Pendekar Pemetik Harpa 12

Eps 12 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

"Koan-siansing ternyata memiliki Kungfu dan kepandaian mengobati yang liehay, uraianmu tadi sungguh membuka mata kami. Sungguh harus dipuji, yakin Siansing pasti dapat menyembuhkan putraku. Untuk itu Siansing tidak usah kuatir berapa .imbalan yang kau pinta, sesenpun tidak kurang akan kubayar. Siansing mau uang tunai atau..."

Setelah tahu berita dan jejak Tan Ciok-sing lega hati Tam Pa-kun, katanya tersenyum.

"Emas aku emoh, perak juga tidak mau, aku hanya menuntut satu orang untuk menukar jiwa putramu,"

Sampai disini mendadak dia mencengkram In Hou serta dijinjingnya ke atas.

Ong Cong-king yang berdiri tidak jauh sudah siap merebut maju, tapi sudah terlambat.

Sekali mengebas lengan bajunya, angin kencang seketika menerpa muka, tanpa kuasa Ong Cong-king tergentak mundur dua langkah.

Kagetnya bukan main.

"Tabib ini sudah minum teh yang dicampur Hap-kut-san, kenapa tenaga dalamnya masih sehebat ini?"

Mendadak didengarnya Tam Pa-kun tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Dengan maksud baik aku kemari mau mengobati, kalian justru mau meracuni aku, adakah aturan macam ini? Hehe, memangnya Hap-kut-san mampu berbuat apa terhadapku, kalian ingin mencelakai aku, memangnya siapa aku ini, begitu rendah kalian menilaiku."

Di tengah gelak tawanya mendadak dia acungkan jari tengah tangan kirinya, sejalur air segera menyembur keluar dari jari tengah itu, tampak uap mengepul, lekas In Kip dan Ong Cong-king melompat minggir takut kecipratan.

Koan Cong-yau yang berdiri di samping sana juga melongo ketakutan.

Ternyata Tam Pa-kun menyimpan Bik-ling-tan pemberian In Hou yang dibuat dari Thian-san-soat-lian, khasiatnya dapat memunahkan berbagai racun, sejak tadi Tam Pa-kun sudah meminumnya setengah butir, ketambah Lwekangnya tangguh, meski minum secangkir teh beracun, dia kerahkan Lwekang memusatkannya ke ujung jari serta menyemburkannya.

In Kip tenangkan hati, serunya gugup.

"Siansing harap kau tidak salah paham. Soalnya musuhku terlalu banyak, setiap urusan harus bertindak hati-hati. Kupikir setelah Siansing menyembuhkan putraku, segera akan kuberikan obat penawarnya. Tak kira Lwekang Siansing begitu tangguh, kini tidak mengalami cidra apa-apa, biarlah aku mohon maaf dan memberi hormat kepadamu. Cuma siapa yang Siansing tuntut untuk menukar putraku?"

"Kek Lam-wi, salah satu dari Kanglam-pat-sian."

Sudah kaget In Kip masih mau mungkir.

"Koan-siansing, tuntutanmu ini sungguh membuatku heran dan tidak habis mengerti, apa itu Kanglam-pat-sian..."

"In-toacengcu,"

Tukas Tam Pa-kun menyeringai dingin.

"Kau bersimalaraja di Kanglam, kalangan hitam golongan putih kau punya kenalan, memangnya kau tidak tahu apa itu Kanglam-pat-sian?"

"Kanglam-pat-sian"aku sih tahu, tapi dengan mereka hakikatnya aku tidak punya hubungan. Kau mencari Kek Lamwi dari Kanglam-pat-sian koh di tempatku, apa tidak salah alamat?" .

"Apa betul kau tidak tahu dimana sekarang Kek Lam-wi berada?"

Diam-diam In Kip memperhitungkan waktunya, dia yakin tabib kelilingan ini tidak mungkin bersua dengan Tan Ciok-sing lalu baru-baru menyusul kemari, maka dia tetap mengeraskan kepala, tetap mungkir.

"Aku benar-benar tidak tahu."

"Kalau kau tidak tahu, aku justru sudah tahu. Aku tahu sekarang dia berada didalam villamu ini."

"Siansing berkelakar, selamanya aku tiada hubungan dengan Kek-jithiap, bagaimana mungkin dia bisa berada di rumahku?"

"In-toacengcu,"

Jengek Tam Pa-kun.

"benda apa yang kau sembunyikan didalam bajumu? Agaknya kau memang pandai membual?"

Seruling pualam hangat milik Kek Lam-wi tadi dirampas Busam Niocu dan diberikan kepada In Kip, In Kip belum sempat menyimpannya kedalam.

terpaksa dia sembunyikan didalam jubahnya.

Mendadak Tam Pa-kun membongkar bualannya, tanpa sadar dia menyurut mundur, sebelah tangan serta merta menekan ke tempat di mana seruling itu disembunyikan.

Berkata Tam Pa-kun lebih lanjut.

"Kepandaian lain aku tidak punya, tapi mataku ini amat tajam untuk mengenali benda pusaka, sinar mustika tampak cemerlang dari badanmu, sekali pandang aku lantas tahu seruling warisan leluhur Kek Lam-wi itu berada dalam bajumu, masih berani kau katakan dia tidak berada di rumahmu?" --Hakikatnya kata-kata sinar mustika cemerlang dari badan hanyalah istilah berkelebihan yang digunakan Tam Pa-kun. Tapi sebagai ahli silat, senjata apa yang disimpan dalam baju orang, sekali pandang dia lantas dapat menebaknya.

"In-toacengcu, kuharap kau tahu diri. Kalau tidak, jangan menyesal bila aku bertindak kasar. Tabib yang ahli mengobati ini juga bisa jadi jagal manusia. Sekarang aku hanya menunggu jawabanmu, lekas keluarkan Kek Lam-wi untuk menukar jiwa raga putramu, jual beli secara banter ini kau mau terima tidak?"

Demikian ancaman Tam Pa-kun.

"Nanti dulu Siansing, aku, aku, aku..."

Beruntun In Kip menyurut mundur. Sekonyong-konyong terdengar sudra "Blang"

Yang keras, pintu angin di depan Tam Pa-kun tiba-tiba jebol dan berlobang besar, segulung angin kencang langsung menerpa ke arahnya.

Kembali Tang-bun Cong mendemonstrasikan kepandaian Kek-bu-thoan kang membokong Tam Pa-kun.

Dengan Bikkhong-ciang dia menjebol pecah pintu angin, bila Tam Pa-kun jinjing In Hou menangkis pukulan jarak jauh ini, maka pukulan dahsyat itu akan tersalur seluruhnya ke tubuh Tam Pa-kun.

Itu berarti mereka ada kesempatan untuk menolong In Hou.

Tapi Tam Pa-kun bukan Kek Lam-wi, sejak tadi juga sudah dia ketahui bahwa di belakang pintu angin ada jago kosen yang menyembunyikan diri?

Maka sergapan Tang-bun Cong boleh dikata sudah dia duga sejak tadi.

Tampak dengan tangan kiri dia seret In Hou, telapak tangan kanan menekan miring dan sekali dorong ke samping, maka terdengarlah "Blam"

Pintu angin di seberang sana kembali jebol berantakan diterjang angin kencang.

Suara hancurnya daun pintu malah jauh lebih keras dari pukulan Bik-khong-ciang Tang-bun Cong tadi.

Ternyata Tam Pa-kun tidak mau adu kekerasan, maka dia gunakan tenaga 'tuntun', damparan angin pukulan Tang-bun Cong yang dahysat itu dia tuntun ke samping sehingga pintu angin yang lain hancur berkeping-keping.

Tang-bun Cong juga seorang jago silat kosen, melihat lawan memiliki Kungfu meminjam tenaga memunahkan tenaga, maka dia tahu kalau lawan tidak menuntun tenaga pukulannya ke arah lain, dia cukup mampu memanfaatkan kekuatan pukulannya ditambah tenaga sendiri untuk dialihkan ke tubuh In Hou.

Bila hal ini terjadi, umpama jiwa In Hou rangkap dua belas juga akan amblas seluruhnya seketika itu juga, sementara Tam Pa-kun tidak akan cidera sedikitpun.

Tahu akan liku-liku ini, sudah tentu Tang-bun Cong tidak berani pula bertindak gegabah untuk menyerang kedua kalinya.

Bukan saja dia tidak berani menyerang pula, diapun tidak berani menampilkan dirinya.

Di kala pintu angin rohoh berantakan, cepat-cepat bersama Poyang Gun-ngo dia melompat sembunyi ke ruang belakang.

Bukan lantaran dia takut menghadapi Tam Pa-kun, soalnya dia dan Poyang Gunngo sekarang sedang mengemban tugas lain yang penting dan berat, membantu In Kip hanya kerja samben.

Bahwa sergapannya tidak berhasil, berarti dia tidak akan mampu membantu In Kip, dalam situasi yang tidak menguntungkan pihaknya, buat apa pula dia harus mengunjukkan dirinya.

Satu pintu angin bolong, pintu angin yang lain roboh berantakan.

Meski In Kip selicin rase dan banyak akal muslihat, setelah kejadian ini, berdiri dan melongo, lututnya bergetar keras.

Di tengah kegaduhan robohnya pintu angin, Tam Pa-kun menjejak lantai, tubuhnya mumbul, meski dia menjinjing In Hou, Ginkangnya ternyata tidak kena korting.

Secepat kilat, seperti elang menubruk kelinci saja, tahu-tahu dia sudah menubruk ke depan ln Kip.

Koan Cong-yau dan Ong Cong-king kira dia hendak melukai In Kip, tanpa pikir serempak mereka menubruk bersama.

Gaman Koan Cong-yau adalah Boan-koan-pit, menusuk ke Hong-hu-hiat di punggung Tam Pa-kun, sementara Ong Congking adalah ahli Tay-lik-eng-jiau-kang jari-jarinya mencengkram tulang pundak kirinya.

Tam Pa-kun mengempit In Hou di bawah ketiaknya, tangan kiri jelas tidak mungkin bergerak, berarti pundak dan punggungnya terbuka lebar.

Pimpinan Giam-ong-pang dulu ini cara turun tangannya ternyata amat keji, sekali turun tangan sudah paksa lawan untuk menyelamatkan diri lebih dulu.

Gerakan tiga orang sama-sama cepat, sebat sekali Tam Pakun memutar tubuh.

"Cret"

Jubah In Kip sudah terobek, dengan memutar tubuh itu secara langsung dia angsurkan In Hou kemuka Koan Cong-yau, Koan Cong-yau tidak memiliki ilmu Kek-bu-thoan-kang, mana dia berani melanjutkan serangannya?

Untung permainan Boan-koan-pit yang dilatihnya cukup mahir hingga sudah terkendali oleh jalan pikirannya, dalam seribu kesibukannya dia tarik tusukan potlot besinya yang dilandasi seluruh tenaganya, syukur ujung potlotnya tidak sampai melukai In Hou.

Dalam pada itu Ong Cong-king merasa pandangannya silau, sinar kehijauan yang gemeredep tahu-tahu menyambar ke mukanya, tampak Tam Pa-kun sudah memegang sebatang seruling, itulah seruling pualam milik Kek Lam-wi.

Kiranya tubrukan Tam Pa-kun menyergap In Kip bukan bermaksud mencelakai jiwanya, tapi hendak merampas balik seruling mustika itu.

Padahal ln Kip memiliki ilmu silat cukup baik, meski dia melompat mundur secepatnya, tak urung mukanya yang tambun itu terasa panas dan pedas tersampuk oleh tenaga lengan baju Tam Pa-kun.

Yang paling kaget dan ketakutan sudah tentu adalah In Hou yang menjadi sandera musuh, dalam gebrakan kilat ini, saking ketakutan muka pucat mulut megap-megap tidak mampu keluar suara, sekarang baru kuasa dia berteriakteriak.

"Tolong, tolong."

Tam Pa-kun tertawa dingin, jengeknya.

"In-toasiauya, bila aku menghendaki nyawamu, sejak tadi sudah kubiarkan tubuhmu dimakan oleh pukulan Bik-khong-ciang tadi, memangnya aku perlu turun tangan sendiri?"

In Kip suka bergaul, tidak sedikit tamu-tamunya berkepandaian tinggi, maka pengetahuannya dalam hal ini cukup matang.

Pukulan Kek-bu-thoa-kang yang dilontarkan Tang-bun Cong berhasil dipunahkan oleh Tam Pa-kun, hal ini dia ketahui betul, insaf pakai kekerasan pihak sendiri mungkin bakal menderita rugi lebih besar, sebelum Koan dan Ong kedua anak buahnya bertindak pula, lekas dia berseru.

"Semuanya berhenti, urusan baik dirundingkan saja."

"Nah kan begitu,"

Ujar Tam Pa-kun tertawa.

"Marilah duduk dan bicarakan jual beli ini In toacengcu, seruling Kek Lam wi sudah kurebut kembali, sekarang kutunggu kau membawanya keluar, supaya aku kembalikan serulingnya ini kepada dia."

"Silakan Siansing duduk,"

Ucap In Kip.

"kalau jual beli harus dibicarakan, harap tanya siapa she dan nama besar Siansing?"

Ong Cong-king sudah berdiri terpaku sejak tadi, kini mendadak menyela.

"Maaf, maaf, ternyata Siansing adalah Kim-to-thi-ciang (telapak besi golok emas) Tam Tayhiap."

Tam Pa-kun tertawa gelak, katanya.

"Pandangan Ongjipangcu memang lebih tajam, kawan-kawan Kangouw memang menempel emas di mukaku, menjuluki aku Kim-to thi-ciang. In-toacengcu, kini kau sudah tahu siapa aku, yakin kau juga sudah mengerti kenapa aku ingin menjual beli ini? Selama hidup orang she Tam memang suka mencampuri urusan orang lain apalagi kau menawan temanku Kek Lam-wi. Bahwa aku mau jual beli dengan kau secara adil, ini sudah menguntungkan dan memberi muka kepada kau,"

Merah, pucat dan menghijau wajah ln Kip, sesaat dia menghela napas lega, katanya.

"Aku sudah mengerti, harap kau tidak mempersulit putraku, mari kita rundingkan persoalan dengan baik."

Tam Pa-kun berpaling, berkata kepada Ong Cong-king dan Koan Cong-yau.

"Dua puluh tahun yang lalu sudah ada niatku untuk mohon pengajaran dari tiga pimpinan Giam-ong-pang, sayang waktu itu tak bisa terlaksana. Hari ini baru kubuktikan kepandaian kalian memang mengagumkan, tapi aku jadi gegetun dan merasa sayang bagi kalian. Dengan kedudukan kalian dulu dan bekal kepandaian setinggi itu, kenapa terima diperbudak orang? Hehe, perlu kuperingatkan, harap kalian tidak mengingkari sumpah kalian dulu di hadapan In Tayhiap. Meski penghidupan selanjutnya akan sepi dan tawar, tapi lebih berharga dari pada menjadi anjing penjaga pintu orang lain."

Merah padam muka Ong dan Koan, mereka tertunduk tanpa berani bersuara.

Dua puluh tahun yang lalu, penyebab utama sehingga Giam-ong-pang kocar kacir dan bubar, maka ketiga pimpinannya menghilang dan tidak pernah mengunjukkan dirinya pula, bukan lain adalah teman baik Tam Pa-kun, yaitu In Hou ayah kandung In San.

Waktu menumpas kejahatan orang-orang Giam-ong-pang dulu, pernah In Hou mengajak Tam Pa-kun untuk membantunya.

Sayang waktu itu Tam Pa-kun sedang sibuk menyelesaikan tugasnya sehingga tidak bisa memenuhi undangannya, belakangan karena tanpa memperoleh bantuan Tam Pa-kun yang amat diandalkan, In Hou hanya kuasa mengalahkan ketiga pimpinan Giam-ong-pang dan tak berhasil membunuhnya.

Sesaat kemudian baru Ong Cong-king buka suara.

"Bukan kami ingkar janji, soalnya In Tayhiap sudah mati, disini kami sebagai tamu In-cengcu, di rumah kawan kami hanya membantu sekedarnya, kan tidak terhitung berkecimpung pula di Kangouw."

Tam Pa-kun tidak suka urusan berlarut-larut, jengeknya dingin.

"Masing-masing orang punya jalan hidupnya sendiri, kau suka menjadi anjing penjaga pintu orang lain, ya terserah. In-toacengcu, perlu kita balik bicarakan persoalan jual beli itu, sebetulnya kau mau menyelesaikan jual beli ini tidak?"

Apa boleh buat, terpaksa In Kip memberi kedipan mata kepada Ong Cong-king, katanya.

"Ong-koankeh, kau undang Kek-jithiap kemari."

Ong Cong-king maklum segera dia berlalu, setelah menemukan Bu-sam Niocu, berdua mereka ke belakang masuk ke penjara.

Kek Lam-wi dijebloskan di penjara bawah tanah, walau harus melewati beberapa pintu, sepatutnya lekas sekali sudah bisa digusur keluar, tapi setelah ditunggu hampir setengah sulutan dupa masih juga belum kelihatan Ong Congking keluar membawa Kek Lam-wi.

Peristiwa tak terduga ternyata terjadi di penjara bawah tanah, bukan saja Tam Pa-kun tidak pernah duga bakal terjadi hal itu.

ln Kip dan orang-orangnyapun tidak habis mengerti.

000OOO000 Entah berapa lama Kek Lam-wi tidak ingat diri, dalam pulasnya dia bermimpi berada di Ji-si-kio di kota Yang-ciu, dalam mimpinya itu dia bersua dengan Toh So-so yang berdiri di bawah pohon di pinggir sungai tengah meniup seruling.

Baru saja dia mau keluarkan serulingnya juga, tiba-tiba hidungnya mencium bau wangi, bayangan Toh So-so lenyap seketika, tapi dia jelas merasakan ada sebuah tangan halus lembut tengah mengelus jidatnya.

Lapat-lapat dalam pulasnya itu Kek Lam wi mendadak seperti memperoleh kesadarannya.

Dia masih kuatir dirinya terbuai di alam mimpi, waktu dia angkat tangan menangkap, tidak salah, terasa dia menggenggam jari-jari tangan seorang gadis, itulah tangan manusia tulen, bukan di alam mimpi.

Tapi kulit tangan si jari begitu lembut dan halus laksana sutra sehingga pegangannya beberapa kali terlepas tapi sekarang dia yakin, dirinya tidak mimpi lagi.

Kejut dan girang Kek Lam-wi, tanpa sadar dia berteriak.

"So-moay, So-moay, apa betul kau?"

Cepat gadis itu mendekap mulutnya sambil mendesis lirih di pinggir telinganya, katanya lirih.

"Jangan keras-keras, lekas ikut aku keluar."

Itu bukan suara Toh So-so.

Kek Lam-wi masih dalam keadaan setengah sadar, tanpa merasa jari-jari tangannya merogoh kedalam baju, maksudnya hendak meraba serulingnya.

Menyadari serulingnya telah lenyap, barulah Kek Lam-wi sadar kembali.

Seketika dia ingat dirinya memenuhi undangan In Kip dan terbius oleh bau wangi Bu-sam Niocu.

Kenapa sekarang dirinya tiba-tiba bisa bergerak?

Pandangannya serba gelap, tempat apakah ini?

Tangan gadis itu terulur lagi menggenggam tangannya terus menuntunnya pergi.

Tapi tetap bungkam seribu bahasa.

Dengan tangan kirinya Kek Lam-wi meraba-raba dinding batu di sampingnya, kesadarannya bertambah terang, dengan bekal pengalamannya, dia menyadari dirinya sekarang mungkin berada di penjara bawah tanah, jadi belum keluar dari lingkungan villa keluarga In.

Dia sudah mulai curiga bahwa gadis yang menuntunnya ini bukan Toh So-so, tapi bahwa dia lekas sadar dan mampu berjalan terang berkat bantuan gadis ini peduli Toh So-so atau bukan, pendek kata gadis ini telah menolongnya, jelas tidak mengandung maksud jahat terhadap dirinya.

Mereka seperti berjalan di lorong bawah tanah, di kala Kek Lam-wi masih bimbang, tiba-tiba sayup-sayup didengarnya suara percakapan orang.

Dia kenal itulah suara Ong Congking.

Ong Cong-king sedang berteriak.

"Celaka, penjara bobol, lekas masuk Kek Lam-wi masih ada didalam?"

Mendengar teriakan Ong Cong-king, gadis yang menarik tangannya segera berjalan lebih cepat.

Dia tahu gadis ini berusaha menolong dirinya, tapi dirinya dilarang bersuara, maksudnya sudah tentu supaya jejak mereka tidak konangan orang.

Dalam keadaan demikian, meski besar hasratnya ingin tahu siapa gerangan gadis ini, terpaksa dia tekan perasaannya, diapun percepat langkahnya.

Agaknya gadis ini amat hapal segala seluk beluk dan rahasia di bawah lorong ini, entah berapa jauh telah mereka tempuh dengan belak belok kian kemari di bawah tanah, akhirnya dia dibawa merangkak keluar dari sebuah mulut lobang.

Pandangannya kini terasa benderang, malam itu putri malam memancarkan cahayanya yang cemerlang, dikala rembulan tepat bercokol di tengah cakrawala.

Kek Lam-wi kucek-kucek matanya, di bawah penerangan sinar bulan, baru sekarang Kek Lam-wi sempat mengawasi gadis yang menolongnya.

Ternyata dia mengenakan cadar sehingga tak kelihatan wajahnya.

000OO000 Tam Pa-kun sudah tidak sabar menunggu.

In Houpun gugup setengah mati.

"Kenapa begini lama, ayah lekas suruh orang lain menyusulnya,"

Pinta In Hou. Waktu In Kip suruh Koan Cong-yau menyusul, tampak Ong Cong-king sudah berlari keluar, tapi hanya seorang diri tanpa membawa Kek Lam-wi. In Hou kaget setengah mati, tanyanya lebih dulu.

"Ong-koankeh, kenapa hanya kau seorang diri?"

Setelah mengatur napas, Ong Cong-king berkata tergagap.

"In-cengcu, ce... celaka."

Tahu gelagat tidak baik, lekas In Kip bertanya.

"Apa yang celaka?"

"Kek Lam-wi, dia, dia sudah pergi,"

Sahut Ong Cong-king. Sudah tentu Tam Pa-kun tidak mau percaya, katanya.

"Kalian masih bersandiwara apa? Baiklah, kalian tidak mau membebaskan Kek Lam-wi boleh terserah, In-toakongcu ini biar kubawa pergi saja."

"Ayah,"

Teriak In Hou ketakutan.

"Ong-koankeh, tolonglah tuntutannya, tukarlah diriku dengan apa yang dimintanya."

Ong Cong-king tertawa getir, katanya meringis.

"Kongcu, Tam Tayhiap tidak percaya kepadaku, kenapa kaupun tidak percaya pula?"

"Tam Tayhiap, sabar, jangan marah dulu,"

Lekas In Kip tampil kemuka.

"biar kutanya dulu persoalannya? Ongkoankeh, bagaimana Kek Tayhiap bisa hilang?"

"Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa pergi? Penjaga semaput semua diluar pintu. Aku tidak sempat periksa mereka, apakah tertutuk Hiat-tonya atau terkena racun?"

Tergerak hati In Kip, tanyanya.

"Dimana Bu-sam Niocu?"

Maklum dalam keadaan gugup dan gelisah, tanpa sadar dia sudah membongkar sendiri bahwa Bu-sam Niocu ada di rumahnya.

"Bu-sam Niocu sedang mengejar dan menyelidiki kejadian ini. Dia suruh aku kembali memberi laporan kepada Cengcu."

Melihat sikap In Kip yang gelisah dan kuatir, jelas bukan pura-pura, menurut pengalaman dia berpikir.

"Agaknya mereka bukan sedang main sandiwara. Tapi siapa yang bisa menolong Kek Lam-wi?"

Padahal Tan Ciok-sing dan In San belum menyusul kemari, orang lain jelas tidak akan mampu melakukannya.

"Tam Tayhiap, persoalannya sudah jelas, seseorang telah membawa Kek-jithiap pergi, tujuanmu sudah tercapai, boleh kau membebaskan putraku, bukan?"

Tam Pa-kun masih setengah percaya, tiba-tiba dia ingat sesuatu, katanya.

"Tentang Kek Lam-wi apakah kalian sedang main sandiwara, aku tidak peduli lagi, tapi aku tidak sudi melakukan jual beli yang merugikan."

"Baik, asal kau membebaskan putraku, apa kehendakmu, bila bisa kulaksanakan semua tuntutanmu kuterima."

"Kek Lam-wi tidak bisa kalian keluarkan, baiklah ditukar seorang lain saja."

Ln Kip melenggong, katanya.

"Tam Tayhiap, siapa pula yang kau kehendaki?"

"Barusan Bu-sam Niocu mengejar seorang diri bukan."

In Kip mengiakan.

"Baiklah. Aku tahu calon istri Kek Lam-wi yaitu Toh So-so tertawan oleh Bu-sam Niocu, bahwa Bu-sam Niocu ada disini, yakin Toh So-so juga disekap di rumahmu. Kalau dia tidak membawa Toh So-so, maka sekarang lekas keluarkan Toh Lihiap."

In Kip tampak bingung, katanya kemudian.

"Bahwasanya aku tidak tahu menahu soal itu."

"Dia berlindung disini, apa yang dia lakukan mana mungkin kau tidak tahu?"

Damprat Tam Pa-kun.

"hm, kalau kau tidak tahu kenapa kaupun pancing Kek Lam-wi kemari? Ketahuilah bagaimana pesanmu kepada Koan Cong-yau untuk mengundangnya kemari semua sudah kuketahui dengan jelas. Bila kalian tidak gunakan Toh So-so untuk memancing kedatangannya, memangnya Kek Lam-wi sudi memenuhi undanganmu?"

In Kip masih bingung, In Hou sudah tidak sabar lagi, teriaknya.

"Tam Tayhiap, biar aku yang bicara sejujurnya. Bahwasanya tiada kejadian itu."

Tam Pa-kun melenggong, tanyanya.

"Jadi bukan sesungguhnya?"

"Itu hanya akal bulus Bu-sam Niocu untuk menipu dan menjebak Kek Lam-wi. Yang benar Toh So-so tidak pernah terjatuh di tangannya. Tam Tayhiap, aku bicara sejujurnya, harap kau membebaskan aku."

"Kalian ayah dan anak bicaranya berbeda, aku tidak mau percaya obrolan kalian,"

Dengus Tam Pa-kun.

"Tam Tayhiap, kali ini aku bicara sesungguhnya,"

Teriak In Hou. Lekas In Kip juga berkata.

"Omongan putraku memang bukan bualan. Tam Tayhiap, maafkan kecerobohanku, tidak pantas aku menuruti kemauan Bu-sam Niocu, aku membantunya mengatur muslihatnya itu."

Karena ingin menolong putranya, apa boleh buat terpaksa In Kip membeberkan seluruh persoalannya.

Meski ayah beranak bersumpah pada bumi dan langit, Tam Pa-kun masih ragu-ragu.

Di kala kedua pihak masih bersitegang leher, tibatiba terjadi keributan diluar.

Suara seorang gadis melengking.

"In Kip keparat tua bangka itu dimana, lekas suruh dia keluar menemui aku."

Mendengar suara gadis ini, Tam Pa-kun dan In Kip samasama tertegun. Gadis ini bukan lain adalah calon isteri Kek Lam-wi, yaitu Toh So-so. Setelah kaget, sikap In Kip tenang malah, teriaknya.

"Jangan kalian merintanginya, biarkan dia masuk menemui aku."

Tanpa dipesan oleh In Kip, anak buahnya memang tidak mampu merintangi Toh So-so.

Dua Busu yang berjaga di pintu kena disapu jungkir balik dengan Sau-tong-tui oleh Toh So-so.

Begitu melangkah ke ruang tamu, sudah tentu Toh So-so lantas melihat Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun.

Kejut campur girang.

Toh So-so berjingkrak.

"Tam-sioksiok, kaupun datang?"

"Nona Toh, kau selesaikan dulu urusanmu, nanti kita bicara lebih lanjut,"

Sapa Tam Pa-kun tersenyum. Toh So-so berpaling dengan tawa mengejek, katanya kepada In Kip.

"Kenapa aku meluruk kemari, tentunya kau sudah mengerti sendiri. Mana Kek Lam-wi? Apa yang kalian lakukan atas dirinya?"

In Kip berkata.

"Tam Tayhiap sedang bicarakan soal itu dengan aku. Kek-jithiap sudah pergi masa kau tidak tahu?"

Seorang pesuruh masuk, katanya.

"Nona ini sudah pergi memeriksa ke penjara bawah tanah. Tapi dia tidak mau percaya bahwa Kek-jithiap sudah pergi, tanpa banyak bicara langsung dia melabrak kita sampai disini."

In Kip tertawa getir, katanya.

"Kau sudah memeriksa ke penjara, tentu melihat juga orang-orangku semaput di tanah. Kami juga tidak tahu kau bakal datang kemari, percayalah bukan kami sengaja mengatur muslihat lagi."

"Siapa tidak tahu kau banyak akal bulus, aku sendiri sudah merasakan kelicikanmu,"

Jengek Toh So-so.

"kalau ingin aku percaya, kecuali..."

"Kecuali apa?"

Ln Kip menegas.

"Kecuali aku melihat sendiri dan bertemu dengan Kek Lamwi, atau beri kesempatan aku berbicara dengan putri angkatmu."

"Putri angkatku? Em, ya, aku memang punya putri angkat, tapi entah yang mana yang ingin kau temui aku punya belasan putri angkat."

Toh So-so menjengek.

"Bu-san-pang Pangcu Bu-sam Niocu punya seorang putri, tiga bulan yang lalu kau mengangkatnya menjadi putri angkatmu, betul tidak?"

Tahu tak mungkin mungkir lagi, ln Kip berkata.

"Toh Lihiap, kau pandai memperoleh berita, kagum sungguh kagum, memang dia adalah putri angkatku yang terbaru, apa kau mau menemui dia?"

"Jangan banyak ngomong, lekas suruh dia keluar,"

Sentak Toh So-so. In Kip tahu gelagat tak menguntungkan, katanya dengan menyengir.

"Toh Lihiap, kalau kau tidak mencarinya, akupun ingin memanggilnya."

Tak lama kemudian, kacung yang disuruh memanggil putri angkatnya itu sudah kembali memberi laporan.

"Lapor Loya, Kan-siocia (putri angkat) sudah tiada lagi."

Berubah air muka Toh So-so, bentaknya.

"Sudah tidak ada? Kapan dia pergi? Kemana?"

Pesuruh itu menyengir, katanya.

"Kami sudah memeriksa tempat kediamannya. Orang-orang disana tiada satupun yang tahu kapan dan kemana dia pergi.' Toh So-so menjengek dingin.

"Siapa mau percaya obrolanmu. Kalau kalian tidak bebaskan Kek Lam-wi, Bu Siuhoa harus kalian serahkan kepadaku, kalau tidak, hm..."

Tibatiba matanya melirik mengawasi In Hou yang masih dicengkram Tam Pa-kun, katanya.

