Eps 9 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
"Tujuannya agar kau bisa mewakilinya untuk menyampaikan hal-hal yang tak leluasa baginya untuk mengutarakannya sendiri?"
"Bukan hanya begitu. Aku toh sudah mengatakannya kepadamu, aku pun mempunyai jalan pemikiran yang sama dengannya. Aku sudah tak ingin menjual nyawa untuk sri baginda lagi. Dia menyuruh aku datang kemari, tujuannya tak lain agar aku pun turut membuat pahala. Oleh sebab itu sewaktu aku sengaja membocorkan rahasianya itu, aku pun menambah minyak tambah bumbu di sana sini untuk menyatakan kesetiaanku terhadap sri baginda dan menyiarkan pula kalau kami sedang memperalat kau untuk membunuh Beng Goan-cau. Padahal kau sendiri pun tahu, apa yang kukatakan itu sesungguhnya cuma bohong belaka, tapi kamiharus mempergunakan kata ‘memperalat’ tersebut, karena kami ingin meminjam kekuatanmu itu untuk membantu kami melepaskan diri dari lautan kesengsaraan. Kami sama sekali tidak bermaksud untuk ‘memperalat’ kau untuk naik pangkat dan menjadi kaya."
Dia menduga kalau Nyo Yan sudah menyadap pembicaraannya dengan Im tiong-siang-sat, maka sebelum Nyo Yan menegur, dia berlagak seakan-akan berbicara blak-blakan dan memberi penjelasan terlebih dahulu.
Diam-diam Nyo Yan tertawa geli, pikirnya.
"Bangsat ini mengira aku cuma seorang bocah berusia tiga tahun yang gampang ditipu, huuh, memangnya obrolannya itu bisa membuatku percaya? Hmm! Kau memang seekor rase tua, siapa tahu ayahku pun ikut kau tipu habis-habisan, sebentar aku harus memberi kenikmatan untuk dirimu."
Cuma saja, dia hanya tidak percaya kepada Phang Tay-yu sedang terhadap ayahnya, boleh dibilang dia hanya memikirkan dari sudut "kebaikan"nya saja, sedikit banyak ia masih menaruh kepercayaan terhadapnya.
"Siheng, apa yang sedang kau pikirkan? Apakah tidak percaya dengan ucapanku?"
Seru Phang Tay-yu lagi.
"Percaya, percaya, siapa bilang aku tidak percaya dengan perkataan sahabat ayahku? Cuma saja aku percaya kepadamu, apakah kau pun percaya kepadaku?"
"Hiantit, apa maksudmu berkata demikian?"
Dari sebutan "siheng"
Kini ia berganti menyebut dengan sebutan "hiantit"
Atau keponakan, agaknya dia mencoba untuk mempererat hubungan di antara mereka.‘Tidak apa-apa,"
Jawab Nyo Yan.
"Aku cuma berharap agar kau bisa berbicara sejujurnya denganku.* "
Ooh, tentu saja! Masa aku akan membohongi putra sahabat karibku? Hiantit, apa yang ingin kau ketahui? "
"Ada urusan apa kau mengajakku kemari? Tentunya bukan cuma ingin menyampaikan suara hati ayahku kepada diriku saja bukan?"
"Terus terang saja kukatakan, kedatangan kami ke kota Tio-gi kali ini adalah untuk menghadapi seorang siluman perempuan kecil she Liong…!"
Nyo Yan sudah pernah memeriksa Im-tiong-siang-sat tentang masalah yang menyangkut "siluman perempuan kecil"
Itu, Phang Tay-yu juga sudah menduga kalau dia mengetahui akan hal ini, maka pesoalan itu tidak dirahasiakan lagi, sembari berkata secara diam-diam ia mencoba untuk memperhatikan bagaimanakah reaksinya.
Tampak Nyo Yan berkata dengan suara hambar.
"Apakah kalian takut tak mampu menghadapi siluman perempuan kecil, maka sekarang minta bantuanku?"
"Bukan, bukan begitu! Kekuatan kami sudah lebih dari cukup, kecuali dua bersaudara Lau dan Im-tiong-siang-sat, masih ada lagi banyak sekali jago-jago persilatan yang cukup temam&t misalnya susiok-mu Li Wu-si adalah satu di antaranya* Kendatipun siluman kecil itu merupakan manusia berkepala tiga berlengan enam pun, kami masih sanggup un-tuk menghadapinya."
"Lantas karena urusan apa kau mengundangku keluar?"
"Aku hanya ingin menganjurkan kepada hiann’t agar secepatnya pergi meninggalkan tempat ini, daripada mendapat banyak kesulitan yang tak diinginkan. Kini susiok-mu telah bertarung melawanmu, dia pasti tahu kehadiranmu di sini."
"Sebenarnya, besok aku akan pergi dari sini, tapi sekarang aku justru tak akan pergi lagi dari sini."
Phang Tay-yu memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba sambil senyum-senyum ia bertanya.
"Hiantit, apakah siluman perempuan kecil she Liong ini adalah sahabatmu?"
"Kalau benar kenapa? Kalau bukan kenapa?"
"Seandainya bukan, kami bisa menghadapinya dengan segala cara dan kemampuan yang kami miliki, seandainya benar, ehmm…."
"Kenapa?"
Seru Nyo Yan cepat Rasa khawatirnya terhadap keselamatan "siluman perempuan kecil"
Pun segera tercermin di atas wajahnya.
"Seandainya benar, tentu saja lain ceritanya,"
Pelan-pelan Phang Tay-yu menjawab.
"Bagaimana lain ceritanya? Apakah lantaran hubunganku dengannya, maka kalian akan melepaskannya pergi?"
"Permintaan masai sukar dibatalkan dengan begitu saja, apalagi siluman perempuan kecil itu sudah menyalahi banyak orang. Sekalipun aku pribadi bersedia untuk melepaskan dia, toh aku tak bisa mengambil keputusan untuk memaksa yang lain pun berbuat demikian. Cuma aku masih mempunyai akal untuk membantunya, aku dapat memberitahukan kepadanya lebih dulu, agar dia menyingkir ke tempat lain."
"Benarkah kau bersedia melakukan hal tersebut untukku?"
Jengek Nyo Yan cepat.
"Andaikata ia benar-benar adalah sahabat hiantit, sekalipun bahayanya jauh lebih besar pun aku tetap bersedia untuk melakukannya bagimu."
Nyo Yan tahu kalau orang ini berbicara lain di mulut lain di hati, tujuan yang sebenarnya tak lain adalah ingin menipunya agar cepat-cepat meninggalkan tempat ini.
Tapi dia pun tidak membongkar rahasia orang, sedangkan terhadap pertanyaan Phang Tay-yu yang menyelidiki nada pembicaraannya itu, dia pun tidak menjawab "ya"
Atau "tidak". Setelah termenung sejenak, dia malah bertanya kepada Phang Tay-yu.
"Apakah siluman perempuan kecil she Liong pernah menyalahi dirimu..;?" ‘Tidak,"
Jawab Phang Tay-yu cepat.
"Menurut apa yang kuketahui,"
Sambung Nyo Yan lebih jauh.
"Im-tiong-siang-sat juga tak pernah bertemu d angan siluman perempuan kecil itu, mengapa kalian harus bekerja sama untuk menghadapi dia?" ‘Tentang soal ini… ehnunm, tentang soal ini..,"
"Jangan lupa, kau telah berjanji akan menjawab dengan sejujurnya semua pertanyaanku,"
Nyo Yan memperingatkan dengan suara dingin. Phang Tay-yu termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru menjawab.
"Sebenarnya hal ini tak boleh kuungkapkan kepada orang luar, tapi setelah hiantit menanyakan persoalan ini, mau tak mau aku harusmenjawabnya juga, terus terang saja, aku datang untuk melaksanakan perintah."
"Melaksanakan perintah siapa?"
"Perintah dari congkoan pengawal kaisar."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, ia segera memperlihatkan sikap seolah-olah terpaksa harus menjawab.
"Apakah siluman perempuan kecil itu telah melakukan perbuatan yang menentang pemerintah sehingga dianggap sebagai buronan?"
Sementara dalam hati kecilnya berpikir.
"Liong Leng-cu pernah, membicarakan soal riwayat hidupnya denganku, sejak kecil dia sudah mengikuti ibunya menyingkir ke utara, belakangan ini baru balik kembali ke daratan Tionggoan. Se-kalipun dia suka mempermainkan orang-orang kenamaan dari dunia persilatan, rasanya tidak sampai melakukan perbuatan yang menentang pemerintah, masa dia jadi buronan pemerintah penjajah?"
Tapi entah mengapa, dia justru amat berharap bisa mendengar kata "benar"
Dari mulut Phang Tay-yu. Sayang sekali, apa yang menjadi kenyataan justru merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan, Phang Tay-yu segera tartawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh…hiantit menilai dia kelewat tinggi, perempuan itu masih belum pantas disebut sebagai buronan pemerintah. Kalau dibilang berkhianat terhadap pemerintah kerajaan, maka Li Wu-si susiok-mu itu jauh lebih besar dosanya daripada dia, tapi buktinya susiok-mu toh belum berhak dinamakan buronan pemerintah kerajaan?"
"Lantas apa sebabnya congkoan pengawal kaisar menurunkan perintah untuk membekuknya?"
"Soal ini aku tak jelas. Aku tak lebih hanya seorang pengawal kelas dua, aku hanya tahu melaksanakan perintahnya, masa aku berani bertanya kepada congkoan, mengapa ia memerintahkan demikian?"
"Apakah kau yang mengundang Im-tiong-siang-sat dan dua bersaudara Lau sekalian?"
"Bukan!"
"Lantas kenapa mereka datang kemari?"
Agaknya Phang Tay-yu merasa jemu untuk menjawab persoalan ini, katanya kemudian dengan hambar.
"Kami berkumpul hanya disebabkan tujuan kami sama. Menyelidiki rahasia orang lain merupakan pantangan yang terbesar bagi umat persilatan, oleh sebab itu siapa pun merasa sungkan untuk menyelidiki rahasia orang lain."
Tiba-tiba Nyo Yan tertawa dingin, kemudian jengeknya.
"Sayang sekali aku justru seorang manusia yang tak tahu diri, aku justru hendak menyelidiki persoalan ini."
Sambil tertawa dingin dia segera mencengkeram tangan Phang Tay-yu, setelah itu ujarnya lagi sambil tertawa.
"Ilmu Hun-kin-toan-kut-jiu (Ilmu Memisah Otot Mematahkan Tulang) yang kumiliki ini terhitung semacam ilmu mencengkeram, bagaimana menurut pendapatmu jika dibandingkan dengan ilmu Eng-jiau-kang yang kau miliki…?"
Phang Tay-yu yang kena dicengkeram sama sekali tak dapat berkutik, bahkan seluruh persendian tulangnya terasa amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum.
Sebagai seorang jago persilatan yang berilmu, dengan cepat dia sadar kalau apa yang diucapkan Nyo Yan memang tepat sekali.Ilmu Memisah Otot Mematahkan Tulang yang digunakannya belum menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, kalau tidak, niscaya seluruh persendian tulangnya akan retak dan patah menjadi beberapa bagian.
Dengan perasaan terkesiap, buru-buru Phang Tay-yu berseru.
"Hiantit, jangan bergurau dengan aku, ilmu silat yang hiantit miliki tentu saja jauh lebih hebat daripada kepandaianku!"
"Siapa yang bergurau dengan kau?"
Jengek Nyo Yan dingin.
"Kau telah berjanji akan berbicara sejujurnya kepadaku, maka aku pun bersikap sungguh-sungguh pula terhadap dirimu."
"Tapi semua yang kukatakan adalah ucapan yang sesungguhnya,"
Teriak Phang Tay-yu. Nyo Yan tertawa dingin.
"Heeehh… heeehh… heeehh… belum tentu begitu bukan? Menurut pendapatku, sekalipun apa yang kau katakan tidak seluruhnya bohong, paling tidak ada juga yang tidak jujur."
"Tidak, tidak…."
Teriak Phang Tay-yu cemas.
"Kau tak usah menyangkal kelewat cepat, ada satu hal yang harus kuberitahukan kepadamu lebih dulu."
"Silakan hiantit utarakan!"
Buru-buru Phang Tay-yu berseru. Mendadak Nyo Yan melotot besar, lalu membentak.
"Siapa yang hiantit-mu?"
Phang Tay-yu semakin terkejut lagi, segera pikirnya.
"Aduh celaka mengapa dia tidak mengakui aku sebagai empek-nya lagi?"
Waktu itu Nyo Yan sedang menggencet tangannya dengan tenaga hingga dia merasakan kesakitan selengah mati, tentu saja ia tak berani banyak berbicara. Maka buru-buru teriaknya.
"Baik, baik, sebenarnya aku me-mang tak pantas untuk meninggikan kedudukan sendiri. Silakan Nyo siauhiap utarakan."
Pelan-pelan Nyo Yan mengen-dorkan cengkeramannya, lalu berkata.
"Aku harus memberitahukan kepadamu lebih dahulu, aku paling benci kalau ada orang yang membohongi aku Tahukah kau caraku menghukum orang-orang yang telah membohongi diriku?"
"Bila siauhiap tidak memberitahukan kepada kami, bagaimana mungkin aku bisa tahu?"
"Kalau begitu dengarkanlah baik-baik, akan kuberitahukan kepadamu urutannya dari yang ringan sampai yang berat Pertama adalah kutempeleng mukanya beberapa kali, kedua kupotong lidahnya, ketiga kuremukkan tulang pi-pa-kut-nya, yang paling berat adalah kujaga! tubuhnya untuk makan. Nah, kau suka yang mana?"
Phang Tay-yu menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru serunya.
"Semuanya tidak kusukai. Nyo siauhiap, apa yang ingin kau ketahui katakan saja, pasti akan kujawab, pasti akan kujawab!"
"Jawab dulu pertanyaan yang kuajukan tadi!"
Bentak Nyo Yan dengan suara keras.
"Kau bertanya apa sebabnya congkoan kami hendak menangkap siluman perempuan kecil itu? Tentang soal ini… tentang soal ini, tidak banyak yang kuketahui."
Kali ini, dia tak berani mengatakan kalau dia sama sekali tidak mengetahui persoalan ini.
"Katakan saja menurut apa yang kau ketahui!"
"Terus terang saja, congkoan hanya memberitahuku bahwa dia telah mendapat titipan dari seorang sahabatnya."
"Siapakah sahabatnya itu?"
"Dia tidak memberitahukan ke-padaku, dari mana aku bisa mengetahuinya?"
"Aku rasa, di dunia saat ini tidak banyak, maka meskipun sudah kupikirkan pulang pergi, aku selalu merasakan tidak benar. Karenanya, aku pun tak berani sembarangan berbicara."
"Bagaimanakah menurut jalan pemikiranmu? Coba katakan kepadaku Sekalipun salah berbicara, aku pun tak akan menyalahkan dirimu."
"Seandainya ketua Thian-san-pay, atau hongtiang dari kuil Siau-lim-si, atau tianglo dari Bu-tong-pay dan manusia-manusia kenamaan lainnya yang minta bantuan kepadanya, sudah pasti dia akan memberi muka untuk mereka semua."
"Kentut!"
Bentak Nyo Yan keras-keras.
"masa orang-orang itu akan minta bantuan kepadanya? Bahkan Li Wu-si saja tak sudi bekerja sama dengan kawanan kuku garuda macam kalian, apalagi ketua dari Thian-san-pay? Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay adalah tulang punggung dunia persilatan di daratan Tionggoan, apalagi mereka? Masa orang-orang seperti ini juga minta bantuan congkoan-mu?"
"Benar, orang-orang itu memang merupakan musuh pemerintah, congkoan kami hanya berharap agar orang-orang itu jangan memusuhi kerajaan saja, hal ini sudah membuatnya puas, tentu saja congkoan pun tidak berharap mereka bisabersahabat dengannya. Tapi kecuali pihak Kaypang yang secara terang-terangan memusuhi kerajaan, pemimpin dari pelbagai partai dan perguruan lainnya lebih banyak bersikap netral, siapakah yang mempunyai kedudukan begitu besar sehingga dapat membuat congkoan kami memberi muka kepadanya?"
Nyo Yan bisa menangkap maksud dari perkataannya itu, namun tentu saja dia tak sudi mempercayainya begitu saja» M Dengan cepat Nyo Yan menggencet tangannya makin keras, lalu bentaknya keras-keras.
"Ayo cepat katakan, kau bersedia menjawab atan tidak?"
I Dengan wajah merengek mau menangis Phang Tay-yu segera berseru.
"Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana mungkin aku bisa menjawab?"
"Baik, kalau toh kau tidak bersedia untuk menjawab, selanjutnya kau pun tak usah mengucapkan perkataan apa pun,"
Kata Nyo Yan dengan suara dingin. Phang Tay-yu tertegun, kemudian ujarnya.
"Nyo siauhiap, kau… kau… apa maksudmu? Kau tidak begitu memahami___"
"Sederhana sekali, aku akan menghukummu dengan cara yang kedua, bila lidah sudah kupotong, maka selamanya kau pun tak usah berbicara lagi, bukankah demikian?"
Phang Tay-yu menjadi terperanjat sekali.
"Nyo siauhiap,"
Cepat teriaknya.
"aku adalah sahabat ayahmu, kau tak boleh bersikap demikian terhadap diriku!"
"Selamanya aku bekerja tanpa .menghubungkan antara yang satu dengan lainnya, boleh saja kalau kau ingin mengikat hubungan denganku, tapi hal ini hanya bisa dibicarakan setelah persoalan ini selesai. Tapi kenyataannya sekarang,beberapa pertanyaan yang kuajukan kau jawab semua dengan perkataan tak tahu, lantas apa gunanya kau mempunyai lidah lagi?"
Selesai berkata, dia lantas mencabut keluar pedangnya. Phang Tay-yu menjadi ketakutan setengah mati sehingga sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, buru-buru dia berteriak.
"Nyo siauhiap, tunggu dulu, aku.. aku teringat sekarang…."
"Siapa?"
Bentak Nyo Yan cepat.
"Ingat jangan kau sebut nama seseorang secara mengawur, hmmm, hmmm, kalau sampai kuketahui bahwa ucapanmu itu bohong, kau harus tahu, aku masih mempunyai hukuman yang jauh lebih berat lagi daripada memotong lidah."
"Nyo siauhiap, aku tak berani sembarangan berbicara,"
Kata Phang Tay-yu dengan suara gemetar.
"meski aku tidak tahu siapakah orang itu, tapi sahabatku tahu Asal kuberitahukan jejak ini kepadamu, apakah kau pun bersedia mengampuni akur "
Andaikata sahabatmu itu bersedia menjawab dengan sejujurnya, dalam persoalan ini boleh saja kuampuni dirimu."
"Aah, apakah masih ada urusan hdn7n seru Phang Tay-yu dengan perasaan terkejut "
Aku tidak ingin membohongi-mu agar mengaku, tentu saja persoalan yang ingin kuketahui bukan cuma persoalan ini saja.
Cuma bila kau tidak mau menjawab persoalan ini, maka lidahmu juga tak bisa dipertahankan lagi…."
"Bila di antara persoalan-persoalan itu ada yang tidak kuke-tahui?"
"Hal ini harus dibicarakan menurut keadaan. Bila jawaban yang kau berikan kepadaku dalam masalah tersebut cukup membuatku merasa puas, atau mungkin saja aku tidak akan mengajukan pertanyaan yang lain."
Phang Tay-yu segera berpikir.
"Bisa melewati satu pintu penjagaan, kulewati dulu, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan lidahku lebih dulu."
Berpikir demikian, dia lantas berkata.
"Baik, aku… aku akan memberitahukan nama dari kedua sahabatku ini kepadamu. Apabila kau ingin mengetahui masalah itu, mungkin mereka tahu jauh lebih banyak daripada apa yang kuketahui."
"Siapakah mereka?"
"Im-tiong-siang-sat."
Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak, Nyo Yan berkata lagi.
"Im-tiong-siang-sat tak lebih hanya manusia kelas dua dan kelas tiga, kau saja tidak tahu, bagaimana mungkin mereka bisa tahu?"
"Nyo siauhiap, kau tidak tahu, walaupun mereka tidak termasuk manusia yang bernama besar, tapi aku duga mereka cukup mengetahui persoalan yang sebenarnya."
"Persoalan apa?"
"Sejak aku menjadi pengawal istana, meskipun tidak putus sama sekali hubunganku dengan dunia persilatan, namun bagaimanapun juga persoalan tentang dunia persilatan sedikit terasa asing bagiku. Berbeda dengan Im-tiong-siang-sat, sekalipun ilmu silat yang dimiliki-nya tidak tinggi, tapi dengan kedudukan mereka, orang yang bisa mengundang kehadiran mereka pun harus merupakan manusia yang punya nama besar. Kebanyakan sahabat congkoan kami adalah orang itu. Konon orang itubertekad untuk menangkap siluman perempuan kecil itu sampai dapat, bisa diduga kalau dia adalah musuh besar dari siluman perempuan kecil itu. Bila kau melakukan penyelidikan dari mulut Im-tiong-siang-sat, bukankah semua persoalan akan selesai dengan sendirinya?"
Nyo Yan segera manggut-mang-gut.
"Ehm, ucapanmu itu memang masuk akal."
Buru-buru Phang Tay-yu berseru.
"Kalau begitu, Nyo siauhiap tidak usah bertanya kepadaku lagi bukan?"
"Betul, aku memang tak usah bertanya lagi kepadamu,"
Sahut Nyo Yan sambil tertawa. ‘Terima kasih banyak atas petunjukmu. Atas jasamu itu, aku pun sudah sepantasnya memberi kebaikan bagimu."
Phang Tay-yu menjadi kegirangan setengah mati, buru-buru katanya.
"Kebaikan tak berani kuminta, aku hanya berharap siauhiap sudi melepaskan diriku."
"Bukankah kau adalah sahabat karib ayahku?"
Phang Tay-yu mengira anak muda tersebut hendak minta maaf kepadanya, maka segera sahurnya.
"Aku adalah sahabat karib ayahmu, kita adalah orang sendiri masa aku akan minta kepada hiantit…"
Kembali dia memanggi 1 pemuda itu dengan sebutan "hiantit". Tapi belum habis dia berkata, Nyo Yan sudah menukas perkataannya yang belum selesai itu, katanya sambil senyum tak senyum.
"Ooh… jadi kau adalah sahabat karib ayahku? Kalau begitu kebaikan ini harus kuberikan juga kepadamu."
"Bila hiantit bersikeras hendak memberi, terpaksa aku pun menerima kebaikanmu itu"
"Tempo hari, sewaktu aku berjumpa dengan ayahku di kuil Hay-sin-bio, di depan patung kuil aku telah bersumpah, terhadap semua sahabat ayahku, aku tak boleh merugikan mereka, maka asal bertemu denganku, aku harus menghadiahkan cara keempat kepadanya! "
Phang Tay-yu menjadi tertegun, kemudian serunya tertahan.
"Apa itu cara keempat?"
"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, terhadap orang yang kubenci, selamanya kuhadiahkan cara keempat kepadanya, yakni memotong alat untuk bersantap!"
Phang Tay-yu menjadi ketakutan setengah mati sehingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya, buru-buru dia berteriak keras.
"Apa, kau… kau bilang benci…."
"Tepat sekali, aku paling benci dengan sahabat kuku garuda ayahku. Apalagi kau paling akrab dengannya…."
Mendengar itu, buru-buru Phang Tay-yu berseru.
"Kau sudah berjanji melepaskanku!"
"Aku pun membenci orang-orang yang membohongi aku,"
Kembali Nyo Yan berkata dengan suara dingin.
"Dua dosa yang menjadi satu sesungguhnya cukup untuk mencabut nyawamu, tapi memandang keterangan atas Im oong-siang-sat aku mengurangi satu hukuman, kau kuhadapi dengan cara yang ketiga saja."
Belum sampat Phang Tay-yu membayangkan apakah cara yang ketiga itu, Nyo Yan sudah mengerahkan tenaga dalamnya dan menggencet tulang pi-pa-kut-nya sampai hancur. Setelah itu, ujarnya sambil tertawa.
"Apakah kau sudah lupa? Cara yang ketiga adalah memusnahkan ilmu silatmu"
Phang Tay-yu mendengus tertahan lalu roboh tak sadarkan diri, pada hakikatnya dia sudah tak mendengar lagi keterangan dari Nyo Yan tersebut Mendadak terdengar ada dua orang sedang berteriak bersama.
"Phang toako, Pang toako!"
Ternyata yang datang adalah dua bersaudara Lau. Pemuda itu amat kecewa, pikirnya.
"Tidak heran kalau suaranya seperti pernah kukenal, aku mengira Im-tiong-siang-sat yang datang sendiri tanpa diundang.*’ Rupanya setelah Lok Kan-tang dilempar masuk ke dalam gentong air oleh Nyo Yan, kendatipun tidak sampai mati tenggelam, namun setelah menderita kerugian yang begitu besar, dia tidak berani menyelidiki persoalan tersebut lebih jauh.
Dua bersaudara Lau adalah orang yang datang ke kota Tio-gi bersama-sama Phang Tay-yu, begitu mendengar terjadinya peristiwa, tentu saja mereka lantas menduga kalau Li Wu-si yang sedang membuat suatu perhitungan dengan Phang Tay-yu.
Mereka tahu kalau ilmu silatnya masih bukan tandingan Li Wu-si maupun Lok Kan-tang, khawatir turut terseret dalam peristiwa itu, maka di saat Lok Kan tong sedang marah-marah besar, mereka segera melarikan diri dari situ.
Mereka sudah berjanji dengan rekan-rekannya bahwa besok akan mendaki bukit Ci-lian-san, maka mereka pun segera kabur menuju ke arah bukit Ci-lian-san.
Mereka berharap bisa berjumpa dengan rombongannya di atas bukit, bila demikian halnya maka dia pun tidak usah khawatir Li Wu-si akan menyusahkan dirinya lagi.Sungguh tak disangka bukan Li Wu-si dan Lok Kan-tang yang mengejarnya, di bawah kaki bukit dia justru telah bertemu dengan Nyo Yan.
Nyo Yan merasa kecewa sekali, tapi dia pun segera berpikir lebih lanjut.
"Dua bersaudara Lau seangkatan dengan Tan Khu-seng, dalam dunia persilatan terhitung manusia yang punya nama, tapi aneh, mengapa mereka pun menyusahkan Liong Leng-cu? Mengapa aku tidak menangkap mereka untuk diperiksa? Toh menangkap mereka atau menangkap Im-tiong-siang-sat sama saja?"
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata sambil menampilkan diri dari tempat persembunyian.
"Maaf, Phang toako kalian sudah roboh dan punah ilmu silatnya. Kini, aku minta kepada kalian berdua agar bertindak tanpa dipaksa lagi, seorang membawanya kembali ke kota Tio-gi untuk merawat lukanya, sedang yang lain tetap tinggal di sini!"
"Mau apa tinggal di sini? tanya lotoa Lau Hok-im cepat "
Tentu saja ada kegunaannya, kalau tidak, buat apa aku menyuruh kalian tinggal di sini? Sudah, tak usah banyak berbicara lagi! "
Loji Lau Hok-pi menjadi amat gusar, segera teriaknya.
"Bagus sekali, belum pernah kujumpai bocah keparat yang takabur seperti engkau. Kau hendak menahan salah seorang di antara kami sebagai tawanan untuk diperiksa?"
"Benar, ada sedikit persoalan ingin kutanyakan kepada kalian. Cuma, mau menjadi sahabatku atau mau menjadi tawananku, hal itu tergantung pada kalian sendiri."
Lau Hok-im tidak seberangasan adiknya, meski dia gusar sekali sesudah mendengar perkataan dari Nyo Yan itu, namun ia toh sempat tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… konon kau adalah adiknya Beng Hoa, entah hal ini benar atau tidak?"
Nyo Yan paling benci kalau ada orang menyinggung tentang kejelekan keluarganya, kontan saja sepasang matanya melotot besar.
"Kalau benar kenapa? Kalau bukan kenapa?" ‘Tahukah kau, kakakmu adalah keponakan murid kami? Sekalipun dia mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, belum tentu sikapnya begitu kurang ajar setelah bertemu kami."
Nyo Yan segera tertawa.
"Ooh, rupanya kalian menginginkan agar aku pun meniru cara Beng Hoa dengan menyebut sus t ok kepada kalian berdua? Tahukah kau, bagaimanakah sikapku terhadap seorang susiok? Ciok Thiang-hing, murid kepala dari keempat murid utama dari Thian-san-pay hitung-hitung masih susiok-ku j uga tapi aku telah memotong lidah anaknya, dan menghadapi dia sendiri sehingga harus berbaring selama tiga bulan di atas pembaringan. Tak mengapa jika kalian ingin mengikat hubungan denganku dan menjadi susiok-ku, tapi kau pun harus memikirkan dulu sampai jelas, bagaimanakah caraku untuk menghadapi kalian!"
Belum habis dia berkata, dua bersaudara Lau telah meloloskan senjatanya bersama-sama kemudian membentak nyaring.
"Bocah keparat, sekalipun kau tidak akan menghadapi kami, kami pun akan menghadapi dirimu!"
Senjata mereka adalah sepasang gelang Jit-gwat-siang-huan.Senjata gelang Jit-gwat-siang-huan merupakan sejenis senjata tajam yang sangat lihay, selain bisa dipakai untuk mengunci golok dan pedang, bisa pula dipakai untuk membacok atau membabat perge-Iangan tangan.
Ketika mereka menyaksikan Nyo Yan menyoren pedang, maka anggapan mereka asal keempat gelang itu digunakan bersama, entah Nyo Yan akan memakai pedang atau telapak tangan, anak muda itu tetap akan menderita kerugian.
Lau Hok-pi berwatak berangas-an, dia segera turun tangan melancarkan serangan-serangan mematikan.
Gelang Jit-huan yang berada di tangan kirinya menghantam ubun-ubun orang, sementara gelang Gwat-huan di tangan kanannya menyambar ke tengkuk orang, sebaliknya Lau Hok-im yang lebih licik, dengan gelang Jit-huan-nya meng-ancam pergelangan tangan kanan orang, sementara gelang Gwat-huan menghajar alat kelamin orang.
Empat gelang yang dilancarkan bersama segera menimbulkan suara gemerincingan nyaring.
Dengan cekatan Nyo Yan membalikkan badannya, kemudian dengan kelima jari tangannya seperti memetik harpa, dia menyentil pelan ke arah depan.
