Eps 8 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
Nyo Bok tidak mempedulikan ucapan itu, kembali ujarnya lebih lanjut.
"Enci, kau telah melepaskan budi setinggi bukit kepadaku, sudah sepantasnya kau percaya kepadaku bahwa aku tak akan menyulitkan See-kiat Tapi andaikata dari pihak ibu kota mengirim orang lagi untuk memeriksa kasus ini,waah… urusan jadi lebih sulit untuk diselesaikan. Setiap orang yang berada dalam gedung keluarga Pui sama-sama mencurigai See-kiat Lau Kun juga bersikeras mengatakan dia yang membobol penjara. Orang yang ditugaskan menyelidiki peristiwa ini sudah pasti datang mencari kesulitan untuk, kalian berdua"
"Kau mengira enci adalah seorang yang takut urusan?"
Tanya Nyo toakoh dingin.
"Cici, kau adalah perempuan Ulung, tentu saja tak akan takut urusan, tapi sekarang seharusnya adalah waktu bagimu untuk menikmati sisa hidupmu, daripada banyak urusan lebih baik tak ada urusan. Dengan kekuatanmu seorang, bagaimana mungkin kau bisa melawan kekuasaan pemerintah? Oleh sebab itu aku berharap kepadamu agar menanyai See-kiat, andaikata memang dia yang melakukan, lebih baik berterus terang saja kepadaku, daripada orang lain datang mencari gara-gara dengan kalian!"
"Masa kau tidak mendengar, kedua peristiwa itu bukan dia yang lakukan?"
Nyo Bok agak tertegun, lalu katanya lagi.
"Cici, bukannya aku tak percaya dengan perkataan Kiat-tapi siapa tahu kalau tadi ia mejadi takut akan sesuatu dan tak bisa berterus terang?"
"Baik, jika kau tak percaya degannya biar aku yang memberitahukan kepadamu, orang yang melepaskan Huan Kui bukan dia Tapi dia merupakan orang yang paling dicurigai, aku khawatir orang lain tak akan percaya dengan perkataan cici!"
"Lantas mau apa kau sekarang?"
Nyo Bok memandang sekejap ke arah Lo Hi-hong, kemudian berkata "
Cici, murid Lo suhu adalah kepala opaskota Po-tcng, dialah yang melaporkan peristiwa ini kepada walikota dan dia pula yang mengundang gurunya untuk menyelidiki peristiwa ini Sedang aku adalah orang yang dikirim pihak ibu kota untuk membantunya menyelesaikan persoalan ini.
Kalau soal pihakku gampang, tapi pihak walikota Po-teng tidak mungkin bisa ditembusi hanya berdasarkan sepatah dua patah kata saja!"
"Betul!"
Timbrung Lo Hi-hong pula cepat.
"enso, harap kau suka berbesar hati, baik atau buruk kau mesti mencari suatu akal, agar kami bisa mempertanggungjawabkan diri kepada atasan!"
Paras muka Nyo toakoh berubah hebat "Kalau begini, paling tidak kalian hendak mengajak putraku untuk menghadap walikota dan diperiksa?" ‘Tidak berani, tetapi… ya, kecuali orang yang membobol penjara adalah orang lain, jika tidak terpaksa kami harus mengajak putramu untuk menghadap walikota!"
"Kau anggap hanya See-kiat seorang yang berkemampuan untuk membobol penjara dan menolong orang?"
Seru Nyo toakoh dingin. Tergerak juga hati Nyo Bok setelah mendengar perkataan itu, buru-buru ia bertanya.
"Cici, kalau begitu kau sudah tahu siapakah orang yang telah membajak penjara dan menolong Ciat Hong?"
Sebelum Nyo toakoh sempat menjawab, mendadak dari luar kedengaran seseorang berseru, ‘Tidak usah bertanya kepadanya tanya saja kepadaku! "
Meskipun suara itu berasal dari luar pintu, namun kedengarannya seakan-akan berasal dari sisi telinga Nyo Bok.Tak terlukiskan rasa kaget Nyo Bok setelah mendengar suara itu, ia segera membentak.
"Siapa kau?"
"Aku adalah orang yang membobol penjara dan melarikan Ciat Hong, aku juga yang melarikan Huan Kui, dua peristiwa tersebut merupakan hasil karyaku. Bila kau ingin mencari mereka, ikutilah aku!" ---ooo0dw0ooo---Setelah Nyo Bok berlalu, Nyo toakoh menghembuskan napas panjang, katanya "Kau dapat mengenali bukan, orang itu adalah Nyo Yan?"
"Sudah kuduga kalau dia. Ibu, bagaimana kalau secara diam-diam kita saksikan peristiwa selanjutnya?"
"Jangan!"
Setelah berhenti sejenak dan menghela napas, terusnya.
"Aku rasa lebih baik kau cepat kabur saja meninggalkan tempat ini!"
"Sekarang piaute sudah pulang, mengapa aku harus pergi?"
"Kau anggap Nyo Yan dapat menyerahkan Ciat Hong dan Huan Kui kepada ayahnya?"
"Aku cukup memahami watak piaute, setelah dia menolong orang itu, tak nanti dia akan mengantar kembali orang yang ditolongnya ke mulut harimau."
"Tepat sekali, bila ia gagal menangkap buronan pemerintah, tak bisa berkutik pula pada putra sendiri, bagaimana caranya mempertanggung-jawabkan diri?"
"Ibu, apakah kau. masih khawatir engku akan datang lagi untuk mencari gara-gara dengan kita?"
"Aaai, paling tidak pasti akan terjadi sedikit keributan. Selama kau masih berada di rumah tentu saja dia akan datang merecoki kita terus menerus, mendingan kalau telingaku masih tahan menerima semua ucapan tersebut, seandainya berita ini sampai tersiar, dari pihak pemerintah mengirim petugasnya untuk melakukan penyelidikan? Waah… bisa bertambah berabe kita"
"Tapi dengan cepat engku akan tahu kalau kedua peristiwa tersebut adalah hasil karya dari putranya."
"Justru lantaran anak lebih akrab daripada keponakan, setelah dia tidak mampu berbuat banyak terhadap putra sendiri terpaksa ia akan melimpahkan kesalahan tersebut kepadamu. Benar kedua peristiwa tersebut bukan hasil karyamu, tetapi jangan lupa, semalam kau pun berada di gedung keluarga Pui, hal ini membuktikan kalau kau pernah berjumpa dengan Pui Liang yang sedang melarikan diri, kalau tidak dari mana kau bisa tahu jika Huan Kui disekap di rumahnya Pui Hou? Sebagai seorang opas, mereka tak akan melepaskan setiap titik terang yang bisa digunakan untuk memecahkan peristiwa tersebut"
Ki See-kiat segera tertawa.
"Ooh ibu… rupanya kau pun tidak percaya dengan engku?"
Nyo toakoh menghela napas panjang.
"Bagaimanakah watak adikku, masa aku tak tahu? Aku bersedia mengorbankan segalanya demi dia, tetapi andaikata benar-benar sudah berada dalam keadaan yang kritis, jangankan kau, aku pun mungkin akan dikhianati olehnya!"
Ki See-kiat semakin girang sesudah mendengar perkataan ini, serunya kemudian.
"Ibu, asal kau dapat memahami watak engku yang sebenarnya, hal itu sudah lebih dari cukup."
"Pergi saja dengan hati lega, aku telah berpikir beberapa kali, hanya dengan kepergianmu untuk sementara dari rumah ini, urusan baru bisa diselesaikan secara tuntas."
"Baik, kalau begitu ananda akan pergi, ibu, kau sendiri pun harus baik-baik menjaga diri!"
"Tunggu dulu anak Kiat!"
Mendadak Nyo toakoh berseru lagi.
"Ibu masih ada pesan apa lagi? tanya Ki See-kiat sambil berpaling.
"Kau bermaksud hendak ke mana?"
"Mengembara di dalam dunia persilatan, ke mana saja asal aman."
"Ada satu hal yang mesti kau penuhi dulu sebelum pergi meninggalkan rumah!"
"Silakan ibu sampaikan."
"Ke mana saja kau boleh pergi, hanya Jik-tat-bok saja yang tak boleh kau singgahi!"
Jik-tat-bok merupakan markas besar pasukan pembela tanah air yang dipimpin Leng Thiat-jiau berada.
Ki See-kiat baru mengerti sekarang, rupanya ibunya khawatir dia pergi mencari Leng Ping-ji.
Terdengar Nyo toakoh berkata lebih jauh.
"Kiat-ji, aku tahu kalau kau belum bisa melupakan nona Leng, tetapi aku tidak berharap kau bertemu lagi dengannya. Sekarang engku-mu sudah mencurigai kau beraliran sama dengan Leng Thiat-jiau, entah bagaimanapun bencimu padanya, kau tak boleh bertindak demikian hingga tebakannya benar. Aku… aku pun tidak ingin kau bergaul dengan orang-orang dari komplotan mereka!"
Ki See-kiat tertawa getir.
"Ibu, sekalipun kau tak bilang, aku pun tak dapat berjumpa lagi dengan nona Leng. Aku mempunyai seorang engku macam begini, engku pun pernah memaksaku pergi ke Jik-tat-bok menjadi mata-mata, dapatkah aku pergi ke sana dan terlepas dari kecurigaan orang?"
Nyo toakoh menjadi amat gembira.
"Baik,"
Serunya kemudian.
"jadi ibu sudah menyetujui?"
"Ya ibu, aku berjanji, aku pasti tak akan pergi ke Jik-tat-bok,"
Jawab Ki See-kiat sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.
"Bagus, kalau begitu aku pun merasa lega, sekarang pergilah!"
Mengantar keberangkatan putranya, dia merasa hatinya sangat pedih sehingga tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran. 0odwo0 Kepedihan hati Ki See-kiat pun tidak berada di bawah rasa sedih ibunya.
"Kini, entah Ping-ji berada di mana? Sudah kembali ke Thian-san? Atau pergi ke tempat pamannya di Jik-tat-bok? Aaai, padahal buat apa aku mesti memikirkannya lagi? Toh aku tak mungkin bisa bersua lagi dengannya…?"
Terkorek kembali luka di dalam hatinya, ia merasa amat sedih, tapi air matanya tidak dibiarkan meleleh, dia harus menelan kesedihan tersebut.
Ia sangat berharap bisa bersua kembali dengan Nyo Yan, selain karena hubungan mereka sebagai saudara misan, ada dua alasan penting lainnya…Alasan yang pertama adalah ia tak sanggup membendung rasa ingin tahunya, dia ingin tahu setelah Nyo Yan berjumpa dengan ayahnya, apakah mereka akan saling memperkenalkan diri?
Alasan kedua, sewaktu ia berpisah dengan Nyo Yan di Sinkiang tempo hari, dia tahu kalau Nyo Yan akan pergi mencari Leng Ping-ji, apakah mereka telah berjumpa?
Bagaimanapun dia berusaha untuk menghindari pemikiran terhadap Leng Ping-ji, namun dalam hati kecilnya dia masih selalu berharap bisa menerima kabar berita tentang Leng Ping-ji.
Tapi, ke manakah dia harus pergi mencari Nyo Yan?
Otaknya berputar kencang, dia mencoba untuk menduga-duga ke mana saja engku-nya mungkin dibawa adik misannya itu.
"Yang pasti bukan ke tempat yang ramai,"
Demikian dia berpikir.
"Tempat itu pun tak akan jauh dari rumahku, kalau tidak setelah matahari terbit nanti orang yang berlalu lalang di jalanan pasti akan bertambah banyak."
Waktu fajar baru menyingsing, rumah-rumah penduduk di sekitar sana belum ada yang buka.
Mendadak ia teringat akan suatu tempat, tempat itu tak jauh letaknya dari tempat tinggal mereka… kuil Hay-sin-bio.
Ternyata dugaannya memang benar, waktu itu Nyo Yan memang telah memancing ayahnya menuju ke kuil Hay-sin-bio.
Nyo Bok dan Lo Hi-hong khawatir jika di sekitar kuil tersembunyi jago-jago lihay, mereka tak berani masuk ke dalam ruangan kuil dengan begitu saja.Nyo Yan segera berkata "Semalam, aku mengantar Huan Kui ‘kemari dan menyerahkan kepada suheng-nya Pui Liang.
Nyo… Nyo toaya, aku tahu kalau kau adalah guru mereka terlepas kau hendak menganggap mereka sebagai muridmu atau sebagai buronan, tapi paling tidak kau tak akan j eri terhadap murid sendiri bukan?
Sudah kukatakan sedari tadi, aku pun tidak bermaksud jahat kepadamu, kalau toh sudah sampai di sini, mengapa kau tidak bernyali untuk masuk ke dalam?"
Sepanjang jalan melakukan pengejaran tadi, Nyo Bok sudah mencoba mengamati bayangan punggung Nyo Yan dengan seksama, apalagi setelah berbicara dengan berhadapan muka sekarang, memandang raut wajah pemuda tersebut, ia merasa amat terperanjat.
"Heran mengapa wajah pemuda ini seperti pernah kukenal?"
Tanpa terasa dia mengamati dengan lebih seksama lagi, tapi makin dilihat dia merasa semakin aneh. Perasaan aneh tersebut bukan terbatas pada perasaan "seperti pernah dikenal"
Saja pada hakikatnya ia seperti bertemu dengan seseorang yang amat dikenal, seperti seseorang yang sudah lama berpisah banyak tahun kemudian berjumpa lagi secara mendadak.
Maka ketika didengarnya Nyo Yan memanggil dia sebagai "Nyo toaya" , lagi pula nada suaranya lembut dan halus, sama sekali tidak berniat jahat, hal ini membuat perasaan aneh yang timbul dari dalam hatinya itu semakin bertambah tebal.
Setelah ragu-ragu sejenak, tanpa terasa dia mengikuti di belakang Nyo Yan melangkah masuk ke dalam kuil.Melihat Nyo Yan sudah masuk, Lo Hi-hong membesarkan juga nyalinya untuk mengikuti dari belakang.
Siapa tahu Nyo Yan berpaling secara tiba-tiba kemudian membentak keras-keras.
"Lo Hi-hong aku toh tidak mengundangmu masuk, siapa suruh kau ikut kemari?"
Lo Hi-hong termasuk jago persilatan yang berkedudukan sangat tinggi sekali dalam kota Po-tcng.
Sebagaimana diketahui, dalam kota Po-teng terdapat dua orang busu terkenal, yang kesatu adalah Nyo Bok sedang yang lain adalah dia Ketika Nyo Bok baru terjun ke dunia persilatan, ia sudah jauh sebelumnya ternama di mata umum, itulah sebabnya dalam soal urutan nama semestinya Nyo Bok lebih maju daripadanya, namun di hadapan orang ini, dia selalu membahasakan diri sebagai angkatan yang lebih muda.
Bagi seseorang yang "punya nama dan tingkat kedudukan tinggi"
Seperti dia, bagaimana mungkin ia bisa tahan menghadapi dampratan dari seorang bocah ingusan? Tak tahan dia lantas mendengus, kemudian serunya-"
Sobat kecil, setelah berani melakukan perbuatan besar, masa kau belum tahu kalau kepala opas kota Po-teng ini adalah murid lohu?
Kebetulan sekali lohu datang atas undangan muridku untuk menyelidiki kasus ini."
Bagaimanapun jua, dia masih merasa jeri juga terhadap pemuda yang berani mendobrak penjara dan menolong tawanan dari dalamnya ini, apalagi dia pun bisa menduga kalau ilmu silat orang ini sangat lihay, coba kalau bukan begitu, mungkin sedari tadi ia sudah mencaci maki habis-habisan.
Siapa tahu ucapan yang dianggapnya sudah cukup sungkan ini tak bisa diterima Nyo Yan.Belum selesai Lo Hi-hong berbicara, kembali Nyo Yan sudah membentak.
"Tidak peduli kau adalah kepala opas atau bukan, jangankan baru gurunya sekalipun raja sendiri juga harus menggelinding dari sini, dengar atau tidak? Aku menyuruh kau menggelinding pergi dari sini?"
Lo Hi-hong tak berani memakinya, siapa tahu ia justru memaki Lo Hi-hong lebih dulu. Habis sudah kesabaran Lo Hi-hong, dengan gusar dia membentak keras-keras.
"Sudah enampuluh tahun lebih aku hidup di dunia ini, belum pernah ada orang menyuruh aku menggelinding pergi, kau… kau si bocah keparat., kau…."
Di tengah bentakan keras, dua buah peluru baja segera menyambar ke muka dengan membawa suara desingan tajam.
Dalam serangannya kali ini, Lo Hi-hong telah menggunakan ilmu senjata rahasia tunggalnya peluru kecil meluncur dulu menghajar muka Nyo Yan untuk mengacaukan pandangan matanya, kemudian peluru besar yang menyambar belakangan tiba lebih dulu menghantam punggung pemuda itu setelah membentuk gerakan lingkaran busur.
Siapa tahu punggung Nyo Yan seperti mempunyai mata saja, sambil membalikkan tangannya, tahu-tahu peluru besar itu sudah tertangkap olehnya, kemudiau tanpa berpaling dia menjepit dengan kedua jari tangannya, peluru kecil yang disambitkan belakangan pun ikut terjepit pula Setelah menyambut kedua buah peluru baja tersebut, Nyo Yan berkata sambil tertawa dingin.
"Huuh, mutiara sebesar beras juga ingin bercahaya terang, buat apa kau memamerkan besi rongsokan seperti ini di hadapanku?"
Ia banting kedua buah peluru itu ke bawah.
"Blaarr!"
Diiringi suara benturan nyaring, dua buah lubang besar sudah muncul di atas permukaan tanah, sedemikian dahsyatnya tenaga sambitan tersebut hingga kedua buah peluru baja itu melesat ke dalam tanah dan hilang lenyap tak berbekas.
Sekarang, Lo Hi-bong baru merasa ketakutan setengah mati, sukma serasa melayang meninggalkan raganya, baru saja dia akan melarikan diri, Nyo Yan telah membentak keras.
"Hai tua bangka, jika kau segan melarikan diri, lebih baik ber-baring saja di sini!"
Sewaktu peluru besi itu menembus permukaan tanah tadi, pasir beterbangan ke mana-mana, Nyo Yan meraup segenggam pasir lalu disambitkan ke muka sambil membentak keras.
"Kalau hanya menerima pemberian tanpa dibalas, kurang sopan namanya, biarlah dua biji peluru baja kutukar dengan segenggam pasir!"
Hamburan pasir dengan cepat meluncur ke depan dan menghantam sepasang lutut Lo Hi-hong.
Seketika itu juga Lo Hi-hong merasakan sepasang kakinya menjadi lemas, ia segera roboh tak sadarkan diri.
Dengan perasaan terkejut Nyo Bok menegur.
"Hei, kau apakan Lo losianseng?"
"Tak usah khawatir,"
Nyo Yan tertawa.
"aku hanya tidak senang dengan kehadirannya di sini, biarkan saja ia tidur di situ, selewatnya dua-belas jam,jalan darahnya akan bebas sendiri."
Nyo Bok jadi bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat, tapi ia tahu ilmu silat yang dimiliki pemuda ini lihay sekali, bila ia ingin kabur, jelas tak mungkin akan terlepas daripengejarannya, sebab itu sambil membesarkan nyali dia mengikuti pemuda tersebut masuk dalam ruangan.
"Coba kau lihat, bukankah paku penembus tulang ini milikmu,"
Ujar Nyo Yan kemudian.
Mengikuti arah yang ditunjuk, Nyo Bok menyaksikan di atas tanah memang tergeletak dua batang paku penembus tulang yang masih bernoda darah, selain itu terdapat pula gumpalan darah yang sudah mengering, kesemuanya ini membuat hatinya amat terperanjat.
"Tampaknya pemuda ini memang tidak membohongi aku,"
Pikir Nyo Bok kemudian. Buru-buru dia bertanya.
"Ke mana orangnya?"
"Aku hanya bisa mengatakan Pui Liang dan Huan Kui pernah datang kemari, kau toh tidak berpesan kepadaku agar menjaga mereka, dari mana aku bisa tahu mereka sudah pergi ke mana?"
Bertemu Tapi Tak Dikenal "Bukankah kau mengatakan hendak mengajakku kemari untuk menangkap buronan?"
Seru Nyo Bok lagi.
"Betul. Tapi aku kan tak berjanji kepadamu untuk menangkapkan buronan tersebut, kalau mau membongkar kasus tersebut, itu urusanmu sendiri!"
Mencorong sinar tajam dari mata Nyo Bok, sesudah menatap wajah Nyo Yan sekian lama, katanya kemudian.
"Maaf kalau terpaksa aku mesti berlagak sok tua dengan me-nyebutmu sebagai saudara cilik. Saudara cilik, kau berasal dari marga apa?"
Diam-diam Nyo Yan merasakan hatinya kecut, pikirnya.
"Ayah dan anak berjumpa, tapi ia tak mengenali siapakah aku…."
Tanpa terasa ia menghela napas panjang, sahurnya kemudian.
"Kau keliru!"
Padahal dari mana dia tahu kalau pertanyaan tersebut sengaja diajukan Nyo Bok untuk menyelidikinya.
"Antara aku dengan dirimu tak mungkin bisa saling menyebut sebagai saudara, buat apa kau mesti mengetahui namaku?" ‘ "Mengapa?"
Desak Nyo Bok lebih jauh.
"Perjumpaan kita hari ini tak lebih hanya suatu perjumpaan kebetulan. Seandainya pembicaraan tak cocok, selanjurnya aku pun tak akan sudi berjumpa lagi denganmu. Bila kita tak akan berjumpa lagi, buat apa kau mesti mengetahui namaku?"
"Seandainya kita bisa cocok dalam pembicaraan?"
"Kita bicarakan nanti saja, nama tak lebih cuma suatu perlambang, bila hari ini kau memanggilku dengan sebutan apa, panggil saja dengan sebutan tersebut,"
Katanya kemudian.
"Baik, ilmu silatmu tinggi, jarang kujumpai manusia semacam kau di dunia ini, akan kusebut dirimu sebagai siau-enghiong saja. Nah, Siau-enghiong, walaupun aku gagal me-nangkap kembali buronanku kali ini, tapi toh kau sudah membantuku, bolehkah kau membantuku sekali lagi?"
"Kau menginginkan bantuan apa dariku?"
"Untuk melepaskan keleningan harus dicari yang memasang keleningan tersebut, bantulah aku memecahkan kasus ini,"
Katanya memohon.
"Nah, tidak salah bukan perkataanku tadi, baru membuka suara, pembicaraan kita sudah tidak saling mencocoki,"
Keluh Nyo Yan dengan menghela napas.
"Jadi kau tidak bersedia membantuku?"
"Bukan saja aku tak bisa membantumu, bahkan ingin manganjur-kan kepadamu untuk mengurungkan saja niatmu itu, bukan hanya peristiwa ini saja, di kemudian hari pun jangan kau urusi lagi peristiwa-peristiwa sejenis itu."
"Mengapa kau menganjurkan aku untuk berbuat demikian?"
Tanya Nyo Bok tertegun.
"Coba bayangkan saja, hubungan saudara sama dengan hubungan orang tua, hubungan murid dan guru sama dengan hubungan ayah dan anak. Pepatah bilang sebuas-buas-nya harimau, dia tak akan melalap anak sendiri. Tapi kau begitu tega mencelakai murid sendiri, masih terhitung manusiakah dirimu itu?"
Ucapan itu bernada berat dan tajam, tapi Nyo Bok papat merasakan kalau nasihat itu muncul dengan maksud baik, sama sekali tidak mengandung nada teguran ataupun dampratan.
"Aku bukan bermaksud mencelakainya, aku ingin menyelamatkan jiwanya,"
Nyo Bok segera membantah.
"Benar, kau pun berkata demikian terhadap Huan Kui, tapi ucapanmu dengan ucapan Pui Hou tampaknya berbeda Maaf, semuanya sudah kudengar. Aku tahu kalian hanya bermaksud untuk membohonginya agar dia mau mengaku saja."
"Enghiong kecil, walaupun ilmu silatmu lihay, sayang usiamu ke lewat muda, ada sementara persoalan yang belum tentu bisa kau pahami."
"Baik, kalau begitu aku ingin mohon petunjuk kepadamu, bagaimanakah menurut pendapatmu?" ‘Tahukah kau apa kerjaku sekarang?"
"Ehmm, aku tahui"
Jawab Nyo Yan sinis.
"Kalau sudah tahu malah lebih baik. Aku bekerja untuk sri baginda, mengapa tak boleh membongkar kasus peristiwa tersebut untuk sri baginda pula? Selain itu mereka toh lebih baik terjatuh ke tanganku daripada terjatuh ke tangan orang lain, asal Huan Kui bersedia untnk bertobat dan mau menjalani hidup baru, aku benar-benar bermaksud untuk menyelamatkan dirinya!"
"Aku justru lebih berharap kau sendiri yang bisa bertobat dan mulai menjalani hidup baru!"
"Tapi kesalahan apa yang telah kulakukan?"
Nyo Yan menghela napas panjang.
"Aaaai… sebenarnya kau adalah seorang busu kenamaan yang dihormati dan disegani setiap orang, buat apa kau mesti menjadi kuku garudanya kaisar bangsa Tartar? Aku tak mau tahu apa alasannya kau sampai berbuat demikian tapi yang pasti tindakanmu ini merupakan suatu tindakan yang salah besar!"
"Baik, kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, kita sebagai rakyat kecil tentunya harus mempunyai seorang kaisar bukan?"
Nyo Yan tertegun sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian.
"Soal itu tak pernah kupikirkan lebih seksama, aku tidak tahu apakah kita harus mempunyai seorang kaisar, tapi sejak dulu sampai sekarang selalu ada kaisar yang muncul, mungkin saja demikian."
"Kalau toh kaisar itu selalu ada, apa salahnya jika kita bekerja dan berbakti demi kaisar?"
"Tapi kaisar sekarang adalah kaisarnya bangsa Tartar, orang dari Mancuria…."
"Suku Han, suku Mancuria, suku bangsa Mongol dan suku bangsa Tibet serta suku bangsa Sinkiang merupakan lima suku bangsa yang bergabung menjadi satu bangsa besar, entah kau berasal dari suku bangsa yang mana, semuanya adalah orang Tionghoa Mengapa kau harus memaki suku bangsa Mancuria sebagai orang Tartar?"
Nyo Yan berpikir sebentar, kemudian berkata.
"Ehmm, ucapanmu memang ada benarnya juga, tapi menurut pengertianku semula yang dimaksudkan sebagai ‘bangsa Tar-tar’ adalah manusia jahat di luar suku bangsa Han. Kalau memang begitu mudah menimbulkan kesalahpahaman, selanjutnya aku tak akan mempergunakan istilah itu lagi."
"Kalau toh kau tidak mempunyai rasa sentimen yang khusus terhadap bangsa Mancu, rasanya aku bekerja untuk kaisar bangsa Han juga bukan suatu kesalahan bukan? Coba kau bayangkan lagi, seandainya di suatu keluarga terdapat lima saudara bangsa Han, sebagai toako, bangsa Man-chu sebagai jiko, bangsa Mongol sebagai samko mengapa hanya sang toako saja yang boleh menjadi kaisar, sedang jiko tak boleh menjadi kaizar?"
Nyo Yan merasa teori yang di kemukakan ayahnya ada betulnya juga, tapi setelah dipikir kembali dia menggelengkan kepalanya berulang-ulang kali.
"Sekalipun demikian, namun dalam kenyataannya mungkin sedikit kurang benar!"
"Apanya yang kurang benar?"
"Sebab setelah bangsa Manchu menjadi kaisar, dia tidak menganggap bangsa Han kita sebagai saudaranya. Meskipun usiaku masih muda, apa yang kuketahui tidak banyak, tapi aku pun sering mendengar orang bercerita, ketika tentara bangsa M aneh u menyerbu ke daratan Tionggoan, telah terjadi banyak sekali peristiwa berdarah seperti peristiwa ‘Sepuluh Hari di Yangciu’, ‘Tiga Pembantaian di Kaleng’ dan sebagai n ya, coba bayangkan berapa banyak bangsa Han yang telah tewas di tangan mereka."
Berbicara sampai di situ, mendadak ia teringat kembali akan satu persoalan yang baru diketahui dari mulut Huan Kui semalam, maka sambungnya lebih jauh.
"Padahal apa yang kau ketahui tentu jauh lebih banyak daripada diriku, sebab orang pertama yang menciptakan Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo adalah leluhurmu sendiri, dialah yang membantu pasukan pembela tanah air menjaga kota Ka-tcng sewaktu pertama kali pasukan bangsa Man-chu menyerbu daratan. Kini kau justru menjadi kuku garuda mereka, tidak malukah kau pada leluhurmu?"
Bcrsemu merah wajah Nyo Bok karena jengah, cepat-cepat dia berkata.
"Peristiwa seperti Sepuluh Hari di Yangciu, Tiga Pembantaian di Ka-teng sudah merupakan peristiwa-peristiwa basi yang sudah lewat lama, persoalan yang berlangsung pada seratus tahun berselang, buat apa mesti diperhitungkan lagi?"
"Hutang lama boleh disingkirkan, tapi sikap kaisar bangsa Manchu sekarang terhadap bangsa Han apa cukup baik?"
"Sekalipun bangsa Han sendiri yang menjadi kaisar, juga belum tentu baik terhadap bangsanya sendiri. Coba baca di buku sejarah, berapa banyak jiwa yang tewas di tangan raja-raja lalim itu?"
Seperti diketahui, Nyo Yan tak lebih hanya seorang bocah berusia delapan belas tahun tentu saja tak bisa memenangi perdebatannya dengan Nyo Bok yang jauh lebih berpengalaman, tapi setelah berpikir sebentar, akhirnya dia pun berhasil menemukan suatu kesimpulan.
Maka ujarnya.
"Baik, tidak peduli dia bangsa Han atau bangsa Manchu, pokoknya asal kaisar itu adalah kaisar yang lalim, kita sebagai orang baik tidak seharusnya menjadi kuku garudanya kaisar jahat."
"Dari mana pula kau bisa tahu kalau kaisar yang sekarang adalah kaisar lalim? Begitu banyak orang yang bekerja di bawah perintah sri baginda, di antara sekian banyak orang memang tak terlepas dari beberapa oknum yang jahat, tapi toh belum tentu lebih jelek dari perbuatan kaisar-kaisar dari pemerintahan sebelumnya!"
"Aku belum pernah berjumpa dengan kaisar, tapi aku tahu dia orang jahat. Sekalipun tidak jahat sekali, tapi jahatnya terhitung cukupan!"
"Atas dasar apa kau berani berkata demikian?"
"Aku percaya dengan temanku, kalau bukan kaisar kalian begitu jahat, mengapa begitu banyak orang baik yang memberontak kepadanya?"
"Siapakah teman-temanmu itu?"
"Hmmm, kau ingin membekuk mereka?"
"Aku khawatir kau kena ditipu mentah-mentah oleh mereka."
"Jika orang lain yang bilang begitu, sudah pasti akan kuhajar dia sampai mampus!"
Nyo Bok segera tertawa "Waah, kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu atas belas kasihanmu itu. Tapi mengapa kau lebih percaya kepada temanmu daripada mempercayai diriku?"
"Selama kau masih menjadi kuku garuda bangsa Manchu, selama itu juga aku tak akan mempercayai dirimu. Baiklah, apa yang harus kukatakan sekarang telah selesai kusampaikan, mau dituruti atau tidak terserah kepadamu sendiri!"
Saking kesal, mengkal dan sedihnya, tanpa terasa dua tetes air mata jatuh berlinang.
"Hai, tunggu dulu, tunggu dulu!"
Cepat-cepat Nyo Bok berteriak. Sambil berpaling Nyo Yan berkata.
"Kau toh tak sudi mendengarkan nasihatku, buat apa kau memanggilku kembali?"
"Kau… kau… sebenarnya siapakah kau?"
"Sudah kukatakan sedari tadi, aku tak bisa memberitahukan hal tersebut kepadamu!"
Dengan mata yang basah oleh air mata Nyo Bok menatapnya lekat-lekat, kemudian ujarnya "Buat apa kau merahasiakan lagi kepadaku, sekalipun tidak kau katakan aku juga tahu, kau… kau adalah…."
"Jika kau sudah tahu siapakah aku, kau lebih-lebih tak usah bertanya lagi kepadaku,"
Tukas Nyo Yan cepat.
"Sekarang, kenyataan membuktikan kalau pembicaraan kita tak pernah akan cocok, mulai detik ini aku pun tak akan menjumpai dirimu lagi!"
"Eeeh… mengapa kau mesti terburu-buru? Aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan denganmu, aaai… bukannya aku tak mau menuruti nasihatmu…."
Nyo Yan mengira ayahnya sudah berubah pikiran, maka dia duduk kembali sambil berkata "Lantas, apa sebabnya kau tak dapat menuruti nasihatku?"
Nyo Bok menghela napas panjang.
"Aaaai, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, sebetulnya aku pun tak ingin menjadi seorang pengawal istana atau sebangsanya aku mempunyai kesulitan yang tak bisa diterangkan kepada orang lain!"
"Jikalau memang sukar diceritakan, tak usah kau bicarakan lagi."
"Kejelekan rumah tangga tak boleh diceritakan kepada orang lain, terhadap orang luar tentu saja aku tak akan bercerita, tapi terhadap dirimu…."
"Aku tak sudi mendengarkan, aku tak sudi mendengarkan!"
Teriak Nyo Ya n berulang kali sambil menutupi telinga sendiri. Sekalipun dia pernah mendengar soal "kejelekan rumah tangga"
Nya, tapi dari mulut Leng Ping-ji pun dia mendapat tahu bagaimana tersiksa dan menderitanya ibunya dahulu se-hingga pada akhirnya dia mengorbankan diri demi kepentingan pasukan pembela bangsa.
Walaupun untuk sesaat sulit baginya untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, namun terhadap ibunya dia masih menaruh perasaan sayang dan kagum Sebab itu dia tak ingin mendengarkan soal kejelekan-kejelekan ibunya lagi dari mulut ayahnya.
"Apakah kau sudah mengetahuinya meski tak usah kubicarakan?"
Tanya Nyo Bok kemudian. Nyo Yan hanya membungkam saja. Nyo Bok segera berbicara lebih jauh.
"Baik, kalau toh kau sudah mengetahui masalah tersebut, aku pun tak perlu menceritakan kembali. Hanya saja aku pun ingin membe-ritahukan kepadamu, aku pun mempunyai seorang putra, seandainya dia masih hidup, kebetulan usianya sebaya dengan kau. Tapi sayang dia sudah tertipu oleh orang jahat, orang jahat itu telah menghancurkan hidup ayahnya, mencelakai ibunya sampai mati, kemudian mengaku-aku sebagai ayah kandungnya! Itulah satu-satunya persoalan yang membuatku dendam, bila aku gagal menemukan kembali putraku, sia-sia saja hidupku di dunia ini! Orang-orang yang mengaku sebagai pendekar sejati telah melakukan kesalahan padaku, aku pun tak peduli akan makian dan caci maki orang-orang yang mengaku sebagai pendekar sejati tersebut kepada diriku!"
"Andaikata kau tidak menjadi pengawal istana lagi, aku percaya putramu tentu akan kembali!"
"Andaikata apa yang kau ucapkan benar, jangan toh baru pengawal istana, sekalipun menjadi kaisar pun aku tak mau! Yang kuinginkan hanyalah berjumpa kembali dengan putraku, aku ingin hidup bersamanya tanpa mencampuri urusan du-niawi lagi, aku ingin hidup berbahagia sehingga akhir hayatku."
Ucapan yang diutarakan dengan nada sungguh-sungguh dan meyakinkan itu hampir saja mengharukan perasaan Nyo Yan, panggilan "ayah"
Pun nyaris meluncur keluar dari balik bibirnya, akan tetapi untuk sementara waktu dia masih tetap bersabar, katanya kemudian.
"Asal suatu saat kau melepaskan diri dari jabatanmu itu, tanggung kau akan mendapatkankembali putramu itu!"
"Aku khawatir sekalipun aku berhasrat untuk berbuat demikian, belum tentu orang lain akan mele-paskan diriku."
"Kau takut kepada siapa? Takut kaisar kalian tak akan melepaskan dirimu?"
"Bukan. Kaisar masih mudah dihadapi, aku bisa meninggalkan tugas dan melarikan diri, tanpa surat pamit atau segala upacara tetek bengek. Tapi musuh besarku justru tidak gampang untuk dihadapi, begitu aku melepaskan diri dari jabatan-ku sebagai pengawal istana sehingga kehilangan perlindungan, aku khawatir dia akan datang membuat per-hitungan denganku. Aaai… sekarang kau sudah mengerti bukan, justru lantaran aku takut terhadap musuh besarku di masa lampau, mau tak mau terpaksa aku menjadi pengawal istana"
"Andaikata dia berani mencari gara-gara denganmu, biar aku yang menghadapinya!" ‘Tahukah kau siapakah musuh besarku itu?"
Tentu saja dia tahu kalau putranya telah mengetahui akan persoalan ini, tapi dia sengaja mengatakannya kembali.
"Dia adalah si golok kilat nomor wahid di kolong langit dewasa ini Beng Goan-cau adanya!"
"Kalau Beng Goan-cau lantas kenapa? Aku tidak takut menghadapinya…"
Seru Nyo Yan sambil mengigit bibirnya kencang-kencang menahan emosi.
"Mungkin saja kau dapat menghadapinya, tapi sehari dia belum mati, sehari juga aku merasa khawatir!"
Masih tetap menggigit bibirnya kencang-kencang, dia berkata lagi.
"Mau… mau apa kau?""Aku menginginkan batok kepala dari Beng Goan-cau!"
Ucapan tersebut diutarakan dengan suara berat dan nada yang keras, ibaratnya paku-paku besi yang tajam, satu demi satu menancap di dalam hatinya.
Sekalipun jawaban tersebut sudah diduga semenjak tadi, toh ia dibikin terkesiap juga sesudah mendengar ucapan tersebut.
Dia tahu, Beng Goan-cau adalah orang yang paling dihormati oleh enci Leng-nya,di masa lampau bukan baru satu kali Leng Ping-ji menasihatinya agar dia menghilangkan rasa permusuhannya dengan Beng Goan-cau.
"Enci Leng hanya tahu kalau aku menaruh permusuhan pada Beng Goan-cau, begitu pun sudah membuat batinya tak tenang, apalagi jika dia tahu kalau aku memenggal batok kepala Beng Goan-cau, entah bagaimanakah sikapnya kepadaku nanti?"
Tapi syarat tersebut merupakan sebuah syarat yang diajukan ayahnya, bila batok kepala Beng Goan-cau tidak diperoleh, sudah pasti ayahnya tak akan bertobat dari perbuatan jahatnya.
Demi melindungi keselamatan sendiri bisa jadi ayahnya akan menjadi pengawal istana lebih jauh.
Itu berarti seandainya dia menginginkan ayah dan anak bisa hidup dan berkumpul kembali, seandainya dia tidak menginginkan ayahnya menjadi kuku garuda, mau tak mau dia harus memenggal batok kepala Beng Goan-cau seperti apa yang diinginkan.
Mengabulkan permintaannya?
Atau jangan?
Untuk sesaat dia merasakan pikirannya bertambah kalut, bibirnya yang digigit sampai berdarah, akan tetapi rak separah kata pun yang bisa diutarakan.Secara diam-diam Nyo Bok memperhatikan terus perubahan mimik wajah anak muda tersebut, kemudian sambil berpura-pura menghela napas, katanya lebih jauh.
"Ilmu silat yang dimiliki Beng Goan-cau sangat lihay, golok kilatnya tiada tandingannya di dunia ini aku sendiri saja tak mampu mem-balas dendam, bagaimana mungkin aku bisa meminta kepada orang yang sama sekali tiada hubungannya dengan diriku untuk mengantar kematiannya? Sudah, sudahlah… dengan sakit hati’ ini pun tak ingin kutuntut balas, aku hanya berharap kau bisa menyampaikan beberapa patah kata pesanku kepada putraku yang belum pernah kujumpai itu!"
"Apa yang harus kusampaikan?"
"Aku menderita penghinaan karena istriku dirampas orang, sayang sakit hati ini tak mampu kutuntut balas, bagaimana mungkin aku punya muka untuk hidup terus di dunia ini? Setelah aku mati nanti, harap kau memberitahukan kepada putraku itu, Beng Goan-cau-lah yang telah mengakibatkan kematian ayah ibunya, sekalipun dia tidak memiliki kepandaian untuk membalaskan dendam atas kematian dan aib yang diterima ayahnya, tidak seharusnya dia menganggap musuh sebagai ayah. Seandainya dia masih mempunyai harga diri, seandainya dia masih mempunyai perasaan sayang kepada ayahnya, suruh dia pulang untuk membereskan tulang belu-langku!"
Pada dasarnya Nyo Yan adalah seorang pemuda berdarah panas dan mudah terpengaruh oleh emosi, setelah dihasut oleh ayahnya dengan kata-kata tersebut, tak tahan darah panas segera mendidih dalam tubuhnya, semua kekhawatiran yang semula mencekam perasannya segera tersapu lenyap hingga tak berbekas.Mendadak teriaknya keras-keras.
"Anakmu bukan manusia semacam itu, kau pun tak usah mencari jalan pendek untuk menyelesaikan hidupmu, baik, tunggu saja di sini, aku akan segera memenggal batok kepala Beng Goan-cau!M Dalam girangnya titik air mata segera jatuh berlinang membasahi wajah Nyo Bok, dia segera maju ingin memeluk putranya.
"Anakku sayang, aku sudah tahu kalau…."
Dengan cepat Nyo Yan mengegos ke samping menghindari pelukan orang, ujarnya.
"Bila kau sudah tidak menjadi kuku garuda lagi, putramu pasti akan kembali ke sisimu!"
"Aku kan sudah memberitahukan kepadamu, begitu batok kepala Beng Goan-eau dikirim kemari, aku akan segera melepaskan tugasku sebagai pengawal kaisar!"
"Asal kau bersedia mendengarkan nasihatku hal ini lebih baik lagi, nah aku akan pergi dahulu!"
Baru saja akan melangkah keluar dari pintu, mendadak sambil berpaling ujarnya lagi, ‘Hampir saja aku melupakan suatu persoalan, sebetulnya aku hendak melakukannya sen-diri, tapi sekarang terpaksa harus minta bantuanmu untuk melaksanakannya."
"Persoalan apa?"
"Aku mempunyai suatu urusan pribadi, tiada bahaya apa-apa, hanya menyampaikan suatu pesan saja kepada seseorang."
Diam-diam Nyo Bok merasa sangat girang, buru-buru dia bertanya.
"Menyampaikan kepada siapa?"
Dia mengira pesan dari Nyo Yan itu ditujukan untuk Ciat Hong atau orang yang bersangkutan dengan Ciat Hong,seandainya demikian hal itu justru merupakan apa yang dia harapkan.
"Pesan itu untuk keponakanmu Ki See-kiat—"
Terdengar Nyo Yan berkata lagi. Nyo Bok jadi tertegun.
"Pesan apakah yang harus kusampaikan kepadanya?"
"Dia mempunyai seorang nona yang dicintainya, tak usah kau tahu siapakah dia…."
"Ooh, rupanya persoalan itu,"
Kata Nyo Bok sambil tertawa lebar.
"Ooh, jadi kau sudah tahu?"
"Bukankah nona yang kau maksudkan itu adalah Leng Ping-ji, keponakan perempuan Leng Thiat-jiau?"
"Betul, jika kau sudah tahu lebih baik lagi, aku pun tak usah memberi banyak penjelasan lagi, Ki See-kiat menyukai nona Leng ini, akan tetapi ibunya tidak suka."
"Padahal keponakan perempuan Leng Thiat-jiau juga tidak mengapa, aku pernah menasihati enci. Apakah nona Leng itu yang titip pesan kepadamu agar disampaikan kepada See-kiat? Tak usah khawatir, aku akan mengaturkan hubungan mereka berdua."
Nyo Yan kelihatan agak tersipu-sipu, selang sesaat kemudian dia baru berkata.
"Bukan."
"Lantas bagaimana?"
"Sesungguhnya nona Leng hanya menganggap dia sebagai teman, tak Ingin kawin dengannya. Sekarang orang itu sudah mempunyai kekasih lain, orang itu dikenal oleh Ki See-kiat."
Nyo Bok merasa sedikit agak tercengang, katanya kemudian sambil tertawa.
"Waah, kalau begitu aku si penyampai kabaradalah seorang penyampai kabar yang tidak dikehendaki. Bila See-kiat mengetahui berita ini, mungkin hatinya akan merasa sangat sedih, tapi begitu pun ada baiknya, biar dia padamkan pula keinginannya tersebut"
"Aku tahu kalau dia pasti akan bersedih hati, tapi mau tak mau aku harus memberitahukan kepadanya!"
Kata Nyo Yan sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.
Rupanya justru karena dia akan menghindari keadaan yang serba rikuh, sengaja berita itu dititipkan kepada ayahnya agar disampaikan kepada orang yang bersangkutan.
Nyo Bok segera merasakan sikap yang sedikit aneh dari putranya, tanpa terasa timbul rasa ingin tahu dalam hatinya "Siapa sih orang itu?"
Tanyanya kemudian. ‘Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?"
Nyo Yan memang mengharapkan Ki See-kiat mengetahui lebih jelas lagi, ia segera berpikir.
"Kalau hanya dibilang orang itu adalah teman yang dia kenal, sudah pasti dia akan menduga-duga tak keruan, ehm Orang lain telah menganggap hubungan cinta kami sebagai perbuatan yang sangat berdosa, bila piauko pun beranggapan demikian, terpaksa terserah saja pada jalan pemikirannya. Bila aku tak berani memberitahukan apa yang sesungguhnya terjadi kepadanya, hal ini malah menunjukkan kelemahan diriku sendiri."
Begitu mengambil keputusan, dia segera berkata.
"Beritahukan saja padanya, orang itu adalah orang yang pernah ditemui olehnya di selat Tong-ku-si-sia sewaktu dia baru saja lolos dari Kota Iblis. Cuma soal ini merupakan soal pribadi antara dia dengan nona Leng, bersediakah dia memberitahukan nama orang itu kepadamu; soal itu merupakan masalahnya sendiri."
Nyo Bok masih belum menduga kalau orang itu adalah putranya sendiri, setelah mendengar ucapan itu, dia pun merasa keponakannya itu sudah tidak bermanfaat lagi baginya, soal keponakan perempuan Leng Thiat-jiau akan kawin dengan siapa, baginya sudah bukan merupakan suatu persoalan yang penting lagi.
"Baik, sebentar aku akan ke rumahnya dan menyampaikan berita tersebut kepadanya. Apakah kau sendiri tak bermaksud untuk mampir di rumah keluarga Ki?"
Tanya Nyo Bok.
"Aku harus segera berangkat ke Jik-tat-bok, daripada kau mesti menunggu dengan cemas."
Nyo Bok menjadi sangat gembira.
"Baik, semoga saja kau sukses dengan usahamu dan cepat-cepat menyerahkan batok kepala Beng Goan-cau kepadaku!"
Belum selesai dia berkata, Nyo Yan sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Nyo Bok benar-benar tak bisa membendung rasa gembira dalam hatinya lagi, sesudah Nyo Yan berlalu, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak seorang diri dalam kuil.
Sekalipun dia gagal menangkap Ciat Hong, tapi perubahan selanjurnya sungguh di luar dugaannya.
Sambil tertawa terus, pikirnya kemudian.
"Dibandingkan dengan Beng Goan-cau, Ciat Hong cuma seujung kuku. Heeehh heeehh heeeehh andaikata aku benar-benar memperoleh batok kepala Beng Goan-cau, bukan mustahil kaisar akan mengangkat diriku sebagai komandan pasukan pengawal kaisar! ilmu silat yang dimiliki anak Yan lihay sekali, aku rasa dia masih mampu menghadapi Beng Goan-cau,sekalipun dia gagal membunuhnya, paling tidak akan menye-babkan kedua belah pihak sama-sama terluka parah."
Saking tak tahannya menghadapi rasa gembira tersebut, tanpa terasa ia bergumam seorang diri.
"Sekarang aku harus berangkat ke gedung pengadilan lebih dulu? Ataukah pergi ke keluarga Ki? Hrrtm… hm… terlepasnya Ciat Hong sudah tidak terhitung seberapa lagi, aku pun tak usah melaporkan kejadian mi lagi, soal pengadilan pun tak usah kukunjungi, Leng Ping-ji mau kawin dengan siapa pun tak ada sangkut pautnya dengan aku, rasanya soal ini tak usah kusampaikan kepada See-kiat. Lebih baik pulang dulu ke ibu kota dan memberitahukan kabar gembira ini kepada congkoan tayjin…."
Siapa tahu, tak usah dia yang memberitahukan persoalan tersebut kepada Ki See-kiat, Ki See-kiat sudah mendengar semua pembicaraan tersebut, ia muncul di luar kuil tersebut di saat Nyo Yan mengatakan hendak pergi membacok batok kepala Beng Goan-cau.
Kuil Hay-sin-bio adalah tempat yang sering kali dikunjunginya waktu masih kecil dulu, dia hafal sekali dengan keadaan di tempat itu, bagaikan hafal rumah sendiri, secara diam-diam dia menyelinap masuk melalui ruang belakang lalu menyembunyikan diri di tempat kegelapan dan mendengar pembicaraan dari Nyo Bok berdua.
Sedemikian berhati-hatinya dia, sehingga Nyo Yan yang berilmu silat amat lihay pun tidak merasakan kehadirannya.
Ketika ia mendengar Nyo Bok menganjurkan kepada putranya pergi membunuh Beng Goan-cau, hatinya merasa terperanjat sekali, sehingga ketika ia mendengar dari mulut Nyo Yan, anak muda itu semakin tertegun.Menurut rencana semula, sebenarnya dia itu hendak mengajak Nyo Yan bertemu setelah pemuda itu berpisah dengan ayahnya nanti, akan tetapi berhubung persoalan itu munculnya di luar dugaan sehingga membuat hatinya tak keruan dan pikirannya kosong, maka menanti dia sadar kembali dari lamunannya, Nyo Yan sudah pergi.
Sebenarnya dia sedang menahan napas karena khawatir jejaknya ketahuan engku-nya, tapi setelah pikirannya bingung dan jari tangannya gemetar, tak terasa ia telah menghancurkan sebuah atap hingga menimbulkan suara berisik.
Bagaimanapun juga, Nyo Bok adalah seorang jagoan persilatan yang berilmu tinggi, sekalipun sedang gembira akan tetapi kewaspadaannya tak pernah mengendor, dia masih tetap mempertahankan rasa waspadanya untuk menghadapi segala kejadian yang tak diinginkan.
Begitu mendengar ada suara di luar kuil, dia segera melompat bangun sambil membentak.
"Siapa di luar?"
Dia mengira putranya telah balik kembali maka sewaktu tidak mendengar suara jawaban buru-buru dia lari keluar.
Tampak Lo Hi-hong sedang merangkak bangun dan mengucak-ucak mata, keadaannya itu seperti seseorang yang baru bangun tidur.
Nyo Bok lantas berpikir.
"Ooh… rupanya dialah yang membut suara berisik tadi, tapi Yan-ji sudah bilang, jalan darahnya baru akan bebas dengan sendirinya sesudah lewat dua-belas jam, mengapa dia dapat membebaskan diri dalam waktu yang demikian singkatnya?… Padahal ilmu silatnya amat dangkal?"
Tetapi bagaimanapun juga bebasnya jalan darah Lo Hi-hong dari pengaruh totokan merupakan sesuatu yang menguntungkan baginya, sebab mereka datang bersama, kalau dia gagal membebaskan jalan darah Lo Hi-hong dan pulangnya harus memanggul tubuh orang itu, bukankah hal ini merupakan suatu lelucon besar?
0odwo0
Jilid III Memberi Kabar ke Jik-tat-bok Angin berhembus kencang, setelah keluar dari pintu kota, Ki See-kiat merasa sedikit kedinginan, bukan rasa dingin yang dirasakan oleh tubuhnya, melainkan "rasa dingin"
Yang muncul dari dasar hatinya.
Tapi rasa dingin semacam itu, merupakan rasa dingin yang dapat membuat orang sadar.Berjalan menyambut datangnya hembusan angin dingin, Ki See-kiat merasakan benaknya yang semula panas dan membara lambat laun menjadi dingin kembali.
"Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan, bagaimana mungkin piaute bisa mencintai nona Leng? Bukankah selama ini dia selalu menganggap nona Leng sebagai enci-nya? Bagaimana mung-kin kakak beradik secara tiba-tiba berubah menjadi sepasang kekasih?"
Tapi dia segera berpikir lebih jauh.
"Padahal hal ini pun tak ada salahnya, mereka toh bukan kakak beradik yang sebenarnya, sejak kecil piaute sudah mengikutinya, setelah dewasa dan tahu soal muda-mudi, bila sampai jatuh cinta kepadanya hal ini pun sesuatu yang lumrah, kecuali usia yang berbeda jauh, jika nona Leng bisa kawin dengan piaute, itu pun sangat baik sekali, sudah sepantasnya bila aku turut bergembira bagi mereka. Aaaai… buat apa aku mesti memikirkan persoalan ini?"
Tapi ada persoalan yang lain memaksanya mau tak mau harus memikirkannya juga, justru karena masalah inilah dia baru merasakan timbulnya rasa dingin dari dasar hatinya.
"Engku menyuruh piaute pergi membunuh Beng Goan-cau, seandainya tidak mengetahui akan persoalan ini masih mendingan, kini aku sudah mengetahuinya dengan jelas, apa yang harus kulakukan sekarang? Berusaha untuk menghalangi niatnya? Ataukah kubiarkan saja dia membunuh Beng Goan-cau?"
Benar, dia memang tidak kenal Beng Goan-cau, pada hakikatnya tak bisa dibilang mempunyai hubungan apa-apa, bahkan berhubung ibunya mendendam kepada Beng Goan-cau, mau tak mau dia terpengaruh juga oleh keadaantersebut, seperti misalnya peristiwa tragis yang menimpa keluarga engku-nya, walaupun kesalahan berada di pihak engku-nya sendiri, namun sedikit banyak Beng Goan-cau toh ada kesalahannya juga.
Cuma persoalan itu hanya merupakan persoalan pribadinya yang menyangkut masalah beberapa orang, seandainya Nyo Yan sampai benar-benar membunuh Beng Goan-cau, maka soal tersebut sudah menyangkut perjuangan pasukan pembela tanah air dalam melawan penjajah bangsa Manchu.
Selain itu, bagaimanapun jua, Bcng Goan-cau adalah pendekar sejati yang diakui umum, kendatipun dia pernah melakukan "kesalahan"
Dan ‘"kerugian"
Dalam masalah pribadinya, dosa semacam itu masih belum pantas untuk ditebus dengan suatv kematian.
Dia tahu Bcng Goan-cau dan Utti Keng adalah sahabat karib, meskipun Bcng Goan-cau belum pernah dijumpai, dia pernah berjumpa dengan Utti Keng.
Kegagahan dan jiwa pendekar dari Utti Keng telah meninggalkan kesan yang mendalam sekali di dalam benaknya.
Entah bagaimana, sekalipun dia belum pernah berjumpa dengan Beng Goan-cau, akan tetapi bayangan orang itu selalu muncul secara otomatis dalam benaknya bersama-sama dengan bayangan tubuh Utti Keng.
Dia percaya dengan perkataan yang berbunyi begini, ‘makhluk menurut jenisnya manusia menurut kelompoknya’.
Dari sini bisa disimpulkan kalau Beng Goan-cau adalah manusia sekelompok dengan Utti Keng yang gagah.
"Aku membantu seorang tuan tanah lalim Pui Hou untuk bertarung dengan Utti Keng sudah merupakan perbuatansalah, bila piaute dibiarkan membunuh Beng Goau-cau, hal ini semakin keliru lagi."
Kemudian Ki Sec-kiat berpikir lebih jauh.
"Sekarang aku sudah mengetahui dengan pasti kalau perbuatan piaute itu keliru benar, jika aku tidak berusaha untuk mencegahnya, perbuatanku ini sama-sama kelirunya."
Terpikir sampai di situ, akhirnya dia memekik di dalam hati.
"Tidak, tidak bisa! Aku tidak bisa membiarkan piaute pergi membunuh Beng Goan-cau."
Lapi, apa yang harus dia lakukan untuk mencegah persoalan ini berkembang lebih jauh…?
Bila mencari Nyo Yan, harapannya kecil sekali.
Nyo Yan tak ingin memberitahukan sendiri persoalan tersebut kepadanya, hal ini menunjukkan kalau hatinya masih rikuh, untuk menghindari kerikuhan tersebut maka pemuda itu enggan berjumpa dengannya.
Ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan pun masih jauh lebih hebat daripada kepandaian yang dimilikinya, termasuk di dalamnya ilmu meringankan tubuh, bila dia bertekad untuk menghindarinya, berarti sulit baginya untuk menemukan Nyo Yan.
Lantas apa yang harus dia lakukan untuk membantu Beng Goan-cau agar lolos dari bencana pembunuhan tersebut?
Setelah berpikir pulang pergi, akhirnya dia menyimpulkan kalau caranya hanya ada satu, mendahului Nyo Yan dan berangkat ke Jik-tat-bok untuk menyampaikan kabar ini kepada Beng Goan-cau.Tapi dia pernah mengangkat sumpah di hadapan ibunya bahwa tempat mana pun boleh dia kunjungi kecuali Jik-tat-bok.
Ibunya paling khawatir kalau dia sampai mempunyai hubungan dengan pihak pasukan pembela tanah air, padahal Beng Goan-cau justru berada dalam kelompok pasukan pembela tanah air yang bermarkas di Jik-tat-bok.
Seandainya dia bersikeras mengunjungi Jik-tat-bok juga, bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan melanggar sumpahnya di hadapan ibunya?
Selama hidup dia tak pernah berbohong kepada ibunya, apalagi melakukan pelanggaran secara sengaja dengan tujuan membohongi ibunya sendiri.
Makin dipikir semakin kalut, dalam kebimbangan itulah dia tak tahu sudah berjalan berapa jauh, tahu-tahu dia sudah sampai di samping sebuah warung teh.
Sejak pagi-pagi tadi Ki See-kiat sudah pergi meninggalkan rumah, setetes air pun belum sempat diminum, tanpa terasa dia agak haus dan lapar juga setelah semalam begadang.
Warung teh di tepi jalan ini selain menjual air teh, juga menyediakan arak dan daging, maka dia memasuki warung tersebut.
Setelah minum secawan air teh panas, ia pun memesan sekati arak putih dan setengah kati daging sapi.
Dalam warung itu hanya ada seorang tamu, seorang sastrawan yang berwajah tampan.
Di luar pintu sana tertambat seekor kuda, tak usah ditanya lagi sudah pasti tunggangan sastrawan tadi.Ki See-kiat segera berpikir.
"Sastrawan ini lemah lembut seperti seorang pelajar yang tak bertenaga apa-apa, tapi kuda tunggangannya justru seekor kuda jempolan yang liar."
Sudah dua tahun ia tinggal di wilayah Sin-kiang, banyak sudah kuda jempolan yang pernah ditemui, sedikit banyak dia mengerti juga tentang sifat kuda.
Ketika sastrawan itu selesai menghabiskan sepoci arak dan sepiring daging sapi tinggal beberapa potong saja, kepada pelayan segera teriaknya.
"Sediakan sekati arak putih dan setengah kati daging sapi lagi!"
Ternyata apa yang dipesan persis seperti apa yang dia pesan.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Ki See-kiat, pikirnya, ‘Takaran minum arak sastrawan ini besar sekali, jangan-jangan dia pun orang persilatan?"
Tampaknya sastrawan itu pun sangat menaruh perhatian ke arahnya, seririgkaii dia melirik kemari. Dengan kepala tertunduk Ki Sce-kiat minum arak, sedang di hati kecilnya kembali berpikir.
"Tidak peduli siapakah dia, aku tak akan memberi kesempatan kepadanya untuk mengajakku berbicara, dengan begitu aku rasa dia pun tak berani mencari gara-gara denganku."
Di kala sastrawan itu menyaksikan sikap lawannya dingin dan hambar, lewat beberapa saat kemudian dia pun minum araknya sendiri.
Berbicara sesungguhnya, Ki See-kiat tidak pandai minum arak, akan tetapi berhubung pikirannya sedang jenuh oleh pelbagai persoalan, dia ingin meminjam pengaruh arak untukmelenyapkan kerisauannya itu hingga tanpa terasa terpengaruh juga oleh alkohol.
Sastrawan itu tidak mengusiknya, namun seorang lain justru datang "mengusiknya".
Ketika orang itu melarikan kudanya kencang-kencang melewati jalan raya di depan warung tersebut, tiba-tiba melihat Ki See-kiat yang sedang minum arak dalam warung tersebut, bagaikan menemukan mes-tika dia bersorak gembira lalu berlari masuk ke dalam warung tersebut "
Ki lote, aku memang sedang mencarimu, selagi kesal karena tak dapat menemukan kau, eeh tak tahunya kita dapat bersua di sini, buat apa kau minum arak di tempat ini?
Kalau ingin minum arak wangi, ayolah turut aku pindah ke tempat laini"
Orang itu tak lain adalah komandan opas kota Po-teng, murid dari Lo Hi-hong yang bernama Lau Kun.
Rupanya Lo Hi-hong sudah kembali ke gedung pengadilan dan menceriterakan pengalamannya bersama Nyo Bok di kuil Hay-sin-bio kepada muridnya Lau Kun, kebetulan sekali anak buah Lau Kun mengabarkan kalau Ki See-kiat sudah keluar kota.
Perlu diketahui, Ki See-kiat adalah buronan yang dicurigai sebagai orang yang menyerbu ke dalam penjara, berhubung pemuda itu mempunyai hubungan famili dengan Nyo Bok sehingga Lau Kun tak berani menurunkan perintah untuk membekuk Ki See-kiat, tapi sebagai komandan opas, mau tak mau dia harus memerintahkan juga kepada anak buahnya untuk mengawasi gerak-gerik Ki See-kiat secara ketat Lau Kun seperti gurunya, ia telah menduga kalau Nyo Bok telah berhasil memecahkan kasus tersebut, dan sembilanpuluhpersen orang yang membantu Nyo Bok guna menghajar lari "bajingan kecil"
Itu adalah Ki See-kiat.
Menghadapi keadaan seperti ini, mereka pun segera membuat suatu kesimpulan sekalipun Ki See-kiat sudah tidak dianggap sebagai buronan yang mencurigakan lagi, namun mereka masih ingin mengorek sedikit berita dari Ki See-kiat untuk merebut sedikit pahala.
Sementara itu Ki See-kiat yang sudah dipengaruhi oleh arak, menatap Lau Kun tajam-tajam, segera tegurnya dengan dingin.
"Lau toa-phutau (kepala opas), apakah kau datang untuk membekuk diriku?"
Lau Kun terkejut, sorot matanya segera dialihkan sekejap ke arah sastrawan di meja lain.
Tapi sastrawan itu sedang menundukkan kepala sambil minum arak, terhadap apa yang terjadi di hadapannya seakan-akan sama sekali tidak tertarik….
Dengan suara direndahkan Lau Kun segera menjawab.
"Kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari berselang harap jangan Ki siauhiap pikirkan dalam hati. Aku khusus datang kemari untuk minta maaf kepadamu."
"Baik, sekarang permintaan maafmu sudah disampaikan, kau boleh segera pergi!"
Sambil tertawa paksa Lau Kun berkata lagi.
"Ki siauhiap, kau suka minum arak bukan? Mari kuundang kau minum arak di loteng Si-hoa-Si-hoa-lo adalah rumah makan termasyhur di kota Po-teng.
"Sayang aku tak punya waktu untuk menemani kau minum arak,"
Tolak Ki See-kiat dengan cepat "Aku rasa tempat ini kurang leluasa bagi kita untuk berbincang-bincang,…"
Bisik Lau Kun lagi. Ki See-kiat yang mendengar perkataan itu segera menghentakkan cawan araknya ke atas meja, kemudian teriaknya keras-keras.
"Tiada persoalan yang tak boleh diketahui orang lain, siapa bilang kalau tempat ini kurang leluasa untuk berbicara?"
Menyaksikan tindak-tanduk pemuda itu, Lau Kun kembali berpikir.
"Entah dia sudah mabuk atau tidak tahu keadaan? Bicara ya bicara, setelah dia pergi nanti, paling kubunuh sastrawan itu, agar rahasiaku tak diketahui orang lain. Pelayan warung ini adalah penduduk kota, urusan pengadilan tak berani dia bocorkan. Tapi, aku toh bisa saja mengurungnya satu atau setengah tahun dalam penjara."
Dan begitu mengambil keputus-an, dia lantas berkata.
"Ki sauya, aku sudah tahu kalau pagi tadi kau telah membantu engku-mu."
Ki See-kiat tertegun.
"Ooh, kau tahu aku sudah membantu apa kepada Nyo Bok?"
Tegurnya.
Berhubung dia membenci eng-ku-nya, ditambah lagi sudah terpengaruh arak, tanpa terasa dia menyebut langsung nama engku-nya.
Ketika sastrawan yang sedang minum arak itu mendengar nama Nyo Bok disinggung, tanpa terasa dia meletakkan cawan araknya ke meja.
Ki See-kiat tidak memperhatikan, tapi Lau Kun telah memperhatikan gerak-gerik orang itu dengan seksama.Ketika sastrawan itu menyaksikan sinar mata Lau Kun ditujukan ke arahnya, dia baru sadar kalau sikapnya telah menunjukkan kesilap-an, cepat-cepat ia minum arak kembali.
Terdengar Lau Kun berkata lebih jauh.
"Di hadapan orang yang bersangkutan rasanya soal itu tak perlu disinggung lagi. Ki sauya, aku pun tak ingin merampas pahala dari engku-mu, aku hanya bermaksud untuk menumpang keberhasilannya saja. Kini bagaimanakah keadaan dari kedua orang itu? Harap kau sudi memberitahukan kepadaku…."
"Ooh, kau ingin mengetahui kabar tentang Ciat Hong, agar kau bisa membekuknya lagi?"
"Ooh tidak, tidak, aku toh sudah bilang, aku tak bakal merebut pahala engku-mu!"
"Aku tidak percaya padamu."
Sekali lagi Lau Kun merengek.
"Ki sauya, bila kau tak bersedia memberitahukan jejak mereka kepadaku, harap kau sudi memberitahukan kepadaku bagaimana hasil dari pemecahan kasus tersebut, tentunya bersedia bukan? Seperti misalnya kedua orang tawanan itu sudah digusur engku-mu ke ibu kota, kau harus memberitahukan kepadaku, agar aku dapat mempertanggung jawabkan diri kepada atasanku…."
Ki See-kiat hanya membungkam seribu bahasa. Lau Kun segera menatap sekejap ke arah sastrawan itu, kemudian pikirnya.
"Sekarang kau boleh mendengarkan pembicaraan kami sampai puas, sebentar akan kuberangus mulutmu untuk selamanya."
Oleh karena dia sangat berharap bisa mengorek sedikit keterangan dari mulut Ki See-kiat, maka tak malu-malu menunjukkan kejelekannya di hadapan orang lain, cepat-cepat dia menjura dalam-dalam, lalu berkata.
"Ki sauya, harap kaudapat memahami kesulitanku, aku adalah komandan opas kota Po-teng, tanggung jawabku atas persoalan ini berat sekali, bila persoalan apa pun tidak kuketahui, hal ini sungguh memalukan sekali."
Tiba-tiba Ki See-kiat berkata.
"Baik, tidak sulit jika kau ingin mengetahui kabar dariku, cuma kau mesti memberi sedikit hadiah untukku."
"Entah sauya menginginkan hadiah apa?"
Terbayang kembali bagaimana dia pernah minta uang sebesar lima laksa tahil perak dari Pui Hou, meski Pui Hou belum mengeluarkan secara sungguh-sungguh, toh dia mau tak mau harus waspada dan berjaga-jaga atas kejadian itu.
– -Sambil tertawa Ki See-kiat segera berkata.
"Tak usah khawatir, hadiahku ini tak akan melampau nilai iimaratus tahil perak."
Lau Kun menjadi gembira sekali, buru-buru serunya.
"Hadiah yang bernilai beberapa ribu tahil perak pun siaujin masih mampu untuk memberi, sauya, cepat kau katakan!"
"Baik… kalau begitu dengarkan baik-baik, Ciat Hong serta H uan Kui sudah tidak berada di kota Po-teng lagi."
"Soal ini aku sudah tahu, buat apa kau memberitahukan lagi kepadaku?"
Pikir Lau Kun.
Dia mengira pemuda itu masih mempunyai kata-kata selanjurnya, siapa tahu baru saja dia memasang telinganya baik-baik, Ki See-kiat telah melompat bangun dan meluncur ke arah kuda tunggangannya.
Dengan perasaan terperanjat Lau Kun segera mengejar ke muka, teriaknya keras-keras.
"Sauya, mau apa kau?"Sahut Ki See-kiat sambil tertawa.
"Harga kudamu ini paling banter cuma tigaratus tahil perak, hadiahnya telah aku ambil sendiri!"
Sementara berbicara, kudanya sudah dipacu kencang-kencang, dalam waktu singkat dia sudah pergi jauh sekait. Lau Kun berteriak lagi.
"Ki sauya, harap kau kembali dulu! Hadiahnya sudah pasti akan kuberikan kepadamu, tapi aku masih ada persoalan…."
Belum selesai dia berkata, bayangan tubuh dari Ki See-kiat sudah tak tampak lagi. Kontan saja Lau Kun mencaci maki kalang kabut.
"Bocah keparat, kau berani mempermainkan aku…."
Mendadak dia melihat kuda milik sastrawan yang tertambat di tepi jalan, dalam sekilas pandang saja dia sudah mengetahui kalau kuda itu jempolan, tanpa berpikir panjang, tali lesnya segera dilepaskan.
Siapa tahu sifat kuda itu amat liar, melihat orang asing mendekatinya, ia lantas menyepak kian kemari.
Walaupun Lau Kun sudah berkelit dengan cepat, tak urung tubuhnya kena tertendang juga sehingga mencelat dan jatuh terjerembab ke atas tanah….
Lau Kun menjadi gusar sekali, segera bentaknya.
"Kurang ajar, kau binatang sialan pun berani mempermainkan aku!"
Baru saja dia hendak menaklukkan kuda tersebut dengan kekerasan, mendadak terdengar seseorang berkata dengan dingin.
"Aku adalah seorang pelajar rudin, perjalananku hanya mengandalkan kekuatan kuda ini saja, sekalipun kau sebagai penyamun ingin mencari makan, harap berbuatlah kebaikan dengan tidak merampas kuda milikku ini!"
Si sastrawan yang beberapa saat berselang masih minum arak dalam warung, tahu-tahu sudah berada di sisi Lau Kun tanpa disadari olehnya. Dengan perasaan terkejut Lau Kun segera membentak.
"Ngaco belo tak karuan, aku adalah opas yang ingin meminjam kudamu untuk menangkap penyamun, mengerti?"
Dengan cepat sastrawan itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Mengambil tanpa permisi sama dengan mencuri, mengambil dengan kekerasan namanya merampok! Aku tahu dalam istilah kalian sebagai opas, mencuri adalah meminjam, meminjam adalah mencuri. Tidak kupinjamkan, tidak kupinjamkan!"
Mendadak Lau Kun menyikut dada sastrawan tersebut keras-keras, lalu bentaknya.
"Aku bukan cuma menginginkan kudamu saja, nyawamu pun akan kurenggut… aduuh, aduh…."
Dia melancarkan serangan dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, dalam anggapannya, sekalipun sastrawan itu pandai bersilat toh tak bakalan lolos dari sergapannya itu.
Siapa sangka ketika kepalannya menyentuh di tubuh lawan, dia merasa seakan-akan menumbuk lapisan baja yang keras, kemudian segulung tenaga yang amat besar tahu-tahu sudah melemparkan tubuhnya hing-ga jatuh terlentang.
Sambil tertawa sastrawan itu berkata.
"Anggap saja sebagai hukuman peringatan, cepat merangkak pulang ke Po-teng. Bila kau berani menyulitkan pemilik warung ini, akan kucari dirimu dan kurenggut nyawa anjingmu, mengerti?"
Setelah berada di punggung kuda, dia melemparkan sekeping uang ke dalam warung sambil katanya.
"Uang arak Ki sauya sekalian kubayar." 0odwo0 Ki See-kiat sedang melarikan kudanya sewaktu ia mendengar suara derap kaki kuda yang ramai bergema dari belakang, kemudian menyusul seseorang berteriak.
"Ki See-kiat, Ki See-kiat!"
Ketika Ki See-kiat berpaling, ia saksikan sastrawan tadi telah menyusulnya. Dengan wajah tertegun Ki See-kiat segera menegur.
"Aku tidak saling mengenal denganmu, mau apa kau menyusul diriku?"
Sastrawan itu tertawa.
"Kepala opas itu memanggilmu Ki sauya, aku pikir kau pasti Ki See-kiat, ternyata dugaanku benar!"
"Jika Ki See-kiat lantas kenapa?"
Tanya pemuda itu.
"Tidakapa-apa, aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan saja, betulkah Nyo Bok adalah engku-mu?"
"Sewaktu di rumah makan tadi, kau toh sudah mendengarkan pembicaraanku dengan opas tersebut, buat apa mesti banyak bertanya lagi?"
"Aku ingin mendapatkan penegasan dari mulutmu. Hm, begitu ibunya begitu pula anaknya, begitu engku-nya begitu pula keponakannya. Kau adalah putra Lak-jiu-Koan-im keponakan Nyo Bok, tak heran perbuatanmu hanya membantu kaum durjana saja. Dengarkan baik-baik, semua pertanyaan yang kuajukan sekarang harus kaujawab dengan sejujurnya!"
Waktu itu Ki See-kiat belum hilang dari pengaruh araknya, mendengar sastrawan tersebut menyinggung ibunya, kontanamarahnya meluap, dia tak mau ambil peduli lagi siapakah sastrawan itu dan apa tujuannya mencari dia.
Dengan kemarahan yang meluap-luap Ki See-kiat berseru.
"Apa pangkatmu dalam pemerintah penjajah?"
"Hei, apa maksudmu?"
Ganti sastrawan itu yang tertegun.
"Tak usah banyak bicara!"
Bentak Ki See-kiat "Sekarang aku yang sedang bertanya kepadanu, kau harus menjawab dengan sejujurnya pula, ayo bicara!"
Ternyata dia mempergunakan ucapan yang sama dengan lawannya untuk berbalik membentak orang itu, tak heran kalau sastrawan tersebut menjadi gusar setengah mati.
Setelah mendengus, sastrawan itu berkata.
"Hmmm, pertama aku bukan pembesar, kedua aku bukan perampok, urusan ini aku sudah bertekad untuk mengurusinya! Jika tahu diri ayo cepat menjawab kalian apakan Ciat Hong?"
Ki See-kiat tertawa dingin.
"Heeech… heeeehh… aku masih mengira kau adalah pembesar apa. kalau toh kau bukan pembesar, atas dasar apa kau menganggapku sebagai buronan? Atas dasar apa kau hendak memeriksa diriku? Maaf, aku justru tak tahu diri, persoalan yang kau tanyakan itu meski kuketahui juga tak bakal kuberitahukan kepadamu."
"Kau benar-benar tak mau berbicara?"
Bentak sastrawan itu.
"Sekali bilang tidak, selamanya tidak, mau apa kau?"
"Tidak mau apa-apa, aku dengar orang banyak memuji-muji dirimu, katanya Kwantang tayhiap LTtti Keng pun pernah kalah di tanganmu, aku ingin sekali mengetahui sampai di mana taraf ilmu silatmu itu…"
Mendengar sastrawan tersebut menyebut Utti Keng sebagai "Kwantang tayhiap" , tergerak juga hati Ki See-kiat "Jangan-jangan dia pun berasal dari kaum patriot?"
Demikian dia berpikir. Akan tetapi, berhubung pihak lawan memaksa terus dengan nada ucapan yang tak sedap, dia merasa tak bisa menerima keadaan tersebut dengan begitu saja, segera pikirnya.
"Peduli amat siapakah orang ini, pokoknya kalau dia bersikap begini angkuh, aku mesti hajar dulu keangkuhannya itu. Hmm, ada juga kaum pembesar yang menyaru sebagai pendekar,contohnya engku!"
Berpikir demikian, segera ujarnya dengan dingin.
"Ooh, rupanya kau hendak mengandalkan ilmu silat untuk memaksaku mengaku? Baik, kita selesaikan saja persoalan ini dengan kekerasan!"
"Betul, asal kau tidak bersedia menjawab, terpaksa aku. harus mengandalkan pedangku untuk memaksamu menjawab. Bila kau kalah di tanganku, maka aku pun tak akan merenggut nyawamu, aku hanya meminta kepadamu untuk menyerahkan Ciat Hong kepadaku!"
"Baik, seandainya kau yang kalah"
"Bila aku kalah kepadamu, aku bersedia menyembah di hadapanmu!"
Kebanyakan umat persilatan berprinsip lebih baik kepala dipenggal daripada menyembah kepada orang lain, sastrawan itu bersedia mempertaruhkan kehormatannya, hal ini menandakan kalau dia yakin pasti bisa memenangi pertarungan tersebutAmarah Ki See-kiat segera memuncak, segera bentaknya.
"Ucapan seorang kuncu bagaikan kuda yang dicambuk, sekali diucapkan selamanya tak boleh disesalkan, marilah!"
Sastrawan itu pun tidak sungkan-sungkan lagi, dia mencabut keluar pedangnya kemudian membentak.
"Lihat serangan!"
Sreet!
Dia melepaskan bacokan mendatar ke dada K.
i See-kiat Dalam pelajaran silat dikatakan, golok berjalan putih, pedang berjalan hitam.
Artinya orang yang menggunakan pedang lebih banyak menggunakan tipu muslihat, tapi sekarang sastrawan itu menyerang dengan satu tusukan biasa, jelas hal ini merupakan sikap memandang rendah kepada lawannya.
Ki See-kiat menahan diri tanpa bergerak, menanti ujung pedang sudah hampir mengenai sasaran, mendadak dia mengembangkan sepasang lengannya dengan jurus Toa-tiau-tian-ci (Rajawali Raksasa Mementangkan Sayap), cahaya tajam berkilauan dan langsung membabat ke arah belakang, selain tepat waktunya, jitu pula dengan sasarannya.
Siapa tahu perubahan jurus sastrawan itu lebih cepat lagi, ketika serangan musuh sudah hampir mengenai dadanya, mendadak dari jurus Pek-hong-koan-jit (awan putih menutupi matahari) berubah menjadi H i an-nio-h ua-seh (burung hitam menyambar pasir),’ arah sasaran miring ke samping dan.
"Trang!"
Saling membentur keras dengan golok Ki See-kiat.
Di antara benturan yang amat nyaring, golok di tangan Ki See-kiat gumpil sebagian, rupanya senjata yang dipergunakan sastrawan itu adalah sebilah pedang mestika.Meski begitu, berhubung Ki See-kiat menggunakan tenaga Liong-siu-kang yang hebat, tanpa terasa sastrawan itu menjadi gontai dan pergelangan tangannya kesemutan.
"Pedang bagus!"
Puji Ki See-kiat Mendadak dia menghantam ke bawah dengan mempergunakan gagang goloknya yang tumpul.
Sastrawan itu sudah tahu kalau tenaga dalam Ki See-kiat masih jauh lebih unggul darinya, kini dia tak berani memandang enteng musuhnya lagi, pedangnya segera diputar dengan mengandalkan kelincahan serta tipu muslihat dengan mengikuti gerak golok Ki See-kiat dia mencoba memancing senjata lawan keluar.
Sreeet, sreeet, sreeet!
Secara beruntun dia melancarkan beberapa kali serangan, hawa pedang bagaikan pelangi dengan perubahannya yang tak terduga, memaksa Ki See-kiat mundur terus beberapa langkah.
Sambil tertawa sastrawan itu segera berkata.
"Tentunya aku bukan mencari kemenangan dengan mengandalkan pedang bagus bukan?"
"Menang kalah masih terlampau awal untuk dibicarakan,"
Dengus Ki See-kiat dingin.
"Betul ilmu silatmu sangat baik, tapi belum tentu lebih hebat daripada Utti tayhiap. Aku mengakui masih kalah dibandingkan dengan Utti tayhiap tapi dengan kau, harus dicoba dulu)"
Sambil bertarung dia pun bersilat lidah, mengandalkan kesempatan tersebut dia sindir kesombongan sastrawan itu.
"Betul!"
Kata sastrawan itu kemudian.
"Aku tahu kalau diriku pun masih kalah jauh dibandingkan dengan Utti tayhiap,oleh sebab itu aku tak berani menetapkan batas seratus jurus untuk menangkap dirimu!"
Walaupun sastrawan itu tak berani memandang enteng musuhnya, namun nada pembicaraannya masih tetap mengunggulkan diri.
Ki See-kiat semakin curiga lagi setelah mendengar orang itu menyinggung pula soal "batas seratus jurus", dengan cepat pikirnya.
"Soal batas seratus jurus memang diucapkan Utti Keng di hadapan seluruh anggota keluarga Pui Hou, seandai-nya mereka yang menyiarkan berita tersebut hingga terdengar oleh bocah angkuh ini, rasanya hal ini bukan sesuatu yang aneh."
Sementara itu jurus pedang yang dipergunakan sastrawan itu makin lama semakin gencar, sekalipun Ki See-kiat ingin mencari tahu keadaan yang sebenarnya dari sastrawan itu juga tak mungkin bisa.
Tampaknya ilmu pedang yang dimiliki sastrawan itu masih jauh lebih hebat daripada ilmu golok Ki See-kiat, di bawah kurungan hawa pedang lawan, mau tak mau Ki See-kiat merasa terkejut juga, pikirnya.
"Tak heran kalau dia berani bicara sesumbar, tampaknya ilmu pedang yang dia miliki masih jauh lebih unggul daripada NyoYan. Menurut pengalamanku selama ini, ilmu pedangnya boleh dibilang meru pakan ilmu pedang nomor satu yang pernah kujumpai! Siapakah dia? Tampaknya tiga bagian mirip ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, tapi seperti juga mencakup jurus-jurus lihay dari pelbagai perguruan di daratan Tionggoan. sungguh membuat orang tidak habis menduga!"
Untung saja Ki See-kiat bisa tahu diri tahu lawan, maka dia pun mengembangkan kelebihan yang dimilikinya untuk menghadapi musuh lebih mantap lagi.Baik pihak lawan menyerang gencar, memancing dengan tipu muslihat, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh semuanya itu.
Pertahanannya begitu mantap dan kokoh ibarat benteng baja yang tahan gulungan ombak samudra.
Pada dasarnya tenaga dalam yang ia miliki masih lebih unggul daripada sastrawan itu, maka permainan goloknya dari cepat pun semakin melamban, kini dalam setiap bacokannya selalu disertai deruan angin serangan yang dahsyat, Liong-siu-kang angkat kedelapan yang dimilikinya segera disalurkan ke ujung golok, hebatnya jadi luar biasa.
Sastrawan itu jago kawakan yang tahu mutu permainan orang, kini dia tak berani menyambut serangan lawan dengan kekerasan, dalam suasana begini, sulit baginya untuk meraih kemenangan.
Sementara pertarungan masih berlangsung dengan serunya, mendadak sastrawan itu berseru sambil menghela napas.
"Sayang, sayang sekali!"
"Apanya yang sayang?"
Tanya Ki See-kiat sambil memperketat pertahanannya.
"Sayang sekali ilmu silatmu amat baik namun orangnya justru tak mau belajar baik!"
Nada ucapannya ternyata persis sekali dengan nada ucapan Utti Keng waktu itu.
Cuma saja Ki See-kiat boleh kagum terhadap Utti Keng, tidak demikian dengan sastrawan tersebut, segera ujarnya sambil tertawa dingin.
"Baik atau buruk, aku rasa kau tak usah menasihati diriku!"
Lantaran dia ke lewat banyak ber-bicaraa perhatiannya menjadi sedikit bercabang.
"Sreet!"
Sebuah bacokan pedangsastrawan itu muncul secara tiba-tiba dari arah yang sama sekali tak terduga, kemudian "Criiit!"
Ujung baju Ki See-kiat telah terpapas sebagian.
Coba kalau musuh tidak jeri terhadap kehebatan Liong-siu-kang milik Ki See-kiat, sehingga ujung pedangnya yang menempel di tubuh lawan segera ditarik kembali, kalau tidak, sudah pasti sambaran tadi telah melukai lengan Ki See-kiat "Sudah takluk belum?"
Bentak sastrawan itu keras-keras. Ki See-kiat tertawan dingin.
"Heehh heeh heehh, menang kalah belum ditentukan, kalau aku menyuruh kau menyembah diriku sekarang, apakah kau bersedia?"
Mendadak goloknya diayun bersama dengan sambaran telapak tangannya, segulung angin pukulan dahsyat dengan cepat mengguncang tubuh sastrawan tersebut Menggunakan kesempatan yang amat baik ini, Ki See-kiat segera mengubah taktik permainan goloknya.
Tampak dia memutar goloknya seperti pedang, bergerak enteng bagaikan hembusan angin, lalu mencungkil, menusuk, menahas, menyambar, dalam sepuluh jurus serangan ada tujuh jurus di antaranya mirip dengan ilmu pedang.
Tapi berhubung serangan dilancarkan dengan golok, maka di antara gerakan yang sangat ringan terselip juga kekuatan yang berat dan mantap.
Sastrawan tersebut tidak mengenali gerak serangan lawan, terpaksa untuk sementara waktu dia mengurangi serangan dan lebih banyak menghadapi serangan musuh dengan sikap tenang, dengan demikian dia pun berubah posisinya dari pihak penyerang menjadi pihak yang bertahan.Pertarungan berlangsung semakin lama, sastrawan itu merasa semakin terperanjat dengan jurus-jurus aneh lawan yang menggunakan golok sebagai pedang itu.
Yang paling aneh dan mengejutkan baginya bukan hanya jurus-jurus serangan yang aneh saja, bahkan dalam pertarungan sengit yang berlangsung ia merasakan juga mun-culnya segulung hawa dingin yang merasuk ke tulang sumsum .
Rupanya Ki See-kiat telah menggunakan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang berhasil dipelajarinya dalam gua es tempo hari, andaikata senjata yang digunakannya sekarang adalah pedang Peng-pok-han-kong-kiam, mungkin sedari tadi sastrawan tersebut sudah bukan tandingannya lagi.
Ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat ditambah dengan ilmu Liong-siu-kang, dengan cepat mengubah posisi Ki See-kiat yang terdesak jadi unggul.
Sastrawan itu seorang tokoh silat berilmu tinggi yang berjiwa angkuh, dia mempunyai sifat ingin menang yang amat besar, saat itu hatinya terperanjat juga.
"Bagaimanapun juga, aku tak dapat menyembah kepadanya, sekalipun ilmu pedang atau ilmu goloknya lebih hebat d ari ku, lebih baik beradu jiwa daripada menerima aib tersebut."
Begini rasa takutnya hilang dan kenekatannya timbul, serangan yang terpancar keluar dari ilmu pedangnya semakin bertambah besar dan hebat.
Harus diketahui, sebetulnya ilmu pedang yang dia miliki masih jauh lebih hebat dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, cuma dia tidak mengenal ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoattersebut, sehingga untuk permulaannya dia agak repot juga menghadapinya.
Namun kalau berbicara soal tenaga dalam, maka dia masih kalah jauh dibandingkan Ki See-kiat, apalagi Ki See-kiat memancarkan hawa dingin dalam permainan ilmu pedang Pcng-coan-kiam-hoatnya, sehingga memaksa dia harus me-ngerahkan tenaga untuk melawan, tanpa disadari permainan pedangnya secara otomatis ikut terpengaruh juga.
Begitulah, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan kelebihan masing-masing untuk saling menyerang, tapi keadaan tetap seimbang.
Pertarungan entah sudah berlangsung berapa lama, tanpa terasa kedua belah pihak sama-sama merasakan kepayahan dan kehabisan tenaga.
Sastrawan itu mulai berpikir.
"Jika keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, mungkin kendatipun aku dapat memaksakan kemenangan darinya, paling tidak juga akan berakibat luka yang cukup parah. Tapi kalau aku mengajaknya berdamai tapi ditolak olehnya, bukankah aku bakal kehilangan muka?"
Sebaliknya Ki See-kiat juga sedang berpikir.
"Dalam kelompok kuku garuda, mana mungkin ada manusia seperti ini? Jika kudengar dari nada pembicaraannya, kemungkinan besar dia adalah sahabat Utti tayhiap, bukan orang pemerintah yang menyamar sebagai pendekar. Cuma dia begitu mendesak diriku masa aku mesti mengajak damai lebih dulu?"
Meskipun kedua belah pihak tak ingin melangsungkan pertarungan itu lebih jauh, namun mau tak mau mereka harus mengeraskan kepala untuk meneruskan pertarungan itu.Sementara kedua belah pihak merasa serba salah, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras.
"Hei, bukankah dia adalah Kang siauhiap? Kang siauhiap, aku mendapat perintah dari pangcu untuk menyambut kedatanganmu, eeeh, mengapa kau malah bertempur melawan Ki siauhiap? Kita semua adalah orang sendiri, cepat hentikan pertarungan!"
Baik Ki See-kiat maupun sastrawan itu memang sangat berharap munculnya pihak ketiga yang melerai mereka, maka tanpa menunggu ucapan berikut, serentak mereka menghentikan serangan sambil mundur ke belakang, pedang dan golok pun disarungkan kembali ke tempatnya.
Sewaktu Ki See-kiat mengalihkan pandangan matanya, ternyata orang yang barusan berteriak adalah si pendayung sampan yang semalam mengantar kepergian Pui Liang dan Huan Kui itu.
Sastrawan itu segera menjura seraya berkata.
"Aah, merepotkan Han hiangcu harus menyambut kedatanganku dari jauh, aku orang she Kang benar-benar merasa berterima kasih sekali. Harap maafkan kecerobohan aku orang she Kang sehingga menyalahi sahabat perkumpulan kalian."
Semalam, Ki See-kiat juga hanya tahu kalau pendayung sampan itu anggota Kaypang, tapi hari ini dia baru tahu kalau orang itu adalah seorang hiangcu, buru-buru serunya.
"Maaf!"
Menyusul kemudian sastrawan itu pun saling memberi hormat dengannya, Sementara itu sang sastrawan itu tampak tidak habis mengerti setelah mendengar perkataan maaf dari pemuda itu.
Kalau Ki See-kiat tak tahu kedudukan Han hiangcu dalam perkumpulan Kaypang, bagaimana mungkin Han hiangcu menganggapnya sebagai "orang sendiri" ?Ternyata si pendayuug sampan itu she Han bernama Thian-siu, baik kepandaian di air maupun di darat semuanya amat iihay, dia merupakan salah satu di antara tiga hiangcu dalam Kaypang, tapi kedudukannya justru jauh lebih tinggi daripada hiangcu lainnya.
Semalam, setelah dia mengantar Pui Liang dan Huan Kui ke tempat yang aman, tugas mendayung sampan tersebut lantas diserahkan kepada anak buahnya, sementara ia sendiri kembali ke Po-teng.
Tapi berhubung dia kenal dengan sastrawan ini, apalagi mendapat perintah dari toucu-nya, dia pun berangkat ke situ untuk menyambut kedatangan tamu agung.
Sastrawan itu cukup mengetahui kedudukan Han Thian-siu.
Orang bilang, meski tidak memberi muka kepada pendeta, juga memberi muka kepada Buddha, otomatis terhadap Ki See-kiat mau tak mau dia harus bersikap lebih sungkan.
Namun didengar dari nada pembicaraannya dia hanya menganggap Ki See-kiat sebagai sahabat Kaypang, sama sekali tidak menganggapnya sebagai "orang sendiri".
Han Thian-siu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah haah. tentunya kalian berdua belum saling mengenal bukan? Saudara Siang-hun adalah ji-kongcu dari Kang tayhiap, sedang dia…."
Tidak menanti diperkenalkan, Kang Siang-hun sudah menukas dulu dengan hambar.
"Aku sudah tahu kalau dia adalah Ki See-kiat."
Sementara ini K i See-kiat baru merasa terperanjat setelah mengetahui asal-usul dari sastrawan itu, segera pikirnya.
"Ternyata dia adalah putra Kang Hay-thian, tak aneh kalau ilmu silatnya begitu hebat!"
Kang Hay-thian adalah jago nomor satu di kolong langit yang diakui setiap orang, sekalipun belakangan ini sute-nya Kim Tiok-liu semakin pesat namanya mengungguli dia, namun menurut kebanyakan orang ilmu pedang Kim Tiok-liu meski lebih mengungguli suheng-nya, namun tenaga dalamnya masih tak mampu melebihi suheng-nya.
Orang she Kang yang pantas mendapat julukan sebagai "tayhiap" , mungkin cuma Kang Hay-thian seorang.
Berhubung sikap Kang Siang-hun sangat angkuh, Ki See-kiat juga tak mau menyanjung dia lantaran dia adalah putra Kang Hay-thian, terpaksa dengan nada yang tidak merendah maupun mengunggulkan diri, ujarnya cepat.
"Ooh, rupanya Kang ji-kongcu, selamat bersua!"
"Hmmm, aku pun sudah lama mendengar nama saudara Ki cuma belum ini aku selalu menganggap saudara Ki sebagai keponakan dari Nyo Bok, seorang pengawal istana, tidak kuketahui sedari kapan kau telah berubah menjadi orang sendiri bagi Kaypang?"
Han Thian-siu yang mendengar perkataan itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haha haha haha… tidak heran kalau Kang siauhiap tak tahu, aku sendiri pun baru kemarin malam menjadi sahabat Ki siauhiap!"
Kang Siang-hun dapat mendengar kalau di balik perkataannya masih ada perkataan, tentu saja mau tak mau dia harus bertanya.
"Harap Han hiangcu sudi menerangkan bagaimana kisahnya hingga kau bisa bersahabat dengannya, apakah aku boleh tahu?"
Han Thian-siu tertawa.
"Aku justru hendak menerangkan pada siauhiap!"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Benar Nyo Bok adalah engku Ki siauhiap, tapi antara engku dan keponakan berduabukan berasal dari satu aliran yang sama. Seperti juga antara Huan Kui dengan gurunya Nyo Bok, bukankah antara guru dan murid menempuh aliran yang berbeda?"
"Jadi Huan Kui sudah terlepas dari marabahaya?"
Buru-buru Kang Siang-hun bertanya.
"Ki siauhiap-lah yang mengantar mereka naik perahu. Aku adalah pendayung dari sampan tersebut."
"tapi bukan aku yang menyelamatkan dia dari bahaya,"
Ki See-kiat segera berseru.
"Entah kau atau bukan, yang pasti kau telah berusaha keras untuk menyelamatkan jiwanya."
Secara ringkas dia lantas menceritakan bagaimana Ki See-kiat menyerempet bahaya membantu Pui Liang dan Huan Kui untuk lolos dari marabahaya. Kang Siang-hun menjadi tertegun sejenak, kemudian serunya.
"Bagaimana dengan Ciat Hong? Apakah dia belum lolos dari marabahaya…?"
"Semalam sudah ada orang yang menolongnya lepas dari penjara…."
Berbicara sampai di situ, sambil tertawa ujarnya kepada Ki See-kiat.
"Orang itu sudah pasti dirimu bukan?"
Kiranya sewaktu Nyo Yan mengantar Ciat Hong ke markas Kaypang, dia sama sekali tidak menampakkan diri.
"Apakah Huan Kui belum memberitahukan kepadamu, orang yang menyerbu ke dalam penjara bukan aku, melainkan seorang sahabatku."
Dengan wajah tersipu-sipu karena ia malu, Kang Siang-hun segera minta maaf kepada Ki See-kiat, katanya.
"Semuanyaharus menyalahkan diriku yang berwatak berangasan, karena menyaksikan kau berbicara dengan opas tersebut, lantas salah menganggap dirimu."
"Hal ini tak bisa menyalahkan-mu, aku pun berwatak tidak baik, tidak menerangkan lebih dulu ke-padamu. Dalam posisi seperti saat ini, memang paling gampang memancing kecurigaan orang bahkan sampai Lau Kun pun menganggap aku sebagai pembantu Nyo Bok!"
"Ki siauhiap, apakah kau meninggalkan kota Po-teng untuk menghindari Nyo Bok mencari gara-gara denganmu?"
"Benar, aku mendapat perintah dari ibuku untuk meninggalkan rumah dan menyingkir dari bencana. Sekalipun ibuku dan engku-ku yang menjadi kuku garuda adalah saudara sekandung, namun dalam peristiwa ini, dia tidak berpihak kepada adiknya."
Kang Siang-hun menjadi makin malu, katanya agak gelagapan.
"Jika aku telah salah berbicara tadi, harap saudara Ki sudi memaafkan."
Han Thian-siu tidak mengetahui apa yang dia katakan, tapi dari nada pembicaraan orang dia sudah dapat menebak beberapa bagian, diam-diam pikirnya kemudian.
"Kalau begitu kau baru bertarung dengannya, sebab mengira dia satu rombongan dengan Nyo Bok?"
Berpikir sampai di situ, dia lantas tertawa terbahak-bahak.
"Haah… aah… haah… kalau tidak saling bertarung bagaimana mungkin bisa saling mengenal? Kesalahapaharnan yang sudah lewat buat apa mesti disinggung kembali? Toucu kami sedang menantikan kedatanganmu, entah kau akan berpisah dengan Ki siauhiap di sini atau bagaimana?"
"Kedatanganku ke Po-teng kali ini adalah dalam rangka kasus Ciat Hong, sekarang Ciat Hong dan Huan Kui sudah lolos dari mara-bahaya, tolong sampaikan saja kepada toucu-mu, terima kasih banyak atas kebaikan hatinya, aku tak ingin masuk ke dalam kota lagi."
"Mengapa harus pergi terburu-buru? Apa salahnya untuk tinggal satu dua hari lagi di sini?"
"Pertama, karena aku masih mempunyai tugas yang harus diselesaikan. Kedua, semalam baru ada orang menyerbu penjara Po-teng, kedatanganku hari ini bisa jadi akan memancing perhatian kuku garuda, betul perkumpulan kalian tidak takut paling tidak toh akan menimbulkan kekurangleluasaan juga."
Han Thian-siu merasa apa yang diucapkan ada benarnya juga, maka dia lantas berkata.
"Kalau memang begitu, aku pun tak akan terlalu memaksa Kang siauhiap lagi."
Setelah Han Thian-siu pergi, kedua orang itu melanjutkan perjalanan bersama-sama. Di tengah jalan, Kang Siang-hun berkata.
"Beberapa hari berselang ketika berada di tengah jalan aku telah bertemu dengan Utti tayhiap."
"Tahukah saudara Kang, Utti tayhiap telah pergi ke mana?"
Buru-buru Ki See-kiat bertanya "Dia bermaksud pergi ke Jik-tai-bok untuk menjenguk sahabat karibnya Beng Goan-cau."
"Sayang dia belum tahu kalau Nyo Yan hendak membunuh Beng Goan-cau…."
Pikir Ki See-kiat.
"Sekalipun dia berada di Jik-tat-bok juga belum tentu bisa membantu Beng Goan-cau."
Sementara dia masih berpikir, Kang Siang-hun telah berkata lagi.
"Utti tayhiap amat memuji dirimu, aku menyesal sekali tidak mempercayai perkataannya sehingga hampir saja timbul kesalahpahaman dengan dirimu."
Ki See-kiat tertawa getir.
"Padahal dalam peristiwa perta-runganku dengan Uni tayhiap tempo hari, urusan timbul karena kesalahanku. Apa yang dia kagumi dari diriku ini?"
"Ditinjau dari peristiwa tersebut, dia sudah dapat melihat kalau kau belum kehilangan kegagahanmu, dia yakin kalau kau tak bakal sealiran dengan Nyo Bok maupun Pui Hou. Utti tayhiap memang pintar sekali menilai orang, sungguh membuat orang kagumi"
Dia menunjukkan rasa kagum yang luar biasa terhadap Utti Keng, dalam kenyataan sekali lagi meminta maaf kepada Ki See-kiat Walaupun Ki See-kiat merasakan apa yang diterimanya berlebihan, tapi kata pujian dari Utti Keng justru menimbulkan suatu kehangatan dalam hati kecilnya.
‘Ternyata para jago yang tergabung dalam aliran lurus adalah manusia-manusia yang gagah dan berjiwa terbuka, mereka sama sekali tak memandang rendah diriku dika-renakan Nyo Bok adalah engku-ku."
Berpikir demikian, dia lantas berkata.
"Seandainya saudara Kang tidak mempunyai urusan yang kelewat penting, bersediakah kau untuk mewakili diriku berkunjung ke Jik-tat-bok…?"
"Baru saja aku datang dari Jik-tat-bok,"
Jawab Kang Siang-hun dengan cepat "masa kau suruh aku ke Jik-tat-bok lagi? Ooh, mengerti aku sekarang, bukankah kau menginginkanagar aku yang menyampaikan kabar tersebut kepada Beng tayhiap? "
"Seandainya saudara Kang tidak bersedia, ya sudahlah!"
Kang Siang-hun tertawa.
"Bukan aku tidak bersedia, tapi maaf kalau terpaksa kuutarakan kata-kata yang tersimpan di hatiku. Aku ingin bertanya kepadamu, mengapa bukan kau sendiri yang mem-beritahukan soal tersebut kepada Beng tayhiap?"
Ki See-kiat menjadi tersipu-sipu, untuk sesaat ia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab. Melihat itu, Kang Siang-hun segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… apakah kau khawatir mereka tak akan mempercayai perkataanmu? Leng Thiat-jiau dan Beng Goan-cau tak akan sebodoh aku! Aku saja dapat bersahabat denganmu, apalagi mereka? Lagi pula Utti tayhiap juga berada di sana, dia pasti akan mempercayai perkataanmu. Mana yang benar mana yang salah toh akan terlihat, apa sih yang kau takuti?"
Ki See-kiat merasa pikirannya sangat kalut dia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Terdengar Kang Siang-hun berkata lebih lanjut.
"Sebenarnya aku pun bersedia membantumu, tapi terus terang saja kukatakan, kedatanganku kali ini juga bukan hanya menjenguk famili saja Ibuku adalah ciangbunjin dari Bin-san-pay, tiap sepuluh tahun sekali pihak Bin-san-pay pasti menyelenggarakan pertemuan di samping berziarah ke makam cousu pendiri partai kami Tok-pi Sin-ni dan Lu Su-nio. Ibuku telah berpesan kepadaku agar tahun ini aku pergi menghadiri pertemuan itu bersamanya. Tentu saja bila kedua persoalan itu dibandingkan maka masalahmu itu jauh lebih penting, tapiseandainya kau bisa pergi sendiri ke Jik-tat-bok, aku pun tak ingin mengingkari janjiku dengan ibu."
"Pertemuan besar yang diselenggarakan tiap sepuluh tahun sekali, tentu saja merupakan suatu pertemuan yang tak boleh disia-siakan dengan begitu saja. Maaf bila siaute tak tahu akan soal itu sehingga memohon bantuanmu."
Dengan gelisah Kang Siang-hun segera berseru lagi.
"Aku pun tak akan sungkan-sungkan lagi denganmu, aku ingin tanya, apa sebabnya kau tidak mau pergi sendiri ke situ? Tadi, kau belum menjawab pertanyaanku ini!"
"Terus terang saja kukatakan, aku tak bisa pergi sendiri ke Jik-tat-bok karena antara aku dengan ibuku sudah terikat oleh suatu janji."
"Apakah ibumu melarang kau berjumpa dengan Beng Coan-cau?"
"Bukan cuma Beng Goan-cau saja Pokoknya ibuku tak suka kalau aku berkunjung ke Jik-tat-bok."
"Ooh… aku mengerti sekarang, jadi dia khawatir kalau kau sampai terlibat hubungan dengan pasukan pembela tanah air?"
Merah padam selembar wajah Ki See-kiat, dengan mulut membungkam dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kau toh bisa saja pergi ke Jik-tat-bok, kemudian sekembalinya ke rumah nanti tak usah memberitahukan hal ini kepada ibumu?"
Usul iKang Siang-hun kemudian.
"Kalau aku sampai berbuat demikian, bukankah tindakanku ini sama artinya dengan sengaja membohongi ibuku? Aku tak ingin melakukan perbuatan yang tidak berbakti." ‘Kang Siang-hun segera berkerut kening, lalu ujarnya dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Saudara Ki, watakku adalah suka berterus terang, apa yang ingin kuucapkan selamanya kuutarakan secara blak-blakan, harap kau jangan marah. Tadi aku yang menaruh kesalahpahaman kepadamu, itu kesalahanku dan aku telah minta maaf, tapi bila kau yang melakukan kesalahan, aku pun terpaksa akan menegurmu!"
"Silakan memberi petunjuk!"
"Aku rasa kau telah salah meng-artikan kata berbakti tersebut! Kau anggap dengan hanya menuruti perkataan ibumu saja maka kau sudah berbakti kepadanya? Menurut pen-dapatku, yang disebut berbakti bukanlah demikian!"
"Lantas apa?"
Tanya Ki See-kiat kebingungan.
"Yaitu kau harus membuat setiap orang menghormati orangtuamu, maaf kalau aku berbicara secara terus terang, seperti kau ketahui nama ibumu di dalam dunia persilatan ti-dak begitu baik, walaupun para jago dari golongan lurus tidak sampai menganggapnya sebagai musuh, namun mereka pun tidak begitu hormat kepadanya. Tapi seandainya kau telah melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat bagi pasukan pembela bangsa, kau bisa membuktikan kepada semua orang kalau ibumu tidak sealiran dengan Nyo Bok. Maka keadaannya pada waktu itu tentu saja akan jauh berbeda."
Bagaikan kepalanya dipukul dengan kayu besar,.Ki See-kiat segera tersadar kembali, cepat-cepat dia menjura sambil berseru, ‘Terima kasih banyak atas petunjukmu, sampai jumpa lain saat…."
Kang Siang-hun memburu ke depan, teriaknya cepat.
"Tunggu sebentar!"
"Apakah saudara Kang masih ada petunjuk lain?""Mari kita bertukar kuda!"
Tentu saja Ki See-kiat memahami maksud hatinya, sambil tertawa dia berkata "Aku sudah merasa berterima kasih sekali dengan petunjukmu yang begitu berharga, mana berani mencari keuntungan lagi darimu?"
Perlu diketahui, kuda merah milik Kang Siang-hun ini jauh lebih bagus daripada kuda milik Lau Kun tersebut. Kang Siang-hun tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… aku tahu kalau kudamu itu merupakan ‘hadiah’ yang kau peroleh dengan mengorbankan uang sebesar tigaratus tahil, sedangkan kudaku itu justru pemberian gratis dari seorang sahabatku tanpa membayar sepeser uang pun, berbicara terus terang, perjalanan yang hendak kau tempuh sangat jauh, bila tiada kuda yang baik, kau tak akan sampai ke situ!"
"Tapi kau toh akan melanjutkan perjalanan pula?"
Kembali Kang Siang-hun tertawa.
"Bukan aku sengaja menyombongkan diri, sahabatku di dalam dunia persilatan jauh lebih banyak darimu, sekali aku buka suara, pasti ada orang yang akan memilihkan kuda paling jempolan untukku dan lagi aku hendak ke wilayah Kang-lam, sebaliknya kau menuju ke wilayah Say-pak, perjalanan yang akan kutempuh jauh lebih enak daripada perjalananmu. Bila kau menolak hadiahku ini, berarti kau tak menganggapku sebagai sahabat"
Karena mendengar ucapan orang itu diutarakan dengan hati yang tulus, terpaksa Ki See-kiat menerima pemberian itu.Setelah saling bertukar kuda, mereka pun saling berpisah.
Jalanan gunung tidak rata, dalam keadaan melamun itulah banyak sekali yang dipikirkan olehnya sepanjang jalan.
"Yang bersih tetap bersih, yang kotor tetap kotor, apa yang mesti kau takuti?"
Dia berpaling, bayangan tubuh Kang Siang-hun sudah lama tak tampak lagi.
Tapi perkataannya seakan-akan masih mendengung di sisi telinganya, sekalipun Kang Siang-hun dikenal olehnya setelah melalui pertarungan yang alot, namun persahabatan tersebut mendatangkan perasaan hangat dalam hatinya.
Perasaan takut jika para pendekar memandang sinis kepadanya kini sudah tersapu lenyap, hatinya kini merasa gembira bercampur malu.
"Apa yang dikatakan Kang Siang-hun memang benar, hanya orang yang bisa membuat kedua orangtuanya dihormati orang lainlah baru merupakan suatu tindakan yang amat berbakti, bukan berarti bila menuruti semua perkataan ibu maka hal ini berarti berbakti."
Setelah berhasil memahami makna perkataan itu, dia pun bertekad untuk berangkat sendiri ke Jik-tat-bok untuk menyampaikan warta tersebut Tapi kini masih ada satu hal yang masih mengganjal dalam hatinya.
"Leng Ping-ji adalah keponakan Leng Thiat-jiau, mungkinkah kini dia pun berada di Jik-tat-bok? "
Sekalipun aku belum pernah mengajukan pinangan kepadanya, tapi dia tahu kalau aku mencintainya Dia pernah dicemooh dan dibikin malu oleh ibuku, sekarang dia pun telah mengikat tali perkawinan dengan piaute, seandainya kami sa-ling bersua di Jik-tat-bok, ooh, betapa rikuh dan sungkannya suasana waktu itu."
Tapi dia segera berpikir kembali.
"Untuk melakukan urusan besar, masalah kecil harus disingkirkan, demi menyelamatkan jiwa Beng tayhiap, perkataan dari ibuku pun sudah tidak kuturuti, mengapa harus takut rikuh?"
Matahari memancarkan sinar keemas-emasan ke seluruh penjuru dunia, hatinya pada saat ini bagaikan awan mendung yang telah tersapu lenyap dan muncullah hari yang cerah.
0odwo0 Keadaan Nyo Yan pada saat itu berbeda, pikirannya terasa kalut sekali.
Yang berbeda, kini pikiran Ki See-kiat sudah terbuka dan menjadi cerah kembali sebaliknya pikiran Nyo Yan masih tetap diliputi awan mendung.
Dia pun teringat akan Leng Ping-ji, teringat pesan Leng Ping-ji yang menyuruhnya melenyapkan rasa permusuhannya terhadap Beng Goan-cau.
"Seandainya dia tahu kalau aku hendak pergi membunuh Beng Goan-cau yang dihormatinya, apakah dia tak akan mempedulikan diriku lagi…?"
"Aku telah mengabulkan permintaannya dalam tujuh tahun ini tak akan berjumpa lagi dengannya, seandainya dia pun berada di Jik-tat-bok, apa yang harus kulakukan?"
"Soal maksudku hendak membunuh Beng Goan-cau bila sampai diketahui olehnya pun sudah luar biasa, apalagi kalau sampai disaksikan sendiri olehnya dengan mata kepalanya, apa… apa yang bakal terjadi…."
Akibat itu benar-benar tak berani dipikirkan olehnya.Tapi, bukankah dia telah mengabulkan permintaan ayahnya, bukankah telah bersumpah, hendak memenggal batok kepala Beng Goan-cau?
Apakah sumpah tersebut harus diingkari?
"Aaaai… aku lebih suka mati di ujung pedang enci Leng daripada tidak membalas dendam sakit hati ini."
Memang bila berpikir demikian, semenjak dilahirkan baru pertama kali ini dia berjumpa dengan ayahnya, tentu saja bobot ayahnya di hati kecil pemuda ini masih kalah berat dibandingkan dengan enci Leng yang telah merawat dan mencintainya semenjak dia masih kecil dulu….
Dia tak berani memikirkan persoalan itu lebih jauh, ingatan itu hanya melintas sebentar dalam benaknya, lalu tak berani dipikirkan lebih jauh.
Dua jago persilatan yang pernah menjadi gurunya pernah memuji kecerdasan maupun bakarnya yang luar biasa, tapi sekarang dia seolah-olah kehilangan kesadaran, seakan-akan kehilangan kecerdasan otaknya, dia hanya tahu berjalan dengan perasaan bimbang.
Belasan hari sudah lewat.
Suatu hari sampailah dia di kota Bu-wi diwilayah Kan-siau.
Nama lama kota Bu-wi adalah Keng-ciu, letaknya di sebelah timur Hoo-say, sejak dulu tempat itu merupakan pusat perdagangan untuk wilayah Hoo-say dan Cing-sia.
Hampir sebagian besar pedagang bulu domba yang berada di seputar wilayah itu berkumpul dan berdagang di kota tersebut, itulah sebabnya kota itu disebut pula sebagai kota Bu-wi Emas.Setelah beberapa hari berada di tempat yang penuh pepohonan dan jarang bertemu manusia Nyo Yan merasakan pikirannya agak cerah juga setibanya di situ.
Mempermainkan Sepasang Malaikat dari Im-tiong Suatu hari, dia bertemu dengan rombongan manusia yang menggembel senjata sedang melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa, dalam sekilas pandang dapat diketahui kalau mereka adalah jago-jago persilatan, tapi Nyo Yan sama sekali tidak memikirkannya di dalam hati.
Setelah masuk kota, Nyo Yan bersantap siang di sebuah rumah makan terkenal, karena hatinya sedang kesal maka dia memesan dua kati arak Tiok-yap-cing dan beberapa macam sayur lezat, kemudian bersantap dengan lahapnya Kursi di dalam rumah makan itu banyak yang kosong, manusia persilatan yang pernah berjumpa di tengah jalan pun jarang yang ditemukan di situ.
Hanya di meja sebelah terdapat dua orang manusia persilatan, kedua orang itu sedang berbincang-bincang dengan bahasa persilatan.
Nyo Yan tidak mengerti pembicaraan mereka dia pun tidak begini memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.
Tapi secara tiba-tiba salah seorang di antaranya telah mengucapkan tiga patah kata yakni "Siluman perempuan kecil".
Begini mendengar ketiga patah kata itu, Nyo Yan segera merasa amat terperanjat, segera pikirnya.
"Mungkinkah siluman perempuan kecil yang mereka maksudkan adalah Liong Leng-cu?"
Ketika dua orang itu menyadari kalau Nyo Yan sedang memperhatikan mereka, mereka pun mulai memperhatikan pula diri Nyo Yan, tanpa terasa mereka lantas berpikir.
"Kalau dilihat dari sorot mata pemuda ini ilmu silat yang dimilikinya tentu lihay. Usianya begitu muda, tetapi berani berkelana seorang diri dalam dunia persilatan, entah dari mana datangnya? Sebentar aku mesti mencari info tentang orang ini."
"Persoalan itu lebih baik kita bicarakan lagi setibanya di Thio-gi saja,"
Agaknya salah seorang di antara mereka khawatir Nyo Yan menyadap pembicaraan mereka, buru-buru dia memperingatkan rekannya. Sementara itu Nyo Yan telah berpikir lebih jauh.
"Siluman perempuan kecil yang dimaksudkan oleh orang persilatan biasanya pasti memiliki ilmu silat yang luar biasa. Siluman perempuan kecil berarti usianya muda, aku pikir tidak banyak orang muda yang bisa menjadi jagoan dalam dunia persilatan. Hmmm pasti sudah, yang mereka maksudkan adalah nona Liong!"
Tanpa terasa dia telah menghabiskan arak yang dipesan. Pelayan datang mendekat sambil bertanya.
"Apakah kek-koan ingin menambah arak?"
Melihat tamu kecilnya ini sanggup menghabiskan dua kati arak keras, pelayan ini kelihatan agak terkejut bercampur keheranan. ‘Tidak, mana rekeningnya?"
Tampaknya pelayan itu sudah selesai menghitung rekeningnya, cepat dia berkata.
"Terima kasih kek-koan, satu tahi! tiga rence lima nun perak."
Nyo Yan segera merogoh ke dalam koceknya, tapi dengan cepat paras mukanya berubah menjadi merah padam.Rupanya pemuda ini tak pernah mempedulikan soal uang, sepanjang jalan makan dan minum, kini persediaan uangnya sudah habis sehingga ketika ia merogoh koceknya baru diketahui kalau uangnya tinggal dua rence ditambah beberapa puluh uang tembaga, tidak cukup untuk membayar rekening makanannya.
Dalam keadaan gelisah dia membuka kocek membalik seluruh isinya dengan harapan bisa muncul hal yang di luar dugaan, siapa tahu kalau masih ada hancuran uang perak yang tersisa?
Terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang, belasan mata uang tembaga berikut dua mata uang perak yang tersisa segera menggelinding keluar, hanya sejumlah itu saja.
"Aah, masa begitu mahal?"
Nyo Yan segera berseru. Kontan saja pelayan itu memelototkan matanya bulat-bulat, dengan wajah menghina dia berseru sambil tertawa dingin.
"Hmm, yang kau pesan adalah arak dan sayur paling baik, satu tahi 1 tiga rence lima nun perak pun sudah kelewat murah. Kalau tak mampu membayar, mengapa mesti memesan sayur dan arak mahal? Hmm, rupanya kau ingin makan gratis?"
Dalam keadaan demikian, dua orang tamu yang barusan membicarakan tentang "siluman perempuan kecil"
Itu menggapai Nyo Yan.
"Kalau hanya satu dua tahil perak biar aku saja yang membayarkan untukmu,"
Katanya "Sungguh?"
Tanyanya sambil mendekat.
"Masa aku membohongimu?"
Jawab orang itu sambil tertawa.Dia mengeluarkan koceknya dan mengambil sepotong hancuran perak, kemudian sambil digoyangkan di muka Nyo Yan, ucapnya.
"Hancuran perak ini mencapai tiga tahil lebih bukan? Nah, ambillah…."
"Eeeh, nanti dulu!"
Seru Nyo Yan mendadak.
"Kau tak mau?"
Tanya orang itu tercengang.
"Aku harus mengetahui lebih dulu, mengapa kau membayarkan rekening makananku?"
"Aku merasa amat cocok denganmu sejak pertemuan pertama tadi, aku bersedia untuk berteman denganmu."
"Mengapa kau merasa cocok begitu berjumpa denganku?"
Desak Nyo Yan lebih jauh. Agaknya pelayan itu khawatir kalau Nyo Yan sampai membuat marah toaya yang punya uang ini, buru-buru katanya.
"Kau si bocah rudin benar-benar tidak tahu diri, ada orang menghadiahkan uang untukmu, mengapa kau masih cerewet terus?"
Nyo Yan sama sekali tidak menggubris ucapannya, kembali katanya kepada tamu itu.
"Maaf, aku si bocah rudin memang sedikit tidak tahu diri, meskipun kau bersedia untuk bersahabat denganku, belum tentu aku bersedia untuk berteman denganmu!"
Tampaknya orang itu seperti tak berani mempercayai apa yang didengarnya, cepat dia berseru.
"Mengapa kau tidak bersedia?" ‘Tidak apa-apa,"
Jawab Nyo Yan dingin.
"sekalipun kau merasa cocok denganku semenjak pertemuan yang pertama tadi, tapi sayang aku justru merasa amat jemu terhadap dirimu."
Orang itu menjadi marah sekali setelah mendengar perkataan tersebut, andaikata tidak berada di depan orang banyak, hampir saja dia akan menghajar orang itu habis-habisan. Cepat-cepat rekannya melerai.
"Asai punya uang kenapa khawatir tiada tempat untuk menghamburkannya?
Buat apa kau mesti ribut dengan bocah keparat yang tidak tahu diri itu..7″ ‘Orang itu segera menyimpan kembali koceknya kemudian berseru dengan gusar.
"Baik akan kulihat bagaimana cara kau si bocah keparat menanggung malui"
Sementara itu si pelayan telah berseru lagi sambil mendengus.
"Hmmm, tampaknya kau si bocah keparat benar-benar sudah edan, yang dilakukan cuma perbuatan gila saja, kau ingin gila itu urusanmu tapi rekening tetap harus dibayar!"
"Anjing budukan, kau cuma pandai menghina orang tak punya uang, kau anggap aku benar-benar tak punya uang?"
Teriak Nyo Yan dengan mata melotot "Nih, ambili Sisanya persen untukmu I"
Piaaang!
Sepotong uang perak dibanting keras-keras ke meja.
Ternyata uang perak itu masih jauh lebih besar daripada uang perak yang tadi, paling tidak mencapai lima tahi I.
Saking terkejutnya pelayan itu sampai berdiri tertegun, dengan cepat dia menenangkan kembali hatinya, kemudian sambil membungkukkan badannya berulang kali, serunya sambil munduk-munduk.
"Benar, benar, siaujin memang pu-nya mata tak berbiji, terima kasih banyak atas pemberian toaya."
Dalam keadaan seperti milah, Nyo Yan segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Peristiwa tersebut kontan saja membuat orang tadi merasa malu, dia segera membanting sumpitnya keras-keras ke meja sambil berteriak lantang.
"Mana rekeningnya!"
Pelayan itu tahu kalau orang ini marah karena dia kelewat menyanjung si dewa rejeki kecil yang telah membuatnya malu tadi, buru-buru katanya sambil tertawa.
"Rekeningnya sudah selesai dihitung, semuanya satu tahil delapan rence perak."
Di mulut dia berkata demikian, sementara dalam hati kecilnya berpikir.
"Andaikata dia merasa tidak terima dengan si bocah rudin tadi, persen yang bakal diberikan untukku sudah pasti akan jauh lebih besar daripada si bocah rudin tadi, haahh… haahh… tampaknya aku bakal memperoleh rejeki tiban!"
Siapa tahu ketika orang itu merogoh kocek uangnya, mendadak dia menjerit kaget "Aah, kocekku kenapa lenyap?"
Dengan terkejut rekannya meraba kocek miliknya, tapi setelah tertegun sejenak dia pun berseru.
"Aah, kocekku turut lenyap!"
Mendengar perkataan tersebut paras muka si pelayan segera berubah seratus delapanpuluh derajat sambil tertawa dingin segera ujarnya.
"Sialan, kau maki orang lain sebagai bocah rudin, padahal kau sendiri yang telur busuk, begitu rudinnya sampai celana pun bakal digadaikan…."
Waktu itu, tamu tersebut sedang mendongkol karena rasa gusarnya tak dapat dilampiaskan keluar, dalam marahnya taktahan lagi dia segera menampar pelayan itu karas-keras, bentaknya.
"Kau berani memandang hina locu?"
Begitu kena digaplok, dua gigi pelayan itu segera terlepas, darah segar dengan cepat bercucuran membasahi pakaiannya, dia segera mencak-mencak sambil berkaok keras.
"Bajingan busuk! Sudah makan tak mau bayar, masih berani memukul orang, sialan! Tolong, tolong bekuk bajingan itu!"
Begitu teriakan tersebut diutarakan, segera muncul beberapa orang tamu yang siap menyeret mereka ke pengadilan.
Meskipun tamu itu buas, tentu saja dia tak ingin ribut-ribut sehingga masuk ke pengadilan hanya gara-gara urusan sekecil itu, apalagi kalau sampai urusan besar mereka terbengkalai, nyawa bisa turut hilang Dalam keadaan terdesak, terpaksa mereka membanting mangkuk cawan yang ada di meja kemudian melarikan diri terbirit-birit 0odwo0 Waktu itu Nyo Yan sudah makan kenyang sudah minum sampai setengah mabuk dan keluar dari kota, dengan langkah gontai dan membawakan senandung lirih, selangkah demi selangkah dia melanjutkan perjalanannya Mendadak dari arah belakang terdengar, suara derap kuda yang ramai berlari mendekat Sewaktu berpaling, ternyata kedua orang yang dijumpai di rumah makan tadi telah melakukan pengejaran.
Rupanya di rumah makan tersebut beruntung sekali mereka telah berjumpa dengan sahabat yang bersedia membayarkanrekening mereka sehingga kedua orang ini dapat lolos dengan selamat Akan tetapi, tamu yang menampar si pelayan tadi pun kena dihajar beberapa kali bogem mentah oleh kerubutan orang yang sedang marah, bukan begitu saja, selain harus mengganti rugi, dia pun dipaksa minta maaf.
Tak heran kalau rasa bencinya terhadap Nyo Yan merasuk sampai ke tulang sumsum.
Begitu berhasil menyusul Nyo Yan kontan saja dia mencaci maki kalang kabut dengan gusarnya.
"Bajingan cilik, kau masih ingin kabur? Apakah kau tidak berusaha mencari tahu dulu siapakah kami, berani betul mengusik tay-sui-ya-mul"
"Hei, kau memaki siapa sebagai bajingan cilik?"
"Kau tak usah berlagak bodoh, locu sedang memaki kau, mengerti?"
Bentak orang itu keras-keras.
"Atas dasar apa kau memaki bapakmu sebagai bajingan cilik?"
Goda Nyo Yan kemudian.
Habis sudah kesabaran orang itu, dia segera melompat turun dari kudanya dan siap menghabisi Nyo Yan.
Tapi rekannya yang lebih teliti segera mencegah rekannya, cepat-cepat dia melompat turun dari kudanya sambil berseru.
"Tanya dulu sampai jelas, sebelum diputuskan untuk menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadanya."
"Bajingan cilik ini bernyali be-, bukan cuma mau main gila, dia rani juga mencari keuntungan dariku, sialan!"
Nyo Yan segera tertawa katanya.
"Kau sendiri boleh membahasakan diri sebagai locu (bapak) mengapa aku puntak boleh membahasakan diri sebagai locu pula? Apa aku sa-lah bertanya. Aku toh bertanya kepadamu atas dasar apa kau memaki bapakmu sebagai bajingan? Apa aku salah bicara?"
"Kau sudah mencuri uang kami, sekarang berani menyangkal?"
Teriak orang itu semakin gusar.
"Tunggu dulu, tunggu dulu. Aku pun ingin bertanya dulu kepada kalian,"
Kata Nyo Yan tertawa.
"Apa yang ingin kau tanyakan ?"
Ya orang yang satunya.
"Kalian menyebut diri sebagai tay-sui, tolong tanya kau adalah tay-sui dari mana?"
"Kalau dilihat tampangmu seperti juga seorang jago persilatan, tahu tidak kau tentang Im-tiong-siang-sat (Sepasang Malaikat Bengis dari Im-tiong)?"
Im-tiong-siang-sat adalah jagoan yang termasyhur namanya di dalam kalangan hitam, sang lotoa bernama Be Bong sedangkan sang loji bernama Tiang Keng, nama-nama itu pernah juga didengar oleh Nyo Yan.
Tapi ia justru memonyongkan bibirnya sambil menjengek.
"Huuuh, Im-tiong-siang-’sat itu nama apa? Belum pernah kudengar nama semacam itu."
Lo-ji Tian Keng yang kena ditinju orang ketika berada di rumah makan tadi segera membentak dengan amat gusar.
"Bajingan cilik kau berani memandang hina Im-tiong-siang-sat? Tampaknya kau sudah bosan hidup?"
Be Bong jauh lebih teliti daripada saudaranya, dia sudah dapat menduga kalau Nyo Yan bukan seorang pemuda sembarangan, pikirnya di dalam hati.
"Walaupun aku belum pernah bersua dengan siluman perempuan kecil itu, tapi aku dengar dia adalah seorang nona cilik yang berusia tujuh-delapanbelasan tahun. Seandainya bocah keparat ini pun seperti dirinya, ilmu silat yang dimiliki sudah pasti hebat sekali."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata.
"Saudara cilik, kami percaya penuh dengan perkataanmu. Tapi sekalipun kau yang benar-benar mencuri uang milik kami, aku pun hanya bisa mengagumi kepandaian-mu yang hebat, tak nanti akan menyalahkan kau. Siapa sih gurumu? Dapatkah kau beritahukan namanya kepadaku?"
Sebelum dapat meraba asal-usul Nyo Yan yang sesungguhnya, mau tak mau dia harus bersikap lebih sungkan, sebutan "bajingan cilik"
Pun segera berubah menjadi sebutan "saudara cilik". Nyo Yan segera tertawa.
"Suhu-ku tak bakal tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat manusia yang bernama Im-tiong-siang-sat. Kalian pun tak akan mengetahui nama guruku itu."
Maksud dari perkataan itu, toh mereka tak punya hubungan apa-apa dengan gurunya, jadi dibicarakan pun tak ada gunanya. Be Bong masih tetap mencoba untuk menahan diri, katanya lagi.
"Sekarang kau hendak ke mana? Tentu boleh kau katakan kepada kami bukan?"
"Ke mana kalian hendak pergi, ke situ juga aku akan pergi."
"Kau tahu kami hendak ke mana?"
Tak tahan Tian Keng bertanya.
"Tentu saja tahu, bukankah kalian hendak pergi menghadapi siluman perempuan kecil she Liong itu?"
Tian Keng benar-benar merasa terperanjat sekali, tanpa sadar dia berseru keras.
"Hei, darj mana kau bisa tahu?"
Setelah Nyo Yan berhasil membuktikan kalau "Siluman perempuan kecil"
Yang dimaksud mereka adalah Liong Leng-cu, dia pun menjadi tak berminat lagi untuk mempermainkan mereka, kontan saja dia tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… bukankah kau sendiri yang mengatakan hal tersebut ketika berada di rumah makan tadi?"
Paras muka Tian Keng berubah hebat, segera bentaknya keras.
"Bagus sekali, rupanya kau si bajingan keparat bukan hanya mencuri uang kami saja, pembicaraan kami pun telah kau sadap, aku harus memberimu hajaran yang setimpal!"
Be Bong masih ingat, meskipun Tian Keng pernah menyebut tentang "siluman perempuan kecil"
Namun tidak mengatakan "siluman perempuan kecil she Liong".
Kecuri-gaannya segera timbul, tapi sebagai orang yang lebih cermat dia diam sambil memperhatikan perubahan selanjutnya.
Setelah mundur selangkah, Nyo Yan berkata lagi, ‘Tunggu dulu, kau ingin bertarung besar atau bertarung kecil?"
Tian Keng melongo.
"Masa bertarung pun dibedakan bertarung besar atau kecil?"
Serunya tertegun.
"Tentu saja Kalau ingin bertarung besar maka akan kuhancurkan tulang pi-pa-kut-mu, sebaliknya kalau ingin bertarung kecil, aku hanya menjewer telingamu. Tapi aku sarankan lebih baik bertarung kecil-kecilan saja, hal ini lebih menguntungkan bagimu. Kau telah memakiku bajingan cilik, maka aku pun akan menjewer telingamu satu kali. Aku sudah menghitung, selama ini seluruhnya kau sudah memaki aku sebagai bajingan cilik sebanyak tujuh kali" .Sementara dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Liong Leng-cu si siluman perempuan kecil itu paling suka menampar orang, biar kutim caranya saja"
Tian Keng menjadi marah sekali, segera teriaknya.
"Bajingan kecil, aku hendak mematahkan tulang belulangmu, dan akan kukuliti tubuhmu!"
Sebuah pukulan segera siap dilontarkan ke depan. Buru-buru Be Bong berseru.
"Agaknya bocah keparat ini mempunyai asal-usul yang cukup besar, jangan kau lukai terlalu berat!"
Ternyata Tian Keng adalah seorang jagoan yang mendalami ilmu Thi-see-ciang, barang siapa terkena pukulannya maka jiwanya akan segera melayang.
Sewaktu berada di rumah makan tadi ia tak berani main silat secara sembarangan, tak lain disebabkan alasan ini.
Siapa tahu belum sempat pukulan Thi-see-ciang dari Tian Keng menyentuh ujung baju lawan.
"plaak, plook!"
Beberapa tamparan keras sudah dihadiahkan Nyo Yan ke wajah Tian Keng yang putih. Sambil tertawa Nyo Yan segera berseru.
"Kau memaki aku sebagai bajingan cilik sebanyak delapan kali, berarti masih kurang empat kali tempelengan lagi!"
Dalam pada itu Be Bong sudah memburu ke depan, siapa tahu gerakan tubuh Nyo Yan jauh lebih cepat lagi, belum habis suara tertawanya berkumandang, ia sudah menampar wajah Tian Keng sebanyak empat kali lagi….
Nyo Yan segera mengibaskan ujung bajunya.
Be Bong yang siap menerjang segera terkena sapuan itu dan tak kuasa mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.
"Hei, apakah kau pun ingin berkelahi denganku?"
Nyo Yan segera menegur sambil tertawa Dari kedelapan buah tempelengan itu selain membuat copot dua gigi Tian Keng, wajahnya pun menjadi hijau dan hitam karena membengkak.
Kulit wajahnya pecah, darah kental bercucuran, hidung pun turut menjadi peot karena ayunan-ayunan bogem mentah, mengenaskan sekali wajahnya Padahal kepandaian ilmu silat yang dimiliki Im-tiong-siang-sat terhitung lumayan juga, benar Be Bong lebih hebat daripada rekannya, tapi setelah menyaksikan kejadian ini toh tak urung dibikin terperanjat juga sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, sudah barang tentu dia lebih tak berani turun tangan.
Sambil tertawa Nyo Yan segera berkata.
"Kau tak pernah memaki bajingan cilik kepadaku, maka tempelengan pun bisa kau hindari, cuma…"
Berbicara sampai di situ, tahu-tahu dia sudah melompat naik ke atas kuda tunggangan milik Tian Keng. Kata si anak muda itu lebih jauh.
"Cuma kalian toh saudara angkat? Sudah sepantasnya kalau ada rejeki sama dinikmati, ada susah sama dicicipi. Dia tak mempunyai kuda, maka kau pun harus menemaninya meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki…!"
Selesai berkata, sebutir batu meluncur ke muka dan menghajar kaki depan Be Bong sehingga patah.
Di tengah gelak tertawa yang amat keras itu Nyo Yan mencemplak kudanya dan segera berlalu dari situ.Sambil meneruskan perjalanan, anak muda itu berpikir kembali.
"Ketika Tian Keng membicarakan siluman perempuan kecil tadi, Be Bong menyuruh dia membicarakannya lagi setibanya di Thio-gi, jangan-jangan nona Liong juga berada di Tio-gi? Baik, tak peduli apa yang dia ucapkan itu benar atau salah, lebih baik aku berangkat dulu ke kota Tio-gi…!"
Tio-gi letaknya di sebelah barat Bu-wi, jaraknya kurang lebih tiga-ratus li lebih.
Sebagaimana telah diterangkan, daerah di sekitar tempat ini merupakan jalur lalu lintas yang ramai di daerah Hoo-say, dikenal juga sebagai wilayah Kanglam untuk Say-sang, bahkan disebut juga sebagai Bu-wi Emas Tib-gi Perak.
Tak heran kalau sepanjang perjalanan, dia menjumpai jago persilatan dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada kemarin, ada di antara jago-jago tersebut yang menyaru sebagai saudagar dan menyembunyikan senjata tajam mereka, tapi dalam sekilas pandang sajaNyo Yan dapat mengetahuinya.
Kawanan jago persilatan itu masih mempunyai suatu keistimewaan lain, yakni seringkah bergerombol dan berkumpul dalam dialek yang berbeda-beda.
Kalau keadaan seperti ini dijumpai dalam perkumpulan Kaypang yang luas, maka kejadiannya tidak aneh, tapi partai-partai lain di dunia ini tidak sedikit yang merupakan partai kecil saja, mustahil kalau anggota partai mereka tersebar luas dari wilayah yang berbeda-beda.
Kalau ditinjau dari kesemuanya itu, maka bisa diduga kalau orang-orang itu bukan termasuk dalam anggota partai melainkan tergabung dalam suatu organisasi sementara.NyoYan segera berpikir.
"Heran, mengapa banyak jago persilatan yang berbondong-bondong berangkat ke Tio-gi, mungkinkah mereka semua datang untuk mencari gara-gara dengan siluman perempuan kecil? Tapi apa sebabnya Liong Leng-cu sampai mengikat permusuhan dengan begitu banyak orang? Aah, betul, dia paling suka mencari gara-gara dengan orang kenamaan dalam dunia persilatan, jangan-jangan bencana ini timbul karena dia sembarangan menampar orang?"
Teringat akan kebinalan Liong Leng-cu, entah mengapa rasa sesal di dalam hatinya menjadi jauh lebih berkurang.
Walaupun dia sendiri pun pernah merasakan kegetiran di tangan nona itu, akan tetapi tanpa terasa dia rindu pada si nona kecil yang binal dan pernah memberi banyak kegetiran kepadanya itu.
"Tempo hari, ketika aku ditangkap Ting susiok dan siap digusur ke Jik-tat-bok dialah yang secara diam-diam datang membantuku, kali ini biar kulindungi dirinya secara diam-diam, akan kubikin dia kaget setengah mati. Coba kulihat apakah dia masih mampu menghindarkan diri dariku atau tidak? Ehmm, aku cukup menguntit di belakang orang-orang itu, akhirnya tentu akan ketemu juga dengannya Hanya tidak kuketahui apa benar dia berada di Tio-gi?"
Walaupun kuda rampasannya ini bukan seekor kuda jempolan, tapi daya tahannya cukup mengagumkan.
Tengah hari keesokannya dia sudah tiba di kota Tio-gi.
Di suatu tempat yang tak ada orang, secara diam-diam dia mengeluarkan kocek hasil curiannya dan diperiksa isinyadengan teliti, dia tak ingin mengalami nasib seperti sewaktu berada di kota Bu-wi kemarin.
Ternyata dari dalam kocek milik Tian Keng, selain masih tersisa belasan tahil uang perak, masih ada belasan biji emas sebesar kacang.
Sebaliknya dari dalam kocek milik Be Bong, dia mendapatkan butiran emas dalam jumlah yang lebih banyak lagi, ketika dihitung ternyata terdiri dari duapuluh tujuh biji.
Sambil tertawa Nyo Yan segera berpikir.
"Ilmu silat yang dimiliki Im-tiong-siang-sat amat biasa, tapi koceknya benar-benar makmur, ehm… ehm… sekarang aku sudah tidak khawatir makan minum sepuas-puasnya!"
Di sebelah barat kota Tio-gi terdapat sebuah sungai yang bernama Yok-sui.
Menyinggung soal Yok-sui ini, boleh dibilang merupakan suatu tempat yang sangat termasyhur, orang yang mengetahui tempat itu mungkin masih jauh lebih banyak daripada orang yang mengetahui istilah tentang "Bu-wi Emas, Tio-gi Perak".
Rupanya sungai ini mempunyai suatu keistimewaan, dalam hikayat See-yu diceritakan bahwa di sungai tersebut dahulu pernah dicantumkan sebuah papan nama yang bertulisan begini, Delapanratus wilayah pasir mengalir, tigaribu kaki dalam air lemah.
Bulu tak mungkin terapung, daun tentu tenggelam ke dalam sungai.
Padahal sungai itu sendiri tidak sedemikian lebar, pada bagian yang terlebar pun cuma sepuluh kakilebih, tentu saja bulu dan daun tak akan tenggelam seperti apa yang diceritakan dalam hikayat, cuma perahu penyeberang memang sukar untuk menyeberangi sungai dengan arus yang amat deras itu.
Sebuah sampan dengan dua orang pendayung yang kekar pun membutuhkan waktu sesulutan sahi batang hio lamanya untuk menyeberang sejauh tujuh delapan kaki.
Ada orang bilang, di dasar sungai itu terdapat arus yang kuat, tapi ada juga yang mengatakan berhubung dalam sungai mengandung semacam hasil tambang, sehingga berat jenis air menjadi berbeda.
Nyo Yan sudah lama mendengar tentang sungai ini, baru hari ini ani sempat mengunjungi sendui Pelan-pelan sampan kecil bergerak maju ke depan, sementara Nyo Yan sedang berpikir.
"Air lemah di sungai Yok-sui ini benar-benar aneh sekali, sungguh amat menarik hati."
Dia ingin membantu pendayung itu untuk mendayung perahu, tapi dia tidak mengerti ilmu air, pemuda itu takut salah-salah sampan tersebut akan terbalik, bisa berabe jadinya kalau sampai terjadi hal demikian Ketika perahu itu tiba di tengah sungai, tiba-tiba dari arah lain muncul sebuah sampan kecil yang memuat dua orang tamu yang dikenal semua olehnya.
Si kakek berusia limapuluh tahunan itu dikenal olehnya sebagai murid dari Ciong Tian, tianglo Thian-san-pay paling tinggi kedudukannya, bernama Li Wu-si.
Li Wu-si seperti juga namanya, merupakan seorang manusia yang berjiwa mantap dan tekun melatih diri, ada orang bilang ilmu silatnya tidak berada di bawah keempatmurid utama Thian-san-pay, tapi berhubung tidak suka bepergian, maka namanya jarang sekali diketahui orang.
Sedangkan yang lain adalah seorang lelaki setengah umur yang lebih mudaan, dia adalah murid Ciok Thiang-hing yang bernama Lok Kan-tang, dengan Li Wu-si justru berkebalikan, jadi orang suka berfoya-foya, suka mencari nama dan persis sekali dengan tabiat sute-nya Ciok Cing-swan….
Melihat kedua orang itu, Nyo Yan segera berpikir.
"Aku pernah memotong lidah sute-nya, pernah menghajar gurunya, lebih baik jangan sampai diketahui olehnya kalau aku berada di sini."
Padahal sekalipun Nyo Yan duduk di hadapan Lok Kan-tang, belum tentu lelaki setengah umur itu dapat mengenalinya.
Sebagaimana diketahui, sewaktu Nyo Yan meninggalkan gunung Thian-san, ia masih anak kecil, setelah melewati delapan tahun lamanya tentu saja raut wajahnya sudah jauh berbeda dengan keadaan dulu.
Tapi lelaki setengah umur itu, waktu selama tujuh-delapan tahun tidak mengakibatkan perubahan yang berarti terhadap raut wajahnya.
Waktu itu, Lok Kan-tang sedang bersiap-siap melakukan suatu perbuatan yang tak berani dilakukan oleh Nyo Yan, dia mengambil sebuah galah dan siap membantu mendayung perahu tersebut.
Li Wu-si yang menyaksikan kejadian tersebut, segera menegur dengan kening berkerut.
"Lebih baik kau tak usah repot-repot, kita toh tak terburu nafsu menyeberangi sungai?"
Dia bukan merasa sayang kalau keponakan muridnya membuang tenaga dengan percuma, melainkan tak ingin dia memamerkan kepandaiannya di hadapan orang lain.Sambil tertawa Lok Kan-tang segera berkata.
"Apa salahnya kalau kita lebih cepat masuk kota? Dalam kitab Buddha pernah dikatakan, ‘air lemah tigaribu, aku hanya melewatinya dengan satu ayunan dayung’. Entah yang dimaksudkan adalah air lemah di sini atau bukan? Meski aku tak punya kepandaian sekali dayung akan berhasil menyeberangi sungai, tapi ingin kuketahui keistimewaan apakah yang dimiliki sungai ini."
Bukan menuruti perkataan dari susiok-nya, dia malah mendayung dengan lebih bertenaga.
Mendadak terdengar suara air yang memecah ke tepian, kemudian muncul sebuah perahu besar melampaui sampan yang ditumpangi Nyo Yan dan meluncur ke depan, agaknya perahu itu hendak menyusul sampan kecil yang ditumpangi Lok Kan-tang.
Di atas perahu duduk tiga orang, dua orang di antaranya merupakan lelaki setengah umur yang berwajah kembar, sekilas pandang saja dapat diketahui kalau mereka adalah saudara kembar.
Sedangkan yang ketiga adalah seorang lelaki kekar dan berusia lebih besar, sepasang keningnya menonjol tinggi, sudah jelas merupakan seorang jagoan yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.
Tampaknya dua bersaudara kembar itu merasa perahu mereka bergerak terlalu lambat, yang satu mendayung, yang lain mendorong, mereka berusaha menjalankan perahu itu lebih kencang.
Mendadak terdengar salah seorang di antaranya berkata dengan suara rendah.
"Toako, coba kau lihat, bukankah orang yang berada di depan adalah Lok Kan-tang dari Thian-san-pay?"
"Betul,"
Jawab sang lotoa.
"sedang yang lain adalah susiok-nya Li Wu-si…."
Lelaki bertubuh kekar itu segera bertanya.
"Bukankah kalian adalah sahabat lama dari Li Wu-si dan Lok Kan-tang…? "
Kami pernah berjumpa satu dua kali dengan Lok Kan-tang, tapi tak bisa dianggap sebagai sahabat karib."
Sahut loji.
"sedangkan mengenai Li Wu-si, kami hanya pernah berjumpa sekali, tapi tak pernah mengajaknya berbicara."
"Tak nyana kita bisa berjumpa disini, tak ada salahnya kalau kita bersahabat dengan mereka."
Lotoa segera berkerut kening.
"Lok Kan-tang adalah seorang yang sombong dan tinggi hati, aku, aku rada…."
Kata-kata selanjurnya tidak kedengaran lagi, tapi maksudnya sudah jelas sekali, dia merasa agak benci pada Lok Kan-tang, tapi juga khawatir kalau Lok Kan-tang salah mengira mereka hendak mengum-paknya.
Jarak antara perahu mereka dengan sampan yang ditumpangi Nyo Yan amat dekat, sekalipun sedang berbicara dengan suara rendah, namun Nyo Yan dapat mendengar semuanya itu dengan amat jelas, tapi entah Lok Kan-tang turut mendengar atau tidak, tampak orang itu hanya mendayung perahunya semakin cepat saja.
Akan tetapi berhubung mereka sedang menyeberang di sungai Yok-sui yang termashur, maka sekalipun sudah didayung dengan sekuat tenaga, paling banter kecepatannya hanya sama dengan sampan biasa yang meluncur mengikuti arus saja.
Terdengar lelaki kekar itu berkata lagi dengan suara yang semakin lirih.
"Khong-tong-pay kalian semenjak Tan Khu-sengmenjabat sebagai ciangbunjin, entah bagaimanakah hubungannya dengan pihak Thian-san-pay?"
Loji segera mendengus.
"Hmmm, Tan Khu-seng dengan kami sama sekali tak ada sangkut pautnya. Hmmm, muridnya adalah murid tercatat dari Thian-san-pay, tentu saja orang-orang Thian-san-pay menaruh hormat terhadapnya. Namun kami tak ingin membonceng ketenarannya itu."
Orang itu menyebut nama ciang-bunjin-nya langsung dengan nama aslinya, sesungguhnya hal tersebut merupakan tindakan yang tak sopan.
Ternyata kedua orang ini adalah murid dari Tong Cin-cu, bekas ketua Khong-tong-pay yang lalu.
Sebagaimana adik seperguruan Tong Cin-cu yakni Tong Bing-cu telah berkomplot dengan pihak kerajaan Manchu dan membunuh suhu Tan Khu-seng yakni Tong-biau Cinjin, kendatipun Tong Cin-cu tidak turut serta dalam peristiwa itu, samun dia mendapat ancaman dari sute-ya, sehingga meski tahu kalau ia yang melakukan perbuatan tersebut tetapi tak berani mengungkapnya.
Bahkan dia lebih suka menjadi boneka sute-nya, sekalian menjabat sebagai ketua dan bekerja sama dengan sute-nya untuk memfitnah Tan Khu-seng melakukan pengkhianatan.
Akhirnya setelah peristiwa itu menjadi jelas kembali, Tong Cin-cu menjadi amat menyesal atas perbuatannya sehingga beradu jiwa dengan Tong Bing-cu, sejak itu pula Tan Khu-seng mendapat perintahnya untuk meneruskan jabatan sebagai ciangbunjin.
Dua bersaudara kembar ini yang tua bernama Lau Hok-pi, sedang loji bernama Lau Hok-im, mereka adalah murid kesayangan Tong Cin-cu, namun otaknya rada bebal, kematian suhu-nya sama sekali tak diselidiki secara tuntas,mereka pun tak tahu kalau suhu-nya sampai berbuat demikian akibat dari perbuatannya dulu, mereka justru menaruh perasaan tak puas terhadap Tan Khu-seng yang diangkat menjadi ketua baru.
Terhadap riwayat "engkoh’nya, tentu saja Nyo Yan juga tahu dengan jelas, sewaktu mendengar mereka membicarakan tentang "
Murid-tercatat dalam Thian-san-pay"
Dari Tan Khu-seng, dia menjadi terperanjat sekali, segera pikirnya.
"Ooh, apakah kedua orang ini anggota Khong-tong-pay? Rupanya mereka pun datang disebabkan masalah siluman perempuan kecil itu? Mereka berdua sih tak usah dikhawatirkan, tapi bagaimana kalau sampai Beng Hoa pun ikut datang?"
Teringat bagaimana Liong Leng-cu pernah bentrok dengan pihak Thian-san-pay gara-gara urusannya, sedang peristiwa itu pun terjadi dimulai karena dia dibekuk Beng Hoa, sedikit banyak timbul juga perasaan tak tenang di dalam hatinya Tapi dia tahu kalau Beng Hoa sedang pergi melayat ke Thian-san, maka ia berharap "engkoh"nya itu jangan sedemikian cepatnya kembali dari sana.
Sementara itu, ketika dua bersaudara Lau menyaksikan Lok Kan-tang yang berada di depan mereka hanya mendayung perahunya terus tanpa berpaling, seakan-akan sengaja tak acuh terhadap mereka, lama-kelamaan berkobar juga rasa mendongkolnya, diam-diam mereka berpikir.
"Dengan ilmu silat yang dimiliki Lok Kan-tang, kendatipun kami sedang berbicara dengan suara pelan, masa dia tidak ikut mende-ngarnya?"
"Hmm, sekalipun tidak mendengar dia juga tahu kalau hari ini begitu banyak jago persilatan yang telah berkunjung ke kota Tio-gi, bila mendengar ada perahu yang menyusul dari belakangnya, sudah pasti dia tahu kalau ada rekan persilatanyang hendak menyusulnya, tapi dia malah mendayung perahunya semakin cepat, hmm, tampaknya dia memang sengaja hendak jual mahal di hadapan kami!"
Sebagai manusia yang ingin menang sendui, begitu rasa mendongkolnya timbul mereka segera mendayung perahu tersebut makin kencang, seakan-akan hendak mengajak Lok Kan-tang untuk berlomba.
Akan tetapi, sekalipun dua bersaudara itu sudah mendayung perahu mereka dengan sepenuh tenaga toh belum berhasil untuk menyusul sampan kecil di depan sana Sambil tertawa lelaki kekar itu segera berkata.
"Baik, kalau toh mereka sengaja berlagak kepada kita, aku pun mempunyai kemampuan untuk menghentikan perahu mereka. Kalian saksikan saja sendiri!"
Sambil berkata, dia lantas mengambil tali yang berada di ujung geladak, kemudian diayunkan ke depan, empat lima kaki tali rami tersebut bagaikan sebuah tombak segera meluncur ke atas sampan kecil tersebut dengan kecepatan luar biasa Di ujung buritan sampan kecil yang ditumpangi Lok Kan-tang terdapat sebuah jangkar besi, dengan cepat tali itu melingkar di jangkar tersebut sehingga akibatnya meski sampan tersebut tak sampai mundur ke belakang, namun hanya berputar-putar saja di sana tak mampu bergerak maju.
Nyo Yan yang menyaksikan kejadian itu, segera berpikir.
"Tenaga yang dimiliki orang ini pasti luar biasa sekali, tampaknya dia pernah melatih ilmu Toa-lek-eng-j iau-kang, kalau begini ilmu silatnya sudah pasti jauh lebih hebat daripada Im-tiong-siang-sat."
Belum habis ingatan tersebut melintas, terdengar Li Wu-si telah menegur.
"Sobat, apakah kau hendak membuat drama di atas sungai?"
Sembari berkata, jari tangannya segera menggunting tali rami sebesar ibu jati tersebut dengan kecepatan luar biasa, tahu-tahu tali tersebut sudah putus dan sampan pun meluncur kembali ke depan.
Pada saat yang bersamaan, Lok Kan-tang juga telah berpaling ke belakang.
Dua bersaudara Lau benar-benar menjadi tersipu, cepat mereka menyebutkan nama sendiri sambil berseru.
"Saudara Lok, masih ingatkah pada kami? Sobat ini hanya ingin berkenalan dengan kalian, sama sekali tidak mempunyai maksud lain."
Melihat mereka sudah menyebutkan nama masing-masing sambil minta maaf, Lok Kan-tang pun memandang wajah Tan Khu-seng dan hubungannya dengan partai mereka untuk menyudahi persoalan sampai di situ saja.
Katanya kemudian dengan hambar.
"Ooh, rupanya Lau-keh-sianghiap. selamat bersua, selamat bersua. Kita berbincang lagi setibanya di pantai nanti."
Sementara pembicaraan berlangsung, sampan kecil Lok Kan-tang sudah sampai di tepi pantai, sedangkan perahu dari dua bersaudara Lau masih ketinggalan sejauh tiga kaki lebih.
Mendadak lelaki bertubuh kekar itu mengambil papan dari atas geladak, papan itu dipakai tempat penyeberang setibanya di pantai nanti, belum sampai merapat di tepi sungai, lelaki tersebut sudah melemparkan papan itu ke tengah sungai.
Meski kata-kata yang berbunyi.
"Delapanraius wilayah pasir berarus, tigaribu kaki dalam air lemah, bulu tak bisa terapung,daun pasti tenggelam"
Hanya berlaku dalam dongeng tapi tentang sukarnya benda terapung di situ bukanlah bohong.
Pada dasarnya papan itu memang tidak terapung di air, tapi diisap oleh suatu arus berputar yang muncul dari dasar sungai sehingga setiap benda yang berada di atasnya pasti akan tenggelam.
Lelaki bertubuh kekar itu melompat ke udara dan sebelum papan tadi tenggelam, ujung kakinya me-nutul di atas papan tadi dan melayang ke daratan.
Sementara ia mendemonstrasikan ilmu Toa-lek-eng-jiau-kang-nya tadi, meski kekuatan yang diperlihatkan hebat sekali, namun Nyo Yan masih belum memikirkannya di dalam hati.
lapi sekarang, setelah menyaksikan ia mendemonstrasikan ilmu meringankan tubuh, bahkan Nyo Yan sendiri pun sampai terbelalak dibuatnya….
Haruslah diketahui, bagi orang yang melatih ilmu Eng-jiau-kang atau sebangsanya yang lebih mengutamakan tenaga dalam, biasanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pasti agak berkurang, tapi orang ini bukan saja sempurna dalam tenaga dalam, ternyata sempurna pula dalam ilmu meringankan tubuh, benar-benar hebat Nyo Yan kembali berpikir, Tadi, ia dibikin kehilangan muka oleh Li susiok, setelah sampai di daratan nanti entah dia akan menantang Li susiok atau tidak?
Kesempurnaan tenaga dalam Li susiok mungkin saja masih di atasnya, tapi kalau ingin mengalahkan dia, mungkin bukan suatu pekerjaan yang ter-lampau gampang."
Sementara itu, lelaki kekar yang berhasil mencapai daratan tersebut sudah membalikkan tubuh sambil menjura, kemudian katanya dengan suara lantang.
"Kalian berdua adalah tamu yang datang jauh dari Thian-san, meskipun aku orang she Phang bukan penduduk setempat, tapi paling tidak terhitung juga separuh tuan rumah, harap kalian sudi mengijinkan aku orang she Phang untuk menjadi tuan rumah yang baik."
Sekarang Nyo Yan tahu, rupanya dia berebut naik ke daratan lebih dahulu, tak lain karena ingin menyambut tamu menurut peraturan dunia persilatan.
Orang persilatan memang manusia yang aneh, sekalipun sama-sama sebagai tamu juga dibedakan tamu yang jauh dan tamu yang dekat, tamu dari jauh adalah tamu di antara tamu, sedangkan tamu dari dekat adalah tuan rumah di antara tamu.
Li Wi-si adalah seorang jujur, melihat orang lain bersikap menghormat, kendatipun dia tak ingin bersahabat dengannya, toh tak bisa menolak kebaikan orang dengan begitu saja.
Buru-buru dia balas memberi hormat sambil berkata dengan hambar.
"Tidak berani!"
Sambil tertawa kembali lelaki kekar ini berkata.
"Tadi, aku orang she Phang sampai memperlihatkan kejelekan, tak lain disebabkan kami amat mengagumi nama besar kalian berdua, harap kalian berdua jangan marah."
Melihat orang itu menunjukkan sikap menghormat terhadap dirinya, rasa mendongkol Lok Kan-tang juga berkurang sebagian, katanya kemudian sambil tertawa.
"Itulah yang dinamakan tidak bertarung menjadi saling mengenal, apalagi kita belum sampai bertarung sungguhan. Kepandaian saudara amat hebat, masa dibilang memperlihatkan kejelekan? Saudara kelewat sungkan. Aku suka dengan orang yangberbicara blak-blakan, tolong tanya saudara adalah sahabat dari aliran mana?"
Sementara itu dua bersaudara Lau telah mendarat pula. Lau Hok-im segera tampil ke muka memperkenalkan mereka berdua.
"Saudara Phang adalah Kim-gan-sin-tiau (Rajawali Sakti Bermata Emas) Phang Tay-yu yang amat termashur dalam dunia persilatan, Phang toako. Dia suka berteman dan sahabat kami selama banyak tahun. Terhadap tempat seperti kota Tio-gi begini, boleh dibilang hafal sekali, bila kalian berdua membutuhkan penginapan, biar dia yang mengatur untuk kalian."
Rajawali Sakti Bermata Emas Phang Tay-yu seorang jagoan tangguh dari wilayah Shia-kam, selain ilmu silatnya sangat lihay, lagi pula pergaulannya luas, menying gung soal namanya hampir sebagian besar umat persilatan baik dari golongan lurus maupun hitam sama-sama mengenalnya.
Lok Kan-tang sangat terperanjat; segera pikirnya.
"Ooh, rupanya dia adalah Rajawali Sakti Bermata Emas, tak heran kalau ilmu silatnya sangat hebat!"
Sementara itu Phang Tay-yu telah berkata.
"Di rumah penginapan Im-lay-kek di kota Tio-gi, aku sudah memesan kamar besar, harap kalian berdua tak usah sungkan-sungkan."
Lok Kan-tang menjadi tertegun, serunya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau bakal bertemu dengan kami?"
Lau Hok-pi segera tertawa.
Beginilah ceritanya Phang toako adalah seorang yang mempunyai pergaulan luas, dia tahu kalau dua hari belakangan ini pasti banyak teman yang akan datang ke Tio-gi, oleh sebab itu dia telah memesan sepuluh kamar di rumah penginapan Im-iay-kek, khusus untuk diberikan kepada sahabat-sahabatnya."
Aah, kita baru saja berkenalan. Phang toako sudah begini sungkan, kami menjadi rikuh sendiri!"
Phang Tay-yu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… soal akrab atau tidaknya masa dinilai dari waktu? Kendatipun aku dan saudara berdua baru saja berkenalan, tapi. nama besar kalian sudah lama kukagumi. Seandainya saja kalian berdua ini tidak akan sudi memberi muka kepadaku, aku pun tak punya muka lagi untuk menancapkan kaki dalam dunia persilatan."
Ketika Lok Kan-tang menyaksikan seorang jagoan kenamaan seperti dia, ternyata bersikap begitu menghormati terhadapnya, dia merasa nama baiknya benar-benar dihargai, tanpa terasa pikirnya.
"Orang lain menghormati aku sedepa, biar aku menghormati orang sekaki…."
Berpikir demikian, dia lantas menjawab.
"Ucapan Phang toako kelewat serius. Nama besar Phang toako sudah lama termashur di dunia, kata sudah lama dikagumi benar-benar tak pantas untuk kami. Sungguh tak nyana Phang toako begitu gemar bersahabat, kalau begitu kami pun tak akan menolak lagi."
Tanpa minta persetujuan susiok-nya lagi, dia segera memberikan persetujuan.
Tanpa terasa Li Wu-si berkerut kening, tapi dia adalah seorang yang jujur dan berbudi luhur, apalagi keponakan muridnya ini adalah murid kesayangan suheng-nya Ciok Thiang-hing yang baru diangkat menjadi tianglo, tentu saja dia merasa agak sungkan untuk membuat Lok Kan-tang kehilangan muka.
Tampaknya Phang Tay-yu dapat menyaksikan ketidaksenangan hatinya, buru-buru dia mengumpaknya.Siapa tahu baru berkata beberapa patah kata, mendadak Li Wu-si menegur.
"Konon Phang sianseng pun mempunyai pekerjaan yang boleh dibanggakan dalam pemerintah ke-rajaan, kedatanganmu ke kota Tio-gi ini entah sedang menyelesaikan tugas dinas apa?"
Diam-diam Phang Tay-yu merasa terperanjat setelah mendengar ucapan itu, tapi dia pura-pura tercengang, serunya.
"Siaute selalu berkelana dalam dunia persilatan, aku paling benci kalau terikat oleh sesuatu, buat apa mesti mencampurkan diri dengan urusan kerajaan? Li tayhiap, kau mendengar soal ini dari siapa..?"
Dua bersaudara Lau juga tampak keheranan, serentak mereka berseru pula.
"Li tayhiap, mungkin kau telah tertipu oleh berita bohong. Seandainya Phang toako menjadi pembesar masa kami tak tahu?"
Perlu diketahui, walaupun Khong-tong-pay tidak melarang anak muridnya berhubungan dengan pihak kerajaan tapi berhubung ciangbunjin-nya Tan Khu-seng adalah pendekar yang menentang penjajahan bangsa Manchu, maka meski tidak tertulis hitam di atas putih, setiap anggota Khong-tong-pay memegang prinsip tersebut dengan teguh.
Li Wu-si kembali berkata dengan hambar.
"Aku hanya mendengar orang bilang begitu, kalau bukan mungkin saja aku yang salah dengar."
Phang Tay-yu pura-pura berpikir sebentar lalu seperti menyadari akan sesuatu, segera katanya.
"Walaupun aku mempunyai beberapa orang sahabat dari golongan putih, tapi semuanya cuma persahabatan biasa Tampaknya kemungkinan sekali mereka yang menyebarkan berita bohong tersebut, baiklah, urusan ini pasti akan kuselidiki hingga tuntas!"
Sebaliknya Lok Kan-tang justru merasa sedikit kurang senang pikirnya.
"Sebagai seorang manusia kenamaan yang kerjanya dalam dunia persilatan, memang tak bisa dihindari untuk mengadakan hubungan dengan manusia dari berbagai golongan, sekalipun-dia berkenalan dengan beberapa orang pembesar toh bukan sesuatu yang aneh. Sudah pasti Li susiok mendengar hasutan orang yang bukan-bukan. Aaaai, Li susiok memang begini orangnya, apa yang didengar anggap angin bisa berubah jadi hujan, dia memang sukanya menyindir orang tanpa memedulikan apakah orang bakal kehilangan muka atau tidak."
Maka segera ujarnya, ‘Terhadap jagoan bernama besar macam Phang toako, memang tak bisa dihindari kalau orang-orang menuduhmu yang bukan-bukan, tapi mana yang bersih akan tampak tetap bersih, yang kotor akan kelihatan kotornya.
Menurut pendapat siaute, Phang toako pun tak perlu membesar-besarkan masalah yang sepele."
Phang Tay-yu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… benar, yang bersih akan tetap bersih, yang kotor akan tetap kotor, ucapan saudara Lok memang bagus sekali, aku orang she Phang benar-benar merasa amat kagum."
Dalam keadaan demikian, tentu saja Li Wu-si merasa rikuh untuk mengucapkan kata-kata lain, dia hanya berencana bila ada kesempatan, keponakan muridnya ini harus diberi nasihat dengan sebaik-baiknya.
0odwo0 Selama ini, Nyo Yan mengikuti terus di belakang mereka, dia sengaja memperlambat langkahnya sehingga terlambat setengah jam ketika masuk ke dalam kota.Untung saja rumah penginapan Im-lay merupakan rumah penginapan terbesar di kota Tio-gi, bertanya kepada siapa pun segera akan diberi petunjuk sejelasnya.
Ketika Nyo Yan melangkah masuk ke dalam penginapan tersebut, sambil tertawa paksa ciangkwee penginapan itu berseru.
"Kek-koan, sungguh tak beruntung, kebetulan penginapan kami sudah penuh."
"Masa sebuah kamar kosong pun tak ada?"
"Kamar kosong masih ada sebuah, tapi sudah dipesan orang."
Berkata demikian sama artinya dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Nyo Yan segera berkata lagi.
"Aku hanya menginap semalam saja, tempat mana pun bolehlah, bahkan kamar gudang pun jadilah."
Tampaknya pemilik penginapan itu merasa kurang sabar, dia menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru.
"Seandainya kek-koan hanya ingin menginap semalam saja, di kota ini masih terdapat banyak rumah penginapan. Sekalipun rumah penginapan besar sudah penuh semua, rumah penduduk toh bisa disewa. Gudang kami penuh dengan barang, sekalipun kek-koan tidak menolak, kami rak punya waktu untuk membongkar barang-barang tersebut;"
Tiba-tiba Nyo Yan memegang tangannya dan mengguncang-guncangkan tangannya, setelah itu katanya.
"Aku justru senang sekali dengan rumah penginapanmu ini, coba kau pikir lagi dengan seksama, siapa tahu kalau masih ada kamar kosong yang lupa kau sebutkan?"
Tiba-tiba kasir itu merasakan tangannya dijejali sebuah benda, ketika diintip ternyata berupa tiga biji emas.Sebagai seorang pengusaha yang sudah berpengalaman dengan emas, cukup dalam sekilas pandang saja ia sudah tahu kalau emas itu seratus persen asli.
Terkejut dan girang segera menyelimuti benaknya, dia lantas berpikir di dalam hati.
"Saudagar kaya, hartawan makmur sudah sering kujumpai, tapi baru kali ini kujumpai tamu seaneh ini."
Setelah menyimpan emas tersebut, dia lantas berkata.
"Aah, untung kek-koan mengingatkan, sekarang aku sudah teringat, cuma…."
"Cuma kenapa? Asal ada kamar, ini sudah lebih dari cukup!"
"Kek-koan kau benar-benar tidak memilih kamar yang macam apa pun?"
"lak usah banyak bicara lagi, ayo cepat bawa aku masuk."
Tampaknya kasir itu pun enggan banyak ribut, dia segera mengajak pemuda itu masuk ke dalam.
Kamar itu setengah tertutup, ketika sampai di pintu segera terendus bau harum yang semerbak.
Tapi bau aroma tersebut aneh sekali, sangat memabukkan, hanya diisap sedikit saja orang akan merasa malas bangun.
Sebagai orang yang belajar silat, begitu mengendus bau harum yang sangat aneh, kewaspadaan anak muda itu segera ditingkatkan.
Dengan kening berkerut Nyo Yan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi diri, kemudian tanyanya kepada kasir tersebut.
"Hei, bau apa ini? Tak sedap amat!"Kasir itu tampak tertegun, dengan keheranan dia menjawab.
"Itu kan bau Hok-si u-kau, kek-koan, masa kau belum pernah mengisapnya?"
"Hok-siu-kau adalah candu!"
Sedang di hati kecilnya kasir itu berpikir lagi.
"Masa seorang toa-sauya yang banyak uang juga tidak kenal apa yang dinamakan candu? Aneh!"
Sebaliknya Nyo Yan segera tertawa geli, pikirnya kemudian di dalam hati.
"Ooh, rupanya bau asap candu, aku masih mengira ada orang persilatan yang sedang mempergunakan obat pemabuk untuk merobohkan orang. Kalau toh dalam kamar ada tamu yang mengisap madat, berarti tamu ini merupakan toaya yang kaya raya, masa dia bersedia memberikan kamar tidurnya untukku?"
Belum habis dia berpikir, terdengar ciang-kwee itu sudah mengeruk pintu kamar sambil memanggil.
"Nioeu (istriku) ayo bangun, ada tamu!"
Pintu itu memang tertutup tanpa dikunci, tak usah dibuka pun mereka langsung melangkah masuk ke dalam Tampak seorang perempuan gemuk sedang berbaring telentang di pembaringan, di hadapannya tersedia lampu lentera sedang tangannya memegang sebuah tabung panjang, dari tabung itulah dia sedang mengisap madat dengan asyik.
NyoYan terperanjat, perempuan itu lebih terperanjat lagi, buru-buru dia melompat bangun dan duduk, kemudian sambil menuding ciang-kwee tersebut dengan tabung panjang untuk mengisap madat, umpatnya kasar.
"Kau sudah kepingin mampus rupanya, mengapa mengajak tamu memasuki ke kamar lo-nio?"
"Siangkong ini baru saja memberi tiga butir emas kepadaku, biarlah dia menginap semalam di sini!"
Sambil menatap Nyo Yan, perempuan itu terkejut, mana tercengang lagi, segera serunya.
"Apa maksudmu? Hanya gara-gara tiga butir emas, kau lantas hendak menjual lo-nio?"
Sedang dalam hati kecilnya ia berpikir, ‘Tampan amat bocah lelaki ini, tapi kelewat kecil untuk menjadi anakku! "
Sambil tertawa kembali ciang-kwee itu berkata.
"Niocu, kau jangan salah paham, maksudku pinjamkan kamarmu ini kepadanya barang semalam"
"Lantas aku tidur di mana?" ‘Tidurlah di kamarku semalam. Walaupun agak tersiksa, besok akan kubelikan duatahil hok-siu-kau lagi untukmu, mau bukan? "
"Berikan emas itu untukku biar aku membeli sendiri."
Seraya berkata dia lantas merampas ketiga butir emas tersebut Kembali ciangkwee itu menghela napas panjang.
"Aaai, dapatkah kau mengurangi mengisap madat itu?"
Keluhnya. Sementara dalam hati kecilnya berpikir.
"Seandainya bukan gara-gara madat, aku pun tak usah kemaruk emas orang dengan menyewakan kamar sendiri. Meski emas itu indah, kalau sampai tersiar keluar bisa dijadikan bahan tertawaan orang."
"Kek-koan, apakah kau mengisap hok-siu-kau (madat)?"
Tiba-tiba perempuan itu bertanya "Oh, tidak, tidak, aku tidak mengisap!""Untung kalau begitu,"
Seru perempuan itu sambil tertawa. ‘Terus terang saja kukatakan, kamar ini boleh dipakai, tapi tabung pengisap madat itu keberatan kalau mesti dipinjamkan kepadamu."
Diiringi senyuman yang cerah, dia segera memerintahkan suaminya memindahkan barang-barang keperluan sehari-hari, termasuk lentera dan tabung untuk mengisap madat.
‘Terima kasih banyak atas kesu-dian siangkong memberi kepercayaan pada penginapan kami,"
Kata ciangkwee itu.
"Kamar ini tentu cocok bagimu bukan?"
"Bagus sekali, bagus sekali. Cuma bau madat itu membuatku tidak tahan."
Sepeninggal suami istri pemilik penginapan dia membuka jendela agar asap madat keluar. Mendadak terdengar suara Phang Tay-yu sedang berkata.
"Apakah kalian berdua ingin berjalan-jalan ke kota?"
Menyusul kemudian kedengaran suara Li Wu-si menolak, ‘Terima kasih, silakan Phang sianseng pergi, kami tak ingin keluar rumah."
Ternyata kamar yang ditempati Li Wu-si dan Lok Kan-tang persis berhadapan dengan kamar tidur pemilik penginapan itu, antara kedua kamar hanya dipisahkan oleh sebuah pelataran.
Nyo Yan ingin cepat-cepat menyelidiki kabar berita tentang "siluman perempuan kecil"
Itu, maka setelah Phang Tay-yu dan dua bersaudara dari keluarga Lau sudah keluar meninggalkan rumah penginapan, dia pun ikut meninggalkan tempat tersebut.Jarak antara tengah hari sampai senja waktu bersantap malam masih panjang, banyak jago persilatan yang berjalan-jalan di kota Nyo Yan mencoba untuk menyadap pembicaraan mereka meski yang dibicarakan adalah soal-soal dunia persilatan, namun tak seorang pun yang menyinggung tentang masalah "siluman perempuan kecil"
Itu.
Tapi Nyo Yan berhasil memperhatikan satu hal yakni orang-orang persilatan itu sangat gemar membeli ransum kering, kue su-jin-pia dan pia isi daging buatan Thio-gi hampir habis diborong mereka semua, ada semacam barang lagi yaitu sepatu rumput untuk mendaki gunung juga banyak dibeli orang.
Ada sepasang suheng-te yang memborong lima pasang sepatu rumput, begitu sampai di luar, sang sute lantas bertanya.
"Suko, kita hanya berdua, buat apa mesti membeli sepatu rumput sebanyak itu?"
Sang suheng segera menjawab.
"Siapa tahu kita harus melakukan pencarian selama lima atau tujuh hari di atas gunung, aku tidak terbiasa untuk berjalan kaki dengan kaki telanjang. Apalagi siapa tahu kalau ada sahabat yang tak kebagian sepatu rumput, kita pun bisa memberikan sepatu tersebut kepadanya sebagai ikatan persahabatan."
Nyo Yan yang mendengar pembicaraan itu segera turut memasuki toko penjual sepatu rumput itu, ternyata sepatu itu sudah habis terbel». Nyo Yan segera bertanya kepada pemilik toko itu.
"Di sekitar sini apakah terdapat bukit kenamaan?"
Dengan wajah tercengang pemilik toko itu menyahut.
"Kau membeli sepatu rumput apakah bukan untuk mendaki bukit Ci-lian-san? Bukitdi luar kota sana adalah Ci-lian-san, konon banyak tempat indah dan kenamaan di situ, hanya aku tak pernah naik ke situ."
Rupanya gunung Ci-lian-san amat panjang dan tinggi, merupakan sebuah gunung ternama di barat laut daratan Tionggoan.
Orang kuno membagi gunung Ci-lian-san menjadi selatan dan utara, Ci-lian-san utara adalah gunung Thian-san di Sinkiang.
Sedang Ci-lian-san selatan berada di barat daya propinsi Kam-siok (keresidenan Thio-gi).
Jarak antara utara dan selatan Ci-lian-san mencapai puluhan ribu li, bila orang harus berjalan dari Thian-san menuju Ci-lian-san selatan, orang biasa akan membutuhkan waktu setengah tahun.
"Karena kulihat banyak orang membeli sepatu rumput itu, aku pun ikut-ikutan membeli,"
Demikian NyoYan berkata.
"Rupanya mereka hendak mendaki gunung Ci lian-san?"
"Aku terka mungkin memang begitu. Ada beberapa orang tamu memang mencari tahu keadaan gunung Ci-lian-san kepadaku, sayang aku sendiri pun tidak tahu."
Mendengar ucapan itu, Nyo Yan segera berpikir.
"Jangan-jangan Liong Lcng-cu bersembunyi di gunung Ci-lian-san? Maka musuh-musuhnya pun mempersiapkan ransum kering dalam jumlah banyak untuk mencarinya di atas gunung? Tapi musuhnya bisa menghimpun banyak orang, paling tidak juga membutuhkan beberapa waktu, dari mana bisa tahu kalau dia masih berada di atas gunung Ci-lian-san tersebut..?"
Agar tidak memancing perhatian orang, dia pun tidak mencari berita lebih jauh.Setelah bersantap malam di kota, ia segera kembali ke rumah penginapan Im-lay.
0odwo0 Sebagian besar tamu dalam rumah penginapan pun juga sedang bersantap malam di ruang besar.
Sebagai sesama anggota persilatan, setiap orang menganggap yang lain sebagai rekan sendiri, yang tidak kenal pun menjadi kenal.
Suasana ramai di situ persis seperti suasana dalam suatu perjamuan perkawinan.
Di antara sekian banyak yang hadir, tentu saja terdapat Phang Tay-yu serta dua bersaudara Lau.
i Nyo Yan khawatir Lok Kan-tang ikut hadir pula, maka secara diam-diam ia kembali ke kamar sendiri.
Ternyata Li Wu-si maupun Lok Kan-tang tidak ikut keluar.
Nyo Yan segera memasang telinga baik-baik dan menyadap pembicaraan mereka.
Sejak kecil ia sudah melatih ilmu membedakan angin serangan, senjata rahasia sekecil jarum bwe-hoa-ciam pun bisa ditangkap suaranya bila digunakan untuk menyergapnya, tentu saja dia pun bisa mendengar suara pembicaraan orang.
Meski suara pembicaraan dari Li Wu-si dan Lok Kan-tang dalam kamarnya dilakukan dengan suara lirih, tapi dia masih dapat mendengar suara itu dengan jelas.
Terdengar Lok Kan-tang sedang berkata.
"Susiok, kau benar-benar kelewat tak tahu perasaan orang kita sudah menerima pelayanan orang, tapi kau, untuk berbicarabeberapa patah lebih banyak pun tak mau. Phang Tay-yu ingin memperkenalkan beberapa orang sahabat baru untukmu, kau pun berlagak tidak mendengar,* aaai, aku jadi rikuh sekali."
Li Wu-si segera mendengus dingin.
"Hmm, manusia macam Phang Tay-yu bisa mempunyai sahabat baik seperti apa? Selama dijalan aku memang kurang leluasa untuk mengucapkan hal tersebut tapi sekarang aku boleh memberitahukan kepadamu secara terus terang. Aku mengetahui dengan pasti Phang Tay-yu itu bukan jago dari golongan putih, lagi pula dia pun seorang pengawal istana. Dia adalah sahabat karib Nyo Bok, kalau Nyo Bok adalah pengawal kelas satu, maka dia adalah pengawal istana kelas dua."
"Dari mana kau mendengar berita ini? Bisa dipercayakan berita itu?"
Seru Lok Kan-tang terkejut "Tentu bisa dipercaya, tapi siapakah yang memberitahukan, aku tak dapat memberitahukan kepadamu!"
Lok Kan-tang tahu bahwa susiok-nya tak percaya kepadanya, ia merasa amat tak senang, katanya kemudian.
"Sekalipun dia seorang pengawal istana, toh tak ada sangkut pautnya dengan kita. Menurut pendapat siaun’t asal kita bisa berdiri dengan mantap, tidak berkomplot dengannya hal ini sudah cukup, apalagi dewasa ini kita masih dihadapkan dengan satu masalah, apa salahnya untuk bekerja sama dengan mereka?"
"Kau bilang apa? Bekerja sama?"
Sem Li-Wu-si dengan wajah gusar. Tanpa terasa dia telah mengucapkan perkataan itu dengan nada amat keras.Cepat Lok Kan-tang berbisik.
"Susiok, kecilkan suaramu, mereka semuanya ada di luar, kalau sampai didengar kan tidak enak?"
Sesungguhnya Li Wu-si adalah seorang yang teliti dan pandai mengendalikan diri, ia marah karena keponakan muridnya terlalu tak tahu diri.
Maka setelah dipikir sebentar, dia merasa walaupun tidak takut dengan Phang Tay-yu, memang tak ada perlunya untuk menyalahi dia.
Maka dengan merendahkan suaranya dia berkata lebih jauh.
"Baik. Kita lanjutkan pembicaraan selewat-nya tengah malam nanti, sekarang aku hanya menginginkan agar kau bisa memahami maksudku, aku tak ingin bekerja sama dengan orang-orang itu, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan kau usik manusia-manusia tersebut"
Sementara Li Wu-si yang berada di kamar makin merendahkan suaranya, dari luar ruangan kedengaran suara yang gegap gempita.
Beberapa orang sedang berteriak dengan suara kaget "Hei, Thian Ioji, mengapa kau menjadi begini rupa?"
"Mengapa kalian baru sampai hari ini? Bukankah kemarin kalian sudah tiba di Bu-wi?"
Menyusul kemudian seseorang berteriak dengan keras.
"Aai, jangan ditanya, jangan ditanya, aku betul-betul mau mati karena jengkeli"
Ternyata Im-tiong-siang-sat telah sampai di situ.
Keadaan lotoa Be Bong masih mendingan, hanya pakaiannya saja yang kotor penuh dengan lumpur.
Berbeda sekali dengan loji Thian Keng yang bertampang sangat "aneh" .Seperti diketahui, dia kena ditempeleng delapan kali oleh Nyo Yan, wajahnya yang membengkak hingga kini belum kempis, giginya copot dua biji hingga ucapan yang keluar dari mulurnya menjadi "ngo-bos", tak heran kalau nada suaranya "zas zis zas zus"
Amat menusuk pendengaran.
"Thian loji,"
Seseorang segera berseru sambil tertawa.
"Masalah apa yang membuatmu jadi kheki? Kalau aku tidak bertanya, dari mana bisa tahu…?"
Yang lain segera memanaskan suasana dengan berseru pula.
"Sungguh mengherankan, nama besar kalian Im-tiong-siang-sat kan dikenal setiap orang, siapa sih yang begitu berani mengusik kalian sampai kheki setengah mati?"
Phang Tay-yu segera melerai, serunya.
"Harap kalian jangan ribut dulu, biar aku yang mencari tahu duduknya persoalan, Thian loji, konon kocekmu kena dicuri orang sewaktu ada di kota Bu-wi, apakah hal ini yang membuat kalian jadi marah-marah?"
Cepat benar kabar berita yang diperolehnya, baru kemarin Im-tiong-siang-sat membuat kegaduhan di rumah makan kota Bu-wi, hari ini beritanya sudah dia terima.
Mendengar persoalan itu disinggung kembali, Thian Keng segera berkaok-kaok marah.
"Keparat itu bukan cuma mencuri kocekku, kuda tunggangan kami pun dibawa lari!"
Orang yang rupanya sengaja hendak memanaskan suasana itu segera berseru lagi.
"Ooh, rupanya kalian datang dengan berjalan kaki, tak heran kalau sampai sekarang baru tiba. Cuma, Thian loji, makin kudengar ceritamu makin bingung rasanya hatiku. Kalau kocek dicuri orang bukan sesuatu yanganeh, tapi mengapa kuda tunggangan kalian bisa dicuri orang?"
"Waah, aku pikir kata ‘dicuri1 seharusnya diganti ‘dirampas1, begitu baru lebih tepat bukan begitu Thian loji?"
Sambung yang lain.
"Ayolah berterus terang, apakah kau sudah kena dipermak oleh bocah keparat itu?"
Dari malu Thian Keng menjadi naik pitam, segera bentaknya keras-keras.
"Bagus sekali, locu sedang menderita rugi, kalian malahan kelihatan sangat gembira."
Buru-buru Phang Tay-yu melerai, katanya.
"Kita semua orang sendiri, buat apa mesti saling bentrok? Thian loji, kami semua ingin membantumu. Beberapa orang teman ini bertanya lebih banyak mungkin disebabkan mereka ingin mengetahui lebih jelas duduk persoalan, harap kau jangan salah paham."
Agaknya orang itu pun merasa gurauannya sedikit keterlaluan, buru-buru dia minta maaf kepada Thian Keng, ujarnya.
"Thian loji, kau menderita kerugian kami pun turut merasa sedih. Cuma kalau kami tak mencari tahu bocah keparat itu berasal dari mana bagaimana mungkin kami bisa membantumu?"
Saking malunya paras muka Thian Keng berubah menjadi merah padam. Be Bong segera berkata.
"Kalau dibicarakan sebetulnya memalukan sekali, kami sama sekali tak bisa mengetahui asal-usul keparat itu. Tapi keparat tersebut sudah merebut kuda milik Lo-j i, aku duga dia sudah kabur kemari. Aku memang ingin bertanya kepada kalian, adakah di antara kalian yang melihat bocah keparat tersebut? Ia berusia antara delapan sembilanbelas tahun berkulit agak hitam, tapiwajahnya amat bersih dan tampan, bulat telur bentuk kepalanya dengan sepasang mata yang amat besar."
Ketika para jago mendengar bahwa Im-tiong-siang-sat telah menderita kerugian di tangan seorang "bocah keparat"
Yang belum mencapai usia duapuluh tahun, tak tahan lagi mereka saling berpandangan dengan perasaan terkesiap.
Sewaktu Nyo Yan masuk di dalam rumah penginapan tadi, orang-orang itu sudah berkumpul di ruangan tengah.
Di dalam anggapan Nyo Yan, begitu Thian Keng melukiskan potongan wajahnya, maka pasti ada orang yang akan menjawab pertanyaan itu, siapa tahu tak seorang manusia pun yang buka suara Rupanya orang-orang itu tadi sedang berbincang dengan gembira, sedangkan dandanannya mirip sekali dengan seorang kacung kecil pembersih rumah penginapan, tak heran kalau tak seorang pun yang menaruh perhatian terhadapnya.
Nyo Yan menghela napas panjang, pikirnya.
"Untung sewaktu aku memohon tempat pemondokan dari ciangkwee tersebut, tak seorang manusia pun yang berada di sekitar situ."
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, terdengar Lau Hok-pi sudah berkata.
"Eeeh… bocah keparat yang kau maksudkan ini, tampaknya seperti pernah kulihat"
Ternyata sewaktu dia mendayung perahu di sungai tadi dan kebetulan melewati perahu yang ditumpangi Nyo Yan, anak muda tersebut telah mendatangkan kesan yang mendalam baginya.Berhubung ia pernah berjumpa dengan pemuda tersebut, maka ketika Nyo Yan berjalan masuk tadi, tanpa terasa ia memandang sekejap ke arahnya.
Hanya saja waktu itu tidak dipikirkan di dalam hati.
Be Bong menjadi girang sekali setelah mendengar perkataannya itu, dia bertanya.
"Di manakah kau pernah bertemu dengan bocah terbut?"
"Ketika menyeberangi sungai bk-sui, kami berjumpa dengan seorang pemuda yang tampangnya mirip dengan…."
Sebenarnya dia hendak mengatakan kalau buronan tersebut tinggal di dalam rumah penginapan tersebut, siapa tahu ketika ia berbicara sampai di tengah jalan, mendadak Phang Tay-yu tertawa sambil menukas perkataannya.
"Haah… haah… haah… saudara Lau, aku kenal dengan pemuda yang kau maksudkan itu dia bukan bocah keparat yang telah mencuri kocek milik Thian Ioji."
Nyo Yan yang mendengarkan perkataan itu menjadi tertegun, pikirnya.
"Bagaimana mungkin dia bisa kenal denganku? Atas dasar apa dia mengatakan kalau aku bukanlah bocah keparat tersebut?"
Terdengar Phang Tay-yu berkata lebih jauh.
"Siapa nama pemuda itu aku sudah lupa, tapi aku masih ingat pernah bertemu dengannya ketika tahun berselang aku pergi ke per-kampungan Hek-sik-ceng di Gi-wu untuk menyampaikan selamat ulang tahun kepada Lui cengcu. Waktu itu dia menjadi penerima tamu dari Lui cengcu, aku duga mungkin sekali dia adalah salah seorang murid Lui cengcu."
"Phang toako,"
Terdengar seseorang bertanya "yang kau maksudkan sebagai Lui cengcu itu apakah Lui Ting seorang Bulim cianpwe yang berdiam di Ci-say?"
"Benar. Walaupun Gi-wu hanya salah satu keresidenan kecil dalam propinsi Ci-say namun Lui cengcu itu mempunyai nama yang amat besar, ketika dia melangsungkan perayaan hari ulang tahunnya yang kelimapuluh tahun berselang, tamu yang datang pun mencapai seribu orang lebih, sedangkan orang yang bertindak sebagai penerima tamunya meski tak mencapai seratus orang, delapanpuluh orang pun lebih. Di antara penerima-penerima tamu itu sedikit yang kukenal, tapi banyak sekali di antara mereka yang kenal dengan aku.
"Begitu aku sampai di Hek-sik-ceng, tiada hentinya orang datang menghidangkan air teh, memberi makanan kecil, pelayanan mereka rata-rata ramah sekali, sedemikian banyaknya mereka sehingga aku tak dapat mengingat nama mereka satu per satu."
Apa yang diucapkan olehnya memang amat cocok dengan keadaan yang sebenarnya, apalagi dengan kedudukannya dalam dunia persilatan serta pergaulannya yang begitu luas, tentu saja nama-nama yang bisa teringat olehnya hanya nama-nama dari para jago kenamaan, bagaimana mungkin dia bisa mengingat nama dari seorang manusia kecil?
Terdengar Phang Tay-yu berkata lebih jauh.
"Justru karena aku tidak teringat lagi akan namanya, maka sewaktu bertemu di sungai tadi, walaupun aku merasa orang itu seperti pernah kukenal, tapi rikuh untuk menyapanya,"
"Sebetulnya manusia rendah seperti itu tidak pantas bagi Phang toako untuk mengurusinya, kalau toh bukan bocah muda tersebut, kita pun tak usah membicarakan tentang dirinya lagi,"
Kata Thian Keng kemudian dengan cepat.
Sebenarnya Lau Hok-pi hendak mengatakan kalau pemuda tersebut kini berada di rumah penginapan tersebut, tapi setelah tahu kalau pemuda itu bukan orang yang dicurigai,sebaliknya hanya seorang manusia kecil yang tak berarti apa-apa — tentu saja tak ada manusia yang bakal tertarik dengan manusia rendah semacam itu — maka dia pun mengurungkan niatnya Nyo Yan yang menyadap pembicaraan itu dari kegelapan menjadi keheranan sekali, pikirnya.
"Aku belum pernah berkunjung ke Gi-wu, lebih-lebih tak pernah kenal dengan manusia yang bernama Hek-sik cengcu. Aneh, mengapa Phang Tay-yu membantuku berbohong? Aku tidak percaya kalau ia benar-benar pernah bertemu dengan seseorang yang berwajah mirip denganku di Gi-wu…."
Dalam pada itu, lotoa Be Bong yang jauh lebih teliti juga merasa agak curiga, pikirnya.
"Berbicara dari kedudukan Phang lotoa sekarang, sekalipun Lau Hok-pi telah salah melihat orang, seharusnya dia cukup berkata bukan, mengapa mesti dipakai ucapan yang berlebihan untuk memberi keterangan bagi seorang manusia yang tak punya nama?"
Mendadak terdengar Phang Tay-yu berkata sambil tertawa.
"Kalian tak usah khawatir tidak punya uang untuk dipakai, berapa pun uang kalian yang tercuri, biar aku yang mengganti. Kamar pun sudah kuse-diakan untuk kalian, sekarang lebih baik pergilah beristirahat dulu."
Kalau berada dalam keadaan biasa, Im-tiong-siang-sat tidak nanti akan mengutarakan uang yang hilang secara jujur, tetapi sekarang Be Bong telah berkata.
"Soal uang perak tidak terlalu banyak tapi kami memiliki beberapa butir kedelai emas yang kena dicuri bajingan itu, kalau tidak dikejar kembali, rasanya terlalu keenakan baginya."
"A ah, itu sih urusan kecil,"
Seru Phang Tay-yu sambil tertawa.
"Soal emas pun biar kubayar juga untukmu.""
Aah, masa kami minta emasmu? Apalagi keenakan bajingan cilik itu,"
Seru Thian Keng pula.
"Saling tolong di antara teman adalah suatu hal yang lumrah, untuk sementara waktu pakailah dahulu beberapa puluh tahil emas ini. Tak bakalan bajingan kecil itu keenakan, serahkan saja urusan itu kepadaku, tanggung akan kutemukan kembali seluruhnya."
Selesai berkata, dia segera menyodorkan setumpuk daun emas ke tangan Thian Keng, paling tidak jumlahnya mencapai dua tigapuluh tahil, Thian Keng segera membungkam Waktu itu, sang ciangkwee pun sedang memasang telinga untuk turut mendengarkan pembicaraan yang berlangsung, makin didengar ia semakin terkejut; pikirnya kemudian.
"Jangan-jangan kedelai emas dari si dewa harta kecil itu berasal dari barang curian?"
Mendadak Be Bong mendekati meja kasir, lalu mencengkeram bajunya sambil membentak.
"Hei, bicara, apakah kau telah melihat bajingan cilik itu? Cepat jawab dengan jujur!"
"Aku… aku tak pernah menjumpainya!"
Jawab ciangkwee dengan suara gemetar.
"Kalau tak pernah bertemu kenapa wajahmu kelihatan kaget dan gugup? Apakah kau telah menerima hasil rampokannya dan menyembunyikan baginya?"
Tampaknya ciangkwee itu pun terhitung seorang yang licik, buru-buru dia berseru keras.
"Aku adalah seorang saudagar yang jujur buat apa kuterima barang rampokan dari kaum pencoleng? Aku jadi kaget dan takut karena belum pernah tempat ini didatangi perampok, sudah lama tempat ini amantenteram, jangankan terjadi peristiwa semacam itu, mendengar pun belum pernah."
Setelah barang berada di tangan, tentu saja ia tak mau berterus terang, sebab bila dia mengaku, bukan saja ketiga biji kedelai emas itu bakal dirampas kembali oleh pemiliknya, malah bisa jadi ia akan dituntut di dalam pengadilan dan dijebloskan ke dalam penjara.
Buru-buru Phang Tay-yu maju sambil menarik Be Bong, katanya sambil tertawa.
"Be toako, kau telah salah menuduh orang baik. Aku cukup mengetahui watak dari ciangkwee ini, ia adalah manusia yang jujur dan baik hati, orang yang tampaknya sedikit mencurigakan, jangan harap berani ia terima untuk menginap di rumah penginapannya, apalagi kepandaian yang dimiliki bajingan kecil itu tidak lemah, sudah pasti dia merupakan seorang jago dalam dunia persilatan. Setelah berhasil mencuri emas kalian, masa dia tak akan kabur sejauh-jauhnya? Im-lay adalah rumah penginapan paling besar di kota Thio-gi, apalagi selama dua hari ini banyak teman dari pelbagai daerah yang berdatangan kemari, coba bayangkan sendiri, masa dia akan lari kemari dan bertindak bodoh dengan memasukkan diri sendiri ke dalam jebakan?"
Setelah Phang Tay-yu berkata demikian, tentu saja B e B ong merasa tidak leluasa untuk mendesak ciangkwee itu lebih jauh, namun rasa curiga di dalam hatinya belum juga hilang, segera katanya lagi.
"Phang toako, bukannya aku kele-wat sayang dengan emas-emas tersebut, berhubung bajingan itu kele-wat menjengkelkan, maka aku berusaha untuk membekuknya. Mungkin lantaran hatiku sedang gelisah hingga ucapanku pun melantur dan menyalahi teman-temanmu. Phang toako, untuk itu harap kau jangan marah."
Kata "teman"
Di sini berarti ganda, bisa dipakai untuk menunjukkan si pemilik penginapan, bisa juga ditujukan untuk si bajingan kecil.
Orang lain bisa jadi tak mengerti, tidak demikian dengan Phang Tay-yu, tentu saja dia memahami dengan jelas.
Seketika itu juga Phang Tay-yu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… kau tak usah khawatir Be lotoa. Aku sudah menyanggupi permintaanmu untuk menyelidiki persoalan ini, maka aku pasti akan melakukannya hingga tuntas. Sekarang beristirahatlah dahulu, malam nanti silakan datang ke kamarku, ada sedikit persoalan yang hendak kubicarakan dengan kalian."
Be Bong yang cerdik segera memahami maksud hatinya, dia segera menyahut.
"Baik, sampai waktunya nanti aku akan meminta petunjuk lagi dari Phang toako."
"Bisa jadi besok akan terjadi suatu peristiwa. Sekarang, lebih baik semuanya pergi tidur."
Im-tiong-siang-sat berlalu lebih dulu, tak lama kemudian yang lain pun kembali ke kamar masing-masing.
Nyo Yan berbaring di atas pembaringan sambil menghilangkan lelah, semakin dipikir ia merasa persoalan tersebut makin aneh.
Sudah jelas Phang Tay-yu ada maksud untuk Mmelindungi"nya secara diam-diam, tapi mengapa?
Pikir punya pikir, hal itu belum juga dipahami, terpaksa dia pun tidak memikirkannya lebih jauh.
Kini seluruh perhatiannya dihimpun untuk memperhatikan pembicaraan yang berlangsung di kamar seberang sanaKurang lebih kentongan kedua, ia sudah mendengar lagi suara pembicaraan dari Li Wu-si dengan Lok Kan-tang, cuma pembicaraan mereka agaknya dilangsungkan dengan ditahan-tahan sehingga meski pendengarannya cukup tajam, namun apa yang terdengar kurang begitu jelas.
Di halaman depan terdapat dua buah gentong air sebesar manusia, kebetulan dua buah gentong air itu terletak di jendela belakang kamar Li Wu-si dan Lok Kan-tang Diam-diam Nyo Yan segera menerobos ke luar, lalu menyembunyikan diri di belakang gentong untuk menyadap pembicaraan mereka.
Terdengar Lok Kan-tang sedang berkata.
"Susiok, aku pun memperhatikan juga bajingan cilik yang mereka maksudkan tadi. Aku tahu dia pun berdiam di rumah penginapan ini. Tapi ada satu hal yang tidak kupahami, yakni Phang Tay-yu telah salah melihat orang ataukah dia sengaja berbohong?"
"Phang Tay-yu berbohong dalam soal apa?"
Tanya Li Wu-si.
"Sewaktu dia mencari kamar pemilik penginapan tadi, aku dapat mendengar kalau logatnya tidak mirip orang Kanglam. Seandainya orang itu benar-benar murid Lui Teng, cengcu dari perkampungan Hek-sik-ceng, seharusnya logatnya bukan logat bangsa Han yang berdiam di wilayah Tibet"
Diam-diam Nyo Yan merasa terkejut, sekarang dia baru tahu meski tadi mereka bersembunyi terus dalam kamar, namun gerak-geriknya sudah diperhatikan sedari tadi.
"Kusangka Lok Kan-tang cuma seorang cecunguk yang bodoh, rupanya dia pintar dan cermat lagi. Untung dia cuma mencurigai logatku, dan belum lagi mengenali siapakah aku,"
Demikian pemuda tersebut berpikir diam-diam.Belum habis dia berpikir, terdengar Li Wu-si telah berkata.
"Buat apa kau mengurusi persoalan orang lain?"
"Aku rasa bukan urusan orang lain, melainkan persoalan yang harus kita kerjakan! Susiok aku curiga kalau bocah keparat itu adalah Nyo Yan…!"
"Aku rasa tidak begitu mirip."
"Sekarang dia sudah dewasa, sudah barang tentu paras mukanya jauh berbeda dengan semasa kecil dulu,"
Seru Lok Kan-tang dengan cemas.
‘Tapi menurut pendapatku, dia masih tetap mirip seperti semasa masih kecil dahulu bahkan logat suaranya juga betul, aku rasa sudah pasti dia!
" ‘Tak peduli benarkah dia atau bukan, aku melarang kau untuk bertindak gegabah!"
Padahal sedari tadi dia sudah tahu kalau pemuda itu adalah Nyo Yan, hanya lantaran dia khawatir kalau keponakan muridnya ini bertindak secara gegabah, maka hai yang sebenarnya tidak berani diutarakan.
"Bukankah kita sedang berupaya untuk membekuk bajingan cilik itu sampai kini berada di kota Tio-gi?"
Seru Lok Kan-tang lagi.
"Kau suruh aku bekerja secara bagaimana hingga bisa dikatakan sebagai teliti dan seksama?"
"Aku hendak bertanya lebih dulu kepadamu, bagaimana menurut pen-dapatmu sendiri, apakah segera menyerbu ke dalam kamarnya dan membekuk dia?"
"Susiok, kau tak usah memanasi hatiku, aku tahu ilmu silat yang kumiliki masih belum mampu untuk menandingi Nyo Yan si bocah keparat itu, bahkan sekalipun kita berdua bekerja sama pun belum tentu mampu untuk menghadapinya."
"Asal kau sudah tahu, ini lebih baik lagi."
"Bajingan itu sudah menghina suheng-ku, melukai suhu-ku, sekarang aku tahu kalau dia berada di dalam rumah penginapan ini, masa kulepaskan dia sambil membelalakkan mata?"
"Kalau tidak dilepaskan lantas harus berbuat bagaimana?"
"Walaupun kita belum tentu sanggup untuk menghadapi bocah keparat itu, namun toh masih bisa menghadapinya dengan akal?"
"Bagaimana akalmu itu?"
"Phang Tay-yu serta orang-orangnya datang karena siluman perempuan kecil, sedangkan siluman perempuan kecil itu pun masih terhitung musuh dari Thian-san-pay kita! Mengapa kita tidak mengajak mereka untuk bekerja sama saja?"
"Ooh, jadi bicara pulang pergi, kau masih tetap berkeinginan untuk mengundang Phang Tay-yu sekalian untuk membantu, siapa pun tidak berhutang budi kepada yang lain."
"Menurut apa yang kuketahui, besok mereka hendak berangkat ke gunung Ci-lian-san untuk mencari siluman perempuan kecil itu, bila kita meminta bantuan mereka peda hari ini, kita pun bisa menyanggupi mereka untuk membantunya esok."
"Hmmm, perhitunganmu benar-benar sangat bagus, tapi sayang aku tak dapat berbuat demikian!"
Seru Li Wu-si dengan suara sedingin es. Walaupun suaranya masih pelan, namun sudah bernadakan amarah yang berkobar. Lok Kan-tang sungguh merasa tak puas, kembali dia berseru.
"Susiok, menurut rencana kita semula, bukankah kitahendak memperalat orang-orang itu untuk mencari siluman perempuan kecil itu, kemudian dari siluman perempuan kecil itu kita baru mencari Nyo Yan? Kini kita tak usah bersusah payah membuang banyak tenaga lagi, apalagi sekali tepuk mendapat dua hasil?"
Belum habis dia berkata, terdengar Li Wu-si telah berseru dengan suara dalam.
"Bukankah sudah kuberitahukan kepadamu? Phang Tay-yu adalah seorang pengawal istana raja, dia adalah sahabat karib Nyo Bok?"
"Betul, baru saja kau memberitahukan hal itu kepadaku. Tapi sewaktu kau menyusun rencana tersebut, bukankah sudah kau ketahui dengan jelas asal-usul dari Phang Tay-yu?"
"Aku sama sekali tidak berniat untuk mengajak mereka bekerja sama, aku hanya ingin mencari tahu jejak siluman perempuan kecil itu melalui mereka. Biarkan saja mereka mengerjakan urusan mereka sendiri, dan kita mengerjakan urusan kita sendiri. Siapa yang menemukan siluman perempuan cilik itu lebih dahulu, siapa yang turun tangan lebih dulu dialah yang lebih hebat."
"Tapi siluman perempuan cilik itu pun tidak gampang dibekuk, Nyo Yan si bocah keparat juga sukar dihadapi. Asal tidak berkomplot, apa salahnya untuk bekerja sama dengan mereka dalam menyelesaikan suatu masalah? Mengenai Phang Tay-yu adalah sahabat karib Nyo Bok, kita toh boleh tak usah memberitahukan kepadanya bahwa bocah keparat itu adalah putra Nyo Bok."
"Pernahkah kau berpikir bahwa perbuatan semacam ini akan merusak nama baik Thian-san-pay?"
Lok Kan-tang menjadi tak senang hati, serunya cepat.
"Perkataan susiok kelewat serius bukan? Hal ini hanya merupakan suatu siasat, suatu taktik belaka, bagaimana mungkin bisa mempengaruhi nama baik perguruan? Menurutpendapat siautit, bila gagal membekuk pengkhianat tersebut, hal tersebut baru benar-benar akan merusak nama baik per-guruan,"
"Walaupun Thian-san-pay kita tidak mengibarkan bendera menentang pemerintah penjajah, tapi aliran yang kita anut adalah sejalan dengan para patriot pembela bangsa! Betul, membersihkan perguruan dari murid murtad memang penting, tapi menjaga nama bersih kita sebagai golongan ksatria pembela bangsa adalah sesuatu yang jauh lebih penting lagi! Apa jadinya bila kita sampai bekerja sama dengan kaum kuku garuda bangsa Manchu? Apabila kau tak puas dengan pertim-banganku ini sekembalinya ke gunung boleh minta pertimbangan dari ciangbunjin! Tapi sekarang kau harus menuruti perkataanku."
Li Wu-si sebenarnya amat sabar dan tidak pernah marah-marah besar, walaupun suaranya kecil, namun setiap patah kata yang diucapkan seolah-olah suatu ledakan guntur di telinga Lok Kan-tang.
Pada hakekatnya Lok Kan-tang benar-benar kena didamprat sampai pusing kepalanya, tapi setelah itu dia tak berani berkutik lagi, sambil menahan rasa dongkol dan menundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya.
"Kau adalah susiok, tentu saja aku harus menuruti setiap perkataanmu itu."
Pembicaraan mereka pun terhenti sampai di situ, tiada orang yang buka suara lagi.
Baru saja Nyo Yan hendak kembali ke kamar sendiri, mendadak dari kamar yang lain kedengaran ada orang sedang berbicara.
"Phang lotoa, apa maksudmu? Aku sama sekali tidak habis mengerti ulahmu ini?"
Suara tersebut berasal dari Thian Keng loji dari Im-tiong-siang-sat….
Kamar tidur Phang Tay-yu terletak di sayap barat rumah penginapan itu, dengan kamar Nyo Yan boleh dibilang terpaut beberapa puluh kamar.
Tapi berhubung suara dari Thian Keng sangat keras dan kasar, maka suara tersebut berhasil didengar Nyo Yan.
Dengan cepat Nyo Yan tersadar kembali, ia teringat dengan janji Phang Tay-yu untuk mengadakan pembicaraan dengan Im-tiong-siang-sat malam itu dalam kamarnya, waktu itu Im-tiong-siang-sat sedang berusaha untuk menelusuri jejaknya.
"Jangan-jangan mereka sedang membicarakan persoalanku pada saat ini…?"
Pikirnya. Dengan cepat pemuda itu memasang telinganya baik-baik, tetapi secara lamat-lamat dia hanya mendengar Phang Tay-yu berseru "Sstt"
Kemudian kata selanjurnya tidak kedengaran berhubung jaraknya terlampau jauh.
Dengan cepat Nyo Yan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan secara diam-diam menyelinap ke belakang jendela kamar Phang Tay-yu untuk menyadap pembicaraan mereka.
Terdengar Phang Tay-yu berkata.
"Pelan sedikit kalau bicara, hati-hati di balik dinding ada telinga!"
"Kamar depan ditempati oleh Ho losam, kamar sebelah kiri ditempati Goucaycudari Gin-ma-juan, kamar sebelah kanan ditempati Ho cengcu, sedang kamar di sebelah depan samping ditinggali Ku caycu dari Hek-hong-Iim, bukankah orang-orang itu semua adalah sahabat karib Phang lotoa..?"
"Sekalipun di antara sahabat karib juga terpisah oleh hubungan persahabatan belaka persoalan ini aku tak ingin memberitahukan kepada orang-orang lain yang sama sekali tiada hubungannya"
Thian Keng yang mendengar perkataan itu menjadi amat nyaman hatinya, segera ujarnya, Terima kasih banyak atas kesudian Phang lotoa menganggap kami sebagai orang sendiri, tapi aku masih tidak habis mengerti obat apakah yang sedang kau jual di dalam buli-bulimu itu?
Kau sudah berjanji akan membantu kami untuk melacak jejak bajingan kecil itu, malah menganjurkan kepada kami agar jangan menyebarluaskan berita tersebut keluar?"
"Pepatah kuno mengatakan, kejelekan rumah tangga jangan disiarkan keluar, bila kalian menderita kerugian, mengapa orang luar harus tahu akan hal ini?"
Merah padam selembar wajah Thian Keng lantaran jengah, segera sahurnya dengan cepat.
"Aku menceritakan kejadian ini saban kali bertemu orang. Aku hanya meminta sahabat-sahabat sealiran untuk membantuku melakukan penyeli-. dikan, apa salahnya?"
"Aku harus berbicara lebih jelas lagi kepadamu, persoalan ini bukan saja kuharap jangan kalian siarkan keluar, bahkan aku pun berharap agar kalian jangan menyelidiki masalah ini lebih jauh, paling baik lagi kalau kalian menganggap seakan-akan tidak pernah bertemu dengan bajingan kecil itu, seolah-olah melupakan dia!"
Thian Keng segera menyerbu ke muka, teriaknya.
"Aku sudah ditempeleng sebanyak delapan kali oleh bajingan cilik itu, dua gigi depanku sampai copot, dendam sakit hati semacam ini bagaimana mungkin bisa kulupakan?"
"Kuncu membalas dendam, sepuluh tahun pun belum terlambat. Anggap saja kalian memberi muka untukku, dengan satu tahun sebagai batas waktunya, harap selama batas waktu tersebut belum habis, kalian jangan menyelidiki persoalan ini lagi."
"Mengapa?"
"Masa kalian tak percaya denganku?"
"Phang toako, tentu aku percaya kalau engkau akan membantu kami dengan sepenuh tenaga, tapi apa salahnya bila lebih banyak teman yang membantuku dalam hal ini?"
"Mengapa sih kau tidak memahami maksudku?"
Kata Phang Tay-yu dengan kening berkerut.
"Aku suruh kalian jangan menyebarkan persoalan ini, tujuannya adalah tak ingin orang yang lebih banyak tahu akan persoalan ini."
"Phang toako,"
Tiba-tiba Be Bong berseru.
"kalau toh kau sudah menganggap kami sebagai orang sendiri, harap kau suka berterus terang benarkah bajingan cilik itu adalah sahabatmu?"
"Mungkin bukan cuma sahabat saja"
"Benar katakan benar, kalau bukan katakan bukan. Mungkin bukan cuma sahabat, apa sih maksudmu?"
"Mungkin bajingan cilik itu masih ada sedikit hubungan denganku, tapi aku tak berani memastikan."
"Kalau begitu, kau sudah tahu siapakah bocah keparat itu?"
Seru Thian Keng cepat.
"Tak ada salahnya kalau aku berbicara terus terang kepada kalian, aku bukan ’sudah tahu’ melainkan sudah menduga siapakah dia."
"Siapa?"
Tanpa terasa Im-tiong-siang-sat bertanya "Menurut apa yang kuketahui, orang muda yang berilmu tinggi dan baru muncul dalam dunia persilatan belakangan ini hanya dua orang, oleh karenanya aku duga orang yang dapat membuat kalian Im-tiong-siang-sat menderita kerugian besar pastilah salah satu di antara kedua orang itu."
"Siapakah kedua orang itu…?"
"Yang pertama adalah Ki See-kiat."
"Aku tahu Ki See-kiat itu, dia adalah putra Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh, konon Kwangtang toato (Perampok Besar dari Kwangtang) Utti Keng pun keok di tangannya Seandainya dia, terpaksa kita hanya bisa mengaku sedang sial."
"Bukan dia. Ilmu Lak-yang-jiu dari Nyo toakoh sudah amat termasyhur dalam dunia persilatan, tetapi kepandaian yang digunakan bajingan cilik itu bukan Lak-yang-jiu, aku dapat melihatnya,"
Seru Be Bong dengan cepat "Aku pun menduga kalau dia bukan Ki See-kiat Pertama, cara kerjanya tidak cocok."
"Walaupun aku belum pernah bertemu dengan Ki See-kiat tetapi menurut kata orang, dia meski muda namun tindak-tanduknya merupakan seorang lelaki sejati."
"Kalau lelaki sejati lantas kenapa?"
Ucap Thian Keng.
"Aku justru paling muak dengan manusia-manusia yang suka menganggap dirinya sebagai anak sekolahan itu."
Phang Tuy-yu segera tertawa tergelak.
"Kau membenci kaum kongcu adalah satu masalah, tapi dengan wataknya, mustahil dia bisa berbuat ulah seperti itu.Apalagi mencuri kocek berisi uang milik kalian, pada hakikatnya hal tersebut tak mungkin dilakukan olehnya "
Kedua, menurut keterangan kalian, bajingan cilik itu baru berusia delapan-sembilanbelas tahunan, sedang menurut apa yang kuketahui usia Ki See-kiat sudah mencapai duapuluh tujuh-dclapan tahunan."
"Lantas siapakah nama dari pemuda lain yang berilmu silat sangat tinggi itu?"
"Usia orang ini persis seperti apa yang kalian lukiskan, lagipula ilmu silat yang dimiliki pun konon jauh lebih tinggi daripada ilmu silat yang dimiliki Ki See-kiat."
Dengan terkejut Thian Keng berseru.
"Masih lebih hebat daripada Ki See-kiat? Siapakah orang itu? Cepat katakan!"
"Pemuda tersebut bernama Nyo Yan."
Lm-ttong-siang-sat sama-sama menjadi terkejut, buru-buru serunya bersama.
"Nyo Yan? Nama ini belum pernah kami dengar."
Nyo Yan yang berada di luar jendela dan sedang menyadap pembicaraan itu pun merasa amat terkejut, segera pikirnya.
"Phang Tay-yu betul-betul sangat lihay, rahasiaku berhasil juga diketahui olehnya."
Belum habis dia berpikir, terdengar Phang Tay-yu berkata lebih jauh.
"Kalian tentunya tahu Nyo BokT "
Nyo Bok adalab seorang busu kenamaan dari Po-teng, masa kami tidak tahu?"
Sahut Im-tiong-siang-sat bersama-sama.
"Dia kan adik Lak-jiu-Koan-im dan sudah belasan tahun lamanya lenyap dari dunia persilatan…?"
"Sebetulnya dia tidak lenyap, melainkan bersama aku menjadi pengawal kaisar dalam istana!"
Phang Tay-yu segera menerangkan. Be Bong menjadi mengerti sekarang buru-buru dia bertanya.
"Lantas apa hubungan Nyo Yan dengan Nyo Bok?"
"Dia adalah putranya."
Be Bong segera tertawa getir.
"Ooh, rupanya begitu, tak heran kalau kau melarangku untuk me-nyelidiki persoalan ini lebih jauh."
"Kalian jangan salah paham, betul Nyo Bok adalah temanku, tapi dengan kalian pun aku berteman, tanpa ada perbedaan siapa teman akrab siapa tidak. Aku tidak melin-dungi bajingan cilik itu lantaran hubungannya dengan Nyo Bok."
"Lantas karena apa?*’ "
Karena suatu persoalan yang penting. Maaf aku tak bisa menerangkan kepada kalian sekarang."
Thian Keng adalah seorang lelaki yang kasar, dia mengira orang itu membela Nyo Yan, maka dengan gusar serunya.
"Phang lotoa, kalau kau tidak merasa leluasa untuk memberitahukan hal tersebut kepada kami ya sudahlah. Pokoknya kami memang sedang sial…."
Phang Tay-yu segera tertawa.
"Thian loji, kau jangan marah, bukannya aku melarangmu untuk membalas dendam, tapi setahun kemudian, kalian boleh mencarinya untuk membuat perhitungan, bukan saja aku tak akan menghalangi bahkan bersedia membantumu secara diam-diam."
"Mengapa harus menunggu sampai setahun kemudian?"
Tanya Thian Keng dengan wajah tercengang.
Phang Tay-yu cukup mengetahui wataknya, seandainya hal tersebut tidak diterangkan kepadanya, niscaya dia tak akan berdiam diri dengan begitu saja.
Khawatir hal itu akan menyebabkan urusan makin terbengkalai, terpaksa diaberkata.
"Batas waktu setahun yang kumaksudkan tadi bukan cuma perkataan tanpa dasar.
Sebab sekarang kami sedang memperalat Nyo Yan untuk melaksanakan suatu tugas, dan persoalan itu luar biasa sekali, dan hanya dia seorang yang bisa melaksanakannya dengan sukses; bukan aku tak percaya dengan kalian, tapi aku sudah mendapat perintah yang melarangku membocorkan rahasia ini, kalau tidak, kepalaku bisa berpindah tempati lak usah khawatir, setahun kemudian bila Nyo Yan telah menyelesaikan tugas tersebut pasti akan kuberi kabar lagi kepada kalian.*’ Nyo Yan yang mendengar perkataan tersebut menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Yang dimaksudkan oleh Phang Tay-yu sudah pasti masalah usahaku membunuh Beng Goan-cau, rupanya mereka sedang memperalat diriku."
Tapi ia telah menyanggupi di depan ayahnya untuk melaksanakan pembunuhan tersebut, lagi pula dia pun masih menganggap Beng Goan-cau sebagai musuh besarnya.
Maka dia hanya bisa berpikir ke arah "kebaikan"nya saja.
"Kalau berbicara untuk Phang Tay-yu, Beng Goan-cau merupakan orang yang paling dibenci dan paling ingin dibunuh, padahal mereka tidak memiliki kepandaian untuk berbuat demikian, tentu saja dia ingin memperalat aku. Tapi berbicara untuk ayah, tak mungkin bukan kalau dia sedang ‘memperalat’ diriku untuk naik pangkat? Ia telah berjanji kepadaku, asal aku telah membunuh Beng Goan-cau, maka ia akan mengikutiku untuk mengasingkan diri di tengah gunung dan hidup berbahagia di sana. Membunuh Beng Goan-cau tak lebih hanya salah satu syarat dari bersatunya kembali kami ayah dan anak. ‘Tapi hal ini merupakan rahasia kami berdua mengapa dia memberitahukan persoalan ini kepada Phang Tay-yu?"
Sementara itu Phang Tay-yu sudah berkata lagi, ‘Tahukah kalian, dalam rumah penginapan ini terdapat dua orang yang justru tidak enggan menyalahi putra Nyo Bok.
mereka justru tak memandang sebelah mata pun terhadap Nyo Bok.
Andaikata mereka mengetahui kalau bocah keparat tersebut berada di sini, sudah pasti bocah keparat itu akan segera mereka tangkap."
"Siapakah kedua orang itu?"
Tanya Thian Keng cepat. Agaknya Be Bong sudah dapat menduga beberapa bagian, dia segera berkata.
"Apakah Li Wu-si dan Lok Kan-tang?"
"Betul."
"Mengapa mereka hendak menangkap bocah keparat itu?"
Kembali Thian Keng bertanya.
"Sebab Nyo Yan adalah murid Thian-san-pay."
"Hei, bukankah Li Wu-si serta Lok Kan-tang juga berasal dari partai Thian-san?"
Thian Keng makin tercengang.
"Justru itulah persoalannya. Lok Kan-tang masih mendingan, sebaliknya Li Wu-si justru merupakan manusia yang punya kedudukan dalam Thian-san-pay! Dia seangkatan dengan keempat murid utama Thian-san-pay; konon ilmu silatnya tidak berada di bawah keempat murid utama tersebut"
"Waah, aku semakin bingung jadinya. Kalau toh bocah keparat itu berasal dari partai Thian-san juga, mengapa dia hendak menangkap bocah tersebut?"
"Bagaimana keadaan yang sebetulnya, aku sendiri pun kurang begitu jelas. Cuma yang kuketahui dengan pasti adalah entah mengapa bocah keparat itu sudah melukai Ciok Thiang-hing, manusia nomor satu dari empat murid utama Thian-san-pay; itu masih mendingan, bahkan dia pun memotong lidah Ciok Cing-swan putra Ciok Thiang-hing."
Selesai mendengar perkataan itu, Im-tiong-siang-sat saling berpandangan dengan perasaan amat terperanjat Selang beberapa saat kemudian, Thian Keng baru berkata sambil menjulurkan lidahnya.
"Bocah keparat itu betul-betul luar biasa, masa lidah suheng sendiri pun dipotong, wah, kalau begitu, masih mendingan aku hanya digaplok beberapa kali saja."
"Nah, tentunya kalian mengerti bukan sekarang,"
Kata Phang Tay-• yu kemudian.
"bocah keparat itu sudah mengkhianati perguruannya dan Li Wu-si bertekad hendak membekuknya untuk dihukum. Kalau cuma mampus sih bukan persoalan, kalau sampai urusan besar jadi terbengkalai, waah, ini baru berabe."
"Kalau begitu, kedatangan Li Wu-si memang gara-gara dia Tapi dari mana ia bisa tahu kalau bocah keparat itu bakal muncul di Tio-gi…"
"Aku tebak kedatangannya cuma adu untung saja"
"Apa yang dimaksudkan sebagai adu peruntungan itu?"
"Menurut apa yang kuketahui, siluman perempuan kecil itu pun pernah menyalahi orang-orang Thian-san-pay. Konon antara Nyo Yan dengan bocah keparat itu masih mempunyai sedikit hubungan."
"Kalau memang begitu, kita harus berjaga-jaga jangan sampai bocah keparat itu bekerja sama dengan siluman perempuan kecil itu."
"Benar. Untuk mengatasi kesemuanya itu, agar Li Wu-si tidak tahu kalau dia berada di sini, kita harus mencegah agar mereka jangan sampai bekerja sama"
"Aku rasa perlu nomor tiga,"
Sambung Be Bong dengan cepat "Mohon petunjuk!"
Dengan suara rendah Be Bong berkata.
"Lebih baik lagi kalau kita bisa mengajak Li Wu-si agar mau bekerja sama dengan kita untuk menghadapi siluman perempuan kecil itu, kemudian mencari suatu akal untuk menggertak bocah kepa-rat itu, atau bila perlu menakut-nakutinya agar ia kabur dari sini."
Mendengar perkataan itu, Phang Tay-yu segera tertawa, ujarnya.
"Aku tak berani menyamakan diriku seperti enghiong lainnya, tapi pepatah kuno memang benar, pendapat enghiong memang selamanya sama Terus terang saja, begitu bertemu dengan Li Wu-si, aku memang mempunyai pikiran demikian. Nah, kalau begitu kalian boleh menunggu sebentar di sini, sekarang juga aku akan mencari Li Wu-si dan mengajaknya merundingkan persoalan ini."
Nyo Yan segera menempelkan dirinya di sudut dinding belakang ruangan tersebut, untung Phang Tay-yu keluar lewat pintu depan sehingga jejaknya tak sampai ketahuan.
Nyo Yan menunggu sampai dia pergi beberapa saat kemudian baru diam-diam balik kembali ke depan jendela kamar Li Wu-si untuk menyadap pembicaraan mereka lebih jauh.
Namun suasana dalam kamar itu tenang, kecuali suara dengkuran keras tiada kedengaran suara pembicaraanmanusia, tampaknya dua orang yang berada di dalam kamar itu sudah tertidur nyenyak.
Walaupun tiada cahaya lentera, tapi anak muda itu mendengar kalau dalam kamar tersebut tidak terdapat orang ketiga Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, ketajaman pendengarannya memang betul-betul luar biasa, kecuali Phang Tay-yu sama sekali tidak bernapas, kalau tidak, begitu ia bernapas, maka anak muda tersebut akan menangkap suara pemapasannya Ia tahu bahwa Phang Tay-yu sedang membutuhkan bantuan dari Li Wu-si, mustahil dia akan berusaha untuk mencelakainya sewaktu jago dari Thian-san-pay itu sedang tidur.
Lantas ke manakah Phang Tay-yu pergi?
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, tanpa membuang banyak waktu lagi, dia segera kembali ke kamar tidurnya.
Apa yang diduga ternyata benar, Phang Tay-yu memang sedang bersembunyi di dalam kamarnya.
Sejak dari luar jendela, anak muda itu sudah menangkap suara pemapasan-nya, maka begitu masuk ke dalam kamarnya, dia segera menerjang ke arah Phang Tay-yu dengan ganas.
Phang Tay-yu yang menyusup masuk ke dalam kamar NyoYan secara diam-diam, sebenarnya sedang terkejut bercampur keheranan karena di sana tidak ditemui orang.
Ke-datangan Nyo Yan sungguh di luar dugaannya, sebagai seorang ahli silat, begitu merasakan datangnya sergapan, serta merta muncullah suatu reaksi untuk melancarkan serangan balasan….Begitu merasakan datangnya desingan angin tajam yang mengancam tiba, serta merta dia melancarkan sebuah cengkeraman maut Ilmu yang dilatihnya adalah Toa-lek-eng-jiau-kang, cengkeraman tersebut disertai kekuatan untuk menghancurkan batu cadas, kehebatannya sungguh luar biasa.
Tapi sayang, ilmu Eng-jiau-’ kang-nya yang "luar biasa"
Itu, setelah bertemu dengan Nyo Yan maka ibarat tikus bertemu dengan kucing, benar-benar ketemu batunya.
Begitu cengkeramannya dilancarkan ke depan ia segera merasa seakan-akan sedang mencengkeram segumpal kapas yang empuk.
Belum habis ingatannya berkelebat lewat tiga jari tangan Nyo Yan sudah mencengkeram urat nadinya.
Dalam terkejutnya buru-buru Phang Tay-yu berseru.
"Nyo Yan, aku adalah teman ayahmu, harap kau jangan bersuara terlalu kerasi"
Perlu diketahui, dia sudah tahu kalau di antara tamu yang menginap ‘ di situ ilmu silat Li Wu-si yang terhitung paling tinggi, sedang keli-hayan orang itu pun paling hanya tingkat lebih tinggi dari dirinya.
Maka orang yang bisa membekuk dan membuatnya keok dalam satu gebrakan kalau bukan Nyo Yan, lantas siapa lagi?
Padahal keberhasilan Nyo Yan membekuknya dalam satu gebrakan karena dia sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, apalagi yang satu di tempat "gelap"
Sementara yang lain berada di tempat "terang".
Nyo Yan sendiri pun merasa agak tercengang dan di luar dugaan ketika dilihatnya lawan masih mampu mempertahankan diri kendatipun urat nadinya dicengkeram keras-keras.Sebenarnya si anak muda itu khawatir lawannya akan berteriak setelah nadinya kena dicengkeram olehnya, sebab untuk menaklukkan ilmu Eng-jiau-kang dari Phang Tay yu terpaksa dia harus mempergunakan kepandaian tersebut.
Dalam waktu singkat pelbagai ingatan sudah melintas dalam benak Nyo Yan, akhirnya dia melepaskan cengkeramannya dan sengaja berbisik di sisi telinga Phang Tay yu.
"Siapakah kau?"
"Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berbicara, mari ikuti aku…"
"Baik, entah siapa pun engkau, aku tidak khawatir akan kau celakai. Ayo berangkat!"
Baru saja mereka berjalan keluar dari halaman, dari belakang gentong air mendadak melompat keluar dua sosok bayangan manusia.
Rupanya Li Wu-si dan Lok Kautang hanya pura-pura tidur, sewaktu Nyo Yan menaklukkan Phang Tay-yu tadi, meski dia telah berusaha agar jangan bersuara, toh kedengaran juga oleh mereka.
Menghalangi usaha Nyo Yan untuk melarikan diri adalah usul dari Lok Kan-tang, berhubung perubahan peristiwa sama sekali di luar dugaan Li Wu-si, meski sesungguhnya dia ingin turun tangan setelah menantikan kedatangan Beng Hoa tapi keadaan sekarang memaksanya untuk menyetujui usul keponakan muridnya ini.
Lok Kan-tang menganggap ada susiok-nya sebagai tulang punggung, dia pun mengira Nyo Yan meski telah melukai gurunya, hal tersebut karena gurunya merasa kasihan kepadanya sehingga karena kurang berhati-hati kena dicelakai secara diam-diamBagaimanapun jua dia tak percaya kalau Nyo Yan benar-benar mampu mengalahkan tenaga dalam dari empat murid utama Thian-san-pay.
Itulah sebabnya begitu melancarkan sergapannya, dengan cepat dia mengeluarkan jurus ampuh dari Tui-hong-kiam dan menyodok dada Nyo Yan dengan jari tangan yang menggantikan pedang.
Setelah serangan dilancarkan, dengan cepat bentaknya.
"Kau si bocah keparat ingin kabur, lebih baik turut saja"
Belum habis dia berkata, mendadak Lok Kan-tang merasa tubuhnya kaku, sepasang matanya terbelalak besar sementara mulurnya melongo.
Rupanya jari tangannya yang keras bagaikan tombak itu kini sudah tepat mengenai dada Nyo Yan di mana terletak jalan darah sian-ki-hiat.
Ketika Nyo Yan menghimpun tenaga dalamnya dan mencekung-kan dadanya, serta merta jari tangannya kena terisap kencang-kencang.
Lok Kan-tang berani melancarkan serangan dengan jari tangan menggantikan pedang karena dia sudah menghimpun seluruh kekuatannya ke ujung jari tangan.
dalam anggapannya keampuhan serangan tersebut jauh melebihi menggunakan pedang.
Tapi justru lantaran dia telah mempergunakan tenaga hingga mencapai sepuluh bagian, maka begitu kena terisap, tak ampun lagi seluruh tubuhnya menjadi lemas, pada hakikatnya ia sudah tak memiliki sisa tenaga lagi untuk me-lakukan perlawanan.Nyo Yan membencinya karena dia menyerang secara keji, ia bermaksud membuat malu orang itu, maka dengan suatu gerakan cepat ia cengkeram lawannya dan melontarkannya ke arah gentong air.
"Pluming…!"
Tak ampun lagi tubuh Lok Kan-tang segera tercebur ke dalam gentong berisi air.
Di pihak lain Li Wu-si dan Phang Tay-yu telah bentrok pula, di dalam kegelapan malam meski kedua belah pihak tahu siapakah lawannya, akan terapi masing-masing orang tidak saling menegur, mereka terpaksa harus melakukan pertarungan bisu.
Sewaktu Phang Tay-yu melancarkan serangan mencengkeram, Li Wu-si segera mengayunkan telapak tangannya menggunakan taktik "menempel"
Untuk memunahkan tenaga serangan Eng-jiau-kang lawan.
Belum habis serangan yang pertama, tahu-tahu serangan kedua telah membacok ke arah tulang pi-pa-kut-nya.
Andaikata tulang pi-pa-kut seseorang dibikin remuk, maka bagaimanapun baiknya ilmu silat yang dimiliki seseorang, akan berubah menjadi tak berguna, bagaimana mungkin Phang Tay-yu membiarkan tubuhnya terancam?
Sebagai seorang pengawal kaisar dalam istana, sudah barang tentu ilmu silatnya termasuk hebat, dalam keadaan terdesak dia segera memutar badan dan menghindar sambil melancarkan serangan balasan, kali ini yang dituju adalah perut Li Wu-si.
Perubahan jurus yang dilakukan kedua belah pihak sama-sama cepat, Li Wu-si segera membengkokkan lengannya sambil melepaskan serangan dahsyat.
Apabila Phang Tay-yutidak segera menarik kembali serangannya, niscaya lengannya akan patah lebih dulu di tangan musuh.
"Blaaamm…!"
Sepasang telapak tangan saling membentur dengan amat kerasnya.
Phang Tay-yu segera menarik telapak tangannya sambil berubah jurus, tapi Li Wu-si segera memanfaatkan posisinya yang lebih baik untuk mencecar lawan.
Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Li Wu-si memang jauh lebih sempurna, tentu saja ia tak akan mengampuni musuhnya dengan begitu saja, telapak tangan kirinya diayunkan ke muka langsung membabat tengkuk musuh.
Jurus serangan ini merupakan suatu jurus ampuh perubahan dari ilmu Cian-ka-jiu (Bacokan Tangan Maut) dari ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, seandainya tengkuk lawan sampai terkena bacokan, kendati Phang Tay-yu memiliki kepandaian yang hebat, kalau tidak mati pasti akan terluka parah.
Phang Tay-yu yang kena dihantam oleh pukulan merasa seluruh tubuhnya berguncang keras, bagaimanapun juga, dengan mengandalkan ilmu silat yang dimilikinya, sulit untuk dia menghindarkan diri dari ancaman musuh dengan begitu saja.
Dia menarik napas dingin, sadarlah dia bahwa keadaan bakal celaka.
Di saat yang paling kritis itulah, mendadak tubuhnya terasa enteng, menyusul kemudian badannya sudah melayang di tengah udara.
Ternyata Nyo Yan bertindak jauh lebih cepat, dia telah dicengkeram badannya dan dilontarkan ke luar tembok.Tenaga lemparan yang digunakan benar-benar amat tepat sekali, Phang Tay-yu hanya merasakan tubuhnya seakan-akan diletakkan ringan oleh orang ke tanah, tubuhnya sama sekali tidak menderita cedera apa-apa.
Nyo Yan menaruh kesan baik terhadap Li Wu-si, dia tak ingin melukainya, maka sambil mengibaskan ujung bajunya dengan taktik "menempel"
Yang sama, dia mengesampingkan tenaga serangan Cian-ka-jiu dari Li Wu-si.
Sebelum lawan mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia pun sudah melompati dinding pekarangan.
Li Wu-si merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Ooh, ternyata bocah muda ini memiliki ilmu silat yang betul-betul luar biasa sekali, kalau begitu, kemenangannya atas Ting suheng pun bukan diperoleh dengan cara untung-untungan saja."
Terpaksa dia harus menyelamatkan keponakan muridnya lebih dahulu dari dalam gentong air.
Sementara itu Nyo Yan dan Phang Tay-yu sudah keluar dari penginapan Im-lay menuju ke luar kotaTio-gi.
Nyo Yan berlarian di depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya berlari terus tanpa berhenti.
Phang Tay-yu sendiri hanya memiliki ilmu Tay-lek-eng-jiau-kang yang lihay, tapi sekarang dia harus mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya sebelum berhasil menyusul anak muda itu.
Lama-kelamaan habis juga napas Phang Tay-yu, dengan napas tersengal pikirnya.
"Sialan bocah keparat ini, dia memang tak tahu diri ataukah memang sengaja hendak men-coba ilmu meringankan tubuhku?"
Mengorek Keterangan Seharusnya, karena dia yang mengajak Nyo Yan keluar, maka menurut peraturan dia juga yang memilih tempat.
Tapi sekarang, justru Nyo Yan yang berlarian di muka bahkan sama sekali tak bertanya kepadanya hendak ke mana, sebagai seorang "siau-pwee"
Sekalipun tidak mempunyai maksud jelek, namun tindakan seperti ini sesungguhnya merupakan suaru tindakan yang tidak cukup menaruh hormat kepada angkatan tua Andaikata di hari-hari biasa dan berganti orang lain yang bersikap demikian kepadanya mungkin dia sudah menaruh curiga sedari tadi.
Tapi sekarang, walaupun ia merasa tak gembira, namun sama sekali tidak menaruh curiga apa pun terhadap Nyo Yan.
Sebagaimana diketahui, baru saja dia lolos dari ancaman kematian berkat bantuan Nyo Yan, atas dasar apakah dia harus mencurigai si anak muda itu?
Bukit Ci-lian-san hanya berjarak sepuluh li dari kota, dalam waktu singkat Nyo Yan sudah berada di kaki bulat "Leluasakah bagi kita untuk berbicara di sini?
Kalau tidak, lebih baik lata naik ke atas gunung saja,"
Tanya Nyo Yan.
Waktu itu fajar baru saja menyingsing di uruk timur, di tengah jalan tiada orang yang berlalu lalang.
Sambil menghembuskan napas panjang dan duduk bersandar di pohon, Phang Tay-yu menyahut.
"Baik, cukup di sini saja, tak usah naik gunung. Siheng, terima kasih banyak atas bantuanmu tadi."
"Sekarang kau menyebutku siheng, apakah tidak merasa kelewat pagi?"
Jengek Nyo Yan hambar. Phang Tay-yu menjadi tertegun.
"Jadi kau tak percaya kalau aku adalah sahabat ayahmu?"
Serunya keheranan.
"Bukannya tak percaya, kalau tidak tadi aku pun tak bakal membantumu. Cuma hati manusia amat licik dan berbahaya, aku tak ingin ditipu mentah-mentah."
"Aku dan ayahmu sama-sama menjadi pengawal istana kaisar secara diam-diam, kini hampir sudah belasan tahun lamanya"
"Walaupun orang yang mengetahui ayahku menjadi pengawal kaisar tidak banyak, orang lain ada juga yang tahu. Apalagi, sekalipun kau sudah menjadi rekan sekerjanya selama belasan tahun, belum tentu kau merupakan sahabat karibnya."
"Ayahmu saling berjumpa dengan dirimu di kuil Hay-sin-bio dalam kota Po-teng, tentunya kau tahu bukan bahwa kejadian ini, tidak banyak yang tahu? Kalau aku bukan sahabat karib ayahmu, dari mana aku bisa mengetahui perjumpaan ini?"
"Seandainya kau merupakan sahabat karib ayahku, agaknya kau sepantasnya bila mengetahui rahasia yang lebih banyak lagi?"
Phang Tay-yu memang seekor rase tua yang licik sekali, sesudah mendengar perkataan tersebut tanpa terasa dia lantas berpikir.
"Kalau didengar dari nada suaranya, dia seperti ingin memaksa aku untuk mengatakan bahwa aku pun tahu kalau ayahnya menyuruh dia pergi membunuh Beng Goan-cau, jangan-jangan ia telah menyadap pembicaraanku dengan Im-tiong-siang-sat tadi? Bocah keparat ini berada di antara sesat dan lurus, bahkan bapaknya sendiri pun belum bisa me-raba perasaan hatinya, lebih baik kulayani dia dengan sebaik-baiknya…."
Berpikir sampai di situ dia lantas berkata, ‘Tahu sih tahu,,cuma aku tak berani mengutarakannya"
"Mengapa tak berani mengutarakannya?"
Tanya Nyo Yan dengan suara sedingin es.
"Lidah tak bertulang tak bisa menyimpan rahasia, aku khawatir kau masih muda dan membocorkan rahasia ini."
Mendengar ucapan itu, Nyo Yan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haah… itu aneh namanya, persoalan itu toh menyangkut diriku, sekalipun tidak kau katakan, aku pun tahu. Mengapa aku harus membocorkan rahasia itu dikarenakan kau memberitahukan hal itu kepadaku?"
"Masalah ini menyangkut rahasia ayahmu, belum tentu kau tahu keseluruhannya"
"Coba katakanlah, aku akan mencoba untuk memegang rahasia ini dengan sebaik-baiknya." ‘Tahukah kau mengapa ayahmu menyuruh kau pergi membunuh Beng Goan-cau? Pertama, untuk melampiaskan dendam pribadinya. Kedua, untuk melepaskan diri dari lautan kesengsaraan."
"Melepaskan diri dari lautan kesengsaraan? Apa artinya?"
Sengaja Phang Tay-yu berlagak sok rahasia, bisiknya dengan suara amat lirih.
"Sejak dahulu ayahmu tak ingin melakukan pekerjaan menjual nyawa buat sri baginda, aku cukup tahu tentang perasaan hatinya itu, sebab terus terang saja kukatakan, aku pun mempunyai pikiran yang sama dengannya."
Ucapan ini cocok sekali dengan perkataan Nyo Bok sewaktu membohongi putranya dahulu, tanpa terasa Nyo Yan dibikin setengah percaya setengah tidak, diam-diam pikirnya.
"Bangsat ini mengaku kalau dia tak ingin menjadi kuku garuda lebih jauh, tetapi mungkin sebagian besar cuma bohong, tapi aku percaya ayah memang berpikiran demikian."
Maka katanya kemudian dengan suara hambar.
"Bagiku, kejadian tersebut sudah bukan rahasia lagi, ayah telah memberitahukan kesemuanya itu kepadaku."
"Aaai… betapa mulianya perasaan ayahmu itu,"
Sambung P riang Tay-yu lebih jauh.
"aku tahu, dia belum mengungkapkan semua rahasia hatinya kepadamu."
"Apakah dia telah mengungkapkan perasaan hatinya kepadamu?"
Phang Tay-yu manggut-mang-gut "Benar, dia hanya memberitahukan kepadaku seorang.
Cuma tentang rahasia kesediaanmu untuk membunuh Beng Goan-cau bukan saja telah dilaporkan kepada cong-koan pengawal kaisar, dia pun sengaja memberitahukan hal ini kepada beberapa orang lagi."
"Mengapa ia berbuat demikian?"
Tanya Nyo Yan dengan suara sedingin salju.
"Kau tidak akan mengerti, soal mengundurkan diri dari jabatan merupakan suaru kejadian yang luar biasa, apalagi sebagai pengawal kaisar seperti kami ini, tak mungkin kalau jabatan tersebut bisa ditinggalkan dengan begitu saja begitu kita merasa tak ingin untuk mengerjakannya lagi…."
"Lantas bagaimana?"
"Itulah sebabnya dia harus membuat sebuah pahala besar terlebih dahulu, dengan jasa yang. besaria dapat memperoleh kepercayaan dari congkoan pengawal istana, otomatis usahanya untuk melarikan diri pun akan semakin gampang. Setelah kabur, mengingat dia pernah membuat jasa besar untuk sri baginda, maka kemungkinan besar congkoan pe-ngawal istana pun tak akan mempersoalkan kejadian itu lagi sehingga membiarkan dia meloloskan diri dengan selamat"
"Masa untuk melepaskan diri dari jabatan pun harus dilakukan sambil melarikan diri? Mengapa dia tidak melarikan diri di hari-hari biasa?"
Phang Tay-yu segera tertawa.
"Makanya aku bilang kau tidak mengerti, bagi kami yang melakukan pekerjaan seperti ini, berlaku sistem saling mengawasi, apalagi jika gerak-geriknya mencurigakan, pengawasan yang dilakukan terhadapnya akan semakin bertambah ketat. Apabila seorang pengawal istana yang telah bekerja selama sepuluh tahun dan belum pernah membuat jasa besar bagi kaisar dan ternyata melarikan diri, kepergian-nya ini pasti akan dicurigai sebagai mata-mata! Aku tahu kalau ilmu silat yang kau miliki sangat hebat, tetapi apabila congkoan pengawal kaisar sudah bertekad untuk melakukan pengejaran, sekalipun kau masih mampu untuk melindungi keselamatan ayahmu, tapi kerepotan yang bakal kau temui pasti banyak sekali!"
"Oleh sebab itu dia lantas memberitahukan rahasia ini kepada congkoan pengawal istana untuk mengatakan rasa setianya kepada sri baginda?"
Kata Nyo Yan kemudian.
"Benar. Cuma kesetiaan tersebut sesungguhnya hanya kesetiaan palsu."
"Mengapa dia mengijinkan dirimu untuk memberitahukan hal ini kepada orang lain?"
"Siheng, kau begitu pintar, seharusnya dapat menduga sendiri apa maksudnya."
"Justru aku tidak dapat menduga, maka bal ini baru kutanyakan kepadamu."
Saat itulah dengan senyum tak senyum Phang Tay-yu sengaja tertawa bergelak.
"Haah haah haah sebenarnya tujuannya tak berbeda dengan tujuannya melaporkan kejadian tersebut kepada congkoan pengawal kaisar, yakni agar orang lain percaya kalau dia benar-benar setia kepada sri baginda. Dengan demikian, apabila berita ini sampai terdengar oleh congkoan, maka congkoan akan makin percaya lagi kepadanya. Kali ini aku bisa datang sampai ke kota Tio-gi pun lantaran perintah dari ayahmu. Sebetulnya congkoan menyuruh dia yang datang kemari, tapi dia lantas menyuruh aku yang datang ke sini."
Baca Juga: Tujuh Pedang Tiga Ruyung 3
Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 8