uang memang tak pantas disebut seorang penjudi sejati."
Setelah berhenti sejenak, Po Ing mengalihkan pembicaraan. Tanyanya kepada orang berbaju abu abu itu.
"Bila sekarang kita berada di halaman belakang gedung itu, bukankah berarti Wan wan juga berada di sini?"
"Benar!"
XVI.
Tangan Suci Pencabut Nyawa Seorang nona cilik berbaju putih bersih, dengan membawa sebuah nampan bulat berisi sayur dan arak berfalan masuk ke tengah halaman.
Dia mempunyai wajah bulat, mata bulat dan sepasang lesung pipi yang bulat juga.
Akhirnya Wan wan (si bulat) muncul juga.
Tapi senyuman belum muncul di wajahnya.
Maklum, nona besar keluarga mereka baru saja mati dibunuh orang.
Bukan saja dia adalah orang terdekatnya, dia juga merupakan satu satunya sanak baginya.
"Ketika tengah malam menjelang tiba, aku sudah tahu ada gelagat yang tidak beres, sebab Leng Giok hong tidak lain adalah pembunuh yang telah melakukan pembantaian terhadap keluarga. Pek!"
Cerita Wan wan.
"Oleh karena itu aku gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Maksudku aku ingin mencari bala bantuan."
"Ketika melarikan diri, apakah niat ini muncul atas keinginanmu sendiri?"
"Benar!"
"Kenapa nonamu tak setuju untuk ikut melarikan diri?"
"Sebab dia ingin balas dendam dengan tangannya sendiri,"
Tiba-tiba Wan wan kelihatan agak sangsi. Dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian lanjutnya.
"Dia tak ingin kisah memalukan yang menimpa dirinya tersebar keluar."
"Balas dendam adalah satu tindakan yang heroik, kenapa kau katakan sebagai hal yang memalukan?"
Wan wan segera tutup mulutnya rapat rapat, jelas dia tak ingin mengungkit masalah itu. Karenanya Po Ing segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Mana Ni Siau cong?"
"Dia sudah pergi, kelihatannya dalam keluarganya telah terjadi satu masalah yang cukup gawat. Lagipula dia tak ingin bertemu dengan Leng Giok hong, terlebih lagi dia tak ingin berjumpa dengan si baju hijau."
"Kenapa?"
Tanya Po Ing keheranan.
"Apakah di antara mereka berdua juga mempunyai hubungan khusus?"
"Soal itu aku kurang jelas,"
Wan wan menggeleng.
"Urusan yang menyangkut keluarga Ni, bahkan kau sendiri pun tak jelas, apalagi aku?"
"Berarti Ni Siau cong juga beranggapan bahwa pembunuhnya adalah Leng Giok hong?"
"Dia memang berkata begitu!"
"Atas dasar apa kalian berani memastikan kalau Leng Giok-hong lah pembunuhnya?"
"Berdasarkan sebuah bekas bacokan golok!"
"Bekas bacokan? Bekas bacokan macam apa?"
Tukas Po Ing.
"Sebuah bekas bacokan yang bentuknya mirip seekor kelabang, panjang sekali dan jelek sekali. Sebab setelah terkena bacokan golok dulu, dia segera menjahit mulut luka itu dengan sebuah benang yang terbuat dari kulit kerbau. Ketika mulut luka itu sembuh maka ujung benang di kedua sisi bekas lukanya yang mencuat keluar berubah jadi kaki-kaki kelabang Yang sangat panjang."
Setelah berhenti sejenak, kembali Wan wan melanjutkan.
"Tapi seekor kelabang yang sebenarnya tak akan sepanjang itu."
"Berapa panjangnya?"
"Paling tidak ada satu depa Iebih tiga empat inci,"
Sahut Wan-wan.
"Bacokan golok itu sangat kuat dan dalam. Sayangnya Leng Giok hong mengenakan baju tebal waktu itu. Kalau tidak, mungkin bacokan itu sudah menewaskan dia! "
"Kalau begitu, orang yang ingin membunuhnya waktu itu adalah seorang jagoan tangguh yang sangat mahir menggunakan golok?"
