Pendekar Pedang Dari Butong 3

Eps 3 Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id

Baca online Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id

Cersil Pendekar Pedang Dari Butong - Liang Ie Shen Tjan Id.

"Tapi.... bukankah kau sudah pergi sangat lama, tentunya masih ada persoalan lain yang dibicarakan bukan?"

"Ya, ada, bahkan kejadian yang sama sekali tidak kuduga!"

"Kejadian apa yang tidak kau duga?"

Seru Put-ji terkejut.

"Sucouw bertanya kepadaku, bagaimana dengan latihan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoatku? Aku pun menjawab bahwa seluruh rangkaian ilmu pedang itu telah selesai kupelajari, hanya tidak diketahui bagus tidak hasil latihanku itu?"

Sebelum mengajarkan ilmu pedang kepada muridnya, terlebih dulu Put-ji telah minta ijin kepada Ciangbunjin.

Hanya saja dia sedikit tercengang dan di luar dugaan karena tidak menyangka dalam keadaan sakit, Ciangbunjin bukannya bertanya soal lain justru pertanyaan itulah yang pertama diajukan.

"Jadi Sucouw minta kau mempraktekkan di hadapannya?"

Tanya Put-ji kemudian.

"Bukan cuma mempraktekkan, bahkan Sucouw minta aku bertanding pedang melawan tojin bisu tuli."

"Bertanding pedang melawan tojin bisu tuli?"

Put-ji tertegun.

"Benar. Suhu, kau tidak menyangka bukan? Aku diminta bertarung melawan seorang tosu tua yang bisu tuli, bahkan di hari biasa pun berjalan sambil membungkukkan badan, belum pernah kudengar kalau orang ini pernah berlatih ilmu silat."

"Tentunya kau tidak mampu melawan dia bukan?"

"Senjata yang dia gunakan bukan pedang sungguh an, melainkan pedang kayu yang dibuat saat itu juga. Waktu itu dia mengambil sebatang kayu bakar, terus telapak tangannya seperti sebilah golok tajam saja, menyayat ke kiri dan kanan, tidak selang beberapa saat kemudian jadilah sebilah pedang kayu yang panjangnya tiga kaki dengan lebar tiga inci. Bayangkan saja, lihai bukan kemampuannya? Tapi saat itu aku berpikir begini, biar telapak tanganmu lihai, namun mana mungkin pedang kayumu sanggup menandingi ketajaman pedang bajaku? Asal kubabat pedang kayunya hingga putus, dia mau bertanding pakai apa? Siapa sangka pedang kayunya begitu ringan bagaikan selembar kertas saja yang menempel di atas pedangku, sampai aku selesai memperagakan rangkaian ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat, pedangku tidak pernah mampu mematahkan pedang kayunya. Ketika sampai jurus terakhir, tibatiba aku merasa ada satu kekuatan besar yang menghisap pedangku, bukan saja aku gagal mematahkan pedang kayunya, sebaliknya malah pedangku yang berhasil dia rampas!"

Put-ji tertawa paksa.

"Sudah puluhan tahun lamanya tojin bisu tuli melayani Ciangbunjin, tidak aneh jika dia pun pandai bersilat."

Biarpun di mulut dia berkata begitu, dalam hati diam-diam merasa terkejut juga, pikirnya, 'Bukankah ilmu silat yang dimiliki tojin bisu tuli sudah jauh melampaui kemampuanku?

Tidak disangka selama belasan tahun dia selalu menyembunyikan identitasnya hingga aku pun nyaris berhasil dia kelabui.' Namun baginya kehebatan ilmu silat yang dimiliki Tojin bisu tuli hanya merupakan masalah kedua, yang paling penting sekarang adalah ingin mencari tahu apa maksud tujuan gurunya meminta Lan Giok-keng bertarung melawan tosu itu.

"Selesai bertanding apa kata Sucouw kepadamu?"

Tanyanya.

"Apa yang kemudian diucapkan Sucouw pun sama sekali di luar dugaanku, dia hanya mengucapkan tiga patah kata."

"Tiga patah kata?"

"Ya, tiga patah kata,"

Sahut Lan Giok-keng sambil menirukan lagak Sucouwnya.

"Bagus, bagus sekali!"

"Tidak ada perkataan lain?"

Gumam Put-ji terkejut bercampur keheranan.

"Selesai mengucapkan ketiga patah kata itu Sucouw segera memejamkan matanya bersemedi, aku pun tidak berani lagi mengganggu dia orang tua."

"Bagus, bagus sekali!" , apa maksudnya? Kalau di dengar sepintas seolah-olah dia sedang memuji permainan pedang Lan Giok-keng yang dianggap bagus sekali, tapi dengan kedudukannya sebagai seorang Ciangbunjin yang memiliki kepandaian silat tinggi, sekalipun bukan seorang ahli pedang, apakah dia tidak dapat melihat kalau ilmu pedang yang dilatih Lan Giok-keng hanya jurus kembangan yang sama sekali tidak berguna? Bila penjelasan ini tidak benar, berarti tinggal satu penjelasan lagi. Kata "Bagus, bagus sekali!"

Itu tentu mengandung arti kebalikan.

"Jangan-jangan Suhu sudah tahu akan keegoisanku, hanya saja sungkan untuk berterus terang di hadapan anak Keng? Karena merasa sangat tidak puas, maka dia sengaja mengucapkan ketiga patah kata itu?"

"Jika Suhu menegurku secara langsung, mungkin tidak sulit bagiku untuk memberi penjelasan. Yang aku takuti justru bila Suhu menaruh curiga kepadaku, tidak mungkin perasaan itu dia kemukakan."

Masih ada satu persoalan lagi yang membuatnya tidak tenteram, selain 'kecurangan' yang telah dia lakukan sewaktu mewariskan ilmu pedang kepada Lan Giok-keng, mungkinkah Suhunya berhasil juga menemukan 'kecurangan' lain yang telah diperbuatnya?

Belum sempat dia menanyakan hal ini kepada muridnya, tiba-tiba Lan Sui-leng muncul di tempat itu.

Selesai memberi hormat kepada Put-ji, gadis itu langsung menegur adiknya.

"Apakah kau sudah lupa hari apakah sekarang ini?"

"Hari apa?"

Tanya Lan Giok-keng tertegun.

"Coba lihat,"

Omel Lan Sui-leng sambil menggeleng kepala berulang kali.

"ternyata kau benar-benar lupa! Hari ini kan hari ulang tahun ayah."

"Aah betul,"

Seolah baru sadar, teriak Lan Giok-keng.

"Aku seharusnya teringat akan hal ini, tapi belakangan...."

"Aku paham. Belakangan kau memang sedang kesal dan masgul gara-gara peristiwa yang menimpa Supek serta Sucouwmu. Aku tidak akan menyalahkan dirimu. Ayoh ikut aku pulang, kita semua sedang menunggumu untuk makan bersama."

Menyusul kemudian kepada Put-ji katanya.

"Suhu, sebetulnya ayah ingin mengundangmu meneguk secawan arak dan makan dua biji bakpao. Tapi ayah kuatir kau sedang melayani Ciangbun cinjin sehingga tidak berani mengganggumu."

Tentu saja Put-ji tidak mungkin menghalangi muridnya agar tidak pulang memberi selamat kepada ayahnya, terpaksa dia berkata.

"Aku adalah saudara lama ayahmu, seharusnya aku ikut Keng-ji untuk menyampaikan selamat kepadanya. Tapi.... aai, kau sendiri juga tahu, belakangan aku kelewat repot, rasanya susah membagi diri untuk urusan lain, baiklah biar anak Keng saja yang mewakiliku menyampaikan ucapan selamat."

Malam itu, pikiran dan perasaan Put-ji sangat kalut, dia berusaha memejamkan mata namun tidak juga dapat tidur.

Akhirnya setelah berjuang dengan susah payah, menjelang kentongan kelima dia terlelap juga dalam tidurnya.

Ternyata di dalam mimpi pun dia belum bisa mendapatkan ketenangan, dalam tidurnya dia seolah-olah balik kembali ke gunung Boan-liong-san, di tengah hujan badai yang deras, dia seolah melihat Keng King-si yang berlepotan darah berjalan menghampirinya, menyusul di belakangnya Ho Giok-yan, perempuan itu dengan rambut kusut dan wajah penuh amarah sedang memandangnya dengan mata mendelik, menyusul kemudian tampak Ho Liang menunjukkan tengkorakkepalanya yang berlubang dan tiba-tiba roboh terjungkal di hadapannya.

Aah, Siang Ngo-nio pun ikut datang, ia mengenakan baju berwarna merah darah, bibirnya yang kecil mungil tiba-tiba berubah jadi besar dan lebar, selebar ember rongsok, dia sedang menyeringai dengan bibir lebarnya sambil tertawa mengejek....

Mendadak suara guntur membangunkan dia dari tidurnya.

Ternyata bukan suara guntur.

Suara guntur yang terdengar dalam alam mimpinya ternyata adalah suara genta.

Tapi suara genta itu justru lebih mangagetkan, lebih mengejutkan dirinya daripada suara guntur.

Ternyata suara genta itu berasal dari puncak Giok-hong-teng.

Suara genta yang berasal dari genta besar di pagoda Leng-siau-kek, puncak Giok-hong-teng.

Konon genta tembaga itu beratnya mencapai tiga ribu tujuh ratus kati, asal suara genta itu dibunyikan, maka seluruh anggota perguruan yang tersebar di bukit Bu-tong akan mendengarnya dengan jelas.

Tapi genta itu tidak pernah dibunyikan bilamana tidak ada kejadian penting atau gawat.

Menurut aturan, setiap tahun genta itu hanya dibunyikan tepat di hari kelahiran Lo-kun.

Atau kalau tidak, genta itu baru dibunyikan bila sedang menghadapi peristiwa besar yang perlu untuk mengumpulkan seluruh anggota perguruan.

Sudah enam belas tahun lamanya Put-ji berada di gunung Butong, kecuali setiap tahun satu kali di saat hari kelahiran Lo-kun, belum pernah dia mendengar suara genta itu di hari-hari biasa.

Hari ini bukanlah hari kelahiran Lo-kun.

Tapi....

mengapa genta itu dibunyikan?

Untuk memperingati hari kelahiran Lo-kun, setiap kali genta itu hanya dibunyikan tujuh kali, tapi sekarang suara genta itu dibunyikan bertalu-talu, ketika mencoba dihitung, ternyata genta itu dibunyikan sebanyak dua puluh satu kali sebelum berhenti.

Dari penuturan kedua orang tianglo, dia pernah mendapat tahu bahwa suara genta yang dibunyikan dua puluh satu kali pertanda Ciangbunjin hendak mengumumkan masalah besar yang menyangkut mati hidupnya perguruan Bu-tong-pay.

Sambil menggosok matanya dia menengok keluar kamar, ternyata matahari telah memenuhi jendela, hari sudah siang.

Dia tidak menyangka hari ini akan begitu terlambat bangun dari tidurnya, teringat bagaimana semalam dia tidak dapat memejamkan mata, perasaan getir menyelimuti hatinya.

"Peristiwa besar apa yang telah terjadi?"

Demikian dia berpikir, 'jangan-jangan aku masih berada dalam alam impian?' Hujan badai yang dialami dalam impian ternyata disambut hari yang cerah setelah mendusin, tapi sayang perasaannya kini justru jauh lebih gelap, lebih kelam ketimbang hujan badai.

Terpaksa dia bersihkan muka dengan terburu-buru, lalu segera berangkat ke kuil Hok-tin-koan dimana Ciangbunjin berdiam.

Di depan kuil Hok-tin-koan terdapat sebuah pelataran yang luas dan datar, saat itu seluruh anggota perguruan yang mendengar suara genta itu sudah berdatangan dan berkumpul di sana.

Put-ji datang sedikit terlambat, belum sampai dia tiba di tengah pelataran, tampak Ciangbun Suhu telah muncul dari balik kuil Hoktin-koan.

Bu-siang Cinjin dan seorang lelaki setengah umur berjalan bersanding, sementara kedua orang Tianglo mengikut di belakangnya.

Paras muka Bu-siang Cinjin layu, kering dan kusut, persis seperti yang dilukiskan Lan Giok-keng semalam, wajahnya seakan-akan dilapisi oleh kabut berwarna abu-abu.

Begitu menyaksikan kondisi wajah Ciangbunjinnya, hampir semua anggota perguruan merasa terkejut bercampur cemas.

Tapi bagi Put-ji, justru kehadiran lelaki setengah umur itulah yang paling membuatnya terkejut bercampur keheranan.

Selama hidup belum pernah dia bertemu dengan orang ini, tapi sikap Ciangbun Suhu nampak begitu akrab dengan orang itu!

Mungkinkah posisi dan kedudukan orang itu masih jauh di atas kedudukan Bu-liang Totiang serta Bu-si Tojin?

Sementara Put-ji menduga-duga, dari arah belakang kembali berjalan keluar seseorang.

Tosu setengah umur itu tidak lain adalah murid pertama Bu-liang Totiang, Put-pay.

Enam belas tahun berselang, sewaktu pertama kali Put-ji tiba di gunung Bu-tong, dia pernah dipersulit Put-pay, oleh sebab itu kesannya terhadap orang ini sangat buruk.

Tapi Put-ji adalah seseorang yang pandai menahan diri, setelah naik gunung, meskipun posisinya sekarang adalah murid penutup Ciangbunjin yang status serta kedudukannya jauh di atas Put-pay, namun bukan saja dia tidak menunjukkan sikap bermusuhan atau ingin membalas dendam, bahkan berusaha merangkul Put-pay agar berpihak kepadanya.

Put-pay bukan orang bodoh, tapi dia tahu kalau Suhunya ingin memperalat Put-ji, kalau sampai gurunya saja berusaha mengambil hati Put-ji, apalagi dirinya?

Itulah sebabnya meskipun mereka berdua sama-sama berlagak hangat, namun dalam pandangan orang lain kedua orang itu justru sudah dianggap sebagai "sahabat karib."

Agak tertegun juga Put-ji begitu melihat Put-pay, pikirnya, 'Biarpun dia tidak berani berlagak sebagai murid Ciangbunjin, paling tidak kedudukannya dalam perguruan masih dianggap senior, aneh, kenapa dia pun datang terlambat?"

Sekarang dia baru mulai memperhatikan balutan kain yang membungkus lengan kiri Put-pay, kelihatannya dia pun sedang menderita luka. Selesai saling menyapa, Put-pay pun menegur.

"Apakah Ciangbunjin tidak memberi kabar dulu kepadamu, kenapa kau pun datang terlambat?"

"Aku senasib dengan gurumu, beberapa hari belakangan gagal bertemu Ciangbunjin. Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Aku sendiri pun kurang jelas. Hanya kuketahui kalau perguruan kita telah kedatangan seorang tamu agung. Ehm, kalau dibilang tamu agung mestinya kurang pas, sebab biarpun dia memang tamu, namun sesungguhnya merupakan orang sendiri."

Tergerak hati Put-ji, cepat bisiknya.

"Kau maksudkan tamu yang berada di samping Suhu? Siapa orang itu?"

"Hah, masa dia pun tidak kau kenal?"

"Rasanya seperti sangat kukenal, cuma...."

"Coba perhatikan sekali lagi, mirip siapa dia?"

Seperti baru tersadar dari mimpi, Put-ji segera berseru.

"Aahh, betul, mirip Bouw It-yu!"

"Betul, dia adalah ayah Bouw It-yu, keluarga persilatan yang mempunyai hubungan paling dalam dengan perguruan kita, dia dihormati sebagai Tiong-ciu Tayhiap (pendekar dari daratan Tionggoan) Bouw Ciong-long!"

"Ooh, rupanya dia. Tidak heran Suhu pun bersikap hormat kepadanya."

"Justru yang paling kutakuti adalah setelah kehadirannya, perguruan kita bakal tertimpa banyak masalah."

"Kenapa?"

"Aku hanya menduga saja, semoga saja dugaanku keliru."

"Suheng, apakah lengan kirimu terluka?"

"Betul, luka ini merupakan persembahan dari Bouw-tayhiap."

"Apa yang terjadi? Jadi kalian sudah saling kenal?"

Seru Put-ji melengak.

Dia sangka Put-pay lagi-lagi melakukan kesalahan seperti apa yang pernah dia lakukan terhadapnya enam belas tahun berselang, tapi setelah dipikir kembali, dia merasa dugaan seperti itu sangat tidak masuk akal dan lagi mustahil dia bisa berbuat begitu.

Oleh karena itulah di balik ucapannya kepada Put-pay tadi, dia sisipkan maksud sebagai berikut.

"Kalau memang kalian sudah saling mengenal, dan dia pun sudah tahu kau adalah murid pertama Bu-liang Totiang, sekalipun sikapmu terhadapnya kurang sopan, rasanya mustahil dia bakal turun tangan memberi pelajaran kepadamu."

Tentu saja perkataan semacam ini tidak leluasa diungkap keluar, nampaknya Put-pay sangat paham akan maksudnya. Setelah tertawa getir, ujarnya.

"Sute, kau sangka aku masih ceroboh dan gegabah seperti dulu? Kali ini justru aku bersikap kelewat hati-hati, kelewat hangat kepadanya maka aku tertimpa bencana ini."

Kalau memang sudah berhati-hati, kalau sudah bersikap hangat, kenapa Bouw Ciong-long masih 'memberi hadiah' kepadanya?

Apa yang menyebabkan Put-pay terluka?

Semakin mendengar, Put-ji merasa makin kebingungan.

Ternyata beginilah ceritanya.

Oleh karena nasib tragis yang menimpa Put-coat dan lagi Ciangbunjin sedang menderita sakit, penjagaan yang dilakukan di Bu-tong pun otomatis ditingkatkan dan makin ketat.

Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, dipilihlah delapan belas orang tojin dari angkatan "Put"

Yang memiliki kungfu cukup bagus untuk melakukan perondaan siang malam.

Dari angkatan "Put" , sebenarnya kungfu Put-ji yang terhitung paling bagus dan tangguh, tapi berhubung dalam pandangan rekan seperguruan bahwa Put-ji merupakan 'bakal Ciangbunjin', maka dalam tugas perondaan ini mereka tak berani mengusiknya.

Pagi itu Put-pay yang mendapat giliran meronda di depan gunung.

Ketika fajar baru saja menyingsing, ia sudah melihat ada seseorang sedang naik gunung.

Pagi ini kabut sangat tebal, pada mulanya tidak terlihat dengan jelas siapa gerangan orang itu, setelah makin dekat dia baru tahu kalau orang itu adalah Bouw Ciong-long.

Kehadiran Bouw Ciong-long secara tiba-tiba di gunung Bu-tong segera membuatnya tercengang, tapi belum sempat dia maju ke depan untuk menyapa, peristiwa lain yang jauh lebih tidak terduga telah berlangsung di hadapannya.

Dari balik kabut tebal, tepatnya dari belakang tebing terjal tibatiba muncul dua orang lelaki berbaju hitam.

Bouw Ciong-long yang berjalan di tengah kabut ternyata melangkah dengan santainya, seolah dia sama sekali tidak tahu kalau ada orang hendak membokongnya dari belakang.

Tanpa berpikir panjang buru-buru Put-pay melayang turun dari tempat ketinggian dan menggunakan pedangnya untuk melindungi Bouw Ciong-long.

Jurus Eng-ki-tiang-khong (sergapan elang di tengah udara) yang dia gunakan telah mengubah tubuhnya bagaikan panglima langit yang turun dari kahyangan, tidak disangka gerakan pedang lawan ternyata jauh lebih cepat dari gerak serangannya.

Belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, tahu-tahu hawa dingin yang menembus tulang telah menyayat tubuhnya, tidak jelas apa yang telah terjadi, lengan kirinya sudah terluka parah.

Pada saat itulah terdengar "trang" , pedang milik Put-pay masih berada dalam genggaman, sementara pedang lelaki yang menusuk lengannya itu justru sudah terjatuh ke tanah.

Put-pay tahu dengan jelas, bukan dia yang menjatuhkan pedang lawan.

Setelah merasakan hawa dingin yang merasuk ke dalam tulang, rasa sakit yang luar biasa segera menyelimuti seluruh tubuhnya.

Diikuti kemudian pedangnya ikut rontok ke bawah.

Rasa sakit terasa menyayat hingga ke dasar lubuk hati membuat pandangannya jadi kabur, namun dia tahu dengan jelas, pastilah Bouw Ciong-long yang telah meroboh kan kedua orang lelaki itu, tapi bagaimana caranya menaklukkan mereka?

Dia sama sekali tidak jelas.

Saking kesakitan dia nyaris jatuh tidak sadarkan diri.

Bouw Ciong-long sepertinya telah mengucapkan sesuatu, tapi sayang dia tidak dapat mendengar dengan jelas.

Tapi dia sempat mendengar lelaki berbaju hitam itu berteriak nyaring.

"Dia dulu yang menusuk aku, jangan salahkan diriku!"

Rasa kaget membuat sakitnya sedikit berkurang, buru-buru dia menengok ke arah lelaki itu, tampak dia sedang mempersembahkan sebuah kotak kepada Bouw Ciong-long, dari sikap serta gerakgeriknya kelihatan dia sangat menaruh hormat.

"Baiklah,"

Kata Bouw Ciong-long setelah menerima kotak itu.

"serahkan saja kartu nama itu kepadaku, kalian tidak perlu ikut naik gunung."

Sepeninggal kedua orang lelaki itu, Bouw Ciong-long membubuhkan obat luka ke seputar luka tusukan di lengan Put-pay, kemudian katanya.

"Maaf, gara-gara aku terlambat turun tangan hingga berakibat kau terluka. Untung tidak sampai melukai tulang, kau tidak usah meributi mereka lagi."

"Siapa kedua orang itu? Kenapa mereka seperti ingin membokong dirimu tadi?"

Tidak tahan Put-pay bertanya.

"Tidak nanti mereka mempunyai nyali sebesar itu. Mungkin lantaran berada di balik kabut yang tebal hingga tidak mampu melihat jelas, mereka tidak berani memastikan apa benar diriku, maka sengaja menggunakan cara menggertak untuk menjajal. Mereka datang karena mengantarkan kartu nama seorang sobat karib Ciangbunjin."

Setelah mendengar penuturan Put-pay, diam-diam Put-ji merasa amat terperanjat, pikirnya, 'Biarpun nama Put-pay belum tersohor, namun dalam perguruan ilmu silatnya masih terhitung cukup canggih, jurus sergapan elang di tengah udara yang digunakan terhitung jurus paling lihai dalam ilmu pedang Hong-lui kiam-hoat, tapi orang itu bisa melukai lawannya lebih dulu, padahal mencabut pedangnya belakangan, malah dalam satu gebrakan berhasil melukainya, jelas orang itu sangat tangguh, tapi Bouw Ciong-long berhasil mengendalikan kedua orang itu dalam sekejap, hal ini semakin membuktikan kungfu yang dimiliki Bouw Ciong-long sudah mencapai tingkatan yang luar biasa!"

Put-ji bukannya tidak tahu kalau Bouw Ciong-long minta Bu-si Tojin mengajari putranya ilmu pedang.

Dia pun pernah mendengar pembicaraan rekan-rekan seperguruannya kalau ilmu silat keluarga Bouw makin lama semakin mundur.

Dari rangkuman kejadian itulah membuat dia selama ini selalu memandang enteng kemampuan silat yang dimiliki Bouw Cionglong.

Tapi setelah mendengar penuturan peristwa yang menimpa Putpay, dia mulai sadar bahwa berita yang tersebar selama ini tidak boleh dipercaya.

"Berarti lenganmu bisa selamat gara-gara Bouw-susiok turun tangan melindungimu? Tampaknya kau seperti sama sekali tidak dendam kepadanya?"

Tanya Put-ji.

"Hm, berbicara dari kemampuan silat yang dimiliki, andaikata dia betul-betul ingin melindungiku, seharusnya aku tidak perlu menderita luka,"

Kata Put-pay jengkel.

"menurut pendapatku, dia memang berniat membuat malu diriku."

"Lalu apa keuntungan baginya?"

"Paling tidak ada dua hal, pertama, bisa membuat nama baik dan kewibawaan guruku terganggu, orang lain pasti berkata, coba lihat, ternyata murid tertua Bu-liang Tianglo tidak sanggup menahan satu gempuran orang lain. Kedua, dari jurus serangan yang kugunakan, dia pun dapat meraba sampai dimana kemampuan ilmu silat yang dimiliki guruku."

"Jadi antara dia dengan gurumu memang ada konflik meski di luaran kelihatan berbaikan?"

"Aku tidak jelas apakah dia punya sakit hati atau tidak, tapi yang kuketahui dia mempunyai rencana busuk. Guruku adalah ketua para tianglo, sementara dia adalah pemimpin dari murid preman, bahkan masih terhitung ahli waris keluarga persilatan yang paling panjang sejarahnya dengan Bu-tong-pay, tentu saja dia iri dengan posisi guruku di dalam partai."

Perkataan ini sengaja dia ucapkan dengan kata yang berat dan tandas.

Put-ji tidak berani menyela, baru saja Put-pay ingin mengucapkan sesuatu lagi, saat itulah tiba-tiba mereka saksikan Bouw It-yu sedang berjalan menghampiri mereka berdua.

Cepat Put-ji berdehem berulang kali, buru-buru Put-pay tutup mulut dan maju menyongsong sambil menyapa.

"Bouw-sute, selamat pagi."

Sebenarnya sejak tadi Bouw It-yu sudah hadir di situ, setelah melihat kehadiran merekalah dia baru tampil dari balik kerumunan orang banyak dan datang menghampiri.

"Gara-gara kedatangan ayahku pagi tadi, kau sampai menderita luka. Kejadian ini sungguh membuat perasaanku tidak enak,"

Ujar Bouw It-yu.

"Aah, hanya sedikit luka ringan, tidak terhitung seberapa. Justru akulah yang harus berterima kasih kepada ayahmu, kalau bukan lantaran dia, mungkin aku sudah kehilangan sebuah lengan."

Tampaknya Put-pay merasa kurang senang berkumpul dengan Bouw It-yu, begitu selesai berbasa-basi dia segera menyingkir dari situ.

Put-ji sendiri pun menaruh perasaan waswas terhadap Bouw Ityu, namun dia tidak seperti Put-pay, bagaimanapun dalam pembicaraan dia harus lebih sungkan dan pandai berbasa-basi.

Katanya.

"Sudah lama kukagumi nama besar ayahmu, sungguh beruntung hari ini aku dapat menjumpainya, sayang kedatanganku agak terlambat hingga tidak bisa ikut menyambut kedatangannya. Kejadian ini sungguh membuat hatiku menyesal. Sute, bersediakah kau memperkenalkan ayahmu selesai pertemuan nanti."

"Aah, kita adalah keluarga sendiri, buat apa mesti sungkansungkan. Ketahuilah suheng, sewaktu siaute menemani ayah pergi menjumpai Ciangbunjin tadi, ayah pun sempat menanyakan tentang kau di hadapan Ciangbunjin."

"Benarkah?"

Put-ji tertawa paksa.

"aah, kejadian ini betul-betul membuat aku merasa tercengang. Semula kukira ayahmu malah tidak tahu tentang diriku."

"Suheng terlalu merendah. Terus terang saja, bukan tanpa sebab ayah langsung menanyakan tentang dirimu begitu bertemu Ciangbunjin tadi."

Terkesiap Put-ji sehabis mendengar perkataan itu.

"Hah, apa sebabnya?"

Dia berseru.

"Tentunya suheng tahu bukan, sejak dulu ayahku adalah sahabat karib mendiang gurumu, Ho-Tayhiap. Selama ini ayah selalu termenung tiap kali memikirkan musibah yang menimpa keluarga Ho-Tayhiap, bahkan setiap kali teringat dia pasti merasa amat sedih. Sebelum menjadi pendeta, dulu suheng adalah murid kepala Ho-Tayhiap, bahkan aku dengar hubunganmu dengan mendiang gurumu lebih akrab daripada hubungan ayah dan anak. Karena itu terus terang saja aku katakan, selama ini ayah pun selalu menganggap kau sebagai putra sahabat karibnya. Begitu beliau mendapat tahu bahwa kau telah menjadi murid Ciangbunjin, bukan saja pandai bekerja bahkan bakal memikul tanggung jawab berat, tidak heran ayah menjadi tidak tahan untuk menanyakan tentang dirimu."

Sepintas perkataan itu seakan-akan sedang memuji kehebatan Put-ji, namun dalam pendengaran Put-ji sendiri, dia justru merasa sangat terkesiap.

Apalagi ketika mendengar perkataan tentang "musibah yang menimpa Ho-Tayhiap" , kata-kata itu semakin membuat hatinya terkejut bercampur penuh curiga.

Dengan kedudukan Bouw Ciong-long, memang tidak aneh jika dia pun mengetahui rahasia besar ini (maksudnya kematian Ho-Tayhiap, Ho Giok-yan serta Keng King-si, meskipun selama enam belas tahun rahasia ini tidak pernah disebar luaskan, namun para petinggi Bu-tong-pay hampir semuanya sudah mengetahui).

Yang menjadi masalah adalah mengapa Bouw It-yu justru mengungkap hal itu dalam situasi seperti ini?

Apakah Bouw It-yu memang sengaja membocorkan hal itu agar dia tahu bahwa ayahnya sudah mengetahui kejadian sesungguhnya atas peristiwa dulu?

Di samping itu, menurut Bouw It-yu hubungan keluarga Bouw dan keluarga Ho sangat akrab, padahal setahunya, kedua keluarga persilatan ini jarang sekali berhubungan.

Jika mereka memang bersahabat, semestinya di saat dia belum terjun ke dunia persilatan dulu, gurunya pasti akan mengajak dia menyambangi dulu keluarga Bouw yang nama besarnya telah menggetarkan daratan Tionggoan.

Tentu saja tidak leluasa bagi Put-ji untuk menyangkal bahwa mendiang gurunya bukan sahabat karib Bouw Ciong-long, dengan cepat katanya.

"Hatiku sungguh terharu, tidak nyana ayahmu begitu menaruh perhatian atas nasibku. Aai.... menyesal sekali garis jodohku teramat cetek, biarpun mendiang ayahmu adalah sahabat karib keluarga Ho, namun hingga detik ini aku baru sempat berjumpa dengan ayahmu."

Bouw It-yu bukan orang bodoh, sekali dengar dia sudah memahami maksud hatinya. Dia pun berkata.

"Kalau dibicarakan sesungguhnya, aku sendiri pun belum pernah bertemu mendiang gurumu. Semasa hidup nya dulu, Ho-Tayhiap sama seperti ayahku, selalu sibuk melerai pertikaian orang lain, kalau bukan bertemu secara kebetulan dalam dunia persilatan, jarang sekali mereka punya kesempatan untuk saling berkunjung. Cuma pepatah bilang persahabatan para Kuncu lebih tawar daripada air, mana mau mereka terbelenggu oleh segala adat istiadat dan tata-krama."

"Benar, benar sekali,"

Terpaksa Put-ji mengiakan berulangkah. Dengan senyum tidak senyum kembali Bouw It-yu berkata lebih jauh.

"Orang-orang keluarga Bouw dan keluarga Ho bukan nya sama sekali tidak pernah berhubungan, aku masih ingat pada delapan belas tahun berselang, pembantu tua kalian Ho Liang pernah mampir di rumah kami, kenapa aku masih ingat dengan jelas? Karena waktu itu kebetulan merupakan ulang tahun keenam puluh mendiang kakek kami, mendiang gurumu yang memerintahkan Ho Liang untuk datang menyampaikan selamat. Saat itu hampir semua yang hadir adalah tokoh-tokoh kenamaan dunia persilatan, hanya Ho Liang seorang yang tidak dikenal, oleh sebab itu banyak orang berusaha mencari tahu identitas Ho Liang dari anak buah kami."

Put-ji seolah teringat juga, dua tahun sebelum terjadinya musibah tragis itu, Ho Liang memang pernah satu kali meninggalkan rumah, hanya saja dia tidak jelas lantaran apa pembantu tua itu pergi melakukan perjalanan jauh.

"Sungguh kasihan Ho Liang harus mati secara tragis, padahal dia termasuk orang yang tidak tahu apa-apa,"

Kembali Bouw It-yu berkata.

"masih untung jenazahnya dikubur berbareng dengan jenazah Bu-kek Tianglo, paling tidak di saat telah mati dia masih memperoleh sedikit penghargaan. Oya, masalah yang menyangkut penguburan kembali jenazah mereka di gunung kita, hingga kini aku masih belum punya kesempatan untuk melaporkannya kepada ayahku."

Terbayang kembali tengkorak Ho Liang yang menurut Bouw It-yu masih tertinggal di tempat semula, tidak tahan merinding sekujur tubuh Put-ji, pikirnya, 'Tadi dia mengungkit soal Suhu, lalu sekarang menying-gung juga soal Ho Liang, sebenarnya apa maksud orang ini?' Padahal secara lamat-lamat dia sudah dapat menduga maksud tujuan Bouw It-yu.

Hari ini, Ciangbun Suhu sengaja mengumpulkan seluruh anggota perguruan di tempat itu, menurut dugaannya, sembilan puluh persen pasti lantaran gurunya hendak mengangkat dia menjadi Ciangbunjin baru.

Oleh sebab itulah Bouw It-yu sengaja menggunakan isu itu untuk mengompas dirinya, tujuannya sudah pasti demi bidak ayahnya dalam kancah perebutan pengaruh dengan Bu-liang Totiang.

"Jangan-jangan ambisi mereka ayah dan anak bukan terbatas ingin merebut pengaruh dari tangan kedua orang Tianglo, bahkan bisa jadi ingin menggunakan diriku menjadi ketua boneka, agar mereka bisa menguasai partai Bu-tong dari belakang layar. Ehm.... sementara waktu ada baiknya aku ikuti saja permainan mereka, tapi setelah aku jadi Ciangbunjin nanti, hmm, hmm.... akan kusuruh kalian merasakan kelihaianku."

Belum habis dia berpikir, terlihat Bu-siang Cinjin, Bouw Cionglong dan kedua orang tianglo lainnya sudah duduk di atas panggung.

Ketika petugas upacara memberi tanda dengan tangannya, semua murid yang ada di bawah panggung pun seketika tutup mulut hingga suasana jadi sunyi senyap.

"Sudah siap?"

Tanya Bu-siang Cinjin lirih.

"Sudah siap!"

Petugas upacara segera memberi tanda, seorang Tosu muncul sambil membawa baki dan dipersembahkan ke hadapan Ciangbunjin dengan sikap menghormat.

Baki itu bukan sembarangan baki, selain terbuat dari batu kemala putih, bentuknya pun berkilat, halus dan memancarkan sinar terang.

Benda itu merupakan salah satu benda mustika yang diberikan kaisar Beng Seng-cou kepada Thio Sam-hong karena pendiri Butong-pay ini sangat berjasa dalam membela negara.

Selama ini baki kemala putih itu selalu tersimpan rapi dalam istana Ci-siau-kiong, anggota perguruan yang rendah jabatannya nyaris tidak pernah melihat benda mustika itu.

Put-ji mulai meraba-raba, apa gerangan yang bakal terjadi, begitu pula kawanan murid perguruan, hampir semuanya terheranheran, mereka tidak tahu untuk apa Ciangbunjin mengeluarkan baki yang terbuat dari batu kemala putih itu.

Baki kemala itu dilapisi kain sutera berwarna hijau, karena tertutup rapat, hampir semua orang yang berada di bawah panggung tidak dapat melihat benda apakah yang terdapat di dalam baki itu.

Setelah menerima baki kumala putih itu, Bu-siang Cinjin meletakkannya di atas panggung, sementara petugas pembawa baki yakni Put-hu, murid pertama Bu-si Tianglo segera mengundurkan diri.

Suasana hening makin mencekam seluruh panggung, hampir semua anggota perguruan telah berdiri rapi, dengan tenang mereka menanti wejangan dari sang ketua.

Perlahan Bu-siang Cinjin bangkit berdiri, dengan nada suara yang rendah dan berat ujarnya.

"Perguruan kita, semenjak Thio cinjin sebagai pendiri partai selalu dibanjiri jago-jago yang bermoral tinggi dan berbakat bagus, setelah melalui perjuangan hampir dua ratusan tahun lamanya, bukan saja Bu-tong-pay sudah tersohor sebagai pusat ajaran agama yang ternama, kedudukan dalam dunia persilatan pun hampir sejajar dengan partai Siau-lim. Tapi setelah kedudukan Ciangbunjin jatuh ke tanganku, selama tiga puluhan tahun aku menjabat, bukan saja sama sekali tidak menanamkan jasa apa pun, bahkan.... bahkan...."

Berbicara sampai di sini, mendadak nada suaranya berubah jadi rendah dan lirih.

"Bahkan untuk melindungi keselamatan murid sendiri pun aku tidak mampu. Musibah demi musibah yang menimpa perguruan kita belakangan ini betul-betul membuat aku merasa malu untuk bertemu kembali dengan Couwsu kita selama generasi demi generasi...."

"Musibah yang menimpa Put-coat Sutit merupakan kejadian yang tidak pernah diduga siapa pun, harap Ciangbun suheng jangan kelewat menyalahkan diri sendiri,"

Buru-buru Bu-liang Totiang menghibur dengan suara rendah.

Sementara dalam hati kecilnya dia berpikir, 'Semua yang dia ucapkan sekarang tidak lebih cuma kata pembukaan, entah masalah apa yang sesungguhnya hendak dia sampaikan?' Setelah menghela napas panjang, kembali Bu-siang Cinjin berkata.

"Hari terkadang cerah terkadang mendung, rembulan pun terkadang bulat terkadang tidak, rumput bisa segar bisa layu, begitu juga mati hidup manusia. Jaya atau lemah selalu berputar, hukum alam pun selalu berlaku, tapi sebagai seorang Ciangbunjin Bu-tongpay tentu saja aku berharap perguruan kita selalu berjaya dan harum namanya. Sungguh menggelikan, aku sendiri bergelar Busiang (tiada wujud) tapi perasaan hatiku tidak pernah bisa melepaskan diri dari masalah keduniawian, harap Sute jangan menertawakan aku."

"Tingkatan suheng telah mencapai puncak kesempurnaan, ada atau tidak bukan masalah, punya nama atau tidak pun bukan halangan. Tapi sesuai kodrat, bila ingin mencapai sesuatu maka dibutuhkan perjuangan. Sebagai bagian dari perguruan ini, siapa sih yang tidak berharap melihat partai sendiri berjaya?"

Bu-siang Cinjin manggut-manggut, lanjutnya.

"Ada kemurungan baru ada kegembiraan, ada kematian baru ada kehidupan, bencana atau rejeki, berjaya atau melemah semuanya saling berkaitan. Jadi memang tidak perlu kita singgung musibah yang sedang menimpa perguruan kita sekarang. Kenapa aku mengumpulkan kalian hari ini? Tidak lain karena ada satu berita gembira yang akan kuumumkan kepada kalian semua."

Mendengar sampai di sini, tanpa terasa semua orang segera menahan napas sambil pasang telinga baikbaik, semua orang ingin tahu masalah apa yang akan segera diumumkan.

Begitu pula halnya dengan Bu-liang Totiang, diam-diam pikirnya, 'Kalau didengar dari nada suaranya, jangan-jangan dia segera akan mengumumkan siapa penerusnya yang akan memangku jabatan sebagai Ciangbunjin baru?"

Belum habis ingatan itu melintas, terdengar Bu-siang Cinjin telah berkata lagi.

"Bouw-sute, angkatan muda rasanya belum pernah bersua denganmu, silakan kau memberi hormat dulu kepada semua orang."

Bouw Ciong-long segera bangkit berdiri dan menjura ke empat penjuru, serunya lantang.

"Sungguh merupakan satu keberuntungan bagiku, Bouw Ciong-long dari kota Lok-yang, bahwa pada kedatanganku kali ini di gunung Bu-tong dapat bersua dengan kalian semua."

"Bouw Ciong-long adalah tokoh yang sangat menonjol dari perguruan kita,"

Sambung Bu-siang Cinjin lagi.

"sudah banyak tahun dia berjuang dalam dunia persilatan untuk membela yang benar dan menolong kaum lemah, keharuman namanya sudah dikenal siapa pun, jadi tidak perlu aku perkenalkan lagi. Adapun berita gembira yang kumaksudkan tadi merupakan berita yang dibawa olehnya."

Biarpun sebagian besar murid Bu-tong belum pernah bersua muka dengan Bouw Ciong-long, namun nama besar Tiong-ciu Tayhiap sudah amat dikenal oleh mereka, tempik-sorak pun segera bergema gegap-gempita.

Di tengah hiruk-pikuknya suara sorakan memuji, semua orang mulai menduga-duga, kabar gembira apa yang dibawa olehnya?

Bu-liang Totiang yang ada di atas panggung maupun Put-ji yang berada di bawah panggung diam-diam merasa terperanjat.

"Jangan-jangan Ciangbunjin hendak menyerahkan jabatannya kepada Bouw Ciong-long?"

Demikian mereka berpikir, namun setelah dipikir kembali rasanya hal itu tidak mungkin terjadi.

Meskipun dalam peraturan Bu-tong-pay tidak pernah tercantum aturan kalau Ciangbunjin tidak boleh dijabat murid preman, kenyataan Ciangbunjin generasi ketiga pernah dijabat seorang murid preman, bahkan murid preman itu tidak lain adalah Bouw Tok-it, leluhur Bouw Ciong-long (tentang kisah Bouw Tok-it, silakan membaca Hoan-kiam-ki-ceng atau sebilah pedang mustika).

Biarpun begitu, sejak didirikan hingga kini, dari tujuh belas generasi baru satu kali itu saja Ciangbunjinnya dari murid preman.

Sewaktu Bouw Tok-it menjadi Ciangbunjin, dia bukan termasuk seorang ketua yang baik, sebab pada masa jabatannya pernah terjadi pertikaian berdarah yang amat dahsyat.

Oleh sebab itulah semenjak kejadian itu, sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis bahwa ketua Bu-tong-pay harus dipangku oleh murid dari aliran To.

Kembali Put-ji berpikir, 'Sehebat-hebatnya Bouw Ciong-long, tidak mungkin dia bisa melampaui kehebatan leluhurnya, Bouw Tokit.

Masakah Ciang-bunjin berani melanggar aturan dengan menyerahkan posisi ketua kepadanya?"

Perlu diketahui, walaupun penerus sang ketua selalu ditunjuk oleh Ciangbunjin sebelumnya, namun bila kemampuan orang itu tidak bisa diharapkan, apalagi ada tianglo dan sebagian murid yang mendukung, hak pilih itu bisa dibatalkan.

Bu-liang Totiang sendiri pun diam-diam menggerutu dalam hati, namun oleh karena dia adalah ketua para tianglo, maka tidak terlalu kuatir baginya bila Bouw Ciong-long bakal 'merusak kebiasaan' dengan naik jadi Ciangbunjin.

Hanya pikirnya, 'Bouw Ciong-long adalah murid preman, selama inipun dia tidak tinggal di Bu-tongsan, tapi kenapa dia menggunakan ungkapan "balik ke gunung'?

Jangan-jangan dia berencana mengendon seterusnya di sini?"

Sementara Bu-liang Totiang dan Put-ji masih bengong sambil termenung, tiba-tiba terdengar Bu-siang Cinjin berkata lagi.

"Sebenarnya Bouw-tayhiap punya satu keinginan, sejak tiga puluhan tahun berselang dia sudah ingin menjadi pendeta dan menjadi murid mendiang guruku. Melihat dia adalah putra tunggal keluarga Bouw, lagi pula waktu itu belum berkeluarga, maka mendiang guruku pun tidak mengabulkan permintaannya. Tapi beliau pernah berjanji, setelah kau berputra dan putramu sudah menginjak dewasa, jika masih punya ingatan itu, setiap saat bisa datang kembali ke Bu-tong-san. Nah, persoalan inilah yang akan kusampaikan kepada kalian semua, aku bersedia membantunya melaksanakan kaul itu. Inilah berita gembira baginya, juga terhitung berita gembira untuk kalian semua."

Begitu ucapan itu diutarakan, meskipun semua anggota perguruan tidak berani berbisik-bisik, namun mereka berusaha berunding sendiri-sendiri.

Apalagi Put-ji dan Put-pay, mereka hanya bisa saling pandang dengan mulut membungkam.

Yang membuat semua orang terperanjat adalah keinginan Bouw Ciong-long sebagai seorang Tayhiap dengan nama besarnya yang telah menggetarkan sungai telaga ternyata mau menjadi seorang tosu, satu keputus-an yang mencengangkan dan di luar pemikiran siapa pun.

Namun bagaimanapun di luar perkiraannya persoalan ini, keputusan Bouw Ciong-long mau menjadi tosu hanya bisa disebut 'kejadian aneh' dan belum termasuk satu 'kejadian besar'.

Tapi kenapa Ciangbunjin harus mengumpulkan seluruh anggota perguruan hanya karena ingin mengumumkan kejadian ini?

Apakah tindakannya itu tidak terkesan "membesar-besarkan masalah"?

Berhubung persoalan ini menyangkut untung ruginya Put-ji, tanpa sadar dia saling bertukar pandang dengan Put-pay, paras muka pun berubah hebat.

Bouw It-yu yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam berjalan menghampir ke sampingnya.

Berbeda dengan Bu-liang Totiang yang berada di atas panggung, sikapnya masih sangat tenang, dalam pikirannya walaupun sudah menjadi pendeta pun, sebagai murid yang baru masuk perguruan rasanya masih belum cukup berhak bagi Bouw Ciong-long untuk segera menjadi seorang Ciangbunjin.

"Jika Suheng mau bersikeras dengan keinginannya, akan kutentang dia memakai aturan. Cuma.... aku rasa tidak mungkin suheng akan mengorbankan murid kesayangannya dengan menyerahkan peluang itu kepada orang luar."

Dalam pada itu Bu-siang Cinjin telah menyingkap kain penutup sutera dari atas baki batu kemala putih, ternyata isi baki adalah sebuah jubah pendeta dan sebuah kopiah.

Sesudah menyembah ke langit, Bu-siang Cinjin berkata.

"Hari ini Tecu Bu-siang mewakili mendiang Suhu menerima murid."

Sementara itu petugas upacara telah membantu Bouw Cionglong menggulung rambutnya menjadi sebuah sanggul, maka Busiang Cinjin pun membantunya mengenakan jubah pendeta dan memasang kopiahnya.

Bouw Ciong-long segera berlutut sambil menyembah memberi hormat, buru-buru Bu-siang Cinjin mengegos ke samping, dia hanya menerima separuh penghormatan itu sambil ujarnya.

"Bouw Cionglong, mulai sekarang kau sudah menjadi seorang pendeta, jadi nama lamamu tidak boleh digunakan lagi. Telah kusiapkan sebuah gelar baru untukmu, kau termasuk dalam angkatan 'Bu', sedang nama panggilanmu adalah Bu-beng."

"Silakan Ciangbun suheng memberi petuah mewakili mendiang Suhu,"

Sekali lagi Bouw Ciong-long menyembah. Dengan suara keras Bu-siang Cinjin pun berseru.

"To yang dapat dibicarakan bukanlah To yg sebenarnya. Nama yang dapat diberikan bukanlah nama yang sejati. Tiada nama itulah kondisi permulaan terjadinya langit dan bumi. Setelah ada nama itulah induk dari segala benda. Dengan meniadakan keinginan melihat kegaiban To. Dengan kemauan yang sungguh-sungguh dapatlah orang menyelami buah kerja To. Keduanya adalah sama, hanya namanya yang berbeda, keduanya dikatakan pintu gaib, sekali lagi gaib dan pintu dari segala kegaiban."

Itulah pembukaan dari kitab suci To-tek-keng.

Diam-diam Bu-liang Totiang merasa amat terkejut, pikirnya, 'Sungguh tidak kusangka Ciangbunjin harus membacakan kitab suci dari perguruan untuk penerimaan murid kali ini, kelihatannya peristiwa ini merupakan kejadian yang luar biasa!"

Seusai membacakan To-tek-keng, Bu-siang Cinjin pun berkata kembali.

"Bu-beng dengarkan baik-baik, tiada nama tiada napsu, To yang sejati adalah keteguhan yang sejati. Ingat baik-baik pemberian nama dari perguruan dan jadilah teladan bagi sesama saudara perguruan!"

Sekali lagi Bu-liang Totiang dan Put-ji berpikir, 'Jadilah teladan bagi sesama saudara perguruan?

Apa maksudnya?

Hanya Ciangbunjin seorang yang pantas menjadi teladan bagi semua anggota perguruan, jangan-jangan Ciangbunjin memang berniat mengangkat Bouw Ciong-long sebagai Ciangbunjin berikutnya?"

Biarpun menggerutu dalam hati, namun tidak mungkin bagi Bu/ liang Totiang untuk tidak maju bersama Bu-si Tojin untuk mengucapkan selamat.

Teka-teki yang selama ini tersimpan dalam hati pun segera terbongkar sudah.

Setelah Bouw Ciong-long berganti nama menjadi Bu-beng dan menerima ucapan selamat dari kedua orang Tianglo, maka upacara pelantikan jadi pendeta pun berakhir.

Bu-siang Cinjin pun berkata lebih jauh.

"Berita paling menggembirakan masih ada di belakang, masih ada dua persoalan yang akan kuumumkan kepada kalian semua."

Begitu perkataan itu diucapkan, seketika suasana di bawah panggung kembali dicekam dalam kehe-ningan.

Setiap orang dapat menduga, tujuan Ciang-bunjin menghimpun semua anggota perguruan di situ sudah pasti bukan hanya lantaran masalah upacara "mewakili mendiang guru untuk menerima murid"

Saja, bisa jadi "berita paling menggembirakan"

Yang bakal diumumkan adalah pengangkatan Ciangbunjin baru.

Perhatian semua orang pun tanpa terasa bersama-sama dialihkan ke arah Put-ji, sementara Put-ji merasakan detak jantungnya tibatiba berdebar sangat keras.

Benar saja, terdengar Bu-siang Cinjin berkata lagi.

"Kini usiaku sudah bertambah tua, beban yang sudah kupikul selama banyak tahun pun sudah saatnya untuk diturunkan. Berita besar pertama adalah segera akan diangkat seorang Ciangbunjin baru, begitu Ciangbunjin baru telah ditetapkan, maka hari ini juga akan diadakan upacara pelantikan."

Walaupun peristiwa ini sudah berada dalam dugaan semua orang, namun begitu cepatnya 'alih tugas' yang dilakukan Bu-siang Cinjin, benar-benar di luar dugaan siapa pun. Cepat Bu-liang Totiangberkata.

"Ciangbun suheng, aku rasa lebih baik berpikirlah tiga kali sebelum mengambil keputusan."

"Oooh, apa lagi yang kau kuatirkan?"

"Suheng, walaupun usiamu sudah agak lanjut, namun kondisi kesehatanmu sangat bagus dan segar, lebih baik ditentukan dulu siapa calon pengganti Ciangbunjin untuk menggantikan tugas rutin, kemudian setelah usiamu mencapai seratus tahun, alih tugas baru dilaksanakan."

"Sute, sebagai orang beribadah kita harus bicara menurut kenyataan, dengan kondisi tubuhku sekarang, apakah masih pantas disebut kuat dan segar? Aku sangat menyadari kondisi tubuhku dan aku yakin kalian pun seharusnya mengetahui juga keadaanku, kini keadaanku ibarat lentera yang mulai kehabisan minyak. Mumpung sekarang masih bisa bernapas, aku ingin menyaksikan penerusku dilantik!"

Karena Ciangbunjin sudah berkata begitu serius, tentu saja Buliang Totiang tidak berani mencegah lagi, namun dia tetap berkata juga.

"Sekalipun Ciangbun Suheng berencana untuk pensiun dini, rasanya juga tidak pantas untuk mundur dengan begitu saja. Pertama, perguruan kita adalah salah satu di antara dua perguruan besar yang memimpin dunia persilatan, kalau perguruan lain yang jauh di bawah kita pun akan melakukan upacara besar-besaran dalam pelantikan ketua barunya, apalagi kita sebagai perguruan besar yang sejajar dengan Siauw-lim-pay, masa pelantikan dilakukan dengan terburu-buru? Kedua, sejak partai kita didirikan Thio Couwsu, turun temurun Ciangbunjin kita selalu mendapat gelar kehormatan dari pihak kerajaan sebagai seorang cinjin, aku rasa tidak terkecuali juga untuk pelantikan kali ini, menurut pendapatku lebih baik kita buat laporan dulu ke pihak kerajaan tentang rencana ini, setelah firman dari kaisar turun, barulah upacara pelantikan dilaksanakan."

"Perkataan Sute keliru besar, sebagai pendeta kita harus mengutamakan ketenangan dan kesederhanaan, bila berada dalam suasana penuh kedamaian, memang tidak salah kalau kita adakan upacara pelantikan yang meriah, tapi sekarang perguruan kita sedang dirundung masalah dan kesulitan. Sekalipun kalian tidak bisa lepas dari adat kebiasaan dengan mengundang rekan-rekan lain, aku rasa perayaan bisa kita lakukan belakangan hari saja. Kedua, Ciangbunjin partai Bu-tong bukanlah seorang pejabat negara, laporan dan lain sebagainya kepada pihak kerajaan yang dilakukan di masa lampau tidak lebih hanya satu pelengkap saja. Jadi aku rasa kalau dilakukan belakangan pun rasanya masih belum terlambat."

Sebagaimana diketahui, Hwesio maupun Tosu adalah kaum orang beribadah, kecuali mereka telah melanggar hukum negara, kalau tidak, selama masih memegang peraturan dan pantangan perguruan, biasanya gerak-gerik mereka tidak pernah diawasi oleh hamba hukum.

Oleh sebab itu Bu-siang Cinjin hanya menggunakan kata 'melapor' dalam masalah ini.

Terdengar Bu-siang Cinjin berkata lebih lanjut.

"Saat ini situasi yang kita hadapi ibarat api lilin di tengah hembusan angin kencang, mengangkat ketua baru sudah menjadi kebutuhan yang mutlak dan tidak bisa ditunda. Aku harap seluruh anggota perguruan dapat memaklumi kesulitanku ini."

Sebenarnya Bu-liang tianglo berharap ketuanya bisa menentukan lebih dulu calon murid yang bakal jadi ketua baru, agar dia mempunyai cukup waktu untuk melakukan persiapan lain.

Tapi setelah melihat Bu-siang Cinjin bersikeras dengan keinginannya, dia pun kembali berpikir, 'Bagaimanapun Put-ji sudah berada dalam cengkeramanku, mau diangkat sekarang pun rasanya tidak masalah."

Berpikir begitu, dia pun berkata.

"Ucapan Ciangbun Suheng tepat sekali, aku memang kelewat kolot, kalau begitu silakan Ciangbun Suheng menunjuk Ciangbunjin pengganti."

Bu-siang Cinjin manggut-manggut.

"Menurut aku, Ciangbunjin yang berusia kelewat muda pasti kurang pengalaman, sementara Ciangbunjin yang kelewat tua justru kurang gesit dan cekatan. Menurut pendapatku, calon Ciangbunjin yang paling tepat adalah orang berusia pertengahan yang belum mencapai enam puluh tahun, bagaimana menurut pendapat sute berdua?"

Tahun ini Bu-liang Totiang sudah mencapai usia tujuh puluh tahun, pikirnya.

"Bagaimanapun aku tidak berniat ikut memperebutkan posisi ini, kalau didengar dari nada suheng, janganjangan orang yang dia pilih adalah Bu-si Sute?"

Bu-si Tojin merupakan tianglo paling muda sejak Bu-tong-pay didirikan, dia ""

"Sudah diangkat menjadi tianglo pada usia empat puluh tahun dan tahun ini baru berusia lima puluh enam tahun.

Selama ini Bu-si Tojin hanya berkonsentrasi melatih ilmu pedang, walaupun dia bukan orang kolot dan hubungannya sangat luas, namun dalam pandangan rekan seperguruan, mereka menganggap dia bukanlah orang yang cocok menjadi seorang Ciangbunjin.

Kembali Bu-liang Totiang berpikir, 'Semisal terjadi kejutan dan Bu-si sute yang terpilih, walaupun dia tidak segampang Put-ji untuk dikuasai, paling tidak dia masih butuh tunjangan dariku untuk memangku jabatan itu.

"Cepat dia pun menyahut.

"Perkataan Ciangbun suheng tepat sekali, aku sendiri pun berpendapat yang sama."

Ooo)*(ooO

Jilid KE DUA BAB IV Ayah angkat menyimpan rencana busuk.

Terkuaklah semua niat jahatnya.

Semua orang pun membungkam sambil pasang telinga baik-baik, mereka menunggu Bu-siang Cinjin mengumumkan siapa calon pengganti Ciangbunjin.

Tampaknya masih ada sesuatu yang sedang dipikirkan Bu-siang Cinjin, dia tidak langsung menjawab.

Mendadak dengan senyum tidak senyum Bu-liang Totiang bertanya.

"Bu-beng sute, berapa usiamu tahun ini? Aku benar-benar pikun sampai lupa menanyakan hal ini kepadamu."

"Tahun ini siaute berusia lima puluh delapan,"

Sahut Bu-beng.

"Oh, lebih tua dua tahun daripada Bu-si sute, masih terhitung sangat muda."

Siapa pun dapat menangkap maksud lain dari perkataan itu, kalau usia dijadikan syarat utama untuk menjadi seorang Ciangbunjin, maka orang yang paling tepat untuk terpilih adalah Put-ji, kemudian Bu-si.

Sementara Bu-beng karena baru masuk jadi anggota perguruan maka dia hanya menempati urutan ketiga.

Bu-beng berlagak pilon, seolah tidak mengerti apa yang dimaksud, segera katanya.

"Perguruan dalam dunia persilatan mengutamakan urutan waktu masuk, jadi biarpun usiaku dua tahun lebih tua ketimbang Bu-si Suheng, aku tetap harus menghormatinya sebagai suheng."

"Hmm, pandai amat kau berlagak,"

Pikir Bu-liang Tianglo sambil tertawa dingin. Mendadak terdengar Bu-siang Cinjin berdehem perlahan, sambil menatap Bu-liang Totiang katanya.

"Sute, kau adalah ketua tianglo, bila ingin mengucapkan sesuatu, silakan ucapkan."

Perkataan itu jelas sekali artinya, dia minta kalau Bu-liang Totiang ingin mengucapkan sesuatu, jangan dibicarakan secara pribadi tapi diutarakan kepada semua orang.

Menggunakan kesempatan itu Bu-liang Totiang pun bertanya.

"Boleh tahu, apakah suheng sudah menemukan calon yang paling cocok untuk jabatan ini?"

"Cocok atau tidak bukan aku seorang yang bisa memutuskan, terlebih dulu aku memerlukan persetujuan kalian semua sebelum mengambil keputusan. Sute, apakah kau pun punya calon yang ingin diajukan sebagai Ciangbunjin? Katakan saja terus terang."

"Menurut pendapatku, orang yang paling cocok adalah Put-ji Sutit, pertama, karena dia masih muda, bertenaga kuat, mampu diserahi tugas berat. Kedua, dia adalah murid penutup yang langsung dididik Suheng, bukan saja wataknya baik, selama enam belas tahun mengikuti Suheng pun tidak pernah melakukan kesalahan, dia pasti dipercaya semua orang."

Dia sangka Ciangbun suhengnya merasa rikuh buat mengusulkan murid sendiri sehingga minta kepadanya untuk mewakilinya bicara. Siapa tahu Bu-siang Cinjin menggeleng kepala berulang kali, sahutnya.

"Masih muda, bertenaga kuat memang sangat penting, tapi yang lebih penting lagi orang itu harus berjiwa pendekar, punya moral yang tinggi serta sepak terjang yang dihormati banyak orang. Aku bukan mengatakan watak Put-ji jelek, tidak, dia sangat bagus dan patut dipuji."

Put-ji merasa sedikit lega dan terhibur setelah mendengar ungkapan gurunya itu, pikirnya, 'Bagaimana pun juga, ternyata Suhu masih percaya padaku, paling tidak dia masih menganggap moral dan akhlakku tidak jelek."

Kendatipun begitu, timbul juga perasaan kecewa yang sangat mendalam karena gurunya tidak setuju mengangkat dia sebagai pengganti Ciangbunjin. Kembali Bu-liang Totiang berkata.

"Selama enam belas tahun terakhir, nyaris sebagian besar hidup Put-ji dihabiskan untuk berlatih silat di atas gunung, itulah sebabnya dia belum berhasil mendapat julukan sebagai pendekar besar, tapi masalah itu toh bukan lantaran ketidak mampuannya, melainkan karena dia memang belum memperoleh kesempatan untuk berkelana dalam dunia persilatan."

Bu-siang Cinjin sama sekali tidak menyangkal atas kebenaran perkataan itu, namun dia tetap berpegang teguh pada ucapannya semula, katanya kembali.

"Lagi pula orang muda masih kalah pengalaman daripada orang yang usianya lebih tua, terlepas apakah Put-ji telah memperoleh warisan seluruh ilmu silatku atau belum, menurutku, biar sudah mewarisi semua ilmuku pun masih belum cukup untuk memangku jabatan itu."

"Kalau memang begitu, tolong Suheng tunjukkan siapa gerangan yang paling cocok untuk memangku jabatan ini?"

Tanya Bu-liang Totiang cepat, sementara sorot matanya beralih memandang Bu-si Tojin.

"Kau tidak perlu melibatkan aku, aku sadar kalau diriku tidak cocok menjadi seorang Ciangbunjin,"

Buru-buru Bu-si Tojin berseru. Bu-siang Cinjin segera tertawa.

"Bu-si Sute, sebetulnya kau cocok sekali menjabat sebagai seorang Ciangbunjin,"

Katanya.

"tapi aku tahu, dia lebih tertarik untuk memperdalam ilmu pedangnya, jadi aku pun tidak akan terlalu memaksa."

"Ciangbun Suheng, ternyata kau memang sangat memahami jiwaku,"

Kata Bu-si Tojin cepat.

"kalau memang begitu, tidak usah berpanjang-panjang lagi membahas tentang diriku, cepat tentukan saja Ciangbunjin baru."

"Sebetulnya orang itu.... jauh di ujung langit, dekat di depan mata,"

Perlahan-lahan Bu-siang Cinjin berkata. Begitu perkataan "jauh di ujung langit, dekat di depan mata"

Meluncur keluar dari mulut Bu-siang Cinjin, serentak sorot mata semua orang yang hadir di tempat itu mengalihkan perhatiannya dari wajah Put-ji ke wajah Bu-beng.

Betul saja, terdengar Bu-siang Cinjin berkata lebih jauh.

"Orang itu tidak lain adalah Bu-beng sute, biarpun Bu-beng Sute baru saja menjadi pendeta, namun di saat masih preman dulu, dia sudah amat tersohor di Seantero jagad sebagai Tiong-ciu Tayhiap, pendekar besar yang dihormati semua orang. Dalam sejarah dua ratusan tahun, hampir setiap generasi keluarga Bouw adalah anak murid Bu-tong-pay, jadi bicara soal betapa dalamnya hubungan keluarga mereka dengan perguruan kita, mungkin tiada orang lain yang bisa menandinginya."

"Jadi aku rasa, dialah orang yang paling tepat untuk memangku jabatan sebagai Ciangbunjin baru."

Keputusan ini meski sudah diduga sebagian orang, namun cukup di luar dugaan sebagian besar anggota perguruan lainnya.

Selesai Bu-siang Cinjin mengumumkan keputusannya, ada sementara orang yang segera bertepuk tangan sambil bersorak-sorai, ada pula yang segera berbisik-bisik membicarakan masalah itu (Gb 4).

Waktu itu Bouw It-yu sedang duduk di samping Put-ji, begitu keputusan diumumkan, Bouw It-yu segera berpaling, dengan nada mengejek katanya.

"Kejadian ini sungguh di luar dugaan, aku sendiri pun tidak menyangka ayahku bakal memikul beban dan tanggung jawab sebesar ini."

Sebetulnya saat itu Put-pay sudah menyingkir dari situ, entah sejak kapan tiba-tiba saja dia sudah muncul kembali di samping mereka dan menyela.

"Benar, ternyata ada begitu banyak kejadian di luar dugaan yang terjadi hari ini."

"Benar,"

Seru Bouw It-yu lagi.

"tidak disangka belakangan terdapat begitu banyak kejadian yang di luar dugaan."

Dia seolah-olah sedang 'mengulang' apa yang diucapkan Put-pay, meski bagi Put-pay ucapan itu tidak berarti apa-apa, tidak demikian halnya dengan Put-ji.

Sebab di antara kata-kata Put-pay yang diulang itu, dia telah menambahkan kata 'belakangan'.

Put-coat tewas secara mengenaskan baru-baru ini, dan penyebab kematian Put-coat yang mengenaskan pun gara-gara mendapat perintah memindahkan tulang belulang Bu-kek tianglo dari bukit Boan-liong-san.

Secara kebetulan hari itu Bouw It-yu sedang lewat di sana dan bertemu dengan peristiwa itu, bukan saja dia berhasil menemukan kerangka Ho Liang yang dikubur seliang dengan Bu-kek, ternyata dia menemukan lagi sesosok tulang belulang yang ternyata merupakan kerangka dari Keng King-si, adik seperguruan Put-ji.

Secara kebetulan pula karung yang dibawa Put-coat ternyata tidak muat untuk membawa ketiga kerangka manusia itu, sehingga terpaksa Bouw It-yu meninggalkan tulang kepala Ho Liang di situ....

Ada begitu banyak kejadian di luar dugaan yang telah terjadi, bukankah semua peristiwa itupun dijumpai Bouw It-yu belakangan ini?

Apalagi selama pembicaraan berlangsung, dia pun sengaja menepuk batok kepala sendiri sambil menandaskan setiap patah katanya.

Jika sampai di situ Put-ji masih belum memahami maksudnya, berarti dia memang goblok setengah mati.

~ Put-ji terhitung orang pintar yang 'berlagak bodoh', bukan saja dia sangat memahami maksud Bouw It-yu, bahkan dia pun berhasil menemukan sesuatu, tiba-tiba dia merasa ada begitu banyak 'kebetulan' yang terjadi dalam rentetan peristiwa ini.

Justru karena dia cerdik, maka sikap dan lagaknya pun seolaholah orang yang ikut bergembira dengan keputusan itu, serunya.

"Ayahmu telah diangkat menjadi Ciangbunjin baru, satu peristiwa yang patut digembirakan, apalagi bagi pribadiku sendiri, aku betulbetul bersyukur dan merasa sangat gembira!"

Dalam hati diam-diam Put-pay tertawa dingin, pikirnya, 'Kalian berdua benar-benar sangat hebat, pandai benar bermain sandiwara!' Tanpa sadar tertawa dinginnya pun tampil di wajah.

"Apa yang kau tertawakan?"

Tegur Put-ji segera.

"Aah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu dari mana datangnya rasa gembiramu itu? Kalau sudah tahu, siapa tahu aku pun ikut bergembira untukmu."

"Setelah Bouw-tayhiap menjabat sebagai Ciangbunjin, berarti guruku bisa meletakkan beban tanggung jawab yang berat dari pundaknya, beliau bisa menggunakan waktunya untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, sementara aku pun bisa membantu Suhu mengerjakan pekerjaan rutin lainnya serta melayani dia orang tua dengan khusuk. Apakah kejadian seperti ini bukan peristiwa yang menggembirakan?"

Perkataan itu walaupun diucapkan secara gagah perkasa, tapi tiba-tiba Put-pay merasa dirinya sesungguh nya "senasib sependeritaan", karena itu dia merasa tidak enak untuk menyindir lebih jauh.

Katanya.

"Bouw-tayhiap yang dahulu, mulai hari ini sudah berganti nama menjadi Bu-beng, yaitu Ciangbun susiok kita semua, kita mesti mengubah nama panggilan terhadapnya."

Dia sengaja mengucapkan kata 'hari ini"

Dengan suara berat dan dalam.

Dengan kening berkerut Bouw It-yu berpikir, 'Biarpun kedua orang ini merasa sangat tidak puas, namun mereka tidak bakal berani membangkang, lebih baik aku pun tidak usah menggubris mereka lagi."

Sementara itu di atas panggung pun sedang berlangsung sandiwara yang persis seperti di bawah panggung.

Sejak awal Bu-beng sudah tahu akan hasil keputusan itu, namun di bibir mau tidak mau dia mesti berlagak sungkan, ujarnya.

"Baru hari ini Bu-beng menjadi pendeta berkat kasih sayang mendiang Suhu, rasanya kurang pantas bagiku untuk memikul tanggung jawab berat ini, harap Ciangbun suheng sudi mempertimbangkan kembali."

"Justru karena ada banyak urusan besar dalam perguruan kita yang harus kau pikul dan selesaikan, maka sengaja kuundang kehadiranmu hari ini juga di gunung Bu-tong,"

Kata Bu-siang Cinjin cepat.

"bukankah kau pun sudah berjanji akan membantuku menghadapi berbagai musibah ini? Jadi tidak perlu berbasa-basi lagi."

"Mara bahaya yang mengancam perguruan sudah menjadi kewajiban setiap murid untuk menanggulanginya, tentu saja tidak terkecuali bagiku, tapi toh bukan mesti menjadi Ciangbunjin."

"Kelompok naga tanpa kepala, mana mungkin bisa menyelesaikan masalah besar? Kalau kau tidak menjadi Ciangbunjin, siapa lagi yang akan membantuku untuk menghadapi berbagai masalah?"

Bu-liang Totiang tertawa dingin dalam hati, pikirnya, 'Ooh, rupanya kalian sudah bersekongkol sebelumnya, jadi selama ini hanya aku saja yang tertipu...."

Berpikir sampai di situ, dia pun maju ke depan seraya berkata.

"Bu-beng Sute, kau tidak perlu menampik lagi. Aku mesti menyampaikan selamat karena di antara kegembiraan kau mendapat kegembiraan yang lain."

"Bu-liang Suheng, apa maksudmu?"

Bu-beng tertegun.

"Sudah sejak tiga puluh tahun berselang kau ingin menjadi pendeta, siapa tahu justru hari ini keinginanmu itu bisa terkabul, bukankah peristiwa ini terhitung suatu peristiwa yang sangat menggembirakan?"

Tidak perlu dijelaskan pun semua orang juga tahu kalau peristiwa menggembirakan kedua yang dimaksud adalah diangkatnya dia menjadi Ciangbunjin baru.

Sepintas lalu, perkataan itu seolah-olah diucapkan dengan tulus hati, padahal siapa pun tahu kalau perkataan itu berarti ganda.

Kelihatannya Bu-siang Cinjin tidak senang dengan sindiran itu, langsung serunya.

"Betul, justru karena aku ingin mengangkat Bubeng Sute menjadi Ciangbunjin yang baru, maka sengaja kutetapkan hari ini untuk menyelenggarakan upacara pelantikan pendeta lebih dulu baginya. Kulakukan semua ini demi keselamatan perguruan kita, aku percaya Sute berdua pasti tidak akan menuduh aku punya tujuan pribadi bukan?"

"Putranya adalah muridmu, tentu saja kau membantunya,"

Gerutu Bu-liang Totiang dalam hati. Tapi dia bukan orang bodoh, dengan mengikuti arah hembusan angin, cepat ujarnya sambil tertawa paksa.

"Ciangbun suheng, kau jangan salah paham. Jika kau punya kepentingan pribadi, posisi Ciangbunjin pasti sudah kau serahkan untuk muridmu. Kau adalah seorang pendekar berjiwa besar, selama ini aku sangat mengagumimu. Suheng, aku percaya pilihanmu kali ini pasti sangat tepat. Aku bersama Bu-si sute merasa amat bersyukur karena peristiwa besar ini."

Walaupun dia seolah sedang 'bersyukur'dan perkataan itu seakan-akan khusus hanya ditujukan kepada Bu-siang Cinjin, tapi dengan sengaja menyinggung soal muridnya, sebetulnya dia berniat untuk memprovokasi Put-ji agar timbul rasa dendam di hatinya.

Siapa tahu baru selesai dia berkata, Put-ji sudah berjalan maju ke atas panggung, dia menjadi orang pertama yang memberi hormat kepada Bu-beng sebagai Ciangbunjin baru.

Cepat Bu-beng turun ke bawah panggung sambil membangunkan.

"Tidak berani, tidak berani."

Melihat itu Bu-liang Totiang tertawa dingin dalam hati, pikirnya, 'Dasar bajingan cilik yang tidak punya harga diri, pandainya cuma menjilat pantat, hmm, tahu gelagat tidak menguntungkan, cepat dia beralih mengikuti arah angin."

Mendadak terdengar seseorang berkata dengan nada dingin.

"Tepat sekali, perkataan Bu-beng susiok tentang 'tidak berani' memang tepat sekali. Put-ji suheng, aku rasa penghormatan yang kau lakukan kelewat dini."

Perlu diketahui, hingga sekarang Ciangbunjin lama belum meninggal, sekalipun calon yang diusulkan sudah dapat diterima oleh semua pihak, namun upacara pelantikan Ciangbunjin yang resmi belumlah diselenggarakan, jadi seharusnya penghormatan kepada ketua baru hanya bisa dilakukan selesai pelantikan resmi nanti.

Orang yang barusan berbicara adalah seorang tosu bermuka hitam berjenggot panjang.

Merah padam wajah Put-ji, sebetulnya dia ingin balas menyindir, tapi begitu tahu siapa yang baru saja berbicara, dia pun segera menahan diri, sebab orang itu hanya boleh dibuat 'malu' tapi tidak berani membuatnya 'marah'.

Ternyata tosu berwajah hitam ini tidak lain adalah murid pertama mendiang Bu-kek tianglo, dia bergelar Put-po.

Semenjak kematian Bu-kek tianglo, Bu-siang Cinjin mengirimnya untuk menjaga kuil Tong-wi-kiong.

Kuil Tong-wi-kiong dalam partai Bu-tong sama derajatnya dengan ruang Tat-mo di Siauw-lim-pay, walaupun di atas kertas ketua yang menjaga kuil itu adalah Bu-liang Totiang, namun kenyataan tosu inilah yang mengurus.

Hingga kedudukannya dalam partai boleh dibilang hampir sejajar dengan para Tianglo lainnya.

Kuil Tong-wi-kiong penuh berisikan kitab pukulan dan rahasia ilmu pedang peninggalan Thio Sam-hong, sepanjang tahun boleh dibilang Put-po selalu bersembunyi di dalam kuil dan amat jarang berhubungan dengan saudara seperguruan lainnya.

Put-ji terhitung orang yang paling jarang bicara dalam perguruan, namun dibandingkan Put-po, dia masih kalah jauh.

Bagi Put-po, dua-tiga hari tanpa bicara sepatah kata pun sudah menjadi hal yang jamak.

Siapa pun tidak menduga orang yang begitu jarang bicara, tibatiba saja bisa tampil dan mengucapkan kata-kata sepedas itu.

Put-ji tidak berani menyalahi orang ini, terpaksa buru-buru dia memberi penjelasan.

"Aku hanya ingin menyatakan rasa hormatku secara pribadi, sama sekali tidak mewakili orang lain."

Tampaknya peristiwa inipun jauh di luar dugaan Bu-liang Totiang.

Pikirnya dengan perasaan senang, 'Untung saja ada orang pintar, ada juga orang goblok.

Kalau Put-ji ingin jadi orang pintar, biarlah Put-po yang jadi orang bodoh.

Memang paling pas jika dia yang tampil.' Maka setelah mendengus tegurnya.

"Put-po, tidak kusangka kau berani menyampaikan rasa tidak puasmu atas penerus yang telah ditunjuk langsung Ciangbun supekmu?"

Dia tahu, watak Put-po sedikit agak kaku dan kolot, selama dia menganggap apa yang dikatakan benar, orang ini pasti akan tetap bersikukuh dengan pendapatnya.

Benar saja, siasatnya itu segera mendatangkan reaksi.

Put-po langsung berang, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke depan panggung, kemudian setelah memberi hormat kepada Busiang Cinjin, serunya.

"Ciangbun suheng, bolehkah aku menyampaikan beberapa patah kata?" «.

"Walaupun aku yang mengusulkan calon pengganti Ciangbunjin, namun asal ada perbedaan pendapat, semua bisa dirundingkan dan dibahas secara baik-baik,"

Sahut Bu-siang Cinjin sambil mengangguk.

"Ciangbun supek, aku bukannya merasa tidak puas dengan calon yang kau pilih. Maaf kalau aku lancang, tapi aku merasa ada satu syarat pencalonan Ciangbunjin yang mungkin telah kau lupakan."

"Oh, syarat yang mana?"

"Ilmu silat!"

Sahut Put-po lantang.

"selama ini kedudukan partai kita dalam dunia persilatan boleh dibilang sejajar dengan posisi Siauw-lim-pay, selama dua ratus tahun terakhir, ilmu pukulan, ilmu pedang maupun tenaga dalam peninggalan Thio Couwsu selalu menjadi panutan dan sanjungan umat persilatan. Kalau cuma menyandang sebutan Tayhiap saja, aku rasa masih belum cukup untuk memikul tanggung jawab sebagai Ciangbunjin perguruan kita."

Bu-beng manggut-manggut, sahutnya pula.

"Perkataan ini sangat masuk akal, setelah menjadi Ciangbunjin perguruan kenamaan, memang sulit untuk terhindar dari pertarungan melawan jago-jago yang ingin menjajal ilmu, apalagi sebagai partai besar ibarat pohon besar yang gampang mendatangkan angin. Atas ketiga jenis ilmu sakti peninggalan perguruan, aku merasa belum berhasil menguasai kulit luarnya sekalipun."

"Baguslah kalau kau sudah tahu,"

Pikir Put-po dalam hati,

'kalau memang merasa dirimu tidak sanggup, seharusnya ikhlaskan posisimu untuk mereka yang jauh lebih mampu."

Bu-siang Cinjin tersenyum, katanya lembut.

"Ilmu pukulan Thaykek-kun yang kumiliki tidak mampu menandingi mendiang Suhumu, ilmu pedangku pun tidak mampu menandingi Bu-si sute. Jadi menurut kau, aku pun tidak pantas menjabat sebagai Ciangbunjin?"

"Ciangbun supek, kau terlalu merendah,"

Buru-buru Put-po menyanggah.

"semasa hidupnya dulu Suhu pernah berkata, walaupun dia lebih mengkhususkan diri melatih ilmu pukulan Thaykek-kun, tapi pada sepuluh tahun pertama dia hanya sanggup menahan tiga puluh jurus pukulanku, pada sepuluh tahun kedua pun dia hanya mampu bertahan lima puluh gebrakan. Dia berharap setelah berlatih sepuluh tahun lagi, beliau sudah sanggup bertarung seratus jurus melawanmu, dan hasil itu sudah cukup membuatnya puas, sayang...."

Bicara sampai di situ, tenggorokannya terasa kering hingga dia tidak melanjutkan lagi kata-katanya.

Tentu saja hal ini disebabkan gurunya sebelum berhasil melatih hingga sepuluh tahun ketiga sudah keburu menemui ajalnya secara mengenaskan.

"Kalau bicara dari siapa yang paling pesat berlatih ilmu pukulan Thay-kek-kun, menurutku tidak ada yang bisa menandingi Suhumu,"

Ucap Bu-siang Cinjin.

"bicara sejujurnya, setahun sebelum dia meninggal dunia, aku sudah bukan tandingannya lagi. Hanya saja dia belum sampai menjajalnya melawanku."

Siapa pun dapat menangkap kalau ucapan itu tidak lebih hanya kata-kata untuk menghibur Put-po. Tiba-tiba tosu berwajah hitam itu berpaling ke arah Bu-si tianglo, kemudian ujarnya.

"Sam-susiok, kau adalah jago pedang nomor satu yang diakui semua anggota perguruan, latihan Tecu masih sangat cetek, jika ada yang kurang mohon dimaafkan."

Dia langsung memasang 'kuda-kuda' dan ternyata sudah siap untuk bertanding ilmu pedang melawan Busi Tojin.

Di antara para tianglo, usia Bu-si Tojin terhitung paling muda, walaupun Put-po hanya merupakan murid tertua dari Bu-kek tojin, namun selisih usia mereka berdua hanya satu tahun.

Sebagai orang yang tidak suka dengan segala adat dan tatakrama, Bu-si Tojin memang tidak pernah berlagak sok lebih senior di hadapan 'keponakan murid tua'nyaini.

Melihat lagak keponakan muridnya itu, sambil tersenyum dia berkata.

"Aku tahu, setelah mengendon hampir belasan tahun dalam ruang Tong-wi-kiong sambil memperdalam ilmu pukulan dan ilmu pedang warisan Sucouw, kepandaian silatmu pasti sudah mengalami kemajuan pesat. Kebetulan sekali aku memang ingin bertukar pendapat denganmu."

"Susiok, kalau kau berkata demikian, tecu jadi tidak berani berbicara. Kau harus berjanji memaafkan aku lebih dulu sebelum aku berbicara lebih jauh."

Bu-si Tojin tertawa.

"Bicara saja belum, darimana aku tahu kalau kau benar atau salah, katakan saja secara blak-blakan,"

Serunya.

"Kalau begitu maafkan jika aku bicara terus terang, dalam hal ilmu pedang, kemampuanku jelas bukan tandinganmu, tapi dari kitab pukulan dan ilmu pedang yang ditinggalkan Sucouw, sedikit banyak aku pun berhasil memahami inti sarinya. Menurut pendapatku, ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat merupakan ilmu pedang tingkat tinggi, dibutuhkan tenaga dalam yang sangat sempurna bila ingin mencapai tingkatan yang paling sempurna."

"Perkataanmu tepat sekali,"

Bu-si Tojin manggut-manggut.

"tenaga dalamku memang masih ketinggalan jauh."

"Bicara tentang ilmu pedang, aku rasa jurus baru ciptaan Samsusiok kelewat banyak, justru karena kelewat banyak menciptakan hal yang baru, ada sementara bagian justru malah nampak kedodoran dan melupakan Sim-hoat sejati yang dimaknakan dalam gerakan itu.

"Orang kuno berkata, orang yang kelewat cerdas justru kelihatan bodoh. Yang kelewat indah justru mirip kebodohan. Bebal bisa menangkan kelincahan, menurut pendapatku begitu juga keadaannya dengan ilmu pedang tingkat tinggi. Maafkan kalau aku bicara lancang, susiok, ilmu pedangmu memang indah dan lincah, tapi jika benar-benar digunakan untuk bertanding melawan Ciangbun supek, pada lima puluh jurus pertama mungkin dalam hal gerakan jurus kau bisa berada di atas angin, tapi lima puluh jurus kemudian aku yakin kau bakal berada di bawah angin."

"Pendapat yang hebat, pendapat yang hebat!"

Puji Bu-si Tojin sambil bertepuk tangan.

"terus terang baru belakangan aku menyadari akan hal itu, caraku berlatih ilmu pedang selama ini memang kelihatan sebagai tindakan yang keliru dan sangat bodoh. Justru karena aku sadar bahwa kemampuanku tidak pernah bisa mencapai taraf kesempurnaan seperti yang dicapai Ciangbun suheng, maka aku tidak pernah berani menjajal kemampuannya. Hanya saja ada satu hal kau keliru besar."

"Dalam hal mana? Silakan susiok memberi petunjuk."

"Jago pedang nomor wahid dalam perguruan kita bukanlah aku. Juga bukan Ciangbun suheng. Maaf Ciangbun suheng kalau aku bicara terus terang."

Bu-siang Cinjin tersenyum.

"Sejak lama aku sudah mengetahui akan hal ini,"

Sahutnya.

"kalau tidak kau katakan, aku malah akan menegurmu."

Begitu perkataan itu diucapkan, semua anggota perguruan yang hadir jadi tercengang dan tidak habis mengerti, khususnya Put-po. Sesudah tertegun sesaat, tanyanya.

"Boleh tahu siapakah orang itu?"

"Orang itu jauh di ujung langit, dekat di depan mata. Dia tidak lain adalah Ciangbunjin kita yang baru, Bu-beng suheng."

"Aah suheng, kau hanya menempelkan emas di wajahku, aku tidak berani menerima pujianmu,"

Buru-buru Bu-beng merendah.

"Eh, aku bicara baik-baik, kenapa kau malah memakiku?"

Teriak Bu-si Tojin sambil menarik muka.

"Kenapa kau berkata begitu?"

Bu-beng tertegun.

"Kau bilang tidak berani menerima pujianku, bukankah berarti kau menuduh aku sedang berbohong? Biarpun kadangkala dalam banyak hal aku suka asal bicara dan ngawur, tapi dalam hal ilmu silat aku tidak pernah mengurangi atau menambahi kehebatan orang, kalau memang setengah kati akan kukatakan setengah kati, kalau cuma delapan liang akan kukatakan delapan liang. Tidak terkecuali dalam memuji orang lain!"

Semua anggota perguruan tahu kalau Bu-si Tojin memang demikian wataknya, melihat dia berbicara begitu serius, tanpa terasa kembali semua orang merasa terkejut bercampur sangsi.

Sebagaimana diketahui, selama ini keyakinan ilmu pedang Thaykek-kiam-hoat dari kalangan murid beragama selalu mengungguli kemampuan murid preman, selama inipun ilmu pedang yang dimiliki Bu-si Tojin dianggap sebagai jago nomor wahid dalam perguruan, tapi sekarang ternyata dia menyerahkan 'kopiah kebesaran' itu kepada orang lain secara 'ikhlas', bahkan diberikan untuk Bu-beng tojin yang baru saja dilantik menjadi pendeta.

Kejadian itu mau tidak mau membuat semua orang sekali lagi tercengang dan merasa di luar dugaan.

Diam-diam Bu-liang Totiang berpikir juga, 'Hubunganmu dengan Bouw Ciong-long paling akrab, lagi pula menjadi guru putranya, tidak heran kau rela merendahkan kemampuan sendiri dengan menyanjung kehebatan orang.

Tapi....

apakah tindakanmu merendahkan kemampuan Ciangbun suheng bukan merupakan perbuatan yang kelewat batas?' Tapi begitu melihat sang ketua, Bu-siang Cinjin seperti amat setuju dengan pernyataan itu, terpaksa Bu-liang Totiang menelan kembali kata-katanya di dalam hati dan tidak berani diutarakan keluar.

Kalau dia tidak enak untuk mengucapkan, berbeda dengan orang lain.

Watak Put-po memang termasuk orang yang tidak sanggup menahan diri, apa yang merasa tidak sependapat dia selalu mengutarakan dengan terus terang, karena itu meski dia menegur dari sudut yang lain, namun ucapannya tetap disampaikan secara blak-blakan.

"Bu-si tianglo,"

Serunya.

"aku tahu kalau selama ini kau tidak pernah berbohong, tapi ada satu hal aku merasa tidak jelas, maukah kau memecahkan keraguan-ku ini?"

"Soal apa?"

"Kalau memang ilmu pedang yang dimiliki Bu-beng susiok jauh lebih hebat dari kemampuanmu, kenapa bukan dia yang langsung mendidik putranya, melainkan malah minta kau yang mengajari anaknya?"

Bu-si Tojin tertawa.

"Kau sudah banyak membaca buku, tentunya tahu bukan cara orang kuno mengajar anaknya dengan saling bertukar putra. Tapi sayang aku tidak berputra, kalau tidak, pasti akan kusuruh putraku mengangkat dia menjadi gurunya. Lagi pula meski ilmu pedangku tidak mampu menandinginya, tapi aku pun memiliki kelebihanku sendiri, jika putranya bisa menguasai kelebihan dari dua keluarga sekaligus, bukankah hal ini jauh lebih bagus?"

Perkataan ini memang merupakan perkataan sejujurnya.

Semua orang juga tahu, ketika Put-coat terluka oleh orang berkerudung yang tidak diketahui asal-usulnya di bukit Boan-liong-san tempo hari, beruntung Bouw It-yu berhasil memukul mundur orang berkerudung itu sehingga Put-coat dapat hidup beberapa hari lagi sebelum kembali ke gunung Bu-tong.

"Tidak heran Bouw It-yu meski masih muda namun sanggup memukul mundur musuh tangguh. Ternyata dia berhasil menguasai kelebihan dari dua orang sekaligus."

Karena itu, banyak orang yang mulai menaruh kepercayaan atas apa yang dikatakan Bu-si Tojin.

Tapi Put-po masih tetap tidak percaya.

Setelah berdiri di depan mimbar dan memandang wajah seluruh anggota perguruan sekejap, perlahan ujarnya.

"Sampai dimana kehebatan ilmu pedang Bu-si tianglo, hampir semua di antara kita pernah mengetahui nya. Tapi bagaimana dengan ilmu pedang yang dimiliki Bu-beng Susiok? Dari sekian banyak murid beragama, kecuali Bu-si Tianglo seorang, nyaris belum pernah ada yang melihatnya. Kini Bu-si tianglo mengaku ilmu pedangnya kalah jauh dari kehebatan Bu-beng susiok, andaikata hal itu merupakan kenyataan, jelas kejadian ini merupakan satu keberuntungan bagi kita semua karena memiliki Ciangbunjin baru yang hebat. Agar kita semua yakin akan kebenaran itu, bagaimana bila Bu-beng susiok memberi sedikit petunjuk, agar mata kami semua pun ikut terbuka."

Kata 'minta petunjuk' di sini mempunyai dua makna, pertama adalah pertarungan terbatas antara seorang angkatan tua yang memberi petunjuk kepada angkatan muda, arti kedua adalah petunjuk dalam arti satu 'pertarungan adu kekuatan'.

Dalam hal pertarungan adu kekuatan, maka tidak ada batasan antara angkatan tua dengan angkatan muda, hanya menang kalah yang menentukan hasil akhir.

Sebaliknya dalam pertarungan terbatas beda sekali artinya.

Dalam situasi seperti ini, ternyata Put-po mengucapkan kata-kata seperti itu, siapa pun dapat menangkap bahwa minta petunjuk yang dia maksud adalah petunjuk dalam pertarungan adu kekuatan.

Memanfaatkan kesempatan itu Bu-liang tianglo sengaja mendesak lebih jauh, dengan nada menegur serunya.

"Put-po, besar amat nyalimu, Bu-beng sute pernah malang melintang dalam dunia persilatan dengan nama Bouw-tayhiap, masa kau baru puas setelah menjajal kepandaian silatnya?"

Benar saja, perkataan itu semakin mengobarkan keberanian Putpo, serunya lantang.

"Bu-tong dan Siauw-lim merupakan pusat ilmu silat di kolong langit yang diketahui setiap orang. Sekalipun seorang jago hebat yang biasa malang melintang dalam dunia persilatan, setelah tiba di kuil Siauw-lim-si atau kuil Sam-cing-koan di gunung Bu-tong, belum tentu dia masih berhak disebut jagoan nomor wahid yang tidak terkalahkan. Bu-beng Susiok, kau tidak usah salah paham, aku bukan maksudkan dirimu. Aku hanya menanggapi setiap persoalan yang ada saja dalam kenyataan."

"Perkataanmu tepat sekali,"

Sahut Bu-beng dengan hambar.

"memang banyak sekali manusia bernama kosong dalam dunia persilatan saat ini. Biarpun orang lain menghormatiku sebagai seorang Tayhiap, namun aku tidak berani menerimanya. Menurut pendapatku, sebutan Tayhiap yang diberikan kepadaku mungkin hanya dikarenakan umat persilatan menilai moral, sepak terjang dan tingkah lakuku selama ini lurus, jadi bukan karena mereka takut dengan ilmu pedangku."

Secara keseluruhan, perkataan inipun mengandung dua arti. Pertama, yang dia maksudkan sebagai manusia yang bernama kosong hanya sebatas "banyak"

Dan bukan menuduh "semuanya". Kedua, dalam perkataan itupun dia ingin menandaskan bahwa kriteria menjadi seorang Ciangbunjin seharusnya "menaklukkan orang dengan moral dan ringkah laku yang baik"

Dan bukan "menaklukkan orang dengan mengandalkan kekuatan".

Namun dalam perkataan itu, dia sama sekali tidak menolak permintaan Put-po yang ingin minta petunjuk beberapa jurus darinya.

Untuk sesaat Put-po masih belum menyadari akan hal itu (bahwasanya Bu-beng tidak menampik permintaannya), berbeda dengan Put-pay, dia segera dapat merasakan hal itu.

Sambil bangkit berdiri segera serunya.

"Bu-beng susiok, meskipun kau menjagoi dunia persilatan dengan mengandalkan ilmu pedang, tapi setelah berada di gunung Bu-tong, rasanya kau tidak menampik bukan untuk memberi petunjuk beberapa jurus kepadaku."

Tidak menunggu jawaban Bu-beng apakah setuju atau tidak, dia kembali berpaling dan ujarnya kepada Put-po.

"Put-po suheng, entah siapa saja yang kau maksud kan sebagai kami?"

Kata "kami"

Di sini maksudnya sangat jelas, Put-pay ingin Put-po segera menunjuk jago mana yang dianggap paling berhak dan punya kemampuan untuk bertanding melawan Bu-beng.

Tampaknya Put-po sendiri pun ingin mendesak Bu-beng agar tidak bisa menghindar dari pertandingan itu, sahutnya cepat.

"Saat ini Put-ji sute sudah dianggap sebagai jago pedang nomor dua dalam perguruan kita, kalau memang Bu-si tianglo merasa ilmu pedangnya tidak sanggup menandingi Bu-beng susiok, lebih baik Put-ji Sute saja yang minta petunjuk beberapa jurus dari Bu-beng Susiok! Andaikata Bu-beng tidak sanggup menghadapi Put-ji, hal itu membuktikan kalau apa yang diucapkan Busi tadi hanya kata bualan belaka."

Buru-buru Put-ji menggeleng kepala berulang kali, serunya.

"Tecu tidak berani melampaui batas!"

Yang diartikan sebagai tidak berani melampaui batas jelas dimaksudkan kedudukannya yang lebih rendah dari lawannya, dan bukan bermaksud kemampuan silatnya.

Dari ucapan itu orang dapat menarik kesimpulan kalau dalam hal ilmu silat, paling tidak dia masih belum takluk.

"Put-ji, perkataanmu keliru besar,"

Ujar Put-po.

"saat ini kau hanya minta petunjuk dari Ciangbunjin baru, sama sekali tidak ada niat melampaui batas atau tidak."

Put-ji tetap menggeleng sambil tersenyum.

"Put-po suheng, aku rasa kau yang paling pantas untuk melakukan hal ini. Kesatu, karena kalian hampir setara kedudukannya, kedua, kau pun sudah lama mempelajari kitab ilmu pukulan dan ilmu pedang pening-galan Thio-Couwsu dalam ruang Tong-wi-kiong, aku percaya kemampuan ilmu pedangmu pasti sudah mencapai tingkatan yang luar biasa."

Diam-diam Put-po mendengus jengkel, pikirnya, 'Dasar licik, kau tidak ingin mendapat masalah, orang lain yang kau korbankan.

Ya sudahlah, biar kau saja yang jadi orang pintar sementara aku jadi orang bodoh.' Walaupun begitu, dia sendiri merasa agak rikuh untuk langsung mengajak Bu-beng berduel, hanya sorot matanya saja yang dialihkan ke wajah Bu-beng.

Dengan wajah tetap tenang Bu-beng tersenyum, ujarnya.

"Waktuku di gunung Bu-tong masih panjang sekali, kelak pasti masih ada kesempatan untuk saling memoles kepandaian dengan rekan sesama perguruan. Sedang hari ini.... aku rasa.... aku rasa...."

Kalau sorot mata Put-po sedang mengawasi wajahnya, maka sorot matanya justru dialihkan memandang wajah Bu-siang Cinjin.

Biarpun perkataan itu tidak selesai diucapkan, namun jelas dia pun menyimpan satu maksud yang mendalam.

Dalam ucapannya, dia menggunakan kata 'memoles' untuk mengajak rekan sesama perguruannya untuk saling memoles kemampuan, ini jelas menunjukkan kalau dia telah bersikap sebagai seorang Ciang-bunjin.

Put-po tidak terlalu menangkap arti yang sangat mendalam itu, berbeda dengan Bu-liang Totiang maupun Put-ji.

Tanpa sadar kedua orang itupun berpikir, 'Mana ada kejadian yang begitu enak, yang jelas menguntungkan sepihak.' Namun lantaran Bu-siang Cinjin sebagai Ciangbunjin saat ini belum memberikan pendapatnya, tentu saja mereka pun tidak berani buka suara.

Perlahan-lahan Bu-siang Cinjin berkata.

"Kita adalah perguruan kaum lurus yang menjadi panutan umat persilatan, berbeda jauh dibandingkan perkumpulan atau partai-partai pada umumnya. Bagi perguruan lain, boleh saja mereka menentukan seorang Ciangbunjin berdasarkan adu kepandaian, tapi kalau kita pun melakukan hal yang sama, jelas kejadian ini bakal ditertawakan orang banyak. Semenjak Thio cinjin mendirikan perguruan ini, belum pernah kita gunakan cara beradu silat untuk menentukan calon Ciangbunjin."

Merah padam selembar wajah Put-po sesudah mendengar ucapan itu, tapi dasar keras kepala, dia tetap ngotot dengan pendapatnya, serunya keras.

"Perkataan Ciangbunjin memang benar. Tapi selama ini ilmu silat yang dimiliki para calon Ciangbunjin sudah diketahui semua orang karena berasal dari angkatan yang sama. Sementara niat Tecu untuk menjajal kemampuan Ciangbunjin baru pun tidak lebih hanya sebatas ingin menyaksikan sampai dimana kehebatan kungfunya."

Maksud dari perkataan inipun amat jelas, selama Ciangbunjin baru belum memperlihatkan ilmu silatnya hingga jelas, dia tidak bakal tunduk dan takluk.

Rupanya Bu-siang Cinjin dapat menduga maksud hatinya, dia pun berkata lembut.

"Kalian tidak perlu terburu napsu, tidak lama kemudian kalian pasti dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri kemampuan silat dari Ciangbunjin baru. Sekarang biar aku sampaikan sebuah cerita lebih dulu."

Tidak lama kemudian?

Beberapa lama yang dimaksud?

Sebulan?

Setengah bulan?

Sepuluh hari?

Delapan hari?

Atau hari ini juga?

Sepintas lalu saja perkataan itu seolah memberikan sebuah jaminan, padahal jaminan itu kosong karena tidak ada sebuah kepastian yang jelas.

Bu-liang Totiang yang picik pikirannya dan berhati sempit, bahkan mulai curiga kalau Ciangbun Suhengnya sengaja menggunakan siasat menunda waktu karena ingin membantu Bubeng agar menerima jabatan ketua dengan mulus.

Namun karena Ciangbunjin telah memberikan "Jaminan" , tentu saja Put-po tidak berani ngotot menuntut ketuanya memberikan hari yang pasti, kendatipun kalau menuruti adatnya sendiri, dia tidak gampang menyudahi urusan dengan begitu saja.

Ciangbunjin berkata akan menceritakan satu kisah cerita, aneh sekali, dalam situasi seperti ini kenapa dia masih punya minat untuk bercerita?

Semua orang merasa tercengang, bingung dan ingin tahu, serentak perhatian mereka pun dialihkan ke wajah sang ketua.

Bu-siang Cinjin tidak langsung bercerita, dia mendongakkan kepalanya memandang ke tempat kejauhan, seakan sedang mengingat kembali peristiwa masa silam.

"Peristiwa ini sesungguhnya sudah terjadi pada tiga puluh enam tahun berselang,"

Ujar Bu-siang Cinjin kemudian.

"waktu itu Hian Tin-cu dari Kun-lun-pay datang berkunjung ke gunung Bu-tong, dia memohon untuk bertanding pedang melawan Ciangbunjin dulu. Sewaktu datang dia mengajak serta muridnya yang paling kecil, seorang bocah yang baru berusia sebelas, dua belas tahunan. Ketika mendiang Suhu menerima kedatangan mereka, kebetulan aku pun ikut berada di samping."

Kawanan tosu yang usianya rata-rata diatas lima puluh tahun secara lamat-lamat masih teringat akan peristiwa itu.

Hanya saja tidak seorangpun diantara mereka yang tahu bagaimana hasil dari pertarungan itu.

Yang mereka ketahui, Hian Tin-cu terhitung jago pedang nomor wahid dari Kun-lun-pay saat itu, ketenaran dan kehebatannya jauh diatas nama besar Hian Tong-cu sebagai Ciangbunjin Kun-lun-pay.

Sama seperti Bu-tong-pay, partai Kun-lun pun tersohor di kolong langit karena ilmu pedangnya.

Hanya saja yang satu jauh di wilayah barat-laut sementara yang lain berada di daratan Tionggoan, sebuah jarak yang melebihi puluhan ribu li, oleh karena itu kedua belah pihak jarang sekali saling berhubungan.

Ketua Bu-tong-pay waktu itu, Kim-kong Cinjin tidak lain adalah Suhu Bu-siang Cinjin Ciangbunjin saat ini.

Ketika itu usia Kim-kong Cinjin bara genap tujuh puluh tahun, Busiang adalah murid tertuanya, saat itu usianya baru mencapai empat puluhan tahun, masa yang paling kuat dan bersemangat bagi seorang lelaki.

Sedangkan usia Hian Tin-cu waktu itu hanya lebih tua beberapa tahun dibandingkan umur Bu-siang.

Kalau berbicara dari soal tingkatan, maka posisi Hian tin-cu berada diantara kedudukan Kim-kong dengan Bu-siang.

(oleh karena mereka bukan berasal dari perguruan yang sama, agak sulit untuk menentukan tingkatan secara pasti.

Kakak seperguruan Hian Tin-cu, Hian Tong-cu sang ketua Kun-lun-pay selalu menganggap "Cianpwee"

Kepada Kim-kong Cinjin, namun lantaran Kim-kong Cinjin bukan orang yang gila hormat, dia selalu menganggap Hian Tong-cu satu level dengan dirinya, itulah sebabnya level Hian tin-cu boleh dibilang lebih rendah 'setengah tingkat' bila dibandingkan Kim-kong Cinjin).

Tentu saja orang orang yang mengetahui kejadian tersebut tidak ikut hadir dalam pertandingan itu, mereka hanya mendengar dari cerita di kemudian hari bahwa waktu itu Kim-kong Cinjin menolak untuk turun tangan sendiri, karena itu Bu-siang Cinjin lah yang menggantikan posisi gurunya untuk mengalahkan Hian Tin-cu.

Hanya saja mereka tidak mendengar cerita itu langsung dari mulut Bu-siang Cinjin atau Kim-kong Cinjin, melainkan berasal dari seorang tosu penjaga dupa yang akrab hubungannya dengan si tosu bisu tuli.

Waktu itu si tosu bisu tuli bertugas melayani kebutuhan Kim-kong Cinjin, dia tidak bisa berbicara tapi menggunakan kode tangan untuk menceritakan kisah itu kepada si tosu penjaga dupa.

Ibu jari digunakan untuk melambangkan Kim-kong Cinjin sedang jari kelingking untuk melambangkan Bu-siang Cinjin.

Dia gerakkan ibu jarinya menyingkir ke samping lalu ditekuk, kemudian menegakkan jari kelingkingnya untuk menusuk ke depan sambil menjerit kesakitan, setelah itu sambil tersenyum dia bertepuk tangan berulang kali.

Tosu penjaga dupa itu adalah sahabatnya yang paling karib, dia mengerti apa yang dimaksudkan rekannya itu.

Itu berarti Kim-kong Cinjin sama sekali tidak bertarung melawan musuhnya melainkan hanya mundur ke samping, sedang muridnya, Bu-siang Cinjin tampilkan diri mewakili gurunya untuk mengalahkan lawan dari Kun-lun-pay itu.

Hanya "penjelasan"

Itu saja yang disampaikan si tosu penjaga dupa, bagaimana keadaan sesungguhnya?

Tidak seorang pun yang tahu.

Tidak heran kalau semua anggota perguruan merasa tercengang ketika mendengar Bu-siang Cinjin secara tiba tiba mengisahkan cerita lama itu.

Kembali Bu-siang Cinjin Cinjin bertutur.

"Mendiang Suhu adalah seorang pendeta yang saleh dan penyabar, dia enggan melayani tantangan orang untuk berduel.

Tapi sayang Hian Tin-cu kelewat angkuh, dengan ucapan ucapan yang tajam dan menyakitkan dia memaksakan terus kehendaknya, malah dengan nada tajam dia berkata begini.

"Mengatakan 'menyerah' bukan berarti menyerah kalah, kalau tidak berani bertamng melawanku, maka kau musti mengakui di depan umum kalau ilmu pedang Bu-tong-pay tidak mampu menandingi ilmu pedang Kun-lun-pay kami."

"Aku tidak sanggup menahan diri lagi, terpaksa sambil bangkit berdiri seruku.

"Beda level, beda pula dalam usia, tidak mungkin Suhuku bisa melayani tantanganmu itu, tapi kalau kau tetap memaksa ingin bertarung, biar aku saja yang melayani tantanganmu itu."

"Mendengar perkataanku, Hian Tin-cu langsung tertawa dingin sambil mengejek.

"Betul juga perkataanmu itu, bicara soal level, posisi gurumu memang setengah tingkat lebih tinggi ketimbang aku, biar bisa menangpun bukan satu kemenangan yang terhormat. Tapi bagaimana pun usianya sudah tua, andaikata aku beruntung bisa menangkan dirinya pun kemenanganku bukan kemenangan yang hebat, boleh saja kalau kau ingin menjajal kemampuanmu, hanya saja.... tega tidak gurumu membiarkan kau bertanding pedang melawanku? Kimkong Cinjin, jika kau anggap dia adalah orang pilihan yang paling tepat, tentu saja aku tidak akan banyak bicara, kalau tidak, lebih baik pilihlah calon lain yang kau anggap paling memuaskan untuk bertanding pedang melawanku."

"Mendiang Suhu benar-benar tebal imannya, mula mula dia tegur dulu diriku.

"Jangan kurangajar terhadap tamu kita,"

Kemudian baru ujarnya kepada jago Kun-lun itu.

"Maafkan muridku bila bersikap kurang sopan, sesungguhnya Perguruan kita berasal dari sumber yang sama, jadi tidak semestinya menggunakan kata menang kalah untuk menentukan siapa lebih terhormat. Aku tidak ingin kelewat membuang pikiran hanya untuk memilih murid yang lain, Hian-ti toyu, silahkan kau memberi petunjuk kepada muridku yang ini saja."

Ternyata Hian Tin-cu tetap merasa tidak puas, dia mendesak lebih jauh, katanya.

"Boleh saja kau tidak berminat untuk menentukan siapa lebih terhormat lewat pertarungan pedang, tapi aku sangat menginginkannya. Sebelum pertarungan dimulai, aku harus tegaskan sekali lagi, andaikata murid mu itu benar benar kalah di tanganku, kau harus mengaku kekalahan ini dihadapan umum."

"Mendiang Suhu tersenyum, jawabnya.

"Aku akan melakukannya jika memang kau kehendaki. Cuma, terlepas bagaimana hasil pertandingan nanti, aku tetap akan memberi kesempatan kepadamu untuk memilih."

"Waktu itu aku kurang mengerti apa maksud ucapan Suhu,"

Begitu pula dengan Hian Tin-cu."

Mendengar sampai disini, para murid yang berada di bawah panggung pun sama-sama berpikir.

"Benar, kalau memang menang kalah sudah ketahuan, buat apa musti memilih lagi?"

Tidak seorang pun yang paham apa maksud dibalik perkataan itu. Kembali Bu-siang Cinjin berkata lebih lanjut.

"Akhirnya keraguan dan ketidak mengertiku di jawab juga oleh Hian tin-cu, dia berkata begini. 'Jikalau hasil pertandingan pun sudah jelas, mana mungkin aku punya kesempatan lagi untuk memilih? Kim-kong Cinjin, lebih baik jelaskan dulu apa maksud perkataan-mu?"

Setelah ditanya, mendiang guruku pun menjawab.

"Maksudku kau masih punya kesempatan untuk memilih, apakah hasil pertandingan ingin diumumkan kepada khalayak umum atau tidak, namun andai kau ingin kami merahasiakan hasilnya, kami akan menjaga rahasia tersebut dengan rapat."

"Bila maksud perkataan itu lebih diperjelas, maka artinya adalah begini."

"Bila dalam pertarungan nanti akulah yang dipecundangi Hian Tin-cu, maka mendiang guruku bersedia mewakili Bu-tong-pay untuk mengumumkan kekalahannya didepan umum, sebaliknya bila Hian Tin-cu yang kalah ditanganku, demi menyelamatkan nama baik serta harga dirinya, kami bersedia untuk merahasiakan kejadian ini. Justru kelihayan dari ucapan tersebut adalah tidak mengungkap secara jelas maksud yang terkandung."

Kembali semua murid yang ada di bawah punggung berpikir.

"Perkataan Sucouw benar-benar amat bijaksana, bukan saja mempertegas posisinya sebagai seorang ketua, bahkan tidak ingin pihak lawan kehilangan muka. kalau Hian Tin-cu jengkel karena ucapan itupun, dia hanya bisa menyimpan amarahnya dalam hati. Tidak mungkin baginya untuk menuduh Sucouw kita telah pandang enteng dirinya."

Betul saja, terdengar Bu-siang Cinjin berkata lebih lanjut.

"Hian Tin-cu memahami dengan jelas maksud mendiang guru, tapi dia hanya bisa jengkel di dalam hati, saking mendongkolnya, paras muka pun ikut berubah hebat. Sambil tertawa dingin diapun berseru.

"Mau kalah biarlah kalah, buat apa musti di rahasiakan.

"maksud baik"

Mu biar kuterima dalam hati saja. Lebih baik kita segera mulai bertanding. Cuma...."

"Cuma apa lagi?"

Tanyaku. Sambil tertawa dingin kata Hian Tin-cu.

"Seperti yang kau katakan barusan, tingkat level kita berbeda, usia pun berbeda, kalau dipaksakan aku masih terhitung 'setengah level' lebih tinggi darimu, usia pun beberapa tahun lebih tua. Aku tidak ingin mencari keuntungan dari hal ini."

Akupun berkata.

"belum tentu aku akan mencari keuntungan dari perbedaan itu."

"Mendengar itu mendiang Suhu pun menegur.

"Jangan kurangajar. Sebagai tuan rumah yang baik, kita harus turuti keinginan tamu. Hian-tin toyu, silahkan kau ajukan keinginanmu, kami pasti tidak akan menampik."

"Hian tin-cu pun berkata.

"Kita batasi pertarungan ini dalam seratus jurus saja, jika muridmu sanggup menahan seratus jurus seranganku, tanpa menunggu hasil menang kalah, aku bersedia mengaku kalah."

"Mendengar keangkuhan dan sesumbarnya itu aku sebetulnya ingin balas menyindir, tapi berhubung ada Suhu disitu, aku jadi merasa tidak leluasa untuk berdebat dengan tamu.

"Terpaksa akupun menjawab.

"Kau ingin membatasi diri, terserah saja, itu urusanmu. Dalam seratus gebrakan bila akupun gagal menangkan dirimu, aku bersedia juga untuk mengaku kalah."

"Dengan begitu maka masing-masing pihak pun saling mengumbar janji tanpa ada yang mau mengalah.

"Mungkin Hian Tin-cu sudah tidak sanggup menahan amarahnya lagi, setelah mendengus segera teriaknya.

"Baik, terserah apapun yang ingin kau ucapkan. Tapi yang pasti aku tidak akan menjilat kembali ludahku, terima seranganku!"

"Aku tidak mau kalah, akupun menjawab,"

Akupun tidak akan menarik kembali ucapanku, lihat seranganku juga!"

"Tidak disangka, dalam gebrakan pertama saja sudah terjadi peristiwa yang sama sekali diluar dugaan kedua belah pihak."

Biarpun semua orang sudah tahu kalau hasil pertandingan ini dimenangkan Bu-siang Cinjin, tidak urung jantung mereka berdebar juga setelah mendengar sampai disitu.

Apa yang telah terjadi?

Mengapa dalam jurus pertama sudah membuat kedua belah pihak merasa diluar dugaan?

Setelah berhenti sejenak, kembali Bu-siang Cinjin melanjutkan ceritanya.

"Aku tahu ilmu pedang yang dilatih Hian Tin-cu bernama Hui-eng-kiam-hoat (ilmu pedang elang terbang), semuanya terdiri dari enam puluh empat jurus, hampir semua jurus serangannya ganas dan telengas. Padahal aku hanya 'tahu' saja dan selama ini belum pernah menyaksikan permainan pedangnya dengan mata kepala sendiri. Menurut pengetahuanku, ilmu pedang Thay-kekkiam-hoat mengutamakan tenang untuk mengungguli gerak, dengan lembut mengatasi keras. Kalau memang ilmu pedang Huieng-kiam-hoat mengutamakan keras dan ganas, bukankah ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat justru merupakan ilmu pedang tandingannya? "

Oleh sebab itulah aku sangat percaya diri, bahkan berani sesumbar jika dalam seratus jurus tidak sanggup mengungguli dia maka aku rela mengaku kalah.

"Benar saja, begitu turun tangan pada jurus yang pertama dia sudah menyerangku secara ganas dan telengas, seandainya hanya ganas dan telengas, hal itu sudah berada dalam dugaanku sejak awal, siapa tahu di samping ganas dan telengas, jurus serangannya begitu aneh dan luar biasa, satu keanehan yang belum pernah kuketahui sebelumnya."

Pada ilmu pedang lain, baik sewaktu menusuk, membabat, melingkar atau menutul, semua gerakan dilakukan secara jelas dan teratur, asal kita mau perhatikan lebih seksama, sebetulnya tidak susah untuk meramal arah sasarannya."

Pada ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat andalannya, gerak serangan yang dipakai justru berbeda, dia melambung diudara sambil berputar dan menari, meliuk maupun lurus saling tumpang tindih, persis seperti gulungan gelombang yang datang dari empat penjuru, bukan saja terselip banyak perubahan, bahkan membuat orang sama sekali tidak menduga.

"Rupanya dia sudah melancarkan serangan mematikan sejak jurus pertama, tubuhnya melambung sejajar tanah, menggunakan kesempatan ketika masih berada di udara, pedangnya ditusukkan ke bawah secara ganas.

"Dibalik gerakan pedangnya yang berputar dan meliuk itu, paling tidak aku dapat melihat ada tujuh macam perubahan yang berbeda terselip di dalamnya.

Untuk sesaat sulit rasanya bagiku untuk menghadapi ke tujuh macam perubahan itu sekaligus."

Satu-satunya kemungkinan untuk mematahkan semua ancaman itu hanyalah menggunakan sebuah jurus yang sangat sederhana, yaitu gerakan Twie-cong-kan-gwat (mendorong jendela melihat rembulan), dengan gerakan ini aku berharap bisa membuyarkan kekuatan lawan sambil menyelamatkan diri."

Akhirnya serangan pedang itu nyaris menyayat kulit jidatku dan menyambar lewat, bagaimana pun serangannya tidak berhasil melukai tubuhku.

Aku melihat dia berseru kaget, paras mukanya dari warna merah berubah jadi menghijau, jelas dia sama sekali tidak menduga kalau aku berhasil mematahkan jurus serangannya.

"Aku tidak tahu apakah waktu itu dia bermandikan keringat dingin, tapi sesaat aku lihat dia menghentikan gerak serangannya sambil membesut keringat yang membasahi jidatnya."

Berbicara sampai disitu, Si tosu kecil yang melayani di sampingnya buru-buru mempersembahkan secawan air teh. Setelah minum setegukan dia baru berkata lebih lanjut.

"Ilmu pedangnya bagaikan elang sakti yang terbang berputar di angkasa, sekalipun dia tidak ikut melambung pun, gerakan pedangnya seolah menggempur tiba dari tengah udara, bahkan dalam setiap jurusnya tersembunyi banyak perubahan yang berbeda satu dengan lainnya.

"Ada yang dalam satu jurus tersisip tiga gerakan, ada pula yang dalam satu jurus terselip lima gerakan, yang paling banyak bahkan mencapai sembilan perubah-an dalam satu gebrakan.

Tentu saja setiap gerakan berbeda satu dengan lainnya.

"Selama hidup belum pernah kusaksikan permainan pedang seperti ini, sesaat aku hanya bisa bertahan tanpa mampu melancarkan serangan balasan, tapi dalam jangka waktu itu diamdiam kuhapalkan setiap gerakan yang terkandung dalam jurus serangannya, memperhati kan setiap perubahan yang dia lakukan sambil memeras otak mencari celah-celah yang mungkin bisa kumanfaatkan.

"Selama jalannya pertarungan dia sudah memainkan ke enam puluh empat jurus ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat pada ronde pertama, aku hanya bisa "

Duduk manis"

Sambil menonton, mustahil bagiku untuk menemukan cara yang tepat untuk mengunggulinya."

Sejujurnya harus diakui, permainan pedangnya nyaris sudah mencapai taraf yang sempurna, hampir tidak ada peluang yang ditemukan untuk melancarkan serangan balasan.

"Pada ke tiga puluh enam jurus pertama, nyaris permainan pedangnya begitu rapat tanpa celah, hingga dia memainkan jurus ke tiga puluh tujuh, aku baru berhasil menemukan sebuah celah. Dan ketika mencapai jurus ke empat puluh delapan, lagi lagi kutemukan dua buah celah. Jadi di dalam rangkaian ke enam puluh empat jurus pedangnya, aku hanya berhasil menemukan tiga buah celah. Sebuah ilmu silat yang pantas dipuji dan diacungi jempol!"

Perlu diketahui, dengan kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Busiang Cinjin, dia tidak bakal memandang sebelah mata pun terhadap ilmu pedang biasa.

Baginya, asal dalam sepuluh jurus hanya ditemukan dua tiga buah celah saja, baginya sudah dianggap luar biasa.

Karena itu hampir semua yang hadir segera berpikir.

"dalam ke enam puluh empat jurus ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat milik Hian Tin-cu, Ciangbunjin hanya menemukan tiga buah celah, tidak heran kalau beliau sangat memuji kehebatan lawannya."

Kini semua orang pun ikut menghembuskan napas lega, dengan berhasilnya Bu-siang Cinjin mene-mukan celah dalam jurus pedang lawan, tidak sulit lagi baginya untuk meraih kemenangan.

Terdengar Bu-siang Cinjin berkata lebih lanjut.

"Setelah menemukan ke tiga celah tersebut, perasaan hatiku malah sedikit agak gugup. Celah pertama muncul di saat ia menggunakan jurus pedang ke tiga puluh tujuh, seandainya dia mengulang sekali lagi permainan pedangnya berdasarkan urutan jurus, bukankah sampai jurus ke seratus satu aku baru bisa mengungguli dia?"

Berbicara sampai disini, tanpa terasa dia menyeka peluh yang membasahi jidatnya.

Put-po seperti juga rekan-rekan seperguruan lainnya yang berada di bawah panggung, segera berseru dengan rasa ingin tahu.

"Betul juga, kenapa tidak terpikirkan olehku akan masalah ini. Ciangbun Supek, lantas pada jurus ke berapa kau berhasil mengungguli dirinya?"

"Untung saja ketika menggunakan ilmu pedangnya untuk ke dua kalinya, dia tidak menyerang secara berurutan melainkan memakai secara acak.

Pada serangan yang ke dua puluh tujuh, dia telah menggunakan jurus pedangnya ke empat puluh delapan.

Begitu celah dari jurus pedang ini muncul, aku pun langsung menggunakan cara pemecahan jurus yang telah ku-persiapkan sebelumnya."

Begitu jurus itu selesai kugunakan, tubuhku langsung melompat keluar dari arena pertarungan, sungguh menggelikan, ternyata dia tidak mengetahui akan hal ini malahan segera membentak.

"Kau mengaku kalah?"

"Aku hanya tertawa sambil menuding dadanya dengan ujung pedang, diapun tundukkan kepala sambil memeriksa, begitu tahu apa yang terjadi, seketika paras mukanya berubah jadi merah padam bagai kepiting rebus, dilihat mimik mukanya, kalau bisa, mungkin dia ingin menyembunyikan wajahnya di dalam lubang tikus!"

Berseri paras muka Put-po sehabis mendengar cerita itu, buruburu tanyanya.

"Supek, kau belum bercerita dengan cara apa mengungguli dirinya?"

"Aku tidak sampai melukai dirinya, hanya meninggalkan sebuah tanda kecil diatas baju bagian dadanya. Sewaktu memeriksa bajunya tadi, rupanya dia sudah menemukan lubang sebesar mata uang diantara dadanya, jadi diapun segera sadar kalau aku telah mengampuni jiwanya."

Semua anggota perguruan pun bersorak sorai dengan nada gembira, beberapa orang diantaranya kembali bertanya.

"Setelah kejadian berkembang jadi begitu, tentunya Hian Tin-cu hanya bisa mengaku kalah bukan?"

"Tidak, dia tidak mengaku kalah, paling tidak waktu itu perkataan tersebut tidak sampai dia katakan. Namun paras mukanya berubah hebat, padahal aku tidak melukainya, tapi tubuhnya gontai bagaikan lidah api yang dihembus angin, kemudian tahu-tahu roboh ke belakang."

"Orang macam begini memang pantas kalau mampus karena mendongkol!"

Put-po menambahkan sambil tertawa. Sama sekali tiada perasaan bangga yang terlintas di wajah Busiang Cinjin, kembali ujarnya dengan serius.

"Kalian jangan keburu senang duluan, si murid kecil yang datang bersamanya segera memayang bangun gurunya seraya berkata.

"Sebenarnya kedatangan guruku adalah mencari gurumu untuk beradu pedang, kini kau telah mewakili gurumu untuk memenangkan pertarungan ini, sayang usiaku sekarang masih kecil hingga tidak bisa terjun ke arena pertarungan.

Tapi harap diingat saja, suatu saat bila aku telah selesai berlatih silat, kabulkan permintaan-ku untuk bertanding sekali lagi melawanmu.

"Sebetulnya aku ingin menolak, siapa tahu Hian Tin-cu berkata pula.

"Kekalahanku hari ini bukan disebabkan ilmu pedang Hui-engkiam-hoat ku tidak mampu menandingi Thay-kek-kiam-hoat mu, masalahnya akulah yang belum berhasil menguasai ilmu pedang itu secara sempurna. Bila kau takut kuwariskan ilmu ini kepada muridku dan dikemudian hari datang mencari balas, lebih baik bunuhlah kami sekarang juga!"

"Muridnya lebih sadis lagi, dia cabut keluar pedangnya seraya berteriak.

"Betul, sebetulnya aku tidak pantas mohon kesempatan seperti itu kepadamu. Mari, mari, mari, sekarangjuga mari kita bertanding!"

"Hatiku jengkel bercampur geli setelah mendengar teriakannya itu, akupun menjawab.

"Sayang aku belum punya murid, kalau tidak, pasti akan kusuruh muridku bertanding melawanmu. Kalau aku sendiri sih tidak bakal bertarung melawanmu."

"Kembali muridnya berkata.

"Aku rasa lebih baik kau saja yang bertanding melawanku, lebih baik lagi kalau dilakukan hari ini."

"Kenapa?"

Tanyaku.

"Karena kalau kita bertaring hari ini, kau masih bisa membunuhku segampang membalikkan telapak tangan. Jika hari ini kau membebaskan aku, mungkin kau malah menyesal bila suatu hari kelak aku datang lari mencarimu!"

Kata muridnya.

"Tiba tiba mendiang guruku berkata.

"Bagus, bagus sekali! Muridmu masih muda usia tapi semangatnya hebat!"

Saat itu Hian Tin-cu kelihatan tertegun kemudian segera berkata.

"Kalau begitu kau sudah mengabulkan permin-taan muridku?"

"Untuk muridmu akupun mempunyai satu permintaan kecil,"

Kata mendiang guruku lagi.

"Silahkan Ciangbunjin katakan."

"Peristiwa yang terjadi hari ini hanya diketahui kita berdua serta murid kita. Tolong jangan sampai kau ceritakan kepada orang lain...."

Dengan mengulangi pesan tersebut, maksud mendiang guruku sudah jelas yaitu demi menjaga nama baik Hian Tin-cu. Dengan wajah sedikit menyesal Hian Tin-cu menyahut juga, walau setelah termenung sesaat.

"Baiklah, kuterima niat baikmu itu, tapi budi ini hanya terbatas pada diriku seorang."

"Apa maksudmu?"

Tanyaku.

"Selama aku masih hidup, selamanya aku akan berterima kasih atas budi kebaikanmu ini. Tapi setelah aku meninggal, aku tidak ingin muridku terikat oleh budi ini, jadi saat tersebut janji ini batal."

Saat itulah aku baru mengerti, rupanya dia khawatir bila muridnya berhasil menangkan pertarung-an pedang di kemudian hari, kami akan menggunakan hal tersebut untuk mengikat kebebasan muridnya.

"Waktu itu sebenarnya aku rada jengkel, maka sahutku.

"Baik, aku setuju, Cuma dibandingkan muridmu, usiaku tiga puluh tahun lebih tua, moga-moga saja muridmu bisa segera menyelesaikan latihannya hingga keburu bertemu aku."

Muridnya pun berkata.

"Baik, akupun berjanji, sampai waktunya aku pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk memilih. Jika saat itu kau sudah kelewat tua, silahkan saja menyuruh muridmu untuk mewakili atau kau boleh memilih seorang murid perguruanmu yang paling hebat ilmu silatnya untuk melawanku. Pokoknya terlepas beberapa puluh tahun lagi kejadian ini bakal terealisasi, janji ku tetap berlaku!"

Mendengar sampai disini, semua yang hadirpun ikut tercekat perasaan hatinya, mereka tidak mengira murid Hian tin-cu walau masih kecil usianya, namun perasaan hatinya sudah dipenuh pikiran untuk membalas dendam yang begitu tebal, kenyataan seperti ini benar-benar sangat menakutkan.

Sekarang semua orang baru mengerti mengapa Ciangbunjin mereka mengingat dengan begitu jelas atas kejadian yang lampau, sejak menjabat sebagai Ciangbunjin, hingga kini Bu-siang Cinjin sudah memangkunya hampir tiga puluh lima tahun lamanya, itu berarti kejadian itu berlangsung dua tahun sebelumnya.

Diam-diam Bu-liang Totiang berpikir, 'Berarti gara gara membuat pahala besar dalam peristiwa tersebut, maka dia diangkat menjadi Ciangbunjin' Sementara Put-po juga ikut bertanya.

"Peristiwa itu sudah berlangsung tiga puluh enam tahun berselang, selama ini apakah murid Hian Tin-cu itu pernah datang mencarimu?"

"Belum pernah,"

Bu-siang Cinjin menggeleng.

"tapi aku tahu dia pasti akan datang."

Dengan nada sedikit ragu kembali Put-po berkata.

"Jika murid Hian Tin-cu masih hidup, seharusnya dia sudah menjadi seorang jago pedang yang tersohor namanya dalam dunia persilatan, kenapa kami belum pernah mendengar kalau dari Kun-lun-pay pernah muncul seorang jagoan lihay?"

"Perkataanmu tepat sekali, dia memang sudah lama tersohor dalam dunia persilatan sebagai seorang jago pedang, tapi menurut dugaanku, mungkin dia baru akan mengungkap identitasnya sebagai murid Kun-lun-pay setelah berhasil mengalahkan diriku."

Hiruk pikuk pun segera menggema di arena, semua orang mulai berbisik bisik sambil menduga siapa gerangan orang itu.

"Ciangbunjin, cepat katakan siapa gerangan orang itu,"

Akhirnya Put-po berseru dengan perasaan gelisah.

"Diantara sekian banyak jago pedang yang tersohor dikolong langit, kecuali Bu-si tianglo dari Bu-tong-pay, siapa lagi yang namanya amat tersohor?"

"Dia adalah Pa-san-kiam-kek (jago pedang dari bukit Pa-san) Kok Thi-keng yang bergelar Kiam-sin (Dewa pedang). Tapi rasanya dia berasal dari Khong-tong-pay?"

Sahut beberapa orang murid.

"Masih ada seorang lagi yang tersohor berbareng dengan dirinya?"

Sesudah agak ragu sejenak kata Put-po.

"Menurut apa yang tecu ketahui, belakangan diantara jago jago persilatan yang berasal dari wilayah barat-laut, muncul seseorang yang disebut Kiam-seng (Malaikat pedang), kemunculannya paling baru enam, tujuh tahun tapi kebesaran namanya luar biasa sekali. Tapi kalau dibilang ketenarannya sejajar dengan Pa-san-kiam-kek, aku rasa belum tentu begitu. Banyak orang-menduga meski dia bergelar Malaikat pedang namun dalam kenyataan kehebatannya belum sebanding dengan kemampuan Dewa pedang."

"Apa alasanmu sampai bisa berpendapat begitu?"

"Pa-san-kiam-kek sudah dua puluh tahun tersohor dalam dunia persilatan tanpa sekali pun menemukan lawan tangguh. Konon ketua Ceng-sia-pay serta Go-bi-pay pernah bertarung melawannya tapi berakhir keok tanpa ampun. Sementara manusia yang bernama Malaikat pedang itu tidak jelas asal usulnya, bahkan tidak ada yang tahu siapa nama sebenarnya. Aku rasa paling banter dia juga hanya seorang tokoh misterius dari wilayah barat-laut. Belum pernah kudengar ada jago dari golongan lurus yang pernah kalah di tangannya."

"Kau keliru besar,"

Ucap Bu-siang Cinjin.

"justru karena dia adalah seorang jago pedang misterius dari wilayah barat-laut yang belum pernah masuk wilayah Tionggoan, maka para jago daratan Tionggoan tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dan mengira namanya lebih besar ketimbang kemampuannya."

"Kalau begitu Ciangbun Supek sudah sangat mengetahui tentang orang ini?"

"Tidak bisa dibilang aku sangat mengetahui kepandaian orang ini, tapi ada satu hal aku mengetahui secara pasti. Walaupun belum pernah ada jagoan Tionggoan yang pernah bertarung melawannya, tapi ada seorang jago pedang yang sangat terkenal pernah bertarung melawan dia."

"Siapa?"

Tanya Put-po.

"Dia tidak lain adalah jagoan yang kau sebut sebagai si Dewa pedang itu, Pa-san-kiam-kek (jago pedang dari bukit Pa-san) Kok Thi-ceng!"

"Pa-san-kiam-kek pernah bertarung melawannya? Bagaimana akhir pertarungan itu?"

Seru Put-po terkejut.

"Tiga tahun berselang, ketika Pa-san-kiam-kek sedang pesiar ke wilayah Hui, secara kebetulan mereka saling bertemu hingga terjadilah satu pertarungan sengit.

"Waktu itu tidak ada jago silat lain yang hadir sehingga tidak seorangpun yang tahu bagaimana kejadian sesungguhnya. Tapi menurut cerita Pa-san-kiam-kek kepada ketua Ceng-sia-pay setelah peristiwa itu, sebutan Dewa pedang dan Malaikat pedang memang tidak sepandan untuk disejajarkan!"

"Kalau begitu Malaikat pedang menganggap namanya lebih hebat daripada Dewa pedang?"

"Yang dimaksud tidak sepandan belum sampai taraf itu, dia hanya bilang harus dibedakan siapa diatas siapa dibawah."

"Tapi dalam kenyataan, orang yang menyebut diri Malaikat pedang itu tidak mampu mengalahkan Pa-san-kiam-kek yang lebih dikenal sebagai Dewa pedang bukan?"

"Justru sebaliknya, Pa-san-kiam-kek merasa gelarnya sebagai dewa pedang sudah sepantasnya diserahkan untuk orang itu, sebab dewa selalu berada diatas malaikat."

"Jadi Dewa pedang pun beranggapan bahwa kemampuannya masih jauh di bawah kehebatannya?"

Seru Put-po terperanjat.

"padahal selama ini Dewa pedang selalu tinggi hati, betulkah dia sampai berkata begitu?"

"Sama sekali tidak bohong, dia benar-benar berkata begitu. Malah ucapan tersebut diutarakan Pa-san-kiam-kek kepada Ciangbunjin Ceng-sia-pay. Selama ini hubungan ketua Ceng-sia-pay dengan Put-coat sangat akrab, dialah yang mengatakan sendiri kepada Put-coat. Jadi aku rasa tidak bakal keliru lagi."

Menyinggung kembali soal muridnya yang telah meninggal, sedikit banyak muncul juga perasaan sedih dihati kecil Bu-siang Cinjin.

"Aku bukannya menaruh curiga kalau Put-coat Suheng menyampaikan berita salah, aku.... aku.... aku hanya...."

Siapa pun dapat menangkap maksud hatinya, jelas Put-po dibuat sangat terkejut hingga 'tidak berani' percaya kalau semuanya itu merupakan kenyataan.

"Peristiwa ini berlangsung tiga tahun berselang, usia orang itu sepuluh tahun lebih muda daripada usia Pa-san-kiam-kek, setelah lewat tiga tahun, aku rasa kemampuan ilmu pedangnya saat ini mungkin sudah jauh lebih hebat daripada kemampuan Pa-san-kiamkek."

"Jadi orang ini adalah murid cilik Hian Tin-cu waktu itu?"

"Sebelum ini aku masih agak ragu, tapi sekarang aku sudah sangat yakin. Betul, tokoh yang bergelar Malaikat pedang ini tidak lain adalah murid Hian Tin-cu waktu itu, Siang Thian-beng!"

Begitu nama murid Hian Tin-cu disebutkan Bu-siang Cinjin, Putpay yang sudah sering berkelana dalam dunia persilatan langsung berteriak kaget.

"Aaaah, tidak heran kalau begitu!"

Waktu itu semua orang sedang mendengarkan cerita dengan asyik, ketika mendengar dia memotong perkataan Ciangbunjin, sebagian orang segera mendesis, sebagian lagi memandang dengan penuh amarah.

Sambil tersenyum Bu-siang Cinjin berkata.

"Kebetulan sekali aku memang ingin beristirahat sejenak, Put-pay, coba kau saja yang bercerita, dimana letak keanehannya."

Sambil berkata dia segera duduk kembali, tosu cilik yang melayaninya buru-buru menyiapkan air teh.

Kelihatannya setelah berbicara sekian lama, dia benar-benar mulai merasa lelah.

Put-pay pun menyambung perkataannya.

"Musim semi tahun ini, kebetulan aku sedang lewat di kota Ci-lam di wilayah Soa-tang, waktu itu kudengar satu berita baru yang menggemparkan dunia persilatan. Tentunya kalian semua tahu bukan siapa busu paling tersohor di wilayah Soa-tang?"

Put-po mendengus dingin.

"Hmm, siapa lagi kalau bukan orang yang menganggap ilmu pedangnya jauh lebih tinggi dan hebat ketimbang ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat dari Bu-tong-pay, Ciangbunjin dari Bu-kek-pay Cong Liu-tong."

"Benar, dia namakan ilmu pedang hasil ciptaannya sebagai ilmu pedang Bu-kek-kiam-hoat (ilmu pedang tanpa batas), adapun nama ini diambil berdasarkan teori bahwa.

Bu-kek menciptakan Thaykhek, Thay-kek menciptakan Ji-gi (positip dan negatip), Ji-gi menghasilkan Su-siang (dalam positip ada negatip, dalam negatip ada positip) dan Su-siang menghasilkan Pat-kwa.

"Ciangbunjin serta dua orang tianglo memang tidak sudi ribut dengannya, tapi aku sangat tidak puas dengan kecongkakan dan kejumawaannya, terus terang, ketika kebetulan lewat di kota Ci-lam tempo hari, pernah terlintas dalam ingatanku untuk menjajal kemampuannya, siapa tahu dua hari sebelum kulakukan keinginanku itu, ternyata ada orang lain yang telah mewakiliku untuk melakukan hal tersebut."

"Meskipun Cong Liu-tong memang jumawa dan takabur, namun ilmu pedang ciptaannya memang sangat mirip dengan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat kita, menggunakan kelembutan untuk mengalahkan kekerasan. Kau tidak boleh kelewat pandang enteng dia. Siapa yang berhasil mengalahkan dia?"

Kata Bu-si Tojin.

"Seorang dusun yang sangat asing dan aneh, konon waktu itu Cong Liu-tong sedang melatih anak muridnya bermain pedang di halaman dalam, entah siapa yang mempersilahkan tamu aneh itu masuk, tiba tiba saja dia sudah muncul persis dihadapannya.

Saat itu seorang putra Cong Liu-tong yang baru berusia tujuh tahun sedang bermain dengan sebilah pedang kayu.

"Ketika Cong Liu-tong menegur apa maksud kedatangan orang itu, orang dusun itupun menjawab.

"Tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin ikut bermain denganmu, mumpung kelihatannya kau sedang gembira. Adik cilik, boleh aku pinjam pedang kayu mu sebentar, biar aku bermain dengan ayahmu."

"Mendengar orang itu mau bermain dengan ayahnya, dengan senang hati bocah itupun meminjam pedang kayunya.

"Cong Liu-tong menyangka orang itu setengah gila, diapun segera menghardik.

"Siapa bilang aku mau bermain denganmu? Cepat pergi, cepat pergi, kalau tidak akan kulempar tubuhmu keluar dari sini!"

Orang desa itu kembali berkata.

"Biar kau tidak ingin bermain denganku pun kau tetap harus menemani! Adik cilik, lihat baik-baik, jangan sampai kelewatan!"

Setelah menarik napas, kembali Put-pay melanjutkan.

"Waktu itu Cong Liu-tong sedang melatih murid muridnya ilmu pedang sehingga dalam tangannya masih menggenggam sebilah pedang yang belum sempat diloloskan dari sarungnya. Sebagai seorang ketua satu perguruan besar, tentu saja dia tidak ingin bertarung melawan seseorang yang hanya memegang pedang kayu dengan sebilah pedang mestika. Tapi mau berkelit dari pertarungan pun sulit baginya, karena sambil berbicara orang dusun itu sudah menggunakan pedang kayu nya untuk menusuk tenggorokannya. Dua orang muridnya buru-buru mendorong tubuh orang dusun itu, tapi sayang tidak nampak bagaimana dia bergerak, tahu-tahu ke dua orang murid Cong Liu-tong itu sudah terlempar sejauh tiga depa lebih dari posisi semula!"

Mendengar sampai disitu, Put-po tidak dapat menahan rasa kagetnya lagi, dia segera menjerit keras.

"Haaah? Bukankah itu adalah ilmu Can-ih-cap-pwe-tiap (menempel baju tersungkur delapan belas kali) yang sangat lihay!"

"Betul, itulah sebabnya mau tidak mau Cong Liu-tong harus menangkis datangnya tusukan itu, dia sambut datangnya serangan dengan menggunakan pedangnya, dalam perkiraannya tangkisan itu pasti dapat mematahkan pedang kayu itu, siapa sangka.... hehehehe.... coba kalian tebak apa jadinya?"

"Bagaimana pun juga Cong Liu-tong adalah seorang ketua partai, tentunya dia tidak sampai dikalahkan pihak lawan dengan pedang kayunya dalam satu jurus saja bukan? Orang dusun itu membutuhkan beberapa gebrakan untuk bisa mengalahkan dirinya?"

"Jangankan kau salah menduga, mungkin Cong Liu-tong sendiri mimpipun tidak pernah menduga akan hal ini. Konon sebelum beberapa orang murid Cong Liu-tong sempat melihat jelas apa yang terjadi, diantara percikan bunga api yang menyebar ke empat penjuru, tahu-tahu pedang dalam genggaman Cong Liu-tong sudah mencelat dari genggamannya. Jumlah jurus yang digunakan tidak sampai tiga gebrakan! Itupun dikatakan sendiri oleh Cong Liu-tong sesudah kejadian."

Semua orang terbelalak kaget sehabis mendengar kisah cerita itu. Tidak tahan Put-po bertanya.

"Bagaimana dengan pedang kayunya?"

"Kebetulan pedang baja milik Cong Liu-tong terjatuh di sisi tubuh putranya, orang dusun itu berjalan menghampiri sambil menyerahkan kembali pedang kayu itu ke tangan putranya, kemudian ujarnya.

"Adik cilik, coba lihat, bukankah pedang kayu mu masih utuh? Coba perhatikan lagi pedang baja milik ayahmu itu, bukankah ada gumpilan besar di mata pedangnya?"

"Bukan hanya putra Cong Liu-tong yang dapat menyaksikan dengan jelas, seluruh murid Cong Liu-tong yang berada di seputar arena pun dapat menyaksikan dengan jelas sekali. Dalam keadaan begini, siapa lagi yang berani tampil ke depan untuk menghalanginya? "

Dalam keheningan, orang dusun itu berkata lagi.

"Pedang kayu tetap utuh, pedang baja justru gumpil. Adik cilik, bagus tidak permainanku dengan ayahmu ini?"

"Dasar anak kecil yang tidak tahu apa-apa, bocah itu malah bertepuk tangan sambil memuji.

"Bagus sekali, bagus sekali, maukah kau ajarkan kepandaian itu kepadaku?"

"Sambil tertawa orang dusun itu menyahut.

"Adik cilik, tidak sepatutnya aku membohongimu, aku bukan sedang bermain sulap, kepandaian ini namanya kungfu. Maaf, biar saat ini kuajarkan kepadamu pun belum tentu kau mampu mempelajarinya,"

Selesai berkata dia pun beranjak pergi dari situ.

"Pucat pias selembar wajah Cong Liu-tong, katanya dengan nada sedih.

"Kepandaian pedangmu memang luar biasa, aku orang she Cong mengaku kalah. Boleh tahu siapa namamu?"

"Aku hanya seorang Bu-beng-siau-cut,"

Jawab orang dusun itu kemudian.

"buat apa musti meninggalkan nama? Aku sendiripun tidak berniat mencari gara gara denganmu."

"Sambil memungut pedangnya dari tanah ujar Cong Liu-tong lagi.

"Bila meninggalkan nama pun kau tidak sudi, buat apa aku orang she Cong hidup terus dikolong langit."

"Melihat lawannya berniat bunuh diri, terpaksa orang dusun itu berkata lagi.

"Sebenarnya aku hanya bermaksud main-main denganmu, baiklah kalau memang ingin mengetahui namaku, aku bernama...."

Tiba-tiba dia mengayunkan segenggam mata uang ke atas tiang bangunan, mata uang itupun berjajar diatas kayu membentuk tiga huruf "Siang Thian-beng".

"Selesai meninggalkan namanya, orang dusun itu pun pergi tanpa bicara lagi. Sementara Cong Liu-tong serta anak muridnya hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"

Begitu Put-pay selesai menyampaikan 'berita terbaru’ itu, seluruh anak murid Bu-tong-pay saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ada diantara mereka yang berpikir begini.

"Jikalau Siang Thianbeng bertarung melawanku, mungkinkah akupun masih sanggup menahan tiga jurus serangannya?"

Tapi ada juga yang berpikir lebih mendalam.

"Usia Ciangbunjin sudah uzur, meskipun dari kedua orang tianglo yang ada, satu amat menguasai ilmu tenaga dalam (Bu-liang) dan yang lain hebat ilmu pedangnya (Bu-si), tapi rasanya masih sulit untuk menandingi kesempurnaan tenaga dalam maupun ilmu pedang yang dimiliki Siang thian-beng. Andaikata dia muncul di Bu-tong secara tiba-tiba dan menantang berduel, siapa yang sanggup mewakili perguruan untuk mempertahankan nama baik?"

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Put-po pun bergumam.

"Sungguh tidak kusangka Ciangbunjin dari Bu-kek-pay keok ditangan Siang Thian-beng hanya dalam tiga gebrakan saja, kali ini Cong Liu-tong benar-benar sudah ketimpa nasib sial."

"Benar, ujar Put-pay kembali.

"ketika aku sedang lewat di kota Ci-lam musim semi ini, peristiwa itu belum lama terjadi, saat itu masih banyak umat persilatan yang sedang merundingkan masalah ini, tidak ada yang tahu asal usul Siang Thian-beng, dan satu hal yang membuat semua orang tidak habis mengerti adalah antara Cong Liu-tong dengan Siang Thian-beng ternyata tidak saling mengenal, lalu atas dasar apa Siang Thian-beng sengaja mendatangi tempat tinggal Cong Liu-tong dan meninggalkan aib yang begitu besar baginya?"

Tiba tiba Put-po berkata.

"Hal ini dikarenakan mereka hanya tahu kalau Siang Thian-beng bukanlah seorang Bubeng Siau-cut seperti apa yang dia katakan, namun sama sekali tidak menyangka kalau dialah si Malaikat pedang yang sudah menghebohkan seluruh dunia persilatan."

"Apakah lantaran dia adalah Malaikat pedang lantas boleh berbuat semena-mena? Cong Liu-tong toh tidak pernah mengusik atau menyalahi dirinya."

"Pada mulanya aku sendiripun tidak habis mengerti, tapi sekarang aku sudah paham,"

Perlahan-lahan Put-po berkata.

"betul, Cong Liu-tong memang tidak pernah menyalahi Malaikat pedang, tapi tujuan sebenarnya dari Siang Thian-beng yang ternyata adalah muridnya Hian Tin-cu itu sesungguhnya adalah ingin mencari garagara dengan Bu-tong-pay kita!"

Biarpun Put-pay sedikit lamban pikirannya, namun begitu dijelaskan dia pun segera menjadi paham kembali, katanya.

"Ooh, mengerti aku sekarang. Ilmu pedang Bu-kek-pay sangat mirip dengan Thay-kek-kiam-hoat dari Bu-tong-pay kita, oleh sebab itulah dia sengaja menjajal ilmunya melawan Cong Liu-tong."

"Betul,"

Put-po mengangguk.

"lebih tegasnya, tujuan dia menantang Cong Liu-tong hanyalah satu pertunjukkan pamer kekuatan sebelum secara resmi dia tantang perguruan kita untuk berduel! Krnm, hrnmm, Cong Liu-tong tidak sanggup menghadapi tiga jurus serangannya bukan berarti tidak ada jago Bu-tong-pay yang tidak mampu merobohkan dia!"

Kawanan anggota Bu-tong-pay lainnya tidak berani begitu yakin dan percaya diri seperti apa yang diperlihatkan Put-po, tanpa sadar sorot mata semua orang dialihkan ke wajah Ciangbunjin.

Setelah meneguk secawan air teh bercampur jinsom, semangat Bu-siang Cinjin pulih kembali jadi segar, duduk diatas panggung katanya kemudian lembut.

"Tahukah kalian apa sebabnya mendiang guruku memerintahkan aku untuk menerima tantangan yang tidak terikat jangka waktunya?"

"Bukankah mereka berdua akan bunuh diri bila kalian tidak mengabulkan permintaannya?"

Tanya Put-pay.

"Jawabanmu hanya betul separuh."

"Lantas apa separuh yang lain?"

"Waktu itu mendiang guruku bertanya, orang kuno berkata 'Bila satu negara tidak ada gangguan dari luar, perlahan dia akan runtuh sendiri.

Mengapa satu negara yang tidak ada gangguan dari luar malah runtuh dengan sendirinya?

Kau mengerti maksudnya?

Akupun menjawab, jika suatu negara seringkali diancam dan diserang musuh dari luar, maka negara itu pasti akan selalu waspada, memperkuat angkatan perangnya dan membangkitkan semangat juang rakyatnya.

Sebaliknya bila tiada ancaman yang datang dari luar, mereka akan mengendorkan kewaspadaan, hidup senang dan santai, lama-kelamaan hal ini justru akan memperlemah mereka sendiri.

Bila kelemahan semakin berlarut, bila suatu saat benarbenar ada musuh yang menyerang datang.

Maka negara itu akan runtuh dan musnah dengan sendirinya'.

"Kembali mendiang guruku berkata.

"Betul, teori ini bisa diterapkan juga dalam satu perguruan ilmu silat. Selama ini ilmu pukulan maupun ilmu pedang Bu-tong-pay selalu disanjung dan disegani orang, hal ini menyebabkan anggota perguruan kita selama ini sombong dan jumawa, bahkan seolah-olah menganggap kemampuan sendiri sudah menjadi nomor satu di kolong langit. Hian tin-cu berdua memang tidak bisa dikatakan sebagai musuh, tapi tujuan mereka jelas adalah ingin mengalahkan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat dengan ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat nya, kalau diartikan lebih luas, kedatangan mereka bisa diibaratkan "

Serangan musuh dari luar ".

Tidak lama kemudian aku akan serahkan posisi Ciangbunjin kepadamu, dengan adanya perjanjian untuk beradu pedang melawannya, hal ini sama halnya dengan sebuah cambuk yang selalu akan mengingatkan dirimu agar di samping selalu berlatih ilmu pedang peninggalan Couwsu, kaupun harus selalu membina orang orang berbakat agar sampai waktunya tidak kewalahan untuk mencari calon yang tepat untuk menghadapi tantangan ini."

Berbicara sampai disini diapun telah selesai menjelaskan separuh alasan yang lain, sesudah berhenti sejenak dan menghela napas panjang kembali Bu-siang Cinjin berkata.

"Aku sudah tiga puluh lima tahun memangku jabatan sebagai Ciangbunjin, tapi harapan mendiang guruku belum pernah kulakukan, kalau dipikir kembali sungguh membuat hatiku menyesal...."

"Suheng, perkataanmu kelewat merendahkan diri sendiri,"

Sela Bu-liang Totiang cepat.

"Put-coat sutit memang sudah mati, tapi menurut aku ilmu pedang yang dimiliki Put-ji sutit juga tidak kalah hebatnya, siapa tahu dia sanggup menghadapi murid Hian Tin-cu!"

"Sayang masih belum cukup,"

Bu-siang Cinjin menggeleng dengan wajah serius.

"Aku sebagai seorang Ciangbunjin wajib bicara sejujurnya dengan kalian semua, jangan lagi kemampuan yang dimiliki Put-ji masih selisih jauh dibandingkan murid Hian Tin-cu itu, bahkan Bu-si sute sendiri pun belum tentu mampu menandingi dia.

"Sebab bila suaru hari nanti dia benar-benar berani datang ke Bu-tong-san untuk menantang berduel, ke tiga celah yang terdapat dalam ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat nya pasti sudah dibenahi hingga sempurna. Itu berarti ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat nya sudah mampu untuk menandingi ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat. Memang benar belum tentu ilmu pedang yang Bu-si sute miliki bisa kalah di tangannya, tapi.... tapi...."

"Suheng tidak perlu ragu untuk bicara terus terang,"

Sela Bu-si Tojin sambil tertawa.

"akupun sadar kalau tenaga dalamku sangat cetek, dalam bidang ini, jangan lagi dengan musuh tangguh, bahkan melawan Put-ji saja tidak cukup mampu."

"Oleh sebab itulah begitu mendapat tahu kalau Siang thian-beng telah muncul di daratan Tionggoan, aku pun harus segera mempersiapkan diri untuk menghadapi serbuan musuh,"

Lanjut Busiang Cinjin lebih jauh.

"setelah berpikir sekian lama, akhirnya aku pun merasa, satu-satunya jalan hanyalah mengundang Tiong-ciu Tayhiap Bouw-sute datang ke gunung untuk memimpin perguruan kita."

"Tidak berani,"

Buru-buru Bu-beng bangkit berdiri seraya menjura. Paras muka Bu-liang Totiang berubah menjadi sangat tidak sedap di pandang, katanya.

"Suheng telah serahkan posisi Ciangbunjin kepada mu, kenapa kau masih mengatakan tidak berani."

Dengan sikap yang tetap tenang dan kalem Bu-siang Cinjin segera memberi penjelasan.

"Sebetulnya masalah pengangkatan Ciangbunjin baru merupakan masalah besar yang harus dirundingkan dulu dengan sute berdua, namun berhubung masalahnya sangat mendesak, akhirnya aku ambil keputusan secara sepihak, untuk itu aku berharap sute berdua jangan berkecilhati."

Karena kakak seperguruannya telah berkata begitu, terpaksa Buliang Totiang dan Bu-si Tojin sama sama berkata.

"Perkataan Suheng terlalu serius, kami percaya pilihan Suheng tidak bakal salah, untuk bergembira bagi keberuntungan perguruan saja tidak sempat, masa kami akan berkecil hati?"

Biarpun mengucapkan perkataan yang sama, namun siapa pun dapat membedakan bahwa Bu-si Tojin bicara dengan tulus, sementara Bu-liang Totiang masih terbelenggu oleh kesulitan yang susah diucapkan dengan kata kata.

Selang beberapa saat kemudian kembali Bu-liang Totiang bertanya.

"Suheng, kau mengatakan bahwa masalah ini sudah sangat mendesak, apakah kau telah memperoleh berita baru?"

"Betul, aku telah menerima kartu nama dari Siang Thian-beng!"

"Hah, kapan menerimanya?"

Seru Bu-liang Totiang terkejut.

"Pagi tadi!"

Bu-liang Totiang segera teringat kalau pagi tadi muridnya yang mendapat tugas untuk berpatroli di depan gunung, seandainya Siang Thian-beng telah mengutus orang untuk menghantar kartu namanya, tidak mungkin Put-pay tidak mengetahui akan hal ini, tapi mengapa tidak melapor kepadanya?

Begitu timbul perasaan curiga, tanpa terasa dia pun melotot ke arah muridnya.

Waktu itu Put-pay sedang merasa sangat mendongkol, menggunakan kesempatan itu segera teriaknya.

"Suhu, jangan salahkan aku karena tidak melapor, waktu itu aku terluka lagipula tidak tahu kedatangan kedua orang itu untuk menghantar kartu nama siapa. Saat itu kebetulan Bu-beng susiok baru tiba di gunung, dialah yang telah mewakili Ciangbunjin untuk mene-rima kartu tersebut."

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Tanya Bu-liang Totiang dengan kening berkerut. Put-pay mengalihkan sorot matanya ke wajah Ciangbunjin, Busiang Cinjin pun berujar.

"Put-pay, coba kau ceritakan kembali kisah pengalaman mu pagi tadi kepada semua orang."

Sementara Bu-liang Totiang berpikir dalam hati.

"Kenapa kartu nama itu disampaikan oleh Bu-beng? Bisa jadi dibalik kesemuanya ini masih terdapat hal lain yang tidak beres."

Berpikir begitu diapun berkata.

"Jadi kalau begitu kedua orang utusan yang dikirim Siang Thian-beng benar-benar kelewat kurangajar."

"Sebetulnya tidak bisa salahkan orang lain sebab waktu itu Putpay turun tangan lebih dulu, peristiwa ini hanya boleh dibilang satu kesalahan paham saja, tapi ke dua orang itupun telah memperoleh hukuman sewajarnya dari Bu-beng sute. Jadi kalau dihitung kembali, sebetulnya Bu-tong-pay kita tidak sampai kehilangan muda. Hanya saja yang aku khawatirkan sekarang adalah kemampuan Siang Thian-beng, kalau dua orang pembantunya saja sudah begitu hebat kungfunya, apalagi kemampuan Siang Thianbeng sendiri."

Bu-liang Totiang mendongakkan kepalanya meme riksa keadaan cuaca sebentar, lalu ujarnya.

"Menurut kebiasaan yang berlaku dalam dunia persilatan, setelah kartu nama dipersembahkan, yang bersangkutan pasti akan munculkan diri. Kini tengah hari sudah lewat, kenapa masih belum nampak orang itu munculkan diri?"

"Asal tidak melewati hari yang sama, hal ini tidak terhitung melanggar kebiasaan,"

Sahut Bu-si Tojin.

"Lantas bagaimana kalau dia baru datang malam nanti? Masa kita semua harus menunggunya terus di tempat ini? Kemudian masalah pemilihan Ciangbunjin baru bukankah sebaiknya ditunda sampai persoalan ini selesai dulu kemudian baru ditentukan? Atau mungkin mau diputuskan sekarang juga? Suheng, kau jangan salah mengira aku keberatan atas pengangkatan Bu-beng sute menjadi penerus Ciangbunjin, tapi aku toh tidak bisa mewakili seluruh anggota perguruan untuk memberikan pendapat. Mengikuti kebiasaan yang berlaku dalam dunia persilatan, mau tidak mau aku harus mengajukan pertanyaan ini."

Sebagaimana kebiasaan yang berlaku dalam dunia persilatan, andaikata timbul perbedaan pendapat tentang calon terpilih sebagai Ciangbunjin baru, maka di samping harus memperoleh persetujuan dari para tianglo, harus didengar pula pendapat dari sebagian besar anggota perguruan lainnya.

Tadi, Put-po sudah mengemukakan pendapatnya bahwa dia baru akan mengambil keputusan mendukung Bu-beng sebagai ketua baru atau tidak setelah dia menyaksikan kemampuan ilmu silatnya, kendatipun pendapatnya bukan merupakan pendapat sebagian besar anggota perguruan, paling tidak ada sebagian orang yang berpendapat sama.

Sementara Bu-siang Cinjin sengaja menyisipkan kisah ceritanya tentang "peristiwa pada tiga puluh enam tahun berselang"

Pun tidak lebih karena dia berharap bisa mencegah keinginan Put-po yang bersikeras ingin beradu kepandaian melawan ketua baru.

Kendati pun hingga kini dia belum sampai mengungkap secara jelas, semua orang juga tahu kalau ketua mereka memang sengaja hendak memberikan kesempatan bertarung melawan Siang Thianbeng ini kepada Bu-beng.

Andaikata Bu-beng berhasil memenangkan pertarungan ini, maka peristiwa itu akan semakin membuktikan kalau kepandaian silat yang dimilikinya memang jauh melebihi orang lain.

Oleh karena hingga kini perundingan masih belum menemui kesimpulan akhir, maka sekali pun di mulut mereka sudah memberikan persetujuannya, bukan berarti dikemudian hari tidak boleh berubah pikiran.

Atau dengan perkataan lain siapa calon Ciangbunjin baru masih belum ada kepastian.

Sesudah termenung beberapa saat akhirnya Bu-siang Cinjin berkata.

"Begini saja, mari kita menunggu satu jam lagi, jika Siang Thian-beng belum muncul juga, kita boleh membubarkan diri."

"Baiklah, kalau begitu ijinkanlah aku untuk mengundurkan diri lebih dulu,"

Kata Bu-liang Totiang "aku akan memeriksa dulu bagaimana keadaan luka yang diderita Put-pay."

Waktu itu Put-pay sedang berdiri di samping Put-ji, begitu turun dari mimbar, Bu-liang Totiang langsung berjalan ke sisi mereka berdua, dengan lagak seakan mengkhawatirkan keadaan luka muridnya, dia periksa sejenak tubuh Put-pay sambil berbasa basi, sementara secara diam-diam dia menghimpun tenaga dalamnya dan mengirim suara ke telinga Put-ji.

Tenaga dalam yang dimiliki Put-ji saat itu selisih tidak jauh dari kemampuannya, apalagi dalam jarak sedekat ini mereka berbicara dengan menggunakan ilmu Coan-im-jip-pit, bukan saja Bu-siang Cinjin dan Bu-si Tojin sekalian yang berada diatas mimbar tidak dapat mendengar suara pembicaraan itu, bahkan Put-pay yang berdiri di samping Put-ji pun tidak dapat mendengarnya.

"Put-ji,"

Bisiknya.

"kau jangan sampai tertipu oleh Bouw Cionglong! Siapa tahu mereka sudah bersekongkel dengan si Malaikat pedang Siang Thian-beng, kau memahami maksudku bukan?"

Padahal Put-ji adalah seseorang yang licik dan banyak akal, tidak perlu diingatkan orang lain pun dia sudah berpikir sampai ke situ. Waktu itu pikirnya.

"Aku tidak boleh mengendorkan kewaspadaanku dengan tidak menaruh curiga terhadap mereka, sekali pun Malaikat pedang benar-benar adalah murid Hian Tin-cu di masa lalu, tidak menjamin antara dia dengan Bouw Ciong-long sama sekali tidak ada hubungan."

Kembali Put-ji berpikir, 'Pertarungan antara jago tangguh, menang kalah hanya ditentukan satu garis tipis.

Antara menang dan kalah pun ibarat orang minum air, dingin atau hangat segera akan ketahuan.

Andai kata mereka sudah bersekongkel lebih dulu, belum tentu Ciangbun Suhu bakal mengetahuinya.

Bagi Siang Thian-beng, jelas tujuannya adalah ingin tersohor di seantero jagad, namun dia nampaknya tidak yakin bisa mencapai tujuan tersebut.

Andaikata Bouw Ciong-long bersedia memberikan keuntungan besar baginya, apa salahnya kalau dia pun mengalah dalam pertarungan.

Bu-tongpay jelas merupakan satu partai besar dalam dunia persilatan, bila Iantarannya mengalah dalam perta-rungan sehingga Bouw Cionglong dengan mulus menjadi Ciangbunjin, mungkin saja keuntungan yang diperolehnya di kemudian hari akan jauh lebih banyak."

Melihat dia manggut-manggut, sambil tersenyum Bu-liang Totiang berkata lagi.

"Baguslah bila kau sudah mengerti maksudku, aku percaya kau adalah orang pintar, bila Siang Thianbeng benarbenar datang memenuhi janji nanti, tentunya kau juga sudah mengerti bukan apa yang musti dilakukan."

Semua pembicaraannya dengan Put-ji dilakukan dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, selain mereka berdua, orang lain tidak ada yang mendengar pembicaraan tersebut.

Pada saat itulah mendadak dari tempat kejauhan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring, begitu nyaring suaranya bagaikan pekikan bangau sakti yang baru turun dari langit.

"Siapa yang datang, berani amat bersikap kurang ajar!"

Bentak Bu-liang Totiang nyaring.

Begitu keras suara bentakan tersebut, membuat ratusan anggota Bu-tong-pay yang hadir disana merasakan telinganya mendengung keras.

Padahal dia sudah dapat menduga siapa yang telah datang, tapi dia memang berniat pamer kekuatan untuk menggertak lawan, di samping itu juga ingin menunjukkan kebolehannya di hadapan Bubeng.

Baru selesai dia bertanya, orang itu sudah menyahut dengan nada dingin.

"Tentunya kau adalah ketua tianglo dari Bu-tong-pay, Bu-liang Totiang bukan? Hehehehe.... konon dalam Bu-tong-pay, selain Bu-siang Cinjin, tenaga dalammu terhitung paling hebat, ternyata nama besarmu bukan nama kosong saja. Sayangnya aku tahu siapa kau sementara kau tidak tahu siapa aku, jika kau sudah tahu siapa aku, tidak nanti berani menuduhku bersikap kurang ajar!"

Sewaktu dia mulai berbicara, bayangan tubuhnya sama sekali belum menampakkan diri.

Suara itu memang tidak terlampau keras, tapi herannya, setiap orang yang berada dalam arena dapat merasakan, seolah orang itu sedang berbicara di samping telinga.

Di antara sekian banyak anggota Bu-tong-pay, ilmu silat mereka memang ada yang lihay ada pula yang cetek, namun rata-rata memiliki pengetahuan yang sangat luas, dari demonstrasi yang dilakukan orang tersebut, mereka dapat menyimpulkan bahwa kemam-puan orang itu nampaknya jauh lebih lihay setingkat ketimbang ketua tianglo mereka.

Belum habis pikiran melintas, tahu-tahu bayangan tubuh orang itu sudah muncul dihadapan mereka semua.

Ketika sorot mata semua orang dialihkan ke wajah nya, maka terlihatlah wajah seorang lelaki yang pucat pasi tanpa warna darah, bahkan kaku tanpa perasaan seolah-olah sesosok mayat hidup yang baru bangkit dari kuburan.

Kembali semua orang tertegun dibuatnya.

Kalau ditinjau dari gelak tertawa yang nyaring dan lantang tadi, semua orang mengira orang tersebut tentulah seseorang yang jumawa dan sombong, siapa sangka orang yang muncul justru mayat hidup yang membawa bau kematian.

Dengan suara nyaring Put-po segera membentak.

"Aku tidak perduli siapakah dirimu, segera lepaskan pedangmu!"

Sembari menghardik, dengan jurus 'merampas pedang’ dia bacok pergelangan tangan orang itu.

"Huuuh, peraturan bau dari mana itu?"

Jengek orang itu sambil tertawa dingin, dia sama sekali tidak meloloskan pedangnya malahan dengan sarung pedang balas menyodok jari tangan Put-po.

Berbarengan itu ada dua orang sama-sama membentak nyaring.

"Kau berani melanggar peraturan yang dibuat pihak Kerajaan?"

"Jangan menodai pesan para leluhur, setiap orang musti mentaati peraturan yang berlaku disini!"

Perkataan pertama berasal dari Put-pay sementara perkataan ke dua berasal dari Put-po.

Sementara berbicara, jari tangannya dengan bertindak sebagai pedang menghindari serangan lawan kemudian melancarkan serangan balasan, kali ini dia tusuk jalan darah Leng-ciu-hiat di punggung tangan lawan.

"Sebenarnya peraturan mana yang hendak kalian bicarakan?"

Jengek orang itu sambil tertawa dingin, pedang berikut sarung yang berada didalam genggaman nya segera menghadang ke depan lalu dengan jurus Heng-im-toan-hong (Awan melintang memotong bukit) melancarkan serangan balasan.

Semua anggota Bu-tong-pay bersama-sama memperhatikan gerakan pedangnya, benar saja, gaya serangannya ibarat gulungan ombak di tengah samudra menyebar luas ke depan.

Put-po segera menggeser posisinya melangkah maju ke depan, dengan satu gerakan Pau-ciang (mengepal tangan), dia ciptakan satu gerakan melingkar untuk memunahkan datangnya ancaman tersebut, kemudian katanya dingin.

"Ciangbunjin partai Bu-tong hadir disini, berbicara dari usia maupun kedudukan, tentunya kau tidak bisa melampui ketua kami bukan! Jadi kalau ingin berbicara soal peraturan yang mana pun, lebih baik lepaskan dulu pedangmu sebelum berbicara lebih jauh."

Di dalam dunia persilatan memang berlaku peraturan semacam ini, apabila jagoan dari partai lain ingin menjumpai ketua perguruan lain untuk pertama kalinya, sekalipun mereka boleh berhadapan dengan status yang setara, namun sebagai pihak tetamu, mereka wajib meninggalkan senjatanya sebagai tanda penghormatan terhadap tuan rumah.

Terlebih lagi jika pihak lawan jauh lebih muda usia dan posisinya jauh dibawahnya, hal ini semakin berlaku bagi mereka.

Bu-siang Cinjin adalah seorang pendeta yang saleh dan bernama besar, diantara sekian banyak Ciangbunjin perbagai perguruan, boleh dibilang usianya terhitung paling tinggi.

Jadi orang yang benar-benar pantas dan berhak untuk duduk sejajar dengannya tidak lebih hanya beberapa gelintir orang saja.

Tapi yang membuat seluruh anggota perguruan merasa kagum dan memuji bukanlah pokok pembicaraannya, melainkan kesempurnaan dia di dalam menggunakan jurus serangan.

Walaupun dia tidak menggunakan pedang, namun jurus pedang Thay-kek-kiam-hoat telah berhasil dilebur dalam permainan jari tangannya.

Yang lebih hebat lagi adalah gerak serangannya seolah hanya bermaksud untuk membendung gerak maju lawan.

Entah sejak kapan tahu tahu Bouw It-yu sudah berada di samping Put-ji sembari berbisik.

"Ternyata Put-po Suheng memang jagoan lihay yang sengaja menyembunyikan kemampuannya, coba lihat jurus yang barusan digunakan, kelihatannya dia benar-benar sudah menguasai inti sari dari ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat."

"Benar,"

Sahut Put-ji mengangguk.

"betul betul sebuah pertarungan pedang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Memang kungfu Put-po Suheng sangat ampuh, namun kepandaian lawan pun tidak lemah!"

Sementara dihati kecilnya dia berpikir.

"Biarpun ilmu pedang yang dimiliki Siang Thian-beng boleh dibilang tangguh, ternyata kehebatannya tidak seperti yang di gembor-gemborkan selama ini!"

Baru berpikir sampai disitu, terdengar orang itu berkata lagi.

"Bagi orang lain, membawa pedang sambil menghadap Ciangbunjin perguruanmu bisa jadi di anggap kurangajar, namun terkecuali bagiku seorang!"

Bicara sampai disitu dia pun membalikkan tubuh dan berteriak ke arah Bu-siang Cinjin.

"Anak murid Hian Tin-cu khusus datang memenuhi janji!"

"Ooh, rupanya saudara Siang telah tiba,"

Kata Bu-siang Cinjin.

"Put-po, tahan...."

Belum selesai dia berkata, mendadak terdengar suara benda yang terbelah pecah, tahu-tahu tokoan yang dikenakan Put-po di kepalanya sudah terbelah jadi dua oleh bacokan sarung pedang itu, menyusul kemudian terdengar Siang Thian-beng bertanya sinis.

"Sekarang aku boleh lewat bukan?"

"Hmm, kepandaianmu memang setingkat lebih tinggi ketimbang aku, tapi kekalahanku kali ini belum membuat diriku menyerah."

Perlu diketahui, di saat Bu-siang Cinjin sedang berbicara tadi, walaupun Put-po belum sampai turun tangan, namun dihati kecilnya dia sudah punya rencana untuk segera melancarkan serangan begitu Ciangbunjin nya selesai bicara, karena perencanaan ini, secara tidak sadar hawa kekuatan yang tersalur diujung jarinya yang dipakai untuk menggantikan pedang pun menjadi melemah beberapa bagian.

Padahal pertarungan antar dua jago tangguh paling pantang menjumpai keadaan seperti ini, begitu kekuatannya melemah, tidak heran kalau pihak lawan segera manfaatkan kesempatan itu untuk menerobos masuk.

Di dalam kenyataan, tanpa harus meloloskan pedang dari sarungnya ternyata Siang Thian-beng sanggup membelah tokoan yang dikenakan Put-po tanpa merontokkan rambut dikepalanya, kelincahan dari ilmu pedangnya dan kesempurnaan tenaga dalamnya seketika membuat seluruh anggota perguruan Bu-tongpay, termasuk Put-po sendiri merasa terkejut bercampur kagum.

Satu hal yang membuat Put-po tidak puas hanya-lah karena kemenangan ini diperoleh dengan taktik.

"Benarkah begitu?"

Jengek Siang Thian-beng sambil tertawa.

"tidak menjadi masalah, kalau belum puas sebentar kita boleh bertanding lagi."

"Aku sudah mengakui kalau kemampuanmu satu tingkat diatasku, kalah, dalam sepuluh jurus atau kalah dalam seratus jurus, sama saja hasilnya, jadi buat apa musti bertanding lagi? Dalam Butong-pay, aku tidak lebih hanya seorang murid yang tidak berguna, masih banyak sekali saudara seperguruanku yang kemampuan nya satu, dua tingkat lebih tinggi dariku, lebih baik simpan dulu tenagamu."

Maksud dari perkataan inipun sangat jelas, artinya coba kalau Siang Thian-beng tidak menggunakan akal, niscaya dia sanggup bertarung seratus jurus lagi melawannya.

"Hmm, moga-moga saja perkataanmu benar,"

Kata Siang Thianbeng dengan wajah kaku tanpa emosi.

"dengan begitu aku punya kesempatan untuk merasakan sampai dimana kehebatan jago-jago Bu-tong yang katamu dua tiga tingkat lebih hebat."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia telah berjalan ke bawah mimbar dan berkata sambil memberi hormat.

"Bu-siang Cinjin, sejak berpisah tanpa terasa tiga puluh enam tahun sudah lewat, tidak sangka kau telah diangkat menjadi seorang Ciangbunjin, maaf bila aku tidak berkesempatan mengucapkan selamat kepadamu."

Bu-siang Cinjin balas memberi hormat, sahutnya.

"Siang-heng, dari pada memilih waktu lebih baik datang setiap saat, kedatanganmu hari ini sungguh tepat waktu."

"Tentunya Cinjin telah menerima kartu namaku bukan? Acara penyambutan dari Ciangbunjin yang begitu megah benar-benar membuat aku si Bu-beng-siau-cut merasa tersanjung."

Dibalik perkataan itu dia selipkan nada sindiran yang pedas. Bu-siang Cinjin tersenyum.

"Nama besar Malaikat pedang sudah tersohor di se antero jagad, saudara Siang tidak perlu merendah. Cuma.... dari kata-katamu barusan, rupanya telah terjadi sedikit kesalah pahaman."

"Dimana letak kesalah pahaman itu? Silahkan Ciangbunjin memberi petunjuk!"

Seru Siang Thian-beng setelah tertegun sejenak.

"Kini aku sudah bukan seorang Ciangbunjin lagi, Ciangbunjin baru telah dijabat suteku ini. Berkumpulnya seluruh anggota perguruan ini pun bukan lantaran menyambut kedatanganmu."

"Ooh, ternyata kedatanganku hanya kebetulan bersamaan dengan upacara kebesaran tersebut. Itu lebih bagus lagi, aku bisa menjadi tamu pertama yang akan memberi selamat kepada Ciangbunjin baru."

Perkataan inipun lamat-lamat mengandung nada tantangan untuk mengajak Ciangbunjin baru berduel.

"Tidak berani,"

Sahut Bu-beng yang mengikuti di belakang Suhengnya dengan hormat.

"lebih baik simpan dulu ucapan selamatmu sampai kita selesaikan urusan ini."

Menurut peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, begitu Ciangbunjin baru selesai ditetapkan, maka diperlukan sebuah upacara lagi untuk mengumum kan pengangkatan itu secara resmi, dalam upcara ini selain diundang seluruh ketua pelbagai partai juga tokoh tokoh kenamaan dunia persilatan.

Oleh karena itu perkataan dari Bu-beng barusan tidak lain adalah sebuah pernyataan bahwa sampai sekarang dia belum resmi menjabat sehingga tidak berani menerima ucapan selamat dari orang lain.

Tapi semua anggota perguruan Bu-tong-pay tahu bahwa Bubeng hanya mau menduduki jabatannya sebagai Ciangbunjin bila dia telah berhasil mengalahkan Siang Thian-beng, sebab kalau tidak, walaupun semua anggota perguruan mau mengakuinya sebagai ketua demi menghormati keputusan Ciangbunjin lama, namun baginya, hal semacam ini bukanlah satu kejadian yang patut dibanggakan.

Dengan pandangan dingin Siang Thian-beng mengawasi Bu-beng beberapa saat, tiba-tiba tegurnya.

"Bukankah kau adalah Tiong-ciu Tayhiap Bouw Ciong-long?"

"Itu namaku dulu, sekarang sudah menjadi pendeta, gelarku adalah Bu-beng."

"Kalau tidak salah melihat, pagi tadi kau masih seorang preman?"

"Betul, pagi tadi sewaktu kau mengutus orang untuk menyampaikan kartu nama, akulah yang telah mewakili Suheng menerimanya."

"Saat itu mustinya kau sudah ditetapkan sebagai calon Ciangbunjin baru bukan, jadi memang sewajarnya kalau kau yang mewakili Bu-siang Cinjin untuk menerima kartu namaku, bahkan aku harus mengucapkan terima kasih karena kau telah memberi pelajaran yang berharga untuk kedua erang bawahanku."

"Anggota perguruan kami Put-pay juga menyatakan banyak terima kasih atas hadiah pemberian urusanmu. Kuharap perselisihan kecil ini tidak usah kelewat dimasukkan ke dalam hati."

Maksud dari perkataan itu sangat jelas, berhubung ke dua belah pihak sama-sama menderita luka, berarti kejadian inipun sudah impas hingga tidak perlu dipersoalkan lagi.

"Perselisihan kecil semacam itu sih tidak ada harganya untuk disinggung kembali. Ada baiknya kita balik ke persoalan pokok, tiga puluh enam tahun berselang aku pernah membuat perjanjian dengan Suheng mu, pernah dia menyinggung soal ini?"

"Sudah sejak awal aku mengetahui masalah ini."

"Bagus, kalau toh sekarang kau sudah menjabat ketua Bu-tongpay, lalu janji pertarungan pedangku dengan Bu-siang Cinjin akan kau wakili atau tetap akan dia lakukan sendiri?"

Bu-siang Cinjin tertawa getir.

"Coba kau lihat,"

Sahutnya.

"keadaanku sudah mirip seseorang yang hampir masuk peti mati, mana mungkin bisa bertanding pedang melawanmu?"

"Hmm, aku sendiri juga hanya manis-manis bibir mengatakan begitu, padahal terus terangan saja, biar kau ingin beradu melawanku pun belum tentu aku bakal melayani, aku tidak sudi ditertawakan orang, mengatakan aku hanya beraninya menganiaya yang tua. Bagus, kalau begitu biar aku tantang Ciangbunjin barumu saja."

"Aku rasa perjanjian yang dibuat tiga puluh enam tahun berselang lebih baik dibatalkan saja."

"Dibatalkan?"

Jengek Siang Thian-beng sambil tertawa dingin.

"aku tidak ingin arwah mendiang guru-ku tidak beristirahat dengan mata meram di alam baka!"

"Tujuan mulia orang belajar silat adalah menghindari saling luka melukai, tapi kalau kudengar omongan Siang sianseng, nampaknya kedatanganmu kali ini adalah untuk menuntut balas."

"Betul, aku memang datang untuk membalaskan dendam sakit hati mendiang guruku, terus kenapa?"

"Alangkah baiknya kalau semua masalah diselesai kan secara damai, kenapa Siang sianseng musti kelewat serius?"

"Masalah ini menyangkut nama baik perguruan, jadi harus diselesaikan secara serius! Hmmm.... hmm.... boleh saja kalau ingin menyelesaikan masalah sampai disini, tapi kau harus mengaku kalah dulu di depan umum!"

"Siang sianseng tersohor sebagai Malaikat pedang, jelas ilmu pedang yang pinto yakinkan masih belum dapat menandingi kehebatan Malaikat pedang."

"Kau keliru besar, yang kuinginkan adalah mengundang kedatangan semua jago persilatan, kemudian dengan jabatanmu sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay, mengumumkan secara resmi kalau ilmu pedang Bu-tong-pay tidak mampu menandingi ilmu pedang Kun-lun-pay kami!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, terjadilah kehebohan di antara seluruh anggota perguruan Bu-tong-pay yang hadir disitu, malah ada banyak diantaranya yang mulai berteriak.

"Bu-si tianglo, cepat hajar orang ini, kasi pelajaran yang setimpal!"

"Bu-beng Suheng,"

Ujar Bu-si Tojin pula seraya menggeleng.

"aku rasa tidak mungkin kau bisa menyelesaikan masalah ini tanpa bertarung melawan Siang sianseng, tolong kau tidak usah merendah lagi!"

"Soal ini...."

"Hey, sudah selesaikah perundingan kalian?"

Bentak Siang Thianbeng keras. Tiba tiba Put-ji melompat keluar dari kerumunan orang banyak, serunya lantang.

"Guruku tidak dapat bertarung melawanmu, biar aku yang bertanding melawan dirimu!"

"Ooh, jadi kau adalah murid Bu-siang Cinjin?"

"Benar, kau boleh mewakili mendiang gurumu untuk menantang berduel, aku pun berhak mewakili guruku untuk melayani tantanganmu."

Siang Thian-beng melirik sekejap dengan nada sinis, sesaat kemudian katanya.

"Sewaktu membuat perjanjian dengan gurumu tiga puluh enam tahun berselang, aku sempat berkata, jika sampai saatnya lantaran kelewat tua kau tidak sanggup bertarung melawanku, kau boleh memilih salah satu orang dari perguruanmu yang berilmu paling hebat untuk bertarung melawanku. Kini Suhumu sama sekali tidak menunjuk kau untuk bertarung, kelihatannya dalam pandangan gurumu kau masih belum terhitung jagoan nomor wahid dari Bu-tong-pay."

"Hmm, waktu itupun kau hanya berkata untuk dirimu sendiri, Suhuku sebagai seorang yang saleh tentu saja sungkan untuk melukiskan dirinya sebagai orang yang terhormat. Betul, perkataanmu tepat sekali, tentu saja aku bukan jago nomor satu dari Bu-tong-pay, aku cukup tahu diri. Hanya saja, menurut pandanganku mungkin kaupun belum pantas untuk bertarung melawanku!"

Siang Thian-beng sama sekali tidak nampak gusar, dengan wajah hambar tanpa perasaan sahutnya.

"Perkataanmu memang benar, dalam hal ini kau memang punya hak untuk melayani tantanganku ini. Cuma saja, berhubung kau bukan ditunjuk langsung gurumu, dan lagi juga bukan orang yang terpilih untuk menghadapi tantanganku, maka meski aku bisa saja melayani tantanganmu itu namun pertarungan itu hanya sebatas pertarungan pribadi. Tegasnya lagi, lantaran memberi muka kepada gurumu maka aku bersedia bermain beberapa jurus melawanmu, jadi jangan kau anggap kau bertarung karena mewakili Bu-tong-pay! Paham?"

Put-ji tertawa dingin.

"Saat ini aku ogah berdebat denganmu, terserah mau kau anggap apa diriku ini, yang penting kau berani melayani tantanganku ini. Cepat lancarkan seranganmu!"

"Hahahaha.... aku mau melayani tantanganmu pun sudah lebih dari cukup,"

Siang Thian-beng tergerak keras, 'baiklah, aku akan mengalah tiga jurus kepadamu! Bu-beng Totiang, sebentar aku akan minta lagi petunjuk darimu!"

Arti dari perkataan ini sangat jelas, seolah baginya mengalahkan Put-ji adalah masalah kecil, segampang dia membalikkan telapak tangan, oleh sebab itu dia hanya minta Bu-beng Totiang untuk "menunggu sebentar saja".

"Kau tidak perlu mengalah,"

Tampik Put-ji cepat.

"kedudukanku setengah tingkat lebih rendah darimu, jadi biarlah aku yang melancarkan serangan lebih dahulu!"

Begitu selesai bicara, ujung pedangnya langsung ditutul ke arah bawah, gerak serangan ini disebut Tiau-thian-it-co-hio (menyembah langit dengan sebatang hio), pertanda sikap menghormatnya untuk jagoan yang berkedudukan hampir berimbang.

Bu-beng yang berdiri persis di samping Bu-siang Cinjin manggut manggut sambil berbisik.

"Ternyata Put-ji sangat mampu menahan diri!"

Gerakan Tiau-thian-it-co-hio bukanlah sebuah jurus untuk menyerang musuh, kembali Siang Thian-beng berseru.

"Kau tidak perlu sungkan, aku tidak akan menghitung gerakan ini."

Siapa tahu baru selesai dia bicara, mendadak Put-ji merangsek maju ke muka, diiringi percikan bunga pedang, tahu-tahu dia lepaskan sebuah tusukan kilat ke depan.

"Kalau jurus ini terhitung tidak?"

Bentaknya.

Siang Thian-beng belum juga meloloskan pedangnya, sambil memutar tubuh dia sambut datangnya tusukan pedang dari Put-ji dengan sarung pedangnya.

Sungguh cepat datangnya serangan itu, mata pedang langsung menggulung ke atas menyusul gerakan itu, kali ini membabat jari tangan yang sedang menggenggam senjata.

"Triiing!"

Dimana ujung pedang melejit, tusukan itu persis mengarah jalan darah Leng-ciu-hiat di punggung tangan lawan.

Cepat Siang Thian-beng merendahkan tubuh sambil menarik tangannya untuk berkelit, saat itulah jurus serangan ke tiga dari Put-ji kembali menyapu tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Serangan yang dilancarkan kali ini benar-benar ganas lagi cepat, ketika mata pedang membabat miring ke bawah, kali ini dia ancam lutut lawan.

Bukan saja jurus serangannya cepat bagai sambaran kilat, bahkan ganas dan tepat, tampaknya sulit bagi Siang Thian-beng untuk berkelit dari ancaman itu.

Tiba-tiba terlihat sekilas cahaya tajam melesat lewat di tengah udara, menyusul kemudian terdengar Siang Thian-beng membentak nyaring.

"Tiga jurus sudah lewat, lihat serangan balasan!"

"Traaang....!"

Diiringi dentingan nyaring, pedang Put-ji sudah ditangkis hingga mencelat ke samping.

Saat itulah semua hadirin dapat melihat dengan jelas kalau sarung pedang milik Siang Thian-beng sudah tergeletak jatuh ke tanah, terbelah menjadi dua bagian.

Dia sama sekali tidak menggunakan gerakan mencabut pedang seperti biasanya untuk meloloskan senjata itu, sarung pedang itu retak dan pecah jadi dua bagian lantaran getaran tenaga dalamnya, itulah sebabnya disaat yang paling kritis dia masih dapat melancarkan serangan balasan dengan kecepatan tinggi, dengan pedang menghadapi pedang dia punahkan ancaman lawan.

Karena pedang itu muncul dari sarung yang pecah, bukan saja berhasil menangkis serangan maut dari Put-ji, malah masih punya kekuatan untuk langsung menusuk perut lawannya itu.

Reaksi Put-ji tidak kalah cepatnya, dengan gerakan angsa liar menembus awan dia melejit ke tengah udara, mata pedang Siang Thian-beng persis menyambar lewat dari bawah kakinya, coba kalau terlambat sedikit saja, niscaya kakinya bakal kutung.

Berada di tengah udara, dengan gaya burung belibis membalikkan tubuh, dengan kepala di bawah kaki diatas, dia melancarkan tusukan ke bawah dengan jurus Bong-po-kiu-siau (rajawali menyusup dari awan).

Cepat Siang Thian-beng melintangkan pedangnya untuk menangkis, terdengar...."Traaang!"

Di tengah benturan benda keras, dua sosok bayangan manusia saling berpisah satu dengan lainnya, dua bilah senjata itu menyambar lewat persis menempel di atas tulang Pie-pa-kut di bahu masing-masing.

Beberapa gerakan pertarungan itu dilakukan begitu cepat bagai sambaran kilat, membuat semua orang yang menonton jadi silau dan terkagum-kagum, sampai saat itulah suara tepuk tangan dan tempik sorak baru bergema gegap gempita.

Sesudah tertegun beberapa saat, Put-po baru mulai berpikir.

"Setelah sekian lama menekuni kitab pusaka peninggalan Couwsu, aku sangka seluruh rahasia ilmu pedang perguruan telah kupahami dan kukuasahi, siapa tahu kehebatan dari perubahan ilmu pedang yang dimiliki Put-ji sute jauh berada diluar dugaanku! "

Dalam hal tenaga dalam, dia memang belum sanggup melampaui kemampuanku, tapi kehebatan ilmu pedangnya jelas masih satu tingkat diatasku, hanya anehnya kenapa jurus pedang yang sebenarnya berasal dari aliran lurus, kini berubah penuh tipu dan muslihat?

Kalau begitu cara berlatihnya, mana mungkin bisa mencapai tingkat yang paling sempurna?"

Biarpun dalam hati kecilnya dia berpikir begitu, namun diluaran dia justru bersorak memberi semangat.

"Put-ji sute, baru melancarkan tiga jurus serangan, kau telah berhasil membuat sarung pedang Malaikat pedang pecah jadi dua bagian, terbukti kau sudah menang satu jurus darinya!"

Kelihatannya dia sengaja tidak menyinggung tentang Siang Thian-beng yang telah mengalah tiga jurus untuk lawannya, jadi sesungguhnya posisi kedua orang itu masih seimbang.

Pertarungan pedang pun berlangsung makin lama semakin bertambah sengit, dalam keadaan begini semua orang tidak punya waktu lagi untuk berpikir banyak, bahkan tidak sempat lagi mengkhawatirkan keselamatan rekan sendiri.

Perhatian setiap orang nyaris tersedot oleh permainan ke dua belah pedang itu.

Tampak permainan pedang Put-ji yang berkembang terus menciptakan lingkaran demi lingkaran cahaya pedang yang menggulung saling menyusul, sebaliknya gerakan pedang Siang Thian-beng bagai pukulan ombak, mengembang ke empat penjuru, tatkala hawa serangan mencapai pada puncaknya, kekuatan yang dihasilkan bagaikan gulungan ombak di tengah badai dahsyat, nyaris menenggelamkan seluruh tubuh Put-ji.

Anak murid Bu-tong-pay yang mengerti ilmu pedang Bu-tong-pay hampir semuanya dibuat kesem-sem dan mabuk kepayang menyaksikan pertarungan yang sedang berlangsung, pikir mereka.

"Ternyata ilmu pedang Thay-kek-kiam bisa juga digunakan sedemikian cepat!"

Bagi anggota perguruan yang belum pernah belajar ilmu pedang Thay-kek-kiam, pertarungan ini membuat mereka semakin terbelalak dengan mulut melongo, apa yang bisa mereka saksikan sekarang hanya lah dua kilas cahaya pedang yang saling menyambar, tidak seorang pun tahu sudah beberapa gebrakan pertarungan itu berlangsung.

Brbeda dengan Bu-siang Cinjin, dia mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama, ketika Siang Thian-beng menyelesaikan ke tiga puluh enam jurus serangannya, diam diam bisiknya kepada Bu-si Tojin.

"Ternyata ke tiga celah yang terdapat dalam ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat milik Hian Tin-cu telah ditambal, kini sama sekali tidak nampak ada kelemahan lagi."

Walaupun ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat terdiri dari enam puluh empat jurus, namun Siang Thian-beng tidak menggunakannya secara berurutan, ke tiga celah tersebut yang pertama ada pada jurus ke tiga puluh enam, kedua ada di jurus ke empat puluh delapan dan ke tiga ada di jurus ke lima puluh sembilan.

Sementara dalam permainan kali ini biarpun Siang Thian-beng baru menggunakan tiga puluh enam jurus, namun ke tiga jurus yang ada celahnya telah selesai digunakan semua.

"Put-ji dapat bertahan sampai sekarang, hal ini sudah terhitung luar biasa baginya,"

Sahut Bu-si Tojin.

"terus terang saja dalam hal belajar ilmu pedang, bakatnya memang jauh diatas kemampuanku, hanya sayang dia lebih memilih jalan taktik dari pada jalan lurus...."

"Taktik dan lurus saling menumbuhkan, tidak salah kalau dipakai untuk saling menunjang dan menutup kelemahan yang ada,"

Sela Bu-beng.

"sudah terhitung hebat kalau dia bisa berpikiran ke situ. Sute, ilmu pedangnya bukankah merupakan hasil gemblengan mu? Kalau dia bisa mencapai taraf sehebat ini, bukan saja kau patut merasa gembira, kamipun wajib memberi selamat kepadamu."

"Tidak benar, tidak benar!"

Tiba tiba Bu-siang Cinjin berseru tertahan.

"Jurus mana dari ilmu pedangnya yang tidak benar?"

Tanya Bu-si Tojin tertegun.

"Bukan ilmu pedangnya yang kumaksud."

"Maksudmu ilmu pedang dari Siang Thian-beng? Sungguh mengecewakan, aku tidak berhasil menemukan apa-apa."

"Ilmu pedang yang dimiliki Siang Thian-beng nyaris tanpa celah, mana mungkin tidak benar?"

"Lantas apa yang dimaksud Suheng sebagai tidak benar?"

Tanya Bu-si Tojin tak habis mengerti.

"Masalah ini tidak mungkin bisa dijelaskan dengan sepatah dua patah kata, lebih baik dibicarakan lagi besok. Siapa tahu dugaanku yang salah."

Kata "tidak benar"

Biasanya digunakan untuk menunjuk sesuatu kenyataan, kalau memang begitu, kenapa pula dia masih mengatakan kalau hal tersebut masih "dugaan"?

Dalam pada itu pertarungan pedang yang berlangsung di tengah arena makin lama makin bertambah tegang dan seru, karena Busiang Cinjin enggan bicara maka diapun merasa rikuh untuk mendesak lebih lanjut, apalagi Bu-siang Cinjin sudah berkata akan dibicarakan lagi dikemudian hari, terpaksa dia hanya menyimpan kecurigaan tersebut di dalam hati.

Ternyata yang membuat Bu-siang Cinjin merasa "tidak benar"

Adalah masalah tenaga dalam yang di miliki Siang Thian-beng.

Sejak awal dia sudah menduga kalau Siang Thian-beng pasti sudah memperbaiki permainan ilmu pedangnya, namun dalam hal tenaga dalam, walaupun ter-masuk tidak lemah juga namun jauh dari apa yang diduganya semula.

Sebagaimana diketahui Put-ji baru menjadi pendeta setelah dia berusia dua puluh enam tahun, saat itulah dia baru secara resmi belajar di bawah bimbingan Bu-siang Cinjin.

Sebaliknya Siang Thian-beng selama ini berlatih terus ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat nya di bawah bimbingan Hian Tin-cu, berlatih tekun selama tiga puluh enam tahun sudah pasti akan menghasilkan kemampuan yang luar biasa, jadi berbicara soal tenaga dalam, tidak seharusnya kemampuannya tidak dapat mengungguli Put-ji.

Di samping itu, berbicara soal ilmu pedang, meski dalam permainan pedang Siang Thian-beng tidak dijumpai celah, namun dalam pandangan Bu-siang Cinjin sekalian sebagai para ahli, permainan orang itu terkesan kelewat "kanak-kanak"

Dan kesan 'kanak-kanak"

Itu tentu saja dikarenakan kekuatan tenaga dalamnya belum mencapai puncak kesempurnaan.

Tanpa terasa Bu-siang Cinjin membayangkan kembali kejadian pada tiga puluh enam tahun berselang, sewaktu bertemu murid dari Hian Tin-cu itu, pikirnya.

"Benar, tinggi rendahnya tenaga dalam sangat mempengaruhi kwalitas dari suatu permainan pedang, itupun tergantung seberapa bagus bakat yang dimiliki, bukan berarti karena waktu berlatih yang panjang, pasti menghabiskan tenaga dalam yang sempurna. Tapi kalau dilihat murid kecil dari Hian Tin/ cu, seharusnya dia terhitung orang yang berbakat bagus, tidak semestinya kemampuan yang berhasil dia yakini berada di bawah kemampuan Put-ji. Namun kenyataannya sekarang, sekalipun dia berhasil mengungguli Put-ji, kelebihan yang dimiliki pun tidak terlalu banyak selisihnya, kenapa bisa begitu?"

Pada saat yang bersamaan, dari tengah ratusan murid Bu-tongpay yang menonton dari bawah mimbar mendadak terdengar pula seseorang berteriak keras.

"Tidak benar, tidak benar!"

Orang itu tidak lebih hanya seorang gadis berusia enam belas tahunan, dia tidak lain adalah 'cici' Lan Giok-keng, Lan Sui-leng.

Waktu itu Lan Sui-leng sedang berdiri berjajar dengan gurunya Put-hui Tokouw.

Agak tertegun Put-hui mendengar teriakan itu, buru-buru bisiknya.

"Anak kecil tahu apa? Jangan berteriak-teriak."

"Aku tidak mengerti ilmu pedang yang mereka miliki, yang kumaksud bukan ilmu pedang mereka."

"Lantas masalah apa yang kau katakan tidak benar?"

Tanya Puthui dengan perasaan ingin tahu.

Suhu, kau jangan marah, aku hanya merasa kalau perkataan yang pernah kau ucapkan dulu sedikit tidak benar."

"Perkataan apa?"

"Suhu, masih ingatkah kau ketika suatu hari tanpa sengaja kau melihat Put-ji Totiang sedang mewariskan ilmu pedang kepada adikku, sekembalinya ke rumah kau pernah berkata, walaupun ilmu pedang dari Put-ji Totiang memiliki banyak rancangan dan gerakan baru namun sayang semua gerakannya hanya kembangan dan sama sekali tidak berguna, kemudian ketika aku bertarung melawan adik, benar saja, aku berhasil mengungguli dirinya.

Aku merasa perkataanmu waktu itu sama sekali tidak betul.

"Coba kau lihat kemampuannya sekarang, bukan saja Put-ji Totiang sanggup bertarung menghadapi orang yang disebut Malaikat Pedang ini bahkan sanggup bertarung seimbang, bukankah hal ini membuktikan kalau perkataanmu dulu tidak benar? Dari pembicaraan Ciangbunjin tadi, jelas kedengaran kalau beliau sangat menyanjung kehebatan si Malaikat Pedang, masa nama besar Malaikat pedang hanya nama kosong belaka?"

"Tentu saja Malaikat Pedang bukan jagoan bernama kosong, hanya saja...."

"Hanya saja kenapa?"

Put-hui Tokouw termenung tanpa bicara, kelihatannya dia sedang tercekam dalam masalah yang pelik. Tiba tiba Lan Sui-leng berseru lagi sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu.

"Hei, ke mana perginya adikku?"

Sebagaimana diketahui, Put-ji adalah guru Lan Giok-keng, di saat gurunya sedang bertarung melawan musuh tangguh, sudah seharusnya dia tampil di depan untuk mengikuti jalannya pertarungan itu.

Sewaktu semua murid berkumpul di bawah mimbar tadi, Lan Suileng telah berusaha mencari adiknya namun gagal.

Sekarang dia hanya berharap adiknya berada diantara kerumunan orang banyak dan berdiri dibarisan terdepan.

Sayang harapan inipun sia-sia.

Tiba tiba Put-hui Tokouw berseru tertahan.

"Aaah, betul, betul!"

"Apanya yang betul?"

Buru-buru Lan Sui-leng bertanya.

Put-hui Tokouw tidak langsung menjawab, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, ketika melihat semua orang sedang mencurahkan seluruh perhatiannya ke tengah arena dan yakin tidak akan ada yang memperhatikan mereka berdua, dia baru berbisik ke sisi telinga Lan Sui-leng.

"Ilmu pedang Put-ji memang sangat berkembang, bahkan dia berhasil menciptakan banyak gerakan baru dalam ilmu pedangnya, tapi jurus serangan yang dia gunakan sekarang, jauh berbeda dengan jurus pedang yang diajarkan kepada adikmu tempo hari. Malah dapat kulihat kalau perbedaannya bagaikan langit dan bumi."

"Jadi Put-ji Totiang sengaja mengajarkan ilmu pedang kembangan kepada adikku? Tapi kenapa begitu?"

Put-hui Tokouw semakin merendahkan suaranya, setengah berbisik katanya.

"Aku khawatir Put-ji mempunyai maksud jahat terhadap adikmu!"

"Haah, kenapa bisa begitu?"

Jerit Lan Sui-leng terkesiap.

Saking kerasnya teriakan ini membuat banyak orang segera berpaling ke arah nya, bahkan ada beberapa diantaranya yang menegur agar mereka jangan berisik.

Buru-buru Put-hui Tokouw menarik Lan Sui-leng untuk menyingkir ke pojokan arena.

Dalam pada itu pertarungan antara Siang Thian-beng melawan Put-ji sudah mencapai pada puncak ketegangan, tiba-tiba tampak tubuh Put-ji mundur beberapa langkah ke belakang, sementara permainan pedang dari Siang Thian-beng mengembang makin melebar, pada hakekatnya dia sudah mengurung seluruh tubuh lawan di bawah ancamannya.

Beruntun Put-ji melancarkan tujuh lingkaran pedang, setiap lingkaran pedang yang diciptakan segera memunahkan setengah bagian tenaga serangan lawan, dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga memperkokoh kembali posisinya.

Tapi kini kendali berpihak pada Siang Thian-beng, enam puluh persen serangan yang dilancarkan nyaris berasal dari pedangnya.

Justru karena situasi pertarungan telah mencapai puncak ketegangan, tiada orang lagi yang menaruh perhatian terhadap mereka berdua.

Melihat itu dengan perasaan lega Put-hui Tokouw baru berbisik lagi.

"Aku sendiripun tidak mengerti apa maksud tujuannya, tapi bila adikmu mempelajari ilmu pedang yang tidak ada gunanya itu, bila suatu ketika benar-benar bertarung melawan musuh tangguh, jelas keselamatan jiwanya bakal terancam bahaya maut! Aku tidak paham apa maksud tujuannya, yang pasti dia mempunyai maksud jahat! Tapi kau jangan bicara sembarangan di luaran, apalagi sampai mengatakan hal ini kepada orang lain!"

Lan Sui-leng semakin bimbang dan kebingungan, sebelum ini, dia selalu menaruh perasaan dengki dan iri terhadap adiknya karena dianggap Put-ji Totiang kelewat sayang dan memanjakan dirinya, bagaimana mungkin dia bisa menduga kalau Put-ji ternyata mempunyai maksud jahat terhadap adiknya?

Sadar kalau masalah ini amat serius, buru-buru bisiknya lagi.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kuperbuat?"

Put-hui Tokouw tidak menjawab tapi menarik tangannya dan menulis diatas telapak tangannya.

"Beritahu adikmu!"

Kembali Lan Sui-leng berpikir.

"Apa gunanya kalau hanya beritahu adikku, mestinya laporkan langsung ke Ciangbun Sucouw."

Tampaknya Put-hui Tokouw dapat membaca suara hatinya, lagilagi dia menulis di telapak tangannya.

"Adikmu pintar sekali, aku yakin dia pasti tahu apa yang harus dilakukan."

Kendatipun diwaktu biasa dia sering dengki dan iri terhadap adiknya, tidak urung hatinya girang juga setelah mendengar pujian dari Put-hui Tokouw.

Bukan hanya gembira bahkan serasa baru terlepas dari beban berat.

"Benar,"

Sahutnya.

"adik memang jauh lebih cerdas ketimbang diriku, asal kuceritakan kejadian yang sesungguhnya, aku pun tidak usah putar otak lagi memikirkan persoalan ini."

Untuk menyampaikan kejadian ini kepada adiknya, pertama-tama dia harus menemukan adiknya lebih dahulu, tapi ke mana adiknya telah pergi?

Sementara dia masih termenung, mendadak dirasakan ada 'suasana aneh' sedang mencekam arena pertarungan, begitu hening dan sepinya suasana saat itu hingga terasa sangat menakutkan.

Ternyata pertarungan pedang di tengah arena sudah mencapai saat penentuan siapa menang siapa kalah.

Siang Thian-beng melambung ke udara, sepintas orang menyangka dia akan mengulang kembali jurus Bong-po-kiu-siau (Rajawali menyusup dari awan), padahal jurus serangan yang digunakan adalah Eng-ki-tiang-gong (Elang sakti menggempur langit) yang memiliki gerakan mirip dengan jurus semula.

Jika hawa serangan yang dipancarkan dari jurus Bong-po-kiu-siau melebar ke empat penjuru maka hawa serangan yang dihasilkan jurus Eng-ki-tiang-gong justru berpusing menusuk ke bawah.

Sekalipun ke dua serangan ini masing-masing memiliki kelebihan, namun jurus serangan yang belakangan justru jauh lebih ganas dan mengerikan, ibarat elang yang menerkam kelinci, sulit bagi musuhnya untuk menghindarkan diri.

Ternyata jurus ini adalah jurus ke tiga belas dari ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat dan merupakan juga jurus serangan paling ganas, bila digunakan berurutan maka seharusnya jurus ini sudah digunakan sejak pertama kali tadi.

Namun Siang Thian-beng sengaja menyimpannya hingga pada saat penting, begitu tahu kalau jurus serangan Put-ji telah digunakan hingga tua dan mustahil ditarik kembali, dia baru menggunakan jurus tersebut untuk menghabisi lawannya.

Sayang diapun tidak menyangka kalau Put-ji pun secara diam diam menyimpan juga satu jurus pamung-kas untuk menghadapinya.

Betul dalam hal tenaga dalam, Put-ji masih setingkat di bawah kemampuannya, namun gejala terakhir yang terjadi justru merupakan satu kesengajaan darinya untuk menipu lawan.

Disaat yang kritis itulah tiba-tiba tubuh Put-ji melejit ke udara, dengan melayang ke samping dia balas serangan lawan dengan jurus Pek-hok-liang-ji (Bangau putih pentangkan sayap) (Gb 5).

Inilah jurus Pek-hok-liang-ji yang tidak mungkin bisa dilupakan Lan Sui-leng karena pernah digunakan untuk mengalahkan adiknya.

Waktu itu adiknya menggunakan pedang kayu untuk menghadapinya, bahkan sebelum menyerang masih sempat memperingatkan cicinya agar lebih berhati-hati, namun alhasil dia sendiri yang justru nyaris terluka oleh pedang cicinya.

Karena itu Lan Sui-leng memperhatikan dengan lebih seksama, benar saja, ternyata jurus yang digunakan Put-ji saat ini sama sekali berbeda dengan jurus yang digunakan adiknya.

Mereka berdua sama-sama menggunakan jurus Pek-hok-tian-ji, radius bentangan yang dihasilkan pun sama-sama melebar sesuai dengan ajaran ilmu Thay-kek-kiam-hoat, hanya bedanya, bentangan yang dihasilkan Put-ji membentuk setengah lingkaran busur yang serong ke samping sementara bentangan yang dihasilkan adiknya justru membentuk satu lingkaran yang membujur ke tengah.

Meskipun perbedaan itu kecil sekali, ternyata manfaat yang dihasilkan dalam pertempuran justru sangat besar.

Tubuh Siang Thian-beng menerkam ke bawah dari tengah udara, sedang Put-ji melambut sambil menyambut datangnya ancaman, kedua orang itu bukan saja telah beradu kecerdikan, pun beradu kekuatan.

"Traaaang....!"

Di tengah benturan nyaring yang disertai percikan bunga api, ke dua bilah pedang itu saling membentur satu dengan lainnya.

Tubuh ke dua orang itu seakan saling menempel, begitu sepasang pedang saling membentur, tubuh mereka pun ikut tidak bergerak.

Oleh karena Siang Thian-beng menyergap dari udara, saat itu hanya ujung kakinya yang menempel tanah sementara kekuatan seluruh tubuhnya bertumpu pada pedangnya, seolah sebuah bukit Thay-san yang menindih tubuh Put-ji kuat-kuat.

Sebaliknya sepasang kaki Put-ji seolah terpaku di atas permukaan tanah, dia melakukan perlawanan dengan sekuat tenaga.

Berdebar keras jantung Lan Sui-leng menyaksikan adegan itu, bisiknya kemudian kepada Put-hui Tokouw.

"Kalau pertarungan dilanjutkan dengan cara begini, bukankah pihak musuh yang justru akan memperoleh keuntungan? Kenapa dia tidak lepas tangan saja? Kalau lepas tangan secara tiba-tiba, siapa tahu pihak musuh malah jatuh terjerembab."

"Aaah, kau ini kurang paham, sekarang mereka sedang beradu tenaga dalam, siapa yang lepas tangan lebih dulu, dialah yang bakal dirugikan."

Saking tegangnya dia menonton, tanpa terasa peluh dingin membasahi seluruh telapak tangannya.

Perlu diketahui, walaupun Put-hui Tokouw menaruh curiga kalau Put-ji bukan orang baik, namun bagaimana pun juga pertarungan ini merupakan pertarungan demi Ciangbunjin mereka Bu-siang Cinjin , tentu saja dia tidak berharap pihak lawan yang menangkan pertarungan.

Begitu juga jalan pikiran Lan Sui-leng saat itu.

Sayang situasi di tengah arena justru bertolak belakang dengan pengharapan mereka berdua.

Kabut putih mulai mengepul dari batok kepala Put-ji, pedangnya pun sudah tertekan oleh senjata lawan hingga melengkung dan membentuk garis busur.

Sebagaimana diketahui, tenaga dalam yang dimiliki Siang Thianbeng memang setingkat di atas Put-ji, apalagi posisinya berada dari atas menekan ke bawah, daya tekanannya otomatis jauh lebih besar dan kuat.

Hal ini memaksa Put-ji mulai tidak sanggup menahan diri.

Sayang pertarungan saat ini merupakan pertarungan beradu tenaga dalam, seluruh hawa murni yang dimiliki mereka berdua telah dihimpun ke dalam pedang masing-masing, jika Put-ji melepaskan atau mengendorkan pedangnya maka kecuali dia menarik lebih dulu tenaga dalamnya, kalau tidak tubuhnya pasti akan terjerembab ke muka.

Di samping itu mana dia berani melepaskan pertahanannya yang terakhir, andaikata musuh mengirim lagi dengan sebuah tusukan maut, bukankah jiwanya akan terancam bahaya maut?

Bila kondisi seperti ini dibiarkan berlangsung lebih lama, tampaknya selembar nyawa Put-ji akan terancam bahaya maut.

Di saat yang kritis itulah mendadak terlihat sesosok bayangan manusia meluncur ke tengah udara dan bagaikan sambaran burung rajawali, langsung menyela di tengah mereka berdua.

Orang itu tidak lain adalah Tiong-ciu Tayhiap Bouw Ciong-long yang sejak hari ini sudah berubah menjadi Bu-beng, pejabat Ciangbunjin yang baru.

Begitu menyusup masuk diantara ke dua orang itu, Bu-beng segera mengebaskan ujung bajunya ke samping, tampak cahaya pedang berkelebat lewat, tahu tahu ujung bajunya telah terkoyakkoyak dan beterbangan di angkasa bagai sekumpulan kupu-kupu.

Saking terkejutnya semua orang hanya bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak, kedua bilah pedang itu sudah dipenuhi pancaran tenaga dalam, bila tidak hati-hati dalam penanganan, bisa jadi akan melukai tubuh sendiri dan bila sampai terjadi begitu, biar tubuhnya terbuat dari lapisan baja pun tidak urung akan muncul juga beberapa lubang ditubuhnya.

Namun sama sekali diluar dugaan, begitu termakan kebasan ujung baju itu tubuh Put-ji justru mundur sempoyongan sampai beberapa kaki jauhnya sebelum berhasil berdiri tegak.

Siang Thian-beng ikut tergoncang juga tubuhnya walau sepasang kakinya masih menjejak di tanah, sekalipun tusukan pedangnya tetap berlanjut, namun karena goncangan itu otomatis sasarannya jadi meleset.

Dengan berpisahnya ke dua orang jago ini maka menang kalah pun segera ketahuan, Siang Thian-beng memang menggunakan tehnik dan akal dalam serangan kali ini, namun dalam pertarungan kemenangan tetap berada dipihaknya.

Selesai memisahkan kedua orang itu, dengan lantang Bu-beng berseru.

"Kalau hanya ingin menjajal kepandaian, berhentilah pada saling menutul, buat apa musti bertarung habis-habisan!"

Perkataan itu Cengli dan masuk diakal, namun dalam pendengaran Siang Thian-beng justru mendatangkan perasaan yang tidak sedap.

Sementara kawanan jago lainnya pun berdiri semakin termangu, sekarang mereka baru tahu bahwa ilmu meminjam tenaga ternyata memang luar biasa hebatnya.

Kalau dibahas dari saling menutul, tentu saja dalam hal ini dia berhasil mengungguli Put-ji satu gebrakan, namun dia dikalahkan pula oleh Bu-beng.

Padahal tujuan kedatangan Siang Thian-beng adalah hendak mengalahkan Bu-tong-pay, mana mungkin dia mau menyudahi persoalan sampai disitu saja?

Dari malu dia jadi gusar, mendadak sambil melepaskan satu tusukan ke tubuh Bu-beng, bentaknya.

"Bagus, aku memang ingin minta petunjukmu!"

Tubuhnya sempoyongan sementara kakinya terhuyung-huyung keadaannya persis seperti orang mabuk.

Tapi caranya memanfaatkan kesempatan sungguh luar biasa, tampaknya ujung pedang itu segera akan menembusi tenggorokan Bu-beng.

Mendadak dia hentikan serangannya seraya membentak.

"Kenapa belum meloloskan pedangmu? Mau menunggu sampai kapan?"

Bu-beng tersenyum.

"Tahu diri dan tidak sampai membuat malu, Kau berhasil menangkan satu gebrakan dari sutitku, aku rasa anggap saja kaulah pemenangnya."

Sepintas perkataan ini seakan mengalah, padahal yang benar gebrakan itu justru merupakan jurus mundur untuk maju.

Sebagaimana diketahui, ketika melawan Siang Thian-beng, Put-ji bertarung dengan posisi sebagai satu satunya murid Bu-siang Cinjin, bila Siang Thian-beng benar-benar 'menarik diri setelah berhasil', tentu saja anggota perguruan Bu-tong-pay lainnya tidak dapat berbuat apa apa terhadapnya.

Tapi masalah ini justru hebatnya terletak pada ucapan "tahu diri dan tidak sampai membuat malu" , jangan lagi Siang Thian-beng memang pada dasarnya tidak ingin menyudahi persoalan itu, bila dia bersedia berdamai pun, tindakannya ini bakal membuat dia kehilangan muka.

Berubah hebat paras muka Siang Thian-beng, hardiknya.

"Apa maksudmu dengan perkataan tahu diri tidak sampai malu? Kau anggap aku benar-benar bukan tandinganmu?"

"Tentu saja Pinto tidak punya maksud begitu, Pinto hanya merasa bahwa ilmu pedang kedua partai kita masing-masing mempunyai kelebihan sendiri, kalau benar-benar harus ditentukan menang kalah, aku khawatir justru akan merusak suasana."

"Sejak awal aku sudah bilang!"

Teriak Siang Thian-beng semakin gusar.

"kemenanganku atas keponakan murid itu tidak masuk hitungan, bagaimana pun aku tetap akan berduel melawanmu."

"Buat apa musti begitu?"

Bu-beng tetap ter-senyum.

"Jadi kau bersikeras enggan memberi petunjuk?"

Bentak Siang Thian-beng gusar, sambil menghardik dia lancarkan sebuah tusukan. Serangan ini selain cepas, ganas pun berbahaya, tahu-tahu ujung pedangnya telah mengancam di ujung hidung Bu-beng.

"Ooh, jadi Siang-heng tetap ingin paksa aku untuk pamer kejelekan?"

Tanya Bu-beng kemudian sambil tersenyum.

"Betul, aku tidak akan mengulang perkataan yang sama, jika kau enggan membalas, itu berarti sedang mencari penyakit buat diri sendiri!"

Serangan yang dilancarkan ke tiga kalinya ini jauh lebih ganas ketimbang serangan ke dua, kali ini sasaran yang diarah adalah sepasang mata Bu-beng.

"Kejadian yang sama tidak akan diulang tiga kali!"

Teriak Put-po tiba-tiba.

"Ciangbun susiok, kau telah mengalah tiga jurus!"

Pada saat itulah terlihat cahaya pedang bagai sebuah rantai membentuk satu lingkaran besar yang mengelilingi arena, kemudian diiringi suara benturan keras, dua sosok bayangan manusia saling berpisah satu dengan lainnya.

Hampir delapan-sembilan puluh persen anggota Bu-tong-pay tidak sempat melihat dengan jelas peristiwa apa yang telah terjadi, ada diantara mereka yang khawatir, ada pula yang merasa ngeri, mereka takut Bu-beng telah dilukai oleh serangan maut itu, bahkan ada pula yang langsung mengumpat.

"Tidak punya muka! Ciangbunjin kami telah mengalah kepadamu, kau justru...."

Tiba-tiba semua orang tertegun dan tidak mampu melanjutkan umpatannya lagi. Tapi saat itulah ada seseorang yang melanjutkan makian tersebut.

"Hahahaha.... tepat sekali, dia memang benar benar tidak punya muka!"

Apa yang disebut "dia memang benar-benar tidak punya muka?"

Ucapan itu kedengarannya memang agak susah untuk dicerna, tapi setiap murid Bu-tong-pay yang hadir saat itu dapat menyaksikan kejadian dihadapan mereka dengan jelas sekali, hingga tidak perlu dijelaskan pun mereka sudah paham sendiri.

Apa yang telah mereka saksikan?

Ternyata mereka telah menyaksian "Siang Thian-beng"

Yang lain, tidak tepat kalau dikatakan orang yang lain, lebih tepatnya kalau dibilang mereka telah menyaksian Siang Thian-beng tapi dengan wajah yang berbeda.

Kalau Siang Thian-beng yang tadi adalah seorang lelaki setengah umur yang berwajah kaku, dingin dan tanpa emosi, bahkan lebih tepat dibilang mirip sesosok mayat hidup, maka Siang Thian-beng yang tampil dihadapan mereka sekarang adalah seorang pemuda tanpa kerutan sedikitpun di wajahnya, waktu itu dia sedang berdiri dengan wajah kaget, gugup dan melongo.

Tidak sedikit anggota perguruan Bu-tong-pay yang kaya pengalaman dunia persilatan, setelah diawasi lebih seksama, banyak diantara mereka yang sadar akan kejadian yang telah berlangsung.

Ternyata Siang Thian-beng yang tampil dari tadi adalah seseorang yang mengenakan topeng kulit manusia, dan Siang Thian-beng yang tampil sekarang inilah baru benar-benar tampil dengan wajah aslinya.

Setelah termangu sesaat tiba-tiba Put-po berteriak keras.

"Sebuah jurus Hian-nio-hua-sah (Burung hitam mengayuh pasir) yang sangat hebat!"

Menyusul teriak itu, Put-hu, Put-hui, Put-lam, Put-tin sekalian anggota murid yang berdiri di belakangnya seakan baru mendusin dari impian, serentak mereka ikut berteriak.

"Ilmu pedang yang digunakan Ciangbun susiok benar-benar sangat hebat! Siang Thian-beng, kali ini kau bisa menyerah dengan hati puas bukan?"

Ternyata walaupun Bu-beng tidak sampai mencabut pedangnya, namun jurus yang digunakan untuk memunahkan tusukan Siang Thian-beng ke arah matanya benar-benar adalah jurus ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat tingkat tinggi.

Dengan tangan sebagai pengganti pedang, mula mula dia gunakan jurus Sam-coan-hoat-lun (tiga kali memutar roda hakim) untuk mengunci serangan lawan dalam lingkaran hawa pedangnya, kemudian dengan tehnik menggiring dan membetot dia paksa pedang lawan mau tidak mau berputar mengikuti kemauan sendiri lalu memutar balik ke arah yang berlawanan, dalam gerakan itu pedangnya justru senjata makan tuan dengan merobek topeng kulit manusia yang dikenakan.

Oleh sebab itu pujian Put-po tentang "Sebuah jurus Hian-niohua-sah (Burung hitam mengayuh pasir) yang sangat hebat!"

Sesungguhnya merupakan jurus serangan yang digunakan Siang Thian-beng saat itu.

Hanya sayang gerak tangannya sudah tidak mentaati perintahnya lagi melainkan di bawah pengaruh Bu-beng.

Dengan meminjam pedangnya, meminjam tangannya dan meminjam jurus serangannya, Bu-beng telah memaksa dia untuk membongkar kedok penyaruannya sendiri.

Bila diuraikan peristiwa itu rasanya begitu pelik dan kalut, padahal gerakan yang dilakukan Bu-beng saat itu jauh lebih cepat daripada sambaran petir.

Bisa meminjam jurus serangan lawan untuk melukai pihak lawan pun sebenarnya sudah terhitung satu tindakan yang luar biasa, apalagi Bu-beng masih bisa menggunakan ujung pedang lawan untuk merobek topeng kulit manusia yang dikenakan diwajahnya tanpa melukai kulit muka itu sendiri, hal ini benar-benar diluar dugaan siapa pun.

Perlu diketahui, topeng kulit manusia yang dikena kan Siang Thian-beng saat itu begitu halus dan tipis, melebihi tipisnya selembar kertas.

Kejutan lain masih ada di belakang!

Kejadian yang membuat para anggota Bu-tong-pay terperangah bukan hanya lantaran kedahsyatan ilmu pedang itu saja.

Mula-mula konsentrasi mereka hanya tertumpu pada kehebatan ilmu pedang itu, namun setelah termangu beberapa saat, mereka baru merasakan hal lain yang tidak beres.

Paras muka Siang Thian-beng yang muncul di depan mata saat ini adalah wajah seorang pemuda yang berusia paling dua puluh tahunan, padahal murid Hian Tin-cu yang mengadakan perjanjian dengan Bu-siang Cinjin terjadi pada tiga puluh enam tahun berselang.

"Kau bukan Siang Thian-beng!"

Kata Bu-beng dingin.

"Hmm, aku hanya mengatakan kalau aku dari perguruan Hian Tin-cu-sahut pemuda itu ketus.

"tentang kalian telah menganggapku sebagai orang lain, itu sih urusan kalian sendiri."

Sejujurnya dia memang tidak pernah mengakui kalau dirinya adalah Siang Thian-beng. Sekalipun menurut keadaan pada umumnya, istilah dari 'perguruan' sama artinya adalah "murid"

Dari seseorang, namun kata dari perguruan tidak mengharuskan kalau dia adalah murid langsung, boleh jadi dia hanya seorang cucu murid. Kembali Put-po mendengus dingin.

"Hmm, paling tidak kau punya hubungan dengan Siang Thianbeng bukan?"

Sindirnya.

"Tentu saja! Kalau tidak, buat apa aku kemari. Aku adalah murid Siang Thian-beng, dengan nama Tonghong Liang."

"Apa sebab gurumu tidak datang sendiri?"

Tanya Bu-siang Cinjin.

"Dulu, kau boleh mewakili gurumu untuk bertanding, mengapa pula aku tidak boleh mewakili guruku untuk memenuhi janji?"

"Kalau begitu perjanjianku dengan gurumu tempo hari sudah dapat dianggap selesai bukan?"

"Seharusnya pertanyaan itu kau langsung tanyakan kepada pejabat Ciangbunjin barumu!"

Beberapa orang anggota Bu-tong-pay yang temperamen kontan saja mencaci maki kalang kabut, tapi Bu-beng tetap tenang bahkan emosi pun tidak, tanyanya dengan suara lembut.

"Maaf aku tidak mengerti apa maksud perkataanmu?"

"Jika kau anggap dengan berhasil mengungguli diriku maka reputasi Bu-tong-pay bisa terjaga, maka sesuai peraturan dunia persilatan, lantaran aku datang mewakili guruku, kau boleh saja menganggap masalah ini telah selesai."

Bicara dari tingkat kesenioran, posisi Tonghong Liang hanya sejajar dengan murid angkatan "Put"

Dalam partai Bu-tong, sebaliknya Ciangbunjin baru Bu-beng berasal dari tingkatan yang sejajar dengan Ciangbunjin lama Bu-siang Cinjin, jadi kekalahan Tonghong Liang di tangan Bu-beng tidak bisa dianggap kehilangan muka.

Tapi bila lantaran kemenangan tersebut kemudian pihak Bu-tong/ pay menganggap masalah terselesaikan, maka tindakan tersebut paling tidak akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak, karena mereka "rela turun pangkat"

Kalau sampai terjadi begitu, bagaimana mungkin mereka dapat menjaga reputasi dan nama baik partai?

Sekarang semua orang baru sadar, rupanya sejak awal dia memang sengaja berusaha mengaburkan suasana dengan mengaku dirinya dari perguruan Hian Tin-cu, rupanya dia berniat mencari tahu kehebatan ilmu pedang Bu-tong-pay demi gurunya.

Hanya saja, walaupun pihak Bu-tong-pay sadar kalau dia sedang main siasat untuk mencari keuntungan, akan tetapi sulit bagi mereka untuk tidak menerima tantangan tersebut.

Dalam pada itu Tonghong Liang telah menyarungkan kembali pedangnya dan berkata kepada Bu-beng seraya menjura.

"Harus kuakui bahwa aku takluk kepadamu karena ilmu pedangmu memang jauh lebih hebat ketimbang kemampuanku.

Cuma sayang, belum tentu kau dapat memenangkan guruku f4' Dalam situasi begini, betapa bagusnya kesabaran Bu-beng, tidak urung dia tidak ingin menunjukkan kelemahan sendiri dihadapan orang, segera sahutnya dengan suara dalam.

"Jadi kau berniat membuatkan janji untuk gurumu?"

"Aku tidak bisa mewakili gumku untuk memberi jawaban, tapi aku bersedia menyampaikan niatmu untuk bertanding pedang kepada beliau."

Sebagaimana diketahui, dia datang karena sedang mewakili gurunya untuk memenuhi janji, dengan sendiri nya tata cara dan pembicaraan semuanya harus mengikuti 'aturan'.

Itulah sebabnya dia hanya bisa mengatakan begitu.

"Bagus,"

Jawab Bu-beng perlahan.

"tolong sampaikan kepada gurumu, bila dia masih berniat untuk menjajal ilmu silatku, setiap saat pinto bersedia memenuhi undangannya."

"Pesan dari Totiang pasti akan kusampaikan. Bila kau tidak ada pesan lain, aku mohon pamit."

Begitu selesai bicara, dia langsung menerobos dari antara kerumunan murid Bu-tong-pay dan turun gunung.

Berbicara dari tingkat kesenioran, posisinya paling hanya sejajar dengan murid Bu-tong-pay dari angkatan "Put" , meskipun sekarang pihak Bu-tong-pay berhasil menangkan pertarungan ini, namun dua orang murid angkatan "Put"

Yang paling tinggi kepandaiannya, Putpo dan Put-ji telah keok ditangan orang itu, boleh dibilang kekalahan yang diderita pemuda itu bukanlah kekalahan yang memalukan.

Menyaksikan kepergian orang itu, para anggota Bu-tong-pay merasa amat masgul, semua orang merasa sangat kehilangan muka.

Di tengah rasa malu, kecewa dan menyesal, dengan sendirinya kesan para anggota Bu-tong-pay terhadap Bu-beng pun berubah menjadi baik-baik, rasa kagum dan rasa berterima kasih terpancar keluar dari wajah semua orang.

Coba kalau bukan Bu-beng tampil ke depan, bahkan berhasil menangkan pertarungan itu secara cantik, mau ditaruh kemana nama baik dan reputasi partai Bu-tong?

Jalan pemikiran semua anggota perguruan segera diutarakan oleh Put-po dengan tampil ke depan dan sekali lagi memberi penghormatan kepada Bu-beng, ujarnya.

"Hari ini aku baru sadar, ternyata aku tidak lebih hanya katak dalam sumur, tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, harap susiok mau memaafkan ketidak sopananku tadi."

Put-pay adalah murid pertama Bu-liang Totiang, walaupun dia menaruh kesan jelek terhadap Bu-beng, namun saat ini mau tidak mau harus mengikuti juga di belakang Put-po dan menyampaikan perasaan kagumnya itu.

"Ilmu pedang susiok betul-betul membuat pandangan mata tecu semakin terbuka, Tonghong Liang bajingan cilik itu benar-benar kelewat latah dan jumawa, tapi kenyataannya susiok hanya butuh tiga jurus telah berhasil membuatnya kehilangan muka. Kalau muridnya saja hanya begitu, tidak mungkin gurunya bisa kelewat hebat. Menurut pendapat tecu, biarpun bajingan itu omong besar untuk gurunya, mungkin perbuatannya itu hanya gertak sambal belaka."

"Bisa jadi ilmu pedang yang dimiliki guru bermurid itu tidak selisih banyak, namun bila disertai dengan kesempurnaan tenaga dalam, jelas hasilnya akan jauh berbeda. Gurunya tersohor sebagai Malaikat pedang, jadi menurut pendapatku, kita tidak boleh pandang enteng kemampuan mereka berdua."

Put-ji yang terakhir kali tampil ke depan menyampaikan selamat, diapun mengucapkan terima kasih karena Bu-beng telah membantunya melepaskan diri dari kesulitan. Sambil tersenyum ujar Bu-beng.

"Ilmu pedangmu cukup bagus, bila di kemudian hari kau berhasil melatih ilmumu hingga sanggup menggabungkan gerakan lurus dan gerakan sesat, sudah pasti kehebatanmu bisa membantu menaikan pamor perguruan."

Melihat Ciangbunjin baru mereka begitu rendah hati, para murid semakin merasa kagum. Sementara itu Bu-si Tojin yang berada diatas mimbar sedang minta petunjuk dari Suhengnya, dia berkata.

"Ilmu pedang Hui-eng kiam-hoat memang tidak ditemukan celah apa pun, bila Siang Thian-beng sendiri yang menggunakan ilmu pedang tersebut, menurut pendapat mu apakah Bu-beng Suheng berpeluang untuk menangkan pertarungan?"

Bu-siang Cinjin termenung sejenak, kemudian sahutnya.

"Ilmu pedang itu mati, perubahan itulah yang hidup. Jika kita dapat menggunakan ilmu pedang Thay-kek-kiam-hoat sesuai dengan kehendak hati sendiri, biar ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat tanpa celah pun kita tetap bisa menciptakan celah baginya. Menurut pandang anku, ilmu pedang Bu-beng sudah hampir mendekati puncak kesempurnaan. Aku tidak berani mengatakan dia pasti bisa menang, yang bisa kukatakan hanyalah dia lebih banyak berpeluang untuk menang."

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba Bu-siang Cinjin menghela napas panjang. Melihat itu Bu-si Tojin jadi tertegun, tanyanya.

"Kalau memang Bu-beng Suheng berpeluang besar untuk menang, mengapa Ciangbunjin masih menghela napas?"

Sekali lagi Bu-siang Cinjin menghela napas panjang, katanya.

"Bila satu perguruan besar hanya mengandalkan kehebatan dari satu, dua orang jagoan saja, jelas kemampuannya belum sanggup untuk menunjang seluruh partai, yang penting justru ada generasi penerusnya. Dulu, walaupun Hian Tin-cu menderita kekalahan, namun ahli warisnya justru generasi yang lebih hebat daripada generasi sebelumnya. Kini kemam-puan Siang Thian-beng sudah jauh melampui kehebatan gurunya Hian Tin-cu, sementara Tonghong Liang yang barusan datang, walau usianya masih muda namun kemampuannya sudah sangat hebat, entah bagaimana jadinya setelah usia pertengahan nanti, menurut pandanganku, bisa jadi dia akan jauh lebih hebat daripada gurunya sekarang, Siang Thian-beng."

"Tapi kemampuan Put-ji sutit juga terhitung hebat!"

Seru Bu-si Tojin.

"Dia memang hebat, hanya saja...."

"Hanya saja kenapa?"

"Aku khawatir dia tidak menempuh jalan yang lurus, apalagi dia baru menjadi pendeta setelah setengah jalan, sulit rasanya untuk mencapai puncak kesempurnaan. Memang betul bakatnya termasuk orang pilihan dalam perguruan kita, namun bila dibandingkan Tonghong Liang, aku rasa.... dia masih ketinggalan sedikit."

Kelihatannya kesehatan tubuh Bu-siang Cinjin semakin mundur, baru selesai mengucapkan perkataan itu dia sudah terbatuk berulang kali, bahkan suaranya pun semakin lemah dan lirih, begitu lemah hingga murid yang berdiri di dekat mimbar pun tidak sempat mendengar.

Saat itu para anggota Bu-tong-pay sedang berkasak-kusuk sendiri membicarakan peristiwa yang barusan berlangsung, otomatis tidak ada diantara mereka yang berniat mencuri dengar pembicaraan Ciangbunjin mereka.

Namun ada satu orang yang terkecuali, dia tidak lain adalah Putji, satu-satunya murid Bu-siang Cinjin.

Tenaga dalam yang dimiliki Put-ji termasuk cukup sempurna dan jauh melampaui kemampuan rekan-rekan se angkatannya, bahkan dibandingkan Bu-liang Totiang pun hanya selisih sedikit, begitu dia mendengar Bu-si Tojin menyinggung namanya, dengan cepat dia pun pasang telinga untuk mencuri dengar pembicaraan itu.

Ketika gurunya bilang kalau dia bukan tandingan Tonghong Liang, mau tidak mau dia harus mengakui akan kenyataan tersebut, tapi dengan cepat dia pun merancang sebuah rencana baru bagi diri sendiri, pikirnya.

"Benar, sekarang aku memang belum sanggup mengalahkan Tonghong Liang si bajingan muda itu, tapi sepuluh tahun kemudian, ketika aku telah berhasil menguasai seluruh ilmu silat perguruan, lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Yang aku khawatirkan justru sampai waktunya, kau hanya bisa mendengar laporanku dari dalam kuburanmu."

Tapi ada satu hal yang membuatnya girang dan lega, pikirnya.

"Untung saja Suhu hanya menyesal karena aku tidak sanggup mengungguli kehebatan murid orang, dia hanya terbatas menyesali soal kemampuan ilmu pedangku dan bukan membicarakan soal tabiat serta tingkah lakuku."

Bu-si Tojin sendiripun diliputi perasaan bingung dan rasa tidak paham, dia tidak habis mengerti dengan perkataan Ciangbun Suhengnya tentang "tidak menempuh jalan yang lurus".

Yang dimaksudkan Suhengnya adalah soal ilmu pedangnya yang tidak lurus?

Ataukah tingkah lakunya yang tidak lurus?

Sebab secara diam-diam diapun dapat merasakan bahwa tingkah laku Put-ji belakangan semakin aneh dan mencurigakan.

Tentu saja semua kecurigaan tersebut hanya bisa disimpan di dalam hati, dia segan untuk menanyakan masalah ini kepada Ciangbun Suhengnya hingga jelas.

Agaknya Bu-siang Cinjin sendiripun merasakan ganjalan yang sama, kembali dia menghela napas panjang.

Ooo)*(ooO BAB V.

Put-ji tidak mentaati pesan terakhir.

"Suheng, mengapa kau menghela napas lagi?"

Bu-si Tojin segera bertanya.

"Sebenarnya dalam perguruan kita bukannya tidak ada muridmurid berbakat bagus, seperti misalnya Lan Giok-keng, cukup berbicara dari bakatnya saja, menurut pandanganku dia tidak kalah dari Tonghong Liang! Hanya sayang...."

"Hanya sayang kenapa?"

Bu-siang Cinjin hanya terengah-engah tanpa menjawab.

Bu-si Tojin segera perintahkan orang untuk menyuguhkan secawan kuah jinsom, selesai meneguk satu tegukan dan mengatur pernapasan, Bu-siang Cinjin baru berkata lagi.

"Sayang usianya masih kelewat kecil, mungkin sulit bagiku untuk melihatnya tumbuh hingga dewasa, Sute, tolong kau yang merawatnya di kemudian hari."

Tentu saja Bu-si Tojin mengiakan berulang kali, namun muncul perasaan "istimewa"

Di hati kecilnya, dia seperti merasa Suhengnya punya sesuatu rahasia yang sulit diutarakan kepadanya saat itu.

"Sute,"

Kembali Bu-siang Cinjin berkata sambil tertawa getir.

"aku sudah tidak punya waktu untuk berbicara panjang lebar lagi, sekarang aku harus menyerahkan pekerjaan besar terakhir kepadamu."

Bu-si Tojin mengerti tugas terakhir apa yang akan diserahkan kepadanya, cepat dia bertepuk tangan dua kali, para anggota perguruan yang sedang ramai berbincang pun menjadi tenang seketika.

Setelah menarik napas panjang, dengan suara yang lebih lantang ujarnya lagi.

"Ilmu pedang yang dimiliki Bu-beng telah kalian saksikan, sekarang, apakah masih ada orang yang keberatan untuk mengangkat dia sebagai Ciangbunjin baru?"

Tentu saja tidak ada orang yang berani membantah. Maka Bu-siang Cinjin pun berseru.

"Bu-beng sute, silahkan naik ke atas mimbar."

Baru saja Bu-beng naik ke atas mimbar, Bu-siang Cinjin telah mengambil sebuah kotak bersulam dan dipegangnya dalam genggaman sambil berkata.

"Kotak ini berisikan se

Jilid kitab ilmu pukulan Thay-kek-kun yang ditulis sendiri oleh Thio Cinjin, Couwsu pendiri partai serta sebuah cap batu kemala hadiah Kaisar Thaycouw, mulai sekarang kuserahkan benda ini kepadamu dan kaulah Ciangbunjin angkatan ke sembilan belas partai Bu-tong kita!"

"Suheng, lebih baik ke dua benda mustika ini kau serahkan kepadamu setelah kau berusia seratus tahun!"

Seru Bu-beng terperanjat. Bu-siang Cinjin menggeleng, katanya lagi dengan sungguh sungguh.

"Kini perguruan kita sedang terancam bahaya, ada banyak pekerjaan besar yang menantimu untuk dilakukan. Sementara aku telah berusia delapan puluh tahun lebih, masa kau tidak rela membiarkan aku melepaskan diri dari beban berat ini?"

Nada pembicaraan itu disertai dengan wibawa yang sulit dilawan, terpaksa sambil menjatuhkan diri berlutut Bu-beng menerima pemberian kotak tersebut.

Kini Bu-siang Cinjin baru tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Sute, kepandaian silatmu sepuluh kali lipat lebih hebat dari kemampuanku, setelah tiga puluh tahun lebih memangku jabatan sebagai Ciangbunjin tanpa berhasil menumbuhkan bibit baru, baru hari ini aku merasa bahwa apa yang kulakukan sangat tepat. Dengan kau memangku jabatan sebagai Ciangbunjin, pikiran dan perasaan ku pun jadi sangat lega tanpa beban lagi."

Begitu selesai mengucapkan perkataan terakhir, dia pun pejamkan matanya sambil menundukkan kepala. Bu-si Tojin cepat memburu maju sambil memeriksa, kemudian jeritnya.

"Ciangbun Suheng telah berangkat ke alam baka!"

Dengan berdiri tegak sambil merangkap tangannya di depan dada, Bu-beng pun berseru.

"Tiada wujud sumber dari tiada halangan, tiada halangan mencerahkan kebebasan, apalah arti tubuh kasar dibandingkan berpesiar ke empat samudra. Apalagi Suheng sudah berusia diatas delapan puluh tahun dan pergi dengan senyuman dikulum...."

Dengan kedudukan Bu-siang Cinjin dalam dunia persilatan, tentu saja upacara penguburannya harus dilakukan secara besar besaran.

Hasil perundingan Bu-beng dan kedua orang tianglo, mereka putuskan untuk mengabarkan kepada semua Ciangbunjin dari pelbagai partai untuk ikut menghadiri upacara penguburan itu, dan atas usul dari Bu-liang Totiang, mereka putuskan untuk menyelenggarakan dua kejadian besar sekaligus.

Dua hari sesudah upacara penguburan, mereka berniat mengadakan upacara pelantikan atas diangkatnya ketua baru.

Dengan begitu para tamu undangan tidak perlu melakukan perjalanan dua kali.

Berhubung partai Bu-tong semenjak di dirikan Thio Sam-hong selalu mendapat 'perlindungan' dari pihak kerajaan, semua Ciangbunjin baru pun selalu mendapat anugerah gelar "Cinjin"

Dari Kaisar. Maka dua kejadian besar yang menimpa Bu-tong-pay pun harus secepatnya dilaporkan ke pihak Kerajaan. Saat itu para murid belum membubarkan diri, Put-po dengan mewakili angkatan "Put"

Segera minta petunjuk kepada Ciangbunjin baru. Kata Bu-beng kemudian.

"Petunjuk tidak berani, hanya ada satu masalah perlu kuumumkan kepada kalian semua."

Put-ji yang mendengar itu diam-diam tidak suka hati, pikirnya, 'Hmmm, baru sehari memegang kekuasaan, kini sudah mau main perintah.

Belum lagi diangkat jadi ketua secara resmi, ada urusan apa pula yang hendak diumumkan?' Tidak disangka persoalan yang diumumkan Bu-beng ternyata jauh di luar dugaannya.

Ternyata Bu-beng dengan posisinya sebagai Ciangbunjin, mengumumkan kalau Put-po dan Put-ji secara resmi diangkat menjadi tianglo.

Sebetulnya kedudukan tianglo itu sangat tinggi, biasanya seorang Ciangbunjin harus menjalankan upacara pelantikan lebih dahulu kemudian baru mengumumkan pengangkatan.

Tapi berhubung Putpo dan Put-ji adalah murid dari angkatan lebih muda, apalagi saat itu Bu-tong-pay sedang dilanda pelbagai masalah, maka pengangkatan yang tidak sesuai dengan prosedur masih bisa diterima semua orang.

Semenjak Bu-kek tianglo tertimpa musibah enam belas tahun berselang, hingga kini perguruan belum pernah mengangkat tianglo baru, Bu-tong-pay sebagai partai besar, tentu saja sangat kurang bila hanya memiliki dua orang tianglo saja.

Dalam hal ini, banyak anggota perguruan yang dapat merasakannya.

Hanya saja mereka sangka Bu-siang Cinjin sudah mempunyai pengaturan lain sehingga siapa pun tidak ada yang berani berkomentar.

Sama sekali diluar dugaan ternyata Bu-siang Cinjin tak pernah menyinggung kembali masalah itu, tak heran kalau persoalannya tertunda hingga kini.

Put-po adalah ahli waris Bu-kek tianglo, sementara Put-ji adalah satu-satunya murid almarhun Ciangbunjin.

Biarpun usia mereka relatif masih muda (Put-po berusia empat puluh delapan tahun, Putji berusia empat puluh tiga tahun), tapi tradisi tianglo usia muda sudah pernah terjadi sebelumnya, ketika Bu-si Tojin diangkat menjadi tianglo, usianya baru empat puluh satu tahun.

Maka tidak seorang anggota Bu-tong-pay pun yang mengajukan protes.

Biarpun Put-ji telah diangkat menjadi seorang tianglo, namun dalam hati kecilnya dia berkeluh kesah dan merasa sangat tidak puas, biarpun posisi tianglo cukup tinggi, bagaimana pun masih kalah dibandingkan kedudukan seorang Ciangbunjin.

Kemarin, dia masih mengira posisi Ciangbunjin pasti akan terjatuh ke tangannya, siapa sangka hanya dalam seharian, ada begitu banyak perubahan yang telah terjadi.

"Hubungan seorang guru dan murid ibarat hubungan ayah dengan anak, di waktu biasa kusangka Suhu menaruh perhatian kepadaku, siapa sangka di saat paling kritis, dia justru tidak menganggap diriku. Melarang aku menjenguknya waktu sakit, dalam pertemuan besar para sesepuh pun aku disingkirkan begitu saja. Bahkan menjelang ajalnya pun dia tidak meninggalkan pesan apa-apa. Benar-benar tidak kusangka kalau dia lebih menaruh perhatian terhadap orang luar ketimbang terhadapku!"

Sebagai seseorang yang licik dan banyak akal, tentu saja dia pun mengerti maksud Bu-beng mengangkat dirinya menjadi seorang tianglo, semuanya itu tidak lain hanya ingin merangkul dirinya.

Tapi terlepas apapun niatnya, dia wajib memberi muka juga kepadanya.

Dalam kekecewaan dan keculasannya, tanpa terasa timbul perasaan geramnya terhadap sang guru yang telah tiada.

Tapi bagaimana pun juga dia adalah satu-satunya murid Bu-siang Cinjin, lagipula baru saja diangkat menjadi tianglo, sekalipun tidak suka hati, paling tidak dia musti tunjukkan mimik kalau ikut bersedih atas kematian gurunya.

Oleh karena itu dari angkatan "put"

Boleh dibilang dia nyaris meninggalkan arena paling belakang.

Waktu itu hari sudah semakin gelap.

Seorang diri dia berjalan menuju ke Tokoan tempat tinggalnya.

Ketika segulung angin dingin berhembus lewat dan menyegarkan otaknya yang sedang sumpek, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu, rasanya ada yang tidak beres?

Apa yang tidak beres?

Aah, benar.

Kenapa tidak nampak Lan Giok-keng?

Dia adalah ayah angkat Lan Giok-keng, merang-kap sebagai gurunya juga.

Selama ini bocah itu selaki menurut dan rapat dengan dirinya, tapi berhubung kali ini banyak masalah diluar dugaan yang menimpa perguruan, dia jadi tidak sempat mencari Lan Giok-keng.

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 9

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger