Eps 10 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
Tindakan ini dilakukan sangat mendadak, mau tak mau Liong Leng-cu harus menyambut bocah tersebut Setelah memondong si bocah itu, berarti pula dia tak dapat menyerbu untuk bertarung melawan Itbun Lui "Leng-cu, aku harap kau suka melindungi anak Ting baik-baik, biarkan dia tidur dengan nyenyak.
Kau adalah tamuku, sudah sepantasnya kalau aku yang menghadapinya!"
Liong Leng-cu sendiri pun khawatir kalau bocah tersebut cedera, maka segera ujarnya.
"Empek Siau, sebentar bila kau berhasil membekuk bajingan cilik itu, jangan buru-buru kau bunuh dirinya!"
Dia seperti menaruh kepercayaan penuh atas kemampuan ilmu silat yang dimiliki kakek tersebut, dalam anggapannya sekalipun tenaga dalamnya sudah berkurang banyak juga tak menjadi soal.
Padahal dia mana tahu kalau kakek tersebut bukannya kehilangan beberapa bagian tenaga dalamnya saja, tapi sudah berkurang sebesar tujuh bagian.
Sambil memondong bocah itu Liong Leng-cu segera menyingkir ke sisi arena, sementara si kakek membentak dengan sepasang mata melotot amat besar.
"Itbun Lui, ayolah turun tangani"
Itbun Lui tertawa.
"Siau losianseng, kau benar-benar mau bertarung melawanku? Betul Giok-liong Taycu adalah sahabatmu, tapi bagaimanapun jua, selembar nyawamu sendiri jauh lebih berharga ketimbang nyawa putri sahabatmu yang telah mati bukan?"
Ditinjau dari nada pembicaraan tersebut, seakan-akan dia hendak maksudkan bahwa kakek itu sudah pasti akan mati apabila bertarung melawan dirinya.
Kakek Siau menjadi teramat gusar, mukanya merah padam daa sepasang matanya melotot besar, bentaknya dengan lantang.
"Kau anggap aku Siau It-kek manusia macam apa? Dengan tipu muslihat kau telah menguras tenaga dalamku, hmm sekalipun aku harus mempertaruhkan selembar jiwaku, tak nanti akan kubiarkan keinginanmu itu tercapai."
"Baik,"
Seru Itbun Lui kemudian.
"kalau toh kau enggan mendengarkan nasihatku, jangan salahkan jika aku akan berbuat kurang ajar. Siau It-kek, bukankah kau disebut orang Ci-lian-kiamkek? Hari ini, aku akan mengandalkan sepasang telapak tanganku untuk mencoba ilmu silatmu yang lihay itu, ayo cabutlah pedangmu!"
Dahulu, semasa mudanya dulu, Siau It-kek memang termashur dalam dunia persilatan karena ilmu pedang dan ilmu telapak tangannya.
Tapi beberapa tahun sebelum meng-asingkan diri, dia sudah tak pernah menggunakan pedangnya lagi, terutama sesudah tanpa tandingan dalam dunia persilatan.
Semenjak mengasingkan diri, dia pun sudah berhasil melatih ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat, hal ini membuatnya lebih-lebih tak membutuhkan pedang lagi.
Hari ini, dia memang bermaksud untuk memberi petunjuk ilmu silat kepada Liong Leng-cu, sehingga tidak membawa serta pedangnya.
Padahal sekalipun dia membawa pedang pun tak nanti akan menghadapi seorang angkatan muda yang menantang dengan tangan kosong itu dengan mempergunakan senjata.
Itbun Lui sudah jelas tahu kalau dia tak membawa senjata, namun dia masih juga mengatakan ucapan tersebut, di manakah maksud tujuannya, sudah barang tentu Siau It-kek tahu dengan jelas.
Karena tahu, tentu saja dia tak sudi termakan siasat musuhnya itu.
‘Tak usah banyak bicara lagi, tanpa pedang pun aku masih mampu untuk membunuhmu, ayo seranglah!"
Bentak Siau It-khek. Itbun Lui tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah haah baik, lihat saja nanti siapa yang akan berhasil membunuh siapa?"
Belum selesai dia berkata, sepasang tangannya sudah bergetar melancarkan serangan.Dengan jurus Hud-im-jiu, sepasang tangan Siau It-khek dikebaskan ke depan sementara Itbun Lui berkelit ke samping dengan langkah sempoyongan.
Mendadak Siau It-khek mengendus bau harum semerbak yang luar biasa, menyusul kemudian muncul suatu perasaan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Sambi!
tertawa, Itbun Lui segera berseru.
"Siau locianpwee, aku lupa memberitahukan kepadamu, di atas telapak tanganku ini telah dioles dengan cairan obat dewa yang dibuat secara khusus, sekalipun pil dewa bukan termasuk obat beracun, na-mun sanggup membuat lemah semangat seseorang, lebih baik kau berhati-hati."
Siau It-kek segera menghimpun tenaganya dan bertarung sebanyak beberapa gebrakan.
Suatu ketika mendadak ia membentak keras sambil melancarkan serangan mematikan.
Itulah jurus Han-siu-toh-cing (Memuntahkan Tenaga Mumi) yang merupakan intisari ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat, jurus ampuh yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga oleh Siau It-khek ini tentu saja luar biasa akibatnya.
Kalau tenaga im dan yang bergabung maka akan terciptalah suatu kekuatan yang luar biasa, keadaan Itbun Lui ketika itu bagaikan sebuah sampan yang terombang-ambing di tengah pusaran air yang berpusing, dia harus berputar tiga kali lebih dulu sebelum berhasil berdiri tegak.
Siau It-khek segera melompat ke depan, dengan jurus Kit-hong-si-lui (Angin Puyuh Guntur Menyambar) dia langsung menghajar punggung lawan….
Waktu ftu, Itbun Lui baru saja berhasil berdiri tegak, buru-buru dia menggunakan jurus Ngo-ring-kay-san (Ngo-ting Membuka Bukit)menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, ternyata serangan itu berhasil dibendungnya.
"Aah, sayang sekali,"
Diam-diam Siau It-khek berpetak.
"Coba kalau tenaga dalamku telah pulih dua bagian lagi, sudah dapat dipastikan bajingan cilik ini akan tewas di ujung telapak tanganku!"
Di dalam menggunakan jurus Han-siu-toh-cing tadi dia menyerang dengan menghimpun segenap tenaga dalamnya dengan harapan sekali pukul akan mendapatkan hasilnya Siapa tahu bukan saja pukulan tersebut tidak memberikan hasil apa-apa, malahan sebaliknya tenaga murni yang dimilikinya semakin menderita kerugian besar.
Itbun Lui yang hampir saja menderita kerugian besar makin terkejut pula, segera pikirnya.
"Tua bangka ini disebut orang Kiam-ciang-siang-ciat (Lihay Dalam Ilmu Pedang Maupun Ilmu Pukulan), nyatanya nama tersebut bukan hanya nama kosong belaka. Untung aku bertarung dengan persiapan penuh, lagi pula tidak terburu-buru untuk membereskannya, lebih baik kukuras tenaga dalamnya sampai habis lebih dahulu."
Begitu keputusan diambil dia segera mengubah taktik pertarungannya menjadi pertarungan gerilya.
Dia berputar kian kemari di sekeliling Siau It-khek, ditambah pula di atas telapak tangannya dioles racun, sekalipun tak sampai mengenai tubuh Siau It-khek, namun bila terisap angin pukulannya pun akan mendatangkan kerugian juga bagi lawannya.
Dalam keadaan seperti ini terpaksa harus menutup pemapasannya rapat-rapat, bila sudah sampai pada saat yang tak bisa ditahan lagi, dia baru menarik napas panjang.Sementara pertarungan berlangsung di pihak lain, maka dari dalam hutan sebelah sana berkumandang suara nyanyian yang amat merdu dan merayu.
Itulah suara nyanyian dari Liong Leng-cu yang sedang meninabobokan sang bocah.
Pada dasarnya bocah tersebut memang sudah mengantuk sekali, dia hanya mengkhawatirkan keselamatan ayahnya yang sedang bertarung melawan orang jahat, sehingga tak berani memejamkan matanya.
Sementara itu terdengar suara nyanyian yang merdu berkumandang memecahkan keheningan.
Bintang berkedip, rembulan bersinar Anak sayang tidur di pembaringan Jangan takut macan buas di timur Jangan takut srigala bengis dibarat.
Ibu selalu di sisimu Tidurlah nak, tidurlah sayang Tidurlah hingga keesokan harinya….
Nyanyian itu seringkah didengar Liong Leng-cu sewaktu masih kecil dulu, di bukit, di tengah salju, di hutan, setiap malam bila d» hendak berangkat tidur maka ibunya suka menyanyikan lagu untuknya.
Membawakan nyanyian H| tanpa terasa terbayang kembali masa kecilnya yang masih susah dulu.
teringat pula akan ibunya yang begitu sayang kepadanya Bagi mereka yang berperasaan halus, secara lamat-lamat mereka dapat mendengar bahwa di batik suara nyanyian tersebut terkandung nada pedih yang membuat hati orang menjadi kecut.Nyo Yan yang benda di bukit seberang menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Walaupun nasibnya jelek, bagaimanapun juga masih ada ibu tersayang yang mendampinginya, menyanyikan lagu merdu baginya Sedangkan aku… belum sempat] nap berusia setahun aku harus kehilangan ibuku untuk hingga ‘hok-ki’ semacam itu pun tidak kumiliki…." | Di tengah suara nyanyian itulah pertarungan yang berlangsung aatara Siau I t-khck dengan Itbun Lui berlangsung semakin seru. Siau It-khek yang mengkhawatirkan keselamatan anaknya, tanpa terasa berpikir.
"Musuh tangguh yang sedang kuhadapi sekarang jauh lebih ganas daripada harimau di bukit timur atau serigala di bukit barat, bila aku sampai keok di ta-ngannya, sudah pasti Liong Leng-cu tak mampu melindungi keselamatan sendiri, sampai waktunya siapakah yang akan melindungi putraku ini?"
Sepajang hidupnya entah berapa badai yang sudah dihadapinya, selama ini dia tak tahu apa yang dinamakan takut, tapi kali ini, entah mengapa, tiba-tiba saja dia merasa ngeri bercampur takut.
Dalam gelisahnya, ia menjadi kehilangan kesabarannya dan ingin cepat-cepat mengalahkan musuhnya.
Penggunaan tenaga yang melampaui batas membuat ia mengendus bau beracun tersebut-seketika itu juga kepalanya menjadi pusing tujuh keliling.
Kesempatan yang sangat baik ini segera dimanfaatkan oleh Itbun Lui, sebuah pukulan segera dilontarkan menghajar telak tubuhnya, tak ampun kakek Siau segera memuntahkan darah segar.Itbun Lui yang menyaksikan keberhasilannya itu segera tertawa terbahak-bahak, setunya.
"Siau loji, kau… kau…."
Belum selesai dia berkata, tiba-tiba saja tubuhnya tak sanggup untuk mempertahankan diri sehingga berputar kencang beberapa kali.
"Blaaammm!"
Sebuah pukulan yang dilancarkan secara tergesa-gesa menyambar sebuah pohon sebesar lengan manusia hingga patah menjadi dua bagian.
Seandainya dia tidak menarik gerakannya dengan cepat, hampir saja tubuhnya menumbuk di atas pohon tersebut Rupanya dalam ilmu pukulan Sau-yap-ciang yang dilepaskan oleh Siau It-khek tersebut terkandung tiga lapis tenaga dalamnya yang menerjang ke depan bagaikan arus sungai.
Satu gelombang belum tenang, gelombang berikutnya meluncur datang lagi dan baru menunjukkan kedahsyatannya setelah menumbuk badan Itbun Lui.
Sayang sekali keadaan Siau It-khek waktu itu seperti panah yang baru dibidikkan,.dia tidak mempunyai kekuatan lagi untuk memburu ke depan dan menambahi dengan sebuah pukulan lagi.
Sementara itu, Itbun Lui telah menerjang maju lagi setelah mundur, kali ini dia menyerang semakin gencar.
Nyo Yan yang berada di bukit seberang tak sempat melihat jelas keadaan di sini, namun dari gerakan tubuh yang berkelebat kian kemari, dia bisa menduga kalau Siau It-khek hanya mampu menangkis tanpa memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.
Pukulan Itbun Lui yang berhasil mematahkan dahan pohon itu segera menyadarkan dia dari lamunan, segera pikirnya.
"Aduh celaka, tenaga dalam Siau locianpwe sudah terkuras banyak, mungkin dia sudah tak mampu lagi untuk menandinginya. Aku harus segera memburu ke sana untuk membantu Liong Leng-cu."
Dalam anggapannya Siau It-kek masih mampu untuk bertahan beberapa saat lagi, siapa tahu keadaan kakek tersebut sudah payah dan tenaga dalamnya sudah terkuras sama sekali, keadaaannya jauh lebih parah daripada apa yang dibayangkan semula Dalam pada itu Liong Leng-cu dengan susah payah berhasil juga menidurkan bocah tersebut, buru-buru dia mencabut keluar pedang yang dipakai oleh Siau It-kek tadi.
Waktu itu Siau It-kek sedang melancarkan serangan dengan sekuat tenaga, sedangkan Itbun Lui juga mementangkan sepasang lengannya sambil melawan, di mana gerakan dilakukan angin serangan segera menderu-deru.
Pasir dan debu beterbangan di angkasa, daun dan ranting berguguran di tanah.
Sekalipun sepasang kaki Siau It-kek masih terpantek di tanah, namun separuh tubuh bagian atasnya bergoyang kencang, seolah-olah berada di tengah amukan angin puyuh.
Liong Leng-cu memutar batik gagang pedangnya lalu berteriak.
"Empek Siau, untuk menghadapi manusia rendah yang terkutuk dan tak tahu malu begitu, buat apa kau mesti bersungkan-sungkan lagi. Gunakan saja pedang ini?" * Dia khawatir Siau It-kek terlalu mementingkan soal nama dan kedudukan sehingga enggan menggunakan pedang, maka sebelum menyodorkan pedangnya dia berseru lebih dulu. mengemukakan pendapatnyaBegitu selesai berkata, pedang tersebut segera dilemparkan ke arah Siau It-kek Siapa tahu justru karena dia bertindak agak terlambat beberapa saat, kembali Siau It-kek menerima dua pukulan secara beruntun, ilmu pukulan Kim-kong-ciang rupanya berhasil menjebol pertahanan sin-kang pelindung badannya! Ketika pedang tersebut meluncur tiba, It-bun Lui segera melepaskan sebuah pukulan udara kosong ke depan. Termakan oleh tenaga dorongan tersebut, pedang itu melun-cur ke depan semakin cepat lagi dan… "Craaap!"
Menancap secara telak di bahu kiri Siau It-kek.
Pada dasarnya Siau It-kek sudah tidak sanggup untuk mempertahankan diri, luka yang ditambah dengan loka membuai dia berteriak keras tahi melompat sejauh tiga kaki ke belakang.
Lompatannya itu telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menghindarkan diri dari serangan Itbun Lui berikutnya, tapi begitu sepasang kakinya menempel di atas tanah dia segera roboh di atas tanah, roboh tak sadarkan diri.
Liong Len g – c u menjerit keras buru-buru lari menuju tempat di mana Siau It-khek roboh terkapar.
Itbun Lui tertawa terbahak-bahak, mendadak ia melompat ke depan dan menghadang di hadapan Liong Leng-cu, kemudian serunya sambil mengejek dingin.
"Siluman perempuan kecil; kini tulang punggungmu sudah tak mampu untuk melindungi diri, lebih baik ikutilah aku berlalu dari sini."
Liong Leng-cu sangat marah, sepasang matanya melotot dan berapi-api, bentaknya gusar.
"Bajingan cilik dari Bukit Unta Putih, aku akan beradu jiwa denganmu!"
"Beradu jiwa pun tak ada gunanya!"
Sahut Itbun Lui tertawa. Dengan pukulan yang sangat kuat dia memukul miring ujung pedang Liong Leng-cu yang menyerang tiba. Liong Leng cu menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian berpikir di hati.
"Aku harus berusaha menenangkan hati, yang penting membalaskan dendam untuk empek Siau!"
Dia pun segera mengingat kembali cara mengerahkan tenaga Siau-yap-cianghoat seperti petunj uk Siau It-kele, tiba-tiba permainan pedangnya berubah.
Cahaya pedang yang lincah, kuat dan cekatan berkelebat dan menyambar kian kemari dengan dahsyatnya.
Kini, dia telah menyalurkan pukulan Liong-heng-lak-cap-si-si dari keluarganya ke dalam permainan pedang tersebut.
Kendatipun Itbun Lui menggunakan ilmu pukulan Kim-kong-ciang tingkat kedelapannya, toh dalam keadaan demikian dia cuma sanggup untuk melindungi diri sendiri saja Jangankan ingin memukul terpental pedang di tangan lawan, bahkan ada beberapa jurus pedang yang dahsyat nyaris tak bisa dihindari.
Rasa kaget Itbun Lui sekarang tidak berada di bawah Liong Leng-cu, ia lantas berpikir.
"Heran, mengapa tenaga dalam yang dimiliki budak ini bisa jauh lebih tangguh daripada tadi? Benar-benar sangat lihay…."
Dengan cepat dia mengeluarkan ilmu simpanannya untuk bertarung gerilya dengan Liong Leng-cu.
Semakin kuat musuhnya menekan dia, Liong Leng-cu semakin nekat mempertahankan diri, sambil menggigit bibirdia mengerahkan tenaganya ke ujung senjata dan menguntit terus tubuh Itbun Lui secara ketat Tampaknya dia sudah berhasil menduduki posisi di atas angin dan segera memaksa Itbun Lui mencebur ke dalam jurang.
Mendadak dia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling seakan-akan kebanyakan minum arak, tubuhnya menjadi’ lemas sekali tak bertenaga, bahkan rasa kantuk membuat kelopak matanya terasa amat berat.
Rupanya meskipun dia selalu memperingatkan diri agar "menahan diri", namun dalam kenyataannya toh tak mampu untuk menahan diri.
Dia harus bernapas, oleh sebab itu dia pun mau tidak mau mengisap hawa pukulan yang dipancarkan oleh Itbun Lui.
Padahal sepasang telapak tangan Itbun Lui telah dipoles dengan obat sebangsa candu yang berkadar tinggi.
Apa mau dikata tenaga dalam yang dimiliki gadis itu pun tidak sesempurna tenaga dalam Siau It-kek, simhoat yang baru dipahami juga belum dikuasai sepenuhnya, setelah melancarkan serangkaian serangan berantai, dia telah banyak mengisap udara beracun, tak heran kalau tubuhnya menjadi tak tahan.
"Lepas pedang!"
Tiba-tiba Itbun Lui membentak.
Tubuhnya segera menerjang maju, dengan jurus Sia-kwa-tan-pian (Menggantungkan Ruyung dengan Tangan) dia membacok pergelangan tangan gadis tersebut.
Mula-mula dia menghajar miring ujung pedang tersebut dengan pukulan udara kosong lebih dulu, setelah mengetahui kalau gadis tersebut telah kehabisan tenaga, maka untukmerampas senjata lawan bagaikan membalik telapak tangan sendiri.
Siapa tahu ilmu tenaga dalam yang dilatih Liong Leng-cu amat luar biasa, betul dia sudah lemas dan kehabisan tenaga namun di saat yang amat kritis tersebut, dia masih sanggup melancarkan serangan dahsyat yang terakhir.
Langkah kakinya sudah sempoyongan seolah-olah setiap saat dapat roboh ke tanah, padahal langkah yang dipakai adalah langkah Delapan Dewa Mabuk, begitu berpindah posisi mendadak ujung pedangnya menusuk ke tubuh Itbun Lui dari suatu sudut yang sama sekali H terduga oleh siapa pun.
Sayang sekali tenaga dalamnya sudah tidak mampu untuk menembus ujung pedangnya lagi, tusukan tersebut memang berhasil mengenai sasaran, namun hanya mampu merobek sedikit kulit Imun Lui.
bahkan ujung pedangnya segera kena dipentalkan ke belakang.
Merasa tubuhnya dicederai» Itbun Lui menjadi naik pitam, segera teriaknya penuh amarah.
"Budak busuk, sebetulnya aku tidak berniat untuk melukaimu, tak nyana kau malah bersikap begitu ganas kepadaku! Hmmmm, ayo cepat buang pedangmu dan menyerahkan diri, kalau tidak akan kucabut selembar nyawamu!"
Berbicara sampai di situ, dia segera bersiap sedia untuk melancarkan serangan dahsyat lagi guna merampas senjata lawan.
Dia telah bertekad di bati, sekalipun tak bisa menepati perintah gurunya untuk menangkap gadis itu hidup-hidup, dia tak ambil peduli.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara dentingan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, tahu-tahupedang di tangan Liong Leng-cu sudah mencelat ke tengah udara.
Padahal Itbun Lui belum sempat melancarkan serangan, sudah tentu pedang tersebut bukan mencelat oleh karena termakan tenaga pukulannya.
Sementara Itbun Lui masih termangu-mangu dan tidak habis mengerti, di tengah tanah lapang telah bertambah dengan seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah, kapan orang itu muncul di situ ternyata dia sama sekali tidak mengetahuinya Dari sini dapat diketahui betapa lihaynya Ilmu silat yang dimiliki pemuda tersebut, tak heran kalau hatinya menjadi terkejut sekali.
Ternyata bukan hanya Itbun Lui seorang yang terperanjat, Liong Leng-cu lebih terperanjat lagi setelah menyaksikan kemunculan si anak muda tersebut.
Kalau Itbun Lui tidak kenal siapakah orang itu, maka Liong Leng-cu mengenal baik pemuda ini.
Ternyata pemuda yang muncul secara tiba-tiba itu bukan lain adalah kakak Nyo Yan, yakni Beng Hoa Rupanya Beng Hoa telah menggunakan ilmu sentilan jarinya yang sakti untuk mementalkan pedang Liong Leng-cu, sementara gadis itu masih tertegun, sebuah totokan telah merobohkan gadis she Liong itu, sehingga tidak mampu berkutik lagi.
Setelah rasa kagetnya dapat dikuasai, Itbun Lui segera menj ura seraya berkata.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu, bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Dia mengira Beng Hoa adalah salah seorang jago persilatan yang datang ke sana untuk membantunya Walaupun dia merasa agak heran mengapa Phang Tay-yu bisa meminta bantuan seorang jago yang berilmu silat begitu tinggi, namun setelah menyaksikan tindakan sang pemuda yang menotok jalan darah Liong Leng-cu, dia tidak menaruh curiga lagi kalau pemuda tersebut adalah seorang musuhnya.
"Siapa pula kau?"
Balik bertanya Itbun Lui menjadi tertegun, katanya setelah termangu-mangu beberapa saat.
"Bukankah Phang Tay-yu yang mengundangmu ke sini? Masa dia tidak memberitahukan kepadamu?"
"Kau maksudkan Phang Tay-yu si gembong iblis yang mempunyai sedikit nama di daerah Shia-kam? Aku pun pernah mendengar nama orang ini, hanya persoalan apa yang sedang kau katakan sama sekali tidak kupahami…."
Itbun Lui semakin terkejut lagi, cepat-cepat dia berseru.
"Lantas siapakah kau? Mengapa datang kemari membantuku?"
Beng Hoa mendengus dingin.
"Siapa bilang aku datang membantumu? Aku datang karena aku mempunyai urusan, urusan tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Maaf aku tak punya banyak waktu untuk berbincang lagi denganmu, silakan pergi dari sini!"
Itbun Lui menjadi tersipu-sipu dan malu sekali, katanya kemudian dengan suara keras.
"Mungkin kau belum tahu siapakah diriku bukan? Aku adalah Itbun Lui dari Bukit Unta Putih, apakah aku pantas untuk berkenalan dengan saudara?"
Dia mengira setelah menyebutkan nama besarnya itu pihak lawan pasti akan kaget dan segera mengubah sikapnya Siapa sangka Beng Hoa sama sekali tidak terpengaruh oleh nama besarnya itu, malah menegur lagi dengan suara dingin.
"Aku menyuruk kau pergi, sudah kau dengar belum?"
Nadanya jauh lebih dingin dan kaku dari semula Itbun Lui benar-benar gusar sekali, kalau bisa dia ingin segera turun tangan untuk membinasakan Beng Hoa Tapi berhubung kesatu, dia menyaksikan ilmu silat yang dimiliki Beng Hoa sangat lihay sehingga timbul perasaan ngeri dan segan dalam hati kecilnya Kedua setelah pertarungannya melawan Siau It-kek tadi, dia merasa kehilangan tenaga muminya dia tak berani lagi untuk bertarung sengit melawan musuh tangguh.
Maka terpaksa dia harus menahan diri untuk sementara waktu, katanya kemudian pelan.
"Baik, aku akan pergi, aku akan pergi dari sini Kau berani menghina orang-orang Bukit Unta Putih, hmm! Ingat saja jangan menyesal di kemudian hari."
Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, dia lantas mencengkeram tubuh Liong Leng-cu yang tertotok jalan darahnya oleh Beng Hoa untuk dibawa pergi.
Sayangnya dia cepat, Beng Hoa jauh lebih cepat lagi, tahu-tahu pemuda itu sudah menghadang di hadapan Liong Leng-cu dengan ujung jari tangannya tertuju ke arah telapak tangannya.
Sebagai seorang jago sifat yang berilmu tinggi, Itbun Lui segera menyadari kalau pihak lawan hendak menggunakan ilmu menotok jalan darah tingkat tinggi untuk menghadapinya.Jalan darah Lau-kiong-hiat di atas telapak tangan orang merupakan salah satu jalan darah penting di antara tigapuluh enam buah jalan darah lainnya, andaikata jalan darah tersebut sampai tertotok secara telak, maka kendatipun tak sampai mematikan paling tidak tenaga dalam yang dimiliki seseorang akan sangat terpengaruh.
Tentu saja It bun Lui tak berani bertindak nekat di dalam posisi seperti nri, buru-buru ia menahan diri.
"Siluman perempuan kecil ini merupakan putri dari musuh besar sancu kami, aku mendapat perintah dari sancu untuk mengajaknya pulang, harap kau sudi menyerahkan dia kepadaku,"
Demikian Itbun Lui berkata kemudian dengan suara lembut Berhubung dia sudah merasa ngeri oleh ilmu silat Beng Hoa yang lihay, maka kali ini dipakainya peraturan dunia persilatan dengan mengemukakan alasannya lebih dahulu sebelum berbuat.
Sayang sekali Beng Hoa sama sekali tidak doyan dengan cara semacam ini, kembali dia membentak.
"Aku menyuruh kau menggelinding pergi seorang diri, nona Liong harus kau tinggalkan di sini karena aku hendak menahannya."
Itbun Lui benar-benar amat gusar, amarahnya yang selama ini ditahan-tahan akhirnya meledak juga, dengan geramnya ia membentak.
"Kurang ajar! Kekuatan siapakah yang kau andalkan sehingga begitu berani bermusuhan dengan orang-orang Bukit Unta Putih kami. Hm, walaupun siluman kecil itu tertotok olehmu, namun sesungguhnya dia bukan tandinganku lagi, seandainya kau tidak kemari aku juga dapat membekukbatang lehernya. Bila mau berbicara soal cengli kau tak akan bisa mengalahkan diriku!"
"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi,"
Tukas Beng Hoa hambar.
"Pokoknya sekarang dia sudah ku-tawan, bila kau ingin membawanya pergi, maka kau harus mengandalkan ilmu silat yang kau miliki untuk merampasnya dari tanganku."
"Sebenarnya kau siapakah?"
Bentak Itbun Lui dengan perasaan geram.
"Aku tak sudi bertarung dengan manusia yang tidak bernama!"
"Aku sama sekali bukan orang kenamaan, namun namaku sudah cukup dikenal oleh orang-orang Bukit Unta Putih kalian, Tan-khu Beng Hoa apa yang perlu ditakuti? Bukankah ucapan tersebut berasal dari Bukit Unta Putih kalian? Nah akulah Beng Hoa."
Sekarang Itbun Lui baru merasa terperanjat, buru-buru dia berseru.
"Beng tayhiap, harap kau jangan salah paham, ucapan tersebut bukan kami yang mengatakan, sudah pasti dua bersaudara Lau yang sengaja menyebarkan berita bohong ini ke dalam dunia persilatan, padahal…."
Dia segera berpura-pura merangkap tangannya untuk memberi hormat, padahal secara tiba-tiba dia melepaskan sebuah serangan maut untuk menyergap Beng Hoa.
Serangan seperti ini bernama Tong-cu-pay-Koan-im (Booah Menyembah Koan-im) sesungguh nya hanya merupakan suatu gerakan pembukaan belaka, tapi berhubung tenaga yang dipancarkan melalui sepasang tangan tersebut adalah ilmu Kim-kong-ciang yang maha dahsyat maka akibatnya luar biasa sekali.
Seandainya serangan tersebut mengenai sasaran dengan telak, akibatnya bila tidak mampus tentu cedera hebat.
"Tak tahu malui"
Jengek Beng Hoa sambil tertawa dingin.
Dia tak sempat mengangkat tangannya untuk menyambut serangan itu lagi, maka dia lantas mengibaskan ujung bajunya dengan menggunakan ilmu Can-ih-cap-pwe-tiap yang lihay.
Sepasang tangan Itbun Lui menyambar tiba dengan kecepatan luar biasa, tapi begitu menyentuh ujung bajunya, ia merasa seakan-akan menghantam segumpal kapas, tenaganya sama sekali tak mampu dipancarkan lagi.
Mendadak saja dia merasakan timbulnya suatu kekuatan lembut yang halus memental balik, segulung tekanan yang dahsyat kontan menghantam dadanya Itbun Lui tak mampu berdiri tegak lagi, dengan sempoyongan tubuhnya mundur sejauh tiga langkah ke belakang.
Beng Hoa pun merasa agak tercengang ketika dilihatnya pihak lawan tak sampai tersungkur ke tanah, bentaknya dengan cepat.
"Kalau hanya diberi tanpa membalas, kurang sopan namanya. Nah, kau pun boleh menerima sebuah pu-kulanku!"
Telapak tangannya segera diayunkan ke depan, gerakan tersebut lembek, pelan dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, seakan-akan sama sekali tidak meng-gunakan tenaga Ternyata Itbun Lui cukup lihay, sekalipun dia pernah berlatih ilmu Can-ih-cap-pwee-tiap dan sebang-sanya, kepandaiannya tersebut masih bermanfaat apabila digunakan untuk menghadapi Liong Leng-cu, tapi bila dipakai untuk menghadapi Beng Hoa, sudah barang tentu kepandaian tersebut sama sekali tidak berguna lagi.Tentang hal ini rupanya dia cukup tahu diri sehingga berusaha untuk menghindarinya.
Dalam keadaan seperti ini dia pun tahu apabila serangan lawan tak disambut dengan keras lawan keras, bisa jadi pihak lawan akan meminjam tenaga untuk menghantamnya semakin parah.
Cepat dia miringkan tubuhnya ke samping, kemudian dengan sebuah serangan keras dan dahsyat dia lepaskan sebuah pukulan, di dalam serangan itu dia menggunakan tenaga Kim-kong-ciang mencapai delapan bagian.
"Blaaammm!"
Benturan nyaring yang memekakkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.
Akibat bentrokan tersebut, tubuh Itbun Lui mundur sejauh tujuh langkah lebih sebelum berhasil berdiri tegak; Paras muka Beng Hoa agak berubah, sambil tertawa dingin katanya.
"Aku mengira Pek-tou Sancu jelek-jelek adalah seorang tokoh kelas satu di dalam dunia persilatan, tak tahunya anak muridnya cuma manusia kelas tiga yang sama sekali tak berguna, tak heran kalau Ci-lian-kiarnkek pun sampai kena kau pecundangi… rupanya kalian hanya manusia yang suka bermain racun!"
Itbuh Lui mengira pihak lawan telah mengisap hawa beracun sehingga tenaga dalamnya mengalami kerugian, maka dia baru mengucapkan perkataan seperti itu, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir.
"Bila kau segera menutup semua pernapasanmu mungkin keadaan masih agak mendingan, sekarang malah berani buka suara dan berbicara, hmm, tampaknya kau sudah bosan hidup."
Baru saja dia hendak melancarkan sebuah pukulan beracun lagi untuk menghabisi nyawanya, mendadak ia merasakandatangnya segulung kekuatan besar yang menekan tubuhnya, tak tahan dia lantas mundur sejauh tiga langkah dengan sempoyongan, bukan begitu saja, baru saja berhenti tegak, tubuhnya mundur lagi sejauh tiga langkah.
Rupanya di dalam serangan yang dilancarkan Beng Hoa tadi tersembunyi tiga lapis kekuatan dahsyat yang datangnya secara bergelombang, serangan yang pertama sudah tiba lebih dulu, dua gelombang terakhir datangnya secara beruntun dan agak belakangan.
Sementara itu, Ci-lian-kiamkek yang roboh tak sadarkan diri lamat-lamat mendengar ada orang sedang memanggil dirinya, pelan-pelan ia mendapatkan kembali kesadarannya lalu membuka matanya.
Dengan cepat dia saksikan bayangan manusia sedang saling menyambar di tengah arena, waktu itu Imun Lui sedang melangsungkan pertarungan jurus ketiganya melawan Beng Hoa.
Di dalam serangannya kali ini Itbun Lui telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, namun dia hanya berhasil memunahkan lima bagian tenaga serangan Beng Hoa, kemudian ia mencelat mundur sejauh satu kaki lebih.
Terasa tenggorokannya menjadi manis secara tiba-tiba dan hampir saja memuntahkan’darah segar.
Namun dia tak mau muntah darah di hadapan musuhnya, dengan paksa darah yang sudah hampir muntah keluar tersebut ditelan kembali.
Saat itu Siau It-kek telah sadar kembali, sekarang dia dapat melihat jelas kalau Beng Hoa adalah seorang lelaki bukan perempuan.Sebelum kehilangan kesadarannya tadi, dia masih ingat kalau Liong Lcng-cu sedang melemparkan pedangnya ke arah dia, dalam anggapannya waktu itu Itbun Lui sedang bertarung melawan Liong Leng-cu.
Menanti1 dia melihat jelas, hatinya gembira bercampur kaget Dia gembira karena telah kedatangan seorang pemuda gagah yang dapat menandingi kelihayan Itbun Lui.
Tapi dia pun kaget karena tak tahu ke mana perginya Liong Leng-cu.
Dalam terkejut bercampur gembira, tanpa terasa ia lantas berteriak keras.
"Leng-cu, Leng-cu, Ting-ji, Ting-ji… kalian… kalian berada dimana?"
Sekalipun dia telah mengerahkan segenap tenaganya untuk berteriak, sayang suara yang muncul lebih lirih daripada suara nyamuk.
Tapi Beng Hoa dapat menangkap suara tersebut Ketika Siau I t-khek tidak mendengar jawaban dari Liong Leng-cu mendadak dia merasakan lengan kirinya sakit sekali, pelan-pelan ia menggeserkan tubuhnya dan meraba dengan tangan kanannya, dengan cepat dia baru menemukan kalau pedangnya masih menancap di atas bahunya.
"Mungkinkah Leng-cu dan Ting-ji telah mendapat celaka? Aaai, sejak kini, mungkin aku pun akan berubah menjadi seorang manusia cacat, entah pemuda tersebut sanggup melawan Itbun Lui atau tidak?"
Sedih, heran, kaget dan cemas yang muncul berbarengan membuat orang tua ini kembali jatuh tak sadarkan diri.Dalam pada itu, Beng Hoa telah berpikir di dalam hati.
"Yang penting sekarang adalah menolong Siau It-kek lebih dulu, aku tak boleh bermain terlalu lama dengan bangsat itu."
Dengan cepat dia mematahkan sebuah ranting i kemudian bentaknya keras-keras.
"Bukankah kalian mengatakan Tan-khu Beng Hoa apa yang perlu ditakuti?
Baik, aku akan menyuruhmu menyaksikan bagaimana hebatnya jurus pe-dangku irrT;* Ranting pohon itu segera digetarkan hingga berbunyi gemerincing nyaring.
Belum sempat Itbun Lui melancarkan serangannya, Beng Hoa telah menarik kembali ranting pohon itu dan berkata sambil tertawa dingin.
"Sekarang boleh kau periksa sendiri!"
Dengan cepat Itbun Lui menundukkan kepalanya untuk memeriksa, dia segera menyaksikan di atas pakaian bagian dadanya telah bermunculan dua baris lubang kecil yang berjumlah persis delapan belas buah.
Tak usah Beng Hoa memberitahukan kepadanya, dia sudah tahu kalau jurus pedang yang dipergunakan Beng Hoa barusan tak lain adalah Oh-ka-cap-pwe-pa dari Khong-tong-kiam-hoat.
Jurus tersebut sudah lama ia dengar kehebatannya, namun sama sekali tidak disangka olehnya kalau kehebatannya sudah mencapai tingkatan seperti Ini, kontan saja dia menjadi ketakutan setengah mati serasa sukmanya melayang mening-galkan raganya Dengan cepat Beng Hoa membentak lagi.
"Memandang kemampuanmu yang sanggup menerima tiga jurus setanganku, hari ini kuampuni selembar nyawamu. Ayo cepat menggelinding pergi dari hadapanku!"
Bagaikan memperoleh pengampunan, tanpa banyak bicara lagi Itbun Lui segera membalikkan tubuhnya dan mengambil langkah seribu.
Sepeninggal orang itu, Beng Hoa baru berjalan ke samping Siau lt-kek serta mencabut keluar pedang yang menancap di bahu kiri, ketika diperiksa lebih seksama dia menemukan kalau luka tersebut tak sampai melukai otot dan tulang.
Dari dalam saku dia keluarkan obat luar dan dibubuhkan di atas luka tersebut dan membalurnya Walaupun luka luar yang diderita Siau It-kek ringan, luka dalam yang dideritanya justru amat parah.
Pukulan dahsyat Kim-kong-ciang dari Itbun Lui telah merusak sisa hawa khikang pelindung badannya dan melukai isi perutnya.
Apabila ingin menolong selembar jiwanya, tiada jalan lain, kecuali menggunakan hawa mumi untuk memunahkan dulu gumpalan darah yang membeku dalam tubuh orang tua ini.
Menyaksikan keadaan itu, Beng Hoa segera berpikir.
"Menurut suhu, dahulu meski Siau It-kek berada di antara manusia lurus dan manusia sesat, bagaimanapun jua dia lebih banyak melakukan perbuatan baik daripada perbuatan jahat. Lagi pula selama belasan tahun ini dia hanya berdiam diri di atas bukit Ci-lian-san tanpa pernah melakukan perbuatan jahat lagi. Bila aku hendak membawa pergi Liong Leng-cu darinya maka luka yang dideritanya itu harus pula kusembuhkan lebih dahulu…."
Maka dia tak segan-segan mengorbankan hawa muminya untuk menguruti seluruh jalan darah penting di tubuh Siau It-khek serta menghilangkan gumpalan darah dalam tubuhnyaDasar tenaga dalam yang dimiliki Siau It-kek memang sempurna, begitu gumpalan darah dalam tubuhnya telah menghilang, lambat laun hawa murninya pun dapat dihimpun kembali.
lak selang berapa saat kemudian, bukan saja ia telah sadar kembali, bahkan tenaga dalamnya telah pulih kembali dua tiga bagian.
Begitu sadar, ia segera berteriak keras.
"Leng-cu!"
Beng Hoa tahu kalau keadaan orang tua itu sudah selamat dan tidak berbahaya lagi, maka dia berlalu dari situ untuk membebaskan jalan darah Liong Leng-cu.
Dengan gemas Liong Leng-cu melotot sekejap ke arah Beng Hoa kemudian tak sempat menggubris Beng Hoa lagi, dia menyahut dulu panggilan dari Siau It-kek tadi.
"Teng-ji telah tidur nyenyak, dia tidak mengapa, empek Siau legakan saja hatimu."
Siau It-kek merangkak bangun dengan pelan kemudian menegar.
"Bagaimana dengan kau sendiri?"
Liong Leng-cu memang tidak tahu apa yang hendak dilakukan Beng Hoa terhadap dirinya, maka setelah agak ragu sejenak, sahutnya "Aku sendiri pun tidak mengapa."
Siau It-kek menjadi kegirangan setengah mati, seronya kemudian dengan gembira.
"Untung ada pendekar muda ini yang datang menolong, sekarang kau harus mewa-kiliku untuk menyatakan terima kasih kepadanya"
"lak usah berterima kasih lagi,"
Tukas Beng Hoa cepat "Nona Liong, aku pun tak ingin menyusahkan dirimu, aku harap kau suka mengikuti aku pergi dari sini!"
Siau It-kek menjadi tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut, buru-buru serunya.
"Siapa kau? Apa sebab kau hendak mengajak pergi nona Liong…?"
"Empek Siau, dia datang untuk menangkap diriku,"
Teriak Liong Leng-cu cepat "Dia bukan bermaksud baik menolong kita berdua!"
Padahal meski ucapan yang pertama memang benar, namun ucapan yang terakhir justru telah membuat penasaran Beng Hoa Dengan tak segan untuk mengorbankan tenaga dalamnya guna menyelamatkan Siau It-kek, bagaimana mungkin bisa dikatakan tidak bermaksud baik?
Dengan cepat Beng Hoa berkata "Aku adalah murid tercatat dari Thian-san-pay, Beng Hoa.
Nona Liong mempunyai sedikit perselisihan dengan Thian-san-pay kami, sedang kami pun ingin mencari tahu jejak seseorang dari mulurnya, Siau locianpwcc harap kau sudi memaafkan, terpaksa aku harus membawa pergi nona Liong dari sisimu."
Siau It-kek membungkam, sementara hawa muminya disalurkan keluar secara diam-diam, dia bertiarap tenaga dalamnya bisa segera dipulihkan kembali, satu bagian bisa dipulihkan berarti satu bagian lebih menguntungkan dirinya.
Mendadak Liong Leng-cu seperti menyadari akan sesuatu, dengan cepat dia berpikir.
"Aku benar-benar sangat bodoh, sekarang em-pek Siau sedang menderita luka dalam yang amat parah, bagaimana mungkin dia bisa membantuku lagi…?"
Berpikir demikian, dia lantas menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Beng Hoa, aku tak mampu mengunggulidirimu, apa boleh buat terpaksa aku harus pergi mengikuti dirimu!"
Begitu selesai berkata, mendadak tampak cahaya pedang berkilauan, dengan suatu gerakan secepat kilat dia telah mencabut keluar pedangnya, kemudian dengan sekali menyambar, ujung pedang tersebut ditujukan ke tenggorokan Beng Hoa.
Mimpi pun Beng Hoa tidak menyangka datangnya serangan tersebut, hampir saja dia kena tertusuk.
Dalam keadaan yang amat gawat, cepat dia menggunakan ilmu Jembatan Gantung untuk melepaskan diri dari ancaman bahaya, kemudian dengan pinggang menempel tanah dia mengegos ke samping.
Pedang si nona segera menyambar lewat persis di atas kepalanya.
Dengan cekatan Beng Hoa melejit bangun dan…"Criiing!"
Dia sudah menyentil pergi pedang Liong Leng-cu tersebut, serunya kemudian dengan gusar.
"Tidak heran kalau orang lain memanggilmu siluman perempuan kecil! Tampaknya kau memang kelewat binal!"
"Betul, aku memang siluman perempuan kecil,"
Seru Liong Leng-cu dengan geram.
"tapi aku toh tidak pernah mengusik dirimu, siapa suruh kau datang mengusik diriku?"
Pedangnya kembali diputar secepat sambaran petir dan melancarkan serangan dengan menggunakan jurus-jurus pedang keluarganya, walaupun dia tahu bukan tandingan Beng Hoa paling tidak dia harus melawannya mati-matian.
Beng Hoa sendiri pun segera berpikir.
"Walaupun kau tidak mengusikku namun sayang kau justru telah mengusik adik Yan-ku."
Menghadapi serangan pedang yang begitu sempurna, dia pun merasa agak tercengang.
Maka dia lantas mengumpulkan segenap pikiran dan perhatiannya untuk menghadapi serangan si nona, namun baru belasan gebrakan dia sudah dapat meraba permainan pedang lawan, mendadak bentaknya keras.
"Lepas pedang!"
Kelima jari tangannya menyambar ke depan dengan cepat, sekalipun jurus yang digunakan hanya berupa ilmu Ki-na-jiu-hoat yang biasa dan sederhana namun karena gerakannya cepat dan sasarannya tepat, maka dengan mudah sekali dia berhasil merampas pedang itu.
Dengan menyodorkan gagang pedang itu ke Liong Leng-cu, Beng Hoa berkata dengan dingin.
"Aku tidak khawatir kalau kau akan bermain gila di hadapanku, ayo ikuti saja diriku!"
Sementara itu Liong Leng-cu masih merasakan pergelangan tangannya panas dan kaku, separuh badannya menjadi linu dan kesemutan, terpaksa dia harus menerima kembali pedangnya, sementara tenaganya boleh dibilang sudah tak mampu dikerahkan lagi.
Pada saat itulah mendadak Beng Hoa merasakan datangnya desingan angin tajam yang menyambar dari belakang tubuhnya, sebelum dia sempat berpaling, punggungnya sudah kena dihantam orang keras-keras.
Orang yang melancarkan sergapan itu tak lain adalah Siau It-kek yang belum lama berselang masih tergeletak lemas di atas tanah.
Rupanya setelah memperoleh bantuan Beng Hoa yang mengurut jalan darahnya sehingga gumpalan darah di dalam tubuhnya lenyap dia berhasil memulihkan kembali tenaga dalamnya sebesar dua bagian.Melihat Liong Leng-cu hendak dibawa pergi, tiba-tiba saja dia melompat bangun dan melancarkan serangan dahsyat.
Mimpi pun Beng Hoa tidak menyangka kalau jago pedang yang termashur.ini akan membalas air susu dengan air tuba, dia tak mengira sehingga terkena pukulannya.
Untung saja Beng Hoa memiliki ilmu Can-ih-cap-pwee-tiap yang lihay, sedangkan tenaga sebesar dua bagian dari Siau It-kek juga tak mampu melukai dirinya.
Bukan saja tak berhasil melukainya, bahkan dengan serangannya itu bukan saja tak bisa melukai orang justru dirinya sendiri yang rugi.
Asalkan Beng Hoa mengerahkan tenaga sakti pelindung badannya, ditambah lagi dengan kekuatan yang terpancar keluar dari tubuh anak muda tersebut, sudah dapat dipastikan serangan tersebut akan terpental balik secara keseluruhan.
Waktu itu, sekalipun dia tak akan sampai tewas, paling tidak juga akan dibikin setengah mampus.
Tapi Beng Hoa yang memperoleh sergapan dengan cepat sudah menduga siapakah yang melancarkan sergapan tersebut, dengan cepat dia berpikir.
"Dengan mempertaruhkan nyawa dia hendak menolong putri sahabat karibnya, tindakan semacam ini cukup mengharukan hati orang. Apalagi aku baru saja menyelamatkan jiwanya, masa aku harus melukainya lagi sekarang."
Oleh sebab itu dia tidak mengerahkan tenaga untuk melancarkan serangan balasan, sebaliknya malah menerima pukulan tersebut dengan begitu saja.Walaupun pukulan ini tidak sampai melukai pemuda tersebut, namun tenaga dalam Beng Hoa pun menjadi berkurang setengah akibat pukulan tersebut Tiba-tiba terdengar Siau It-kek berkata dengan sedih.
"Beng siau-hiap kau telah menyelamatkan jiwaku, tidak seharusnya aku membalas air susu dengan air tuba, namun nona ini merupakan satu-satunya keturunan dari sahabat karibku. Dia datang kemari untuk mohon perlindunganku, oleh sebab itu kendatipun harus mengorbankan selembar nyawaku, aku tak akan membiarkan kau merebutnya. Aku sudah melakukan perbuatan salah kepadamu, asal kau bersedia, aku pun bersedia untuk bunuh diri guna menyatakan rasa terima kasihku kepadamu."
"Siau tayhiap, maaf kalau aku tak dapat memenuhi harapanmu itu. Tapi kau tak usah khawatir aku tak akan mencelakai jiwa nona Liong, aku ingin mencari seseorang dari dirinya, bila orang tersebut bisa kutemukan sudah pasti aku akan melepaskannya kembali."
"Bila kau tak berhasil menemukan jejaknya?"
"Aku berjanji dalam tiga tahun ini akan melepaskannya, selewatnya tiga tahun, bila orang itu pun belum ditemukan, pasti aku akan melepaskannya kembali kemari."
Dia mengira ucapan tersebut sudah cukup bijaksana dan tidak terlalu memojokkan orang, siapa tahu Siau It-kek amat keras kepala, kembali dia berkata.
"Aku telah mendapat pesan dari sahabat karibku untuk menganggapnya seperti putri kan-dungku sendiri. Bagaimanapun juga, aku tak dapat membiarkan dia menderita siksaan dan derita selama tiga tahun di tangan kalian. Bila kau ingin membawanya pergi lebih baik bunuhlah aku lebih dahului"
Selesai berkata, dia lantas menerjang kembali ke arah Beng Hoa.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Beng Hoa harus bertarung dengannya, selama pertarungan berlangsung dia bersikap sangat berhati-hati, karena dia tidak ingin melukai kakek ini.
Tigapuluh gebrakan kemudian, dia harus menerima sebuah pukulan lebih dulu sebelum berhasil menotok jalan darahnya.
Beng Hoa segera meletakkan sebutir pil ke dalam telapak tangannya, kemudian berkata.
"Siau lo-cianpwee, harap kau suka memaafkan diriku. Pil ini adalah Siau-huan-wan pemberian hongtiang kuil Siau-lim-si kepada boanpwe, anggap saja sebagai penebus dosa boanpwe kepada cianpwe. Tiga jam kemudian jalan darah tersebut akan bebas dengan sendirinya, harap pil itu segera kau telan. Dengan dasar tenaga dalam cianpwe yang begitu sempurna ditambah pula dengan bantuan obat siau-huan-wan ini, aku percaya luka dalammu itu akan segera pulih kembali seperti sediakala."
Selesai berkata, dia lantas berpaling dan katanya kepada Liong Leng-cu.
"Nona Liong, waktu sudah siang, harap kau segera mengikuti aku untuk pergi dari sini." . ? "Aku sudah menjadi tawananmu sekarang,"
Kata Liong Leng-cu dengan kening berkerut.
"seharusnya aku menuruti perintahmu itu, sayang sekali aku sudah tak mampu berjalan lagi."
Menyaksikan paras muka gadis itu pucat pias, Beng Hoa menjadi amat terperanjat, segera pikirnya.
"Jangan-jangan tanpa sengaja aku telah melukainya?"
Sewaktu merebut pedang dari tangan Liong Leng-cu tadi, dia memang sudah menggunakan ilmu Hun-cian-cok-kut yang lihay.
Tapi dia pun telah memperhitungkan kekuatan yang dimiliki Liong Leng-cu tadi kekuatan yang telah dipergunakan olehnya digunakan secara amat tepat.
Dia percaya kekuatan tersebut hanya bisa membuatnya tak bisa menggunakan ilmu silatnya lagi, tapi tidak sampai melukai tubuhnya.
Dengan tanpa luka di badan, apalagi kondisi tubuhnya jauh lebih baik daripada kebanyakan orang, itu berarti tak mungkin kalau dia sampai tak mampu untuk berjalan sendiri.
"Jangan-jangan perhitunganku tidak benar dan tenaga dalam yang dimiliki siluman perempuan kecil ini tidak lebih tinggi seperti apa yang kuduga semula?"
Berpikir sampai di situ, terpaksa Beng Hoa berkata.
"Baik, kalau begitu akan kucoba untuk memeriksa keadaanmu."
Dia segera berjalan mendekati Liong Leng-cu sementara dalam hati kecilnya sedang berpilar bagaimana caranya untuk dapat mengendorkan ketegangan ototnya tanpa menyentuh tubuhnya.
Belum sampai dia berhasil menemukan sesuatu cara, mendadak tampak cahaya tajam yang menyilaukan mata berkelebatan memenuhi angkasa.
"Sreeetl"
Sebuah tas ukan pey dang telah dilancarkan lagi otoa Liong Leng-cu ke arah tenggorokannya Tusukan tersebut cepat dilancarkan dengan kecepatan seperti sambaran petir, padahal Beng Hoa justru berdiri tepat di hadapannya, dalam keadaan begini sekalipun ilmu silat yangdi milikinya amat lihay, rasanya sulit untuk menghindarkan diri.
"Kraaak…!"
Pedang tersebut tidak menancap di tenggorokan Beng Hoa, melainkan menancap dalam mulut si anak muda itu.
Rupanya di saat yang kritis, mendadak Beng Hoa menemukan akal bagus untuk mengatasi marabahaya yang sedang mengancam keselamatan jiwanya itu.
Dengan gerakan Hong-tiam-tau (Burung Hong Mengangguk) dia menggigit ujung pedang tersebut, menyusul kemudian ia totok jalan darah kaku di tubuh gadis tersebut.
Kali ini, walaupun Beng Hoa berhasil merampas pedangnya dan beruntung tak sampai terluka, toh peluh dingin bercucuran saking terperanjatnya.
Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, Beng Hoa berkata.
"Kau memang benar-benar siluman perempuan kecil yang tidak tahu diri, aku kehabisan daya menghadapi manusia seperti kau! Ya, sebenarnya aku tak ingin menyusahkan dirimu, apa mau dikata kau tetap membandel, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan. Nah, jawablah pertanyaanku yang terakhir kali ini, sesungguhnya kau bersedia untuk mengikuti aku atau tidak?"
Sambil berkata kembali dia membebaskan totokan jalan darahnya. Liong Leng-cu mengira Beng Hoa hendak menyeretnya secara paksa untuk menuruni bukit tersebut, segera teriaknya.
"Beng Hoa, kau tak tahumalu!"
"Kenapa aku tak tahu malu?"
Sahut Beng Hoa agak tertegun.Liong Leng-cu sengaja mengucurkan air matanya, lalu sambil berpura-pura menangis serunya.
"Aku tak akan pergi mengikuti dirimu. Kau adalah seorang pendekar yang bernama besar, masa seorang pendekar menganiaya seorang anak perempuan, apakah perbuatanmu itu tidak tahu malu?"
Mendengar perkataan tersebut, Beng Hoa segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… bila kau tak mau pergi, tak usah menyentuh tubuhmu, aku tetap masih bisa menyeretmu turun dari bukit ini."
Dia mengeluarkan seutas tali dan diikatkan pada pergelangan tangan Liong Leng-cu, kemudian dengan memegang ujung tali tersebut, diseretnya si gadis meninggalkan tempat itu.
Liong Leng-cu memang tidak berkekuatan lagi untuk memberikan perlawanan, sekalipun dia tak ingin pergi dari situ, namun keadaan tidak mengijinkan dia untuk banyak bertingkah.
Walaupun begitu, Liong Leng-cu merasa hatinya panas sekali, kembali dia berseru dengan gusar.
"Hei, hei… kau telah menganggap diriku sebagai apa? Kau anggap aku sebagai binatang ataukah sebagai budak belian? Bila kau menyeretku dengan cara begini dan orang lain melihat keadaan tersebut, apakah kau tidak takut ditertawakan orang karena menganiaya seorang gadis kecil?"
"Siapa suruh kau menolak arak kehormatan dan memilih arak hukuman…?"
Walaupun ia berkata demikian, namun toh timbul juga satu ingatan di dalam benaknya, segera pikirnya.
"Lebih baik aku menyeretnya menuruni bukit ini, coba dilihat siapa yang lebih dulu tak tahan. Seandainya dia masih ngotot tak mau me-nuruti perkataanku, apa boleh buat, terpaksa aku harus menyeretnya terus…."
Mencoba Jurus Baru Nyo Yan yang berada di bukit seberang hanya sempat menyaksikan pertarungan antara Siau It-kek melawan Itbun Lui, sebelum menang kalah ditentukan ia sudah meninggalkan tempat tersebut Dengan demikian, dia pun tidak mengetahui kejadian apakah yang kemudian berlangsung di sana.
Baru saja dia menuruni; bukit tersebut dan belum sempat mendaki bukit seberang mendadak terdengar olehnya suara ramai berkumandang, kemudian tampak olehnya ada dua tigapuluhan manusia yang sedang berlarian mendekat.
Di dalam rombongan tersebut terdapat Im-riong-siang-sat, terdapat pula komplotan Phang Tay>ya, bahkan terdapat pula Li Wu-si dan Lok Kan-tang..
Orang yang berjalan paling depan adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi kekar, kakek itu belum pernah ditemui sebelumnya.
Lotoa dari Jm-ti ong-sjang-sat Bc Bong berjalan dengan bantuan tongkat, sedang sang loji Thian Keng menggandeng dari sampingnya.
Nyo Yan segera menampakkan diri sambil membentak.
"Be lotoa, sudah cukup belum pil dewa yang kau makan?"
Be Bong amat membencinya* namun juga amat takut kepadanya.
Dia datang ke situ karena dipaksa oleh kakek tinggi besar itu untuk menunjukkan jalan.Maka menyaksikan kemunculan Nyo Yan di situ, dia menjadi keta-kutan setengah mati, tiba-tiba ia menjerit keras dan terjatuh ke atas tanah….
Dengan penuh amarah, si kakek itu segera membentak.
"Selama ada aku di sini, apa yang mesti kau takuti? Cepat katakan betulkah bocah keparat itu.?"
Buru-buru Thian Keng memayang bangun Be Bong dari atas tanah.
"Benar… benar…."
Sahut Be Bong agak gemetar.
"memang bocah keparat itu yang menangkap putramu!"
Ternyata kakek bertubuh kekar ini adalah ayah dari sam-sauya keluarga Bok, Bong-lay-kiamkek (Jago Pedang dari Bong-lay) Bok Yang-po adanya.
Puteranya telah dipancing oleh Im-tiong-siang-sat sehingga diam-diam minggat dari rumah dan datang ke kota Tio-gi.
Hanya di dalam dua hari saja Bok Yang-po yang mempunyai hubungan amat luas, segera mendapat tahu jejak putranya itu, meski dia belum tahu duduk persoalan yang sebenarnya, namun dia sudah tahu kalau Im-tiong-siang-sat yang membawa putranya keluar rumah.
Setibanya di kota Tio-gi dia segera bergabung dengan komplotan Phang Tay-yu untuk naik gunung.
Di atas bukit, mereka berhasil menemukan Phang Tay-yu yang sudah dipunahkan ilmu si latnya oleh Nyo Yan, juga menemukan Be Bong yang sudah setengah sekarat.
Seperti diketahui, Be Bong telah dicekoki Nyo Yan dengan sejumlah besar pil dewa, karena pengaruh racun tersebut, dia berguling kian kemari sehingga sekujur tubuhnya penuh dengan luka.Menanti daya kerja obat itu sudah lewat, dia pun berbaring di balik semak belukar dalam keadaan setengah sekarat.
Untung saja jejaknya segera ditemukan sehingga selembar jiwanya berhasil diselamatkan dari pintu neraka.
Bok Yang-po segera menitahkan para sahabat Phang Tay-yu untuk menggotong Phang Tay-yu turun ke Tio-gi guna mendapat perawatan, namun memaksa Be Bong untuk mengikuti mereka naik ke gunung.
Ketika Bok Yang-po mendengar putranya telah terjatuh ke tangan Nyo Yan, dia telah bersiap sedia untuk turun tangan.
Mendadak terdengar suara Li Wu-si berkumandang datang,"
Nyo Yan si bocah keparat itu merupakan murid murtad dari Thian-san-pay kami, harap kalian minggir, aku hendak membersihkan perguruan dari manusia durhaka itu! "
Begitu1 ucapan selesai diutarakan, orangnya juga muncul di depan mata.
Seperti diketahui, kawanan manusia yang berkomplot dengan Phang Tay-yu itu sesungguhnya hanya mengandalkan nama besar Bok Yang-po saja, mereka segera meluruk maju ke depan bersama-sama dan mencaci-maki kalang kabut.
"Bocah keparat, berani benar kau membual! Phang toako kami menjadi cacat, hmmm… kau harus dihancur lumatkan menjadi abu untuk membalaskan sakit hati Phang toako."
Nyo Yan segera tertawa dingin.
"Hmm… di antara kalian tentunya masih terdapat beberapa orang yang punya nama dan kedudukan bukan? Nah, sebenarnya kalian mau bertarung secara keroyokan atau bertarung secara bergilir? Katakan saja terus terang, aku si bocah keparat akan melayani keinginanmu itu…."
Sementara itu gerombolan Phang Tay-yu masih saja mencaci maki "bocah keparat".
"keparat busuk"
Dan lain sebagainya. Lama-kelamaan Nyo Yan merasa tak tahan juga mendengar kata-kata umpatan tersebut, mendadak bentaknya keras-keras.
"Jelek-jelek Li Wu-si masih susiok-ku, kalau dia yang mengumpatku masih mendingan, sedang kalian ini manusia macam apa? Memangnya kalian juga pantas untuk mengumpatku?"
Dia meremas hancur sebutir batu kemudian disambitkan ke depan, seketika itu juga ada empat lima orang yang terkena sambaran batu itu hingga giginya rontok, otomatis umpatan-umpatan itu pun terhenti dengan sendirinya.
Li Wu-si yang mendengar ucapan itu menjadi naik pitam, bentaknya dengan gusar.
"Kau tak usah menganggapku sebagai susiok-mu, kalau punya kepandaian, ayolah bunuh diriku Bok Yang-po juga gusar sekali berbareng dengan bentakan dari Li Wu-si, dia pun membentak nyaring "
Kalian semua sini, tak usah membuat malu diriku saja. Hmmm! Aku tidak membutuhkan bantuan kalian."
Sesungguhnya dia sedang marah kepada gerombolan Phang Tay-yu, tapi dia lupa kalau dalam ucapan tersebut termasuk juga Li Wu-si.
Maka setelah merasa ada ketidakberesan dalam ucapan tersebut, baru Bok Yang-po berkata lagi.
"Li tayhiap, harap kau sudi memberi muka kepadaku, bajingan cilik ini mempunyai dendam kesumat denganku, berilah kesempatan kepadaku untuk membuat perhitungan lebih dulu dengannya!"
Dengan ucapan itu, sama artinya kalau dia minta maaf pada Li Wu-si Namun hati Li Wu-si sudah terlanjur menjadi gusar, ia segera menjawab dingin.
"Bok locianpwe. kepandaianmu sepuluh kali lipat lebih unggul dari ku. Aku orang she Li cukup tahu diri, tentu saja kau harus maju lebih dulu. Cuma andai kata kau gagal untuk membekuk bocah keparat itu, 1 hari lagi jangan minta orang pada kami lagi."
Bok Yang-po menganggap Li Wu-si tidak memandang sebelah mata kepadanya, ia segera mendengus dingin dan maju kedepan dengan langkah lebar.
"Cepat serahkan putraku, kalau tidak, aku akan bertarung mati-matian dengan kau si bangsat cilik!"
Bentak Bok Yang-poo sambil mencabut pedangnya.
"Tua bangka, dengarkan baik-baik!"
Seru Nyo Yan dingin.
Sesudah mengucapkan perkataan itu, dia sengaja berhenti berbicara sambil berlagak seolah-olah memperhatikan sikap lawan apakah lawan telah siap mendengarkan perkataannya atau tidak; dari sikap tersebut tampaknya bila lawan belum siap maka dia pun tidak akan melanjutkan perkataannya.
Bok Yang-po adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang termashur namanya, terutama sekali untuk wilayah sebelah utara sungai besar, di mana dia muncul, setiap orang selalu menghormatinya Sudah barang tentu belum pernah ia berjumpa dengan seorang manusia yang tak kenal sungkan macam Nyo Yan sekarang, kontan paras mukanya berubah karena gusar.
"Kurang ajar,"
Teriaknya "bocah keparat kau berani memaki diriku…?"Nyo Yan tertawa.
"Kalau sudah diberi harus pula membalas begitu kata orang,"
Ujarnya.
"Oleh karena kau menghadiahkan kata bajingan cilik kepadaku, mengapa pula aku tak boleh memanggilmu dengan sebutan si tua bangka? Sekarang kau mohon kepadaku untuk menemukan kembali putramu, kalau memang ingin tahu, pasang telingamu baik-baik dan dengarkan petunjukku ini…!"
Walaupun Bok Yang-po tidak percaya kalau pemuda tersebut akan bicara sesungguhnya, namun bagaimanapun jua dia ingin mengetahui kabar berita putranya, terpaksa dia harus menahan diri dan tak berani menukas omongan Nyo Yan lagi.
Dari atas tanah Nyo Yan mengambil sebutir batu lalu disambi tkan-nya batu tersebut ke udara.
"Putra kesayanganmu sedang berada di bawah Tebing Elang di bukit sebelah depan sana,"
Katanya kemudian.
"sayang sekali aku tak ada waktu untuk menemanimu, lebih baik kau pergi mencari sendiri!"
"Mengapa kau tinggalkan putraku di atas tebing yang sepi itu…?"
Seru Bok Yang-po dengan marah. Nyo Yan segera tertawa.
"Oleh sebab putramu tidak bersemangat, tak punya jiwa seorang lelaki, dan kebetulan sekali aku gemar membantu orang lain, maka aku telah membantumu memberi pelajaran kepadanya. Aku hanya berbuat kebaikan untuknya, bukan kejelekan, asal kau telah menemukan jejaknya, sudah pasti kau paham keadaan yang sesungguhnya!"
Beberapa orang yang berdiri di samping Bok Yang-po segera berteriak keras sesudah mendengar perkataan itu.
"Boktayhiap, jangan mau tertipu, dia sedang menggunakan siasat Memancing Harimau Turun Gunung!"
Sentilan batu yang dilakukan oleh Nyo Yan tadi pada mulanya tidak begitu menarik perhatian orang, batu tersebut makin lama meluncur semakin tinggi, ketika batu itu sudah hampir tidak tampak, hal ini barulah menarik perhatian orang banyak.
Pada saat itulah batu tersebut sedang meluncur turun dari ketinggian, mendadak Nyo Yan menyentil-kan sebutir batu lagi dengan kecepatan yang lebih hebat… "Traakkk!"
Begitu kedua butir baru tersebut saling membentur satu sama lainnya, diiringi bunyi keras, hancurlah kedua butir batu tersebut menjadi bubuk.
"Setiap kali aku sedang berbicara, aku paling benci orang lain turut menimbrung. Jika kalian memang ingin berkelahi, silakan maju…!"
Katanya kemudian.
Para pengikut dari keluarga Bok itu seketika membungkam dan tidak berani berbicara lagi.
Walaupun Bok Yang-po merupakan jago lihay yang tinggi hati, tak urung terkesiap juga hatinya menyaksikan demonstrasi ilmu sentilan jari dari si anak muda itu.
Namun kesombongan Nyo Yan telah membangkitkan hawa amarahnya.
Pada hakikatnya dia tidak percaya dengan perkataan Nyo Yan itu, tanpa diperingatkan orang lain pun dia sudah curiga kalau perkataan tersebut merupakan siasat Memancing Harimau Turun Gunung.Maka dengan suara yang dalam dan berat, dia berseru.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan obrolanmu lagi, lihat pedang…!"
Cahaya pedang berkelebat lewat, dia lantas menusuk ke ulu hati si anak muda itu.
"Aduuuh mak cepatnya"
Teriak Nyo Yan.
Tanpa menggeser kaki dari permukaan tanah, tahu-tahu tubuhnya sudah mengegos sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
Dengan gerakan itu, ternyata jurus serangan Bok Yang-po yang amat cepat dapat dihindari olehnya, selisih waktunya hanya sedikit bahkan Nyo Yan sempat merasakan hawa dingin yang memancar keluar dari ujung pedang lawan.
Bagaikan bayangan setan Bok Yang-po mengejar ke depan; serangan kedua, serangan ketiga dilancarkan secara berantai dan sambung menyambung satu dan lainnya.
Untuk menahan kedua serangan tersebut, Nyo Yan harus mundur lagi sejauh dua langkah.
Mendadak dia merasakan dari empat arah delapan penjuru bermunculan bayangan tubuh dari Bok Yang Po, cahaya pedang berkelebat kian kemari membuat pandangan mata silau.
Walaupun di bukit tersebut hanya ada dua orang yang sedang bertarung namun mendatangkan kesan seolah-olah beribu prajurit yang sedang terlibat dalam suatu pertempuran massal.
Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan luar biasa, senjata mereka pun tak pernah saling membentur satu sama lainnya, seakan-akan keduabelah pihak sama-ama mengetahui akan kelihayan lawannya, karena itu begitu jurus serangan musuh berubah, serangan sendiri pun turut berubah.
Kini kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan jurus yang paling tangguh dengan harapan bisa membekuk lawannya secepat mungkin.
Kendatipun keadaan seimbang, namun dalam pandangan para penonton, Bok Yang-po berhasil menduduki posisi di atas angin dan pasti dapat memenangi pertarungan ini.
Buktinya dari tigabelas jurus serangan yang dilancarkan Bok Yang-po, Nyo Yan telah mundur sejauh tigabelas langkah.
Semua serangannya dilancarkan secepat sambaran petir dan bertahan bagaikan benteng yang terbuat dari baja Tapi keadaan ini hanya pandangan mereka yang berilmu dangkal, berbeda sekali dengan yang berilmu agak tinggi, dengan cepat orang-orang itu berhasil menyaksikan kehebatan lain di balik pertarungan itu.
Dengan suara lirih Li Wu-si berbisik kepada Lok Kan-tang.
"Coba kau perhatikan ilmu pedang Bok locianpwe dengan lebih seksama, benar-benar sukar diraba sebentar di belakang sebentar di kiri sebentar di kanan, bila berbicara tentang kecepatan gerak ilmu pedang ini, ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat kita masih belum sanggup untuk memadainya!"
"Bagaimana seandainya bocah keparat itu sampai kalah di tangan Bok Yang-po?"
Tanya Lok Kan-tang dengan perasaan agak cemas.
"Sssttt…!"
Tiba-tiba Li Wu-si mendesis dengan kening berkerut kencang.
"Susiok, menurut pendapat-mu…"
"Tidak kusangka ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini telah mengalami kemajuan yang begini pesat,"
Tukas Li Wu-si lirih.
"menurut pendapatku, belum tentu Bok Yang-po bisa mengungguli dirinya!"
Belum habis dia berkata, mendadak permainan ilmu pedang Nyo Ban telah berubah.
Waktu itu Nyo Yan ingin cepat-cepat naik ke bukit seberang untuk bertemu dengan Liong Leng-cu, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir.
"Ilmu pedang Si-im-kiam-hoat tua bangka ini memang bukan nama kosong belaka, aku tak boleh bertarung kelewat lama dengannya bagaimanapun jua pertarungan ini harus diakhiri secepatnya"
Karena berpendapat demikian, permainan pedangnya segera berubah, secara beruntun ia membentuk tujuh delapan buah lingkaran cahaya di tengah udara, lingkaran cahaya pedang itu ada yang lurus ada yang miring, ada yang besar ada yang kecil, di balik lingkaran terdapat lingkaran lain.
Lingkaran-lingkaran cahaya pedang itulah yang segera mengurung seluruh tubuh lawan rapat-rapat, meski tanpa bentrokan senjata dengan pedang musuh.
Begitu muncul lingkaran cahaya tersebut, semua orang segera merasakan mata menjadi silau dan bingung, diam-diam mereka lantas berpikir.
"Ilmu pedang aliran mana ini?"
Teryata Nyo Yan telah menyadap rahasia dari ilmu pukulan Sau-yap» cianghoat milik Siau It-kek untuk digabung ke dalam intisari ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat dan Tui-hong-kiam-hoat dari ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, dicampur menjadi satu, semua kepandaian tersebut akhirnya berubah menjadi jurus-jurus baru hasil ciptaannya sendiri.Dengan begitu dalam satu jurus serangan yang digunakannya itUy sesungguhnya mengandung tiga macam ilmu pedang tingkat tinggi.
Jangankan orang lain menjadi kebingungan setengah mati, bahkan Bok Yang-po sendiri pun kebingungan.
Sementara semua orang merasakan pandangan matanya menjadi silau, mendadak pedang Bok Yang-po bagaikan bianglala sudah masuk ke dalam lingkaran cahaya yang diciptakan oleh Nyo Yan tersebut Begitu lingkaran cahaya tersebut disontek pecah, seperti hiasan cahaya rembulan segera muncullah beribu-ribu titik cahaya perak yang berhamburan di angkasa seperti bintang, kemudian cahaya tajam itu berguguran di tanah seperti hujan gerimis.
Beberapa orang jago pedang yang hadir di sekitar arena segera berteriak keras setelah menyaksikan permainan itu.
"Pek-hong-koan-jit (Bianglala Putih Memecahkan Matahari) yang bagus!"
Mereka mengira pertahanan yang diciptakan oleh Nyo Yan telah patah dan dia tentu kalah.
Siapa tahu belum habis torak sorai tersebut berkumandang, tahu-tahu terlihat Bok Yang-pn sudah melompat mundur beberapa kaki jauhnya dari posisi semula dengan gerakan Burung Belibis berjungkir Balik.
"Bagaimana.?"
Terdengar Nyo Yan menjengek dingin.
"Sekarang tentunya kau sudah percaya dengan perkataanku bukan?"
Bok Yang-po sama sekali tidak berbicara, dia segera beranjak pergi menuju ke arah bukit yang ditunjukkan Nyo Yan tadi.
Rupanya Bok Yang-po tidak berhasil mengetahui rahasia ilmu pedang yang dipergunakan oleh Nyo Yan itu, namun ingin memaksakan Suatu kemenangan, maka dia menerjang ke depan dengan menyerempet bahaya.
Alhasil dia malah kena dikalahkan oleh Nyo Yan, bahkan di atas pakaian bagian dadanya telah bertambah dengan tiga lubang kecil sebesar mata uang.
Berhubung kedua belah pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa, maka sepintas lalu orang menganggap lingkaran cahaya pedang Nyo Yan-lah yang kena dipatahkan oleh serangan lawan, oleh sebab itulah kecuali Li Wu-si, yang lain sama sekali tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Walaupun orang lain tak tahu akan hal ini, Bok Yang-po sendiri mengetahui dengan jeas, andaikata Nyo Yan tidak berbelas kasihan kepadanya, saat ini di atas dadanya telah bertambah dengan tiga buah lubang yang akan tembus hingga ke punggungnya.
Dengan ilmu silat sedemikian lihaynya itu, jangankan membunuh putranya, membunuh dirinya pun bukan suatu pekerjaan yang sulit bagi Nyo Yan, kalau memang begitu, buat apa lagi dia mesti ribut dengannya?
Berpikir sampai di situ mau tidak mau dia harus mempercayai perkataan yang diucapkan oleh Nyo Yan tadi.
Walaupun orang-orang itu tak mengetahui kalau Bok Yang-po baru saja lolos dari ancaman kematian, namun setelah mendengar perkataan Nyo Yan serta menyaksikan ia kabur dari situ, semua orang segera tahu kalau orang itu pasti sudahmenderita kerugian besar dalam pertarungannya melawan Nyo Yan tadi.
Im-tiong-siang-sat merupakan manusia yang pernah merasakan penderitaan di tangan pemuda ini, begitu menyaksikan Bok Yang-po kabur dari situ, Be Bong juga tanpa memikirkan keadaan luka yang dideritanya, segera membuang tongkatnya dan melarikan diri terbirit-birit.
Thian Keng segera mengejar dari belakangnya sambil berteriak.
"Toa-ko, ada rejeki kita nikmati bersama, ada bencana kita tanggulangi bersama pula!"
Dia menyambar tongkat tersebut dari tanah dan melarikan diri dari situ. Nyo Yan segera membentak lagi.
"Siapa yang ingin membalas dendam bagi Phang Tay-yu?
Silakan maju bersama aku tidak sabar untuk menghabisi kalian satu per satu Entah siapa yang menjerit kaget lebih dahulu, tahu-tahu kawanan jago tersebut sudah mengambil langkah seribu dan kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Li Wu-si dan Lok Kan-tang yang masih berada di sana.
Dengan suara gusar Li Wu-si segera membentak.
"Nyo Yan, kau telah mengkhianati perguruan, aku tak bisa melepaskan dirimu dengan begitu saja, hari ini kalau bukan kau yang mari, tentu aku yang tewas!"
Sudah jelas dia pun telah mengetahui kalau ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan masih di.atas kemampuannya Sudah jelas dia tak akan mampu meringkus pemuda tersebut secara mudah.
Lok Kan-tang yang berada di sampingnya segera membentak pula dengan suara menggeledek.
"Nyo Yan kau telah melakukan dosa mengkhianati perguruan dan berani pada angkatan tua, jika kau masih berkeras kepala lagi, itu namanya dosa ditambah dosa! Meski aku bersediamengampuni dirimu, belum tentu kakakmu bersedia meng-ampuni kau dengan begitu saja, aku harap kau suka memikirkan persoalan ini lebih seksama"
Ucapan yang keras dan bernada menegur itu diucapkan dengan nada agak gemetar. Nyo Yan segera mendengus dingin.
"Hmmrn, kau toh bukan cianpwee-ku, aku mau melanggar hukum atau tidak, apa sangkut pautnya dengan dirimu?"
Dengan menggunakan ilmu Ki-Liong-jiu-hoat yang lihay, dia lantas melancarkan cengkeraman ke tengah udara Lok Kan-tang yang sebenarnya berada di sisi susiok-nya, mendadak merasakan langkahnya jadi sempoyongan dan tahu-tahu dia sudah terisap maju beberapa langkah.
Sementara itu Nyo Yan telah menyimpan sebutir batu dalam telapak tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengeluarkan ilmu Kok liong-kiang, batu yang berada di tangan kirinya segera ke depan.
Tenaga dalam yang disalurkan ke telapak tangannya menghancurkan batu itu menjadi tujuh bagian, tiga di depan empat di belakang, ketujuh hancuran batu tersebut segera meluncur, masing-masing mengancam Li Wu-si dan Lok Kan-tang.
"Jurus Pak-to-jit-scng (Tujuh Bintang di Sudut Utara) yang bagus sekali!"
Teriak Li Wu-si kaget Ternyata Pak-to-jit-seng merupakan salah satu jurus pembunuh dalam ilmu pedang g hoat aliran Thian-san-pay.
Biasanya ilmu tersebut dilancarkan dengan gerakan pedang yang rrumciptakan tujuh titik cahaya pedang di udara dan semuanya mengancam jalan darah penting ditubuh lawan.Dengan mempergunakan jurus pedang itu, maka sekaligus dua tiga orang musuh dapat diserang bersamaan.
Tapi sekarang, Nyo Yan telah mempergunakan jurus itu dalam permainan ilmu senjata rahasia, dengan hancuran batu mencintakan formasi tiga di depan dan empat di belakang, pada hakikatnya serangan tersebut benar-benar merupakan sebuah ancaman yang luar biasa.
Li Wu-si menguasai penuh semua rahasia ilmu pedang perguruannya, jurus Pak-to-jit-scng kebetulan merupakan jurus kebanggaannya Tapi dia belum pernah menyaksikan ada orang bisa menggunakan senjata rahasia untuk menggantikan gerakan pedang, itulah sebabnya ia segera bersorak memuji setelah menyaksikan gerakan Nyo Yan tersebut, Tiba-tiba Nyo Yan berkata lagi sambil tertawa.
"Terima kasih banyak atas pujian susiok, sayang sekali aku tak ingin tertangkap olehmu, untuk membela diri terpaksa aku harus berbuat kasar kepadamu!"
Begitu selesai berkata dan suara tawanya belum hilang, empat butir hancuran batu telah menyambar ke depan mata Li Wu-si.
"Triiiingg, traaang, triiing, traaang…!"
Serentetan bunyi dentingan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan.
Li Wu-si merentangkan pedangnya dan menyerang dengan menggunakan jurus Pak-to-jit-scng pula Di antara bunga-bunga pedang yang berhamburan di mana-mana tampak hancuran batu berguguran ke atas tanah, bukan saja keempat biji batu yang mengancam tubuhnya terbabat hancur oleh pedangnya, serangan batu yang tertuju ke tubuh Lok Kan-tang pun ikut tersambar hingga rontok.Coba kalau jarak antara Lok Kan-tang dengannya tidak terseret hingga sejauh dua kaki, serangan Pak-to-jit-seng yang dilancarkan olehnya itu tak sulit untuk merontokkan ke tujuh biji batu tersebut.
Mencabut pedang, membalikkan badan, melancarkan serangan dan merontokkan batu, keempat gerakan itu dilakukan hampir bersamaan waktunya, kecepatan yang digunakan pun bagaikan sambaran kilat.
Tanpa terasa Nyo Yan berseru memuji.
"Li susiok, ilmu pedang yang amat bagus!"
Kendatipun demikian Lok Kan-tang masih tak berhasil menghindari kedua biji batu lainnya.
Secara telak kedua biji batu itu menghajar jalan darah Huan-tiau-hiat pada kedua lututnya.
Bayangkan saja, bagaimana mungkin Lok Kan-tang bisa menahan diri dari serangan itu.
Diiringi jerit kesakitan ia segera jatuh berlutut di atas tanah.
"Li susiok!"
Dengan lantang Nyo Yan berseru.
"jangan marah kalau aku tidak memberitahukan kepadamu kalau batu tadi kusambitkan dengan mengerahkan tenaga dalam, sekarang kau harus cepat-cepat membantu Lok suheng membebaskan jalan darahnya Bila di daiam dua jam belum dibebaskan totokan jalan darahnya, niscaya Lok suheng akan menjadi cacat seumur hidup."
Waktu itu, Lok Kan-tang sudah tak bisa berbicara lagi, dari tenggorokannya hanya bergema, suara gemerutuk keras, sementara peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, jelas dia sedang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa namun berhubung jalan darahnyamasih tertotok, sehingga teriakannya tak menimbulkan suara apa pun….
"Nyo Yan, kau betul-betul keji!"
Umpat Li Wu-si sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.
"Maaf aku tak ingin melangsungkan pertarungan mati-matian denganmu, terpaksa aku harus menyalahi Lok suheng kali ini,"
Kata Nyo Yan tertawa.
Tanpa mempedulikan caci maki dan umpatan gusar dari Li Wu-si lagi, dia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh Pat-poh-kan-sian dan berlalu dari situ.
Tidak meleset dugaannya, Li Wu-si memang tak berani mengejarmu nya Li Wu-si seorang ahli yang berpengalaman, begitu menyaksikan keadaan Lok Kan-tang, ia segera mengetahui kalau ucapan Nyo Yan bukan cuma gertak sambal belaka tentu saja dia tidak akan membiarkan keponakan muridnya menjadi cacat Walaupun di mulut dia mengumpat Nyo Yan habis-habisan, dalam hatinya tak urung berpikir juga.
"Seandainya bocah ini menyerang dengan sepenuh tenaga dan batu tersebut sampai menghajar tubuhku, mungkin aku sendiri pun tidak akan tahan, aaaii… percuma aku menjadi paman gurunya ilmu sifatku tak mampu menandinginya Kini dia tidak sampai melukai diriku, hal ini berarti dia sudah berbelas kasihan kepadaku!"
Sesungguhnya Nyo Yan telah memperhitungkan tingkat kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Li Wu-si, yang harus membutuhkan waktu selama satu jam guna mem-bebaskan totokan tersebut, kalau tidak Lok Kan-tang benar-benar akan menjadi cacat.Walaupun hanya satu jam saja namun asalkan dia dapat lolos dan cengkeraman Li Wu-si maka perbuatan apa pun bisa dilakukan olehnya selama itu.
Sambil memegang ujung tali, selangkah demi selangkah Beng Hoa menarik Liong Leng-cu menuruni bukit Dalam keadaan seperti ini, kendati Liong Leng-cu tak mampu memberikan perlawanan namun Beng Hoa pun jangan harap bisa mendesaknya untuk berjalan lebih cepat.
Kecuali kalau pemuda itu tak mcmpedulikan mati hidupnya lagi dan melanjutkan perjalanan cepat sambil menyeretnya di atas tanah, tentu saja dengan kedudukan Beng Hoa dalam dunia persilatan dia tak akan memperlakukan seorang nona muda dengan cara sebrutal itu.
Dengan ketajaman pendengaran Beng Hoa yang luar biasa, sesungguhnya dia mendengar pula suara ribut dan umpatan yang berkumandang lamat-lamat dari bawah bukit.
Berhubung Liong Leng-cu juga sedang mengumpatnya waktu itu sehingga mengalutkan pikirannya, maka dia tak sempat mengetahui apa gerangan yang sebenarnya terjadi di kaki bukit sana.
Bara saja dia akan memusatkan tenaga untuk mendengarkan suara ribut-ribut di bawah bukit situ, men-dadak sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Bara saja bayangannya tampak, tahu-tahu orangnya sudah muncul disamping Liong Leng-cu.
Kedatangan Nyo Yan sedemikian cepatnya, sehingga sama sekali berada di luar dugaan Beng Hoa.
"Kau, kau adalah…."Belum sempat kata "adik Yan"
Diucapkan keluar, Nyo Yan telah mengayunkan pedangnya dan memutuskan tali pengikat badan si nona….
"Beng Hoa, bukankah kau sedang mencari aku? Nah, sekarang aku telah muncul sendiri!"
Seru Nyo Yan dingin.
Kakak dan adik berjumpa kembali, tapi mereka berjumpa sebagai musuh yang siap bertarung mati-matian.
Berhadapan dengan adik yang pernah dicari selama tiga tahun dengan mengarungi seluruh dunia persilatan, berhadapan dengan adik yang tiga tahun kemudian dicari oleh Leng Ping-ji selama empat tahun, Beng Hoa merasakan suatu perasaan yang amat aneh.
Meskipun ia telah bersusah payah mencari jejaknya, namun adiknya ini bukan saja tidak mempunyai perasaan persaudaraan dengannya, bahkan berani "menganiaya"
Leng Ping-ji, berani menghajar angkatan tua perguruannya sehingga melakukan kesalahan besar.
Ia benar-benar merasa sedih sekali, sedemikian sedihnya sehingga untuk beberapa saat dia tak tahu apa yang harus diucapkan.
"Nyo Yan, tepat sekali kedatanganmu ini,"
Seru Liong Leng-cu dengan suara lantang.
"dengan mata kepala sendiri kau saksikan engkoh-mu menganiaya diriku, kini kau hendak membantunya atau membantuku?"
Perlu diketahui, dalam pandangan Beng Hoa perbuatan Nyo Yan yang telah "menganiaya"
Leng Ping-ji tersebut merupakan "dosa"
Yang tak boleh diampuni..
Apalagi setelah dia mendengar laporan Ciok Thiang-hing sekalian angkatan tua dari perguruan yang menuturkankejahatan adiknya itu, dia telah menganggap adiknya sebagai "manusia jahat"
Yang tak bisa diobati lagi. Sungguh tak disangka, saat ini dia muncul sebagai orang jahat yang telah "menganiaya"
Perempuan lemah seperti yang dituduhkan Liong Leng-cu barusan. Sambil tertawa getir Beng Hoa segera berkata.
"Nona Liong, kau jangan cuma mengatakan orang lain yang salah, mengapa tak kau bayangkan kesalahan yang telah kau lakukan?"
"Kesalahan apa yang telah kulakukan?"
Seru Liong Leng-cu sambil mencibirkan bibirnya.
"Nyo Yan adalah murid Thian-san-pay, dia telah melanggar peraturan perguruan, orang yang bersalah harus dihukum dan orang lain tak boleh mencampuri urusan ini. Tapi kau, bukan cuma mencampuri urusan mi, bahkan menyelamatkan Nyo Yan dari tangan Ting Tiau-bing, padahal Ting Tiau-bing adalah paman guruku, salahkah kalau aku bersikap tak sungkan terhadapmu?"
"Aku tak peduli peraturan perguruan Thian-san-pay kalian, aku hanya tahu Nyo Yan adalah sahabatku."
Menyaksikan gadis itu mencari menangnya sendiri, Beng Hoa segera mendengus dingin, | aku tak punya waktu untuk ribut denganmu."
Serunya lantang.
"aku hanya ingin memberitahukan kepadamu, sekarang kau sudah tak ada per-soalan lagi denganku, kau I pergi dari sini dengan bebas merdeka!"
"Leng-cu,"
Nyo Yan berkata pula.
"kau sudah banyak membantuku, aku berterima kasih sekali kepadamu, lebih baik kau pergi saja dari tempat ini…."
"Tidak, aku sengaja tak mau per* gi, jangan harap aku akan beranjak dari sini, siapa pun yang menyuruh!"
Beng Hoa tidak menggubris gadis itu lagi, dia berkata kepada Nyo Yan.
"Adik Yan, aku selalu berharap kau bisa menjadi orang bait tapi tingkah laku serta perbuatanmu sungguh membuat hatiku sedih, tapi asal kau tahu salah dan bersedia untuk memperbaiki kesalahanmu itu, aku bersedia memberi kesempatan yang terakhir kepadamu"
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada bersungguh-sungguh, bahkan sepasang matanya ikat menjadi merah. NyoYan adalah seorang pemuda yang gampang terharu, tanpa terasa dia berpikir.
"Tampaknya Beng Hoa memang benar-benar menaruh perasaan persaudaraan denganku!"
Tiba-tiba Liong Lcng-cu menimbrung dari samping.
"Beng Hoa, aku lihat kati ibarat sebuah lentera hanya bisa menyinari satu orang lain namun tak bisa menyinari semua orang!"
Ucapan ini persis seperti apa yang diucapkan Beng Hoa kepadanya tadi. Nyo Yan segera merasakan hatinya bergolak lagi, teriaknya keras-keras.
"Leng-cu, kau benar-benar sahabat karibku, kau tidak salah, yang bersalah memang bukan aku!"
"Kau tidak salah? Lantas siapa yang bersalah? Memangnya aku yang salah…?"
Seru Beng Hoa kemudian sambil menatap wajah pemuda tersebut lekat-lekat "Kau adalah seorang enghiong besar, pendekar sejati, tentu saja kau tidak bersalah,"
Kata Nyo Yan dingin.
"Bukan saja kau tidak bersalah, orang-orang yang kau percayai pun tentu kau anggap mereka tidak bersalah, orang seperti Ciok Thiang-hing,Ciok Cing-swan semuanva tidak salah, Li Wu-aj, Lok Kan-tang juga tidak salah, Ting Tiau-bing, Kam Bu-wi lebih-lebih tak bersalah, yang bersalah hanya aku seorang!"
Beng Hoa yang mendengar perkataan tersebut menjadi amat terkesiap, segera pikirnya.
"Heran, mengapa dia tampak begitu marah? Jangan-jangan di balik kesemuanya ini benar-benar masih ada latar belakangnya? Aaah, betul! Aku belum berjumpa dengan Leng Ping-ji, aku memang tak boleh bersikeras menuduh dialah yang bersalah."
Berpikir demikian, katanya kemudian dengan lembut.
"Adik Yan…."
Pemuda ini memang tidak pandai berbicara, sementara otaknya masih berputar untuk mencari akal bagaimana cara membuat hati Nyo Yan menjadi "tenang dan sabar"
Kemudian "mengaku secara terus terang", Nyo Yan sudah berkaok-kaok lebih dulu.
"Siapa sih yang menjadi adikmu? Dalam pandanganmu aku toh tak lebih hanya seorang manusia berdosa yang berhati amat jahat! Barusan kau berkata, kau hendak menangkap diriku, buat apa mesti berlagak pilon lagi…?"
Kakak Beradik Bertanding Menyaksikan kekeraskepalaan adiknya, diam-diam Beng Hoa menghela napas lagi.
"Aaa… tampaknya pertarungan tak bisa dielakkan lagi hari ini…."
Sementara dia masih berpikir, Nyo Yan telah maju selangkah, kemudian serunya.
"Sekarang aku sudah muncul untuk menyambut kedatanganmu, kalau ingin bertarung, ayolah segera turun tangan!"
"Kalau memang begitu, ikutlah aku pulang ke gunung, asal kau tidak bersalah dan tuduhan itu suatu fitnah, kau boleh mengungkapkan alasanmu kepada ciangbunjin. Kau adalah murid terakhir dari lo-ciang-bunjin, ciangbunjin yang sekarang menganggap dirimu sebagai saudara sendiri, sekalipun kau melakukan kesalahan besar, asalkan masih ada hal-hal yang bisa dimaafkan, aku rasa dia pun hanya akan menjatuhkan hukuman ringan kepadamu."
"Sudah, sudahlah, kau tak usah banyak berbicara yang tak ada gunanya lagi,"
Tukas Nyo Yan dingin.
"Boleh saja aku mengiringi kehendakmu itu. Cuma aku harus bertanya dulu kepada sahabatku."
"Kau tak usah bertanya kepadaku,"
Seru Liong Leng-cu cepat.
"sudah pasti aku tak akan setuju bila kau mengikuti orang lain untuk menerima hukuman."
Nyo Yan segera tertawa.
"Aku sudah tahu kalau kau bakal berkata demikian, tapi yang ingin kutanyai adalah sahabatku yang lain."
Liong Leng-cu menjadi tak senang hati, namun dia merasa keheranan juga, sambil mendengus katanya.
"Ooh, rupanya kau bukan bertanya kepadaku, kalau begitu aku terlalu memikirkan yang bukan-bukan. Tapi… siapa sih temanmu yang lain?"
"lhi dia, di sini!"
Seru Nyo Yan sambil tertawa. Dia mencabut pedang dari sarung, kemudian disentil pelan, setelah itu katanya sambil tertawa nyaring.
"Beng Hoa, maaf, bila kau ingin mengajak aku pulang ke gunung, lebih baik kau tanyakan dulu kepada sahabatku ini!"
Bagaimanapun kuatnya iman Beng Hoa, toh dibuat naik darah juga oleh perkataan tersebut tanpa terasa paras mukanya berubah hebat "Nyo Yan… Nyo Yan… kau kelewatan.
Baiklah, kalau kau memaksaku turun tangan, silakan melancarkan serangan!"
Nyo Yan tidak sungkan-sungkan lagi, segera bentaknya nyaring.
"Sambutlah seranganku ini!"
Batang pedangnya digetarkan menciptakan lingkaran cahaya, kemudian secepat kilat mengurung tubuh Beng Hoa Di dalam jurus serangan ini, dia menyertakanjntisari ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat dari Siau It-kek, terdapat pula intisari ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat serta Tui-hong-kiam-hoat dari Thian-san-pay; satu jurus dengan tiga unsur kekuatan, kecepatan, kehebatan serta kesaktiannya benar-benar luar biasa Walaupun Beng Hoa sangat lihay, toh dia hanya bfea mengenali dua macam unta*di antaranya.
Terkejut dan girang kati Beng Hoa menyaksikan ftim pedang tersebut, segera pikirnya.
"Adik Yan betul-berul bahan bagus untuk berlatih silat, tak nyana dalam setengah tahun saja ilmu pedangnya telah memperoleh kemajuan yang begini pesat"
Sayang sekali, gabungan tiga unsur yang diciptakan sendiri oleh NyoYan ini meski lihay bila dipakai untuk menghadapi orang lain, untuk menghadapi Beng Hoa masih kelewat kasar Secepat kilat Beng Hoa menggerakkan pedangnya menusuk ke timur, barat, utara dan selatan.
Dalam keempat tusukan itu semuanya memakai Jurus Pek-hong-koan-jit yang paling sederhana, namun serangan itu ternyata mampu meng-hancurkan lingkaran tengah, atas, bawah, lingkaran besarmaupun lingkaran kecil yang tercipta oleh hawa pedang Nyo Yan.
"Untuk mencapai ilmu silat tingkat atas, kesederhanaan bisa mengungguli kelincahan. Jangan peduli keampuhan lawan, yang penting adalah pemahaman, dengan begitu gerakan baru lebih luwes dan mantap, yang penting lagi perubahan tak usah kelewat rumit,"
Kata Beng Hoa tiba-tiba.
"Terima kasih atas petunjukmu!"
Mendadak jurus pedangnya berubah, dengan jurus Hong-hoo-lok-jit-wan (Bulan Purnama di Sungai Kuning) menyerang lebih dulu, kemudian jurus Toa-mo-hu-yan-ci (Asap Turun di Gurun Pasir) menyusul di belakang.
Serangan yang sebenarnya melingkar-lingkar itu mendadak berubah menjadi satu dan saling bersambungan satu sama lainnya dengan kecepatan luar biasa.
Jurus pedangnya kali ini amat sederhana, banyak perubahan yang rumit lenyap, tapi kehebatannya justru makin bertambah.
Kembali Beng Hoa memuji.
"Bagus, kecermatan dan kejelian otakmu sungguh mengagumkan. Baru pertama kali ini kujumpai orang dengan kecerdasan luar biasa seperti kaul"
Tanpa terasa tigapuluhan jurus sudah lewat. Mendadak Beng Hoa berkata lagi.
"Perpaduan antara Tay-si-mi-ktam-hoat dengan Tui-hong-kiam-si bukannya tak bisa dilakukan, namun enteng berat kalau dilakukan kurang tepat, hal ini justru akan membuka titik kelemahan sendiri. Cepat dan lamban gerakan pun harus sesuai dengan irama. Kedua jurus ini bukan saja kau gunakan dengan bobot yang kurang tepat, gerakannya pun kelewat cepat sedikit"
Ketika Liong Leng-cu menyaksikan Beng Hoa sungguh-sungguh memberi petunjuk kepada NyoYan, rasa permusuhannya terhadap pemuda itu pun berkurang dua bagian, dengan perasaan ingin tahu dia segera bertanya.
"Orang bilang, pangkal utama dari ilmu pedang adalah keentengan serta kelincahan, mengapa kau mengatakan lamban jauh lebih baik dari cepat?"
"Apa yang dia katakan memang benar!"
Kata Nyo Yan sambil melancarkan serangan lebih jauh.
"Apa yang dikatakan orang sebagai kelincahan dan keentengan merupakan pangkal utama dari ilmu pedang memang tak salah. Tapi hal ini pun harus dilihat dulu siapa lawannya. Ilmu silatnya lebih tinggi dari ke-pandaianku, daripada aku dengan kedudukan tamu menyerang tuan rumah, lebih baik memakai sistem dengan kedudukan tuan rumah menyambut tamu? Kelincahan bisa mengungguli kelambanan, tapi ada kalanya kelambanan dapat pula mengungguli kelincahan, hanya tergantung pada penggunaannya saja!"
Liong Leng-cu gadis yang amat cerdik, begitu memahami teori tersebut tiba-tiba saja dia berkata.
"Kalau kau merasa ucapannya benar, mengapa kau masih saja melakukan kesalahan?"
"Kesalahan apa yang kulakukan?"
Tanya Nyo Yan dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti.
Dia merasa banyak kemajuan yang telah diperolehnya, dan tak percaya kalau kesempurnaan ilmu pedang Liong Leng-cu bisa mengungguli dirinya.
Liong Leng-cu segera berkata.
"Tay-si-mi-kiam-hoat serta Tui-hong-kiam-hoat merupakan ilmu pedang Thian-san-pay, dia tentu lebih menguasai daripada dirimu! Lagi pula untukmenggunakan ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat paling tidak gerak seranganmu akan menjadi cepat dengan sendirinya. Sekarang kau telah mengubah jurus serangan kilatmu menjadi serangan lamban, padahal kesempurnaan yang berhasil kau capai belum bisa mencapai seperti taraf kemampuannya, bukankah dalam pandangannya seranganmu masih terdapat banyak titik kelemahan? Menurut pendapat-ku lebih baik kau pergunakan Sau-yap-cianghoat dari empek Siau serta yaya punya…."
Guru kedua dari NyoYan adalah kakek luar Liong Leng-cu yaitu Liong Ci-Jeng, tapi selama ini belum pernah gadis tersebut mau mengakui dia sebagai yaya-nya, terutama di hadapan Nyo Yan.
Tapi sekarang, untuk membantu Nyo Yan dia tak sempat berpikir untuk mencari sebutan lain yang lebih tepat lagi, maka tanpa sadar dipakainya sebutan "yaya".
Nyo Yan menjadi sangat kegirangan segera serunya tanpa terasa.
"Hebat sekali kau Leng-cu! Perkataanmu memang ada betulnya!"
Nyo Yan memutar pedangnya membentuk satu lingkaran lebar, kemudian dengan menganggap sebagai sebilah golok besar… "Srect!" , dia melancarkan sebuah bacokan kilat Sedemikian dahsyatnya serangan tersebut, membuat Bcng Hoa sendiri pun mau tak mau harus meningkatkan kewaspadaannya.
Ternyata yang dipergunakannya sekarang adalah ilmu pedang Liong-heng-lak-cap-si-kiam (Enampuluh Empat Pedang Berbentuk Naga) dari keluarga Liong.
Ilmu pedang tersebut mengutamakan kekuatan yang besar dan keras, ibarat burung hong dan naga sakti yang menari diangkasa, terutama setelah dikombinasikan dengan ilmu pukulan Sau-yap-ciang, kehebatannya sungguh berlipat ganda.
Beng Hoa segera merasakan makin lama titik kelemahan yang berhasil dilihat semakin berkurang, bahkan lambat laun dia merasa agak kepayahan juga menghadapi serangan lawan.
Rupanya dua pukulan yang dilepaskan oleh Siau Jt-kek ke arahnya tadi kendatipun tidak mendatangkan cedera, namun membuat tenaga dalamnya berkurang beberapa bagian.
Selain itu, dia pun enggan melukai adiknya, banyak jurus tangguh yang mematikan tak berani dipergunakan.
Di antara sekian banyak kepandaian, terdapat dua jurus ilmu pedang penusuk jalan darah yang sebetulnya dapat menembus tubuh lawan andaikata tenaga dalamnya tidak mengalami kerugian, tapi berhubung selisih sedikit akibatnya kepandaian tersebut kena dipunahkan oleh Nyo Yan….
Diam-diam Beng Hoa mulai berkerut kening, pikirnya.
"Aku mendapat perintah untuk menghukum murid murtad ini, seandainya aku tak berhasil membekuk adik Yan dan menggusurnya pulang, sudah pasti anggota perguruan lainnya akan berprasangka kepadaku, ya apa boleh buat, terpaksa aku harus membuatnya menderita sedikit luka."
Mendadak dia mengubah permainan pedangnya, lalu berseru dengan suara nyaring.
"Ilmu pedang tidak selalu terikat oleh suatu peraturan, mau cepat mau lambat yang penting mengikuti suara hati. Meski berat, bisa dilaksanakan seperti enteng, melakukan yang enteng bisa pula dilaksanakan dengan berat. Ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat adalah gerak serangan yang berat lagi lamban sebaliknya ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat enteng lagi lincah, kedua unsur tersebutsebetulnya tidak mudah untuk dikombinasikan, tapi bila kepandaian tersebut bisa dilatih hingga mencapai tingkatanku sekarang, enteng atau berat, lincah atau lambat sesungguhnya dapat dibaurkan menjadi satu."
Sembari berkata.
"Sreet!"
Dia melancarkan sebuah tusukan ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, inilah jurus Li-khong-sia-sik (Li Khong Membidik Batu) dari ilmu Tui-hong-kiam-hoat.
Dengan cekatan Nyo Yan ber kelit ke samping, sambil berkelit sembari menyerang, dia melancar kari serangan balasan dengan jurus Hui-liong-cay-thian (Naga Terbang di Angkasa) dari ilmu pedang keluarga Liong.
Kedua belah pihak sama-sama menyerang dengan jurus serangan yang amat cepat, tapi masing-masing pihak tak berhasil mencapai sasarannya dengan tepat Siapa sangka di saat yang terakhir itulah serangan kilat dari Beng Hoa tiba-tiba berubah menjadi posisi bertahan, seperti bendungan baja yang menahan terjangan air bah, ancaman itu dibendung kuat-kuat Nyo Yan tidak sempat menarik kembali serangannya, pedang tersebut kena tangkis hingga saling membentur satu dan lainnya.
"Criiing…!"
Pedang Nyo Yan tersentil hingga mencelat sementara tubuhnya mundur dua langkah ke belakang tanpa terasa.
Liong Leng-cu yang menyaksikan jalannya pertarungan tersebut dari samping menjadi terkejut bercampur gembira, serunya segera.
"Beng taybiap, rupanya perkataan itu kau ucapkan bagiku?"
Harus diketahui, tadi ia menasihati Nyo Yan agar jangan menggunakan ilmu gabungan dari Tui-hong-kiam-hoat dan Tay-si-mi-kiam-hoat, alasannya karena ia beranggapan pedang cepat tak akan bisa menandingi pedang lamban, gerakan lincah sukar menghadapi gerakan lambat Itulah sebabnya dia merasa perkataan Beng Hoa tersebut ditujukan kepadanya.
Beng Hoa sama sekali tidak menggubrisnya, kembali dia membentak keras-keras.
"Coba perhatikan dengan seksama!"
Pedangnya diputar membentuk lingkaran, kemudian seperti putaran roda yang kuat serangannya meluncur ke depan bergulung-gulung….
Gerak ini dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, inilah jurus Sam-hoan-hoat-lun (Tiga Kali Memutar Roda Hukum) dari ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat.
Menyusul kemudian lingkaran pedang itu dikembangkan, ujang pedangnya seperti dtbanduli oleh besi berat, pelan-pelan menyodok ke depan, jurus serangan yang digunakan adalah Seng-hay-hu-cha (Bintang Bertaburan di Samudra) Menyusul kemudian lingkaran pedang itu dikembangkan, ujang pedangnya seperti dibanduli oleh besi berat, pelan-pelan menyodok ke depan, jurus serangan yang digunakan adalah Seng-hay-hu-cha (Bintang Bertaburan di Samudra) dari ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat.
Betul juga, bukan saja dia dapat mengubah gerakan lamban menjadi lincah, gerakan lincah bisa diubah menjadi gerakan lamban, semua kekuatannya bisa disalurkan seperti apa yang diinginkan.Begitulah, setelah Beng Hoa mempergunakan dua macam ilmu pedang yang berbeda dikombinasikan menjadi satu sebentar lembut dan halus seperti kapas, sebentar lagi berat dan mantap seperti besi baja, kontan Nyo Yan tak sanggup untuk mempertahankan diri.
Dalam waktu singkat dia sudah mundur sejauh delapan langkah.
Liong Leng-cu yang menyaksikan kejadian ini makin lama semakin terkejut, pikirnya kemudian.
"Liong-hcng-cap-pwee-kiam yang dimainkan Nyo Yan sudah mencapai separuh bagian, bila delapan belas jurus telah dipunahkan semua na-mun belum mampu untuk mengunggulinya, mungkin akhirnya dia akan teriuka di ujung pedang kakaknya!’* Rupanya ilmu Liong-heng-lak-cap-si-si dari keluarga Liong itu bisa dipakai sebagai ilmu telapak tangan, bisa pula dipakai sebagai ilmu pedang, lagi pula Liong-heng-cap-pwee-kiam merupakan petilan intisari ilmu Liong-heng-lak-cap-si-si yang khusus dipakai untuk ilmu pedang, kekuatannya betul-betul luar biasa. Nyo Yan dengan mengandalkan Liong-heng-cap-pwee-kiam saja tak sanggup mempertahankan diri hal ini menandakan dia bakal menderita kekalahan total. Siapa sangka kalau Liong Leng-cu kaget, Beng Hoa bukan saja lebih kaget, dia malah merasa sedih bercampur murung. Yang membuat hatinya terkejut adalah ilmu silat adiknya ternyata masih jauh di atas perhitungannya semula, dengan keadaan tenaga dalam yang menderita kerugian untuk berhasil membekuk adiknya berarti dia harus mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Ini berarti pertarungan tak bisa diakhiri dengan cara yang baik atau bahkan hanya "
Terluka ringan"
Pun sulit sekali.Tiba-tiba Liong Leng-cu membentak keras.
"Beng Hoa, kau telah menganiaya diriku, bagaimanapun jua sakit hati ini harus kubalas, bagaimanapun kau sudah menganggapku sekomplotan dengan Nyo Yan, maka aku merasa wajib untuk menikmati rejeki bersama dengannya, menanggulangi bencana bersama pula dengannya! Kau seorang tokoh kenamaan dari dunia persilatan, maaf, terpaksa kami harus mengerubutimu!"
Beng Hoa tidak berbicara, sedangkan Nyo Yan segera berseru.
"Aduuh, hal-ini mana boleh jadi? Leng-cu, terus terang saja kukatakan kepadamu, bila kau maksudkan membantuku karena ‘ada rejeki dinikmati bersama’ maka kau jangan memimpikan keuntungan apa-apa, sebaliknya ‘ada bencana ditanggulangi bersama’, maka ini berarti bencana hanya akan menimpa dirimu seorang."
Kendatipun sedang melangsungkan suatu pertempuran yang amat seru, namun si anak muda tersebut masih saja berbicara sambil tertawa cengar-cengir.
"Sreeet!"
Ujung baju Nyo Yan tersambar hingga robek sebagian.
Masih untung sambaran tersebut tak sampai membuatnya cedera, namun memaksanya mundur sejauh tiga langkah.
Dari delapanbelas jurus ilmu pedang Liong-heng-cap-pwee-kiam kini sudah empatbelas jurus yang digunakan, hingga sisanya tinggal empat jurus lagi.
Dalam pada itu, dengan suatu gerakan cepat tahu-tahu Liong Leng-cu telah meloloskan sebuah ruyung lemas, dengan tangan kanan memegang ruyung tangan kiri memegang pedang, ia menerjang ke arah Beng Hoa.Ruyung itu berukuran panjang sedang pedang berukuran pendek, belum lagi orangnya sampai, ruyung lemas sudah menyambar datang terlebih dulu.
Padahal waktu itu Beng Hoa sedang menerjang maju untuk mengejar Nyo Yan.
Dengan jurus Hwee-hong-sau-Isu (Angin Puyuh Menyapu Lio) tampaknya ruyung lemas itu sudah hampir menyambar kakinya.
Beng Hoa mengurungkan tu-brukannya dan menendang ruyung lemas itu dengan jurus Te-tong-tui.
Begitu ia mencabangkan pikiran, Nyo Yan telah memutar pedangnya untuk memunahkan ancaman.
Tiba-tiba Beng Hoa membalikkan badan sambil menyambar cambuk lemas.
Liong Leng-cu segera melompat ke samping, ruyung lemasnya ditarik membentuk satu lingkaran.
Begitu Beng Hoa gagal dengan cengkeramannya, pedang yang berada di tangan kiri Liong Leng-cu telah meluncur setengah depa ke muka langsung mengarah jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak Ternyata pedang yang dipergunakan olehnya ini adalah sebilah pedang lemas.
Bila tidak dipergunakan, pedang tersebut bisa dililitkan pada pinggangnya sebagai ikat pinggang.
Sudah tentu Beng Hoa tak akan membiarkan jalan darah Lau-kiong-hiat-nya tertusuk, tetapi berhubung dia harus melayani Nyo Yan yang berkepandaian lebih tinggi daripada Liong Leng-cu, apalagi Nyo Yan telah mengubah posisi bertahannya menjadi menyerang, ia tidak sempat melanjutkanserangannya untuk merampas pedang Liong Leng-cu lagi, terpaksa dia harus berkelit ke samping.
Sambil tertawa Liong Leng-cu berseru.
"Beng tayhiap ilmu silatmu sangat lihay, aku pun ingin memohon beberapa petunjukmu."
Di tengah gelak tawanya, ruyung dan pedang dipergunakan bersama, bukan saja ilmu niyungnya sangat aneh, ilmu pedangnya pun jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dipergunakan tadi.
Tampak ruyung lemasnya berputar dan menari-nari kian kemari, ada kalanya digetarkan sampai mengeras seperti tombak, lalu menotok jalan darah dengan ujung niyungnya seperti ilmu pedang penotok jalan darah, ada kalanya lemas seperti ruyung biasa.
Dalam taktik ilmu silat dikatakan, tombak takut bulat, ruyung takut lurus.
Ruyung merupakan sebuah senjata yang lunak, untuk digetarkan sampai lurus maka orang harus memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Sekalipun kepandaian tingkat tinggi yang dimiliki Liong Leng-cu masih dianggap biasa dan tiada sesuatu yang aneh dalam pandangan Beng Hoa, toh kepandaian yang dimiliki gadis tersebut sedikit di luar dugaannya.
Ilmu pedang yang dipergunakan olehnya terhitung aneh, oleh karena pedang lemasnya tiba-tiba diluncurkan ke depan tiba-tiba ditarik kembali, gerak-geriknya semakin bertambah lincah dan gesit.
Ketika kepandaiannya itu dimainkan mencapai puncaknya, di mana cahaya pedangnya berkelebat lewat segera berubahmenjadi lingkaran-lingkaran cahaya yang besar kecil tak menentu, di balik lingkaran terdapat lingkaran bahkan seringkah ruyung tersebut menciptakan pula lingkaran-lingkaran lainnya Sekalipun Beng Hoa tak sampai dibikin jeri, tak urung pandangan matanya silau oleh berkelebatnya cahaya tersebut.
Beng Hoa yang lihay dapat menangkap kalau di balik’ permainan cambuknya terdapat ilmu pedang, di balik ilmu pedangnya terdapat ilmu cambuk, jurus serangannya begitu aneh sehingga seringkali sama sekali di luar dugaannya.
Diam-diam ia kebenaran, pikirnya.
"Rupanya siluman perempuan kecil ini masih memiliki kepandaian yang begini tangguh, tampaknya aku terlalu memandang rendah dirinya."
Padahal tadi bukan karena ia memandang rendah lawannya melainkan di saat Liong Leng-cu sedang bertarung melawannya tadi, pada hakikatnya tidak memiliki kesempatan untuk memperlihatkan ilmu silatnya.
Semenjak tenaga dalam Beng Hoa menderita kerugian tadi, kemampuannya sekarang tak lebih hanya setingkat lebih unggul dari adiknya.
Tapi karena Nyo Yan dibantu Liong Leng-cu dan bersama-sama mengerubutinya, situasi pun segera mengalami perubahan besar.
Akhirnya sambil menggigit bibir Beng Hoa membentak keras.
"Adik Yan, hati-hati kau!"
"Sreeet!"
Dia melancarkan sebuah tusukan ke depan, berkuntum-kuntum bunga pedang menyebar di angkasa seperti bintang yang bertaburan di angkasa dan jatuh menye-bar ke mana-mana, cahayanya begitu tajam sehingga amat menyilaukan mata.
Kali ini jurus serangan yang dipakai bukan jurus dari Tui-hong-kiam-hoat juga bukan dari Tay-si-mi-kiam-hoat, melainkan jurus mematikan dari Khong-tong-pay yakni Oh-ka-cap-pwee-pa.
Karena keadaan memaksanya, maka dia mengeluarkan jurus terakhir untuk menghadapi kedua orang lawannya.
Tempo hari dengan mempergunakan jurus itulah dalam waktu singkat dia telah menusuk delapan-belas buah jalan darah di tubuh NyoYan….
Dengan taraf ilmu silat yang dimilikinya, kendatipun mempergunakan jurus ampuh tersebut, sesungguhnya dia dapat tidak melukai orang, begitu pula kali ini.
Hanya kali ini keadaannya sedikit agak berbeda, apakah dia bisa menahan diri sehingga tak sampai melukai NyoYan, sesungguhnya ia sendiri pun tidak yakin.
Sebab ketika Nyo Yan benemu dengannya tempo hari, ilmu silat adiknya masih selisih jauh dengannya, sebaliknya kali ini selisih mereka tak banyak sehingga dia harus melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.
Di tengah bentakan nyaring, cahaya pedang sebentar mengumpul sebentar membuyar.
Beng Hoa melompat keluar dari arena, Nyo Yan berdiri serius dengan pedang tersilang di depan dada, sebaliknya Liong Leng-cu berdiri di sisinya seperti patung.
Terdengar Beng Hoa berkata dengan sedih.
"Nyo Yan, terima kasih atas kebaikan hatimu yang tak sampai melukaiku. Tak usah menunggu sepuluh tahun lagi, ilmu silatmu sudahpasti dapat mengungguli aku. Cuma ilmu silat bagaikan air dapat melajukan sampan, tapi dapat pula menenggelamkan sampan, aku harap kau bisa baik-baik menjaga diri."
Ternyata jurus Oh-ka-cap-pwee-pa yang dipergunakan Beng Hoa sama sekali tak berhasil menusuk tubuh Nyo Yan, malahan sebaliknya di atas pakaiannya muncul tujuh buah lubang kecil sebesar mata uang.
milah hasil serangan yang dilakukan Nyo Yan dengan mempergunakan jurus Pak-to-jit-seng.
Tempo hari, setelah Nyo Yan menderita kerugian besar di tangan Beng Hoa akibat jurus Oh-ka-cap-pwee-pa, ia memeras otak untuk mencari akal untuk mengatasi serangan tersebut Apa yang dia pikirkan waktu itu pun hanya terbatas sampai "menahan"
Serangan tersebut pada hakikatnya dia tak berani memikirkan bagaimana caranya "mematahkan"
Serangan tersebut Setengah tahun lamanya dia mengasah otak namun tak sebuah cara pun yang berhasil dia peroleh.
Sampai akhirnya setelah dia memahami bagaimana caranya untuk mengerahkan tenaga seperti apa yang dilakukan Siau It-kek dengan ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat, lalu mendapat petunjuk pula dari Beng Hoa, satu ingatan lantas melintas dalam benaknya.
Ia berpendapat dengan menggunakan jurus Liong-heng-cap-pwee-kiam yang keras tiba-tiba diubah menjadi jurus Pak-to-jit-seng yang lincah besar kemungkinan dia dapat meraih kemenangan secara tak terduga.Jurus Pak-to-jir-seng merupakan salah satu jurus serangan yang dilatih paling matang olehnya di antara jurus-jurus Tui-hong-kiam-hoat lainnya.
Sebagaimana diketahui, dalam setengah babak pertarungan yang pertama tadi, dia mencoba untuk mengombinasikan ilmu Tui-hong-kiam-hoat dengan Tay-si-mi-kiam-hoat untuk mencoba mendesak musuhnya, akan tetapi kombinasi tersebut sama sekali tak menimbulkan hasil apa-apa bahkan terlihat banyak titik kelemahan dari permainannya.
Kemudian setelah mendapat petunjuk dari Beng Hoa, dalam babak terakhir dari pertarungan itu, ia mengubah ilmu pedangnya dengan ilmu pedang Liong-kiam-hoat, itu pun hanya terbatas bisa membendung kekuatan lawan.
Oleh karena itu, dia menduga Beng Hoa tak akan pernah menduga dia akan mengubah jurusnya secara tiba-tiba dengan memakai jurus ampuh dari perguruannya.
Akan tetapi, kendatipun?
dia bertarung dengan persiapan yang matang, namun dia sama sekali tak menyangka kalau dia dapat mengalahkan kakaknya dengan mengandalkan jurus tersebut.
Sesudah termangu-mangu sesaat, dia pun berkata, ‘Tempo hari kau telah mengampuni selembar jiwaku, kali ini aku pun tidak melukaimu, anggap hutang piutang di antara kita sudah impas.
Oh-ka-cap-pwee-pa dan Pak-to-jit-seng berarti satu jurus dibalas dengan satu jurus, siapa pun tidak usah berhutang kepada yang lain.
Sedangkan mengenai usahamu untuk membersihkan perguruan Thian-san-pay dari murid murtad, itu merupakan urusanmu sendiri, aku tak ingin mencampuri masalah tersebut!
"Sementara mengucapkan perkataan tersebut diam-diam dia pun bersyukur di hati.
"Untung aku berhasil memahami teori bagaimana caranya mengatur tenaga menurut keadaan, kalau tak bisa mengerahkan tenaga sesuai dengan yang dibutuhkan, tak mungkin aku bisa membuat tujuh lubang kecil di atas pakaiannya."
Begitulah selesai berkata dia lantas menatap wajah Beng Hoa lekat-lekat Dengan suara sedih Beng Hoa berkata.
"Menurut peraturan dunia persilatan aku telah menderita kekalahan di tanganmu. Soal pembersihan perguruan Thian-san-pay sudah tak bisa kucampuri lagi. Aku hanya berharap kau sudi mengingat-ingat perkataan terakhirku ini, baik-baiklah mempergunakan ilmu silatmu untuk kepentingan orang banyak. Jangan sudah salah melakukan kesalahan lagi, nah aku pergi dulu."
Pada waktu itu hampir saja Nyo Yan memanggil kakak tapi akhirnya dia masih bisa menahan diri.
Ketika berpaling, bayangan tubuh Beng Hoa sudah tak tampak lagi, semuanya itu membuat Nyo Yan menitikkan air mata.
Pelan-pelan dia berpaling, tampak olehnya Liong Leng-cu masih tetap berdiri kaku di tempat semula Mendadak Nyo Yan menjerit keras dengan perasaan terkejut.
"Aab, ruyung lemasmu…."
Rupanya ruyung lemas yang masih tergenggam di tangan gadis tersebut tinggal sepotong yang amat kecil.
Pada saat itulah Liong Leng-cu dapat menenangkan hatinya, bagaikan baru mendusin dari impian dia berkata.
"Ilmu pedang Beng Hoa benar-benar lihay sekali, sewaktu diamempergunakan jurus Oh-ka-cap-pwee-pa tadi, aku khawatir dia akan melukaimu, maka tanpa mem-pedulikan risikonya kugunakan ruyung lemasku untuk menerobos lingkaran cahaya pedangnya. Siapa tahu, aaai… seandainya dia berniat melukaiku, mungkin sepuluh lembar jiwaku pun akan ludes semua di tangannya."
Rupanya selama berlangsungnya pertarungan kilat tadi, Nyo Yan hanya memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya terhadap ujung pedang "musuh"
Dan "diri" , terhadap keadaan di sekeliling sana boleh dibilang "melihat tapi tak melihat, mendengar tapi tak mendengar".
Bagaimanakah cara Liong Leng-cu membantunya dia sama sekali tidak tahu.
Tapi sekarang dia telah tahu, rupanya kemenangan yang berhasil diraihnya, justru atas jasa Liong Leng-cu.
Seandalnya tiada bantuan Liong Leng-cu, mungkin beberapa buah jalan darahnya pun akan tertusuk oleh pedang Beng Hoa.
Tapi kalau dibicarakan, alasan utama dari kemenangan yang berhasil dicapainya tadi bukan "bantuan"
Dari Liong Leng-cu melainkan kebajikan Beng Hoa yang tak ingin melukai mereka yang tidak bersalah.
Berhubung dia tak ingin melukai orang yang tak bersalah, maka di saat Liong Leng-cu mengusik tadi, terpaksa dia harus menggunakan ilmu pedang yang cepat untuk mengurungi ruyung lemasnya.
Sekalipun gerak serangan tersebut dilakukan dengan "kecepatan luar biasa"
Akan tetapi hal tersebut sudah cukup memberi kesempatan kepada Nyo Yan untuk menerobos masuk.Setelah terkejutnya lewat, sambil tertawa Nyo Yan berkata.
"Bukan cuma sepuluh lembar jiwa, melainkan delapanbelas lembar jiwa!"
"Delapanbelas jiwa? Maksudmu?"
Dengan keheranan dan tidak habis mengerti Liong Leng-cu bertanya.
"Coba kau hitung kutungan ruyung lemasmu itu, bukankah ruyung tersebut sudah terpapas jadi delapanbelas bagian?"
Dengan teliti Liong Leng-cu menghitung jumlah kutungan ruyung lemas yang berserakan di tanah itu, benar juga, jumlahnya delapanbelas.
Tanpa terasa dengan perasaan terkesiap dia menjulurkan lidahnya sembari berkata.
"Jurus Oh-ka-cap-pwee-pa betul-betul sangat lihay, seandainya jurus tersebut ditujukan ke tubuhku, sudah pasti delapanbelas lembar jiwaku sudah lenyap."
Nyo Yan tertawa.
"Sekarang dua lembar jiwa kecil kita telah berhasil diselamatkan, aku pikir sudah sepantasnya kalau kita tengok bagaimanakah keadaan empek Siau."
Setelah diingatkan kembali, Liong Leng-cu baru teringat pada empek-nya tersebut, buru-buru mereka berangkat ke atas bukit.
Riwayat Siluman Perempuan Kecil Siau It-kek ditotok jalan darahnya oleh Beng Hoa dengan mempergunakan ilmu menotok yang khusus, setelah lewat satu jam kemudian, kesadarannya telah pulih kembali, tapi tubuhnya masih belum dapat bergerak sedikit pun jua.
Sambil berjongkok, Liong Leng-cu memeriksa keadaan luka di tubuh empek-nya, lewat beberapa saat kemudian dengankening berkerut dia baru berkata.
"Nyo Yan kau kemari, aku tak dapat membebaskan totokan jalan darah dari engkoh-mu."
Mendadak dia teringat kalau Nyo Yan tidak mengakui Beng Hoa sebagai engkoh-nya, maka buru-buru dia berkata.
"Aku tak dapat membebaskan pengaruh totokan dari Beng Hoa!"
Nyo Yan berjalan menghampiri mereka, ketika sorot matanya terbentur pada sebutir pil yang masih berada dalam telapak tangan Siau It-kek, ia berseru tertahan, kemudian katanya.
"Pil tersebut…?"
"Pil ini ditinggalkan Beng Hoa setelah dia menotok jalan darah empek Siau, katanya pil tersebut merupakan pil Siau-huan-wan dari kuil Siau-lim-si, khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai luka dalam secara jitu. Entah benar tidak ucapannya itu?"
"Kalau toh dia berkata demikian, aku rasa tidak bakal salah lagi!"
Liong Leng-cu tertawa.
"Betul, meski Beng Hoa agak sedikit jahat, namun bukan cuma kau saja yang percaya kepadanya, aku pun amat mempercayai perkataannya."
Mendadak dia menemukan suatu perubahan aneh pada mimik wajah Siau It-kek, tergerak hati Liong Leng-cu, dengan cepat dipungutnya pil Siau-huan-wan tersebut dari telapak tangan orang.
Sementara itu, di dalam sekilas pandang saja Nyo Yan sudah mengetahui ilmu menotok dari aliran manakah yang telah dipergunakan Beng Hoa, dia merasa sangat lega, katanya sambil tertawa.
"Ooh, rupanya dia menggunakan ilmu totok Tay-si-mi-si dari Thian-san-pay untuk menotok jalandarah Tam-tian-hiat. Jika ilmu totok aliran lain akan berpengaruh jelek atau paling tidak merugikan kesehatan badan orang, maka ilmu totok jalan darah yang digunakan olehnya justru dapat membantu hawa murni berhimpun kembali ke dalam pusar, bukan saja tidak merugikan bagi kesehatan badan bahkan bermanfaat sekali. Apalagi totokan jalan darah yang digunakan pun bukan totokan berat, sekalipun tanpa bantuan orang lain, tiga jam kemudian jalan darah darah tersebut akan bebas dengan sendirinya."
"Tapi aku tak sabar menunggu dua jam lagi baru bisa berbicara dengan empek Siau."
"Tentu saja kita tak bisa membiarkan Siau locianpwe berbaring terus di sini. Tak usah khawatir, aku akan segera membebaskan totokan jalan darahnya."
"Eeeh… tunggu dulu!"
Mendadak Liong Leng-cu berseru keras.
Kemudian dia jejalkan pil Siau-huan-wan ke dalam mulut Siau It-kek.
Rupanya dia cukup mengetahui watak empck-nya ini, ia khawatir bila jalan darahnya dibebaskan lebih dulu, maka ia enggan menelan pil mestika hadiah Beng Hoa tersebut Betul juga, setelah totokan jalan darahnya dibebaskan, sambil terta-wa getir Siau It-kek berkata.
"Dengan menelan pil Siau-huan-wan tersebut, berarti aku telah berhutang budi kepada Beng Hoa. Entah sampai kapan hutang budiku’liu baru bisa dibayar kembali!"
"Empek Siau, yang penting sekarang adalah kesehatan badanmu,"
Kata Liong Leng-cu cepat "Beng Hoa bukan terhitung orang yang kelewat jahat, sekalipun dia pernahmenganiayaku asal aku tidak menuntut balas kepadanya anggap saja utangmu itu sudah kubayarkan kepadanya."
"Aah, itu omongan anak kecil,"
Seru Siau It-kek sambil tertawa.
"Namun sekalipun harus kubayar budi tersebut juga tak kuketahui bagaimana cara membayarnya, ya untuk sementara waktu tak usah dipikirkan lebih dulu. Nyo siauhiap, aku harus mengucapkan banyak terima kasih dulu kepadamu."
Liong Leng-cu cekikikan setelah mendengar ucapan itu, tukasnya tiba-tiba.
"Empek Siau, kau tak usah sungkan-sungkan kepadanya. Aku pernah membantunya, kali ini sudah sepantasnya jika dia pun membantuku. Kau tak usah mencatat budi kebaikan tersebut atas namamu lagi."
Siau lf>kek seperti memahami akan sesuatu, setelah memandang mereka secara bergantian, katanya kemudian dengan senyum dikulum.
"Aah, betul! Bicara hubunganku dengan kedua orangtuamu yang telah tiada, Nyo siauhiap memang bukan orang luar lagi, baiklah, akan kuterima budinya tanpa sungkan-sungkan!"
Ucapan tersebut mengandung maksud ganda, kontan saja Liong Leng-cu menjadi tersipu-sipu. Kembali Siau It-kek berkata.
"Setelah menelan pil Siau-huan-wan, paling tidak tenaga dalamku akan pulih tiga empat bagian besok. Kecuali ada jagoan tangguh seperti Beng Hoa yang menyatroni kita, kalau cuma kawanan tikus tak akan kupikirkan lagi di hati. Nyo siauhiap, apakah kau masih ada urusan lain?" ‘ "Maaf locianpwee, aku memang masih ada persoalan yang harus diselesaikan, aku bermaksud akan berangkat besok pagi!"
"Leng-cu, bila kau ingin membalas dendam kemarian ayahmu, besok kalian boleh berangkat bersama-sama. Tak usah menunggu sampai kekuatanku pulih kembali."
Liong Leng-cu segera tertawa "Empek Siau, tak perlu mengkhawatirkan diriku, yang penting jaga kesehatan badanmu baik-baiki"
Mendadak Siau It-kek menepuk kepala sendiri sembari berseru.
"Aah, betul! Coba kau lihat, betapa pikunnya akui"
Liong Leng-cu kembali tertawa.
"Empek Siau, kau hanya tahu memikirkan orang lain tapi tak tahu memperhatikan diri sendiri, kau memang tampaknya rada pikun."
Dia mengira Siau It-kek hanya berbicara mengikuti pembicaraannya saja, siapa tahu Siau It-kek justru tertawa terbahak-bahak. Dengan tertegun Liong Leng-cu segera menegur.
"Empek Siau, apa yang kau tertawakan?"
"Bukan begitu maksudku,"
Kata Siau It-kek sambil tertawa.
"Aku maksudkan… ehmm, ehmm… haahh… haah… kini sudah ada orang yang jauh lebih mampu membantumu, tapi aku masih saja mengkhawatirkan kau, bukankah hal ini kelewat pikun?"
Tentu saja Liong Leng-cu maupun Nyo Yan tahu apa yang dimaksudkan kakek tersebut, namun mereka merasa kurang leluasa untuk membantah, apalagi menerangkan kalau mereka tak lebih hanya "teman biasa"
Saja. Liong Leng-cu segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, sambil celingukan ke sana kemari katanya kemudian.
"Entah adik Teng sudah bangun belum? Mari kita pulang untukmenengoknya. Empek Siau, soal membalas dendam lebih baik kita bicarakan di kemudian hari saja, sekarang apakah kau sudah dapat berjalan sendiri?" . Siau It-kek sangat mengkhawatirkan keselamatan putranya, sambil menghimpun tenaga ujarnya.
"Pil Siau-huan-wan betul-betul obat mujarab yang dapat menyembuhkan luka dalam, bukan saja aku dapat berjalan sendiri bahkan sudah dapat beradu ilmu meringankan tubuh dengan kalian."
Sampai di rumah dijumpainya bocah tersebut masih tidur amat nyenyak, paras mukanya telah berubah menjadi merah kembali. Dengan perasaan lega Siau It-kek berkata.
"Hawa mumi yang berada dalam tubuhku terasa bergulung-gulung, rupanya pil Siau-huan-wan sudah mulai menunjukkan khasiatnya. Akn ingin melakukan semadi sebentar. Leng-cu, coba kau kum-pulkan sedikit kayu bakar, sekalian berburulah dua ekor kelinci uar untuk menjamu tamu. Aah, kau seorang tentu tak bisa melakukan pekerjaan sebanyak ini, Nyo siauhiap, tentunya kau bersedia membantunya bukan? Kau toh bukan orang luar, aku tak usah sungkan lagi denganmu."
Liong Leng-cu tahu kalau dalam ruangan masih tersedia kayu bakar, sudah barang tentu dia pun memahami maksud hati Siau it-kek Cuma dia memang ingin berbicara empat mata dengan Nyo Yan, maka dia segera menyanggupi dengan cepat.
NyoYin sebagai tamu tentu saja tak bisa menolak permintaan tuan rumah, setelah Siau It-kek berkata demikian, sudah barang tentu dia pun harus menuruti perintahnya itu.
Sambil berjalan bersanding mereka berdua meninggalkan mangan tersebut tapi berhubung Siau It-kek telah menggodamereka tadi, maka untuk beberapa saat kedua orang itu tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
Tanpa terasa sorot mata mereka berdua saling bertemu satu sama lainnya, tiba-tiba Nyo Yan tertawa.
"Apa sih yang menggelikan?"
Liong Leng-cu segera menegur.
"Orang-orang itu memanggilmu sebagai siluman perempuan kecil…."
"Kau sendiri?"
Tukas gadis itu cepat. Kembali Nyo Yan tertawa.
"Terus terang saja, di saat aku baru berkenalan denganmu dulu, aku pun merasa kau seperti membawa hawa siluman, tak salah lagi kau dikatakan sebagai siluman perempuan kecil."
"Bukan cuma seperti, tapi pada hakikatnya memang sesungguhnya, bukan sedikit, tapi amat banyak, bukankah sesungguhnya kau pun berpendapat demikian?"
Kata si nona tertawa. Nyo Yan segera tertawa bergelak.
"Haah haah haah, kau memang cukup tahu diri."
Tiba-tiba Liong Leng-cu menarik wajahnya kemudian berseru.
"Kalau toh kau sendiri pun berpendapat demikian, setelah mendengar orang-orang itu memanggilku sebagai Siluman perempuan kecil, apa lagi yang menggelikan hatimu?"
"Aku merasa geli karena mereka hanya melihat setengah dari siluman perempuanmu."
Ucapan ini kontan saja membuat Liong Leng-cu menjadi tertegun, serunya beberapa saat kemudian;
"Ucapanmu makin lama makin aneh, aku toh tak pandai mengubah ‘diri memangnya masih ada aku yang lain?"
"Bukan kau pandai mengubah diri, sesungguhnya kau masih mempunyai ‘kau’ dari sudut pandang lain. Di satu bagian adalah seorang siluman kecil, hal itu menurut pandangan orang, di lain pihak kau bukan siluman perempuan cilik, kau adalah kau yang sesungguhnya."
"Oh, menurut apa yang kau ucapkan itu, macam apakah diriku dari sudut pandangan yang lain?"
"Kau adalah seorang bocah perempuan yang lincah, menarik hati dan baik!"
"Cis, berapa sih usiamu tahun ini? Tak tahu malu, masa aku pun kau sebut bocah perempuan? Aku ingin bertanya kepadamu, dari mana pula kau tahu kalau aku demikian?"
Sewaktu mendengar Nyo Yan mengatakan dirinya lincah, menarik hati tadi, meski wajahnya pura-pura cemberut padahal hati kecilnya merasa manis dan hangat Dengan wajah sungguh-sungguh Nyo Yan berkata.
"Di dalam pandangan orang lain, mungkin ‘hawa siluman’ku jauh lebih banyak dari dirimu, oleh sebab ini aku malah merasa takut, aku takut bila kau sudah tak pantas disebut siluman perempuan lagi, maka kita pun tak bisa berkumpul lagi karena bukan sejenis."
"Ah, ngaco belo saja kau ini, siapa sih yang berkumpul karena sejenis? Tahukah kau dari mana kuperoleh sebutan siluman perempuan kecil itu?"
Nyo Yan tertawa.
"Usiamu masih kecil, tapi membuat keonaran di mana-mana, terutama sekali mencari gara-gara dengan para tokoh silat yang sudah punya nama, tak heran kalau orang lain memanggilmu sebagai siluman perempuan kecil. Janganberbicara yang lain, bibiku adalah Lak-jiu-Koan-im yang termashur karena judesnya, tapi dia toh kau buat sampai menangis tak bisa tertawa pun tak dapat?"
"Marahkah kau kepadaku karena bibimu kupermainkan?"
"Terus terang saja, aku sendiri pun ingin menempeleng bibiku ini,"
Kata Nyo Yan sambil tertawa.
"cuma lantaran memandang See-kiat piauko maka mau tak mau niatku harus diurungkan . Sekarang kau telah menggodanya habis-habisan, untuk berterima kasih pun tak sempat, mengapa aku harus marah kepadamu? Cuma, aku tak setuju kalau kau mengusik para tokoh kenamaan lainnya tanpa sebab musabab."
"Aku mengusik mereka j karena sebab-sebab tertentu."
"Apa sebabnya?"
Tanya Nyo Yan tertegun.
"Aku sengaja memamerkan ilmu silat keluargaku dan sengaja mengusik orang-orang kenamaan dunia persilatan, tujuanku tak lain adalah untuk menarik perhatian musuh besarku!"
Dengan cepat Nyo Yan menyadari hal itu, serunya dengan ccr "Ooh, rupanya begitu, jadi lantaran kau tak berhasil menemukan musuh besarmu maka kau menginginkan musuh besarmu yang datang mencarimu?"
"Benar, ayahku mati secara mengenaskan di tangan Pek-tou Sanca, Waktu itu usiaku sudah sepuluh tahun, aku masih ingat jelas wajah musuh besarku itu. Tapi sebeban hari ini, aku tidak tahu kalau dia ada di Bukit Unta Putih. Dia ingin membabat rumput sampai ke akarnya, aku yakin dia pasti akan mencariku. Siapa tahu dugaanku tersebut hanya benar setengah karena dia hanya mengutus seorang muridnya saja."
"Perkembangan peristiwa ini menurut pendapatku justru makin menguntungkan bagimu. Dewasa ini paling tidak kau sudah tahu jejak musuh besarmu itu."
"Benar. Oleh sebab itu kau tak usah menasihati aku lagi, sebab mulai hari ini aku pun tidak ingin I mengusik jago-jago kenamaan dari dunia persilatan lagi tanpa sebab-sebab tertentu."
Bicara sampai di sini, mendadak I dia seperti teringat akan sesuatu, segera tanyanya kepada Nyo Yan.
"Kau bilang perkembangan situasi hari ini justru menguntungkan diriku, Spa maksudmu?"
Sementara Nyo Yan masih memutar otak untuk mencari kata-kata yang dirasakan lebih halus sehingga tidak sampai menyinggung perasaan gadis tersebut; sambil tertawa Liong Leng-cu telah berkata lagi.
"Kau tak usah terlalu memikirkan soal gengsi atau nama baikku, aku sudah mengetahui maksudmu itu. Baru muridnya saja aku sudah bukan tandingannya, apalagi kalau Pek-tou Sancu turun tangan sendiri, mungkin dendam sakit hatiku belum lagi tertuntut, aku sudah keburu tewas di tangannya, bukankah begitu?"
Ketika bicara sampai di situ, mendadak ia seperti teringat lagi akan suatu peristiwa lain, kembali gadis itu tertawa.
"Apakah tulisan yang berbunyi, omong besar seperti katak dalam sumur, adalah hasil karyamu juga?"
Nyo Yan segera tertawa.
"Aku merasa mendongkol sekali dengan perbuatan kedua orang murid Pek-tou Sancu, maka sengaja kuukir tulisan tersebut di atas batu untuk menertawakan mereka. Mengapa kau menanyakan soal ini?"
Liong Leng-cu menghela napas panjang."
Aai, kalau dibicarakan yang sesungguhnya, bukankah aku sendiri pun ibarat katak dalam sumur?
Dahulu, aku mengira setelah berhasil melatih ilmu silat keluargaku, maka sakit hati tersebut bisa kutuntut balas.
Tapi sesudah menyaksikan ilmu silat Imun Lui, rasanya bila aku ingin mengungguli gurunya, paling tidak aku harus berlatih lima tahun lagi, meski itu pun belum tentu akan berhasil."
Nyo Yan bungkam, lewat beberapa saat kemudian ia berkata.
"Leng-cu, aku… aku harap kau bisa memahami…"
"Memahami apa?"
Tanya Liong Leng-cu dengan wajah tertegun, m Dengan agak tergagap Nyo Yan berkata.
"Maaf seribu kali maaf aku tak dapat membantumu. Paling tidak dewasa ini masih belum dapat Lain kali, andaikata… andaikata…."
Paras muka Liong Leng-cu berubah secara tiba-tiba, katanya dengan suara dingin.
"Siapa sih yang membutuhkan bantuanmu? Soal membalas dendam merupakan persoalanku sendiri, apalagi aku tak pernah mohon bantuan dari mu."
"Bukan begitu maksudku, dendam sakit hati kematian orangtua sudah sepantasnya kalau dibalas dengan kekuatan sendiri. Tapi bila ada sahabat karib yang akan membantumu dari samping, itu pun bukan suatu halangan bagi usahamu. Leng-cu, kau pernah membantuku, membuat aku lolos dari penghinaan dan cemoohan orang, soal itu tertanam dalam-dalam di hati kecilku, bahkan jauh lebih mengharukan .hatiku dari pertolonganmu untuk menyelamatkan jiwaku. Seharus-nya, di dalam usahamu membalas dendam kali ini, tiada alasan bagiku untuk tidak membantu, namun sekarang aku masih harus mencari seseorang, aku… aku betul-betul mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan kepadamu."
Liong Leng-cu segera tertawa dingin.
"Heeeeh… heeeh… heeeh… pertama, aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu. Kedua, aku pun tak berani menganggap diriku sebagai sahabatmu, kau pun tak usah menganggapku sebagai sahabat karib yang harus diutamakan. Ketiga, siapa orang yang hendak kau cari tiada sangkut pautnya denganku, kau tak usah memberitahukan soal ini kepadaku. Jadi mau apa kau sekarang, sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku, kau pun tak usah terikat lantaran persoalan pribadiku."
"Leng-cu, kau marah kepadaku?"
Tanya Nyo Yan lembut.
"Siapa sih yang punya waktu marah kepadamu?"
Ucap Liong Leng-cu hambar.
"Hm, aku pun sudah tahu siapa yang hendak kau cari.
"Dialah sahabat karibmu yang sebenarnya, dan dia pula yang pantas untuk marah kepadamu. Kalau aku… Hmm aku mana punya hak untuk marah kepadamu?"
Nyo Yan tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, buru-buru serunya.
"Leng-cu kau salah paham, kau anggap siapa yang hendak kucari?"
"Siapa yang sudi mengurusi dirimu? Mau mencari siapa, apa urusannya denganku?"
"Kau anggap aku hendak mencari enci Leng, bukankah begitu? Kalau memang demikian, aku akan memberitahukan kepadamu, kali ini aku bukan pergi untuk mencarinya."
"Siapa sih yang mengurusi kau hendak mencari siapa?"
Teriak Liong Leng-cu dengan suara keras.
"Mau mencari enci juga boleh, mencari adik juga tak jadi soal. Mau menjadi dingin seperti es (Leng Ping-ji) juga boleh, mau mencari panas bagai api juga bukan urusanku, mengapa aku harusmencampuri urusanmu? Kau tak usah memberitahukan kepadaku, aku pun tak sudi untuk mendengarkan."
Sembari berseru dia lari meninggalkan tempat itu. Nyo Yan segera mengejar dari belakang sambil berseru.
"Nona Liong, dengarkan dulu perkataanku, bersedia bukan?"
"Tak sudi! Tak sudi! Aku tak sudi mendengarkan ucapanmu lagi,"
Teriak Liong Leng-cu sambil menutup lubang telinganya dengan jari tangan.
"Kalau kau tak mau mendengarkan ya sudahlah, mengapa mesti pakai lari segala?"
"Nyo Yan, kau tak tahu malu, si muka tebal, aku lari dengan kakiku sendiri, mengapa kau harus mengikutiku terus-menerus?"
Nyo Yan segera tertawa.
"Ya, tentu saja aku harus mengikutimu terus, sebab empek Siau yang menyuruh aku mengikutimu kemari"
Liong Leng-cu segera sadar kembali dari sewotnya, dengan cepat dia berpikir.
"Ya, betul, sekalipun aku tak senang hati juga tidak seharusnya kutunjukkan muka masamku kepadanya."
Karena berpikir demikian, maka dengan suara yang jauh lebih lembut dia berkata.
"Masih ingatkah kau, empek Siau menyuruh kita berdua melakukan apa?"
"Ya, tentu saja masih ingat, tentu saja masih ingat. Ia menyuruh kita berburu kelinci dan mencari kayu bakar."
"Kalau begitu kita membagi tugas saja, biar aku yang berburu kelinci, sedang kau mencari kayu bakar."
"Tak bolehkah aku mengikuti kau berburu kelinci dulu kemudian baru mencari kayu bakar?"
Ucap Nyo Yan sambil tertawa.
"Tidak bisa, tidak bisa! Jika kau masih saja cengar-cengir macam kuda meringis, jangan salahkan kalau aku tak akan menggubris dirimu lagi…-’ "
Aaai…."
Akhirnya Nyo Yan menggelengkan kepalanya sambil menggeleng.
"kau memang selalu membikin susah aku saja."
Tapi dia cukup mengetahui watak Liong Leng-cu, maka di hatinya dia punya rencana bila rasa dongkol gadis itu sudah mereda, barulah dia akan memberi penjelasan kepadanya.
Beberapa waktu kemudian, Nyo Yan telah mengumpulkan setumpuk ranting kering, sedangkan Liong Leng-cu pun telah berhasil memburu dua ekor kelinci liar.
Tapi agaknya dia masih marah pada Nyo Yan, sekembalinya di rumah sepatah kata pun tak ada yang diucapkan!
Sementara itu paras muka Siau It-kek pun sudah membaik, dia baru saja melakukan semadi, melihat kemunculan muda-mudi tersebut ujarnya sambil tertawa.
"Pil Siau-huan-wan memang sungguh ampuh, kini kondisi badanku telah membaik seperti sediakala, mungkin besok pun tenaga dalamku sudah kembali empat lima bagian. Eee… mengapa kalian? Mengapa bermuram durja dan tidak senang hati?"
Terpaksa Liong Leng-cu harus tertawa.
"Aah, tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu, melihat kau bisa pulih kembali secepat ini, hatiku pun turut gembira." ‘Terima kasih banyak atas perhatianmu. Musuh besarmu terlampau tangguh, tak heran kalau kamu berdua jadi bermuram durja. Cuma… kalau menurut pendapatku, bila pihak lawan hanya Pek-tou Sancu seorang, kerja sama kalian berdua belum tentu kalah…."
"Huuhh, siapa yang kesudian minta bantuannya?"
Liong Leng-cu menjengek dingin. Siau It-kek mengira si nona malu-malu kucing, maka katanya sambil tertawa.
"Baik, baik, soal mau kerja sama dengan siapa pun adalah urusanmu sendiri, aku tak ingin mencampurinya."
Dengan turut adanya Siau It-kek, maka suasana yang semula kaku, kini menjadi lebih baik.
Liong Leng-cu tak ingin menunjukkan sikap yang kelewat kaku maka dia pun mengajak Nyo Yan bergurau kembali.
Di saat bersantap malam, tiba-tiba Liong Leng-cu berkata.
"Empek Siau, aku ingin menanyakan satu hai kepadamu."
"Soal apa?"
"Apa sih yang menyebabkan ayahku bermusuhan dengan Pek-tou Sancu di masa lalu?"
Sesungguhnya inilah persoalan yang ingin diketahui Nyo Yan semenjak tadi, hanya dia kurang leluasa untuk menanyakan secara langsung kepada Liong Leng-cu.
Tapi kini, dia pun baru tahu kalau Liong Leng-cu sendiri pun tidak tahu.
"Aku sendiri pun kurang jelas,"
Demikian Siau It-kek berkata.
"Sebelum meninggal dunia apakah ibumu pernah meninggalkan sesuatu kepadamu…?"
"Ya, dia telah menyerahkan kitab pusaka ilmu pukulan dan ilmu pedang dari keluarganya dan ayah kepadaku."
"Selain kitab ilmu pukulan dan ilmu pedang apakah masih ada benda lainnya?"
Agak tertegun Liong Leng-cu mendapat pertanyaan tersebut "Tidak…."
Ia menggeleng.
"mengapa empek Siau menanyakan persoalan ini kepadaku?"
"Aah, tidak apa-apa, aku hanya menduga saja."
"Empek menduga apa?"
"Aku ingin tahu apa yang mendorong Pek-tou Sancu Itbun Poh mencelakai ayahmu?"
"Menurut dugaan empek, apa yang menjadi penyebabnya?"
Cepat Liong Leng-cu bertanya.
"Kakekmu bergelar Giok-bin-liong-ong (Raja Naga Berwajah Kemala), tahukah kau apa arti julukan tersebut?"
"Mungkinkah semasa mudanya dulu, kakekku berparas tampan?"
"Ya benar. Tapi masih ada dua maksud lagi. Pertama, karena ilmu silatnya kelewat tinggi, maka julukan raja naga melambangkan kewibawaannya "
"Aku tahu maksud itu. lapi… apa pula arti yang lain?"
"Raja naga melambangkan Hok dan Kui atau kekayaan dan keanggunan, bukankah dalam dongeng sering orang melambangkan harta karun berada dalam istana naga? Kakekmu adalah seorang tocu (pemilik pulau) di Lam-hay, menurut penuturan seorang bulim cianpwe, ia adalah seorang pencuri budiman yang sepanjang tahun selalu malangmelintang di tengah lautan dan membajak orang kaya untuk menolong fakir miskin, bayangkan saja, Spa tidak mungkin harta kekayaannya yang menumpuk di pulaunya amat melimpah?"
Liong Leng-cu segera tertawa getir.
"Sewaktu ibu mengajakku melarikan diri dulu, kami pernah mengalami masa yang paling sulit, seringkali kami kehabisan uang, bahkan aku pun pernah menjadi seorang pengemis."
"Tapi Itbun Poh tidak tahu hal tersebut? Mungkin dia mengira sedikit banyaknya ayahmu masih i mempunyai beberapa macam benda mestika yang tak ternilai harganya, kemudian timbul keserakahannya untuk merampas mestika tersebut Apalagi di samping benda mestika bisa jadi dia pun mengincar kitab ilmu pukulan dan ilmu pedang milik keluarga ayahmu."
Mendengar hal ini, memang masuk akal. Maka Liong Leng-cu lantas berkata.
"Ketika malapetaka muncul dulu, ibu sendiri juga tidak tahu apa sebabnya hal itu bisa terjadi. Tapi kalau kita pikir sekarang, rasanya memang disebabkan dua hal tersebut Kami tak punya mestika, tapi untung saja kitab pusaka keluarga kami pun tak sampai dirampas olehnya."
Lain halnya dengan Nyo Yan yang mengikuti pembicaraan tersebut dengan mulut membungkam, dia merasa agak curiga terhadap perkiraan Siau It-kek yang dibilang masuk akal itu. Diam-diam pikirnya kemudian.
"Walaupun ilmu silat Itbun Poh waktu itu belum mampu menandingi ayah Leng-cu, paling tidak dia terhitung seorang jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan, biasanya manusia macam begini paling gampang mencari kekayaan dari bidang apa pun, rasanya kurang cocokkalau dibilang dia mau menyerempet bahaya hanya disebabkan harta kekayaan belaka. Sebaliknya kalau dibilang lantaran kitab ilmu silat, betul dugaan ini mendekati kebenar-an, tapi aliran ilmu silat yang dianut Itbun Poh berbeda sekali dengan aliran ilmu silat keluarga Liong Leng-cu, sekalipun ia berhasil memperoleh kitab pusaka keluarga Liong, untuk mempelajari isinya ia harus membuang dulu kepandaian yang pernah dipelajari, kemudian berlatih kembali sejak awal. Jelas hal ini membutuhkan waktu yang lama dan kesulitan yang amat besar. Jadi mustahil bila dia mengincar kitab pusaka itu untuk kepentingan sendiri, kecuali kalau dia ingin mewariskan kitab itu untuk keturunannya, kalau tidak, mungkinkah dia bersedia menyerempet bahaya? Namun kalau didengar dari pembicaraan anak muridnya, dia sepertinya hanya mempunyai seorang keponakan saja yakni Itbun Lui."
Kecurigaan tersebut tidak diutarakan, melainkan hanya disimpan dalam hati. Liong Leng-cu telah berkata lagi.
"Padahal apa pun alasannya bukan masalah yang penting, kini aku telah tahu kalau Pek-tou Sancu adalah musuh besar pembunuh ayahku, masalah terpenting bagiku kini adalah bagaimana caraku untuk membalas dendam…!"
"Betul!"
Sokong Siau It-kek.
"Masalah terpenting memang bagaimana caranya membalas dendam. Masih untung kalian memiliki bakat bagus untuk belajar silat, walaupun sekarang belum mampu mengungguli lawan, tapi lima tahun kemudian usaha ini pasti akan berhasil, dan aku percaya soal ini bukan soal pelik untuk kalian!"
Hingga kini, dia selalu menggandengkan Nyo Yan dan Liong Leng-cu dalam setiap pembicaraannya, seakan-akan sudahsepantasnya bila Nyo Yan membantu usaha Liong Leng-cu untuk membalas dendam.
Nyo Yan sendiri hanya bungkam dalam seribu bahasa karena tak dapat mengemukakan kesulitan yang dihadapinya kepada Siau It-kek.
Liong Leng-cu sendiri pun merasakan hatinya tak keruan, namun perasaan itu sungkan diutarakan di hadapan Siau It-kek, maka dia pun berlagak seakan-akan tidak mengerti.
Tiba-tiba Siau It-kek berkata.
"Nyo siauhiap, apakah besok kau akan berangkat?"
"Betul, aku benar-benar masih ada urusan penting, maaf bila aku tak dapat menemani cianpwee lagi."
"Aku bukan bermaksud untuk menahanmu, aku hanya ingin menyerahkan sebuah hadiah untukmu!"
"Harap Siau cianpwe jangan sungkan-sungkan!"
Tapi belum habis pemuda itu berkata, kembali Siau It-kek telah menukas sembari tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah haah, sesungguhnya kau sendiri yang memilih hadiah tersebut!"
Baru saja Nyo Ya n tertegun, Liong Leng-cu yang cerdas telah menyambung sambil tertawa.
"Ya, benar, sesungguhnya hadiah itu sudah kau ambil tanpa permisi, buat apa mesti berlagak sok sungkan?"
Nyo Yan bukan anak bodoh, dengan cepat dia memahami apa yang dimaksudkan, maka ujarnya kemudian.
"Ooh… rupanya Sau-yap-cianghoat yang Siau locianpwe maksudkan."
"Sewaktu mengintip aku berlatih dari bukit seberang tadi tentunya kau tak sempat melihat dengan cukup jelas bukan?"
"Empek Siau, biar aku saja yang mewakilimu bicara terus terang, bukankah kau bermaksud hendak menghadiahkan ilmu itu secara lengkap?"
Kata Liong Leng-cu tertawa.
"dan lagi bukankah kau sedang bertanya kepada Nyo Yan, apakah dia sudah memahami semua intisari dari ilmu pukulanmu itu."
Nyo Yan bukan pemuda bodoh, dia memiliki dasar ilmu silat yang dalam sekali.
Betul dia menyadap ilmu orang dari seberang bukit, namun intisari ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat telah dikuasai sepenuhnya.
Hanya untuk keperluan tata kesopanan saja terpaksa dia berkata lembut.
"Ilmu pukulan ciptaan Siau locianpwe rumit dan dalam sekali, bagaimana mungkin aku dapat memahaminya secepat ini? Apa yang berhasil kusadap pun tak lebih baru seujung jari."
Siau It-kek seperti puas sekali dengan jawaban tersebut, sambil mengelus jenggotnya dan tertawa, ia berkata.
"Bukan aku sengaja mengunggulkan kepandaianku, sesungguhnya ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat-ku ini termasuk cara mengerahkan tenaga, telah banyak menyita keringat dan pikiranku selama banyak waktu. Tidak heran kalau Nyo lote tidak mengetahui kehebatannya, sebab itulah maka aku baru menyerahkan kepandaian tersebut kepadamu sebagai hadiah. Nyo lote, mari ikutilah aku keluar sebentar, aku hendak memainkan ilmu pukulan ini sekali lagi di hadapanmu, kemudian harap kau suka memberikan pengarahan."
"Bila locianpwe bersedia memberi petunjuk, hal ini sangat menggembirakan. Namun… bukankah kondisi badan cianpwe bani saja pulih, aku tak berani terlalu merepotkan locianpwe. Mengenai hal ini… ehm… aku pikir… aku pikir bisa dilakukan di lain kesempatan saja."
"Sekalipun aku tak becus, kalau cuma untuk memainkan ilmu pukulan ini sekali saja, tulang belulangku yang bangkotan masih sanggup. Bila kau enggan menerima hadiahku ini, artinya kau memandang hina ilmu silatku."
Oleh sebab dia telah berkata demikian, sudah barang tentu Nyo Yan tak bisa menolak lagi.
"Leng-cu!"
Kata Siau It-kek kemudian "bukan aku pilih kasih, tapi kali ini aku hanya bisa memainkan ilmu pukulan itu untuk Nyo siauhiap seorang, sebab itu aku minta kepadamu untuk mengerjakan tugas yang lain saja."
"Empek Siau,"
Liong Leng-cu tertawa.
"sekalipun kau akan memberiku tugas yang lain, aku pun tak nanti akan berlatih bersama-sama Nyo Yan. Kemampuannya jauh lebih hebat daripada diriku, kalau kami mesti latihan bersama, soal pintar bodoh bukan masalah, tapi yang jelas kau si guru bakal mene-mui banyak kesulitan, bahkan bisa habis kesabarannya."
"Waduh waduh… kau memang hebat, paling tidak ada seseorang dari angkaranmu yang akan mengagumi dirimu ini. Cuma kau jangan menuduh aku mengusirmu dengan cara halus, yang pasti sebentar lagi Teng-ji akan mendusin, maka tolong kau tinggal di sini saja sambil menjaganya."
"Empek Siau tak usah banyak bicara lagi,1 seru Liong Leng-cu.
"Aku tak bakal menggerutu kau pilih kasih, silakan saja pergi agar pulangnya pun jangan ke lewat malam Sebab besok pagi dia masih harus menempuh perjalanan jauh, setelah lelah seharian, paling tepat kalau cepat beristirahat"
Nyo Yan dan Siau It-kek menuju ke tanah lapang, di tengah jalan Siau It-kek banyak menanyakan soal-soal sekitarperubahan ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat untuk mengetahui seberapa dalam yang telah dipahami oleh anak muda itu.
Jawaban dari Nyo Yan amat lancar dan tepat hal ini membuat Siau It-kek semakin gembira, katanya kemudian.
"Banyak penemuan baru yang kau ungkapkan dalam kete-ranganmu barusan, padahal ada beberapa hal yang belum pernah kuduga sebelumnya, walaupun demikian, aku ingin memberi penjelasan yang lebih terperinci lagi kepadamu mengenai beberapa jurus serangan serta teknik mengerahkan tenaga Nah perhatikan baik-baik! Akan kumainkan beberapa jurus tersebut"
Nyo Yan memang paling khawatir jika orang tua ini sampai kecapaian, cepat-cepat serunya.
"Ya, begini memang paling baik, seandainya kurang jelas, baru kutanyakan lagi kepadamu."
Begitulah, sambil memainkan jurus serangannya Siau It-kek memberikan keterangannya panjang lebar, hampir seluruh rahasia terdalam dari ilmu pukulan maupun teknik mengerahkan tenaga dituturkan semua pada Nyo Yan.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Nyo Yan telah berhasil memahami rahasia tersebut Sambil tertawa Siau It-kek lantas berkata.
"Yang paling dikhawatirkan bagi orang yang berlatih silat adalah tidak memahami kunci rahasia dari kepandaian tersebut bila rahasia itu sudah dipahami, sekalipun jurus serangannya terlupakan juga tidak menjadi soal, rupanya kau telah berbasil mencapai tingkatan tersebut"
"Terima kasih atas pujian locianpwe, bagaimana kalau kita pulang saja?"
"Tak usah terburu-buru, tak usah terburu nafsu. Sekalipun pulang sebelum tengah malam juga tidak menjadi soal, aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan denganmu. Aku ingin menanyakan tentang satu masalah pribadi, bila Leng-cu turut hadir, aku jadi kurang leluasa untuk membicarakannya."
Nyo Yan merasakan hatinya berdebar keras.
"Persoalan apa sih yang hendak locianpwe ketahui?"
Katanya kemudian.
"Aku ingin menanyakan tentang gwakong (kakek luar) Leng-cu, konon kau pun menyebutnya sebagai yaya, baik-baikkah dia orang tua?"
Nyo Yan agak tertegun, kemudian sahutaya.
"Ooh, jadi Leng-cu telah memberitahukan kepadamu. Di kala aku berangkat meninggalkan bukit dulu, yaya masih segar bugar dan sehat walafiat, aku rasa dia masih bisa hidup banyak tahun lagi. Terus terang saja kukatakan, tujuan yaya menyuruhku turun gunung kali ini adalah untuk mencari putrinya. Siapa tahu kedua orangtua Leng-cu telah tiada, jadi hanya dia seorang yang masih terhitung keluarga yaya. Aku sangat berharap Leng-cu bisa berkumpul dengan gwakong-nya, tapi dia enggan menuruti nasihatku."
"Kau sudah tahu tentang tindakan gwakong Leng-cu terhadap ayahnya. Leng-cu amat membenci gwakong-nya, ia tak pernah menyinggung tentang dirinya, lapi kemudian karena dirimu, dan ia ingin memberitahukan asal-usulmu kepadaku, terpaksa ia membicarakan persoalan ini untuk pertama kalinya denganku. Aku rasa sulit bagi kita untuk mengubah jalan pikiran Leng-cu atas persoalan ini, jadi lebih baik’ kita pelan-pelan membicarakannya lagi besok. Namun, aku hendak mengajakmu membicarakan masalah yang lain lagi."
Kemudian setelah berhenti sejenak, Siau It-kek berkata.
"Aai, berbicara yang sebenarnya, mungkin ayah ibu Leng-cu sendiri pun tidak mengetahui sebab musabab yang utama mengapa ayah Leng-cu mati dibunuh orang!"
Dengan terkejut Nyo Yan segera berseru.
"Kalau begitu Siau locianpwe mengetahui hal ini?"
"Benar. Ketika sahabatku yang paling karib mati terbunuh, tentu saja aku harus menyelidiki sebab musababnya. Setelah bersusah payah dengan segala kemampuan dan kekuatanku, akhirnya rahasia paling besar ini berhasil juga kuketahui!"
Bukan cuma rahasia biasa saja, dia menandaskan dengan suara dalam kalau rahasia itu adalah rahasia paling besar.
Tak.
urung terperanjat juga Nyo Yan setelah mendengar perkataan itu, ia segera bertanya.
"Benarkah ayah Leng-cu memiliki harta kekayaan yang tiada tandingannya di dunia ini?"
"Tidak. Benda yang ada sangkut pautnya dengan rahasia ini, mungkin sama sekali tak ada nilai dan harganya apabila terjatuh di tangan orang biasa, tapi benda tersebut dapat membuat sri baginda saat ini merasa panik dan tidur tak nyenyak makan tak enak!"
"Siau locianpwe, mengapa kau enggan memberitahukan rahasia ini kepada Leng-cu?"
"Sudah kuketahui kalau benda tersebut tidak berada di tangannya, jadi tidak perlu memberitahukan soal ini kepadanya. Bila ia sampai mengetahui rahasia tersebut hanya kerugian saja yang akan diperoleh; nya, maka dari itu sengaja ku-gunakan dongeng tentang harta karun untuk menipunya, asalkan dia merasa dugaanku benar, niscaya dia pun tidak akan menanyakan persoalan ini lebih lanjut"
"Bolehkah Siau locianpwe memberitahukan rahasia besar ini kepadaku…?"
"Ketika kuundang kau untuk keluar menemaniku, waktu itu pun telah kuputuskan akan menyampaikan rahasia ini kepadamu, tapi sebelum itu, aku ingin bertanya lagi kepadamu, tahukah kau tentang rahasia asal-usul yaya-mu itu?"
"Yaya tak pernah memberitahukan soal itu kepadaku. Namun aku pernah mengetahui dari Leng-cu."
"Bagaimana ceritanya?"
"Dia bilang leluhur ibunya dulu adalah seorang pengawal setia dari Nian Keng-yau. Nian Keng-yau adalah seorang panglima perang kenamaan pada masa pemerintahan kaisar Yong-ceng, ia sangat berjasa dalam usahanya menaklukkan wilayah perbatasan untuk kerajaan Cing, dia merupakan seorang panglima pembuat pahala bagi kaisar Boan-chiu waktu itu, tapi dianggap sebagai penjual negara bagi bangsa Han. Kemudian sang panglima ‘pembuat pahala* ini mari dibunuh kaisar Yong-ceng, sedang yaya dari gwakong-nya khawatir terseret dalam musibah itu. Gwakong-nya adalah keturunan ketiga yang berdiam di sana."
"Ehmm,.. sikapnya terhadapmu memang bagus sekali, sesungguhnya dia menganggap kejadian ini sebagai suatu aib bagi keluarganya tapi nyatanya toh ia ceritakan juga kepadamu. Cuma tidak semua ceritanya itu benar, justru ada bagian yang terpenting dia telah salah bercerita."
"Seuap orang tentu mempunyai suatu rahasia yang tak ingin diketahui orang lain, bila dia enggan memberitahukan secara keseluruhan kepadaku, itu urusannya sendiri, aku tak bisa menyalahkan dirinya."
"Bukan dia sengaja merahasiakan untukmu, gwakong-nyalah yang telah merahasiakan kejadian sesungguhnya kepada putrinya. Sedang dia mengetahui riwayat keluarganya dari ibunya, padahal cerita itu sudah diubah gwakong-nya, tak heran kalau cerita yang diketahui olehnya pun sama sekali telah berubah."
"Kalau begitu, yaya dari yaya tersebut sesungguhnya siapa dan apa jabatannya?"
"Dia adalah putra bungsu Nian Keng-yau, dialah satu-satunya keturunan keluarga Nian yang berhasil meloloskan diri dari musibah tersebut!"
Nyo Yan jadi tertegun sesudah mendengar perkataan tersebut, katanya kemudian.
"Tak heran kalau yaya sengaja merahasiakan asal-usulnya, sehingga putri kandung sendiri pun tidak diberi tahu rahasia yang sesungguhnya. Tapi… apa hubungan serta untung ruginya antara rahasia ini dengan ayah Leng-cu?"
"Besar sekali hubungannya, oleh karena dia adalah menantu dari keturunan Nian Keng-yau, maka akhirnya dia mengalami musibah dan terbunuh secara mengerikan."
"Kalau ibu Leng-cu sendiri pun tidak mengetahui riwayat hidup sendiri yang sebenarnya, sudah tentu ayahnya pun tak tahu bukan?"
"Ya, dia memang tak tahu, tapi orang lain tahu."
"Wah, aku jadi rada bingung. Sejak Nian Keng-yau terbunuh di tangan kaisar Yong-ceng, hingga kini paling tidak sudah…."
"Tujuhpuluh tahun!"
Sambung Siau It-kek.
"Sesudah melampaui waktu yang begitu lama, masalah pun sudah berakhir, mengapa pihak kerajaan Cing masih saja melakukan pengusutan? Apalagi seandainya mereka hendak membekuk keturunan Nian Keng-yau, sepantasnya kalau gwa-kong-nya Leng-cu yang dicari, tidak sepantasnya jika mereka membinasakan menantunya."
"Nah, di sinilah terletak rahasia paling besar yang menyangkut sri baginda saat ini. Ceritanya harus dimulai sejak Nian Keng-yau masih hidup dulu. Pada masa pemerintahan kaisar Yong-ceng dulu, Nian Keng-yau pernah memegang ke-kuasaan terbesar di dalam kekuatan militer. Kedudukannya sangat tinggi dan terhormat, tahukah kau apa yang menyebabkan dia sampai mendapat penghargaan sebesar itu?"
"Konon dia pandai sekali berperang."
"Benar, dia pandai sekali mengatur siasat perang.
Tapi keberhasilannya memegang tampuk pimpinan tertinggi dalam bidang militer, sehingga kaisar Yong-ceng sendiri pun agak jeri kepadanya, adalah karena alasan lain, dia pernah membantu Yong-ceng, terutama keberhasilan Yong-ceng menjadi kaisar boleh dibilang adalah jasanya."
Ayah Yong-ceng, kaisar Khong-si mempunyai banyak putra, semuanya berjumlah tigapuluh lima orang, di antaranya hanya pangeran keempat In-ceng yang kemudian menjadi kaisar Yong-ceng dan pangeran keempatbelas In-ti yang paling berkuasa.
Tapi In-ti lebih dipercayai ayah bagindanya,kekuasaan di bidang militer berada di tangannya.
Waktu itu Nian Keng-yau hanya merupakan salah seorang panglima andalannya saja."
Sistem yang dipakai kaisar bangsa Cing waktu itu untuk mewariskan tahtanya amat istimewa, biasanya sri baginda meninggalkan pesan yang menunjuk calon penggantinya dengan menyimpan surat wasiat tersebut dalam sebuah sampul tertutup, kemudian diletakkan di belakang papan nama Kong-beng-cing-toa yang berada di tengah keraton.
Bila kaisar telah mangkat maka segenap pembesar dan pangeran dikumpulkan bersama-sama untuk membaca isi surat kaisar, jadi sebelum kaisar mangkat, kecuali dia pribadi tiada orang yang mengetahui rahasia tersebut.
In-ceng ingin sekali menjadi kaisar, maka diperintahnya Nian Keng-yau untuk menyerempet bahaya dengan mengintip surat wasiat ayahnya di belakang papan nama dalam keraton.
Nian Keng-yau sebagai seorang jago dari kuil Siau-lim-si selain mempunyai banyak anak buah yang berbakat, kepandaiannya sendiri pun amat lihay, maka entah dia sendiri yang kemudian melaksanakan tugas tersebut atau menyuruh jago lihay kepercayaannya, tak ada seorang pun yang tahu.
"Tapi yang pasti dia berhasil mengetahui rahasia surat wasiat kaisar Khong-si tersebut serta mengetahui siapa bakal menjadi penggantinya. Rahasia tersebut diberitahukan kepada In-ceng yang waktu itu masih merupakan pangeran keempat Seketika itu juga In-ceng merasakan hatinya menjadi dingin separuh!"
Nyo Yan menjadi bertambah asyik mendengarkan kisah cerita itu, katanya kemudian sambil tertawa.
"Rupanya bukan dia yang ditunjuk ayahnya sebagai pengganti kedudukannya?"
"Tentu saja bukan. Karena dalam surat wasiat tersebut disebutkan dengan jelas bahwa pangeran keem-patbelas yang ditunjuk sebagai penggantinya!"
"Lantas bagaimana cara kaisar Yong-ceng menjadi kaisar di kemudian hari?"
"Semuanya ini berkat akal muslihat yang kemudian disusun oleh Nian Keng-yau serta ibu Yong-ceng, mereka telah meru bah huruf ’sip’ dengan menambahi sebuah garis sehingga berubah menjadi ‘Yu\ Nah coba kau baca sekarang."
"Bagus sekali… bagus sekali…!"
Puji Nyo Yan sambil tertawa lebar, dengan begitu perkataan yang seharusnya berbunyi ‘kedudukan diwariskan pangeran keempatbelas’ kini berubah menjadi ‘kedudukan diwariskan kepada pangeran keempat’…!"
"Benar, karena itulah pangeran keempat In-ceng pun kemudian naik tahta dan mengubah dirinya sebagai kaisar Yong-ceng. Tapi setelah peristiwa besar itu, Nian Keng-yau telah melakukan suatu perbuatan yang mungkin dia anggap besar serta membanggakan, padahal perbuatannya itu bodoh sekali."
"Apa yang telah dia lakukan?"
"Setelah surat wasiat dari kaisar Khong-si dibacakan, dia tidak menyerahkan surat wasiat tersebut kepada kaisar Yong-ceng melainkan disimpan olehnya."
"Diakah yang membacakan isi surat wasiat tersebut?"
Tanya Nyo Yan keheranan.
Walaupun dia tidak memahami tentang peraturan yang berlaku dalam keraton kaisar, namun dia tahu bahwa Nian Keng-yau adalah seorang bangsa Han, sepantasnya kalauorang yang membacakan surat wasiat dari kaisar yang lalu adalah seorang bangsa Boan-ching.
"Bukan Nian Keng-yau, melainkan paman kerajaan Keloto yang membacakan isi surat wasiat tersebut Konon setelah isi surat wasiat itu selesai dibacakan segera terjadi kegaduhan yang luar biasa. Pangeran keempatbelas In-ti sebagai seorang yang berilmu silat tinggi segera mengemukakan kecurigaannya dan menyerbu ke depan untuk merampas surat wasiat tersebut, namun segera dibekuk oleh Nian Keng-yau, bahkan surat wasiat itu pun segera dirampas olehnya dari tangan Keloto. Berbicara menurut situasi waktu itu, dia bertindak untuk melindungi surat wasiat, tapi setelah kejadian tersebut mereda dia tidak menyerahkan kembali surat wasiat tersebut kepada kaisar Yong-ceng. Saat itu dia telah menjadi seorang jenderal yang memegang kekuasaan tertinggi di bidang militer. Kaisar Yong-ceng sendiri karena baru naik tahta maka ia masih selalu membutuhkan bantuannya, karenanya meski tahu kalau Nian Keng-yau bermaksud lain, namun dia tak berani memintanya kembali secara terang-terangan."
"Buat apa dia menyimpan surat wasiat tersebut?"
"Tentu saja untuk memeras kaisar Yong-ceng agar menurut perintahnya, kendatipun huruf’Sip’ telah diubah menjadi huruf ‘Yu’ dan penggantian ini dilakukan amat teliti, namun jika dilakukan pemeriksaan yang seksama bukan tidak mungkin menemukan perbedaan itu.
"Dalam anggapan Nian Keng-yau, dia berhasil menguasai ‘titik kelemahan1 kaisar Yong-ceng dan pasti akan membuatnya tak berkutik, siapa tahu kaisar Yong-ceng justru lebih licik daripadanya, sebelum kedudukannya mantap, dia terus-menerus bersabar menahan diri, tapi begitu kedudukannya mantap, ia segera memerintahkan panglimaperangnya untuk membekuk Nian Keng-yau dan membunuhnya."
"Bagaimana dengan surat wasiat tersebut?"
Tanya Nyo Yan kemudian.
"Setelah berhasil membunuh Nian Keng-yau, kaisar Yong-ceng telah menitahkan orang-orangnya untuk melakukan penggeledahan secara besar-besaran, alhasil mereka berhasil menemukan sejumlah besar harta kekayaan, tapi surat wasiat itu tidak ditemukan sama sekali. Putra bungsu Nian Keng-yau merupakan satu-satunya anggota keluarga yang berhasil menyelamatkan diri, kaisar Yong-ceng curiga kalau surat wasiat tersebut telah dilarikan oleh putra bungsu Nian Keng-yau, namun pencarian yang dilakukan secara besar-besaran tidak berhasil menemukan jejaknya, sejak itu tidak pernah ter-jadi peristiwa apa pun, kasus ini pun lambat laun mulai jadi ‘dingin’. ‘Tapi kejadian ini masih tetap dianggap sebagai kasus yang paling rahasia bagi kalangan kerajaan, mereka pun tak pernah mengen-dorkan usahanya untuk menyelidiki jejak keturunan keluarga Nian, hanya pencarian tidak dilakukan seketat dan seserius tahun-tahun permulaan."
Setelah berhenti sejenak untuk mengatur napas, Siau It-kek meneruskan kembali kata-katanya.
"Tiga-belas tahun setelah kaisar Yong-ceng naik tahta, suatu malam tiba-tiba saja ia ditemukan telah dibunuh orang!"
"Apakah ia dibunuh oleh seorang pembunuh gelap?"
Tanya Nyo Yan terkejut.
"Benar, pembunuh gelap itu berhasil memenggal batok kepalanya!"
Nyo Yan merasakan lidahnya menjadi kaku dan tak sanggup untuk melanjutkan kembali kata-katanya, selang beberapa saat kemudian ia baru berkata lagi.
"Waduh» waduh, seorang kaisar pun bisa kehilangan batok kepalanya di tengah malam buta, peristiwa ini sungguh merupakan suatu peristiwa luar biasa! Siapa sih pembunuh gelap itu?"
"Menurut cerita bulim cianpwe, pembunuh gelap itu adalah seorang pendekar perempuan yang paling termashur waktu itu, Lu Su-nio.
Ayah Lu Su-nio yang bernama Lu Lui-liong dibunuh kaisar Yong-ceng karena tulisannya maka Lu Su-nio membalas dendam bagi ayahnya.
Ia berhasil memasuki Istana Terlarang tanpa menimbulkan kecurigaan bahkan berhasil membunuh kaisar Yong-ceng tanpa diketahui siapa pun, para pengawal istana tak berani terlalu meyakini kalau dialah pem-bunuhnya.
"Akibatnya timbul dua perkiraan dalam kalangan istana waktu itu. Ada yang bilang Lu Su-nio pembunuhnya, tapi ada juga yang mengatakan putra Nian Keng-yau yang kembali ke istana untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahnya. Dalam ketidakpastian tersebut, akhirnya pihak kerajaan memutuskan bahwa kedua orang ini sama-sama merupakan orang yang paling dicurigai."
Nyo Yan segera menghela napas panjang "Kalau bicara perbuatan kaisar Yong-ceng, dia memang pantas dibunuh, tapi bagi yaya-ku itu, boleh dibilang merupakan suatu bencana yang datang tanpa diundang."
"Siapa bilang tidak? Kematian sri baginda dalam keadaan mengenaskan itu tentu saja tidak diumumkan oleh pihak kerajaan, akan tetapi mereka justru meningkatkan penyelidikannya. Pada jaman pemerin-tahan Kian-liong, mereka berhasil mendapat tahu kalauketurunan dari Nian Keng-yau telah berganti nama menjadi Liong Leng-kiau dan mengasingkan diri di perbatasan negeri Tian-tok (India). Kaisar Kian-liong segera mengutus beberapa kelompok busu-nya untuk melakukan penyelidikan, tapi ada yang pulang dengan tangan hampa, tapi ada pula yang tak pernah kembali lagi untuk selamanya."
"Aku pikir, pihak kerajaan pasti tak akan menyudahi persoalan tersebut sampai di situ saja?"
Kata Nyo Yan kemudian.
"Tidak. Suatu ketika mereka justru mengendorkan usaha penyelidikan tersebut dalam jangka waktu yang cukup panjang."
"Mengapa demikian?"
"Pertama, karena kaisar Kian-liong berhasil mendapat tahu kalau orang yang membunuh ayahnya adalah pendekar wanita Lu Su-nio. Kedua, Liong Leng-kiau tinggal di bukit Tay-kiat-nia yang terletak di perbatasan dengan negeri Tian-tok dan tak pernah muncul kembali di daratan Tionggoan, kendatipun surat wasiat kaisar Khong-si masih berada di tangannya, hal ini sudah bukan merupakan bencana lagi. Maka dia menyimpulkan kalau orangnya sukar dicari, asal saja dia tak pernah menginjak kembali daratan Tionggoan dan mengacau dirinya, dia pun tak akan mempersoalkan kembali kejadian tersebut."
"Tapi mengapa kasus tersebut bisa merembet sampai ke ayahnya Leng-cu?" tanya Nyo Yan.
Hingga duapuluh tahun berselang, sewaktu orang tua Leng-cu berdiam di sebuah dusun dalam wilayah Tionggoan, jejak mereka berhasil diketahui pihak kerajaan* Cing, kejadian itu dengan cepat menarik kembali perhatian kaisar sekarang.
"Kaisar Ka-king adalah cucu kaisar Yong-ceng, sekalipun peristiwanya telah berlangsung tujuhpuluh tahun berselang, semestinya walaupun surat wasiat kaisar Khong-si munculkembali dalam masyarakat pun tak banyak berpengaruh terha-dap posisi serta kedudukannya, tapi orang yang menjadi kaisar biasanya besar kecurigaannya, bagaimana pun jua, ia tetap khawatir apabila surat wasiat tersebut sampai terjatuh ke tangan orang lain!"
"Mengapa dia curiga kalau surat wasiat itu berada di tangan ayahnya Leng-cu? Bukankah sepasang kaki ayahnya justru patah karena dihajar oleh mertuanya sendiri?"
"Sebagai seorang kaisar bagaimana mungkin dia bisa mengetahui ’soal kecil’ semacam ini?
Begitu memperoleh laporan dari congkoan istana tentang asal-usul ayah Leng-cu, dia segera menurunkan perintah untuk melakukan penyelidikan.
Mata-mata yang diutus congkoan is-tana dengan cepat berhasil mendapat tahu tentang keturunan Liong Leng-kiau ini, bahkan mendapat tahu kalau yaya-mu hanya mempunyai seorang putri.
Kini putri dan menantunya telah kembali ke daratan Tionggoan, seandainya keluarga Liong menyimpan surat wasiat kaisar Khong-si, benda yang dianggap sebagai mesti-ka keluarga itu tentu diserahkan kepada menantunya.
"Sebagaimana kebiasaan pihak kerajaan, lebih baik salah membunuh seratus orang daripada melepaskan satu orang, apalagi perintah itu diturunkan langsung oleh kaisar?"
"Lantas mengapa Pek-tou Sancu yang melaksanakan pembunuhan tersebut? Menurut apa yang kuketahui, meski dia mempunyai hubungan yang akrab dengan congkoan istana, namun bukan berarti seorang utusan kaisar…."
"Kaisar telah melimpahkan tugas penyelidikan kasus tersebut kepada congkoan istana dan memerintahkan kepadanya untuk dilaksanakan secara rahasia, dia dilarangmeng gerakkan pasukan secara besar-besaran.
Tapi congkoan istana agak jeri terhadap ilmu silat dari Giok?
liong Taycu (Pangeran Naga Kemala), sudah tentu dia tak berani melaksanakan sendiri tugas itu, maka dia mencari seseorang yang cocok untuk mewakilinya melak sanakan perintah ini."
Kebetulan orang tersebut adalah Itbun Poh.
Waktu itu Itbun Poh belum menjadi Pek-tou Sancu.
Konon ayahnya adalah seorang tocu pula di wilayah Lam-hay, bahkan kenal akrab dengan kakek Leng-cu, yakni Giok-bin-Iiong-ong (Raja Naga Berwajah Kemala) Tian Lam-beng.
"Itbun Poh dan ayah Leng-cu, Giok-liong Taycu Tian Leng-kun, angkat nama bersama-sama, di antara mereka berdua pun terikat suatu perselisihan kecil, sedangkan congkoan istana dan Itbun Poh adalah sobat karib, mungkin ia sudah banyak memperoleh kebaikan darinya, karena itulah baru memohon bantuannya. Mengenai kejadian selanjutnya tentu kau sudah tahu bukan? Aku rasa tak usah menerangkan lebih lanjut"
Mendengar sampai di situ, Nyo Yan menghela napas panjang.
"Aaaiii, sungguh tak kusangka kalau di balik peristiwa tersebut masih terdapat banyak seluk beluk. Tak heran kalau di antara pencari jejak Leng-cu tempo hari, terdapat pula orang-orang yang bekerja untuk pihak kerajaan Cing, seperti Phang Tay-yu dan lain-lainnya!"
"Walaupun orang-orang itu berhasil kau halau pergi, namun masalahnya tak akan berakhir dengan begitu saja!"
Nyo Yan sangat terkejut "Maksudmu kaisar dan congkoan istana menaruh curiga kalau surat wasiat itu berada di tangan Leng-cu, maka mereka bertekad hendak membekuk dirinya?"
"Benar! Pek-tou Sancu tak nanti akan melepaskan Leng-cu dengan begitu saja, sedangkan pihak kerajaan Cing juga sedang mengejar dirinya, kalau kita bicara sej uj urnya, maka posisinya sekarang benar-benar sangat gawat! "
"Apa daya kita sekarang? Apa yang harus kita lakukan?"
Gumam Nyo Yan cemas.
"Lote!"
Tiba-tiba Siau It-kek berseru.
"bersediakah kau membantu Leng-cu?"
"Asal bisa kulakukan, tentu saja aku bersedia"
"Cara ini mungkin bisa mengurangi separuh dari musuh-musuhnya sehingga tinggal Pek-tou Sancu seorang, dengan demikian dia akan lebih gampang menghadapinya. Dan lagi, cara ini hanya kau seorang yang dapat melaksanakannya"
"Kalau memang hanya aku seorang yang dapat melakukannya, harap Siau locianpwe memberikan perintah."
Siau It-kek seperti merasa kurang leluasa untuk buka suara, dia melirik sekejap ke arah Nyo Yan, kemudian pelan-pelan berkata.
"Nyo siauhiap, bila aku salah berbicara nanti, harap kau jangan marah."
Nyo Yan malah tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut, katanya kemudian.
"Siau locianpwe, kita bekerja demi kebaikan nona Liong, bila ingin menyampaikan sesuatu, utarakan saja terus terang."
Di hati kecilnya dia merasa keheranan, seorang buHm cianpwe yang selama ini terus terang, mengapa secara tiba-tiba berubah ragu-ragu, persoalan apa yang sebenarnya hendak dilimpahkan kepadanya?
"Di dalam istana terdapat seorang pengawal yang hampir serupa dengan Phang Tay-yu,"
Kata Siau It-kek.
"Dia bekerjauntuk kerajaan Cing secara diam-diam, tapi jarang sekali umat persilatan yang tahu kalau sesungguhnya dia telah menjadi seorang pengawal istana Orang ini lebih mendapat kepercayan dari congkoan istana ketimbang Phang Tay-yu bahkan di hadapan kaisar pun ia mempunyai kesempatan untuk turut bicara"
Paras muka Nyo Yan berubah hebat sesudah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa.
"Siau locianpwe, siapa., siapakah yang kau maksudkan?"
"Nyo siauhiap,"
Siau It-kek tersenyum.
"kau tak usah gugup. Kalau dibicarakan sungguh kebetulan sekal i, orang ini pun she Nyo. Apakah…."
"Siau locianpwe, apa saja yang telah kau ketahui?"
Kata Nyo Yan dengan suara parau.
"Nyo siauhiap, harap kau jangan marah. Kau sudah tahu, aku telah menganggap Leng-cu sebagai putri kandungku sendiri. Sejak dia berkenalan denganmu, diam-diam aku telah menyelidiki riwayat hidupmu secara jelas. Tidak banyak yang berhasil kuketahui, aku hanya tahu pengawal she Nyo itu berasal sedesa denganmu, duapuluh tahun berselang dia masih merupakan seorang busu kenamaan dari kota Po-teng."
Tampaknya dia seperti enggan untuk berbicara secara langsung, sementara masih kebingungan dan tak tahu bagaimana harus melanjutkan kata-katanya, Nyo Yan telah berteriak kembali.
"Siau locianpwe, kau tak usah berbicara lagi, aku enggan untuk menyinggung kembali orang ini!"
"Demi Leng-cu, apakah kau pun tidak bersedia untuk berjumpa dengan orang ini?"
Nyo Yan menggigit bibir dan tidak berbicara lagi. Pelan-pelan Siau It-kek berkata.
"Yaya-mu adalah keturunan NianKeng-yau, aku pikir, kau tentunya tidak merasa malu pada riwayat hidup serta asal-usulnya bukan? Teratai yang tumbuh di atas lumpur toh tetap suci dan bersih, yang penting bagi seseorang adalah perbuatan serta tindak-tanduk sendiri, asal dia tak pernah melakukan kesalahan, dia tak perlu merasa malu atau rendah diri."
"Apakah Leng-cu sudah tahu?"
Pertanyaan Nyo Yan kedengaran agak parau.
"Dia tidak tahu. Dan aku pun merasa tidak penting untuk memberitahukan persoalan ini kepadanya."
"Aku tak bisa menyanggupi permintaanmu dengan segera, aku pun tak tahu bisa atau tidak menolong Leng-cu. Tapi aku ingin tahu, mau apa kau menyuruhku berjumpa dengan orang ini?"
"Aku berharap kau dapat mengucapkan kata-kata bohong yang tidak merugikan diri sendiri namun berfaedah bagi orang lain."
"Perkataan apa?"
"Katakan kalau yaya-mu telah mati, sebelum meninggal dunia dia telah memberitahukan riwayat hidup serta asal-usulnya kepadamu, bahkan di hadapanmu dia telah membakar habis surat wasiat dari kaisar Khong-si tersebut"
"Dengan memberitakan kabar bohong tentang kematian yaya, cara ini memang dapat menghindarkan dirinya dari bencana serta ancaman bahaya, apalagi yaya berjiwa terbuka, sekalipun mengetahui akan hal ini, dia pun tak akan menyalahkan aku. Cuma, mengapa surat wasiat tersebut harus dibakar?"
"Keluarga Nian telah putus keturunan, putrinya juga telah mem-bangkang perintahnya dengan kabur bersama orang lain, dalam kesedihannya, buat apa dia harus menyimpan terus surat wasiat tersebut? Lagi pula selewat puluhan tahun, dia pun sudah menyadari kalau meninggalkan surat wasiat tersebut hanya akan meninggalkan bencana, mengapa dia harus menyusahkan keturunannya lagi?"
"Kau anggap orang akan mempercayai perkataanku dengan begitu saja?"
"Kau dapat menceritakan tentang rahasia keluarga Nian serta surat wasiat tersebut sekalipun congkoan istana melakukan pemeriksaan sendiri atas dirimu, mau tak mau dia harus mempercayainya juga, apalagi orang itu adalah… adalah.,.."
Ia tidak melanjutkan perkataannya, namun Nyo Yan sudah tahu apa yang hendak diutarakan olehnya, tahpa terasa ia tertawa getir di dalam hati, pikirnya.
"Benar, menurut keadaan pada umumnya, hubungan darah daging memang terhitung hubungan paling akrab, perkataan dari putranya tentu akan dipercayai oleh ayahnya. Tapi, empek Siau tak pernah menyangka kalau kami ayah dan anak tak pernah bergaul, di antara kami pun masih tertanam perasaan saling mencurigai, mana mungkin kami bisa berhubungan akrab dan saling mempercayai seperti orang lain?"
Kemudian dia berpikir, lebih jauh.
"Tujuanku membunuh Beng Goan-cau tak lain untuk menolong ayahku lolos dari liang api dan tidak menjadi kuku garuda lagi. Kini bila kumohon kepadanya demi urusan Leng-cu, bukankah hal ini sama artinya dengan mendorongnya masuk lagi ke liang api?Sekalipun di kemudian hari dia masih dapat meloloskan diri, paling tidak tentu membutuhkan banyak waktu lagi."
Sementara dia masih termenung, terdengar Siau It-kek telah berkata lagi.
"Kaisar memang tidak tahu kalau yaya-mu telah mengurungi sepasang kaki menantunya, tapi congkoan Istana Terlarang pasti mengetahui akan hal ini. Asal orang itu bersedia mempercayai perkataanmu, asal dia menyampaikannya kepada congkoan Istana Terlarang, cong-koan itu pasti akan percaya seratus persen. Para pengawal dan anak buahnya juga tak akan datang mencari gara-gara lagi dengan Leng-cu. Dengan begitu bukankah Leng-cu akan kehilangan separuh musuhnya? Yang tertinggal kini hanya Pek-tou Sancu seorang, betul ilmu silatnya sangat lihay, namun dengan kerja sama kalian berdua, mustahil kalian kalah di tangannya?"
"Tentang soal ini, tentang soal ini, aku… aku rasa dalam waktu singkat tak mungkin bisa membantu apa pun untuk Leng-cu."
"Masalah ini besar sekali sangkut pautnya, tentu saja aku tak akan memaksamu untuk melaksanakannya dengan segera, pertimbangkan saja secara pelan-pelan sebelum mengambil keputusan. Sedang terhadap Leng-cu, akan kuanjurkan agar jangan terburu nafsu untuk membalas dendam, dia pasti akan menuruti perkataanku."
"Aku pun tak akan turun gunung bersama dia,"
Kembali Nyo Yan menambahkan.
"Mengapa?"
Siau It-kek agak tertegun.
"Ooh, mengerti aku sekarang. Rupanya kau tak ingin dia mengetahui rahasia asal-usulmu sekarang? Tapi, bukankah kau bisa mencari alasan lain di saat kau hendak bertemu dengan orang itu hingga tak usah pergi bersama-sama Leng-cu?"
"Mungkin Leng-cu sendiri pun tak akan turun gunung bersama-samaku."
Siau It-kek segera tertawa "Siapa bilang kalau dia enggan turun bersamamu? Kau benar-benar tidak memahami suara hatinya!"
Nyo Yan merasakan pipinya jadi panas, namun dia pun sungkan untuk memberi penjelasan lebih jauh, terpaksa katanya.
"Harap Siau loocianpwe jangan menertawakan, aku… sebenarnya aku dan Leng-cu tidak mempunyai hubungan apa-apa."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.
"Waktu sudah siang, bila locianpwe tiada persoalan lain, mari kita pulang kerumah."
Siau It-kek mengira pemuda itu takut malu, dia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… baiklah kita pulang sekarang juga daripada Leng-cu merasa khawatir. Tentang rahasia hatinya, biar dia saja yang mengutarakan sendiri kepadamu di masa mendatang, tak baik kalau aku si kakek tua renta ikut mencampurinya O ya… tadi masih ada beberapa jurus ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat yang lupa kumainkan di hadapanmu, tapi beberapa jurus itu sudah dikuasai penuh oleh Leng-cu, bila kau khawatir tidak ada waktu lagi, cari saja kesempatan di kemudian hari dan lajar darinya"
Walaupun keesokan harinya dia akan berangkat, malam ituNyoYan tak bisa tidur nyenyak, dia hanya berguling kian kemari sementara matanya tetap melotot "Benarkah Leng-cu telah… telah jatuh cinta kepadaku?"
"Aah, tidak mungkin… tidak mungkin! Aku toh sudah menceritakan hubunganku dengan enci Leng kepadanya?"
"Dia seperti kurang senang tiap kali kusinggung enci Leng, bahkan orang yang bukan kumaksudkan sebagai enci Leng tadi pun menyebabkan dia mengambek, mengapa bisa demikian? Mungkinkah… ya, mungkinkah…"
Kemudian dia berpikir lebih jauh.
"Nyo Yan wahai Nyo Yan… mungkinkah kau sendiri menduga yang tidak-tidak. Dia memang berwatak aneh, dia inginnya diperhatikan dan dihormati setiap orang, masa kau anggap dia cemburu pada enci Leng? "
Kalau begitu, lantas apa sebabnya Siau locianpwe berkata demikian?
Atau mungkin dia telah mengungkapkan rahasia hatinya di hadapan Siau locianpwe?
"Aah…!
Aku makin mengigau.
Sekalipun si nona jatuh hati terhadapku, terhadap orangtua sendiri pun malu untuk mengutarakan, apalagi terhadap orang luar?
Ehmm, sudah pasti Siau locianpwe sendiri yang menduga ke situ!
Sungguh menggelikan sekali perbuatanku sekarang, masa menduga yang bukan-bukan atas dugaan Siau locianpwe.’* Dalam hati kecilnya dia mendengar suara hatinya sendiri, betapapun banyak alasan yang berhasil ditemukan olehnya yang membuatnya tidak percaya kalau Leng-cu telah jauh cinta kepadanya, namun rahasia hati Leng-cu masih tetap me-rupakan sebuah teka-teki baginya Seperti juga watak dan perangai gadis itu, ada kalanya dia seperti merasa dapat menembusinya dalam sekali pandang, tapi ada kalanya seperti berada di tengah awan tebal, sukar diraba Jangan lagi menebak suara hati Leng-cu, suara hati sendiri pun tetap merupakan sebuah tanda tanya besar!Dalam hati kecilnya terdapat beberapa bagian perasaan takut, tapi terdapat pula beberapa bagian perasaan gembira Apakah ia takut bila Leng-cu sampai jatuh cinta kepadanya?
Atau gembira kerena Leng-cu mencintainya?
Dia sendiri tak dapat menjawab pertanyaan tersebut Namun ada satu hal yang dia anggap mengetahui dengan pasti, cintanya kepada "
Enci Leng"
Merupakan cinta yang sejati, entah berapa lama pun mereka telah berpisah, cinta kasih itu tak pernah luntur.
"Buat apa aku mesti menebak suara hati orang lain? Aku telah bersumpah hendak mempersunting enci Leng, biar samudra mengering biar batu menjadi lapuk, cinta kasihku kepadanya tak pernah akan berubah….’"
Demikian pada akhirnya dia berpikir.
Setelah berpikir begini, perasaan hatinya jadi tenang kembali.
Menjelang fajar dia tertidur sangat nyenyak.
Bangun dari tidur, hari baru saja terang tanah.
Ia tidak menjumpai Siau It-kek, canggung untuk mencari Liong Leng-cu di kamarnya, maka dalam hati kecilnya lantas berpikir.
"Bagaimanapun jua, semalam aku sudah memberitahukan kepada Siau locianpwe, dia seorang tokoh persilatan yang berjiwa besar, rasanya aku pun tak usah terlalu banyak adat lagi dengan dirinya,.."
Maka sambil membawa bun-talannya dia siap berlalu dari situ.
Di dalam anggapannya luka yang diderita Siau It-kek baru sembuh, semalam pun tidur kelewat malam maka kini belum mendusin kembali, dia tak ingin mengusik ketenangan orang hingga mengambil keputusan untuk pergi tanpa pamit "Entah Leng-cu masih marah kepadaku atau tidak?"
Terbayang entah sampai kapan mereka baru akan bersua kembali, Nyo Yan merasa agak masgul.
Sementara pemuda itu melanjutkan perjalanan tanpa arah tujuan, mendadak sesosok bayangan manusia melintas lewat dari balik hutan, orang itu adalah Liong Leng cu.
"Nyo Yan!"
Dari kejauhan gadis itu sudah menegur.
"harap kau terangkan sejelas-jelasnya hendak ke mana kau? Dan hendak berbuat apa?"
"Aku tak dapat memberitahukan kepadamu hendak ke mana aku pergi, aku pun tak bisa menjelaskan kepadamu siapa yang akan kucari. Tapi aku dapat memberitahukan bahwa pekerjaan yang hendak kulakukan sama dengan dirimu."
"Sama dengan diriku?"
Liong Leng-cu tertegun.
"Apakah… apakah kau pun hendak membalaskan dendam bagi kematian ayahmu?"
"Orang itu membuat aku menderita aib dan malu semenjak dilahirkan di dunia ini, jadi tak berbeda jauh dengan musuh besar pembunuh orangrua!"
"Kau sudah banyak mengetahui tentang asal-usulku tapi aku belum mengetahui asal-usulmu. Orang itu adalah…."
"Maafkan aku Leng-cu,"
Tukas Nyo Yan cepat.
"Ketika kau menanyakan persoalan ini kepadaku tempo hari, aku telah mengatakan kepadamu bahwa aku tak dapat memberitahukan hal ini kepadamu, demikian juga halnya dengan sekarang. Cuma seandainya nasibku masih baik dan aku bisa pulang dalam keadaan hidup, saat itu pasti akan kuberitahukan segala sesuatunya kepadamu."
Diam-diam Liong Leng-cu segera berpikir.
"Dia tidak mengakui Beng Hoa sebagai kakaknya, berarti ayah Beng Hoa bukan ayahnya. Tapi kalau dilihat dari situasi kemarin, rasa cinta Beng Hoa kepadanya bukan pura-pura. Yang seorang she Beng, yang lain she Nyo, sebenarnya apa sih hubungan mereka berdua? Ehmm, bi sa jadi riwayat hidupnya jauh lebih rumit dari aku."
Sebagai seorang gadis yang cerdas, lamat-lamat dia sudah menduga beberapa bagian. Terdengar Nyo Yan berkata lagi.
"Kini, seharusnya kau memahami arti perkataanku semalam bukan? Bukan aku tak ingin membantumu membalas dendam, sesungguhnya aku tak yakin bisa kembali dalam keadaan selamat. Kecuali aku bisa pulang dalam keadaan hidup, kalau tidak percuma kita membicarakan soal-soal lain. Aaai… tapi sayang sekali harapan ini begitu tipis dan samar…."
"Lihaykah ilmu silat yang dimiliki musuh besarmu itu?"
"Dibandingkan Pek-tou Sancu, mungkin dia masih lihay beberapa puluh kali lipat!"
"Kau pernah menyaksikan ilmu sflat orang itu?"
"Belum pernah."
"Lalu dari mana kau tahu kalau dia lihay?"
"Menurut apa yang kuketahui, ilmu silat yang dimiliki orang itu masih setingkat lebih unggul dari Beng Hoa, tentunya kau pernah menyaksikan ilmu silat Beng Hoa bukan?"
Ia berhenti setelah berbicara sampai di situ karena pemuda itu merasa tidak perlu untuk menjelaskan kata-kata selanjurnya.Perlu diketahui ilmu silat yang dimiliki Beng Hoa sudah mampu mengungguli It-bun Lui, murid yang pating diandalkan oleh Pek-tou Sancu, bila ilmu silat orang itu jauh lebih lihay dari Beng Hoa, maka dari smi bisa disimpulkan kalau orang itu sudah pasti jauh mengungguli Pek-tou Sancu.
Liong Leng-cu seperti sedang memikirkan sesuatu, dia menundukkan kepalanya sambil membungkam seribu bahasa.
Mendadak Nyo Yan berkata.
"Leng-cu kumohon satu hal kepadamu, kuharap kau bersedia mengabulkannya."
"Baik, katakanlah."
"Setelah kuutarakan, kau tak boleh mengambek kepadaku lho."
"Baik, apa pun yang kau katakan, aku tak akan marah kepadamu."
"Seandainya aku kurang beruntung, tewas, harap kau suka melaksanakan suatu keinginanku."
"Hus, jangan mengatakan kata-kata yang tidak baik,"
Tegur si nona cepat "Aku sendiri pun berharap bisa pulang dalam keadaan hidup, tapi dalam hal ini aku tak bisa memastikan, anggap saja kata-kataku ini sebagai suatu persiapan saja."
"Baik, kalau memang kau berkata secara bergurau, aku pun akan mendengarkan secara bergurau saja."
"Tidak. Pertama, aku tidak bergurau. Kedua, kau pun tak boleh mendengar secara sambil lalu. Aku minta kau menjawab dengan sejujurnya."
"Aaai… kau memang sulit dilayani,"
Liong Leng-cu berkerut kening.
"Baiklah, katakan saja, pasti akan kukabulkan."Saat itulah, pelan-pelan Nyo Yan baru berkata.
"Pada masa tuanya yaya kesepian dan hidup dalam kemurungan, andaikata aku tak bisa pulang, entah sampai di manakah rasa pedih hatinya. Aku hanya berharap kau bersedia menemaninya selama beberapa tahun!"
Liong Leng-cu menggigit bibirnya kencang-kencang dan bungkam. Kembali Nyo Yan melanjutkan kata-katanya.
"Di masa lampau, yaya memang telah melakukan kesalahan, tapi justru karena kesalahan itulah dia sangat menyesal, sudah puluhan tahun dia hidup merana dan sengsara, apakah kau tidak bersedia untuk memaafkan dirinya?"
Titik-titik air mata mulai berlinang membasahi ujung mata Liong Leng-cu, sampai lama kemudian dia baru berkata.
"Baik, kukabulkan permintaanmu itu."
Nyo Yan menjadi kegirangan setengah mati.
"Leng-cu, terima kasih banyak…!"
Pekiknya penuh emosi. Saking tak kuasa menahan diri, tanpa terasa dia menggenggam tangannya kencang-kencang. Merah padam selembar wajah Liong Leng-cu karena ulah pemuda tersebut, katanya kemudian.
"Tapi, bukankah kau juga tahu kalau aku pun mempunyai kewajiban untuk membalaskan dendam bagi orang-tuaku…."
"Seorang kuncu yang berniat membalas dendam, sepuluh tahun pun belum terlambat. Paling baik kalau kau pulang dulu untuk berjumpa dengan yaya, terhadap soal balas dendam aku percaya hal ini justru akan lebih bermanfaat daripada merugikan."
Tentu saja Liong Leng-cu memahami maksud hatinya, dengan ilmu silat yang dimilikinya sekarang, bila ingin mencari Pek-tou Sancu untuk membalas dendam, maka hal ini ibarat telur yang diadu dengan batu.
Tapi bila dia berkenalan dulu dengan gwakong-nya, sekalipun dia tidak berharap gwakong-nya akan mewakili dia untuk membuat pembalasan, paling tidak dia pasti akan menurunkan banyak ilmu silat kepadanya sehingga usahanya untuk membalas dendam dapat berlangsung lebih lancar.
Liong Leng-cu segera menarik wajahnya, dia seperti tidak senang dengan perkataannya itu, bahkan tangannya pun turut dikibaskan ke samping.
Dengan wajah tertegun Nyo Yan berseru.
"Leng-cu, salahkah perkataanku itu?"
"Tentu saja salah besar. Aku hanya setuju untuk menjumpai "
Yaya "-mu, bukan berniat untuk mohon bantuannya agar membalaskan dendam bagiku, aku… aku berbuat demikian karena kau!"
Nyo Yan tertegun, namun dengan cepat katanya lagi sambil tertawa.
"Kau sudah berjanji tak akan marah."
"Padahal aku tahu kalau aku tak bakal melaksanakan janjiku tersebut, itulah sebabnya aku tak ragu menyanggupi permintaanmu itu!"
"Apa maksudmu?"
"Ilmu silat yang kau miliki sangat baik, kendatipun ilmu silat orang itu jauh mengungguli dirimu, namun aku yakin kau tak akan mati!"
"Terima kasih atas doa restumu itu,"
Nyo Yan tertawa.
"moga-moga saja demikian. Cuma… cuma…."
"Tak usah berputar-putar kalau bicara, kalau ingin menolong orang seharusnya menolong sampai akhir. Hari ini aku telah menyanggupi permintaanmu, tapi bila kau bisa pulang dalam keadaan hidup, aku pun lebih senang bersama-sama denganmu pergi menjumpai orang tersebut!"
Tak terlukiskan rasa girang Nyo Yan setelah mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa dia menggenggam sepasang tangan orang sambil serunya.
"Leng-cu, kau baik sekali!"
Liong Leng-cu memutar sepasang biji matanya, lalu seperti girang seperti cemberut katanya sembari mengerling.
"Asal kau tahu kalau aku baik kepadamu, itu sudah cukup. Sekarang waktu sudah siang, aku pun tak ingin berkata apa-apa lagi kepadamu, berangkatlah!"
Setelah sebuah persoalan yang selama ini menjerat perasaannya dapat teratasi, dengan perasaan yang lega dan gembira Nyo Yan turun gunung.
Bayangan tubuh Liong Leng-cu sudah tidak tampak lagi, namun suara tawa dan perkataannya seolah-olah masih mendengung di sisi telinganya.
"Benar-benar suatu kebetulan yang tak pernah kuduga, tak nyana kalau riwayat hidup serta pengalaman yang kami alami bisa banyak kemiripan. Bahkan kami dua orang anak piatu bisa bertemu bersama-sama."
Sekalipun ia tak percaya akan takdir, namun mau tak mau harus mengakui juga kenyataan yang dihadapinya sekarang. Mendadak satu ingatan melintas di dalam benaknya.
"Aah, benar! Mengapa dia bersikap begitu baik kepadaku?Mungkinkah perasaannya benar-benar seperti apa yang diucapkan Siau It-kek semalam? Aai… tapi… haruskah kuingkari sumpah setiaku dengan enci Leng?"
Dengan cepat dia berpikir lebih jauh.
"Harapanku untuk pulang dalam keadaan hidup sangat tipis, budi dan dendam akan berlalu seperti asap. Enci Leng juga baik, nona Liong juga baik, aku berhutang budi kepada mereka semua, jelas se-mua utangku tak akan bisa kubayar dalam kehidupanku sekarang, lebih baik cepat-cepat berangkat ke Jik-tat-bok saja. Sehari lebih cepat aku mati, berarti sehari lebih cepat aku bebas dari kemurungan!"
Tapi seandainya dia benar-benar bernasib baik tidak mati?
Ia tak berani berpikir lebih jauh.
Kebetulan sekali, pada waktu itu ada seorang yang lain sedang merasakan hal yang sama, dia sedang memikirkan Leng Ping-ji.
Orang itu pun sedangmenempuh perjalanan cepat, sama-sama menuju ke Jik-tat-bok dan sama-sama hendak mencari Beng Goan-cau.
Ki See-kiat Menyampaikan Kabar Kalau Nyo Yan berangkat ke Jik-tat-bok untuk membalas dendam, maka orang itu berangkat ke sana untuk menyampaikan kabar buruk tersebut Orang ini bukan lain adalah Ki See-kiat Kuda tunggangannya adalah kuda jempolan pemberian Kang Siang-hun, hari ini dia sudah memasuki wilayah Cing-hay dan menyeberangi padang rumput di utara bukit Kosiha yang berada di Say-ning.Jagat amat luas, matahari senja bersinar cerah, angin malam yang mulai berhembus membawa udara dingin.
Namun perasaan hatinya panas dan membara.
Ia teringat akan persahabatannya dengan Kang Siang-hun, terutama sekali berita dari Kang Siang-hun yang mengatakan pengharapan dari Kwan tang tayhiap Utti Keng, membuat perasaannya begitu gembira dan puas.
Ternyata Utti Keng tidak menganggapnya sebagai musuh karena "tindakannya yang sembrono", malah sebaliknya menaruh kesan baik kepadanya.,..
Sedangkan Kang Siang-hun sebelum berkenalan dengannya telah berusaha untuk mengalihkan berita tentang dirinya, berusaha membantah perbuatan salah yang telah dilakukannya, bahkan menarah kepercayaan yang mendalam, kesemuanya ini membuat dia sangat terharu.
Mereka begitu percaya kepadaku aku tak boleh manyia-nyiakan harapan mereka padaku!
Ucapan ibu memang harus kuturuti, namun nyawa Beng Goan-cau harus pula kuselamatkan.
Bila kedua-duanya tak bisa dilaksanakan berbareng, terpaksa aku harus membangkang perintah ibu untuk kali ini saja "
Sebenarnya Beng Goan-cau merupakan orang yang paling dibenci oleh keluarga Ki dan keluarga Nyo, gara-gara persoalan adiknya dengan Beng Goan-cau dulu, ibunya paling tak dapat memaafkan perbuatan orang she Beng tersebut Tapi sekarang, tak segan-segan See-kiat menempuh perjalanan, bahkan bisa jadi menyerempet bahaya untuk pergi menyelamatkan "musuh besar"
Keluarganya.Betul akibat pengaruh pandangan keluarganya semenjak kecil, dia masih belum bisa memahami Beng Goan-cau, namun paling tidak sekarang dia sudah lebih mengerti, ibunya membenci Beng Goan-cau hanya terbatas karena merasa rugi martabat dan nama baiknya akibat ulah orang tersebut, sedangkan usahanya menolong Beng Goan-cau sekarang juatru merupakan masalah yang menyangkut kebahagiaan dan keuntungan segenap umat persilatan.
"Beng Goan-cau satu aliran dengan Utti tayhiap,"
Demikian ia berpikir.
"aku tak boleh membiarkan jiwanya terancam hanya disebabkan masalah perselisihan pribadi antara dia dengan keluarga kami, aku pun tak boleh membiarkan piaute tertipu oleh engku sehingga makin terperosok ke jalan yang sesat."
Ia telah memikirkan banyak masalah, tapi di antara sekian banyak orang dan masalah tersebut, yang paling menggetarkan perasaannya adalah Leng Ping-ji, orang yang tak ingin dijumpai tapi tak bisa untuk tak dijumpai tersebut beserta hubungan cintanya dengan Leng Ping-ji yang sukar diraba ujungnya "Entah nona Leng berada di Jik-tat-bok tidak?"
Kembali dia berpikir lagi.
"Aaai, ibu telah membuatnya sedih dan tersinggung, meski dia tak terpikir sampat menyalahkan aku, tetap aku menyesal dan malu terhadapnya. Moga-moga saja dia tidak berada di Jik-tat-bok."
Terbayang kembali bagaimana Leng Ping-ji dibikin kabur oleh ibunya dengan perasaan marah, Ki See-kiat benar-benar merasa tak punya muka untuk menjumpainya "Ya, sekalipun tak pernah terjadi peristiwa tersebut, belum tentu ia akan menyukai diriku, tampaknya dia sudah mempunyai pilihan hati sendiri."
Teringat kalau pilihan hati Leng Ping-ji ternyata adalah piaute-nya sendiri, Ki See-kiat hanya bisa tertawa getir di hati.
"Bicara sebenarnya, kecuali perbedaan usia mereka yang agak mencolok, tiada sesuatu yang jelek bila ia menjadi suami istri dengan piaute. Moga-moga saja kali ini aku bisa sampai di tempat tujuan tepat pada waktunya dan menarik adik Yan keluar dari jalan yang sesat, dengan demikian aku baru dapat membantu adik Yan agar memperoleh kebahagiaan hidup yang kekal!"
Dia cukup mengetahui watak Leng Ping-ji, seandainya dia membiarkan Nyo Yan pergi membunuh Beng Goan-cau dan sengaja membiarkan Nyo Yan melakukan kesa-ahan, sudah pasti Leng Ping-ji tidak akan mau menjadi istri Nyo Yan.
Terpikir sampai di situ cepat-cepat dia membuang jauh semua pikiran tersebut dan mempercepat perjalanannya.
Ia tak tahu kalau waktu itu Leng Ping-ji juga sedang di dalam perjalanannya menuju ke Jik-tat-bok.
Mereka bertiga menempuh perjalanan yang sama, sayangnya tak seorang pun yang saling bersua di tengah jalan.
---ooo0dw0ooo---Nyo Yan telah tiba di Jik-tat-bok.
Dengan cara apa melaksanakan usahanya membunuh Beng Goan-cau, Nyo Yan sudah memikirkan banyak cara, haruskahdia menantangnya untuk berduel secara terang-terangan?
Ataukah membunuhnya secara diam-diam?
Memohon untuk menghadap dengan menggunakan nama Nyo Yan?
Ataukah untuk sementara waktu merahasiakan identitasnya terlebih dahulu…?
Akhirnya dia mengambil kepu-tusan untuk menempuh jalan yang tidak terang-terangan, untuk sementara waktu dia merahasiakan identitas sendiri, mengubah wajah aslinya dan memohon untuk berjumpa dengan Beng Goan-cau.
Kepandaian yang berhasil dipelajari dari "yaya"
Nya cukup rumit dan banyak, di antaranya adalah kepandaian menyaru.
Sekarang, Nyo Yan telah menyamar sebagai seorang pemuda dusun yang polos dan jujur, kelihatannya jauh lebih tua beberapa tahun ketimbang usia sebenarnya.
Dia terpaksa harus mengubah wajahnya karena khawatir sebelum berjumpa dengan Beng Goan-cau sudah ada orang yang mengenalinya.
Dia tahu Beng Hoa telah kembali ke bukit Thian-san dan mustahil akan muncul di Jik-tat-bok, tapi paling tidak masih ada seseorang yang bisa mengenali dirinya, orang itu pernah mendapat pesan dari Beng Hoa untuk menggusurnya bersama Ting Tiau-bing ke tempat uii, orang itu tak lain adalah Siau Hok-nian.
Sewaktu Liong Leng-cu melakukan penghadangan di tengah jalan dan menyelamatkan dirinya dari tangan Ting Tiau-bing dan Siau Bok-nian, luka yang diderita Siau Bok-nian ternyata lebih parah dari Ting Tiau-bing, tapi menurut dugaannya se-telah kembali ke Jik-tat-bok sekian lama lukanya pasti sudah sembuh kembali seperti sediakala.
Ternyata semuanya lancar, hari pertama setibanya di Jik-tat-bok, dia menginap di rumahseorang petani dan mengutarakan bahwa dia ada urusan hendak bertemu Beng Goan-cau, ia bertanya kepada petani itu apakah kenal dengan laskar pembela bangsa.
(Sejak dia sampai di Jik-tat-bok, pada hakikatnya tak pemah berjumpa dengan orang yang mengenakan seragam laskar rakyat, karena laskar rakyat dan rakyat biasa sesungguhnya sama, sulit bagi orang luar untuk membedakannya) Maka begitu dia mengutarakan maksudnya, petani itu segera tertawa lebar.
Kata petani itu sambil tertawa.
"Aku kenal baik dengan komandan Beng yang kau maksud, bahkan setiap hari pasti bertemu dengannya. Cuma ada urusan apa kau datang mencarinya?"
Terkejut dan girang Nyo Yang sesudah mendengar perkataan itu, sahurnya dengan cepat.
"Empek tua, rupanya kau pun terhitung seorang laskar rakyat?"
Kembali petani itu tertawa.
"Aku ingin sekali menjadi laskar rakyat, sayang sekali komandan Beng menganggap usiaku kelewat tua, dan enggan menerimaku. Apakah kau merasa heran mengapa aku kenal baik dengannya? Ini disebabkan setiap malam bila aku pulang, pasti melalui depan rumahnya. Komandan Beng ramah dan baik hati, kalau bersua kami tentu berbincang-bincang dengan asyik."
"Seorang temannya she Huan yang menyuruh aku datang menghadapnya, ada beberapa urusan penting hendak kusampaikan sendiri kepadanya."
Kedudukan Beng Goan-cau di dalam laskar rakyat hanya satu tingkat di bawah Leng Thiat-jiau; sering kali orang-orang atau utusan dari berbagai organisasi penentang penjajahdatang mencarinya untuk mengajak berunding atau bertukar pikiran.
Oleh sebab itu, setelah sang petani mendengar kalau Nyo Yan ada urusan yang ingin dibicarakan sendiri dengan Beng Goan-cau, dia jadi kurang leluasa untuk bertanya lebih lanjut "Jikalau memang ada urusan penting, sekarang juga kuajak Lote mencarinya,"
Kata petani itu.
"harap tunggu sebentar, akan kusiapkan lentera dulu."
Nyo Yan tidak mengira kalau urusan dapat berkembang selancar ini, diam-diam ia merasa kegirangan, sudah barang tentu di luarnya dia mesti mengutarakan beberapa patah kata sungkan.
‘Terima kasih banyak atas bantuan empek tua, cuma sekarang telah malam, merepotkan kau orang tua lagi, aku sungguh merasa tak enak hati."
"Tak usah sungkan-sungkan, tempat tinggal komandan Beng Goan-cau dari sini tidak jauh, tak berapa lama kita akan sampai di sana. Cuma usiaku sudah lanjut, mataku kurang tajam, coba kalau kejadian ini berlangsung beberapa tahun berselang, aku dapat menempuh perjalanan di tengah kegelapan malam."
Sembari bergumam, dia mencari lenteranya, namun lentera yang dicari tak kunjung ditemukan. Lewat beberapa saat kemudian, dia seperti baru teringat sesuatu, ujarnya kemudian.
"Coba kau lihat, betapa pikunnya aku, dua hari berselang keponakanku bersantap malam di sini, pulangnya gelap karena tak berbulan, tidak membawa lentera lagi, ditambah baru saja hujan berhenti, karena khawatir ia terpe-Jeset di jalan, lentera tersebut telah kupinjamkan kepadanya dengan janji akan dikembalikan bila datang lagikemari. Aah… benar, hampir saja aku lupa dengan kejadian ini, tapi tak apalah, akan kubuatkan sebuah suluh saja!"
Waktu itu, pertama, Nyo Yan habis sabarnya; kedua, ia tak tahu bagaimana harus turun tangan untuk membunuh Beng Goan-cau.
Bila ingin membunuhnya secara menyergap, paling baik jika tiada orang yang menemaninya, maka setelah berpikir sejenak dia berkata.
"Kalau memang tempat tinggal komandan Beng hanya di sekitar sini, biar aku ke sana seorang diri. Empek tua, tolong berilah petunjuk kepadaku bagaimana caranya ke sana. Kebetulan rembulan bersinar cerah malam ini, lagi pula aku pun sudah terbiasa berjalan di tengah kegelapan, tak perlu lampu lentera lagi."
Petani itu memang orang jujur, setelah mendengar perkataan Nyo Yan, dia berkata.
"Baiklah!
Aku memang agak pelan waktu berjalan, bila kau ada urusan penting, memang seharusnya berangkat lebih dulu daripada urusan menjadi terbengkalai.
Silakan saja berjalan menuju ke tikungan bukit sebelah depan sana, bila kau temukan sebuah gedung, nah di situlah komandan Beng berdiam.*1 Ketika Nyo Yan menitipkan kudanya di rumah petani itu, sang petani kembali berkata.
"Jangan khawatir, aku akan merawat kuda tungganganmu itu. Aah, betul. Ada satu hal hampir saja lupa kuberitahukan kepadamu."
"Soal apa?"
"Sebenarnya komandan Beng tidak mempunyai pengawal, tapi sejak awal tahun ini ada beberapa orang saudara dari laskar rakyat yang tidak bertempat tinggal menumpang hidup pada komandan Beng. Oleh karena itu komandan Beng memaksa untuk membangun dua bilik lagi."
"Empek tua, ringkas saja ceritamu!"
Sela Nyo Yan sambil tertawa."Aah, benar, benar, aku lupa kalau kau ada urusan penting,"
Seru petani itu seperti baru sadar.
"Aaai… watak usil mulutku memang tak bisa diubah. Baiklah, ringkasnya meski komandan Beng tidak mempunyai pengawal, namun beberapa orang saudara tersebut telah menjadi pengawalnya tanpa diminta. Jika nanti kau mengetuk pintu di tengah malam buta dan ada orang bertanya kepadamu dari mana mengetahui tempat itu, maka jawab saja aku Pau -lohan yang memberitahukan. Kalau tidak, bila sampai berjumpa dengan satu di antaranya yang berwatak berangasan, mungkin sedikit kesulitan bakal kau jumpai."
"Aku sudah tahu, banyak terima kasih…."
Buru-buru Nyo Yan menukas.
Sepeninggalnya dari rumah petani itu, betul juga, tak selang sesu-lutan setengah batang hio kemudian ia sudah tiba di tikungan bukit, di bawah sinar rembulan tampak sebuah gedung berdiri dengan megahnya di sana.
Dengan jantung berdebar keras Nyo Yan segera berpikir.
"Sekarang kentongan ketiga belum tiba, lebih baik aku menunggu sampai tibanya tengah malam saja sebelum mela-kukan pembunuhan. Tapi… konon Beng Goan-cau termashur sebagai golok kilat nomor wahid di dunia ini, bukan pekerjaan yang gampang bagiku untuk membinasakannya. Tapi kalau harus menggunakan akal muslihat… soal ini… soal ini… ehmm, cara ini sudah jelas bukan cara seorang hohan."
Belum habis dia berpikir, mendadak ada orang membentak nyaring.
"Sobat dari manakah di-sini?"
Segera anak muda itu merasa mengenali suara ini, sewaktu diamati ternyata dia adalah Siau Hok nian.Untung saja Siau Hok-nian tak kenal dengannya. Sambil memaraukan suaranya, Nyo Yan berkata.
"Aku ada urusan penting hendak kusampaikan kepada Beng tayhiap. Pau lohan yang memberitahukan tempat ini kepadaku."
"Ada urusan apa?"
Kembali Nyo Yan mengulangi kata-katanya seperti apa yang pernah diucapkan kepada petani tadi. Siau Hok-nian berseru tertahan, dia tampak seperti keheranan. Kembali Nyo Yan berkata.
"Bukan aku tak percaya padamu, berhubung masalah ini penting artinya, dan lagi atas pesan sahabatku, terpaksa aku harus bicara langsung dengan Beng tayhiap."
"Aku tidak minta kepadamu untuk menyampaikan kepadaku, cuma ada satu hal yang perlu kutanyakan dulu, bila kau enggan menjawab, aku pun tak akan memaksa."
"Silakan bertanya."
"Berapa besar usia sahabatmu she Huan itu?"
"Sahabat she Huan"
Yang dimaksudkan Nyo Yan tentu saja bukan berdasarkan karangan saja. Dia teringat akan Huan Kui, maka diputuskannya untuk menganggap dia sebagai "sahabat she Huan"
Tersebut Ia tahu Siau Hok-nian kenal dengan Huan Kui, maka dia menganggap paling baik kalau bisa membuatnya tahu kalau sobatnya adalah Huan Kui.
Untung saja dia hanya menanyakan soal usia hingga tak perlu baginya untuk mengarang cerita lain.
"Aah, peristiwa di kota Po-teng tak mungkin secepat ini sudah tersiar sampai di sini,"
Demikian dia berpikir. Maka ujarnya kemudian.
"Aku tidak bertanya berapa usianya, mungkin belum sampai tigapuluh tahun."
Siau Hok-nian segera menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Baik, ikutilah aku!"
Katanya kemudian.
Kini, usahanya untuk melakukan pembunuhan secara menggelap jelas tak dapat terwujud lagi.
Sambil berjalan di belakang orang, Nyo Yan mulai memutar otak lagi mencari jalan keluar.
Dia merasa perlu untuk segera mengambil keputusan, dengan cara apakah dia harus membunuh Beng Goan-cau.
Di dalam kalutnya pikiran tanpa terasa dia merasa seakan-akan bayangan Leng Ping-ji muncul kembali.
Setelah menghela napas panjang kembali dia berpikir di hatinya.
"Beng Goan-cau merupakan orang yang paling dihormati olehnya, bila kubunuh orang itu pasti cnci Leng tak akan memaafkan diriku. Tapi bila tidak kubunuh, bagaimana mungkin aku dapat menebus aib dan rasa malu dari keluargaku?"
Rasa cinta dan benci bercampur aduk menjadi satu, untuk beberapa saat dia tak tahu bagaimana harus berbuat? Akhirnya sambil menggigit bibir dia berpikir kembali.
"Daripada aku mesti melanjutkan sisa hidupku di dalam penderitaan dan kesengsaraan, lebih baik mati dalam pertem-puran melawan Beng Goan-cau! Aku harus membeberkan seluruh dosa dan kesalahan Beng Goan-cau, lalu menantangnya secara jantan."
Kemudian ia berpikir lebih jauh.
"Walaupun dengan cara ini aku bisa menganggap diriku sebagai hohan namun akhir dari pertarungan tersebut kebanyakan hanyalah kema-banku di ujang goloknya, dia tak nanti akan tewas di ujung pedangku. Gagal membunuh musuh, sebaliknya diriku malah terbunuh, apakah aku rela membiarkan semuanya ini terjadi? Apalagi aku telah menyanggupi permintaan ayah untuk memenggal kepala Beng Goan-cau, bila aku gagal melaksanakan tugas ini, mati bagiku soal kecil, tapi yang pasti ayah pun akan mati dengan mata tak meram di kemudian hari!"
Bila pertentangan batin mulai timbul, biasanya watak jelek seseorang pun akan terlihat Kembali bocah muda itu berpikir.
"Orang bilang, manusia berjiwa sempit bukan kuncu, lelaki yang tak keji bukan lelaki sejati. Beng Goan-cau menipuku agar menjadi anaknya, mengapa aku tidak berlagak saakan-akan tidak mengetahui asal-usulku sendiri kemudian mencari kesempatan baik untuk membunuhnya?"
Kemudian ia berpikir lebih jauh.
"Namun Siau Hok-nian sudah mengetahui kalau aku telah mengetahui asal-usulku, belum tentu siasatku ini dapat dilaksanakan secara sempurna.
‘Tapi untung saja Siau Hok-nian masih belum mengetahui asal-usulku sekarang, sebentar biar kumohon kepadanya agar dapat menghadap Beng Goan-cau seorang diri, dengan begitu akan mempermudah usahaku untuk turun tangan.
"Enci Leng pernah bilang, rasa cinta dan sayang Beng Goan-cau terhadapku jauh lebih dalam daripada terhadap putra kandungnya sendiri, Beng Hoa; meski aku tak tahu berapa bagian kebenaran perkataan ini, sudah pasti hal tersebut karena Beng Goan-cau merasa menyesal terhadap ibuku yang telah tiada, bisa jadi tujuh bagian benar demikian."
Sekalipun demikian, meski dia telah menaruh curiga bahwa aku telah mengetahui rahasia asal-usulku, asal kuungkapkan rasa sesalku di hadapannya bisa jadi dia akan tetap menganggapku sebagai putranya.
"Bila aku berhasil membunuhnya, saat itu juga aku akan bunuh diri, dengan begitu aku baru bisa merasa lega terhadap ayah, terhadap enci Leng dan dapat pula kucuci bersih aib yang menimpaku selama ini, menganggap musuh sebagai ayah. Benar, aku harus berbuat demikian!"
Tapi, benarkah cara yang ditempuh olehnya itu "betul"? "
Bila enci Leng mengetahui kalau aku menggunakan cara seperti ini, bukankah pandangannya terhadapku akan berubah?
Bukankah aku akan dianggap sebagai manusia ren-dah yang tak tahu malu dan terkutuk?
Misalnya tiada orang yang tahu perbuatanku ini, paling tidak aku sendiri tahu kalau cara ini salah.
Bila bunuh diri setelah menjadi siaujin, roh yang terlepas dari raga pun akan tetap diliputi perasaan aib dan malu!"
Di dalam perjalanan yang singkat, pelbagai ingatan telah berkecamuk di dalam benaknya.
Tanpa terasa ia telah sampai di depan rumah keluarga Beng.
Pintu gerbang terbentang lebar, ada orang muncul untuk menyambut kedatangan mereka.
Ketika menyaksikan Siau Hok-nian datang bersama seorang pemuda asing, orang itu tampak agak tertegun, segera tegurnya.
"Siau toako, kami sedang menunggumu, saudara ini adalah…."
"Dia pun ingin berjumpa dengan Beng tayhiap."
"Ooh, seorang lagi.."
Bergumam sampai di situ seakan-akan takut kalau sampai membocorkan suatu rahasia, tiba-tiba saja dia membungkam Dari pembicaraan kedua orang itu, Nyo Yan baru tahu kalau Siau Hok-nian tidak berdiam bersama-sama Beng Goan-cau.
Tampaknya berhubung ada sesuatu persoalan maka Beng Goan-cau sengaja mengundang kehadiranyadi sana Orang itu mengajak Nyo Yan memasuki sebuah bilik, kemudian berkata.
"Aku she Hong, dan kau?"
"Aku she Im!"
Walaupun sejak berusia satu tahun dia sudah ditinggal mati ibunya sehingga terhadap ibunya boleh dibilang tiada kesan apa-apa, namun setelah tahu kalau orang-orang menghormati ibunya sebagai pendekar wanita, ia selalu merasa bangga pada ibunya.
Oleh sebab itulah setiap kali dia harus berbohong soal nama, tanpa berpikir panjang dia selalu menggunakan nama marga ibunya.
"Saudara Im, kedatanganmu sangat tidak kebetulan,"
Terdengar orang she Hong itu berkata.
"Malam ini Beng tayhiap ada urusan, mungkin sampai besok dia baru dapat berjumpa denganmu."
"Konon Beng tayhiap mempunyai kebiasaan tidur setelah jauh malam?"
"Benar, akan tetapi aku tidak tahu sampai kapan dia baru ada waktu luang. Kini sudah mendekati tengah malam, lebih baik kau tidur saja lebih dulu."
"Aku belum mengantuk, boleh bukan kutunggu dia di sini?"
"Baiklah, asal kau punya kesabaran untuk menunggu, silakan saja menunggu. Komandan Siau, kau…."
"Aku akan masuk untuk melihat keadaan, akan kulihat bagaimana tindakan Beng tayhiap terhadap persoalan itu, harap kau berada di sini menemani tamu."
Begitu selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari Nyo Yan mengajak lelaki she Hong ini membicarakan beberapa patah kata merendah, mendadak dia sepati mendengar ada suara orang yang sedang berbincang-bincang di depan sana.
Nyo Yan segera menguap dan berlagak seakan-akan mengantuk, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Waktu itu, Siau Hok-nian sedang berbicara dengan seseorang di da-sebuah ruangan, berselisih jarak kamar dari situ.
Dengan tenaga dalam kelas saru yang dimiliki Nyo Yan, pendengarannya boleh dibilang amat sem-purna, jauh melebihi orang biasa.
Lamat-lamat dia dapat menangkap suara pembicaraan tersebut, tidak demikian dengan lelaki she Hong tersebut, pada hakikatnya dia seperti tidak mendengar apa-apa.
Terdengar Siau Hok-nian sedang bertanya.
"Di manakah pemuda itu sekarang?"
"Tak perlu kau jumpai dirinya."
Siau Hok-nian seperti amat terkejut, lalu bertanya lagi.
"Jadi Beng tayhiap telah pergi menjumpainya?"
Agaknya sambil berjalan mereka berbicara karena kata-kata selanjutnya tak bisa didengar lagi oleh Nyo Yan.
Menanti suara pembicaraan tersebut sudah semakin menjauh, Nyo Yan baru membuka kembali matanya serayaberseru.
"Maaf, aku telah mengantuk sehingga kurang adat tadi…"
"Saudara cilik, bila sudah tak tahan, tidurlah dahulu,"
Ujar lelaki she Hong itu sambil tertawa.
"Aku tak tahu ada urusan penting apakah yang hendak kau sampaikan kepada Beng tayhiap, tapi lebih baik disampaikan besok saja, belum terlambat bukan? Menurut pendapatku, malam ini besar kemungkinannya Beng tayhiap tak punya waktu luang untuk menjumpai dirimu."
"Apakah Beng tayhiap sedang menerima tamu sekarang?"
Lelaki she Hong itu tampak tertegun, kemudian serunya.
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Aku malah tahu kalau orang ini seperti juga aku, tak ingin menyampaikan persoalannya kepada kalian tapi bersikeras hendak disampaikan sendiri kepada Beng tayhiap, bukankah demikian?"
"Benar, kalau begitu kau sudah tahu siapakah orang tersebut?"
Nyo Yan berlagak sok rahasia, sahutnya cepat.
"Tentu saja aku tahu, coba kalau bukan karena bocah keparat itu, mungkin aku tak akan datang kemari!"
Ketika mendengar orang itu disebut sebagai bocah keparat, lelaki she Hong itu menjadi percaya beberapa bagian.
Perlu diketahui, bila orang itu adalah seorang kakek, bagaimanapun bencinya seseorang kepadanya tak mungkin si kakek akan dimaki sebagai "bocah keparat".
Dalam hati kecilnya orang she Hong itu mulai berpikir.
"Paling tidak dia telah benar menyebut usia orang tersebut. Kebetulan sekali kami memang sedang ingin mengetahui asal-usul orang itu, kebetulan kalau ada orang yang mengenali-nya."
Maka dia pun lantas berkata.
"Bila kau sudah tahu siapakah orang tersebut, bersediakah memberitahukan kepadaku?"
Padahal dari mana dia bisa tahu kalau Nyo Yan bisa mengetahui kalau tamu yang baru datang adalah seorang pemuda karena ia berhasil menyadap pembicaraan Siau Hok-nian dengan seseorang yang lain.
Mendapat pertanyaan tersebut, Nyo Yan segera berkata.
"Aku tahu kalian sedang mencurigai bocah keparat tersebut, bukankah demikian? Kalian curiga manusia macam apakah dirinya bukan?"
Dia sengaja tidak menjawab, melainkan balik bertanya lebih dulu kepada lawannya Lelaki she Hong itu kembali berkata.
"Tidak banyak yang kami ketahui tentang dia, oleh sebab itu tak dapat menduga asal-usulnya. Namun kami tak bisa tidak harus waspada dan meningkatkan penjagaan, terutama bila dia bermaksud jelek terhadap Beng tayhiap."
Sekalipun Nyo Yan masih kurang pengalaman, sesungguhnya dia adalah manusia cerdas.
Melihat dari keadaan dia sudah tahu kalau lelaki she Hong ini tidak berbicara dengan sejujurnya.
Bayangkan saja, dengan ilmu silat yang dimiliki Beng Goan-cau, seandainya yang hadir hanya seorang bocah muda biasa, mengapa Beng Goan-cau khawatir bila orang berniat jelek terhadap dirinya?
"Maaf, aku harus segera menghadap Beng tayhiap,"
Kata Nyo Yan kemudian.
"Seandainya Beng tayhiap telah berjumpadengan si bocah keparat itu sekarang, aku lebih-lebih harus segera menjumpai Beng tayhiap."
Melihat kecemasan yang menyelimuti anak muda tersebut, lelaki she Hong itu berpikir.
"Lebih baik aku percaya pada perkataannya daripada sama sekali tidak percaya."
Berpikir demikian, dia lantas berpikir.
"Tampaknya sewaktu datang tadi, bocah keparat itu sedang diundang masuk. Tidak kuketahui apakah Beng tayhiap telah berjumpa dengannya atau belum? Baiklah, lebih baik aku ditegur daripada terjadi hal-hal yang tak diinginkan."
Maka dia lantas berkata.
"Ayolah t aku ke dalam."
Ternyata Beng Goan-cau telah berpesan, selagi dia menerima tamu, siapa saja dilarang datang meng-ganggu.
"Tak usah, biar aku pergi sendiri,"
Seru Nyo Yan tiba-tiba.
Sehabis berkata, jari tangannya menyodok ke muka secepat kilat, dan menghajar jalan darah orang she ong itu.
Di dalam gedung milik Beng Goan-cau ini terdapat dua halaman yang amat besar, yakni halaman luar dan halaman dalam, semuanya rdapat tujuh delapan buah ruangan rpisah, jadi jauh lebih besar bila bandingkan dengan rumah petani biasa.
Sekalipun demikian, bukan berarti gedung itu megah dan mewah dengan pintu gerbang yang berlapis-lapis.
Nyo Yan yakin, tidak banyak kesulitan yang bakal dijumpai di dalam usahanya menemukan Beng Goan-cau.
Apalagi waktu itu sudah menjelang tengah malam, orang lain sudah tidur, sudah pasti tempat Beng Goan-cau menerima tamu diterangi oleh cahaya lentera.Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, bagaikan selembar daun kering, dia melejit ke udara dan menyusup ke dalam bangunan itu tanpa menim-bulkan sedikit suara pun.
Setelah melewati halaman kedua, dari kejauhan ia saksikan ada sebuah ruangan dalam keadaan terang benderang, dari balik daun jendela, lamat-lamat ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia.
Kebetulan pula di belakang ruangan tersebut terdapat sebatang pohon besar.
Nyo Yan segera melompat ke atas pohon, dari situ ia dapat menyaksikan pemandangan di dalam ruangan dengan jelas.
Apa yang kemudian terlihat, membuat Nyo Yan amat terperanjat Ternyata orang yang duduk di dalam ruangan, tepat menghadap ke arah jendela itu bukan Beng Goan-cau.
Nyo Yan belum pernah bersua dengan Beng Goan-cau, tapi orang yang berada dalam ruangan saat ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengannya.
Atau lebih tegasnya bila dikatakan bahwa dialah satu-satunya "sanak keluarga"
Nyo Yan yang mempunyai hubungan paling akrab.
Ayah dan Anak Sama-sama Gadungan Semenjak Nyo Yan belajar bicara, orang inilah yang menggantikan kedudukan sebagai seorang ayah, orang ini pula yang melindunginya sepenuh tenaga, merawat dengan penuh kasih sayang.
Bukan saja ia memikul tugas sebagai orangtua, bahkan tak segan-segan menyerempet bahaya untuk menyelamatkandirinya dari ancaman bahaya maut dan membawanya ke suatu tempat yang indah bagai nirwana.
Bukan hanya begitu saja, ia pun mencarikan guru yang pandai untuk mendidik ilmu silatnya.
Orang tersebut tak lain adalah ayah angkatnya Miau Tiang-hong.
Seandainya bukan Miau Tiang-hong yang mengajaknya ke bukit Thian-san, tak nanti ia kenal Leng Ping-ji, bahkan mungkin tiada Nyo Yan seperti hari ini.
Benar, mungkin dia merasa lebih akrab dengan Leng Ping-ji, namun hal ini terbatas pada semacam perasaan belaka Walaupun sejak kecil dia membahasakan Leng Ping-ji sebagai kakak dan adik, toh mereka bukan saudara sekandung.
Sedangkan Miau Tiang-hong bisa menjadi ayah angkatnya, hal ini pun disebabkan pesan dari ibunya menjelang ajal.
Sebelum dia mengetahui asal-usul dirinya yang sesungguhnya, ia selalu menganggap Miau Tiang-hong sebagai ayah kandungnya sendiri.
Dan kini walaupun ia sudah mengetahui asal-usul yang sesungguhnya, dia pun telah bersua muka dengan ayah kandung sendiri, namun dalam hati kecilnya kedudukan ayah kandungnya masih jauh dibandingkan kedudukan ayah angkatnya.
Bahkan pada hakikatnya tak bisa dibandingkan sama sekali.
Semenjak ditipu oleh Nyo Bok, bisa jadi dalam hati kecilnya muncul perasaan kasihan terhadap ayah kandungnya itu, tapi ia tak pernah memiliki perasaan hormat sebagai seorang anak terhadap ayah.Kebalikan dari rasa hormat, ayah kandungnya hanya menimbulkan perasaan malu dan rendah diri saja.
Oleh sebab itu, kendatipun ia rela mewakili ayahnya untuk membunuh musuh besarnya itu dengan tujuan "menyelamatkan"
Ayahnya, tapi sejak pertemuan pertama hingga kini ia belum pernah memanggilnya dengan sebutan "ayah".
Sedangkan perasaannya terhadap ayah angkatnya ini, hanya bisa dibandingkan dengan kedua orang gurunya, meski masih selisih setingkat.
Teng Keng-thian telah meninggal, jadi tak usah dibicarakan, terhadap yaya-nya dia merasa banyak berhutang budi, kasih sayang dan hormatnya tidak berada di bawah kasih sayang dan hormatnya terhadap ayah angkatnya, cuma perjum-paannya dengan yaya-nya karena jodoh, berbeda sekali dengan Miau Tiang-hong yang menerimanya secara langsung dari tangan ibu kandungnya.
Dia paling menghormati ibunya, maka dalam pandangannya Miau Tiang-hong bukan cuma ayah angkat, tapi pertalian yang menghubungkan dengan ibunya yang telah tiada.
Perasaan semacam ini merupakan semacam perasaan yang amat kacau, dan cuma bocah yang cepat matang semacam dia yang bisa merasakannya.
Dari Li Wu-si dia mendengar Miau Tiang-hong telah kembali ke bukit Thian-san dan bersiap-siap hendak mencarinya, namun ia tak menyangka bakal bersua dengannya di sini.
Kejadian tersebut benar-benar di luar dugaannya.
Baca Juga: Elang Pemburu 4
Baca Juga: Kedele Maut 1