Eps 9 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.
"Tan-toako yang kalian bicarakan tadi adalah..."
Kek Lamwi bertanya.
"Teman baik kalian, yaitu Pendekar Pemetik Harpa Tan Ciok-sing,"
Sahut Han Cin. Kek Lam-wi berjingkrak kaget dan senang, serunya.
"Hah, diapun kemari."
"Bukan saja dia kemari, dia datang bersama putri In Tayhiap. Tadi nona ln terjeblos kedalam perangkap musuh, untung katanya berhasil meloloskan diri, tapi entah mereka masih mengalami bahaya tidak?"
"Kalau demikian, mari lekas kita cari mereka,"
Ajak Kek Lam-wi.
Saat mereka bicara disini pertempuran disana kedengaran semakin memuncak, suara pertarungan gemuruh bagai guntur menggelegar.
Dan jauh barisan obor kelihatan bergerak cepat semua menuju ke arah pertempuran.
"Celaka, agaknya Susiok ketemu tandingan tangguh, kita harus bantu dia menjebol kepungan,"
Demikian seru Toh Soso. Ti Nio memang kepergok musuh tangguh. Di waktu dia memancing perhatian kawanan wisu yang masih berkeliaran secara membabi buta, tiba-tiba didengarnya seorang membentak.
"Kalian mundur semua, biar aku yang membekuknya,"
Lenyap suaranya orangnyapun sudah menubruk tiba, tahu-tahu segulung angin telah menerpa kepalanya. Ti Nio mencelos pikirnya.
"Orang ini tidak boleh dipandang ringan,"
Kontan dia papak serbuan musuh dengan dorongan kedua tangan. Begitu telapak tangan saling bentur.
"Biang"
Ledakan terjadi, tahu-tahu Ti Nio limbung, penyerang itu tergentak mundur dua langkah. Orang itu membentak.
"Kiranya kau ini Tay-cui-pi-jiu Ti Nio?"
Ti Nio menghardik.
"Kau telah tahu siapa aku, tapi berani merintangi jalanku memangnya ingin mengadu jiwa dengan aku?"
Orang itu gelak tertawa katanya.
"Tay-cui-pi-jiu yang kau yakinkan memang tangguh, tapi jangan kau kira dapat mengalahkan aku. Hehehe, meski malam ini kau nekad dan adu jiwa, memangnya kau kira dapat terbang meloloskan diri."
Keduanya perang mulut, tapi kaki tangan tidak berhenti, orang itu bergerak dengan langkah Ngo-hing-pat-kwa, bergerak menyerang sambil bertahan, sekejap saja Ti Nio telah diserangnya belasan gebrak, ternyata kekuatan dan permainan mereka seimbang dan sengit, siapapun tiada yang bisa memungut keuntungan.
Ternyata penyatron ini bukan lain adalah Lenghou Yong, jago nomor satu dari seluruh anak buah Liong Bun-kong.
Lwekangnya masih setingkat di bawah Ti Nio tapi karena Ti Nio tadi sudah mengalami pertempuran sengit, tenaganya sudah dipersekot, kini menghadapi Lenghou Yong masih bertenaga baru, keadaannya jadi lebih runyam.
Dengan menarikan serulingnya Kek Lam-wi lancarkan ilmu ajaran keluarganya yang tunggal cepat sekali dua wisu yang menerjang maju telah ditutuknya terjungkal.
Kepandaian Toh So-so agak lemah, tapi ilmu pedangnya ternyata amat lincah dan enteng, begitu dia menerjang ke tengah orang banyak, seperti kupu-kupu menari di antara rumpun kembang, meliuk ke kiri menusuk ke kanan, berputar ke kanan membabat ke belakang, dalam beberapa gerakan saja, beberapa wisu telah roboh berkelejetan direnggut pedangnya.
Tenaga Han Cin sudah pulih beberapa bagian diapun mainkan cambuk lemasnya, khusus dia menyerampang kaki musuh, sehingga wisu yang berada di sekitarnya sama berlompatan mundur takut dililit kedua kakinya.
"Bagus,"
Seru Lenghou Yong.
"kiranya kau perempuan siluman ini. Hm, kau bisa lolos dari barisan pedang Huwan bersaudara, coba dapatkah kau lolos dari genggamanku?"
Mendadak dia melompat kedua jari terangkap menjulur setajam anak-anak panah.
"Cras"
Cambuk lemas Han Cin kena digunting oleh jarinya. Dia bergerak sebat, tapi Ti Nio tidak lambat. Bentaknya.
"Siapa berani mengusik dia,"
Telapak tangannya memukul terbalik, sehingga pukulan kedua yang dilancarkan Lenghou Yong menyerang Han Cin harus dibatalkan untuk melawan pukulan terbalik ini.
Meski putus ujung cambuknya, sebat sekali Han Cin menarik cambuk, tapi tiba-tiba cambuk lemasnya itu telah molor ke depan pula setangkas ular sakti terus membelit kedua kaki orang.
Walau Lenghou Yong memperoleh sedikit keuntungan, betapapun dia tidak mampu merampas cambuk Han Cin, terpaksa dia melompat jauh keluar kalangan.
Tapi kawanan wisu datang semakin banyak, mereka telah membentuk barisan manusia mengepung lebih ketat, walau Ti Nio beramai melabrak musuh dengan sengit, dalam waktu singkat jelas mereka takkan bisa menjebol kepungan.
Tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring, tampak beberapa sinar api bercahaya benderang membumbung tinggi ke angkasa, kawanan wisu tampak berlarian sambil berkaokkaok.
"Lekas, lekas bantu sini, cegat musuh yang meluruk kemari,"
Segera dari arah tenggara dan barat laut suaranya mendapat sahutan yang sama, semua minta bantuan tenaga untuk membendung serbuan musuh.
Ternyata rombongan pertama murid-murid Kaypang telah menyerbu masuk.
Meski jumlahnya tidak banyak, tapi kepandaian mereka cukup pilihan, di tengah kegelapan, kawanan wisu tiada yang tahu berapa banyak musuh, satu sama lain sukar dibedakan, yang jelas disana sini ada musuh muncul, karuan mereka bingung dan gugup.
Di tengah pertempuran sengit itu, tiba-tiba seorang menyelinap ke samping Kek Lam-wi, saking bernafsu menggasak musuh, kepala Kek Lam-wi serasa pening, pandanganpun telah kabur, tanpa memperhatikan, secara reflek serulingnya menutuk ke hiat-to orang ini Untung orang itu berlaku sebat, sambil menyingkir dia berseru.
"Kek-heng, inilah aku."
Baru kini Kek Lam-wi melihat jelas, yang datang adalah Liong-bun-kiam-khek Coh Ceng-hun. Lekas Kek Lam-wi bertanya.
"Adakah kau melihat Ngo-ko dan Liok-ko?"
Orang nomor 5 dan 6 dalam Pat-sian adalah To It-kiau dan Thong Jian-hong, mereka kumpul bersama Ti Nio, Kek Lam-wi dan lain-lain di rumah keluarga Coh.
"Memang aku hendak beritahu kepadamu, mereka telah menyerbu ke penginapan duta-duta Watsu, mungkin disana mereka akan melakukan pertempuran sengit, lekas kalian kesana bantu mereka."
Saat mana belasan murid Kaypang telah menyerbu tiba bergabung dengan Ti Nio.
Walau jumlahnya tidak sebanding dengan kawanan wisu tetapi dalam pertempuran di tempat gelap begini jelas pihak mereka tidak gampang dirugikan.
Ui-yap Tojin mati di tangan orang-orang Watsu, Kek Lamwi sudah bertekad hendak menuntut balas kematian Samkonya itu, maka dia berkata.
"Baik, tolong dan bantu Tisusiok, bersama Pat-moay aku akan menyusul ke penginapan orang-orang Watsu membantu Ngoko dan Liokko,"
Letak penginapan sebelumnya sudah mereka selidiki.
"Selama ini Tan Ciok-sing dan In San tidak kelihatan, jikalau mereka berada di taman ini pasti mereka tahu kejadian pertempuran disini. Sejauh ini mereka tidak kelihatan muncul, bukan mustahil sekarang mereka berada di penginapan orang-orang Watsu?"
Demikian batin Kek Lam-wi 000OOO000 Dugaannya memang tidak keliru, Tan Ciok-sing dan In San memang sudah menyelundup kesana.
In San tahu apal keadaan disini maka dia yang menunjuk jalan, tengah mereka merunduk maju sambil sembunyi di bayang-bayang pohon, dari samping tiba-tiba menerobos keluar seorang busu Watsu, kontan dia membentak dengan bahasa Watsu.
Tan Ciok-sing tidak mengerti apa maksud perkataan orang, terpaksa dia bergerak sebat menutuk hiat-tonya.
Kiranya kedua pihak sebelumnya sudah mengatur cara kontak yang sempurna, kata-kata busu merupakan sandi rahasia yang harus dijawab dengan kata rahasia dari bahasa Han pula.
Karena Tan dan In berdua mengenakan seragam wisu maka dia menyapa dengan bahasa sandi yang telah ditentukan.
Tutukan Tan Ciok-sing amat telak sehingga busu itu terkulai lemas, tapi sebelum dia kehilangan kesadaran ternyata masih mampu bersuara minta tolong.
Ternyata kungfu busu ini memang tidak lemah, biasanya orang tertutuk hiat-tonya pasti semaput, tapi Ciok-sing tadi menutuk dengan setengah tenaga maka orang masih mampu bersuara sebelum terkulai jatuh.
Lekas In San tarik Ciok-sing sembunyi di semak kembang, karena teriakan minta tolong tadi seorang busu Watsu telah memburu datang dan sempat melihat mereka, bentak busu itu.
"Siapa, kenapa main sembunyi?"
Bahasa Hannya ternyata cukup fasih, suaranya juga seperti sudah dikenal.
Kepandaian busu ini agaknya lebih tinggi dari busu yang tertutuk hiat-tonya, begitu habis bicara orangnyapun sudah memburu tiba, kedua tangan terulur ke depan, tangan kiri menangkap Tan Ciok-sing, tangan kanan mencengkram In San, dia pikir hendak menelikung mereka berdua.
Tanpa berjanji serempak Tan Ciok-sing dan In San lancarkan gerakan pedang terbalik, kontan busu itu berseru kaget dan heran menghadapi keliehayan ilmu pedang mereka.
Jari yang mencengkeram diubah menjadi jentikan.
"Creng"
Pedang In San kena dijentiknya membal.
Tapi jarinya yang menjentik pedang Tan Ciok-sing hampir saja terpapas protol.
Untung dalam keadaan gawat itu dia sempat menarik tangan.
Sebat sekali busu itupun telah mencabut golok sabit yang disandangnya, secepat kilat dia menyerbu dengan bacokan kilat kedua arah.
Kini Tan dan In berdua sudah membalik tubuh berhadapan, maka dia melihat jelas penyerangnya ini.
Busu ini bukan lain adalah salah satu pengawal Siau-ongya dari Watsu yang siang tadi ikut tamasya di tembok besar.
Busu ini bernama Poyang Gun-ngo salah seorang dari lima busu Watsu yang memperoleh pangkat Padulo, padulo adalah suatu anugrah dari sang junjungan berpangkat tinggi sebagai busu pemberani yang tiada bandingan.
Secepat kilat sepasang pedang Tan Ciok-sing dan In San sama menusuk pula dari kanan, lekas Poyang Gun-ngo angkat goloknya menangkis, di tengah percikan kembang api, mukanya tampak kaget, ternyata telapak tangannya tergetar kesakitan.
Setelah Tin-ih-tiang-khong, jurus susulannya adalah Singhay-hu-ja dan Ceng-thian-jan-gwat, ketiga jurus ini dilancarkan sekaligus dalam sekali tarikan napas, merupakan tiga jurus rangkaian ilmu pedang gabungan mereka yang paling liehay khusus untuk menyerang, Poyang Gun-ngo mampu menangkis jurus kedua, namun golok sabitnya sudah gumpil 'sebagian, begitu menangkis jurus ketiga, sepasang goloknya sudah tak mampu dipegangnya lagi, semuanya tergetar jatuh di tanah.
Selama hidup dan malang melintang kapan dia pernah kalah separah dan serunyam ini.
Saking kagetnya lekas dia jumpalitan mundur setombak lebih, hatinya hambar pikiran kosong, dia keheranan.
Tiga jurus memukul mundur musuh, sebat sekali Tan dan In menyelinap kedalam rumpun kembang.
Setelah Poyang Gun-ngo dapat menenangkan diri bayangan merekapun sudah tidak kelihatan.
"Karena keributan ini, mungkin sukar kita turun tangan,"
Demikian kata In San.
"Tapi, kita tetap harus mencobanya. Aku tahu satu jalan rahasia, mari kau ikut aku."
Tah Ciok-sing mengintil saja di belakang In San berputar kayun di antara semak kembang dan batu-batuan, setelah melewati dua gua, mereka memasuki sebuah paya-paya kembang pada saat itulah tiba-tiba seorang membentak.
"Maling bernyali besar, lari kemana?"
In San kira jejak mereka sudah konangan, tapi di kala mereka merandek, didengarnya derap langkah orang berlari ke arah sana bukan ke tempat persembunyian mereka. In San tetap berkuatir, katanya.
"Mungkin Toan-toako dan Han-cici juga telah datang?"
Mereka sembunyi di bawah paya-paya kembang sambil mencuri lihat keluar, lekas sekali merekapun memperoleh jawaban.
Yang dikejar dan diluruk kawanan busu Watsu ternyata adalah To It-kiau dan Thong Jian-hong, orang ke lima dan ke enam dari Pat-sian.
Dua busu Watsu tampak memakai senjata yang aneh bentuknya, seorang menggunakan senjata yang berbentuk pedang bukan pedang, seperti tombak bukan tombak, kalau dikata pedang karena memiliki dua mata pedang, dikata tombak karena panjangnya tidak menyerupai tombak umumnya yang panjang.
Seorang busu lagi memegang dua macam gaman, tangan kiri pegang golok tangan kanan menyekal pentung pendek.
Umumnya orang memakai pentung panjang dan golok pendek, tapi gaman orang ini justru terbalik, pentung pendek golok panjang.
Busu yang bergaman pedang aneh itu berseru.
"Kalian mundur, jangan nanti manusia liar dari selatan ini memandang rendah kita busu dari Watsu."
Busu yang bersenjata pentung dan golok ikut berolok-olok, katanya.
"Kalian pasti apa yang disebut si gendut dan si kurus dari Pat-sian yang berkecimpung di Tionggoan-? Hehe, aku sudah pernah mencoba kepandaian si Hwesio dan si Tosu, semula merekapun seperti kalian, tepuk dada mengagulkan diri, tapi akhirnya yang satu masuk berdiri rebah keluar, yang satu meski tidak mati, tapi juga sudah menjadi timpang."
Begitu berhadapan dengan kawanan busu ini, To dan Thong sama memuncak , amarahnya mendengar olok-olok mereka pula, semakin berkobar murka mereka, bentaknya.
"Bagus, kiranya kalian yang membunuh Ui-yap Samko kita."
Waktu itu Ui-yap dan Sia-cin menghadapi keroyokan banyak busu dari Watsu, tapi kematian Ui-yap dan Sia-cin yang terluka parah sampai cacad kakinya lantaran perbuatan kedua busu ini.
Tulang kaki Sia-cin remuk tertutuk oleh pentung dan tergores luka yang dalam oleh pentung dan golok busu ini.
Hal ini pernah diceritakan Sia-cin kepada para saudaranya waktu mereka berkumpul di rumah keluarga Coh.
Belakangan Sia-cin Hwesio juga sudah mencari tahu, busu yang bersenjata pedang aneh ini bernama Ho Lan-kian, senjatanya itu bernama Siang-bun-kiam, sementara busu yang bersenjata rangkap pentung dan golok bernama Sat Thiancau.
Kedua orang ini bersama Poyang Gun-ngo dan seorang busu lagi yang bernama Ma Toa-ha disanjung sebagai Maha Padulo di kalangan busu Watsu.
Kepandaian mereka setaraf dengan jago-jago kosen kelas wahid di Tionggoan.
Ho Lan-kian tertawa tergelak-gelak katanya.
"Aku sudah tahu kalian mau menuntut balas kematian Ui-yap Tojin, hayolah maju, kita boleh satu lawan satu, supaya kalian mati dengan meram."
"Baik,"
Bentak Thong Jian-hong.
"kaulah lawanku,"
Senjatanya Sam-kiat-kun segera digentak mengepruk ke arah Ho Lan-kian.
Di sebelah sanaTo It-kiau juga sudah melabrak Sat Thian-cau.
Sam-kiat-kun yang digunakan Thong Jian-hong memang merupakan kepandaian tersendiri, senjatanya ini dapat digunakan mengunci dan merampas senjata lawan, maka dia menantang Ho Lan-kian yang bergaman Siang-bun-kiam, dia harap senjatanya yang khusus ini dapat memetik keuntungan dari kelemahan lawan.
Diluar tahunya bahwa Siang-bun-kiam Ho Lan-kian ini ternyata berbeda dengan senjata umumnya, gaya permainannya juga berlainan dengan ilmu pedang di Tionggoan khususnya.
Begitu pedang dan pentung tiga ruas itu saling bentrok, terbitlah suara berdering nyaring, dalam sekejap mereka sudah bergebrak sebanyak tiga puluh jurus.
Di tengah pertarungan sengit itu, tiba-tiba Ho Lan-kian menyelinap maju, pedang yang bermata dua itu tiba-tiba menusuk dan menjojoh, menusuk penting sekaligus menutuk hiat-to mematikan pula.
Sebatang pedang ternyata permainannya diselingi tipu-tipu boan-koan-pit yang khusus untuk mengincar hiat-to lawan.
Pedang umumnya hanya memiliki satu ujung jelas tak mungkin melancarkan serangan seaneh itu.
In San yang menyaksikan di tempat gelap, diam-diam berkeringat dingin, teriaknya.
"Celaka Thong Jian-hong mungkin celaka."
"Tang"
Belum habis teriakannya, senjata beradu bayangan tergerak mundur, Thong Jian-hong tersurut tiga langkah, sementara Ho Lan-kian melompat jumpalitan setombak lebih, agaknya Thong Jian-hong lebih unggul seurat.
Lega hati Tan Ciok-sing, katanya.
"Bila mereka menepati janji, satu lawan satu, kita tak usah kuatir bagi keselamatan Thong-liokhiap."
Di sebelah sana To It-kiau kontra Sat Thian-cau berhantam keras.
To It-kiau bersenjata Liu-sing-tui, merupakan gaman yang berat demikian pula golok dan pentung Sat Thian-cau, setiap kali beradu pasti menimbulkan percikan kembang api.
Sat Thian-cau mengembangkan kemahiran permainan pentung dan golok, pentung selalu mengetuk, menyontek dan menjojoh, sementara goloknya membacok membelah dan mengiris, rangsakan kedua senjata sederas hujan badai, setiap serangan teramat ganas dan mematikan.
Tapi bandulan meteor To It-kiau ternyata berdesing nyaring berputar tidak kalah hebatnya, udara seperti diaduk oleh kekuatan deru bandulannya, setapakpun dia tidak mau mengalah.
Kedua pihak setanding sama kuat, sebelum tiga ratusan gebrak mungkin takkan ada yang kalah atau menang.
Sebelum bergebrak tadi Ho dan Sat sudah menyatakan pertempuran ini satu lawan satu, tapi busu Watsu yang berdatangan menonton pertempuran ini semakin banyak, mereka mengelilingi gelanggang jadi seperti mengepung musuh, pada hal Poyang Gun-ngo juga datang menyaksikan di pinggir arena.
Beberapa kejap setelah menyaksikan adu kekuatan kedua kawannya tiba-tiba Poyang Gun-ngo geleng-geleng kepala.
Tan Ciok-sing memperhatikan sambil memasang kuping, jelas dia mendengar Poyang Gun-ngo berkata kepada seorang busu di dekatnya.
"Kedua orang ini bukan mata-mata yang tadi kupergoki. Uutuk apa sebanyak ini orang menonton saja, suruh sebagian yang lain pergi mencari jejak mata-mata yang tadi."
"Bagaimana?"
Maksudnya tanya In San apakah perlu membantu To dan Thong. In San berpikir sejenak, katanya.
"Untuk menolong mereka, kukira lebih baik kita meringkus"
Pentolan mereka lebih dulu."
Waktu Tan Ciok-sing menelaah usul In San tiba-tiba dilihatnya seorang wisu dari keluarga Liong lari mendatangi.
Seorang busu Watsu segera membentak dengan sandi rahasia.
Wisu keluarga Liong itu segera menjawab dengan sandi rahasia dari bahasa Han, sembari menjawab dia mengulap sebelah tangan dengan tanda tersendiri pula, tanpa berhenti dia terus berlari ke depan, busu Watsu itupun tidak merintangi.
Sandi rahasia itu berarti "Saudara sebangsa, hidup berdampingan", sandi rahasia ini sebelumnya sudah diikrarkan kedua pihak.
Utusan orang-orang keluarga Liong yang diutus ke penginapan tamu-tamu Watsu ini sebelumnya harus mempelajari sandi rahasia itu dan bahasa Watsu.
Setelah berhadapan dengan Poyang Gun-ngo wisu itu berkata.
"Liong-kongcu suruh aku menyampaikan kepada Tayjin, mata-mata itu adalah dua muda mudi, yang laki bernama Tan Ciok-sing yang perempuan bernama In San, keduanya Tayjin pernah melihatnya."
Poyang Gun-ngo heran, tanyanya.
"Kapan aku pernah melihat mereka?"
"Tan Ciok-sing adalah pemuda yang siang tadi memberi seekor burung kepada Siau-ongya kalian waktu berada di Sian-khim-sia, In San adalah temannya, tapi dia perempuan yang menyamar laki-laki berdandan seperti pelajar, kini mereka berseragam wisu kita."
"Iya, tak heran aku seperti pernah melihat mereka,"
Ujar Poyang Gun-ngo keplok tangan.
"sungguh memalukan, kenapa aku jadi keblinger."
Kini Tan Ciok-sing sudah paham maksud perkataan In San, bila dirinya ragu-ragu sejenak lagi, Poyang Gun-ngo pasti akan segera bertindak dengan anak buahnya, maka dia berkata.
"Betul, mari kita ringkus Duta mereka. Memang akal bagus, adik San tunjukkan jalan."
Memang untuk membebaskan tekanan berat yang mengancam To dan Thong berdua mereka perlu memecah perhatian mereka sehingga To dan Thong menjadi longgar dan caranya adalah membekuk pemimpin mereka yang jadi Duta serta memeras dan dijadikan sandera.
Meski harapan kecil, tapi justru dicoba mengadu untung.
Maka In San menarik Tan Ciok-sing menyusup ke deretan barak buah anggur yang panjang, dari luar barak anggur ini seperti dirambati dedaunan dan dahan serta akar pohon yang lebat sehingga rapat tidak tembus hawa, pada hal di dalamnya tersembunyi lorong panjang yang jarang diketahui orang.
Keluar dari lorong rahasia ini, mereka sudah berada di pekarangan dalam dibilangan penginapan yang khusus dibangun untuk para pembesar asing.
Pada hal bangunan gedung disini hanya menduduki sebidang tanah dari keseluruhan taman yang luas", tapi jumlahnya juga ada dua tiga puluhan rumah.
Di rumah mana duta Watsu itu menginap?
Bila harus memeriksa satu persatu, kapan baru tugas mereka selesai.
Di waktu mereka berdiri kebingungan, tiba-tiba muncul seorang busu Watsu entah dari balik gunungan atau dari semak kembang, dengan suara berat dia membentak.
"Hujiludo."
Tergerak hati ln San, segera dia menjawab.
"Tongsulakao,"
Waktu dia perhatikan di sekitar sini hanya ada seorang busu ini.
Melihat mereka menjawab tepat seperti sandi yang telah dijanjikan, busu Watsu itu segera memapak maju dengan seri tawa ramah mengajak mereka bicara.
Katanya.
"Agaknya kalian hendak minta bertemu dengan Siau-ongya kita bukan?"
Dengan logat kaku busu itu bicara berbahasa Han. In San kegirangan, pikirnya.
"Jadi Siau-ongya kiranya ada disini. Sungguh kebetulan kita jadi tidak usah mencarinya ubek-ubekan,"
Maka dia menjawab.
"Betul kita diutus Liongkongcu kemari untuk lapor sesuatu kepada Siau-ongya. Entah Siau-ongya kalian sudah tidur belum?"
Busu itu menjawab.
"Semula sudah tidur, begitu terjadi keributan diluar, mana Siau-ongya bisa tidur lagi? Tadi dia malah keluar ingin melihat keramaian, setelah kubujuk susah payah baru dia mau masuk kembali. Nah lihatlah, bukankah dia sedang mondar mandir dalam kamarnya?"
Tan dan In memandang ke arah tangannya menuding, tampak dibalik bayangan pepohonan yang tinggi di depan sana, menjulang tinggi atap sebuah gedung berloteng warna merah, jendelanya kebetulan menghadap kemari, di layar jendela yang terbuat dari kain sutra merah bening tampak bayangan seorang, dari bentuk bayangannya cukup dikenali bahwa dia memang Siau-ongya adanya.
"Kalian tunggu sebentar, biar kulaporkan kepada Siauongya,"
Ujar busu Watsu.
"Tidak usah kau susah-susah,"
Cegah In San.
"kami akan menghadap sendiri,"
Mendadak dia rangkap kedua jarinya menutuk hiat-to busu itu. Tan Ciok-sing berkata.
"Nanti setelah berhadapan dengan Siau-ongya, jangan kau buru-buru turun tangan."
Dengan perlahan Tan Ciok-sing mengetuk jendela, Siauongya segera membentak.
"Siapa?"
"Aku,"
Sahut Tan Ciok-sing.
"orang yang memberi burung kepadamu siang tadi."
Siau-ongya masih kenal suaranya, kejut dan girang cepat dia memburu maju membuka jendela. Melihat Ciok-sing berdua berpakaian seragam wisu dia melengak heran. Tapi segera dia menduga.
"Mungkin karena memandang mukaku, maka Liong Bun-kong terima mereka sebagai wisu."
Tan Ciok-sing berkata.
"Temanku juga datang Siau-ongya mau menerimanya?"
"Temanmu adalah temanku, boleh silhikan masuk bersama,"
Kata Siau-ongya tertawa ramah.
Semula In San bermaksud membekuk Siau-ongya ini lebih dulu, tapi karena Tan Ciok-sing telah mencegahnya, terpaksa dia bersabar.
Setelah menempati kursinya masing-masing, Siau-ongya berkata dengan senang.
"Tan-toako memang dapat dipercaya, kukira beberapa hari lagi baru kau akan kemari."
"Siau-ongya,"
Ucap Tan Ciok-sing.
"aku ingin bicara sejujurnya dengan kau, bukan sengaja kedatanganku ini hendak menyambangi kau."
In San menambahkan dengan suara dingin.
"Seragam wisu yang kami pakai inipun rampasan."
Siau-ongya kaget, katanya.
"Jadi, jadi kalian ini siapa?"
"Kami adalah pembunuh yang hendak ditangkap Liong Bunkong,"
Sahut Tan Ciok-sing. Lama Siau-ongya terlongong, katanya kemudian.
"Kalian bermusuhan dengan Liong Bun-kong?"
"Betul, bukan saja dia musuh kami diapun musuh bersama bangsa Han kita."
"Lho, kenapa?"
"Karena sebagai pembesar kerajaan, dia justru menjual negara dan bangsa demi mencapai kesenangan hidup, kemaruk harta gila pangkat. Tanah perdikan dari bumi Tionghoa nan besar ini dijual kepada bangsa Watsu kalian."
Berubah air muka Siau-ongya, katanya.
"Tan-toako, aku menganggapmu sebagai kawan, aku hanya ingin tanya kepadamu, kini apa kau ingin menghindari pengejaran orangorang keluarga Liong di tempatku ini?"
"Kau keliru lagi bukan maksud kami kemari menghindari pengejaran mereka,"
Sampai disini .
mendadak Tan Ciok-sing angkat sebelah tangannya membelah ujung meja seperti golok membelah sayur saja ujung meja itu terpapas jatuh.
Melihat kekuatan telapak tangannya yang hebat ini, saking kaget Siauongya sampai kesima dengan mulut melompong, tapi dia tidak berani berteriak.
"Siau-ongya, kau tidak usah takut,"
Sela In San.
"Tantoakoku ini juga masih menganggapmu sebagai kawan, tapi bila kau berteriak, maka jangan kau sesalkan kalau kami bertindak keji kepadamu."
Siau-ongya tenangkan diri, katanya.
"Tan-toako, apa betul kau menganggapku sebagai kawan?"
"Kalau aku tidak menganggap kau sebagai teman, buat apa aku membuang waktu untuk berbicara dengan kau. Tapi apakah selanjutnya kita tetap sebagai kawan, terserah kepada kau."
"Apa kehendak kalian atas diriku?"
Tanya Siau-ongya.
"Siau-ongya, ingin kutanya kepada kau, pasukan besar Watsu kalian menyerbu ke tanah air kita, menduduki bumi kita, membantai rakyat kita coba katakan betulkah itu?"
"Urusan negara aku tidak tahui Tapi, sudah tentu aku tidak mengharap adanya peperangan."
"Itu sih tergantung bagaimana sifat peperangan itu. Kalian memukul kita, maka kita dipaksa untuk melawan. Kalau peperangan sudah terjadi, yang gugur bukan rakyat kita saja, bangsa Watsu kalian juga akan kehilangan pahlawan pahlawannya. Jadi kedua pihak sama-sama mengalami derita siksa peperangan itu."
Siau-ongya berpikir sebentar, katanya.
"Uraianmu memang benar. Terus terang, aku pribadi juga tidak senang melihat pasukan besar Watsu kita dikerahkan untuk memerangi bangsa kalian.""
"Syukurlah bahwa kau tahu akan hal ini. Oleh karena itu kuharap kau sudi melakukan satu hal."
"Hal apa?"
"Secara diam-diam Liong Bun-kong meneken perjanjian rahasia dengan ayahmu, perjanjian yang hakikatnya merupakan permohonan damai dan takluk dari Dynasti Bing terhadap Watsu kalian. Kami ingin minta bantuanmu untuk mendapatkan, copy dari perjanjian damai itu."
In San menambahkan.
"Terus terang, kalau copy perdamaian itu kau serahkan kepada kami, untuk kalian ayah dan anak juga ada manfaatnya."
Siau-ongya tertawa getir, katanya.
"Maaf kalau otakku terlalu dogol, aku tidak mengerti, kenapa dikata ada manfaatnya bagi kami?"
"Baiklah kuterangkan,"
Ujar Tan Ciok-sing.
"semula kami anggap ayahmu sebagai musuh, kalian ayah beranak harus ditangkap. Malam ini yang menyerbu kemari bukan hanya kami berdua, masih banyak lagi pahlawan-pahlawan bangsa kita yang sedang melabrak wisu keluarga Liong, jangan kira busu Watsu kalian"
Mampu menahan serbuan kita, tapi bila kau mau membantu menyerahkan copy perjanjian damai itu kepada aku, aku akan memohonkan keringanan untuk kalian ayah dan anak, supaya pahlawan bangsa kita tidak mempersulit ayahmu."
"Tapi kau suruh aku bertindak bagaimana? Jelas ayahku takkan mau menyerahkan surat perjanjian damai itu."
"Diminta tidak boleh, kau bisa berusaha mencurinya. Aku senang menganggapmu sebagai kawan dan mempercayai kau, biar aku menunggu kau disini."
Siau-ongya ini masih terlalu muda, baru enam.
belas tahun, selama hidupnya kapan dia pernah kebentur urusan pelik dan menyulitkan ini.
Untuk mencuri surat perjanjian damai itu bukan persoalan bagi dia, tapi dia ragu-ragu, apakah tindakannya ini bisa dibenarkan.
Tapi dia berpendapat uraian Tan Ciok-sing memang benar, namun mencuri surat rahasia itu, merupakan perbuatan yang mengkhianati ayah kandung, dalam sesingkat ini, dia harus menentukan pilihan antara kebenaran dan perbuatan salah, sudah tentu serba susah dan sukar ambil putusan.
Di kala dia bimbang itulah, pintu kamarnya diketuk orang, orang diluar bersuara nyerocos dengan bahasa Watsu.
In San hanya mengerti dua patah kata "buka pintu".
Padahal kamar Siau-ongya ada di atas loteng, sebelum ini tak terdengar derap langkah orang menaiki tangga, tahu-tahu orang itu sudah berada diluar dan mengetuk pintu, yang datang jelas bukan orang sembarangan.
Berubah hebat air muka Siau-ongya, lekas dia berbisik di pinggir telinga Tan Ciok-sing.
"Hwe-hud (Budha hidup) datang, lekas kalian sembunyi."
Dari cerita Kim-to Cecu In San pernah mendengar cerita tentang orang kosen di Watsu, di antaranya seorang maha guru silat yang berjuluk Milo Hoatsu, diagungkan sebagai Budha hidup.
Budha hidup yang dimaksud oleh Siau-ongya pastilah orang itu.
Maksud In San hendak membekuk Siauongya sebagai sandera untuk menghadapinya, tapi karena Tan Ciok-sing sudah bicara di muka, terpaksa dia menuruti kemauannya, bertindak menurut perubahan situasi.
Lekas mereka sembunyi di balik pintu angin.
Siau-ongya membuka pintu serta mempersilahkan Hwe-hud ini dengan laku hormat.
Katanya.
"Malam-malam Koksu datang kemari, entah ada petunjuk apa?"
Ternyata benar si Budha hidup Milo Taysu yang diangkat sebagai Koksu (guru negara) pula. Milo Taysu celingukan, katanya perlahan.
"Siau-ongya, kabarnya siang tadi kau berkenalan dengan dua teman baru di tembok besar, apa betul?"
"Betul, seorang pelajar bangsa Han memberi aku seekor burung yang berbulu indah dan sukar ditangkap kepadaku. Pelajar ini bersama temannya, aku pernah berjanji pada mereka untuk memperkenalkan kepada Liong Bun-kong supaya mendapat pekerjaan. Kenapa Koksu mempersoalkan urusan kecil ini?"
"Kukira bukan urusan kecil,"
Ucap Milo Taysu dingin.
"menurut apa yang kuketahui, kedua orang itu adalah pembunuh yang hendak mencelakai ayahmu. Kau harus bicara terus terang, bukankah mereka sembunyi di kamarmu ini?"
"Koksu, dari mana kau mendapat kabar ini? Aku justeru tidak percaya mereka mau membunuh ayah,"
Bantah Siauongya.
"Kau masih muda, jangan gampang ditipu orang. Katakan dimana mereka sekarang, kalau tidak biar kugeledah kamarmu ini."
Ternyata Poyang Gun-ngo telah memperoleh laporan wisu keluarga Liong itu, dia lantas menduga Tan Ciok-sing dan In San sekarang pasti sudah sembunyi di tempat kediaman Siauongya.
Tapi Poyang Gun-ngo hanyalah seorang bawahan, jelas dia tidak berani menggeledah kamar Siau-ongya, oleh karena itu dia mengundang Milo Hoatsu sang Koksu untuk bertindak.
Milo Hoatsu cukup cerdik dan banyak pengalaman, dari mimik muka Siau-ongya dia tahu bahwa dugaannya tidak meleset, maka dia berkata.
"Siau-ongya, biasanya kau cerdik pandai, kenapa kali ini begini ceroboh. Kau tidak membantu kita membekuk pembunuh tidak jadi soal, tapi kenapa kau justeru melindungi pembunuh ayah kandungmu malah? Lekas serahkan mereka. Soal ini boleh kututupi dan kau tidak akan kerembet, akan kukatakan di tempat lain aku meringkus mereka. Kalau tidak bila ayahmu tahu perbuatanmu ini, mungkin kau takkan terhindar dari hukuman dinas."
Kalut pikiran Siau-ongya, katanya sesaat kemudian.
"Koksu, aku tidak tahu apa benar mereka itu pembunuh, tapi satu hal aku mohon kepada kau?"
"Permohonan apa?"
"Bila kau berhasil menangkap mereka, kumohon sukalah kau pandang mukaku, jangan kau bunuh mereka."
"Baik, asal mereka mau menyerah, akan kuampuni jiwa mereka. Lekas kau suruh mereka keluar."
"Tan-toako,"
Teriak Siau-ongya.
"jangan kau salahkan aku tak mampu melindungi kau, kepandaian Koksu maha tinggi, jika melawannya, kau akan mengorbankan jiwa sia-sia. Kumohon kau, kau..."
Sebelum dia mengatakan "menyerah".
"Biang"
Pintu angin tiba-tiba tertendang ambruk. Tan Ciok-sing bergandengan keluar bersama In San.
"Pahlawan bangsa Han kepala boleh dipenggal pantang dihina,"
Seru Tan Ciok-sing.
"kau boleh minggir ke samping, ingin aku berkenalan betapa tinggi kepandaian Koksu kalian."
Belum habis dia bicara Milo Hoatsu sudah menghampiri dengan langkah lebar, katanya gelak.
"Kukira siapa yang punya tiga kepala enam tangan, berani coba membunuh orang disini, tak nyana adalah dua bocah yang masih bau pupuk bawang. Baiklah, kalian ingin mencoba kepandaian Hud-ya, nah cobalah rasakan,"
Sikapnya yang jumawa begitu tengik, seolah-olah dia yakin akan kepandaiaft sendiri, sekali gebrak pasti dapat meringkus kedua bocah ini, hakikatnya dia tidak pandang sebelah mata kepada lawan mudanya.
"Lihat pedang,"
Di tengah bentakan Tan Ciok-sing, dua batang pedang bersama senjata In San tahu-tahu melingkar ke kanan kiri membentuk satu lingkaran.
Milo Hoatsu sedang melangkah maju, mendadak terasa cahaya kemilau dingin menyilaukan mata.
Tahu-tahu dirinya sudah -terkurung dan terlibat dalam lingkaran sepasang pedang lawan.
Milo Hoatsu adalah maha guru silat yang ahli, demi menjaga gengsi dan kedudukan, semula dia hendak bertindak belakangan, supaya kelemahan pihak lawan dapat dijajaki sebelum dia balas bertindak.
Diluar tahu perbawa gabungan sepasang pedang ini ternyata bukan olah-olah liehaynya, sekilas pandang tiada lobang kelemahan yang dapat digunakan untuk balas menyerang.
Mau tidak mau Milo Hoatsu terkejut dibuatnya.
"tak heran kedua bocah ini begini takabur, ternyata memang memiliki sedikit kepandaian,"
Namun betapapun dia seorang guru silat, sebagai cikal bakal suatu aliran silat yang kenamaan di jaman ini, meski serangan sepasang pedang Ciok-sing dan In San diluar dugaannya, meski dirinya di pihak yang dicecar sedikitpun dia tidak menjadi gugup.
Sambil menggerung lengan bajunya segera mengebas, kebasan lengan baju menimbulkan gejolak angin kencang dimana sinar pedang berkelebat simpang dan siur, terdengarlah suara "Cret"
Ujung lengan bajunya ternyata tertabas jatuh secuil, tapi pedang Ciok-sing dan In San juga tergetar menyelonong ke samping, tak mampu menusuk tubuh lawan.
Kekuatan gabungan sepasang pedang ternyata hanya mampu memapas sebagian lengan baju lawan, hal ini belum pernah terjadi selama ini, karuan Ciok-sing dan In San terkejut juga.
Diluar tahu mereka, Milo Hoatsu sendiripun tidak kurang kagetnya.
Biasanya dia terlalu mengagul diri sebagai jago tiada bandingan di kolong langit ini, taraf lwekangnya sudah mencapai memetik daun dapat menimpuk luka lawan, mengayun kain sutra sekeras toya.
Tak nyana setelah dia membebaskan Thi-siu-kang, lengan bajunya masih terkupas oleh pedang Ciok-sing berdua.
"Dari mana membrojolnya kedua bocah ini, usia semuda ini, kepandaiannya ternyata sudah setinggi ini,"
Demikian batinnya dengan perasaan kaget, maka dia tidak berani pandang ringan lagi.
Tengah pertempuran di loteng berlangsung dengan sengitnya, diluar tiba-tiba terdengar suara genta ditabuh bertalu-talu.
Begitu mendengar suara genta, seketika berubah air muka Milo Hoatsu.
Suara genta itu merupakan tanda rahasia bahwa musuh telah menyerbu ke daerah terlarang.
Kuatir Ongya mengalami bahaya, dinilai untung ruginya, sudah tentu dia harus lekas kembali melindungi sang junjungan.
Maka begitu mendengar suara genta tanpa ayal lagi segera dia berlalu.
Sudah tentu Tan Ciok-sing tidak tahu apa tujuan suara genta itu, tapi dia yakin pihak lawan pasti mengalami peristiwa genting supaya Milo Hoatsu lekas kembali bantu mengatasi.
Maka dia berpikir.
"Orang ini adalah jago nomor satu dari Watsu, bila dapat menahannya satu menit disini juga pasti menguntungkan pihak kita,"
Maka dia mainkan pedangnya secepat kitiran menggebu dengan serangan liehay, bentaknya.
"Mau lari? Memangnya gampang?"
Mendadak Milo Hoatsu memutar tubuh, dimana kedua lengannya menggentak ke atas, Kasa merah yang mengubat di tubuhnya mendadak terbang mumbul laksana segumpal mega terus menungkrup ke arah kepala Ciok-sing.
Sepasang pedang Ciok-sing terapung bersama Kasa lawan ditusuknya tembus berlobang.
Tapi In San tertungkrup juga, untung kasa itu sudah bolong, seperti bola yang sudah gembes, tenaga dalam yang dikerahkan Milo Hoatsu pada kasanya itu sudah sirna.
Maka ln San menyingkirkan Kasa yang menutup kepalanya, hanya dada terasa sedikit sesak, karena sedikit rintangan ini, Milo Hoatsu sudah lari turun ke loteng dan berlari keluar pekarangan.
Tan Ciok-sing dan In San ikut lompat turun serta mengudak kencang.
Pada saat itulah tiba-tiba seorang berteriak.
"Tantoako, apa kau disini bersama nona In?"
Lenyap suaranya orangnyapun tiba, tampak dua bayangan orang melompati tembok hinggap didalam pekarangan.
Kaget dan senang hati Ciok-sing-, pendatang muncul mendadak ini bukan lain adalah Kek Lam-wi dan Toh So-so.
Tak sempat mereka banyak bicara, Kek Lam-wi bertanya.
"Duta Watsu sudah ditemukan belum?"
"Belum, yang tinggal disini adalah putranya,"
Sahut Cioksing.
"Kepala gundul itu sudah lari,"
Ujar In San.
"tiada orang dapat merintangi kita, Toako, robahlah putusanmu semula, mari kita kembali membekuk Siau-ongya."
Sampai disini pembicaraan mereka, mendadak suara mendesing disertai cahaya benderang membumbung tinggi ke angkasa.
Disusul kumandang sebuah suitan panjang dan melengking tinggi seperti pekik naga di angkasa raya.
Kek Lam-wi berjingkrak girang, serunya.
"Itulah Wi-cui-hikiau, mereka telah menemukan Duta rahasia itu,"
Ternyata panah berapi itu merupakan tanda peringatan, Kek Lam-wi juga mengenali suara suitan mereka.
"Kalau yang dituju sudah ketemu, tidak usah kita mempersulit Siau-ongya. Lekas susul kesana,"
Kata Tan Cioksing.
Berempat cepat mereka kembangkan ginkang berlari ke arah luncuran panah berapi.
Tiada kesempatan untuk berbincang lagi antara Kek Lam-wi dengan Tan Ciok-sing, tapi dia hanya memberitahu satu hal.
"Toan-toako dan Sia-cin Liok-ko sembunyi di Bu-ling-goan, Sia-cin Liok-ko terluka parah, nanti bila kau sempat membebaskan diri, tolong kau bantu Toan-toako keluar menyelamatkan diri. Tapi sekarang lebih penting membantu Wi-cui-hi-kiau berdua."
Sebelum mereka mencapai tempat peluncuran panah berapi, dari kejauhan sudah mendengar benturan senjata yang ramai. Tan Ciok-sing lantas sadar, tanyanya.
"Kalian melihat To dan Thong-toako berdua."
"Belum, mereka kenapa?"
Tanya Kek Lam-wi kaget.
Tapi Tan Ciok-sing tidak perlu menjawab, karena dia telah melihat To It-kiau dan Thong Jian-hong, diapun sudah tahu jawabannya.
Tatkala itu mereka sudah melampaui tempat persembunyian Tan Ciok-sing dan In San tadi, keadaan di bawah gunungan itu sudah jelas terlihat.
To It-kiau dan Thong Jian-hong memang sedang dalam keadaan gawat.
Seperti diketahui sebelum berhantam tadi Ho Lan-kian dan Sat Thian-cau bilang akan menempur mereka satu lawan satu.
Ho dan Sat termasuk empat jagoan top di Watsu, kepandaian mereka kebetulan setaraf dengan To dan Thong berdua, sehingga pertempuran berjalan sengit dan seimbang.
Kini para busu Watsu yang semula menonton di pinggir arena, begitu mendengar tanda bahaya, mereka tidak hiraukan soal janji semula lagi.
Jumlah mereka ada belasan orang termasuk Poyang Gun-ngo.
Tapi demi menjaga gengsi Poyang Gun-ngo tidak mau ikut mengeroyok.
Begitu mendengar tanda bahaya, dia bawa beberapa anak buahnya terus lari balik hendak melindungi junjungannya.
Tapi yang masih tinggal ada delapan busu, mereka mengambil posisi yang baik mengepung To dan Thong di tengah lingkaran.
Begitu melihat keadaan yang tidak seimbang ini, Kek Lamwi amat gusar, teriaknya.
"Tan-heng, silahkan maju lebih dulu, lekas kau bantu Wi-cui-hi-kiau, aku hendak menuntut balas kematian Ui-yap Samko."
Ho Lan-kian sedang berhadapan dengan To It-kiau sementara Thong Jian-hong melabrak Sat Thian-cau, begitu melihat senjata tunggal kedua busu ini, dia lantas tahu bahwa kedua busu ini adalah pembunuh Ui-yap Tojin yang diceritakan oleh Sia-cin Hwesio.
Kala Kek Lam-wi menubruk tiba secepat terbang, kebetulan dia kesamplok dengan Poyang Gun-ngo yang hendak mengundurkan diri melindungi sang junjungan.
Poyang Gunngo membentak.
"Kau inilah bocah she Kek yang pandai meniup seruling di antara Pat-sian bukan? Mumpung ada kesempatan, biar aku antar kau pergi menyusul saudaramu Uiyap Tojin."
"Trang"
Pedang dan seruling beradu, meminjam tenaga pantulan keras ini seruling Kek Lam-wi yang menceng itu sekaligus ditekuk turun menutuk Jian-kin-hiat di pundak Poyang Gun-ngo.
Tapi sebelum serulingnya menyentuh tubuh Poyang Gun-ngo, maka terdengar suara "Cret"
Lebih dulu, ternyata ujung pedang Poyang Gun-ngo telah menusuk berlobang bajunya. Tersirap hati Kek Lam-wi, pujinya dalam hati.
"Cepat betul gerakan pedang orang ini,"
Walau terkejut sedikitpun gerakannya tidak kacau, seruling batu pualam di tangannya sebat sekali ditarik mundur, sementara langkahnya limbung seperti orang mabuk, berbareng serulingnya ditarikan pula, kelihatannya permainannya kacau dan tidak menuruti teori ilmu silat.
Tapi dalam sekejap itu, tujuh hiat-to besar di tubuh Poyang Gun-ngo telah diincarnya.
Mau tidak mau Poyang Gunngo mencelos juga hatinya, pikirnya.
"Ilmu tutuk bocah ini ternyata aneh dan liehay, memang tidak malu sebagai salah satu tokoh dari Pat-sian,"
Tapi kecepatan gerak pedangnya juga tidak asor.
Dimana pedang panjang menggaris melintang di tengah udara, kelihatannya seperti sejurus, tapi di dalamnya mengandung tujuh perubahan, sejurus tujuh gerakan, kebetulan tepat mematahkan tujuh tutukan hiat-to seruling Kek Lam-wi.
"Bagaimana?"
Tanya In San.
"Tolong dulu To dan Thong,"
Kata Tan Ciok-sing.
Poyang Gun-ngo sudah kecundang oleh kekuatan gabungan sepasang pedang mereka, melihat mereka datang dia tidak berani disini terlalu lama, setelah menggertak dengan satu serangan, dia menghindari serangan seruling Kek Lam-wi, mendadak dia menubruk ke arah Toh So-so.
Ceng-kong-kiam Toh So-so tak kuasa menahan terjangan lawan, sehingga Poyang Gun-ngo berhasil menjebol keluar terus angkat langkah seribu, tapi dia sempat berteriak.
"Musuh kedatangan bala bantuan, lekas kalian bunuh mereka, jangan biarkan makanan empuk di depan mulut terlepas pula."
Sebetulnya tanpa diperingatkan oleh Poyang Gun-ngo, Ho Lan-kian dan Sat Thian-cau seperti berlomba saja sudah merangsak kedua lawannya dengan serangan ganas mematikan.
Tan Ciok-sing dan Kek Lam-wi juga seperti berlomba menubruk tiba, sayang mereka terlambat selangkah.
To It-kiau sudah terluka dua tempat di tubuhnya, mendadak dia menggerung murka.
"Biar aku adu jiwa dengan kau,"
Bandulan meteornya tiba-tiba mengepruk ke batok kepala Sat Thian-cau.
Sat Thian-cau angkat pentung pendeknya menangkis, tapi pentungnya terlilit rantai bandulan, sehingga bandulan itu berputar lebih kencang dan "Prak"
Telak bandulan meteor berduri itu mengenai batok kepalanya, namun Sat Thian-cau sempat menimpuk golok panjang di tangan kirinya dan telak pula menghujam ke dada To It-kiau, pertempuran sengit adu jiwa ini berakhir dengan gugur bersama.
Seperti disayat hati Thong Jian-hong, betapa sedih hatinya melihat saudaranya gugur, bagai orang gila mendadak dia putar tiga ruas tongkatnya sehingga mengeluarkan suara gemeretak, sekali sendai dan tarik dia berhasil menjepit Siangbun-kiam Ho Lan-kian.
Agaknya dia sudah nekat untuk gugur bersama musuh, seperti saudaranya.
Namun cepat sekali Kek Lam-wi dan Toh So-so sudah menyerbu kedalam arena.
Memang mereka datang terlambat selangkah, tapi masih untung juga kedatangan mereka, meski tidak dapat menolong jiwa To It-kiau, kebetulan dapat membantu Thong Jian-hong.
Dua busu sedang mengayun golok dan menusukan tombak menyerang dari kanan kiri belakang Thong Jian-hong, namun.
angin kencang telah mengancam jiwa mereka lebih dulu, seruling Kek Lam-wi sudah menutuk lebih dulu hiat-to besar di punggung busu yang bersenjata golok.
"Mampuslah kau,"
Hardik Kek Lam-wi.
Memang busu ini kontan roboh binasa.
Ternyata pedang Toh So-so juga tidak kalah cepatnya, dengan jurus Giok-li-tosoh, pedangnya menggaris luka panjang dari pundak ke punggung busu yang bergaman tombak panjang.
Dalam pada itu Sam-kiat-kun dan Siang-bun-kiam samasama jatuh, Thong Jian-hong lantas menghardik beringas.
"Nah, biar kaupun rasakan keliehayan kepalan besiku,"
Tangan terayun kepalanpun mengenjot, sekali jotosan ini ternyata batok kepala Ho Lan-kian pecah jadinya.
Setelah memungut senjatanya dengan sebelah tangan yang lain Thong Jian-hong memeluk jenazah To It-kiau, mendadak dia terkial-kial menggila, teriaknya.
"Ui-yap Samko, tenanglah arwahmu di alam baka. Bersama Ngoko aku telah menuntut balas kematianmu,"
Karena memeluk jenazah sekujur badannya berlepotan darah, seperti banteng ketaton segera dia menyerbu keluar.
Dalam pada itu busu di lingkaran luar telah bubar dilabrak oleh Tan Ciok-sing bersama In San.
Yang masih ada hanya beberapa busu yang berkepandaian agak tinggi.
Tapi melihat keadaan Thong Jian-hong yang beringas menakutkan, busu yang berkepandaian agak tinggi inipun menjadi ciut nyalinya, belum lagi senjata Thong Jian-hong menyapu tiba serempak mereka sudah kocar kacir.
Menekan kepedihan hatinya Kek Lam-wi menyusul kesana mendampingi Thong Jian-hong, katanya lirih.
"Masih ada tugas lebih penting yang harus lekas kita selesaikan, Liok-ko, tenangkanlah pikiranmu."
Thong Jian-hong lantas sadar, katanya.
"Betul, Toako melepas panah berapi. Bila kita bisa membantunya menangkap Duta Watsu, setimpal juga kematian Ngoko."
Di bawah petunjuk In San, beramai mereka menyerbu ke arah penginapan orang-orang Watsu.
Tampak di tengah tanah berumput di antara bangunan gedung berloteng, bayangan orang bergerak-gerak sedang saling labrak dan hantam dengan sengitnya.
Di atas loteng ada orang memegang obor, ternyata Duta Watsu itu sedang menonton dari atas loteng.
Tapi loteng tinggi beberapa tombak, di sampingnya dijaga ketat oleh beberapa busu bersenjata lengkap, maka dia tidak takut jiwa sendiri terancam.
Waktu Tan Ciok-sing tiba, kebetulan didengarnya di atas loteng orang bersorak dan memuji.
"Bagus, biar manusiamanusia liar dari selatan ini tahu betapa liehay Koksu Watsu kita. Haha. Jago terkuat dari Pat-sian yang katanya menggetar Tionggoan ternyata juga hanya begini saja."
Seorang busu di sebelahnya segera menimbrung.
"Tionggoan Pat-sian hanya bernama kosong, mana dia mampu melawan Koksu kita yang tiada tandingan di seluruh jagat,"
Pembicara ini bukan lain adalah Ma Toa-ha, salah satu dari empat jago kosen dari Watsu.
Ternyata di arena Wi-cui-hi-kiau tengah bergebrak dengan Milo Hoatsu.
Hi-hu si nelayan Lim Ih-su memakai gaman yang cukup unik, tangan kanan memegang joran, tangan kiri memegang jala.
Sementara Kiau-cu si tukang kayu Loh Im-hu bersenjata kampak besar.
Sedang Milo Hoatsu bersenjata sepasang roda besar kecil yang dinamakan Jit-gw.at-siang Iun.
Setiap kali joran si nelayan membentur roda di tangan Milo Hoatsu maka berdering nyaring suara memekak telinga.
Tapi aneh juga, joran yang kelihatan dari bambu hijau itu ternyata cukup ulet dan dapat memantul seperti karet, betapapun kuat roda lawan menggempur, ternyata joran tak mampu dipatahkan.
Belum lenyap gelak tawa Duta Watsu, mendadak Loh Imhu menghardik bagai guntur, kampak besarnya seperti hendak membelah gunung tiba-tiba membacok.
Milo Hoatsu juga tersurut mundur selangkah.
Menggunakan saat Loh Im-hu terhuyung dan belum berdiri tegak, dua busu mendadak menyergap maju dari belakang.
Seluruh perhatian Loh Im-hu seperti ditujukan kepada Milo Hoatsu yang tangguh ini, bahwasanya dia seperti tidak tahu dan tidak hiraukan kedua lawan yang membokong dari belakang.
Mendadak terdengar pekik nyaring, di saat kritis itulah, si nelayan Lim Ih-su ternyata telah bertindak menolong Loh Imhu menggebah kedua busu yang membokong secara licik.
Tanpa menoleh, joran panjang di tangannya tiba-tiba disendai ke belakang, seperti kepalanya tumbuh mata di belakang, pancing di pucuk joran kebetulan menggantol tulang pundak seorang busu, seperti memancing seekor ikan raksasa saja busu ini diangkatnya ke atas, sekali sendai pula busu itu dilemparnya beberapa tombak jauhnya.
Menyusul dia menggentak pula secepat angin lesus tubuhnya berputar, jala di tangan kiri tiba-tiba ditebarkan, busu keduapun kena dijala olehnya.
Sebat sekali Milo Hoatsu berkelit terus berkelebat, menghindari bacokan kampak Loh Im-hu, tapi sepasang rodanya tiba-tiba mengepruk ke arah Lim Ih-su.
Lim Ih-su sudah berhasil menjala busu itu, dia pikir Milo Hoatsu takkan berani melukai orang sendiri, tak nyana sedikitpun dia tidak hiraukan mati hidup si busu, mumpung dapat dapat kesempatan dia malah merangsak semakin hebat.
Padahal jala Lim Ih-su merupakan senjata yang liehay pula, namun karena berhasil menjaring tubuh seorang yang beratnya ada seratusan kati lebih sudah tentu gerak geriknya jadi lamban dan terganggu, tujuan hendak mengancam musuh berbalik awak sendiri yang memikul beban.
Apa boleh buat terpaksa Lim Ih-su membuka jaring melempar busu itu keluar kalangan.
Kini dia lebih leluasa menghadapi rangsakan sepasang roda Milo Hoatsu.
Milo Hoatsu membentak.
"Hadapilah kawanan pengemis itu, kedua orang ini kalian tidak perlu ikut urus."
Tanpa dipesan lagi, melihat betapa liehay permainan Lim Ih-su, para busu yang lain sudah pecah nyalinya, melihat pula betapa ganas dan kejamnya Milo Hoatsu, jiwa orang sendiri juga tidak segan dikorbankan di bawah senjata sendiri, mana ada yang berani mengantar jiwa?
Wi-cui-hi-kiau bergabung pula, dalam beberapa jurus saja, mereka telah mulai pegang kuasa dengan serangan mantap.
Tapi kepandaian Milo Hoatsu memang tangguh, meski Wi-cuihi-kiau berinisiatif menyerang, dia masih tetap kuat bertahan dan melawan dengan gagah, sedikitpun tidak kelihatan terdesak.
Karena terlibat dalam adu kekuatan dengan sengit melawan Milo Hoatsu, sudah tentu Wi-cui-hi-kiau tidak sempat lagi membantu teman yang lain.
Kecuali Wi-cui-hi-kiau yang sedang melabrak Milo Hoatsu, di lapangan berumput itu masih ada belasan pengemis, mereka adalah kelompok kedua dari murid-murid Kaypang yang menyusul tiba.
Mereka melihat panah berapi yang dilepas Wi-cui-hi-kiau maka beramai datang membantu.
Kungfu murid Kaypang ini cukup tinggi, namun di bawah tekanan musuh sebanyak itu, mereka jadi kerepotan juga.
Ada beberapa di antaranya malah sudah terdesak payah.
Melihat situasi, Tan Ciok-sing berpikir.
"Wi-cui-hi-kiau, memang tidak malu sebagai pimpinan Pat-sian, kepandaiannya susah diukur. Tapi untuk mengalahkan Milo Hoatsu paling tidak harus tiga ratusan jurus kemudian. Aku harus wakili mereka, supaya mereka sempat membekuk Duta Watsu di atas loteng."
Setelah tetap pendiriannya, Tan Ciok-sing segera menampakkan diri, teriaknya lantang.
"Hwesio gede, kalah menang belum ada kesudahan, kenapa kau lari. Kalau berani ayo lawan aku menentukan siapa jantan,"
Sembari bicara meluncur bagai anak panah, beberapa lompatan jarak jauh, sebelum gema suaranya lenyap, bersama In San dia sudah terjun kedalam arena pertempuran.
"Bagus sekali, kalian berempat boleh maju bersama, memangnya aku takut?"
Tantang Milo Hoatsu.
Sepasang roda terangkat tinggi dengan jurus Sau-tang-Iiok-hap kedua rodanya dimainkan sedemikian rupa sekujur badan seperti terbungkus dalam cahaya kemilau.
Tan Ciok-sing gunakan jurus Tay-mo-hu-yan pedang panjangnya menusuk langsung kedalam lingkaran sinar.
Berbareng In San juga gunakan jurus Tiang-ho-Ioh-jit.
Cengbing-kiam menusuk turun dari tengah udara.
Serangan tepat pada waktunya sasaran telak dan kerja samapun serasi dan ketat tiada kelemahan.
Gerak pedang mereka teramat aneh dan cepat sehingga Wi-cui-hi-kiau tiada sempat berseru mencegah tahu-tahu kedua anak muda ini sudah mendahului melawan gempuran musuh tangguh.
Maka terdengar suara gemerantang seluruh hadirin pekak telinganya, cahaya perak yang membulat itu tiba-tiba pecah berderai, hawa pedangpun menyambar ke berbagai penjuru, tiga bayangan orang mencelat terpencar, siapapun tiada yang memungut keuntungan, lekas sekali kedua pihak telah saling gempur lagi.
Sebelum ini Wi-cui-hi-kiau belum pernah menyaksikan kepandaian Tan Ciok-sing,-di kala dia bersama In San mendahului menyambut gempuran sepasang roda Milo Hoatsu, Wi-cui-hi-kiau sama menjerit kuatir, mereka kira kedua muda mudi ini bakal celaka oleh kehebatan ilmu musuh, bila tidak mati pasti luka parah.
Tak nyana akhir dari adu kekuatan sungguh diluar dugaan mereka, belum lagi lenyap rasa kuatir mereka, tahu-tahu Tan Ciok-sing berdua telah bergabung pula menggempur Milo Hoatsu.
"Gelombang sungai belakang memang mendorong yang di depan, patah tumbuh hilang berganti. Munculnya sepasang pahlawan gagah dunia persilatan memang harus dibuat senang, tapi kenapa kami tidak pernah dengar sebelum ini,"
Diam-diam Wi-cui-hi-kiau amat girang dan lega.
Sebagai ahli silat meski baru menyaksikan satu jurus, tapi mereka tahu gabungan ilmu pedang Tan Ciok-sing dan In San merupakan lawan mematikan bagi sepasang roda lawan bila kedua muda mudi ini dibiarkan melawan Milo Hoatsu memang setanding dan itu lebih baik dari pada dirinya berdua yang turun tangan.
Setelah hati lega segera mereka keluar lapangan.
Sudah tentu Duta Watsu yang menyaksikan di atas loteng amat kaget, katanya.
"Dari mana datangnya dua bocah ini, ternyata mampu menandingi Koksu kita yang nomor satu di seluruh jagat. Ma Toa-ha turunlah kau bantu mereka."
Tak nyana peristiwa selanjutnya justru membuat nyalinya pecah.
Tampak Lim Ih-su mendadak melompat tinggi setombak lebih, pancing di ujung jorannya tepat menggantol batu di atas dinding, seperti orang bermain ayunan, tubuhnya tiba-tiba melambung naik, dimana telapak kakinya menjejak dinding jorannya terayun pula, sehingga tubuhnya mumbul ke atas, begitulah secara bergantian kaki menjejak dan joran menggantol sehingga tubuhnya terus terayun mumbul ke atas.
Berlainan pula cara yang ditempuh si tukang kayu Loh Im-hu, sepasang kampak raksasanya bergantian membelah dinding tembok yang keras terbuat dari batu gunung menjadi bolong setiap kali kena kampak.
Begitu kampak dicabut kaki terus memancal naik secara bergantian kanan kiri, pada hal dinding yang menjulang lurus itu licin sekali tapi dari setiap lobang yang dibacok kampaknya itu kakinya seperti naik tangga saja terus berlari ke atas secepat terbang.
Busu yang ada di bawah berkaok-kaok, belasan orang segera memasang gendewa membidikkan panah.
Lim Ih-su menebarkan jalanya untuk menangkis hujan panah, tidak sedikit panah yang terjaring di jalanya ditimpuk balik untuk melukai pemakainya.
Cepat sekali, mereka sudah hampir mencapai loteng.
Karuan Duta Watsu.
kaget dan pucat ketakutan, mana berani dia menonton lagi?
Tersipu-sipu dia putar tubuh sembunyi kedalam kamar.
Ma Toa-ha memburu maju seraya membentak.
"Turun."
Golok pembelah gunung dii tangannya berpunggung tebal, beratnya ada tiga> puluh enam kati, dia incar batok kepala Loh Im-hu yang sudah hampir mencapai ketinggian foteng terus membelahnya.
Hebat memang Loh Im-hu, kakinya kebetulan menginjak lobang yang terkampak terakhir pada hal tubuhnya terapung, namun di atas dinding yang licin itu dia masih mampu mengembangkan Thi-pan-kio (jembatan besi), pinggang tertekuk ke belakang, sementara kaki menginjak kencang di lobang dinding, sehingga seluruh tubuhnya terjengkang ke belakang mirip sebuah jembatan gantung.
Golok Ma Toa-ha menyamber lewat serambut di depan mukanya, tapi tidak sampai melukainya.
Dengan menggerung keras, mendadak Loh Im-hu menarik tubuh ke atas, berbareng kaki menjejak naik, tubuhnya terapung tinggi, bentaknya.
"Biar kau tahu apakah Tionggoan Pat-sian betul-betul bernama kosong,"
Itulah olok-olok yang diucapkan Ma Toaha tadi.
Di tengah bentakannya itulah kampaknya sudah beradu dengan golok besar berpunggung tebal Ma Toa-ha.
Senjata mereka sama-sama berbobot berat, di tengah gemerarrtangnya suara tampak golok tebal Ma Toaha mencelat tinggi ke udara.
Pada saat itulah, Lim Ih-su juga telah melompat naik ke atas loteng, dimana jorannya mulur modot, seperti lidah ular beracun yang keluar masuk, secepat kilat dia tutuk dua busu yang menerjang datang, kekuatan gerakan jorannya ternyata masih mampu membuat pancing di ujung jorannya menukik turun menggantol luka di paha Ma Toa-ha.
Pada saat itu Ma Toa-ha memang sedang terhuyung karena tergentak oleh kekuatan Loh Im-hu, sudah tentu tak mampu dia menahan diri pula setelah pahanya terluka pula, bersama dua busu yang tertutuk hiat-tonya mereka saling terjang terus terjungkal jatuh ke bawah loteng.
Memang tidak malu Ma Toa-ha sebagai jagoan kosen, meski pahanya terluka di tengah udara dia masih mampu mengendalikan tubuh dengan jumpalitan bergaya burung dara serta meluncur turun dengan enteng dan berdiri tegak.
Celaka adalah kedua busu yang tertutuk hiat-tonya jatuh dari tempat ketinggian itu tanpa ampun tubuh mereka hancur dengan kepala pecah.
Begitu Wi-cui-hi-kiau menyerbu ke atas loteng, dilihatnya Duta Watsu sedang lari kedalam kamarnya.
Loh Im-hu menghardik.
"Lari kemana,"
Dimana kampaknya terayun seorang busu dibelahnya terus menerjang masuk, tujuannya hendak meringkus Duta Watsu. Tiba-tiba cahaya emas gemerdep di depan mata, seorang padri asing tiba-tiba membentak.
"Jangan bertingkah disini,"
Senjata yang digunakan padri asing ini adalah Hu-mo-kan gada penakluk iblis yang terbuat dari emas murni, bobotnya lebih berat dari golok tebal yang dipakai Ma Toa-ha, maka terdengarlah suara "Trang", loteng sampai bergetar seperti keterjang gempa.
Kampak membelah gunung Loh Im-hu membacok gada penakluk iblis, kampak sempal sedikit, tapi gada tidak kurang suatu apa, tapi tenaga Loh Im-hu lebih besar, padri asing itu tertolak mundur tiga langkah, telapak tangannyapun kesakitan.
Tapi padri asing ternyata keras kepala, sebat sekali dia sudah menerjang pula, dia libat lawannya dengan serangan gencar.
Di sebelah sana Lim Ih-su juga menghadapi dua lawan tangguh, seorang Hwesio bersenjata tongkat sebesar mulut mangkok, seorang lagi berpakaian pelajar memegang kipas besi.
Senjata kedua orang ini keras dan lunak, kerja samanya ternyata amat baik.
Terutama kipas besi si pelajar, entah menutuk, menusuk atau menyampuk dengan kebasan lagi, ternyata dia mampu menggunakan ilmu meminjam tenaga menggempur musuh, taraf kepandaiannya tidak lebih asor dari jago kelas wahid di Tionggoan.
Lim Ih-su sebagai tertua dan terliehay dari Pat-sian ternyata juga hanya mampu menandingi mereka saja.
Ternyata ketiga orang ini adalah murid-murid didik Milo Hoatsu yang paling dibanggakan.
Hwesio yang bersenjata gada penakluk iblis terbuat dari emas itu bergelar Toa-kiat, Hwesio yang bersenjata tongkat bergelar Toa-siu, kepandaian mereka kira-kira setanding dengan Poyang Gun-ngo, orang nomor satu yang menduduki jago kosen di seluruh Watsu.
Sementara pelajar yang bersenjata kipas itu adalah putra seorang pembesar tinggi di Watsu, namanya Tiangsun Co, hobinya mempelajari sastra dan bahasa Han, maka sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari dia berpakaian seperti orang Han.
Dulu sering orang ini mengembara di Tionggoan, kecuali pernah mendapat petunjuk dari Milo Hoatsu, dia pernah mendapat pelajaran silat dari seorang Han yang tak dikenal pula, maka ilmu silatnya jauh melampaui para saudara seperguruan, Poyang Gun-ngopun bukan tandingannya.
Melihat Duta Watsu lari ke kamarnya, Loh Im-hu menjadi gugup, mendadak dia menghardik, bersama kampaknya dia menubruk seperti harimau menerkam mangsanya, kampak menindih gada mendadak sebelah kakinya melayang sehingga Toa-kiat kena ditendangnya jungkir balik, luka akibat tendangan sih sebetulnya tidak berat, tapi karena gadanya sendiri amat berat, dia tidak rela melepas senjatanya pula, karuan dia tertindih senjata sendiri, bila dia merangkak bangun sementara Loh lm-hu sudah menerjang masuk ke kamar tidur Duta Watsu.
Toa-siu dan Toa-kiat masuk perguruan bersama dan mencukur gundul kepalanya pada saat yang sama pula, hubungan kedua orang ini paling akrab di antara sesama seperguruan yang lain.
Melihat Toa-kiat ditendang roboh oleh Loh Im-hu, karuan Toa-siu amat kaget.
Jago yang sedang bertanding mana boleh terpencar perhatiannya?
Begitu melihat lobang kelemahan, Lim Ih-su tidak sia-siakan kesempatan ini, joran terayun dengan gaya 'membawa' dia kerahkan ilmu Si-nio-poat-jian-kun, dimana jorannya menutul ujung tongkat lawan, terdengar suara menderu kencang, ternyata karena dilengket dan di'bawa' itulah tongkat panjang sebesar mulut mangkok itu mencelat terbang dan terlepas dari cekalannya.
"Biang"
Lalu terdengar jeritan ramai menyayat hati, tongkat besi seberat empat puluh delapan kati itu ternyata menerjang putus lankan loteng, beberapa busu yang berdiri di sekitarnya keterjang sungsang sumbel berjatuhan ke bawah.
Cepat sekali setelah memukul mundur Toa-siu, Lim Ih-su sudah membalik badan untuk menghadapi Tiangsun Co yang berkepandaian paling tinggi, jala di tangan kiri tiba-tiba berkembang terus menungkrup ke arah Tiangsun Co, tadi Tiangsun Co pernah saksikan keliehayan permainan jala orang, apalagi dalam keadaan kepepet seorang diri pula, mana berani dia menyambut serangan ini.
Kepandaiannya ternyata memang patut dipuji, gerak geriknya selicin ikan berenang dalam air, kipas mengebas, di saat-saat yang paling genting tiba-tiba dia sudah lolos keluar, malah masih sempat pula dia menyampuk pergi joran Lim Ih-su yang menerjang hiat-to besar di punggungnya.
Di saat Loh Im-hu memburu masuk kedalam kamar, dilihatnya Duta Watsu sedang menyelinap kedalam sebuah pintu rahasia.
Ternyata dalam kamar tidur ini terdapat kamar rahasia, bila tombol ditekan pintu kamar rahasia akan terbuka.
"Jangan lari,"
Bentak Loh Im-hu seraya menubruk kesana, terdengar suara gemeratak sementara Duta Watsu sudah berada didalam kamar rahasia, selapis papan besi tiba-tiba sudah melorot turun.
Waktu sudah amat mendesak, Loh Im-hu sudah tidak hiraukan lagi apakah dalam kamar masih ada busu lain yang siap membokong dirinya, mendadak dia menubruk ke depan sambil menjatuhkan diri dengan gerakan Burung Terbang Terjun ke Hutan, tubuhnya meluncur di lantai terus membresot kedalam kamar.
Sayang waktunya sudah agak terlambat, baru setengah tubuhnya menyelonong masuk, lapisan besi itu sudah menindih turun jaraknya tinggal lima dim dari batok kepalanya, Loh Im-hu sudah pertaruhkan nyawanya, dengan menggerung keras, tiba-tiba dia membalik tubuh kampak mendadak dia sudah angkat untuk menyanggah, pelan-pelan papan besi itu ternyata dapat diangkatnya naik sedikit-sedikit.
Tapi pada saat itu pula mendadak dia merasa paha kanannya kesakitan, ternyata seorang busu menusuk pahanya dengan tombak.
Loh Im-hu menggerung gusar, teriaknya.
"Toako, lekas,"
Sambil menahan sakit, papan besi tetap ditahannya sekuat tenaga.
Untung sebelum habis dia berteriak, sang toako, tertua dari Pat-sian Lim Ih-su telah memburu datang.
Busu tadi sedang angkat tombaknya hendak menusuk lambung Loh Im hu, tapi tahu-tahu tubuhnya menjadi enteng dan terbang ke atas menumbuk langit-langit, ternyata Lim Ih-su telah menjaringnya terus dilempar ke atas, dimana jorannya bekerja pula seorang busu telah dipancingnya serta dibuang keluar saling tumbuk dengan busu ketiga yang menerjang masuk.
Lekas Lim Ih-su membungkuk tubuh, mumpung papan besi belum menindih semakin ke bawah, dia julurkan jorannya kedalam.
Tapi pada saat itulah Toa-kiat dan Toa-siu sudah memburu masuk ke kamar pula bersama Tiangsun Co.
Toa-kiat memburu masuk lebih dulu, begitu melihat Wi-cuihi-kiau sama tengkurap dan rebah di lantai, sementara kampak Loh Im-hu sedang menahan papan besi, sedang joran Lim Ih-su menjulur ke kamar rahasia, jelas senjata mereka takkan kuasa buat melawan lagi.
Saking senang Toa-kiat angkat gadanya seraya membentak.
"Bagus, biar tuan besarmu antar kalian pulang ke dunia barat,"
Tapi di kala gada sudah terangkat tinggi di atas kepala itulah, mendadak didengarnya jerit kesakitan sang Ongya.
Maklum sang Ongya atau Duta Watsu ini biasanya hidup berfoya-foya, kapan pernah menyaksikan pertempuran sengit yang menyeramkan ini, meski sudah sembunyi kedalam kamar rahasia, namun saking ketakutan kedua lutut menjadi lemas dan dia meloso di lantai.
Waktu Lim Ih-su menjulurkan joran kedalam, kebetulan dapat menggantol tumit kakinya, karena tumit kaki kepancing, karuan dia menjerit-jerit dan terseret keluar.
Loh Im-hu segera menghardik.
"Bila kampak kulepaskan, Ongya kalian akan gepeng bersamaku. Memangnya kita tidak pikirkan keselamatan lagi kalau berani hayo maju."
Demi mempertahankan jiwa sang Ongya, sudah tentu Toakiat tidak berani turunkan gadanya.
Sementara itu Lim Ih-su sudah menyeret sang Ongya keluar serta menjaringnya didalam jalanya.
Pelan-pelan Loh Im-hu menggeser tubuhnya keluar, setelah mengambil ancang-ancang segera dia lepas tangan sambil menggelinding ke samping.
"Blum"
Dengan suara berdentam menggetar seluruh loteng papan besi itu anjlok menyentuh lantai.
Dengan kampak sebagai penyanggah tubuh pelan Loh Im-hu merangkak berdiri, mukanya pucat pias.
Baru sekarang Lim Ih-su sempat perhatikan wajah adiknya, tanyanya dengan gemetar.
"Jite, kenapa kau?"
Loh Im-hu unjuk senyum getir, sekuat tenaganya dia telan darah yang hampir menyembur keluar, pada hal isi dadanya sakit sekali seperti diremas-remas, tahulah dia bahwa luka dalamnya teramat parah, lebih parah dari luka tusukan tombak di pahanya.
Tapi kuatir membikin sang Toako kuatir, sekuatnya dia menahan diri, katanya.
"Terluka sedikit, yakin takkan mati di tempat ini. Syukur usaha kita berhasil membekuk Ongya Watsu. Toako, lekas kau gusur tawanan ini dan bergabung dengan para saudara, jangan kau hiraukan diriku."
Lekas Lim Ih-su jejalkan sebutir Siau-hoan-tan pemberian Hongtiang Siau-lim ke mulut adiknya, setelah mendengus gusar dia berkata.
"Bila kau mengalami sesuatu, biar tawananku ini sebagai penebus jiwamu."
Tiangsun Co dan lain-lain hanya memandang gelo melihat Lim Ih-su memasukkan sang junjungan kedalam jaring terus dikempit di ketiak melangkah lebar turun dari loteng.
Loh Imsu yang pucat dengan kampak sebagai tongkat mengikuti di belakang langkahnya sempoyongan, seakan-akan sembarang waktu dia bisa tersungkur jatuh.
Tapi mereka tiada yang berani bertindak secara gegabah, malah dalam hati mereka berdoa supaya sang junjungan diselamatkan dan dilindungi.
Kalau pertempuran di atas loteng telah usai, sementara Tan Ciok-sing dan In San yang mengembangkan ilmu gabungan pedang masih cukup tangguh menghadapi sepasang roda Milo Hoatsu.
Tapi murid Kaypang yang dikeroyok menjadi kepayahan, tidak sedikit yang telah gugur di medan laga.
Sambil menjinjing sang Ongya didalam jaring Lim Ih-su beranjak keluar rumah, serunya lantang..
"Kalian masih ingin jiwa Ongya kalian tidak?"
Sudah tentu bukan kepalang kaget kawanan busu dari Watsu, sebelum diberi aba-aba oleh sang Ongya serta merta mereka sudah menyurut mundur menghentikan pertempuran.
Tak nyana sang Ongya mendadak membentak.
"Jangan berhenti, kepung lebih ketat."
Lim Ih-su gusar, dampratnya.
"Memangnya kau tidak ingin hidup?"
Ongya Watsu tertawa dingin.
"Betul, cukup angkat sebelah tanganmu kau dapat membunuhku, tapi setelah kau bunuh aku, orang-orang kalianpun takkan selamat. Maka kulihat lebih baik kita mengadakan pertukaran secara adil. Pertama, jangan kau menghina aku."
Lim Ih-su membuka jaringnya, sebelah tangan menekan punggung, katanya.
"Baik, kami akan bertindak menurut aturan lebih dulu."
Maka sang Ongya memerintahkan supaya anak buahnya menghentikan pertempuran.
"Katakan,"
Bentak Loh Im-hu.
"pertukaran adil cara bagaimana?"
"Dengan jiwaku seorang untuk menukar jiwa kalian sebanyak ini, apa tidak adil?"
"Bagaimana caranya menukar?"
"Kan gampang, setelah kalian melepasku, akan kupersilahkan kalian pergi."
"Memangnya ada urusan semudah itu?"
"Lalu bagaimana pendapatmu?"
"Bila kau serahkan surat perjanjian damai yang kau tanda tangani bersama Liong Bun-kong, serta antar kami keluar kota, kau akan kami bebaskan."
"Pintar juga kau tawar menawar, selain menebus orang mau minta barangnya pula, padahal kalian tidak mengeluarkan apa-apa, apa boleh tukar menukar begini dianggap adil?"
Lim Ih-su mendengus.
"Ya, tapi kau masih berada di tanganku."
"Kawan-kawan kalian juga masih terkepung disini, sebelum aku mengangguk, memangnya kalian mampu lari dari sini."
"Toako,"
Seru Loh Im-hu gusar.
"ini tidak mau itu tidak boleh, buat apa harus saling tukar segala, serahkan saja padaku biar kujagal dia disini, semoga arwah Samte tentram di alam baka. Kan belum tentu kita tidak mampu meloloskan diri."
Ongya Watsu mengeraskan kepala, katanya.
"Baiklah, kalian lebih senang mempertaruhkan jiwa sebanyak orang ini, kenapa aku sendiri harus takut mati? Kalau berani boleh kau membunuhku,"
Pada hal mulutnya main gertak, hatinya takut setengah mati. Lim Ih-su berpikir diam-diam.
"Menuntut balas memang penting, tapi membongkar intrik Liong Bun-kong yang menjual negara dan bangsa lebih penting lagi, paling tidak kita harus peras Duta Watsu ini untuk menyerahkan surat perjanjian damai itu, untuk apa aku mencabut nyawa orang ini?"
Namun dia sendiri tidak mau mengalah, jadi keadaan menjadi tegang.
Di kala keadaan membeku itulah, tiba-tiba tampak seorang pemuda berusia enam belasan berlari seperti memburu setan, dari kejauhan sudah berteriak.
"Tan-toako, apakah omonganmu tadi masih boleh dipercaya?"
Pemuda ini bukan lain adalah Siau-ongya Watsu.
"Surat perjanjian itu, apakah sudah kau bawa kemari?' tanya Tan Ciok-sing.
"Betul, harap kalian lekas bebaskan ayahku."
"Tadi aku hanya bilang untuk memohonkan keringanan saja, apakah diterima, boleh kau sendiri tanya kepada Lim Tayhiap ini,"
Sahut Tan Ciok-sing.
"Baiklah, tolong kau mohonkan keringanannya,"
Ujar Siauongya.
"O, jadi sebelum ini kau sudah bicara tentang tukar menukar dengan Siau-ongya ini?"
Tanya Lim Ih-su.
"Mohon maaf bila Wanpwe ambil keputusan sendiri, memang aku pernah janji kepada Siau-ongya, bila dia mau menyerahkan surat perjanjian damai, aku akan mohon keringanan kepada kalian, supaya kalian tidak menyakiti dan mempersulit ayahnya. Waktu itu aku juga belum tahu bahwa kita akan berhasil membekuk ayahnya."
"Betul, inilah surat yang kami inginkan,"
Seru Thong Jianhong.
"tapi setelah ada surat ini, kita tetap membutuhkan sandera."
Siau-ongya berkata.
"Asal kalian mau membebaskan ayahku, aku suka menjadi sandera."
Ongya Watsu membentak.
"Anakku, mana boleh kau berbuat sebodoh ini?"
Lim Ih-su masih berpikir sekian lamanya tanyanya.
"Tansiauhiap, kau bersahabat dengan Siau-ongya ini bukan?"
Tan Ciok-sing manggut-manggut, katanya.
"Betul, aku pernah berjanji kepadanya, bila dia mau menyerahkan surat perdamaian itu, aku tetap akan menganggapnya sebagai kawan."
"Tan-siauhiap, hari ini sungguh besar artinya bantuanmu, kalau tidak kau bantu aku, sekarang mungkin aku takkan berhasil membekuk Ongya. Seorang laki-laki harus dapat dipercaya, akupun takkan membikin kau kehilangan kepercayaan di depan musuh. Kalau Siau-ongya adalah temanmu, akupun takkan bisa menggunakannya sebagai sandera. Baiklah, aku terima caramu untuk menukar surat perdamaian itu."
Senang Siau-ongya bukan main, langsung dia mendekati ayahnya, katanya.
"Ayah, aku sudah berjanji kepadanya, mereka melepas kau, maka jangan kau mempersulit mereka."
Ongya Watsu berkata.
"Baik, asal mereka tidak meringkus kau, akupun boleh menyerahkan surat perdamaian itu kepada mereka."
Baru saja Siau-ongya mau menyerahkan surat perdamaian, mendadak Ongya membentak.
"Tunggu dulu. Setelah mereka membebaskan aku, baru kau serahkan surat itu."
Siau-ongya berkata.
"Kalian pasti percaya kepadaku. Yang jelas aku toh takkan bisa lari."
Bahwa tukar menukar sudah disetujui, soal tetek bengek sudah tidak terpikir pula oleh Lim Ih-su, katanya.
"Baik, aku percaya kepadamu,"
Lalu dia bebaskan Duta Watsu.
Tan Cioksing dan Thong Jian-hong berdiri mengapit Siau-ongya.
Di bawah pengawalan Tiangsun Co, Duta Watsu beranjak masuk ke rumah setengah berlari, sebelumnya dia perintahkan anak buahnya mundur dan tidak boleh mengepung, langsung dia naik ke loteng, dari loteng baru dia berkata.
"Baik, anakku, sekarang boleh kau serahkan surat damai itu."
Siau-ongya serahkan surat perdamaian itu kepada Lim Ihsu, katanya.
"Inilah konsep perdamaian itu dari tulisan tangan Liong Bun-kong sendiri, silahkan baca dan periksa."
Dulu Liong Bun-kong adalah pembesar sipil yang suka mengagulkan gaya tulisannya yang bagus, tidak sedikit kenalannya dari kaum pedagang yang minta tulisannya sebagai nama toko atau perusahaan.
Lim Ih-su kenal baik tulisannya, setelah membaca surat perdamaian itu dengan kertak gigi dia berkata.
"Terhitung surat perdamaian apa, lebih tepat kalau disebut surat permohonan menyerah. Tulisan Liong Bun-kong tidak salah.
"Baiklah Siau-ongya, terima kasih akan kesediaanmu mengorbankan dirimu, boleh kau kembali saja?"
Tak kira baru saja Siau-ongya mendekati para busu Watsu, tiba-tiba Duta Watsu yang berada di atas loteng berteriak keras.
"Jangan biarkan mereka membalik surat perdamaian itu, kepung mereka dan ringkus semuanya."
Saking kaget pucat muka Siau-ongya, serunya.
"Ayah, mereka bicara dapat dipercaya, jangan kita mengingkari janji."
"Binatang,"
Hardik Duta Watsu.
"kau tahu apa? Aku tidak menghajarmu sudah terhitung untung, masih berani kau mengoceh tidak karuan."
Sebesar itu kapan Siau-ongya pernah dimaki sekasar itu di hadapan umum, apalagi lebih menyakitkan hati lagi dirinya dimaki "binatang", sungguh, sedih dan malu serta marah pula, teriaknya.
"Ayah, kau sudi mengingkari janji tapi aku akan tetap berpegang pada pendirianku. Baiklah, aku yang jadi sandera mereka,"
Tapi dirinya sudah berada dalam rombongan para busu mana dapat dia berbuat sesuka hati lagi. Baru saja dia hendak putar balik, Milo Hoatsu sudah memburu tiba serta menutuk hiat-tonya, katanya.
"Toa-kiat, Toa-siu, antarkan Siau-ongya ke atas loteng. Lekas turun pula."
Maka pertempuran seru terulang kembali.
Sudah tentu pertarungan kedua ini jauh lebih hebat, lebih keras dan menegangkan, namun situasi justeru lebih tidak menguntungkan bagi pihak kaum pendekar.
Maklum si tukang kayu Loh Im-hu sudah terluka parah, berarti mereka kehilangan bantuan yang berharga.
Sebaliknya pihak musuh ketambah Tiangsun Co yang berkepandaian tinggi, dibantu pula dengan Toa-kiat dan Toa-siu, setelah membawa Siauongya ke atas loteng, lekas sekali mereka sudah lari turun dan terjun ke arena.
Mengetruk sepasang rodanya Milo Hoatsu tertawa temberang, katanya.
"Wi-cui-hi-kiau tadi pertempuran kita belum ada kesudahan, kalau berani hayo lawan aku lagi sampai ditetapkan siapajantan atau betina,"
Justeru dia tahu bahwa Loh Im-hu sudah terluka, maka tanpa tedeng alingaling dia menantang mereka. Karuan Loh lm-hu naik pitam, serunya.
"Jadi, hayo maju memangnya aku gentar padamu,"
Dengan langkah sempoyongan dia memutar sepasang kampaknya menyambut tantangan musuh. Begitu berkelit dari samberan joran Lim Ihsu, Milo Hoatsu mendorong sepasang rodanya ke arah Loh Im hu.
"Trang"
Secara telak dia membentur sepasang kampak Loh Im-hu.
"Huuah"
Kontan Loh Im-hu memuntahkan darah segar sebanyak-banyaknya, namun sambil kertak gigi, setapakpun dia tidak mau mundur. Lim Ih-su membentak.
"Melawan orang yang sudah terluka, memangnya kau terhitung orang gagah macam apa? Jite, dengarkan nasehatku, jangan kau ketipu oleh olok-oloknya, kau mundur biar aku hadapi dia."
"Bagus,"
Jengek Milo Hoatsu tergelak-gelak.
"kalau kau ini Enghiong dan pahlawan gagah, mari layani aku satu lawan satu."
Tan dan In lekas memburu maju, sepasang pedang kembali menggempur sepasang roda, maka terdengarlah rentetan dering yang berkepanjangan seperti bunyi harpa yang dipetik senarnya, dalam sekejap itu senjata mereka beradu puluhan kali.
Diam-diam Milo Hoatsu mencelos.
"Ilmu pedang kedua bocah ini koh liehay benar?"
Yang benar bukan ilmu pedang Tan dan In lebih liehay dari dulu, tapi lantaran Milo Hoatsu sudah berhantam melawan Lim Ih-su sekian lamanya, tenaganya jelas sudah banyak terkuras, sebaliknya kekuatan Tan Ciok-sing dan In San masih lebih segar, maklum kalau mereka dapat menindas lawan dan mendesaknya di bawah angin.
Tampak oleh Tan Ciok-sing, Loh Im-hu betul-betul sudah teramat parah luka dalamnya, demikian pula wajah Lim lh-su sudah pucat dengan napas menderu pula, kekuatan mereka boleh dikata sudah hampir terkuras habis.
Bila kedua orang ini mengalami kecelakaan, maka akibatnya susah dibayangkan.
Diam-diam dia berpikir.
"lantaran aku tidak mau membekuk Siau-ongya sebagai sandera sehingga urusan berkepanjangan seperti sekarang."
Tapi menyesal juga sudah terlambat, yang penting harus diusahakan membawa surat perdamaian itu keluar dari sini. Maka dia berkata.
"Semua gara-gara kesalahanku sehingga orang banyak mengalami kesulitan ini. Lim Tayhiap, tugas penting harus segera kau bereskan. Silahkan kau berangkat lebih dulu. Meski harus mengorbankan jiwa juga aku harus lindungi kau dan Loh Tayhiap keluar dari sini."
Dia yakin kepandaian Lim Ih-so amat tinggi, bila Milo Hoatsu tidak merintanginya, begitu dia lari ke gedung keluarga Liong di sebelah sana, pasti dapat dilakukannya.
Tapi Lim lhsu tahu maksud hatinya, kataya.
"Ongya keparat itu ingkar janji, sebetulnya sudah dalam dugaanku. Tapi biar musuh ingkar janji tapi kita harus berpegang pada kesetiaan dan kebenaran, tidak usah kau merasa sedih, aku tidak menyalahkan kau. Maksud baikmu kuterima setulus hati, tapi aku tidak akan lari."
Tiangsun Co berkata.
"Memangnya kau mampu lari, hayo lawan aku sampai ada ketentuan siapa menang dan kalah."-waktu bergebrak di atas loteng tadi, dia kena sedikit dirugikan oleh Lim Ih-su, kini melihat Lim Ih-su sudah dalam keadaan payah dia ingin memungut keuntungan, pikirnya.
"Kalau tidak sekarang aku menuntut balas tunggu kapan lagi,"
Maka kipas dikerjakan begitu bergebrak dia lantas melancarkan serangan mematikan. Sekali menggentak "Wut"
Joran panjang Lim Ih-su mendadak mengencang lurus, tiba-tiba dia tusukkan ujung jorannya seperti tombak, bentaknya.
"Hayo maju, memangnya aku takut melawanmu? Kalian ada beberapa orang boleh maju semuanya,"
Sebatang joran dari bambu hijau, tapi di tangannya ternyata jauh lebih liehay dari pentung atau tombak, karena jorannya itu dapat memantul lemas tapi juga mengeras sekuat baja, di kala menusuk mengeluarkan deru kencang.
Mau tidak mau Tiangsun Co kaget dibuatnya.
"Memang tidak malu keparat ini sebagai pimpinan Pat-sian, setelah mengalami pertempuran sengit selama ini, Iwekangnya ternyata masih setangguh ini."
Ma Toa-ha merasa malu karena In San berhasil menerjang masuk dari kedudukannya, melihat Tan dan In melabrak Milo Hoatsu sedemikian serunya, dia tidak berani mengusiknya, terpaksa dia putar haluan membantu orang lain, bentaknya.
"Dua lawan dua baru terhitung adil. Tiangsun Pwecu, mari kubantu kau menghadapi Wi-cui-hi-kiau."
Padahal Loh Im-hu sudah terluka parah, bukan saja dia tidak mampu membantu Lim Ih-su, malah saudara tuanya ini yang selalu harus memecah perhatian melindunginya.
Untung tadi sempat Lim Ih-su salurkan hawa murninya ke tubuh sang adik, tenaganya pulih sedikit, kalau tidak jelas dia tidak akan mungkin menjinjing kedua kampak besarnya yang berat.
Milo Hoatsu sempat melirik ke sekitar gelanggang melihat pihak sendiri dalam posisi unggul, hanya di sebelah sana Kek Lam-wi dan Toh So-so bersama belasan pengemis melabrak anak buahnya dengan sengit, meski, terkepung tapi semangat juang para pengemis yang sudah terluka itu tetap tinggi, bila seorang sudah kalap, puluhan orangpun takkan kuasj melawannya, demikianlah keadaan para pengemis itu, mereka sudah nekat seperti banteng ketaton, meski busu Watsu masih kuat dan ganas tak urung pecah juga nyali mereka, terpaksa mereka hanya mengepung diluar lingkaran dengan barisan tembok manusia yang ketat.
Milo Hoatsu mengerutkan kening, bentaknya.
"Kalian minggir, biar aku sapu habis kawanan pengemis yang jorok ini."
Belum habis dia bicara, mendadak seorang bersuara serak tua balas membentak.
"Anjing kurap mana yang menggonggong merebut najis? Hmm, huh, nah disini masih ada seorang pengemis tua yang dapat membikin kalian pusing tujuh keliling,"
Lenyap suaranya, orangnyapun tiba, tampak seorang pengemis tua menggendong buli-buli besar warna merah muncul mendahului yang lain.
Di belakang pengemis tua muncul pula serombongan pengemis lain.
Ternyata pengemis tua bukan lain adalah Kaypang Pangcu Liok Kun-lun.
Dia pimpin rombongan ketiga murid-murid Kaypang datang membantu.
Sebagian kecil ditinggalkan di taman luar membantu Ti Nio, Han Cin, Coh Ceng-hun dan lain-lain masih melabrak wisu keluarga Liong, yang meluruk kesini kira-kira ada dua puluhan pengemis.
Dua puluhan orang ini jelas masih belum mencukupi untuk melawan jumlah busu Watsu yang hampir seratus orang namun barisan tempur yang masih segar dan bertenaga baru ini ternyata dapat juga merubah situasi.
Apalagi malam gelap, busu Watsu juga tidak tahu berapa jumlah musuh yang menyerbu datang pula, sedikit banyak mereka jadi kacau dan dilabrak pontang panting.
Sambil memicingkan mata mengawasi Milo Hoatsu, Liok Kun-lun berkata.
"Agaknya kau inilah Koksu dari Watsu yang mengagulkan diri nomor satu di jagat ini. Hmm, berani kau bilang mau membantai para pengemis, biarlah pengemis tua ini menyerahkan jiwa raganya lebih dulu, coba buktikan apa kau punya kemampuan untuk membunuhku."
Milo Hoatsu angkat sepasang rodanya terus didorong ke depan, sayup-sayup terdengar suara gemuruh seperti ada hujan bayu yang mengamuk, betapa hebat dorongan ini dapatlah dibayangkan.
Ternyata Liok Kun-lun tidak pakai senjata, dengan sepasang tangannya dia lawan senjata musuh.
Di tengah bayangan telapak tangan menyamber dan roda menggelinding, tampak Liok Kun-lun terhuyung sedang Milo Hoatsu tergentak selangkah, Ji-gwat-siang lun yang tajam itu ternyata terpental pergi oleh pukulan jarak jauh Liok Kun-lun.
Liok Kun-lun membentak.
"Diberi tidak membalas tidak hormat. Lihat pukulanku."
Milo Hoatsu juga tidak lemah, dalam sekejap itu langkahnya berkisar pindah langkah mengubah posisi dia hindari serangan telak dari depan, sementara sepasang rodanya terpencar ke kiri dan kanan menyerang kedua ketiak Liok Kun-lun.
Maksudnya supaya lawan tidak sempat melancarkan Bik-khong-ciang lagi.
Tak tahunya Liok Kun-lun seperti sudah menduga akan tindakannya ini, merebut maju selangkah, tangannya terbalik mencengkeram tulang pundaknya.
Jurus ini memaksa lawan untuk menyelamatkan jiwa sendiri lebih dulu, terpaksa Milo Hoatsu tarik kedua rodanya menjaga diri, sudah tentu Liok Kun-lun pun sempat menghindar dari serangan roda rembulan lawan.
Milo Hoatsu biasanya terlalu agulkan diri tiada tandingan, sungguh tak pernah dibayangkan bahwa sepasang rodanya hari ini tidak mampu melawan sepasang tangan kosong Liok Kun-lun, karuan hatinya mencelos.
"Pengemis tua ini memang tidak malu sebagai Pangcu Kaypang. Pang terbesar di seluruh kolong langit, lwekangnya jelas lebih tinggi dari Wi-cui-hi-kiau. Kenapa aku justru semakin payah begini?"
Bahwasanya Kungfu kedua orang ini sebetulnya mempunyai keliehayan dan kelebihannya masing-masing, latihan lwekang mereka juga kira-kira setanding.
Kalau dalam keadaan biasa, bila Milo Hoatsu bersenjata kedua rodanya dan Liok Kun-lun melawan dengan tangan kosong, mestinya dia lebih unggul seurat.
Tapi tadi beruntun dia sudah bertempur dengan Wi-cui-hi-kiau dan melawan gabungan ilmu pedang Tan dan In, tenaganya sudah terkuras banyak, adalah logis kalau dia berada di bawah angin melawan jago tua dari Kaypang ini.
Walau Liok Kun-lun berada di atas angin tapi situasi keseluruhannya tetap tidak menguntungkan bagi pihak mereka.
Sembilan di antara sepuluh murid Kaypang sudah terluka, Lim Ih-su yang berkepandaian paling tinggi juga sudah kempas kempis kehabisan tenaga.
Meski dua puluhan murid Kaypang datang membantu, tapi mereka menjadi sibuk sendiri, bukan saja harus melabrak musuh, mereka juga sibuk menolong teman yang terluka, paling situasi sementara masih kuat dipertahankan tidak sampai kalah total.
Dalam hati Liok Kun-lun juga membatin.
"Padri asing ini mengagulkan diri tiada tandingan di kolong langit, tiada tandingan hanyalah bualan belaka, tapi kepandaian silatnya memang tidak lebih asor dari aku, untuk mengalahkan dia sedikitnya aku harus melabraknya tiga ratusan jurus. Bagaimana baiknya?"
Tiba-tiba timbul akalnya, mendadak sengaja dia menggertak dengan serangan pura-pura, sementara langkahnya menerobos beberapa tindak.
Memangnya Milo Hoatsu sudah merasa kepayahan menghadapi rangsakan lawan, melihat lawan mundur tanpa sebab, dia tidak tahu muslihat apa yang dilakukan lawan, kuatir tertipu dia tidak berani mengejar.
Tapi kedua roda dipegang kencang sambil menatapnya lekat-lekat menunggu reaksinya lebih lanjut.
Liok Kun-lun menanggalkan buli-buli besar di punggungnya, katanya.
"Tunggu sebentar biar pengemis tua habiskan arakku, nanti kita lanjutkan lagi,"
Lalu dia buka tutup buli-buli serta membuka mulut menuang arak kedalam perutnya hanya sekejap arak sebuli-buli telah ditenggaknya habis.
Milo Hoatsu sudah angkat sepasang rodanya siap menyambut tabrakannya.
"Nanti dulu,"
Tiba-tiba Liok Kun-lun berseru.
"Kenapa kau tidak berani melanjutkan?"
"Bertempur sekian lamanya, kau belum lagi minum, apa kau tidak dahaga?"
Milo Hoatsu melengak, bentaknya.
"Tiada tempo aku mendengar ocehanmu, kalau mau berkelahi hayo maju."
Liok Kun-lun tertawa katanya.
"Diberi makan anjing malah menggigit, tidak tahu kebaikan manusia. Ketahuilah, pengemis tua ingin menyuguh arak kepadamu."
Milo Hoatsu gusar, bentaknya.
"Siapa sudi minum arakmu,"
Dia sudah siap turun tangan, tapi melihat sikap Liok Kun-lun acuh tak acuh, dia jadi merandek tak berani turun tangan lebih dulu. Liok Kun-lun nyekakak, katanya.
"Mau atau tidak kau harus meminumnya. Arak suguhan tidak mau biar kuberi arak hukuman,"
Akhir katanya mendadak dia pentang mulut menyemburkan sekumur arak.
Kontan Milo Hoatsu rasakan kabut gelap seperti menutupi pandangan mata, kuatir terbokong musuh lekas dia pejam mata seraya memutar sepasang rodanya.
Hujan arak sama mengenai tubuhnya, meski tidak mampu melukainya, namun tubuhnya merasa pedas kesakitan juga.
Kuatir matanya tersemprot buta, lekas dia putar badan membelakangi lawan serta mundur tujuh langkah lebih jauh.
Liok Kun-lun tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Arak suguhan tidak mau kau lebih suka arak hukuman, bagaimana rasanya? Hehehe hahaha, kenyataan kau tidak berani melawanku lagi, biar pengemis tua pergi saja."
Waktu Milo Hoatsu membuka mata menunduk, tampak kasa merah yang dipakainya sudah berlobang kecil seperti sarang tawon.
Untung lwekangnya tangguh, bila orang lain terkena semburan arak tadi tentu tubuhnya bolong-bolong, kalau tidak mati juga pasti luka parah.
Melihat Kasanya bolong-bolong, Milo Hoatsu merasa kaget dan jeri pula.
Sementara itu Tan Ciok-sing berdua telah menggempur mundur Toa-kiat dan Toa-siu dengan gabungan ilmu pedang mereka, Liok Kun-lun menerjang kedalam barisan kawanan busu serta melabraknya kocar kacir, tidak sedikit kawanan busu yang dilukainya, Poyang Gun-ngo sebagai kepala jagojago kosen dari kawanan busu Watsu pun hanya mampu melawan tiga jurus, mau tidak mau dia dipukul mundur memberi jalan Setelah tenang hatinya Milo Hoatsu menghardik gusar.
"Pengemis tua, pakai muslihat kau berusaha meloloskan diri, kalau berani kemarilah melawanku lagi."
Liok Kun-lun tertawa serunya.
"Siapa menang dan kalah sudah ditentukan, buat apa aku menghadapimu? Kalau berani kemarilah kau kejar aku."
Milo Hoatsu menerawang kekuatan sendiri dibanding lawannya, dia yakin kekuatan pihak sendiri masih lebih unggul, maka dia mengulap tangan memberi tanda serta memberi perintah untuk mengejar.
Meski tiada busu yang berani membangkang, namun semangat tempur mereka sudah luluh mana berani merintangi musuh?
Tujuh di antara sepuluh orang hanya berkaok, serta berlari maju tanpa ada maksud menggasak musuh lagi, mereka hanya mengejar dari kejauhan, jadi seperti mengantar lawan pergi malah.
Lekas sekali murid-murid Kaypang itu sudah lari ke ujung pekarangan, mereka terpencar dalam beberapa rombongan kecil menyelinap di antara semak pohon atau rumpun kembang.
Dengan memejam mata In San juga bisa berlalu lalang didalam pekarangan ini tanpa kesasar, dia"
Tuntun tangan Tan Ciok-sing putar kayun menghindar orang banyak, belok kiri putar kanan, sebentar saja mereka sudah kembali ke Bu-linggoan.
Sekitar Bu-ling-goan ternyata sepi-sepi saja tiada bayangan wisu seorangpun.
Ternyata seluruh wisu keluarga Liong dikerahkan untuk menghadapi musuh yang menyerbu datang.
Bu-ling-goan terletak di suatu pojokan, disini tiada jejak musuh maka tiada wisu yang ditugaskan menjaga disini.
Setelah melewati air terjun di mulut gua, dengan ilmu mengirim suara gelombang panjang, perlahan Tan Ciok-sing berseru kedalam.
"Aku adalah Tan Ciok-sing. Toan-toako, bagaimana keadaanmu dengan Sia-cin Taysu?"
Kuatir orang didalam salah paham, sebelum masuk dia bersuara lebih dulu.
Tak nyana ditunggu sekian saat tidak memperoleh jawaban Toan Kiam-ping.
Pada hal didalam gelap gulita entah ada atau tidak penghuninya?
Tan Ciok-sing kaget, katanya lirih kepada In San.
"Hatihatilah, mari kita masuk bersama,"
Keduanya melolos pedang lalu menggeremet maju setapak demi setapak.
Tiba-tiba didengarnya seperti ada dengus pernapasan, waktu Ciok-sing angkat pedangnya ke depan, kemilau cahaya di ujung pedangnya seperti menerangi bayangan dua orang.
Keduanya duduk bersila seperti orang bersemedi.
"Apakah Toan-toako?"
Tanya In San. Tetap tiada reaksi, kedua orang itu sedikitpun tidak bergerak. Kejut Tan Ciok-sing bukan main.
"Mungkin mereka sudah mati bersama,"
Lekas dia keluarkan geretan api, serta maju mendekat, setelah jelas barulah lega hati mereka.
Kedua orang ini memang bukan lain Toan Kiam-ping dan Sia-cin Hwesio, mereka bersimpuh di tanah memejam mata, telapak tangan mereka saling genggam mirip padri tua yang samadi, begitu tenang dan asyiknya sampai kejadian di sekelilingnya seperti tidak diketahui lagi.
Uap putih tampak mengepul di atas kepala Toan Kiam-ping, keringat sebesar kacang tampak bertetesan dari jidat Sia-cin Hwesio, dengus napasnyapun berat.
Sebagai ahli silat sekali pandang Tan Ciok-sing lantas tahu bahwa Toan Kiam-ping tengah membantu Sia-cin Hwesio menyalurkan hawa murni dengan bantuan tenaga murninya yang disalurkan ke tubuh orang.
Bila darah mengental dalam tubuh sudah mencair, luka Sia-cin Hwesio akan jauh lebih ringan.
Kini mengerahkan lwekang mereka sudah mencapai taraf yang tergenting, sudah tentu mereka tidak bisa menjawab seruan Tan Ciok-sing.
Di samping senang "Ciok-sing merasa kaget pula.
Senang karena kedua orang ini masih hidup.
Kaget karena setelah mengalami pertempuran sengit berulang kali, Toan Kiam-ping masih mampu menolong Sia-cin Hwesio, keadaannya sendiri jelas juga sudah letih dan lemah.
Bila hawa murninya sampai terkuras, meki dia berhasil menghidupkan Sia-cin Hwesio dia sendiri pasti akan jatuh sakit berat.
Lekas Ciok-sing tekan telapak tangannya di punggung Sia-cin Hwesio, dengan ajaran lwekang yang dipelajarinya dari ciptaan Thio Tan-hong, dia salurkan segulung hawa hangat ke tubuh orang melalui Honghu-hiat di punggung.
Ajaran lwekang ciptaan Thio Tan-hong memang hebat dan mujarab hanya sekejap tampak Sia-cin Hwesio sudah membuka mata, mukanya yang pucat mulai bersemu merah.
Tan Ciok-sing berkata.
"Jiwa Sia-cin Taysu tidak perlu dikuatirkan lagi. Toan-toako, kau boleh istirahat,"
Toan Kiamping tahu akan kemampuannya, maka diapun hentikan usahanya.
Tan Ciok-sing masih melanjutkan bantuannya mendorong darah melancarkan pernapasan Sia-cin Hwesio.
Sesaat lagi Sia Cin Hwesio mengerang.
"Sudah, sudah cukup. Tenagaku sudah pulih sedikit. Biar kucoba, mungkin aku sudah bisa berjalan sendiri."
Tan Ciok-sing menekannya, katanya.
"Jangan terburu nafsu, nanti sebentar lagi kubantu kau menerjang keluar."
Sia-cin Hwesio bertanya.
"Bagaimana keadaan diluar, kau harus terus terang."
Toan Kiam-ping juga tanya.
"Kalian melihat Han Cin tidak?"
"Nona Han aku belum melihatnya, tapi aku tahu dia bersama Ti Tayhiap sudah menerjang kepungan lebih dulu, bantuan dari luar juga telah datang, yakin mereka tidak akan mengalami bahaya,"
Lalu Ciok-sing tuturkan keadaan diluar sepintas lalu. Sia-cin Hwesio menjadi gugup pula, katanya.
"Kalau demikian orang kita masih berada dalam kepungan musuh, saatnya memerlukan teraga, lekas kalian keluar bantu mereka."
"Melihat orang gelisah dan tidak tenang, terpaksa Toan Kiam-ping berkata.
"Baiklah kugendong kau."
Sia-cin sudah merangkak dan memungut tongkatnya, katanya.
"Jangan urus aku, aku bisa jalan sendiri,"
Setelah berdiri dia coba gunakan tongkatnya apa mampu jalan sendiri. Mendadak Tan Ciok-sing mendesis, katanya lirih.
"Diam, ada orang datang, kau sembunyi dulu,"
Tak lama kemudian betul juga ada suara orang melangkah ke arah gua.
Tan dan Toan amat kaget, yang datang sambil bicara adalah Lenghou Yong, jago nomor satu dari pengawal keluarga Liong.
Seorang lagi berkata.
"Meski sudah mati, aku juga ingin menemukan mayatnya,"
Orang ini adalah Liong Seng-bu.
Agaknya Liong Seng-bu tidak tahu kalau Tan Ciok-sing dan In San sudah lari ke penginapan untuk tamu-tamu Watsu disana, karena tidak menemukan In San, dia lantas menduga mungkin In San terbawa arus deras didalam penjara air.
Bu-ling-goan punya terowongan yang tembus ke penjara air, maka dia minta Lenghou Yong mengikuti dia masuk ke gua untuk memeriksa."
In San genggam pedang pusakanya sembunyi di tempat gelap, matanya menatap ke depan dengan perasaan tegang dan girang pula.
"kebetulan keparat ini antar jiwanya!"
In San menahan napas, dilihatnya Liong Seng-bu sudah dekat dari tempat persembunyiannya tak nyana tiba-tiba Lenghou Yong menariknya. Liong Seng-bu melengak, tanyanya.
"Ada apa?"
"Kongcu,"
Ujar Lenghou Yong tertawa.
"dugaanmu memang tidak keliru, ada orang sembunyi disini. Tapi entah dia pujaanmu bukan,"
Lalu dia menyalakan api serta membentak.
"Siapa sembunyi didalam, hayo lekas menggelinding keluar."
Ternyata napas Sia-cin Hwesio agak berat setelah terluka parah, Lenghou Yong ada meyakinkan lwekang tingkat tinggi, maka pendengarannya lebih tajam dari Liong Seng-bu, begitu menginjak mulut gua lantas dia tahu ada orang didalam.
Berdiri di samping Sia Cin Hwesio sambil menghunus pedang Toan Kiam-ping membentak.
"Lenghou Yong, kau ini terhitung jago kosen yang ternama, mengancam orang yang sudah terluka terhitung orang gagah macam apa, hayo keluar lawan aku seorang diri."
Lenghou Yong melirik, katanya tertawa besar.
"O, ternyata Toan-siauongya. Hehe, kau juga terluka. Tapi mengingat keberanianmu ini, akupun takkan melabrakmu, sekarang aku berlaku sopan saja, silakan kau tuntun Hwesio itu ikut aku."
"Kentutmu busuk,"
Maki Sia-cin Hwesio.
"Meski bapakmu terluka juga, aku akan adu jiwa dengan kau."
Mengkerut alis Lenghou Yong, katanya.
"Kalian tidak mau diperlakukan secara sopan, memangnya suka dijinjing keluar?"
Biasaaya dia amat pandang gengsi sendiri, betapapun dia tidak mau merendahkan derajat melabrak dua orang yang sudah terluka. Liong Seng-bu juga sudah tahu kalau Toan Kiam-ping terluka, pikirnya.
"Lenghou Yong jual mahal tahan gengsi segala, memangnya aku peduli amat,"
Maka dia berkata.
"Kalian sudah jadi tawananku, aku tidak peduli kau terluka atau tidak, kalian tidak mau keluar biarlah aku seret saja."
"Kunyuk busuk, kalau berani mari masuk,"
Maki Sia-cin Hwesio. Liong Seng-bu gusar, dampratnya.
"Keparat umpama kau ini seekor harimau, cakarmu juga sudah protol, memangnya aku takut padamu?"
Baru saja dia melangkah, mendadak Lenghou Yong menghardik.
"Awas Kongcu..."
Dalam sekejap itu Tan Ciok-sing dan In San sudah muncul dan menubruk maju dengan sepasang pedang menuding ke arah Liong Seng-bu.
Karuan kaget Liong Seng-bu serasa arwahnya copot dari badan kasarnya, teriaknya, dengan suara kelu.
"To... tolong..."
Sungguh lucu, tujuannya kemari adalah ingin mencari In San kini setelah orang yang dicarinya mendadak muncul disini, dia justeru kaget dan ketakutan sampai tak mampu bersuara.
Tidak malu Lenghou Yong sebagai jago kosen yang berpengalaman, meski menghadapi sergapan mendadak dia tetap tidak gopoh, reaksinya ternyata juga cukup tangkas.
Baru saja Liong Seng-bu mengeluarkan perkataan "tolong", mendadak terasa segulung tenaga lunak mendorong ke arahnya, berbareng pandangannya menjadi gelap.
Sebelum dia tahu apa yang telah terjadi, tahu-tahu tubuhnya sudah dijinjing Lenghou Yong ke samping.
Lenghou Yong sodorkan obor di tangannya ke arah muka In San, berbareng jarinya menjentik "Creng", ujung pedang orang diselentik pergi.
"Sret", cepat sekali pedang Tan Cioksing sudah mengincar Jian-kin-hiat. Di tengah kegelapan Lenghou Yong mendengarkan suara membedakan arah, sebat sekali kakinya pindah posisi seraya melontarkan sebuah pukulan, serangannya tetap ditujukan ke arah In San. Siang-kiam-hap-pik sebetulnya amat besar perbawanya, sayang mereka belum biasa bertempur berdampingan didalam gelap, meski hanya terpaut serambut saja, kekuatan sepasang pedang inipun dikorting banyak sekali, dengan cara suara di timur menggempur di barat, beruntun tiga jurus Lenghou Yong mencecar In San untuk membatasi serangan Tan Cioksing terhadap dirinya. Pertarungan adu jiwa, mau tidak mau dalam hati masingmasing agak gugup juga. Mendadak Lenghou Yong tersentak sadar, di samping masih ada seorang pembantu, maka dia berteriak.
"Kongcu, hayo lekas."
Rasa kaget Liong Seng-bu belum lenyap, dasar otaknya encer mendengar seruan Lenghou Yong segera dia tahu maksudnya.
Jelas dia tidak bisa ikut menggempur Tan dan In, dia juga tahu dalam waktu lama Lenghou Yong jelas bukan tandingan Tan dan In, apalagi bergebrak di gua yang gelap, sembarang waktu jiwa Lenghou Yong terancam, umpama dia bisa lari keluar minta bantuan, mungkin tidak sempat lagi.
Lenghou Yong menyuruhnya lekas, yakin bukan menyuruhnya lari, kalau disuruh lari tentu dia bilang lekas keluar.
"Ya, kenapa aku lupa ada dua orang yang sudah terluka disini,"
Liong Seng-bu berpikir.
"menghadapi dua orang yang telah payah masa aku tidak mampu, hehehe, asal satu telah kuringkus, dapat aku mengancam bocah keparat itu supaya tunduk padaku. Setelah keluar dari gua ini, In San budak busuk itupun akan tergenggam dalam telapak tanganku."
Batu berserakan didalam gua, setelah berkeputusan Liong Seng-bu lantas mendekam serta merunduk maju.
Dia tahu Sia-cin sudah terluka parah, maka dia bertujuan membokong Sia-cin lebih dulu.
Tak tahunya meski terluka parah dan Kungfunya sudah hampir lenyap, tapi Sia-cin cukup berpengalaman.
Sejak tadi dia sudah siap dan berjaga bila ada orang membokong dirinya, sengaja dia pura-pura tidak tahu setelah Liong Sengbu merandek ke dekatnya, barulah mendadak dia angkat tongkatnya menggebuk seraya membentak.
"Dari mana datangnya anjing buduk hendak menggigit orang."
Mau membokong malah terbokong Liong Seng-bu sama sekali tidak menduga, karena tidak siaga tongkat orang mengenai tubuhnya dengan telak.
Sayang Sia-cin terluka parah, tenaganya lemah, meski gebukan tongkatnya itu sudah kerahkan setaker tenaga, Liong Seng-bu memang kesakitan luar biasa, tapi dia tidak terluka berat.
Malah karena dia terlalu bernafsu, begitu tongkatnya terayun dia sendiripun terjerembab.
Begitu meletik bangun Liong Seng-bu berjingkrak gusar, makinya.
"Bangsat gundul, kematian di depan mata masih berani mengganas,"
Pedang dihunus terus menusuk.
"Trang"
Toan Kiam-ping ulur pedangnya menangkis. Bentaknya.
"Berani kau melukai Sia-cin Hwesio kurenggut dulu nyawamu."
Liong Seng-bu tahu dari benturan pedang barusan bahwa tenaga Toan Kiam-ping juga bukan tandingannya, segera dia tertawa jumawa, katanya.
"Jiwamu sendiri belum tentu kau bisa selamatkan masih berani bermulut besar?"
"Sret"
Sebelum dia bicara habis Toan Kiam-ping sudah menusuknya dari arah yang tidak terduga, terdengar suara robek lengan baju Liong Seng-bu kena ditabasnya kutung.
Diam-diam Toan Kiam-ping gegetun, sayang tenaganya lemah sehingga tusukan pedangnya ini kurang cepat dan terpaut setengah dim pasti lengan lawan ditabasnya kutung.
Kepandaian silat Liong Seng-bu sekarang juga sudah mencapai taraf tertentu, setelah rasa kagetnya hilang, segera dia sadar.
"Tenaganya lebih payah dari tadi, jelas keadaaanya seperti dian yang sudah kehabisan minyak. Hm, kenapa aku gentar terhadapnya?"
Setelah mundur Liong Seng-bu mendesak maju, jengeknya.
"Diberi tidak membalas tidak hormat, kau kira tuan mudamu takut kepada kau sambut seranganku"
"Sret, sret, sret"
Beruntun tiga kali pedangnya menggempur, gaya pedangya enteng dan lincah, ternyata kemahirannya sudah berbeda dari dulu.
Toan Kiam-ping harus kerahkan seluruh tenaga dan kemahirannya baru berhasil punahkan tiga rangkai serangan pedang, dalam hati dia terheran-heran.
"Dari mana ilmu pedang keparat ini mendadak begini liehay?"
Seperti diketahui tiga tahun yang lalu dari tangan Tan Cioksing, pernah Liong Seng-bu merebut se
Jilid kitab ilmu pedang ciptaan Thio Tan-hong, buku ilmu pedang itu sebetulnya dititipkan kepada In Hou oleh Thio Tan-tong supaya diserahkan kepada muridnya Toh Thian-tok di Thian-san.
Menjelang ajalnya In Hou serahkan buku itu kepada Tan Cioksing, waktu itu Liong Seng-bu merangkul Tan Ciok-sing, suatu kesempatan sebelum Ciok-sing sempat menyampaikan buku itu telah direbutnya.
Akhirnya buku itu memang berhasil direbut kembali oleh Ciok-sing, namun Liong Seng-bu sudah sempat mempelajarinya beberapa jurus.
Setelah layani permainan pedang beberapa jurus, terasa oleh Toan Kiam-ping permainan ilmu pedang lawan tingkat tinggi, tapi bolak-balik hanya beberapa jurus itu juga, sayang tenaga sendiri sudah teramat lemah, sehingga tidak mampu dia mematahkan permainan lawan, mau tidak mau dia mengeluh dalam hati.
"Keadaanku sekarang tak ubahnya seekor naga yang sudah payah dipermainkan seekor udang di sungai yang dangkal. Harimau kesasar di kampung digonggong anjing,"
Di samping tenaga semakin lemah dia harus perhatikan pula keselamatan Sia-cin Hwesio, karuan pikirannya semakin kacau. Saking senang Liong Seng-bu membentak.
"Menyerah saja." --"Sret"
Pedangnya menusuk Hong-hu-hiat di punggung Toan Kiam-ping.
Tak tahunya, ibarat cengcorang hendak menangkap tonggeret, tidak tahu burung gereja berada di belakangnya.
Sebelum ujung pedangnya menyentuh kulit punggung Toan Kiam-ping, tahu-tahu terasa punggung sendiri terasa dingin, ternyata pedang In San sudah mengancam Hong-hu-hiat di punggung sendiri.
Ternyata Tan Ciok-sing menempuh bahaya melancarkan serangan maut menandingi rangsakan Lenghou Yong, sehingga In San sempat mundur untuk membekuk Liong Seng-bu.
Setelah meringkus musuh besarnya In San tertawa ejek.
"Bangsat kecil sekarang kau tahu keliehayan kita?"
Liong Seng-bu bergidik, katanya gemetar.
"Adik San, keluargaku menganggapmu sebaik itu, mohon kau mengingat hubungan dahulu..."
Saking murka berdiri alis In San, dampratnya.
"Mending kau tidak menyinggung hubungan masa lalu, sekali kau angkat pula urusan lama, kugorok putus lehermu."
"Ya, ya, tidak berani."
Liong Seng-bu munduk-munduk.
"apa kehendakmu pasti kulakukan."
"Suruhlah Lenghou Yong menggelinding keluar,"
Bentak In San. Terpaksa Liong Seng-bu menurut perintah, serunya.
"Lenghou-siansing, sukalah kau pandang mukaku, keluarlah lebih dulu."
Pada hal Lenghou Yong sudah berada di atas angin, tapi apa boleh buat terpaksa dia menghentikan pertempuran, bentaknya.
"Berani kau menganiaya Kongcu, jangan harap kalian bisa keluar dari kebon ini."
"Coba buktikan saja nanti,"
Jengek Tan Ciok-sing, In San serahkan Liong Seng-bu kepada Tan Ciok-sing, lalu dia membalik bantu Toan Kiam-ping memapah Sia-cin Hwesio. Sia-cin Hwesio tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Jangan takut, tak usah kuatir, aku takkan mati disini. Sungguh menyenangkan, keparat ini hendak menawanku sebagai sandera, kini sebaliknya dia jadi sandera kita."
Dia tidak mau dipapah, menggunakan tongkatnya dia ikuti In San keluar dari gua.
Tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa Lenghou Yong lari memberi laporan kepada junjungannya.
Setelah berada diluar gua, terdengar suara pertempuran masih berlangsung dengan gaduhnya agaknya pertempuran berjalan semakin sengit.
In San tahu siapa yang paling diperhatikan Toan Kiam-ping, maka dia berkata.
"Toan-toako, mari kita cari dulu Han-cici."
Tapi dimana-mana ada pertempuran, entah dimana Ti Nio dan Han Cin lagi berhantam?
Di tengah kegaduhan pertempuran yang memenuhi seluruh pelosok taman besar ini, tiba-tiba terdengar bunyi seruling yang merdu menusuk pendengaran, Tan Ciok-sing girang, katanya.
"'Kek Lam-wi ada disana, dia sedang mencari Susioknya, nona Han berada bersama Susioknya kemungkinan mereka ada disana juga. Mari kita serbu kesana."
Dugaannya memang tidak meleset, Kek Law-wi memang ingin kontak dengan sang Susiok melalui suara serulingnya.
Pada saat itu pula, beberapa jalur kembang api berwarna biru benderang sama menjulang ke angkasa, kaget dan senang hati Tan Ciok-sing, pikirnya.
"Sekaligus kembang api berpijar di angkasa, pasti ada bantuan dari teman-teman yang baru datang telah tiba,"
Dari kejauhan Tan Ciok-sing belum melihat jelas, tapi Kek Lam-wi sudah melihat Susioknya.
Di bawah penerangan kembang api yang menyala di angkasa itu, Kek Lam-wi melihat Susioknya sedang berhantam melawan Milo Hoatsu.
Sementara Han Cin berada tak jauh di samping Ti Nio.
Ternyata Milo Hoatsu pimpin sisa busu yang ada bergabung dengan anak buah Liong Bun-kong, kekuatan mereka dibagi rata untuk membendung musuh yang menyerbu datang, maka terjadilah pertempuran terbuka yang lebih keras dan ramai.
Kalau pihak Pat-sian mendapat bantuan, pihak Liong Bunkong juga kedatangan bantuan yang lebih kuat.
Menekuk pinggang bergaya seperti petani bercocok tanam di ladang sebat sekali tiba-tiba Ti Nio membresot ke samping, telapak tangannya menabas melintang setajam golok tubuhnya berkelebat dari bawah roda rembulan musuh, tangannya membacok ke lutut Milo Hoatsu.
Serangan ini memaksa lawan membebaskan diri dari ancaman bahaya, terpaksa Milo Hoatsu tarik roda mataharinya yang menyerang keluar.
Kepandaiannya sudah mencapai taraf sesuka hati menggunakan senjata, pada hal gempuran roda matahari sekeras itu, tapi secara mentah-mentah dia kuasa menariknya mundur, hal ini sungguh diluar dugaan Ti Nio.
"Bret"
Lengan baju Ti Nio tergores sobek oleh ujung roda yang tajam.
Tapi tidak mundur Ti Nio malah mendesak maju, telapak tangannya membelah dada lawan, inilah cara bertempur gugur bersama.
Kuatir roda rembulan saja tidak kuasa melawan gempuran musuh, terpaksa Milo Hoatsu tarik roda matahari untuk melindungi badan.
Dengan merangsak Ti Nio membela diri, yakin Milo Hoatsu tidak berani adu jiwa dan gugur bersama, sehingga orang memunahkan serangan berbahaya ini, dalam hati padahal diapun bersyukur.
Walau Milo Hoatsu seurat lebih unggul, mau tidak mau dia merasa kagum juga.
"Sungguh tak nyana ada pula seorang yang mampu melawan sepasang rodaku dengan bertangan kosong. Pengemis tua itu adalah Kaypang Pangcu, dia memiliki Kungfu setinggi itu meski berada diluar perhitunganku, namun tidak perlu dibuat heran. Entah siapa laki-laki tua ini? Ai, agaknya tidak sedikit orang pandai di Tionggoan."
Secepat kilat kedua pihak saling berhantam dengan melancarkan serangan maut, namun tiada salah satu yang tersentuh luka.
Tapi Ti Nio melawan dengan tangan kosong, bagaimanapun dia di pihak yang dirugikan.
Dia tahu dalam tiga puluhaan jurus, dirinya masih kuat menandinginya, tapi selewat tiga puluh jurus sukar diramalkan.
Melihat sang Susiok menghadapi bahaya, lekas Kek Lam-wi memburu tiba, langsung dia timpukkan serulingnya sembari berteriak.
"Susiok, serulingku ini tak bisa rusak, gunakanlah."
Ti Nio tahu Loan-giok-siau ini adalah seruling pusaka, dengan seruling berada di tangan, semangat tempurnya membara, dari bertahan lekas dia menyerbu dengan sengit.
Seruling beradu dengan roda menerbitkan rentetan suara nyaring, meski tajam gigi roda lawan, tapi seruling ternyata utuh tidak kurang sedikitpun.
Tapi ini lantaran Iwekang Ti Nio setanding dengan lawan, kalau Kek Lam-wi sendiri yang menggunakan, seruling itu pasti tergetar lepas dari cekalannya.
Setelah masing-masing memakai senjata pertempuran setanding dan sama kuat.
Ti Nio kembangkan ilmu tutuk tingkat tinggi, seruling digunakan sebagai potlot sekaligus dia menggebu dan puluhan jurus tanpa ganti napas.
Tapi setapakpun Milo Hoatsu tak mau mundur, kedua"
Rodanya berputar dengan kencang dan serasi, membela diri juga balas menyerang, rangsakan Ti Nio dilawannya dengan gagah dan berani.
Menghadapi musuh tangguh yang baru pertama kali ini dihadapi selama hidup, sudah tentu Ti Nio tak sempat hiraukan persoalan lain, dilihatnya busu Watsu datang berbondong, lekas dia berteriak.
"Kek-hiantit nona Han kuserahkan kepadamu, lekas kau bawa dia lari, jangan hiraukan aku."
Kek Lam-wi cerdik dan pandai bertindak, ini diketahui oleh Ti Nio, dalam keadaan segenting ini dia titip Han Cin supaya dilindungi, adalah suatu hal yang jamak dan sepantasnya, hal ini sebetulnya tidak perlu dibuat heran, tapi anehnya nada perkataannya seolah-olah menganggap Han Cin sebagai putri kandungnya sendiri.
Tergerak hati Han Cin, tapi mengingat Ti Nio adalah sahabat baik ayahnya, keadaanpun sedemikian tegang, tiada waktu dia menelaah perkataan Ti Nio.
Pada waktu itulah kebetulan dia mendengar suitan panjang Tan Ciok-sing, teriaknya girang.
"Agaknya Tan toako telah datang."
Kek Lam-wi pasang kuping mendengarkan, katanya.
"Betul itulah suitan Tan-toako. Nona Han, mari ikut aku,"
Ternyata suitan Tan Ciok-sing mengalun turun naik mengikuti irama lagu, Han Cin dan Kek Lam-wi paham ajaran musik maka sekali dengar lantas mengenalinya.
Han Cin sudah lari ke depan Kek Lam-wi, waktu Kek Lamwi menoleh dia berseru heran teriaknya.
"Adik So, untuk apa kau masih berdiri disitu, lekas kemari."
Toh So-so tersentak sadar, katanya.
"Perhatikan Han-cici dan lindungi dia, segera aku datang,"
Agaknya waktu mendengar pesan Ti Nio kepada Kek Lam-wi yang menitipkan Han Cin, perasaan Toh So-so jadi tidak karuan.
"Apa maksud Ti-locianpwe dengan pesannya itu?"
Demikian dalam hati dia bertanya-taya. Lekas sekali Poyang Gun-ngo sudah memburu datang, lebih dulu dia mencegat Kek Lam-wi serta membentak.
"Anak bagus, tadi kau beruntung dapat lolos, kini jangan harap bisa lari? Kalau berani hayo lawan aku,"
Dengan jurus Pek-hongkoan-jit pedangnya itu sungguh mirip bianglala, dalam sekejap, Kek Lam-wi dan Han Cin sudah terkurung dalam cahaya pedangnya.
Seruling Kek Lam-wi sudah diberikan kepada Ti Nio, kini dia tidak bersenjata, dengan bertangan kosong, mana dia mampu melawan Poyang Gun-ngo?
Hanya beberapa gebrak saja keadaannya sudah terdesak di bawah angin, pernah sejurus serangan lawan hampir memapas kutung jari-jarinya.
Han Cin mainkan cambuknya bantu menghalau serangan lawan, tapi tenaganya lemah, bantuannya tidak berarti bagi Kek Lam-wi.
Melihat sang pujaan menghadapi bahaya, Toh So-so tidak pikirkan lagi soal jelus segala, lekas dia memburu kemari, Ceng-kong-kiam dia berikan kepada Kek Lam-wi, dia sendiri menggunakan golok melawan musuh.
Pedang ada di tangan seperti harimau tumbuh sayap, beruntun Kek Lam-wi lancarkan tiga jurus serangan, ujung pedangnya mengincar hiat-to mematikan di tubuh Poyang Gun-ngo, kini situasi agak mending karena dia mampu melawan dengan mantap.
Walau pedang panjang ini tidak seampuh serulingnya, dengan kekuatan tiga orang sekuatnya masih bertahan beberapa kejap lagi.
Tapi kalau Kek Lam-wi dibantu dua nona, Poyang Gun-ngo juga kedatangan bantuan.
Hanya menonton sekejap Toa-kiat lantas tahu kedua nona ini sudah lemah tenaganya, meski berkepandaian lumayan, yakin mereka bukan tandingan dirinya.
Maka dia suruh kawanan busu lainnya melingkari arena supaya"
Lawan tidak melarikan diri dan untuk menjaga bila lawan kedatangan bantuan, seorang diri dengan tongkat besarnya dia masuk ke arena. Toa-kiat bergelak tawa, serunya.
"Dua nona secantik ini mengantar kematian, sungguh harus dibuat sayang. Hehe, aku orang beribadah mengutamakan kebajikan, biarlah aku yang membacakan doa mengantar arwah kalian."
Tongkatnya dikeprukan di tengah-tengah pertempuran, sehingga Toh dan Han dipisahkan dengan Kek Lam-wi.
Betapa pun mereka melabrak dengan nekat sudah tidak mampu lagi bergabung dengan Kek Lam-wi.
Seorang diri Kek Lam-wi tetap bertahan, namun sepuluh jurus kemudian dia sudah terdesak di bawah angin.
Toh dan Han berdua melawan Toa-kiat lambat laun merekapun kepayahan.
Han Cin amat gelisah, pikirnya.
"Tadi jelas kudengar suitan Tan-toako, kenapa belum juga dia kemari bersama ln-cici."
Mana dia tahu Tan Ciok-sing mendatangi sambil menggusur Liong Seng-bu.
Karena dia menelikung tuan muda keluarga Liong, sudah tentu kawanan wisu itu tiada yang berani menghadangnya, semua minggir memberi jalan, namun berjalan menggusur tawanan tidak bisa mengembangkan ginkang.
Semburan kembang api masih terus berledakan di atas udara taman besar itu, mendadak di ujung taman sana tampak jago merah berkobar semakin besar.
"Celaka, kawanan rampok membakar rumah."
"Aduh celaka, kelihatannya Bing-cu-khek yang terjilat api,"
Para wisu keluarga Liong berteriak-teriak dan semuanya memburu kesana dengan rasa ketakutan.
Maklum Bing-cukhek adalah tempat kediaman Liong Bun-kong.
Tan Ciok-sing sudah mendatangi sambil menggusur Liong Seng-bu, karena tangan ditelikung kesakitan Liong Seng-bu gembar-gembor.
"Maknya dirodok, Tan Ciok-sing, mana boleh kau gunakan cara ini atas diriku? Tahukah kau bila aku mati, kalian jangan harap bisa hidup."
Mendengar makian kotor dan Liong Seng-bu mogok jalan terpaksa Tan Ciok-sing menutuk hiat-tonya dan mengempitnya di bawah ketiak. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.
"Tuan muda besar, sudah cukup kau hidup foya-foya, tiba saatnya kaupun harus mencicipi apa yang dinamakan menderita dan tersiksa. Hanya tersiksa seringan ini kau tidak akan mampus."
Di tengah cahaya kobaran api tampak dua laki-laki baju hitam berlari kencang mendatangi. Melihat Tan Ciok-sing mengempit seseorang, mereka tampak senang dan kaget, tanpa janji mereka berseru.
"Yang kau bekuk apakah Liong Seng-bu si bangsat kecil itu?"
"Betul,"
Sahut Tan Ciok-sing.
"siapa kalian,"
Mulut menjawab kaki terus memburu kesana membantu Kek Lam-wi yang terdesak.
Pedang Poyang Gun-ngo sedang menusuk ke ulu hati Kek Lam-wi, gerakan fdan gaya serangannya amat berbobot dan keras.
Tan Ciok-sing segera ayun tubuh Liong Seng-bu sebagai tameng disodorkan ke ujung pedang musuh, bentaknya.
"Kalau berani, tolong kau bunuh keponakan Liong Bun-kong ini."
Perlu diketahui Liong Bun-kong tidak punya anak, keponakan satu-satunya ini sudah dipandangnya seperti anak kandung sendiri, sudah lama dia ingin mewariskan segala miliknya kepada sang keponakan tersayang ini.
Padahal Poyang Gun-ngo adalah seorang tamu asing, tapi pihak Watsu masih memerlukan bantuan Liong Bun-kong untuk mencapai cita-cita, mana berani Poyang Gun-ngo melukai keponakan Liong Bun-kong?
Lekas dia tarik dan urungkan tusukan pedangnya.
Untung permainan pedangnya sudah amat tinggi dan dikuasainya dengan baik, dalam waktu singkat dan mendadak lagi, syukur ujung pedangnya hanya menusuk bolong dan merobek pakaian Liong Seng-bu saja.
Gebrakan ini berlangsung sangat cepat.
Setelah membebaskan bahaya yang mengancam Kek Lam-wi, barulah dia mendengar jawaban kedua laki-laki baju hitam atas pertanyaannya tadi.
"Kami adalah anak buah Kim-to Cecu."
Han Cin pernah tinggal di markas Kim-to Cecu, kedua lakilaki itu mengenal dia, sembari menjawab pertanyaan Tan Ciok-sing mereka memburu ke arah Han Cin.
"Trang"
Tongkat Toa-siu tahu-tahu kena ditahan oleh golok dan pedang lakilaki itu, telapak tangan tergetar cekalan hampir terlepas, lekas dia mencelat jumpalitan.
Meski sebat dia mengundurkan diri, tak urung pedang Toh So-so menggurat luka panjang di lengan kirinya.
Sementara itu In San juga sudah memburu tiba.
Senang dan kejut hati In San, serunya.
"Sim-toako, Ciutoako, kiranya kalian juga datang, sungguh menyenangkan."
Kedua laki-laki bernama Sim Lan dan Ciu Hok, mereka adalah dua Toa-thaubak dari anak buah Kim-to Cecu yang berkedudukan paling tinggi.
Atas perintah Kim-to Cecu mereka disuruh menyusul ke kota raja dengan tugas membujuk Wicui-hi-kiau supaya membatalkan rencananya yang terlalu berbahaya.
Sayang sudah beberapa hari lamanya mereka tak berhasil mengadakan kontak.
Tapi ada juga orang pihak mereka yang diselundupkan kedalam keluarga Liong, selain memperhatikan gerak-gerik keluarga Liong.
Kegaduhan yang terjadi dalam gedung keluarga Liong dari jauh bisa terdengar, maka mereka lantas tahu bahwa Pat-sian sudah angkat senjata melabrak orang-orang keluarga Liong.
Karena gagal untuk membujuk terpaksa mereka melaksanakan rencana kedua, yaitu mengumpulkan orang-orang mereka yang ada di kota raja untuk membantu dan menyambut dari luar.
Kebakaran yang terjadi di Bing-cu-khek adalah perbuatan mereka yang menyulut api.
Di saat rombongan orang-orang gagah mulai bergabung dan siap menerjang keluar kepungan mendadak dari luar terdengar suara sorak sorai yang gegap gempita.
Di atas sebuah gunungan tampak Ciok Khong-goan mengangkat sebatang obor, dengan suara lantang dia berteriak.
"Kalian tidak usah gelisah, Gi-lim-kun sudah dikerahkan kemari untuk membekuk kawanan rampok lekas kalian kembali ke posisi masing-masing, sebagian lekas menolong kebakaran."
Sebetulnya untuk mengerahkan pasukan Gi-lim-kun harus minta izin dari raja, tapi Liong Bun-kong adalah sekretaris militer, Kiu-bun-te-tok yang berkuasa lagi, kedudukannya amat disegani, diketahui pula Duta Watsu sedang bertamu di rumahnya, hal ini diketahui oleh komandan Gi-Iim-kun, maka begitu dia mendengar kabar, segera dia kerahkan seribu pasukan Gi-lim-kun mengepung rumah keluarga Liong hendak menangkap perampok, prosedur boleh diurus belakangan, pokoknya musuh harus diringkus dulu.
Tapi komandan Gi-lim-kun Bok Su-kiat adalah laki-laki yang berpendirian teguh dan kukuh melihat api berkobar dalam taman, dia menduga pertempuran didalam pasti acak-acakan.
Meski luas taman kembang Keluarga Liong, kalau seribu pasukan Gi-lim-kun juga dikerahkan kedalam bukan mustahil orang sendiri bisa saling bunuh dan terinjak-injak.
Sebagai komandan dia pandai memimpin pasukan, sebelum situasi jelas, terpaksa dia bersikap tenang dan siap bertindak bila perlu.
Maka dia susun barisan diluar gedung keluarga Liong, bila kawanan brandal keluar satu persatu akan dipanah mati atau ditusuk mampus.
Sudah tentu diapun menyerukan supaya kawanan brandal meletakkan senjata, menyerah tanpa syarat.
Ciok Khong-goan meniup terompet yang menyampaikan perintah, serunya di atas gunungan.
"Kalian dengarkan pasukan Gi-lim-kun sudah kepung taman ini, kalian jelas takkan bisa melarikan diri. Bok-jongling ada perintah, lekas kalian letakkan senjata dan menyerah, jiwanya akan diampuni dan dihukum ringan."
Kaypang Pangcu Liok Kun-lun segera melompat ke atas sebuah gunungan lain, serunya lebih lantang.
"Kentutmu busuk, kaupun dengarkan, majikan muda kalian sudah berada di tangan kita, kalau kami tidak diberi jalan keluar, biar kugorok dulu lehernya. Baru kita akan adu jiwa, membelek Liong Bun-kong dan membunuh apa itu Duta Watsu segala."
Lwekangnya amat tangguh suaranya disiarkan dengan ilmu mengirim suara gelombang panjang sehingga suaranya tersiar sampai jauh bukan saja menelan suara keributan dalam taman demikian pula Liong Bun-kong yang buru-buru menyelamatkan diri dari Bing-cu-khek juga mendengar suaranya.
Kebat kebit hati Liong Bun-kong, pikirnya.
"Kawanan brandal itu tidak tahu aturan berani melawan hukum, bila nekad dan adu jiwa, perbuatan apa saja yang tidak berani mereka lakukan, jelas aku takkan bisa tidur tenteram."
Waktu di Bing-cu-khek hampir saja dia tertusuk oleh In San rasa kejut dan takutnya belum lenyap, maka lekas dia suruh Lenghou Yong menyampaikan maksud hatinya.
Ternyata Lenghou Yong tampil sebagai penengah, serunya.
"Persoalan bisa dirundingkan, apa kehendak kalian, aku bisa wakilkan kalian menyampaikan kepada Liong-tayjin."
Liok Kun-lun berkata.
"Kupinjam majikan muda kalian untuk antar kami keluar kota. Gi-lim-kun dilarang menguntit, setiba diluar kota, kita akan bebaskan dia."
Berkerut alis Lenghou Yong, katanya.
"Kalau kalian ingkar janji, bukankah pihak kita yang dirugikan?"
"Kentutmu busuk,"
Damprat Liok Kun-lun.
"memangnya kau kira kita ini manusia rendah budi macam kalian yang punya pangkat?"
Kuatir sang paman menolak syarat mereka, itu berarti jiwa sendiri bakal terancam lekas Liong Seng-bu berseru.
"Lenghou-siansing, aku tahu mereka adalah orang-orang gagah aku membenci mereka, tapi aku boleh percaya perkataan mereka. Tolong sampaikan kepada paman, percayalah kepada mereka."
"Aku percaya kalian pasti menepati janji, tapi urusan besar dan sepenting ini, aku tidak berani ambil putusan sendiri. Begini saja, kalian mengutus dua orang ikut aku berunding langsung dengan Liong-tayjin."
Liok Kun-lun undang orang banyak diajak berunding, Coh Ceng-hun berkata.
"Mungkin hanya muslihat mereka, kita harus waspada, jangan kena tipu."
"Hal itu jelas harus dibuat pikiran. Tapi keponakan bangsat tua berada di tangan kita, yakin dia takkan berani berbuat senekat itu. Menurut pendapatku, dikuatirkan pihak Gi-lim-kun campur tangan, dia minta berunding dari tiga pihak."
"Keparat ini kuringkus bersama Tan-toako,"
Demikian timbrung In San.
"biar kami berdua yang berunding dengan mereka. Memang kami bertujuan menuntut balas kepada bangsat tua she Liong, kalau perundingan berjalan lancar ya sudah, kalau gagal bersama Tan-toako kami pasti akan melabraknya, bila perlu biar gugur bersama."
Liok Kun-lun tahu hubungan ln San dengan Liong Bunkong, diapun sudah saksikan wibawa gabungan ilmu pedang sepasang muda mudi ini, maka dia terima usul mereka.
Lenghou Yong bawa mereka memasuki sebuah ruangan, tampak Liong Bun-kong bersama Milo Hoatsu sudah menunggu didalam.
Ruang ini amat besar, tapi pajangan amat sederhana, di tengah hanya terdapat sebuah meja panjang.
Liong Bun-kong duduk di ujung meja yang satu, sementara Milo Hoatsu dan Lenghou Yong duduk di kanan kirinya, di belakangnya adalah pintu angin yang dipasangi alat rahasia.
Sementara Tan dan In duduk di tempat yang sudah mereka tentukan di ujung meja yang lain.
Agaknya dia takut berhadapan dengan Tan Ciok-sing berdua maka perundingan telah diatur sedemikian rupa, meski dilindungi dua jagoan kosen tapi hatinya belum lega.
Berhadapan dengan musuh semasa berkobar sorot mata In San.
Beradu pandang dengan sorot matanya lekas Liong Bunkong melengos dengan hati bercekat, dengan tawa dipaksakan dia berkata.
"Anak San, kau sudah tumbuh setinggi ini, kau tahu selamanya aku pandang kau sebagai putriku sendiri kuharap kau tidak terlalu mencari kesulitan padaku."
Dingin suara In San.
"Ayahku adalah pendekar besar yang kenamaan di kolong langit umpama aku tidak kenal bakti, memangnya sudi aku mengangkat bangsat sebagai ayah. Tapi kedatanganku sekarang bukan untuk membicarakan soal pribadi, dendam lama biarlah dikesampingkan dulu. Hm, tapi kalau kau ingin membicarakan soal dahulu, biar kubunuh dulu keponakanmu, baru kubuat perhitungan lama dengan kau."
Di samping takut Liong Bun-kong jadi serba runyam, terpaksa dia alihkan pandangannya, katanya kepada Tan Cioksing.
"Baik, baik, kita hanya membicarakan urusan dinas. Kabarnya kau adalah cucu Tan Khim-ang, usiamu semuda ini, tapi nyalimu begitu besar."
"Liong-tayjin terlalu sungkan. Bicara soal nyali masa aku dapat dibandingkan dengan engkau."
Liong Bun-kong melcngak, dia tidak paham apa maksud perkataannya, tapi mendengar orang memanggil "Liongtayjin"
Padanya, memuji dirinya bernyali besar pula, hatinya agak senang dan terhibur, dalam hati dia berpikir, kiranya pemuda ini juga kenal sopan santun.
Diluar dugaan Tan Ciok-sing melanjutkan perkataannya.
"Berintrik dengan musuh menjual negara dan bangsa, pasti akan dicaci maki oleh jutaan manusia, betapa besar nyali Liong-tayjin kau berani menjual negara dan bangsa, jangan kata aku tidak berani dibandingkan, yakin di kolong langit tiada orang yang berani menandingi Liong-tayjin."
Merah padam muka Liong Bun-kong, tapi kuatir perundingan ini gagal, tak berani dia mengumbar amarah. Setelah batuk-batuk kering dia berkata.
"Betapa jerih payah Lohu bekerja demi kepentingan negara, meski kujelaskan yakin kalian tidak akan mengerti. Tapi sekarang bukan saatnya perang mulut, bagaimana tujuan dan maksud kalian, marilah kita bicarakan bersama."
"Nanti dulu,"
Tiba-tiba Milo Hoatsu goyang tangan, lalu mulutnya nyerocos berbahasa Watsu bicara dengan Liong Bun-kong.
Ternyata Milo Hoatsu memberitahu kepada Liong Bun-kong bahwa surat perdamaian itu telah terjatuh ke tangan lawan.
Kali ini Liong Bun-kong benar-benar berjingkrak kaget, sesaat lamanya dia melongo, tak tahu bagaimana harus ambil putusan.
Lenghou Yong memberi tanda kedipan mata lalu dengan bahasa Watsu dia bicara dengan Milo Hoatsu.
In San bisa mendengar sedikit bahasa Watsu, didengarnya mereka membicarakan tokoh-tokoh penting dari Pat-sian serta dikatakan bahwa surat perdamaian itu jelas sukar direbut kembali.
Seperti diketahui Wi-cui-hi-kiau telah meloloskan diri dari gedung keluarga Liong.
Kedatangan Milo Hoatsu kemari bertujuan mencegah Liong Bun-kong menyerah kepada musuh terpaksa tidak bisa bertindak apa-apa lagi.
"Kalian sudah habis berunding belum, aku tiada tempo menunggu lama-lama,"
Desak Tan Ciok-sing. Setelah mendapat persetujuan Milo Hoatsu, Liong Bun-kong berkata.
"Baiklah, apa syaratmu coba terangkan."
Tan Ciok-sing mengulang tuntutannya serta menjelaskan pelaksanaannya. Liong Bun-kong mengerutkan kening, katanya.
"Syarat yang kalian ajukan itu, aku harus mohon persetujuan komandan Gi-lim-kun yaitu Bok-tayjin,"
Lalu dia suruh bawahannya pergi memanggil komandan Gi-lim-kun Bok Sukiat.
Sejak tadi Bok Su-kiat sudah masuk ke rumah keluarga Liong, kini dia sedang menunggu di kamar sebelah, lekas sekali dia sudah memasuki ruang perundingan.
Sekarang dia sudah jelas siapa saja orang-orang yang dipandang sebagai kawanan brandal yang menyerbu ke rumah keluarga Liong ini, diapun tahu Liong Seng-bu sudah menjadi tawanan musuh.
Kawanan brandal ini hakikatnya bukan kaum gelandangan yang acak-acakan dan tidak terpimpin, mereka adalah pentolan silat yang punya nama dan kedudukan di kalangan Kangouw.
Tapi berhadapan dengan Tan Ciok-sing yang masih begini muda, dia menganggapnya sebelah mata.
Begitu memasuki ruang sidang, matanya menjelajah seluruh hadirin, dia purapura tidak tahu siapa Tan dan In berdua, katanya.
"Siapakah Siocia ini..."
Lenghou Yong memperkenalkan.
"In-lihiap ini adalah cucu almarhum In-conggoan In Jong."
Bok Su-kiat tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Kalau demikian, bukan terhitung orang luar. Nona In, kakekmu dulu juga pernah menjabat komandan Gi-lim-kun seperti aku sekarang, hitung-hitung masih terhitung angkatan tuaku. Dulu akupun sekolega dengan ayahmu."
"Sayang jalan yang ditempuh Bok-tayjin tidak sehaluan dengan ayah, maaf aku tidak berani,"
Setelah basa-basi ala kadarnya dengan In San, Bok Su-kiat berpaling kearah Tan Ciok-sing, katanya.
"Pemuda gagah ini adalah..."
Kembali Lenghou Yong menerangkan serta memberitahu kedudukannya sekarang dalam perundingan ini, dijelaskan pula bahwa Tan Ciok-sing adalah murid penutup pendekar besar Thio Tan-hong.
Barulah sikap jumawa Bok Su-kiat agak berubah, katanya.
"Jadi engkoh cilik ini adalah murid Thio Tayhiap, aku kurang hormat jadinya."
Sengaja dia ulur tangan ajak berjabat tangan. Tahu orang sengaja hendak menjajal dirinya, namun Tan Ciok-sing tidak gentar, diapun ulur tangan sambil berkata tawar.
"Tayjin terlalu mengagulkan diriku, terus terang dalam perguruan aku baru masuk satu hari."
Begitu tangan saling genggam kontan Tan Ciok-sing rasakan segulung tenaga lunak yang kuat menerjang Siauyang-king-meh di tangannya, karuan hatinya bercekat.
"Keparat ini memang memiliki kepandaian yang boleh dibanggakan, tak heran dia bisa menjabat komandan Gi-limkun. Tapi dengan bekal ilmunya ini, jangan harap kau dapat melukai Ki-king-pat-meh dalam tubuhku."
Saling jajak ilmu secara diam-diam ini, meski Tan Ciok-sing merasa kaget.
Bok Su-kiat ternyata lebih kaget pula.
Ilmu yang diyakinkan Bok Su-kiat adalah Jit-sat-ciang dengan kekuatan lunak Lwekangnya dia dapat melukai urat nadi musuh diluar tahu orang yang dilukai, bila kekuatan dikerahkan, dahsyatnya bagai air bah yang melanda, meski tidak bersuara dan tidak memperlihatkan tanda-tanda namun perbawa kekuatannya kira-kira setanding dan dapat menandingi Tay-Iik-kim-kong-ciang ajaran murni Siau-lim pay, atau Hong-lui-pi-lik-ciang dari Bu-tong-pay.
Tak nyana begitu telapak tangan saling genggam, tenaga lunak yang ganas dan jahat itu ternyata seperti tenggelam kedalam lautan, sirna tanpa bekas.
Sikap Tan Ciok-sing tetap wajar dan tenang-tenang seperti tidak terjadi apa-apa, seolaholah tidak tahu kalau tenaga lunaknya yang dahsyat itu telah menerjang kedalam tubuhnya, meski percobaan dilakukan berulang kali, namun betapa tinggi atau rendah lwekang Tan Ciok-sing tetap tak berhasil dia selami.
Logis kalau dia kaget dan jeri.
"Anak ini masih begini muda, baru belajar sehari di bawah petunjuk Thio Tan-hong namun Iwekangnya ternyata sudah mencapai taraf sehebat ini?"
Demikian batin Bok Su-kiat, di samping kaget diapun keheranan, kuatir Tan Ciok-sing balas menggempurnya, lekas dia lepaskan pegangannya, katanya dengan mimik kikuk.
"Memang tidak malu Tan-heng sebagai murid pandai Thio Tayhiap kagum, mengagumkan."
Yang jelas bukan lwekang lebih unggul dibanding latihan Bok Su-kiat, tapi dia gunakan gaya lengket dan tarik dari ajaran lwekang tingkat tinggi ciptaan Thio Tan-hong, gempuran dahsyat tenaga lunak lawan kena dilengketnya sampai sirna tanpa bekas tapi bila serangan diteruskan berulang kali dan temponya berkepanjangan, mungkin Tan Ciok-sing takkan kuat memunahkannya terus menerus.
Diam-diam Tan Ciok-sing geli.
"Syukur keparat ini tidak dapat mengukur tinggi rendah bekal kepandaianku. Dengan sikap tenang dan wajar dia berkata tawar.
"Terima kasih akan pujianmu. Nah sekarang boleh kita lanjutkan perundingan tadi."
"Bagus ingin aku mendengar dulu usul apa yang dikemukakan Tan-siauhiap,"
Ujar Bok Su-kiat.
"Tadi sudah kukemukakan kepada Liong-tayjin, boleh kau tanya kepadanya."
Pertama memanggil "engkoh cilik"
Sekarang Bok Su-kiat ganti panggilan "Siauhiap"
Walau Liong Bun-kong orang awam yang yang tidak bisa main silat, tapi dia bisa meraba dalam adu kekuatan barusan, jelas Bok Su-kiat di pihak yang dirugikan.
Nyalinya lebih kecil lagi bila perundingan ini gagal jelas pihaknya akan di pihak yang dirugikan, maka dia jelaskan tuntutan Tan Ciok-sing tadi kepada Bok Su-kiat, lalu menambahkan.
"Menurut pendapatku lebih baik damai saja, untuk ini harap Jong-ling suka membantu."
Bok Su-kiat menepekur sesaat lamanya, katanya.
"Liongtayjin, bukan aku tidak mau membantu kau, soal ini kukira kurang leluasa."
"Jong-ling menghadapi kesulitan apa, boleh coba dijelaskan."
"Terus terang, karena memandang muka Liong-tayjin, maka aku memberanikan diri mengerahkan pasukan Gi-limkun kemari. Itu aku telah menyalahi prosedur yang semestinya, melanggar hukum yang berlaku. Celaka adalah kau sebagai Sekretaris militer justru melanggar hukum yang harus kau tegakkan, sebaliknya bagi aku baru pertama kali ini aku melanggar kebiasaan."
Liong Bun-kong tertawa dipaksakan, katanya.
"Terima kasih akan peringatan Tayjin, tapi kalau Tayjin sudi menyusulkan laporan, yakin Baginda Raja tidak akan menyalahkan engkau."
"Sudah tentu, Liong-tayjin adalah pembesar kesayangan dan kepercayaan Baginda, Baginda pasti tidak akan menyalahkan aku untuk menolong kesulitanmu. Tapi justru disinilah letak kesulitannya, coba pikir, kalau Baginda sudah tahu peristiwa ini, tapi seorang penjahatpun tak berhasil kubekuk, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab kepada Baginda?"
Sampai disini dia berpaling ke arah Tan Ciok-sing, katanya dengan unjuk tawa.
"Tan-siauhiap, harap kau tidak berkecil hati. Aku tahu kalian bukan penjahat, tapi terhadap Baginda tidak bisa tidak aku harus bilang demikian. Entah Tan-siauhiap tahu akan maksudnya?"
"Aku tidak mengerti,"
Sahut Tan Ciok-sing menarik muka. Bok Su-kiat berkata.
"Bila kalian mau memberikan beberapa orang supaya aku dapat memberi laporan ala kadarnya urusan tentu lebih mudah dibereskan. Aku boleh memberi pertanggungan jawabku kepadamu, terhadap temantemanmu pasti akan dijatuhkan hukuman seringan mungkin."
Tan Ciok-sing menjengek dingin.
"Jadi maksudmu hendak tukar menukar sandera?"
"Jangan kau gunakan istilah "sandera"
Dalam persoalan ini. Aku memandang kalian sebagai sahabat baikku."
"Kami tidak setimpal jadi temanmu, sandera adalah sandera, kenapa harus ditutup-tutupi."
"Baiklah, terserah kau senang mengunakan istilah apa. Lalu bagaimana maksudmu?"
"Mau tukar menukar sandera juga boleh, akulah sanderanya dan ikut kau, terserah kau mau bunuh atau di penjara dua puluh tahun juga boleh. Tapi apapun kualami, pasti akan dialami juga oleh Liong-kongcu."
Liong Bun-kong kaget, pikirnya.
"Kalau menggunakan cara itu, entah kapan keponakanku bakal pulang dengan selamat?"
Tan Ciok-sing seperti tahu jalan pikirannya katanya dingin.
"Itulah yang dinamakan barter secara adil. Jangan kau kira harga diriku tidak sebanding dengan keponakan kesayanganmu itu?"
Terpaksa Liong Bun-kong menyerah, katanya.
"Tansiauhiap jangan berkelakar, kita tetap ingin menyelesaikan secara damai."
"Damai cara bagaimana?"
Desak Tan Ciok-sing.
"Baiklah laksanakan menurut tuntutanmu tadi."
"Lalu bagaimana aku harus memberi laporan kepada Baginda?"
"Akulah yang akan bertanggung jawab."
"Bukan aku tidak percaya kepada Liong-tayjin, tapi atas kemauanku sendiri aku kerahkan pasukan Gi-lim-kun, tidak kecil kesalahanku, walau kau berjanji mohon keringanan bagiku, betapapun aku masih tidak lega."
"Apa maksud Jong-ling?"
"Bicara hanya omong kosong tanpa bukti, maka aku minta tanda bukti hitam di atas putih. Tolong kau buatkan dua carik tanda buktinya kepadaku."
"O, kau minta dua carik tulisan di atas kertas?"
"Pertama kau harus melaporkan kepada Baginda, bahwa kaulah yang memberi putusan melepas kawanan penjahat itu malam ini."
"Dan yang kedua?"
"Sekarang cuaca masih gelap pintu kota belum dibuka. Tolong dengan cap kebesaranmu sebagai Kiu-bun-te-tok, tekenlah sebuah surat perintah supaya penjaga pintu membuka lebar pintu kota."
Sebetulnya sebagai komandan Gi-lim-kun diapun punya hak mengeluarkan surat perintah ini.
Bahwa dia minta Liong Bunkong yang menulis, tujuannya adalah untuk melimpahkan tanggung jawab dan kesalahan pada orang lain.
Apa boleh buat terpaksa Liong Bun-kong setujui juga permintaannya.
Liong Bun-kong suruh anak buahnya mengaduk tinta dan membeber kertas, pensil sudah di tangan, tapi sekian lamanya dia masih bimbang untuk menulis.
Surat perintah itu gampang ditulis, namun surat laporan kepada Baginda itulah yang menyulitkan posisinya, kalau dia mengakui membebaskan kawanan penjahat, bagaimana selanjutnya dia harus menghadapi raja?
Apa pula akalnya?
Sudah tentu hal ini memerlukan pemikiran yang matang.
"Liong-tayjin,"
Jengek Tan Ciok-sing.
"kalau sekarang belum bisa ambil putusan, baiklah kami mohon diri saja,"
Beberapa patah kata ini diucapkan dengan tegas dan kereng, secara langsung memperingatkan kepada Liong Bun-kong, kalau dia masih ragu-ragu, tidak segera menulis apa yang diminta, biarlah perundingan dianggap berakhir sampai disini.
"Baik, baik, segera akan kutulis, segera kutulis,"
Cepat Liong Bun-kong menjawab, di mulut mengatakan "segera"
Pada hal pensil yang sudah dibubuhi tinta belum juga dicoretkan di atas kertas.
Tiba-tiba Bok Su-kiat meniup panjang sekali kertas laporan yang sudah siap hendak ditulis oleh Liong Bun-kong tiba-tiba tertiup terbang, terasa oleh Tan Ciok-sing kesiur angin menerpa ke arahnya, kertas putih itu tahu-tahu sudah melayang ke arah mukanya.
Ternyata karena tidak berhasil menjajaki ilmu silat Tan Ciok-sing.
Bok Su-kiat masih penasaran, maka kali ini mumpung ada kesempatan dia ingin sekedar pamer keliehayan dirinya untuk membuat jeri lawan.
Dia ada meyakinkan Gun-goan-it-cu-kang, jangan kira hanya sekali tiupan mulut, namun selembar kertas itu ternyata ditiupnya melesat terbang sekencang pisau tajam.
Umpama tak dapat melukai Tan Ciok-sing, sedikitnya dapat membuatnya kaget.
Tapi maksud mendemonstrasikan ilmu yang diyakinkan ini bukan melulu ingin membuat keder lawan.
Tujuan yang utama adalah hendak mengacau, mengulur waktu supaya Liong Bunkong punya banyak kesempatan menunda kekalahannya.
Tapi tak pernah terbayang olehnya bahwa lawan justru memiliki kepandaian yang lebih mengejutkan lagi.
Di kala kertas itu tertiup terbang lurus ke arah Tan Ciok-sing, sekonyong-konyong tampak sinar kemilau berkelebat sekali, kertas itu tahu-tahu terbagi jadi tiga, tiga jadi enam dan enam jadi dua belas, dua belas kertas persegi kecil-kecil yang melayang jatuh berjajar di atas meja.
Dalam waktu sekejap itu ternyata Tan Ciok-sing dan In San telah mengayun sepasang pedang mereka, melancarkan sejuru ilmu pedang tunggal yang tiada taranya, sejurus tiga gerakan.
Demonstrasi yang menakjubkan dari suatu ilmu pedang puncak tinggi betul-betul menciutkan nyali komandan Gi-lim-kun Bok Su-kiat, wajahnya berubah pucat lalu menghijau akhirnya semu merah saking malu.
Maklum dengan kecepatan gerak pedang untuk membabat suatu, benda keras bukan suatu yang sulit, selembar kertas tipis yang enteng sedang melayang lagi, didalam sekejap waktu itu harus memapasnya menjadi dua belas persegi yang berbentuk sama adalah karya yang tidak mudah dilakukan.
Bukan saja dalam ilmu pedang harus memiliki kemahiran yang luar biasa gerak tangannyapun harus mantap dan dilandasi kekuatan yang terkendali secara pas, dan yang digunakan harus pedang pusaka yang tajamnya luar biasa.
Milo Hoatsu dan Lenghou Yong pernah merasakan sendiri betapa hebatnya Siang-kiam-hap-pik Tan dan In berdua, maka mereka tidak begitu heran dan takjub, tapi Bok Su-kiat baru pertama kali ini menyaksikan ilmu pedang yang begini aneh dan mendekati magic, mau tidak mau hatinya amat terkejut.
"Bagaimana lwekang bocah ini aku belum tahu, tapi bila dia bergabung dengan budak ayu ini melawanku, jelas aku bukan lawannya,"
Bok Su-kiat bukan saja tidak berhasil menggertak dan membuat malu orang, malah dia sendiri yang dibuat malu dan jeri pula.
Gerak pedang Tan Ciok-sing memang melebihi sinar kilat berkelebat, bila Milo Hoatsu dan Lenghou Yong melompat maju mengadang di depan Liong Bun-kong, sinar pedangpun sudah berkelebat dan pedang sudah kembali kedalam sarungnya.
"Liong-tayjin, agaknya kau tidak mau menggunakan alat tulismu, baiklah, agaknya persoalan hari ini harus diselesaikan dengan senjata,"
Demikian ancam Tan Ciok-sing. Pucat pias saking takut dan kaget Liong Bun-kong, diamdiam dia membatin.
"Bila pedangnya tadi menusuk ke arahku, meski Milo Hoatsu dan Lenghou Yong melindungiku dari samping, jiwaku juga belum tentu bisa selamat."
Dalam keadaan seperti ini, mana dia berani beragu lagi, lekas dia gerakkan alat tulisnya.
Saking gugup dia tidak pikirkan lagi merangkai kata-kata yang indah untuk menutupi kesalahan sendiri, akhirnya surat laporan dan surat perintah itupun telah ditulisnya rampung.
Bok Su-kiat juga tidak merintangi, seterima surat itu, langsung dia keluar menyampaikan perintahnya kepada pasukan Gi-lim-kun.
Memegang surat perintah membuka pintu, Tan Ciok-sing berkata.
"Liong-tayjin, mohon kau suka suruh orang menyiapkan belasan ekor kuda,"
Putusan sudah jadi, persoalan kecil inipun sudah tidak jadi pikiran lagi bagi Liong Bun-kong, segera dia perintahkan anak buahnya menyiapkan apa yang diminta.
Sukses dengan tugas beratnya Tan Ciok-sing kembali ke tempat semula memberi laporan kepada Kaypang Pangcu beserta Thong Jian-hong dan lain-lain.
Cepat merekapun berembuk dan memutuskan untuk memberi prioritas bagi kawan-kawan yang terluka supaya diangkut dengan kereta dan kuda, rombongan terakhir menggusur Liong Seng-bu keluar kota.
Ternyata pasukan Gi-lim-kun memenuhi janji, sepanjang jalan mereka tidak merintangi dan mengikuti.
Dengan surat perintah Liong Bun-kong sudah tentu dengan leluasa mereka membuka pintu kota terus keluar kota.
Lenghou Yong mengikuti tak jauh di belakang, sesuai perlanjian, dia diizinkan ikut untuk membawa pulang majikan mudanya.
Lenghou Yong berhenti diluar pintu kota, katanya.
'Sekarang boleh kalian bebaskan Liong-kongcu bukan?"
"Kenapa gugup, janji pasti kita tepati,"
Jengek Tan Cioksing. Lalu dia jinjing Liong Seng-bu dan diturunkan ke tanah, katanya pula.
"kau juga yang beruntung, bila masih kau main kayu dan juga berusaha mencelakai orang-orang kita, bila terjatuh ke tanganku lagi, awas jiwa anjingmu."
Rombongan besar kaum pendekar telah keluar kota dengan selamat, sepanjang jalan mereka berbincang-bincang tentang pengalaman tadi semua sama mengelus dada lega dan bersyukur bahwa Thian memang maha adil dan memberi jalan hidup bagi mereka.
Rumah Coh Ceng-hun berada diluar kota, pada suatu desa yang terletak di bawah Say-san yang jauh dari keramaian.
Markas besar Kaypang cabang Pakkhia kebetulan juga ada di Say-san.
Setelah semua orang keluar pintu, mereka sebelumnya sudah berunding, para korban akan dirawat dan diurus oleh murid-murid Kaypang di markas besar mereka.
Sementara teman-teman Kim-to Cecu kecuali Sim Lan dan Ciu Hok merekapun menetap di markas Kaypang.
Malah Kaypang Pangcu Liok Kun-lun dan orang-orang gagah lainnya tinggal di rumah Coh Ceng-hun.
Dalam gerakan besar dan berhasil kali ini yang gugur dari tokoh-tokoh penting mereka hanya To It-kiau seorang, sementara Loh Im-hu terluka parah, Sia-cin Hwesio dan Toan Kiam-ping sudah sedikit pulih kesehatannya, sementara tidak sedikit murid Kaypang dan kawan-kawan seperjuangan undangan Sim dan Ciu yang terluka ringan.
Setelah kemenangan tercapai, perasaan semua orangpun tertekan, namun betapapun hati mereka terhibur juga karena surat perdamaian itu berhasil direbutnya pula, tapi bagaimana harus memanfaatkan surat perdamaian ini, mereka masih harus berunding dengan seksama.
Sudah tentu tugas utama yang sekarang harus mereka laksanakan adalah merawat dan mengobati para korban.
Tari Ciok-sing, In San dan Han Cin berada di kamar sakit Toan Kiam-ping, Toan Kiam-ping sudah tidur napasnya enteng teratur meski masih agak lemah.
Han Cin pasang kuping mendengarkan denyut jantungnya, hatinya amat risau dan kuatir, meski sekuatnya dia menahan air mata tak urung matanya sudah merah berkaca-kaca.
Waktu Tan dan In membujuk dan menghiburnya, Ti Nio beranjak masuk, katanya.
"Toan-kongcu meyakinkan lwekang murni yang punya dasar kuat, sementara jiwanya tidak perlu dibuat kuatir. Biarlah dia tidur secukupnya. Nona Han, marilah kau keluar ikut aku ada yang ingin kubicarakan dengan kau."
Han Cin sudah tahu bahwa Ti Nio adalah sahabat lama ayahnya yang paling karib, memang banyak tanda tanya yang mengganjel sanubarinya selama ini, dia harap Ti Nio bisa membuka tabir jawabannya.
Tapi hatinya kini masih menguatirkan keadaan sang pujaan, meski Toan Kiam-ping sudah tidur nyenyak, dan dia harus pergi meninggalkannya dalam waktu singkat.
Siapa tahu bisa penyakitnya mendadak memburuk, umpama mendadak dia siuman, tapi dirinya tiada di sampingnya, bukankah akan menjadi kekecewaannya?
In San seperti tahu perasaannya, katanya lembut.
"Hancici, legakan hatimu. Kalau dia bangun, aku bisa bantu kau merawat dan menjaganya."
Han Cin masih ragu-ragu, mendadak Ti Nio julurkan jari tengah tangan kiri terus menutuk enteng di Tan-dian-hiat Toan Kiam-ping.
Sudah tentu Han Cin tahu bahwa Ti Nio tidak bakal mencelakai Toan Kiam-ping, tapi perbuatan Ti Nio yang mendadak dan tak terduga ini, mau tidak mau membuatnya kaget juga.
Ti Nio tertawa, katanya.
"Aku menutuk Tan-dian-hiatnya, tapi ilmu tutuk tunggal perguruanku ini berbeda dengan ilmu tutuk umumnya. Ilmu tutukku ini kecuali dapat bantu mengumpulkan hawa murni, sekaligus membuatnya tidur pulas sehingga semangat dan tenaganya lekas pulih. Jelas akan membawa manfaat bukan merugikan,"
Maka legalah hati Han Cin, dia keluar mengikuti ajakan Ti Nio. Setelah mereka pergi In San berkata kepada Tan Ciok-sing sambil tersenyum.
"Apa kau tidak menaruh perhatian sikap Tilocianpwe kepada Han-cici?"
Tergerak hati Tan Ciok-sing, tanyanya.
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Kulihat sikap Ti-locianpwe terlalu baik kepada Han-cici."
"Kukira jamak kalau Ti-locianpwe menaruh kasihan dan sayang terhadap putri teman baiknya, kenapa harus dibuat heran?"
"Tidak, kulihat sikap dan mimik serta tutur kata Tilocianpwe sedemikian rupa baiknya, tidak mirip perasaan kasih sayang dan memperhatikan keponakan."
"Lalu perasaan macam apa menurut pendapatmu?"
"Menurut hematku dia seperti mengganggap Han-cici seperti anak kandungnya sendiri,"
Sedang mereka berbincang, seorang tua datang dan berkata.
"Tan-siangkong, In-siocia. Liok-pangcu mengundang kalian untuk berunding."
Tan Ciok-sing tahu Toan Kiam-ping baru akan sadar setelah tidur nyenyak selama beberapa jam lagi, maka tanpa kuatir sedikitpun dia tinggalkan kamar tidur ini.
Bila mereka memasuki suatu kamar rahasia, tampak beberapa orang telah menanti kedatangannya.
Mereka adalah Liok-pangcu, salah satu Wi-cui-hi-kiau Lim lh-su, kedua orang utusan Kim-to Cecu, Sim Lan dan Ciu Hok, demikian pula Coh Ceng-hun sebagai tuan rumah.
Kecuali tuan rumah, beberapa orang itu mewakili tiga pihak, mereka adalah orang-orang penting yang berkompeten dalam persoalan rahasia yang akan mereka rundingkan.
Melihat kehadiran orang-orang penting ini Ciok-sing lantas tahu yang bakal dibicarakan tentu urusan besar.
Betul juga begitu buka mulut Liok Kun-lun lantas berkata.
"Tan-siauhiap, nona In, semalam telah bikin kalian capai, tapi aku tetap tidak akan memberi kesempatan untuk kalian istirahat karena urusan besar masih perlu kita rundingkan dengan kalian."
"Liok-pangcu terlalu mengagulkan diriku. Entah urusan besar apa yang akan dibicarakan?"
Tanya Ciok-sing.
"Surat perdamaian itu sudah berada di tangan kita, yang harus kita rundingkan adalah cara bagaimana kita memanfaatkan surat perdamaian itu?"
Kata Liok Kun-lun.
"Urusan memang genting. Wanpwe belum sempat memikirkan jalan keluarnya, maka tak berani aku sembarang mengajukan usul,"
Demikian ucap Tan Ciok-sing.
"Kalau demikian silahkan Lim Tayhiap utarakan maksud hatinya?"
Pinta Liok Kun-lun. Lim Ih-su berkata.
"Liong Bun-kong keparat itu berintrik dengan bangsa asing hendak menjual negara dan bangsa, dosanya tidak terampunkan, surat perdamaian hasil tulisan tangannya ini merupakan bukti yang mematikan. Mumpung kita memperoleh kesempatan, marilah kita beber dosanya di hadapan umum, sekaligus kita serukan kepada khalayak ramai untuk angkat senjata dan membangkitkan semangat juang mereka untuk melawan penjajah."
Ciu Hok bicara.
"Gerakan seperti itu memang cukup menyenangkan, tapi masih harus diselidiki siapa sebetulnya biang keladinya, mungkin bukan bangsat tua she Liong."
Lim Ih-su sadar, katanya.
"Maksudmu, biang keladinya adalah Baginda Raja sendiri."
"Betul,"
Ujar Ciu Hok.
"jikalau tanpa memperoleh persetujuan Baginda Raja yang berkuasa memangnya pembesar anjing itu berani terang-terangan mengundang Data Watsu mengadakan perundingan damai serta menginap di rumahnya pula. Coba pikir pasukan Gi-lim-kun pun telah dikerahkan, seluruh pembesar sipil maupun militer kerajaan memang siapa lagi yang tidak tahu bahwa bangsat tua she Liong telah melayani Duta-duta Watsu itu di penginapan di rumahnya."
"Kalau demikian sekalian kita berontak saja kepada Baginda Raja,"
Demikian usul Lim Ih-su.
"pihak kerajaan memang sudah anggap Kim-to Cecu kalian sebagai pemberontak, kenapa kalian masih ragu-ragu untuk angkat senjata menumpasnya?"
"Bukan kita takut memberontak,"
Sela Sim Lan.
"tapi yang penting kita harus dapat menguasai situasi, bila pemberontakan lebih banyak membawa sengsara bagi rakyat jelata, lebih baik kita tunda saja gerakan besar ini."
Liok Kun-lun manggut-manggut, katanya.
"Betul, urusan harus dibedakan yang penting dan yang ringan. Bicara soal situasi yang sekarang kita hadapi, musuh kita yang utama adalah penguasa yang berkuasa sekarang di Watsu, jadi bukan Baginda Raja dynasti Bing yang berkuasa di kerajaan kita."
"Lalu bagaimana menurut pendapat Sim-thauling?"
Tanya Lim lh-su.
"Ini bukan maksudku seorang, tapi aku membawa suara Kim-to Cecu dan kawan-kawan seperjuangan yang lain. Yang penting adalah kita harus berusaha supaya pasukan negeri tidak menggempur kita, justru sebaliknya kita harus berusaha supaya pasukan kerajaan bergabung dengan laskar rakyat kita menghadapi serbuan musuh. Kalau kita harus memberontak juga melawan serbuan Watsu, itu berarti melemahkan kekuatan kita sendiri, pihak Watsulah yang akan memungut keuntungan,"
Demikian Sim Lan memberikan uraiannya. Lim Ih-su geleng-geleng katanya.
"Pandangan bagus, tapi seperti yang tadi kau katakan bahwa Baginda Raja mungkin adalah biang keladi dari semua kejadian ini, lalu apakah dia mau bergabung dengan kita melawan penjajah? Bukankah ini suatu pemikiran yang terlalu muluk?"
Ciu Hok berkata.
"Baginda Raja jelas tidak akan mau, oleh karena itulah kita justeru harus memanfaatkan kesempatan ini, memaksanya sehingga dia mau bergabung dengan kita."
"Kalau Baginda Raja boleh tunduk dan mau dengar perkataan setiap orang, dia tidak akan jadi Raja. Justru sebaliknya rakyat harus tunduk akan perintahnya, lalu dengan cara apa kau dapat membuatnya tunduk akan omonganmu?"
Demikian debat Lim Ih-su. Sim Lan berkata.
"Kukira meski Baginda adalah biang keladinya, kukira rahasia ini pantang diketahui oleh siapapun, betul tidak?"
"Betul,"
Seru Liok Kun-lun.
"sebagai pihak yang berkuasa raja boleh melakukan perbuatan apa saja, tapi perbuatan hina dina seperti takluk dan mohon damai dengan bangsa asing, jelas akan dia rahasiakan, karena dia pikirkan juga gerakan rakyat yang tidak kecil artinya. Kalau tidak perlu dia suruh Liong Bun-kong wakili dia melaksanakan kehendaknya itu secara rahasia."
Lim Ih-su tertawa dingin, katanya.
"Yang benar hal itupun hanya sekedar menutupi tabir belaka. Sudah setengah bulan Duta rahasia bangsa Watsu itu berada di kota raja, pembesar sipil maupun militer kerajaan siapa yang tidak tahu?"
"Itu persoalan lain,"
Bantah Liok Kun-lun.
"meski pembesar sipil maupun militer sama tahu, paling mereka hanya berani kasak-kusuk saja, siapa berani bicara secara blak-blakan di depan umum? Baginda Raja duduk tinggi di atas singgasana, asal kasak-kusuk para pembesar itu tidak masuk kupingnya, dia boleh tidak usah ambil pusing dan anggap tidak tahu."
"Kalau demikian lalu bagaimana?"
Desak Lim Ih-su.
"Kalau Baginda tidak ingin orang lain tahu, maka kita harus cari upaya supaya Baginda tahu bahwa kita telah tahu,"
Timbrung Coh Ceng-hun.
"Dengan cara apa?"
Lim Ih-su bertanya pula.
"Aku punya seorang paman, kini menjabat pembantu pencatat sejarah di istana, orangnya jujur dan dapat dipercaya, selama hidupnya cinta bangsa dan negara, biasanya teramat tinggi memandang dirinya sebagai pembesar setia. Biar aku mencarinya dan memperlihatkan surat damai ini kepadanya, mohon pula bantuannya supaya berusaha mengadukan Liong Bun-kong. Supaya dirinya tidak terlibat, yakin Baginda pasti mengorbankan pembesar dorna ini. Bagaimana menurut pendapat kalian akan akalku ini?"
Perlu diketahui Coh Ceng-hun adalah keturunan pembesar tinggi sejak beberapa generasi, sampai sekarang beberapa pamannya masih juga punya jabatan penting dalam pemerintahan.
Sim Lan berpikir sebentar, lalu katanya.
"Cara itu memang baik, tapi terdapat suatu lobang kelemahan yang amat fatal."
"Kelemahan bagaimana?"
Tanya Coh Ceng-hun.
"Kalau Liong Bun-kong balas bertanya, dari mana kau memperoleh surat perdamaian ini? Bagaimana dia harus menjawab? Aku kuatir usaha kita bukan saja tidak akan berhasil, celaka adalah pamanmu dan keluarganya akan ketimpa bencana dengan tuduhan sekongkol dengan pemberontak. Coba pikir sebagai pembesar tinggi yang terkenal setia pada negara, mana dia mau memikul dosa seberat itu? Dan lagi Liong Bunkong bisa memungkiri tuduhan itu, berbalik dia putar persoalan memfitnahnya mau berontak, atau menyiarkan berita bohong serta mencari gara-gara selalu."
Coh Ceng-hun geleng-geleng, katanya gegetun.
"Akal ini kurang sempurna, usul itu tidak diterima, ada cara baik apa pula yang harus kita rundingkan?"
Sim Lan berkata.
"Coh-heng jangan patah semangat, usulmu itu memang amat bagus, cuma orangnya yang melaksanakan harus diganti orang lain."
"Diganti siapa?"
Tanya Coh Ceng-hun.
"Kukira tidak perlu memakai prosedur kerajaan, ganti saja salah satu di antara kita sendiri,"
Sim Lan berusul. Lim Ih-su kaget, selanya.
"Orang kita serdiri yang melaksanakan, apakah mungkin?"
Tegas suara Sim Lan.
"Asal dapat berhadapan dengan Raja, maka Raja harus tunduk dan dengar keinginan kita."
"Kenapa?"
Lim Ih-su masih bingung.
"Cara kita yaitu menggunakan caranya sendiri untuk membalasnya,"
Sim Lan berkata.
"Aku masih tidak paham, tolong kau jelaskan lebih terperinci,"
Pinta Lim Ih-su.
"Raja menguasai para pembesar bawahannya, bukaukah cara ini dapat kita gunakan untuk mengancam dan membujuknya?"
Sim Lan menjelaskan.
"O, jadi dengan mengancam dan membujuknya sekaligus menekan sang raja?"
Seru Lim lh-su, seolah-olah dia anggap cara ini terlalu muluk. Sim Lan seperti tahu jalan pikirannya, katanya kalem.
"Ini bukan akal yang muluk atau berkelebihan. Bagi seorang Raja apa yang paling penting kecuali dapat menduduki singgasananya dengan anteng dan abadi, mempertahankan kedudukan rajanya. Tujuannya minta damai kepada Watsu bukan lain juga supaya dia dapat mempertahankan maksudnya ini, coba katakan betul tidak?"
Tanpa merasa Lim Ih-su mengangguk sambil mengiakan. Sim Lan bicara lebih lanjut.
"Kita bisa mengultimatum kepadanya, bila dia tidak mau bergabung dengan kita melawan serbuan penjajah, akan kita umumkan tentang surat perdamaian itu ke seluruh negeri, biar rakyat banyak tahu, bahwa Baginda Raja ingin menyerah dan minta damai, maka jangan harapkan kerajaan dapat melindungi kehidupan mereka. Di samping itu kitapun harus bangkitkan semangat kepahlahwanan bangsa kita untuk menggempur musuh supaya rakyat tidak tertindas dan menderita karena peperangan."
Liok Kun-lun tertawa, katanya.
"Cara ini memang dapat membuat kaget Baginda, memangnya dia sudah jeri pada Kim-to Cecu kalian, bila kita betul-betul bertindak seperti akalmu itu, Kim-to Cecu akan mendapat junjungan rakyat serta mendukungnya, bila pasukan besar telah angkat senjata memangnya kedudukannya masih bisa tenang?"
Sim Lan berkata lagi.
"Bila dia setuju bergabung dengan kita melawan serbuan musuh kita harus berjanji untuk mendukung dia jadi Raja abadi, kita bina bersama kedamaian tanah air kita nan jaya. Tentang permohonan damainya kepada pihak Watsu harus tetap kita rahasiakan. Setelah mempertimbangkan untung ruginya, adalah logis bila dia dapat kita kuasai, kemana dia harus menentukan arah yakin dia memilih sendiri."
Lim Ih-su masih merengkel, katanya.
"Tapi cara itu pun merupakan paksaan, bukan mustahil dia bisa ingkar."
Sim Lan berkata tandas.
"Asal pasukan kerajaan tidak berani kerja sama dengan Watsu untuk menggempur kita, itu sudah merupakan peluang baik untuk kita menahan serbuan penjajah. Yang terang ancaman agresi musuh sudah di ambang pintu, tentara kerajaan juga berasal dari rakyat jelata, sembilan di antara sepuluh tentu senang melawan agresi musuh. Umpama sang Raja ingkar janji juga kita tidak perlu kuatir lagi."
Akhirnya hadirin menyetujui cara ini, lalu mereka merundingkan siapa calon yang diutus untuk menunaikan tugas penting dan rahasia ini. Lim Ih-su berkata.
"Orang ini harus punya pengetahuan luas keberanian yang luar biasa pula. Dia harus memiliki ginkang yang tinggi, Kungfu yang hebat juga, kalau tidak bagaimana mungkin dia menyelundup ke istana raja? Dikuatirkan sebelum bertemu dengan Baginda, jejaknya sudah konangan oleh kawanan wisu istana."
Di antara hadirin yang datang, terhitung lwekang Liok Kunlun paling tangguh, Lim Ih-su paling tinggi ginkangnya.
Tapi mereka adalah tokoh-tokoh penting sebagai pimpinan lagi bagi rombongan masing-masing dan harus pegang kuasa dan situasi.
Pertempuran semalam Lim Ih-su menderita luka dalam yang cukup berat, hawa murninya sudah jauh berkurang, untuk memulihkan kesehatannya sedikitnya memerlukan waktu sepuluh hari, baru ginkangnyapun akan pulih seperti sedia kala.
Akhitnya Tan Ciok-sing mengajukan dirinya, katanya.
"Bila hadirin tidak anggap usiaku terlalu muda dan cetek pengalaman, berkepandaian rendah lagi, dengan senang hati aku rela memikul tugas berat ini."
"Tan-siauhiap terlalu sungkan,"
Ucap Liok Kun-lun.
"Menilai bakat dan ilmu silatmu, kau memang calon tunggal yang tiada bandingannya, tapi kau hanya seorang diri..."
Belum habis dia bicara In San sudah cepat menyela.
"Liokpangcu, mohon persetujuan kau orang tua supaya aku pergi bersama Tan-toako."
Kepandaian gabungan sepasang pedang mereka hadirin sudah menyaksikan, ginkang In San juga cukup tinggi, bila kedua orang ini menunaikan tugas itu umpama usahanya gagal, untuk meloloskan diri yakin tidak menjadi soal.
Maka Liok Kun-lun orang pertama yang menyatakan persetujuannya, Lim Ih-su masih bimbang, dia kuatir In San seorang gadis mungkin kurang setimpal menjalankan tugas ini.
In San berkata lebih lanjut.
"Bila aku bertemu dengan sang raja, sekaligus ada keuntungannya, bila aku menyebut nama Kakek, yakin sang Raja masih mengingatnya,"
Seperti diketahui kakek In San yaitu In Jong dahulu pernah merebut Bu-conggoan di kala Bing-ing-cong masih berkuasa, sebagai komandan Gi-lim-kun, beliau pernah mendirikan jasa dan pahala besar untuk negara dan bangsa.
Raja yang berkuasa sekarang Cu Kian-sin adalah putra sulung Bi-ing-cong, di waktu dia masih pangeran, pernah dia bermain-main ke rumah keluarga In, jadi hubungannya dengan sang kakek dan ayahnya amat akrab.
"Betul,"
Ujar Liok Kun-lun.
"bila kau bertemu dengan raja boleh kau singgung nama kakek dan ayahmu, bukan mustahil dia lebih percaya dan mau menerima keteranganmu,"
Maka hadirin sepakat mencalonkan Tan Ciok-sing dan In San berdua untuk menunaikan tugas. In San berkata.
"Menyerempet bahaya aku tidak takut, tapi ada satu kesulitan yang perlu dibereskan."
"Kesulitan apa?"
Tanya Lim ih-su "Dulu aku pernah tinggal di rumah keluarga Liong, tapi hampir tidak berhasil aku menemukan tempat persembunyiannya.
Istana raja jauh lebih besar dan ruwet dari gedung bangsat tua itu, aku belum pernah masuk istana, kalau hanya mengadu nasib melulu, mungkin takkan bisa kebetulan."
Liok Kun-lun memeras otak, katanya kemudian.
"Soal ini boleh serahkan padaku. Murid Kaypang ada yang di taman, di istana dan kenal baik dengan para thaykam, dengan sogokan uang yang cukup banyak jumlahnya, yakin thaykam itu dapat diminta bantuannya untuk menggambar sebuah peta tentang seluk beluk istana. Sudah tentu juga masih memerlukan nasib mujur, tapi cara ini kukira lebih baik ditempuh dari pada main untung-untungan."
Setelah segala sesuatunya dirundingkan dan diputuskan secara aklamasi, karena memikirkan kesehatan Toan Kiamping, Tan Ciok-sing bersama ln San mohon diri pulang ke kamar Toan Kiam-ping masih tidur nyenyak, Ti Nio dan Han Cin juga belum kembali.
000OOO000 Ti Nio ajak Han Cin ke hutan cemara di belakang rumah, sepanjang jalan saling membisu, seakan ada urusan yang mengganjel hati dan mengganggu pikiran.
Diam-diam Han Cin mulai curiga.
"Apakah yang hendak dia bicarakan dengan aku? Kenapa tidak bicara didalam rumah saja?"
Setiba didalam hutan yang agak jauh dan sunyi baru Ti Nio menghentikan langkah, tapi dia tetap membungkam sekian lamanya.
Lama dia mengawasi Han Cin, sikapnya amat aneh dan ganjil, seperti amat senang, tapi juga amat sedih.
Dengan rasa was-was akhirnya Han Cin memberanikan diri bertanya.
"Ti-locianpwe, kenapakah kau?"
Sebelum buka suara Ti Nio menghela napas dulu, katanya kemudian.
"Wajahmu mirip ibumu."
"Apa iya? Ayah juga bilang demikian."
Ti Nio melenggong, katanya.
"Apa mirip wajahmu dengan ibumu, masa kau tidak tahu, sampai ayahmu yang harus memberitahu kepadamu?"
"Waktu ibu meninggal, aku belum genap satu tahun."
Tak tertahan bercucuran air mata Ti Nio, katanya.
"Ibumu meninggal di waktu mengungsi?"
"Ya, waktu itu kami belum memperoleh tempat berteduh yang tetap."
Sungguh tak terperikan sedih Ti Nio, lama sekali baru dia menahan air matanya, katanya pula.
"Semua itu adalah karena dosaku aku tidak mampu membantu kesulitan ayah bundamu. Ai, Ibumu memang amat menderita."
Sudah tentu Han Cin pun amat sedih, tapi rasa curiganya lebih besar.
Pikirnya karena perang sehingga ayah bunda harus mengungsi dan mengalami siksa derita selama di rantau, kematian ibu memang termasuk suatu kecelakaan, namun itu jamak dan sering terjadi dalam keadaan huru hara yang tidak aman, mana bisa menyalahkan seseorang.
Walaupun Ti Nio wajib membantu dan melindungi sahabat baiknya, tapi seperti apa yang dia katakan masing-masing pihak menuju ke arah jalannya sendiri, suami istripun bukan mustahil mengalami kejadian seperti itu, apa lagi hanya sahabat?
Umpama dia tidak sempat dan tidak mampu membantu temannya, tidak perlu dia begitu sedih seperti menyesali kesalahan sendiri.
"Ti-pepek, kemarin aku ada titip karya peninggalan ayah kepada pesuruh keluarga Coh, entah kau orang tua sudah menerimanya?"
Demikian tanya Han Cin. Ti Nio menyeka air mata, katanya.
"Banyak terima kasih akan kesudian ayahmu mewariskan karya peninggalannya kepadaku, hatipun bisa tentram kini. Kau tidak tahu, selama bertahun-tahun ini, aku paling kuatir bahwa ayahmu tidak sudi memaafkan aku. Sekarang legalah aku, agaknya ayahmu sudah mau memaafkan diriku."
Han Cin berkata.
"Ti-pepek, dalam hal apa ayah harus memaafkan engkau? Selama ini aku berprasangka, justru kaulah yang harus memaafkan ayahku."
"Oh, apa yang dikatakan ayahmu?"
"Dia bilang pernah melakukan suatu kesalahan terhadap seorang teman baiknya, tapi dia tidak perlu menyesal,"
Sulit Han Cin menelaah perkataan ayahnya ini, pada hal sifat ayahnya lurus dan jujur, kenapa setelah melakukan kesalahan sedikitpun tidak menyesal?
Tatapan matanya mengandung tanda tanya, dia harap Ti Nio bisa memberikan jawabannya.
Ti Nio menghela napas panjang, katanya.
"Yang betul akulah yang salah terhadap ayahmu, akulah yang harus menyesal."
"Ti-pepek, sebetulnya apakah yang pernah terjadi, boleh kau menceritakan kepadaku?"
Ti Nio tidak segera menjawab, dengan suara lirih mulutnya menggumam seperti senandung syair yang memilukan.
Suaranya serak dan tersendat bagai kelu lidahnya, senandungnyapun tidak dilanjutkan.
Han Cin tahu syair yang disenandungkan Ti Nio adalah ciptaan ayahnya, mendengar berapa sedih dan pilu suara senandungnya, Han Cin sendiri tak tertahanpun mencucurkan air mata.
Bukan saja hatinya ikut sedih, makna syair itupun membuatnya tidak habis mengerti.
Ti Nio juga tidak melanjutkan senandungnya setelah menarik napas panjang dia berkata.
"Dulu waktu aku bersama ayahmu, dia belajar meniup seruling kepadaku, aku belajar membuat syair kepadanya. Setiap syair yang habis kubuat pasti kuserahkan kepadanya untuk dikoreksi. Tapi hanya syair inilah yang kubuat untuk diriku sendiri, belum pernah kuperlihatkan kepadanya, sekarang biar kudeklamasikan untuk kau."
Hambar rasa Han Cin mendengar syair ciptaan Ti Nio, setelah Ti Nio habis mendeklamasikan karyanya sendiri. Han Cin lantas bertanya.
"Ti-pepek, maaf akan kelancanganku, bukankah makna syairmu ini seperti mengenang seorang gadis pujaanmu? Apakah gadis itu sekarang sudah meninggal?"
"Betul, dia sudah meninggal. Tapi setelah beberapa tahun kemudian baru kuketahui."
Bergetar hati Han Cin, katanya.
"Waktu kau menulis syair ini apakah ayah masih berada bersamamu?"
"Waktu itu kita memang sudah berpisah, tapi dia belum mengungsi, kalau mau aku masih bisa mencarinya."
"Kenapa kau tidak mencarinya?"
"Karena aku ragu dia tidak mau menemui aku, setelah aku membuat syairku ini sebetulnya ingin aku menyerahkan kepadanya, tapi akhirnya aku membatalkan niatku, biarlah untuk kenangan saja."
"Kenapa?"
Tanya Han Cin.
"Apakah ayahmu sayang kepadamu?"
Tanya Ti Nio tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan Han Cin, hal ini kembali diluar dugaan Han Cin. Setelah melenggong Han Cin berkata.
"Ti-pepek, pertanyaanmu agak aneh, ayahku sudah tentu sayang kepadaku, teramat sayang sekali. Setelah ibu wafat kami ayah beranak terus hidup berdampingan. Bila ada makanan enak pasti dia berikan dulu kepadaku, kalau membeli kain pasti aku dibikinkan pakaian baru. Kami memang miskin, tapi hidup sederhana dan bahagia."
"Ya, tidak pantas aku tanya hal ini kepadamu. Ayahmu memang orang baik, orang paling baik di dunia ini, hal ini sudah lama kutahu. Kenapa aku curiga bahwa dia tidak menyayangi kau?"
Kalau dia tidak curiga adalah Han Cin semakin tebal rasa curiganya.
CWiga kenapa dia mempunyai jalan pikiran yang tidak pantas mencurigai sesuatu yang dicurigai?
"Aku tidak tahu apakah pantas aku memberitahu kepadamu, tapi kini setelah kupikir kalau ayahmu tidak memberitahu kepada kau, lebih baik kalau kau tidak tahu saja."
"Tidak, ayah sebetulnya ingin memberitahu kepadaku sebelum ajalnya. Sayang waktu sudah amat mendesak dan tidak sempat lagi, dia hanya bisa bilang sepatah kata."
"Apa yang dikatakan?"
"Beliau bilang. 'Ada sesuatu rahasia perlu kuberitahu kepadamu,' sikapnya seperti bertekad hendak memberitahu hal itu kepadaku, tapi setelah maksudnya diutarakan, dia jadi seperti bimbang dan ragu-ragu, akhirnya hanya itu saja yang dikatakan lantas putus napasnya. Rahasia yang sudah dia janjikan hendak diberitahukan kepadaku tetap tidak jadi dikatakan. Ti-pepek, kau harus memberitahu aku kalau tidak hidupku ini selamanya tidak akan bisa tentram."
"Selama hidupku takkan bisa tentram". kata-kata ini seberat bandulan yang menindih sanubari Ti Nio, sekujur badan seperti gemetar dan keringat dinginpun gemerobios. Sebetulnya dia tidak ingin membeber duduk persoalan yang sebenarnya, tapi apakah dia tega membiarkan Han Cin hidup tertekan lahir batin? Lama mereka berhadapan saling pandang, akhirnya Ti Nio seperti berhasil menyingkirkan benda berat yang menindih sanubarinya, dengan lekat dia pandang Han Cin, dengan nada pahit dia berkata.
"Baiklah akan kukisahkan sebuah cerita, cerita tentang diriku."
"Keluarga Ti kami adalah keluarga turun temurun di Kimling, ayahku adalah seorang cikal bakal suatu aliran persilatan, kenyang belajar dan membaca buku, serba mahir surat dan sastra, memetik harpa main catur, tulis menulis dan seni lukis semua adalah keahliannya. Tapi keluarga kami ternyata tidak banyak, kecuali beberapa pelayan dan kacung, kami hanya empat orang, kecuali ayah bundaku bersama aku bertiga, masih ada seorang Piaumoay yang sejak kecil diasuh sampai tumbuh dewasa di rumahku.
"Piaumoay adalah putri tunggal adik ibuku, sejak kecil ditinggal mati ayah bundanya. Mengingat hubungan dekat kakak beradik, ibupun memandangnya seperti anak kandung sendiri, sejak kecil diasuh, dididik sampai besar."
"Sejak kecil kami tumbuh besar bersama, seperti saudara kandung sendiri tapi tabiatnya agak berbeda dengan aku, hobinya sastra dan tidak suka belajar silat, namun sedapat mungkin dia pernah belajar silat padaku, begitu kembali ke kamar tidak pernah dia melepas buku yang senang dibacanya."
"Entah karena ayah bundanya sudah wafat sejak dia masih kecil, sehingga dia suka menyendiri, sering kali setengah hari dia tidak pernah bicara sepatah kata kepadaku. Sering aku mencari kesempatan untuk membuatnya senang dengan berbagai cara yang kubuat-buat, apa keinginannya selalu kuturuti, namun jarang aku bisa menyaksikan senyum tawanya."
"Untuk memperoleh jasa simpatiknya, terpaksa aku berusaha memenuhi segala kesenangannya. Dalam bidang sastra, entah itu memetik harpa, menggambar, membuat syair atau main catur jelas aku bukan tandingannya. Tapi hanya satu, mungkin karena bakatku lebih mendekati kebutuhan, aku belajar meniup seruling, ternyata pelajaran yang kucapai cukup dibanggakan. Kebetulan leluhurku ada meninggalkan sebatang seruling batu pualam, suara yang kutiup dari seruling pualam ini ternyata amat empuk dan enak didengar."
"Seruling pualam itu adalah sebuah pusaka konon dibuat dari pualam dingin yang tumbuh ribuan tahun di dasar laut, kekuatannya dapat menahan bacokan golok dan pedang. Kepada ayah aku minta seruling itu, dengan seruling itu pula ayah mengajarkan ilmu tutuk kepadaku. Dan dengan seruling itulah aku sering membawakan lagu untuk didengarkan Piaumoay. Hanya di kala dia mendengar lagu tiupan serulingku baru kulihat dia mengulum senyum dan tawa. maka latihanku meniup serulingpun lebih giat dan rajin."
"Karena itu pernah aku dimaki oleh ayah karena latihan silat terbengkalai, beliau bilang Piaumoay adalah anak perempuan tidak pandai silat tidak jadi soal, kalau dia tidak suka juga tidak perlu dipaksa. Tapi lain dengan kau, kau adalah anak tunggalku, kelak bakal mewarisi seluruh kepandaianku. Sudah tentu besar harapanku kau pandai sastra dan silat, tapi aku kuatir kau gagal di bidang sastra, mengecewakan pula ilmu silatmu. Dari pada keduanya setengah jalan, maka aku lebih cenderung supaya kau lebih menekuni pelajaran silat."
"Tapi meski ayah memberi wejangan kepadaku, secara diam-diam sering pula aku ajak Piaumoay keluar bermainmain. Di Cong-san kutiup seruling untuk dia dengar."
Sampai disini cerita orang, dalam hati Han Cia diam-diam berpikir.
"Jadi sejak kecil Ti-pepek sudah begitu besar cintanya kepada sang Piaumoay, namun dari nada ceritanya ini, cintanya agaknya bertepuk sebelah tangan, entah siapa pula Piaumoaynya itu, akhirnya menikah dengan siapa?"
Lapat-lapat dia sudah merasakan suatu keganjilan, timbul rasa dingin dalam sanubarinya lekas dia pusatkan perhatiannya tak berani pikir lebih jauh.
Ti Nio seperti tahu jalan pikiran Han Cin, katanya lebih lanjut setelah menghela napas.
"Memang sejak kecil aku amat mencintai Piaumoay, selama hidupku ini hanya dia saja yang pernah kucintai. Sudah tentu waktu kecil aku tidak tahu arti cinta, namun setelah keduanya tumbuh dewasa, aku semakin menyadari bahwa aku tidak boleh meninggalkan dan berpisah dengan dia."
"Tapi aku yakin dia tidak akan meninggalkan aku, bukan lantaran janji yang diucapkan di waktu kecil, adalah karena didalam pandangan ayah bundaku, mereka sudah pandang kami sebagai sepasang suami isteri yang setimpal. Urusan jodoh jelas tidak perlu dirisaukan lagi, hakikatnya tidak pernah terpikir dalam benak ayah bundaku untuk minta persetujuannya, bila kami sudah sama dewasa, boleh tentukan waktu dan langsung nikah. Aku tahu maksud ayah bundaku, dia juga tahu. Jalan pikiranku sama dengan maksud orang tuaku, kukira dia takkan mengetahui, maka hatiku amat lega dan tentram."
"Tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa kami sudah sama dewasa. Aku meyakinkan Thong-cu-kang, kalau menikah terlalu pagi akan mengganggu latihan lwekangku. Ayahku sudah membuat rencana, setelah aku berusia likuran baru akan melangsungkan pernikahanku dengan Piaumoay. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa perjodohanku ini jelas takkan mengalami perubahan apapun, maka akupun turuti saja kehendak orang tua, tidak perlu buru-buru menikah."
"Tapi peristiwa yang tak pernah terduga akhirnya terjadi juga."
"Tahun itu aku berusia sembilan belas, Piaumoay tujuh belas. Tahun itu mendadak ayah keluar pintu menyelesaikan suatu urusan, pulangnya dia membawa seorang pemuda menetap di rumah kita."
"Pemuda ini adalah putra seorang guru sekolah yang kenamaan di Hang-ciu, waktu kecil ayah pernah menjadi muridnya, maka ayah amat patuh dan menghormatinya seperti orang tua sendiri. Sebetulnya ada maksud ayah mengajak guru sastra ini menetap di rumah kita, tapi tabiat guru tua ini memang kaku, beberapa kali ayah utarakan maksud baiknya, tapi selalu ditolaknya."
"Kepergian ayah kali itu karena dia mendapat kabar bahwa guru tua sekolah itu menderita sakit parah, sengaja dia pergi ke Hang-ciu menengoknya, sayang sekali, setiba ayah di rumah guru sekolah itu, penyakit guru tua itupun kebetulan kumat dan tidak terobati lagi, sebelum ajalnya dia masih sempat bertemu muka dan bicara beberapa patah kata."
"Guru sekolah ini hidupnya serba kekurangan, menjelang setengah umur baru menikah dalam usia lanjut baru mendapat anak, putranya kebetulan seusia dengan aku. Sebelum ajalnya dia titip anaknya yang sebatangkara kepada ayah, sudah tentu ayah berjanji dan dengan senang hati menerimanya."
"Guru sekolah itu berpesan. 'Jangan kau kukuh akan tingkatan, dulu kau belajar membaca padaku, kini biar anakku belajar silat padamu, aku tahu seusianya belajar silat memang sudah terlambat, tapi tujuanku hanya supaya badannya sehat. Dia sudah menyembah padaku sebagai pengangkatan guru, kuharap kau tidak menolaknya.'"
"Ayah tahu maksud sang guru, putranya sebaya dengan aku, maka dia mengaturnya demikian, kecuali untuk melicinkan jalan supaya putranya leluasa belajar silat di rumah gurunya, diharapkan pula didalam hal panggilan satu sama lain tidak menjadi kikuk. Ini hanya soal kecil, maka ayah menerimanya. Setelah sang guru memberikan pesannya, maka beliaupun meram dengan tentram."
"Setelah guru meninggal, ayah mengurus penguburannya, setelah lewat masa berkabungnya ayah bawa putranya itu pulang yaitu murid yang baru diterimanya, atau pemuda yang kusebut tadi."
Mendengar cerita sampai disini, dalam hati Han Cin sudah dapat menerka beberapa bagian.
Sejauh ini, Ti Nio tidak menyebut nama pemuda itu, maka diapun tak berani tanya.
Perasaannya berat dan tertekan.
Ti Nio melanjutkan.
"Putra guru ayah sebaya dengan aku, tapi dia lebih muda beberapa bulan, setelah dia angkat ayah sebagai guru maka panggilanpun berubah, dia jadi Suteku."
"Tabiat Suteku ini ternyata mirip Piaumoay, pendiam dan jarang bicara, tidak suka latihan silat. Maklum usianya sudah dewasa tidak mudah mempelajari ilmu tingkat tinggi, apalagi ayahnya juga berpesan supaya dia latihan silat hanya untuk menyehatkan badan, maka ayahku tidak memaksanya latihan silat. Kebetulan tahun itu latihan silatku mencapai saat-saat peralihan, ilmu tutuk perguruan kita teramat sukar untuk diyakinkan, sehingga seluruh tenaga dan pikiran dan waktuku disita untuk memperdalam pelajaran ilmu tutuk itu, pengawasan ayah terhadap latihankupun semakin ketat."
"Tak lama kemudian kusaksikan suatu kejadian, entah karena belakangan ini aku jarang mendekati Piaumoay serta menemaninya bermain, atau karena tabiat yang sama, hubungan mereka ternyata semakin intim dan dekat."
Ti Nio menyambung.
"Sisa waktu latihan silatku tetap tidak bisa dibuang percuma, ayah tidak ingin aku mengabaikan pelajaran sastra, maka Sute selalu ditunjuk untuk memberi petunjuk kepadaku, membuat syair, menggambar atau main catur, sudah tentu akupun ditugaskan mengajarkan dasar pelajaran lwekang untuk menyehatkan badan Sute."
"Kalau Sute mengajar sastra padaku, aku mengajar silat padanya. Tak lama kemudian Sute minta ditambah satu mata pelajaran, dia lebih tekun, lebih rajin mempelajarinya. Coba kau terka pelajaran apa yang diminta?"
Tergerak hati Han Cin, sepontan dia menjawab.
"Dia minta kau mengajarkan meniup seruling."
"Betul, dia minta aku mengajar meniup seruling Pada hal ayahku bisa meniup seruling juga ayahnya yang mengajar."
"Bukan dia tidak bisa soalnya dia merasa tiupan serulingku lebih baik dari padanya, maka dia ingin belajar lebih baik."
"Waktu itu aku memang terlalu bodoh, kukira dia hanya ketarik oleh seruling saja, tidak pernah terpikir olehku kenapa dia begitu tekun belajar meniup seruling."
Tanpa merasa Han Cin berkata pula.
"Oh, dia belajar seruling untuk diperdengarkan pada Piaumoaymu."
Ti Nio menunduk diam sesaat, katanya kemudian.
"Sebetulnya umpama dia tidak pandai meniup seruling, Piaumoayku juga tetap mencintainya. Dia justeru belajar seruling, tujuannya tak lain untuk lebih memikat hati Piaumoay saja."
Setelah menghela napas, Ti Nio berkata lebih lanjut.
"Suatu ketika habis latihan silat, sengaja aku mencari Piaumoay, kemana-mana tidak kutemukan dia. Akhirnya kucari dia ke danau dimana dulu sering aku mengajaknya main, barulah disana kutemukan dia."
"Disana dia tidak seorang diri, di dampingnya ada seorang pemuda yang menemaninya jalan-jalan. Kukira tidak usah kujelaskan tentu kau sudah tahu, pemuda itu sudah jelas adalah Suteku."
"Dulu sering aku di tepi danau di bawah pohon meniup seruling untuk didengar Piaumoay, tapi hari itu kedudukanku diganti oleh Sute. Lagu yang dibawakan adalah lagu cinta untuk sang pujaan hati. Piaumoay begitu kesengsem, mendengar dengan senyum mekar dan asyik sekali, pandangannya begitu hangat dan mesra."
"Ai, selama kita bersama, belum pernah Piaumoay tertawa seriang itu kepadaku, bila dia mau memandangku dengan tatapan seperti itu, meski usiaku harus diperpendek beberapa tahun juga rela."
"Apapun yang terjadi sekarang aku sudah paham, secara diam-diam aku mengundurkan diri, dengan perasaan yang hancur dan hati yang kecewa aku pulang.ke rumah."
Han Cin tidak berpendapat bahwa sang Piaumoay harus mencintainya, tapi mendengar kisah yang mengharukan ini, tak urung dia ikut sedih juga. Pikirnya.
"Ai, siapa yang salah? Siapapun tiada yang salah!"
"Malam itu aku melakukan perbuatan salah selama hidupku."
Ti Nio melanjutkan ceritanya.
"Tengah malam aku membangunkan Sute, aku bilang, bukankah kau ingin belajar meniup seruling, mari ikut aku ke suatu tempat."
"Malam itu terang bulan, cuaca cerah, dia kira malam nan indah ini menimbulkan seleraku untuk mengajar seruling padanya, meski hati rada heran, tapi dia ikut kepadaku. Aku membawanya ke tepi danau, di bawah pohon dimana siang tadi dia meniup seruling untuk Piaumoay. Aku keluarkan seruling pemberian ayah."
"Waktu itu agaknya dia sudah tahu maksudku, aku tidak banyak bicara, diapun tidak tanya, dia hanya berdiri mematung mendengarkan irama serulingku. Aku tuangkan seluruh perasaan hatiku melalui irama seruling, kulimpahkan betapa derita batinku selama aku merindukan cinta sang pujaan."
"Aku yakin tiupan serulingku waktu itu merupakan tiupan yang pafing mengharukan dan mengetuk hati orang selama hidupku, habis satu lagu air matapun berlinang. Sute tetap tidak bicara barang sekecap, tapi aku lihat air matapun berkaca-kaca di kelopak matanya.
"Lama dan lama sekali baru aku berkata. 'Sebetulnya bukan maksudku meniup seruling ini untuk kau dengar tapi kutiup untuk seorang lain, sayang dia sudah tidak suka mendengar tiupan serulingku lagi, dia hanya suka mendengar tiupan serulingmu.'"
"Sute menyeka air mata, katanya. 'Suheng, kau tak perlu kuatir. Aku tahu siapa yang kau maksud, untuk selanjutnya aku berjanji tidak akan meniup seruling pula di hadapannya."' "Dua hari kemudian, mendadak ayah tanya kepadaku, tahukah kau kenapa Sutemu mendadak minta diri hendak meninggalkan kita?"
"Ayah memberitahu padaku Sute bilang karena dirinya tidak berbakat belajar silat maka dia ingin pulang ke kampung halaman untuk bercocok tanam saja, hidup berdikari. Sudah tentu ayah menampik alasannya, pesan ayahnya dulu tetap dijadikan pedoman untuk menahannya tinggal di rumahku. Syukur ayah berhasil membatalkan niatnya. Tapi ayah kira tabiatnya itu mewarisi watak ayahnya yang suka menyendiri dan kaku, malu makan gratis di rumah perguruan sehingga timbul niatnya pulang ke kampung halaman. Ayah malah kuatir tutur kataku setiap hari mungkin menyinggung perasaannya, maka aku dipesan wanti-wanti supaya tidak berlaku kasar padanya. Sudah tentu aku tahu sebab musababnya, sudah tentu aku tidak berani untuk memberitahu kepada ayah. Semalam suntuk aku tidak bisa tidur, otakku bekerja keras, timbul tanda tanya apakah aku mengharapkan dia meninggalkan perguruan?"
"Terbayang betapa cerah dan manis senyum mekar Piaumoay kepadanya, serta tatapan matanya yang begitu birahi, ingin rasanya dia lekas pergi meninggalkanku. Tapi terpikir pula pergaulan belum genap setahun ini, hubunganku dengan dia sudah seperti saudara sekandung, bila dia meninggalkan aku selama hidupku ini mungkin sukar aku memperoleh teman sebaik itu, aku jadi berat ditinggal pergi."
"Ai, bila aku sudah tahu peristiwa yang terjadi belakangan..."
Mimik Ti Nio sekarang melambangkan kenangan lama yang serba salah, serba dosa dan sukar untuk disesalkan, rasa malu, hambar, sedih serta pilu bercampur aduk.
Berbagai perasaan gado-gado ini terlimpahkan dalam suaranya yang bergetar terunjuk dalam sorot matanya pula.
Han Cin juga tak kuasa menahan gejolak perasaannya, tanyanya.
"Belakangan apa yang terjadi?"
Ti Nio menghela napas panjang.
"Sejak hari itu tak pernah kulihat mereka bersama, tapi sejak itu pula Piaumoay tidak ambil peduli kepadaku."
"Aku duduk tidak tenang, tidur tidak nyenyak, hasratku latihanpun pudar, pada hal ayah sering memaki aku, latihan yang sebetulnya makan satu jam, aku hanya setengah jam. Begitu mengakhiri latihan, aku selalu mencari berbagai alasan untuk mencarinya."
"Tapi dia selalu juga menggunakan berbagai alasan, selalu menolak ajakanku, kalau bukan hendak belajar, katanya mau menjahit, pernah juga bilang badan kurang enak, hari ini tidak ada minat bermain dan alasan lain. Terakhir dia malah mengunci diri dalam kamar tidak mau menemui aku."
"Kesehatannya ternyata semakin menurun, mukanya pucat badan kurus, entah dia kena sakit, keadaannya memang mirip orang sakit benar-benar."
Dalam hati Han Cin menghela napas, batinnya.
"Memang Ti-pepek sendiri yang salah, tidak bisa menyelami perasaan seorang gadis. Bibit cinta yang baru bersemi dalam hati seorang gadis justru kau cabut mentah-mentah, tidaklah heran kalau dia merasa keki kepadamu?"
"Setelah berbagai peristiwa itu, sebodoh-bodohnya aku juga akhirnya paham akan isi hatinya,"
Demikian Ti Nio melanjutkan ceritanya.
"Sekarang aku paham, yang betulbetul dicintainya adalah Sute bukan aku."
Maka Han Cin berkata.
"Hubungan cinta laki perempuan memang teramat ganjil, cinta hanya boleh dikejar secara wajar, tidak boleh dipaksakan. Ti-pepek, kejadian sudah lama berselang, kenapa pula sekarang kau harus menyiksa diri,"
Usianya patut menjadi putri Ti Nio, tapi apa yang dia ucapkan ini, seolah-olah ditujukan kepada seorang yang sebaya usianya dengan dia.
Namun Ti Nio tidak menjadi runyam atau risi dan kikuk, dengan sorot penuh haru dan terima kasih dia menatap Han Cin, dengan manggut-manggut dia berkata.
"Ucapanmu memang betul, sayang sekali waktu itu tiada orang yang bicara seperti kau sekarang kepadaku."
"Akan tetapi umpama waktu itu ada orang berkata demikian mungkin aku tetap takkan mau mendengar nasehatnya. Sejak Piaumoay mulai berjalan dan belajar bicara aku sudah hidup bersama dia. Selama dua puluh tahun ini hanya dia seorang yang terukir dalam sanubariku, bila dia riang aku ikut riang, bila dia sedih aku jadi sedih."
"Kini setelah kutahu dalam kalbunya telah terisi orang lain, dan karena orang itulah sehingga kehadiranku telah dicampakkan dari relung hatinya, coba kau pikir bagaimanaperasaanku waktu itu? Aku dibakar rasa cemburu, aku jelus, hampir aku gila karena cemburu, lama kelamaan badankupun kurus dan pucat."
Semakin dengar hati Han Cin semakin takut dan kaget serta tidak tentram, pikirnya.
"Dalam keadaan seperti itu, entah apa saja yang bakal dilakukan Ti-pepek?"
Lapat-lapat terasa olehnya, bahwa kejadian itu pasti ada sangkut pautnya dengan dirinya, namun dia tidak berani tanya, maka dia hanya menanti, menunggu Ti Nio sendiri yang akan menceritakan.
Setelah istirahat Ti Nio meneruskan.
"Setelah aku paham isi hati Piaumoay, isi hatiku dan perubahanku juga telah diketahui oleh ayah bunda."
"Suatu hari ibu memanggilku dan ajak aku bicara seorang diri, dia tanya kepadaku, ayah bilang belakangan ini kau seperti tiada semangat latihan, kenapa? Aku tidak berani mungkir, tapi akupun tidak berani menjelaskan sebab musababnya."
"Ibu bilang, kau tidak usah mencari alasan untuk ngapusi aku, kau adalah anak kandungku apa yang terpikir dalam benakku, memangnya aku tidak bisa ikut merasakan?"
"Maka diapun bertanya pula. Belakangan ini agaknya kau menjauhi Piaumoay, hubunganmu seperti renggang, apa pula yang terjadi?"
"Aku tetap menjawab. 'Aku tidak tahu."
Tapi tak tahan aku tambahi sepatah kata. 'Bu kalau kau ingin tahu boleh kau tanya kepada Piaumoay saja.'"
"Seperti tertawa tidak tertawa ibu mengawasiku, katanya, kau takut dia sudah besar, sudah tumbuh sayap dan bisa terbang sendiri?"
"Aku diam saja, tapi tak tahan aku menghela napas."
"Ibu juga ikut menghela napas, katanya. 'Anak bodoh, kalau untuk soal ini kau jadi risau, kukira mungkin kau yang terlalu banyak curiga.'"
"Ibu bilang, Piaumoaymu memang bukan dilahirkan dari rahimku, tapi sejak kecil akulah yang mengasuh dan membimbingnya, tabiat memang lembut dan penurut, aku tidak percaya kalau dia tidak punya perasaan balas budi. Seorang lagi, dia mendapat perlindungan pula di rumah kita, yakin diapun takkan berani melakukan perbuatan yang mendurhakai kita."
"Agaknya ibu sudah menangkap adanya gejala kurang sehat di antara kami bertiga, orang lain yang dimaksud dalam perkataannya sudah jelas ditujukan kepada Sute."
"Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada ibu? Itu menurut pandangan beliau orang tua, dia anggap bila Piaumoay main cinta diam-diam dengan Sute itu berarti durhaka dan lupa budi pekerti. Kalau dia begitu yakin dan percaya kepada mereka, kenapa aku harus menjelek-jelekkan hubungan mereka?"
"Ibu bilang lebih lanjut. Mungkin usia kalian sudah dewasa, Piaumoay tahu cepat atau lambat akan jadi menantuku, maka dia merasa malu dan kikuk terhadapmu, sehingga gerak gerik dan sikapnya belakangan ini seperti agak terkekang."
"Sebetulnya ayahmu sudah memutuskan untuk menikahkan kalian di akhir tahun nanti, tapi setelah melihat keadaan sekarang, lebih baik kalau soal jodoh ini dipercepat saja supaya tidak timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Anak bangun, jangan kau banyak pikiran lagi, ibu bisa menguruskan sampai beres. Mulai besok, kau harus mulai giat latihan lagi dengan ayahmu."
"Aku tahu apa maksud 'mengurus sampai beres' yang diucapkan ibu, memangnya aku terlalu gegabah waktu itu, aku tinggal diam dan tiada pendapat. Ai, mungkin juga karena egoisku didalam sanubariku pada hal aku juga senang dan terhibur bahwa ayah bundaku telah mengaturnya?"
"Hari itu akhirnya tiba, ayah bunda melakukan kesalahan, kesalahanku lebih besar lagi."
"Kesalahan apa yang lebih besar?"
Han Cin tidak berani tanya, terpaksa hanya menunggu cerita sambungannya.
Dalam gemblengan derita masa lalu yang menjadi kenangan pahitnya sekarang, wajah Ti Nio tampak merah hijau dan pucat bergantian, seolah-olah dia takut menceritakan perbuatan salah apa yang menjadikan dia begitu menyesal dan malu.
Melihat betapa sedih dan derita Ti Nio sekarang, hampir tak tertahan dia hendak berteriak.
"Tipepek, kalau kau tidak ingin membeber masa lalu, janganlah kau teruskan ceritamu."
Tapi setelah mengertak gigi, akhirnya Ti Nio melanjutkan ceritanya.
"Hari itu adalah hari ulang tahun ayah, dia tidak memberitahu sanak kadang, hanya membuka sebuah meja perjamuan, orang sendiri dipanggil untuk merayakan bersama."
"Tahun ini ayah berusia empat puluh sembilan, hidangan ulang tahun yang disiapkanpun hanya ala kadarnya saja. Kalau tidak mengundang teman-teman adalah jamak. Tapi anehnya yang menghadiri perjamuan kali ini ternyata hanya Piaumoayku seorang tanpa kehadiran Sute."
"Sejak Sute berada di rumah kita, ayah selalu memandang sebagai keluarga sendiri, kenapa pada hari ulang tahun ayah kali ini, dia tidak diundang untuk merayakan bersama. Tapi meski hati merasa heran, lapat-lapat aku sudah menduga apa yang akan terjadi."
"Betul juga, setelah kami masing-masing minum tiga cangkir arak, ayah membuka kata lebih dulu. 'Tahun depan aku sudah genap lima puluh tahun situasi sekarang kurang aman, kemungkinan peperangan akan geger maka aku ingin selekasnya menunaikan keinginan hatiku.'"
"Ganti ibu yang bicara. 'Hwi-ji (nama kecil Piaumoay), ibumu dulu serahkan kau kepadaku, aku adalah bibimu, tak ubahnya ibu kandungmu juga, bukan saja aku mengangapmu sebagai putri kandungku akupun ingin kau menjadi menantuku, perjamuan malam iui di samping merayakan ulang tahun pamanmu sekaligus untuk mengikat perjodohanmu dengan anak Nio, sekarang juga kalian boleh tukar cincin. Perjodohan boleh diresmikan dulu, soal perjamuan boleh diundur untuk beberapa waktu lagi. Bisa saksikan kalian menjadi suami isteri, itu adalah cita-cita pamanmu juga keinginanku. Sejak kecil kalian dibesarkan bersama, maka kaupun tidak perlu malu.'"
"Ibu kira Piaumoay pasti tidak menolak, apa yang dikatakan tak ubahnya sebuah perintah belaka, hakikatnya dia tidak pernah minta pendapat dan persetujuannya."
"Tak tahunya setelah mendengar perkataan ibu, air mata Piaumoay bercucuran, air mukanyapun berubah."
"Ibu melenggong katanya. 'Lho, kenapa, kau tidak mau?'"
"Sambil menyeka air mata menahan isak Piaumoay berkata. 'Bibi, terima kasih akan budi kebaikanmu membesarkan aku, aku suka selamanya menjadi putrimu."
"Ibu bilang, jadi kau tidak mau menjadi menantuku. Sejak kecil kau bergaul dengan anak Nio hanya kau saja yang terukir dalam sanubarinya, tentunya kau juga tahu. Memangnya dalam hal apa anak Nio tidak setimpal jadi suamimu? Umpama kau tidak mengingat sejak kecil aku mengasuh kau, seharusnya kau pun tidak menolak cinta murninya."
Ti Nio menghela jiapas, menyambung ceritanya.
"Perkataan ibu mengetuk sanubarinya, tak tertahan aku ikut mencucurkan air mata."
"Dengan kesima aku mengawasi Piaumoay, kupikir sorot mataku waktu itu, pasti dapat membuatnya pilu karena terasa tatapanku yang menyalahkan dia."
"Ai, aku terharu oleh perkataan ibu, namun tak terpikir olehku, bahwa perkataan ibu telah melukai sanubarinya yang suci."
"Ai, waktu itu aku hanya pikirkan rasa sedihku sendiri, diluar tahuku dia justru lebih sedih dari aku."
"Keadaan jadi serba runyam, sudah tentu ayah jadi kurang senang, katanya. 'Kalian mau merayakan ulang tahunku atau mau mengantar kematianku? Hmmm, kupikir hendak mendatangkan hari bahagia rangkap, kalian justeru bertangisan apa-apaan ini? Apa kehendak kalian boleh terus terang saja kepadaku,' mulutnya mengatakan 'kalian' tapi matanya justru menatap Piaumoay."
"Ai, sudah tentu Piamoay tidak kuat menerima tekanan berat ini? Dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan ayah ibu, katanya. 'Bila bibi dan paman tidak merawatku, mana aku bisa hidup sebesar ini, apapun kehendak kalian boleh terserah saja, mohon kalian tidak marah. Paman, bukan maksudku hendak mendatangkan rasa sebalmu, aku hanya terkenang pada ayah bunda yang telah berada di alam baka, aku hanya benci pada diriku sendiri kenapa aku bernasib sejelek ini, kenapa ayah ibu mati sejak aku masih kecil."
"Aku tidak tahu apakah Ayah dan ibu tahu kata-katanya yang mengandung arti sampingan, tapi aku tahu kemana arah perkataannya. Bila ayah bundanya masih hidup, tidak bakal^dia harus tunduk pada perintah ayah bundaku."
"Tapi-kalau dilanjutkan aku harus malu kepada diriku sendiri, waktu itu bukan saja aku tidak kasihan padanya, malah rasa cemburuku semakin berkobar. 'Jadi kau dipaksa menyetujui menikah dengan aku, aku menikah dengan badanmu, tapi cintamu justeru kau berikan kepada orang lain.'"
"Tapi ibuku amat senang, mungkin memang dia tidak tahu, atau untuk menghilangkan rasa kikuk dan runyam, dia purapura tidak tahu. Dia memapah Piaumoay dan berkata. 'Anak yang baik, aku tahu kau pasti mendengar nasehatku. Kau terkenang ayah bunda yang telah lama mangkat adalah jamak dan sepantasnya. Tapi bila mereka tahu hidupmu selanjutnya sudah tidak akan kapiran, di alam baka yakin ayah bundamu juga terhibur. Hari ini hari baik, jangan kau bersedih pula, marilah dengan riang gembira kita habiskan hidangan ini, habiskan arak bahagia ini.'"
"Piaumoay memaksakan senyum getir menuang arak, sebaliknya ingin tertawapun aku tidak bisa lagi. Tapi aku minum arak banyak sekali, arak dapat menghilangkan rasa kesal, tanpa terasa aku menenggak habis beberapa cangkir sampai akhirnya aku mabuk."
"Ibu suruh dia memapahku masuk ke kamar tidur, dia suruh Piaumoay belajar menjadi seorang isteri yang baik, seorang isteri yang baik harus tahu bagaimana meladeni suami."
"Begitu masuk kamar, berhadapan dengan dia, arak dalam perutku seperti membakar badan rasa jelusku mendadak berkobar pula, mataku melotot mengawasinya."
"Sikapku membuatnya kaget. Dia bilang, Piauko, kau mabuk, lekaslah tidur. Dia bantu aku mencopot baju luar memapahku naik ke tempat tidur. Agaknya dia mengharap aku lekas tidur pulas, supaya dia lekas keluar dari kamar."
"Sikapnya yang gopoh ternyata membakar amarahku. 'Aku kan bukan harimau, memangnya kau takut kucaplok?' demikian pikirku. Lalu aku berpikir pula. 'kau hendak menghindariku, karena apa? Bukankah untuk cepat-cepat menemui gendakmu?'"
"Mendadak aku berjingkrak duduk, mataku melotot makin besar. Kataku. 'Aku tidak mabuk, siapa bilang aku mabuk. Aku tahu jelas, kau tak mencintai aku, kau mencintai Sute. Terus terang saja padaku, sekarang kau ingin berkencan dengan dia? Rasa sedihmu hanya bisa kau limpahkan di hadapannya?'"
"Dia melenggong, air mata bercucuran, katanya dengan tersedu-sedu. 'Piauko, maafkan aku, aku menampik cintamu, tapi, aku, aku tidak kuasa atas diriku..."' "Angan-anganku yang terakhirpun lenyap, meski aku tahu dia mencintai Sute, tapi aku masih mengharap dia menyangkal, umpama dia menipuku juga tidak jadi soal."
"Sekarang, justru terbalik, dia mengaku terus terang, dia tidak bisa tidak harus mencintai Sute. Hm, berani dia minta maaf kepadaku."
"Aku tidak berani mendengar perkataannya lagi, aku menyeringai dingin. 'Sayang sekarang kau sudah menjadi istriku.'"
"Seolah-olah dia berhadapan dengan seorang asing, sesaat kemudian baru berkata lirih. 'Memang aku sudah berjanji kepada bibi untuk menjadi istrimu, aku pun tidak ingin ngapusi kau, sekarang aku belum bisa melupakan dia. Setelah menikah, lebih baik kau membawaku ke tempat jauh. kelak aku pasti akan melupakan dia.'"
"Dia bicara setulus hati, sayang dia lupa satu hal, aku sedang mabuk, aku sudah kehilangan kesadaranku, saat seperti itu aku lebih suka menipu diriku sendiri, mana aku mau mendengar nasehatnya."
"Aku tidak kuasa menahan gejolak nafsu binatangku yang meledak. 'Kau tidak akan melupakan dia, aku pun tidak sudi kau menjadi isteriku karena dipaksa, hatimu tidak dapat kumiliki, biar aku merasakan kenikmatan tubuhmu.""
"Aku, aku bukan manusia, aku binatang jalang, aku melakukan perbuatan hina dan kotor yang tidak dapat kumaafkan sendiri, perbuatan yang kusesalkan selama hidup."
Hati Han Cin seperti mengejang, bagai diiris-iris, dia ikut sedih akan nasib Piaumoaynya, diapun ikut kasihan akan nasib Ti Nio. Setelah menyeka air matanya, lama kemudian Ti Nio berkata.
"Aku mendengar isak tangisnya, rasa mabukku seketika buyar."
"Aku menyesal, aku malu. kenapa aku bisa melakukan perbuatan kotor, yang melebihi binatang liar. Langsung aku gampar mukaku sampai bengkak besar, tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya."
"Aku tidak berani mohon maaf, akhirnya malah dia yang bicara dulu. 'Piauko, aku tidak akan membencimu, aku malah kasihan padamu, tapi sukalah kau maafkan aku, kuharap kau melupakan kejadian ini, lupakan pula diriku ini."' "Setelah berkata dia dorong jendela terus lari pergi. Aku sadar dan mabukku, tapi kakiku lemas lunglai akupun malu untuk mengejarnya."
"Sejak dia lari itulah untuk selanjutnya dia tidak pernah pulang lagi."
"Ai, apapun yang telah terjadi, kesalahan ada padaku, sehingga aku harus berpisah dengannya untuk selamalamanya, meski hanya perpisahan hidup tapi tak pernah aku memperoleh kesempatan untuk menyatakan penyesalan hatinya."
"Ternyata Sute lenyap bersama dia. Sejak itu aku tidak pernah melihat Suteku lagi"."
"Menghadapi peristiwa yang memalukan dan menyedihkan ini, sudah tentu ayah bundaku amat sedih dan marah sekali. Tapi entah berpegang pada kejelekan keluarga pantang tersiar, supaya tidak menyakiti hatiku pula, ayah bunda tidak mengungkat lagi akan perbuatan mereka yang buron itu. Bukan ayah bunda saja yang bungkam, pelayan dan kacung rumahkupun tiada yang berani menyinggung mereka pula."
"Orang mati biasanya masih dikenang, tapi orang-orang keluargaku justru anggap mereka tidak pernah ada dalam rumahku, seperti sesuatu yang mendadak lenyap tanpa bekas."
"Meski mereka sudah pergi, walau tiada seorangpun yang membicarakan mereka lagi, tapi bayangan mereka tetap terukir dalam sanubariku, sampai sekarang tidak bisa dihapus."
"Piaumoay ada meninggalkan dua patah kata, supaya aku melupakan peristiwa malam itu, melupakan dia. Tapi dapatkah aku melupakan dia."
"Aku tak mampu mencari tahu berita dan jejak mereka, namun benar aku tidak berani mencari tahu mereka. Terpaksa aku hanya menyiksa diri dengan kehidupan merana dan menyepi, sering aku mondar mandir di danau, meniup serulingku, mengenang masa lalu."
Berlinang air mata Han Cin, pikirnya.
"Tak heran sebelum pergi Piaumoaynya bilang tidak membencinya, tapi kasihan padanya. Tapi aku harus simpati dan kasihan pada siapa?"
Tanpa merasa dia angkat kepala dan memandang dengan air mata berlinang, serunya.
"Ti-pepek.""
Sejenak Ti Nio memandangnya, sesaat dia bimbang lalu katanya.
"Jangan kau .kasihan padaku, memang pantas aku memperoleh hukuman ini."
"Sebetuluya aku tiada hasrat melanjutkan cerita ini, tapi ceritanya belum selesai. Aku merasa aku harus membeber segala persoalan ini kepadamu."
"Situasi tidak meleset dari dugaan ayahku, agresor Watsu telah memasuki tanah air kita, dalam pertempuran besar di Tho-bok-po, pasukan kerajaan dynasti Bing dipukul hancur berantakan, pada hal raja Ing-cong sendiri yang memimpin pasukan besar juga akhirnya menjadi tawanan musuh. Syukurlah sekretaris militer pada masa itu Ih Cian bertindak tegas, segera mengangkat junjungan baru dan sekuat tenaga mempertahankan ibu kota melawan serbuan musuh yang lagi menang, kalau tidak dynasti Bing pasti sudah runtuh dan musnah sejak dua puluhan tahun yang lalu."
"Bahwa negara dikacau peperangan lekas sekali berhasil diamankan adalah urusan belakang. Pada hal agresor Watsu sempat mengeduk harta kekayaan negara dan rakyat, rakyat jelata tidak sedikit yang menderita oleh peperangan itu, bahwa raja ditawan dan ibu kota dikepung sudah tersiar luas sehingga rakyat di daerah Kanglampun sudah ribut dan geger sendiri, meski pasukan kuda Watsu belum tiba di Kanglam, tapi anasir-anasir pemberontak dan kaum dorna sudah kasak kusuk dengan pihak Watsu, mereka siap menyambut serbuan pasukan Watsu dari dalam."
"Dalam suasana kacau dan geger itu, semua orang sibuk mengurus harta dan keselamatan dan siap menyambut perubahan yang bakal terjadi, meski aku amat merindukan mereka tapi rasa sedihku sudah banyak berkurang."
"Sungguh tak nyana dalam saat-saat genting itulah aku mendapat berita mereka."
"Suatu hari, tanpa sengaja aku mendengar percakapan ayah dan ibu, mereka sedang membicarakan Piaumoay."
"Ibu sedang memaki Piaumoay. 'Sia-sia aku mengasuh dan membesarkan dia, setelah besar dia malah migggat bersama muridmu, kini sudah ketahuan jejak mereka, coba katakan tindakan apa yang hendak kau lakukan?'"
"Agaknya ayah jadi ragu-ragu, katanya kemudian. 'Kau lakilaki tidak punya pendirian, memangnya kau mandah peluk tangan terhadap manusia yang tidak kenal budi dan cinta kasih, kau biarkan saja mereka merusak nama baik keluarga kita?'"
"Ayah menghela napas, katanya. 'Umpama mereka dibekuk kembali memangnya hukuman apa yang hendak dijatuhkan pada mereka, apakah kita masih mengharap dia menjadi menantu kita?'"
"Akhirnya ibu menghela napas, katanya. 'Walau tidak akan jadi menantuku, aku penasaran kalau kau tinggal diam. Aku tetap menentang perjodohan laki perempuan cabul itu. Aku ingin kau menangkap mereka kembali, hukum mereka dengan aturan keluarga. Apalagi dia satu-satunya keponakanku, kalau aku tidak memanggilnya pulang, aku akan berdosa pada kakak yang telah meninggal.'"
"Akhirnya aku berlari masuk dan berteriak. 'Ayah, ibu, kuharap kalian tidak mempersulit mereka lagi, dalam hal ini akulah yang salah bukan salah mereka."' "Ayah menghela napas panjang, katanya. 'Nah, sudah kau saksikan, umpama mereka ditangkap kembali, kecuali kau menghukum mati mereka, kalau tidak anak Nio sendiri yang akan menderita lahir batin. Yakin kaupun takkan tega menghukum mati mereka bukan? Kalau demikian kenapa tidak kau biarkan saja mereka mencari jalan hidupnya sendiri.'"
"Ibu geleng-geleng kepala, katanya kepadaku. 'Sungguh tak kira, kaupun begini tidak becus dan lemah perasaan, dia mengingkari dirimu, kau justru membela dan melindunginya. Kalau demikian, mereka memang tidak boleh masuk ke pintu rumah kita. Baiklah, anggaplah aku yang bertindak kasar, biarlah mereka mencari hidupnya sendiri.'"
"Aku berkata. 'Bu, bukan aku ingin mengundang mereka pulang, tapi aku ingin tahu dimana jejak mereka sekarang.'"
"Ibu bilang. 'Apa, kau masih pingin mencari dan bertemu dengan mereka?""
"Aku berkata. 'Aku boleh tidak bertemu dengan mereka, tapi aku harus tahu kabar tentang mereka, kalau tidak hatiku tidak akan tentram.'"
"Apa boleh buat, akhirnya ibu memberitahu. 'Mereka sembunyi di famili Sutemu dari keluarga miskin. Konon mereka sudah menikah dan berkeluarga.'"
"Semula aku memang tidak berani mencari mereka, tapi situasi sehari demi sehari semakin buruk dan tegang serombongan pemberontak kabarnya merajalela di daerah Soh-ciu, kabarnya kaum pemberontak inipun katanya akan menyerbu Hang-ciu,"
"Keluargaku juga sudah siap mengungsi. Aku jadi kangen dan merindukan mereka, aku ikut gugup dan gelisah akan keselamatannya. Mereka tidak memiliki Kungfu sejati dan dalam keadaan rudin lagi, berada di kota yang teracam peperangan, apakah mereka mampu menyelamatkan diri dari malapetaka? Dalam keadaan yang sudah kepepet dan kritis itu, siapa lagi yang mau membantu mereka kecuali aku?"
"Siapa tahu setibaku di Hang-ciu, ternyata aku jadi amat kecewa."
"Mereka tidak mau menemui kau?"
Tanya Han Cin. Ti Nio geleng-geleng kepala, katanya.
"Bukan."
"O, jadi mereka berdua sudah pergi?"
"Bukan mereka berdua, tapi mereka bertiga sudah mengungsi."
"Lho,"
Han Cin bersuara heran.
"siapa pula yang satu?"
Ti Nio pandang Han Cin lekat-lekat katanya.
"Dengarkan ceritaku lebih lanjut, nanti kau tahu sendiri."
"Aku berhasil menemukan famili miskin keluarga Sute, dia memberitahu kepadaku, bahwa Piaumoay sudah melahirkan orok perempuan, baru saja genap sebulan. Memangnya kondisinya amat lemah, setelah habis melahirkan lagi, namun karena situasi sudah amat tegang, kuatir peperangan menjilat kemari, orok kecil itu akan ketimpa malang. Maka dua hari sebelum aku datang, mereka sudah mengungsi. Agaknya Piaumoay sudah menduga aku bakal menyusulnya, maka dia meninggalkan sepucuk surat minta disampaikan kepadaku."
"Sebelum aku membuka surat itu, aku sudah menduga apa isi suratnya. Memang tidak meleset, dalam suratnya itu dia memberitahu kepadaku bahwa putri yang dilahirkan itu adalah anakku, pernah timbul maksudnya hendak mengembalikan putriku itu kepadaku, tapi akhirnya dia bertekad untuk mengasuh dan merawat bocah itu meski apapun yang akan dihadapinya. Karena diapun mengharap ada nona cantik dari keluarga ternama yang akan dipersunting olehku, kalau orok ini ditinggalkan untukku, pasti akan mengganggu perjodohanku. Maka mereka berkeputusan meski keadaan serba susah, mereka akan tetap berusaha memelihara anak itu, sampaipun harus mengorbankan jiwa raga sendiri juga mereka lakukan demi keselamatan orok itu sehingga tumbuh dewasa."
Saking terharu Han Cin berteriak.
"Dia memang tidak menipu kau, dalam pengungsian itu, akhirnya dia memang berkorban karena anak itu, saat itu si bocah baru berumur genap setahun."
"Ceritaku sudah tamat. Aku tidak pernah menikah lagi sampai sekarang, selama dua puluhan tahun ini aku selalu mencari anak itu, sekarang aku berhasil menemukan dia, entah anak ini, dia, dia..."
Dengan mata berlinang Han Cin tatap Ti Nio sekian lamanya, jantung Ti Nio seperti gelombang badai yang mengamuk rongga dadanya, seperti seorang tawanan yang siap difonis hukumannya oleh hakim.
"Aku sudah paham, segalanya sudah kumengerti,"
Ucap Han Cin kelu.
"aku adalah orok itu. Piaumoaymu adalah ibuku, Sutemu, dia, dia adalah ayahku."
Seperti tenggelam hati Ti Nio, katanya berat.
"Apa yang dia katakan memang tidak salah, hanya Han-sutelah yang pantas jadi ayahnya, aku, aku tidak setimpal jadi ayahnya."
"Ayah,"
Mendadak Han Cin menjerit serta menubruk kedalam pelukannya.
"Sekarang aku sudah paham, kenapa selama ini ayah tidak mau memberitahu padaku, ternyata aku bukan anak kandungnya. Tapi aku tahu sebelum ajalnya dia ingin membeber persoalan sebenarnya, kukira di alam baka arwahnya tentu sudah tahu dan ikut senang bahwa hari ini aku sudah berkumpul dengan ayah kandungku. Ah, tidak, salah omonganku. Kau adalah ayah kandungku, diapun ayahku juga. Ayah, maukah kau maafkan perkataanku ini?"
Dengan air mata bercucuran Ti Nio dengarkan pengakuan putrinya, betapa lega hatinya, katanya.
Baca Juga: Telapak Setan 9
Baca Juga: Perguruan Sejati 2