"Paman Tam, pinjamkan putra kesayangan In-cengcu ini kepadaku, boleh?"

Tam Pa-kun tertawa, katanya.

"In-toacengcu, kau dengar, bila kau masih ingin main-main mengapusi aku, maaf bila aku berlaku kasar pada putramu. Akan kubuat enam lobang dan tiga bacokan di tubuhnya baru mencabut nyawanya. Nah, boleh kau pilih, putramu atau putri angkatmu?"

Serasa terbang arwah ln Hou, ratapnya ketakutan.

"Ayah lekas kau cari Bu Siu-hoa dan serahkan kepada mereka."

"Toh Lihiap,"

Kata In Kip gopoh.

"sabar, jangan marah, dengar dulu penjelasanku."

"Aku hanya menuntut orangnya, siapa sudi mendengar ocehanmu,"

Sindir Toh So-so.

"Toh Lihiap, sekarang aku sendiri lebih gugup untuk mencarinya, dengar dulu penjelasanku."

"Baiklah, lekas katakan,"

Sentak Toh So-so sambil bertolak pinggang.

"Kek-jithiap memang sudah melarikan diri, bukan kami sengaja mengatur tipu daya untuk ngapusi kau, untuk ini harap kau percaya padaku. Siapa yang membantu Kek-jithiap melarikan diri, sekarang juga sudah kuketahui."

"Siapa?"

Sentak Toh So-so.

"Yaitu putri angkatku Bu Siu-hoa yang ingin kau temui. Karena kecuali dia, siapapun tiada yang bisa keluar masuk secara leluasa dan menolong Kek-jithiap yang masih semaput tanpa konangan orang, dia membawa Kek-jithiap keluar dari lorong penjara."

Toh So-so masih setengah percaya, katanya dingin.

"Dia kan putri angkatmu, mungkinkah dia menolong tawananmu dan mengajaknya lari? Kau kira aku mau percaya obrolanmu? Hm, yang jelas dia membantu kau untuk memancing Kek Lamwi dan menangkapnya, benar tidak?"

"Maklum kalau kau tidak percaya,"

Ujar In Kip.

"aku juga tidak tahu kenapa dia mau berbuat demikian. Tapi semua ini kenyataan yang tak bisa dipungkiri, kecuali dia, aku yakin tiada orang lain yang mampu menolong Kek-jithiap dari tempat kediamanku ini."

Sejak tadi Tam Pa-kun mendengarkan dari samping, tibatiba dia menyela.

"Baik, untuk ini sementara biar aku percaya. So-so mari kita keluar mencari Lam-wi, bila tidak bisa ketemu, nanti kita kembali membuat perhitungan dengan mereka."

Saat mana sayup-sayup Toh So-so mendengar irama seruling di tempat jauh yang terbawa angin, lagu tiupan seruling Kek Lam-wi boleh dikata sudah teramat hapal bagi Toh So-so.

Meski tidak mendengar jelas, namun dia yakin peniup seruling itu pasti Kek Lam-wi adanya.

Lekas In Kip berkata.

"Biar kubantu kalian mencarinya, tapi sudilah kau bebaskan dulu putraku."

Irama seruling itu hanya sayup-sayup sampai dan terputusputus sekejap saja, agaknya In Kip dan Ong Cong-king tidak ada yang ambil perhatian.

"Tak usah kalian bantu mencarinya..."

"Lalu putraku..."

Tam Pa-kun tertawa tergelak gelak, katanya.

"Buat apa gugup, putra mustikamu ini kau berikan kepadakupun aku emoh. Setiba diluar pintu, aku akan membebaskan. Kalian siapapun kularang beranjak dari tempat ini"

Lega hati In Kip, dia yakin Tam Pa-kun tidak akan ingkar janji, maka dia berkata.

"Baiklah, kita patuh kehendak Tam Tayhiap, bila kalian juga berhasil menangkap Bu Siu-hoa tolong serahkan kepadaku, biar kuhukum dia."

"Apa betul ocehanmu aku belum tahu, setelah kutemukan orangnya baru akan kupertimbangkan bagaimana mengurusnya, kami tidak akan menerima segala usulmu."' Setelah keluar dari lingkungan villa, sesuai janji Tam Pakun bebaskan In Hou, katanya sinis.

"In-toasiauya, menguntungkan kau saja, lekas enyah."

Toh So-so berkata.

"Barusan aku seperti mendengar seruling Lam-wi, tapi dari mana arahnya sukar ditentukan. Paman Tam, apa kau juga dengar?"

"Karena mendengar suara seruling itu maka aku mau beri kelonggaran kepada mereka. Kedengarannya dari balik gunung di sebelah timur sana. Mari kita periksa kesana."

Cepat sekali mereka berdua sudah berada di balik gunung sebelah sana, tapi jejak Kek Lam-wi sudah tidak ketemu lagi. Tam Pa-kun berkata.

"Kemarin aku sudah janji dengan Lam-wi dan Tan Ciok-sing serta In San untuk berkumpul di Ham-sansi, walau dia tidak datang, dia juga tidak tahu bahwa yang mengundang mereka adalah aku, tapi setelah lolos dari rumah keluarga In, bukan mustahil dia akan mencari kita ke Hamsan-si. Marilah kita kembali dulu ke Ham-san-si."

Di tengah perjalanan pulang ke Ham-san-si ini baru Toh Soso sempat ceritakan pengalamannya.

Sejak dia pulang dari Pakkhia dengan perasaan kecewa dan putus asa, hari itu dia tiba Yang-ciu, sebelum masuk kota di tengah jalan kebentur suatu peristiwa, serombongan perampok merampas secara kekerasan seorang gadis.

Maka dia turun tangan, dua rampok dipukulnya roboh, kawanan rampok itu baru lari tunggang langgang.

Tak pedulikan kawanan rampok yang melarikan diri, dia tolong si gadis lebih dulu, untung gadis itu hanya terluka sedikit.

Paras gadis iui memang lumayan, dia mengaku sebagai tukang ngamen bersama ayahnya hidupnya terlunta-lunta di Kangouw, ayahnya telah dibunuh oleh kawanan rampok, melihat parasnya yang cukup ayu, kawanan rampok itu hendak menculiknya pula, terpaksa dia melarikan diri dan hampir memasuki kota Yang-ciu dicandak, di jalan raya banyak orang lalu lalang, tapi tiada seorangpun yang berani menolongnya.

Siang hari bolong, diluar kota Yang-ciu terjadi pembunuhan dan penculikan, seharusnya merupakan peristiwa yang patut dicurigai akan kebenarannya, tapi Toh So-so percaya saja akan cerita gadis itu.

Tam Pa-kun berkata.

"Gadis itu pastilah Bu Siu-hoa, putri Bu-sam Niocu itu?"

"Betul,"

Ujar Toh So-so. Tam Pa-kun tertawa, katauya.

"Karangan ceritanya ternyata tidak begitu baik, kenapa waktu itu sedikitpun kau tidak curiga?"

"Sebetulnya aku juga merasa kawanan rampok itu terlalu besar nyalinya, agak curiga, kutanya apa dia tahu asal-usul kawanan rampok itu? Dia bilang dari logat percakapan kawanan rampok itu, kelihatannya orang-orang dari Hoayyang-pang, dia akan diculik dan dipersembahkan menjadi isteri Pangcu mereka. Kekuasaan Hoay-yang-pang cukup besar di Kanglam, Bak Bu-wi sang Pangcu adalah laki-laki kemaruk paras ayu, itu sudah lama kuketahui. Bahwa yang melakukan kejahatan orang-orang Hoay-yang-pang, mau tidak mau aku jadi percaya."

"Mengingat dia kini sebatangkara, terluka lagi, maka kuterima dia ke rumahku dan mengobati luka-lukanya. Dia pandai membaca bisa tulis, mengenal not-not lagu pula, aku jadi berat berpisah dengan dia, lekas sekali luka-lukanya, sudah kusembuhkan, ternyata diapun berat berpisah dengan aku, selalu dia bilang supaya aku sudi menerima dia sebagai pelayannya. Aku bersyukur mendapat teman, apalagi mengingat seorang diri bila berkelana di Kangouw salah-salah diincar orang Hoay-yang-pang pula, maka aku mengikat persaudaraan sebagai kakak adik."

"Suatu malam bulan purnama, aku duduk menikmati bulan sambil minum-minum sama dia, hanya dua cangkir, entah kenapa secara tak terduga aku jatuh mabuk. Malam itu aku pulas sampai'esok hari. Setelah terang tanah, ternyata dia telah menghilang."

"Pasti dia mencampur obat bius dalam minuman itu,"

Kata Tam Pa-kun.

"Aneh, dia tidak mencelakai kau dalam kesempatan sebaik itu. Apakah kau merasakan dirimu keracunan?"

"Setelah bangun tiada tanda-tanda yang mencurigakan. Kini sudah hari kelima, aku tetap sama seperti sedia kala, aku yakin tidak pernah keracunan."

"Dari sini dapat kita simpulkan, meski Bu Siu-hoa adalah putri Bu-sam Niocu, namun hatinya tidak jahat, tindak tanduknya belum menunjukan kekejaman hatinya. Tapi apakah kau tidak kehilangan apa-apa?"

Toh So-so melengak, katanya.

"Betul, aku kehilangan sebatang tusuk kondai, aku ingat malam itu tusuk kondai kuselipkan di atas sanggul, Paman Tam dari mana kau tahu?"

"Dengan tusuk kondai itulah dia menipu Kek Lam-wi sehingga dia terjebak,"

Ujar Tam Pa-kun. Lalu dia ceritakan apa yang dia dengar dari penuturan Tan Ciok-sing, lalu bagaimana In Kip bersekongkol dengan Bu-sam Niocu mengundang Kek Lam-wi setelah menyerahkan tusuk kondai itu.

"Aku sudah mendapat firasat, dengan tusuk kondai itu pasti dia akan melakukan sesuatu, sungguh tidak nyana bahwa Lam-ko akan ketipu mereka."

"Lalu kapan kau tahu asal-usulnya?"

"Karena hanya kehilangan tusuk kondai, semula aku tidak menarik persoalan. Tapi hatiku amat heran, setelah kami angkat saudara, umpama dia memintanya juga akan kuberikan, kenapa dia justeru mencekok arak dan mencuri tusuk kondai itu? Apalagi dia bilang hidup sebatangkara, tiada sanak tiada kadang, hanya karena sebatang tusuk kondai apakah setimpal bila dia harus hidup terlunta-lunta di luaran? Aku tahu dia cukup cerdik, kenapa mau juga melakukan perbuatan kotor dan memalukan itu, kupikir-pikir tidak masuk akal?"

"Tak nyana secara kebetulan, di kala aku berusaha mencari tahu asal-usulnya, seseorang yang tahu asal-usulnya sudah datang mencariku dulu,"

"Siapa dia?"

"Ma-thocu dari Kaypang cabang Yang-ciu. Sepulang di Yang-ciu, sepantasnya aku pergi menyambangi dia, karena hatiku gundah gulana, aku jadi malas keluar pintu. Tak nyana hari kejadian itu, dia suruh seorang murid Kaypang mengundangku ke markas cabangnya."

"Begitu berhadapan dia lantas bilang. 'Sepantasnya aku bertandang ke rumahmu, tahukah kau kenapa justru kau yang kuundang kemari?'-Tergerak hatiku, diam-diam sudah kuduga dalam hati, betul juga dia lantas berkata lebih lanjut. 'Kabarnya kau berkenalan dengan seseorang teman baru, gadis itu masih berada di rumahmu bukan?'"

"Aku maklum, aku dipanggil kemari lantaran kuatir pembicaraan diketahui Bu Siu-hoa. Maka aku tanya. 'Bagaimana asal-usul gadis itu?'"

"Setelah mendengar penjelasanku bagainana aku sampai berkenalan dengan dia. Ma-thocu menghela napas, katanya. 'Nona Toh, kau ketipu. Gadis itu bukan tukang ngamen yang tidak pandai main silat, asal-usul yang sebenarnya adalah putri Bu-sam Niocu. Pangcu dari Bu-san-pang, nama aslinya adalah Bu Siu-hoa. Kemarin baru kuketahui dia datang ke Yang-ciu dan sembunyi di rumahmu. Tapi aku tidak habis mengerti bagaimana dia bisa berkenalan dengan kau, untuk menjaga sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, maka kuundang kau kemari untuk membicarakan hal itu.'"

Toh So-so bercerita lebih lanjut.

"Kujelaskan kepadanya, semalam Bu Siu-hoa sudah minggat mencuri sebatang tusuk kondaiku. Ma-thocu juga heran kenapa Bu Siu-hoa tidak gunakan racun mencelakai jiwaku?"

"Lalu dia memberitahu dua berita kepadaku. Berita pertama ialah, jejak Bu-sam Niocu diketahui berada di Kanglam. Berita kedua, kabarnya Kek Lam-wi sudah berada di Soh-ciu."

"Diapun memberitahu kepadaku, Bu-sam Niocu sejak jauhjauh hari sudah mengutus putrinya ke Soh-ciu langsung ke rumah In Kip. Hal itu terjadi kira-kira tiga bulan yang lalu, setelah berada di rumah keluarga ln, Bu Siu-hoa segera angkat In Kip sebagai ayah angkat."

"Menurut dugaan Ma-thocu, Bu-sam Niocu mengutus putrinya sebagai kurir untuk mengikat hubungan lebih intim dengan In Kip, maka dia berani datang ke Kanglam. Agaknya Bu-sam Niocu bermaksud memindah pangkalan Bu-san-pang di Kanglam, atau mungkin juga ada muslihat atau rencana keji lainnya."

"Bu-sam Niocu bersama Kek Lam-wi hampir bersamaan tiba di Soh-ciu, secara kebetulan putri Bu-sam Niocu mencuri tusuk kondaiku, apakah beberapa kejadian ini tiajda sangkut pautnya satu dengan yang lain? Mau tidak mau Ma-thocu merasa curiga."

"Mendengar Lam-ko datang ke Kanglam dan tiba di Sohciu, aku tidak peduli apakah beberapa kejadian itu ada sangkut pautnya, aku harus menyusulnya ke Soh-ciu menemuinya."

Tiba-tiba Tam Pa-kun ingat sesuatu, katanya.

"Maaf, sementara kuputus ceritamu. Berapa usia Bu Siu-hoa?"

"Kira-kira sebaya dengan aku, lebih kurang berusia likuran tahun."

"Walau aku tidak pernah bertemu dengan Bu-sam Niocu, tapi kudengar dia berusia kira-kira lebih dari tiga puluh tahun belum genap empat puluh, mungkinkah dia punya putri sebesar itu?"

"Hal itu pernah juga Ma-thocu bicarakan dengan aku. Menurut yang dia ketahui Bu Siu-hoa bukan putri kandungnya. Ayahnya Bu San-hun setelah kematian isterinya sejak belasan tahun yang lalu, lalu mempersunting Bu-sam Niocu. Ternyata Bu-sam Niocu cerdik pandai, dua tahun sejak dia menikah dengan Bu San-hun, kekuasaan terbesar daiam Bu-san-pang sudah tergenggam di tangannya. Tahun ketiga secara aneh tahu-tahu Bu San-hun juga mati, sejak itu secara resmi dia mengangkat diri sebagai Pangcu perempuan. Tapi meski Bu Siu-hoa bukan anak kandungnya, kabarnya mereka ibu beranak bisa hidup akur."

"O, kiranya begitu, pantas."

"Apanya yang pantas."

"Hubungan mereka ibu beranak, kukira tidak sebaik yang diperlihatkan di hadapan umum. Maka bila sang ibu bersekongkol dengan In Kip menjebak Kek Lam-wi, sang putri justru menolong tawanan ibunya diluar tahu orang lain."

"Paman Tam, apa kau percaya Bu Siu-hoa betul-betul mau menolong Kek Lam-wi? Kenapa pula dia mencuri tusuk kondaiku, bukankah langsung atau tidak langsung dia telah membantu ibunya melakukan kejahatan?"

"Aku hanya merasa sedikit curiga, sekarang aku belum yakin bahwa Bu Siu-hoa benar bermaksud baik menolong Kek Lam-wi. Nah, teruskan ceritamu."

"Kemarin kira-kira menjelang kentongan ketiga, aku baru tiba di Soh-ciu, langsung aku ke rumah seorang familiku. Ternyata kemarin Lam-ko pernah mencariku ke rumah familiku itu. Dari mulutnya aku tahu Lam-ko menginap di Say-cu-Iim. Hotel didalam Say-cu-lim juga milik In Kip, aku kuatir Lam-ko mengalami sesuatu, sebelum terang tanah langsung aku menyusulnya ke Say-cu-lim. Tak kira tiba di Say-cu-lim, aku bertemu dengan kenalan baik."

"Apakah Kanglam Sianghiap."

"Ya, Kwik Ing-yang dan Ciong Bin-siu. Mereka sedang siap berangkat ke Tong-thing-san di Thay-ouw barat. Karena kedatanganku, mereka menunda kira-kira satu jam baru mereka berangkat."

"Dari cerita mereka baru aku tahu Lam-ko pergi memenuhi undangan In Kip. Mereka membujuk aku supaya tidak usah pergi ke Say-cu-lim, aku dianjurkan langsung ke rumah In Kip menemui Lam-ko serta membongkar muslihat mereka. Diberitahu juga bahwa Tan Ciok-sing dan In San sudah siap membantu Lam-ko secara diam-diam. Tapi mereka belum tahu bahwa kaulah yang mengundang Lam-ko dan lain-lain untuk bertemu di Ham-san-si."

Cerita Toh So-so amat jelas dan terperinci tapi ada juga satu hal yang dia sembunyikan dan tidak diceritakan kepada Tam Pa-kun.

Pertunangan Toan Kiam-ping dengan Han Cin dan kini sudah pulang ke negeri Tayli telah diceritakan oleh Kanglam Sianghiap kepada Toh So-so.

Ditegaskan pula oleh Kanglam Sianghiap bahwa Kek Lam-wi sengaja minta tugas kepada Lim Ih-su sebagai wakil Kanglam Pat-hiap untuk memberi selamat ulang tahun kepada Ong Goan-tin, sekaligus untuk pulang ke kampung halaman mencari dia.

Setelah tahu betapa murni dan suci cinta Kek Lam-wi terhadap dirinya, ganjalan hati selama beberapa hari seketika sirna tak berbekas.

Setelah habis mendengar ceritanya, Tam Pa-kun segera berkata.

"Ternyata urusan berbelit-belit, lalu dari mana kau tahu letak villa In Kip dan menyusulnya kesana?"

"Aku sendiri yang menduga. Aku tahu bahwa In Kip punya villa disini, kupikir In Kip adalah rase tua yang licin kemungkinan pertemuan tidak diadakan di rumahnya."

Toh So-so menutur lebih lanjut.

"Aku juga berpikir, jikalau dugaanku meleset dan Kek Lam-wi memenenuhi undangan itu di rumah ln Kip, disana ada Tan Ciok-sing dan In San yang membantunya, tanpa bantuanku juga tidak usah dibuat kuatir. Kurasa membagi tugas menyelesaikannya dengan baik adalah paling tepat, maka aku berkeputusan kemari dengan mengadu nasib."

Jalan pikirannya ini ternyata sama dengan dugaan Kiau-jan Taysu. Tam Pa-kun berkata dengan tertawa.

"Kau memang pintar, sekali tebak ternyata tepat."

Toh So-so berkata rawan.

"Tapi aku belum menemukan Kek-toako."

Tam Pa-kun menghiburnya.

"Sedikitnya kau sudah mendapat tahu duduk persoalannya. Lam-wi lolos dari cengkeraman In Kip peduli apa rencana dan maksud Bu Siuhoa menolongnya, yang terang kini dia sudah tidak mengalami bahaya."

Tanpa terasa mereka sudah berada di Hong-kio. Ham-san-si sudah kelihatan di kejauhan di atas bukit. Tam Pa-kun tertawa, katanya.

"Kau begini pintar, nah sekarang coba kau terka, apakah Lam-wi dan Bu Siu-hoa sudah berada didalam biara?"

Toh So-so berpikir sejenak, katanya.

"Sulit aku menerkanya, paman?"

"Kukira mereka sudah berada didalam biara?"

Ujar Tam Pakun tertawa. Toh So-so geleng-geleng, katanya.

"Kukira perempuan siluman itu takkan sebaik itu hatinya. Lam-ko tentu ditipunya ketempat lain."

"Baik, bagaimana kalau kita bertaruh?"

"Aku tidak mau bertaruh, karena aku lebih suka kau kalahkan."

Dengan perasaan kebat-kebit Toh So-so manjat ke atas memasuki Ham-san-si.

Tebakan siapa yang betul?

000OOO000 Sekarang mari kita ikuti pengalaman Kek Lam-wi setelah keluar dari lobang gua, di bawah terang bulan, dia kucek mata, kini dia melihat jelas gadis yang menuntunnya keluar dan menyelamatkan dirinya.

Tapi gadis ini mengenakan cadar.

Walau mukanya tertutup rapat, namun dia dapat merasakan bahwa gadis ini jelas bukan Toh So-so.

Karuan Lam-wi kaget, tanyanya.

"Siapa kau? Kenapa kau berani menolongku?"

Kedengaran rawan suara si gadis.

"Kek-siangkong, lebih baik jangan kau tanya siapa she dan namaku."

"Lho, kenapa?"

Gadis itu tidak menjawab, tapi berkata lebih lanjut.

"Aku menolong kau lantaran demi diriku sendiri, kaupun tidak usah berterima kasih kepadaku."

Gadis itu menggandeng tangannya serta menyeretnya pergi, tanpa kuasa Kek Lam-wi terseret lari begitu saja.

Dia coba kerahkan hawa mumi terasa tenaganya kira-kira sudah mulai pulih tiga puluhan persen, dengan tenaga yang ada sekarang, walau dapat berlari namun masih belum mampu mengembangkan Ginkang untuk berlari di pegunungan yang tidak rata.

Maka terpaksa dia mandah saja diseret oleh gadis penolongnya itu.

Kira-kira setengah sulutan dupa kemudian si gadis telah menyeretnya sampai di atas gunung.

Kira-kira ada beberapa li dari villa In Kip, baru si gadis menghentikan langkah, katanya dengan tersenyum.

"Kek-siangkong, semangatmu belum pulih tentunya kau teramat letih, sementara boleh kau istirahat."

Kek Lam-wi duduk di sampingnya, katanya.

"Nona, kau menolongku dengan menyerempet bahaya, entah bagaimana aku harus membalas budimu. Walau kemungkinan kau tidak mengharap balas budiku, tapi aku, aku jadi..."

Gadis itu tertawa cekikikan, katanya.

"Kek-siangkong, kau ingin membalas kebaikanku bukan? Baiklah, aku mohon sesuatu kepada kau."

"Nona ada pesan apa, boleh lekas katakan terjun ke air mendidih atau gunung berapi sekalipun akan kulakukan."

"Kenapa harus terjun ke air mendidih atau menerjang gunung berapi segala, aku hanya ingin mendengar lagu serulingmu. Aku tahu kau adalah peniup seruling terbaik pada masa ini, maka aku ingin menikmati lagu serulingmu."

Tanpa merasa Kek Lam-wi lantas merogoh kedalam bajunya, namun lekas dia teringat bahwa serulingnya sudah dirampas oleh Bu-sam Niocu dan diberikan kepada In Kip.

Seketika dia duduk mematung dengan perasaan hambar.

Gadis itu tertawa, katanya.

"Nah sudah kusiapkan sebatang seruling yang lain. Walau tidak sebagus serulingmu itu, namun bisa juga kau tiup."

Belum habis Kek Lam-wi meniup serulingnya, tiba-tiba lapat-lapat kedengaran ada orang berjalan naik ke atas bukit. Gadis itu segera berkata.

"Seperti ada orang datang. Keksiangkong, coba kau sembunyi dulu, peduli siapa yang datang biar aku yang menghadapinya. Jangan kau unjukkan dirimu."

Sudah tentu Kek Lam-wi tidak menurut, katanya.

"Kau telah menolong jiwaku, kini tenagaku sudah pulih beberapa bagian, mana boleh aku berpeluk tangan. Betapapun kita harus senasib sepenanggungan."

"Senasib sepenanggungan"

Sebetulnya adalah kata umum yang sering digunakan bagi kaum persilatan, tanpa sadar Kek Lam-wi mengucapkannya, hakikatnya dia tidak pikir apakah perkataannya itu tepat dalam keadaan seperti ini, karuan si gadis menjadi merah jengah mukanya.

"Tidak. Kau harus dengar nasehatku, lekas kau sembunyi,"

Desak si gadis.

Pada saat itulah, orang yang tengah berlari naik di lereng bukit sana sudah memperdengarkan tawa panjang yang bernada sinis.

Orangnya belum kelihatan, tapi dari suaranya Kek Lam-wi sudah tahu bahwa yang datang adalah Bu-sam Niocu.

"Perempuan siluman ini liehay betul, aku begini juga lantaran gara-garanya. Lekas kau sembunyi saja, biar aku adu jiwa dengan dia,"

Demikian kata Kek Lam-wi. Tahu yang datang adalah Bu-sam Niocu, sudah tentu dia tidak akan membiarkan gadis ini mengalami bahaya.

"Baiklah..."

Mendadak jari tengahnya menjulur.

Hiat-to pelemas Kek Lam-wi ditutuknya.

Si gadis adalah penolongnya, nada perkataannya seperti sudah setuju akan saran Kek Lamwi, umpama dia sendiri tidak mau sembunyi, Kek Lam-wi juga tidak akan dipaksa sembunyi.

Sudah tentu tak pernah terpikir dalam benak Kek Lam-wi bahwa dirinya bakal dikerjain, seketika dia tidak mampu berkutik lagi.

Setelah menutuk Hiat-tonya, buru-buru si gadis mendorong tubuh Lam-wi kedalam semak rumput, lalu berbisik di pinggir telinganya.

"Maaf, kau rebah sebentar. Semoga kau bisa selamat dari mara bahaya di depan mata, kesalahan apapun yang kau limpahkan kepadaku akan kuterima dengan senang hati."

Kek Lam-wi rebah miring di belakang batu yang teraling semak-semak rumput tinggi, terdengar tawa Bu-sam Niocu yang dibuat-buat, katanya.

"Kukira siapa yang mampu menawarkan obat biusku menolong tawanan, ternyata adalah putri kesayanganku sendiri."

Mendengar ucapan Bu-sam Niocu, sungguh bukan kepalang kaget Kek Lam-wi.

"Ternyata gadis ini adalah putri Bu-sam Niocu. Kenapa dia mau menolongku, apakah ada jebakan lainnya pula?"

Maka didengarnya gadis itu berkata.

"Bu, maaf bila anak tidak berbakti, tapi apa yang anak lakukan juga demi kebaikan ibu."

Bu-sam Niocu tertawa dingin, katanya.

"Demi kebaikanku, kebaikan apa? Coba jelaskan."

"Bu, umpama betul Bu-san-pang kita tidak mampu lagi bercokol di Sujwan, dunia seluas ini masakah tiada tempat lain untuk berteduh. Untuk apa kita berlaku sejauh ini hingga menanam permusuhan dengan musuh tangguh? Coba kau pikir, Kek Lam-wi adalah salah satu dari Kanglam-pat-sian, bila kau serahkan dia kepada In Kip, dan In Kip serahkan dia kepada Tang-bun Cong terus digusur ke kota raja. Sebagai buronan raja, apakah dia bisa tetap hidup? Apakah Pat-sian yang lain tidak akan menuntut balas kepada kau?"

Bu-sam Niocu tertawa dingin, katanya.

"Ternyata pembicaraanku dengan mereka sudah kau curi dengar semua. Apa betul kau sudi memikirkan diriku?"

"Benar, justru aku tahu rencana kalian, aku tidak ingin kalian mencelakai orang baik terutama aku tidak ingin kau ditipu orang lain, maka pikiranku berobah."

"Memangnya berapa sih pengetahuanmu, berani kau turun rembuk segala kepadaku. Baik buruk adalah tanggunganku, tak usah kau turut campur dan bertindak diluar tahuku. Hm, kalau menurut rekaanku, mungkin kau sudah kepincut tampang bocah itu."

Malu dan dongkol Bu Siu-hoa sambil membanting kaki, katanya.

"Bu, kenapa kau bilang demikian? Coba pikir, bila benar seperti apa yang kau katakan, kenapa aku tidak membawanya minggat ke tempat yang jauh, kusuruh dia meniup seruling supaya kedengaran olehmu?"

Diam-diam Kek Lam-wi berpikir.

"Tak heran dia suruh aku meniup seruling, ternyata untuk didengar ibunya dan menyusul kemari. Tapi kenapa dia tidak mau menyerahkan aku kepada ibunya?"

Timbul sepercik harapan dalam benak Bu-sam Niocu katanya.

"Baiklah, bahwa kau memanggilku kemari dengan tiupan seruling itu maka serahkan dia kepadaku."

"Bu, kuundang kau kemari, maksudku bukan seperti apa yang kau duga."

"Lalu apa kehendakmu, lekas katakan saja."

"Aku harap kau meninggalkan In Kip, Tang-bun Cong dan lain-lain."

"Jadi Bu-san-pang yang didirikan ayahmu harus dibuang begitu saja?"

"Maaf bila anak berkata blak-blakan, beberapa tahun belakangan ini, sepak terjang Bu-san-pang sudah menimbulkan rasa kurang senang kaum persilatan umumnya, dibubarkan juga tidak perlu dibuat sayang."

Yang benar kejahatan yarg dilakukan orang-orang Bu-sanpang memang sudah keliwat takaran, perkataan Bu Siu-hoa boleh dikata sudah terlalu lunak. Tapi Bu-sam Niocu justru naik pitam, serunya.

"Kurang ajar, berani kau memberi pelajaran kepadaku. Sejak bapakmu mati, aku yang jadi Pangcu, jadi menurut pandanganmu, tidak benar aku menjabat kedudukan Pangcu ini?"

"Anak tidak berani berpikir begitu. Tapi soal benar atau salah, biar sementara dikesampingkan saja. Dalam situasi seperti sekarang bila Bu-san-pang dibubarkan, kurasa akan lebih menguntungkan para anggota dan membawa manfaat bagi dirimu."

"Manfaat apa?"

Desak Bu-sam Niocu.

"Orang-orang yang hendak menuntut balas kepada kita, kebanyakan adalah kaum pendekar dan orang-orang gagah, bila mereka tidak menemukan kau, coba pikir bukankah anak buah kita yang berkepandaian rendah itu akan mendapat ganjaran."

"Lalu bagaimana dengan diriku?"

"Selanjutnya kau boleh cuci tangan mengundurkan diri dari percaturan Kangouw, hidup tentram dan bahagia, bukankah begitu lebih baik?"

"Hidup tentram dan bahagia? Memangnya orang lain mau membiarkan aku hidup aman dan tentram?"

"Hal itu sudah kupikirkan. Kanglam-pat-sian adalah tokohtokoh yang kenamaan dan disegani di dunia persilatan, bila Lim lh-su mau tampil memberikan pengampunan, semua musuh yang lain pasti juga akan memaafkan kau. Setelah aku menolong Kek Lam-wi, aku akan berikhtiar mohon bantuan Lim lh-su, aku yakin dia akan setuju dan menerima permohonanku."

Kini Kek Lam-wi sudah paham beberapa bagian, pikirnya.

"Kiranya lantaran itu. Gadis ini memang pandai menggunakan akal, tujuannya juga boleh dipuji, terang hatinya jauh lebih luhur dari sang ibu, Entah Bu-sam Niocu apakah sudi menerima bujukannya?"

Maka didengarnya Bu-sam Niucu berkata.

"Kenapa aku harus memohon kepada orang lain, kau takut terhadap Kanglam-pat-sian, aku tidak. Tulang punggungku jauh lebih kuat dari Kanglam-pat-sian."

"Bu, aku tahu kemana kiblat hatimu, kau kira di belakang In Kip adalah Sri Baginda yang berkuasa sekarang, maka tulang punggung ini pasti kokoh dan tak tergoyahkan dan kau bakal memperoleh apa yang kau inginkan? Tapi apakah Sri Baginda mau menerimamu ke istana supaya kau bisa menyembunyikan dirimu disana? Umpama kau bisa sembunyi di istana, bila Pat-sian tetap akan membuat perhitungan dengan kau, kukira Sri Baginda tetap takkan bisa melindungi kau. Apakah kau tidak dengar, kira-kira dua bulan yang lalu, keributan yang dilakukan Kanglam-pat-sian beserta orangorang Kaypang di istana terlarang?"

"Tak usah aku mengambil contoh jauh-jauh, katakan saja yang di depan mata. Sekarang In Kip sendiri sulit menyelamatkan jiwanya, putranya terjatuh ke tangan Tam Tayhiap, dia toh kewalahan dan munduk-munduk tak mampu berbuat apa-apa? Jangan kata bila Kanglam-pat-sian meluruk bersama, seorang Tam Pa-kun saja kalian sudah kocar kacir."

"Biar aku berterus terang kepadamu. Kuminta Kek Lam-wi meniup seruling juga supaya didengar oleh Tam Tayhiap. Bila dia mendengar, sementara mungkin dia tidak akan membuat kesulitan dan memperpanjang perkara dengan kalian. Walau aku tidak menunjang perbuatan In Kip, betapapun aku pernah memanggilnya 'ayah angkat', semoga seperti apa yang kuharapkan, Tam Tayhiap membebaskan putranya, terhitung aku telah membalas budinya."

Mendengar perkataannya panjang lebar ini, sungguh kejut dan girang hati Kek Lam-wi bukan main.

"Kecuali Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun, siapa pula yang disebut Tam Tayhiap di kalangan Bulim? Tam Tayhiap yang dimaksud pasti adalah paman Tam. Agaknya paman Tam juga meluruk ke villa In Kip, kalau tidak putra In Kip mana mungkin terjatuh ke tangannya?"

Setelah reda rasa senangnya. Lam-wi berpikir pula.

"Sayang sekali, umpama benar Tam Tayhiap telah datang, air jauh takkan bisa menolong kebakaran. Naganaganya Bu-sam Niocu tidak akan terpengaruh oleh bujukan putrinya, bila mereka ibu beranak bentrok dan berkelahi, tak mungkin Tam Tayhiap bisa menyusul kemari tepat pada saatnya. Aku sendiri tidak mampu bergerak, mana bisa membantunya?"

Betul juga didengarnya Bu-sam Niocu tertawa dingin, jengeknya.

"Sempurna juga akal sehatmu memikirkan diriku, sayang aku tidak terpengaruh oleh bujukanmu. Kejadian hari ini kaulah yang harus tunduk kepadaku."

"Bu, rejeki atau bahaya tiada pintu, hanya kau sendirilah yang bisa meraihnya. Kuharap berpikir lagi dengan tenang."

"Sudah kupikir jelas. Kau bilang demi kebaikanku, anggapmu aku ini sebodoh yang kau kira? Genta di depan mata tidak kupukul, kenapa aku harus ' memukul kelintingan di tempat lain?"

Bu Siu-hoa melenggong, tanyanya.

"Bu, apa maksud perkataanmu?"

"Apa maksudnya? Kau begitu pintar, memangnya tidak paham? Coba pikir kau adalah putriku, kaupun menentang diriku, Lim Ih-su dan lain-lain mengagulkan diri sebagai kaum pendekar, apakah mereka bisa memaafkan aku? Ya, aku tahu diri, setelah aku mewarisi jabatan Pangcu, nama Bu-san-pang memang sudah buruk dan dicap sebagai golongan hitam, memangnya aku harus munduk-munduk kepada aliran ksatria supaya diampuni?"

"Bu. pepatah kuno ada bilang, manusia siapa tidak pernah salah, tahu salah bisa merubah adalah budi pekerti yang paling luhur. Anak percaya, bila kau mau meninggalkan In Kip dan komplotannya, membina diri menjadi manusia baik, kaum ksatria pasti akan memaafkan dan menerimamu. Apalagi Kekjithiap akan bantu memberi penjelasan kepada mereka."

Bu-sam Niocu mendengus, katanya tertawa dingin.

"Kau boleh percaya, aku tidak mau percaya. Tam Pa-kun dan Kanglam-pat-sian adalah orang-orang yang tidak boleh diganggu, memangnya In Kip, Tang-bun Cong, Poyang Gunngo boleh diabaikan?"

"Bu,"

Teriak Bu Siu-hoa. masih ingin dia membujuk ibunya. Kkembali Bu-sam Niocu mendengus geram, serunya.

"Katamu demi kebaikanku, akupun punya perhitungan untuk dirimu."

Apa boleh buat, terpaksa Bu Siu-hoa berkata.

"Bu, apa kehendakmu atas diriku?"

"Demi masa depanmu, aku akan kawinkan kau dengan In Hou."

"Apa? Kau hendak kawinkan aku dengan putra mustika In Kip itu?"

"Memangnya In Hou jelek? Memang Kungfunya bukan tandingan Kek Lam-wi, tampangnya juga tak seganteng Kek Lam-wi, tapi kau harus tahu. Kek Lam-wi sudah punya simpanan, umpama kau menyerahkan dirimu, dia juga tidak akan mempersunting dirimu. Kan lebih baik kau kawin dengan In Hou, keluarganya adalah hartawan terkaya di Kanglam, setelah kau menjadi menantunya, hidupmu tidak akan kapiran seumur hidupmu."

Malu dan dongkol bukan main Bu Siu-hoa dibuatnya, terisaknya.

"Siapa bilang aku mau menikah dengan Kek Lamwi? Kau ini, kau... ai, kau kira siapa putrimu ini, aku hanya tidak senang melihat sepak terjang kalian, baru aku berusaha menolongnya. Untuk melicinkan jalan mundur bagi kau pula."--Sebetulnya dia mau bilang kau mengukur jiwa seorang Kuncu dengan hati seorang rendah, untung dia masih kuasa mengekang emosi, kata-kata yang hampir dilontarkan ditelan kembali. Tapi Bu-sam Niocu sudab berkobar amarahnya, jengeknya.

"O, jadi kau ingin jadi pendekar perempuan yang menegakkan keadilan? Tapi jangan kau lupa kau ini adalah putri Bu-sanpang Pangcu, di pandangan orang lain, kau tetap adalah perempuan siluman."

"Tidak peduli bagaimana anggapan orang terhadapku, aku hanya mengejar ketentraman batin sendiri."

"Apa itu ketentraman batin sendiri, sementara aku tak usah berdebat dengau kau. Baiklah jawab pertanyaanku, apa betul kau tidak ingin kawin dengan Kek Lam-wi?"

"Aku tidak akan menikah dengan Kek Lam-wi. Tapi aku juga tidak akan tunduk padamu, apalagi menikah dengan putra mustika In Kip."

"Baik, asal kau tidak ingin kawin dengan Kek Lam-wi. Sekarang kau serahkan Kek Lam-wi kepadaku."

"Bu, apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?"

"Kau tidak perlu tahu. Bahwa kau masih memanggilku 'ibu', maka kau harus tunduk kepadaku, urusan lain kau tak usah turut campur. Nah sekarang buktikan bahwa kau tunduk kepadaku."

Bu Siu-hoa menghela napas, bentrok ibu dan anak jelas tidak mungkin didamaikan lagi. Terpaksa dia bilang.

"Aku menolong Kek Lam-wi, tentu sudah lepas dia pergi. Bagaimana aku harus mencarinya pula untuk kuserahkan kepada kau?"

"Orang lain bisa kau tipu dengan obrolanmu, memangnya kau mau menipu ibumu juga? Kek Lam-wi terkena obat biusku, meski kau bisa menawarkan kadar racunnya, tenaganya juga tidak akan pulih selekas itu. Berani kau melepasnya pergi seorang diri tanpa melindunginya. Dia pasti kau sembunyikan dimana, lekas serahkan dia kepadaku."

"Ada orang melindunginya. Dia betul-betul sudah pergi. Bu, kau tidak percaya, apa boleh buat."

"Aku justru tidak percaya, kini biar kutegaskan walau kau bukan anak kandungku jelek-jelek sejak kecil kau kuasuh dan kubimbing sebesar ini, apakah kau masih pandang aku ini ibumu?"

"Bu, terlalu berat kata-katamu. Sejak kecil aku sudah kematian ibu, mana berani aku melupakan budi bimbinganmu?"

Di tempat sembunyinya diam-diam Kek Lam-wi membatin.

"Ternyata perempuan siluman ini adalah ibu tirinya, tak heran mereka tidak mirip ibu beranak."

"Bagus, bila kau masih punya rasa cinta kasih terhadap orang tua, lekas serahkan dia. Sampai disini saja perkataanku."

Bu Siu-hoa kertak gigi, katanya.

"Jangan kata dia benarbenar sudah pergi, umpama belum pergi, anak juga takkan tunduk akan perintahmu."

"Kau tidak mau serahkan, memangnya aku tidak bisa menemukan?"

Mulut bicara, diam-diam dia sudah genggam Bwe-hoa-ciam terus ditimpukkan.

Senjata rahasia sekecil itu tersebar luas melesat ke semak rumput-rumput.

Untung tempat persembunyian Kek Lam-wi dialangi batu besar, jaraknya juga jauh tak mungkin tercapai oleh daya luncuran jarum kecil itu.

Tiba-tiba Bu-sam Niocu tertawa dingin, katanya.

"Lantaran Kek Lam-wi, kau terima membangkang perintahku aku jadi ingin tahu apakah dia juga punya hati terhadap kau? Kek Lamwi, kau dengar kalau tidak segera kau keluar, biar kubunuh dia."

Tersirap darah Bu Siu-hoa serunya.

"Bu, kau hendak membunuhku?"

"Tadi sudah kukatakan, kau tidak tunduk pada perintahku, hubungan ibu dan anak sudah putus, Seharusnya kau tahu. bila aku tidak bertangan ghpah dan berhati kejam, memangnya sejauh ini aku mampu menjadi Pangcu?"

Di tengah tawa dinginnya, kembali dia ayun tangannya, tapi arahnya ditujukan kepada Bu Siu-hoa.

Sebatang paku menyamber lewat di pelipis Bu Siu-hoa.

Habis menimpuk senjata rahasia Bu-sam Niocu menubruk maju pula, bentaknya.

"Hubungan sudah putus, hayo lawan aku."

Sembari menghindar Bu Siu-hoa berteriak.

"Bu, boleh kau bunuh aku, tapi lepaskan Kek Lam-wi."

"Sundel, karena cinta kau tidak setia lagi terhadapku sayang Kek Lam-wi justeru tidak mau keluar menolong jiwamu. Hm, apa yang telah kuucapkan tak pernah kujilat kembali, kecuali Kek Lam-wi berhasil kutangkap, aku boleh mengampuni jiwamu. Kalau tidak kalian akan sama-sama kubunuh, pertama kubunuh kau baru kubunuh Kek Lam-wi. Memangnya aku tidak bisa menemukan dia?"

"Cret"

Baju Bu Siu-hoa tercengkram robek oleh jari Bu-sam Niocu, pundaknya sampai terluka lecet, untung tulang pundaknya tidak cidera.

Pada hal dia sudah nekad mau adu jiwa, tak urung dia menjerit kaget.

Pada saat itulah, mendadak seorang membentak.

"Kek Lam-wi disini, perempuan siluman, kemarilah."

Baru saja Bu-sam Niocu menoleh, tiba-tiba terasa kesiur angin menerjang tiba.

"Plok"

Dadanya telak tertimpuk sebutir batu, sakitnya seperti ditusuk pisau.

Walau Kek Lam-wi tertutuk jalan darah pelemasnya oleh Bu Siu-hoa, tapi karena dia takut mengganggu kesehatan Kek Lam-wi, maka tutukannya tidak menggunakan Jong-jiu-hoat.

Tenaga Kek Lam-wi sudah mulai pulih, dengan bekal tenaga yang sedikit ini ternyata cukup untuk kerahkan hawa murni menjebol tutukan Hiat-to.

Kebetulan di saat genting itu, tutukan Hiat-tonya bebas dan dapat bergerak dan bersuara.

Bu-sam Niocu kira Kek Lam-wi tidak punya tenaga untuk melawannya, siapa sangka orang masih mampu melancarkan Tam-ci-sin-thong dari Kungfu tingkat tinggi.

Melihat Kek Lam-wi menerjang keluar, kejut Bu Siu-hoa melebihi waktu jiwanya terancam cengkraman ibunya.

Untuk melindungi Kek Lam-wi juga demi keselamatan diri sendiri, dia tidak pikir lagi, di waktu Kek Lam-wi menjentik sebutir batu, diapun menimpukkan sebuah senjata rahasia.

Begitu menerjang keluar, baru saja Kek Lam-wi hendak memburu kearah Bu Siu-hoa, tiba-tiba "BUM"

Terjadi sebuah ledakan, pandangan menjadi gelap, asap mengepul api menjilat, kontan dia jatuh semaput.

Bila Kek Lam-wi siuman pula didapati dirinya rebah didalam sebuah gua.

Bu Siu-hoa duduk di sampingnya, membelakangi dinding, pakaiaan bagian atas tersingkap, tangannya memegang sebuah benda seperti kepingan besi ditekan di dada.

Melihat Kek Lam-wi membuka mata lekas dia melengos sambil memutar tubuh, tersipu-sipu dia membetulkan pakaiannya.

Kek Lam-wi kaget, katanya.

"Nona Bu kau terluka?"

Getir tawa Bu Siu-hoa, katanya.

"Syukur aku hanya terkena jarum beracun, jarumnya sudah kusedot keluar. Bagaimana kau?"

Kek Lam-wi menarik napas, pelan-pelan dia bergerak hendak berdiri, namun terasa tubuh lemas lungfai, mulut getir dada mual ingin muntah. Katanya.

"Tidak apa, cuma rasanya mual seperti keracunan, tapi tidak terluka bagian dalam."

Melihat orang bicara seperti biasa, lega hati Bu Siu-hoa, katanya.

"Kau terkena tiga batang jarum beracun, semua sudah kukeluarkan dengan besi semberani. Kau sedikit menghirup asap beracun, kukira tidak jadi soal. Tadi kau pingsan setengah hari."

"Terima kasih, kembali nona menolong jiwaku."

"Berkat Lwekangmu sendiri yang tangguh, aku punya jasa apa? Kalau dibicarakan sepantasnya aku harus minta maaf kepadamu. Karena menimpuk pelor asap itu, sehingga kau terkena racun berganda."

Keluarga Bu memiliki sejenis senjata rahasia yang dinamakan Tok-bu-kim-ciam-liat-yam-tam, untuk melindungi Kek Lam-wi melarikan diri, walau tidak berani menimpukkan Bwe-hoa-ciam melukai ibunya di tengah kepulan asap, tapi asap tebal itu memang beracun.

Di kala Bu Siu-hoa menimpukkan pelor asapnya diapun tersambit oleh jarum beracun Bu-sam Niocu.

"Mana ibu tirimu?"

Tanya Lam-wi.

"Kupanggul kau dan lari terbirit-birit, untung dia tidak mengejar, mungkin dia juga terluka. Sungguh berbahaya, jikalau jentikan batumu itu tidak tepat mengenai sasarannya, mungkin kita sukar lolos dari renggutan elmaut?"

"Tempat apakah ini?"

"Lobang batu di atas Thian-ping-san. Siang tadi waktu aku keluyuran di atas gunung, tanp.i sengaja kutemukan lobang ini Di depan lobang penuh ditumbuhi semak berduri, yakin mereka takkan menemui tempat ini "

Kek Lam-wi diam saja, coba-coba dia kerahkan hawa murni, betapapun tenaganya tak mampu dikerahkan.

Kiranya beberapa bagian tenaganya yang berhasil dipulihkan setelah ia berhasil menjebol tutukan Hiat-to, karena dia harus mengembangkan Tam-ci-sin-thong, tenaga sedikit yang telah pulih itu seketika ludes pula, maka dia harus mulai dari permulaan pula.

Bu Siu-hoa tertawa pahit, katanya.

"Sekarang tentunya kau maklum, kenapa semula aku tidak mau memberi tahu namaku kepada kau? Kau membenciku tidak?"

"Teratai tumbuh dalam lumpur tapi tidak kotor, apalagi kau bukan anak kandungnya. Kau menolong jiwaku, berterima kasih juga belum sempat, kenapa aku harus membencimu."

Melihat sikap bicaranya tulus dan sungguh-sungguh, seketika cerah wajah Bu Siu-hoa, senyum manis menghias mukanya.

Tapi hanya sekejap saja, tiba-tiba dia menghela napas rawan.

Kata Bu Siu-hoa setelah menghela napas.

"Ada satu hal belum kau ketahui, bila sudah tahu, mungkin kau bisa membenciku setengah mati."

Bercekat hati Kek Lam-wi, katanya.

"Ada sebuah hal memang ingin kutanya kepadamu. Toh So-so apakah sudah jatuh ke tangan ibu tirimu, apa pula yang dilakukan atas dirinya? Kurasa kau tahu jelas tentang hal ini?"

"Yang ingin kubicarakan dengan kau memang urusan ini?"

Kata Bu Siu-hoa. Jantung Kek Lam-wi jadi deg-degan, pikirnya.

"Mungkin Soso mengalami nasib jelek, kalau tidak kenapa Bu Siu-hoa kuatir untuk membicarakan hal ini dan takut aku membencinya?"

Seperti meraba isi hatinya, Bu Siu-hoa berkata.

"Kekjithiap, kau tidak usah kuatir, nona Toh itu tidak terjatuh ke tangan ibu tiriku, mereka hanya menipu kau."

Terbelalak girang Kek Lam-wi, katanya.

"Apa betul? Lalu dimana dia sekarang?"

"Tiga hari yang lalu dia masih di Yang-ciu, tapi sekarang dimana, aku tidak tahu,"

Yang benar Bu Siu-hoa tahu, namun dia tidak ingin segera memberi tahu kepada Kek Lam-wi. Lega hati Kek Lam-wi, tanyanya.

"Lalu dari mana In Kip bisa memperoleh tusuk kondai itu sehingga dia memancing aku untuk memenuhi undangannya bersama Ouw-tiap-piau milik ibu tirimu. Sikap dan perkataan mereka membuat aku mau tidak mau percaya, sebetulnya apakah yang telah terjadi?"

"Tusuk kondai itu akulah yang mencurinya. Akulah yang membantu mereka sehingga kau ketipu. Kau sudah jelas?"

Setelah kejadian sesungguhnya dia ceritakan kepada Kek Lam-wi, Siu-hoa menambahkan.

"Setelah mereka tahu Toh So-so juga sudah pulang ke kampung halamannya, sebetulnya ada maksud In Kip hendak mencelakainya. Dia suruh orang Hoay-yang-pang membantu aku mengatur tipu daya sehingga Toh So-so tertipu olehku, In Kip bilang nona Toh adalah putri seorang saingannya, dia suruh aku meringkus pulang setelah mencekok dia dengan racun, kalau tidak bisa hidup matipun boleh. Tapi umpama nona Toh sampai mati, aku harus membawa suatu benda sebagai tanda bukti, kalau tidak mereka tidak mau percaya kepadaku."

"Lalu kenapa kau tidak turuti kehendak mereka? Apakah setelah kau bertemu dengan So-so, kau lantas tahu asalusulnya?"

"Bukan begitu. Kungfu nona Toh amat tinggi, sudah tentu sejak lama aku tahu dia bukan perempuan sembarangan. Tapi sampai kemarin baru aku tahu, dia dan kau adalah sepasang kekasih didalam Pat-sian."

Kek Lam-wi berpikir.

"Jadi bukan karena dia jeri terhadap Pat-sian maka dia tidak berani mencelakai So-so. Walau berbuat salah, betapapun dia masih memiliki benih-benih kebaikan."

Bu Siu-hoa bicara lebih lanjut.

"Kanglam-pat-sian baru saja menimbulkan keributan besar di kota raja, sudah tentu nona Toh tidak mau menerangkan asal-usulnya kepadaku. Tapi sikapnya terhadapku justru seperti kakak beradik baiknya, kumpul beberapa hari, sungguh aku jadi tidak tega turun tangan kepadanya. Akhirnya kucuri tusuk kondainya dan pulang memberi tahu In Kip, kukatakan lantaran Kungfunya teramat tinggi, aku jauh bukan tandingannya. Begitu minum arak yang kucampur obat bius segera tahu perbuatanku. Aku bukan lawannya, terpaksa hanya berhasil merebut sebatang tusuk kondai saja."

"Apa mereka tidak curiga akan cerita bohongmu?"

"Yang kuceritakan bukan semuanya bohong, Toh-cici berkepandaian tinggi, memangnya In Kip tidak tahu? Kalau ceritaku lima puluh persen bohong, tapi tusuk kondai itu barang tulen."

"Waktu itu kau berada di Soh-ciu, In Kip tahu kau menginap di hotel dalam Say-cu-lim miliknya sendiri. Segera dia mengatur tipu daya, menggunakan tusuk kondai itu dia hendak menipumu masuk perangkap, bahwa kau ternyata kena ditipu terbukti bahwa tusuk kondai itu memang bukan palsu, sudah tentu obrolanku tidak dicurigai lagi."

"Setelah percaya kepadaku. Baru mereka membiarkan aku tahu rahasia mereka. Semalam otakku bekerja hingga terang tanah, hatiku amat menyesal, tidak sepantasnya aku mencelakakan engkau, kuharapkan pula lantaran peristiwa ini bisa memperoleh imbalan, supaya ibu tiriku sadar akan kesalahannya dan bertobat untuk kembali ke jalan lurus, karena itu aku berkeputusan untuk menolong kau."

"Percakapanmu dengan ibu tirimu tadi, aku mendengar semuanya, tahu salah dapat merubahnya adalah perbuatan bijaksana, aku tidak menyalahkan kau."

"Kau tidak salahkan aku, aku sudah amat berterima kasih, bila kau bicara sungkan lagi, hatiku akan lebih tak tenteram lagi. Tapi, apakah dalam hatimu tiada ganjalan sedikitpun?"

Seperti terkorek isi hati Kek Lam-wi, katanya dengan suara guram.

"Yang kukuatirkan adalah So-so, dia tidak menemukan aku, entah betapa gelisah batinnya. Aku mati tidak jadi soal, tapi sebelum melihat dia, si..."

Ternyata hati kecilnya kira-kira sudah menerka, apa sebab Toh So-so minggat meninggalkan dirinya tanpa pamit, kemungkinan karena sedikit salah paham.

Bila dia tidak bisa bertemu dengan So-so, salah paham itu akan selalu bersemayam dalam sanubarinya, bukankah akan menimbulkan penyesalan seumur hidup?

Tapi Bu Siu-hoa memang ada budi pertolongan terhadap dirinya, betapapun gadis yang baru dikenalnya, bagaimana isi hatinya, rikuh untuk dituangkan kepada Bu Siu-hoa.

Walau dia tidak menuangkan perasaan hatinya, namun sebagai gadis perasa, tanpa dijelaskan lagi Bu Siu-hoa sudah tahu apa yang dia pikirkan.

Dengan tawa paksa dia berkata.

"Aku sedang berpikir ke arah yang paling buruk, namun urusan kukira tidak sampai sefatal itu. Orang baik pasti dikaruniai oleh Thian. Kek-jithiap, aku percaya suatu ketika kau pasti bisa bertemu lagi dengan Toh-cici."

Kek Lam-wi juga tertawa dipaksakan, katanya.

"Ya, semoga seperti yang kau doakan."

Bu Siu-hoa menghela napas panjang sambil melengos kesana. Dalam keadaan sama mengalami kesulitan ini, sepantasnya keduanya memerlukan hiburan. Tak tahan Kek Lam-wi bertanya.

"Nona Bu, kaupun ada ganjalan hati apa, boleh beritahu kepada aku?"

"Ah tidak, aku hanya iri terhadap Toh-cici."

Kek Lam-wi melengak, tiba-tiba dia teringat olok-olok Busam Niocu kepada putrinya tadi.

"Benarkah dia menaksir aku, jatuh cin..."

Belum lanjut pikiran Lam-wi, tiba-tiba didengarnya Bu Siuhoa berkata.

"Aku iri terhadap Toh-cici karena ada orang yang mau memperhatikan dia. Tapi aku kini sebatang kara. Bila kau tidak merasa..."

Tegak alis Bu Siu-hoa.

"Usiaku lebih tua, bila kau sudi, boleh kita angkat saudara, bagaimana?"

"Sejenak Bu Siu-hoa terpaku, mendadak dia terkial-kial sambil menengadah, serunya.

"Bagus, bagus sekali. Kau tidak anggap diriku rendah, itulah rejekiku. Pada hal aku ini dianggap perempuan siluman oleh orang lain, hari ini bisa memperoleh seorang kakak segagah kau umpama aku gugur nanti juga aku akan mati dengan meram,"

Nada tawanya kedengaran agak getir dan pilu. Melihat tawanya kurang normal, cepat Kek Lam-wi berkata.

"Jangan ngomong yang kurang baik, seperti apa yang kau katakan tadi, orang baik pasti dikaruniai Thian, yakin kita akan bisa lolos. Oh, belum aku memberitahu kepada kau, aku punya dua teman yang berkepandaian tinggi..."

"Maksudmu Tan Ciok-sing dan In San?"

"Ya, benar, ternyata kau sudah tahu."

"Dari cerita In Kip aku tahu, Tang-bun Cong dan lain-lain sedang mengikuti jejaknya, maka merekapun menguntit sampai di Soh-ciu."

"Kemarin mereka sudah berjanji hendak membantu aku, di rumah kediaman In Kip mereka tidak menemukan aku, pasti masih terus mencari jejakku. Karena itu kemungkinan kita bisa kepergok orang In Kip, tapi juga mungkin ketemu mereka."

"Biarlah kita mengadu nasib. Tapi peduli bagaimana nasib kita, sekarang aku tidak merasa kuatir lagi. Aku sudah menjadi adikmu, apa yang kuinginkan sudah terkabul, Thian Yang Maha Kuasa cukup banyak memberi kepadaku, apa lagi yang kuharapkan?"

Maka didalam lobang batu itu mereka jongkok berjajar, menyembah dua belas kali kepada langit dan bumi mengangkat saudara sebagai kakak adik.

000OOO000 Tan Ciok-sing dan In San sudah pulang ke Ham-san-si.

Begitu Tam Pa-kun dan Toh So so melangkah masuk, mereka lantas berlari keluar menyongsong dengan tawa riang.

Kata Tan Ciok-sing "l.im Tayhiap, aku memang ingin menyusulmu ke villa In Kip ternyata kau sudah pulang, mana Kek-toako."

Sementara In San memeluk Toh So-so kencang-kencang dengan perasaan haru, sesaat dia pegang lengan So-so serta bertanya.

"Toh-cici, akhirnya kita bertemu lagi. Kau bertemu Kek-toako tidak? Lantaran kau Kek-toako ditipu In Kip untuk memenuhi undangannya, kau sudah tahu akan hal ini bukan?"

"Aku sudah tahu,"

Sahut Toh So-so.

"tapi aku belum bertemu dengan dia. Dia digondol pergi seorang perempuan siluman,"

Sampai disini dia berpaling ke arah Tam Pa-kun dan menyengir.

"Paman Tam, tidak nyana akulah yang menang taruhan."

Tan Ciok-sing saling pandang, tanyanya bersama.

"Apa yang telah terjadi?"

"Panjang ceritanya, mari bicara didalam,"

Ujar Toh So-so. Waktu itu baru saja terang tanah, Toh So-so menyatakan ingin menghadap Kiau-jan Taysu. Tan Ciok-sing berkata.

"Kiau-jan Taysu sedang sembahyang pagi."

Terpaksa Toh So-so batalkan niatnya setelah diberi penjelasan oleh Tam Pa-kun pula.

Lalu Toh So-so ceritakan pengalaman dan apa yang dia ketahui kepada Ciok-sing dan In San.

Dengan tertawa In San berkata.

"Paman Tam, taruhanmu dengan Toh-cici, menurut pendapatku hanya kalah separo."

Toh So-so melengak.

"Lho, koh begitu?"

"Walau nona Bu tidak membawa Kek-toako ke Ham-san-si, jelas dia tidak bermaksud jahat kepadanya."

"Ya, aku percaya. Walau dia mencuri tusuk kondaiku dan mengatur tipu daya membantu In Kip sehingga Kek-toako tertipu. Tapi dia tidak mencelakaiku mumpung ada kesempatan, dari sini dapat kusimpulkan bahwa hatinya memang tidak jahat."

"Apalagi menurut ceritamu tadi, pertolongannya terhadap Kek-toako dari penjara bawah tanah jelas bukan permainan sandiwara yang sekongkol dengan In Kip. Asal dia punya maksud baik menolong orang, jadi tanpa ada muslihat, cepat atau lambat Kek-toako pasti dapat pulang mencari kau."

Toh So-so bilang.

"Yang tidak kumengerti justru kenapa dia berbuat demikian? Bu-sam Niocu memang bukan ibu kandungnya, tapi mereka kan segolongan. Kenapa lantaran Lam-wi, dia rela mengkhianati mereka?"

In San cekikikan, katanya.

"Toh-cici, jadi lantaran itu kau masih tidak lega hatimu? Pada hal cinta kalian tumbuh sejak masih kecil, seharusnya kau percaya padanya bahwa dia tidak akan mengalihkan cintanya kepada perempuan lain."

Merah wajah Toh So-so, katanya.

"Siapa pingin, kalau aku kuatir, kali ini memangnya aku tak bisa meninggalkan dia."

"Sesama manusia logis bila terjadi kesalahan paham. Sampaipun manusia yang paling dekat sekalipun, suatu ketika juga demikian. Oh, ya, ada berita gembira belum sempat kuberitahu kepadamu. Toan Kiam-ping dan Han Cin cici sudah bertunangan, tak lama setelah kau meninggalkan Pakkhia, merekapun pulang ke Tayli."

Mendadak ln San menyinggung pertunangan Toan Kiamping dengan Han Cin, dua persoalan ini tiada sangkut pautnya satu dengan yang lain, tapi Toh So-so maklum kemana arah tujuan perkataannya.

Tak urung jengah mukanya, katanya.

"Kemarin aku sudah mendengar berita ini dari Kwik Ing-yang dan Ciong Bin Siu,"

Dalam hati dia membatin.

"Salah pahamku terhadap Han Cin memang kekeliruanku. Tapi putri Bu-sam Niocu mana bisa dibanding Han Cin keturunan genah dari keluarga ternama."

Namun setelah mendengar penjelasan In San, paling tidak mau percaya bahwa Bu Siu-hoa tidak punya maksud mencelakai Kek Lam-wi.

Kek Lam-wi pun takkan mengalihkan cintanya, tentramlah hatinya.

Tam Pa-kun berkata.

"Untuk sementara yakin Lam-wi tidak akan mengalami bahaya, yang kukuatirkan justeru persoalan lain."

"Persoalan apa?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Tang-bun Cong dan Poyang Gun-ngo jelas berada di Sohciu, tadi mereka juga berada di rumah In Kip, tapi tidak pernah menunjukkan diri."

Toh So-so berkata.

"Mungkin karena kau telah membekuk In Hou, mereka keluar juga tidak akan merubah situasi."

"Mungkin itu salah satu sebab, tapi kukira urusan tidak semudah itu."

Toh So-so tersentak sadar.

"Betul?"

Katanya.

"waktu aku menerjang ke rumah keluarga In mereka juga tiada yang merintangi. Paman Tam tidak perlu heran bahwa mereka jeri padamu, tapi terhadapku sebetulnya mereka tidak perlu kuatir, hal ini jadi membingungkan."

"Kedua orang itu punya latar belakang yang luar biasa, agaknya mengemban suatu tugas khusus yang serba rahasia, maka mereka tidak mau unjuk diri di muka umum. Walau kita tidak tahu apa rencana dan muslihat mereka, lapi kita harus berusaha memberitahu hal ini kepada Ong Cecu."

"Paman Tam,"

Kata Toh So so.

"bukankah kau hendak ke Tong-thing-san barat memberi selamat ulang tahun Ong Cecu?"

"Sebetulnya kami dan Kek Lam-wi juga akan kesana memberi selamat ulang tahun kepada Ong Cecu,"

Demikian timbrung Tan Ciok-sing.

"tapi ulang tahun Ong Cecu pada tanggal dua puluh dua bulan ini, masih ada sepuluh hari lagi"

"Kalian bisa berangkat dini, kan tidak jadi soal. Biar aku tinggal disini mencari Kek-toako, kalian tidak usah menguatirkan diriku."

"Tam Tayhiap ada sebuah janji lain, waktunya sudah ditentukan tanggal delapan belas bulan ini, alamatnya di Hayling,"

Kata Tan Ciok-sing.

"Aku justru sedang menguatirkan hal ini, yang mengundang aku adalah It-cu-king-thian Lui Tin-gak maka aku harus memenuhi undangannya itu. Walau kali ini In Kip menderita rugi yang berakibat cukup fatal dari kita, kukira nyalinya sudah pecah dan jera. Tapi kita tidak boleh puas diri, harus tetap siaga dan waspada. Lalu siapa yang harus diutus ke markas Ong Cecu memberitahukan hal ini, calonnya harus kita pikirkan dengan baik dan tepat."

Sampai disini pembicaraan mereka, seorang hwesio cilik datang memberitahu.

"Cong-piauthau Ceng-lam Piaukiok Seng Tay-coan dengan seorang pengemis tua datang minta bertemu dengan Tam Pa-kun."

Tam Pa-kun berkata.

"Yang datang bersama Seng Taycoan, pasti adalah sahabat dari Kaypang."

Lekas dia suruh hwesio cilik menyilakan tamunya masuk.

Dugaan Tam Pa-kun memang tidak meleset yang datang bersama dengan Seng Tay-coan bukan saja orang Kaypang malah sebagai Thocu cabang Soh-ciu bernama Kiau Tiong.

Kiau Tiong sudah kenal baik dengan Tam Pa-kun dan Toh So so.

Tapi baru pertama kali ini bertemu dengan Tan Ciok-sing dan In San.

Setelah sama memberi hormat.

Kiau Tiong berkata dengan tertawa.

"Toh Lihiap, kiranya kau juga ada disini sungguh kebetulan. Aku memang sedang mencarimu. Sebetulnya apa yang terjadi dengan penculikan dan pencurian, itu, apakah tusuk kondaimu sudah kau temukan?"

Ternyata Kaypang cabang Yang-ciu telah mengirim kabar kepadanya, maka dia tahu bahwa Toh So-so kehilangan tusuk kondai di Yang-ciu kini kedatangannya ke Soh-ciu adalah untuk menyelidiki kejadian ini.

Sebagai penduduk setempat, adalah menjadi kewajibannya untuk bantu memecahkan persoalan pelik ini.

Sementara Seng Tay-coan sudah memperoleh laporan muridnya yang menyaru jadi kacung di perhotelan dalam Saycu-lim, begitu ada kesempatan segera dia tanya kepada Tan Ciok-sing.

"Kabarnya, Kek-jithiap kemarin telah memenuhi undangan In Kip, apakah dia sudah pulang?"

"Tam Tayhiap dan nona Toh justru baru pulang dari villa In Kip itu,"

Sahut Tan Ciok-sing. Tahu gelagat jelek, lekas Seng Tay-coan bertanya.

"Jadi kalian belum menemukan Kek-jithiap??"

Toh So-so tertawa getir, katanya.

"Orangnya belum pulang, barangnya juga belum ketemu."

Habis mendengar cerita, Kiau Tiong berkata.

"Toh Lihiap tidak usah kuatir, asal Kek-jithiap masih di Soh-ciu, orangorang Kaypang kita pasti dapat menemukan dia. Tam Tayhiap, tugas mengirim kabar kepada Ong Cecu boleh serahkan kepadaku?"

"Begitu memang lebih baik,"

Ujar Tam Pa-kun tertawa.

"Sesama kawan sendiri, akupun tak perlu sungkan terhadapmu."

"ln Lihiap,"

Kata Kiau Tiong pula.

"dan Toh Lihiap kurang leluasa tinggal di Ham-san-si, bagaimana kalau kalian pindah ke tempat kediamanku?"

"Aku ada perjanjian lain, sebentar juga akan berangkat ke Hay-ling,"

Kata Tam Pa-kun.

Tan Ciok-sing, In San dan Toh So-so terima undangan Kiau Tiong.

Sebelum hari menjadi petang merekapun berpencar menuju ke arah tujuan masing-masing.

Orang-orang Kaypang tersebar luas, mereka bisa mengirimkan kabar secara kilat ke berbagai penjuru, setelah mendapat bantuan Kiau Tiong, legalah hati Toh So-so.

Tapi apakah bisa menemukan Kek Lam-wi masih jadi persoalan, sehari sebelum Kek Lam-wi ditemukan, betapapun hatinya tidak bisa tentram.

000OOO000 Bagaimana keadaan Kek Lam-wi?

Setelah tidur nyenyak, begitu dia siuman, mentari ternyata sudah doyong ke sebelah barat.

Sambil kucek-kucek mata dia berteriak.

"Nona Bu."

Setelah diulang tiga kali tetap tidak mendengar jawaban Bu Siu-hoa, seketika hatinya bercekat.

Sejenak dia tentramkan hati, lobang batu itu remang-remang karena hanya memperoleh secercah cahaya dari celah-celah batu, dengan seksama dia perhatikan sekitarnya, bayangan Bu Siu-hoa memang tidak kelihatan, tapi di sampingnya terdapat sebuah tempurung yang berisi air jernih Tempurung ini ternyata jauh lebih besar dari tempurung yang biasa pernah dia lihat, agaknya Bu Siu hoa memperolehnya secara darurat.

Dalam hati Kek Lam-wi berpikir.

"Batu besar itu semula tidak ada, mungkin Siu-hoa takut orang menemukan lobang batu ini maka dia ambil batu besar menyumbat mulut lobang. Kalau begitu, luka-lukanya ternyata sudah sembuh dan lebih baik dari aku. Air dalam tempurung ini juga dia yang menyiapkan. Entah karena dia merasa rendah diri sehingga menyingkir dari depanku? Atau sedang keluar mencari makanan?"

Begitulah dengan menahan sabar Kek Lam-wi menunggu sampai hari menjadi gelap, dalam gua tak bisa melihat ke lima jari sendiri, namun Bu Siu-hoa yang ditunggu-tunggu masih juga belum pulang.

Tanpa merasa Kek Lam-wi jadi mereka-reka dan bimbang, apakah dirinya harus keluar mencari makan, atau tetap tinggal dalam lobang batu saja menunggu Siu-hoa pulang?

000OOO000 Tatkala itu Bu Siu-hoa sendiri juga sedang gundah gulana sukar mengambil keputusan.

Rekaan Lam-wi akan dua hal itu boleh dikata tepat sekali.

Memang Siu-hoa merasa rendah diri, secara diam-diam tadi dia sudah siap tinggal pergi.

Tapi selama hidup sampai sebesar ini belum pernah dia mendapat teman sejati, apalagi dia tahu bahwa Kek Lam-wi tidak mungkin mencintai dirinya, namun dia merasa berat untuk meninggalkan teman lelaki ini.

Dan lagi belum lama mereka baru saja angkat saudara.

"Cepat atau lambat Kek-toako kan akan rujuk kembali dengan Toh So-so, bila aku selalu mengikuti dia, berarti aku menyusup di tengah mereka, lalu apa artinya? Umpama Kektoako tidak membenciku, lama kelamaan Toh So-so pasti bosan dan sebal melihat tampangku."

"Tadi aku sudah memeriksa urat nadinya, besok pagi sedikitnya Lwekangnya sudah bisa pulih lima puluh persen. Aku sudah mendapatkan makanan untuk dia, semoga dia masih belum siuman, setelah meninggalkan makanan ini, baru aku pergi masih belum terlambat,"

Dia tidak berani turun gunung, pegunungan ini banyak ditanami pohon-pohon teh, di sekitarnya pasti petani yang tinggal di atas gunung, kepada mereka dia akan membeli penganan apa saja yang bisa dibuat mengisi perut.

Apakah di atas Thian-ping-san dia bisa menemukan petani yang diharapkan, dia tidak tahu.

Walau Thian-ping-san bukan gunung tinggi dan berbahaya, namun bukan soal gampang untuk menemukan rumah petani di pegunungan ini.

Tiba-tiba dia menemukan jejak manusia.

Didengarnya seorang berkata.

"Toako, kau melihat pengemis itu tidak?"

Suaranya seperti sudah amat dikenal.

Ternyata dia bukan lain adalah pengurus rumah tangga In Kip, yaitu Ong Cong-king.

Sudah tentu kagetnya bukan main, lekas dia sembunyi di semak-semak.

Suara Ong Cong-king tidak jauh dari tempat dimana dia berada, untung di antara mereka teraling batu gunung raksasa.

Bu Siu-hoa lekas sembunyi pula sehingga jejaknya tidak konangan mereka.

Namun tak urung keringat dingin membasahi jidatnya.

"Ong Cong-king tentu ditugaskan mencari aku, entah siapa yang dia panggil 'toako' itu?"

Tengah dia menduga-duga, orang yang dipanggil Toako sudah berkata.

"Sudah kulihat, kenapa sih?"

"Di atas pegunungan yang belukar ini, masa pengemis kemari mau minta sedekah, apakah tidak aneh dan mencurigakan?"

Apa yang dia curigai tepat seperti apa yang dipikirkan Bu Siu-hoa. Toako itu berkata tawar.

"Kita urus tugas kita, jangan mencampuri orang lain."

Maka terdengar Ong Cong-king dengan seorang lagi bertanya bersama.

"Lho, kenapa? Kukira pengemis yang satu ini bukan pengemis sembarangan,"

Suara orang ketiga ternyata juga dikenal baik oleh Bu Siu-hoa, dia bukan lain adalah kuasa hotel di Say-cu-lim -Koan Cong-yau. Toako itu berkata.

"Kalau hanya pengemis biasa tidak ambil perhatian. Jikalau murid Kaypang, pada hal Kaypang dengan Giam-ong-pang kita umpama air sungai dengan air sumur, buat apa kita cari permusuhan dengan mereka? Kecuali mereka berani mengusik kita. Kalau tidak menurut pendapatku, lebih baik kita tidak usah peduli pada seorang pengemis."

Mendengar penjelasan masuk akal, Ong dan Koan berkata.

"Pendapat Toako memang benar dia sudah turun gunung, agaknya belum tahu akan jejak kita disini."

Mendengar pembicaraan mereka sampai disini, Bu Siu-hoa lantas sadar dan tahu siapa 'Toako' yang ajak mereka bicara. Dengan kaget Bu Siu-hoa berpikir.

"Agaknya orang ini adalah Giam Cong-po, Pangcu dari Giam-ong-pang, tak heran mereka memanggilnya 'Toako', sejak tadi seharusnya aku sudah menduga akan dirinya."

Sejak Giam-ong-pang bubar secara misterius dua puluh tahun yang lalu, tiada orang tahu dimana jejak Giam Cong-po selanjutnya.

Tak nyana mendadak dia muncul disini bersama kedua wakilnya, karena itu semula Bu Siu-hoa tidak berani menduga akan dirinya.

Giam Cong-po berkata.

"Bicara soal tugas, tadi belum dibicarakan sampai selesai, apa yang telah kalian persiapkan?"

Koan Cong-yau menghela napas katanya.

"Bu Siu-hoa budak keparat itu bikin kapiran orang saja. Aku dan Jiko kali ini ketimpa sial gara-gara perbuatannya."

Tidak meleset dari dugaan Bu Siu-hoa, ternyata mereka sedang mencari dirinya. Siu-hoa sendiri mendengar jantungnya berdegup keras. Giam Cong-po berkata.

"Budak yang kau maksud apakah putri Bu-sam Niocu?"

"Betul,"

Ucap Koan Cong-yau.

"toako belum pernah melihat budak itu, masih muda jelita lagi, tapi ternyata amat licin. Sebelum kejadian kami tiada yang menduga, sebesar itu nyalinya berani menolong Kek Lam-wi."

"Memangnya Bu-sam Niocu tidak bisa ngurus putrinya itu?"

Jengek Giam Cong-po.

"Walau Bu-sam Niocu marah-marah, tapi sekarang dia tinggal minggat begitu saja, celaka adalah kita yang harus menanggung akibatnya,"

Demikian kata Ong Cong-king.

"Akibatnya justru sukar dibereskan,"

Kata Koan Cong-yau.

"walau dia tidak memberi pernyataan jelas, terserah bagaimana kita akan membereskan budak itu, tapi mau tidak mau kita harus berpikir dua belas kali sebelum bertindak."

"Kenapa harus berpikir dua belas kali?"

Tanya Giam Congpo.

"Nyali In Kip sudah pecah karena kedatangan Tam Pa-kun, Kek Lam-wi adalah salah satu dari Pat-sian, kini budak itu sudah sehaluan dengan Kek Lam-wi, bila ketemu mereka, kita jadi serba salah, main kasar atau menggunakan akal."

"Oo, jadi kalian jeri terhadap Tam Pa-kun dan Kanglam-patsian?"

Tanya Giam Cong-po. Ong Cong-king menghela napas, katanya.

"Bila Giam-ongpang kita belum bubar, kukira tak perlu takut terhadap mereka, sekarang jelas takkan mampu menandingi mereka."

"Hiante jangan mengagulkan orang lain merendah diri sendiri. Kedatanganku kali ini adalah untuk membangkitkan kembali Giam-ong-pang kita. Aku sih ingin membekuk budak itu dan akan kuserahkan kepada Bu-sam Niocu."

"Begitupun baik, biar Bu-sam Niocu memberikan hukumannya sendiri, kita tidak usah mencampuri urusan rumah tangganya,"

Kata Ong Cong-king.

"Bukan begitu maksudku, tujuanku adalah merangkul Busan-pang. Bu-sam Niocu kini sudah kehilangan tulang punggung, kini saatnya untuk mencaplok Bu-san-pang. Coba katakan betul tidak?"

"Benar,"

Koan Cong-yau menyokong.

"Tang-bun Cong dan Poyang Gun-ngo sudah ke tempat lain. In Kip sudah jera menghadapi Tam Pa-kun dan orang Pat-sian, kini putri angkatnya sehaluan pula dengan Kek Lam-wi. maka Bu-sam Niocu kuatir In Kip takkan bisa melindungi keselamatan jiwanya pula."

Giam Cong-po tertawa gelak, katanya.

"Biar In Kip takut Tam Pa-kun. aku tidak takut, In Kip tak mampu melindungi dia, akulah yang akan melindunginya. Bila Kek Lam-wi berhasil kubekuk, aku bisa mengadakan kontak jual beli dengan Tangbun Cong, bila kejadian ini tercapai, Bu-sam Niocu tak usah kuatir disalahkan karena gara-gara putrinya buronan raja sampai terlepas."

Ong Cong-king berpikir.

"Terlalu muluk perhitungan Toako,"

Tapi dia tidak berani utarakan pendapatnya ini, terpaksa secara lunak dia berkata.

"Bu-sam Niocu sekarang memang kepepet, sudah tentu dia mengharapkan bantuan, cuma Giam-ong-pang kita sekarang juga hanya tinggal namanya saja..."

Sebelum dia bicara habis Giam Cong-po sudah tertawa, katanya.

"Kalian kira perhitunganku terlalu muluk? Aku kan belum menjelaskan, kau kira selama dua puluh tahun ini aku hanya makan tidur melulu? Sejak lama anggota kita yang bubar sudah kukumpulkan, yang belum kumpul juga sudah kuhubungi dan sering mengadakan kontak, sekarang hanya tunggu saatnya saja, sekali mendapat kabar mereka akan datang, bangkitlah Giam-ong-pang setelah tidur selama dua puluh tahun."

"Apa betul?"

Teriak Ong dan Koan bersama.

"Sungguh menyenangkan."

Giam Cong-po berkata tawar.

"Kukira kalian sudah kemaruk harta dan kedudukan, suka rela menjadi pegawai hartawan besar di Kanglam ini, berat untuk meninggalkan kedudukan yang sekarang."

"Kenapa Toako bilang demikian, meski hidup serba berkecukupan juga tetap sebagai yang terima gaji. Aku hanya kuatii Toako tidak mau menerimaku lagi "

Lekas Koan Cong-yau juga bilang.

"Toako sudah turun gunung dan hendak membangkitkan Gimn ong-pang kita pula, Siaute akan tetap setia kepadamu "

Giam Cong-po tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Hanya waktunya yang belum menguntungkan, tapi aku yakin usaha kita pasti berhasil, tinggal bagaimana aku menggarap Bu-sam Niocu sehingga dia terpelet olehku."

Timbul ingin tahu Koan Cong-yau. tanyanya.

"Dengan cara apa, Toako boleh memberi tahu."

"Kita kan masih sesama saudara,' apa halangannya kuberitahu kalian, tapi kalian harus simpan rahasia."

Ong dan Koan menjawab bersama.

"Itu sudah tentu. Memangnya Toako tidak percaya pada kami."

"Sudah tentu aku percaya, soalnya hal ini menyangkut rahasia pribadi orang lain, aku kuatir akibatnya cukup fatal maka aku tegaskan hal ini kepada kalian. Hal apa yang dapat menyebabkan Bu-sam Niocu tunduk kepadaku? Karena dia punya suatu kesalahan yang hanya diketahui olehku."

Ong Cong-king agak teliti, dia tidak berani tanya lagi, tapi Koan Cong-yau agak bodoh, dia tanya.

"Kesalahan apa?' "Kalian tahu bagaimana kematian Bu San-hun?"

Kata Giam Cong-po.

Bu San-hun adalah pejabat Pangcu Bu-san-pang yang terdahulu, yaitu ayah kandung Bu Siu-hoa.

Bu Siu-hoa sembunyi di semak-semak, mendengar percakapan menyinggung ayahnya hatinya amat kaget, segera pusatkan perhatian mendengarkan dengan seksama.

Ong dan Koan sama kaget, Ong Cong-king berkata.

"Tidak tahu,"-Koan Cong-yau berkata.

"Apakah Bu-sam Niocu yang membunuhnya?"

"Betul,"

Kata Giam Cong-po.

"dialah yang sekongkol dengan orang luar membunuh suami sendiri."

Saking kaget keringat dingin membasahi tubuh Bu Siu-hoa, pikirnya.

"Dari perkataan Giam Cong-po, kematian ayah agaknya ada sangkut pautnya dengan ibu tiri, kalau bukan dia pembunuhnya, pasti dia biang keladinya. Selama belasan tahun ini, sikapnya terhadapku ternyata munafik, baik di lahir benci di batin, hakikatnya aku tidak tahu kalau dialah pembunuh ayahku, sungguh amat berbahaya."

Keadaan diluar tiba-tiba menjadi sunyi. Bu Siu-hoa tidak bisa melihat keadaan diluar, mendadak suasana menjadi senyap, hatinya menjadi heran, pikirnya.

"Kenapa mereka tidak bicara lagi?"

Lalu dia mendekam menempelkan telinga ke tanah, mendengarkan dengan seksama.

Didengarnya di lekuk bukit sebelah sana sayup-sayup seperti ada dua orang sedang bicara, suaranya tidak keras, tapi mendengar dengan mendekam di tanah, percakapan mereka bisa terdengar jelas.

"Gua yang kau katakan tadi kenapa tidak ketemu juga, apakah kesasar?"

"Aku masih ingat tempat itu, pasti tidak salah."

"Tapi tempat yang kau katakan itu hanya batu-batu gunung yang berserakan, lobang kecil juga tidak ditemukan."

"Tak usah kau mendesakku, coba biar kupikir. Ha, kutemukan sesuatu yang mencurigakan."

"Apa yang kau temukan?"

"Batu besar itu. Batu besar itu agak aneh."

"Batu itu jauh lebih besar dari batu lain yang ada disini, tapi batu itu bentuknya ya begitu, apanya yang aneh, kenapa kau katakan batu itu aneh?"

"Batu besar itu seperti pintu angin. Masih segar dalam ingatanku, waktu aku kemari kemarin aku pernah melihatnya dan duduk istirahat di atas batu besar itu."

"Kalau memang sudah ada disini, apanya, lagi yang kau buat heran."

"Kau tidak tahu, aku masih ingat kemarin batu besar itu tidak berada disini. Itu berarti letak batu itu telah tergeser dari tempatnya semula."

"O, itu berarti perbuatan manusia, entah siapa yang memindahkannya kemari."

"Memangnya, tanpa sebab buat apa orang itu memindah batu besar ini? Jikalau bukan untuk menjadi aling-aling atau penutup, memangnya dia mau memeras keringat menggeser batu?"

Sudah tentu Bu Siu-hoa amat kaget dan kuatir karena entah siapa telah menemukan lobang batu yang dia tutup dengan batu besar, tengah dia memeras otak, tiba-tiba didengarnya Giam Cong-po tertawa lirih, katanya berbisik.

"Dicari susah payah tidak ketemu, diperoleh tanpa membuang tenaga. Hehe, biarkan pengemis itu menemukan persembunyian Kek Lam-wi dan budak itu, baru nanti gasak mereka."

Karuan jantung Bu Siu-hoa berdebar-debar, dengan cara apa dia harus melindungi keselamatan Kek Lam-wi? Agaknya pengemis itu menghadapi kesulitan, setelah istirahat seorang berkata.

"Tapi dengan kekuatan kita berdua, belum tentu mampu menggeser batu besar ini."

Pengemis yang lain tiba-tiba tertawa.

"Toako, kenapa kau tertawa?"

"Kau kuatir tidak mampu menggeser batu ini memangnya kita tidak bisa mengundang bala bantuan!"

"Betul, kalau begitu begini saja, aku pulang mengundang bantuan, kau berjaga di mulut lobang, kuatirnya bila perempuan siluman itu membawa lari Kek-jithiap, tentunya kau juga maklum ke arah mana mereka akan pergi."

Terdengar Koan Cong-yau berkata lirih di persembunyiannya.

"Bagaimana kita?"

"Jite,"

Kata Giam Cong-po.

"kau sikat pengemis yang pulang memanggil bantuan, bersama Samte, aku akan kuntit pengemis yang satu pergi ke tempat sembunyi Kek Lam-wi."

Gugup, gelisah dan bingung hati Bu Siu-hoa, bagaimana dia harus melindungi keselamatan Kek Lam-wi?

Tiba saatnya dia harus lekas bertindak.

Begitu dia bergerak Giam Cong-po segera mengetahui jejaknya, dua jarinya segera menjentik "WUT"

Sekeping mata uang segera melesat dengan kencang.

Untung Bu Siu-hoa mendengar deru angin dan sempat berkelit, mata uang itu mengenai batu di sampingnya, menimbulkan cipratan batu dan letupan api.

Cuma Bu Siu-hoa memang sengaja menampilkan diri, sambil berbatuk dia menerobos keluar dari semak belukar di belakang batu.

Melihat dirinya, Ong dan Koan sama melengak malah.

"Paman Ong dan paman Koan, kalian baik-baik saja. Siapakah paman tua ini..."

Bu Siu-hoa bersikap wajar seperti tidak terjadi apa-apa, begitu berhadapan dia lantas menyapa lebih dulu. Giam Cong-po mendengus, katanya.

"Budak ini kenal kalian, memangnya dia..."

"Lapor Toako,"

Ujar Koan Cong-yau sambil menjura.

"Budak ini memang putri Bu-sam Niocu itu."

Bu Siu-hoa pura-pura kaget, katanya.

"Lho, kiranya Toako kalian, jadi kau ini tentu adalah Giam-pangcu dari Giam-ongpang, maaf, aku kurang hormat."-sengaja dia meninggikan suaranya supaya kedua pengemis di lekuk gunung sana mendengar dan lari. Sebagai kawakan Kangouw sudah tentu Giam Cong-po tahu maksud tujuan Siu-hoa. Tapi setelah Bu Siu-hoa muncul disini kedua pengemis itu boleh tidak usah dihiraukan lagi.

"Budak ini ada disini Kek Lam-wi tentu juga berada di sekitar sini,"

Demikian batin Giam Cong-po.

"Dari pada mencari perkara dengan pihak Kaypang, biarkan saja mereka pergi. Meski mereka akan pulang memanggil bantuan, markas mereka toh didalam kota, untuk pulang pergi kemari sedikitnya memerlukan waktu cukup lama, saat mana kita yakin sudah menggusur Kek Lam-wi dari sini."

Giam Cong-po membentak.

"Jangan cerewet, dimana Kek Lamwi?"

"Sudah dibawa pergi oleh Tam Pa-kun,"

Kata Bu Siu-hoa. Giam Cong-po ngakak sambil mendongak, katanya.

"Pintar juga kau budak ini bila membual, sayang di hadapanku kau takkan bisa menipu orang lain."

Bu Siu-hoa melengak, katanya mengeraskan kepala.

"Aku bicara sesungguhnya, kalau kau tak percaya ya terserah."

"Masih berani bilang tidak menipu aku,"

Jengek Giam Congpo.

"Mungkin kau memang belum tahu biar aku menjelaskan. Kemarin Tam Pa-kun sudah meninggalkan Soh-ciu, dia pergi seorang diri."

Diam-diam Bu Siu-hoa mengeluh dalam hati.

"Bila Tam Pakun sudah pergi, Toh So-so dan teman-teman Kek-toako lainnya, mungkin tidak akan mampu melawan Giam Cong-po dan kamrat-kamratnya. Kek-toako akan lebih berbahaya. Tapi dalam situasi seperti sekarang, mengulur waktu adalah jalan terbaik sambil menunggu kedatangan orang Kaypang, sekalikali Kek-toako tidak boleh jatuh ke tangan mereka,"

Demikian Bu Siu-hoa sudah berketetapan dalam hati.

Pada hal Giam Cong-po kuatir bila mengulur waktu bakal tidak menguntungkan pihaknya karena bukan mustahil orang Kaypang datang lebih cepat dari dugaannya.

Karena tidak ingin menambah kesulitan, segera dia membentak..

"Kami sudah tahu kau sembunyikan dia didalam sebuah gua, lekas tunjukan tempatnya biar kami menjinjing-keluar."

"Hal itu tidak benar,"

Seru Bu Siu-hoa, kalau kau minta aku mcnunjukan tempatnya, akan kuajak kalian ke sembarang tempat."

"Budak busuk,"

Damprat Giam Cong-po marah.

"berani kau membangkang, kuputuskan dulu kedua kakimu."

Bu Siu-hoa tertawa.

"Kalau kakiku putus mana bisa aku menunjukkan tempat itu."

"Coba saja asal kau berani,"

Jengek Giam'Cong-po.

"aku punya delapan belas cara untuk menyiksa orang, akan kupilih satu di antaranya yang cocok untuk dirimu,"

Di tengah tawa dinginnya mendadak dia melompat maju sambil pentang jarijari tangannya mencengkram ke arah Bu Siu-hoa. Bu Siu-hoa menyurut sambil berteriak.

"Baiklah, aku tunjukkan tempatnya, tapi kau jangan menakuti aku bila hatiku takut, kakiku jadi lemas tak mampu jalan."

Terpaksa Giam Cong-po menarik tangan, bentaknya.

"Hayo jalan."

Mendadak Bu Siu-hoa menjejak kaki dengan gerakan Sikhiong-kiau-hoan-in tubuhnya bersalto ke , belakang sejauh beberapa tombak, belum lagi kakinya menyentuh bumi tangannya sudah terayun.

Maka terdengarlah suara "BUNG"

Yang tidak begitu keras, di tengah ledakan itu asap tebal seperti dilempar ke empat penjuru, dari dalam asap tebal itu menyamber pula bintik-bintik sinar kemilau yang lembut dari jarum-jarum halus sekecil bulu kerbau, itulah senjata rahasia tunggal warisan keluarganya yang dinamakan Tok-bu-kimciam-liat-yam-tam.

Giam Cong-po menghardik.

"Mutiara sebesar beras juga memancarkan sinarnya,"

Begitu dia kebaskan lengan baju, asap tebal yang menerjang ke arahnya seketika seperti disapu angin lesus tersibak balik ke empat penjuru, lebih celaka lagi sebagian besar dari bintik-bintik sinar disertai asap tebal itu tertolak balik.

Untung Bu Siu-hoa berlari pergi dengan cepat, maka dia tidak sampai terbakar oleh asap berapi itu.

Kembali Giam Cong-po menggentak lengan bajunya, jarumjarum kecil yang menancap di lengan bajunya sama rontok berjatuhan.

Kungfu yang dipamerkan ini, boleh dikata sudah mencapai taraf yang cukup sempurna.

Bahwa sebagai ketua Giam-ong-pang terang amat liehay.

ini sudah dalam dugaan Bu Siu-hoa namun dia tidak menduga seliehay itu tingkat Kungfunya.

Lekas sekali asap buyar, jarum-jarumnyapun tidak berhasil melukai musuh, cepat sekali Giam Cong-po telah mengudak kencang kesana, sekali raih.

"Bret"

Pakaian Bu Siu-hoa terjambret sobek. Detik lain Bu Siu-hoa jelas tidak akan bisa lolos lagi, mendadak "Wut"

Segulung angin pukulan disertai tubrukan seorang dari atas mendadak menindih ke bawah.

"Awas Toako bocah itu adalah Tan Ciok-sing,"

Terdengar Ong Cong-king yang ikut mengudak di sebelah belakang berteriak.

Dari atas batu cadas yang tinggi tahu-tahu Tan Ciok-sing menukik turun laksana malaikat dewata layaknya.

Betapa hebat daya terjangannya dari atas ini, meski Giam Cong-po sudah mempersiapkan diri, tak urung dia kaget setengah mati.

Dengan jurus Ing-kik-tiang-khong pedang Tan Ciok-sing menusuk dari atas udara.

Giam Cong-po mengandal lengan bajunya, dengan kebutan keras, dia pikir hendak menggulung pedang orang, tapi terdengar "Bret"

Kali ini yang robek adalah lengan bajunya sendiri, sementara dengan gaya burung dara membalik Tan Ciok-sing sudah melambung ke belakang dan hinggap di atas tanah dengan enteng.

Waktu Giam Cong-po menunduk mengawasi lengan bajunya, lengan bajunya sudah tergores robek satu kaki panjangnya.

Gebrak sekali cukup membuat kedua pihak sama-sama kaget.

Tan Ciok-sing menyerang dari atas dengan tukikan burung elang, betapa hebat tenaga yang digunakan, tak nyana lawan mampu mengebut lengan baju untuk mematahkan jurus pedangnya malah hampir saja dia tidak kuat memegang kencang pedang, maklum kalau dia kaget.

Tapi Giam Cong-po kini mengagulkan diri diantara jago-jago kosen yang bisa dihitung dengan jari, Thi-siu-kang (lengan besi) yang dilatihnya selama dua puluh tahun ternyata bukan saja tidak mampu merebut pedang Tan Ciok-sing, malah lengan baju sendiri robek, ini jelas diluar dugaannya, mau tidak mau mencelos hatinya.

Cepat sekali In San juga sudah melompat turun dari atas batu cadas.

Jengeknya dingin.

"Kebetulan, kami memang ingin mengirim raja akhirat dunia ini ke akhirat di alam baka, hayolah maju biar kami memproses lebih cepat keberangkatanmu."

Kekuatan Siang-kiam-hap-pik jelas berlipat ganda.

Giam Cong-po juga menggunakan kedua lengan bajunya, perbawa Thi-siu-sin-kang dengan sendirinya seratus persen lebih hebat pula.

Tampak dimana sinar pedang berseliweran, maka terdengarlah rentetan suara yang keras, tahu-tahu kupu-kupu berterbangan di sekeliling arena tersibak keluar dari cahaya pedang yang kemilau, itulah kain kecil-kecil dari lengan baju Giam Cong-po yang hancur luluh oleh tabasan pedang sakti.

Untung Giam Cong-po sempat menarik tangan, kalau tidak kedua tangannya pasti sudah berpisah dengan tubuhnya, kini seluruh lengannya jadi telanjang, jelas Thi-siu-sin-kang tidak mampu dikembangkan lagi.

Bu Siu-hoa yang menyaksikan di sebelah sana sampai melongo, tak pernah terbayang olehnya bahwa kekuatan gabungan pedang ternyata begitu hebat, karuan hatinya senang bukan main.

Diam-diam dia membatin.

"Kukira umpama mereka tidak mampu mengalahkan tiga lawan Giamong-pang, untuk menyelamatkan diri jelas cukup berkelebihan. Biarlah sekarang aku tinggal pergi saja."

Dengan Siang-kiam-hap-pik, Tan Ciok-sing dan In San layani tabrakan tiga pentolan Giam-ong-pang dengan sengit, tanpa terasa sesulutan dupa telah berselang, pertempuran sudah berjalan ratusan jurus, namun ketiga lawannya satupun belum ada yang dirobohkan, Giam Cong-po sendiri juga sudah tidak tetap hatinya.

Tiba-tiba didengarnya seorang berteriak-teriak di puncak bukit sebelah sana .

"Ma-thocu, Kiau-thocu, lekas kemari,"

Itulah suara Bu Siu-hoa. Dalam pertempuran sengit itu, kedua pihak tumplek perhatian pada lawannya, maka tiada yang tahu kapan Bu Siuhoa melarikan diri. Karuan Giam Cong-po kaget, pikirnya.

"Agaknya budak itu pergi mengundang bantuan, Ma-thocu pasti adalah Ma Tay-yu ketua Kaypang cabang Yang-ciu, sedang Kiau-thocu adalah Kiau Hun ketua Kaypang cabang Soh-ciu. Kepandaian kedua orang ini meski tidak begitu libay, namun kedatangan dua bantuan ini, jelas pihak kita jadi asor, apalagi Kaypang tidak boleh dimusuhi bila tidak terpaksa, baiklah aku menyingkir saja,"

Maka diam-diam dia memberi lirikan mata kepada kedua saudaranya, beruntun dia menggempur tiga kali pukulan sehingga Tan dan In terdesak bertahan, begitu ada kesempatan cepat-cepat dia putar tubuh terus kabur dari tempat itu.

Sambil lari mulutnya mengoceh.

"Bocah keparat dan kau budak busuk, biar kalian hidup beberapa hari lagi, akan datang saatnya aku membuat perhitungan dengan kalian,"

Begitu memperoleh lirikan mata sang Toako, Ong dan Koan berdua sudah siap-siap dan begitu tiga pukulan dilontarkan, mereka sudah ngacir lebih dulu. Dengan tertawa dingin Tan Ciok-sing membentak.

"Memangnya kami juga akan membuat perhitungan dengan kau. Kapan saja kusambut kedatangan kalian."

In San sudah buka mulut ingin memaki pula, tapi setelah pertempuran sengit sekian lama, terasa jantungnya berdebar teramat cepat, meski mulut sudah terbuka, namun napas masih sengal-sengal sehingga suara tidak keluar.

Lekas sekali ketiga pentolan Giam-ong-pang itu sudah pergi jauh.

Setelah istirahat sejenak baru In San menghela napas lega, Katanya.

"Liehay betul,"

Setelah ditunggu lagi sejenak In San berkata pula.

"Lho, kenapa mereka belum juga tiba."

Sementara itu Tan Ciok-sing juga sudah mengatur napas, menggunakan ilmu mengirim suara gelombang panjang dia berteriak.

"Ma-thocu, Kiau-thocu, Nona Bu,"

Beruntun tiga kali tetap tiada reaksi atau penyahutan mereka.

Puncak dimana tadi Bu Siu-hoa berteriak-teriak memanggil Ma-thocu dan Kiau-thocu jaraknya hanya beberapa li, setelah berselang sekian lama ini, sepantasnya mereka sudah lari kemari, namun mereka belum kunjung tiba.

Akhirnya tergerak pikiran Tan Ciok-sing katanya.

"Kukira urusan agak ganjil."

"Apanya yang ganjil?"

"Di lereng bukit kita ketemu kedua murid Kaypang tadi, mana mungkin secepat itu mereka mengundang Ma-thocu dan Kiau-thocu kemari?"

"Iya."

In San sadar.

"waktu kita keluar belum ada kabar bahwa Ma-thocu dari Yang-ciu sudah berada di Soh-ciu. Agaknya nona Bu itu sengaja mau menipu dan menakuti mereka, bantu kami memukul mundur ketiga pentolan Giamong-pang."

"Kukira memang demikian,"

Ujar Tan Ciok-sing.

"tapi anehnya, kenapa nona ini tidak kembali juga?"

In San berpikir sejenak, akhirnya dia cekikikan, katanya.

"Pikiran anak perempuan kau laki-laki mana bisa menyelaminya."

"Jadi kau mengerti, lalu menurut pendapatmu, dia..."

"Kukira dia jatuh cinta kepada Kek-toako."

"Cinta ya cinta, kenapa harus menyingkir."

"Nah itulah sebabnya kenapa aku katakan kau tidak memahami hati perempuan. Karena jelus, cemburu maka Tohcici tinggal minggat."

"Tapi paling tidak nona Bu ini mengunjukkan dimana tempat sembunyi Kek-toako."

"Aku yakin dia tidak akan meninggalkan Kek-toako begitu saja, marilah kita mencarinya."

Mereka menuju ke bukit dimana Bu Siu-hoa tadi berada, hanya puluhan langkah, ln San lantas menemukan sesuatu.

"Toako, coba lihat, ternyata dugaanku tidak meleset,"

Teriak In San kegirangan.

Di atas dahan sebuah pohon besar yang terletak di depan lekukan gunung dan mudah terlihat orang, arahnya kebetulan menuju kemari, dahan pohon itu dikorek kulitnya, walau di keremangan magrib, namun mereka masih bisa melihat jelas, di dahan pohon yang dikorek kulitnya itu ada goresan hurufhuruf dengan ujung pedang.

Huruf-huruf itu terdiri dua baris dan berbunyi.

"Kek-jithiap berada di sebuah gua yang terletak tiga li dari sini ke arah selatan, mulut gua tertutup balu yang bentuknya mirip pintu angin."

Jarak tiga li cepat sekali telah dicapai oleh Tan dan In yang mengembangkan Ginkang.

Betul juga dari kejauhan sudah kelihatan batu besar mirip pintu angin itu.

In San lebih gugup begitu mclihai balu besar itu, belum lagi beradu di depan gua dia sudah berteriak lebih dulu.

"Kek-toako."

Kek Lam-wi memang sedang menunggu dengan perasaan gundah, In San berteriak dari jarak yang masih cukup jauh, teraling oleh batu besar pula, maka pendengarannya kurang jelas, maka dia sangka yang kembali Bu Siu-hoa.

"Siu-moay, apa kau sudah kembali? Kukira kau tidak akan kem..."

Belum habis dia bicara, Tan Ciok-sing sudah mendorong minggir batu besar itu.

Dengan tenaga Tan Cioksing tidak sukar dia menggeser batu besar ini, tapi dia merasa terlalu mudah dan enteng.

Ternyata dari dalam gua Kek Lamwi juga membantu menggeser batu besar itu.

Setelah batu tersingkir, Kek Lam-wi melihat yang berdiri di hadapannya adalah Ciok-sing dan In San, sesaat dia melongo, namun hatinya kaget dan senang.

In San tertawa geli, katanya menggoda.

"Kek-toako, kau tidak menduga akan kami bukan? Bikin kau kecewa ya?"

Kek Lam-wi tenangkan hati, katanya.

"Memang kalian yang kuharapkan, tapi bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?"

"Panjang ceritanya, nanti kuceritakan. Bagaimana lukalukamu?"

"Racun sudah tuntas, tenagaku kini juga sudah pulih separo,"

Ujar Kek Lam-wi.

"Baiklah, kau jangan banyak bicara,"

Kata Tan Ciok-sing, dia genggam kedua tangan Kek Lam-wi, terasa sejalur tenaga angin merembes masuk dari telapak tangannya, terus mengalir ke Say-yang-meh mumbul ke atas meresap ke seluruh tubuh.

Lam-wi tahu Ciok-sing sedang salurkan hawa murninya membantu dirinya melancarkan jalan darah memulihkan Lwekang.

Maka diapun kerahkan hawa murni sendiri menyambut bantuan dari luar mempercepat proses pemulihan tenaga sendiri.

Mereka sama meyakinkan Lwekang dari aliran murni, seumpama air tercampur dengan susu lekas sekali sudah terbaur jadi satu, tak lama kemudian uap putih merembes beserta keringat dari seluruh pori-porinya, dan terakhir hawa murni kumpul di pusar dan menghembuskan napas panjang.

Kek Lam-wi tersenyum, katanya.

"Sudah cukup Tan-toako. Kionghi, kionghi."

"Lho, koh malah kau memberi Kionghi (selamat) padanya?"

Tanya In San.

"Tingkatan Lwekang Tan-toako sudah jauh lebih maju dari dahulu, begitu cepat kemajuan yang dicapainya, bukankah patut diberi selamat. Kini Lwekangku sudah pulih tujuh puluh persen."

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Kemajuanmu lebih cepat dari apa yang kucapai. Baik mari kita lekas pulang, supaya Kiau-thocu dan nona Toh tidak menunggu terlalu lama."--dengan Lwekang yang sudah pulih tujuh puluh persen, sudah tentu tidak susah lagi Kek Lam-wi mengembangkan Ginkang. Sambil lari mereka mengobrol, ln San tahu Kek Lam-wi menguatirkan keselamatan Bu Siu-hoa, maka dia berkata.

"Kek-toako, biarlah kubuka suatu masalah. Lantaran bantuan dan petunjuk nona Bu itulah maka kami bisa menemukan kau."

"O, jadi kalian sudah melihat dia. Jadi dia, dia dimana?"

"Dia sudah pergi, Mungkin takkan kembali menemui kau,"

Baru sekarang In San sempat menceritakan kejadian tadi.

Mendengar mereka berdua berhasil mengalahkan tiga pentolan Giam-ong-pang, Kek Lam-wi ikut girang.

Tapi mengingat tidak sedikit pengorbanan Bu Siu-hoa lantaran dirinya, pada hal dia belum membalas sedikitpun kebaikan orang, diam-diam dia jadi masgul dan menyesal.

"Kek-toako,"

Kata In San.

"kau sudah kenyang membaca buku, tentunya pengetahuanmu cukup luas, kenapa kau harus mereras diri, biarkanlah nona Bu pergi, tahukah kau masih ada seorang sedang menanti kedatanganmu,"

Dia merasa kebetulan malah bila Bu Siu-hoa menyingkir, karena bagi diri sendiri dan bagi orang lain sama-sama ada faedahnya."

Kek Lam-wi menghela napas, katanya.

"Betul ucapanmu, hidup manusia memang tiada yang abadi. Tapi ada beberapa hal yang belum kau ketahui."

Lalu Lam-wi tuturkan bagaimana Bu Siu-hoa menolong dirinya sehingga bertengkar dengan sang ibu, hampir saja jiwa mereka tamat oleh jarum beracun itu, lalu menambahkan.

"Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, tiada fikiran lain bersemayam dalam benakku. Tapi dia pergi begitu saja, bukan mustahil bisa ketangkap oleh ibu tirinya yang jahat itu. Sepantasnya aku membalas budi kebaikannya, memangnya aku tega membiarkan dia terlunta-lunta seorang diri di Kangouw?"

Berubah sikap In San, timbul rasa simpatiknya, katanya.

"Kalau demikian, nona Bu ternyata adalah gadis suci berhati baik, meski dibesarkan dalam keluarga kotor, namun hatinya tetap bajik dan bersih Aku yakin bila Toh-cici tahu akan hal ini, diapun pasti merasa sayang dan melindunginya seperti adik sendiri. Cuma untuk mencarinya kukira bukan soal gampang, biar nanti kita minta tolong Kiau-thocu untuk bantu mencarikan. Umpama dia tetap tidak mau kumpul bersama kau, biar pihak Kaypang yang melindunginya secara diamdiam."

"Apakah So-so juga bersama kalian, tinggal di markas Kaypang?"

Tanya Lam-wi.

"Ya, walau di kota Soh-ciu dia punya famili, tapi Kiau-thocu merasa lebih aman dia tinggal di markas Kaypang,"

Ucap In San. Kek Lam-wi jadi haru tapi juga lega, katanya.

"Syukurlah, setiba disana, aku akan segera bertemu dengan dia,"

Tanpa terasa langkahnya dipercepat. In San menyusulnya, katanya tertawa.

"Kek-toako, kau tahu hari ini hari apa?"

Kek Lam-wi melenggong, sesaat dia masih belum menangkap arti perkataan In San, tanyanya bingung.

"Apa yang istimewa pada hari ini."

In San tertawa, katanya.

"Didalam gua itu kau disekap dua hari, memangnya sudah lupa akan hari? Nanti setelah rembulan terbit, kau akan tahu sendiri."

Kek Lam-wi jadi sadar, katanya.

"Ya, kenapa aku seceroboh ini, kiranya hari ini tanggal lima belas bulan delapan."

"Betul, hari ini adalah hari raya Tiong-jiu, manusia didunia dan malaikat dewata di atas langit sama merayakan hari raya ini. Malam ini kau bakal berkumpul lagi dengan Toh-cici, patut kau rayakan pertemuan nanti."

Tak nyana setiba mereka di markas cabang Soh-ciu, mereka tidak menemukan Toh So-so. Kiau Hun yang menyambut mereka bilang.

"Sejak siang tadi nona Toh keluar kota, sampai sekarang belum kunjung pulang."

Terpaksa Lam-wi menyusul ke rumah famili Toh So-so, waktu itu rembulan sudah menongol dari peraduannya.

Yang membuka pintu adalah bibi misan Toh So-so, melihat Kek Lam-wi seketika dia terbelalak, namun segera berjingkrak senang, serunya.

"Kek-siangkong kau sudah pulang, tahukah kau So-so sedang mencarimu kian kemari, syukurlah kau telah pulang."

Mendengar ucapan terakhir sang bibi misan, legalah hati Kek Lam-wi, dia kira dugaannya tidak meleset, lekas dia berteriak.

"So-so, So-so..."

Tapi tiada jawaban.

"Kek-siangkong,"

Kata nyonya itu.

"kalau dua jam kau datang lebih dini, pasti disini kau bisa bertemu dengan dia. Sekarang lekas kau susul dia ke markas cabang Kaypang. Alamatnya di..."

Kek Lam-wi terperanjat, katanya.

"Lho, kami baru saja datang dari sana. Sebelum So-so pergi, apakah dia bilang mau mampir ke tempat lain?"

Nyonya itu berpikir, katanya.

"Dia tidak bilang mau mampir kemana-mana tapi dia bercerita katanya orang Kaypang disebar untuk mencari jejakmu, hatinya amat kuatir, meski kau sudah bebas dari cengkraman orang-orang keluarga In, sebelum berhadapan dengan kau, betapapun hatinya tidak akan tentram, maka dia berniat keluar mencarimu sendiri, cuma aku tidak tanya kemana dia hendak mencari kau."

Kek Lam-wi pikir.

"Ternyata dia sudah tahu bahwa aku sudah ditolong orang, entah dia tahu atau belum bahwa nona itu adalah putri Bu-sam Niocu? Tapi dia yakin aku tidak akan mengalami bahaya, itu berarti bahwa dia mempercayai orang yang telah menolongku keluar dari penjara keluarga In, terhadapku jelas tidak akan merasa jelus lagi."

Bibi misan Toh So-so berkata pula.

"Kek-siangkong, coba kau pikir, kecuali markas Kaypang, ke tempat mana pula kemungkinan So-so akan pergi?"

Kek Lam-wi menepuk paha, serunya.

"Betul, aku tahu kemana dia akan pergi."

"Kemana?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Ham-san-si,"

Sahut Kek Lam-wi.

Tanpa pamit dia terus putar tubuh berlari seperti mengejar angin, lekas sekali mereka sudah tiba di pinggir kali, di kejauhan Hong-kio sudah kelihatan, Hongkio terletak di seberang Ham-san-si.

Bulan purnama di malam Tiong-jiu ini memang bulat "dan benderang, malam purnama di Hong-kio memang mengasyikan, terutama bagi muda mudi yang sedang memadu cinta, disinilah tempat yang serasi untuk melimpahkan isi hati dengan mendambakan cinta abadi.

"Hong-loo tidak kalah dengan Ji-si-kip di Yang-ciu. Sayang di malam purnama nan permai dan sejuk ini, tiada orang yang meniup seruling,"

Demikian pikir Kek Lam-wi sambil melambatkan langkahnya.

Setelah lebih dekat lagi, tiba-tiba didengarnya suara irama seruling sayup-sayup sampai.

Sebagai ahli musik sekali dengar Lam-wi lantas tahu, lagu yang ditiup itu adalah lagu kenangan terhadap masa lalu di saat-saat memadu cinta.

Dari volume suaranya Lam-wi merasakan pula bahwa seruling yang digunakan meniup lagu kenangan adalah seruling warisan keluarganya itu Hampir Lam-wi tidak percaya akan pendengaran sendiri, seketika dia berdiri menjublek.

"Apakah betul yang meniup seruling adalah dia'?"

Demikian dia menerka-nerka dalam hati.

Habis meniup seruling orang itu lantas bersenandung membawakan puisi ciptaan pujangga Bong Ki-to di jaman dynasti Song, meresapi makna dari puisi itu, setelah menjublek sesaat lamanya, Lam-wi angkat langkahnya pula berlari bagai terbang ke arah Hong-kio.

Tan Ciok-sing dan In San juga mendengar senandung Toh So-so, merekapun ikut girang hampir saja bersuara memanggil.

Baru saja Ciok-sing memburu hendak menyusul Kek Lam-wi lekas In San menariknya, katanya berbisik.

"Engkoh bodoh, sepasang kekasih sedang bertemu untuk apa kau ikut kesana? Jangan ganggu mereka, biar mereka asyik."

Tanpa bersuara Kek Lam-wi lari ke belakang pepohonan, didengarnya Toh So-so sedang mengakhiri senandungnya, lalu menghela napas mengulangi bait terakhir dari puisi itu.

"Meroboh hatimu, demi hatiku, baru dimaklumi betapa mendalam rindu ini."

Tak kuat Kek Lam-wi menahan tawa, segera dia keluar dan berkata.

"So-so, kau salah, tak usah merobah hati, aku sudah tahu betapa mendalam cintamu terhadapku."

Toh So-so terbeliak sambil mematung sesaat lamanya, katanya.

"Kek-toako, apa betul kau? Ini, ini bukan dalam mimpi bukan?' "Sudah tentu bukan, coba kau gigit jarimu, sakit tidak? Soso, aku tahu kau pasti mencariku ke Ham-san-si, maka sengaja kususul kemari."

Bukan kepalang rasa senang Toh So-so, tanpa terasa air matanya berlinang-linang di kelopak matanya, katanya sesaat kemudian.

"Toako, aku tahu pasti kau akan mencariku. Tapi sungguh tak kuduga secepat ini kau bakal muncul di hadapanku, di Ham-san-si aku tidak menemukan kau, hatiku amat kecewa, terbayang semasa di Ji-si-ko di Yang-ciu dulu, tanpa merasa aku lantas meniup seruling seorang diri."

"Bagus sekali tiupanmu,"

Puji Kek Lam-wi.

"jauh lebih maju dari dulu. Tapi tidak sepantasnya kau anggap diriku ini seperti awan mengembang yang tidak punya arah tertentu."

Jengah muka Toh So-so katanya menunduk.

"Toako, sebelum ini sering aku merasa jelus cemburu dan banyak kesalahan, tapi setiba di Soh-ciu aku lantas tahu kau tidak akan meninggalkan aku dan menyia-nyiakan cintaku. Kunyanyikan lagu tadi bukan lantaran aku tidak percaya padamu, soalnya hatiku risau sebelum menemukan kau, entah kapan baru akan bertemu kembali, maka kunyanyi lagu itu hanya untuk melampiaskan rasa masgul ini."

Kek Lam-wi genggam kencang tangannya, katanya.

"So-so, syukurlah kau mau percaya padaku."

Mekar seperti kembang tawa Toh So-so, tapi tiba-tiba dia bertanya.

"Mana nona Bu? Kenapa tidak datang bersamamu, apa dia tidak sudi bertemu dengan aku."

"Kau sudah tahu? Aku memang hendak jelaskan kepada kau, dia..."

Toh So-so terkikik lirih, katanya.

"Tak usah kau jelaskan kepadaku, aku tahu dan yakin cintamu terhadapku takkan berobah. Nona Bu teramat baik terhadapmu bukan? Dimana dia sekarang? Kau belum menjelaskan."

"Ya, dia menolongku dari penjara bawah tanah, menyembuhkan luka-lukaku lagi. Tapi dia sudah pergi, entah kemana dan dimana dia sekarang?"

"Lho dia sudah pergi?"

Seru Toh So-so tertegun.

"Kenapa kau tidak menahannya?"

"Dia pergi diluar tahuku,"

Tutur Kek Lam-wi.

"aku sudah angkat saudara dengan dia, So-so, kau tidak bercemburu lagi bukan?"

"Kemana sih jalan pikiranmu, untuk berterima kasih kepadanya rasanya juga sudah terlambat, kenapa aku cemburu kepadanya. Satu hal mungkin kau belum tahu, sebelum ini aku sudah kenal dia lebih dulu, meski belum angkat saudara hubungan kami sudah seperti saudara kandung layaknya. Adikmu adalah adikku, syukur aku punya adik seperti dia. Pengorbanannya untuk kau terlalu besar, betapapun kita harus berusaha menemukan dia."

Lega hati Kek Lam-wi, katanya.

"Perkenalanmu dengan dia sudah diceritakan kepadaku. Dia pernah menipu kau, dia kuatir kau masih membencinya."

"Memang sebelum ini aku membencinya dan curiga ada maksud jelek terhadapmu, tapi sekarang aku sudah tahu bahwa pandanganku menganggap sebagai 'perempuan siluman' adalah salah. Mana aku membencinya lagi? Aku jadi ingin bertemu dengan dia, supaya dia tidak ragu terhadapku."

"Akan kuminta bantuan Kiau-thocu mencarinya,"

Ucap Kek Lam-wi, mendadak dia teringat dan tanya.

"So-so, seruling ini bagaimana bisa berada di tanganmu?"

"Paman Tam telah merebutnya dari tangan In Kip, dia titip kepadaku supaya dikembalikan kepada kau. Em, sekarang tiba saatnya barang kembali pada pemiliknya."

Menerima seruling Kek Lam-wi bertanya.

"Dimana Tam Tayhiap? Apakah dia tinggal di Ham-san-si?"

Ternyata persoalan mengenai Tam Pa-kun, Tan Ciok-sing belum sempat ceritakan kepadanya.

"Dia sudah pergi ke Hay-ling."

"Untuk apa dia ke Hay-ling?"

"Aku tidak tahu. Tanya kepada Tan Ciok-sing,"

Sampai disini mendadak Toh So-so teringat, tanyanya.

"Toako, bukankah tadi kau bilang kemari bersama Tan-toako dan adik In, kenapa tidak kelihatan bayangan mereka?"

Kek Lam-wi jadi sadar, katanya tertawa.

"Iya, hampir aku melupakan mereka."

Lalu dia mengeraskan suaranya berteriak.

"Kalian main sembunyi segala, hayo lekas keluar."

In San muncul dengan cekikikan, katanya.

"Kionghi, kionghi. Kalian kumpul dan bahagia di bawah bulan purnama. Toh-cici, jangan kau kira aku tadi mencuri dengar pembicaraanmu."

Jengah muka Toh So-so, katanya.

"Jangan berkelakar, ada urusan yang ingin kami tanya kepada kau,"

"Urusan apa? Memangnya yang kuucapkan barusan bukan urusan?"

"Tan-toako,"

Kata Kek Lam-wi.

"orang yang mengundangmu ke Ham-san-si tempo hari tentu adalah Tam Tayhiap?"

"Betul,"

Sahut Ciok-sing.

"tapi sekarang dia sudah pergi ke Hay-ling."

"Hal itulah yang ingin kutanyakan kepada kau, untuk apa Tam Tayhiap pergi ke Hay-ling, kukira bukan melulu hendak menonton air pasang?"

"Seorang teman mengundangnya kesana, tapi janji pertemuan mereka pada tanggal 18 bulan delapan ini, tepat hari lahir dari malaikat air pasang, sekaligus dia bisa menonton air pasang disana."

"Air pasang di Hay-ling pada tanggal delapan belas bulan delapan tiap tahun memang merupakan tontonan aneh yang jarang ada di dunia ini, sayang kami tak bisa kesana."

Demikian ucap Toh So-so.

"Siapakah Lo-cianpwe yang mengundang Tam Tayhiap kesana, apa aku boleh tahu?"

Tanya Kek Lam-wi.

"Sudah tentu boleh,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"kau pernah bertemu dengan beliau. Yaitu It-cu-king-thian Lui Tin-gak Lui Tayhiap yang menggetarkan daerah Lam-ciang."

Kek Lam-wi tahu bagaimana hubungan keluarga Tan Cioksing dengan Lui Tin-gak, maka timbul rasa menyesal dalam hatinya, katanya.

"Lui Tayhiap berada di Hay-ling. Tan-toako, seharusnya kau mesti pergi bersama Tam Tayhiap. Lantaran aku sehingga kau menunda perjalananmu."

"Jangan berkata begitu Kek-toako,"

Tukas Tan Ciok-sing.

"bahwa Lui Tayhiap sudah berada di Hay-Iing, cepat atau lambat aku pasti bisa bertemu dengan beliau. Yang penting kau sudah kembali dengan selamat, itulah yang kukehendaki."

"Sekarang aku sudah kembali dengan selamat, kau boleh tidak usah kuatir. Besok juga kalian boleh berangkat, tepat saatnya kalian akan saksikan air pasang yang serba ajaib di Hay-ling itu."

"Mungkin kami tidak sempat pulang untuk memberi selamat hari ulang tahun kepada Ong Goan-tin di Thay-ouw,"

Kata In San bimbang.

"Hal itu sudah kupikirkan,"

Ucap Kek Lam-wi.

"Ulang tahun Ong Goan-tin adalah tanggal 22, setelah kalian menonton air pasang di Hay-ling masih ada empat hari, bila tanpa menghadapi sesuatu diluar dugaan, dalam jangka empat hari itu, kalian masih sempat tiba di Thay-ouw tepat waktunya. Lewat hari raya Tiong-jiu, udara selalu cerah dan hawa sejuk, berperahu di Thay-ouw bisa berlaju mengikuti arah angin, kemungkinan tanggal 21 malam kalian sudah akan tiba di tujuan."

"Perhitungan waktunya amat mendesak bukan? Bila kita datang terlambat, bukankah rikuh jadinya?"

"Jangan pikirkan hal itu, pertama kami sudah wakilkan kalian memberi penjelasan. Kedua Tam Tayhiap adalah kenalan baik Ong Goan-tin, setiba kalian di Hay-ling, pulangnya pasfi bersama mereka. Bila Ong Goan-tin tahu kalian datang mengajak It-cu-king-thian, tentu dia akan kegirangan dan berterima kasih kepada kalian malah."

"Begitupun baik. Biar sekarang juga kami pulang pamitan kepada Kiau-thocu,"

Ucap In San.

Kira-kira kentongan ketiga baru mereka tiba di markas Kaypang cabang Soh-ciu, Kiau-thocu dan orang-orangnya sedang menunggu gelisah, legalah hati mereka setelah melihat Ciok-sing pulang bersama Kek Lam-wi.

Kiau Hun berkata.

"Ada sebuah kabar gembira perlu kuberitahu kepada kalian. Tiga pentolan Giam-ong-pang dan ln Kip ayah beranak sudah ketakutan, maka mereka tidak berani bercokol di Soh-ciu lagi, sudah kabur dari kota ini. Tapi mereka lari berpencar, kami hanya tahu keluarga ln di bawah lindungan Bak Bu-wi dari Hoay yang-pang lari ke kota raja minta perlindungan yang berwajib Sementara ketiga pentolan Giam ong-pang itu entah lari kemana"

"Syukurlah kalau kawanan jahat itu meninggalkan Soh-ciu. Tan-toako, boleh kau segera berangkat saja."

Lalu Lam-wi jelaskan rencana mereka kepada Kiau Hun.

Kiau Hun nyatakan persetujuannya.

Tan dan In menempuh perjalanan siang malam, tepat tanggal delapan belas mereka tiba di Hay-ling, satu jam menjelang lohor.

Hay-ling terletak seratus dua puluh li di sebelah utara Hangciu, tepatnya berada di teluk Wan-pak, berada di muara Ci-tong-kang.

Air pasang di Ci-tong-kang inilah merupakan pemandangan ajaib yang tiada keduanya di dunia ini, merupakan tontonan aneh dan menakjupkan, hari yang dinamakan ulang tahun malaikat air adalah tepat datangnya air pasang yang paling tinggi pada setiap tahun.

Pada hari itu, entah berapa laksaan manusia yang berbondong-bondong datang ke Hay-ling menyaksikan air pasang di Ci-tong-kang itu.

Ternyata ada sebabnya kenapa orang-orang suka menyaksikan air pasang di Hay-ling.

Ternyata bentuk mulut muara Ci-tong-kang mirip terompet, pesisir selatan penuh bertumpuk pasir, maka air pasang menyerbu ke sebelah utara, sehingga ke residenan Hay-ling ini yang menjadi sasaran damparan air pasang yang utama.

Karena terdesak oleh bentuk mulut muara Ci-tong kang yang seperti terompet itu sehingga air pasang yang mulai bergelombang itu setiba di daerah Kan-bo (tujuh puluhan li dari Hay-ling), damparan ombak semakin bergolak tinggi karena mengikuti bentuk dari teluk yang semakin menyempit itu, hingga setiba di Hay-ling, karena air pasang itu terbendung oleh bukit-bukit karang yang kokoh tinggi, airnya berpusar ke selatan tapi dipukul gelombang di sebelah belakang lagi, sehingga arus pusaran air semakin dahsyat, saling hantam dan bergelombang semakin keras, sehingga air seperti sengaja diaduk menjadi gelombang pasang yang tidak terbendung lagi.

Tanggul kokoh panjang telah dibangun di selatan kota Hayling menjurus ke arah barat, tujuan pembangunan tanggul ini untuk menahan damparan air pasang.

Setiap tanggal delapan belas, manusia berjubel di atas tanggul yang menyerupai panggung tontonan menyaksikan damparan ombak yang sambung menyambung laksana laksaan tentara sudah berbaris rapi.

Ciok-sing dan In San tidak tahu, dimana tempat pertemuan Tam Pa-kun dengan It-cu-king-thian, namun mereka duga bila pertemuan itu tepat diadakan di Hay-ling pada hari ini, umpama bukan menonton air pasang, paling tidak juga ikut meramaikan suasana.

Karena tak bisa menemukan Tam Pakun, terpaksa Tan dan In ikut berjubel di tengah ribuan manusia yang menonton di atas tanggul.

"Nah, itu sudah datang, sudah datang,"

Orang-orang yang berdiri di deretan paling depan mulai berteriak-teriak sambil tepuk tangan.

Tampak selarik warna putih mulai tampak di permukaan air laut di kejauhan sana, arus gelombang datangnya ternyata laksana ribuan pasukan kuda yang berderap laju bersama, lekas sekali suara gegap gempita dari gelombang ombak besar menerjang batu-batu karang, sementara gelombang yang bergulung-gulung dari belakang saling susul terus mendampar tiba.

Gelombang pasang ini kira-kira berlangsung setengah jam baru mulai mereda, tapi ini baru permulaan dari tontonan yang menakjubkan, gelombang pasang kedua akan segera menyusul tiba pula lebih dahsyat.

Mengikuti arus manusia yang mulai mundur karena takut terbawa arus, ln San berkata kepada Ciok-sing.

"Tan-toako, kukira disini takkan bisa menemukan Tam Tayhiap dan Lui Tayhiap."

"Lalu kemana kita harus mencari mereka?"

Tanya Ciok-sing.

"Entahlah, tapi menurut pendapatku, mereka tidak akan berjubel di tempat banyak orang ini, umpama mereka ingin menyaksikan air pasang juga pasti disuatu tempat yang sepi dan sukar diinjak manusia,"

Demikian ucap In San, tibatiba dia teringat sesuatu, baru saja dia menoleh hendak bicara pula, tiba-tiba Tan Ciok-sing menoleh kesana dengan bersuara heran.

"Ada apa, kau melihat mereka..."

"Lihat kesana, kedua orang itu?"

In San menoleh kearah yang ditunjuk, dilihatnya dua orang meninggalkan tanggul menuju ke timur laut, langkahnya cepat dan tangkas. In San melenggong katanya.

"Bayangan punggung orang di sebelah belakang itu seperti pernah kulihat, kau tahu siapa dia?"

"Lapat-lapat kudengar dia bilang kepada temannya maksudnya tengah hari sudah hampir tiba, dia mendesak temannya supaya tidak terlena karena menonton air pasang disini sehingga melalaikan tugas. O, ya, aku ingat sekarang, dia adalah Thi Khong."

"Thi Khong?"

In San kaget.

"maksudmu Thi Khong dari Tok-liong-pang?"

Seperti diketahui In Hou ayah In San dahulu terjebak di Jitsing-giam di daerah Kwi-lin sehingga luka-lukanya tidak tersembuhkan dan akhirnya meninggal.

Yang melukainya secara langsung memang adalah Le Khong-thian dan Siang Po-san, tapi Le dan Siang bersekongkol dengan seorang lagi, orang ketiga ini adalah Thi Ou Tok-liong-pangcu!

Yaitu kakak tertua dari Thi Khong yang mereka lihat ini.

Setelah Thi Ou mati, adiknya Thi Khong mengambil alih pimpinan sebagai Tok-liong-pangcu.

Dua tahun yang lalu, waktu Tan Ciok-sing dan In San pulang ke kampung halaman bersembahyang di makam In Hou ayah In San, kebetulan kepergok oleh Thi Khong dan Siang Po-san serta orangorangnya.

Thi Khong dan Siang Po-san akhirnya lari dikalahkan oleh gabungan sepasang pedang mereka.

Oleh karena itu meski Thi Khong bukan musuh pembunuh ayah In San, tapi permusuhan mereka dengan manusia yang satu ini boleh dikata cukup mendalam juga.

"Betul, kuingat lagi, bayangan punggung seorang yang lain juga sudah kukenal."

"Apakah Siang Po-san?"

"Bukan. Dari gaya orang itu berlari, aku curiga dia adalah seorang perempuan."

"Perempuan? Dalam Tok-liong-pang atau orang-orang komplotan Thi Khong, agaknya tiada perempuan yang memiliki kepandaian tinggi. Bila dia berada bersama Thi Khong, yakin dia bukan orang baik-baik. Jangan kita abaikan kedua orang ini."

"Baik. Mari kita kuntit mereka. Terpaksa kita kesampingkan dulu mencari Tam Tayhiap dan Lui Tayhiap."

In San berpikir lalu bertanya.

"Mereka lari kearah mana, kau melihat jelas tidak?"

"Agaknya ke timur laut."

"Kebetulan, ingin kuusulkan, kita pergi ke Siau-po-toh saja, coba mencari paman Tam dan paman Lui. Letak Siau-po-toh kebetulan berada, di sebelah timur laut kira-kira lima li jauhnya."

"Hayolah lekas kesana."

Setelah keluar dari desakan orang banyak, segera mereka angkat langkah berlari-lari kencang.

Perhatian orang banyak tertuju ke air pasang, maka tiada yang perhatikan mereka tengah mengembangkan lari cepat.

Mungkin mereka agak terlambat, bayangan kedua orang itu sudah tidak kelihatan, tapi jarak lima li cepat sekali telah mereka capai, kira-kira setengah sulutan dupa, Siang-po-toh sudah kelihatan di kejauhan.

Karena ingin lekas sampai tujuan, dilihatnya sekeliling tiada orang tanpa ragu lagi mereka segera kembangkan Ginkang melambung tinggi ke dinding karang.

Arus gelombang seperti mengamuk di bawah mereka, untung gelombang pasang kedua belum tiba, namun demikian pakaian mereka toh basah kuyup keciprat air, mereka memiliki ilmu tinggi, tanpa takut sedikitpun, mereka terus berlari-lari di atas karang yang licin dan curam itu.

In San berlari sambil berkata.

"Biang keladi pembunuh ayah adalah bangsat she Liong, untuk mereka kita perlu mencari kesempatan untuk menggasaknya. Demikian pula orang-orang lain yang bersangkutan langsung umpamanya Le Khong-thian telah mati di tangan Suhumu Thio Tan-hong Thio Tayhiap, seorang lagi yang tidak ikut turun tangan secara langsung, tapi perancang muslihat yaitu raja golok Ie Cunhong sudah mampus di bawah pedangmu, seorang lagi sebagai pembantu adalah Thi Ou telah dibunuh oleh Lui Tayhiap, kini yang masih ketinggalan hidup hanya ketinggalan Siang Po-san saja. Aku mengharap semoga keparat ini ikut Thi Khong datang juga kemari." --Belum habis In San bicara, tiba-tiba suara "Crang-creng"

Dari petikan senar gitar yang dipetik.

Puncak karang yang runcing seperti berlomba ingin menembus angkasa, deburan ombak sedahsyat itu dengan suaranya yang gemuruh tapi petikan senar gitar tadi masih terdengar jelas di tengah deburan gemuruh ombak yang mengamuk.

Karuan In San kaget, katanya.

"Toako, kau dengar petikan senar gitar itu, mungkin orang yang kita bicarakan betul-betul berada disini?"

"Tidak benar,"

Kata Tan Ciok-sing. In San melongo, tanyanya.

"Maksudmu orang itu bukan Siang Po-san?"

"Ya, Siang Po-san tidak memiliki Lwekang setangguh itu."

In San maklum, Siang Po-san pernah mereka kalahkan di bawah gabungan sepasang pedang peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu, dalam jangka sekian lama ini, yakin Siang Posan tidak mungkin memperoleh kemajuan sepesat itu.

Tapi bila bukan Siang Po-san, lalu siapa?

Mau tidak mau In San bercekat hatinya.

Tengah berpikir sambil berlari, tiba-tiba didengarnya seorang berkata lantang.

"Siang-locianpwe, silakan katakan pertandingan apa kehendakmu,"

Itulah suara It-cu-king-thian Lui Tin-gak. Karuan girang bukan main hati In San, pikirnya.

"Kedudukan Lui Tayhiap di Bulim cukup tinggi, namun dia panggil orang itu Locianpwe, pada hal Siang Po-san palingpaling setingkat dengan dirinya, lalu siapakah orang she Siang ini, mungkinkah..."

Baru saja dia teringat pada orang ini, Tan Ciok-sing juga teringat pada orang yang sama. Katanya "O, kiranya iblis tua itu masih hidup. Adik San, dia adalah..."

"Aku sudah tahu,"

Tukas In San, dia bukan lain adalah cikal bakal Bi-ba-bun, yaitu paman Siang Po-san, namanya Siang Ho-yang."

Siang Ho-yang adalah tokoh seangkatan dengan Thio Tanhong, dia menciptakan permainan senjata gitar yang aneh dan menyendiri dari ilmu silat kebanyakan, dulu pernah juga dia malang melintang dengan kebolehannya itu.

Suatu ketika dikalahkan oleh pedang Thio Tan-hong, sejak itu jejaknya menghilang tak karuan paran.

Setelah Keponakannya Siang Po-san muncul di Kangouw, khalayak ramai baru tahu ilmu permainan senjata gitar besinya ternyata telah diwariskan kepada Siang Po-san, namun kejadian ini sudah dua puluh tahun sejak dia mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan.

Tapi Siang Po-san belum pernah bercerita kepada siapapun, apakah pamannya masih hidup atau sudah mati.

Kaum Bulim sama mengira bahwa Siang Ho-yang telah lama meninggal dunia.

Waktu Tan dan In berdua memandang ke arah datangnya suara, tampak di sebelah kiri atas di tengah-tengah lamping gunung yang curam menjulur keluar sebuah tonggak karang raksasa yang bentuknya mirip panggung, di atas panggung karang itu berdiri empat orang.

Yang berdiri di sebelah timur adalah lt-cu-king-thian Lui Tin-gak dan Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun, yang berdiri di sebelah barat bukan lain adalah Tangbun Cong yang beberapa hari lalu pernah gebrak dengan mereka, seorang lagi kakek berambut uban dengan alis jenggot yang memutih pula.

Kakek tua ini tidak mereka kenal, tapi mereka duga pasti dia ini adalah Siang Ho-yang itu.

Tempat dimana Tan dan In sekarang berada, kebetulan teraling oleh dinding karang, mereka mengintip kesana dari celah batu, dari sini bisa jelas melihat kesana, sebaliknya dari sana tidak bisa melihat kesini.

In San mengerti, katanya.

"Kiranya iblis tua ini yang mengajak Lui Tayhiap bertanding disini, paman Tam Pa-kun mungkin menjadi wasit dan saksi pihak Lui Tayhiap,"

Lalu dia menambahkan.

"bagaimana, apa perlu kita manjat ke atas juga?"

"Sementara tidak usah muncul saja,"

Ujar Tan Ciok-sing.

Maklum menurut aturan Kangouw, bila kedua pihak sudah berjanji akan bertanding menentukan kalah menang bila perlu sampai gugur, itu berarti pertandingan harus dilakukan satu lawan satu, orang luar dilarang ikut campur.

Bila dalam situasi seperti itu Tan dan In mengunjuk diri, meski tiada maksud turut campur, itu sudah termasuk melanggar pantangan.

Maka terdengar kakek alis putih itu berkata kalem.

"Kau serahkan cara pertandingan kepadaku, apa nanti kau tidak menyesal?"

Kuatir Lui Tin-gak segera menjawab secara gegabah, lekas Tam Pa-kun mendahului bicara.

"Lui-heng, lebih baik kau dengar dulu cara pertandingan apa yang dikehendaki Sianglocianpwe, nanti dirundingkan lebih lanjut."

Kakek tua itu seketika menarik muka, katanya kurang senang.

"Aku Siang Ho-yang orang apa, memangnya kau kuatir aku bakal memungut keuntungan dari temanmu?"

Dugaan Tan Ciok-sing tidak meleset, kakek ubanan ini memang bukan lain adalah cikal bakal Thi-bi-ba-bun Siang Hoyang. Lui Tin-gak tertawa gelak, katanya.

"Siang-locianpwe tidak usah marah, hari ini Wanpwe memperoleh kesempatan untuk bertanding, entah rejeki apa yang bakal nomplok padaku, apa kehendak Locianpwe boleh silakan katakan saja, orang she Lui akan mengiringi segala kehendakmu."

Tang-bun Cong tertawa, katanya.

"Ternyata Lui Tayhiap lebih lapang dada dan berjiwa besar, coba pikir Sianglosiansing adalah seorang maha guru silat, seorang cikal bakal, cara pertandingan yang diusulkan pasti cukup adil dan masuk diakal. Kalau Lui Tayhiap mau percaya, kenapa kau berkuatir malah."

Yang berkepentingan sudah setuju, sebagai seorang saksi meski Tam Pa-kun tahu pihak lawan pasti menggunakan muslihat, terpaksa dia bungkam saja.

Siang Ho-yang menoleh ke tengah laut, dilihatnya gelombang samudera yang di belakang mendorong yang di depan terus melandai tiba dengan kecepatan luar biasa, diamdiam dia berpikir.

"Nah tiba saatnya,"

Katanya.

"Lui Tayhiap, hari ini mari kita bertanding secara luar hiasa, belum pernah terjadi pertandingan seperti yang kuusulkan ini selama ratusan tahun, marilah kita bertanding di atas panggung batu ini di tengah damparan gelombang pasang nanti."

Perlu diketahui panggung batu karang yang menjulur ke tengah laut itu dinamakan Hay-sin-tai (panggung malaikat laut), merupakan tempat paling berbahaya untuk menyaksikan air pasang dari dekat.

Gelombang ombak paling besar dan dahsyat di tempat ini, sekali terpeleset dan dibawa arus, maka tamatlah riwayatnya.

Diam-diam In San membatin.

"Bila bertanding menurut kebiasaan, yakin Lui Tayhiap tidak akan terkalahkan. Tapi bertanding di Hay-sin-tay, Lwekang Siang Ho-yang jelas lebih kokoh karena dia berlatih dua puluh tahun lebih lama, maka siapa bakal kalah dan menang sukar diramalkan."

Terdengar Lui Tin-gak sedang berkata.

"Tolong tanya Siang-locianpwe pertandingan luar biasa yang jarang terjadi bagaimana?"

"Tang-bun-heng,"

Kata Siang Ho-yang.

"terangkan tata tertib pertandingan kepada mereka."

Tang-bun Cong segera membuat sebuah garis lintang tepat di tengah panggung karang, katanya.

"Kedua pihak hanya boleh berhantam di bagian luar yang menjorok ke laut, siapa dipukul jatuh atau yang melampaui garis lintang ini, dia dianggap kalah."

"Berhantam saling tutul dan jamah saja, atau berkelahi sampai ada yang mati?"

Tanya Tam Pa-kun. Siang Ho-yang ngakak, katanya.

"Sudah tiga puluh tahun Losiu tidak pernah berkecimpung di Kangouw, kalau bukan untuk menuntut balas sakit hati keponakan, hari ini aku tidak akan berada disini. Jikalau hanya saling tutul dan jamah, buat apa jauh-jauh aku mengajak Lui Tayhiap bertanding di Haysin-tay ini."

Tan Ciok-sing berpikir.

"O, waktu Siang Po-siang kukalahkan bersama adik San di Kwi-lin dahulu ternyata dia tidak segera melarikan diri. Mungkin akhirnya dia kebentur oleh paman Lui, di bawah tangan besinya dia terkalahkan pula sekali pukulan."

Tawar suara Lui Tin-gak, katanya.

"Kalau Siang-locianpwe ingin menjajal kepandaianku terpaksa Wanpwe mengiringi saja kehendakmu."

"Baiklah,"

Seru Tang-bun Cong.

"kalau kedua pihak sudah setuju, maka pertempuran ini bebas berhantam sampai ada yang mati. Pihak mana yang kalah dan sampai mati, teman famili, anak atau muridnya tidak boleh mendendam dan menuntut balas? Biarlah aku menjadi saksi dari pihak Sianglosiansing."--"

Bebas berhantam"

Artinya pihak mana setelah dipukul roboh tidak berkutik meski sudah mengaku kalah, pihak lawan masih punya hak untuk menamatkan jiwanya.

"Bagus, aku saksi dari pihak Lui Tayhiap bolehlah segera dilaksanakan menurut kehendak kalian. Tapi perlu aku tanya satu hal supaya jelas."

"Silakan katakan,"

Kata Tang-bun Cong.

"Bila mereka sama-sama tidak mampu merobohkan lawannya?"

"Lama kelamaan, pasti akan tiba saatnya satu pihak yang mundur keluar garis, itupun sudah termasuk kalah."

"Yang kalah bagaimana?"

Siang Ho-yang tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Selama hidup Lohu hanya pernah kalah sekali, dikalahkan oleh jago pedang nomor satu di dunia ini yaitu Thio Tan-hong. Thio Tan-hong adalah tokoh besar, kekalahanku itupun sudah kuanggap sebagai hal yang memalukan dan penghinaan, sehingga aku menyepi tiga puluh tahun lamanya. Hehe bila Lui Tayhiap mampu mengalahkan aku, sekarang usiaku sudah tujuh puluh tahun, memangnya mukaku setebal itu tetap takut mati? Tidak usah Lui Tayhiap menjatuhkan fonisnya, aku akan terjun sendiri ke Ci-tong-kang."--kata-katanya mengandung sindiran yang cukup pedas.

"meski kau Lui Tin-gak pernah menggetarkan daerah Thian-lam, tapi bila dibanding dengan Thio Tan-hong dulu kau masih belum apa-apa."

Secara langsung menandakan pula bahwa dia amat yakin akan dirinya, dalam pertempuran kali ini dia pasti berada di pihak yang menang. Lui Tin-gak berkata tawar.

"Kukira tidak perlu demikian."

Siang Ho-yang mendengus, wajahnya tampak bersungut gusar, katanya.

"Setelah kau mengalahkan aku boleh kau berbuat sesukamu. Tapi apa yang telah kuucapkan takkan kujilat kembali?"

"Baiklah, biar aku menurut saja apa kehendak Sianglocianpwe, bila aku kalah, segera aku kutungi kedua tanganku, selanjutnya tiada nama Lui Tin-gak dalam percaturan Kangouw. Bila aku beruntung dapat mengalahkan Sianglocianpwe, apa kehendak Locianpwe untuk membereskan diri sendiri, boleh terserah, aku tidak akan memaksa."

"Bagus, ucapan seorang Kuncu laksana kuda lari susah dikejar,"

Ucap Tang-bun Cong.

"setelah kedua pihak sama setuju akan cara itu, maka tidak perlu banyak omong lagi, nah boleh silakan mulai saja."

Siang Ho-yang melangkah masuk ke garis lintang yang dibuat Tang-bun Cong, secara enteng dia memetik senar gitarnya, katanya.

"Silahkan, Lui Tayhiap."

Di kala kedua pihak sudah mulai pasang kuda-kuda siap bertempur, mendadak terdengar Tam Pa-kun membentak.

"Siapa disana?"

Tan Ciok-sing kaget, dia kira jejaknya bersama In San konangan, cuma Tam Pa-kun tidak tahu akan mereka.

Baru saja dia hendak tarik tangan In San diajak melompat keluar, dilihatnya dua orang telah melompat ke atas dari lekuk batu karang sebelah belakang Lui-sin-tay.

Dua orang yang tadi mereka lihat bayangan punggungnya waktu di tanggul panjang meliliti gelombang pasang tadi.

Kini mereka melihat jelas, kedua orang itu satu laki satu perempuan.

yang laki memang Thi Khong, pejabat Pangcu deri Tok-liong-pang sekarang.

Diluar dugaan Tan Ciok-sing, walau tadi dia sudah menduga bayangan punggungnya menyerupai perempuan, tapi tidak pernah dia sangka bahwa perempuan ini adalah pimpinan Bu-san-pang yaitu Bu-sam Niocu.

Tam Pa-kun seketika mengerutkan alis, katanya.

"Tangbun-siansing, menurut tata tertib pertandingan yang sudah kita gariskan tadi, pertandingan ini hanya dilakukan oleh Lui Tayhiap melawan Siang-locianpwe, orang luar dilarang turut campur atau menonton pertempuran ini dari dekat, lalu untuk apa kedatangan kedua orang ini? Siapa yang memberitahu mereka supaya kemari?"

"Betul,"

Ujar Tang-bun Cong.

"tapi kedua orang ini bukan orang luar. Pertama, Thi-pangcu adalah orang utama sebagai penuntut keadilan."

Belum habis Tang-bun Cong bicara, Thi Khong sudah berkaok-kaok.

"Lui Tin-gak, kau membunuh engkohku, sakit hati ini nanti akan kuperhitungkan dengan kau."

Lui Tin-gak lintangkan goloknya katanya menyeringai dingin.

"Bagus sekali. Lalu kau yang maju dulu atau Sianglocianpwe? Atau boleh juga kalian maju bersama?"

"Lui Tin-gak,"

Damprat Siang Ho-yang naik pitam.

"berarti kau memandang rendah diriku. Kau kira aku sudi minta bantuan orang, sontoloyo kau,"

Lalu dia menoleh dan membentak.

"Thi Khong, lekas kau bicarakan supaya jelas, jangan sampai orang salah paham."

Thi Khong mengiakan, katanya.

"Memang aku ingin menuntut balas sakit hati engkohku, yakin hari ini orang she Lui takkan lolos dari hukuman Siang-locianpwe, sakit hati ini jelas aku tidak usah turun tangan sendiri. Kedatanganku ini untuk menyaksikan musuhku terpenggal kepalanya."

"Kalian sudah dengar?"

Teriak Siang Ho-yang.

"aku menuntut balas sakit hati keponakan, dua persoalan yang berlainan dengan persoalan orang lain, aku larang siapapun mencampuri urusanku. Kini aku akan bertanding dengan Lui Tayhiap, dia hanya penonton saja, kalian boleh legakan hati saja."

Dengan goloknya Lui Tin-gak memang pernah membunuh engkoh Thi Khong, sebagai salah seorang yang ikut menuntut pembalasan kepada musuhnya, menurut aturan Kangouw dia diperbolehkan hadir dan menyaksikan pertempuran ini.

Tapi bila mau bertindak tegas sesuai aturan pertandingannya, sebagai saksi Tam Pa-kun masih punya hak untuk mengusir mereka dari arena pertandingan.

Tapi tindakan itu justru memperlihatkan kesempitan jiwa mereka, Lui Tin-gak yang bersangkutan secara langsung tidak menentang, maka Tam Pa-kun menjadi rikuh kalau mengusir Thi Khong dari tempat itu.

Siang Ho-yang berkata lebih lanjut.

"Satu hal mungkin Lui Tayhiap dan Tam Tayhiap belum tahu, ayah Thi Ou dan Thi Khong dahulu adalah saudara angkatku, maka persoalan hari ini aku akan cangking juga sakit hati putra-putra saudara angkatku itu. Keponakanku tak bisa menyaksikan pertempuran disini, biarlah Thi Khong mewakilinya, kan tidak melanggar peraturan Kangouw?"

"Bagus sekali,"

Ujar Lui Tin-gak tenang.

"bila perhitungan dilakukan satu persatu akan makan waktu dan membuang tenaga, kebetulan bila Thi-pangcu ingin menyelesaikan dua persoalan sekaligus, aku tidak menentang."

Thi Khong berdiri ke samping, katanya.

"Orang she Lui, tak usah bermulut besar, bila kau selamat di tangan Sianglocianpwe, belum terlambat aku membuat perhitungan dengan kau. Kuatirnya hari ini kau takkan lolos, hanya dalam mimpi kau bisa melarikan diri."

Tam Pa-kun tiba-tiba menghardik.

"Dan yang seorang lagi?" ? Bu-sam Niocu terkikik tawa, katanya.

"Aku maksudmu? Aku juga sebagai penonton saja."

"Apa sangkut pautmu dengan persoalan ini? Apakah Lui Tayhiap juga membunuh anak familimu?"

Dia tahu Lui Tin-gak tidak pernah kenal Bu-sam Niocu, maka pertanyaannya mengandung olok-olok. Tak nyana Bu-sam Niocu berkata.

"Ya, dia membunuh sanak familiku."

"Bapakmu atau suamimu?"

Jengek Tam Pa-kun.

"Dia termasuk kakakku,"

Ujar Bu-sam Niocu tawar.

"perempuan setelah menikah ikut suami, engkoh suami bukankah termasuk familiku juga?"

Tam Pa-kun melengak, katanya.

"Menurut tahuku, Bu Sanhun tidak punya saudara, dari mana datangnya engkohmu itu?"

"Tam Pa-kun,"

Seru Thi Khong.

"kau hanya tahu satu tidak tahu yang kedua."

"Apanya yang kedua?"

Tam Pa-kun menegas.

"Dia sebetulnya adalah Sumoayku, dahulu lantaran tunduk kepada perintah ibunya dia menikah dengan Bu San-hun, sejak lama pasti aku sudah mengawininya,"

Tam Pa-kun kaget katanya.

"Jadi sekarang dia jadi binimu?"

Thi Khong membusung dada, katanya.

"Sekarang dia sudah jadi isteriku. Siang-locianpwe-lah yang menjadi saksi pernikahan kami, boleh kau percaya kepada beliau."

Siang Ho-yang manggut-manggut membuktikan bahwa perkataannya memang benar. Lalu katanya.

"Sebagai isterinya kalau Thi Khong boleh menonton disini, sepantasnya isterinya juga boleh ikut."

Bahwa Bu-sam Niocu mendadak jadi bini Thi Khong, bukan saja hal ini diluar dugaan Tam Pa-kun.

Tan dan In juga merasa diluar dugaan.

Tanpa merasa Tan Ciok-sing membayangkan cerita Kek Lam-wi yang diketahuinya dari mulut Bu Siu-hoa, bahwa ayah kandung Bu Siu-hoa yaitu Bu San-hun mati secara mendadak dalam sehat walafiat, bukan mustahil kematiannya dulu memang perbuatan ibu tirinya ini yang sekongkol dengan Thi Khong.

Tam Pa-kun sendiri terang merasa curiga juga, tapi dalam keadaan di tempat seperti ini pula, dia tidak ingin urusan berkepanjangan, apa lagi kematian Bu san-hun yang misterius itu tiada sangkut pautnya dengan pihak sendiri.

Lui Tin-gak berkata.

"Jangan hiraukan dia, kalau dia suka menonton, biarkan."

"Nah, kan begitu, waktu sudah berlarut-larut, jangan diulurulur lagi. Lui Tayhiap, boleh kau mulai dulu."

"Mana Cayhe berani kurang ajar, boleh silahkan Locianpwe mulai dulu."

"Baiklah, aku tidak perlu sungkan,"

Kata Siang Ho-yang mengayun gitar dengan jurus Heng-sau-jian-kun.

"Tang"

Gitar besi Siang Ho-yang beradu dengan golok Lui Tin-gak, kembang api berpijar.

Lui Tin-gak berdiri tegak di tempatnya, Siang Ho-yang kelihatan limbung, tapi kalau tidak diperhatikan orang tidak tahu.

Melihat sekali bentrokan ini, legalah hati Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Agaknya Lwekang Lui Tayhiap tidak lebih asor dari bangsat tua itu."

Tam Pa-kun belum tahu kedatangan Tan Ciok-sing berdua, kalau Ciok-sing sudah merasa lega, dia justeru was-was, yang dikuatirkan bukan Lui Tiu-gak bukan tandingan Siang Ho-yang, yang dia kuatirkan adalah situasi tidak menguntungkan pihaknya.

Diam-diam Tam Pa-kun berpikir.

"Lwekang kedua orang ini kira-kira setanding; Lui Toako lebih muda tenaganya kuat dan kekar, tapi permainan senjata Siang Hoyang juga liehay, tapi bila pertempuran berjalan seru dan lama, yakin Lui Toako tidak mudah dirugikan. Kuatirnya bila Thi Khong tidak mematuhi aturan Kangouw, bila mereka membokong aku sukar mencegah."

Maklum, secara diam-diam dia menerawang, dirinya yakin tidak kalah melawan Tang-bun Cong, tapi untuk mengalahkan Tang-bun Cong sedikitnya dia harus melabraknya sampai ratusan jurus, Bu-sam Niocu adalah seorang ahli racun, Thi Khong seorang ahli menggunakan senjata rahasia lagi, di kala dia bersama Lui Tin-gak harus menghadapi lawan-lawan tangguh, bila kedua orang ini membokong, susah mereka menjaganya, cukup satu senjata rahasia beracun mengenai badan, mereka harus kerahkan tenaga untuk mencegah menjalarnya racun dalam tubuh, dalam keadaan demikian, mana mampu dia menghadapi lawan tangguhnya pula?

Di sebelah sana Siang Ho-yang sudah menyerang maju pula, pertempuran sengit berlangsung pula lebih seru, Tam Pa-kun perhatikan pertempuran, maka dia tidak sempat pikirkan urusan lain.

Setelah jajal sejurus, diam-diam Siang Ho-yang berpikir.

"It-cu-king-thian Lui Tin-gak memang tidak bernama kosong. Gelombang pasang kedua akan segera tiba, lebih baik aku menyimpan tenaga, tak usah melawannya secara keras,"

Maka gitarnya sekarang ditarikan dengan kencang dengan senarnya berbunyi crang-creng, senar gitarnya itu mendadak bisa copot dan menyabet ke urat nadi Lui Tin-gak.

Serangan senar gitar yang tidak terduga ini adalah hasil ciptaannya dari perobahan Kim-kiong-cap-pwe-ta, padahal senar gitarnya ini jauh lebih ulet dan punya daya mulur yang keras dibanding senar gendewa, bila urat nadi lawan terbaret luka, ilmu silatnya akan dikorting lima puluh persen.

Lui Tin-gak sudah punya persiapan, namun melihat permainan lawan yang aneh dan liehay ini bercekat juga hatinya.

"Sebagai cikal bakal suatu aliran, memang dia tidak boleh dipandang remeh."-Segera dia membalas dengan serangan golok cepat, menyerang sekaligus membela diri, dia paksa Siang Ho-yang bertempur dari jarak dekat.

"Tang, creng"

Kembali golok dan gitar beradu beberapa kali.

Karena Lui Tin-gak membungkus tubuhnya dengan cahaya golok yang diputarnya sekencang kitiran, maka serangan goloknya kali ini tidak sekuat jurus pertama tadi, begitu senjata kedua pihak beradu, tenaga murni kedua pihak dengan sendirinya terkuras lebih banyak.

Tapi dinilai secara lahirnya, kelihatannya Siang Ho-yang berada di atas angin.

Mendadak terdengar gemuruh gelombang pasang mulai mendampir tiba, waktu Tan Cioksing menoleh ke laut, tampak gelombang ombak satu susun lebih tinggi dari susun yang lain secara berduyun-duyun mengalun datang dengan gemuruh suaranya yang menggetar bumi.

Mau tidak mau Tan Ciok-sing tersirap melihat pemandangan yang dahsyat ini.

Mereka sembunyi di belakang karang, tapi mereka harus berpegang kencang batu karang supaya tidak terseret arus, napas menjadi sesak rasanya.

Dari sini dapatlah dibayangkan, Lui Tin-gak dan Siang Ho-yang yang lagi berhantam di panggung batu karang yang menjorok ke tengah laut betapa hebat tekanan gelombang ombak yang menerjang mereka.

Amukan ombak kali ini memang jauh lebih besar dan dahsyat dari yang pertama, pemandangan jadi kabur, namun mereka tetap mendengar suara senar gitar.

In San mengerutkan alis, katanya di pinggir telinga Tan Ciok-sing.

"Lagu apa yang dia mainkan, kenapa jelek sekali."

Terdengar suara gitar seperti pekik kokok beluk, anjing menggonggong, kera memekik serigala melolong, pokoknya berbagai suara binatang-binatang liar sehingga siapa mendengarnya perasaan menjadi risih, alat musik manapun di dunia ini yakin tiada yang bisa menirukan suara binatangbinatang itu.

Semakin dipetik senar gitar itu mengeluarkan suara yang aneh-aneh, aneka ragam, nadanyapun turun naik berbedabeda, betapapun dahsyat gemuruh ombak, tetap tidak kuasa menekan suara petikan senar gitar itu.

Terpaksa In San mendekap telinga sambil mendongak kesana, kebetulan gelombang mereda, maka dia melihat keadaan di atas panggung, Thi Khong dan Bu-sam Niocu tidak kelihatan, tapi mendekam jauh di bawah karang sana.

Merekapun menekap kuping masing-masing.

Mau tidak mau Tan Ciok-sing berkuatir akan keselamatan Lui Tin-gak, pikirnya.

"Gitar besi Siang Ho-yang ternyata seliehay ini, suara gitarnya ternyata juga dapat melukai lawan. Jarak sejauh ini aku masih tetap tidak kuat menahannya, Lui Tayhiap sedang melabraknya dalam jarak dekat, di bawah tekanan damparan ombak lagi, mana mungkin dia bisa mengkonsentrasikan lahir dan batinnya."

Gelombang pasang kali ini datang lebih dahsyat dan susun bersusun, saat-saat berakhirnya gelombang pasang hampir tiba, namun amukan ombak justru lebih hebat lagi.

Semula pada setiap kesempatan ombak mereda Siang Ho-yang masih bisa memetik senarnya, kini agak lama kemudian baru terdengar senar gitarnya berbunyi.

Namun lega juga hati Tan Ciok-sing berdua melihat Lui Tingak tetap berdiri sekokoh gunung di tempatnya walau tidak jelas bagaimana jalan pertempuran mereka, karena percikan ombak yang mengamuk, namun kelihatannya dia masih kuat bertahan untuk beberapa waktu lamanya.

Tan Ciok-sing tidak pernah lena, pandangannya tetap diarahkan ke Hay-sin-tay meski panggung batu itu seperti sudah ditelan ombak besar, suatu ketika di saat ombak sedikit mereda tampak oleh Tan Ciok-sing golok Lui Tin-gak membacok dan membelah beberapa kali, gerakan goloknya itu seperti sudah amat hapal dan dikenalnya.

Tiba-tiba tergerak pikirannya, akhirnya dia teringat.

"Ha, bukankah ilmu golok itu hasil perobahan dari Bu-bing-kiam-hoat yang diajarkan oleh oleh suhu? Perobahan yang dimainkan Lui Tayhiap barusan sungguh amat menakjubkan."

Mata Ciok-sing memang tajam, serangan yang dilancarkan It-cu-king-thian Lui Tin-gak barusan memang benar adalah hasil cangkokan dari Bu-bing-kiam-hoat ciptaan Thio Tanhong.

Kekalahan Siang Ho-yang di tangan Thio Tan-hong, walau sekarang Lui Tin-gak tidak setaraf Thio Tan-hong dahulu namun melihat lawannya mendadak bisa melancarkan serangan pedang ciptaan Thio Tan-hong dulu, mau tidak mau mencelos juga hati Siang Ho-yang.

Semula waktu mendengar suara ribut dari bunyi berbagai suara binatang oleh petikan senar gitar tadi, perasaan Lui Tingak memang terpengaruh dan hampir saja dia tidak kuat bertahan.

Di saat-saat kritis itulah, mendadak pikiran sehatnya bekerja, tanpa merasa ilmu golok hasil cangkokannya dari ilmu golok ciptaan Thio Tan-hong segera dilancarkan.

Begitu damparan ombak mereda, kontan dia merangsak dengan serangan golok kilat, setiap jurus permainan goloknya menyerang dari posisi, arah dan letak yang tak pernah diduga oleh Siang Ho-yang.

Pertama Siang Ho-yang sudah dibikin jera oleh ilmu pedang Thio Tan-hong, maka permainannya menjadi keripuhan, untuk membendung serangan golok ini dia sudah kelabakan, maka tidak sempat pula dia memetik senar gitarnya.

Diam-diam Lui Tin-gak bersyukur delam hati, pikirnya.

"Bila Tan Ciok-sing tidak mendemonstrasikan seluruh rangkaian Bubing-kiam-hoat di hadapanku dulu, hari ini mungkin aku tidak akan mampu menghadapi iblis ini."

Tapi bahaya masih tetap mengintip, bahaya datang dari damparan ombak yang semakin deras, panggung batu karang itu rasanya mau ditelan bulat-bulat dan diseret ke tengah laut saja.

Dengan kekuatan Lwekang mereka, sedapat mungkin memperkokoh kuda-kuda, sehingga tidak terseret air, namun tak urung mereka tetap tertarik mundur ke belakang.

Beberapa langkah lagi mereka bakal keluar dari garis yang telah ditetapkan.

Siang Ho-yang mundur selangkah lebih banyak, jelas kakinya hampir menginjak garis pemisah itu, kebetulan ombak besar mendampar pula, dengan kertak gigi, tiba-tiba timbul nafsu jahatnya, maka dilancarkannya sejurus serangan yang teramat keji secara licik.

Ternyata perut gitarnya itu kosong, di dalamnya dia simpan beberapa jenis senjata rahasia beracun, bila dia menekan tombol, tiga Toh-kut-ting segera melesat keluar.

Sebetulnya Lui Tin-gak tahu akan serangan keji lawan ini, maka sejak tadi dia sudah waspada dan perhatikan setiap gerak-gerik lawan.

Tapi kali ini Siang Ho-yang menyerang bersama datangnya ombak, sudah tentu sukar dijaga dan diduga.

Suara gemuruh menelan desiran senjata rahasia, tahu-tahu ketiga batang paku telah melesat di depan matanya.

Di saat-saat kritis ini, memperlihatkan betapa liehay ilmu silat Lui Tin-gak, dalam seribu kesibukannya, lekas dia gunakan gerakan keledai malas menggelinding, dia jatuhkan tubuh ke atas karang, golok emas melindungi kepala.

"Tring"

Beruntun tiga kali paku itu masih sempat dia tangkis jatuh.

Agaknya Siang Ho-yang tidak menduga lawannya mampu menangkis senjata rahasianya, namun dia juga sudah mempersiapkan serangan susulan, di kala lawan masih rebah di tanah, kontan dia layangkan kakinya menendang dengan serangan berantai.

Dia pikir umpama tidak berhasil mencopot nyawa Lui Tin-gak, cukup asal mendesaknya keluar garis, berarti dia sudah kalah.

Diluar tahunya perhitungannya meleset, di kala kedua kakinya beterbangan itulah, sebuah ombak besar melanda tiba pula, itulah ombak besar terakhir dari gelombang pasang ini, tapi ombak yang paling keras dan kuat pula.

Siang Ho-yang sedang menendang dengan sepenuh kekuatannya, sudah tentu pertahanan kakinya tidak begitu kuat, kontan dia tersungkur kesana terdorong arus.

Sebat sekali Lui Tin-gak sudah membalik memegang pergelangan tangannya, Siang Ho-yang merontakan kedua tangannya, namun tak kuasa dia melepas pegangan telapak besi Lui Tin-gak, sekalian diapun pegang lengan atas Lui Tingak.

Lwekang kedua orang kira-kira setaraf, cepat sekali setelah saling berkutet dan bergumul akhirnya kedua orang pelan-pelan sama berdiri, kebetulan keduanya tetap berdiri di atas garis.

Kini Siang Ho-yang berhasil meronta lepas dari pegangan lawannya, sambil kerahkan tenaga dia ingin mendorong Lui Tin-gak keluar garis.

"Pyaaaar"

Di tengah gemuruh ombak terdengar gempuran keras seperti guntur menggelegar, empat telapak tangan bertemu, kedua orang lantas lengket berhadapan tidak bergerak lagi.

Kini pertempuran meningkat pada adu Lwekang, yang tenaganya besar dialah yang bakal menang, jelas adu tenaga tidak mungkin menggunakan akal atau memungut keuntungan secara licik.

Namun bahayanya jauh melebihi damparan ombak besar tadi.

Dinilai tenaga dalamnya, kedua lawan ini kira-kira sebanding, cuma Siang Ho-yang kelebihan dua puluh tahun latihan, namun Lui Tin-gak masih muda dan tenaga kuat, seharusnya dia lebih kuat benahan lama dibanding lawannya, tapi pada gebrak terakhir tadi Siang Ho-yang mendapat rugi lebih besar, sehingga keadaan sekarang terbalik, Lui Tin-gak berada di atas angin.

Namun sedikit unggul inipun susah diketahui meski seorang maha guru silat yang liehay sekalipun dalam waktu dekat ini.

Diam-diam Tam Pa-kun berkuatir bagi Lui Tin-gak, demikian pula Tang-bun Cong juga kuatir akan nasib Siang Ho-yang.

Tiba-tiba kedua orang berkata tanpa berjanji.

"Dua harimau bertempur pasti ada satu yang terluka. Kukira pertempuran cukup diakhiri sampai disini saja."

Siang Ho-yang tahu bila adu tenaga dilanjutkan lebih lama, dirinya jelas pasti kalah, tapi dia tidak mungkin pecah perhatian untuk bicara, terpaksa dia mengangguk saja. Maka Tam Pa-kun berkata.

"Siang-losiansing mau berdamai dan anggap seri, Lui-toako, kaupun akhiri saja bagaimana?" -secara tidak langsung dia memberi kisikan kepada temannya, meski Siang Ho-yang dikalahkan, pihak lawan masih ada tiga orang lagi. Tang-bun Cong juga tahu keadaan Siang Ho-yang agak kepepet, maka dia tidak banyak berkomentar lagi. Maka Tam Pa-kun maju menarik Lui Tin-gak sementara Tang-bun Cong menarik Siang Ho-yang. Lui dan Siang samasama mengendorkan tenaganya baru mereka dapat dipisahkan. Padahal Lwekang mereka amat tangguh, namun setelah mengalami pertempuran sengit, napas merekapun tersengal, badan lemas lunglai. Tam Pa-kun berkata.

"Pertempuran diakhiri dengan seri, maka permusuhan ini bolehlah dianggap himpas sampai disini saja."

Hampir saja dirinya kecundang, beruntung nama baik dan pamornya tidak sampai runtuh sudah tentu dia setuju saja tanpa bersuara dia mengangguk.

Tak kira Thi Khong dan Busam Niocu malah tampil ke muka, katanya.

"Permusuhan Siang-locianpwe dengan Lui Tin-gak boleh dianggap himpas, tapi permusuhan kami dengan Lui Tin-gak kan belum diselesaikan."

"Apa?"

Hardik Tam Pa-kun.

"kalian menantang Lui Tayhiap?"

"Betul. Sakit hati engkohku, memangnya tidak boleh kutuntut padanya,"

Seru Thi Khong. Dengan tawa genit Bu-sam Niocu menimbrung.

"Aku tahu tidak setimpal menantang Lui Tayhiap, tapi isteri harus ikut suami, terpaksa aku mengiringi kehendak suami saja."

"Lui Tayhiap baru saja habis bertempur, bila kalian hendak menuntut balas, biar aku wakili dia menyambut tantangan kalian,"

Damprat Tam Pa-kun. Tang-bun Cong tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Tam Tayhiap omonganmu apa tidak salah."

"Kenapa salah? Coba terangkan."

"Thi-pangcu mau membalas sakit hati engkohnya, itu urusan lain. Bila Tam Tayhiap ada minat boleh kau menjadi saksi lagi, tapi bukan tempatnya kau ikut campur urusan orang lain."

"Jadi menurut pendapatmu, mereka menggunakan akal licik ini malah boleh dibenarkan?"

"Berdasar apa kau katakan aku berbuat licik?"

Damprat Thi Khong.

"Bila kalian menuntut balas secara terang-terangan, boleh tentukan waktunya dan tantanglah Lui Tayhiap untuk bertanding lain kesempatan,"

Bu-sam Niocu menimbrung pula.

"Mumpung hari ini ketemu dan ada kesempatan. Kenapa susah-susah cari waktu dan tempat lain segala, biar hari ini juga kami menyelesaikan permusuhan kita."

Tang-bun Cong terbahak-bahak, katanya.

"Menuntut balas memang boleh menggunakan cara apapun, apakah ucapan Tam Tayhiap tadi tidak terlalu mengada-ada? Apalagi sebagai kaum persilatan, mereka adalah Pangcu dari suatu perkumpulan, tapi kedudukan mereka masih terlalu jauh dibanding Lui Tayhiap. Walau barusan Lui Tayhiap habis bertempur, kukira dia sendiri tidak ambil pusing soal tetek bengek ini."

Sudah tentu Lui Tin-gak naik pitam, bentaknya.

"Kawanan tikus juga berani bertingkah, baik, biarkan mereka kemari."

Melihat betapa garang dan angker sikap dan tampang Lui Tin-gak, ciut juga nyali Thi Khong.

Tapi Bu-sam Niocu justru lebih cermat, dari suara Lui Tin-gak dia dapat meraba bahwa tenaga murninya sudah hampir ludes.

Maka dia memberi lirikan mata kepada Thi Khong, katanya.

"Betul, sang waktu tidak boleh dilewatkan begini saja. Lui Tayhiap sendiri sudah menantang, marilah kita maju bersama."

Thi Khong cukup cerdik, dia tahu kemana arah perkataan Bu-sam Niocu, pikirnya.

"Ya, mumpung tenaga Lui Tin-gak belum pulih, lekas turun tangan lebih menguntungkan,"

Segera dia keluarkan senjatanya, bentaknya.

"Orang she Lui, hari ini kalau bukan kau mampus, biar aku yang mati. Kami tidak akan memungut keuntungan, boleh silakan kau mulai dulu."

Pertempuran babak kedua sudah bakal berlangsung pula, mendadak seorang membentak.

"Nanti dulu."

Bentakan ini membuat Thi Khong suami isteri sama tersentak, kontan berobah air muka mereka. Lui Tin-gak justru berseru girang.

"Ciok-sing Hiantit, kau, bagaimana kau bisa datang kemari?"

Tampak Tan Ciok-sing bergandeng tangan dengan In San melompat naik ke panggung karang. Tam Pa-kun berseru memuji.

"Ginkang bagus."

Bertepatan saatnya tiba-tiba Siang Ho-yang menghardik.

"Siapa berani kemari membuat onar."

Gitar diangkat terus terayun ke belakang memapak kedatangan Tan Ciok-sing dan In San.

Bukan Siang Ho-yang tidak tahu siapa Tan Ciok-sing, karena dia dengar Lui Tin-gak memanggil nama Tan Ciok-sing, maka sengaja dia pura-pura sambil menyergap.

Maklum selama dua tahun ini nama besar Tan Ciok-sing sudah cukup terkenal di Kangouw, walau belum pernah melihatnya, pernah dia mendengar dari cerita Thi Khong.

Kini melihat kedatangan mereka begitu cepat dan tangkas selintas pandang lantas dia tahu bahwa kepandaian Thi Khong suami isteri bukan tandingan mereka maka tidak segan-segan dia gunakan sisa tenaganya yang tidak seberapa, mumpung kedua muda-mudi ini belum berdiri tegak lantas menyergapnya.

Jurus ini dinamakan Oh-ka-cap-pwe-bak, serangan tunggal mematikan yang paling sukar dan rumit perobahannya dalam ilmu permainan gitar besinya itu, senar gitar dapat digunakan mengiris urat nadi, sementara badan gitarnya dapat dibuat mengemplang, sementara petikan senarnya menimbulkan suara ribut yang memekak dan mengganggu konsentrasi pikiran lawan, seluruh kekuatan perbawa dari ilmu gitar yang diciptakannya dikembangkan semaksimal mungkin meski hanya dengan landasan sisa tenaga belaka.

Tam Pa-kun memaki.

"Tidak tahu malu,"

Baru saja dia hendak menubruk maju, namun Tang-bun Cong telah menghadang di depannya. Semula Lui Tin-gak juga tersirap, tapi lekas sekali dia sudah berseru dengan tertawa lega.

"Tidak jadi soal."

Tan Ciok-sing dan In San dua tingkat lebih rendah dari Siang Ho-yang, boleh dikata Siang Ho-yang telah boyong segala kemampuannya untuk menyergap mereka, dia kira meski Tan Ciok-sing memiliki Kungfu tinggi, tapi usia masih muda,, betapapun tangguh Lwekangnya juga masih ada batasnya, maka dia yakin serangan liehaynya ini pasti akan membuat Tan dan In bila tidak mampus juga terluka parah.

Tak nyana kesudahannya justru jauh diluar perhitungannya.

Mendadak Tan Ciok-sing memekik panjang, suaranya melengking tinggi memekak telinga.

Di tengah pekik suaranya itu, tampak sinar pedang berkembang.

Bersama In San mereka melancarkan gabungan sepasang pedang, sehingga bayangan tubuh Siang Ho-yang seketika seperti terbungkus didalam libatan cahaya pedang mereka.

Bukan main gembira Lui Tin-gak, pikirnya.

"Gelombang sungai yang di belakang memang mendorong yang di depan, pepatah ini cocok untuk mengibaratkan Kungfu Ciok-sing saat ini,"

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba didengarnya suara ribut tak karuan dari senar gitar, cahaya pedang yang kemilau menyilaukan matapun mendadak kuncup tak berbekas.

Terdengar Tan Ciok-sing berkata lantang.

"Maaf, kami terpaksa merusak alat musik Locianpwe, rasanya jadi tidak enak."

Tampak Siang Ho-yang berdiri menjublek di samping sana seperti patung.

Tangannya masih memeluk gitarnya, tapi senar gitarnya sudah putus seluruhnya.

Demikian pula perut gitarnya sudah bolong.

Karang di sekitar kakinya tercecer puluhan keping besi-besi tak berguna lagi, ada Toh-kut-ting, Thi-lian-cu, Ouvv-tiap-piau, ada pula Bwe-hoa-ciam yang remuk menjadi bubuk oleh gilasan sinar pedang sakti Tan dan In berdua.

Ternyata berbagai senjata rahasia yang puluhan buah jumlahnya itu seluruhnya telah dibabat remuk berkepingkeping oleh sepasang pedang Ciok-sing dan In San.

Perlu diketahui, didalam melancarkan serangan jurus yang hebat tadi Siang Ho-yang masih bermain licik sekaligus menekan tombol sehingga berbagai macam senjata rahasia yang tersimpan di perut gitar melesat keluar seluruhnya Diluar perhitungannya, perbawa gabungan sepasang pedang Tan dan In ternyata amat hebat.

Bukan saja serangan gelap senjata rahasia tidak membawa hasil, gitar besinya yang dipandangnya sebagai mustika itupun telah tertusuk bolong.

Seperti diketahui pedang Tan Ciok-sing adalah Ceng-bing Pokiam, sedang yang digunakan In San adalah Pek-hong Pokiam, sepasang pedang mustika peninggalan Thio Tan-hong suami istri dan diwariskan kepada mereka.

Gitar besi Siang Ho-yang boleh terhitung senjata antik pula, golok atau pedang biasa jangan harap mampu merusaknya tapi sekarang kenyataan telah dirusak oleh sepasang pedang mustika.

Siang -Ho-yang sudah pertaruhkan seluruh kemampuannya, meski dia habis mengalami pertempuran sengit, tenaganya jauh berkurang, tapi hanya segebrak dirinya telah terkalahkan oleh dua muda mudi yang boleh termasuk cucunya, betapa mengenaskan kekalahan ini, bukan saja diluar dugaan orang lain, dia sendiri juga ragu-ragu, menyangka dirinya berada di alam mimpi.

Maka, dia berdiri mematung di samping sana, wajahnya kelihatan hambar, pandangannya kosong.

Tiada yang tahu apa yang sedang dipikir dalam benaknya, tapi dapat diduga betapa rawan perasaan hatinya.

Tam Pa-kun sudah hampir memakinya "Hina"

Serta melihat keadaan orang, kata-kata yang sudah hampir terlontar di ujung lidahnya lekas ditelannya kembali. Setelah mengalahkan Siang Ho-yang, baru Tan Ciok-sing berkata.

"Lui-pepek, pertandingan babak selanjutnya boleh serahkan kepada kami saja, kami berdua melawan mereka berdua, pihak mana tiada yang memungut keuntungan."

Tang-bun Cong coba menempatkan dirinya senarai wasit, katanya.

"Kalian tahu tidak aturan kaum persilatan, Thi Khong suami istri hendak menuntut balas kepada Lui Tin-gak, berdasarkan apa kalian berani menampilkan diri?"

In San tertawa dingin, katanya.

"Kau ini saksi macam apa, memangnya Thi Khong yang boleh menuntut sakit hati kematian engkohnya, aku tak boleh menuntut balas kematian ayahku? Orang-orang yang dulu membunuh ayahku, engkohnya adalah salah satu diantaranya. Belakangan Lui Tayhiap berhasil membunuh engkohnya, bila dia ingin menuntut balas, boleh kau membuat perhitungan kepadaku saja."

"Baik, dan kau?"

Tanya Tang-bun Cong menuding Tan Cioksing. Tam Pa-kun mendahului bicara.

"Ibu nona In pernah berpesan kepadaku, supaya aku jadi comblang menjodohkan putrinya dengan Tan Ciok-sing, mereka adalah calon suami isteri."

Hal ini baru pertama kali ini In San mendengarnya. Tam Pa-kun membeber persoalan pribadinya di muka umum, sudah tentu merah jengah selebar mukanya. Tan Ciok-sing berkata.

"Hubungan soal ini boleh dikesampingkan, dengan Tok-liong-pang akupun punya permusuhan yang mendalam. Kakekku dulu dibokong dan dilukai oleh orang Tok-liong-pang, karena luka-lukanya beliau akhirnya meninggal. Rumah leluhurku juga dibakar habis oleh kawanan Tok-liong-pang, aku tidak tahu siapa yang turun tangan, tapi Thi Khong sekarang adalah pejabat Pangcu Tokliong-pang, maka aku wajib menuntut balas kepadanya."

Kalau tadi Tang-bun Cong berkukuh memperbolehkan Thi Khong suami isteri menuntut balas kepada Lui Tin-gak, maka sekarang tiada alasan dia menentang usaha Tan Ciok-sing berdua menuntut balas kepada Thi Khong suami isteri.

"Baiklah, urusan tidak perlu dibicarakan lagi,"

Ucap Tam Pakun.

"biar aku dan Tang-bun-siansing menjadi saksi. Tangbun-siansing bila kau ingin bertanding dengan aku, boleh dilaksanakan di babak terakhir saja? Atau sekarang juga boleh? Jadi tidak perlu pakai saksi segala."

Situasi berobah seratus delapan puluh derajat, sudah tentu Tang-bun Cong tidak berani mencari perkara, katanya.

"Tam Tayhiap, soalnya perdebatan tadi takkan berakhir begitu saja, maka aku usulkan untuk diselesaikan dengan pertandingan. Sebetulnya tiada hasratku untuk bertanding dengan kau,"

Secara tidak langsung dia mau bilang, bahwa persoalan sudah jelas juntrungannya, maka dia setuju saja bila Thi Khong suami isteri membuat penyelesaian langsung dengan Tan Ciok-sing secara adil.

Sudah tentu tanpa memperoleh dukungan Tang-bun Cong, Thi Khong suami isteri tidak berani melawan Ciok-sing berdua.

Diam-diam Bu-sam Niocu memberi kerlingan mata kepada suaminya, maka mereka berkata bersama.

"Baik, bertanding ya bertanding, memangnya kami takut menghadapi bocah keparat ini."

"Bagus, kalau tidak takut, hayo maju."

Tak nyana di mulut Thi Khong suami isteri masih bersikap garang, tapi perbuatan mereka justru teramat licik dan nakal.

Bu-sam Niocu maju melangkah, mendadak dia menimpukkan senjata rahasia.

Itulah senjata rahasia tunggal perguruannya-?

Tok-bu-kim-cian-liat-yam-tam.

"BUM"

Senjata rahasia meledak di tengah udara, asap tebal seketika bergulung ke empat penjuru, gumpalan api tampak menerjang ke arah Tan dan In berdua.

Di tengah kepulan asap gelap masih menyamber pula bintik-bintik emas yang tak terhitung banyaknya, itulah Bwe-hoa-ciam yang selembut bulu kerbau.

Berbareng Thi Khong juga menimpukkan senjata rahasia beracun perguruannya, Tok-liong-piau.

Habis menimpuk senjata rahasia mereka lantas melompat mundur bersama.

Tok-bu-kim-cian-liat-yam-tam yang ditimpukkan Bu-sam Niocu boleh dikata merupakan senjata rahasia dahsyat yang bisa mengakibatkan kematian yang paling mengerikan, meski sasarannya adalah Tan Ciok-sing, tapi asap beracun mengepul jarum emas juga menyamber kian kemari di tengah kepulan asap tebal lagi, sehingga semua orang yang berdiri di Hay-sintay ini tiada yang tak terkena serangan.

Oleh karena itu, begitu senjata rahasia meledak di tengah udara, semua orang yang berada di atas panggung karangpun serempak turun tangan.

Tam Pa-kun menghardik sekali, beruntun dia memukul tiga kali.

Julukannya Kim-to-thi-ciang, kekuatan pukulan telapak tangannya ternyata hebat luar biasa.

Asap beracun kontan tersapu pergi seperti terserap oleh angin lesus.

Sementara Tan dan In kembali mengembangkan permainan gabungan sepasang pedang dengan jurus Pek-hong-koan-jit.

dua batang pedang bersatu padu sehingga cahayanya menjadi dwi tunggal seperti lembayung.

Jarum berbisa Bu-sam Niocu, Tok-liong-piau Thi Khong hakikatnya tidak mampu mendekati mereka, semua terpukul rontok menjadi berkeping keping.

Tapi setelah asap tebal lenyap terbawa angin laut, bayangan Thi Khong dan Bu-sam Niocu telah lenyap.

Segera Tan Ciok-sing memeriksa keadaan sekitarnya, dilihatnya dua bayangan orang sedang berlari kesana melampaui jalur pemisah dan berada di tepi karang yang menjorok ke tengah laut.

Tan Ciok-sing gusar, dampratnya.

"Melukai orang dengan senjata rahasia keji, memangnya kalian masih bisa lari?"

Baru saja dia hendak ajak In San mengudak kesana, tiba-tiba Thi Khong dan Bu-sam Niocu sudah terjun ke Ci-tong-kang.

Agaknya mereka juga insaf, senjata rahasia berbisa paling hanya merintangi musuh sekejap, Tan Ciok-sing dan lain-lain tidak mungkin bisa kecundang.

Senjata rahasia yang digunakan Bu-sam Niocu hanya untuk melicinkan jalan mundur mereka, di kala asap tebal masih merintangi pandangan mata orang, bersama Thi Khong mereka akan menyingkir leluasa.

Tok-liong-pang adalah kumpulan perampok yang sering beroperasi di lautan, Thi Khong adalah Pangcu, maka kepandaiannya bermain dalam air teramat mahir.

Sementara sejak kecil Bu-sam Niocu dibesarkan di pinggir Tiangkang, di tiga selat yang paling berbahaya sepanjang sungai besar itu maka diapun mahir berenang, kali ini mereka terpaksa terjun ke Ci-tong-kang untuk menyelamatkan diri.

Memang untung bagi mereka karena gelombang pasang saat mana sudah reda, kalau ombak masih mengamuk, betapapun liehay ilmu berenang mereka juga pasti mampus menjadi hidangan ikan.

In San berkata gegetun.

"Menguntungkan mereka saja."

"Ombak masih sebesar ini, belum tentu mereka bisa selamat, biarlah mereka menentukan mati hidupnya sendiri,"

Demikian ujar Tan Ciok-sing. Baru saja dia melangkah hendak menghampiri Lui Tin-gak ajak berbincang-bincang, tiba-tiba didengarnya Lui Tin-gak berteriak kaget.

"Aduh celaka."

Karuan Tan Ciok-sing kaget.

"Apanya celaka?"

Dilihatnya bola mata Lui Tin-gak terbeliak, berdiri mematung seperti orang pikun.

Tan Ciok-sing menoleh kesana menurut arah pandangan Lui Tin-gak, tampak Siang Ho-yang entah sejak kapan secara diam-diam sudah berdiri di pinggir karang sana.

Begitu menoleh kesana kontan Tan Ciok-sing merinding dibuatnya, rona muka Siang Ho-yang tampak amat mengerikan.

Ternyata waktu menghadapi serangan senjata gelap Thi Khong suami isteri, siapapun sibuk pada keselamatan diri sendiri sehingga tiada yang teringat untuk melindungi Siang Ho-yang.

Setelah menghadapi gempuran sepasang pedang Tan Ciok-sing dan In San, hakikatnya Siang Ho-yang sudah tidak mampu lagi menolak atau menangkis serangan senjata rahasia itu.

Apalagi dia tidak mengira bahwa Thi Khong suami isteri bakal menggunakan senjata rahasia keji ini tanpa perdulikan keselamatan orang sendiri.

Usianya sudah selanjut itu, hari ini sudah terjungkel di tangan muda mudi yang pantas menjadi cucunya, jangan kata dia sudah tidak punya tenaga bertahan diri lagi, umpama tenaga masih kuat juga dia tidak akan bisa berkelit lagi.

Bukan saja dia menyedot asap beracun, Thay-yang-hiat, lng-hianghiat dan tepat di tengah alisnya terkena tiga batang Bwe-hoaciam beracun timpukan Bu-sam Niocu, sementara pundaknya terkena Tok-Iiong-piau begitu racun menyentuh darah, kontan tenggorokan tersumbat.

Padahal Lwekangnya sudah ludes, umpama masih tangguh, setelah terkena senjata rahasia beracun di banyak tempat lagi, jelas jiwanya juga susah diselamatkan.

Setelah lenyap rasa kagetnya, lekas Lui Tin-gak memburu maju, teriaknya.

"Siang-locianpwe, jangan kau bergerak, biar kubantu kau mengobati."

Siang Ho-yang tertawa perih, katanya.

"Usiaku sudah setua ini, memangnya harus bertahan hidup tiga puluh tahun pula? Sungguh aku menyesal kenapa aku melanggar sumpahku terhadap Thio Tan-hong dulu, kini aku terkalahkan pula oleh murid Thio Tan-hong, mungkin Thian Yang Maha Kuasa telah menjatuhkan vonisnya kepadaku. Memangnya aku harus ingkar janji?"

Sebelum Lui Tin-gak tiba di depannya, Siang Hoyang sudah menerjunkan dirinya kedalam laut mengikuti jejak Thi Khong suami isteri.

Kalau Thi Khong suami isteri mahir berenang, tidak terluka apa-apa, kemungkinan mereka masih bisa menyelamatkan diri.

Tapi Siang Ho-yang dalam keadaan serba payah, ombak Ci-tong-kang masih sederas itu, jelas jiwanya susah diselamatkan lagi.

Lui Tin-gak menghela napas, katanya.

"Jelek-jelek Siang Ho-yang adalah seorang cikal bakal suatu aliran, siapa nyana nasibnya sejelek ini."

Waktu Thi Khong suami isteri menimpukkan senjata rahasianya, diam-diam Tang-bun Cong sudah yakin bahwa sergapan licik ini takkan membawa hasil maka sebelum asap tebal itu sirna, diapun sudah kabur dari tempat itu.

Lui Tin-gak tertawa, katanya.

"Hari ini dia sebagai saksi, menurut aturan Kangouw, dari pada kita cari perkara dengan dia, biar dia yang cari perkara terhadap kita saja, tapi aku yakin dia tidak seberani itu. Tapi ada satu hal aku belum jelas, perlu aku tanya kepada Tan-hiantit."

"Entah paman ingin tahu soal apa?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Kabarnya kalian akan tinggal di Soh-ciu saja, kenapa mendadak berada disini?"

Tanya Lui Tin-gak. Tan Ciok-sing berkata.

"Ada sebuah kabar gembira perlu kusampaikan kepada paman berdua."

Lekas Tam Pa-kun berkata.

"Apakah kalian sudah memperoleh berita Kek Lam-wi?"

"Bukan hanya beritanya saja,"

Ujar ln San tertawa.

"orangnyapun sudah kami temukan."

Tam Pa-kun kegirangan, tanyanya.

"Bagaimana kalian menemukan dia?"

"Paman Tam, pandanganmu tajam, dugaanmu ternyata benar,"

Ujar I n San?"

"Memang nona Bu itulah yang menolongnya, belakangan secara diam-diam dia membantu kami pula sehingga Kek Lamwi ditemukan,"

Lalu dia bercerita secara ringkas.

"Memang sudah kuduga bahwa nona Bu itu tidak bermaksud jahat kepada Kek Lam-wi, syukur aku tidak salah menilai orang. Sekarang Lam-wi..."

"Waktu kami meninggalkan Soh-ciu, dengan Kiau-thocu dari Kaypang dia sudah berangkat lebih dulu ke Thay-ouw."

Lui Tin-gak memotong.

"Ya. Ong Goan-tin Cong Cecu dari tiga puluh enam markas perairan di Thay-ouw akan merayakan hari ulang tahunnya ke enam puluh, hari ulang tahunnya jatuh pada tanggal dua puluh satu bukan?"

"Betul,"

Ujar Tam Pa-kun.

"aku memang ingin mengajakmu kesana."

"Sebenarnya akupun punya maksud. Cuma sebelum hari ini, aku sendiri tidak tahu apakah aku bakal berumur panjang untuk menikmati arak perjamuan ulang tahunnya itu. Sekarang boleh aku ikut kalian kesana."

Dua hari kemudian, sebuah perahu sedang berlaju di tengah Thay-ouw.

Tiada angin tiada ombak, cuaca cerah, selepas mata memandang permukaan air berpadu dengan langit di kejauhan sana.

Berada di tengah keindahan alam permai bak sebuah lukisan ini, ln San yang berdiri di ujung perahu sampai terpesona.

Timbul gairah mereka bersenandung, In San segera tarik suara, sementara Tan Ciok-sing keluarkan harpanya.

Yang dibawakan adalah puisi ciptaan Thio It-ouw, pujangga dynasti Song yang pernah memperoleh pangkat tinggi dalam kalangan pemerintahan.

Begitu lagu habis dan suara harpa berhenti, mendadak kumandang suara seorang berseru memuji.

"Nyanyian bagus, petikan harpa juga bagus."

Mendengar pujian ini, Tam Pa-kun dan Lui Tin-gak samasama kaget.

Padahal di perairan sekitar perahu mereka tidak kelihatan ada perahu lain.

Selepas mata memandang, kelihatan di kejauhan sana ada setitik bayangan layar berkembang.

Bila orang yang berseru memuji di atas kapal itu, dalam jarak sejauh itu namun suaranya tetap terdengar sejelas tadi, maka betapa tangguh Lwekangnya, dapatlah dibayangkan.

Tan Ciok-sing juga kaget, katanya.

"Agaknya orang itu menggunakan Lwekang tingkat tinggi mengirim suaranya dengan gelombang panjang."

"Betul,"

Ucap Lui Tin-gak menghela napas.

"Di atas langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai lagi. Kata-kata ini memang patut diresapi. Betapa tangguh dan murni Lwekang orang itu, sungguh belum pernah kulihat selama hidup ini. Siapa nyana di tempat ini aku bakal bertemu dengan tokoh seliehay ini. Tam-heng, kau lebih hapal mengenai seluk beluk benggolan Bulim, tahukah kau siapa dia?"

Bahwa It-cu-king-thian Lui Tin-gak yang sudah punya kedudukan setinggi itu di kalangan Bulim, masih berkata demikian, sudah tentu Tan Ciok-sing dan In San sama tersirap.

Maka pandangan mereka tertuju ke arah Tam Pa-kun serta menanti penjelasannya.

Tam Pa-kun-berpikir sebentar, katanya kemudian.

"Thio Tan-hong Thio Tayhiap beruntung aku pernah melihatnya, jikalau Thio Tayhiap belum meninggal pasti aku duga dia adanya. Tapi Thio Tayhiap sudah meninggal empat tahun yang lalu, aku jadi tak habis pikir siapa gerangan yang memiliki Lwekang setangguh itu?"

"Apakah Lwekangnya mampu menandingi maha guru silat seperti Thio Tan-hong Thio Tayhiap?"

Tanya Lui Tin-gak.

"Dibanding Thio Tayhiap jelas belum memadai, tapi di antara Bulim Cianpwe yang kukenal dan masih hidup sekarang, kurasa tiada yang mampu menandingi dia,"

Ucap Tam Pa-kun.

"Tam-heng, pengetahuan dan pengalamanmu luas, coba kau pikir-pikir lebih cermat, umpama kau tidak mengenalnya, mungkin pernah mendengar namanya''"

"Suhu Le Khong-thian yaitu Kiau Pak-bing dulu adalah gembong iblis besar yang sejajar dengan Thio Tayhiap. Konon sejak lama dia sudah mati diluar lautan."

"Benar,"

Timbrung Tan Ciok-sing.

"Le Khong-thian mati di tangan guruku, aku mendengar sendiri dia menantang guruku, katanya mau menuntut balas, ini sudah jelas bahwa kematian Kiau Pak-bing tidak pertu diragukan lagi"

"Kalau tidak bisa mengingatnya, ya sudahlah. Diterawang dari situasi sekarang ini, ada seorang setangguh ini berada di Thay-ouw, hari ini adalah ulang tahun Ong Goan-tin lagi, kedatangannya sudah tentu akan memberi selamat kepadanya. Setiba kita di Tong-ting-ouw barat, pasti akan segera diketahui siapa dia adanya."

Tiba-tiba Tam Pa-kun berkata.

"Sekarang kuingat seseorang."

"Siapa?"

Tanya Lui Tin-gak.

"Tang-hay-liong-ong."

"Siapa itu Tang-hay-liong-ong?"

"Dia, dia adalah..."

Tengah bicara tampak kapal di sebelah belakang itu sudah berlaju kencang mendekati perahu mereka, jaraknya sudah terjangkau oleh pandangan mata.

Kapal itu memang besar sekali, panjangnya ada tiga puluhan tombak, bersusun tiga.

Lebih tepat kalau dinamakan kapal loteng.

Lui Tin-gak berkata.

"Kapal loteng macam ini agaknya jarang berlayar di sungai?"

"Betul,"

Ucap Tam Pa-kun.

"memang kapal loteng yang khusus berlayar di lautan teduh. Nah, kalian melihat bendera di puncak tiang itu tidak?"

Lekas Tan Ciok-sing memandang kesana, tampak sebuah bendera besar sedang melambai-lambai ditiup angin di ketinggian tiangnya.

Di tengah bendera bergambar seekor naga hitam yang membuka mulut lebar dan pentang cakarnya.

Naga merupakan lambang kebesaran seorang raja, kapal ini ternyata berani menggunakan naga sebagai lambang benderanya, tak usah ditanya siapa pemiliknya, yang terang keberaniannya cukup mengejutkan.

Tam Pa-kun menghela napas, katanya.

"Dugaanku ternyata tidak meleset, memang Tang-hay-liong-ong adanya."

Kapal loteng itu melebarkan layarnya sehingga berlaju pesat ditiup angin buritan, lekas sekali kapal besar itu sudah jauh semakin mengecil dan lenyap dari pandangan mata.

Diperhitungkan dari perjalanan air, kini kapal besar itu tentu sudah berlabuh di kaki Tong-thing-san, penumpang kapal kemungkinan juga sudah sama mendarat.

"Kapal itu berlabuh di Tong-thing-san barat, naga-naganya mereka memang hendak memberi selamat ulang tahun kepada Ong-goan-tin. Tam-heng, orang macam apa sebenarnya Tang-hay-liong-ong ini? Tadi belum sempat kau jelaskan."

"Dia orang baik atau orang jahat?"

In San mendesak juga tidak sabaran.

"Aku juga tidak tahu apakah dia orang baik atau orang jahat. Malah siapa she dan namanya akupun tidak tahu."

"Aku hanya tahu dia adalah pentolan kawanan perampok yang mengganas di lautan timur, membunuh orang merampok barang adalah kerja rutin mereka, tanpa pandang bulu lagi. Karena dia mengerek bendera naga sebagai pelambang, maka orang banyak sama menjulukinya Tang-hay-liong-ong. Konon ilmu silatnya teramat tangguh, namun jarang berkecimpung di Kangouw, di lautan orang pun tiada yang pernah melihat tampangnya. Oleh karena itu kaum persilatan di Tionggoan hanya beberapa orang saja tahu akan dirinya."

Lui Tin-gak mengerutkan kening, katanya..

"Orang seperti itu, walau Ong Goan-tin mempunyai kedudukan tinggi dan disegani orang, mungkin masih tidak dipandang sebelah mata olehnya, lalu apa sebabnya hari ini dia sudi datang memberi selamat kepada Ong Goan-tin, urusan rasanya agak ganjil? Tam-heng, tahukah kau apakah dia teman baik Ong Goan-tin."

"Pernah kudengar Ong Goan-tin membicarakan tentang dia, tapi Ong Goan-tin sendiri juga bilang, dia belum pernah melihat Tang-hay-liong-ong, apa lagi hubungan intim segala jelas tidak mungkin. Sudahlah tidak perlu menduga-duga, setiba di Tong-thing-san, kitapun akan tahu sendiri."

Perahu kecil mereka jelas kalah cepat dibanding kapal loteng tadi, namun lajunya juga tidak lambat.

Kira-kira setengah jam setelah mereka kehilangan bayangan kapal loteng di depan sana merekapun telah tiba di Tong-thing-san.

Berempat mereka segera mendarat.

Tong-thing-san memang tidak setinggi dan sebesar Ngogak yang terkenal itu, tapi mempunyai bentuk dan wajah yang tersendiri pula.

Sejak dari pinggir danau mereka terus memanjat gunung, pemandangan permai sepanjang jalan sawah ladang bertangga telah menghijau, pohon-pohon buah nan rimbun serta beraneka ragam jenis bunga yang indah dan semerbak Tam Pa-kun memberitahu orang banyak.

"Ong Goan-tin memang pemimpin serba bisa, pandai perang juga mahir bercocok tanam rangsum keperluan pasukan airnya diperoleh dari hasil perkebunan dan sawah ladang dan subur di samping juga perikanan yang tidak kunjung habis dikeduk setiap hari di danau. Kecuali harta tidak halal dari pembesar dorna, pedagang biasa yang sering mondar-mandir mencari nafkah secara semestinya mereka lindungi."

Tan Ciok-sing berpikir.

"Ong Goan-tin memang pemimpin sejati, tak heran Kim-to Cecu menaruh penghargaan dan perhatian khusus kepadanya."

Setiba mereka di iamping gunung, dua Thaubak telah turun menyambut mereka. Mereka kenal Tam Pa-kun, begitu melihat kedatangannya mereka berjingkrak girang serta berseru.

"Tam Tayhiap, syukurlah kau telah datang, kami kuatir hari ini kau belum akan datang."

"Ada urusan apa?"

Tanya Tam Pa-kun. Seorang Thaubak menjawab.

"Barusan kedatangan seorang tamu luar biasa."

"Aku sudah tahu. Tang-hay-liong-ong bukan?"

Ucap Tam Pa-kun.

"Betul, Tang-hay-liong-ong membawa banyak orang, biasanya dia tidak pernah berhubungan dengan kami."

"Kau kira kedatangan mereka tidak bermaksud baik?"

"Kecuali rombongan Tang-hay-liong-ong, masih ada juga orang-orang lain yang punya hubungan biasa dan masingmasing tidak pernah kontak kerja, ada pula orang-orang dari golongan hitam. Dan orang-orang ini agaknya kenal baik dengan Tang-hay-liong-ong, begitu ketemu lantas bicara dan kelakar seperti di rumah sendiri. Aku jadi curiga bukan mustahil kedatangan mereka memang ada maksud-maksud jahat,"

Demikian tutur Thaubak itu.

"Baiklah, mari kita jalan lebih cepat, untuk menemui Cecu kalian, tidak usah kalian menunjukkan jalan,"

Ucap Tam Pakun.

Berempat mengembangkan Ginkang menuju ke markas pusat Ong Goan-tin yang terletak di Biau-biau-hong di puncak utama Tong-thing-san.

Ong Goan-tin menyambut para tamunya di Kik-gi-ting, dimana para tamu memberi selamat ulang tahun kepadanya.

Begitu mereka memasuki pintu markas, Thaubak yang menyambut kedatangan mereka kelihatan rona mukanya agak ganjil seperti tertekan perasaannya.

Begitu tiba di Kik-gi-ting, lantas terdengar suara ribut-ribut didalam, suaranya seperti laksaan nyamuk berpadu menjadi suara guntur layaknya, terlalu banyak orang bicara, saling debat dan cerca sehingga keadaan menjadi kacau dan susah dibedakan persoalan apa yang tengah diributkan.

Tam Pa-kun tidak tanya lagi kepada petugas penyambut tamu, langsung dia masuk ke Kik-gi-ting.

Tepat dia tiba di ambang pintu, didengarnya Ong Goan-tin sedang berteriak keras.

"Usiaku sudah tua, mulai hari ini aku akan mencuci tangan di baskom emas. Cong Cecu di kawasan Thay-ouw ini aku tidak berani menjabatnya lagi, apalagi Bu-lim-beng-cu dari wilayah Kanglam segala? Terus terang tidak pernah timbul angan-anganku ke arah itu."

Disusul seorang berkata.

"Apakah betul kita memerlukan seorang Bu-lim-beng-cu, pendapat masih simpang siur. Ong Cecu, apakah perkataanmu ini tidak terlalu pagi diucapkan?"

Seorang lagi berteriak lebih keras.

"Ong Cecu, semangatmu umpama naga dan kuda, enam puluh tahun mumpung masih jaya-jayanya, kenapa kau main cuci tangan di baskom emas segala?"

Seorang lagi berseru.

"Urusan besar harus segera dibicarakan dan diputuskan, umpama Ong Cecu ingin mencuci tangan di baskom emas juga bukan sekarang saatnya."

Mendengar ribut-ribut ini diam-diam Tam Pa-kun merasa kesal, pikirnya.

"Entah kenapa timbul akal pemilihan Bu-limbeng-cu segala? Mungkin hasutan anasir-anasir pihak Tanghay-liong-ong, tujuan yang utama adalah supaya Tang-hayliong-ong berhasil menguasai seluruh Kangouw? Urusan besar harus segera dibereskan, urusan besar apakah itu? Ada satu hal yang mengherankan adalah, biasanya Ong Goan-tin berjiwa patriot, gagah berani pantang mundur, baru belasan hari aku berpisah dengan dia, selama ini belum pernah dia mengutarakan maksudnya hendak mengundurkan diri segala? Kenapa sekarang bilang mau mencuci tangan di baskom emas, kedengarannya urusan teramat mendesak sikapnya pesimis dan putus asa."

Maka terdengar suara ribut-ribut pula.

"Bila Ong Cecu ingin dipensiun, kita juga tidak usah memaksanya."--"Untuk membereskan urusan luar biasa, harus dipimpin seorang yang luar biasa pula. Agaknya tugas ini teramat berat, Ong Cecu tidak mau memikulnya, marilah kita pilih seorang lain yang mampu memikul tugas berat dan bertanggung jawab dalam segala persoalan?"--"Omong kosong, Thay-ouw kita selama ini hidup berdikari, selamu puluhan tahun tentram, hidup sejahtera dan sentosa, buat apa memilih Bu-lim-beng-cu segala? Yang kita dukung dan junjung hanyalah Ong Cong Cecu saja." --"Persoalan jangan bilang demikian, sekarang kita mulai memperoleh tekanan oleh pihak penguasa, tiba saatnya kita bersatu padu, kalau dipimpin seorang Bu-lim-beng-cu, apa salahnya."

Pembicara terdiri dari dua pihak yang bertentangan, banyak suara lebih mendukung diadakannya pemilihan Bu-lim-bengcu, tidak sedikit pula yang berpendapat tidak usah memaksa Ong Goan-tin untuk memikul tugas berat ini.

Celakanya pembicara tidak sedikit dari para Cecu yang termasuk diantara tiga puluh enam Cecu dari Thay-ouw sendiri.

Pada saat itulah Tam Pa-kun berempat sudah melangkah masuk ke Kik-gi-tiang, orang didalam sudah ada yang melihat kedatangan mereka.

Tidak sedikit hadirin yang kenal Tam Pakun, maka banyak di antaranya berteriak.

"Hadirin supaya tidak ribut, Tam Tayhiap sudah datang,"

Disusul seorang berteriak juga.

"Nah itu dia It-cu-king-thian Lui Tin-gak Tayhiap yang menggetarkan Thian-lam juga datang."

Tan Ciok-sing dan In San berjalan di belakang kedua orang ini, namun hadirin jarang yang memperhatikan mereka. Girang Ong Goan-tin seperti kejatuhan rejeki nomplok, katanya.

"Lui Tayhiap, sungguh tidak nyana akan kehadiranmu disini, maaf aku terlambat menyambut. Tamtoako, kenapa tidak kau memberi kabar lebih dulu?"

Tam Pa-kun berkata.

"Beberapa hari yang lalu baru aku tahu Lui-toako berada di Kanglam. Sengaja aku pergi ke Hayling menyambutnya kemari."

Lui Tin-gak berkata.

"Sengaja aku hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepada Ong-cecu. Ong Cong-cecu tidak usah sungkan."

Setelah basa-basi ala kadarnya, Ong Goan-tin berkata.

"Hari ini kedatangan Tang-hay-liong-ong, disusul kehadiran Itcu-king-thian pula, sungguh orang she Ong hari ini betul-betul amat bahagia dan bangga. Mari, mari aku perkenalkan kalian berdua."

Seorang laki-laki yang duduk berhadapan dengan Ong Goan-tin berperawakan tinggi tujuh kaki berjambang lebat, usianya sekitar lima puluh, sorot matanya berkilat walau pandangannya tidak tertuju ke arah Lui dan Tam yang baru datang, sikapnya kelihatan angkuh.

Diam-diam ln San berbisik di pinggir telinga Tan Ciok-sing.

"Tentu orang itulah Tang-hay-liong-ong, jumawa benar, melihat tampangnya aku jadi sebal dibuatnya."

Sorot mata laki-laki berjambang itu tiba-tiba beralih ke arah Tan Ciok-sing berdua, entah karena dia mendengar suara bisikan ln San.

Diam-diam Tin Ciok-sing menggenggam telapak tangan In San, maksudnya supaya dia tidak sembarang omong.

Lekas mereka mundur ke gerombolan orang banyak.

Tatkala itu suara keributan itu tanpa merasa menjadi terhenti karena kedatangan Tam dan Lui dua tokoh kenamaan yang disegani, perhatian hadirin ditujukan ke arah Tang-hayliong-ong yang bakal diperkenalkan dengan dua pendekar besar yang telah menggetar Bulim.

Terdengar Ong Goan-tin mulai memperkenalkan.

"Inilah Tang-hay-liong Sugong-thocu yang kenamaan di lautan,"

Sesuai dugaan In San, laki-laki jambang bauk ini memang adalah Tang-hay-liong-ong.

"Inilah It-cu-king-thian Lui Tin-gak Lui Tayhiap yang menggetarkan Thian-lam."

Habis diperkenalkan tampak Tang-hay-liong-ong sedikit menggerakkan tubuhnya, katanya tawar.

"Cayhe Sugong Go, sudah lama kudengar nama besar Lui Tayhiap."

Banyak hadirin tidak tahu siapa nama asli Tang-hay-liongong, baru sekarang mereka tahu namanya adalah Sugong Go. Di mulut Sugong Go berkata "mengaguminya"

Tapi badannya hanya sedikit bergerak ke depan belaka, sikap jumawanya ternyata terlalu ditonjolkan, seolah-olah dia tidak pandang sebelah mata kepada It-cu-king-thian Lui Tin-gak.

Banyak hadirin merasa penasaran dan keki, namun Lui Tingak bersikap wajar dan tenang, sesuai kebiasaan kaum persilatan dia merangkap kedua tangan sambil menjura, suaranyapun tawar.

"Maaf bila orang she Lui tinggal di daerah belukar di selatan, baru hari ini aku tahu akan kebesaran nama Tang-hay-liong-ong, mohon dimaafkan,"

Kata-katanya cukup pedas, agaknya dia sengaja hendak menjatuhkan sikap jumawa Tang-hay-liong-ong, namun lekas sekali dia sudah tertawa lebar, dengan tertawa tergelak-gelak dia berkata.

"Sugong Go tinggal di lautan, sejak lama hidup di pengasingan, tidah pernah berhubungan dengan orang gagah di Tionggoan, mungkin aku berlaku kurang hormat, harap Lui Tayhiap suka maafkan,"

Sembari tertawa dia membungkuk membalas hormat.

Serangkum tenaga dahsyat laksana damparan amukan ombak tiba-tiba melanda tanpa bersuara.

Lui Tin-gak seperti diterjang kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan, dadanya terasa sesak.

Bagi tokoh silat yang memiliki Kungfu tinggi, bila mendadak menghadapi bokongan, secara reflek akan timbul reaksinya mempertahankan diri.

Lui Tin-gak tidak banyak pikir, lekas dia menjura pula membalas hormat orang.

Dua jalur pukulan Bik-khong-ciang saling tumbuk di tengah udara "Pyaaar"

Seperti balon pecah, tanpa kuasa ternyata Lui Tin-gak tergentak mundur selangkah.

Maklum Tang-hay-liong-ong menyerang lebih dulu, Lui tingak tidak menduga dan menangkis secara tergesa-gesa, logis kalau dia sedikit kecundang, walau mundur selangkah, dia masih belum terhitung kalah.

Cuma kedua pihak saling jajal kepandaian meminjam saling hormat dengan merangkap kedua tangan, Lui Tin-gak tahu bahwa lawan mengambil keuntungan, namun tak mungkin dia membalas secara membabi buta di hadapan sekian banyak orang, secara lahirnya, karena dia mundur selangkah, bagaimana juga dia tetap kalah.

Tang-hay-liong-ong terbahak-bahak serunya.

"Lui Tayhiap, jangan terlalu hormat,"

Habis bicara dia langsung duduk pula dengan merenggang kedua kaki tanpa hiraukan orang.

"Inilah Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun Tam Tayhiap,"

Ong Goantin memperkenalkan Tam Pa-kun. Tam Pa-kun maju selangkah, katanya sambil ulur tangan.

"Sudah lama aku mendengar kebesaran Tang-hay-liong-ong, beruntung hari ini dapat berkenalan."

Sudah menjadi kebiasaan kaum persilatan untuk saling menghormat pada setiap pertemuan, kecuali saling menjura, mereka saling berjabatan tangan.

Karena Lui Tin-gak menderita rugi dalam adu Bik-khong-ciang, maka Tam Pa-kun sengaja ajak orang berjabatan tangan.

Jelas maksudnya hendak bantu melampiaskan penasaran Lui Tin-gak.

Suasana menjadi hening, seluruh hadirin tumplek perhatiannya, banyak yang membatin.

"Tam Tayhiap berjuluk Kim-to-thi-ciang, ilmu pukulan telapak tangannya tentu amat liehay. Kemungkinan kali ini Tang-hay-liong-ong akan dirugikan."

Tak nyana begitu telapak tangan kedua orang saling jabat, mau tidak mau Tam Pa-kun amat kaget dibuatnya.

Terasa oleh Tam Pa-kun telapak tangan lawan ternyata lemas dan empuk seperti kapas, tiada suatu tempat yang mampu untuk dirinya mengerahkan tenaga meremasnya.

Tapi Tam Pa-kun menambah tenaga remasannya, namun sikap lawan tetap wajar dan biasa.

Lekas sekali Tam Pa-kun sudah kerahkan Lwekangnya sampai puncak kematangannya.

Julukannya Kimfo-thi-ciang, biasanya cukup dia mengerahkan setengah tenaganya, batu pilarpun akan pecah berhamburan, namun sekarang dia sudah kerahkan seluruh kekuatannya, tapi lawan tetap adem ayem tidak kurang suatu apapun.

Kekuatan telapak tangannya terus dilontarkan namun seperti batu kecemplung laut, lenyap tidak ada bekasnya, Tam Pa-kun yang pengalaman menghadapi musuh mau tidak mau mencelos hatinya.

"Orang bilang Kungfu Tang-hay-liong-ong susah diukur, ternyata memang tidak bernama kosong,"

Sebagai seorang ahli silat, dia maklum bila saat ini dia lepas tangan, tenaga dalam Tang-hay-liong-ong akan balik menyerang dirinya, terpaksa dia kertak gigi terus menyalurkan kekuatannya.

Rona muka Tang-hay-liong-ong hakikatnya tidak pernah berubah, namun bila hadirin mau memperhatikan orang akan melihat jidatnya mulai berkeringat.

Tapi sikap Tam Pa-kun memang kelihatan jauh lebih tegang.

Ong Goan-tin kuatir bila dua harimau bertarung salah satu pasti terluka, baru saja dia hendak ajak Lui Tin-gak maju bersana memisah, tiba-tiba didengarnya Tang-hay-liong-ong bergelak tertawa, katanya.

"Tam Tayhiap bergelar Kim-to-thiciang, memang tidak bernama kosong, kagum, sungguh kagum,"

Di tengah gelak tawanya dia lepas pegangannya langsung duduk kembali di tempatnya.

Setelah kedua orang sama melangkah berpindah tempat, maka tampak dimana tadi Tam Pa-kun berdiri, lantainya dekuk berbentuk telapak kakinya.

Sedang lantai dimana Tang-hay-liong-ong berdiri tetap utuh tidak kurang suatu apa.

Tam Pa-kun meninggalkan bekas telapak kakinya di batu hijau yang keras, betapa hebat Kungfunya dapatlah dibayangkan.

Tapi dalam pandangan para ahli, bahwa Tanghay-liong-ong tidak meninggalkan bekas apapun setelah mengadu kekuatan sedahsyat itu, ilmunya jelas lebih mengejutkan lagi.

Orang-orang pihak Ong Goan-tin mau tidak mau sama kaget.

"Tak nyana kekuatan telapak tangan Kim-tothi-ciang ternyata tetap dikalahkan pula oleh Tang-hay-liongong."

Perlu diketahui pukulan telapak tangan yang diyakinkan Tam Pa-kun adalah ilmu Gwakeh, sebaliknya Tang-hay-liong ong meyakinkan pukulan yang dilandasi tenaga Lwekeh.

Bila Lwekang dan Gwakang sama diyakinkan sampai taraf yang paling top sebetulnya sukar dibanding mana lebih unggul.

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 9

Baca Juga: Perguruan Sejati 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger