Pendekar Pemetik Harpa 13

Eps 13 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

Cuma dipandang lahirnya, bila Lwekang diyakinkan sampai puncaknya, orang lain akan sukar mengukur tinggi rendah ilmunya.

Lain lagi yang meyakinkan Gwakang, selintas pandang orang akan dapat mengukur taraf kepandaiannya.

Umpamanya Tam Pa-kun, setelah dia kerahkan seluruh kekuatannya, tak heran bila dia meninggalkan bekas tapak kakinya.

Dua jagoan kosen yang paling diandalkan sama-sama dirugikan setelah bertanding dengan Tang-hay-liong-ong.

Hadirin sama pucat dan saling pandang dengan perasaan tidak karuan.

Setelah batuk sekali Ong Goan-tin berkata.

"Nah, kalian sudah sama-sama kenal, silakan duduk, kita bicarakan persoalan semula."

Tak nyana begitu Lui dan Tam mengambil tempat duduknya, Tang-hay-liong-ong malah berdiri. Katanya.

"Masih ada dua pendekar muda, Ong Cecu, kenapa tidak kau perkenalkan mereka kepadaku."

Perhatian hadirin tadi ditujukan kepada Tam dan Lui berdua, sehingga Tan Ciok-sing dan in San yang mengintil di belakang mereka tidak diperhatikan, sampaipun Ong Goan-tin juga mengira kedua muda-mudi ini hanyalah angkatan muda yang mana saja dan datang mumpung ada kesempatan bersama Tam dan Lui berdua.

Apakah mereka kenal baik dengan kedua pendekar besar ini, Ong Goan-tin juga tidak tahu.

Oleh karena itu umpama benar mereka adalah tunas harapan, didalam pertemuan besar seperti ini, belum setimpal untuk diperhatikan oleh Ong Goan-tin, apa lagi diperkenalkan kepada para tamu.

Tam Pa-kun segera berseru.

"Tan-heng, In-hiantit, mari kemari."

Di sebelah sana Tan Ciok-sing berkata.

"Aku inikan pupuk bawang mana berani..."

Belum habis dia bicara, In San sudah tertawa ringan, selanya.

"Walau kita ini anak muda kaum keroco, tapi mumpung ada kesempatan sebaik ini, apa salahnya kita berkenalan dengan Tang-hay-liong-ong?"

Terpaksa Tan Cioksing yang diseret melangkah maju. Baru saja mereka keluar dari gerombolan orang banyak Tang-hay-liong-ong segera menyongsong maju, dengan tertawa dia berkata kepada Tan Ciok-sing.

"Tan-heng, aku belum tahu siapa kau, tapi kau adalah orang yang paling kukagumi di antara hadirin ini."

Terhadap dua pendekar besar yang kenamaan Tang-hayliong-ong bersikap jumawa dan tidak memandang sebelah mata, siapapun tiada yang menyangka terhadap seorang pemuda ternyata dia bersikap hormat dan sopan malah, karuan hadirin melongo dan saling pandang.

Tan Ciok-sing sendiri juga tertegun, katanya.

"Sugongthocu berkelakar saja, Wanpwe mana berani menerima penghargaan ini."

Tang-hay-liong-ong tertawa, katanya.

"Selama hidupku aku tidak sembarang memuji apalagi menghargai orang lain, bagaimana Kungfumu, tinggi atau rendah aku tidak tahu. Tapi aku tahu sedikitnya kau memiliki semacam kepandaian, tiada orang dalam jagat ini yang bisa menandingi kepandaianmu itu."

Mendengar pujian Tang-hay-liong-ong, baru hadirin percaya dan sikap serta pandangannya terhadap Tan Ciok-sing berobah 180 derajat, semua pasang kuping mendengarkan dengan seksama.

"Di atas danau tadi, aku menikmati petikan harpamu yang memukau, aku yakin dalam jagat ini tiada orang yang mampu menandingi petikan Tan-heng tadi. Entah pernah apa kau dengan Khim-sian Tan Khim-ang yang pernah menggemparkan dunia pada tiga puluh tahun yang lampau?"

"Beliau adalah kakekku,"

Sahut Tan Ciok-sing. Mendengar jawaban ini, tidak sedikit hadirin yang sudah menduga akan asal-usul Tan Cioksing. Tang-hay-liong-ong tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Tak heranlah. Hehe, bicara soal Kungfu semua yang hadir hari ini termasuk diriku, mungkin tidak ada yang berani diagulkan nomor satu di dunia ini? Ilmu macam apapun bila nomor satu di dunia ini pasti kukagumi. Yakin Tan-heng percaya bahwa aku bicara setulus hatiku?"

"Terima kasih akan pujian Thocu, sesungguhnya tak berani Wanpwe menerima pujian setinggi ini."

"Kenapa sungkan?"

Ujar Tang-hay-liong-ong tertawa.

"hayolah kemari, kita bicara disana,"

Sembari bicara dia menarik tangan Tan Ciok-sing.

Barusan hadirin mendapat sajian yang menegangkan dalam pertandingan adu tenaga dalam antara Tang-hay-liong-ong melawan Lui Tin-gak lalu Tam Pa-kun, Lui Tin-gak kecundang, Tam Pa-kun juga dirugikan.

Kini melihat dia menarik tangan Tan Ciok-sing, hadirin sama kaget.

Tan Ciok-sing juga kuatir lawan menggunakan cara serupa, maka dia sudah siaga.

Diam-diam dia kerahkan ajaran Lwekang karya Thio Tanhong, serangkum tenaga seperti ada tapi tiada, seperti kosong tapi juga tidak berisi dikerahkan ke telapak tangannya.

Tang-hay-liong-ong memang gembong iblis besar dari kalangan sesat, namun dia punya watak menyendiri suka menjalin hubungan baik dan senang membimbing tunas-tunas muda yang berbakat.

Semula dia tidak ingin menjajal ilmu silat Tan Ciok-sing, tapi sebagai maha guru silat tiba-tiba dirasakannya Lwekang Tan Ciok-sing ternyata aneh bin ajaib, terasa bahwa Ciok-sing bersikap hati-hati dan waspada kuatir dirinya membokongnya, tapi tenaga dalamnya seperti ada tapi tiada, ingin melawan tapi juga menyambut.

Padahal pengalamannya cukup luas, tapi dia sukar meraba Lwekang aliran mana yang diyakinkan Tan Ciok-sing, Karena timbul rasa ingin tahunya, tanpa sadar Tang-hay-liong-ong ingin mencoba Lwekang Ciok-sing.

Bahwa Tan Ciok-sing tidak kerahkan Lwekangnya menyerang, maka dia mendahului kerahkan tenaga dalamnya memancing.

Situasi justru terbalik dari pada waktu dia melawan Tam Pa-kun tadi, kini dia berada di pihak yang menyerang seperti Tam Pa-kun menyerang dirinya tadi.

Perlahan-lahan, Tang-hay-liong-ong menambah tenaganya, tetap dia tidak berhasil menjajaki taraf kepandaiannya, setelah dia kerahkan tujuh puluh persen tenaganya baru terasa sedikit perlawanan tenaga Tan Ciok-sing.

Terasa olehnya meski tenaga perlawanan Tan Ciok-sing ini tidak sekokoh dan sekuat tenaganya, namun mutunya jelas seperti lebih unggul dari ilmu yang dipelajarinya.

Apalagi sejauh ini dia belum berhasil meraba asal-usul ilmu Tan Ciok-sing, entah dari golongan atau aliran mana.

Tang-hay-liong-ong tidak ingin melukai Tan Cioksing, tapi dia juga tidak mau kalah, setelah lenyap rasa kagetnya, dia berpikir.

"Asal-usul pemuda ini pasti luar biasa, sepantasnya aku harus tahu diri,"

Maka segera dia melepas tangan Tan Ciok-sing, lalu bergelak tawa pula. Serunya.

"Gelombang sungai memang saling dorong mendorong patah tumbuh hilang berganti. Pepatah itu memang tidak keliru. Sungguh tidak kira Tan-heng mahir memetik harpa juga pandai bermain silat, Kungfumu juga bukan kepalang hebatnya."

Mendengar pujian ini, mereka yang tidak tahu asal-usul Tan Ciok-sing sama kaget dan heran, yang tahu siapa sebenarnya Tan Ciok-sing juga amat kagum dan terharu pula.

Di tengah tepuk tangan hadirin, diam-diam Tan Ciok-sing mencucurkan keringat dingin, hatinya mengucap "syukur".

Ternyata waktu Tang-hay-liong-ong kerahkan tenaganya pada taraf tujuh puluh persen Tan Ciok-sing sudah gunakan seluruh kekuatannya.

Bila percobaan itu dilanjutkan lebih lama sedikit, jelas Tan Ciok-sing tidak tahan dan bakal mengalami luka-luka yang parah.

Tam Pa-kun lantas berdiri, di hadapan hadirin dia memperkenalkan.

"Tan Ciok-sing Lote ini adalah murid penutup dari Thio Tan-hong Thio Tayhiap."

Ong Goan-tin tersentak kaget, serunya.

"Jadi kau inilah Tan-siauhiap yang pernah menggetarkan istana raja beberapa bulan yang lalu?"

"Betul,"

Ucap Tam Pa-kun.

"Nona In bernama tunggal San, dia..."

Ong Goan-tin tertawa tergelak-gelak, tukasnya.

"Tak usah kau perkenalkan lagi aku sudah tahu. Nona In adalah cucu tunggal In-conggoan In Jong, putri kesayangan In Tayhiap In Hou, betul tidak? Gabungan sepasang pedang Tan-siauhiap dan In-lihiap sudah terkenal di jagat ini."

In San menjura hormat, katanya.

"Sugong-thocu, paman Tam adalah sahabat baik ayahku, memandang muka ayahku, paman Tam dan Ong Cecu memuji belaka, mana berani aku menerimanya. Untuk itu semoga kau tidak menjajal Kungfuku juga."

Dengan laku sopan lekas Tang-hay-liong-ong membalas hormat, katanya.

"Ayahmu dulu adalah orang yang kupuja, sayang tiada kesempatan bertemu. Dari keturunan keluarga besar, bagaimana kepandaian Lihiap, tidak usah dijajal juga sudah cukup kukagumi."

Sejak Thio Tan-hong mengasingkan diri ke Ciok-lim, In Hou adalah pendekar besar yang paling tenar di kalangan Kangouw.

Walau beliau sudah meningal beberapa tahun lalu, kaum persilatan masih menaruh hormat kepadanya.

Seperti apa yang dikatakan Tang-hay-liong-ong, tanpa dia mendemontrasikan ilmu silatnya, hadirin sudah bersikap lain terhadapnya Tiba-tiba seseorang batuk-batuk ringan sambil berdiri, katanya.

"Para tamu sudah hadir lengkap, nah tiba saatnya kita membicarakan persoalan utama tadi."

Usia orang ini kira-kira empat .

puluhan, mengenakan topi persegi, memelihara tiga jenggot kambing, berpakaian seperti sastrawan.

Tapi sepasang matanya besar kecil siapa melihat tampangnya akan merasa sebal.

Tam Pa-kun kenal siapa orang ini, dalam hati dia berpikir.

"Tiada angin orang ini suka menimbulkan gelombang, dia ditampilkan untuk bicara di pihak Tang-hay-liong-ong, pasti mengandung maksud yang tidak baik."

Orang ini she rangkap Cim ih bernama tunggal Thong.

Selama hidup tidak punya tempat tinggal tetap, hidupnya terlunta-lunta dan melanglang buana, hubungannya teramat luas, entah golongan hitam atau aliran putih, kaum lurus atau gerombolan sesat, asal dia seorang Bulim yang kenamaan, dia suka menjilat dan bermuka-muka.

Pandai omong bersilat lidah, juga mengadu biru senang memfitnah lagi.

Tapi lantaran hubungannya luas, pengetahuanpun mendalam, apa saja dapat dikerjakan, maka tidak sedikit yang mau berhubungan dengan dia.

Setelah dia membuka kata, melihat Ong Goan-tin tidak menunjukkan sikap tertentu, segera dia lanjutkan perkataannya.

"Lui Tayhiap, Tam Tayhiap, mungkin kalian belum tahu urusan apa yang hendak dirundingkan bukan?"

"Tahu sedikit, ingin aku mendengar penjelasan,"

Kata Tam Pa-kun. Cun-ih Thong berkata.

"Baiklah akan kuulang dari permulaan, bagaimana?"

Matanya yang besar kecil mengerling ke arah Ong Goan-tin. Ong Goan-tin berkata tawar.

"Cun-ih-heng, bermulut tajam dan pandai bersilat lidah, boleh kau saja yang menjelaskan."

Cun-ih Tong menelan ludah lalu batuk-batuk menarik suara, katanya.

"Persoalan yang dibicarakan hari ini bakal mendatangkan keuntungan besar bagi kaum persilatan di Kanglam ini. Pertama Tang-hay-liong-ong ada maksud mengikat ikrar bersama Ong Goan-tin Loenghiong Cong-cecu dari tiga puluh enam markas perairan di Thay-ouw melawan tindakan sewenang wenang dari penguasa, sejauh melangkah diharapkan pula sambutan baik seluruh warga persilatan di Kanglam ini untuk mendukung perserikatan ini."

"Nanti dulu,"

Seru Tam Pa-kun.

"Kau bilang Sugong-thocu akan berdampingan dengan Ong-cecu melawan tindakan sewenang-wenang, entah tindakan sewenang-wenang apa?"

"Memangnya perlu dijelaskan lagi?"

Ujar Cun-ih Thong.

"sudah tentu melawan tindakan sewenang-wenang pasukan negeri yang memeras rakyat jelata. Aku tahu pihak kerajaan telah mengirim armadanya ke Thay-ouw, dalam waktu dekat pasti akan melancarkan serangan besar-besaran. Demikian pula Tang-hay-liong-ong memperoleh tekanan pula di lautan teduh, di samping harus hatt-hati menghadapi sergapan kaum cebol (bangsa Jepang), susah untuk bercokol di lautan timur sana. Mengingat kepentingan bersama, menurut hematku, apa salahnya kalau dua kekuatan digabung menjadi satu, lalu pusatkan seluruh perhatian dan kekuatan untuk melawan pasukan negeri, yakin akan membawa manfaat besar bagi kedua pihak..."

Belum habis Cun-ih Thong mengoceh mendadak seseorang berseru lantang.

"Han-cecu dari Cau-ouw tiba"

Ong Goan-tin kenal baik orang yang datang terlambat ini, yaitu orang kedua dari Cau-ouw-siang-kiat Han King-hong, tampak wajahnya berlepotan darah, pakaiannya compangcamping, matanya mendelik gusar melangkah masuk setengah berlari.

Sudah tentu Ong Goan-tin kaget, teriaknya.

"Han-lote, kenapa kau?"

Han King-hong berkata.

"Dua kapal kita bentrok dengan armada kerajaan, Engkohku dan para saudara sama luka-luka dan mati, Engkohku tertawan, hanya aku seorang beruntung meloloskan diri, syukur masih sempat menghaturkan selamat ulang tahun kepadamu."

Han King-kang engkoh Han King-hong memiliki Kungfu yang tinggi, sifatnya terbuka, gagah perkasa dan terbuka tangan, supel lagi, namanya hanya di bawah Ong Goan-tin di antara semua Pang dan Hwe atau markas perairan dibilangan Thay-ouw ini, mendengar dia ditawan pasukan kerajaan, hadirin menjadi ribut dan marah.

Berlinang air mata Ong Goan-cin, katanya.

"Gara-gara ulang tahunku sehingga banyak kawan gugur di medan laga, apakah aku tidak malu menerima ucapan selamat kalian? Biarlah perjamuan ulang tahun ini dibatalkan saja."

"Ong-cecu, jangan kau bilang demikian,"

Seru Han Kinghong lantang.

"Pepatah bilang adalah logis seorang panglima gugur di medan laga. Orang-orang yang punya kerja seperti kita, siapa tidak siap menerima akibat apapun yang paling buruk. Umpama kami tidak datang memberi selamat ulang tahunmu, pasukan kerajaan memang bermaksud menindas kami. Sekarang yang terpenting kita harus segera bersiap, cara bagaimana untuk menghadapi serbuan pasukan kerajaan. Kecuali itu, apa pula yang harus disesalkan. Ong-cecu, tidak usah kau menyalahkan pihak sendiri. Hari ini adalah hari ulang tahunmu, kita harus tetap merayakan secara meriah. Besok juga kita gempur pasukan kerajaan."

"Bagus,"

Seru Cun-ih Thong sambil angkat jempolnya tinggi-tinggi.

"beralasan sekali apa yang diucapkan Han-cecu, sekarang sudah terbukti bagaimana tindakan pasukan kerajaan terhadap kita"' Mungkinkah kita tidak bersaiu padu? Han-cecu kau tidak pci'lu sedih, Tang-hay-liong-ong sudah punya rencana yang sempurna untuk menuntut balas sakit hatimu yakin engkohmu juga pasti dapat dibebaskan."

Han King-hong terkejut, katanya.

"O, jadi tuan inilah Tanghay-liong-ong Sugong-thocu? Selamat bertemu, selamat bertemu. Entah rencana apa?"

Mulutnya bicara hormat, namun kelihatan sikapnya hambar. Seolah-olah mimpi juga dia tidak duga bahwa Tang-hay-liong-ong muncul disini, maka dia tidak begitu percaya.

"Sugong-thocu,"

Ujar Cun-ih Thong.

"soal rencana itu, lebih baik kau sendiri yang menjelaskan,"

Sikapnya tampak dibuatbuat.

"Baiklah,"

Ujar Tang-hay-liong-ong berdiri.

"pepatah bilang, tentara datang kita lawan, air bah melanda kita bendung. Pasukan kerajaan, berani menindas kita, memangnya kita tidak berani balas menggempurnya?"

"Maksud Sugong-thocu, kita akan melawan secara terbuka?"

Tanya Han King-hong.

"Betul. Sekarang adalah saat yang paling baik. Mumpung Ong-locecu mengadakan perjamuan ulang tahun ini, orangorang gagah dari seluruh pelosok hadir disini, bila kita bisa berikrar minum darah sebagai janji setia dan perserikatan, bersatu padu melawan kekerasan, jangan kata armada kerajaan, meski seluruh pasukan negeri dikerahkan juga kita mampu menandinginya. Bukan mustahil kita masih bisa melakukan kerja besar demi kepentingan kita bersama."

"Entah kerja besar apa yang bakal direncanakan Sugongthocu?"

Tanya Tam Pa-kun.

"tentunya rencana sudah kau rangkai dengan baik, coba terangkan di hadapan umum?"

"Memang akan kurundingkan hal ini di hadapan hadirin,"

Ujar Tang-hay-liong-ong.

"bila hadirin mau sumpah setia minum darah, sekalian kita akan bekerja tidak tanggungtanggung, umpama seluruh orang-orang gagah yang hadir setuju, sebelumnya kita harus memilih seorang Bu-lim-bengcu untuk mengepalai gerakan kita"

"Soal besar dan luas sangkut pautnya, maaf bila aku tidak bisa segera memberi jawaban,"

Kata Ong Goan-tin.

"Waktu amat mendesak,"

Cun-ih Thong mengoceh pula.

"harap Ong-locecu bisa mengambil posisi dan lekas memberi putusan."

Ong Goan-tin berkata.

"Usiaku genap enam puluh, usia tua tenaga kurang, untuk memiknl tugas berat, mungkin aku tidak becus lagi."

"Ong-locecu, kau terlalu rendah hati. Orang kuno pada usia tujuh puluh masih giat dalam kepemimpinan, Ong Cecu baru enam puluh? Untuk cuci tangan menggantung golok segala, bukankah terlalu pagi?"

"Ah, mana berani aku dibanding orang-orang kuno,"

Tukas Ong Goan-tin kurang senang.

"Jangan sungkan Ong Cecu,"

Ucap Cun-ih Thong.

"tapi, bila Ong Cecu tidak mau mencalonkan diri, apa salahnya kita mencalonkan orang lain sebagai Bu-lim-beng-cu,"

Habis bicara pandangannya ditujukan kearah Tang-hay-liong-ong.

"Nanti dulu,"

Kembali Tam Pa-kun tampil bicara.

"Tam Tayhiap ada usul apa?"

Tanya Cun-ih Thong.

"Pemilihan Bu-lim-beng-cu ditunda saja. Coba tanyakan dulu kepada hadirin, apakah mereka setuju memberontak. Sugong-thocu, rencanamu itu lebih tepat bila kukatakan sebagai pemberontak kepada kerajaan yang berkuasa. Betul tidak?"

Tang-hay-liong-ong terkial-kial, katanya.

"Betul memangnya kami perompak, memangnya perompak takut memberontak?"

Cun-ih Thong segera menimpali.

"Betul, tujuh delapan puluh persen yang hadir disini semua adalah kaum begal yang mendirikan pangkalan, peduli apa sebab kalian bergerak dalam bidang ini, pendek kata siapapun harus mengaku sebagai kaum perampok. Sugong-thocu memang pandai bicara. Kalau perampok takut memberontak, bukankah menggelikan malah? Tapi Tam Tayhiap, kau jelas bukan perampok, bila kau menjaga gengsi dan demi mempertahankan martabat, tidak sudi bergabung dalam perserikatan kita, boleh terserah apa kehendakmu."

Maklum calon Bu-lim-beng-cu yang bisa sejajar menandangi Tang-hay-liong-ong yang hadir sekarang hanya beberapa orang saja, Tam Pa-kun adalah salah satu di antaranya.

Tujuan perkataan Cun-ih Thong justru untuk melicinkan jalan Tang-hay-liong-ong, dengan menyerang Tam Pa-kun, sehingga membuatnya marah dan ada alasan untuk menyingkirkan dia dari sini.

"Cun-ih Siansing,"

Jengek Tam Pa-kun.

"terlampau jauh kau mengoceh. Urusan besar yang sekarang dibicarakan adalah apakah pantas kita memberontak, apa tujuannya dan bagaimana gerakannya. Soal kehadiranku disini, kemana aku berkiblat, kukira tidak penting dan tidak perlu hadirin membicarakannya."

Cun-ih Thong tidak berani membantah dengan Tam Pakun, dengan sikap munafik segera dia berkata menyeringai.

"Baiklah Mari kita dengarkan pendapat Tam Tayhiap yang berharga,"

Sehabis berkata dia maju kesana duduk di samping Tang-hay-liong ong Lantang suara Tam Pa-kun.

"Rampok pun punya haluan dan tujuan, seperti Ong Cecu umpamanya, dia tidak pernah mengambil harta yang tidak halal, malah melindungi rakyat, jauh lebih baik dan sempurna dari pada pihak kerajaan membina rakyatnya. Sepak terjangnya berbeda dengan kawanan rampok umumnya. Hadirin tidak sedikit yang mendirikan pangkalan mengangkat diri sebagai kepala rampok, aku yakin kebanyakan kalian pun termasuk golongan perampok seperti Ong Cecu. Demikian pula Kim-to Cecu yang mendirikan pangkalannya diluar perbatasan. Meski dia melawan pasukan negeri, tapi berapa kali dia menggagalkan pasukan bangsa asing menyerbu ke negeri kita, sehingga kerajaan yang berkuasa sekarang tetap kokoh berdiri, gerakan mereka hanya boleh dinamakan laskar gerilya, jadi bukan kawanan rampok lagi, betul tidak?"

"Betul,"

Hadirin banyak yang sepaham.

"rampok harus punya tujuan dan haluan, tepat sekali."

Tam Pa-kun meneruskan pidatonya.

"Memberontak pun ada beberapa macam, dengan kekuatan senjata merebut pasaran dagang, menjatuhkan raja membebaskan rakyat dari tekanan pajak. Karena dipaksa keadaan sehingga angkat senjata demi menunaikan darma baktinya kepada Thian yang berkuasa. Mendirikan pangkalan angkat diri sendiri sebagai raja. Memperebutkan tanah perdikan, ingin merebut tahta kerajaan, jadi ada empat macam pemberontakan. Sugongthocu tolong tanya termasuk macam mana yang kau rencanakan?"

Tang-hay-liong-ong mendengus jumawa, katanya.

"Orang kuno bilang, menjadi raja harus giliran, besok tiba giliranku. Kerajaan lalim pemerintahan rapuh, seluruh rakyat wajib menentangnya, siapapun boleh saja menjadi raja, kenapa tidak boleh?"

"Bagus,"

Sorak Cun-ih Thong.

"omongan Sugong-thocu memang betul, bukan orang she Cu saja yang ditakdirkan untuk jadi raja seterusnya. Bukankah Bing-thay-co Cu Goanciang dahulu juga memberontak baru dia angkat diri menjadi raja?"

Lui Tin-gak tidak punya hubungan luas dengan kaum persilatan di Kanglam, sejak tadi sungkan dia buka suara, tapi sekarang tidak tahan lagi, pelan-pelan dia berdiri dan berkata.

"Tapi Cu Goan-ciang memberontak terhadap kaum penjajah serta merebut kembali tanah air kita sendiri."

Cun-in Thong mengelus jenggot kambingnya sambil mengerling ejek, katanya.

"Tapi raja Bing dynasti yang sekarang bukan lagi Cu Goan-ciang, Cu Goan-ciang berjasa besar, memangnya anak cucu Cu Goan-ciang juga harus menjadi raja seterusnya?"

Lui Tin-gak tahu ambisi Tang-hay-liong-ong teramat besar, lapat-lapat terasa olehnya, antara Tang-hay-liong-ong dengan Cun-ih Thong sudah ada kata sepakat didalam permainan kotor, dengan main silat lidahnya yang manis, untuk menghasut hadirin memberontak, yakin di belakang semua ini pasti ada suatu rencana jahat yang keji.

Tapi dia seorang lugu, tidak pandai bicara, sesaat dia jadi kelakep oleh debat Cun-ih Thong, sesaat dia jadi mati kutu dan susah membantah perkataan Cun-ih Thong.

Maka hadirin mulai ribut pula, satu sama lain saling debat dan memberi usul.

Seorang dengan muka berlepotan darah dan keringat berteriak.

"Pasukan negeri sudah menekan kita sampai menemui jalan buntu, sanak famili kita ditawan, dijadikan sandera, dibunuh lagi, sabar, sampai kapan kita harus bersabar dan terima nasib sejelek ini, tapi kalian masih juga berunding soal memberontak dengan aneka ragamnya? Aku ini orang kasar, tidak tahu aturan, aku hanya tahu angkat senjata dan menuntut balas bagi kematian Toh Toako dari Tiau-ma-kian kita. Siapapun yang sudi memimpin, bila disuruh kami menyerbu ke kota raja, meski tubuhnya tercacah hancurpun aku akan berjuang di paling depan,"

Pembicara ini adalah seorang Cecu dari Tiau-ma-kian bernama Hou Pong, Toa Cecu atau saudara tuanya bernama Toh Bo kemarin tertawan oleh pasukan negeri di perairan Thay-ouw.

Kontan Cun-ih Thong acungkan jempol, serunya.

"Betul, itulah seorang gagah perkasa."

"Ong Cecu,"

Kata Tang-hay-liong-ong.

"Toh Bo adalah tamu undanganmu, sekarang Hou-hcng menuntut pembalasan sakit hati Toh-toako, sepantasnya kau angkat bicara demi kepentingan orang banyak?"

Ong Goan-tin tampak amat sedih, katanya.

"Membalas dendam aku tidak akan menentang, tapi..."

"Tapi apa?"

Desak Cun-ih Thong.

"Aku tidak akan menentang siapapun menuntut balas, tapi cara bagaimana akan menuntut balas, kurasa harus dirundingkan bersama."

Tang-hay-liong-ong memicing mata dengan lirikan tajam.

"Cekak aos saja, kau setuju tidak memberontak?"

Ong Goan-tin sudah merasa kurang benar akan perdebatan ini.

namun dia sendiri masih belum jelas tentang duduk persoalannya, pada hal Tang-hay-liong-ong dan Cun-ih Thong yang jelas sekongkol ini justru memojokkan dirinya, terpaksa akhirnya dia menghela napas, katanya.

"Aku sih terserah kepada keputusan umum, bila hadirin banyak yang setuju aku sih tidak banyak komentar."

Menuding Han King-hong, Cun-ih Thong berkata.

"Bagus, lalu kau? Coba katakan, bagaimana baiknya?"

Engkoh Han King-hong menjadi tawanan pasukan negeri, Cun-ih Thong kira dia akan setuju secara spontan. Tapi Han King-hong justru kebingungan, sesaat baru dia buka suara.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tunduk atas kepemimpinan Ong Cecu saja,"

Maksudnya diapun terserah kepada keputusan umum. Salah satu dari tiga puluh enam Cecu di Thay-ouw Ha Itseng berkata.

"Walau kita ini tidak pingin jadi raja, tapi bila kita mau bergabung menjadi satu, biar pihak kerajaan tahu bahwa kita tidak boleh dipandang remeh. Marilah kita contoh perjuangan Kim-to Cecu, dia berkuasa di daerah utara Ong Cecu kenapa kau tidak berkuasa di selatan?"

Ong Goan-tin tertawa pahit, katanya.

"Aku mana berani dibanding Kim-to Cecu?"

Ha It-seng berkata.

"Kalau dia bisa kenapa kita tidak? Maka menurut pendapatku, apa salahnya diantara kita ada seorang Bu-lim-beng-cu,"

Sengaja dia menggunakan "kita"

Jelas maksudnya bukan melulu orang-orang pihak Ong-cecu saja, secara tidak langsung dia mau bilang bila Tang-hay-liong-ong mau menjadi Bu-lim-beng-cu, diapun tidak menentang.

Hadirin ribut lagi, disana sini menggerombol kasak kusuk dan bisik-bisik, suasana menjadi kacau.

Mendadak Tan Cioksing berdiri, katanya lantang.

"Hadirin diharap tenang sejenak, aku ingin bicara,"

Dia bicara sambil mengerahkan Lwekang ajaran Thio Tan-hong, suaranya tidak keras namun suara keributan dalam pendopo itu kelelap oleh kata-katanya, suaranya seperti gembreng ditabuh, yang berkepandaian rendah merasa pendengarannya pekak.

Kaget juga hadirin akan pameran tenaga dalam yang hebat ini, suara ribut seketika sirap.

Hanya Cun-ih Tong saja yang terkecuali.

Dia pikir hendak turun tangan lebih dulu maka segera merebut bicara.

"Belum lama ini Tan-siauhiap pernah membuat geger kota raja bersama orang-orang gagah, bersama nona In masuk ke istana terlarang menemui raja lagi, perbuatannya itu sudah layak diangggap memberontak, tentunya kau setuju akan rencana pemberontakan Sugongthocu betul tidak?"

Agaknya sengaja dia mengumpak Tan Ciok-sing supaya dia rikuh dan tidak membantah serta menentang rencana mereka. Tak nyana Tan Ciok-sing tidak mempan diagulkan, apalagi dihasut, katanya tawar.

"Aku belum bicara dari mana kau tahu bahwa aku setuju memberontak?"

Untung Cun-ih Thong tebal kulit mukanya, meski meringis malu seperti kera makan sambal tapi dia masih berani menebalkan muka membantah.

"Aku pengagum Tan-siauhiap yang sudah membuat lembaran sejarah keperwiraan, maka ingin aku mengikuti nadamu didalam perjuangan yang sama. Kalau Tan-siauhiap anggap aku cerewet, baiklah, silakan Tansiauhiap angkat bicara saja."

Melirikpun Tan Ciok-sing tidak sudi, katanya kalem.

"Tidak benar, suaraku tidak senada dengan ocehanmu. Pendek kata, aku tidak setuju dengan pemberontakan yang kalian rencanakan."

Sudah tentu Tang-hay-liong-ong dan Cun-ih Thong merasa kecewa akan pernyataan ini, tapi mereka sih tidak merasa diluar dugaan.

Adalah orang-orang Ong Goan-tin malah merasa bingung dan tidak habis mengerti.

Tan Ciok-sing berkata lebih lanjut.

"Selama puluhan tahun, Kim-to Cecu bercokol diluar perbatasan, entah berapa kali dia bekerja demi keselamatan negara memukul mundur serbuan kaum penjajah, ini suatu kenyataan yang tidak boleh dipungkiri oleh siapapun. Hadirin berusia lebih tua dari aku, apa yang kalian tahu tentu juga lebih banyak dai i pengalaman dan pengetahuanku yang masih cetek ini."

"Memang berapa kali diapun pernah menggempur pasukan negeri, tapi mereka terpaksa membela diri karena terdesak oleh keadaan, hal ini tidak boleh disejajarkan dengan perlawanannya terhadap serbuan bangsa Watsu."

"Kalian bilang mau meneladan perbuatan Kim-to Cecu, maka yang harus kalian teladan adalah semboyan perjuangannya "Demi nusa dan bangsa, sebagai kaum pendekar wajib kita memiliki jiwa ksatria."

Ha It-seng tampak agak malu, namun dia masih berusaha mendebat.

"Tan-siauhiap, teorimu memang betul. Tapi Watsu kan tidak memukul kita di Kanglam ini, mana bisa kita melawan Watsu disini? Saat ini pasukan negeri yang menekan dan menindas kami, kenapa tidak kami pukul dulu pasukan negeri."

"Betul,"

Teriak Hou Pong.

"menurut pandapatku, Watsu patut dilawan, tapi raja lalim itupun harus dijatuhkan."

Tan Ciok-sing bertanya.

"Dua tinju memukul sekaligus lebih kuat atau pukulan satu tinju lebih kuat."

"Sudah tentu pukulan dua tinju sekaligus lebih kuat,"

Sahut Hou Pong.

"Tapi bila satu tinju sekaligus harus menghadapi dua musuh lalu bagaimana?"

"Tan-siauhiap, memangnya kau kira aku ini anak kecil? Siapapun tahu, kalau berkelahi dengan cara demikian, dia pasti kalah total."

"Maka itu. Kalau Hou Cecu maklum akan hal ini, seharusnya kaupun mengerti kenapa kami tidak menyerukan kalian untuk menjatuhkan raja lalim sekarang ini."

"Setiap urusan ada perbedaan, yang penting dan yang perlu ditunda, kini pihak Watsu sedang kerahkan pasukan besarnya, mereka sudah siap menyerbu ke negara kita, maka kita perlu siap-siap melawan serbuan mereka. Bila kita bisa merangkul pihak kerajaan berjuang bersama membendung serbuan dari luar, itulah cara yang paling baik, betul tidak?"

Ternyata Hou Pong masih belum kapok, bantahnya.

"Tapi pasukan negeri menindas kita, memangnya kita berpeluk tangan membiarkan mereka bertingkah?"

"Sudah tentu harus dihadapi. Tapi yang terpenting sekarang harus bersatu padu melawan penjajah. Persoalan kalian itu masih bisa dibereskan secara damai melalui cara tersendiri. Asal kita angkat senjata bersama, seluruh kekuatan laskar rakyat mampu membendung serbuan musuh dan menjadikan tonggak negara, yakin pasukan negeri tidak akan berani meremehkan kekuatan kita."

Reda juga emosi Hou Pong, katanya.

"Tapi masih ada satu hal aku tidak mengerti, tolong Tan-siauhiap memberi petunjuk."

"Mana berani aku memberi petunjuk dengan bekal pengetahuanku yang cetek ini. Untunglah aku sendiri pernah memperoleh petunjuk langsung dari utusan Kim-to Cecu, persoalan apa yang Hou-heng belum jelas, coba katakan, mungkin persoalanmu itu sudah pernah dipikirkan oleh Kim-to Cecu, boleh nanti umumkan pernyataannya."

"Terus terang, aku sudah tidak percaya pada raja lalim. Kau kira apakah dia mau berjuang berdampingan bersama kita melawan musuh?"

"Pertanyaanmu memang bagus, bicara terus terang, aku sendiri juga tidak percaya, bila raja yang sekarang berkuasa punya niat baik untuk berjuang bersama kita."

Hou Pong kebingungan, katanya.

"Kalau Tan-siauhiap sendiri tidak percaya pada raja lalim, kenapa pula kau anjurkan kita bergandeng tangan sama dia melawan penjajah?"

"Bagi seorang raja apa yang paling penting bagi kedudukannya? Yaitu mempertahankan tahta kerajaannya, dijunjung oleh seluruh rakyat. Bila dia tunduk dan minta damai kepada Watsu, tidak lain juga demi mempertahankan kedudukan dan tahtanya belaka, betul tidak?"

Hou Pong manggut-manggut.

"betul,"

Sahutnya.

"Kenapa tidak kita beritahu kepadanya, bila dia tidak mau bergabung dengan kita melawan penjajah, kita akan gerakkan perlawanan di berbagai tempat, mengundang orang-orang gagah di seluruh jagat ini untuk menentang dia dan memukul mundur penjajah. Kalau hal ini sampai terjadi, siapa yang bakal dijunjung dan didukung oleh rakyat?"

"Sekarang aku mulai mengerti,"

Kata Hou Pong.

"Benar, karena itu raja kehilangan kepercayaan dari rakyat, itu berarti tahta kerajaannyapun mulai goyah."

"Bila dia mau bergabung dengan kita melawan penjajah, kita akan tetap mendukungnya jadi raja, yakin dia cukup pintar memilih arah angin, demi kepentingan pribadi pula, coba katakan, beranikah dia menentang kehendak kita?"

Kini lenyap keraguan Hou Pong, katanya.

"Tan-siauhiap penjelasanmu memang menyeluruh, sekarang aku sudah paham betul."

"Bukan pengetahuanku mendalam, aku hanya menyambung lidah Kim-to Cecu saja."

Hou Pong bertanya.

"Tujuanmu masuk ke istana terlarang menemui raja adalah untuk menyampaikan rencana kita dan memaksanya setuju bukan?"

"Betul. Aku sudah bertemu dengan baginda, memang sesuai dugaan Kim-to Cecu, terpaksa dia setuju rencana kita,"

Dengan secara ringkas Tan Ciok-sing lalu ceritakan kejadian kala dia menyelundup ke istana menemui Baginda, sudah tentu hal-hal yang perlu dirahasiakan tidak dia beberkan di depan umum.

Waktu mendengar Tan Ciok-sing meninggalkan peringatan berdarah yang berbunyi.

"Ingkar janji membuang kebenaran, Thian tidak akan mengampunimu "

Hadirin sama tepuk tangan dan berseru memuji. Pelan-pelan Ong Goan-tin berdiri, katanya sambil menjura kepada Tan Ciok-sing.

"Tan siauhiap, terima kasih akan uraianmu yang penuh arti itu. sehingga terbuka pikiranku."

Tersipu-sipu Tan Ciok-sing balas menghormat, katanya.

"Locecu terlalu memuji, aku hanya menyampaikan keinginan Kim-to Cecu saja."

Ha It-teng angkat bicara lagi.

"Soal memberontak baiklah ditunda dulu. Tapi Sugong-thocu adalah orang gagah jaman ini, dia mau bergabung dengan kita, sepantasnya kita terima uluran tangannya,"

Beberapa Cecu segera mendukung suaranya, tapi tidak sedikit pula suara yang menentang, walau secara gamblang mereka tidak mengusir Tang-hay-liong-ong tapi jelas banyak yang tidak setuju bergabung sama dia.

Perdebatan kembali terulang, yang terang hadirin terpecah menjadi dua, keributan semakin memuncak.

Tiba-tiba Cun-ih Thong berkata dingin.

"Bukan aku mencurigai Tan-siauhiap, kalau Tan-siauhiap selalu bilang hanya menyampaikan suara Kim-to Cecu hanya Tan-siauhiap saja yang meneruskan pesan utusan Kim-to Cecu, kita kan tiada yang tahu akan kebenarannya. Apakah Tan-siauhiap punya bukti supaya kita percaya babwa pernyataanmu tadi betul adalah suara Kim-to Cecu?"

Pertanyaan yang tidak terduga ini, memang membuat Tan Ciok-sing serba salah. Untunglah di kala Tan Ciok-sing kebingungan, mendadak Kek Lam-wi berdiri, katanya.

"Aku punya bukti,"

Lalu dia keluarkan serulingnya, sekali tekan ujung seruling lalu ditiupnya, sebutir bola malam menggelinding keluar, bila bola malam itu dipecah di dalamnya terdapat lempitan kertas tipis yang banyak tulisan kecil-kecil, langsung dia serahkan lempitan kertas itu kepada Ong Goan-tin.

"Inilah surat dari Lim-toako yang titip kepadaku supaya disampaikan kepada Ong Cecu, kehadiranku disini mewakili Pat-sian, dalam suratnya juga diterangkan perihal Tan Cioksing mewakili Kim-to Cecu, silahkan Ong Cecu baca, persoalannya akan jadi terang,"

Demikian ujar Kek Lam-wi.

Seperti diketahui Kek Lam-wi terlambat dua hari setelah Tan Ciok-sing dan In San berangkat.

Lim Ih-su sebagai tertua dari Pat-sian orangnya tabah, pikiran matang dan bekerja amat teliti, setiap urusan selalu dia rencanakan dengan baik, mengingat urusan cukup penting, maka dia sendiri menulis sepucuk surat sebagai tanda bukti.

Maka dia tulis surat rahasia ini, menerangkan bahwa Pat-sian menyetujui usul Kim-to Cecu, sekaligus membuktikan bahwa Tan Ciok-sing hadir sebagai wakil Kim-to Cecu."

Gaya tulisan Lim Ih-su banyak dikenal hadirin, setelah membaca surat itu, tiada yang curiga pula akan kehadiran Tan Ciok-sing. Ong Goan-tin berkata.

"Tan-siauhiap telah menyampaikan pesan Kim-to Cecu, bahwa hadirin tiada yang curiga dan membantah, apakah kalian masih ada yang merasa kurang setuju akan maksud Kim-to Cecu?"

Han King-hong menyeletuk lebih dulu.

"Kim-to Cecu adalah orang yang amat kukagumi, dia bilang bagaimana, akupun begitu."

Hou Pong ikut menimbrung.

"Semula aku tidak setuju, tapi setelah mendengar penjelasan Tan-siauhiap yang tidak bosanbosan tadi, menilai untung ruginya, aku jadi tahu diri bahwa aku hanyalah gentong nasi saja. Apalagi sekarang bukan saatnya kita memberontak, kalau itu sudah menjadi kehendak Kim-to Cecu apapula yang harus kukatakan,"

Hadirin menjadi tertawa riuh mendengar banyolannya.

Maka hadirin serempak menyatakan sikapnya menjunjung Ong Goan-tin, walau rombongan yang datang bersama Tanghay-liong-ong tiada yang mau terima kalah, tapi mereka tak berani menentang kehendak umum, terpaksa sementara tinggal diam.

Ong Goan-tin berseru lantang.

"Bahwa hadirin tiada yang menentang pula, maka perundingan hari ini anggap selesai sampai disini. Terima kasih akan kehadiran para sahabat dalam pesta ulang tahunku ini, kini sebagai tuan rumah, kusuguh hadirin secangkir arak, mari kita habiskan satu cangkir ini."

"Tunggu sebentar,"

Tiba-tiba Cun-ih Thong berseru sambil berdiri.

"Entah Cun-ih Siansing ada petunjuk apa?"

"Kedatangan kita memang khusus hendak memberi selamat ulang tahun kepada Locecu. perjamuan ini jelas tidak boleh terganggu. Tapi mumpung ada pertemuan sebesar ini, maka persoalan yang belum diselesaikan tadi kurasa perlu dibicarakan sekalian."

Berkerut alis Ong Goan-tin, katanya.

"Masih ada urusan besar apa yang belum diselesaikan?"

Kalem suara Cun-ih Thong.

"Kim-to Cecu ingin supaya sekarang kita tidak usah bentrok dengan pasukan negeri, hal ini sebetulnya kurang kusetujui tapi setelah hadirin banyak yang mendukungnya, akupun tunduk saja akan putusan umum."

Hou Pong orangnya kasar dan suka blak-blakan, segera dia menukas dengan sentakan.

"Mau bicara lekas berkata, kalau mau kentut lekas lepaskan."

Untung muka Cun-ih Thong tebal, dia anggap tidak mendengar, katanya lebih lanjut. ''Tam Tayhiap, Lui Tayhiap pernah bilang kita harus bersatu padu menjadi satu kekuatan besar, betul tidak?"

"Benar,"

Timbrung Tan Ciok-sing.

"Tapi bersatu demi kepentingan umum, kalau tidak mana bisa membendung serbuan musuh."

"Membendung serbuan musuh sudah menjadikan ikrar kita bersama, hal itu tak perlu diperbincangkan lagi, pendek kata, apapun kita harus bersatu, betul tidak?"

Ini soal prinsip, meski Ciok-sing merasa mual menghadapi manusia tengik ini, terpaksa dia mengangguk.

"Dua orang satu hati, tekadnya dapat memutus emas. Bila ribuan orang bersatu padu, kekuatannya dapat membendung laut. Maka aku mengajukan usul, kita harus memilih seorang Bu-lim-beng-cu sebagai pemimpin kita,"

Sambutan anak buah Tang-hay-liong-ong amat meriah, tidak sedikit pula anak buah Ong Goan-tin memberi aplus. Salah satu Cecu dari tiga puluh enam Cecu di Thay-ouw bernama Su Kian berdiri, katanya.

"Usul Cun-ih Siansing memang masuk akal, kapan ada kesempatan para orangorang gagah sebanyak ini kumpul disini, memang tepat saatnya kita memilih seorang Bu-lim-beng-cu."

Ha It-seng menimbrung.

"Benar, di bawah pimpinan Bulim-beng-cu, selanjutnya langkah kita seirama, peduli melawan penjajah atau menentang tindasan pasukan negeri, urusan akan lebih mudah dibereskan,"-kebanyakan hadirin sama setuju adanya seorang Bu-lim-beng-cu, meski ada beberapa orang merasa kemungkinan hal ini adalah muslihat Tang-hayliong-ong, tapi keadaan sudah terlanjur sejauh ini, maka merekapun tidak menentang. Cun-ih Thong berkata lantang.

"Kalau hadirin tiada usul lainnya, baiklah sekarang kita mulai pemilihan. Aku memberanikan diri, mencalonkan seorang Enghiong besar yang namanya sudah tersohor di kawasan ini, yakin hadirin akan setuju memilihnya sebagai Bu-lim-beng-cu."

Hadirin kira calon yang diusulkan adalah Tang-hay-liongong Sugong Go, tak kira dia ternyata bilang.

"Bu-lim-beng-cu pilihanku bukan lain adalah tuan rumah disini, Ong Goan-tin Ong Locecu, Cong-cecu dari tiga puluh enam Cecu di Thayouw ini."

Pernyataan diluar dugaan, membuat hadirin melongo, akhirnya pecah sorak sorai gegap gempita disertai tepuk tangan riuh. Cun-ih Thong berpidato lebih lanjut.

"Ong-locecu memiliki Kungfu tinggi, hal ini tidak perlu kujelaskan. Apalagi sebagai Cong-cecu dari tiga puluh enam Cecu yang lain, boleh dikata dia menguasai keadaan, memperoleh dukungan banyak orang lagi. Bijaksana dalam kepemimpinan, tidaklah berkelebihan bila Bu-lim-beng-cu harus dijabatnya."

Kedengarannya omongan Cun-ih Thong mengagulkan dan menyanjung Ong Goan-tin, tapi bila mau ditelusuri secara cermat, dibalik pidatonya ini mengandung arti lain.

Yaitu lantaran adanya jabatan yang diduduki Ong Goan-tin sekarang barulah dia mendukung pencalonannya, seperti pepatah mengatakan, sekuat-kuatnya naga juga tidak lebih menang dari ular tunggon.

Segera Ong Goan-tin angkat bicara.

"Tadi sudah kukatakan, setelah merayakan hari ulang tahunku ke enam puluh ini, aku sudah berkeputusan hendak cuci tangan menggantung golok. Jangan kata aku tidak berani menerima sanjung puji Cun-ih Siansing, umpama topi kebesaran itu kukenakan juga aku tidak mampu menjadi Bu-lim-beng-cu segala."

Memang tujuan Cun-ih Thong memancing jawabannya ini segera dia mengoceh pula.

"Bahwa Ong-locecu menampik pencalonan dirinya, akupun tidak akan memaksa. Tapi kawanan naga tidak boleh tanpa pimpinan, baiklah aku usulkan Sugong-thocu menjadi Beng-cu kita."

Su Kian segera memberi suara.

"Betul, Tang-hay-liong-ong bermaharaja di lautan teduh menggetarkan dunia, ilmu silatnya juga tangguh, kira-kira sepadan untuk berjajar dengan Kim-to Cecu. Usianya mumpung kekar kuat pula, hanya dia mungkin yang dapat memimpin kita melakukan usaha besar yang menggemparkan. Bila Ong-locecu benar benar mengundurkan diri, pilihan yakin hanya akan terjatuh di tangannya."--Su Kian adalah salah satu Cecu dari tiga puluh enam Cecu bawahan Ong Goan-tin yang punya kedudukan baik dan disegani, bahwa dia mendahului rekan-rekannya mendukung pencalonan Tang-hay-liong-ong, hal ini benarbenar diluar dugaan banyak orang. Mendapat dukungan Su Kian sudah tentu rombongan Tanghay-liong-ong semakin bangga, senang setengah mati, sontak mereka tempik sorak dengan ramai, ternyata orang-orang Ong Goan-tin ada juga yang memberi aplus ala kadarnya. Ih Ti-bin Cecu Tong-thing-san timur adalah tangan kanan Ong Goan-tin yang terpercaya, dia melirik kearah Su Kian, pikirnya "Keparat ini bersama Ha It-seng entah kenapa beberapa kali memberi suara kepada Tang hay Liong-ong memihak orang luar, agaknya mereka sudah kena sogok dan dihasut untuk menentang kebijaksanaan Cong-cecu. Namun memilih Bengcu sudah menjadi kata sepakat para hadirin, meski Ih Ti-bin merasa kurang senang terhadap sikap Su dan Ha malah menaruh curiga pula, namun dia merasa kurang tepat dan belum saatnya untuk membongkar kesalahan Su Kian. Sebetulnya ingin dia menentang pencalonon Tang-hayliong-ong, tapi sukar dia memperoleh alasan tepat. Di kala dia peras keringat mencari calon, dilihatnya Tang-hay-liong-ong sudah berdiri. Dengan senyum lebar dan senang Tang-hay-liong-ong berkata.

"Terima kasih akan dukungan kalian, cuma aku baru pulang dari luar lautan betapapun tak berani menerima jabatan berat ini. Kalau Ong-locecu tetap menolak pencalonan ini baiklah aku mencalonkan It-cu-king-thian Lui Tayhiap saja."

Lekas Ih Thi-bin menyeletuk.

"Betul, Lui Tayhiap berbudi luhur dan memperoleh simpatik banyak orang, ketenaran namanya sudah menggetar utara dan selatan sungai besar. Pada pertemuan di Lian-hoa-hong tahun yang lalu tiada orang-orang gagah yang hadir pada waktu itu yang tidak memuji-muji dan mengaguminya. Aku dukung Lui Tayhiap menjadi Bengcu kita."

Ha It-seng tiba-tiba berdiri, serunya.

"Akupun mengagumi Lui Tayhiap, tapi dia tidak sebanding Sugong-thocu dengan rombongannya, hubungannyapun tidak intim dengan para saudara didalam Pang atau Hwe yang ada di Kanglam ini. Menurut pendapatku biarlah Lui Tayhiap menjadi wakil Bengcu saja."

Seorang lagi lebih tegas lagi, dia bukan lain pembantu Tang-hay-liong-ong yang berjuluk Tay-lik-sin Lamkiong King, setelah mendengus dia berkata dingin.

"Berapa sih bobot nama besar Lui Tin-gak, bila dibanding dengan Sugong-thocu kami, kurasa jauh ketinggalan."

"Jangan kurang ajar terhadap Lui Tayhiap,"

Sentak Tanghay-liong-ong, lahirnya dia memaki pembantunya, tapi orang banyak maklum bahwa sikapnya ini hanya pura-pura belaka.

"Lamkiong King,"

Seru Ih Ti-bin gusar.

"berani kau meremehkan pimpinan Bulim kami, memangnya apa sih yang kau andalkan?"

Serak kasar suara Lamkiong King, dampratnya.

"Ih Ti-bin kalau tidak terima, nanti bila ada kesempatan, ingin kujajal kau."

"Jajal boleh saja, kapan saja aku bersedia, memangnya aku takut?"

Ong Goan-tin mengerutkan kening, katanya.

"Jangan ribut dulu, marilah bicarakan urusan itu."

"Tidak karuan, tidak karuan,"

Seru Hou Pong, meski tidak langsung dia sebut nama orang yang tidak karuan, tapi hadirin tahu kata-katanya ditujukan kepada Lamkiong King. Lui Tin-gak segera berdiri, katanya goyang tangan.

"Apa yang dikatakan Hu-cecu memang tidak salah, seorang tamu mana boleh mendahului tuan rumah, baru kali ini aku datang ke Kanglam, tidak kenal orang tidak hapal jalan, entah jadi Bengcu atau wakil Bengcu, terus terang aku tidak berani terima."

Tang-hay-liong-ong pura-pura menghela napas, katanya.

"Ai, Ong-locecu tidak mau terima, Lui Tayhiap juga menampik, yah, apa boleh buat, terpaksa biarlah aku menerima pencalonan ini."

"Nanti dulu,"

Tiba-Ih Ti-bin berteriak lantang.

"Ada petunjuk apa lh-cecu?"

Tanya Tang-hay-liong-ong kalem.

"Saatnya belum tiba terpaksa menerima pencalonan. Aku mencalonkan Kim-to-thi-ciang Tam Tayhiap menjadi Bengcu kita, harap hadirin memutuskan."

"Betul,"

Seru Ong Goan-tin.

"bukan aku menentang pencalonan Sugong-thocu, tapi Tam Tayhiap adalah teman baik Kim-to Cecu, bila dia sudi menjabat Bu-lim-beng-cu dari Kanglam utara dan selatan terjalin satu ikatan kerja sama, hasilnya tentu jauh lebih baik dari yang kita harapkan."

Pelan-pelan Cun-ih Thong berdiri sambil mengelus jenggot, katanya.

"Benar, sudah tentu, akupun amat mengagumi Tam Tayhiap. Justru lantaran dia teman baik Kim-to Cecu, bila dia yang jadi Kanglam Bu-lim-beng-cu, diluar mungkin orang bisa iseng bicara kaum persilatan di Kanglam ini dianggap sebagai anak buah dan tunduk perintah Kim-to Cecu melulu. Memang Kim-to Cecu adalah tokoh yang diagulkan banyak orang, bila ada kata-kata iseng yang memanaskan kuping, lalu mau ditaruh dimana muka kita ini."

Tam Pa-kun tertawa ngakak, katanya.

"Sebetulnya aku tidak ingin menjadi Bu-lim-beng-cu segala, memang beralasan juga bahwa Cun-ih Siansing menguatirkan pencalonan diriku. Tapi aku jadi ingin mencalonkan seorang pendekar muda untuk menjadi Bu-lim-beng-cu di Kanglam ini."

Sebetulnya Cun-ih Thong sudah menduga, namun sengaja dia bertanya.

"Siapakah pendekar muda yang kau calonkan?"

"Tan Ciok-sing Tan-siauhiap,"

Seru Tam Pa-kun kalem;

"Dia adalah murid maha guru silat Thio Tan-hong Thio Tayhiap, tunas muda yang punya harapan nomor satu di antara generasi mendatang. Bulan yang lalu bersama In Lihiap mereka membuat geger di istana terlarang, menundukkan dan menjumpai Baginda Raja, tiada orang gagah di dunia ini yang tidak mengacungkan jempol untuknya. Jabatan Bu-lim-bengcu kukira tepat sekali bila diserahkan kepadanya."

Tan Ciok-sing amat kaget, serunya.

"Tam Tayhiap jangan kau berkelakar dengan aku. Siautit masih muda dan cetek pengalaman, jabatan Bengcu teramat berat untuk dipikul, mana aku mampu mendudukinya?"

"Ada cita-cita tidak diukur dari usia,"

Seru Hou Pong lantang.

"Tiada akal sia-sia hidup seratus tahun. Tan-siauhiap punya akal ada cita-cita luhur, dari peristiwa geger di istana raja itu sudah merupakan bukti nyata. Uraian yang panjang lebar tadi merupakan bukti pula akan pengetahuan dan kecerdikan otaknya. Bila dia yang menjadi Bu-lim-beng-cu aku orang she Hou pertama yang mendukungnya."

Tan Ciok-sing goyang tangan, katanya.

"Hou-cecu, jangan menempel emas di mukaku, betapapun, Bu-lim-beng-cu aku tidak berani menerimanya."

"Kenapa tidak berani terima?"

Seru Hou Pong sengit.

"menurut pendapatku, kau jadi Bengcu dan In Lihiap menjadi wakil Bengcu, begitu lebih baik."

In San tertawa, katanya.

"Hou-cecu, kau memang suka berkelakar, jangan kau menyeret aku."

"Aku tidak berkelakar, gabungan sepasang pedang kalian sudah terkenal di kolong langit, sepantasnya kalian menduduki jabatan yang sejajar."

Merah muka In San, dia tidak berkomentar lagi. Ong Goan-tin berkata.

"Ucapan Tam Tayhiap memang betul, jabatan Bu-lim-beng-cu adalah pantas kalau diserahkan kepada angkatan muda. Tan-siauhiap, kau adalah pendekar muda, gagah perwira yang dipuji orang banyak..."

"Ong-cecu,"

Teriak Lamkiong King kurang senang.

"kau kan belum tanya aku, memangnya kau tahu bila aku mengaguminya?"

Ong Goan-tin tersenyum, katanya.

"Sugong-thocu sendiri tadi bilang amal mengaguminya, hadirin menjadi saksi. Kau sendiri juga sudah menyatakan tunduk akan kehendak pemimpinmu, betul tidak'' Oleh karena itu, maaf bila aku keliru tidak tanya dulu kepada kau, aku sudah anggap kaupun mengaguminya."

Lamkiong King tidak menduga bakal didebat sekonyol itu, karuan mulutnya kelakep. Tapi Cun-ih Thong yang pandai silat lidah segera membantah.

"Tan-siauhiap adalah jagoan top dari generasi muda, hal ini sudah diakui oleh umum. Tapi Tan-siauhiap sendiri bilang, untuk menjadi Bu-lim-beng-cu, usianya masih terlalu muda. Maka untuk menjadi Bu-lim-beng-cu harus dicalonkan seorang yang sudah ternama, punya pengalaman luas, disegani dan menggetarkan dunia. Apa yang dikatakan Sugong-thocu tadi tidak lain hanyalah pujian dan dorongan semangat bagi angkatan muda, bukan berarti bahwa dia pasti boleh menjadi Bu-lim-beng-cu."

Kek Lam-wi berdiri, katanya perlahan.

"Cun-ih Siansing, agaknya ada satu hal tidak kau utarakan."

"O, soal apa yang tidak kuutarakan, harap Kek-jithiap mengoreksi."

"Demi nusa dan bangsa, pendekar berjiwa besar diutamakan. Seorang yang menjadi Bu-lim-beng-cu, kecuali harus berilmu silat tinggi, pengetahuan dan pergaulannya harus luas, kecuali harus pula menggetar dunia, yang penting adalah jiwa kependekarannya. Bila dia sudah memiliki bekal 'pendekar', soal syarat-syarat lain meski masih kurang sedikit juga kurasa tidak jadi soal."

Kontan Hou Pong bersorak sambil keplok, teriaknya keras.

"Betul, yang diutamakan adalah jiwa pendekar. Walau Tansiauhiap masih muda, namun dia cukup setimpal menjadi seorang pendekar. Aku dukung dia menjadi Bu-lim-beng-cu."

Lamkiong King marah-marah, serunya.

"Memangnya kau kira Thocu kita tidak setimpal sebagai pendekar?"

"Kapan aku bilang demikian,"

Semprot Hou Pong.

"tapi tidak banyak yang kuketahui tentang Thocu kalian, bagaimana dia mendarma baktikan diri kepada kepentingan umum aku tidak tahu."

Lekas Cun-ih Thong menengahi, katanya.

"Harap jangan ribut dulu, dengarkan dulu penjelasanku."

"Oho, kau punya penjelasan apa?"

Jengek Hou Pong. Cun-ih Thong mengalah untuk maju, katanya pertahan.

"Hou-cecu, agaknya kau merasa benci kepadaku. Bila kau tidak memberi kesempatan aku bicara, baiklah aku tidak usah banyak mulut."

"Kalau orang tidak boleh bicara, memangnya itu yang dinamakan adil?"

Teriak Lamkiong King. Hou Pong membantah.

"Kapan aku melarang dia bicara, tapi aku tidak percaya obrolannya kau pun tidak berhak memaksa aku percaya Sudah Cun-ih Thong, kau mau omong apa boleh silahkan, mau kentut juga lekas keluarkan "

Sudah menjadi kebiasaannya setiap habis berkata mengutarakan pendapatnya Hou Pong pasti mengolok-olok lawannya, karuan Cun-ih Thong jengkel dan naik pitam, mukanya sampai menguning.

"Cun-ih Siansing,"

Kata Lamkiong King.

"jangan kau hiraukan salakan anjing itu, katakan saja pendapatmu."

Hou Pong sudah berjingkrak berdiri hendak melabrak Lamkiong King, untung Han King-hong menekannya dan membujuknya perlahan.

"Demi kepentingan umum sementara tidak usah ribut mulut."

Cun-ih Thong memang bermuka tebal, setelah reda amarahnya seperti tidak terjadi apa-apa dia berkata.

"Apa yang dikatakan Kek-jithiap memang benar, untuk menjadi seorang Bu-lim-beng-cu, punya jiwa pendekar memang amat penting, tapi apa itu pendekar dan bagaimana serta apa syaratnya seorang dinamakan pendekar, masing-masing orang yakin punya pendapat yang berbeda. Apalagi tidak sedikit orang yang telah melakukan kerja besar tapi tidak mau disiarkan, sehingga jarang orang tahu, itu sering terjadi. Pendek kata kalau hanya berdasar seorang yang punya jiwa pendekar baru boleh dipilih jadi Bu-lim-beng-cu kurasa juga belum tepat, itu akan gampang menimbulkan perdebatan pula. Oleh karena itu, kurasa lebih baik kita gunakan cara umum yang sering berlaku di kalangan Kangouw saja."

"Betul, yang kuat menang, si lemah kalah,"

Teriak Lamkiong King.

"Siapa saja yang menentang Sugong-thocu menjadi Bengcu kita, boleh silakan keluar melawannya."

Orang-orang pihak Tang-hay-liong-ong kembali bertempik sorak menyambut pertanyaan Lamkiong King.

Sebaliknya orang-orang di pihak Ong Goan-tin saling pandang dengan melongo, sesaat mereka kelakep tak tahu bagaimana mengatasi situasi yang mendesak ini.

Akhirnya Ong Goan-tin angkat bicara.

"Kalau hadirin menganggap syarat seorang pendekar susah ditentukan, memilih Beng-cu melalui pertandingan juga salah satu cara yang sering berlaku. Tapi, kusarankan lebih baik cukup saling tutul dan jamah saja, jangan sampai ada pihak yang luka parah atau mati."

Ong Goan-tin memang cukup pengalamanan dan pandai melihat gelagat, perkataannya cukup dipertimbangkan sebelumnya.

Maklum meski selama setahun ke belakang ini Tan Ciok-sing sudah menjulang namanya, tapi bila dibanding Tang-hay-liong-ong betapapun masih terpaut cukup jauh.

Bila pemilihan diambil suara, jelas yang mendukung Tang-hayliong-ong masih lebih banyak.

Kaum persilatan yang tidak diundang banyak yang hadir disini, bukan mustahil mereka adalah komplotan Tang-hay-liong.

Meski sukar mencapai kemenangan didalam pertandingan, betapapun mereka masih harus bertaruh dan membuktikan kemampuan masing-masing.

Pada hal orang-orang pihak Tang-hay-liong-ong juga kuatir bila pemimpin mereka tidak terpilih, kalau bertanding mereka yakin pihaknya pasti menang, mendengar pernyataan Ong Goan-tin setuju menempuh cara ini, kontan mereka berjingkrak dan bersorak.

"Betul bertanding menentukan Bengcu memang tepat. Siapa yang menentang Sugong-thocu jadi Bengcu silakan keluar, akulah yang akan menghadapinya lebih dulu."

Menurut peraturan pertandingan dalam permilihan Bengcu, seseorang yang mendukung orang lain menjadi Bengcu, dia punya hak untuk bertanding melawan pendukung pihak lawan. Tan Ciok-sing berkata.

"Usiaku masih muda, tidak becus lagi, sebetulnya aku tidak berani menjadi Bu-lim-beng-cu..."

Sebelum orang habis bicara Ong Goan-tin sudah menekannya duduk, katanya perlahan.

"Jikalau kau menolak, bukankah berarti menyerahkan kedudukan penting itu kepada Tang-hay-liong-ong begitu saja? Apa kau rela dia menjadi Bulim-beng-cu?"

Terpaksa Tan Ciok-sing diam saja tidak banyak komentar lagi.

Siapapun tahu Kungfu Tang-hay-liong-ong merupakan yang paling top di antara hadirin, berulang kali Lamkiong King mendesak dan menantang orang-orang yang tidak setuju Tang-hay-liong-ong jadi bengcu keluar untuk bertanding, siapa berani menampilkan diri?

Hening sejenak, melihat tiada orang keluar Hou Pong tidak tahan lagi, segera dia berlari keluar, teriaknya.

"Sugong-thocu aku tahu ilmu silatmu tinggi, tapi aku tetap tidak tahu diri, mohon kau memberi petunjuk beberapa jurus,"

Meski tahu dirinya bakal kalah, tapi dia tetap tampil menantang perang, maksudnya tidak lain bahwa ada juga orang yang menentang dan tidak tunduk kepada Tang-hay-liong-ong.

Tang-hay-liong-ong mendongak, pandangannya ke atas langit-langit, sikapnya jumawa seperti tidak mendengar teriakan Hou Pong, melirikpun tidak.

Lamkiong King tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Hou-cecu, hari ini kau sudah banyak bicara hanya kata-katamu terakhir kali tadi yang kurasa benar, kau memang tidak tahu diri, memangnya kau setimpal bergebrak dengan Thocu kita. Marilah biar aku saja yang layani kau beberapa gebrak."

Hou Pong gusar, mereka segera berhantam.

Hou Pong meyakinkan Thi-sa-ciang, permainannya keras dan deras, kedua orang saling jotos dan tendang, suara gedebukan dari tinju dan kaki mengenai sasaran jadi membuat hadirin geli tercampur kuatir.

Suatu ketika empat telapak tangan mereka beradu berhadapan.

"Biang"

Hou Pong tergentak mundur dua langkah, Lamkiong King hanya tergeliat, kelihatannya tenaga Lamkiong King lebih besar.

Karena berada di atas angin Lamkiong King tertawa tergelak-gelak, langkahnya beruntun mendesak maju kakinyapun menendang berantai.

Dengan telapak tangan Hou Pong gunakan Hou-te-jan-hou, dia lancarkan pukulan Thi-sa-ciang.

Ternyata Lamkiong King juga perkasa, meski tahu Thi-sa-ciang lawan liehay namun dia tidak mau mengalah, sebat sekali dia tarik kaki kanan, hampir waktu yang sama kaki kiri melayang pula, tendangannya deras dan kuat.

Diam-diam Ong Goan-tin bertaut alisnya melihat cara pertempuran kasar ini.

Lekas dia berseru.

"Pertandingan terbatas saling tutul dan jamah, pantang melukai lawan."

Syarat ini sudah disetujui kedua pihak sebelum pertandingan dimulai, Ong Goan-tin hanya memberi ingat dan ketegasan.

Tapi memperoleh angin Lamkiong King tidak memberi kesempatan kepada lawannya, serangannya itu makin gencar dan menggebu.

Akibat dari serangannya itu bila mendarat di tubuh lawannya jelas tidak mungkin menjamah atau menutul, hakikatnya lebih mendekati adu jiwa.

Begitu Hou Pong merobah menjotos lekas Lamkiong King melintangkan telapak tangan menangkis, namun Hou Pong merobah jotosan menjadi sampukan, sebelum tenaga lawan disalurkan lekas sekali dia sudah merobah posisi merobah serangan dengan pukulan lengket jarak dekat, sasaran ke atas menggenjot muka musuh.

Jotosannya ini dinamakan Jongthian-bau liehay luar biasa.

Tapi Lamkiong King juga tidak lemah, dia yakin tenaganya lebih kuat, maka cukup mengibas tangan dia gunakan daya cantel menjadi pukulan gempur terus digenjot keluar, kembali dia punahkan jotosan dekat Hou Pong serta balas menyerang.

Diluar tahunya tujuan Hou Pong memang memancing dirinya demikian, setelah dirabu serangan Hou Pong, nafsu berkelahi sudah membara memperoleh kesempatan baik balas menyerang sudah tentu tanpa pikir segera dia ingin menggasak lawannya ini.

Tanpa disadari bahwa balas menyerang saat itu belum tiba waktunya, begitu dia balas menyerang penjagaan menjadi kosong.

Sekonyong-konyong Hou Pong membalik tubuh dengan kaki menyapu, hardiknya.

"Kena,"

Berbareng kedua telapak tangan memukul pula, telapak tangan kiri menggunakan Hun-kin-joh-kut sementara telapak tangan kanan memukul dengan Thi-sa-ciang.

Sebetulnya Lamkiong King bisa meluputkan diri dari salah satu serangan itu, namun serangan kedua jelas pasti mendarat di tubuhnya, bila dia nekad juga melancarkan serangan balasan, kemungkinan pertempuran bakal seri dengan akibat kedua lawan sama-sama roboh terluka.

Cuma didalam keadaan terdesak serupa itu, luka-lukanya pasti lebih parah dari Hou Pong.

Baru saja Hou Pong melancarkan serangan keji, tiba-tiba dia sadar akan seruan Ong Goan-tin bahwa pertandingan ini hanya terbatas saling tutul dan jamah saja, maka Thi-sa-ciang batal dia lancarkan, dia pikir hanya akan menggunakan Hunkin-joh-kut saja, cukup bila lawan tak mampu berkutik terhitung dirinya di pihak yang menang.

Siapa tahu pikiran bajiknya ini justeru mendatangkan akibat yang fatal bagi dirinya.

Lamkiong King tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini untuk merobah posisinya dari pihak yang terdesak ke pihak yang menang.

Lamkiong King meyakinkan ilmu kekebalan, Hun-kin-joh-kut mengutamakan kekuatan jari, begitu menyentuh tubuhnya seperti mencengkram batu, hanya dengan kekuatan jarinya tidak mungkin bisa menyebabkan dirinya keseleo tulang dan urat.

Kontan dia menelikung lengan serta ditariknya sekali.

"krak"

Tulang lengan Hou Pong malah dipelintirnya putus.

Perobahan tak pernah diduga oleh hadirin, banyak yang menjerit kaget dan ngeri.

Tang-hay-liong-ong pura-pura kaget dan marah sambil berdiri, segera dia keluarkan sebotol obat terus dilempar ke arah Lamkiong King, bentaknya.

"Kenapa kau tidak hati-hati. Hou-cecu sampai kau lukai, lekas berikan obat penyambung tulang ini kepada Hou-cecu,"

Lahirnya memarahi Lamkiong King, yang benar tujuannya ingin memberi obat menanam budi, sehingga orang-orang pihak Ong Goan-tin menaruh simpatik padanya.

Ih Ti-bin segera berdiri dan memburu kesana memapah Hou Pong.-Jengeknya.

"Tak perlu kalian pura-pura bajik, kalau hanya menyambung tulang mengurut urat memangnya kami tidak bisa."

Sembari membubuhi obat dan menyambung tulang Hou Pong dia menjengek pula.

"Sudah dijanjikan hanya terbatas saling tutul dan jamah Hou-cecu tidak ingin melukai kau, kau justru turun tangan sekeji ini, memangnya apa sih maksudmu?"

Dari malu Lamkiong King jadi gusar, bentaknya.

"Pertandingan kaum persilatan siapa kuat dia menang. Ih Tibin, memangnya Hou Pong benar-benar mengalah kepadaku, aku malah mau bilang aku telah berbelas kasihan kepadanya. Kalau tidak sekali pukul tadi aku sudah bisa membunuhnya. Hehe, Ih-cecu jikalau kau tidak terima boleh silahkan turun gelanggang, mari bertanding melawan."

"Baik aku memang ingin mengukur kemampuan,"

Jengek Ih Ti-bin.

"Baik, aku tidak peduli akan tata tertib pertandingan, mati atau hidup adalah jamak di medan laga."

"Wut"

Kontan dia menjotos lebih dulu.

Ong Goan-tin ingin bicara tidak keburu lagi.

Mengikuti arus angin pukulan lawan Ih Ti-bin berkelit ke pinggir.

Lamkiong King menjengek kaki melompat ke atas, kedua tangan merangsek bersama telapak tangan kiri mengepruk batok kepala, jari-jari tangan kanan mencengkram tulang pundak, Ih Ti-bin gunakan gerakan tubuh Hong-biauloh-hoa, tampak pakaiannya melambai-lambai kembali dia meluputkan diri dari serangan lawan.

Beberapa teman Ih Tibin terdengar berteriak.

"Ih-cecu, hayo balas, dia menghendaki nyawamu, kenapa kau sungkan terhadapnya?"

Tam Pa-kun menghela napas lega, katanya kepada Ong Goan-tin.

"Kelincahan dapat menundukan tenaga, Ih-cecu tidak akan kalah. Keparat itu memang liar dan buas biar nanti dia mendapat ganjaran setimpal."

Sebetulnya Ong Goan-tin mau menyerukan pula tata tertib pertandingan supaya ditaati, namun setelah melihat Hou Pong terluka parah hatinya agak marah, apalagi setelah dibujuk Tam Pa-kun, akhirnya dia berpikir.

"Benar mereka memang perlu dihajar biar kapok,"

Maka dia bungkam dan duduk kembali.

Dalam pada itu Lamkiong King beruntun telah melancarkan tiga jurus, kaki menginjak Hong-bun (berhadapan muka dengan lawan) tinjunya menjotos pula ke rusuk kiri Ih Ti-bin.

Jurus ini dinamakan Hing-sin-bak-hou (melintang badan memukul harimau), gaya jotosannya teramat kuat dan ganas; namun pada detikdetik yang gawat selalu dapat dihindarkan oleh Ih Ti-bin.

Baru sekarang dia buka suara, bentaknya.

"Nah, tadi kau sudah bertanding satu babak, maka aku mengalah tiga jurus, jangan nanti kau anggap aku memungut keuntungan. Hati-hati serangan balasan,"

Pelan dia mengeluarkan sebatang kipas lempit, begitu jotosan lawan mendera tiba, kipasnya terbuka terus dikebas ke samping, gaya permainan ternyata mengikuti ajaran pedang dan golok, ujung kipasnya yang tajam mengiris ke jari-jari tangan Lamkiong King.

Kelihatannya kipas lempitnya itu hitam gelap mengkilap, merupakan senjata luar biasa yang jarang terlihat, namanya kipas lempit besi tetapi tulang kerangkanya terbuat dari baja murni, ujung kipasnya yang runcing ternyata kemilau setajam pisau.

Cun-ih Thong memuji.

"Bagus,"

Katanya.

"Sudah sering kudengar kipas lempit menutuk Hiat-to yang diyakinkan Ihcecu merupakan ilmu tunggal di Bulim. Kipas besinya ini dapat pula digunakan sebagai Ngo-hing-kiam, jurus permainannya rumit dan beraneka ragam, beruntung hari ini dapat menyaksikan, ternyata memang tidak bernama kosong,"

Kedengarannya dia memuji Ih Ti-bin, yang benar tujuannya memberi peringatan kepada Lamkiong King bahwa ilmu kipas lawan cukup liehay supaya dia hati-hati.

Sayang peringatannya terlambat.

Sengaja Ih Ti-bin memancing lawan dengan suatu gerak pancingan, di kala Lamkiong King menubruk seperti harimau kelaparan menerkam mangsanya, dengan gerak kecepatan kipasnya telah menutuk Jian-kin-hiat.

Menyusul dengan Hun-kin-johkut-hoat, dia tebas putus ke sepuluh tulang-tulang jari Lamkiong King serta memelintir tulang lengan kirinya hingga keseleo.

Tulang-tulang jari tangan remuk sakitnya bukan kepalang, ditambah lagi tulang lengan keseleo di atas pundak, karuan sakitnya bukan kepalang.

Lamkiong King meraung sekeraskerasnya, orang segede itu ternyata tidak tahan sakit, kontan dia jatuh semaput.

Ih Ti-bin berkata dingin.

"Maaf Lamkiong King hendak membunuhku, terpaksa aku melukainya. Sugong-thocu, yakin kau tidak menyalahkan aku."

Tulang lengan Hou Pong bary saja disambung, luka-lukanya habis dibalut, saking senang dia tertawa gelak dengan meringis kesakitan "Pembalasan kontan yang tidak tanggungtanggung.

Ih-toako, banyak terima kasih, kau telah melampiaskan penasaranku."

Orang kedua pihak membawa para korban ke ruang belakang untuk istirahat, pertandingan tetap berlangsung.

Beberapa babak selanjutnya masing-masing pihak ada kalah ada menang tapi jumlah total pihak Tan Ciok-sing masih unggul satu babak.

Tang-hay-liong-ong sedang putar otak untuk memilih jagonya, tiba-tiba dilihatnya seorang pemuda dalam rombongannya menampilkan diri, pemuda yang memberi minyak rambutnya dengan wewangian dan memupur muka pula.

Walau bukan calon pilihan yang diharapkan, namun Tang-hay-liong-ong berpikir.

"Biarlah dia keluar sekedar membuat kegaduhan juga baik."

Pemuda perlente yang pakai wewangian ini bernama Liu Yau-hong, ayahnya Liu Pek-cong adalah seorang ahli pedang, selama hidupnya menekuni pelajaran ilmu pedang, jarang dia mencampuri urusan Kangouw, namun di kalangan Kangouw dia punya nama yang disegani.

Lain bapak lain anak, putranya yang satu ini justru sering membuat onar diluar, pemuda yang suka berpelesiran dan suka berfoya-foya, konon beberapa peristiwa perkosaan yang menggemparkan adalah perbuatannya, namun karena tidak tertangkap basah dia tetap mungkir.

Liu Yau-hong bukan anak buah Tang-hay-liong-ong, hanya karena suatu hubungan tidak langsung, orang pihaknya berhasil menariknya untuk membuat ramai-ramai disini, jadi secara formil dia bukan "orang sendiri"

Dari pihak Tang-hayliong-ong.

Bahwasanya Tang-hay-liong-ong juga tidak menduga bahwa dia berani dan mau menampilkan dirinya.

Justru karena dia bukan orang sendiri mumpung juga bagi Tang-hay-liong-ong untuk melonggarkan situasi yang tidak menguntungkan pihaknya.

Ilmu pedang Liu Yau-hong memperoleh didikan langsung ayahnya, jelek-jelek dia keturunan dari seorang ahli pedang yang ternama.

Tang-hayliong-ong pikir pihak lawan tidak sedikit Bu-lim-cianpwe, sedikit banyak pasti memberi muka, umpama akan memberi hukuman setimpal pasti juga diperhitungkan dan tidak di saatsaat seperti ini.

Apalagi dengan bekal ilmu silatnya, bila lawan jago kosen kelas wahid dia menaruh harapan untuk menambal kekalahannya.

Setelah tampil di arena, Liu Yau-hong berkata ke arah Tan Ciok-sing dan In San.

"Aku kagum akan ilmu pedang Tansiauhiap. Cayhe tidak becus, namun pernah juga belajar pedang selama dua puluh tahun, melihat ahli sejenis tanganku jadi gatal..."

Belum habis dia omong Kek Lam-wi sudah menuding dan mendamprat.

"Tampangmu ini juga setimpal bertanding dengan Tan-siauhiap, apa tidak bikin kotor pedang pusakanya?"

Numpang ketenaran ayahnya, meski Liu Yau-hong tidak setimpal berhubungan dengan kaum pendekar, namun setiap kehadirannya dimanapun, tidak sedikit orang yang bermukamuka di depannya, ketambah bekal ilmu pedangnya memang cukup liehay, sehingga menjadi kebiasaannya bersikap jumawa.

Kali ini diluar dugaan dia tidak marah meski dimaki Kek Lam-wi, malah dia tertawa dingin dan berkata lebih lanjut.

"Aku belum bicara habis, Kek-jithiap, tolong kau bersabar sebentar."

"Kau memang benar, Tan-siauhiap adalah calon Bu-limbeng-cu, sebetulnya aku ingin mohon pengajaran pedangnya, namun aku juga tahu belum tiba saatnya dia turun gelanggang. Tapi aku ini sudah terlanjur masuk gelanggang, bila Tan-siauhiap tidak mau melayaniku, aku jadi rikuh kembali ke rombongan,"

Sampai disini dia berpaling kearah In San, sambungnya;

"Gabungan sepasang ilmu pedang In Lihiap dan Tansiauhiap terkenal di kolong langit, ilmu pedangnya tentu juga amat tinggi. Maaf bila aku memberanikan diri, entah sudikah In Lihiap memberi petunjuk beberapa jurus kepadaku?"-ternyata dia kepincut keayuan In San, karena kesengsem sampai lupa daratan, meski tahu bukan tandingan orang dia nekat juga menampilkan diri. Jadi bukan ingin membantu pihak Tang-hay-liong-ong, tapi dia ingin pamer kepandaian, syukur karena bertanding kali ini, dia bisa berkenalan dengan In San. Dalam pertandingan silat, biasanya tidak ada aturan harus menantang seseorang, tapi bila ada juga orang yang menantang seseorang, jarang ada orang yang ditantang tidak berani melawannya. Berdiri alis In San, baru hendak berdiri, seorang lain tibatiba mendahului berdiri. Orang inipun seorang galis belia, dia bukan lain adalah salah satu dari Pat-sian, Toh So-so yang berusia paling muda. Toh So-so menjengek dingin.

"Kau ingin bertanding pedang, aku juga gatal tanganku, mari biar kuiringi kau beberapa jurus."

Liu Yan-hong melirik dengan sikap tengik, melihat Toh Soso berwajah cantik pula, senang hatinya, segera dia tertawa cengar cengir, katanya.

"Terima kasih akan kemurahan hati Toh Lihiap sudi mengiringi pertandingan ini lega hatiku."

Kuatir Toh So-so tidak tahu asal-usul orang sengaja Ong Goan-tin bertanya kepada Liu Yau-hong.

"Liu-heng, pedang yang kau gunakan itu bukankah Thian-liong-pokiam milik ayahmu itu."

Thian-liong-kiam adalah salah satu pedang yang terkenal di Kangouw.

Liu Pek-cong ayah Liu Yau-hong memang memiliki ilmu yang luar biasa, tapi tanpa membekal Thian-liong-pokiam namanya tidak akan setenar itu.

Dengan tertawa Liu Yau-hong berkata.

"Betul. Dalam pertandingan ini siapapun tidak dilarang menggunakan gaman apapun bukan?"

In San berkata.

"Toh-cici, pakailah pedangku,"

Pedang In San adalah Ceng-bing-kiam warisan isteri Thio Tan-hong, In Lui. Ceng-bing-kiam jelas masih lebih unggul dibanding Thianliong-kiam. Toh So-so berkata.

"Tidak usah. Bila aku kalahkan dia dengan pedang Thio Tayhiap, mungkin dia tidak akan menyerah lahir batin."

Liu Yau-hong tertawa lebar, katanya.

"Kalian tidak usah kuatir, aku hanya berlatih pedang dengan Toh Lihiap, cukup asal sentuh saja, terserah dia mau pakai pokiam atau pedang biasa, aku tidak akan memanfaatkan pokiamku ini untuk mengalahkan dia."

"Sret"

Toh So-so mencabut pedangnya, bentaknya.

"Jangan cerewet, awas pedangku ini tidak punya mata."

Sikap Liu Yau-hong tetap tak acuh, katanya menyengir.

"Toh Lihiap, boleh kau pamer seluruh kemampuanmu. Pepatah bilang dapat mati di bawah kembang, jadi setan juga tidak penasaran. Bila aku terluka oleh pedangmu, matipun aku rela."

Meski tahu lawan salah satu dari Pat-sian, ilmu pedangnya jelas bukan kelas sembarangan.

Tapi mengingat usia Toh Soso lebih muda, cetek pengalaman, perempuan lagi, tenaga jelas dirinya lebih unggul.

Apalagi Toh So-so tidak mau pakai pedang mustika, dalam hal senjata dia lebih unggul, maka pertandingan ini dia yakin pasti berada di pihak pemenang.

Sudah tentu Toh So-so sebal mendengar ocehannya, bentaknya dengan tawa dingin.

"Baik memang omonganmu ini yang kutunggu. Lihat pedang."

Dimana pedang berkelebat dengan jurus Liong-li-joan-ciam.

"Sret"

Pedangnya menusuk pundak kiri Liu Yau-hong.

Kelihatan serangan ini hanya gertakan namun kenyataan bisa dirobah jadi sungguhan atau sebaliknya pula, disinilah letak inti sari dari Ya-li-kiam-hoat yang diyakinkan.

Hanya segebrak tapi Liu Yauhong sudah tahu akan keliehayan serangan pedang ini, dengan tergesa-gesa dia memuji "bagus", namun tubuhnya tidak bergeming, bila ujung pedangnya sudah hampir menusuk pundak, baru dia memutar pergelangan tangan membalas dengan jurus Kim-beng-jan-ci, pedangnya terayun keluar.

Jurus serangan ini memang diperhitungkan pada waktu yang tepat.

Tidak sedikit di antara hadirin adalah ahli-ahli ilmu pedang, meski mereka memandang rendah martabatnya, melihat dia mampu bersilat dengan ilmu pedang sebagus itu mau tidak mau mereka berseru memuji.

Namun meski ilmu pedang yang dilancarkan ini termasuk tingkat kelas atas, kalau senjatanya bukan mustika dia tidak akan seberani itu menahan pedang lawan dengan tekanan melintang, apalagi pedangnya lebih panjang, menurut teori pedang dalam serang menyerang seperti itu, jelas pedang Toh So-so takkan luput saling bentur dengan pedang mustika lawan.

Hadirin berkuatir bagi Toh So-so, maklum Thian-liong-kiam adalah pedang tajam luar biasa, mengiris besi seperti merajang sayur, Toh So-so menggunakan Ceng-kong-kiam biasa, mana kuat melawannya?

Bila pedangnya putus, berarti dia di pihak yang kalah.

Tak nyana dalam detik-detik yang menentukan itu, situasi justru berobah, pelayanan gerak pedang Toh So-so justru tidak seperti yang diduga lawan, juga diluar dugaan hadirin.

Terdengar Toh So-so menjengek dingin, katanya.

"Pedangmu memang tajam, memangnya kau bisa apa terhadapku?"

Sembari tawa dingin mendadak tubuhnya berputar secara gemulai, begitu cepat sehingga orang-orang tidak melihat jelas.

Tahu-tahu pedangnya itu telah putar balik satu lingkar dengan jurus Ceng-hun-ka-kan menusuk ke arah Liu Yauhong.

Ujung pedang mengincar tempat yang tidak terduga oleh Liu Yau-hong.

Tidak malu Liu Yau-hong jadi putra seorang ahli silat kenamaan.

Kungfunya sudah mendapat warisan ayahnya, permainan ilmu pedangnya nyata memang liehay juga.

Di kala situasi berobah sehingga dirinya terdesak ini sikapnya tetap tenang-tenang saja, mendadak dia gunakan Hong-tiam-thau, berbareng pedangnya melintang balik pula sehingga gerakannya berobah Heng-ka-kim-liang, secara tepat dalam saat-saat kritis itu dia tekan dan punahkan serangan pedang Toh So-so.

Gerakan indah tepat waktunya, jelas pedang Toh So-so bakal membenturnya pula.

Tapi gerakan cepat itu masih diungguli kecepatan Toh So-so pula, permainan pedangnya ternyata lebih menakjubkan lagi, hadirin dibikin kabur pandangannva oleh kelincahan tubuhnya.

Heng-ka-kim-liang yang dilancarkan Liu Yau-hong bukan saja tidak berhasil membentur pedang lawan, malah tiga kali bacokan saling susul yang dilancarkan selanjutnya juga tidak mampu menyentuh ujung baju lawan.

Tampak Toh So-so menggoyang pundak, pakaian berkibar, selincah kecapung menutul air, atau kupu-kupu menari di pucuk bunga, dimana pedangnya berkelebat, dengan jurus Ciok-li-toh-so, disusul Kim-ke-toh-siok, satu jurus dua gerakan, membabat pinggang menjojoh rusuk, karena serangan mengenai tempat kosong, meski menggunakan pedang mustika, sia-sia belaka usaha Liu Yau-hong, malah dirinya terdesak mundur beberapa langkah.

Gebrakan ini terjadi dalam waktu singkat, kelihatan kedua orang seperti ayam jago yang disabung di tengah arena, belum lagi hadirin melihat jelas jalannya pertempuran, mendadak didengarnya Toh So-so menghardik.

"Lepas pedang."

Dimana sinar pedang berkelebat, kontan Liu Yau-hong menjerit kesakitan, bukan saja pedang mustika jatuh berkerontang, orangnya juga tersungkur di atas lantai.

Karuan Ong Goan-tin amat kaget, teriaknya.

"Toh Lihiap, beri ampun padanya, jangan..."

Maksudnya supaya Toh So-so tidak membunuh Liu Yau-hong, namun dilihatnya Liu Yauhong sudah roboh, maka perkataannya ditelannya lagi.

Dalam hati diam-diam Ong Goan-tin mengeluh.

Maklum perbuatan Liu Yau-hong memang brutal, cabul dan sudah rusak martabatnya, namun ayahnya adalah seorang jago silat yang punya nama harum, dengan Ong Goan-tin juga kenal baik.

Di kala dirinya merayakan ulang tahun, putra kenalannya mati di markasnya, jelas dia tidak akan terima dan pasti akan membuat perhitungan kepadanya.

Toh So-so tahu maksud Ong Goan-tin, katanya tertawa.

"Ong-cecu tidak usah kuatir, keparat ini masih hidup,"

Habis bicara dia angkat sebelah kakinya menendang tubuh Liu Yauhong sehingga terbalik celentang.

Kontan Liu Yau-hong menjerit pula.

Kini hadirin melihat jelas, selebar mukanya ternyata berlepotan darah, wajah yang semula ganteng putih dan sering dipupuri itu, kini sudah penuh goresan pedang yang malang melintang, itulah hasil karya Toh So-so.

Dalam sejurus ternyata dia mampu menggores luka malang melintang sebanyak itu di muka Liu Yau-hong, hadirin tiada yang melihat jelas betapa cepat gerakan pedangnya, sungguh amat mengejutkan.

Kaum pendekar sama bersorak dan memuji, sebaliknya orang-orang pihak Tang-hay-liong-ong sama pucat dan saling pandang tak bersuara.

Setelah menendang Liu Yau-hong, Toh So-so berkata dingin.

"Bukankah tadi kau bilang rela mati di bawah pedangku? Menilai perbuatan kotormu selama ini, sepantasnya aku membunuhmu, namun kupandang muka Ong-locecu, hari ini adalah ulang tahunnya, dalam suasana gembira tidak pantas membunuh orang maka nonamu mengampuni jiwamu, hayo enyah, memangnya ingin kutendang pula."

Liu Yau-hong keras kepala, saking kesakitan dia siuman dari pingsannya, pelan-pelan dia meronta bangun sempoyongan, katanya gemetaran.

"Toh So-so, kau, kau memang kejam, akan kuingat hadiahmu hari ini... selama hayat masih dikandung badan aku..."

Sampai disini dia tidak kuat melanjutkan perkataannya lagi. Tapi siapapun tahu apa maksud perkataannya, yaitu bersumpah akan menuntut balas sakit hati hari ini. Toh So-so tertawa dingin.

"Boleh, kau mau menuntut balas, kapan saja kutunggu."

Dua orangnya Tang-hay-liong-ong keluar menggotong Liu Yau-hong mengundurkan diri.

Tang-hay-liong-ong segera berdiri.

Gerak-geriknya menarik perhatian seluruh hadirin.

Toh So-so tertawa menyeringai, katanya.

"Sugong-thocu apakah kau ingin menuntut balas sakit hati orang she Liu?"

Tawar suara Tang-hay-liong-ong.

"Tinju dan senjata tajam tidak bermata, salahnya sendiri tidak becus belajar silat, Toh Lihiap tidak boleh disalahkan. Mati hidup di medan laga sudah menjadi suratan takdir, apalagi gugur dalam pertandingan seperti ini, tidak usah bicara soal balas dendam segala. Toh Lihiap, silahkan kau mundur saja, Sugong Go tidak sudi bergebrak dengan seorang angkatan muda."

Toh So-so tahu kepandaiannya terlalu jauh dibanding lawan, maka dia berkata.

"Baiklah, agaknya Sugong-thocu tidak ingin cari perkara dengan aku, maaf bila perkataanku tadi salah,"

Segera dia mengundurkan diri.

"Sugong-thocu,"

Kata Ong Goan-tin.

"bagaimana selanjutnya?"

Kaku tidak menunjukan perasaan hatinya, pelan-pelan Tang-hay-liong-ong menoleh kesana dan berkata dengan lantang kepada Tan Ciok-sing dan In San.

"Hadirin sudah setuju untuk memilih seorang Bu-lim-beng-cu, tujuannya supaya ada seorang pemimpin sehingga kekuatan kita terpadu dan sehaluan. Tak nyana terjadilah pertandingan babak demi babak untuk memperebutkan Bengcu itu. Beberapa babak pertandingan telah terjadi kericuhan, kejadian jadi menyeleweng dari tujuan semula, bukankah demikian Tansiauhiap?"

"Betul,"

Sahut Tan Ciok-sing.

"lalu bagaimana penyelesaiannya, harap Sugong-thocu memberi saran."

"Menurut pendapatku, lebih baik kita saja yang mengakhiri babak terakhir ini, siapa menang atau kalah, mati hidup biarlah ditentukan dalam babak terakhir ini supaya banjir darah tidak berlarut-larut."

Cun-ih Thong bertepuk tangan lebih dulu, serunya.

"Betul, jumlah orang kedua pihak cukup banyak, bila pertandingan tidak habis-habis, entah kapan baru akan berakhir? Biarlah dua calon Bengcu menentukan pertandingan babak terakhir ini saja."

"Sugong-thocu,"

Seru Ong Goan-tin.

"sebagai seorang tokoh yang sudah ternama di Kangouw, walau Tan-siauhiap kini juga telah menggetarkan dunia, paling juga baru dua tahun."

"Nanti dulu, aku belum habis bicara,"

Tukas Tang-hay-liongong terbahak-bahak.

"memang benar pendapat Ong-cecu, aku tahu Tan-siauhiap berkepandaian tinggi, betapapun dia masih muda dari aku, aku sendiri juga tidak ingin ditertawakan kaum persilatan sedunia..."

Sampai disini sengaja dia merandek. Hadirin bingung, dia yang menantang tapi bilang tidak mau menindas yang muda, memangnya apa maksudnya?"

Pelan-pelan Tang-hay-liong-ong melanjutkan.

"Maksudku aku ingin menjajal gabungan sepasang pedang Tan-siauhiap dengan In Lihiap. Dengan cara ini yakin hadirin tidak akan katakan aku yang tua ini menindas yang muda bukan?"

Cun-ih Thong tiba-tiba bertanya.

"Gabungan sepasang pedang Tan-siauhiap dan In Lihiap tiada bandingan di dunia, bukankah tadi Han-heng yang berkata demikian."

Han King-hong orang kasar, tanpa pikir segera dia menjawab.

"Banyak kawan-kawan Kangouw semua bilang demikian, memangnya kenapa?"

Cun-ih Thong ngakak, katanya.

"Tidak apa-apa aku merasa bersyukur hari ini bakal memperoleh kesempatan melihat saja. Hehe, apa benar pujian tadi sebentar juga akan terang dan terbukti. Tapi kalau sudah tersiar luas di Kangouw bila gabungan sepasang pedang mereka menempur Sugong-thocu tidak bisa dikatakan yang tua menekan yang muda lagi. Betul tidak?"

Baru sekarang hadirin maklum, sengaja dia putar kayun dengan ocehan panjang lebar, tujuan tidak lain bantu menarik keuntungan pihak Tang-hay-liong-ong.

Berkerut alis Tan Ciok-sing, hampir meledak amarahnya, namun dia dibujuk oleh Tam Pa-kun.

"Ucapan Cun-ih Thong memang benar, bertanding cara begitu memang tiada yang mengambil keuntungan. Kalian bergabung melawan musuh dijumlah usia kalian juga masih muda lawan. Maka menurut pendapatku, pertandingan ini cukup adil." . Maksud Tan Ciok-sing adalah tidak mau memungut keuntungan ini, tapi setelah dipikir lagi sekarang bukan saatnya adu mulut dan bertengkar, maka dia tidak banyak bicara..Tapi In San malah berkata.

"Siang-kiam-hap-pik sudah merupakan kebiasaan, menghadapi satu lawan kami berdua, menghadapi sepuluh lawan, kami tetap berdua. Bila Cun-ih Siansing anggap kita mengambil keuntungan boleh silahkan Cun-ih Siansing maju bersama Sugong-thocu."

Cun-ih Thong cengar-cengir katanya.

"In Lihiap, kenapa kaupun menyeret diriku."

Tang-hay-liong-ong menarik muka katanya.

"Jangan cerewet. Hadirin sudah akur bahwa pertandingan ini cukup adil, marilah segera kita mulai. Tapi perlu aku bicara di depan."

Lekas Cun-ih Thong menjilat pantat pula.

"Betul peduli apapun akhir pertandingan ini akibatnya harus dibicarakan lebih dulu."

Perlahan Tang-hay-liong-ong berkata.

"Kalau aku yang beruntung menang dalam pertandingan ini, kalian bagaimana?"

"Sudah tentu terserah kepadamu, hukuman apa terserah."

Tang-hay-liong-ong geleng-geleng, katanya.

"Aku tidak punya maksud menyakiti kalian."

Tam Pa-kun tiba-tiba berdiri, katanya lantang.

"Bahwa pertandingan ini menentukan kalah menang bila Sugong-thocu dapat mengalahkan mereka berarti pertandingan memilih Bengcu inipun berakhir. Selanjutnya Sugong-thocu adalah Bengcu kita."

"Kalau kami kalah boleh terserah Sugong-thocu menjatuhkan vonisnya..."

"Sugong-thocu barusan bilang tidak akan menyakitkan kalian,"

Tukas Cun-ih Thong. Tan Ciok-sing tidak hiraukan ocehannya, katanya lebih lanjut.

"Sekarang kita nyatakan pula bila kami yang kalah, umpama Sugong-thocu tidak sudi menjatuhkan vonisnya. Kami sudah berkeputusan untuk memunahkan ilmu silat sendiri tapi kami tidak akan mendukungnya menjadi Bengcu."

Cun-ih Thong mengerutkan kening, katanya.

"Lho, apa tidak mencari gara-gara?"

"Kami lebih suka memunahkan ilmu silat sendiri dan tidak sudi mendukungnya adalah urusan pribadi kami, tiada sangkut pautnya dengan orang lain."

Ciok-sing mempertegas.

Tujuan Tang-hay-liong-ong adalah menjadi Bengcu, dia tidak peduli apakah mereka berdua mau atau tidak mendukung dirinya, bila mereka memunahkan ilmu silat sendiri juga kebetulan malah bagi dirinya.

Maka dia tertawa, katanya.

"Urusan sebetulnya tidak sefatal itu. Tapi setiap manusia punya keinginan sendiri-sendiri, bila Tan-siauhiap sudah berkeputusan demikian, ya boleh terserahlah."

Tan Ciok-sing bertanya.

"Tapi bila kami yang beruntung dan kau yang kalah, bagaimana?"

Tang-hay-liong-ong tertawa lebar, katanya.

"Kalau aku kalah, jelas malu bercokol di dunia persilatan. Tan-siauhiap apapun keputusannmu aku akan meniru janjimu,"

Jadi pertandingan ini bukan melulu memperebutkan Bengcu, malah pihak mana yang kalah dia harus memunahkan ilmu silat sendiri."

Ong Goan-tin kaget, dia menoleh ke arah Tam Pa-kun, agaknya dia kuatir bila gabungan sepasang pedang Tan Cioksing dan In San bukan tandingan Tang-hay-liong-ong.

Tam Pa-kun tahu kekuatirannya, dia hanya memberi senyum simpul tanpa bersuara.

Tapi dari sorot mata dan rona mukanya, Ong Goan-tin tahu bahwa Tam Pa-kun yakin gabungan sepasang pedang Tan dan In pasti akan menang, maka lega juga hati Ong Goan-tin.

Tan Ciok-sing dan In San sudah berdiri jajar di tengah gelanggang, pedang masing-masing sudah terlolos.

Pedang mereka adalah warisan pedang Thio Tan-hong, begitu keluar sarungnya pedang pusaka itu memancarkan cahaya terang gemerlap menyilaukan mata.

Dengan lagak jumawa pelan-pelan Tang hay-liong-ong bersuara.

"Bawa kemari senjataku."

Sebagian besar yang hadir hanya tahu bahwa Kungfu Tang-hay-liong-ong amat tinggi, namun gaman apa yang dia gunakan tiada satupun yang tahu, maka perhatian hadirin ditujukan kepadanya,mereka ingin tahu apakah senjatanya mampu menandingi sepasang pedang pusaka Tan Ciok-sing dan In San yang sudah terkenal sejak puluhan tahun.

Tampak empat laki-laki memanggul keluar sepasang tombak mengkilap gelap, dikata tombak juga bukan tombak, tidak mirip ruyung atau trisula, namun ujungnya berbentuk tombak, di sisi kiri kanan terdapat lekuk bulan sabit yang tajam dan runcing, lebih bawah lagi merupakan pedang sampai di gagang ada besi melengkung sebagai pelindung jari-jari tangan.

Ada yang tahu bahwa gaman ini dinamakan Ban-ci-toh, senjata dari garis luar gaman yang jarang digunakan oleh insan persilatan, namun kasiat senjata ini dapat digunakan merampas senjata lawan.

Dalam hati Ong Goan-tin berpikir.

"Ban-ci-toh memang dapat merampas pedang, tapi menghadapi pedang pusaka peninggalan Thio Tan-hong, yakin tidak akan mampu berbuat banyak."

Ban-ci-toh panjang seluruhnya ada tujuh kaki, besarnya kira-kira sama dengan gagang tumbak umumnya, tapi dua lelaki yang memanggul sebatang kelihatan keberatan, sungguh hadirin sama heran dan kaget.

"Betulkah Ban-ci-toh ini berbobot seberat itu?"

Han King-hong menjadi sebal, kontan dia mengolok.

"Ah, pura-pura belaka, memangnya siapa yang takut digertak."

Tengah bicara, dilihatnya ke empat lelaki itu sudah melemparkan Ban-ci-toh itu ke arah Tang-hay-liong-ong.

Entah mereka mendengar olok-olok Han King-hong, yang terang salah satu dari Ban-ci-toh itu ternyata meleset ke depan Han King-hong.

Lekas Han King-hong lolos golok besar yang berpunggung tebal terus membacok.

"Traaang"

Kembang api berpijar, golok besar tak kuat lagi dipegang, jatuh berkerontang bersama tubuhnya yang kekar.

Lekas teman-teman memapahnya bangun, tampak darah meleleh dari ujung mulutnya, untung tidak terluka dalam, namun golok punggung tebalnya itu patah jadi dua.

Setelah membentur patah golok besar Han King-hong, Ban-ci-toh itu masih meleset ke depan ke arah majikannya.

Dengan enteng Tang-hay-liong-ong gerakan kedua tangan meraih kedua gamannya, berdiri santai seperti tidak terjadi apa-apa.

Han King-hong terkenal sebagai jagoan yang punya tenaga raksasa, golok tebalnya itu berat 64 kali ternyata tidak kuat menghadapi benturan Ban-ci-toh, golok patah pemiliknya juga terjungkal meski tidak terluka parah, tapi hadirin sama kaget.

Tapi Han King-hong sendiri memang berjiwa polos dan jujur, meski dia terbentur jatuh oleh gaman Tang-hay-liongong, diam-diam dia kagum malah terhadap berat gaman orang, sambil merangkak tapi mulutnya menggumam.

"Kukira dia hanya pura-pura saja, ternyata memang berat sekali, tak heran dua orang memikulnya dengan payah. Aneh, gaman terbuat dari logam apakah, hanya sebatang senjata macam tombak, aku ternyata tidak kuat menyambutnya."

Cun-ih Thong ingin pamer kepintarannya di samping ingin menunjukkan bahwa dirinya punya hubungan intim dengan Tang-hay-liong-ong, dari samping segera dia mengoceh pula sambil membusung dada.

"Sepasang Ban-ci-toh milik Sugongthocu ini memang bukan sembarangan senjata, pada setiap pertempuran jarang dipakai. Maka maklum bila kaum persilatan jarang yang tahu asal-usul senjatanya. Perlu diketahui bahwa sepasang gaman Sugong-thocu ini dibuat dari Hian-tiat (besi murni). Apa itu Hian-tiat? Dalam bentuk dan besar yang sama bobot Hian-tiat sepuluh kali lipat dari besi biasa"

Sejak melihat Tan dan In mengeluarkan sepasang pedang pusaka, timbul harapan orangorang gagah, namun setelah tahu gaman Tang-hay-liong-ong ternyata terbikin dari Hiantiat, goyah pula keyakinan mereka.

Apakah Hian-tiat itu hadirin banyak yang belum pernah lihat, tapi banyak juga yang tahu bahwa Hian-tiat itu merupakan sari gabungan dari lima unsur logam, konon hanya di puncak Sing-siok-hay di Kun-lun-san baru kedapatan ada Hian-tiat namun Hian-tiat itu sendiri juga sukar ditemukan disana.

Apakah pedang mustika Tan dan In mampu melawan senjata yang terbuat dari Hiantiat?

Tampak dengan menggenggam kencang senjatanya Tanhay-liong-ong sudah berdiri tegak di tengah arena, katanya kepada Tan dan In.

"Aku lebih tua, di hadapan sekian banyak orang-orang gagah, aku pantang memungut keuntungan dari kalian. Tidak lekas kalian turun tangan, masih tunggu apa lagi?"

Sikap jumawa nadanya mengejek.

In San berdarah panas, tanpa bicara segera dia gerakan Ceng-bing-kiam, sinar pedang gemerlap ujung pedangnya langsung menusuk ke ulu hati di dada kiri Tang-hay-liong-ong.

Dalam keluarga persilatan ada sebuah pameo.

"Golok menempuh jalan putih, pedang jalan hitam"

Maksudnya bahwa pedang kebanyakan dimulai dari sebelah kiri, jarang membuka serangan dari tengah.

Begitu turun tangan In San langsung menusuk dada, meski bukan bermaksud merendahkan lawan, namun didalam kebiasaan adu kekuatan di Bu-lim, sikapnya ini sudah dianggap kurang hormat terhadap seorang Cianpwe.

Karuan Tang-hay-liong-ong naik pitam, bentaknya.

"Biar budak kecil macammu ini tahu keliehayanku,"

Serempak dia mengembangkan kedua lengan atasnya kesamping.

"Trak"

Sepasang gamannya serempak menjepit ke kedua kuping In San.

Jurus ini dinamakan Siang-hong-koan-hi (sepasang angin mengunci telinga).

Melihat kedua pihak mulai pertempuran dengan serangan keji yang mematikan, tak urung hadirin sama menjerit kaget.

Maklum bobot senjata lawan seberat itu, bila kepala In San tergencet sungguhan, kepalanya pasti remuk dan gepeng.

Tujuan Tang-hay-liong-ong hendak membendung gerakan In San didalam jangkauan sepasang gamannya, tak nyana In San memiliki gerak tubuh lincah, belum lagi sepasang senjata lawan menggencet tiba dengan langkah Lou-kik-hou-pou dia berkisar ke samping kanan Tanghay-liong-ong.

Cepat sekali Pek-hong-kiam Tan Ciok-sing juga sudah bergerak laksana lembayung perak terjun ke tengah pertempuran.

Jurus ini dinamakan Sin-liongjip-hay (naga sakti masuk laut), kelihatannya amat keji dan berbahaya, namun tujuannya untuk mematahkan serangan Tang-hay-liong-ong yang mematikan sekaligus membantu In San untuk melontarkan serangan mematikan selanjutnya.

Dimana ujang pedang bergetar, tiba-tiba timbul tiga ceplok kuntum sinar pedang, hanya dalam jangka kilatan dalam satu jurus dia telah menyerang tiga Hiat-to mematikan tubuh Tang-hay-liong-ong, serangan ganas yang memaksa lawan menyelamatkan diri lebih dulu.

Betapa tinggi ilmu silat Tang-hay-liong-ong, tak urung bercekat juga hatinya.

"Thio Tan-hong memang seorang maha guru silat besar, Siang-kiam-hap-pik yang diwariskan sepasang muda mudi ini memang luar biasa. Aku tak boleh memandang enteng mereka."

Begitu mundur cepat sekali In San sudah merangsak pula.

Ceng-bing-kiam bergerak dengan jurus Hian-niau-hoat-sa, secara membalik menyontek lengan kiri musuh, lekas Tanghay-liong-ong memperbesar lingkaran gerak senjatanya, Tan Ciok-sing bergerak mengikuti permainan pedangnya, sebat sekali dia melayang keluar dari lingkaran benturan sepasang gaman lawan tadi secara enteng.

Malah di antara maju dan mundui itu, secepat kilat dia tambahi pula dua jurus serangan, Tang-hay-liong-ong dipaksa berlaku hati-haati sehingga tidak berani menyerang In San dengan segala tenaganya.

Maklum Lwekang In San memang lebih rendah, walau dirinya tidak kebentur gaman lawan namun ketindih tekanan angin keras, tak urung dia merasa sesak napasnya.

Tang-hay-liong-ong tahu titik kelemahan berada di gadis yang satu ini, mendadak dia menghardik sekali, gaman kiri menyontek ke atas mematahkan serangan pedang Tan Cioksing, berbareng gaman kanan disapukan miring agak rendah menyerampang bagian bawah In San.

Mendadak In San menjejak lantai tubuhnya melejit tinggi.

"Srct"

Berbareng pedangnya menusuk dari posisi yang tidak terduga, lekas Tang-hay-liong-ong memutar miring Ban-ci-toh, lalu mendadak didorong ke depan serta ditekan pula ke bawah, agaknya dia nekad biar dirinya tertusuk pedang In San, lawan juga pasti terluka oleh senjatanya.

Kebentur deru angin senjata lawan saja pedang In San sudah tersampuk pergi, meski gerak susulan sudah siap dilancarkan dalam keadaan seperti itu, tenaganya juga sudah ludes umpama pedang berhasil melukai lawan, Tang-hay-liong-ong juga hanya terluka ringan saja.

Gebrak berlangsung cepat dan singkat, gaman Tang-hay-liong-ong kelihatan hampir menutul ke pusar In San.

Hadirin sama mencelos kaget, ada di antaranya malah menjerit ngeri.

Namun pada detik gawat itu mendadak terdengar suara "Tang"

Begitu kerasnya sehingga kuping hadirin pekak rasanya.

Untuk menyelamatkan In San terpaksa Tan Ciok-sing menolongnya membentur gaman lawan secara kekerasan, dengan pedangnya dia mendorong pergi Ban-ci-toh Tang-hayliong-ong yang hampir mengenai In San.

Bertempur selama puluhan jurus, baru sekali ini gaman mereka saling beradu.

Bentrokan senjata menimbulkan percikan kembang api.

Seluruh hadirin terbelalak diam hingga sunyi senyap, semua ingin tahu bagaimana akibat dari benturan keras ini.

Tampak gerak Tan Ciok-sing melenting terus berkelebat miring kesana.

Pek-hong-kiam tetap dipegang sedikitpun tidak kurang suatu apa, hadirin baru merasa lega Di tengah percikan api tadi, mau tidak mau Tang-hay-liongong juga kaget dan mundur selangkah.

Tersipu-sipu dia melirik ke bawah melihat gamannya tidak kurang suatu apa, maka lega juga hatinya.

Masing-masing pihak tidak dirugikan, Tang-hay-liong-ong berseru.

"Bagus,"

Dua gaman menjulur bersama, mumpung Tan Ciok-sing belum berdiri tegak dia sudah mendesaknya pula.

Gebrak selanjutnya jauh lebih hebat dan menegangkan, kini tiada rasa memandang enteng kedua lawannya dalam benak Tang-hay-liong-ong, dia himpun semangat dan kerahkan tenaga mengembangkan kemahiran permainan sepasang senjatanya yang lain dari pada yang lain.

Siang-kiam-hap-pik Tan Ciok-sing dan In San ternyata dihadapinya dengan gagah berani.

Bobot senjata sudah berat, dilandasi tenaga raksasa dengan Lwekang tinggi lagi, maka gerak gaman itu sendiri sudah merupakan tenaga raksasa yang luar biasa, lawan dapat memainkan secara lincah dan enteng lagi hingga kelihatannya seperti dua ekor naga yang mengikuti gerakgerik serangan Tan dan In berdua Lama kelamaan hadirin menjadi kabur pandangannya, hati kebat kebit lagi, Ong Goan-tin Congcecu dari tiga puluh enam Cecu di perairan Thay-ouw tak urung merasa kuatir dan berkeringat dingin, dengan suara perlahan dia tanya kepada Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun.

"Tam-toako, menurut pandanganmu, mereka, apakah mereka kuat bertahan..."

Belum habis dia bertanya, Tam Pa-kun juga belum menjawab, mendadak didengarnya Tan Ciok-sing dan In San berkata dua patah.

Hadirin tidak tahu apa arti dua patah kata yang diucapkan, tapi Tam Pa-kun dan Ong Goan-tin maklum dua patah kata itu adalah inti sari ilmu tingkat tinggi yang mendalam artinya, seketika mereka tertawa saling pandang, yang satu tidak perlu tanya lagi, yang ditanya juga tidak perlu menjawab.

Tampak permainan pedang Tan Ciok-sing semakin lambat, ujung pedang seperti diganduli benda ribuan kaki beratnya, menuding timur menggaris ke barat, gerak-geriknya seperti tidak aturan malah.

Hadirin kaget, tapi rona muka Tang-hay-liong-ong sendiri kelihatan prihatin dan makin gelap, meski gerak pedang Tan Ciok-sing makin lambat, seperti terbuka lobang serangan, namun dia tetap tidak berani merangsak maju menyerang, sikapnya malah amat hati-hati.

Lain lagi permainan In San, pedangnya diputar makin kencang disertai kelincahan tubuhnya yang tangkas dan sebat, mendesak maju mencelat mundur, mencelat ke atas mendak ke bawah.

Semula dia hanya bertahan saja, kini terbalik dia yang melancarkan serangan menggebu malah.

Latihan Tan Ciok-sing berdua memang belum mencapai tingkat paling tinggi, namun dia meyakinkan ajaran Lwekang Thio Tan-hong, ajaran yang telah diresapinya diluar kepala itu memang mandraguna, meski baru beberapa tahun tapi bekal ilmunya sudah cukup setimpal mengangkat dirinya ke taraf jago kelas wahid demikian pula kali ini, mau tidak mau Tanghay-liong-ong harus numplek seluruh perhatiannya untuk menghadapinya.

Setiap kali Tang-hay-liong-ong lancarkan serangan dengan tenaga raksasa, selalu Ciok-sing gunakan tenaga lunak dengan gerakan pedangnya menuntun dan memunahkannya, meminjam tenaga untuk balas menggempur lawan pula.

Bila serangan dianggap kosong mendadak gelombang tenaga besar justru melanda tiba.

Oleh karena itu meski taraf Kungfu Tang-hay-liong-ong lebih tinggi dari kedua lawan mudanya ini mau tidak mau bercekat juga hatinya.

Taraf latihan In San setingkat di bawah Tan Ciok-sing, permainannya belum memadai ke taraf yang lebih tinggi sehingga sukar baginya mengembangkan permainan yang lebih ampuh.

Namun dasar otaknya cerdas dia cukup pintar menyesuaikan diri, syarat yang tidak tercapai dia ganti dengan cara lain, terpaksa dia mengembangkan ilmu "dengan sentuhan mematahkan tenaga"

Lwekangnya jauh ketinggalan dibanding Tang-hay-liongong namun Ginkang dan kelincahan tubuhnya jelas lebih unggul, maka dengan kombinasi permainan ini, dia gunakan kemahiran sendiri untuk menyerang titik lemah musuh.

Begitu dia kembangkan ilmu pedangnya menusuk, menyontek, mengetuk, membelah, dan mengikis, semua ini dilaksanakan secara tepat dan bagus gerakannya, boleh digambarkan lambat di tengah kecepatan, lincah di saat enteng, gerak-gerik berkembang lembut laksana air mengalir dan mega mengembang mantap dan tegap penuh keyakinan.

Jikalau satu lawan satu jelas Tang-hay-liong-ong tidak mudah dicecar sehebat ini, namun permainan Siang-kiam-happik mereka memang amat serasi, kerja sama mereka amat ketat dan sembabat, walau yang satu lambat yang lain cepat, kelihatannya seperti bertempur sendiri-sendiri, namun dari berlainan ini justru timbul perpaduan yang terjalin amat ampuh, kombinasi permainan sepasang pedang mereka semakin memuncak kesempurnaannya.

Tapi hanya beberapa orang saja di antara hadirin yang melihat kehebatan dari Siang-kiam-hap-pik itu.

Ong Goan-tin sudah tentu satu di antaranya, kini baru dia melihat titik terang hingga lega hatinya, katanya setengah berbisik kepada Tam Pa-kun.

"Tam-toako, pandanganmu memang lebih tajam."

Perkataannya amat lirih, tapi Tang-hay-liong-ong yang lagi berhantam di tengah arena mendengarnya. Mau tidak mau gundah hatinya, pikirnya.

"Jikalau bertempur seperti ini dilanjutkan, sedikit lena salah-salah aku bakal konyol. Kalau aku tidak kuasa menjatuhkan dua muda mudi, umpama ingkar janji, memangnya masih ada muka aku berkecimpung di Kangouw."

Maklum sebelum bertanding tadi mereka sudah berjanji pihak yang kalah secara suka rela akan punahkan ilmu silat sendiri.

Dalam posisi Tang-hay-liong-ong sekarang dituntut untuk menang, karena terdesak oleh keadaan akhirnya timbul nafsu jahatnya, dia bertekad akan mengadu jiwa.

Mendadak dia menghardik, suaranya sekeras guntur, tanpa hiraukan tusukan pedang Tan Ciok-sing sepasang gamannya mendadak mengepruk ke batok kepala In San.

Kala itu Tan Ciok-sing sedang melancarkan jurus Pek-hou-liang-ci ujung pedangnya menepis lengan kiri Tang-hay-liong-ong.

Bila jurus serangan kedua pihak ini dilancarkan sesungguhnya.

Batok kepala In San jelas bakal remuk terketuk gaman lawan, tapi lengan kiri Tang-hay-liong-ong juga akan tertabas kutung dari badannya.

Kepala pecah jiwa melayang, sebaliknya lengan buntung tetap hidup, agaknya Tang-hay-liong-ong merelakan sebelah lengannya untuk menuntut jiwa In San Perkembangan tidak terduga ini menimbulkan kagemparan orang-orang kedua pihak, semua sama menjerit kuatir.

Namun hanya dalam waktu sekejap itu sebelum hadirin melihat jelas apa yang terjadi, mendadak cahaya kemilau di tengah gelanggang kuncup seluruhnya, sepasang gaman Tang-hay-liong-ong menjulur lurus ke depan, sementara Tan dan In menyanggah dengan kedua pedang, tiga orang sama tidak berani bergerak.

Agaknya Tang-hay-liong-ong sudah memperhitungan di kala melancarkan keprukan sepasang gamannya ke batok kepala In San dia yakin Tan Ciok-sing takkan berani mempertaruhkan jiwa In San dengan membabat kutung lengannya, sesuai dugaannya, baru saja otaknya menduga tahu-tahu Tan Ciok-sing sudah merobah permainan.

Begitu cepat gerak perobahannya dan perkembangannya pun samasama dirasakan kedua pihak, dua pihak sama-sama menyerempet bahaya.

tapi perkembangan ini justru sudah merupakan rencana Tang-hay-liong-ong yang licik.

Dengan kekuatan Lwekang dan bobot sepasang senjatanya yang kuat, dia salurkan tenaganya secara bergelombang seperti air bah mengalir tidak putus-putus tenaganya terus disalurkan pada sepasang gamannya menindih ke arah musuh.

Dalam keadaan seperti itu Tan dan In sudah tidak mungkin menangkis atau menggeser senjatanya pula, sehingga terjadilah adu kekuatan tenaga dalam.

Kelihatannya memang tenang-tenang, senjata kedua pihak seperti lengket menjadi satu tanpa bergerak.

Tapi dalam ketenangan ini bagi seorang jago silat kelas tinggi justru merupakan babak yang paling tegang dan mengejutkan.

Maklum adu tenaga, Lwekang siapa kuat dia bakal menang, dalam adu kekuatan ini hakikatnya orang tidak bisa main curang.

Walau Tan dan In melawan satu, namun mereka baru berusia dua puluhan.

In San perempuan yang bertenaga jauh lebih lemah lagi, sementara Tang-hay-liong-ong dibekali latihan Lwekang puluhan tahun, mana mereka mampu melawannya?

Di kala hadirin mencucurkan keringat dingin dan menyaksikan dengan kuatir, tampak uap putih mulai mengepul dari ubun-ubun kepala Tang-hay-liong-ong.

Kiranya Lwekang Tan Ciok-sing memang agak lemah dibanding Tang-hay-liong-ong, tapi Lwekang yang diyakinkan dari aliran lurus dan murni memperoleh ajaran tingkat tinggi dari ciptaan Thio Tan-hong, kemurniannya jelas lebih unggul dibanding bekal Lwekang Tang-hay-liong-ong, ketahanannya juga lebih lama dan kuat.

Tang-hay-liong-ong terus menggempur dengan menambah tenaganya, laksana gugur gunung layaknya menindih kedua lawannya, gelombang pertama disusul gelombang kedua yang lebih dahsyat.

Pek-hong-kiam Tan Ciok-sing sudah melengkung, tapi aneh, keadaan seolah batu karang di tengah sungai yang tidak bergeming meski diterjang gelombang badai..

Bukan begitu saja, di tengah rangsakan membadai lawannya, ada kalanya diapun balas menyerang.

Meski hanya kadang kala, namun hal itu cukup membuat rasa kejut Tanghay-liong-ong makin besar.

Sudah delapan puluh persen Tang-hay-liong-ong meningkatkan tekanan tenaganya, terpikir dalam benaknya sisa dua puluh persen kekuatannya hendak dia gunakan menggempur In San, tiba-tiba terasa Ki-ti-hiat di lengan kanannya kesakitan luar biasa seperti ditusuk jarum, rasa sakit yang meresap tulang sumsum.

Ternyata Tan Ciok-sing gunakan cara memusatkan tenaga dalam menyerang satu titik sasaran dari ajaran Lwekang ciptaan Thio Tan-hong.

Cara mengerahkan Lwekang menggunakan tenaga dari ilmu tingkat tinggi seperti ini.

Tang-hay-liong-ong sendiripun belum tahu.

Lwekang Tan Ciok-sing memang bukan tandingan Tanghay-liong-ong, tapi dia justru menyerang ke titik sasaran yang tidak terduga, karuan Tang-hay-liong-ong kelabakan dan tidak berani menguras seluruh tenaganya.

Karena itu dia tidak berani menambah kekuatannya menekan In San, cukup asal tenaga perlawanan In San dapat dibendungnya saja, maka tujuh puluh persen tenaganya dia gunakan menggempur Tan Ciok-sing.

Lwekangnya memang tangguh, namun setelah berkutet setengah sulutan dupa, tak urung uap putih mulai mengepul dari kepalanya, itulah pertanda Lwekang telah disalurkan mencapai puncaknya.

Di bawah tekanan kekuatan berat lawan, keringat sudah membasahi jidat Tan Ciok-sing napasnyapun mulai berat, keadaan In San lebih payah lagi, napasnya sudah sengalsengal muka pucat, keringat gemerobios.

Dari pertandingan senjata berganti adu kekuatan tenaga dalam, hal ini tidak terduga pula oleh Tam Pa-kun.

Sejauh ini Siang-kiam-hap-pik merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang sudah mencapai taraf tinggi di kalangan Bulim.

Tam Pa-kun menaruh harapan besar, dia berpendapat hanya Siang-kiam-hap-pik inilah yang mampu menundukkan musuh tangguh ini.

Tapi keadaan justru berobah adu tenaga dalam, bagaimana akhir pertempuran nanti susah diramalkan.

Walau dia sudah melihat keadaan Tang-hay-liong-ong yang menunjukkan tanda-tanda akan kehabisan tenaga, namun keadaan Tan Ciok-sing berdua juga tidak kalah payahnya, apakah mereka kuat bertahan lebih lama dari Tang-hay-liongong?

Ong Goan-tin kebat-kebit, tak tahan dia berdiri, katanya.

"Dua harimau berkelahi pasti ada satu yang luka, kukira pertandingan ini biarlah dianggap seri bagaimana?"

Tang-hay-liong-ong tidak berani memberi komentar, dia perlu meningkatkan kewaspadaan dan ketahanannya untuk menjaga sergapan tenaga dalam Tan Ciok-sing yang menyerang satu titik sasaran, jelas dia tidak mampu buka suara.

Tapi Cun-ih Thong yang telah disogoknya itu pandai bersilat lidah, tanpa diminta dia akan tahu diri bagaimana dia harus bertindak, terdengar sebelum buka suara beruntun tiga kali tertawa dingin.

Han King-hong membentak.

"Kau keparat ini tertawa apa?"

"Kukira pernyataan Ong-locecu kurang bijaksana dan tidak adil."

Ong Goan-tin gusar, dampratnya.

"Dalam hal apa yang tidak adil?"

"Babak pertandingan terakhir ini bakal menentukan siapa.menang dia jadi Bengcu, mana boleh dianggap seri? Kalau seri lalu siapa yang harus jadi Bengcu?"

"Keduanya bukan Bengcu,"

Seru Han King-hong "Jawaban yang tidak kenal aturan,"

Cemooh Cun-ih Thong.

"pertandingan menentukan Bengcu sudah disetujui khalayak ramai, mungkinkah pertandingan ini boleh tidak usah menentukan seorang Bengcu."

Ong Goan-tin menahan amarah, katanya.

"Maksudku supaya mereka tidak perlu gugur bersama, maka aku serukan supaya urusan ditempuh jalan damai. Tentang siapa bakal merebut jabatan Bengcu, setelah pertandingan selesai, masih bisa kita bicarakan lagi."

"Menurut pendapatku,"

Jengek Cun-ih Thong.

"Sugongthocu kini jelas berada di atas angin, kurasa tidak mungkin akhirnya bakal gugur bersama."

Ong Goan-tin menguatirkan keselamatan jiwa Tan Ciok-sing dan In San, demi mempertahankan jiwa mereka apa salahnya terima kalah dan tunduk di bawah perintahnya.

Tak nyana di kala mulutnya sudah terbuka belum sempat bersuara, tiba-tiba didengarnya Tan Ciok-sing berkata.

"Ong-locecu, menurut pendapatku perkataan Cun-ih Siansing memang beralasan, babak terakhir ini harus ditentukan siapa kalah dan menang."

Dalam saat-saat kritis mengadu tenaga dalam ternyata Tan Ciok-sing mampu bersuara, bukan saja hadirin kaget.

Tanghay-liong-ong sendiripun tidak kurang kejutnya.

Dimakluminya bahwa Lwekang Tan Ciok-sing bukan tandingannya, kalau dia pantang bersuara Tan Ciok-sing justru buka suara.

Ternyata aliran Lwekang yang mereka pelajari memang jauh berbeda.

Tang-hay-liong-ong meyakinkan Lwekang yang ganas tapi sekali bertempur harus kerahkan seluruh tenaga, tumplek perhatian tidak boleh bicara.

Tan Ciok-sing justru meyakinkan Lwekang lunak berpupuk dasar kuat, berbicara hakikatnya tidak mempengaruhi pengerahan tenaganya, namun sedikit akibat memang ada.

Begitu Tang-hay-liong-ong tambah tekanan tenaganya, Pek-hong-kiam di tangan Tan Ciok-sing melengkung lebih rendah lagi.

Melihat dan mendengar Tan Ciok-sing mampu bicara, hadirin bertempik sorak riuh rendah.

Han King-hong berkata dengan tawa lebar.

"Bagus, Cun-ih Thong, hayo bertaruh coba nanti buktikan pandangan siapa lebih tajam."

Dingin muka Cun-ih Thong, diam saja tidak memberi tanggapan, kini tiba gilirannya menguatirkan keadaan Tanghay-liong-ong.

Meski sedikit lega tapi Ong Goan-tin masih berkuatir juga.

Dia tahu, Tan Ciok-sing bisa bicara, itu pertanda dia kuat bertahan lebih lama dari dugaannya semula, tapi dia tidak yakin apakah Ciok-sing berdua mampu mengalahkan Tanghay-liong-ong.

Di kala hadirin tumplek seluruh perhatian ke tengah gelanggang, ada seorang perempuan menggeremet masuk secara diam-diam.

Tiada orang memperhatikan kedatangannya, namun Kek Lam-wi justru melihat kedatangannya.

Lam-wi tidak percaya akan pandangan mata sendiri, tak terasa dia bersuara heran.

Toh So-so mendengar suara heran Lam-wi, lekas dia angkat kepala.

Begitu dia melihat gadis itu, sesaat diapun melongo, tapi hatinya kaget dan senang.

Lekas dia memburu kesana menyambutnya.

Gadis ini bukan lain adalah Bu Siu-hoa yang sedang dicari oleh Kek Lam-wi.

Mereka tidak tahu entah sembunyi di tempat sepi mana Bu Siu-hoa sekarang, sungguh tidak nyana sekarang dia muncul sendiri, malah muncul di hadapan orangorang gagah sebanyak ini.

"Bu-cici, betapa payah kami mencarimu,"

Seru Toh So-so menyongsong maju serta menarik lengan Bu Siu-hoa. Sikap Bu Siu-hoa agak kikuk dan risi katanya tergagap.

"Toh-cici, aku berbuat salah terhadap kau, aku menipumu."

"Kau telah menolong Lam-ko, belum sempat aku berterima kasih kepadamu, urusan sudah lalu tidak usah disinggung lagi. Tapi bagaimana kau bisa datang kemari."

Belum lagi Bu Siu-hoa menjawab, tiba-tiba didengarnya Kek Lam-wi berteriak.

"Awas serangan gelap."

Toh So-so bertindak lebih cepat.

"Tring"

Sebutir pelor duri yang terbuat dari besi telah dipukulnya jatuh.

Gerakan membalik melolos pedang serta memukul jatuh senjata rahasia dilakukan secara mahir dan cepat seperti belakang kepalanya tumbuh mata saja.

Kek Lam-wi berteriak pula "Si pendek yang duduk di pojok timur itulah penyerangnya, lekas gusur dia keluar."

Belum habis dia berteriak tiba-tiba didengarnya si pendek itu sudah menjerit dan terguling di lantai. Bu Siu-hoa tertawa dingin, jengeknya.

"Memberi tidak dibalas kurang hormat, biar keparat itu juga rasakan senjata rahasia."

Ternyata orang itu tersambit Bwe-hoa-ciam di lutut, tepatnya di Hoan-tiau-hiat.

Didalam kelompok orang-orang sebanyak ini dia mampu menyambitkan jarum sekecil itu tepat kesasarannya, mau tidak mau hadirin merasa kagum dan heran, tidak sedikit orang yang bisik-bisik, saling tanya.

"Siapa gadis ini?"

Si pendek yang membokong tadi merangkak duduk terus berteriak.

"Perempuan siluman ini adalah putri Bu-sam Niocu dari Bu-san-pang, ln Kip adalah ayah angkatnya, pasti In Kip mengutusnya kemari jadi mata-mata."

In Kip punya hubungan rahasia dengan pihak kerajaan, hal ini sudah terbongkar dan diketahui banyak orang. Beberapa orang yang berangasan kontan memaki.

"Bagus, perempuan siluman ini berani bertingkah melukai orang disini, lekas bekuk dia."

Bu Siu-hoa bertolak pinggang, katanya dingin menuding si pendek.

"Aku pernah melihatnya, walau aku tidak tahu namanya, tapi aku tahu dia salah satu tamu kepercayaan In Kip."

"Betul,"

Timbrung Toh So-so teringat.

"di rumah keluarga In, hari itu akupun pernah melihatnya. Kini dia pura-pura menjadi kaum pendekar dan menyelundup kemari."

Beberapa lelaki kasar berangasan itu sudah memburu keluar hendak membekuk Bu Siu-hoa mendengar perkataan Toh So-so, mereka sama melenggong saling pandang. Si pendek berkata.

"Jangan percaya obrolan perempuan siluman itu. Apapun dia adalah putri Bu-sam Niocu dari Busan-pang yang sudah rusak namanya, putri angkat ln Kip yang jahat dan kemaruk harta itu, coba kalian tanya dia berani tidak dia mengaku?"

Tam Pa-kun berdiri, katanya.

"Aku percaya perkataan nona Bu ini. Tapi dia memang benar putri Bu-sam Niocu dari Busan-pang, tapi sekarang dia sudah insyaf dan kembali ke jalan lurus, aku bisa menjadi saksi."

Bahwa Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun angkat bicara menjadi saksi kebenaran asal-usul Bu Siu-hoa, sudah tentu hadirin lebih percaya kepada keterangannya. Kek Lam-wi berdiri ikut bicara.

"Akupun berani menjadi saksi, dia pernah menolong jiwaku. Menurut apa yang kuketahui akhir kali ini, dia sudah meninggalkan Bu-san-pang dan putus hubungan dengan ibunya."

Lenyap kecurigaan hadirin terhadap Bu Siu-hoa, maka perhatian kini ditujukan kepada lelaki pendek itu, tanpa banyak bicara dua orang telah mencengkramnya keluar dan hendak mengompresnya.

Tapi Tam Pa-kun berkata.

"Gusur keluar dan sekap dulu keparat ini, nanti kita minta keterangannya."

Dalam pada itu adu kekuatan tenaga dalam antara Tan Ciok-sing bersama ln San kontra Tang-hay-liong-ong tetap tertahan, keadaan tetap seperti tadi, sama-sama tegak kaku seperti patung.

Pertandingan seperti ini sudah tentu tidak lebih mengasyikkan dari adu pukulan dan tipu menipu, bagi mereka yang rendah kepandaiannya, malah bosan dan gerah rasanya.

Tapi bagi para ahli silat, adu kekuatan seperti ini justru lebih menegangkan, karena babak akhir dari adu kekuatan ini sebentar lagi bakal mencapai klimaknya.

Mendengar seruan Tam Pa-kun baru hadirin sadar, karena kedatangan Bu Siu-hoa tadi perhatian mereka jadi terpecah, kini kembali mereka memperhatikan adu kekuatan di tengah arena pula.

Sudah tentu lebih banyak hadirin yang tidak bisa menyelami kehebatan adu kekuatan, namun mereka bisa menduga ketenangan yang kelihatannya bertahan ini, suatu ketika bakal meledak kesudahan yang menggemparkan.

Maka mereka tidak mau pedulikan urusan lain pula.

Laki-laki berangasan tadipun maju minta maaf kepada Bu Siu-hoa lalu si pendek itu diseret keluar.

Bu Siu-hoa berkata.

"Tam Tayhiap, ada urusan penting perlu kulaporkan kepada Ong-locecu"

"Baik, mari ikut aku,"

Ujar Tam Pa-kun. Bu Siu-hoa menjura kepada Ong Goan-tiri, katanya.

"Siau-li datang tanpa diundang, mohon maaf akan kehadiranku yang serampangan ini."

"Nona Bu jangan sungkan, entah ada urusan penting apa yang ingin kau sampaikan kepada Lohu?"

"Soal ini kurasa harus kubeber di hadapan umum,"

Kata Bu Siu-hoa. Nadanya seperti urusan ini amat penting, sebelum meneruskan perkataannya dia bertanya pula kepada Ong Goan-tin.

"Tolong tanya, apakah orang yang bertanding melawan Tan-siauhiap dan ln Lihiap adalah Tang-hay-liongong Sugong Go?"

"Benar, dia memang Sugong thocu,"

Sahut Ong Goan-tin "Baiklah, syukur kedatanganku belum terlambat,"

Ujar Bu Siu-hoa.

Belum habis dia bicara, tiba-tiba terdengar Tang-hay-liongong menggeram rendah dan serak, suaranya seperti dengus sapi yang hendak disembelih.

Maka tampak Tang-hay-liongong melangkah maju setapak.

Ong Goan-tin tidak perhatikan lagi apa yang diucapkan Bu Siu-hoa kepadanya, lekas dia menoleh kesana menatap arena pertempuran.

Setelah Tang-hay-liong-ong maju setapak keadaan kembali bertahan sama kuat.

Tapi tapak kaki tampak membekas di atas lantai yang keras itu sedalam tiga senti.

Pada hal lantai balairung ini dilandasi batu hijau yang keras sekali, tapi kekuatan Tang-hay-liong-ong mampu membuat bekas tapak kaki di atas lantai yang keras itu.

Tan Ciok-sing dan In San memang belum kalah, tapi melihat bekas tapak kaki itu mau tidak mau hadirin sama tersirap dan berkuatir bagi mereka.

Toh So-so lebih gelisah dari Ong Goan-tin, katanya.

"Bucici, ada urusan apa, lekas kau katakan saja."

Bu Siu-hoa berkata.

"Ong-locecu kumohon kau membaca sepucuk surat."

Ong Goan-tin melenggong, katanya.

"Surat siapa?"

Tapi dia sudah tidak sempat banyak pikir, karena dia menduga surat ini pasti amat besar artinya bagi situasi yang dihadapinya sekarang, kalau tidak Bu Siu-hoa tidak akan suruh dirinya melihat surat dalam keadaan segawat ini.

Maka Bu Siu-hoa berkata.

"Yaitu surat Tang-hay-liong-ong ini ditujukan kepada In Kip."

Hadirin kaget dan heran, tanpa sadar mereka tujukan perhatian pada surat yang berada di tangan Ong Goan-tin.

Ong Goan-tin langsung melolos sepucuk surat dari sampulnya terus dibeber dan dibaca, mimik mukanya tampak kaget dan terbelalak girang.

Sekilas matanya melirik ke arah Tang-hay-liong-ong, dilihatnya rona muka Tang-hay-liong-ong berubah hebat, tapi sepasang senjatanya masih menekan keras dan berat, sedikitpun tidak menjadi kendor meski keadaan gawat mulai mengancam pihaknya, keringat sebesar kacang telah berketes di jidat Tan Ciok-sing dan In San terasa tekanan tenaga lawan bertambah lebih keras lagi.

Akhirnya Toh So-so yang tidak sabaran bertanya.

"Apa yang ditulis dalam surat itu?"

"Nona Bu,"

Tanya Ong Goan-tin.

"apakah surat ini boleh kubacakan di muka umum?"

"Memang tujuanku supaya seluruh orang-orang gagah yang hadir disini tahu siapa sebenarnya dan bagaimana karakter Tang-hay-liong-ong ini,"

Demikian sahut Bu Siu-hoa.

Makin buruk rona muka Tang-hay-liong-ong, sayang dia tidak berani memecah perhatian untuk bersuara, terpaksa dia biarkan Ong Goan-tin membaca suratnya itu.

Perlahan suara Ong Goan-tin.

"Surat Sugong-thocu ini ditujukan kepada In Kip, dia memperkenalkan dua orang sahabatnya, seorang ialah Tang-bun Cong dan seorang lagi adalah Poyang Gun-ngo. Kedua orang ini sudah datang ke Soh-ciu, dia minta kepada In Kip supaya menerima mereka secara rahasia dan di tempatkan ke suatu tempat yang tersembunyi pula, dengan suatu tugas besar yang akan diserahkan kepada mereka."

Tang-bun Cong adalah salah satu jago kosen di dunia persilatan, bahwa diam-diam dia sudah menjadi antek kerajaan, jarang kaum persilatan yang tahu, tapi ada juga orang yang sudah tahu akan rahasianya.

Tapi siapa Poyang Gun-ngo jarang orang tahu.

Seperti diketahui Poyang Gun-ngo adalah salah satu Busu negeri Watsu yang terkenal tapi kaum persilatan di Kanglam hanya beberapa gelintir saja yang pernah mendengar nama dan tahu asal-usulnya.

Banyak hadirin yang kasak-kusuk tanya sini tanya sana;

"Siapakah sebetulnya Poyang Gun-ngo?"

Maka Kek Lam-wi berdiri dan berkata dengan lantang.

"Poyang Gun-ngo adalah salah satu dari empat jago pedang kepercayaan Khan agung negeri Watsu. Waktu negeri Watsu mengutus Duta rahasianya ke Pakkhia tempo hari, Poyang Gun-ngo adalah salah satu dari pengawal Duta rahasia itu. Setelah Duta rahasia itu menyelesaikan tugasnya dan kembali ke negerinya, seorang diri ternyata dia tetap berada di Pakkhia, tahu-tahu sekarang sudah berada di daerah Kanglam di luar tahu orang banyak. Kali itu aku kecundang dan terluka di bawah tangannya. Tan Ciok-sing juga pernah bertemu dangan dia di hotel milik In Kip."

Keterangan Kek Lam-wi sekaligus membongkar asal-usul Poyang Gun-ngo juga membeber isi surat Tang-hay-liong-ong yang ditujukan kepada In Kip.

Bahwa setelah berada di Sohciu Poyang Gun-ngo memang bersekongkol dengan In Kip.

Karuan hadirin menjadi gempar.

Han King-hong yang berangasan lantas berteriak.

"Bagus ya, Sugong-thocu tadi menyerukan orang-orang gagah seluruh pelosok tanah air supaya angkat senjatanya melawan serbuan bangsa Watsu. diluar tahu kita dia justru berintrik dengan pihak musuh."

Ih Ti-bin ikut menjengek dingin, serunya.

"Bukan hanya sekongkol dengan seorang Busu dari Watsu saja, apa tujuan Poyang Gun-ngo datang ke Kanglam, kita sudah tahu. Agaknya hanya di mulut saja Sugong-thocu bilang kita harus seia sekata membendung serbuan bangsa asing, secara diamdiam dia justru bekerja demi kepentingan musuh."

Perhatian hadirin terpencar karena kejadian yang tidak terduga ini, kini baru mereka sadar duduknya perkara, maka perhatian kembali ditujukan ke arena pertempuran.

Tampak perawakan Tang-hay-liong-ong seperti mengkerat, ternyata saking besar tenaga yang dia kerahkan, tanpa terasa kedua kakinya amblas kedalam tanah.

Sebaliknya Tan dan In masih berusaha bertahan dengan susah payah, sepasang pedang mustika sudah melengkung seperti gendewa yang ditarik.

Walau hadirin kaget dan berkuatir bagi mereka, tapi kelihatannya sikap mereka masih lebih segar dari pada Tanghay-liong-ong yang sudah kelihatan runyam.

Kuatir Tan dan In tidak kuat bertahan lagi, lekas Ong Goantin berseru.

"Cun-ih Siansing, menurut pendapatmu bagaimana?"

Cun-ih Thong sengaja bersikap tak acuh dan adem ayem, katanya.

"Nona Bu ini dulu memang pernah menjadi putri angkat In Kip, tapi bagaimana juga surat rahasia ini tidak mungkin In Kip mau menyerahkan kepada dia? Maka tolong tanya kepada nona Bu dari mana kau peroleh surat ini?"

"Aku pernah menjadi sekretaris pribadi In Kip, dimana dia menyimpan surat-surat penting aku tahu dengan jelas, surat ini sengaja kucuri."

Kalem perkataan Cun-ih Thong.

"Maaf bila aku menilai dirimu dengan sikap seorang rendah, apakah kau punya bukti bahwa surat rahasia ini memang benar tulisan tangan langsung dari Sugong-thocu? Maka menurut pendapatku, biarlah kita tunda dulu urusan ini setelah pertandingan usai, nanti kita dengar pembelaan langsung Sugong-thocu di hadapan umum. Kalau sekarang juga membuat kesimpulan kurasa masih belum saatnya."

Tiba-tiba Ong Goan-tin berkata.

"Segera aku bisa memberikan buktinya."

Lalu dia keluarkan kartu nama Sugong-thocu, menurut lazimnya sebelum naik ke atas gunung Tang-hay-liong-ong memang sudah suruh anak buahnya mengirim kartu namanya ke markas Ong Goan-tin. Katanya.

"Cun-ih Siansing silahkan kau periksa kartu namanya ini coba periksa gaya tulisan Sugong-thocu di atas kartu nama ini, apakah mirip dengan tanda tangan di bawah surat rahasia ini?"

"Ah, gaya tulisan atau tanda tangan kan bisa dipalsu,"

Demikian debat Cun-ih Thong.

"Mana mungkin nona Bu pernah melihat gaya tulisan Tanghay-liong-ong serta memalsunya?"

Bantah Ong Goan-tin.

"Bagaimana juga, urusan harus diselesaikan setelah pertandingan ini usai, biar mereka yang bersangkutannya."

"Persoalan surat ini tulen atau palsu jauh lebih penting dari pemilihan Bengcu itu sendiri. Kalau Sugong-thocu ingin membela diri, pertandingan boleh ditunda sementara."

Pada hal kedua pihak sudah mengerahkan seluruh kekuatan dalamnya, sudah tiba saat-saat paling genting.

Ong Goan-tin kuatir'Tan dan In tidak kuat bertahan lagi.

Kalau Ong Goan-tin bicara dengan suara lantang berpegang kebenaran.

Cun-ih Thong sebaliknya kelihatan bimbang.

Otaknya tengah menerawang, bagaimana dia harus bersikap supaya waktu bisa terulur lebih lama sehingga Tang-hay-liongong bisa menggunakan waktu dengan baik mencapai kemenangan pertandingan babak terakhir Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tang-hay-liong-ong meraung rendah.

Pandangan hadirin serempak tertuju ke tengah arena pertempuran.

Di tengah raungan Tang-hay-liong-ong itu tampak tubuhnya tiba-tiba mencelat mumbul ke atas, jubin di sekitar kakinya tampak retak berantakan.

Sebaliknya Tan dan ln berdua berputar laksana gangsingan, beruntun mereka mundur berkisar beberapa putaran.

Karuan hadirin berjingkat kaget dan kuatir semua melongo.

It-cu-king-thian Lui Ting-gak bersuara lebih dulu dengan nada riang dan senang.

"Bagus. Syukurlah. Tan-siauhiap dan In Lihiap memenangkan pertandingan babak terakhir ini."

Belum lenyap suara kejut para hadirin baru sekarang mereka melihat jelas setelah mencelat turun dan berdiri tegak, tampak pakaian di depan dada Tang-hay-liong-ong koyak silang bersilang seperti palang merah jelas itu hasil goresan ujung pedang mustika Tan Ciok-sing dan In San.

Setelah berkisar beberapa bundaran, beruntun Tan dan In mundur tujuh delapan langkah baru berhasil menegakkan pula tubuh mereka.

Agaknya Tany hay-liong-ong menjadi kacau pikirannya sejak Bu Siu-han muncul membeber surat rahasianya kepada In Kip, maka akhirnya dia berkeputusan untuk secepatnya mengakhiri pertempuran ini dengan seluruh sisa kekuatan tenaga dalamnya.

Hasilnya meski dia berhasil memukul mundur kedua lawannya, tapi dia tetap tidak berhasil melukai mereka.

Sebaliknya hampir saja dadanya koyak oleh permainan sepasang pedang lawan.

Sayang sekali Tan dan In berdua tergetar mundur oleh getaran keras senjata berat lawan, meskipun dalam keadaan sekejap itu mereka sempat memanfaatkan kesempatan dengan kecepatan gerak pedang mereka, paling juga hanya berhasil menggores koyak baju di depan Tang-hay-liong-ong, tak urung mereka sendiri tertolak mundur oleh getaran tenaga lawan yang dahsyat.

Bila getaran tenaga senjata berat Tanghay-liong-ong sedikit lemah lagi, sepasang pedang mustika mereka pasti sudah membelah dada Tang-hay-liong-ong.

Diam-diam hadirin merasa sayang, namun walau tidak berhasil melukai Tang-hay-liong-ong betapapun Tan dan In sudah merebut kemenangan.

Surat itu tulen atau palsu tidak penting lagi artinya, apapun sekarang Tang-hay-liong-ong tidak berhak lagi merebut kedudukan Bengcu.

Karuan hadirin banyak yang berjingkrak senang dan bersorak sorai.

Lekas Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun memburu maju memapah Tan Ciok-sing, sebelah telapak tangannya menekan punggung, diam-diam dia salurkan tenaga dalamnya ke tubuh orang supaya tenaganya lekas pulih, katanya.

"Hianti syukurlah jerih payahmu berhasil."

Getaran yang dialami In San tidak sekeras yang diterima Tan Ciok-sing, lekas dia memapak ke arah Bu Siu-hoa, katanya pegang lengan orang.

"Bu-cici, kali ini beruntung dapat bantuanmu. Hari itu kau telah membantu kami, belum sempat kami mengucapkan terima kasih kepadamu. Betapa rindu kami kepada kau, kali ini kuharap kau tidak pergi pula secara diam-diam lho."

Panas muka Bu Siu-hoa, hatinya haru dan tentram, sesaat lamanya matanya berkedip-kedip tak mampu mengeluarkan suara.

Kejut dan gembira agak mereda, sementara itu terjadi pula keributan antara dua rombongan orang yang berada di dua pihak.

Tang-hay-liong-ong mencak-mencak gusar bentaknya.

"Kalian sengaja menyuruh budak she Bu ini mengacau untuk memecah perhatianku, apakah pertandingan ini boleh dikata adil?"

Pihak orang-orang gagah menjadi geger, Han King-hong segera menanggapi.

"Sugong Go, belum lagi kami mengusut persekongkolanmu dengan pihak Watsu, serta dosa besarmu menipu seluruh orang-orang gagah yang hadir disini, berani kau mencak-mencak mencari perkara disini."

Ih Ti-bin ikut mencemooh.

"Muslihatmu sudah terbongkar, masih berani kau mau angkat diri menjadi Bengcu, apakah tidak menggelikan. Hm, kau tamak harta dan gila pangkat, rela menjual bangsa dan negara, kenapa tidak kau beset saja mukamu di hadapan umum. Nah bukalah kedokmu, jangan pura-pura mengagulkan diri-sebagai orang gagah segala, lekas ngacir saja ke negeri Watsu, pintalah kepada Khan Agung Watsu untuk mengangkatmu menjadi menteri atau pembesar apa saja menurut keinginanmu sendiri."

Dari malu Tang-hay-liong-ong naik pitam bentaknya gusar.

"Hari ini aku datang untuk memberi selamat ulang tahun kepada Ong-cecu aku tidak sudi mendengar kotbah kalian. Bulim Bengcu dapat tidak kuraih tidak jadi soal, tapi jangan sekali-sekali kau berani bertingkah pula di depanku. Menurut aturan Kangouw, siapa kuat dia menang, memangnya kalian mau apa sekarang?"

Anak buah Tang-hay-liong-ong segera ikut-ikutan berkaokkaok.

"Memangnya, bila mereka mau cari gara-gara menghina Thocu kita hayolah gasak saja."

Sudah tentu pihak orang-orang gagah semakin mendidih, serempak mereka telah melolos senjata siap melabrak musuh, kebanyakan berpendapat untuk menahan mereka disini sehingga situasi menjadi tegang.

Ih Ti-bin berteriak.

"Kalian ingin main kekerasan, kamipun sudah siap, memangnya kami takut?"

Tang-hay-liong-ong menyeringai sadis.

"Baiklah boleh kalian maju, coba saja apa kalian mampu menahan diriku disini?"

"Kungfumu memang tinggi, mungkin kami tidak mampu menahan disini,"

Demikian debat Ih Ti-bin.

"tapi jangan kau kira bisa keluar dari bilangan Thay-ouw dengan masih hidup. Ketahuilah bila pertempuran terjadi disini, perahu kalianpun sudah berada di tangan kami, sekali ledakan cukup menghancurkan kapal itu. Umpama kalian tidak mati dalam pertempuran juga akan mati kelaparan di atas gunung."

Anak buah Tang-hay-liong-ong memang tidak sedikit jumlahnya tapi apapun mereka berada di markas Ong Goantin, situasi jelas tidak menguntungkan mereka Umpama ancaman Ih Thi-bin menjadi kenyataan mereka tidak berhasil lolos dari Thay-ouw, meski memiliki Kungfu tinggi juga tiada harapan hidup lagi.

Oleh karena itu lahirnya saja mulut anak buah Tang-hay-liong-ong masih garang, pada hal dalam hati sudah jeri dan kebat-kebit.

Ong Goan-tin diam-diam menerawang keadaan di pihak Tang-hay-liong-ong, Lamkiong King dan Liu Yau-hong sudah terluka, tapi masih ada Tong-pek-siang-ki, Hiap-tiong-samkoay dan Sat-to begal kuda kelahiran Kwan-tiong dan jagojago tangguh lainnya, bila pertempuran besar terjadi, umpama musuh berhasil dibabat habis, korban di pihak sendiri juga pasti cukup berat.

Maka mumpung Tang-hay-liong-ong kelihatan bimbang dan lembek semangatnya, segera dia berdiri membuka suara.

"Hadirin diharap tenang,"

Ong Goan-tin tampil ke depan, suaranya lantang.

"Hari ini adalah hari kelahiranku, banyak terima kasih kalian sudi datang menghadiri perjamuan sederhana ini, apapun maksud kedatangan kalian, betapapun hari ini kalian adalah tamu-tamuku. Sebagai mana lazimnya sebagai tuan rumah tidaklah pantas aku berlaku kurang hormat terhadap para tamunya, tapi akupun mengharap para tamu suka memberi muka kepadaku, jangan sampai terjadi keributan yang tiada gunanya disini. Akan tetapi Sugong-thocu tadi bilang hendak menyampaikan selamat kepadaku, terus terang aku tidak berani menerimanya. Kalau sudi kau memberi muka kepadaku, silahkan minum secangkir arak suguhanku ini dan silahkan berlalu saja."

Pidatonya mengandung beberapa maksud.

Pertama, dia bilang sebagai mana lazimnya, secara tidak langsung dia mau bilang, bila Tang-hay-liong-ong ingin menggunakan kekerasan dia pasti "mengiringi".

Kedua bahwasanya Tang-hay-liong-ong belum mengeluarkan pernyataan mohon diri, tapi Ong Goantin menyuguhnya secangkir arak baru menyilakan tamunya berlalu seolah-olah Tang-hay-liong-ong sudah berpamitan kepadanya, ini jelas sudah mengusirnya secara halus.

Tapi dia pandai merangkai pidatonya sehingga Tang-hay-liong-ong tidak merasa malu karena pamornya tidak dibikin jatuh di muka umum.

Ketiga ucapannya hanya ditujukan kepada mereka yang mengandung maksud jahat, maka dia menggunakan istilah hari ini betapapun kalian adalah tamuku, jadi maksudnya setelah hari ini, orang-orang tertentu bukan lagi tamunya, kalau bukan tamunya sudah tentu bukan teman atau sahabatnya lagi.

Pidatonya memang masuk akal dan dapat diterima oleh segala pihak, maka hadirin tiada yang membantah, Han Kinghong berseru.

"Baiklah, demi memberi muka kepada Ong-cecu biarlah hari ini kita memberi kelonggaran kepada mereka."

Tang-hay-liong-ong memang pandai kendalikan biduk sesuai arah angin, dirinya tidak dibuat malu di muka umum, maka diapun tidak berani membuat keributan lagi meski sikapnya kelihatan kikuk dan runyam, tapi dia masih bisa tertawa lebar, katanya lantang.

"Kedatanganku bermaksud baik, kalian justru salah paham dan mencurigai aku. Baiklah untuk memberi muka kepada Ong-cecu kejadian hari ini tidak akan kuambil dalam hati, tapi kekalahanku hari ini tidak akan dilupakan, kelak masih ada waktu untuk membuat perhitungan dengan kalian. Suguhan arak ini biar tidak usah kuminum, mohon pamit saja."

Lekas sekali orang-orang Tanghay-liong-ong sudah meninggalkan ruang perjamuan ini.

Ki-giting kembali dalam suasana pesta pora yang riang gembira, banyak orang berjingkrak menari dan menyanyi.

Di kala perjamuan berlangsung, tiba-tiba Ih Ti-bin memberi laporan kepada Ong Goan-tin.

"Ha It-seng dan Su Kian entah kemana perginya sudah kusuruh orang mencari mereka tidak ketemu."

Han King-hong berjingkrak gusar, serunya.

"Melihat kelakuan mereka hari ini, aku jadi curiga mungkin mereka ikut ngacir bersama Tang-hay-liong-ong."

"Jangan menuduh mereka yang bukan-bukan,"

Ujar Ong Goan-tin.

"selidiki dulu persoalannya baru ambil kesimpulan. Bila mereka memang benar sudah pergi, biarkan saja."

"Betul,"

Ujar lh Ti-bin.

"bila mereka musuh dalam selimut, tak ubahnya bisul dalam perut, lebih baik sebelum saatnya dia sudah ngacir lebih dulu."

Mendengar orang banyak membicarakan Ha It-seng dan Su Kian yang melarikan diri, tiba-tiba Toh So-so teriak kepada In San dan Tan Ciok-sing, katanya.

"In-cici, Tan-toako kalian melihat Bu Siu-hoa tidak?"

In San sadar dan terkejut, katanya.

"Sesudah kami mengalahkan Tang-hay-liong-ong tadi aku sempat bicara beberapa patah kata dengan dia, belakangan suasana agak ribut, entah kemana dia pergi?"

"Memangnya, akupun akan menyatakan terima kasih kepadanya tahu-tahu orangnya sudah tak kelihatan lagi,"

Demikian timbrung Tan Ciok-sing.

Lenyapnya Bu Siu-hoa tidak boleh dibanding menghilangnya Ha It-seng dan Su Kian maka Ong Goan-tin suruh anak buahnya berpencar mercarinya, tak nyana setelah perjamuan usai Bu Siu-hoa tetap tidak ditemukan jejaknya.

Kek Lam-wi tidak tega, hidangan-hidangan tidak tertelan lagi, katanya.

"Dia dilahirkan dari golongan sesat, mungkin dia kuatir dihina dan dipandang rendah, maka diam-diam meninggalkan kita?"

Ong Goan-tin berkata.

"Jasanya hari ini paling besar, kukira dia sendiri maklum akan hal ini, lalu siapa berani memandang rendah kepadanya. Tak mungkin hanya karena soal sepele ini dia pergi dari sini?"

"Ya kukuatirkan justru dia tidak punya pikiran sejernih kita,"

Ucap Lam-wi. Ong Goan-tin segera menghibur.

"Menurut analisa, tidak mungkin Bu Siu-hoa ikut naik kapal Tang-hayliong-ong, kalau dia mau meninggalkan Thay-ouw, pasti menggunakan perahu kita. Ada petugas khusus yang menyambut dan mengantar para tamu keluar masuk, umpama ada tamu yang datang naik perahunya sendiri, setelah mereka mendarat, orang kita juga yang mengurus perahunya, bila tahu siapa saja meninggalkan pangkalan, orang-orangku pasti tahu. Kenyataan mereka tiada yang memberi laporan, kuduga nona Bu belum meninggalkan tempat ini. Cepat atau lambat jejaknya pasti ketemu."

Toh So-so lebih gelisah dari Kek Lam-wi katanya.

"Kektoako, mari kau menemani aku mencarinya."

"Sudah banyak orang yang mencarinya,"

Bujuk Ong Goantin. Toh So-so berkata.

"Aku pernah mendapat budi pertolongannya, kali ini dia kemari juga lantaran kami pula, tahu-tahu dia menghilang, jikalau kami tidak kcluai tenaga ikut mencarinya betapapun perasaan takkan bisa tentram."

Tan Ciok-sing dan In San juga menyatakan.

"Marilah kita mencarinya beramai-ramai."

Waktu itu putri malam baru saja keluar dan peraduannya. In San berkata dengan tertawa.

"Hayolah kita temukan tidak jejaknya, mari naik ke puncak Tong-thing-san barat, menikmati panorama Thay-ouw di waktu malam. Tolong kalian tunggu sebentar,"

Bergegas dia pulang ke penginapan mengambil harpa kuno milik Tan Ciok-sing.

Tan Ciok-sing tahu maksudnya maka dia tidak memberi komentar, berempat mereka keluar mencari jejak Bu Siu-hoa.

Sayang perhatian mereka tertuju untuk mencari jejak Bu Siu-hoa, sehingga kurang selera menikmati panorama malam di puncak gunung.

Tiba-tiba In San berkata.

"Kek-toako, aku ingin mendengar tiupan lagu serulingmu."

Kek Lam-wi tertawa katanya.

"Harpa Tan-toako sudah kau bawa juga, aku sudah tahu maksudmu, akupun ingin mendengar petikan harpa Tan-toako."

Betapa cerdik otak Toh So-so, lekas sekali diapun maklum, katanya tertawa.

"Adik San, bukan maksudmu ingin mendengar tiupan seruling Kek-toako, tapi kau ingin supaya tiupan seruling Kek-toako terdengar oleh nona Bu bukan?"

"Betul,"

Ujar In San terus terang.

"bukan mustahil, setelah mendengar tiupan seruling Kek-toako, dia akan muncul sendiri."

"Baiklah,"

Ucap Kek Lam-wi.

"Tan-toako, harap kau petik dulu harpamu nanti kulanjutkan tiupan serulingku."

"Lebih baik kita bawakan sebuah lagu intrumental, perpaduan suara harpa dan seruling suaranya akan terdengar lebih jauh,"

Demikian ujar Tan Ciok-sing.

"Begitupun baik?"

Ujar Kek Lam-wi.

"Lagu apa yang akan kita bawakan?"

Tanya Ciok-sing.

"Aku punya pendapat coba kalian menilainya?"

Tiba-tiba In San menyela.

"Sebelum kau jelaskan, bagaimana aku bisa menilainya?"

Tan Ciok-sing berkelakar. Kek Lam-wi ikut tertawa geli, katanya.

"Adik ln jangan kau mengajukan persoalan rumit kepada kami lho?"

"Ini bukan soal sulit, aku hanya ingin mendengar lagu baru dengan nada yang menyegarkan, intrumental kalian ini ada kalanya harus dibawakan secara tunggal bergantian."

"Otakku ini tumpul, aku tidak paham apa yang kau artikan secara tunggal bergantian."

In San menjelaskan.

"Kalian boleh sama-sama meniup seruling dan memetik harpa tapi tak usah mencocokkan nada, kalian boleh membawakan lagu apapun yang kalian senangi."

"Lho, mana bisa nada dan lagunya berpadu?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Sebelumnya kalian boleh menentukan pilihan lagu apa yang akan kalian bawakan serta menentukan nadanya pula, tapi matnya harus sama, sehingga temponya sama pula. Seruling dan harpa adalah alat musik khusus yang mempunyai keistimewaannya sendiri, dalam perpaduan suaranya tidak perlu harus senada."

"Usulmu memang menarik, baiklah biar kami mencobanya. Tan-toako, kau membawakan lagu apa?"

Tanya Kek Lam-wi.

"Aku akan membawakan lagu 'Kisah pertemuan' dengan nada E,"

Sahut Tan Ciok-sing.

"Baik, aku akan meniup lagu 'Kenangan sahabat' dengan nada B."

Nada lagu yang mereka bawakan memang berbeda, namun suasana diliputi rasa riang gembira dan manis madu.

Sebelum mereka habis membawakan lagunya, memang seorang telah berlari mendatangi seperti yang mereka duga.

Tapi yang muncul bukan Bu Siu-hoa, ternyata seorang pemuda tanggung berpakaian sederhana dengan perawakan kekar.

Melihat pemuda ini sesaat Tan Ciok-sing melenggong, tibatiba dia berjingkrak berdiri seraya berteriak.

"Lau-toako tak nyana bisa bertemu kau disini."

In San tidak kalah senangnya, teriaknya.

"Lau-toako, kiranya engkau."

Walau bukan Bu Siu-hoa yang muncul tapi rasa senang mereka tidak ubahnya seperti bertemu dengan Bu Siu-hoa. Pemuda tanggung itu tergelak-gelak, katanya.

"Siau-ciok-cu kiranya kau. Mendengar petikan harpa aku sudah duga pasti kau. Nona ln, aku sudah tahu, kecuali bukan Siau-ciok-cu kalau dia berada disini, kau mesti disini pula. Cuma aku belum tahu apakah sekarang aku sudah boleh panggil kau In So-so?"

"Siau-cucu, jangan kau menggoda aku,"

Ujar In San tertawa.

"ada urusan penting ingin aku bicara dengan kau."

Pemuda tanggung itu jadi sadar katanya.

"Oh, iya kedua saudara ini..."

Setelah Ciok-sing perkenalkan Kek Lam-wi dan Toh So-so, lalu dia berkata.

"Lau-toako bernama Thi-cu teman kecilku yang dulu sering bermain-main di sungai, sudah biasa kami saling memanggil nama kecil. Dia panggil aku Siau-ciok-cu, aku panggil dia Siau-cucu."

Lalu Tan Ciok-sing tanya.

"Siaucucu, kenapa kau tidak berada di Kwilin, kok tahu-tahu berada disini?"

"In-suheng menjadi buronan pihak penguasa, maka dia pergi dari Kwilin. Dia tahu aku pandai berenang, maka dia tulis sepucuk surat suruh aku mencari perlindungan di tempat Ongcecu disini."

Lau Thi-cu melanjutkan ceritanya.

"Sudah setahun lebih aku disini. Syukurlah Cecu sudi menerima aku dan mengangkat aku jadi Siau-thaubak, bila ada waktu diapun suka memberi petunjuk main silat kepadaku, senang juga aku hidup dalam lingkungan ini, sayang aku tidak tahu jejak kalian, meski hati amat rindu tak tahu kemana aku harus cari kalian, syukur hari ini bisa bertemu pula."

"Kedatangan kami untuk memberi selamat ulang tahun kepada Cecu kalian. Siau-cucu apa kau tahu bahwa gurumu juga telah datang."

Lau Thi-cu kegirangan katanya.

"Apa betul? Sayang sekarang aku belum bisa menemui beliau."

Tiba-tiba tergerak hati In San tanyanya.

"Ada sebuah hal penting ingin aku tanya kepada kau. Urusan lain nanti dibicarakan lagi."

"Urusan penting apa? Lekas katakan,"

Ujar Siau-cu-cu.

"Pernahkah kau melihat seorang gadis begini."

Lalu dia gambarkan perawakan dan muka Bu Siu-hoa, kepada Lau Thicu.

Semula In San hanya ingin mencoba adu untung, pada hal sekian banyak orang telah disebar untuk mencari jejaknya, diapun tidak berani menaruh harapan kepada Lau Thi-cu.

Tak nyana setelah mendengar penjelasannya, Lau Thi-cu lantas berkata.

"Ya, pernah, pernah kulihat, tapi gadis ini tidak berjalan seorang diri."

Lekas Tan Ciok-sing bertanya.

"Siapa berjalan dengan dia?"

"Siapa dia aku tidak kenal, dari kejauhan tampak dia seorang perempuan setengah umur."

In San kaget, katanya.

"Mungkinkah ibu tirinya,"

Tanyanya.

"Siau-cu-cu kau tahu kearah mana mereka pergi?"

"Mereka lari ke puncak gunung yang menjadi pusat pertemuan aliran-aliran sungai, kalian tak usah kuatir dia bisa lari dari sana."

"Kenapa?"

"Karena air tempuran di bawah gunung itu. amat deras lajunya seperti air terjun saja, air dituang ke bawah langsung masuk ke Thay-ouw. Selamanya belum pernah ada orang berani naik perahu keluar dari sana."

Semakin kejut hati Tan Ciok-sing, teriaknya.

"Celaka."

"Apanya celaka?"

Tanya Lau Thi-cu kaget. Ciok-sing tarik tangan Lau Thi-cu lalu diseret lari, dia disuruh menunjukkan arahnya, sambil lari Ciok-sing berkata.

"Perempuan setengah umur itu adalah Pangcu Bu-san-pang, namanya Bu-sam Niocu. Bu-san-pang adalah salah satu sindikat gelap di daerah Sujwan. Di bawah Bu-san ada tiga selat berbahaya, merupakan daerah paling berbahaya sepanjang sungai Tiangkang. Bu-sam Niocu sudah bisa kendalikan perahu di tiga selat sempit dengan arus yang deras itu, diapun pandai berenang, kepandaiannya mungkin jauh lebih liehay dari kemampuanku dan kemampuanmu."

In San tanya.

"Apakah disana tidak disediakan perahu?"

"Perahu sih ada satu tapi hanya sebagai persiapan dan jarang digunakan."

"Celaka, Bu-sam Niocu pasti tahu adanya jalan rahasia ini, dari sana dia bisa naik perahu langsung memasuki perairan Thay-ouw, maka dia menculik Bu Siu-hoa dibawa lari lewat tempat berbahaya itu."

"Aku jadi ingin mengadu kepandaian dengan perempuan siluman itu,"

Ujar Lau Thi-cu, kalian tidak usah kuatir, soal perahu mudah nanti kucarikan."

Setiba di tempat tujuan, tiada bayangan manusia, perahupun tidak kelihatan. Tan Ciok-sing tanya.

"Siau-cu-cu, kau bilang punya akal."

"Jangan kuatir,"

Ucap Lau Thi-cu.

"didalam gua tak jauh dari sini belakangan ini ada dibuat perahu yang belum sempat digunakan."

Dalam gua yang dituju memang terdapat beberapa perahu, masih baru dan belum dicat. Tan Ciok-sing berkata.

"Siau-cucu, ada sebuah permintaanku, sudikah kau membantu aku?"

"Siau-ciok-cu, kenapa kau bilang begitu, memangnya aku ini bukan temanmu sejak kecil? Kitakan pernah sehidup semati, berapa kali kau pernah menyerempet bahaya menolong aku, bukan untuk kali ini pula aku pernah membantu kau."

Kek Lam-wi dan Toh So-so kelahiran dan dibesarkan di Kanglam, sudah tentu mereka juga pandai berenang tapi dibanding Siau-cu-cu jelas mereka jauh ketinggalan.

Setelah menurunkan perahu kecil yang dinaiki Lau Thi-cu berada di depan menunjukkan jalan, galah diangkat terus menutul ringan di dinding batu, perahu kecil itu lantas meluncur mengikuti arus.

Perahu yang dinaiki Tan Ciok-sing dan In San berada di belakang, dalam kegelapan, tiba-tiba terasa segulung arus kencang menggulung tiba, perahu kecil Tan Ciok-sing berputar terombang-ambing terbawa arus berpusar.

Mendengar suara gelombang Lau Thi-cu lantas tahu bahwa mereka menghadapi bahaya lekas dia berteriak.

"Mundur ke samping kiri terus digayuh maju ke depan pula."

Tan Ciok-sing kerahkan Jian-kin-tui sehingga perahunya tidak terbalik, setelah perahunya terkendali segera dia praktekkan menurut petunjuk Lau Thi-cu, dengan mudah perahunya segera laju ke depan pula terbawa arus, kejap lain perahunya sudah meluncur keluar dari dalam gua dan melihat langit terang.

Diluar gua air seperti dituang menggerojok turun dengan deras masuk ke danau, disini air mengalir lebih kencang dan berbahaya.

Angin menderu ribut seperti terjadi hujan bayu layaknya.

In San biasanya cukup tabah tak urung kali ini hatinya kebat-kebit, katanya.

"Sungguh berbahaya, mengecilkan nyali saja."

Belum habis dia bicara, tiba-tiba gelombang besar mendampar. Lau Thi-cu berteriak.

"Awas menubruk karang,"

Batu-batu karang runcing bersusun berbentuk menara banyak tersembunyi di bawah air, yang kelihatan hanya pucuknya sedikit saja apalagi arus air teramat deras dengan gelombang besar pula, dalam gugupnya Tan Ciok-sing tak kuasa dia mengendalikan perahunya, untung Lau Thi-cu memberi peringatan, sehingga perahunya berhasil dibelokan ke samping.

Pada detik-detik gawat di kala perahunya hampir membentur karang, Tan Ciok-sing kerahkan Lwekang ajaran Thio Tan-hong, galahnya diulur ke depan dengan sepenuh tenaga ujung galahnya tepat menyodok pucuk karang serta mendorongnya sehingga perahu yang terdorong ombak itu berhasil ditahannya sekejap terus dibelokan ke samping melawan arus, kejap lain perahunya seperti dilempar naik ke atas, seketika In San merasa dirinya seperti naik mega seolaholah dirinya terbawa arus dilempar ke tengah angkasa namun cepat sekali tiba-tiba tubuhnya anjlok pula ke bawah.

Waktu dia buka matanya perahu itu sudah melampaui kumpulan batu-batu karang dan terus laju ke depan.

Lau Thi-cu berpaling ke belakang, legalah hatinya, serunya memuji.

"Hebat kau Siau-ciok-cu."

Tan Ciok-sing seka keringatnya, katanya tertawa.

"Terima kasih akan petunjukmu, kepandaianmu jauh lebih mahir lagi."

Maklum naik perahu didalam air yang arusnya sederas itu, bukan saja diperlukan kemahiran berenang, juga harus memiliki tenaga raksasa.

Bahwa Lau Thi-cu dapat kendalikan perahunya seperti laju di perairan yang arusnya tenang, jelas Kungfunya sekarang sudah mencapai taraf tertentu, dasarnya cukup kuat.

Cepat sekali mereka sudah mencapai setengah dari selat sempit berarus kencang itu.

Setelah lega hatinya, In San berkata.

"Arus air sederas ini kurasa tidak kalah derasnya dari Sam-kiap di Tiangkang yang terkenal itu."

Lau Thi-cu berseru di depan.

"Syukurlah di depan tiada daerah berbahaya lagi, lekas sekali sudah akan berada di perairan Thay-ouw."

Baru saja mereka merasa lega, tiba-tiba Toh So-so berteriak kaget, pandangannya tertuju ke depan arah samping dengan melongo.

Lekas Kek lam-wi menoleh ke arah pandangannya, tak usah tanya segera dia tahu kenapa kekasihnya kaget dan melongo.

Tampak di antara dua batu besar yang menonjol di permukaan air di samping sana, tersangkut sebuah perahu yang pecah, perahunya terbalik karena benturan keras perahu itu sudab pecah berantakan, jauh di depan sana masih kelihatan pecahan perahu yang terapung.

Jantung Kek Lam-wi berdetak keras, katanya.

"Lau-toako, perahu itu apakah milik kalian..."

Lam-wi tidak tega meneruskan perkataannya, dia pikir jarang ada perahu lewat disini, ada perahu pecah itu, kecuali perahu yang dinaiki Busam Niocu dengan Bu Siu-hoa rasanya tiada perahu lain lagi?"

"Betul,"

Sahut Lau Thi-cu.

"itulah perahu khusus yang kami sediakan di pinggir sungai."

Kek Lam-wi menghela napas, katanya. ."Kalau begitu tak usah kita mencarinya ke Thay-ouw lagi."

Pada hal perahu mereka kini sudah berada di perairan Thay-ouw.

Hujan rintik-rintik kabut mulai datang, Thay-ouw seluas ini, perasaan mereka menjadi tertekan seperti dibalut kabut, kemana mereka harus mencari?

Makin ke tengah kabut makin tebal, tak lama kemudian di tengah kabut tebal tampak setitik sinar lampu yang bergerak terombang-ambing maju ke depan.

Dengan suara lirih Lau Thi-cu berkata.

"Di depan ada sebuah kapal, titik api itu adalah lampu angin yang digantung di ujung buritan jaraknya kira-kira ada dua li."

Pada hal saat mana sudah menjelang tengah malam, dalam kabut setebal ini pula, kapal ini masih berada di tengah perairan, jejaknya ini jelas cukup mencurigakan. Tergerak hati Kek Lam-wi katanya.

"Lau-toako, perlahan saja mendekatinya kapal di depan itu."

"Aku tahu,"

Ujar Lau Thi-cu tertawa.

"jangan kuatir, mereka tidak akan tahu jejak kita. Dengan kemahirannya mengendalikan perahu, perahunya itu tetap laju ke depan tanpa banyak mengeluarkan suara. Setelah agak dekat sayup-sayup terdengar suara percakapan dan cekikikan tawa orang. Itulah suara tawa genit seorang perempuan, suaranya jelas adalah tawa Bu-sam Niocu yang jalang itu. Karuan Tan Ciok-sing berlima amat girang. Segera mereka pasang kuping, terdengar tawa jalang Bu-sam Niocu makin jelas.

"Idiiiiih jangan begitu, berlakulah yang genah, putriku ada di sebelah, kalau sampai didengar dia kan tidak enak,"

Agaknya Bu-sam Niocu sedang main cinta dengan seorang lelaki.

Berkerut alis Kek Lam-wi dan Toh So-so namun lega pula hati mereka.

Ternyata Bu Siu-hoa tidak mengalami kesulitan, agaknya dia disekap di atas perahu itu.

Yang menjadi tanda tanya dalam benak mereka adalah siapa lelaki itu?

"He, he, putri mustikamu, merdu sekali kedengarannya, mesra dan sayang sekali.

Bagi mereka yang tidak tahu seluk beluknya tentu menyangka genduk ayu itu adalah anak kandungmu sendiri,"

Terdengar laki-laki itu mencemooh dengan nada menggoda.

Tan Ciok-sing melengak, semula dia sangka lelaki yang sedang pat-gulipat dengan Bu-sam Niocu ini adalah suaminya kedua, yaitu Tok-liong-pang Pangcu Thi Khong.

Tapi setelah didengarnya dengan cermat suaranya tidak mirip Thi Khong.

"Lalu siapa laki-laki ini?"

Demikian Ciok-sing bertanya-tanya. Terdengar Bu-sam Niocu berkata.

"Haya kenapa kau bilang demikian, walau Bu Siu-hoa bukan anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri tapi sejak kecil aku menyayangi seperti mustikaku sendiri. Kalau tidak, kali ini aku tidak akan menyerempet bahaya untuk menculiknya dari markas Ong Goan-tin. Kau kira soal gampang untuk lari dari selat geledek yang berbahaya itu?"

"Sam-nio,"

Ujar laki-laki itu bergelak tawa.

"urusan sudah sejauh ini, kau masih belum mau bicara sejujurnya kepadaku, apa tidak terlalu?"

"Bicara jujur soal apa?"

Tanya Bu-sam Niocu.

"Kau kan hanya memperalat dia untuk membeli hati orang Bu-san-pang, kaupun kuatir ada orang membongkar perbuatan kejimu di masa lalu, maka terpaksa kau membelit budak ayu itu di bawah gaun panjangmu. Kalau tidak menurut pendapatku sudah sejak lama kau telah membunuhnya."

"Perbuatan keji masa lalu apa? Sebetulnya berapa banyak kau pernah dengar berita angin yang menjelekkan nama baikku?"

Suara Bu-sam Niocu kedengarannya agak hambar dan panik. Laki-laki itu tertawa, katanya.

"Alah aksinya, dulu kau sekongkol dengan Thi Khong membunuh suamimu yang pertama, yaitu Bu San-hun Pangcu pertama Bu-san-pang. Kalian memang bertindak amat rahasia, tapi kalau ingin orang lain tidak tahu, hendaklah awak sendiri tidak berbuat. Memang orang-orang Bu-san-pang belum memperoleh bukti, tapi tidak sedikit yang curiga terhadap kau. Bicara sejujurnya kau tidak berani membunuh genduk ayu karena kalau kau membunuh dia kecurigaan orang-orang Bu-san-pang akan bertambah besar dan yakin akan perbuatanmu yang keji masa lalu. Maka terpaksa kau besikap baik dan sayang terhadapnya supaya orang-orang Bu-san-pang tidak curiga lagi bahwa kaulah yang membunuh ayahnya."

"Kau memang setan cerdik, apapun kau ketahui maka kaupun harus memberi kelonggaran kepada budak jelita itu."

Laki-laki itu tertawa pula, katanya.

"Aku tahu kau telah membiusnya pingsan, umpama tidak kau bius juga tidak jadi soal, apapun dia tidak akan bisa mendengar percakapan kita."

"O, jadi kaupun telah melakukan sesuatu pada dirinya?"

"Ya, aku telah menutuk Hiat-to penidurnya, paling sedikit dua belas jam kemudian baru dia akan bangun."

"Kau memang setan kelaparan, kiranya kau memang bermaksud jelek terhadapku."

"Salah, bukan bermaksud jelek, aku justru ingin berbuat baik terhadapmu."

"Apa kehendakmu?"

"Kuingin kau menjadi biniku."

"Tidak, tidak mungkin, aku tidak bisa kawin dengan kau."

"Kenapa tidak bisa, Bu San-hun telah mati. Kau boleh menikah dengan Thi Khong. Thi Khong telah mampus, kenapa sekarang tidak boleh menikah dengan aku? Memangnya kau ingin menjadi janda sampai tua?"

"Justru karena Thi Khong mati belum ada satu bulan, pakaian duka citaku belum lagi kutanggalkan. Kalau kau tidak takut ditertawakan orang, aku sebaliknya malu bila dicemooh orang banyak."

"O, jadi kau hanya kuatir dicemooh orang, jadi bukan tidak sudi kawin dengan aku. Biarlah kutegaskan kepada kau, aku tidak peduli segala ocehan orang lain. Bila aku yang menjadi suamimu, siapa berani mentertawakan kau."

Terdengar Bu-sam Niocu cekikikan geli dan genit, katanya.

"Memangnya kaukan Hwe-giam-lo yang terkenal dan disegani kaum persilatan siapa berani bertingkah di hadapanmu?"

Perahu yang ditumpangi Tan Ciok-sing berlaju ke depan makin dekat, semakin didengarkan dia seperti sudah kenal suara lelaki itu, setelah mendengar percakapan mereka sampai disini, kini dia sudah yakin siapa gerangan lelaki itu.

Orang itu bukan lain adalah Toa-thauling Giam-ong-pang Giam Cong-po yang pernah bergebrak melawan dirinya.

Tawa genit dan percakapan kedua orang di atas perahu tiba-tiba terhenti.

Ternyata sebagai orang yang banyak pengalaman di perairan, Bu-sam Niocu sudah tahu bahwa sebuah perahu kecil tengah menguntit kapal mereka di sebelah belakang.

Pelan-pelan dia mendorong Giam Cong-po yang menindih tubuhnya ke samping.

Giam Cong-po keheranan sebelum dia sempat bertanya, Bu-sam Niocu sudah berbisik di pinggir telinganya.

"Ada dua perahu menguntit di belakang, biar aku memeriksanya."

"Umpama Ong Goan-tin sendiri yang mengudak kemari aku juga tidak gentar, biarkan saja peduli amat?"

Jengek Giam Cong-po penasaran, maklum nafsunya sedang berkobar, mana dia mau diganggu. Bu-sam Niocu mencubit lengannya, katanya perlahan dengan tertawa.

"Waktu masih panjang untuk kita, sekarang kita belum bebas dari daerah terlarang, jelas ada orang menguntit betapapun harus hati-hati."

Giam Cong-po berkata uring-uringan.

"Kurcaci mana yang berani menguntit kita, biar nanti kupukul perahunya sampai pecah berantakan."

Bu-sam Niocu lari keluar pegang kemudi sehingga kapalnya membelok arah melintang, sementara Giam Cong-po beranjak ke buritan, maka dilihatnya dua perahu kecil yang dinaiki Tan Ciok-sing dan Kek Lam-wi.

Jarak kedua pihak tinggal enam tujuh tombak, tapi di tengah kabut Giam Cong-po tidak melihat jelas siapa penumpang kedua perahu kecil itu.

Dengan kalem dia angkat sebuah jangkar besi di pojok kapal, sekali ayun kontan dia lempar jangkar gede itu ke perahu Tan Ciok-sing.

Jangkar besi itu besar dan berat, dia lempar dengan tenaga raksasa lagi, maka daya luncuran ditambah beratnya kira-kira ada ribuan kati.

Jangan kata perahu kecil itu hanya mampu dinaiki tiga orang, umpama perahu besar juga tidak akan kuat ditindih oleh jangkar segede itu, jelas perahu kecil yang dinaiki Tan Ciok-sing bisa pecah berantakan.

Untung dia melempar jangkar itu ke perahu Tan Ciok-sing.

Ciok-sing segera kembangkan ajaran Lwekang Thio Tan-hong, galah panjang dia angkat terus menyampuk dan menepis mengikuti arah luncur jangkar gede itu.

"Byuuurrr"

Jangkar gede itu berhasil disampuknya miring dan jatuh kedalam danau, air muncrat menimbulkan ombak besar.

Karuan Giam Cong-po kaget bukan main, baru sekarang dia insyaf, yang dihadapi adalah lawan tangguh.

Sembari meraung gusar dia meraih sebuah dayung besi terus menubruk kearah perahu kecil yang dinaiki Tan Ciok-sing.

Kejadian cepat sekali, di tengah udara tubuhnya jumpalitan dengan gaya burung dara membalik tubuh, tubuhnya menukik turun meluncur ke arah perahu kecil itu.

"Pletak", galah panjang di tangan Tan Ciok-sing berhasil dipukulnya patah menjadi dua. Tapi sebelum kaki Giam Congpo menginjak papan perahu, pada hal serangan susulan dengan jurus Hing-sau-liok-hap telah dipersiapkan, mendadak dilihatnya selarik sinar hijau dan selarik sinar putih laksana kilat menyambar, sinarnya terang menyilaukan mata. Maka terdengarlah dering keras beradunya senjata, kali ini gayung besi di tangan Giam Cong-po malah yang terpapas kutung. Kiranya Tan Ciok-sing dan In San melancarkan gabungan sepasang pedang. Pedang mereka gaman mustika yang dapat mengiris besi, ilmu pedang mereka tiada bandingan pula di kolong langit ini, kejadian diluar dugaan lagi, sudah tentu Giam Cong-po tak kuasa melawan mereka? Belum lagi ujung kakinya menyentuh perahu, ujung pedang Tan Ciok-sing sudah mengancam lambungnya. Lekas Giam Cong-po menangkis dengan sisa dayung yang masih dipegang, gagang dayung itu kembali terpapas kutung pula, sehingga sisanya sudah tak mungkin digunakan lagi sebagai senjata. Sementara itu Bu-sam Niocu baru selesai berpakaian, didengarnya langkah memasuki kabin, maka dengan bersuara heran dia menegur.

"Lho, kok cepat benar kau sudah kembali?"

Kek Lam-wi tendang pintu kabin sambil membentak.

"Coba kau lihat siapa aku."

Kaget Bu-sam Niocu bukan main, kontan dia ayun tangan menaburkan segenggam Bwe-hoa-ciam.

Toh So-so putar kencang pedangnya dengan jurus Jiu-hong-sau-yap, maka terdengar suara gemerisik.

Bwe-hoa-ciam lembut itu tersapu rontok dan hancur berhamburan.

Karena sedikit hambatan ini, Bu-sam Niocu sudah membobol dinding papan terus lari ke geladak.

Kek Lam-wi membentak.

"Lari kemana,"

Secepat angin dia mengudak keluar.

Kembali Bu-sam Niocu mengayun balik tangannya menghamburkan senjata rahasia.

Serangan senjata rahasia kali ini jauh lebih liehay, yaitu Tok-bu-kim-ciam-liat yam-tam, begitu ditimpukkan senjata rahasia itu lantas meledak, segumpal asap berapi menimbulkan kabut tebal diselingi bintik-bintik sinar gemerdap yang tak terhitung banyaknya, itulah jarum-jarum selembut bulu kerbau yang beracun.

Untung sebelumnya Kek Lam-wi sudah siaga, di waktu dia melompat ke atas kapal ini, jubah luarnya sudah dibikin basah, sekarang jubahnya dia buka serta dikebutnya sekali, gumpalan asap berapi dari ledakan senjata rahasia itu seketika dikebutnya padam.

Jarum-jarum lembut beracun itupun tergulung dalam jubahnya.

Sebat sekali Toh So-so sudah ikut menerjang keluar dengan getaran pedangnya dia ikut menyapu habis hamburan jarum-jarum lembut itu.

Kek Larn-wi tidak berhenti, seruling pualamnya segera dikerjakan menutuk tiga Hiat-to di tubuh Bu-sam Niocu, jurus Hun-mo-sam-hu ini merupakan variasi yang berhasil dicangkok dari King-sin-pit-hoat merupakan ilmu Tiam-hiat tingkat tinggi yang liehay.

Walau kesehatan Kek Lam-wi belum pulih seluruhnya, mungkin karena terlalu panik, Bu-sam Niocu kena ditutuk dua Hiat-tonya dan tertawan hidup-hidup.

Lekas Kek Lam-wi berdua putar masuk ke kabin serta mencari, akhirnya ditemukan sebuah pintu kecil terus membobolnya, Bu Siu-hoa, ternyata disekap di kamar sebelah.

Kek Lam-wi sudah berjongkok memeriksa Hiat-to mana di tubuhnya yang tertutuk dan hendak membebaskan tutukan Hiat-tonya, tiba-tiba dilihatnya Bu Siu-hoa sudah membuka mata, lapat-lapat dia melihat bayangan Kek Lam-wi dan Toh So-so, dia sangka dirinya sekarang bermimpi, teriaknya tak tertahan.

"Kek-toako, Toh-cici, betul, betulkah kalian?"

Toh So-so girang, serunya.

"Bu-cici, ternyata kau sudah siuman."

Segera dia turun tangan membebaskan Hiat-tonya yang tertutuk. Saking girang Bu Siu-hoa berlinang air matanya, katanya terisak.

"Sungguh tak nyana aku masih bisa hidup bertemu dengan kalian."

"Ibu tirimu yang jahat itu sudah kami bekuk hidup-hidup, sepantasnya kau bersenang hati apa pula yang kau tangisi?"

Toh So-so menghibur.

"Ayah kandungmu dicelakai sampai mati oleh ibu tirimu ini, apa kau sudah tahu,"

Ujar Kek Lam-wi sengit.

"Percakapannya dengan pentolan Gam-ong-pang di kamar sebelah sudah kudengar seluruhnya,"

Sahut Bu Siu-hoa "Bu-cici, sepantasnya aku memberi selamat kepadamu,"

Kata Toh So-so. Bu Siu-hoa melenggong, katanya.

"Kenapa memberi selamat kepadaku."

"Selamat atas kemajuan Kungfumu,"

Ujar Toh So-so tertawa.

"kau terkena obat bius perempuan laknat itu, ditutuk pula Hiat-tomu dengan Jong-jiu-hoat oleh Giam Cohg-po tapi sebelum saatnya kau sudah siuman lebih dulu, sungguh patut dipuji."

Bu Siu-hoa berkata.

"Waktu aku digusur perempuan jahat itu, diam-diam aku sudah menelan obat penawarnya. Tentang ilmu Tiam-hiat aku harus berterima kasih kepada Kek-toako, dialah yang mengajar kepadaku. Sayang belum sempurna."

Ternyata dua hari dia berkumpul dengan Kek Lam-wi dalam gua batu, mengingat orang telah menolong jiwanya, untuk membalas kebaikannya Kek Lam-wi secara iseng mengajarkan cara mengerahkan hawa murni menjebol tutukan Hiat-to kepada Bu Siu-hoa sebagai bekal untuk menyelamatkan diri.

"Mana keparat she Giam itu?"

Tanya Bu Siu-hoa.

"Masih ada di geladak sedang bertarung dengan Tantoako,"

Sahut Kek Lam-wi.

Waktu mereka tiba di atas geladak, tampak air bergolak dan berputar, siapapun tahu bahwa ada orang sedang bertarung didalam air.

Lau Thi-cu yang berada di perahu kecil ternyata juga tidak kelihatan.

Perahu kecil yang ditumpangi Tan Ciok-sing berputar-putar di atas air, kapalnya sudah miring ke sebelah, turun naik terombang-ambing oleh ombak, sebentar lagi kalau tidak dikendalikan mungkin bisa tenggelam.

"Celaka,"

Seru Toh So-so.

"In-cici masih di atas perahu itu, dia tidak pandai berenang, lekas kita menolongnya."

Beramai-ramai mereka kayuh kapal besar ini mendekati perahu yang sudah miring itu.

In San sudah lompat ke atas atap kabin, setelah jarak kedua kapal dan perahu tinggal dua tombak In San segera melompat naik ke atas kapal besar.

Ternyata menghadapi Siang-kiam-hap-pik Tan Ciok-sing dan In San, Giam Cong-po tepaksa didesak jatuh kedalam air, dia tahu di atas kapal dirinya mungkin tidak kuat menghadapi mereka, maka dia selulup kedalam air hendak menyabot perahu orang.

Kuatir Tan Ciok-sing bukan tandingan Giam Cong-po, Kek Lam-wi berkata.

"Biar aku turun ke air membantunya."

Lekas In San mencegah, katanya.

"Kesehatanmu sendiri belum sembuh, jangan kau mencari susah sendiri."

"Biar aku saja turun membantunya,"

Kata Toh So-so.

"Siau-cu-cu sudah terjun ke air membantu Tan-toako,"

Demikian tutur In San.

"bila mereka berdua juga tidak kuat menghadapi musuh didalam air..."

Belum habis dia bicara.

"Byuur"

Tahu-tahu Bu Siu-hoa sudah terjun kedalam air.

Hanya sekejap saja tiba-tiba dua kepala orang menongol ke permukaan air.

Tan Ciok-sing mendahului lompat naik ke atas kapal, disusul Lau Thi-cu.

Waktu itu fajar telah menyingsing tampak pakaian mereka berlumuran darah.

In San kaget, serunya.

"Lau-toako kau terluka. Mana adik Siu-hoa?"

"Jangan gugup,"

Ujar Lau Thi-cu tertawa lebar.

"ini darah orang lain. Nona Bu berhasil membunuh brandal she Giam itu."

Di tengah tawanya itu tampak Bu Siu-hoa sudah muncul ke permukaan air, katanya.

"Lau-toako terima kasih akan bantuanmu hingga aku berhasil menuntut balas."

Perlu diketahui kepandaian renang Giam Cong-po ternyata amat liehay, kalau tidak dibantu oleh Lau Thi-cu, Tan Cioksing meski dibantu Bu Siu-hoa, meski tidak terkalahkan lawan pasti berhasil melarikan diri.

Setelah terbukti Giam Cong-po sudah mati, baru Bu Siu-hoa naik ke atas, maka dia agak terlambat muncul di permukaan air.

Bu Siu-hoa sedang berpikir cara bagaimana dia harus menghukum ibu tirinya, bila diapun sudah berada di atas kapal dilihatnya darah hitam keluar dari panca indra Bu-sam Niocu, ternyata insyaf akan kesalahannya yang tidak terampunkan, dari pada mati di tangan orang lain dia rela bunuh diri menelan racun.

000OOO000 Memperoleh laporan yang menggembirakan ini, lekas Ong Goan-tin keluar menyambut kedatangan mereka.

Yang ikut menyambut ada It-cu-king-thian Lui Tin-gak dan Kim-to-thiciang Tam Pa-kun.

Lekas Lau Thi-cu memburu maju memberi sembah hormat kepada gurunya.

Melihat Bu Siu-hoa pulang dengan selamat legalah hati Ong Goan-tin.

Mendengar muridnya berjasa besar Lui Tin-gak juga amat senang.

Di samping menghibur dan melegakan hati Bu Siu-hoa orang banyakpun memuji Lau Thi-cu, pemuda yang jujur dan polos ini sampai canggung dan malu mukanya jengah.

Dalam perjamuan, hati hadirin sama riang gembira, setelah tiga cawan masuk kedalam perut, Ong Goan-tin angkat bicara.

"Ulang tahunku kali ini telah menimbulkan banyak keributan syukurlah Tan-siauhiap, In Lihiap dan nona Bu giat membantu sehingga keributan ini berhasil diatasi. Betapa senang hatiku karena Lui-toako dan Tam-toako sudi datang bersama kaum pendekar muda dan Cianpwe gagah ini kuharap suka tinggal beberapa hari di markasku ini."

Tan Ciok-sing mendahului buka suara.

"Terima kasih akan maksud baik Cecu, sayang aku dan nona In tak bisa tinggal lama disini."

"Kalian ada keperluan penting apa, kenapa buru-buru,"

Tanya Ong Goan-tin. Sebelum Tan Ciok-sing menjawab, Tam Pa-kun sudah tertawa, katanya.

"Ong-toako kenapa kau menjadi pelupa?"

Ong Goan-tin melengak, tanyanya.

"Aku lupa apa?"

"Tentang mereka membuat geger istana raja, waktu menyelundup ke istana raja. Ciok-sing pernah meninggalkan empat bait syair sebagai peringatan kepada raja, bukanlah hal itu pernah kuceritakan kepada kau?"

Ong Goan-tin sadar, katanya.

"Betul kenapa aku jadi lupa. Ciok-sing Lote, apakah kau mau kembali ke kota raja, menagih janji kepada raja keparat itu, bila perlu kau paksa dia untuk menepati janji."

"Benar Baginda pernah berjanji, dalam jangka tiga bulan dia akan bertindak mencopot kedudukan menteri dorna Liong Bun-kong. Kini batas tiga bulan sudah hampir habis, bersama nona In kami ingin tiba di kota raja lebih dini."

"Kalian bagaimana?"

Tanya Ong Goan-tin kepada Kek Lamwi dan Toh So-so.

"Janji Tan-toako dengan Baginda Raja adalah janji pertemuan Pat-sian pula, Lim-toako dan Lok-toako pasti sudah menunggu kami di kota raja. Maka kami juga akan berangkat bersama Tan-toako."

"Apakah luka-lukamu tidak mengganggu?"

Tanya Ong Goan-tin.

"Sudah lama sembuh,"

Sahut Kek Lam-wi "Bahwa kalian sedang mengemban tugas, sudah tentu aku tidak enak menahan kalian disini. Nona Bu kuharap sementara kau tinggal disini saja."

Memangnya Bu Siu-hoa sekarang sudah sebatang kara, mendapat tempat berteduh sudah tentu dia senang, maka permintaan Ong Goan-tin dia terima dengan rasa senang dan lega.

000OOO000 Pendek kata.

Sepanjang jalan mereka tidak menghadapi rintangan apa-apa.

Hari itu mereka tiba di Pakkhia.

Untuk menjaga orang tidak mengenali mereka, sebelum masuk kota In San gunakan kepandaian tata riasnya yang dia pelajari dari Han Cin merobah wajah Tan Ciok-sing dan Kek Lam-wi menjadi dua pemuda sekolahan yang mau ujian ke kota raja, sementara dia sendiri bersama Toh So-so ganti berpakaian laki-laki, menyamar jadi kacung mereka.

Jalan raya lalu lintas padat, kereta gerobak berlalu lalang, kota raja masih seramai dulu, segala sesuatunya tiada perbedaan dengan tiga bulan yang lalu.

Tapi perasaan hati mereka yang jauh berbeda dibanding tiga bulan yang lalu.

Tiga bulan yang lalu mereka bertekad meski gugur di medan lagajuga rela asal berhasil menemui raja, sudah tentu yang diharapkan usaha mereka sukses yaitu membunuh Liong Bun-kong sekalian.

Meski tujuan mulia, namun mereka harus bertindak secara menggelap, harapan cerah tidak pernah nampak di depan mata.

Kini mereka sudah sadar, umpama Baginda Raja tidak mau tunduk akan kehendak rakyat banyak namun keyakinan mereka untuk memberantas kaum dorna lebih besar, selaput gelap yang selama ini menyelubungi harapan masa depan sudah sirna tak berbekas lagi.

Waktu mereka tiba di kota raja kebetulan adalah hari terakhir dari batas waktu tiga bulan.

Malam itu mereka menginap di hotel, besok pagi mereka langsung menuju ke Say-san berkunjung ke markas cabang Kaypang.

Baru saja mereka keluar kota, terasa dua orang telah menguntit mereka.

Kedua orang ini berkepala kecil dengan muka panjang, mata kecil hidung pesek, dari tampang dan tingkah laku mereka, siapapun akan tahu bahwa kedua orang ini jahat dan menjijikan.

Lekas sekali kedua orang ini sudah memburu dekat.

Sekejap Tan Ciok-sing celingukan, dilihatnya kanan-kiri tiada orang, segera dia menyongsong kedatangan mereka.

"Saudara ini tentu sudah lelah."

Kedua orang itu berhenti, sekejap saling pandang lalu satu persatu mengawasi mereka, mimik mukanya kelihatan aneh. Akhirnya yang perawakan agak pendek berkata.

"Lelah sih tidak. Kalian jalan-jalan, kami juga jalan-jalan, kalau bilang lelah, tentunya kalian juga lelah."

Sengaja dia meninggikan suara, jelas berusaha menutupi suara aslinya supaya orang tidak kenal logat suaranya. Tan Ciok-sing berkata sinis.

"Jangan pura-pura, kalian ini kawan dari garis mana, lekas terus terang."

Yang perawakan besar berkata.

"Apa maksudnya kawan dari garis mana? Coba kau katakan dulu kau dari garis mana, supaya kami maklum apa yang kau maksud."

"Baik terus terang kuberitahu kepadamu. Aku adalah kawan dari garis yang sedang dicari oleh majikanmu,"

Di kala mengucap 'mu' dua jari tangannya yang terangkap tiba-tiba menutuk ke Hiat-to penggagu orang, dia tidak akan mengancam jiwa orang, maka gerakannya cukup gesit, orang biasa terang tak mungkin bisa meloloskan diri.

Tak nyana dengan mudah laki-laki ini berhasil menghindar, mulutnya malah berkaok.

"Lho, mulut bilang kawan tapi perbuatanmu tidak layak sebagai kawan."

Di kala Tan Ciok-sing turun tangan itu, laki-laki pendek di sebelahnya tiba-tiba tertawa cekikikan sambil menutup mulut. Katanya.

"Adik In masa kau tidak mengenalku lagi,"

Ujarnya.

"Toako jangan gegabah,"

Seru In San.

"diakan Han-cici..."

Hampir bersamaan In San berteriak dengan laki-laki pendek itu. Sekilas Tan Ciok-sing melenggong, hampir bersamaan pula diapun berteriak dengan lawannya.

"Toan-toako kiranya kau."

"Tan-hengte ternyata kau."

Ternyata dua orang yang menguntit mereka ini bukan lain adalah kawan baik mereka yaitu Toan Kiam-ping dan Han Cin. In San tertawa, katanya.

"Ooo, ternyata guruku telah datang, tak heran samaranku konangan,"

Maklum kepandaian riasnya dia pelajari dari Han Cin.

"Toan-toako,"

Kata Tan Ciok-sing bukankah kau sudah pulang ke Tayli? Kenapa secepat ini sudah berada di kota raja pula?"

"Janjimu tiga bulan dengan baginda, tidak pernah kulupakan,"

Ujar Toan Kiam-ping.

"Bukankah waktu itu orang banyak mengharap supaya kau melakukan usaha besar di kampung kelahiranmu, kurasa tidak perlu kau buru-buru meninggalkan kampung halaman..."

"Aku maklum maksudmu tapi jangan kau lupa, ayahku mati karena perbuatan Liong Seng-bu, mana bisa aku membiarkan kalian saja yang menuntut balas?"

Han Cin tertawa katanya.

"Untung kalian bertemu aku, markas Kaypang sudah pindah."

"Pindah kemana?"

Tanya Ciok-sing.

"Pindah ke Jui-hwi-hong. Mari kuajak kalian kesana,"

Ujar Toan Kiam-ping.

Setiba di markas Kaypang baru mereka tahu apa sebabnya mereka pindah yaitu karena di kalangan mereka terbongkar adanya musuh dalam selimut, ini bukan lain adalah Kwe Su-to yang pernah ditolong itu.

Waktu Kwe Su-to membawa pasukan besar pemerintah menggerebek Pit-mo-gay, untung orang-orang Kaypang sudah mendapat kabar, sebelum pasukan pemerintah tiba mereka sudah pindah ke lain tempat, sehingga tidak jatuh korban.

Kaypang Pangcu Liok Kun-lun memberi tahu dua hal tentang keluarga Liong, pertama, Liong Bun-kong mohon cuti dengan alasan badan kurang sehat, sampai hari ini belum pernah masuk istana menghadap raja.

Kedua, keponakannya yaitu Liong Seng-bu secara diam-diam mengawal separtai harta benda pulang ke Kwi-ciu ke kampung kelahirannya, seratus li setelah meninggalkan kota raja, di tengah jalan telah dibega!

orang.

"Yang berani membegal harta mereka tentu bukan kaum begal biasa,"

Kata Ciok-sing.

"Memang bukan begal biasa, menurut laporan mereka adalah Wi-cui-hi-kiau,"

Ujar Liok Kun-lun. Kek Lam-wi senang, katanya.

"O, jadi Toako juga sudah tiba, dimana mereka?"

"Dua hari lagi baru akan tiba. Mereka sudah mengirim kabar kepadaku,"

Sahut Liok Kun-lun pula.

"Pertemuanku dengan Baginda tidak bisa ditunda lagi, aku tidak akan menunggu mereka,"

Kata Tan Ciok-sing. Toan Kiam-ping berkata.

"Kali ini aku bersama adik Cin minta persetujuan kalian untuk ikut masuk ke istana."

Kek Lam-wi dan Toh So-so sebetulnya juga ingin ikut, tapi Liok Kun-lun bilang terlalu banyak orang tentu kurang leluasa, apa lagi mereka harus menunggu kedatangan anggota Patsian yang lain, terpaksa mereka terima nasihat Liok Kun-lun, urung ikut ke istana.

Malam kedua kira-kira kentongan ketiga Tan Ciok-sing berempat lantas berangkat menemui Baginda Raja sesuai janji tiga bulan yang lalu.

Tan dan In sebelumnya pernah kemari maka kali ini dengan mudah mereka dapat mengelabui para penjaga dan barisan ronda.

Di bawah petunjuk Tan Ciok-sing yang jalan di depan, sementara In San dan Han Cin menyamar Thaykam berjalan di belakang, sementara Toan Kiam-ping menguntit dalam jarak tertentu langsung menuju ke istana belakang.

Ginkang Toan dan Han memang agak asor tapi tarafnya juga sudah termasuk kelas tinggi, berjalan di atas genteng kaca yang licin mereka mengembangkan Ginkang laksana kecapung yang menclok dari satu wuwungan ke wuwungan istana yang lain tanpa mengeluarkan suara.

Tan dan In sudah punya pengalaman maka mereka berhasil mengelabui jago-jago silat pelindung istana, lekas sekali mereka sudah menyelundup ke Sia-hoa-wan disini mereka menghadapi kesulitan, tidak seperti dulu dapat maju dengan leluasa.

Kini kemana mereka harus menemui Baginda?

Istana raja sebesar dan seluas ini, gedung bangunannya entah-ada ratusan jumlahnya, hanya tempat tinggal permaisuri dan para selir raja saja kira-kira ada puluhan gedung, dari mana mereka tahu malam ini sang raja menginap di istana mana?

Kalau tempo hari mereka dibantu seorang thaykam yang selalu dekat di samping raja sehingga tanpa membuang banyak tenaga menemui raja, tapi Thaykam kecil itu sudah gugur dalam menunaikan tugas, kini tiada Thaykam yang akan menunjukkan jalan lagi.

Sebelum mereka mendapat akal dan perundingan diantara mereka belum selesai tiba-tiba didengarnya suara desiran aneh pelahan seperti selembar daun yang melayang ditiup angin, tapi jelas bukan daun yang jatuh karena ditiup angin.

Mereka adalah ahli silat, mendengar suaranya seketika melenggong.

Tan Ciok-sing berkata.

"Itulah suara senjata rahasia meluncur, tapi bukan Bwe-hoa-ciam."

In San berkata.

"Kalau suara krikil rasanya jauh lebih keras dan kasar.'"

Ciok-sing berkata.

"Kalau tidak salah dugaanku itulah sebutir lempung kecil."

Sampai disini tiba-tiba tergerak pikiran Tan Ciok-sing, diam-diam dia berpikir.

"Jikalau Wisu istana memergoki jejak kita tak perlu dia menyerang kita dengan senjata rahasia apalagi senjata rahasia itu ditimpuk miring ke samping kita bukankah membuat kita terkejut dan sadar? Tidaklah lebih baik dia berteriak mengundang kawankawannya?"

Karena itu segera dia hendak menyerempet bahaya, coba-coba dia berlari ke arah dimana senjata rahasia tadi meluncur.

Di depan sebuah gunung-gunungan mengadang jalan di waktu mereka kebingungan ke arah mana mereka harus melanjutkan arahnya, tiba-tiba terdengar pula suara desiran ringan halus tadi, kali ini Tan Ciok-sing sengaja tidak mau menuruti petunjuk senjata rahasia itu, tapi menuju ke arah lain.

Terdengar suara ledakan lirih seperti kacang yang dipecah kulitnya, disusul bubuk tanah yang berhamburan berjatuhan di atas kepalanya.

Senjata rahasia yang pecah di atas kepalanya memang adalah sebutir lempung.

Sebagai ahli silat sudah tentu Tan Ciok-sing maklum bahwa orang menggunakan Tamci-sin-thong.

Sebutir lempung dijentik pecah pada jarak tertentu yang telah diperhitungkan dengan tepat bukan saja ini memerlukan latihan juga harus tepat waktu yang ditentukan untuk menggunakan tenaga yang pas-pasan pula.

Mau tidak mau Tan Ciok-sing terkejut.

Tapi kejap lain diamdiam hatinya amat senang dan lega karena dia sudah paham, apa maksud timpukan lempung itu.

Tengah berpikir didengarnya pula suara desiran perlahan tadi, sebutir lempung meluncur di atas kepalanya tahu-tahu lempung itu berputar satu lingkaran terus meluncur ke sebelah kiri.

Dugaan Tan Ciok-sing memang tidak keliru, orang yang menimpukkan lempung secara diam-diam ini memang sedang menunjukkan arah jalan yang selamat bagi mereka.

Tanpa terasa mereka dituntun tiba di depan sebuah gedung.

Di depan gedung terdapat sebuah gunung-gunungan sekelilingnya dipagari pepohonan.

Sebutir lempung melayang lewat di atas kepala mereka, cepat sekali berputar arah lalu jatuh di atas kepala Ciok-sing.

Tan Ciok-sing tahu, maksudnya supaya mereka berhenti sampai disitu saja.

In San berbisik mepet telinga Ciok-sing.

"Tempat ini dinamakan Yang-sim-tiam, di tempat inilah Baginda Raja menerima para pembantunya, ada kalanya diapun sibuk memeriksa dokumen-dokumen penting disini. Mungkinkah Baginda Raja ada disini?"

Tan Ciok-sing sembunyi di belakang gunung-gunungan dengan seksama dia periksa keadaan sekitarnya.

Yang-simtiam adalah gedung bersusun dua, di sebelah atasnya terdapat sebuah baicon, sinar lampu tampak menyorot disana.

Bayangan orang tampak berpeta di jendela.

Sementara bayangan orang tampak mondar mandir diluar, jelas mereka adalah jago-jago kosen pengawal raja.

Ciok-sing kembangkan Ginkang tinggi secara diam-diam dia melompat ke atas pohon.

Dia melompat ke atas sesaat angin menghembus agak kencang sehingga daun pohon bergoyang gemerisik, tapi dahan dimana dia hinggap sedikitpun tidak bergeming, para Wisu yang berjaga diluar Yang-sim-tiam tiada satupun yang tahu.

Malam itu tiada rembulan, bintang yang kelihatan juga jarang-jarang, pohon dimana dia sembunyi daunnya rimbun, tepat untuk sembunyi.

Dari atas pohon yang tinggi dia dapat melihat keadaaan di atas loteng.

Yang berada didalam sebuah kamar di atas loteng adalah seorang pemuda berpakaian perlente dan seorang laki-laki setengah umur.

Pemuda perlente itu bukan lain adalah Baginda Raja yang berkuasa sekarang dan pernah bertemu dengan Ciok-sing, yaitu Cu Kian-sin.

Laki-laki setengah umur adalah komandan pasukan bayangkari Hu Kian-seng.

Kungfu Hu Kian-seng setaraf dengan kepandaian komandan pasukan Gi-lim-kun Bok Su-kiat, dalam kalangan Bulim terhitung jago kosen juga.

Diam-diam Tan Ciok-sing membatin.

"Ada orang ini di sampingnya, supaya tidak mengejutkan orang banyak jelas tidak mungkin."

Meski dirinya di tempat gelap, lawan di tempat terang tapi dia tidak yakin dalam sekali gebrak pasti dapat membekuk Hu Kian-seng, sesaat lamanya dia bimbang tidak berani bertindak gegabah.

Di kala dia mencari akal didengarnya sang raja telah membuka suara.

"Apakah kedua orang itu sudah masuk istana?"

Hu Kian-seng menjawab.

"Baginda ada janji, mana mereka berani datang terlambat, sudah lama mereka masuk. Apakah perlu mengundang mereka sekarang juga?"

Istilahnya mengundang, dari sini dapat diperkirakan bahwa kedudukan kedua orang itu tentu luar biasa. Tergerak hati Tan Ciok-sing.

"Kedua orang itu jelas bukan aku dan San, lalu siapa?"

Terdengar sang raja berkata.

"Nanti saja biar mereka terlambat setengah jam lagi. Aku ingin membaca laporan situasi dari laporan komandan kota Tay-tong. Entah bagaimana peperangan yang tengah berlangsung di Gan-bunkoan?"

Agaknya dia ingin tahu dulu situasi dan kondisi, baru nanti berkeputusan bagaimana bersikap terhadap utusan rahasia negeri Watsu. Hu Kian-seng berkata.

"Gelagatnya tidak menguntungkan. Laporan Lau-congping dari Tay-tong dikirim dengan kuda kilat, menjelang kentongan kedua tadi baru masuk istana. Aku sudah memeriksa dan kuletakkan di arsip-arsip surat. Silahkan Baginda memeriksanya."

Laporan itu khusus diselipkan di sebuah map yang ditindih singa-singaan terbuat dari tembaga setelah Cu Kian-sin membacanya tiba-tiba dia berseru heran.

Lekas Hu Kian-seng memburu maju ikut membaca, seketika rona mukanyapun berobah hebat.

Ternyata sepasang mata singa-singaan tembaga itu dibuat dari dua butir mutiara, kini kedua matanya ternyata bolong mutiaranya telah lenyap.

Orang yang sengaja mengorek buta singa-singaan tembaga ini secara langsung seperti mengolok Baginda Raja punya mata tapi buta, atau mungkin juga menghina laporan Lau-congping dari Thay-tong akan laporannya yang palsu.

Sebagai komandan bayangkari, Hu Kian-seng bertanggung jawab menjaga keselamatan raja, karuan keringat dingin berketes di atas jidatnya sesaat dia berdiri melongo.

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah setelah membaca surat laporan itu wajah Cu Kian-sin tampak berubah pula, bentaknya.

"Hu Kian-seng dari mana datangnya surat laporan ini?"

Sang raja tidak mengusut kemana hilangnya sepasang mutiara yang menjadi mata singa-singaan tembaga, tapi tanya -asal-usul surat laporan yang sedang dibacanya sudah tentu hal ini jauh diluar dugaan Hu Kian-seng.

Sebetulnya bukan Cu Kian-sin tidak melihat atau tidak tahu maksud orang mencukil mutiara mata singa-singaan tembaganya, tapi surat laporan yang bermimpipun tidak pernah dia bayangkan ini, justru amat mengejutkan hatinya.

Hu Kian-seng keheranan katanya.

"Ini., apakah bukan surat laporan Lau-congping?"

"Coba kau periksa sendiri,"

Sentak Cu Kian-sin.

Surat laporan dari komandan militer kota Tay-tong itu dibungkus kain sutra kuning, bagian luarnya ditulis dengan tinta yang bermutu paling baik, di sebelah atas kiri diberi tanda nomor arsip dan di bawahnya terdapat tanda tangan Taykam penerima surat laporan itu yang tembusannya dikirim balik kepada si pengirim.

Tapi kertas lempitan yang sekarang dipegang dan dibaca Baginda ternyata dari kertas yang berkwalitet rendah, jadi tidak memenuhi syarat sebagai surat laporan lazimnya.

Sementara itu Cu Kian-sin sudah membuka lempitan surat dengan kertas kasar itu, lekas Hu Kian-seng menghampiri ke belakang, dari jarak yang agak jauh dia ikut membaca, tampak kertas kasar itu ditulisi huruf-huruf besar yang bergaya kuat dan indah, jadi tidak sesuai lagi sebagai laporan yang sudah ditentukan harus ditulis dengan huruf-huruf kecil yang rapi dan rajin.

Hu Kian-seng kaget, serunya.

"Ini. siapakah yang menukar surat laporan ini."

Cu Kian-sin gusar, bentaknya.

"Kau tanya aku malah? Coba baca inilah surat tulisan Kim-to Cecu yang ditujukan kepadaku."

Hu Kian-seng mendekat maju serta membaca lebih cermat, baru sekarang dia melihat jelas baris pertama tulisan di atas kertas kasar itu berbunyi.

"Ciu San-bin rakyat jelata dari kaum liar berani mati menyampaikan sepatah dua kata."

Saking kagetnya H u Kian-seng sampai gemetar, tiba-tiba dilihatnya di pojok sampul surat terdapat lempitan kertas lain yang terselip di dalamnya, lekas dia melolosnya keluar begitu melihat tulisan di atas kertas halus ini, tanpa terasa tangannya gemetar matanya melirik, agaknya dia tidak berani dan tidak ingin kertas tulisan ini dilihat atau diketahui oleh Sri Baginda.

Tapi Cu Kian-sin cukup tajam.

"Siapa punya? Serahkan kepadaku."

"Inilah surat laporan Laucongping yang asli, tapi..."

Belum habis dia bicara Cu Kian-sin sudah merebut surat laporan itu dari tangannya, setelah dibeber tampak di balik surat laporan ada huruf-huruf besar yang berbunyi demikian.

"Jerih melihat musuh seperti berhadapan dengan harimau, pandai membual lagi."

Cu Kian-sin membeber surat laporan komandan militer kota Tay-tong dan surat lempit Kim-to Cecu di atas meja lalu dicocokkan satu dengan yang lain.

Hu Kian-seng melayani dari samping, tampak junjungannya kadang mengerutkan alis, kejap lain berseri tawa lalu manggut-manggut, adakalanya menepekur sekian lamanya seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba mengetuk meja serta bernyanyi-nyanyi kecil entah apa yang sedang dipikir dalam benaknya.

Yang terang sikapnya kelihatan kaget, senang dan lega, namun dalam rasa senangnya terselip juga rasa risau dan masgul.

Walau Tan Ciok-sing tidak tahu apa isi surat itu, tapi dia membadek Kim-to Cecu pasti memberi nasehat dan memberi pengarahan situasi dan kondisi dalam negeri, membeber seluk beluknya serta menggambarkan bagaimana Sri Baginda harus bertindak.

dinasehatinya pula supaya dia tidak menyerah atau minta damai terhadap pihak Watsu.

Dalam hati Ciok-sing membatin.

"Bila dia mau mendengar nasehat Kim-to Cecu kali ini kurasa tidak perlu aku menemuinya secara langsung."

Tengah berpikir, dilihatnya Cu Kian-sin sudah angkat kepala, wajahnya masih mengulum senyum katanya kepada Hu Kian-seng.

"Beritanya sih lumayan."

"Berita tentang apa?"

Tanya Hu Kian-seng.

"Pihak Kim-to Cecu mendapat kemenangan gilang gemilang dalam pertempuran diluar Gan-bun-koan."

Hu Kian-seng heran, katanya.

"Tapi dalam laporan Laucongping..."

"Kemenangan dicapai oleh pihak Kim-to Cecu jadi tiada sangkut pautnya dengan Lau-congping. Sudah jelas bahwa laporan Lau-congping ini, hm, huh, memang betul membual dan menjilat belaka, situasi digambarkan sedemikian jelek dan buruk."

Hu Kieng-seng berkomentar.

"Dari tanggalnya kedua surat ini dikirim dalam waktu yang sama, jadi tidak mungkin dalam satu tempat dan waktu yang sama, pihak Watsu sama-sama menghadapi dua peperangan besar. Dan lagi dinilai keseluruhan dari peperangan itu, yang satu bilang menang gilang gemilang, yang lain justru bijang kalah total, ini, ini..."

"Lau-congping berhadapan dengan musuh seperti melihat harimau, ini memang benar, jadi laporannya ini terang palsu dan membual, dia mengharap Tim selekasnya mengirim bantuan tentara dan rangsum."

Diluar kesadarannya dia gunakan istilah Kim-to Cecu dalam mencemooh perbuatan Lau-congping.

Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Cu Kiansin lebih percaya kepada laporan Kim-to Cecu dari laporan dinas Komando militer kota Tay-tong.

Sampai disini, mau tidak mau hati Tan Ciok-sing amat girang, pikirnya.

"Gelagatnya raja muda ini masih tidak terlampau bejat."

Tak nyana tiba-tiba, didengarnya Cu Kian-sin menggumam dengan melamun.

"Yang Tim kuatirkan justru kelanjutan dari peperangan ini."

Kiriman surat Kim-to Cecu dia simpan, sementara surat laporan Komandan militer kota Tay-tong dia remas-remas lalu dilempar ke tempat sampah akhirnya dia menghela napas panjang.

Walau dia tidak melanjutkan perkataannya tapi Hu Kian-seng pandai melihat sikap dan rona muka orang menebak isi hatinya, diam-diam dia sudah tahu kemana kiblat pikiran junjungannya.

Hu Kian-seng yang sudah kelihatan tak berani banyak bersuara ini diam-diam bersorak dalam hati, katanya.

"Baginda cekatan bertindak dan bijaksana dalam menentukan sikap, Hamba ada pendapat yang mungkin kurang enak didengar kuping, sebelumnya mohon Baginda memberi ampun."

"Bukankah Tim sudah lama bilang kepadamu,"

Demikian ujar Cu Kian-sin.

"Tim memang memerlukan usul dan pendapat para pembesar jujur dan baik hati. boleh kau katakan saja."

"Harap Baginda periksa dan pikirkan, pasukan negeri kalah perang sebaliknya kaum berandal mencapai kemenangan di medan laga kukira hasilnya tidak akan membawa untung bagi Baginda."

"Pcndapatmu memang tepat. Memang itulah yang Tim kuatirkan,"

Ujar Cu Kian-sin.

"Memang Kim-to Cecu akan membantuku dengan setia bila Tim mau kerahkan pasukan besar negeri mengusir penjajah. Namun Tim masih sangsi akan kesetiaan dan kejujurannya. Dan masih ada lagi. Walau kali ini dia mendapat kemenangan besar siapa tahu lain kali..." .

"Betul."

Timbrung Hu Kian-seng.

"kalah menang di medan laga adalah kejadian logis, umpama benar Kim-to Cecu dapat menang perang betapapun dia adalah brandal yang menduduki satu pegunungan sebagai daerah kekuasaannya melulu, anak buahnya tidak lebih adalah kelompok campur aduk yang tidak karuan kalau bertempur sungguhan, mana mereka mampu menghadapi pasukan Watsu yang bersenjata lengkap? Kalau kita mengandal kekuatan kaum berandal ini, bila pihak Watsu mengerahkan seluruh kekuatan perangnya dan berhasil menumpas mereka, bukankah posisi kita serba repot dan runyam? Dalam keadaan kepepet seperti itu, mana mungkin mereka mau menerima permintaan damai kita."

Maklum Hu Kian-seng sudah disogok dan memperoleh banyak keuntungan dari duta Watsu, begitu ada kesempatan maka dia membesarkan kekuatan musuh dan meruntuhkan semangat juang pihak sendiri.

"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Cu Kiansin.

"Menurut pendapat hamba yang bodoh, mumpung memperoleh sedikit kemenangan ini kita adakan kontak dengan Watsu mengajaknya berunding, syarat yang kita ajukan mungkin bisa lebih menguntungkan bagi kepentingan kita."

Cu Kian-sin menepekur sejenak, katanya kemudian.

"Setelah menemui, utusan rahasia pihak Watsu, sebetulnya Tim akan merundingkan persoalan ini kepada pembesar lainnya dalam sidang balairung besok pagi. Kalau begitu baiklah kita laksanakan sesuai rencana semula."

"Betul. Mari kita lihat sikap dan pendapat utusan rahasia Watsu ini bagaimana kenyataan dari hasil peperangan di luar Yan-bu-koan. Baginda akan dapat mengambil kesimpulan lebih jelas dari mulut mereka. Apakah sekarang juga kita undang mereka kemari?"

"Baiklah, lekas kau suruh orang mengundang Tiangsun Co kemari."

Baru sekarang Tan Ciok-sing tahu.

"kiranya Tiangsun Co datang pula sebagai utusan rahasia. Maka seorang lagi yang akan diundang Baginda pasti adalah Milo Hoatsu."

Pada hal Hu Kian-seng masih berada di atas loteng, bila kedua jago kosen dari Watsu itu sudah tiba, bagaimana mungkin dia bisa berhadapan langsung dengan Sri Baginda.

Tengah dia bimbang, dilihatnya Hu Kian-seng melongokkan kepalanya memandang keluar jendela.

Ternyata Hu Kian-seng mendengar seseorang memanggil namanya, suaranya seperti mengambang dan tidak diketahui arah datangnya, sayup-sayup lagi seperti ada tapi juga tiada, entah itu suara manusia atau teriakan setan, tanpa sadar berdiri bulu kuduknya.

Melihat sikap dan rona muka orang agak ganjil Cu Kian-sin bertanya.

"Hu Kian-seng, apa yang kau lihat diluar?"

Setelah tersirap lekas Hu Kian-seng tenangkan hati, katanya.

"Tidak apa-apa. Hamba ingin memeriksa keadaan diluar, akan kukerahkan tenaga untuk memperkuat penjagaan diluar."

Diam-diam dia curiga kemungkinan Tan Ciok-sing secara sembunyi-sembunyi telah menyelundup masuk ke istana pula.

Di samping kuatir sang raja tidak berani menanda tangani surat perjanjian damai itu, tadi dia sudah kebacut omong besar, bila Tan Ciok-sing betul-betul menyelundup ke Yangsim-tiam ini, pamor dan kedudukannya sebagai komandan pasukan Bayangkari ini sih boleh tidak usah dipikirkan, celaka bila Sri Baginda menjatuhkan vonis berat akan kesalahannya.

Karena itu bila betul Tan Ciok-sing menyelundup masuk, sebelum dia menerjang kedalam Yan-sim-tiam dia sudah harus membekuknya.

Sudah tentu dia juga tahu bahwa In San pasti datang bersama Tan Ciok-sing, tapi dia yakin tenaga yang dia sebar di sekitar Yang-sim-tiam cukup kuat untuk menghadapi In San maka dia tidak perlu takut bila Tan Ciok-sing memancingnya keluar meninggalkan tempat tugasnya.

Cu Kiam-sin berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Bolehlah kau memeriksa keadaan diluar. Sudah saatnya Koksu dari Watsu dan Tiangcun Pwecu tiba disini, boleh kau wakili Tim menyambut kedatangan mereka."

Hu Kian-seng memanggil dua Wisu pembantunya masuk serta berpesan kepada mereka.

"Aku akan keluar menyambut kedatangan utusan Watsu, kalian disini hati-hati menjaga keselamatan Baginda. Kedua Wisu ini yang satu bernama Pek Ting, Ciangbunjin dari Eng-jiau-bun sekte utara. Seorang lagi bernama Kiang Swan, jago kosen yang liehay dalam permainan Pat-kwa-ciang. Kedua orang ini merupakan jagojago top di kalangan Wisu di istana raja, taraf Kungfu mereka hanya setengah urat di bawah Hu Kian-seng, boleh dikata termasuk jago di antara jago. Dengan adanya mereka berada di samping sang raja, betapapun cukup kuat hanya untuk menghadapi In San seorang, maka dengan lega hati Hu Kianseng berlalu. Baru saja dia keluar dan belum jauh meninggalkan Yangsim-tiam, tiba-tiba didengarnya suara "Seeer"

Yang lirih, mata kuping Hu Kian-seng setajam radar, kontan dia mengayun tangan memukul dengan Bik-khong-ciang, sebutir lempung kena dipukulnya hancur tapi mukanya kecipratan beberapa lempung lembut.

Sebagai seorang ahli silat, sudah tentu dia tahu kalau lempung tadi ditimpukkan oleh seorang ahli senjata rahasia.

Dia kira pembokong itu adalah Tan Ciok-sing, karuan hatinya gusar, pikirnya.

"Kau keparat ini berani mempermainkan aku."

Dia tidak ingin membuat ribut-ribut membuat kaget sang junjungan maka tanpa bersuara segera dia menubruk ke arah datangnya lempung.

Beruntun orang itu menimpuk tiga kali.

Hu Kian-seng selalu gagal menemukan jejaknya.

Tanpa terasa dia dipancing semakin jauh meninggalkan Yang-sim-tiam.

Karena tidak mendapat petunjuk selanjutnya dari orang itu, Tan Ciok-sing sedang berpikir apakah perlu sekarang dia menerjang kedalam Yang-sim-tiam, tiba-tiba dilihatnya dua orang telah muncul dikiar Yang-sim-tiam.

Sinar lampu yang menyorot keluar dari Yang-sim-tiam cukup benderang, maka Tan Ciok-sing yang sembunyi di atas pohon dapat melihat jelas.

Yang jalan di depan adalah seorang Taykam, dia bukan lain adalah samaran In San.

Tapi yang berjalan di belakang ternyata mengenakan pakaian seragam bangsa Watsu, dia bukan lain adalah utusan rahasia pihak Watsu, yaitu Tiangsun Co.

Tiga bulan yang lalu Ciok-sing pernah bertemu dengan dia, maka dia masih kenal tampangnya.

Mau tidak mau Ciok-sing heran.

Bagaimana bisa In San berada di samping Tiangsun Co?

Sudah tentu cepat sekali dia sudah menduga mungkin Tiangsun Co yang ini adalah samaran Han Cin?

Tapi Han Cin bersama ln San waktu menyelundup ke istana tadi sama-sama menyamar jadi Taykam.

Dalam waktu sesingkat ini dari mana dia bisa memperoleh seragam pakaian orang Watsu?

Apalagi pakaian kebesaran seorang Pwecu?

Di saat hatinya bimbang dan bertanya-tanya sementara In San bersama Tiangsun Co sudah tiba di depan Yang-sim-tiam.

Dugaan Tan Ciok-sing memang tidak meleset, yang menyamar Tiangsun Co bukan lain adalah Han Cin.

Ternyata diluar tahu Tan Ciok-sing, In San dan Han Cin yang sembunyi di belakang gunung-gunungan telah disambit sebutir malam bundar, setelah malam bundar itu dipecah, di dalamnya ada segulung lempitan kertas, setelah dibeber tampak kertas kecil itu bertuliskan empat patah kata.

"Masuk gua ganti pakaian."

Itulah pesan orang yang memberi petunjuk jalan. Tanpa ragu In San dan Han Cin menyelinap kesana memasuki gua, didalam gua memang ada seperangkat pakaian. Setelah diambil dan diperiksa, In San berkata.

"Hancici bukankah ini seragam pakaian orang Watsu?"

Han Cin cukup cerdik, segera dia paham, katanya.

"Orang itu suruh aku menyaru Tiangsun Co." 000OOO000 Perawakan Tiangsun Co termasuk pendek di kalangan Bangsa Watsu yang kekar besar. Tapi badannya masih lebih tinggi dari Han Cin. Tapi ditumpukan pakaian ini terdapat sepasang sepatu slop yang berukuran tinggi, di dalamnya disumbat kapas. Bila Han Cin memakai sepatu ini, maka tinggi badannya kira-kira sebanding dengan Tiangsun Co. Kepandaian merias Han Cin sekarang mungkin susah dicari bandingannya di dunia, dibalik pakaiannya dia sumbat lagi dengan gumpalan kapas sehingga tubuhnya kelihatan lebih besar, sehingga samarannya lebih mirip lagi. Selalu dibawanya bahan-bahan keperluan rias lagi, segera dia ganti pakaian serta merias diri sendiri dibantu In San pula, maka sekejap saja dia sudah ganti rupa menjadi Tiangsun Co sungguhan, katanya tertawa.

"Adik In, mirip tidak samaranku?"

"Jikalau tidak diamati dengan teliti siapapun takkan bisa membedakan, sekarang malam gelap lagi, yakin kawanan Wisu itu akan bisa dikelabui."

Dugaan memang tidak meleset, ada empat Wisu yang berjaga diluar Yang-sim-tiam, satu di antaranya pernah melihat Tiangsun Co, namun juga hanya melihat sekali saja, ternyata dia memang tidak curiga.

Diluar dugaannya kawanan Wisu itu memang tidak curiga kepada Tiangsun Co palsu, tapi justru curiga terhadap dirinya.

Siapa-siapa Thaykam kecil yang selalu berada di samping raja mereka tahu jelas dan kenal baik, sebaliknya Thaykam yang disamar oleh In San, selama ini mereka tidak kenal dan belum pernah lihat.

Pada hal urusan hari ini betapa penting artinya, Bong Tit kepala dari para Thaykam kenapa justru mengutus Thaykam kecil yang masih asing?

Tapi mereka hanya curiga saja, tidak berani menegur apa lagi memastikan bahwa Thaykam kecil ini adalah mata-mata yang menyelundup dari luar.

Maka Wisu yang pernah melihat Tiangsun Co itu maju menyapa.

"Harap Pwelek tunggu sebentar."

Lalu dia menoleh dengan dingin dia tanya kepada In San.

"Agaknya kami belum pernah melihatmu, apakah Bong-kokong ada memberi tanda bukti melaksanakan tugas kepada kau? Kau harus tahu siapapun malam ini yang mau memasuki Yang-sim-tiam harus memiliki medali tembaga."

Untung In San sudah siap, segera dia keluarkan kipas lempit bergagang emas itu serta digoyang-goyang, katanya.

"Coba kalian periksa dengan teliti apakah kipas ini tidak lebih berharga dari lencana tembaga Bong-kokong?"

Kipas gagang emas ini adalah kipas yang diberikan oleh sang raja kepada Siau-ong-ya dari Watsu tiga bulan yang lalu.

Di atas kipas ada lukisan kembang Cu Kian-sin serta sajak ciptaannya pula.

Waktu dihadiahkan kepada pangeran kecil Watsu itu, Cu Kian-sin ada membubuhi cap dan tanda tangannya.

Sudah tentu kawanan Wisu itu tiada yang tahu akan pemberian kipas ini, tapi mereka kenal cap dan tanda tangan junjungan mereka.

Kipas pribadi yang dibubuhi cap tanda tangan sang raja di tangan In San, sudah tentu jauh lebih kuat dan terpercaya dari pada lencana tembaga Bongkokong, kawanan Wisu tidak berani mempersulit dirinya.

Maklum jumlah Thaykam di istana ada ribuan, sudah tentu kawanan Wisu itu tidak mungkin kenal seluruhnya.

Wisu itu kira In San adalah Thaykam kecil yang belakangan ini mendapat kepercayaan sang raja, mana berani dia merintangi?

Mendengar utusan Watsu telah tiba agaknya Cu Kian-sin melengak, katanya.

"Lho cepat sekali kalian datang, kenapa Hu-congkoan tidak kelihatan."

Dua Wisu yang melindungi sang raja yaitu Pek Ting dan Kiang Swan jadi curiga, Pek Ting berkata.

"Bukankah Baginda menyuruh dia menyambut mereka, mungkin mereka tidak bertemu di tengah jalan?"

Cu Kian-sin berkata.

"Tiangsun Pwelek Tim pernah melihatnya kurasa siapa punya nyali sebesar itu berani menyaru dirinya."

In San serahkan kipas itu kepada Han Cin, sambil menggoyang kipas Han Cin segera berlenggang naik ke loteng serunya.

"Tiangsun Co, mohon bertemu dengan raja junjungan dynasti Bing."

Han Cin pernah tinggal di markas Kim-to Cecu, di markas itu ada tawanan orang Watsu maka dia meniru logat orang Watsu bicara dalam bahasa Han, tiruannya ternyata mirip delapan puluh persen.

Sudah tentu logat suara Tiangsun Co tidak pernah diperhatikan oleh Cu Kian-sin, cuma lapat-lapat dia masih kenal bentuk wajahnya, namun dalam waktu sesingkat ini mana bisa dia membedakan apakah ini barang tulen atau palsu?

Tapi melihat kipas emas itu, segera dia teringat akan kejadian yang menyenangkan dulu sehingga dia hadiahkan kipasnya itu kepada pangeran kecil bangsa Watsu.

Melihat kipas itu hatinya terasa riang dan bangga, pikirnya.

"Agaknya kipasku itu sengaja diserahkan kepada Tiangsun Co untuk diperlihatkan di hadapanku bahwa mereka menghargai karyaku, sungguh harus dipuji."

Dia kira orang sengaja menaruh hormat dan menghargainya maka cara ini memang amat berhasil dari pada menjilat dengan kata-kata.

Pepatah ada bilang kau menghargai aku satu kaki, aku menghormatimu satu tombak, apalagi Cu Kian-sin memang sudah sejak mula merasa jeri terhadap orang Watsu, sekarang dia anggap dirinya sebagai raja dari negeri yang lemah menyambut kedatangan utusan besar negeri kuat, maka bergegas dia berdiri, katanya.

"Dalam jangka tiga bulan Pwelek harus pulang pergi menempuh perjalanan jauh, sungguh melelahkan. Tidak usah sungkan silahkan duduk, silahkan duduk."

Melihat sang raja menyambut dengan riang dan mengucapkan kata-kata yang meyakinkan sudah tentu Pek Ting dan Kiang Swan tidak berani curiga lagi bahwa Pwelek yang satu ini tiruan?

Tersipu-sipu mereka menarik kursi membersihkan meja lalu memberi hormat menyilahkan tamunya duduk.

Dalam pada itu pintu kamar telah tertutup.

Baru sekarang Cu Kian-sin sempat melihat In San adalah Thaykam yang asing dan belum pernah dilihatnya, namun dia tidak ambil di hati, dia kira Thaykam ini adalah pembantu setia dan terpercaya dari Bong Tit, melihat bibirnya merah giginya putih rapi, hatinya agak senang dan ketarik katanya.

"Baiklah disini tiada urusanmu, kau boleh keluar."

In San mengiakan maju dua langkah memberi hormat, tibatiba tangannya bergerak membalik menutuk Hiat-to Pek Ting.

Dalam waktu yang sama Han Cin juga telah menutuk Hiat-to Kiang Swan dengan kipas lempitnya itu.

Kungfu kedua orang ini sebetulnya tidak lebih asor dari mereka, soalnya mereka sedang membungkuk, mimpipun tidak pernah menyangka, bahwa utusan Watsu ini bakal turun tangan membokongnya, mana mereka bisa menghindar, tanpa mengeluarkan suara keduanya roboh terkulai.

Sudah tentu kejadian membuat Cu Kian-sin kaget setengah mati, mukanya pucat.

"Ka... kalian si..."

Demikian katanya tergagap. Sebelum 'siapa' sempat diucapkan, In San sudah terima kipas lempit itu dari tangan Han Cin terus dibeber di depan mata Cu Kian-sin, katanya dengan tersenyum.

"Apakah Baginda masih ingat janji pertemuan denganku dulu? Mohon maaf Binli (perempuan jelata) datang terlambat beberapa hari. Kuharap Baginda tidak bicara keras-keras."

Kipas itu ada lukisan dan sajak tulisan Cu Kian-sin tapi di sebelahnya ada tulisan tangan Tan Ciok-sing pula yang berbunyi.

"Janji tiga bulan, harap Baginda selalu ingat. Mengingkari janji dan kebenaran, tidak terampunkan oleh yang Kuasa."

Sebelum meninggalkan istana tempo hari Tan Ciok-sing pernah meninggalkan pesannya ini di hadapan Cu Kian-sin sebagai peringatan tegas.

Mana Cu Kian-sin berani melupakan melihat huruf-huruf besar di balik kipas itu hatinya gugup seketika.

"Lalu dia ini..."

Matanya melirik ke arah Han Cin, baru sekarang dia sadar, makin diamati Tiangsun Co yang satu ini agak berbeda dengan Pwelek yang pernah dilihatnya tiga bulan yang lalu, tapi juga tidak mirip Tan Ciok-sing.

In San berterus-terang, katanya.

"Dia ini bukan Tiangsun Pwelek, dia adalah teman baikku nona Han."

Lega sedikit hati Cu Kian-sin, pikirnya.

"Pemuda itu tidak datang syukurlah."

"Nona In, kakekmu pernah membuat pahala besar bagi negara, ayahmupun menjadi pembesar teladan, keluargamu adalah keluarga pembesar setia bagi kerajaan, Tim tidak pernah melupakan jasa-jasa baik keluargamu. Ada persoalan apa boleh kau bicarakan di depanku, silahkan duduk."

"Memang ada persoalan yang ingin kubicarakan dengan kau maka aku datang pula kemari."

Tawar suara In San.

"Umpama aku mau membunuhmu sekarang, semudah aku membalikkan telapak tanganku saja?"

Setelah lenyap rasa kagetnya hati Cu Kian-sin menjadi tenang dan mantap, pikirnya.

"Bila kau tidak menbunuhku urusan sih gampang diselesaikan, maka dengan suara lembut dia berkata.

"Baik apa yang ingin kau utarakan, boleh kau kemukakan di hadapan Tim, Tim pasti menuruti kehendakmu."

"Apa yang perlu kukatakan didalam surat Kim-to Cecu sudah dijelaskan, sekarang tergantung sikap Baginda apakah kau mau menerima nasehat baiknya."

"Peperangan adalah urusan negara, menyangkut kehidupan urat nadi bangsa dan tanah air, soal ini kukira Tim masih harus berpikir secara cermat."

"Kami sudah memberi waktu tiga bulan untuk kau berpikir panjang, seorang laki-laki harus berani berkeputusan dalam sepatah kata, apalagi kau adalah raja yang berkuasa, apa pula yang membuatmu bimbang..."

Belum habis dia bicara tiba-tiba dilihatnya mimik Cu Kian-sin agak ganjil seperti hendak menekan atau menyembunyikan perasaan, tapi perasaan kaget dan senang itu tak kuasa dia tutupi.

Tergerak hati In San, mendadak dirasakan angin berkesiur ada orang membokong di belakangnya.

Pembokong ini adalah Pek Ting yang tadi telah ditutuk Hiattonya, ternyata Lwekang Pek Ting memang tangguh, tadi In San kurang teliti menutuk tidak dengan Jong-jiu-hoat, setelah mengatur napas dan mengerahkan Lwekang ternyata Pek Ting berhasil membebaskan tutukan jalan darahnya.

Sedikitpun In San tidak siaga, sergapan ini sebetulnya takkan bisa dia hindarkan, untung dia melihat mimik muka Cu Kian-sin aneh otaknya cukup cerdik lagi, meski belum tahu apa yang bakal terjadi secara reflek dia menggeser ke samping.

Dia berhadapan dengan raja berarti membelakangi Pek Ting.

Cengkraman Pek Ting memang mengincar tulang pundaknya.

kalau Bi-ba-kut kena dicengkram ilmu silatnya yang pernah diyakinkan In San akan punah seketika.

Gerakan menghindar ke samping tanpa sengaja justru tepat dan berhasil menyelamatkan dirinya.

"Krak"

Jari-jari Pek Ting mencengkram bolong meja.

Karena serangan luput, sigap sekali dia sudah membalik seraya mencengkram ke arah Han Cin.

Pek Ting adalah Ciangbunjin Eng-jiau-bun sekte utara, Kim-na-jiu-hoat yang diyakinkan jarang ketemu tandingan di Bulim.

Melihat jari lawan sekuat baja, mau tidak mau Han Cin tersirap kaget.

Cepat sekali In San sudah memutar tubuh, pedang sudah terlolos terus menusuk.

"Wut, wut"

Dua kali gerakan tangan Pek Ting menderu menyerang untuk membela diri Han dan In kena didesak mundur beberapa langkah.

Setelah mendengus baru saja dia hendak berteriak, tiba-tiba tubuhnya mengejang kaku seperti kena sihir saja berdiri mematung, kedua tangannya bergaya seperti hendak mencengkram, wajahnya beringas dengan mulut menyeringai, keadaannya kelihatan lucu menggelikan.

Tiada angin, tiba-tiba daun jendela terbuka sendiri, sesosok bayangan laksana panah tiba-tiba menyeplos masuk.

Baca Juga: Bara Maharani 4

Baca Juga: Raja Naga Tujuh Bintang 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger