Taruna Pendekar 7

Eps 7 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id

Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id

Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.

"Berbicara soal sungkan pun harus memandang orang, maaf kalau aku tak punya waktu untuk membaiki Pui toa-caycu!"

"Kalau begini harap Utti sianseng suka memberi sedikit muka kepadaku agar aku yang mewakilinya berbicara. Pui hiantit, aku rasa maksudmu tentunya ingin mengikat tali persahabatan dengan Utti sianseng bukan?"

"Seandainya Utti sianseng bersedia mengikat tali persahabatan ini, soal berapa jumlah uangnya, hal itu masib bisa dirundingkan, bukankah demikian..,?"

"Benar,"

Sambung Pui Hou dengan cepat.

"bila kita bersahabat, tentu saja masalah tersebut dapat dirundingkan.Tapi bila Utti sianseng hendak mempergunakan putraku sebagai sandera dan memaksa aku untuk menyerahkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak sebagai uang tebusan, sekalipun aku menyanggupi hal ini bisa jadi akan dianggap sebagai suatu penghinaan, aku tak boleh menghilangkan nama baik cianpwee-ku!"

Hanya dengan memutar sedikit pembicaraan tersebut ke arah lain, dia telah menyeret Nyo toakoh terlibat dalam masalah ini. Utti Keng segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahahaa… hahaha… hahaa… kau ini manusia macam apa, kau anggap pantas untuk bersahabat denganku? Tentang soal perguruanmu kuanjurkan kepadamu ada baiknya jangan disinggung saja, sebab nama baik perguruanmu pada hakikatnya sudah dinodai oleh gurumu sehingga sama sekali tak ada harganya lagi, jadi dia pun tidak akan ambil peduli bila kau hendak mempermalukan perguruannya lagi!"

Nyo toakoh tak sanggup lagi menahan diri, dia lagi lantas berseru.

"Utti Keng, baik atau buruknya adikku apa sangkut pautnya denganmu, kau tak usah ngebacot yang bukan-bukan, pokoknya bila kau berani mengganggu keponakan muridku ini, aku tidak terima, aku tak akan berpeluk tangan belaka!"

"Baik, kalau begitu akan kusaksikan sampai di manakah kelihayan Lak-jiu-Koan-im, ayo tunjukkan keJihayanrnu!"

"Utti Keng, bukannya aku takut kepadamu. Tapi ada beberapa patah kata kurang enak rasanya bila tidak kuutarakan, sebab itu aku harus mengatakannya lebih dahulu…"

"Baik, kalau begitu utarakan saja cepat-cepat, daripada mati tersumbat nantinya! Akan kuperhatikan baik-baik."

Walaupun perkataan tersebut diutarakan lebih sungkan dan tidak menggunakan lagi kata-kata kebiasaannya berupa "Bila ada perkataan cepat katakan, bila ingin kentut cepat lepaskan" , tapi nada menyindir dan memandang rendah masih dapat dirasakan oleh siapa pun.

Nyo toakoh menjadi amat gusar sampai mukanya berubah menjadi dingin seperti es, ditatapnya wajah Utti Keng lekat-lekat, kemudian katanya menegaskan.

"Jadi kau baru mau melepaskan orang bila tersedia sepuluh laksa tahil perak?"

"Harga tak bisa ditawar-tawar, kurang beberapa mata uang pun dianggap batal…."

Nyo toakoh tertawa dingin.

"Utti Keng, baik buruk kau pun terhitung seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, apakah kau hendak meniru cara kerja pencoleng kecil dengan menculik orang dan minta uang tebusan? Seandainya kau tahu harga diri, harap lepaskan dulu bocah tersebut, saat itu masalah uang bisa dirundingkan lagi, kalau ingin berkelahi, kami pun pasti ada orang yang akan mengiringi kehendakmu itu!"

Kembali Utti Keng tertawa terbahak-bahak.

"Perbuatan manusia rendah semacam itu sudah banyak dilakukan oleh keponakan muridmu itu, sedang apa yang kulakukan hari ini tak lebih hanya menirukan cara yang sering dia lakukan. Cuma mendengar dari beberapa patah katamu tadi, bisa saja aku melepaskan dulu bocah itu. Seng-in, kendorkan cambuk lemasmu, dan Lak-j iu-Koan-im, bila kau punya kepandaian, silakan kau gandeng bocah itu pergi dari situ."

Nyo toakoh cukup mengetahui kelihayan Ki Seng-in sebagai Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu), tentu ilmu melepaskan senjata rahasianya sangat hebat, sebenarnya dia mengharapkan putranya mau turun tangan bersamanya, tapi segan untuk mengutarakannya secara langsung, maka ia lantas memberi lirikan mata sebagai tanda.

Lo Pek-soat duduk di samping Ki See-kiat, dia lantas salah mengira kedipan mata Nyo toakoh itu ditujukan kepadanya.

Sementara itu Ki Seng-in telah mengendorkan cambuk lemasnya, Pui Hong menuju ke arah Nyo toakoh, sebab dia tahu di antara sekian banyak orang yang hadir di sana, Nyo kohpo-nya yang berkepandaian paling hebat.

Pada detik itulah, beberapa persoalan telah berlangsung dengan cepatnya secara beruntun, hampir saja semua berlangsung pada saat hampir bersamaan.

Pertama-tama Lo Pek-soat yang melompat keluar lebih dulu, segera teriaknya.

"Untuk memotong ayam buat apa memakai pisau penjagal kerbau? Biar boanpwe yang mewa-kili."

Ternyata dia menganggap ayahnya dan Nyo toakoh pasti akan membantunya bilamana perlu, selain itu dia pun salah paham dengan mengira Nyo toakoh menyuruhnya untuk memperlihatkan ilmu silatnya hingga memberi kerlingan mata kepadanya.

Dia menganggap jika Ki Seng-in berani turun tangan untuk menghalanginya, ayahnya dan Nyo toakoh pasti akan membantu secara diam-diam.

"Seandainya aku dapat merobohkan bajingan perempuan ini, engkoh Kiat pasti akan berpandangan lain kepadaku."

Dengan menyimpan harapan inilah dia melompat ke muka dan menarik tangan Pui Hong.

Tak terlukiskan rasa kaget Lo Hi-hong ketika menyaksikan putrinya melompat ke depan, cepat-cepat dia melepaskan’ dua biji peluru besi ke muka.

Yang besar menghantam ke arah Utti Keng sedangkan yang kecil menghantam Ki Seng-in.

"Triing… .’"

Sebatang teratai baja yang dilemparkan Ki Seng-in saling membentur dengan peluru baja itu.

Walaupun peluru baja yang dilepaskan Lo Hi-hong jauh lebih kecil bentuknya, tapi bila dibandingkan dengan teratai baja itu, entah berapa ratus kali lebih berat.

Sewaktu teratai baja itu saling membentur dengan peluru, ternyata peluru baja itu yang kena tertumbuk sehingga berubah arah.

Hampir pada saat yang bersamaan, Utti Keng membentak keras.

"Sinar kunang-kunang juga ingin bertanding dengar sinar rembulan!"

Dengan suatu gaya yang manis dia sambut peluru baja yang besar, kemudian menimpukkannya balik.

Sewaktu peluru besi kecil yang kena ditumbuk teratai baja sampai berubah arah itu saling berbenturan dengan peluru baja besar yang ditimpukkan balik oleh Utti Keng, bunga api segera memercik di udara, gerak luncur kedua benda tersebut bertambah cepat dan langsung menghantam tubuh Lo Hi-hong.

Sebagai seorang ahli silat yang berpengalaman, ketika Lo Hi-hong menyaksikan datangnya gerakan peluru baja tersebut, ia segera tahu kalau tenaga sambitan benda itu beberapa kali lipat lebih besar daripada kekuatannya tadi, denganmengandalkan tenaga dalam yang dimilikinya, mustahil dia bisa menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.

Walaupun di meja perjamuan belum dihidangkan sayur, namun poci arak dan cawan telah disiapkan.

Poci air teh dan cawan air teh juga belum dibereskan.

Dalam keadaan seperti ini, Lo Hi-hong tak berani menyambut dengan kekerasan, dalam gugupnya tanpa memikirkan soal nama baik lagi, dia merendahkan badannya dan menyembunyikan diri di bawah meja.

"Praaang… prang… prang….’"

Bergema suara hiruk pikuk yang ramai sekali, poci arak, cawan arak, poci air teh, cawan air teh hampir semuanya kena terhajar sampai hancur berkeping-keping.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Seng-in menggetarkan ru-yung lemasnya dan menggulung tubuh Lo Pek-soat.

"Budak busuk yang tak tahu ingginya langit dan tebalnya bumi, lebih baik kau duduk tenang saja di tempat dudukmu!"

Seru Ki Seng-in sambil tertawa.

Di tengah gelak tertawa, ruyung lemasnya diayunkan ke depan, tubuh Lo Pek-soat segera terlempar ke udara.

Lemparannya itu ternyata indah dan hebat, karena secara jitu sekali melontarkan tubuh Lo Pek-soat untuk duduk kembali di tempat semula tanpa menderita luka barang sedikit pun jua.

Meski begitu, ia sudah dibuat ketakutan setengah mati hingga mukanya pucat dan sukma serasa melayang meninggalkan raganya.Pui Hong yang sedang lari menuju ke arah Nyo toakoh, mendadak menjerit kesakitan dan meloncat mundur, kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Seng-in.

Dengan suara dingin Ki Seng-in berseru.

"Aku toh tidak menghancurkan tulang kakimu, buat apa kau mesti bersikap aleman? Ayo cepat bangkit berdiri!"

Nyo toakoh benar-benar tak sanggup mengendalikan kobaran api kemarahan yang membara di dalam dadanya, sambil melompat ke depan, bentaknya keras-keras.

"Ki Seng-in, jika punya nyali lebih baik bertarung denganku, jangan beraninya menganiaya anak kecil!"

"Bagus sekali, kau boleh menyambut senjata rahasiaku, dan aku akan menyambut pukulan Lak-yang-jiu-mu!"

Ilmu silat yang paling lihay dari Ki Seng’in adalah ilmu melepaskan senjata rahasia, sedangkan kepandaian andalan Nyo toakoh adalah ilmu pukulan Lak-yang-jiu, menurut peraturan dalam dunia persilatan, bila orang kenamaan bertarung dan sebelumnya tidak dibicarakan bagaimana pertarungan itu harus dilangsungkan, masing-masing pihak akan mengeluarkan kepandaian andalan masing-masing.

Itulah sebabnya Ki Seng-in mengutarakan hal tersebut lebih dahulu, untuk memperlihatkan bahwa serangan senjata rahasianya nanti bukan merupakan suatu sergapan, dan seandainya dia menyerang dengan senjata rahasianya lebih dulu nanti, itu pun tak bisa dibilang melanggar peraturan bertanding….

"Baik,"

Seru Nyo toakoh dengan suara lantang.

"akan kusuruh kau menyaksikan kelihayan ilmu Lak-yang-jiu-ku!"

Dengan jurus Hu-hi-huan-im (Memanggil Hujan Membalik Awan), tangan kiri disertai tenaga im dan tangan kanan disertai tenaga yang, bersama-sama membacok ke depan.

"Triing… triing… triing…"

Di antara suara dentingan nyaring, empat batang teratai baja sudah tersapu rontok oleh angin pukulannya.

Tapi Ki Seng-in melepaskan tujuh batang teratai baja secara bersama-sama, walaupun ada empat batang yang kena dirontokkan, masih ada tiga batang di antaranya yang menembus lingkaran tenaga pukulan yang dipancarkan olehnya.

Nyo toakoh terkesiap, pikirnya.

"Sungguh tak kusangka nama baikku akan rusak dan musnah oleh senjata rahasianya!"

Ketiga batang teratai baja itu hampir semuanya tertuju ke jalan darah kematian di tubuh Nyo toakoh.

Buru-buru Nyo toakoh mengerahkan tenaga pukulannya ke depan, saat ini dia sudah tak sanggup lagi untuk melindungi diri.

Teratai besi im menerobos masuk dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam keadaan demikian, sekalipun Nyo toakoh mengerahkan segenap kepandaian yang dimiliki-nya, paling banter cuma dua batang di antaranya yang bisa dihindari, senjata rahasia yang ketiga sudah pasti akan menghajar jalan darahnya.

Lak-jiu-Koan-im termasyhur jauh sebelum Jian-jiu-Koan-im, atau tegasnya sekalipun Ki Seng-in tak bisa dianggap "boanpwe"

Oleh’Nyo toakoh, paling tidak tingkatannya masih rendah setengah tingkat.Dengan watak Lak-jiu-Koan-im, andaikata begitu bergebrak lantas menderita kekalahan di tangan seorang siauwpwee, sekalipun teratai besi itu tidak sampai menghajar jalan darah kematiannya, mungkin dia pun akan mati karena mendongkol.

Baru saja Nyo toakoh merasa terkesiap, tiba-tiba tampak ada tiga titik cahaya merah yang meluncur datang jauh lebih cepat daripada gerakan teratai besi itu.

Dengan cepat teratai besi kena tersambar dan bersama-sama rontok ke atas tanah tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Ternyata ketiga gulung bayangan merah itu adalah tiga kuntum bunga teh merah yang dipetik oleh Ki See-kiat Waktu itu dia sedang berdiri di sisi bunga teh yang sedang mekar sambil menonton jalannya pertarungan.

Setelah menyaksikan ibunya terancam bahaya maut, sudah barang tentu dia tak bisa berpeluk tangan saja.

Padahal dia tak mempunyai senjata rahasia, terpaksa dipetiknya bunga teh yang tumbuh di sisinya, lalu menghimpun tenaga dalamnya dan menimpukkan bunga tersebut sebagai senjata rahasia Bunga adalah sebuah benda yang lunak, tidak mudah dilontarkan dengan tenaga, akan tetapi sesudah di-saluri tenaga dalamnya yang sempurna, nyatanya benda itu bisa menyusul teratai besi yang dilancarkan oleh Ki Seng-in bahkan menggulung teratai besi itu ke tengah putik bunga Begitu dua gulung tenaga serangan saling bertumbukan, kedua-duanya hilang kekuatan dan rontok ke atas tanah.

Mimpi pun Lo Hi-hong sekalian tidak menyangka kalau Ki See-kiat memiliki ilmu silat yang begitu lihay.Bahkan Koantang tayhiap Utti kau tahu harga diri, harap lepaskan dulu bocah tersebut, saat itu masalah uang bisa dirundingkan lagi, kalau ingin berkelahi, kami pun pasti ada orang yang akan mengiringi kehendakmu itu!"

Kembali Utti Keng tertawa terbahak-bahak.

"Perbuatan manusia rendah semacam itu sudah banyak dilakukan oleh keponakan muridmu itu, sedang apa yang kulakukan hari ini tak lebih hanya menirukan cara yang sering dia lakukan. Cuma mendengar dari beberapa patah katamu tadi, bisa saja aku melepaskan dulu bocah itu. Seng-in, kendorkan cambuk lemasmu, dan Lak-j iu-Koan-im, bila kau punya kepandaian, silakan kau gandeng bocah itu pergi dari situ."

Nyo toakoh cukup mengetahui kelihayan Ki Seng-in sebagai Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu), tentu ilmu melepaskan senjata rahasianya sangat hebat, sebenarnya dia mengharapkan putranya mau turun tangan bersamanya, tapi segan untuk mengutarakannya secara langsung, maka ia lantas memberi lirikan mata sebagai tanda.

Lo Pek-soat duduk di samping Ki See-kiat, dia lantas salah mengira kedipan mata Nyo toakoh itu ditujukan kepadanya.

Sementara itu Ki Seng-in telah mengendorkan cambuk lemasnya, Pui Hong menuju ke arah Nyo toakoh, sebab dia tahu di antara sekian banyak orang yang hadir di sana, Nyo kohpo-nya yang berkepandaian paling hebat.

Pada detik itulah, beberapa persoalan telah berlangsung dengan cepatnya secara beruntun, hampir saja semua berlangsung pada saat hampir bersamaan.

Pertama-tama Lo Pek-soat yang melompat keluar lebih dulu, segera teriaknya.

"Untuk memotong ayam buat apamemakai pisau penjagal kerbau? Biar boanpwe yang mewa-kili."

Ternyata dia menganggap ayahnya dan Nyo toakoh pasti akan membantunya bilamana perlu, selain itu dia pun salah paham dengan mengira Nyo toakoh menyuruhnya untuk memperlihatkan ilmu silatnya hingga memberi kerlingan mata kepadanya.

Dia menganggap jika Ki Seng-in berani turun tangan untuk menghalanginya, ayahnya dan Nyo toakoh pasti akan membantu secara diam-diam.

"Seandainya aku dapat merobohkan bajingan perempuan ini, engkoh Kiat pasti akan berpandangan lain kepadaku."

Dengan menyimpan harapan inilah dia melompat ke muka dan menarik tangan Pui Hong.

Tak terlukiskan rasa kaget Lo Hi-hong ketika menyaksikan putrinya melompat ke depan, cepat-cepat dia melepaskan’ dua biji peluru besi ke muka.

Yang besar menghantam ke arah Utti Keng sedangkan yang kecil menghantam Ki Seng-in.

"Triiing… .’"

Sebatang teratai baja yang dilemparkan Ki Seng-in saling membentur dengan peluru baja itu.

Walaupun peluru baja yang dilepaskan Lo Hi-hong jauh lebih kecil bentuknya, tapi bila dibandingkan dengan teratai baja itu, entah berapa ratus kali lebih berat.

Sewaktu teratai baja itu saling membentur dengan peluru, ternyata peluru baja itu yang kena tertumbuk sehingga berubah arah.

Hampir pada saat yang bersamaan, Utti Keng membentak keras.

"Sinar kunang-kunang juga ingin bertanding dengar sinar rembulan!"

Dengan suatu gaya yang manis dia sambut peluru baja yang besar, kemudian menimpukkannya balik.

Sewaktu peluru besi kecil yang kena ditumbuk teratai baja sampai berubah arah itu saling berbenturan dengan peluru baja besar yang ditimpukkan balik oleh Utti Keng, bunga api segera memercik di udara, gerak luncur kedua benda tersebut bertambah cepat dan langsung menghantam tubuh Lo Hi-hong.

Sebagai seorang ahli silat yang berpengalaman, ketika Lo Hi-hong menyaksikan datangnya gerakan peluru baja tersebut, ia segera tahu kalau tenaga sambitan benda itu beberapa kali lipat lebih besar daripada kekuatannya tadi, dengan mengandalkan tenaga dalam yang dimilikinya, mustahil dia bisa menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.

Walaupun di meja perjamuan belum dihidangkan sayur, namun poci arak dan cawan telah disiapkan.

Poci air teh dan cawan air teh juga belum dibereskan.

Dalam keadaan seperti ini, Lo Hi-hong tak berani menyambut dengan kekerasan, dalam gugupnya tanpa memikirkan soal nama baik lagi, dia merendahkan badannya dan menyembunyikan diri di bawah meja.

"Praaang… prang… prang….’"

Bergema suara hiruk pikuk yang ramai sekali, poci arak, cawan arak, poci air teh, cawan air teh hampir semuanya kena terhajar sampai hancur berkeping-keping.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Seng-in menggetarkan ru-yung lemasnya dan menggulung tubuh Lo Pek-soat.

"Budak busuk yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, lebih baik kau duduk tenang saja di tempat dudukmu!"

Seru Ki Seng-in sambil tertawa.

Di tengah gelak tertawa, ruyung lemasnya diayunkan ke depan, tubuh Lo Pek-soat segera terlempar ke udara.

Lemparannya itu ternyata indah dan hebat, karena secara jitu sekali melontarkan tubuh Lo Pek-soat untuk duduk kembali di tempat semula tanpa menderita luka barang sedikit pun jua.

Meski begitu, ia sudah dibuat ketakutan setengah mati hingga mukanya pucat dan sukma serasa melayang meninggalkan raganya.

Pui Hong yang sedang lari menuju ke arah Nyo toakoh, mendadak menjerit kesakitan dan meloncat mundur, kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Seng-in.

Dengan suara dingin Ki Seng-in berseru.

"Aku toh tidak menghancurkan tulang kakimu, buat apa kau mesti bersikap aleman? Ayo cepat bangkit berdiri!"

Nyo toakoh benar-benar tak sanggup mengendalikan kobaran api kemarahan yang membara di dalam dadanya, sambil melompat ke depan, bentaknya keras-keras.

"Ki Seng-in, jika punya nyali lebih baik bertarung denganku, jangan beraninya menganiaya anak kecil!"

"Bagus sekali, kau boleh menyambut senjata rahasiaku, dan aku akan menyambut pukulan Lak-yang-jiu-mu!"

Ilmu silat yang paling lihay dari Ki Seng’in adalah ilmu melepaskan senjata rahasia, sedangkan kepandaian andalan Nyo toakoh adalah ilmu pukulan Lak-yang-jiu, menurut peraturan dalam dunia persilatan, bila orang kenamaan bertarung dan sebelumnya tidak dibicarakan bagaimanapertarungan itu harus dilangsungkan, masing-masing pihak akan mengeluarkan kepandaian andalan masing-masing.

Itulah sebabnya Ki Seng-in mengutarakan hal tersebut lebih dahulu, untuk memperlihatkan bahwa serangan senjata rahasianya nanti bukan merupakan suatu sergapan, dan seandainya dia menyerang dengan senjata rahasianya lebih dulu nanti, itu pun tak bisa dibilang melanggar peraturan bertanding….

"Baik,"

Seru Nyo toakoh dengan suara lantang.

"akan kusuruh kau menyaksikan kelihayan ilmu Lak-yang-jiu-ku!"

Dengan jurus Hu-hi-huan-im (Memanggil Hujan Membalik Awan), tangan kiri disertai tenaga im dan tangan kanan disertai tenaga yang, bersama-sama membacok ke depan.

"Triing… triing… triing…"

Di antara suara dentingan nyaring, empat batang teratai baja sudah tersapu rontok oleh angin pukulannya.

Tapi Ki Seng-in melepaskan tujuh batang teratai baja secara bersama-sama, walaupun ada empat batang yang kena dirontokkan, masih ada tiga batang di antaranya yang menembus lingkaran tenaga pukulan yang dipancarkan olehnya.

Nyo toakoh terkesiap, pikirnya.

"Sungguh tak kusangka nama baikku akan rusak dan musnah oleh senjata rahasianya!"

Ketiga batang teratai baja itu hampir semuanya tertuju ke jalan darah kematian di tubuh Nyo toakoh.

Buru-buru Nyo toakoh mengerahkan tenaga pukulannya ke depan, saat ini dia sudah tak sanggup lagi untuk melindungi diri.Teratai besi im menerobos masuk dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam keadaan demikian, sekalipun Nyo toakoh mengerahkan segenap kepandaian yang dimiliki-nya, paling banter cuma dua batang di antaranya yang bisa dihindari, senjata rahasia yang ketiga sudah pasti akan menghajar jalan darahnya.

Lak-jiu-Koan-im termasyhur jauh sebelum Jian-jiu-Koan-im, atau tegasnya sekalipun Ki Seng-in tak bisa dianggap "boanpwe"

Oleh Nyo toakoh, paling tidak tingkatannya masih rendah setengah tingkat.

Dengan watak Lak-jiu-Koan-im, andaikata begitu bergebrak lantas menderita kekalahan di tangan seorang siauwpwee, sekalipun teratai besi itu tidak sampai menghajar jalan darah kematiannya, mungkin dia pun akan mati karena mendongkol.

Baru saja Nyo toakoh merasa terkesiap, tiba-tiba tampak ada tiga titik cahaya merah yang meluncur datang jauh lebih cepat daripada gerakan teratai besi itu.

Dengan cepat teratai besi kena tersambar dan bersama-sama rontok ke atas tanah tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Ternyata ketiga gulung bayangan merah itu adalah tiga kuntum bunga teh merah yang dipetik oleh Ki See-kiat Waktu itu dia sedang berdiri di sisi bunga teh yang sedang mekar sambil menonton jalannya pertarungan.

Setelah menyaksikan ibunya terancam bahaya maut, sudah barang tentu dia tak bisa berpeluk tangan saja.

Padahal dia tak mempunyai senjata rahasia, terpaksa dipetiknya bunga teh yang tumbuh di sisinya, lalu menghimpun tenaga dalamnya dan menimpukkan bunga tersebut sebagai senjata rahasiaBunga adalah sebuah benda yang lunak, tidak mudah dilontarkan dengan tenaga, akan tetapi sesudah di-saluri tenaga dalamnya yang sempurna, nyatanya benda itu bisa menyusul teratai besi yang dilancarkan oleh Ki Seng-in bahkan menggulung teratai besi itu ke tengah putik bunga Begitu dua gulung tenaga serangan saling bertumbukan, kedua-duanya hilang kekuatan dan rontok ke atas tanah.

Mimpi pun Lo Hi-hong sekalian tidak menyangka kalau Ki See-kiat memiliki ilmu silat yang begitu lihay.

Bahkan Koantang tayniap Utti Keng yang sudah duapuluh tahun malang melintang di dunia persilatan dan nyaris tanpa tandingan pun ikut merasa terkesiap oleh peristiwa tersebut Bila tenaga dalam seseorang dapat dilatih hingga mencapai tingkat kesempurnaan, soal "memetik daun melempar bunga bisa melukai atau membunuh orang"

Memang bukan suatu kejadian besar, cuma kesemuanya itu hanya pernah didengar dan belum pernah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.

Ilmu silat dari Ki See-kiat memang belum mencapai taraf sedemikian rupa, tapi apa yang dilakukan sudah termasuk ke dalam jenis tersebut Utti Keng sebagai ahli silat, meski belum pernah melihat, tapi sekilas pandang saja sudah mengetahuinya.

Dengan perasaan bergetar keras Utti Keng berpikir.

"Entah murid siapakah pemuda ini? Usianya masih muda, tapi kesempurnaan tenaga dalamnya tidak berada di bawahku. Bila Pui Hou memiliki seorang pembantu yang demikian baik, aku tak boleh memandang enteng musuhku."

Sebelum ingatan tersebut melintas habis dalam benaknya, Lo Hi-hong yang tertegun telah berhasil mengendalikan rasa kaget yang mencekam perasaannya, dia segera membentak nyaring.

"Ki see-tit, kepandaian yang hebat? Heehh…heeehh… Jian-jiu-Koan-im, untuk mengalahkan putra Nyo toakoh saja belum tentu ilmu melepaskan senjata rahasiamu bisa memadai, masa kau hendak menyuruh dia untuk turun tangan sendiri?"

"Benar. IImu silat yang dimiliki pemuda ini memang bagus. Nyo toakoh, tak nyana kau memiliki putra sebaik ini, baiklah, silakan kau pulang…!"

Dari pembicaraan itu bisa diartikan pula kalau dia mengatakan ilmu silat yang dimiliki ibunya tak mampu mengalahkan kemampuan putranya.

Tapi memandang di atas wajah putra Nyo toakoh itu, dia pun tak ingin menyusahkan dirinya.

Tentu saja Nyo toakoh dapat menangkap arti dari perkataan itu, cuma dengan kedudukannya di dalam dunia persilatan, ia tak dapat berbuat seperti Lo Hi-hong.

Bila Lo Hi-hong bisa menggunakan kata seperti "memotong ayam buat apa memakai golok penjagal kerbau"

Untuk menutupi rasa malunya, maka dia balik ke tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Utti Keng mendengus dingin, lalu katanya.

"Bila kalian ingin meraih kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, silakan maju bersama-sama! Tak peduli berapa pun jumlah kalian, kami akan tetap maju berdua! Bila kalian punya kepandaian, silakan kalian bunuh kami suami istri. Kalau tidak, aku pun tak ingin membunuh kalian, tapi uang sebesar sepuluh laksa tahil perak harus diserahkan kepadaku!"

Perlu diketahui, kendatipun di pihak Pui Hou terdiri dari Lo Hi-hong dan putrinya, Nyo toakoh dan putranya serta Pui Hou berlima yang mengerti ilmu silat, namun dalam pandangan Utti Keng, hanya Ki See-kiat seorang yang dianggap sebagai musuh tangguh.

Nyo toakoh mungkin saja masih bisa bertarung secara paksa, sedang tiga orang lainnya sama sekali tak dipandang sebelah mata.

Pui Hou tertawa terbahak-bahak, lalu berkata.

"Haahh haah haah, Utti sianseng, kau terlalu memandang rendah orang lain. Walaupun ilmu alat yang dimiliki aku orang she Pui masih amat dangkal, tapi dengan kehadiran cianpwe dari perguruanku di sini, kau anggap aku akan membiarkan orang lain memandang hina kepadaku? Tak usah khawatir, kami tak akan mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah ba-nyak!"

Dia adalah seorang manusia yang berotak licik dan cermat, apa yang bisa dipikirkan lawan tentu saja dapat dipikirkan pula olehnya, dalam hati dia pun berpikir.

"Bila See-kiat sute turun tangan satu lawan satu dengannya, meskipun belum tentu menang, paling tidak jauh lebih hebat hasilnya daripada bermain kerubutan!"

Sementara itu Utti Keng telah menatap Ki See-kiat dengan pandangan dingin, lalu berkata.

"Baik, kalau begitu bertarung satu lawan satu pun boleh juga!"

"Sukoh, bila kau orang tua harus turun tangan sendiri, hal mana terlalu menurunkan pamor sendiri, apalagi kalau dilihat dari ucapan Utti sianseng, agaknya dia amat penuju dengan See-kiat sute, lebih baik suruh sute saja yang mencoba ke-lihayan ilmu silat Utti sianseng, entah bagaimana menurut pendapat-mu?"

"Pamor sudah hilang semenjak tadi, apa gunanya bergaya bermacam-macam?"

Jengek Utti Keng dingin.

"Lak-jiu-Koan-im, keganasan ilmu pukulanmu sudah dicoba oleh istriku. Bila kau ingin merebut kembali pamormu melalui putramu itu, lebih baik suruhlah dia mencoba beberapa jurus, aku cukup tahu diri, tak nanti akan kusiksa angkatan muda secara keterlaluan."

"See-kiat,"

Seru Nyo toakoh marah.

"orang lain begitu memandang rendah terhadap kita ibu dan anak, segera unjukkan kepandaianmu dan cobalah sampai di mana kehebatan ilmu silat dari Utti sianseng ini!"

"Mari, mari, mari!"

Seru Utti Keng kemudian.

"pertarungan ini hendak dilangsungkan dengan cara yang bagaimana? Harap kau saja yang mengutarakan usutnya."

"Harap jangan bertarung dulu, ada beberapa patah kata hendak kuutarakan terlebih dulu."

"Baik, sebetulnya meski tidak kau katakan, aku pun ada beberapa patah kata yang hendak diucapkan, sekarang lebih baik kau saja yang berbicara lebih dulu."

"Utti sianscng. aku harap kau sudi melepaskan keponakan muridku yang masih kecil itu."

"Menang kalah toh belum ketahuan hasilnya kenapa aku mesti melepaskan tawanan?"

"Aku tak ingin mencampuri pertikaian antara kau dan Pui suko, tapi bocah itu tidak bersalah, dia pun tidak tahu persoalan dan tidak tersangkut dalam persoalan orangtua-nya, mengapa kau mesti membuatnya kaget dan ketakutan?"

"Banyak anak kecil dari keluarga baik-baik yang telah dicelakai su-heng-mu sepanjang hidupnya, apakah orang-orang itu hanya menderita kaget dan ketakutan belaka?"

"Pepatah kuno mengatakan, kesalahan seseorang janganlah dilimpahkan kepada orang lain. Aku tidak bermaksud membela perbuatan suhcng-ku, tapi kalau toh Utti sianseng menganggap apa yang dilakukan tak benar, buat apa kau mesti menirukan perbuatannya itu?"

Ucapan itu kontan saja membuat Utti Keng menjadi tertegun, katanya kemudian.

"Sebetulnya aku sendiri pun tidak bermaksud hendak menyusahkan bocah ini, aku tak lebih hanya ingin menukar bocah ini dengan uang sebesar sepuluh laksa tahi! perak!"

"Kalahkan diriku, sepuluh laksa tahil perak segera akan kuserahkan kepadamu!"

Berbicara sampai di sini, dia lantas berpaling ke arah ibunya dan melanjutkan.

"Ibu, seandainya seluruh harta kekayaan kita dijual, tentunya masih laku sepuluh laksa tahil perak bukan? Dengan mengandalkan nama baikibu, boleh bukan bila kupinjam dulu uang sebesar itu?"

"Soal itu tak usah kau khawatirkan, sekarang hadapi dulu Uni sianseng dengan hati yang tenang, serahkan saja soal sepuluh laksa tahil perak itu kepadaku!"

"See-kiat sute, mengapa kau berkata demikian?"

Buru-buru Pui Hou berseru pula.

"Jangankan sepuluh laksa tahil perak belum tentu akan diserahkan kepadanya, seandainya kalah taruhan pun aku tetap merasa berterima kasih kepadamu, masa aku akan membiarkan harta kekayaan kalian ludes?"

Perlu diketahui, dari ucapannya terhadap Ki See-kiat tadi, jelas terdengar kalau dia merasa tak puas terhadap anakmuda ini, namun bagaimanapun juga, dia tidak berharap miang punggungnya ini turut ambruk dan kalah "Pui suheng, kau tak usah ber-baik kepadaku,"

Kata Ki See-kiat hambar.

"aku bertindak demikian bukan lantaran urusanmu, aku hanya bertindak menuruti perintah ibuku dan ingin mencoba ilmu silat dari Utti sianseng…!"

Pui Hou segera merasakan air mukanya berubah, tanpa terasa dia memandang ke Nyo toakoh.

"Kiat-ji,"

Nyo toakoh segera berkata.

"soal uang adalah masalah kecil, kau tak usah menggubris bagaimanakah keputusanku nanti. Yang jelas pertarunganmu melawan Utti sianseng kali ini mempunyai sangkut paut yang amat erat sekali dengan Pui suheng-mu!"

"Ibu, kalau kau mengatakan ada hubungannya, anggap saja ada hubungannya, pokoknya, ananda hanya bertarung sepenuh tenaga melawan Utti sianseng karena menuruti permintaanmu. Seandainya ananda tewas di ujung goloknya, harap kau pun tak usah bersedih hati!"

Tanpa terasa Nyo toakoh berkerut kening sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Heran, mengapa si bocah ini hanya bisanya mengucapkan kata-kata yang bernada kurang baik? Haaai… seandainya kau benar-benar tak sanggup menandingi lawan, apakah ibumu akan hidup seorang diri?"

Ternyata dia bukannya tak tahu sampai di manakah bahayanya pertarungan antara putranya melawan dua orang pendekar aneh dari dunia persilatan itu, tapi berhubung wataknya memang keras kepala, apa yang telah diputuskan enggan diurungkan lagi.Diam-diam ia telah memutuskan, andaikata keselamatan putranya terancam, dia lebih suka beradu j iwa dengan Utti Keng berdua, daripada menerima penghinaannya lagi.

Tiba-tiba terdengar Utti Keng berkata.

"Sudah selesaikah pembicaraan kalian ibu dan anak? Sekarang tiba giliranku untuk berbicara!"

"Silakan berbicara!"

Utti Keng tertawa dingin lebih dahulu, kemudian katanya.

"Di sini hanya kau seorang yang masih terendus bau manusia, memandang wajahmu, aku bersedia melanggar kebiasaanku satu kali."

Kemudian sambil berpaling ke arah istrinya, dia menambahkan.

"Seng-in, lepaskan bocah itu!"

Ki Seng-in melepaskan Pui Hong, lalu katanya sambil tertawa.

"Baik, kau boleh kembali. Sekalipun tanpa sandera, aku pun tidak khawatir ayahmu tak mau membayar uang sebesar sepuluh laksa tahil perak kepadaku!"

"In-moay,"

Seru Utti Keng tertawa.

"jangan kelewat yakin kalau bicara, sepuluh laksa tahil perak tersebut belum pasti bisa kita menangkan!"

Mendengar perkataan tersebut, Nyo toakoh segera merasakan semangatnya bangkit kembali, pikirnya.

"Ternyata kau pun tidak yakin bisa memenangi pertarungan ini, kalau begitu, aku tak boleh melenyapkan semangat tempur anakku ini…."

Sementara itu Ki Seng-in sudah berkata pula sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… bocah muda, sekalipun hari ini kau menderita kekalahan di tangan suamiku, kau pun cukup merasa bangga. Sebab selama ini hanya kauseorang yang pernah menerima pandangan seserius ini darinya."

Walaupun ucapan mana bernada memuji kehebatan Ki See-kiat namun arti yang sebenarnya adalah seakan-akan mengatakan Ki See-kiat sudah pasti akan menderita kekalahan. Utti Keng berkata pula lebih jauh.

"Sudah kukatakan tadi, aku tak akan mencari keuntungan dari angkatan muda, begini saja, asal kau dapat menerima seratus jurus se-rahganku, anggap saja kau yang menang dan aku tanpa menerima setengik uang pun akan segera berlalu dan sini!"

"Kau tak usah mengalah kepadaku!"

Seru Ki See-kiat.

"Setiap patah kata yang telah kuucapkan selamanya tak pernah diubah lagi. Kau enggan menerima kebaikanku, hal itu adalah urusanmu sendiri, pokoknya aku hanya akan bertarung sebanyak seratus gebrakan saja, bila aku tak berhasil menga-lahkan dirimu, sejak kini aku tak akan menginjakkan kakiku dalam gedung keluarga Pui lagi!"

Pul Hou kegirangan setengah mati setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat serunya.

"Sute, orang lain adalah tokoh kenamaan dari dunia persilatan, sudah seharusnya mereka mengalah kepada angkatan muda, sedangkan kau pun tidak seharusnya bersikap sungkan-sungkan terhadap angkatan tua, masa kau hendak tak tahu diri dan ingin bertarung setaraf dengan mereka?"

Walaupun di luaran kedengarannya seperti menegur Ki See-kiat, yang benar dia khawatir kalau pemuda tersebut enggan menerima kebaikan Utti Keng.

"Baiklah,"

Kata Ki See-kiat kemudian.

"Utti sianseng, kalau kau ingin mengambil seratus gebrakan sebagai batasannya, ituadalah masalahmu sendiri. Sekarang tak usah banyak berbicara lagi, silakan kau lancarkan seranganmu!"

"Kau hendak mempergunakan senjata apa?"

"Aku hendak mengandalkan sepasang kepalanku ini untuk mencoba ilmu golok kilatmu!"

Utti Keng segera tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, serunya.

"Anak muda, kau kelewat jumawa, aku tahu kalau ilmu silat yang kau miliki sangat hebat, tapi bila ingin menghadapi golok kilatku dengan tangan kosong belaka, tak nanti kepandaian tangan kosongmu itu bisa dikembangkan permainannya, aku tak ingin merenggut nyawamu dengan begitu saja!"

Pui Hou yang berada di sisi arena, lagi-lagi berteriak keras.

"Sute, ilmu Lak-hap-to dari keluarga Ki dan Lak-yang-jiu dari keluargaNyo merupakan ilmu sakti andalan keluargamu, sebenarnya dengan menggunakan ilmu Lak-yang-jiu saja sudah cukup, tapi hal ini kurang hormat terhadap seorang cianpwe, bila kau tidak membawa senjata, gunakan saja golok tipisku ini."

Seraya berkata dia lantas mengayunkan tangannya ke depan dan melemparkan golok tipis tersebut ke tangan Ki See-kiat.

Golok tipis itu dibeli Pui Hou dari tangan seorang raja muda Burma dengan harga tinggi.

Golok itu terbuat dari sekeping baja mumi yang luar biasa lunak tapi ampuh, bila tidak disorenkan biasanya dapat digunakan sebagai ikat pinggang Bila golok itu dicabut dari.

sarungnya, maka akan terlihat cahaya bening yang amat lembutNyo toakoh khawatir putranya keras kepala dan enggan menerima nasihat dari Pui Hou buru-buru dia berseru pula.

"Kiat-ji, ilmu golok kilat dari Utti sianseng merupakan ilmu golok nomor wahid di kolong langit, kesempatan baik seperti ini jarang bisa dijumpai, kau harus memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya dengan meminta petunjuk beberapa jurus ilmu golok darinya. Kalau tidak, soal kurang hormat hanya soal kedua, membuang kesempatan dengan sia-sia itulah yang merupakan suatu kejadian yang patut disayangkan!"

Dengan mengucapkan perkataan tersebut, pertama selain khawatir putranya menderita kerugian besar, kedua khawatir putranya tak tahu kelihayan lawannya.

Maka dia memberitahukan lebih dulu semua keistimewaan Utti Keng, agar putranya tahu diri dan menghindar, sekalipun tak berhasil mematahkan serangan golok kilat lawan, paling tidak bisa mematahkan beberapa jurus serangannya.

Dia tahu putranya telah berhasil melatih ilmu Liong-siu-kang hingga mencapai ke tingkat delapan, Liong-siu-kang merupakan ilmu silat tingkat tinggi dari negeri Thian-tok (India) dan tingkat yang paling tinggi adalah tingkat kesembilan.

Itu berarti, seseorang yang dapat melatih hingga mencapai ke tingkat delapan sudah luar biasa sekali, atau dengan perkataan lain selisihnya dengan kemampuan Utti Keng pun tak terlampau jauh lagi.

Seandainya pemuda itu tahu diri dan tahu keadaan lawan, dia pasti akan lebih leluasa dalam melakukan perlawanan nanti, siapa tahu kalau ia sanggup bertahan ratusan ge-brakan?Terdengar Utti Keng tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya.

"Sebutan golok kilat nomor wahid tak berani kuterima. Buktinya ilmu golok Beng Goan-ciau masih jauh lebih cepat dan hebat daripada ilmu golokku, ilmu silat yang dimiliki putramu juga hebat, aku rasa dia pun masih sanggup menerima berapa puluh jurus serangan ku."

Arti lain dari perkataan yang diucapkan ini seakan-akan menerangkan kalau gelar nomor satu meskipun tak berani diterima, gelar nomor dua masih pantas dia terima.

Selain itu bagaimanapun dia memuji kehebatan Ki See-kiat, namun dia yakin anak muda itu tak akan sanggup menahan serangannya sebanyak seratus gebrakan.

Cuma saja perkataan tersebut memang tidak terlampau merendahkan diri ataupun menghina lawan, ucapan itu boleh dibilang diutarakan dengan tepat sekali.

Sepuluh tabun berselang dia memang dianggap umat persilatan sebagai golok kilat nomor wahid di kolong langit, bahkan sampai sekarang pun masih ada orang yang beranggapan kepandaiannya masih setaraf dengan kepandaian Beng Goan-cau.

Ilmu golok Beng Goan-cau menjadi tenar belakangan, Nyo toakoh bukannya tak tahu soal ini, tapi berhubung Beng Goan-cau merupakan musuh besar keluarga Nyo, maka ia lebih suka menghadiahkan gelar "golok kilat nomor wahid di kolong langit"

Ini pada Utti Keng, kendatipun Utti Keng termasuk salah seorang musuhnya pula. Sekalipun begitu, nada pembicaraannya terhadap Utti Keng masih tetap tak puas, sambil menarik muka dia berseru lantang.

"Kiat-ji, orang sudah menantangmu, mengapa kau tidak sambut tantangan tersebut? Sambutlah beberapa jurusserangannya, jangan biarkan orang lain memandang rendah kita."

Sesungguhnya Ki See-kiat ingin sekali bertarung dengan menggunakan tangan kosong, hal ini bukan disebabkan ia angkuh atau takabur, melainkan kesempurnaan ilmu silatnya justru terletak pada tenaga dalam bukan ilmu golok, lagi pula dia pun dapat melihat kalau golok yang dipakai lawan adalah sebilah golok mestika, golok biasa tak dapat menandingi kehebatannya.

Ia berpendapat, bagaimanapun juga kemungkinan baginya untuk meraih kemenangan tetap kecil, apa salahnya bila tak usah menggunakan senjata tajam?

Bagi seseorang yang berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai tingkat tinggi, soal memakai senjata atau tidak sama saja, tapi perlu diketahui musuh Ki See-kiat adalah seorang yang berilmu silat sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi daripada dirinya, jadi dalam hal ini terdapat suatu perbedaan yang jauh sekali.

Sekarang, Ki See-kiat telah memegang golok mestika yang dilemparkan Pui Hou kepadanya, dia merasa dalam hal senjata tak bakal menderita kerugian dari lawannya, karena itu dia pun mengubah niatnya semula….

"Boanp we Ki See-kiat mendapat perintah dari ibuku untuk memohon petunjuk dari Utti sianseng, harap sianseng sudi memberi petunjuk,"

Kata anak muda itu kemudian setelah melintangkan goloknya di depan dada. Pelan-pelan Utti Keng meloloskan pula goloknya, lalu berkata sambil tertawa.

"Pertarungan kita ini memperebutkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak, bukan suatupertarungan mengadu kepandaian, kau tak usah sungkan-sungkan lagi, ayolah lancarkan seranganmu itu!"

Begitu goloknya diloloskan dari sarung, semua orang merasa terkejut bercampur tertegun sedangkan Ki See-kiat sendiri pun merasa tercengang karena tak menduga, ia ber-seru tertahan.

Ternyata golok dari Utti Keng ini panjangnya tiga depa tiga inci, sarungnya bolak-balik terdapat dua butir permata berwarna merah dengan delapanbelas mutiara di sekelilingnya, suatu perhiasan yang mahal dan mencolok mata.

Diam-diam mereka berpikir.

"Utti Keng adalah seorang jago golok yang sangat hebat di kolong langit, memang manusia macam dia yang pantas menyandang golok mestika yang tak ternilai harganya itu."

Siapa tahu, setelah golok diloloskan, semua orang baru tertegun dan melongo. Ternyata "golok mestika"

Itu hitam pekat tanpa sinar, malahan ujung goloknya tumpul hingga sepintas lalu mirip sebatang besi rongsokan.

Bila dibandingkan dengan golok tipis yang berkilauan di tangan Ki See-kiat, maka ibaratnya perempuan jelek dibandingkan dengan bidadari cantik.

Sekali lagi Ki See-kiat berseru tertahan setelah menyaksikan kejadian itu.

Semua orang melihat ia menganggap besi rongsok sebagai "golok mestika"

Hampir saja meledak gelak tertawanya lantaran geli, tapi tak seorang pun yang berani bersuara.

Semenjak menyerahkan golok tipisnya kepada Ki See-kiat tadi, Pui Hou selalu bermuram durjadan bersikap tak tenang, ia khawatir golok mestikanya tak mampu menandingi kehebatan golok musuh.Tapi setelah tahu kenyataan sekarang, ia merasa sangat lega sekali, pikirnya.

"Golok tipisku ini tajamnya bukan kepalang, bulu saja akan terpapas kutung apalagi besi rong-sokan, sebentar akan kusuruh kau tahu benda manakah baru pantas disebut golok mestika."

"Tidak berani!"

Terdengar Ki See-kiat menjawab. Sambil tertawa cekikikan Ki Seng-in menegur.

"Apanya yang tak berani? Kau tak berani memandang enteng golok mestika suamiku? Ataukah tidak berani turun tangan untuk melancarkan serangan? Mengapa sih kau hanya melulu me-ngatakan tak berani?"

"Harap Utti sianseng memberi petunjuk!"

Ki See-kiat segera berseru lantang.

Sepasang tangannya menggenggam golok dan mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian diayunkan ke depan melepaskan bacokan kilat.

Jurus serangan ini bernama Leng-san-pay-hud (Menyembah Buddha di Bukit Suci), satu gaya pembukaan yang menunjukkan rasa hormat seorang boanpwe terhadap angkatan yang lebih tua.

"Tak usah sungkan-sungkan!"

Sahut Utti Keng cepat Tubuhnya maju, langkah kakinya miring ke samping seperti orang mabuk, kemudian goloknya diayunkan menyongsong datangnya ancaman tersebut Baik gerakan tubuh maupun ilmu goloknya, sama-sama termasuk kepandaian yang sangat aneh.

0odwo0Bertarung Melawan Perampok Budiman "Jurus Cui-ta-kim-kong (Mabuk Sambil Menghajar Malaikat) yang sangat hebat"

Teriak Nyo toakoh lantang.

"terima kasih banyak atas kesudianmu memberi muka untuk putraku!"

Ternyata jurus Cui-ta-kim-kong ini merupakan warisan dari Lu Ci-san yang menghajar pintu benteng dalam keadaan mabuk di jaman Song dulu; jurus ini terkandung dalam ilmu toya Ciang-mo-cianghoat yang kemudian diubah untuk meng-gunakan golok.

Jurus pembukaan dari Ki See-kiat tadi adalah Leng-san-pay-hud (Menyembah Buddha di Bukit Suci), sedangkan Utti Keng membalas dengan jurus Cui-ta-kim-kong (Mabuk Sambil Menghajar Malaikat), sebetulnya pembalasan ini amat tak sopan, akan tetapi berhubung dia menganggap Ki See-kiat seolah-olah seorang "kim-kong"

Atau malaikat, maka bagi seorang angkatan muda, hal ini merupakan suatu penghormatan.

Sudah barang tentu teriakan Nyo toakoh tadi bukan bermaksud untuk berterima kasih, yang benar ia khawatir putranya tak mengenal jurus serangan itu, maka ia hendak memperingatkan dirinya.

Ilmu silat Ki See-kiat sekarang jauh melampaui ibunya, maka ia sudah tahu betapa lihaynya jurus serangan Utti Keng.

Sekalipun Ki See-kiat menaruh kepercayaan yang amat besar terhadap tenaga dalam yang dimilikinya, tapi berhasilkah menandingi Utti Keng, masih merupakan sebuah tanda tanya besar di dalam hatinya.

Ia tak berani menyambut d a tangnya serangan lawan yang begitu ganas dengan keras lawan keras, dengan langkah Boan-liong-you-poh (Naga Melingkar Melangkah ke Samping)dia bergeser ke sisi arena, kemudian dengan jurus Cuan-jiu-cong-to-si (Gaya Memutar Tangan Menyembunyikan Golok) dia bacok lengan kiri lawan.

Dalam jurus ini terdapat pertahanan terdapat pula serangan, tapi yang pasti merupakan suatu serangan paksaan yang mendesak musuh untuk melindungi diri.

Siapa tahu gerakan Utti Keng jauh lebih cepat daripadanya.

Sreet, sreet…!

Secara beruntun dia lancarkan tiga buah bacokan berantai yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat Ternyata ia tidak mencoba menolong diri, malahan saling berebut serangan dengan Ki See-kiat.

Pepatah kuno bilang, teknik bcrmai n catur lebih tinggi setingkat pihak musuh dibikin kelabakan.

Begitu pula dengan ilmu silat, ilmu golok dari Utti Keng lebih sempurna daripadanya, teknik menyerang pun lebih cepat dan jitu, pada hakikatnya tanpa pertahanan Ki See-kiat tak mampu memanfaatkan peluang baik itu untuk mencecar lawannya.

Dengan menggunakan jurus Cuan-jiu-cong-to-si tadi, Ki See-kiat menyangka musuhnya tentu akan menarik diri guna menyelamatkan diri, siapa tahu baru saja ujung goloknya menusuk ke bawah, sambaran golok lawan yang disertai de-singan angin tajam telah membacok ke atas kepalanya.

Berada dalam keadaan seperti ini, bukan ia yang memaksa musuh untuk menyelamatkan diri, justru sebaliknya dialah yang dipaksa oleh Utti Keng untuk menyelamatkan diri.

Dengan mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya, Ki See-kiat menghindarkan diri dari dua jurusserangan yang pertama, tapi jurus ketiga telah memaksa seluruh tubuhnya terkurung di dalam serangan golok lawan.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia harus menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Traanggg!"

Ketika sepasang golok saling membentur satu sama lainnya, terjadilah benturan nyaring yang mengakibatkan percik an bunga api ke empat penjuru.

Tubuh Utti Keng hanya bergetar sedikit akibat bentrokan itu, sebaliknya Ki See-kiat terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Dalam pertarungan jago kenamaan, dilihat dari keadaan sekarang maka Ki See-kiat sudah dianggap kalah "setengah jurus" (Andaikata tubuh Utti Keng tidak bergerak sama sekali, maka Ki See-kiat akan dianggap kalah satu jurus penuh).

Dalam pada itu Lo Hi-hong telah menghitung dengan cepat dari tepi arena.

"Satu, dua, tiga… empat, lima…."

Terhitung berikut "jurus pembukaan"

Dari kedua belah pihak, bara lima jurus yang berlangsung.

walaupun kalah dua tiga jurus dalam pertarungan pertama belum bisa dikatakan kalah total dalam seluruh pertarungan, salah satu pihak harus dirobohkan atau sudah tak bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan baru bisa dianggap kalah, tapi dalam lima jurus saja Ki See-kiat sudah kalah setengah jurus, hal ini kontan saja membuat hati Nyo toakoh dingin separuh.

Dia tahu lebih banyak ruginya daripada keuntungan dalam pertarungan tersebut, apalagi berharap putranya bisa bertahan seratus jurus hakikatnya hal itu lebih sukar daripada naik ke langit Pui Hou paling terkejut, dia tak menyangka golok mesrikanya yang begitu tajam dan biasanya memotong besibaja seperti memotong tahu, ternyata tidak berhasil mema-tahkan golok lawan yang begitu tumpul, bahkan golok tumpul Utti Keng sama sekali tidak rusak atau cedera barang sedikit punjua.

Tapi seandainya ia dapat melihat dengan lebih jelas lagi, mungkin dia masih akan lebih terperanjat lagi.

Sewaktu Ki See-kiat mundur tiga langkah dan memeriksa senjatanya tadi, ternyata golok tipis tersebut sudah cuil sebagian.

Hanya saja cuilan itu hanya berkisar sebesar kuku, maka kecuali dia, orang lain sama sekali tidak melihatnya.

Diam-diam Ki See-kiat menghembuskan napas dingin, pikirnya.

"Mungkin saja selisih tenaga dalam yang kami miliki tidak terlalu banyak, tapi golok tumpulnya itu benar-benar mustika, sampai pergelangan tanganku linu dan sakit, kalau dilihat dari kehebatan senjatanya, jelas bahan baja untuk membuat goloknya jauh di atas golok mestika milik Pui suko!"

Ternyata bukan hanya Ki See-kiat seorang yang kaget Utti Keng jauh lebih terperanjat lagi.

‘Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki bocah muda ini berada di atasku, tak mungkin berada di bawahku.

Dalam bentrokan barusan, aku tak lebih hanya meraih keuntungan dari hal senjata, jadi sesungguhnya tak bisa dianggap masuk hitungan.

Coba kalau golok yang kugunakan bukan golok ini, jelas dalam ilmu golok mungkin saja aku masih mengunggulinya, tapi soal tenaga dalam, ia tak lebih lemah dari ku, kalau begini keadaannya, belum tentu aku bisa meraih kemenangan dalam seratus gebrakan saja."

Demikian Utti Keng berpikir. Ternyata golok tumpul dari Utti Keng itu terbuat dari bahan inti baja yang sangat kuat. Meskipun dengan bentuk yangsama, namun "inti baja"

Biasanya berbobot sepuluh kali lipat lebih berat daripada besi baja biasa.

Inti baja merupakan benda yang langka dan sukar dijumpai di dunia, tigapuluh tahun berselang, Si Pek-tok seorang gembong iblis yang termasyhur pernah malang melintang dalam dunia persilatan dengan mengandalkan sebilah pedang inti baja yang berat, lihaynya bukan alang kepalang.

Kemudian pedang ini terjatuh ke tangan Kim Tiok-liu (Istri Kim Tiok-liu yang bernama Si Hong-ing adalah adik kandung Si Pek-tok, meski saudara sekandung namun cara kerja mereka berbeda).

Kim Tiok-liu adalah seorang jago pedang nomor wahid di jagat, tanpa mempergunakan pedang mestika pun sudah tiada tandingannya di kolong langit, itulah sebabnya pedang inti baja tersebut tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan.

Golok tumpul milik Utti Keng ini meski hanya mengandung dua bagian inti baja, namun untuk menghadapi senjata golok dan pedang biasa sudah lebih dari cukup, sekalipun pihak lawan menggunakan senjata mestika, andaikata tenaga dalamnya kalah, tetap saja senjata mereka tak sanggup menahan sekali bacokan golok inti bajanya ini.

Tentu saja Utti Keng dapat menjadi jago golok yang tiada taranya, terutama karena ilmu goloknya yang lihay, meski tak bisa disangkal goloknya yang berat itu sangat membantu dirinya.

Sedangkan golok tipis dari Pui Hou tersebut meski terbuat dari baja mumi, tapi bahan goloknya masih kalah dibandingkan dengan golok tumpul yang mengandung dua bagian inti baja tersebut.Pertama, golok mestika yang digunakan Utti Keng masih lebih kuat dibandingkan dengan golok mestika yang digunakan Ki See-kiat Kedua, Utti Keng .yang melihat Ki See-kiat masih muda dan menduga tenaga dalamnya tak mampu melebihi dirinya meski terhitung tidak lemah, maka Utti Keng mengira benturan tadi pasti akan menyebabkan golok mestika lawan patah menjadi dua.

Siapa tahu yang terjadi sama sekali di luar dugaannya.

Alhasil golok mestika yang dipakai Ki See-kiat cuma gumpil sebagian kecil, lagi pula dalam bentrokan tadi tubuh Utti Keng kena terhisap oleh tenaga dalam lawan sehingga turut bergetar keras.

Sebagai seorang ahli ilmu silat dengan dasar kedua hal tersebut.

Utti Keng segera mengetahui kalau tenaga dalam lawannya berada di atasnya dan tak mungkin berada di bawahnya.

Cuma saja, walaupun hasil dari bentrokan ini jauh di luar dugaan Utti Keng, tapi setelah sepasang golok itu saling beradu, dia makin yakin kalau kemenangan sudah pasti berada di pihaknya.

Dalam hati dia pun lantas berpikir.

"Walaupun tenaga dalam yang dimiliki bocah ini tidak lebih lemah daripadaku, sayang caranya menggunakan tenaga dalam masih belum mencapai tingkatan yang paling tinggi. Ilmu golok serta pengalamannya dalam menghadapi musuh pun tidak melebihi aku! Tahu begini, buat apa aku mesti menentukan batas seratus jurus dengannya hanya untuk menjaga nama? Duapuluh gebrakan pun belum tentu ia sanggup mempertahankan diri!"

Sementara Ki See-kiat mundur tiga langkah, Utti Keng telah berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… anak muda, berdiri dulu yang tenang sebelum kita lanjutkan."

Sedang Lo Hi-hong yang berada di sisi arena berkata kepada putrinya dengan lantang.

"Keistimewaan ilmu golok Lak-hap-to dari keluarga Ki adalah kerapatan permainan golok, dengan pertahanan lebih banyak ketimbang penyerangan. Seandainya tidak terburu-buru ingin mencari kemenangan, sekalipun bertemu dengan musuh yang berilmu silat lebih tinggi daripada diri sendiri pun tak bakal menderita kekalahan. Sebentar kau perhatikan permainan itu baik-baik, sudah pasti banyak manfaat yang dapat kau raih. Bukankah begitu Nyo toakoh?"

Tentu saja Nyo toakoh mengerti maksud dari pembicaraannya itu, walaupun di luaran dia bermaksud memberi petunjuk kepada putrinya, yang benar petunjuk tersebut ditujukan buat Ki See-kiat.

"Benar sekali,"

Kata Nyo toakoh cepat-cepat.

"Paling pantang bagi orang yang menggunakan ilmu golok ini adalah pikiran kalut dan terpengaruh oleh nafsu, putraku masih belum berhasil menguasai dua bagian kemampuan yaya-nya, belum tentu dia memahami arti dari kata-kata tersebut."

Sifat memberi petunjuknya tampak semakin nyata lagi dengan diutarakannya perkataannya tersebut. Sambil tertawa dingin Ki Seng-in segera berseru.

"Hmm, ilmu golok Lak-hap-to juga pantas dibanggakan? Benar-benar katak dalam sumur. Sekalipun Su-hay-yu-liong (Naga Pesiar Empat Samudra) Ki Kian-yap menggunakan ilmu golok itu sendiri, belum tentu ia sanggup menahan seratus jurus serangan suamiku!"

Merah padam selembar wajah Nyo toakoh karena mendongkol, baru saja dia akan mengajak Ki Seng-in beradu mulut, tampak Ki See-kiat sudah bertarung kembali melawan Utti Keng.

Dalam pertarungan kali ini, Ki See-kiat telah menuruti petunjuk ibunya dan lebih baik bertahan daripada menyerang.

Menyaksikan hal itu, Nyo toakoh segera berpikir.

"Nah begini baru betul, dalam permainan senjata tadi Kiat-ji memang tidak menderita kerugian apa-apa, siapa tahu ia dapat bertahan sampai seratus gebrakan."

Padahal dalam hal senjata pun Ki See-kiat menderita kerugian besar, cuma saja hal ini tidak diketahui olehnya.

Utti Keng masih tetap membacok dengan golok kilatnya, ketika mencapai jurus keenam (jadi berikut serangan sebelumnya menjadi sebelas jurus) tiba-tiba terdengar suara bentrokan nyaring.

"Traang… traang…!"

Di antara dentingan nyaring yang disertai percikan bunga api, golok lemas Ki See-kiat kena terbentur lagi oleh golok tumpul lawan sehingga kali ini timbul dua gumpilan kecil.

Dengan lemas Nyo toakoh duduk kembali di kursinya, sekarang dia tahu kalau ucapan Ki Seng-in bukan bualan belaka, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir, ‘Tenaga dalam yang dimiliki Kiat-ji sekarang masih belum mampu menandingi kemampuan yaya-nya di masa jaya dulu, tapi sekalipun permainan golok Lak hap-to-nya sudah hampir menyamai yaya-nya, belum tentu dia sanggup menahan serangan dari perampok Kwangtang ini sebanyak duapuluh gebrakan….

"Mendadak terdengar Lo Hi-hong berseru tertahan, lalu teriaknya.

"Aah, ilmu golok apakah yang digunakan putramu? Belum pernah kulihat ilmu golok semacam ini!"

Nyo toakoh membelalakkan matanya lebar-lebar, dia sendiri pun tidak tahu ilmu golok apakah yang telah dipergunakan oleh putranya.

Bukan cuma dia saja yang tidak tahu, bahkan Utti Keng yang berpengetahuan jauh lebih luas daripada dirinya pun tidak tahu.

Ternyata Ki See-kiat yang merasa ilmu golok Lak-hap-to tak akan mampu menghadapi golok kilat dari Utti Keng, ia lantas mengubah kepandaiannya dengan mempergunakan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang diubah menjadi ilmu golok.

Ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat hasil ciptaan Kui Hoa-seng suami istri telah disimpan dalam gua salju di bawah Kota Iblis, dalam dunia saat ini hanya Ki See-kiat seorang yang pernah menyaksikan ilmu pedang Peng-coan-kianvhoat tersebut selengkapnya, tak heran kalau Utti Keng tak mengetahui akan hal ini.

Sekarang dia telah melebur jurus pedang itu ke dalam jurus golok, sementara kesaktian jurus masih dinomorduakan, setelah beberapa gebrakan kemudian, barulah desingan angin goloknya mulai membawa hawa dingin yang merasuk tulang sumsum.

Hal itu kontan membuat Utti Keng merasa makin terperanjat bercampur heran.

Kalau berbicara soal keindahan jurus belaka, golok kilat dari Utti Keng sama sekali tidak lebih jelek daripada ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, sekalipun mungkin lebih rendah sedikit,hal itu tak akan sampai mengejutkan tokoh aneh dari dunia persilatan yang sudah banyak berpengalaman ini.

Tapi begitu ilmu golok lawan dikembangkan, dia segera merasakan munculnya hawa dingin yang aneh, bahkan angin aneh itu bukan muncul dari angin golok melainkan dari golok itu sendiri, perasaan inilah yang membuatnya jadi kebingungan.

Cuma Utti Keng sudah amat berpengalaman di dalam menghadapi beratus-ratus pertempuran, apa yang dirasakannya sekarang tak lebih hanya rasa "kedinginan"

Be-laka, terhadap tenaga dalamnya sama sekali tidak mendatangkan pengaruh apa-apa. Seaneh-anehnya ilmu golok yang dimiliki Ki Sce-kiat, ilmu golok kilatnya masih sanggup untuk menghadapi.

"Ooh, sayang…!"diam-diam Ki See-kiat berpekik dalam hati kecilnya.

"Seandainya aku mempunyai pedang inti es Peng-pok-han-kong-kiam, kendatipun tak bisa mengalahkan Kwangtang tayhiap ini, paling tidak juga tak akan menderita kekalahan!"

Berbeda dengan Utti Keng, ia bukan khawatir tak bisa mengalahkan anak muda itu, melainkan takut jika dalam seratus gebrakan gagal merobohkan si anak muda tersebut.

Lo Hi-hong menghitung terus engan cepat.

"Sebelas, duabelas, tigabelas… duapuluh dua, duapuluh tiga, duapuluh empat… duapuluh delapan, duapuluh sembilan, tiga-puluh…."

Tak selang berapa saat kemudian, genaplah mereka bertarung sebanyak tigapuluh gebrakan. Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu) yang selama ini acuh tak acuh, kini mulai tampak gelisah.

"Heran, mengapa ilmu golok bocah muda itu sedemikian anehnya? Tampaknya ia benar-benar mampu untuk menyambut seratus jurus serangan toako…."

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, terlihat Utti Keng telah memutar goloknya secepat angin, lagi-lagi dia melancarkan enam buah bacokan berantai.

Di dalam mempergunakan ilmu golok kilatnya, sudah menjadi kebiasaan bagi Utti Keng untuk sekaligus melancarkan tiga serangan atau enam serangan berantai, namun dalam melepaskan enam bacokan berantai sekarang, tampaknya telah terjadi sedikit perubahan.

Lima buah bacokan pertama dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, sedang bacokan yang keenam, mendadak dilancarkan lebih lamban.

Mendadak terdengar ia membentak keras.

"Patah!"

Menyusul kemudian berkumandang serentetan suara gemerincing yang memekakkan telinga.

Ternyata golok mestika yang berada di tangan Ki See-kiat benar-benar terpapas kutung menjadi dua bagian, bekas bacokan itu rata dan halus, ternyata golok berkarat yang tumpul itu jauh lebih unggul dibandingkan dengan mata golok yang berkilauan tajam Ternyata pengalaman Utti Keng dalam menghadapi musuh jauh lebih matang ketimbang Ki See-kiat, dia pandai sekali meminjam tenaga untuk menghantam lawan.

Pada kelima buah serangan berantai yang pertama tadi, secepat kilat dia mengancam tiga bagian tubuh dari anak muda tersebut, menanti Ki See-kiat telah mengerahkan tenaga dalamnya hingga mencapai pada puncaknya, dan menangkisserangan goloknya yang kelima dengan jurus Ki-hwee-liau-thian (Mengangkat Obor Membakar Langit) tiba-tiba saja serangannya yang terakhir itu diubah mengancam tubuh bagian bawah.

Tentu saja Ki See-kiat harus membalikkan goloknya sambil menangkis, oleh karena kecepatannya tidak mengungguli lawan, maka kedua gulung tenaga dalam tersebut berubah jadi sama-sama menekan ke bawah.

Di saat inilah dia menggetarkan goloknya lebih keras hingga menambahkan besarnya daya ketokan ke bawah, akibatnya golok mestika Ki See-kiat memperoleh tekanan yang berlipat ganda, alhasil patahlah golok mestika itu menjadi dua bagian.

Pada detik inilah semua orang sama-sama dibuat tertegun oleh peristiwa tersebut.

Yang paling sakit hati tentu saja Pui Hou, golok mestika itu dibelinya dengan harga delapanribu tahil perak "Ooh… delapanribu tahil perak, delapanribu tahil perak, tak kusangka harus lenyap dengan begitu saja!"

Delapanribu tahil perak saja sudah membuatnya sakit hati, apalagi masih ada sepuluh laksa tahil perak yang bakal dibayar belakangan.

Andaikata Ki See-kiat kalah, tentu saja dia harus membayar kekalahan tersebut Begitu berhasil mematahkan golok mestika anak muda tersebut Utti Keng segera melompat mundur dan berseru sambil tertawa.

"Lo Hi-hong, semuanya berapa jurus?"

Lo Hi-hong tak berani menjawab, dia hanya membungkam dalam seribu bahasa. Sambil tertawa Ki Seng-in segera berseru.

"Tigapuluh enam jurus!"

Sebetulnya Nyo toakoh telah bersiap sedia, begitu keselamatan jiwa putranya terancam, dia akan segera menerjang ke tengah arena untuk beradu jiwa dengan Utti Keng, maka ketika dilihatnya Utti Keng mengundurkan diri, dia pun menghembuskan napas lega.

Nama baik memang penting, tapi keselamatan putranya jauh lebih penting lagi, sedikit banyak Nyo toakoh berterima kasih juga kepada Utti Keng karena telah mengampuni jiwa putranya.

Tapi di saat dia hendak mewakili putranya untuk mengaku kalah, mendadak terlihat olehnya Ki See-kiat sedang membuang kutungan goloknya ke luar gelanggang, kemudian menubruk maju lagi ke depan.

"Tunggu sebentar!"

Utti Keng segera membentak.

"Betul ilmu golokku kalah di tanganmu, tapi aku masih mempunyai sepasang telapak tangan, aku masih mampu untuk melanjutkan pertarungan, Siapa yang menerapkan peraturan bahwa senjata yang patah adalah pihak yang kalah?"

Bantah Ki See-kiat.

"Aku bukan bermaksud demikian,"

Kata Utti Keng sambil tertawa.

"Lantas mengapa kau enggan melanjutkan pertempuran?"

Sebetulnya kalah dalam jurus serangan bukan berarti kalah menang sudah ditetapkan, apalagi sejak awal Ki See-kiat sudah mengatakan akan menghadapi serangan golok lawan dengan tangan kosong.

Dengan diutarakannya perkataan tersebut, tiada orang yang bisa bilang kalau dia tak tahu aturan atau melanggarjanji, tapi tentu saja Nyo toakoh tak berani membiarkan pu-tranya melanjutkan pertarungan itu.

"Golok mestika yang dipakai Utti sianseng-lah baru merupakan golok mestika yang sesungguhnya! Hari ini, kami benar-benar merasa terbuka mata kami! Anak Kiat Lak-yang-jiu dari keluarga kita hanya bisa dipakai untuk menghadapi golok biasa, lebih baik kau mengaku…."

Perlu diketahui, meskipun Nyo toakoh belum pernah melihat golok inti baja, namun ia sebagai seorang angkatan tua, tentu saja pernah mendengar tentang kehebatan dari inti baja tersebut Dengan mengandalkan pengetahuannya yang luas, dia lantas menduga bahwa di balik golok mestika yang digunakan Utti Keng sekarang sudah pasti ada campuran inti bajanya.

Tapi kata "kalah"

Belum sempat diutarakan keluar, Ki See-kiat telah berteriak lantang.

"Ibu, kau tak usah mempedulikan diriku, aku tak akan mengaku kalah!"

Utti Keng segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… yang kunantikan adalah ucapanmu itu!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, termasuk Ki See-kiat sendiri turut menjadi tertegun. Terdengar Utti Keng berkata lebih jauh.

"Apa yang diucapkan ibumu tepat sekali, aku memang mencari keuntungan dengan mengandalkan golok mestika tersebut, kalau bukan demikian, bagaimana mungkin aku berhasil mengungguli kau dalam tigapuluh enam gebrakan saja? Sekarang kau berhasrat menantang aku bertarung ilmu pukul-an, tentu saja aku hanya bisa menerima tantangan mu dengan tangan kosong juga, masa aku harus mencari keuntungan lagi dengan mengandalkan golok mestika tersebut?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia telah memasukkan golok ke dalam sarung dan melemparkan ke arah istrinya, Ki Seng-in.

"Utti tayhiap, kau benar-benar seorang pendekar yang berjiwa ksatria,"

Ki See-kiat segera memuji.

"Aku tahu, pertarungan macam apa pun yang dilangsungkan, tak nanti aku bisa mengalahkan dirimu, tapi sekalipun tak mampu aku harus bertarung juga, bukan untuk orang lain, tapi untuk ilmu silat keluargaku, aku tak boleh membiarkan orang lain memandang rendah kami! "

Kendatipun hari ini yaya tidak ikut datang, aku pun harus mencarikan nama baik untuknya."

Terutama tentang perkataannya "bukan untuk orang lain" , dalam pendengaran Pui Hou, rasanya ucapan itu amat tak sedap didengar, tentu saja berakibat hatinya tersinggung.

Dengan wajah bersungguh-sungguh Utti Keng berkata lagi.

"Ki lote, aku pun menghormati kau sebagai enghiong muda, aku pun minta maaf bila ada ucapanku tadi yang menyinggung nama baik kakek serta ibumu. Baiklah, sekarang kau boleh mulai menyerang."

Dengan kedudukan Utti Keng yang terhormat, ternyata minta maaf terhadap seorang "angkatan muda", peristiwa semacam ini boleh dibilang baru berlangsung untuk pertama kalinya.

Kendatipun Ki See-kiat menderita kekalahan dalam peristiwa ini, dia kalah secara terhormat.

Ki See-kiat segera membuat satu gerakan lingkaran busur dengan telapak tangan kirinya, sementara tangan kanan bergerak ke muka menerobos lingkaran busur tadi,serunya dengan lantang.

"Biar boanpwe menghadapi Utti tayhiap dengan mengandalkan Lak-yang-jiu keluarga kami!"

Sebutan "Lak-yang-jiu"

Itu kembali menimbulkan perasaan hangat dan lega dalam hati Nyo toakoh, tanpa terasa ah* mata mengembang di dalam kelopak matanya.

Setiap orang tahu, ilmu Lak-yang-jiu yang dipelajari Ki See-kiat diperoleh dari ibunya, siapa pun dapat memahami bahwa Ki See-kiat sengaja mengucapkan perkataan itu karena dia hendak membalaskan sakit hati ibunya.

"Kukira di dalam hati kecilnya hanya ada siluman perempuan itu seorang, ternyata dia tetap adalah putraku yang terbaik! Untuk membalaskan sakit hatiku, dia tak segan-segannya menyerempet bahaya dan mempertaruhkan jiwa raganya"

Menyusul kemudian Nyo toakoh berpikir lebih jauh.

"Kalau kudengar dari nada pembicaraan Utti Keng, tampaknya dia sangat menghormati anak Kiat, malah terhadap aku pun ikut menjadi sungkan, rasanya tak mungkin dia akan mencelakai jiwa anak Kiat."

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Ki See-kiat telah bertarung sengit melawan Utti Keng.

Lak-yang-jiu terdiri dari jurus dengan enam gerakan, ilmu pukulan itu merupakan ilmu pukulan yang terumit perubahannya, mengandung pelbagai unsur rahasia ilmu silat pelbagai perguruan.

Begitu Ki See-kiat turun tangan, empat arah delapan penjuru segera dipenuhi oleh bayangan telapak tangannya.

Berbicara soal ilmu pukulan, mungkin Ki See-kiat belum dapat mengungguli ibunya, tapi berbicara soal kekuatan, diajauh lebih tangguh.

Di mana angin pukulannya menyambar lewat, daun dan bunga berguguran ke tanah.

Utti Keng segera memuji.

"Ilmu pukulan Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo memang terhitung ilmu silat yang nomor satu dalam dunia persilatan, sayang tiada pewaris yang bagus di masa lalu, tapi aku yakin mulai saat ini kepandaian ini akan berjaya kembal i." ‘Terima kasih atas pujianmu."

Sementara pembicaraan berlangsung, dia telah melancarkan tiga jurus dengan delapanbclas gerakan serangan.

"Tigapuluh tujuh, tigapuluh delapan, tigapuluh sembilan, empat-puluh…."

Lo Hi-hong menghitung terus tiada hentinya Mendadak Pui Hou teringat akan sesuatu, serunya.

"Utti sianseng, apakah seratus jurus yang kau tentukan itu berikut juga ketigapuluh enam gebrakan yang telah berlangsung tadi?"

Utti Keng segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah haah haah, tentu saja sekalian dihitung, adik In, ingat baik-baik, kini adalah jurus yang keempatpuluh enam."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia telah melepaskan enam buah serangan balasan.

Tiba-tiba telapak tangannya berubah, kali ini semua orang merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan berkunang-kunang.

Rupanya dia telah mengeluarkan ilmu pukulan ciptaan sendiri yang gerakan serangannya menyerupai bacokan, babatan, tebasan, tangkisan, pukulan maupun ledakan, yang dipakai semuanya adalah ilmu golok.Kecepatan geraknya tidak berada di bawah gerakan ilmu golok.

Dengan mengandalkan tenaga dalamnya, bila seseorang sampai terkena bacokan ‘telapak tangan golok "nya, niscaya akibat yang diperoleh tak.

jauh berbeda dengan terkena bacokan golok inti baja.

Jika tadi dia masih menggunakan sebilah golok, maka sekarang dia memakai sepasang telapak tangan yang tak ubahnya seperti dua buah "telapak tangan golok"

Saja, di mana angin pukulannya menderu-deru, terasa mengerikan sekali bagi siapa pun yang memandangnya.

Dari sini bisa dilihat kalau ilmu silatnya tak berada di bawah keampuhan Lak-yang-jiu Ki See-kiat, bahkan bisa jadi jauh di atasnya.

Nyo toakoh merasakan jantungnya berdebar keras dengan perasaan yang amat khawatir.

"Bisa jadi Utti Keng akan mengampuni selembar jiwanya…."

Demikian dia menduga-duga sendiri Tapi, siapa pula yang bisa menebak perasaan hati Utti Keng yang sebenarnya?

Di bawah kurungan dan bacokan yang begitu ganas dari ilmu telapak tangan golok lawan, asal putranya sedikit saja kurang berhati-hati, niscaya dia akan tewas bermandikan darah.

Tampak Ki See-kiat mundur terus ke belakang, sementara pukulan yang dilancarkan Utti Keng makin lama semakin cepat, kian lama kian bertambah gencar, namun telapak tangan’ kedua belah pihak jarang sekali saling membentur.Ilmu telapak tangan golok yang dilancarkan Utti Keng secepat kilat itu seakan-akan ditujukan semua ke bagian tubuh yang mematikan di tubuh lawan, di bawah ancaman dan desakan macam ini, untuk bertahan saja Ki See-kiat sudah kerepotan, mana mungkin ia bisa melancarkan serangan balasan lagi?

Kalau dilihat keadaan ini, agaknya setiap saat ada kemungkinan Ki See-kiat bakal terluka di ujung pukulan telapak tangan golok lawan.

Yang membuat Nyo toakoh rada tentram adalah langkah kaki putranya yang tak menjadi kacau atau gugup meski harus mundur terus berulang kali.

Nyo toakoh bisa melihat bahwa setiap langkahnya dilakukan mengambil posisi Ngo-heng-pat-kwa, tiap langkah dia mundur ke belakang, setiap kali dia berhasil memunahkan sebagian dari tenaga serangan lawan.

Namun tenaga serangan yang dilancarkan Utti Keng ibarat air bah di sungai Huangho, menggulung ke depan dengan amat dahsyatnya.

Satu gelombang baru menggulung lewat, gelombang lain telah menyusul tiba, baru saja scgulung tenaga pukulan dipunahkan, serangan berikut yang jauh lebih ganas dan dahsyat telah menyambar tiba Nyo toakoh masih dapat melihat kalau putranya masih memiliki kemampuan untuk memunahkan serangan lawan, sebaliknya orang lain tak berhasil melihat apa-apa bahkan pandangan seperti Nyo toakoh pun tidak diperoleh.

Lo Hi-hong jadi terkesiap sekali, saking kagetnya dia sampai terbelalak dengan mulut melongo, pada hakikatnya lupa untuk menghitung jumlah jurus serangan yang digunakan.Padahal sekalipun ia bisa menghitung dengan tenang pun tak bisa terhitung, sebab gerak serangan dari Utti Keng benar-benar ke lewat cepat….

Siapa tahu sementara semua orang mengkhawatirkan keselamatan Ki See-kiat, sebaliknya Utti Keng sendiri pun diam-diam mengeluh.

Ternyata ilmu pukulan Lak-yang-jhi masih lebih unggul ketimbang ilmu golok Lak-hap-to, ditambah lagi kemampuan Ki See-kiat dalam permainan ilmu pukulan jauh lebih ampuh dari ilmu goloknya Tapi yang paling menguntungkan baginya adalah Lak-yang-jiu pada dasarnya merupakan ilmu pukulan yang berhawa keras, ketika dikombinasikan dengan tenaga dalam Liong-siu-kang tingkat dela-pannya, menyebabkan kekuatannya berlipat ganda hal ini menyebabkan tenaga dalamnya tidak lebih rendah daripada Utti Keng.

Bagi pandangan orang lain, ilmu ciang-to atau pukulan golok dari Utti Keng sangat berat dan mantap melebihi golok inti bajanya tapi dalam kenyataan perbedaan masih tetap ada Bagaimanapun juga memainkan ilmu golok dengan telapak tangan tak akan bisa lebih tangguh daripada mempergunakan golok yang sebenarnya Ilmu telapak tangan masing-masing orang mempunyai ciri dan keistimewaan tertentu, sedang tenaga dalam pun berada dalam keseimbangan, apalagi ilmu pukulan merupakan kepandaian andalan Ki See-kiat, maka kalau dibicarakan yang sebenarnya anak muda tersebut tidak menderita kerugian apa-apa Yang paling merugikan Ki See-kiat adalah pengalamannya yang dangkal dalam menghadapi musuh, selain daripada itutenaga dalamnya yang digunakan juga belum mencapai taraf seleluasa Utti Keng.

Tetapi kalau diperhitungkan dari keuntungan serta kerugiannya, Ki See-kiat tak jauh ketinggalan….

Tapi Utti Keng khawatir bila gagal mengalahkan pemuda tersebut dalam seratus gebrakan, soal ilmu golok dia yakin dan merupakan andalannya tapi soal ilmu pukulan ia tak punya pegangan apa-apa karenanya dia harus bertarung semakin cepat, tiap serangan yang dilancarkan memaksa musuh untuk menyelamatkan diri, alasannya dia mencoba menghindari bentrokan dengan ilmu Liong-siu-kang pemuda itu, sebab makin berkurangnya tenaga dalamnya berarti makin tipis harapannya meraih kemenangan.

Ki See-kiat kurang berpengalaman, setelah kena didesak sampai keteter hebat dan ia cuma mampu menangkis serta bertahan belaka, sedikit banyak hatinya mulai gugup.

Di bawah desakan serta serangan Utti Keng yang melanda datang seperti angin puyuh itu, kendatipun Lak-yang-jiu dari Ki See-kiat memiliki perubahan jurus yang rumit, tak urung ia keteter juga sampai dibikin kelabakan setengah mati..Di tengah pertarungan, mendadak terdengar suara baju yang tersambar robek… "Breeett!"

Rupanya ujung jari tangan Utti Keng berhasil merobek pakaian Ki See-kiat sepanjang lima inci lebih, masih untung pemuda itu segera berkelit, kalau tidak, hampir saja urat nadi pada pergelangan tangannya kena terluka oleh sambaran ilmu "ciang to"

Nya Ki See-kiat terperanjat sekali, segera pikirnya "Seandainya menggunakan ilmu golok, mungkin lenganku telah berpisah dengan badan!

Apa yang dia katakan memang benar, dalam kolong langit dewasa ini memang belum ada orang yang mampumenyambut seratus jurus serangan golok kilatnya dengan mempergunakan ilmu Ki-na-jiu-hoat!"

Nyo toakoh yang berdiri di sisi arena merasakan jantungnya seakan-akan hendak melompat keluar dari rongga dadanya, apalagi Lo Hi-hong, dia merasakan hatinya bergidik.

Yang paling mengenaskan adalah Pui Hou, waktu itu dia hanya bisa berpikir.

"Sepuluh laksa tahi! perak, aah… tampaknya aku pasti kalah, aku harus membayar sepuluh laksa tahi! perak, aku tetap akan kalah!"

Tiba-tiba Lo Pek-soat bertanya "Ayah, sudah berapa jurus?"

Lo Hi-hong menjadi terbelalak dengan mulut melongo, sesaat kemudian dia baru berkata "Aku-aku lupa menghitung, mungkin-mungkin hampir mencapai seratus jurus."

Utti Keng seperti teringat pula akan hal itu, buru-buru dia turut bertanya.

"Adik In, sudah berapa jurus?"

"Seratus delapan jurus!"

Sahut Ki Seng-in.

Kiranya di saat terakhir, Utti Keng makin bertarung semakin cepat, pada saat dia bertanya kepada isterinya, baru mencapai sembilan-puluh delapan jurus, tapi di saat Ki Seng-in menjawab, dia telah melancarkan sepuluh jurus serangan lagi.

Sementara suami istri itu sedang berbicara, pikiran Utti Keng telah bercabang karena harus berbicara, permainan goloknya menunjukkan setitik lubang kelemahan yang tidak begitu kentara.

Namun bagi orang yang berilmu silat tinggi, kesempatan semacam ini tak akan disia-siakan dengan begitu saja, apalagi di saat yang terakhir Ki See-kiat memusatkan segenap per-hatiannya ke tengah arena, begitu melihat datangnya titik kelemahan, serta merta ia manfaatkan peluang tersebutTerdengar Utti Keng membentak keras, sepasang telapak tangannya didorong berbareng ke depan.

Tubuh Ki See-kiat segera mencelat ke udara dan menumbuk sebatang pohon besar… "Kraaakkk!"

Sebatang dahan pohon sebesar lengan bocah kena tertumbuk sampai patah menjadi dua bagian.

Rupanya Utti Keng telah menggunakan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga….

Setelah itu, sambil meluruskan lengannya ke bawah, Utti Keng berkata.

"Betul-betul kepandaian yang bagusi Enghiong memang muncul di saat muda, kini seratus duabelas jurus sudah lewat, aku Utti Keng mengaku kalah!"

Sebenarnya Lo Hi-hong lupa menghitung jurus, di dalam keadaan begini bisa saja Ki Seng-in menyebutkan angka yang tidak sebenarnya, namun kenyataannya, kendatipun perempuan itu berharap suaminya menang, ia toh mengaku juga dengan sejujurnya.

Nyo toakoh merasa malu di samping berterima kasih kepadanya, diam-diam ia berpikir.

"Coba kalau berganti aku, sudah pasti aku akan membela orangku sendiri…."

Dia bukan berterima kasih kepada Ki Seng-in saja, terlebih-lebih kepada Utti Keng.

Sebetulnya ilmu pukulan golok dari Utti Keng bisa dilancarkan enam buah jurus serangan sekaligus, tapi dalam serangannya yang terakhir tadi, dia ha-nya melancarkan empat jurus untuk memukul mundur Ki See-kiat, sedang dua jurus serangan yang terakhir tidak dilanjutkan.

Coba kalau bukan begitu, mungkin Ki See-kiat kalau tidak mampus sudah pasti akan terluka parah.Kini Utti Keng telah mengaku kalah, sepantasnya pihak keluarga Pui merasa kegirangan setengah mati.

Namun "kemenangan"

Tersebut diperpleh sama sekali di luar dugaan, agaknya setiap orang terpengaruh oleh kegagahan serta keju-juran Utti Keng, dalam waktu singkat suasana di sana malah berubah menjadi sunyi senyap tak terdengar suara sedikit pun.

Sesudah termangu sesaat, akhirnya Nyo toakoh baru berkata.

"Anak Kiat, kau tidak apa-apa bukan?"

Meskipun dia dapat melihat kalau putranya tidak cedera, namun perasaannya belum lega seratus persen.

Mungkinkah putranya yang kena dilempar ke belakang oleh tenaga pukulan lawan menderita cedera dalam yang tak tampak mata telanjang…?

Ki See-kiat menghembuskan napas panjang, sahurnya.

"Utti tay-hiap tidak turun tangan keji, syukur ananda tidak menderita cedera apa-apa."

Selesai berkata dia kembali ke sisi tubuh ibunya. Sekarang Nyo toakoh baru bisa menghembuskan napas panjang dan merasa lega sekali. Saat itulah, Utti Keng baru pelan-pelan berkata.

"Pui toa-caycu, anggap saja kejadian ini merupakan rejekimu, untung ada sute-mu yang telah membantumu!"

Berbicara sampai di situ, sambil berpaling katanya lagi kepada Ki See-kiat.

"Ki lote, kau sanggup menerima duabelas jurus tambahan di luar batas seratus jurus yang kita tetapkan, hal ini boleh dibilang hal yang luar biasa sekali, mungkin tiada orang kedua di antara kaum muda dalam dunia persilatandewasa ini yang sanggup menandinginya Aku hanya berharap kau bisa memanfaatkan ilmu silatmu dengan sebaik-baiknya!"

Maksud dari ucapan itu jelas menunjukkan betapa tidak puasnya pendekar besar itu lantaran anak muda tersebut telah melindungi seorang hartawan durjana Buru-buru Ki See-kiat menjura dalam-dalam, sahurnya.

"Nasihat cianpwe akan boanpwe ingat selalu di dalam hati. Hari ini boanpwe hanya bertindak atas perintah ibuku, harap Utti tayhiap maklum"

Di balik ucapan itu pun, dia seolah-olah menunjukkan kalau hanya akan terjadi satu kali, lain kali tak mungkin bisa terjadi lagi. Utti Keng segera berseru.

"Adik In, mari kita pergi!"

"Tunggu sebentar!"

Mendadak Ki Seng-in berseru.

"Aku masih ada persoalan yang hendak kusampaikan!"

Ucapan yang diutarakan Jian-jiu-Koan-im secara tiba-tiba ini kontan saja mengejutkan semua orang.

Perlu diketahui, ilmu melepaskan senjata rahasia yang dimiliki Ki Seng-in lihay sekali dan tiada tandingannya di kolong langit, ilmu silat yang dimiliki pun cuma setingkat di bawah suaminya.

Baru saja Ki See-kiat melangsungkan suatu pertempuran sengit, paling tidak tenaga dalamnya sudah berkurang separuh, andaikata perempuan itu tak mau menyudahi persoalan sampai di sini saja, atau menerbitkan persoalan baru, siapakah yang akan mampu menghadapinya?

Buru-buru Pui Hou berseru.

"Utti tayhiap, kau sudah bilang hanya akan bertanding satu babak suami istri asalnya satu, kalian tak boleh mencari gara-gara di sini…."

"Hmmm, apa yang pernah dibilang suamiku?"

Jengek Ki Seng-in dingin.

"Dia bilang, jika menang kalah sudah ditentukan maka persoalan di sini pun dianggap selesai, sepeser uang tembaga pun dia tak sudi mengambil, di samping itu dia pun tak akan pernah melangkah masuk ke halaman rumahku lagi!"

"Walaupun kami suami istri berdua seringkah turun tangan bersama, ada kalanya masing-masing pihak bekerja sendiri-sendiri. Kali ini dia hanya mengabulkan permintaanmu, sebetulnya aku masih berhak untuk melakukan transaksi denganmu, tapi memandang wajah suamiku, maka apa yang telah dia sanggupi, akan kuturuti pula!"

Sementara perempuan itu berbicara, Pui Hou merasakan hatinya berdebar keras, tapi sampai akhirnya dia baru menghembuskan napas lega. Segera pikirnya.

"Kau bilang hendak menuruti semua perjanjian, bukankah berarti persoalan telah beres?"

Terdengar Ki Seng-in berkata lebih jauh.

"Apa yang hendak kukatakan adalah persoalan yang tidak ia janjikan kepadamu. Pertama, aku tak sudi uangmu. Kedua, aku pun tak sudi melangkah masuk ke dalam halaman rumahmu, tapi aku pun melarang kalian melakukan perbuatan durjana lagi diluaran!"

"Aku orang she Pui tidak berani, aku orang she Pui tidak berani!"

Buru-buru Pui Hou berseru. Sambil tertawa dingin kembali Ki Seng-in berkata.

"Aku tahu kalau kau tak berani, coba lihat akibatnya bila kau berani nekat!"

Berbicara sampai di situ, dia lantas menuding ke arah sebatang pohon bunga tho seraya menambahkan.

"Dalam sekali ayunan tangan, akan kurontokkan delapanbelas kuntum bunga tho!"

Pohon itu penuh dengan bunga tho, sedemikian rapatnya bunga yang tumbuh di situ paling tidak mencapai seratus kuntum lebih.

Merontokkan bunga tho bukan suatu pekerjaan yang sulit, tapi kalau ingin merontokkan delapanbelas kuntum bunga tho tanpa menimbulkan gelombang serta berakibat rontoknya bunga lain, pekerjaan itu boleh dibilang sulit sekali.

Apalagi dia sudah menerangkan hanya di dalam "sekali ayunan tangan"

Saja.

Tanpa terasa semua orang membelalakkan matanya lebar-lebar, mereka ingin melihat kelihayan yang hendak dilakukan olehnya.

Tampak perempuan itu mengayunkan tangannya, cahaya emas segera berkilauan, sekuntum demi sekuntum bunga tho jatuh berguguran ke atas tanah.

"Pui toa-caycu!"

Kembali Ki Seng-in membentak.

"Biasanya kau paling cermat dalam soal hitung-menghitung, coba kau hitung jumlah bunga tho yang rontok itu."

Pui Hou tak berani menampik, terpaksa dia maju untuk menghitung jumlahnya, setelah dihitung segera katanya.

"Aah, benar, persis jumlahnya mencapai delapanbelas kuntum."

"Kau boleh mengambil bunga-bunga tersebut dan coba periksalah lebih seksama lagi!"

Pui Hou mengambil tiga kuntum bunga tho dan diserahkannya kepada Nyo toakoh dan Lo Hi-hong untuk diperiksa bersama.

Tampaklah sebatang jarum emas yang amat kecil masing-masing menembus putik bunga di balik tiap kuntum bunga tho tersebut, padahal jarum bunga bwe adalah senjata rahasiayang paling lembut, biasanya hanya bermanfaat dipakai untuk jarak dekat, selain itu tenaga sambitannya pun begitu besar.

Tapi sekarang, dia telah mempergunakan senjata rahasia yang paling lembut untuk menghajar ranting pohon yang berada tigapuiuh langkah jauhnya bahkan berhasil menembusi setiap putik bunga yang kena dihajar tanpa merusak ujud bunga tho tersebut, apalagi delapanbelas kuntum bunga diserang bersamaan waktunya, kepandaian ilmu melepaskan senjata rahasia semacam ini boleh dibilang benar-benar mengerikan sekali.

Jangankan Pui Hou, bahkan Lo Hi-hong yang berpengetahuan sangat luas pun belum pernah mendengar kepandaian selihay ini.

Pada saat itulah sambil tertawa dingin Ki Seng-in baru melanjutkan kembali kata-katanya.

"Seandainya kusaksikan ada orang dari keluarga Pui berani membuat keonaran atau tindakan durjana lagi diluaran, terutama sekali perbuatan yang memeras rakyat jelata, hmm! Tiap orang akan kuhadiahi sebatang jarum emas, bukan tempat lain yang kuhajar, aku hanya akan menghajar ulu hatinya saja!"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.

"Suamiku telah berkata tak akan melangkah masuk ke halaman rumah keluarga Pui maka kuanjurkan kepada Pui toa-caycu agar sejak kini tinggal rumah secara baik-baik dan melanjutkan sisa hidupmu tanpa banyak ulah, pokoknya selama kau tidak melakukan perbuatan durjana, kami pun tak akan mengurusimu. Tapi kau harus berhati-hati, jangan sampai bertemu kami di luaran!"

Ki See-kiat yang mendengarkan perkataan tersebut diam-diam berseru memuji, pikirnya.

"Cara yang digunakan perempuan ini benar-benar tepat sekali, sejak kini, kendatipunPui suko masih ingin menjadi seorang lintah darat, belum tentu anak buahnya berani melaksanakan apa yang diperintahkan pada mereka!"

Dalam pada itu, Utti Keng telah berseru pula.

"Rejeki atau bencana datangnya tanpa permisi, mereka muncul karena dicari manusia sendiri. Pui toa-caycu, bila kau ingin mengakhiri hidupmu dalam keadaan baik-baik, kuanjurkan kepadamu agar baik-baik menjaga diri! Kalau tidak, sekalipun aku telah melepaskan dirimu, biniku belum tentu akan melepaskan kau begitu saja."

Menanti Utti Keng suami istri sudah keluar dari halaman rumah, Pui Hou baru berhasil menguasai perasaan kaget dan ngerinya.

Buru-buru dia bersama Lo Hi-hong dan Lo Pek-soat berebut menyanjung serta mengumpak Ki See-kiat.

"Ki toako,"

Seru Lo Pek-soat ambil tertawa.

"tampaknya kau pandai sekali membohongi orang!"

"Kapan aku berbohong?"

Tanya Ki See-kiat dengan perasaan tertegun. Lo Pek-soat tertawa.

"Masih bilang tidak, baru saja kau membohongi aku!"

Ki See-kiat kurang senang bergurau dengan gadis itu, maka sambil menarik muka serunya lagi.

"Aku berbohong apa kepadamu?" ‘ "Aduuh mak…."

Lo Pek-soat pura-pura berteriak.

"Walaupun kau membohongi aku, namun aku tidak akan menyalahkan kau, buat apa sih mesti bersikap tegang? Tadi kau bilang ilmu silatmu cuma ilmu silat kasaran, tapi nyatanya bahkan si perampok ulung dari Kwangtang, Utti Keng pun memuji kausebagai jago muda nomor wahid di kolong langit, coba bayangkan sendiri bukankah kau sedang membohongi aku?"

"Haahh… haah… haahh, anak bodoh, perkataan orang masa kau anggap sungguhan? Ehmm orang muda merendahkan diri, hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit, apalagi ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, namun masih dapat merendahkan diri, hal ini benar-benar luar biasa."

"Ki toako,"

Lo Pek-soat kembali berseru sambil tertawa.

"sekalipun kau membohongi aku, namun aku tidak marah, cuma lain kali kau harus banyak memberi petunjuk ilmu silat kepadaku."

Memandang wajah ibunya, Ki See-kiat segan memberi malu kepada gadis itu, terpaksa dia berlagak acuh tak acuh, katanya kemudian.

"Utti tayhiap kelewat memuji siautit, padahal hal ini karena dia belum pernah bertemu dengan jago muda yang betul-betul berilmu sangat tinggi!"

"Ki lote, kau sedang bergurau bukan?"

Seru Lo Hi-hong.

"Aku tak percaya kalau dalam dunia persilatan dewasa ini masih ada anak muda lain yang berilmu silat lebih hebat daripada dirimu."

"Utti tayhiap yang begitu luas pengalamannya pun tak tahu, tak heran kalau Lo lopek pun tak mau percaya."

"Kalau kudengar dari pembicaraanmu itu, tampaknya kau sudah pernah berjumpa dengan pemuda yang berilmu silat lebih tinggi daripada Utti Keng…?"

"Benar, aku pernah bersua dengan pemuda lihay itu sewaktu masih berada di Sinkiang tempo hari, tahun ini dia hanya berusia delapan-belas tahun, lebih muda sepuluh tahun daripadaku, soal ilmu silat, apakah dia lebih hebat daripadaUtti tayhiap, aku pun tak tahu. Yang kuketahui adalah dia sudah mencapai tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada aku. Sebab aku pernah bertarung melawannya, belum lagi mencapai seratus gebrakan, aku sudah menderita kekalahan di tangannya!"

Lo Hi-hong merasa setengah tidak percaya oleh perkataan itu, segera tanyanya dengan perasaan terperanjat.

"Benarkah dr dunia ini terdapat pemuda yang berilmu silat selihay ini? Siapakah orang itu?"

Ki See-kiat segera teringat kembali kejadian di mana Nyo Yan enggan mengakui nama sebetulnya di hadapannya, meski dia sekarang sudah tahu siapa gerangan pemuda itu, tapi buat apa dia mesti menyebutkan namanya di hadapan orang yang tiada sangkut pautnya dengan pemuda itu?

Berpendapat demikian, dia pun lalu berkata.

"Jagoan muda itu ibaratnya naga sakti yang tampak kepalanya tak tampak ekornya, apalagi siautit pun hanya bertemu muka satu kali, jadi aku tak tahu siapakah orang itu."

Tentu saja Nyo toakoh mengerti siapa gerangan yang dimaksudkan putranya, tapi teringat bagaimana Nyo Yan sebagai keponakannya enggan mengakui dirinya sebagai sanak sendiri, maka dia pun merasa segan untuk menyebutkan namanya Pui Hou segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… tak peduli apakah di dunia ini benar-benar terdapat seorang jago muda macam ini atau tidak, sekalipun apa yang kau ucapkan merupakan suatu kenyataan, orang ini tak mungkin bisa menandingi Ki sute!"

Ki See-kiat menjadi tertegun."Pui suheng,"

Segera serunya.

"bukankah sudah kuterangkan tadi, aku pernah menderita kekalahan di tangannya, apakah tidak kau dengar?"

"Rupanya kau belum paham maksud hatiku. Sewaktu dia mengalahkan dirimu, apakah ada orang ketiga yang turut menyaksikan?"

"Tidak ada"

Kembali Pui Hou tertawa terbahak-bahak.

"Haaa… haaa… haaaa… nah itulah dia Sewaktu kau dikalahkan dia, tidak ada pihak ketiga yang melihatnya, berarti tak bakal ada orang menyiarkan kekalahanmu itu pada umum, sebaliknya setiap orang yang hadir di sini mendengar kalau perampok ulung dari Kwangtang itu mengaku kalah kepadamu, peristiwa ini pasti akan menyebabkan nama besarmu menjadi tenar sejagat! Sia-pa yang berani tak menuruti perkataan Utti Keng dengan menyebut dirimu sebagai jagoan muda nomor wahid di kolong langit dewasa ini?"

Ki See-kiat semakin memandang hina watak suheng-nya ini, segera tukasnya.

"Aku sih tidak sudi nama kosong semacam itu."

Dalam pada itu Pui Hou sedang merasa girang, dia segera berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaa… haaa… manusia punya nama, pohon punya bayangan, sekalipun ingin kau buang juga tak akan bisa dilepaskan. Ki sute kau telah membantuku menghemat sepuluh laksa tahil perak, sudah sepantasnya kalau kuucapkan banyak terima kasih padamu!"

Baru selesai dia berkata, dengan kening berkerut Nyo toakoh telah menukas.

"Dengan orang sendiri tidak usah sungkan-sungkan, buat apa kau mesti menyinggung soal terima kasih segala?"

"Aah, betul, betul,"

Sambung Pui Hou lagi sambil tertawa.

‘Tentu aku tahu, sekalipun aku hendak berterima kasih kepada sute, belum tentu sute bersedia menerimanya.

Tetapi aku mempunyai suatu ide yang bagus sekali, ide ini amat sempurna, entah bagaimana menurut pendapat-mu?"

"Kau belum mengutarakannya, dari mana aku bisa tahu bagus atau tidak?"

"Bila sua; menikah nanti, biarlah kuhadiahi mutiara dan perhiasan sebesar selaksa tahil perak sebagai penambah mas kawin bagi pengantin perempuan. Meski si pengantin perempuan belum tentu sudi menerima perhiasanku itu, tapi pertama aku bisa menyampaikan maksud hatiku, kedua juga menambah keanggunan si pengantin perempuan, rasanya aku pun bisa mengangkat martabat sukoh di hadapan orang banyak."

"Kau tak usah menarik pula diriku,"

Seru Nyo toakoh tertawa.

‘Tapi aku lihat idemu itu memang bagus juga, belum lagi See-kiat menemukan jodohnya, kau sudah mencari muka lebih dulu di hadapan si pengantin perempuan.

Lihat saja nanti, putri siapakah yang mempunyai rejeki besar untuk menerima hadiah besarmu itu?"

Mereka berdua seperti sengaja tak sengaja bersama-sama mengalihkan sorot matanya ke wajah Lo Pek-soat, kontan saja hal ini menyebabkan gadis tersebut menjadi tersipu-sipu dengan wajah memerah namun dalam hati kecilnya merasa manis dan hangat Melihat setiap perkataan dari Pui Hou tak pernah terlepas dari soal uang, tergerak juga hati Ki See-kiat, mendadak dia bertanya.

"Pui suko, seandainya tiada orang yang mampu menghadapi Utti Keng, apakah sepuluh laksa tahil perak itu bakal kau serahkan kepadanya?"

Pui Hou hanya tahu mengumpak, mendengar pertanyaan itu, buru-buru sahurnya.

"Aku hanya mempunyai seorang putra, seandainya sute tak berhasil mengalahkannya, ja-ngankan sepuluh laksa tahil perak, sekalipun dia mengajukan permintaan beberapa kali lebih besar pun terpaksa aku harus menyerahkan juga kepadanya! Sute, pertolonganmu itu benar-benar besar tak terlukiskan, selama hidup aku tak akan pernah melupakannya lagi."

"Baik,"

Kata Ki See-kiat kemudian.

"Kalau begitu kesepuluh laksa tahil perak itu sama artinya dengan benda yang harus keluar bagimu bukan? Aku akan memberi sedikit keuntungan bagimu, aku hanya minta separuhnya saja, tolong serahkan lima laksa tahil perak itu kepadaku."

Begitu ucapan itu diutarakan, semua orang jadi tertegun dibuatnya…. Nyo toakoh menegur.

"Anak Kiat, kau sudah gila? Mengapa minta uang dari suheng-mu?"

Pui Hou sendiri jaga terkejut bercampur tak tenteram, sambil tertawa terbahak-bahak katanya pula.

"Haahh… haah… haah… sudah pasti sute sedang bergurau. Sukoh, kau jangan menganggap sungguhan."

"Siapa bilang aku sedang bergurau?"

Seru Ki See-kiat cepat sambil menarik muka.

"Lima laksa tahil perak berarti hanya separuh dari nilai yang dituntut Utti tayhiap, itu berarti kau telah berhemat separuh dari nilai yang sesungguhnya. Aku tidak bergurau, pokoknya kau harus menyerahkan uang sejumlah itu padaku."

Ucapannya yang bersungguh-sungguh ini bukan saja membuat paras muka Pui Hou berubah hebat, Lo Hi-hong yang sebenarnya ingin menimbrung juga jadi membungkamdalam seribu bahasa, suasananya menjadi canggung dan serba runyam.

0odwo0 Menuntut Lima Laksa Tahil Perak Setelah hening sekian lama, akhirnya Nyo toakoh yang memecahkan keheningan paling dulu, segera bentaknya.

"Bila kau butuh uang, aku akan penuhi keinginanmu itu, mengapa kau minta uang kepada Pui suheng-mu?"

"Sewaktu hendak bertarung melawan Utti keng tadi, aku telah bilang, aku turun tangan bukan lantaran ingin melindungi Pui suheng, aku hanya ingin menjaga nama baik ibu serta yaya"

"Hmm, menjaga nama baikku?"

Nyo toakoh makin marah.

"Kau tahu, perbuatanmu minta uang kepada Pui suheng-mu sudah cukup membuat aku kehilangan muka."

"Ibu, perkataan ananda belum selesai, janganlah marah lebih dulu. Aku tidak butuh sepeser pun uang milik Pui suheng, kelima laksa tahil perak itu aku mintakan bagi orang lain!"

"Minta untuk orang lain? Utti Keng kan sudah bilang kalau dia tak mau uang tersebut?"

"Aku bukan mintakan untuk Utti Keng, aku mintakan untuk kaum fakir miskin. Bagi Pui suheng, uang sebesar lima laksa tahil perak tak lebih dari seujung rambut, tapi untuk fakir miskin, entah berapa ratus jiwa yang bisa tertolong."

"Ooh, maksudmu aku harus berbuat amal?"

"Benar. Aku minta kau mendermakan uang sebesar tiga laksa tahil perak itu kepada yayasan sosial, agar uang itu bisa digunakan untuk menolong rakyat jelata yang hidup sengsara. Sedang dua laksa tahil perak sisanya biar disimpan untuk sementara waktu di sini, andaikata suatu ketika tiba musim paceklik, anggap saja uang tersebut sebagai uang pembayaran rakyat atas pajak yang mesti dibayar, caraku ini tentunya cocok dan cengli bukan?"

Pui Hou menghembuskan napas panjang, pikirnya.

"Walaupun Ki See-kiat si bocah keparat ini lebih membantu pihak luar, untung saja ia masih kurang berpengalaman. Aku dengan Li San-jin yang mengetuai yayasan sosial adalah saudara angkat, asal kuberi tiga ribu tahil perak, dia akan menyerahkan selembar kuitansi senilai tiga laksa tahil perak itu tetap tinggal di sini, berarti terserah apa yang hendak kulakukan!"

Berpikir demikian, dia lantas tertawa terbahak-bahak seraya berkata.

"Haah haah haah, ya benar, memang cocok, memang cengli, terus terang saja aku pun ingin sekali banyak berbuat amal. Besok pagi uang sebesar tiga laksa tahil perak itu akan kudermakan kepada yayasan sosial, tanda terimanya segera akan kuserahkan kepadamu!"

"Baik,"

Kata Ki See-kiat kemudian seraya beranjak.

"Mewakili kaum fakir miskin kuucapkan banyak terima kasih atas dermamu itu. Selamat tinggal!"

Pui Hou tertawa paksa.

"Aku sudah menyuruh orang menyiapkan meja perjamuan lagi, minumlah arak barang secawan dua cawan sebelum pergi."

"Benar,"

Sambung Lo Pek-soat cepat.

"Ki toako, bukankah kedatanganmu kemari hendak minum arak sambil menikmatibunga? Bunganya toh belum dinikmati? Mengapa mesti terburu-buru hendak berpamitan?"

"Aku sudah tidak mempunyai kegembiraan lagi untuk minum arak sambil menikmati bunga"

Lo Pek-soat masih saja tak tahu diri, tanyanya lebih jauh.

"Mengapa secara tiba-tiba tidak ada?"

"Biaya sekali perjamuan untuk orang kaya sama nilainya dengan ransum selama setengah tahun bagi orang miskin, bila kuingat mereka yang harus mengandalkan putrinya menjadi budak dan dayang orang kaya hanya gara-gara hutang bebe-rapa tahil perak dari Pui suheng, bagaimana mungkin aku bisa meneguk arak perjamuan ini? Pui suheng, kuanjurkan kepadamu ada baiknya berhemat sedikit dalam soal perja-muan dan perbanyaklah perbuatan amalmu, mau bukan?"

Paras muka Pui Hou kontan berubah menjadi hijau kemerah-merahan, di mulut ia tak berbicara apa-apa namun di hati kecilnya segera berpikir.

"Bocah keparat ini benar-benar tak tahu diri, apa yang diucapkan hampir senada dengan perkataan Utti Keng. Hmm, uang toh milikku sendiri, aku senang menggunakannya untuk apa peduli amat dengan kau? Memangnya kau si bocah keparat berani datang merampok seperti apa yang telah dilakukan oleh Utti Keng?"

Lo Pek-soat yang terbentur pada batunya turut merasa malu bercampur mendongkol, kontan dia ikut bungkam seribu bahasa.

Dengan agak tersipu Nyo toakoh segera berkata "Anakku ini belum tahu urusan, untung saja yang hadir sekarang bukan orang luar, harap kalian sudi memandang wajahku memberi maaf kepadanya…."

Selesai berkata, terpaksa dia mengajak putranya pulang ke rumah….

Semenjak peristiwa itu, Pui Hou tak berani mengundang mereka lagi, sedangkan soal perkawinan yang diinginkan pihak keluarga Lo pun tak berani disinggung kembali.

Berbeda sekali dengan Ki See-kiat, pemuda ini malah lebih gembira dan senang karena tak pernah diganggu lagi.

Kejadian itu semakin merisaukan Nyo toakoh, di samping pikirannya makin kalut dan mendongkol.

Suatu ketika ia pun berkata begini kepada putranya.

"Kiat-ji, tahukah kau setiap keluarga kalangan atas yang berada di kota Po-tcng telah menganggap dirimu sebagai makhluk aneh? Bila kau tak tahu mengubah diri, mungkin tiada anak gadis yang mau kawin denganmu."

Mendengar perkataan tersebut, Ki See-kiat segera menjawab.

"Pertama, aku tidak merasa pernah berbuat salah. Kedua, aku pun tak sudi nona-nona dari keluarga kaya men-jadi biniku, peduli amat dengan perkataan orang."

Nyo toakoh lalu menghela napas panjang.

"Aaai… sekalipun kau tidak gelisah, paling tidak harus berpikir bagiku, selewatnya tahun baru kau sudah berusia duapuluh delapan tahun dan belum beristri, belum punya pandangan, sampai kapan aku baru bisa memondong cucu?"

Ki See-kiat kembali tertawa "Kan ada putramu yang menemani kau?

Masa tidak cukup?

Soal perkawinan adalah masalah besar, Suatu masalah yang tak bisa dipaksakan, bila suami istri tak akur, tiap hari cekcok melulu, bukankah kau orang tua tak bakal senang?

"Beberapa patah kata itu ada sebagian yang persis mengena di hati Nyo toakoh.

Ternyata sejak terjadinya peristiwa itu terhadap putranya dia menaruh semacam perasaan "kehilangan sesuatu tetapi mendapatkan yang lain".

Tak seperti dahulu, terhadap putra sendiri pun seolah-olah orang asing.

Oleh karenanya walaupun dia merasa tidak puas dengan cara kerja putranya pada waktu itu, namun hubungan perasaan antara ibu dan anak makin bertambah erat, dan keakraban itu sudah cukup untuk menutupi perasaan mendongkol di dalam hatinya.

Bukti yang jelas, di saat yang paling kritis putranya masih tetap membantu ibunya.

Dalam hati kecilnya Nyo toakoh berpikir.

"Bocah ini masih belum bisa melupakan orang she Leng itu, terpaksa biarlah dia berbuat sesukanya untuk sementara waktu."

Berpikir demikian, dia lantas berkata.

"Kau tak suka nona orang lain juga tak menjadi soal. Cuma haruslah tahu sedikit perasaan, bayangkan saja sikapmu terhadap keluarga Lo tempo hari, sungguh membuatku tersipu-sipu, apalagi terhadap Pui suheng, tak pantas kau berbuat demikian."

"Ibu, sekali lagi kuulangi,"

Kata Ki See-kiat cepat. –Aku tak merasa kalau perbuatan yang kulakukan itu salah!"

"Aku tak mengatakan perbuatanmu itu semua salah, kau bisa membalaskan sakit hatiku dan memukul mundur Utti Keng, hal itu merupakan suatu perbuatan yang baik sekali. Maksudku, aku hanya minta padamu agar sedikit tahu perasaan!"

"Ibu, selama ini bukankah kau selalu luntang-lantung seorang diri tanpa menggubris perkataan orang lain?"

Perlu ketahui, Nyo toakoh bergelar Lak-jiu-Koan-im, tentu saja soal hubungan persahabatan tak akan begitu baik, cuma sebagai putranya tentu saja dia merasa tak leluasa untuk secara langsung menyinggung soal julukan ibunya.

Nyo toakoh menghela napas panjang.

"Aai, sekarang aku pun mulai menyesali tindak-tandukku semasa muda dulu. Aku tahu, orang lain menyebutku Lak-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Keji}, cuma aku hanya bertangan keji bila menghadapi orang persilatan, selamanya tak bertangan keji terhadap sanak keluarga sendiri."

Mendengar itu, diam-diam Ki See-kiat berpikir "Aku lihat, meski dalam dunia persilatan terdapat juga mereka yang munafik dan rendah moralnya, namun bagaimanapun juga masih mendingan mereka daripada sanak keluargamu itu."

Terdengar Nyo toakoh berkata lagi.

"Aaaai… kini aku baru tahu kalau aku benar-benar sudah tua, yaah, mulai sekarang aku pun tak akan melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan."

Ucapan tersebut seakan-akan muncul secara mendadak, tapi sebagai putranya, anak muda itu mengerti lantaran apakah hal tersebut sampai diutarakan keluar.

"Ibu, kau tak lebih baru berusia limapuluh tahunan, belum termasuk tua. Tempo hari ananda bertindak karena aku tak ingin ibu menyerempet bahaya, itulah sebabnya aku lantas mewakilimu memukul rontok senjata rahasia dari Ki Seng-in. Sekalipun ananda tidak turun tangan, kau pasti dapat mengungguli dia."

Nyo toakoh tertawa getir.

"Kau tak usah mengumpak diriku, seandainya aku lebih muda sepuluh tahun, mungkin saja aku masih sanggup menghadapi Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu) tapi sekarang aku bukan tandingannya lagi.

Untung aku punya anak berilmu tinggi seperti kau, jadi aku tak usah berkelana lagi dalam dunia persilatan hanya dikarenakan ingin mencari nama…."

Setelah mengalami kekalahan tempo hari, sekalipun tidak ia katakan, Ki See-kiat juga dapat merasakan kalau ibunya jauh lebih menua.

Sejak kecil Ki See-kiat sudah kehilangan ayahnya, menghadapi ibunya yang murung dan sayu, tanpa terasa hatinya menjadi kecut "Ibu memang sudah tua,"

Demikian dia berpikir.

"Lebih baik ku temani dia beberapa tahun lagi, aku tak boleh meninggalkannya seorang diri."

Ternyata selama berapa bulan ini, bukan hanya sekali saja timbul niatinya untuk meninggalkan rumah. Nyo toakoh seperti dapat membaca suara hati putranya, dia lantas berkata.

"Kiat-ji, seandainya kau merasa kesal tinggal di rumah, tak ada salahnya jalan-jalan ke ibu kota."

"Mau apa ke ibu kota?"

"Aku tahu kau paling cocok dengan Peng-ci dan Lian-kui, bagaimanapun mereka bukan piausu kenamaan dalam perusahaan Ceng-wan piaukiok. bila kau ke sana, mereka punya waktu untuk menemani kau pesiar."

"Aah, tidak, aku tak akan ke situ, aku ingin tinggal di rumah bersama ibu."

"Toh bukan pergi selamanya, imunlah barang sepuluh hari atau setengah bulan, ibu tidak keberatan kau pergi ke sana,"

Nyo toakoh tertawa.

"Ibu tidak keberatan lantaran ananda yang keberatan meninggalkan ibu? Dengan susah payah kita dapat berkumpul kembali sekarang, soal ke ibu kota lain waktu masih banyak kesempatan, mengapa aku harus meninggalkan rumah seka-rang juga?"

Nyo toakoh benar-benar merasa gembira sekali setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian, ‘Tak kusangka kau begitu berbakti kepadaku, aai… aku juga tak tak tahu masih bisa hidup berapa tahun lagi, kalau begitu temanilah aku selama beberapa tahun lagi."

Padahal masih ada satu alasan (ain yang menyebabkan Ki See-kiat enggan pergi ke ibu kota, yaitu karena Nyo Bokjuga berada di situ.

Ki See-kiat tak senang dengan engku (adik ibu)nya ini, benar dia bisa menolak untuk bekerja dengan engku-nya ini, tapi dengan hubungan mereka yang begitu erat, setibanya di ibu kota berarti dia harus pergi mengunjungi engku-nya itu.

Seringkah banyak kejadian tak terduga yang bisa berlangsung tanpa diundang, tak sampai sepuluh hari setelah peristiwa di gedung keluarga Pui, suatu peristiwa yang tak terduga telah berlangsung.

Malam itu, ketika mendekati tengah malam baru saja dia akan tidur, mendadak terdengar desiran angin lirih di atas atap rumah, dengan mengandalkan pengetahuan serta ilmu silat yang dimilikinya sekarang, dia segera mengetahui kalau ada orang sedang berjalan malam di atas genteng.Begitu mengetahui kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu cukup tangguh, dia lantas berpikir.

"Mungkinkah Utti Keng yang datang mencariku? Tapi mengapa dia hanya seorang diri?"

Pikir punya pikir, dia jadi khawatir kalau orang itu adalah musuh besar ibunya yang datang mencari balas.

Seperti diketahui, ibunya bergelar Lak-jiu-Koan-im, tidak sedikit musuh besar yang diikatnya selama berkelana dalam dunia persilatan, malah belakangan ini ibunya telah membunuh The Hiong-toh, seorang perampok ulung dari dunia persilatan yang dibunuhnya di wilayah Sinkiang.

Tapi, tak peduli orang itu sahabat atau musuh, ia tak bisa berpeluk tangan dengan begitu saja.

Baru saja ia membuka pintu kamar, tampak sesosok bayangan hitam telah melompat turun dari atas dinding pekarangan dan melangkah ke halaman di belakang kamar tidurnya.

Ki See-kiat segera melompat keluar dari balik kegelapan, kemudian sambil merentangkan lengannya dia berkata dengan suara dalam.

"Sobat, berhenti!"

Orang itu tidak berbicara, sepasang tapak tangannya segera direntangkan, dan kemudian dengan jurus Lak-jut-ci-san (Enam Lekukan Bukit Ci-san) melepaskan pukulan ke arahnya.

Begitu serangan dilancarkan, Ki See-kiat menjadi amat terperanjat.

Yang membuatnya terperanjat bukan ilmu silatnya yang lihay, melainkan jurus Lak-jut-ci-san itu merupakan salah satu jurus yang tangguh dalam Lak-yang-jiu keluarga Nyo.Kesempurnaan Lak-yang-jiu yang dimiliki orang ini meski belum melebihi ibunya, namun jauh lebih sempurna dari permainannya sendiri.

Buru-buru Ki See-kiat menangkis dengan jurus Ji-hong-si-pit dari ilmu Lak-yang-jiu pula, kali ini dia hanya menggunakan tenaga sebesar tiga bagian untuk membawa ancaman lawan keluar dari garis.

Orang itu agak sempoyongan, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haa.. haa… haa… See-kiat, ilmu Lak-yang-jiu-mu benar-benar hebat,"

Puji orang itu sambil tergelak "

Seingatku, jurus Ji-hong-si-pit ini kau pelajari atas petunjukku, kini hampir saja aku tak mampu menandingimu. Masih ingatkah dengan diriku?"

Ki See-kiat agak tertegun, serunya tergagap.

"Sii… siapa., siapakah kau?"

Padahal dia sudah tahu siapakah orang itu. Pada saat itulah Nyo toakoh sudah mendengar suara ribut-ribut dan memburu ke situ. Benar juga, begitu tiba dia lantas menegur.

"Kiat-ji, mengapa kau bertarung dengan engku-mu?"

"Di tengah malam buta, bukannya masuk lewat pintu gerbang, tapi menyelundup masuk lewat pintu belakang, siapa yang menduga kalau dia adalah engku?"

Dengan perasan tak senang bercampur mendongkol Ki See-kiat berseru.

"Anak bodoh, kau sudah lupa dengan kedudukan engku-mu sekarang? Kini engku-mu adalah seorang pengawal istana yang bertugas di samping kaisar, tentu saja jejaknya harus dirahasiakan."

Dia khawatir putranya mengejek, maka ia memberi tanda agar dia jangan kehilangan rasa hormat. Ki See-kiat berlagak seperti tidak mengerti, segera ucapnya.

"Ooh… rupanya kau sudah menjadi pengawal istana? Lantas mengapa gerak-gerikmu harus main sembunyi seperti takut bertemu orang saja?"

Nyo Bok segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… Engku-mu yang dulu seorang busu itu kini sudah mampus, selain kalian ibu dan anak serta dua orang muridku, tiada orang yang tahu kalau sesungguhnya aku masih hidup, lebih-lebih tiada orang yang tahu kalau aku telah menjadi pengawal istana. Orang yang sudah mati tentu saja tak bisa berjalan seenaknya di tengah hari bukan? Apalagi masuk lewat pintu gerbang secara terang-terangan?"

"Aku masih tidak habis mengerti, engku, sesungguhnya kau toh belum mati, mengapa harus berlagak sudah mati?"

Buru-buru Nyo toakoh menimbrung.

"Adikku, kau jangan menertawakan kebodohan keponakanmu ini, dia memang berotak bebal, baru bertemu sedikit persoalan yang me-musingkan kepala, dia sudah dibikin kebingungan setengah mati."

Sambil tertawa Nyo Bok segera menyambung.

"Oleh karena sudah banyak tahun aku tak pernah muncul lagi dalam dunia persilatan, orang persilatan mengira aku sudah berpulang ke alam baka. Padahal aku lebih senang jika mereka mengang-gap aku sudah mati, sebab dengan begitu aku akan lebih leluasa lagi untuk melaksanakan tugas dari kaisar…!"

"Ooh, kiranya begitu,"

Sekarang Ki See-kiat baru berlagak seakan-akan setengah mengerti setengah tidak.

"Adikku, lantaran urusan apa kau meninggalkan ibu kota kali ini?"

Tanya Nyo toakoh kemudian.

"Aaai, panjang sekali untuk diceritakan…."

"Kalau begitu mari kita masuk dan diperbincangkan pelan-pelan. Anak Kiat, cepat ambilkan air teh untuk engku-mu!"

Setelah duduk dan menghirup air teh setegukan, Nyo Bok baru berkata.

"Enci, kionghi, kionghi untukmu!"

"Kionghi soal apa?"

"Berita tentang berhasilnya anak Kiat mengalahkan Utti Keng telah tersiar luas sampai di ibu kota, kau bisa mempunyai seorang putra semacam ini, aku yang menjadi engku-nya turut merasa bangga."

"Ooh, cepat amat berita itu tersiar,"

Seru Nyo toakoh tertawa.

"Padahal berita itu tidak benar seluruhnya."

"Bagaimana tidak benarnya?"

"Utti Keng hanya memberi batas seratus gebrakan saja, ia baru berhasil mengalahkan anak Kiat pada jurus keseratus duabelas, maka dia mengaku kalah, jadi bukan kekalahan yang sebenarnya."

"Kejadian seperti itu sudah merupakan suatu kejadian yang amat hebat,"

Sela Nyo Bok sambil tertawa.

"Berbicara sebenarnya, di antara para pengawal istana, belum tentu ada seorang manusia pun yang sanggup menerima seratus jurus serangan Utti Keng."

"Kau kelewat memuji dia. Cuma dia berhasil mengalahkan orang itu dengan mengandalkan Lak-yang-jiu, jadi kalau dihitung-hitung, dia telah mengangkat nama keluarga Nyo kita."

Rasa bangga jelas terlihat di atas wajahnya."Benar, itulah sebabnya aku pun turut merasa bangga,"

Sambung Nyo Bok.

"Bicara terus terang, keper-gianku meninggalkan ibu kota kali ini, pertama karena kudengar kalian ibu dan anak telah pulang maka sengaja datang menengok, kedua juga dikarenakan masalah Utti Keng."

"Konon di masa lampau Utti Keng pernah menyelundup masuk ke dalam Istana Terlarang dan mencuri barang mestika istana. Apakah sri baginda yang menitahkanmu untuk meringkus Utti Keng?"

"Cici, kau kelewat menilai tinggi diriku,"

Seru Nyo Bok sambil tertawa.

"Aku rasa congkoan dari pengawal istana pun belum berani merecoki Utti Keng, apalagi diriku ini? Dia tahu jelas akan hal ini, bagaimana mungkin tugas berat semacam itu dibebankan kepadaku? Cuma congkoan pengawal istana memang mengutus aku keluar untuk mencari seseorang guna menghadapi Utti Keng."

Nyo toakoh tahu kalau adiknya hendak membicarakan sesuatu, maka dia hanya bungkam seribu bahasa. Terdengar Nyo Bok berkata lebih jauh.

"Utti Keng suami istri pernah melakukan beberapa kali perampokan besar di ibu kota, maka ketika mendapat kabar kalau kedua orang suami istri itu muncul lagi di kota Po-teng, banyak orang yang panik dan khawatir, khawatir kalau mereka datang lagi ke ibu kota dan membuat keonaran. Meskipun Sri baginda tidak berhasrat menelusuri kembali peristiwa pencurian di masa (alu, namun congkoan pengawal istana serta komandan pengawal khusus kena direcoki tiap hari oleh keluarga raja-raja muda sampai siang malam tak enak makan dan tidur, itulah sebabnya…"

"Peristiwa ini berlangsung pada sepuluh hari berselang,"

Tukas Nyo toakoh cepat.

"kalau didengar nadapembicaraanmu, tampaknya Utti Keng suami istri belum muncul di ibu kota."

"Benar, pihak istana telah mengutus mata-mata untuk melakukan pemeriksaan, tapi jejak kedua orang suami istri itu belum berhasil ditemukan."

"Utti Keng suami istri merupakan orang-orang yang berpandangan tinggi dan sombong, siapa tahu mereka sudah kembali ke Kwangtang gara-gara menderita kekalahan di tangan Kiat-ji tempo hati?"

"Moga-moga saja begitu. Cuma para raja muda di ibu kota kelewat ketakutan terhadap sepasang perampok ulung itu mereka tak berani bertindak teledor dengan begitu saja. Andaikata bisa ditemukan seseorang yang sanggup menghadapi Utti Keng, kemudian dibantu beberapa orang pengawal istana kelas satu, aku pikir masih ada harapan untuk membekuk kedua orang perampok ini."

Tiba-tiba Ki See-kiat berkata.

"Aku tahu ada seseorang yang mampu menghadapi Utti Keng."

"Oh, lebih hebatkah ilmu silatnya darimu?"

"Tentu saja jauh lebih hebat, kendatipun usianya jauh lebih muda"

Tapi Nyo Bok segera menggebu "Aku tidak percaya, sekalipun ada manusia semacam ini, dia toh tak akan membantuku, bagaimana mungkin bisa menandingi hubungan kita sebagai engku dan keponakan..."

"Engku, kau keliru,"

Kata Ki See-kiat sambil tertawa.

"Aku keliru?"

Nyo Bok tertegun.

"Sekalipun aku tak tahu apakah dia bersedia membantumu atau tidak, tapi hubungannya dengan dirimu jauh lebih erat ketimbang hubunganku dengan dirimu!"

Perlu diketahui, kendatipun Ki See-kiat tidak begitu suka dengan engku-nya, namun dia merasa berkewajiban untuk menyampaikan kabar tentang adik misannya kepada Nyo Bok.

Akan tetapi berhubung sejak kedatangannya Nyo Bok hanya sibuk membicarakan soal Utti Keng, dia dan ibunya tidak memperoleh kesempatan untuk mengemukakan masalah itu.

Maka setelah menangkap maksud Nyo Bok yang datang untuk minta bantuan, dia lantas menggunakan kesempatan itu dengan mengemukakan Nyo Yan sebagai tameng.

Sudah barang tentu dia sendiri pun tahu kalau Nyo Yan tak bakal membantu ayahnya.

"Apakah kau maksudkan anakku Yan-ji?"

Mendadak Nyo Bok berseru dengan perasaan terperanjat.

"Benar, engku, apakah kau tak tahu kalau kepergianku ke wilayah Sinkiang adalah untuk mencari adik misan?"

"Aku tahu, aku pun tahu kalau kalian ibu dan anak telah pulang, akan tetapi aku tak punya keberanian untuk mengajukan pertanyaan tersebut kepada kalian. Aaai… mes-kipun ibu dari anak itu tidak setia, bagaimanapun juga dia adalah satu-satunya darah dagingku, bagaimana mungkin aku tidak merindukan dia? Mungkin hingga sekarang dia masih belum tahu kalau aku adalah ayah kandungnya."

"Aku duga ia sudah tahu."

"Jadi kalian berhasil berjumpa dengan dia?"

Seru Nyo Bok kejut bercampur girang.

"Benar, aku dan Kiat-ji secara beruntun telah menjumpai dirinya…."

"Cici, apakah dia mengetahui rahasia riwayat hidupnya?"

Buru-buru Nyo Bok bertanya lagi.

"Aku belum memberitahukan hal tersebut kepadanya."

"Kenapa?"

Tanya Nyo Bok tercengang.

"Setelah pertemuan itu aku baru tahu kalau dia adalah anak Yan."

Secara ringkas dia lantas mengisahkan apa yang telah terjadi tempo hari, sebagai akhir kata dia menambahkan.

"Dia sudah terpikat oleh siluman perempuan, belum sempat aku mengutarakan hal yang sebenarnya, dia sudah kabur bersama perempuan siluman itu. Adikku, bagaimanakah caranya di kemudian hari untuk membawanya ‘melepaskan jalan sesat kembali ke jalan benar’, hal tersebut tergantung dari pendi-dikanmu sebagai ayahnya."

Nyo Bok tertawa getir.

"Aku sebagai seorang pengawai istana hanya bisa pergi atas dasar perintah, bagaimana mungkin aku bisa melalaikan tugas dengan pergi ke Sinkiang untuk itu? Apalagi Sinkiang begitu besar, belum tentu aku bisa menemukannya"

"Hubungan ayah dan anak melebihi apa pun, kecuali dia tidak tahu siapakah ayahnya, kalau tidak, kuduga dia pasti akan kembali ke kota Po-tcng untuk mencarimu."

Ternyata dugaan Nyo toakoh dalam hal ini tepat sekali, waktu ini Nyo Yan memang sedang dalam perjalanan menuju ke kota Po-teng Nyo Bok kembali menjawab sambil tertawa getir.

"Sudah barang tentu aku berharap dia mau pulang mencariku, tapiaku khawatir harapanku ini tipis sekali. Lagi pula aku tak tahu sampai kapan dia baru kembali, untuk menolong kebakaran tak mungkin bisa mengharapkan air dari jauh!"

Berbicara sampai di sini, secara blak-blakan Nyo Bok segera mengemukakan keinginannya "Cici, bukankah kau sangat berharap Kiat-ji bisa mempunyai masa depan yang cemerlang?

Kini kesempatan baik telah tiba biarlah dia turut aku pergi ke ibu kota"

"Maksudmu, kau hendak meminta bantuannya untuk membantu kalian menghadapi Utti Keng?"

"Betul, kisah pertarungan keponakan Kiat melawan Utti Keng telah menggetarkan seluruh ibu kota, terus terang saja kukatakan, kedatanganku kali ini adalah atas perintah congkoan tayjin untuk mengundangnya masuk ibu kota."

"Tidak bisa!"

Tolak Nyo toakoh.

"Kenapa tidak bisa?"

Tanya Nyo Bok dengan wajah tercengang.

"Bukankah kau berharap ia bisa menduduki jabatan yang tinggi sehingga menjunjung nama baik kakek moyangnya?"

"Kini aku telah berubah pikiran,"

Sahut Nyo toakoh. Sesudah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan.

"Pertama, dengan susah payah aku harus berangkat sendiri ke wilayah Sin-kiang sebelum berhasil mencarinya kembali; aku menginginkan dia menemani aku selama beberapa tahun untuk melepaskan rasa rinduku kepadanya. Kedua, sesungguhnya dia pun bukan tandingan Uttj Keng, kendatipun menjadi pembesar itu baik, tapi nyawa jauh lebih berharga daripada segala-galanya!"

"Toh bukan hanya dia seorang yang harus menghadapi Utti Keng?"

Kembali Nyo Bok membujuk.

"Engku!"

Tukas Ki See-kiat tiba-tiba.

"harap kau jangan melanjutkan pembicaraan tersebut, pokoknya aku segan kalau disuruh menghadapi Utti Keng…!"

"Sewaktu kau berada seorang diri pun kau masih sanggup menghadapinya, kenapa setelah ada orang membantumu, kau malah segan untuk melakukannya? Pamor Utti Keng sudah kau rusak di dalam pertarungan tempo hari, apakah kau tidak khawatir ia mendendam kepadamu?"

"Dalam peristiwa yang lampau, pertarungan itu bisa berlangsung berhubung Utti Keng suami istri telah bersikap kurang sopan kepadaku, untuk membalaskan sakit hati inilah terpaksa Kiat-ji bertarung melawannya, kemudian Utti Keng minta maaf kepadaku dan rasa kesalku kepadanya pun lenyap tak berbekas. Prinsipku sekarang, asal tiada orang menggangguku, aku pun tak akan mengijinkan Kiat-ji meng-ganggu orang."

"Benar,"

Sambung Ki See-kiat pula.

"dalam pertarungan itu, sesungguhnya aku tak akan mampu mengalahkan dia, adalah dia yang sengaja mengalah kepadaku sehingga aku tak sampai cedera, lagi pula dia malah mengaku kalah. Coba ba-yangkan sendiri, berbicara soal ke-setiakawanan dalam dunia persilatan, pantaskah bila aku mencari teman untuk menghadapinya bersama-sama?"

Nyo Bok mengira ibu dan anak berdua ini menolak ajakannya ber hubung takut pada Utti Keng suami istri, maka tanpa berpikir lebih jauh kembali ujarnya.

"Kalau begitu, aku mempunyai dua macam cara yang baik sekali agar cici bisa memenuhi ‘ harapannya dan See-kiat pun dapat menjaga kesetiakawanannya."

"Coba terangkan dulu, cara macam apa yang kau maksudkan sebagai cara yang sempurna?"

"Keponakan Kiat boleh turut aku ke ibu kota untuk menjadi pengawal istana, sebelumnya akan kubicarakan dulu dengan congkoan tayjin agar ia dibebaskan dalam tugas penangkapan terhadap Utti Keng. Dari Po-teng sampai ke ibu kota paling cuma dua hari perjalanan, kau bisa sering menengoknya di sana atau paling baik lagi bila kau pun ikut pindah ke ibu kota. Dengan demikian, bukankah dia masih tetap dapat melayani masa tuamu nanti?"

Tanpa terasa tergerak juga hati Nyo toakoh setelah mendengar perkataan itu, namun ketika teringat akan janjinya pada putranya dulu ia tak berani menyanggupi dengan begitu saja.

"Cici tak usah ragu lagi,"

Kembali Nyo Bok membujuk.

"Baru terjun ke dunia persilatan, Kiat-ji sudah dapat menjadi pengawal istana, kejadian ini luar biasa dan tak mungkin bisa dialami oleh orang lain!"

"Setiap orang mempunyai cita-cita dan jalan pemikiran masing-masing, jikalau orang lain menganggap hal itu luar biasa, biarkanlah orang lain berpendapat demikian, kalau aku tidak!"

Ujar Ki See-kiat ketus.

"Mengapa kau segan?" ‘Tidak karena apa-apa, aku hanya tak mau menim orang lain menjadi seorang budak,"

Kata pemuda itu sinis. Tentu saja yang dimaksud sebagai "orang lain"

Adalah engku-nya sendiri.

Dengan wajah berubah Nyo Bok menatapnya, tapi karena dia adalah seorang manusia yang licik dan banyak tipumuslihat, ia tak menjadi marah malah sebaliknya tertawa terbahak-bahak.

"Haaaa… haaa… kita bekerja untuk sri baginda, bila kau bersikeras mengatakan pekerjaan ini sebagai budak, maka seharusnya dikatakan sebagai budaknya sri baginda"

"Engku, kau tahu watakku adalah tidak senang bila diperintah orang, sekalipun menjadi budaknya sri baginda, toh tetap seorang budak! Aku tak bisa meniru cara engku, setiap persoalan setiap tindakan harus menuruti perintah congkoan. Maaf, aku telah menganggap congkoan tayjin-mu sebagai budak, harap kau jangan marah."

Walaupun nada pembicaraannya kali ini jauh lebih lembut dan lunak, padahal nada sindirannya jauh lebih tebal dan tak sedap. Buru-buru Nyo toakoh melerai."Cici tak usah ragu lagi,"

Kembali Nyo Bok membujuk.

"Baru terjun ke dunia persilatan, Kiat-ji sudah dapat menjadi pengawal istana, kejadian ini luar biasa dan tak mungkin bisa dialami oleh orang lain!"

"Setiap orang mempunyai cita-cita dan jalan pemikiran masing-masing, jikalau orang lain menganggap hal itu luar biasa, biarkanlah orang lain berpendapat demikian, kalau aku tidak!"

Ujar Ki See-kiat ketus.

"Mengapa kau segan?" ‘Tidak karena apa-apa, aku hanya tak mau menim orang lain menjadi seorang budak,"

Kata pemuda itu sinis. Tentu saja yang dimaksud sebagai "orang lain"

Adalah engku-nya sendiri.

Dengan wajah berubah Nyo Bok menatapnya, tapi karena dia adalah seorang manusia yang licik dan banyak tipumuslihat, ia tak menjadi marah malah sebaliknya tertawa terbahak-bahak.

"Haaaa… haaa… kita bekerja untuk sri baginda, bila kau bersikeras mengatakan pekerjaan ini sebagai budak, maka seharusnya dikatakan sebagai budaknya sri baginda"

"Engku, kau tahu watakku adalah tidak senang bila diperintah orang, sekalipun menjadi budaknya sri baginda, toh tetap seorang budak! Aku tak bisa meniru cara engku, setiap persoalan setiap tindakan harus menuruti perintah congkoan. Maaf, aku telah menganggap congkoan tayjin-mu sebagai budak, harap kau jangan marah."

Walaupun nada pembicaraannya kali ini jauh lebih lembut dan lunak, padahal nada sindirannya jauh lebih tebal dan tak sedap.

Buru-buru Nyo toakoh melerai.

Nyo toakoh seperti dapat membaca suara hati putranya, dia lantas berkata.

"Kiat-ji, seandainya kau merasa kesal tinggal di rumah, tak ada salahnya jalan-jalan ke ibu kota."

"Mau apa ke ibu kota?"

"Aku tahu kau paling cocok dengan Peng-ci dan Lian-kui, bagaimanapun mereka bukan piausu kenamaan dalam perusahaan Ceng-wan piaukiok. bila kau ke sana, mereka punya waktu untuk menemani kau pesiar."

"Aah, tidak, aku tak akan ke situ, aku ingin tinggal di rumah bersama ibu."

"Toh bukan pergi selamanya, imunlah barang sepuluh hari atau setengah bulan, ibu tidak keberatan kau pergi ke sana,"

Nyo toakoh tertawa."Ibu tidak keberatan lantaran ananda yang keberatan meninggalkan ibu?

Dengan susah payah kita dapat berkumpul kembali sekarang, soal ke ibu kota lain waktu masih banyak kesempatan, mengapa aku harus meninggalkan rumah seka-rang juga?"

Nyo toakoh benar-benar merasa gembira sekali setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian, ‘Tak kusangka kau begitu berbakti kepadaku, aai… aku juga tak tak tahu masih bisa hidup berapa tahun lagi, kalau begitu temanilah aku selama beberapa tahun lagi."

Padahal masih ada satu alasan lain yang menyebabkan Ki See-kiat enggan pergi ke ibu kota, yaitu karena Nyo Bok juga berada di situ.

Ki See-kiat tak senang dengan engku (adik ibu)nya ini, benar dia bisa menolak untuk bekerja dengan engku-nya ini, tapi dengan hubungan mereka yang begitu erat, setibanya di ibu kota berarti dia harus pergi mengunjungi engku-nya itu.

Seringkah banyak kejadian tak terduga yang bisa berlangsung tanpa diundang, tak sampai sepuluh hari setelah peristiwa di gedung keluarga Pui, suatu peristiwa yang tak terduga telah berlangsung.

Malam itu, ketika mendekati tengah malam baru saja dia akan tidur, mendadak terdengar desiran angin lirih di atas atap rumah, dengan mengandalkan pengetahuan serta ilmu silat yang dimilikinya sekarang, dia segera mengetahui kalau ada orang sedang berjalan malam di atas genteng.

Begitu mengetahui kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu cukup tangguh, dia lantas berpikir.

"Mungkinkah Utti Keng yang datang mencariku? Tapi mengapa dia hanya seorang diri?"

Pikir punya pikir, dia jadi khawatir kalau orang itu adalah musuh besar ibunya yang datang mencari balas. Seperti diketahui, ibunya bergelar Lak-jiu-Koan-im, tidak sedikit katanya.

"Adikku, terima kasih banyak atas maksud baikmu hendak mengangkat keponakanmu untuk menduduki jabatan tinggi, sayang Kiat-ji tidak cocok menjadi pembesar, hingga kini aku pun menjadi putus asa menyaksikan tingkah lakunya itu."

Nyo Bok masih tak mau menyerah dengan begitu saja, kembali ujarnya.

"Jika dia tak suka menerima perintah orang lain, aku masih ada cara lain untuk ditempuh."

"Mau menjadi pembesar tapi tak mau terikat dan diperintah, aah, masa ada pekerjaan yang begitu baik di dunia ini?"

Kata Nyo toakoh sambil tertawa. Mendadak Nyo Bok mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya.

"Konon sewaktu Sce-kiat masih ada Sinkiang ia telah berkenalan dengan seorang gadis she Leng dari Thian-san-pay. Cici, bersediakah kau menerima nona Leng itu sebagai menantumu?"

"Song Peng-ci dan Oh Lian-kui yang memberitahukan kepadamu?"

Seni Nyo toakoh.

"Benar. Menurut mereka, Sce-kiat amat senang pada nona ini, entah apa sebabnya kau tak setuju untuk menjodohkan mereka?"

Ki See-kiat menggigit bibirnya kencang-kencang tidak berbicara, sementara hatinya merasa perih dan sakit Di samping itu, dia pun tidak habis mengerti apa sebab persoalan itu disinggung-singgung oleh eng-ku-nyaNyo toakoh sendiri pun tidak senang adiknya menyinggung kembali persoalan yang merupakan ganjalan bagi ibu dan anak itu, tapi toh dia berkata juga.

"Kalau toh Peng-ci dan Lian-kui telah memberitahukan kepadamu, tentunya kau juga tahu bukan apa sebabnya aku tak setuju untuk menjodohkan mereka berdua. Apakah muridmu itu tidak menyebutkan asal-usul nona Leng?"

"Konon dia adalah keponakan perempuan Leng Thiat-jiau?" ‘Tepat sekali. Leng Thiat-jiau bermusuhan dengan pemerintah, sedang kau adalah pengawal istana yang melindungi keselamatan sri baginda, masa kau senang melihat keponakan perempuan Leng Thiat-jiau menjadi menantu keponakanmu? Bicara terus terang saja, sebagian besar alasanku adalah dikarenakan kedudukanmu sekarang, maka aku keberatan untuk mengikat hubungan ini! "

Perlu diketahui, kendatipun mereka adalah saudara kandung, tapi setelah persoalan menyangkut masalah "pemberontakan"

Mau tak mau dia harus meningkatkan kewaspadaannya.

Ia sengaja berkata demikian untuk membaiki udiknya, daripada Nyo Bok curiga.

Siapa tahu Nyo Bok dengan senyum tak senyum malahan tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… Cici, aku justru hendak memberi tahu kepadamu, aku gembira sekali dengan perkawinan keponakan Kiat dengan nona Leng itu!"

Kali ini giliran Nyo toakoh yang tercengang, dia memandang wajah adiknya keheranan, sementara hatinya tidak habis mengerti apakah ucapan itu berarti sebenarnya atau justru merupakan kebalikannya "Cici, kau tak usah curiga"

Kembali Nyo Bok tertawa.

"Aku ber-sungguh hati memohonkan pengertianmu bagi See-kiatAku pun mendengar orang bilang, sepulangnya kemari kau telah menghubungi mak comblang untuk mencarikan jodoh baginya, tapi ia selalu menolak. Kalau toh dia menyukai nona Leng seorang, buat apa kau mesti memisahkan mereka berdua?" 0odwo0 Rencana Busuk di Balik Maksud Baik "Apakah kau tidak khawatir bila dia benar-benar mengawini keponakan perempuan Leng Thiat-jiau, maka kejadian ini akan mempengaruhi masa depanmu?"

Tanya Nyo toakoh Nyo Bok segera tertawa.

"Aku telah menerangkan persoalan ini kepada congkoan tayjin. Justru dialah yang menganjurkan kepadaku untuk kemari dan memohonkan pengertian darimu."

"Aku benar-benar tak habis mengerti obat apa yang sebenarnya kau jual di dalam buli-bulimu itu? Orang tua hanya melahirkan kita berdua, aku adalah satu-satunya enci-mu, tak ada salahnya bila kau bertenis terang saja padaku!"

Bagaimanapun jua dia adalah seorang yang berpengalaman, secara lamat-lamat ia dapat merasakan bahwa di balik "maksud baik"

Adiknya ini pasti tersembunyi suatu rencana busuk Benar juga sambil tertawa terbahak-bahak Nyo Bok berkata "Asal dia tidak sejalan dengan Leng Thiat-jiau, hal ini sudah lebih dari cukup.

Bila ia menikahi keponakan perempuan Leng Thiat-jiau, berarti dia akan mengetahui lebih banyak rahasia-rahasia yang menyangkut gerak-gerik komplotan Leng Thiat-jiau.

Bila secara diam-diam kami mengutus orang untuk melakukan hubungan kontak dengannya maka bukan sajagerak-geriknya tak akan dirintangi bahkan berjasa pula bagi kerajaan.

Di kemudian hari sudah pasti dia akan menerima imbalan jabatan yang tinggi bagi jerih payahnya itu.

Sebelum tugas itu berhasil, tentu saja kami pun akan menjaga rahasia ini baginya!"

Ki See-kiat mendongkol sekali hingga sekujur tubuhnya gemetar keras, untuk sesaat dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatuh kata pun.

"Tak usah khawatir,"

Kembali Nyo Bok tertawa.

"Kau adalah menantu keponakan Leng Thiat-jiau, orang-orang dari komplotannya tak bakal menaruh curiga kepadamu. Orang muda harus membayangkan masa depan yang cemerlang, untuk mencapai keadaan seperti itu, tentu saja dia harus berjuang dan menyerempet bahaya. Heeeeh heeceh, inilah yang dinamakan tubuh berada di istana Cho hati berada di pihak Han. Asal kau sanggup bersandiwara dengan sebaik-baiknya, bagaimana mungkin mereka dapat menembus rahasia hatimu"

Ki See-kiat benar-benar tak bisa menahan diri lagi, sambil tertawa dingin serunya.

"Engku, aku rasa ucapanmu itu salah dalam penerapan, siapa yang Cho Coh dan siapa yang bangsa Han? Kau jangan lupa, orang-orang dari komplotan Leng Thiat-jiau semuanya bangsa Han sejati!"

Paras muka Nyo toakoh berubah hebat, buru-buru bentaknya.

"Kiat-ji, kau jangan mengaco belo, untung engku bukan orang luar, coba kalau sampai kedengaran orang lain, bisa runyam kita!

Adik Bok, kau jangan salah mengerti ucapannya, aku tahu dengan pasti, dia baru dua kali berjumpa dengan keponakan perempuan Leng Thiat-jiau, sedang de-ngan Leng Thiat-jiau pribadi hakikatnya tidak saling mengenal.Apalagi setelah Utti Keng menderita kekalahan di tangannya, tindakan itu telah menyalahi pihak Leng Thiat-jiau, aku rasa dia hanya tak berani menempuh bahaya tersebut hingga karena salah bicara mengucapkan kata-kata tersebut.

"Adikku, harap kau jangan memikirkan kata-kata tersebut di dalam hati…."

"Cici, kau pun kelewat khawatir,"

Nyo Bok tertawa paksa.

"Masa aku akan melakukan tindakan yang tidak menguntungkan keponakan sendiri? Kalau toh See-kiat enggan menyerempet bahaya ini, ya sudahlah."

Kini dia sudah mencari jalan mundur tanpa harus kehilangan muka. Siapa tahu Ki See-kiat telah mengucapkan lagi kata-kata yang lebih tak sedap didengar.

"Bukan aku takut menyerempet bahaya, seandainya perbuatan itu untuk suatu kebaikan dan keadilan, engku, jangankan baru persoalan macam begitu, kendatipun kau suruh aku terjun ke lautan api atau mendaki bukit golok, aku tak akan menolak!"

Nyo toakoh dapat menangkap nada yang kurang beres di balik ucapan putranya itu, sepasang matanya kontan melotot besar. Sambil tertawa paksa Nyo Bok kembali berkata.

"Engku tak lebih hanya berharap kau dapat memper-sunting seorang istri yang kau cintai dan bersama-sama berbakti untuk kerajaan, tindakan ini merupakan suatu perbuatan baik, sekali tepuk mendapat dua, apakah kau anggap salah?"

"Keponakan tak berani menuduh ucapan engku salah,"

Ujar Ki See-kiat pelan-pelan.

"Cuma keponakan merasa mata-mata jauh lebih… lebih dari seorang tak becus!"

Sebetulnya dia ingin mengatakan "lebih-lebih tak tahu malu" , seandainya mata ibunya tidak melotot besar ke arahnya, niscaya ucapan tersebut telah diutarakan keluar; Melotot besar sepasang mata Nyo Bok karena mendongkol, dia segera mendengus dingin.

"Hmm, apa maksudmu yang sebenarnya?"

"Tidak bermaksud apa-apa, keponakan hanya tahu diriku ini bukan manusia bertulang budak, lebih-lebih bukan manusia yang cocok menjadi seorang mata-mata, oleh karena itu aku tak dapat menuruti permintaanmu itu, harap engku sudi memaafkan."

"Kiat-ji,"

Bentak Nyo toakoh keras.

"kau masih berani mengaco belo tak keruan? Sungguh menjengkelkan hatiku!"

Sambil mengibaskan ujung bajunya Nyo Bok beranjak dari tempat duduknya, dia berkata.

"Sebenarnya aku bermaksud baik, siapa tahu malah mengundang kesal ahanpahaman kalian, baiklah, tiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda, bila kau sukar diberi tahu, sudahlah, terserah pada kehendakmu sendiri."

"Adikku, binatang cilik ini tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, harap kau sudi memandang wajah cici, jangan memikirkan perkataannya itu,"

Buru-buru Nyo toakoh berseru, kemudian sambil berpaling ke arah putranya, kembali dia membentak.

"Binatang cilik, cepat kemari dan minta maaf kepada engku-mu."

Terpaksa Ki See-kiat berkata.

"Ananda tak pandai berbicara, bukan saja menyakiti hati engku, membuat ibu marah lagi, ananda tahu salah."

Beberapa patah kata itu diucapkan amat sederhana, kalau dibilang ucapan itu merupakan permintaan maaf kepadaengku-nya, maka lebih cocok kalau dibilang minta maaf kepada ibunya.

Lagi pula dia hanya mengakui "tidak pandai berbicara" , jelas ucapan itu bisa diartikan juga kalau dia tidak mengakui kalau telah salah bicara.

Namun, bagaimanapun juga minta maaf sudah dilakukan, paras muka Nyo Bok pun jauh lebih baik-an, dengan lagak pura-pura dia lantas berkata lebih jauh.

"Enci, kau tak usah berkata begitu, masa aku akan ribut dengan seorang angkatan muda? Cuma aku merasa agak khawatir bila See-kiat sampai menempuh jalan sesat, meskipun hubungan antara engku dan keponakan tetap hubungan keluarga toh tak akan melebihi hubungan ibu dan anak, kini aku sebagai engku-nya gagal membujuknya, aku hanya bisa berharap kau sebagai ibunya dapat lebih banyak memberi petunjuk kepadanya."

"Aku pasti akan mendidiknya dengan ketat,"

Nyo toakoh berjanji.

"Adik, kau tidak berdiam lebih lama lagi?"

"Fajar sudah hampir menyingsing, tidak ingin pergi pun tak bisa. Cici, harap kau menjaga diri baik-baik, bila aku kebetulan lewat Po-teng lagi pasti akan datang menjengukmu."

Sepeninggal Nyo Bok, Nyo toakoh duduk kembali sambil menghela napas panjang.

"Ibu,"

Ki See-kiat lantas berkata.

"Engku hanya tahu membuat rencana agar dia cepat naik pangkat, dia hanya ingin memperalat ananda belaka, masa kau tidak dapat meli-hatnya? Kau masih menyalahkan aku yang telah membuat kesalahan kepadanya?"

"Sekalipun begitu, tidak seharusnya kau mengucapkan kata-kata yang tak sedap didengar sehingga menjengkelkan hatinya!"

"Justru karena aku tak bisa menerima ucapannya maka tak tahan aku menyemprotnya. Jika lain kali dia tak berani datang lagi hal itu lebih baik lagi."

"Belum cukupkah kau membuat marah diriku? Mengapa mengucapkan lagi kata-kata seperti itu? Aku hanya mempunyai seorang adik, apakah kau menginginkan aku me-mutuskan hubungan dengannya?"

"Ananda tidak berani, cuma ananda berbicara sejujurnya, manusia macam engku tak lebih hanya manusia yang gila pangkat dan kemaruk harta, kedatangannya kemari masa akan mendatangkan kebaikan untuk kita? Ibu, coba kau bayangkan, dia menyuruh aku meninggalkanmu untuk melalaikan perbuatan munafik yang terkutuk, bahkan me-lakukan pekerjaan macam begitu merupakan pekerjaan yang tiap kali bisa mengancam keselamatan jiwa sendiri, pernahkah dia memikirkan tentang dirimu?"

Ucapan tersebut segera menggetarkan hati ibunya, dengan sedih Nyo toakoh berkata.

"Bukankah aku telah membantumu untuk menolak permintaannya? Tapi, ya… bagaimanapun juga, dia toh satu-satunya adik kandungku!"

"Ibu, kau pun hanya mempunyai seorang putra. Bukan berarti aku menganjurkan kepadamu untuk tidak ambil peduli terhadap engku. Aku hanya berharap kau lebih waspada lagi terhadapnya demi diriku. Bila dia mau datang, aku tak mung-kin menolaknya, tapi bila kau menyuruh aku berterus terang, aku tidak senang melihat kehadirannya"

Ketika Nyo toakoh mendengar putranya menyinggung soal "waspada" , hatinya merasa amat terperanjat, hingga ucapan berikutnya hampir tidak terdengar lagi olehnya Dalam hati kecilnya dia sedang berpikir.

"Aku hanya mempunyai seorang adik, ayah dan ibu sudah mati lama, pada hakikatnya akulah yang menjadi ibu,mendidik dan memeliharanya hingga dewasa Gara-gara dia, entah berapa banyak perbuatan yang sebenarnya tak ingin kulakukan terpaksa harus kulakukan. Julukan Lak-jiu-Koan-im yang kumiliki sekarang pun mungkin sebagian besar gara-gara dia, seperti misalnya demi dia kudesak Hun Ci-lo sampai mati, kalau dibayangkan kembali sekarang, aku merasa menyesal sekali. Kendatipun Hun Ci-lo tidak baik, tidak seharusnya aku bertindak kelewat batas terhadapnya Kali ini, demi menemukan kembali putra kandungnya, aku tidak segan mengutus putraku sendiri untuk menyerempet bahaya di Sin-kiang, di mana hampir saja aku tak dapat bersua lagi dengan putraku. Aku memang tak mengharapkan balas jasa darinya, tapi tidak pantas bila dia melakukan hal-hal yang merugikan diriku gara-gara ucapan Kiat-ji yang menyinggung perasaan-nya Tak mungkin, tak mungkin, dia adalah satu-satunya adikku, dia tak akan mencelakai putra tunggalku…."

"Ibu, apa yang sedang kau pikirkan?"

Mendadak Ki See-kiat menegur. Nyo toakoh segera sadar kembali dari lamunannya, buru-buru dia menyahut.

"Aah, tak apa-apa aku hanya merasa ucapan engku-mu ada benarnya juga."

"Mana yang benar?"

"Dia takut kau menempuh jalan yang salah, aku pun takut kau salah jalan. Lain kali bila tak ada urusan lebih baik jangan sembarangan pergi. Sekalipun aku tak khawatir kau berkenalan dengan orang jahat, aku takut kalau kau salah bicara lagi dengan orang lain, apalagi orang lain toh bukan engku-mu sendiri!"

"Jangan khawatir ibu,"

Ki See-kiat tertawa "sekembaliku ke rumah kali ini, aku memang bermaksud untuk menemanimu,sekalipun kau suruh aku berangkat ke ibu kota pun belum tentu aku mau pergi."

Kendatipun Ki See-kiat telah meluluskan permintaan ibunya namun perasaannya tidak menjadi tenang.

Hal ini bukan karena ia dibikin mendongkol oleh engku-nya, dia sudah tahu manusia macam apakah engku-nya itu, manusia macam begitu tak berharga untuk digusari; tapi ketidaktenangan hatinya justru timbul gara-gara ucapan engku-nya.

Nyo Bok telah menyinggung kembali luka di dalam hatinya, dia teringat kembali pada Leng Ping-ji.

Tak heran kalau Leng Ping-ji bersikeras hendak berpisah dengannya, ketidaksenangan ibu terhadapnya, mungkin masih merupakan alasan kedua.

"Aku mempunyai seorang engku semacam ini, bagaimana mungkin ia bisa berlega hati ? Aaai, sekalipun dia mempercayai diriku, aku pasti akan merasa rendah diri dan tertekan. Buktinya engku bisa mempunyai jalan pemikiran yang begitu rendah dan terkutuk, aku disuruh untuk menjadi seorang mata-mata… mana mungkin aku bisa jadi suami isteri dengannya?"

Walaupun hatinya tak bisa tenang, namun tubuh luarnya justru nampak amat tenang.

Ia menuruti perkataan ibunya dan benar-benar tak pernah meninggalkan pintu gerbang.

Tapi suasana tenang hanya bisa bertahan selama dua hari saja.

Pada malam ketiga, suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga kembali terjadi.

Malam itu, setelah mengikuti peraturan di hari-hari biasa menyampaikan salam kepada ibunya, kembali ke kamar sendiri untuk tidur.

Mendadak di atas meja kecil di ujungpembaringan ditemukan sebatang pisau sepanjang tiga inci enam hun yang menancap di atas sepucuk surat.

Ketika surat itu dibuka, terbaca isinya berbunyi demikian, Harap datang ke kuil Hay-sin-bio untuk bicara, jangan sampai diketahui siapa pun.

Dalam rumah hanya ada tiga orang, kecuali ibu dan anak hanya ada seorang pelayan perempuan yang sudah lanjut usia, dia adalah dayang ibunya ketika masih muda dulu dan sama sekali tidak mengerti ilmu silat.

"Jangan sampai diketahui siapa pun"

Yang dimaksud "siapa pun"

Di sini mungkin hanya ibunya seorang.

Siapakah orang yang hendak berjumpa dengannya itu?

Mengapa harus tanpa sepengetahuan ibunya?

Utti Keng-kah?

Tidak mungkin.

Waktu itu ia bertarung dengan Utti Keng gara-gara ibunya, tak mungkin Utti Keng meminta kepadanya mengelabui ibunya.

Andaikata dia tahu orang itu benar-benar adalah Utti Keng, ia pasti akan mengabulkan permintaan ini, namun bagi Utti Keng, dia tahu kalau pemuda itu seorang anak yang berbakti, mana mungkin dia akan mengajarkan cara yang tidak benar seperti itu kepadanya?

Setelah berpikir bolak-balik, mendadak dia merasakan gaya tulisan orang itu seperti "pernah dikenal", namun dia pun tak bisa mengingat kembali tulisan siapakah itu.

Ki See-kiat tak bisa membendung rasa ingin tahunya lagi, dia lantas berpikir.

"Sekalipun dia sengaja mengaturperangkap untuk menjebakku, aku tetap akan ke sana untuk memeriksa sampai jelas."

Kuil Hay-sin-bio tak jauh letaknya dari rumahnya, sewaktu masih kecil dulu dia sering bermain ke sana.

Diam-diam dia meninggalkan rumahnya, lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya mendekati tempat tujuan, tak sampai setengah sulutan hio, ia sudah tiba di situ "

Pemuda itu sengaja tidak melalui pintu utama, melainkan melompati dinding pekarangan di belakang kuil dan langsung menuju ke ruang tengah.

Dalam ruangan tidak tampak cahaya lampu, hanya sinar rembulan dan bintang di luar jendela yang menyorot ke dalam dan memperlihatkan pemandangan remang-remang.

Tampak di bawah altar terdapat sesosok bayangan manusia sedang duduk bersila mirip seorang pendeta, kalau dilihat bayangan punggungnya tidak mirip dengan Utti Keng.

Ki See-kiat melompat turun bagaikan selembar daun, tanpa menimbulkan sedikit suara pun ia mendekati orang tersebut, tampaknya orang itu sama sekali belum merasa.

Dengan suara keras Ki See-kiat berseru.

"Sobat, aku orang she Ki datang memenuhi janji, kau…."

Dengan terperanjat orang itu melompat bangun.

Ki See-kiat telah membuat persiapan semenjak tadi, dia segera memasang lampu.

Di antara kilatan cahaya, tampak wajah orang itu penuh noda darah, pakaian pada bagian bahu kirinya juga penuh dengan bercak-bercak noda darah….Ki See-kiat makin terperanjat lagi setelah menyaksikan kesemuanya itu, serunya tertahan.

"Pui su-heng rupanya kau, mengapa kau luka?"

Ternyata orang ini adalah murid ketiga dari Nyo Bok, Pui Liang adanya.

Usianya jauh lebih tua tujuh» delapan tahun dibandingkan dengan Ki See-kiat.

Ia berjiwa lurus, cara kerjanya mantap dan terbuka, maka di antara enam orang murid engku-nya, dia adalah orang yang paling dihormati oleh Ki See-kiat "Aah, luka kecil, tidak mengapa,"

Bisik Pui Liang.

"Ki sute, sudah kuduga kau pasti datang, ternyata kau benar-benar datang, tapi kedatanganmu tak sampai diketahui sukoh bukan?"

Ki See-kiat segera memadamkan api obornya, lalu menjawab.

"Ibuku sudah tidur, aku akan kembali sebelum fajar, tentu saja tak akan diketahui olehnya. Pui suheng. kau datang dari mana? Siapa yang melukai dirimu?"

"Ji-suheng!"

"Masa ji-suheng melukaimu? Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

Makin lama Ki See-kiat semakin bingung.

"Duduklah dulu, akan kuceritakan pelan-pelan. Ada satu hal, aku membutuhkan bantuanmu."

"Katakanlah, asal sanggup kulakukan, sekali pun harus terjun ke lautan api pun tak akan kutolak."

"Tiga tahun berselang aku pergi tanpa pamit kau temu tak tahu ke mana aku telah pergi bukan? Aku tidak takut memberitahukan kepadamu, aku telah pergi ke Jik-tat-bok dan bersama-sama Huan sute menggabungkan diri denganpasukan pembela bangsa penentang bangsa Cing. Kau tak takut karena hal ini bukan?"

"Tentu saja tidak,"

Ki See-kiat Jrtawa.

"sebab aku pun sudah tahu akan peristiwa ini."

"Dari mana kau tahu?"

Tanya Pui Liang tertegun. ‘Aku mendengar dari Song su-,"

Pui Liang segera berkerut kening.

"Untung dia tidak memberitahukan hal ini kepada orang luar,"

Serunya.

"Tahukah ibumu akan hal ini?"

"Jangan kau salahkan dia. Song suheng tidak memberitahukan bal ini secara langsung kepadaku, suatu ketika tanpa disengaja aku telah mencuri dengar pembicaraannya dengan Oh suheng, dari sanalah kuketahui akan hal ini. Tak usah khawatir, aku berani menjamin ibuku tidak tahu."

"Pasukan pembela bangsa tinggal di tengah hutan belantara di wilayah Jik-tat-bok,"

Pui Liang melanjutkan perkataannya.

"Hidup di situ, yang paling kekurangan adalah obat-obatan. Sebulan berselang, kami telah mengutus seorang saudara yang bernama Ciat Hong untuk membeli obat-obatan di kota, siapa tahu setibanya di kota Po-teng telah terjadi suara peristiwa!"

"Peristiwa apa yang telah terjadi?"

Tanya Ki See-kiat dengan perasaan terkejut "Ia telah ditangkap oleh komandan opas kota Po-teng yang bernama Thi-tan (Peluru Baja) Lau Liang.

Orang ini adalah murid Lo Hl-hong, tentunya kau pun tahu, Lo Hi-hong masih terhitung famili dengan Pui Hou bukan?

""Apakah Lau Kun sudah mengetahui identitas Ciat Hong yang sesungguhnya?"

Tanya Ki See-kiat "Agaknya belum tahu, dia mengatakan dia sangat mencurigakan…."

"Tentu Ciat Hong tak akan mengaku bukan?"

"Celakanya dañar obat-obatan yang dibutuhkan pihak pasukan pembela bangsa telah digeledah oleh pihak pemerintah dan berhasil disita."

"Tapi di atas daftar pesanan toh tak akan ditulis siapa pembelinya bukan?"

"Tentu saja tidak, tapi Lau Kun adalah seorang manusia yang hebat, dañar obat-obatan tersebut sudah cukup menimbulkan kecurigaan di dalam hatinya."

"Apa yang membuatnya curiga?"

"Dari saku Ciat Hong, mereka cuma berhasil merampas beberapa ratus tahil perak, padahal nilai obat-obatan yang akan dibeli itu mencapai lima enam laksa tahil perak."

"Mengapa dia cuma membawa beberapa ratus tahil perak saja?"

"Di ibu kota terdapat orang kita, sepintas lalu orang menganggap mereka adalah saudagar kaya atau hartawan sosial. Setibanya di ibu kota, di sana ada orang yang akan mengatur segala sesuatunya. Akan tetapi bila pihak pemerintah melakukan pemeriksaan, bagaimana mungkin Ciat Hong bisa mengatakan kalau di ibu kota ada orang yang akan membayarkan rekeningnya itu? Andaikata dia asal menyebut suatu nama toko, ibu kota dengan Po-teng berjarak begini dekat tidak sampai berapa hari, semuanya pasti akan berhasil diselidiki."

Selain itu,"

Pui Liang melanjutkan setelah berhenti sebentar.

"obat-obatan yang tercantum di dalam daftar tersebut bukanlah bahan obat-obatan yang digunakan sembarangan orang seperti misalnya, obat untuk menyembuhkan hawa kabut beracun dan sebangsa-nya, selain itu kami pun memesan beberapa ribu bungkus Heng-kun-san, barang-barang semacam ini paling sukar untuk dijelaskan."

"Lantas bagaimana baiknya?"

"Untung saja Ciat Hong cukup cekatan. Dia bilang dia adalah saudagar obat-obatan dari Kuiciu, dikatakan daerah Inlam dan Kuiciu sedang terjangkit penyakit menular, soal Heng-kun-san dia mengatakan di Kuiciu dia mempunyai sebuah toko obat yang besar yang punya nama selama seratus tahun belakangan ini. Dikatakan pula, untuk mencegah perampokan dan pembegalan di jalanan, maka setibanya di ibu kota, dari rumah baru akan mengirim uangnya lewat perusahaan pengiriman uang."

"Apakah pihak pemerintah percaya?"

"Sesungguhnya hal ini cuma merupakan taktik mengulur waktu dari Ciat Hong, Kuiciu jauh letaknya dari Po-teng, bila pihak pemerintah hendak melakukan penyelidikan, paling tidak juga makan waktu satu dua bulan lamanya. Selain ini menurut dugaan kami, mungkin pengadilan Po-teng juga bermaksud mencari uang pelicin darinya, sebab andaikata ia benar-benar seorang pedagang obat besar paling tidak harus ada uang pelicin sebesar satu laksa beberapa ribu tahi! sebelum bisa dibebaskan. Tentu saja mereka lebih berharap kalau dapat menyelidiki kalau dia punya hubungan dengan pentolan pemberontak serta Utti Keng sekalian, karena jasa besar itu bisa jadi akan membuat mereka naik pangkat."

"Kalau begitu, hingga kini Ciat Hong masih dikurung dalam pengadilan kota Po-teng?"

"Benar, konon dia tidak mendapat siksaan apa-apa, cuma setiap hari selalu diperiksa, digertak dan ditakut-takuti."

"Bagaimanapun juga, taktik mengulur waktu bukan suatu taktik yang baik, cepat atau lambat toh rahasianya akan terbongkar juga. Bagaimanapun jua kita harus berusaha untuk menolongnya."

"Benar, itulah sebabnya kami lantas berpendapat bagaimana kalau minta bantuan ji-suheng."

"Keliru, keliru besar. Ji-suheng mempunyai hubungan yang akrab dengan para pembesar kerajaan, konon semua pejabat di kota Po-teng saling menyebut saudara dengannya, bagaimana mungkin ka-ian malah meminta bantuannya."

Pui Liang tertawa getir.

"Semuanya ini kebodohanku lldiri, aku tidak menyangka kalau ii Hou sejahat itu.

Aku berasal satu marga dengannya, bukan hanya sesama saudara seperguruan, kalau dibicarakan, sesungguhnya aku dan dia mempunyai kakek moyang yang sama, dengan hubungan yang akrab ini aku mengira paling tidak dia akan memberi muka padaku."

Kita toh tak mungkin menyerbu ke penjara untuk memberi pertolongan, karena itu kita harus mencari hubungan dengan pihak pejabat pemerintah dan berusaha untuk menyuap mereka.

"Justru karena Pui Hou adalah seorang hartawan terkemuka di kota Po-teng, maka kami jadi teringat pada dirinya "

Maksud kami, dia hendak dimintai pertolongannya untuk membebaskan Ciat Hong, sekarang Ciat Hong cuma dicurigai dan belum terbukti dosa dan kesalahannya, ditambah pula guru Lau Kun — komandan opas dari Po-teng — adalah Lo Hi-hong, sedang Lo Hi-hong adalah enthio-nya, asal ia bersedia untuk menampilkan diri dan memberi jaminan, kemungkinan untuk membebaskan Ciat Hong dari penjara besar sekali.

"Tentu saja kami pun telah mempertimbangkan kemungkinan ia takut terlibat dalam peristiwa ini, maka seandainya dia setuju, hal ini paling baik, jika menolak maka kami pun hanya berharap dia bisa membantu kami untuk mencarikan kabar tentang nasib Ciat Hong. Soal ikut sertanya kami dalam pasukan pembela bangsa tidak diketahui olehnya, kami hanya mengaku sebagai sahabat karib Ciat Hong saja, karena suatu kesalahpahaman ia ditangkap pemerintah dan masuk penjara, maka untuk menengok dia dalam penjara tentunya bukan sesuatu yang luar biasa bukan?"

Sambil menggeleng kepalanya berulang kali Ki See-kiat berkata.

"Perhitungan kalian ini benar-benar kelewatan sedikit, janganlah dianggap segala sesuatunya itu gampang dicapai."

Pui Liang tertawa getir.

"Kau tidak tahu, bila bulan empat tiba maka Jik-tat-bok akan berada di musim hujan, dalam musim hujan saudara yang menderita sakit akan hanyak sekali, maka obat-obatan tersebut harus sudah sampai di tempat tujuan sebelum musim hujan tiba. Bila kami tak dapat menolong Ciat Hong, paling tidak juga harus mengetahui dari mulutnya siapakah orang yang harus kami hubungi setibanya di ibu kota. Dalam keadaan yang amat terdesak ini, meski kami tahu kalau Pui Hou tak dapat dipercaya, terpaksa aku harus menyerempet bahaya untuk mencari bantuannya."

"Setelah mengetahui tujuan kalian, apakah dia lantas menolak?"

Tanya Ki See-kiat kemudian."Itu sih tidak.

Ketika ia menyaksikan aku dan Huan sute datang, seperti menemukan mestika saja, dengan wajah berseri segera melayani kami dengan hangat, sedemikian hangatnya hingga jauh melebihi sikapnya ketika masih sama-sama berguru dulu.

Setelah kami utarakan maksud tujuan, ternyata ia segera menyanggupi.

Ia bilang kekuasaan dalam penjara berada di tangan Lau Kun, kalau hanya ingin menengok ke dalam penjara sih urusan kecil, dia bilang asal permintaan itu disampaikan, tentu Lau Kun akan menyetujuinya."

"Sekalipun minta pembebasan buat Ciat Hong dia pun dapat melakukannya."

"Siapa tahu setelah kami mengucapkan terima kasih kepadanya, dia baru berkata lagi" , ‘Kita adalah sesama saudara seperguruan, saling membantu sudah merupakan suatu hal yang wajar. Cuma aku pun berharap kalian benar-benar tidak menganggapku sebagai orang luar!1

"Aku lantas bilang, ‘Apa maksudmu?’ "

Dia menjawab ", ‘Aah, tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu, selama beberapa tahun ini ke mana saja kalian telah pergi?’ "

Aku pun menjawab ", ‘Selama beberapa tahun ini kami mengembara dalam dunia persilatan, sulit untuk mengungkapkan semua tempat yang pernah kami kunjungi selama ini* "

Tiba-tiba ia menghela napas sambil berkata lagi ", Aaai, kuanggap kalian sebagai saudara sendiri, dengan mempertaruhkan kedudukanku sekarang, aku bersedia mem-bantu kalian, tapi kenyataannya kalian enggan berterus terang kepadaku, sungguh hal ini membuat hatiku sedih."Huan sute lembek hatinya, dia lantas berkata begini", ‘Bukannya kami enggan membicarakan hal ini kepadamu, tapi suheng adalah seorang hartawan kenamaan di sini, buat apa sih mesti mencampuri urusan dunia persilatan?’ "Kali ini dia seperti berhasil mendapatkan kelemahan, maka dia pun bertanya lagi", ‘Huan sute, dengan perkataanmu itu, apakah kau ada maksud untuk mempermainkan aku?

Persoalan yang kalian mohon bantuannya d ariku sekarang bukankah masalah dunia persilatan juga?

Betul, pertama aku memandang wajah kalian, kedua aku pun berniat untuk bersahabat dengan Ciat Hong, maka kukabullcanpermintaan kalian untuk menolongnya, tapi paling tidak kalian pun harus memberi keterangan kepadaku agar aku juga tahu, sesungguhnya dia adalah sahabat dari aliran mana?’ "Paras muka Huan sute segera berubah menjadi merah padam, buru-buru dia berkata,"

Ji-suheng, aku tidak membohongimu, dia memang seorang saudagar obat-obatan dari Kuiciu, dahulu kami pernah berhutang budi darinya, sebagai orang yang seringkah membeli obat-obatan di luar daerah, tentu saja sedikit banyak ia pandai bersilat’ "Huan Kiri tidak terbiasa berbohong, tentu saja cerita karangan yang disusun secara tergesa-gesa itu kurang leluasa sewaktu diutarakan, buru-buru aku pun menambahkan" , ‘Ji-suheng, bila kau menaruh curiga, ya sudahlah, aku pun tak berani memohon bantuan lagi dari kalian.’ "Apakah kalian lantas bentrok?"

Ki See-kiat menyela.

"Aah, masih terlampau awal, dia masih belum mau menyerah dengan begitu saja, sambil berpura-pura tertawa kembali ujarnya.

"Dengan tulus hati aku ingin membantu kesulitan kalian, padahal Huan sute pun tak usah membohongi aku, urusan kalian sudah lama kuketahui dengan pasti."

Dengan nada terperanjat Huan sute segera berseru.

"Apa yang telah kau ketahui?"

Sahut Pui Hou dengan suara rendah.

"Aku tahu kalian telah bergabung dengan Leng Thiat-j iau di Jik-tat-bok. Kalian tak usah gugup, walaupun aku punya banyak harta, sesungguhnya aku pun lebih condong ke pihak pasukan pembela bangsa. Hanya saja beban keluarga membuatku terikat Lagi pula waktunya belum sampai maka aku tak berani meniru kalian bergabung dengan begitu saja dengan pihak pasukan pemberontak. Aku rasa sahabat Ciat tersebut sudah pasti anak buah Leng Thiat-jiau bukan? Aku harap kalian suka berterus terang sehingga aku pun dapat menolongnya dengan hati lega."

"Aku segera berkata begini, ‘Ji-suheng, dari mana kau dengar berita itu? Apa yang telah kami ..katakan tadi adalah kata-kata yang jujur, soal pasukan pemberontak kami benar-benar tak tahu. Bila kau baru bersedia membantu bila ada syarat tertentu, lebih baik tak usah saja.’ "

Huan sute telah melihat pula maksud tujuannya, dengan wataknya yang jauh lebih berangasan dari diriku, sambil bangkit segera serunya ", ‘Ji-suheng, maksud baikmu biar kuterima di dalam hati saja, baik-bai kiah menjaga harta kekayaanmu, kami tak berani merepotkan dirimu lagi, selamat tinggal!"

Dalam keadaan beginilah, ia baru memperlihatkan wajahnya yang menyeringai seram tiba-tiba serunya sambil tertawa dingin ", ‘Kalian tidak menganggap aku suheng, heehh… heeehh… jangan harap bisa pergi dari sini dengan gampang!’ "

Di tengah suara dinginnya, dari balik penyekat segera berhamburan senjata rahasia, kawanan centeng yang sudahdipersiapkan sejak semula segera menyerbu keluar bersama-sama.

H uan sute kena terhajar sebatang paku Toh-kut-ting pada bagian pentingnya, aku kena terhajar sebatang piau kupu-kupu, untung masih punya tenaga untuk menerjang keluar dari kepungan dan meloloskan diri."

Mendengar sampai di situ, dengan gemas dan mendongkol Ki See-kiat segera berseru.

"Aku sudah tahu kalau Pui Hou seorang manusia munafik, tapi tidak kusangka kalau hatinya sekeji ini! Baik, Pui suheng, katakanlah apa yang harus kulaku-kan?"

"Aku tahu, baru saja kau membantunya, meski dia menaruh benci kepadamu gara-gara kau memaksanya untuk memuntahkan lima laksa tahil perak, namun bagaimanapun juga dia masih ingin membaiki ibumu. Dan lagi Utti Keng pernah kalah di tanganmu, bila kau muncul di ramahnya, kurasa dia tak akan berani menghadapi kau seperti apa yang telah dia lakukan ketika menghadapi aku dan Huan sute tadi."

"Aku pun tidak takut dia menuduhku sebagai anggota pasukan pemberontak. Baik, sekarang juga aku akan minta orang darinya."

"Kuanjurkan kepadamu untuk bekerja menurut keadaan, tak usah kelewat berangasan dan gegabah, aku tahu ibumu tak ingin kau bentrok dengannya, cuma demi dirimu, kemungkinan juga dia bersedia memintakan ampun buat Huan sute. Besok pergilah mencari berita Huan sute, paling baik lagi kalau meng gunakan cara halus sebelum memakai kekerasan."

"Tak bisa ditunggu sampai besok lagi, sekarang juga aku akan ke rumahnya. Paling lambat sebelum fajar besok, aku pasti sudah kembali ke sini, harap kau menunggu aku di sini."

Dari ujung jalan sana berkumandang suara kentungan, waktu menunjukkan kentongan ketiga tepat. Sambil meninggalkan kuil Hay-sin-bio, diam-diam Ki See-kiat berpikir.

"Untuk sementara waktu lebih baik persoalan ini jangan sampai diketahui ibu. Put Hou bersikap begitu tak berbudi dan tidak setia kawan terhadap sesama anggota perguruan, buat apa pula aku mesti menggunakan nama ibu untuk memohon kepadanya?"

Maka dengan cepat dia mengambil kepatusan di dalam hati kecilnya.

"Paling baik kalau aku bisa menyelamatkan Huan Kui tanpa menimbulkan sedikit suara pun, berusaha menghindari suatu pertarungan secara kekerasan melawan Pui Hou dan tak usah meminta-minta padanya."

Malam itu udara sangat gelap, rembulan telah tertutup oleh awan hitam yang tebal.

Suasana seperti ini merupakan saat yang paling cocok bagi orang yang berjalan malam untuk beroperasi.

Diam-diam Ki See-kiat menyusup masuk ke kebun bunga keluarga Pui, betul juga tiada angin berhembus, tiada rumput bergoyang, tak ada seorang manusia pun yang mengetahui akan kehadirannya.

Pui Hou adalah seorang hartawan kaya raya di kota Po-teng, kebun bunganya sangat luas dengan pelbagai bangunan kecil menghiasi sekelilingnya.

Dari tiga lapis halaman rumahnya, paling tidak terdapat puluhan gedung besar dengan ratusan buah kamar, dalam kebun bunga pun penuh dengan bangunan gardu serta loteng yang tersebar di sana-sini.Walaupun Ki See-kiat terhitung tamu yang sering berkunjung ke gedung keluarga Pui, namun ia tak tahu Huan Kui disekap di mana.

Seandainya dia harus menggeledah kamar demi kamar, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Sementara dia sedang memutar otak untuk mencari jalan keluar, mendadak dari balik kebun bunga, di sudut sebuah bangunan loteng kecil, lamat-lamat dia menyaksikan pancaran sinar lentera.

Ki See-kiat mengenali bangunan loteng itu sebagai "Si-hun-lo" , merupakan salah satu tempat yang dipakai Pul Hou untuk mencari angin, sekeliling loteng memang sengaja ditanami pepohonan dan aneka bunga yang amat lebat sehingga suasana amat gelap.

Di hari-hari biasa, dia paling suka menerima tamu agung di sini, terutama sekali tamu-tamu dari golongan pembesar yang disebutnya sebagai orang-orang dari golongan seni dan sastrawan.

Tergerak hati Ki See-kiat setelah menyaksikan keadaan di situ, diam-diam pikirnya.

"Sudah begini malam, mengapa masih ada orang di loteng Si-hun-lo? Sudah pasti orang itu bukan anggota keluarga Pui, jangan-jangan Pui Hou sedang menerima tamu agung di tengah malam buta? Biar kutengok ke sana…."

Ia mengambil segenggam lumpur dari tepi kolam dan melumuri wajah sendiri, maksudnya andaikata jejaknya ketahuan nanti, Pui Hou tak dapat mengenali wajahnya.

Begitulah, dengan langkah yang sangat berhati-hati dia mendekati bangunan loteng itu, akhirnya dari balik jendela ia menyaksikan dua sosok bayangan manusia.

Dugaannya takmeleset, Pui Hou memang sedang menerima tamu di loteng Si-hun-lo.

Bayangan tubuh dari Pui Hou segera dapat dikenali dalam pandangan pertama, tapi siapa orang yang kedua?

Punggung orang itu menghadap ke arah jendela, namun bayangan punggung tersebut terasa seperti amat dikenalnya.

Sementara dia masih termenung sambil mengawasi bayangan punggung itu, mendadak terdengar orang itu berkata.

"Pui Hou, kali ini kau sudah banyak membantuku, untung aku punya seorang murid sebaik kau, coba kalau bukan begitu, aku bisa mati mendongkol, akibat ulah kedua murid murtad tersebut. Kali ini kau sudah mengeluarkan banyak tenaga, hal ini pasti akan kulaporkan ke pihak penguasa di kota Po-teng agar jasamu itu mendapat imbalan."

Ternyata orang itu tak lain tak bukan adalah engku-nya Ki See-kiat sendiri, Nyo Bok adanya.

Kejadian ini sama sekali di luar dugaan, tanpa terasa Ki See-kiat jadi tertegun dan untuk sesaat tak tato apa yang harus dilakukan.

Bila engku-nya hadir di gedung keluarga Pui, maka sulitlah baginya untuk menyelamatkan Huan Kui yang terluka parah dari situ, sebab sebaik-baiknya ilmu silat yang dimiliki, tak mungkin dia harus bertarung sendiri dengan engku-nya itu.

Bukan saja tak bisa bertarung dengan engku-nya, dia pun harus bekerja keras untuk menghindari agar engku-nya tak tahu kalau dia pernah mendatangi gedung keluarga Pui Sewaktu dia menolak ajakan engku-nya untuk bersama-sama menghadapi Utti Keng, engku-nya sudah curiga, seandainya kini jejaknya ketahuan, sudah pasti engku-nya akan menduga kalau kedatangannya mempunyai maksud ter-tentu, hal ini bukan cuma terbatas pada soal "curiga"

Belaka, bahkan terbukti kalau dia memang bermusuhan dengan engku-nya Betul dia tidak takut menghadapi engku-nya, namun bagaimanapun jua dia harus memikirkan ibunya.

Tempo hari, sikapnya yang "tidak tahu diri"

Itu sudah cukup membuat engku-nya pergi dengan mendongkol dan ibunya khawatir setengah mati.

Sekarang, mana boleh dia menambah beban kemurungan lagi bagi ibunya?

Tapi, jika ia diharuskan mengurungkan niat dengan begitu saja, dia pun enggan.

Sementara dia masih kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukan, mendadak terdengar Pui Hou berkata.

"Kesemuanya ini berkat doa restu dari suhu, begitu suhu sampai di Po-teng, dia pun datang mengantarkan diri, sedang Huan sute juga suhu sendiri yang membekuknya, tecu telah mengeluarkan tenaga apa?"

Mendengar sampai di situ, Ki See-kiat menjadi amat tercengang, segera pikirnya.

"Pui suko sama sekali tidak menerangkan kalau ia telah bertemu dengan suhu-nya di gedung keluarga Pui, mengapa bisa engku yang turun tangan membekuk Huan suko? Aneh!"

Sementara itu Nyo Bok telah tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… benar, kalau dibicarakan memang rezeki kita sedang baik. Kau adalah muridku yang terbaik, aku pun tidak khawatir untuk berterus terang denganmu, adapun kedatanganku ke Po-teng kali ini memang bermaksud untuk menyelidiki jejak Utti Keng, tapi masih ada masalah yang lebih penting lagi selain persoalan itu, yakni menyelidiki kasus dari Ciat Hong. Utti Keng memiliki kepandaian silat yang sangatIihay, kendatipun cong-koan tayjin turun tangan sendiri juga belum tentu dia seorang diri bisa membekuk pencoleng besar tersebut, tapi Ciat Hong sudah disekap dalam penjara Po-teng, hanya gentong-gentong nasi itu saja yang tak mampu memaksanya buka mulut. Andaikata kita dapat menyelidiki asal-usul Ciat Hong dan membongkar kasus ini, jelas jasa yang kita buat tidak berada di bawah jasa membekuk Utti Keng, mengertikah kau…?"

"Aku mengerti, aku mengerti,"

Sahut Pui Hou berulang kali.

"Kalau ditinjau sekarang, tampaknya Ciat Hong ada sangkut pautnya dengan gerombolan yang dipimpin Leng Thiat-jiau, sudah jelas dia pun termasuk pemberontak. Andai kita dapat melakukan penyelidikan lebih jauh, apalagi jika dapat mengetahui siapa-siapa saja komplotan mereka yang bercokol di ibu kota, sudah jelas jasa yang kita buat kali ini luar biasa sekali."

Terdengar Nyo Bok melanjutkan.

"Sudah enam tujuh hari pihak pengadilan kota Po-teng menyekapnya, namun asal-usul yang tepat pun belum berhasil diketahui sebaliknya begitu aku sampai di sini, semua titik terang telah berhasil kutemukan, boleh dibilang rejekiku memang jauh lebih besar daripada me-reka. Yang jelek dalam masalah ini adalah kasus yang kita kerjakan sekarang justru melibatkan anak murid sendiri."

"Ranting kering di atas pohon yang besar merupakan suatu kejadian yang lumrah,"

Buru-buru Pui Hou berkata "Siapa suruh Pui Liang dan Huan Kui tak tahu diri dan menodai nama perguruan?

Kalau sudah berani berbuat kesulitan, sudah se-pantasnya pula menerima hukuman yang setimpal, hal ini merupakan suatu peristiwa yang tak bisa dihindari lagi."

"Betul, aku mempunyai dua orang murid jelek dan dua orang murid baik. Seng Liong serta kau merupakan orangkepercayaanku, terutama kau, cara kerjamu sangat berkesan di dalam hatiku."

"Aah, suhu kelewat memuji,"

Buru-buru Pui Hou membungkukkan badannya sambil tertawa licik.

"Seandainya kau orang tua tidak melepaskan senjata rahasia untuk melukai Huan sute lebih dulu, belum tentu tecu dapat membekuknya"

Sekarang Ki See-kiat baru menyadari apa gerangan yang telah terjadi, rupanya orang yang bersembunyi di balik penyekat dan melukai Pui Liang dan Huan Kui dengan paku penembus miang tak lain adalah guru mereka sendiri.

Guru menyergap murid, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat aneh dan baru terdengar untuk pertama kalinya tak heran kalau Pui Liang pun tidak mengetahui akan hal ini.

Pui Hou tidak diam sampai di situ saja, kembali dia menjilat pantat gurunya dengan berkata "

Suhu, ilmu senjata rahasiamu benar-benar luar biasa hebatnya belum pernah tecu menjumpai kehebatan seperti ini.

Seandainya waktu itu kau orang tua turut hadir di arena niscaya tecu tak usah takut lagi dengan Jian-jiu-Koan-im Ki Seng-in."

Nyo Bok tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… bukan suhu merendahkan diri, jika dibilang harus beradu senjata rahasia dengan Jian-jiu-Koan-im, mungkin aku masih selisih setingkat dengannya. Cuma paku penembus tulangku khusus menghajar bagian persendian miang, jadi kendatipun aku tak bisa menandingi Jian-jiu-Koan-im, mungkin masih lumayan-Uh jika dibandingkan amat persilatan lainnya. Kepandaian tersebut merupakan suatu kepandaian yang baru saja berhasil kulatih. tentu saja kalian belum pernah melihat sebelumnya."

Sesudah membual cukup lama. NyoBok kembali melanjutkan kata-katanya.

"Kau jauh lebih berkenan dalam hatiku ketimbang Bun Seng-liong karena kau lebih pandai jadi orang. Misalkan saja Pui Liang dan Huan Kui dua orang manusia murtad itu, mereka tak nanti berani mempercayai toa-suheng-nya, tapi buktinya mereka berani kemari untuk meminta bantuanmu. Di sinilah letak keberhasilan mu sebagai manusia. Km bisa memancing mereka masuk perangkap dan tindakanmu itu sudah merupakan suatu jasa yang amat besar sekali."

"Berjuang demi guru merupakan kewajiban bagi setiap anak muridnya, cuma setelah Pui Liang berhasil meloloskan diri, ia pasti mencatat sakit hati ini atas nama tecu, sejak kini aku khawatir.-aku khawatir…."

"Apa yang mesti kau takuti? Paling banter mulai kini kau turut aku menuju ke ibu kota menjadi pembesar."

"Terima kasih atas pengangkatan suhu,"

Pui Hou segera berseru dengan wajah berseri. Terdengar Nyo Bok berkata lebih jauh.

"Sesungguhnya paku penem-bus tulangku bisa menembusi tulang pi-pa-kut dari Huan Kui, tapi aku tak berbuat demikian, tahukah kau kenapa aku tidak berbuat begitu?"

"Suhu berhati bajik dan penuh kasih sayang, kau tak tega untuk memunahkan ilmu silatnya."

"Kali ini tebakanmu keliru,"

Seru Nyo Bok sambil tertawa.

"Aku bekerja untuk sri baginda, sedang dia adalah pemberontak penentang kerajaan, dalam hal ini buat apa kita mesti mempersoalkan hubungan antara guru dan murid lagi?"

"Lantas karena apa?"

Pui Hou pura-pura tidak mengerti."Aku sedang mempersiapkan tempat berpijak bagiku sendiri. Andaikata kulakukan tindakan kelewat batas, jangan harap kita punya harapan untuk memancingnya menyerah."

"Tapi Huan Kui si bocah keparat itu tak bisa dihalusi tak bisa pula dikerasi"

Kata Pui Hou dengan kening yang berkerut "Kini ia sudah membenciku sampai ke tulang sumsum, jangankan membujuknya untuk menyerah, sewaktu kusuruh orang mengantar nasi untuknya pun mangkuk nasi dibanting sampai rusak, tampaknya dia bermaksud untuk berpuasa sampai mati."

"Ia toh tak tahu kalau aku pun berada di sini?"

"Tecu tidak memberitahukan hal ini padanya."

"Baik, bawalah dia menghadapku, katakan kalau aku baru saja datang ke rumahmu."

Mendengar sampai di situ, Ki Scc-kiat yang bersembunyi di luar jendela menjadi terkejut bercampur girang diam-diam pikirnya.

"Bila Pui Hou keluar dan menggusur Huan Kui ke atas loteng Si-hun-Io nanti, aku akan menotok jalan darahnya secara mendadak dan melarikan Huan Kui."

Siapa tahu di atas jendela kini tinggal bayangan tubuh dari Nyo Bok seorang, namun tidak tampak Pui Hou berjalan keluar.

Kejadian ini kontan mencengangkan Ki See-kiat, sambil memberanikan diri dia melompat naik ke atas atap rumah, lalu dengan menggantungkan diri pada wuwungan rumah di belakang jendela, secara diam-diam ia mengintip ke dalam.

Sewaktu melompat naik ke atas atap rumah tadi, dia telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, ditambah lagi di luar jendela memang tumbuh pepohonanyang rimbun, sehingga gerak-geriknya itu sama sekali tidak diketahui oleh Nyo Bok yang berada dalam kamar.

Tak selang berapa saat kemudian, tampak Pui Hou dengan memayang seseorang telah muncul di atas mulut anak tangga dan masuk ke dalam ruangan.

Di bawah sinar lentera, dapat terlihat dengan jelas kalau orang itu adalah Huan Kui.

Ternyata Huan Kui disekap dalam penjara bawah tanah.

Penjara itu terletak persis di bawah loteng Si-hun-Io tersebut, sehingga dengan demikian Pui Hou tak perlu berjalan ke luar rumah.

Huan Kui tampak terperanjat sekali setelah berjumpa muka dengan gurunya, ia seperti agak terkejut.

"Huan Kui!"

Pui Hou segera membentak.

"besar amat nyalimu, setelah bertemu suhu belum juga memberi hormat"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Huan Kui berseru.

"Suhu, maafkanlah tecu karena sedang terluka…."

Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, Nyo Bok telah menukas sambil berlagak iba.

"Aduuuh… tampaknya luka yang kau derita benar-benar tidak enteng, kalau memang sudah terluka, lebih baik tak usah memberi hormat…."

"Suhu, dalam peristiwa yang terjadi hari ini, aku pun dibikin apa boleh buat,"

Kata Pui Hou pula sambil berpura-pura sedih.

"Obat luka yang kububuhkan di atas lukamu tadi adalah obat luka yang terbaik. Tentunya sudah ada perubahannya bukan?"

Huan Kui meludah dengan sinis, kemudian sambil melotot ke arahnya dengan gusar, katanya ketus.

"Pui Hou, aku telah salah mencarimu, sekarang hatiku benar-benar menyesal sekali. Lebih baik bunuhlah aku!"

Pui Hou mengegos ke samping menghindari ludahnya, kemudian kembali berseru.

"Sute, apa maksud ucapanmu itu? Aku datang untuk menolongmu, masa hendak kubunuh dirimu?"

Nyo Bok dengan lagak seorang guru segera ikut berbicara, ujarnya pelan-pelan.

"Huan Kui, justru karena aku mendengar kabar tentang dirimu, maka sengaja aku datang kemari. Persoalanmu sudah kudengar dari Pui Hou. Betul, dia memang turun tangan kelewat berat terhadapmu, cuma kau pun tak dapat menyalahkan dia, yang ia lakukan benar-benar demi kebaikanmu, aku memahami maksud hatinya."

Sambil menggigit bibir Huan Kui membungkam seribu bahasa, ia tak pernah memandang wajah gurunya dengan pandangan lurus. Terdengar Nyo Bok melanjutkan kembali kata-katanya.

"Kau tak mau menuruti nasihat, sehingga terpaksa dia harus menggunakan cara ini untuk menahan dirimu."

Huan Kui masih tetap membungkam seribu bahasa.

"Kau tidak percaya pada suheng-mu, tentunya percaya pada gurumu bukan?"

Ujar Nyo Bok lagi dengan nada berat "Suhu menyuruhku mempercayai apa?"

"Baik atau buruk kau adalah muridku, sekalipun kau telah melakukan pelanggaran besar, aku tetap akan berusaha melindungimu!"

"Suhu, sungguhkah perkataanmu itu?"

Ki Sec-kiat yang menyadap pembicaraan tersebut dari luar menjadi gelisah sekali, dia berpekik dalam hatinya.

"Tahukah kau, orang yang menghajarmu dengan paku penembus tulang adalah gurumu sendiri!"

Sementara dia masih berpikir, Nyo Bok dengan Sikap tenang dan kalem telah berkata.

"Masa suhu-mu akan membohongi kau?"

"Baik, kalau begitu harap suhu menyuruh ji-suheng melepaskan aku…?"

Nyo Bok tertawa terbahak-bahak, untuk menutupi rasa malunya dia berkata.

"Mana ada cara mau pergi lantas pergi? Sudah banyak tahun kita guru dan murid tak pernah bersua muka, bagaimanapun jua kita harus berbincang-bincang lebih dahulu."

"Suhu, apa yang harus kita bicarakan?"

"Selama banyak tahun ini, kau telah ke mana saja?" ‘Tampaknya pertanyaan ini aku yang menjadi murid bertanya dulu kepada suhu. Tecu baru dua tiga tahun meninggalkan kota Po-teng, tetapi suhu, semenjak tahun itu lenyap tak berbekas secara tiba-tiba, hingga kini paling tidak sudah melebihi belasan tahun. Tecu merasa kangen sekali padamu entah selama belasan tahun ini suhu pergi ke mana saja…? "

"Huan Kui, kau benar-benar tak tahu adat,"

Bentak Pui Hou keras.

"Sekarang suhu sedang bertanya kepadamu, seharusnya kaulah yang menjawab dulu pertanyaan suhu, mengapa malah sebaliknya menanyai gurumu?"

"Suhu mengkhawatirkan diriku, aku lebih-lebih mengkhawatirkan suhu. Apakah ucapanku ini tidak seharusnya ditanyakan?"

Terpaksa Nyo Bok harus menjawab sambil tertawa paksa.

"Persoalan suhu panjang untuk diceritakan, lain kali sajakuberitahukan kepadamu, sekarang jawab dulu pertanyaanku tadi."

"Kisah cerita tecu pun panjang sekali untuk diceritakan, bila suhu benar-benar menyayangi tecu, harap kau lepaskan diriku sekarang juga Paling cepat sepuluh hari, paling lambat setengah bulan, aku pasti akan kembali lagi kemari untuk melaporkan diri kepada suhu."

"Ooh, persoalan penting apakah yang begitu terburu-buru harus kau selesaikan?"

Huan Kui tidak menjawab pertanyaan itu.

Kembali Nyo Bok berkata "Bagaimanapun juga kau harus merawat luka bila kau benar-benar ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, biar suhu yang mewakilimu untuk menyelesaikannya…."

"Aku lebih suka mampus di luar daripada mati dalam gedung keluarga Pui! Suhu, bila kau enggan melepaskan aku, maka urusanku pun tak perlu suhu risaukan."

Sambil menahan pergolakan emosi dalam hatinya kembali Nyo Bok berkata "Bukankah aku sudah pernah berkata kepadamu.

Pui suheng-mu khawatir kau melakukan kesalahan di luaran sehingga terpaksa melukaimu dan menahanmu di sini.

Sekarang lukamu belum sembuh, kasus Ciat Hong pun belum diselesaikan secara tuntas, bagaimana mungkin kami tega melepaskan kau pergi?"

Untuk pertama kalinya dia menyinggung kasus Ciat Hong, sementara matanya memperhatikan dengan seksama reaksi dari Huan Kui.

Paras muka Huan Kui sama sekali tanpa emosi, ujarnya kaku, ‘Tecu sudah lama membuang jauh-jauh pikiran tentangmati hidup, tak usah suhu risaukan lagi!"

Nyo-Bok tak dapat menahan diri lagi sambil mendengus segera serunya "Kami hendak menolongmu, bukan ingin mencelakaimu, mengapa sih kau belum juga sadar?

Padahal sekalipun tidak kau katakan, aku pun tahu!"

"Kalau suhu memang sudah tahu, buat apa mesti bertanya lagi kepadaku,..?"

"Kau adalah muridku, aku minta kau berterus terang kepadaku. Konon kau telah berkomplot dengan Leng Thiat-jiau di Jik-tat-bok, benarkah berita ini?"

Tidak mendengar jawaban dari muridnya, Nyo Bok berkata lebih lanjut.

"Kau tak usah takut, sudah kukatakan sedari tadi, kendatipun kau telah melanggar dosa yang paling besar pun, suhu tetap akan melindungimu, cuma kau harus berterus terang!"

Sekarang Huan Kui baru mengangkat kepalanya seraya berkata.

"Tidak sulit bila suhu ingin aku berterus terang, cuma ada sepatah kata pantaskah bagi tecu untuk mengajukan lebih dulu?"

"Baik, apa yang ingin kau ketahui? Katakanlah!" ‘Tecu pun mendengar orang berkata, konon—"

"Konon apa? Mengapa mencla-mencle kalau bicara?"

Bentak Nyo Bok keras-keras.

"Konon suhu membantu keraja-an penjajah secara diam-diam dan menjadi pengawal pribadi sri baginda, entah berita ini benar atau tidak?"

"Kau ingin memeriksagurumu?"

Bentak Nyo Bok gusar.

"Tidak berani. Tapi bukankah suhu pun hendak memeriksa tecu?"

Kemarahan Nyo Bok benar-benar memuncak, sambil menggebrak meja segera bentaknya.

"Kesabaranku terhadap dirimu sudah lebih dari cukup, kau bukan berterima kasih atas perlindunganku kepadamu, sebaliknya makin lama malah semakin kurang ajari Apa yang hendak suhu lakukan, bukan wewenang seorang murid untuk mengurusinya, tapi sebagai seorang murid ia pun punya kewajiban untuk mendengarkan perkataan gurunya, bukan saja peraturan ini merupakan peraturan dunia persilatan yang sudah turun temurun sejak dahulu kala, kau pun pernah mengangkat sumpah di hadapanku! Aku ingin tanya, sewaktu kau menyembah dan mengangkat diai sebagai gurumu, bukankah kau pernah bersumpah hendak taat pada peraturan perguruan? Sebutkan, apa isi peraturan yang pertama?"

"Pertama, tak boleh melawan guru dan menodai nama leluhur, kedua, tak boleh mengandalkan ilmu silat melakukan perbuatan yang melanggar hukum keadilan dan kebenaran."

"Bagus, aku hanya menanyakan peraturan pertama, peraturan selanjurnya tak usah kau sebutkan. Sekarang kau sudah tahu kalau tak boleh melawan guru dan menodai nama leluhur, sudah tahu mengapa melanggarnya?"

"Meski tecu agak lambat waktu masuk perguruan, aku pun tahu kalau Hok Teng-kong cikal bakal perguruan kita merupakan pembela kebenaran. Bahkan pernah bertempur melawan tentara Cing di kota Yang-ciu. Tecu merasa semua perbuatanku tak ada yang menentang ajaran leluhur, jadi tuduhan ‘menodai nama leluhur’ sama sekali tak cocok untuk dilimpahkan pada tecu!"

Paras muka Nyo Bok berubah menjadi merah kehijau-hijauan, dengan kemarahan yang memuncak bentaknya.

"Apa maksudmu menuduhku mengkhianati perguruan, menjualperguruan dan memalukan leluhur? Jelek-jelek begini aku toh gurumu, justru engkau yang enggan berbicara jujur kepadaku, merupakan tindakan mengkhianati perguruan mengerti?"

"Benar, ilmu silat yang tecu miliki memang berasal dari ajaran suhu,"

Kata Huan Kui gagah.

"Bila suhu hendak menuduh tecu sebagai pengkhianat perguruan, tecu pun bersedia mengembalikan ilmu silatku kepada suhu!"

Melihat muridnya begitu keras kepala, Nyo Bok tahu nasihatnya tak bakal manjur, maka sambil memperlihatkan wajah yang menyeringai seram, serunya sambil tertawa dingin.

"Baik, bagus sekali, kalau kau bersedia mengembalikan ilmu silatmu kepadaku, dan kau pun malu mengakui diriku sebagai gurumu, aku akan segera memenuhi keinginanmu itu!"

Telapak tangannya diayunkan ke udara lalu pelan-pelan digerakkan ke bawah menghantam tubuh Huan Kui. 0odwo0 Yang dimaksudkan sebagai "mengembalikan ilmu silat"

Sesungguhnya merupakan suatu tindakan memunahkan ilmu silat yang dimiliki seorang murid oleh gurunya.

Menurut peraturan dunia persilatan, jika seorang murid sudah menyatakan kesediaannya untuk "mengembalikan ilmu silat"

Miliknya, berarti dia hendak melepaskan diri dari hubungan antara guru dan murid. Pui Hou segera pura-pura menghibur.

"Huan sute, kau mesti berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan, ketahuilah, bila ilmu silatmu punah maka keadaanmu akan lebih sengsara daripada mati."

Huan Kui hanya tertawa dingin tiada hentinya, dia malah membusungkan dada sambil mengangkat kepala, sekejap pun tidak sudi memandang ke arahnya. Nyo Bok kembali membentak.

"Baiklah, sebelum sampai di Huangho kau tak akan puas, sebelum melihat peti mati kau tak akan mengucurkan air mata, buat apa mesti dinasihati lagi?"

Tampaknya telapak tangan Nyo Bok segera akan menghantam ubun-ubun Huan Kui.

Pada saat itulah, mendadak berkumandang suara hancurnya kaca disusul munculnya sebutir batu yang menghajar hancur lampu lentera di meja, lampu segera padam dan suasana menjadi gelap gulita Tapi orang yang melepaskan sambitan untuk menghancurkan lampu lentera tersebut bukan Ki See-kiat.

Waktu itu Ki See-kiat memang menggenggam tiga batang mata uang, sesungguhnya dia ingin turun tangan, tapi orang itu bertindak jauh lebih cepat darinya.

Dalam sekejap mata itulah, Ki See-kiat terkejut bercampur gembira.

Dia terkejut karena tak menyangka ada orang lain yang sama-sama mengintip di situ tanpa diketahui olehnya.

Dia gembira karena di saat yang kritis orang itu telah menghancurkan lampu lentera, berarti maksud kedatangannya adalah untuk menolong nyawa Huan Kui.

Belum habis dia berpikir, dari dalam ruangan telah bergema lagi suara gemerincing nyaring yang berkumandang tiada hentinya.

Dari suara gemerincing itu, Ki See-kiat tahu kalau Nyo Bok telah melepaskan paku penembus tulangnya, tapiserangan itu kena dipentalkan semua oleh sentilan jari tangan orang tersebut Ki See-kiat makin terperanjat lagi.

Sampai di manakah ilmu silat yang dimiliki engku-nya, pemuda ini cukup memahami, tapi kenyataannya orang tersebut mampu merontokkan beberapa puluh batang paku penembus tulang yang dilepas-kan Nyo Bok dalam jarak sedekat ini, dari sini menunjukkan kalau orang itu telah mempergunakan ilmu Tan-ci-sin-tong yang sangat lihay.

Ternyata bersamaan waktu orang itu memadamkan lentera, sebiji batu menyambar ke depan menghajar jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak tangan Nyo Bok.

Jalan darah Lau-kiong-hiat merupakan sebuah jalan darah amat penting, bila Nyo Bok sampai terhajar, niscaya ilmu silat yang dimilikinya akan punah.

Sebagai seorang jago silat yang berpengalaman, dari desingan angin tajam yang menyambar datang, ia sudah tahu akan kelihayannya, tentu saja jalan darahnya tidak dibiarkan kena tersambar, cepat-cepat dia mengegos ke samping.

Tapi justru karena tindakannya ini, dia pun tak sempat lagi memunahkan ilmu silat Huan Kuil "Mau kabur ke mana kau?"

Bentak Nyo Bok menggeledek.

Secara beruntun dia melepaskan serangkaian senjata rahasia, di antaranya terdapat paku penembus tulang, jarum bunga bwee, ada pula panah-panah pendek.

Dua batang panah pendek nyaris mengenai Ki See-kiat, untung pemuda itu berkelit cepat hingga senjata tadi menyambar lewat dari sisinya.Menghadapi keadaan seperti ini, Ki See-kiat merasa hatinya tak tenang, bila engku-nya melancarkan serangan senjata rahasia sedemikian gencarnya, kendatipun orang itu masih sanggup untuk menghadapinya, bagaimana mungkin dia berkesempatan untuk menolong Huan Kui?

Sebaiknya jika orang itu sampai melancarkan serangan balasan, mungkinkah engku-nya akan menjadi korban?

Sementara dia merasa gelisah dan tak tenang, cahaya lentera tetah menyinari kembali ruangan tersebut.

Pui Hou yang menyulut api penerangan itu.

Namun, setelah dapat melihat keadaan di sana, dia segera menjerit kaget.

"Aduh celaka, Huan Kui si keparat itu sudah lenyap tak berbekas…!"

Pui Hou menjerit kaget, Ki See-kiat justru merasa lega sekali, buru-buru dia kabur dari kebun bunga keluarga Pui dan mengejar orang yang telah menyelamatkan Huan Kui.

Di atas loteng Si-hun-lo, Pui Hou termangu-mangu beberapa saat, kemudian baru tanyanya dengan pelan.

"Suhu, bagaimana sekarang?"

Dia agak takut bila suhu-nya juga pergi melakukan pengejaran. Untung saja Nyo Bok segera berkata.

"Ilmu silat yang dimiliki orang itu lihay sekali, tak baik untuk beradu kekerasan dengannya. Tapi aku sudah dapat menduga siapakah orang itu, besok saja kita pergi mencarinya."

Waktu itu Ki See-kiat sudah meninggalkan kebun bunga, apa yang diucapkan engku-nya tentu saja tak terdengar olehnya.

Dia harus menyusul orang itu, maka begitu keluar dari gedung keluarga Pui, dia segera mengembangkan ilmumeringankan tubuh Pat-poh-kan-sian (Delapan Langkah Mengejar Comberet) untuk melakukan pengejaran.

---ooo0dw0ooo---Sayang sekali, kendatipun Ki See-kiat telah mengejar secepat angin namun dia kehilangan jejak orang tersebut, tanpa terasa dia telah sampai lagi di depan kuil Hay-sin-bio.

Di muka ruang tengah tempat pemujaan terdapat sebuah pelataran, di tengah pelataran tumbuh sebatang pohon Kui.

Di bawah pohon Kui waktu itu nampak seseorang sedang membungkukkan badan sambil memotong sebatang dahan dengan goloknya.

Dengan perasaan tercengang Ki See-kiat memunculkan diri dari tempat persembunyiannya, kemudian menegur.

"Pui suheng, sedang apa kau?"

Dengan nada lebih kaget dan keheranan, Pui Liang berseru.

"Ki sute, baru saja kau pergi mengapa telah kembali lagi?"

"Apa kau bilang?"

Ki See-kiat terperanjat "Kapan sih aku datang kemari…?″ "Lhoo… yang barusan datang bukan kau? Lantas Huan tute, dia…."

"Bagaimana keadaan Huan suneng?"

"Orang itu telah mengantar kemari aku malah mengira kau yang mengantarnya pulang!"

"Ki sute! Ki sute…!"

Benar juga, dari dalam ruangan terdengar Huan Kui sedang berteriak memanggilnya.

Terkejut dan girang Ki See-kiat mendengar panggilan itu, buru-buru dia lari masuk ke dalam ruangan, lalu tanpa banyak bicara ia menyulut api dan memeriksa keadaan luka Huan Kui.Waktu ini Huan Kui sudah berpegangan sisi meja dan bangkit berdiri, lengan kirinya masih dibalut kain dan darah tampaknya masih meleleh keluar, akan tetapi sorot matanya tajam, semangatnya masih tetap segan Sambil tertawa Huan Kui berkata.

"Obat luka yang diberi Pui Hou memang obat luka berkualitas bagus, bila ada tongkat penyangga, aku rasa masih sanggup untuk menempuh perjalanan. Sam suheng, harap kau berikan tongkat itu kepadaku."

Sekarang Ki See-kiat baru tahu, rupanya Pui Liang memotong dahan pohon tadi untuk digunakan sebagai tongkat penyangga bagi Huan Kui.

"Huan suheng duduklah dulu,"

Ki See-kiat segera berkata.

"Mari kita rundingkan persoalan ini, setelah tempat untuk merawat luka ditemukan, besok baru melanjutkan perjalanan."

"Aku harus berangkat sekarang juga, tidak bisa menunggu sampai besok lagi,"

Seru Huan Kui tampak agak tercengang.

"Kau tidak boleh pergi sekarang, di kota Po-teng kan masih ada orang-orang kalian? Suruh mereka memondongmu keluar."

"Hei, bukankah kau yang menyuruh kami segera meninggalkan kota Po-teng, mengapa sekarang kau malah menyuruh kami tetap tinggal di sini?"

Huan Kui berseru tertahan.

"Huan suheng, kau tentu salah paham…."

"Salah paham apa?"

"Bukan Ki sute yang mengantarmu kembali tadi,"

Pui Liang segera menerangkan.

"Ki sute, coba kau ulangi sekali lagi kata-katamu tadi" , ‘Jangan mengkhawatirkan Ciat Hong, kalian segera tinggalkan kota Po-teng.’ Ki See-kiat tertawa.

"Aku tak pernah mengucapkan kata-kata tersebut, tapi boleh saja kalau kuulangi perkataanmu sekali lagi."

Setelah mendengar si anak muda itu mengulangi perkataan tersebut, Huan Kui berkata sambil tertawa.

"Ya, ternyata orang itu memang bukan kau, sekarang aku dapat membedakannya. Dia menirukan suaramu yang sengaja diparaukan."

"Orang itu masih mengatakan apa lagi?"

"Setelah menolongku dari gedung keluarga Pui, sepanjang perjalanan ia tidak berkata apa-apa. Hanya sesampainya di kuil Hay-sin-bio, dia baru membisikkan beberapa patah kata itu kepadaku."

"Manusia macam apakah dia? Tahukah kau?"

"Aku berada di atas punggungnya sedang dia berlari sangat kencang hingga aku tak sempat melihat jelas raut wajahnya, tapi aku dapat merasakan kalau dia masih muda. Ki sute, sudah beberapa tahun kita tak bersua, di tengah kegelapan aku selalu menganggapnya sebagai dirimu."

"Ooh, rupanya seorang pemuda!"

"Kau sudah tahu siapakah dia?"

"Masih belum begitu jelas, tapi pemuda yang memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya tak akan banyak, asal kupikirkan pelan-pelan akhirnya pasti akan ketahuan juga."

"Tak ada waktu untuk dipikirkan lagi. Orang ini tak mau dibalas budinya, berarti dia adalah seorang pendekar.Sementara waktu tidak tahu namanya bukan suatu masalah penting, nah Ki sute, pulanglah dulu, kita bersua lagi lain kesempatan."

"Huan suheng,"

Seru Ki See-kiat lagi dengan cemas.

"kau toh tak mungkin bisa keluar dari kota Po-teng hanya mengandaikan tongkat saja, biar aku yang menggendong-mu…."

"Soal ini tak perlu kau khawatirkan Ki sute,"

Sahut Pui Liang cepat "Di tepi sungai sana kami telah menyimpan sebuah sampan, jadi kami hanya berjalan sedikit saja…."

Ternyata kuil Hay-sin-bio dibangun di tepi sungai, sungai tersebut bernama sungai Cio-ho, sebuah sungai yang digali dengan tenaga manusia, dari terusan atau sungai Cio-ho ini orang bisa memasuki Pek-yang-teng, melalui kota Thian-keng dan langsung bisa sampai di lautan bebas.

Bila orang tak ingin keluar samudra, maka mereka bisa mendarat di kota Thian-keng lalu berangkat ke ibu kota, perjalanan akan jauh lebih cepat daripada melalui jalan darat.

"Kalau memang begitu, biar kuantar kalian sampai ke perahu sebelum pulang,"

Kata Ki See-kiat Huan Kui tahu kalau pemuda itu tak akan pulang dengan begitu saja sebelum mengantarnya naik perahu, dia pun berkata.

"Baiklah, perjalanan tak jauh, kita boleh berkumpul sebentar lagi, cuma kau tak boleh menggendongku, biar aku mencoba berlatih untuk jalan dengan tongkat"

Bagaimanapun juga orang yang mempunyai dasar ilmu silat jauh berbeda dengan manusia biasa, ia dapat berjalan dengan cukup cepat mungkin lebih cepat daripada orang biasa berlari.Ki See-kiat yang menyaksikan keadaan luka saudaranya tidak begitu parah, harinya baru merasa lega.

Pui Liang yang jalan berendeng dengannya berkata lebih jauh.

"Sampan ini kusiapkan dengan bantuan Kay-pang, pendayungnya adalah anggota Kay-pang. Sebetulnya kami bermaksud pergi bersama setelah Ciat Hong tertolong, tapi se-karang kami hanya bisa mempercayakan tugas ini kepada sahabat yang menyelamatkan Huan sute, kami tak bisa menunggu dia lagi."

"Benar, ilmu silat yang dimiliki sahabat itu memang sanggup melakukan segala sesuatu, aku rasa dia memang mampu menyelamatkan Ciat Hong dari penjara."

"Semoga saja begitu. Tapi untuk menolong seorang tawanan dari penjara kota Po-teng bukan suatu pekerjaan yang gampang…."

"Lebih baik kalian pergi dulu, besok biar aku yang mencarikan berita untuk kalian."

"Baik, asal kau memperoleh sesuatu berita, sampaikan saja kepada pihak Kay-pang."

Dia lantas memberikan alamat kantor cabang Kay-pang untuk kota Po-teng kepada Ki See-kiat.

Berbicara sampai di situ, mereka telah tiba di tepi sungai.

Pui Liang segera bersiul, benar juga dari balik ilalang segera muncul sebuah sampan kecil.

Ki See-kiat mengantar mereka sampai naik ke atas perahu dan menunggu sampai perahu itu keluar dari mulut sungai, dia baru pulang ke rumah, waktu itu fajar baru menyingsing.

Menyaksikan suasana di sekeliling tempat itu amat hening, Ki See-kiat segera berpikir.

"lak mungkin ibu bangun sepagiini, biar aku berganti pakaian dulu baru pergi menjumpainya, daripada dia merasa terkejut"

Siapa tahu, baru saja dia melangkah masuk ke dalam kamarnya, ibunya sudah duduk di situ menantikan kedatangannya Begitu ia muncul, dengan wajah sedingin es Nyo toakoh segera menegur ketus.

"Kiat ji, semalam ke mana saja kau pergi?"

"Aku… semalam aku pergi ke rumah Pui Hou,"

Sahut Ki See-kiat agak tergagap.

"Mau apa kau ke rumahnya?"

"Soal ini… soal ini… pan… panjang untuk diceritakan…."

Diperiksa Ibunya Dengan matanya yang tajam, Nyo toakoh segera menyaksikan pakaian yang dikenakan putranya penuh noda darah, ia lantas membentak lagi keras-keras.

"Kau telah, bertarung melawan Pui suheng?"

"Ti… tidak, ibu, deng… dengarkan dulu perkataanku!"

"Jangan berbicara dulu, cepat membersihkan muka, ganti pakaian baru kemari! Tahukah kau bagaimana tampangmu sekarang, coba ber-cermin dulu."

Tentu saja Ki See-kiat tahu bagaimanakah tampangnya sekarang.

Semalam ia telah menggosok wajahnya dengan segumpal lumpur di tepi’ kolam ikan keluarga Pui, hingga kini lumpur tersebut belum dibersihkan, apalagi pakaiannya kena darah Huan Kui.Sehabis membersihkan muka dan berganti dengan pakaian bersih, dia baru duduk sambil berkata.

"Ibu, bagaimanakah pendapatmu tentang Pui Liang dan Huan Kui berdua?"

"Selama berada di kota Po-teng, kedua orang ini memang menunjukkan tindak-tanduk yang lurus dan jujur. Tapi selama tiga tahun ini mereka lenyap secara aneh, sejak meninggalkan kota Po-teng, aku kurang tahu apakah mereka berubah menjadi baik atau jelek. Eeh, mengapa kau singgung tentang kedua orang ini?"

"Ibu, seandainya jiwa mereka terancam, pantaskah bila ananda menyelamatkan jiwa mereka?"

"Apa?"

Seru Nyo toakoh terkejut.

"kau… jadi kau ke rumah Pui Hou untuk menyelamatkan mereka berdua?"

"Benar, setelah kembali ke kota Po-teng, berhubung ada suatu urusan mereka datang mengunjungi Pui Hou, siapa tahu Pui Hou seperti telah melupakan hubungan sebagai sesama saudara seperguruan, kedua orang itu dihajarnya sampai terluka. Akhirnya Pui Liang berhasil kabur, tapi Huan Kui tertawan." ‘Tunggu dulu, ucapanmu barusan menimbulkan kecurigaan di dalam hatiku____"

"Yang mana?"

"Dari enam orang murid engku-mu, tentu saja murid pertama Bun Seng-liong yang memiliki ilmu silat paling baik, tapi Pui Hou meski menempati urutan kedua, ilmu silatnya justru tak sanggup menandingi kemampuan sute-nya Pui Liang serta Huan Kui, kendatipun centengnya berjumlah banyak, ilmu silat yang dimiliki centeng-centeng itu hanya kucing kaki tiga, bagaimana mungkin kedua orang itu bisa dilukai?"

"Mereka terkena serangan gelap dari engku. Huan Kui terhajar sebatang paku penembus tulang yang dilepaskan engku sehingga nyaris melubangi pi-pa-kut-nya."

Rasa kaget Nyo toakoh sekarang makin menjadi, dengan mata terbelalak ia berseru.

"Apa… kau bilang? Engku-mu adalah guru mereka, mana ada guru menyergap murid sendiri?"

Kontan Ki See-kiat tertawa dingin.

"Heeehh… heeeh h… heeehh… aku sendiri pun merasa heran masa di dunia ini bisa terjadi kejadian semacam itu, tapi justru peristiwa semacam itu telah terjadi?"

Nyo toakoh terbungkam untuk beberapa saat lamanya, setelah hening sesaat dia baru bertanya.

"Bagaimana dengan engku-mu?"

"Sekarang dia masih berada di rumah Pui Hou."

"Bukankah dia bilang mau meninggalkan kota Po-teng?"

"Ibu. mengapa kau percaya dengan perkataan engku? Tempo hari dia cuma membohongi kita, padahal ia masih tetap berada di Po-teng mengurusi tugasnya, mungkin kha-watir kita tahu."

"Aku tidak peduli persoalan apakah yang sedang dilakukan olehnya, yang paling penting kuketahui sekarang adalah jejakmu berhasil diketahui engku-mu atau tidak?"

"Tidak"

Nyo toakoh merasa sedikit agak lega, kembali dia bertanya.

"Lantas dari mana datangnya noda darah di atas pakaianmu?"

"Darah itu berasal dari tubuh Huan suheng."

"Kalau begitu kau telah menolong Huan Kui dari situ? Ilmu silat yang dimiliki engku-mu tidak lebih rendah daripada dirimu, masa ia sama sekali tidak menyadari?"

"Bukan aku yang menolong Huan suheng, melainkan orang lain"

"Siapa"

Tanya Nyo toakoh tercengang.

"Masih belum tahu. Setelah ananda berjumpa dengan Huan Kui, orang itu sudah pergi jauh."

"Lantas, di mana Huan Kui sekarang?"

"Sebelum fajar menyingsing tadi, dia bersama Pul suheng telah pergi meninggalkan kota ini. Dengan perahu mereka meninggalkan kota Po-teng."

Nyo toakoh baru merasa lega setelah mendengar kalau mereka telah pergi meninggalkan kota Po-teng, katanya kemudian.

"Baiklah, sebenarnya apa yang telah terjadi sekarang kau boleh ceritakan sejujurnya kepadaku, tak boleh ada yang dirahasiakan."

Terpaksa Ki See-kiat harus membeberkan kasus Ciat Hong tersebut pada ibunya.

Semakin mendengar Nyo toakoh merasa makin terperanjat, ketika selesai mendengarkan seluruh rangkaian cerita tersebut, ia duduk bersandar di kursi dengan lemas.

Lama kemudian ia baru berkata lagi.

"Kiat-ji, aku sudah tua, aku sangat berharap kau bisa tetap mendampingi diriku, mendampingi aku selama beberapa tahun lagi. Tetapi sekarang terpaksa aku harus menyuruh kau pergi meninggalkan aku. Mumpung hari belum terang, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini, pergilah cepat."

"Ibu, bukankah sudah kukatakan kepadamu, bukan aku yang menolong Huan Kui? Apalagi engku pun tidak melihat diriku."

"Sekalipun engku tidak melihat dirimu, tapi pasti akan mencuriga! dirimu."

"Ibu, bukankah kau seringkali berkata, gwakong dan nenek sudah lama mati, kau sebagai anak-nya Melulu mendidik dan memelihara engku bagaikan seorang ibu terhadap anaknya. Kini ia bisa kaya dan hidup makmur, sebagian besar juga dikarenakan Jasamu. Sekalipun tidak memberi muka kepada pendeta haruslah memberi muka kepada Buddha, masa dia berani berbuat sesuatu padaku?"

Nyo toakoh menghela napas.

"Aaaai, andaikata kasus tersebut cuma suatu kasus biasa, mungkin keadaan takkan begini, tapi kasus Ciat Hong adalah suatu kejadian yang luar biasa Aku percaya dia tak akan menyulitkan kita berdua, tapi dia adalah orang yang bekerj a untuk baginda, bagaimanapun juga kita harus memikirkan pula tentang dia Sekarang, menyingkirlah dulu keluar selama beberapa waktu, bila keadaan sudah mereda kau baru kembali kemari lagi, jangan terlalu menyusahkan engku-mu."

"Baiklah, kalau ibu kelewat khawatir, untuk sementara waktu ananda akan menyingkir dulu dari sini."

Siapa sangka baru saja pemuda itu akan mohon diri dari ibunya seseorang telah mendorong pintu rumahnya, kemudian terdengar suara langkah manusia yang ramai berlarian masuk Buru-buru Nyo toakoh menyembunyikan pakaian kotor yang baru saja dilepas Ki See-kiat ke bawah kolong ranjang, kemudian bentaknya keras-keras.

"Siapa?"

Padahal ia sudah menduga siapa yang datang.

Benar juga… segara terdengar suara dari Nyo Bok menyahut "Enci, aku yang datang.

Lo-suhu ada urusan hendak menjumpaimu, maka aku sengaja menemaninya kemari."

Agaknya Lo Hi-hong khawatir ucapan tersebut kurang sempurna maka mengikuti peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, dia berseru dengan suara lantang.

"Lo Hi-hong sengaja datang kemari untuk mengunjungi enso dan keponakan."

Suami Nyo toakoh semasa masih hidupnya dulu menyebut saudara dengan Lo Hi-hong.

Karena ia sudah menyebutkan hendak berjumpa dengan Ki See-kiat, terpaksa Nyo toakoh harus mengajak putranya untuk bersama-sama menyambut kedatangan tamunya Nyo toakoh tidak menggubris Lo Hi-hong tapi sengaja berlagak keheranan sambil mengawasi Nyo Bok tanpa berkedip, kemudian tegurnya "Hei, titi, baru dua tiga hari berangkat, mengapa secepat ini sudah sampai di sini lagi."

Merah padam wajah Nyo Bok karena jengah.

"Ah, kebetulan masih ada sedikit urusan yang belum beres, maka aku harus berdiam selama beberapa hari lagi di Po-teng."

"Enso!"

Lo Hi-hong kembali berkata.

"maafkan kedatangan kami yang mendadak, jika ada kesalahan tolong jangan marah. Terus terang saja, kalau tiada urusan kami pun tak akan berkunjung kemari."

Berbicara sampai di situ, secara diam-diam ia lantas memperhatikan perubahan wajah Nyo toakoh.Paras muka Nyo toakoh masih tetap seperti sediakala, dia berkata hambar.

"Kita semua adalah saudara sendiri, buat apa mesti sungkan-sungkan? Bila ada persoalan, katakan saja secara blak-blakan."

"Urusanku ada sangkut pautnya dengan urusan adikmu, kedua kasus ini sesungguhnya merupakan satu kasus yang sama. Nyo heng, kau duluan atau aku duluan?"

Kata Lo Hi-hong lebih lanjut.

"Lo suhu adalah tamu, lebih baik kau duluan."

"Kalau memang enso tidak menganggap asing diriku aku pun tak usah berputar kayun lagi. Berbicara terus terangnya, aku datang kemari karena ingin memohon bantuan dari keponakan."

"Aah, Lo toako sedang bergurau rupanya, dia masih begitu muda, bantuan apa yang dapat ia berikan?"

"Asal keponakan sudi memberi muka, hal ini berarti sudah memberi bantuan yang sangat besar bagiku!"

Nyo toakoh segera menarik wajahnya lalu menegur.

"Maaf aku tidak memahami apa maksud ucapanmu yang sebenarnya?"

"Aku datang disebabkan kasus Ciat Hong. Keponakanku, tentunya kau mengerti bukan?"

"Ciat Hong apa? Aku tidak mengerti!"

Seru Ki See-kiat. Sambil menahan diri, Lo Hi-hong berkata.

"Ciat Hong adalah seorang pemberontak yang berani melawan pemerintah kerajaan, sekarang sudah ditangkap dan disekap dalam penjara Po-teng, tapi semalam ia telah dilarikan orang. Siheng (keponakan), kau kan tahu, muridku Lau Kun adalah kepala opas kota Po-teng ini, bila dia sampaj tidak berhasilmenangkap kembali buronan tersebut, dosa yang dipikulnya tentu berat sekali. Itulah sebabnya terpaksa aku harus datang kemari untuk memohon bantuan siheng."

Terkejut dan girang hati Ki See-kiat sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Ah, ternyata perkataan orang itu memang dapat dipercaya, sudah pasti dialah yang sudah menyerbu penjara setelah berhasil menolong Huan Kui."

Ki See-kiat tidak mengerti harus merahasiakan perasaan, tanpa terasa dengan wajah berseri dia tertawa terbabak-bahak.

"Haah haah haah, jadi kau mengira aku yang telah membobol penjara?"

"Aah, tidak berani, tidak berani. Cuma mungkin saja siheng tahu dia telah bersembunyi di mana, itulah sebabnya kami mohon kepada siheng agar sudi memberitahukan soal itu kepadaku."

"Berdasarkan apa kau mengira aku tahu akan soal ini?"

Lo Hi-hong segera berkerut kening, tanpa sadar dia mengalihkan sorot matanya melirik Nyo Bok.

"See-kiat,"

Dengan lembut Nyo Bok berkata.

"kini peristiwa tersebut sudah terjadi, satu-satunya cara untuk mengatasi keadaan ini adalah memberi petunjuk kepada kami, ketahuilah mustahil buat kami untuk mungkir dengan begitu saja. Kau – mesti percaya kepada engku-mu, tak mungkin engku akan mencelakai-mu! Asal kau bersedia menerangkan kepada kami, di tempat manakah kami dapat menemukan Ciat Hong, urusan selanjurnya masih dapat dirundingkan lagi!"

Perlu diketahui, dia sudah menganggap orang yang menolong Hoan Kui semalam ialah Ki See-kiat Yang dimaksudkan sebagai "urusan selanjutnya"

Dalam perkataannya barusan adalah memberi kisikan kepada Ki See-kiat bahwa dia tak akan mempersoalkan peristiwa Huan Kui lagi, asal Ciat Hong berhasil ditangkap.

"Jikalau kalian bersikeras mengatakan aku yang berbuat, terpaksa aku pun memberi tahu secara terus terang kepada kalian,"

Kata Ki See-kiat kemudian. Nyo Bok menjadi gembira sekali, segera teriaknya.

"Benar, asal kau bersedia bicara terus terang, ada persoalan sebesar apa engku-mu sanggup untuk menghadapinya!"

Ki See-kiat tertawa terbahak-bahak.

"Hah hah hah hah, kalian telah salah mencari orang. Terus terang saja, Ciat Hong itu gemuk atau kurus, tinggi atau pendek, sampai sekarang aku pun tidak tahu. Pada hakikatnya aku belum pernah ber-jumpa dengan manusia semacam ini, bagaimana mungkin aku bisa mengetahui jejaknya?"

Lo Hi-hong jadi sangat terperanjat.

"Soal ini… soal ini… Ki siheng, kau jangan bergurau dengan kami!"

"Kiat-ji memang benar-benar tidak sedang bergurau dengan kalian,"

Kata Nyo toakoh cepat.

"Aku tahu jelas tentang hal ini, masalah tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dia."

"Enso, dari mana kau bisa tahu kalau persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dia?"

Nyo toakoh menyahut dingin.

"Kau tidak percaya dengan perkataan See-kiat, masa perkataanku pun tidak kau percaya? Heeehh heeehh… jadi sekarang kau sedang memeriksa diriku?"

Nyo toakoh termasyhur sebagai Lak-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) begitu tertawa dingin, tanpa terasa sorotmatanya pun memancarkan hawa pembunuhan yang menggidikkan.

Lo Hi-hong menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru dia berseru dengan nada gemetar.

"Enso, harap kau jangan marah dulu, aku toh cuma bertanya saja…."

"Sebenarnya aku hendak menerangkan kepadamu, apa sebabnya aku bisa tahu kalau urusan ini tidak menyangkut diri Kiat-ji, tapi kau mesti memahami watakku, aku tak sudi memberi penjelasan karena nada pemeriksaan dari seseorang.’ Maaf, kini aku tak ingin banyak berbicara lagi, apa yang ingin kau tanyakan sekarang sudah ditanyakan. Kalau tiada urusan yang lain lagi, silakan pergi ke tempat lain untuk melakukan pemeriksaan!"

Selesai berkata, dia lantas mengangkat cawan air tehnya sebagai pertanda mempersilakan tamunya pergi. Buru-buru Nyo Bok berkata.

"Enci, persoalanku belum selesai disampaikan, dua persoalan itu ada sangkut pautnya antara yang satu dengan lainnya, tak mungkin Lo lu bisa pergi saat ini juga"

"Kau pun tidak percaya dengan perkataanku?"

Seru Nyo toakoh cepat.

"Baiklah. Kalau kau masih ada urusan lain yang membutuhkan bantuanku, cepat katakan!"

"Cici, bukan aku tak percaya dengan perkataanmu. Ada suatu persoalan entah See-kiat telah memberitahukan kepadamu atau belum?"

"Soal apa?"

"Semalam dia telah pergi ke mana?"

"Pertanyaanmu itu sama artinya dengan mencurigai Kiat-ji sebagai pembobol penjara, hm, selama hidup aku tak pernahbohong, terus terang kuberitahukan kepadamu, aku tahu orang yang melepaskan Ciat Hong dari penjara bukan dia!"

"Lantas siapa?"

Tanya Lo Hi-hong cepat. Nyo toakoh melirik sekejap ke arahnya, kemudian berkata.

"Dari mana aku bisa tahu? Hmm, rupanya kau baru akan puas bila aku mengakui dirikulah yang telah masuk penjara menolong orang?"

Lo Hi-hong jadi ketakutan setengah mati sehingga tak berani bersuara lagi. Nyo Bok adalah seorang manusia yang berotak cerdas dan berakal. banyak, ia segera berpikir.

"Aku bertanya ke mana Kiat-ji semalam, tapi ia selalu menghindari pertanyaan tersebut, jangan-jangan di balik kesemuanya ini masih terdapat hal-hal lainnya?"

Ia tak berani mengulangi kembali pertanyaan tersebut dan mendesak enci-nya untuk menjawab, terpaksa sambil berputar kayun dulu, dia berkata lagi.

"Enci, tentu saja kau tak akan membohongi aku. Tapi aku khawatir See-kiat berbuat tolol sehingga melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dia lakukan, yang lebih dikhawatirkan lagi adalah setelah berbuat, dia tak berani menceritakan hal itu kepadaku."

"Menurut anggapanmu, perbuatan apakah yang sengaja dia rahasiakan terhadap diriku?"

"Semalam di rumah Pui Hou telah terjadi suatu peristiwa, Huan Kui telah dilarikan orang."

"Jadi Huan Kui telah pulang?"

Ucap Nyo toakoh pura-pura kebingungan.

"Dia dan Pui Hou adalah muridmu, apa salahnya kalau dia tinggal di rumah Pui Hou? Mengapa kau menggunakan istilah ‘dilarikan’?"

Nyo Bok tidak tahu enci-nya benar-benar tak tahu atau pura-pura tak tahu, terpaksa dia harus memberitahukan kepadanya.

"Enci, kau tidak tahu, murid-muridku ini telah menggabungkan diri dengan komplotan yang dipimpin Leng Thiat-jiau untuk memberontak, kedatangannya ke Po-teng kali ini adalah dalam usaha menyelamatkan Ciat Hong. Sebetulnya Pui Hou ingin menolongnya dan menahan dia di sana, siapa tahu semalam ia telah dilarikan orang!"

"Jadi kau mengira orang yang melarikan Huan Kui adalah keponakanmu ini?"

"Orang itu turun tangan di saat ruangan menjadi gelap, tapi aku sudah tahu kalau dia adalah seorang pemuda. Padahal di dunia persilatan dewasa ini hanya ada beberapa orang pemuda saja yang bisa melarikan orang tepat di depan hidungku!"

"Maka kau pun lantas menuduh perbuatan ini dilakukan olehnya?"

Kata Nyo toakoh dingin.

"Semoga saja bukan dia,"

Buru-buru Nyo Bok menjawab.

"tapi sekalipun dia yang melakukan perbuatan ini, keadaan masih dapat ditolong, asal dia mau berterus terang, persoalan yang lebih besar pun akan kuhadapi…."

"Terima kasih atas kasih sayang engku,"

Teriak Ki See-kiat lantang.

"tapi engku pun tak usah gelisah. Aku dapat memberitahukan kepadamu, orang yang melarikan Huan Kui bukanlah aku!"

Baca Juga: Lentera Maut 4

Baca Juga: Terbang Harum Pedang Hujan 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger