Taruna Pendekar 5

Eps 5 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id

Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id

Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.

Tapi untung saja kepandaianku sebagai pencuri jauh lebih hebat daripada kepandaian pencuri-pencuri lain, aku tidak pernah tertangkap, perbuatanku juga tak pernah diketahui siapapun, aku selalu membohongi ibuku dengan mengatakan makanan yang kuperoleh didapat dari mengemis, ternyata ibuku selalu kena kubohongi.

"Aaai, walaupun aku telah bekerja keras dan sangat menderita, hal ini pun hanya bisa memperpanjang umur ibuku selama dua tahun lagi."

Sekarang Nyo Yan baru mengerti, apa sebabnya ia bilang kalau "yaya"

Nya tak mungkin bisa berjumpa lagi dengan putrinya, kenyataan ini bukan saja membuatnya ikut bersedih hati karena nasib si nona yang jelek, dia pun turut bersedih untuk "yaya"nya Tanpa terasa ia menjerit tertahan.

"Jadi… jadi ibumu…."

Liong Leng-cu telah berkata tak akan menangis, tapi kelopak matanya toh basah juga oleh air mata, beberapa saat kemudian ia baru berkata dengan sedih.

"Dengan susah payah aku bertahan terus sampai ibuku dapat bangun dari ranjang, tapi ia sudah mengidap penyakit paru-paru, dalam keadaan payah dia masih mengajakku melanjutkan pengembaraan dalam dunia persilatan. Tentu saja kami sudah kenyang menderita, kenyang dicemooh dan dihina orang, di antara orang-orang jahat itu ternyata masih terdapat juga seorang ‘pendekar sejati’ yang bernama besar, tapi ia telah menerima hukuman dari ibuku, maka persoalan ini pun tak ingin kusinggung kembali."

Mendengar sampai di situ, Nyo Yan lantas berpikir.

"Tak heran kalau wataknya rada aneh, jalan pikirannya agak sempit dan cara kerjanya seperti membenci umat persilatan, ternyata sejak kecil ia telah merasakan banyak penderitaan, sudah terlalu banyak ditipu dan dipermainkan orang sehingga rasa percayanya kepada orang lain turut pudar…."

Tapi sejenak kemudian dia pun teringat akan diri sendiri, bukankah dia sendiri pun demikian?

Terhadap Leng Ping-ji yang dianggap sebagai enci-nya sendiri pun hingga kini masih marah?

Liong Leng-cu seolah-olah sebuah cermin yang mencermini wajah sendiri, entah indah atau tidak, bayangan dan wajahnya toh tetap sama?Oleh karena itu meski lamat-lamat dia merasa watak Liong Leng-cu agak eksentrik, tapi ia justru menyukainya Terdengar Liong Leng-cu telah melanjutkah kembali ceritanya.

"Sejak ibuku melahirkan belum waktunya, ia sangat menderita, kondisi badannya lemah dan sakunya tak pernah sembuh. Setelah menderita selama dua tahun, akhirnya ia me-ninggal dunia. Sebelum ajalnya tiba, ia berkata kepadaku, ‘Ayahku hanya mempunyai aku seorang putri, dan aku pun juga hanya mempunyai kau seorang putri saja, dan aku telah membuat kecewa gwakong-mu, semoga kau jangan membuatku kecewa, aku menginginkan kau lebih ttbah dari seorang lelaki!’"

Selesai berkata, suasana di sekitar tempat itu diliputi keheningan, Nyo Yan ingin menghibur hatinya, namun tak tahu mesti menghiburnya dari mana.

Akhirnya sambil tertawa paksa Liong Leng-cu berkata lagi.

"Hei, mengapa kau malah justru lebih pemurung dan lebih perasa daripada seorang gadis? Aku sudah bilang, kau tak usah bersedih hati bagi nasibku yang buruk, mengapa kau mesti mengucurkan air mata?"

Nyo Yan menghela napas pelan.

"Aaaai-..! Nasib kita hampir sama, aku sedang merasa malu karena aku tak dapat setabah dirimu."

Ucapan tersebut membuat Liong Leng-cu jadi tertegun.

"Apakah sejak kecil kau pun sudah kematian ayah ibumu?"

Tanyanya.

"Ibuku meninggal dunia sewaktu aku berumur satu tahun, sedang ayahku hingga detik ini pun belum pernah kujumpai, aku pun tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak."

"Tapi paling tidak kau toh masih ada harapan untuk menemukan kembali ayanmu"

"Jangan toh harapan tersebut amat kecil, sekalipun aku mengetahui jejaknya ini, aku pun tak akan pergi mencarinya."

"Mengapa?"

"Seperti juga ibumu, dia pun pernah ditipu dan dipermainkan seorang ‘pendekar sejati’ yang amat termasyhur namanya di dalam dunia persilatan. Aku telah mengangkat sumpah, bila aku tak dapat membalaskan dendam baginya aku tak punya muka untuk berjumpa lagi dengan dirinya."

"Sekalipun demikian, keadaanmu toh lebih baik daripada keadaanku."

"Kau bilang yaya-mu amat menyukai kau, paling tidak kau masih mempunyai seorang sanak."

Nyo Yan justru ingin sekali membawa pembicaraan tersebut ke masa-lah "yaya"

Nya, tapi ia tidak memperhatikan mimik wajahnya yang sangat aneh ketika mengucapkan perkataan tersebut, seperti mengejek, seperti juga menyindir, tapi juga kagum dan dengki.

"Yaya-ku adalah gwakong-mu, dia adalah sanakku, tapi lebih-lebih merupakan sanakmu. Bila kau bersedia untuk menjumpainya, aku jamin dia pasti akan lebih menyayangimu seribu kali lipat daripada sayang kepadaku)"

Kalau Nyo Yan berbicara sambil tertawa, maka paras muka Liong Leng-cu berubah menjadi dingin bagaikan es.

"Seandainya kaki ayahku tidak dikuningi sebelah, ia tak nanti akan mati di tangan musuh besarnya. Jika ayahku masih hidup, ibuku juga tak akan pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, ‘Tiada orang yang lebih mengasihi kita selain orang tua, jangankan akumemang tak berniat untuk mengenal gwakong-ku ini, se-kalipun kuakui dia adalah gwakong-ku, dia pun tak akan bisa lebih mengasihi aku daripada kasih sayang ayah ibuku kepadaku!"

"Peristiwa ini telah berlangsung banyak tahun, lagi pula merupakan kesalahan dari generasi yang lalu, mengapa kau mesti mengingat-ingatnya terus?"

"Setiap kali kubayangkan jeritan ayahku menjelang ajalnya, setiap kali terbayang rintihan ibu dari atas pembaringan, aku tak akan melupakan kesemuanya itu, aku tak akan melupakan kalau kesemuanya itu merupakan pemberian dari gwakong yang tak pernah kujumpai itu. Masih mendingan aku tidak mencarinya untuk membuat perhitungan, buat apa kau mesti menasihatiku untuk mengakuinya? Aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau bisa memaafkan musuh besar pembunuh orangtuamu?"

"Tapi kematian ayah ibumu toh bukan disebabkan oleh gwakong-mu?"

Seru Nyo Yan. ‘Tapi kalau ditelusuri sebab musababnya, hal ini sama halnya dengan dia yang melakukan pembunuhan tersebut "

Nyo Yan segera terbungkam dalam seribu bahasa, ia teringat kembali akan perasaan bencinya kepada bibinya tempo hari karena ia telah memaksa ibunya pergi meninggal-kan rumah, dengan cepat dia berpikir.

"Kokoh disebut orang Lak-jiu-Koan-im, tentu saja yaya tak mungkin berhati keji dan bertangan kejam Tapi kalau berbicara menurut kenyataannya sekarang, akibat dari perbuatan yaya-nya itu, dia memang telah mencelakai segenap keluarganya, jelas perbuatan itu lebih keji daripada tindakan kokoh mengusir ibuku"

Tapi terbayang kembali rasa sesal yaya-nya serta keinginnannya untuk berjumpa kembali dengan putrinya itu, mau tak mau dia harus berkata lagi.

"Betul, tindakan yaya dalam peristiwa ini memang keterlaluan, tapi ibumu toh sudah memaafkannya, mengapa kau tak dapat memaafkan? Tahun ini umurnya sudah mencapai tujuhpuluh tahun, masa hidupnya sudah tidak panjang lagi. apakah kau tega membiarkan seorang yang telah lanjut usia menanggung rasa sesal sepanjang masa?"

Tunggu dulu jangan nyerocos ngomong melulu, aku ingin bertanya lebih dulu, dari mana kau bisa tahu jika ibuku sudah memaafkannya? "

"Ibumu memakai nama marganya untuk nama margamu, kemudian menambahkan kata Meng’ di antara namamu, tentunya kau bisa menduga sendiri, ia sedang rindu kepada ayahnya, gwakong-mu?"

"Ibu khawatir jika musuh besar ayahku berhasil melacak asal-usulku, maka ia sengaja mengubah namaku menjadi nama yang sekarang ini."

"Tapi mengapa dia mengubah namamu dengan nama yang sekarang? Dugaanku ini tak bisa dibilang cuma ngaco belo belaka bukan?"

Mendadak Liong Leng-cu menarik mukanya sambil berseru.

"Sudah selesai belum perkataanmu itu? Aku tak punya waktu untuk ribut denganmu!"

Dia membalikkan badan lalu pergi. Nyo Yan segera mengejarnya seraya berseru.

"Nona Liong, kau bilang kau bersedia menjadi sahabatku, harap kau suka…."

"Justru lantaran kuanggap kau sebagai temanku, maka aku bersedia pergi dari sini,"

Tukas Liong Leng-cu.

"Kalau tidak, hmm, hmm, kini kau adalah orang yang paling disayang olehnya walau bagaimanapun, meski aku tak bisa mencarinya untuk bikin perhitungan, sepantasnya jika kubunuh dirimu agar membuatnya merasa makin sedih. Kau tak usah menyinggung tentang dia lagi, kalau tidak, jangan salahkan kalau aku akan berbalik memusuhimu!"

Sembari berkata dia percepat langkahnya untuk pergi meninggalkan tempat itu, tapi Nyo Yan masih saja mengikuti di belakangnya bagaikan bayangan.

Mendadak Liong Leng-cu berpaling, kemudian serunya dingin.

"Nyo Yan, kau betul-betul tak tahu malu!"

"O ya? Tolong tanya bagaimana tidak tahu malunya?"

Seru Nyo Yan sambil sengaja cengar-cengir.

"Apa yang ingin kuutarakan telah selesai kuucapkan, mengapa kau masih merecoki diriku melulu?"

"Nona, kau jangan marah lebih dulu, dengarkan dulu perkataanku, aku hanya ingin…."

Belum habis dia berkata, kembali Liong Leng-cu menukas.

"Aku tak ambil peduli apa yang kau pikirkan, pokoknya mulai sekarang kau menelusuri jalanmu, aku menyeberangi jembatanku, masing-masing seperti air sungai yang tidak melanggar air sumur!"

"Tapi, mengapa mesti begitu?"

Seru Nyo Yan sambil tertawa getir.

"Sreeet!"

Tiba-tiba Liong Leng-cu meloloskan pedangnya, kemudian menghardik.

"Nyo Yan, apakah kau hendak memaksaku untuk turun tangan? Betul aku tak sanggup me-ngalahkan dirimu, tapi aku yakin masih sanggup untuk mengajakmu mampus bersama, bila keadaan amat mendesak, paling banter aku masih punya kesempatan untuk menggorok leher sendiri!"

Dengan ketakutan buru-buru Nyo Yan mundur beberapa langkah dari situ, katanya dengan cepat.

"Nona Liong, aku tidak bermaksud untuk memaksamu pergi menjumpai yaya, aku hanya ingin bertanya kepadamu."

"Kalau ada persoalan cepat utarakan."

"Nona Liong, kau hendak pergi ke mana?"

"Aku hendak ke mana, apa urusannya dengan kau?"

"Kita adalah teman, apakah aku tak boleh melakukan perjalanan bersamamu?"

Liong Leng-cu segera tertawa dingin.

"Belum-pernah kudengar jika teman mesti melakukan perjalanan bersama. Bila kedua belah pihak merasa cocok satu sama lainnya, memang tak ada salahnya untuk berkumpul agak lama, kalau tidak lebih baik masing-masing mengambil jalannya sendiri-sendiri. Bukankah teman biasa pun demikian? Bila kau memohon kelewat batas, itu berarti kau bermaksud hendak menganiaya diriku!"

Nyo Yan segera tertawa getir sesudah mendengar ucapan itu, katanya.

"Yaya-ku adalah gwakong-mu, benarkah kita cuma teman biasa?"

Paras muka Liong Leng-cu berubah menjadi sedingin es, ujarnya dengan suara ketus.

"Kalau kau menyinggung soal yaya-mu itu, terpaksa aku harus memberitahukan kepadamu, mulai sekarang teman biasa pun kita bukan!"

Nyo Yan segera merasakan hatinya bergolak keras."Apakah kau menganggap diriku sebagai orang asing?"

Serunya. Ada sepatah kata yang selalu tersembunyi dalam hatinya, namun tak berani dia utarakan yakni.

"Kita adalah seorang yang senasib dan sependeritaan!"

Liong Leng-cu menggigit bibirnya hingga bibir itu berdarah, hatinya turut berdarah, tapi ia berseru juga dengan suara keras.

"Benar! Kau telah membantuku; juga membantu orang lain memukulku,, budi dan sakit hati sudah impas, mulai sekarang, kau akan menganggap diriku orang asing, demikian pula dengan diriku sendiri; Maafjika aku tak tahu diri, nah selamat tinggal!"

Nyo Yan tak berani mengejar lagi, dalam waktu singkat bayangan tubuh Liong Lcng-cu telah berubah menjadi setitik bayangan hitam di ujung padang rumput yang luas itu dan akhirnya lenyap tak berbekas.

Nyo Yan masih berdiri mematung di tengah padang rumput, sampai lama kemudian dia baru sadar dari lamunannya dan menghela napas.

"Aku bertanya kepadanya ke mana dia hendak pergi, padahal aku sendiri pun tak tahu harus pergi ke mana?"

Nyo Yan tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Ia pernah berpikir, ada tiga tempat yang harus dikunjungi olehnya.

Pertama, adalah pergi ke Jik-tat-bok untuk mencari Beng Goan-cau untuk membuat "perhitungan" ; Tapi sejak ia menyadap pembicaraan antara Song Peng-ci dan Oh Lian-kui dalam kuil kuno itu, dari dasar hati kecilnya mulai timbul kembali setitik kecurigaan, dia curiga kalau kepergiannyamencari Beng Goan-cau untuk membuat "perhitungan"

Merupakan suatu tindakan yang salah.

Kedua orang itu merupakan murid ayahnya, mustahil seorang murid akan membicarakan kejelekan gurunya di belakang orang.

Sekalipun apa yang berhasil disadapnya ketika itu tidak lengkap dan terpotong-potong, tapi paling tidak dia sudah tahu kalau tindakan ayahnya belum tentu benar, sedang Beng Goan-cau belum tentu salah.

Sekalipun setitik ingatan itu bagaikan gunung es yang terpendam dalam hatinya, namun ia tak berani mengembangkan ingatan itu.

Otomatis ingatan "bersumpah untuk membalas dendam"

Pun serta merta mengalami guncangan besar.

Perasaannya ketika itu amat bertentangan, seperti ada suatu kekuatan yang mencegahnya agar tidak memikirkan soal "balas dendam".

Maka sekarang apa yang dipikirkan adalah.

"Dendam harus dibalas, tapi dia tidak ingin pergi mencari Beng Goan-cau" . Dia hanya mengkhayalkan paling baik jika kebetulan ia dapat berjumpa dengan Beng Goan-cau tanpa kehadiran pihak ketiga, dan "paling baik"

Lagi kalau Beng Goan-cau adalah seorang "pendekar gadungan"

Seperti apa yang dia bayangkan selama ini, jejak "kejabatan"nya berhasil ia temukan.

Pada saat itulah dia baru merasa-i hatinya tenang untuk menghadiahkan sebuah tusukan ke arahnya Kalau toh saat ini dia belum berhasrat untuk mengunjungi Jik-tat-bok guna mencari Beng Goan-cau, lantas ke manakah dia akan pergi?Tempat kedua yang ingin dikunjungi adalah kembali ke Thian-san.

Meskipun gurunya sudah meninggal dunia, di atas gunung Thian-san masih ada ayah angkatnya.

Tapi dia tak ingin berjumpa dengan Leng Ping-ji.

Ping-ji adalah seorang yang paling disayanginya, ketika ia menjumpai Ping-ji sedang "membohonginya, membohonginya agar dia menganggap "musuh besar"

Sebagai ayahnya, tak terlukiskan rasa sedih yang dialaminya waktu itu… Ia tak dapat memaafkan Ping-ji.

Karena alasan yang sama, dia pun tak dapat memaafkan ayah angkatnya Tapi, ayah angkatnya, Miau Tiang-hong, adalah seorang pendekar yang ternama, paling suka hidup luntang-lantung ke sana kemari, jarang sekali berada di Thian-san.

Meski ayah angkatnya mencintai dia bagaikan mencintai diri sendiri, tapi dia tak mengerti bagaimana caranya menyayangi seorang bocah.

Dalam soal perawatan dan kasih sayang, tentu saja dia kalah jauh bila dibandingkan dengan enci-nya Leng Ping-ji.

Oleh karena itu rasa sesalnya terhadap ayah angkatnya tidak sedalam rasa sesalnya terhadap Leng Ping-ji, dia pun lebih banyak teringat Leng Ping-ji daripada teringat ayah angkatnya.

Kini, kembali dia membayangkan Leng Ping-ji.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul suatu ingatan yang sangat aneh di dalam hatinya Leng Ping-ji dan Liong Leng-cu seakan-akan memiliki banyak persamaan.

Tapi di manakah letak persamaan tersebut?

Kenangan di masa kecil dulu tanpa terasa muncul kembali di dalam hatinya, teringat sewaktu Leng Ping-ji sedangmenggodanya dengan wajah berseri, atau sering pula dia saksikan wajah Leng Ping-ji diliputi kemurungan dan kesedihan sambil duduk melamun, Leng Ping-ji adalah seorang perempuan yang lembut di luar tapi keras di dalam hati, wataknya hampir sekeras Liong Leng-cu.

Ketika Liong Leng-cu mengutarakan tragedi yang menimpa dirinya semasa masih kecil dulu, meski wajahnya menunjukkan luapan emosi, namun bukankah di atas wajahnya hanya menampilkan rasa sedih dan murung seperti apa yang "dikenal"nya?

Kini, bila diingat kembali, terutama sekali di saat Liong Leng-cu mempermainkan orang, ketika ia sedang mempermainkan The Hiong-toh, mempermainkan Lomana, menggertak bibinya Lak-jiu-Koan-im yang hendak ditempeleng… bahkan dalam senyumannya pun dia dapat merasakan "hawa"

Kemurungan yang amat dikenalnya.

Dari manakah datangnya kemurungan di dalam hati Liong Leng-cu?

Ia yakin pada saat ini telah dipahaminya.

Bagaimana dengan Leng Ping-ji?

Sewaktu masih kecil dulu, dia tidak mengerti.

Sekalipun dia jauh lebih perasa daripada kebanyakan bocah lain, dia pun pernah bertanya kepada Leng Ping-ji, mengapa dia seperti sering tidak senang (tentu saja Leng Ping-ji tak akan membe-ritahukan alasan yang sesungguhnya), tapi sekarang dia sudah mulai mengerti, sekalipun tidak sebanyak apa yang dipahami tentang Liong Leng-cu Sejak tujuh tahun berselang, ketika Leng Ping-ji berhasil menyelamatkan jiwanya dari cengkeraman Toan Kiam-ceng,secara lamat-lamat dia sudah tahu kalau hubungan di antara mereka berdua merupakan suatu hubungan yang istimewa.

Terutama sekali setelah mendengarkan pembicaraan antara Lohay dengan putrinya dalam bahasa Wana yang membicarakan Leng Ping-ji, dia mengetahui makin banyak, meski belum keseluruhan.

Dia tahu Leng Ping-ji pernah ditipu oleh Toan Kiam-ceng, tipuan yang paling melukai hati kecil seorang gadis muda.

Dia pun tahu, bukan saja Toan Kiam-ceng telah menipu Leng Ping-ji dalam percintaan, bahkan berulang kali bermaksud untuk menghabisi nyawanya.

Membayangkan kesemuanya itu, Nyo Yan merasakan hatinya sedih sekali!

"Mengapa dua orang perempuan yang kujumpai, yang seharusnya terhitung orang-orang yang paling dekat dengan aku, semuanya tidak beruntung seperti nasibku?"

Tanpa terasa dia teringat kembali akan sepatah kata yang pernah diutarakan kepada Leng Ping-ji semasa masih kecilnya dulu.

"Cici, aku tahu kalau kau sedang mengelabui diriku, padahal kau tidak pernah merasa gembira. Tapi setelah aku menjadi dewasa nanti, aku pasti akan berusaha untuk membuatmu gembirai"

Bila ia teringat kembali perkataan itu sekarang, tanpa terasa dia tertawa getir. Dia pun terbayang kakak misannya Ki See-kiat "

Mengapa aku merasa tak senang hati ketika mengetahui kalau enci Leng pergi ke selat Tong-ku-si-sia lantaran piauko (kakak misan) bukan karena aku?

Padahal bila mereka berdua dapat saling mencintai, enci Leng pasti akan memperolehkebahagiaan.

Bukankah aku selalu berharap agar dia bisa memperoleh kegembiraan?"

Benar-benar suatu pertentangan batin yang amat rumiti Tapi, bagaimanapun dia tahu kalau pertentangan batin semacam itu seharusnya tak boleh terjadi, namun ia masih belum bisa memahami Leng Ping-ji, terutama setelah mengetahui kalau Ki See-kiat mempunyai tempat yang jauh lebih penting dalam hati Leng Ping-ji, tanpa disadari muncul suatu perasaan cemburu di dalam hatinya.

Sekarang, dia tak lebih baru seorang bocah tanggung berusia delapanbelas tahun, tentu saja ia belum bisa memahami kesemuanya itu.

Perasaan cemburu semacam ini sudah tercipta semenjak dia masih kecil dulu.

Sejak kecil ia sudah kehilangan kasih sayang ayah ibu, dia pun tak berteman.

Padahal anak kecil membutuhkan seorang "teman yang setia", membutuhkan pengganti dari ayah ibu atau kakak.

Sejak dilahirkan dia hanya mempunyai seorang Leng Ping-ji yang dapat dianggap sebagai teman yang paling akrab, apalagi setelah selama tujuh tahun dia hidup bersama yaya-nya di suatu tempat yang terpencil, rasa cinta dan sayangnya terhadap Leng Ping-ji otomatis semakin bertambah.

Ia tak ingin pulang ke gunung Thian-san, lantas hendak ke manakah dia pergi?

Jalan ketiga merupakan jalan yang paling sering dia bayangkan pada saat ini.

Mengembara di dalam dunia persilatan kelewat banyak kemurungan dan kesusahan, dia berhasrat pulang ke tempat yang terpencil di kaki pegunungan Himalaya untuk menemaniyaya-nya.

Tapi apa yang harus dikatakan sekembalinya ke situ?

Begitu besar pengharapan yaya-nya untuk bisa berjumpa lagi dengan putrinya, tegakah dia untuk menyampaikan berita buruk itu kepada yaya-nya?

Masih mendingan jika Liong Leng-cu bersedia mengikutinya kembali ke sana, sekalipun yaya-nya tak berhasil bertemu dengan putrinya, perjumpaannya dengan cucu perempuannya ini pasti akan menghibur hatinya.

Tapi kenyataannya Liong Leng-cu justru amat mendendam terhadap yaya-nya itu.

Tegakah dia berkata begini kepada yaya-nya.

"Inilah akibat perbuatanmu dulu, kini satu-satunya cucu perempuanmu pun enggan untuk mengakui kau sebagai kong-kong-nya"

Memikirkan kesedihan yang selalu menyelimuti yaya-nya, tanpa terasa dia teringat pula pada bibinya Meski bibinya disebut orang Lak-jiu-Koan-im, namun kesedihan dan kesepian yang dialaminya mungkin tidak di bawah perasaan yaya-nya "

Tidak, keadaan bibi masih jauh lebih baik daripada yaya, walaupun aku tak mau mengakuinya» tapi putranya tidak seperti Liong Leng-cu.

Kakak misan adalah seorang anak yang berbakti, asal mereka ibu dan anak bisa berkumpul kembali, sudah pasti kakak misanku akan menuruti semua perkataannya "

Ia pun menemukan kembali sebuah rahasia di dalam hatinya, justru karena alasan inilah kakak misannya selalu mengatakan kalau dia mendapat perintah dari ibunya antuk datang mencari dia, oleh karena terhadap bibinya pun ia tak senang, maka terhadap kakak misannya pun iatak mau memperkenalkan diri.Cuma, dia masih tetap berharap agar Ki See-kiat dapat segera berjumpa kembali dengan ibunya, kalau tidak ia pun tak akan memberi tabu bibinya agar pergi ke Lor Anki untuk mencarinya.

Liong Lcng-cu.

Lcng Ping-ji, Ki See-kiat, ayah angkatnya, yaya-nya, bibinya… bayangan dari orang-orang itu secara beruntun melintas di dalam benaknya, membuat dia semakin bimbang.

Walaupun langit amat luas, namun dia tak tahu siapakah orang yang paling ingin dijumpai sekarang.

0odwo0 Dia berharap bibinya pergi ke Lor Anki untuk mencari putranya, siapa tahu Ki See-kiat justru datang mencarinya, bahkan datang bersama-sama Leng Ping-ji.

Waktu itu mereka berdua sedang berjalan menuju ke kuil bobrok yang baru saja ditinggalkannya.

Sedang bibinya masih berada di dalam kuil bobrok itu.

Hujan telah berhenti, langit amat cerah, udara pun terasa segar dan nyaman.

Bianglala setelah hujan terbentang di langit padang rumput yang luas, membuat pemandangan amat indah, Tapi, perasaan Ki See-kiat ibarat hujan badai yang menjelang tiba, membuat orang merasa sumpek dan penuh gejolak emosi.

Agaknya Leng Ping-ji dapat merasakan kerisauan hatinya itu, mendadak ia melambatkan langkah kakinya sambil bertanya.

"Ki toako, apa yang sedang kau pikirkan?""Aah, tidak apa-apa,"

Sahut Kie See-kiat cepat sambil berusaha untuk menghindari sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu itu.

Namun perubahan mimik wajahnya itu sukar disembunyikan.

Sambil tertawa Leng Ping-ji segera berkata.

"Kau tak usah mengelabui aku, aku tahu kalau kau sedang memikirkan sesuatu."

"Benar, aku memang sedang memikirkan sesuatu, tapi aku khawatir kau mendampratku bila kuutarakan keluar."

"Jangan khawatir, aku tak akan mendampratmu!"

Seru Leng Ping-ji sambil tertawa "Aku berharap agar selamanya kita jangan sampai di kuil bobrok di depan sana."

Padahal kuil bobrok itu sudah berada di depan mata, sekalipun orang biasa yang berjalan paling cuma membutuhkan waktu sesulutan setengah batang hio.

"Mengapa?"

Tanya Leng Ping-ji dengan wajah tertegun.

"Aku khawatir Nyo Yan benar-benar berada dalam kuil itu."

"Apakah kau tak berharap bisa menemukannya?"

"Tentu aku berharap bisa menemukannya, cuma…."

"Cuma apa?"

Ki See-kiat menghela napas panjang.

"Aai… cuma bila ia berhasil ditemukan kemungkinan besar kau bersamanya akan kembali ke Thian-san. Sedangkan aku masih teringat kau pernah berkata…."

"Betul, dua tahun berselang aku pemah berkata kepadamu, aku tidak ingin Nyo Yan pulang bersamamu. Tapi Nyo Yan telah berusia tujuh delapan belas tahun, tak ada salahnya kalau membiarkan dia yang memutuskan sendiri."

"Aku tidak bermaksud demikian. Bila dia kau ajak pulang ke Thian-san, lantas bagaimana dengan aku?"

"Tentu saja kau harus pulang ke rumah untuk melaporkan kejadian tersebut kepada ibumu. Sudah dua tahun kau tak pernah pulang, mungkin ibumu sudah menunggu dengan hati yang gelisah. Apakah kau masih ingin mengikuti kami pergi ke Thian-san? Sekalipun kau ingin berbuat demikian, belum tentu aku membiarkan kau berbuat demikian."

"Itulah dia.’"

Kata Ki See-kiat dengan sedih.

"Makanya aku berharap kalau jalan ini merupakan jalanan yang tiada habisnya. Ping-ji, tahukah kau betapa besarnya harapanku agar bisa selalu berada bersamamu?"

Perasaan kaum wanita memang jauh lebih tajam, bagaimana mungkin Leng Ping-ji tak merasakan makna yang sebenarnya dari perkataan itu?

Kali ini, giliran dia yang berusaha keras untuk menghindarkan diri dari tatapan mata Ki See-kiat, dia mengalihkan sorotan matanya ke ujung langit, di mana pelangi telah lenyap.

Tanpa terasa Ki See-kiat menghela napas panjang lagi, katanya.

"Bianglala mudah membuyar. Ping-ji, beberapa hari ini merupakan waktu yang paling gembira dalam kehidupanku, tapi aku takut seperti nasib bianglala tersebut"

Perkataan apakah yang bisa diucapkan Leng Ping-ji untuk menghibur hatinya?Kata-kata mesra dari Ki See-kiat itu bagai hembusan angin musim semi yang menerpa hatinya.

Pohon yang kering akan tumbuh bibit baru jika angin musim semi mulai berhembus, apakah hati si gadis yang layu pun akan menjadi segar kembali?

Leng Ping-ji tidak tahu.

Mungkin jawaban yang lebih pasti adalah dia tak ingin tahu.

Yang dia ketahui adalah selama beberapa hari ini merupakan saat yang teramat gembira baginya.

Dan sekarang, dia pun merasakan pula perasaan gundah seperti apa yang dirasakan Ki See-kiat.

Dia tahu, dia harus mengucapkan sepatah kata, hanya tiga patah kata saja semua kemurungan akan tersapu hilang, akan membuat Ki See-kiat kegirangan bagai orang gila.

Tetapi, inilah kcputusan yang paling besar sepanjang hidupnya, ia masih belum berniat untuk mengucap ketiga patah kata penting itu.

Apakah dia tak menyukai Ki See-kiat?

Tidak!

Bukan begitu keadaan-nya.

Ia berbuat demikian karena alasan lain yang lebih penting, karena Ki See-kiat mempunyai seorang ibu yang bergelar Lak-jiu-Koan-im, inilah yang menyebabkan gadis itu tak berani mengutarakan ketiga patah kata tersebut Alasan yang lain, meski dia tahu Ki See-kiat seorang baik, tetapi "orang baik"

Belum tentu merupakan "pasangan yang baik".

Misalnya saja membandingkan Beng Hoa dengan Ki See-kiat kedua orang itu seakan-akan terdapat jarak pemisah yang cukup lebar.Tentu saja di kemudian hari pun Ki See-kiat ada kesempatan untuk mencapai ke tingkatan yang "top"

Seperti tingkatan yang berhasil diraih Beng Hoa sekarang, malah ke-mungkinan akan melampaui tingkatan Beng Hoa….

Tapi kesemuanya itu hanya waktulah yang akan membuktikan.

Setelah sekali berbuat salah, dia tak ingin mengulangi untuk kedua kalinya, maka meskipun dia menyukai Ki See-kiat, namun tak akan mengambil keputusan secara gega-’ bah.

Ketika Ki See-kiat melihat gadis itu tidak menjawab, dari balik sorot matanya terpancar keluar sinar kekecewaan.

Tapi walaupun tidak diutarakan perasaan tersebut kedua belah pihak dapat merasakan getaran perasaan lawannya.

Jarak mereka dengan kuil bobrok makin lama semakin dekat Mendadak Leng Ping-ji memperlihatkan wajah terkejut bercampur girang, segera seronya.

"See-kiat coba dengar, dalam kuil seperti ada orang yang sedang berbicara, aah… seperti suara perempuan"

Ki See-kiat segera memasang telinga baik-baik, betul juga, dia pun mendengar suara perempuan itu.

Mendadak ia berseru tertahan, kemudian bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya lari masuk ke dalam kuil itu Ibu dan anak berjumpa lagi.

Sudah dua hari Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh berada dalam kuil bobrok itu, luka yang diderita Song Peng-ci serta Oh Lian-kui pun sudah hampir sembuh.Ia sedang berbincang-bincang dengan kedua orang sutit-nya ketika Ki See-kiat bagaikan angin puyuh menyerbu masuk ke dalam.

Kehadiran anak muda itu sangat mengejutkan hatinya.

Setelah saling berpandangan, sekejap mata kemudian ibu dan anak menjadi termangu-mangu saking girangnya.

"Aah, See-kiat sute, rupanya benar-benar kau!"

Song Peng-ci dan Oh Lian-kui serentak melompat bangun sambil berteriak keras.

"Ibu!"

Sekarang Ki See-kiat baru sempat berteriak.

"Aah, anak Kiat coba kuteliti wajahmu. Aah, kau benar-benar anak Kiat-ku. Anak Kiat ke mana saja selama dua tahun ini? Mengapa tiada kabar beritanya?"

Gumam Nyo toakoh. Oh Lian-kui mempunyai hubungan yang paling baik dengan Ki See-kiat tak tahan lagi dia pun turut bertanya.

"Sukoh dan kami baru saja akan berangkat ke Lor Anki untuk mencarimu, sungguh tidak dinyana kau akan datang. Sute, apakah kau datang dari Lor Anki?"

"Dari mana kalian bisa tahu aku dari Lor Anki?"

Tanya Ki See-kiat tertegun.

Baru saja Oh Lian-kui hendak menjawab, Leng Ping-ji telah melangkah masuk ke dalam kuil bobrok itu.

Kehadiran gadis tersebut segera membuat Song Peng-ci dan Oh Lian-kui menjadi tertegun.

Leng Ping-ji sempat mendengarkan pembicaraan antara Ki See-kiat dengan ibunya, dia tahu kalau perempuan yang berada di hadapannya adalah Lak-jiu-Koan-im yang ter-masyhur itu.Meski ia tidak menaruh kesan baik terhadap Lak-jiu-Koan-im, tapi bagaimanapun juga dia toh ibunya Ki See-kiat Betul perasaannya waktu itu bagaikan dibebani dengan bandul berat yang membuatnya serasa tenggelam, tapi dia merasakan juga kegembiraan perjumpaan ibu dan anak ini.

Dia tak ingin mengganggu suasana gembira pertemuan antara ibu dan anak itu, maka tak sepatah kata pun, diam-diam ia berdiri di samping dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya.

"Ibu!"

Terdengar Ki See-kiat berkata.

"panjang sekali kisah yang kualami selama dua tahun ini. Di lain waktu aku pasti akan ceritakan semuanya itu kepadamu, aku hendak…."

Baru saja ia hendak memperkenalkan Leng Ping-ji kepada ibunya, Nyo toakoh telah keburu bertanya lebih dulu kepada putranya.

"Nona ini adalah…."

"Bibi!"

Lcng Ping-ji segera maju menyapa.

"aku she Leng, bernama Ping-ji."

"Nona Leng adalah murid Thian-san-pay,"

Ki See-kiat menerangkan.

"Dia adalah teman pertama yang kukenal sejak dua tahun berselang, ketika untuk pertama kalinya kuinjak bumi Sinkiang Dia telah banyak membantuku."

"Benarkah begitu?"

Kata Nyo toakoh hambar. Seraya berpaling segera tanyanya lagi kepada Leng Ping-ji.

"Nama margamu jarang sekali dijumpai, tolong tanya apa hubunganmu dengan Leng Thiat-jiau?"

"Dia adalah pamanku."

Leng Thiat-jiau adalah komandan pasukan patriot yang bermarkas di Jik-tat-bok, juga merupakan buronan nomor wahid dari pemerintah Cing, kontan saja paras muka Nyo toakoh diliputi oleh awan gelap, tak sepatah kata pun yang diucapkan lagi terhadap gadis tersebut.Dia lantas berpaling ke arah putranya dan berkata lagi.

"Anak Kiat, bukankah kau bilang ada banyak persoalan yang hendak diberitahukan kepadaku? Coba pilih yang paling penting." 0odwo0 Ki See-kiat sedang berada dalam keadaan gembira, dia sama sekali tidak menyaksikan perubahan mimik wajah ibunya, dengan cepat ujarnya.

"Benar, benar, ada satu per-soalan penting yang hendak kutanyakan dulu kepada kalian, siapa yang memberitahukan kepada kalian jika aku berada di Lor Anki?"

"Seorang pengemis cilik,"

Jawab Oh Lian-kui cepat. Terkejut dan girang Leng Ping-ji mendengar jawaban tersebut, untuk sesaat dia jadi lupa dengan sikap Lak-jiu-Koan-im yang tak sedap itu, buru-buru tanyanya.

"Oh, seorang pengemis cilik! Siapa namanya?"

"Pengemis cilik itu pernah membantu kami tapi dia tidak mengatakan siapa namanya."

"Apakah si pengemis cilik itu berwajah begini… begini…?"

Kata Ki See-kiat.

Setelah mendengar lukisan tentang potongan badan serta raut wajah pengemis cilik tersebut, Oh Lian-kui segera manggut-manggut.

‘Tepat sekali.

Ternyata pengemis cilik itu adalah temanmu, tak heran… tak heran…."

Belum habis dia berkata, Nyo toakoh telah menukas pembicaraannya yang belum selesai itu, tanyanya kepada Ki See-kiat.

"Siapakah pengemis cilik itu? Dari mana kau bisa mengenalnya?"

"Ibu, apakah dia yang telah memberitahukan kabar berita tentang diriku kepadamu?"

Ki See-kiat turut bertanya.

"Benar. Begitu jelas dia mengetahui jejakmu, tampaknya hubungan kalian amat akrab sekali?"

"Bukan cuma akrab,"

Sahut Ki See-kiat sambil tertawa.

"kami lebih akrab dari sahabat. Ibu, coba kau tebak siapakah pengemis itu?"

Nyo toakoh tertegun, didengar dari nada perkataan putranya itu, secara lamat-lamat ia telah menduga beberapa bagian, sesungguhnya hal ini akan membuatnya gembira, tapi bila teringat sikap pengemis cilik itu kepadanya, segera timbul perasaan tak sedap di dalam hatinya, maka dia pun tidak mendahului pemuda itu.

Setelah merenung sejenak, dia .

balik bertanya pada putranya.

"Aku tak punya waktu untuk main tebakan, cepat beritahu kepadaku, siapa gerangan pengemis cilik tersebut?"

"Ibu, kalau kuucapkan, sudah pasti kau akan gembira, sebab pengemis cilik itu tak lain adalah Nyo Yan piaute yang sedang kita cari-cari!"

Di luar dugaannya, Nyo toakoh sedikit pun tidak menampilkan rasa gembira, malahan wajahnya kelihatan lebih tak sedap dilihat Setelah mendengus katanya.

"Sungguh tak kusangka keponakan yang dengan susah payah kucari ternyata bisa bersikap demikian kepadaku, kejadian ini benar-benar membuat hatiku sakiti"

Seusai berkata, dia lantas menghela napas panjang. Melihat kemurungan ibunya, dengan keheranan Ki See-kiat bertanya.

"Ibu, bagaimana sikap adik misan terhadap dirimu?"

"Gara-gara dia, aku rela melepaskan putra tunggalku untuk meninggalkan diriku, dengan usiaku yang begini tua, aku rela menempuh perjalanan jauh menyeberangi gurun pasir, mendaki bukit bersalju, datang ke Sinkiang untuk mencarinya, tapi dia, setelah bertemu denganku ternyata tak mau mengakui aku sebagai bibinya!"

"Mungkin dia belum tahu kalau kau adalah bibinya?"

"Jelas dia sudah tahu siapa aku. Kalau tidak dia pun tak akan memberitahukan kabar tentang dirimu kepadaku."

"Ibu, kau jangan marah dulu, marilah kita selidiki persoalan ini sampai jelas. Oh suheng tadi kau mengatakan kalau si pengemis cilik itu pernah membantumu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Baru saja Oh Lian-kui hendak menjawab, Nyo toakoh telah berkata lebih dahulu.

"Tunggu dulu, aku pun hendak mencari tahu satu persoalan lebih dulu kepadamu. Kalau toh kau telah berhasil menemukan Nyo Yan, mengapa ia tidak kau ajak pulang, sebaliknya sekarang kau dan nona Leng hendak pergi mencarinya lagi?"

"Waktu itu aku belum tahu kalau dia adalah adik misanku."

"Tapi dia toh tahu kalau kau adalah kakak misannya?"

"Soal ini, soal ini…."

"Apa ini itu?"

Damprat Nyo toa-koh.

"Cepat berbicara terus terang kepadaku, jangan berusaha untuk mengelabui diriku!"

"Aku… aku… telah memberitahukan kepadanya kalau tujuanku keluar rumah kali ini adalah untuk menemukan adik misanku."

"Sudah kaujelaskan kalau adik misanmu itu bernama Nyo Yan ?""Sudah."

Nyo toakoh segera mendengus dingin.

"H cmm, tentunya kau sudah jelas bukan sekarang, pada hakikatnya dia tidak menganggap kita sebagai sanak keluarga, hm, hm, betul-betul seorang yang tak berperasaan."

Entah dikarenakan secara tiba-tiba menyadari kalau di situ masih hadir "orang luar"

Atau merasa "kejelekan rumah tangga tak boleh diuarkan" , sampai di situ mendadak saja dia merasa rikuh untuk memaki lebih jauh.

Ki See-kiat khawatir jika ibunya mengucapkan kata-kata yang tak sedap didengar, buru-buru katanya.

"Piaute bukannya tak berperasaan, dia sangat baik kepadaku. Bahkan pernah membantuku.’"

Secara ringkas dia lantas menceritakan apa yang dialaminya bersama Nyo Yan ketika berada di selat Tong-ku-si-sia Mendadak Nyo toakoh bertanya.

"Waktu itu, dia berada seorang diri ataukah berada bersama orang lain?"

"Dia hanya seorang diri."

"Mungkin seorang yang lain itu bersembunyi di sekitar sana yang tak kau temukan?"

"Aah, tidak mungkin. Hwesio dari Thian-tok itu sudah kabur. Tapi dia menemani aku untuk melakukan perjalanan cukup jauh sebelum berpisah. Ibu, mengapa kau bertanya begini? Kau curiga dia berada bersama siapa…?"

"Ya, aku curiga kalau dia berada bersama seorang siluman perempuan kecil! Gara-gara siluman kecil itulah dia baru enggan mengakui diriku sebagai sanaknya!"

"Siluman perempuan kecil apa?"

Tanya Ki See-kiat dengan wajah tertegun."Lian-kui, beritaku kepadanya."

Menyinggung kembali soal siluman perempuan cilik itu, tampaknya kegusarannya belum mereda, dia masih mengurut dada sewaktu mendengar Oh Lian-kui bercerita.

"Demikianlah ceritanya Beberapa hari berselang, ketika aku dan Song suko sedang berteduh dari hujan dalam kuil ini, pada mulanya telah datang seorang perampok kenamaan dari dunia persilatan…."

Secara blak-blakan dia lantas bercerita bagaimana The Hiong-toh datang membegal barang kawalan, bagaimana pengemis kecil itu membantu mereka secara diam-diam….

Nyo toakoh berkerut kening, mendadak tukasnya.

"Tak usah membicarakan yang bukan-bukan, lebih baik kembalikan pembicaraan ke soal pokok!"

"Baik, baik. Kemudian sukoh mengusir The Hiong-toh, tapi muncul seorang perempuan yang berusia sangat muda perempuan itu, perempuan itu…."

"Apa yang dikatakan Oh suko sebetulnya tidak termasuk menyimpang dari pokok pembicaraan,"

Kata Ki See-kiat "

Nyo Yan piaute pernah membantuku, dia pun membantu mereka, dari sini dapat dilihat kalau piaute tidak jahat malahan berjiwa pendekar. Tapi bagaimana kemudian ceritanya?"

"Entah apa sebabnya, tiba-tiba perempuan itu mengusulkan untuk beradu kepandaian dengan sukoh."

Ki See-kiat baru terkejut setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat katanya.

"Ibu, kau tidak bertarung dengan dia bukan?"

"Masa aku membiarkan seorang dayang ingusan untuk bertindak kasar di hadapanku? Tentu saja aku telah memberi pelajaran kepadanya"

"Ibu, apakah kau telah melukainya?"

Sementara dalam hati kecilnya berpikir.

"Kalau didengar dari nada pembicaraan itu, tampaknya siluman perempuan kecil itu adalah teman piaute. Karena ibu telah melukai gadis itu maka piaute enggan mengakuinya sebagai sanak dan buru-buru mengajak perempuan siluman kecil itu untuk menyem-buhkan lukanya"

Dari mana dia tahu kalau apa yang telah terjadi justru merupakan kebalikannya Merah padam selembar wajah Nyo toakoh karena marah bercampur jengah, sampai cukup lama dia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Ki See-kiat mengalihkan sorot matanya ke arah Oh Lian-kui, terpaksa Oh Lian-kui melanjutkan kembali kata-katanya ‘Tentu saja siluman perempuan kecil itu bukan tandingan sukoh, cuma… "

"Cuma kenapa?"

Oh Lian-kui tidak berani mengisahkan bagaimana sukoh-nya hampir kalah dan nyaris termakan tem-pelengan dari "siluman perempuan kecil"

Itu, tapi dia pun merasa andaikata tidak menceritakan apa adanya, hal ini terasa kurang adil buat pengemis cilik tersebut maka sikapnya menjadi sangat rikuh….

Nyo toakoh juga khawatir kalau dia tak tahu diri mengutarakan rahasia tersebut di muka orang luar, buru-buru dia menyambut "Benar, tentu saja siluman perempuan kecil itu bukan tandinganku.

Cuma aku pun hanya ingin menempelengdia beberapa kali sebagai hukuman baginya Siapa tahu piaute-mu itu… keponakanku itu… dia… ternyata dia…."

Makin lama Ki See-kiat merasa makin terperanjat, buru-buru tanyanya.

"Bagaimana dia?"

Dalam hatinya benar-benar merasa agak takut, dia takut kalau adik misannya itu terburu napsu sehingga bertarung melawan ibunya.

"Ternyata secara diam-diam Nyo Yan telah membantu siluman perempuan cilik itu sehingga perempuan siluman itu kabur. Coba kalau dia tidak menghalangi aku, sudah pasti siluman perempuan kecil itu tak bakal lolos dari cengkeraman-ku"

Ki See-kiat menghembuskan napas lega mendengar perkataan itu, ia pun tak sempat untuk bertanya kepada ibunya dengan cara apa Nyo Yan telah menghalanginya. Cepat dia bertanya.

"Tapi siluman kecil itu tidak terluka bukan?"

"Sebenarnya aku memang tak ingin melukai dirinya."

Ki See-kiat makin lega lagi setelah mendengar ucapan tersebut, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Ibu, siapa suruh kau mempunyai nama besar di dalam dunia persilatan? Walaupun siluman perempuan kecil itu tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, namun dia pun tidak termasuk orang jahat, tapi mungkin saja, lantaran namamu kelewat besar maka dia datang untuk menjajalmu"

"Aah. kau masih mencoba untuk membela dia, untung saja kau tidak menyaksikan tampangnya yang macam siluman, coba kau dengarkan perkataannya, dadamu bisa meledak rasanya!"

"Orang besar tak akan mempersoalkan anak muda,"

Kata Ki See-kiat sambil tertawa.

"Ibu, kalau kau telah memberi pelajaran kepadanya, ya sudahlah. Apalagi sekalipun pe-rempuan siluman itu berbuat sesuatu kesalahan kepadamu, toh piaute masih dapat dimaafkan."

"Dia tidak menghormati kaum tua, mengapa aku mesti memaafkan dia?"

Nyo toakoh mendengus.

"Mengapa tidak? Dia toh keponakanmu sendiri. Ibu, aku lihat piaute tidak bermaksud untuk memusuhi dirimu, cuma perempuan itu kemungkinan besar adalah sahabat karibnya, karena mengira gadis itu sudah terluka, maka buru-buru dia memburu keluar. Aah, benar, ibu, aku belum bertanya kepadamu, ketika piaute memberitahukan kabar tentang aku kepadamu itu, ini dilakukannya setelah kau bertarung melawan siluman perempuan kecil itu atau sebelumnya?"

"Sewaktu dia hendak menyusul perempuan siluman itu."

"Nah itulah dia,"

Kata Ki See-kiat sambil tertawa.

"Dalam keadaan yang begitu tergesa-gesa pun dia masih tak lupa memberitahukan soal ini kepadamu, hal ini menunjukkan kalau dia bukanlah seorang yang sama sekali tak berperasaan. Sedang mengenai apa sebabnya ia enggan mengakui sanak sendiri, untuk sesaat aku pun tidak habis mengerti. Cuma asal-usulnya memang amat rumit, kalau dia belum percaya seratus persen dengan perkataan kita, ibu, kau sudah seharusnya memberi maaf kepadanya."

Walaupun Nyo toakoh tidak mengisahkan separuh kejadian yang sesungguhnya, tapi dia pun terhibur juga hatinya, karena Nyo Yan telah membantunya terlebih dahulu sebelum membantu siluman perempuan kecil itu, andaikata tiada bantuan dari Nyo Yan, mungkin dia sudah kena ditampar oleh perempuan tersebut.Maka sambil berlagak berjiwa besar ia berkata, ‘Tentu saja, dia adalah keponakanku, satu-satunya keturunan dari keluarga Nyo, entah apa pun yang terjadi dengan dirinya, aku masih tetap mengharapkan kedatangannya.

Aku tak menyalahkan dia, kalau ingin menyalahkan, kita hanya bisa menyalahkan perempuan siluman itu."

Ki See-kiat cukup mengetahui tabiat dari Nyo Yan, dalam hati dia lantas berpikir, ‘Tabiat piaute jauh lebih keras daripada ibu, andaikata perempuan itu benar-benar adalah sahabat karibnya, dan ibu selalu menyalahkan perempuan itu, mungkin piaute pun enggan untuk menerima permintaan maafnya "

Baru saja dia hendak menghibur ibunya, Nyo toakoh telah berkata lagi.

"Orang muda berjiwa panas, pantangan yang paling utama adalah main perempuan. Dari dulu sampai sekarang, entah berapa banyak eng-hiong hohan yang terpikat oleh perempuan, hingga salah jalan. Terutama sekali bagi nama baik mereka sendiri. Lebih berbahaya jika sampai berada bersama perempuan-perempuan persilatan yang berasal dari ‘aliran tak genah’, bisa saja kumaaf-kan piaute-mu, tetapi kau pun mesti mempergunakan piaute-mu sebagai contoh!"

Sembari berkata, seperti sengaja tak sengaja dia melirik sekejap ke arah Leng Ping-ji. Perlu diketahui, dari pandangannya Leng Ping-ji adalah keponakan dari Leng Thiat-jiau "pentolan penyamun"

Dari Siau-kim-jwan, justru manusia semacam inilah yang di-anggapnya sebagai manusia dari golongan "tidak genah".

Tentu saja Leng Ping-ji tahu kalau perempuan itu menyindirnya, tapi memandang diri Ki See-kiat, terpaksa ia mesti menahan diri.Berbeda dengan Ki See-kiat yang sama sekali tidak memahami maksud dari ibunya, dalam hati kecilnya dia sedang berpikir.

"Ibu sedang kesal, keadaan semacam ini tidak cocok untuk minta kepadanya agar memaafkan siluman perempuan kecil itu, baiklah kunasihati dia biia amarahnya telah mereda, untung saja ia telah bersedia memaafkan adik misan."

Berpikir demikian, dia lantas berkata.

"Ibu, kalau begitu mari kita pergi mencari piaute!"

"Siapa tahu dia dan siluman perempuan kecil itu sudah kabur ke mana? Lebih baik kau pulang saja lebih dulu ke rumah, di kemudian hari kita baru berusaha untuk mencarinya lagi."

"Mustahil rasanya untuk datang kemari sekali lagi. Ibu, aku teringat ada suatu tempat yang mungkin bisa menemukan jejak piaute."

Menurut apa yang kuketahui, sebelum hilang piaute adalah murid terakhir dari Teng lociangbun dari Thian-san-pay, aku pikir kemungkinan besar dia akan balik keThian-san.

Mari kita pergi ke Thian-san-pay untuk menjumpai ciangbunjin baru mereka Teng Ka-gwan dan memohon bantuannya agar menasehati adik Yan agar mau pulang bersama kita, bukankah cara ini bagus sekali?"

Nyo toakoh segera mendengus dingin.

"Hmm, pertama aku tak biasa memohon bantuan orang. Kedua, aku pun tak pernah mengadakan hubungan dengan pihak Thian-san-pay? Aku rasa cara ini tak bisa dipergunakan."

"Ibu,"

Ucap Ki See-kiat sambil tertawa.

"mengapa kau begitu cepat lupa? Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwasanya nona Leng ini adalah muridnya Teng hujin, istri Teng Ka-gwan, ciangbunjin Thian-san-pay yang baru? Kalau minta bantuan kepadanya, urusan toh beres?"

"Mengapa kau terburu-buru ingin pergi ke Thian-san?"

Pertanyaan ini membuat Ki See-kiat menjadi tertegun.

"Ibu!"

Katanya.

"apakah kau tidak berharap bisa cepat-cepat berjumpa dengan piaute?"

Tiba-tiba Nyo toakoh tertawa dingin, katanya.

"Aku lihat agaknya kau enggan pulang ke rumah bersamaku, hmm! Urusan mencari adik misanmu itu masalah nomor dua, yang paling penting kau merasa keberatan untuk berpisah dengan nona Leng ini bukan?"

Beberapa patah kata itu dengan tepat sekali menyentuh rahasia hati Ki See-kiat, tapi dia tak menyangka kalau ibunya bakal berterus terang dengan mengungkapkan persoalan itu langsung di hadapan Leng Ping-ji, merah padam selembar wajahnya, untuk sesaat dia termangu-mangu.

Nyo toakoh kembali berpaling, katanya lagi dengan suara yang hambar.

"Nona Leng, aku mengharapkan kemurahan hatimu agar mau lepas tangan!"

Pucat pias paras muka Leng Ping-ji setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan suara yang gemetar.

"Pekbo, apakah maksud perkataanmu itu?"

"Sebutan pekbo tak berani kuterima,"

Jawab Nyo toakoh hambar.

"Aku tak tahu hubungan macam apakah yang terjalin di antara putraku dengan kau, tapi yang pasti aku tidak berani berhubungan kelewat rapat denganmu. Kau mempunyai seorang paman yang bernama kelewat besar, sedang kami tak lebih hanyalah rakyat biasa saja yang menuruti peraturan kerajaan. Oleh karena itulah, terpaksa aku harus memohon kemurahan hati nona Leng agar mau berlepas tangan danmelepaskan putraku dari cengkeraman jaring-jaring cinta maut!"

Mendengar ucapan tersebut, Ki See-kiat segera menjerit kaget, teriaknya keras-keras.

"Ibu, kau… kau, mengapa kau berkata demikian…."

"Kalian menganggap ucapanku itu kurang jelas?"

Seru Nyo toakoh.

"Baik, akan kuperjelas kata-kataku itu. Nona Leng, aku harap mulai detik ini kau jangan berhubungan dengan putraku lagi. Anak Kiat, aku titahkan kepadamu, sekarang juga ikut aku pulang ke rumah!"

Leng Ping-ji menggigit bibirnya kencang-kencang, wajahnya berubah jauh lebih dingin dari Nyo toakoh, katanya cepat.

"Ki hujin, kau harus tahu, aku hanya secara kebetulan saja berjumpa dengan anakmu, lantaran kami bersama-sama ingin mencari Nyo Yan, maka kami melakukan perjalanan bersama-sama, hakikatnya kami memang bukan teman, lebih tak pantas kalau dibilang mempunyai hubungan istimewa. Kalau toh hujin menaruh curiga atas maksud hatiku ini, diriku masih belum serendah itu, sekarang juga aku akan tinggalkan tempat ini. Tak usah khawatir hujin, aku tak akan berjumpa lagi dengan putramu itu!"

Sewaktu mengucapkan kata "tinggalkan tempat ini"

Tadi, ia telah beranjak pergi.

Sewaktu ucapan terakhir diutarakan, suaranya berasal dari ratusan langkah lebih dari posisi semula Ki See-kiat menjadi termangu-mangu, mendadak dia menyerbu keluar dari pintu kuil sambil teriaknya.

"Nona Leng, tunggu aku dulu, tunggu dulu!"

Entah Leng Ping-ji mendengar teriakannya atau tidak, yang pasti dia tidak berhenti malah sebaliknya mempercepat larinya "Kembali!"

Hardik Nyo toakoh cepat.

"jika kau tidak kembali, selama hidup jangan pulang lagi untuk menjumpaiku, aku pun tak akan mengakui kau sebagai anakku, kau pun tak usah mengakui aku sebagai ibumu."

Sejak kecil Ki See-kiat sudah kehilangan ayah, Nyo toakoh-lah yang memeliharanya hingga dewasa. Selama duapuluh tahunan, ibu dan anak hidup bersama "menuruti perkataan ibu"

Baginya boleh dibilang sudah merupakan suaiu kebiasaan yang lumrah.

Dengan membawa langkah kaki yang berat, bagaikan seekor anjing yang jinak, selangkah demi selangkah dia berjalan kembali ke dalam kuil bobrok itu.

Nyo toakoh segera merasakan hatinya sangat lega, sekulum senyuman pun mulai menghiasi wajahnya.

Inilah sekulum senyuman puas karena kewibawaannya sebagai seorang ibu masih dapat dipertahankan.

Meski sudah berpisah selama dua tahun, bagaimanapun juga dia adalah putranya.

Dan bagaimanapun juga, putranya masih tetap menuruti perkataan ibunya.

Akan tetapi, ketika sinar matanya bertemu dengan sorot mata anaknya, senyuman yang semula menghiasi wajahnya itu kontan lenyap tak berbekas….

Benar anaknya menuruti kata-katanya dan kembali, tapi "menurut"nya kali ini ternyata jauh berbeda dengan menurutnya di waktu-waktu sebelumnya….

Kini Ki See-kiat berdiri di depan ibunya seperti seseorang yang kehilangan sukma.

Seakan-akan orang yang berada di hadapannya adalah seorang asing, dengan mata terbelalak lebar-lebar diamengawasi ibunya tanpa berkedip.

Itulah sorot mata yang sayu seperti kehilangan sukma membuat hati Nyo toakoh kontan saja bergidik.

Bukan hanya bergidik saja, dari balik sorot mata putranya yang dingin itu, dia dapat merasakan pula kemarahan dan kemurungan dari putranya itu… Betul putranya masih menuruti perkataannya, tapi putra yang berdiri di hadapannya sekarang pun telah berubah seperti orang asing.

Kalau di masa lalu, meskipun dia mencaci maki putranya, dengan hati yang tulus putranya selalu menuruti perkataannya.

Agar tidak membuat ibunya marah, kadang kala dia mengucapkan kata-kata yang enak didengar untuk membujuknya.

Tapi sekarang….

Sekarang dia bagaikan orang asing saja, sepatah kata pun tak berbicara, yang ada cuma sorot mata yang memancarkan kejengkelan, kemarahan serta kemendongkolan.

Selama hidup, Nyo toakoh sudah banyak mengalami cobaan serta badai penderitaan, lebih banyak yang tidak menyenangkan daripada yang menyenangkan, tapi belum pernah merasakan kesedihan seperti apa yang dialaminya sekarang.

Tempo dulu, dengan mengandalkan wataknya yang keras, betapapun sulitnya suatu persoalan, dia selalu dapat menghadapinya dengan baik tanpa melelehkan setitik air matapun.

Tapi kali ini dia tidak memiliki keyakinan tersebut.

Dia tahu, untuk meratakan kembali keretakan hubungan antara ibu dan anak, sesungguhnya beratus kali lipat lebih sukar daripada suatu usaha untuk menundukkan musuh tangguh.Hampir saja dia melelehkan air mata, untung saja hal itu masih dapat dikendalikan dengan baik olehnya.

"Anak Kiat!"

Ujarnya kemudian dengan lembut.

"dengarkan dulu perkataanku…."

Tiba-tiba Ki See-kiat mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… ibu, entah apa pun yang kau katakan, aku akan menuruti perkataanmu. Aku adalah anakmu yang paling menuruti semua perkataanmu, tentunya kau sudah puas bukan? Haahh… haahh… haahh…."

Suara tertawanya jauh lebih tak sedap didengar daripada suara isak tangis, makin lama suara tertawanya semakin nyaring, seperti tangisan tapi bukan tangisan, seperti tertawa tapi bukan tertawa.

Tiap kali suara "tertawa"

Itu bergema, semuanya bagaikan sebatang anak panah yang menembus uluhati Nyo toakoh.

Membuat perempuan yang termasyhur sebagai Lak-jiu-Koan-im ini menjadi tertegun.

Oh Lian-kui paling akrab hubungannya dengan Ki See-kiat, buru-buru teriaknya.

"Sute, jika ingin menangis, menangislah dengan sepuas-puasnya…!"

Dia jauh lebih sadar otaknya daripada Nyo toakoh, ia cukup mengerti jika kesedihan sute-nya itu tidak bisa dilampiaskan keluar, bisa jadi dia akan menjadi gila.

Benar juga, Ki See-kiat segera menangis tersedu-sedu.

Menanti ia telah selesai menangis, Song Peng-ci baru menghibur.

"Sebagai lelaki sejati tak akan khawatir tak memperoleh bini, betul nona Lcng berwajah cantik berke-pribadian menarik, tapi toh bukan berarti sudah tak ada perempuan lagi yang bisa melebihinya. Menurut apa yangkuketahui, sukoh ada maksud untuk membicarakan soal pernikahanmu dengan putrinya Lau busu dari Hau-ciu dan putrinya Ciu tay-hiap dari Sik-keh-ceng."

"Kau tahu, nona dari keluarga Lau dan nona dari keluarga Ciu termasuk juga pendekar-pendekar perempuan yang berwajah cantik dan menarik dalam dunia persilatan."

Terhadap hiburan ini, Ki See-kiat bersikap seakan-akan tidak mendengarnya.

Tapi isak tangisnya sudah semakin parau, betul belum berhenti namun sudah tidak senyaring tadi lagi.

Dengan suara dingin Nyo toakoh segera menegur.

"Sudah cukup tangisanmu itu? Sebagai seorang lelaki sejati lebih baik mengucurkan darah daripada mengucurkan air mata, untung saja di sini tak ada orang luar, kalau tidak, kau tak malu aku yang bakal malu. Aaai… entah dosa apa yang telah kulakukan di masa lalu sehingga bisa mempunyai seorang anak yang tak becus macam kau."

Langit sudah gelap, di dalam kegelapan masih tampak sepasang mata Ki See-kiat berkaca-kaca.

Nyo toakoh mengira di situ tak ada orang luar, siapa tahu justru ada orang luar yang sedang menyadap pembicaraan mereka.

Orang itu bersembunyi di atas sebatang pohon besar di belakang kuil itu, dengan meminjam cahaya rembulan dan bintang, secara lamat-lamat dapat terlihat semua peman-dangan di dalam kuil bobrok itu.

Ternyata orang itu adalah Nyo Yan.Nyo Yan yang luntang-lantung tanpa tujuan, sebenarnya tak ingin kembali ke situ, tapi tanpa terasa dan tanpa dia sadari akhirnya dia telah balik kembali ke situ.

Apakah karena ingin bersua lagi dengan sanak keluarganya?

Atau karena berharap kemungkinan besar bisa bersua dengan enci Leng-nya dalam kuil bobrok itu?

Atau karena ingin menyelidiki sekitar mati hidup ayahnya?

Ataukah disebabkan yang lain?

Dia tak tahu.

Mungkin beberapa macam tujuan ini telah dia pikirkan tapi dalam hati kecilnya, ia tidak memiliki keberanian untuk menyelidikinya lebih jauh.

Sayang dia datang terlambat, Leng Ping-ji telah pergi.

Yang disaksikan olehnya hanya tragedi yang tercipta antara Nyo toakoh dengan putranya dia hanya mendengar suara tangisan dari Ki See-kiat….

Walaupun dia tak bersua dengan Leng Ping-ji, namun apa yang telah terjadi, dapat ditebak dengan jelas olehnya.

Sebenarnya dia menaruh rasa cemburu kepada Ki See-kiat, tapi sekarang ia turut bersedih baginya Tentu saja dia merasa lebih sedih bagi nasib Leng Ping-ji yang buruk.

"Aku pernah bersumpah akan menemukan kebahagian bagi enci Leng. Kali ini kukira dia bakal memperoleh kebahagian dengan caranya sendiri, siapa tahu urusan baik selalu banyak cobaan dan akhirnya beginilah akibatnya! Tapi dengan cara apa pula aku dapat membantunya?"

Ya, kendatipun dia berhasil memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, namun setelah menghadapi situasi seperti ini, dia merasa dirinya lemah, tak berkemampuan apa-apa untuk menanggulanginya.Dia marah kepada bibinya ini, gemas kepadanya, tapi dapatkah dia menghajar bibinya dan memaksa dia agar menerima Leng Ping-ji sebagai calon menantunya?

Kunci dari persoalan ini terletak pada diri Ki See-kiat sendiri, kecuali pemuda itu bisa bersikap tegas, bisa mengambil keputusan yang tegas, tentu semua persoalan akan beres.

Tapi, apa mau di kata, Ki See-kiat hanya seorang anak yang penurut.

0odwo0 Suara tangisan Ki See-kiat telah berhenti.

"Anak Kiat, kau sudah cukup puas menangis kini tidurlah dengan nyenyak…."

Nyo toakoh berkata lembut.

"besok pagi-pagi, kita masih harus melanjutkan perjalanan. Bagaimana persoalannya, kita bicarakan lagi setibanya di rumah nanti. Kau harus tahu, aku berbuat begini demi kebaikanmu."

Ki See-kiat mengawasi wajah ibunya dengan termangu, sementara itu Oh Lian-kui sudah menyulut api, dia sedang saling membantu dengan Song Peng-ci untuk membubuhkan obat luka yang terakhir di tubuh masing-masing.

Lewat lama kemudian, anak muda itu baru bertanya.

"Ibu, aku hanya ingin menanyakan satu hal."

"Baik, tanyalah."

"Kau bilang kesemuanya ini kau lakukan demi kebaikanku, aku ingin tanya, apa jeleknya dengan nona Leng itu?"

"Aku bukan mengatakan nona Leng itu jelek."

"Lantas apa sebabnya kau memaksanya pergi? Memaksanya agar bersumpah dan tidak bertemu lagi denganku?"

"Bukan dia yang tak baik,"

Nyo toakoh melanjutkan cepat.

"kau harus tahu, Leng Thiat-jiau adalah pamannya."

"Lantas kenapa?"

"LengThiat-jiau adalah buronan nomor satu dari pihak kerajaan Cing, tahukah kau?"

"Aku tak ambil peduli siapakah Leng Thiat-jiau itu, aku hanya ingin bertemu dengan nona Leng."

"Kau anggap nona Leng-mu itu tak dapat mengikuti pamannya untuk menempuh jalan yang sama? Menurut apa yang kuketahui, dia justru pernah membantu pemberontak di Siau-kim-jwan untuk melawan kerajaan!"

"Sekarang, entah berapa banyak pendekar sejati dan orang gagah yang mulai bangkit dan menentang pemerintah penjajah bangsa Boan-cing, sekalipun kita bukan kaum hiapkek, bukan kaum ksatria atau patriot pembela tanah air, apakah kita mesti munduk-munduk kepada kaum penjajah? Takluk dan menjilat pantat kaum penjajah bangsa asing?"

Kontan Nyo toakoh menarik mukanya yang telah berubah menjadi hijau membesi segera hardiknya.

"Kau sudah melupakan ajaran keluarga kita?"

"Belum, ananda masih mengingat terus!"

"Coba baca sekali lagi di hadapanku!"

"Pusatkan semua pikiran untuk berlatih silat, menjaga diri dan hidup bebas merdeka. Tidak jadi opas, tidak jadi pencoleng. Cuma…"

"Cuma apa lagi?"

Tukas Nyo toakoh cepat Kali ini Ki See-kiat sama sekali tidak ia dipengaruhi oleh bentakan ibunya, dia melanjutkan terus kata-katanya.

"CumaLeng Thiat-jiau sekalian toh bukan pencoleng sembarang pencoleng…"

"Justru lantaran mereka bukan pencoleng sembarang pencoleng, maka kita lebih-lebih tak boleh mendekatinya."

"Ananda merasa tak pernah mendengar ajaran ini!"

"Kau ingin membantah?"

Kembali Nyo toakoh menghardik. Ayah Masih Hidup "

Ajaran keluarga kita hanya melarang kita jadi pencoleng, tapi tidak melarang kita berteman dengan pencoleng.

Apalagi yang menganggap Leng Thiat-jiau sebagai pencoleng toh hanya pihak pemerintah penjajah, sedangkan para orang gagah dalam dunia persilatan rata-rata menganggap mereka sebagai patriot pembela bangsa, selain itu, kendatipun kau anggap Leng Thiat-ciu sebagai pencoleng, paling tidak keponakannya toh bukan."

"Tak peduli dia sekarang bukan juga boleh, pencoleng juga boleh, pokoknya yang pasti dia pun termasuk orang yang dicurigai. Bagaimanapun juga, aku tak dapat menariknya sebagai menantuku!"

"Pada hakikatnya kami belum pernah membicarakan soal perkawinan, aku tahu kalau diriku tak pantas memperoleh dia, mana berani kupunyai pikiran seperti itu. tapi hanya berhubungan dengan dia pun masa tak boleh?"

"Tidak boleh!"

Ki See-kiat berdiri termangu seperti sebuah patung arca, bibirnya digigit kencang-kencang, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut kemudian diurungkan kembali.

"Anak Kiat!"

Kembali Nyo toakoh berkata dengan lembut.

"aku berpikir demikian demi masa depanmu, masih ada saru hal kau tentunya masih belum tahu bukan?"

"Persoalan apa?"

"Persoalan yang menyangkut engku-mu. Dia masih hidup di dunia ini, sebelum berangkat ke Sinkiang kali ini, aku telah bersua dengannya."

Nyo Yan yang menyadap pembicaraan tersebut dari atas pohon segera merasakan hatinya bergetar keras, hal ini membuat dedaunan berguncang keras.

Untung saja pada waktu itu berhembus lewat segulung angin kencang sehingga Nyo toakoh tidak mengetahui akan kehadirannya.

Buru-buru Nyo Yan menenangkan hatinya dan memperhatikan kembali pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam.

Terdengar Nyo toakoh berkata lebih jauh.

"Oleh sebab itu kuajak kau pulang dulu sampai di rumah, kemudian baru membicarakan kembali persoalan ini, soal mencari jejak Nyo Yan juga boleh ditangguhkan untuk sementara waktu, mengertikah kau akan maksudku?"

"Ibu, maksudmu kau hendak memberitahukan dulu berita tentang ditemukannya kembali jejak piaute kepada engku, lalu menyuruh dia sendiri mencari piaute?"

"Benar… asal bapaknya sendiri yang pergi mencari anaknya, pastilah anak akan menuruti perkataan ayahnya. Waktu itu kita pun tidak usah khawatir lagi bila siluman perempuan kecil itu sampai memikat adik misanmu itu."

Diam-diam Nyo Yan tertawa getir, pikirnya.

"Siluman perempuan kecil itu bukan saja tidak memikat diriku, terhadap segala tindak tandukku yang berusaha mendekat pun enggan menerima. Tapi bilamana ayahku benar-benar hendak mela-rang hubunganku dengannya, haruskah kuturuti perkataan itu?"

Dengan cepat ia menjawab sendiri pertanyaan itu.

"Tentu saja tidak! Sekalipun dalam kenyataan harapanku dan harapannya bertentangan, tapi mustahil kalau aku disuruh begitu penurut macam kakak misanku ini."

Perasaan yang bergolak keras dengan cepat menjadi tenang kembali, karena waktu itu Ki See-kiat kembali berbicara, maka dia pun kesampingkan dulu soal dirinya untuk sementara waktu guna mendengarkan pembicaraan kakak misannya.

Ketika Ki See-kiat mendengar kabar tentang engku-nya yang masih hidup, ia segera menunjukkan perasaan girang yang luar biasa.

Hanya saja perasaan girang itu masih belum dapat mengatasi kemurungan serta kekesalan yang mencekam perasaannya.

Tak tahan dia lantas bertanya lagi kepada ibunya.

"Engku masih hidup di dunia, tentu saja aku turut gembira. Cuma, apa hubungannya dengan masa depanku? Apa pula hubungannya dengan nona Leng…?"

"Besar sekali sangkut pautnya, kau tahu apa kedudukan engku-mu sekarang…?"

"Dari mana aku tahu? Ibu, lebih baik kau saja yang beritahukan secara langsung kepadaku, dia seka-rang jadi apa?"

"Sekarang dia adalah seorang pengawal keraton, orang kepercayaan dari kaisar! Cuma saja, boleh saja kuberitahukan hal ini padamu, tapi jangan sampai kau bocorkan di luaran. Engku-mu tak ingin kalau sampai berita tentang dirinya itu sampai diketahui oleh orang rimba persilatan…."

"Apa? Engku sudah menjadi seorang pengawal pribadi sang kaisar?"

Ki See-kiat terperanjat "Apa jeleknya? Toh kedudukan tersebut jauh lebih baik daripada seperti Leng Thiat-jiau menjadi pentolan pemberontak! "

"Andaikata berita ini sampai diketahui para pendekar, mungkin aku sendiri pun akan kehilangan muka."

"Ngaco belo, siapa suruh kau punya jalan pikiran seperti mereka?"

Ki See-kiat seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan ibunya, kembali dia bergumam.

"Mengapa dia mesti jadi pengawal istana kaisar? Ya… mengapa dia mesti menjadi pengawal istana…."

"Mau tak mau dia harus menjadi pengawal istana, sebab Beng Goan-cau-lah yang memaksanya. Beng Goan-cau telah merebut istrinya, bahkan tak mau melepaskan dia, padahal ilmu silatnya tak mampu menandingi Beng Goan-cau, kalau tidak menjadi pengawal istana, cara bagus apa lagi yang bisa digunakan untuk menghindarkan diri dari kejaran Beng Goan-cau?"

Pembicaraan tersebut segera membuat Nyo Yan yang bersembunyi di luar ruangan jadi kebingungan, bagaimanapun juga dia tidak tahu jelas tentang seluk beluk pertikaian antara ayah ibunya dengan Beng Goan-cau, dia pun tak tahu siapabenar siapa salah, sehingga untuk beberapa saat sulit baginya untuk menentukan sikap.

Ya, selihay-lihaynya toh usianya baru mencapai angka delapanbelas, seandainya dia hidup terus di gunung Thian-san, mungkin keadaannya masih agak mendingan, tapi selama tujuh tahun ini dia hidup tak menentu, lagi pula mesti belajar silat dari "yaya"nya.

Bagaimanapun yaya-nya adalah seorang kakek yang putus asa, lagi pula termasuk antara golongan lurus dan sesat, sedikit banyak pengaruh dari tabiatnya menempel juga pada anak muda ini….

Maka setelah mendengar cerita dari Nyo toakoh itu, meski dia merasa tak senang karena ayahnya menjadi pengawal istana raja, toh timbul juga rasa simpatinya.

Dengan cepat dia berpikir.

"Ayah berbuat demikian karena didesak oleh Beng Goan-cau, biarlah kuba-laskan dendam lebih dulu buat ayah, kemudian baru membujuknya agar jangan menjadi pengawal istana, kurasa dia pasti akan menuruti bujukan itu…."

Berpikir sampai di sini, perasaannya segera bergelora keras sukar tenang, jari tangannya gemetar keras, hampir saja tak sanggup untuk berpegangan erat pada dahan pohon.

Terdengar Nyo toakoh berkata lebih jauh.

"Aku telah membicarakan soal ini dengan engku-mu, asal kau sudah diajak pulang ke rumah, dia dapat mencarikan sebuah kedu-dukan untukmu entah menjadi pengawal istana, entah menjadi seorang perwira dalam pasukan pengawal raja, engku-mu dapat mengusahakannya bagimu."

Paras muka Ki See-kiat kontan saja berubah hebat."Apa? Kau suruh aku menjadi kuku garudanya kerajaan Cing?"

Teriaknya tertahan.

"Ngaco belo tak keruan!"

Damprat Nyo toakoh.

"Siapa bilang menjadi kuku garuda? Bagi mereka yang belajar silat, kecuali menjadi perampok hanya ada tiga pilihan lain, yakni pertama menjadi piausu, kedua menjadi guru ilmu silat di bu-koan dan ketiga menjadi perwira. Sebagai seorang perwira, masa depanmu akan cerah, kau enggan jadi perwira apa ingin menjadi perampok…?"

"Ibu, kau suruh aku mencari pangkat, apakah tindakan ini tidak melanggar ajaran keluarga kita sendiri? Ajaran kita berkata, ‘tidak menjadi pembesar, tidak menjadi perampok’?"

Nyo toakoh segera mendengus dingin.

"Hmm, kau ini betul-betul goblok, mana bisa kau samakan seorang pengawal istana dan seorang perwira pengawal raja dengan seorang pembesar biasa? Pembesar yang dimaksudkan dalam ajaran keluarga adalah seorang opas atau seorang sipir bui, bila dibandingkan dengan seorang pengawai istana, perbedaannya ada sepuluh laksa delapan ribu li!"

"Tidak, aku rasa kalau toh dalam ajaran keluarga melarang kita jadi pembesar kecil, tentu saja sebagai pengawal istana juga tidak boleh."

"Itu berarti kau telah salah mengartikan ajaran keluarga kita, bila kau tidak percaya dengan perkataanku itu, sesampainya di rumah nanti, tanyakan sendiri kepada yaya-mu."

"Besok pun aku tak akan turut kau pulang ke rumahi"

Nyo toakoh jadi gusar sekali, teriaknya.

"Kau, kau… kau binatang yang tidak berbakti, sejak berumur tiga tahun kau sudah ditinggal mati ayahmu, dengan susah payah (dirawatdan kudidik hingga menjadi dewasa, sekarang dengan usiaku yang begini lanjut, aku masih keluar rumah sendiri untuk mencari kau, setelah ditemukan, kau malah tidak mau ibumu lagi."

"Ibu, perkataanmu itu kelewat serius, anakmu sama sekali tidak… sama sekali tidak…."

"Baik, kalau toh kau masih bermaksud mengakui aku sebagai ibumu, mengapa tidak turut aku pulang ke rumah?"

Kata Nyo toakoh marah-marah.

"Aku telah menyiapkan masa depan yang cerah bagimu, mengapa justru kau tidak menuruti perkataanku? Jika kau tidak menuruti, maka kau tak usah menjadi anakku lagi!"

"Sukoh, kau jangan marah-marah dulu hingga merusak kesehatan badanmu, biar aku saja yang membujuk sute,"

Timbrung Song Peng-ci kemudian.

"Hmm, sejak tadi aku sudah dibikin jengkel oleh tingkah lakunya, hari ini dia harus diberi pelajaran dengan sebaik-baiknya"

Tampaknya makian itu belum selesai dan ia masih bersiap-siap untuk melanjutkan dampratannya, tapi entah mengapa, tiba-tiba dia menghentikan makiannya sambil membentak ke arah luar ruangan.

"Siapa yang mencuri dengar pembicaraan kami di luar? Cepat menggelinding keluar!"

Rupanya Nyo Yan tak sanggup menahan gejolak perasaan dalam hatinya sehingga dahan pohon yang dipegangnya berguncang keras.

Kali ini daun berguguran tanpa hembusan angin, tentu saja kejadian tersebut tak dapat mengelabui Nyo toakoh.Merasa jejaknya ketahuan, Nyo Yan merasa terkejut sekali sehingga hampir saja terjatuh dari atas dahan Dengan cepat dia melompat turun ke bawah, tapi baru saja badannya mencapai permukaan tanah, ia sudah mendengar suara desingan senjata rahasia meluncur ke arahnya.

Merasakan datangnya desingan angin tajam dari belakang, serta merta Nyo Yan membalikkan tangannya sambil menyentil.

Sekalipun perasaannya sedang bergolak keras, bukan berarti ilmu silatnya yang amat iihay itu terpengaruh, sentilan tersebut dilancarkan seolah-olah di belakang punggungnya tumbuh sepasang mata, dengan jitu sekali berhasil menyentil rontok sebatang paku penembus tulang.

Pada saat itulah, suatu kejadian yang sama sekali tak diduga oleh Nyo Yan telah berlangsung.

Dari atas sebatang pohon yang lain, tiba-tiba melompat turun sesosok bayangan manusia Dalam kegelapan, apalagi dalam keadaan tergopoh-gopoh Nyo Yan tak sempat mengenali siapa orang itu.

Sebab orang itu berjalan dengan punggung menghadap ke arahnya, sedang kepalanya ditutup dengan secarik kain kerudung hitam.

Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, orang berkerudung itu melompat turun dari atas pohon dan langsung menyusup masuk ke dalam kuil bobrok itu.

Dalam keadaan seperti ini, Nyo Yan hanya mempunyai satu pikiran yakni cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Apakah hal ini disebabkan dia enggan berjumpa lagi dengan bibinya yang memuakkan itu, ataukah disebabkan untuk menghindarkan diri dari Ki See-kiat?Dia tidak tahu, mungkin saja dikarenakan dua alasan tersebut.

Ia telah memikirkan persoalan itu masak-masak, bagaimanapun juga ia tak akan bisa membantu kakak misannya, daripada setelah berjumpa dengan kakak misannya tak tahu mesti berkata apa, lebih baik cepat-cepat saja menyingkir dari situ.

Tapi masih ada alasan lain yang lebih penting adalah dia mesti cepat-cepat mencari Leng Ping-ji.

Sebab kedudukan Leng Ping-ji dalam hatinya jauh lebih penting daripada Ki See-kiat, bagaimanapun juga, Leng Ping-ji dianggap sanak sendiri.

Setelah mengetahui kejadian tragis yang menimpa Leng Ping-ji, dia dapat saja menghindari Ki See-kiat, namun harus membuang jauh-jauh ingatan untuk menghindari Leng Ping-ji.

"Entah bagaimana sedih dan murungnya pikiran dan perasaan enci Leng pada saat ini, kecuali aku, siapa pula yang dapat menghibur hatinya?"

Demikian Nyo Yan berpikir.

Sekarang, dia benar-benar merasa agak beruntung karena ada orang yang telah mewakili kedudukannya Untuk menghadapi orang tersebut, Nyo toakoh dan Ki See-kiat pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, saat itu mungkin ia sudah jauh dari tempat tersebut.

Ia cukup mengetahui sampai di manakah taraf ilmu silat yang dimiliki Ki See-kiat, dia pun pernah menyaksikan ilmu silat yang dimiliki bibinya.

Dengan kerja sama kedua orang itu, kecuali bertemu dengan jago pedang nomor wahid di kolong langit Kim Tiok-liu, mungkin tiada manusia kedua di dunia ini yang sanggup mengalahkan gabungan dari mereka berduaDan dia tentu saja tahu, kalau orang berkerudung itu sudah pasti bukan si jago pedang nomor wahid di kolong langit Kim Tiok-liu.

Oleh karena itu, Nyo Yan sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua Dengan suatu gerakan yang cepat dia lari turun gunung, kemudian menempuh perjalanan dengan cepat, suatu ketika mendadak ia merasa ujung jarinya lamat-lamat terasa kaku dan gatal.

Sekarang Nyo Yan baru teringat kalau ia sudah terluka, segera pikirnya dengan cepat.

"Tak kusangka bibi menggunakan senjata rahasia beracun, tak heran kalau ia disebut orang sebagai Lak-jiu-Koan-im."

Untung saja ujung jarinya tak robek dan darahnya tak sampai keracunan, begitu sadar akan bahaya mengancam, cepat-cepat ia mencuci jari tangannya ke selokan, kemudian mengerahkan hawa muminya menembus ujung jari tangan tersebut, tak lama kemudian rasa gatal-gatal tadi telah lenyap tak berbekas.

Mengetahui kalau bininya yang bergelar Lak-jiu-Koan-im pandai pula menggunakan senjata rahasia beracun, dia semakin lega hati.

Kini yang paling dikhawatirkan olehnya hanyalah Leng Ping-ji.

0odwo0 Mimpi pun Nyo Yan tak pernah menyangka kalau senjata rahasia paku penembus tulang yang beracun itu sesungguhnya bukan dilepaskan oleh bibinyaOrang berkerudung hitam itulah yang melepaskan senjata rahasia untuk menghajar Nyo Yan.

Dia datang jauh lebih awal daripada Nyo Yan, baru saja akan turun tangan menyergap Ki See-kiat, Nyo Yan telah muncul di sana.

Keringat dingin sempat membasahi tubuh manusia berkerudung itu karena gelisah, untung saja Nyo Yan tidak bersembunyi di atas pohon yang sama.

Malam itu gelap gulita tak berbintang, Nyo Yan hanya memusatkan semua pikirannya untuk mendengarkan pembicaraan Nyo toakoh berdua, ia tak pernah menyangka kalau di samping tubuhnya masih bersembunyi pula seorangjago lihay yang berkepandaian hampir setaraf dengan kemampuannya.

Orang berkerudung hitam itu belum pernah menyaksikan kelihayan ilmu silat dari Ki See-kiat walaupun ia pernah mendengar hal itu dari pembicaraan beberapa orang, namun ilmu silat dari orang-orang itu masih jauh di bawah kemampuannya, hingga ia sama sekali tak memandang sebelah mata pun terhadap kemampuan Ki See-kiat.

Meski begitu dia cukup mengetahui akan kelihayan Nyo Yan, terhadap anak muda ini mau tak mau dia mesti menaruh perasaan jeri dan waswas.

Justru karena dia jeri dan waswas terhadap Nyo Yan inilah, maka selama ini tidak berani turun tangan.

Sewaktu jejak Nyo Yan diketahui oleh Lak-jiu-Koan-im, mau tak mau terpaksa ia mesti turun tangan juga.

Hal ini bukan dikarenakan dia tidak tahu kalau jejaknya belum diketahui Lak-jiu-Koan-im, melainkan dia takut jika Nyo toakoh sampai mengenali bahwa Nyo Yan adalahkeponakannya, jika hal itu sampai terjadi maka yang paling menderita kerugian sudah pasti dia sendiri….

Tentu saja dia pun dapat memperhitungkan bahwa senjata rahasia beracun yang disambitkan belum tentu dapat melukai Nyo Yan, tapi ia mempunyai perhitungan lain yang lebih baik, yakni menggunakan kesempatan sewaktu Nyo Yan masih gugup kebingungan, dia akan menyerbu dulu ke dalam kuil bobrok itu, kalau bisa dengan suatu gerakan yang paling cepat membekuk Nyo toakoh sebagai sandera Masih ada satu hal lagi yang sama sekali tak disangka oleh Nyo Yan, yaitu peritiwa di luar dugaan yang kemudian berlangsung di dalam kuil tersebut Kejadian di luar kuil dan kejadian di dalam kuil boleh dibilang berlangsung hampir bersamaan waktunya Di kala Nyo Yan menemukan jejak manusia berkerudung itu, Ki See-kiat yang berada dalam kuil pun sedang muntah darah.

Berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki Ki See-kiat sekarang, sekalipun dadanya dihantam dengan martil besar pun belum tentu dia akan muntah darah, tapi sekarang dia harus menghadapi tekanan dan desakan dari ibunya yang bertubi-tubi, hal ini membuat hatinya luka parah, dadanya seperti ditekan oleh sesuatu kekuatan yang amat besar sekali, air mata yang tak sanggup meleleh keluar mengakibatkan darahlah yang dimuntahkan keluar.

Waktu itu, Nyo toakoh baru saja akan menengok keluar kuil, ketika menyaksikan putranya muntah darah, ia menjadi terkejut sekali, buru-buru serunya dengan cemas.

"Kiat-ji, kenapa kau?"

Baru selesai dia berkata, manusia berkerudung itu sudah memunculkan diri di depan pintu.

Belum lagi orangnya muncul, senjata rahasianya sudah dilepaskan lebih dulu.

Dua batang paku penembus tulang yang beracun segera meluncur ke depan, satu menghajar ke arah Nyo toakoh sedang yang lain menghajar tubuh Ki See-kiat.

Nyo toakoh sangat mengkhawatirkan keselamatan putranya, walaupun berada dalam keadaan kaget bercampur gugup, namun reaksinya cukup cepat.

Tanpa membalikkan kepalanya dia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu yang dimilikinya merupakan ilmu sakti dalam dunia persilatan, dalam serangan tersebut pun sudah disertai dengan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut Dua batang paku penembus tulang itu seakan-akan tergulung dalam suatu pusaran angin yang keras, dengan cepat terhenti di tengah udara, lalu berbalik arah dan melayang balik ke tempat semula Ternyata di dalam melepaskan serangan tadi, Nyo toakoh telah menyertakan dua macam kekuatan yang berbeda, tenaga keras dan tenaga lunak dilancarkan bersama, hal ini menimbulkan suatu kekuatan yang luar biasa sekali.

Gerak-gerik yang dilakukan kedua belah pihak sama-sama dilakukan dengan kecepatan luar biasa, sewaktu manusia berkerudung hitam itu menerjang masuk ke dalam, secara kebetulan dia justru menyongsong datangnya kedua batang senjata rahasia yang meluncur balik itu.

"Kukembalikan benda milikmu itu, roboh kau!"

Bentak Nyo toakoh.

Ternyata manusia berkerudung itu tidak menyambut serangan itu, juga tidak berkelit, tapi dia tak roboh ke tanah.

Dua batang paku penembus tulang itu segera menghajar bajunya, tapi tidak mengakibatkan luka apa-apa, pakaiannya pun tak robek, tahu-tahu saja senjata itu sudah rontok ke tanah.

Sementara tubuhnya masih menerjang terus ke depan dengan kecepatan penuh.

Padahal Nyo toakoh mengira kedua batang senjata rahasia yang dilontarkan balik dengan kekuatan keras dan lunaknya itu paling tidak pasti akan melukai lawannya, kenyataan yang kemudian terjadi, sungguh jauh di luar dugaannya Sekalipun demikian, diam-diam orang berkerudung itu pun terkejut juga, pikirnya cepat.

"Nama besar Lak-jiu-Koan-im ternyata bukan nama kosong belaka, aku tak boleh bertindak kelewat gegabah ″ Nyo toakoh lebih terkejut lagi, dia pun berpikir.

"Tampaknya ilmu silat yang dimiliki orang ini jauhlebih dahsyat dan hebat bila dibandingkan siluman perempuan kecil itu, kali ini aku betul-betul bisa celaka!"

Dia adalah seorang ahli silat yang sudah berpengalaman luas, tentu saja dia pun tahu kalau pihak lawan mempergunakan ilmu Cian-ih-cap-pwe-tiap untuk merontokkan senjata rahasia tadi.

Kepandaian semacam ini tak mungkin bisa dimiliki seseorang bila tenaga dalam yang dimilikinya belum mencapai taraf sempurna.

Kenyataannya, orang itu hanya bisa merontokkan paku penembus tulang tanpa bisa mementalkannya kembali, sekalipun jaraknya dengan ke-sempurnaan masih selisih setingkat, namun kenyataan tersebut sudah cukup membuat Nyo toakoh tertegun.

Tapi, sekalipun dia tahu bukan tandingan lawan, demi melindungi keselamatan putranya Nyo toakoh bertekad akan beradu jiwa Belum lagi dia berbuat sesuatu, orang itu sudah menerjang sampai di hadapannya, sambil tertawa dingin ia membentak keras.

"Coba kita lihat, siapa yang lebih bertangan keji!"

Di tengah bentakan itu, sepasang telapak tangan orang berkerudung itu mulai diayunkan kian kemari melepaskan pukulan-pukulan yang amat dahsyat… Nyo toakoh segera berputar untuk menghindar, kemudian telapak tangannya dibacokkan ke muka bagaikan sebilah golok.

Ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu memang lebih mengutamakan kekerasan dengan tenaga lunak sebagai kekuatan sampingan, sepintas lalu bacokan itu tampak lemah seolah-olah tak berisi.

Tapi bagi seorang ahli silat, hanya dalam sekilas pandang saja dia bisa membedakan mana yang berisi mana yang tidak.

Ketika menyaksikan serangannya yang lemah seperti orang tak bertenaga itu, dengan sikap terkejut orang berkerudung hitam itu segera bersiap siaga.

Rupanya meski serangan tersebut tampaknya sangat enteng dan sederhana tanpa keistimewaan, padahal justru terkandung kekuatan yang mampu melukai nadi penting di dalam tubuh.

Seandainya orang berkerudung itu beradu kekuatan dengannya, mungkin saja Nyo toakoh akan tewas oleh pukulannya, akan tetapi nadi penting Sau-yang-meh di ba-dannya juga akan terluka sehingga mengakibatkan cacat seumur hidup.

Padahal orang berkerudung hitam itu belum lagi berusia tigapuluh tahun, masa depannya masih panjang, sudah barang tentu dia enggan beradu jiwa dengan Nyo toakoh yang sudah mendekati enampuluh tahun itu.

Sekalipun perempuan itu mesti dibunuh, dia tak ingin menderita kerugian apa-apa, walau cuma kehilangan sebuah jari tangan pun.

Maka dengan menggeser badannya ke samping, ia menghindarkan diri dari ancaman tersebut, jengek-nya sambil tertawa dingin.

"Nenek pengemis, ingin adu jiwa? Sayang dengan kemampuanmu itu masih jauh dari cukup."

Di mulut dia berbicara, gerakan tangannya sama sekali tidak melambat dalam beberapa patah kata saja dia sudah melancarkan tujuh dela-panbelas jurus serangan.

Setiap serangan yang dilancarkan semuanya dilakukan dengan berhati-hati sekali, begitu tak mendapat hasil segera ditarik kembali, begitu terdesak cepat mundur, hal ini membuat Nyo toakoh tak dapat mengembangkan pertarungan adu jiwa yang menguntungkan baginya Coba kalau ilmu pukulan dari Nyo toakoh tidak rapat dan aneh, niscaya kesempatan tersebut sudah dimanfaatkan olehnya untuk menerobos maju ke depan.

Dalam pertarungan yang berlangsung seru mendadak ia mengendus bau anusnya darah yang memuakkan terselip di antara hembusan angin pukulan lawan, ia jadi amat terkejut mendadak kepalanya terasa pusing sekali….

"Aduh celaka, rupanya bangsat ini memiliki ilmu pukulan beracun yang sangat lihay."

Buru-buru dia mengerahkan hawa muminya untuk melindungi jantung.

Pada hakikatnya dia memang bukan tandingan lawan apalagi setelah pikirannya bercabang, bagaimana mungkin ia sanggup menahan serangan musuh yang datang secara bertubi-tubi?

"Sreet.,.!"

Ujung baju sebelah kiri Nyo toakoh telah tersambar hingga robek, lengannya yang putih pun terlihat jelas.

Masih untung cuma lengannya yang tampak, coba kalau bagian lain yang kena dirobek, jelas peristiwa ini akan sangat memalukannya.

Nyo toakoh amat terkejut, langkahnya jadi sempoyongan, tampaknya dia akan segera terhajar oleh tenaga serangan lawan.

Baru saja orang itu akan maju sambil melepaskan serangan, mendadak terasa olehnya ada segulung tenaga pukulan yang sangat kuat tahu-tahu menyergap tiba.

Lalu terdengar Ki See-kiat berseru keras.

"Ibu, untuk memotong ayam kenapa mesti memakai pisau penjagal sapi? Biar anak saja yang menghajar adat bajingan cilik ini!"

"Anak Kiat, jangan!"

Jerit Nyo toakoh kaget Buru-buru dia membalikkan badannya untuk mencegah…. Tapi, mendadak terdengar suara bentrokan keras bergema memecahkan keheningan… "Blaam!"

Ki See-kiat dan orang berkerudung itu sudah saling beradu kekuatan satu kali.Seketika itu juga Nyo toakoh hampir pingsan saking kagetnya.

Kalau dia sendiri saja tak sanggup menghadapi orang berkerudung itu, apalagi putranya?

Dengan terjadinya bentrokan kekerasan itu, sekalipun putranya tak sampai mati, paling tidak juga bakal terluka parah.

Siapa tahu begitu dia mengalihkan sorot matanya ke depan, tampaklah putranya berdiri tegak seperti batu karang bergeming sedikit pun, sebaliknya orang yang berkerudung itu malah terdesak mundur sejauh satu langkah lebih.....

Di ujung bibir Ki See-kiat masih terdapat noda darah yang belum mengering, namun tidak menutupi kegagahan wajahnya, jauh berbeda sekali dengan sikap murung dan layu tadi.

Sang ibu ingin melindungi anaknya, sang anak pun ingin melindungi ibunya.

Setelah memuntahkan darah segar, rasa sesak dan murung yang mencekam dadanya sudah terlampiaskan sebagian, berhadapan dengan musuh tangguh tanpa terasa semangatnya berkobar kembali.

Dengan munculnya musuh tangguh di depan mata, persoalan sebesar apa pun yang sedang dihadapinya, mau tak mau mesti disingkirkan jauh-jauh lebih dulu.

Orang berkerudung itu merasa terkejut bukan kepalang, meski dia tak sampai dirobohkan dalam bentrokan kekerasan barusan, segera pikirnya.

"Ilmu Liong-siu-kang milikku telah mencapai tingkat kedelapan, mengapa masih belum sanggup menandinginya?"

Sementara itu Ki See-kiat juga merasa terkejut"Heran, kenapa orang ini pun pandai Liong-siu-kang? Bahkan kekuatannya hampir seimbang dengan diriku?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat dia berseru tertahan.

"Kau, kau adalah Toan Kiam-ceng?"

"Kalau benar mau apa kau?"

Sambil berseru dia lantas melancarkan sebuah serangan mematikan.

Kali ini dia tidak melepaskan pukulan yang menjurus beradu kekerasan, badannya berputar kencang kian kemari.

Begitu serangan Ki See-kiat menemui sasaran yang kosong, mendadak tangannya memanjang ke depan mencengkeram wajah Ki See-kiat, gerakannya sangat aneh, lengannya lemas bagaikan tak bertulang, bahkan cengkeraman tersebut dilepaskan dari arah yang sama sekali tak terduga oleh Ki See-kiat.

Rupanya dia telah membaurkan ilmu Yoga dari negeri Thian-tok menjadi semacam ilmu pukulan.

Dalam anggapannya, bagaimanapun Ki See-kiat berusaha berkelit, jangan harap ia dapat meloloskan diri dari ancaman.

Siapa tahu, akhir dari serangannya itu sama sekali di luar dugaannya….

Rupanya meski Ki See-kiat belum pernah belajar ilmu Yoga, namun sudah menguasai penuh pelajaran silat yang ditinggalkan oleh Kui Hoa-seng.

Ilmu silat Kui Hoa-seng bersumber dari Siau-lim-si, terutama ilmu Liong-jiau-jiu (tangan cakar naga) justru merupakan ilmu tandingan dari ilmu Coa-kun (pukulan ular).Begitu dilihatnya lengan Toan Kiam-ceng bisa melingkar-lingkar seperti ular yang mencari mangsa, tanpa berpikir panjang ia segera menghadapinya dengan ilmu Liong jiau-jiu.

Padahal jurus serangan dari Toan Kiam-ceng yang digubah dari ilmu Yoga ini jauh lebih dahsyat daripada ilmu Ular, seandainya kepandaian tersebut telah mencapai puncak ke-sempurnaan, belum tentu ilmu Cakar Naga sanggup untuk menandinginya.

Akan tetapi ketika ia saksikan pihak lawan mengeluarkan semacam silat aneh yang belum dikenalnya, seperti juga Ki See-kiat kaget sewaktu menjumpai ilmu Ular-nya tadi, dia pun dibikin amat terperanjat Tiga jari tangan Ki See-kiat yang membawa ilmu silat Cakar Naga sudah mengancam kepalan tangannya.

Toan Kiam-ceng tidak mengenal perubahan jaras musuhnya, dia pun tak tahu sampai di manakah kelihayan dari jurus serangan lawan, dia khawatir bila serangan dilancarkan secara ceroboh, hal ini justru akan merugikan diri sendiri.

Dalam keadaan begini, Toan Kiam-ceng tak berani mengambil risiko kelewat besar.

Karena itu tangannya yang lemas bagaikan tak bertulang itu segera berputar arah, dari serangan mencengkeram kini berubah menjadi menghantam.

Begitu pukulan dilepaskan, hawa panas yang menyengat segera berhembus, hal ini membuat Nyo toakoh yang bersembunyi di sudut ruangan pun tak tahan.

Dengan perasaan terperanjat, perempuan itu segera berteriak.

"Anak Kiat, hati-hati, itulah pukulan Lui-sin-ciang.’"Toan Kiam-ceng tertawa dingin, jengeknya.

"Nenek pengemis, tak nyana kau pandai juga mengenali ilmu silatku, sebentar akan kusuruh kau merasakan kelihayannya…."

Siapa tahu baru selesai dia berkata, dia sendiri yang merasakan dulu kelihayan lawan.

"Ibu tak usah khawatir, ilmu pukulan Lui-sin-ciang dari bajingan cilik ini masih belum mencapai kesempurnaan,"

Seru Ki See-kiat dengan cepat Sementara mulutnya berbicara, jurus serangan telah dilancarkan.

Jari tangannya segera menyodok ke depan dengan kecepatan tinggi, dengan jari tangan sebagai pengganti pedang, ia lepaskan sebuah jurus serangan menusuk jalan darah yang langsung menembus lingkaran angin serangan yang diciptakan Toan Kiam-ceng.

Perlu diketahui, ilmu Lui-sin-ciang dari Toan Kiam-ceng ini didapatkan dengan saling bertukar ilmu dengan dua bersaudara Auwyang, berhubung tenaga dalamnya sempurna, dasar silatnya juga lebih hebat maka ilmu pukulan Lui-sin-ciang tersebut dapat dilatihnya hingga sempurna.

Jangankan dua saudara Auwyang, sekalipun leluhur mereka Auwyang Pek bangkit kembali dari liang kubur pun belum tentu sanggup menandingi kehebatannya.

Waktu itu ia sedang merasa mendongkol sekali, pikirnya.

"Kau mengatakan ilmu silatku belum mencapai kesempurnaan, hmm, ingin kulihat dengan kepandaian apakah kau hendak mematahkan seranganku ini?"

Bara saja ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, mendadak terasa hawa dingin yang menggidikkan hati memancar keluar dari ujung jari tangan Ki See-kiat langsung mengancam jalan darahnya.

Dia merasa seakan-akan terdapatsebuah jalur hawa dingin yang menggidikkan hati langsung menyusup ke dalam tubuhnya dan menusuk-nusuk sekujur badannya.

Toan Kiam-ceng segera bersin berulang kali.

"kelihayan"

Tersebut tak sedap rasanya, buru-buru dia mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.

Tenaga dalamnya memang luar biasa, dalam tiga langkah dia mundur ke belakang itulah hawa dingin yang menyiksa badannya segera teratasi dengan cepat.

Rupanya jurus serangan yang dilancarkan Ki See-kiat dengan mempergunakan jari tangan ini tak lain adalah jurus pedang Peng-coan-kiam-hoat yang dipelajari dari dalam gua es.

Tenaga dalam yang dimilikinya dilatih juga di dalam gua es tersebut maka ketika jurus serangan tersebut dilancarkan, kekuatannya jadi hebat sekali.

‘Toan Kiam-ceng, serapat-rapatnya bangkai dibungkus, akhirnya ketahuan juga, kau si bajingan tengik berulang kali hendak mencelakai jiwaku… sebenarnya apa maksudmu…."

Bentak Ki Sec-kiat Sambil berseru dia segera menerjang ke depan.

Toan Kiam-ceng segera menolak telapak tangan kirinya keluar dengan telapak tangan kanannya menghadap ke dalam, lalu dengan jurus Im-yang-siang-ciong (Panas Dingin Saling Menumbuk) sepasang tangannya bersama-sama melancarkan serangan balasan ke arah lawan.

Inilah ilmu silat aliran Lan-tou-si, ilmu pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan hawa dingin dan hawa panasyang disatukan mewujudkan pukulan angin berpusing yang hebat Ki See-kiat tertawa dingin, dengan menggunakan cara yang sama dia melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Im-yang-siang-ciong.

Angin pukulan segera saling bertemu di tengah udara hingga menimbulkan suara ledakan keras.

Untuk kesekian kalinya dua sosok bayangan manusia saling berpisah, tapi kali ini Ki See-kiat lebih unggul satu tingkat ia tetap berwajah tenang seperti tak pernah terjadi suatu apa pun sebaliknya jidat Toan Kiam-ceng sudah dibasahi oleh keringat dingin.

"Siapa yang mengajarkan ilmu silat itu kepadamu?"

Dalam terkejutnya tiba-tiba Toan Kiam-ceng teringat akan seseorang sehingga tanpa terasa ia menjerit tertahan.

Sambil melanjutkan serangannya Ki See-kiat menyahut "Kau masih ingat dengan Ghasam Hoatsu?

Dia toh supek-mu sendiri, kau mencelakai dia dengan tipu muslihatmu yang licik itu?

Hmm tindakanmu mencelakai anggota perguruan sendiri merupakan tindakan terkutuk, manusia macam kau tak boleh dibiarkan hidup terus di dunia ini."

Tujuh tahun berselang, ketika Toan Kiam-ceng membohongi Ghasam Hoatsu untuk menelan obat beracun, dia mengira supek-nya ini sudah tewas.

Siapa tahu pendeta tersebut justru bersembunyi dalam gua es di bawah Kota Iblis dan bisa hidup lima tahun lebih.

Membayangkan kembali wajah Ghasam Hoatsu sewaktu menggigit bibir dan bersumpah akan jadi setan iblis untuk membalas sakit hatinya itu, tanpa terasa Toan Kiam-ceng merasa bulu kuduknya bangun berdiri, katanya dengan suaragemetar.

"Rupanya ilmu silatmu kau pelajari dari dia, apakah dia… dia sudah mampus?"

"Betul, akhirnya dia memang tewas karena kau celakai!"

Bentak Ki See-kiat dengan suara lantang.

"Ia mewariskan ilmu silatnya kepadaku, karena dia minta kepadaku untuk membersihkan perguruan dari manusia-manusia durhaka macam kau!"

Mengetahui kalau supek-nya sudah meninggal Toan Kiam-ceng segera merasakan hatinya agak lega, apalagi sesudah mendengar perkataan itu selain girang dia pun murung.

Ia girang karena akhirrya supek-nya mati juga.

Dia murung karena Ki See-kiat telah mewarisi ilmu silat Ghasam Hoatsu, itu berarti dia bakal memperoleh seorang musuh tangguh lagi.

Bagaikan orang berjalan malam sambil bersiul-siul, Toan Kiam-ceng segera memaksakan diri tertawa menutupi rasa takut di dalam hatinya, katanya.

"Kalau begitu kau masih terhitung adik seperguruanku! Ghasam supek mati karena dicelakai Han Ji-yan, kau tak dapat menyalahkan diriku. Apalagi sekarang Han Ji-yan dan Ghasam Hoatsu sama-sama sudah mati, buat apa kita sesama saudara seperguruan mesti gontok-gontokan sendiri…."

Belum habis dia berkata, Ki See-kiat telah menukas dengan penuh kemarahan.

"Siapa yang sesama saudara seperguruan denganmu? Hmm, hari ini kalau bukan kau yang mati, akulah yang tewas!"

Di tengah bentakan keras, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai, ketiga buah serangan itu semuanya dilancarkan dengan ilmu Lak-yang-jiu dari keluargaNyo, cuma disertai dengan delapan bagian ilmu Liong-siu-kang.

Nyo toakoh yang bersembunyi di sudut ruangan menjadi terkejut bercampur girang setelah menyaksikan kejadian itu, dia tahu putranya sengaja menggunakan ilmu pukulan ajarannya untuk mengalahkan Toan Kiam-ceng, agar dia tidak sampai kehilangan muka.

Cuma saja, sekalipun inti dari kekuatan serangan itu berasal dari ilmu Liong-siu-kang, kegunaan dari Lak-yang-jiu tak bisa dianggap enteng, sebab pada hakikatnya ilmu pukulan tersebut mempunyai perubahan yang rumit dan membingung-kan, paling cocok kalau dikombinasikan dengan ilmu Liong-siu-kang.

Dalam keadaan seperti ini, kendatipun Toan Kiam-ceng enggan melakukan pertarungan adu tenaga, kali ini dia tak bisa menghindar lagi.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa dia mesti menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Hasil dari benturan ini semakin nyata lagi, dia mesti mundur sejauh enam tujuh langkah sebelum menghentikan gerakan tubuhnya.

Terkejut dan marah segera menyelimuti benak Toan Kiam-ceng, pikirnya kemudian.

"Seandainya bulan berselang aku tidak menderita kerugian di tangan Nyo Yan si bocah keparat itu, mungkinkah Liong-siu-kang milik Ki See-kiat bisa menga-lahkan aku? Tampaknya hari ini aku tak bakal bisa mengalahkan dirinya lagi."

Ternyata ia sudah terhajar oleh sebatang Thian-san-sin-bong milik Nyo Yan pada pertarungan bulan berselang,sekalipun telah disembuhkan, tenaga dalamnya masih ada dua bagian yang belum pulih kembali.

Tapi berbicara sebenarnya, sekalipun tenaga dalamnya tidak mengalami kerugian apa-apa, paling banter dia pun cuma bisa bertarung seimbang dengan Ki See-kiat.

Toan Kiam-ceng tidak tahu kalau Nyo Yan sudah pergi meninggalkan tempat itu, begitu teringat kepadanya, ia jadi bergidik sendiri.

"Sampai kini, mengapa Nyo Yan si bocah keparat itu belum juga menampakkan diri? Jangan-jangan dia sedang menunggu sampai aku dan Ki See-kiat sama-sama terluka parah, dia baru muncul untuk merenggut selembar jiwaku."

Berpikir akan hal ini, hatinya semakin bergidik lagi.

Tapi dia terlalu mengandalkan ilmu pukulan beracunnya, dalam anggapannya Ki See-kiat yang sudah dua kali beradu kekerasan dengannya sedikit banyak tentu akan keracunan.

Sementara hatinya masih sangsi dan tak tahu mesti segera kabur atau menunggu sampai Ki See-kiat keracunan lalu melaksanakan rencana semula untuk membekuknya sebagai sandera, Ki See-kiat telah mengajaknya untuk sekali lagi beradu kekerasan.

Kali ini Toan Kiam-ceng menggunakan ilmu Yoga-nya untuk memunahkan setengah dari kekuatan serangan Ki See-kiat, sehingga dia hanya mundur sejauh tiga langkah.

Menurut perasaannya, dia dapat menyaksikan kalau tenaga dalam yang dimiliki Ki See-kiat selain tidak berkurang, bahkan agaknya makin bertarung semakin kuat Hal ini menandakan kalau Ki See-kiat sesungguhnya sama sekali tidak keracunan.Sebaliknya dia sendiri malah merasakan gejala keracunan, ketika ia mundur tiga langkah tadi, tiba-tiba kepalanya terasa pusing sekali sehingga hampir saja terjatuh.

Rupanya ilmu pukulan beracun yang dilatihnya itu meski lihay, namun memiliki suatu titik kelemahan yang mematikan.

Bilamana ia bertemu dengan seorang musuh yang memiliki tenaga dalam jauh lebih hebat daripada tenaga dalamnya, maka sari racun yang berada dalam telapak tangannya itu bukan saja tidak akan melukai lawan, malah sebaliknya akan membalik menghantam tubuh sendiri.

Untung saja ilmu Liong-siu-kang miliknya maupun milik Ki See-kiat telah mencapai tingkat kedelapan, oleh karena sebulan berselang dia pernah menderita kerugian di tangan Nyo Yan sehingga tenaga dalamnya berkurang dua bagian, selisih mereka berdua tidak terhitung terlalu besar.

Sebab itulah meski dia keracunan, namun sari racun yang mengeram dalam tubuhnya masih terhitung agak enteng.

Cuma saja, setelah dia menyadari dirinya menunjukkan gejala keracunan, takut pula diserang oleh Nyo Yan, tentu saja dia tidak berani bertarung lebih jauh.

Mendadak tubuhnya miring ke samping dengan sempoyongan, nyaris badannya terjengkang ke tanah.

Ki See-kiat tidak tahu kalau dia mempunyai titik kelemahan dalam permainan ilmu pukulan beracunnya, dalam anggapannya Toan Kiam-ceng berilmu tinggi, dia mengira musuhnya sedang menggunakan siasat licik untuk menjebaknya, untuk sesaat dia menjadi agak sangsi.

Menggunakan kesempatan itulah cepat-cepat Toan Kiam-ceng melompat keluar dari ruangan kuil, begitu tiba di depan pintu ia berseru.

"Jelek-jelek begini kita toh sesama saudaraseperguruan, apa gunanya kita mesti gontok-gontokan sen-diri?"

Dia khawatir Nyo Yan sedang bersiap-siap di luar kuil untuk menyergapnya, maka sambil menerjang keluar dari pintu kuil, senjata rahasia beracunnya segera dihamburkan ke mana-mana, lalu melarikan diri terbirit-birit dari situ.

Setelah berlarian sekian waktu tanpa menjumpai bayangan tubuh Nyo Yan melakukan pengejaran, dia baru menghembuskan napas lega.

Pengertian Antara Ibu dan Anak Ki See-kiat sangat mengkhawatirkan keselamatan ibunya, dia tak berani mengejar lawannya.

Ketika berpaling, dijumpainya Nyo toakoh berdiri sempoyongan dengan wajah pucat pias, keadaannya mirip lentera yang terhembus angin.

Rupanya setelah ia menyaksikan putranya berhasil meraih kemenangan, hatinya jadi lega, badannya pun jadi tak tahan.

Dengan hati terperanjat, buru-buru Ki See-kiat berseru.

"Ibu, kenapa kau?"

"Ti… tidak apa-apa… anak baik, akhirnya kau berhasil membalaskan sakit hatiku, Lak-yang-jiu kita…."

Walaupun senyuman menghiasi bibirnya, namun wajahnya makin lama semakin pucat, suaranya makin tersendat dan napasnya lebih keras daripada kata-katanya.

Buru-buru Ki See-kiat membimbing ibunya duduk, kemudian katanya.

"Anak merasa malu sekali, sebenarnya ilmu Lak-yang-jiu yang kau wariskan kepadaku dapat melukai bajingan tersebut, sayang, anak belum berhasil melatihnya dengan sempurna, hingga keparat itu berhasil melarikan diri."

Padahal kata "malu"

Sepantasnya diucapkan oleb Nyo toakoh, Ki See-kiat cukup memahami watak ibunya yang ingin menang sendiri, sebab itu buru-buru dia mengutarakannya lebih dulu.

Menggunakan sepatah kata untuk melenyapkan kekesalan dan kemurungan di dalam hatinya, hal ini sesungguhnya jauh lebih manjur daripada memberikan obat kuat kepadanya.

Hanya dengan cara itu juga baru bisa membantu ibunya untuk memulihkan kembali semangatnya di dalam waktu yang paling singkat.

Sudah barang tentu Nyo toakoh cukup mengetahui maksud hati dan putranya itu.

Menyaksikan kasih sayang putranya, timbul perasaan hangat dalam hati kecilnya.

Sambil terbatuk-batuk dia lantas berkata.

"Anak baik, kau memang tidak menyia-nyiakan jerih payahku mendidik dirimu, keberhasilanmu sekarang sungguh… sungguh luar biasa sekali. Cuma, aku… aku… mungkin aku besok masih belum bisa pulang… pulang ke rumah—"

"Ibu, kau tak usah khawatir, beristirahatlah dulu. Kujamin besok pagi kau pasti dapat pulang ke rumah."

Sambil berkata dia lantas menggenggam tangan ibunya dan menggunakan tenaga dalam yang dimilikinya untuk membantu menyembuhkan luka yang diderita perempuan itu.

Nyo toakoh hanya merasakan ada segulung hawa yang panas menyusui masuk dari tangannya melewati Sau-yang-keng-meh langsung mengalir ke atas, dalam waktu singkat seluruh tubuhnya sudah dikelilingi oleh tenaga murni itu.

Bagaikan siluman babi makan buah jinsom saja, delapanpuluh laksa empat ribu rongga badannya terasa segar semuanya.

Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki Nyo toakoh memang amat sempurna, apalagi dalam pertarungan tadi dia pun bukan terhajar langsung oleh ilmu pukulan beracun dari Toan Kiam-ceng, yang terjadi hanyalah hawa racun yang terhisap masuk ke dada, ditambah hatinya sedang gundah, maka begitu pikiran terasa tenang dan memperoleh bantuan dan luar, tak lama kemudian hawa muminya terhimpun kembali, semua nadinya tembus dan sisa racun pun keluar lewat keringat.

Dia adalah seorang ahli silat, ia pun tahu ilmu mengurut jalan darah yang dilakukan putranya amat merugikan tenaga murni, sebenarnya dia hendak memerintahkan putranya untuk berhenti, tapi dalam keadaan seperti ini hakikatnya sukar baginya untuk bersuara.

Dengan susah payah akhirnya hawa mumi yang dimilikinya dapat terhimpun kembali, dengan cepat dia menarik tangan anaknya sambil berbisik.

"Cukup, cukup, anak Kiat, kau… bagaimana rasamu?"

Waktu itu wajahnya telah berubah menjadi merah padam sedang wajah Ki See-kiat menjadi pucat pias.

Teringat bagaimana putranya baru saja menyelesaikan pertarungan, lalu menyalurkan tenaga dalam untuk mengobatinya, bahkan sebelum bertarung ia sudah muntah darah, bayangkan saja bagaimana mungkin hatinya tidak merasa risau.

"Aku tidak mengapa!"

Kata Ki See-kiat.

Selesai mengucapkan perkataan itu, dia segera duduk bersila untuk bersemadi, betul juga tak lama kemudian wajahnya telah berubah merah segar kembali.

Sambil bangkit berdiri segera ujarnya.

"Ibu, besok kita boleh pulang bersama!"

"Kau bersedia ikut aku pulang ke rumah?"

Nyo toakoh agak tertegun.

"Ibu, kau sudah menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk mencariku, mengapa aku tak mau mengantarmu pulang?"

Nyo toakoh menjadi kegirangan, sambil merangkul anaknya dia berseru.

"Anak Kiat, bagaimanapun juga kau memang anak yang baik. Bagus, kalau kau mau pulang itu bagus sekali!"

"Tapi ibu, aku pun ingin memohon sesuatu kepadamu,"

Kata Ki See-kiat lagi pelan.

"Apa yang kau inginkan?"

Tanya Nyo toakoh dengan perasaan terkesiap.

"Ibu kumohon kepadamu janganlah memaksa aku untuk bekerja seperti engku!"

Nyo toakoh paling takut kalau putranya ingin mengawini Leng Ping-ji, baru saja anaknya menolong selembar jiwanya, bahkan memberi muka kepadanya agar kewi bawaannya sebagai ibu tetap ditegakkan, bila putranya sampai mengajukan permintaan tersebut dia tak tahu bagaimana harus menjawab.

Siapa tahu yang diminta Ki See-kiat agar tidak memaksanya bekerja seperti engku, meski hal ini pun bertolak belakangdengan cita-citanya tapi toh jauh lebih mendingan daripada menyetujui putranya kawin dengan keponakan perempuan dari seorang buronan pemerintah.

Nyo toakoh menghela napas panjang katanya.

"Aaaii… aku berbuat demikian, sebenarnya demi masa depanmu, tapi kalau toh kau segan untuk menerimanya, tentu saja ibu juga tak akan terlalu memaksa"

Kiranya Ki See-kiat bukannya tak ingin memohon kepada ibunya agar mencabut kembali larangannya untuk berhubungan dengan Leng Ping-ji, tapi dia khawatir dengan watak ibunya yang keras kepala, ia takut kalau permintaan itu yang diajukan maka ibunya bisa salah sangka kalau dia berbuat jasa dengan harapan imbalan, bila sampai Suasana menjadi kaku kembali, hal ini tak baik untuk kedua belah pihak, sebab itulah niat, tersebut tak jadi diutarakan.

Betul dia pernah bertekad tak akan mengikuti ibunya pulang ke rumah.

Seandainya Toan Kiam-ceng tidak melukai ibunya, tekadnya itu pasti tak akan diubah.

Tapi sekarang telah terjadi peristiwa yang sama sekali di luar dugaan, sebagai seorang anak yang berbakti, dia merasa berkewajiban untuk mengantar ibunya sampai di rumah.

Jika ia biarkan ibunya pulang sendiri, lalu di tengah jalan ibunya berjumpa lagi dengan Toan Kiam-ceng, apa jadinya?

Boleh saja badannya pulang mengikuti ibunya, tapi hatinya telah tertambat pada Leng Ping-ji.

Hari sudah mulai terang, dia mengikuti ibunya keluar dari kuil bobrok, tapi hatinya terasa bimbang dan kosong, berulang kali dia hanya berpikir demikian.

"Saat ini, entah nona Leng berada di mana? Apakah dia masih membenciku? Ataukah rindu kepadaku?" 0odwo0 Leng Ping-ji tidak menaruh rasa dendam atau rasa rindu yang terlalu dalam kepadanya, namun sakit hati yang dialaminya tak akan bisa dipahami oleh Ki See-kiat. Sewaktu lari keluar dari kuil bobrok itu, hatinya terasa berat, pikirannya kosong, dia tak tahu ke mana dia harus pergi, perasaan apa pun tidak dimilikinya Perasaan aneh semacam ini bukan baru pertama kali dirasakan olehnya. Delapan tahun berselang, ketika ia diceburkan ke dalam telaga salju oleh Toan Kiam-ccng dan di-tolong orang, dia pernah merasakan penderitaan semacam ini sehingga ketika orang bertanya siapa namanya, dia tak mampu menjawab. Hanya saja penderitaan yang dialaminya kali ini terasa jauh lebih mendalam daripada apa yang dialaminya dulu. Kalau tempo hari dia adalah sekuntum bunga yang diterjang angin puyuh, maka kali ini adalah pohon layu yang mulai bersemi lagi, siapa tahu kena dipapas orang secara keji. Entah sudah berapa jauh dia berlari, ketika berpaling kuil bobrok itu sudah tidak tampak lagi, saat itulah dia baru seolah-olah bangun dari impian buruk, bersandar di atas sebuah baru besar, hatinya terasa kaku, badannya turut kaku sehingga tak sanggup untuk bergerak lagi. Segulung angin bukit berhembus lewat, ia baru sadar kembali dari lamunannya dengan terkejut Fajar sudah mulai menyingsing di langit timur, perasaannya juga sudah mulai bangkit kembali meski diliputi awan mendung.Ia sama sekali tidak membenci Ki See-kiat, dia pun tidak merindukan dirinya Bagaimanapun penderitaan dan luka hati yang dideritanya sekarang, toh Ki See-kiat jauh berbeda dengan Toan Kiam-ceng. Bagaimanapun juga, Toan Kiam-ceng adalah kekasihnya yang pertama, ia pernah mencintai Toan Kiam-ceng dengan setulus hatinya, la pernah memaafkannya berulang kali, hingga Toan Kiam-ceng melakukan dosa besar yang tak ter-ampuni, sampai dia hendak dibunuh secara keji, lamunan gadisnya baru hancur berantakan, hal ini menyebabkan rasa bencinya terhadap Toan Kiam-ceng jauh melebihi rasa cinta-nya dulu…. Tak peduli bagaimana cinta dan dendam buat seorang anak gadis, bila ia tak pernah merasakan cinta yang kelewat dalam, mungkin tak akan timbul rasa benci yang kelewat dalam pula Betul dia memang menaruh kesan baik terhadap Ki See-kiat, bahkan dia berharap hubungan di antara mereka bisa berkembang lebih dalam. Tapi bagaimanapun juga ia belum menaruh rasa cinta yang mendalam padanya juga kesalahan kali ini bukan terletak pada Ki See-kiat, sekalipun Ki See-kiat yang harus bertanggung jawab, dia pun tak akan membenci dirinya Mungkin perasaannya terhadap Ki See-kiat, meski ada juga perasaan cinta namun cinta tersebut baru mulai tumbuh, mulai bersemi, hingga tak bisa dibilang sudah merasuk tulang. Yang disedihkan olehnya adalah musibah yang datang beriring, kehormatannya sebagai seorang gadis yang diinjak-injak, membuat dia merasakan suatu kesepian yang aneh, membuat dia merasakan pukulan batin yang sangat hebat.Sekarang dia boleh saja tidak membutuhkan cinta, tidak membutuhkan perasaan simpatik, boleh saja tidak membutuhkan kekasih, tapi ia membutuhkan seorang teman yang serasi. Ketika angin gunung berhembus lewat, Leng Ping-ji merasakan hatinya kosong, ia merasa dirinya seperti terbuang kembali. Bayangan dari Toan Kiam-ceng telah kabur, bayangan Ki See-kiat pun hanya berlalu seperti angin segar yang berhembus lewat, yang sudah terjadi biarlah berlalu, batinya tenang, paling-paling hanya terjadi gelombang kecil. Dalam suasana beginilah bayangan dari seseorang yang lain segera muncul di dalam benaknya. Bila seseorang berada dalam kesedihan, sering kali dia teringat kepada temannya yang paling baik, mungkin banyak rahasia hati yang tak bisa disampaikan kepada orang tuanya, tapi dapat ditumpahkan kepada temannya Begitu pula keadaan dari Leng Ping-ji ketika itu. Orang yang sangat dirindukan olehnya sekarang bukan Toan Kiam-ceng, juga bukan Ki See-kiat, melainkan Beng Hoa Semua peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu kini terlintas kembali dalam benaknya, semua kejadian pada tujuh tahun berselang seakan-akan terasa masih baru dalam ingatan. Setelah nyaris terbunuh dalam pesta Jagal Kambing yang diselenggarakan orang-orang Wana, ia berjumpa kembali dengan Toan Kiam-ceng.Waktu itu Toan Kiam-ceng memancingnya untuk mengejar sampai di bukit Soat-san, nyaris dia kembali terbunuh di tangan Toan Kiam-ceng. Tapi di saat yang sangat kritis, dari langit muncul seorang bintang penolong, mendadak Beng Hoa muncul di saat yang amat berbahaya, bukan saja telah menolongnya, juga menyembuhkan hatinya yang ter-luka Tentu saja luka tersebut sedemikian dalamnya sehingga sampai kini mulut luka baru merapat lapi paling tidak tak mengucurkan darah lagi. Seandainya tiada sahabat yang begitu baik hati seperti Beng Hoa yang selalu membakar semangatnya agar tetap melanjutkan hidup, ia tak tahu apakah masih hidup hari ini? "Sewaktu Beng toako berpisah dengan diriku dia bilang akan mencari adiknya sampai ketemu, tapi hingga kini dia belum datang juga Apakah ia sudah sampai kemari tapi sana? Dalam lima tahun ia hampir tak punya waktu antuk kemari, mungkin dia memang belum kemari? Entah dia dengan enci Bik-ki sudah kawin belum? Sayang sekali arak kegirangannya tak sempat kuminum."

Dia sama sekali tidak cemburu kepada Kim Bik-ki, malahan dia merasa turut bahagia bagi gadis itu.

Sekarang, tiba kembali saatnya merasakan luka dalam hatinya lagi, betapa besarnya dia berharap bisa berjumpa kembali dengan Beng Hoa, sekalipun Beng Hoa datang bersama Kim Bik-ki….

Berpilar sampai di sini, tanpa terasa jantungnya berdebar keras.

"Heran, mengapa aku berpikir demikian? Apakah aku tidak berharap bisa berjumpa dengan enci Kim? Tidak, aku berharap mereka bisa datang bersama-sama."

Tapi dia tahu di dunia ini tak mungkin bisa terjadi suatu "kebe-tu lan"

Yang beruntun, ketika hatinya sedang terluka dulu, Beng Hoa-lah yang menghibur hatinya, kali ini tak mungkin dia mengharapkan kemunculan Beng Hoa lagi.

Bayangan tubuh dari Beng Hoa segera berubah menjadi bayangan orang lain….

Orang ini pernah siang malam bersamanya, tapi bayangan tubuhnya sekarang terasa begitu buram dalam hatinya.

Cuma rasa "buram"

Tersebut tidak sama dengan "buram"

Terhadap Toan Kiam ceng.

Kalau terhadap Toan Kiam-ceng, dia selalu berusaha keras untuk melupakan, berusaha menekan bayangannya agar tercipta suasana "buram", sebaliknya terhadap orang ini dia selalu merindukan dirinya.

Dia sampai merasa "buram"

Karena dia hanya tahu bayangan semasa masih kecil dulu, dia tak tahu bagaimanakah tampang serta bentuk mukanya sekarang.

Orang yang dipikirkan olehnya itu tak lain adalah Nyo Yan, adik tiri Beng Hoa dari ayah lain.

"Tahun ini adik Yan telah berusia delapanbelas tahun, entah apakah wajahnya mirip dengan kakaknya?"

Bayangan "kabur"

Dalam benaknya sekarang tak lain adalah perpaduan antara bayangan Nyo Yan di masa kecil dengan bayangan Beng Hoa semasa masih muda.

Sebetulnya kali ini dia dan Ki Sec-kiat sedang berusaha mencari Nyo Yan, siapa tahu Nyo Yan belum lagi ditemukan, dia malah "kehilangan"

Ki See-kiat.Kini pikirannya sudah jauh lebih sadar, terbayang kembali tujuan dari perjalanannya kali ini, tanpa terasa ia tertawa getir.

"Entah siapa pula siluman perempuan kecil itu? Kalau didengar dari nada ucapan ibunya Ki See-kiat, agaknya dia dengan adik Yan sudah berteman akrab?"

Terbayang akan sikap gusar Nyo toakoh terhadap "siluman perempuan kecil"

Itu, tanpa terasa ia merasa gembira bercampur sedih.

"Sungguh tak kusangka Nyo Yan si bocah cilik ini pun sudah punya teman perempuan. Aah, sekarang ia sudah bukan seorang bocah cilik yang masih ingusan lagi, dia sudah merupakan seorang pemuda berusia delapanbelas tahun."

Selama ini, dalam bayangannya Nyo Yan cilik, tapi sekarang dia baru mulai merasa dia telah menginjak dewasa. Ia jadi teringat kembali dengan cerita yang disampaikan Lomana kepadanya.

"Aah, mungkin siluman perempuan kecil yang dimaksudkan Nyo toakoh adalah gadis aneh yang pernah dijumpai enci Lomana. Waktu itu, dia pun muncul berbareng dengan kemunculan adik Yan, tampaknya hubungan mereka berdua sudah berkembang cukup lumayan. Siluman perempuan kecil itu dapat membuat Lak-jiu-Koan-im mencak-mencak kegusaran, sudah jelas dia bukan perempuan sembarangan. Tentu Nyo Yan tak akan menim cara Ki See-kiat yang segala sesuatunya menuruti perkataan ibunya. Ya, bila aku bertemu dengan adik Yan nanti, hal ini pasti akan kutanyakan kepadanya sampai jelas, apakah dia benar-benar menyukai si siluman perempuan kecil itu? Andaikata ber-sungguh hati, aku harus menganjurkannya agar serius."

Sementara dia masih berpikir ke sana kemari tanpa tujuan, mendadak dilihatnya ada sesosok bayangan manusia sedang lewat.

"Adik Yan-kah di situ? Aku adalah…."

Leng Ping-ji memang menduga Nyo Yan masih berada di atas bukit .itu, maka ketika dilihatnya bayangan tubuh orang itu berkelebat dengan kecepatan luar biasa, apalagi dalam sekilas pandang ini sudah tahu kalau orang itu bukan Ki See-kiat, maka dia lantas mengira Nyo Yan.

Siapa tahu belum selesai dia berkata, orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haahh… aku sudah tahu kalau kau adalah Ping-ji-ku. Kenapa? Masa kau, sudah tidak mengenali diriku lagi?"

Ternyata orang itu bukan Nyo Yan, melainkan Toan Kiam-ceng.

Begitu selesai berkata, Toan Kiam-ceng sudah muncul di hadapannya.

Gemetar keras sekujur badan Leng Ping-ji menahan gusar yang membara di dalam dadanya, segera bentaknya keras-keras.

"Kau… kau masih punya muka untuk berjumpa denganku?"

"Ping-ji,"

Kata Toan Kiam-ceng sambil cengar-cengir seperti muka kuda.

"aku sudah tahu tentang urusanmu dengan Ki See-kiat. Jangan bersedih hati, walaupun Ki See-kiat tidak mau, masih ada aku Toan Kiam-ceng yang bersedia menampungmu."

Kobaran api yang membara membuat rasa kaku pada sepasang kaki Leng Ping-ji segera pulih kembali, dia segeramelompat bangun, lalu sambil mengayunkan tangan dia membentak.

"Aku menginginkan kematianmu!"

Toan Kiam-ceng mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan, ilmu yang dipergunakan adalah ilmu pukulan Lui-sin-ciang.

Kalau pada tujuh tahun berselang tenaga dalamnya masih belum mampu melebihi Lcng Ping-ji, maka sekarang lwekang-nya sudah jauh lebih sempurna daripada gadis tersebut apalagi ilmu pukulan Lui-sin-ciang justru merupakan ilmu tan-dingan dari peluru Peng-pok-sin-tan yang berhawa sangat dingin itu.

Begitu serangan dilancarkan, hawa panas segera menderu-deru.

Dua biji peluru Peng-pok-sin-tan yang dilepaskan Leng Ping-ji segera melumer dan lenyap tak berbekas oleh hawa panas yang membara itu.

Sambil tertawa kembali Toan Kiam-ccng berkata.

"Ping-ji, mengapa sih marah-marah kepadaku? Betul, aku pernah berbuat salah kepadamu, tapi… membunuh orang tak lebih hanya menganggukkan kepala, sekarang aku toh sengaja datang kemari untuk mohon maaf kepadamu."

"Enyah kau dari hadapanku!"

Teriak Leng Ping-ji sambil meloloskan pedang sakti Peng-pok-han-kong-kiam.

"Kalau tidak, bila kau berani maju selangkah lagi, maka aku… aku…."

"Kau mau apa?"

Toan Kiam-ceng tertawa.

"mungkin kau belum tahu, jangan toh baru kau, bahkan Ki See-kiatpun bukan tandinganku. Kau ingin membunuhku? Hmm, hal ini mustahil bisa kau laksanakan. Walaupun aku pernah berbuat salah kepadamu, tapi dulu kita toh pernah bersumpah setia untuk hidup berdampingan sampai tua? Apalagi aku sengajadatang untuk minta maaf kepadamu, apakah kau sudah me-lupakan hubungan cinta kasih kita di masa lalu?"

Walaupun di mulut dia berbicara, namun langkahnya tak pernah berhenti, bukan cuma maju selangkah saja bahkan maju sampai sejauh tiga langkah.

Leng Ping-ji segera mengayunkan pedangnya melepaskan sebuah tusukan kilat Sekalipun Toan Kiam-ceng sudah mempersiapkan diri, tapi permainan pedang Pcng-coan-kiam-hoat tersebut memang amat sakti, tusukan tersebut datangnya dari suatu arah yang sama sekali tak diduga oleh lawannya.

"Criiit..!"

Bagaimanapun cepatnya Toan Kiam-ceng berusaha untuk menghindarkan diri, bahu kirinya tersentuh juga oleh ujung pedang sinona sehingga berlubang.

Peng-pok-han-kong-kiam merupakan sebilah pedang mestika yang paling aneh di kolong langit.

Bila pedang-pedang mestika lainnya yang diutamakan ketajamannya, tapi berbeda dengan Peng-pok-han-kong-kiam, sebab yang diandalkan adalah hawa dingin yang dipakai untuk melukai urat nadi orang.

Seandainya Leng Ping-ji tidak menyalurkan hawa murninya ke ujung pedang tersebut, maka jangankan melukai lawan, untuk melubangi baju musuh pun tak bisa.

Itulah sebabnya, walaupun pakaian Toan Kiam-ceng berlubang sekarang, kulit tubuhnya sama sekali tak cedera.

Tapi pengaruh yang dipancarkan oleh pedang Peng-pok-han-kong-kiam ini justru jauh melebihi peluru Peng-pok-sin-tan.

Pedang itu terbuat dari inti salju di dasar gua salju yang telah berusia sepuluh laksa tahun, hal ini menyebabkan begituujung pedang tersebut menyentuh badan, segera muncullah segulung hawa dingin yang luar biasa kuatnya menembus jalan darah Toan Kiam-ceng.

Sebagai seorang jago yang pernah berlatih ilmu silat aliran Thian-tok, Toan Kiam-ceng mempunyai sejenis kepandaian yang bisa menggeser letak jalan darah.

Maka begitu hawa dingin itu menyerang ke dalam tubuhnya, cepat-cepat dia menggeser jalan darahnya ke arah lain, kemudian barulah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendesak keluar hawa dingin tersebut dari dalam tubuhnya.

Kendatipun demikian, toh tak urung Toan Kiam-ccng merasakan juga sekujur badannya gemetar keras dan bersin berulang kali.

Sementara itu, Lcng Ping-ji telah melancarkan lagi tiga buah serangan berantai.

Dalam keadaan demikian itu, mustahil buat Toan Kiam-ceng untuk mencabangkan pikiran dan tenaganya untuk melayani dua tempat yang berbeda, kontan ia terdesak hebat sehingga dibuat kelabakan tak keruan.

Tapi dia sudah tahu kelihayan pedang Peng-pok-han-kong-kiam, maka ia tak berani maju secara gegabah, bila Leng Ping-ji ingin menusuknya sekali lagi, maka hal ini tak mungkin bisa dilakukan secara mudah.

Tiga kali hawa muminya mengelilingi badan, kesehatan badan Toan Kiam-ceng telah pulih kembali seperti sediakala, sambil tertawa dia lantas berkata.

"Ping-ji, rupanya pedang Peng-pok-han-kong-kiam milik Teng hujin telah diwariskan padamu, berarti ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat telah berhasil kau kuasai, kionghi kionghi! Benar-benar suatu hal yang patut diberi selamat! Tapi, kendatipun begitu kau tohbelum mampu untuk melukai diriku. Aku lihat ada baiknya kita semua rujuk kembali saja seperti sediakala, toh lebih baik menjadi sepasang sejoli daripada musuh bebuyutan? Kau memiliki pedang mestika nomor wahid di kolong langit dan aku mempunyai ilmu silat nomor satu di dunia, bila kita akhir-nya menjadi suami istri dan bersatu padu, siapa lagi yang dapat mengalahkan kita berdua?"

Pucat pias selembar wajah Leng Ping-ji karena marah, bentaknya dengan penuh kebencian.

"Kentut busuk, hari ini kalau bukan kau yang mati, akulah yang binasa!"

Tujuan dari Toan Kiam-ceng dengan ucapan-ucapannya itu memang ingin membangkitkan kemarahan gadis tersebut, maka sambil tertawa dia berseru.

"Aah, mengapa mesti berbuat begitu?"

Mendadak ia pergunakan ilmu Yoga-nya.

Dengan mengulurkan lengan ke depan, kemudian secara tiba-tiba mencengkeram jalan darah Ci-ti-hiat di ujung siku lawan.

Sekalipun Leng Ping-ji mempunyai pedang mestika, namun cengkeraman lawan datangnya amat cepat seperti sambaran kilat, dalam keadaan demikian, tak sempat lagi baginya untuk menghadang datangnya ancaman tersebut Terkesiap Leng Ping-ji menghadapi kejadian itu, ia sadar bakal celaka.

Siapa tahu di luar dugaannya, sewaktu cengkeraman sudah hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba secepat kilat Toan Kiam-ceng menarik kembali tangannya.

Apa yang terjadi?

Agaknya pedang Pcng-pok-han-kong-kiam-lah yang telah menyelamatkan selembar jiwanya.Di antara ayunan kalap dari si nona tadi, pengaruh pedang Peng-pok-han-kong-kiam telah terpancar keluar, padahal kelihayan dari pedang mestika tersebut justru adalah tanpa menusuk tubuh lawan pun, hawa dingin yang merasuk tulang itu sanggup melukai urat nadi lawan.

Dengan jarak hanya tiga kaki dari rubuh Toan Kiam-ceng serta tingkat kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu, mana mungkin ia bisa tahan?

Jangankan tiga kaki, meski dia berada delapan kaki jauhnya mungkin tubuhnya masih menggigil.

Sekarang dia sudah menerjang ke muka, jaraknya dengan pedang Peng-pok-han-kong-kiam tinggal beberapa inci, dengan mempergunakan ilmu Ki-na-jiu-hoat dia centangkan telapak tangannya siap merampas senjata mestika lawan.

Tapi dia lupa kalau jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak tangannya tidak terlindung, begitu teledor, langsung saja hawa dingin menyerang lagi ke dalam tubuhnya.

Dalam waktu singkat dia merasakan darah yang mengalir di alam telapak tangannya seakan-akan menjadi beku.

Bila jalan darah Lau-kiong-hiat terluka, akibatnya hawa mumi akan membuyar, bagaimana mungkin Toan Kiam-ceng berani menyerempet bahaya tersebut?

Masih untung ilmu silatnya telah dilatih sehingga mencapai taraf yang luar biasa, di mana tenaga serangan bisa dipergunakan dan ditarik sekehendak hati, meski datangnya serangan cepat, sewaktu ditarik pun jauh lebih cepat lagi.

Sambil menarik tangannya dia segera melompat mundur sejauh tiga kaki lebih.

Dengan taktik pertarungan gerilya, dia kurung Leng Ping-ji rapat-rapatSetelah nyaris menderita kerugian besar, dengan cepat Leng Ping-ji memusatkan pikirannya untuk menghadapi serangan lawan dengan tenang, ia berusaha mengendalikan hawa amarah yang sedang berkobar di dalam dadanya.

Dengan mengandalkan ilmu pedang Pcng-coan-kiam-hoat yang penuh dengan perubahan tak terduga, menyerang sambil bertahan, sekalipun sul it baginya untuk melepaskan diri dari kepungan, namun Toan Kiam-ceng pun tidak sanggup menembus lingkaran cahaya pedangnya.

Tapi Toan Kiam-ceng yang sekali dingin itu, mendadak memperoleh sebuah akal bagus.

Barang yang sukar diduga kadang kala akan menjadi barang yang paling baik, demikian kata orang.

Sewaktu Leng Ping-ji masih menuruti perkataannya dan mencintainya dengan sepenuh hati dulu, ia merasa amat tidak puas, bahkan gara-gara suatu kepentingan pribadi, dia sampai tak segan untuk meninggalkan gadis itu.

Tapi sekarang, Leng Ping-ji bersikap sedingin es kepadanya, bahkan mengajaknya untuk bertarung mati-matian, dia mulai menyesali perbuatannya itu, malah timbul Suatu tekad dalam hatinya untuk mengejar nona itu sampai dapat Tentu saja rasa menyesal yang muncul dalam hatinya bukan rasa menyesal atas perbuatan jahat yang telah dilakukannya dulu, melainkan menyesal karena telah salah melangkah.

Di bawah kurungan cahaya pedang Peng-pok-han-kong-kiam yang sangat rapat, dia merasa Leng Ping-ji makin dipandang semakin menarik, dingin tapi ayu.

"Padahal kecantikan wajahnya sedikit pun tidak kalah daripada Lomana, kalau Lomana cuma bak-pau yang hangat sewaktu dimakan, kenyang setelah tertelan, tidak seharusnyakusia-siakan dia Sekarang rasanya mustahil untuk bisa mem-buat dia mencintai diriku seperti dahulu lagi…."

Berpikir sampai di situ, diam-diam dia menyesali kembali kebodohannya di masa lalu, padahal ia sudah cukup lama berada berduaan saja dengan gadis yang secantik ini, tapi belum pernah terlintas satu ingatan untuk melalap kehormatannya», sekarang dia menyesal sekali.

Tiba-tiba muncul sebuah akal jahat dalam benaknya.

"Bodoh amat aku ini, kenapa aku melupakan bubuk obat pembangkit berahi yang ditinggalkan Han Ji-yan tempo dulu? Bila aku harus menguasainya dengan kekerasan, sekalipun telah berhasil juga kurang sedap rasanya, aku harus membuatnya menyerahkan kehormatannya atas kemauan sendiri, bila nasi sudah menjadi bubur, apakah dia tak akan menurun’ diriku lagi?"

Sebaliknya ketika Leng Ping-ji menyaksikan biji mata lawannya berputar tak menentu, dia tidak begitu memikirkannya di dalam hati, hanya pikirnya di bati.

"Entah rencana busuk apa yang sedang kau susun, aku akan mempertaruhkan selembar nyawaku untuk beradu denganmu, lebih baik aku mati daripada tertipu oleh siasatmu itu."

Ya, dari mana dia bisa tahu kalau Toan Kiam-ceng hendak mempergunakan cara yang paling keji, rendah dan dilakukan untuk menguasai kehormatannya?

Dj dalam waktu singkat ia telah melepaskan serangan dengan tiga jurus tujuh gerakan, di antara kilauan cahaya pedang yang tajam, mencecar lawannya-habis-habisan, tapi Toan Kiam-ceng masih saja dapat menghindarkan diri ke sana kemari dengan mudah, bahkan secara diam-diam, ia telah menyembunyikan bubuk obat ke dalam kukunya "Ping-ji,"

Katanya kemudian sambil tertawa.

"dapatkah kau mengurangi ingatanmu atas kejelekan-ku, tapi lebih banyak mengingat kebaikan-kebaikanku di masa lalu?"

"Aku menghendaki’kau mampus!"

Bentak Leng Ping-ji dengan kening berkerut Toan Kiam-ceng segera tertawa "Bagus, bagus sekali, kalau begitu mari kita mati bersama,"

Katanya "Tentunya kau belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia bukan? Nah, aku pasti akan mengajakmu untuk merasakannya bersama"

Tak terlukiskan rasa gusar Leng Ping-ji setelah mendengar kara-kata yang amat kotor itu, bentaknya keras-keras.

"Manusia yang tak tahu malu, lihat pedang!"

Pada saat itulah, mendadak Toan Kiam-ceng membalikkan badannya, lalu sambil mengarah tepat ke arah sasarannya ia senrjlkan jari tangannya itu.

Asap kabut berwarna merah segera tersebar di hadapan wajahnya, dengan terkejut buru-buru Leng Ping-ji melancarkan sebuah pukulan ke depan.

Tapi pada saat yang bersamaan Toan Kiam-ceng melepaskan pula sebuah pukulan udara kosong, walaupun asap kabut berwarna merah itu tersebar ke mana-mana oleh pukulan dahsyat tersebut, toh masih ada juga sisa bubuk yang sempat menempel di atas wajahnya maupun tubuhnya Buru-buru gadis itu menutup pernapasannya, sayang ia tak mampu untuk mencegah masuknya bau harum semerbak lewat lubang hidung.

Terkejut dan gusar Leng Ping-ji menghadapi kejadian ini, dia segera maju tiga langkah ke depan, lalu membentak keras.

"Sekalipun kau meracuni aku sampai mati, jadi setan pun aku tak akan mengampuni dirimu!"

Sambil membalikkan badan ia segera melepaskan serangan dahsyat, ternyata jurus serangan yang dipergunakan hampir semuanya merupakan jurus serangan yang mengarah ke adu jiwa Gadis itu mengira Toan Kiam-ceng telah mempergunakan bubuk beracun keji yang sangat jahat untuk mencelakai jiwanya maka dia hendak menggunakan kesempatan di kala masih bisa bernapas untuk beradu jiwa dengan Toan Kiam-ceng, atau bila keadaan amat mendesak di mana racun keji itu mulai bekerja maka dia akan memotong nadi sendiri untuk menghabisi nyawanya Siapa tahu Toan Kiam-ceng malah mengejek sambil tertawa cabul.

"Ping-ji, masa aku tega untuk meracunimu sampai mati? Aku berharap kau berubah pikiran dan mau kembali lagi ke sampingku, marilah kita hidup berbahagia sampai kakek nenek!"

Sambil mengertak gigi Leng Ping-ji melancarkan terus serangan demi serangannya secara gencar dan ganas….

Tapi kalau dibilang memang aneh sekali, sesudah pertarungan berlangsung beberapa saat, mendadak gadis itu merasakan tubuhnya agak kemalas-malasan, walaupun di hadapannya terbentang bukit bersalju yang amat dingin, namun dia justru merasa seakan-akan berada di wilayah Kanglam yang indah, hangat dengan aneka bunga yang indah serta burung nuri yang berkicau, apalagi terhembus angin lewat, dia merasakan seluruh badannya amat nyaman.

Begitu perasaan aneh tadi muncul, rasa dendam dan benci yang berkobar dalam dadanya pun makin lama semakinmenipis, seakan-akan bisa membunuh Toan Kiam-ceng atau tidak sudah bukan merupakan suatu keharusan lagi baginya….

Sebaliknya Toan Kiam-ceng masih saja bergerak kian kemari mengelilingi tubuhnya, sedang senyuman cabul yang menghias wajahnya pun makin lama semakin tebal.

"Ping-ji, oohh Ping-ji… masih ingatkah kau ketika kita berperahu di telaga See-oh, menikmati rembulan di bendungan Siok-ti serta memetik bunga bwce di bukit Hu-san dulu? Mari kita berpesiar kembali ke wilayah Kanglam, oya… kau belum berkunjung ke desa kelahiranku di negri Tayli bukan? Di negeri Tayli terdapat angin Sang-kwan-hong, terdapat bunga Hec-gwan-hoa, salju di Ciong-san, rembulan di Oh-hay. Sampai waktunya, kita boleh; merasakan bersama semua keindahan tersebut, kau mau bukan?"

Bisikan yang lembut, ucapan yang mesra itu membuat Leng Ping-ji terbuai kembali dalam lamunan dan keriangan, dia merasa Toan Kiam-ceng yang berada di hadapannya sekarang seakan-akan adalah Toan Kiam-ceng pada tujuh tahun berselang, di mana ia masih mencintai pemuda itu dengan setulus hati.

Sekalipun pedang Peng-pok-han-kong-kiam di tangannya masih melancarkan tusukan berulang kali, namun tusukan tersebut makin lama semakin lamban, semakin lama semakin tidak beraturan.

Sambil senyum tak senyum Toan Kiam-ceng maju kembali selangkah ke depan, lalu maju lagi selangkah… kemudian tangannya diayunkan ke depan dan mencengkeram lengan gadis tersebut "Ping-ji ikutilah aku.

Mari kita berpesiar ke Kanglam dan Tayli, mulai sekarang kita jangan berpisah kembali.

Selamanya kita hidup sebagai sepasang...."

Dia mengira kesadaran Leng Ping-ji sudah punah, siapa tahu sebelum kata "sejoli"

Diutarakan keluar dari bibirnya, mendadak Leng Ping-ji telah membalikkan badan sambil melancarkan sebuah tusukan.

Betul Leng Ping-ji sudah terpengaruh oleh obat pemabuk tersebut, tapi karena dendamnya kelewat dalam, sakit hatinya kelewat berat, hal ini menyebabkan dendam kesumat yang tertanam di dalam hatinya telah bersatu padu dengan kehidupannya.

Dendam kesumat yang begitu kuat dan hebat ini tak mungkin bisa dipunahkan dengan begitu saja oleh pengaruh obat.

Di saat yang amat kritis itulah, mendadak kesadarannya telah pulih kembali beberapa bagian.

Sayang sekali, walaupun kesadarannya telah pulih kembali beberapa bagian, namun jurus pedang yang dilancarkan amat lemah, sama sekali tidak berkekuatan.

"Criiing…"

Pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam yang berada di tangan Leng Ping-ji itu segera kena disentil sehingga mencelat terlepas dari genggaman.

Dalam keadaan demikian, sekalipun Leng Ping-ji ingin mengerahkan tenaga dalam untuk memutuskan urat nadi sendiri pun tak mungkin bisa dilakukan.

Untung saja Toan Kiam-ceng tidak mengerti kepandaian untuk menggenggam Peng-pok-han-kong-kiam, sekalipun jurus pedangnya tak berhasil melukainya, tetapi hawa dingin yang menusuk tulang sudah cukup membuat sekujur badannya bergetar keras.Begitu pedang Peng-pok-han-kong-kiam terjatuh ke tanah, tubuh Leng Ping-ji pun turut mundur dengan terhuyung-huyung.

Sekarang Toan Kiam-ceng tidak merasa jeri lagi, sambil maju mendekati dia berseru.

"Ping-ji dalam garis hidupmu telah ditetapkan bahwa kau bakal menjadi istriku, nah pasrah saja sekarang!" . Yang satu mundur yang lain maju, tampaknya jari tangan pemuda itu sudah hampir bisa mencengkeram tubuh Leng Ping-ji. Pada saat yang amat kritis itu, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras.

"Siapa yang berani menganiaya enci Leng-ku?"

Di tengah bentakan nyaring, segulung angin pukulan yang amat dahsyat telah menyergap tiba dari belakang Toan Kiam-ceng.

Ternyata yang muncul kali ini benar-benar Nyo Yan adanya.

Belum lagi orangnya tiba, sebatang duri Thian-san-sin-bong telah dilepaskan ke depan.

Toan Kiam-ceng sudah pernah merasakan kelihayan Thian-san-sin-bong, dalam keadaan seperti ini, sudah barang tentu ia tak dapat melanjutkan niatnya untuk mencengkeram tubuh Leng Ping-ji.

Dalam gugup dan tergopoh-gopohnya, terpaksa dia harus melejit ke samping untuk menghindarkan diri.

"Sreeeeet…!"

Thian-san-sin-bong tersebut segera menghajar batu cadas. Bersamaan waktunya pula, Nyo Yan telah muncul di depan matanya.Dengan amat gusar Nyo Yan membentak keras.

"Rupanya lagi-lagi kau si bajingan tengik, aku memang sedang mencari kau untuk membuat perhitungan!"

"Hei, Nyo Yan, dengarkan dulu perkataanku,"

Teriak Toan Kiam-ceng cepat "Bukankah kau hendak membersihkan noda yang dibuat ayah kandungmu? Aku dapat membantumu, dapat membantumu…."

Nyo Yan paling enggan mendengar orang lain menyinggung kembali soal "aib keluarga"

Nya ini, tak heran kalau dia semakin gusar setelah mendengar perkataan itu, tubuhnya segera menerjang ke depan, sebuah pukulan dahsyat dilancarkan.

Tujuan Toan Kiam-ccng memang ingin membangkitkan kemarahannya, dengan begitu serangan lawan baru bisa dihadapi dengan lebih mudah.

Sambil tertawa terbahak-bahak kembali ia berseru.

"Baik, kalau kau tak mau menerima ban tuanku, terpaksa aku hendak membunuhmu!"

Dengan gerakan Im-yang-siang-cong (Im dan Yang Saling Bertumbukan) dia sambut serangan tersebut dengan mengerahkan tenaga dalam Liong-siu-kang mencapai delapan bagian.

Walaupun Nyo Yan sedang gusar namun pikiran maupun perasaannya sama sekali tidak menjadi kacau.

Semenjak pertarungannya dengan Toan Kiam-ceng dulu berakhir dengan sama-sama terluka, ia telah memikirkan suatu cara yang baik untuk menghadapi pemuda tersebut, maka serangan yang dilancarkan, meski dilancarkan lebih dulu namun sampai belakangan, menanti kekuatan serangan dariToan Kiam-ceng sudah mendekati titik akhir, ancaman yang mahadahsyat baru mulai menyergap tubuh lawan.

Padahal tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu hampir seimbang tapi Toan Kiam-ceng lebih rugi karena tenaga dalamnya yang berkurang akibat pertarungannya melawan Ki See-kiat semalam belum pulih kembali, apalagi setelah diserang oleh Leng Ping-ji dengan pedang Pcng-pok-han-kong-ki am barusan, kekuatan Jwekang-nya boleh dibilang sangat berkurang.

Itulah sebabnya walaupun Nyo Yan belum berhasil menemukan cara untuk mematahkan serangan Liong-siu-kang-nya itu, namun dia sudah bukan tandingan Nyo Yan.

Ketika sepasang telapak tangan saling bertemu, ternyata sama sekali tidak menimbulkan suara apa pun, tapi akibatnya tubuh Toan Kim-ceng mencelat ke udara.

Tapi Toan Kiam-ceng memang terhitung kosen, baru saja tubuhnya mencapai tanah, dia segera melompat bangun kembali dengan jurus Ikan Leihi Meletik, setelah itu buru-buru dia mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri Leng Ping-ji yang masih berdiri dengan gontai, sekarang tak sanggup untuk mempertahankan diri lagi, tiba-tiba dia mengeluh pelan kemudian roboh ke tanah.

Dalam keadaan seperti ini, tentu saja Nyo Yan tiada waktu lagi untuk mengejar Toan Kiam-ceng.

"Enci Peng,"

Teriaknya dengan kaget, cepat-cepat dia memburu mendekat dan memeluk tubuh Leng Ping-ji.

Setelah Toan Kiam-ceng pergi, rasa takut yang mencekam di dalam dada Leng Ping-ji pun lenyap, rasa dendam kesumatyang amat kuat pun seakan-akan turut dibawa pergi oleh Toan Kiam-ceng.

Sekalipun demikian, pengaruh obat yang ditinggalkan Toan Kiam-ceng di dalam tubuhnya masih belum hilang, maka begitu rasa takut dan rasa dendamnya hilang, obat yang mengeram di dalam tubuhnya mulai bekerja kembali.

Kini Nyo Yan sudah dewasa, tubuhnya lebih tinggi separuh bagian daripadanya, berada dalam pelukan sepasang tangan yang kuat, Leng Ping-ji segera merasakan suatu kenikmatan dan kenyamanan yang luar biasa.

Dia merasa seakan-akan terbuai dalam "angin sejuk"

Yang membuat malas badan, tiba-tiba saja kesadarannya seperti tersapu hilang. Nyo Yan yang berada di hadapannya pun seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang lain.

"Engkoh Hoa, engkoh Hoa…."

Bisik Leng Ping-ji dengan suara lirih.

Kenangan pada tujuh tahun berselang sekali lagi terlintas dalam benaknya.

Nyo Yan tidak mendengar jelas apa yang diucapkan gadis itu, dia hanya tahu kalau nama yang disebut Leng Ping-ji bukan namanya, maka setelah tertegun sejenak, serunya keras-keras.

"Enci Leng, kenapa kau? Aku adalah adik Yan-mu, aku adalah adik Yan-mu…!"

Bagaikan baru mendusin dari impian, Leng Ping-ji segera membuka matanya lebar-lebar kemudian dengan perasaan terkejut bercampur girang teriaknya pula.

"Kau benar-benar adik Yan?"

Nyo Yan segera membangunkan Leng Ping-ji dari atas tanah dan membiarkannya duduk, kemudian sambil menggulung ujung bajunya dia berkata.

"Enci Leng, apakah kau masih kenal tahi lalat ini?"

Waktu itu, kesadaran Leng Ping-ji telah pulih beberapa bagian, dia tak perlu memeriksa tahi lalat tersebut pun sudah tahu kalau pemuda yang berada di hadapannya sekarang adalah Nyo Yan asli.

Sekalipun berasal dari ibu yang sama ayah lain, namun paras Nyo Yan boleh dibilang mirip sekali dengan wajah Beng Hoa, kakak tirinya.

Bayangan kabur yang semula menyelimuti benak Leng Ping-ji, sekarang berubah menjadi kenyataan, muncul sebagai seorang manusia nyata yang berdarah daging.

Ternyata raut wajah Nyo Yan yang sesungguhnya tidak selisih jauh dengan Nyo Yan di dalam benaknya.

"Ooh, adik Yan, ternyata benar-enar adalah kau! Sungguh tak kusangka kau telah menyelamatkan jiwaku! Ooh, sungguh amat baik sekali! Kini kau telah dewasa, ilmu silatmu juga telah memperoleh kemajuan yang amat pesat!"

Saking terharunya air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Leng Ping-ji, tangan mereka pun tanpa terasa saling menggenggam menjadi satu.

"Enci Leng, kau tidak tcrluka bukan?"

Tanya Nyo Yan tiba-tiba. Dia sudah merasakan suatu perubahan aneh di atas wajah Leng Ping-ji, sehingga timbul perasaan khawatirnya.

"Tidak, aku tidak terluka"

Mendadak Leng Ping-ji seperti teringat akan sesuatu persoalan, tanpa terasa dia bertanya lagi.

"Adik Yan, apakah kau pun pergi ke kuil bobrok itu?"

Dalam kuil bobrok itulah dia mendapat penghinaan yang amat memalukan, dia sudah berusaha untuk melupakan tempat itu, lebih-lebih tak ingin menyinggung kembali tentang Nyo toakoh dan Ki See-kiat Tapi demi Nyo Yan, mau tak mau dia harus menyinggungnya kembali.

Sebab, bagaimanapun kejinya Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh, dia tetap bibi kandung Nyo Yan.

Lagi pula dengan menyerempet bahaya dari tempat yang amat jauh dia datang ke sana dengan tujuan untuk menemukan Nyo Yan.

Tanpa terasa dia teringat kembali dengan dugaan Nyo toakoh terhadap si "pengemis cilik"

Tersebut, tapi Nyo Yan yang berada di hadapannya sekarang sudah tidak berdandan sebagai pengemis lagi.

Betulkah pengemis cilik itu adalah Nyo Yan?

Sampai berapa jauhkah Nyo Yan telah mengetahui asal-usulnya sendiri?

Banyak persoalan yang tidak diketahui olehnya tapi dia tahu kalau Nyo Yan telah dewasa, ia sudah bukan bocah cilik yang berada dalam benaknya itu.

"Adik Yan telah berusiadelapan-belas tahun, dia berhak untuk mengetahui asal-usul sendiri."

Ia tak ingin menyinggung persoalan yang menyangkut tentang dirinya, tapi dia merasa persoalan yang menyangkut tentang Nyo Yan, terutama mengenai asal-usulnya, tidak pantas lagi baginya untuk merahasiakan terus-menerus.

Sementara itu Nyo Yan telah berdiri termangu-mangu, kemudian jawabnya pelan.

"Ya aku pernah ke sana bahkanbukan cuma satu kali. Baru aku datang dari sana, enci Peng, aku sudah tahu… tahu… kau… kau tidak usah memberitahukan kepadaku lagi."

Dia mengira Leng Ping-ji hendak menceritakan kisah menyedihkan yang telah menimpa gadis tersebut, karena merasa tak mampu untuk menghiburnya dengan kata-kata, maka pemuda itu berusaha keras untuk menjauhi pembicaraan yang akan menyinggung kembali luka hatinya itu.

Leng Ping-ji pun sedang kebingungan dan tak tahu bagaimana mesti buka suara maka setelah mendengar perkataan itu ia merasa seperti mendapatkan tanggung jawab yang lebih berat lagi, maka katanya kemudian.

"Ternyata pengemis cilik itu adalah kau…."

Dia mengira Nyo Yan sudah mengetahui asal-usulnya, padahal ia tahu sebagian tak tahu bagian yang lain.

"Ya benar, memang aku!"

Terdengar Nyo Yan menjawab sambil menggigit bibir.

"Kalau begitu, kau… kau juga tahu kalau dia., dia adalah bibimu? Adik Yan, dia adalah satu-satunya sanak keluargamu, mengapa kau… mengapa kau…."

Dia ingin bertanya kepada Nyo Yan mengapa ia tak mau mengakuinya sebagai sanak famili sendiri, baru saja akan menasihatinya Nyo Yan telah berkata lebih dulu, ‘Tidak, tidak, enci Peng, kaulah baru merupakan satu-satunya sanak keluargaku.

Aku tidak menyalahkan kau yang telah menipuku sekian lama sungguh, aku tidak membohongi-mu!

Aku pernah menggerutu kepadamu, tapi sekarang aku sudah tahu, kau berbuat demikian demi kebaikanku!

Aku tidak menghendaki’sanak keluarga’ semacam itu, enci Peng, aku hanya menghendaki kau seorang!

" 0odwo0 Sesungguhnya Nyo Yan adalah seorang yang mudah terpengaruh oleh emosi, apalagi setelah ia tak sanggup mengendalikan perasaan murung dan sedih yang mencekam perasaannya sekarang.

Yang dimaksudkan sebagai "sanak keluarga semacam itu"

Termasuk juga di antaranya ayah kandungnya sendiri, cuma Leng Ping-ji tidak mengetahuinya Jantung Leng Ping-ji yang sebenarnya memang sudah berdebar keras itu kini berdebar lebih keras lagi, tanpa terasa dia memeluk tubuh Nyo Yan kencang-kencang sambil berkata.

"Adik Yan, aku pun menganggap kau sebagai satu-satunya sanak keluargaku, cuma mereka-mereka…"

Sebenarnya dia hendak mengatakan kalau "mereka adalah sanak keluargamu yang sebenarnya"

Tapi dia khawatir ucapan mana akan menusuk perasaan Nyo Yan, maka niat itu pun kemudian diurungkan. Terdengar Nyo Yan berkata dengan suara yang parau.

"Mereka telah pulang. Enci Leng kenapa kau? Kau tak usah sedih, aku menyusul kemari untuk menemanimu!"

Tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Leng Ping-ji, cuma cucuran air mata tersebut sudah bukan karena rasa harunya atas sikap Nyo Yan.

Perasaan terharu memang paling mudah menular kepada orang lain.Nyo Yan mengira Leng Ping-ji bersedih hari karena Ki See Kiat ikut pulang ke daratan Tionggoan, meski dia tidak ingin menyinggung kembali luka hatinya, tapi ia toh tak tahan berkata kembali.

"See-kiat piauko orang yang baik. Enci Peng, tak usah bersedih hati, demi kau aku bersedia membantumu mencarinya."

Ia teringat kembali bagaimana ayahnya telah menjadi pengawal istana raja, dia pun teringat akan tindakan bibinya yang memaksa kakak misannya untuk menjadi pembesar kaum penjajah, andaikata bukan disebabkan persoalan Leng Ping-ji, ia benar-benar merasa tak sudi untuk menjumpai bibinya lagi.

Rencananya semula, dia hendak membalaskan dendam lebih dulu buat ayahnya lalu baru membujuk ayahnya agar melepaskan kedudukannya itu, tapi sekarang, bahkan untuk berjumpa dengan ayah kandungnya sendiri pun ia tak sudi, apalagi menjumpai bibinya?

Tak tahan Leng Ping-ji berseru terharu.

"Tidak, tidak, aku telah bersumpah tak akan bertemu dengan Ki See-kiat lagi! Bukan dikarenakan ibunya, aaai… adik Yan, kau tidak memahami perasaan cici. Aku tidak menghendaki rasa kasihan dari orang lain…."

Ya, bagaimana mungkin ia dapat menerangkan segala perasaannya yang berkecamuk di dalam dadanya itu kepada Nyo Yan?

"Cici, aku mengerti, aku tahu perasaanmu seperti juga perasaanku, kita memang tak membutuhkan rasa kasihan dari orang lain!"

Kata Nyo Yan kemudian.Benar, ia memang tahu kalau Leng Ping-ji keras hati seperti dia, tinggi hati seperti dia, dia selalu mengira cukup "memahami"

Tentang Leng Ping-ji. Tapi, perasaan Leng Ping-ji yang kalut dan rumit, bagaimana mungkin bisa dipahami olehnya dengan usia yang begitu muda? "

Leng Ping-ji merasakan telapak tangan Nyo Yan memancarkan hawa panas, tanpa terasa dia menghela napas panjang.

"Aaai… ucapanmu memang benar, aku tidak membutuhkan rasa kasihan dari orang lain, kecuali kau!"

Sorot matanya dialihkan ke wajah Nyo Yan, senyuman segar tersungging di ujung bibirnya Nyo Yan yang berada di hadapannya sekarang sudah bukan "adik kecil"

Yang dulu lagi.

Nyo Yan yang berada di hadapannya sekarang sudah merupakan duplikat Beng Hoa di masa lalu.

Dia membutuhkan hiburan dan rasa simpati dari seorang sahabat yang memahami perasaannya dulu ia menemukan Beng Hoa dan sekarang dia menemukan Nyo Yan.

Senyuman manis kini telah menghiasi wajahnya yang basah oleh air mata, titik air mata masih meleleh keluar.

Cukup memandang tangisannya, sudah cukup untuk menimbulkan perasaan sedih bagi orang lain.

Dengan menggunakan ujung bajunya Nyo Yan menyeka air mata di pipi Leng Ping-ji, lalu ujarnya.

"Cici, berjanjilah kepadaku jangan bersedih hati lagi, asal kau bersedia, aku pun akan menemanimu untuk selamanya"

Leng Ping-ji segera tertawa "Aah, sudah sebesar ini, masa kau masih mengucapkan kata-kata seperti omongan anak kecil?"

"Cici, mengapa kau tidak percaya kalau aku akan mendampingimu untuk selamanya?"

Teriak Nyo Yan.

"Aku berbicara dengan sungguh hati, tapi aku pun tahu kau bukan berbicara dengan sesungguhnya"

"Aku bicara dengan sungguh hati, kau memang masih terpengaruh oleh sifat kekanak-kanakan!"

"Lantas mengapa kau masih menangis? Kau telah berkata tak akan bersedih hati lagi."

"Benar, aku memang seharusnya merasa gembira. Kau tak usah mengkhawatirkan tentang diriku. Cuma aku tidak menginginkan kau mendampingiku untuk selamanya aku pun tak dapat mendampingimu untuk selamanya"

"Mengapa tak dapat?"

"Bagaimana dengan siluman perempuan kecil itu? Aku tidak tahu siapakah dia tapi bibimu mendampratnya sebagai siluman perempuan kecil, maka aku merasa dia pantas untuk mendampingimu. Bila kau harus mendampingiku untuk sela-manya, mana mungkin kau bisa mendampingi dirinya?"

"Ooh, rupanya kau merasa senang karena persoalan ini."

"Memangnya tak boleh digirangkan? Kau sudah dewasa sekarang, lagi pula mempunyai teman yang akrab, mengapa aku tak boleh gembira?"

"Dia bukan temanku, dia menganggap aku sebagai musuh besarnya meski aku ingin menganggapnya sebagai teman, namun rasa dendam yang mencekam perasaannya membuat ia tak dapat memahami diriku!"

Ucapan dari Nyo Yan ini diutarakan dengan suara parau.Mendengar perkataan itu, Leng Ping-ji amat terkejut, segera tanyanya.

"Mengapa kau bisa mengikat tali permusuhan dengan dirinya?"

"Bukan aku yang mengikat tali permusuhan dengannya tapi nasiblah yang telah mengatur segala sesuatunya membuat kami berdua seakan-akan berjumpa sebagai musuh saja"

"Aku tidak mengerti…"

"Mengenai persoalannya biar kuberitahukan kepadamu pelan-pelan. Pokoknya peristiwa itu adalah suatu peristiwa yang memedihkan hati, aku tak ingin menceritakan kepadamu dalam suasana semacam ini."

"Dia orang baik?"

"Entahlah. Tapi aku rasa meski dia agak binal tapi orangnya baik. Cuma, cici… kau jangan bertanya lagi tentang dia, mau bukan? Bagiku yang penting sekarang adalah jangan membuatmu bersedih hati lagi….’" ‘ Leng Ping-ji kembali menghembuskan napas panjang.

"Aaai… heran, mengapa semua orang baik yang kukenal selalu mempunyai persoalan yang tidak menguntungkan? Kalau kau tak ingin membicarakan kembali persoalan ini, aku pun tak bertanya lagi, tapi aku tak bisa tidak harus berpikir, sewaktu aku bersedih hati kaulah yang menghiburku, tapi kalau dia yang bersedih hati dan tak ada orang yang menghibur, bukankah dia lebih bersedih lagi?"

Nyo Yan segera menghela napas panjang.

"Aaai… takdirlah yang telah mempermainkan kita semua, apa daya? Betul, nasibnya susah seperti juga nasib kita. Tapi aku tak dapat menghilangkan rasa dendam dan sakit hati yang mencekam dadanya, bagaimana mungkin aku bisa menghiburhatinya yang sedang lara. Cici, aku hanya berharap agar kau jangan bersedih hati lagi."

Cinta atau Benci? "

Aku tak akan sedih, mungkin air mataku masih bercucuran, tapi tak lama kemudian akan mengering sendiri.

Adik Yan, sebelum kau menganjurkanku agar jangan sedih, terlebih dahulu kau jangan bersedih hati lebih dulu!"

Rupanya ketika Nyo Yan mendengar dia mengatakan.

"Setiap orang mempunyai kesulitan sendiri" , tanpa terasa dia teringat kembali dengan asal-usul sendiri yang mengenaskan, di samping merasakan sedih untuk nasib Liong heng-cu dan Leng Ping-ji yang buruk. Gejolak perasaan yang keras membuat ia tak sanggup mempertahankan diri lagi, tak bisa dicegah lagi dia pun turut menangis. Pelan-pelan Leng Ping-ji menyeka air mata yang membasahi wajah pemuda itu, lalu ujarnya.

"Adik Yan, kau melarang aku menangis, mengapa kau malah menangis?"

"Enci Peng, masih ingatkah kau dengan sumpahku di hadapanmu dulu?"

Tanya Nyo Yan sambil berhenti menangis.

"Sumpah apa?"

Leng Ping-ji tampak agak tertegun.

"Waktu itu aku sama sekali belum mengerti apa yang dinamakan sedih, tapi aku tahu kau tidak gembira. Aku pernah bersumpah akan mencarikan kebahagian untukmu dan membuatmu merasa gembira…."

Leng Ping-ji segera tertawa setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.

"Ya, aku ingat sekarang, sumpah itukau ucapkan ketika merayakan ulang tahunmu yang kesebelas!"

"Benar, waktu itu aku masih seorang bocah, tapi apa yang kuucapkan bukanlah perkataan seorang bocah!"

"Aku tahu adik Yan, enci merasa berterima kasih kepadamu!"

Tanpa terasa titik air mata kembali jatuh berlinang. Diam-diam ia tertawa getir dan berpikir.

"Sayang kebahagiaan sudah tak berjodoh lagi denganku."

Agaknya Nyo Yan dapat menebak suara hatinya itu, sambil memeluk tubuh gadis itu dan menggo-yang-goyangnyadia berkata.

"Enci kau tidak percaya kalau aku dapat membuatmu bahagia?"

Nyo Yan yang berada di hadapannya sekarang, makin lama terasa semakin mirip dengan Bcng Hoadi masa lalu, tanpa terasa Leng Ping-ji pun memeluknya kencang-kencang sambil berbisik.

"Adik Yan, aku percaya kepadamu!"

Mereka berdua tidak berbicara lagi, Leng Ping-ji segera merasakan kesadarannya makin kabur, sedangkan Nyo Yan merasakan tubuhnya menjadi panas sekali, suatu perasaan aneh yang belum pernah dialami sebelumnya tiba-tiba menguasai perasaannya.

Ternyata ketika Leng Ping-ji terkena obat perangsang yang dilepaskan Toan Kiam-ceng tadi, masih ada sisa bubuk obat yang melekat di atas wajah dan pakaiannya, bahkan oleh karena dia menghisap pula sejumlah bubuk obat itu, dalam napasnya pun terdapat bau harum yang membetot sukma tersebutPadahal pada waktu itu Nyo Yan sedang merasakan keganasan dan kekejian orang di dunia ini terhadapnya, dan saat itulah rasa sayangnya terhadap Leng Ping-ji sedang meluap.

Oleh karena dalam hati kecilnya dia memang tidak membawa niat jahat, maka tanpa mempersoalkan batasan antara lelaki dan perempuan, ia lantas memeluk Leng Ping-ji seperti juga dahulu ia memeluk enci-nya.

Walaupun begitu, bagaimanapun juga ia sudah bukan seorang bocah lagi.

Tahun ini dia sudah berusia delapanbelas tahun.

Perasaan senasib sependeritaan ditambah lagi luapan emosi memang paling mudah mempengaruhi orang, apalagi terpengaruh oleh bubuk obat perangsang yang masih tersisa di sekitar badan Leng Ping-ji, kontan saja membuat kedua orang muda-mudi ini terlelap di dalam buaian asmara.

Ibaratnya bendungan yang jebol dilanda air bah, tiba-tiba Nyo Yan memeluknya erat-erat, lalu menciumi wajahnya, mencium ke bawah… mencium terus tiada hentinya….

Bagaikan anak kecil dia bersandar di atas dada Leng Ping-ji dan terbuai dalam suasana yang memabukkan.

Mereka seakan-akan lupa daratan, lupa keadaan, seakan-akan di sekitar tempat itu tiada orang lain kecuali mereka Di saat yang amat kritis itulah, mendadak Leng Ping-ji merasakan hatinya tergetar keras, seperti baru mendusin dari impian ia segera memekik keras.

"Apa yang sedang kulakukan?"

Dengan sepenuh tenaga dia mendorong tubuh Nyo Yan, kemudian menjejalkan sebutir peluru inti es ke dalam mulurnya Peluru inti es itu mencair di dalam mulut, Leng Ping-ji segera gemetar keras dan segera tersadar kembali.Sebaliknya Nyo Yaa masih mendesis dengan pikiran setengah sadar setengah sadar tidak.

"Enci Peng, kau…."

Ketika pemuda itu membuka mulut, Leng Ping-ji segera menjejalkan pula sebutir peluru Peng-pok-sin-tan ke dalam mulurnya Nyo Yan tidak pernah melatih ilmu Sau-yang-smkang yang bisa melawan dinginnya Peng-pok-sin-tan, tak heran kalau ia menjadi kedinginan sampai melonjak-lonjak.

Leng Ping-ji mengerti kalau si pemuda itu sudah melatih ilmu tenaga dalam aliran Lan-tou-si, dia merasa hal tersebut tak akan sampai mencelakainya, maka dia baru berani menggunakan peluru Peng-pok-sin-tah sebagai "obat penawar"

Yang manjur. Kendatipun demikian, dia pun khawatir bila dugaannya meleset, maka melihat pemuda itu melompat-lompat, ia menjadi amat terkejut, buru-buru serunya sambil melompat bangun.

"Adik Yan, kenapa kau? Cepat., cepat berbaring, biar cici…."

Dia mengira Nyo Yan terpengaruh oleh hawa dingin yang amat merasuk tulang, maka ia hendak menggunakan ilmu Sau-yang-sin-kang untuk membantunya mengusir pengaruh hawa dingin tersebut Siapa tahu belum habis dia berkata mendadak terdengar seseorang membentak keras.

"Perempuan rendah yang tak tahu malu, bagus perbuatan yang sedang kau lakukan dengan binatang kecil itu!"

Leng Ping-ji segera berpaling dan dikenalinya orang itu sebagai kakak seperguruannya Ciok Cing-swan.Dengan perasaan malu bercampur kaget, buru-buru dia menyembunyikan diri di belakang pohon besar, kemudian teriaknya keras-keras.

"Ciok suheng, dengarkan dulu penjelasanku…."

"Perempuan rendah, siapa yang kesudian menjadi suheng-mu?"

Bentak Ciok Cing-swan semakin marah.

"Di hari-hari biasa kau berlagak seakan-akan lemah lembut, sampai aku pun mengira kau adalah seorang gadis yang suci bersih, hmmm… hmmm… ternyata kau begitu tak tahu malu, di belakang orang suka main lelaki? Huuuh, kehormatan orang-orang Thian-san-pay sungguh telah kau injak-injaki"

Ternyata Ciok Cing-swan adalah orang yang berulang kali mengajukan pinangan kepada Leng Ping-ji tapi selalu ditolak gadis itu.

Selama banyak tahun terakhir ini, Leng Ping-ji jarang pulang ke Thian-san, sekalipun tujuannya untuk mencari Nyo Yan, tapi alasan lain yang terutama adalah untuk menghindarkan pinangan suheng-nya ini.

Ayah Ciok Cing-swan adalah Ciok Thiang-hing murid Thian-san-pay pada urutan paling atas, malah dia tersohor jauh sebelum Teng Ka-gwan ketua yang sekarang terjun ke dunia persilatan.

Ciok Thiang-hing hanya mempunyai seorang putra tunggal, maka tak heran kalau dia amat memanjakan putranya ini.

Sebaliknya Ciok Cing-swan sendiri pun seorang yang bun-bu-cuan-cay (menguasai ilmu sastra maupun ilmu silat) ditambah lagi mukanya ganteng, ia merupakan murid Thian-san-pay angkatan ketiga yang paling menonjol seorang.Mungkin oleh karena pandangannya yang kelewat tinggi, maka walaupun umurnya sudah melebihi tigapuluh tahun, tetapi tak beristri.

Sejak Leng Ping-ji datang ke Thian-san, diam-diam ia sudah jauh hati padanya Ketika Ciok Thiang-hing mengetahui isi hati putranya tak terlukiskan rasa girang di dalam hatinya maka dia pun segera mengadakan pinangan kepada gurunya Leng Ping-ji, yaitu ciangbun hujin yang sekarang.

Dalam anggapan mereka berdua pinangan tersebut pasti akan berhasil, siapa tahu….

Setelah pinangan itu gagal, Ciok Thiang-hing pun hanya menghibur putranya saja tanpa mempunyai perasaan lain.

Berbeda sekali dengan Ciok Cing-swan, dia menganggap kejadian itu suatu aib, suatu penghinaan yang besar, semenjak itu diam-diam ia mendendam terhadap Leng Ping-ji.

Kali ini, berhubung dia tahu kalau Nyo toakoh datang ke Sinkiang untuk mencari Nyo Yan serta rahasia Nyo Bok menjadi pengawal istana raja maka sengaja dia menyusul kemari.

Ia takut kedatangan Lak-jiu-Koan-im, kakak perempuan Nyo Bok untuk mencari Nyo Yan kemungkinan besar akan mendatangkan ketidakberuntungan bagi Thian-san-pay, capi ia tertambat, tidak berjumpa dengan Lak-jiu-Koan-im.

Di luar dugaannya, dalam keadaan seperti inilah dia bertemu dengan Leng Ping-ji dan Nyo Yan.

Cuma dia sudah tidak kenal lagi dengan Nyo Yan yang telah dewasa itu.

Perasaan sakit hati yang sudah mencekam perasaannya sekian lama, kontan saja meledak setelah menyaksikan LengPing-ji sedang bermesraan dengan seorang pemuda, saking tak sanggup menahan emosi yang bergolak, akhirnya dia pun mencaci maki.

Siapa tahu caci makinya itu membangkitkan pula kemarahan Nyo Yan, bahkan api amarah yang membara di dalam dada Nyo Yan jauh lebih besar… Sambil meraung keras, pemuda itu segera melompat ke depan.

"Kalau aku yang kau maki, urusan masih mendingan, atas dasar apa kau memaki enci Peng sebagai perempuan rendah? Giok Ciok-swan segera tertawa dingin.

"Heeehh.. heeehh… heeehh… setelah melakukan perbuatan bagus, masih melarang orang lain memalu? Hmm, aku justru hendak memakimu, mau apa kau? Hmm, kalau dia adalah perempuan rendah yang tak tahu malu, maka kau adalah binatang kecil tak tahu malu."

"Berlutut di depan enci Peng dan menyembah kepadanya sambil minta ampun, mungkin dengan berbuat demikian aku dapat mengampuni selembar jiwamu!"

Bentak Nyo Yan dengan suara dalam.

"Sreet!"

Ciok Cing-swan segera meloloskan pedangnya sambil melancarkan tusukan, serunya lagi sambil tertawa dingin.

"Binatang kecil yang tak tahu malu, kamu ingin membunuh orang untuk melenyapkan saksi? Hmm, belum tentu kau memiliki kepandaian seperti ini! Hmm, hmm, kau tidak membunuhku pun aku akan membunuhmu, setelah kubikin mampus si binatang kecil, baru kubereskan perempuan rendah yang tak tahu malu itu."

Seraya berkata pedangnya secara beruntun melancarkan tujuh delapan serangan berantai ke arah Nyo Yan.Dia adalah murid angkatan ketiga dari partai Thian-san yang paling menonjol, ilmu silat yang dimilikinya amat tangguh.

Padahal ketika itu Nyo Yan baru sadar kembali, pengaruh obat perangsang yang menguasai pikirannya juga belum punah sama sekali, kontan saja ia kena didesak mundur berulang kali sehingga keadaannya berbahaya sekali.

"Ciok suheng, kau tidak tahu siapakah dia? Dia adalah Nyo Yan!"

Teriak Leng Ping-ji. Kemarahan Ciok Cing-swan semakin memuncak, dia segera tertawa dingin.

"Heeeh… heeeh… heeeh… pantas! Naga akan melahirkan naga, burung hong akan melahirkan burung hong, anak tikus bisanya cuma mencuri dan membuat lubang, cepat atau lambat binatang cilik ini pasti akan merupakan bibit bencana pula, dibunuh lebih cepat pun ada baiknya juga. Sedang kau… perempuan rendah yang tak tahu malu, kau masih punya muka untuk minta ampun?"

Hampir gila Nyo Yan dibuatnya, karena kemarahan yang memuncak, mendadak ia membentak keras.

"Lihat saja nanti, siapa yang akan membunuh siapa?"

Waktu itu Ciok Cing-swan sedang melancarkan serangan dengan menggunakan serangan yang tangguh dan mematikan.

Tiba-tiba ia merasakan pergelangannya sakit, tahu-tahu pedangnya sudah mencelat ke udara terhajar sentilan jari tangan Nyo Yan.

Ternyata obat perangsang di dalam tubuh Nyo Yan telah punah, sekarang tenaga dalamnya sudah pulih tujuh delapan bagian.Dengan cepat Nyo Yan mencengkeram tubuhnya, kemudian tangannya diayunkan ke kanan dan ke kiri.

"Plak, plok, plak, plok!"

Secara beruntun ia menggaplok mukanya beberapa kali.

Dalam gusarnya, beberapa kali tamparannya itu dilancarkan dengan kekuatan yang besar.

Termakan oleh tamparan yang begitu keras, Ciok Cing-swan tak tahan, ia muntah darah segar berikut dua biji giginya ikut copot.

Ciok Cing-swan benar-benar berhati sekeras baja, sekalipun ia sudah digaplok sampai muntah darah, namun mulurnya masih mencaci maki tiada hentinya.

"Binatang cilik, perempuan rendah, kalau punya nyali bunuhlah aku, kalau tidak jangan harap perbuatan terkutuk kalian tak akan diketahui orang lain!" ‘Kau anggap aku tak berani membunuhmu?"

Seru Nyo Yan dengan wajah amat gusar.

Dengan suatu kekuatan yang besar dia segera mencekik leher Ciok Cing-swan keras-keras, seketika itu juga Ciok Cing-swan ternganga lebar dengan lidah yang menjulur keluar.

Dengan gugup Leng Ping-ji segera berteriak keras.

"Adik Yan, tahan!"

Tapi Nyo Yan sambil mencekik leher Ciok Cing-swan keras-keras menyahut.

"Enci Peng, masih belum cukuplah penghinaan yang kau terima? Kalau tidak kubunuh jahanam ini, sukar rasanya untuk menghilangkan rasa benci di dalam hatiku!"

"Bila kau membunuhnya, selama hidup aku tak akan mempedulikan dirimu lagi!"

Ancam Leng Ping-ji dengan suara dalam.Pedang baja Ciok Cing-swan yang kena disentil oleh Nyo Yan tadi mencelat tinggi sekali ke tengah udara, baru sekarang pedang itu meluncur kembali ke bawah.

Sambil menangkap pedang itu, Nyo Yan membentak keras.

"Memandang wajah enci Peng, untuk sementara waktu kuampuni selembar jiwa anjingmu.

Hukuman mati boleh dihindari, tapi hukuman hidup tak bisa dihindari!

Begitu ucapan terakhir diucapkan, cahaya pedang telah berkelebat lewat, tahu-tahu lidah Ciok Cing-swan telah dikutungi olehnya.

Leng Ping-ji ingin mencegah perbuatannya itu, tapi tak sempat lagi Dengan wajah yang penuh berlepotan darah sehingga tampangnya mirip iblis, Ciok Cing-swan melotot sekejap ke arah Leng Ping-ji, kemudian tanpa membuang waktu lagi berlalu dari situ, namun sorot matanya penuh dengan pancaran sinar kebencian.

Memandang bayangan tubuh Ciok Cing-swan yang menjauh, Leng Ping-ji segera menghela napas panjang, katanya.

"Adik Yan, kau kelewat berangasan, baik atau buruk dia toh kakak seperguruan kita"

Kemarahan dalam dada Nyo Yan belum reda, ia segera berseru kembali.

"Kakak seperguruan semacam ini lebih baik tak usah dipunyai. Kalau tidak kupotong lidahnya, ia pasti akan menfitnah orang seenaknya!"

Leng Ping-ji segera tertawa getir.

"Tapi dengan perbuatanmu itu, mungkin kau sudah tak bisa kembali ke Thian-san lagi."

"Suhu-ku telah meninggal, ayah angkatku juga sudah banyak waktu tidak berada di atas gunung Thian-san, kecuali ayah angkat dan kau, tiada kenangan apa pun bagiku di atas gunung tersebut, tak bisa pulang juga tak mengapa, toh bukan suatu persoalan besar. Enci Peng, asal aku dapat berada bersamamu, sudah lebih dari cukup."

Seandainya ucapan tersebut diutarakan pada dua jam berselang, Leng Ping-ji akan menganggap perkataannya itu sebagai kasih sayang seorang adik terhadap kakaknya, tapi kini, setelah peristiwa yang mimpi pun tak pernah diduga itu telah terjadi, Leng Ping-ji telah dapat merasakan pula kobaran panas yang bergelora dalam dada pemuda itu, dia dapat merasakan suatu rasa cinta yang dalam.

Untuk sesaat lamanya Leng Ping-ji termenung, kemudian ia baru berkata.

"Adik Yan, lupakanlah kejadian yang berlangsung tadi, di kemudian hari kita masih tetap merupakan kakak adik."

"Mengapa harus melupakannya?"

"Kita berdua sama-sama sudah terkena perbuatan busuk dari Toan Kiam-ceng si bajingan busuk itu sehingga melakukan kesalahan, masih untung kita tak sampai melakukan perbuatan salah yang lebih parah."

"Enci Peng, sekarang aku berbicara dengan otak yang segar, tapi aku tidak merasa menyesal sedikit pun atas apa yang telah terjadi tadi."

Kontan Leng Ping-ji merasa pikirannya menjadi amat kalut, serunya cepat.

"Adik Yan, adik Yan… kumohon kepadamu, anggaplah apa yang terjadi sebagai suatu impian, lebih baik lagi kalau kau dapat melupakan untuk selamanya."

"Aku sama sekali tidak merasa brutal, aku tidak merasa sebagai impian. Enci Peng, kau menyesal?"

Dengan termangu Leng Ping-ji engawasi pemuda di hadapannya itu dengan pikiran kalut, dia merasa pemuda itu seperti sangat dikenal tapi seperti pula sangat asing baginya, mendadak ia mempunyai suatu perasaan aneh, dari tubuh Nyo Yan ia seperti menangkap separuh bagian mirip Beng Hoa, tiga bagian mirip Ki See-kiat dan dua bagian mirip bayangan Toan Kiam-ceng, hanya saja kedua bagian yang terakhir itu bukan bayangan Toan Kiam-ceng yang sekarang, melainkan Toan Kiam-ceng yang dahulu.

Itulah bayangan Toan Kiam-ceng sebelum dia menjadi sesat.

Tapi dari sekian banyak bayangan, bayangan Beng Hoa paling tebal, bayangan Toan Kiam-ceng paling tipis, namun di dalam dasar hati yang paling dalam, mungkin dia sendiri pun belum pernah memikirkannya, bukankah dia memang menyukai orang seperti ini?

Dalam waktu singkat, pelbagai pikiran serasa berkecamuk di dalam benaknya, dengan suara yang hampir cuma didengar oleh dirinya sendiri dia menyahut.

"Aku tidak tahu."

"Mengapa tidak tahu?"

Tanya Nyo Yan dengan suara keras.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa kita tak dapat hidup bersama terus sepanjang masa."

"Mengapa tak bisa?"

Nyo Yan seperti hendak bertanya terus sampai sejelas-jelasnya.

Leng Ping-ji menghela napas panjang."Sebab di dalam bayanganku kau tak lebih cuma adikku.

Adik Yan, apakah kau tak dapat menganggap aku sebagai kakakmu saja?"

"Di kemudian hari aku masih dapat menganggapmu sebagai enci-ku, tapi aku pun hendak mengawini dirimu sebagai istriku!"

Sekarang Leng Ping-ji sudah mengetahui rahasia hatinya, tapi hatinya terkejut juga ketika dengan mata telinga sendiri ia mendengar pemuda itu meminangnya.

‘Tidak, tidak, soal ini… soal ini… tidak boleh, kita tak boleh berbuat demikian…."

"Kenapa tidak boleh? Walaupun kita kakak beradik, namun di dalam kenyataan kita bukan kakak beradik yang sesungguhnya."

"Adik Yan, tahun ini kau baru berusia dclapanbelas tahun, sedang aku sudah berumur duapuluh tujuh tahun, kita berselisih hampir sepuluh tahun."

"Sepuluh tahun lewat bagaikan sambaran petir, apalah artinya selisih umur sesingkat itu? Apalagi umur manusia sukar diduga, siapa tahu aku bakal mati lebih dulu daripada kau?"

Emosi Seorang Pemuda "Aku sudah banyak pengalaman dan mengalami banyak kejadian, sedang kau tak lebih hanya seorang pemuda yang baru muncul ke dalam dunia persilatan,"

Kembali Leng Ping-ji berkata.

"Apa salahnya? Kau boleh menjadi enci-ku, mengapa tidak boleh menjadi istriku? Boleh menjadi guru yang mendidikku, mengapa tak boleh menjadi guru dalam rumah tanggaku?"

Perkataan kekanak-kanakan ini segera menggelikan Leng Ping-ji hingga tanpa terasa ia tertawa. Nyo Yan menjadi girang sekali serunya.

"Enci Peng, kau tidak mempunyai keluhan lainnya bukan?"

Leng Ping-ji menggelengkan kepalanya.

"Maaf, aku tak dapat meluluskan permintaanmu itu,"

Katanya "Apa alasannya?"

"Kau masih muda, tidak pantas… tidak pantas…."

Ia segera berhenti di tengah jalan, sebab bagaimanapun dia merasa jengah juga untuk mengucapkan kata "tidak pantas memperistri diriku".

"Aku toh tidak memintamu untuk kawin pada saat ini juga? Asal kau bersedia jadi istriku, aku bisa menantimu."

"Adik Yan, kau baik kepadaku, membuat aku merasa amat berterima kasih, tapi…." ‘Tak usah mengucapkan kata ‘tapi’ berulang kali, kecuali kau suka orang lain, aku tetap akan memperistri dirimu. Aku toh sudah bertanya kepadamu, aku hendak membantumu agar baik dengan engkoh misanku See-kiat, tapi kau mengatakan tidak…."

Leng Ping-ji tertawa getir, tukasnya.

"Jangan kau singgung lagi dirinya. Walaupun aku tidak menganggapnya sebagai musuh, tapi aku pun tak akan menjadi sahabat yang lebih… lebih baik dengannya…."

"Itulah. Kalau kau tak bersedia kawin dengannya, mengapa kau tak bersedia meluluskan permintaanku? Aku pernah bersumpah, akan memberi kebahagiaan kepadamu, apakahkau tak percaya bila kita bersatu maka kehidupan kita akan bahagia?"

"Bukan, bukan begitu…."

"Aku mencintaimu dengan setulus hati,"

Seru Nyo Yan.

"dulu aku tidak tahu, tapi sekarang benar-benar sudah mengetahuinya."

"Apa yang kauketahui hanya apa yang sekarang kau ketahui."

Nyo Yan yang tertegun.

"Enci Peng, apa maksud ucapanmu itu?"

Serunya.

"Aaaih… anak muda tak mengenal arti kemurungan, apakah cinta apakah murung, cinta dibilang murung, murung dibilang cinta…."

Dari balik ucapan tersebut, jelas gadis itu hendak mengartikan demikian,-Apakah kemurungan itu?

Apa pula yang dinamakan cinta?

Pemuda seperti Nyo Yan mana mungkin bisa mengetahui sedalam-dalamnya?

Dengan sikap mengerti seperti tak mengerti, Nyo Yan lantas berkata.

"Enci Peng, aku meminangmu untuk menjadi istriku bukan atas dorongan emosi yang datang secara tiba-tiba, aku telah berpikir, kita sama-sama senasib sependeritaan, mengapa kita tidak mempersatukan nasib kita menjadi satu?"

"Aku tidak percaya dengan takdir."

"Aku pun tidak percaya, tapi aku hanya mengambil misal saja. Jika nasib kita berdua digabungkan menjadi satu dan ditanggulangi bersama, bukankah hal ini jauh lebih meng-untungkan daripada kita sengsara sendiri? Apa jeleknya?"

Leng Ping-ji benar-benar merasa amat terharu, lama kemudian dia baru berkata.

"Sekarang, lebih baik kita jangan membicarakan persoalan ini lebih dulu. Adik Yan, coba kau ceritakan tentang nona Liong itu, mau bukan?"

Selesai mendengarkan kisah tentang Liong Leng-cu, dengan air mata bercucuran Leng Ping-ji berkata.

"Sungguh tak kusangka nasib nona Liong jauh lebih buruk daripada kita. Aku benar-benar merasa kagum akan kekerasan hatinya! Adik Yan, apa yang kau ucapkan tadi memang betul, daripada me-nanggung derita sendiri-sendiri, lebih baik ditanggulangi bersama-sama, tapi nona Liong lebih membutuhkan keadaan tersebut daripada aku…."

"Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu, aku tak mampu menghilangkan rasa dendam yang mencekam dalam hatinya…."

"Sakit hati generasi yang lalu tidak seharusnya menyulitkan generasi yang mendatang, bila waktu sudah lewat cukup lama, persoalan itu pasti dapat ia pecahkan sendiri." ‘Tapi aku toh tak dapat mencintai setiap orang yang bernasib jelek seperti aku. Aku hanya berharap bisa menjadi teman karibnya, aku pun berharap bisa membantunya agar berkumpul kembali dengan kakeknya. Tapi harapanku hanya terbatas sampai di situ saja."

"Aku ingin bertanya lagi kepadamu, setelah ini kau bermaksud hendak ke mana?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu akan selalu berada bersamamu."

"Untuk sementara waktu kau jangan pergi ke Thian-san lebih dulu. Tapi, apakah kau tak ingin pergi ke Jik-tat-bok untuk menjumpai ayah dan kakakmu?"

Seakan-akan ditusuk dengan jarum, mendadak Nyo Yan berteriak keras.

"Enci Peng, aku tidak menyalahkan dirimu ketika kau membohongi ku dulu, tapi sekarang aku sudah mengetahui asal-usulku sendiri, mengapa kau masih…."

"Benar, Beng tayhiap memang bukan ayahmu, Beng Hoa juga bukan kakak kandungmu, tapi sikap mereka terhadap kau…."

"Enci Peng, mau bukan jangan menyinggung tentang mereka lagi? Aku mempunyai pendapat menurut jalan pemikiranku sendiri,"

Pinta Nyo Yan dengan suara parau.

Leng Ping-ji tidak tahu sampai sejauh manakah Nyo Yan mengetahui tentang asal-usulnya, ia segera berpikir, Terhadap bibinya dia memang tidak mempunyai kesan baik, sekalipun Lak-jiu-Koan-im mengucapkan kata-kata yang tidak meng-untungkan Beng tayhiap, aku rasa dia pun tak akan mempercayai seratus persen.

Sekarang gejolak perasaannya belum mantap, sedang masalah yang menyangkut hubungan keluarga Beng dan keluarga Nyo pun tidak kuketahui dengan amat jelas, lebih baik menunggu sampai ayah angkat pulang saja, biar gihu yang memberitahukan segala sesuatunya itu kepadanya."

Sementara itu Nyo Yan telah berkata lagi.

"Enci Peng, masih adakah pertanyaan yang hendak kau ajukan lagi? Kalau tak ada, sekarang kau harus menjawab pertanyaanku tadi, kau… kau bersedia…."

"Aku tak dapat segera meluluskan permintaanmu itu, kau harus memenuhi dahulu dua buah permintaanku."

"Ooh enci Peng, asal kau bersedia menjadi istriku, jangan toh baru dua hal, sekalipun sepuluh permintaan pun pasti akan kutuluskan."

Leng Ping-ji segera tertawa "Baik, kalau begitumari kita bertepuk tangan mengangkat sumpah, tapi kau tak boleh menyesal!"

Sungguh sulit menyaksikan Leng Ping-ji tertawa secerah ini, kontan saja Nyo Yan menjadi kegirangan setengah mati, sahurnya dengan wajah berseri.

"Ucapan seorang kuncu ibarat bukit karang. Sekalipun adik Yan-mu bukan seorang kuncu sejati, tak nanti aku akan menyesali apa yang telah kukatakan. Enci Peng, katakanlah. Apa saja yang kau katakan pasti akan kuturuti, bila aku sampai melanggar sumpah, biarlah aku…."

Buru-buru Leng Ping-ji menutup mulurnya dengan telapak tangan, lalu tukasnya cepat.

"Asal kau ada niat sungguh-sungguh, aku percaya kau pasti akan menurutinya, bersumpah atau tidak toh sama saja."

Setelah saling bertepuk tangan, Nyo Yan baru berkata kembali, ‘Terima kasih langit terima kasih bumi, akhirnya enci Peng-ku mau percaya juga dengan ketulusan hatiku.

Baik, sekarang katakanlah, apa syaratmu yang pertama?

" ‘Terhitung mulai hari ini, kau harus berpisah selama tujuh tahun denganku."

Mendengar perkataan itu, Nyo Yan menjadi tertegun, kontan saja dia berteriak.

"Apa? Kita harus berpisah selama tujuh tahun lagi? Bara saja bertemu muka, kau suruh aku ‘menunggu selama tujuh tahun lagi?"

"Barusan toh kau bilang tidak akan menyesal?"

"Aku bukan menyesal, aku cuma tidak mengerti kenapa kau harus berbuat demikian?"

Leng Ping-ji segera tertawa.

"Sudah tujuh tahun aku menunggu kedatanganmu sebelum kau kembali, tidak pantaskah bila kau pun harus menunggu kedatanganku selama tujuh tahun pula?"

"Seandainya selama tujuh tahun ini tanpa sengaja kita bersua lagi?"

"Maka kau harus berusaha untuk menghindari diriku, dilarang mengajakku berbicara."

"Apakah sepatah kata pun tak boleh?"

Seru Nyo Yan sambil bermuram durja. Leng Ping-ji segera tertawa "

Aah, kau ini macam anak kecil yang merengek minta gula-gula dari orang dewasa saja, sudah dapat saru minta dua.

Baik anggap saja aku takut kepadamu, aku akan memberi kebebasan kepadamu hanya boleh bicara dua tiga patah kata saja."

"Aku benar-benar merasa berat hati untuk meninggalkan dirimu, cuma kalau toh… hanya dengan cara ini kau bara bersedia kawin denganku, aku terpaksa menuruti perkata-anmu. Aku Nyo Yan bersumpah akan mencari enci Peng tujuh tahun kemudian. Selama tujuh tahun ini bila kebetulan saling berjumpa, aku hanya boleh mengucapkan dua tiga patah kata saja tiap kali bertemu. Enci Peng, kau pun harus berjanji pula kepadaku bahwa tujuh tahun kemudian tak boleh beralasan lain lagi, kamu harus kawin denganku, menjadi istriku."

Merah padam selembar wajah Leng Ping-ji karena jengah, sahutnya kemudian.

"Baik, aku luluskan permintaanmu. Cuma…."

"Masih ada apa lagi?"

Nyo Yan segera melompat sambil berteriak keras. Leng Ping-ji segera tertawa.

"Tak usah gugup dulu, aku tidak menyesal. Cuma kumohon padamu untuk melakukan dengan bersung-guh hati adalahkau harus berpisah selama tujuh tahun denganku, soal lain tiada ikatan bagimu, kau boleh bebas untuk melakukannya. Mengertikah kau maksudku?"

"Aku tidak mengerti."

"Seandainya di dalam tujuh tahun ini kau sudah menemukan kekasih bati yang lain, aku rak akan menyalahkan dirimu."

"Apakah kau inginkan aku mengorek keluar hatiku dan diperlihatkan kepadamu? Mana mungkin aku bisa mencintai orang lain lagi?"

"Aku hanya memberi peringatan kepadamu, toh bukan memaksamu untuk mencintai orang lain."

Nyo Yan tertawa getir.

"Enci Peng, kau betul-betul keji,"

Serunya.

"Dalam tujuh tahun mendatang, entah bagaimana caraku untuk melewatinya, lapi, apa pula syaratmu yang kedua? Kuharap syaratmu jangan keterlaluan lagi seperti syaratmu yang pertama"

"Soal ini, aku percaya kau pasti dapat melakukannya dengan senang hati,"

Ucap Leng Ping-ji sambil tertawa walaupun senyuman menghiasi wajahnya namun sedih dan pedih dalam hatinya, diam-diam ia berpikir.

"Adik Yan, kau anggap aku benar-benar merasa senang berpisah selama tujuh tahun denganmu? Bila aku tidak berbuat demikian, bagaimana mungkin hatimu bisa dibikin tenang? Aku terpaksa harus berbuat begini, karena hanya cara inilah yang bisa kulakukan."

Berpikir begitu, di luaran dia pun berkata.

"Aku minta padamu untuk mencari siluman perempuan kecil itu, juga dalam tujuh tahun."

"Siluman perempuan kecil?"

Tanya Nyo Yan."Maaf,"

Ucap Leng Ping-ji sambil tertawa.

"Lak-jiu-Koan-im berulang kali memaki nona Liong sebagai siluman perempuan kecil, tanpa terasa aku jadi ikut-ikutan memanggil begitu. Cuma, walaupun menjadi siluman perempuan kecil di mulutku, namun dalam hati kecilku dia adalah seorang anak gadis yang baik."

Tak tahan Nyo Yan segera tertawa setelah mendengar perkataan itu, serunya.

"Nona Liong itu jauh lebih sesat daripadaku memang cocok sekali kalau dia dipanggil siluman perempuan kecil. Cuma dia bukan milikku."

"Dia adalah cucu perempuan yaya-mu, sedang yaya-mu adalah tuan penolongmu juga gurumu, apakah dia tak bisa dianggap sebagai salah seorang sanakmu?"

"Ya, soal itu memang harus diakui, lapi dalam had kecilku, aku menganggapnya sebagai seorang adik kecil yang nakal."

"Aku tahu,"

Leng Ping-ji tertawa "Itulah sebabnya, kau si kakak harus pergi mencari si adik sampai ketemu, mengerti?"

Sementara dalam hati kecilnya dia pun merasa geli, pikirnya.

"Tahukah kau, aku pun selalu menganggap kau hanya seorang adik kecilku yang binal?"

"Benar, aku memang punya rencana untuk pergi mencarinya,"

Kata Nyo Yan cepat.

"tapi mengapa pula harus diberi batas waktu selama tujuh tahun? Seandainya setelah tujuh tahun, aku belum juga berhasil menemukan dirinya spa pula yang harus kulakukan?"

"Kalau sampai begitu, maka kau tak usah datang menjumpai diriku lagi…."

"Aah, bukankah ucapanmu sekarang sama artinya mengingkari ucapanmu yang pertama tadi?"

Teriak Nyo Yan cepat-cepat.

"Aku minta kedua macam syarat ini bisa kau selesaikan pada saat yang bersamaan, satu pun tak boleh kurang."

Nyo Yan tertawa getir.

"Kalau begitu, terpaksa aku harus menuruti perkataanmu, siapa suruh aku telah bertepuk tangan denganmu untuk, mengangkat sumpah? Baiklah, tujuh tahun ya tujuh tahun."

Dalam hati dia pun berpikir, dengan adanya waktu selama tujuh tahun, kendatipun dunia ini amat luas, namun ia merasa harapannya untuk bertemu dengan Liong Leng-cu masih tetap besar sekali….

Berpikir begitu, kembali dia berkata.

"Enci Peng, aku telah menyetujui kedua buah permintaanmu itu, bagaimana sekarang?"

"Masih ada ‘bagaimana sekarang* lagi?"

Kata Leng Ping-ji sambil tertawa.

"Tentu saja tidak ada bagaimana-bagaimana! Sekarang, aku hanya meminta kepadamu untuk melaksanakan sumpahmu yang pertama, segera tinggalkan aku."

"Enci Peng, kau boleh pergi dulu. Untuk sementara waktu aku akan tetap tinggal di sini dulu."

"Mengapa?"

"Aku ingin melihat wajahmu beberapa kejap lagi."

Leng Ping-ji merasakan hatinya bergolak keras, dia khawatir Nyo Yan menyaksikan butiran air mata yang membasahi pipinya, tanpa berpaling lagi dia segera membalikkan badan dan berlalu dari sana Dengan termangu-mangu Nyo Yan mengawasi bayangan punggungnya yang makin lama semakinmenjauh dan semakin mengecil sebelum akhirnya lenyap dalam pandangan mata.

"Ooh… enci Peng, mengapa kau begitu tega,"

Gumamnya "Perpisahan ini paling tidak akan bersua kembali tujuh tahun mendatang, mengapa kau tidak berpaling walau hanya memandang sekejap mata kepadaku."

Bagaimana mungkin dia tahu kalau perasaan hati Leng Ping-ji ketika itu sedemikian sedih dan murungnya sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata?

Tujuh tahun, perpisahan selama tujuh tahun siapa yang tahu apa yang bakal terjadi selama masa ini?

Berlalunya sang waktu mungkinkah bisa menawarkan gejolak perasaan dalam dada seorang pemuda?

Ini yang menjadi harapan gadis itu.

"Andaikata adik Yan bisa menemukan kembali nona Liong itu, setelah melalui tujuh tahun yang lama, mungkin dia sendiri pun bakal tertawa geli bila membayangkan kembali kejadian ini, geli atas tingkah lakunya yang kekanak-kanakan,"

Begitulah Leng Ping-ji berpikir.

Benarkah dia berharap demikian?

la tak berani bertanya kepada diri sendiri.

Tapi di kala dia melakukan pengharapan semacam itu, dalam hati kecilnya pun seakan-akan diliputi oleh kebingungan, kebimbangan dan kekosongan.

Tujuh tahun yang dijanjikan sesungguhnya merupakan suatu masa percobaan bagi Nyo Yan, apakah dia berharap setelah tujuh tahun lewat, Nyo Yan akan tetap kembali ke sisi-nya dan menuntutnya untuk memenuhi janjinya itu?

(Sekalipun Leng Ping-ji tidak berharap dia harus menepati janji tersebutiTiada orang tahu, termasuk juga dia sendiri pun tidak tahu.

Tanpa terasa dia sudah turun dari bukit itu, pada saat itulah dia baru berpaling dan menengok sekejap ke belakang.

Walaupun dia tahu tak akan bisa melihat Nyo Yan lagi, tapi bayangan Nyo Yan di dalam hatinya tak pernah lenyap dari benaknya.

Tanpa terasa bayangan tubuh Nyo Yan telah berubah jadi bayangan rubuh dari Beng Hoa.

"Sekarang saatnya pergi mencari Beng toako,"

Dia berpikir di hati.

Nyo Yan pernah berkata, dia tak akan pergi ke Jik-tat-bok untuk menjumpai Beng Goan-cau serta Beng Hoa, maka dari itu dia harus pergi ke sana.

Sekalipun dia tak tahu kalau Nyo Yan berniat hendak membunuh Beng Goan-cau, bahkan tidak tahu kalau Nyo Yan menaruh suatu perasaan dendam yang aneh terhadap Beng Goan-cau, namun paling tidak dia sudah tahu kalau Nyo Yan tidak bersedia mengakui Beng Goan-cau sebagai ayahnya dan mengakui Beng Hoa sebagai kakaknya.

Dia pun tahu kalau Nyo Yan sedang berusaha untuk menghindari mereka.

Ia percaya perasaan hati Nyo Yan ini cukup dipahami olehnya, sekalipun tak dipahami secara keseluruhan.

"Aai… adik Yan, tahukah kau meski Beng Goan-cau bukan ayah kandungmu, tapi dia jauh melebihi ayah kandungmu sendiri. Beng Hoa lebih-lebih merupakan kakak seibu lain ayah yang sangat baik, dia pernah mengembara selama tiga tahun untuk mencari dirimu, rasa sayangnya kepadamu hanya aku seorang yang tahu…."

Dengan membawa hati yang sedih Leng Ping-ji turun dari bukit itu, tanpa terasa dia berjalan menuju ke arah selatan.

Walaupun dia berjalan menuju ke selatan, tapi sorot matanya tanpa terasa dipalingkan ke utara.

Apa yang terbentang di depan mata hanyalah padang rumput yang tak bertepian, tentu saja tidak nampak gunung Thian-san yang jauh nun di ujung langit sana.

Sejak kecil gadis ini memang sudah tak punya rumah.

Thian-san pernah ditinggalinya selama tujuh tahun, sejak semula dia telah menganggap gunung Thian-san merupakan rumahnya yang kedua.

Memandang gunung Thian-san nan jauh di ujung langit, dia merasa pikiran maupun perasaannya berkecamuk tak karuan, seakan-akan buronan yang sedang melarikan diri, seperti juga si pengembara yang tak bertempat tinggal.

Sekalipun dia belum dikeluarkan dari perguruan, namun di atas gunung Thian-san masih terdapat seorang guru yang bagaikan ibu kandung selalu mengharapkan kedatangannya.

Ia tak berani berpikir lebih jauh, entah apa saja yang dikatakan Ciok Cing-swan sekembalinya ke gunung Thian-san?

Tetapi dia dapat menduga, Ciok Cing-swan yang dipotong lidahnya oleh Nyo Yan, sudah pasti akan menggunakan tangan atau cara lain yang bisa dipakai untuk menuturkan semua kejadian yang telah dilakukan olehnya bersama Nyo Yan kepada orang-orang di perguruan, bahkan mungkin juga me-nambahi bumbu dan hasutan.

Terhadap "tuduhan"

Tersebut, Leng Ping-ji merasa tak mampu untuk membantah, dia’pun merasa malu sekali memberikan pembelaannya.Bagi seorang gadis yang tinggi hati seperti dia, lebih baik menghadapi ancaman kematian daripada ditempatkan dalam posisi yang serba rikuh dan memalukan itu.

Maka satu-satunya jalan yang bisa dilakukan sekarang adalah berusaha untuk menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya suasana seperti itu.

Dia segera berpaling dan berangkat ke arah selatan, dia hendak pulang ke Jik-tat-bok.

Selama ini, dia jarang berdiam di Jik-tat-bok tapi Jik-tat-bok-lah yang merupakan "rumah"nya yang sebenarnya.

Di Jik-tat-bok terdapat pamannya Leng Thiat-jiau.

Leng Thiat-j iau adalah komandan pasukan patriot pembela bangsa, dia selalu sibuk dengan urusan perjuangan, amat jarang memperhatikan dirinya, sedang dia semenjak kecil sudah tidak berada bersama pamannya ini lagi, namun dia tahu pamannya itu sangat menyayangi dirinya, dan dia satu-satunya sanak keluarganya yang terdekat.

Di Jik-tat-bok terdapat pula Beng Goan-cau dan Beng Hoa.

Seandainya kata "sanak keluarga"

Tidak dibataskan pada orang-orang yang masih mempunyai hubungan darah dengannya, maka Beng Hoa merupakan "

Sanak keluarganya yang terdekat Selama banyak tahun, dia telah meng-anggapnya sebagai kakak sendiri, kakak yang dicintai dan dihormati. Apalagi dia kakak tiri Nyo Yan.

"Entah mengapa hingga kini Beng toako tak pernah kembali ke Sinkiang lagi? Tapi aku tahu, dia sangat merindukan adik Yan, aku harus menyampaikan kabar tentang ditemukannya kembali adik Yan kepadanya. Sekalipun dalam tujuh tahun mendatang aku harus berusaha keras menghindari adik Yan,tapi toh aku masih dapat berusaha dari samping agar mereka ayah dan anak bisa berkumpul kembali seperti sediakala"

Tentu saja yang dimaksudkan ayah dan anak dalam benaknya sekarang, bukanlah Nyo Bok ayah kandung Nyo Yan, melainkan Beng Goan-cau dengan Nyo Yan.

Padahal, dia seharusnya sudah mesti pulang sedari dulu.

Pada mulanya Teng hujin hanya menerimanya sebagai murid tanpa ikatan, yaitu dia boleh setiap saat kembali ke Jik-tat-bok serta tanpa terikat oleh peraturan perguruan yang begitu banyak.

Waktu itu, pertama karena ia baru saja mengalami musibah dalam bercinta sehingga dia merasa sangat berat hati untuk kembali ke tempat semula, itulah sebabnya dia lebih suka menetap di Thian-san.

Kedua dia harus pergi mencari Nyo Yan, maka akhirnya dia telah meninggalkan Jik-tat-bok selama tujuh tahun lamanya dan secara resmi masuk menjadi anggota perguruan Thian-san-pay.

Menurut peraturan perguruan, dia harus melaporkan kejadian tersebut kepada gurunya atau paling tidak seharusnya mengutus orang untuk menyampaikan surat kepada gurunya Tapi sekarang terpaksa dia harus pulang ke Jik-tat-bok secara diam-diam, terpaksa harus mempertaruhkan kesalahpahaman serta dampratan dari gurunya Setiap kali membayangkan sorot mata penuh kebencian yang terpancar keluar dari mata Ciok Cing-swan, tanpa terasa bulu kuduknya bangun, entah berapa besarkah badai yang bakal ditimbulkan oleh ulahnya itu?Dulu dia meninggalkan Jik-tat-bok juga dikarenakan hendak "menghindarkan diri", sekarang dia kembali ke Jik-tat-bok juga karena hendak menghindarkan diri.

Cuma walaupun ia tak pernah memikirkannya secara seksama, tapi secara lamat-lamat ia dapat merasakan bahwa penghindaran diri yang dilakukannya kali ini bisa dilakukannya di tengah saudara-saudara patriot pembela bangsa yang begitu banyak, dia pun percaya luka dalam hatinya akan semakin cepat menjadi sembuh kembali kalau dibandingkan dengan kejadian yang hampir sama di Thian-san dulu.

Ketika melakukan "penghindaran diri"

Dulu dia tak lebih hanya seorang gadis yang belum mencapai duapuluh tahun, sekalipun tak bisa dikatakan sekuntum bunga yang "halus dan lembut", namun dia juga bukan sekuntum bunga yang tahan diserang hujan badai.

Tapi, setelah melewati pengalaman dan penderitaan selama tujuh tahun, sesudah melewati siksaan dan penderitaan yang penuh kesedihan dia percaya sekalipun dirinya belum berubah menjadi pohon siong di puncak salju, paling tidak ia sudah merupakan sekuntum bunga sakura yang tidak takut hempasan bunga salju.

Tapi Nyo Yan jauh lebih muda darinya sanggupkah dia melawan siksaan di dalam hatinya?

"Adik Yan adalah seorang yang berpandangan sempit, selama aku berada di sisinya, mungkin saja aku dapat melakukan pengawasan yang ketat terhadap dirinya Kini aku telah pergi meninggalkan dirinya, entah ulah apa yang bakal dilakukannya nanti?"

Ia tidak menyesal atas kepu-tusannya untuk meninggalkan Nyo Yan, tapi mau tak mau dia merasa kuatir juga oleh sikap Nyo Yan yang agak berangasan serta berjiwa sempit itu.

0odwo0 Ketika bayangan tubuh dari Leng Ping-ji lenyap dari pandangan mata Nyo Yan bara merasa seakan-akan tersadar kembali dari suaru impian yang aneh, impian burukkah?

Im-pian jelekkah?

Atau suatu impian yang manis, mesra dan hangat?

Semuanya mirip, tapi semuanya juga tidak mirip.

Namun ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya yang "brutal"

Itu, termasuk tindakannya memotong lidah Ciok Cing-swan. Sedang mengenai tekadnya untuk mengawini "enci Peng"

Menjadi istrinya, dia lebih-lebih tak pernah merasa menyesal. Bayangan punggung Leng Ping-ji sudah tak tampak lagi, namun dia masih termenung dengan wajah termangu.

"Enci Peng, aku pasti akan menunggumu sampai datang!"

Walaupun perasaan hatinya jauh berbeda dengan perasaan Leng Ping-ji, tapi toh ada juga satu persamaannya Ketika ia turun dari bukit itu, sedikit banyak toh terlintas juga perasaan "meski jagat amat besar, ke mana aku harus pergi?"

Setelah melalui pemikiran yang teramat masak, Leng Ping-ji dapat menemukan tempat berdiamnya yang tetap, sedang dia belum.

Jik-tat-bok tidak ingin dikunjungi, apalagi gunung Thian-san.

Kalau mengikuti janjinya dengan Leng Ping-ji, dia seharusnya pergi mencari "siluman perempuan kecil"

Itu.

Tetapi dunia begitu luas, dari mana ia tahu Liong Leng-cu berada di mana?

Apalagi toh masih ada waktu selama tujuhtahun, rasanya dia pun tak usah terburu-buru untuk mencarinya.

Cuma setelah teringat akan Liong Leng-cu, mau tak mau dia harus memikirkan kembali "yaya"

Nya yang sudah tujuh tahun hidup bersamanya "Yaya"nya itu sesungguhnya ialah yaya Liong Leng-cu.

"Sayang sekali Liong Leng-cu enggan mengakuinya sebagai yaya-nya aai, bila dia tak bersedia mengakui yaya-nya, terpaksa aku harus menggantikannya Cuma walaupun yaya mencintaiku, toh rasa cintanya kepadaku tak bisa melebihi rasa cintanya kepada cucu perempuannya sendiri.

"Tapi bagaimanapun juga jika dia enggan mengakui yaya-nya maka aku berkewajiban untuk menganggapnya "

Yaya ", tapi dia pun takut untuk pulang dan berjumpa dengan yaya-nya "

Tentu saja aku tak dapat memberitahukan kepada yaya kalau cucu perempuannya begitu membenci dia Kalau aku berbohong?

Sejak turun gunung sampai sekarang baru lewat setengah tahun, jikalau aku begitu cepat sudah pulang, yaya pasti akan menganggap aku segan membantunya dengan sepenuh tenaga Sebaliknya kalau kubuat cerita bohong, mungkinkah ceritaku ini bisa membohonginya?"

Dengan pikiran yang kalut dan perasaan yang kusut dia melanjutkan perjalanannya ke depan.

Tanpa terasa dia pun telah tiba di bawah bukit.

Matahari telah condong di langit barat, senja sudah makin mendekat, seorang diri berdiri di tengah padang rumput yang luas, ia merasa dirinya begitu kecil dan tak berarti.Angin berhembus kencang, di padang rumput yang luas tak terlihat domba dan sapi.

Tidak tampak domba dan sapi, yang tampak justru manusia Sementara dia masih melakukan perjalanannya tanpa mempedulikan keadaan sekeliling tempat itu, mendadak terdengar seseorang membentak keras.

"Binatang cilik, berhenti kau!"

Bentakan tersebut kontan membuat pemuda itu tersadar kembali dari lamunannya Ketika mendongakkan kepalanya Nyo Yan tertegun.

Di hadapan matanya berdiri dua orang yang secara lamat-lamat dikenal olehnya yang seorang adalah murid kedua dari gurunya Teng Keng-thian yang bernama Kam Bu-wi, sedangkan yang lain adalah murid pertama dari supek-nya Ciong Tian yang terkenal bernama Ciok Thiang-hing.

Sedang Ciok Thiang-hing tak lain adalah ayahnya Ciok Cing-swan.

Rupanya Teng Ka-gwan khawatir kalau Lak-jiu-Koan-im benar-benar berhasil menemukan Nyo Yan dan mengajak bocah itu pulang ke Tionggoan, bukan saja hal ini tidak menguntungkan bagi Thian-san-pay, juga membuat mereka tak bisa memberikan pertanggungjawabannya kepada Beng Goan-cau, selain itu dia pun khawatir kalau Ciok Cing-swan tak sanggup menghadapi Lak-jiu-Koan-im.

Ia memang mengerti watak sombong dan takabur dari Ciok Cing-swan, besar kemungkinannya dalam hal pembicaraan akan menyalahi Lak-jiu-Koan-im, padahal Lak jiu-Koan-im adalah seorang yang Lak-jiu (bertangan keji).

Ia tak ingin di dalam masa permulaan menjabat sebagai ciangbunjin terjadi hal-hal yang tak enak.Itulah sebabnya dia lantas mengirim ketiga orang suheng-nya turun gunung guna membantu Ciok Cing-swan bilamana perlu.

Semasa ayahnya Teng Keng-thian, masih menjabat sebagai ciangbunjin, empat orang murid utama dari Thian-san-pay memang sudah termashur dalam dunia persilatan, bahkan jauh di atas namanya sendiri, menurut urutannya keempat orang murid utama Thian-san-pay itu adalah Ciok Thiang-hing, Ting Tiau-bing, Pek Kian-seng dan Kam Bu-wi.

Ciok Thiang-hing serta Ting Tiau-bing adalah murid kesayangan Ciong Tian, supek-nya sedangkan Pek Kian-seng dan Kam Bu-wi adalah adalah murid kesayangan ayahnya atau dengan perkataan lain toa-suheng serta ji-suheng-nya Ke-betulan pada waktu itu Ting Tiau-bing tidak berada di Thian-san karena urusan lain maka dia pun minta tiga orang suheng yang ada di gunung untuk turun dari Thian-san.

Di antara Ciok Thiang-hing dan Kam Bu-wi bertiga, usia Ciok Thiang-hing paling tua sepening-galan Teng Keng-thian, dia telah diangkat menjadi salah seorang tianglo dari Thian-san-pay, berbicara soal kedudukan serta jabatan, boleh dibilang dia paling tinggi, lagi pula dia pun ayahnya Ciok Cing-swan maka di dalam perjalanan "tiga serangkai"

Ini dialah yang bertindak sebagai pemimpin.

Ketika berhasil melacak jejak Lak-jiu-Koan-im, mereka segera menyusul ke tempat kejadian.

Tapi akhirnya kedatangan mereka erlambat sehari, Lak-jiu-Koan-im telah mengajak putranya, Ki Scc-kiat, pulang ke rumah.

Yang membuat mereka mimpi pun tidak menyangka adalah mereka tidak berjumpa dengan Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh, sebaliknya justru bertemu dengan Cing-swan.Ciok Cing-swan memang ditugaskan untuk mengejar Lak-jiu-Koan-im paling dulu, maka seandainya sampai bersua dengannya, pertemuan ini tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang di luar dugaan.

Tapi mereka justru berjumpa dengan Ciok Cing-swan yang lidahnya telah dipotong.

Kenyataan ini bukan saja membuat mereka tertegun karena kaget, bahkan marah sekali.

Jagoan dari manakah yang begitu bernyali, berani menghina dan menganiaya murid Thian-san-pay?

Harus diketahui, menurut peraturan dalam dunia persilatan, membunuh orang tak lebih cuma "kepala menutul tanah" , bila dua orang bertarung, maka terluka atau mati adalah suatu kejadian yang lumrah, walaupun kemungkinan untuk membalas dendam tetap ada, namun hal semacam itu tak akan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau suatu penghinaan.

Berbeda sekali dengan memotong lidah, mengorek mata dan lain sebagainya, hal itu justru akan dianggap lebih menyiksa daripada membunuh orang itu sampai mati, hal itu pun dianggap sebagai suatu penghinaan terhadap perguruan.

Sekalipun Lak-jiu-Koan-im sudah banyak melakukan pembunuhan sepanjang hidupnya, namun selama ini dia belum pernah melakukan perbuatan seperti ini.

Pada mulanya mereka masih mengira perbuatan itu dilakukan oleh Lak-jiu-Koan-im, dengan susah payah akhirnya mereka baru bisa mengetahui "duduk persoalan"

Yang sebenarnya, tentu saja "duduknya persoalan"

Itu bukan diucapkan oleh Ciok Cing-swan, melainkan ditulis dengan tangan.Begitu "duduknya persoalan"

Diketahui, kontan saja mereka menjadi amat gusar. Mimpi pun mereka tidak menyangka kalau "pembunuh"

Yang memotong lidah Ciok Cing-swan.

"iblis"

Yang menghina Thian-san-pay, bukanlah iblis atau siluman dari partai sesat lain, melainkan justru adalah anak murid partai itu sendiri.

Bahkan dia pun bukan murid sembarangan murid, orang itu justru merupakan murid terakhir yang paling disayangi oleh gurunya, dan selama tujuh tahun selalu dirindukan oleh suhu-nya, Nyo Yan.

Seandainya perbuatan tersebut dilakukan oleh partai lain, mungkin mereka tak akan segusar ini.

Berbeda dengan murid partai sendiri, hal itu boleh dibilang merupakan suatu dosa yang tak terampuni, suatu dosa yang harus dijatuhi hukuman dengan peraturan perguruan.

Sambil menghela napas Pek Kian-seng berkata.

"Untung saja suhu sudah tiada semenjak setengah tahun berselang, kalau tidak, entah bagaimanakah gusarnya beliau oleh ulah murid murtad ini…."

"Orang bilang dekat gincu menjadi merah, dekat tinta menjadi hitam,"

Sambung Kam Bu-wi.

"setelah hilang selama tujuh tahun, entah binatang cilik itu sudah berhubungan dengan siluman sesat dari mana?"

Walaupun dia sama-sama mendamprat Nyo Yan, namun nadanya tak sampai sekeras dan sedendam suheng-nya, bahkan secara lamat-lamat masih bernada "membela"

Nyo Yan. Ciok Thiang-hing segera mendengus, katanya.

"Hmm, mungkin bukan cuma berhubungan dengan kaum iblis dan manusia sesat saja! Ayahnya, Nyo Bok, telah menjadipengawal istana bangsa penjajah, sedang dia sudah tujuh tahun hilang, siapa tahu dia telah ke mana saja…?"

Walaupun dia mengatakan "siapa tahu" , tapi maksud dari perkataan itu sudah jelas menaruh curiga kalau Nyo Yan telah melakukan perbuatan yang sealiran dengan ayahnya.

Kam Bu-wi sangat berharap kalau suheng-nya bisa memberikan hukuman yang agak ringan kepada Nyo Yan mengingat mendiang guru mereka dulu.

lapi dalam keadaan amat gusar begini, dia tak berani mengutarakan niatnya itu kepada suheng-nya.

Maka dengan mengikuti nada pembicaraan dari suheng-nya, dia lantas berkata.

"Begitu bapaknya begitu pula anaknya, apa yang diucapkan nabi memang tak salah. Berbicara terus terang saja, sewaktu suhu menerimanya sebagai murid penutup dulu, aku sudah merasa hal ini kurang baik, cuma saja mengingat ayah angkatnya, Miau tayhiap, aku merasa agak enggan untuk mengutarakan hal ini kepada suhu."

"Sekalipun binatang cilik itu bukan kuku garuda, perbuatan yang dilakukannya sudah merupakan suatu perbuatan yang tak bisa diampuni. Persoalan ini memang merupakan persoalan partai, tak bisa kita memberi muka lagi kepada siapa pun"

Kam Bu-wi tak berani banyak berbicara lagi, terpaksa bersama Pek Kian-seng harus menyetujui.

"Ya, tentu saja, bagaimana kita hendak menghukum binatang cilik itu, silakan suheng yang mengambil keputusan."

Ciok Thiang-hing sebagai seorang tianglo berhak mewakili ciangbunjin untuk melakukan pembersihan terhadap perguruan, maka dia memerintahkan Pek Kian-sengmengantar putranya pulang ke Thian-san sambil melaporkan kejadian tersebut kepada ciangbunjin.

Sedangkan dia bersama Kam Bu-wi melakukan pencarian terhadap Nyo Yan.

Walaupun Kam Bu-wi tak ingin menghukum mati Nyo Yan, tapi dia pun merasa amat gusar terhadap dosa yang dilakukan Nyo Yan tersebut.

Cuma kalau dibandingkan Ciok Thiang-hing, dia masih bisa berpikir dengan otak dingin, sepanjang perjalanan dia memikirkan terus persoalan itu, makin dipikir merasa semakin curiga.

Dia tahu kalau Leng Ping-ji telah menolak lamaran dari Ciok Cing-swan, tanpa terasa pikirnya.

"Leng Ping-ji selalu tenang, serius dan dingin, mana mungkin dia bisa melakukan perbuatan yang begitu memalukan dengan Nyo Yan? Siapa tahu kalau Ciok Cing-swan sengaja memutarbalikkan persoalan? Perbuatan Nyo Yan memotong lidahnya meski termasuk suatu dosa besar, tapi dosa tersebut belum sampai seserius itu sehingga harus dijatuhi hukuman mati___"

Dia tak berani mintakan ampun atau mintakan keringanan hukuman bagi Nyo Yan, karena itu dia berharap jangan sampai Nyo Yan ditemukan.

Mereka segera berangkat ke bukit di mana Ciok Cing-swan menemui peristiwa itu.

Umumnya, setelah lewat semalam, Nyo Yan yang sudah melakukan kejahatan pasti sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Oleh karena mereka tidak tahu Nyo Yan telah kabur ke mana, maka mereka memutuskan untuk mencari di tempat kejadian.

Siapa tahu belum sampai di atas bukit, mereka telah berjumpa dengan Nyo Yan.

Mengadili Nyo YanSambil tertawa dingin Ciok Thiang-hing segera berseru.

"Kau binatang cilik yang tak tahu diri, hmm, sekarang baru tahu takut? Kenapa kau awasi aku terus? Hayo cepat bicara, cepat bicara!"

"Ciok susiok, apa yang harus kukatakan?’1 sahut Nyo Yan. Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang sejajar dengan Ciok Thiang-hing, tapi berhubung selisih umur mereka kelewat jauh, bahkan dengan usia putra Ciok Thiang-hing pun selisih banyak, maka sejak kecil ia sudah terbiasa mengikuti Leng Ping-ji yang disebutnya "

Enci"

Itu menyebut Ciok Thiang-hing sebagai "susiok".

Ketua Thian-san-pay yang lampau, Teng Kcng-thian, memang seseorang yang tidak terlalu mempersoalkan sebutan, terhadap panggilan antara angkatan atas dan bawah tidak mengurusinya dengan ketat.

"Siapa yang menjadi susiok-mu?"

Tukas Ciok Thiang-hing semakin gusar.

"Apa yang telah kau lakukan tentunya diketahui olehmu sendiri, sekarang kau masih berani berbicara sambil berdiri di hadapanku? Hmm, hayo berlutut…!"

"Huuuh, kau saja tidak mengakui sebagai cianpwee-ku, mengapa aku harus berlutut di hadapanmu?"

Dengus Nyo Yan dingin. Ciok Thiang-hing betul-betul naik pitam, saking gusarnya sepasang matanya sampai melotot keluar.

"sreeet!"

Ia segera meloloskan pedangnya sambil membentak.

"Binatang cilik, kau… kau… kubunuh dirimu!" . Kam Bu-wi yang berada di sisinya buru-buru mencegah, katanya.

"Suheng, sejak partai kita didirikan, belum pernah kita jumpai murid murtad seperti ini, jika sekait tusuk saja kita habisi jiwanya, hal ini terlalu keenakan baginya. Membersihkanperguruan dari kaum durhaka memang masalah besar, menurut pendapat siaute, lebih baik kita gunakan cara Thian-san-pay kita untuk mencari penyelesaian. Harap suheng jangan marah dulu, biar siaute mengadili dirinya."

"Baik, adili dia, tanyakan kepadanya mengaku tidak akan dosa-dosanya?"

Seru Ciok Thiang-hing.

"Dosa apakah yang telah kulakukan?"

Seru Nyo Yan cepat. Kam Bu-wi menatapnya sekejap, kemudian bertanya.

"Kaukah yang memotong lidah Ciok Cing-swan?"

"Benar, akulah yang memotongnya!"

Tanpa terasa paras muka Kam Bu-wi agak berubah juga, dia segera membentak keras.

"Mengapa kau turun tangan sekeji itu terhadap sesama anggota perguruan…?"

"Hcacch… heeceehh. hceeeehh, siapa suruh dia berani menghina enci Peng?"

Sahut Nyo Yan sambil tertawa dingin.

"Seandainya tidak melihat wajah enci Peng, mungkin dia sudah mampus sedari tadi dan tak mampu pulang lagi untuk mengoceh yang bukan-bukan kepada kalian."

Ciok Thiang-hing yang mendengar perkataan itu segera mencak-mencak gusar, bentaknya.

"Siapa yang telah menghina dan membuat malu Leng Ping-ji? Hmm, tak nyana kau masih punya muka untuk berbicara sembarangan di hadapanku!"

Dia telah salah mengartikan kata "menghina dan membuat malu"

Tersebut Terdengar ia mendamprat lebih jauh.

"Leng Ping-ji menyayangi dirimu sebagai adik sendiri, siapa tahu kau binatang terkutuk yang melebihi binatang terendah, berani melakukan perbuatan tak senonoh terhadapnya, tampaknya sekalipun dia rendah dan tak tahu malu, tak akan sampaibegitu tak tahu malunya, pasti kau si binatang cilik yang telah menggunakan suatu cara untuk menghilangkan kesadarannya Baik, Kam sute, setelah binatang cilik ini mengakui kalau sudah melakukan perbuatan brutalnya itu, punahkan dulu ilmu silatnya!"

Nyo Yan yang berulang kali didamprat dan dicaci maki, lama-kelamaan amarahnya berkobar juga, tiba-tiba dia membentak keras.

"Ciok Thiang-hing, mulut kotor dan bau! Kalau toh tidak kau akui diriku sebagai sute-mu lagi, aku pun tak akan sungkan-sungkan lagi kepadamu, kini kau selain memaki aku juga memaki enci Peng-ku, aku akan me-nyuruhmu minta maaf dulu kepadaku!"

Baru saja perkataan terakhir diutarakan, tampak cahaya tajam berkelebatan menyilaukan mata, sebilah pedang telah melintang di depannya.

Cuma yang mencabut pedang sambil menusuknya bukan Ciok Thiang-hing, melainkan Kam Bu-wi.

Ternyata Kam Bu-wi tahu kalau suheng-nya pasti tidak akan tahan, maka dia berebut turun tangan lebih dulu dengan harapan bisa menyelamatkan selembar jiwa Nyo Yan.

Tusukan pedang itu ditujukan ke arah jalan darah kaku di tubuh Nyo Yan, jurus serangannya selain mantap, tenaga serangan yang disalurkan ke ujung pedangnya sangat hebat Ia berdiri sambil membelakangi Ciok Thiang-hing, oleh karena itu Ciok Thiang-hing tak dapat melibat ke arahnya Ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan ketika itu sudah berada di atas ilmu silat kedua suheng-nya, sekilas pandang saja ia sudah melihat apa yang terjadi.‘Tampaknya Kam suheng masih menaruh beberapa bagian perasaan kepadaku, aku tidak boleh menyusahkan dia."

Demikian pikirnya Dengan cepat ia pun menggeser langkahnya sambil berganti posisi, kemudian mengibas ujung pedang tersebut.

Tindakannya itu sama sekali di luar dugaan Kam Bu-wi, segera pikirnya di hati.

"Jangan-jangan selama tujuh tahun ini dia telah menemukan suatu penemuan aneh? Hembusan angin yang terbawa dalam kibasannya ini memiliki tenaga yang melebihi kekuatan anggota biasa yang telah berlatih puluhan tahun."

Ia masih belum tahu kalau kibasan tersebut dilakukan dengan tenaga amat kecil coba kalau menggunakan sepenuh tenaga, mungkin pedangnya sudah terlepas dari cekalan.

Tapi dengan melesetnya pukulan tersebut dari jalan darah Nyo Yan, hatinya merasa semakin cemas, dia khawatir jika dirinya tak sanggup menaklukkan Nyo Yan, niscaya Ciok Thiang-hing bakal turun tangan sendiri.

Walaupun menurut peraturan perguruan untuk menjatuhkan sesuatu hukuman terhadap seorang murid yang melanggar harus dilakukan dalam suatu pertemuan besar perguruan, tapi Ciok Thiang-hing sebagai seorang tianglo berhak juga untuk menjatuhi hukuman mati kepada murid yang bersalah bilamana keadaan memerlukan.

Jika Ciok Thiang-hing sampai melancarkan serangan dalam keadaan gusar, bukankah selembar nyawa Nyo Yan bakal lenyap?

Buru-buru dia mengerlingkan matanya ke arah Nyo Yan sambil memberi tanda rahasia, kemudian tubuhnya menerjang ke muka seraya membentak nyaring.

"Kau… kau hendakmemberontak? Kau tahu apa dosa seseorang yang berani berkhianat kepada perguruan? Kuanjurkan kepadamu lebih baik cepatlah mengaku dosa dan mengikuti kami pulang ke Thian-san. Kalau tidak, mungkin bukan cuma namamu saja yang rusak, bahkan badanmu pun akan hancur binasai"

Nyo Yan cukupmengetahui akan "maksud baik"

Dari Kam Bu-wi, tapi bagaimanapun juga tentu saja dia tak akan membiarkan ilmu silatnya dipunahkan orang, selain itu dia pun merasa masih merasa dongkol atas dampratan-dampratan yang ditujukan Ciok Thiang-hing kepadanya Dalam keadaan gusar, tanpa memikirkan bagaimanakah akibatnya lagi, sambil tertawa dingin dia berseru.

"Suhu-ku sudah meninggal dunia, sekalipun tidak menjadi murid Thian-san-pay juga tak mengapa!"

Begini ucapan tersebut diutarakan, Kam Bu-wi yang sebenarnya bermaksud untuk "membela"

Dia pun menjadi turut naik darah, dengan gusar dia membentak.

"Nyo Yan, kau… kau benar-benar hendak mengkhianati perguruan?"

Serangan yang kemudian dilancarkan sama sekali tidak kenal ampun, yang digunakan untuk melancarkan serangan juga salah satu jurus mematikan dari ilmu pedang Tui-hong-kiam Hawa muminya disalurkan ke ujung pedang, dalam satu gerakan saja ia sudah melancarkan serangkaian ancaman ke atas tujuh buah jalan darah penting di tubuh anak muda itu.

Jurus serangan dari ilmu pedang Tui-hong-kiam mengutamakan kecepatan gerak, walaupun secara beruntun Nyo Yan telah mempergunakan tiga macam gerakan untuk menghindarkan diri, namun dia belum berhasil juga untuk meloloskan diri dari ancaman.

"Sreeeet…!"

Tahu-tahu ujung baju Nyo Yan telah ditembusi oleh ujung pedang lawan.

Coba kalau selisih sedikit saja, niscaya jalan darah Tiong-boan-hiat di antara tulang lututnya sudah ditembusi.

Jalan darah Tiong-boan-hiat merupakan pertemuan antara urat syaraf Sau-yang-keng-meh dengan urat syaraf yang mempengaruhi gerakan di seluruh kaki, bila jalan darah mi tertusuk, maka ilmu silatnya paling tidak akan punah separuh bagian.

Nyo Ya n tahu kalau dia tak mungkin bisa menghadapi ilmu pedang Tui-hong-kiam dari Kam Bu-wi dengan tangan kosong belaka, terpaksa dia pun mencabut keluar pedangnya dan… "Traaang!"

Ia tangkis datangnya tusukan pedang dari Kam Bu-wi. Dalam keadaan begini, Kam Bu-wi merasa sedih bercampur gusar, segera bentaknya lagi.

"Baik, aku ingin tahu selama tujuh tahun ini ilmu pedang macam apakah yang sempat kau pelajari sehingga begitu berani mengkhianati perguruan sendiri!"

Dengan jurus Soat-hoa-lak-jut (Bunga Salju Memancar dari Enam Penjuru) ia menyerang anak muda itu, di antara ayunan pedangnya lamat-lamat terdengar suara deru ari angin yang disertai hawa pedang sedingin salju.

Nyo Yan yang melintangkan pedangnya sambil menangkis.

"Trifing… uang…"

Benturan nyaring bergema tiada hentinya. Lamat-lamat Kam Bu-wi merasakan pergelangan tangannya menjadi sakit dan kesemutan, diam-diam ia menjadi terperanjat, pikirnya.

"ilmu pedang yang dimiliki bocah muda ini, selain sangat lihay, ternyata tenaga dalamnya juga amat hebat!"

Baca Juga: Dua Musuh Turunan 13

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 18

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger