Eps 2 Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id.
Ko Ceng-kim tidak mendirikan kuburan, pun tidak membuat batu nisan, yang dia lakukan waktu itu hanya menggali liang lalu memasukkan jenazah Bu-kek Tojin dengan begitu saja lalu meratakan kembali liang kubur itu.
Biarpun dia masih ingat dengan letak tempat itu, dia pun meninggalkan tanda di sana.
Namun daripada menyuruh orang lain yang menggali, bukankah jauh lebih tepat kalau dia sendiri yang mengerjakan?
Persoalan ini pernah ditanyakan Put-coat kepada gurunya, namun jawaban Suhunya belum cukup untuk menghilangkan perasaan curiganya.
Menurut Suhu, hal ini disebabkan Put-ji sedang bertugas di wilayah Liauw-tong.
Kalau memang begitu, mengapa penggalian itu tidak dilakukan setelah kepulangan Put-ji?
Sewaktu Suhu menyerahkan tugas itu kepadanya, Put-ji sudah tiga bulan pergi ke Liauw-tong, menurut perhitungan, seharusnya dalam waktu dekat dia pasti sudah balik kembali ke bukit Bu-tong.
Menurut Suhu, kepergian Put-ji ke wilayah Liauwtong kali ini karena sedang melacak dan menyelidiki tempat yang pernah didiami Sumoynya bersama Keng King-si pada enam belas tahun berselang.
Karena masalahnya pelik, sukar diramalkan sampai kapan dia baru balik lagi ke perguruan.
"Usiaku bertambah tua, mungkin tidak dapat menunggu lebih lama lagi."
Tapi mengapa baru sekarang gurunya teringat untuk memboyong tulang belulang Bu-kek Tojin agar bisa dikebumikan di perguruan?
Bukankah enam belas tahun bukan jangka waktu yang pendek?
Tentu saja masalah inipun masih bisa diberi penjelasan, biarpun usia gurunya tahun ini sudah mencapai tujuh puluh tujuh tahun, akan tetapi kesehatannya masih sangatbagus.
Sebelum kejadian ini, mungkin saja dia beranggapan bahwa masalah itu bukan masalah 'pelik yang harus segera diselesaikan', karenanya tidak pernah terlintas pikiran untuk berbuat begitu.
Dan sekarang dia mulai merasa 'usianya makin tua dan kesehatannya makin rentan'.
Tentu penjelasan itu merupakan penjelasan yang dia berikan untuk gurunya, karena yang pasti, dia tidak mungkin berani "bertanya dan menegur"
Gurunya.
Belum tentu penjelasan itu sesuai dengan jalan pikiran gurunya, namun paling tidak dia sendiri merasa sangat puas dengan penjelasan itu.
Terlepas ada begitu banyak kecurigaan yang mengganjal dalam hatinya, dia masih tetap menerima tugas itu dengan senang hati.
Di luar 'perintah guru harus dilaksanakan', dia merasa wajib untuk melaksanakan tugas ini karena semasa hidupnya dulu, Tianglo ini sangat menyayanginya.
Rasa hormatnya terhadap Bu-kek Tianglo pun tidak di bawah rasa hormatnya terhadap Ciangbun Suhu.
Put-ji belum pernah menjelaskan tentang tempat penguburan itu kepadanya, dia harus menemukan letak kuburan itu berdasarkan penuturan dan keterangan yang diberikan gurunya.
Dengan cepat dia berhasil menemukan tebing batu yang berbentuk seperti paruh elang itu, menemukan juga pohon besar yang tumbuh di tepi tebing.
Di belakang pohon besar itu terdapat dua gundukan tanah, rumput ilalang dan semak liar tumbuh amat lebat, begitu lebatnya semak belukar di sana membuat orang yang tidak tahu akan mengira gundukan itu hanya merupakan permukaan tanah yang tidak merata, siapa pun tidak bakal menyangka kalau gundukan tanah tadi merupakan kuburan.
Dari penjelasan gurunya, Put-coat juga mendapat tahu kalau gundukan tanah di sebelah kiri adalah kuburan Bu-kek Tojin.
Gurunya pernah berkata.
"Gundukan di sebelah kanan untuk mengubur jenazah Ho Giok-yan, adik seperguruan Put-ji.
Tapi lantaran Put-ji ingin mengurus sendiri kuburan adik seperguruannya itu, maka Put-coat dipesan agar jangan salah menggali.
Selain itu, di sana pun terdapat sebuah tanda yang gampang dikenali, di samping gundukan tanah yang digunakan untuk mengubur Bu-kek Tojin, Ko Ceng-kim pernah menancapkan sebatang dahan pohon sebesar lengan bocah.
Agar tidak melakukan kesalahan fatal, sebelum dilakukan penggalian, Put-coat mencari dulu tanda yang ada, tapi dia tidak menemukan dahan pohon yang dimaksud, namun menemukan ada sebuah pohon pendek yang tumbuh sendirian, tumbuh persis di samping kiri gundukan tanah itu.
Mula-mula Put-coat agak tertegun, tapi dengan cepat dia tersadar kembali akan apa yang terjadi.
Ternyata setelah lewat enam belas tahun, dahan pohon yang ditancapkan Ko Ceng-kim itu telah tumbuh menjadi sebatang pohon pendek.
Biarpun pohon itu pendek dan kecil, paling tidak ranting dan dahannya sudah mencapai dua-tiga puluhan batang.
Put-coat berjalan mendekat, memandang dengan lebih seksama, dengan cepat dia menjumpai bahwa dahan-dahan pohon itu sedikitberbeda.
Daun yang tumbuh pada ranting dan dahan yang berada tujuh kaki dari permukaan tanah nampak tumbuh dengan suburnya, tapi daun yang berada di bawahnya justru gundul tidak tersisa satu pun.
Daun yang tumbuh pada pohon yang sama mengapa bisa berbeda?
Bahkan mencolok sekali perbedaannya?
Mula-mula dia tertegun, tapi dengan cepat tersadar kembali, ini bisa terjadi karena ada orang yang pernah berlatih ilmu pedang di bawah pohon itu, itulah sebabnya daun yang tumbuh pada ranting pohon berguguran hingga gundul karena terkena hawa pedang.
Tapi siapakah orang itu?
Kenapa orang itu bukan berlatih pedang di tempat lain melainkan mendatangi bukit yang terpencil dan berlatih di situ?
Rasa curiga, rasa tidak habis mengerti seketika mencekam perasaan Put-coat.
Dia mencoba memeriksa lagi gundukan tanah di sebelah kanan, lagi-lagi sebuah temuan baru dijumpai, bahkan temuan itu tidak perlu dicerna terlalu dalam, sekilas pandang telah diketahui kalau ada orang yang pernah berkunjung ke situ!
Seikat bunga putih tergeletak di atas gundukan tanah itu.
Keluarga Ho sudah putus keturunan, Ko Ceng-kim yang dahulu pun sekarang sudah menjadi Put-ji yang sedang tertugas di wilayah Liauw-tong, lantas siapa yang telah berziarah di depan kuburan Ho Giok-yan?
Darimana orang itu bisa tahu kalau Ho Giok-yan terkubur di tempat itu?
Makin dipikir Put-coat semakin pusing dan tidak habis mengerti, akhirnya sambil menggeleng pikirnya, 'Ah, peduli amat siapa yang pernah berkunjung kemari.
Lebih baik segera kulaksanakan perintah guru kemudian meninggalkan tempat ini.' Berpikir sampai di situ, dia pun mulai menggali tanah gundukan itu dengan menggunakan sekop yang dibawanya.
Dengan kekuatan tubuhnya yang besar, tidak sampai sebatang hio habis dibakar, dia telah berhasil menggali liang yang telah diratakan dengan tanah oleh Ko Ceng-kim itu menjadi bentuk semula.
"Cring!" , ujung sekop mulai menyentuh selapis papan yang digunakan untuk menutup di atas tulang jenazah. Papan itu sesungguhnya sudah tertindih hancur oleh beratnya urukan tanah, boleh dibilang sudah kehilangan manfaatnya sebagai pelindung tulang belulang. Satu-satunya kegunaan yang masih tersisa sekarang hanya melindungi bentuk tulang belulang di bawahnya hingga seperti bentuk semula. Buru-buru Put-coat menyingkirkan tanah di atasnya sambil melompat turun ke dalam liang, dengan korek api yang digembol, dia menerangi keadaan dalam liang dan memeriksa isinya. Tapi sekali lagi dia berdiri tertegun. Ternyata ada tiga sosok tulang manusia berjajar di dalam liang kubur itu! Ternyata dalam perkiraan Ko Ceng-kim selama ini, andai Ciangbunjin berniat memindahkan tulang belulang Bu-kek Tianglo ke gunung Bu-tong, besar kemungkinan pelaksanaan tugas itu akan diserahkan kepadanya. Sebagaimana diketahui lantaran terbakar oleh api cemburu, dia tidak pernah mengebumikan jenazah Keng King-si dalam satu liang dengan jenazah bininya, Ho Giok-yan. Karena takut pandangan Suhu terhadap dirinya bakal berubah jika mengetahui peris-tiwa itu, maka selama ini kejadian itu selalu dirahasiakannya. Dari ketiga sosok kerangka manusia itu, Keng King-si berada di ujung paling kiri, di sebelah kanan adalah kerangka Ho Liang, orang tua dari keluarga Ho, sedang kerangka Bu-kek Tojin berada di tengah. Setelah lewat enam belas tahun lamanya, jenazah yang dikubur tanpa peti mati itu sudah hancur, kini yang tersisa hanya kerangka tulang. Untung saja sejak kecil Put-coat memang sering berkumpul dengan Bu-kek Tojin, dia pun pernah beberapa kali berkunjung ke rumah keluarga Ho hingga dengan Ho Liang maupun Keng King-si boleh dibilang cukup akrab. Biar sudah tinggal kerangka tulang saja, namun tidak susah untuk mengenali seseorang dari tinggi pendeknya kerangka yang ada. Selain itu tulang orang tua pun beda dengan tulang orang muda, semua ini tidak ada yang bisa lolos dari pengamatan Put-coat yang jeli. Diam-diam dia menghela napas panjang, pikirnya.
"Ternyata Putji Sute tidak pernah menguburkan jenazah Keng King-si dalam satu liang dengan Sumoynya...."
Tapi pikiran lain segera melintas, pikirnya lagi, 'Ehm, memang tidak bisa menyalahkan dia, Sumoynya itu kan sebenarnya calon bininya! "
Ketika Keng King-si 'merayu dan membawa lari' Sumoynya tempo hari, Put-coat bukannya tidak tahu, dia malah sempat ikut merasa tidak puas dengan tindak-tanduk Keng King-si, perasaan simpatiknya selalu diberikan ke pihak Ko Ceng-kim.
Kini, setelah menemukan kerangka tubuh Keng King-si, meski di hati kecilnya tetap merasa masgul, namun tidak sampai menimbulkan rasa heran dirinya.
Begitu dia menjumpai kerangka Ho Liang, perasaan terkejutnya benar-benar tidak terkirakan.
Yang membuatnya terkejut bukan lantaran Ko Ceng-kim hanya membuat dua buah liang dengan menguburkan jenazah Ho Liang dan Bu-kek Tojin di dalam satu liang.
Bagi Put-coat, hal semacam ini masih bisa diterima akal sehat, apalagi demi menghemat waktu dan tenaga.
Selain itu, Put-coat pun bukan termasuk orang yang gila status dengan membedakan kedudukan seseorang, baginya mengubur seorang tua dari keluarga Ho dengan seorang Tianglo dari Bu-tongpay dalam satu liang adalah satu kejadian yang lumrah.
Yang membuatnya terperanjat bercampur heran adalah tulang kerangka Ho Liang, ternyata tulang belulangnya berwarna hitam pekat.
Hanya tulang belulang korban keracunan yang akan meninggalkan bekas seperti ini!
Setelah dilakukan pemeriksaan yang cermat dan seksama, akhirnya dia berhasil menemukan sebatang jarum Bwe-hoa-ciam yang sangat lembut di antara tulang iga kerangka itu.
Sebagai seorang jagoan silat yang berilmu tinggi, dengan cepat dia dapat menyimpul kan bahwa Bwe-hoa-ciam itu pasti sangat beracun dan racunnya ganas serta mematikan!
Kini sebab kematian Ho Liang terungkap sudah, jelas terbukti kalau kematiannya lantaran terkena serangan jarum beracun!
Sebab kematian telah terungkap, tapi muncul persoalan lain yang membuatnya tidak habis mengerti.
Pertanyaan pertama, siapa yang telah melepaskan jarum beracun itu?
Menyusul kemudian pertanyaan kedua, mengapa harus menggunakan jarum beracun untuk membunuh Ho Liang?
Bukankah Ho Liang hanya seorang pelayan tua yang tidak mengenal silat?
Untuk membunuhnya, siapa pun bisa melakukannya segampang membalikkan telapak tangan, kenapa harus membokongnya dengan jarum beracun?
Tanpa terasa dia mulai membayangkan kembali Keng King-si, orang itu dituduh sebagai pembunuh utamanya.
Menurut laporan yang diberikan Ko Ceng-kim kepada Ciangbunjin, si pelayan tua itu Ho Liang tewas di tangan Keng Kingsi.
Namun kini Put-coat mulai curiga, semakin dipikir dia merasa semakin sangsi dan ragu.
Berdasarkan keterangan yang diberikan Ko Ceng-kim ketika menuturkan peristiwa itu, Ho Liang tewas tergelincir karena didorong Keng King-si.
Ho Liang memang tidak memiliki kungfu hebat, sementara Keng King-si waktu itu sedang dicekam rasa gusar dan emosi yang meluap, kalau sampai dia salah tangan hingga menyebabkan kematian Ho Liang, sebenarnya penjelasan ini sangat masuk akal.
Tapi penemuan terbaru yang dia temukan sekarang berbicara lain, Ho Liang tewas karena terhajar jarum beracun!
Sekalipun Keng King-si berniat membunuh Ho Liang, baginya tidak perlu menggunakan jarum beracun untuk melaksanakan niatnya itu.
Apalagi Bu-tong-pay sebagai sebuah perguruan kaum lurus, peraturan yang ketat melarang setiap anggotanya menggunakan senjata rahasia beracun.
Memang Keng King-si hampir setahun lamanya meninggalkan perguruan, tapi dalam jangka waktu setahun yang amat singkat, mustahil dia sanggup menguasai ilmu senjata rahasia yang demikian hebat, apalagi dapat membunuh orang tanpa diketahui siapa pun.
Lalu kalau bukan Keng King-si, perbuatan siapakah itu?
Tentu saja Put-coat tidak bisa mencurigai Ko Ceng-kim.
Sama seperti Keng King-si maupun anggota perguruan Bu-tong-pay lainnya, Ko Ceng-kim belum pernah mempelajari ilmu senjata rahasia sebangsa Bwe-hoa-ciam, terlebih tidak cukup alasan baginya untuk membunuh Ho Liang.
Satu-satunya jawaban yang bisa diterima adalah pada saat yang bersamaan ada seseorang bersembunyi di tempat kegelapan dan melancarkan serangan bokongan itu.
Namun jawaban yang terpikir oleh Tut-coat ini bukan sebuah jawaban yang dapat membuat orang puas.
Bwe-hoa-ci jm adalah satu jenis senjata rahasia yang amat lembut dan enteng, bila ingin melukai orang dengan jarum bunga Bwe ini, seseorang harus berscmbunyi di suatu tempat yang dekat jaraknya dengan sang korban.
Padahal ketika Ho Liang terbunuh saat itu, mereka yang hadir di tempat kejadian selain Keng King-si, di situ masih ada Ko Ceng-kim dan Ho Giok-yan, ketiga orang itu tergolong jago yang cukup tangguh.
Bila ada orang melepaskan serangan Bwe-hoa-ciam dari jarak dekat, mungkinkah perbuatannya itu dapat lolos dari pandangan mata mereka?
Put-coat benar-benar tidak habis mengerti, pikirnya, 'Aah, lebih baik jangan kupikirkan dulu persoalan ini, yang penting aku harus segera mengangkut ketiga sosok kerangka manusia ini dan balik ke Bu-tong-san, selelah melaporkan peristiwa ini barulah kemudian mengajak Put-ji Sute merundingkan persoalan ini."
Sesudah mengambil keputusan, dia pun mulai mengumpulkan kerangka manusia yang ada.
Tiba-tiba dia merasa ada segulung hembusan angin tajam 'menindih' tiba dari atas kepala, dengan sigap Put-coat berkelit ke samping sambil melompat mundur.
"Blaam!" , diiringi suara gemuruh yang keras, tahu-tahu sebuah batu raksasa telah meluncur ke bawah, begitu kerasnya timpukan itu membuat ketiga sosok kerangka manusia itu hancur berantakan seketika. Buru-buru Put-coat menyambar sekopnya sambil menjejakkan kaki ke dinding liang kubur, kemudian dengan cekatan dia melejit ke udara dan melayang ke permukaan tanah. Kembali sebuah batu raksasa dilontarkan ke arah tubuhnya, masih berada di tengah udara Put-coat segera mengayun sekopnya ke muka. Dalam keadaan kritis dan terancam bahaya, dia kerahkan segenap tenaga dalam yang telah dilatihnya selama tiga puluh tahun ini untuk menyongsong datangnya sambaran itu.
"Traang....!" , kali ini batu cadas itu berhasil ditangkis dengan sekopnya hingga mencelat balik ke belakang. Menggunakan peluang itu cepat sepasang kakinya menginjak permukaan tanah. Pada saat itulah sang penyerang telah berganti senjata, kali ini bukan batu cadas yang ditimpukkan ke arahnya melainkan sembilan batang paku penembus tulang Tau-kut-ting yang meluncur tiba berjajar dalam bentuk segi tiga. Sungguh dahsyat tenaga timpukan orang itu, kesembilan batang paku penembus tulang itu menyambar datang diiringi suara desingan tajam yang begitu memekakkan telinga, seolah ada beribu anak panah yang merobek gendang telinga. Put-coat segera memutar sekopnya bagai balingbaling, dalam waktu singkat kesembilan batang paku penembus tulang itu berhasil dihajar hingga rontok ke tanah. Meski semua Am-gi berhasil dijatuhkan, tidak urung secara lamat-lamat dia merasakan juga pergelang-an tangannya kaku dan kesemutan. Sebagai seorang jagoan yang berpengetahuan luas, begitu sekopnya membentur Am-gi lawan, dia segera sadar kalau orang itu telah mengerahkan tenaga dalam untuk melepaskan kesembilan batang paku penembus tulang itu, dengan perasaan terkesiap segera berpikir, 'Heran, kenapa tenaga dalam yang dilatih orang ini mirip sekali dengan tenaga dalam Thay-khek-sinkang dari perguruan kami? "
Kalau dibilang ada perbedaan, maka perbedaan itu tipis sekali, tenaga dalam yang dimiliki orang itu cenderung lebih kasar dan ganas, sementara kekuatan yang terpancar lewat senjata rahasia itupun seakan sebentar terputus sebentar muncul kembali, berbeda jauh dengan kekuatan murni aliran Bu-tong-pay.
"Melukai orang dengan senjata rahasia, terhitung jagoan macam apa kau ini?"
Bentak Put-coat nyaring, 'kalau memang bernyali, ayoh cepat keluar!"
Belum selesai dia berkata, terdengar seseorang menyahut dengan logat luar daerah, menyahut sambil tertawa tergelak.
"Hahaha, Put-coat Totiang, aku tahu kau adalah ahli waris Ciangbunjin Bu-tong-pay, kudengar tenaga dalammu sangat hebat dan sakti, barusan aku hanya ingin menjajal sampai dimana kemampuanmu itu...."
Orang itu adalah seorang lelaki yang mengenakan kain kerudung muka.
"Kalau memang ingin menjajal kepandaian silat-ku, kenapa harus mengenakan kerudung muka?"
Jengek Put-coat.
"Hahaha, lagi-lagi tebakanmu keliru. Maaf, aku bukan ingin menjajal ilmu silatmu saja, aku datang karena ingin membunuhmu! Cuma aku memang tidak ingin membunuhmu dengan menggunakan senjata rahasia, aku ingin membunuhmu dengan pedang. Awas! Lihat pedang!"
Dia memberitahu terlebih dulu sebelum melancarkan serangan, artinya serangan ini bukan serangan bokongan.
Biar begitu, serangan yang dilancarkan orang berkerudung itu benar-benar cepat bagaikan sambaran kilat, begitu kata "pedang"
Meluncur keluar dari mulutnya, cahaya senjata bagai untaian rantai emas telah menggulung tiba!
Sambil mencabut pedang, dia melambung ke udara dan melancarkan serangan ke tubuh lawan, semuanya nyaris dilakukan dalam satu tarikan napas, gaya maupun gerakannya terlihat indah, lembut dan menawan.
Put-coat segera merasa jurus serangan yang digunakan lawan seakan pernah dikenal sebelumnya.
Sekop miliknya berat dan kaku, begitu mengetahui jurus pedang yang digunakan lawan, dia segera sadar kalau sulit baginya untuk membendung datangnya ancaman itu.
Benar saja, tidak sampai beberapa gebrakan dia sudah tercecar hebat hingga kalang-kabut.
Kembali orang itu tertawa tergelak.
"Hahaha, kalau kesempatan untuk mencabut pedang pun tidak kuberikan, mungkin kau bakal mati tidak...."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Put-coat dengan gerakan Si-siung-kiau-boan-im (menyempitkan dada berjumpalitan di awan) telah melompat mundur sejauh tiga depa lebih.
"Kau ingin membunuhku?"
Bentaknya nyaring.
"aku rasa tidak segampang apa yang kau perkirakan!"
Sepasang lengannya digetarkan keras, sekopnya diiringi deruan angin dan guntur meluncur dari tangannya langsung membabat pinggang orang itu.
Kelihatannya orang itu tidak berani menyambut datangnya ancaman dengan keras lawan keras, tubuhnya menyusup ke samping, ujung pedangnya menutul pelan ke depan, dengan menghimpun hawa murninya dia tangkis sekop itu hingga mencelat ke samping.
Put-coat terkesiap, dia kaget setelah melihat gerak serangan yang digunakan orang itu.
Biarpun gerak serangan yang dilakukan orang itu lincah, tidak urung gerakannya sedikit melamban juga.
Pada saat itulah Put-coat telah melolos senjatanya sambil membentak.
"Kurang sopan kalau kedatanganmu tidak di sambut selayaknya, lihat serangan!"
Pedangnya membacok ke depan dengan membuat gerakan setengah lingkaran busur, ternyata orang itupun menyambut datangnya ancaman dengan gerakan busur, hanya saja rentangjaraknya jauh lebih besar dan melebar.
"Traang!" , ketika sepasang pedang saling membentur satu dengan lainnya, mata senjata orang itu ternyata tiga inci lebih panjang ketimbang mata pedang Put-coat, hampir saja tubuh pendeta muda itu terbabat luka. Untung saja Put-coat cukup matang menguasai ilmu silatnya, cepat dia rendahkan kuda-kuda sambil menarik bahu ke samping, pedangnya diputar lalu menggulung ke arah depan. Posisinya saat ini boleh dibilang 'dalam bagai air jeram, kekar bagai bukit karang', dengan posisi tenang dia mengatasi perubahan lawan. Tampaknya orang berkerudung itu cukup tahu akan kelihaian lawannya, belum sampai jurus serangan digunakan hingga puncaknya, buru-buru dia berganti gerakan. Tampak bahunya sedikit diangkat, tungkai kakinya segera meninggalkan permukaan tanah, pedangnya dibabatkan serong ke samping, bagaikan seekor bangau putih yang sedang pentang sayap, radius babatannya kali ini jauh lebih lebar dan besar ketimbang babatan semula. Bila bacokan pedang itu sampai mengenai pada sasaran, niscaya seluruh lengan milik Put-coat akan terbelah jadi dua dan berpisah dengan tubuhnya. Put-coat tidak mau unjuk kelemahan, dengan jurus yang sama, Pek-hok-liang-ci (bangau putih pentang sayap), dia ciptakan garis membujur yang lebarnya mencapai tujuh kaki. Seperti gelombang samudra yang menakutkan, cahaya pedang berham-buran ke empat penjuru. Sekali lagi orang berkerudung itu berganti jurus serangan, dia tidak berani menyambut datangnya ancaman dengan keras lawan keras. Put-coat semakin curiga, bentaknya.
"He, darimana kau pelajari kedua jurus ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat itu?"
"Hahaha, lucu amat kau ini, teori pedang saja boleh sama dan banyak kemiripan apalagi gerakan ilmu pedang. Kau sangka hanya ilmu pedang Thay-khek yang bisa memiliki kedua jurus serangan itu?"
Biarpun sedang berbicara, gerak tangannya sama sekali tidak mengendor, selama pembicaraan masih berlangsung, secara beruntun dia telah menciptakan tiga buah lingkaran hawa pedang yang menggidikkan hati, rupanya dia sedang mengeluarkan jurus Sam-coan-hoat-lun (memutar roda tiga lingkaran).
Sekali lagi Put-coat membentak gusar.
"Sudah jelas jurus serangan yang kau gunakan berasal dari Thay-khek-kiam-hoat, mengapa masih ingin mungkir?"
"Terserah kalau kau bersikeras mengatakan jurus serangan yang kugunakan berasal dari Thay-khek-kiam-hoat. Hehehe, jangan kau anggap manusia di kolong langit hanya anak murid Bu-tong-pay saja yang sanggup menggunakan ilmu Thay-khek-kiam! Jangan lagi baru dua jurus, coba lihat serangan berikutku ini! Terima serangan!"
Begitu mengembangkan serangan pedangnya, hawa serangan yang berbentuk lingkaran bersusun saling lapis dan susul menyusul tiada habisnya, seakan gelombang ombak yang saling berkejaran di tepi pantai, benar saja, semua jurus serangan yang digunakan adalah jurus-jurus tangguh dari ilmu Thay-khek-kiam.
Bukan cuma itu, gerak serangan yang dilakukan orang ini ternyata jauh lebih cepat ketimbang apa yang pernah diajarkan Busiang Cinjin, bahkan kekuatan serangannya jauh lebih tangguh dan ganas.
Diam-diam Put-coat mulai sangsi dan berpikir, 'Heran, kenapa aku seperti pernah kenal dengan gerakan jurus pedang ini?
Aah, betul, gerak serangannya sedikit agak mirip dengan ilmu pedang ajaran Bu-si Susiok."
Hanya saja bila dibandingkan dengan Thay-khek-kiam-hoat aliran lurus, maka jurus serangan orang itu seakan hanya mampu mencapai 'bentuk' gerakannya saja dan tidak mampu mencapai tingkatan paling 'puncak'.
Namun kalau dibilang kehebatannya tidak bisa mengungguli ajaran murni, rasanya hal itupun belum tentu.
Biarpun terdapat perbedaan antara keras dan lembut, namun aliran ajarannya seakan berasal dari sumber yang sama.
Janganjangan seperti apa yang dikatakan gurunya, entah di tahun ke berapa, ada seorang anggota Bu-tong-pay yang telah mengajarkan ilmu pedang Thay-khek-kiam secara diam-diam kepada anggota perguruan lain, setelah melewati tahun demi tahun, maka ilmu pedang itu berhasil dilebur oleh jagoan itu menjadi sejenis ilmu pedang lain yang lebih tangguh?
Sebagaimana diketahui ilmu pedang yang diyakini Put-coat berasal dari petunjuk Bu-siang Cinjin, selama ini dia tidak pernah belajar ilmu pedang dari Bu-si Tojin.
Oleh sebab itu pandangannya berbeda jauh dibandingkan dengan pandangan Put-ji.
Dia hanya merasa kalau ilmu pedang yang digunakan orang itu ada beberapa bagian mirip dengan ilmu pedang Bu-si Tojin, tapi kalau ditanya berapa bagian kemiripannya, apakah tiga bagian atau empat bagian atau tujuh, delapan bagian?
Dia tidak dapat memberi penjelasan secara pasti.
Kalau semula Put-coat dibuat kalang-kabut dan tercecar hebat lantaran konsentrasinya buyar, begitu tersadar kembali akan kondisinya dia pun segera berpikir, 'Kenapa aku melupakan petuah yang pernah diberikah Suhu tempo hari, biarpun ada tekanan yang datang menghimpit bagai tindihan bukit Thay-san, anggap saja tekanan itu seenteng hembusan angin sejuk yang menerpa wajah...."
Berpikir sampai di situ, dia pun segera pusatkan konsentrasinya untuk menghadapi lawan.
Serangan yang dilancarkan orang itu makin lama semakin bertambah cepat, sementara gerakan dia sendiri justru makin lama semakin bertambah lambat, ujung pedangnya bagaikan ujung pensil yang sebentar menuding ke timur sebentar menggores ke barat, namun setiap goresan yang membentuk lingkaran itu segera memunahkan sebagian tekanan yang dihasilkan oleh serangan lawan.
Sungguh aneh hasilnya, biarpun ruang lingkupnya makin lama menyusut makin kecil, gerak pertahanannya pun makin lama semakin melambat, namun betapa ganas dan dahsyatnya serangan pedang yang dilancarkan orang berkerudung itu, tidak satu pun yang berhasil menembus pertahanannya.
Tidak selang beberapa saat kemudian, gerak serangan orang berkerudung itu seakan-akan terbendung alirannya, gerakannya makin lama juga semakin bertambah lambat.
Sekali lagi lingkaran pedang yang diciptakan Put-coat dari menyusut kembali mengembang lebar, tidak lama kemudian dia telah mengurung seluruh tubuh orang berkerudung itu ke dalam lingkaran pengaruh hawa pedangnya.
Baru saja Put-coat memainkan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat dengan makin lancar, tiba-tiba dia merasa lengan kanannya sedikit agak kesemutan, tahu-tahu orang berkerudung itu dengan jums Tay-mo-ku-yan (asap tunggal di tengah gurun) telah menyerbu masuk ke dalam lingkaran hawa pedangnya, diikuti kemudian dengan jurus Tiang-ho-lok-jit (matahari tenggelam di balik sungai), dia ciptakan sebuah lingkaran pedang berbentuk bulat dan berbalik mengurung seluruh tubuhnya.
Beberapa kali sepasang pedang itu saling membentur tanpa menimbulkan sedikit suara pun, rupanya kedua belah pihak telah menggunakan teknik melekat dengan menyalurkan tenaga dalamnya ke ujung pedang untuk saling beradu fisik dengan lawan.
Pada mulanya Put-coat merasa kegirangan, pikirnya, 'Jika kau mengajak aku bertarung menggunakan jurus serangan, dalam tiga sampai lima puluh gebrakan kemudian pun belum tentu aku dapat mengunggulimu, tapi sekarang kau mengajak aku beradu tenaga dalam, hmm!
Dengan jurus ini akan kusuruh kau sulit lolos dari sergapan senjataku!"
Ternyata kesempurnaan tenaga dalam lawannya jauh di atas kemampuan permainan pedangnya, lagi pula Put-coat sudah menjajal tenaga dalam yang dimiliki lawan, ternyata masih jauh di bawah kemampuannya.
Tapi kenyataan di lapangan sama sekali berbeda dengan apa yang dibayangkannya, bukan saja tidak segera selesai, sebaliknya keadaan malah jauh di luar perkiraan.
Ketika tenaga dalamnya menembusi ujung pedang, dia bukan saja gagal menggeser posisinya barang sejengkal pun, malah di balik pertahanan lawan yang kokoh, secara lamat-lamat mengandung pula serangan balik yang amat kuat.
"Heran, kenapa tenaga dalamku hari ini bisa begini tidak becus?"
Yang membuatnya lebih terkejut lagi bukan cuma hal itu, kalau tadi hanya sebagian tangannya yang terasa kaku dan kesemutan, maka sekarang rasa kesemutan itu mulai menjalar naik ke atas.
Mula-mula ujung sikunya yang terasa kesemutan, maka sekarang dari jalan darah Ci-ti-hiat mulai menjalar hingga ke jalan darah Ciankeng-hiat di pundak, terus yang menjalar ke arah bawah menyusup sampai di Kwan-goan-hiat di dekat nadi kepalan, hal ini membuat seluruh lengan kanannya jadi kaku, kesemutan dan kehilangan rasa.
Biarpun dengan mengandalkan tenaga murni dia bisa mencegah lengan kanannya tidak sampai mati rasa, namun lengan yang mulai kesemutan itu berpengaruh amat besar atas kelincahan gerakan serangannya.
Pada saat itulah tiba-tiba dari balik hutan berjalan keluar dua orang, satu lelaki dan satu wanita.
Yang lelaki bertubuh tinggi kekar, Put-coat mengenalinya sebagai seorang perampok ulung dari wilayah Lu-lan (Soa-tang) bernama Ciu Hiong.
Tiga tahun berselang, ketika dia sedang merampok seorang saudagar kulit, kebetulan Put-coat sedang lewat di tempat kejadian, dalam pertarungan yang kemudian berkobar, dia berhasil dihajar oleh Put-coat hingga terluka dan melarikan diri.
Sementara yang wanita berusia liga puluh tahunan, biarpun sudah setengah umur, namun dandanannya tidak kalah dengan seorang gadis muda, alis matanya digambar tebal hingga mirip bulan sabit, kening dan pipinya diberi bedak warna kuning muda, bibirnya bergincu tebal sementara rambutnya dikepang dua, bukan saja genit, bahkan cenderung jalang.
Put-coat merasa seolah pernah bertemu dengan wanita ini, tapi lupa dimana.
Terdengar Ciu Hiong tertawa tergelak, ejeknya.
"Hahaha, hidung kerbau, Tosu bau, kemana kaburnya semua kegagahanmu tiga tahun berselang? Kau tidak menyangka bakal menghadapi nasib seperti hari ini bukan?"
Sebaliknya wanita setengah umur itu tertawa cekikikan sambil menutupi mulut sendiri, serunya.
"Put-coat Totiang, tahukah kau bahwa tadi kau telah salah memaki? Yang membokongmu tadi bukan sahabat itu, melainkan aku! Cuma aku memang bukan seorang lelaki sejati, jadi aku tidak kuatir kau maki. Bagaimana? Jarum beracun kecilku tidak terlalu enak rasanya, bukan?"
Seperti baru sadar, Put-coat segera membentak nyaring.
"Kau adalah Cing-hong (si Lebah hijau) Siang Ngo-nio?"
Siang Ngo-nio adalah seorang Li-hui-cat (penyamun terbang wanita) yang tersohor dalam dunia persilatan karena kepandaiannya melepaskan senjata rahasia beracun, oleh sebab itu walaupun Putcoat belum pernah bertemu dengannya, namun dia pernah mendengar tentang wajah, dandanan serta asal-usulnya.
Konon dia adalah kekasih gelap Tong Siau, Jikongcu dari keluarga Tong di Sucwan, senjata rahasia andalannya yang paling lihai adalah Cing-hong-ciam (jarum lebah hijau), ilmu itu dia dapatkan dengan jalan mencuri dari keluarga Tong.
Lebah hijau adalah sejenis lebah yang langka, racun sengatannya jauh lebih mematikan ketimbang lebah kuning.
Sesuai dengan pepatah yang mengatakan.
"racun ular hijau pada pagutan, racun lebah kuning pada sengatan, sejahat apa pun racun mereka, lebih beracun hati wanita" . Siang Ngo-nio adalah seorang Hui-cat yang keji, kejam dan telengas, bukan saja dia tersohor karena mahir menggunakan senjata rahasia, bahkan yang dipakai adalah jarum beracun, karena kekejiannya itulah dia mendapat julukan si Lebah hijau. Bila berada pada hari biasa, selihai apa pun jarum beracun milik Siang Ngo-nio tidak nanti senjata itu mampu melukai dirinya, tapi lantaran jarum beracunnya dilepas berbarengan ketika orang berkerudung itu menyerang dengan paku penembus tulang, padahal tenaga dalam orang berkerudung itu tidak di bawah kemampuan Put-coat, ditambah lagi saat itu Put-coat sedang berkonsentrasi menghadapi ancaman paku penembus tulang, tidak heran dia termakan oleh serangan bokongan perempuan itu. Terdengar Siang Ngo-nio tertawa terkekeh sambil mengejek.
"Hahaha, tidak kusangka seorang jagoan tangguh dari Bu-tong-pay pun bisa mengenali nama Siauli, benar-benar satu keberuntungan bagiku. Aku tidak ingin membalas kebaikanmu dengan tindakan jahat, karenanya kuanjurkan kepadamu lebih baik cepatlah menyerah kalah. Kalau tidak, jika kau memaksakan diri mengerahkan tenaga dalam lagi, racun yang mengeram dalam tubuhmu akan bekerja semakin cepat. Jika hawa racun sampai menyusup ke dalam jantung, hehehe, biar tersedia obat penawar racun pun jangan harap nyawamu dapat diselamatkan!"
Put-coat berlagak tuli, sikapnya seolah-olah sama sekali tidak mendengar nasehat itu, tiba-tiba bentaknya nyaring.
"Apakah kau juga yang telah mencelakai Ho Liang dengan jarum beracun?"
"Hahaha, aneh benar manusia seperti kau,"
Jengek Siang Ngo-nio sambil tertawa.
"kematian sudah di ambang pintu pun masih sempat menyelidiki sebab kematian seorang pelayan tua! Hehehe, kalau memang perbuatanku, mau apa kau?"
"Ternyata memang kau, akan kucabut nyawamu!"
"Hahaha Siang Ngo-nio tertawa terpingkal-pingkal.
"Totiang yang ganteng, selamatkan dulu nyawamu sebelum bicara lebih jauh."
Sementara itu Put-coat maupun orang berkerudung itu masih tetap bertahan pada posisi masing-masing, bahkan kelihatan sekali lagi posisi orang berkerudung itu sedikit di atas angin.
Pedang dalam genggaman orang berkerudung itu masih tegak bagai sebatang pit, sementara pedang dalam genggaman Put-coat sudah nampak mulai melengkung.
Baru saja Siang Ngo-nio menghentikan gelak tawanya, mendadak terdengar Put-coat membentak nyaring, tahu-tahu kedua batang pedang itu sama-sama patah jadi dua bagian.
Ketika Put-coat menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk menggetar patah senjata lawan, pedang miliknya pun segera ikut patah terhajar tenaga pantulan yang dihasilkan orang berkerudung itu.
Padahal saat itu Put-coat sudah keracunan hebat, tindakannya mengerahkan tenaga dalam boleh dibilang merupakan pertaruhan terakhirnya, tindakan itu bukan saja tidak pernah diduga oleh Siang Ngo-nio, orang berkerudung sendiri pun sama sekali tidak menyangka.
Baru saja orang berkerudung itu berdiri melengak, Put-coat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sudah melesat maju ke depan, kutungan pedang dalam genggamannya sekuat tenaga ditimpukkan ke arah Siang Ngo-nio.
Ciu Hiong yang berdiri di sisinya buru-buru menyambar tongkat besi dan menangkis datangnya timpukan itu.
Sungguh cepat sambaran kutungan pedang itu, baru saja Ciu Hiong menggerakkan toyanya, terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, begitu tajamnya sambaran itu membuat sepasang matanya jadi perih dan nyaris tidak bisa dibuka kembali.
Menanti dia dapat membuka matanya kembali dan bersiap mengayun toyanya, terdengar Siang Ngo-nio menjerit keras, suaranya tinggi, tajam dan melengking.
Ternyata ayunan senjatanya sama sekali tidak berhasil menangkis kutungan pedang itu, jangankan menangkis, menyentuh pun tidak.
Sebetulnya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siang Ngo-nio terhitung cukup hebat, sayang, betapa cepat dia berkelit pun masih tetap tidak berhasil menghindarkan diri dari sergapan itu.
"Krakkkk!"
Kutungan pedang itu melesat lewat dari sisi dagunya dan langsung menghujam di bahunya.
Ternyata Put-coat melemparkan kutungan pedangnya itu dengan ilmu berpusing, bagaikan sebuah bumerang, kutungan pedang yang dilempar ke arah kiri tahu-tahu berbalik menyerang ke arah kanan.
Dia bukan saja telah memperhitungkan jarak kedua belah pihak secara tepat, bahkan ke arah mana Siang Ngo-nio menghindar pun telah diperhitungkan secara tepat.
Begitu kutungan pedang itu menghujam bahu Siang Ngo-nio, tulang Pi-pe-kutnya langsung patah beberapa bagian, saking sakitnya perempuan itu menjerit-jerit sambil bergulingan di atas tanah, jerit kesakitannya tinggi, tajam dan menyayat hati, setelah bergulingan beberapa kali, akhirnya tubuh wanita itu meluncur jatuh ke bawah tebing, tidak jelas bagaimana nasibnya kemudian.
Biarpun Put-coat berhasil dengan serangannya itu, namun dia sendiri segera terjerumus dalam kerubutan dua orang jago tangguh.
Orang yang berada di hadapannya adalah Ciu Hiong, ketika tongkat besinya gagal menyampuk kutungan pedang itu, dia langsung mengayun senjatanya menghajar batok kepala lawan.
Sementara orang berkerudung yang berada di belakang tubuhnya menempel terus bagaikan bayangan setan, sambil merangsek maju, telapak tangannya diselipi angin pukulan yang kuat langsung dihantamkan ke punggung lawan.
Sungguh hebat Put-coat Tojin, biarpun tergencet dua musuh yang mengancam perut serta punggungnya, dia sama sekali tidak menjadi panik, sambil menekuk sedikit lututnya seraya berputar, telapak tangannya dibabatkan perlahan ke samping, lalu dengan teknik 'meminjam tenaga memukul lawan', dia dorong tangannya kuat-kuat ke depan.
Tubuh Ciu Hiong yang tinggi besar bagaikan sebuah pagoda baja itu kontan tergetar oleh tenaga dorongan itu hingga kuda-kudanya langsung tergempur dan tidak tahan tubuhnya maju beberapa langkah dengan sempoyongan.
Karena tubuhnya tidak terkendali, hantaman toya bajanya yang berat pun kehilangan arah, bukan hanya berganti posisi, malahan secara kebetulan menghantam ke arah orang berkerudung itu.
Sebenarnya orang berkerudung itupun mengerti tentang ilmu Suliang-bo-jian-cing (dengan empat tail memikul ribuan kati), tapi sayang ketika itu dia sedang melancarkan pukulan dengan sepenuh tenaga, bila Dia mesti berganti teknik serangan secara terburu-buru, niscaya kekuatan tenaga pukulannya itu akan berbalik menghantam ke tubuh sendiri.
Tentu saja orang berkerudung itu enggan melukai diri sendiri hanya demi menguatirkan keselamatan jiwa rekannya, tenaga pukulannya yang dahsyat tetap dilontarkan ke muka, hanya saja di balik pukulannya itu disertai pula sedikit teknik 'menggiring', hal ini membuat tubuh Ciu Hiong sedikit miring ke samping, serta-merta robohnya tubuh orang itupun demi melindungi keselamatan sendiri.
Dengan demikian sama artinya ada dua orang jagoan Thay-khek yang sedang meminjam tubuh Ciu Hiong untuk saling beradu kekuatan, begitu tubuh Ciu Hiong didorong oleh Put-coat ke samping, segera tubuhnya berputar bagaikan sebuah gangsingan, lagi-lagi dia didorong balik oleh kekuatan dahsyat orang berkerudung itu.
Akhirnya setelah berpusing beberapa kali, dia jatuh terjengkang ke tanah dengan darah meleleh keluar dari lubang mata, hidung, telinga serta mulutnya, seperti juga nasib yang dialami Siang Ngonio tadi, badannya terguling dan meluncur cepat ke bawah bukit sana.
Ujar orang berkerudung itu kemudian dengan nada dingin.
"Membunuh orang harus dibayar dengan nyawa, itu yang kau ucapkan sendiri tadi. Dalam pertandingan ilmu pedang, kita belum berhasil menentukan siapa menang siapa kalah, ayoh sekarang kita beradu lagi ilmu pukulan."
Waktu itu Put-coat sudah banyak kehilangan tenaga murni sehingga tidak sanggup lagi mencegah menjalarnya hawa racun ke dalam tubuh, bukan saja seluruh lengan kanannya sudah kesemutan kaku hingga tidak sanggup digerakkan, separuh badannya juga lambat-laun mulai kaku dan mati rasa.
Kini pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya mulai pening dan pandangannya mulai kabur dan dia tidak sanggup memandang dengan jelas.
Buru-buru dia menghimpun segenap sisa kekuat-an yang dimilikinya untuk melindungi detak jantung, kemudian dengan mengandalkan lengan kirinya dia hadapi serangan musuh yang makin lama makin bertambah gencar itu.
Ketika sepasang tangan saling beradu, Put-coat seketika merasakan tenaga lawan yang menghantam tiba bagaikan gulungan ombak sungai Tiang-kang, lapis demi lapis datang silih berganti dan tiada putusnya, tidak bisa disangkal itulah tenaga dalam aliran perguruannya, hanya bedanya di balik kelembutan tenaga serangan lawan mengandung kekerasan, sedikit tidak mirip dengan ajaran Thay-khek-kun dari kaum lurus.
Dalam keadaan begini, Put-coat sudah mengesampingkan soal mati hidupnya, sekarang dia hanya memusatkan seluruh konsentrasinya untuk menghadapi pertarungan.
'Walaupun di depan mata ada musuh, dalam hati sebenarnya tidak ada lawan', pikiran dan perasaannya kini dikembangkan menuju ke ketenangan dan kelembutan.
Kembali serangkaian pukulan dilancarkan dengan jurus Samcoan-hoat-lun (tiga kali memutar roda hukum), di balik lingkaran terselip tenaga pukulan yang kuat.
Seketika tubuh orang berkerudung itu terseret ke dalam pusaran angin pukulan, tidak kuasa tubuhnya ikut berputar dua lingkaran seperti gangsingan, tapi pada setengah lingkaran ketiga, tiba-tiba orang itu berhasil menghentikan gerakan tubuhnya dan lolos dari pengaruh pusaran itu.
"Aah, sayang!"
Pekik Put-coat dalam hati.
Ternyata jurus Samcoan-hoat-lun (tiga kali memutar roda hukum) itu mempunyai kemampuan untuk memaksa tubuh orang itu terseret ke dalam arus pusingan, jika dia sampai berputar tiga lingkaran, niscaya orang itu akan mencelat dan jatuh terjengkang ke tanah.
Sayang racun jahat telah menyusup ke dalam tubuhnya, hawa racun pun masih menjalar terus ke bagian tubuh yang lain, hal ini membuat lengan kirinya mulai terasa kaku, kesemutan dan hilang rasa.
Memang patut disayangkan, andai kata dia masih memiliki sedikit tenaga saja niscaya usahanya akan mendatangkan hasil, sayang usahanya harus mengalami kegagalan di tengah jalan, dia hanya mampu memaksa lawannya berputar dua setengah lingkaran.
"Hmm, kau memang tidak malu menjadi murid pertama ketua Bu-tong-pay,"
Dengus orang berkerudung itu dingin.
"sayang umurmu sudah tidak lama lagi. Mengingat tidak mudah untuk mempelajari ilmu sakti itu, bagaimana kalau kita lakukan sebuah transaksi yang saling menguntungkan?"
Saat itu hawa racun telah menjalar ke seluruh tubuh Put-coat, dalam kondisi seperti ini pada hakikatnya dia sudah tidak ambil peduli atas semua perkataan orang itu.
Terdengar orang berkerudung itu kembali berkata.
"Kini kau sudah keracunan hebat, mustahil kalau ingin pulih kembali seperti sedia kala. Tapi bila ingin memperoleh obat penawar racun milik Siang Ngo-nio, paling tidak kau masih bisa hidup sepuluh tahun lagi. Begini saja, kau menyembah tiga kali kepadaku dan aku pun akan mengijinkan kau mengambil obat pemunah dari saku Siang Ngo-nio. Kalau tidak.... hmm! Hmm! Aku rasa kau pasti sudah mengerti, biar ingin mengadu jiwa pun tidak mungkin kau bisa mengungguli diriku. Selama aku tidak memberi kesempatan, darimana kau bisa memperoleh obat penawar racun itu?"
Put-coat sadar, pihak lawan sedang berusaha membuat amarahnya berkobar, maka dia berlagak seolah tidak mendengar ejekan itu, dengan sekuat tenaga dia mencoba mengendalikan hawa murninya yang sudah mulai buyar.
Gagal membangkitkan amarah lawan, kembali orang itu mengejek sambil tertawa dingin.
"Ya, apa boleh buat kalau kau enggan menuruti nasehatku, terpaksa aku harus menyempurnakan keinginanmu itu."
Diiringi suara bentakan nyaring, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan bersama, dengan jurus Ya-be-hun-cong (Kuda liar menyiak bulu) dia mengancam jalan darah Tay-yang-hiat di kedua pelipis Put-coat bersamaan waktu.
Melihat datangnya ancaman, buru-buru Put-coat menggunakan teknik 'membetot'.
Dengan satu jurus Im-jiu (tangan awan) dia berusaha mempengaruhi tubuh lawan dan membetotnya hingga berputar, kali ini asal tubuh lawan bisa diputar satu lingkaran saja, niscaya dia akan roboh terjerembab.
Sayang serangannya kali ini kehilangan kemampuan, begitu kuat dan dahsyatnya tenaga pukulan orang itu sehingga teknik 'membetot' yang digunakan Put-coat hanya mampu mempengaruhi setengah dari kekuatan musuh, sementara sisanya tahu-tahu hilang dengan begitu saja.
Waktu itu rasa kesemutan dan kaku sudah menjalar sampai separuh badannya, karenanya walaupun separuh tenaga serangan lawan berhasil dipunahkan, namun hasil yang diperoleh dari teknik 'membetot' itu hanya menyebabkan pihak lawan sedikit gontai.
Bukan saja gagal merobohkan lawan, sebaliknya Put-coat sendiri malah dipaksa mundur tiga langkah dengan sempoyongan.
Ternyata orang itu tahu kalau kemampuannya menggunakan ilmu pukulan Thay-khek-kun masih kalah jauh dibanding kemampuan Put-coat, oleh sebab itu meski jurus Ya-be-hun-cong (kuda liar menyiak bulu) yang digunakan sama seperti aslinya, namun tenaga pukulan yang dipancarkan justru sama sekali berbeda.
Ilmu pukulan Thay-khek-kun, Thay-khek-ciang maupun Thaykhek-kiam hampir semuanya mengutamakan kelembutan mengatasi kekerasan, tapi tenaga pukulan orang berkerudung itu keras dan ganas, bahkan datangnya bagaikan air bah yang jebol dari bendungan, menggulung datang tiada habisnya, bukan saja bertentangan dengan teori aslinya, bahkan terasa jauh lebih tangguh.
Bila pada hari biasa, dia pasti akan gembira jika menyaksikan musuhnya melancarkan serangan dengan kekerasan.
Tapi saat ini luka beracunnya sudah mulai kambuh, separuh tubuhnya terasa kaku, kesemutan dan hilang rasa, biarpun dia sudah menggunakan ilmu tingkat tinggi dengan menggunakan kelembutan untuk mengatasi kekerasan, sayang kemampuannya itu belum sanggup menanggulangi keganasan lawan.
Dia hanya mampu membuyarkan separuh kekuatan musuh, sementara separuh sisanya masih tetap menerjangnya hingga membuat dia gontai, sempoyong-an dan terombang-ambing bagaikan sebuah sampan kecil yang dipermainkan ombak samudra.
Melihat pukulan kerasnya memberikan hasil, kembali orang berkerudung itu mengubah gaya serangan nya, kini dia menyerang makin cepat, makin keras dan makin dahsyat.
Jurus pukulan yang digunakan pun sudah menyimpang dari ilmu pukulan Thay-khek-ciang, ada kalanya dia membabat dengan telapak tangan, ada kalanya menjojoh dengan ujung jari, di balik jurus pukulan terselip juga jurus golok dan jurus pedang.
Menghadapi gempuran semacam ini, Put-coat mulai tercecar hebat, kendalipun pengetahuan serta pengalamannya luas, untuk sesaat sulit baginya untuk mengenali aliran jurus serangan lawan.
Tapi anehnya, biarpun dia tidak dapat menebak asal ilmu pukulan lawan, namun gerakan jurusnya terasa seakan pernah dijumpainya di suatu tempat.
Tampaknya orang berkerudung itu dapat menebak kecurigaan lawan, serunya sambil tertawa tergelak.
"Hahaha, kau tidak mampu mengenali asal-usul ilmu pukulanku bukan? Kelihatannya kalau tidak kuberitahu, mungkin kau bakal mati tidak meram!"
Put-coat mendengus dingin.
"Hmm, aliran sesat kaum iblis, tidak ada harganya untuk dibicarakan!"
Maksud dari perkataan itu sangat jelas, dia menganggap jurus serangan lawan berasal dari perguruan sesat yang tidak dikenal, sehingga tidak pantas baginya untuk melacak asal-usulnya.
Orang berkerudung menggeleng kepala berulang kali, jengeknya sambil tertawa tergelak.
"Aliran sesat kaum iblis? Hehehe, kelihatannya pelajaran kungfumu belum mencapai taraf yang hebat. Masa hanya sedikit kuubah gerakannya, kau lantas tidak dapat mengenalinya lagi?"
Seperti baru mendusin dari mimpi, kontan Put-coat tertawa dingin.
"Hmm, ilmu pukulan apaan, kau tidak lebih hanya mencuri ilmu pedang kelas dua dari partai kami, huuh, baru begitu juga berani jual lagak di hadapanku? Walaupun ilmu pukulan dan ilmu pedang perguruan kami saling berhubungan, sayang apa yang kau ubah keledai tidak mirip keledai, kuda pun tidak mirip kuda. Masa keliru kalau kukatakan kau berasal dari aliran sesat kaum iblis?"
Orang berkerudung itu mendengus dingin.
"Hmm, tidak salah, jurus pukulanku memang hasil gubahan dari Jit-cap-ji-jiu-lian-hoantoh-beng-kiam-hoat, tujuh puluh dua jurus ilmu pedang berantai pencabut nyawa partai Bu-tong, mau dianggap tidak mirip keledai tidak mirip kuda terserah, mau dianggap ilmu kelas dua juga tidak mengapa, yang penting kau toh tidak sanggup menghadapinya. Hehehe.... baru menggunakan ilmu pedang kelas dua pun aku mampu mengalahkan seorang jagoan tangguh yang menggunakan ilmu Thay-khek-kiam-hoat kelas satu, sayang Bu-siang Cinjin tidak hadir di sini, kalau dia sampai melihat murid pertamanya harus keok di tangan seseorang yang hanya mencuri belajar ilmu pedangnya, kujamin dia pasti muntah darah saking jengkelnya!"
Put-coat tahu, pihak lawan memang sengaja hendak memancing hawa amarahnya, tetapi lagi-lagi satu pertanyaan muncul di dalam benaknya, sebuah teka-teki yang sulit terjawab.
Mengapa orang itu seolah kuatir kalau dia sampai tidak tahu jika ilmu pukulannya itu merupakan gubahan dari ilmu Jit-cap-ji-jiu-lian-hoan-toh-beng-kiamhoat?
Sambil mengertak gigi Put-coat bertarung habis-habisan, namun akhirnya dia tidak sanggup menahan diri.
Dadanya termakan satu pukulan, darah segar pun muncrat menyembur dari mulutnya.
"Setelah situasi berubah jadi begini, masa kau belum juga mau menyerah?"
Bentak orang berkerudung itu. Put-coat terkesiap.
"Bagaimanapun, aku tidak boleh terjatuh ke tangan bajingan ini!"
Demikian dia berpikir.
Setelah keadaannya terjerumus dalam situasi yang gawat, dia sudah tidak kuatir lagi dibunuh pihak lawan, yang ditakuti justru bila orang itu menggunakan cara yang licik dan keji untuk menyandera dirinya serta kemudian dipakai untuk menekan pihak Bu-tong-pay.
Dengan cepat dia mengambil keputusan, dia harus bunuh diri secepatnya agar tidak terjatuh ke tangan musuh.
Sayang langkah yang diambil terlambat satu tindakan, kini hawa murninya telah buyar, pada hakikatnya dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk memutus urat nadi sendiri.
Put-coat jadi bergidik, dia tidak menyangka ketenarannya selama berkecimpungan dalam dunia persilatan harus berakhir secaralragis, kini dia terjerumus dalam posisi yang amat pelik, mau hidup tidak dapat, mau mati pun susah.
Di saat yang kritis itulah mendadak terdengar suara pekikan nyaring bergema menembus pepohonan.
"Siapa itu?"
Bentak orang berkerudung.
Belum selesai dia menghardik, orang itu sudah berjalan keluar dari balik hutan.
Dia adalah seorang pemuda tampan yang bertubuh kekar, sebilah pedang tersoreng di pinggangnya, sekilas pandang usianya paling baru dua puluh tahunan.
Begitu muncul pemuda itu segera menegur sambil tertawa dingin.
"Hmm, beraninya tampil dengan wajah berkerudung, seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan itu kepadamu!"
Sebenarnya waktu itu Put-coat sudah bersiap-siap menerima pukulan terakhir yang mencabut nyawanya, dia tidak peduli siapa yang bakal muncul di situ, namun setelah mendengar logat suara pemuda itu seperti pernah dikenalnya, tanpa sadar dia mendongakkan kepala dan menengok ke arah hutan.
Tampak pemuda itu terperanjat dan segera menjerit tertahan.
"Hah, bukankah kau.... bukankah kau adalah Put-coat Suheng?"
Put-coat ikut tertegun.
"Kau.... kau adalah Bouw-su.... Sute-...."
Jeritnya.
Tiba-tiba dadanya terasa amat sakit bagai dihantam martil raksasa, kontan kepalanya terasa pusing tujuh keliling.
Sebenarnya dia memang sudah tidak kuat menghadapi serangan orang berkerudung yang bertubi-tubi, apalagi sekarang harus memecah perhatian untuk berbicara.
Sementara orang berkerudung itupun enggan melepas peluang emas itu begitu saja, tahu si pemuda adalah saudara seperguruannya, kontan dia mempercepat serangan mautnya, dengan satu babatan kilat dia menghantam tepat di hulu hati Putcoat yang membuat musuhnya langsung tersungkur ke tanah.
Dalam keadaan setengah sekarat, sukmanya seakan sedang berusaha menerobos keluar dari tubuh kasarnya, lamat-lamat dia masih mendengar suara bentakan gusar pemuda itu.
"Jangan kau lukai Suhengku!"
"Hahaha.... telanjur sudah, dia telah kulukai, mungkin bukan cuma kulukai, pukulan tadi bisa jadi telah mencabut nyawanya, kenapa? Mau apa kau?"
"Aku ingin kau mampus!"
Bentak pemuda itu nyaring.
Put-coat yang sudah tergeletak masih berusaha mengingatkan diri, pikirnya, 'Aku tak boleh mati, kalau harus mati pun aku mesti menunggu sampai Bouw-sute berhasil menghabisi nyawa bajingan itu.
Aku harus serahkan dulu pesan Suhu kepadanya!"
Terdorong oleh rasa tanggung jawab yang belum terselesaikan, Put-coat berhasil mempertahan diri, sekuat tenaga dia mencegah kelopak matanya terkatup.
Akhirnya dia berhasil juga mengusir malaikat elmaut datang mencabut nyawanya, meski dia pun sadar malaikat maut dapat muncul lagi setiap saat, namun baginya bisa hidup semenit berarti dia akan memperoleh satu bagian pengharapan.
Berbaring di atas tanah, dia sama sekali tidak mampu bergerak, yang terdengar olehnya saat ini hanya deru angin pukulan dari orang berkerudung itu, dia pun dapat melihat cahaya pedang yang melesat lewat di hadapannya bagaikan sambaran petir.
Tentu saja cahaya pedang itu baru terlihat ketika secara kebetulan sang pemuda itu berdiri di tempat yang terjangkau oleh pandangan matanya.
"Aah, Bouw-sute memang tidak malu menjadi pewaris ilmu silat perguruan kenamaan, ilmu pedang yang diwarisinya dari Bu-si Susiok ternyata jauh lebih hebat dan sempurna ketimbang kemampuanku. Hahaha, bagus, bagus sekali, dengan menggunakan kedua jurus serangan itu, dia bisa membalaskan dendam atas perbuatanan yang telah dilakukan bajingan itu terhadapku.... hahaha.... sayang aku tidak dapat menyaksikan dengan jelas."
Put-coat cukup matang menguasai ilmu silat perguruannya, dengan melihat dua jurus saja dia sudah tahu kalau ilmu pedang yang dipelajari Sutenya berbeda jauh dibanding dengan apa yang telah dipelajarinya.
Ilmu pedang yang dipelajari pemuda ini cenderung melakukan serangan dengan kecepatan bagaikan petir, bukan saja sangat agresif bahkan ganas dan telengas, inilah ilmu pedang Thay-khekkiam-hoat yang pernah diajarkan Bu-si Tojin kepada Put-ji.
Bila dibandingkan dengan apa yang dipelajari Put-coat, jelas ilmu pedang Thay-khek-kiam ajaran Bu-si Tojin yang telah dikembangkan dengan berbagai variasi dan perubahan itu memang jauh berbeda, sebaliknya bila dibandingkan dengan ilmu pedang yang dipelajari orang berkerudung itu justru menunjukkan banyak kesamaan.
Pedang milik orang berkerudung itu telah dipatahkan oleh Putcoat tadi, kini dia hanya bisa menggunakan ilmu pukulan Thay-khekkun untuk menghadapi Thay-khek-kiam pemuda itu.
Tatkala Put-coat mendengar deru angin pukulan yang dihasilkan orang berkerudung itu masih tetap tangguh dan hebat, diam-diam dia mulai merasa kuatir, pikirnya, 'Tenaga dalam yang dimiliki orang berkerudung ini tidak di bawah kemampuanku, meski Bouw-sute pernah dididik oleh tokoh perguruan, bagaimana pun usianya masih muda, mampukah dia mengalahkan orang berkerudung itu?"
Rupanya pemuda itu bernama Bouw It-yu, keluarga Bouw merupakan keluarga persilatan dengan sejarah paling lama dalam perguruan Bu-tong-pay.
Sejak Thio Sam-hong mendirikan perguruan hingga detik ini, anak muridnya telah berkembang sebelas generasi, selama ini hampir semua anggota perguruan menguasai tenaga dalam maupun ilmu pedang, namun belum pernah ada murid preman yang mampu mengungguli kemampuan murid-murid aliran To.
Dalam rangkaian sejarah itu, hanya satu kali terjadi pengecualian yaitu di saat generasi ketiga, waktu itu ada seorang murid preman bernama Bouw Tok-it yang bukan saja ilmu pedangnya mampu mengalahkan seluruh rekan seperguruannya, bahkan mampu tampil sebagai jago pedang nomor wahid di kolong langit.
Bouw Tok-it tidak lain adalah leluhur Bouw It-yu, sejak Bouw Tok-it menjadi murid Bu-tong-pay, seluruh keturunan keluarga Bouw turun temurun hampir semuanya menjadi murid Bu-tbng, selama dua ratusan tahun lamanya tradisi ini belum pernah terputus.
Hanya saja, semenjak Bouw Tok-it belum pernah ada generasi berikut yang sanggup berprestasi melebihi dirinya.
Ayah Bouw It-yu yakni Bouw Ciong-long, meski tersohor sebagai seorang ahli silat, namun dibandingkan dengan Ji-ouw Tayhiap Ho Ki-bu, yakni guru Put-ji, kemampuannya diperkirakan masih sedikit di bawahnya.
Tampaknya Bouw Ciong-long menyadari akan hal itu, dia selalu berharap putranya dapat membangkitkan kembali prestasi keluarganya, oleh sebab itu dia minta putranya untuk belajar ilmu pedang dari Bu-si Tojin, jago nomor wahid dalam hal ilmu pedang Bu-tong-pay.
Bu-si Tojin berasal satu generasi dengan Bouw Ciong-long, usianya malah jauh di bawahnya, dia hanya bersedia mewariskan ilmu pedang kepada Bouw It-yu tanpa bersedia mengakuinya sebagai murid.
Setiap tahun dia tiga kali datang berkunjung ke rumah keluarga Bouw, setiap kali bertandang paling tidak pasti akan berdiam sepuluh hari sampai setengah bulan, padahal ilmu silat keluarga Bouw memang dasarnya dari ilmu silat aliran Bu-tong, hanya selama ini kemampuannya tidak sesempurna yang dimiliki Bu-si Tojin.
Dengan mendapat petunjuk dari Bu-si Tojin, maka biarpun dia hanya datang dua-tiga kali setiap tahunnya, namun kunjungan itu sudah lebih dari cukup.
Selama ini Bouw It-yu pun pernah dua kali ikut Busi Tojin berkunjung ke bukit Bu-tong, dua kali naik gunung untuk memberi selamat panjang umur kepada Ciangbunjin.
Karena itulah Put-coat hanya tahu kalau kungfu yang dimiliki murid paman gurunya ini tangguh, namun belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu pedangnya.
Put-coat yang berbaring di tanah merasa tubuhnya makin lama makin bertambah kaku, dalam keadaan begini sulit baginya untuk mengintip jalannya pertarung-an, yang bisa dia lakukan hanya menanti dengan perasaan tidak tenang.
Tiba-tiba dia mendengar suara benturan keras.
"Blukk!" , seakanakan ada benda berat yang terjatuh ke tanah. Put-coat makin tercekat, dia sangka Bouw It-yu sudah terkena serangan maut musuh dan roboh ke tanah. Belum selesai ingatan itu melintas, kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati diiringi suara langkah yang berat sedang kabur menjauhi tempat itu. Begitu mendengar kedua suara itu, seketika Put-coat merasa sangat lega. Orang itu melarikan diri jelas karena menderita luka parah, karena tidak sanggup mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya, maka suara langkah kakinya kedengaran berat. Bila ada dua orang sedang bertarung sengit, jika salah satu di antaranya sudah roboh terjungkal, mustahil orang kedua akan melarikan diri, kendatipun dia sudah terluka sangat parah. Sebab bila orang itu sudah roboh, sekalipun belum tentu menemui ajalnya, paling tidak luka yang dideritanya pasti jauh lebih parah ketimbang dirinya. Seharusnya dia menghabisi dulu nyawa orang itu kemudian baru pergi meninggalkan tempat itu. Ternyata dugaan Put-coat tidak salah, suara seperti orang roboh yang terdengar olehnya ternyata bukan berasal dari tubuh seseorang, yang terbanting keras ke tanah, hanya suara sebatang dahan pohon sebesar lengan anak-anak yang terjatuh. Orang yang melarikan diri adalah orang berkerudung itu, sedang Bouw It-yu sama sekali tidak terluka. Tatkala orang berkerudung itu menghajar patah sebatang dahan pohon yang digunakan untuk menghantam tubuh Bouw It-yu, secepat sambaran petir Bouw It-yu menghadiahkan sebuah tusukan pedang yang membuatnya terluka parah.
"Sayang!"
Keluh Bouw It-yu sambil menghela napas panjang, kemudian seraya berpaling katanya.
"Suheng, orang berkerudung itu telah kuhajar hingga melarikan diri, sayang Siaute tidak becus hingga tidak berhasil membinasakan dirinya, tapi tusukan pedangku tadi berhasil melukai jantungnya, kuyakin umurnya tidak bakal panjang. Bagaimana dengan lukamu Suheng?"
Put-coat menggerakkan bibirnya seperti ingin mengucapkan sesuatu, sayang suara yang keluar begitu lembut hingga menyerupai bisikan nyamuk.
Buru-buru Bouw It-yu mengambil keluar sebutir Siau-hoan-wan dan dijejalkan ke mulut Suhengnya, laki sambil menempelkan telapak tangannya ke punggung dan menyalurkan hawa murni, bisiknya lagi.
"Suheng, beristirahatlah dulu, nanti kita baru berbicara lagi."
"Cepat.... cepat kumpulkan tulang belulang dari dalam liang, kemudian cepat.... cepat serahkan kepada Ciangbunjin! Aku.... aku sudah tidak mampu bertahan lagi, kau.... kau tidak usah membuang tenaga de.... dengan percuma."
Selesai berkata kembali Put-coat memejamkan mata.
"Suheng, Suheng!"
Teriak Bouw It-yu.
Ketika tidak mendengar suara sahutan, cepat dia tempelkan telinganya ke atas dada, saat itulah dia baru merasa bahwa detak jantung Suhengnya masih bergerak, hanya saja karena dia sudah keracunan hebat ditambah lagi terluka parah, namun harus bertahan hingga pesan gurunya disampaikan kepada sang Sute, maka hingga detik terakhir dia masih mempertahankan diri.
Biarpun napasnya belum berhenti, namun detak jantungnya sudah lemah sekali, keselamatan jiwanya sudah berada di ujung tanduk.
Paras muka Bouw It-yu yang baru saja kembali cerah segera berubah jadi gelap lagi, dengan alis mata berkernyit gumamnya.
"Tidak bisa, sekalipun bakal mati, kau baru boleh mati setelah kembali ke bukit Bu-tong!"
Di bawah puncak Cian-ki-hong bukit Bu-tong terdapat telaga kecil.
Bunga teratai sedang mekar dengan indahnya pada permukaan telaga, lamat-lamat terendus bau harum ketika angin berhembus.
Seorang gadis muda berdiri di tepi telaga, usianya lebih kurang enam-tujuh belas tahunan, sepasang lesung pipit menghiasi wajahnya, membuat paras muka nona itu nampak cantik menawan hati (Gb 3).
Telaga Giok-keng-ouw (cermin kemala) di bawah puncak Cian-kihong merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di gunung Bu-tong, tapi kehadiran nona cantik itu bukan untuk menikmati keindahan alam, juga bukan untuk menikmati indah dan harumnya bunga teratai.
dia sedang mendongakkan kepalanya memandang bukit, apa yang menarik dengan puncak bukit itu?
Puncak bukit Cian-ki-hong merupakan sebuah bukit berbatu cadas yang keras dan tajam, bentuk bebatuannya sangat aneh, seakan sebuah panji besar yang sedang berkibar terhembus angin.
Seandainya puncak bukit pun memiliki watak, maka Cian-ki-hong seharusnya termasuk jenis bukit yang 'lugu, polos dan bersahaja " , itu kalau menggunakan kata-kata pujian, sebaliknya jika memakai kata olokan maka bukit ini cenderung dikatakan 'kuno dan kolot'.
Mana mungkin ada seorang nona muda yang lincah dan cantik menyukai sebuah puncak bukit yang 'kuno dan kolot'?
Di atas dinding tebing yang curam, lebih kurang enam-tujuh depa dari permukaan, terlihat tumbuh sekuntum bunga merah yang amat besar, bunga merah itu bergoyang ketika terhembus angin, warna merah yang menyala mirip seorang nona agresif yang sedang membawakan tarian panas.
Mungkinkah nona itu tertarik kepada bunga merah besar itu?
Apakah dia sedang mencoba membandingkan siapakah yang lebih cantik antara dia dengan bunga merah besar itu?
Tiba-tiba dia melesat ke tengah udara, dengan sekali lompatan dia sudah mencapai ketinggian tiga depa lebih, ketika telapak tangannya menekan di sisi batu cadas, kembali tubuhnya melambung naik setinggi dua depa.
Tubuhnya segera berputar satu lingkaran di udara lagi, kemudian secara tepat melesat lewat dari bawah bunga merah itu.
Tapi sayang tangannya masih belum berhasil menyentuh bunga merah itu, sekali lagi dia memutar badan lalu bagaikan seekor burung melayang turun lagi ke atas permukaan tanah.
"Cici, hebat amat ilmu meringankan tubuhmu!"
"Adik, tepat sekali kedatanganmu, cepat kemari, cepat kemari!"
Seorang pemuda yang usianya hampir setara dengan gadis itu muncul di depan mata sambil tertawa ringan.
"Cici, persoalan apa yang membuatmu panik?"
"Adikku, tolong petikkan bunga merah itu!"
"Hahaha, ilmu meringankan tubuh milik Cici jauh melebihi kemampuanku, kalau kau sendiri pun tidak sanggup, apalagi aku?"
Sahut si adik sambil tertawa.
"Kau tidak perlu menghadiahkan kopiah kebesaran untukku, siapa yang tidak tahu kalau kungfumu jauh melebihiku, bilang saja, mau tidak kau petikkan untukku?"
"Cici, aku bukan sedang mengumpak dirimu, terus terang ilmu meringankan tubuhku benar-benar tidak sebagus milikmu, paling juga aku hanya mampu mencapai ketinggian tiga depa."
"Tidak mampu melompat ke atas? Bagus, kalau begitu merangkak saja!"
"Kenapa bukan kau sendiri yang merangkak naik?"
Protes sang adik dengan mulut cemberut.
"toh kau yang ingin bunga merah itu!"
"Siapa suruh kau jadi adikku? Baru Cici minta tolong sedikit saja, kau sudah menolak dengan berbagai alasan. Hmm, aku kan seorang nona, wajar kalau pemalu, takut baju robek, sedang kau seorang lelaki, apa yang ditakuti?"
Dengan perasaan apa boleh buat sang adik mengangkatbahunya.
"Begitu kau berteriak, aku sudah tahu pasti akan disuruh mengerjakan sesuatu,"
Serunya.
"padahal kalau cuma mengambil bunga itu, kenapa mesti bersusah-payah merangkak naik?"
"Kurangajar, kau berani tawar menawar denganku?"
"Eeh.... belum mendengar jelas sudah mengumpat? Aku toh cuma bilang tidak perlu merangkak naik, bukan berarti aku enggan memetikkan bunga untukmu."
Sambil bicara dia mengeluarkan dua biji mata uang tembaga, kemudian disambitkan ke arah bunga merah yang tumbuh di atas dinding tebing itu.
Kedua biji mata uang tembaga itu meluncur ke udara secepat sambaran petir, belum sempat gadis itu melihat dengan jelas, tahutahu "Triiing!" , uang tembaga itu sudah menggesek di atas batu cadas dan bunga merah itupun terjatuh ke bawah.
Ketika nona itu menyambutnya dengan kedua belah tangan, tampak bunga itu terjatuh ke bawah dalam keadaan utuh, tidak satu pun kelopak bunganya yang terlepas.
Tidak kuasa lagi dia memuji dengan penuh rasa gembira.
"Adikku, hebat sekali ilmu senjata rahasiamu!"
"Hahaha, kepandaian senjata rahasiaku masih jauh dari sempurna, coba kalau telah aku kuasai, tadi aku hanya butuh sebiji uang tembaga saja."
Rupanya bunga merah besar di atas tebing itu tumbuh dari balik celah-celah bebatuan, akarnya sama sekali terbenam di balik celah batu karang dan batangnya hanya muncul beberapa senti di atas permukaan tanah.
Itu berarti bila sambitannya melenceng sedikit saja, niscaya uang tembaga itu akan menghancurkan kelopak bunga.
Selain itu, andaikata dia berhasil memangkas batangnya pun jika penggunaan tenaga tidak sesuai, niscaya kelopak bunga akan berguguran pula.
Uang tembaga pertama yang dilontarkan pemuda itu persis menancap di celah batu yang membuat batang bunga di bagian bawah terpapas kutung, ketika mata uang itu membentur dinding dan terpental balik, kebetulan tenaga pantulan itu membuat sang bunga terpental meninggalkan dinding tebing, dengan begitu sewaktu rontok ke bawah, kelopak bunga itu tidak sampai tergesek rusak oleh ketajaman cadas.
Meski begitu, kecepatan saat meluncur ke bawah pun harus dijaga sesuai kebutuhan, kalau tidak, kelopak bunga tentu ada yang rontok.
Sementara itu uang tembaga yang kedua dia lancarkan dengan teknik 'menempel', menyusul sambit-an yang pertama, uang tembaga itu meluncur ke udara persis di saat bunga merah itu terpental meninggalkan dinding karang.
Teknik menempel yang dipergunakan membuat bunga merah itu berputar di udara, gerakan memutar itu membuat kekuatan meluncurnya jadi berkurang, karena sang bunga meluncur ke bawah dengan kecepatan yang lembut, otomatis kelopak bunga pun terjaga keutuhannya.
Dari sini terbukti sudah bahwa pemuda ini memang cukup lihai, sebab hanya dalam dua sambitan senjata rahasia, dia telah mempraktekkan beberapa macam teknik ilmu silat tingkat tinggi.
Tiba-tiba nona itu menegur lagi dengan wajah cemberut.
"Apakah ayah angkatmu yang mengajarkan ilmu senjata rahasia itu kepadamu?"
"Bukan, Bu-liang Susiok yang mengajarkan. Guruku hanya khusus melatih ilmu pedang, tidak melatih senjata rahasia. Eeei.... Cici, kenapa kau? Bukankah tadi wajahmu penuh senyuman, kenapa secara tiba-tiba berubah jadi tidak senang?"
"Aku sedang berpikir...."
"Berpikir apa?"
"Aku sedang berpikir, nasib manusia memang sesuatu yang sangat aneh!"
Pemuda itu tertawa.
"Cici, aku lihat tindak-tandukmu hari ini sangat aneh dan membingungkan! Bukankah semuanya lancar-lancar saja, kenapa kau bisa punya perasaan seperti itu?"
"Memangnya bukan? Contohnya kita berdua saja, kita adalah saudara kembar yang dilahirkan oleh ibu yang sama, bahkan sejak dilahirkan sudah merupakan saudara kembar satu kandungan, kenapa nasibnya justru beda sangatjauh!"
"Bukankah sekarang kau sama seperti aku?"
"Sejak kecil sudah berbeda, di rumah ayah dan ibu menyayangimu, Tosu tua, Tosu sedang yang ada di To-koan pun semuanya menyukaimu. Jangankan ayah angkat dan Suhu, bahkan Bu-liang Totiang, Bu-si Tojin dua orang Tianglo pun sering memberi petunjuk ilmu silat kepadamu. Setiap orang menyayangimu, setiap hari ada saja keuntungan yang kau peroleh!"
"Kau belum tahu kalau Ciangbun Sucouw pun pernah memberi petunjuk Sim-hoat tenaga dalam kepadaku,"
Pikir sang pemuda dalam hati.
"kalau hal ini sampai kuceritakan, mungkin rasa dengkimu akan semakin menjadi."
Tapi di luaran segera sahutnya sambil tertawa.
"Tapi semua kawanan Tosu cilik kan berebut menyanjungmu, berebut mendekati dan membaikimu!"
Bersemu merah sepasang pipi gadis itu.
"He, aku sedang bicara serius, siapa suruh kau setan cilik malah balik menggodaku,"
Protesnya.
"kalau aku sih malas meladeni kawanan Tosu hidung kerbau itu."
"Eeh.... ehh.... kenapa kau malah memaki semua Tosu yang ada di Bu-tong? Jangan lupa, sekarang pun kau adalah murid seorang Tosu perempuan!"
"Aku tidak lebih hanya seorang murid 'pinjam nama' belaka, mana bisa dibandingkan dengan kau sebagai murid langsung didikan Ciangbunjin? Cuma bicara sejujurnya, adikku, jangan kau salah sangka aku sedang dengki padamu. Kalau sang adik punya kemampuan, tentu saja aku sang kakak ikut gembira. Yang kulakukan sekarang tidak lebih hanya mengeluh atas ketidak adilan nasib yang menimpa diriku."
"Kau jangan berkata nasibmu tidak baik. Kalau perkataan ini sampai didengar ayah...."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, buru-buru nona itu menukas dengan cepat.
"Aku tahu, Ayah pasti akan mengumpatku sebagai manusia tidak tahu diri. Dia sering bilang begini.
"Siau Leng-ji wahai Siau Leng-ji, kau benar-benar tidak tahu kalau sejak lahir sudah membawa hokki, biar lahir sebagai anak orang miskin tapi kau bisa merasakan nasib yang begitu baik dan lancar, ada Tosu Bu-tong-pay yang mau memperhatikanmu, mengajarkan baca tulis, bahkan mewariskan pula ilmu silatnya kepadamu. Dalam dua tahun belakangan, Tosu yang bertugas mengurusi perkebunan pun khusus mengirim beberapa orang Tosu cilik untuk membantu kita menanam sayuran, dengan begitu kau bisa terbebas dari tugas menanam sayur, keadaanmu sekarang tidak berbeda seperti anak emas. Cuma herannya, aku belum pernah mendengar ayah membicarakan persoalan semacam ini denganmu, kalau bicara soal hokki, memangnya hokkimu tidak lebih bagus dari rejekiku? Aku tahu, sesungguhnya aku mendapat hokki itu gara-gara mendompleng dirimu."
Setelah berpikir sejenak, pemuda itu merasa apa yang diucapkan Cicinya memang tidak keliru, timbul perasaan heran di hati kecilnya, kenapa sikap ayah ibu terhadapku berbeda sekali dengan sikap mereka terhadap Cici.
"Bukan hanya dalam soal ini saja, rasanya begitu juga keadaannya dalam masalah lain. Ayah belum pernah memakiku, sikapnya terhadapku seperti sikapnya terhadap tamu. Hanya saja, mungkin dalam hal ini Cici belum merasakannya?"
Kecurigaan dan rasa tidak habis mengerti itu hanya disimpannya dalam hati, sementara di luar dia berujar.
"Setahuku, banyak orang yang lebih menghargai anak lelaki daripada anak perempuan, Cici, aku tahu, memang aku lebih banyak mendapat keuntungan dalam hal ini. Tapi kau pun tidak perlu kesal, terus terang saja kukatakan, bila kau ingin mempelajari sesuatu ilmu silat, asal aku mengerti pasti akan kuajarkan secara diam-diam kepadamu."
"Kau tidak kuatir ditegur gurumu?"
"Bagaimanapun kau juga anggota Bu-tong-pay."
"Ilmu silat perguruan kita amat luas dan hebat, kelihatannya hampir setiap anggota perguruan dari angkatan tua memiliki kelebihan yang berbeda, namun sepertinya berlaku juga satu peraturan, sebelum mendapat ijin dari Ciangbunjin, setiap orang hanya boleh belajar dari guru masing-masing. Rasanya hanya kau seorang terkecuali."
"Aku tahu, tapi aku bukan angkatan tuamu, membahas jurus dengan anggota satu angkatan itu diijinkan. Kita bisa saja melakukan latihan bersama, dengan kecerdasanmu rasanya tidak susah untuk mencuri belajar dariku."
Gadis itu hanya menunduk tanpa menjawab.
"Cici, apa yang sedang kau pikirkan?"
Kembali pemuda itu menegur.
"Aku sedang membayangkan namamu."
"Namaku? Apa bagusnya?"
"Kemarin seorang Suci berkata kepadaku, andaikata dia tidak kenal dengan kita berdua, kalau hanya mendengar nama kita berdua, dia tidak bakal mengira kita adalah saudara kandung. Dia memuji namamu yang indah dan berseni, Lan Giok-keng, persis seperti nama seorang sastrawan kenamaan, halus dan terpelajar, beda sekali dengan namaku yang berbau udik."
"Aku yakin Suci itu tidak bakal mengucapkan perkataan yang terakhir bukan?"
Sela pemuda itu sambil tertawa.
"Biarpun tidak dikatakan, aku tahu di hati kecilnya dia berkata begitu."
Pemuda itu tertawa lebar, serunya.
"Cici, justru aku merasa namamu sangat indah dan lembut, Sui-leng.... Sui-Ieng.... siapa pun yang mendengar nama ini, perhatiannya pasti akan tertuju ke sepasang matamu."
Ternyata pemuda ini bukan lain adalah bayi yang tempo hari dititipkan Ko Ceng-kim kepada keluarga Lan Kau-san, dia adalah putra yang ditinggalkan Keng King-si serta Ho Giok-yan.
Bocah ini sebenarnya bernama Keng Giok-keng, namun karena Ko Ceng-kim punya kepentingan pribadi, dia tidak ingin bocah itu kelak mengetahui siapa orang tuanya, maka dia minta Lan Kau-san mengakuinya sebagai ayah kandungnya dan memberi nama Lan Giok-keng kepadanya.
Sementara gadis itu adalah putri kandung Lan Kau-san yang bernama Lan Sui-leng.
Put-ji yang punya nama asal Ko Ceng-kim, kini sudah merupakan seorang Tosu dengan kedudukan terhormat dalam Bu-tong-pay, dialah ayah angkat merangkap guru Keng Giok-keng.
Sementara Lan Sui-leng sendiri, karena hubungannya dengan sang adik maka dia pun seringkali muncul dalam kuil, sama seperti adiknya, dia pun sangat berminat berlatih ilmu silat.
Dalam perguruan Bu-tong terdapat pula Tosu perempuan, seorang Tosu perempuan yang bernama Put-hui telah menerimanya menjadi murid, tapi hanya murid atas nama.
Disebut atas nama karena bukan murid sesungguhnya, sebab peraturan yang berlaku bagi para Tosu wanita jauh lebih ketat daripada Tosu lelaki, sekali menjadi murid aliran To maka sulitlah untuk menjadi preman lagi.
Lan Sui-leng tidak mengetahui rahasia asal-usul adiknya, oleh sebab itu walaupun dia sayang kepada adiknya, namun sedikit banyak timbul juga perasaan 'tidak adil', dia merasa semua yang terbaik selalu diperoleh adiknya, bahkan ayah ibunya pun seakan menaruh kasih sayang khusus terhadap adiknya.
"Benar, Suci itu bahkan memuji ketampanan wajahmu. Katanya tampangmu sebagus namamu, karena namamu memakai kata giok (kemala), tidak heran kalau wajahmu halus bagaikan kumala. Aku bilang sayang kau sudah keburu jadi pendeta, kalau tidak, siapa tahu ada kesempatan menjadi adik iparku."
Sebenarnya perkataan itu diucapkan dengan wajah serius, namun sampai di situ dia tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi dan dia tertawa cekikikan.
"Namaku adalah pemberian ayah angkat, jadi dia mau memuji namaku atau tidak, hal ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganku."
"Tapi raut muka itu toh tetap milikmu sendiri bukan?"
Kembali Lan Sui-leng menyela, kemudian setelah menghela napas terusnya.
"tidak heran semua orang menyayangimu, sejujurnya dalam hal apa pun kau memang lebih hebat dariku, tampangmu lebih menarik, otakmu lebih cerdas, meski sang Suci hanya bergurau tapi aku pun dapat merasakan juga...."
"Merasakan apa?"
"Mungkin perumpamaanku kurang tepat, tapi aku selalu merasa kau adalah seekor burung hong yang dilahirkan dari sarang burung gagak."
"Perumpamaanmu sangat tidak tepat, kau pantas dihajar! Dengan berkata begitu, bukankah kau persamakan orang tua kita seperti burung gagak?"
"Ya, aku tahu perumpamaan ini agak keterlaluan, tapi sayang pengetahuanku sangat cetek, aku tidak bisa menemukan perumpamaan lain yang lebih tepat."
"Cici, tahukah kau apa saja yang dikatakan kawanan Tosu kecil itu di belakangmu?"
Tiba-tiba Lan Giok-keng menyela.
"Apa yang mereka katakan?"
"Mereka pun menilaimu dengan satu perumpamaan, katanya kau mirip sekali dengan bunga Botan (peoni) hitam yang mampu berjalan! He, kau jangan marah dulu, mereka sedang memuji kau sebagai cewek yang hitam tapi manis!"
"Kurangajar, jadi kau pun meniru kawanan Tosu bau itu menertawakan Cici sendiri? Lihat saja, akan kurobek mulutmu."
"Plaakkk!" , tahu-tahu pipi Lan Giok-keng sudah ditampar keraskeras. Lan Giok-keng sama sekali tidak membalas, sepatah kata pun tidak diucapkan, hanya dengan mata mendelong dia mengawasi Cicinya tanpa berkedip.
"Cici hanya bergurau denganmu, masa kau marah?"
"Tidak, aku tidak marah."
Biarpun begitu namun sepasang matanya masih mengawasi kakaknya tanpa berkedip.
"Hei, apakah kau sedang kerasukan setan? Kenapa menatapku tanpa berkedip?"
"Cici, sepasang matamu sungguh indah, selamanya mataku tidak bakal bisa mengungguli keindahan matamu."
Bangga juga Lan Sui-leng mendengar adiknya memuji keindahan sepasang matanya, ternyata menurut adat desa mereka, sepasang mata yang besar dan indah milik seorang gadis dinamakan 'mata yang bening', itulah sebabnya dia dinamakan Sui-leng, karena matanya memang bening.
Selama ini dia memang selalu beranggapan bahwa mata adiknya tidak pernah bisa menyaingi keindahan sepasang matanya.
Kini setelah dipuji sang adik, dengan perasaan gembira gadis itu berkata lagi.
"He setan cilik, sejak kapan kau belajar merayu orang dengan perkataan manis? Kalau disuruh kerja serius tidak becus, tapi disuruh merayu, pintarnya setengah mati. Sudah setengah harian kita kemari tetapi masih mengobrol saja, sudah waktunya kau berlatih pedang."
"Cici, kau membawa cermin?"
Tiba-tiba Lan Giok-keng bertanya.
"Aku tidak pernah membawa cermin."
"Kalau begitu tengoklah di atas air!"
"Di atas air, ada apa?"
Tampaknya gadis ini curiga ada sesuatu yang tidak beres dengan wajahnya. Permukaan air sangat jernih bagaikan cermin.
"Di atas permukaan air tampak bayangan kita berdua,"
Kata Lan Giok-keng cepat.
"Lantas kenapa?"
Tanya Lan Sui-leng makin kebingungan.
"Coba kau lihai, betapa cantiknya dirimu."
"He, ada apa denganmu hari ini? Kenapa selalu menggoda Cici?"
Seru Lan Sui-leng sambil mencubit adiknya.
"Sayang ibu tidak ada di sini."
"Kenapa kau menginginkan ibu hadir di sini?"
Tanya si nona keheranan.
"Wajahmu maupun wajah ibu bentuknya seperti kwaci dengan alis mata yang lembut."
"Buat apa kau jelaskan lagi kepadaku?"
"Bayangan yang membias dari permukaan air tidak bisa menampilkan usia seseorang, kalau kau berdiri bersama ibu, dapat dipastikan bayangan kalian yang muncul adalah bayangan dua orang bersaudara."
"Benar, semua orang memang bilang begitu, katanya wajahku mirip sekali dengan wajah ibu,"
Seru Lan Sui-leng bangga.
"Konon semasa mudanya dulu, ibu adalah seorang wanita yang amat cantik."
"Benar, seumur hidup kejadian yang paling membanggakan bagi ayah adalah keberhasilannya menga-wini ibu sebagai bininya, cerita ini entah sudah berapa ratus kali aku dengar."
"Aku ingin kau bercerita sekali lagi."
Dengan menirukan lagak ayahnya yang sedang mabuk, seru Lan Sui-leng sembari menjulurkan lidah.
"Sui-leng, tahukah kau bahwa ibumu dulu adalah wanita paling cantik yang pernah kujumpai di seputar wilayah desaku? Coba tebak, bagaimana ceritanya sampai dia bersedia kawin dengan ayah? Ketika itu ayah sedang mabuk arak dan berhasil membunuh seekor harimau.... hahaha.... kata berikut tentu sudah kau dengar pula berulang kali, buat apa aku mengulangnya lagi."
"Kau telah melupakan satu hal yang paling penting."
"Melupakan? Melupakan bagian yang mana?"
"Sui-leng! Beruntung wajahmu tidak mirip aku, tapi mirip sekali dengan ibumu."
Mendadak seperti baru tersadar, kontan Lan Sui-leng mengumpat.
"Kurangajar, dasar setan cilik, ternyata kau sengaja berputar satu lingkaran tujuannya hanya untuk menggoda Cici."
"Siapa bilang aku sedang menggodamu, kan kau sendiri yang mengatakan kalau wajahmu mirip ibu, hanya saja...."
"Hanya saja kenapa?"
"Wajahku tidak mirip ibu juga tidak mirip ayah. Waktu masih kecil dulu aku sering merasa keheranan, setiap kali ayah mengisahkan cerita itu, kenapa hanya namamu yang disinggung, sekarang aku mengerti, ternyata hal ini disebabkan aku tidak mirip ayah maupun ibu."
"Untuk apa kau singgung masalah itu?"
Tanya Lan Sui-leng tertegun.
"Bukankah kita adalah bocah kembar?"
"Hey, kenapa dengan kau? Masa kejadian inipun bohong?"
"Kalau memang bocah kembar, kenapa wajah kita berbeda?"
"Soal ini, soal ini...."
Tadi dia masih sempat mengatakan kalau dirinya adalah "burung hong yang dilahirkan dari sarang burung gagak" , ketika mengucapkan perkataan itu tadi, hal ini lebih terdorong oleh perasaan 'tidak adil' karena dianggapnya dalam segala hal adiknya jauh lebih hebat darinya, termasuk pula tampang mukanya jauh lebih menawan.
Tapi sekarang, sesudah adiknya mengajukan pertanyaan itu, dia ikut menjadi tertegun dan berdiri melongo.
Nada bicara maupun mimik muka adiknya tampak begitu aneh, seakan merasa risau, tidak tenang, seperti juga menyimpan rasa kesal yang sulit terlukiskan dengan kata, seolah dia merasa tertekan batinnya.
Selama hidup belum pernah dia menyaksikan mimik muka seperti ini.
Tanpa terasa dia ikut tertular, ikut merasa risau dan tidak tenang.
"Soal ini.... soal ini.... pepatah mengatakan, naga yang melahirkan sembilan putra pun masing-masing putra memiliki wajah yang beda, apalagi raut muka saudara kandung, kejadian seperti ini adalah lumrah."
Hanya perkataan semacam itu yang bisa dia gunakan untuk mengurai kemurungan adiknya. Cepat Lan Giok-keng menggeleng kepala.
"Tapi kita adalah saudara kembar! Orang bilang dari sepuluh orang saudara kembar hampir semuanya memiliki wajah yang sama, bukan hanya bentuk wajahnya sama bahkan pikiran dan perasaan pun sama, umpama yang satu ingin mengungkap sesuatu maka yang lain bisa mewakilinya untuk mengungkap, tapi kita berdua...."
Tidak usah dijelaskan pun sang Cici sudah mengerti apa yang dimaksud.
Wataknya memang beda jauh dengan watak adiknya, kalau dia termasuk seorang gadis yang polos, apakah sedang girang atau murung, biasanya orang dapat segera mengetahuinya sekali pandang.
Sebaliknya watak adiknya jauh lebih rumit, terkadang dia bisa tampil dewasa tapi terkadang sangat emosional bahkan menjurus licik dan licin.
Perbedaan semacam ini bukan merupakan hasil pengamatannya selama ini, semenjak masih kecil, secara lamat-lamat dia sudah dapat merasakan perbedaan watak ini.
Setelah tertawa getir, katanya kemudian.
"Adikku, aku benarbenar tidak bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan dalam hati, tapi maukah kau beritahukan kepada Cici?"
"Cici, aku.... aku tanpa terasa sepasang matanya berubah jadi merah.
"Kita dilahirkan dari kandungan ibu yang sama, bila ada yang membuatmu risau, katakan saja pada Cici! Biasanya kalau kerisauan sudah diutarakan, hatimu akan terasa lebih lega. Kemampuan kungfu Cici memang tidak bisa mengunggulimu, kalau soal berkelahi mungkin Cici tidak banyak bisa membantu, namun paling tidak, Cici masih bisa membantumu meringankan perasaan risau."
Sembari berkata dia tepuk bahu adiknya berulang kali, bergaya seolah dia memang seorang 'Toa-cici' yang bisa diandalkan.
"Aku.... aku tidak tahu bagaimana harus bicara!"
"Apa saja yang ingin kau katakan, utarakan saja, masa dengan Cici sendiri pun kau merasa ragu?"
"Cici, tadi kau singgung soal berkelahi, jadi kita mulai dari soal berkelahi saja. Hampir saja aku berkelahi dengan mereka!"
"Mereka?"
"Ya, mereka, kawanan hidung kerbau kecil yang kau maksud tadi!"
Yang dimaksud 'hidung kerbau kecil' tidak lain adalah kawanan Tosu kecil yang seangkatan dengan mereka.
Kalau pada hari biasa, Lan Sui-leng niscaya akan tertawa cekikikan setiap kali menyinggung soal sebutan itu, tapi sekarang dia tidak mampu tertawa, sorot mata adiknya yang penuh amarah dan rasa mendongkol membuatnya waswas.
"Kenapa kau berkelahi dengan mereka?"
Tanya Lan Sui-leng kemudian.
"Mereka sedang membicarakan aku, begitu melihat diriku muncul, kontan mereka berhenti berbicara, tapi aku masih sempat mendengar beberapa patah kata mereka."
"Apa yang mereka bicarakan tentang dirimu?"
"Kata mereka, aku adalah anak haram!"
"Siapa yang bilang begitu? Ayoh kita laporkan kepada gurunya!"
Teriak Lan Sui-leng gusar. Sambil menggeleng Lan Giok-keng tertawa getir.
"Mana boleh kita bikin besar masalah seperti ini, lagi pula hanya soal omongan tidak keruan."
"Betul juga,"
Sahut Lan Sui-leng setelah berpikir sejenak.
"kalau sampai memperbesar urusan kecil ini, mungkin saja orang tua kita akan turut rikuh jadinya. Cuma biarpun kau tidak bisa balas mengumpat mereka, tidak seharusnya memukuli orang-orang itu, anggap saja tidak ada gading yang bisa tumbuh di mulut anjing, tidak usah digubris lagi."
"Padahal kita memang tidak bisa menyalahkan mereka, terbukti wajah kita berdua memang sama sekali berbeda, sedikitpun tidak ada kemiripannya!"
"Kalau orang lain yang bicara begitu masih lumrah, masa kau sendiri pun curiga?"
Seru Lan Sui-leng terkejut.
"Aku.... aku.... aai, Cici, aku sendiri pun tidak tahu."
Berubah paras muka Lan Sui-leng.
"Adikku,"
Katanya.
"selama ini kau selalu pintar, kenapa secara tiba-tiba berubah jadi begitu pikun?"
"Coba bayangkan sendiri, biarpun wajah kita berbeda tapi kita adalah sepasang bayi kembar yang dilahirkan oleh seorang ibu yang sama, kalau kau anak haram berarti aku pun anak haram juga bukan? Mana mungkin aku adalah putri haramnya?"
Setelah berbicara sampai di situ, dia baru teringat kalau perkataan itu tidak bisa diucapkan begitu saja, karena dia merasa wajahnya mirip sekali dengan ibunya, tapi apakah dasar 'alasan' itu saja sudah cukup?
Maka dia pun berkata lebih jauh.
"Kau boleh saja mencurigai soal apa pun, tapi jangan sekali-kali kau curigai ibu sebagai wanita jahat!"
"Cici, berarti kau sendiri yang pikun. Tentu saja aku tidak akan mencurigai ibu, mereka juga tidak mengatakan kalau aku adalah anak haram ibu."
"Lantas kau anak haram siapa?"
Lan Sui-leng benar-benar dibuat tidak habis mengerti.
"Anak haram orang lain yang terbuang, kemudian ditemukan ayah dan dipelihara hingga dewasa. Aku tidak tahu siapakah orang itu, tapi aku yakin ayah pasti tahu."
"Kau benar-benar punya pendapat begitu?"
Seru Lan Sui-leng sambil berusaha menamparnya, menggaplok saking jengkelnya.
"Cici, kau jangan marah, dengarkan dulu penjelasanku,"
Seru Lan Giok-keng sambil menahan tamparannya.
"Baik, kalau begitu cepat katakan."
"Aku tidak akan berpendapat begitu, tapi tidak bisa melarang orang lain berpikiran begitu. Sebab dalam kenyataan sudah ada banyak orang yang berkasak-kusuk tentang asal-usulku."
"Anggap saja perkataan mereka sebagai kentut."
Lan Giok-keng menghela napas panjang.
"Aai, tidak bisa menyalahkan mereka berpendapat begitu, siapa suruh aku tidak mirip ayah maupun ibu."
Biarpun Lan Sui-leng jauh lebih polos dan sederhana, bukan berarti dia adalah seorang nona bodoh, dari pembicaraan adiknya dia tahu kalau pemuda itu sudah terkesan pendapat itu meski di mulut masih berusaha membantah.
Dari sorot mata adiknya yang penuh kerisauan dan penderitaan, dia tahu adiknya sudah banyak menderita dan tersiksa karena masalah ini.
"Adikku, menurut kau sayangkah ayah dan ibu kepadamu?"
Tanyanya kemudian.
"Tentu saja, aku bahkan merasa mereka kelewat menyayangiku."
"Itulah dia, bukankah hal itu merupakan bukti yang paling baik? Kalau kau bukan anak kandung mereka, mana mungkin mereka begitu menyayangimu?"
Dia tidak tahu, masalahnya justru muncul dari kata "kelewat sayang"
Itu, oleh karena orang tuanya selalu menyayangi dia, kelewat memanjakan dia, tidak pernah memukul dan memakinya, hal inilah yang membuat dia jadi curiga.
Melihat adiknya tidak berbicara, dia sangka pemuda itu sudah berhasil dibuat luluh hatinya, maka kembali dia berkata.
"Kau tidak usah masukkan perkataan kawanan hidung kerbau kecil itu ke dalam hati, pembicaraan kita sudahi sampai di sini saja, selanjutnya siapa pun dilarang mengungkit kembali. Ehh.... sudah waktunya kita berlatih silat. Benar, aku belum memberitahu padamu, beberapa hari berselang Suhu sudah mulai mengajarkan ilmu pedang Thaykhek-kiam-hoat kepada-ku."
"Benarkah? Kalau begitu aku mesti mengucapkan selamat kepadamu. Cici, tahukah kau, ilmu pedang itu adalah ilmu simpanan perguruan kita yang biasanya jarang diajarkan kepada murid preman. Padahal kau termasuk murid setengah resmi, sungguh tidak sangka Suhumu bersedia mewariskan ilmu itu kepadamu."
"Bukankah kau telah mempelajarinya sejak awal?"
"Ini dikarenakan hubunganku dengan ayah angkat, sejak usia tujuh tahun aku sudah mengangkat Gihu sebagai guruku. Ciangbunjin pun melihat aku telah tumbuh dewasa, itulah sebabnya tanpa harus memperkuat iman terlebih dulu aku sudah diajarkan ilmu Thay-khek-kiam-hoat."
"Coba lihat, betapa besar rejekimu, tahukah kau hampir setiap orang sedang iri kepadamu? Apa lagi yang membuatmu tidak puas?"
"Aah, masa ada orang iri padaku?"
"Kau sangka hanya Cici seorang yang iri padamu? Suci yang kemarin juga bilang padaku, dia tidak habis mengerti kenapa Put-ji Totiang begitu baik kepadamu?"
"Lantas apa jawabmu?"
Tanya Lan Giok-keng setelah tertegun sejenak.
"Setiap orang punya hokki dan jodoh yang berbeda, apa lagi yang mesti dijelaskan,"
Sahut Lan Sui-leng sambil tertawa.
"eeei adikku, kenapa kau? Masa kau pun mencurigai Gihu lantaran sikapnya yang kelewat baik kepadamu?"
Selama ini Lan Giok-keng belum pernah memikirkan persoalan itu, tidak urung timbul juga rasa curiganya setelah disinggung Cicinya.
"Benar juga,"
Pikirnya.
"menurut Cici, ayah dan ibu kelewat memanjakan aku, anehnya kenapa Gihu pun sepertinya memanjakan juga diriku? Benar dia adalah sobat karib ayah, tapi bukankah Cici pun putri ayah? Kenapa selama ini sikap Gihu terhadapnya acuh tidak acuh? Apakah lantaran aku adalah anak lelaki?"
Berpikir sampai di situ dia pun berkata.
"Tidak, aku tidak berpendapat begitu. Hanya terasa jalan hidupku sedikit agak 'istimewa', seolah-olah sejak dilahirkan, nasib baik sudah mengikuti terus diriku."
"Sudahlah, cukup sampai di sini saja, mari kita segera berlatih."
"Jangan terburu-buru, aku harus mencari sebilah pedang dulu."
"Bukankah pedangmu sudah kau bawa?"
Tanya Lan Sui-leng tercengang. Lan Giok-keng tertawa lebar.
"Aku tak boleh memakai pedang sungguhan hari ini!"
Katanya sambil memotong sebatang bambu dan menggunakannya sebagai pedang.
"Aneh, kenapa hari ini kau ingin menggunakan pedang bambu?"
"Semalam Gihu mengajarkan tujuh jurus pedang kilat, tahukah kau, jurus Thay-khek-kiam-hoat yang aku pelajari jauh berbeda dengan apa yang dipelajari kebanyakan orang, berpuluh kali lipat lebih cepat. Tapi Gihu masih menganggap aku kurang cepat, maka semalam dia sekali lagi mewariskan ketujuh jurus serangan itu kepadaku, aku diminta mempelajarinya hingga mencapai taraf kecepatan seperti dia. Bila ketujuh jurus itu berhasil aku kuasai, dia baru akan mengajarkan tujuh jurus lagi."
"Sampai taraf kecepatan seperti apa sih Gihumu?"
Dengan perasaan ingin tahu Lan Sui-leng bertanya.
"Aku sendiri pun sulit untuk melukiskan dengan perkataan, tapi bisa kuberi sebuah kenyataan sebagai contoh. Dia suruh aku memegang sebatang sumpit, kemudian tiba-tiba terlihat cahaya pedang berkelebat, tahu-tahu sumpitku sudah terpapas kutung tujuh bagian. Ternyata dia telah menggabung ke tujuh jurus pedangnya dalam sekali tebasan."
Tidak tahan Lan Sui-leng menjulurkan lidah karena kagum, sesaat kemudian dia baru berseru.
"Wah, kalau secepat itu sih susah dihadapi."
"Biarpun kemampuanku "
Belum secepat Gihu, namun aku kuatir salah tangan hingga melukaimu. Itulah sebabnya aku harus memakai pedang bambu."
"Kalau begitu biar aku pun ikut memakai pedang bambu."
"Jangan buang waktu untuk menyiapkan sebilah pedang bambu lagi, pakai saja pedang sungguhan."
Seperti baru sadar Lan Sui-leng segera tertawa.
"Aah betul juga, ilmu pedangmu jauh lebih hebat ketimbang kemampuanku, tentu aku tidak mungkin salah melukaimu."
"Bagus, sekarang gunakan seluruh ilmu pedang ajaran gurumu untuk menyerang, tidak usah ragu atau takut, asal dilatih beberapa kali niscaya kau akan semakin paham kalau satu ilmu pedang yang sama sesungguhnya memiliki banyak perbedaan."
Kakak beradik itupun mulai berlatih dengan saling menyerang, ilmu pedang yang dimainkan Lan Giok-keng makin lama berkembang makin cepat, pedang bambu dalam genggamannya seolah telah berubah, dari satu perubahan berkembang jadi perubahan lain, dari satu berubah jadi dua, dari dua berubah jadi empat, dari empat jadi delapan....
Dalam waktu singkat Lan Sui-leng merasa ada selapis bayangan pedang yang tebal dan rapat menyelimuti depan matanya, seakanakan terdapat begitu banyak pedang bambu berwarna hijau yang menusuk tubuhnya dari delapan penjuru, ujung pedangnya bergerak mengikuti kedipan matanya, bayangan pedang terasa menyambar lewat di sisi keningnya, deru angin tajam membuat rambutnya jadi kacau dan kusut.
Tidak kuasa lagi Lan Sui-leng menarik napas dingin, pikirnya, 'Mengerikan!
Untung adik tidak memakai pedang sungguhan.' "Cici, jangan gugup atau panik, hati-hatilah menghadapi serangan Lian-hoan-jit-kiam (tujuh pedang berantai) ini!"
Tahu bakal menghadapi serangan yang ampuh, diam-diam Lan Sui-leng berpikir, 'Biarpun ada tekanan seberat gunung Thay-san yang menindih kepala, aku harus menganggapnya bagaikan angin lembut berlalu!' Pandangan matanya seketika dikonsentrasikan ke ujung pedang, memandang seolah tidak melihat, dia menggunakan ilmu Thaykhek-kiam-hoat tingkat tinggi untuk menghadapi ancaman lawan.
Dari jurus Ji-hong-sip-pit (seperti menutup seperti merapat) berubah jadi jurus Thiat-so-heng-kang (dengan baja mengunci sungai lebar), sekuat tenaga dia hadapi ketujuh serangan berantai dari adiknya yang dilontarkan bersamaan itu.
"Krakkk!" , mendadak terdengar suara retak yang keras, tahutahu ujung pedang bambu milik Lan Giok-keng sudah patah jadi dua, menyusul kemudian pedang yang berada dalam genggaman Lan Sui-leng iku t mencelat pula dari tangannya. Tidak terlukiskan rasa girang Lan Sui-leng, pikirnya, 'Kali ini aku berhasil juga memapas kutung ujung pedang bambunya, ini berarti pertarungan bisa disudahi dengan seri...."
Berpikir sampai di situ tanyanya.
"Adikku, apakah ke tujuh pedang berantaimu belum semua kau gunakan? Kau takut melukai Cicimu hingga tidak berani menggunakannya dengan sungguh hati?"
Terlihat adiknya sudah melompat lebih kurang tiga depa ke samping dengan tangan kiri memegangi lengan kanan, ada beberapa tetes darah segar nampak meleleh keluar lewat celah jari tangannya, membuat seluruh jari tangannya berlepotan darah.
Dengan perasaan terkejut buru-buru Lan Sui-leng menghampiri adiknya sembari berteriak.
"Kauterluka?"
"Tidak apa-apa,"
Lan Giok-keng tertawa getir.
"hanya tergores kulit luarnya saja. Cici, ternyata Thay-khek-kiam-hoat yang kau pelajari hebat sekali, sewaktu aku menggunakan jurus terakhir dari tujuh jurus berantaiku yakni Pek-ho-liang-ci (bangau putih pentang sayap), sebetulnya aku agak kuatir juga kalau sampai merobek pakaianmu, siapa sangka...."
Tentu saja perkataan selanjutnya tidak usah dilanjutkan, bukan pakaian Cicinya yang robek, justru ujung baju sendiri yang tersambar ujung pedang Cicinya hingga robek.
Masih untung cepat dia menggunakan teknik 'melengket' untuk menggiring pedang Cicinya hingga terlepas dari genggaman, kalau tidak, mungkin tulang tangannya sudah tertembus.
Sayangnya, biarpun dia berhasil merontokkan pedang Cicinya, namun kekuatan yang digunakan adalah tenaga dalam, jadi berbicara soal adu pedang, dalam pertarungan kali ini dia tetap kalah satu jurus.
Lan Sui-leng mencoba memeriksa keadaan luka adiknya, ketika melihat luka yang diderita memang ringan, dengan perasaan lega dia pun berkata.
"Kebetulan hari ini aku membawa jarum dan benang, adikku, cepat lepaskan pakaianmu, biar kujahit bajumu yang robek daripada ketahuan Suhumu nanti."
"Mana mungkin Suhu punya waktu untuk mengurusi masalah tetek-bengek?"
"Ooh, dia sedang sibuk apa?"
"Kali ini dia mendapat tugas pergi ke tempat yang jauh, pergi ke wilayah Liauw-tong, bahkan selama tiga bulanan lamanya, sudah pasti ada banyak persoalan yang perlu dilaporkan kepada Ciangbun Sucouw. Sewaktu aku keluar tadi, dia sempat berkata kalau malam ini tidak perlu menunggunya balik makan malam."
Lan Sui-leng menghela napas panjang.
"Ai, dia masih ada begitu banyak urusan yang mesti dilakukan, padahal begitu kembali masih harus mengajar ilmu pedang kepadamu, kau sungguh beruntung bisa mendapat seorang guru dan seorang ayah angkat macam dia!"
"Ucapanmu tepat sekali. Semalam ketika dia mengajarkan ilmu pedang kepadaku, kelihatan sekali kalau dia.... dia sudah...."
"Sudah apa?"
"Sudah menunjukkan tanda-tanda keletihan, malah sampai pada akhirnya dia seperti kehilangan konsentrasi."
Ternyata sewaktu gurunya mengajarkan ilmu pedang semalam, dia kelihatan sedang dirundung banyak persoalan, selama dia melatih diri, gurunya nampak duduk termangu-mangu bahkan tanpa sebab yang jelas menghela napas berulang kali.
Sebetulnya dia ingin menggunakan istilah "pikiran yang kalut"
Untuk menjelaskan keadaan gurunya, namun kuatir Cicinya malah bertanya lebih jauh, terpaksa dia hanya berkata seadanya. Tidak nyana Cicinya justru segera berseru.
"Tidak heran kalau hari ini kau tidak dapat berkonsentrasi secara baik, rupanya masih kangen kepada Suhumu? Aai, dia sudah pergi sangat lama, tidak salah kalau kau ingin berbincang dengannya."
Lan Giok-keng mengerti maksud Cicinya, dia pasti kuatir hatinya tidak nyaman karena kekalahannya tadi sehingga mencari alasan baginya.
Benar, pikiran dan perasaan hatinya memang sedang tidak tenang, apalagi setelah mendengar saudara seperguruannya menuduh dia sebagai anak haram, namun meski demikian, tidak seharusnya dia menderita kekalahan di tangan Cicinya yang baru beberapa hari mempelajari Thay-khek-kiam-hoat.
"Aku dengar ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat yang dipelajari Gihumu berasal dari Bu-si Tianglo?"
Tanya Lan Sui-leng lagi sembari menjahit bajunya.
"Semua orang juga mengetahui persoalan ini."
"Ilmu pedang yang dimiliki Bu-si Tianglo dianggap nomor satu dalam perguruan kita, aku dengar ilmu pedang yang dipelajari Gihumu berasal dari ajaran murni Bu-si Tianglo, malah konon kehebatannya jauh di atas murid-murid Bu-si Tianglo sendiri, menurutmu...."
"Sebagai seorang murid mana berani aku mengkritik kemampuan ilmu pedang guruku,"
Sahut Lan Giok-keng sedikit keheranan.
"Cici, apa maksudmu bertanya begitu? Apakah kau tidak percaya dengan perkataan mereka? Cici, ilmu pedang guruku tentu saja sangat bagus, tidak perlu kau ragukan. Kekalahanku hari ini tidak lebih hanya dikarenakan kemampuanku yang tidak becus."
Sejujurnya Lan Sui-leng memang agak sangsi, tetapi setelah mendengar perkataan adiknya, dia pun merasa tidak leluasa untuk melanjutkan kembali perkataannya.
Benarkah masih ada orang yang meragukan kemampuan Put-ji, guru Lan Giok-keng, sebagai 'jago pedang nomor dua dari Bu-tong-pay'?
ternyata memang ada.
Orang itu bukan lain Put-hui, guru Lan Sui-leng.
Sambil membantu adiknya menjahit pakaiannya yang robek, Lan Sui-leng mulai membayangkan kembali peristiwa yang dialaminya hari itu.
Saat itu adalah hari ketiga sejak gurunya mengajarkan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat kepadanya.
Entah karena apa, hari itu gurunya nampak uring-uringan dan sedikit tidak suka hati.
Pelajaran yang diberikan sangat lamban, sampai sore hari dia hanya mengajarkan tiga jurus pedang kepadanya.
Sampai dia mempraktekkan kembali ketiga jurus ilmu pedang itu, sekulum senyuman baru mulai tersungging di ujung bibir gurunya.
"Jangan kau salahkan kalau aku mengajarkan kepadamu sangat lambat, sebab pondasi harus dibina secara pelan dan tidak boleh tergesa-gesa. Kau berlatih sangat bagus, asal mau berlatih dengan sepenuh hati, di kemudian hari pasti akan menjadi seorang pendekar pedang wanita kenamaan."
Lan Sui-leng termasuk gadis yang suka bicara blak-blakan, begitu mendengar perkataan itu, tanpa berpikir panjang segera sahutnya.
"Aku tidak ingin menjadi jago pedang wanita, aku hanya ingin...."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin mengalahkan adikku."
"Hahaha gurunya langsung tertawa terbahak.
"memangnya ilmu pedang adikmu sangat hebat?"
"Dia mempelajari ilmu pedang itu langsung dari Put-ji Totiang, tentu saja kemampuannya jauh lebih hebat daripada diriku."
"Ehmm, guru hebat akan menghasilkan murid hebat juga, ilmu pedang Put-ji Suheng dipelajari dari Bu-si Tianglo, jago nomor wahid dari perguruan kita, sekarang pun dia sudah dianggap jago nomor dua, tentu saja kemampuannya jauh lebih hebat dari kemampuan-ku."
Merah dadu selembar wajah Lan Sui-leng, buru-buru katanya.
"Suhu, aku tidak bermaksud begitu, aku tidak lebih hanya menggunakan adikku sebagai pembanding, jadi bukan...."
"Kau tidak usah panik,"
Gurunya tertawa.
"aku tidak berkata kalau ucapanmu keliru. Aku tidak bakal berpikiran cupat. Hanya saja, hmm! Bila kau belajar Thay-khek-kiam-hoat dariku, belum tentu kemampuan-mu tidak dapat mengungguli adikmu. Gurunya...."
"Kenapa dengan gurunya?"
"Gurunya menganggap ilmu pedang itu seperti mustika, padahal menurut penilaianku, watak gurunya tidak beda jauh dengan diriku...."
Melihat gurunya bicara terus tiada habisnya, Lan Sui-leng semakin tercengang, tanyanya.
"Suhu, kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu?"
"Suatu ketika, tanpa sengaja aku melihat Put-ji Suheng sedang mengajari adikmu ilmu pedang, begitu tahu kehadiranku, dia langsung berhenti mengajar, padahal aku tidak berniat mencuri lihat ilmunya. Sayang, biar tidak ingin mencuri lihat pun aku sempat juga menyaksikan beberapa jurus ilmu pedangnya."
"Menurut pandangan Suhu, bagaimana dengan ilmu pedang ajaran Put-ji Supek?"
Tanya Lan Sui-leng dengan perasaan ingin tahu.
"Aah, dia adalah jago nomor dua dari perguruan, sementara ilmu pedangku paling juga berada pada urutan belasan ke atas, mana berani aku mengatakan kalau ilmu pedangnya jelek."
Ternyata Lan Sui-leng pintar juga, begitu mendengar perkataan itu segera serunya sambil tertawa.
"Suhu, kelihatannya kau sudah tahu kalau di balik ilmu pedang milik Put-ji Supek terdapat titik kelemahan, bolehkah kau ajarkan kepadaku secara diam-diam?"
"Aku tidak pernah berkata begitu, kau jangan sembarangan menduga!"
"Masa tebakanku keliru? Baiklah, kalau begitu biar kutanyakan ucapan yang Suhu katakan itu kepada orang lain, coba lihat apakah orang lain pun berpendapat begitu?"
"Bagus, rupanya kau si setan cilik ingin mengancam aku? Tidak masalah kuberitahukan kepadamu, hanya takutnya...."
"Takutnya kenapa?"
"Takutnya kalau sampai terdengar guru adikmu."
"Suhu, justru ucapan ini bakal tersiar luas kalau kau tidak memberitahukan kepadaku. Asal kau terangkan, tidak nanti kukatakan kepada adik."
Terdorong karena pertama, dia tidak tahan direcoki terus oleh muridnya, kedua, Put-hui merasa tidak puas dengan sikap Put-ji yang menuduhnya mencuri lihat ilmu pedangnya, maka dia pun berkata.
"Tentu saja ilmu pedang Put-ji Supekmu sangat bagus, hanya sayang kelewat banyak kembangan hingga tidak banyak kegunaannya."
Karena itu sewaktu hari ini Lan Sui-leng mengajak adiknya bertanding, sedikit banyak dia membawa 'misi' untuk membuktikan kebenaran itu.
Dan sekarang, ketika dia mulai membayangkan kembali perkataan gurunya itu, rasa curiga segera muncul di hati kecilnya, pikirnya, 'Benarkah ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat yang dipelajari adik hanya bagus dipandang namun tidak ada gunanya?
Tapi mengapa dia mampu merontokkan pedang bajaku hanya mengandalkan kutungan pedang bambu?
Kenapa kemampuan semacam ini dibilang hanya indah dilihat tapi tidak berguna?
Ehmm, mungkin saja hal ini dikarenakan konsentrasinya sedang kalut hari ini."
Tentu saja dia tidak menyangka kalau keberhasilan adiknya membuat pedangnya terlepas dari tangan bukan karena kelihaian ilmu pedangnya, melainkan karena dia telah menggunakan tenaga dalam ajaran Ciangbun Sucouwnya.
Oleh karena dia telah berjanji dengan gurunya untuk tidak menceritakan rahasia ini kepada adiknya, terpaksa rahasia itu hanya disimpan di dalam hati.
"Ehh, Cici, apa yang sedang kau pikirkan?"
Tiba-tiba terdengar Lan Giok-keng menegur.
"Aah tidak apa-apa, aku sedang berpikir ilmu silat yang dipelajari Ciangbun Sucouw adalah ilmu silat Bu-tong-pay yang paling murni, kenapa kau tidak minta petunjuk beberapa jurus ilmu pedang darinya."
"Memangnya ilmu pedang milik Bu-si Tianglo bukan Thay-khekkiam murni? Sewaktu Sucouw suruh aku belajar pedang dari Gihu, dia justru berpendapat karena ilmu pedangnya belum bisa menandingi kehebatan Sutenya. Aku rasa kegagalanku hari ini hanya disebabkan latihanku kurang sempurna, biar nanti aku tanyakan lagi ke Gihu, besok kita coba bertarung lagi."
Baru berbicara sampai di situ, mendadak terlihat ada seorang Tosu muda berlarian mendekat dengan napas terengah-engah, teriaknya.
"Ternyata kalian berdua bersembunyi di sini, kalian tahu, sudah terjadi peristiwa besar, tidak nyana kalian masih ada minat bermain di sini!"
Orang ini berasal satu angkatan dengan mereka berdua, bergelar Bu-seng.
Dalam anggapan Lan Sui-leng, Bu-seng masih terhitung salah satu 'hidung kerbau kecil', di waktu biasa dia sering menggoda Tosu cilik ini.
Melihat kepanikan Tosu itu, Lan Sui-leng segera menegur dengan nada tidak senang.
"Peristiwa besar apa yang telah terjadi? Kenapa kelakuanmu seperti orang panik?"
"Put-coat Supek telah kembali!"
"Dia toh bukan turun gunung untuk kembali ke kehidupan preman, apa anehnya kembali ke gunung?"
"Karena dia pulang dengan digotong orang!"
"Kenapa dia kembali dengan digotong orang?"
Tidak tahan Lan Sui-leng berseru dengan wajah melengak. Bu-seng tertawa geli, sahutnya.
"Nonaku, tentu saja karena dia tidak mampu berjalan sendiri maka butuh digotong orang. Masa soal begitu juga ditanyakan?"
"Dia terserang penyakit apa?"
"Nonaku, paling tidak ada dua alasan kenapa dia harus pulang digotong, kesatu, karena terserang penyakit, kedua, karena terluka. Darimana kau yakin kalau dia terserang penyakit?"
"Masa dia terluka?"
"Tepat sekali! Dia bukan terserang penyakit parah tapi menderita luka parah!"
Lan Sui-leng terperanjat.
Sebagaimana diketahui, Put-coat adalah murid pertama Bu-siang Cinjin, Ciangbunjin partai Bu-tong, kehebatan ilmu silatnya tidak terukur, mimpi pun Lan Sui-leng tidak pernah menduga kalau Supeknya yang berilmu tinggi bakal terluka parah.
"Siapa yang telah melukai dia?"
"Darimana aku tahu, hanya kuketahui orang yang mengantarnya kembali ke gunung adalah Bouw It-yu dari Yangciu. Begitu tiba di gunung, Bouw It-yu langsung menghadap Ciangbunjin untuk melapor, mana dia ada waktu untuk mengobrol dulu denganku. Nonaku, kau...."
Lan Sui-leng tahu kalau Tosu kecil ini suka menambah bumbu pada ceritanya, tapi dia yakin peristiwa terlukanya Put-coat tidak bakal dibumbui dengan cerita lain, tanpa terasa nona ini jadi gugup, segera serunya.
"Kau tidak usah merecoki aku lagi, ayoh kita segera berangkat!"
Sambil berkata dia serahkan pakaian yang sedang dijahit itu ke tangan adiknya.
"He Giok-keng Sute, kenapa baju barumu robek?"
Tanya Bu-seng tanpa terasa.
"Tidak usah cerewet, siapa suruh kau mencampuri urusan di sini?"
Tukas Lan Sui-leng.
"Aku toh cuma bertanya, apa salahnya dijawab sambil berjalan?"
"Tadi aku suruh dia memetik bunga, pakaiannya robek karena terkait duri."
Biarpun nona ini polos namun bukan orang bodoh, dia tidak ingin si hidung kerbau kecil ini tahu kalau secara diam-diam dia sedang mempelajari ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat dari adiknya.
Lan Giok-keng yang membungkam selama ini tiba-tiba bertanya.
"Apakah Ciangbun Sucouw yang memerintahkan kau mencari kami berdua?"
Bu-seng tertawa tergelak.
"Hahaha, Lan-sute, kau sangka siapa sih dirimu?"
Serunya.
"tidak salah, di hari biasa Ciangbunjin memang sayang padamu, di saat senggang mungkin beliau akan mencarimu untuk bermain catur, tapi saat ini urusan sangat gawat, sekalipun akan mencari orang untuk diajak berunding, rasanya tidak nanti akan mencari dirimu bukan?"
"Aku tahu, diriku hanya seorang bocah yang tidak tahu urusan. Lalu kenapa kau tergopoh-gopoh menyu-ruh kami segera pulang?"
Bu-seng kembali tertawa.
"Lan-sute,"
Katanya.
"kau tidak perlu marah kepadaku, semua orang mengatakan kau pintar, mana aku berani menuduhmu tidak tahu urusan. Cuma Put-coat Totiang adalah Supekmu, terlepas kau tahu urusan atau tidak, setelah Supekmu terluka~parah, sepantasnya kau segera pulang untuk menengoknya bukan? Masa kau malah marah padaku, memang kau tidak mengkhawatirkan keselamatan Supek?"
"Siapa bilang aku tidak menguatirkan Supek, aku hanya ingin tahu, siapa yang memerintahkan kau mencari kami berdua?"
"Sute, kenapa sih kau ngotot menyanyakan persoalan yang sama sekali tidak penting?"
Bu-seng makin keheranan.
"Mungkin kau anggap tidak penting, tapi urusan ini sangat penting bagiku."
"Kenapa?"
"Aku harus tahu siapa yang bersikap baik padaku. Siapa yang baik padaku, aku pun bersikap baik kepadanya."
Jawaban itu sangat kekanak-kanakan, jangankan Bu-seng, Lan Sui-leng pun termakan oleh tipuan adiknya itu, dia sangka adiknya benar-benar berpendapat begitu. Maka kepada Bu-seng segera serunya.
"Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan jasamu?"
"Aku tidak berani merampas jasa Sucouw,"
Sahut Bu-seng tertawa.
"Ooh, jadi kau mendapat perintah dari Ji-tianglo untuk datang mencariku?"
Tanya Lan Giok-keng.
Yang dimaksud Ji-tianglo atau Tianglo kedua adalah Bu-liang Totiang.
Sebagaimana diketahui Toa-tianglo adalah Bu-kek Totiang yang telah menemui ajalnya pada enam belas tahun berselang.
Oleh sebab itu meski Bu-liang Totiang berada pada urutan kedua, namun di antara Tianglo yang masih ada sekarang, dia sudah menempati posisi teratas.
Sementara Bu-seng adalah murid Put-pay, murid pertama Buliang Totiang.
"Benar,"
Kata Bu-seng.
"dia orang tua memang sangat teliti dan cermat, begitu tahu Put-coat Supek pulang gunung digotong orang, dia segera teringat akan dirimu. Pertama, karena Put-coat Supek adalah angkatan tuamu, kedua, dia pun kuatir gurumu kelewat sedih lantaran kejadian ini, maka kau diminta mendampingi gurumu serta menghiburnya."
Lan Sui-leng merasa sangat terharu sekali, ujarnya.
"Terus terang, Sucouwmu ini selalu mendatangkan perasaan aneh bagiku, tidak disangka dia berpikir begitu cermat khususnya terhadap angkatan yang lebih muda."
Bu-seng tertawa.
"Sejujurnya dia tidak selalu bersikap baik ter-hadap setiap murid perguruan, tapi terhadap Put-ji Susiok serta kalian berdua, sikapnya memang istimewa baiknya."
"Mungkin saja dia bersikap baik terhadap adikku, tapi jangan kau ikut sertakan diriku."
"Ooh, jadi kau anggap sikap Sucouw terhadapmu kurang baik? Bagaimana kalau aku saja yang bersikap baik terhadapmu?"
"Ciss, siapa sudi menerima kebaikanmu."
Habis berkata dia segera beranjak pergi diikuti Bu-seng di belakangnya.
Tiba-tiba bunga merah dalam genggamannya terlepas dan terjatuh ke tanah.
Melihat ada kesempatan untuk mendekati Sumoy nya, buru-buru Bu-seng memungut bunga itu dan diangsurkan ke hadapan Lan Suileng sambil berseru.
"Sumoy, bungamu terjatuh, untung mataku awas dan segera memungutnya kembali, coba lihat, bunganya masih utuh, tidak ada yang rontok."
"Hmm, aku tidak mau bunga yang sudah terjatuh ke tanah."
"Tapi bungamu terjatuh di atas rumput, sama sekali tidak kotor, coba lihat, bersih sekali,"
Seru Bu-seng sambil meniup bunga itu.
"Biar bersih pun tidak mau!"
"Bukankah gara-gara menyukai bunga itu kau telah menyuruh adikmu memetiknya? Coba lihat, pakai-an adikmu pun sampai robek, kenapa sekarang malah tidak mau?"
"Karena sekarang aku sudah tidak menyukainya lagi."
"Kenapa?"
"Aah, bawel amat kau, kenapa sih suka mencampuri urusan tetek-bengek? Sekali tidak suka tetap tidak suka, kenapa mesti kujelaskan? Hmm, bukankah barusan kau sempat menegurku suka bermain? Kenapa kau sendiri malah mengurusi soal bunga?"
"Tapi.... bunga ini sangat indah, rasanya sayang untuk dibuang,"
Seru Bu-seng tergagap. Tiba-tiba Lan Giok-keng berkata.
"Mungkin saja bunga itu tidak ternoda, tapi aku lihat pakaianmu justru ternoda air lumpur. Aah, bukan sedikit, malah sebagian besar...."
Bu-seng yang berusaha mencari muka di hadapan Lan Sui-leng jadi tidak suka hati setelah disindir Lan Giok-keng, segera katanya.
"Barusan kan hujan deras, masih untung cuma hujan, bajuku basah lantaran air hujan, siapa bilang kena air comberan!"
"Ooh, rupanya kau menempuh hujan untuk mencari kami berdua? Kebaikan hatimu sungguh membuat hatiku terharu."
"Terima kasih, aku tidak mengharap terima kasihmu, aku cuma minta kau jangan bawel lagi."
"Baiklah, kalau memang kau benci dengan perkataanku, biar aku tidak berbicara lagi."
Benar saja dia segera tutup mulut sambil mempercepat langkahnya berjalan lebih dulu di depan. Tiba-tiba terdengar Lan Sui-leng berkata.
"Bu-seng Suheng, aku rasa kau sedang berbohong."
"Aku berbohong?"
"Sudah jelas kau tercebur ke selokan dan ternoda air pecomberan, kenapa dibilang basah kuyup karena hujan? Kapan sih hujan?"
Bu-seng kembali tertawa.
"Belakang gunung tidak hujan bukan berarti bukit bagian depan juga tidak hujan. Masa kau tidak pernah mendengar lagu rakyat yang mengatakan di timur ada matahari di barat sedang hujan, dibilang tidak berperasaan ternyata ada perasaan...."
"Oooh, rupanya begitu."
Mendadak Bu-seng seperti teringat akan sesuatu, dia seperti ingin mengucapkan tapi kemudian urung, akhirnya dengan tergagap katanya.
"Padahal aku.... aku pun.... aai! Kalian tidak bakal mengerti."
Selesai berkata buru-buru dia berjalan ke sebuah simpang jalan dan berlalu dengan begitu saja.
Ketika angin gunung berhembus lewat, terlihat jubahnya bergetar sampai menggelembung, seolaholah sekujur tubuhnya telah dipenuhi tenaga murni.
Lan Giok-keng yang memandang bayangan punggungnya tibatiba terlintas rasa curiga di hati kecilnya.
"Mungkinkah di antara mereka punya hubungan yang tidak boleh diketahui orang lain?"
Pikirnya.
Begitu terbayang 'hubungan yang tidak boleh diketahui orang lain', mendadak dia sendiri pun merasa amat terperanjat.
Bukankah hal ini sama artinya dia pun mencurigai Gihu sendiri?
Tidak benar, boleh saja dia mencurigai Ji-tianglo, namun tidak sepantasnya mencurigai juga Gihu sendiri!
Yang membuatnya lebih terperanjat adalah 'caranya berpikir', diam-diam dia mengumpat diri sendiri.
Tiba-tiba terdengar Lan Sui-leng yang telah menyusul dan menegur.
"He adikku, kenapa wajahmu nampak sangat aneh? Aku telah membantumu mengerjai si hidung kerbau kecil, kenapa kau tidak tertawa, juga tidak bicara, sebetulnya apa yang sedang kau pikirkan?"
Lan Giok-keng tanpa berpaling segera menyahut.
"Cici, kau tidak usah banyak curiga, tidak ada yang kupikirkan."
Biarpun dia cerdik, sayang perkataan ini justru meninggalkan titik kelemahan, kenapa dia harus kuatir Cicinya curiga? Lan Sui-leng bukan orang bodoh, tanggapnya.
"Adikku, kau kan tahu kalau aku bukan orang yang banyak curiga, tapi kenapa mesti mengelabui aku? Bukankah kau masih meragukan asal-usulmu?"
"Tidak!"
"Baguslah kalau tidak. Adikku, lantas masalah apa yang masih mengganjal di hatimu? Masa Cici sendiri juga tidak boleh tahu?"
Lan Giok-keng sadar, biar tidak mengakui pun Cicinya pasti tetap curiga, maka sahutnya.
"Ooh tidak apa-apa, aku hanya berpikir, belakangan rasanya ada banyak peristiwa aneh yang terjadi di sini."
"Benar,"
Lan Sui-leng mengangguk, dia tahu yang dimaksud adiknya adalah 'musibah' yang menimpa perguruannya.
"Siapa yang menyangka kalau Put-coat Supek pun bisa dilukai orang sehingga harus digotong balik ke Bu-tong-san."
Sebenarnya dia masih ingin bertanya kepada adiknya, kejadian apa lagi yang dia angggap 'aneh', namun saat itu mereka telah tiba di depan istana Goan-hap-kiong tempat tinggal Ciangbunjin.
Dimana seluruh murid angkatan ketiga telah berkumpul sambil berkasakkusuk, karenanya dia merasa tidak leluasa untuk bertanya lebih lanjut.
Kalau soal 'anak haram' pun adiknya berani menyampaikan kepadanya, dia tidak percaya kalau masih ada soal lain yang tidak berani dikatakan sang adik kepadanya.
Tentu saja dia tidak bakal mengira kalau adiknya benar-benar masih ada rahasia lain yang tidak dikatakan kepadanya.
Persoalan yang cuma bisa disimpan di dalam hati, persoalan yang tidak mungkin diberitahukan kepada orang lain merupakan satu ganjalan yang paling menyiksa.
Bagi Lan Giok-keng, siksaan batin itu baru merupakan permulaan.
Padahal ayah angkatnya, Put-ji, sudah merasakan siksaan itu selama enam belas tahun lamanya.
Satu jam berselang, di saat untuk pertama kalinya Lan Giok-keng mengemukakan suara hatinya kepada sang Cici, dia pun sedang terjerumus dalam kenangan masa lalu yang amat menyiksa, bahkan tidak seorang pun pernah mendengar keluh-kesahnya.
Satu jam berselang, tepat di saat hujan turun dengan derasnya, turun secara tiba-tiba.
Biarpun hanya hujan, namun air hujan turun sangat deras, bahkan disertai sambaran petir dan guntur.
Penyakit lamanya lagi-lagi mulai kambuh.
Setiap kali menjelang hujan turun, jantungnya selalu terasa kejang, pikiran dan perasaannya ikut kalut dan terombang-ambing.
"Aai, lagi-lagi tumn hujan seorang diri dia duduk termenung di dalam kamarnya.
Ketika cahaya petir menyambar di luar jendela, tiba-tiba dia teringat kembali dengan hari itu, hari hujan pada tujuh belas tahun berselang.
Di antara ranting dan tangkai pepohonan yang bergoyang tertimpa hujan badai, dia seolah melihat 'Siau-sumoy' sedang berjalan menghampirinya.
Waktu itu Ho Giok-yan masih merupakan 'Siau-sumoy', belum menjadi calon bininya.
Hubungan itu tiba-tiba terputus, tiba-tiba berkesudahan di saat hujan sedang turun dengan derasnya.
"Toa-suheng, aku tidak punya muka lagi untuk berbicara denganmu...."
Tidak perlu penjelasan dari Siau-sumoy pun dia sudah paham.
Dia tahu kedatangan Siau-sumoynya adalah untuk berpamitan.
Pada malam itulah dia telah pergi bersama Sutenya.
Ketika cahaya petir kembali menyambar, bayangan di depan matanya seolah bertambah lagi dengan sesosok manusia.
Selain Siau-sumoy Ho Giok-yan, di situ masih ada pula adik seperguruannya, Keng King-si.
Hari itu adalah hari hujan pada enam belas tahun berselang.
Dia berjumpa lagi dengan Siau-sumoy, kini Siau-sumoy sudah menjadi Keng-hujin, nyonya Keng.
Kalau dalam pertemuan pertama Siau-sumoy datang berpamitan, maka pertemuannya kali ini berubah jadi perpisahan untuk selamanya.
Semua kejadian, semua peristiwa saat itu kembali terlintas di depan matanya, dia tidak tahu apakah bayangan itu kejadian sungguhan atau hanya khayalan, apakah dia sedang bermipi atau tersadar?
Di balik kilatan cahaya petir dan suara guntur, Keng King-si roboh terjungkal tertembus pedangnya.
Kemudian dia seperti mendengar suara tangisan bayi yang baru lahir.
Sumoy terkapar di tengah genangan darah.
Aah, seluruh jagad, seluruh kehidupan, seluruh isi alam seolah telah berhenti, seolah menjadi sunyi, hanya suara tangisan orok yang terdengar.
Aah tidak, tidak, dia seperti mendengar juga suara tertawa.
Suara tertawa yang samar, suara tertawa yang terhantar datang secara lamat-lamat, seperti ada seperti pula tidak ada!
Enam belas tahun berselang, di saat hujan turun dengan derasnya, waktu itu dia sama sekali tidak mendengar suara tertawa semacam itu.
Tapi suara tertawa itu bukan didengar dengan telinganya tapi 'terdengar' oleh suara hatinya.
Inikah suara tertawa seperti apa yang dia bayangkan?
Tidak, dia sadar bahwa hal itu hanya khayalan, perempuan itu, perempuan genit, perempuan cabul yang bergelar Lebah hijau itu tidak tertawa pada saat itu, tapi dalam hati kecilnya dia pasti sedang tertawa bangga.
"Aai, kenapa aku bisa teringat perempuan ini?"
Dia paling tidak berharap membayangkan perempuan ini, apalagi ketika dia selesai membayangkan Siau-sumoy, kemudian terbayang pula perempuan ini. Bahkan dia sering 'menipu' diri sendiri.
"Bukan, bukan, semua itu hanya khayalanku belaka, hari itu dia sama sekali tidak hadir di tempat kejadian!"
Begitu seringnya menipu diri sendiri sampai akhirnya dia percaya dengan ungkapan itu.
Aai, apakah hanya khayalan atau sungguh terjadi?
Pada akhirnya dia sendiri pun tidak jelas!
Cahaya kilat sekali lagi menyambar membelah angkasa, bayangan yang muncul di depan mata kembali berubah.
Seorang kakek berwajah garang, seorang jago lihai dengan cahaya pedang bagai sambaran petir!
Waktu berjalan begitu cepat....
dari enam belas tahun berselang kini berubah jadi tiga bulan berselang, saat hujan turun dengan derasnya tiga bulan berselang.
Waktunya makin dekat, tapi tempat kejadian justru makin jauh.
Kalau dua kali hujan deras dialami di desanya, maka hari hujan kali ini justru berada jauh dari tempat kelahirannya, berada di wilayah Liauw-tong yang amat jauh.
Tiga bulan yang lalu dia mendapat perintah dari gurunya untuk mendatangi wilayah Liauw-tong, menyelidiki seseorang, seseorang yang misterius dan penuh diliputi teka-teki.
Orang itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan peristiwa pembunuhan yang menimpa Bu-tong-pay, peristiwa pembunuhan terbesar sepanjang sejarah.
Hampir semua orang yang ada hubungannya dengan peristiwa ini telah tewas, bagaimana dengan orang ini?
Masih hidupkah dia atau sudah mati?
Oleh karena orang ini ada 'kemungkinan' masih hidup, maka dia harus berangkat ke sana untuk mencari berita, kalau pun dia sudah mati, dia pun berharap masih bisa menggali sedikit titik terang atas kejadian di masa lampau.
Orang itu tidak lain adalah Huo Bu-tou, orang yang dikenal Keng King-si dan Ho Giok-yan sewaktu hidup di wilayah Liauw-tong.
Waktu itu statusnya adalah seorang juragan ikan, walau dalam kenyataan dia adalah pengawal pribadi Nurhaci Khan dari negeri Kim.
Pada tahun kedua kembali dia merubah diri, kali ini menjadi seorang perwira dari pasukan Kim-ih-wi kerajaan Beng.
Boleh dibilang orang ini nyaris penuh dengan teka-teki.
Hanya dengan menemukan orang ini, dia baru punya harapan untuk memecahkan kasus pembunuhan ini.
Dan hanya orang ini juga yang bisa menerangkan apakah pada waktu itu adik seperguruannya, Keng King-si, benar-benar pernah menjadi matamata bangsa Boan.
Kalau dibilang 'mendapat perintah' lebih cocok kalau dibilang bukan hanya satu kali dia mengajukan permohonan kepada Ciangbun Suhunya untuk melakukan perjalanan ini, tapi gurunya tidak pernah mengabulkan permintaan itu.
Hingga hari itu ketika secara tiba-tiba gurunya memerintahkan dia berangkat ke Liauw-tong untuk melacak peristiwa itu, hampir saja dia tidak percaya dengan pendengaran sendiri.
Tiga bulan berselang dia tiba di dusun nelayan kecil dimana Huo Bu-tou pernah bekerja menjadi juragan ikan, yaitu dusun nelayan dimana Keng King-si dan Ho Giok-yan pernah tinggal.
Tempat lelang ikan sudah tiada, namun tidak banyak perubahan yang terjadi di dusun itu, tentu saja masih banyak orang dusun yang teringat pada Huo Bu-tou.
Tapi sayang dari mulut orang-orang itu dia tidak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Orang-orang itu hanya tahu kalau Huo Bu-tou adalah seorang juragan ikan, seorang pedagang ikan yang sangat bersahaja.
Yang paling diingat orang-orang itu adalah hitungan sipoanya yang sangat jago, biar pintar main sipoa namun belum pernah mencari keuntungan pribadi, semua nota dihitung terperinci dan jelas.
Hanya itu saja yang diperoleh.
Rumah yang pernah ditempati Ho Giok-yan dan Keng King-si pun masih utuh, rumah itu mereka bangun dengan mengeluarkan uang banyak, sebagai penduduk dusun yang jujur, biarpun mereka sudah pergi dan tidak pernah kembali lagi, ternyata tidak ada penduduk dusun yang berusaha memakai atau mengambil alih rumah itu.
Dia pura-pura mengaku sebagai famili jauh Keng King-si dan memasuki rumah itu.
Sayang bangunan rumah itu sudah bobrok dan tidak terawat.
Padahal biarpun dia tidak mengaku sebagai famili jauh pun tidak bakal ada orang yang menggubris dia ketika memasuki rumah itu.
Rumah itu kosong melompong, yang ada tinggal sarang laba-laba di sudut dinding serta sisa abu di bawah anglo.
Sarang laba-laba yang koyak seakan sedang menertawakan dirinya, menertawakan dia yang belum mampu lolos dari jaring cinta, sementara abu di bawah anglo meski sudah dingin namun di dasar hatinya masih terasa hangat.
Benar-benar tidak ada benda yang tertinggal, yang tersisa hanya helaan napas yang tidak terkira, helaan napas karena berlalunya impian musim semi.
Tiba-tiba dia menemukan beberapa biji batu di sudut rumah.
Apa anehnya batu?
Utara selatan, di pesisir, di gunung, hampir semuanya terdapat batu?
Tidak, beberapa biji batu itu berbeda sekali.
Batuan yang berasal dari desa kelahirannya.
Darimana dia bisa tahu?
Karena dialah yang menyerahkan batuan itu.
Diambil dan diremasnya batuan itu, meremasnya seperti sedang meremas jari tangan kenalan lama.
Di rumahnya (atau lebih tepat di rumah Sumoynya, Ho Giok-yan), di belakang rumah mereka terdapat sebuah bukit, di atas bukit itu terdapat sejenis bebatuan yang berbintik-bintik merah seperti pasir merah, orang menyebutnya batu granit merah.
Ada pula jenis batu lain yang warnanya tiga bagian berwarna kuning dan tujuh bagian berwarna merah tua, batuan ini disebut Hong-hiat-sik (batu kuning darah).
Ada orang bilang seandainya tidak terselip tiga bagian warna kuning, pada hakikatnya batu itu bisa digunakan sebagai Ki-hiattong palsu.
Yang dimaksud Ki-hiat-tong adalah jenis batu granit yang paling bagus dipakai untuk membuat stempel nama, bahkan nilainya melebihi nilai emas murni.
Hanya saja kedua jenis bebatuan itu merupakan barang langka, meski banyak terdapat di bukit itu namun sulit untuk menemukan bongkahan batu dalam ukuran besar, yang ada pun paling hanya butiran batu kecil.
Ho Giok-yan sangat menyukai kedua jenis batu granit itu, karenanya setiap kali menemukan kedua jenis bebatuan itu dia selalu mengambil dan menghadiahkan kepadanya.
Dia sudah tidak ingat sejak kapan permainan itu dimulai, dia hanya masih ingat ketika Ho Giok-yan bemsia empat belas tahun dia menghadiahkan batu granit merah dan batu kuning darah itu padanya.
Ketika dia mulai belajar menyulam, dibuatlah sebuah kantung kain untuk menyimpan bebatuan itu.
Dia masih ingat apa yang pernah diucapkan gadis itu, katanya bebatuan yang sangat indah itu dalam pandang-annya melebihi batu permata.
Tapi tidak lama setelah mengucapkan perkataan itu, kembali dia menyampaikan perkataan lain, katanya dia sudah tumbuh dewasa hingga sangat menghargai usaha Toa-sukonya yang memberi hadiah batu kepadanya, namun dia tidak ingin Toa-sukonya membuang banyak waktu dan tenaga hanya untuk mengumpulkan 'mainan anak-anak' itu.
Dan sejak itu pula dia mulai memperhatikan Sutenya telah menggantikan peranannya selama ini, menjadi teman kencan Sumoynya setiap kali naik gunung.
Tentunya di atas gunung dia bukan hanya mengambil bebatuan saja untuk Sumoynya bukan?
Impian masa lalu telah tertutup oleh jala laba-laba, buat apa mesti dikenang kembali?
Tapi dia masih tetap berkeliaran di seputar rumah gobrok yang pernah ditempati Sumoynya.
Aai, orang pun sudah lama mati, buat apa mencari kembali impian yang telah berlalu?
Akhirnya dia menemukan kembali kantong sulaman itu, kantong itu sudah lama koyak dan rusak, tetapi dia masih tetap dapat mengenalinya.
Sumoy telah jauh-jauh membawa kantong itu ke Liauw-tong, tapi mengapa sewaktu siap kembali ke dusun, dia justru melupakan benda yang pernah dipandang sebagai benda mustika itu?
Apakah dia lupa membawanya?
Atau memang sengaja membuangnya?
Mungkinkah kejadian ini membuktikan kalau telah terjadi konflik batin dalam hati Sumoy?
Didekapnya kantong koyak itu di depan dadanya, diremasnya bebatuan itu dengan mesra, dia tertegun....
termangu....
Mendadak suara guntur menggugahnya dari lamunan, hujan turun sangat deras.
Sebagai penerangan dia tancapkan obor di atas dinding rumah, ketika angin kencang berhembus lewat, obor pun padam.
"Blaamm!" , menyusul kemudian sebagian dinding rumah rubuh ke tanah. Rumah itu kondisinya memang lapuk dan bobrok, tapi sebetulnya belum sampai taraf nyaris roboh. Bukankah gelegar guntur tidak sampai menyentuh dinding rumah itu? Mungkinkah hembusan angin kencang sanggup merobohkannya? Rasa terkejut membuatnya seolah tersadar kembali, janganjangan dinding itu roboh karena digempur seseorang? Belum habis ingatan itu melintas lewat, tampak sesosok bayangan manusia telah menerobos keluar melalui celah dinding yang roboh, belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, desingan angin tajam telah menyambar tiba. Ternyata dugaannya tidak salah, dinding itu memang roboh karena digempur orang itu dengan tenaga pukulannya yang dahsyat. Cahaya kilat berkelebat lewat, pedang di tangan orang itu sudah menusuk tenggorokannya, bukan cahaya petir yang menyambar tapi cahaya pedang, cahaya pedang yang lebih cepat dari sambaran petir! Untung dia cukup sigap dan sadar akan datangnya bahaya, cepat pedangnya dicabut untuk menangkis, gerakan pedangnya tidak terhitung lambat, dengan jurus Ya-can-pat-hong (bertarung malam melawan delapan penjuru) dia sambut datangnya serangan musuh jurus demi jurus. Pertarungan ini merupakan pertarungan paling sengit yang belum pernah dialaminya sepanjang hidup, jauh lebih berbahaya, jauh lebih mengerikan daripada pertarungannya melawan Keng King-si tempo hari. Dalam pertarungannya melawan Keng King-si tempo hari, adik seperguruannya itu masih berbelas kasihan kepadanya, beda dengan orang di hadapannya sekarang, begitu bertemu jurus mematikan dilancarkan bertubi-tubi, bukan saja sejak awal hingga sekarang, bahkan semua jurus serangannya diarahkan ke bagian yang mematikan. Suara bentakan ataukah suara guntur? Cahaya pedang atau cahaya petir? Kedua belah pihak sama-sama tidak jelas, sama-sama tidak bisa membedakan! Di saat cahaya petir kembali menyambar, dia berhasil melihat wajah lawan dengan jelas. Ternyata dia adalah seorang kakek berperawakan tinggi besar yang berwajah gagah dan penuh wibawa.
"Siapa kau? Kita tidak saling mengenal, kenapa kau ingin mencabut nyawaku?"
Bentaknya gusar. Kakek itu mendengus dingin.
"Hmm, satu nyawa ditukar tiga nyawa, sudah keenakan buat kau!"
"Satu nyawa ditukar tiga nyawa? Apa maksud-mu? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud!"
"Seharusnya kau mengerti, secara beruntun engkau telah menyebabkan tiga orang kehilangan nyawa! Tidak akan kubiarkan kau mencelakai orang lagi!"
Menggunakan kesempatan di saat orang tua itu sedang mengumpatnya, di saat cahaya petir kembali berkelebat, dia gunakan baik-baik peluang itu, dengan jurus Pek-ho-liang-ci (bangau putih pentang sayap) sebuah bacokan dilontarkan.
Inilah jurus andalannya, jurus yang paling dibanggakan, sekalipun sudut babatan pedangnya sedikit melebar, namun kecepatan serangannya luar biasa, biar serangan dilancarkan belakangan namun ternyata tiba duluan.
Terdengar suara tulang yang retak menusuk pendengaran, lengan kiri kakek itu tertusuk telak, disusul suara tulang belulang yang hancur dan retak.
Tapi pada saat yang bersamaan, dadanya ter-makan juga oleh tusukan pedang lawan.
Masih untung serangannya tiba duluan, karena kakek itu terhajar lebih dahulu maka tusukan pedangnya yang menghujam di dada pun kekuatannya jauh berkurang, coba bukan begitu, mungkin tubuhnya sudah terbelah dua.
Dua belah pihak sama-sama terluka parah, hujan dan angin pun ikut berhenti.
Kakek yang kereng dan penuh wibawa bagai malaikat itu telah tidak nampak.
Biar hujan telah berhenti, darah masih meleleh keluar tiada hentinya, yang meleleh adalah darah dari tubuhnya.
Sebetulnya mulut luka yang diderita tidak terlampau dalam, darah yang meleleh pun tidak terlalu banyak, namun keadaan luka itulah yang membuat hatinya bergidik.
Sekali lagi dia menyulut obor di atas dinding, lalu membuka baju luarnya, ternyata di atas dadanya telah muncul tujuh buah lubang kecil yang berjajar bagaikan tujuh bintang bujur utara.
Tujuh lubang kecil bekas tusukan ujung pedang!
Buru-buru dia membubuhkan obat luka di seputar mulut lukanya, dengan cepat darah pun berhenti mengalir.
Biarpun begitu, bekas luka yang tertinggal justru membuatnya tidak terlupakan, bukankah titik merah yang membekas di atas dadanya persis sama seperti warna batu granit yang dia hadiahkan untuk sang Sumoy?
Kini dia sudah diakui oleh semua orang sebagai jago pedang nomor dua dari Bu-tong-pay, usianya masih muda dan tenaganya sedang mencapai puncaknya, siapa pun tidak bakal percaya kalau dia nyaris tewas di ujung pedang seorang kakek.
Siapakah orang tua itu?
Tiba-tiba dia teringat akan seseorang.
Tidak mungkin dia akan mengemukakan persoalan ini kepada orang lain, kecuali kepada gurunya sendiri.
Sebab dia ingin minta pembuktian dari gurunya.
Dari kejadian pada tiga bulan berselang, kini dia mulai membayangkan kembali peristiwa yang baru saja terjadi kemarin.
Kemarin, begitu tiba di bukit Bu-tong, tindakan pertama yang dilakukan adalah melaporkan semua kejadian itu kepada gurunya, Bu-siang Cinjin.
Dia perlihatkan juga bekas luka yang tertinggal di tubuhnya.
Selesai mendengarkan penuturannya, kemudian memeriksa pula bekas lukanya, perlahan-lahan Bu-siang Cinjin berkata.
"Aku belum pernah bertemu Kwe Tang-lay, tapi aku tahu inilah hasil tusukan dari Jit-sing-kiam-hoat (ilmu pedang tujuh bintang)!"
Gurunya membuktikan kalau apa yang diduga selama ini tidak salah, ternyata orang tua itu adalah Ciang-ciu-kiam-khek (jago pedang dari Ciang-ciu) Kwe Tang-lay yang sudah lenyap kabar beritanya sejak empat belas tahun berselang!
Benarkah si jago pedang dari Ciang-ciu Kwe Tang-lay belum tewas?
Jika orang tua ini benar-benar adalah Kwe Tanglay, berarti tekateki lain yang sudah mereka curigai selama ini pun telah memperoleh pembuktian.
Kemungkinan besar tokoh misterius yang saru itu, Huo Bu-tou adalah putra Kwe Tang-lay.
Berita yang belum pernah mendapat pembuktian itu diperoleh Suhengnya, Put-coat tojin, setelah melakukan penyelidikan lama.
Enam belas tahun berselang, ketika baru saja dia tiba di Bu-tongsan, sejak pertemuan pertama kali dengan Put-coat, Tosu itu sudah pernah mengemukakan kecurigaannya ini.
Kelihatannya sang guru dapat membaca suara hatinya, dia pun berkata.
"Seharusnya dalam dua hari mendatang Suhengmu, Putcoat, sudah balik ke Bu-tong, tunggu saja sampai dia kembali, tanyakan langsung kepadanya. Dia adalah penduduk kota Ciang-ciu, sewaktu masih kecil pernah bertemu Kwe Tang-lay. Jadi persoalan tentang Kwe Tang-lay, dia jauh lebih tahu ketimbang aku."
Lagi-lagi turun hujan.
Memandang air hujan yang turun bagai dituang dari langit, kembali hatinya mengejang, pikirnya, 'Aai....
perubahan cuaca benar-benar susah diramalkan, padahal tadi cuaca begitu bersih dan cerah, tiba-tiba saja hujan turun begitu deras.
Aai....
dalam suasana begini, rasanya tidak mungkin Put-coat Suheng akan balik ke gunung hari ini.' Menyaksikan daun dan ranting pohon yang terombang-ambing dimainkan angin, perasaan hatinya terasa makin kalut, mendadak dia merasa hawa dingin yang menggidikkan lamat-lamat muncul dalam hatinya.
"Mengapa Ciangbun Suheng bukannya menyuruh Suheng berangkat ke Liauw-tong, sebaliknya malah menyerahkan tugas ini kepadaku?"
Pikirnya.
Tidak bisa disalahkan kalau dia berpendapat begitu, tidak seorang pun yang tahu akan asal-usul Huo Bu-tou dan hanya Putcoat seorang yang berhasil menemukan setitik jejaknya, padahal sejak awal Put-coat telah melaporkan kecurigaannya itu kepada sang Suhu.
Terlepas apakah Kwe Tang-lay benar-benar adalah ayahnya Huo Bu-tou atau bukan, jika Suhunya ingin mengutus seseorang untuk melacak jejaknya di Liauw-tong, seharusnya orang yang paling cocok untuk tugas ini adalah Put-coat.
"Jangan-jangan Put-coat Suheng sudah pernah datang ke Liauwtong tapi gagal menemukan sesuatu jejak sehingga kali ini Suhu mengutus aku yang ke situ? Tapi sekalipun begitu, kenapa Suhu masih berusaha mengelabui aku?"
"Jika Put-coat Suheng belum pernah berkunjung ke situ, kenapa baru enam belas tahun kemudian Suhu mengutus aku ke situ? Sungguh membikin aku tidak habis mengerti!"
Terlepas dalam situasi seperti apa pun, semuanya cukup menimbulkan kecurigaan dalam hatinya.
Tentu saja dia tidak berani menuduh Suhunya punya rencana lain, tapi tidak tahan kembali dia berpikir, 'Mengapa Suhu menyerahkan tugas ini padaku?
Mungkinkah di balik semua ini masih terselip maksud Tam?"
"Tapi.... aku banyak berhutang budi pada Suhu, hubungannya denganku melebihi hubungan ayah dan anak, bahkan aku berhutang banyak padanya. Tidak, aku tidak boleh tidak percaya padanya, tidak sepantasnya aku mencurigai Suhu sendiri."
Sekalipun dia telah berusaha untuk menghilangkan rasa curiganya terhadap Suhunya, namun lamat-lamat perasaan bergidik mulai mencekam hatinya.
Tentunya dia tidak bakal tahu kalau Suhunya telah mengirim Putcoat untuk membawa pulang tulang belulang Bu-kek Tianglo untuk dikubur di atas gunung.
Put-coat sendiri pun pernah berpendapat seperti dia, merasa dialah orang yang paling pantas untuk melaksanakan tugas ini.
Hanya saja perasaan Put-coat tidak sebimbang dan sepanik dirinya.
Cahaya petir berkelebat, suara guntur menggelegar di angkasa, kilatan cahaya pedang Kwe Tang-lay, suara makiannya yang keras menggelegar seakan terlintas kembali di depan mata.
"Hmm, satu nyawa ditukar tiga nyawa, sudah keenakan buat kau!"
"Dia menuduhku sebagai penyebab kematian tiga orang, siapakah tiga orang yang dimaksud? Kalau dia benar-benar Kwe Tang-lay, berarti salah satu di antaranya yang dimaksud adalah putranya, orang yang telah berganti dengan nama bangsa Boan sebagai Huo Bu-tou. Aah, bila dugaanku tidak salah, berarti Huo Butou pun ikut tewas?"
Betulkah dia sangat berharap Huo Bu-tou telah tewas?
dia sendiri tidak tahu, bahkan dia terkejut kenapa dirinya bisa mempunyai pikiran seperti itu.
Dia tidak berani berpikir lebih jauh, hanya berkata dalam batinnya, 'Siapakah dua orang yang dimaksud?
Keng-sute tewas karena aku salah tangan, apakah dia salah satu di antaranya?
Tapi....
apakah kematian Sumoy pun gara-gara ulahku?' "Kenapa tidak mungkin?
Bukankah Sumoy bunuh diri gara-gara melihat suaminya tewas di tanganku?
Aai....
selama ini tidak pernah kukaitkan kedua persoalan itu menjadi satu, aku....
aku benar-benar kelewatan!"
Bukan saja dia merasakan hatinya bergidik, bahkan dia merasa hatinya sakit, sakit bagai disayat-sayat.
Sekali lagi bayangan Ho Giok-yan melintas di depan matanya, menyusul kemudian bayangan Keng King-si, terakhir melintas pula bayangan Kwe Tang-lay....
Makin lama dia merasa hatinya semakin bergidik, bulu kuduknya bangun berdiri.
Ooo)*(ooO BAB III Banyak keanehan di balik tulang Mengangkat ketua baru Daun jendela terbuka lebar karena hembusan angin, butiran air hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Suara hujan, suara angin menderu-deru di telinganya.
Kembali hatinya terasa kejang.
Setiap kali turun hujan, perasaannya selalu terjerumus dalam ketidak-tenangan, apalagi hari ini.
"Aai, kemana perginya anak Keng? Kenapa sampai sekarang belum juga kembali!"
Dia hanya berharap ada seseorang dapat berbincang dengannya, apalagi kalau dia dapat mengutarakan seluruh isi hatinya kepada orang itu.
Padahal orang yang paling dekat dengannya tidak lebih hanya anak angkatnya seorang, Lan Giok-keng.
Tentu saja dia tidak bisa meluapkan seluruh rahasia hatinya kepada anak angkatnya itu.
Tiba-tiba teringat olehnya akan seseorang, seorang yang menjadi pemimpin para Tianglo, seorang yang posisinya jauh di atas kedudukannya, paman gurunya, Bu-liang Totiang.
Hanya Bu-liang Totiang seorang yang mengetahui semua rahasia hatinya.
Sekalipun tidak tahu seluruhnya, paling tidak hubungannya dengan orang ini jauh berbeda dengan orang lain.
Tapi begitu terbayang orang ini, tidak kuasa hatinya langsung bergidik, bulu romanya berdiri.
Sekalipun selama enam belas tahun terakhir Bu-liang Totiang belum pernah mengompasnya gara-gara dia mengetahui rahasia hatinya, namun setiap kali teringat orang ini, perasaan ngeri dan seram selalu menghantui dirinya.
Di tengah sambaran petir dan guntur, dia duduk di depan jendela seorang diri, hatinya kalut sekalut daun-daunan yang diterbangkan angin, berbagai adegan peristiwa terlintas dalam benaknya bagai sambaran kilat.
Ho Giok-yan, Keng King-si, Siang Ngo-nio, Bu-liang Totiang, Lan Giok-keng dan terakhir kakek kekar yang nyaris merenggut nyawanya.
Membayangkan si kakek yang menakutkan itu, dia sangat berharap Suhengnya bisa segera balik ke gunung.
Hubungannya selama ini dengan Put-coat tidak terhitung baik, bahkan jauh di bawah hubungan sebagai sesama saudara seperguruan.
Tapi bagaimanapun juga dia selalu merasa bahwa kakak seperguruannya yang agaknya kurang begitu suka berdekatan dengannya itu jauh lebih bisa dipercaya daripada Bu-liang Susioknya yang belakangan semakin dekat dengannya.
Paling tidak sekembalinya Put-coat, dia bisa mengurai teka-teki seputar Kwe Tang-lay.
Tapi hujan turun begitu deras.
"Mungkin hari ini Put-coat Suheng tidak bakal balik ke gunung,"
Pikirnya.
Hujan turun makin lama semakin lebat, perasaan tidak tenang yang mencekam hatinya pun makin lama semakin menjadi, bahkan lamat-lamat dia mulai menangkap firasat jelek.
Pada tiga kali hari hujan yang lalu, dia selalu menjumpai peristiwa yang tidak menguntungkan, apa pula yang akan dia hadapi pada hari hujan kali ini?
Siapa tahu hujan kali ini hanya hujan lewat, walaupun turun dengan derasnya, namun hujan itu cepat datangnya perginya pun sangat cepat, tiba-tiba saja hujan angin berhenti seketika.
Menyusul cerahnya udara, perasaan hatinya ikut pula jadi cerah.
Pada saat itulah tiba-tiba seseorang berjalan masuk, orang itu tidak lain adalah Bu-liang Totiang.
Setelah tertegun sejenak, akhirnya perasaan yang mulai menjadi cerah tiba-tiba terasa tenggelam kembali, agak kesal tegurnya.
"Susiok, di tengah hujan sederas ini, ada apa kau datang kemari?"
"Put-ji, Suhengmu telah balik!"
"Haha, Put-coat Suheng telah kembali?"
Teriak Put-ji terkejut.
"dia balik dalam keadaan hujan deras? Sungguh tidak kusangka...."
"Masih ada peristiwa lain yang lebih tidak kau sangka, dia kembali dengan digotong orang!"
Kata Bu-liang Totiang. Tidak terlukiskan rasa kaget Put-ji, agak gemetar tanyanya.
"Dia kembali dengan digotong? Karena sakit atau terluka?"
"Terluka, bahkan lukanya parah sekali, konon sepanjang perjalanan dia sudah tujuh hari tujuh malam tidak sadarkan diri."
Put-ji benar-benar terkesiap, saking kagetnya untuk sesaat dia sampai tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Bu-liang Totiang berkata.
"Jangankan kau, aku sendiri pun tidak menyangka bakal terjadi peristiwa seperti ini, padahal tugas yang diemban Put-coat kali ini bukanlah tugas yang membawa resiko besar...."
"Sebenarnya tugas apa yang sedang dia laksanakan?"
Tanya Putji dengan jantung kebat-kebit.
"Kau belum bertemu Ciangbunjin? Apakah Ciangbun Suhu belum memberitahukan kepadamu?"
Tanya Bu-liang Totiang sedikit tercengang. Dari perkataan itu secara lamat-lamat Put-ji menangkap ada sesuatu yang tidak beres, sahutnya.
"Suhu hanya memberitahu kalau Suheng telah turun gunung dan baru kembali dua hari kemudian."
"Tempat yang dia datangi adalah tempat yang paling kau kenal dalam hidupmu."
"Ooh, tempat yang paling kukenal?"
Put-ji tertegun.
"Tempo hari, bukankah kau telah mengubur jenazah Bu-kek Tianglo serta Sute dan Sumoymu di sebuah bukit dekat desamu? Kalau tidak salah bukit itu bernama Boan-liong-san bukan? Put-coat mendapat perintah untuk pergi ke bukit Boan-liong-san dan membawa pulang tulang belulang Bu-kek Tianglo agar bisa dikubur di sini. Ehmm, semestinya hal ini sudah dilakukan sejak awal."
Begitu mengetahui kejadian itu, selain kaget Put-ji pun merasa bingung dan tidak habis mengerti, menurut keadaan yang sesungguhnya, mereka berdua seharusnya bertukar tempat untuk melaksanakan tugas ini.
"Kenapa Suhu tidak menyuruh aku melaksanakan tugas ini dan sebaliknya malah mengirim aku ke wilayah Liauw-tong?"
Kelihatannya Bu-liang Totiang dapat membaca suara hatinya, dia segera berkata.
"Bukannya aku ingin mengatai gurumu, tapi aku rasa semakin tua dia memang semakin pikun. Kaulah yang mengubur jenazah Bu-kek Tianglo, semestinya tugas ini paling cocok dilakukan oleh dirimu. Tapi bicara masalah ini, untung saja tugas itu bukan dibebankan kepadamu, kalau tidak, mungkin kaulah yang harus balik ke gunung dengan digotong orang."
Put-ji hanya bisa tertawa getir, pikirnya, 'Aku sendiri pun nyaris kehilangan nyawa sewaktu berada di Liauw-tong, coba kalau bukan karena jurus Pek-ho-liang-ci bisa kugunakan lebih cepat, mungkin nasibku jauh lebih tragis ketimbang nasib Suheng, kalau dia masih bisa digotong balik dalam keadaan hidup, mungkin mayatku sudah terkapar di tengah rumah kosong tanpa terawat."
Hanya saja dia tidak ingin menceritakan nasib sial yang dialaminya di wilayah Liauw-tong itu kepada Bu-liang Totiang, karenanya sembari tertawa getir tanyanya.
"Siapa yang telah melukai Put-coat Suheng?"
"Masih belum jelas, aku hanya tahu Bouw It-yu yang mengantarnya kembali. Begitu tiba, dia langsung menghadap Ciangbunjin untuk melaporkan peristiwa ini hingga tidak sempat berbincang denganku. Aku rasa kini Ciangbunjin pasti sedang berusaha menolong Put-coat, ayoh kita segera ke sana."
Dugaan Bu-liang Totiang memang tepat sekali, saat itu Bu-siang Cinjin, Ciangbunjin Bu-tong-pay sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengobati luka muridnya sembari membersihkan sisa racun dari dalam tubuhnya.
Dalam ruang tidur Ciangbunjin, selain Bouw It-yu, di situ masih ada pula salah seorang Tianglo Bu-tongpay yang lain, Bu-si Tojin.
Murid-murid angkatan yang lebih muda hanya bisa menunggu kabar di luar kuil Hok-tin-koan, tidak seorang pun diperkenankan masuk, tentu saja kecuali Put-ji.
Dengan meringankan langkah kakinya, Put-ji berjalan masuk ke dalam ruangan mengikut di belakang Bu-liang Totiang.
Baru melangkah masuk ke dalam ruangan, dia segera mendengar Bu-siang Cinjin sedang bertanya.
"Apakah dia terkena senjata rahasia keluarga Tong dari Suchuan?"
"Boleh dibilang senjata rahasia dari keluarga Tong, tapi boleh juga dikatakan bukan senjata rahasia keluarga Tong. Karena dia telah terhajar jarum Lebah hijau milik Siang Ngo-nio,"
Jawab Bouw It-yu.
Pembicaraan itu berlangsung lirih dan tidak jelas, namun beberapa orang yang hadir dalam ruangan itu dapat mendengar dengan jelas sekali.
Sebagaimana diketahui, Siang Ngo-nio adalah wanita simpanan Tong-jikongcu, sementara jarum lebah hijau itupun dibuat berdasarkan resep rahasia keluarga Tong, namun perempuan ini sama sekali bukan anggota perguruan itu, dia pun tidak pernah membuat senjatanya persis seperti resep simpanan perguruan itu, sebab di antara senjata rahasia yang diandalkan keluarga Tong, sama sekali tidak terdapat jarum lebah hijau.
Dalam pada itu terlihat' Bu-si Tojin sedang menyahut sambil mengernyitkan dahinya.
"Ternyata terkena jarum lebah hijau milik perempuan siluman itu, tidak heran Put-coat Sutit tidak sadarkan diri selama berhari-hari!"
Biarpun keningnya berkerut, sama sekali tidak terlintas rasa terkejut di wajahnya, sebab dia memang sudah cukup mengetahui akan kelihaian jarum lebah hijau itu.
Reaksi yang diperlihatkan Bu-liang Totiang pun persis sama seperti dia.
Sebaliknya Put-ji justru merasakan hatinya bergetar keras, ketika nama "Siang Ngo-nio"
Meluncur dari mulut Bouw It-yu dan masuk ke dalam pendengarannya, dia seolah merasa ada suara guntur yang menggelegar keras di sisi telinganya, sekali lagi "kilatan guntur"
Dan "sambaran petir"
Melintas di depan wajahnya, dia seakan-akan menyaksikan kembali sorot mata Siang Ngo-nio yang membetot sukma sedang mengawasi dirinya. Aah, apalagi "hawa siluman"
Yang terpancar keluar dari balik tubuhnya. Sinar matanya terasa jauh lebih menakutkan daripada kilatan cahaya petir, tanpa terasa paras mukanya berubah hebat.
"Apakah kau mengetahui asal-usul jarum lebah hijau itu?"
Terdengar Bu-liang Totiang berbisik lirih di sisi telinganya. Seakan tersadar kembali dari lamunannya, Put-ji merasa bayangan semu di depan matanya lenyap seketika, cepat dia mengangguk.
"Konon jarum lembah hijau milik Siang Ngo-nio termasuk jarum yang amat beracun, bukankah begitu?"
Nama busuk jarum lebah hijau milik Siang Ngo-nio memang sudah tersohor di seantero dunia persilatan, semua jago yang pernah berkelana di dunia persilatan, biar belum pernah menjumpai pun paling tidak mereka pasti pernah mendengarnya.
Sebelum menjadi pendeta, Put-ji adalah murid Ji-ouw Tayhiap Ho Ki-bu, tentu saja dia mengetahui hal itu dengan jelas.
Seakan sedang menghiburnya, dengan suara lembut kembali Buliang Totiang berkata.
"Ciangbunjin sedang menggunakan Thaykhek-sinkang untuk membersihkan racun dari tubuhnya, sementara tenaga dalam yang dimiliki Put-coat pun sudah dilatih hampir mendekati empat puluh tahun lamanya, dia tidak akan mati segampang itu. Selama napasnya masih ada, nyawanya pasti akan tertolong!"
Put-ji segera merasa hatinya lega kembali, pikirnya, 'Untung rahasia hatiku tidak sampai diketahui Susiok, jika dia sampai tahu kalau aku sudah lama kenal Siang Ngo-nio, dalam kasus lama maupun kasus baru, posisiku jadi berbahaya sekali karena kecurigaan terhadapku jadi lebih besar."
Semua orang menaruh rasa percaya dan keyakinan yang besar atas kehebatan tenaga dalam yang dimiliki Bu-siang Cinjin, tapi yang menakutkan ternyata kejadian tidak selancar apa yang mereka duga semula, walau setengah jam sudah lewat namun Put-coat masih belum juga sadar dari pingsannya, kini paras muka Bu-siang Cinjin telah diliputi rasa duka yang amat dalam.
"Put-ji, kemarilah, gantikan aku,"
Tiba-tiba terdengar Bu-siang Cinjin memanggil. Mendengar panggilan itu, cepat Put-ji duduk di hadapan Put-coat dan menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh saudara seperguruannya itu.
"Aah tidak lama kemudian terdengar Put-coat mendesis lirih, lalu berseru.
"Put-ji, ternyata kau...."
Nada suaranya terdengar gemetar, memburu dan sangat menusuk pendengaran, seakan berasal dari suara seseorang yang lain.
Bu-siang Cinjin yang mendengar suara teriakan itu segera merasakan rasa sedih yang tidak terkirakan.
Tiba-tiba Put-ji merobek pakaian yang dikenakan sehingga terlihat tujuh bekas luka yang berjajar di atas dadanya.
"Haha, ilmu pedang tujuh bintang dari Kwe Tang-lay!"
Jerit Putcoat terperanjat.
"Apakah dia adalah seorang kakek tinggi besar yang berwajah menyeramkan dan timpang kaki kanannya?"
"Betul, kau.... kau.... kau telah bertemu dengannya...."
Secara beruntun dia mengulang kata "kau"
Sampai beberapa kali, nada suaranya makin lama semakin rendah dan lirih, seolah sudah tidak bertenaga lagi untuk berkata lebih jauh.
Semua orang tidak habis mengerti mengapa di saat yang gawat dan penting begini, Put-ji justru mengajukan pertanyaan yang menyangkut masalah lain, mengapa dia harus membuang tenaga?
Apakah pertanyaan itu tidak bisa ditanyakan nanti saja setelah Suhengnya sembuh?
Semua orang memang tidak mengerti, tapi Bu-siang Cinjin mengetahui dengan amat jelas, dia sadar kalau muridnya tidak bakal sembuh.
Didengar dari nada suara Put-coat yang telah berubah, dapat diketahui kalau hawa sesat telah menyumpat urat nadinya, kalau sekarang dia masih bisa tersadar kembali, hal ini tidak lebih hanya secercah sinar terakhirnya sebelum padam.
Mati hidupnya Kwe Tang-lay merupakan kunci utama dalam pemecahan kasus pembunuhan pada enam belas tahun berselang, jika Put-ji tidak menanyakan sekarang juga, bisa jadi selamanya dia tidak akan punya kesempatan untuk membongkarnya.
Tidak ada yang lebih jelas dari Bu-siang Cinjin tentang betapa parahnya luka dalam yang diderita Put-coat, bahkan dia tahu kalau luka itu mustahil bisa disembuhkan lagi, itulah sebabnya dia memerintahkan muridnya untuk menggantikan dia mengobati luka Put-coat, tindakan ini tidak lepas merupakan tindakan coba-coba saja.
Sekalipun akhir yang mesti dia hadapi mendatangkan rasa sedih yang mendalam, namun kejadian itu sama sekali tidak di luar dugaannya.
"Terima kasih Suheng!"
Bisik Put-ji.
"Put-ji, kau.... kau harus...."
"Aku harus apa?"
Put-ji merasa hatinya bergetar keras, apa kata berikut yang akan dia ucapkan? Belum selesai ingatan itu melintas, terdengar Put-coat telah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Kau.... kau harus baik-baik menjaga diri!"
Tidak kuasa lagi Put-ji menghembuskan napas lega, biarpun ucapan itu mempunyai dua arti yang saling bertentangan, namun siapa pula yang akan berpikir dari sudut tidak baik "?
Put-coat adalah murid pertama Ciangbunjin, bila tidak mengalami sesuatu musibah, otomatis dialah yang bakal naik menjadi pengganti Ciangbunjin.
Oleh sebab itu semua orang mengira pesan dari Put-coat itu memang sengaja disampaikan kepada Sutenya agar lebih waspada membawa diri.
Atau dengan perkataan lain, dia telah menyerahkan posisi sebagai 'putra mahkota' kedudukan Ciangbunjin itu kepadanya.
Berkilat sepasang mata Bu-siang Cinjin setelah mendengar perkataan itu.
Tiba-tiba terdengar Put-coat berkata lagi dengan nada tinggi.
"Tidak, tidak ada sangkut-pautnya dengan Sute...."
Tapi baru bicara separuh jalan, lagi-lagi dia memejamkan mata.
Mendengar perkataan itu Put-ji merasa lega sekali, pikirnya, 'Untung saja Suheng memahami keadaanku!' Dalam pada itu semua orang lagi-lagi tertegun.
"Tidak ada sangkut-pautnya dengan Sute!" , jika ditinjau dari ucapan itu, mungkin dia maksudkan kalau "persoalan ini tidak ada hubungannya dengan Sute", lantas "urusan"
Apa yang dimaksud?
Sayang waktu itu situasi sedang tegang, semua orang sedang berusaha menyelamatkan nyawa Put-coat sehingga tidak seorang pun yang berkenan untuk berpikir lebih jauh.
Cepat Bu-liang Totiang menggantikan posisi Put-ji dengan menyalurkan tenaga murninya ke dalam tubuh Put-coat.
Tidak selang berapa lama kemudian Put-coat memuntahkan segumpal darah kental, lalu katanya lirih.
"Suhu, maafkan Tecu tidak bisa menyelesaikan tugas secara baik, Bouw It-yu memahami semua masalah, silakan Suhu bertanya...."
Sayang belum selesai perkataan itu diucapkan, dia sudah putus napas dan pergi ke langit barat.
Jubah pendeta yang dikenakan Bu-siang Cinjin segera bergelombang bagai terhembus angin, wajahnya yang kuning layu seolah selembar daun kering yang terombang-ambing dimainkan badai.
Tiada air mata, setetes pun tidak ada.
Tapi siapa pun dapat melihat bahwa dia lebih sedih, lebih tersiksa batinnya ketimbang menangis.
"Yang meninggal telah tiada, Suheng, jaga dirimu baik-baik!"
Serentak Bu-liang Totiang dan Bu-si Tojin berseru.
"Harap Suhu menahan rasa sedih dan membalaskan dendam atas kematian Suheng,"
Bisik Put-ji pula. Hanya Bouw It-yu seorang yang membungkam tanpa bicara, kelihatannya dia sudah dibuat tertegun saking kagetnya. Perlahan-lahan Bu-siang Cinjin berkata.
"Kalian semua boleh keluar dulu, aku ingin menenangkan diri."
Wajahnya kaku tanpa emosi. Tanpa banyak bicara Bu-liang Totiang segera berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"It-yu!"
Mendadak Bu-siang Cinjin berseru lagi.
"Kau tetap tinggal di sini, ada persoalan yang hendak kubicarakan denganmu."
Ucapan terakhir Put-coat sebelum menghembuskan napas terakhir adalah meminta gurunya untuk bertanya kepada Bouw Ityu, jadPsiapa pun tidak merasa tercengang bila Ciangbunjin minta dia seorang diri tetap tinggal di sana.
Walau begitu, perintah Bu-siang Cinjin yang minta mereka semua untuk keluar, paling tidak meninggalkan juga perasaan kecut bercampur getir di hati semua orang.
Put-ji berjalan paling belakang, dia merapatkan pintu ruangan, kemudian berjalan menuju ke halaman kedua, dia tidak meninggalkan Hok-tin-koan sebaliknya malah duduk di atas undakundakan.
Dari pintu gerbang menuju ke ruang ketua, orang harus melalui tiga lapis halaman luas, tempat ini adalah halaman bagian tengah.
Dari halaman ini tidak mungkin orang bisa mendengar suara pembicaraan yang sedang berlangsung dalam ruangan.
Sekarang dia sudah menjadi satu-satunya murid Ciangbunjin, oleh sebab itu walaupun tadi Ciangbunjin telah memerintahkan semua orang untuk mundur dari situ, tidak terkecuali dirinya, namun untuk berjaga agar Ciangbunjin tidak mengalami suatu kejadian di luar dugaan, dia merasa wajib untuk tetap tinggal di sana merawat Suhu dan siapa pun tidak akan mengatakan kalau dia tidak seharusnya berbuat begitu.
Tetap tinggal di halaman kedua sudah termasuk menghindar dari semua pembicaraan yang sedang berlangsung.
Dia duduk termangu di atas undak-undakan batu, mendengar suara langkah kaki yang kacau bergeser keluar pintu sebelum akhirnya suasana pulih kembali dalam keheningan.
Kelihatannya anggota perguruan yang sedang berjejal menunggu berita di luar To-koan telah mendengar perintah Bu-siang Cinjin yang disampaikan kedua Tianglo hingga serentak mereka membubarkan diri.
Keheningan mulai mencekam seluruh jagad, keheningan yang terasa aneh.
Paras mukanya ikut berubah, berubah sangat aneh, bahkan dia mulai mendengar detak jantung sendiri.
Tentu saja dia bukan hanya mendengar debar jantung sendiri, dia pun mendengar suara lain.
Justru karena dia mendengar suara lain, detak jantungnya jadi ikut berdebar.
Dia telah mendengar suara pembicaraan gurunya dengan Bouw It-yu, pembicaraan yang sedang berlangsung dalam ruangan.
Sebetulnya dari halaman itu orang tidak bakal bisa mendengar pembicaraan di dalam ruangan, tapi bagi orang lain yang tidak mampu mendengar, dia justru dapat mendengarnya dengan jelas, sebab kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah menduduki posisi keempat dalam deretan para jago Bu-tong-pay.
Tanpa harus bertiarap di lantai pun dia dapat menangkap semua pembicaraan yang sedang berlangsung dalam ruangan, sekecil apa pun suara itu.
Dia mendengar gurunya sedang bertanya.
"Kau mengetahui barang yang kuinginkan?"
"Lapor Ciangbunjin,"
Terdengar Bouw It-yu menjawab.
"Tecu telah membawanya kemari."
Menyusul kemudian terdengar suara benturan benda yang agak berat di atas meja.
Tidak usah melihat pun Put-ji dapat menebak kalau Bouw It-yu sedang meletakkan sebuah karung goni di atas meja, selama ini karung goni itu selalu digendong di punggung Bouw It-yu, karung yang memberi kesan berat dan mantap, namun tidak seorang pun yang tahu apa isi karung itu.
Orang lain memang tidak ada yang tahu, namun ada satu pengecualian, karena 'orang lain' itu tidak termasuk Put-ji, tanpa diberitahu Bouw It-yu pun dia sudah dapat menebak apa isi karung itu.
Betul saja, terdengar gurunya bertanya.
"Apakah semuanya sudah dibawa kemari?"
"Sepotong pun tidak ada yang ketinggalan."
"Bagus, sekarang keluarkan semua kepingan itu satu per satu dan diletakkan di atas meja, biar aku memeriksanya lebih seksama."
"Keluarkan semua kepingan itu satu per satu" , kalau isinya bukan tulang belulang lalu apa? Put-ji merasa hatinya semakin tenggelam. Dia seakan-akan melihat si Lebah hijau Siang Ngo-nio sedang bersembunyi di balik kegelapan sambil tertawa kepadanya. Enam belas tahun berselang, di saat hujan sedang turun dengan derasnya, di atas bukit Boan-liong-san. Dia sedang bersitegang dengan Sutenya, lalu pelayan tua yang selama ini selalu loyal kepada keluarga Ho tidak kuasa menahan diri dan menerjang maju menghajar Keng King-si. Baru maju beberapa langkah, tiba-tiba orang tua itu menjerit kesakitan lalu roboh terkapar dalam keadaan tidak bernyawa. Waktu itu dia segera menuduh Keng King-si hendak 'melenyapkan saksi', malah termasuk Sumoynya pun menyangka orang tua itu tewas di tangan suaminya. Biarpun waktu itu hujan sudah berhenti, namun cuaca masih belum cerah, mereka sama sekali tidak dapat melihat apakah ada orang yang bersembunyi di balik pepohonan, mereka pun tidak mendengar sedikit suara pun. Tapi dia tahu, si Lebah hijau Siang Ngo-nio pasti sedang bersembunyi di balik kegelapan sambil mentertawakan mereka. Karena orang tua itu sudah tewas terhajar jarum lebah hijau milik Siang Ngo-nio, dan perempuan itu tahu bahwa dia pun telah mengetahui hal ini. Mungkin saja senjata rahasia andalannya bisa mengelabui Keng King-si serta Ho Giok-yan, tapi mungkinkah bisa mengelabui Ko Ceng-kim? Ko Ceng-kim yang pernah menjadi "suami istri semalam"
Dan pernah tidur seranjang dengannya? Sambil menghantam dada, dia mulai mengumpat diri sendiri.
"Kenapa aku begitu bejad moral? Kenapa begitu tidak malu, sebagai seorang murid perguruan besar ternyata pernah tidur seranjang dengan perempuan cabul yang tersohor akan kekejiannya? Aai.... andaikata Sumoy tidak meninggalkan aku, mungkin aku pun tidak akan terpikat dan terpedaya oleh perempuan siluman itu!"
"Aku sangka dia hanya iseng, setelah bermain semalaman maka keesokan harinya sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, siapa tahu bakal berakibat seperti ini...."
Karena ulah dan perbuatannya yang memalukan itulah, mau tidak mau dia harus berusaha merahasiakan keberadaan Siang Ngonio.
Kalau dia memang tahu bahwa peristiwa itu merupakan hasil perbuatan Siang Ngo-nio, mengapa pula dia masih menuduh Sutenya?
Jelas hal ini disebabkan alasan lain.
Waktu itu dia berpikir, 'Keng-sute telah menjadi mata-mata bangsa Boan, hal ini sudah jelas dan terbukti.
Bagaimanapun dosanya amat besar dan pantas dihukum, apa salahnya kalau kutambahi dengan satu dosa baru?' Tapi sekarang.
"bukti"
Yang bisa menunjukkan bahwa Keng Kingsi telah menjadi mata-mata bangsa Boan, surat yang ditulis Huo Butou untuk Keng King-si, telah memperlihatkan titik kecurigaan yang makin lama semakin bertambah banyak, dan kelihatannya yang disebut sebagai 'barang bukti' itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi keberadaannya.
Jika dia tidak bisa lagi menempelkan dosa itu atas nama Keng King-si, mau tidak mau dia harus mulai menguatirkan 'perbuatan tidak senonoh'nya bakal terbongkar.
Tindakannya membunuh Keng King-si boleh disebut sebagai 'salah membunuh', tapi setelah tahu pelayan tua itu tewas karena terhajar jarum beracun lebah hijau milik Siang Ngo-nio dan dia masih tetap menuduh Sutenya, dengan cara apa peristiwa ini harus dijelaskan?
Jika dia tidak mempedulikan soal liangsim dengan mengatakan bahwa saat itu dia tidak tahu, tetapi bagaimana bila Siang Ngo-nio tertangkap?
Apakah perempuan itu tidak bakal mengaku punya hubungan khusus dengannya?
Bagaimana pula cara dia menghubungi Siang Ngo-nio agar menyangkal semua kejadian itu?
Tiada suara pembicaraan lagi dari dalam kamar sang ketua, dia tahu Suhunya dan Bouw It-yu pasti sedang memeriksa kerangka manusia.
Apa jadinya bila rahasia itu ketahuan gurunya?
Sementara dia masih berpikir ke sana kemari, mendadak terdengar suara orang terbatuk-batuk.
Dasar sedang punya pikiran maling, suara batuk itu seketika membuatnya terkesiap.
Ketika mendongakkan kepala, dia melihat ada seorang tojin tua bertubuh bungkuk sedang berjalan menghampirinya.
Begitu tahu siapa yang muncul, dia pun tertawa geli, ternyata orang itu adalah seorang tojin bisu tuli yang selama ini melayani keperluan gurunya.
Tidak diketahui siapa nama asli tojin itu, tapi lantaran dia bodoh bahkan mendekati idiot dan lagi lantaran dia bisu tuli, semua orang memanggilnya si tojin bisu tuli.
Sejak berusia sepuluh tahun lebih si tojin bisu tuli telah datang ke gunung Bu-tong, waktu itu Bu-siang Cinjin baru saja menjabat sebagai Ciangbunjin baru, melihat keadaannya yang mengenaskan dan pantas dikasihani, dia pun menerima untuk membantu melayani keperluannya.
Hingga kini, si tojin bisu tuli sudah empat puluh tahun bekerja sebagai pembantu Bu-siang Cinjin.
Tahun ini usianya sudah mendekati enam puluh tahun, tapi bentuk muka serta gerakgeriknya kelihatan jauh lebih tua ketimbang Bu-siang Cinjin yang sudah berumur delapan puluh tahun.
Tampaknya dia merasa tercengang juga sewaktu melihat perubahan wajah Put-ji yang aneh, perasaan bingung dan tidak habis mengerti menghiasi wajahnya.
Tidak diketahui dia bersembunyi dimana saat itu, untuk berbicara dengan si tojin bisu tuli ini terpaksa dia harus menggunakan bahasa tangan yang sederhana, tapi dia sadar tidak bakal ada keterangan yang bisa dikorek dari mulutnya.
Terpaksa Put-ji menggunakan ibu jari dan jari kelingkingnya yang ditempel jadi satu sambil menuding ke arah ruangan di halaman belakang, maksudnya Bu-siang Cinjin sedang berbicara dengan seorang murid dan minta agar dia tidak mengganggu.
Setelah menuding dada sendiri kemudian menuding ke arahnya, dia rentangkan kedua telapak tangannya, seolah hendak menyerahkan sebuah benda kepadanya, berbareng itu dia berjalan ke arah luar sambil berpaling ke arahnya.
Maksudnya, tolong kau jaga pintu sambil melayani keperluan Suhu, sementara aku harus pergi lebih dulu.
Tojin bisu tuli itu segera manggut-manggut dan duduk di atas undak-undakan.
Perlu diketahui, meskipun Put-ji tidak kuatir orang lain menaruh curiga kepadanya, tapi dia tidak ingin memberi kesan lain kepada Bouw It-yu sewaktu dia keluar dari ruangan, menyaksikan dirinya masih berada di situ.
Baru saja keluar dari pintu To-koan, tiba-tiba terdengar seseorang sedang berkata.
"Apa aku bilang, kau tidak perlu kuatir, tuh lihat, bukankah ayah angkatmu telah datang."
Ternyata Bu-liang Totiang serta Lan Giok-keng sedang menunggu kemunculannya di situ. Dengan perasaan terkejut Lan Giok-keng segera berseru.
"Suhu, coba lihat, wajahmu sangat tidak sedap dilihat! Aku tahu, kau pasti amat sedih atas kematian Supek, tapi janganlah kelewat sedih hingga merusak kesehatan sendiri. Bagaimana dengan Sucouw?"
"Bocah ini benar-benar perhatian, sayang aku telah berbuat salah kepadanya,"
Batin Put-ji. Cepat sahutnya.
"Aah, tidak apa-apa, urusan orang dewasa lebih baik tidak usah kau campuri, mana Cirimu?"
"Dia sudah pulang."
"Kalau begitu kau pulanglah lebih dulu, tidak usah menunggu aku makan malam."
Lan Giok-keng seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi Buliang Totiang segera menepuk bahunya dan membujuk dengan lembut.
"Anak baik, perasaan gurumu sedang kurang baik, aku pun masih ada urusan yang harus dibicarakan dengannya, menurut aja, sana, pulanglah lebih dulu."
Menunggu Lan Giok-keng berlalu dari ujung bukit, Bu-liang Totiang baru berpaling dan memandang Put-ji dengan senyum tidak senyum, katanya.
"Tampaknya bocah ini benar-benar mempunyai perasaan seorang anak terhadap ayah kepadamu, itu berarti dia masih belum mengetahui rahasia asal-usulnya."
Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba lanjutnya.
"Tapi aku lihat dia sudah mulai curiga!"
"Darimana kau tahu?"
Tanya Put-ji terkejut.
"Tadi seorang muridku telah kuperintah untuk pergi mencari putramu, waktu itu dia sedang berlatih pedang bersama Cicinya di tepi telaga di bawah bukit Cian-ki-hong, secara tidak sengaja muridku mendengar pembicaraan mereka berdua."
"Apa yang sedang mereka berdua bicarakan?"
"Sebenarnya bukan apa-apa, cuma putramu sudah mulai curiga karena banyak orang membicarakan masalah 'anak haram' di belakangnya. Selain itu dia pun merasa bimbang kenapa sikap orang tuanya terhadap mereka berdua sangat berbeda."
"Lalu apa kata Cicinya?"
"Tentu saja Lan Sui-leng menganggap berita itu hanya isapan jempol dan membujuknya agar jangan percaya dengan isu itu."
"Tapi menurut pengamatan muridku, agaknya dia pun mulai setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan Cicinya itu."
Put-ji-terbungkam dalam seribu bahasa, pikirnya, Aah, berarti semua ini hasil kecerobohanku.
Di kemudian hari aku harus berpesan kepada Lan Kau-san agar memperlakukan sama kedua anak itu, jangan sampai mereka kelewat memanjakan dirinya.' Terdengar Bu-liang Totiang berkata lebih lanjut sambil tersenyum.
"Put-ji, kau tidak perlu kelewat kuatir, tidak nanti Lan Kau-san suami istri akan membongkar rahasia asal-usul mengenai Giok-keng. Asal aku pun tidak menyiarkan berarti selama hidup dia tidak bakal tahu soal rahasia ini!"
Put-ji menghembuskan napas lega, namun perasaannya tetap kalut dan tidak tenang, pikirnya, 'Entah apa maksud dan tujuannya memberitahu soal ini kepadaku?' Belum habis ingatan itu melintas, terdengar Bu-liang Totiang berkata lagi sambil tertawa terbahak.
"Giok-keng telah mengajarkan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat yang dia pelajari darimu kepada Cicinya, hehehe.... perbuatanmu sungguh membuat aku merasa kagum!"
Sepintas pembicaraan itu seolah saling tidak berhubungan, hal ini membuat Put-ji kebingungan setengah mati, katanya cepat.
"Kalau Keng-ji benar-benar berani mewariskan ilmu itu tanpa sepengetahuanku, baiklah, sekembalinya nanti akan kuberi peringatan kepadanya."
"Tidak, tidak, maksudku bukan dia yang mengajarkan ilmu pedang itu kepada Cicinya secara diam-diam. Maksudku, masalah kau mengajarkan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat kepadanya."
"Maksud Susiok, tidak seharusnya kelewat awal kuwariskan ilmu pedang tingkat tinggi itu kepadanya?"
"Tidak, tidak, Giok-keng sangat cerdas, lagi pula sangat disayang Ciangbunjin, tidak bakal ada yang berani menegurmu sekalipun kau kelewat awal mengajar kan Thay-kek-kiam-hoat kepadanya. Hehehe, atas tindakanmu itu, untuk merasa kagum pun aku merasa tidak sempat, mana berani mengatakan kalau tidak seharusnya berbuat begitu."
"Perkataan Susiok kelewat serius, mengajarkan ilmu pedang kepada murid adalah kewajiban seorang guru, mana berani menerima rasa kagum dari Susiok?"
"Terlalu banyak kembangan dalam jurus pedang yang kau ajarkan kepada Giok-keng, mungkin orang lain tidak memahami maksudmu, tapi aku tahu dengan jelas sekali. Kenapa aku tidak boleh mengatakan merasa sangat kagum?"
Dia sengaja menandaskan katanya sewaktu menyinggung soal 'kembangan'.
Rupanya Put-ji mempunyai tujuan pribadi, dia kuatir Lan Giokkeng bakal bertindak tidak menguntungkan terhadapnya di saat dia tahu rahasia asal-usul dirinya, maka sewaktu mengajarkan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat kepadanya, sengaja dia merubah banyak kunci penting dan perubahan aneh dengan kembangankembangan yang tidak berguna.
Sekilas pandang mungkin jurus pedang itu nampak gagah dan indah, padahal sama sekali tidak berguna sewaktu digunakan.
Tidak terlukiskan rasa kaget Put-ji begitu rahasianya terbongkar, pikirnya, 'Jangan-jangan dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengompas aku?
Tapi dia adalah ketua para Tianglo, jika dia sampai mengancamku, aku bakal kehabisan daya.
Mending kuajak dia bicara blak-blakan.' Berpikir sampai di situ segera ujarnya.
"Semenjak Tecu datang ke gunung Bu-tong, Susiok selalu menyayangi dan memperhatikan diriku, budi kebaikan ini entah dengan cara bagaimana mesti Tecu balas. Jika perbuatan Tecu ada yang dianggap tidak benar, harap Susiok segera menegur secara langsung."
"Kau salah paham,"
Lagi-lagi sahut Bu-liang Totiang sambil senyum tidak senyum.
"justru apa yang telah kau lakukan sangat sesuai dengan kehendakku, siapa bilang salah. Hehehe, betul, dahulu aku memang pernah sedikit membantumu, tapi di kemudian hari justru akulah yang akan mengandalkan dirimu. Jadi kau tidak usah kelewat sungkan, aku tidak mampu menerimanya."
"Susiok, perkataanmu malah membuat aku serba salah,"
Kata Put-ji gugup.
"bila ada perintah, silakan disampaikan."
"Hahaha, mana aku berani memberi perintah kepadamu, hehehe.... aah betul, aku belum menyampaikan ucapan selamat kepadamu!"
Put-ji terkesiap.
"Baru saja Put-coat Suheng menemui ajalnya, peristiwa ini sangat menyakitkan hati Tecu. Darimana datangnya kegembiraan?"
Bu-liang Totiang menatapnya sekejap, kemudian katanya lagi.
"Aku pun merasa kasihan bercampur sayang atas kematian yang tragis diri Put-coat. Tapi yang mati pun sudah mati, bagimu justru masih ada tanggung jawab berat yang berada di pundakmu, jadi kau tidak usah kelewat bersedih. Bila masa berkabung sudah lewat, seharusnya kita mempersiapkan peristiwa yang menggembirakan. Sebetulnya peristiwa gembira ini selain menjadi peristiwa gembira perguruan, terlebih untuk kau pribadi. Masa kau masih belum paham?"
Sebenarnya Put-ji sudah dapat menebak apa yang dimaksud, tapi ia tetap berlagak tidak mengerti.
"Maafkan kebodohan Tecu, aku benar-benar tidak habis mengerti darimana datangnya peristiwa gembira itu."
"Kau benar-benar tidak mengerti atau pura-pura bodoh? Setelah kematian Put-coat, berarti kaulah yang akan menjadi putra mahkota pengganti kedudukan Ciangbunjin. Kini Ciangbun Suheng Bu-siang Suheng telah berusia lanjut, kematian Put-coat secara tragis pasti akan memaksanya tidak berniat lagi meneruskan jabatan Ciangbunjinnya. Itu berarti dalam waktu dekat posisi ketua akan diwariskan kepadamu. Masa kejadian semacam ini bukan peristiwa yang patut digembirakan?"
"Aah, kemampuan Tecu sangat terbatas, pengetahuanku pun cetek, biarpun Suhu ingin mewariskan posisi itu kepadaku, belum tentu Tecu berani menerimanya."
Bu-liang Totiang segera menunjukkan sikap kurang senang, tegurnya.
"Put-ji, aku tidak pernah menganggap orang luar kepadamu, masa kau masih berlagak sungkan kepadaku!"
"Tapi Tecu benar-benar tidak mampu menduduki jabatan Ciangbunjin, tidak berani bahkan tidak pantas, aku bicara sejujurnya!"
"Pintar amat kau bermain sandiwara!"
Pikir Bu-liang Totiang dalam hati, tapi kalau diperhatikan wajahnya yang begitu serius, nampaknya dia pun bukan sedang bersandiwara. Bu-liang Totiang memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba berkata.
"Aku tahu, rasa sedih dan terharu atas kepergian Suhengmu timbul dari lubuk hatimu yang tulus. Tapi toh kau telah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwanya, kalau pada akhirnya jiwanya tidak terselamatkan, hal ini bukan salahmu."
Perkataan itu kedengarannya halus, padahal mengandung sindiran yang sangat tajam, membuat Put-ji sangat terkesiap. Tanpa sadar teriaknya.
"Susiok pun telah berusaha dengan sepenuh tenaga."
"Betul, tapi sayang waktu aku berusaha menolong dengan sepenuh tenaga, keadaan sudah terlambat. Ehm, sejujurnya aku sendiri pun tidak menyangka kalau begitu cepat dia mati."
"Suheng dihajar orang dengan ilmu pukulan Thay-kek-sinkang hingga terluka nadinya, ditambah pula dia terkena racun jahat jarum Lebah hijau, sebelum tiba di gunung, dia sudah mesti bertahan beberapa hari lamanya."
"Betul, urat nadinya terluka parah karena terhajar Thay-keksinkang yang menghantam tubuhnya secara terbalik. Sudah terhitung hebat dia masih bisa bertahan sampai di gunung meski harus berjuang selama beberapa hari diantar Bouw It-yu. Cuma kalau cara pertolongan dilakukan secara benar dan tepat, mungkin saja dia tidak mati secepat itu!"
Berubah paras muka Put-ji.
"Jadi maksud Susiok.... kau curiga...."
"Hahaha, kau tidak usah banyak curiga,"
Tukas Bu-liang Totiang sambil tertawa tergelak.
"orang yang menyalurkan tenaga murni ke dalam tubuh Put-coat untuk memunahkan luka racunnya hanya Ciangbun Suheng, kau dan aku tiga orang. Masa aku mencurigai Ciangbun Suheng dan dirimu?"
Dia sengaja tidak menyinggung dirinya, juga tidak menambahkan ucapan "kau tidak akan mencurigai diriku bukan?" , tentu saja hal ini dimaksudkan bahwa dia sangat terbuka dan tidak berniat untuk melakukan perbuatan seperti itu.
Tapi bagi Put-ji bukan berarti dia tidak boleh curiga, malahan hal ini justru merupakan kecurigaannya yang paling utama.
Ternyata setelah Put-coat dilukai urat nadinya oleh pukulan tenaga sakti Thay-kek-sinkang yang disalurkan secara terbalik, maka orang yang mengobati lukanya selain harus memiliki tenaga Thay-kek-sinkang yang sempurna, dia pun harus mengerti cara penyembuhan.
Untuk menyembuhkan luka semacam ini, orang harus menggunakan teknik 'menggiring' dan tidak boleh menggunakan teknik 'membuyarkan' atau 'menyumbat', dengan demikian hawa racun yang menggumpal baru bisa diurai dan didesak keluar dari tubuh.
Oleh karena itulah saat Put-ji hendak mengobati Suhengnya tadi, gurunya, Bu-siang Cinjin sempat memperingatkan hal ini.
Tapi sewaktu Put-ji mulai menyalurkan tenaga murninya, dia segera menjumpai ada sesuatu yang ganjil dan tidak beres, muncul tenaga penghalang yang sangat besar dan jauh di luar dugaannya.
Tentu saja dia tidak akan mencurigai gurunya, tapi mungkinkah sebelum gurunya turun tangan, sudah ada orang lain yang mencoba mengobatinya dengan cara yang tidak lazim?
Dia pun tidak akan mencurigai Bouw It-yu, pertama karena Bouw It-yu masih muda, sekalipun dia ingin mencelakai Put-coat pun belum tentu memiliki Thay-kek-sinkang sehebat itu.
Kedua, jika dia berniat mencelakai Put-coat, buat apa harus menggunakan cara seperti ini?
Kenapa tidak tinggalkan dia saja di tempat yang jauh dan tidak perlu diantar balik ke gunung Bu-tong.
Bu-liang Totiang menjumpai Put-coat jauh sebelum gurunya bertemu dia, tapi dia tidak yakin apakah Bu-liang Totiang pernah menyentuh tubuh Put-coat, oleh karena itu dia tidak berani memastikan Bu-liang Totiang yang diam-diam melakukan perbuatan keji itu.
Setelah termenung sejenak dia mendongakkan kepala, mengawasi Bu-liang Totiang, lalu katanya.
"Kematian Put-coat Suheng sedikit mencurigakan, Tecu ingin melacak dan menyelidiki sebab kematiannya."
"Masa kau masih belum bisa menenangkan hatimu?"
Kata Buliang Totiang hambar, paras mukanya sama sekali tidak berubah.
"Padahal sekalipun kau bisa menyelamatkan nyawa Put-coat pun dia tidak lebih hanya bisa bertahan sesaat. Seorang manusia cacad yang untuk makan pun perlu disuapi orang lain hanya akan menjadi beban orang banyak, bagi perguruan maupun bagi dia sendiri sama sekali tiada manfaatnya!"
Put-ji dapat menangkap duri tajam di balik perkata annya itu, tanpa terasa berubah hebat paras mukanya.
"Bila peristiwa ini tidak bisa terlacak hingga jelas, mungkin di kemudian hari Tecu bakal menerima tuduhan yang tidak benar!"
Akhirnya Put-ji memberanikan diri untuk mengucapkan perkataan yang sejak tadi ingin disampaikan.
Dia tahu dengan jelas, kemungkinan besar perkataan itu akan menimbulkan ketidak puasan Bu-liang Totiang terhadapnya, namun dia tidak ambil peduli, dia tidak ingin berpikir terlalu jauh.
"Buat apa kau mesti repot-repot berbuat begitu,"
Dengan senyum tidak senyum kembali Bu-liang Totiang berkata.
"Baik Ciangbunjin maupun aku sama sekali tidak ada yang curiga kepadamu, siapa lagi yang berani menaruh curiga? Lebih baik jadilah Ciangbunjin dengan tenang dan alim, jika ada yang tidak mau takluk, aku akan menjadi tulang punggungmu!"
"Terima kasih Susiok, hanya saja...."
"Tidak usah banyak bicara lagi, turuti perkataanku, kujamin kau tidak bakal salah."
Ketika bicara sampai di situ, tiba-tiba ia mendesis lirih.
"Sstt, ada orang datang, sepertinya Bouw It-yu. Mungkin dia akan mencarimu untuk berbicara, biar aku pergi lebih dulu."
Belum lagi Bu-liang Totiang berjalan keluar meninggalkan hutan pohon siong, dari tikungan bukit terlihat ada seseorang berjalan mendekat, benar saja, tampak Bouw It-yu muncul menghampirinya.
Sekali lagi suara pembicaraan yang berlangsung dalam ruang tidur gurunya mendengung di sisi telinganya.
Lalu dia seakan mendengar suara karung goni yang berat diletakkan di atas meja.
"Baiklah, keluarkan sepotong demi sepotong, letakkan di atas meja, biar kuperiksa dengan seksama!"
Suara gurunya kembali mendengung. Sepotong demi sepotong? Kalau bukan tulang lalu benda apa lagi? Tidak tahan dia tertawa getir, pikirnya.
"Jangan-jangan tuduhan pembunuhan atas Put-coat Suheng akan terjatuh ke pundakku? Kalau dilihat dari situasinya bisa jadi dosa itu akan ditimpakan ke diriku. Bisa jadi Bouw It-yu sedang menjalankan perintah Suhu untuk mengajakku kembali ke ruangan dan mengadiliku! Apalagi kalau Suhu sampai mengetahui hubunganku dengan Siang Ngo-nio, hehehe.... jangankan jadi pewaris Ciangbunjin, untung kalau tidak diusir keluar dari perguruan! Hmm, perkataan Bu-liang Susiok memang betul, kini posisiku sangat rawan dan berbahaya, mana ada peluang bagiku untuk menyelidiki sebab kematian Put-coat Suheng? Siapa tahu hasil pelacakanku justru semakin tidak menguntungkan posisiku!"
Dalam waktu singkat berbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, mula-mula dia ingin berlagak seolah tidak melihat Bouw It-yu, berusaha menghindar secepatnya dan kabur turun gunung.
Tapi dia pun cukup sadar, mustahil baginya untuk bisa meloloskan diri, lagi pula dengan mengambil langkah seribu, bukankah seluruh usahanya selama ini bakal sia-sia?
Sementara dia masih ragu, Bouw It-yu telah menghampiri sambil menyapa.
"Put-ji Suheng, sungguh kebetulan aku memang sedang mencarimu,"
Ternyata itulah perkataan pertama yang diucapkan. Diam-diam Put-ji tercekat, namun perasaan itu tidak sampai diutarakan, buru-buru tanyanya.
"Ada urusan apa Bouw-sute mencari aku?"
"Suheng tidak perlu sungkan-sungkan, aku rasa ada satu masalah yang seharusnya kulaporkan kepada-mu."
"Kau bilang aku sungkan padahal kau sendiri sungkan juga kepadaku, bagaimanapun kita sesama saudara seperguruan, kalau ada masalah katakan saja terus terang."
"Tadi Ciangbunjin menahanku seorang diri, mula-mula aku merasa heran, ternyata masalahnya adalah...."
"Aku hanya tahu mentaati perintah Ciangbunjin, persoalan yang tidak seharusnya kuketahui lebih baik tidak usah kudengar."
"Suheng, kau banyak curiga. Kini kau adalah satu-satunya murid Ciangbunjin, persoalan apa lagi yang tidak boleh kau ketahui? Cuma tadi masih ada orang lain di situ, kalau Ciangbunjin minta kalian mundur, tentu saja beliau tidak enak mengecualikan dirimu."
Ada empat orang yang berada dalam ruangan Bu-siang Cinjin waktu itu, selain Put-ji dan Bouw It-yu, di situ masih ada Bu-siang Cinjin dan Bu-si Tojin dua orang Tianglo.
Terkejut bercampur girang segera Put-ji bertanya.
"Ciangbunjin yang suruh kau menyampaikan hal ini kepadaku?"
"Suheng, dengan hubunganmu yang begitu khusus dengan Ciangbunjin, apakah Ciangbunjin perlu mengucapkan kata-kata semacam itu?"
"Jadi kalau begitu ucapan itu muncul atas inisiatifmu sendiri?"
Tanya Put-ji tertegun. Tampaknya Bouw It-yu turut melengak.
"Ucapan Suheng kelewat serius, masa kau masih belum tahu status dirimu sendiri?"
"Ooh, apa statusku?"
"Suheng, kau adalah calon Ciangbunjin perguruan kita, sudah seharusnya kulaporkan semua masalah kepadamu, masa hanya soal inipun aku mesti tunggu perintah Ciangbunjin? Lagipula Ciangbunjin sudah kelewat lelah, aku harus memintanya untuk lebih cepat beristirahat."
Put-ji tidak dapat memastikan apakah perkataan Bouw It-yu itu sejujurnya atau justru merupakan kebalikannya, dia pun berpikir, 'Bagus, biar kudengar dulu persoalan apa yang hendak dia sampaikan, kalau masalahnya memang karena aku bakal jadi Ciangbunjin lantas dia berusaha membaikiku, ya sudahlah.
Tetapi kalau tidak, hm, sekalipun aku tidak mampu lolos dari Bu-tong-san, memangnya kemampuanku tidak dapat menaklukkan bocah keparat ini?"
Karena itu dia pun membungkam pertanda mengijinkan rekannya untuk berbicara. Terdengar Bouw It-yu berkata lebih jauh.
"Persoalan ini harus kumulai dari Put-coat Suheng, karena dialah yang minta tolong aku untuk melakukannya. Tempo hari Put-coat Suheng mendapat perintah dari Ciangbunjin untuk berangkat ke gunung Boan-liongsan dan mengangkut balik tulang belulang Bu-kek Tianglo agar bisa dikebumikan di gunung Bu-tong, tentang masalah ini tentunya Suheng sudah tahu bukan?"
Put-ji tidak menyangkal, serunya.
"Lantas kenapa?"
"Karena Put-coat Suheng terluka parah, terpaksa tugas ini dia serahkan kepadaku untuk melaksanakannya. Tapi.... ternyata kejadian berikut sama sekali di luar dugaanku...."
"Oh, peristiwa apa yang membuat kau merasa di luar dugaan?"
"Semula kusangka hanya Bu-kek Tianglo seorang yang terkubur di situ, siapa tahu ternyata terdapat tiga buah kerangka. Yang satu adalah kerangka Keng King-si, masih ada satu lagi konon adalah kerangka dari pelayan tua Ji-ouw Tayhiap Ho Ki-bu yang bernama.... bernama...."
"Orang tua itu bernama Ho Liang,"
Sambil berusaha mengendalikan debar jantungnya sahut Put-ji.
"enam belas tahun berselang dia bersama Bu-kek Tianglo, Keng King-si dan Ho Giokyan tewas di tempat itu. Berhubung waktu yang kumiliki saat itu sangat terbatas, hanya dua liang yang bisa kugali untuk mengubur jenazah mereka semua."
"Oh, rupanya begitu, mestinya tidak ada yang perlu diherankan. Hanya saja...."
"Hanya saja apa?"
"Ketika kuserahkan tulang beluang yang berada dalam karung goni itu kepada Ciangbunjin, ketiga sosok kerangka itu sudah berbaur menjadi satu, tapi Ciangbunjin masih sempat-sempatnya mengeluarkan tulang itu sepotong demi sepotong untuk diperiksa dengan seksama, coba bayangkan apa tidak aneh perbuatannya itu?"
"Nah ini dia, akhirnya sampai juga pada pokok masalahnya!"
Batin Put-ji, tapi di luar ujarnya.
"Sebetulnya tidak ada yang perlu diherankan, semasa masih hidup dulu, Bu-kek Tianglo adalah jago nomor dua perguruan kita selain Ciangbunjin, kenyata-an dia tewas secara misterius dan membingungkan, bisa jadi Suhu ingin menyelidiki sebab kematiannya dari tulang belulang tubuhnya. Tidak banyak jago di kolong langit yang mempunyai kemampuan untuk membunuh Bu-kek Tianglo, bila dapat dilacak sebab kematiannya dari bentuk tulang, bisa jadi hasil penyelidikannya itu akan sangat membantu dalam melacak jejak sang pembunuh."
Dia sengaja tidak menyinggung Keng King-si serta Ho Liang, karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Bouw It-yu.
"Ucapan Suheng tepat sekali, selain meneliti dengan seksama, Ciangbunjin juga telah menaburi jarum peraknya dengan bubuk yang terbuat dari cula badak untuk memeriksa kadar racun yang tertinggal di tulang belulang itu. Tulang orang tua katanya beda dengan tulang orang muda, tulang orang yang pernah belajar ilmu silat tingkat tinggi pun berbeda dengan tulang orang yang belum pernah belajar silat. Tentu saja aku tidak mengerti, tapi Ciangbunjin mampu membedakannya secara pas dan tepat."
"Apakah Ciangbunjin berhasil menemukan sesuatu?"
"Ya, beliau berhasil menemukan sesuatu, katanya Keng King-si tewas ditusuk orang dengan pedang, karena pada tulang belulangnya terdapat bekas tusukan pedang, sedang Bu-kek Tianglo tewas karena isi perutnya tergoncang oleh pukulan Thay-keksinkang yang membuat tulang belulangnya agak kendor dan empuk. Sementara orang tua itu...."
"Bagaimana dengan orang tua itu?"
Tanya Put-ji cepat, dalam hati diam-diam dia mengambil keputusan, jika kematian Ho Liang telah diketahui akibat keracunan oleh jarum lebah hijau, maka secepat kilat dia akan menotok jalan darah pingsan Bouw It-yu, kemudian melarikan diri ke bawah gunung, dia tidak ingin kasusnya ketahuan gurunya.
Perlahan-lahan Bouw It-yu menjawab.
"Tidak ditemukan sesuatu gejala di tulang belulang Ho Liang, selesai melakukan pemeriksaan Ciangbunjin menyimpulkan kalau dia mati karena emosi yang tidak terkendali, bisa jadi secara tiba-tiba dia kena serangan jantung sehingga mati mendadak!"
Diam-diam Put-ji menghembuskan napas lega, dia merasa seolah-olah batu besar yang menindih di atas dadanya sudah tersingkirkan.
Namun perasaan heran tetap mencekam hatinya, rasa keheranan yang luar biasa.
Mungkin orang lain tidak tahu, tapi dia mengetahui dengan jelas sekali, dia tidak percaya kalau sambitan jarum lebah hijau dari Siang Ngo-nio waktu itu tidak berhasil mengenai tubuh Ho Liang.
"Kelihatannya Suheng menaruh perhatian luar biasa terhadap pelayan tua mendiang gurumu itu?"
Tiba-tiba Bouw It-yu berkata. Tercekat hati Put-ji.
"Jangan sampai dia mengetahui rahasia hatiku,"
Pikirnya cepat, segera katanya.
"Orang tua itu sangat akrab denganku, dialah yang merawat aku hingga dewasa, sikapku terhadapnya sama seperti sikapku terhadap Suhu, telah kuanggap sebagai angkatan tuaku sendiri."
"Ooh, rupanya begitu. Ehm, omong-omong aku malah merasa tidak enak sendiri."
"Kenapa?"
Put-ji tak habis mengerti.
"Karena aku telah melakukan sesuatu perbuatan yang merugikan orang tua itu."
"Ah, Sute sedang bergurau. Semasa masih hidup dulu kau tidak pernah bersua dengannya, darimana bisa melakukan perbuatan yang merugikan dia?' "
Bukan semasa dia masih hidup, tapi setelah mati."
"Apa maksudmu?"
"Ketika memasukkan tulang belulang ketiga orang itu ke dalam karung, lantaran karungnya agak kecil dan lagi aku tidak ingin tersiksa waktu membawanya pulang, maka aku lebih mengutamakan tulang belulang Bu-kek Tianglo, kemudian baru tulang Keng King-si, itulah sebabnya hanya tulang kedua orang ini yang kubawa lengkap, sedangkan tulang milik orang tua itu...."
"Kau tidak membawa pulang tulang belulangnya?"
Seru Put-ji bermandikan keringat dingin.
"Ya, kecuali tulang tengkorak kepalanya, tulang yang lain telah kubawa serta, maklum karungnya kecil dan sudah tidak muat."
Tentu saja Put-ji tidak percaya dengan penjelasan itu, namun untuk sesaat dia pun tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan itu. Kembali Bouw It-yu berkata.
"Tidak heran kalau Suheng jadi marah, memang tidak seharusnya aku kelewat egois sehingga melakukan perbuatan semacam ini."
"Aku tidak menyalahkan dirimu, sudah kenyataan seorang pelayan tua memang tidak bisa menandingi nilai seorang Tianglo sebuah perguruan besar."
"Tapi dia orang tua sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. Dia adalah kerabat Suheng dan sudah dianggap orang tua sendiri. Cuma.... tentang kerangka kepalanya...."
Biarpun Put-ji berusaha menenangkan diri, tidak urung ia bertanya juga.
"Ada apa?"
"Waktu itu ketiga sosok kerangka manusia itu telah kukeluarkan, liang kubur pun telah kutimbun kembali. Padahal tengkorak kepalanya tidak sempat kubawa, jadi terpaksa...."
"Kau buang?"
"Untung tidak sampai kubuang, kalau tidak, aku bakal semakin bersalah kepada dia orang tua dan dirimu. Aku telah membuat liang kecil di sekitar sana untuk mengubur tengkorak kepala itu, jika kau ingin menemukannya kembali, mungkin kita masih dapat mengambilnya. Suheng, perlukah kita segera berangkat ke sana untuk membawanya kembali?"
"Kita bicarakan lain waktu saja, toh kerangka tubuhnya sudah tidak utuh, mau dikubur kemana pun tengkorak kepalanya, aku rasa sama saja."
"Betul,"
Bouw It-yu manggut-manggut.
"kini Suheng adalah bakal Ciangbunjin, masih banyak urusan penting lain yang harus Suheng selesaikan, bagaimana mungkin ada waktu untuk menguras masalah yang tidak penting. Justru aku yang agak bodoh, masa tidak bisa memilah mana urusan penting dan mana yang tidak."
Bouw It-yu menyebut dirinya 'bodoh', padahal Put-ji sedikit pun tidak merasa bodoh apalagi pikun.
Orang yang mati keracunan biasanya seluruh tulang belulangnya akan berubah jadi hitam.
Sekalipun sudah mati banyak tahun pun gejala itu masih dapat dijumpai bila kita periksa tulang belulangnya.
Hal semacam ini merupakan pengetahuan umum dan diketahui kebanyakan orang.
Tapi ada satu pengecualian.
Tewas karena jarum lebah hijau menembusi otaknya merupakan satu pengecualian.
Jarum lebah hijau mengandung racun yang amat ganas, begitu mengenai otak seseorang, maka semua saraf yang ada dalam otak akan lumpuh, sirkulasi darah pun akan ikut berhenti juga.
Oleh karena itu kandungan racunnya hanya tertinggal di dalam otak dan tidak mungkin menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Itu berarti tanda keracunan hanya akan dijumpai di tengkorak bagian kepala saja, sementara tulang belulang bagian lainnya tidak jauh berbeda dengan tulang belulang manusia kebanyakan.
Put-ji tahu kalau Ho Liang tewas karena dibokong oleh Siang Ngo-nio, tapi dia tidak tahu secara pasti jarum lebah hijau itu sudah menghajar bagian tubuh yang mana pada diri Ho Liang.
"Jangan-jangan Bouw It-yu berhasil mengenali gejala keracunan itu dari tengkorak kepalanya hingga sengaja tidak menyerahkan kepada Ciangbunjin?"
Demikian dia berpikir, 'keluarga Bouw mereka tersohor karena kehebatan ilmu silatnya, pergaulan mereka pun sangat luas.
Meskipun hubunganku dengan Siang Ngo-nio berlangsung secara rahasia, lagi pula hanya dalam jangka waktu singkat, namun asal mereka mau melakukan pelacakan atas rahasiaku, rasanya tidak gampang untuk mengelabui mereka.
"Diam-diam dia mencoba untuk mengawasi mimik wajah Bouw Ityu, namun sikap pemuda itu selalu tunduk dan hormat, sama sekali tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan dari wajahnya.
"Mengapa dia harus melakukan tindakan ini? Jangan-jangan sama seperti Bu-liang Tianglo, ingin menggunakan kejadian itu untuk mengompasku setelah aku berhasil menjabat posisi Ciangbunjin?"
Kembali Put-ji berpikir. Semakin dibayangkan dia semakin curiga dan bimbang, hatinya amat masgul dan kesal.
"Atau mungkin semua itu hanya dugaanku dan kecurigaanku belaka? Pepatah mengatakan, serangan air bah dibendung dengan tanah, serangan panglima dihadang dengan tentara, sampai sekarang aku masih belum jelas maksud tujuannya, lebih baik aku baru bertindak bila dia sudah melakukan suatu gerakan."
Setelah mengambil keputusan, dia pun balik bertanya kepada Bouw It-yu.
"Bouw-sute, beruntung kali ini ada kau yang mengantar Put-coat Suheng pulang gunung, sayang aku terlambat mendapat berita ini hingga tidak bisa ikut menyambutmu di bawah bukit, bahkan tidak sempat pula berbicara untuk terakhir kalinya dengan Suheng. Apakah dia sempat menitipkan pesan untukku?"
"Sewaktu berada di bukit Boan-liong-san, luka yang dideritanya sudah sangat parah, waktu itu dia hanya mampu menyerahkan tugas kepadaku kemudian tidak sadarkan diri. Dia sudah pingsan selama tujuh hari tujuh malam sebelum tiba di gunung Bu-tong. Suheng bara bisa tersadar kembali sesudah memperoleh pertolongan Ciangbunjin."
Put-ji sengaja menghela napas panjang.
"Aai, rupanya dia sudah jatuh pingsan selama tujuh hari tujuh malam, sayang lukanya tidak sempat terobati, coba dia bisa tiba satu-dua hari lebih awal, mungkin keadaannya bisa berbeda."
"Aai, sebenarnya aku pun tahu kalau lukanya harus segera diobati, sayang kemampuan tenaga dalam-ku cetek sehingga walaupun ada niat namun tidak berdaya karena tidak punya kekuatan. Untuk keter-lambatan ini harap Suheng mau memaafkan."
Di balik nada suaranya, jelas kedengaran kalau dia mulai tidak senang. Buru-buru Put-ji berkata lagi.
"Bouw-sute, kau tidak perlu menyesal dan kau pun tidak usah berpikir yang bukan-bukan. Aku tahu kau telah berusaha semaksimal mungkin, untuk itu aku merasa berterima kasih sekali. Aku pun tahu dalam perguruan kita sekarang, hanya Ciangbunjin dan Bu-liang Tianglo berdua yang memiliki kekuatan tenaga dalam sehebat itu."
"Baguslah bila Suheng pun memahami akan hal ini. Dan itu pula alasannya mengapa aku tidak berusaha mengobati lukanya sepanjang jalan. Tenaga dalamku cetek, ilmu silat perguruan pun baru mengerti sedikit, padahal luka dalam yang diderita Put-coat Suheng hanya bisa diobati oleh jago perguruan kita yang memiliki tenaga dalam sempurna. Cuma.... Suheng, tadi kau mengatakan kalau dalam perguruan kita hanya ada dua orang yang memiliki tenaga dalam sehebat itu, apakah ucapan itu tidak kelewat merendahkan diri sendiri?"
Sementara dia berusaha membela diri dengan mengemukakan berbagai alasan, ternyata pemuda ini tidak lupa menyanjung bakal Ciangbunjin' ini dengan beberapa patah kata manis.
"Aah, mana berani aku dibandingkan dengan kehebatan Ciangbun Suhu serta ketua Tianglo, kalau mau dipaksakan pun kemampuanku paling hanya setengah mereka. Ooh benar, bicara tentang Ciangbun Suhu dan Tianglo, aku ingin tanya, sewaktu naik gunung tadi, apakah kau bertemu Bu-liang Tianglo terlebih dulu?"
Rupanya setelah bicara berputar-putar, akhirnya dia kemukakan juga pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
"Benar,"
Bouw It-yu mengangguk.
"ah, waktu itu aku hanya berpikir ingin cepat bertemu Ciangbun Suhu hingga sesaat lupa untuk minta tolong kepada Bu-liang Tianglo agar melakukan pertolongan pertama. Hanya saja.... aku rasa kalau selisih waktu pun paling cuma setengah batang hio, jadi tidak semestinya...."
"Bouw-sute tidak perlu menyesali diri sendiri, betul, kalau selisih waktu paling hanya setengah batang hio. Apakah waktu itu Bu-liang Tianglo sempat memeriksa denyut nadi Put-coat Suheng?"
"Tidak, sama sekali tidak,"
Tampaknya Bouw It-yu merasa keheranan atas pertanyaan ini.
"Ooh, setahuku Bu-liang Tianglo sangat menguasai ilmu pertabiban, karena itulah aku mengajukan pertanyaan itu."
"Bu-liang Tianglo hanya mengajukan beberapa pertanyaan secara tergesa-gesa, kemudian minta aku secepatnya bertemu Ciangbunjin."
"Ooh, rupanya kalian bersama-sama menghadap Ciangbunjin?"
"Tidak, dia menyusul kemudian bersama Bu-si Tianglo."
Kuatir adik seperguruannya curiga, Put-ji tidak bertanya lebih jauh, katanya kemudian.
"Bouw-sute, kau pasti sudah menempuh perjalanan siang malam, lebih baik cepatlah pergi beristirahat."
"Suheng, kau pun harus baik-baik menjaga diri, jangan kelewat bersedih, masih banyak urusan penting perguruan yang berada di atas bahumu."
Setelah kedua orang itu berpisah, Put-ji berjalan seorang diri sambil berpikir, 'Bila kejadiannya seperti apa yang dia katakan, berarti Bu-liang Tianglo sama sekali tidak menyentuh sang penderita, lalu siapa yang telah mencelakai Put-coat?"
Simpul mati ini membuat dia pusing, bingung dan tidak habis mengerti, akhirnya sambil tertawa getir pikirnya pula.
"Pepatah kuno mengatakan lebih baik menyapu pekarangan sendiri dan tidak usah mencampuri salju di atap tetangga. Asal Suhu tidak menaruh curiga kepadaku, kenapa aku mesti repot-repot pergi menyelidki siapa yang telah mencelakai Put-coat Suheng? Hanya saja tengkorak kepala itu masih tetap merupakan bibit bencana bagiku di kemudian hari, badai dan ombak dahsyat pun telah berhasil kulewati, tidak lucu kalau sampai aku harus menderita kapal karam di sungai kecil. Bouw It-yu tampaknya merupakan seorang lawan yang sangat lihai, aku harus hati-hati menghadapinya."
Sebagaimana diketahui, sepanjang hidup dia telah melakukan dua kesalahan besar, pertama, karena 'salah membunuh' adik seperguruannya, Keng King-si.
Kedua, karena dia pernah mempunyai hubungan istimewa dengan Siang Ngo-nio yang terkenal dalam dunia persilatan sebagai perempuan siluman berhati busuk.
Benarkah Keng King-si bersekongkol dengan bangsa Boan untuk mengkhianati perguruan?
Hingga kini masalah itu masih diliputi tanda tanya, oleh karena itu apakah dia telah 'salah' membunuh atau tidak, sampai sekarang pun belum ada kepastian.
Tapi andaikata dia benar-benar telah salah membunuh pun menurut situasi yang dihadapinya saat itu, dia masih punya alasan yang kuat untuk membela diri, semisal situasi terdesak pun paling dia hanya akan mengaku sebagai 'salah' membunuh.
Kesalahan semacam ini menurut dugaannya tidak bakal mempengaruhi prosesinya menjadi pengganti Ciangbunjin, sebaliknya bila orang lain sampai tahu dia punya hubungan khusus dengan Siang Ngo-nio, apalagi kalau sampai diketahui juga bahwa jauh sebelum kejdian dia sudah tahu kalau Ho Liang mati karena terhajar jarum beracun yang dilepas Siang Ngo-nio tapi selama ini dirinya berusaha merahasiakannya, tidak usah diprotes orang pun dia merasa tidak punya muka lagi untuk menancapkan kaki di gunung Bu-tong.
Di saat dia masih murung dengan pikiran yang sangat kalut itulah tiba-tiba Bu-liang Totiang sekali lagi muncul di hadapannya.
"Begitu lama kau berbincang dengan Bouw It-yu, bisa diduga ada berita baik yang telah dia sampaikan kepada-mu bukan?"
"Darimana Susiok bisa menduga dia datang membawa berita gembira?"
Balas Put-ji sambil berusaha mengendalikan gejolak perasaannya.
"dia tidak lebih hanya menceritakan pengalamannya ketika mengantar Put-coat Suheng balik ke gunung."
"Bukankah itu merupakan sebuah berita gembira? Bayangkan sendiri, kalau dia tidak menganggap kau sebagai bakal Ciangbunjin, buat apa mesti memberi laporan kepadamu?"
"Aah, mana bisa dibilang kalau hal ini merupakan satu kejadian besar. Terus terang, kalau bukan dibina dan didukung Tianglo, mungkin tempat berpijak bagiku di Bu-tong-san pun tidak ada, mana berani mengharapkan kedudukan Ciangbunjin?"
Nada bicaranya saat ini sudah jauh berbeda, maksud lain di balik perkataan itu adalah asal Bu-liang Totiang bersedia mendukung dia menjadi Ciangbunjin, dia pun tidak akan menampik untuk melakukan apa pun.
Bu-liang Totiang segera tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, bukankah sudah kuutarakan sejak awal, aku pasti akan mendukungmu, masa baru sekarang percaya? Justru karena aku sangat memperhatikanmu maka sengaja kunanti kedatanganmu di sini, coba kalau tidak, mungkin aku sudah pergi sejak tadi."
Tempat dimana dia mengajak Bu-liang Totiang berbicara sekarang berada lebih kurang satu li dari tempat dimana dia berbicara dengan Bouw It-yu tadi, dari jarak yang begitu jauh rasanya mustahil bagi Tosu itu untuk menangkap semua pembicaraannya kendatipun dia menempelkan telinganya di atas permukaan tanah.
Tapi bila Bu-liang Totiang yang dulunya memang tidak berada di situ, tapi berbalik ke situ setelah mendengar suara langkah kakinya, jelas hal ini susah untuk dikatakan.
"Aah, peduli amat dia sempat mendengar atau tidak, selama dia berlagak bodoh, kenapa aku pun tidak berlagak bodoh. Toh dia berniat memperalat aku, apa salahnya kalau aku pun memperalat dia?"
Demikian Put-ji berpikir.
"Bagaimana keadaan gurumu?"
Tiba-tiba Bu-liang Totiang bertanya.
"Maksudmu?"
Seru Put-ji tertegun.
Biarpun dia pintar, tidak urung kali ini dibuat bingung juga oleh pertanyaan itu.
Sebagaimana diketahui, kesehatan Ciangbunjin merupakan masalah terbesar yang paling dikuatirkan setiap anggota Bu-tongpay saat ini, khususnya bagi Putji pribadi.
Sebab dialah orang pertama yang langsung terpengaruh oleh kejadian itu.
Itulah sebabnya Bu-liang Totiang sengaja mengajukan pertanyaan itu, karena dengan pertanyaan itu dia dapat menyelidiki reaksinya.
Diam-diam Put-ji merasa sangat menyesal, menyesal kenapa tidak menanyakan kesehatan Suhu dari mulut Bouw It-yu tadi.
Namun dia pun tidak berani mengakui kekhilafannya itu di depan Bu-liang Totiang, baginya lebih baik ditegur oleh Susioknya ini daripada semisal dia balik bertanya.
"Begitu lama kau berbincang dengan Bouw It-yu, sebenarnya urusan besar apa yang sedang kalian bicarakan?"
Pertanyaan semacam ini jelas merupakan sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Terpaksa Put-ji memberi penjelasan sebisanya, katanya.
"Usia Suhu sudah mencapai delapan puluh tahunan, setelah mengalami berbagai peristiwa dan perubahan, sudah barang tentu kesehatan maupun kesegaran tubuhnya jauh berbeda dibanding dengan hari biasa. Hanya saja menurut laporan It-yu, secara garis besar kondisi tubuhnya tidak terlampau jelek, sewaktu memerintahkan It-yu untuk menyerahkan tulang belulang Bu-kek Tianglo kepadanya, dia masih sanggup memeriksa tulang belulang itu satu demi satu dengan seksama."
"Jadi itukah yang dibeberkan It-yu kepadamu?
Tentu saja dia merasa kurang leluasa untuk mengungkap kondisinya kelewat parah.
Padahal menurut pandanganku, hawa murni Ciangbun Suheng telah mengalami kerusakan yang parah, malah....
malah keadaannya begitu parah hingga susah untuk diobati lagi.
"Sutit, bukannya aku sengaja mensyukuri kejadian ini, tapi kelihatannya saat kau menjabat sebagai Ciangbunjin sudah tidak lama lagi. Mulai sekarang kau harus membuat persiapan, daripada sampai waktunya kau kelabakan sendiri."
"Jika apa yang diucapkan Susiok benar, dalam keadaan kalut dan sedih, mana mungkin Tecu bisa mengambil segala keputusan? Harap Susiok mau mengaturkan semuanya bagiku,"
Sahut Put-ji dengan air mata meleleh membasahi pipinya.
"Hahaha, bagus, bagus, ternyata kau sangat memahami maksud hatiku, kau memang pantas menjadi orang besar bagi perguruan kita. Bagus.... bagus.... semoga kau selalu teringat dengan perkataanmu hari ini, berbuatlah sebaik mungkin!"
Secara beruntun dia mengucapkan kata "bagus"
Berkali-kali, hal ini menunjukkan rasa pujiannya kepada keponakan muridnya itu.
Bagi Put-ji sendiri, walaupun dia tidak berani memberikan 'senyum penuh pengertian' kepadanya, namun jelas jalan pikirannya sudah seia sekata dengan paman gurunya itu.
Malam itu dia tidak dapat tidur nyenyak, benaknya dipenuhi berbagai masalah dan pikiran, khususnya peristiwa yang mungkin bakal terjadi keesokan harinya.
Sekalipun besok, belum tentu gurunya secara resmi akan mengangkat dia menjadi penerus Ciang-bunjin, paling tidak dia berharap niat itu dapat disebar luaskan kepada umum.
Malam yang gelap akhirnya berlalu, hari esok sekarang telah berubah menjadi hari ini.
Tidak ada peristiwa apa pun yang terjadi, karena dia sama sekali tidak dapat bertemu gurunya.
Si tojin bisu tuli bertugas menjaga pintu gerbang, ketika dia mohon bertemu pertama kali tadi, dengan gerakan tangannya yang khas tojin bisu tuli memintanya untuk segera mengundurkan diri.
Ketika dia memohon untuk kedua kalinya, si Tojin bisu tuli bukan saja tidak menggubris, bahkan pintu gerbang ditutupnya rapatrapat.
Hari ini dia gagal bertemu Suhu, begitu juga pada hari kedua.
Bukan dia seorang saja yang tidak dapat bertemu Suhu, Bu-liang Totiang serta Bu-si Tojin pun gagal berjumpa Ciangbunjin, nasib mereka setali tiga uang dengan dirinya.
Tentu saja tojin bisu tuli sedang melaksanakan perintah Ciangbunjin, kalau tidak, mana berani dia bersikap seperti itu terhadap kedua orang Tianglo itu.
Sebagai seorang Tianglo, ternyata Bu-liang Totiang serta Bu-si Tojin harus ditolak menghadap, tentu saja kejadian ini membuat mereka jadi kikuk, canggung dan serba salah.
Kalau mereka hanya canggung dan kikuk, berbeda dengan Put-ji, selain terkesiap, dia pun penuh diliputi rasa curiga dan tidak tenang.
Sebab dia merasa keduduk-an dirinya jauh berbeda dengan kedua orang Tianglo itu, kini dia sudah menjadi satu-satunya murid Ciangbunjin, apalagi pergaulannya selama enam belas tahun boleh dibilang membuat hubungan batin mereka melebihi ayah dan anak, berbeda dengan hubungan kedua orang Tianglo itu.
Tapi mengapa Suhunya selain enggan bertemu kedua orang Tianglo itu, mengapa enggan juga bertemu dirinya?
Atau mungkin Suhunya sudah mengetahui tingkah lakunya yang tidak jujur sehingga tidak lagi mempercayainya?
Untung saja jawaban itu bukan merupakan satu-satunya jawaban.
Mungkin saja Bu-liang Totiang sedang mengejek dirinya, mungkin juga dia hanya melakukan praduga terhadap masalah yang mungkin terjadi, namun baginya, dia masih mempunyai sebuah penjelasan lain.
Bisa jadi Ciangbunjin menderita luka dalam yang parah hingga perlu menutup diri untuk berlatih, bagi orang yang mempelajari tenaga dalam tingkat tinggi, di saat bersemedi, dia memang tidak bisa diganggu segala suara maupun kejadian.
Agar dapat mententeramkan hati sendiri, terpaksa Put-ji harus menerima penjelasan yang terakhir.
Walaupun dia sudah menerima penjelasan ini, pada hari ketiga dia tetap datang tepat pada saatnya untuk memberi salam kepada gurunya.
Pada hari ini tidak nampak Bu-liang Totiang maupun Bu-si Tojin, mungkin lantaran gengsi dan juga karena sudah dua hari beruntun ditolak untuk bertemu, maka hari ini tidak nampak mereka datang berkunjung.
Hari ini Put-ji datang dengan mengajak serta Lan Giok-keng.
Di luar dugaan, ternyata hari ini terjadi sedikit perubahan.
Ketika melihat kehadiran Lan Giok-keng, si tojin bisu tuli itu kelihatan sangat gembira.
Setelah masuk ke dalam, dia muncul kembali sambil memberi tanda.
Kepada Put-ji dia menggoyangkan tangannya berulang kali sementara terhadap Lan Giok-keng justru menggapai, jelas sekali dia mengundang Lan Giok-keng untuk masuk ke dalam.
Sambil tertawa paksa Put-ji pun segera berkata.
"Keng-ji, tidak kusangka rejekimu sungguh bagus, ternyata orang yang paling disayang Sucouw tetap adalah dirimu, cepat masuk dan jangan lupa sampaikan salamku untuk Sucouw."
Tojin bisu tuli itu hanya memperkenankan Lan Giok-keng seorang yang masuk ke dalam, Put-ji yang sebenarnya ingin menunggu di luar pintu ternyata diusir pergi dari situ.
Terpaksa dengan perasaan tidak senang Put-ji balik kembali ke To-koan sendiri, dengan susah payah akhirnya hingga menjelang senja baru nampak Lan Giok-keng balik kembali.
"Bagaimana dengan Sucouw?"
Buru-buru Put-ji bertanya.
"Sucouw kelihatan kurus dan menakutkan, kedua pipinya cembung ke dalam. Wajahnya seperti diliputi selapis hawa berwarna abu-abu, hanya sepasang matanya yang kelihatan masih bersinar. Coba kalau bukan di hari biasa Sucouw amat menyayangi aku, mungkin aku benar-benar tidak berani mendekatinya."
Mendengar laporan itu, di samping gembira Put-ji pun merasa kuatir, kembali tanyanya.
"Apa saja yang telah dikatakan Sucouw kepadamu?"
"Sambil membelai kepalaku, Sucouw memuji aku sebagai anak baik."
"Tentu saja Sucouw amat menyayangimu,"
Kata Put-ji cepat, sementara hatinya merasa kecut sekali.
Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 13
Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 10