"Bukan cuma orang yang membawa golok adalah jagoan tangguh, orang yang menjahitkan mulut lukanya juga pasti seorang jago hebat!"
Kalau betul di tubuhnya terdapat sebuah bekas bacokan yang begitu panjang, kenapa selama ini aku tak pernah melihatnya?"
Sekali lagi Wan wan menutup mulutnya rapat rapat. Dengan menggunakan sepasang matanya yang tajam bagai mata elang, Po Ing mengawasi gadis itu lekat lekat, kemudian baru katanya.
"Aku tidak melihatnya, apakah dikarenakan bekas Iuka itu berada di suatu tempat yang tak mungkin dilihat orang lain? Apakah bekas luka itu tidak bisa terlihat bila dia tidak melepaskan semua pakaian yang dikenakan?"
Wan wan masih juga tidak menjawab, tapi wajahnya telah menunjukkan mimik muka yang sangat aneh, selain amat gusar juga amat sedih.
Sebenarnya gadis ini merupakan seorang gadis lincah yang sangat pandai berbicara.
Tapi setiap kali mengungkit persoalan itu, air mukanya segera berubah hebat, seakan akan dia ingin sekali melayangkan satu tonjokan untuk menghajar mulut Po Ing, merontokkan giginya agar dia tak bisa mengungkit lagi persoalan itu untuk selamanya.
Padahal tak perlu gadis itu memberikan penjelasan pun, Po Ing sudah paham seluruhnya.
...
Tak diragukan lagi, Leng Giok hong adalah pembunuh yang telah melakukan pembantaian atas keluarga Pek.
...
Banyak perempuan dari keluarga Pek yang mengalami kekerasan seks.
Ang ang adalah salah satu di antaranya.
...
Di salah satu bagian yang paling rahasia dari Leng Giok-hong terdapat sebuah bekas luka bacokan yang panjangnya lebih dari satu depa dan berbentuk kelabang.
Bekas luka itu baru terlihat jika dia dalam keadaan telanjang bulat.
...
Ang ang sengaja bekerja sebagai pelacur karena dia ingin menciptakan kesempatan seperti ini, karena hanya seorang pelacur yang bisa melihat seorang lelaki asing dalam keadaan telanjang bulat.
...
Tentu saja dia tak sanggup menemukan pembunuh itu.
Tapi dia percaya bila si pembunuh mendengar ada seorang pelacur macam dia, cepat atau lambat dia pasti akan datang sendiri untuk mencarinya.
Atas dasar beberapa sebab dan alasan itulah bisa ditarik kesimpulan, apa alasan sang pembunuh untuk menghabisi nyawa Ang ang.
Jelas peristiwa ini adalah suatu peristiwa yang memalukan.
Wan-wan enggan menyinggungnya, tentu saja Po Ing segan untuk mengungkitnya kembali.
Katanya kemudian.
"Sekarang, tampaknya tinggal satu persoalan yang belum kita kerjakan."
"Membunuh Leng Giok hong?"
"Sekalipun tidak dibunuh, paling tidak juga harus ditangkap dan diadili!"
Manusia berbaju abu abu yang selama ini membungkam, tiba-tiba berkata juga.
"Sekarang kasus asap berwarna ungu sudah terungkap. Walaupun Thia Siau cing masih mencintai Ang ang, bahkan rela menemaninya mati, tapi sekarang rasanya dia tak perlu pergi mati."
"Sekalipun dia ingin mati, mungkin keinginannya tak akan kesampaian."
"Oleh sebab itulah pertaruhanmu dengan kakek Li berjubah merah telah kau menangkan. Buat apa kau mesti mencampuri urusan ini lagi?"
"Selama dia belum mati, rasanya aku belum puas!"
"Semenjak berusia dua belas tahun, Leng Giok hong telah berhasil membongkar satu kasus perampokan yang rumit. Satu persatu rampok rampok licik dan buas itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Aku rasa orang seperti dia pasti sangat ahli juga dalam hal melarikan diri. Aku rasa tak gampang jika kau ingin menangkapnya."
"Aku mengerti, untungnya aku tak perlu melakukannya!"
"Tak perlu mengejarnya?"
"Betul!"
"Kenapa?"
"Karena aku percaya pasti ada orang yang mewakiliku untuk melaksanakan tugas ini,"
Kata Po Ing.
"Kecuali aku, pasti masih ada orang lain yang tak ingin membiarkan dia hidup terus."
Lagi lagi apa yang dikatakan tepat sekali.
Tiba tiba dari luar dinding pekarangan muncul sebuah tangan.
Tangan itu seakan akan muncul dari dalam air, tenang dan sangat lembut, bukan saja tidak menimbulkan suara, juga tak tampak ada dinding yang retak atau rusak.
Setitik debu pun tak nampak gugur dari atas dinding pekarangan itu.
Tangan itu sangat indah, jari jemarinya ramping lagi panjang.
Satu satunya cacad yang patut disesali hanyalah ruas jari tangan itu kelihatan agak besar dan kasar.
Oleh sebab itulah semua jari tangannya dihiasi dengan enam buah cincin berbatu mutu manikam yang terdiri dari mustika berwarna wami.
Tak bisa disangkal tangan itu adalah tangan seorang wanita.
Dia sedang menggapai ke arah Po Ing.
Tanpa ragu atau sangsi Po Ing segera menghampiri.
Dengan langkah lebar dia berjalan melewati tembok itu, seakan akan di hadapannya sama sekali tak ada dinding pembatas.
Ketika ia sudah berjalan lewat, di atas dinding pekarangan itu baru muncul sebuah lubang besar, sementara Po Ing telah keluar dari dinding pemisah itu.
Di luar pagar adalah sebuah gunung gunungan dengan pancuran air yang mengalir deras.
Di antara bayangan yang terpantul dari permukaan air, lamat-lamat tampak sesosok bayangan hijau berkelebat lewat.
Ketika Po Ing menyusul sampai di luar pagar, bayangan itu sudah berada di atas gunung-gunungan di seberang sana.
Orang itu mengenakan baju berwarna hijau muda, sekalipun seseorang yang tak tahu kualitas kain pun dalam sekilas pandangan sudah dapat melihat kalau pakaian yang dikenakan orang itu sangat mewah dan mahal harganya.
Perawakan tubuhnya termasuk sangat indah, ramping, kecil mungil dan sangat menggiurkan.
Hanya sayang ia berdiri membelakangi Po Ing sehingga tak nampak raut muka sebenarnya.
Po Ing tidak berusaha untuk mengejar.
Karena dia sudah bergerak duluan, maka jaraknya dengan Po Ing sekarang sudah terpaut tujuh delapan kaki, sekalipun mau dikejar juga sulit untuk menyusulnya.
Apalagi di luar sana masih terdapat sebuah benda yang jauh lebih menarik perhatian Po Ing...
ditepi kolam air di bawah gunung-gunungan itu ternyata terbujur sebuah peti mati.
Po Ing tidak mengejar, orang berbaju hijau itu juga tidak pergi.
Sampai Po Ing mulai membuka peti mati itu pun dia sama sekali tidak berpaling.
Sudah barang tentu dia tahu apa isi peti mati itu.
Biasanya isi dari sebuah peti mati adalah mayat seseorang.
Tidak terkecuali isi peti mati ini.
Leng Giok hong yang masih kelihatan begitu gagah dan segar setengah hari berselang, kini sudah membujur kaku di dalam peti mati itu.
Benarkah mayat itu adalah mayat dari Leng Giok hong asli?
Tiba tiba terdengar orang berbaju hijau yang berada di atas gunung gunungan itu tertawa terkekeh kekeh.
Suara tertawanya sangat aneh, tajam melengking dan sangat menusuk pendengaran, katanya.
"Lebih baik jangan kau sentuh dia. Juga tak perlu memeriksa bekas bacokan golok di tubuhnya, karena kemungkinan besar sekujur badannya saat ini sudah mengandung racun ganas. Bila kau sentuh kakinya maka kakinya akan membusuk, bila tanganmu menyentuh tangannya maka tangan itu akan membusuk. Akhimya seluruh badannya akan muIai membusuk dan hancur lebur!"
Sembari berkata, selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang.
la mundur dengan langkah biasa.
Walaupun menguasai ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, dia sama sekali tidak menggunakannya.
Ketika ia mundur beberapa langkah lagi maka terlihatlah manusia berbaju abu abu itu muncul dari sisi gunung-gunungan yang lain.
Setiap langkah ia mundur ke atas gunung-gunungan, manusia berbaju abu-abu itu maju selangkah lebih ke depan.
Tentu saja ia tak mampu mengetuarkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melarikan diri, karena saat ini semua jalan darah kematian disekujur tubuhnya sudah berada dibawah ancaman pukulan orang berbaju abu abu itu.
Satu serangan yang bisa mencabut nyawanya setiap saat.
Demikian hebatnya tenaga ancaman itu sampai Wan wan yang berdiri di tempat kejauhan pun dapat merasakan kekuatan itu.
Sedemikian tegangnya nona kecil ini sampai telapak tangannya ikut mengeluarkan peluh dingin.
Tentu saja tenaga tekanan yang dirasakan orang berbaju hijau itu jauh lebih dahsyat lagi.
Asal dia beniat kabur maka jiwanya pasti akan terancam.
Entah ke mana pun kau hendak lari dan memakai cara apa pun untuk menghindar, sulit rasanya untuk meloloskan diri dari ancaman manusia berbaju abu abu itu.
Pada saat itulah tiba tiba manusia berbaju abu abu itu menghentikan langkahnya.
Si baju hijau tidak menyianyiakan kesempatan baik itu, ia segera bersalto di tengah udara.
Dengan jurus "dada ramping menembus awan,"
Satu gerak jurus yang amat sederhana, ia melesat mundur jauh ke belakang.
Tampaknya dia sudah menduga kalau Po Ing tak bakal melepaskan dirinya, maka sebelum diserang orang, dia berusaha melancarkan serangan duluan.
Ketika badannya meluncur ke bawah, tiga buah serangan kilat segera dilancarkan dalam waktu sekejap.
Tiba tiba paras muka Po Ing berubah hebat.
Mimik muka yang sangat aneh terlintas di wajahnya.
Dia seolah olah baru saja menyaksikan suatu peristiwa yang sebenamya mustahil bisa terjadi di situ.
Si baju hijau tidak menyia nyiakan kesempatan itu.
Secepat kilat dia mundur ke belakang dan melarikan diri dari situ.
Wan wan menyaksikan perubahan wajah Po Ing dengan sangat jelas, tak tahan segera serunya.
"Paman Po, kau seperti baru saja melihat setan. Sebenarnya apa yang kau lihat?"
Sampai lama sekali Po Ing berdiri tertegun, akhimya setelah menghela napas panjang katanya.
"Aku telah melihat wajah seseorang. Tidak seharusnya wajah orang itu muncul di wajah si baju hijau."
"Siapakah orang itu?"
"Ni Siau cong!"
"Maksudmu wajah si baju hijau tadi adalah wajah Ni Siau-cong?"
"Benar!"
Wan wan ikut tertegun, gumamnya.
"Masa Ni Siau cong adalah si baju hijau? Masa si baju hijau adalah Ni Sijau cong?"
"Tapi Ni Siau cong sudah pergi, bahkan pasti pergi bersama Oh Kim siu!"
"Darimana kau bisa tahu?"
"Karena orang yang menghadang perjalananku di tengah jalan bersama Phoa Ki seng tadi, kemudian memancing keluar Oh Kim siu dari dalam kereta, adalah Ni Siau cong."
"Benar!"
"Konon keluarga Ni Siau cong sedang dilanda masalah serius dan dia harus buru buru pulang ke rumah. Oh Kim siu pasti pergi bersamanya,"
Kata Po Ing. Setelah tertawa getir lanjutnya.
"Belakangan ini nona besar Oh tampak seperti amat tertarik dengan urusan yang menyangkut keluarga Ni."
Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 1
Baca Juga: Legenda Kelelawar 3