Eps 6 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
Padahal dia tak tahu kalau Nyo Yan hanya menggunakan tenaga dalamnya sebesar tiga bagian. Menyusul kemudian Kam Bu-wi berpikir lebih jauh.
"Tapi aku tak boleh sampai dikalahkan olehnya, soal kalah sampai kehilangan muka sih urusan kecil, kalau sampai Ciok suheng turun tangan sendiri, niscaya selembar jiwa bocah muda ini sukar dipertahankan lagi!"
Ia masih ingat kalau Nyo Yan adalah murid penutup yang paling disayangi gurunya semasa masih hidup dulu, karena itu dia lebih suka memunahkan ilmu silat dari Nyo Yan daripada membiarkannya tewas di ujung tangan suheng-nya.
Tapi kini, kesempatan untuk meraih kemenangan saja tak ada, apalagi hendak memunahkan ilmu silat dari Nyo Yan?
Ia tak berani beradu tenaga dengan Nyo Yan, terpaksa ilmu pedangnya dimainkan sedemikian rupa sehingga secepat sambaran petir, dia berharap dengan menggunakan kecepatan ilmu pedangnya itu bisa mencari kesempatan untuk menusuk jalan darah Nyo Yan.
Nyo Yan tidak tahu kalau tujuan suheng-nya berbuat demikian hanya bermaksud untuk melindungi keselamatan jiwanya, melihat jurus pedangnya semakin gencar, tanpa terasa hawa amarahnya berkobar.
Tiba-tiba ia membentak keras.
"Kam suheng, kau mendesak diriku terus menerus, maaf kalau siaute pun tak akan sungkan-sungkan lagi kepadamu!"
Cahaya pedangnya memancar keluar dan bergetar di udara bagaikan naga sakti.
Begitu pemuda itu mulai mengembangkan serangannya, bukan cuma Kam Bu-wi saja yang merasakan tekanan yanghebat, bahkan Ciok Thiang-hing yang menonton jalannya pertarungan itu pun diam-diam merasa amat terperanjat Setelah memperhatikan sekian lama, dia baru merasa agak lega, pikirnya.
"Ilmu pedang perguruan kami memang nomor satu di dunia. Walaupun ilmu pedang yang dimiliki bocah keparat ini tidak lemah, toh masih tetap kalah setingkat Dan lagi tenaga dalamnya juga rendah, rasanya tanpa aku mesti turun tangan sendiri pun ia dapat dibereskan. Heeh heh heh andaikata Kam sute memusnahkan ilmu silatnya juga lebih baik, daripada orang lain menganggap aku tidak adil…."
Padahal dari mana dia bisa menduga kalau Nyo Yan belum mengerahkan segenap tenaga dalamnya.
Nyo Yan adalah seorang yang beradat tinggi, setelah kedua orang suheng-nya menuduh ia berkhianat, maka dia pun tak mempergunakan ilmu pedang Thian-san-pay, pertarungannya sekarang justru menggunakan ilmu pedang Liong-heng-cap-pwe-kiam yang diajarkan yaya-nya, Liong Ki-leng.
Ilmu pedang Liong-heng-cap-pwe-kiam (Delapanbelas Jurus Ilmu Pedang Bayangan Naga) mengutamakan kekerasan, di dalam soal kesempurnaan jurus memang kalah dibandingkan dengan Thian-san-kiam-hoat, tapi berbicara sesungguhnya kedua macam kepandaian itu masing-masing mempunyai kelebihan sendiri.
Tapi justru karena ilmu pedang Liong-heng-cap-pwe-kiam mengutamakan kekerasan, sedang Nyo Yan tak berani mempergunakan tenaga dalamnya, otomatis keadaannya menjadi amat lemah.
Tak selang berapa saat kemudian, jurus serangan yang dilancarkan Kam Bu-wi makin lama makin cepat, beberapa kali nyaris ia berhasil menusuk tubuh Nyo Yan.Waktu itu Nyo Yan sedang ragu, dia ingin mengerahkan tenaga dalamnya lebih hebat, tapi khawatir, ilmu pedangnya keiewat keras, andaikata sampai salah turun tangan, bukankah hal mana akan menyebabkan Kam Bu-wi terluka parah?
Sekalipun hawa marah menyelimuti benaknya, namun dia masih tak ingin mencelakai jiwa Kam Bu-wi.
Belum lagi keputusannya diambil.
"sreeet!"
Kam Bu-wi kembali melancarkan sebuah tusukan kilat Serangan tersebut dilancarkan mana cepat juga ganas, dalam satu jurus saja sembilan buah jalan darah penting di tubuh Nyo Yan terkurung.
Tampaknya dia telah mengeluarkan jurus serangan yang paling lihay dari ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat.
Nyo Yan tahu kalau serangan itu sulit untuk dihindari lagi, dalam terdesaknya ia terpaksa mengibaskan ujung bajunya ke depan dengan menggunakan tenaga sebesar lima bagian.
Kam Bu-wi menjadi sempoyongan, serangannya terpukul miring hingga tak sebuah jalan darah pun yang kena tertusuk.
Menyaksikan kejadian ini, Ciok Thiang-hing segera mandengus dingin.
"Kam suit, kenapa kau harus mengampuni binatang cilik itu?"
Padahal akibat tenaga kebutan Nyo Yan tersebut, secara lamat-lamat Kam Bu-wi merasakan dadanya sesak, napas pun sukar dilakukan dengan lancar, ibaratnya orang bisu makan empedu, walau pahit namun tak bisa mengutarakannya keluar.
Nyo Yan yang berulang kali dihina dan dicemooh menjadi gusar bukan kepalang, saking marahnya dia sampaimendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
"Haahh… haahh… haahh… binatang tua, jika kau kurang terima, hayolah maju sendiri untuk mencoba!"
Sesungguhnya Ciok Thiang-hing memang sudah ingin turun tangan sendiri, ucapan itu kontan saja membuat amarahnya makin membara, hampir saja dia mencak-mencak karena mendongkol, segera bentaknya.
"Kam sute, kau tidak berani membunuhnya, biar aku yang membunuhnya! Mundur kau dari sini!"
Sambil meloloskan pedang dari sarung, ia segera melepaskan serangkaian serangan dahsyat.
Walaupun Kam Bu-wi sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan luar biasa, tapi sampai di manakah taraf kepandaian yang sesungguhnya, tidaklah diketahui olehnya.
Dia takut Ciok Thiang-hing membunuh Nyo Yan, dia pun takut Nyo Yan membunuh suheng-nya.
Oleh karena itu, meski suheng-nya menitahkan kepadanya untuk mundur, namun mau tak mau dia harus maju juga sambil mengayunkan pedangnya.
Malah serangan yang dilancarkannya makin gencar dan bertubi-tubi, dia berharap bisa mendahului suheng-nya untuk memunahkan ilmu silat Nyo Yan lebih dulu.
Asal dia dapat memunahkan ilmu silat Nyo Yan, maka sedikit banyak kejadian ini akan mengurangi kegusaran suheng-nya atau dengan perkataan lain kemungkinan untuk mempertahankan jiwa Nyo Yan pun semakin besar.
Setelah dua orang jago lihay dari Thian-san-pay mengerubutinya, mau tak mau Nyo Yan harus menghadapi dengan serius.Dia telah mengerahkan tenaga dalamnya sehingga mencapai tujuh bagian, keadaannya makin lama semakin kritis.
Dia tak ingin melukai Kam Bu-wi, bahkan tak ingin pula membunuh Ciok Thiang-hing, meski Ciok Thiang-hing menjengkelkan, namun tidak sampai melebihi putranya.
Padahal Nyo Yan pun cuma memotong lidah Ciok Cing-swan belaka Namun Ciok Thiang-hing justru sangat berhasrat mencabut selembar jiwanya.
Tiga bilah pedang yang berada di tangan para petarung telah berubah menjadi tiga kuntum bunga pedang, tubuh mereka bertiga boleh dibilang terkurung sinar pedang yang tebal.
Berada dalam pertarungan yang begini seru, bila Nyo Yan ingin menghindarkan suatu kesalahan agar jangan sampai melukai Kam Bu-wi, hal itu boleh dibilang sangat membutuhkan banyak tenaga.
Walau Kam Bu-wi tidak ingin merenggut jiwanya, tapi dia berhasrat hendak memusnahkan ilmu silatnya.
Beberapa kali tubuh Nyo Yan nyaris tertusuk oleh Ciok Thiang-hing hanya gara-gara menghindari kesalahan tangan yang bisa berakibat terlukanya Kam Bu wi.
Nyo Yan segera membentak keras.
"Kam suheng, cepat mundur, aku tak mau melukaimu!"
Seandainya dia tidak berkata demikian, keadaannya masih mendingan, begitu dia berkata Kam Bu-wi menyerang semakin gencar.
"Trang!"
Tiba-tiba Nyo Yan menangkis pedang Kam Bu-wi, sedang ketika itu ia hendak menusuk jalan darahnya, tetapi meleset.
Pada saat itulah Ciok Thiang-hing telah memanfaatkan kesem patan tersebut dengan sebaik-baiknya, menggunakan jurus Thi-khi-tu-jut (Penunggang Kuda Besi Muncul Mendadak) menusuk ke arah dadanya.
Nyo Yan segera berputar ke samping, sekalipun dadanya tidak sampai tertusuk, lengan kirinya kena tersambar juga oleh ujung pedang dan telapak tangan yang dilancarkan bersama "Traaanngg…!"
Diiringi suara dentingan nyaring, pedang Ciok Thiang-hing patah menjadi dua bagian. Kam Bu-wi amat terperanjat, cepat-cepat bentaknya keras-keras.
"Nyo Yan, kau berani!"
Belum habis dia berseru, tampak Ciok Thiang-hing mundur dengan sempoyongan, mendadak ia memuntahkan darah segar dan kemudian roboh terjengkang ke atas tanah….
Belum sempat Kam Bu-wi menghardik Nyo Yan, tahu-tahu kakak seperguruannya telah terluka parah lebih dulu.
Ternyata pada jurus serangan yang terakhir tadi, Nyo Yan telah mengerahkan seluruh tenaganya, serangan ilmu pedangnya masih mendingan, tapi tenaga pukulan yang dilancarkan di balik telapak tangannya justru mempunyai kekuatan yang maha dahsyat, bagaimana mungkin Ciok Thiang-hing dapat tahan?
Ketika Nyo Yan menyaksikan suheng-nya terluka parah, timbul juga perasaan menyesal dalam harinya, tapi keadaan telah menjadi begini, ibaratnya nasi telah menjadi bubur, apakah dia harus minta ampun kepada Ciok Thiang-hing?Maka sesudah mendengus dingin, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Mulut lukanya sepanjang beberapa inci di lengan kiri itu masih mengucurkan darah, betul lukanya tidak parah, tapi perlu perawatan dengan segera.
Ciok Thiang-hing melototkan sepasang mata bulat-bulat, sambil menahan sakit, bentaknya dengan gusar.
"Kam Bu-wi, dengan kedudukanku sebagai tianglo, aku menitahkan kepadamu untuk membunuh bajingan pengkhianat ini! Sekalipun kita tak bisa hidup lebih jauh, juga jangan biarkan dia hidup terus di dunia ini…!"
Jelas maksud dari perintahnya itu adalah memerintahkan kepada Kam Bu-wi untuk beradu jiwa dengan Nyo Yan.
Dia pun tahu kalau Kam Bu-wi tidak berkemampuan untuk mengalahkan Nyo Yan, tapi Nyo Yan sendiri pun sudah terluka, padahal Kam Bu-wi belum terluka, andaikata Kam Bu-wi bersedia mengorbankan selembar jiwanya, maka bukan berarti dia tak punya harapan untuk mengajak Nyo Yan beradu jiwa.
Perintah tersebut merupakan suatu perintah yang serius, demi menjaga nama baik perguruan bagaimanapun juga Kam Bu-wi harus menurutinya.
Apalagi sekarang dia sudah mulai membenci Nyo Yan.
Sambil membentak keras, Kam Bu-wi menerjang maju, pedang di tangannya menciptakan selapis cahaya bianglala berwarna perak langsung dibacokkan ke tubuh Nyo Yan.
Dia khawatir tak mampu menyusul Nyo Yan, maka digunakannya jurus serangan yang paling dahsyat dari ilmu pedang Tui-hong-kiam untuk menyerang, dengan jurus serangan tersebut, maka kendatipun jaraknya selisih seratuslangkah namun "pedang terbangnya masih sanggup untuk melukai orang….
Tapi risikonya, bila pedang itu sudah dilontarkan namun pihak lawan tak sampai terluka, akibatnya jiwa sendirilah yang akan melayang.
Maka dari itu sewaktu gurunya mengajarkan ilmu tadi kepadanya, berulang kali dia sudah dipesan, bilamana keadaan tidak sangat gawat, jangan sekali-kali mengeluarkan jurus serangan itu, karena jurus ini ibaratnya.
"Pedang ada orang pun ada, pedang patah orang pun mampus."
Waktu itu pikiran maupun perasaan Nyo Yan sedang bingung, dia berjalan terus tanpa berpaling, seakan-akan tidak melihat atau pun mendengar….
Menanti desingan angin tajam sudah mencapai belakang punggungnya, ia baru membalikkan badannya sambil menyentiIkan jari tangannya ke depan.
"Criiiing….’"
Dengan telak sentilan tersebut bersarang di ujung senjata tersebut.
Seakan-akan punggungnya bermata, sentilan itu dengan tepat sekali menghajar di punggung pedang tersebut.
Tapi Thian-san-kiam-hoat adalah jurus pedang yang lihay, apalagi serangan itu dilancarkan oleh Kam Bu-wi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Memang ancaman itu berhasil disingkirkan tapi sisa tenaganya be-lum melemah, sehingga mata pedang sempat juga meninggalkan sebuah luka terbuka di lambungnya.
Luka yang dideritanya kali ini jauh lebih parah daripada luka di lengan kirinya, kendati pun tenaga dalam yang dimiliki NyoYan amat sempurna, tak urung dia toh mengaduh juga sambil membungkukkan pinggangnya Luka di hati Nyo Yan jauh lebih parah daripada luka di tubuhnya Ternyata Kam Bu-wi yang bermaksud baik terhadapnya pun telah melancarkan serangan yang begitu keji.
"Mungkinkah aku adalah seorang manusia yang amat berdosa sekali?"
Dalam waktu singkat rasa rendah diri dan rasa bencinya yang membara di dalam dada kian lama kian bertambah hebat "Binatang cilik, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Bentak Kam Bu-wi dengan suara keras.
Sambil menubruk ke depan dia langsung menghantam tubuh Nyo Yan.
Nyo Yan merasa sedih juga mendongkol, tapi setelah menyaksikan seluruh wajah Kam Bu-wi diliputi oleh otot-otot hijau yang menonjol keluar serta keadaannya yang sangat gelisah, entah mengapa dia pun merasa agak kasihan.
Luka di atas perutnya terasa makin melilit, sementara kesempatan untuk membubuhi obat luka juga tidak sempat, terpaksa dia menggunakan pertolongan pertama meno-tok dahulu beberapa buah jalan darah di sekitar mulut luka tersebut, cara ini hanya bisa digunakan untuk sementara waktu untuk menghentikan aliran darah.
Dalam pada itu Kam Bu-wi telah menerjang tiba di sisi tubuhnya.
"Kam suheng,"
Dengan suara pecah Nyo Yan berkata.
"benarkah kau hendak merenggut jiwaku?"
Kam Bu-wi tertegun, tapi hanya sejenak sangsi, tahu-tahu sebuah pukulan telah dilontarkannya kembali ke depan.
Sepasang mata Nyo Yan merah membara, telapak tangan kirinya diayunkan ke depan sementara tangan kanannya melepaskan cengkeraman.
"Duuuuk!"
Dada Nyo Yan kena terhantam telak, tapi tulang pi-pa-kut Kam Bu-wi juga kena dicengkeram. Begitu tulang pi-pa-kut tercengkeram, Kam Bu-wi tak sanggup mengerahkan tenaga dalamnya lagi.
"Maaf Kam suheng, aku tak bisa membiarkan ilmu silatku kau punahkan…!"
Ucap Nyo Yan.
Dalam detik itu juga, Kam Bu-wi segera merasakan timbulnya hawa dingin yang mencekam perasaannya, menyelimuti seluruh dada.
Ia pernah mengatakan hendak memunahkan ilmu silat Nyo Yan, dan sekarang Nyo Yan berkata begitu pula, bukankah itu berarti dia bermaksud untuk memunahkan ilmu silatnya?
"Siluman cilik, kau… bunuhlah aku,..;"
Belum habis dia berkata, tampak Nyo Yan dengan mata melotot telah menotok ke arah jalan darah Tay-yang-hiat-nya.
Kam Bu-wi telah memejamkan mata untuk menunggu kematian, tiba-tiba sekujur badannya lemas dan kesemutan, ketika Nyo Yan mengendorkan tangannya, ia segera terjatuh ke tanah dan tak mampu merangkak bangun lagi.
Ternyata barusan Nyo Yan cuma bermaksud untuk menakut-nakuti dirinya saja dan sama sekali tidak menotok jalan darah kematiannya, melainkan jalan darah lemasnya yang d i totok.Nyo Yan segera berpaling dan berjalan mendekati Ciok Thiang-hing.
Luka dalam yang diderita Ciok Thiang-hing jauh lebih parah daripada luka yang diderita Nyo Yan, walaupun dia membawa obat luka luar serta pil Pek-leng-wan, tapi obat luka luar hanya bisa dipakai untuk menyembuhkan luka di kulit, sedang Pek-leng-wan lebih manjur untuk memunahkan racun, untuk menyembuhkan luka dalam, kemanjurannya sangat berkurang, ditambah pula sekarang sudah tak bertenaga untuk mengeluarkan obat tersebut Keadaannya ketika itu benar-benar amat lemah, tapi ketika melihat Nyo Yan berjalan mendekat, entah dari mana datangnya kekuatan.
Keadaan badan yang sebenarnya amat lemah ternyata menjadi amat segar, ternyata ia mampu untuk mencaci maki lagi, meski suaranya kedengaran agak parau.
"Binatang cilik, kalau punya kepandaian bunuhlah aku! Kalau tidak, selama aku masih hidup, perbuatan biadabmu itu pasti akan aku bongkar, agar kau dan perempuan rendah itu…."
Ia tahu kalau Nyo Yan paling takut jika orang lain memaki Leng Ping-ji, maka walaupun dia tak ingin mencerca Leng Ping-ji, tak urung toh bersama Nyo Yan dimaki habis-habisan.
Sekarang, dia sudah tak mampu untuk menahan rasa sakit dalam isi perutnya lagi, dia ingin mencari suatu penyelesaian yang cepat, dia ingin Nyo Yan bisa membunuhnya dalam sekali tusukan.
Baru saja dia akan memaki lagi, terdengar Nyo Yan telah berkata lagi dengan suara dingin.
"Bila kau memaki lagi, pertama-tama aku akan menamparmu tujuh delapanbelas kali,lalu memotong lidahmu! Heeehh… heeehh… heeehh… kau ingin mampus bukan? Aku justru mempunyai cara untuk menyuruhmu mati tak bisa hidup pun susah!"
Ancaman tersebut ternyata jauh lebih manjur daripada ancaman yang mana pun juga, kontan Ciok Thiang-hing menutup mulutnya rapat-rapat dan tak berani memaki lagi.
Dia adalah murid pertama dari empat murid utama Thian-san-pay, seandainya mukanya benar-benar kena ditampar, bisa jadi dia akan ditertawakan orang.
Penghinaan ditampar saja tak mampu ditahan, apalagi menerima penghinaan karena lidahnya dipotong, ia menutup mulutnya rapat-rapat, tapi Nyo Yan justru memaksanya untuk membuka mulut Dengan suatu gerakan cepat Nyo Yan mencengkeram dagunya lalu menjepitnya keras-keras, tanpa terasa Ciok Thiang-hing membuka mulurnya lebar-lebar.
Dia mengira Nyo Yan benar-benar hendak memotong lidahnya, hampir saja ia menjadi pingsan saking kagetnya, siapa tahu Nyo Yan cuma menjejalkan sebutir pil ke dalam mulutnya.
Ternyata walaupun Nyo Yan membencinya, dia pun tak ingin membiarkannya mati.
Maka dia memaksa Ciok Thiang-hing untuk menelan pil tersebut, pil itu merupakan pil mestika pemberian "yaya"
Nya, khasiatnya untuk menyembuhkan luka dalam dan tidak berada di bawah khasiat Siau-huan-wan dari Siau-lim-si….
"Ciok Thiang-hing, pulanglah dan rawat lukamu baik-baik, setahun lagi kesehatanmu akan sembuh kembali. Aku melukaimu, juga menolong jiwamu, bila kau hendak membalas dendam, itu urusanmu sendiri, aku yakin tindakanku ini cukupmemberi muka untukmu. Kau adalah tianglo dari Thian-san-pay, kau hendak mengusirku dari perguruan, aku pun tak akan menjadi muridnya Thian-san-pay. Setelah aku bukan anggota Thian-san-pay, maka kata-kata seperti "
Hendak membersihkan perguruan"
Dan lain sebagai nya sudah tidak cocok lagi untuk kau pakai terhadap diriku. Pokoknya mulai hari ini hubungan saudara perguruan sudah terhapus sama sekali!"
Dengan lantang dan suara keras dia mengutarakan kemengkalan di dalam hatinya, kemudian tanpa banyak membuang waktu dia membalikkan badan dan berlalu.
Oleh karena terlalu banyak perkataan yang diucapkan, tenaganya berkurang banyak, perutnya juga semakin sakit Darah segar kembali bercucuran dengan derasnya.
Ia menelan sebutir pil mestika, tapi luka di perutnya adalah luka luar, yang dibutuhkan adalah obat luka luar yang baik.
Dia tahu dalam saku Ciok Thiang-hing pasti terdapat obat luka luar; dia pun tahu obat luka luar dari Thian-san-pay jauh lebih baik daripada obat luar dari yaya-nya Tapi dia yang tinggi hati tentu saja enggan untuk mengambil obat luka luar milik Ciok Thiang-hing.
Maka sesudah menjejalkan sebutir pil ke dalam mulut Ciok Thiang-hing, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Sekeliling tempat itu sunyi senyap tak tampak sesosok bayangan manusia pun, musim dingin telah tiba, dalam keadaan seperti ini jangankan manusia, binatang pun segan datang ke situ, jadi dia pun tak usah mengkhawatirkan kesela-matan kedua orang itu lagi.
Kendatipun luka dalam yang diderita Ciok Thiang-hing cukup parah, tapi tenaga untuk melawan hawa dingin pasti masih dimilikinyaTotokan yang dipakai untuk menotok jalan darah Kam Bu-wi pun bukan totokan berat Menurut perhitungannya satu jam kemudian totokan tersebut akan bebas dengan sendirinya Bila totokan Kam Bu-wi sudah bebas, maka dia mampu melindungi Ciok Thiang-hing.
Atau dengan perkataan lain, walaupun ada mara-bahaya, hanya akan terjadi selama satu jam yang pertama Kini, dia sudah tidak berhasrat lagi untuk memikirkan soal keselamatan kedua orang tokoh Thian-san-pay itu lagi.
Yang paling dikhawatirkan olehnya sekarang adalah Leng Ping-ji.
Marabahaya apakah yang bakal dialami Leng Ping-ji?
Sulit untuk diduga olehnya Pikiran maupun perasaannya terasa amat kalut, tanpa terasa pikirnya setelah tertawa getir.
"Hanya memotong lidah Ciok Cing-swan saja sudah mengakitbatkan terjadinya keonaran seperti ini, sekarang aku telah menghajar pula ayahnya tianglo Thian-san-pay hingga terlu-ka parah, mungkin segenap anggota Thian-san-pay tak akan melepaskan diriku lagi. Cuma bagaimanapun juga aku toh sudah tak ingin lagi menjadi murid Thian-san-pay lagi, aku pun tak akan pulang ke Thian-san lagi. Kecuali mereka benar-benar mampu untuk membunuhku, kalau tidak mau ribut seperti apa pun, hal itu tiada sangkut pautnya denganku. ‘Tapi keadaan enci Peng jauh berbeda dengan aku, bagaimanapun juga dia toh harus pulang juga, karena dia masih ingin menjadi murid Thian-san-pay. Ciok Thiang-hing dan putranya enggan melepaskan aku, tentu saja tak akan melepaskan dia pula Bila enci Peng sampai pulang ke Thian-san, niscaya dia akan mengalami banyak siksaan dan penderitaan di tangan mereka…."
Nyo Yan merasakan pikirannya amat kalut, dia mulai merasa agak menyesal mengapa membiarkan Leng Ping-ji meninggalkannya, dia pun merasa tidak seharusnya meng-angkat sumpah dan berjanji tak akan berjumpa selama tujuh tahun.
Dia tidak tahu Leng Ping-ji telah pergi ke mana, dia hanya merasa bahwa tempat paling aman bagi Leng Ping-ji adalah berada di sisinya Dia tidak menyangka Leng Ping-ji pergi ke induk pasukan pembela bangsa (atau mungkin karena Beng Goan-cau adalah komandan pasukan patriot pembela bangsa, maka dalam pemikirannya sama sekali tak ingin membayangkan kalau enci Peng-nya bakal ke situ) dia hanya percaya dengan kekuatan sendiri.
"Aaaai, kecuali aku di dunia ini, siapa lagi yang dapat melindungi keselamatan enci Peng?"
Tanpa terasa tengah hari sudah tiba cahaya matahari memancarkan sinarnya dan memantul ketika menimpa permukaan salju yang putih, sayang sinar matahari tak sanggup mencairkan salju yang tebal.
Entah dikarenakan kabut hitam dalam benaknya belum buyar, cahaya sinar matahari di tengah padang salju pun terasa dingin Terbayang keadaan Leng Ping-ji yang sangat berbahaya tanpa terasa Nyo Yan bersin berulang kali.
Sekarang dia telah berjalan melalui padang rumput dan menuju ke bukit Sementara pelbagai ingatan masih berkecamuk dalam benaknya tiba-tiba terdengar suara derap kuda bergema datang, tampaknya yang datang bukan hanya seekor sajaNyo Yan khawatir yang datang adalah anak murid Thian-san-pay hingga terjadi lagi gelombang kekalutan.
Dalam keadaan terluka parah ia sudah tak mampu bertarung lagi.
Sekalipun masih ada sisa tenaga pun dia tak ingin bertarung lagi dengan sesama anggota perguruan, buru-buru dia menyembunyikan diri.
Baru saja dia menyembunyikan diri, dari balik padang rumput yang dilapisi salju tampak muncul empat orang penunggang kuda.
Ia mengenali salah seorang di antaranya adalah Ting Tiau-bing, Ting Tiau-bing adalah orang kedua dari antara empat murid utama partai Thian-san.
Berbicara soal tenaga dalam, mungkin dia masih kalah dibandingkan Ciok Thiang-h ing, tapi soal ilmu pedang, dia masih jauh di atas Ciok Thiang-hing.
Diam-diam Nyo Yan merasa terperanjat, pikirnya.
"Untung saja aku cepat tahu gelagat, kalau tidak, cukup Ting suheng seorang, sekarang aku sudah bukan tandingannya lagi. Tapi entah siapakah tiga orang lainnya? Apakah mereka juga anggota perguruan? Siapakah mereka?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar Ting Tiau-bing berseru tertahan.
"Ah, coba kalian lihat, di atas permukaan salju ada noda darah…?"
Nyo Yan segera merasakan jan-ngnya berdebar keras, dia khawatir kalau mereka mengikuti noda darah itu sehingga menemukan jejaknya. Seseorang segera menyahut sambil tertawa.
"Mungkin darah binatang yang berceceran di situ. Dalam musim salju begini, mustahil ada orang yang melakukan perjalanan di permukaan salju. Sekarang, kita kebetulan masih ada urusanmungkin tak ada waktu lagi untuk menyelidiki persoalan ini sampai tuntas, Ting susiok bagaimana menurut pendapatmu?"
Orang ini adalah salah seorang yang termuda di antara ketiga orang itu, tampaknya dia belum berusia tigapuluh tahun.
Kalau dibilang memang sungguh mengherankan, walaupun Nyo Yan belum sempat melihat jelas raut wajahnya, tapi dia merasa secara lamat-lamat mereka mempunyai suatu kemiripan, hanya saja walaupun sudah dipikirkan sekian lama dia masih belum dapat mengingat-ingat siapa gerangan orang itu.
"Heran, dia menyebut Ting Tiau-bing sebagai susiok, seharusnya dia adalah anggota perguruan Thian-san-pay, tapi mengapa aku tidak kenal dengannya? Atau mungkin setelah aku pergi ada salah seorang suheng telah menerima murid baru lagi?"
Demikian Nyo Yan berpikir.
"Aku bukan ingin mencampuri urusan orang lain,"
Terdengar Ting Tiau-bing menjawab.
"hanya urusannya sedikit aneh, apa yang kau katakan memang benar, masalah besar jauh lebih penting, sekalipun benar ada orang yang terluka, kita juga tak ada waktu untuk mencarinya."
Sebetulnya orang muda itu mengira darah itu adalah darah binatang, tapi setelah mendengar perkataan dari Ting Tiau-bing tersebut, sedikit banyak timbul juga perasaan tak tenang, maka setelah hening sejenak kembali dia berkata, ‘Ting susiok, menolong selembar nyawa berarti menebus dosa-dosa kita tujuh tingkat, andaikata benar-benar ada yang terluka, apa salahnya kalau kita menunda perjalanan sebentar saja?"
"Aku toh tidak mengatakan pasti darah ini adalah darah manusia, apalagi di tengah padang salju yang begini dingin,sekalipun ada yang terluka, tidak seharusnya ia bisa berjalan jauh, sudah pasti dia telah roboh di sekitar tempat ini.
Tapi sejauh mata kita memandang, tidak tampak jejak Sesosok manusia pun.
Oleh karena itu sekalipun ada orang yang terluka, aku duga orang ini pastilah seseorang yang berilmu silat sangat tinggi dan tak perlu perawatan kita lagi, apalagi mungkin saja dia telah pergi jauh.
Kalau tidak begitu, dia tentu sudah mati dan mayatnya tertimbun salju.
"Menurut pendapatku, kemungkinan memang demikian,"
Orang ketiga turut berbicara.
"Di tengah padang salju yang begini dingin, entah manusia atau binatang, kecuali kalau dia baru saja terluka, kalau tidak rasanya lebih banyak bahaya daripada rejeki. Tapi kalau orang itu baru terluka, di tengah padang salju yang datar dan luas ini kita dapat memandang sampai jauh, mengapa tidak tampak sesosok bayangan manusia pun? Oleh karena itu, tidak peduli kemungkinan manakah yang bakal kita jumpai, kalau kita mencari jejak si korban tersebut sudah pasti banyak waktu yang akan terbuang percuma, maka dari itu aku rasa lebih baik kita segera pergi saja"
Nyo Yan mendengar pembicaraan tersebut sampai di situ, lalu terdengar suara cambuk diayunkan orang dan keempat orang itu segera melanjutkan perjalanannya kembali.
Tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata Walaupun dalam pembicaraan Ting Tiau-bing tak berani menyimpulkan kalau darah tersebut adalah darah manusia, namun dalam hati kecilnya sembilanpuluh persen dia menarah curiga kalau darah tersebut adalah darah manusia Si anak muda itu sendiri meski pernah berpengalaman tiga kali hidup di luar perbatasan, namun pengalamannya toh takbisa mengalahkan pengalaman dari Ting Tiau-bing, Dia hanya tahu satu, tak tahu lainnya Dia hanya tahu kalau di musim dingin begini tak mungkin ada orang melakukan perjalanan di padang salju, sedang Ting Tiau-bing lebih tahu kalau binatang pun lebih-lebih tak akan turun gunung.
Walaupun demikian, kedua kemungkinan yang diucapkannya itu bukannya bermaksud untuk membohongi si anak muda itu, kecuali si korban berilmu silat amat Khay, kalau tidak memang kecil sekali harapannya bisa hidup lebih jauh.
Pemuda itu sebenarnya mempunyai persoalan amat penting yang harus diselesaikan, maka dia baru muncul di wilayah Sinkiang, maka dari itu dia pun enggan mencampuri urusan orang lain.
Begitulah, menanti Nyo Yan menyaksikan bayangan punggung dari Ting Tiau-bing sekalian sudah lenyap dari pandangan mata, dia baru menghembuskan napas lega.
Setelah melakukan perjalanan sekian jauh, dia merasa luka yang dideritanya perlu mendapat perawatan lebih dulu.
Sambil menghimpun tenaga dia pun naik ke atas pohon, mencari sebatang pohon "Tay-kim-siu".
Pohon semacam ini merupakan pohon istimewa di luar perbatasan, daunnya lebar dan rimbun, empat musim selalu berada dalam keadaan hijau dan permai, selain bisa dipakai untuk berteduh juga bisa dipakai untuk beristirahat.
Bagi Nyo Yan yang teriuka, pohon semacam ini merupakan tempat yang paling cocok untuk merawat lukanya.
Sekarang ia sudah amat lelah sekali sehingga kehabisan tenaga, sehabis membubuhi lukanya dengan obat luar, dia pun menjatuhkan diri untuk tidur.Tak selang berapa saat kemudian dia sudah tertidur dengan sangat nyenyaknya.
Di sini Nyo Yan bisa tidur dengan nyenyak, tapi mimpi pun dia tak menyangka kalau pada saat yang bersamaan di pihak lain orang asing yang serasa pernah dikenalnya itu sedang mengalami suatu kejadian yang membuatnya serba salah, gara-gara ulahnya dia sedang merasakan kaget dan khawatir bagi keselamatan jiwanya.
Tapi dia pun mau tak mau terpaksa harus menyatakan kesediaannya untuk menangkap dirinya.
Penghinaan yang tak Terlupakan Setelah dipaksa Nyo Yan untuk menelan sebutir pil, pada mulanya Ciok Thiang-hing mengira racun.
Tak selang berapa saat kemudian, dia merasa dari dalam pusarnya muncul segulung hawa panas yang menyebar ke seluruh bagian tubuh, selain rasa sakitnya berkurang, se-mangatnya pun menjadi pulih kembali.
Sekarang dia baru percaya kalau pil tersebut kemujarabannya betul-betul melebihi kemujaraban pil Siau-huan-wan dari kuil Siau-lim-si.
"Walaupun dalam pandangan mata bocah keparat itu sudah tidak mengakuinya sebagai suheng lagi, toh mendingan ia tak berani melakukan pembantaian sampai ke akar-akarnya! Cuma kalau dia ingin menggunakan budinya yang kecil ini untuk kuberterima kasih kepadanya, hm jangan mimpi di siang hari bolong!"
Demikian dia berpikir.
Padahal budi tersebut sesungguhnya tak bisa dianggap sebagai budi kecil, seandainya tiada pil tersebut, dengan lukadalam Ciok Thiang-hing yang begitu parah, sekalipun tidak mati tubuhnya pun akan menjadi setengah lumpuh.
Tapi luka parah yang dideritanya itu pun merupakan pemberian dari Nyo Yan, penghinaan yang diterima putranya, penghinaan yang diterima dirinya, kesemuanya itu mana mungkin bisa ditebus hanya dengan pemberian sebutir obat belaka?
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Kam Bu-wi, sebenarnya dalam satu jam saja dia sudah dapat menembus totokan jalan darahnya dan membebaskan diri.
Tapi setelah di sampingnya berbaring seorang su-heng-nya yang mati hidupnya tidak diketahui, sedikit banyak perasaannya menjadi kalut pula, dalam keadaan seperti ini mana mungkin dia bisa memusatkan pikirannya untuk mengerahkan tenaga dalam.
Akan tetapi, walaupun jalan darah itu belum berhasil dibebaskan, dia sudah bisa buka suara untuk bercakap-cakap.
Tiba-tiba dia menyaksikan su-heng-nya mulai menggerakkan tubuh dan membuka mata, kemudian merintih pelan.
Ternyata Ciok Thiang-hing sedang mencoba apakah bisa merangkak bangun atau tidak.
Dengan perasaan terkejut buru-buru Kam Bu-wi bertanya.
"Suheng mengapa kau?"
Ketika Nyo Yan memaksa Ciok Thiang-hing menelan pil, jalan darahnya sudah ditotok lebih dulu, maka dia tidak tahu kalau suheng-nya telah diberi pil berkhasiat luar biasa.
Ciok Thiang-hing merasa agak terkejut juga melihat rekannya dapat bersuara, kemudian dengan gemas iamenjawab.
"Tak bakal mampus! Apakan jalan darahmu sudah berhasil dibebaskan…?"
"Belum dapat kubebaskan, cuma sudah hampir. Tampaknya bocah itu masih cukup berbelas kasihan, dia tidak menotokku dengan totokan yang berat"
"Hrnm, bocah keparat, itu bermaksud menggunakan budi yang kecil untuk mendapatkan pengampunan dari kita,"
Seru Ciok Thiang-hing dengan amat gusar.
"Hmmm. hmrnm… aku tak nanti akan mengampuninya, jika kau hendak menerima bodi kebaikannya, itu urusanmu sendiri!"
"Suheng, harap kau jangan salah paham,"
Buru-buru Kam Bu-wi berkata.
"sejak partai Thian-san-pay didirikan pada seratus tahun berselang, selamanya anggota perguruan kita adalah pendekar-pendekar besar dan belum pernah menjumpai murid murtad seperti dia, jangankan hari ini kita sudah menerima penghinaan yang amat besar, sekalipun dia tidak menotok jalan darahku, aku pun tak dapat mengampuni dirinya!"
Sekulum senyuman menghiasi bibir CiokThiang-hing setelah mendengar ucapan tersebut, katanya.
"Baik, kalau begitu kau kerahkan tenaga dalammu untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan!"
"Suheng, apakah kau sudah rada baikan?"
Dengan perasaan tak tenang Kam Bu-wi bertanya lagi.
"Sudah agak baikan. Cuma paling tidak dalam tiga hari mendatang aku belum bisa bergerak sendiri. Sebelum lukaku sembuh, terpaksa aku harus menggantungkan diri pada perawatanmu. Mengapa engkau tidak segera membebaskan diri dari pengaruh totokan?"
Dengan perasaan lega Kam Bu-wi segera memuji.
"Tenaga dalam yang suheng miliki benar-benar luar biasa sekali, coba kalau siaute yang menderita luka dalam separah ini, sudah pasti aku telah mati, mana mungkin kekuatanku bisa pulih kembali secepat ini?"
Merah padam selembar wajah Ciok Thiang-hing.
"Walaupun di padang salju dalam musim seperti ini jarang didatangi manusia, kita pun harus waspada menghadapi segala hal yang tidak diinginkan. Apalagi aku masih membutuhkan perawatanmu untuk mengantarku pulang ke Thian-san, tak usah banyak berbicara Jagi, cepat bebaskan pengaruh totokanmu."
Mereka mengira dalam musim dingin separah ini tak mungkin ada orang yang muncul di situ, siapa tahu belum habis perkataan itu diselesaikan, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang.
Dengan perasaan terkejut Kam Bu-wi segera berseru.
"Yang datang seluruhnya berjumlah empat orang, entah siapakah mereka?"
Tfba-tiba Ciok Thiang-hing teringat akan seseorang, rasa terkejut yang mencekam perasaannya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.
Rupanya dia teringat akan Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh beserta kedua orang keponakan muridnya, dengan cepat dia berkata.
"Jangan-jangan Nyo Yan si binatang cilik ini telah berjumpa dengan bibinya? Lak-jiu-Koan-im adalah seorang yang berpengalaman, bila ia men-dengar peristiwa itu dari Nyo Yan, sekalipun Nyo Yan tak ingin membunuhku, demi melindungi keponakannya,’ perempuan itu pasti akan mengajak Nyo Yan datang lagi kemari untuk menghilangkan bibit bencana di kemudian hari…."
Bagaimanakah caranya menghilangkan bibit bencana di kemudian hari?
Tentu saja dengan jalan membunuh korbannya.
Padahal sekarang dia sedang terluka parah, sedangkan totokan Kam Bu-wi belum berhasil dilepaskan, mau kabur pun tak mungkin bisa kabur lagi.
Sementara perasaan khawatir menyelimuti perasaannya, keempat penunggang kuda itu sudah tiba di kaki bukit dan saling bertukar pandangan.
Terkejut dan girang segera menyelimuti perasaan Kam Bu-wi, sambil berseru tertahan teriaknya keras-keras.
"Ting suheng, rupanya kau!"
Ting Tiau-bing lebih terperanjat lagi, serunya.
"Yang berbaring di sisimu apakah Ciok suheng? Se… sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Oleh karena dia berada di atas kuda maka keadaan di situ tak sempat dilihat dengan jelas, tapi dia mengetahui kalau orang yang berbaring di atas tanah itu sedang menderita luka yang amat parah.
Dia adalah seorang ahli silat, .setelah berjumpa dengan Kam Bu-wi dan menyaksikan ia hanya duduk belaka tanpa bergerak, dengan cepat diketahui olehnya kalau jalan darah Kam Bu-wi telah ditotok orang Buru-buru dia melompat turun dari kudanya dan siap untuk membebaskan totokan sute-nya, namun pemuda itu jauh lebih cepat daripadanya, tahu-tahu dia sudah berebut di depan dan membebaskan totokan Kam Bu-wi.
Ting Tiau-bing yang menyaksikan gerakan tubuhnya itu diam-diam merasa kagum bercampur malu sendiri, pikirnya.
"Coba kalau berganti aku, paling tidak sepeminuman teh kemudian totokan jalan darah itu baru bisa kubebaskan."
Sejak tadi Kam Bu-wi hanya memperhatikan suheng-nya saja tanpa menaruh perhatian terhadap pemuda ini, sekarang setelah mengetahui siapa gerangan dirinya, kontan saja paras mukanya berubah hebat dan untuk sesaat dia berdiri termangu.
Ternyata pemuda itu tak lain adalah Beng Hoa, kakak Nyo Yan.
Kiranya Ting Tiau-bing mendapat perintah dari ciangbun-sute-nya untuk berangkat ke Jik-tat-bok mewartakan berita duka, saat itu dia bersama Beng Hoa dan dua orang komandan pasukan pembela bangsa.
Di antara empat murid utama Thian-san-pay, Ting Tiau-bing-lah yang mempunyai hubungan paling dalam dengan patriot pembela bangsa, dia pun teman karib Beng Goan-cau, itulah sebabnya Teng Ka-gwan mengutusnya ke situ.
Beng Hoa sebenarnya sudah lama berniat kembali ke Sinkiang untuk mencari jejak adiknya, tapi sejak beberapa tahun belakangan ini ia diangkat menjadi pembantu utama Leng Thiat-jiau, karena urusan perjuangan yang merepotkan serta Leng Thiat-jiau tidak mengijinkan dirinya untuk pergi meninggalkannya, maka selama ini pula usahanya belum pernah diwujudkan.
Tapi kali ini, Leng Thiat-jiau yang menyuruhnya pergi.
Tenaga dalam yang dimiliki Beng Hoa pernah mendapat petunjuk dari Teng Kcng-thian, ketua Thian-san-pay yang lalu.
Sekalipun dia bukan murid resmi dari Teng Keng-thian, namun ia tercatat juga sebagai anggota Thian-san-pay.Murid tercatat dari suatu partai berbeda sekali dengan murid tercatat dari seseorang.
Murid tercatat dari suatu partai tidak mempunyai suatu tingkat kedudukan yang tertentu, dia bisa duduk sejajar dengan tianglo dari partai itu.
Atau singkatnya dia mempunyai kedudukan yang tinggi, namun kedudukannya adalah setengah anggota setengah tamu.
Oleh karena itu Leng Thiat-jiau lantas mencari seseorang yang dirasakan sesuai untuk mewakili dia dan pihak pejuang untuk melayat ke gunung Thian-san, sudah barang tentu Beng Hoa-Iah pilihan yang paling sesuai.
Kali ini Leng Thiat-jiau memberi libur setahun kepadanya, agar selesai melayat nanti dia pun mendapat kesempatan untuk pergi mencari adiknya yang sudah tujuh tahun lenyap.
Dua orang yang ikut serta Beng Hoa menuju ke gunung Thian-san adalah orang-orang penting dari pasukan pejuang, yang satu bernama Siau Ciau-nian sedangkan yang lain bernama Lau Kong.
Kalau dibicarakan kembali, sedikit banyak kedua orang ini masih mempunyai hubungan dengan Nyo Yan.
Istri Siau Ciau-nian adalah adik misan dari ibu kandung Nyo Yan yakni Hun Ci-lo, sedangkan istri Lau Kong adalah keponakan murid dari Miau Tiang-hong, ayah angkat Nyo Yan.
Sekalipun mereka belum pernah berjumpa dengan Nyo Yan, tapi sangat menaruh perhatian terhadap keselamatan jiwanya.
Di samping tugas melayat, Siau Ciau-nian dan Lau Kong mendapat sebuah tugas lagi yakni menjadi utusan khusus dari pasukan pejuang untuk mengadakan kontak dengan delapanbelas suku kecil di sekitar wilayah Sinkiang….Pasukan pejuang sudah pernah bekerja sama dengan suku-suku di wilayah Sinkiang untuk melawan bangsa Cing di masa lalu, kali ini mereka bermaksud untuk mengundang kepala suku itu untuk bekerja sama sekali lagi.
Lohay.
"kelo"
Dari suku Wana merupakan salah seorang yang hendak mereka hubungi.
Sebenarnya Beng Hoa mempunyai hubungan akrab dengan Lohay serta putrinya, tapi berhubung dia harus menyisihkan pikirannya untuk mencari Nyo Yan, maka tugas tersebut terpaksa harus diserahkan kepada Siau Ciau-nian dan Lau Kong, Nyo Yan sudah tujuh tahun lamanya hilang tak berbekas, Beng Hoa sendiri pun sebenarnya hanya membawa niat mencari jejak adiknya sebisa mungkin, karena dalam ang-gapannya kecil sekali kemungkinan-nya untuk bisa menemukan kembali jejak saudaranya itu.
". Tak disangka sebelum mereka sampai di Thian-san, di tengah jalan ia bertemu dengan dua orang lainnya yang termasuk dalam empat murid utama dari Thian-san bersama Ting Tiau-bing. Lebih-lebih lagi dia tak menduga kalau dari mulut kedua orang ini bakal mengetahui kabar berita tentang adiknya. Bahkan berita yang diperoleh pun merupakan suatu berita yang membuatnya sedih. Begitu Beng Hoa membebaskan jalan darah Kam Bu-wi, sambil melompat bangun dengan wajah berubah hebat, Kam Bu-wi segera berteriak keras.
"Beng tayhwp, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu kali ini!"
Berhubung Ting Tiau-bing adalah sahabat karib ayahnya, selama ini Beng Hoa tak berani mengangkat dirinya setingkatdengan empat murid utama dari Thian-san-pay, dia selalu merendahkan diri dengan menyebut mereka sebagai susiok.
Kini setelah mendengar Kam Bu-wi menyebutnya sebagai "Beng tayhiap", ia merasakan panggilan tersebut amat menusuk pendengaran.
Soal "menusuk pendengaran"
Adalah persoalan kecil, tapi nada suara Kam Bu-wi yang dingin, kasar dan penuh emosi justru membuat Beng Hoa semakin terperanjat Padahal baru saja dia membebaskan jalan darah Kam Bu-wi yang tertotok, tentu saja ia dibikin kebingungan setengah mati oleh sikap tersebut, ia tidak habis mengerti apa sebabnya Kam Bu-wi bersikap semacam ini terhadapnya Dalam pada itu Ting Tiau-bing juga telah membangunkan suheng-nya dari atas tanah.
Walaupun Ciok Thiang-hing telah lolos dari pintu gerbang kema-tian, namun dalam pandangan Ting Tiau-bing dia masih menderita luka yang amat parah.
Rasa terkejut yang mencekam perasaannya tak terlukiskan dengan kata, dengan suara gemetar karena terkejut buru-buru tanyanya.
"Suheng, mengapa kau terluka separah ini? Siapa… siapakah yang telah…."
Sembari berkata dia mengambil sebutir pil Pek-ieng-wan dan akan diberikan kepada suheng-nya Walaupun Pek-leng-wan tak bisa dipakai untuk menyembuhkan luka dalam, namun sedikit banyak berkhasiat juga untuk menguatkan badan.
Tapi sebelum ia selesai berkata, Ciok Thiang-hing telah mendorong tangannya sambil berseru.
"Aku-aku tak bakal mampus, tak usah minum obat lagi. Aku hanya inginmembalas dendam! Kau tolong panggil Beng tayhiap agar datang kemari!"
Tak usah diundang pun Beng Hoa sudah datang menghampirinya. Ketika ia menyaksikan luka yang diderita Ciok Thiang-hing begitu parah, rasa kagetnya jauh melebihi rasa "keberanan"
Nya atas sikap kasar Kam Bu-wi, dalam keadaan demikian ia tak berkesempatan lagi untuk banyak bicara.
Di antara empat murid utama Thian-san-pay, Ting Tiau-bing paling mengerti ilmu ketabiban ketika ia mencoba memeriksa denyutan nadi suheng-nya, dijumpainya meskipun denyutan lemah tapi sudah normal kembali, hal ini membuatnya agak lega.
Diam-diam pikirnya.
"Suheng memang tak malu menjadi pemimpin di antara anggota perguruan, sekalipun lukanya amat parah namun tidak membahayakan keselamatan jiwanya. Kalau begitu, tak salah kalau dia mengatakan tak usah minum obat lagi."
Sementara itu Beng Hoa juga sudah mengetahui kalau jiwa Ciok Thiang-hing tidak terancam bahaya Tapi karena Ciok Thiang-hing mengatakan hendak membalas dendam, maka mau tak mau dia lantas bertanya.
"Ciok susiok, siapakah yang telah melukai dirimu?"
"Beng tayhiap,"
Kata Ciok Thiang-hing dingin.
"bila kau tidak menginginkan aku membalas dendam, lebih baik gunakanlah kesempatan ini Untuk memunahkan ilmu silatku."
"Ciok susiok, kau… kau… apa maksud ucapanmu itu?"
Seru Beng Hoa terperanjatDengan cepat dia meraba jidat Ciok Thiang-hing karena dia khawatir orang itu sedang demam tinggi akibat lukanya sehingga pikirannya menjadi tak beres.
Tapi begitu diraba dia merasa jidatnya dingin, sama sekali tidak terasa panas.
Dengan cepat Ciok Thiang-hing menghantam tangan Beng Hoa ke samping, kemudian berseru ketus.
"Apa maksudmu? Jika kau ingin tahu, lebih baik tanyakan sendiri kepada adik kesayanganmu itu!"
Beng Hoa makin tertegun lagi.
"Adikku? Kalau begitu kalian telah berjumpa dengan Nyo Yan? Dia berada di mana sekarang?"
Ciok Thiang-hing mendengus berat.
"Hmm…! Beng tayhiap, kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Seandainya aku tahu dia berada di mana, buat apa kuminta kepada Beng tayhiap untuk pergi mencarinya?"
Sekalipun Beng Hoa masih kebingungan dan tidak habis mengerti, namun dari sikap serta nada suara Ciok Thiang-hing, dia sudah menduga kalau peristiwa tersebut ada sangkut pautnya dengan diri Nyo Yan, diam-diam ia lantas berpikir, -Adik Yan sudah tujuh tahun lenyap tak berbekas, jangan-jangan dia telah salah bergaul dengan orang jahat sehingga perbuatannya ikut jahat pula?
Atau mungkin Ciok susiok yang ingin menolongnya, malah kena disergap oleh kawanan penjahat komplotannya?"
Ia menyangka apa yang diduga benar, maka buru buru serunya.
"Adik Yan masih kecil dan tak tahu diri, seandainya dia telah melakukan perbuatan salah sudah sepantasnya jikaaku yang akan menegurnya. Tapi… apakah Ciok susiok bersedia menerangkan lebih jelas lagi…?"
Belum habis dia berkata, Ciok Thiang-hing sudah semakin naik darah, serunya sambil tertawa dingin.
"Beng tayhiap, aku mana berani menegurmu? Apalagi berbicara tentang perbuatan yang telah dilakukan adik kesayanganmu itu, meski kau ingin mencampuri, belum tentu kau sanggup memikul beban serta tanggung jawabnya!"
Makin berbicara Ciok Thiang-hing semakin naik pitam, sedangkan Beng Hoa yang mendengarkan pun makin lama semakin terperanjat, dengan suara gemetar dia lantas bertanya.
"Sebenarnya kesalahan apakah yang telah dilakukan adik Yan? Ciok susiok, kau suruh aku bertanya kepadanya, apakah ketika peristiwa itu terjadi dia pun hadir di arena? Apakah musuhmu itu kenal dengan dirinya…?"
Ting Tiau-bing yang berada di sisinya buru-buru menghibur pula.
"Suheng, jangan marah dulu, ceritakanlah kejadian yang sebenarnya kepada Beng Hoa Sekalipun Nyo Yan telah melakukan kesalahan, toh Beng Hoa masih orang kita sendiri, apalagi dia toh sudah berkata pula bahwa dia tak akan tidak mempe-dulikan persoalan ini."
Seperti gunung berapi yang meletus, dengan sepasang mata yang memancarkan sinar berapi-api Ciok Thiang-hing segera berkata.
"Beng Hoa, kau ingin tahu siapakah musuh besarku itu. Baik, akan kukatakan kepadamu, orang yang melukai diriku sampai begini adalah adik kesayanganmu itu, Nyo Yan!"
"Nyo Yan? Dia., dia mempunyai kepandaian sehebat ini untuk melukaimu?"
Bcng Hoa amat terperanjat Ciok Thiang-hing tertawa dingin.
"Hechh… heeehb… heeeehh… aku harus mengucapkan selamat kepadamu Beng tayhiap, karena kaumempunyai seorang adik yang berilmu sangat hebat, tentunya kau merasa gembira bukan?"
Terkejut dan mendongkol Beng Hoa menghadapi keadaan tersebut, katanya kemudian.
"Susiok, harap kau jangan berkata begitu, jelek-jelek begini aku masih terhitung seorang murid tercatat Thian-san-pay, andaikata Nyo Yan benar-benar telah melakukan perbuatan yang khianat susiok, serahkan saja persoalan ini di tanganku, aku pasti akan mencarinya dan menjatuhkan hukuman sesuai dengan peraturan perguruan."
Setelah ada janji tersebut, hawa amarah yang membara dalam dada Ciok Thiang-hing baru agak mereda dia pun segera mengubah panggilannya.
"Baiklah Beng Hoa aku percaya ucapanmu itu, kuserahkan masalah Nyo Yan ini kepadamu."
Maksudnya yang sebenarnya adalah dia serahkan tugas menangkap kembali Nyo Yan kepada Beng Hoa Tapi berhubung sesudah ter-luka parah dia harus marah besar, maka setelah mengucapkan sekian banyak perkataan, ucapan tersebut jadinya malah tidak lengkap.
Kam Bu-wi juga teringat akan hubungan antara Beng Goan-cau, Miau Tiang-hong serta pihak Thian-san-pay.
Apalagi Nyo Yan bagaimanapun masih terhitung murid penghabisan yang paling disayangi gurunya, maka sekalipun dia membenci Nyo Yan, namun tak ingin berbuat kelewat batas.
Itulah sebabnya dia pun turut berkata.
"Benar. Beng Hoa, kau adalah murid tercatat partai kami, kau pun berhak untuk menghukum murid perguruan yang bersalah seperti juga para tianglo dan ciang-bunjin. Kami tahu kalau tak punya kemampuan untuk membekuk Nyo Yan, maka seandainya kau punya kepandaian untuk membekuknya, jatuhilah hukumanyang setimpal. Aku percaya kau tak akan berat sebelah dalam mengambil kepu-tusanl"
Tentu saja ucapan yang terakhir itu sengaja diucapkan untuk suheng-nya Setelah terluka parah, Ciok Thiang-hing cukup memahami keadaan sendiri, dia tahu paling tidak ia mesti beristirahat selama satu tahun lamanya sebelum luka itu bisa disembuhkan kembali, lagi pula sekalipun sudah sembuh, belum tentu ilmu silatnya mampu menandingi Nyo Yan.
Sekarang, ia mengandalkan kemampuan Bcng Hoa untuk membekuk Nyo Yan, bagaimanapun tebalnya mukanya tentu saja dia rikuh untuk menolak usul dari Kam Bu-wi itu, apalagi dengan mengandalkan wewenangnya sebagai tianglo untuk merebut haknya menjatuhi hukuman pada Nyo Yan.
Cuma, setelah mendengar perkataan dari Kam Bu-wi tersebut, selain hatinya masih mendongkol, dia pun merasa malu dan menyesal.
"Karena persoalan apakah binatang kecil itu sampai melakukan perbuatan yang berkhianat? Apakah susiok berdua bisa memberi keterangan kepadaku?"
Tanya Beng Hoa kemudian.
Walaupun dia tak berani tidak mempercayai perkataan Ciok Thiang-hing, tapi timbul juga perasaan curiga dalam hatinya, sebab itu dia merasa perlu mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya Dengan penuh kemarahan, Ciok Thiang-hing segera membeberkan semua peristiwa yang dianggapnya sebagai suatu aib dan penghinaan itu dengan bemapsu.
"Adik kesayanganmu itu menganggap ilmu silatnya paling hebat, perbuatan yang dilakukannya merupakan perbuatan biadabyang benar-benar memalukan sekali, tapi jika kau ingin tahu, baik, akan kubeberkan semuanya. Bukan saja dia telah melukai aku, menotok jalan darah Kam sute, juga berani memperkosa Leng Ping-ji dan memotong lidah putraku! Yang tertimpa bencana yang paling duluan adalah Cing-swan, karena dia yang pertama-tama menyaksikan perbuatan terkutuk binatang cilik itu!"
Baginya peristiwa terpotongnya lidah putra kesayangannya merupakan suatu peristiwa yang paling memedihkan hati, maka setelah mengucapkan kata-kata tersebut tak tahan lagi ia segera roboh tak sadarkan diri.
Beng Hoa tidak jatuh pingsan, tapi dia berdiri kaku seperti patung, paras mukanya berubah menjadi pucat pias tak berdarah, rubuhnya gontai kian kemari seakan-akan setiap saat bakal roboh terjungkal ke atas tanah.
Selama tujuh tahun ini, ia sangat berharap bisa menemukan adiknya tak disangka apa yang diperolehnya hari ini adalah suatu kabar berita yang menyakitkan hati.
Selama tujuh tahun ini, selain mengkhawatirkan adiknya, yang paling dikhawatirkan olehnya adalah Leng Ping-ji.
Musibah yang menimpa Leng Ping-ji di masa lalu kelewat lama maka dari itu ia pun sangat berharap Leng Ping-ji bisa menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya Siapa sangka adik yang paling diperhatikan olehnya telah memperkosa teman yang amat dikhawatirkan olehnya, bukan saja Leng Ping-ji tak berhasil menemukan kebahagiaan hidupnya bahkan kehidupannya justru rusak di tangan adiknya sendiri.
Tentu saja dia tak menyangka cinta Nyo Yan kepada Leng Ping-ji, justru karena dia percaya kalau bisa memberi cintaagar gadis itu hidup bahagia Lagi pula meski Leng Ping-ji merasa sifat kekanak-kanakan Nyo Yan belum hilang, tapi dia pun percaya dengan ketulusan hati Nyo Yan.
Sehingga pandangannya pada apa yang telah dilakukan pemuda itu, sama sekali tidak sejelek apa yang diduga oleh C iok Thiang-hing.
Sayangnya Beng Hoa meskipun masih muda tapi tak memahami perasaan cinta muda-mudi Apalagi dihadapkan pada berita sedih yang datang beruntun, hal ini membuatnya tak dapat merenungkan kembali dengan otak dingin.
Dia tidak sampai pingsan hal ini dikarenakan ia tidak teriuka parah seperti Ciok Thiang-hing, hai ini karena tenaga dalamnya amat sempurna sehingga masih sanggup untuk mempertahankan diri.
Yang satu jatuh pingsan, yang lain berdiri mematung, kontan saja peristiwa ini membuat orang-orang yang lain menjadi amat terperanjat dan panik Lau Kong buru-buru menguruti seluruh peredaran darah di tubuh Ciok Thiang-hing, dia memang pandai ilmu pertabiban, bahkan jauh lebih hebat kepandaiannya dibandingkan Ting Tiau-bing.
Sedangkan Ting Tiau-bing sedang menghibur Beng Hoa dengan suara lembut.
"Hiantit, kau jangan kelewat sedih. Nyo Yan telah melakukan perbuatan tersebut, ibaratnya nasi telah menjadi bubur, apa guna bersedih hati? Toh kesedihan tak akan bermanfaat bagi kejadian itu sendiri. Lebih baik kita bersama-sama memikirkan suatu cara yang baik agar persoalan ini dapat diselesaikan dengan seadil-adilnya."
Beberapa patah kata itu diucapkannya dengan setengah berbisik di sisi telinga Beng Hoa.Sedangkan Lau Kong sambil menguruti peredaran darah di tubuh Ciok Thiang-hing, dia menempelkan pula telinganya di atas dadanya sambil mendengarkan denyutan jantungnya.
Dengan perasaan tak tenteram Kam Bu-wi segera bertanya.
"Bagaimana keadaan suheng-ku?"
"Tenaga dalam yang dimiliki Ciok tayhiap amat sempurna, dia pun sudah makan pil Siau-huan-wan dari Siau-lim-si, sekalipun teriuka lebih parah pun tak akan jadi soal. Barusan dia jatuh pingsan karena hawa amarah menyerang jantung. Tapi tak usah khawatir, sebentar lagi dia akan sadar kembali."
"Siau-huan-wan?"
Seru Kam Bu-wi keheranan.
"Kenapa aku tidak tahu kalau suheng telah makan pil Siau-huan-wan dari Siau-lim-si?"
"Maaf kalau aku harus berbicara blak-blakan, kata Lau Kong kemudian.
"Sesungguhnya suheng-mu telah dilukai oleh suatu ilmu pukulan berhawa panas yang sangat hebat, sekalipun aku tak tahu ilmu pukulan itu berasal dari mana, tapi aku yakin keampuhan ilmu pukulan tersebut sama sekali tidak berada di bawah keampuhan ilmu pukulan Kim-kong-ciang dari Siau-lim-si. Dalam dunia persilatan dewasa ini, aku rasa hanya hongtiang dari kuil Siau-lim-si serta Kang Hay-thian tayhiap saja yang sanggup melancarkan pukulan sedahsyat ini. Itulah sebabnya meski tenaga dalam yang dimiliki suheng-mu amat lihay, tapi bila tiada pil Siau-huan-wan dari Siau-lim-si, mustahil luka tersebut bisa sembuh secepat ini. Buktinya peredaran darahnya sekarang telah lancar kembali, luka dalam yang dideritanya pun sudah tidak membahayakan."
Kam Bu-wi makin tercengang setelah mendengar perkataan itu, diam-diam ia lantas berpikir, ‘Ternyata suheng menyimpan pil Siau-huan-wan pemberian dari hongtiang kuil Siau-lim-si,tapi aneh, mengapa ia tak pernah memberitahukan hal ini kepadaku?"
Betul juga, tidak lama kemudian Ciok Thiang-hing telah sadar dari pingsannya, sedangkan Beng Hoa pun sudah jauh lebih tenang. Terdengar Beng Hoa berkata.
"Sewaktu kita datang tadi, di atas permukaan salju ditemukan bekas noda darah, mungkin darah itu ditinggalkan oleh adikku yang tidak becus itu. Aku rasa, lebih baik sekarang juga aku berangkat untuk me-nangkapnya."
"Beng Hoa,"
Ciok Thiang-hing segera berkata.
"kau adalah pendekar muda yang paling termasyhur dalam dunia persilatan sekarang, kau pun merupakan pendekar sejati dan ksatria yang dikenal setiap umat persilatan, aku percaya kau tak akan berat sebelah mengambil keputusan dalam peristiwa ini, aku pun tidak akan banyak bicara lagi, nah kau boleh pergi!"
Walaupun di mulut dia mengatakan percaya dengan Beng Hoa, tetapi setiap orang dapat menduga, kalau dia khawatir Beng Hoa berat sebelah, itulah sebabnya dia mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak perlu dikatakan.
Beng Hoa segera mengerutkan dahi sesudah mendengar perkataan itu, katanya dengan cepat.
"Soal membersihkan perguruan, boanpwe tak berani memutuskan sendiri, Ting susiok, lebih baik kau ikut bersamaku saja untuk sama-sama menyelesaikan hal ini."
Maksud lain dari perkataan itu tentu saja meminta kepada Ting Tiau-bing agar mengawasi gerak-geriknya sehingga Ciok Thiang-hing pun dapat berlega hati.Untuk sesaat suasana menjadi sedikit canggung.
Buru-buru Kam Bu-wi mendehem seraya berkata.
"Entah kejadian apakah yang telah dialami Nyo Yan, ilmu silat yang dimilikinya sekarang jauh di luar dugaan kita semua. Kita toh orang sendiri semua, mengapa tidak berbicara blak-blakan saja? Sesungguhnya partai kita pun menganggap mungkin hanya Beng Hoa lote seorang yang sanggup untuk membekuk murid murtad tersebut lapi untuk menjaga hal-hal yang tak di-inginkan, memang lebih baik kalau ditambah seorang lagi untuk membantu Beng lote."
"Lau toako,"
Beng Hoa segera berkata.
"harap kau tetap tinggal di sini untuk merawat kedua orang susiok. Paman Siau, mari kau pun ikut bersamaku!"
Lau Kong pandai ilmu perta-biban, sedangkan Siau Ciau-nian adalah famili dari Nyo Yan, maka mengatur rombongan dalam bentuk demikian boleh dibilang amat sesuai, maka keputusan pun segera diambil Begitulah, Beng Hoa segera melompat naik ke atas kudanya diiringi Ting Tiau-bing dan Siau Ciau-nian, dengan perasaan yang berat dia menelusuri jalan semula untuk menemukan jejak Nyo Yan.
Darah yang mengalir dari tubuh Nyo Yan telah berhenti, pemuda yang sudah lelah tersebut saat ini sedang tertidur lelap, dalam mimpinya dia seperti bertemu kembali dengan Leng Ping-ji.
Ia bermimpi Leng Ping-ji sedang dikejar oleh Toan Kiam-ceng.
Dan dia melepaskan senjata rahasia Thian-san-sin-bong yang tepat menghajar tubuh Toan Kiam ceng, kemudian seluruh bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas.
"Aku menyuruh kau jangan datang mencariku, mengapa kau tidak menuruti perkataanku?"
Seru Leng Ping-ji sambil berpaling, tapi tiba-tiba gadis itu lenyap dan tahu-tahu telah berubah menjadi si perempuan siluman Liong Leng-cu.
Lamat-lamat Nyo Yan masih ingat kalau Liong Leng-cu pun pernah mengatakan kata yang sama, maka sambil menghela napas katanya.
"Mengapa kau seperti juga enci Leng, kalian selalu berusaha untuk menjauhi diriku?"
Paras muka Liong Leng-cu makin lama berubah semakin dingin, tapi makin lama juga semakin berubah mirip Leng Ping-ji, katanya.
"Sebenarnya kau hendak mencari siapa? Mencari aku atau enci Leng?"
Entah bagaimana, Liong Leng-cu dan Leng Ping-ji seolah-olah bergabung menjadi satu, Nyo Yan merasa kebingungan, dia pun tak tahu harus mencari siapa?
Mendadak Liong Leng-cu berubah menjadi Leng Ping-ji seraya berkata.
"Terus terang kukatakan kepadamu, orang yang paling menyayangimu adalah ayahmu sendiri, yang kumaksudkan adalah Beng Goan-cau, Beng tayhiap! Kau harus pergi mencarinya!"
"Tidak,"
Teriak Nyo Yan.
"dia bukan ayahku, aku tak akan pergi mencarinya!"
"Kalau kau tidak pergi mencarinya, orang-orang Thian-san-pay akan datang mencarimu!"
Kata Leng Ping-ji dingin.
"Aku tidak takut, biarkan saja mereka datang!"
Teriak Nyo Yan.
Impian kadang kala memang sangat aneh, di kala dia sedang mengigau itulah orang yang sedang mencarinya telah datang.Dalam alam impiannya, tiba-tiba bayangan tubuh Leng Ping-ji dan Liong Leng-cu lenyap tak berbekas.
Kemudian di hadapan matanya muncul Ciok Thiang-hing dan Kam Bu-wi.
"Dia berada di sini, cepat tangkap binatang cilik ini!"
Ciok Thiang-hing berteriak keras. Mendadak Nyo Yan merasa terkejut dan segera tersadar kembali dari impiannya.
"Dia berada di sini!"
Baru saja dia mendusin, mendadak telinganya mendengar ada orang berteriak keras.
Mimpikah?
Atau kenyataan?
Hampir saja Nyo Yan mengira dirinya sedang bermimpi.
Tapi suara tersebut amat dikenal olehnya, orang-orang itu pun berlari menghampirinya, yang berada paling depan tak lain adalah Beng Hoa.
Dalam waktu singkat Nyo Yan menjadi tertegun, sambil menggigit bibir sendiri pikirnya.
"Sedang mimpikah aku? Mengapa dia pun ikut datang?"
Seandainya seperti dalam impian, yang datang adalah Ciok Thiang-hing dan Kam Bu-wi, hal tersebut masih mendingan, tapi kini yang datang adalah kakaknya.
Sedang dua orang yang lain adalah Ting Tiau-bing serta Siau Ciau-nian.
Setelah berpisah selama tujuh tahun, hampir saja Beng Hoa tak dapat mengenali Nyo Yan lagi, tapi paras muka Beng Hoa tidak mengalami perubahan apa-apa, maka sekilas pandang saja Nyo Yan telah mengenalinya.
Ia menggigit jari tangan sendiri, terasa amat sakit, Nyo Yan segera tahu kalau dia bukan sedang bermimpi.Beng Hoa dan Ting Tiau-bing telah berada di hadapannya, Beng Hoa telah berhenti dan menatapnya dengan penuh kegusaran.
Sorot mata itu kelihatan amat aneh, seakan-akan pelbagai perasaan hati yang bercampur aduk menjadi satu seperti api yang membara, seperti juga salju yang membeku.
Nyo Yan sendiri pun sedang keheranan, mengapa ia bisa mempunyai perasaan yang begitu aneh?
Nyo Yan yang tidak takut langit tidak takut bumi, sekarang merasa bergidik juga setelah diawasi seperti itu.
Beng Hoa datang bersama Ting Tiau-bing, tak bisa disangkal lagi kedatangan mereka pasti bermaksud untuk membekuknya.
Nyo Yan tahu, ilmu silat yang .
dimiliki Beng Hoa berlipat ganda lebih dahsyat daripada keempat murid utama dari Thian-san-pay.
Terhadap jago-jago dari Thian-san-pay, ia boleh tak usah takut, tapi ia tahu, kendatipun belum terluka, belum tentu ia sanggup untuk mengalahkan Beng Hoa….
Cuma, yang benar-benar ditakuti olehnya bukanlah ilmu silat yang dimiliki Beng Hoa, dalam hati kecilnya dia benar-benar merasa enggan untuk berjumpa dengan Beng Goan-cau serta Beng Hoa.
Terutama sekali berjumpa dengan Beng Hoa, karena bagai-manapun juga Beng Hoa adalah saudara tirinya, saudara seibu lain ayah, dia boleh saja menuruti perkataan bibinya dengan memusuhi Beng Goan-cau, tapi bagaimana terhadap kakak tirinya ini?
Apakah dia pun harus menganggapnya sebagai musuh?
Ataukah dia harus menganggapnya sebagai kakak?Dia bisa saja menganggap Beng Goan-cau sebagai seorang musuh yang membuat malu keluarganya, tapi bagaimana dengan Beng Hoa?
Toh persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan dia?
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.
Itulah sebabnya semenjak dia mengetahui rahasia asal-usulnya, dia selalu berharap agar jangan berjumpa dengan kakaknya ini sehingga tak sampai mengorek kembali luka dalam hatinya.
Sementara itu, Beng Hoa sendiri pun seperti juga dia, ia berharap apa yang terjadi hanyalah suatu impian, dia lebih suka tak berjumpa lagi dengan adiknya ini.
Walaupun dia pernah mencari Nyo Yan selama tiga tahun, dan empat tahun berikutnya setiap saat dia selalu merindukan dirinya.
Darah telah berhenti mengalir dari tubuh Nyo Yan, tapi seluruh pakaiannya telah ternoda gumpalan darah.
Menyaksikan keadaan Nyo Yan tersebut, Beng Hoa mendongkol bercampur sedih.
"Mengapa adik Yan bisa melakukan perbuatan terkutuk yang begitu memalukan? Sekarang, apa yang harus kulakukan?"
Sekalipun atas nama tianglo dari Thian-san-pay datang untuk melakukan "pembersihan terhadap perguruan"
Dan dia seharusnya menjumpai Nyo Yan, memunahkan ilmu silatnya dan membawanya pulang ke gunung Thian-san, tapi ia mana tega melakukan perbuatan semacam itu?Dalam waktu singkat, dua bersaudara itu saling berpandangan sambil masing-masing menggigit bibir, kedua belah pihak tak tahu apa yang mesti dikatakan.
Akhirnya Ting Tiau-bing berkata lebih dulu.
"Nyo Yan, apakah kau masih mengenali kakakmu? Dengan susah payah dia pernah mencarimu, berharap kau jadi orang baik, tak tahunya kau telah menjadi seorang murid durhaka, seorang bajingan cabul yang tak tahu malu, apakah kau tidak malu pada kakakmu sendiri? Ayo cepat berlutut di depan kakakmu minta ampun!" 0odwo0 Maksud Ting Tiau-bing, dia ingin menunjukkan jalan bagi Nyo Yan untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, siapa tahu ucapan tersebut justru membangkitkan kemarahan Nyo Yan. Sambil membusungkan dada, pemuda itu segera berseru dengan suara dingin.
"Aku tak peduli dosa apa pun yang hendak kalian limpahkan kepadaku, pokoknya sekarang aku sudah bukan anggota perguruan Thian-san-pay lagi, kalian orang-orang Thian-san-pay juga tak usah mencampuri urusan pribadiku!"
Tak terlukiskan amarah Ting Tiau-bing setelah dengar perkataan itu, segera hardiknya.
"Nyo Yan, kau berani mengkhianati perguruan? Masih mendingan kalau kau tak mau mengakui diriku sebagai suheng. tapi apakah kau tak mengakui juga kakak tirimu ini?"
Nyo Yan berusaha keras untuk mengendalikan emosi dalam hatinya, dengan wajah hambar dia berkata.
"Kakak? Siapkah kakakku?""Nyo Yan!"
Bentak Beng Hoa dengan suara gemetar.
"Kau… kau kau… aku ingin bertanya kepadamu."
Dalam sedih dan gusarnya, hampir saja dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kau ingin menanyakan apa? Aku justru ingin bertanya kepadamu!"
Tukas Nyo Yan cepat.
"Baik, apa yang ingin kau tanyakan, katakanlah lebih dulu!"
"Beng Hoa, ada urusan apa kau datang kemari?"
"Perbuatan yang kau lakukan sendiri, tentunya kau sendiri yang lebih jelas! Kini aku hanya ingin bertanya kepadamu, kau mengaku salah tidak?"
Seru Beng Hoa gusar.
"Mengaku apa?"
Apakah Ciok susiok terluka di tanganmu?"
Bentak Beng Hoa.
"Benar, dia hendak membunuhku, terpaksa kulukai dia, itu pun aku sudah berbelas kasihan kepadanya."
Beng Hoa masih berusaha untuk menahan diri, kembali ia bertanya.
"Apakah kau memotong lidah Ciok Cing-swan?"
"Benar, Siapa suruh dia mcmba-cot yang bukan-bukan dan berani berbicara kotor, mendingan kalau cuma memaki aku, dia berani pula mencaci maki enci Lengj"
"Hm, mustahil tanpa sebab Ciok Cing-swan mencaci maki dirimu, kau pasti melakukan perbuatan yang amat memalukan! Terus terang katakan kepadaku, apa yang telah kau lakukan terhadap Leng Peng-ji, apa yang kau lakukan?"
Dia selalu menghormati Leng Ping-ji, maka dia tak ingin mengucapkan perbuatan memalukan yang telah dilakukan NyoYan pada Leng Ping-ji seperti apa yang dikatakan Ciok Thiang-hing Dengan lantang Nyo Yan segera berseru.
"Aku dan enci Leng tak pernah melakukan perbuatan yang malu diketahui orang, perbuatan kami selalu terbuka dan terang-terangan, aku menyukainya, dia pun menyukai aku, apa salahnya kalau aku hendak memperistri dirinya? Kalau kalian tak suka, ini urusan kalian sendiri!"
Ucapan yang blak-blakan ini dalam anggapannya amat beralasan dan benar, siapa tahu justru begitu ucapan tersebut diutarakan, hal itu telah dianggap oleh Beng Hoa sebagai suatu bukti yang makin kuat 0odwo0 Pepatah kuno mengatakan, siapa yang turun tangan duluan, dialah yang lebih unggul.
Sebelian berjumpa dengan Nyo Yan.
Beng Hoa boleh dibilang sudah "termakan"
Oleh perkataan Ciok Thiang-hing, maka setelah mendapatkan keterangan dari Nyo Yan, dia lantas menganggap hal itu sebagai bukti yang nyata.
Dia tak percaya kalau Leng Ping-ji benar-benar bersedia menjadi istri Nyo Yan maka dianggapnya Nyo Yan pasti telah "memperkosanya"
Lebih dulu kemudian baru memaksa Leng Ping-ji untuk menjadi istrinya. Dalam waktu singkat hatinya menjadi dingin dan amat kecewa.
"Sreeet!"
Ia segera meloloskan pedangnya sambil berpikir.
"Masih muda saja perbuatan adik Yan sudah macam begini, apalagi kalau usianya bertambah, entah keonaran apa lagi yang akan dilakukan olehnya? Ya, sudahlah, terpaksa akuharus membunuhnya daripada harus menanggung aib ini buat keluarga?"
Di antara pedang yang berkilauan, tampak Nyo Yan masih tetap tenang-tenang saja, bahkan dengan senyum dingin dia awasi wajah Beng Hoa dengan sinis.
Hati Beng Hoa semakin pedih, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi ujung pedangnya.
Buru-buru Ting Tiau-bing berseru.
"Beng hiantit, punahkan saja ilmu silatnya, lalu serahkan kepadaku! Nyo Yan, bila kau menginginkan nyawamu, cepat berlutut dan mohon pengampunan dari kakakmu!"
Nyo Yan tidak minta ampun, sebaliknya malah tertawa dingin.
"Beng Hoa, rupanya kau datang untuk membunuhku, jadi kau datang bukan untuk menjumpai diriku sebagai saudaramu. Terima kasih atas keterusteranganmu, sekarang aku benar-benar sudah mengerti!"
"Adik Yan,"
Kata Beng Hoa dengan air mata bercucuran.
"jangan kau salahkan aku tak menganggapmu sebagai saudara, justru karena kau adalah adikku maka aku lebih suka membiarkan kau mati lebih awal. Adik Yan, apakah kau mem-punyai persoalan yang belum terselesaikan? Perlukah kubantu dirimu untuk menyelesaikannya?" ‘Terima kasih,"
Tukas Nyo Yan sambil tertawa dingin.
"kau she Beng dan aku she Nyo, kau adalah pendekar besar yang termasyhur dalam dunia persilatan, sedang aku hanya ‘binatang kecil"
Yang banyak melakukan kejahatan, bagaimana mungkin aku bisa menjadi adikmu?
Cuma, kalau kau hendak membunuhku, aku rasa tak akan segampang itu, apalagi kalau suruh aku menggorok leher sendiri, jangan harap aku melakukannya!
""Sreet!"
Ia segera mencabut pula pedangnya.
Kesedihan dan kegusaran Beng Hoa benar-benar telah mencapai puncaknya, tapi teringat akan pesan ayahnya yang memintanya membawa kembali ke Jik-tat-bok bila adiknya berhasil ditemukan, ia menjadi tak tega untuk berbuat keji, apalagi ayahnya belum pernah berjumpa dengan adiknya ini.
Berpikir demikian, pedang yang baru saja ditusukkan ke depan, segera ditariknya kembali.
Nyo Yan masih tetap memandang ujung pedang kakaknya dengan pandangan dingin.
Tindakan Beng Hoa yang berniat membunuh adiknya ini kontan saja membuat Ting Tiau-bing menjadi terkesiap, buru-buru dia turun tangan sembari berseru.
"Bagaimanapun juga, tidak baik kalau sesama saudara sendiri saling membunuh, Beng hiantit, lebih baik aku saja yang memunah kau ilmu silatnya!"
Waktu itu Nyo Yan sedang mendongkol, maka dia pun tak ambil peduli apakah maksud Ting Tiau-bing baik atau buruk, dia segera saja mengayunkan pedangnya untuk melancarkan serangan balasan.
Begitu kekesalannya dilampiaskan keluar, walaupun mulut lukanya baru saja merapat, namun kekuatan yang disertakan benar-benar dahsyat sekali.
"Traang!"
Ting Tiau-bing Beng Hoa sangat terkejut setelah menyaksikan kejadian itu, buru-buru teriaknya.
"Ting susiok, kau tak usah berbelas kasihan lagi, bila tak dapat memunahkan ilmu silatnya, renggut saja selembar jiwanya!"
Di dalam melancarkan serangan tadi, Ting Tiau-bing memang tidak menyertakan tenaga yang secukupnya karena dia melihat Nyo Yan sudah terluka.
Tapi setelah terjadinya bentrokan, dia baru tahu, sekalipun seluruh kekuatan yang dimilikinya digunakan semua juga belum tentu bisa mengalahkan Nyo Yan.
Maka dari itu sambil mengcrtak gigi dia melancarkan serangannya lebih jauh, pikirnya.
"Ya, sudahlah, lebih baik biarkan saja lukanya ditambah bahkan menjadi cacat sekalipun, daripada membiarkan dia mati terbunuh di tangan kakaknya."
Ting Tiau-bing adalah murid angkatan kedua dari Thian-san-pay yang paling lihay dalam permainan ilmu pedang, begitu ilmu pedang Tay-si-mi -kiam-hoat digunakan maka tampaklah hawa pedang memancar ke mana-mana, empat arah delapan penjuru hampir semuanya dipenuhi dengan bayangan tubuhnya….
Secara beruntun Nyo Yan telah mengganti gerakan pedangnya dengan beberapa macam ilmu pedang, akan tetapi ia belum berhasil juga meloloskan diri dari kurungan pedang lawan, padahal mulut lukanya mulai terasa sakit lagi.
Dalam bati kecilnya Nyo Yan lalu berpikir.
"Bila aku tak dapat melangsungkan pertarungan sengit melawan Beng Hoa, sekalipun mati juga tak rela!"
Maka sambil menghimpun tenaga dalamnya dia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Sekalipun Ting Tiau-bing memiliki ilmu pedang yang sangat lihay, namun tenaga dalamnya masih belum sanggup menandingi tenaga dalam Nyo Yan yang telah terluka.
Segulung tenaga pukulan yang ma-hadahsyat dengan cepatmemaksanya mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula, bentaknya.
"Bocah muda, apakah kau ingin beradu jiwa?"
"Susiok, biar aku saja yang turun tangan!"
Teriak Beng Hoa dari sisi arena Tapi Ting Tiau-bing sudah mundur lalu maju kembali, pertarungan sengit sekali lagi berkobar.
Kali ini dia telah mengubah taktik pertarungannya, ilmu pedang yang dipergunakan adalah ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat yang mengutamakan kecepatan.
Serangkaian serangan kilat yang dilancarkan secara beruntun membuat Nyo Yan tak sanggup melepaskan pukulan lagi.
Nyo Yan khawatir dia tak sanggup bertahan lebih lama lagi, maka sambil bertolak pinggang dengan tangan sebelah yang memainkan pedang ia menyerang dengan jurus-jurus pedang yang lamban.
Kendatipun demikian, bagaimanapun cepatnya jurus pedang yang dilancarkan Ting Tiau-bing, ternyata nada satu pun yang sanggup menerobos masuk ke dalam lingkaran cahaya pedangnya.
Rupanya dia telah mempergunakan ilmu pedang Liong-heng-cap-pwee-kiam (Ilmu Pedang Dela-panbelas Jurus Bentuk Naga) ajaran "yaya"nya untuk menghadapi lawan.
Ilmu pedang ini merupakan ilmu pedang yang ditunjang oleh tenaga dalam yang sempurna, walaupun perubahan jurusnya masih jauh dibandingkan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, namun kekuatannya justru lebih dahsyat.
Dengan demikian maka jadilah suatu pertarungan yang masing-masing pihak mengandalkan kelebihan yang dimiliki.Ilmu pedang Ting Tiau-bing yang lihay tak sanggup membendung kedahsyatan tenaga serangan Nyo Yan yang kuat Beng Hoa yang menyaksikan jalannya pertarungan itu merasa terkejut bercampur menyesal, pikirnya.
"Sebenarnya adik Yan adalah seorang manusia yang berbakat untuk belajar silat, sewaktu aku berusia sebaya dengannya dulu, kepandaianku belum berhasil mencapai tingkatan seperti itu, sayang dia justru tidak mau belajar secara baik-baik!"
Belum habis ingatan tersebut melintas, cahaya pedang saling melekat satu dengan lainnya, ujung pedang Nyo Yan seakan-akan memiliki tenaga hisap yang amat kuat; hal itu membuat Ting Tiau-bing tak mampu melepaskan senjatanya dari hisapan lawan.
Tak ampun lagi tubuhnya segera menggeser mengikuti gerakan tubuh lawan, badannya pun sempoyongan bagaikan cahaya lilin yang terhembus angin.
Beng Hoa terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu, segera bentaknya.
"Binatang cilik… di hadapanku kau berani berbuat sewenang-wenang, bila Ting susiok sampai cedera seujung rambut pun, aku akan membinasakan dirimu."
Sembari berseru dia segera meloloskan pedang dari sarung dan pelan-pelan menutul ke tengah arena pertarungan.
Dalam waktu singkat, kedua belah pihak yang sedang bertarung merasakan getaran yang keras.
Ting Tiau-bing merasa tekanan pada tubuhnya makin mengendor, tanpa terasa dia segera mundur ke belakang.
Ombak belakang sungai Tiang-kang, mendorong ombak di depannya, orang lama diganti oleh orang haru, tampaknya perkataan ini memang tepat taktil.
"Hmm silat Beng Hoa jelas berada di atasku, tapi aku tak menyangka Nyo Yan yang berada dalam keadaan terluka pun ternyata memiliki kepandaian yang sebebat ini sehingga aku pun tak sanggup mengalahkan dirinya.*1 Berbeda dengan apa yang dirasakan Nyo Yan waktu itu, mendadak saja dia merasa ujung pedangnya seperti terbelenggu oleh suatu kekuatan yang tak berwujud, bagai-manapun ia berusaha untuk melepaskan diri, ternyata usahanya itu tak berhasil.
Kiranya bukan cuma ilmu pedangnya saja yang lihay, tenaga dalam Beng Hoa pun dapat digunakan sekehendak hatinya sendiri.
Rupanya di dalam melancarkan tusukan tadi, ia telah menyertakan dua macam kekuatan yang berbeda, dalam saru /urus selain menolong kawan, dia pun menyerang lawan, sehingga hal ini membuat kedua orang yang sedang bertarung itu terpisah.
Beng Hoa segera membentak keras.
"Kau berani beradu kepandaian denganku? Lepaskan senjatamu!"
Di tengah bentakan keras, sekali lagi dia menggunakan jurus Sam-coan-hoat-lun (Tiga Kali Memutar Balik Hukum) yang menggunakan cara yang berbeda untuk menghisap ujung pedang Nyo Yan sehingga menempel dengan senjatanya.Ting Ttau-bing tak mengetahui maksud hati Beng Hoa, dia mengira pemuda itu hendak membunuh Nyo Yan, buru-buru teriaknya lagi.
"Beng hiantit, ampuni selembar jiwanya, walaupun perbuatan Nyo Yan jahat, tapi mengingat usianya masih muda dan tak tahu urusan..,."
Belum habis dia berseru, tiba-tiba terdengar suara benturan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.
"Traaang…!"
Setelah itu terdengar Nyo Yan mengejek sambil tertawa dingin.
"Belum tentu!"
Dua bilah pedang yang lengket menjadi satu mendadak berpisah kembali.
Meskipun tenaga dalam Nyo Yan masih kalah dibandingkan tenaga dalam kakaknya, namun dalam ilmu Liong-heng-cap-pwe-kiam justru terdapat sebuah jurus serangan yang khusus dipakai untuk melepaskan diri dari lengketan senjata lawan, bahkan mengikuti gerakan tersebut pedangnya disodokkan ke depan, setelah itu sambil membalikkan badan dia melompat keluar dari lingkaran.
Kata "belum tentu"
Tersebut, jelas ditujukan pada bentakan Beng Hoa yang mengutarakan kata "lepas pedang"
Tadi. Dengan suara dingin Beng Hoa segera berkata.
"Ting suiiok, kau jangan mohon ampun baginya, dia mengira ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay maka dia tidak menganggap sebelah mata kepadaku, apabila ia tidak diberi sedikit pelajaran, tentunya ia tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
Berbicara sampai di situ, cahaya pedang segera berkilauan dan sekali lagi dia mengurung seluruh badan Nyo Yan.
"Jangan kau anggap setelah berhasil meloloskan diri dari setanganku tadi maka kau bisa lolos dari tanganku,"
Bentaknya keras.
"tak nanti hal itu bisa kau lakukan dengan gampang! Kini aku memberi kesempatan kepadamu untuk mempertimbangkan, bila kau tak mau segera membuang pedang dan mengaku salah, ilmu silatmu akan kupunahkan."
Kali ini Beng Hoa hanya mengatakan hendak memunahkan ilmu silatnya saja, hal ini berarti dia sudah mundur selangkah dibandingkan dengan tuntutannya yang pertama tadi.
Namun dalam pendengaran Nyo Yan, ucapan tersebut amat menyakitkan harinya, dengan amarah yang semakin berkobar pikirnya.
"Rupanya macam inilah hubungan saudara yang kau maksudkan. Bila ilmu silatku sampai punah, niscaya aku akan kalian ayah dan anak permainkan. Hmm… hmm… kau tak lebih cuma putranya Beng Goan ceau, kau toh bukan kakakku!"
Karena berpikir demikian, sambil tertawa dingin Nyo Yan segera berteriak.
"Orang she Beng, mau mencaci silakan memaki, mau bertarung silakan turun tangan. Kau anggap aku benar-benar takut kepadamu? Betul aku tahu ilmu silatku tak bisa mengalahkan kau, tapi sekalipun tak bisa mengalahkan dirimu juga aku tetap akan bertarung, bila kau memang punya kepandaian, bunuhlah aku atau punahkanlah ilmu silatku. Hmm, mungkin tak akan segampang ini!"
Di tengah suara tertawa dingin yang menggidikkan hari, dia segera mengayunkan pedangnya sambil melancarkan sebuah serangan Pucat pias wajah Beng Hoa karena marah, bentaknya.
"Bukan saja kau telah berani mengkhianati perguruan, dengan perbuatanmu yang takabur ini saja sudah cukup beralasan bagiku untuk membersihkan perguruan dari murid durhaka.Baik kalau kau tak mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati, aku akan memperlihatkan kepadamu, mampukah aku memunahkan ilmu silatmu!"
"Bagus sekali,"
Nyo Yan tertawa dingin.
"ingin kusaksikan kepandaian apakah yang kau miliki untuk memunahkan ilmu silatku!"
Mendadak dengan sebuah jurus serangan yang amat dahsyat dia melepaskan sebuah sapuan ke depan, angin serangan yang terbawa dalam sapuan itu sedemikian dah-syatnya sehingga membuat Ting Tiau-bing yang berada di sisi arena hampir saja tak sanggup berdiri tegak.
Ketika sepasang pedang saling membentur segera terdengarlah suara benturan nyaring yang disertai percikan bunga api, Ting Tiau-bing yang berada di sisi arena segera merasakan telinganya sakit sekali.
Buru-buru dia melompat agak jauh sambil sekali lagi berteriak keras.
"Beng hiantit, ampunilah selembar jiwanya, kejahatan adikmu belum seberapa dalam, dia masih bisa disembuhkan dari penyakitnya, dia… dia…."
Rupanya sewaktu bertarung melawan dirinya tadi, boleh dibilang semua jurus pedangnya telah kena dipatahkan oleh Nyo Yan, seandainya waktu itu Nyo Yan ingin membunuhnya, hal ini bisa dilakukan dengan gampang sekali.
Dia cukup memahami keadaan yang dihadapinya waktu itu, maka dari itu meski Nyo Yan telah mengalahkan dirinya secara mengenaskan, padahal yang benar anak muda itu telah mengampuni selembar jiwanya.
Siapa tahu belum habis Ting Tiau-bing berseru, tampak Nyo Yan telah meloloskan diri dari kuningan pedang Beng Hoa.Kemudian tampak cahaya pedang Nyo Yan mengembang luas, sementara cahaya pedang Beng Hoa menyebar ke mana-mana, bahkan kena didesak mundur sejauh tiga langkah lebih.
Ting Tiau-bing menjadi terperanjat sekali setelah menyaksikan ke-jadiaan itu, segera pikirnya.
"Masa Beng Hoa tidak sanggup mengalahkan adiknya sendiri?"
Karena berpendapat demikian, maka perkataan untuk memintakan ampun bagi Nyo Yan pun segera diurungkan.
Ternyata Beng Hoa ingin mencoba kekuatan tenaga dalam yang dimiliki adiknya, maka dia sambut serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Pada dasarnya tenaga dalam yang dia miliki masih jauh di atas kekuatan yang dimiliki Nyo Yan, hanya saja karena dia belum mengetahui sampai di manakah taraf kekuatan yang dimiliki Nyo Yan, maka dalam tangkisannya tadi ia tak berani menggunakan segenap kekuatannya.
Di saat tangkisan tersebut terjadi, tenaga dalam yang digunakan hanya tiga bagian, padahal Nyo Yan telah menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya ditambah pula memakai jurus serangan yang terdahsyat dari ilmu pedang Liong-heng-cap-pwee-kiam.
Sekalipun Ting Tiau-bing termasuk seorang ahli persilatan, akan tetapi oleh karena kejadian itu terjadi sangat mendadak dalam suasana yang kalut, maka ia tak sempat melihat.
Tampaknya Nyo Yan tidak memberi kesempatan kepada kakaknya untuk menguasai keadaan, tanpa berubah jurus serangan dan tanpa mengurangi tenaga serangannya, ujung pedang itu langsung menusuk ke tulang pi-pa-kut di bahu Beng Hoa.Andaikata tulang pi-pa-kut kena ditusuk hingga berlubang, niscaya ilmu silat yang dimiliki Beng Hon akan musnah.
Kali ini giliran Ting Tiau-bing yang merasa gelisah untuk keselamatan Beng Hoa, segera teriaknya keras-keras.
"Nyo Yan, kau berani, kau berani…."
Kata "membunuh kakak"
Belum sempat diucapkan, tampak tubuh Nyo Yan bergerak mundur, ujung pedang yang siap menusuk bahu Beng Hoa itu riba-riba ditarik kembali.. Ting Tiau-bing menghembuskan nafas lega, pikirnya.
"Masih untung meski bocah ini bertindak secara membabi buta, namun masih bersedia menuruti nasihatku."
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, terdengar Nyo Yan mendengus dingin seraya berseru.
"Kau tak usah berpura-pura berbelas kasihan, aku lebih suka mampus di ujung pedangmu daripada harus bertekuk lutut dan takluk padamu!"
Ucapan itu kontan saja membuat Ting Tiau-bing semakin kebingungan.
"Kukira Nyo Yan yang telah berbelas kasihan, rupanya sebaliknya Beng Hoa-lah yang mengampuni dirinya,"
Demikian dia berpikir.
Ternyata di dalam bentrokan pedang tadi, Beng Hoa telah mencoba sampai di manakah taraf tenaga dalam yang dimiliki adiknya, maka setelah ditambah dengan tiga bagian hawa murninya, maka kekuatannya dengan kekuatan yang dimiliki sang adik menjadi berimbang.
Sewaktu ujung pedang Nyo Yan hampir mengenai bahu Beng Hoa, ternyata senjata tersebut terhalang tiga inci dari sasaran dan tak sanggup maju lagi, dalam keadaan demikian,buru-buru dia menarik kembali serangannya sambil berganti jurus.
Beng Hoa segera membentak keras.
"Sekarang kau tak berani memandang enteng orang lain bukan? Berapa banyak ilmu silat yang kau miliki? Ayolah keluarkan semua, aku akan menyuruh kau mampus dengan hati yang puas! H mm, kalau Thian membuat bencana, manusia masih bisa hidup, kalau diri sendiri yang membuat bencana, tak nanti bisa hidup. Kalau toh kau berniat untuk mampus, aku akan memenuhi keinginanmu itu?"
Ting Tiau-bing adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman, setelah mengetahui kalau Beng Hoa hanya mengalah saja tadi, kemudian meresapi pula nada pembicaraannya sekarang, dengan cepat dia dapat memahami maksud hati Beng Hoa sesungguhnya, dia tak bermaksud membunuh adiknya, sebaliknya dia justru ingin tahu ilmu silat apakah yang telah dipelajari adiknya selama tujuh tahun belakangan ini.
Sampai di manakah taraf ilmu silat yang berhasil dipelajari Nyo Yan.
Hal itu pun merupakan salah satu hal yang ingin sekali diketahui Ting Tiau-bing.
Dalam anggapannya paling banter Beng Hoa hanya berniat untuk memunahkan ilmu silat adiknya maka dia tidak mencoba untuk menghalangi lagi.
Berbeda dengan Nyo Yan, dia menganggap kakaknya berniat membunuhnya, waktu itu soal mati dan hidupnya sudah tak dipikirkan lagi.
Mendadak dia menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan gumpalan darah segar, cara ini merupakan semacam cara pengerahan tenaga dalam dari aliran antara sesat dan lurus untuk menghimpun tenaga dan melipat gandakan kekuatan yang dimilikinya.Walaupun ilmu pedang Liong-heng-cap-pwe-kiam hanya terdiri dari delapanbelas jurus, namun kekuatan dari setiap jurus serangan itu luar biasa besarnya.
Tampak dia membacok, menusuk dan menyambar, hampir setiap jurus serangan yang dilancarkan selalu disertai dengan desingan angin dan guntur yang memekakkan telinga.
Sementara itu Ting Tiau-bing sudah mengundurkan diri sejauh lima-puluh langkah lebih, meski demikian, dia masih merasakan matanya silau dan tubuhnya sakit tersambar hawa pedang.
Terkejut dan sayang Ting Tiau-bing menyaksikan kesemuanya itu, dia segera berpikir.
"Nyo Yan betul-betul seorang pemuda yang berbakat untuk belajar silat, asalkan dia mau belajar baik, tidak sulit untuk menjadi jagoan penerus perguruan. Aai, kini dia sudah memutuskan hubungan dengan perguruan, sekalipun Ciok suheng bersedia mengampuni jiwanya, belum tentu bersedia menerimanya lagi dalam perguruan! Kalau hanya kehilangan penerus dalam partai masih mendingan, jika ilmu silatnya harus dipunahkan, rasanya hal ini patut disayangkan."
Dia adalah seorang ahli silat yang berpengalaman, walaupun dalam hatinya merasa terkejut oleh tenaga dalam dan ilmu pedang yang dimiliki Nyo Yan, namun dia dapat meli-hat kalau Nyo Yan bukan tandingan kakaknya.
Sekarang yang paling dikhawatirkan olehnya adalah bila Beng Hoa memunahkan ilmu silat Nyo Yan.
Tampak tubuh Beng Hoa bergerak maju mundur, berkelit dan mendesak tiada habisnya di bawah serangan pedang Nyo Yan yang ganas, dahsyat dan beruntun itu.Gerakan tubuhnya yang cekatan dan lincah seperti awan di angkasa atau air yang mengalir di sungai.
Bagaimanapun dahsyatnya jurus pedang yang dipergunakan Nyo Yan untuk mendesak kakaknya, selalu berhasil dipunahkan dengan mudah.
Sekarang Nyo Yan baru menghembuskan napas dingin, pikirnya.
"Tak kusangka kalau dia begitu lihay, kepandaian yang dimiliki yaya pun belum tentu bisa mengalahkan dia. Tapi bila dia ingin membunuhku, hal ini sudah dilakukannya sedari tadi, atau mungkin dia benar-benar masih mempunyai perasaan persaudaraan? Ataukah dia memang sengaja hendak mempermainkan aku?"
Pada waktu itu, dia sudah tidak memikirkan lagi soal mati hidupnya, menggunakan kesempatan di kala manfaat dari ilmu Thian-mo-ciat-ti-tay-hoat (Ilmu Iblis Langit Pelumer Badan) belum punah, tenaga serangan yang disalurkan ke ujung pedangnya makin lama semakin bertambah menghebat, tenaga dalam yang dilatihnya selama tujuh tahun di bukit Soat-san, hampir semuanya telah digunakan sehebat-hebatnya.
Akan tetapi begitu tenaga serangannya yang sangat dahsyat itu menyentuh pedang Beng Hoa, tenaga yang begitu hebatnya tadi seketika lenyap tak berbekas seakan-akan tertelan laut Sebaliknya Beng Hoa sama sekali tidak mengerahkan tenaganya untuk melancarkan serangan balasan.
Nyo Yan tahu, taktik pertarungan ini dinamakan taktik dengan tenaga menghisap melenyapkan tenaga serangan, meski dia sendiri pun mengerti, tapi kalau menyuruh diamenggunakannya selihay Beng Hoa sekarang, hal ini mustahil bisa dilakukan.
Padahal mana dia tahu, jangankan dia, dalam dunia persilatan dewasa ini pun hanya beberapa gelintir manusia saja yang sanggup bertarung seimbang melawan Beng Hoa.
Berbicara soal ilmu pedang saja, mungkin hanya Beng Hoa seorang yang mampu menandingi kehebatan Kim Tiok-liu, si pendekar pedang nomor wahid di kolong langit.
Tentu saja Nyo Yan pun tak pernah menyangka bukan cuma dia yang kaget oleh kelihayan ilmu pedang kakaknya, Beng Hoa sendiri pun lebih terkejut lagi oleh kelihayan ilmu silat adiknya, diam-diam dia berpikir.
"Dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang bila berlatih lima tahun lagi, niscaya taraf ilmu silat yang dimilikinya dapat menyusul diriku.
Tidak sedikit tokoh persilatan yang kujumpai dalam dunia ini, tapi dengan usianya yang begitu muda namun berhasil mencapai taraf yang begitu hebat, boleh dibilang tak pernah kujumpai seumur hidupku.
Aii, sayang sekali dia enggan belajar secara baik-baik.
Lantas, haruskah kupunahkan ilmu silatnya?
Jika ilmu silatnya tak kupunahkan, takutnya watak jahatnya sukar diubah, di kemudian hari dia pasti akan menjadi bibit penyakit, bencana bagi dunia persilatan.
Beng Hoa menjadi ragu-ragu untuk mengambil keputusan, pikirnya lebih lanjut.
"Tapi dia sudah terluka sekarang, bila pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, niscaya akan merugikan kesehatan badannya."
Berpikir sampai di situ, permainan pedangnya segera diubah, kini serangan demi serangannya dilancarkan dengan mengutamakan kecepatan, bagaikan bayangan saja dia menempel tubuh Nyo Yan, dalam keadaan seperti ini, jangankan melancarkan serangan balasan, untukmenghindarkan diri pun merupakan suatu pekerjaan yang sukar.
Nyo Yan segera merasakan tenaga dalamnya semakin tersendat-sendat, bentaknya kemudian.
"Beng Hoa, bunuhlah aku!"
Tubuh berikut pedangnya segera menerjang ke depan secara ganas, tampaknya dia hendak memapaki senjata Beng Hoa dengan tubuhnya.
Ting Tiau-bing amat terperanjat menyaksikan kejadian itu, buru-buru teriaknya dengan cemas.
"Jangan…."
Belum habis dia berseru, cahaya pedang Beng Hoa telah berubah menjadi beribu-ribu titik bintang yang menyergap ke depan, kemudian terlihat Nyo Yan kena tusukan dan roboh menggelepar ke atas tanah.
"Beng Hoa, kau… kau…."
Saking gemetarnya Ting Tiau-bing sampai tak mampu melanjutkan perkataannya. Beng Hoa segera tertawa getir.
"Aku tidak membunuhnya, juga tidak memunahkan ilmu silatnya. Apa yang hendak dilakukan atas dirinya, Ting susiok, lebih baik kau saja yang memutuskan!"
Kemudian kepada Nyo Yan dia berseru.
"Sekarang kau harus tahu, barusan aku masih mempunyai kepandaian untuk memunahkan ilmu silatmu, nah mau mengaku salah tidak?"
Diam-diam Nyo Yan menyesal, menyesal kenapa tidak memutuskan nadi sendiri sedari tadi.
Ternyata jurus serangan yang digunakan Beng Hoa terakhir bernama Oh-ga-cap-pwe-pek (Delapanbelas Ketukan Oh-ga), jurus itu merupakan jurus serangan yang ampuh dari Khong-tong-pay yang diwariskan sam-suhu-nya Tan Khu-seng kepa-danya.
Dulu, dengan mengandalkan jurus serangan tersebut, entah berapa banyak jago kenamaan dalam dunia persilatan yang dikalahkan oleh Tan Khu-seng, setelah diturunkan ke tangan Beng Hoa, keampuhan jurus serangan tersebut berlipat ganda lebih hebat, bahkan jauh lebih hebat daripada sewaktu digunakan gurunya.
Nyo Yan sebetulnya sudah mengambil keputusan dalam hatinya, bila tak sanggup mengalahkan kakaknya, maka di saat terakhir dia akan memutuskan nadi sendiri untuk mengakhiri hidupnya.
Tapi dia sama sekali tak menyangka kalau ilmu pedang yang dimiliki Beng Hoa begitu sempurna dan dahsyatnya, begitu serangan itu dilepaskan, dalam sekejap mata delapanbelas buah jalan darahnya sudah tertusuk telak.
Bukan cuma sasarannya yang tepat, dalam penggunaan tenaga pun tepat sekali, meski tertusuk namun tiada darah yang mengucur.
Setelah kedelapanbelas jalan darahnya tcrtotok, tentu saja dia tak mampu lagi untuk mengerahkan tenaga dalam dan memutuskan nadi sendiri.
Walaupun dia menaruh kesalahpahaman yang mendalam terhadap kakaknya, sehingga beberapa kesan baik yang berada dalam hatinya semula berubah menjadi jelek, toh diam-diam ia mengagumi juga keli-hayan ilmu silat kakaknya itu.
"Apa yang dia katakan memang benar,"
Demikian dia berpikir.
"dengan ilmu silat yang dimilikinya, bukan suatu pekerjaan yang sulit baginya untuk memunahkan ilmu silatkubahkan untuk menyelamatkan diri dari ujung pedangnya pun bukan suatu pekerjaan yang mudah."
Tapi, diam-diam mengagumi ilmu silat kakaknya adalah satu persoalan, tidak mengakui di mulut adalah persoalan yang lain.
Baginya lebih baik mampus daripada menerima penghinaan.
Beng Hoa tidak.menusuk jalan darah bisunya, ia segera menyahut dengan angkuh.
"Seorang lelaki sejati lebih baik mati daripada hidup dihina, mudah saja kau ingin mem-bunuhku, tapi kalau menyuruh aku minta ampun… hmmm, jangan bermimpi di siang hari bolong!"
Beng Hoa menjadi gusar sekali, segera bentaknya keras-keras.
"Hmm, kau masih mempunyai muka untuk mengaku sebagai seorang lelaki sejati?"
Nyo Yan tertawa dingin.
"Sekalipun ilmu silatku tak sanggup melebihi dirimu, belum tentu tabiatku kalah dengan kau, hmmm, hrrunm, aku masih tak sudi menjadi seorang manusia munafik seperti dirimu itu!"
"Bagaimana munafiknya aku?"
Teriak Beng Hoa makin gusar. Nyo Yan mendengus dingin.
"Hmmm, kau ingin membunuh ku, tapi tak berani membunuhku, hal ini lebih karena kau takut orang lain menuduhmu membunuh sesama saudara. Baik, aku akan melengkapi nama baikmu itu, biar kuakui semua dosa-dosa yang kau tuduhkan kepadaku. Dan aku pun tak akan meng-akui kau sebagai kakakku, dengan demikian kau pun tak usah ragu-ragu untuk sekali tusuk menghabisi nyawaku, ayolah turun tangan, ayo cepat turun tangan!"
Beng Hoa merasa sedih sekali, hatinya sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau, ujarnya pedih.
"Kau keliru, aku tidak membunuhmu bukan karena takut orang mencemooh aku. Walaupun kau tidak mengakui diriku sebagai kakakmu, aku tetap mengakui kau sebagai adikku. Tapi justru kau adalah adikku dan kau sama sekali tidak menunjukkan rasa bertobat, aku… aku hanya dapat., aku hanya dapat…"
Setelah mengulangi kata tersebut sampai dua kali, pelan-pelan dia mengangkat tangannya siap dihantamkan ke ubun-ubun Nyo Yan. Ting Tiau-bing yang menyaksikan kejadian itu segera membentak keras.
"Beng Hoa, apakah kau sudah lupa dengan apa yang kau katakan tadi?"
"Apa yang pernah kukatakan?"
Seru Beng Hoa tertegun.
"Kau telah bilang hendak menyerahkan Nyo Yan kepadaku!"
Beng Hoa segera menghembuskan napas lega, pelan-pelan dia menarik kembali telapak tangannya sembari berkata.
"Baik! Semoga susiok bisa baik-baik menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada manusia durhaka ini!"
"Berbicara soal dosa yang telah dilakukan, sebetulnya sudah tak terampuni lagi,"
Kata Ting Tiau-bing kemudian.
"tapi mengingat dia masih muda dan tak tahu urusan, untuk sementara biar diusir saja dari perguruan dan diserahkan kepada ayahmu untuk dididik! Bila ia sudah bertobat di kemudian hari baru memperkenankan dia memasuki perguruan lagi. Beng hiantit, bagaimana menurut pendapatmu?" 0odwo0Perlu diketahui, Beng Hoa adalah seorang murid tercatat dari Thian-san-pay, berbicara soal kedudukan, pemuda tersebut masih berada di atas kedudukan Ting Tiau-bing. Oleh karena itu meski dia telah menyerahkan hak untuk menyelesaikan persoalan itu kepada Ting Tiau-bing, namun Ting Tiau-bing harus mengikuti juga peraturan yang berlaku untuk mengajukan pertanyaan itu sebagai rasa hormatnya. Padahal cara tersebut tak lain adalah cara yang dipikirkan Beng Hoa dalam hati kecilnya namun tak berani diutarakan secara berterus terang. Tadinya dia memaksa untuk mengajak Ting Tiau-bing berangkat bersama tidak lain adalah untuk berjaga-jaga atas kejadian ini, dia berharap Ting Tiau-bing bisa menjadi penengah untuk menyelesaikan masalah tersebut Maka betapa senangnya dia setelah mendengar perkataan itu, namun wajahnya masih tetap serius dan bersungguh-sungguh, sahurnya kemudian.
"Susiok selalu mempunyai ke-putusan yang bijaksana, kalau toh susiok menganggap jalan itu merupakan jalan yang terbaik, aku rasa cara ini tak bakal salah lagi. Aku tak punya usul lain!"
"Baik, kalau begitu kita lakukan demikian saja. Kau yang akan menggusurnya pulang atau aku yang membawanya pulang?"
Ketika Nyo Yan mendengar dia akan diserahkan kepada Beng Goan-cau untuk dididik, rasa sedihnya melebihi apa pun.
Coba kalau ke dela-panbelas buah jalan darahnya tidak tertotok, dia pasti sudah melompat bangun sambil marah-marah.
Tapi sekarang, terpaksa dia hanya berbaring di atas tanah sambil berteriak-teriak keras.
"Menjadi murid Thian-san-pay atau tidak, aku tak mau ambil peduli, tapi kalau menyuruh akumenerima penghinaan dari Beng Goan-cau sampai mati pun aku tak sudi menerimanya!"
Dia menyebut langsung nama Beng Goan-cau, hal ini kontan saja membuat paras muka Ting Tiau-bing, Beng Hoa serta Siau Hok-nian berubah hebat, sementara keningnya berkerut kencang.
Dengan suara keras Ting Tiau-bing segera membentak nyaring.
"Ngaco belo tak keruan, masak dididik oleh ayah sendiri juga merupakan suatu penghinaan?"
Sedangkan Beng Hoa segera berpikir.
"Mungkin adik Yan sudah tahu asal-usulnya dari mulut Lak-jiu-Koan-im. Cuma yang penting sekarang adalah menyelamatkan dulu selembar jiwanya, sedang soal salah paham dengan ayah, biar diselesaikan di kemudian hari secara pelan-pelan."
Karena khawatir Nyo Yan akan meneruskan ngaco belonya, dengan cepat dia menotok jalan darah bisunya Kembali ke pokok pembicaraan semula, Beng Hoa segera berkata.
"Aku harus pergi ke Thian-san untuk melayat bukan karena aku me-mang terhitung murid tercatat dari Thian-san, di mana aku pernah menerima petunjuk ilmu silat dari lo-ciangbun, sehingga sepantasnya menunjukkan bakti seorang murid terhadap gurunya, aku pun pergi melayat karena mewakili segenap pasukan pejuang pembela tanah air serta ayahku. Selesai melayat aku pun masih ada sedikit tugas penting yang harus diselesaikan, karena itu mustahil dan kurang pantas kalau dikarenakan persoalan bocah durhaka ini lantas mengesampingkan urusan dinas. Oleh sebab itu, aku terpaksa mesti merepotkan susiok…"
Selain itu sebetulnya dia masih mempunyai sebuah tugas "rahasia"
Lain yang kurang leluasa untuk diutarakan, dalam pikirannya, setelah Leng Ping-ji menjumpai peristiwa "memalukan"
Yang sama sekali tak terduga itu, hatinya pasti pasti sedih sekali.
Maka dia hendak mewakili adiknya untuk pergi "menebus dosa", kalau bisa hendak membujuk dan memohon kepadanya agar bersedia "mengampuni"
Adiknya. Kepada Siau Hok-nian, dia pun berkata.
"Paman Siau, kau adalah angkatan tua dari kami bersaudara, andaikata pasukan pejuang di Jik-tat-bok telah berpindah markas, kau lebih mudah melakukan kontak daripada susiok, biarlah tugas di Sinkiang kuselesaikan bersama Lau Kong, sedangkan kau dan Ting susiok silakan kembali ke markas!"
"Sekalipun tidak kau katakan, aku pun ingin minta ijin kepadamu untuk berbuat demikian, kalau toh sudah diatur begitu, hal ini memang lebih baik lagi…."
Seru Siau Hok nian cepat-cepat.
Berbicara soal tingkat kedudukan famili, dia memang masih lebih tinggi setingkat dibanding Beng Hoa, tapi kedudukannya dalam pasukan pejuang pembela bangsa lebih rendah dari Beng Hoa, itulah sebabnya dia harus menggunakan ucapan "minta ijin"
Dalam pembicaraannya tadi.
"Paman Siau tak usah sungkan-sungkan. Sepanjang jalan harap kau sudi banyak memberi pelajaran untuk adikku yang tak becus itu,"
Kata Beng Hoa lagi. ‘Tak usah khawatir, aku pasti akan berbuat sebaik-baiknya."
Selesai mengatur segala-galanya, Beng Hoa siap berangkat meninggalkan tempat itu, mendadak ia menyaksikan darah mulai mengalir keluar dari mulut luka Nyo Yan, hatinya merasa sedih sekali, maka dengan cepat dia balik kembali dan membubuhkan obat luka luar di seputar luka Nyo Yan.Melihat itu Ting Tiau-bing segera berseru.
"Beng hiantit, aku dapat merawat adikmu dengan sebaik-baiknya, pergilah dengan hati lega Aai, Nyo Yan, bila kau tak mau berbuat baik lagi, sungguh perbuatanmu itu akan mengecewakan kakakmu."
Nyo Yan adalah seorang pemuda yang halus perasaannya, sekalipun dia tak dapat menerima teguran dari Ting Tiau-bing, meski kesan jeleknya terhadap Beng Hoa tak bisa dihilangkan, tapi dia dapat merasakan bahwa kakaknya betul-betul men-cintainya dengan setulus hati.
Hatinya terasa hangat, air matanya bercucuran.
"Baik, kalau begitu aku akan berangkat dulu, kata Beng Hoa. Mendadak ia teringat akan suatu hal, sebelum berangkat kembali ujarnya, ‘Ting susiok, jalan darah yang ku-totok di tubuhnya tak bisa dibebaskan sendiri olehnya dalam duabelas jam mendatang. Tapi lebih baik sebelum waktunya habis, kau menotok lagi kcdelapanbelas buah jalan darahnya itu!"
Ia memang merasa agak khawatir kalau Ting Tiau-bing tak sanggup menghadapi kelihayan ilmu silat adiknya, maka dari itu dia memberi peringatan kepada Ting Tiau-bing.
Ketika semua persoalan yang perlu telah selesai disampaikan, dengan membawa perasaan yang kalut dan kacau balau tak keruan dia melirik sekejap ke arah adiknya ke-mudian baru berangkat meninggalkan tempat tersebut.
Sambil memondong tubuh Nyo Yan, Ting Tiau-bing turun gunung dan berjalan setengah harian lamanya sebelum tiba di sebuah peternakan dan membeli dua ekor kuda penghela kereta.
Kemudian dia dan Siau Hok-nian secara bergilir menjaga Nyo Yan, seorang menjadi kusir kereta, yang lain sebagaipenjaga, Nyo Yan sendiri berbaring dengan nyaman dalam kereta untuk merawat lukanya, sekalipun luka itu tidak terhi-tung enteng, tapi lantaran bukan luka dalam, obat luka yang diberi Beng Hoa pun merupakan obat luka luar yang mujarab, tak selang dua hari kemudian mulut lukanya telah merapat dan pada hari ketiga sudah hampir sembuh kembali.
Ting Tiau-bing tidak lupa menotok kedelapanbelas buah jalan darahnya setiap duabelas jam.
Nyo Yan sendiri pun tidak menggubris mereka berdua, dia berbaring di dalam kereta dengan nyaman.
Sewaktu di peternakan tadi, Ting Tiau-bing telah membeli ransum yang cukup untuk melakukan perjalanan, ada kue kering, ada ketan ada daging, ada pula arak susu kuda.
Walaupun arak susu kuda masam rasanya, namun sangat bermanfaat buat kesehatan badan.
Dalam beberapa hari ini, Siau Hok-nian pun sengaja mengajak Ting Tiau-bing membicarakan soal hubungan segi tiga antara Beng Goan-cau, Hun Ci-lo serta Nyo Bok.
Walaupun ada beberapa persoalan yang sukar untuk dibicarakan dengan leluasa, namun hampir semua kejahatan dan kebejatan moral Nyo Bok yang bisa diketahui Nyo Yan telah dibeberkan semua secara terus terang tanpa tedeng aling-aling.
Mereka menceritakan bagaimana Nyo Bok sengaja menyiarkan kabar bohong di Siau-kim-jwan yang mengatakan Beng Goan-cau telah tewas dalam pertempuran, lalu bagaimana menipu Hun Ci-lo untuk dikawini, setelah itu bagaimana dia bersekongkol dengan pihak pemerintah penjajah untuk mencelakai Bcng Goan-cauBahkan untuk mencelakai Bcng Goan-cau, tak segan-scgannya dia mencelakai istri sendiri dan merusak Hama baiknya sebelum meninggalkannya begitu saja.
Akhirnya tampil kakaknya Lak-jiu-Koan-im yang mengusir Hun Ci-lo dari rumah di lengah hujan salju yang lebat, padahal waktu itu Hun Ci-lo sedang mengandung, yang dikandung ketika itu adalah Nyo Yan.
Akhirnya Siau Hok-nian menambahkan.
"Nyo Yan, aku tak tahu apakah kau pernah bertemu dengan bibimu atau tidak, aku pun tak tahu bibimu pernah membicarakan soal apa kepadamu, tapi kau tak boleh mempercayai sepihak, tahukah kau bahwa Nyo Bok memang ayah kandungmu, tapi bukan saja dia tak pernah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, bahkan hampir saja mencelakai kalian ibu dan anak berdua?"
Sewaktu Siau Hok-nian membicarakan hal itu, Ting Tiau-bing telah membebaskan jalan darah bisu dari tubuh Nyo Yan.
Nyo Yan merasakan hatinya bergolak keras, baru mendengar sampai di separuh jalan, dia sudah berteriak dengan suara yang parau.
"Aku tak mau mendengarkan, kalian sedang membohongi aku, kalian sedang membohongi aku!"
"Aku tahu peristiwa ini akan membuatmu merasa sedih, kau pun tak akan segera mempercayai kalau apa yang kukatakan merupakan suatu kenyataan. Tapi aku harus menceritakan segala sesuatunya agar kau tahu!"
Justru karena Nyo Yan tak mau mengakui kakaknya, lagi pula dari nada pembicaraan Nyo Yan dia mengetahui kalau pemuda tersebut mengetahui rahasia asal-usulnya, makadiputuskannya untuk menceritakan hal yang sesungguhnya kepada pemuda itu.
Coba kalau Leng Ping-ji yang menceritakan kejadian sesungguhnya kepada dia, mungkin dia akan segera mempercayai beberapa bagian.
Saat itu dia hanya berpikir di dalam hatinya.
"Benar, kau suruh aku tak boleh mempercayai perkataan dari sepihak, itu berarti aku pun tak boleh mempercayai perkataanmu saja. Kau satu komplotan dengan Beng Goan-cau, tentu saja kau akan membantunya bicara."
Cuma, walaupun ia tidak mempercayai perkataan Siau Hok-nian, toh dalam hati kecilnya makin timbul kecurigaan yang semakin tebal.
"Benarkah ayah kandungku adalah seorang manusia rendah, manusia pengecut seperti apa yang mereka katakan itu? Seandainya benar, apa yang harus kulakukan? Tidak, tidak, mereka pasti sengaja membesar-besarkan persoalan, tidak mungkin semuanya itu benar."
Ketika Ting Tiau-bing menyaksikan anak muda itu sangat emosi, terpaksa ia menotok kembali jalan darah bisunya.
Sebenarnya luka yang dideritanya sudah hampir sembuh sama sekali, akan tetapi lantaran gejolak emosinya yang meluap, akibatnya keadaan menjadi bertambah buruk, malam itu badannya panas sekali dan menunjukkan gejala sakit Ting Tiau-bing khawatir jika dia jatuh sakit di tengah jalan, maka secara diam-diam dia berpesan kepada Siau Hok-nian agar jangan merangsang dirinya lagi, segala sesuatunya dibicarakan lagi setibanya di Ji k-tat-bok setelah berjumpa dengan Beng Goan-cau.
Ting Tiau-bing menotok jalan darah tidurnya agar dia dapat tidur dengan nyenyak.Untung saja Ting Tiau-bing mengerti ilmu pertabiban, di sakunya pun tersedia obat-obatan yang diperlukan, maka keesokan harinya panas badan Nyo Yan telah menurun.
Kereta pun melanjutkan perjalanannya, setelah menyeberangi padang rumput memasuki tanah pegunungan.
Akhirnya sampailah mereka di suatu tempat nan curam.
Mereka harus melalui tebing curam, yang dilapisi salju tebal, ditambah lagi jalannya amat sempit, hanya sebuah kereta saja yang dapat melewati tebing itu.
Sementara kereta tersebut sedang berjalan di atas tebing, mendadak dari arah depan muncul seorang perempuan yang sedang berjalan dengan kepala tertunduk.
Salju yang melapisi permukaan tanah sudah cukup membuat permukaan tanah menjadi licin apalagi jalan itu menurun, serta merta kecepatan lari kereta itu semakin ber-tambah cepat.
Siau Hok-nian yang bertindak sebagai kusir harus mengerahkan banyak tenaga untuk mengendalikan lari kereta kudanya itu, meski demikian, dia pun harus bertindak hati-hati dan sama sekali tak berani bertindak kelewat gegabah.
Ketika gadis itu secara tiba-tiba melihat ada kereta kuda meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi, paras mukanya segera berubah hebat, tanpa merasa dia menjerit melengking.
Dia terperanjat.
Siau Hok-nian lebih terperanjat lagi, maklum waktu itu dia sedang membelok maka pada hakikatnya tak terlihat olehnya kalau dari depan sana muncul seorang pejalan kaki.Selain itu dia pun sama sekali tak menyangka kalau di atas bukit bersalju yang dingin ternyata ada seorang gadis yang sedang melakukan perjalanan.
Dalam keadaan seperti ini» sudah barang tentu tak ada waktu baginya untuk memikirkan pelbagai kecurigaan atas gadis itu, yang paling penting baginya sekarang adalah jangan sampai mencelakai jiwa gadis tersebut Buru-buru dia menarik tali les kudanya sembari berteriak keras.
"Nona, cepat menggelinding ke samping, cepat!"
Karena kuda itu berhenti tepat di depan tubuh gadis tersebut dan sama sekali si nona tidak "menggelinding ke samping0, suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga pun segera berlangsung.
Belum lagi Siau Hok-nian menenangkan hatinya dan belum sempat mengucapkan sesuatu, mendadak gadis itu sudah mencaci maki.
"Kurang ajar, kalau sedang mengendalikan kereta, sepasang matamu dipakai tidak?"
Di tengah bentakan keras, tahu-tahu dia sudah mengayunkan cambuk lemasnya ke depan dan menyambar sepasang kaki Siau Hok-nian.
Waktu itu Siau Hok-nian duduk di atas kereta dengan sepasang kakinya berada di sisi kereta, selain serangan yang dilancarkan gadis itu amat cepat, Siau Hok-nian pun sama sekali tak menduga.
Begitu kaki kirinya menginjak tempat kosong, kaki kanannya segera terlilit oleh cambuk lemas itu.
Padahal kereta itu masih miring ke samping, ketika gadis itu menarik dengan sekuat tenaga tubuhnya kontan terseret turun dari kereta.Tak ampun lagi Siau Hok-nian jatuh terlemang di atas tanah.
Kereta itu kontan pula kehilangan kendali, sewaktu si nona mengayunkan cambuknya beberapa kali, dua ekor kuda penghela kereta itu sudah menggelinding ke bawah tebing dengan kecepatan tinggi.
Waktu itu Ting Tiau-bing berada dalam kereta melindungi Nyo Yan, ketika terjadi peristiwa di luar, untuk menolong sudah tak sempat lagi.
Tapi Nyo Yan sudah melihat wajah gadis itu, ketika angin kencang menyingkap tirai, meski hanya sekilas pandang saja, namun ia sudah tahu siapa gerangan gadis tersebut Ternyata gadis itu bukan lain adalah si perempuan siluman kecil Liong Leng-cu.
Terkejut dan girang Nyo Yan menyaksikan kejadian tersebut, segera pikirnya.
"Permainan busuk gadis itu memang banyak sekali, sampai permainan seburuk ini pun sanggup dia lakukan, tampaknya dia memang sengaja hendak mengha-dang jalan kami!"
Dalam pada itu Siau Hok-nian sudah melompat bangun dengan jurus Ikan Lcihi Meletik, meskipun bantingan ke tanah tidak terlalu berat, namun jalan darah Huan-tiau-hiat di atas lututnya terhajar telak, apalagi terjungkal dari atas kereta, maka setelah merangkak bangun kakinya setengah pincang, berjalan pun menjadi tidak lancar dan leluasa lagi.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang jago kawakan yang amat berpengalaman, saat itu sudah barang tentu dia tahu kalau si nona memang sengaja hendak mencari gara-gara.
"Kurang ajar, siapa yang menyuruh kau si budak cilik mencelakai kami?"
Hardik Siau Hok-nian dengan suara lantang.Liong Leng-cu tertawa dingin.
"Yang hendak mencelakai orang adalah kalian sendiri, bukan aku! Sekarang kau malah memutarbalikkan persoalan dengan mendamprat aku, hmm, apakah kau ingin mencicipi cambukku lagi?"
Sreeet, sreeet!
Di antara gulungan bayangan cambuknya, dengan jurus Hwe hong sau-Iiu (Angin Puyuh Menyapu Pohon Liu) dia sapu tubuh Siau Hok-nian.
Ketika mendengar perkataan tersebut Siau Hok-nian segera mencabut sepasang pena poan-koan-pit untuk menangkis ayunan cambuknya, kemudian bentaknya keras-keras.
"Ngaco belo, siapa yang hendak mencelakai dirimu?"
"Apakah bocah muda yang berada dalam kereta telah kalian celakai?"
Tegur Liong Leng-cu dingin. Siau Hok-nian tertegun sesaat, kemudian serunya.
"Jadi kau datang lantaran Nyo Yan? Kami hendak mengantarnya pulang, siapa bilang kami hendak mencelakainya?"
"Hmm, bersediakah dia mengikuti kalian? Kalian telah mencelakai dirinya sampai ingin hidup tak bisa, ingin mati pun tak dapat!"
"Eeeh, dengarkan dulu perkataanku…."
Buru-buru Siau Hok-nian berseru.
Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, tulang dadanya kembali sudah kena hajar.
Siau Hok-nian menjadi gusar sekali, dalam keadaan begini terpaksa dia harus melayani serangan-serangan gadis tersebut lebih dulu.
Ilmu silat yang dimiliki Siau Hok-nian sebetulnya tidak kalah daripada Liong Leng-cu, tapi karena gerak-geriknya tidak gesit, otomatis dia harus menderita kerugian besar.Gerakan cambuk Liong Leng-cu selincah naga perkasa, tak sampai sepuluh gebrakan, tiga buah jalan darah Siau Hok-nian kena dihajar, bahkan akhirnya jalan darah lemas pun kena hajar.
Kali ini Siau Hok-nian roboh ke atas tanah, dan tak sanggup untuk merangkak bangun lagi.
Liong Leng-cu tertawa dingin, ditinggalkannya orang itu untuk melanjutkan pengejaran.
---ooo0dw0ooo---Bagaikan terbang kereta kuda itu menggelinding ke bawah tebing, tampaknya segera akan terjungkir balik dan masuk jurang, buru-buru Ting Tiau-bing mengerahkan ilmu bobot seribu kati untuk menghentikan kereta itu.
Setelah kereta itu berhenti dan baru saja ia akan melompat turun untuk mencari Siau Hok-nian, Liong Leng-cu telah muncul di hadapannya.
Dengan suara keras Ting Tiau-bing segera membentak.
"Masih berusia muda, mengapa kau begitu kejam dan tak berperasaan? Apakah kau hendak membunuh kami semua?"
Liong Leng-cu tertawa.
"Aku tahu ilmu silatmu sangat baik, sekalipun kereta itu sampai terguling juga tak bakal mampus."
"Hm, masih membantah, telah kau apakan sahabatku itu?"
Seru Ting Tiau-bing makin gusar.
"Sebentar kau toh akan tahu ‘Mengapa tidak kau katakan arang saja?"
Kembali Liong Leng-cu tertawa. ‘Bagaimana aku merobohkan sebentar akan kugunakan pula ide menghadapi dirimu. Kalau arang keburu kukatakan lebih dulu, bisa tidak manjur hasilnya."
Ting Tiau-bing adalah salah seorang dari empat murid utama dari Thian-san-pay, di hari-hari biasa dia selaludihormati dan disegani orang, bahkan para ciangbunjin dari pelbagai perguruan besar di daratan Tionggoan pun rata-rata tak berani kurang hormat terhadapnya.
Tak disangka hari ini ada orang yang mengatakan secara terus terang hendak merobohkan dirinya, apalagi dia adalah seorang budak cilik yang masih ingusan.
Meski imannya sangat baik, tak urung amarahnya berkobar juga.
"Bagus sekali!"
Serunya kemudian.
"ingin kulihat dengan cara apakah kau hendak merobohkan aku."
Sembari berkata, tangannya segera meraba gagang pedangnya.
"Kalau memang ingin tahu, mengapa kau tidak segera melancarkan seranganmu?"
Tantang Liong Leng-cu. Sekali lagi Ting Tiau-bing dibikin tertegun oleh kejadian tersebut, dengan cepat dia mendengus dingin.
"Budak cilik, berani benar kau bersikap kurang ajar, tahukah kau siapakah diriku ini?"
Perlu diketahui, dalam dunia persilatan berlaku suatu peraturan yang tidak tertulis yakni jika seorang angkatan tua hendak bertarung melawan seorang angkatan muda, maka dia harus memberi kesempatan kepada angkatan muda itu untuk melancarkan serangan lebih dahulu.
Walaupun di antara mereka berdua tiada ikatan atau hubungan perguruan, namun dalam pandangan Ting Tiau-bing, dia telah menganggap budak kecil yang masih ingusan ini sebagai angkatan mudanya.
"Tentu saja aku tahu,"
Sahut Liong Leng-cu cepat.
"kalau tidak tak nanti aku datang kemari mencari dirimu!"
"Oh… kalau begitu kau ada maksud untuk mencari gara-gara dengan aku? Siapakah gurumu?"
Ketika ia saksikan sikap Liong Leng-cu begitu berani, tanpa terasa timbul kecurigaan dalam hatinya, dia curiga kalau guru gadis ini jangan-jangan adalah seorang cian-pwe yang berilmu tinggi, kalau tidak, dalam usianya yang begitu kecil mana berani bertindak begitu berani…?
Sebab keadaan seperti ini pernah dialaminya dulu, seperti misalnya jago pedang nomor wahid dewasa ini Kim Tiok-liu, sewaktu terjun ke dunia persilatan dulu baru berusia duapuluh tahun, tapi lantaran ayahnya Kim Si-ih mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam dunia persilatan, berbicara soal tingkat kedudukan, banyak ciang-bujin dari pelbagai perguruan besar masih kalah satu dua tingkat dibandingkan dengan dirinya.
Dengan suara hambar Liong Leng-cu segera berkata.
"Siapakah yang mengajarkan ilmu silat kepadaku lebih baik tak usah kau urusi, aku tahu kalau kau adalah salah seorang dari empat murid utama Thian-san-pay, andaikata lo-ciang-bunjin kalian Teng Keng-thian masih hidup, bila kujumpai dirinya tentu saja tak bisa tidak aku harus minta petunjuk darinya dengan kedudukan seorang angkatan muda, tapi dengan mengandalkan kedudukanmu sekarang, kau hanya berhak untuk mengiringi aku bermain beberapa gebrakan!"
Di hari-hari biasa, sebetulnya Ting Tiau-bing adalah seorang lelaki yang saleh, tapi sekarang tak urung hawa amarahnya berkobar juga setelah mendengar perkataan itu, sambil tertawa dingin dia berseru.
"Terima kasih banyak atas sikap hormatmu terhadap lo-ciangbunjin partai kami, sayang, aku adalah seorang manusia yang tak tahu diri, kalau toh lagaknona begini besar, terpaksa aku hanya akan menuruti perintah saja…."
Begitu selesai berkata.
"Sreet!"
Dia telah meluncurkan sebuah tusukan kilat ke depan.
Tusukan pedang itu dilancarkan berbareng dengan serangan telapak tangan, itulah jurus sakti ciptaan Ting Tiau-bing sendiri dari jurus pedang Tui-hong-kiam-hoat.
Sementara pedangnya menusuk ke jidat, telapak tangannya mem babat lutut orang, dalam anggapannya "budak ingusan yang masih berbau tetek"
Ini jika tidak termakan oleh tusukannya pasti akan terhajar oleh pukulan telapak tangannya.
Cuma dia tidak bermaksud untuk melukai gadis ini, apalagi ilmu pedangnya memang telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, dia yakin sesaat sebelum ujung pedangnya berhasil menyentuh tubuh gadis tersebut ia dapat berganti jurus untuk menusuk jalan darahnya.
Siapa tahu hasil dari serangan tersebut sama sekali berada di luar dugaannya.
"Cepat amat seranganmu itu!"
Seru Liong Leng-cu dengan suara merdu.
Di tengah hembusan angin pukulan dan bayangan pedang, dengan gerakan Hong-pay-sui-yang (Angin Berhembus Menggoyangkan Ranting) dia menekuk ping-gangnya ke belakang sehingga rambutnya hampir saja menempel tanah.
Ujung pedang Ting Tiau-bing hanya selisih sedikit saja hampir menusuk batang hidungnya, siapa tahu cambuk lemas Liong Leng-cu tahu-tahu sudah menyapu tiba, kecepatan gerak cambuk itu sama sekali tidak berada di bawah kecepatan gerak pedang Ting Tiau-bing.Mimpi pun Ting Tiau-bing tak menyangka kalau si "budak ingusan"
Tersebut akan mempergunakan gerakan tubuh yang begitu berbahaya dan lincahnya untuk menghindarkan diri, dan secara tiba-tiba tubuh bagian bawahnya malah kena disergap.
Buru-buru Ting Tiau-bing melejit ke udara lalu menyerang ke bawah sambil menyambar ujung cambuknya.
Siapa tahu cambuk lemas Liong Leng-cu bagaikan seekor ular lincah saja, tiba-tiba mendongak ke atas dan membentuk sebuah lingkaran.
Andaikata tangan kiri Ting Tiau-bing masih melanjutkan cengkeramannya ke bawah, niscaya perge-Iangan tangannya akan kena dililit lebih dulu oleh cambuk lemas tersebut.
Untung saja Ting Tiau-bing tak malu disebut murid utama partai Thian-san-pay, berada di tengah udara ternyata ia masih sempat berganti jurus dengan cepat sekali.
Sambil berjumpalitan dengan gerakan Yau-cu-huan-sin (Burung Belibis Membalikkan Badan) dengan kepala di bawah kaki di atas pedang di tangan kanannya segera menusuk ke balik lingkaran cambuk tersebut sambil menerjang ke bawah.
Selain serangannya ganas, suaranya juga menderu-deru amat memekakkan telinga.
Pada dasarnya ruyung lemas dari Liong Leng-cu itu amat enteng dan tidak mudah kena terpengaruh oleh tenaga, tapi jika ditarik agak mengencang niscaya senjata itu akan terpapas kutung oleh pedang tajam Ting Tiau-bing.
Terpaksa Liong Leng-cu harus mengendorkan lingkaran cambuknya lalu menarik kembali dengan cepat.Sementara itu, Ting Tiau-bing telah meluncur ke bawah seperti burung elang yang mencari mangsa, pedangnya disilangkan ke depan siap menunggu datangnya serangan lawan.
Liong Leng-cu melirik sekejap ke samping kemudian tertawa sinis, katanya, ‘Ternyata ilmu silat dari empat murid utama Thian-san-pay hanya begitu saja.
Ting tayhiap, apakah kau sudah berhasil berdiri tegak…?"
Disindir dan diejek oleh lawannya, kali ini Ting Tiau-bing dapat bersikap sangat tenang katanya.
"Nona, ilmu cambukmu memang amat baik, cuma kalau ingin mengalahkan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat rasanya tak akan segampang itu."
Perlu diketahui, Ting Tiau-bing adalah seorang ahli silat yang berpengalaman, tentu saja dia mengerti di saat menghadapi lawan, paling pantang untuk bersikap marah dan terpengaruh oleh emosi.
Tadi, berhubung ia saksikan Liong Leng-cu yang berusia sangat muda ternyata tak pandang sebelah mata terhadapnya, ia terjebak oleh siasatnya hingga hampir saja menderita kerugian besar.
Kini setelah mengetahui kesalahannya dan sadar kalau ejekan dan sindiran Liong Leng-cu tidak lebih hanya ingin mengacaukan pikirannya agar ada kesempatan baik untuk ditunggangi, sudah barang tentu dia enggan masuk perangkap dengan begitu saja.
Tapi dia pun memuji ilmu cambuk Liong Leng-cu yang dikatakan sebagai "amat bagus sekali".
Ucapan tersebut bukan basa-basi belaka melainkan benar-benar muncul dari hati sanubarinya.
"Benarkah itu?"
Liong Leng-cu mengejek sambil tertawa dingin.
Di tengah suara tertawa dinginnya itu dia bergerak dengan cekatan, tubuh berikut cambuknya tiba-tiba saja telah menyelinap ke belakang tubuh Ting Tiau-bing.
Dengan cepat Ting Tiau-bing membalikkan pedangnya melepaskan tusukan, punggungnya bagaikan punya mata, mata pedang tersebut secara tepat sekali menyongsong cambuk lemas.
Dalam waktu singkat Liong Leng-cu telah berganti arah menyerang enam tujuh buah tempat yang berbeda, tapi setiap jurus segera dihadapi dengan jurus, tiap gerakan dipunahkan dengan gerakan, ia melayani lawannya dengan tenang dan mantap.
Sekarang Ting Tiau-bing telah membuang jauh sikap memandang enteng lawannya, dengan memusatkan segenap perhatian dia menghadapi lawan secara mantap, segenap ilmu silat yang dimiliki pun dikerahkan semua untuk menghadapi ancaman-ancaman musuh.
Berada keadaan seperti itu, Liong Lcng-cu tak berani menyerempet bahaya untuk mencari kemenangan, sedang untuk meraih kemenangan pun bukan suatu pekerjaan yang gampang.
Di tengah pertarungan sengit yang berlangsung, tiba-tiba Ting Tiau-bing menyerang dengan mempergunakan jurus Sam-coan-hoat-lun (Tiga Kali Memutar Hukum).
Tenaga dalamnya segera disalurkan ke ujung senjata, di mana tenaga dalam itu mengalir, belum lagi cambuk dan pedang saling beradu, Liong Leng-cu segera merasakancambuk lemasnya kena terseret oleh suatu kekuatan besar sehingga seakan-akan terlepas dari cekalannya Mendadak Ting Tiau-bing membentak keras.
"Lepaskan cambuk.’"
Tangan kanannya segera menyambar ke depan dan mencengkeram cambuk lawan.
Cepat-cepat Liong Leng-cu menjatuhkan diri ke belakang, baru saja Ting Tiau-bing akan mengerahkan tenaga yang lebih besar untuk merampas cambuknya, mendadak tampak cahaya tajam yang berkilauan memenuhi angkasa, tahu-tahu di tangan kiri Liong Leng-cu telah bertambah dengan sebilah pedang tajam….
Ternyata pedang miliknya itu merupakan sebuah senjata lemas, bila tidak dipergunakan biasanya diikat pada pinggangnya sebagai ikat pinggang.
"Belum tentu!"
Seru Liong Leng-cu sambil tertawa dingin.
Mengikuti gerakan tubuhnya yang menerjang ke depan, pedang lemas tersebut menjadi lurus dan kencang, lalu secepat kilat menusuk telapak tangan Ting Tiau-bing.
Bilamana jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak tangannya sampai kena tertusuk, bagaimanapun baiknya tenaga dalam yang dimiliki Ting Tiau-bing, sudah pasti kemampuannya itu akan buyar dan lenyap.
Menghadapi ancaman seperti ini, terpaksa dia harus cepat-cepat menarik kembali telapak tangannya.
Begitu lolos, Liong Leng-cu segera melejit ke udara, cambuk dan pedang digunakan bersama, dari posisi bertahan kini berubah jadi posisi menyerang.Bukan cuma jurus pedangnya saja yang aneh, jurus cambuk yang dipergunakannya kali ini pun jauh berbeda daripada yang tadi.
Yang lebih aneh lagi adalah di balik ilmu cambuknya terselip ilmu pedang, sebaliknya di balik ilmu pedangnya itu terselip pula ilmu cambuk.
Dalam ilmu silat terdapat sepatah kata yang berbunyi begini, tombak takut bulat cambuk takut lurus.
Tombak adalah senjata yang panjang, berat lagi kasar, benda itu mustahil bisa digunakan menjadi suatu lingkaran atau bulatan bila tenaga dalamnya belum mencapai tingkatan yang luar biasa.
Sebaliknya cambuk adalah benda lemas, untuk menggetarkan, sehingga lurus dan keras menyerupai tombak atau pedang, dibutuhkan tenaga dalam yang amat sempurna untuk bisa melakukannya.
Kini Liong Leng-cu dapat mempergunakan cambuk lemasnya dengan amat hebat, selain kadang kala bisa digunakan menjadi lurus bagaikan sebatang tombak, dapat pula menggunakan ujung cambuk tersebut untuk menotok jalan darah Ting Tiau-bing, seperti menotok jalan darah dengan mempergunakan ilmu pedang saja.
Pedang yang digunakan gadis itu merupakan sebilah pedang lemas, sebentar menyusut dan sebentar menegang, semua gerakan dapat dilakukan dengan suatu gerakan yang lincah dan ringan.
Ketika senjata tersebut dikerahkan hingga pada puncaknya, bunga-bunga pedang tersebut segera berubah menjadi lingkaran-lingkaran besar dan kecil, di balik lingkaran terdapatlingkaran, dan dilancarkan berbarengan dengan lingkaran cambuk yang dihasilkan oleh cambuk lemasnya.
Kendatipun Ting Tiau-bing menghadapi serangan lawan dengan amat mantap dan tenang, tidak urung matanya dibikin kabur juga sampai sukar untuk membedakan mana yang pedang dan mana yang cambuk.
Jika kebanyakan ilmu pedang sering menggunakan taktik menusuk, menutul, membabat dan mencegat maka dalam permainan ilmu pedangnya lebih banyak mengait, mendorong, memutar, melingkar dan menyapu, ilmu cambuk dan ilmu pedang seakan-akan telah melebur menjadi satu.
Menanti Ting Tiau-bing menganggap cambuknya sebagai pedang dan pedangnya sebagai cambuk, mendadak saja cambuknya telah berubah menjadi pedang.
Seandainya Ting Tiau-bing tidak berpengalaman cukup luas dan tenaga dalam serta ilmu pedangnya tidak mencapai tingkatan yang luar biasa, menghadapi pertarungan yang begini aneh, niscaya dia akan dipecundangi.
Sekarang, walaupun dia masih melawan terus dengan sepenuh tenaga, tapi posisinya kena terdesak di bawah angin.
Nyo Yan hanya menonton jalannya pertarungan dari atas kereta, terhadap ilmu silat yang dimiliki Liong Leng-cu dia pun hanya bisa memahami separuh bagian saja.
"Rupanya sewaktu dia bertarung melawan diriku tempo hari, tidak semua ilmu silatnya dikerahkan keluar,"
Pikirnya. Kata orang, yang menonton lebih jelas daripada yang melakukan, maka siapa bakal menang dan siapa bakal kalah telah diketahui olehnya dengan sangat jelas.Sekali lagi Nyo Yan berpikir.
"Walaupun ilmu pedangnya sangat aneh, namun gerakan itu belum bisa terlepas dari gerakan Liong-heng-cap-pwe-kiam, sedangkan ilmu cambuknya entah berasal dari perguruan mana? Tetapi aku masih ingat yaya pernah bilang, ayahnya adalah seorang ‘gembong iblis* yang berilmu silat sangat tinggi, kendatipun kakinya kena dikutungi oleh yaya, namun hal tersebut dikarenakan ia tidak memberikan perlawanan ketika itu. Andaikata benar-benar harus beradu kepandaian, yaya sendiri pun belum tentu sanggup mengalahkannya. Sudah pasti ilmu silat aneh yang dimiliki Liong Leng-cu sekarang adalah warisan dari ayahnya. Sayang tenaga dalamnya masih kelewat dangkal, meski ilmu cambuk dan ilmu pedangnya lebih lihay pun tak lebih hanya mempunyai keistimewaan masing-masing bila dibandingkan Thian-san-ki am-h oat, asal Ting susiok mau mempergunakan ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat, maka dalam permainan jurus serangan tak mungkin dia berhasil meraih keuntungan. Tenaga dalamnya tak sanggup melebihi Ting susiok, pada akhirnya kekalahan sudah pasti berada di pihaknya."
Perlu diketahui, meskipun ilmu pedang yang dimiliki Nyo Yan masih belum melebihi Ting Tiau-bing, namun setiap jurus setiap gerakan yang digunakan Ting Tiau-bing hampir boleh dibilang dipahami semua olehnya.
Nyo Yan dapat mengetahui kunci kemenangan dari pertarungan itu, tentu saja Ting Tiau-bing juga me-ngetahuinya, hanya agak terlambat saja waktunya "Dia bertarung dengan jurusnya, aku bertarung dengan jurusku, peduli amat dia kukoay atau tidak,"
Demikian Ting Tiau-bing berpikir.Seperti apa yang diduga Nyo Yan, dengan cepat dia menjadi sadar kembali dan ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat segera dipergunakan.
Ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat merupakan suatu kepandaian yang mencari keuntungan di balik kelambanan, perubahan jurus serangannya tak terhitung jumlahnya.
Sebenarnya jika kedua belah pihak sama-sama berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai tingkatan yang paling tinggi, permainan pedang dan cambuk Liong Leng-cu masih dapat digunakan untuk melawan kehebatan ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat.
Tapi Ting Tiau-bing merupakan murid angkatan kedua dari Thian-san-pay, yang dimilikinya juga ilmu pedang yang paling tinggi, berbicara terbatas pada ilmu pedang saja, bahkan Teng Ka-gwan ciangbunjin Thian-san-pay dewasa ini pun tak mampu menandingi dirinya.
Usia Liong Leng-cu lebih muda separuh dibandingkan usianya, apalagi dia memiliki ilmu silat dari ayah maupun ibunya, meski kepandaiannya luas tapi tak urung campur aduk juga hingga kurang begitu lancar dalam penggunaannya.
Hal ini tentu saja berbeda jauh dengan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat dari Ting Tiau-bing yang telah mencapai puncak kesempurnaan.
Setelah ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat dipergunakan sehebat mungkin, kedahsyatannya betul-betul ibarat ombak samudra yang menggulung hebat di tengah udara.
Liong Leng-cu merasakan pihak lawannya terlindung amat rapat, bahkan lambat laun dia hanya bisa menangkis dan bertahan melulu.Dengan suara menggeledek Ting Tiau-bing membentak keras.
"Sekarang tentunya kau sudah tahu bukan siapa yang tak tahu diri? Mengingat usiamu masih muda sudah berhasil mencapai tingkatan sehebat ini dan aku tahu hal ini tidak mudah, aku tak akan melukai dirimu. Cepat mengaku saja terus terang, siapa yang menyuruh kau datang mencelakai aku?"
Liong Leng-cu tidak menjawab, dia hanya mengertak gigi sambil melakukan perlawanan dengan gigih.
"Bila kau tak mau berbicara lagi, jangan salahkan kalau aku tak akan sungkan-sungkan lagi kepadamu!"
Sekali lagi Ting Tiau-bing membentak keras.
Di tengah bentakan itu, dia segera mengembangkam serangkaian jurus serangan dengan jurus-jurus yang tangguh.
Tampaknya Liong Leng-cu sudah tak tahan menghadapi serangan lawan.
Mendadak terdengar Nyo Yan berteriak keras.
"Berjalan ke posisi *Kan* berputar ke posisi ‘Sun1, Burung Hitam Menyambar Pasir!"
Perkataan yang di depan memberi petunjuk kepada Liong Leng-cu bagaimana harus bergerak sedang perkataan terakhir menunjukkan jurus serangan apa yang mesti dipergunakan.
Tanpa berpikir panjang Liong Leng-cu segera melakukan seperti yang ditunjukkan, betul juga begitu berputar ke posisi tersebut dengan cepat ia berhasil mematahkan jurus serangan dahsyat dari Ting Tiau-bing, Betapa terkejutnya Ting.
Tiau-bing ketika menyaksikan Nyo Yan bisa berbicara, dengan cepat dia berpaling, ternyata Nyo Yan sudah duduk bersandar pada bantal sambil memandang ke arahnya.Bantal itu sebenarnya ia sediakan agar Nyo Yan bisa tidur lebih nyaman, bahkan sengaja dibeli dari pemilik peternakan.
Kiranya meskipun Ting Tiau-bing tidak lupa menotok delapan-belas buah jalan darah ditambah jalan darah bisu di tubuh Nyo Yan setiap duabelas jam, tetapi berhubung luka yang diderita Nyo Yan telah sembuh, tenaga dalam yang dimilikinya tentu saja jauh berbeda dengan tenaga dalamnya ketika jalan darahnya ditotok Beng Hoa tempo hari.
Di samping itu tenaga dalam yang dimiliki Tmg Tiau-bing jauh ketinggalan dibandingkan dengan Beng Hoa, otomatis kekuatan yang dihasilkan dari totokan itu pun berbeda satu sama lainnya.
Meski saat ini masih selisih empat jam dari batas waktunya, namun Nyo Yan telah berhasil membebaskan tiga buah jalan darah di atas tubuhnya yaitu bagian kepala, pinggang, serta lengan kanannya, sedangkan jalan darah bisunya telah bebas lebih awal.
Selama ini Ting Tiau-bing selalu merawat Nyo Yan dengan teliti dan penuh kasih sayang, siapa tahu saat ini Nyo Yan malah memberi petunjuk kepada "siluman perempuan kecil"
Itu untuk menghajarnya, dalam waktu singkat Ting Tiau-bing menjadi terkejut, sedih dan mendongkol.
"Nyo Yan,"
Bentaknya.
"kau… kau…."
Pertarungan para jago, paling pantang adalah pikiran bercabang.
"Sreeet!"
Liong Leng-cu segera melancarkan sebuah bacokan dengan jurus Hwee-pian-liu-liu (Memutar Cambuk Menyambar Liu).Seandainya Ting Tiau-bing tidak melompat dengan cepat, beberapa kerat tulang iganya pasti akan tersapu oleh cambuk gadis itu.
Walaupun beberapa patah kata belum diucapkan secara lengkap, namun Nyo Yan mengerti ucapan apakah yang hendak diucapkan orang itu.
Ciok Thiang-hing, Kam Bu-wi bahkan kakaknya Beng Hoa semuanya memaki dia sebagai "binatang cilik", satu-satunya orang yang belum pernah memaki dia hanya Ting Tiau-bing.
Tapi sekarang, Ting Tiau-bing pun memakinya dengan kata tersebut juga, mesti perkataan itu belum diucapkan secara lengkap, tak tahan lagi Nyo Yan menjadi sedih sekali.
"Kesalahan besar apakah yang telah kulakukan? Mengapa dalam pandangan mereka, orang-orang yang mengaku sebagai kuncu sejati, pada memaki diriku seperti binatang?"
"Ting susiok, maaf?"
Kata Nyo Yan sedih.
"Dia datang membantuku, tentu saja aku pun harus membantunya."
Liong Leng-cu segera tertawa cekikikan pula sembari berseru.
"Untung saja kau masih mempunyai liangsim, tahu mana budi dan mana dendam. Tempo hari kau membantu aku membantu pula Lak-jiu-Koan-im, hingga kini rasa mengkalku belum lagi hilang!"
Karena merasakan mesra dan hangat, tanpa terasa pikirannya menjadi sedikit bercabang.
Ting Tiau-bing segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak maju ke depan, pedangnya berputar di tengah udara lalu menyambar ke muka secepat kilat.
"Criiit…!"
Ujung baju Liong Leng-cu segera terpapas kutung sebagian.Melihat itu, buru-buru Nyo Yan berteriak lagi.
"Melangkah ke ’sun’ berputar ke ‘kan’, Liong-heng-it-sih! Hati-hati iga kiri, serang tempat kosong!"
Untung saja Nyo Yan tiada hentinya memberi petunjuk, dengan demikian Liong Leng-cu baru berhasil meloloskan diri dari bahaya.
Dalam waktu singkat dia telah memunahkan tujuh delapanbelas jurus serangan dahsyat dari Ting Tiau-bing, dari posisi bertahan pun kini berubah menjadi posisi menyerang.
Pada mulanya Nyo Yan masih belum memahami separuh bagian ilmu silat Liong Leng-cu, tapi sekarang dia telah berhasil menguasai intisari penggunaan ilmu cambuk dan pedang lemasnya.
Sedang terhadap ilmu pedang dari Ting Tiau-bing, boleh dibilang dia memahami setiap jurus serangannya dengan jelas.
Dengan demikian, walaupun ia tidak turun ke gelanggang, sama artinya dengan dia serta Liong Leng-cu turun tangan bersama untuk menghadapi Ting Tiau-bing.
Pepatah pernah mengatakan, tahu diri tahu lawan, seratus kali bertempur seratus kali menang.
Kini, setelah tiap jurus serangan dari Ting Tiau-bing kena dibongkar dulu rahasianya oleh Nyo Yan, maka ilmu pedang tersebut menjadi sama sekali tak berguna lagi, bagaimana mungkin ilmu pedang semacam ini dapat digunakan untuk menghadapi lawan?
Ting Tiau-bing selain mendongkol juga gusar sekali, dia segera melompat ke udara dan tanpa peduli Liong Leng-cu sedang mengancam titik kelemahan pada tubuhnya, ia segera menggunakan ilmu pedang yang beradu jiwa.Menurut aturan ilmu pedang, dia harus menyusur dulu ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman lawan kemudian baru melancarkan serangan, maka dengan tindakan dari Ting Tiau-bing sekarang, hal tersebut sungguh jauh di luar dugaan Nyo Yan.
Belum sempat dia memberi petunjuk, tampak Liong Lcng-cu sudah melejit ke udara, melompat jauh lebih tinggi daripada Ting Tiau-bing.
Melihat itu, Nyo Yan sadar, segera pikirnya.
"Ah, betul! Aku lupa kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya jauh lebih hebat daripada ilmu meringankan tubuh Ting susiok."
Berpikir sampai di situ, tanpa berpikir panjang lagi dia segera mengemukakan nama jurus serangannya.
"Sam-huan… Tbh-gwat…"
Baru saja dia mengucapkan dua patah kata yang pertama, cambuk lemas Liong Lcng-cu telah digetarkan membentuk lima lingkaran cahaya yang mengurung pedang Ting Tiau-bing.
Jurus serangan yang dipergu nakan Liong Lcng-cu tak lain adalah jurus Sam-huan-tau-gwat (Tiga Gelang Mengurung Rembulan).
Setelah mendapat petunjuk berulang kali, Liong Leng-cu bertindak lebih leluasa lagi, dia dapat berubah jurus tanpa diberi petunjuk, seakan-akan di antara mereka ada hubungan batin yang kuat.
"Tass…!"
Cambuk lemas Liong Leng-cu putus sebagian, tapi pedang Ting Tiau-bing juga kena dihajar sampai mencelat dari genggaman.
Dengan satu gerakan yang cepat pedang lemas Liong Leng-cu segera digetarkan, sehingga lurus dan kaku, cahayapedangnya bagaikan bintang di tengah kegelapan, memancar ke empat penjuru amat menyilaukan mata.
"Jangan, jangan…."
Belum sempat Nyo Yan meneriakkan kata "lukai dia", Ting Tiau-bing telah roboh terkapar ke atas tanah. Sambil tertawa Liong Leng-cu segera berseru.
"Buat apa kau mesti terburu nafsu? Dia telah menotok delapanbelas buah jalan darahmu, dan sekarang aku hanya menotok sembilan buah jalan darahnya, ini sudah terhitung cukup berbelas kasihan. Ting Tiau-bing tenaga dalammu sangat baik, tak mungkin kau akan mati kedinginan, baik-baiklah berbaring selama dua belas jam di atas permukaan salju!"
Padahal dia sendiri pun tidak memiliki kemampuan untuk menusuk delapanbelas buah jalan darah Ting Tiau-bing dalam satu gebrakan tapi sekali tusuk bisa menotok sembilan buah jalan darah, hal itu sudah cukup membuat Nyo Yan merasa kagum sekali.
Walaupun lengan kiri Ting Tiau-bing masih bisa berputar namun tubuhnya tak mampu berjeutik dan mulurnya tidak dapat berbicara lagi.
Kiranya Liong Leng-cu sengaja tidak menotok jalan darah pada lengan kirinya agar bila diserang binatang buas dia masih bisa bertahan dengan sebelah tangannya.
Nyo Yan menghembuskan nafas lega setelah menyaksikan semua itu, ia lantas berpikir.
"Walaupun cara kerja siluman perempuan cilik ini amat sesat, tapi dia cukup memahami jalan pikiranku yang bermaksud untuk melindungi Ting susiok. Sehingga mengatur segala sesuatunya secara sempurna. Mungkin dia pun menotok jalan darah Siau Hok-nian dengan cara yang sama pula…."
Sementara itu Liong Leng-cu sudah melompat naik kereta dan berkata sambil tertawa.
"Biarlah aku menjadi kusir keretamu untuk sementara waktui"
Agaknya ilmu mengemudikan kereta yang dimilikinya masih lebih bagus bila dibandingkan dengan kepandaian Siau Hok-nian, sekalipun melalui jalan perbukitan yang curam namun kereta kuda itu masih bisa berlarian dengan kencang.
Selang sepeminuman teh kemudian, kereta tersebut sudah tiba di bawah lembah yang datar dengan selamat, saat itulah dia baru menghentikan lari kudanya.
Pada waktu itulah Nyo Yan baru mempunyai kesempatan untuk berbincang-bincang dengannya, ia berseru.
"Nona Liong, terima kasih atas kesediaanmu untuk menganggap aku sebagai sahabatmu."
Tempo hari, ketika Liong Leng-cu berpisah dengannya, dia pernah berkata tak ingin berjumpa lagi dengan pemuda tersebut. Liong Leng-cu segera menyahut dengan hambar.
"Itu kan cuma dugaanmu belaka, aku tak pernah berkata demikian."
"Kalau memang begitu mengapa kau datang membantu aku? Padahal tempo hari, aku hanya ingin melakukan perjalanan bersamamu saja kau melarang…."
"Kau anggap aku datang karena dirimu?"
"Lantas kau datang karena apa?"
"Kau lupa kalau aku mempunyai suatu kegemaran yang terhitung aneh, yaitu aku suka mencari orang kenamaan dari dunia persilatan untuk diajak beradu kepandaian."
"Benarkah kau hanya ingin mencari Ting Tiau-bing untuk mencoba kepandaian dan sebelumnya tidak tahu dia membawaku?"
"Bukan cuma tahu Ting Tiau-bing hendak membawamu pergi ke Jik-tat-bok, bahkan aku pun tahu siapa yang telah membekukmu. Berbicara terus terang, pada mulanya aku pun tidak bermaksud untuk mencari Ting Tiau-bing guna beradu kepandaian."
"Dari mana kau bisa mengetahui hal ini?"
"Sewaktu kau dibekuk oleh Beng Hoa, kebetulan aku bersembunyi di belakang sebuah batu besar, untung saja ia tidak mengetahui jejakku. Nyo Yan, sungguh tak kusangka cngkoh-mu adalah seorang jago pedang yang tiada keduanya di dunia ini, mengapa kau enggan untuk mengakuinya?"
"Dia bukan kakakku. Alasan di balik kesemuanya itu tak mungkin bisa aku beritahukan kepadamu!"
"Setiap orang memang mempunyai kesulitan masing-masing, aku pun tak mau mengakui yaya-ku, kau enggan mengakui kakakmu hal tersebut bukan sesuatu yang aneh. Jika kau memang enggan untuk mengatakannya, ya sudahlah."
Kemudian setelah berhenti sekejap, dia berkata lebih jauh.
"Setelah kusaksikan ilmu pedang kakakmu, sadarlah aku kalau ilmu silatku tak mungkin bisa mengalahkan dirinya, sebab itu aku harus berpikir dua kali. Sebaliknya aku pun melihat ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat orang she Ting itu lumayan juga, sebab itu aku lantas pergi mencarinya."
Jadi boleh dibilang kebebasannya kini hanya suatu kebetulan saja. Diam-diam Nyo Yan segera berpikir.
"Ternyata selama beberapa hari ini secara diam-diam ia selalu menguntitku»kalau begitu, sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan nasibku."
Dalam hati ia merasa gembira sekali, cuma hal tersebut tak sampai diungkapkan.
"Hei, apa yang kau tertawakan?"
Mendadak Liong Leng-cu menegur.
"Tidak apa-apa. Entah bagaimanapun, kau telah membantu aku, hai itu berarti kau adalah tuan penolongku. Aku tak tahu bagaimana mesti membalas budi kebaikanmu itu."
Perkataan tersebut benar-benar muncul dari hati sanubarinya, sebab ia lebih suka mati daripada menerima "pendidikan"
Dari Beng Goan-cau.
"Asal kau sudah tahu, itu lebih baik,"
Ujar Liong Leng-cu sambil tertawa lebar.
"Dulu pernah kau membantu aku, dan aku pun pernah membantumu, berarti kita sudah impas dan tidak saling berhutang. Sekarang aku telah membantumu lagi dan budi tersebut tidak mungkin bisa dibikin impas dengan bantuan kecil yang telah kau berikan kepadaku tadi."
"Budi tak usah dibicarakan, balas tak perlu diumumkan, bila kau membutuhkan bantuanku menyuruh aku terjun ke lautan api pun aku tak bakal menampik!"
"Bibimu dan susiok-mu memaki aku sebagai siluman perempuan kecil, meski kau tidak mengatakan begitu sekarang, aku tahu dalam hati kecilmu kau pun berpendapat demikian."
"Kau jangan menuduh yang bukan-bukan,"
Buru-buru Nyo Yan berseru.
"Dalam anggapan mereka aku adalah seorang iblis kecil, mana mungkin aku memakimu sebagai siluman perempuan kecil?"
Liong Leng-cu tertawa cekikikan.
"Baiklah, kalau begitu anggap saja kita memang sejenis, sebagai orang yang sejenis, kita boleh bicara blak-blakan tanpa perasaan sangsi lagi."
"Aku memang ingin mendengarkan perkataanmu.!’ "
Melepaskan budi tanpa mengharapkan pamrih adalah jiwa seorang ksatria."
"Aku adalah seorang siluman perempuan, tak salah jika aku mengharapkan balas jasa darimu. Cuma selama hidup aku pun amat membedakan antara budi dan dendam, semua aku lakukan secara adil, berapa kau hutang kepadaku, berapa pula kau harus membayar padaku, soal mendaki gunung golok atau terjun ke lautan api sih tak perlu."
Mendengar perkataan itu, Nyo Yan segera berpikir.
"Permainan setannya amat banyak, entah kesulitan apa lagi yang dia persiapkan untukku?"
Berpikir demikian, lantas dia berkata sambil tertawa.
"Tolong tanya, pembayaran macam apakah yang kau maksudkan sebagai suatu pembayaran yang setimpal?"
"Aku akan menyuruh kau melakukan suatu pekerjaan, asal kau merasa pekerjaan tersebut setimpal bukankah beres?"
"Lantas… pekerjaan apa yang hendak berikan padaku?"
"Sekarang belum ada, tunggu saja sampai kutemukan cara tersebut baru akan aku beritahukan padamu."
"Soal ini, soal ini…."
Nyo Yan agak tak tenang dibuatnya. Liong Leng-cu seperti memahami jalan pemikirannya, sambil tertawa dia pun berkata.
"Jangan khawatir,, pertama aku takkan menyuruh kau melakukan perbuatan yangmerugikan orang lain, kedua aku tak akan menggunakan kesempatan ini untuk menyiksamu. Kau berhutang budi kepadaku, lain waktu asal kau pun melakukan sesuatu buatku, dan perbuatan tersebut cukup memberi muka padaku, hal itu sudah lebih dari cukup."
Nyo Yan segera menghembuskan napas panjang.
"Itu gampang,"
Ujarnya kemudian.
"kau sudah membantu aku, sekalipun kau menyuruh aku berlutut di hadapan orang lain, aku bersedia melakukannya."
Merah padam selembar wajah Liong Leng-cu lantaran jengah.
"Aah, ngaco belo tak keruan,"
Omelnya.
"aku toh bukan kuntilanak atau perempuan iblis, kenapa aku mesti menyuruh orang lelaki berlutut di hadapanku?"
Nyo Yan tertawa getir.
"Selama beberapa hari ini aku si ‘orang lelaki’ benar-benar sedang sial. Cuma terus terang saja kukatakan kepadamu, sekalipun aku dipaksa oleh angkatan tua perguruanku atau kakakku, jangan harap aku akan bertekuk lutut di hadapan mereka?"
"Wah, kalau begitu kau benar-benar memberi muka untukku,"
Seru Liong Leng-cu tertawa.
"Atau, benar! Aku belum sempat bertanya kepadamu, bagaimana dengan keadaan lukamu? Perlukah kubantu menyembuhkan luka tersebut? Ban tuanku kali ini adalah bantuan gratis, jangan khawatir, aku tak bakal menagih bayaran."
"Lukaku sudah hampir baik. Cuma jalan darahku saja yang belum bebas, mungkin harus menunggu selama tiga jam lagi."
Rupanya karena dia harus memecahkan perhatian untuk berbicara, selama ini dia hanya berhasil membebaskan tiga buah jalan darah saja, dengan begitu dia telah membebaskan enam buah jalan darah, berarti masih ada duabelas buah jalan darah yang belum dibebaskan.
Dengan kening berkerut Liong Leng-cu lantas berseru.
"Aku tak sabar untuk menunggu selama tiga jam lagi, biar aku yang membantu usahamu kali ini!"
"Kali ini kau menuntut pembayaran tidak?"
Sengaja Nyo Yan bertanya. Liong Leng-cu tertawa "Aku bukan seorang manusia yang sama sekali tak berperasaan, kalau cuma mengeluarkan sedikit tenaga tak usah dibayar."
Dalam anggapannya membebaskan pengaruh totokan cuma suatu pekerjaan yang gampang, siapa tahu setelah dicoba hasilnya sama sekali di luar dugaan.
0odwo0 Untuk membebaskan totokan jalan darah di tubuh seseorang, maka tenaga dalam harus berhasil menembusi hambatan pada jalan darah yang bersangkutan, berhubung waktu itu Nyo Yan sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk bergabung dengan tenaga dari luar untuk menembusi hambatan dalam jalan darahnya, kontan saja jari tangan itu terpental balik.
Bukan saja jalan darah Nyo Yan yang tertotok tak berhasil dibebaskan, jari tangannya seakan tertusuk oleh jarum yang amat tajam sehingga tak ampun lagi dia menjerit kesakitan.Nyo Yan menjadi tak tega, dan katanya.
"Nona Liong aku lupa memberitahukan satu hal kepadamu sehingga membuat kau sengsara, semua ini merupakan kesalahanku!"
"Soal apa sih?" ‘Tenaga dalamku bukan ajaran yaya-mu, selama ini aku melatih simhoat tenaga dalam dari Thian-san-pay."
"Apakah tenaga dalam dari dua aliran yang berbeda akan mengakibatkan terjadinya kekuatan yang saling bertentangan?"
"Belum tentu, hal tersebut tergantung pada perbedaan yang bagaimanakah itu, di samping harus ditinjau pula dari sempurna atau tidaknya tenaga dalam kedua belah pihak."
"Oooh, aku mengerti sekarang, berhubung tenaga dalamku jauh tertinggal dibandinganmu, bahkan dengan Ting Tiau-bing pun kalah, maka aku sama sekali tak berdaya untuk membebaskan pengaruh totokan pada tubuhmu."
Gadis ini dasarnya memang berwatak ingin menang sendiri, tak heran kalau nada pembicaraannya amat kesal dan tak senang hati. ‘Tidak, aku tidak bermaksud demikian,"
Buru-buru Nyo Yan berseru.
"masih ada satu cara lagi bila kau ingin membantuku bebas dari pengaruh totokan dalam waktu singkat, tapi kau harus percaya kepadaku."
Liong Leng-cu menjadi terheran-heran, katanya kemudian.
"Bila aku membantu membebaskan pengaruh totokanmu, maka hanya kau yang tidak percaya kepadaku, takut ku-manfaatkan kesempatan tersebut untuk mencelakaimu. Masa sebaliknya akulah yang harus mempercayai dirimu?"
"Sulit dipahami kalau cuma dibicarakan melulu, asal kita coba nanti, kau akan mengerti dengan sendirinya."
"Aku adalah orang yang gemar akan segala sesuatu yang baru dan aneh, cepat beri tahu, asal kau berani mempercayai aku, aku pun berani untuk melakukan percobaan."
"Salurkan tenaga dalammu ke dalam telapak tangan, kemudian hantamlah jalan darah Siang-ing-hiat-ku keras-keras."
Yang dimaksudkan sebagai Siang-ing-hiat adalah jalan darah kematian. Liong Leng-cu merasa amat terperanjat, cepat serunya.
"Tenaga pukulan telapak tangan jauh lebih keras daripada pukulan jari tangan, bila harus dipukulkan keras-keras, masa kau tahan?"
"Aku tak akan berbuat bodoh!"
Ujar Nyo Yan tertawa "Masa kugunakan nyawaku sebagai bahan gurauan? Hantam saja sepenuh tenaga, seandainya menjumpai suatu gejala aneh kau pun tak perlu gugup atau terkejut.
"Dengan perasaan ingin tahu Liong Leng-cu segera menurut petunjuk itu dan menghantamnya keras-keras.
Baru saja telapak tangannya menyentuh tubuh si anak muda itu, benar juga segera timbul suatu perasaan aneh dari tubuh anak muda itu.
Liong Leng-cu merasa tenaga dalamnya seperti batu yang tercebur ke dalam samudra luas, sama sekali lenyap tak berbekas, sementara telapak tangannya melekat pada tubuh pemuda itu.
Liong Leng-cu terkesiap dan segera berpikir di dalam hati.
"Jangan-jangan Nyo Yan sengaja memasang perangkap iniuntuk menjebakku, kemudian dia hendak menghisap kering seluruh tenaga dalam yang kumiliki?"
Untung saja kejadian seperti itu hanya berlangsung dalam waktu singkat, belum habis ingatan tersebut melintas lewat, gejala "aneh"
Lainnya segera berlangsung. Kali ini Nyo Yan telah mengerahkan tenaga dalamnya sendiri menembusi telapak tangannya, bukan saja kekuatan yang "hilang"
Mendapat gantinya, bahkan seakan-akan bertambah dahsyat.
Meskipun ilmu silat yang dimiliki Liong Leng-cu tidak seluas Nyo Yan, akan tetapi pengetahuannya tinggi sekali.
Sesudah tertegun, dengan cepat dia dapat memahami teori tersebut.
Rupanya tenaga dalam Nyo Yan jauh di atas kekuatannya, tapi lantaran jalan darahnya belum bebas, maka kekuatan tersebut tak bisa dipergunakan.
Sedang apa yang dikerahkan ke dalam tubuh anak muda tadi, tak lebih hanya suatu tenaga dalam "pancingan"
Untuk memancing tenaga dalam yang berada di dalam tubuhnya untuk menembusi jalan darahnya yang tertotok, begitu jalan darahnya bebas, otomatis tenaga dalamnya mengalir terbalik.
Diam-diam Liong Leng-cu memekik dalam hatinya.
"Aah… sungguh memalukan, aku telah salah menilai dirinya…."
Dengan cepat dia berseru.
"Nyo toako, tenaga dalammu benar-benar amat luar biasa."
"Jangan berbicara dulu, cepat lanjutkan usaha kita untuk menembusi jalan darah lain yang masih tertotok,"
Tukas Nyo Yan cepat.Liong Leng-cu menurut, tak lama kemudian keduabelas buah jalan darah itu sudah berhasil dibebaskan semua.
Setiap kali dia berhasil membebaskan sebuah jalan darah Nyo Yan, gadis itu segera meraih sebagian keuntungan.
Sejak bertarung sengit melawan Ting Tiau-bing tadi, sebenarnya dia sudah amat lelah dan hampir saja kehabisan tenaga, tapi sekarang selain tubuhnya menjadi segar, bahkan jauh lebih segar daripada semula.
Begitu semua jalan darahnya sudah bebas, Nyo Yan segera melompat turun dari kereta kuda dan menarik napas panjang-panjang.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu membebaskan totokan dalam tubuhku sebelum waktunya, setelah berbaring melulu selama beberapa hari di dalam kereta, aku benar-benar merasa kesal sekali."
Setelah melompat turun dari kereta, dia segera menjerit dan melompat-lompat di atas permukaan salju seperti seorang anak nakal yang baru lolos dari sekapan, seperti juga seorang yang baru lolos dari penjara.
Sambil tertawa Liong Leng-cu segera berkata.
"Kali ini kita masing-masing tidak berhutang budi kepada pihak yang lain. Tapi kau mesti berhati-hati,"
"Hati-hati apa?" ‘Tahukah kau apa yang berada di bawah kakimu itu?"
"Tanah berlumpur yang dilapisi beberapa lapis salju!"
"Tidak, di bawahmu adalah sebuah sungai es."
"Sungguh?"
"Bila kau tidak percaya, gali dan lihatlah sendiri, menurut perhitunganku asal kau menggali sedalam tiga kaki maka akan kau jumpai salju terapung di atas sungai es, bila kau gali terus lapisan salju terapung itu maka di bawahnya terdapat air, dari lubang itu kau pun bisa mengail ikan."
Nyo Yan menjadi girang sekali setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Aku memang sudah jemu makan ransum kering terus-menerus, kalau bisa mencicipi ikan segar memang paling sedap. Baik, kalau memang harus digali akan kugali!"
Dengan mempergunakan pedangnya dia mulai menggali lapisan salju yang keras itu, tatkala ia menggali hingga kedalaman tiga kaki, betul juga dia menemukan salju yang mengambang dalam lapisan tanah, seperti apa yang dikatakan Liong Leng-cu, ketika lapisan salju yang mengambang itu digali kemudian melemparkan sebutir batu ke dalamnya, segera terdengar suara air.
Nyo Yan menjadi girang sekali, serunya dengan cepat.
"Nona Liong, pengetahuanmu benar-benar luar biasa sekali, sungguh membuat aku merasa kagum sekali."
Saling Mengungkap Asal-Usul "Inginkah kau tahu dari mana aku mempelajari kepandaian tersebut…?"
Tanya Liong Leng-cu.
"Bila kau bersedia menceritakan kepadaku, tentu saja hal ini merupakan suatu kebetulan bagiku." ‘Tentunya kau masih ingat bukan cerita yang pernah kuceritakan kepadamu tentang ayah ibuku. Ketika aku berusia sebelas tahun, ayah terbunuh oleh musuh, ibu menderita lukaparah dan mengajak aku melarikan diri, waktu ibuku masih berbadan dua. Dalam perjalanan untuk melarikan diri, nasib sial menimpanya, kandungannya gugur hingga menyebabkan tubuhnya menjadi lemah, sejak itu sakitnya tak pernah sembuh kembali. Untuk menghidupi ibuku, aku pernah mengemis, pernah mencuri, pernah pula mempelajari pelbagai cara untuk melanjutkan hidup.
"Kepandaian menangkap ikan ini kupelajari dari ibuku."
Dari Kanglam kami melarikan diri ke gurun utara, ibulah yang menganjurkan kepadaku agar melarikan diri ke utara, sebab ibu adalah gadis yang dibesarkan di bukit bersalju, kabur ke tengah bukit bersalju seperti pulang ke kampung halaman, kesegarannya banyak pulih kembali.
Ia memberitahukan kepadaku agar jangan ketakutan oleh suasana hening di sini, sebab di balik padang salju justru terdapat banyak mestika, sandang pangan tak terhitung jum-lahnya.
Menangkap ikan dari bawah lapisan salju merupakan salah satu cara yang dia ajarkan kepadaku untuk melanjutkan hidup.
"Cuma untuk menangkap ikan dari bawah salju pun kalau dibilang gampang ya gampang, tapi kalau dibilang sukar pun ya sukar sekali. Yang sukar adalah untuk menemukan umpan ikan. Di lapisan salju memang terdapat cacing-cacing yang tidur pada musim salju, tapi sukar ditemukan. Seandainya tiada umpan yang berada di atas kail maka sukar pula untuk menemukan ikan. Ada kalanya badan sampai kaku pun belum berhasil mendapat seekor ikan pun. Cuma ikan yang berada di bawah lapisan salju memang lebih gampang dikail ketimbang ikan di sungai, sebab dia tak bisa berenang kian kemari, ada kalanya bila nasib sedang mujur, meski tiada umpan, asal kita turunkan pancing pun bisa jadi akan mendapat seekor ikan yang besar."
Sayang sekali walaupun ibuku bisa mengajarkan cara untuk melanjutkan hidup, namun dia sendiri hanya bisa hidup selama dua tahun, tatkala usiaku mencapai tigabelas tahun, dia telah meninggal dunia.
Sekarang tentunya kau tidak merasa kagum lagi karena aku memahami kepandaian ini, bukan?
Coba kalau aku tidak memahami kepandaian tersebut, mungkin sudah lama aku mati kelaparan."
"Maaf,"
Ucap Nyo Yan dengan sepasang mata berkaca-kaca.
"aku tidak seharusnya membangkitkan kembali kepedihanmu."
"Aku tak memiliki perasaan sosial atau rasa kasihan yang begitu tebal seperti kau, mungkin hal ini karena aku sudah terlampau lama merasakan hidup menderita, sehingga aku turut menjadi kaku. Cuma lantaran kau menanyakan soal itu kepadaku, aku pun memberitahukan hal ini kepadamu. Seperti menceritakan kisah pengalaman orang lain saja, aku sudah tidak merasa sedih lagi."
Sekalipun dia berkata demikian, tapi dari balik kekerasan hati yang terpancar dari wajah gadis itu, secara lamat-lamat Nyo Yan dapat merasakan suatu kesedihan dan penderitaan yang sangat mendalam.
Nyo Yan menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Kita adalah orang-orang senasib sepende-ritaan, tampaknya kau jauh lebih mujur daripada aku. Terima kasih contoh yang kau berikan kepadaku, asal kau bisa menahannya, aku pun pasti dapat menahannya juga…."
Liong Leng-cu menurunkan pancingnya ke dalam lubang salju itu, lama kemudian dia baru berhasil mengail seekor ikan kecil.
Sambil tertawa getir segera serunya,’ "Dasar nasib lagi jelek.
Aku tahu di bawah situ terdapat banyak ikan, tapi apa mau dibilang kalau pancingnya kurang panjang, ditambah lagi tiada umpan, sulit memang untuk mendapat ikan.
""Aku masih mempunyai suatu cara yang bagus untuk menangkap ikan tanpa mempergunakan pancing."
"Masa ada lain? Aku tidak percaya…."
"Tidak percaya? Akan kubukti-kan!"
Setelah menggosok-gosok sepasang telapak tangannya dia lantas menekankan telapak tangannya di atas lubang salju itu kemudian menghisapnya keras-keras ke atas.
"Hei, pertunjukan apakah yang sedang kau lakukan?"
Liong Leng-cu segera menegur.
"Lihat sajal Kenapa mesti terburu nafsu? Lihatlah… tanpa dipancing pun ikan-ikan akan berdatangan sendiri."
Sesudah telapak tangannya ditekan ditarik dan ditekan ditarik sampai puluhan kali lebih, mendadak terdengar suara air yang berada di bawah permukaan salju itu bergema makin lama semakin keras, akhirnya bagaikan suara gemuruh guruh yang sangat keras, air menyembur keluar dari lubang salju itu dengan derasnya membawa beberapa ekor ikan besar.
"Nah, cukup belum?"
Tanya Nyo Yan kemudian sambil tertawa. Tak kuasa lagi Liong Leng-cu memuji tiada hentinya.
"Nyo Yan, tenaga dalammu betul-betul amat sempurna, entah sampai kapan aku baru bisa melatih ilmuku hingga mencapai tingkatan seperti apa yang kau miliki."
"Padahal tenaga dalam yang kau latih tidak lebih jelek daripada tenaga dalamku, cuma alirannya saja yang berbeda. Kalau simhoat tenaga dalammu lebih condong pada sifat merusak hingga sedikit banyak timbul juga akibat sampingan dalam tubuh, maka tenaga dalammu tak bisa memperoleh kemajuan sepesat apa yang kualami. Asal kau mengerti caramelatih Iwekang, bila dasarnya sudah kuat maka kemajuan bisa dicapai dengan cepat."
Dengan mengucapkan perkataan tersebut, sesungguhnya dia sudah menyatakan kesanggupannya untuk memberi petunjuk tenaga dalam kepadanya, entah Liong Leng-cu memahami maksud hatinya atau tidak, dia cuma membungkam diri dalam seribu bahasa.
Selang beberapa saat kemudian gadis itu baru berkata.
"Kau membantuku memancing ikan besar, mari kumasakkan ikan tersebut untukmu."
Dengan mempergunakan lumpur untuk membungkus ikan segar tersebut, Liong Leng-cu menirukan cara memasak "ayam pengemis"
Yang merupakan hidangan termasyhur dari wilayah Kanglam, dia masak ikan tadi dengan jalan membakar.
Tatkala lapisan lumpurnya merekah dan terkupas, daging ikan di dalamnya sudah masak, wangi dan lezatnya bukan kepalang.
Nyo Yan segera menikmati hidangan tersebut dengan penuh kenikmatan, bahkan memuji tiada hentinya.
"Nona Liong, ada suatu persoalan aku ingin mohon petunjukmu, bersediakah kau untuk memberi petunjuk kepadaku?"
Setelah kenyang bersantap tiba-tiba Nyo Yan bertanya.
"Kau ingin belajar memasak ikan dariku?"
Tanya Liong Leng-cu sambil tertawa.
"Bukan, aku ingin belajar ilmu silat darimu."
Ucapan itu segera membuat Liong Leng-cu tertegun."Rupanya kau sedang mengajakku bergurau,"
Dia berseru.
"Bukankah ilmu silatmu lebih baik dari-padaku, masa kau ingin belajar dariku?"
"Aku berbicara dengan hati yang jujur, ilmu pedangmu, ilmu cambukmu semuanya jurus serangan yang aneh dan luar biasa, aku mengakui tak sanggup memadai dirimu. Sean-dainya kau bersedia memberi petunjuk kepadaku, maka dalam ilmu pedang aku tidak akan takut menderita kekalahan lagi di tangan Beng Hoa."
Pada dasarnya Liong Leng-cu adalah seorang gadis yang suka mencari menang sendiri, apalagi setelah dipuji, ia merasa bangga bukan kepalang.
"Ilmu silat itu warisan ayah dan ibuku,"
Demikian dia menerangkan.
"semasa masih hidup dulu, ayah pun pernah berkata kalau ilmu pedangnya merupakan aliran tersendiri yang lain daripada yang lain. Dia bilang jika kepandaian tersebut bisa dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan maka pedang hanya ada di hati, bukan di tangan. Mengertikah kau…?"
"Tidak mengerti."
"Asal pedang berada dalam hatimu, maka benda apa pun yang berada di tanganmu bisa digunakan sebagai pedang, bahkan walaupun di tangan tiada benda apa pun, kau bisa memainkan pedang."
"Waah… tbrlalu hebat kepandaian itu."
"Padahal hal ini pun tidak terlalu sulit untuk dipahami. Pada mulanya orang harus memahami dulu caranya mengaitkan tenaga keras dan lembut, kemudian mengimbangi jurus serangan yang ringkas menjadi banyak, dan dari banyak diubah menjadi ringkas, setelah itu kau baru melatih diribagaimana menggerakkan pedang bersamaan dengan timbulnya niat"
"Kalau begitu, kau harus mengajarkan sendiri kepadaku,"
Ujar Nyo Yan kemudian.
"Dengan dasar ilmu silat yang kau miliki asal diberi petunjuk sedikit saja niscaya kau akan mengerti. Cuma kalau aku ajarkan ilmu itu kepadamu, berarti aku telah menjadi gurumu, hal ini mana boleh jadi?"
"Tentu saja aku tidak rela kalau disuruh memanggil dirimu sebagai guru, lagipula aku pun tak bisa menerima pelajaran darimu dengan begitu saja, sebab aku khawatir harus berhutang budi lagi kepadamu, itu sama artinya aku mendapat beban dan kewajiban untuk membayarnya di kemudian hari…."
Tampaknya Liong Leng-cu menangkap sesuatu di balik ucapan tersebut, dia lantas bertanya.
"Lantas apa yang kau inginkan?"
"Sesungguhnya aku ingin sekali melatih ilmu pedangmu, bagaimana jika kupakai simhoat tenaga dalamku sebagai bahan barter denganmu? Memang kalau dihitung kau rada rugi, tapi anggap sajalah itu seimbang, mau bukan?"
Padahal kalau dibicarakan yang sebenarnya, barter semacam ini jauh lebih menguntungkan Liong Leng-cu, sudah barang tentu Liong Leng-cu memahami pula. Dia lantas tertawa.
"Kau takut aku enggan menerimanya maka kau lantas ingin mempelajari ilmuku lebih dulu? Baiklah, kalau memang kau takut ragi, aku pun dengan senang hati akan mengadakan barter denganmu."
Dua hari berikutnya, mereka berdua saling bertukar ilmu silat, dibimbing oleh anak muda tersebut, betul juga Liong Leng-cu segera berhasil membaurkan kedua macam simhoat tenaga dalamnya menjadi suatu kekuatan yang mahadahsyat.
Nyo Yan sendiri, sehabis melatih ilmu pedangnya dan melebur ke dalam ilmu pedang Thjan-san-kiam-hoat, dengan cepat dia berhasil menciptakan jurus-jurus baru.
Begitulah, setelah Nyo Yan berhasil membawa ilmu silatnya mencapai suatu tingkat tertentu, dengan sengaja tak sengaja dia berkata.
"Di masa lalu, lantaran dasar kekuatan ilmu silatku belum teguh maka yaya melarangku membaurkan kedua macam simhoat tenaga dalam ini menjadi satu, sekarang aku berhasil memberi petunjuk kepadamu untuk membaurkan kedua macam tenaga dalam tersebut menjadi satu. Sesunguhnya hal ini merupakan penemuanku tersendiri, mungkin saja tak bakal salah, tapi sudah barang tentu jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kelihayan yaya. Andaikata dia memberi petunjuk sendiri kepadamu…."
Belum habis dia berkata, paras muka Liong Leng-cu telah berubah hebat katanya.
"Untung saja bukan ‘yaya-mu’ yang mengajarkan kepandaian tersebut kepadaku, kalau tidak aku lebih suka tak melatih tenaga dalam itu selamanya! Andaikata kaki ayahku tidak dihajar sampai kutung olehnya, tak mungkin dia akan mati di tangan lawan. Pokoknya, bagaimanapun juga kau tak akan bisa mengubah jalan pemikiranku lagi. Tempo hari aku toh sudah pernah bilang, jika kau menyinggung lagi soal dia, maka aku akan menganggap kau sebagai musuh besar juga!"
Sambil menghela napas Nyo Yan menggelengkan kepalanya berulang kali, terpaksa dia membungkam dalam seribu bahasa.Tiba-tiba Liong Leng-cu tertawa.
"Nyo Yan,"
Dia berkata.
"persoalanku boleh dibilang hampir kau ketahui semua, sebaliknya urusanmu hanya sedikit yang kuketahui, ini tidak adil namanya."
"Apa yang ingin kau ketahui? Selain persoalan yang menyangkut ayah ibuku, aku bisa memberitahukan semuanya kepadamu."
"Aku tahu riwayat hidupmu mempunyai suatu rahasia yang sulit untuk diutarakan, jangan khawatir, aku pun tak ingin menyelidiki rahasia pribadimu. Aku hanya tak kuasa menahan rasa ingin tahuku saja sehingga ingin bertanya tentang sese-orang. Orang itu tidak she Nyo, pun tidak she Beng, aku rasa dia sama sekali tak ada hubungannya dengan pantanganmu itu."
Nyo Yan menjadi tertegun.
"Lantas siapakah yang ingin kau tanyakan?"
"Siapa sih enci Leng-mu itu?"
"Oh, rupanya kau menanyakan dia?"
"Tidak pantaskah aku bertanya kepadamu?"
"Sekalipun tidak kau tanyakan, aku pun ingin memberitahukan persoalan itu kepadamu. Dia she Leng bernama Ping-ji, murid dari ciang-bun hujin dari Thian-san-pay kini. Sejak kecil aku dirawat olehnya, sehingga hubungan kami melebihi hubungan saudara kandung sendiri."
"Betulkah semesra itu? Kalau memang demikian, mengapa kau lakukan perbuatan yang membuatnya sedih?"
"Siapa yang bilang kalau aku melakukan perbuatan yang membuatnya sedih?"
Seru Nyo Yan sambil melompat bangun.
"Dia adalah orang yang paling kuhormati dan paling aku sayangi, mana mungkin aku…."
"Tapi engkoh-mu Beng Hoa yang berkata demikian!"
"Beng Hoa bukan engkoh-ku, dia ngaco belo. Apakah kau pun percaya ocehannya?"
"Aku sama sekali tak mengetahui perbuatan apakah yang kau perbuat terhadap Leng Ping-ji, aku hanya dengar Beng Hoa memakimu berbuat kurang ajar kepadanya, bagaimana kekurangajaran tersebut tidak dikatakan Beng Hoa, sedangkan aku pun tidak menduga yang bukan-bukan. Kenapa sih kau mesti gelisah?"
"Aku tahu kau tidak akan menerima pendapat umum. Beng Hoa dan Ting Tiau-bing memang mengaco belo belaka, padahal…."
"Padahal kenapa?"
Nyo Yan tidak ingin mengemukakan hubungan cintanya dengan Leng Ping-ji kepada Liong Leng-cu. Akan tetapi dia toh berkata juga.
"Tidak apa-apa. Mereka mengira aku dan enci Leng telah melakukan sesuatu yang memalukan, padahal hubungan kami berdasarkan rasa sayang dan rasa hormat, berlangsung secara terbuka. Aku suka enci Leng, apakah hal ini merupakan suatu perbuatan salah?"
"Kau suka kepadanya, mengapa kau harus berpisah pula dengannya…?"
"Dia yang ingin demikian. Dia minta kepadaku paling tidak harus berpisah selama tujuh tahun."
"Mengapa sedemikian anehnya?"
"Aku sendiri pun tidak tahu,"
Sahut Nyo Yan sambil tertawa getir.
"Kalau begitu aku hendak mengajukan lagi sebuah pertanyaan yang pasti bisa kaujawab. Tadi kau mengatakan hendak memberitahukan soal enci Leng kepadaku, mengapa kau tidak memberitahukan kepadaku bila aku tidak menanyakannya? "
"Kau tidak tahu, walaupun enci Leng tidak pernah berjumpa denganmu, namun dia sangat menaruh perhatian kepadamu!"
"Dia menaruh perhatian kepadaku?"
"Benar, ketika dia menetapkan perjanjian untuk berpisah selama tujuh tahun, dia pun menyelipkan pula sebuah syarat lain."
"Apa hubungannya antara aku dengan syarat tersebut?"
"Justru ada sangkut pautnya, aku baru mau mengatakannya. Dia minta kepadaku untuk menemukan kau lebih dahulu dalam tujuh tahun ini…."
Paras muka Liong Leng-cu segera berubah hebat, sambil menggigit bibir dia membungkam dalam seribu bahasa. Nyo Yan tidak menaruh perhatian atas perubahan wajahnya, dengan wajah berseri sambungnya.
"Setelah berpisah dengan enci Leng, sebetulnya aku khawatir, di dunia yang begini luasnya, entah sampai kapan aku baru dapat berjumpa denganmu. Sungguh tak disangka tak perlu Kucari dirimu, kau telah datang sendiri ada hadapanku"
"Ooh… rupanya kau ingin berjumpa denganku hanya lantaran persoalan enci Lcng-mu itu?"
Kata Liong Lcng-cu dengan suara sedingin salju.
"Kau jangan berpikiran sempit, sebetulnya aku bukan berharap bisa jumpa denganmu karena ingin memenuhipermintaan enci Leng saja Sekalipun tiada syarat tersebut, aku tetap akan mencarimu!"
Liong Leng-cu segera tertawa dingin. ‘Benar, aku adalah manusia yang berpikiran sempit, mana mungkin aku bisa menandingi enci Leng-mu?"
"Aaai, kau pakai aturan tidak?"
Teriak Nyo Yan kemudian.
"Dia adalah sanakku, sedang kau pun sanakku…."
Mendadak dia teringat kalau Liong Leng-cu tak ingin mendengar nama yaya-nya disinggung kembali,’ maka ucapan selanjurnya secara tiba-tiba dipotong dengan begitu saja "Aku memang tak pernah memakai aturan, tapi kali ini aku ingin bicara dengan aturan.
Setelah kau berhutang budi kepadaku, menurut pendapatmu, pantaskah jika kau lakukan suatu pekerjaan pula bagiku "
Agak terkesiap Nyo Yan setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat ia bertanya.
"Kau ingin menyuruhku melakukan pekerjaan apa?"
"Jangan khawatir,"
Ucap Liong Leng-cu sambil tertawa.
"aku tak akan menyuruhmu berpisah dengan enci Leng-mu. Hutang tersebut boleh saja kutagih setelah tujuh tahun kemudian, tapi sekarang aku boleh mengambil bunganya lebih dulu bukan?"
"Baik, katakanlah, aku pasti akan membayar bunga tersebut…"
"Kalau begitu, dekatkan telingamu kemari, aku akan memberitahukannya kepadamu!"
Mendadak tangannya diayunkan ke muka dan… "plak, ploook, plaaak, ploook!" , dia menghadiahkan empat buah tempelengan keras ke wajahnya.
"Anggap saja keempat tamparan itu sebagai bunganya. Sejak kini, kau melewati jalanmu dan aku menyeberangi jembatanku. Kau tak usah mencariku lagi, aku pun tak akan mencarimu."
Selesai mengucapkan perkataan tersebut Liong Leng-cu segera membalikkan badan dan berlalu dari situ. Sambil meraba pipinya yang panas dan pedas, Nyo Yan segera berteriak keras.
"Aku toh masih harus mengerjakan sesuatu untukmu, kalau tidak berjumpa denganmu, hal ini mana mungkin?"
"Bertemu denganmu atau tidak, keputusannya berada di tanganku. Apalagi aku toh bisa mengutusmu untuk melakukan sesuatu tanpa harus bertemu denganmu!"
Berbicara sampai di situ, Liong Leng-cu segera tertawa cekikikan.
Suara tertawanya belum lagi hilang dari sisi telinga, bayangan tubuh Liong Leng-cu sudah lenyap dari pandangan matanya Sambil meraba pipinya yang panas dan pedas, Nyo Yan benar-benar dibikin menangis tak bisa tertawa pun tak dapat Dia tahu jelas watak gadis itu, sekalipun dikejar juga percuma karena hal ini sama halnya dengan mencari kesulitan bagi diri sendiri, itulah sebabnya terpaksa ia cuma berdiam diri belaka "
Wataknya ini sungguh lucu dan membingungkan, pada hakikatnya jauh lebih sukar diraba daripada meraba perubahan cuaca Cuma, tempo hari pun dia pernah bilang tak ingin berjumpa lagi denganku, siapa tahu di kemudian hari bila sedang gembira, dia akan berbuat seperti hari ini, datang sendiri mencariku.
Aaaai… ke manakah aku harus pergi pun tidak kuketahui, peduli amat dia hendak ke mana.
"Tapi dunia begitu luas, jagat bukan sedaun kelor, ke manakah dia harus pergi? Nyo Yan merasakan hatinya bimbang, kosong dan kebingungan…. Sebenarnya dia bermaksud untuk pulang dan menemani yaya-nya tapi dia tak ingin berbohong kepada yaya-nya, seandainya dia pulang sebelum berhasil menaklukkan hati Liong Leng-cu, bukankah kejadian ini akan membuat yaya-nya merasa kecewa? Sedang Jik-tat-bok? Dia tak ingin ke situ atau paling tidak dewasa ini dia masih belum berhasrat Dalam hal ini, mau tak mau dia harus berterima kasih kepada Liong Leng-cu, kini tiada orang yang bisa memaksanya untuk pergi ke Jik-tat-bok. Walaupun dia merasa agak lega dan enteng tapi teringat kembali tindak-tanduk ayah kandungnya seperti apa yang didengar dari Ting Tiau-bing dani Siau Hok-nian. kembali hatinya seperti diiris-iris dengan pisau.
"Benarkah ayahku begitu rendah dan pengecut seperti apa yang mereka ucapkan?"
Tanpa terasa dia menghubungkan kembali kejadian ini dengan musibah yang menimpanya selama ini.
"Dalam pandangan mereka» bukankah aku pun seorang ‘binatang kecil* yang sudah bejat moralnya dan penuh kejahatan? Ciok Thiang-hing ingin membunuhku. Beng Hoa ingin membunuhku, bahkan Kam susiok pun hendak memunahkan ilmu silatku! "
Perkataan orang tak boleh dipercaya dengan begitu saja, duduk persoalan yang sebenarnya harus kuselidiki sendiri! "
Dalam keadaan perasaan dan pikiran yang serba kalut, dia masih ingin mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, tapi dia takut pula andaikata persoalan yang sesungguhnya terungkap.
"Andaikata ayahku benar-benar seperti apa yang mereka katakan, apa yang harus kulakukan?"
Walaupun ia mengemban perasaan ngeri dan takut di dalam hatinya, namun tak pernah berani mencari jelas duduknya persoalan, sebab dia khawatir tak dapat meloloskan diri lagi dari kemurungan dan kecurigaan untuk selamanya.
Sambil mengertak gigi, akhirnya dia mengubah rencananya semula, dia bertekad hendak menyelidiki tingkah laku ayahnya Rencana pertama yang hendak dikerjakan olehnya adalah mengunjungi "desa kelahiran"
Yang pernah dikunjunginya itu.
Di kota Po-teng terdapat bibinya Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh, ada pula kakak misannya Ki See-kiat.
Dia membenci bibinya, tapi rindu kepada Ki See-kiat "Sekalipun dia bukan kakak misanku, sudah sepantasnya aku mengunjungi dirinya,"
Demikian Nyo Yan berpikir.
"aku ingin mem-beritahukan keadaan enci Leng kepadanya sedang masalah dia bersedia memaafkan diriku atau tidak, itu urusan pribadinya!" ---ooo0dw0ooo---Sudah hampir sebulan Ki See-kiat kembali ke rumah, musim semi sudah lewat. Dari utara yang dingin dan jauh dari keramaian kembali ke kampung halaman yang hangat dan permai, dari perantauanyang jauh dari sanak keluarga kembali ke pangkuan ibunda tercinta, seharusnya peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang patut dirayakan dengan gembira Sayang keadaan tersebut bagi Ki See-kiat justru merupakan kebalikannya… Walaupun suasana hangat dan pemandangan permai, namun dalam hati kecilnya masih dilapisi oleh salju dan kemurungan. Sekalipun di kampung halaman sendiri dikatakan hangat, namun baginya ibarat terkurung dalam gudang salju yang amat dingin, perasaannya benar-benar amat murung, sedih dan hampa Yang kembali ke rumah seperti hanya tubuh kasarnya belaka, sebulan lebih dia selalu murung dan bermuram durja. Sudah barang tentu Nyo toakoh mengetahui rahasia hati putranya, dia pun telah berdaya upaya untuk memulihkan kembali semangat hidup putra tunggal ini. Semua kenalan dan sanak keluarga dihubungi, berusaha mencarikan jodoh bagi putranya Mula pertama Ki See-kiat masih menurut, tapi kemudian pada hakikatnya ia menolak mentah-mentah semua usaha ibunya tersebut… Malahan pernah satu dua kali dia sengaja berlagak bloon, sehingga pertemuan harus diakhiri dalam suasana yang tidak menggembirakan…. Pepatah mengatakan, penyakit rindu hanya bisa diobati dengan obat rindu. Apalagi penyakit rindu putranya terjadi lantaran perbuatannya, sudah barang tentu dia berusaha keras untukmenemukan obat rindu yang baik untuk mengobati penyakit putranya Yang membuat Ki See-kiat agak terhibur adalah ibunya masih terhitung pegang janji dengan tak mendesaknya untuk bekerja bersama engku-nya Nyo Bok. Dia tahu engku-nya sudah menjadi pengawal kaisar dalam istana, cuma kedudukan engku-nya ini tak pernah diungkapkan. Kecuali sanak keluarga serta muridnya, pada hakikatnya orang lain menganggap ia sudah tiada lagi di dunia ini. Kini sudah hampir sebulan lebih ia pulang ke rumah, namun Nyo Bok tak pernah datang menengok. Antara ibu dan anak pun seakan-akan sudah terdapat suatu kesepakatan. Nyo toakoh tidak memaksa putranya untuk mengerjakan pekerjaan yang tak diingini olehnya sedangkan Ki See-kiat juga tak pernah menyinggung nama Leng Ping-ji lagi. Walaupun demikian, sang ibu sudah barang tentu mengerti kalau perasaan putranya masih tertinggal di hati Leng Ping-ji dan tidak ikut pulang ke rumah. Apa daya sekarang? Apa yang harus dilakukan untuk membuat putranya menjadi gembira? Dia pun hanya bisa menganjurkan putranya agar banyak berkumpul dan bergaul dengan teman-temannya Teman Ki See-kiat di dusun tidak terlalu banyak, semasa masih kecil dulu dia hanya sering bermain dengan keenam orang murid Nyo Bok.Murid pertama dari Nyo Bok yakni Bun Seng-liong kini sudah menjadi perwira dalam pasukan pengawal istana jabatannya amat tinggi dan terhormat Murid ketiga Pui Liang dan murid keempat Huan Kui sudah meninggalkan rumah banyak tahun, entah mereka telah pergi ke mana Ada orang mengatakan mereka sudah menggabungkan diri dengan laskar pembela bangsa namun tiada orang yang tahu apakah berita itu benar atau salah… Mungkin lantaran selisih usia yang lebih sedikit, semasa masih kecilnya dulu, teman paling akrab Ki See-kiat adalah murid kelima dari Nyo Bok yakni Song Peng-ci dan muridnya yang terakhir Oh Lian-kui. Kali ini, Song Peng-ci dan Oh Lian-kui pula yang diutus ke Sin-kiang untuk mencarinya dan pulang bersama mereka, hubungan mereka boleh dibilang jauh lebih akrab daripada dahulu. Sayangnya mereka harus kembali ke ibu kota untuk menjadi piausu di perusahaan Ceng-wan piaukiok, sehingga mau tak mau mereka harus berpisah dengan Ki See-kiat. Di antara enam orang murid Nyo Bok, hanya murid kedua Pui Hou saja yang tinggal di kota Po-teng. Usianya belasan tahun lebih tua dari Ki See-kiat, tahun ini telah mencapai usia empatpuluh dua tahun. Dia merupakan seorang hartawan yang kaya raya di kota Po-teng, sawahnya beribu-ribu bau, kekayaannya melimpah, sejak lulus dari perguruan dia hidup senang di rumah dan tak melakukan apa-apa…. Pui Hou paling pandai mencari hati Nyo toakoh, setiap tahun baru atau hari perayaan apa pun dia selalu mengirim sejumlah hadiah buat bibi gurunya ini. Di hari-hari biasa pun dia sering datang mengucapkan selamat, sehingga di antaraenam orang murid Nyo Bok, Nyo toakoh paling suka kepadanya. Sikap Ki See-kiat terhadap Pui Hou tidak bisa dibilang kelewat benci, tapi bukan berarti kelewat senang. Berhubung semasa kecilnya dulu, Pui Hou sering kali memberi mainan padanya, maka hubungan mereka boleh dibilang cukup rapat. Itulah sebabnya sepulang dari rantau, mereka sudah beberapa kali saling berjumpa dan berbincang. Hari ini Pui Hou telah mengutus centeng untuk mengundang mereka ibu dan anak untuk menghadiri perjamuan. Alasannya mengundang mereka untuk menikmati bunga dan diterangkan hanya mengundang beberapa orang sanak keluarga dan sobat karib, sama sekali tiada orang luar. Hal ini karena dia tahu kalau Ki See-kiat paling segan bertemu dengan orang-orang yang tak dikenalnya. Dalam gedung keluarga Pui terdapat sebuah kebun bunga yang sangat besar. Pui Hou khusus mengundang beberapa orang ahli kebun dari selatan untuk merawat kebunnya itu. Berjenis bunga dari semua penjuru berada di situ, bila musim semi tiba, sejauh mata memandang aneka bunga yang tampak. Karena keindahannya itu, maka kebun bunga keluarga Pui boleh dibilang terhitung kebun bunga indah yang termasyhur di kota Po-teng. Sebetulnya Ki See-kiat enggan pergi, tetapi Nyo toakoh segera berkata.
"Bagaimanapun juga kau toh tak ada urusan di rumah, tcmanilah aku menikmati keindahan bunga. Apalagi dia kan sudah bilang tidak akan mengundang orang luar, kau tak usah menolak undangannya."
Namun Ki See-kiat tidak sependapat dengan anjuran ibunya, di dalam hati kecilnya dia berpikir.
"Sekalipun Pui suko bukan seorang yang mengerti akan seni, minum arak sambil menikmati bunga masih terhitung suatu perbuatan yang ber-seni pula."
Selain itu dia pun merasa sikapnya selama beberapa bulan ini terhadap ibunya kelewat dingin dan hambar, ia merasa agak menyesal, maka permintaan ibunya pun dikabulkan.
---ooo0dw0ooo---Seperti menyambut datangnya mestika saja, Pui Hou segera mengundang Nyo toakoh berdua masuk ke dalam kebun.
Terlihat meja perjamuan telah disiapkan, sudah ada dua orang yang menanti di situ.
Mereka adalah sepasang ayah dan putrinya, melihat kehadiran Nyo toakoh, buru-buru mereka maju menyambut.
Tampaknya Nyo toakoh kenal betul dengan lelaki tersebut, sesudah berbasa-basi, katanya sambil tertawa.
"Lo busu, sudah berapa tahun aku tak berjumpa dengan putrimu, tak nyana putrimu makin lama semakin bertambah cantik dan menarik, sudah ada yang punya?"
Sementara itu Pui Hou yang berada di sisinya sedang memperkenalkan kepada Ki See-kiat "Adik Kiat, masih ingat dengan adik misanku? Sewaktu masih kecil dulu, kalian sudah pernah saling berjumpa."
Ternyata Lo busu adalah enthio (suami bibi) Pui Hou, dia bernama Lo Hi-hong dan merupakan salah satu busu yang termasyhur di kota Po-teng, dulu dia angkat nama bersama-sama Nyo Bok.Sementara si gadis bernama Lo Pek-soat, dia adalah putri tunggal Lo Hi-hong, dua tahun lebih kecil dari Ki See-kiat, tahun ini telah berusia duapuluh lima tahun.
Tatkala masih kecil dulu, Ki See-kiat pernah bersua muka dua tiga kali dengannya di gedung keluarga Pui, tak dapat dikatakan mempunyai suatu kesan tertentu.
Dalam ingatannya gadis itu amat sombong, suka berbicara dan suka memerintah orang lain, ketika masih kecil dulu pun dia tak terlalu suka bermain dengannya Tampak gadis itu mengenakan bedak yang sangat tebal dengan gincu merah menempel di bibir, sambil melirik kiah kemari dengan genit, katanya tertawa.
"Kami cuma gadis desa, mana mungkin engkoh See-kiat akan mengingatnya terus? Mungkin dia sudah melupakan aku…?"
Ki See-kiat berpaling dan memandang sekejap wajah ibunya, terpaksa untuk sopan santun dia berkata.
"Ooh, masih ingat, sudah lama kita tak bersua muka, baik-baikkan kau nona Lo?"
Sementara itu, Lo Hi-hong sedang menjawab pertanyaan dari Nyo toakoh.
"Aaai, kalau dibicarakan sungguh memalukan, sampai kini siauli belum ketemu jodohnya"
"Dandananmu saja macam siluman kesiangan, mana mungkin ada lelaki yang jatuh hati kepadamu?"
Pikir Ki See-kiat di dalam hati.
Padahal berbicara yang sebenarnya walaupun dandanan Lo Pek-soat agak sedikit "kelewatan", namun dia masih memiliki kecantikan yang bisa diandalkan.
Sayangnya Ki See-kiat sudah dapat merasakan, mungkin perjumpaan yang diselenggarakan kali ini pun merupakansuatu pertemuan ‘mencari jodoh ", tak heran kalau sikapnya jadi kurang baik, kesannya terhadap Lo Pek-soat pun semakin jelek.
Buru-buru Pui Hou menimbrung dari samping.
"Sukoh, kau tahu adik misanku ini menilai orang kelewat tinggi, banyak orang yang telah meminangnya tapi satu per satu ditolak mentah-mentah. Cuma, hal ini tak bisa disalahkan, habis dia adalah seorang yang Bun-bu-coan-cay (ahli dalam ilmu sastra maupun ilmu silat), berbicara soal ilmu silat, kepandaiannya berasal dari ajaran keluarga berbicara soal sastra, baik ilmu memetik harpa, main catur, melukis, bersanjak, semuanya itu dikuasai dengan baik. Coba bayangkan sendiri, kalau tidak sesuai orangnya, mana mungkin dia akan memandang sebelah mata kepadanya?"
"Hiantit, kau kelewat memuji dirinya,"
Ucap Lo Hi-hong cepat-cepat.
"Untung saja Nyo toakoh bukan orang asing, kalau tidak, hal ini bisa dianggap sebagai lelucon."
Nyo toakoh segera tertawa "Aku sudah lama mengetahui kalau nona Lo adalah seorang bun-bu-coan-cay.
Yang lebih hebat lagi adalah dia berwatak baik, sekalipun memiliki ilmu silat yang sangat lihay, namun tak pernah berkeliaran di tempat luar.
Tidak seperti perem-puan-perempuan persilatan lainnya yang cuma mengerti memainkan golok belaka, mengakunya saja seorang pendekar perempuan, tapi nyatanya lelaki bau dari golongan apa saja digauli… hmmm, perempuan macam apa itu?"
Jelas perkataan itu tertuju kepada Leng Ping-ji, sebagai orang yang pintar Ki See-kiat juga dapat mendengarnya "Ya perkataan itu memang benar,"
Buru-buru Lo Hi-hong menimbrung.
"Soal ilmu silat atau ilmu sastra adalah soalkedua yang paling penting adalah wataknya Oleh karena itu sejak kecil aku sudah mendidik putriku agar mengerti adat kesopanan dan tata kehidupan seorang gadis, sebagai seorang anak dara tidak sepantasnya mempunyai kebiasaan dari seorang perempuan persilatan."
Nyo toakoh kembali tertawa "Entah siapakah di kemudian hari yang beruntung bisa menjadi suaminya? Aku ingin sekali menjadi mak comblang untuk putrimu, cuma khawatirnya ia menolak."
"Aah, bibi Nyo pandai amat bergurau…."
Seru Lo Pek-soat pura-pura manja "
Aku tak akan kawin, cuma., piauko, kau mengatakan aku agak condong, hal ini sungguh membuat aku merasa rikuh. Apalagi ada Ki toako di sini, masa aku dibilang bun-bu-coan-cay?"
Pui Hou dan Nyo toakoh saling berpandangan sambil tertawa, belum sempat mereka bicara, Ki See-kiat telah berkata duluan.
"Tulisan yang kukenal belum mencapai satu keranjang, ilmu silat yang kupahami pun cuma beberapa jurus ilmu silat kucing kaki tiga, kalau ingin membicarakan soal ilmu silat atau ilmu sastra, lebih baik jangan sertakan aku. Hari ini… haah… haahh… haahh… udara amat segar. Pui suko, bunga dalam kebunmu tampaknya sedang mekar semua, sungguh menarik sekait."
Lo Pek-soat menjadi tertegun, tapi Ki See-kiat tidak menggubrisnya, dia beranjak dan memperhatikan bunga di sekitar situ. Lo Hi-hong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah haah, Ki sauya pandai amat bergurau. Cuma ucapan Ki siauhiap memang benar, udara hari ini sangat baik, hawa semacam ini hanya pantas untuk menikmati keindahan bunga,kalau dipakai untuk membicarakan soal ilmu sastra atau ilmu silat, rasanya kurang begitu baik."
"Betul, betul sekali,"
Sambung Pui Hou.
"sebetulnya aku memang mengundang sute untuk menikmati bunga tak nyana sute begitu terpikat oleh bunga di sini, mari kita menikmati bunga lebih dulu kemudian baru minum arak."
Sambil menebalkan muka terpaksa Lo Hi-hong harus menemani Ki See-kiat melihat bunga, sebaliknya Lo Pek-soat menjadi tersipu-sipu dan merasa rikuh sekail Nyo toakoh segera menggandeng tangannya, lalu berkata sambil tersenyum.
"Anakku itu memang tak pandai berbicara» harap nona Lo jangan marah."
Untuk menghilangkan suasana rikuh yang menyelimuti pertemuan tersebut, Pui Hou segera memperkenalkan pelbagai macam bunga yang ditanam dalam kebun tersebut kepada Ki Scc-kiat sambil berkata.
"inilah bunga teh yang khusus didatangkan dari negeriTaylidi wilayah In-lam, kebanyakan orang mengatakan bunga teh dari Kun-beng paling bagus, padahal hasil dari negeri Tayli ini paling hebat. Coba kau lihat… inilah bunga Toa-ma-nau, dan itu Kim-leng-huay. Toa-ma-nau dan Kim-leng-huay semuanya merupakan nama bunga teh, yang disebut pertama warnanya merah seperti manau besar, sedangkan yang disebut belakangan berwarna hijau dengan besar seperti cawan…."
Walaupun Ki See-kiat sedang tak senang hati, tak urung dia memuji juga tiada hentinya Pui Hou semakin gembira, kembali ujarnya "Bunga Pau-cun-hoa ini pun berasal dari negeri Tayli.
Betul di daerah-daerah lain pun terdapat bunga Pau-cun-hoa tapi bunga berwarna merah darah dengan putik berwarna kuning keemas-emasan ini jarang ditemukan di mana-mana kecuali di negeri Tayli,hanya di Kun-beng saja yang ada Aah, dan itu adalah bunga botan hitam, bunga itu khusus didatangkan dari kota Lok-yang, baru tahun ini berhasil kutanam."
Menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam Ki See-kiat berpikir.
"Dari utara maupun selatan sungai besar, Pui suko berhasil memindahkan pelbagai macam bunga untuk ditanam di sini, entah berapa banyak tenaga dan uang yang telah dikorbankan. Untuk berhasil menanam sekuntum bunga botan hitam saja mungkin menghabiskan biaya sebesar biaya hidup seorang miskin selama setengah tahun."
Tiba-tiba muncul seorang bocah berusia empat limabelas tahunan, sambil menarik tangan Lo Hi-hong serunya.
"Lo kongkong, kau berjanji akan mengajarkan ilmu melepaskan peluru besi kepadaku, sudahkah kau bawa peluru besimu?"
Bocah ini adalah putra Pui Hou yang bernama Pui Hong, sejak kecil sudah dimanja ayah ibunya sehingga lagaknya jumawa, tapi dia terhitung agak cocok dengan Ki See-kiat.
Walaupun kadang kala Ki See-kiat membenci kenakalannya tapi dia pun menyenangi kelincahan dan kepolosannya.
"Bawanya sih sudah kubawa,"
Kata Lo Hi-hong.
"cuma hari ini sedang ada tamu, beberapa hari lagi saja kuajarkan kepadamu."
"Mana tamunya? Nenek Nyo selalu menganggap aku sebagai cucunya jadi dia dan paman Ki tak bisa disebut sebagai tamu…."
"Aku dan paman Ki-mu tentu saja tak bisa dianggap sebagai tamu,"
Kata Nyo toakoh sambil tertawa "Sekarang paman Ki sedang menikmati bunga kau jangan mengganggu kegembiraannya"
Sela Lo Hi-hong kemudian."Aah tidak menjadi soal,"
Terpaksa Ki See-kiat berkata "aku pun ingin menyaksikan kelihayan ilmu peluru besi dari empek Lo."
Sebetulnya Nyo toakoh merasa gak tersipu-sipu karena sikap kurang sopan dari putranya tadi, menggunakan kesempatan itu dia lantas mengumpak Lo Hi-hong sambil berkata.
"Ilmu peluru baja dari keluarga Lo merupakan suatu kepandaian yang luar biasa dalam dunia persilatan, anak Kiat, kau sudah sepantasnya banyak meminta petunjuk dari empek Lo ini."
"Aah… tidak berani, tidak berani,"
Kata Lo Hi-hong cepat-cepat dengan wajah berseri.
"Siapa pun tahu kalau keluarga Ki dan keluarga Nyo merupakan keluarga persilatan, See-kiat terhitung seorang jagoan yang hebat. Permainan kucing kaki tigaku ini paling-paling cuma suatu permainan anak kecil saja baginya"
Mau tak mau terpaksa Ki See-kiat harus memberi muka kepada Lo Hi-hong, katanya.
"Empek, kau jangan sungkan-sungkan, siautit menjadi malu. Mungkin ilmu silat dari keluarga Lo tak mungkin bisa kupelajari karena sulit, empek harap kau mendemontrasikan lebih dulu agar mata siautit terbuka"
Lo Hi-hong semakin gembira dibuatnya, ia berkata "Baiklah, atas dukungan Nyo toaci dan Ki lote, baiklah lohu akan mendemonstrasikan kejelekanku."
Selesai berkata dia mengeluarkan dua buah peluru baja yang satu besar yang satu kecil, lalu sambil diangsurkan kepada Pui Hong, ujarnya "Sebentar aku akan melepaskan kedua biji peluru baja ini ke muka untuk menghajar batu yang ada di puncak gunung-gunungan tersebut, coba kau terka, peluru baja manakah yang tiba lebih dulu?"
Pui Hong menimang-nimang berat peluru baja itu, ternyata peluru itu merupakan baja asli yang berat, yang kecil lebih enteng setengah dari yang besar, maka sahutnya, ‘Tentu saja yang kecil ini akan tiba lebih dahulu!"
"Benarkah itu? Baik, kalau begitu akan aku lepaskan peJuru yang kecil ini lebih dahulu."
"Apalagi kalau begitu, tentu saja yang kecil akan sampai lebih dulu…."
Belum habis dia berkata tampak Lo Hi-hong telah mengayunkan tangannya ke depan.
Betul juga peluru yang kecil itu dilemparkan lebih dahulu, kemudian yang besar baru dilepaskan.
Tampaknya peluru baja yang kecil itu sudah hampir menghajar gunung-gunungan tersebut, mendadak yang besar mempercepat gerakannya dan berhasil melampaui, malahan sekejap kemudian sudah jauh melampauinya "Blaaamm, blaammm…!"
Menyusul kemudian terdengar dua kali benturan nyaring, terlihat percikan bunga api memancar keempat penjuru, batu hancur berguguran, sepotong batu besar di atas gunung-gunungan itu sudah terhajar sampai hancur.
Tempik sorak segera berkumandang memecahkan keheningan, semua orang bersorak sorai bersama.
"Kepandaian yang amat bagus!"
Ki See-kiat sendiri pun diam-diam berpikir.
"Sungguh tak kusangka tua bangka ini memiliki tenaga yang sangat kuat, cuma menghajar batu bukan sesuatu yang sulit, persoalannya adalah membedakan antara yang berat dengan yang ringan serta mengerahkan tenaga-tenaga menuruti kehendak hatiitulah yang paling sukar."
Sehingga tanpa terasa dia pun turut bersorak sorai dan memuji tiada hentinya.
"Aah… hanya permainan jelek, hanya permainan jelek, harap jangan ditertawakan, harap jangan ditertawakan!"
Kata Lo Hi-hong sambil mengelus jenggot dan tertawa.
Di tengah gelak tertawa dan suara tepuk tangan yang ramai, tiba-tiba Ki See-kiat seperti mendengar suara hiruk pikuk dari luar.
Dengan kening berkerut Pui Hou berseru.
"Li Hay, coba kau keluar dan periksa, suara ribut-ribut apakah itu?
0odwo0 Li Hay adalah seorang pelayan, dia mengerti sedikit ilmu silat.
Pui Hong yang pada dasarnya gemar melihat keramaian, menggunakan kesempatan itu, segera serunya.
"Ayah ijinkan aku untuk melihat keadaan di luar. Seandainya ada orang hendak menerbitkan keonaran, soal berkelahi aku lebih hebat daripada Li Hay!"
Tidak menunggu persetujuan ayahnya lagi, dia segera ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu. Lo Pek-soat turut berkata pula sambil tertawa.
"Aah, siapa yang berani mencari gara-gara di depan gedung tempat tinggal piauko? Mungkin anak buahmu sedang mengusir pengemis yang sedang meminta-minta."
Ternyata Pui Hou meski kaya namun tidak sosial, dia telah menetapkan suatu peraturan, sekalipun sedang diadakan perayaan, pengemis dilarang datang berkunjung, mereka diwajibkan berbaris di depan dusun, kemudian ia baru meni-tahkan pelayannya untuk menghadiahkan sisa nasi dan sayur untuk mereka.
Jadi soal mengusir pengemis sudah merupakan suatu kejadian yang lumrah dan sering terjadi, Lo Pek-soat pernah menjumpainya satu kali.
Jarak antara kebun bunga dengan pintu gerbang amat jauh, akan tetapi dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Ki See-kiat, dia memiliki ketajaman pendengaran yang melebihi orang biasa, secara lamat-lamat dia telah mendengar suara yang sedang berkumandang di luar sana adalah suara orang yang sedang berkelahi.
Nyo toakoh juga turut mendengar, cuma suara hiruk pikuk itu tahu-tahu sudah mereda.
Nyo toakoh tahu, meski usia Pui Hong masih kecil, namun ilmu silat yang dimilikinya sudah mencapai beberapa bagian kepandaian yang dimiliki ayahnya, kalau cuma lelaki bengis biasa tak mungkin bisa mendekati tubuhnya.
Oleh karena itu dia bukannya merasa khawatir kalau Pui Hong tak tahu diri hingga melukai orang-orang yang membuat keonaran tersebut.
Baru saja Pui Hou hendak memanggil pulang putranya, Li Hay yang barusan berlarian keluar itu telah muncul kembali, dengan napas yang tersengal-sengal dia berteriak.
"Loya, celaka… aduh celaka…."
"Ada apa? Mengapa sikapmu begitu gugup?"
"Sauya telah ditangkap mereka!"
Tak terlukiskan rasa kaget Pui Hou setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya.
"Siapa? Siapakah mereka?"
Belum habis perkataan itu diutarakan, seseorang telah tertawa terbahak-bahak, belum lagi orangnya kelihatan, suaratertawanya telah memekakkan telinga setiap orang yang berada di dalam kebun tersebut Ki See-kiat menjadi amat terperanjat, segera pikirnya.
"Hebat benar tenaga dalam yang dimilikinya, sudah jelas dia merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, tapi mengapa dia menganiaya seorang anak-anak?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya.
"mereka"
Yang dimaksudkan Li Hay telah melangkah masuk ke dalam pintu kebun….
Ternyata mereka adalah seorang lelaki bercambang berusia limapuluh tahunan yang berjalan di muka, disusul seorang nyonya setengah umur berusia empatpuhih tahunan di belakangnya, meski usianya sudah menanjak namun sisa-sisa kecantikannya masih tetap ada, hal ini menunjukkan kalau semasa masih mudanya dulu, dia adalah seorang nona yang cantik sekali….
Nyonya cantik, itu membawa sebuah ruyung lemas, ruyung tersebut menjirat lengan Pui Hong, sehingga Pui Hong boleh dibilang diseret masuk ke dalam secara paksa.
Pui Hou adalah seorang hartawan kaya raya yang menguasai daerah di sekitar tempat itu, di hari-hari biasa hanya dia yang menganiaya orang, tapi tiada orang yang berani mengusiknya.
Tak nyana pada hari ini dia telah tertimpa bencana yang sama sekali tidak terduga, hal tersebut kontan saja membuat hawa amarahnya berkobar.
Cuma bagaimanapun dia termasuk seorang yang tahu keadaan, dia pun mengerti kalau pendatang tersebut tidak bermaksud baik, maka pikirnya di dalam hati.
"Tampaknya ilmu silat yang dimiliki lelaki ini masih berada di atas kepandaianku, untung saja sukoh dan enthio berada di sini, jadi bagaimanapun lihaynya perampok yang datang, rasanya aku tidak usah turun tangan sendiri.
Tapi, lebih baik aku menanyakan dulu maksud kedatangannya.
Dalam pada itu.
orang-orang dari keluarga Pui sudah mendapat tahu terjadinya peristiwa itu dan berbondong-bondong datang ke situ.
Kebanyakan pelayan yang bekerja di gedung orang kaya biasanya hanya menganiaya orang, apalagi saat itu di dalam kebun mereka selain hadir majikannya, terdapat pula Nyo toakoh dan Lo Hi-hong dua orang jago kelas satu dan dunia persilatan yang menjadi tulang punggung mereka, tentu saja siapa pun tak akan membiarkan orang luar bertingkah.
Jadinya setiap orang ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menunjukkan kebolehan dan kesetiaannya terhadap majikan mereka Kawanan budak yang menyaksikan majikannya tidak memberi tanda larangan, kontan saja berteriak keras dan bersama-sama maju ke depan….
Lelaki bercambang itu berlagak seakan-akan tidak melihat ataupun mendengar, dengan langkah lebar dia tetap melanjutkan perjalanannya ke muka Mendadak saja terdengar suara jeritan kesakitan yang berkumandang saling menyusul….
Kalau dibicarakan memang aneh sekali, kawanan budak yang sebenarnya sedang menyerbu ke depan itu tahu-tahu sudah jatuh tertelentang di atas tanah, kendatipun lelaki bercambang yang diserang sama sekali tidak melakukan suatu gerak apa pun.Bagaimanakah cara mereka sampai terjatuh?
Bahkan Pui Hou sendiri pun tak sempat melihatjelas.
Padahal sudah hampir sepuluh tahun lamanya dia belajar silat di bawah pimpinan Nyo Bok.
Sebaliknya Nyo toakoh dan Lo Hi-hong merasa amat terkejut, mereka dapat melihat dengan jelas kalau lelaki bercambang itu telah mempergunakan ilmu Can-ih-cap-jit-lok yang merupakan ilmu tenaga dalam yang sangat lihay.
Nyonya cantik setengah umur itu juga menunjukkan kepandaiannya ketika diserang.
Nyonya cantik setengah umur itu tertawa, katanya.
"Apakah kalian minta persen? Baik, walaupun aku tidak bisa dibandingkan dengan majikan kalian yang kaya uang kecil untuk memersen kalian tetap ada!"
Begitu selesai berkata tangannya tampak diayunkan ke depan, seketika itu juga di sekeliling tubuhnya telah dipenuhi kepala-kepala manusia yang sedang berlutut di tanah.
Rupanya kawanan budak tersebut telah dipersen sebuah mata uang yang menghajar jalan darah Wan-tiau-hiat pada lututnya ketika mereka sedang melancarkan tubrukan tadi.
Ilmu melepaskan senjata rahasia yang begitu lihay, tentu saja tidak pernah disaksikan oleh Pui Hou, bahkan mendengar pun belum pernah, pada dasarnya ia memang sudah keder, sekarang perasaan ngeri semakin mencekam perasaannya Nyonya cantik berusia pertengahan itu segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya.
"Haaa… haaa… haaa… baru saja dipersen sebuah mata uang, kalian semua telah melakukan penghormatan besar, waah tampaknya jiwa kalian semua me-mang jiwa budak. Baiklah, daripada ditolak, lebih baik kuterima saja penghormatan kalian itu."
Dia lantas menarik kembali ruyung lemas yang membelenggu tubuh Pui Hong dan menyusul di belakang suaminya, di tengah gelak tertawanya dia sudah tiba di depan meja perjamuan.
Sambil menahan diri Pui Hou segera menegur.
"Saudara berasal dari mana?"
"Utti Keng dari Koan-tang sengaja datang kemari untuk mengunjungi hartawan kaya raya,"
Ucap lelaki bercambang itu lantang.
Begitu mendengar nama tersebut tak terlukiskan rasa kaget Pui Hou, bahkan Nyo toakoh dan Lo Hi-hong pun turut terkesiap.
Untuk beberapa saat lamanya, semua orang menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Ternyata Utti Keng adalah seorang perampok budiman yang sudah amat termasyhur namanya di wilayah Kwangtang, selama duapu-luh tahun malang melintang dalam dunia persilatan, baik jago dari golongan putih maupun dari golongan hitam sama-sama memberi muka untuk suami istri ini.
Entah berapa banyak pembesar korup dan saudagar pelit yang dibikin pecah nyali, entah berapa banyak piausu dan opas yang dibikin berkerut kening.
Karena ulah dan tingkah lakunya ini, oleh para pembesar pemerintah ia dicap sebagai "perampok ulung dari Kwangtang" , sebaliknya kawan-kawan persilatan menghor-matinya sebagai "pendekar besar dari Kwangtang" .Hanya saja, sudah banyak tahun belakangan ini mereka jarang melakukan pekerjaan lagi, tak disangka mereka bisa muncul secara tiba-tiba di gedung keluarga Pui.
Yang lebih hebat lagi, ia menyebut Pui Hou sebagai Pui toa-caycu (hartawan besar Pui), buat hartawan lain, sebutan itu memang tak berpengaruh apa-apa, tapi buat Pui Hou jelas hal ini merupakan suatu penghinaan.
Sebagaimana diketahui, meskipun Pui Hou kaya raya, namun dia terhitung pula sebagai anggota persilatan, menurut peraturan dunia kangouw, setiap orang yang termasuk anggota dunia persilatan, entah tabiatnya baik atau buruk, sepantasnya bila ia dipanggil Pui suhu atau paling tidak Pui cengcu.
Tapi sekarang, disebut toa-caycu, hal ini sama artinya dengan menganggap dia sebagai hartawan biasa.
Sambil menahan diri Pui Hou berkata.
"Ooh… rupanya Utti Keng tayhiap yang telah datang, sudah lama kudengar namamu. Li eng-hiong ini…."
Waktu itu Nyo toakoh sedang mengawasi nyonya cantik setengah umur itu tak berkedip, mendadak ia melanjutkan.
"Li enghiong itu tentunya Utti hujin yang disebut orang persilatan sebagai Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Tangan Seribu) Ki Seng-in, Ki lihiap bukan?"
"Betul, akulah Ki Seng-in,"
Jawab nyonya cantik itu.
"Sedang masalah Jian-jiu-Koan-im atau bukan, teman-teman persilatan yang menempelkan emas di atas wajahku, bukan suatu kenyataan."
"Utti hujin tak usah merendah,"
Nyo toakoh mendengus dingin.
"dengan mengandalkan ilmu melepaskan senjata rahasia Thian-li-san-hoa (Bidadari Langit Menyebar Bunga)yang kau miliki, sudah sepantasnya bila kau menyandang julukan Jian-jiu-Koan-im, cuma… hmmm… hemmm… aku merasa sedikit sayang bagimu."
"Apa yang disayangkan?"
"Bila Jian-jiu-Koan-im harus menghadapi kucing tiga kaki, apakah kau tidak merasa suatu perbuatan yang berlebih-lebihan?"
Jelas maksud dari pembicaraan itu adalah menyindir perbuatannya yang telah merobohkan para centeng yang cuma pandai ilmu silat kucing kaki tiga, walaupun berhasil merobohkan mereka semua, juga belum bisa menunjukkan kehebatan Jian-jiu-Koan-im.
Tapi dari pembicaraan itu, dapat disimpulkan juga kalau ia sedang menantang Ki Seng-in untuk berduel.
Entah Ki Seng-in tidak memahami tantangan tersebut atau karena soal lain, ternyata ia hanya berkata dengan hambar.
"Tangkeh kami ingin kemari mengunjungi Pui toa-caycu, kebetulan aku pun sedang senggang maka aku turut kemari untuk menonton keramaian. Soal kucing kaki tiga aku tak sudi untuk menggubrisnya, tapi kalau sudah berubah menjadi anjing buas yang menggigit manusia, aku tak berpeluk tangan belaka, bukankah demikian?"
"Pui cengcu adalah murid keponakanku,"
Kata Nyo toakoh cepat.
"kau ingin menggebuk kucing juga boleh, menghajar anjing pun boleh, aku tak ambil peduli, lapi bila ada orang sampai menganiaya keponakan muridku, aku pun tak bisa ber-peluk tangan belaka, bukankah demikian?"
Ucapan ini jelas ditujukan secara langsung buat Ki Seng-in, tapi tiba-tiba Utti Keng tertawa.
"Haah haah haah, Seng-in,kau mesti berhati-hati. Kau si Jian-jiu-Koan-im telah bertemu dengan Lak-jiu-Koan-im!"
Nyo toakoh mendengus dingin, lanjurnya.
"Hmm, setelah kalian tahu diriku, aku rasa kalian tak usah berbicara yang tidak-tidak lagi. Aku ingin bertanya kepada Utti hujin, mengapa kau bekuk putra keponakan muridku ini?"
"Oh, itu keinginan tangkeh kami, aku hanya menuruti permintaan suami saja. Bila kau ingin tahu silakan saja suruh orang yang bersangkutan berhubungan sendiri dengan tang-keh kami."
Pui Hou tahu kalau Nyo toakoh bertekad untuk membantunya, tak heran kalau keberaniannya meningkat, katanya lantang.
"Utti tayhiap, apakah putraku tak tahu diri sehingga berbuat kurang ajar kepadamu?"
"Tidak. Lagi pula sekalipun putramu benar-benar melakukan tindakan yang bersifat kurang ajar kepadaku, orang dewasa tak akan mempersoalkan masalah anak bandel."
"Kalau begitu kau memang sengaja mencari gara-gara denganku? Di masa lalu aku tak pernah mengikat bibit permusuhan denganmu, belakangan ini aku pun tak pernah menyalahi dirimu, apa sebabnya kau gunakan cara yang rendah dan tak tahu malu ini untuk menghadapi diriku?"
"Ooh, jadi kau pun tahu kalau merampas putra-putri orang adalah suatu tindakan yang rendah dan tak tahu malu?"
"Apa maksudmu berkata demikian?"
"Kau bertanya kepadaku, kebetulan aku pun ingin bertanya kepadamu, bila aku merampas putramu sakit hatikah kau?"
"Hei, tampaknya kau sengaja hendak membuat diriku sebagai bahan lelucon?"
Katanya gusar.
"Hubungan darahmelebihi hubungan apa pun, bila kau berani merampas putraku, sekalipun aku tak bisa mengalahkan dirimu, aku dapat beradu jiwa denganmu!"
"Haah haah haah,"
Utti Keng terbahak-bahak.
"Kalau begitu kau merasa sakit hati sekali bukan? Kalau begitu aku ingin bertanya pula kepadamu, seandainya kau merampas anak gadis erang, dan anak gadis itu juga mempunyai orangtua, mungkinkah orangtua mereka tak sakit hati?"
"Kapan aku pernah merampas anak gadis orang?"
"Ccntcng-ccntengmu yang turun tangan merampas anak gadis orang, dan mereka bekerja atas perintahmu, apakah hal itu tidak sama halnya dengan kau sendiri merampas anak gadis orang?"
Paras muka Pui Hou berubah hebat "Kau… kau tak usah mengaco belo, mana., mana buktinya kalau kau berkata demikian?"
"Ingin bukti? Itu gampang sekali."
Berbicara sampai di situ Utti Keng lantas mencengkeram seorang pelayan yang sedang berlutut di atas tanah itu dan menepuk bebas jalan darahnya kontan pelayan itu merasakan seluruh badannya kesakitan hebat seperti ditusuk-tusuk seribu batang jarum.
"Ceritakan sekarang semua peristiwa yang telah kau lakukan sampai bertemu denganku hari ini, jika berani berbohong hati-hati kau, akan kusuruh kau rasakan hidangan yang paling lezat di dunia!"
"Ampun, .ampun… Utti loya, ampun … aku bicara, aku bicara!"
Teriak pelayan itu.Kembali Utti Keng menepuk punggung orang itu, rasa sakit yang menyiksa badan segera jauh berkurang.
"Aku mendapat perintah dari majikan untuk menagih hutang di rumah seorang buruh tani, di situlah aku telah berjumpa denganmu."
"Apa yang sedang kau lakukan waktu itu?"
"Lau Ji tak sanggup membayar pajak, maka aku membawa pulang putrinya sebagai tebusan."
"Karena alasan apakah kau sampai melakukan perbuatan yang terkutuk ini?"
"Majikanku yang menitahkan itu."
"Nona cilik itu berusia hampir sebaya dengan putramu. Dan seringkah kau menangkap anak gadis orang untuk kau jadikan dayang, malah seringkah kau nodai kehormatan mereka Cuma masih untung nasibmu agak lumayan baik hari ini, akulah yang kau jumpai. Aku hanya merasa kurang leluasa tapi harus mencampuri urusan ini!"
Kata Utti Keng.
"Manusia-manusia dekil itu hutang kepadaku sampai harinya mereka tak punya uang membayar, apa salahnya kalau aku tangkap orang mereka sebagai tebusan? Sekarang aku tak pernah hutang kepadamu, mengapa kau merampas putraku? Dua masalah yang berbeda jangan kau campur aduk menjadi satu!"
"Uang, uang, uang melulu. Di matamu hanya ada uang belaka!"
Bentak Utti Keng dengan suara menggeledek.
"Baik, bila kau bicara soal uang saja, aku pun akan mengajakmu membicarakan soal uang. Betul, kau memang tidak berhutang kepadaku, tapi kau telah berhutang kepada banyak orang!"
"Omong kosong. Harta kekayaanku berlimpah-limpah, mengapa aku mesti berhutang kepada orang lain?"
"Sudah kutanyai semua petani yang berhutang kepadamu. Mereka berhutang kepadamu karena tahun berselang jatuh musim paceklik mereka minta keringanan kepadamu tapi kau menolak. Kau telah memperhitungkan utangnya sebesar sera-tus limapuluh kati beras menjadi uang satu tahi 1 delapan rence, menurut perhitunganmu hutang yang diambil tahun lalu sekarang sudah berkembang menjadi duabelas tahil lima rence perak, dan menurut perhitunganmu pula putrinya persis laku duabelas tahil lima rence uang perak, kalau caramu menghitung bunga kelewat tinggi, berapa keluarga miskin yang sudah tercekik lehernya oleh perbuatanmu itu? Berani-kah kau tidak mengatakan sebagian besar harta kekayaanmu berasal dari hasil keringat mereka?"
"Aku tak sudi berdebat denganmu tentang persoalan ini, pokoknya perbuatan yang kulakukan itu tidak melanggar peraturan dan hukum negara!"
Teriak Pui Hou.
"Kau mempunyai hukum negaramu, aku mempunyai kepalanku! Bila kau hendak berbicara soal hukum, baiklah putramu akan kubawa pergi. Suruh saja para opas datang mencariku!"
Sepasang mata Utti Keng membara dengan sorot mata tajam, sedemikian menyeramkan dan penuh kewibawaan membikin hati orang menjadi keder rasanya Pui Hou bergidik hatinya setelah menyaksikan kejadian tersebut, saking ngerinya sampai untuk sesaat lamanya dia tak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Buru-buru Lo Hi-hong berkata.
"Bila ada persoalan lebih baik dibicarakan secara baik-baik saja Utti tayhiap, sebenarnyaapa keinginanmu? Harap kau utarakan terus terang, mari kita rundingkan bersama-sama" ---ooo0dw0ooo---Walaupun Lo Hi-hong berniat untuk membela keponakannya tapi berbicara sesungguhnya dia sendiri pun menaruh perasaanjeri dan ngeri terhadap Utti Keng suami istri. Terdengar Utti Keng berkata.
"Baik, kalau begitu bagaimana kalau aku mengajak Pui toa-caycu untuk barter saja?"
"Bagaimana barternya?"
"Sepuluh laksa tahil perak untuk ditukar dengan nyawa putra kesayanganmu itu, uang itu tak akan ku-kantongi sendiri, tetapi untuk membayar hutangmu sekalian menebus dosa, uang tersebut akan kubagi-bagikan kepada fakir miskin. Tapi aku pun ingin memperingatkan dirimu, bila sampai kujumpai kejadian yang sama lagi di kemudian hari, hmm, urusan tersebut tak nanti bisa diakhiri dengan pemberian uang saja!"
Buat Pui Hou, sepuluh laksa tahil perak bukan termasuk sebuah jumlah yang besar, baginya mengeluarkan uang sebanyak itu pun bukan sesuatu yang sukar, tapi, bagaimana mungkin ia rela menyerahkan setumpuk uang peraknya untuk orang lain?
Apalagi di sana hadir Nyo toakoh serta Lo Hi-hong yang akan menjadi tulang punggungnya?
Maka sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata.
"Haah haah haah, aku paling gemar mengikat tali persahabatan dengan siapa saja, kehadiran kalian suami istri berdua pun merupakan suatu kunjungan yang tak terduga, meski Uttitayhiap tidak buka suara, sebagai tuan rumah yang baik memang sudah sepantasnya untuk memberi sedikit ongkos jalan kepadamu. Cuma, aku pikir sepuluh laksa tahil perak kelewat banyak, bagaimana kalau…."
Paras muka Utti Keng berubah hebat, tiba-tiba ia membentak keras.
"Kau anggap aku kemari untuk mencari ongkos jalan?"
"Utti tayhiap, aku belum mengerti jelas tentang ucapanmu itu."
"Hm, maksud apa?"
Dengus Utti Keng.
"Kalau hendak berbicara cepat katakan, kalau ingin kentut cepat lepaskan!"
Paras muka Pui Hou berubah menjadi merah padam seperti babi panggang, namun dia tak berani mengumbar hawa amarahnya "Utti sianseng,"
Lo Hi-hong lantas berkata.
"tuan rumah telah bersikap sopan kepadamu, harap kau pun sedikit agak sungkan!"
Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 11
Baca Juga: Golok Halilintar 10