Seketika itu juga gelang Jit-huan dari Lau Hok-pi kena disentil sehingga mencelat balik dan saling membentur dengan gelang Gwat-huan yang berada di tangan lain.
Berhubung tenaga serangannya pada tangan kanan jauh lebih besar, maka begitu membentur gelang Gwat-huan, kontan saja senjata itu mencelat dan mengarah ke batok kepala sendiri.Untung saja tenaga serangannya sudah melemah sehingga kepalanya cuma bocor dan mengucurkan darah kental, coba kalau tidak, bisa jadi batok kepalanya sudah hancur berantakan.
Sementara itu, tahu-tahu Nyo Yan membalikkan badan dan mencengkeram ke arah Lau Hok-im.
"Suatu ancaman yang sangat bagus!"
Bentak Lau Hok-im dengan suara lantang. Sementara di dalam hati kecilnya dia berpikir.
"Jika kau berani berbuat demikian, bukankah tanganmu otomatis akan terjepit dalam gelangku?"
Siapa tahu Nyo Yan memang seorang manusia yang bernyali besar dan berkepandaian tinggi, ia benar-benar memasukkan telapak tangannya ke dalam gelang Jit-huan lawan.
Akan tetapi, sebelum Lau Hok-im sempat mematahkan tulang pergelangan tangannya, tahu-tahu gelang Jit-huan tersebut sudah berhasil dirampas, bahkan terbalik menyambar ke atas leher lawan.
Sedangkan gelang Gwat-huan-nya segera terjatuh ke tanah.
Begitu tubuhnya kena tersodok dan tahu-tahu seluruh tenaganya punah tak berbekas, tak ampun lagi badannya terjerembab di tanah.
Dengan begitu, dia segera kena ditawan oleh Nyo Yan dalam keadaan hidup-hidup.
Pengakuan dari Dua Saudara Lau"Jangan kau lukai kakakku,"
Bentak Lau Hok-pi dengan suara keras.
Ia segera menerjang ke muka secara nekat dan berusaha untuk memberikan pertolongan.
Nyo Yan segera melepaskan gelang emas yang melilit di leher Lau Hok-im dan melemparkannya ke depan, seketika itu juga gelang tersebut melilit lengan kanan Lau Hok-pi dekat tulang pi-pa-kut-nya, bahkan berputar terus tiada hentinya.
Lau Hok-pi menjadi sangat terkejut, pikirnya.
"Heran mengapa bajingan cilik ini pun pandai mem-pergunakaa jurus gelang, bahkan tampaknya jauh lebih lihay dari kepandaianku?"
Padahal Nyo Yan belum pernah mempelajari ilmu Jin-gwat-siang-huan, apa yang dilakukan tak lebih hanya meniru cara yang dipakai dua bersaudara tersebut Keunggulan Nyo Yan dari mereka adalah dalam hal tenaga, dalam lemparan tadi Nyo Yan telah mempergunakan tanaga dalam yang amat sempurna sehingga dari gelang emas itu timbul semacam kekuatan berputar yang amat kencang.
Atas dorongan tenaga yang kuat inilah gelang emas itu berputar kencang tiada hentinya memaksa tubuh Lau Hok-pi mau tak mau turut berputar untuk mengurangi tekanan yang timbul dari tenaga tersebut, coba kalau bukan demikian, mungkin tulang pi pa-kut-nya akan mengalami cedera yang berakibatkan retak dan hancurnya tulang itu.
Sambil tertawa, Nyo Yan segera berkata.
"Aku hanya berharap salah seorang di antara kalian memberikan pengakuan sedang yang lain boleh membawa Phang Tay-yu pulang ke kota. Sekarang, aku telah berhasil menangkap kakakmu, maka kau boleh pergi. Asai kakakmu bersedia untuk mengaku terus terang, aku pun tak akan mencelakai jiwanya"
Ucapan tersebut diutarakan terhadap Lau Hok-im.
Sementara itu Nyo Yan telah menotok jalan darahnya, mengempitnya di bawah ketiak dan dibawa naik ke atas bukit.
Sedangkan Lau Hok-pi masih saja berputar kencang seperti gas’mgan di tempat semula.
Nyo Yan lari masuk ke dalam hutan dan membaringkan Lau Hok-im ke atas tanah kemudian setelah membebaskan jalan darah bisunya, dia berkata.
"Aku rasa kau pasti sudah tahu mengapa aku mengundangmu kemari. Sekarang, aku hendak mulai bertanya kepadamu, dan kau harus menjawab dengan sejujurnya, jangan mencoba untuk berbohong!"
Lau Hok-im memelototkan matanya besar-besar dan mendelik ke arah Nyo Yan tanpa berkedip. Sambil tertawa Nyo Yan segera berkata lagi.
"Jangan marah, sudah kukatakan, asal kau bersedia menjawab maka aku akan melepaskan kau pergi. Pertanyaanku yang pertama, perselisihan apakah yang terjalin antara kalian dua bersaudara dengan nona Liong itu?"
Lau Hok-im diam membisu. Melihat orang itu membungkam, kembali Nyo Yan berkata.
"Seandai-nya kalian memang tidak mempunyai perselisihan apa-apa dengan nona Liong, berarti kalian mendapat perintah dari seseorang, siapakah orang itu? Ayo katakan!"
Lau Hok-im masih tetap membisu. Menyaksikan kebandelan orang, Nyo Yan menjadi naik darah, kembali dia membentak.
"Kau toh bukan orang bisu? Jika kau tetap membungkam terus, jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi."
"Cuuuh!"
Mendadak Lau Hok-im manyemprotkan ludahnya ke wajah Nyo Yan.Sudah tentu Nyo Yan tak membiarkan tubuhnya kena diludahi orang, tapi dia dibikin terkesiap juga oleh tindakan orang.
"Sebagai seorang lelaki sejati, lebih baik mati daripada dihina, kini aku orang shc Lau sudah terjatuh di tangan gembong iblis kecil seperti kau, aku sudah tahu kalau tak mungkin bisa hidup lagi, mau bunuh cepatlah dibunuh, tak usah banyak berbicara lagi!"
Umpat Lau Hok-im dengan amat gusarnya. Nyo Yan segera tertawa dingin.
"Heeehh… heeeehh… heeehh… kau maki aku sebagai gembong iblis kecil, sedang kau berkomplot dengan kuku garuda kerajaan penjajah, manusia macam apa pula dirimu itu? Baik, bila kau enggan menjawab, aku akan suruh kau mati tak bisa, hidup pun tak dapat!"
Lau Hok-im mengertak giginya kencang-kencang, mendadak ia berteriak keras.
"Aku sudah bertekad tak akan menerima penghinaanmu, sampai menjadi setan pun aku tak akan mengampuni kaul"
Begitu mendengar pembicaraannya agak mencurigakan, buru-buru dia menotok kembali jalan darahnya.
Ternyata Lau Hok-im bermaksud untuk memutuskan urat nadi sendiri, sebagai seorang jago persilatan, sudah barang tentu Nyo Yan dapat mengetahuinya dengan segera.
Oleh sebab itu buru-buru dia menotok jalan darahnya agar dia tak mampu berkutik.
Menyaksikan keteguhan hati orang yang sampai mati pun enggan menyerah, mau tak mau Nyo Yan merasa kagum juga, segera pikirnya.
"Orang ini jauh berbeda dengan Phang Tay-yu, walaupun dia bukan berasal dari golongan pendekar, tapi aku toh bukan berasal dari golongan pendekar juga?"
Pepatah bilang, watak yang sama bisa menimbulkan kesan yang berbeda, berhubung watak Lau Hok-im sangat sesuai dengan perasaan hatinya, maka anak muda tersebut malah kasihan untuk menyiksanya lebih jauh.
Akan tetapi, kalau dia diharuskan melepaskannya dengan begitu saja pun, dia merasa tak rela.
Sementara dia masih bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan, mendadak terdengar ada orang sedang berlarian naik ke atas bukit sambil berteriak-teriak.
Yang datang ternyata bukan lain adalah adik Lau Hok-im, yakni Lau Hok-pi.
Terdengar Lau Hok-pi berteriak dengan suara lantang.
"Nyo Yan, kau bajingan keparat bersembunyi di mana? Kalau punya nyali ayo keluar dan beradu jiwa denganku!"
Sambil tertawa terbahak-bahak Nyo Yan segera muncul dari tempat persembunyiannya, kemudian berkata.
"Haahh… haahh… haahh… sungguh mengagumkan. Sungguh mengagumkan!"
"Nyo Yan, kau tak usah mengejek aku. Betul aku memang tak mampu menandingi kau, tapi sekalipun tak mampu menandingi dirimu paling aku akan beradu jiwa denganmu."
Nyo Yan tertawa.
‘Tadi, justru karena aku tak ingin membunuhmu, maka kusuruh kau mengantar Phang Tay-yu pulang ke kota Tio-gi merawat lukanya, mengapa sih kau balik lagi kemari untuk mengantar kematian sendiri…?
"Dengan suara lantang Lau Hok-pi segera berteriak.
"Mati hidup Phang Tay-yu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diriku, sedang dia adalah kakakku!"
Menyaksikan hubungan persaudaraan mereka yang begitu akrab, diam-diam Nyo Yan merasa amat sedih.
"Kau a pakan kakakku?"
Bentak Lau Hok-pi lagi.
"Aku sama sekali tak mengapa-apakan dia. Sekarang dia berada di sini tanpa kekurangan mata, juga tidak kekurangan hidung…"
"Aku tidak percaya. Aduuuh… kau… apakah kau telah mencelakai dirinya?"
Rupanya karena teriak-teriakan-nya selama ini tidak menghasilkan suara jawaban dari kakaknya, dia mulai merasa gugup.
Nyo Yan segera meyenti Ikan jari tengahnya ke depan untuk membebaskan jalan darah Lau Hok-im.
Buru-buru Lau Hok-im berteriak keras.
"Adikku, kau jangan bersikap bodoh. Kedatanganmu hanya akan mengantar nyawa dengan percuma, sama sekali tidak membantu apa-apa. Cepat pergi dari sini.."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, untuk ketiga kalinya Nyo Yan telah menotok kembali jalan darahnya.
"Nah, sekarang kau sudah mendengar kakakmu berbicara bukan?"
Kata Nyo Yan kemudian.
"Aku tak lebih hanya menotok jalan darahnya, dan dia masih tetap hidup."
"Kami adalah dua bersaudara, kalau harus hidup, kami akan hidup bersama, kalau harus mati, kami pun akan mati bersama. Kalau aku disuruh pulang sendirian, jangan mimpi!"
"Bagus sekali, kalau begitu kau boleh maju untuk mengajak kakak-mu pulang."
"Maju ya maju, toh selembar nyawaku ini tak bisa dipertahankan lagi, apa yang harus kutakuti?"
Dia segera menyusul ke atas bukit sambil memutar sepasang senjata gelangnya, kemudian diserbunya Nyo Yan secara kalap.
Dengan cepat Nyo Yan mengibaskan ujang bajunya, segulung tenaga pukulan yang lunak segera menahan tubuhnya sehingga tak mampu untuk menerjang maju lebih ke depan.
Lau Hok-pi segera mundur beberapa langkah, kemudian serunya.
"Nyo Yan, bunuhlah aku."
Nyo Yan tertawa.
"Aku menyuruh kau mengajak pulang kakakmu, siapa bilang aku hendak membunuhmu?"
"Kau benar-benar mempersilakan aku mengajak kakakku pergi dari sini?"
"Lakukan saja dengan hati lega, jari tanganku tak bakal menyentuh tubuhmu!"
Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak, Lau Hok-pi menjadi nekad dan berjalan melalui sisi Nyo Yan yang memang tidak menghalanginya.
Akan tetapi baru saja dia hendak mendekati kakaknya, mendadak terasa muncul segulung tenaga besar yang mengisap tubuhnya* sehingga tanpa terasa dia mundursejauh enam tujuh langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya berhasil berdiri kembali dengan tegak.
Ternyata dari jarak sepuluh kaki lebih, Nyo Yan telah melakukan gerakan mencengkeram ke tengah udara dan mengisapnya mundur.
Inilah ilmu Liong-jiau-jiu (tangan cakar naga) ajaran dari kakek Liong Leng-cu, ketangguhannya sama sekali tidak berada di bawah ilmu Liong-siu-kang yang dipelajari Ki See-kiat.
Lau Hok-pi tidak sampai roboh terjengkang ke atas tanah pun terhitung sudah lumayan.
Lau Hok-pi berpaling, kemudian bentaknya.
"Hei, permainan setan apa yang sedang kau lakukan?" .
"Selama ini, jari tanganku toh tak pernah menyentuh tubuhmu, kalau kau sendiri yang tak mampu mendekati kakakmu, itu kan persoalanmu sendiri…."
Sambil mengertak gigi, sekali lagi Lau Hok-pi menerjang maju ke depan.
Kali ini Nyo Yan menambahi tenaganya menjadi dua bagian lebih besar, sewaktu tangannya melaku-kan gerakan mencengkeram di tengah udara, Lau Hok-pi segera terisap sehingga mundur sampai ke sisi tubuhnya.
Dengan cepat Nyo Yan membimbing tubuhnya dan berkata sambil tertawa lebar.
"Apakah kau ingin mencoba sekali lagi?"
Mendadak Lau Hok-pi menjatuhkan diri berlutut di hadapannya, kemudian berkata.
"Kumohan kepadamu sudilah kiranya kau habisi diriku dengan sekali tusukan pedang saja!"
Nyo Yan segera mengibaskan ujung bajunya menahan pinggang orang agar dia tak sampai berlutut di tanah, setelahitu katanya.
"Ayo bangun, bangun, kakakmu toh belum mati, mengapa kau sendiri malah kepingin cepat-cepat mati?"
Bagaikan ayam jago yang kalah bertarung saja, Lau Hok-pi menundukkan kepalanya dengan lemas.
"Aku tak mampu mengalahkan kau, sedangkan kakakku sudah kau bunuh, oleh sebab itu aku mohon kepadamu agar membunuh kami dua bersaudara bersama-sama, janganlah kau siksa lagi dirinya."
"Siapa bilang kalau aku hendak membunuhnya?"
Seru Nyo Yan dengan wajah tercengang.
"Kalau tidak, mengapa kau membekuknya?"
"Bukankah sejak tadi sudah kukatakan kepada kalian, aku tak lebih hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan saja kepadanya."
"Apakah dia menjawab?"
"Tidak, ia tidak bersedia menjawab!"
"Aku sudah tahu kalau dia tak bakal menjawab!"
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Nyo Yan, dengan cepat tanyanya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau dia tak akan menjawab?"
"Setelah menjawab juga mati, tidak menjawab pun mati. Mengapa harus bertekuk lutut kepada musuh?"
"Mengapa kau menganggap aku sebagai musuhmu?"
"Sekalipun kau bukan musuh kami, kakakmu adalah musuh kami. Masa kau tidak membantu kakakmu?"
Dia khawatir setelah mengucapkan hal itu maka dia akan disiksa oleh Nyo Yan atau kena disiksa, tapi tanpa disadari pun hal tersebut telah dibocorkan pula.
Nyo Yan pernah mendengar cerita tentang Khong-tong-pay dari mulut Lcng Ping-ji, maka secara lamat-lamat pun dia dapat menduga beberapa bagian, maka segera tanyanya.
"Apakah yang kau maksud Beng Hoa?"
"Benar, kau dan Beng Hoa adalah saudara, soal ini kami sudah mengetahuinya sedari dulu.’"
"Hmmm, dia she Beng dan aku she Nyo, aku tak punya engkoh seperti dia,"
Kata Nyo Yan dingin.
"Aku tak tahu apa sebabnya kalian bermusuhan dengan dia, tapi seandainya dia berada di sini sekarang, akulah orang pertama yang akan bertarung melawannya."
Sekalipun Lau Hok-pi adalah seorang yang kasar, bukan berarti dia bodoh sekali, segera pikirnya.
"Konon sejak dilatihkan bocah ini. sudah diajak Miau Tiang-hong menuju ke gunung Thian-san, tapi permusuhan antara keluarga Beng dengan keluarga Nyo juga banyak jago persilatan yang tahu, jangan-jangan bocah ini sudah mengetahui riwayat hidup sendiri? Karena dia membenci Beng Goan-cau, maka dia pun membenci Beng Hoa?"
Sementara itu, Nyo Yan telah berkata lebih jauh.
"Oleh sebab itu kau pun tak usah khawatir kalau Beng Hoa dan aku mempunyai hubungan, pertanyaan yang kuajukan pun boleh kaujawab dengan segera, sekalipun menyangkut Beng Hoa juga tidak mengapa. Asal kau sudah berbicara, maka aku akan segera melepaskan kakakmu. Di kemudian hari, bila kalian hendak menghadapi Beng Hoa pun, aku bersedia membantu kalian."
Lau Hok-pi merasa jiwa saudaranya jauh lebih penting, apalagi dia pun rela mengorbankan jiwanya demi melindungi keselamatan kakaknya.
Maka setelah mendengar perkataan Nyo Yan, timbul kembali harapan dalam hatinya, dia segera berseru.
"Sungguhkah perkataan itu?"
Nyo Yan segera mengangkat telapak tangannya dan membacok batu cadas yang berada di hadapannya menjadi empat lima bagian, kemudian serunya dengan lantang.
"Bila aku mengingkari janji, batu inilah saksinya!"
"Baik, kalau begitu tanyalah, akan kujawab sebisa mungkin"
"Perselisihan apakah yang terjalin di antara kalian dengan siluman perempuan kecil she Liong itu?"
"Kami pun baru belakangan ini tahu kalau ada seorang manusia seperti ini."
"Kalau memang begitu, mengapa kalian turut serta di dalam usaha penangkapan ini?"
"Ada orang yang menyuruh kami datang kemari." ."Siapakah orang itu?"
Lau Hok-pi menjadi sangsi untuk beberapa saat lamanya dan tak mampu menjawab.
"Ayo katakan saja, terlepas apa pun alasanmu berbuat demikian, tak akan menyusahkan dirimu."
Saat itulah, Lau Hok-pi baru menjawab.
"Dia adalah Pek-tou Sancu!"
"Siapakah pemilik dari Bukit Unta Putih ini? Siapakah nama aslinya…?"
"Aku belum pernah berjumpa dengan Pek-tou Sancu, terhadap asal-usulnya juga kurang tahu. Dia hanya mengutusseorang muridnya untuk memberitahukan hal itu kepada kami."
Nyo Yan menjadi tercengang, segera serunya.
"Mengapa kau hendak membantu dia? Dulunya, bagaimana kalian bisa saling berhubungan?"
"Peristiwa ini terjadi pada tiga tahun berselang, peristiwa itu berlangsung di atas bukit In-tui-gay!"
"Di mana letak bukit In-tui-gay tersebut?"
"Suatu tempat yang terpencil di belakang bukit Kbong-tong-san, tempat itu amat strategis letaknya tapi cukup berbahaya medannya, dari kuil Cing-siu-koan masih sejauh enam tujuh li, anggota partai kami jarang sekali ke sana. Tapi setiap hari kami berada di tempat itu."
"Apa yang kalian kerjakan disana?"
"Waktu itu kami sedang melatih ilmu Siang-huan-pat-ciat tinggalan mendiang guru kami, dan kami pun tak ingin diketahui oleh anak murid Tan Khu-seng, maka kami berdua pun mencari suatu tempat yang terpencil letaknya untuk melatih diri."
Setelah tahu kalau mereka sedang melatih ilmu secara rahasia, Nyo Yan menjadi geli sekali pikirnya.
"Tan Khu-seng maupun Beng Hoa mempunyai ilmu silat yang luar biasa sekali, dengan sedikit ilmu silat yang kalian miliki, aku saja tidak memandang sebelah mata, apalagi mereka? Betul-betul katak dalam sumur."
Terdengar Lau Hok-pi berkata lebih jauh.
"Waktu itu, seperti biasa kami berlatih ilmu silat di tebing In-tui-gay pagi-pagi, sewaktu berlatih sampai jurus yang terakhir, di mana empat gelang bersama-sama menghantam batu cadassehingga memercikkan bunga api, belum lagi kami memeriksa bekas di atas batu tersebut dan mencoba untuk mem-bandingkan dengan bekas yang ditinggalkan kemarin, terdengar ada orang berseru sambil tertawa terbahak-bahak, ‘Haahh… haahh… haahh… bila Jit-gwat-siang-huan bisa dilatih hingga mencapai kesempurnaan seperti ini, hitung-hitung lumayan juga."
"Kami merasa amat terkejut dan segera berpaling, tampak ada dua orang lelaki bercambang sudah berdiri di hadapan kami, entah sedari kapan dia sudah berdiri di sana."
"Siapakah kedua orang itu…? "
Pada waktu itu, aku pun tidak tahu siapakah mereka. Tapi kalau dilihat tampangnya bukan bangsa Han, hanya bahasa Han yang dipergunakannya sangat lancar.
"Aku merasa terkejut sekali, meskipun dari luar mereka kedengarannya seperti memuji kami, padahal yang benar mereka seperti sedang memberi nasihat kepada kami dan sama sekali tak memandang sebelah mata terhadap kami berdua. Begitu mendengar ucapan itu, aku jadi naik pitam, coba kalau bukan kakakku mencegah aku bertindak, hampir saja aku akan bertarung melawannya."
Diam-diam Nyo Yan tertawa geli, pikirnya.
"Kakakmu memang jauh lebih tahu urusan daripada dirimu, kau seperti gentong nasi, bila sampai bergebrak, sudah pasti kau akan keok…."
Lau Hok-pi bukan orang yang kelewat tolol, tampaknya dia tahu kalau Nyo Yan sedang menertawakan dirinya, dengan wajah memerah segera lanjurnya.
"Benar, aku adalah gentong nasi.
Tapi waktu itu kegusaran sedang berkobar dalam dada, aku tak sempat untuk berpikir lebih jauh, menanti kedua orang itu sudah berada di hadapanku, aku baru sadar bahwa ilmu silat yang kumiliki masih belum sanggup untuk menandingilawan.
Untung kakakku segera menarik tanganku hingga aku menjadi sadar.
Maka aku pun terpaksa bertanya jawab dengan mereka.
"Tanya kakakku kepada mereka, ‘Siapakah kalian? Datang kemari mau apa?* "
Salah seorang di antaranya segera tertawa dan menyahut, ‘Sekalipun kalian tidak mengetahui siapakah aku, aku tahu siapakah kalian.
Tentunya kalian berdua adalah dua bersaudara Lau, murid Tong Cin-cu, ketua Khong-tong-pay yang lampau bukan?* "
"Siapakah mereka?"
Tanya Nyo Yan.
"Yang seorang bernama Sugong Cau, sedang yang lain bernama Buyung Sui."
Mendengar nama tersebut, Nyo Yan segera berpikir.
"Nama marga Sugong dan Buyung adalah nama marga yang biasanya digunakan orang-orang See-ih, bangsa Han yang memakai nama marga Sugong mungkin jauh lebih banyak tapi nama marga Buyung rasanya hanya ada di See-ih saja. Kedua nama ini rasanya belum pernah kudengar sebelumnya."
Perlu diketahui, Thian-san terletak di sudut daratan Tionggoan yang terpencil dan jauh letaknya.
Sejak kecil Nyo Yan memang seringkah mendengar para suheng-nya membi-carakan tentang jago-jago persilatan, tapi jago See-ih lebih banyak disinggung daripada jago lain.
Itulah sebabnya terhadap nama jago-jago See-ih, dia jauh lebih hafal daripada nama-nama jagoan Tionggoan.
Terdengar Lau Hok-pi berkata lebih jauh.
"Setelah kudengar nama mereka itu, tak tahan lagi timbul perasaan ingin tahu dalam hati kecilku, maka segera kutanya mereka, ‘Aku sajatidak mengetahui siapakah kalian berdua, dari mana kalian mengetahui diri kami dengan begitu jelas?’ "
Buyung Sui yang tampaknya berusia lebih kecil segera menjawab, ‘Bukan saja aku mengetahui kedudukan kalian dalam partai Khong-tong, kami pun khusus datang kemari untuk mencari kalian! * "
Aku mengira mereka memang datang untuk mencari gara-gara, rupanya pertarungan ini mungkin tak bisa dihindari lagi.
"Tapi sebelum aku berbuat sesuatu, kakakku telah mengerlingkan matanya mencegah aku bertindak seraya berkata, ‘Kami sama sekali tidak kenal dengan kalian berdua, entah ada urusan apa kalian datang mencari kami?’ "
Sugong Cau yang berusia lebih tua segera menjawab, ‘Kami sengaja datang kemari untuk membantu kalian dua bersaudara!’ "Ucapan ini kedengaran aneh sekali, maka tanpa terasa aku pun bertanya lagi, ‘Dari mana kalian bisa tahu kalau kami membutuhkan bantuan orang?* "
Seperti senyum tak senyum Buyung Sui menyahut, ‘Walaupun ilmu silat yang kalian miliki terhitung lumayan juga, tapi sayang….’ "Berbicara sampai di sini dia segera berhenti, maka kakakku segera bertanya, ‘Sayang kenapa?’ "
Setelah tersenyum, orang itu baru melanjutkan, ‘Sayang sekali, walaupun kalian berlatih sepuluh tahun lagi juga tak mungkin bisa mencapai seperti apa yang diharapkan.* "Dia seperti bukan menjawab pertanyaanku, tapi sebodoh-bodoh-nya aku pun dapat memahami perkataannya.
Jelas diamaksudkan kalau kepandaian kami belum cukup dan perlu bantuan dari mereka.
"Mendengar perkataan tersebut, kami dua bersaudara merasa kaget bercampur keheranan.
"Akhirnya kakakku berkata lagi, ‘Perkataanmu itu sungguh aneh sekali, padahal baru saja berjumpa, darimana kau bisa mengetahui apa yang kami pikirkan di hati?’ ‘"
Apakah kau menginginkan aku mengungkap semua isi hati kalian?’ tanya Buyung Sui kemudian sambil tertawa.
"Kami tak berani segera menjawab, maka mulut kami pun ditutup rapat-rapat.
"Pada saat itulah Sugong Cau berkata, ‘Buyung hiante, soal ini merupakan rahasia mereka, kita harus memikirkan untuk mereka, hati-hati kalau di balik dinding ada telinga.’ "
Begitulah, kedua orang itu segera bertanya jawab sendiri, kata Buyung Sui kemudian, ‘Benar aku harus menulis dengan tulisan saja.’ "Sembari berkata dia pun menggunakan ujung jarinya mengukir beberapa patah kata di atas sebuah batu cadas yang besar, setiap huruf yang diukurnya itu melesak sedalam tiga inci.
Tampaknya kekuatan jari tangannya itu jauh lebih besar daripada kekuatan Jit-gwat-siang-huan yang kami miliki!"
"Beberapa patah kata tulisan itu adalah…"
Tanya Nyo Yan kemudian. Lau Hok-pi seperti tak berani mengucapkannya keluar, dia tampak seperti sangsi. Melihat itu, Nyo Yan segera bertanya lagi.
"Apakah ada hubungannya dengan Beng Hoa?""Benarkah kau tidak mengang-gap Beng Hoa sebagai kakakmu?"
Bukan menjawab, Lau Hok-pi malah balik bertanya lagi. Nyo Yan segera mendengus dingin.
"Hmm setiap perkataan yang sudah kuutarakan aku tak senang mengulanginya kembali."
"Baik, aku mempercayai perkataanmu itu. Tan Khu-seng menerima jabatan sebagai ciangbunjin partai kami tepat pada saat guru kami menemui tragedi yang mengenaskan. meskipun beliau bukan tewas di tangan Tan Khu-seng, tapi kematian-nya adalah akibat dari ulahnya. Sekalipun kami tak ingin membalas dendam terhadap Tan Khu-seng, namun dalam hati kecil kami pun tidak dapat melupakan aib yang me-nimpa perguruan kami ini. Apalagi kami pun tidak merasa puas atas kedudukan Tan Khu-seng sebagai ciangbunjin partai kami."
"Apakah ilmu silat yang dimiliki Tan Khu-seng kurang tinggi…?"
"Dia adalah seorang tokoh persilatan yang paling berbakat dan tak pernah dijumpai dalam Khong-tong-pay selama seratus tahun belakangan ini…."
"Lantas dalam hal apa kalian tidak puas?"
Lau Hok-pi termenung sebentar, kemudian sahurnya.
"Buat orang persilatan, yang diutamakan adalah urutan nama. Kami adalah angkatan tua, sedangkan Tan Khu-seng menurut urutan masih termasuk sute kami. Apalagi menjadi seorang ciangbujin toh tidak tergantung soal ilmu silat saja."
"Apakah pamornya kurang baik?"
Tanya Nyo Yan."Setiap pendekar dan orang gagah mendukungnya."
"Lantas apa sebabnya kalian merasa tidak puas?"
"Setiap perguruan mempunyai peraturannya sendiri-sendiri, semenjak Tan Khu-seng jadi ciangbunjin, pada hakikatnya dia telah memporak-porandakan peraturan Khong-tong-pay yang sudah berlaku turun temurun sejak cousu pendiri partai. Sekalipun peraturan itu boleh saja membuat kami merasa tak senang, tapi tak bisa kuutarakan kepada orang luar."
Mendengar itu Nyo Yan segera tertawa.
"Aku paling takut kalau sudah mendengar soal peraturan, pantangan dan sejenisnya, sekalipun kau bersedia menerangkan kepadaku, belum tentu aku bersedia mendengarkannya. Pokoknya aku tahu kalau kalian berdua tidak setuju kalau Tan Khu-seng menjadi ciangbunjin. Nah, lanjutkan ceritamu."
Lau Hok-pi segera menyambung kembali ceritanya.
"Kalau Tan Khu-seng yang menjadi ciangbunjin, kami sih tak bisa berbuat apa-apa, yang paling kami khawatirkan adalah bilamana kedudukan ciangbunjin tersebut diwariskan kepada Beng Hoa di kemudian hari Ilmu silat yang dimiliki Beng Hoa sekarang sudah tidak berada di bawah ilmu silat gurunya, nama serta pamornya dalam dunia persilatan juga ibarat matahari di tengah angkasa. Kalau ditinjau dari keadaan ini, bisa jadi kedudukan ciangbunjin Khong-tong-pay yang akan datang akan jatuh ke tangannya."
"Apa salahnya kalau Beng Hoa yang menjadi ciangbunjin?"
"Ilmu silat Beng Hoa yang berasal dari Khong-tong-pay tidak terlalu banyak, dia mempunyai beberapa orang guru, malah tercatat sebagai murid Thian-san-pay. Seandainya Khong-tong-pay dipimpin seorang ciangbunjin seperti dia, bukankah Khong-tong-pay pada akhirnya akan menjadi partaicabang dari Thian-san-pay? Terlepas apakah ilmu silat Thian-san-pay lebih hebat dari ilmu silat Khong-tong-pay, tapi bagaimanapun juga partai Khong-tong-pay adalah warisan dari cousu-cousu kami, sebagai anggota perguruan yang setia, kami merasa tak tega untuk membiarkan warisan cousu kami harus berganti haluan. Sehebat-hebatnya kepandaian silat Beng Hoa, dalam pandangan kami toh dia cuma seorang cucu yang tak berbakti."
Nyo Yan yang mendengar ucapan itu diam-diam menghela napas panjang, pikirnya, ‘Ternyata pandangan dari suatu perguruan besar di dalam dunia persilatan begitu dalam dan luas!
Apalagi mereka mcncampur-adukkan budi dendam leluhur mereka, tak heran kalau urusannya makin ruwet dan tidak keruan.
Tapi itu urusan mereka sendiri, aku tak usah mencampuri urusan yang memusingkan kepala ini."
Terdengar Lau Hok-pi berkata lebih jauh.
"Itulah sebabnya di samping melatih diri dengan tekun kami mulai berusaha menghubungi rekan seperguruan lainnya terutama sekali para anggota perguruan yang mempunyai pandangan serta penda-pat yang sealiran dengan kami.
Maksudnya kami bersiap sedia di saat keadaan sudah matang akan menolak Beng Hoa menjadi ciang-bunjin.
Tapi sebelum keadaan menjadi matang, rencana kami ini paling baik kalau tidak diutarakan dulu kepada sesama anggota perguruan.
"Siapa tahu, rahasia hati kami berhasil ditebak secara jitu oleh manusia asing itu.
Mereka beberkan melalui tulisan.
Dengan ujung jari tangannya Buyung Cui ‘menulis’ enambelas patah kata di atas batu cadas itu, selain hurufnya jelas, masuk ke dalam batu sedalam tiga inci, bahkan jauh lebih rapi daripada pekerjaan seorang pemahat.
Keenam-belas huruf itu adalah,Aib perguruan sukar dilupakan, Ton Khu-seng, Beng Hoa, apa yang perlu ditakuti!
Mendengar sampai di situ, Nyo Yan segera tergelak, timbrungnya dengan cepat.
"Pada kalimat yang atas dia telah membongkar rahasia hati kalian berdua, sedangkan pada kata kalimat terakhir mereka maksudkan hendak menjadi tulang punggung kamu berdua. Cuma kalau dilihat dari demonstrasi ilmu silat yang diperlihatkan Buyung Cui tersebut, kendatipun ilmunya bisa menandingi Ki m-kong-ci dari Siau-lim-si, belum tentu bisa mengungguli Tan Khu-seng dan Beng Hoa. Walaupun aku belum pernah melatih ilmu Kim-kong-ci, namun kalau dipaksakan masih sanggup untuk mengerj akanny a."
Berbicara sampai di situ, dia lantas mengerahkan jari tangannya dan menulis beberapa huruf di atas batu cadas.
Dalam waktu singkat di atas sebuah batu cadas yang keras dan kuat itu sudah muncul sederet tulisan, kalau dilihat dari huruf yang tertera dalam batu cadas itu, sudah jelas tiap huruf melesak sedalam tiga inci ke dalam batu.
Tulisan tersebut berbunyi demikian, Ucapan yang membuai, ibarat katak dalam sumur.
Selesai menulis, sambil tertawa terbahak-bahak terusnya.
"Haah haah haah, orang yang berani mengatakan, Tan Khu-seng, Beng Hoa apa yang ditakuti, paling tidak ilmu silat yang dimilikinya harus sepuluh kali lipat lebih hebat daripada ke-pandaian ku."
Lau Hok-pi menjadi terperanjat dan ketakutan setengah mati, serunya cepat-cepat.
"Nyo siauhiap, kau jangan menertawakan pendapatku sebagai katak dalam sumur,menurut pendapatku, ilmu silat yang kau miliki masih bisa menandingi Tan Khu-seng apalagi Beng Hoa, ilmu silatmu jauh lebih hebat daripada dirinya!"
Dengan cepat Nyo Yan menggeleng.
‘Tidak, masih selisih jauh sekali.
Cuma kau pun tak usah menaruh curiga kalau ucapan tersebut tidak sejujurnya, apa yang telah ku utarakan selamanya pasti kuturuti.
Seandainya Beng Hoa berada di sini sekarang, kendatipun ilmu silatku tak bisa mengungguli dia, pasti akan kulawan dirinya habis-habisan."
Untuk bisa mengalahkan mereka guru dan murid berdua sesungguhnya tak usah memiliki ilmu silat yang sepuluh kali lipat lebih hebat daripada dirimu.
‘Tapi didengar nada pembicaraan Buyung Cui, pada hakikatnya dia tidak memandang sebelah mata pun terhadap guru dan murid dua orang itu.
"Meski jago silat yang kukenal sangat terbatas, namun menurut apa yang kuketahui, orang yang masih bisa mengungguli guru dan murid dua orang itu, termasuk yang sudah mati, mungkin hanya dua orang saja!"
"Apakah salah seorang di antaranya adalah gurumu Teng locian-pwee? Konon dia telah meninggal dunia tahun berselang?"
Tanya Lau Hok-pi.
"Benar. Tapi sekalipun guruku itu masih hidup, belum tentu dia berani mengucapkan kata-kata seperti Tan Khu-seng Beng Hoa apa yang perlu ditakuti…."
"Lantas siapakah orang yang kedua?"
Tanya Lau Hok-pi dengan perasaan ingin tahu.
"Dia adalah seorang guruku yang lain, sekalipun kuutarakan juga tak akan kau kenal."
Dalam keterkejutannya, Lau Hok-pi segera berpikir.
"Akumasih mengira orang yang kedua adalah jago pedang nomor wahid di kolong langit Kim Tiok-liu, ternyata di dunia ini masih ada orang lain yang setaraf ilmu silatnya dengan Teng Keng-thian; pengetahuanku benar-benar amat picik. Bocah keparat ini bisa memiliki dua orang guru yang begitu tangguh, tak heran kalau ilmu silat yang dimiliki begitu lihay!"
Perlu diketahui Kim Tiok-tiu si jago pedang nomor wahid di kolong langit itu kecuali memiliki seorang putra dan seorang putri (putrinya adalah Kim Bik-ki, istri Beng Hoa) dia hanya punya seorang murid yang di luar nama marganya, yakni putra kedua dari suheng-nya, Kang Hay-thian, yang bernama Kang Siang-hun.
Setiap orang persilatan mengetahui persoalan ini dengan jelas sehingga sudah barang tentu dia bukan guru kedua dari Nyo Yan.
"Di luar langit masih ada langit, di atas manusia pintar masih ada manusia pintar lainnya,"
Kata Nyo Yan kemudian.
"Aku tidak berani mengatakan apakah di kolong langit ini sudah tiada orang yang bisa mengungguli kedua orang guruku lagi, tapi yang pasti orang itu bukan Buyung Ciri!"
"Tapi dia pun mengatakan kalau orang itu bukan dia sendiri, juga bukan suheng yang datang bersamanya,"
Bantah Lau Hok-pi dengan cepat. Nyo Yan menjadi tertegun.
"Lantas siapakah orang itu?"
Serunya kemudian.Lau Hok-pi berkisah lebih jauh.
"Nyo siauhiap, apa yang kau curigai tadi persis seperti apa yang kami ragukan waktu itu. Tenaga dalam yang dimiliki Tan Khu-seng dan Beng Hoa amat dahsyat dan itu sudah kami ketahui, maka setelah Buyung Cui selesai menulis ke-enambelas huruf di atas batu cadas tersebut, kakakku pun berkata,’ Ilmu silatmu amat lihay dan jauh mengungguli kami, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan. Tapi seandainya berjumpa dengan ilmu Oh-ka-cap-pwee-pa dari Tan Khu-seng, kemungkinan besar ilmu Kim-kong-ci-mu itu tak sempat digunakan lagi!’"
Tiba-tiba Nyo Yan menimbrung.
"Sebetulnya ilmu silat macam apa sih Oh-ka-cap-pwee-pa tersebut..?"
"Itulah satu jurus ilmu pedang yang diciptakan oleh Tan Khu-seng, dalam satu gebrakan menusuk dela-panbelas buah jalan darah di tubuh musuh. Belasan tahun berselang, ketika ia berada di bukit Tay-seng-hong di wilayah Sinkiang, dia per-nah menggunakan jurus pedang tersebut membuat delapanbelas buah lubang besar di atas batuan cadas yang keras sehingga membuat kabur seorang gembong iblis, pada-hal pedang yang dipergunakan olehnya waktu itu hanya sebilah pedang biasa."
Di atas bukit Soat-san-yang menjulang tinggi ke angkasa, terdapat semacam baru cadas berwarna hitam yang kerasnya melebihi baja, batuan semacam inilah yang dimaksudkan, itulah sebabnya batu cadas itu sama sekali tidak mengalami perubahan apa pun meski sudah berabad-abad lamanya.
Ketika masih kecil dulu, Nyo Yan pernah juga mendengar orang membicarakan tentang soal ini, maka segera pikirnya.
"Dengan sebilah pedang biasa, ternyata dia mampu membuat delapanbelas lubang di atas batu cadas besi hitam, bisa dibayangkan tenaga dalamnya luar biasa sekali, dan jauhkalau dibandingkan dengan ilmu Kim-kong-ci Buyung Cui. Apalagi kalau Buyung Cui berani bertarung melawannya, mungkin belum lagi tubuhnya berhasil mendekat, tubuhnya sudah bertambah dulu dengan delapanbelas lubang besar. Ketika delapanbelas buah jalan darahku kena ditusuk oleh Beng Hoa tempo hari, mungkin jurus pedang inilah yang digunakan."
Sementara dia masih termenung, terdengar Lau Hok-pi sudah berkata lebih jauh.
"Buyung Cui rupanya tahu tentang riwayat Oh-ka-cap-pwee-pa tersebut, tapi setelah mendengar itu, dia malah tertawa terbahak-bahak."
"Apa yang dia tertawakan?"
Tanya Nyo Yan dengan nada tercengang.
"Apa yang dikatakan memang benar, dia sudah memeriksa bekas tusukan pedang yang ditinggalkan Tan Khu-seng di atas batu cadas tersebut dan diakui kalau dia tak mampu untuk mematahkan jurus pedang tersebut. Sedangkan Beng Hoa, sekalipun dia hanya mengeluarkan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat atau Tay-si-mi-kiam-si serta ilmu Boan-yok-sinkang yang diperolehnya dari kuil Lan-tou-si di negeri Tbian-tok, belum tentu mereka dua bersaudara seperguruan dapat mengungguli Beng Hoa. Tapi dia pun berkata lagi, ‘Di luar langit masih ada langit, di atas manusia pintar masih ada manusia pintar lainnya. Ada satu orang yang mengetahui dengan jelas ilmu silat Tan Khu-seng maupun Beng Hoa. Di dalam pandangannya, apa itu Oh-ka-cap-pwee-pa, apa itu Tay-si-mi-kiam-hoat, atau Boan-yok-sinkang, semuanya itu tiada harganya sama sekali.’ "
Tentu saja kami tidak percaya dengan omongan itu, sehingga serentak bertanya bersama, ‘Siapakah orang itu?’ "Pada saat itulah Buyung Cui baru menyebutkan nama orang itu, ‘Dia adalah Pek-tou Sancu!’"
Nyo Yan merasa terkejut sekali sesudah mendengar kisah tersebut, dengan cepat pikirnya.
"Aku tahu Bukit Unta Putih tersebut letaknya berada di pinggir perbatasan dengan Tibet, dari bukit Tay-kiat-nia masih ada seribu li jauhnya. Sewaktu pulang dari bukit Tay-kiat-nia, aku pun pernah berkunjung ke Bukit Unta Putih, tapi tidak kuketahui kalau di atas Bukit Unta Putih terdapat seorang manusia yang begini lihay!"
Terdengar Lau Hok-pi kembali bercerita.
"Pada waktu itu kami pun belum mau percaya, segera kami bertanya lagi, ‘Sebetulnya Pek-tou Sancu ini berasal dari aliran mana? Mengapa kami belum pernah mendengar tentang jagoan dalam dunia persilatan yang mempergunakan julukan tersebut?* "
Mendengar pertanyaan kami ini, Buyung Cui segera tertawa terbahak-bahak, ‘Haah… haa haah… ilmu silat yang dimiliki Pek-tou Sancu tiada tara dalamnya, hampir semua ilmu silat yang ada di berbagai perguruan besar di daratan Tionggoan maupun negeri Thian-tok diketahui olehnya, dan tiada ilmu silat yang tak bisa dipatahkan olehnya.’ ‘ "Ilmu silatnya merupakan aliran yang tersendiri dan pada hakikatnya tak termasuk dalam aliran yang mana pun.
Dewasa ini hanya beberapa orang saja yang tahu tentang dia, andaikata Teng lociangbun dari Thian-san-pay belum meninggal, mungkin dia masih pantas untuk menanyakan namanya.* "
Sudah jelas maksud dari perkataannya itu adalah manusia sebangsa Tan Khu-seng serta Beng Hoa masih belum berhak untuk mengetahui siapa dia, apalagi kami yang tidak pernahmendengar nama tersebut, hal tersebut sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh.
"Kakakku lantas bertanya,4 Apakah Pek-tou Sancu adalah guru kalian?’ "
Sugong Cau, kakak seperguruan Buyung Cui segera menyahut, ‘Kami tak berani mengaku sebagai anggota perguruan Pek-tou Sancu, namun kami memang sudah banyak tahun berbakti kepadanya dan atas kebaikan hatinya mendapat didikan ilmu silat selama tiga hari.
Dia orang tua mengetahui keinginan kalian itu, maka kami sengaja diutus datang kemari untuk menyampaikan pesan dari dia orang tua.
Sekarang kalian sudah mempunyai seorang tulang punggung yang kuat, jangan khawatir tak mampu mengalahkan Tan Khu-seng dan Beng Hoa, bahkan dia orang tua pun mengabulkan permintaan kalian untuk membantu seorang di antara kalian menjadi ciangbunjin Khong-tong-pay.’ "Ketika berbicara sampai di situ, dia lantas menggunakan telapak tangannya untuk menyeka lapisan batu itu, kemudian berkata lagi, ‘Rahasia ini merupakan rahasia pribadi kalian yang tak boleh diketahui orang luar, kami bantu kalian untuk menghadapinya.’ "
Ketika selesai berkata dan menarik kembali tangannya, permukaan batu cadas tersebut sudah licin kembali, tulisan itu seakan-akan lenyap tak berbekas dengan begitu saja.
Kepandaiannya itu boleh dibilang jauh lebih hebat dari ilmu Kim-kong-ci sute-nya.
"Padahal mereka hanya belajar ilmu selama tiga hari saja dari Pek-tou Sancu, namun kelihayannya sudah mengagumkan, sebab itulah meski kami tak beranimempercayai perkataannya seratus persen, mau tak mau juga percaya beberapa bagian!"
Ambisi Pek-tou Sancu Dengan suara dingin Nyo Yan berkata.
"Tentu Sancu tak akan membantu usaha kalian itu tanpa syarat bukan? Apa syarat yang dia ajukan?"
Terlintas perasaan malu dan menyesal di atas wajah La u Hok-pi, dia bungkam seribu bahasa.
"Apakah kau merasa rikuh untuk mengutarakannya kepadaku?"
Ucap Nyo Yan lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan membantu kalian untuk mengutarakannya. Apakah sejak hari itu kalian harus menuruti semua perintah Pek-tou Sancu?"
"Bahkan mereka pun menyuruh kakakku dengan kedudukannya sebagai calon ketua Khong-tong-pay yang akan datang untuk mendukung Pek-tou Sancu sebagai tiong-cu (pemimpin)nya."
Nyo Yan segera tertawa dingin.
"Ooh, rupanya kalian telah menemukan seorang tulang punggung yang begitu hebat, jadi lantaran kalian membutuhkan bantuan mereka maka tak heran kalau kalian pun rela diperintah dan diperbudak orang lain?"
Lau Hok-pi tertawa getir.
"Sekalipun tidak rela, kami bisa apa lagi? Dia telah mengetahui rahasia kami dan memancing dengan imbalan yang menawan hati, di dalam keadaan terdesak, bila kami tidak menurut mungkin bukan cuma pamor kami saja yang bakal rusak, nyawa pun bisa turut melayang."
"Kalian rela berbakti kepada Pek-tou san-cu juga boleh, dipaksa oleh keadaan juga boleh, yang jelas persoalan tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diriku, dan aku pun tak ada waktu untuk mengurusi urusan tetek bengek kalian itu. Sekarang aku hanya ingin tahu, sebenarnya karena persoalan apakah kalian datang ke kota Tio-gi kali ini?"
"Kali ini Pek-tou Sancu mengutus Buyung Cui menemui kami. Dia tak mengatakan apa-apa, hanya menyuruh kami pergi ke Lan-ciu untuk bergabung dahulu dengan Phang Tay-yu, sebelum berjumpa dengan Phang Tay-yu, kami malah sama sekali tak tahu menahu tentang siluman perempuan kecil itu."
"Apakah Phang Tay-yu juga berasal dari Bukit Unta Putih?n "
Kami sendiri pun kurang jelas.
Buyung Cui pernah berpesan kepada kami, agar kami jangan semba-rangan membicarakan soal rahasia Bukit Unta Putih dengan Phang Tay-yu.
Tetapi dia pun menambahkan, asal kami telah berjumpa dengan Phang Tay-yu, maka Phang Tay-yu segera tahu karena persoalan apakah kami datang mencarinya."
"Pek-tou Sancu telah mengundang kawanan jago kenamaan dari mana saja? Apakah dia bakal datang sendiri"
"Aku tak tahu. Apa yang kuketahui telah kuberitahukan semua kepadamu. Sekarang, aku minta kau suka melepaskan kakakku."
"Kau tak usah terburu nafsu. Terima kasih banyak atas kesediaanmu untuk memberitahukan begitu banyak persoalan kepadaku, dan sekarang aku pun ada beberapa patah kata yang hendak dibicarakan denganmu."
Lau Hok-pi merasa gelisah dan tidak tenteram, tapi terpaksa sahutnya.
"Harap Nyo siauhiap sudi memberi petunjuk."
"Kalian tak setuju Beng Hoa menjadi ciangbunjin Khong-tong-pay, alasan yang terutama adalah khawatir pelajaran Beng Hoa yang terdiri dari berbagai aliran akan merusak ilmu silat asli dari Khong-tong-pay, bahkan khawatir menjadi partai cabang dari Thian-san-pay. Tapi pernahkah kalian bayangkan, seandainya kalian menuruti perintah Pek-tou Sancu, sekalipun di kemudian hari kakakmu diangkat sebagai ciangbunjin, tapi dalam soal apa pun Khong-tong-pay tak bisa mengambil keputusan sendiri, Khong-tong-pay tak lebih hanya sebuah partai boneka di bawah perintah Pek-tou Sancu, apa bedanya hal ini dengan partai cabang dari Thian-san-pay? Kalau memang menjadi seorang ciangbunjin, sedikit banyak kalian harus punya semangat jantan, jiwa ksatria, pikiran jujur dan jiwa besar!"
Lau Hok-pi merasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, cepat dia berseru.
"Sebelum aib dari perguruan kami dituntut balas, terpaksa kami harus menyingkirkan dulu masalah tersebut."
"Aku tak mau mencampuri persengketaan pribadi di dalam tubuh Khong-tong-pay. Menurut penda-patku, belum tentu Beng Hoa sudi menjadi ciangbunjin dari Khong-tong-pay kalian."
"Sudi atau tidak adalah urusannya, berjaga-jaga sebelum semuanya terjadi merupakan tugas kami!"
"Sekalipun kalian hendak menghadapi Tan Khu-seng serta Beng Hoa, paling tidak kalian harus mencari dukungan dari sesama anggota perguruan sendiri,"
Kata Nyo Yan lebih jauh.‘Takluk di bawah perintah Pek-tou Sancu merupakan suatu tindakan yang keliru, tidak mencerminkan jiwa seorang enghiong hohan, apalagi memohon bantuan dari kuku garuda pemerintah penjajah bangsa Cing, tindakan ini lebih-lebih terkutuk lagi."
Lau Hok-pi menjadi tertegun.
"Siapa bilang kalau kami minta bantuan pihak kuku garuda bangsa Cing,’* serunya "
Nyo Yan, kalau kau ingin membunuh kami berdua, silakan turun tangan, tapi jangan memfitnah kami dengan hal yang bukan-bukan."
"Phang Tay-yu adalah seorang kuku garuda bangsa Cing, apakah kalian benar-benar tak tahu?"
Lau Hok-pi semakin tertegun lagi.
"Li Wu-si juga berkata demikian, tapi kami tidak percaya….*’ "Mengapa kalian tidak percaya?"
Tanya Nyo Yan cepat.
"Sudah banyak tahun kami berkenalan dengannya, kami hanya tahu kalau dia adalah seorang hartawan yang kaya raya dan gemar mencari sahabat terutama sahabat dari dunia persilatan."
Nyo Yan segera teringat akan Pui Hou, sambil tertawa dingin dia men-jengek.
"Jangan kau anggap lantaran dia punya harta dan punya kedudukan, maka ia tak sudi menjadi seorang kuku garuda. Justru hanya manusia munafik pura-pura berhati bajik semacam dialah merupakan manusia yang paling rakus, yang kemaruk harta dan pangkat. Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku sengaja menghancurkan tulang pi-pa-kut-nya karena aku sudah tahu kalau dia adalah seorang pengawal istana kerajaan Cing!"
Menyaksikan ketegasan dan kesungguhannya sewaktu mengucapkan perkataan itu, mau tak mau Lau Hok-pi harus percaya juga. Maka dengan perasaan menyesal, gugup bercampur kaget dia lantas berkata.
"Kami benar-benar tidak tahu kalau dia adalah kuku garuda. Bila kau tidak percaya bunuhlah diriku!"
"Kalian toh bukan pengawal istana kerajaan Cing, mengapa aku harus membunuh kalian?"
Berbicara sampai di situ, dia lantas menghela napas panjang, kemudian lanjurnya.
"Aku sendiri pun bukan seorang pendekar sejati, lagi pula sekalipun seorang pengawal istana kerajaan Cing ada pula yang baik, bagaimana mungkin aku bisa membunuh mereka semua? "
Kau tak usah khawatir, apa yang telah kuucapkan tetap akan kutaati dengan teguh."
Sementara dia berbicara, dalam hatinya berpikir.
"Kalau Phang Tay-yu adalah seorang pengawal istana kerajaan Cing yang jahat, apakah ayahku seorang pengawal istana yang baik…?"
Lau Hok-pi menjadi kegirangan setengah mati, cepat-cepat serunya menegaskan.
"Jadi kau benar-benar bersedia melepaskan kami kakak beradik?"
"Di kemudian hari bila kalian hendak menghadapi Beng Hoa dan membutuhkan ban tuanku, aku pasti akan membantu usaha kalian, itu, aku hanya memberitahukan kepadamu, sekalipun menghadapi musuh besar tidak seharusnya bertindak tanpa perasaan. Seperti misalnya aku tak sanggup mengungguli Bcng Hoa, aku lebih suka mati di ujung pedangnya daripada menjual diri dan berkhianat!"
Berbicara sampai di situ dia lantas menyentilkan jari tangannya dari jarak sepuluh langkah untuk membebaskan jalan darah La u Hok-im yang tertotok.
Sambil melompat bangun Lau Hok-im segera melotot gusar ke arah adiknya sembari mengumpat.
"Kau benar-benar membuat aku kehilangan muka!"
Dengan ketakutan Lau Hok-pi berseru.
"Koko, aku hanya ingin hidup bersamamu. Kalau kau menganggap tindakanku ini salah, hukuman apa pun yang hendak kau limpahkan kepadaku akan kujalani dengan rela."
"Lau lotoaJ"
Nyo Yan segera menimbrung.
"seharusnya kau bangga mempunyai adik seperti dia, demi menyelamatkan jiwamu dia baru memohon kepadaku, kau tak boleh menyalahkan dia, kalau tetap ingin menyalahkan dia salahkan diriku. Tapi kau tak usah khawatir, aku tidak akan memberitahukan rahasia kalian ini kepada orang lain."
Lau Hok-im menunduk dengan sedih, katanya kemudian.
"Nyo siauhiap, apa yang kau katakan tadi sudah kudengar semua dengan jelas dan terima kasih banyak atas nasihatmu. Tapi aku pun hendak memberitahukan kepadamu, kami bisa hidup terus dengan melakukan pelbagai perbuatan, tujuannya tak lain adalah untuk membalas dendam atas aib yang menimpa perguruan kami. Bila keinginanku ini sudah terkabul, aku pun tidak kemaruk dengan kedudukan ciangbunjin itu, kami cukup mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Kau harus tahu, aku orang she Lau bukan seorang manusia yang berjiwa tempe, tentang bantuan yang kau tawarkan, biar kuterima dalam hati saja, tak usah merepotkan dirimu lagi."
Nyo Yan sama sekali tidak menyangka kalau dia memiliki jiwa yang begitu keras, ucapnya kemudian.
"Bila aku salah berbicara, biarlah aku minta maaf kepadamu, buat apa kau harus berbuat demikian?"
Lau Hok-im tidak bicara lagi, sambil menarik adiknya dia lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggung mereka berdua yang menuruni bukit, Nyo Yan menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil tertawa getir pikirnya, ‘Tak heran kalau Liong yaya sering berkata, ‘Mana yang baik sukar dilihat, mana yang masuk akal sukar diselidiki’.
Cukup dua orang ini saja, apakah mereka baik atau jahat rasanya tidak gampang untuk ditentukan secara pasti."
Ketika Nyo Yan berjalan keluar dari hutan, matahari sudah berada di tengah awang-awang, rupanya tengah hari sudah menjelang tiba. Dia pun lantas berpikir.
"Akhirnya aku berhasil juga mendapatkan setitik berita terang, sayang sekali dua bersaudara Lau belum pernah berjumpa dengan Pek-tou Sancu sehingga asal-usulnya sukar diketahui."
Kemudian dia pun berpikir lebih jauh.
"Sekalipun omongan Pek-tou Sancu kelewat besar namun kalau dilihat dari anak buahnya seperti Sugong Cau dan Buyung Cui, ilmu silat yang dimiliki memang tak boleh dianggap enteng. Sekarang mereka hendak menyulitkan Liong Leng-cu, aku harus segera menga-barkan hal ini kepadanya agar dia bisa segera mempersiapkan diri."
Tapi bukit Ci-lian-san panjangnya mencapai ratusan li lebih, mencari seseorang di tempat yang begitu luas sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang gampang.
Belum jauh dia berjalan, mendadak terdengar suara manusia dan langkah kaki manusia berkumandang datang.
"Kalian tak usah khawatir, serahkan semuanya kepadaku, aku pasti akan membantu kalian untuk membekuk Nyo Yan si bajingan cilik itu.
Asal kalian serahkan bajingan cilik tersebut kepada Li Wu-si, masa Li Wu-si akan menyusahkan kalian lagi?"
Suara tersebut berasal dari seorang pemuda. Menyusul kemudian terdengar seseorang yang lain berkata.
"Im-tiong-siang-sat, tuan penolong yang kalian jumpai benar-benar hebat, hal ini tampaknya merupakan rejeki kalian yang amat besar. Asalkan ada Mo siauhiap yang maju, persoalan apa lagi yang khawatir tak terselesaikan? Sekalipun Nyo Yan si bajingan cilik ini tak berhasil dibekuk, Li Wu-si juga pasti akan memberi muka kepada Mo siauhiap…."
Nyo Yan mengenali suara tersebut berasal dari manusia cerewet yang semalam telah mengejek dan mencemooh Im-tiong-siang-sat habis-habisan itu.
Kali ini, untuk menyanjung jagoan yang bernama "Mo siauhiap"
Tersebut, ia tak segan-segan untuk merendahkan kembali derajat Im-tiong-siang-sat Dari tanya jawab kedua orang itu, Nyo Yan segera dapat mengambil sebuah kesimpulan.
"Rupanya Im-tiong-siang-sat seperti juga dua bersaudara Lau, setelah Phang Tay-yu tertimpa musibah, mereka sebagai orang yang berada bersama Phang Tay-yu khawatir dicari oleh Li Wu-si dan Lok Kan-tang, maka cepat-cepat melarikan diri. Tapi siapakah pemuda itu? Agaknya ia tak terlihat semalam."
Manusia yang pandai menjilat pantat itu bernama Tu Seng, dalam dunia persilatan hanya termasuk jagoan kelas dua, di dalam anggapannya sesudah menjilat pantat "Mo siauhiap"tersebut, tentu akan diperoleh sesuatu menggembirakan hatinya.
Siapa tahu "Mo siauhiap"
Itu hanya mendengus dingin, lalu dengan nada suara yang tampaknya tak senang hati segera menjengek.
"Huuuh, Nyo Yan itu manusia macam apa, siapa bilang kalau aku tak mampu membekuknya?" * Buru-buru Tu Seng tertawa paksa, lalu sahutnya.
"Heehh… heehh… heehh bukan maksudku ilmu silat Mo siauhiap tak mampu membekuk bajingan cilik itu, yang kukha-watirkan adalah tidak berhasil menemukan jejaknya, kalau orangnya tidak ditemukan tentu saja orangnya tak bisa dibekuk, bukankah begitu?"
Loji dari Im-tiong-siat-sat, Thian Keng, berwatak agak lurus dan berterus terang, dia tak sudi menerima kebaikan Tu Seng dan segera berkata.
"Mo siauhiap, Nyo Yan si bajingan cilik ini adalah seorang jagoan yang berilmu hebat, Phang iotoa saja kena dipecundangi olehnya, kita tak boleh kelewat meman-dang ringan dirinya."
Mo siauhiap tersebut segera tertawa dingin.
"Heeehh… heeehh… heeehb… kepandaian apa? Paling dia belajar beberapa jurus Thian-san-kiam-hoat, toh dia adalah murid penutup Teng Keng-thian? Heehh;.. heeehh… heeehh… empat murid utama Thian-san-pay pun tidak kupandang sebelah mata, apalagi cecunguk muda yang masih berbau tetek seperti dia…."
Buru-buru Tu Seng menjilat pantat lagi, segera umpaknya.
"Betul, ilmu pedang Si-im-kiam (Pedang Pengejar Awan) dari keluarga Mo di Bong-lay adalah ilmu pedang yang hebat dan dikenal oleh setiap jagoan yang ada di kolong langit. Walaupun ilmu pedang Thian-san-ki am-hoat sudahtermasyhur selama ratusan tahun lamanya, namun semenjak ciang bunjin dua generasi yang lampau Teng Hiau-lan meninggal, makin hari makin suram, orang yang berbakat pun makin habis. Siapakah manusia di dunia ini yang tidak mengakui kalau ilmu pedang Si-im-kiam dari Bong-lay jauh lebih hebat daripada ilmu pedang Tui-hong-kiam dari Thian-san-pay?"
Nyo Yan yang mendengarkan pembicaraan tersebut segera berpikir dalam hatinya.
"Ooh… rupanya keparat muda ini adalah keturunan keluarga Mo dari Bong-lay, tak heran kalau sikapnya begitu jumawa dan takabur sekali."
Ternyata di daratan Tionggoan terdapat beberapa keluarga persilatan, seperti keluarga Tan dari Siok-ciu, keluarga Ki dari Po-teng, juga keluarga Tong dari Seng-tok, keluarga Kok dari Yang-ciu dan lain sebagainya, keluarga Mo dari Bong-lay di wilayah Shoatang merupakan salah satu keluarga persilatan yang amat ternama.
Ilmu pedang Si-im-kiam-hoat dari keluarga itu mengutamakan gerakan yang lincah dan cepat.
Kepala keluarga dari keluarga Mo sekarang bernama Mo Yang-po, di lima propinsi wilayah utara dia termasuk seorang jagoan yang disegani banyak orang.
Berbicara soal nama, keluarga Ki dan keluarga Nyo dari Po-teng masih jauh berada di bawah mereka.
Tentang keluarga persilatan ini, Nyo Yan sering mendengar dari penuturan Leng Ping-ji.
Diam-diam si anak muda itu berpikir.
"Kedudukan keluarga Mo tidak lebih tinggi daripada kedudukan Im-tiong-siang-sat. Heee… heee… heee… aku memang sedang mencari saksi hidup, tak tahunya kalian datang mengantar diri, bagus sekali,cuma aku harus berubah pikiran dan tidak boleh hanya membekuk Im-tiong-siang-sat saja."
Sam-sauya dari Keluarga Mo Begitu mengambil keputusan, Nyo Yan segera memunculkan diri sembari berseru.
"Haah… haah… haah… kalian tak usah repot-repot mencari bajingan cilik itu lagi, se-karang bajingan cilik sudah datang sendiri!"
Begitu menampakkan diri, bn-tiong-siang-sat menjadi terperanjat sekali hingga tanpa sadar sudah melompat mundur ke belakang. Mo siauhiap ini menjadi naik darah, dia segera mencabut pedangnya.
"Tunggu dulu f"
Kembali Nyo Yan membentak.
"Apa hubunganmu dengan Mo Yang-po?"
Rombongan orang she Mo ini terdiri dari enam tujuh orang, kecuali Im-tiong-siang-sat, yang lain masih belum tahu keiihayan Nyo Yan, apalagi ada orang yang menjadi tulang punggung mereka, tak heran kalau orang-orang itu saling berebut untuk mencari muka.
TU Seng, si tukang penjilat pantat itu segera memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencari muka, dengan suara menggeledek ia segera membentak, ‘Tutup mulut anjingmu, kau si bajingan cilik itu manusia macam apa?
Kau masih belum berhak untuk menyebut nama ayah Mo siauhiap dengan semaunya sendiri!"
Ternyata "Mo siauhiap"
Itu adalah putra paling bungsu dari Mo Yang-po yang bernama Mo Kt-yau. Dengan sorot mata yang amat sinis Mo Ki-yau melirik sekejap ke arah lawannya, kemudian menjawab dengan suaradingin.
"Akulah sam-sauya dari keluarga Mo, kalau kau sudah tahu keiihayan keluarga Mo dari Bong-lay, lebih baik cepat-cepat menyerahkan diri untuk dibekuk!"
Tu Seng segera turut menimbrung.
"Hci, bajingan cilik, kau sudah dengar belum? Ayo cepat menampar mulut sendiri sambil menyembah minta ampun, bisa jadi Mo siauhiap akan memaafkan dosamu itu."
Nyo Yan sama sekali tidak menggubris ocehan Tu Seng, melirik sekejap pun tidak; dia langsung berjalan ke hadapan Mo Ki-yau, lalu ujarnya sambil tertawa.
"Mo sam-sauya, k e I ihayan apa sih yang dimiliki keluarga Mo kalian? Maaf kalau aku tidak mengetahuinya secara jelas, aku cuma tahu kalau ilmu silat yang kalian miliki mungkin hanya terhitung nomor dua di dunia ini."
"Kau mengatakan ilmu pedang keluarga Mo kami tak mampu menandingi ilmu pedang Thian-san-pay kalian?"
Bentak Mo Ki-yau penasaran.
"Aku tidak mengatakan ilmu pedangmu!"
Jawab Nyo Yan hambar. Mo Ki-yau menjadi tertegun.
"Oho, kalau begitu kau maksudkan kepandaianku yang mana?"
"Kepandaianmu membual, kecuali Pek-tou Sancu, mungkin tiada orang kedua yang bisa menan-dingimu!"
Dengan perasaan terkejut Mo Ki-yau segera berpikir.
"Heran, mengapa dia pun tahu tentang Pek-tou Sancu?"
Berpikir sampai di situ, dengan penuh kegusaran segera bentaknya.
"Bajingan cilik, kau tak usah menga-co belo tak keruan, lihat pedang!"
Kebetulan ketika itu Nyo Yan tiba di hadapannya.
Serangan pedang tersebut dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Nyo Yan mengibaskan ujung bajunya dengan maksud hendak merampas pedang itu.
Siapa tahu ujung pedang Mo Ki-yau tahu-tahu berputar kemudian menusuk datang melalui posisi yang sama sekali tak terduga olehnya.
"Criiittl^
ujung baju Nyo Yan segera kena tersambar oleh ujung pedang lawan sampai robek, sebaliknya Mo Ki-yau sendiri pun terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.
Kejadian ini kontan membuat Nyo Yan tertegun, kejadian ini sama sekali di luar dugaannya, dengan cepat dia berpikir.
"Ilmu pedang Si-im-kiam dikatakan mengandalkan kecepatan dan kelincahan, tampaknya perkataan ini bukan cuma nama kosong belaka."
Sebenarnya Mo Ki-yau tak akan mampu untuk bertahan dari kibasan tangan Nyo Yan, untung saja Nyo Yan baru pertama kali ini bentrok dengannya sehingga ia belum mengenali ilmu pedangnya, apalagi perubahan jurus ilmu pedang itu terlampau cepat, sehingga kibasan-nya tidak mengena secara tepat.
Walaupun demikian, kibasan ujung bajunya sudah cukup membuat Mo Ki-yau tak mampu mempertahankan diri, rasa kaget dan takut yang mencekam perasaannya waktu itu pada hakikatnya tidak berada di bawah Nyo Yan.
Dalam pada itu Nyo Yan sudah menyelinap melalui sisi tubuhnya dan muncul di hadapan Tu Seng.
Dengan suara menggeledek Nyo Yan segera membentak.
"Aku paling benci dengan manusia munafik yang sukanya menjilat pantat, mulutmu ini perlu ditampar dengan sekeras-kerasnya!"
Dia segera maju melakukan tubrukan, kemudian serangan pun dilepaskan.
Meskipun Tu Seng suka menjilat, akan tetapi dia bukan manusia sembarangan, apalagi ilmu pukulan Thi-see-ciang yang dilatihnya sudah cukup untuk menembus kulit kerbau, di dalam anggapannya serangan itu pasti akan berhasil mem-belah dada Nyo Yan..Maka dengan marah ia membentak.
"Bocah keparat, kau jangan takabur, aku akan menyuruh kau tahu!"
Belum habis ia berkata, telapak tangan kedua belah pihak sudah saling menghantam tubuh lawan.
Tu Seng merasa seperti menghantam kapas yang lunak, bukan saja tak mampu mengeluarkan tenaga, telapak tangannya kena terisap kencang-kencang.
Padahal Thi-see-ciang merupakan sebuah pukulan yang amat tangguh, terutama sekali bila menghantam di atas tulang yang keras, sudah pasti akan menimbulkan suara benturan yang keras sekali, tapi dia hanya mendengar suara tamparan Nyo Yan yang bersarang di pipinya….
Dengan tangan kanan Nyo Yan menempeleng sebanyak empat kali, kemudian dengan tangan kiri dia menampar lagi sebanyak empat kali Plaak, plook plaak, plook…!
Semuanya dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa sekali.’ Sekalipun demikian, semua tamparan tersebut dilakukan dengan nyaring dan keras sehingga setiap orang dapat mendengar dengan jelas.
Tamparan yang dilakukan pada Tu Sengkah ini diakukan jauh lebih keras daripada sewaktu menampar loji dari Im-tiong-siang-sat Thian Keng tempo hari.Kalau waktu itu Thian Keng hanya dihajar sampai dua giginya rontok, maka kali ini Tu Seng kena dihajar sampai semua giginya rontok.
"Uaak…!"
Hancuran giginya berikut darah kental segera muntah keluar dengan derasnya.
Kemudian Nyo Yan membusungkan kembali dadanya untuk mementalkan Tu Seng dari hadapannya, tenaganya tepat sekali.
Tu Seng merasakan sepasang lututnya menjadi lemas dan ia segera jatuh berlutut di atas tanah, tanpa disadari pula.
"Tok, tok, tok"
Dia menyembah sebanyak tiga kali. Sambil tertawa tergelak Nyo Yan berseru.
"Memandang pada kerelaanmu menyembah sambil minta ampun, kuampuni kau!"
Kawanan manusia yang datang bersama Tu Seng dan Mo Ki-yau itu tentu saja tidak berpeluk tangan belaka, tapi berhubung serangan yang dilancarkan Nyo Yan terlampau cepat, maka sekalipun mereka ingin menyelamatkan Tu Seng pun tak sempat lagi.
Kini setelah Tu Seng berjongkok di tanah, dari kiri baru muncul sebuah bacokan golok dan dari kanan meluncur tiba sebuah ayunan cambuk lemas.
Nyo Yan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… bagus kalau kalian ingin bertarung, aku akan menyuruh kalian bertarung sampai puas."
Dia melompat keluar dari lingkaran, kemudian dengan serangkaian tendangan berantai Yen-yang-lian-huan-tui, sepasang kakinya diayun ke sana kemari membuat dua oranglelaki yang menyergap datang itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.
Sampai di ani, kecuali Im-tiong-siang-sat yang kabur tunggang Ianggang, para pengikut Mo Ki-yau sudah dirobohkan semua oleh Nyo Yan.
Pada saat inilah Mo Ki-yau baru berhasil berdiri tegak, setelah mundur dia maju kembali, bentaknya sambil memutar pedang.
"Bajingan keparat, tahukah kau kelihayan keluarga Mo? Kalau punya nyali, jangan kabur dulu! Aku akan beradu jiwa denganmu…!"
Suaranya sekarang sudah kedengaran agak gemetar, dalam keadaan yang seperti ini, dia hanya bisa berharap menggertak lari "bajingan cilik"
Itu dengan mengandalkan nama besar ayah dan kakaknya Sayang sekali perhitungannya kali ini meleset sama sekali.
"bajingan cilik"
Itu sama sekali tak kena digertak bahkan maju menyongsong dirinya.
"Bagus sekali!"
Seru Nyo Yan sambil tertawa terbahak-bahak.
"sampai di mana sih kelihayan keluarga Mo kalian? Aku memang tak tahu akan hal ini, kebetulan sekali jika sam-sauya dari keluarga Mo bersedia memberi petunjuk kepadaku!"
Sambil mengeraskan kepala, mengertak gigi kencang-kencang terpaksa Mo Ki-yau harus mengayunkan pedangnya berulang kali.
"Sreeet sreeet sreeet…!"
Dalam waktu singkat dia sudah melancarkan delapan buah serangan berantai ke tubuh Nyo Yan, kedelapanjurus serangan tersebut semuanya merupakan intisari dari Si-imvkiam-hoat, di balik setiap jurus terdapat jurus, di balik gerakan terdapat gerakan, cukup rasanya untuk menandingi empat limapuluh jurus perubahan dari ilmu pedang aliran lain.
Nyo Yan sudah mempersiapkan diri jauh sebelumnya, dia mengibaskan ujung bajunya, lalu di bawah kurungan hawa pedang yang berlapis-lapis tubuhnya berkelebat ke timur menyelinap ke barat, dengan gampang dia berhasil memunahkan kedelapan jurus serangan tersebut.
Setelah gebrakan itu lewat, sedikit banyak Nyo Yan sudah mulai dapat menelusuri rahasia dari gerakan ilmu pedang Si-im-kiam-hoat itu, dia tak sabar ribut terus di sana, maka ujarnya sambil tertawa.
"Ehmm, ilmu pedang Si-im-kiam-hoat memang terhitung lumayan, namun jika dibandingkan dengan Thian-san-kiam-hoat, menurut pendapatku masih terpaut jauh sekali!"
Di tengah gelak tertawanya yang nyaring, secara beruntun dia melepaskan tiga buah pukulan berantai lalu bentaknya keras-keras.
"Lepas pedang!"
Ketika ujung jari tangannya disentilkan ke depan… "Criiing!"
Pedang Mo Ki-yau mencelat ke udara. Mo Ki-yau tertangkap dan tak mampu berkutik lagi, teriaknya kemudian dengan suara gemetar.
"Bajingan kecil, kau berani menganiaya aku? Bila ayahku tahu kalau kau mempermainkan aku, tak nanti dia akan mengampunimu. Bila kau ingin hidup, cepat lepaskan aku.’"
Nyo Yan segera tertawa.
"Apakah begini pun dinamakan menganiaya dirimu? Kalau begitu, silakan saja kau rasakan bagaimana kalau kuremuk tulang pi-pa-kut-mu…!"
Melihat cara "keras"
Tidak mendatangkan hasil, terpaksa Mo Ki-yau menggunakan taktik yang "lunak", kali ini dia tak berani berteriak-teriak lagi, dengan suara rendah mohonnya.
"Nyo siauhiap, anggap saja aku merasa takluk kepadamu. Berbuatlah kebaikan dan lepaskanlah aku. Dalam peristiwa yang terjadi hari ini, asal kau tidak menguarkan keluar, aku pasti tak akan memberitahukan kejadian ini kepada ayah."
Nyo Yan yang mendengar rengekan itu kontan saja berkerut kening, pikirnya.
"Mo Yang-po adalah pemimpin dunia persilatan lima propinsi di wilayah utara, dengan nama-nya yang begitu termashur heran mengapa dia bisa melahirkan seorang anak macam gentong nasi seperti dia?"
Berpikir sampai di situ, Nyo Yan segera membentak lagi.
"Kau khawatir bapakmu kehilangan muka, aku pun takut mendengarkan re-ngekanmu itu. Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, aku tidak doyan yang keras, kutampar dirimu lebih dulu, kemudian melumatkan gigimu dan akhirnya kuremukkan tulang pi-pa-kut-mu."
Barusan Mo Ki-yau telah menyaksikan bagaimana lu Seng kena ditampar habis-habisan, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir.
"Jangan lagi menghancurkan tulang pi-pa-kut-ku, cukup dihajar sampai terlepas gigiku pun sudah membuat aku kehilangan muka, apa yang harus dilakukan sekarang?"
Dalam terperanjatnya, dia benar-benar tak berani mendengus atau berbicara lagi.
Ternyata dia adalah putra bungsu Mo Yang-po dengan gundik kesayangannya, semenjak kecil sudah terbiasa disayang dan dimanja oleh ayah ibunya, selama ini dia pun berkelana dalam dunia persilatan dengan mengandalkan nama besar ayahnya, karena di mana-mana memperoleh sanjungan,lama-kelamaan dia sendiri pun menganggap ilmu silat yang dimilikinya luar biasa sekali Ketika dibawa berlarian oleh Nyo Yan, pemuda itu merasa tubuhnya seakan-akan melayang di atas awan, saking terperanjatnya hampir saja jantungnya seperti mau melompat keluar, cepat-cepat dia pejamkan matanya rapat-rapat.
Mendadak terdengar ada seseorang berteriak dengan suara yang parau seperti gembreng bobrok.
"Aduuuh celaka…, koko, kau lihat bajingan cilik itu sudah mengejar datang, bukankah orang yang berada dalam cengkeramannya itu adalah sam-sauya dari keluarga Mo?"
Suara tersebut tidak lain berasal dari suara loji dari Im-tiong-siang-sat yakni Thian Keng. Buru-buru Mo Ki-yau berseru.
"Benar, akulah orangnya, Im-liong-siang-sat ka… kalian, kalian cepat…"
Belum habis dia berseru, Nyo Yan sudah mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi sambil memutarnya dengan kencang lalu bentaknya.
"Hei, aku toh menyuruh kau jangan berkaok-kaok! Baik, bila kau ingin bersama-sama Im-tiong-siang-sat, pergilah sekarang juga!"
Buru-buru Mo Ki-yau berseru.
"Ja… jangan! Aku tidak akan berteriak lagi, harap jangan lemparkan tubuhku!"
Setelah dibikin terperanjat oleh gertakan Nyo Yan tadi, otaknya pun menjadi segar kembali, diam-diam dia lantas berpikir.
"Benar, ilmu silat yang dimiliki Im-tiong-siang-sat jauh lebih rendah dari diriku, apa gunanya kumohon bantuannya."
Sementara itu, Im-tiong-siang-sat yang menyaksikan Nyo Yan menyusul datang, mereka semakin panik lagi sehinggadiam-diam hanya menyesali orangtua sendiri yang melahirkan mereka hanya dengan dua buah kaki saja.
Sekalipun sudah melarikan diri dengan sekuat tenaga, tapi Nyo Yan yang berlari sambil membawa seseorang masih bisa berlari jauh lebih cepat dari mereka.
Tahu-tahu Nyo Yan sudah berhasil menyusul sampai di belakang mereka, dengan menggunakan ilmu Liong-jiau-jiu yang lihay, dia segera melepaskan sebuah gerakan mengisap.
Tanpa sadar Im-tiong-siang-sat tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih ke belakang kemudian tubuhnya berputar seperti gasing, kontan saja kepala mereka menjadi pening dan pandangan mata berkunang-kunang.
Menanti mereka dapat berdiri tegak dan dapat melihat jelas keadaan di depan mata, barulah diketahui kalau Nyo Yan sudah berdiri tepat di depan mereka.
Im-tiong-siang-sat benar-benar ketakutan setengah mati sehingga sukmanya seperti melayang meninggalkan raga, dengan suara gemetar mereka segera berseru.
"Ooh nenek moyang kecilku, kami pernah me-nyalahimu, dan kau orang tua pun sudah menjatuhi hukuman kepada kami. Kami tidak berani mengusikmu lagi, begitu kau datang kami pun kabur. Mohon sudilah kiranya kau orang tua mengampuni kami."
Nyo Yan segera tertawa.
"Benar, benar, perkataan kalian hanya separuh yang masuk di akal,"
Katanya. Sementara Im-tiong-siang-sat masih kebingungan dan tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan sebagai "separuh alasan yang bisa diterima"
Itu, terdengar Nyo Yan berkata lebih lanjut.
"Benar, aku sudah menampar Thian loji, olehsebab itu aku hanya bisa meminta kepada Be lotoa untuk menemani Mo sauya hari ini."
Selesai berkata, tangan kirinya segera digerakkan mencengkeram tubuh Be Bong.
Begitulah dengan tangan kiri mencengkeram tubuh Mo Ki-yau dan tangan kanan mencengkeram Be Bong, Nyo Yan sengaja tidak meno-tok jalan darah bisu mereka, pilarnya.
"Liong Leng-cu tak mungkin bisa kutemukan dalam waktu singkat, tapi kemungkinan besar dari pihak bukit Pek-tou-san sudah ada orang yang datang kemari, asal aku bisa memancing munculnya orang Pek-tou-san ini, hal ini akan memberikan bantuan yang sangat besar untuk usahaku itu…."
Rupanya anak muda ini sengaja tidak menotok jalan darah bisu mereka, agar kedua orang itu mempunyai "kesempatan"
Untuk berteriak minta tolong.
Setelah berlarian beberapa saat kemudian, Mo Ki-yau sudah tidak berteriak lagi, tapi malah menguap berulang kali.
Hal ini tentu saja membuat Nyo Yan merasa keheranan, pikirnya.
"Aku tak pernah menotok jalan darah tidurnya, mengapa berada dalam keadaan terkejut dia bisa mengantuk?"
Semakin ke atas bukit, jalanan yang dilalui semakin berbahaya, namun Nyo Yan masih saja bergerak di atas tebing curam tersebut bagaikan sedang terbang saja.
Beberapa kali Be Bong tidak tahan menjerit kaget, sebaliknya Mo Ki-yau malah sama sekali tak berkutik lagi.
Dengan perasaan heran Nyo Yan berpikir.
"Heran, padahal toa-sauya ini jauh lebih mendingan keadaannya daripada Be Bong, masa dia pingsan karena ketakutan?"
Mo Ki-yau yang dicengkeram pinggangnya, sepanjang jalan sama sekali tak berkutik barang sedikit pun jua.
Nyo Yan yang sama sekali tidak mendengar suaranya itu menjadi keheranan, baru saja dia akan memeriksa apakah orang itu sudah pingsan atau belum, tubuh Mo Ki-yau sudah mulai bergerak, bahkan bergerak dengan amat hebatnya.
Sekalipun tubuhnya tak bisa berputar balik, namun bergoyang ke dua sisi yang berlawanan bahkan kaki dan tangannya digerakkan pula bersama-sama.
Melihat itu Nyo Yan baru merasa heran, segera bentaknya keras-keras.
"Hei, apakah kau ingin mampus? Kebetulan sekali, di bawahmu sekarang memang jurang yang dalamnya puluhan ribu kaki!"
Mo Ki-yau tak berani menggoyangkan tangan dan kakinya lagi, namun dia masih saja bersin berulang kali. Melihat kesemuanya itu, Nyo Yan lantas berpikir.
"Kebanyakan orang yang berada di ambang pintu hidup dan mati seringkali mereka dibikin ketakutan sampai berdiri kaku seperti patung, sekalipun mereka bernyali agak besar pun seringkali dibikin ketakutan sampai akalnya tak jalan, tapi biasanya hanya menjerit-jerit dan tak pernah menggerakkan tangan dan kakinya. Kalau begitu, toa-sauya ini pasti sedang merasakan suatu penderitaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, bukan dikarenakan ketakutan hingga menjadi begitu…."
Dia lantas meneruskan perjalanannya meninggalkan jurang itu dan menuju ke arah hutan yang bertanah lebih datar.Be Bong telah menjadi tenang kembali, sebaliknya Mo Ki-yau masih saja merintih.
Nyo Yan segera membentak gusar.
"Aku toh tak menyiksamu, kenapa kau berteriak-teriak seperti setan yang menjerit?"
Kembali Mo Ki-yau merintih.
"Aku… aku minta…."
"Kau minta apa?"
Bentak Nyo Yan sambil mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
Menanti dia sudah melekatkan telinganya di sisi bibir pemuda itu, Nyo Yan baru mendengar dengan jelas kalau dia minta pil dewa atau Sin-sian-wan.
"Pil dewa? Apa sih pil dewa itu?"
Mo Ki-yau sudah tak bisa memberi penjelasan lagi, dia cuma bergumam terus tiada hentinya.
"Pil dewa… pil dewa…."
"Hei, apakah penyakit edanmu sedang kambuh? Ke mana aku harus mencari pil dewa untukmu?"
Dengan menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya Mo Ki-yau kembali berseru.
"Turunkan aku, akan kucari sendiri."
Nyo Yan merasa yakin kalau dia tak akan lolos dari cengkeramannya, maka pemuda tersebut segera diturunkan, dia ingin tahu apa yang hendak dilakukan olehnya.
Kalau tidak dilihat mungkin masih agak mendingan, begitu melihat apa yang dilakukan, Nyo Yan merasa geli bercampur mendongkol.
Tampak air mata dan ingusnya mengalir keluar bersama-sama, meskipun sudah dilepaskan namun dia bukannya bangkit berdiri, sebaliknya malah bergulingan di atas tanah.Setelah bersusah payah akhirnya dia berhasil juga memasukkan tangannya ke dalam saku.
Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja dia menjerit melengking.
"Aah, pil dewaku telah hilang!"
Rupanya sewaktu dijinjing oleh Nyo Yan seperti anak ayam tadi, seluruh isi sakunya telah berhamburan ke atas tanah dan tercecer di sepanjang jalan. Dengan kening berkerut Nyo Yan segera menegur.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi? Mengapa kau tampak lemas dan sedih?"
Seakan-akan teringat akan sesuatu, Mo Ki-yau meronta bangun lalu berteriak keras.
"Pil dewa, dia… dalam sakunya ada! Nyo sauya, kumohon kepadamu, suruhlah dia me-ngeluarkan pil dewa itu dan memberikannya kepadaku!"
Dengan cepat Be Bong berteriak.
"Nyo siauhiap, kau… kau jangan percaya dengan ocehannya, kau jangan percaya…."
"Plaaak…!"
Nyo Yan menampar wajahnya keras-keras, lalu membentak dengan marah.
"Kalau kusuruh kau bicara kau baru berbicara, sekarang jangan banyak bicara dulur Dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan memeriksa semua benda yang berada di sini, akhirnya dia menemukan sebuah botol yang berisi penuh dengan pil berwarna putih.
"Apakah isi botol ini adalah pil dewa?"
Nyo Yan segera bertanya Dengan wajah berseri buru-buru Mo Ki-yau menyahut "Benar, benar, cepat berikan kepadaku!"
Setelah melihat pil dewa tersebut, walaupun belum ditelan namun semangatnya tampak jauh lebih segar.
"Aku hendak mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepadamu, bila kau bersedia menjawab dengan sejujurnya, segera kuberikan pil dewa ini kepadamu."
"Kalau begitu tanyalah dengan cepat, aku sudah tak mampu mempertahankan diri lagi."
"Kau tahu tentang Pek-tou Sancu"
"Tahu."
"Yang kau maksudkan sebagai tahu itu, pernah bertemu sendiri dengan orangnya? Ataukah mendengar saja dari pembicaraan orang lain?"
"Aku tak pernah bertemu, Im-tiong-siang-sat yang menceritakan kepadaku, dari merekalah aku baru tahu tentang Pek-tou Sancu."
"Apa saja yang dia beritahukan kepadamu?"
Mo Ki-yau tampak amat rikuh dan tersipu-sipu, dia seperti tak ingin menjawab pertanyaan tersebut Melihat itu, Nyo Yan segera membentak keras.
"Jika kau enggan menjawab, aku Dun tak akan menyerahkan pil dewa ini kepadamu!"
"Baa… baaik, baaa… baik, aku akan menjawab, aku akan menjawab,"
Teriak Mo Ki-yau keras-keras.
"Mereka menyuruh aku mengangkat Pek-tou Sancu menjadi majikanku, seperti mereka menuruti perintah Pek-tou Sancu!"
Nyo Yan merasa makin tercengang lagi setelah mendengar keterangan itu, dia lantas berseru.
"Bukankah kau belum pernah bertemu dengan Pek-tou Sancu? Hanya berdasarkan pengakuan dari Im-tiong-siang-sat saja kau sudah percaya kalau di dunia ini terdapat Pek-tou Sancu dan kau pun bersedia menjadi budaknya? Apakah mereka menggunakanorang-orang dari Bukit Unta Putih untuk mengancam dan mendesakmu?"
"Tidak. Walaupun aku tak becus, nama ayahku cukup menggetarkan dunia persilatan, siapa yang berani menggunakan kekerasan untuk mengancam anggota keluarga Mo?"
Walaupun sudah berada dalam cengkeraman Nyo Yan, akan tetapi dia masih membela nama keluarganya mati-matian, meski air mata dan ingus masih meleleh keluar, dia masih juga mengunggul-unggulkan kehebatan keluarganya.
Nyo Yan segera bertanya lagi.
"Lantas mengapa kau rela menjadi budak orang?"
Merah padam wajah Mo Ki-yau karena jengah, tapi dia pun tak tahan menghadapi siksaan racun dalam tubuhnya, terpaksa agak tergagap sahurnya.
"Karena pil dewa ini! Asal aku bersedia menuruti perkataan mereka, aku baru memperoleh pil dewa untuk dinikmati."
Tak selang beberapa saat kemudian, tampak Mo Ki-yau mulai menari-nari, keadaannya tak jauh berbeda dengan orang gila.
Terdengar dia tertawa terbahak-bahak berulang kali, kemudian mulai membawakan lagu senandung.
Melayang, melayang, melayang… aku sedang melayang, melayang di tengah mega, ooh enci Siang-go, bukakan pintu rembulanmu bawakan lagu yang merdu dan syahdu, di tengah malam nan biru….
Nyo Yan tertawa dingin.
"Heeehh… heeehh… hecehh… sekali telan pil dewa hidup gembira seperti dewa, rupanyadewa dalam impian di siang hari bolong. Bagus sekali, wahai Be Bong, apakah kau pun ingin mencari kesenangan?"
Bc Bong tak berani menjawab, dia membungkam dalam seribu bahasa.
Sementara itu Mo Ki-yau sudah menari di hadapannya, selesai tertawa tergelak, disusul kemudian menangis tersedu-sedu, sebentar tertawa lagi lalu menangis, keadaannya tidak jauh berbeda dengan tingkah laku orang gila.
Mendadak dia menubruk ke tubuh Be Bong, kemudian teriaknya dengan ketakutan.
"Aduh celaka, tolong tolong… ada siluman berkepala kerbau bermuka kuda datang mengejarku… aduh tolong… ada orang memaksaku untuk menemaninya menempuh perjalanan ke akhirat… Be toako, kau harus menemani aku menuju ke akhirat untuk memberi laporan…."
Dengan cepat Be Bong mengerahkan tenaganya untuk mendorong pemuda itu sehingga terjungkal ke atas tanah.
Rupanya Nyo Yan telah melepaskan Be Bong, sebab dia yakin kalau mereka tak bakal bisa lolos dari cengkeramannya, karena itu jalan darah mereka tak ditotok.
Nyo Yan tak ingin menyaksikan terus tingkah laku Mo Ki-yau yang edan tersebut, dengan cepat dia me-notok jalan darah tidurnya, setelah itu katanya sambil tertawa dingin.
"Rupanya kesenangan seperti indah yang diperoleh, sekarang aku lebih memahami lagi?"
Tampaknya Be Bong menyadari kalau keadaan tidak menguntungkan, buru-buru dia membantah.
"Kali ini dia kambuh karena tidak mendapat pil dewa pada waktunya, dia pun menelan pil tersebut kelewat banyak sehingga akibatnyabegitulah. Coba kalau diminum menurut aturan, sudah barang tentu tak akan berubah menjadi begini, makin banyak jumlah obat yang diminum, maka dia akan merasakan kesenangan yang tak terhingga."
"Bagus sekali, aku pun mempunyai cara untuk memberi kesenangan yang tak terhingga pula bagimu!"
Mendadak dia cengkeram tubuh Be Bong, membalikkan badannya lalu menotok jalan darah Hong-hu-hiat di punggungnya.
Tak selang beberapa saat kemudian, Be Bong merasa dalam tubuhnya seakan-akan terdapat semut yang sedang berjalan-jalan, makin lama semakin bertambah hebat hingga kini seluruh isi perutnya seakan-akan sudah digigiti oleh semut beracun.
lak tahan lagi dia segera berguling-guling di atas tanah sembari merengek-rengek.
"Nyo siauhiap, ampunilah aku! Apa pun yang kau suruh kulakukan, aku bersedia untuk mengerjakan."
"Oooh, kau sudah memperoleh kenikmatan yang tak terhingga?"
Ejek Nyo Yan sambil tertawa.
"Kalau begitu, sekarang jawablah dengan sejujurnya!"
"Aku mohon kepadamu untuk menghilangkan kenikmatan semacam ini, apa yang kuketahui pasti akan kubeberkan semua kepadamu,"
Kembali Be Bong memohon dengan nada memelas.
Nyo Yan segera menyentil pelan ke atas jalan darah Siang-ing-hiat-nya untuk mengurangi beberapa bagian rasa penderitaannya dan memberi sedikit tenaga agar dia punya tenaga untuk berbicara, kemudian tanyanya pelan.
"Sebetulnya pil dewa itu adalah obat beracun seperti apa…?""Pil itu bukan obat beracun,"
Bantah Be Bong.
"Kalau bukan obat beracun lantas apa?"
"Konon obat tersebut dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang dinamakan toa-ma, tumbuhan tersebut banyak dihasilkan di atas pegunungan yang berada di perbatasan antara Tiong-goan dengan negeri Thian-tok, tapi macam apakah tumbuhan tersebut, sampai sekarang aku sendiri pun belum pernah melihatnya."
"Tumbuhan itu bisa membuat orang kehilangan kesadarannya, kalau bukan obat beracun apa namanya?*’ bentak Nyo Yan sambil tertawa dingin tiada hentinya. Buru-buru Be Bong menerangkan lagi.
"Nyo siauhiap, kau pasti mengerti candu bukan?"
Nyo Yan segera teringat kembali dengan nyonya tauke pemilik rumah penginapan Im-lay yang mengisap madat, segera tanyanya.
"Apakah benda yang dinamakan Hok-siu-kau tersebut? Ehmmm, aku tahu."
"Pil dewa tak lain adalah candu, barang siapa yang telah menelannya maka dia akan kecanduan terus-menerus, sehari pun tak boleh kekurangan.
"Nyo siauhiap, kalau kau tahu tentang candu atau Hok-siu-kau, tentunya kau juga tahu pil dewa yang sebangsa dengan candu tersebut sebetulnya bukan suatu obat beracun yang bisa mencelakai manusia?"
Nyo Yan mendengus, kemudian pikirnya.
"Setelah mengisap candu, nyonya tauke itu menjadi malas seperti babi, kalau manusia seperti ini bisa hidup sampai seratus tahun pun tak lebih hanya sampah masyarakat, namun kalau dia mengatakan bahwa pil dewa sejenis dengan Hok-siu-kau,rasanya perkataan ini boleh dipercaya. Mungkin toa-ma dan candu adalah obat beracun yang bersifat lamban, apa yang disebut sebagai pil dewa atau salep rezeki dan panjang usia (Hok-siu-kau) tersebut sudah pasti merupakan nama-nama ciptaan penjualnya."
Pengetahuan Nyo Yan tentang obat-obatan beracun itu boleh dibilang amat dangkal, dia mana tahu kalau benda tersebut bukan cuma membuat orang menjadi malas dan ketagihan, pada hakikatnya merupakan sejenis racun yang benar-benar berbahaya bagi kesehatan manusia, apalagi pil dewa tersebut, ganasnya racun tersebut jauh melebihi candu atau sebangsanya.
Tapi menurut dugaannya, benda tersebut merupakan sebuah obat beracun yang bersifat lamban, meski kurang tepat, perbedaannya juga tidak terlalu besar.
Meskipun Nyo Yan tidak percaya dengan ucapan itu, dia tak menegurnya secara langsung, malah sebaliknya bertanya lebih jauh.
"Dari mana kau dapatkan pil dewa tersebut?"
"Dari bukit Pek-tou-san!"
Sahut Be Bong.
"Apakah Pek-tou Sane u yang menyuruh kau memancing orang untuk menelan pil beracun itu? Bagaimana ceritanya ketika kalian berjumpa untuk pertama kalinya? Apa pula maksud tujuannya memancing orang untuk menelan pil bera-cun tersebut? Harap kau utarakan satu per satu dengan jelas…!"
Be Bong menjadi sangsi dan tidak mampu menjawab. Melihat itu Nyo Yan segera menggerakkan telapak tangannya sambil berkata dingin.
"Kau enggan menjawab? Apakah ingin kuberi kesenangan lagi…?"
Belum lagi pukulan tersebut bersarang di tubuhnya, dia segera merasakan adanya semut yang berjalan di dalamtubuhnya, kontan Be Bong merasa sangat menderita, buru-buru teriaknya.
"Nyo siauhiap, harap kau jangan bertindak secara keji, aku akan menjawab, aku akan menjawab."
Nyo Yan segera menghentikan gerakan tangannya setelah mendengar perkataan itu. Mula-mula Be Bong menarik napas panjang lebih dulu, kemudian katanya.
"Semuanya ini adalah kesalahan kami, tidak tahan menghadapi bujuk rayu Pek-tou Sancu. Tiga tahun berselang, kami mengawal garam ke Tibet untuk dibarter dengan obat-obat yang mahal harganya dari orang-orang Tibet. Transaksi berlangsung amat lancar dan kami berhasil mendapatkan keuntungan yang besar sekali "
Sewaktu hendak berangkat pulang inilah, murid Pek-tou Sancu yang bernama Buyung Cut menangkapku dan dibawa ke atas Bukit Unta Putih.
"Setelah berjumpa dengan Pek-tou Sancu, pada mulanya kami masih mengira dia hendak hitam makan hitam, kami bersedia mempersembahkan segenap harta yang kami miliki asal bisa hidup. Siapa tahu setelah mendengar ucapan tersebut dia tertawa terbahak-bahak, kepada kami katanya, bukan saja dia tidak menghendaki uang kami, bahkan bisa membantu kami untuk meraih keuntungan yang lebih besar lagi, suatu keuntungan luar biasa yang tak akan kami duga, bahkan sepuluh kali lipat dari keuntungan yang kami raih dengan berdagang garam!"
"Sudah pasti dia menyuruh kalian membantunya menjualkan racun tersebut.?"
Kata Nyo Yan.
"Dengan pedagang candu biasa agak berbeda.
Ketika menyerahkan pil dewa tersebut pada kami, ia hanya menyuruh kami untuk memancing kawanan jago persilatanmenelan pil tersebut, dia tidak menghendaki uang sepeser pun, asal mereka yang kecanduan bersedia mendengarkan petunjuknya.
Kami pun tidak usah mengeluarkan uang, se-muanya dihadiahkan kepada kami secara gratis, bila kami hendak menarik uang pun dia tak ambil peduli.
"Waktu itu, pertama, karena kami takut pada ilmu silatnya, kedua, cocok dengan selera kami yang gemar mencari uang, maka kami pun setuju dan menuruti perkataannya."
Memaksa Mo Sauya Pantang Racun "Apakah dua bersaudara Lau dari Khong-tong-pay juga kecanduan pil dewa?"
Tanya Nyo Yan.
"Mereka mempunyai rahasia yang diketahui Pek-tou Sancu apalagi berhasil ditaklukkan maka mereka terhindar dari kecanduan pil dewa tersebut"
"Untuk memancing orang agar kecanduan pil ini, kami harus pilih-pilih sasaran yang tepat. Terhadap anak murid dari Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Gobi-pay maupun Khong-tong-pay, kami tak berani mencobanya.
"Sasaran yang paling gampang masuk perangkap adalah pemuda-pemuda lemah macam Mo Ki-yau, asal dia sudah kecanduan maka jangan harap bisa lolos dari cengkeraman kami."
"Sebenarnya apa tujuan dan maksud Pek-tou Sancu dengan membuat begitu banyak jago persilatan kecanduan pil beracun?’* "
Dari mulut para anggota perguruannya, kudengar kalau ilmu sakti yang dimiliki ketua mereka sudah berhasil, saat itulah mereka akan membuka perguruan di daratan Tionggoandan akhirnya menguasai seluruh dunia persilatan.
Tapi untuk menjadi seorang pemimpin dunia persilatan masih belum cukup kalau hanya mengandalkan ilmu silat saja, mereka harus memiliki sekelompok manusia yang dengan hati rela dan pasrah menuruti perintahnya."
Nyo Yan segera tertawa dingin setelah mendengar ucapan itu, jengeknya.
"Huuh, penyelundup candu pun ingin jadi pentolan dunia persilatan, benar-benar suatu lelucon yang bisa membuat copot gigi palsu orang."
Be Bong tidak berani membantah, dia hanya berseru.
"Apa yang kuketahui telah kuberitahukan kepadamu. Nyo siauhiap, ampunilah diriku!"
"Hmm, meskipun kau bukan pentolan penjahat, paling tidak kau telah membantu penyelundup candu untuk meracuni masyarakat, manusia macam kau sebetulnya tidak pantas memenuhi dunia lagi, tapi aku boleh saja mengampuni jiwamu, hanya saja…."
"Hanya saja kenapa?"
Tanya Be Bong dengan suara gemetar.
"Bukankah kau pernah bilang, setiap butir pil dewa bisa membuat orang merasa bahagia seperti dewa? Baik, sekarang aku benar-benar harus memberikan kebahagiaan yang paling top untukmu!"
Begitu ucapan terakhir diutarakan, dia segera mencengkeram jalan darah kakunya dan menggunakan kesempatan tersebut memaksanya membuka mulut dan menuang seluruh pil dewa tersebut ke dalam mulurnya.
Tidak berselang berapa saat kemudian, paras muka Be Bong berubah menjadi merah padam, sepasang matanya seakan-akan berapi-api, sebentar tertawa sebentar menangis,sebentar berkaok-kaok, sebentar menjerit, dia menerjang ke arah Nyo Yan bagaikan orang yang tak waras otaknya.
Nyo Yan segera melepaskan sebuah pukulan udara kosong untuk mementalkan badannya, dan tidak berselang beberapa saat kemudian, Be Bong sudah menjadi gila sung-guhan, dia mulai merobek-robek pakaiannya, mencakari mukanya sampai berdarah, lalu mencak-mencak dan menari-nari, tak ubahnya seperti orang yang kehilangan ingatan.
Nyo Yan mengambil sebuah kantung kulit yang penuh berisi air bersih, itulah persediaan yang dibawa Be Bong untuk mendaki bukit.
Kemudian Nyo Yan membebaskan jalan darah Mo Ki-yau dan mengguyur kepalanya dengan air dingin.
Terguyur air dingin, Mo Ki-yau segera sadar kembali, dia mulai berteriak-teriak keras.
"Mana pil dewaku? Mana pil dewaku?"
Nyo Yan segera tertawa dingin.
"Apakah kau masih menginginkan pil dewa? Coba kau lihat keadaan Be iotoa, dia sedang mencapai kenikmatan yang paling top karena menelan pil dewa!"
Waktu itu Be Bong sudah tidak tahan dan sedang menggelinding turun dari atas bukit. Berdiri semua bulu kuduk Mo Ki-yau setelah menyaksikan peristiwa tersebut, bisiknya gemetar.
"Dia… dia… benarkah dia berubah menjadi begitu rupa karena menelan pil dewa?"
"Hmmm, tampaknya kau benar-benar sudah diracuni pil dewa tersebut hingga manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan,"
Seru Nyo Yan amat gusar.
"Hingga berada dalam keadaan begini, apakah kau masih tidak percaya kalaupil dewa itu adalah obat beracun? Baik, apabila kau pun ingin memperoleh kenikmatan yang paling top seperti dia aku tak akan membuatmu kecewa!"
Mo Ki-yau mengira Nyo Yan menginginkan kebalikannya, buru-buru dia memohon.
"Ooh, Nyo Yan siauhiap, kau jangan membuat aku berubah seperti itu, mulai sekarang aku tak akan berani memusuhi dirimu lagi!"
"Kau ingin menjadi manusia atau jadi setan terserah pada penilaianmu sendiri,* kata Nyo Yan dingin.
"namun kau harus mengerti, pil dewa dari Be Bong-lah yang telah membuat kau berubah menjadi begini rupa, bila kau tak ingin menuruti jejaknya, maka satu-satunya jalan adalah bertekad untuk pantang menelan pil tersebut lagi, kau harus mampu mengendalikan diri."
"Nyo siauhiap, aku akan menuruti perkataanmu dan selanjurnya akan berpantang,"
Kata Mo Ki-yau agak tergagap.
"cuma… cuma…."
"Cuma kenapa?"
Tanya Nyo Yan sambil menatapnya lekat-lekat. Mo Ki-yau berusaha menghindari tatapan matanya yang tajam bagaikan sembilu itu, sahurnya cepat.
"Cuma aku harus pulang dulu ke rumah sebelum bisa pantang racun tersebut dengan perasaan yang lega."
"Mengapa?"
"Dari sini sampai ke Bong-lay paling tidak ada beberapa ribu li jauhnya, aku pun sudah terbiasa makan pil dewa, seandainya tiada obat tersebut, mungkin aku tak akan mampu untuk menempuh perjalanan sejauh ini…."
"Ooh, jadi kalau begitu, kau masih menginginkan pil dewa tersebut…?"
Tanya Nyo Yan dingin.
"Nyo siauhiap, kumohon kepadamu sudilah berbuat kebaikan dengan memberikan sisa pil dewa milik Be Bong itu untukku, kalau tidak, mungkin aku tak akan pernah bisa sampai di rumah, jadi aku sudah mampus selagi masih ada di jalanan. Aku telah berjanji, setibanya di rumah pasti akan berpantang racun ini, inilah pil dewa yang terakhir kalinya untukku, harap kau sudi mempercayai aku!"
Nyo Yan benar-benar naik darah, segera dicengkeramnya pemuda itu, kemudian bentaknya.
"Apa gunanya manusia macam kau dibiarkan hidup di dunia ini? Aku lihat daripada mampus di tengah jalan, lebih baik mampus di tempat ini saja!"
Dia mengangkat tubuh orang itu dan diputar seperti gangsingan, tampaknya dia akan segera melemparkan pemuda tersebut ke dalam jurang di sebelah depan sana.
Mo Ki-yau menjadi ketakutan setengah mati, sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, segera dia berteriak keras-keras.
"Aku… aku sudah tahu salah, Nyo siauhiap, ampunilah aku, aku tak berani meminta pil dewa lagi!"
Di dalam marahnya tadi, sebenarnya Nyo Yan berniat untuk sungguh-sungguh membuangnya ke dalam jurang, tapi setelah mendengar ia minta ampun, hatinya menjadi tak tega, maka segera pikirnya.
"Bagaimanapun juga, toa-sauya ini masih belum terhitung orang jahat, dia hanya keblinger sehingga salah langkah saja, berbicara soal dosanya masih belum pantas dihukum mati. Baik, aku akan berbuat kebaikanuntuk kali ini, jadi orang baik harus dikerjakan hingga selesai, bila ia tak punya kemauan untuk pantang candu, terpaksa aku harus membantu usahanya itu."
Setelah mengambil keputusan dia segera menarik tubuh Mo Ki-yau, kemudian mengambil kantong ransum yang berada di tanah.
Ransum kering itu merupakan persediaan yang dibawa Be Bong untuk mengatasi kekurangan pangan di atas gunung nanti.
Setelah mengambil ransum, dia angkat lagi tubuh Mo Ki-yau dan lari ke arah jurang Mo Ki-yau tidak mengetahui maksud Nyo Yan, dia menjadi ketakutan setengah mati, tak tahan lagi ia berkaok-kaok macam orang gila.
Dengan geramnya Nyo Yan membentak.
"Tutup mulut anjingmu itu! Bila berkaok-kaok lagi, akan kulemparkan tubuhmu ke dasar jurang untuk santapan serigala!"
Kali ini dia menghimpun tenaganya untuk menerjang naik ke atas sebuah bukit karang yang tegak lurus seperti pena, setibanya di bawah sebuah tebing batu yang terjal dia baru menurunkan Mo Ki-yau.
Sekeliling tebing karang itu berupa semak belukar yang tingginya melebihi manusia, begitu lebatnya sehingga hampir saja sinar matahari tak bisa menembus ke dalam Nyo Yan memeriksa sebentar keadaan di sekeliling tempat itu, lalu berpikir.
"Walaupun tempat ini tak akan menyulitkan orang yang pandai menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun kecuali mencabuti semua semak belukar yang tumbuh di sini dan melakukan pencarian yang seksama, bilakusembunyikan MO toa-sauya di sini, sudah pasti tiada orang yang akan berhasil menemukannya."
Kemudian setelah berpikir sejenak, dia berpikir lebih jauh.
"Ya, betul, tempat ini memang jauh lebih baik…"
Maka sambil tertawa terbahak-bahak dia segera menurunkan Mo Ki-yau ke atas tanah. Mo Ki-yau tidak tahu apa yang hendak diperbuat orang terhadapnya, dengan suara gemetar dia segera bertanya.
"Nyo siauhiap, apa-apa maksudmu membawa aku kemari?"
Mendadak Nyo Yan melepaskan dua totokan untuk menyodok jalan darah bisu dan jalan darah kakunya, kemudian menyahut.
"Mo sauya, dengarkan baik-baik? Aku akan meninggalkan ransum kering ini untukmu, cukup untuk ransummu selama tujuh hari Jalan darah yang kutotok, jalan darah bisu dan jalan darah di kakimu akan bebas sendiri selewatnya lima hari Di dalam lima hari ini, walaupun kau tak dapat bicara, namun tangan dan kakimu bisa bergerak, tiada binatang buas yang bisa naik ke sini maka kau pun tak usah mengkhawatirkan keselamatan jiwamu. Lima hari kemudian, jalan darahmu akan bebas, dan setelah beristirahat dua hari lagi, tenaga dalammu akan pulih kembali seperti sediakala. Dengan kepandaian silat yang kau miliki, aku percaya pada waktunya kau masih bisa turun sendiri. Cuma maaf, aku tidak dapat menghadiahkan pil dewa untukmu."
Setelah melakukan pekerjaan itu, Nyo Yan merasa amat bangga, pikirnya.
"Andaikata kuceritakan perbuatanku ini kepada Leng-cu, sudah pasti dia akan tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perutnya. Hmmm… heeehhmm… tipu muslihatnya untuk menggoda orang paling banyak, tapiperbuatanku ini sebetulnya merupakan perbuatan baik, jurus baru ini mungkin tak pernah dia bayangkan sebelumnya."
Sambil bersenandung, dia pun berangkat meneruskan perjalanannya.
Tapi bila teringat akan Liong Leng-cu semua kegembiraan tadi segera lenyap kembali.
Dia hanya tahu kalau gadis tersebut berada di bukit Ci-lian-san, tapi bukit ini panjangnya mencapai ratusan li, ke mana dia harus mencari jejaknya?
Sementara dia masih kebingungan dan tak tahu apa yang harus diperbuat, mendadak dari bawah bukit terdengar ada orang sedang bercakap-cakap.
Jalan bukit itu berliku-liku, penuh tanjakan dan tebing yang curam, meski suara pembicaraan yang berasal dari bawah tebing sana terdengar amat jelas namun si pembicaranya masih belum kelihatan batang hidungnya.
Bagi kedua orang itu, untuk mencapai tempat di mana dia berada sekarang, paling tidak masih dibutuhkan waktu selama setengah pasangan hio lamanya.
Nyo Yan hanya mendengar se-patah kata saja, perhatiannya segera tertarik oleh pembicaraan tersebut Ucapan pertama yang didengar olehnya adalah pertanyaan orang itu kepada rekannya» "Toako, tulisan tersebut agak aneh rasanya.
Bayangkan saja, dikatakan dalam tulisan itu, ‘Bualan kosong, bagai katak dalam sumur*, sebetulnya apa arti dari perkataan itu?"
Nyo Yan yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa geli, pikirnya.
"Akulah yang menulis tulisan tersebut, seharusnya kau mengajukan pertanyaan itu kepadaku."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpilar lebih-jauh.
"Ternyata mereka sudah menemukan tulisanku di atas batu tersebut, tapi kalau dilihat dari pembicaraan mereka, seharusnya mereka tidak berjumpa dengan dua bersaudara Lau, kalau tidak, seharusnya mereka sudah memahami maksud perkataanku itu."
Belum habis dia berpikir, terdengar si toako telah menyahut.
"Apa sih susahnya untuk memahami kedua bait kata itu, sudah jelas dia sedang mencemooh orang lain yang tidak tahu diri dan tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
"Arti dari tulisan itu bisa kumengerti, tapi bukan ini maksudku. Aku hanya merasa heran, mengapa orang itu harus menuliskan huruf-huruf tersebut di atas batu cadas tersebut?"
"Kalau soal itu, bagaimana aku bisa tahu? Aku tidak ingin mengetahui maksud hatinya, aku hanya mengkhawatirkan orang ini. Ilmu jari yang dimiliki orang ini sudah jelas tidak berada di bawah ilmu Kim-kong-ci yang kita miliki."
"Kau menganggap orang itu kemungkinan besar hendak memusuhi kita…?"
"Sulit untuk dikatakan. Menurut apa yang kuketahui, di antara orang-orang dari pihak kita yang mendatangi bukit Ci-lian-san kali ini, seharusnya tidak ada orang yang memiliki ilmu jari seperti itu."
"Mungkin saja dia adalah jagoan lihay dari pihak istana kerajaan yang sengaja diundang Phang Tay-yu? Kita toh belum tahu?"
"Kau menyinggung soal Phang Tay-yu, hatiku semakin khawatir lagi. Dia merupakan pentolan dan rombongannya»mengapa hingga sekarang masih belum tampak dia naik ke gunung?"
"Toako, kita mempunyai banyak sekali jagoan yang tangguh, masa kita masih takut untuk menghadapi siluman perempuan kecil itu?"
Sang Mtoako"
Segera tertawa getir.
"Janganlah kau pandang masalahnya kelewat sederhana, coba bayangkan saja, seandainya siluman perempuan kecil itu mudah dihadapi, mengapa suhu kita harus mencari banyak orang untuk mendatangi bukit Gi-lian-rsan? Apakah hanya ka-rena untuk membantu kita sehingga lebih mudah melakukan pencarian?"
"Betul, toakol Aku memang hendak bertanya kepadamu, sebenarnya siapa sih siluman perempuan kecil itu? Bersediakah kau untuk memberitahukan hal ini kepadaku?"
"Tahukah kau, selama hidupnya siapa yang paling ditakuti dan disegani suhu kita?"
"Suhu kerap kali memuj i ilmu silat sendiri yang sudah dibilang tiada tandingannya lagi di kolong langit, aku belum pernah mendengar kalau dia pun merasa takut terhadap se-seorang."
"Betul, ilmu silat yang dimiliki dia orang tua memang sudah tiada tandingannya lagi. Tapi ada dua orang yang lain mungkin bisa mengungguli dia, yang satu sudah mati,yang satu masih hidup."
"Walaupun sudah mati, aku pun ingin tahu siapakah orang itu?"
Sang toako berhenti sejenak, mungkin untuk mengatur napas, kemudian pelan-pelan katanya.
"Orang itu tak lainadalah si gembong iblis yang pernah mem buat suhu kita makan tak enak tidur tak nyenyak pada duapuluh tahun berselang, Giok-liong Taycu (Pa ngeran Naga Kemala) adanya!"
Kemudian sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Siluman perempuan kecil yang diperintahkan suhu untuk kita tangkap sekarang, tak lain adalah putri dari Giok-liong Taycu!"
Nyo Yan yang menyadap pembicaraan tersebut diam-diam lantas berpikir.
"Heran, mengapa ayah Liong Leng-cu mempunyai julukan yang begitu aneh? Pangeran Naga Kemala, tentunya dia bukan pangeran dari suatu negeri?"
Ia pernah mendengar Liong Leng-cu menceritakan riwayat hidupnya, maka secara lamat-lamat dia sudah dapat menduga beberapa bagian, siapa gerangan Pek-tou Sancu tersebut. Terdengar sang "toako"
Melanjutkan kembali kata-katanya.
"Dua-belas tahun berselang, Pangeran Naga Kemala sudah menemui ajalnya, tapi kitab ilmu pukulan dan ilmu pedangnya sama sekali tidak terjatuh ke tangan orang luar."
"Tapi kalau didengar dari ucapan suhu, siluman perempuan kecil yang harus kita cari adalah seorang nona berusia tujuh delapanbelas tahunan…."
Sang "toako"
Segera mendengus.
"Hmm, kau berani memandang enteng usianya yang masih muda?"
Dia menegur.
"Aku tidak bermaksud memandang enteng, tapi dengan usianya itu, meski ilmu silatnya berhasil mewarisi seluruh kepandaian keluarganya, toh tak mungkin akan lebih lihay daripada para jago berusia sebayanya.
"Mengapa kita harus mengkhawatirkan apalagi merasa takut oleh seorang bocah perempuan?"
"Hmmm! Asal dia putri Giok-liong Taycu, meski usianya lebih kecil pun kita tak boleh memandang enteng dirinya. Apalagi kemungkinan besar ibunya masih hidup!"
Kata sang "toako"
Dingin.
"Siapa pula istri Giok-liong Taycu? Apakah ilmu silatnya jauh lebih hebat daripada kepandaian suaminya?"
"Tentunya kau tahu bukan tentang makhluk tua Liong lokoay yang menghuni bukit Tay-kiat-nia di puncak Leng-ciu-hong?"
"Ya, pernah kudengar orang membicarakan tentangnya, tapi puncak Leng-ciu-hong tinggi sampai menembus awan, apakah betul di atas puncak tersebut dihuni seorang tokoh silat yang begitu aneh, rasanya siapa pun belum pernah melihatnya."
"Kau memang tak pernah melihatnya, tapi guru kita sudah pernah menjumpainya.’ Tapi peristiwa itu sudah berlangsung banyak tahun berselang, konon menurut suhu ilmu silat yang dimiliki Liong lokoay masih satu tingkat lebih unggul dari kepandaiannya. Bahkan belakangan ini dia mendapat berita yang mengatakan kalau Liong lokoay masih hidup segar bugar."
Orang itu seperti memahami sesuatu, segera ujarnya.
"Toako, jadi orang kedua yang kau katakan sebagai orang yang bisa mengungguli guru kita adalah Liong lokoay? Lantas apa hubungannya antara Liong lokoay tersebut dengan istrinya Pangeran Naga Kemala?"
"Istrinya itu adalah putri Liong lokoay. Meskipun saat ini Liong lokoay sudah lanjut usia dan diduga dia sudah tak akan mampu menghadapi suhu lagi, tapi bicara sejujurnya, suhu toh masih tetap menaruh beberapa bagian rasa segan danngeri terhadap makhluk tua tersebut"
Mendengar sampai di situ, Nyo Yan sudah dapat memahami tujuh delapan bagian duduk persoalan, dia segera berpikir.
"Ooh rupanya Pek-tou Sancu khawatir kalau ibunya Liong Leng-cu masih hidup di dunia ini, andaikata mereka ibu dan anak datang bersama yaya, sudah pasti Pek-tou Sancu tidak akan mampu menghadapinya, itulah sebabnya dia perlu untuk menggerakkan massa persilatan untuk mendukung usahanya itu."
Terdengar sang toako telah berkata lebih jauh.
"Yang lebih celaka lagi adalah dewasa ini suhu masih harus melatih ilmu sakti dan persis di saat yang paling kritis, karena dia orang tua tak dapat berkunjung sendiri ke bukit Ci-lian-san, mungkin Phang Tay-yu dan rombongannya juga tak akan mendatangkan bantuan yang terlalu besar untuk rombongan kita,"
"Meskipun suhu tak bisa turun sendiri, tapi toa-suheng telah berjanji akan ikut datang. Kini toa-suheng sudah dapat menguasai delapan bagian ilmu silat suhu, asal dia yang memimpin usaha pencarian ini, masa siluman perempuan kecil itu tidak berhasil kita bekuk…?"
Sang toako kembali tertawa getir.
"Aku tak berani bersikap santai dan gembira seperti kau, tentu saja lebih baik jika toa-suheng ikut datang, tapi bagaimanapun juga kita tak boleh bersikap memandang remeh musuh kita!"
Sembari berbicara sembari berjalan, akhirnya mereka sudah tiba di dekat tempat persembunyian Nyo Yan. Tiba-tiba Nyo Yan memunculkan diri dari tempat persembunyiannya sambil menegur.
"Apakah kalian berdua adalah Sugong sianseng dan Buyung sianseng dari Bukit Unta Putih?"
Tidak meleset dari dugaannya, sang "toako"
Itu segera tertegun, kemudian sambil membelalakkan matanya lebar-lebar menyahut.
"Betul, akulah Sugong Cau, dan dia adalah adik seperguruanku Buyung Cui. Siapa pula kau?"
Mempermainkan Sepasang Iblis "Aku she Im, cuma seorang anggota perguruan Khong-tong-pay yang tidak punya nama besar,"
Jawab Nyo Yan cepat Rupanya dia menirukan gaya Liong Leng-cu yang tidak pernah menyebutkan nama sendiri. Buyung Cui segera berseru.
"Kau benar-benar adalah anggota Khong-tong-pay?"
Didengar dari nada suaranya, jelas dia tak percaya. Nyo Yan tidak menjawab pertanyaan tersebut, mendadak serunya dengan suara lantang.
"Tan Khu-seng, Beng Hoa, apa yang perlu ditakuti?"
Buyung Cui semakin terkejut lagi, serunya cepat-cepat.
"Apa hubunganmu dengan Lau Hok-pi dan Lau Hok-inf?^’7
"Mereka adalah susiok tecu!"
Sekarang Buyang Cui baru percaya kalau dia adalah "murid Khong-tong-pay, maka ujarnya kemudian.
"Tampaknya kau adalah keponakan murid kepercayaan dari dua bersaudara Lau, tidak heran kalau kau mengetahui siapakah kami."
Perlu diketahui, kata-kata yang diucapkan Nyo Yan tadi merupakan tulisan yang mereka ular di atas batu dengan ilmu Kim-kong-ci, tatkala Buyung Cui berusaha memancing dua bersaudara Lau agar bergabung dengan pihak Pek-tou-san.
Sekarang, Nyo Yan dapat mengucapkan kata-kata itu, hal ini menunjukkan kalau orang ini sudah mengetahui rahasiadari dua bersaudara Lau, bahkan menandakan jika dia tidak berada di pihak Tan Khu-seng dan Beng Hoa.
Sugong Cau segera maju dan mengawasi wajah Nyo Yan lekat-lekat, setelah itu pelan-pelan berkata.
"Kalau begitu, kau pun murid Khong-tong-pay yang berprinsip ‘Aib perguruan tak akan terlupakan’?"
"Aah, ucapan itu hanya berani tecu sembunyikan di dalam hati saja, terhadap orang luar tak berani untuk mengutarakannya keluar."
Kembali t Sugong Can tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… bagus, kini kita adalah orang sendiri, mari kita berhubungan lebih akrab lagi!"
Di tengah gelak tertawa tersebut mendadak dia menggerakkan tangannya untuk menghantam bahu Nyo Yan. Ternyata Sugong Cau jauh lebih cermat dan teliti dari sute-nya, dia berpikir.
"Terhadap seorang murid dari angkatan yang lebih rendah seharusnya dua bersaudara Lau hanya memberi petunjuk saja, mengapa dia justru memberitahukan rahasia tersebut kepada keponakan muridnya…? Aneh sungguh aneh sekali."
Justru karena timbul rasa curiga di dalam hatinya maka dia berniat untuk mencoba Nyo Yan.
Tepukannya ini telah disertai dengan tenaga pukulan Kim-kong-ciang, andaikata sampai terkena, sudah pasti tulang pi-pa-kut Nyo Yan akan terhajar hancur.
Haruskah berkelit?
Atau melancarkan serangan balasan?
Dalam detik itu pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Nyo Yan.Akhirnya dia mengambil kepu-tusan untuk menyerempet bahaya, bukan menghindar, bukan membalas serangan, sebaliknya justru membiarkan serangan tersebut menghantam ke bahunya Undakan yang sama sekali tak terduga ini kontan saja membuat Buyung Cui menjadi terperanjat Dengan perasaan terkejut, Buyung Cui segera berteriak keras.
"Suheng, jangan!"
Belum habis dia berkata, terdengar Nyo Yan sudah mengaduh lalu mundur sejauh tiga langkah, kaki depannya telah menginjak di luar tebing dan tergantung di atas jurang, tapi dengan cepat ia berhasil mengendalikan diri.
Saat itulah Sugong Cau baru tertawa terbahak-bahak seraya berseru.
"Di antara murid angkatan ketiga dalam partai Khong-tong saat ini, boleh saja dibilang ilmu silatmu paling tangguh. Hampir saja melampaui kedua susiok-mu?"
Buyung Cui pun berseru sambil menghembuskan napas lega.
"Sulteng, rupanya kau sedang mencoba tenaga dalamnya, tapi sungguh membuat hatiku terperanjat*’ "
Tentu saja aku cukup tahu diri dan tak akan membuatnya sampai terjerumus ke dalam jurang."
Rupanya tenaga dalamnya bisa dipancarkan bisa pula ditarik sesuai dengan kehendak hatinya, dia hanya berniat untuk membuat Nyo Yan terjerembab dan tak sampai menghancurkan tulang pi-pa-kut-nya.
Tapi dia tidak tahu tenaga dalam Nyo Yan telah mencapai tingkatan yang luar biasa, andaikata dia benar-benar hendak menghancurkan miang pi-pa-kut Nyo Yan, maka dengan tenaga dalam yang dimiliki Nyo Yan sekarang, segera akantimbul suatii kekuatan yang akan memantulkan kekuatannya itu.
Permainan yang dilakukan oleh Nyo Yan’ ini dilakukan dengan sangat tepat, dia tidak terjerembab, tapi pura-pura tak kuat menahan tenaga pukulan Sugong Cau sementara kakinya juga melangkah dengan ilmu Thian-lo-po-hoat dari Khong-tong-pay (ilmu ini berhasil dicuri belajar dari Beng Hoa), kesemuanya itu membuat Sugong Cau tidak menaruh curiga lagi.
Dalam hatinya kecilnya Sugong Cau segera berpikir.
"Rupanya dia merupakan murid pilihan di antara angkatan muda Khong-tong-pay, tentunya dua bersaudara Lau ingin mengandalkan kemampuannya untuk dijadikan orang kepercayaan sehingga rahasia tersebut disampaikan kepadanya."
Berpikir demikian, dia lantas bertanya.
"Di mana kedua Lau sekarang?"
"Mereka sedang menunggu kedatangan sam-sauya dari keluarga Mo yang datang dari Bong-lay, mungkin tibanya di sini agak terlambat sedikit."
"Apakah dia ada pesan yang hendak disampaikan kepadaku?"
"Ada. Ada sebuah rahasia yang akan mereka sampaikan kepadamu."
"Ooh, rahasia apa?"
"Rahasia tentang siluman pe-rempuan kecil itu."
Mendengar jawaban tersebut, segera timbul rasa ingin tahu dalam hati kecil Sugong Cau, segera pikirnya.
"Mengenai asal-usul siluman perempuan kecil itu, siapakah yang bisamenandingi suhu kami? Tapi, tak apalah, toh tidak rugi untuk mendengarkan perkataannya."
Berpikir sampai di situ dia pun segera berkata.
"Baik, kalau begitu cepatlah kau katakan."
Dengan pelan Nyo Yan berkata.
"Persoalan ini harus diceritakan mulai dari awal, aku harus memberitahukan kepadamu apa sebabnya kami pun hendak mencari tahu rahasia siluman perempuan kecil tersebut. Rahasia ini bukan rahasia yang diperoleh kedua orang susiok-ku itu melainkan berasal dari ciangbunjin kami Tan Khu-seng."
"Mengapa Tan Khu-seng juga mencampuri urusan macam ini?"
Tanya Buyung Cui.
"Soal ini bukan urusan yang kecil, apa kau lupa kalau murid kesayangan Tan Khu-seng adalah Beng Hoa? Sedangkan Beng Hoa adalah murid tercatat Thian-san-pay, semuanya ini sudah kalian ketahui dengan jelas bukan?"
"Apa sangkut pautnya dengan soal ini?"
"Nyo Yan telah melakukan perbuatan dosa terhadap para cian-pwee-nya. Beng Hoa mendapat perintah untuk membersihkan perguruan, dia berhasil menangkap Nyo Yan dan hendak membawanya ke Jik-tat-bok, siapa tahu di tengah jalan telah dibegal oleh siluman perempuan kecil. Kalian tentunya tahu, di dalam pandangan Tan Khu-seng, Thian-san dan Khong-tong bagaikan satu rumah. Setelah terjadi peristiwa besar ini, tentu saja Tan Khu-seng merasa perlu untuk turun tangan sendiri melakukan penyelidikan asal-usul siluman perempuan kecil itu."
"Bohongan"
Ini diciptakan olehnya dengan mencampur tujuh bagian kenyataan dengan tiga bagian bualan, sedangkan yang menyangkut kenyataan pernah didengar oleh SugongCau, maka tak heran kalau dia tidak menaruh curiga apa-apa sesudah mendengar perkataannya itu.
Tapi dengan cepat dia menukas.
"Aku minta kau menyingkat ceritamu saja, rahasia apa yang berhasil diselidiki Tan Khu-seng?"
"Dia telah berhasil mendapat tahu rahasia riwayat hidup dari siluman perempuan kecil itu, kau tahu siapakah dia? Ternyata dia adalah putri dari Giok-liong Taycu. Menurut Tan Khu-seng, Giok-liong Taycu adalah seorang gembong iblis yang berilmu silat amat lihay, tapi jarang sekali orang persilatan mengetahui tentang dirinya, bahkan siapakah nama aslinya pun tidak diketahui."
Sugong Cau segera berkerut kening sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya.
"Tentang rahasia ini, kami sudah tahu, apakah kalian mengetahui hal-hal yang lain?"
Tanpa terasa timbul kembali kecurigaan di dalam hatinya, dia berpikir di hati.
"Jangan-jangan dia sudah menyadap pembicaraanku dengan Buyung sute tadi?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat terdengar Nyo Yan berkata lagi.
"Bukan saja Tan Khu-seng sudah mengetahui rahasia asal-usul siluman perempuan kecil itu, bahkan tahu juga kalau guru kalian mempunyai ikatan dendam membunuh ayahnya."
Kemunculannya di dalam dunia persilatan saat ini pun tak lain untuk membalas dendam atas kemarian ayahnya.* Begini ucapan tersebut diutarakan, mau tak mau Sugong Cau harus merasa terperanjat juga.
Kematian Giok-Iiong Taycu di tangan Pek-tou Sancu merupakan suatu rahasia yang amat besar, itu pun hanya diketahui oleh toa-suheng-nya dania berdua.
Tadi, dia sama sekali tidak menyinggung tentang peristiwa ini kepada Buyung Cui.
Dengan sendirinya, rasa curiganya terhadap Nyo Yan pun segera lenyap tak berbekas.
Buyung Cui lebih terkejut dari suheng-nya, tapi di balik rasa kagetnya terlintas pula perasaan gembira yang luar biasa, cepat dia berseru.
"Ooh, rupanya Giok-liong Taycu mati dibunuh oleh suhu, kalau memang demikian, mengapa kita harus takut pada putrinya?"
Nyo Yan meneruskan kembali bualannya.
"Tan Khu-seng masih mempunyai sepatah kata lagi, cuma aku tidak tahu pantaskah untuk diberitahukan kepada kalian? Dan setelah kuutarakan nanti, kalian pun tak boleh marah."
"Katakan saja berterus terang,"
Seru Sugong Cau.
"Tatkala dia menyinggung soal Giok-liong Taycu, sikapnya menunjukkan rasa hormat dan kagum. Sayang di kala Giok-liong Taycu masih hidup dulu, dia tak tahu akan orang ini, kalau tidak, sudah pasti dia akan pergi dan berkenalan de-ngannya. Tapi tatkala menyinggung tentang gurumu, dia… dia…."
Buyung Cui yang berangasan tak sabar lagi menahan diri» dia segera membentak keras.
"Sebenarnya Tan Khu-seng telah mengucapkan kata-kata jelek apa terhadap guru kami? Cepat katakan."
"Maaf bila aku mempunyai rasa ingin tahu yang keiewat besar,"
Tukas Nyo Yan tiba-tiba "Sebelum itu, aku ingin sekali mengajukan suatu pertanyaan dulu kepada kalian."
Walaupun Buyung Cui merasa tidak senang hati, namun dia pun tak dapat berbuat apa-apa terhadap pemuda tersebut,terpaksa dia pun segera bertanya.
"Apa yang ingin kau ketahui?"
"Julukan Pangeran Naga Kemala itu aneh sekali, entah dari manakah gelar tersebut bisa diperoleh?"
"Aku tidak tahu tentang soal ini, tanyakan saja kepada suheng-ku,"
Kata Buyung Cui kemudian.
Nyo Yan mengajukan pertanyaan itu disebabkan tak dapat mengendalikan rasa ingin tahunya.
Sugong Cau sebagai orang yang berpengalaman dapat menangkap sifat kekanak-kanakan si pemuda yang belum hilang, dia lantas berpikir di dalam hati.
"Persoalan ini tidak penting artinya, memang tak ada salahnya bila kuberitahukan hal ini kepadanya…."
Berpikir demikian dia lantas berkata.
"Beginilah cerita yang sebenarnya. Ayah Giok-liong Taycu dulu berdiam di sebuah pulau terpencil di tengah samudra Lam-hay. Konon dia adalah seorang lelaki tampan, maka orang menyebutnya sebagai Giok-bin-liong-ong (Raja Naga Berwajah Kemala). Putranya memiliki wajah maupun ilmu silat yang sama dengan ayahnya, maka orang-orang pun menyebutnya sebagai Pangeran Naga Kemala. Ayahnya bernama Tian Lam-bin, sedangkan dia sendiri bernama Tian Leng-kun."
Mendengar itu Nyo Yan lantas menggelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam.
"Lam-bin adalah telaga langit, dalam Siau-yau-yu yang dibuat Ceng-cu, dikatakan, di Pak-b in terdapat ikan yang bernama Kun, ketika berubah menjadi burung bernama Tiau (rajawali). Rupanya dia menggunakan nama yang diperolehnya dari karya sastra tersebut! Wajar tampaknya Giok-bin-liong-ong adalah seorang bun-bu-cuan-cay (menguasai bidang sastra maupun silat)."
Buyung Cui menjadi habis kesabarannya, dengan perasaan yang amat mendongkol dia mendengus lalu berseru.
"Kami bukan mengundangmu datang untuk membicarakan soal sastra, apalagi yang dikatakan oleh Tan Khu-seng? Cepat katakan!"
"Baik, akan kukatakan. Tapi bila ucapan tersebut menyinggung nama baik gurumu, harap kau jangan marah kepadaku."
Buyung Cui benar-benar dibikin kehabisan daya olehnya, maka sambil mendepak-depakkan kakinya ke atas tanah sahutnya.
"Baiklah, aku tidak akan menyalahkanmu!"
Pada saat itulah Nyo Yan baru berkata.
"Dia bilang suhu kalian adalah seorang manusia rendah yang tidak tahu malu! Ucapan itu kontan saja membangkitkan amarah Buyung Cui, teriaknya penuh emosi.
"Kurang ajar dia berani mencemooh guruku!"
"Tan Khu-seng mengucapkan perkataan ini pun karena dia mempunyai alasan yang kuat Untung saja kau telah berjanji tidak akan menyalahkan aku, kalau tidak, aku benar-benar tak berani memberitahukan soal tersebut kepadamu."
Rupanya dia berusaha untuk mencengkeram janji Buyung Cui sehingga membuat Buyung Cui terpaksa harus membiarkan dia berkata lebih jauh. Dengan amarah yang meluap-luap Buyung Cui beseru.
"Baik, katakanlah cepat, apa alasan Tan Khu-seng berkata demikian."
"Dia bilang, menurut apa yang diketahui, sewaktu Giok-liong Taycu kembali dari wilayah See-ih ke daratan Tionggoan,dia bukan berjalan menggunakan sepasang kakinya melainkan duduk di atas sebuah kereta yang didorong oleh istrinya."
"Mengapa dia tak bisa berjalan?"
"Dia tidak berhasil menarik simpati dari ayah mertuanya. Sebetulnya ayah mertuanya tidak ingin menjodohkan putrinya itu kepadanya. Ditambah lagi tabiat dari kedua orang ini memang sama kerasnya, ayah mertuanya bilang jika dia berani datang lagi untuk mencari putrinya, maka ia akan mematahkan sepasang kakinya, tapi justru karena peristiwa ini dia pun berhasil memperoleh istri yang dicintai."
"Sepasang kakinya toh dipatahkan oleh ayah mertuanya, apa sangkut pautnya antara persoalan ini dengan guruku?"
"Bukan cuma ada sangkut pautnya, bahkan besar sekali hubungannya. Menurut Tan Khu-seng, ilmu silat yang dimiliki Pek-tou Sancu sesungguhnya bukan tandingan dari Giok-liong Taycu, justru karena dia sudah menjadi cacat, maka dia baru berani mencelakainya. Tapi akhirnya meskipun Giok-liong Taycu tewas di tangannya, luka yang diderita suhu-mu pun tidak enteng, konon sekembalinya ke bukit Pek-tou-san dulu, dia harus berbaring selama satu tahun lamanya sebelum dapat bangun dari pembaringan."
Ucapan yang terakhir ini diutarakan oleh Nyo Yan berdasarkan keterangan dari Liong Leng-cu yang mengisahkan kejadian tersebut dari cerita ibunya.
Padahal ibu dari Liong Leng-cu hanya tahu kalau Pek-tou Sancu menderita luka parah saja, siapa pun tak tahu berapa lama dia harus berbaring di atas pembaringan.Apa yang diceritakan Nyo Yan merupakan kenyataan.
Sugong Cau pun sudah pernah mendengar akan hal ini, tapi Buyung Cui tidak pernah mengetahuinya.
Cuma walaupun dia tak tahu, namun sehabis mendengar kisah tersebut, dia pun teringat akan suatu peristiwa.
Suatu kali, sewaktu gurunya pulang ke gunung, dia memang pulang dengan membawa luka.
Dari pembicaraan sesama anggota perguruan lainnya, diketahui kalau guru mereka telah terluka di tangan seorang musuh yang tangguh, maka untuk menjaga nama dan rasa malunya, dikatakan karena menderita sakit.
Waktu itu, dia belum lama memasuki perguruan, tentu saja tak berani banyak bertanya kepada saudara seperguruan lainnya, tapi soal waktunya memang hampir mirip dengan apa yang dikatakan Nyo Yan sekarang.
Maka setelah termenung sejenak, dia pun berpikir.
"Tan Khu-seng masih kurang tepat mengetahui akan hal ini, padahal suhu harus berbaring selama satu tahun lebih tiga bulan di atas pembaringannya."
Sekalipun tahu akan hal tersebut dan percaya seratus persen, namun di luaran Buyung Cui tak bisa mengakui dengan begitu saja, maka segera dampratnya.
"Omong ko-song, ngaco belo tidak keruan, mungkin cerita tersebut hanya karangan Tan Khu-seng sendiri!"
"Tak peduli benar atau tidak, tetapi yang jelas kita telah kehilangan seorang pembantu yang luar biasai"
Kata Nyo Yan hambar. Buyung Cui tertegun, serunya.
"Kehilangan pembantu apa?"
"Tan Khu-seng mengetahui kalau kalian naik ke bukit Ci-lian-san untuk melakukan pencarian.
Meski dia tak ada rencana untuk bekerja sama dengan kalian, namun ingatan tersebut pernah terlintas di dalam benaknya, sebetulnya dia ada bermaksud untuk turun tangan sendiri membekuk siluman perempuan kecil itu, tapi akhirnya dia berpikir lain, menyergap orang cacat merupakan perbuatan yang rendah dan terkutuk, itu berarti dia adalah manusia yang tak tahu malu.
Bila dia pun turut serta di dalam gerakan ini sehingga orang lain salah paham dengan mengira dia dan Pek-tou Sancu sebagai satu komplotan, bisa jadi dia akan mendapat malu karena perbuatannya itu, maka dia lantas mengurangkan niatnya untuk turun tangan sendiri.’* Buyung Cui menjadi marah sekali sesudah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.
"Siapa sih yang membutuhkan bantuan dari Tan Khu-seng? Tan-khu Beng Hoa, apa yang mesti ditakuti? Selamanya Pek-tou Sancu tidak pernah menganggap mereka sebelah mata pun, untuk menghadapi seorang siluman perempuan kecil, guru kami tak perlu turun tangan sendiri, asal toa-suheng telah datang, itu pun sudah lebih dari cukup!"
"Asal-usul siluman perempuan kecil itu memang sudah diselidiki oleh Tan Khu-seng dengan amat jelas,"
Kata Sugong Cau.
"tapi masih ada seorang, entah dia berhasil menyelidiki ataukah kau lupa memberitakannya kepada kami?"
"Siapa?"
"Ibu dari siluman perempuan kecil itu. Sebenarnya dia sudah mati atau masih hidup?"
"Benar, waktu itu dia pun melarikan diri dengan membawa luka, namun dia tidak mati.""Aahl"
Sugong Cau segera berseru tertahan, sekilas rasa takut sempat menghiasi paras mukanya. Terdengar Nyo Yan berkata lebih jauh.
"Seandainya dia tewas pada saat itu juga, bagaimana mungkin siluman perempuan kecil itu bisa hidup hingga kini? Tiga tahun ke-mudian, setelah dia bersama putrinya kembali lagi ke See-ih,saat itulah dia baru jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia."
Sugong Cau merasa gembira sekali sesudah mendengar ucapan itu, serunya kegirangan.
"Kalau begitu dia akhirnya mati juga."
"Betul, dia memang sudah mati!"
Buyung Cui turut merasa lega sekali, dengan nada membual dia berkata.
"Tan-khu Beng Hoa masih tidak dipandang sebelah mata oleh Pek-tou Sancu apalagi seorang perempuan yang pernah menderita luka parah? Sekalipun perempuan busuk itu masih hidup di dunia ini pun toa-subeng kami mampu menghadapinya. Bahkan dengan tenaga gabungan kami berdua pun rasanya masih mampu untuk menghadapi dia,"
"Benarkah itu?"
Jengek Nyo Yan dingin.
"Cuma, kalian telah melupakan seseorang!"
"Siapa?"
Tanya Sugong Cau dan Buyung Cui hampir bersamaan waktunya.
"Mungkin kalian sudah tahu bukan kalau ayah dari ibunya siluman perempuan kecil itu adalah Liong lokoay yang menghuni puncak Leng-ciu-hong? Meskipun ibunya sudah mati, gwakong-nya masih tetap segar bugar!"
Sugong Cau merasa terkejut sekali"Kalau begitu, apakah Liong lokoay juga telah datang kemari?
Menurut apa yang kuketahui, semenjak Liong lokoay berdiam di puncak Leng-ciu-hong, hingga sekarang boleh dibilang sudah ada limapuluh tahun lamanya, selama ini dia tak pernah turun gunung barang sekali pun!"
"Dia tidak turun gunung, cuma…."
"Cuma kenapa?"
Buru-buru Sugong Cau bertanya.
"Meskipun dia tidak menyetujui perkawinan putrinya di masa lalu, tapi bagaimanapun juga dia darah dagingnya sendiri. Apakah dia akan membiarkan orang lain menganiaya cucu perempuan?"
"Tadi kau toh sudah bilang kalau dia tidak turun gunung?"
"Benar, dia memang tidak turun gunung, tapi ada orang lain yang telah mewakilinya turun guaung."
"Siapakah orang itu?"
"Muridnya!"
"Siapakah muridnya itu?"
Pelan-pelan Nyo Yan berkata.
"Konon dia adalah murid murtad dari Thian-san-pay… Nyo Yan, setelah meninggalkan gunung Thian-san dulu, dia telah mengangkat Liong lokoay sebagai gurunya"
Begitu selesai mendengar perkataan tersebut tak tahan lagi Sugong Cau dan Bayung Cui bersama-sama tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang membuat kalian geli?"
Nyo Yan segera menegur.
"Nyo Yan si bocah keparat itu memang pernah melukai Ciok Thiang-hing, susiok-nya, aku pun pernah mendengar tentanghal ini. Namun kesemuanya ini disebabkan ketidakbecusan Ciok Thiang-hing sendiri, bukan ilmu silat Nyo Yan yang hebat"
"Ciok Thiang-hing merupakan murid tertua dari empat murid utama Thian-san-pay, aku rasa kata ‘tidak becus’ tersebut keterlaluan sedikit penggunaannya."
"Kalau sudah menjadi empat murid utama Thian-san-pay lantas kenapa…? Memangnya lebih hebat dari Tan Khu-seng dan Beng Hoa…?"
"Nyo Yan bisa melukai Ciok Thiang-hing tapi kena dibekuk Beng Hoa, dilihat dari sini tentu saja ilmu silat yang dimiliki Ciok Thiang-hing tak mampu menandingi kehebatan Tan Khu-seng."
Buyung Cui segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… asal kau sudah memahami akan hal ini, tentunya kau harus mengerti bukan apa sebabnya kami tertawa geli."
"Aku masih tetap tidak mengerti!"
Buyung Cui segera berkerut kening.
"Mengapa kau begitu goblok? Coba bayangkan saja. Tan-khu Beng Hoa apa yang perlu ditakuti? Tan Khu-seng dan Beng Hoa saja sama sekali tidak kami pandang sebelah mata, apalagi si bocah keparat yang pernah dibekuk oleh Beng Hoa?"
Nyo Yan segera manggut-mang-gut "Ooh, rupanya begitulah caranya untuk membandingkan satu dengan lainnya. Kalau begitu, untuk menghadapi Nyo Yan tak perlu guru kalian harus turun tangan sendiri?"
Perasaan mendongkol, ya gel i, ya marah, segera berkecamuk dalam dada Buyung Cui.
"Pengetahuanmu benar-benar amat picik dan rendah! Coba kalau aku bertemu dengan Nyo Yan si bocah keparat itu, dalam beberapa gebrakan saja batang lehernya sudah dapat kubekuk, jangankan guru kami, toa-suheng kami pun tidak usah turun tangan sendiri."
Saat itulah Nyo Yan baru berpura-pura menghembuskan napas lega, kembali dia berkata.
"Aku sebenarnya seorang murid Khong-tong-pay yang sama sekali tak punya kepandaian apa-apa, kalau kau mengatakan pengalamanku dan pengetahuanku sangat dangkal hal ini memang tak salah, rupanya aku sudah dibuat ketakutan oleh nama besar Nyo Yan, tapi sekarang setelah kuketahui kalau ilmu silat yang kalian miliki sangat lihay, hatiku pun menjadi lega."
"Heran, mengapa Phang Tay-yu dan rombongannya belum juga tampak? Lebih baik kita menunggu toa-suhcng di puncak bukit sana. Im lote, ikuti saja kami, bila kau tak mampu lebih ke atas, kami akan membimbingmu."
Nyo Yan segera menunjukkan wajah seolah-olah merasa kegirangan, serunya cepat-cepat.
"Terima kasih banyak atas perhatian kalian berdua, terus terang saja aku memang merasa takut untuk menaiki tebing yang sangat curam ini."
Begitulah, Buyung Cui berjalan di paling muka, dia sering berpaling ke belakang, dilihatnya meski Nyo Yan agak kepayahan untuk meneruskan perjalanan, namun dia tetap bisa mengikuti terus dengan bersemangat, menyaksikan hal itu dia lantas berpikir.
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bocah keparat ini terhitung lumayan juga."
Tebing karang tersebut kian ke atas bertambah terjal dan sukar dilalui.
Setibanya di tempat yang paling berbahaya.
Buyung Cui sendiri pun tak mampu mengerahkan ilmumeringankan tubuhnya untuk melalui, sudah barang tentu dia lebih-lebih tak mampu mengurusi Nyo Yan.
Namun asalkan mereka dapat melewati tebing karang terakhir yang tingginya mencapai satu kaki lebih itu, berarti mereka bisa melalui jalan datar lagi.
Persoalannya sekarang adalah karena karang tersebut licin bagaikan cermin, pada hakikatnya tidak terdapat suatu tempat pun yang bisa dipakai sebagai tempat berpijak.
Medan yang begitu berbahaya dan sama sekali di luar dugaan ini membuat Buyung Cui menarik napas dingin, pikirnya.
"Untung saja aku pernah berlatih ilmu Kim-kong-ci, coba kalau tidak,"
Setelah itu dia berkata pada Nyo Yan.
"Kalau tidak mampu naik ke atas, jangan dipaksakan lagi, tunggu saja sampai kami tiba di atas sana dan menderekmu naik dengan seutas tali."
Sembari berkata, dia lantas mengeluarkan ilmu Kim-kong-ci untuk menancapkan kelima jari tangannya ke atas dinding batu.
Sekarang dia harus memusatkan seluruh perhatiannya untuk mendaki ke atas bukit tersebut dengan demikian keselamatan jiwanya bara bisa terjamin.
Dalam keadaan demikian, tentu saja dia tak berani untuk berpaling lagi ke belakang.
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar desingan angin sangat tajam berhembus lewat dari sisi tubuhnya, seakan-akan ada seekor burung besar sedang melayang melalui atas kepala mereka.
Dengan kekuatan jari tangan yang menancap di atas batu karang sebagai penahan tubuh, dia segera berjumpalitan keatas dengan gerakan Yau-cu-huan-sin dan melompat naik ke puncak tebing itu.
Menanti sepasang kakinya sudah menginjak tanah kembali, dia baru menyaksikan keadaan yang sebenarnya.
jM Tampak Nyo Yan dengan senyum dikulum tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.
Sikap si anak muda itu amat santai, pakaiannya sama sekali tidak ternoda lumpur.
Padahal Sugong Cau yang berhasil mencapai puncak itu telah basah kuyup oleh keringat, dari sini bisa diketahui kalau dia masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki Nyo Yan.
Dengan suara dingin Sugong Cau segera berseru.
"Sute, tampaknya kau telah salah melihat!"
Merah padam selembar wajah Buyung Cui karena j engah, katanya kemudian cepat-cepat.
"Im lote, ilmu meringankan tubuh yang kau miliki benar-benar lihay sekali!"
Nyo Yan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah haah, hanya ilmu silat kucing kaki tiga, apa yang mesti ditakuti? Bila aku berani mengatakan, Tan-khu Beng Hoa, apa yang mesti ditakuti? Nah itulah baru kepandaian yang sesungguhnya."
Sugong Cau segera merasakan ada sesuatu yang tak beres di balik perkataan itu, ditatapnya Nyo Yan lekat-lekat, kemudian katanya.
"Sebenarnya di kolong langit dewasa ini hanya ada seorang saja yang pantas untuk mengucapkan perkataan itu, dia adalah suhu kami. Lote, kau kelewat menilai tinggi dirimu sendiri!"
"Ooh, benarkah itu?"
Mendadak dia merentangkan sepasang tangannya dan menghalangi jalan pergi mereka, serunya kembali.
"Harap kalian berdua jangan naik gunung dulu."
Sugong Cau menjadi tertegun oleh ucapan itu, dia segera menegur dengan wajah keheranan.
"Im lote, sebenarnya apa maksudmu?" ‘Tidak apa-apa,"
Jawab Nyo Yan hambar.
"Berulang kali kalian mengatakan Tan-khu Beng Hoa apa yang perlu ditakuti? Aku merasa sedikit kurang percaya."
"Saudara cilik, kau keliru. Ucapan tersebut diucapkan oleh guru kami, bukan kami berdua. Dia orang tua tak bisa beradu kepandaian denganmu, kalau kau tak percaya bahwa dia memiliki ilmu silat yang sangat lihay."
Tahu kalau ilmu silat yang dimilikinya belum tentu bisa mengalahkan lawan, dia lantas mengambil keputusan untuk menghadapi perubahan dengan sikap tenang, dia harus mengetahui lebih dulu "aliran"
Dari lawannya, kemudian baru mengambil keputusan untuk menghadapinya. Nyo Yan segera berkata.
"Untuk membuktikan benar atau tidaknya perkataan tersebut, sebetulnya bukan suatu pekerjaan yang sukar,"
Kata Nyo Yan kemudian.
"Betul Pck-tou Sancu tidak berada di sini, namun masih ada cara lain untuk mengatasi hal ini."
Buyung Cui tidak memiliki iman yang begini tebal seperti kakak seperguruannya, mendengar perkataan itu, dia menjadi gusar sekali, segera bentaknya.
"Bocah keparat, kau betul-betul sangat takabur, kau ini manusia macam apa? Berani benar mencurigai kemampuan ilmu silat guru kami? Baik, katakan saja apa yang kau inginkan sebelum bisa mempercayai kalau hal itu merupakan kenyataan?"
Nyo Yan sama sekali tidak menggubris kaok-kaokannya tersebut, dengan suara pelan dan lembut dia berkata.
"Sesungguhnya gampang sekali, biar aku yang akan mencoba ilmu silat kalian berdua!"
Kemarahan Buyung Cui semakin memuncak, dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Kau si bocah keparat ingin mencoba kepandaianku? Hmm… hmm… benar-benar menggelikan, benar-benar amat menggelikan!"
"Apanya yang perlu digelikan?"
Jengek Nyo Yan lagi dingin.
"Betul, ilmu silat yang kalian miliki tentu saja tak akan melampaui ilmu silat guru kalian, tapi aku sendiri pun tidak lebih cuma seorang murid Khong-tong-pay yang sama sekali tak punya nama dan kedudukan apa-apa, jika dibandingkan dengan ciangbunjin Tan Khu-seng dan toa-suheng Beng Hoa, tentu saja ilmu silatku masih ketinggalan jauh sekali, bila kalian sanggup mengungguli diriku, aku percaya guru kalian sudah pasti dapat pula mengungguli Tan Khu-seng serta Beng Hoal"
Buyung Cui yang mendengar perkataan itu segera berpikir dalam hati kecilnya.
"Ooh, ternyata dia cuma merasa mendongkol karena kami memandang rendah ciangbunjin-nya, meskipun dia menentang Tan Khu-seng bagaimanapun juga dia merupakan murid Khong-tong-pay."
Cuma dia masih belum dapat menahan kejumawaan dari Nyo Yan, maka sambil mendengus serunya.
"Hmm, bocah keparat, kau memang mempunyai semangat! Aku harus membuat kau merasa takluk dan kagum seratus persen bahwa ilmu silat dari Bukit Unta Putih kami benar-benar tiada tandingannya di kolong langit. Kalau toh kau telahmengusulkan cara tersebut, baiklah, aku akan melakukan suatu percobaan kecil denganmu!"
Sementara di hati kecilnya dia berpikir.
"Sebentar bila aku telah berhasil membekuknya, aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya agar dia tahu diri."
Sementara itu Nyo Yan telah berkata.
"Kau salah mendengar, aku sama sekali tidak ingin melakukan percobaan kecil denganmu."
Buyung Cui menjadi bangga sekali, dia lantas berkata.
"Kau tak berani mencoba kekuatan denganku? Baik, kalau begitu minta maaflah kepadaku!"
"Kau lagi-lagi salah menduga,"
Kata Nyo Yan tertawa.
"Aku sama sekali tak ingin bertarung melawan kau seorang melainkan dengan kalian berdua. Lagi pula bukan cuma suatu ‘percobaan kecil’ saja aku menginginkan kalian agar menge-luarkan segenap kepandaian yang dimiliki. Ini ‘percobaan besar’ bukan ‘percobaan kecil’, maka kalian berdua boleh maju bersama-sama!"
Memperlihatkan Kehebatan Betapa gusarnya Buyung Cui sesudah mendengar perkataan tersebut, dia segera membentak keras.
"Bocah keparat, kau benar-benar amat sombong, kalau tidak kuberi sedikit kelihayan untukmu, niscaya kau tak akan mengetahui tingginya langit dan tebalnya bumi!"
Sambil berseru dia menerkam ke arah Nyo Yan, jari tangannya bagaikan sebatang tombak langsung disodokkan ke depan.
"Bagus sekali,"
Jengek Nyo Yan cepat.
"Kalau kau maju seorang diri, maka aku akan mengalah tigajurus!"
Tubuhnya mengegos ke samping, tahu-tahu Buyung Cut telah menubruk tempat kosong.
Tapi di balik telapak tangan dan serangan jari Buyung Cui terpancar segulung tenaga pukulan yang kuat, kekuatan itu membuat tubuh Nyo Yan berguncang keras.
Sekali lagi Buyung Cui mengeluarkan ilmu Kim-kong-ci yang paling diandalkan itu….
"Criiiit…!"
Terdengar desingan tajam menyambar ke depan, ujung baju Nyo Yan segera kena disambar sehingga berlubang, sementara kakinya mundur dengan sempoyongan hingga tiba di tepi jurang.
Menyaksikan kejadian tersebut, Buyung Cui segera terbahak-bahak.
"Haah haah haah, bocah keparat, lebih baik kau menyembah sambil minta ampun, dengan demikian nyawamu bisa lolos dari kematian, buat apa kau mesti mati terkubur di dasar jurang sana?"
Dia telah mencoba tenaga dalam Nyo Yan, dikiranya kemampuan yang dimiliki anak muda tersebut hanya terbatas sampai di situ saja sehingga keangkuhannya memuncak kembali Sugong Cau sendiri pun merasa berlega hati, pikirnya, Ternyata bocah keparat ini hanya lihay di dalam ilmu meringankan tubuh saja, sedangkan ilmu silatnya amat biasa dan tiada sesuatu yang aneh!"
Ketika dilihatnya Nyo Yan sama sekali tak mampu untuk menahan serangan pukulan udara kosong yang dilancarkan oleh Buyung Cui, sudah barang tentu dia pun tidak percaya kalau anak muda itu sengaja mengalah.Perlu diketahui, serangan Kim-kong-ci dan Buyung Cui tadi dilepaskan menyusul dilepaskannya sebuah pukulan udara kosong, tapi kenyataannya pihak lawan tidak mampu untuk menahan diri, sedangkan tulang pi-pa-kut-nya juga turut terancam kena tersodok oleh serangan Kim-kohg-ci, dalam anggapannya, jikalau ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan jauh melebihi ilmu silat lawan, semestinya kalau dia tak akan menyerempet bahaya yang begitu besar untuk mengalah.
Sementara itu.
Buyung Cui dengan kecepatan luar biasa telah menerjang lagi.
Menghadapi ancaman itu, Nyo Yan membalikkan jari tangannya dan menghadapi serangan jari lawan dengan sodokan jari untuk memunahkan tenaga Kim-kong-ci lawan.
Tapi agaknya masih ada sisa kekuatan yang tak terbendung, sehingga tubuhnya mundur lagi dua langkah, kini kaki sebelahnya sudah menginjak persis di tepi jurang.
Dengan suara menggeledek Buyung Cui membentak keras.
"Bocah keparat, kau masih belum mau menyerah?"
Sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama, dengan kesepuluh jari tangannya yang dipen-tangkan lebar-lebar dia cengkeram sepasang bahu Nyo Yan. Mendadak Nyo Yan berkata.
"Aku sudah mengalah empat jurus darimu. Apabila kau masih saja tak tahu diri maka terpaksa dalam jurus serangan berikutnya aku akan mem-persilakan untuk mencicipi tempelengan!"
Sambil berkata, dia membalikkan tubuhnya sambil melepaskan sebuah cengkeraman.
Buyung Cui segera merasakan munculnya segulung tenaga besar yang mengisap tubuhnya, ternyata sepasang tangannyaitu terhenti di tengah udara dan tak mampu meneruskan ancamannya.
Kini jari tangan Nyo Yan malah berbalik mengancam tulang pi-pa-kut-nya.
Dalam posisi demikian, jika dia menghindar berarti akan terjatuh ke dalam jurang, terpaksa dia harus mundur, tapi dengan gerakan mundur ini, sama artinya dengan menyodorkan wajah sendiri untuk ditempeleng Nyo Yan.
Rupanya Nyo Yan menggunakan siasat untuk menjebak lawannya.
Dia tahu Buyung Cui tak bisa dibandingkan dengan Im-tiong-siang-sat, untuk menghadiahkan tempelengan kepada jagoan macam begini, tentu saja tidak semudah menghajar Im tiong-siang-sat.
Itulah sebabnya di kala dia sedang menghindarkan diri dari ketiga jurus serangan dari Buyung Cui tadi, dia sengaja hanya mempergunakan tenaga sebesar satu dua bagian agar pihak lawan memandang enteng dirinya.
Nyo Yan memiliki ilmu tenaga dalam Can-ih-cap-pwee-tiap yang sangat lihay, sekalipun pihak lawan benar-benar berhasil mencengkeram tulang pi-pa-kut-nya juga belum tentu akan terancam marabahaya.
Nyo Yan memang pandai menyembunyikan ilmu silatnya, sampai-sampai Sugong Cau yang berilmu tinggi dan berpengalaman luas pun tak menyangka kalau musuhnya memiliki ilmu silat yang tinggi; bayangkan saja bagaimana mungkin Buyung Cui bisa menduga sampai ke situ?
Menanti jurus keempat dilancarkan, Nyo Yan baru mulai memperlihatkan kehebatan ilmu sikunya, dia menggunakan ilmu Kim-liong-jiu dari keluarga Liong untuk menampar wajah lawannya, gerakan tersebut merupakan pembahan gerakandari jurus pedang Tui-hong-kiam dari Thian-san-kiam-hoat, kecepatannya bagaikan sambaran kilat "Plaaak, ploook!"
Dua kali benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu Buyung Cui sudah kena ditempeleng dua kali.
Pada saat inilah, tiba-tiba Nyo Yan merasakan datangnya desingan angin tajam yang menyambar dari belakang punggungnya.
Sugong Cau yang berilmu silat lebih hebat dari adik seperguruannya tahu-tahu sudah turun tangan.
Nyo Yan tak berani memandang enteng musuhnya ini, cepat-cepat dia berkelit sambil melancarkan serangan balasan.
Sugong Cau dengan telapak tangan di sebelah kiri dan jari tangan di sebelah kanan mengerahkan tenaga yang-kang yang keras pada telapak tangannya dan tenaga im-kang yang lembut pada jari tangannya.
Waktu itu Nyo Yan sedang membalikkan telapak tangannya sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat, bersamaan dengan menderunya angin pukulan, tubuhnya ikut bergeser ke samping.
Siapa sangka pada saat inilah serangan jari tangan Sugong Cau yang berhawa dingin tiba dari balik pukulan telapak tangannya.
Sebagai akibat dari bentrokan itu Sugong Cau kena didesak ke samping, sebaliknya jalan darah sian-ki-hiat di dada Nyo Yan juga kena serempetan ujung jari lawan sehingga sekujur tubuhnya bergidik.
Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Nyo Yan masih jauh lebih sempurna daripadanya, serangan jari tangan itu masih belum cukup untuk menyumbat jalan darah Nyo Yan.Buru-buru si anak muda itu menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengatur napas, sekejap kemudian semua rasa sesak dari hawa panas yang mencekam di atas dadanya lenyap hingga tak berbekas.
Sewaktu menyusul ke samping tadi, Sugong Cau khawatir kalau Nyo Yan melanjutkan pengejarannya dengan serangan yang mematikan, maka belum lagi tubuhnya berdiri tegak, dia sudah mendorong tubuh Buyung Cui dengan telapak tangan kirinya.
Dorongan tersebut dilakukan dengan gerakan yang ringan, Buyung Cui mencelat sejauh satu kaki lebih dan melepaskan diri dari tepi jurang.
Menanti sepasang kakinya mencapai tanah kembali, dia sudah dibikin terkesiap sehingga mengucurkan keringat dingin….
Sugong Cau segera berjumpalitan dan berdiri di samping adik seperguruannya.
Baru saja berdiri tegak, Nyo Yan sambil tersenyum simpul sudah muncul di hadapannya.
"Sebenarnya aku hendak menghadiahkan empat buah tempelengan buat sute-mu itu,"
Demikian pemuda itu berseru.
"tapi sekarang baru berhasil menempeleng dua kali, anggap saja dia yang sedang mujur. Nah, Sugong Cau, bagaimana dengan kau? Hendak mencoba lagi dengan maju bersama-sama adik seperguruanmu?"
"Oooh… rupanya Im lote seorang manusia lihay yang sengaja menyembunyikan kepandaian,"
Seru Sugong Cau dingin.
"Kami benar-benar sudah terkecoh olehmu! Lote, siapakah sebenarnya dirimu itu?"Nyo Yan tertawa.
"Ucapan yang membual, seperti katak dalam sumur. Bukankah kalian telah menganggapku sebagai bocah keparat yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi? Kalau begitu anggap saja aku sebagai bocah keparat semacam itu. Heeeehh… heeehh… heeeh… kita semua memang bagaikan katak dalam sumur, sama-sama, sama-sama setali tiga uang."
Sugong Cau menjadi tertegun, dia segera berpikir.
"Jangan-jangan dia adalah orang yang mengukir tulisan di atas batu cadas itu? Rupanya dia mengukir kata-kata tersebut untuk mengejek kami yang telah mengatakan Tan-khu Beng Hoa, apa yang ditakuti."
Sementara itu, Buyung Cui sudah dibikin mendongkol sekali. Tiba-tiba dia berseru.
"Suheng, buat apa banyak bertanya kepadanya? Sudah pasti bocah keparat ini adalah mata-mata, lebih baik kita bunuh lebih dahulu!"
Sugong Cau segera meloloskan sepasang senjata poan-koan-pit-nya kemudian berkata.
"Kami akan menurut perintah saja, kalau siauhiap ingin mencoba kepandaian kami, terpaksa kami suheng-te akan memohon petunjuk ilmu silatmu yang lihay tersebut"
Buyung Cui merasa tidak berkenan dengan ucapan itu, segera pikirnya di hati.
"Kendatipun bocah keparat ini mempunyai beberapa bagian ilmu silat, tidak seharusnya kalau toako terlalu mengkhawatirkan kepandaian lawan dengan merendahkan kemampuan sendiri."
Tapi ia baru saja menderita kerugian besar di tangan Nyo Yan, sekalipun di hati kecilnya menggerutu, namun ia tak berani berbicara sesumbar, maka mengikuti tindakan suheng-nya, dia segera meloloskan senjata andalannya.Senjata yang dipergunakan adalah sepasang senjata penotok jalan darah.
Rupanya orang yang berlatih ilmu Kim-kong-ci, biasanya seorang jago penotok jalan darah.
Poan-koan-pit dan alat penotok jalan darah merupakan senjata tajam yang khusus dipakai untuk menotok jalan darah orang, bedanya kalau poan-koan-pit lebih pendek bentuknya, maka senjata penotok jalan darah itu panjang, lebih besar bentuknya dengan ujung bagai paruh bebek yang menekuk ke bawah, bisa pula digunakan sebagai alat menusuk dan menggaet.
Menurut teori ilmu silat, seinci lebih pendek, seinci lebih berbahaya, seinci lebih panjang seinci lebih ampuh.
Kedua macam alat senjata penotok jalan darah itu masing-masing mempunyai kelebihan sendiri-sendiri.
Ilmu menotok jalan darah yang dimiliki Sugong Cau lebih gesit dan enteng, maka dia gemar menggunakan poan-koan-pit, sebaliknya tenaga kasar yang dimiliki Buyung Cui lebih besar, maka dia lebih suka menggunakan senjata penotok jalan darah.
Sementara itu, Nyo Yan memang ada maksud untuk membangkitkan amarah mereka, sambil tertawa terbahak-bahak segera ujarnya.
"Haah haah haah, kalau toh kalian ada maksud untuk minta petunjuk secara tulus, aku pun akan minta petunjuk beberapa jurus serangan kalian!"
Sembari berkata, dia lantas mematahkan sebatang ranting pohon yang masih terdapat beberapa lembar daunnya.Benar juga, Buyung Cui segera berkaok-kaok kegusaran setelah menyaksikan kejadian tersebut, teriaknya.
"Bocah keparat, kau benar-benar terlalu menghina orang, kau anggap aku benar-benar jeri kepadamu? Hari ini aku bertekad akan membunuh dirimu…."
Sebenarnya, dia harus bekerja sama dengan kakak seperguruannya untuk turun bersama-sama dan satu bertahan satu menyerang untuk menampilkan kedahsyatan kombinasi serangan mereka.
Akan tetapi, dalam keadaan gusar sekarang dia sama sekali tidak ambil peduli terhadap suheng-nya lagi, begitu selesai berkata buru-buru dia menerkam ke depan.
MSute, kendalikan emosimu, jangan memandang enteng lawan!"
Teriak Sugong Cau dengan suara lantang.
Belum selesai dia berseru, Nyo Yan telah bertarung sengit melawan Buyung Cui.
Buyung Cui memutar sepasang senjata tiam-hiat-jiu dengan kencang sehingga menimbulkan deru angin yang amat memekakkan telinga, serangannya benar-benar hebat sekali.
Sambi 1 tertawa Nyo Yan kembali mengejek.
"Ehmm… bagus, bagus sekali, kalau serangan mantap, ini berarti tidak sia-sia latihanmu."
Padahal dia tak lebih hanya seorang pemuda yang berusia tujuh delapan belas tahunan, namun ucapannya benar-benar bernada nasihat, seakan-akan dianggapnya Buyung Cui sebagai seorang angkatan muda yang memang sedang meminta petunjuk darinya.Sayangnya pada waktu itu Buyung Cui sudah tak berkesempatan untuk merasa mendongkol lagi, dia hanya memandang terperanjat ke arah lawannya.
Belum selesai Nyo Yan berkata, mendadak terdengar.
"Sreeet,"
Ranting lemas yang berada di tangannya itu sudah digetarkan sehingga lurus seperti pena, dengan membawa desingan yang tajam dan memekakkan telinga, tahu-tahu sudah menyambar di depan mata Buyung Cui.
Serangan ini makin mengejutkan Buyung Cui, sekarang dia baru tahu kalau kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Nyo Yan benar-benar jauh di luar dugaannya, sekalipun belum sanggup menandingi gurunya, paling tidak kemampuan ter-sebut tidak kalah dengan suheng-nya.
Terbukti dari tusukan ranting pohon tersebut, kekuatan yang terkandung di balik ancaman tersebut tidak kalah dengan ketajaman sebilah pedang tajam.
Seandainya dia tertusuk oleh ranting tersebut, sudah dapat dipastikan kalau tubuhnya bakal berlubang.
Dalam terperanjatnya, bagaimana mungkin dia berani melancarkan serangan lebih jauh?
Buru-buru sepasang senjatanya ditarik untuk melindungi diri.
"Hei, bukankah kau mengatakan akan beradu jiwa? Mengapa malah menjadi kura-kura yang ketakutan?"
Ejek Nyo Yan tiba-tiba sambil tertawa ringan.
Di tengah gelak tertawanya, ranting pohon tersebut sudah menusuk badannya lalu mencungkil pelan ke atas.
Yang dipergunakan oleh Nyo Yan pada saat ini adalah suatu kepandaian yang menggunakan taktik meminjam tenagalawan, begitu ranting lemas itu digetarkan, senjata tiam-hiat-jiu di tangan Buyung Cui kena tergaet sehingga mencelat ke samping.
Nyo Yan segera meneruskan serangannya dengan jurus Ji-liong-jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mutiara), sepasang jari tangannya terus mengorek ke arah sepasang mata lawan.
Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara desingan angin tajam, sepasang senjata poan-koan-pit Sugong Cau tahu-tahu sudah mengancam jalan darah Pay-sim-hiat di atas punggungnya.
Nyo Yan sangat terperanjat, pikirnya.
"Tenaga dalam yang dimiliki bangsat ini benar-benar lebih sempurna dibandingkan sute-nya, aku tak boleh memandang enteng manusia ini."
Tanpa berkesempatan untuk mengorek sepasang mata Buyung Cui lagi, dia segera menggunakan jurus Gi-heng-ih-wi (Berpindah Tempat Berganti Kedudukan) untuk meloloskan diri dari serangan tersebut.
Sugong Cau segera mengeluar kan jurus Heng-liu-ki-jua (Menye rang Aliran Sungai Deras), sepasang senjata pit-nya dipakai untuk menangkis serangan lawan dan melakukan pertahanan dengan sepenuh tenaga.
Setelah bersusah payah dia baru berhasil menghindari diri dari ancaman ranting pohon Nyo Yan.
"Bagus sekali,"
Kembali Nyo Yan berseru.
"Ilmu silatmu memang di atas kepandaian sute-mu, tapi kalau ingin bertarung berimbang denganku, paling tidak kau harus melatih diri selama sepuluh tahun lagi."
Sementara di mulut dia berkata demikian, tangannya sama sekali tak mengendor, ranting lemas ini bergerak seperti ke kiriseperti pula ke kanan bergoyang tak menentu ke sana kemari, keadaannya membingungkan orang.
Sugong Cau harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi ancaman lawan, secara beruntun dia telah mengubah beberapa gerakan tubuh sebelum berhasil lolos dari ancaman lawan.
Siapa tahu, baru saja ancaman tersebut berhasil dihindari, jurus serangan ketiga dari Nyo Yan telah menyambar tiba.
Sugong Cau menjadi terkesiap sekali sehingga jantungnya berdebar keras, segera pikirnya.
"Bocah keparat ini entah menerobos keluar dari mana, belum tentu Tan Khu-seng dan Beng Hoa mampu berbuat demikian!"
Tapi, bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan, meskipun terdesak namun tak sampai panik, dalam terdesaknya dia lantas mengeluarkan ilmu simpanan dari perguruannya untuk memutar tubuhnya seperti gangsingan.
Kali ini, ternyata dia berhasil memunahkan dua jurus serangan Nyo Yan itu secara berbarengan, bahkan mengembalikan satu jurus serangan di antaranya.
Sambil tersenyum kembali Nyo Yan mengejek.
"Sudah kukatakan bukan bahwa kau harus berlatih selama sepuluh tahun lagi, apakah kau tidak percaya?"
Ranting pohon itu diayunkan ke depan melancarkan sebuah serangan dahsyat, kali ini dia telah menghajar sepasang senjata poan-koan-pit-nya sehingga terpental ke samping.
Sementara itu Buyung Gui telah berhasil mengendalikan rasa terkejut dalam hatinya, buru-buru dia maju untuk memberikan bantuan.
Agaknya sepasang saudara seperguruanini sudah terbiasa untuk menghadapi serangan bersama-sama, kerja sama mereka sangat bagus sekali.
Diiringi bentakan keras, sepasang senjata poan-koan-pit dari Sugong Cau berkelebat kian kemari menotok empat buah jalan darah penting di tubuh Nyo Yan, sementara sepasang senjata tiam-hiat-jiu Buyung Cui juga tidak ketinggalan, pada saat yang bersamaan, dalam satu gebrakan saja dia sudah mengancam empat buah jalan darah penting di sekitar urat toa-meh.
Perlu diketahui, jurus Siang-pit-siang-jiu-tiam-pat-hiat (Sepasang Pena Sepasang Senjata Penotok Menotok Delapan Jalan Darah) yang mereka miliki ini hanya sedikit di bawah kepandaian sakti Su-pit-tiam-pat-meh (Bmpat Pena Meno tok Delapan Nadi) dari keluarga Lian di San-say.
Padahal ilmu menotok jalan darah keluarga Lian sudah termasuk ilmu nomor wahid di kolong langit, bisa dibayangkan sampai di manakah kelihayan dari kepandaian mereka sekarang.
Nyo Yan segera membentak keras.
"Kalau hanya diberi tanpa dibalas itu namanya kurang ajar, kalian anggap hanya kamu berdua saja yang pandai ilmu menotok jalan darah…?"
Ranting lemasnya diayunkan dengan lembut lalu menotok jalan darah Pek-hay-hiat di sebelah kiri, Ji-tu-hiat di sebelah kanan dan Sian-ki-hiat di bagian tengah.
Yang lebih hebat lagi, Sugong Cau dan Buyung Cui melihat Nyo Yan menusuk tiga buah jalan darah mereka dengan jurus serangan yang sama.
Ternyata dalam jurus serangan Nyo Yan kali ini, dia sertakan pula tiga gerakan yang semuanya dilakukan dengankecepatan luar biasa, sedemikian cepat dan anehnya serangan tersebut, membuat dua orang musuh yang berada di ha-dapannya merasa jurus serangan tersebut seakan-akan mengancam tiga buah jalan darah penting mereka pada saat yang bersamaan.
Berada dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin kedua orang itu berani melancarkan serangan lagi?
Buru-buru mereka memperketat pertahanan masing-masing dan dengan susah payah berhasil memunahkan jurus serangan Nyo Yan tersebut Tapi, Nyo Yan sendiri pun menemukan dua lembar daun di atas ranting pohonnya kena terpapas rontok, diam-diam dia lantas berpikir.
"Bagaimanapun juga ilmu silatku ini masih amat terbatas, untuk mencapai tingkatan seperti Beng Hoa, paling tidak aku membutuhkan waktu selama tiga tahun lagi."
Rupanya jurus serangan yang dipergunakan olehnya sekarang, tak lain merupakan gubahan jurus Oh-ka-cap-pwe-pa milik Beng Hoa.
Begitulah, makin bertarung Sugong Cau dan Buyung Ciu makin terkejut, tanpa terasa mereka kena didesak oleh Nyo Yan sehingga mundur ke tepi jurang.
Sementara itu matahari sudah tenggelam di langit barat, awan kelabu mulai menyelimuti seluruh angkasa.
Mendadak Nyo Yan berkata.
"Dari tujuhpuluh dua jurus serangan Lian-huan-toh-mia-kiam-hoat milik Tan Khu-seng, yang paling hebat adalah Oh-ka-cap-pwe-pa, aku yakin kalian pasti sudah pernah mendengarnya bukan? Sayang sekali aku hanya berhasil mempelajari sedikit kulitnya saja."
Berbicara sampai di situ ujung baju kirinya segera dikibaskan ke depan, sementara ranting pohon di tangan kanannya melepaskan sebuah tusukan kilat ke depan.
Dalam waktu singkat, Buyung Cui merasakan dari empat arah delapan penjuru bermunculan bayangan ranting yang berwarna hijau.
Tapi saat itu juga, ranting pohon tersebut tahu-tahu sudah menusuk tujuh buah jalan darah penting di atas tubuhnya.
Rupanya di dalam melepaskan serangan dengan jurus tersebut, dia memang sengaja mengesampingkan Sugong Cau.
Mendadak terdengar Nyo Yan tertawa.
"Haah haah haah, hanya sedikit kepandaian kulitku saja kau sudah tak sanggup mempertahankan diri, begitu masih berani* sesumbar dengan mengatakan Tan-khu Beng Hoa apa yang perlu ditakuti?"
Di mulut dia tertawa terbahak-bahak, padahal dalam hati kecilnya memekik lain.
"Sungguh memalukan, ketika Tan Khu-seng menggunakan jurus Oh-ka-cap-pwe-pa, dia sanggup membuat delapan beias buah lubang di atas batu. sedangkan aku hanya bisa menusuk tujuh buah jalan darah saja, itu pun harus menggunakan ujung baju untuk menyingkirkan senjata tajamnya lebih dahulu."
Sementara itu Buyung Cui sudah mendengus tertahan, mulutnya seakan-akan disumbat dengan suatu benda, ternyata dia tak sanggup menjerit barang sepatah kata pun jua.
Tubuhnya bagaikan layang-layang yang putus tali segera terjatuh ke dalam jurang.Sugong Gau menjadi kaget setengah mati sehingga sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, tidak sampai Nyo Yan melanjutkan serangannya lagi, dia sudah melompat dari sana.
Untung saja kaki depannya melompat dulu menyusul kemudian baru kaki belakang berada di tengah jalan, dia sempat menyambar sebuah kaki sute-nya.
Dengan bobot tubuh dari kedua orang tersebut, otomatis gerak luncur tubuh mereka ke bawah jurang semakin bertambah cepat lagi.
Bagaimanapun juga, dia memang tak malu disebut seorang jago kawakan, di saat yang kritis, poan-koan-pit yang berada di tangan kirinya segera ditancapkan ke dinding batu sehingga menghentikan daya luncur tubuh mereka ke dalam jurang.
Sugong Cau memondong tubuh sute-nya dan melayang turun ke atas dataran rendah, setelah mengetahui sute-nya tidak cedera, dia baru merasa lega.
Sehabis membebaskan jalan darah sute-nya dia baru berseru dengan suara lantang.
"Sobat, tinggalkan dahulu namamu!"
Sekarang dia sudah tahu kalau Nyo Yan bukan anak murid Khong-tong-pay, menurut peraturan dunia persilatan, bagaimanapun dia harus memberikan sedikit pertanggung-jawaban.
Nyo Yan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… aku tak lain adalah manussia yang kalian sebut sebagai bocah keparat yang tak akan mampu menahan sebuah pukulan kalian dan tak perlu ditakuti itu, Nyo Yan!"
Begitu mendengar ucapan itu, kontan Sugong Cau dibikin bungkam seperti orang yang kena totok jalan darah bisunya, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Selesai tertawa, tiba-tiba saja Nyo Yan merasakan hatinya menjadi bimbang dan kosong.
Manusia Aneh di Tengah Bukit Dengan perasaan bimbang dan kosong Nyo Yan berjalan menelusuri bukit dan menembus hutan yang lebat, dia bermaksud untuk beradu nasib.
Tanpa terasa langit menjadi gelap, malam menjelang tiba.
Untung rembulan bersinar terang dan langit amat bersih.
Nyo Yan melanjutkan perjalanannya mendaki puncak bukit tersebut.
Dia tak tahu di manakah Liong Leng-cu menyembunyikan diri.
Tapi semakin tinggi dia mendaki bukit tersebut, secara lamat-lamat dia merasa semakin mendekati Liong Leng-cu.
Ketika mencapai puncak bukit, rembulan telah berada di tengah angkasa, saat itulah Nyo Yan juga merasa agak lelah.
Dia segera mancari sebuah batu datar untuk membaringkan dirinya dan tidur.
Entah berapa lama sudah lewat -akhirnya dia dibangunkan dari tidurnya oleh gema suara yang aneh sekali.
Suara tersebut tidak mirip dengan jeritan monyet, bukan auman harimau, tapi mirip dengan suara tangisan seorang bocah.Nyo Yan terperanjat sekali, rasa kantuknya segera tersapu lenyap.
Dengan cepat dia memasang telinga dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kalian bajingan-bajingan berani benar menganiaya aku, akan kuberitahukan kepada ayah."
Suara itu berasal dari kejauhan sana, dia pun hanya lamat-lamat mendengar beberapa patah kata itu saja, kata selanjutnya boleh dibilang sama sekali tak terdengar lagi.
Agaknya bocah itu berlari dengan gerakan yang cepat sekali.
Kaget bercampur gusar Nyo Yan sesudah mendengar seman itu, dia berpikir.
"Heran, mengapa ada orang yang naik ke bukit untuk menganiaya seorang bocah? Ayah si bocah sudah pasti seorang manusia yang luar biasa."
Dia jadi teringat dengan kabar berita yang diperolehnya beberapa hari berselang, konon Liong Leng-cu mempunyai seorang teman yang berdiam di bukit Ci-lian-san.
"Siapa tahu ayah bocah itu adalah orang yang dimaksudkan?"
Demikian dia berpikir.
"Bila dugaanku tak salah, kawanan bajingan itu besar kemungkinan ada hubungannya dengan orang-orang dari Bukit Unta Putih."
Lamat-lamat dia mendengar lagi suara pembicaraan manusia, cepat Nyo Yan menjatuhkan diri berbaring di tanah dan mencoba untuk menyadap pembicaraan tersebut Terdengar orang itu sedang berseru.
"Toa-suheng, mengapa kau lepaskan bocah itu?"
Sang "toa-suheng"
Segera tertawa."Siapa bilang aku lepaskan bocah itu?
Justru aku menyuruh dia untuk menunjukkan jalan buat kita.
Tidakkah kau dengar kalau dia hendak pulang untuk memberitahukan keras kepala, biarkan saja dia pulang, lebih baik begini daripada kita yang memaksanya membawakan jalan buat kita."
Begitu mendengar nama "toa-suheng"
Disebut-sebut, NyoYan merasa amat terkejut bercampur gembira, segera pikirnya.
"Ooh, ternyata dia adalah manusia nomor dua dari Bukit Unta Putih, menurut Sugong Cau dan Buyung Cui, toa-suheng-nya diluluskan begitu hebat dan luar biasa, tak ada salahnya kalau ku-sadap dulu pembicaraan mereka."
Terdengar orang pertama tadi bertanya lagi.
"Mengapa kau masih tidak melakukan pengejaran?"
Sang "toa-suheng"
Kembali tertawa "Memangnya kau khawatir kalau bocah tersebut terlepas dari cengke-ramanku?
Aku justru hendak memberi kesan kepadanya seolah-olah aku tak mampu menyusulnya.
Coba kalau aku segera menguntit di belakangnya, sudah pasti dia akan segera mengetahui kalau gelagat tak beres.
Apalagi siasatku ini merupakan siasat sekali timpuk mendapat dua ekor burung.
Mengertikah kau?"
"Apa yang disebut siasat sekali timpuk mendapat dua burung?"
Kembali orang itu bertanya.
Nyo Yan juga ingin tahu, maka dia pasang telinga dan mendengarkan dengan seksama.
Sayang sekali pembicaraan tersebut mereka utarakan dengan suara berbisik-bisik, sehingga Nyo Yan sama sekali tidak mendengar apa-apa….Lewat beberapa saat kemudian, barulah terdengar orang pertama tadi tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haah… haah… benar-benar suatu siasat yang amat hebat!"
"Toa-suheng"
Termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian berkata lagi.
"Sampai sekarang Im-tiong-siang-sat, dua bersaudara Lau serta Phang Tay-yu sekalian, belum juga kelihatan batang hidungnya, bahkan Sugong Cau dan Buyung Cui pun hingga kini belum ketahuan ke mana perginya, aku lihat kejadian ini sedikit agak aneh. Coba kalian turun gunung dan mencari jejak mereka, seandainya ditemukan, suruh mereka cepat naik walaupun mereka tak bisa membantu banyak, paling tidak juga ada manfaatnya."
Terdengar empat orang mengia-kan bersama.
Setelah kepergian sang toa-suheng tersebut keempat orang itu pun terbagi menjadi empat rombongan bersama-sama turun gu-nung.
Nyo Yan segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh Cau-sang-hui untuk mengejar sang toa-suheng.
Menurut perhitungannya, pembicaraan beberapa orang itu dilangsungkan pada suatu tempat hanya setengah li dari posisinya berada, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Cau-siang-hui semestinya ia sudah akan sampai di tempat tujuan dalam waktu singkat, apalagi rembulan bersinar begitu terang, untuk menyusul toa suheng tersebut, seharusnya tidak akan mengalami kesulitan apa-apa.
Siapa sangka, walaupun dia sudah mengejar sekian lamanya, belum juga tampak jejak dari sang toa-suheng, dia mencoba untuk mendengarkan suara dari tanah, namun tiada suara yang terdengar.Kini, di depan mata terbentang sebuah hutan pohon siong, di belakangnya berjajar tiga buah bukit.
Pada hakikatnya dia tidak tahu ke arah manakah perginya sang toa-suheng maupun si bocah cilik itu.
"Lihay benar ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si toa-suheng tersebut,"
Demikian Nyo Yan berpikir.
"tapi aku berhasil menemukan pertanda untuk mencari Liong Leng-cu, sekalipun harus membuang lebih banyak waktu pun aku harus membongkar hal ini sampai tuntas!"
Setelah menembus hutan pohon siong, ternyata di sana tak tampak perumahan penduduk maka dia pun segera berpikir.
"Sebagai seorang anak kecil, sekalipun mengerti ilmu silat, tak mungkin dia akan berani meninggalkan rumah terlalu jauh di tengah pegunungan seperti ini. Sudah pasti rumah bocah itu berada di atas salah satu di antara ketiga bukit itu, sekarang aku harus mendaki bukit itu sambil melakukan pemeriksaan…."
Ia berangkat mendaki bukit tersebut, namun di situ jangankan manusia, binatang pun tak tampak seekor pun.
Sementara dia hendak turun gunung, mendadak dari arah bukit seberang sana berkumandang suara berisik.
Dengan cepat si anak muda itu mendaki ke tempat yang lebih tinggi lagi dan melongok ke arah berasal-nya suara tersebut, begitu dipandang ia merasa terkejut bereafhput girang Ternyata di punggung bukit seberang sana terdapat sebuah tanah lapang, di atas tanah lapang tampak ada orang sedang berlatih ilmu silat….Waktu itu udara bersih dan rembulan bersinar cerah di angkasa, meskipun kurang jelas memandang keadaan di bukit seberang sana namun dapat terlihat dengan jelas kalau orang yang sedang berlatih ilmu adalah seorang kakek kekar berjenggot cabang tiga.
Di sisi kakek itu terlihat seorang gadis yang sedang menyaksikannya berlatih silat.
Sekalipun paras muka orang-orang itu tak dapat terlihat dengan jelas, namun kalau ditinjau dari potongan tubuhnya, ia menduga kalau gadis tersebut adalah Liong Leng-cu.
Hanya saja, walapun jarak antara kedua bukit itu amat dekat namun antuk mencapai bukit seberang orang harus turun gunung iebih duiu kemudian naik gunung lagi, sekalipun seseorang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna pun, paling tidak membutuhkan waktu selama sesulutan sebatang hio lebih.
Sebenarnya dia hendak menyeberang ke sana, namun ilmu pukulan yang sedang dilatih kakek tersebut membuatnya terpukau.
Tampak kakek kekar itu sedang memutar sepasang telapak tangannya membentuk gerakan-gerakan aneh, gerakan tersebut makin lama kian bertambah cepat.
Sekalipun Nyo Yan yang berada di bukit seberang tidak mendengar deruan angin pukulannya, namun ia dapat menyaksikan betapa daun dan ranting pohon berguncang keras, tumbuhan yang berada di sekeliling tanah lapang itu seakan-akan diguncang oleh angin puyuh….
Kalau hanya dedaunan yang rontok tersapu angin masih mendingan, yang lebih aneh lagi adalah dedaunan yang rontok tersebut bukannya terjatuh ke tanah melainkan melayang ditengah udara membentuk satu lingkaran yang berputar ken-cang mengikuti perputaran badan si kakek tersebut… Diam-diam Nyo Yan bersorak memuji setelah menyaksikan kejadian tersebut, pikirnya.
"Oooh… rupanya dia sedang berlatih ilmu pukulan, bukan saja ilmu pukulan itu sangat aneh dan sakti lagi pula disertai tenaga dalam tingkat tinggi, sungguh amat luar biasa."
Menyusul kemudian dia berpikir lagi.
"Sekalipun aku belum sempat menyaksikan ilmu silat dari toa-suheng tersebut, namun dilihat dari ilmu si 1 at yang dimiliki Sugong Cau dan Buyung Cui, sudah jelas ilmu silatnya masih sepuluh kali lipat lebih hebat daripada kedua orang sute-nya, aku lihat belum tentu ia mampu menghadapi kakek ini. Apalagi dia datang seorang diri, mana mau menantang hendak menangkap Liong Leng-cu di depan mata kakek tersebut boleh dibilang suatu tindakan yang tak tahu diri."
Belum habis dia berpikir, rerumputan yang bergumpal di tengah udara itu telah berubah memanjang seperti seekor naga hitam, dalam waktu singkat naga hitam itu sudah terpatah-patah di tengah udara dan berguguran di tanah.
Ternyata kakek itu sudah selesai berlatih ilmu pukulannya itu.
Nyo Yan merasa terkejut bercampur kagum setelah menyaksikan itu, pikirnya.
"Untuk berhasil melatih ilmu tenaga dalam yang begitu sempurna seperti dia paling tidak aku harus melatih diri dua tahun lagi."
Sementara itu, si nona yang menonton jalannya latihan dari sisi lapangan itu sudah bersorak sorai.
"Empek Siau, sungguh hebat ilmu pukulan Sau-yap-cianghoat (Pukulan Penyapu Daun)-mu itu!"
Benar juga, suara teriakan itu adalah suara Liong Leng-cu.
Hampir saja Nyo Yan tak kuasa menahan diri untuk berteriak memanggilnya, andaikata dia menggunakan ilmu menyampaikan suara untuk memanggil, maka Liong Leng-cu yang berada di seberang bukit sana tak usah menempelkan telinga di atas permukaan tanah untuk dapat mendengar suara teriakannya tersebut Tapi setelah berpikir sejenak, akhirnya dia urungkan niatnya tersebut… Dia khawatir kalau teriakannya itu akan mengejutkan sang toa-su-heng sehingga pergi dari situ.
Sebab apabila dia berteriak menggunakan ilmu menyampaikan suara, maka asal orang tersebut sedikit lihay, hanya sekilas mendengar saja akan segera mengetahui kalau di situ hadir jagoan lihay lainnya.
"Si bajingan yang tak tahu diri itu sudah mengantarkan diri ke depan mata, masa aku harus membuatnya lari ketakutan? Heeh… heeh… heeh… kawanan manusia dari Bukit Unta Putih itu tampaknya hanya pintar omong besar dan berpandangan seperti katak dalam sumur. Dia mengira dapat mengungguli Siau locianpwe tersebut dan menangkap siluman perempuan kecil secara gampang, mengapa aku tidak menonton lelucon ini dari samping saja?"
Rupanya Nyo Yan sudah menganggap sang "toa-suheng"
Tersebut tak tahu diri, yang dikhawatirkan sekarang bukan orang itu bakal muncul di sana, melainkan khawatir bila ia tak berani ke sana "Jika ia berani kemari, yang berhasil ditangkap sudah pasti bukan Liong Leng-cu melainkan dia sendiri,"
Demikian Nyo Yan berpikir di dalam hati kecilnya. Maka untuk sementara waktu, pemuda tersebut hanya bungkam belaka. Sementara itu terdengar si kakek telah berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haah… haah… Hiantit-li, mengapa sih kau memegang mangkuk emas malah sebaliknya mengagumi orang lain?"
"Siau lopek, apa maksud perkataanmu itu? Aku tidak mengerti,"
Tanya Liong Leng-cu cepat. Kakek she Siau itu segera tertawa.
"Aku tak berani sembarangan berbicara, sesungguhnya dalam permainan tadi telah menggunakan sedikit kepandaian. Tapi kalau dibandingkan dengan Liong-heng-lak-cap-si-si dari keluargamu, kepan-daianku ini masih ketinggalan jauh sekali."
"Empek Siau, sesungguhnya kau sedang merendahkan diri ataukah hendak membuat hatiku gembira saja? Ilmu Liong-hcng-lak-cap-si-si yang kugunakan paling hanya bisa merontokkan dedaunan belaka, masih selisih jauh bila dibandingkan dengan ilmu pukulanmu itu!"
"Soalnya kau masih belum memahami bagaimana caranya untuk mengerahkan tenaga di saat yang tepat, mulai hari ini, setiap hari kau harus menonton aku berlatih ilmu Lok-yap-cianghoat tersebut, selewatnya tiga hari, aku yakin permainanmu itu sudah pasti akan mengalami perubahan yang besar sekali."
Agaknya Liong Lcng-cu sudah dapat menduga beberapa bagian maksud si kakek yang sebenarnya, maka setelahmendengar ucapan tersebut, dengan wajah kegirangan setengah mati dia berseru.
"Empek Siau, rupanya kau memang ada maksud untuk memberi petunjuk kepadaku, rupanya kau suruh aku menyaksikan permainanmu agar bisa menarik manfaat dari permainanmu tersebut»."
"Memberi petunjuk sih tidak. Cuma ilmu pukulan ini meski tak bisa dibandingkan dengan ilmu Liong-heng-lak-cap-si-si dari keluargamu, namun di dalam cara mengerahkan tenaga dalam sistem yang digunakan dalam kedua ilmu tersebut sama sekali tidak berbeda."
Rupanya Liong Leng-cu berhasil mempelajari ilmu Liong-heng-lak-cap-si-si dari kitab peninggalan ayahnya, jadi kepandaian itu dipelajari tanpa petunjuk siapa pun.
Sebagai seorang bocah yang masih terbatas umurnya tentu saja sulit baginya untuk memahami rahasia cara pengerahan tenaga dalam yang tercantum dalam kitab tersebut Akibatnya meski dia berhasil menguasai ilmu itu, namun jadinya serupa tapi tak sama.
Sementara Liong Leng-cu sedang berpikir di dalam hatinya.
"Tak heran kalau empek Siau menggelengkan kepalanya berulang kali sewaktu aku mainkan ilmu Liong-heng-lak-cap-si-si di hadapannya dua hari berselang, ternyata untuk berlatih ilmu pukulan tersebut masih membutuhkan pula ilmu mengerahkan tenaga dalam"
Kini, setelah dia menyaksikan latihan si kakek, gadis itu seperti berhasil memahami akan suatu rahasia, hatinya menjadi gatal sekali, serunya kemudian.
"Empek Siau, coba kau berlatihlah sekali lagi, tapi kali ini kau harus mainkan jurus-jurus tersebut dengan gerakan pelan."
Kakek itu kembali tertawa.
"Tak kusangka kau si bocah perempuan amat bernafsu sekali, memangnya kau anggapkepandaian tersebut dapat dikuasai dalam sehari saja? Baiklah akan kuulangi sekali lagi."
Kali ini dia memperlambat gerakannya dan mulai memainkan ilmu pukulan tersebut mulai dari awal.
Nyo Yan bersembunyi di atas bukit seberang dan ikut menyaksikan latihan tersebut dengan seksama.
Dengan dasar tenaga dalamnya yang tidak berada di bawah kemampuan Liong Leng-cu, tentu saja banyak manfaat yang berhasil diraih olehnya dari permainan tersebut Sayangnya, baru saja kakek itu berlatih sampai separuh jalan, latihan tersebut terpotong oleh kedatangan seseorang.
Tampak seorang bocah berlarian naik ke bukit tersebut dengan napas terengah-engah, sambil berlari mendekat ia berteriak keras.
"Ayah, kau harus membalaskan dendam bagiku, kau harus membalaskan dendam bagiku!"
"Membalaskan apa?"
Seru si kakek terkejut.
"Aku telah dianiaya oleh orang jahat Ayah, kau harus membekuk orang jahat itu agar kuhajarnya habis-habisan!"
"Ting-ji, bicara yang lebih jelas, orang jahat macam apakah yang telah mengusikmu? Mengapa dia menghajarmu?"
"Dia hendak merampas seekor burung merah kecil yang baru saja berhasil kutangkap, aku tak sudi menyerahkan kepadanya dan dia menghajarku. Belum pernah kusaksikan manusia yang tak tahu peraturan macam dia."
"Bagian manamu yang dihajar? Apakah masih sakiti Mari kemari, akan kuperiksa keadaannya,"
Seru Liong Leng-cuKendatipun Liong Leng-cu merasa bahwa peristiwa tersebut agak aneh, namun lantaran si bocah masih bisa berlari naik ke bukit sendiri, maka hatinya pun tidak begitu khawatir.
"Sejak kecil Ting-te mempelajari ilmu Tong-cu-kang, kepandaiannya sudah mempunyai dasar yang kuat bila orang biasa yang menghajarnya, aka rasa dia tak akan cedera dengan begitu saja,"
Demikian dia berpikir di dalam hati. Sementara itu, si bocah telah berkata lagi.
"Bajingan itu menghajar punggungku, sakitnya sih tidak, cuma gatalnya bukan kepalang. Kalau dibuat berlarian masih rada mendingan, tapi begitu berhenti, rasa gatalnya seolah-olah merasuk sampai ke dalam tulang!"
Mendengar penuturan putranya itu, paras muka si kakek makin lama berubah semakin serius, mendadak dia merobek pakaian yang dikenakan putranya itu.
Waktu itu Liong Leng-cu juga bermaksud melepaskan pakaian si bocah dan memeriksa keadaan lukanya lalu dibubuhi dengan obat Di dalam perkiraannya, sekalipun cedera, paling hanya luka di kulit belaka, maka betapa kagetnya gadis itu tatkala dilihatnya si kakek merobek pakaian putranya dengan perasaan cemas.
Sebuah bekas telapak tangan berwarna semu merah tertera amat jelas di atas punggung bocah itu.
Liong Leng-cu merasa terkejut bercampur keheranan, serunya dengan segera.
"Berat juga pukulan telapak tangan orang itu, tapi… adik Ting, mengapa kau tidak merasa sakit?"
"Benar-benar tak kusangka kalau di kolong langit terdapat manusia yang begitu keji,"
Seru kakek Siau sambil mengertakgigi menahan amarahnya.
"Padahal antara aku dengan orang itu tiada dendam sakit hati apa pun, namun orang itu begitu tega menggunakan ilmu pukulan yang sangat beracun macam begini untuk melukai seorang bocah yang masih berbau tetek!"
Lak terlukiskan rasa kaget Liong Leng-cu setelah mendengar perkataan itu, segera tanyanya.
"Luka apakah yang diderita adik Ting? Tidak… tidak membahayakan jiwanya bukan?"
"Orang itu menggunakan ilmu pukulan Tay-im-eiang untuk melukai delapan nadi penting di dalam tubuhnya, mana di atas telapak tangan diolesi dengan racun lagi. Hanya tidak kuketahui apakah tenaga dalamnya belum mencapai kesempurnaan ataukah dia masih mempunyai liangsim, ternyata urat nadi bocah itu tak sampai digetarkan putus, dewasa ini hanya terjadi penggumpalan darah dalam tubuhnya, aku masih mampu untuk menyembuhkan luka tersebut…."
Berbicara sampai di sini, sorot matanya segera dialihkan ke sekeliling tempat itu, ketika tidak dijumpai ada orang yang muncul di situ, maka ujarnya lebih jauh.
"Hiantit-li, sebentar bila aku sedang mengobati luka Ting-ji, kau harus selalu waspada, jangan sampai membiarkan orang asing datang kemari…!"
"Sreeet!"
Liong Leng-cu segera meloloskan pedangnya dan berjaga-jaga di tepi tebing, katanya.
"Empek, obatilah luka adik Ting dengan perasaan lega, seandainya ada orang menyerbu kemari dengan kekerasan, aku pasti akan mengajaknya untuk bertarung habis-habisan!"
"Kau tak perlu berbuat demikian, seandainya kau sudah tak sanggup untuk mempertahankan diri, panggillah aku!"
Begitu selesai berkata, dia lantas menempelkan telapak tangannya ke atas punggung putranya, lalu dengan menggunakan hawa murni Tun-yang-sinkang hasil latihannya selama puluhan tahun untuk menguruti peredaran darah dalam tubuh putranya serta mengobati racun yang mengeram dalam tubuh bocah tersebut Kurang lebih sesulutan sebatang hio kemudian, paras muka bocah itu telah pulih kembali menjadi memerah, keringat bercucuran seperti air hujan, bahkan terendus pula bau busuk yang menusuk hidung.
"Ayah!"
Terdengar bocah itu berseru dengan wajah girang.
"kepandaian silatmu sungguh hebat, rasa gatal di dalam tubuhku telah berhenti, aku… sekarang aku pingin tidur."
Suaranya amat lemah dan lirih, agaknya dia sudah kelelahan setengah mati. Kakek itu menghembuskan napas panjang.
"Huuuh… akhirnya berhasil juga kuselamatkan selembar jiwa bocah ini!"
Dari sikap maupun cara berbicaranya yang lemah, membuktikan kalau kakek tersebut jauh lebih lelah daripada si bocah itu sendiri.
Nyo Yan yang berada di bukit seberang tak sempat menyaksikan dengan cara apakah kakek itu menyembuhkan luka yang diderita putranya, dia pun tak sempat menyaksikan paras mukanya yang lusuh dan sayu, namun secara lamat-lamat dia dapat merasakan betapa gawat dan tidak beresnya situasi ketika itu.
"Siasat sekali timpuk mendapat dua burung… siasat sekali timpuk mendapat dua burung!"
Gelak tertawa licik dari "toa-suheng"
Seolah-olah berkumandang kembali di sisi telinganya. Apa yang dimaksud siasat "sekali timpuk mendapat dua burung"
Itu?
Dia tidak tahu.
Namun secara lamat-lamat dia dapat menebak beberapa bagian.
Walaupun dia menaruh kepercayaan penuh atas kemampuan kakek tersebut, kendatipun ilmu silatnya telah memperoleh kerugian besar, dia percaya kakek tersebut masih sanggup mengalahkan "toa-suheng"
Tersebut, namun untuk menjaga kemungkinan yang tak diinginkan, dia tak berani bersikap acuh tak acuh seperti tadi lagi. • Dia lantas berubah pikiran, pikirnya kemudian.
"Aku tak dapat membiarkan Siau locianpwe itu terjebak oleh siasat licik manusia laknat tersebut, aku harus segera menyeberang ke sana!"
Sayang tindakannya itu sudah terlambat, baru saja ingatan tersebut melintas lewat dan belum sempat dia mengambil suatu tindakan, di tengah lapangan berumput di bukit seberang sana telah terjadi suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaan.
Baru saja kakek itu menghembuskan napas panjang dan hendak menyerahkan si bocah kepada Liong Leng-cu mendadak terdengar seseorang memuji dengan suara lantang.
"Betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki Siau locianpwe, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan!"
Tahu-tahu di tengah tanah lapang telah bertambah dengan seseorang, dalam waktu singkat orang itu sudah berdiri di samping kakek tersebut.
lak terlukiskan rasa kaget Liong Leng-cu menyaksikan kehadiran orang itu, padahal selama ini dia berdiri di tepitebing dengan senjata terhunus dan mengawasi gerak-gerik di sekeliling tempat itu.
Tidak diketahui dari mana munculnya orang itu, ternyata kehadirannya di situ, tak disadari oleh siapa pun.
Meski hal ini bisa dikarenakan pikirannya yang bercabang mengkhawatirkan keselamatan si bocah yang terhika, namun dia toh merasa berdosa juga atas keteledoran yang dilakukannya itu.
Bagaimanapun jua, kini manusia asing tersebut sudah berada di samping kakek Siau, apa maksud kedatangannya juga belum diketahui, oleh sebab itu untuk sesaat lamanya dia belum bisa mengambil suatu keputusan, haruskah turun tangan atau tidak?
Kakek itu mengidapkan tangannya memberi tanda agar dia jangan * turun tangan untuk sementara waktu, kemudian tegurnya.
"Siapakah kau? Karena urusan apa datang kemari?"
Lelaki berbaju putih itu memberi hormat kemudian pelan-pelan menjawab.
"Anggota perguruan Bukit Unta Putih It-bun Lui sengaja datang untuk mengunjungi Ci-lian-kiamkek (Jago Pedang dari Bukit Ci-lian) Siau locianpwee!"
Tampaknya sang "toa-suheng"
Telah datang.
Sebenarnya Nyo Yan tidak begitu mengkhawatirkan kepandaian dari "toa suheng" , namun setelah menyaksikan ilmu meringankan tubuhnya yang begitu sempurna, tak urung berubah juga paras mukanya, dia segera berpikir.
"Kalau begitu apa yang diucapkan Sugong Cau dan Buyung Cui bukan cuma bualan belaka, kalau ilmu silat orang ini dibandingkandengan mereka, nyatanya berbeda bagaikan langit dan bumi. Aku terlalu memandang rendah kemampuannya."
Sementara si kakek dibuat tertegun oleh ucapan lawan, katanya kemudian dengan cepat.
"Tidak berani, aku orang she Siau selamanya tidak mampunyai hubungan apa-apa dengan Bukit Unta Putih, ada urusan apa kau datang mencariku?"
Belum habis dia berkata, si bocah yang sedang tertidur kelelahan itu mendadak mendusin lalu teriaknya secara tiba-tiba.
"Ayah, dialah si bajingan yang telah melukai diriku.’"
Kakek itu terkejut, lalu bentaknya dengan penuh kegusaran.
"Dendam sakit hari apakah yang terjalin antara aku orang she Siau denganmu?
Mengapa kau turun tangan sekeji ini terhadap seorang bocah Cilik.
Berhadapan dengan seorang musuh yang licik dan berbahaya semacam itu, apalagi dia harus memeluk seorang bocah, kendatipun amarahnya sudah memuncak, toh untuk sementara waktu harus dapat menahan diri.
Segenap pikiran dan perhatian dipusatkan menjadi satu untuk menghadapi lawan, dia berusaha menghindari suatu pertarungan secara sembrono hingga akhirnya diri sendiri yang rugi.
Itbun Lui tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… ucapan Siau losianseng terlalu serius! Coba kau bayangkan sendiri, andaikata aku benar-benar turun tangan secara keji, kau anggap putramu masih bisa hidup? Betul aku melukai delapan nadi putramu dengan ilmu Tay-im-ciang, serangan yang kugunakan juga agak berat, tapi dengan kepandaian sakti yang dimiliki Siau losianseng, bukan suatu pekerjaan yang sulit untuk menyelamatkan jiwanya."
"Bagus sekali, tak nyana kalau kau sanggup mengucapkan perkataan tersebut,"
Seru si kakek sambil tertawa dingin.
"Mengapa tak kau katakan kalau kau telah menggunakan cara yang rendah dan memalukan ini untuk menguras tenaga da-lamku? Sekarang katakanlah, apa maksud tujuanmu yang sebenarnya."
"Tidak apa-apa, aku hanya mengharap agar kau jangan mencampuri suatu persoalan."
"Persoalan apa?"
"Betul antara aku dan kau tak terikat oleh dendam sakit hati apa pun jua, tapi nona Liong itu justru mempunyai sakit hati dengan guruku."
"Kau she Itbun, apa hubunganmu dengan Itbun Poh?"
Mendadak Liong Leng-cu bertanya.
"Dia adalah guruku, juga empek-ku."
Mendadak dari balik mata Liong Leng-cu seolah-olah memancarkan keluar sinar berapi-api yang menggidikkan hati, serunya dengan cepat.
"Oooh, rupanya Pek-tou Sancu adalah Itbun Poh, tak aneh kalau begitu."
"Sreet!"
Sebuah rasukan kilat segera dilontarkan ke arah tubuh Itbun Lui.
"Criitt…!"
Desingan tajam mendesis, ujung baju Itbun Lui sudah tertusuk oleh ujung pedang hingga robek.
Akan tetapi, Liong Leng-cu sendiri pun kena kebutan ujung bajunya sehingga tanpa terasa mundur sejauh empat lima langkah posisi semula Dengan cepat kakek itu menerobos ke muka dan menghadang di depan si nona, telapak tangan kiri-nya dipersiapkan untuk menghadapi serangan berikutnya dari Itbun Lui.Sekalipun sedang memondong bocah namun gerakan tubuhnya masih tetap amat cepat bagaikan sambaran kilat Ternyata Itbun Lui tidak melakukan pengejaran lebih jauh.
"Hiantit-li, apakah Itbun Poh adalah^."
Sebelum kakek itu menyelesaikan perkataannya, Liong Leng-cu telah menukas dengan cepat.
"Benar, Itbun Poh adalah musuh besar pembunuh ayahku! Andaikata aku tahu dari dulu kalau Pek-tou Sancu adalah dia sudah sedari dulu aku pergi ke Bukit Unta Putih untuk mencarinya."
"Kau masih belum pantas untuk bertarung melawan guruku,"
Kata Itbun Lui sambil tertawa.
"Aku datang kemari untuk membekukmu atas perintah dari dia orang tua. Bila kau ingin membatas dendam, silakan saja mencari aku."
Liong Leng-cu memutar pedangnya sambil menyerbu ke depan, tapi kakek tersebut segera mencegah.
"Tunggu dulu!"
Mendadak dia menyerahkan si bocah yang berada dalam pon-dongannya ke tangan Liong Leng-cu.
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 4
Baca Juga: Kereta Berdarah 8