Eps 4 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
Sementara itu panah ketiga telah meluncur datang dengan kecepatan tinggi….Kini Auwyang Toan sudah terlukai dia tak sanggup melepaskan pukulan udara kosong lagi, sekalipun dapat, dia yakin bidikan itu sukar ditahan.
Tanpa terasa dia menarik napas dingin, pekiknya di hari.
"Mati aku kali ini!"
Terpaksa dia hanya berharap agar bidikan tersebut jangan sampai mengenai bagian yang mematikan di tubuhnya.
Tapi anehnya, sewaktu dia sedang bergidik dengan ketakutan, terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, ternyata panah itu hanya menyambar melewati atas bahu kirinya tanpa melukai tubuhnya sedikit pun juga Dengan ilmu panah Lohay yang begitu sakti, dia mengira bidikan tersebut pasti akan mengenai sasarannya.
Sesungguhnya tiga batang panah itu dapat mengenai tubuhnya semua, kini hanya sebatang saja yang bersarang di tubuhnya, itu pun tidak mengenai tempat yang mematikan, bagaimanapun juga, hal itu sudah merupakan suatu "keberuntungan"
Di balik ketidakberuntungan.
Dalam waktu singkat, Auwyang Toan benar-benar merasa seperti baru saja lolos dari kematian.
Dia khawatir bidikan berantai dari Lohay akan dibidikkan kembali, buru-buru dia menahan rasa sakit yang luar biasa dan menyemplak kudanya keras-keras untuk kabur dari sini.
Mengapa ketiga batang anak panah yang dilepaskan Lohay bisa meleset dari sasarannya?
Ternyata bukan bidikan Lohay yang tidak mengenai sasarannya, melainkan karena ada orang yang secara diam-diam telah menolong Auwyang Toan.Orang yang telah membantu Auwyang Toan secara diam-dia’ ini bukan saja tak disangka oleh Auwyang Toan, bahkan Lohay dan Nyo Yan sekalian pun tak pernah menduganya.
Ternyata orang itu tak lain adalah si nona yang baru saja menempeleng wajah Auwyang Toan.
Tatkala panah ketiga yang dilancarkan Lohay melesat ke depan, dia segera mengibaskan ujung bajunya ke depan.
Termakan oleh kibasannya tersebut, Lohay segera merasakan cekatannya pada busur berpegas tinggi itu menjadi tidak mantap, otomatis sasaran bidikan pun menjadi meleset.
Dalam sekejap mata Auwyang Toan sudah melarikan diri hingga lenyap tak berbekas….
Sebaliknya Lohay berdiri tertegun dengan wajah kaget bercampur tercengang, dia hanya bisa mengawasi tanpa berkedip, untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Tampaknya gadis itu dapat menduga apa yang sedang dipikirkan olehnya, dengan suara dingin katanya.
"Aku telah memberi tempelengan yang cukup keras kepadanya, bagaimanapun juga, kau mesti mengampuninya!"
Didengar dari perkataan tadi akan-akan dia menegur Lohay yang telah membuatnya harus mengingkari janji. Lomana menahan diri, lalu berkata.
"Dia adalah siluman yang mencelakai diriku. Nona, kau bisa saja mengampuninya, tapi kami benar-benar tak dapat mengampuni manusia semacam itu."
Nona itu berkata lagi dengan suara yang tetap dingin seperti es.
"Itu urusan kalian, aku tak mau tahu. Kalau kalian punya kepandaian, cari saja dirinya di kemudian hari dan buatlah perhitungan dengannya!"
Kena batunya, Lohay dan Lomana menjadi termangu, namun bagaimanapun juga nona ini telah menyelamatkan jiwa mereka, terpaksa mereka pun maju untuk menyampaikan rasa terima kasih.
Mendadak gadis itu berkata.
"Tahukah kau, kenapa aku membantu kalian?"
"Siluman itu sudah banyak melakukan kejahatan, tentunya nona sudah mengetahui akan hal ini,"
Sahut Lomana. Gadis itu segera menggeleng.
"Aku sama sekali tidak tahu siapakah orang itu,"
Luarnya.
"Kalau begitu kau adalah seorang pendekar yang kebetulan lewat dan membantu setelah melihat kejadian yang tak adil? Aku tahu kejadian semacam ini sermg terjadi, yang terbatas, kami tetap amat berterima kasih sekali kepadamu."
Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Aku bukan seorang pendekar, aku hanya seorang manusia yang melakukan apa yang aku senangi, aku sama sekali tidak merasa kalau perbuatan yang kulakukan pada malam ini merupakan suatu perbuatan yang sudah seharusnya kulakukan."
"Lantas karena apa?"
Tak tahan Lomana segera bertanya. Gadis itu tersenyum.
"Enci Lomana, sudah lama kudengar kalau kau disebut orang sebagai perempuan tercantik di wila-yah Sinkiang, maka aku sengaja datang kemari untuk membuktikannya. Kalau kau sampai dicelakai oleh siluman itu, mana mungkin aku dapat melihat jelas raut wajahmu?"
Selama hidup, Lomana memang sudah terbiasa dipuji-puji orang, maka dari itu meski dia merasa agak istimewa setelahmendengar ucapan dari gadis tersebut, dia pun tidak terlampau heran.
Sambil tertawa, katanya kemudian.
"Nona, kau tak usah sungkan-sungkan. Kau pun cantik sekali. Terus terang saja, aku selalu menganggap diri ku jelek, apa lagi setelah bertemu dengan dirimu, aku semakin merasa diriku jelek. A ah, benar, nona, kami masih belum menanyakan namamu."
Untuk ketiga kalinya nona ini menggelengkan kepalanya berulang kali, dia sama sekali tidak menyebutkan namanya sebaliknya malah berkata dengan dingin.
"Kau tidak jujur, perkataanmu barusan hanya mengumpak diriku. Aku tidak suka kalau kau berbohong untuk menipu aku. Bila harus berbicara sejujurnya, maka kata ‘jelek’ tersebut seharusnya ditujukan untuk diriku."
Untuk kedua kalinya Lomana kena batunya, kembali ia tertegun dan tak tahu apa yang mesti dikatakan.
Dia merasa tak dapat mengumpak gadis itu, tentu saja dia pun merasa rikuh untuk memuji kecantikan sendiri,maka pikirnya di dalam hati.
"Wajah manusia dibawa semenjak dilahirkan orangtuanya, cantik atau tidak cantik toh bukan suatu masalah yang penting, buat apa mesti diributkan?"
Ini adalah jalan pemikirannya, tapi berbeda dengan jalan pemikiran gadis ini. Ketika dilihatnya Lomana tidak menjawab, tiba-tiba ujarnya lagi sambil tersenyum.
"Lomana, kau tahu sewaktu aku datang melihatmu tadi, apa yang kupikirkan dalam hati?"
Lomana tertegun, lalu sahutnya.
"Apa yang kau pikirkan, dari mana aku bisa tahu?"
"Baik, kalau kau tidak tahu maka akan kukatakan kepadamu. Terus terang saja, aku pun seorang gadis yang amat membanggakan kecantikan wajahku. Aku sedang berpikir tadi, seandainya Lomana benar-benar berparas lebih cantik dari diriku, maka aku akan menusuknya sampai mati!"
Ucapan tersebut benar-benar ibarat guntur di tengah hari bolong, begini ucapan tersebut diucapkan, Lohay, Lomana, Nyo Yan maupun Santala sekalian menjadi amat terperanjat.
Setelah tertawa, gadis ini kembali melanjutkan.
"Ternyata nama besarmu memang bukan kosong belaka, wajahmu memang jauh lebih cantik daripada yang kubayangkan. Sebetulnya aku hendak membunuhmu, tapi wajahmu itu membuat hatiku menjadi iba, oleh karena itu kau tak usah takut sekarang, karena kini aku tak ingin membunuh dirimu lagi."
Lomana segera menghembuskan napas lega, bisiknya cepat-cepat, ‘Terima kasih banyak nona!"
Siapa tahu kembali gadis itu tertawa cekikikan, katanya lebih lanjut.
"Tapi, apa yang telah kukatakan selamanya pasti akan kulaksanakan pula, walaupun wajahmu terlampau cantik sehingga menimbulkan rasa iba dalam hatiku, dan membuat aku tak tega untuk turun tangan, tetapi… kendati aku tak akan memenggal kepalamu, paling tidak kau harus meninggalkan semacam tanda sebagai kenang-kenangan."
Sudah seharusnya kubalas budi kebaikanmu itu,"
Buru-buru Lomana menjawab.
"Enci, apa yang kau kehendaki? Pasti akan kuberikan kepadamu asal bisa."
"Tak usah kau yang memberi, biar aku saja yang mengambilnya sendiri…"
Begitu selesai berkata, tampak cahaya putih berkelebat lewat, segenggam rambut Lomana tahu-tahu sudah ditebas olehnya.
Tindakan yang dilakukan amat tiba-tiba ini mengejutkan Salam yang sedang berbaring di tanah, dengan cepat ia melompat bangun.
"Perempuan siluman, jangan…"
Dia mengira perempuan itu hendak mencelakai Lomana, tapi belum sampai ucapan tersebut dilanjutkan, nona itu sudah menyarungkan kembali pedangnya.
Salam baru tahu kalau nonanya tak terluka, hanya kehilangan segenggam rambutnya belaka.
Sambil tertawa gadis itu berkata lagi.
"Aku hanya menirukan cara Cho Cho, memotong rambut sebagai pengganti batok kepala. Cuma kalau dia memotong rambut sendiri maka sekarang aku memotong rambutmu. Enci Lomana, tentunya kau tidak merasa sayang bukan dengan segenggam rambutmu ini?"
Rasa kaget dan ketakutan yang menyelimuti perasaan Lomana belum sirap, tentu saja (ha tak sanggup mengucapkan sepatah kata pula ua….
Salam yang diliputi ketegangan berdiri kaku di tempat, tapi begitu menghembuskan napas lega, tanpa terasa dia terkapar kembali ke atas tanah.
Diam-diam ia agak menyesal juga karena telah memaki gadis itu sebagai "siluman perempuan".
Tiba-tiba gadis itu berjalan mendekatinya, kemudian secara tiba-tiba melepaskan sebuah tendangan.
Dalam kagetnya buru-buru Salam menggelinding ke samping dengan gerakan Keledai Malas Menggelinding,sekalipun demikian toh badannya kena ditendang juga oleh ujung kaki lawan.
Salam mengira nona itu hendak membunuhnya untuk membalas makiannya tadi, siapa tahu ketika ujung kaki nona itu menyentuh tubuhnya, ternyata sana sekali tidak disertai tenaga, bahkan segera ditarik lagi.
Sebagai seorang ahli silat, Salam segera tahu kalau ujung kaki nona itu sedang menyentuh jalan darahnya, bila tendangan itu disertai dengan sedikit tenaga saja, niscaya jiwanya akan melayang, tentu saja dia pun tahu kalau nona itu telah mengampuni selembar jiwanya.
Terdengar gadis itu berkata sambil tertawa bergelak.
"Ilmu silatmu lumayan juga, sudah terluka oleh pukulan Lui-sin-ciang orang tadi?"
Salam baru mengerti kalau nona itu hanya ingin mencoba apakah dia benar-benar terluka atau tidak, setelah mendengar pertanyaan itu, dia segera mengangguk.
"Benar!"
"Aku telah membuatmu terperanjat, maka sudah sepantasnya pula kalau memberi ganti rugi untukmu. Nah, di sini ada sebutir pil yang dapat menyembuhkan luka Lui-sin-ciang, cepat telanlah!"
Salam percaya penuh pada gadis itu, dia tahu seandainya gadis tersebut ingin membunuhnya, hal itu bisa dilakukan dengan mudah, maka mustahil pil yang diberikan kepadanya itu beracun.
Tanpa berpikir panjang lagi dia terima pil itu dan ditelannya, tak lama kemudian dia merasakan sekujur badannya menjadi segar sekali.
Walaupun tenaganya belum pulih kembali, namun sudah dapat berdiri.Sementara itu fajar sudah mulai menyingsing di uruk timur, mendadak nona itu menyaksikan Nyo Yan tergeletak di tanah, sambil menuding ke arahnya dia lantas menegur.
"Bocah yang kotor itu tampaknya bukan anggota rombongan kalian, siapakah dia?"
"Aku adalah seorang pengemis,"
Jawab Nyo Yan cepat-cepat.
"Ooh… kau adalah seorang pengemis? Kenapa kau melakukan perjalanan bersama dia?"
Lohay khawatir menderita kerugian di tangan gadis ini, maka cepat-cepat ia turut berbohong.
"Aku menyaksikan dia tergeletak di jalan, maka kusuruh dia masuk ke dalam tenda kami untuk menghangatkan badan. Sudah beberapa hari dia tidak makan, saking laparnya sampai tak mampu untuk berjalan lagi…."
"Ooh, kiranya begitu. Kasihan benar nasibnya. Dengan adanya kau seorang dermawan, rasanya aku pun tak usah membantunya lagi. Maaf, aku harus pergi sekarang!"
Semenjak tadi, semua orang memang berharap "siluman perempuan"
Yang senang gusar tak menentu itu cepat-cepat pergi dari sana, maka tak seorang pun yang berani menahan.
Dalam waktu singkat, gadis itu sudah lenyap tak berbekas.
Menanti gadis itu sudah hilang dari pandangan mata, Santaia baru menghembuskan napas panjang, katanya.
"Nona itu aneh sekali, entah dia berasal dari golongan sesat atau lurus? Lomana, tadi, aku benar-benar merasa khawatir sekali pada keselamatan jiwamu!"
"Pada mulanya aku mengira dia adalah enci Leng, ternyata aku salah. Walaupun dia bukan enci Leng, tak kusangka kalauilmu silatnya jauh lebih hebat dari enci Leng, bagaimanapun juga, dia toh terhitung pula tuan penolong kita."
"Tentu saja kita harus berterima kasih kepadanya. Cuma, sekalipun ilmu silatnya amat lihay, tak mungkin gadis itu bisa menandingi enci Leng sebagai seorang pendekar dari Thian-san-pay? "
Tentu saja. Enci Leng adalah seorang pendekar sejati, sedangkan perempuan tadi, lurus atau sesatnya masih belum bisa kupastikan! "
Tiba-tiba Nyo Yan ikut menimbrung.
"Yang kalian maksudkan apakah Leng Ping-ji pendekar wanita dari Thian-san-pay?"
"Kau juga tahu Leng lihiap?"
Tanya Lomana tercengang.
"Sejak melangkah ke dalam wilayah Sinkiang aku sudah mendengar banyak penggembala yang membicarakan dia…."
Selama beberapa tahun ini Leng Ping-ji mengembara di wilayah Sinkiang, di mana saja dia membantu para penggembala yang sedang kesulitan.
Maka setelah mendengar perkataan dari Nyo Yan ini, semua orang tidak heran.
Kembali Nyo Yan bertanya.
"Tentunya kalian juga kenal dengan Teng Keng-thian, Teng tayhiap ketua dari Thian-san-pay? Walaupun aku ini bukan orang persilatan, namun sewaktu masih berada di daratan Tionggoan dulu, sering namanya disebut orang, konon dia merupakan seorang tayhiap yang berilmu paling tinggi dalam dunia persilatan dewasa ini?"
"Kami pernah tinggal di Thtan-san, beruntung wajah Teng tayhiap pernah kami jumpai,"
Sahut Santala.
"cuma Tengtayhiap telah meninggal dunia pada setengah tahun ber selang."
Mendengar berita itu, Nyo Yan merasa sedih sekali, tanpa terasa ia menjerit tertahan.
"Aah…! Teng tayhiap telah meninggal dunia?"
Mendadak dia teringat kalau asal-usulnya tak boleh sampai ketahuan mereka, maka buru-buru dia menambahkan.
"Orang yang begitu saleh dan baik, kenapa harus mati secepat ini? Sungguh sayang…."
Setelah mendengar berita kema-tian gurunya yang pertama, rasa sedih segera mencekam perasaan pemuda itu, membuat pikirannya menjadi kosong….
Lohay sendiri walaupun merasa agak heran ketika Nyo Yan mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pertarungan sengit yang barusan ber-langsung, namun dia mengira kalau hal dikarenakan rasa kagumnya terhadap pendekar besar itu, maka dia pun hanya berdiam diri belaka, tentu saja tak pernah disangka olehnya kalau pemuda itu sebenarnya adalah murid terakhir Teng Keng-thian.
Setelah hening sesaat, dia baru berkata, ‘Teng lociangbun meninggal dalam usia tujuhpuluh tahun lebih, tak bisa dibilang dia mati muda."
Nyo Yan memang sengaja berbicara salah agar mereka tidak menaruh curiga kepadanya. Santala yang menyaksikan Salam masih terluka, agaknya tak ingin banyak berbicara lagi, dia lantas berkata.
"Sekarang fajar sudah hampir menyingsing, kita harus segera me-lanjutkan perjalanan."
Lohay tampak agak sangsi, dia lantas menengok ke arah Nyo Yan sekejap. Dengan cepat Nyo Yan berkata.
"Atas bantuan kalian semua, kini aku merasa jauh lebih baikan. Harap kalian tak usah mengkhawatirkan diriku, aku tak lebih cuma seorang pengemis, sekalipun para perampok datang lagi juga tak sampai mengancam keselamatan jiwaku. Lebih baik kalian segera meninggalkan tempat ini…."
Yang dikhawatirkan Lohay memang persoalan ini, sebenarnya dia hendak membawa serta Nyo Yan, akan tetapi setelah Salam terluka, tak mungkin lagi baginya untuk mengurusi dua orang penderita, lagi pula kuda yang mereka bawa tidak banyak.
Tapi dia sudah terlanjur berbicara, bila Nyo Yan ditinggalkan begitu saja, berarti dia telah mengingkari janji sendiri.
Setelah mendengar perkataan Nyo Yan itu, agak berkurang perasaan ragu Lohay, dengan nada minta maaf dia lantas berkata.
"Aku pun tidak menyangka bakal menjumpai musibah yang sama sekali di luar dugaan ini, baik-baiklah merawat lukamu di sini, bila sudah baik nanti datang saja mencari kami. Nah, beberapa tahi! perak ini harap kau terima untuk digunakan."
Dia lantas meninggalkan beberapa keping uang perak dan sebungkus ransum kering untuk Nyo Yan.
Sementara itu Salam telah mencoba meluruskan otot kaki dan tangannya, kini tenaganya sudah pulih beberapa bagian dan secara paksa masih bisa menunggang kuda, cuma kalau dia disuruh naik kuda bersama Nyo Yan, hal tersebut masih tak sanggup dilakukan.Sambil naik ke atas punggung kudanya, dia berkata.
"Saudara cilik, bila sudah sembuh jangan lupa datang mencari kami. Datang saja ke benteng utama Lor Anki, asal bertanya kepada orang di manakah tempat tinggal kelo, dengan cepat mereka akan mengantarmu ke sana."
Nyo Yan berpura-pura terkejut, lalu serunya.
"Jadi kalian… kalian adalah…."
Sambil tersenyum Lomana berkata.
"Ayahku adalah kelo dari suku Wana!"
Nyo Yan segera menunjukkan sikap gugup dan gelagapan, katanya dengan cepat.
"Rupanya inkong (tuan penolong) adalah kelo, harap kau suka memaafkan ketidaktahuan siaujin."
"Kelo tak ada bedanya dengan manusia biasa,"
Kata Lohay sambil tertawa.
"aku menyesal sekali tak dapat memberikan pertolongan kepadamu sampai selesai, soal pemberianku ini harap kau jangan pikirkan di dalam hati."
Menanti Lohay sekalian telah pergi, Nyo Yan melanjutkan kembali semadinya untuk mengatur pemapasan, dengan cepat hawa mumi telah mengelilingi seluruh tubuhnya Setelah menelan separuh butir pil Pek-leng-wan pemberian dari Lomana tadi, racun dalam tubuhnya sudah punah separuh, tak sampai satu jam ia bersemadi, peredaran darahnya pulih kembali, tinggal nadi Jin dan nadi Tok yang belum lagi tembus.
Pada saat itulah terdengar derap kaki kuda ramai berkumandang datang dari kejauhan sana Nyo Yan terperanjat, segera pikirnya.
"Jangan-jangan Auwyang Toan balik kembali?"
Perlu diketahui, walaupun saat itu kesehatan badannya telah pulih kembali tujuh delapan bagian, tapi berhubung kedelapan nadi pentingnya belum tembus, dia masih belum dapat bertarung menggunakan tenaga dalam.
Seandainya dia memaksakan diri untuk bertarung, akibatnya semua usahanya selama ini akan gagal, kendatipun berhasil merobohkan lawan, dia sendiri pun akan menjadi setengah lumpuh.
Cepat benar lari kuda itu, dalam waktu singkat dia telah tiba di hadapannya Yang datang bukan Auwyang Toan, melainkan gadis yang baru dua jam berselang pergi meninggalkan mereka itu.
Nyo Yan khawatir kalau dia mengetahui bahwa dirinya sedang bersemadi, buru-buru kakinya diluruskan ke depan dan berlagak malas-malasan, sambil bersandar pada batu, dia memakan ransum kering.
Gadis itu menatapnya lekat-lekat, mendadak dia berkata.
"Di hadapanku lebih baik tak usah berbohong, sesungguhnya siapakah kau?."
"Bukankah telah kukatakan kepadamu? Aku hanya seorang pengemis cilik,..!"
"Kau hanya seorang pengemis?"
Kata nona itu ketus.
"Aku lihat kau si pengemis agak mencurigakan."
"Nona jangan bergurau, aku benar-benar hanya seorang pengemis yang hanya bisa meminta-minta apa anehnya? Kembali gadis itu mendengus dingin.
"Hmm…! Aku lihat kau adalah seorang manusia yang sengaja menyembunyikan kepandaian!"
"Nona, apa itu orang sungguhan orang gadungan? Aku tidak memahami maksudmu!"
"Kau tidak paham? Kalau begitu aku ingin bertanya, siapa yang berhasil melukai penjahat yang bisa menggunakan kui-suciang itu…?"
"Aku hanya melihat kau menempelengnya, sebelum kau datang beberapa orang suku Wana itu tak ada yang mampu menandinginya. Benarkah dia sudah terluka lebih dulu?"
Sementara dalam hati kecilnya dia berpikir.
"Masa sepasang matanya begitu lihay. Diam-diam aku telah melepaskan serangan dengan Thian-san-sin-bong yang sangat kecil, bersembunyi seratus langkah di balik semak belukar, masa semuanya itu bisa dia saksikan dengan jelas?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, terdengar gadis itu berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Kau sedang berlagak pilon rupanya, semalam hanya beberapa gelintir manusia saja yang hadir di sini, aku telah memeriksa satu per satu dan tahu kalau itu bukan perbuatan mereka, kalau bukan kau siapa lagi?"
Ternyata setelah gadis itu menempeleng Auwyang Toan, mendadak ia jumpai gerak-gerik orang itu sudah tidak gesit lagi, jelas bagian kakinya telah menderita luka Kalau bukan demikian, kendatipun Auwyang Toan bukan tandingannya, keempat tempelengannya itu pun tak mungkin bisa dilakukan dengan lancar.
Pada mulanya dia masih mencurigai Salam, tapi setelah mencoba kepandaian yang dimiliki orang itu, dia segera tahu, walaupun kungfu yang dimiliki Salam lumayan, ia masih belum mampu melukai Auwyang Toan.
Cuma waktu itu dia belum mencurigai Nyo Yan.Setelah melakukan perjalanan, ia merasa makin lama semakin curiga, sehingga akhirnya dia tak tahan dan segera balik kembali ke situ untuk memeriksa Nyo Yan.
Pakaian yang dikenakan Nyo Yan compang-camping dan kotor, apalagi setelah terluka, wajahnya berubah menjadi kuning membengkak, tampangnya memang rada mirip pengemis.
Dengan disangkalnya hal itu, sang nona benar-benar dibuat tidak habis mengerti.
Dengan sinar mata penuh kecurigaan, gadis itu mengawasi wajah Nyo Yan lekat-lekat hingga membuat pemuda itu merinding juga dibuatnya.
Sesaat kemudian, gadis itu baru bertanya.
"Kalau begitu, kau benar-benar tidak mengerti ilmu silat?"
"Kalau aku mengerti silat, tak perlu aku hidup meminta-minta sebagai pengemis! "
Jawab Nyo Yan tertawa Mendadak gadis itu tertawa dingin, katanya kembali.
"Baik, kau bilang kau tak mengerti ilmu silat, segera akan kusuruh kau memperlihatkan sendiri apakah kau benar-benar tak mengerti ilmu silat atau tidak?"
Begitu ucapan terakhir diutarakan dia segera turun tangan.
Waktu itu Nyo Yan termangu-mangu, belum lagi ucapan tersebut dipahami, tahu-tahu serangan dari gadis tersebut sudah riba di depan mata, bahkan langsung mencengkeram tubuhnya Setelah menyaksikan ini, Nyo Yan segera memahami apa yang dimaksudkan.
Ternyata cengkeraman tersebut dilancarkan ke arah tulang pi-pa-kut pada bahu Nyo Yan.
Dengan kecepatan serangannyadan kekuatan yang dimilikinya, seandainya cengkeraman tersebut sampai mengenai sasaran, niscaya tulang pi-pa-kut dari Nyo Yan akan hancur.
Bila tulang pi-pa-kut sudah hancur, bagaimanapun lihaynya ilmu silat yang dimiliki juga akan punah sama sekali.
Jarak mereka begitu dekat, jangankan Nyo Yan memang belum sembuh dari luka keracunan, sekalipun tidak terluka pun sulit baginya untuk menghindarkan diri dari ancaman itu kecuali menangkis.
Tapi, bila Nyo Yan sampai menangkis, terbongkarnya rahasia itu masih merupakan soal kedua yang lebih payah lagi adalah semadinya tadi.
Tadi, dia menghentikan latihannya di saat yang sebenarnya amat penting dalam semadinya tadi, segenap nadi pentingnya belum tembus, bila dia mesti menangkis, akibatnya semua usahanya selama ini akan bubar berentakan.
Akibatnya walaupun dia dapat terhindar dari ancaman miang pi-pa-kut tersebut, namun tenaga dalamnya akan punah tak berbekas.
Bedanya dengan tulang pi-pa-kut yang telah hancur adalah, bila tulang itu sampai hancur, mulai detik itu akan menjadi orang cacad dan tak dapat berlatih lagi.
Sebaliknya bila tulang itu tak sampai remuk, akibat dari tangkisan itu tenaga dalamnya akan punah tapi bisa dilatih lagi mulai permulaan, lapi dengan demikian, paling tidak dia membutuhkan waktu selama sepuluh tahun untuk memulihkan kembali kekuatannya itu.
Jadi akibat dari kedua hal tersebut sesungguhnya tidak jauh berbeda.Lantas, bagaimana sekarang?
Untuk sesaat, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Nyo Yan, dia tak tahu harus melawan atau jangan?
Sementara ingatan tersebut masih melintas lewat dalam benaknya, ujung jari gadis itu telah menyentuh tulang pi-pa-kut di atas bahunya.
---ooo0dw0ooo---"Semakin kupikir aku merasa bocah muda itu semakin mencurigakan!"
Di tengah jalan Salam mengutarakan kecurigaannya itu kepada Lohay.
"Apa yang mencurigakan?"
Tanya Lohay cepat.
"Aku curiga kalau dia adalah seorang manusia yang mengerti ilmu silat tingkat tinggi!"
Lohay segera tertawa, katanya.
"Mengerti ilmu silat sih mengerti, tapi tak mungkin amat tinggi, kalau tidak masa dia bisa kena dilukai oleh penyamun?"
Agaknya Lomana juga merasa curiga setelah mendengar perkataan Salam tersebut.
"Dari mana kau bisa menganggap dia pandai ilmu silat tingkat tinggi"
"Aku curiga kalau dia telah menolong kita secara diam-diam."
Santala segera tertawa tergelak setelah mendengar perkataan itu.
"Haahh… haahh… haahh… selama ini dia hanya berbaring belaka di atas tanah, mana mungkin bisa membantu kita?"
"Ketika aku terluka tadi, siluman tersebut sedang menubruk tuan putri, situasi ketika itu boleh dibilang sangat berbahaya sekali. Tapi bocah muda itu justru berguling ke hadapan siluman tersebut tepat pada waktunya."
"Benar!"
Seru Lohay dengan cepat seperti baru sadar.
"Aku masih ingat, agaknya siluman itu menendangnya sekali. Untung saja dia dapat menahan siluman itu sebentar sehingga Santala segera datang tepat pada waktunya dan bekerja sama denganku. Kalau tidak, mungkin sebelum perempuan itu datang menolong kita, aku sudah terluka di tangan siluman itu."
"Tepat sekali!"
Seru Salam lagi.
"Bayangkan saja betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki siluman itu, kalau toh bocah muda itu kena ditendang, mengapa dia tak sampai terluka?"
Lohay termenung sebentar kemudian menjawab.
"Waktu itu aku tidak melihat kejadian dengan jelas, mungkin saja siluman itu tidak menendangnya."
"Walaupun begitu nyali yang begitu besar benar-benar mengherankan sekali."
"Aku pun teringat akan suatu kejadian yang sangat mencurigakan,"
Kata Lomana pula.
"Sewaktu siluman itu hendak menangkapku tadi, entah mengapa tiba-tiba dia menarik tangannya kembali, padahal aku yakin sulit untuk meloloskan diri dari cengkeramannya"
"Soal ini gampang untuk dijelaskan,"
Kata Santala.
"bukankah waktu itu sang siluman mencaci maki ada orang yang telah menyergapnya? Kemudian perempuan itu pun memunculkan diri. Sudah pasti senjata rahasia itu disambitkan oleh wanita yang melukai siluman itu."
"Aku rasa senjata rahasia itu dilancarkan oleh wanita tersebut,"
Kata Salam. Lohay tertawa, katanya cepat.
"Mungkin lantaran kalian tak suka dengan wanita itu, maka kalian lebih percaya kalau bocah muda itulah yang diam-diam membantu kalian daripada perempuan tersebut!"
"Perempuan itu telah menolong kita, walaupun aku tidak suka kepadanya bukan berarti tidak berterima kasih kepadanya,"
Kata Lomana "Cuma aku tetap curiga, keber-hasilan kita untuk meloloskan diri dari marabahaya kali ini bukan berkat jasanya semua"
"Tidak peduli apa pun yang kalian katakan, aku tetap tidak percaya kalau hal itu hasil perbuatan pemuda tersebut. Ia menderita luka keracunan, berkat setengah butir pil Pek-leng-wan pemberianmu itulah dia dapat melanjutkan hidup. Masa seseorang yang sudah terluka parah masih punya kemampuan untuk mencelakai siluman? Salam, bukankah kau sendiri yang memeriksa lukanya, dan luka itu tidak pura-pura?"
"Ya, benar, luka yang dideritanya memang cukup parah, itulah sebabnya aku menjadi amat curiga"
"Kalau toh kalian tetap curiga kenapa tidak balik lagi ke sana untuk menanyai sendiri?"
Ucap Lohay sambil tertawa "Kalau memang dia bermaksud menolong kita secara diam-diam.
sekalipun kita tanyakan soal ini kepadanya juga percuma belum tentu dia mau bicara Hitung-hitung dua hari lagi enci Leng pasti sudah kembali, mari kita nantikan keda-tangannya di Lor Anki!"
Leng Ping-ji Telah KembaliApa yang diucapkan Lohay hanya perkataan biasa saja, setelah mengalami peristiwa yang menegangkan urat syaraf semalam, dalam hatinya masih merasa agak jeri, benar Auwyang Tdan kena dibidik hingga terluka, namun dia khawatir kalau Auwyang Toan balik kembali dan bertemu dengan mereka di tengah jalan.
Apalagi mereka harus mengkhawatirkan komplotan dari Auwyang Toan, itulah sebabnya dia lebih setuju cepat-cepat pulang ke rumah.
Untung saja sepanjang jalan tak terjadi peristiwa apa pun, hari kedua sampailah mereka di benteng utama Lor Anki.
Obat penawar yang diberikan perempuan itu kepada Salam memang manjur sekali, pada mulanya dia masih kepayahan untuk menunggang kuda sendiri, tapi setelah melakukan perjalanan selama dua hari, semangatnya menjadi segar, kesehatan badannya juga hampir pulih kembali seperti sediakala.
Setibanya di rumah, semua orang baru merasa lega.
Di luar dugaan, di antara orang-orang yang menyambut kedatangan mereka ternyata terdapat Leng Ping-ji dan seorang pemuda yang belum pernah mereka jumpai.
Lomana menjadi amat kegirangan, dia segera memburu ke depan sambil memeluk Leng Ping-ji erat-erat, serunya.
"Enci Leng, kau telah kembali…!"
"Sudah kuduga kalian pasti akan kembali ke sini, maka aku pun mengajaknya langsung kemari,"
Ujar Leng Ping-ji.
"Kami sendiri pun baru pagi tadi tiba di sini. Aah, benar, kalian tentu belum pernah saling bersua bukan, biar kuper-kenalkan kepada kalian…."
Lomana segera tertawa cekikikan, serunya, ‘Tak usah diperkenalkan lagi, aku rasa dia pastilah Ki toako bukan? "
Merah padam selembar wajah Leng Ping-ji karena jengah, sahutnya.
"Betul, dia memang Ki See-kiat."
"Ki toako,"
Kata Lomana kemudian sambil tertawa.
"tahukah kau, enci Leng amat khawatir jikalau sampai tertipu oleh Nyo Yan, juga khawatir kalau kau sampai terluka di selat Tong-ku-si-sia, entah berapa hari dia merasakan siksaan batin!"
Ki See-kiat segera merasa jantungnya berdebar keras setelah mendengar perkataan itu, sahutnya kemudian.
"Aku memang tersesat dalam selat Tong-ku-si-sia, untung saja nona Leng berhasil menemukan aku dan mengajakku lolos dari sana."
"Dalam sepuluh tahun belum tentu kalian akan datang bersama ke tempat ini, bagaimanapun juga, kali ini kalian mesti tinggal agak lama di sini. Aah, betul, sebulan lagi di tempat kami ini akan diselenggarakan pesta Jagal Kambing, kau dan enci Leng harus mengikutinya!"
"Apa yang dinamakan Jagal Kambing?"
Tanya Ki See-kiat tidak habis mengerti. Selapis warna dadu seperti orang mabuk segera menghiasi wajah Leng Ping-ji, buru-buru tukasnya.
"Enci Lomana, tidak usah bicara yang bukan-bukan lagi, mari kita berbicara serius, aku masih ada persoalan penting yang hendak ditanyakan pada kalian."
Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Lomana baru bertanya.
"Kini Ki toako telah kau temukan, masih ada urusan penting apalagi yang hendak kau kerjakan?"
"Apakah Nyo Yan telah datang kemari atau ke rumahmu?"
"Ada seseorang datang kemari, dia telah membantu ayah untuk mengusir Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu. Tapi, bukankah persoalan ini sudah kau ketahui?"
"Aku maksudkan apakah kemudian orang itu datang lagi kemari? Aku curiga kalau dia adalah Nyo Yan!"
"Tidak, ia tidak datang lagi. Kenapa kau menaruh kecurigaan tersebut?"
"Sebab sekarang aku baru tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan sama sekali tidak berada di bawah Toan Kiam-ceng. Nyo Yan yang kujumpai tempo hari ternyata cuma Nyo Yan gadungan. Aku pikir kalau dia tidak datang kemari lagi, semestinya telah ke rumahmu untuk mencari aku."
"Aah… sebenarnya aku memang sudah mencurigai Nyo Yan tersebut, ternyata dia memang benar-benar gadungan!"
Tapi kemudian Lomana berkata lebih lanjut.
"Sekalipun demikian, belum tentu orang itu adalah Nyo Yan. Apakah selama berada di selat Tong-ku-si-sia, kalian tidak berhasil memperoleh kabar berita tentang Nyo Yan?"
"Aku telah bertemu dengannya,"
Ucap Ki See-kiat.
"sayang telah ku-sia-siakan kesempatan itu, karenanya aku berharap dia bisa datang kemari mencari nona Leng."
Tergerak hati Salam setelah mendengarkan ucapan itu, mendadak timbrungnya dari samping.
"Waktu berada di tengah jalan, kami telah bertemu dengan seorang pemuda aneh!"
"Benarkah?"
Seru Leng Ping-ji cepat.
"Bagaimana bentuk wajah dan dandanannya?"
Lomana segera tertawa, sahutnya.
"Berbicara soal wajah, dia memang ada satu dua bagian mirip Nyo Yan ketika masihkecil dulu, Cuma sayang orang ini tidak mungkin adalah Nyo Yan."
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Dia adalah seorang saudagar bahan obat-obatan, di tengah jalan telah bertemu perampok dan kena dilukai. Cobalah bayangkan, seandainya dia adalah Nyo Yan, dan ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan benar-benar sangat lihay seperti apa yang kau katakan, bagaimana mungkin dia bisa dilukai perampok?"
Berbicara sampai di situ, mendadak ia teringat kembali dengan perkataan dari Salam maka dengan nada suara yang berubah, dia melanjutkan.
"Cuma…"
"Cuma kenapa?"
"Cuma hal ini menurut pandangan aku saja, kau kan tahu kalau aku tidak mengerti ilmu silat Menurut dugaan Salam, dia curiga kalau pemuda itu merupakan seorang jago yang memiliki ilmu silat sangat lihay!"
Buru-buru Leng Pihg-ji berpaling ke arah Salam dan menanyakan pendapatnya. Salam segera menuturkan kembali beberapa kecurigaan yang pernah diungkapkan di tengah jalan tadi, akhirnya dia menambahkan.
"Setelah terkena senjata rahasia, siluman itu mencabut keluar dan balas disambitkan ke arahku, mungkin dia mengira aku yang telah menyergapnya, maka dia berbuat demikian."
"Sekarang, di manakah senjata rahasianya?"
"Untung saja tidak mengenai tubuhku, senjata rahasia itu telah kuambil dari tanah."
"Cepat perlihatkan kepadaku!"
Salam mengambil benda itu dan diangsurkannya ke depan, kemudian katanya.
"Aku memang ingin mohon petunjuk dari kalian berdua, senjata rahasia apakah ini? Selama hidup, belum pernah kujumpai senjata rahasia seaneh ini!"
Setelah melihat senjata rahasia itu, kontan saja Leng Ping-ji jadi tertegun. Ki See-kiat juga ikut tertegun, katanya.
"Aku sendiri pun belum pernah menjumpai senjata rahasia semacam ini. Nona Leng, apakah kau kenal?"
Mendadak ia jumpai perubahan mimik wajah Leng Ping-ji agak istimewa. Tiba-tiba gadis itu menjerit tertahan.
"Dia adalah Nyo Yan, tak salah lagi, dia adalah Nyo Yan!"
Terkejut dan girang Ki See-kiat setelah mendengar perkataan itu, buru-buru tanyanya.
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Senjata rahasia ini bernama. Thian-san-sin-bong, hanya anak murid Thian-san-pay yang mempergunakannya. Aku masih ingat, ketika terakhir kali turun gunung bersama Nyo Yan, dia memang membawa beberapa batang Thian-san-sin-bong."
Lohay yang mendengar ucapan itu selain ikut gembira, dia pun merasa agak menyesal, katanya.
"Tahu kalau dia adalah Nyo Yan, tidak seharusnya kami tinggalkan dia di sana."
"Kelo, kau tak usah menyalahkan diri sendiri, mana mungkin kami akan menyalahkan dirimu?"
Ucap Leng Ping-ji.
"Aku cukup mengetahui wataknya, bila ia tak membe-ritahu identitasnya, sekalipun kau berusaha menasihatinya, dia pun belum tentu mau untuk datang kemari bersama kalian."
"Dia telah menyanggupi setelah sembuh dari lukanya akan datang kemari mencari kami,"
Kata Santala pula.
"cuma tidak dijanjikan saat yang pasti…."
"Kalau memang begitu, entah kita mesti menunggu sampai kapan?"
Ujar Leng Ping-ji.
"Aah, betul, dia terluka karena apa? Parahkah lukanya?"
Walaupun dia tahu Nyo Yan pasti terluka tidak terlampau parah, sebab buktinya dia masih bisa menghajar Auwyang Toan dengan senjata rahasia Thian-san-sin-bong, bagaima-napun juga hatinya tetap risau….
"Menurut keterangan Salam, dia seperti kena senjata rahasia beracun…."
Ujar Lomana.
"aku telah memberikan separuh butir pil Pek-leng-wan kepadanya, sebelum berpisah, kulihat paras mukanya telah berubah menjadi merah segar."
Agak lega juga perasaan Leng Ping-ji setelah mendengar ucapan itu, katanya.
"Sudah pasti dia terkena senjata rahasia Toan Kiam-ceng si bajingan cilik, dengan dasar tenaga dalam yang dimilikinya serta separuh butir pil Pek-leng-wan yang telah dimakan, mungkin keadaannya sudah tidak berbahaya lagi. Cuma aku masih berharap dapat menemukannya kembali dengan cepat"
"Tentu saja harus demikian,"
Kata Lohay.
"Salam, bagaimana dengan luka yang kau derita?"
"Lukaku sudah lama sembuh kembali, nona Leng, Ki siauhiap, mari kuajak kalian pergi mencarinya."
"Baik, sekarang juga kita berangkat, cuma terpaksa aku mesti merepotkan dirimu."
Lomana tertawa.
"Kita toh sudah bagaikan keluarga sendiri, kata-kata sungkan tak perlu dibicarakan, semoga saja kalian dapat segera menemukan Nyo Yan dan cepat-cepat kembali, jangan sampai melewatkan kesempatan untuk menghadiri pesta Jagal Kambing." ---ooo0dw0ooo---Walaupun Leng Ping-ji tahu kalau Nyo Yan tak mungkin berada di tempat semula untuk menunggu mereka datang mencarinya, namun dia masih mengharapkan akan berhasil. Sekalipun tidak ditemukan orangnya, paling tidak akan mene-mukan jejaknya. Tatkala Salam membawa mereka datang ke tempat di mana mereka membuat tenda pada malam itu, benar juga di sana tidak dijumpai sesosok bayangan manusia. Di atas rumput hanya dijumpai darah, entah darah dari siluman itu ataukah darah dari Nyo Yan.
"Sa toasiok, kau sudah membantu kami dengan sepenuh tenaga, silakan kau pulang lebih dulu,** kata Leng Ping-ji kemudian.
Sebagaimana diketahui.
Salam adalah komandan pengawal pribadi Lohay, padahal entah sampai kapan mereka baru akan menemukan Nyo Yan, tentu saja dia tak dapat membiarkan dirinya terlalu lama berada di luaran.
Sebenarnya Salam masih ingin membantu mereka untuk melanjutkan pencariannya di sekitar tempat itu, namun Leng Ping-ji segera berkata.
"Daerah di sekitar tempat ini cukup kukenal, harap Sa toasiok tak usah mengkhawatirkan kami"
Salam lantas berpikir, seandainya tidak ditemukan, dia sendiri pun tak akan bisa membantu mereka, terpaksa menuruti perkataan Leng Ping-ji dan pulang.
Tak berhasil menemukan Nyo Yan di sekitar tempat itu sudah berada dalam dugaan Leng Ping-ji, akan tetapi memandang noda darah di atas pasir, mau tak mau ia merasa khawatir.
Yang dia khawatirkan adalah seandainya tenaga dalam yang dimiliki Nyo Yan belum pulih, kendatipun luka racunnya telah sembuh, lalu bertemu dengan Toan Kiam-ceng apa jadinya kemudian?
Tapi… padang rumput begitu luas dan tiada bertepian, dia tak tahu ke mana ia mesti melanjutkan pencariannya.
Tiba-tiba dari kejauhan sana lamat-lamat terdengar suara nyanyian yang bergema terbawa angin.
Itulah sebuah nyanyian yang cukup dikenal olehnya.
Nyanyian rakyat suku Wana yang suka menerima tamu, Sungai es di puncak suci bagai sungai langit yang terbentang.
Dengarlah suara rintik air sungai yang mengalir… Bagai tangan lembut si nona yang memetik Donggala.
Dia menanyakan pelancong yang sedang mengembara, Kau harus melewati berapa bukit?
Menyeberangi berapa kesulitan sebelum berakhir.
Dengan penuh kegembiraan tiba-tiba Leng Ping-ji berteriak.
"Mehan…! Mehan…."
Selang beberapa saat kemudian, tampak seorang pemuda penggembala suku Wana melarikan kudanya kencang-kencang menerjang ke hadapan mereka.Sambil tertawa Leng Ping-ji segera berkata.
"Mehan, suara nyanyianmu makin lama makin merdu merayu!"
Rupanya pemuda yang bernama Mehan ini adalah seorang penyanyi kenamaan di daerah itu, juga merupakan teman lama dari Leng Ping-ji. Mehan kelihatan amat gembira sekali, serunya cepat.
"Nona Leng, angin apakah yang telah menghembusmu datang kemari? Kami semua amat rindu kepadamu! Kemarin kami masih membicarakan entah sampai kapan kau baru akan datang lagi, sungguh tak disangka hari ini kau sudah datang. Eeeh… dia adalah…."
"Dia bernama Ki See-kiat, seorang temanku,"
Leng Ping-ji segera memperkenalkan mereka.
"Ki toako, kau adalah teman nona Leng, berarti temanku juga."
"Aku mempunyai arak anggur yang baru jadi, silakan datang ke rumah dan mencicipinya."
"Kehangatanmu lebih manis daripada anggur, maksud baikmu akan kami terima di dalam hati."
Setelah berhenti sejenak gadis itu melanjutkan.
"Mehan, kita adalah teman lama, aku tidak usah bicara sungkan-sungkan, sekarang aku sedang dihadapkan pada suatu persoalan yang penting sekali, bersediakah kau membantu kami?"
"Leng lihiap, kau sudah terlalu banyak membantu kami, apa pun yang kau minta, aku pasti akan mengabulkannya."
"Aku hanya ingin mencari kabar tentang seseorang."
"Siapa?"
"Dalam dua hari belakangan ini, pernahkah kau jumpai ada seorang bangsa Han melewati padang rumput? Kalau kau tidak menjumpainya, tolong carikan keterangan dari penggembala yang berada di sekitar tempat ini." ‘Tak usah bertanya kepada orang lain lagi, dua hari berselang aku telah bertemu dengan bangsa Han, bahkan bukan cuma seorang, melainkan dua orang."
Terkejut dan gembira Leng Ping-ji setelah mendengar perkataan itu, buru-buru tanyanya.
"Dua orang? Bagaimanakah dandanan kedua orang bangsa Han ini? Masih muda atau sudah tua?"
"Waktu itu kebetulan hujan sedang turun, dua orang bangsa Han itu lari amat cepat, wajahnya tidak sempat kulihat jelas, dari dandanan mereka aku tahu jika mereka adalah bangsa Han. Meski hanya sekilas pandang, aku dapat melihat kalau umur mereka hampir sebaya dengan Ki toako ini, pokoknya sudah pasti bukan orang tua."
Mendengar hal itu Leng Ping-ji terperanjat. Ki See-kiat pun diam-diam agak terperanjat, cepat-cepat tanyanya.
"Apakah mereka sedang berkejar-kejaran?"
"Ya, agaknya memang demikian,"
Dia hanya memahami sedikit bahasa Han, apa yang dilihat itu adalah dua orang bangsa Han, seorang di depan seorang di belakang seperti sedang berlomba lari, dia mengira keadaan seperti itulah yang diartikan Ki See-kiat sebagai saling berkejaran.
"Mereka telah kabur ke arah mana?"
Tanya Leng Ping-ji.
"Menuju ke arah barat laut Di sana terdapat sebuah gunung, ketika itu aku berjumpa dengan mereka tak jauh darikaki bukit tersebut. Kemungkinan besar mereka sedang lari ke bukit itu untuk mencari tempat berteduh"
"Baik. Terima kasih banyak atas petunjukmu. Seandainya orang itu memang orang yang kucari, sekembalinya nanti pasti akan mampir ke rumahmu untuk minum arak."
Sambil berkata dia lantas lari ke depan, ketika kata "minum arak"
Diucapkan, dia dan Ki See-kiat sudah berada di luar jangkauan penglihatan Mehan. Menyaksikan kejadian itu, Mehan menjadi terkejut bercampur keheranan, segera pikirnya.
"Heran, kenapa orang Han selalu dapat lari sedemikian cepatnya!"
Mereka berlari terus sampai di kaki bukit itu baru melambatkan langkahnya.
Senja sudah tiba, tenaga dalam yang dimiliki Leng Ping-ji tak dapat menandingi Ki See-kiat, setelah berlarian hampir dua jam lamanya, ia sudah mulai tak tahan dan tersengal-sengal napasnya….
"Marilah kita beristirahat sebentar,"
Ujar Ki See-kiat.
Leng Ping-ji menggelengkan kepalanya berulang kali, dia tidak berkata apa-apa, tapi wajahnya tampak amat murung.
Sekalipun tanpa jawabannya, namun Ki See-kiat tahu apa yang dikhawatirkan gadis itu.
‘Tak mungkin demikian kebe-tulannya,"
Hibur Ki See-kiat.
"mungkin saja ada orang lain yang kebetulan lewat di sini."
Menanti napas Leng Ping-ji yang tersengal-sengal sudah agak mereda, sambil berjalan kembali dia berkata.
"Dua hari berselang adalah saat di mana Nyo Yan meninggalkan Lohay sekalian."
"Walaupun di antara mereka ada seorang yang mungkin adalah Nyo Yan, tapi seorang yang lain toh belum tentu adalah Toan Kiam-ceng."
"Dari mana kau bisa tahu kalau bukan?"
"Bukankah mereka mengatakan kalau Toan Kiam-ceng dipukul mundur oleh Nyo Yan?"
"Dia tahu kalau Nyo Yan sudah terkena senjata rahasia beracunnya, pada mulanya dia tak berani mengusik karena musuh terlampau tangguh, tapi setelah diperkirakan racun itu mulai berjalan, tentu saja berani mencari gara-gara dengannya. Dan lagi pula kalau bukan Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu, mengapa Nyo Yan harus menghindari dirinya…?"
"Sekalipun dia itu benar-benar adalah Toan Kiam-ceng, mengapa tidak kamu duga kalau Nyo Yan yang sedang berusaha menangkapnya? Nyo Yan telah meminum pil Pek-leng-wan yang amat mustajab, seharusnya racun yang mengeram dalam tubuhnya pasti sudah punah."
"Pil Pek-leng-wan sendiri toh bukan obat dewa, apalagi itu hanya separuh butir saja. Mungkin saja racunnya telah punah, tapi tenaga dalamnya belum tentu bisa pulih kembali sedemikian cepatnya."
"Jika didengar dari pembicaraan Salam, malam itu tampaknya Toan Kiam-ceng juga telah menderita luka, belum tentu tenaga dalam yang dia miliki bisa pulih kembali sede-mikian rupa dalam waktu singkat."
Akhirnya Leng Ping-ji menghela napas."Aaaai… moga-moga saja apa yang kau katakan itu benar. Tapi sehari tidak berhasil menemukan Nyo Yan, aku merasa tak lega."
Padahal Ki See-kiat sendiri pun merasa khawatir sekali, bahkan lebih tebal rasa seram dan ngerinya daripada Leng Ping-ji.
Walaupun dia belum pernah menyaksikan ilmu silat yang dimiliki Toan Kiam-ceng, namun sudah banyak cerita yang pernah didengarnya.
Dia masih ingat perkataan suhunya Ghasam Hoatsu menjelang saat ajalnya.
"Walaupun kau telah mempelajari simhoat tenaga dalam kuil Lan-tou-si, kemudian mendapatkan pula ilmu silat warisan Kui tayhiap suami istri, tapi masih bukan suatu pekerjaan yang gampang jika ingin mengalahkan Toan Kiam-ceng si bajingan keparat itu."
Itulah sebabnya dia harus melatih diri selama tiga tahun lamanya sebelum pergi mencari Toan Kiam-ceng untuk membalas dendam.
Apa yang diucapkan oleh gurunya tentu saja tak berani tak dipercayai dengan begitu saja, maka ia lantas berpikir.
"Kini aku bara berlatih dua tahun, bila dibandingkan dengan Nyo Yan, meski belum bisa melampauinya, selisih pun tidak jauh.
Ditinjau dari hal ini dapat diketahui bahwa kemungkinan bagi Nyo Yan untuk mengalahkan Toan Kiam-ceng pun masih terbatas sekali.
"Toan Kiam-ceng si bajingan keparat ini bukan saja telah memperoleh semua ilmu silat milik suhu, dia pun mendapatkan kitab pusaka ilmu beracun milik Han Ji-yan si perempuan siluman, itu berarti luka yang diterimanya dari NyoYan, kebanyakan tak akan lebih parah daripada luka keracunan yang dialami Nyo Yan."
Hari semakin gelap, hujan gerimis pun mulai turun kembali. Sebenarnya Ki See-kiat hendak menasihati Leng Ping-ji agar beristirahat bentar, namun dalam keadaan gini, dia tak berani menasihatinya "
Maka sambil manggut-manggut katanya.
"Perkataanmu memang ada benarnya juga, untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diingini, lebih baik agak cepatan sedikit kita temukan Nyo Yan."
Maka sambil menembusi hujan yang semakin lebat, dua orang itu melanjutkan perjalanannya naik gunung Hujan makin lama semakin besar, tiba-tiba Leng Ping-ji menemukan sebuah kuil bobrok di atas bukit itu, tergerak juga hatinya, dia lantas berkata.
"Menurut keterangan Mehan, adik Yan sewaktu dikejar oleh Toan Kiam-ceng hari itu, hujan juga sedang turun amat besar. Andaikan hasil pertarungan itu mengakibatkan mereka berdua sama-sama menderita luka, siapa tahu kalau kedua orang itu berada di kuil bobrok?"
Dalam bayangannya, seakan-akan dia menyaksikan Nyo Yan benar-benar dikejar Toan Kiam-ceng. Ki See-kiat yang menyaksikan kejadian itu diam-diam tertawa geli, pikirnya.
"Mana mungkin di dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan…."
Tapi dia toh berkata juga.
"Benar, mari kita beradu nasib ke sana. Biarpun tidak berhasil menemukan dirinya, kita pun bisa menggunakan kuil bobrok itu sebagai tempat untuk berteduh dari hujan."
Apakah mereka akan berhasil menjumpai "kebetulan"
Tersebut dan menemukan Nyo Yan dalam kuil bobrok itu?
Harap pembaca yang budiman bersabar dulu.
Mari kita mengikuti dulu pengalaman dari Nyo Yan.
---ooo0dw0ooo---Kembalinya gadis itu bertujuan untuk mencoba apakah Nyo Yan benar-benar tidak mengerti ilmu silat, dengan cepat dia mencengkeram tulang pi-pa-kut lawan.
Seandainya tulang Pi-pa-kut itu sampai tercengkeram hancur, akibatnya ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan akan punah sama sekali.
Untuk menghindarkan diri jelas sudah tak mungkin lagi, sebaliknya bila harus mengerahkan tenaga untuk melawan, kendatipun tulang tersebut tak sampai hancur, paling tidak usahanya selama ini akan sia-sia belaka.
Apa dayanya?
Belum lagi ingatan tersebut melintasi di dalam benaknya, ujung jari gadis itu sudah menyentuh tulang pi-pa-kut-nya.
Dalam keadaan demikian, tiba-tiba Nyo Yan mengambil suatu keputusan yang sangat berani, untuk kesekian kalinya dia hendak mempergunakan mati hidupnya sebagai taruhan.
Hawa mumi yang telah dihimpun kini dibuyarkan kembali, lalu menunjukkan sikap seolah-olah seseorang yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Agaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu telah mencapai tingkatan yang bisa ditarik atau digunakan sekehendak hatinya, begitu ujung jari tangannya menyentuh tubuh lawan, dia segera tidak merasakan timbulnya tenaga pantulan dari tu-buh lawan, buru-buru tangannya ditarik kembali.
"Rupanya kau tidak membohongi aku, kau benar-benar tidak mengerti ilmu silat!"
Demikian nona itu berkata. Timbul juga perasaan menyesal di dalam hatinya, sambil tertawa dia lantas menambahkan.
"Aku telah membuatmu ketakutan, nah, terimalah sekeping uang perak ini sebagai uang kaget."
Sambil memungut uang itu buru-buru Nyo Yan berkata.
"Terima kasih banyak nona. Bila begitu gampang mencari uang, tak ada salahnya jika kau mengejutkan diriku beberapa kali lagi."
Gadis itu segera mendengus dingin.
"Hmm… kau si pengemis sialan, besar amat nyalimu, betul-betul tak becus."
Dalam waktu singkat dia telah membalikkan badan dan berlalu dari situ, bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan mata.
Menanti gadis itu sudah pergi jauh, Nyo Yan baru menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya, sambil bangkit berdiri dari sandaran batu dia berpikir.
"Untung dia tidak menemukan pedang yang kusembunyikan, kalau tidak, bila dia sampai mencobaku sekali lagi, sekalipun aku tidak sampai dicekik, paling tidak aku akan dibikin mati kaget."
Setelah berhasil menenangkan hatinya, dia mulai membayangkan kembali gerak serangan yang digunakan gadis itu tadi, tanpa terasa pikirnya dengan kesal.
"Heran, kenapa ilmu gerakan tangan yang dia gunakan untuk mencengkeram tulang pi-pa-kut-ku tadi sekan-akan satu aliran dengan ilmu Liong-jiau-jiu (Tangan Cakar Naga) ajaran guruku? Masa ada kejadian yang begini kebetulan? Atau jangan-jangan ’siluman perempuan kecil’ yang belum diketahui lurus atau sesarnya inimempunyai hubungan yang erat dengan orang yang harus kutemukan itu?"
Hawa mumi yang teiah buyar pelan-pelan dihimpunnya kembali, kemudian dia melanjutkan usahanya mengerahkan tenaga dalam mengobati luka yang dideritanya.
Ketika tengah hari menjelang tiba, delapan nadi penting di dalam tubuhnya itu telah berhasil ditembus semua, tenaga dalam yang dimiliki pun telah pulih sebesar delapan bagian.
Entah bagaimana, dia merasa amat berharap agar nona tadi kembali datang mencarinya.
"Seandainya dia datang lagi, giliranku untuk memberi sedikit pelajaran kepadanya,"
Demikian Nyo Yan berpikir.
la mendongakkan kepalanya memandang cuaca.
Ia menemukan tanda-tanda hujan lebat akan segera turun.
Di atas padang rumput tak tampak sesosok bayangan manusia pun.
Pikiran Nyo Yan ketika itu pun semendung cuaca di angkasa.
"Ke mana aku harus pergi? Aaai… walaupun jagat begini luas, tapi ke manakah aku pergi?"
Tambah dipikirkan dia merasa pikiran maupun perasaannya semakin bertambah kacau….
Gurunya yang pertama, lociang-unjin dari Thian-san-pay Teng Keng-thian telah meninggal, ayah angkatnya Miau Tiang-hong meski mengatakan "menetap"
Di Thian-san, namun dia gemar berkelana, dalam satu tahun ada tigaratus hari lebih justru tidak berada di Thian-san.
Terutama sekali di saat musim gugur yang begitu segar dan nyaman, bila naik kebukit Thian-san, maka sembilanpuluh persen tak mungkin bisa bersua dengan ayah angkatnya.
Betul, di atas Thian-san masih ada seorang yang sangat dirindukan olehnya yaitu Leng Ping-ji yang telah dianggapnya sebagai kakak sendiri.
Tapi sekarang dia agak menaruh rasa benci dan geram terhadap dirinya.
Dia lantas berpikir.
"Seka-rang, mungkin dia telah berhasil menemukan Ki See-kiat di selat Tong-ku-si-sia, aku rasa dia pun tak mungkin secepat ini kembali ke bukit Thian-san, lagi pula dia pasti mencegahku mencari Beng Goan-ciau guna membalas dendam, urusanku sendiri pun belum dikerjakan hingga selesai, buat apa aku meski ke sana menjumpai dirinya? Kalau begitu, bagaimana kalau pergi ke Jik-tat-bok lebih dulu untuk membuat perhitungan dengan Beng Goan-cau?"
Sekalipun dia mempunyai niatan tersebut, namun entah mengapa, timbul pertentangan batin yang amat hebat dalam hati kecilnya.
Dia tak ingin secara sengaja mencari Beng Goan-cau untuk membuat perhitungan, alangkah baiknya kalau pertemuan itu terjadi karena tak terduga.
Kalau begitu lebih baik pulang ke dusun kelahiran yang belum dijumpai saja!
Tapi ia enggan.
Apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati, dia sendiri pun tidak tahu.
"Kenapa aku mesti pulang ke dusun untuk mengaku famili dengan mereka? Selain cemoohan, apa lagi yang bisa kuterima? Sedikit pun tidak ada artinya."
Karena tempat mana pun seakan-akan tidak sesuai dengan seleranya, maka dia pun melanjutkan perjalanan tanpa tujuan tertentu.Awan hitam semakin menyelimuti jagat, menyusul kemudian hujan turun dengan derasnya.
Angin puyuh berhembus kencang bagaikan sambaran golok, air hujan yang menimpa tubuhnya terasa sakit dan pedih.
Apakah tubuhnya yang tidak tahan menghadapi terpaan angin puyuh dan hujan badai karena baru sembuh dari penyakit?
Ataukah karena hatinya sedang merasa amat sakit?
Di tengah hujan badai yang begitu deras, timbul perasaan "gembira dan nyaman"
Dalam hatinya, seakan-akan hujan badai itu bisa menghilangkan semua kemurungan dan kemasgulan di dalam hatinya.
Namun, ditimpa hujan badai yang begini derasnya di tengah padang rumput yang tiada tempat berteduh, sekalipun seorang yang memiliki ilmu silat hebat pun lama kelamaan tak tahan juga.
Entah pagi hari atau malam hari, suasana gelap telah menyelimuti seluruh padang rumput itu.
Tanpa terasa dia telah tiba di bawah kaki sebuah bukit, di atas bukit penuh tumbuh pepohonan, berteduh di atas bukit rasanya jauh lebih baikan daripada di tengah padang rumput Bukit itu tidak terhitung curam, tapi sukar untuk dilewati dalam hujan badai seperti ini.
Cuma saja, hal ini tentu saja tidak menyulitkan Nyo Yan.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia menempuh hujan badai naik ke atas bukit Baru saja dia hendak mencari tempat yang berpepohonan lebat untuk berteduh dari hujan, mendadak di atas puncak bukit itu lamat-lamat seperti ada cahaya lampu.Ketika didekati, ternyata tempat itu merupakan sebuah kuil yang sudah bobrok, sekalipun bobrok, masih bisa dipakai untuk berteduh dari siraman air hujan.
Di dalam kuil terdapat dua orang yang sedang membuat api unggun, waktu itu kedua orang itu duduk di tepi api dan sedang berbincang-bincang.
‘ Oleh karena suara hujan yang amat deras, maka suara pembicaraan mereka pun dipertinggi nadanya.
Sesungguhnya Nyo Yan tidak bermaksud untuk menyadap pembicaraan mereka, akan tetapi setelah mendengar apa yang mereka bicarakan, tubuhnya seakan-akan terpantek di tempat, untuk sesaat lamanya dia termangu.
Diintip dari belakang dinding yang sudah penuh berlubang, dapat dilihat kalau mereka adalah seorang lelaki berusia tigapuluh tahunan serta seorang pemuda berumur dua-puluh tujuh delapan tahunan.
Waktu itu, lelaki yang lebih tua itu sedang berkata sambil menghela napas panjang.
"Aai… See-kiat sute mungkin sudah tertimpa bencana, tapi kita yang dapat getahnya, hmm… Sudah hampir setahun kita mencari jejaknya tanpa ketemu, entah penderitaan ini harus berakhir sampai kapan?"
"Rupanya mereka adalah kakak seperguruan Ki See-kiat,"
Demikian Nyo Yan berpikir.
"Mungkin ibu See-kiat yang melihat putranya belum juga kembali, lantas mengutus murid-muridnya untuk datang kemari mencari jejaknya. Bagaimana kalau kuberitahukan kepada mereka tentang kabar yang menyangkut diri Ki See-kiat?"
Sementara itu, sang pemuda yang lebih muda itu berkata.
"Song suheng, walaupun kita menderita, tapi sukoh yang tidak berhasil menemukan keponakannya, lagi pula kehilanganputra tunggalnya, ia pasti merasa sedih sekali. Tentunya kau tahu juga bagaimana dengan tabiatnya, andaikata kita pulang tanpa membawa kabar berita, sudah pasti caci maki yang kita terima! Tapi aku tidak takut didamprat, hanya aku rada khawatir dengan si nenek yang sebatang kara itu."
Setelah mendengar sampai di situ, Nyo Yan baru tahu kalau mereka berdua bukan murid bibinya, melainkan murid dari ayannya. Suhu Masih Hidup Lelaki yang berumur agak tua itu segera mendengus dingin.
"Hmm! Sukoh kita disebut orang sebagai Lak-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Keji), masa kau menaruh belas kasihan kepadanya! Selama hidup, Lak-jiu-Koan-im tak pernah menerima belas kasihan orang, andaikata dia sampai tahu kalau kau berkata demikian, mungkin bukan saja tak akan menerima kebaikanmu itu, bisa jadi kau bakal ditampar beberapa kali!"
"Justru karena dia orang tua berwatak keras, maka usia tuanya harus dilewati dalam suasana yang penuh kesedihan dan sendiri seperti ini, bukan saja kesengsaraannya tak bisa dilampiaskan kepada orang lain, ia harus menanggung segala sesuatunya seorang diri, itulah sebabnya aku menaruh rasa iba padanya."
"Oh sute!"
Seru lelaki itu dingin.
"tak kusangka kau mempunyai perasaan yang lemah. Kau lupa dengan keadaan sunio dulu yang disiksa dan dicemooh olehnya sehingga menderita? Menurut pendapatku, apa yang diterimanya sekarang tak lain merupakan hukum karma baginya!"
"Ya, aku tidak melupakan hal ini,"
Sahut sang pemuda dengan suara lirih. Agaknya sang suheng merasa amat gusar bila membayangkan masa lalu, terdengar ia berkata lebih lanjut.
"Teringat ketika itu, sunio sedang berbadan dua, tapi ia telah melontarkan pelbagai tuduhan dan dosa kepadanya sehingga di bulan duabelas yang dingin sunio mesti pergi meninggalkan rumah. Coba kalau sunio tidak diusir, Nyo Yan pun tak akan sampai lahir tanpa mengetahui siapakah ayahnya, dia pun tak perlu mencari keponakannya sehingga mengorbankan selem-bar jiwa putranya sendiri."
"Kemudian sunio tewas dalam pertempuran di Siau-kim-jwan, mungkin saja hal itu terpengaruh oleh kondisi badannya sesudah melahirkan, sehingga kalau ingin mencari biang dari semua ini, dialah penyebabnya. Bukan saja dia telah mencelakai orang lain, juga mencelakai diri sendiri, hal ini bukankah merupakan suatu tindakan yang mencari penyakit buat diri sendiri?"
"Hmm, kalau dibilang kasihan, suniolah baru pantas untuk dikasihani! Oh sute, entah bagaimanakah pendapatmu, tapi bagiku walaupun Hun Ci-lo telah dicerai oleh suhu kita, namun aku masih menganggap dirinya sebagai ibu guru kita!"
Nyo Yan yang secara kebetulan sempat menyadap pembicaraan mereka itu menjadi tertegun dan berdiri mematung, hatinya terasa bagaikan disayat dengan pisau, pi-kirnya.
"Ternyata ibuku telah mengalami penderitaan yang begitu banyak dan berat. Bagaimanapun juga Ki toako masih terhitung orang baik, tak disangka dia mempunyai seorang ibu yang begitu kejam dan berhati buas, apalagi dia masih tak rikuhnya untuk mencari aku untuk diajak pulang… hmm!"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, terdengar pemuda itu sudah menghela napas panjang seraya berkata.
"Dalam urutan saudara seperguruan, usiaku paling kecil, sunio pun menganggap diriku sebagai putranya sendiri, atau dengan perkataan lain boleh dibilang dialah yang memelihara aku sampai dewasa, mana mungkin aku bisa melupakan budi kebaikannya itu? Dalam pikiranku, dia bukan hanya merupakan sunio-ku, bahkan dia merupakan ibuku. Sayang sekali, sepanjang hidupku, aku tak mungkin bisa membalas budi kebaikannya lagi."
"Tempo dulu, ketika beliau diusir oleh sukoh entah berapa banyak air mataku yang jatuh bercucuran, aku . pun pernah mendendam kepada sukoh. Tapi kemudian setelah usiaku semakin dewasa, setelah aku banyak mendengar pendapat dan pandangan-pandangan dari orang dewasa, baru kuketahui kalau semua peristiwa ini bukan tanggung jawab sukoh seorang, sebab peristiwa yang terjadi dulu, tak lain hanya merupakan suatu kesalahpahaman belaka"
Belum habis dia berkata, suheng-nya telah menukas sambil tertawa dingin.
"Heehh… heehh… heehh… Oh sute, aku lihat kau masih belum mengetahui semua duduknya persoalan hingga jelas. Kalau dikirakan hal ini merupakan suatu kesalah-pahaman, maka lebih cocok kalau dikatakan kesalahpahaman ini merupakan ciptaan suhu yang sengaja mencelakai sumo."
Adik seperguruannya menjadi agak tertegun.
"Suheng, apa maksudmu berkata demikian?"
Serunya.
"Coba kau terangkan dulu apa saja yang telah kau ketahui?"
"Konon sunio dan Beng Goan-cau sebenarnya adalah sepasang kekasih yang saling mencinta, bahkan jauhsebelumnya sudah mengikat diri dalam suatu ikatan tali perka-winan. Kemudian datang berita yang mengabarkan Beng Goan-cau telah mati di Siau-kim-jwan, itulah sebabnya dia lantas kawin lagi dengan suhu."
Sang lelaki berusia agak tua itu segera melanjutkan.
"Ya, walaupun sunio telah menjadi istri keluarga Nyo, namun sejak perkawinan tersebut dia tak pernah berbuat serong atau melakukan perbuatan terlarang. Di kemudian hari, meski dia tahu kalau kabar tentang kematian Beng Goan-cau kiranya hanya suatu isapan jempol belaka, namun dia tak pernah mengadakan hubungan lagi dengan Beng Goan-cau." ‘Tentang persoalan ini aku pun tahu."
"Kalau memang begitu, tahukah kau apa sebabnya tempo hari suhu mesti pura-pura mati untuk membohongi orang?"
"Apakah karena takut dengan Beng Goan-cau?"
"Tindakannya itu tak lebih hanya tindakan suhu untuk melindungi diri dan menciptakan alasan belaka."
"Lantas bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya?"
"Tujuan yang paling utama adalah untuk merusak nama baik Beng Goan-cau, bahkan aku curiga, tindakan sukoh yang mengusir sunio pun jauh sebelumnya telah berada dalam dugaannya. Sunio hidup tanpa sanak tanpa keluarga, kalau dia tidak pergi mencari Beng Goan-cau, siapa lagi yang harus dicarinya?"
"Ayah sunio sebenarnya adalah seorang pemimpin pasukan patriot pembela tanah air, tapi dia telah tewas di medan pertempuran di Siau-kim-jwan sebelum kedatangan Beng Goan-cau ke tempat itu. Itu berarti di Siau-kim-jwan, sunio masih mempunyai banyak teman-teman ayahnya, sehinggakepergiannya ke Siau-kim-jwan belum tentu pergi mencari Beng Goan-cau belaka."
"Benar!"
Suheng-nya mengangguk. ‘Tapi justru dengan kejadian ini, sama halnya dengan suhu memaksakan suatu pertemuan bagi mereka berdua, sehingga dia itu akan mempunyai alasan untuk mencelakai Beng Goan-cau."
"Tetapi apa manfaatnya bagi suhu?"
Tanya sang pemuda.
"Sute, kau benar-benar pikun atau pura-pura bodoh? Apakah kau tak tahu kalau Beng Goan-cau itu buronan pemerintah Cing?"
Sang pemuda tertegun beberapa saat lamanya, kemudian baru katanya.
"Suhu… suhu… tak mungkin tujuan suhu sejahat ini? Selama ini, dia toh tidak pernah menjadi pem-besar, lagi pula hingga sekarang mati hidupnya tidak diketahui lagi, kita sebagai muridnya… aku rasa…."
"Benar, sebagai murid, kita memang tidak sepantasnya membicarakan kejelekan suhu di belakangnya, aku hanya merasa penasaran bagi nasib sunio, sebab sunic-mu adalah seorang yang amat sayang terhadap semua anak murid suhu, anak asuhannya, itulah sebabnya aku baru membicarakannya denganmu sekarang. Tapi, mungkin juga semuanya itu merupakan dugaanku belaka, kau tak usah memikirkannya selalu di dalam hati."
Sang pemuda itu segera menghela napas panjang.
"Aaai, memang banyak persoalan di dunia ini yang tidak mudah dimengerti. Siapa suruh kita menjadi muridnya? Sekalipun suhu kita melakukan banyak kesalahan, dia toh tetap merupakan suhu kita."
Namun dilihat dari pembicaraan tersebut, dapat diketahui kalau dia telah mengakui bahwa "dugaan"
Suheng-nya memang lebih banyak sesuai dengan kenyataan di masa lalu.
Nyo Yan tahu tentang asal-usulnya dari mulut Ki See-kiat, maka setelah mendengar pembicaraan tersebut, kini hatinya semakin terharu, pikirnya kemudian.
"Aah, mustahil ayahku bisa berjiwa kerdil dan rendah tak tahu malu seperti apa yang mereka bicarakan, sekalipun ayah salah, kesalahan Beng Goan-ciu pasti lebih! Bagaimanapun juga, dia toh tetap ayah kandungku!"
Sekalipun dia berpikir demikian, dalam hati kecilnya sudah terjadi perubahan yang amat besar, terhadap niatnya untuk mencari Beng Goan-cau dan membuat "perhitungan", dia mulai ragu dan sangsi.
Paling tidak ia sudah tahu kalau perbuatan ayahnya tidak semuanya benar, sedangkan Beng Goan-cau bukan semuanya salah.
Hanya saja setitik ingatan tersebut bagaikan sebuah bukit es saja, dalam sepuluh bagian ada sembilan bagian di antaranya tertanam di dalam hati, ia tak berani untuk "meng-apungkarf’nya di atas permukaan.
Dalam keadaan sadar tak sadar, mendadak ia mendengar pemuda itu redang bertanya kepada kakak seperguruannya.
"Song suko, ada satu hal ingin kutanyakan kepadamu, sejak sunio tewas dalam pertempuran di Siau-kim-jwan, suhu pun lenyap dari dunia persilatan, tahukah kau sebenarnya dia orang tua masih hidup atau sudah mati?"
Pertanyaan itu merupakan persoalan yang ingin diketahui pula oleh Nyo Yan, maka dia tersentak bangun darilamunannya dan tanpa terasa mengumpulkan semua pikiran dan perhatiannya untuk mendengarkan.
Terdengar lelaki yang disebut "Song suko"
Itu segera menjawab;
"Aku percaya suhu masih hidup!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Kurang lebih tujuh delapan tahun berselang ada suatu ketika aku sedang mengawal barang menuju Cuan-sia, di tengah jalan aku dengar teman-teman persilatan membicara-kan tentang soal itu, katanya Beng Hoa pernah bersua dengan guru kita."
"Persoalan itu aku pun pernah dengar, tapi konon ketika Beng Hoa tahu kalau suhu bukan ayahnya, dia telah membunuh suhu."
"Siapa yang mengatakan hal ini kepadamu?"
"Dia adalah seorang kautau dari Pe-cu-keh!"
"Ooh… rupanya cuma seorang yang berkedudukan rendah,"
Kata Song suheng sambil tertawa. ‘Tak bisa disangkal lagi, dia sedang merusak nama Beng Hoa."
"Lantas siapa yaag memberitahukan semua persoalan ini kepadamu?"
Adik seperguruannya segera bertanya.
"Seseorang yang mempunyai hubungan dengan pasukan pembela tanah air, namanya tak dapat kukatakan kepadamu, tapi orang ini selain kenal dengan Beng Hoa, dia pun merupakan sahabat karib sam-suko dan su-suko, aku percaya dia tak akan berbohong." ‘Tapi peristiwa ini merupakan peristiwa lama yang telah terjadi pada tujuh delapan tahun berselang, dari mana kau bisa tahu kalau saat ini dia masih hidup? "
"Masih ada satu hal lagi yang bisa dijadikan bukti, toa-suko kita bukankah sudah menjadi seorang pembesar yang tidak kecil pangkatnya dalam pasukan pengawal raja?"
"Hal ini mana bisa dipakai sebagai bukti kalau suhu masih hidup di dunia?"
Sang suheng tertawa, sahurnya.
"Hatimu baik dan penuh belas kasih, sayang otakmu justru tidak jalan. Betul kepandaian dari toa-suheng jauh lebih baik daripada kita, tetapi dengan kepandaiannya yang serba terbatas, mana mungkin bisa diangkat menjadi pejabat dalam pasukan pengawal raja? Pasukan pengawal raja merupakan pengawal pilihan yang langsung berada di bawah komando kaisar, kalau hanya mengandalkan kepandaian yang dangkal, tak mungkin dia bisa memasukinya. Apakah hal ini bukan mengandalkan suhu? Sekalipun suhu tak pernah menjabat pangkat, tapi dia mempunyai hubungan yang amat erat dengan pentolan-pentolan pasukan pengawal raja, mungkin hal ini tidak diketahui olehmu, tapi aku mengetahui dengan jelas."
Sang pemuda itu segera tertawa.
"Suheng, apakah kau tidak merasa bahwa pembicaraanmu telah melantur terlampau jauh?"
"Sudahlah, mau percaya atau tidak terserah kepadamu, aku pun tak ingin memberitahukan persoalan yang lebih banyak lagi kepadamu."
"Suheng, menurut pendapatmu, baikkah bila toa-suko memangku pangkat…?"
Tiba-tiba pemuda itu bertanya.Lelaki itu menjadi tertegun, kemudian dia balik bertanya.
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Aku tidak suka kalau toa-suheng menjadi pembesar pemerintah. Cuma kalau dibicarakan kembali, andaikata dia tidak menjadi pembesar, bagaimana mungkin kita bisa masuk ke dalam perusahaan Ceng-wan piaukiok dan memperoleh ke-dudukan yang layak?"
Agaknya lelaki itu seperti merasa tersentuh hatinya, dia lantas berkata.
"Kita enam bersaudara tak nyana harus mengalami perubahan sedemikian besarnya. Toa-suheng telah menjadi pembesar, ji-suheng menjadi tuan tanah di desanya, sam-suheng dan su-suheng menggabungkan diri dengan laskar rakyat, hanya kita berdua yang paling tak becus bisanya hanya mencari sesuap nasi dengan menjadi seorang piausu, selama beberapa tahun ini pun tak pernah terpakai tenaganya. Dengan susah payah akhirnya tahun ini kita bisa meninggalkan ibu kota, tapi itu pun bukan untuk mengawal barang, melainkan bertugas untuk sukoh."
"Suheng, kenapa sih kau begitu mendongkol?"
Seru sang pemuda sambil tertawa.
"Aku lebih suka bekerja untuk sukoh daripada menjadi tukang pukulnya orang-orang kaya."
"Kalau aku tak ingin melakukan kedua-duanya, tapi siapa suruh kita tidak sekaya ji-suko, tidak memiliki keberanian seperti sam-suko dan su-suko yang pergi menjadi seorang pemberontak? Apa yang bisa kita lakukan sekarang tak lebih hanya berlarian bagi orang lain. lapi bukannya aku sembarangan mengumbar rasa dongkol, aku hanya menaruh curiga akan satu persoalan."
"Persoalan apa?"
"Dua tahun berselang, kita pernah mengadakan pertemuan satu kali dengan sam-suko, aku curiga kalau persoalan itu diketahuioleh toako dan dilaporkan kepada cong-piautau, oleh karena itu cong-piau-tau tak berani mempergunakan tenaga kita."
"Jika toa-suko menaruh curiga, dia toh bisa saja menyuruh menjebloskan kita ke dalam penjara. Song-suko, mungkin kau banyak curiga saja."
"Kau masih belum mengenal watak toa-suheng, dia adalah seorang manusia yang suka akan muka dan nama, kita pun takkan berbuat apa-apa demi menjaga nama baik dan gengsinya, tentu saja dia merasa tak enak untuk mengusir kita dari perusahaan, karena itu dia hanya menyuruh cong-piautau agar tidak memakai tenaga kita berdua saja."
Pemuda itu segera tertawa.
"Andaikata kecurigaanmu itu merupakan kenyataan, kita harus berterima kasih dapat melaksanakan tugas dari sukoh,"
Katanya pula.
"Betul hidup di sini lebih susah,toh jauh lebih baik daripada hidup dikota sambil menahan debaran jantung terus-menerus."
"Betul juga perkataanmu itu. Seandainya cong-piautau tak berani mempergunakan kita, dia pun tak akan memberi muka kepada sukoh, dan membiarkan kita meninggalkan mereka begini lama. Tapi terlalu banyak persoalan yang dilakukan sukoh membuat hatiku mendongkol, betul hidup di sini jauh lebih enak daripada di ibu kota, namun aku masih tetap merasa tak rela untuk menjual tenaga baginya."
"Suheng, bukalah pandanganmu!"
Seru pemuda itu sambil tertawa.
"Walaupun sukoh tidak baik, hubungan kita sejak kecil dengan See-kiat sute toh baik sekali, apakah kau tak ingin menemukannya kembali?"
"Justru karena memikirkan nasib See-kiat aku baru bersedia melakukan pekerjaan ini bagi sukoh. Hhmm… suara hujan sudah agak mereda, mungkin sebentar lagi akan berhenti."
"Kalau sudah berhenti ya memang lebih baik, kita bisa tidur dengan nyenyak, besok kita mesti melakukan perjalanan lagi. Aaii… hujan yang turun hari ini lebarnya bukan kepalang, jika tidak berhenti lagi, sudah pasti akan sulit melakukan perjalanan!"
"Besok…? Apa bedanya besok dengan hari ini?"
Lelaki itu tertawa getir.
"Kita sama sekali tak tahu kemana untuk mencarinya, apa yang bisa dilakukan sekarang tak lebih terbang seperti lalat, dari jendela yang satu ke jendela yang lain…." ‘Tapi toh keadaan demikian jauh lebih baik daripada kehujanan di tengah tempat yang terpencil? Siapa tahu kalau kita bakal menemukan suatu kejadian yang ada di luar dugaan? "
Hibur sute-nya. Mendadak lelaki itu berseru tertahan, kemudian katanya.
"Oh Sute, coba kau dengar, agaknya di luar ada orang!"
Rupanya ketika Nyo Yan mendengar kalau ayahnya masih hidup, dia menjadi terpengaruh oleh gejolak emosi, sehingga tanpa terasa napasnya menjadi berat.
Begitu hujan berhenti, dengusan napas itu segera terdengar oleh kedua orang itu.
Terpaksa Nyo Yan harus menampilkan diri dari tempat persembunyiannya, dengan badan gemetar dia mendekati pintu kuil, lalu serunya dengan suara menggigil.
"Aku… aku melihat… di… di sini ada api… aku… aku ingin…."
"Kau ingin masuk untuk menghangatkan badan?"
Tanya orang she Oh itu sambil tertawa. Nyo Yan berlagak seperti takut-takut, sahurnya kemudian.
"Boo… bolehkah aku masuk?"
"Siapakah kau? Sudah berapa lama datang kemari?"
"Aku adalah seorang pengemis, aku mengira di atas gunung bisa berteduh dari hujan, siapa tahu hujan semakin lama semakin besar, aku kedinginan dan lapar. Kemudian hujan makin mengecil dan aku melihat di sini ada cahaya api, maka aku pun buru-buru datang kemari, baru saja aku sampai. Toaya berdua, jadilah orang baik, biar… biarkanlah aku masuk…."
Waktu itu pakaian Nyo Yan dekil dan penuh lubang, apalagi kotor oleh lumpur dengan wajah yang patut dikasihani, tak salah lagi kalau potongan macam itu disebut pengemis.
Lelaki she Song itu tidak curiga lagi, katanya kemudian sambil tertawa.
"Kuil bobrok ini toh bukan milik kami, tentu saja kau boleh masuk!"
Sute she Oh itu jauh lebih baik orangnya, dia berkata sambil tertawa.
"Kau memang patut dikasihani, tampaknya hujan deras telah mengguyur tubuhmu sampai basah kuyup, cepat masuk untuk menghangatkan badan. Kami masih mempunyai sedikit makanan."
Nyo Yan segera berjongkok di tepi api unggun untuk menghangatkan badan, lalu menerima makanan yang diangsurkan kepadanya.
Bagaikan orang yang benar-benar kelaparan ia masukkan makanan itu ke mulut dan mengunyahnya dengan lahap, sambil makan mulurnya menggumamkan kata-kata terima kasih yang tak jelas.
"Kau bisa minum arak?"
Tanya orang she Oh itu kemudian.
"Entahlah, tapi asal ada makanan dan minuman aku dapat menelannya. Kau tahu aku tak lebih cuma seorang pengemis, hanya nasi dingin dan sisa sayuran saja yang diperolehseorang pengemis, mana ada orang yang memberi arak kepa-daku?"
Ucapan semacam ini memang cocok sekali dengan perkataan seorang pengemis. Tanpa terasa orang she Oh itu tertawa, ujarnya.
"Dengan minum arak, hawa dingin bisa terusir keluar, kau tak usah sungkan-sungkan, minum saja arak dalam buli-buli ini sekalipun mabuk juga tak menjadi soal."
"Terima kasih banyak toaya,"
Kata Nyo Yan sambil menerima buli-buli itu. Betul juga, dia lantas tak sungkan-sungkan meneguk isi buli-buli itu sampai habis. Mendadak terdengar ada orang berkata.
"Ehmmm… harum benar bau arak di sini, bolehkah aku menghangatkan badan?"
Suaranya tak keras, tapi cukup menggetarkan telinga mereka. Nyo Yan lantas berpikir.
"Tenaga dalam yang dimiliki orang ini lumayan juga, tapi mustahil orang yang memiliki silat macam ini akan memamerkan kemampuannya tanpa musababnya. Jangan-jangan dia adalah komplotan dari Toan Kiam-ceng yang sengaja mencariku?"
Terhadap kepandaian macam itu meski Nyo Yan tak berani memandang remeh, dia pun tak sampai terkejut Sebaliknya Song dan Oh dua orang itu menjadi terkejut, cepat sahutnya.
"Silakan masuk sahabat!"
Tampak seorang lelaki kekar berkepala besar bermata satu masuk ke dalam kuil dengan langkah lebar, usianya antara empatpuluh tahunan, mukanya kasar tapi gagah, dia mem-bawa sebuah pipa besi yang panjangnya mencapai tiga depalebih, sepasang keningnya menonjol keluar, dalam sekilas pandang saja dapat diketahui kalau dia adalah seorang jago silat yang bertenaga dalam sempurna.
Pipa besi itu berat sekali, bagi pandangan seorang ahli dapatlah diketahui kalau benda itu merupakan senjata aneh yang dipakai untuk menotok jalan darah.
"Kalian tak akan keberatan untuk menerima aku si tamu tak diundang ini bukan?"
Kata laki-laki itu sungkan-sungkan. Kemudian dengan langkah lebar dia masuk ke dalam ruangan kuil dan duduk di tepi api unggun, ujung pipa diisi tembakau dan diisapnya dengan penuh nikmat.
"Kita sama-sama bangsa Han, apalagi bertemu di perantauan, apa salahnya kalau duduk-duduk berkumpul?"
Kata lelaki she Song itu kemudian.
"Sobat, siapa namamu?"
Orang itu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… kalian tidak tahu siapakah aku, sebaliknya aku tahu siapakah kalian. Kalian adalah Song Peng-ci dan Oh Lian-kui dari perusahaan Ceng-wan piau-kiok bukan? Heeeehh… heeehh… heeehh… toa-piautau berdua, selamat berjumpa, selamat berjumpa…."
Song Peng-ci terkejut "Benar, aku adalah Song Peng-ci dan dia adalah adik seperguruanku Oh Lian-kui.
Sebutan toa-piautau tak berani kami terima, sebab kami tak lebih hanya seorang siau-piausu dari Ceng-wan piau-kiok.
Maaf kalau kami bodoh dan tak tahu di mana pernah bersua dengan saudara?"
"Kalian tidak pernah bertemu denganku, cuma aku tahu tentang kalian,"
Kata orang itu tertawa.
"Bukan saja aku tahu tentang kalian, bahkan setiap piausu dari pelbagai perusahaanpiaukiok dari ibu kota yang agak mempunyai kepandaian pun mungkin dapat kusebutkan nama mereka satu per satu."
"Ooh… rupanya kau adalah sahabat dari dunia persilatan, seandainya tiada sesuatu yang kurang leluasa, harap kau sudi memberitahukan namamu, agar kami pun dapat menyebutnya dengan baik."
"Terhadap orang lain mungkin saja aku agak sangsi, tapi aku memang sengaja datang kemari untuk berjumpa dengan kalian berdua, tentu saja aku pun tak akan merahasiakan namaku. Aku she The bernama Hiong-toh, tentunya suheng kalian pernah menyinggung tentang namaku bukan?"
Begitu mendengar nama "The Hiong-toh"
Disebut, paras muka Song Peng-ci segera berubah hebat, untuk sesaat lamanya dia menjadi termangu-mangu….
Nyo Bok mempunyai enam orang murid.
Song Peng-ci menduduki urutan kelima, sedangkan Oh Lian-kui menduduki urutan keenam, sedangkan toa-suheng mereka Bun Seng-liong sebenarnya adalah hu-congpiautau dari perusahaan Ceng-wan piaukiok.
Tiga tahun berselang, sewaktu mengawal suatu barang berharga, ia dihadang oleh seorang perampok ulung dan barang-barang kawalan-nya dibegal, perampok itu bukan lain adalah The Hiong-toh.
Kemudian Bun Seng-liong menjadi pembesar karena sebagai seorang pembesar dapat menikmati kehidupan yang makmur, selain itu, alasan yang terutama adalah lantaran barang kawalannya tempo hari kena dibegal.
Tapi kemudian, lantaran ada tokoh berpengaruh yang campur tangan dalam peristiwa ini.
The Hiong Toh telah mengembalikan tujuh bagian barang rampokannya kepadapihak Ceng-wan piaukiok, sebaliknya pihak Ceng-wan piaukiok yang harus menjaga nama baiknya pun merahasiakan kejadian itu rapat-rapat.
Sekarang, Song Pcng-ci lantas berpikir.
"Setelah peristiwa pembegalan itu, sedikit banyak orang she The ini tentu sudah mempunyai hubungan dengan pihak perusahaan kami, rasanya dia pun tak akan menyusahkan aku."
Berpikir sampai di sini, dia lantas berkata.
"Rupanya The toucu yang telah datang, selamat berjumpa, selamat berjumpa, sayang arak kami sudah habis diminum…."
Belum selesai dia berkata, The Hiong-toh sudah tertawa terbahak-bahak sambil menukas.
"Untuk minum arak saja, masa kalian takut sudah tak punya kesempatan lagi? Terus terang kukatakan, aku justru datang kemari untuk mengundang kalian minum arak. Cuma entah kalian suka minum arak ‘kehormatan’ ataukah lebih suka minum arak ‘hukuman’?"
Paras muka Song Peng-ci berubah hebat, dengan cepat dia melompat bangun kemudian katanya.
"The toucu, apa maksud perkataanmu itu?"
The Hiong-toh tertawa.
"Song toa-piautau, kau tak usah berlagak pilon lagi. Cepat serahkan barang merah yang kalian lindungi kepadaku! Aku cuma ingin harta, tak ingin nyawa. Hchh… hehh… heh..heehh… itu namanya arak kehormatan. Seandainya kalian bersikeras ingin minum arak hukuman, hmm… hmm… terpaksa aku harus minta maafkepada kalian, sebab harta juga kumaui, nyawa pun juga kuinginkan!"
"The toucu!"
Kata Song Peng-ci dengan suara dalam.
"meskipun mata dan telingamu cukup tajam, sayang kali ini sudah salah mendengar!"
"Hmm… kau jangan mengira aku punya hubungan dengan perusahaan kalian, kebetulan, tempo hari aku dipaksa untuk mengembalikan barang begalanku itu. Kini aku tak usah menjual muka kepada siapa pun juga, maka pertama-tama aku hendak membegal barang kawalan-mu untuk melampiaskan rasa dongkolku."
"Yang kumaksudkan bukan hal ini."
"Baik, toh aku tak perlu terburu nafsu. Katakanlah, sebenarnya apa maksudmu?"
Bila domba sudah di depan mulut harimau, ia memang tak usah khawatir, lolos dari cengkeramannya.
"Betul aku adalah piausu dari Ceng-wan piaukiok,"
Kata Song Peng-ci.
"tapi kali ini kami bukan sedang mengawal barang. Kami sedang mencari seorang sute kami, itulah sebabnya kami datang ke Sinkiang."
The Hiong-toh segera tertawa dingin.
"Heeh… heeh… heeh… kalian bisa membohongi siapa? Jika piausu dari Ceng-wan piaukiok bisa sampai ke wilayah Sinkiang, bila barang yang dikawal bukan barang berharga mau apa kalian ke sini? Bukankah sute-mu yang paling kecil adalah Oh Lian-kui? Dari mana munculnya seorang sute lagi?"
"Dia adalah seorang sute kami yang lain, putra sukoh kami. Sute-ku ini belum lama terjun ke dalam dunia persilatan sebelum berangkat ke wilayah Sinkiang, mungkin namanya tidak kau kenal, tapi kami rasa nama sukoh kami pasti kau kenal bukan?"
Andaikata dia tidak menyinggung soal sukoh-nya, mungkin keadaan masih mendingan, begitu hal tersebut disebut, nada suara The Hiong-toh semakin ketus lagi, katanya sambil tertawa dingin.
"Heeh… heeh… heeh… kau kira nama besar Lak-jiu-Koan-im akan membuatku ketakutan? Aku tidak ambil peduli urusan rumah tangganya. Kalian mau mencari sute-mu juga boleh, mengawal barang juga boleh, kalau kau mengatakan tak ada barang berharga yang dikawal, lepaskan semua pakaian kalian, biar kuperiksa seluruh tubuh kalian dengan seksama!"
Sebagai seorang lelaki, tentu saja Song Peng-ci dan Oh Lian-kui amat gusar setelah mendengar penghinaan itu, hampir saja dadanya meledak saking gusarnya.
Serentak kedua orang itu bangkit berdiri, kemudian teriaknya hampir berbareng.
"The toucu, terima kasih banyak atas maksud baikmu, sayang sekali kami tak pandai minum arak. Arak kehormatan juga boleh, arak hukuman juga boleh, lebih baik arak tersebut disimpan untuk dirimu sendiri saja!"
"Hmm… aku mempunyai sebuah watak, yakni apa yang telah kukatakan tak akan kutarik kembali,"
Ujar The Hiong-toh dingin.
"Kalau toh kalian enggan menerima maksud baikku, arak hukuman ini bagaimanapun juga harus kalian minum!"
Berbicara sampai di sini, mendadak dia berpaling dan menatap Nyo Yan, kemudian tegurnya.
"Siapakah bocah ini?"
"Seorang pengemis yang tiada hubungannya dengan kami,"
Jawab Song Peng-ci cepat "Saudara cilik, lebih baik kau tinggalkan tempat ini!"
Bisik Oh Lian-kui pula.Mendadak The Hiong-toh membentak.
"Siapa pun dilarang keluar dari pintu kuil, ayo cepat menggelinding ke samping sana!"
"Baik, toako,"
Jawab Nyo Yan. Dia lantas berjalan ke sudut ruangan dan berjongkok sambil menempel di dinding kuil, kemudian sambil tertawa cekikikan ujarnya.
"Toaya, rupanya kalian hendak berkelahi? Aku paling suka melihat orang berkelahi."
Sekalipun The Hiong-toh agak menaruh curiga terhadap tingkah laku Nyo Yan yang aneh, akan tetapi dia sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap pemuda itu, pikirnya.
"Mungkin saja kau memang benar-benar seorang bocah dungu yang tak tahu diri."
Pelan-pelan diisapnya asap hun-cwee itu dalam-dalam, lalu sambil bangkit berdiri katanya.
"Baik, kalian suheng-te boleh maju bersama."
"Kau datang bermaksud membegal barang kawalan,"
Ujar Song Peng-ci.
"walaupun kali ini kami tidak mengawal apa-apa, namun akan kami hadapi dirimu dengan peraturan pengawalan barang."
Rupanya Ceng-wan piaukiok merupakan pemimpin dari perusahaan pengawalan barang, sebagai perusahaan yang punya nama, mereka telah menentukan sebuah peraturan khusus yakni sopan santun lebih dulu sebelum menggunakan kekerasan, maka mereka harus menunggu sang pembegal turun tangan lebih dulu sebelum piasu-piausu-nya turun tangan.
The Hiong-toh segera mendengus dingin, ujarnya.
"Dari mana datangnya begitu banyak peraturan busuk? Baiklah, aku pun tak punya waktu untuk bersungkan-sungkan lagi dengankaitan, kalau toh kalian enggan menyerahkan barang kawalan kepadaku, maka aku akan melakukan penggeledahan sendiri."
Selesai berkata pelan-pelan dia berjalan mendekati Song Peng-ci, sedangkan tangan kirinya masih memegang huncwee sambil mengisapnya dalam-dalam, dari sikapnya itu dapat diketahui bahwa dia sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada mereka.
Begitu tiba di hadapan Song Peng-ci, tiba-tiba saja sebuah serangan dilancarkan.
Dengan cekatan Song Peng-ci menarik lambungnya ke belakang tanpa menggerakkan kakinya, lalu badannya ditarik lima inci lebih untuk membiarkan serangan lewat, setelah itu… "weees,..!"
Sebuah pukulan balasan dilancarkan. Berkelit sambil menyerang, semuanya dilakukan tepat pada waktunya. Diam-diam Nyo Yan memuji.
"Bagus sekali! Benar-benar tak malu menjadi murid-murid didikan ayahku, ilmu pukulan Lak-yang-ciang dari keluarga Nyo yang dipergunakan itu tampak jauh lebih matang daripada Ki See-kiat."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat lewat, tampak The Hiong-toh menyemburkan asap huncwee-nya ke depan, dalam remang-remangnya suasana karena asap huncwee yang tebal, dia melancarkan sebuah cengkeraman maut lagi.
Kali ini Song Peng-ci tak mampu lagi untuk menghindarkan diri… "Breet!"
Pakaian yang dikenakan segera tersambar robek. Buru-buru Oh Lian-kui maju membantu suheng-nya, dengan suara keras dia membentak.
"Permainan setan apakahyang sedang kau lakukan? Ingin mencelakai orang dengan serangan gelap?"
The Hiong-toh tertawa.
"Kau si ayam kecil yang baru keluar dari rumah, asap beracun atau bukan asap beracun masa tak bisa kau bedakan? Aku sudah tergila-gila dengan bau tembakau, peraturan mana yang melarangku menghisap huncwee?"
Nyo Yan yang bersembunyi di sudut ruangan dapat mengendus pula bau asap yang kebetulan berhembus lewat terbawa angin, dia menarik napas panjang-panjang, kemudian, pikirnya.
"Apa yang diucapkan pembegal ini memang benar, asap huncwee-nya tidak beracun. Sekalipun menyembur mata orang merupakan suatu tindakan yang licik, tapi sekalipun Song dan Oh berdua turun tangan bersama pun belum tentu bisa mengalahkan dia, jadi tak bisa dibilang kalau dia mencari keuntungan dengan cara tersebut."
Sementara itu, walaupun The Hiong-toh sedang berbicara akan tetapi gerakan tangannya sama sekali tidak melamban, dalam sekejap mata beberapa jurus serangan telah dilancarkan.
Menyusul kemudian, katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… kalian bukan tandinganku, kenapa tidak sekalian kau loloskan senjata tajam? Aku ingin tahu sampai di manakah ilmu golok dan ilmu pukulan dari keluarga Nyo yang berhasil kalian pelajari."
Agaknya Song Peng-ci dan Oh Lian-kui juga sudah tahu kalau mereka bukan tandingan lawan, tidak sampai The Hiong-toh menyelesaikan kata-katanya, golok mereka telah diloloskan.Cuma saja mereka rikuh, karena selain harus dua lawan satu» mereka pun mempergunakan senjata tajam.
Karena itu, tanpa mengucapkan separah kata, sepasang golok dilontarkan bersama, sepasang telapak tangan menyambar ke sana kemari menggencet pembegal itu habis-habisan.
"Traanng… Traaaang!"
Dua kali benturan nyaring berkumandang, dua bilah golok baja telah membacok huncwee The Hiong-toh yang hitam pekat itu sehingga menimbulkan percikan bunga api.
Dengan cekatan The Hiong-toh membalikkan badan ke samping, dengan begitu ancaman telapak tangan kedua orang itu segera mengenai sasaran kosong.
The Hiong-toh tertawa terbahak-bahak, ejeknya.
"Tangan beradu tangan, senjata beradu senjata, itulah peraturanku!"
Di tengah gelak tawa, dengan gerakan Koay-mong-huan-sin (Ular Aneh Membalikkan Badan) hun-cwee besinya dihantamkan ke depan untuk mementalkan golok Song Peng-ci, lalu secara tiba-tiba ia pun menyelinap ke belakang punggung Oh Lian-kui dan melancarkan serangan mematikan.
Tampaknya Nyo Yan telah salah perhitungan, dia pernah menyaksikan ilmu silat Ki See-kiat dan tahu kalau ilmu silat Ki See-kiat setaraf dengannya, dalam anggapannya Song Peng-ci dan On Lian-kui sebagai kakak seperguruan Ki See-kiat tak akan lebih rendah, paling tidak toh kepandaian mereka akan ber-imbangjuga.
Paling tidak, tidak akan menderita kekalahan dalam waktu singkat.Oleh karena itu dia mengambil keputusan, bila tidak sampai pada detik terakhir, dia tak akan melancarkan serangan untuk memberi bantuan.
Dengan demikian, pertama dia tidak akan membocorkan jejaknya, kedua dia pun akan melindungi nama baik Song Peng-ci dan Oh Lian-kui yang mungkin saja masih menyimpan jurus mematikan.
Belum tentu mereka tidak mampu untuk mengalahkan penyamun ini.
Mungkin dugaan itu meleset.
Pada saat itu The Hiong-toh telah menggunakan Langkah Tujuh Bintang To-cay-jit-seng-poh untuk bergerak ke depan, dan kemudian tangannya diayunkan ke depan, dengan jurus Heng-kang-long (Membendung Sungai Menahan Ombak).
"Traang…!"
Suara senjata beradu yang amat nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan.
Dalam bentrokan ini, golok baja Song Peng-ji dan Oh Lian-kui ter-sampokjatuh.
The Hiong-toh merentangkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
Dalam keadaan demikian, tak sempat lagi buat Song Peng-ci dan Oh Lian-kui untuk melompat ke samping guna menghindarkan diri.
"Blaaamm…!"
Seketika tubuh mereka roboh terjengkang ke atas tanah.
Ternyata huncwee milik The Hiong-toh selain bisa digunakan sebagai toya, juga bisa digunakan untuk menotok jalan darah orang sebagai senjata Poan-koan-pit.Sekarang Nyo Yan baru terperanjat, segera pikirnya.
"Ilmu silat penyamun ini tidak terhitung seberapa, namun ilmu menotok jalan darah yang dimilikinya benar-benar hebat sekali."
Begitu terjengkang ke atas tanah, buru-buru Song Peng-ci dan Oh Lian-kui mengerahkan tenaga dalamnya untuk menembus jalan darah mereka yang tertotok.
Seandainya mereka tidak mengerahkan tenaga dalam, mungkin masih mendingan, begitu hawa mumi disalurkan, sekujur badannya terasa seakan-akan ditusuk jarum yang amat tajam, sakitnya bukan alang kepalang.
Tapi mereka enggan kehilangan muka, terpaksa sambil mengertak gigi harus menahan diri.
Begitu berhasil merobohkan kedua orang musuhnya, The Hiong-toh segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… maaf piautau berdua, terpaksa aku harus menelanjangi kalian."
Terkejut dan gusar Song Peng-ci menghadapi keadaan seperti ini, dia tak rela dirinya mendapat malu, timbul keinginannya untuk memutuskan nadi sendiri dan bunuh diri.
Tapi, untuk menembus jalan darah sendiri yang tertotok pun tak mampu, apalagi ingin memutuskan nadi sendiri, tentu saja hal ini semakin tak mampu untuk dilakukan, terpaksa dia harus menahan penderitaan yang makin hebat.
Baru saja The Hiong-toh hendak membuat malu mereka berdua, tiba-tiba Nyo Yan berdiri, setelah menggeliat dan melemaskan otot badan, ujarnya.
"Toaya, kamu tidak usah membuang tenaga dengan cuma-cuma."
The Hiong-toh segera berpaling, kemudian bentaknya keras-keras.
"Pengemis cilik, apa maksudmu?"
"Barang berharga yang mereka kawal itu berada di dalam sakuku!’r The Hiong-toh segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.
"Haah… haah… untung saja aku cukup tahu diri, ternyata kau memang benar-benar merupakan komplotan mereka."
"Kau keliru, aku bukan komplotan mereka juga bukan pegawai perusahaan mereka, aku hanya menerima budi baik mereka, orang yang sudah memperoleh uang tentu bersedia pula menerima bencana bagi orang lain, ketika mereka minta kepadaku untuk menyimpan sebuah kotak kecil, masa aku harus menampik permintaannya?"
Song Peng-ci dan Oh Lian-kui terperanjat sekali setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Pengemis cilik ini benar-benar seorang yang baik, tetapi apakah perkataan bohong itu dapat mengelabui si pencoleng tersebut sampai lama..?"
"Budi baik apakah yang telah kau terima dari mereka?"
Terdengar suara The Hiong-toh.
"Mereka mengundang aku minum arak, dan bahkan bersedia memberikan hadiah dua tahil perak kepadaku."
"Baik, aku pun akan mengundangmu minum arak, memberi dua tahil perak kepadamu, tapi serahkan kotak tersebut kepadaku."
Nyo Yan segera memperlihatkan sikap terkejut dan girang, serunya dengan segera.
"Haahh… haahh… haahh, dua tahil perak? Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Tentu saja sungguh, ayo cepat bawa kemari!"
Nyo Yan segera berjalan menghampirinya, kemudian berkata.
"Perak yang gemerlapan putih memang cukup menyilaukan mata orang, terpaksa aku tak akan mcmperduiikan soal setia kawan lagi, cuma kau tak usah meminta kepadaku untuk minum arak lagi, sudah cukup banyak arak yang kuminum. Apalagi arak kehormatan dan arak hukuman itu, aku lebih merasa takut lagi."
The Hiong-toh adalah seorang jago silat kawakan dari dunia persilatan, tentu saja dia pun dapat melihat kalau gerak-gerik Nyo Yan itu sangat mencurigakan, namun dia masih tidak memandang sebelah mata terhadap persoalan itu.
Segera bentaknya keras-keras.
"lak usah banyak bicara lagi, sekarang, kau sudah mengetahui sampai di manakah rasanya arak hukuman, jika kau berani mempermainkan aku, maka kau pun harus merasakan pula arak hukuman tersebut!"
"Toaya, kau jangan menakut-nakuti aku…."
Mendadak setelah berhenti sejenak, dia berteriak keras-keras.
"Aduh celaka aku, aku ingin tumpah!"
Mendadak dia membuka mulutnya lebar-lebar, arak segera menyembur keluar dari mulurnya dan langsung menghajar muka The Hiong-toh.
Kejadian ini sama sekali di luar dugaan The Hiong-toh, sekalipun ia cukup cepat berkelit ke samping, tak urung mukanya kena disembur juga oleh muntahan arak itu.
Betul muntahan arak tak sampai melukai orang, akan tetapi baunya bukan kepalang, hampir saja membuatnya muntah-muntah.Dengan kening berkerut Nyo Yan berkata.
"Aku toh sudah bilang, aku tak bisa minum arak, setiap kali kau singgung tentang arak, aku tak tahan ingin tumpah…."
Belum habis dia berkata, dengan amat gusar The Hiong-toh telah membentak keras.
"Bocah keparat, kau ingin mampus!"
Tangannya yang besar bagaikan kipas itu segera direntangkan lebar-lebar kemudian langsung diayunkan ke depan untuk mencengkeram tubuh Nyo Yan….
Nyo Yan segera berpura-pura ketakutan sambil menjatuhkan tubuhnya ke tanah, tapi gerakan tersebut justru secara kebetulan berhasil meloloskan diri dari ancaman tersebut Bagaikan keledai malas menggelinding, dengan cepat dia kabur ke sudut ruangan, sementara dalam hatinya dia berpikir.
"Apa yang mesti kulakukan untuk menghadapi dia? Ya, cara itu mesti bisa membuat dia tahu diri dan segera mengun-durkan diri…."
Dalam pada itu, The Hiong-toh semakin berpikir semakin curiga, dia lantas membentak.
"Bocah keparat, ingin kulihat kepandaian apakah yang kau miliki untuk meloloskan diri dari cengkeramanku."
Nyo Yan bersembunyi di sudut ruangan sambil memperlihatkan sikap seolah-olah ketakutan, ia telah bersiap sedia, dia bersiap-siap menghadapi terjangan The Hiong-toh dengan senjata rahasia Thian-san-sin-bong.
Tapi entah mengapa, ketika dia telah bersiap melepaskan serangan, mendadak The Hiong-toh membatalkan niatnya untuk maju.Ia berhenti di tempat, secara tiba-tiba menemukan sesuatu yang tak beres.
Apa yang terjadi?
Mungkin orang itu sudah tahu kalau pengemis yang tampaknya tak bisa apa-apa ini sesungguhnya adalah manusia berilmu silat tinggi?
Atau mungkin dia sudah tahu kalau dirinya bakal terancam oleh serangan maut bila maju lebih ke depan?
Koan-im Bertangan Keji Tiba Pada saat itulah, tiba-tiba berkumandang suara bentakan bernada dingin.
"Siapa yang ingin mampus? Hmm, hmm, ingin kulihat sampai di manakah ilmu silat yang dimilikinya sehingga berani berbicara sesumbar…."
Bila didengar dari suara bentakan itu, dapat diduga kalau dia adalah seorang perempuan berusia lanjut Bersama dengan berkumandangnya suara bentakan itu, sesosok bayangan manusia berkelebat datang, ternyata dia adalah seorang nenek berusia lima puluh tahunan.
Seperti suaranya yang dingin menyeramkan nenek itu berwajah dingin dan kaku.
Mukanya kurus ceking dengan miang dagu yang meninggi, hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya membuat pentolan penyamun dari kalangan hitam yang sudah lama malang melintang dalam dunia persilatan terkesiap hatinya.
Song Peng-ci dan Oh Lian-kui telah ditotok jalan darahnya oleh The Hiong-toh sehingga tergeletak di tanah, kendatipun mereka tak mampu berkata-kata, namun ketika perempuantua itu melangkah masuk ke dalam kuil, dari tenggorokan mereka segera bergema suara parau yang tak jelas nadanya, seperti orang yang merasa terkejut bercampur girang.
Dengan wajah penuh hawa pembunuhan, nenek itu memandang sekejap ke arah The Hiong-toh.
kemudian katanya dingin.
"Aku mengira siapa yang begitu bernyali berani mengganggu anggota perguruan Nyo, ternyata kau The hoa-toucu!"
The Hiong-toh mengangkat hun-cwee besinya sambil bersiap-siap melakukan perlawanan, lalu menjawab.
"Aku pun tidak menyangka bakal berjumpa dengan Lak-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) Nyo toakoh di tempat ini, selamat berjumpa, selamat berjumpa!"
Sekarang Nyo Yan baru tahu, rupanya si nenek tersebut tak lain adalah bibinya Dalam waktu singkat pelbagai rasaan berkecamuk dalam hatinya, ia teringat kembali betapa ibunya dicemooh dan dihina olehnya, sehingga tanpa terasa timbul satu ingatan untuk berpeluk tangan belaka membiarkan nenek itu menga-lami penderitaan, kalau bisa alangkah baiknya jika ia dapat dihina oleh si perampok.
Tapi teringat kembali kalau nenek tersebut bagaimanapun juga adalah bibi kandungnya, timbul juga perasaan khawatir di hatinya.
"Dia sudah tua, apakah masih mampu merobohkan perampok tersebut..?"
Belum habis ingatan tersebut berkelebat lewat, Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh telah berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Terus terang kukatakan kepadamu, justru karena kujumpai kau sedang menguntit anak murid keluarga Nyo kami, maka sengaja aku menguntit pula di belakangmu. Aku sudah tahukalau kau bermaksud jelek, tak nyana nyalimu begitu besar, bukan cuma merobohkan mereka saja malah melukai pula Hmm… sekarang kau berani menghina dan mencemoohkan aku si nenek, heehh… heehh… katakan sendiri, kau hendak menghabisi nyawamu sendiri, ataukah aku yang membereskan kau?"
Yang dimaksudkan "menghabisi nyawa sendiri"
Adalah memaksa The Hiong-toh untuk bunuh diri.
Bagaimanapun juga, The Hiong-toh merupakan seorang jagoan lihay dari golongan hitam.
Di hari-hari biasa ia sudah terbiasa menganiaya serta mempermainkan orang.
Meski dia tahu Nyo toakoh "Lak-jiu-Koan-im"
Dan julukan "Lak-jiu"
Atau si tangan keji itu bukan nama kosong belaka, namun mana tahan menghadapi ejekan Nyo toakoh itu. Saking gusarnya dia sampai mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Hei, apa yang kau tertawakan?"
Bentak Nyo toakoh.
"Aku tertawa geli karena dalam dunia persilatan dewasa ini ternyata terdapat begitu banyak manusia angkuh yang tak tahu diri!"
"Ooh… jadi kau menuduhku tak tahu diri?"
"Tidak berani. Tapi sejak turun ke dunia persilatan, belum pernah aku orang she The tunduk kepada siapa pun, apalagi bertekuk lutut, aku ingin tahu manusia macam apakah yang dapat memaksaku untuk menghabisi nyawa sendiri?"
"Ooh… kalau begitu, kau bermaksud memaksa aku turun tangan menghabisi nyawamu?"
"Terhadap raja akhirat pun aku tidak takut, belum tentu tangan keji dari Lak-jiu-Koan-im bisa merenggut selembar jiwaku!"
"Baik, kalau begitu coba saja kita buktikan sendiri,"
Kata Nyo toakoh dengan suara hambar.
"Blaaam!"
Terdengar suara benturan keras berkumandang memecahkan keheningan.
Sepasang telapak tangan mereka telah saling membentur satu sama lainnya Termakan oleh pukulan yang amat kuat itu, The Hiong-toh kena digetarkan tubuhnya sehingga mundur tiga langkah dengan sempoyongan sebelum dapat berdiri tegak.
Rupanya ayunan hunewee di tangan kirinya tadi sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa, jangankan melukai lawan, menyentuh ujung bajunya pun tak berhasil, malahan benturan sepasang telapak tangan mereka tadi menimbulkan desingan angin tajam yang amat kuat.
Nyo toakoh segera tertawa dingin, jengeknya.
"Ilmu menotok jalan darah dengan huncwee masih mendingan, tapi soal ilmu membanting kau mesti berlatih sepuluh tahun lagi."
Di tengah suara tertawa dinginnya itu ilmu Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo segera dikembangkan.
Di balik jurus serangan terdapat jurus serangan, di balik gerakan tersimpan gerakan, setiap serangan yang dilancarkan semuanya mengandung paling sedikit enam gerakan perubahan yang berbeda-beda dan luar biasa.
Dalam sekejap mata, dari empat penjuru telah bermunculan bayangan tubuh Nyo toakoh.
Sehingga tubuh The Hiong-toh seketika itu terkurung di balik kabut serangannya itu.
Setelah menyaksikan ilmu silat yang dimiliki bibinya, hati Nyo Yanlega, diam-diam pikirnya.
"Julukan Lak-jiu-Koan-im memang tepat sekali buat bibi, tampaknya dia memang tidak bernama kosong belaka. Ilmu Lak-yang-c i ang yang dipergunakannya sekarang, tampak jauh lebih ganas dan dahsyat dari Ki See-kiat."
The Hiong-toh memberi perlawanan mati-matian untuk membendung semua ancaman yang tertuju kepadanya, sekarang dia cuma bisa menangkis tanpa bisa melancarkan serangan balasan, bahkan untuk menangkis dan mempertahankan diri pun tak mampu.
Dalam keadaan demikian ia lantas mengertak gigi kencang ken cang, ia ingin mengembangkan ilmu menotok jalan darah yang paling ganas untuk menyergap musuhnya, maka dengan buasnya dia melompat ke muka sambil bersiap-siap mengajak Nyo toakoh beradu jiwa.
Tampaknya Nyo toakoh sudah mengetahui maksud hatinya, bukan saja tidak berkelit, dia malah menerjang maju ke depan dan menyongsong datangnya ayunan hun-cwee baja itu, kemudian dicengkeramnya dengan begitu saja.
Diam-diam The Hiong-toh merasa amat girang, pikirnya.
"Nenek keparat, kau berani memandang remeh aku? Baik, tindakanmu itu justru merupakan apa yang kuharapkan!"
Dengan cepat dia mengarah jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak tangan Nyo toakoh dan disodoknya.
Jalan darah Lau-kiong-hiat merupakan salah satu jalan darah penting di tubuh manusia, seandainya sampai berlubang, bagaimanapun bagusnya ilmu silat seseorang juga akan menjadi cacat.Siapa tahu, begitu huncwee di-sodokkan ke muka, dia merasa seperti menghantam segumpal kapas, sama sekali tak berkekuatan apa-apa.
Sementara dia masih tertegun, telapak tangan kanan Nyo toakoh telah membabat kepalanya.
Buru-buru The Hiong-toh membuang huncwee-nya dan membendung serangan menggunakan sepasang telapak tangannya.
Kalau tadi dia seperti menghantam kapas yang empuk, maka kali ini sama sekali berubah.
Begitu sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan, ia segera merasa seperti menghantam dinding baja yang amat kuat.
"Blaam…!"
Terjadi bentrokan keras yang menggelegar bagaikan guntur yang membelah bumi, jauh lebih keras daripada tadi.
Saking kerasnya, sampai-sampai Nyo Yan yang bersembunyi di sudut ruangan pun merasakan telinganya sakit sekali seperti ditusuk-tusuk pisau.
Bagaikan bola yang terlempar ke udara, The Hiong-toh segera mencelat ke belakang, ternyata dia pun cukup bandel, sama sekali tidak merintih atau mendengus karena hantaman tersebut….
Darah segar menyembur keluar dari mulutnya, dia berjumpalitan beberapa kali kemudian ujung kakinya menjejak tanah dan menyelinap keluar dari kuil.
"Jika kau sanggup lari sejauh seratus langkah, hitung-hitung kau memang lihay!"
Jengek Nyo toakoh sambil tertawa dingin.Baru selesai dia berkata dari luar pintu kuil telah berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan hati, menyusul kemudian terdengar seperti ada batu cadas yang menggelinding jatuh ke bawah bukit.
Ternyata isi perut The Hiong-toh betul-betul sudah kena terhajar sampai hancur berantakan, benar juga, belum mencapai seratus langkah, ia sudah tak tahan dan roboh terguling di atas tanah.
Tak salah lagi, selembar jiwanya pasti sudah melayang meninggalkan raganya.
Nyo toakoh tak sempat menggubris Nyo Yan, dia segera memburu ke sisi keponakan muridnya dan memeriksa keadaan lukanya.
Ilmu menotok jalan darah yang dimiliki The Hiong-toh memang amat istimewa, Nyo toakoh harus mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menguruti jalan darah dari Song Peng-ci dan Oh Lian-kui agar terbebas dari pengaruh totokan, kurang lebih setengah sulutan hio kemudian, jalan darah mereka baru dapat bebas.
Agaknya Song Peng-ci cukup mengetahui tabiatnya, sebelum perempuan itu berkata apa-apa, dia sudah berseru lebih dulu.
"Sukoh, kepandaian kami sangat dangkal sehingga menghilangkan muka kau orang tua saja."
Nyo toakoh mendengus dingin.
"Hmm…! Bagus kalau kalian tahu, di kemudian hari mesti lebih giat melatih diri."
"Baik, sukoh!"
Jawab Song Peng-ci dan Oh Lian-kui berbareng. Setelah mendamprat mereka dengan beberapa patah kata, Nyo toakoh baru memperlunak nada suaranya.
"Jelek-jelek, The Hiong-toh termasuk seorang jagoan termasyhur di kalangan hitam, toa-suheng kalian saja masihbukan tandingannya apalagi kamu berdua? Aku memang tak dapat menyalahkan kalian berdua. Sekarang, bagaimana perasaan kalian?"
Song Peng-ci tak berani menjawab, sebaliknya Oh Lian-kui segera berseru.
"Dada kami terasa agak sakit!"
"Ehm… sudah kuduga sampai ke situ. Ilmu menotok jalan darah yang dimiliki The Hiong-toh dapat melukai delapan nadi penting, aku saja tak berani kena ditotok, tentu saja kalian tak akan kuat menahannya. Ehm, kalau dibicarakan kembali memang aku kelewat gegabah, tidak seharusnya aku datang terlalu lambat sehingga menunda waktu membebaskan totokan kalian, kini… kini…."
Song Peng-ci amat terperanjat, segera tanyanya.
"Sukoh, apakah kami terluka dalam?"
"Benar. Untung saja belum lewat dua jam, kalau tidak mungkin separuh tubuh kalian akan menjadi lumpuh. Kini…."
"Kini bagaimana?"
Tanya Oh Lian-kui pula. Agaknya Nyo toakoh jauh lebih menyayanginya, dengan cepat dia menjawab.
"Monyet kecil, ada sukoh di sini, apa yang kau takuti? Kini kalian boleh beristirahat sambil merawat luka di sini, luka ini tidak serius, paling banter tiga hari lagi juga sembuh. Nah, ambillah sebutir Siau-huan-wan tiap-tiap orang!"
Setelah mendengar perkataan itu, Oh Lian-kui baru merasa lega, dia segera menelan pil Siau-huan-wan itu dan berkata.
"Sukoh, untung saja kau orang tua datang tepat pada waktunya sehingga jiwa kami berdua dapat diselamatkan, kami sama sekali tidak menyangka kalau kau orang tua akan menyusul kemari."
"Bagaimana dengan kabar berita See-kiat, apakah kalian telah berhasil mendapatkan jejaknya?"
"Maaf sukoh, dalam setahun ini kami telah mencari dari Tibet sampai Sinkiang banyak tempat telah kami kunjungi, akan tetapi kami tidak berhasil mendapat kabar tentang diri sute."
Nyo toakoh segera mendengus dingin.
"Sudah. Kutahu kalau kalian berdua hanya gentong-gentong nasi yang sama sekali tak berguna, itulah sebabnya aku sengaja turun tangan sendiri. Bagaimana pula dengan Nyo Yan?"
"Lebih-lebih tak ada orang yang tahu,"
Jawab Song Peng-ci. Nyo Yan segera berpikir dalam hatinya.
"Perlukah kukatakan kepadanya kalau aku adalah keponakannya…?"
Pada waktu itulah Nyo toakoh baru menaruh perhatian kepadanya. terdengar dia bertanya.
"Siapakah bocah muda ini?’ "
Dia adalah seorang pengemis. Semalam hujan turun sangat lebat, karena kasihan kepadanya, maka ku persilakan masuk dan berteduh di sini."
"Aku rasa dia bukan seorang pengemis sembarangan?"
"Kalau soal itu kami kurang tahu,"
Sahut Song Peng-ci.
"Ehmm… hei pengemis cilik, nyalimu tadi benar-benar tidak kecil,"
Kata Nyo toakoh kemudian.
"Hidup sebagai manusia harus tahu membalas budi,"
Sahut Nyo Yan.
"Toaya berdua itu telah memberi makanan untukku, memberi arak untukku, bahkan memperbolehkan aku menghangatkan badan. Aku tak bisa membalas budi kepadamereka, maka terpaksa mesti membesarkan nyali untuk bersiasat, kalau bisa mengulur waktu berapa saat, aku pun berusaha untuk membohongi penyamun itu. Untung kau orang tua segera datang, ya, kalau dipikirkan sekarang, aku benar-benar merasa takut."
Nyo toakoh menatapnya tajam-tajam, lalu berkata.
"Bagaimanapun juga kau telah membantu kedua keponakan muridku, aku pun tak akan menyelidiki siapa dirimu yang sesungguhnya Bila kau memang benar-benar seorang pengemis, nah terimalah sekeping uang perak ini sebagai hadiah, sekarang kau boleh pergi."
Selesai berkata dia lantas melemparkan sekeping uang perak seberat lima tahil ke depan pengemis itu.
Nyo Yan pura-pura menyambut uang perak itu dengan wajah berseri, tapi ketika tangannya menyentuh uang perak tersebut, tiba-tiba ia menjerit kesakitan dan roboh ter-jengkang, sementara uang perak itu menggelinding ke samping.
Rupanya sewaktu melemparkan uang perak tadi, Nyo toakoh telah menyertakan sedikit tenaga dalam, tenaga dalam itu tak melukai orang, tapi bisa digunakan untuk mencoba apakah Nyo Yan mengerti ilmu silat atau tidak….
"Hei, kenapa kau? Tidak terluka bukan?"
Seru Nyo toakoh kemudian.
"Ooh… tenagamu benar-benar amat besar,"
Seru Nyo Yan sambil bermuram durja.
"Masih untung cuma lecet-lecet di kulit saja"
"Ternyata kamu memang benar-benar tidak mengerti ilmu silat. Cepat ambil uang perak itu dan pergi dari sini!"
Nenek ini mana tahu jikalau Nyo Yan memang sengaja jatuh terjengkang untuk mengelabuinya.
Nyo Yan segera memungut uang perak itu sementara ia masih sangsi dan tak tahu apakah harus memberitahukan kabar tentang Ki See-kiat atau pergi dari situ, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu.
"Kau si pengemis memang lagi mujur, di mana-mana mendapat untung, kenapa mesti buru-buru pergi dari sini?"
Ternyata orang itu adalah si gadis yang berwatak aneh itu. Entah mengapa, setiap kali Nyo Yan bertemu dengannya, ia selalu merasa girang bercampur tak tenang, diam-diam pikirnya.
"Mengapa iblis kecil ini muncul secara tiba-tiba? Entah permainan setan apa lagi yang sedang dipersiapkan?"
Yang seorang adalah gadis berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, sebaliknya yang lain adalah seorang pengemis cilik yang berpakaian dekil dan compang-camping.
Namun cara gadis itu berbicara dengan Nyo Yan seakan-akan sikap seorang teman terhadap sahabat lamanya.
Sikap yang sama sekali berlawanan dengan keadaan ini, kontan saja menimbulkan kecurigaan di dalam hati Nyo toakoh.
"Ooh… jadi kalian sudah saling mengenal?"
Tanya Nyo toakoh sambil menatap gadis itu lekat-lekat.
"Ya, kemarin baru saja kuberi sekeping dua tahil kepadanya."
"Nona, kau benar-benar amat sosial,"
Ujar Nyo toakoh hambar.
"masa memberi sedekah kepada seorang pengemis juga sekeping perak. Tapi mengapa..?"
"Sama-sama, kau sendiri pun tidak kikir. Kemarin, aku memberi sedekah kepadanya tidak, lebih berat daripada uangyang kau berikan kepadanya sekarang. Mengapa pula dengan kau?"
"Urusanku lebih baik tak usah kau campuri’ "
Lantas mengapa kau mesti bertanya kepadaku? Aku lebih-lebii tidak suka bila orang lain mencampuri urusanku."
Nyo toakoh disebut orang sebagai Lak-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) belum pernah ia disemprot orang dengan kata-kata sepedas ini.
Kontan saja hawa gelap menyelimuti seluruh wajahnya, tapi dengan kedudukannya sekarang, dia pun enggan untuk banyak ribut hanya disebabkan masalah itu.
Maka dari itu, walaupun ia tak sampai mengumbar hawa amarahnya, namun paras mukanya segera berubah menjadi tak sedap dipandang.
Sebaliknya gadis itu malah cekikikan, melirik sekejap ke arahnya pun tidak, dia lantas berpaling ke arah Nyo Yan dan berkata.
"Aku lihat kau memang agak aneh, kuanggap kau sebagai seorang pengemis biasa, tapi setelah aku pikir-pikir, rasanya sikapku ini jelas keliru besar!"
"Belum lagi kukatakan kau ini aneh, sekarang kau malah yang mengatakan aku aneh…"
Pikir Nyo Yan di dalam hati. Dengan cepat dia menunjukkan sikap yang patut dikasihani, ujarnya sambil tertawa getir.
"Apanya yang aneh dengan diriku ini? Oh, nona. Kau jangan mengajakku bergurau."
"Hmmm… masih bilang tidak aneh, mengapa selalu terdapat persoalan-persoalan aneh di sekitarmu? Tentu saja hal ini karena kau si manusia aneh yang menimbulkan pelbagai persoalan aneh itu."
"Nona, aku tidak mengerti maksudmu, persoalan-persoalan aneh apa sih yang telah kulakukan?"
"Pertama, setiap kali bertemu kau, selalu saja ada orang yang memberi uang kepadamu. Kedua, orang yang berada bersamamu selalu berada dalam keadaan terluka. Ketiga, setiap kali bertemu dengan kau, selalu kujumpai pula kejadian-kejadian yang mendatangkan kesialan, kalau bukan dibegal pencoleng, tentu bertemu dengan perempuan gila yang sedang marah-marah besar."
Begitu mendengar ucapan tersebut, kontan saja amarah Nyo toakoh berkobar, tak tahan lagi dia lantas mendelik ke arah gadis itu sambil berseru.
"Kau… kau… kau memaki siapa perempuan gila?"
"Aku toh tidak mengatakan kau, bila kau merasa dirimu adalah seorang perempuan gila, apa pula sangkut pautnya denganku?"
"Kau si budak cilik yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, aku tak akan ribut denganmu, cepat katakan siapakah orangtuamu!"
"Bagus sekali, aku tidak memakimu perempuan gila, kau malah memakiku budak cilik. Buat apa kau tanyakan orangtuaku…?"
"Kalau dilihat tampangmu, agaknya belajar silat baru beberapa hari, kalau tidak masa suka mencari urusan dengan orang. Hmm…! Aku menghendaki orangtuamu bisa baik-baik mendidik kau!"
"Siapakah nama suamimu?"
Pertanyaan ini diajukan sangat mendadak, dari nadanya tentu dia hendak mengatakan kalau suami Nyo toakoh tidak baik-baik mendidik istrinya, senada dengan ucapan Nyo toakoh yang mengatakan hendak menyuruh orang tuanya baik-baik mendidik gadis itu.
"Suamiku sudah lama mati, buat apa kau menanyakan hal ini?"
Jawab Nyo toakoh dengan suara dalam.
"Ooh, rupanya dia mati karena dibuat jengkel olehmu, tak aneh kalau begitu."
Saking gusarnya Nyo toakoh sampai tak sanggup berkata-kata lagi, dia hanya menuding gadis itu sambil berseru.
"Kau… kau… kau…."
"Kenapa aku?"
Sahut gadis itu sambil tertawa. Nyo Yan sendiri pun merasa kalau gadis itu agak kelewat batas, maka tiba-tiba katanya.
"Hujan telah berhenti, aku hendak pergi dulu. Nona, bersediakah kau melakukan perbuatan baik?"
"Kau menginginkan aku untuk berbuat baik?" ‘Terus terang saja, seperti apa yang kau duga semalam kami telah bertemu dengan penyamun. Dua hari beruntun ini aku bertemu penyamun terus, walaupun penyamun tak akan merampok pengemis, tapi aku sudah dibikin ketakutan olehnya. Nona, kepandaianmu sangat bagus, bersediakah kau mengantarku sampai di bawah bukit? Bagaimanapun kau toh akan pergi juga bukan? "
Gadis itu segera tertawa cekikikan.
"Kau bukan takut bertemu penyamun, kau takut bertemu dengan orang jahat. Cuma, kunasihatkan kepadamu lebih baik jangan pergi saja."
"Kenapa?"
"Kau tak ingin melihat keramaian? Aku tahu kau paling suka melihat keramaian, bukankah begitu? Kalau tidak, pada malam itu kau tak akan bernyali begitu besar."
"Keramaian apa yang bisa dilihat di tempat ini?"
Seru Nyo toakoh sambil menahan diri.
"Budak cilik, kuanjurkan kepadamu lebih baik cepat-cepatlah pergi dari sini!"
Sebetulnya setelah perkataan itu masih ada beberapa patah kata lagi, hanya kata-kata tersebut tidak sampai diutarakan, yakni "
Kalau tidak, bila aku sudah marah, kau akan merasakan penderitaan yang hebat.’ Cuma, walaupun tidak di utara kan, baik Nyo Yan maupun gadis tersebut dapat menangkap juga arti katanya.
Gadis itu segera tertawa.
"Sebetulnya aku hendak pergi, tapi setelah mendengar perkataanmu itu, aku justru tak akan pergi!"
Nyo toakoh adalah seorang perempuan yang tinggi hati, walaupun dia mempunyai julukan Lak-jiu-Koan-im, akan tetapi kekejian tangannya tak pernah digunakan untuk menghadapi manusia yang tak ternama.
Sekalipun demikian, tampaknya hawa amarahnya sekarang benar-benar sudah dikobarkan oleh tingkah laku gadis tersebut, tak tahan dia lantas berseru.
"Budak liar, tampaknya kau memang bermaksud membuat aku marah? Jika kau berani berbicara swmbarangan lagi, aku tak akan peduli kau anak siapa, akan kuhajar adat lebih dulu!"
"Dua malam berselang, ada seorang pencoleng yang mengatakan dengan garang hendak memberi pelajaran kepadaku, tahukah kau bagaimana akibatnya?"
"Hmm, bagaimana?"
Nyo toakoh mendengus.
"Sebenarnya juga tidak apa-apa, aku hanya menempelengnya empat kali!"
Kemarahan Nyo toakoh semakin memuncak, dengan suara berat dan dalam dia berseru.
"Bocah perempuan, kau tahu siapakah aku?"
Dia menduga orangtua atau guru nona ini kebanyakan adalah jago yang ternama di dalam dunia persilatan, kalau tidak gadis itu tak mungkin begitu kurang ajar, bila dugaannya tak salah, maka kendatipun gadis itu tidak tahu siapakah dia paling tidak nama Lak-jiu-Koan-im pasti pernah didengarnya dari mulut orangtua atau gurunya.
Tidak menanti ia menyebutkan namanya, gadis itu telah berkata sambil tertawa, ‘Tentu saja aku tahu siapakah kau, kalau tidak, aku pun tak akan datang kemari!"
Jawaban ini sama sekali di luar dugaan Nyo toakoh, tanpa terasa timbul perasaan curiga dalam hatinya, dia lantas berkata.
"Siapa yang mengutusmu datang mengacau?"
"Belum ada seorang manusia pun di dunia ini yang bisa mengutus aku,"
Sahut gadis itu dingin.
"Kau sudah tahu siapakah aku, tapi berani datang menggangguku, tampaknya nyalimu memang tidak kecil! Cuma, aku ingin bertanya satu hal kepadamu, karena alasan apakah kau sengaja menggangguku dan membuat aku marah?"
"Perkataan ini seharusnya terbalik, kau dulu yang membuat kemarahanku berkobar. Cuma aku tak akan mengajakmu ribut hanya disebabkan persoalan kecil itu saja, kau bertanya kepadaku mengapa datang mencarimu, soal ini aku sih dapat memberitahukan kepadamu secara terus terang."
"Baik, coba katakan! Mengapa belum juga berbicara?"
"Aku khawatir kau tak tahan!"Nyo toakoh segera mendengus.
"Hmmm Selama hidup, entah berapa banyak badai dan gelombang besar yang telah kualami, hanya mengandalkan beberapa kata dari kau si budak ingusan belum dapat membuat aku merasakan apa-apa. Cepat katakan!"
Gadis itu menatap lawannya sekejap, kemudian pelan-pelan berkata.
"Aku dengar kau mempunyai julukan yang dinamakan orang sebagai Lak-jiu-Koan-im, apakah hal ini benar?"
"Kalau benar kenapa?"
"Aku datang karena julukanmu itu, sengaja kudatang kemari untuk melihat macam apakah manusia yang menamakan dirinya Lak-jiu-Koan-im itu?"
"Ehmm… rupanya ia datang karena mengagumi namaku,"
Pikir Nyo toakoh dalam hati. Tanpa terasa nada suaranya jauh lebih melunak. Dia pun kemudian berkata.
"Sekarang kau telah bertemu denganku, kenapa tidak pergi? Apakah masih ada persoalan yang hendak kau bicarakan denganku?"
Gadis itu segera menghela napas panjang.
"Aaai… setelah berjumpa, aku merasa kecewa sekali!"
"Apa yang kau kecewakan?** tanya Nyo toakoh keheranan.
"Manusia punya nama, pohon punya bayangan, semula aku mengira seseorang yang berjuluk demikian pasti jauh lebih keren atau menyeramkan daripada orang aslinya, siapa tahu setelah perjumpaan hari ini, kau si Lak-jiu-Koan-im…"
Berbicara sampai di sini dia menggelengkan kepalanya berulang kali, sampai sekian lama kemudian ia melanjutkan.
"Julukan Koan-im sudah pasti tak mengena, sedangkansebutan Lak-jiu… betul belum sampai kucoba kelihayanmu, tapi aku rasa hal ini pasti hanya nama kosong belaka!"
Sewaktu masih muda dulu, Nyo toakoh sesungguhnya adalah seorang gadis yang cantik dan kaya, bagi seorang perempuan yang di masa mudanya dulu pernah bangga karena kecantikannya, di usianya sekarang tentu suka jika orang memuji ‘pandai merawat diri dan awet muda kendatipun di dalam kenyataan tak demikian.
-bersambung ke
Jilid II----ooo0dw0ooo---
Jilid II Perempuan Cilik Mempermainkan Nyo toakoh Ia cantik dan tinggi hati, selama ini selalu menganggap dirinya paling top dan jempolan, oleh karena itu ketika ia tahu orang lain menyebutnya sebagai Lak-jiu-Koan-im (Koan-im bertangan keji), walaupun di wajahnya menunjukkan rasa tak senang, padahal di hati kecilnya merasa gembira tak karuan.Tapi sekarang, gadis itu menyindir dan mencemoohnya di hadapan orang banyak, peristiwa semacam ini boleh dibilang merupakan kejadian yang belum pernah dialami.
Tapi justru hal ini telah melanggar pantangannya yang paling besar.
Nyo toakoh yang sebenarnya sudah dibikin keki, semakin mendongkol lagi, sehingga akhirnya dia tak tahan dan meledaklah semua kemarahannya.
"Budak ingusan, kurang ajar benar kau. Bila tak minta maaf kepadaku, hari ini aku persen tempelengan kepadamu!"
Teriak Nyo toakoh dengan gusarnya. Mendengar ancaman tersebut, bukannya minta maaf, gadis itu malah berkata lagi sambil tertawa.
"Aku memang ingin melihat sampai di manakah keganasan tangan keji dari Lak jiu-Koan-im. Bagus sekali, mari kita buktikan siapakah yang akan berhasil menampar."
Dalam keadaan yang amat gusar, Nyo toakoh tak mempedulikan kedudukannya lagi, sambil mengayunkan tangannya dia mengirim sebuah tempelengan ke depan.
Dengan cekatan gadis itu berkelebat ke samping dengan langkah yang enteng, secara manis dan meyakinkan dia berhasil meloloskan diri dari ayunan tangan Nyo toakoh, kemudian sambil tertawa katanya.
"Kau gagal menampar aku, sekarang giliranku menampar kau!"
Kelima jari tangannya dirapatkan lalu diayunkan ke depan, dengan suatu gerakan yang indah bagaikan kupu-kupu terbang di antara bunga, dia mengejar lawannya.
Nyo Yan yang menonton jalannya pertarungan itu menjadi tertarik, dia seolah-olah lupa kalau orang yang hendak dihajar gadis itu adalah bibinya sendiri, tanpa terasa dia bersorak-sorai memberi semangat kepada gadis tersebutNyo toakoh adalah seorang ahli silat kawakan, menyaksikan jurus serangan yang dipergunakan gadis itu, ia terkejut sekali.
Harus diketahui, dia berjuluk Lak-jiu-Koan-im, seperti yang dika-takan gadis itu, manusia punya nama, pohon punya bayangan, tentu saja dia tak boleh bertarung berdasarkan keberuntungan belaka.
Oleh karena itu, tak peduli apakah dia ingin atau tidak ingin merenggut nyawa gadis itu, asal dia berhasil menempeleng gadis itu, maka tindakannya tersebut belum bisa dikatakan "keji" ., Walaupun demikian, jarang sekali ada jago kenamaan dari dunia persilatan yang berhasil meloloskan diri dari kurungan telapak tangannya dengan begitu mudah.
Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja gadis itu dapat meloloskan diri dengan cepat bahkan serangan yang dilancarkan gadis itu segera mengancam urat nadi pada pergelangan tangannya, ketepatan serta kejituannya dalam melancarkan serangan benar-benar telah mencapai puncaknya.
Nyo toakoh dapat melihat dalam ayunan tangannya yang tampak begitu enteng dan sederhana itu, sesungguhnya disertai tenaga dalam yang amat sempurna, seandainya sampai kena tersambar, niscaya lengannya itu akan menjadi cacat Semula Nyo toakoh masih tidak memandang sebelah mata gadis itu, tapi sekarang, ia tak berani memandang enteng lawannya lagi….
Tampaknya kelima jari tangan gadis itu segera akan menyambar urat nadi pergelangan tangan Nyo toakoh, dalam detik yang terakhir inilah Nyo toakoh telah menggeserbadannya berpindah tempat sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan bersama-sama, kali ini dia telah mempergunakan jurus mematikan dari ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu.
Tadi, dalam serangan maut inilah The Hiong-toh terluka parah hingga menemui ajalnya.
Nyo Yan dapat melihat jelas bahwa serangan yang dilancarkan Nyo toakoh sekarang telah mempergunakan tenaga sebesar tujuh bagian.
Mungkin saja tenaga dalam yang dimiliki gadis itu masih berada di atas tenaga dalam The Hiong-toh, namun sanggupkah dia untuk menyambut datangnya serangan mematikan yang mahadahsyat itu?
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tubuh si gadis sudah melayang ke sampingi dengan entengnya mengikuti sambaran angin pukulan lawan, kemudian tangannya menerobos di samping iga dan menghantam dari samping.
Kemudian ketika ancaman itu sampai di tengah jalan, serangan pukulan berubah menjadi serangan mencengkeram, kali ini dia mencengkeram tulang pi-pa-kut di atas bahu Nyo toakoh.
Tindakan yang dilakukan olehnya ini sama sekali di luar dugaan Nyo toakoh, tapi dia memang cukup berpengalaman, walaupun gugup tak sampai kalut, serangan yang semula berupa terjangan ke arah lawan secara tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan lalu berdiri tak berkutik.
"Bocah perempuan, kejam benar kau!"
Bentaknya.Sambil membalikkan badan dia lancarkan pula sebuah cengkeraman maut.
Agaknya gadis itu telah memperhitungkan semua gerak-gerik lawan dengan amat tepat dia tahu musuhnya harus berkelit dulu sebelum bisa melancarkan serangan balasan, dia pun tahu ilmu silat yang dimiliki Nyo toakoh, cengkeramannya tak nanti mengena secara jitu pada tulang pi-pa-kut lawannya, asalkan dia bisa dipaksa untuk berkelit, maka dia pun bisa turun tangan melancarkan serobotan guna meraih kemenangan.
Siapa sangka, walaupun perhitungannya cukup manis, sayang kenyataannya tidak sesuai dengan yang diperhitungkan semula.
Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Nyo toakoh ternyata jauh di atas dugaannya, bukan begitu saja, bahkan tenaganya sudah mencapai tingkatan dapat ditarik dan digunakan menurut kehendak hatinya.
Bukan saja dia menghindarkan dirivmalah tubuhnya bisa dihentikan secara tiba-tiba sambil melancarkan serangan balasan.
Pertarungan antara jago-jago tak boleh ada selisih sedikit pun jua, cengkeraman yang dilancarkaan gadis itu secara kebetulan sekali membentur serangan balasan dari Nyo toakoh, padahal ketika itu Nyo toakoh melancarkan suatu serangan balasan yang berbahaya dengan menggunakan ilmu Ki-na-jiu-hoat, seandainya sampai saling membentur, dapat dipastikan kelima jari tangan gadis itu akan digencet sampai remuk.Nyo Yan terperanjat sekali setelah menyaksikan kejadian itu, pada saat ini kendatipun dia ingin turun tangan membantu si gadis itu pun sudah tak sempat lagi.
"Blaam…!"
Di tengah benturan yang amat keras, dua sosok bayangan manusia saling berpisah.
Ternyata di saat yang amat kritis, secara tiba-tiba gadis itu berganti jurus lagi, dari serangan mencengkeram kini berubah menjadi serangan telapak tangan, bagaikan bacokan golok dia membabat ke bawah dengan jurus Sia-ciat-oh (Membacok Miring Buah Lobak).
Bacokan maut ini masih tetap tertuju ke tulang pi-pa-kut Nyo toa-koh.
Serangan yang dipergunakan gadis itu adalah serangan berhawa dingin, andaikata Nyo toakoh masih tetap melanjutkan serangannya dengan ilmu Ki-na-jiu-hoat, niscaya akibatnya kedua belah pihak akan sama-sama terluka-.
Mungkin saja dia dapat mematahkan satu atau dua biji jari tangan gadis itu, akan tetapi tulang pi-pa-kut-nya juga pasti akan hancur….
Sebagai seorang yang ternama, sudah barang tentu Nyo toakoh enggan untuk beradu jiwa dengan seorang manusia tak ternama.
Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia bertekad untuk menggunakan siasat melawan siasat untuk beradu kekuatan dengan gadis itu.
"Blaaam…!"
Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, segera timbullah suara yang amat keras, Nyo toakoh maupun gadis itu sama-sama terdesak mundur sejauh tiga langkah sebelum dapat berdiri tegak.Berdebar keras Nyo Yan menyaksikan kesemuanya itu, setelah hasil bentrokan itu diketahui ia baru merasa lega, pikirnya.
"Bibi memang tak malu disebut Lak-jiu-Koan-im! Tapi kelihatannya gadis ini pun tak akan sampai menderita kekalahan di tangannya."
Rupanya di dasar hatinya dia lebih mengkhawatirkan gadis itu daripada bibinya, namun dia pun juga tidak menginginkan kedua belah pihak sama-sama menderita luka.
Sepintas lalu tampaknya kedua belah pihak sama-sama mundur tiga langkah dan keadaan seimbang, padahal gadis itu menyerang lebih duluan sedangkan Nyo toakoh dipaksa untuk bertahan hingga keadaan menjadi seimbang, hingga kalau berbicara tentang tenaga dalam, dia masih lebih unggul satu tingkat.
Gadis itu segera tertawa, ujarnya.
"Tenaga dalammu masih terhitung lumayan juga, tapi kalau dibilang bertangan keji, aku rasa julukan tersebut terlalu berlebih-lebihan. Bagaimana? Apakah kau masih ingin memberi hadiah sebuah tempelengan kepadaku?"
Walaupun nadanya sudah jauh lebih lunak, akan tetapi gayanya masih berlebihan, seakan-akan seorang cianpwee yang sedang memuji angkatan muda saja.
Nyo Yan amat geli dan ingin tertawa, namun dia pun tak berani tertawa keras.
Sebaliknya Nyo toakoh semakin naik darah setelah mendengar perkataan itu.
Dia adalah seorang perempuan yang tinggi hati, kenyataan yang mendudukkannya seimbang dengan gadis tersebut sudah dirasakan sebagai suatu kejadian yang memalukanapalagi setelah mendengarkan perkataan si nona tersebut, bisa dibayangkan betapa marahnya dia.
"Hmm, bocah muda, rupanya kau sudah tahu takut. Asai kau bersedia menyembah tiga kali di hadapanku sambil meminta maaf aku tak akan menampar wajahmu!"
Bentak Nyo toakoh.
Andaikan Nyo toakoh bersedia mengucapkan beberapa patah kata yang enak didengar, sebenarnya gadis itu sudah bersiap sedia untuk mengakhiri pertarungan tersebut.’ Sebagai seorang gadis yang mempunyai rasa ingin menang jauh lebih besar daripada Nyo toakoh, tentu saja ia kembali marah setelah mendengar ucapan itu, otomatis dia pun tak akan mengakhiri pertarungan tersebut dengan begitu saja.
Dengan suara dingin dia-lantas berkata.
"Aku hanya mengatakan kalau ilmu silatmu masih termasuk lumayan, kau anggap aku betul-betul takut kepadamu?"
Sesudah tertawa dingin, ia melanjutkan.
"Sebenarnya aku hendak menempeleng empat kali, asalkan kau pun bersedia menyembah kepadaku, satu kali menyembah akan kukurangi satu kali tempelengan. Nah cepat katakan, kau hendak menyembah berapa kali padaku?"
Hawa amarah Nyo toakoh benar-benar sudah mencapai puncaknya, dengan suara menggeledek dia segera membentak keras.
"Budak liar, tampaknya kamu sudah bosan hidup!"
Di tengah bentakan tersebut, dengan jurus Pay-san-lian-ciang (Menyembah Bukit Pukulan Berantai), ia melepaskan sebuah pukulan dengan disertai tenaga dalam sebesar sembilan bagian.Begitu dahsyat hembusan angin pukulan itu hingga membuat ujung baju si nona itu berkibar tiada hentinya.
Dengan cepat dia melambung ke angkasa, permainan tangannya berubah dan ia mulai berputar di sekeliling tubuh lawannya.
Tampak tubuhnya bergerak bagaikan awan, langkahnya enteng sekali, sebentar bergerak ke depan sebentar mundur ke belakang, sebentar ke kiri dan ke kanan, gerakan tubuhnya sangat indah.
Walaupun Nyo toakoh sudah melancarkan serangan dengan tenaga dahsyat, akan tetapi semua ancaman itu tak ada yang berhasil mengenai tubuhnya, hal ini membuatnya apa boleh buat.
Dalam waktu singkat, dari posisi bertahan gadis itu mulai melancarkan serangan gencar, tampak dari empat penjuru bermunculan beribu-ribu bayangan telapak tangan yang melayang turun datang bagaikan daun kering yang berguguran.
Sedemikian hebatnya hingga membuat pandangan mata orang menjadi kabur dan kepala pusing.
Semakin memandang Nyo Yan merasa makin terkejut bercampur keheranan, pikirnya.
"Dibandingkan dengan ilmu pukulan Lok-eng-tang-hoat yang diajarkan suhu kepadaku, meski ilmu pukulannya tidak mirip secara keseluruhan, namun teori dan intisarinya sama. Mungkinkah kejadian ini begini kebetulan dan dia mempunyai hubungan yang erat dengan orang yang harus kutemukan sesuai dengan pesan suhu?"
Nyo toakoh sudah didesak dari posisi menyerang menjadi posisi bertahan, untung saja tenaga dalamnya lebih sempurna ketimbang gadis itu sehingga walaupun serangan si nonamempunyai kombinasi yang beratus-ratus banyaknya, toh se-rangan tersebut tiada yang berhasil menembus pertahanannya….
Tanpa terasa pertarungan telah berlangsung hingga seratus jurus lebih, kedua belah pihak merasa makin lama makin payah.
Jurus serangan gadis itu masih bertaburan tiada hentinya, gerakan tubuhnya juga sebentar cepat sebentar lambat, kesemuanya itu mencakup intisari ilmu sifat yang mengutamakan kecepatan di balik kelambanan, kelincahan di balik keringanan, betul-betul luar biasa sekali, membuat Nyo toakoh kepayahan.
Bagaimanapun juga tenaga dalamnya memang masih kalah setingkat dibandingkan Nyo toakoh, walaupun dia berusaha keras untuk menghindari adu kekerasan dengan lawannya, tapi di bawah tekanan angin pukulan yang bertubi-tubi, napasnya toh menjadi sesak juga.
Dalam hati dia lantas berpikir.
"Bila pertarungan ini dilanjutkan, tenaga dalamku pasti akan bertambah lemah, bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan dirinya?"
Dasar rasa ingin menangnya memang besar, maka menggunakan kesempatan di kala ia masih mampu untuk Melancarkan serangan, dia pergencar serangannya bertubi-tubi.
Sebenarnya Nyo toakoh dapat menggunakan taktik mengulur waktu untuk beradu tenaga dalam dengannya, bila hal ini dilakukan maka kemenangan sudah pasti berada di pihaknya.Tapi sayang, seperti apa yang dikatakan orang kuno, orang yang terlibat tidak jelas, orang yang menonton dapat melihat kesemuanya itu dengan jelas.
Dihadapkan pada serangan tipuan dan kenyataan yang disertai beratus-ratus perubahan dari si nona, akhirnya dia dibuat kebingungan setengah mati, hal ini membuat hatinya makin lama semakin terperanjat dan tidak lagi bisa melihat jelas gerak serangan gadis itu.
Padahal apa yang dilakukan sekarang tak lebih hanya berusaha untuk menutupi kekurangannya dalam tenaga dalam, oleh karena itu dia pun sama sekali tak menduga kalau kunci dari suatu kemenangan adalah mengandalkan kelebihan yang dimilikinya untuk melawan kelemahan musuh.
Selain itu, masih ada satu hal yang sangat merugikan Nyo toakoh, yakni kedudukannya dalam dunia persilatan.
Dia itu sudah ternama selama puluhan tahun lamanya dalam dunia persilatan, setiap orang tahu kalau dia adalah Lak-jiu-Koan-im yang ditakuti setiap manusia, kenyataan yang tertera di depan mata sekarang, walaupun sudah bertarung ratusan jurus belum berhasil juga mengalahkan seorang bocah perempuan, hal ini sudah dianggap merupakan suatu kejadian yang memalukan.
Bila dia diharuskan mengambil posisi untuk bertahan terus, entah sampai kapan baru bisa mengubah sistem pertahanan menjadi serangan dan bagaimana mungkin dia tak akan kehilangan muka di hadapan kedua orang keponakan muridnya?
Lama kelamaan Nyo toakoh mulai tidak kuasa menahan diri, sambil mengertak gigi, secara beruntun dia melancarkan tigabuah serangan berantai, kemudian bergerak maju ke depan dan saling berebut menyerang dengan gadis itu.
Gadis itu memang berharap kalau lawannya menyerang dengan bernafsu, sambil tertawa lantas berseru.
"Bagus sekali, apakah kau ingin cepat-cepat merasakan tam-paranku?"
Di tengah gelak tertawa yang amat nyaring, tubuhnya berputar makin lama semakin cepat, sekejap kemudian empat arah delapan penjuru sudah diliputi oleh bayangan tubuhnya.
Nyo toakoh benar-benar sudah dibikin pusing kepalanya sampai berkunang-kunang matanya, diam-diam ia mengeluh.
Tapi dalam keadaan demikian, mustahil baginya untuk mengundurkan diri dan kembali ke posisi bertahan.
Di antara berkunang-kunangnya mata, mendadak Nyo toakoh seperti memperoleh firasat yang aneh sekali, ia merasa gadis yang berada di hadapannya seakan-akan mirip sekali dengan seseorang yang cukup dikenal olehnya.
Kenangan yang telah berlangsung duapuluh tahun berselang tiba-tiba saja muncul kembali di dalam benaknya.
Ia telah mengusir istri adiknya, Hun Ci-Io, dari rumah, tapi demi keutuhan darah daging keluarga Nyo, dia melarang pergi membawa putranya.
Ketika itu dia masih belum tahu kalau putra Hun Ci-lo yakni Bcng Hoa bukan darah dagingnya, dia pun tidak tahu kalau pada waktu itu Hun Ci-lo sedang berbadan dua.
Hun Ci-lo enggan kehilangan putra kesayangannya sehingga terjadi pertarungan dalam hutan pohon Jiu.
Tapi akhirnya lantaran sedang mengandung Nyo Yan, perempuan tersebut tak mampu menandinginya dan Bcng Hoa kena dirampas kembali.Kemudian setelah melewati pelbagai kejadian berliku-liku, setelah k emanan Hun Ci-lo selama beberapa tahun Beng Hoa baru dapat mengetahui asal-usulnya dan berjumpa dengan ayahnya.
Begitu kenangan selama dua-puluh tahun melintas kembali dalam benaknya, entah karena tekanan batin atau khayalan belaka, tiba-tiba Nyo toakoh merasa gadis yang berada di hadapannya sekarang agak mirip dengan bayangan Hun Ci-lo di masa lalu.
Bahkan boleh dibilang kegagahannya hampir serupa.
Alasan yang membuat dia timbul perasaan aneh semacam itu bukan cuma kegagahannya saja yang mirip, yang terutama ilmu pukulan gadis itu begitu enteng dan lembut, cepat, persis seperti ilmu pukulan yang digunakan Hun Ci-lo sewaktu menghadapi dirinya tempo dulu walaupun jurus serangannya sama sekali berbeda.
Akibat dari pertarungan melawan dirinya di hutan pohon liu tempo hari, hawa murni Hun Ci-lo menderita kerugian besar.
Kemudian Hun Ci-lo tewas dalam pertempuran di Siau-kim-j wan, walaupun jumlah musuh yang banyak merupakan alasan yang terutama, tapi kerusakan hawa muminya sehabis bersalin merupakan salah satu alasan yang penting.
Betul Nyo toakoh bergelar Lak-jiu-Koan-im, tapi setiap kali teringat akan kemarian dari Hun Ci-lo, tak urung timbul juga perasaan menyesal dalam hatinya.
Meskipun aku tidak membunuh Pak-jin, Pak-jin mati lantaran aku.
Ucapan tersebut dirasakannya cocok sekali dengan keadaan yang dihadapinya, dia sadar kalau perbuatan-nya dulu terhadap Hun Ci-lo memang sedikit kelewatan.Kini dia dipaksa gadis itu sehingga kalang kabut tak keruan, ilmu pukulan si nona yang sukar diduga serta sikap dingin dan kaku yang dipancarkan wajahnya membuat dia teringat kembali Hun Ci-lo di masa lalu.
Begitu kenangan pada duapuluh tahun berselang melintas di dalam benaknya, tanpa terasa Nyo toakoh menghela napas panjang, pikirnya.
"Sudah setengah abad lamanya aku malang melintang dalam dunia persilatan, entah berapa banyak jago kenamaan menderita kekalahan di tanganku, tapi kenyataannya sekarang, untuk mengalahkan seorang budak ingusan pun tak sanggup, aaai… mungkin hal ini suatu pem-balasan bagi perbuatanku."
Bila seorang jago tangguh sedang bertempur mana boleh pikirannya bercabang?
Nyo toakoh yang pada dasarnya sudah berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan, kini semakin runyam lagi keadaannya, kontan saja memberi kesempatan kepada musuhnya untuk memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.
"Bagus sekali mari kita lihat siapa yang bakal kena tempeleng?"
Seru gadis itu sambil tertawa dingin.
Dalam waktu singkat empat arah delapan penjuru sudah dipenuhi oleh bayangan tubuhnya, seluruh tubuh Nyo toakoh sudah berada dalam kepungan bayangan telapak tangannya.
Kemudian dalam suatu kesempatan, secepat sambaran kilat dia menghantam ke tubuh Nyo toakoh.
Di antara berkelebatnya bayangan telapak tangan, dalam posisi terkurang seperti itu, tampaknya sulit buat Nyo toakoh untuk meloloskan diri dari tamparan musuh.
Di luar dugaan Nyo toakoh, tiba-tiba terdengar gadis itu mendengus pelan, lalu telapak tangannya menyambar lewat disisi kepala Nyo toakoh, ternyata tamparan tersebut sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa.
Dengan ilmu silat si nona yang begitu lihay, apalagi dia amat bernafsu untuk menampar Nyo toakoh, bagaimana mungkin tamparannya tidak mendatangkan hasil?
Ternyata Nyo Yan telah mengadakan persiapan, sejak tadi ia sudah menyiapkan sebutir lumpur yang disembunyikan di balik telapak tangannya.
Ketika dilihatnya Nyo toakoh berada dalam keadaan bahaya, sebutir peluru lumpur segera disam-bitkan ke depan.
Sekalipun ia tidak menyukai bibinya, tapi Nyo toakoh toh merupakan bibinya juga.
Mana mungkin dia akan membiarkan bibinya dihina orang begitu saja?
Si nona itu sendiri telah curiga kalau Nyo Yan mengerti ilmu silat, dia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silatnya telah mencapai puncak kesempurnaan, lebih-lebih lagi tidak menyangka kalau dalam keadaan seperti ini dia akan turun tangan membantu lawannya.
Secara telak peluru tanah itu menghajar di atas pergelangan tangan gadis tersebut.
Peluru tanah yang lebih kecil dari kacang hijau itu segera hancur menjadi bubuk.
Dalam sambitannya itu Nyo Yan sama sekali tidak menyertakan tenaga dalamnya, tapi sambitan tersebut dengan tepat menghajar jalan darah Sau-yang-keng-meh, hal ini membuat tubuhnya bergetar keras dan serangan itu pun mengenai sasaran kosong.
Gerakan tubuh kedua belah pihak sama-sama dilakukan dengan kecepatan luar biasa, Nyo toakoh masih belum tahuapa yang telah terjadi, telapak tangannya segera berbalik menghantam ke tubuh gadis tersebut.
Tentu saja mimpi pun Nyo toakoh tidak menyangka kalau seorang pengemis dekil mempunyai kepandaian untuk membantunya Dalam serangan belasan yang dilancarkan terhadap gadis tersebut, dia telah menyertakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Dia sama sekali tidak berniat untuk merenggut nyawa gadis itu, tapi dalam keadaan yang kritis, tak heran kalau serangan tersebut dilancarkan dengan sepenuh tenaga.
Belum sampai serangan tadi menghantam tubuh gadis itu, angin pukulan keras telah menggetarkan si nona sehingga tak sanggup berdiri tegak lagi….
Oleh karena perubahan yang sama sekali di luar dugaan, dalam terkejutnya gadis itu tak sempat lagi menghadapi serangan balasan lawan yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itu.
Kalau tadi, pukulan yang dilancarkan si nona terhadap Nyo toakoh paling banter hanya akan menyebabkan tamparan belaka, maka bila si nona terkena serangan Nyo toakoh sekarang, mungkin dia akan terluka di ujung telapak tangannya.
Tentu saja Nyo Yan pun tak akan membiarkan si gadis itu tewas di tangan lawannya, maka sebutir peluru tanah kembali disambitkan ke depan.
Kali ini serangan tersebut menghajar di atas jalan darah huan-tiau-hiat pada lutut Nyo toakoh.Begitu terkena serangan, Nyo toakoh menjadi sempoyongan, bukan saja serangannya mengenai sasaran kosong, bahkan hampir saja jatuh terjerembab.
Sambil tertawa gadis itu segera berseru, Tak usah banyak adat, kalau toh kau memang berhasrat untuk minta maaf, baiklah, kita urungkan pertarungan berikutnya."
Selesai berkata dia lantas melompat keluar dari pintu kuil dan berlalu dari situ, orang-orang yang ada dalam kuil hanya mendengar suara tertawanya yang merdu bergema tiada hentinya, sedangkan bayangan tubuhnya sama sekali tidak tampak.
Ketika sempoyongan tadi, gaya Nyo toakoh memang sedikit mirip orang yang sedang akan berlutut.
Gadis itu sengaja mengatakan gerakan yang hampir jatuh tadi sebagai permintaan maaf, hal ini benar-benar membuatnya menjadi teramat gusar sehingga mau tertawa tak bisa, menangis pun tak dapat.
Pelan-pelan rasa kagetnya berkurang, apalagi bila terbayang keadaan yang dialaminya tadi, sedikit banyak agak keder hatinya.
Bila berbicara menurut wataknya, andaikata dia sampai benar-benar kena ditampar oleh gadis itu, sudah dapat dipastikan dia akan bunuh diri.
Terbayang bagaimana kalau dia baru saja lolos dari pintu kematian, ucapan dari gadis itu tentu saja tidak dianggapnya.
Sudah barang tentu dia pun sekarang sudah tahu kalau orang yang telah menyelamatkan wajahnya itu tak lain adalah "pengemis cilik"
Yang dekil itu….Tapi pengemis itu telah membantunya, juga membantu gadis itu, kenyataan mana membuat pikirannya menjadi bimbang dan penuh diliputi keraguan, ia tak tahu harus berterima kasih ataukah harus mencaci maki pengemis tersebut.
Setelah berhasil menenangkan hatinya, dengan mata melotot serunya kepada Nyo Yan.
"Kau… kau sebenarnya adalah…."
Nyo Yan menepuk-nepuk debu dari badannya lalu bangkit berdiri, sahutnya segera.
"Kau tak usah ambil peduli siapakah aku, aku hanya ingin memberitahukan satu kabar baik kepadamu."
"Kabar apa?"
Nyo toakoh tertegun.
"Bukankah putramu bernama Ki See-kiat? Dia belum mati, carilah dia di Lor Anki!"
Walaupun ucapan tersebut diutarakan sangat lambat, namun gerakan tubuhnya cepat sekali.
Ketika kata terakhir diutarakan, suaranya berasal setengah K dari tempat itu.
Nyo toakoh adalah seorang jago silat kawakan, dia dapat mendengar kalau Nyo Yan berbicara dengan ilmu menyampaikan suara yang merupakan kepandaian tingkat tinggi.
Meski ilmu tersebut dapat ia pergunakan, tapi dia yakin kemampuannya belum dapat memadai Nyo Yan.
Ilmu melepaskan senjata rahasia yang dipakai Nyo Yan untuk mc-nyambitkan dua biji peluru tanah tadi betul-betul Iihay, walaupun kepandaian tersebut cukup membuat Nyo toakoh merasa terkejut, tapi bila dibandingkan satu sama lainnya, maka berlatih menyambit senjata rahasia jauh lebih mudah daripada mempelajari tenaga dalamSeorang pengemis yang berusia duapuluh tahun ternyata memiliki tenaga dalam yang melebihi tenaga dalam hasil latihan selama puluhan tahun, kenyataan ini bukan saja membuatnya merasa terkejut, bahkan boleh dibilang terkesiap.
Tanpa terasa ia menarik napas panjang, pikirnya.
"Keadaanku sekarang benar-benar ibaratnya si nenek berusia delapanpuluh tahun yang dipecundangi bocah cilik, aku benar-benar sudah salah lihat! Ilmu silat yang dimiliki pengemis cilik itu boleh dibilang sejajar dengan ilmu silat jago kelas satu di dunia ini, tapi siapa, siapakah dia?"
Song Peng-ci dan Oh Lian-kui berdua seakan-akan baru sadar dari impiannya, dengan cepat mereka menyadari kenyataan yang terbentang di depan mata. Terdengar Song Peng-ci berkata.
"Sukoh, ilmu Lak-yang-jiu milikmu benar-benar sudah mencapai puncaknya, bukan cuma membuat budak cilik itu melarikan diri terbirit-birit bahkan membuat tecu sekalian terbuka matanya. Entah berapa tahun lagi kami mesti berlatih untuk dapat mencapai tingkat kau orang tua?"
Walaupun tak berniat Untuk membaiki sukoh-nya.
ucapan tersebut boleh dibilang benar-benar muncul dan dalam sanubari mereka.
Berbicara soal ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga Nyo, suhu-nya Nyo Bok memang tak pernah bisa melebihi kemampuan enci-nya.
Sejak dilahirkan Nyo toa-koh tak pernah mengalami pertarungan yang begitu seru, mungkin pertarungan tadi merupakan pertarungan yang paling memeras tenaga baginya, hal ini membuatnya mau tak mau harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk bertahan.Mau jilat pantat ternyata terjilat sampai ke kaki, sambil menarik muka Nyo toakoh segera melotot sekejap ke arahnya, kemudian katanya.
"Tak usah banyak bicara lagi, baik-baiki ah berbaring untuk merawat lukamu itu."
"Sukoh,"
Ujar Oh Lian-kui.
"walaupun pengemis cilik ku tidak diketahui siapa, tapi apa yang diucapkan tentu bukan kata-kata bohong belaka, dia telah mengutarakan jejak See-kiat sute, mengapa kita tak mempercayai saja perkataannya dan mencari berita ke Lor Anki…."
"Ehm, apa yang diucapkan pengemis kecil itu memang dapat dipercaya, cuma kalian mesti merawat luka yang kalian derita itu selama dua hari lagi."
"Sukoh,"
Ucap Song Peng-ci pula.
"mengapa kau tidak berangkat dulu ke Lor Anki untuk mencari sute, sedang kami berdua… asal jalan darah yang tertotok sudah bebas, rasanya kau orang tua pun tak usah mengkhawatirkan kami."
Sekali lagi Nyo toakoh mendelik sekejap ke arahnya dengan gemas, kemudian berkata.
"Kau betul-betul pikun, jelek-jelek kalian berdua adalah keponakan muridku, kalau aku tidak mengkhawatirkan keselamatan kalian, siapa lagi yang akan mengkhawatirkan kalian berdua? Sebelum luka yang kalian derita sembuh kembali, masa aku tega meninggalkan kalian begitu saja? Andaikata sampai bertemu lagi dengan manusia jahanam macam The Hiong-toh, sanggupkah kalian menghadapinya? Selain itu, selama dua hari belakangan ini apakah kalian bisa merawat diri kalian sendiri? Gara-gara anak sendiri masa tak menggubris mati hidup dua orang keponakan murid sendui, kau anggap perbuatan semacam ini bisa kulakukan? Kalau bukan melihat kau sedang sakit, aku sudah persen beberapa gaplokan kepadamu!"
Setelah berhenti sebentar, kembali dia menambahkan.
"Betul di dunia ini tiada seorang ibu yang tidak memikirkan keselamatan anaknya, tapi bagamanapun juga aku toh sudah menunggu selama dua tahun lebih, apalah artinya dua hari lagi? Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, berbaringlah dengan tenang di sana untuk merawat luka yang kalian derita!"
Walaupun didamprat habis-habisan, namun Peng-ci sama sekali tidak menjadi marah, malah sebaliknya dia lantas berpikir.
"Walaupun sepintas lalu sukoh tampaknya galak dan jahat, ternyata ia mempunyai hati yang hangat Aku mengira dia selalu muak dan benci kepadaku, sungguh tak kusangka dia menganggap diriku seperti keponakan sendiri."
Saking terharunya tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya. ‘Terima kasih banyak sukoh!"
Bisiknya kemudian sambil menahan sesenggukan. Nyo toakoh segera berkerut kening, serunya lagi.
"Sudah begini besar masa masih mengucurkan air mata, apakah kau tidak malu? Kusuruh kau jangan banyak berbicara, mengapa kau malah tidak menuruti perkataanku?"
Selesai berkata ia tidak menggubris mereka lagi, seorang diri nenek itu berdiri di depan pintu sambil memandang kejauhan sana.
Wajahnya tampak bimbang dan kosong, seolah-olah sedang memikirkan suatu masalah yang pelik.
"Apakah dia sedang memikirkan tentang putranya?"
Pikir Song Peng-ci di hati.
"Setelah mencari selama dua tahun, sekarang baru pertama kalinya mendengar kabar tentang putranya, tapi orang yang menyampaikan kabar itu justruseorang pengemis cilik yang tidak diketahui asal-usulnya, kenyataan ini bagaimana mungkin tidak membuatnya merasa kaget bercampur girang?"
Tapi apa yang diduga Song Peng-ci kali ini keliru besar. Kali ini dia bukan sedang memikirkan soal putranya, yang dibayangkan adalah Hun Ci-lo dan pengemis kecil itu.
"Heran, mengapa dari badan pengemis cilik ini aku seakan-akan menemukan kembali bayangan Hun Ci-lo, sebenarnya siapakah dia;..? Mengapa aku seperti mengenalnya beberapa bagian?"
Sudah barang tentu dia tak berani mencurigai pengemis kecil ini putra Hun Ci-lo. Sewaktu Nyo Yan berlari meninggalkan kuil Sam-sin-bio, dalam benaknya pun sedang memikirkan seseorang.
"Perempuan yang aneh itu mungkin sudah di bawah bukit sekarang? Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak berada di bawah kepandaianku, mungkin aku tak akan berhasil menyusul dirinya…."
Entah mengapa, walaupun dia merasa agak takut menghadapi si gembong iblis perempuan yang marah gembira tak menentu itu, dia selalu berharap dapat berjumpa dengannya.
Dalam anggapannya dia sudah tak mungkin bertemu lagi dengan gadis tersebut, siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, mendadak pandangan matanya menjadi silau, bukankah orang yang sedang duduk di atas batu di depan sana adalah gadis yang sedang dipikirkannya?Gadis itu sedang memandang ke arahnya dengan wajah senyum tak senyum, seakan-akan dia sedang berkata begini.
"Aku sudah tahu kalau kau si bocah keparat akan menyusulku kemari!"
Nyo Yan merasa agak rikuh, tapi dalam keadaan begini terpaksa dia harus maju ke depan untuk menjura, katanya tergagap.
"Nona… aku… aku…"
Dia ingin menjelaskan persoalan sambitan butiran lumpur tadi, tapi untuk sesaat tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan tersebut Kontan saja nona itu tertawa cekikikan.
"Kau kenapa? Heeh… heeh… sungguh tak kusangka kau si pengemis kecil pandai sekali membohongi orang, katanya tak pandai bersilat, aku betul-betul kena tipu mentah-mentah. Hmm… aku lihat ilmu silatmu bagus sekali, siapa yang mengaj arkanmu?"
"Dalam peristiwa tadi harap nona jangan… jangan…."
Kata "marah"
Belum terucapkan keluar, nona itu sudah tertawa cekikikan lagi.
Sambil tertawa nona itu berkata, ‘Tadi, secara diam-diam kau telah membantu Lak-jiu-Koan-im, lalu membantu pula diriku.
Walaupun kau menghajarku lebih dulu, tapi kau toh membantu aku pula untuk menghindarkan diri dari sebuah serangan maut dari Lak-jiu-Koan-im.
Jangan khawatir aku bukan seorang yang berjiwa sempit anggap saja urusan itu selesai sampai di sini."
"Ooh… tak kusangka nona adalah seorang yang berhati besar,"
Kata Nyo Yan seperti terlepas dari beban berat.
"Harap kau suka memaafkan kelancanganku tadi. Aku bernama Nyo Yan, tolong tanya siapakah nama nona?"
"Kau ingin bersahabat denganku?"
Kembali nona itu menunjukkan sikap senyum tak senyum Merah padam selembar wajah Nyo Yan karena jengah.
"Aku tak berani menilai tinggi diriku cuma… cuma… kita toh telah berjumpa…."
"Hitung-hitung masih berjodoh bukan?"
Tukas si nona sambil tertawa.
"Cuma aku dan kau masih belum bisa dianggap sebagai teman!"
Paras muka Nyo Yan makin memerah, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Aku tahu. Bila nona tidak marah kepadaku atas kelancanganku tadi, ya sudahlah."
"Aku bukan bermaksud demikian, kau jangan pergi dulu!"
"Nona masih ada petunjuk apa lagi?"
Tanya Nyo Yan sambil menghentikan langkahnya.
"Aku toh sudah bilang, dalam urusan tadi aku tak akan ribut lagi denganmu Kau telah membantuku, juga membantu Lak-jiu-Koan-im, aku tidak berhutang budi kepadamu, pun tak akan mendendam kepadamu. Walaupun sekarang aku belum bisa menganggap kau sebagai teman, aku pun tidak menganggapmu sebagai musuh. Tapi kau seharusnya mengetahui tabiatku bukan?"
Nyo Yan jadi tertegun.
"Aku tidak memahami maksud nona,"
Katanya.
"Terus terang saja, aku belum memahami tabiatmu."
Walaupun Nyo Yan sesungguhnya bukanlah seorang yang pandai bicara, dia pun bukan terhitung orang yang bebal dan kaku dalam pembicaraan.
Tapi oleh karena pertanyaan darigadis itu diajukan terlalu mendadak, terpaksa dia pun harus menjawab dengan nada ke-bodoh-bodohan.
Tanpa terasa gadis itu segera tertawa geli.
"Baiklah, kalau toh kau telah berterus terang, aku. pun akan berterus terang pula padamu. Aku paling suka mencari seseorang yang berilmu tinggi untuk dicoba kepandaiannya, sayang jago lihay yang kujumpai selama ini, termasuk juga Lak-jiu-Koan-im agaknya masih jauh dari kenyataan dan bernama kosong belaka. Siapa tahu aku telah berjumpa denganmu. Sekarang, maka bagaimanapun juga kau harus bertanding melawanku"
"Nona, aku tahu kalau ilmu silatku masih belum sanggup untuk menandingi dirimu, lebih baik tak usah dicoba lagi!"
Tiba-tiba gadis itu menarik senyumannya, kemudian sambil menarik muka katanya.
"Tadi aku masih memuji kejujuranmu, siapa tahu kau pun tak jujur.
Apakah kau memandang remeh diriku lantaran aku tak sanggup menghindarkan diri dari sambitan lumpurmu tadi?
Huh, di luarnya saja kau mengatakan ‘kepandaianmu tidak bisa mengalahkan diriku’, siapa tahu kalau di dalam hati kecilmu kau sedang berpikir.
"Budak ini betul-betul seorang manusia yang tak tahu diri’. Aku tahu kau rikuh untuk mengutarakannya keluar…."
"Aku tak pernah berpendapat demikian,"
Buru-buru Nyo Yan berseru.
"Kalau memang begitu, mengapa kau enggan bertanding melawan diriku? Jika kau tak berani beradu kepandaian denganku, hal itu berarti kau tidak memandang sebelah mata kepadaku!"
Nyo Yan segera menghela napas panjang.
"Aaai… kalau begitu kita bertarung dalam batas saling mencolek saja, silahkan nona mulai melancarkan seranganmu!"
"Cabut keluar pedangmu!"
"Haah. kita mesti beradu senjata tajam?"
Nyo Yan semakin terperanjat.
"Bukankah kau menantangku untuk melancarkan serangan? Kalau dilihat dari kemampuanmu melepaskan peluru lumpur, biasa kuketahui kalau tenaga dalammu masih jauh melebihi diriku, jelas aku bakal kalah jika mesti bertarung dengan tangan kosong. Bila kau ada minat untuk bersahabat denganku, tentunya kau tidak ingin mencari keuntungan dari diriku bukan? Maka bagaimanapun juga kita harus beradu pedang!"
"Alasan yang dibuat-buat"
Ini kontan membuat Nyo Yan tersudut dan tak mampu untuk menolak lagi, terpaksa dia harus meloloskan pedangnya seraya berkata.
"Silakan, nona!"
"Tunggu sebentar!"
Seru si nona.
"Sebelum pertandingan dimulai aku hendak menerangkan beberapa hal lebih dulu kepadamu. Walaupun aku tidak menganggapmu sebagai mu-suh, tapi senjata tak bermata, selain itu watakku juga agak aneh. Andaikata tidak bertanding masih tak mengapa, begitu pertarungan dimulai maka aku akan bertempur secara bersungguh-sungguh, oleh sebab itu bila kau bermaksud mengalah kepadaku, maka yang bakal menderita kerugian besar adalah dirimu sendiri. Jadi sampai waktunya kau jangan menyalahkan aku lagi."
"Aaai… tapi apa gunanya?"
Seru Nyo Yan sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Dengan kening berkerut gadis itu berkata.
"Apa yang telah kuucapkan selamanya tak pernah berubah lagi. Jika kauberniat untuk membatasi pertarungan ini sampai saling menu-tul belaka, itu urusanmu sendiri."
Nyo Yan segera tertawa getir.
"Ya… apa boleh buat, terpaksa aku mesti mempertaruhkan nyawa untuk mengiringi kunculn Gadis itu segera tertawa cekikikan.
"Penggunaan kata kuncu keliru besar, aku bukan seorang kuncu dan tampaknya kau pun bukan seorang kuncu."
Ucapan ini segera membuat Nyo Yan jadi geli dan segera tertawa lebar serunya.
"Tentu saja, tentu saja, seorang pengemis cilik mana pantas disebut sebagai seorang kuncu?"
"Bila hasil dari pertarungan itu menunjukkan kau yang menang, maka aku akan memberitahukan namaku kepadamu,"
Kata gadis tersebut lebih jauh.
"sebaliknya jika aku yang menang, kau harus memberitahukan nama gurumu kepadaku."
"Andaikata kita seri?"
"Itu harus tergantung kepadamu." ‘Tergantung kepadaku? Tergantung apa?"
Tanpa terasa Nyo Yan menjadi tertegun.
"Kau berhasil mengalahkan diriku atau berhasil bertarung seimbang denganku, aku bersedia menganggap kau sebagai temanmu. Sebaliknya bila kau bersedia pula menganggapku sebagai temanmu, kau pun harus memberitahukan kepadaku, kalau tidak mau ya tak usah memberitahukan kepadaku, bagaimana?"
"Baik, silakan nona melancarkan serangan, aku si pengemis cilik akan turut perintah. Silakan!"
Begitu ucapan "silakan"
Baru diutarakan, tampak sekilas cahaya hijau telah menyambar lewat.
Tampaknya gadis itu benar-benar tidak sungkan untuk melancarkan sebuah tusukan secepat kilat Sejak membalikkan tangan mencabut pedang sambil maju seraya melancarkan serangan, beberapa gerakan ini dilakukan dengan kecepatan seperti kilat.
Selain indah, gerakannya pun-dilakukan hampir pada saat yang bersamaan.
Tapi yang membuat Nyo Yan merasa terkejut bercampur tercengang bukan hanya gerakan tubuhnya yang lincah saja, juga, bukan jurus serangannya yang ganas dan indah.
Melainkan jurus serangan yang dipergunakannya itu meski belum diketahui asal-usul perguruannya, namun ia merasa seakan pernah mengenalnya.
Dalam gugup dan terdesak, serta merta Nyo Yan menggunakan sebuah jurus serangan yang hampir mirip dengan jurus serangan yang dipergunakan gadis itu.
Di antara getaran ujung pedangnya, sekilas cahaya lingkaran ter-cipta di angkasa, lalu mengunci serangan gadis itu di luar lingkaran.
Tanpa terasa gadis itu berseru tertahan, dia pun seolah-olah merasa kalau jurus pedang itu seperti pernah dikenal olehnya.
"Siapakah yang mengajarkan ilmu pedang tersebut kepadamu?"
Seru si gadis itu kemudian.
Di mulut dia menegur, gerakan tangannya sama sekali tidak me-ngendor bahkan secara beruntun dia melepaskan tiga serangan berantai.Berada dalam keadaan seperti ini, jangan toh dibilang Nyo Yan enggan menjawab, sekalipun ingin menjawab pun tak punya kesempatan.
Mendadak tergerak hatinya, dengan cepat dia berpikir.
"Mengapa aku tidak menyaksikan dahulu seluruh ilmu silat yang dimilikinya?"
Berpikir demikian, dadanya segera ditarik ke belakang, bahunya bergetar pelan dan dengan ringan dia meluncur ke depan mengikuti sambaran angin pedang gadis itu.
Mendadak gadis itu pun seperti menyadari akan sesuatu, sambil tertawa katanya.
"Aah, betul, aku toh belum berhasil mengalahkan dirimu, masa aku sudah memaksamu untuk mengutarakan asal-usul perguruanmu? Ya, hal ini memang terlalu awal!"
Di tengah gelak tertawanya yang amat merdu, cahaya pedang segera dikembangkan, jurus-jurus serangan yang digunakan pun semakin buas dan ganas.
Dengan menggunakan ilmu menggeser tempat, Nyo Yan berputar ke samping, pedangnya dicungkilkan ke atas membuat dua lingkaran besar.
Ketika tenaga serangan yang dipancarkan dari ujung pedang si nona termakan Oleh putaran lingkaran tersebut, seketika itu juga tubuhnya turut berputar satu lingkaran.
Dengan demikian, ketiga jurus serangan pedang yang amat ganas itu pun semuanya kena dipunahkan oleh Nyo Yan secara gampang.
Gadis itu bertambah heran, pikirnya kemudian.
"Aneh, mengapa jurus pedang yang dipergunakan pengemis cilik ini secara tiba-tiba berubah menjadi tak kukenal sama sekali?Kepandaian yang dipelajarinya benar-benar bercampur aduk macam gado-gado? Aah… kemungkinan besar dugaanku keliru!"
Rupanya oleh karena Nyo Yan tak ingin gadis tersebut dapat menduga asal-usul ilmu pedangnya, maka setelah gebrakan pertama, dia segera mengubah permainannya dengan mempergunakan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat yang telah dipelajarinya sejak kecil itu.
Serangan yang digunakan barusan adalah tiga jurus serangan yang terdahsyat dari Tay-si-mi-kiam-hoat dalam Thian-san-kiam-hoat, jurus pertama bernama Cun-im-ca-tian (Awan Semi Membentang Mendadak), jurus kedua Tay-mo-hu-yan (Asap Kecil di Tengah Gurun) dua jurus pertama merupakan jurus-jurus serangan, sedang dalam jurus ketiga dia gunakan Sam-coan-hoat-iun (Tiga Putaran Mengubah Hu-kum) yang bertitik pangkal pada sistem pertahanan.
Tay-si-mi-kiam-hoat berdasarkan ajaran agama Buddha, perubahannya sukar diduga dan paling cocok untuk digunakan menghadapi jago yang berkepadaian lebih tinggi daripada diri sendiri.
Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Nyo Yan masih setingkat lebih unggul bila dibandingkan gadis itu, tapi sayang ilmu pedang Tay-si-mi-kiam-hoat terlalu dalam artinya, apalagi itu pun berhasil diperoleh dengan jalan melihat supek-nya Ciong Tian sewaktu berlatih pedang dulu.
Walaupun kemudian hal ini dilaporkan kepada suhu-nya, dan dia memperoleh banyak petunjuk dari mendiang suhu-nya, ketua Thian-san-pay waktu itu Teng Keng-thian.
Tapi Teng Keng-thian beranggapan meski dia pintar tapi tidak boleh belajar ilmu secara serabutan, maka sekalipun memberi petunjuk, itu pun hanya petunjuk untuk beberapa jurusserangan supaya murid terakhir yang disayang ini jangan ribut.
Waktu itu usianya masih kecil sekali, tentu saja terhadap keterangan yang diberikan gurunya tidak memahami secara keseluruhan.
Kini peristiwa tersebut sudah berlangsung tujuh tahun, ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan juga sudah jauh lebih hebat bila dibandingkan dulu, maka satu teori dipahami, teori lainnya pun lebih gampang diketahui pula.
Itulah sebabnya meski dulu dia cuma mendapat petunjuk beberapa jurus dalam ilmu Tay-si-mi-kiam-hoat, tapi dia pun menarik banyak faedah dari kepandaian-kepandaian sampingan.
Kendatipun demikian, kenyataan membuktikan kalau apa yang berhasil dipahaminya itu cukup bermanfaat, buktinya tiga jurus serangan dahsyat dari gadis itu berhasil dipunahkan secara gampang, kenyataan ini diam-diam membuat dia sendiri pun terkejut.
Dalam pada itu, lingkaran cahaya pedang Nyo Yan telah mengurung di atas kepala gadis ini.
Sekarang seluruh tubuh gadis itu sudah terkurung di dalam lingkaran cahaya pedang, entah ke mana pun dia hendak berkelit, sulit buat gadis tersebut untuk meloloskan diri.
Baru saja Nyo Yan hendak membentak "lepas pedang" , mendadak gadis itu mengeluarkan jurus serangan Yan-cah-tam-bwee (Kuntilanak Mengintip Bunga Bwee).
pedangnya seperti panah menerobos masuk, ke tengah lingkaran cahaya pedang anak muda tersebut.
Bila Nyo Yan merapatkan lingkaran cahaya pedangnya pada waktu itu maka akibatnya kedua belah pihak pasti akan sama-sama terluka.
kemungkinan besar pergelangan tangan kanan gadis itu akan terpa pas kutung, tapi kelima jari tangannya juga akan terpa pas oleh gadis tersebut Inti dari perubahan jurus serangan tersebut belum berhasil dikuasai Nyo Yan sepenuhnya, tentu saja dia tak ingin melukai gadis itu, namun dia pun tak ingin dilukai oleh gadis itu.
Dalam keadaan terdesak terpaksa dia mesti mengubah jurus serangan sambil melompat mundur.
Dengan tindakannya ini, otomatis gadis itu terlepas dari kurungan serangannya, malahan dari tamu kini dia menjadi pihak penyerang.
Diam-diam Nyo Yan berpekikdi dalam hati.
"Sungguh Sayang, sayang sekali aku belum berhasil mempelajari jurus serangan Tay-si-mi-kiam-hoat tersebut hingga mencapai taraf yang paling tinggi, seandainya aku dapat mencapai setengah kematangan dari supek dulu, dengan menggunakan jurus Sam-coan-hoat-lun saja aku sudah dapat memaksa lepas senjata."
Setelah posisi penyerangan beralih ke gadis itu, si nona tidak sungkan-sungkan lagi.
Pedangnya dengan gencar menusuk ke timur menghajar ke barat menuding ke selatan menyerang ke utara, sebentar serangan tipuan sebentar lagi serangan nyata, semua ancaman dilancarkan dengan enteng, lincah dan dengan kecepatan luar biasa.
Sedikit pun tidak memberikan kesempatan kepada Nyo Yan untuk melancarkan serangan balasan.
Sebenarnya keampuhan Thian-san-kiam-hoat berada di atas kepandaian gadis ituTapi sayang selama tujuh tahun belakangan ini Nyo Yan sibuk belajar ilmu silat aliran lain sehingga terhadap Th i an-san-kiam-hoat boleh dibilang lupa untuk melatihnya, Th ian-san-kiam-hoa t yang dipelajarinya semasa kecil ini juga belum komplit, selewatnya Sam-pan-gu dia boleh dibilang kehabisan daya, dan tak tahu bagaimana mesti menghadapi serangan demi serangan dari si gadis yang makin gencar itu "Eh, kau masih mempunyai kepandaian apa lagi?"
Seru si nona sambil tertawa.
"Kalau tak ada lagi, kuanjurkan lebih baik menyerah kalah saja. Aku toh sudah bilang, pedangku tak bermata!"
Walau di bibir ia berbicara sambil tertawa, permainan pedangnya masih tetap serius, setiap serangan yang dilancarkan hampir seluruhnya ditujukan ke bagian yang mematikan di tubuh Nyo Yan.
Begitu selesai berkata.
"srecet…!"
Kembali sebuah tusukan dilancarkan, kali ini dia mengancam tenggorokan Nyo Yan.
Dalam keadaan begini, bila Nyo Yan tidak berganti jurus, mustahil baginya untuk memunahkan ancaman tersebut Tanpa berpikir panjang, ujung pedang Nyo Yan mendadak berputar, jurus serangan yang digunakan hampir serupa dengan jurus serangan yang digunakan gadis itu, kontan sepasang pedang saling beradu.
"Aah, betul!"
Seru nona itu lagi.
"memang seharusnya kau pergunakan jurus pedang yang kau hafal saja, selanjutnya aku akan mempergunakan jurus Im-heng-chin-nia (Awan Melintang di Bukit Chin), sedang kau boleh menangkis dengan jurus Soat-wi-lan-kwan (Salju Menggulung Kota Biru)…!"
Sebenarnya Nyo Yan tak ingin menuruti perkataannya, tapi di bawah desakan serangannya yang begitu gencar, tanpadisadari anak muda itu benar-benar telah mempergunakan jurus serangan yang disebutkan tadi.
Pertempuran sengit segera berkobar, kedua belah pihak sama-sama saling menyerang dan mendesak lawan dengan mempergunakan jurus serangan yang hampir mirip satu sama lainnya.
Dalam waktu singkat ratusan jurus sudah lewat tetapi pertarungan masih juga berlangsung, dengan jurus pedang yang hampir mirip, kedua orang itu jadi mirip seperti dua orang saudara seperguruan yang sedang berlatih.
Pengalaman Getir di Masa Lalu Dalam pertarungan seru yang sedang berkobar, untuk kesekian kalinya sepasang pedang itu bentrok satu sama lainnya.
Nyo Yan segera menggetarkan lengannya dan melancarkan sebuah tusukan kilat Ternyata gadis itu pun melakukan hal yang sama.
Sebenarnya mereka berdua sedang bertarung saling berhadapan muka, maka akibatnya mereka berdua jadi berdiri berjajar secara berdampingan, sedangkan kedua bilah pedang itu pun bersama-sama menuding ke arah depan.
Nyo Yan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… tampaknya kita lebih mirip sebagai teman daripada musuh."
Merah padam wajah si nona lantaran jengah, di tengah gelak tertawa yang nyaring terpaksa mereka menyarungkan kembali pedangnya.Gadis itu segera mundur beberapa langkah, kemudian ujarnya.
"Ya betul, kalau bertarung terus macam begini, tiga hari tiga malam lagi pun tak akan bisa diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah."
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku boleh pergi bukan?"
Nyo Yan tahu kalau gadis itu tentu masih ada pembicaraan berikutnya, maka dia sengaja bertanya demikian. Betul juga, gadis itu segera berseru.
"Eeeh… eeeh… bagaimana ini? Jadi kau tidak bersedia menganggapku sebagai teman?"
"Tampaknya pertarungan yang barusan berlangsung telah menakdirkan kita untuk berteman. Tapi aku khawatir, aku si pengemis cilik tak kuat untuk menerimanya."
"Aah, mulutmu usil! Kalau kau berani sembarangan berbicara lagi, jangan salahkan kalau aku tak akan. menggubrismu lagi!"
Selesai berkata dia benar-benar membalikkan tubuhnya. Nyo Yan benar-benar khawatir kalau gadis itu pergi, maka cepat dia berseru.
"Aku si pengemis cilik tidak berani, tolong tanya nona masih ada petunjuk apa?"
Setelah mendengar perkataan itu, si nona bara membalikkan tubuhnya kembali, ujarnya kemudian.
"Sebelum pertarungan berlangsung, tentunya kau masih ingat bukan kalau aku telah mengajukan syarat?"
"Syarat yang mana?"
"Bila sampai seri dan kau bersedia menganggapku sebagai teman, maka kau harus memberitahukan nama gurumu kepadaku."
"Aku boleh saja memberitahukan kepadamu, cuma kalau kupikirkan kembali sekarang, agaknya aku rada rugi"
"Rugi? Dalam hal apa kau merasa dirugikan?"
"Kau hanya bersedia memberitahukan namamu, padahal namaku telah kuberitahukan kepadamu, coba bayangkan aku merasa dirugikan atau tidak…?"
"Lantas apa maumu sekarang?"
"Boleh saja kuberitahukan nama guruku kepadamu, tapi kau pun harus memberitahukan pula asal-usulmu kepadaku."
"Baik, kalau begitu kuberitahukan dulu namaku, aku she Liong bernama Lcng-cu. Sedang soal perguruan, harus kutunggu sampai kau memberitahukan kepadaku lebih dulu, bara aku beri tahukan kepadamu."
"Ooh… kau she Liong bernama Leng-cu?"
"Kenapa? Apa anehnya dengan namaku ini?"
Dia melihat rasa kaget bercampur tercengang yang menghiasi wajah Nyo Yan.
"Aah,.. tidak apa-apa, tidak apa-apa…"
Buru-buru Nyo Yan menjawab.
"namamu itu menarik sekali."
Gadis itu bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu kalau ucapan tersebut bukan diutarakan secara jujur, dengan cepat dia lantas mendengus dingin.
"Hmmm, kau tak usah usil mulut, aku tidak suruh kau membaiki diriku Aku hanya ingin tahu kau bersedia tidak?"
"Mengapa aku mesti memberitahukan kepadamu lebih dulu?"
"Aku toh sudah mengalah, kau masih menginginkan apa lagi? Kalau dalam soal apa pun aku yang mesti memberitahukan dahulu kepadamu, jadinya seakan-akan akuyang sedang merengek untuk berteman denganmu? Ooh, kerugian semacam ini tak sudi kupikul, lebih baik tak usah ya!"
"Aah, nona Liong, kau kelewat banyak curiga,"
Ucap Nyo Yan sambil tertawa.
"Baikah, baiklah, biar aku yang memikul kerugian kecil ini, biar aku yang memberitahukan kepadamu dulu."
Tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya, biji matanya seolah-olah menjadi kaku, mengawasi wajah Liong Leng-cu tanpa berkedip.
Tanpa terasa paras muka Liong Leng-cu berubah menjadi merah padam lantaran jengah, segera serunya.
"Bukankah kau hendak memberitahukan kepadaku? Mengapa masih saja tak berbicara?"
"Sungguh mirip!"
Mendadak Nyo Yan berbisik. Ucapan itu sangat mendadak dan membuat Liong Leng-cu menjadi tertegun.
"Apanya yang mirip?"
Serunya kemudian.
"Kau sangat mirip dengan seseorang, terutama sekali sikap manjamu sekarang, betul-betul mirip sekali."
"Siapakah dia? Teman perempuanmu?"
"Orang ini belum pernah kujumpai."
Jawaban tersebut sama sekali di luar dugaan Liong Leng-cu, dia menjadi termangu dan seperti betul-betul menjadi marah, katanya mendadak.
"Hei,-aku toh mengajakmu berbicara secara serius, mengapa kau malah mengajakku bergurau?"
"Nona, aku bicara serius!"
Seru Nyo Yan cepat-cepat.
"Kalau ingin memaki, dengar dulu ucapanku sampai selesai."
"Baik, kalau begitu tolong jelaskan kepadaku, mengapa orang yang belum pernah kau jumpai itu bisa mirip aku?"
"Aku pernah melihat lukisannya."
"Lantas dari mana kau bisa tahu kalau sikap manjanya mirip sekali denganku?"
"Perempuan yang berada dalam lukisan tersebut memang dilukis dalam keadaan manja"
"Ooh… sungguh aneh sekali kejadian ini Siapakah perempuan itu? Dan siapa pula pelukisnya?"
"Kujawab dulu pertanyaanmu yang terakhir, pelukisnya adalah salah seorang suhu-ku. Cuma, walaupun dalam kenyataan dia adalah suhu-ku, namun ia melarangku untuk memanggilnya sebagai suhu. Dia menyuruh aku memanggilnya sebagai sucou, paling suka kalau kupanggil yaya kepadanya."
"Sungguh aneh gurumu itu, apakah dia. sendiri yang mewariskan ilmu silatnya kepadamu?? "
Tentu saja, kalau tidak mengapa aku bisa berkata kalau dalam kenyataan dia adalah guruku?"
"Lantas mengapa dia menyuruh kau memanggilnya sebagai sucou?"
"Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu"
"Kau bilang dia adalah salah seorang gurumu, sebenarnya kau mempunyai berapa orang suhu?"
"Suhu-ku dua orang, suhu-ku yang pertama sebenarnya jauh lebih pantas untuk menjadi sueou-ku, tapi dia menganggap aku sebagai muridnya yang terakhir."
"Siapa sih gurumu yang pertama itu?""Ciangbunjin Thian-san-pay yang lalu,"
Liong Leng-cu tampak terperanjat, segera serunya.
"Ooh… rupanya kau adalah murid terakhir dari Teng Keng-thian, Teng tayhiap dari Thian-san-pay? Tak heran kalau ilmu silatmu begitu hebat. Betul tidak banyak jago persilatan yang kuketahui di dunia ini, tapi aku sering mendengar orang mengatakan kalau dia adalah tulang punggung dunia persilatan dewasa ini. Satu-satunya orang yang mungkin bisa menandingi kemashuran dan ketenaran dari Kim Tiok-iiu, jago pedang nomor wahid di kolong langit Cuma, walaupun Kim Tiok-liu disebut orang jago pedang nomor wahid di kolong langit, berbicara kesempurnaan ilmu silat, aku rasa dia masih belum bisa menandingi Teng tayhiap. O ya… kalau begitu ilmu pedang yang kau pergunakan untuk menghadapi diriku tadi adalah ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat?"
"Betul, itulah jurus Tay-si-mi-kiam-hoat dari Thian-san-kiam-hoat"
Kemudian setelah tertawa getir, lanjurnya.
"Tapi dalam kenyataan, ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat yang kupergunakan toh belum berhasil menandingi dirimu."
"Bukan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat yang tak bisa menandingi diriku, menurut pendapatku, tampaknya hal ini disebabkan latihanmu yang kurang matang dan kurang sempurna. Entah betul tidak perkataanku ini?"
"Nona Liong, ketajaman matamu sungguh mengagumkan, tepat sekali ucapanmu itu. Terus terang saja, kepandaian itu kupelajari semasa masih kecil dulu, yang dipelajari pun acak-acakan dan tidak komplit hingga kini aku telah melalaikannya selama tujuh tahun."
"Setelah mendengar ceritamu itu, aku jadi agak kurang mengerti, kalau toh kau sudah mempunyai seorang guru yang begitu hebat, mengapa pula kau sampai menjadi muridnya orang lain?"
"Hal ini disebabkan sewaktu kecil dulu aku telah menjumpai suatu peristiwa yang di luar dugaan, aku terpaksa harus meninggalkan gunung Thian-san dan mengembara, aaai… cerita ini panjang sekali untuk dituturkan, lain kali saja, kalau ada waktu akan kuberitahukan hal ini kepadamu secara pelan-pelan."
"Aku tebak lukisan yang kau katakan sangat mirip dengan wajahku itu tentunya hasil lukisan dari Teng Keng-thian bukan?"
"Bukan, lukisan itu hasil karya dari guruku yang kedua, aah, bukan, dia menyuruh aku menyebutnya sebagai sucou, yaya-kulah yang melukis lukisan tersebut"
"Aah, aku tak ambil peduli apakah panggilanmu kepadanya, aku cuma ingin tahu siapakah gurumu yang kedua itu?"
"Dia berasal dari satu marga denganmu, dia pun she Liong."
Tanpa terasa paras muka Liong Leng-cu berubah hebat buru-buru tanyanya lagi.
"Ooh, dia pun she Liong? Lantas, siapakah perempuan yang dilukis olehnya itu?"
Agaknya secara lamat-lamat Nyo Yan pun sudah dapat menebak beberapa bagian, wajahnya segera diliputi oleh perasaan bimbang dan tak habis mengerti, sehingga tanpa terasa diamatinya wajah gadis di hadapannya itu dengan termangu.
0odwo0Peristiwa yang berlangsung pada tujuh tahun berselang dengan cepat melintas kembali dalam benaknya Waktu itu, Leng Ping-ji membawanya turun gunung untuk pergi ke Lor Anki mencari ayahnya, di tengah jalan mereka berjumpa dengan tentara Cing dan ia ditangkap seorang perwira Walaupun waktu itu dia baru berusia sebelas tahun, tapi berhubung sejak kecil berlatih ilmu silat, maka dasar ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh, sepuluh orang lelaki kekar biasa jangan harap bisa mendekati tubuhnya Tapi ilmu silat yang dimiliki perwira itu beberapa kali lipat lebih hebat daripadanya, dia ditangkap dan dipaksa menjadi muridnya Tentu saja Nyo Yan tidak bersedia menuruti perkataan itu.
Perwira tersebut segera berkata "Sekalipun kau enggan untuk menurut juga harus menurut kecuali tiba-tiba aku mampus, kalau tidak, kau harus mengikuti aku terus."
Perwira itu berhidung mancung dan bermata cekung, wajahnya mirip sekali dengan orang suku Oh di wilayah See-ih, cuma bahasa Han yang dipergunakan olehnya lancar sekali.
Setelah berhasil menangkap Nyo Yan, dia pun melepaskan pakaian seragamnya, meninggalkan pasukan dan memaksa Nyo Yan untuk mengikutinya pergi ke barat.
Mereka menyeberangi gurun pasir yang luas, melewati tanah perbukitan yang tinggi dan entah berapa bulan harus berjalan terus sebelum akhirnya sampai di kaki sebuah gunung.
Gunung tersebut tinggi menjulang ke angkasa, tampaknya jauh lebih tinggi dari gunung Thian-san, di atas gunungbanyak sungai es, pemandangan alamnya mirip sekali dengan pemandangan alam di gunung Thian-san.
Di kemudian hari dia baru tahu kalau gunung yang tinggi itu adalah pegunungan Himalaya, sedangkan gunung tertinggi yang menjulang sampai ke balik awan adalah puncak tertinggi di dunia ini.
Ketika itu mereka lewat di sebelah utara pegunungan Himalaya yang merupakan perbatasan antara Tibet dengan India.
Suatu malam, ketika mereka bermalam di sebuah gunung, secara diam-diam Nyo Yan melarikan diri menggunakan kesempatan di kala ia sedang tertidur nyenyak.
Siapa tahu belum jauh dia pergi, perbuatannya itu sudah ketahuan dan dirinya segera dikejar.
Nyo Yan menjadi ketakutan dan segera menerobos masuk ke dalam sebuah gua es.
Gua es itu sempit lagi memanjang, bagi Nyo Yan yang masih bocah gua tersebut bisa diterobosnya, berbeda dengan orang suku Oh tersebut… Melihat bocah itu kabur ke dalam gua, orang suku Oh itu segera menggertak dan menipu dengan tujuan agar bocah itu ketakutan dan keluar dari gua tersebut Siapa tahu Nyo Yan lebih suka mati kelaparan dalam gua salju itu daripada mempercayai perkataannya.
Lama-kelamaan orang suku Oh itu menjadi naik pitam, sambil tertawa dingin serunya.
"Kau anggap aku tak mampu untuk membekukmu? Lihat saja, aku akan menyuruhmu keluar sendiri dari sana!"
Dia memungut sebutir batu sebesar telur itik dan meremasnya menjadi beberapa biji batu kecil, kemudian dengan mempergunakan batu itu seperti kelereng, satu per satu disambitkan ke dalam gua es tersebut… Kepandaiannya melepaskan senjata rahasia ternyata cukup lihay, setiap biji batu yang disambitkan lewat di atas kepala Nyo Yan, tiba-tiba meluncur kembali dengan kecepatan tinggi.
Bagi orang yang belajar silat, dalam tubuhnya sudah tertanam semacam kemampuan untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya maut; begitupun keadaan Nyo Yan waktu itu, tanpa terasa dia mundur terus ke belakang.
Ketika orang suku Oh itu menyaksikan Nyo Yan sudah hampir keluar dari gua es tersebut saking senangnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… setan cilik, kau bisa kabur ke mana lagi?"
Serunya Pada dasarnya Nyo Yan adalah seorang bocah yang berwatak keras, seandainya orang suku Oh itu tidak berkata apa-apa, mungkin dia masih akan mundur terus, tapi begitu mendengar perkataan tersebut, sama halnya dengan memperingatkan Nyo Yan.
Tiba-tiba bocah itu berteriak keras.
"Baik, aku lebih suka terhajar mampus oleh sambitan batumu itu daripada mesti mengikuti kau!"
Kali ini bukan saja dia tidak mundur, malahan menerjang maju ke depan.
Padahal pada waktu itu dua butir batu sedang meluncur balik, serta merta tubuhnya jadi menyongsong kedatangan batu tersebut.Dengan cepat dua butir batu itu meluncur mengancam jalan darah Tay-yang-hiat di atas keningnya Andaikata serangan tersebut sampai bersarang telak, sekalipun tidak mati, paling tidak juga akan terluka parah.
Malam itu udara sangat bersih, rembulan bersinar dengan terangnya menerangi seluruh jagat, pemandangan di sekitar tempat itu terlihat amat jelas.
Agaknya orang suku Oh itu tak mengira kalau Nyo Yan berwatak keras kepala, menanti dia ingin menyentilkan batu yang lain untuk memukul rontok kedua butir batu itu, keadaan sudah terlambat.
Di saat yang kritis itulah, mendadak terdengar seseorang mendamprat dengan suara keras.
"Menggunakan cara yang begini keji untuk menganiaya seorang bocah cilik, kau betul-betul tak tahu malu."
Hanya terdengar suaranya tanpa menjumpai orangnya lapi di tengah suara makian tersebut tampak dua biji batu tadi sudah rontok di hadapan Nyo Yan.
Tapi anehnya, Nyo Yan sama sekali tidak melihat benda apakah yang telah merontokkan kedua biji batu tersebut Akan tetapi, sewaktu kedua butir batu tadi rontok di hadapan mukanya, beberapa butir air sempat membasahi wajahnya, bahkan ada pula bongkahan salju yang belum sempat mencair.
Sebagai anak yang pintar, Nyo Yan segera menyadari apa yang telah terjadi, tampaknya "senjata rahasia"
Yang dipergunakan orang itu untuk merontokkan batu cadas tersebut tak lain adalah sebongkah saljuDalam pada itu, orang tersebut sudah menampakkan diri, ternyata dia adalah seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang berjenggot cabang tiga Terkejut dan girang Nyo Yan menyaksikan kejadian itu, pikirnya kemudian dengan cepat "
Tak heran kalau suhu seringkah’ berkata bahwa di luar langit ada langit, di atas manusia masih ada manusia lain, entah berapa banyak jago lihay yang ada di dunia ini?
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki lo-yaya (kakek tua) ini tidak berada di bawah kepandaian guruku."
Nyo Yan, seorang bocah pun dapat melihat kalau kakek itu berilmu sangat tinggi, apalagi orang suku Oh tersebut, sebagai seorang ahli silat dia pun mengetahui hal itu, tak heran harinya merasa amat terkejut "Kurang ajar, siapa yang begitu berani…."
Dampratan itu belum selesai diucapkan ketika ia menyaksikan sambitan batu cadasnya berhasil dirontokkan oleh bongkahan salju kakek tersebut kontan saja kata-kata selanjutnya tak mampu diutarakan keluar lagi.
Orang bilang, jika telur harus beradu dengan baru, niscaya hancur dalam sekali bentrokan.
Salju yang dipergunakan oleh si kakek sekarang tak jauh berbeda keadaannya dengan sebutir telur, tapi kenyataannya yang tak tahan dalam sekali benturan bukan sang telur, melainkan batunya.
Tanpa sadar orang suku Oh itu berpikir.
"Berlatih sepuluh tahun lagi pun belum tentu aku bisa mencapai tingkatan seperti ini,"
Berpikir sampai di situ, tanpa banyak membuang waktu lagi dia segera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit Saat itulah, Nyo Yan baru menerobos keluar dari dalam gua tersebut Sambil membelai rambutnya, kakek itu segera berkata.
"Anak baik, tampaknya kau dibikin terperanjat"
Jawaban Nyo Yan ternyata di luar dugaan kakek itu, ia tidak berterima kasih, sebaliknya malah bertanya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah anak baik?"
Kakek itu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… aku paling suka dengan bocah yang keras kepala, persis seperti aku masih muda dulu. Semasa masih muda dulu, sekalipun tahu kalau bukan tandingan, aku pun tak akan menundukkan kepala di depan orang jahat"
"Lo-yaya, kau sangat baik, kau telah membantuku untuk mengusir orang jahat"
"Kau datang dari mana nak? Dan siapa namamu?"
Nyo Yan segera memberitahukan padanya. Kakek itu manggut-manggut, ujarnya kemudian.
"Ooh, jadi rupanya kau berasal dari Thian-san, kalau begitu mustahil kau bisa pulang ke sana seorang diri. Tempat ini adalah wilayah sebelah barat dari Tibet, jaraknya dengan gunung Thian-san mencapai puluhan laksa li. Aku tahu kau pernah belajar ilmu silat kau bukan anak sembarangan, tapi usiamu terlampau kecil, andaikata tiada seseorang yang mengerti ilmu silat dan orang yang berpengalaman melakukan perjalanan me-nyeberangi gurun pasir, tak mungkin kau bisa sampai di tempat tujuan."
"Lo-yaya, kau… kau…."
Sebenarnya dia ingin orang tua itu mengantarnya pulang, tapi teringat kalau orang tua itu sudah lanjut usia, ia menjadi rikuh untuk mengatakannya.
Agaknya kakek itu mengerti maksud bannya, kembali ujarnya.
"Kalau kau memang datang dari Thian-san, tahukah kau bahwa di puncak sebelah selatan gunung Thian-san berdiam seorang tokoh persilatan masa kini? Dia adalah ciangbunjin dari Thian-san-pay, she Teng bernama Keng-thian?"
"Orang yang kau maksudkan itu adalah guruku!"
"Ooh, rupanya kau adalah muridnya Teng Keng-thian, tak heran kalau nyalimu begitu besar."
Kemudian setelah menghela napas panjang, lanjutnya dengan sedih.
"Seandainya kejadian ini berlangsung pada duapuluh tahun berselang, aku pasti akan mengantarmu pulang ke Thian-san, sekalian mengunjungi Teng Keng-thian.
Tapi kini, aai!
Kini aku tak ingin kalau di dunia ini masih ada orang yang tahu bahwa aku masih hidup.
"Sekalipun suara hatiku kuungkapkan kepadamu, belum tentu kau akan mengerti. Bila sudah sampai saatnya untuk memberitahukan padamu, aku tentu akan memberitahukan kepadamu."
Walaupun Nyo Yan masih kecil, tapi berhubung musibah dan pengalaman yang dialaminya jauh melebihi pengalaman siapapun, maka itu jauh lebih "matang"
Daripada bocah sebayanya, dalam hati dia lantas berpikir.
"Mungkin lo-yaya ini mempunyai kesulitan yang tak bisa disampaikan kepada orang lain? Enci Lcng pernah memberi petunjuk kepadaku, dalam dunia persilatan terdapat banyak’sekali pantangan, bertanya kelewat banyak tentang persoalan orang lain juga merupakansemacam pantangan. Seandainya aku mesti bertanya kepadanya sampai sejelas-jelasnya, sudah pasti lo-yaya ini akan membenci diriku."
Berpikir demikian, dia pun tidak bertanya lebih jauh. Terdengar kakek itu berkata lebih lanjut.
"Aku enggan berjumpa dengan orang lain. Mungkin orang lain pun tidak suka berjumpa denganku, walaupun Teng Keng-thian mungkin terkecuali dalam hal ini, tapi justru itu aku semakin tak ingin mendatangkan pelbagai kesulitan yang tidak perlu bagi dirinya."
Sekalipun Nyo Yan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan, tapi ada satu hal yang dipahami olehnya, yakni dia tak dapat mengantar dirinya pulang ke Thian-san.
"Lo-yaya,"
Ajarnya kemudian.
"kau telah menyelamatkan selembar jiwaku, hal ini sudah cukup membuatku berterima kasih. Afal tidak takut bahaya di perjalanan, aku akan pulang sendirian."
"Bocah yang bernyali besar dan berbakat seperti kau memang seorang bocah yang menyenangkan,"
Ucap kakek itu sambil membelai kepalanya.
"Sekalipun kau bersedia menyerempet bahaya, aku tak akan tega membiarkan engkau pergi menempuh bahaya. Kauhilang hendak pulang sendiri? Coba aku mau tanya, andaikata ransum keringmu habis, apa dayamu? Kau mesti tahu, perjalanan yang akan kau tempuh adalah suatu perjalanan yang sulit, dalam seratus li belum tentu ada manusia."
"Aku bisa menggunakan batu untuk menyambit burung yang sedang terbang!"
"Mengertikah kau cara mencari sumber air di tengah gurun?"‘Tidak!"
"Bila menghadapi angin topan, tahukah kau bagaimana caranya menghindarkan diri dari sapuan pasir?"
"Tidak tahu?"
"Seandainya kau berjumpa lagi dengan orang jahat itu, sanggupkah kau untuk meloloskan diri?"
"Tidak sanggup!"
Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha, itulah sebabnya kuanjurkan kepadamu lebih baik bila membatalkan saja niat tersebut Atau begini saja, tinggallah dahulu di sini dan belajar sedikit kepandaian, bila kau sudah dewasa nanti bara pulang sendiri!"
"Maksudmu, kau hendak menerimaku sebagai muridmu?"
"Bersediakah kau?"
"Itu memang sebuah tawaran yang bagus, tapi sebelum aku belajar silat dari orang lain, agaknya perlu kulaporkan dulu hal ini kepada guruku yang pertama."
"Kau tak usah memanggil suhu kepadaku, panggil saja aku sebagai yaya. Bagaimana? Apakah dalam Thian-san-pay kalian terdapat peraturan yang melarang anak muridnya mengangkat orang lain sebagai guru?"
"Peraturan seperti itu memang tak ada. Seorang engkoh-ku, dia pun mempunyai beberapa orang guru bahkan merupakan murid Thian-san-pay pula…"
"Kalau begitu bagus sekali. Bila kau telah belajar ilmu dariku, beritahukan hal ini kepada suhu-mu bila telah kembali nanti, aku yakin dia tak akan menyalahkan kau."
Kemudian setelah tertawa lanjutnya.
"Padahal sekalipun kau ingin mengangkat diriku sebagai guru pun, aku tak akan bisa meluluskan. Dengan usiamu sekarang, aku hanya pantas menjadi sucou-mu, bukan menjadi gumu."
"Guruku jauh lebih tua daripada usiamu, sedangkan aku mempunyai seorang enci Leng yang sering mengajar aku membaca, bila aku nakal dia sering memukul pantatku, bila berbicara soal tingkat kedudukan, ia seharusnya memanggil siau-susiok (paman guru kecil) kepadaku.
"Kemudian seorang supek-ku she Ciong memberitahukan kepadaku dan aku baru mengerti, rupanya di antara perguruan-perguruan yang ada di dalam dunia persilatan, hanya Thian-san-pay yang’paling tidak menaruh perhatian terhadap soal tingkat kedudukan. Konon bagi sementara murid yang istimewa seperti engkoh-ku misalnya, sekalipun berada dalam perguruan, namun dia berhubungan dengan kedudukan yang sama."
Kakek itu segera tertawa "
Aku tak dapat menjadi gurumu bukanlah disebabkan selisih umur di antara kita terlalu besar, di kemudian hari kau akan memahami maksud hatiku ini.
Cuma walaupun aku tak ingin menjadi gurumu, bila kau tidak menuruti perkataanku, aku toh sama saja akan memukuli pantatmu."
"Enci Leng saja dapat memukul pantatku, tentu saja yaya pun boleh memukul pantatku. Soal ini tak usah kau terangkan lebih dulu pun aku juga mengerti. Yaya, aku akan menuruti perkataanmu."
Setelah menjadi murid orangtua itu, dia baru tahu kalau kakek ini she Liong bernama Ci-leng.Pada seratus tahun berselang, leluhur beberapa generasi yang lewat telah melarikan diri dari daratan Tionggoan ke kaki gunung Hima-laya karena menghindari bencana perang.
Dia tidak pernah menerangkan asal-usulnya secara jelas, tapi dari kisahnya yang sepotong-sepotong, Nyo Yan dapat mengambil kesimpulan kalau keluarga Liong di masa lalu merupakan suatu keluarga persilatan yang amat termashur di daratan Tionggoan.
Liong Ci-leng sendiri pun amat jarang membicarakan tentang persoalannya hingga dia sudah belajar silat selama tujuh tahun dan siap turun gunung….
0odwo0 Ketika Liong Leng-cu mendengar pemuda itu mengisahkan pengalamannya sewaktu mengangkat guru untuk kedua kalinya rasa kaget bercampur sangsi tampak menghiasi wajahnya, terlihat bahwa ia sedang berusaha keras untuk mengendalikan diri agar tidak memperlihatkan luapan emosi yang berlebihan di depan Nyo Yan.
Tentu saja Nyo Yan sendui pun mempunyai kecurigaan sendiri, tapi baru saja ia berkenalan dengannya, lagi pula mengetahui wataknya yang aneh, maka dia agak segan untuk menanyakan persoalan ini kepadanya.
Liong Leng-cu tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian sambil tertawa paksa ia berkata.
"Rupanya kau mempunyai seorang suhu… ooh, bukan, seorang sucou yang bernama Liong Ci-leng, namanya ada dua kata yang mirip Sekali dengan namaku!"
"Benar,"
Kata Nyo Yan sambil tertawa.
"hal ini sungguh merupakan suatu kebetulan. Aku tahu kalau dia tak berputra,kalau tidak aku pasti akan mencurigai dirimu sebagai cucunya."
"Apakah dia mempunyai anak wanita?"
"Dia hanya mempunyai seorang putri."
"Apakah putrinya berada bersamanya? Mengapa kau tidak pernah menyinggung tentang dia?"
"la telah meninggalkan yaya. Pada saat aku hendak turun gunung, yaya baru membicarakan hal itu kepadaku. Konon sewaktu ayah dan anak berpisah, ketika itu putrinya baru berusia sembilan belas tahun."
"Kalau begitu lukisan yang dia buat itu adalah wajah putri tunggalnya sewaktu berusia sembilan-belas tahun?"
"Kau memang pintar sekali, sekali tebak sudah dapat menebaknya dengan tepat"
"Apakah sampai pada saat itu kau baru melihat lukisan tersebut?"
"Benar"
"Mengapa sebelum berpisah, dia baru memperlihatkan lukisan dari putrinya itu padamu?"
"Sebab dia berharap aku dapat membantunya untuk menemukan jejak putrinya"
"Mengapa dia bisa meninggalkan putrinya?"
"Entahlah! Aku sendiri pun tidak tahu Yaya hanya memberi tahu kepadaku, ia pernah melakukan suatu perbuatan yang telah melukai hati anaknya, maka putrinya minggat secara diam-diam."
"Siapakah nama putrinya itu?"
"Yaya tak pernah mengatakannya kepadaku. Dia bilang sewaktu putrinya pergi meninggalkan dirinya, ia telah bersumpah tidak akan kembali lagi. Maka besar kemungkinan dia berganti nama agar ayahnya tak akan berhasil menemukannya Yaya pun tak ingin kuselidiki persoalan ini dengan bertanya kepada orang, maka dia enggan memberitahukan nama putrinya itu kepadaku."
"Lantas bagaimana caranya kau melakukan pencarian itu?"
"Dia menyuruh aku memperhatikan adakah orang yang mempunyai ilmu silat hampir sama dengan ilmu silat yang kupelajari, bila aku dapat berjumpa dengan orang itu, sekali-pun dia bukan putrinya, paling tidak pasti ada hubungannya dengan putrinya, mungkin saja dia adalah murid putrinya atau mungkin cucunya,"
Berbicara sampai di situ, maka hal ini sama halnya seperti memberitahukan kepada Liong Leng-cu bahwa dia sedang mencurigai Liong Leng-cu sebagai orang yang diharapkan bisa ditemukan oleh yaya-nya Dengan penuh perhatian dia mengawasi perubahan wajah Liong Leng-cu, sementara itu Liong Leng-cu sendiri sedang memandang ke tempat kejauhan, agaknya dia sedang diliputi oleh rasa bimbang dan ragu.
Karena gadis ini tidak berbicara, terpaksa Nyo Yan harus bertanya kepadanya.
"Ceritaku telah selesai, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita..!"
Seperti baru sadar dari impian, Liong Leng-cu, termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan wajahnya barulah cerah kembali, seperti dia telah mengambil suatu keputusan dan siap memberitahukan sesuatu pada Nyo Yan.
"Baiklah aku akan memberitahukan dahulu kepadamu siapakah guruku, dia adalah ibuku, nama margaku juga mengikuti nama marga dari ibuku."
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, tanpa sadar Nyo Yan segera menjerit tertahan.
"Aah, mengerti aku sekarang.’"
Pekiknya keras-keras. Terhadap sikap anak muda itu, Liong Leng-cu nampak seakan-akan tidak merasa, ucapnya dengan hambar.
"Apa yang kau pahami?"
"Aku mengerti apa sebabnya yaya tidak menyuruh aku memanggilnya sebagai suhu Andaikata kau benar-benar adalah cucu perempuan dari yaya-ku itu, dengan usia kita yang sebaya tapi kau mesti memanggilku siau-susiok kepadaku, bukankah hal ini merupakan sesuatu kerugian yang amat besar bagimu?"
Dia sengaja membawa pembicaraan itu melingkar sampai jauh dengan tujuan untuk memancing reaksi Liong Leng-cu Siapa tahu reaksi dari gadis itu sangat hambar, dia hanya berkata "Betul, jalan pemikiran yaya-mu itu memang sempurna.
Cuma saja ‘kembangan’mu itu sedikit kelewat berlebihan."
Akhirnya Nyo Yan tak sabar lagi, secara terang-terangan dia lantas bertanya.
"Nona Liong, jangan-jangan kau… adalah…."
"Kau tak usah mengurusi siapakah aku, sekarang dengarkan dulu sebuah ceritaku."
"Baiklah, aku memang ingin mendengarkan ceritamu itu."
Pelan-pelan Liong Leng-cu berkata.
"Dulu ada seorang panglima setia bernama Nian Keng-yau, seorang panglimakenamaan pada tahun Khang-si, kemudian Nian Keng-yau mari dibunuh oleh kaisar Ybng-ceng.
"Keturunannya mengungsi ke tempat yang amat jauh dan menetap di pegunungan dekat perbatasan antara Tionggoan dengan India, turun-temurun keluarga itu tinggal di situ hingga generasinya kakek itu, hingga saat itu sudah ratusan tahun lamanya mereka tidak pernah kembali ke daratan Tionggoan."
Mendengar sampai di situ, Nyo Yan lantas berpikir, ‘Tak heran kalau yaya tak pernah membicarakan asal-usul keluarganya padaku, mungkin hal ini disebabkan karena Nian Keng-yau itu membantu pemerintah bangsa Ging yang merupakan musuh bebuyutan kaum pendekar dan ksatria, maka yaya tak ingin kalau orang lain juga tahu kalau leluhurnya dulu ada hubungan dengan Nian Keng-yau.
Tetapi nona Liong ini baru saja berkenalan denganku, kenyataannya dia bersedia memberitahukan hal ini kepadaku, seharusnya lumayan juga sikapnya kepadaku…."
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa timbul perasaan hangat di dalam hatinya sehingga tanpa sadar sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.
Liong Leng-cu sendiri, entah dia berhasil menebak rahasia hati pemuda itu atau hanya suatu kebetulan saja, dengan wajah girang bercampur manja tiba-tiba menegur.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan? Katanya aku disuruh bercerita, tapi nyatanya kau enggan mendengarkan dengan seksama!"
"Aku toh sedang mendengarkan dengan seksama Aku hanya berpikir bahwa kakek yang kau ceritakan itu agak mirip dengan yaya-ku itu."
"Betul. Dia pun hanya mempunyai seorang putri tunggal."
"Kemudian apa yang terjadi dengan ayah dan anak berdua itu?"
"Ketika putrinya berusia sembilanbelas tahun datanglah seorang bangsa Han ke sana. Ternyata putrinya jatuh cinta kepada orang bangsa Han itu."
"Bukankah hal ini merupakan suatu jodoh? Mustahil ada orang bangsa Han yang datang ke gunung Himalaya tanpa tujuan, apalagi kalau dilihat dari kemampuannya untuk mendatangi pegunungan Himalaya, sudah pasti ilmu silat yang dimiliki orang itu lihay sekali."
Padahal Liong Leng-cu belum pernah memberitahukan kepadanya kalau gunung itu adalah pegunungan Himalaya "Justru sebaliknya, kedatangan orang Han itu membawa bencana Akhirnya bukan saja membuat ayah dan anak mesti saling berpisah, malahan bencana menimpa diri sendiri."
"Apakah orang Han itu orang jahat?"
Seru Nyo Yan terperanjat "
Bajik yang bagaimana, jahat yang bagaimana pula, baik atau buruk sesungguhnya hanya dinilai dari budi serta pikiran.
Mungkin saja dalam pandangan orang tua itu, si orang Han tersebut orang jahat, tapi dalam pandangan putrinya mungkin orang baik.
Kalau tidak, bagaimana mungkin dia dapat men-cintainya dengan sepenuh hati?"
"Lantas bagaimanakah di dalam pandangan orang lain?"
"Aku hanya dapat bercerita menurut apa yang kuketahui, aku pun tak pernah bertanya kepada orang lain, dari mana mungkin aku bisa mengetahui sudut pandang mereka? Cuma menurut apa yang kuketahui, aku belum pernah menjumpai orang baik kedua selain dia! Tentu saja baik menurutanggapanku belum tentu merupakan baik dalam pandangan orang lain, karena kebaikan tersebut muncul menurut sudut pandanganku sendiri."
"Apakah kau mengetahui asal-usul dari orang Han itu?"
Tanya Nyo Yan kemudian. Semenjak ia mendengar Liong Leng-cu membicarakan tentang "orang Han"
Tersebut, tanpa terasa wajahnya menunjukkan perasaan kagum, sementara hatinya pun se-makin terang.
"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu kakek itu mengatakan kalau orang Han tersebut adalah seorang gembong iblis dari aliran sesat oleh karena itu dia melarang putrinya bergaul dengannya"
"Kalau dilihat dari betapa mendalamnya rasa cinta putrinya terhadap orang Han itu, aku rasa dia pasti tak akan menuruti perkataan dari ayahnya bukan?"
"Betul, mereka masih melanjutkan pertemuan demi pertemuan secara rahasia Suatu ketika perbuatan mereka diketahui oleh kakek itu, dengan serius mereka lantas diper-ingatkan, jika orang Han itu berani datang lagi maka ia akan mengutungi sebuah kakinya"
Mematahkan Kaki Kekasih Putrinya "Tentunya orang Han itu tak sampai tergertak bukan?"
Nyo Yan segera bertanya "Tentu saja tidak, watak orang itu jauh lebih keras kepala daripada sang kakek. Pada malam kedua, ternyata dia datang lagi mencari putrinya"
"Bagaimana kemudian?"
"Akhirnya kakek itu benar-benar melaksanakan apa yang telah diucapkan, dia mematahkan sebelah kaki orang Han itu."
Mendengar sampai di situ, tanpa sadar Nyo Yan menjerit kaget, pikirnya.
"Tak heran kalau yaya mengatakan bahwa dia telah menyesal karena telah melakukan suatu perbuatan yang berdosa kepada putrinya, ya kalau dipikirkan kembali tindakannya itu memang kelewat kejam."
Sementara itu Liong Lcng-cu telah melanjutkan kembali ceritanya, Ternyata putrinya juga seorang yang keras kepala, sambil memondong kekasihnya yang luka parah dia berkata, ‘Ayah, kecuali kau membunuh aku, kalau tidak entah dia hidup atau mati, aku akan tetap mengikutinya.’ "Dalam keadaan gusar, kakek itu segera memaki putrinya, ‘Belasan tahun aku memelihara dirimu, ternyata kau begitu tak berbakti, baik, kalau kau ingin turut dia, mulai sekarang kau jangan mengakui diriku sebagai ayahmu."
"Putrinya lantas berlutut di depan ayahnya dan menyembah tiga kali, kemudian berkata, ‘Ayah, kau memang telah mendidikku hingga dewasa, tapi kau telah melukai suamiku, tentu saja putrimu tak akan mendendam kepadamu, tapi harap kau pun memaafkan diriku karena tak bisa membalas budi kebaikanmu lagi, inilah untuk terakhir kalinya kupanggil ayah kepadamu, mulai kini aku tak akan kembali lagi kemari. Ayah, baik-baikiah kau menjaga diri.’ "
Pada saat itulah, si orang bangsa Han yang kena dipatahkan kakinya itu tertawa terbahak-bahak."
"Dia masih bisa tertawa?"
Seru Nyo Yan keheranan.
"Sambil tertawa orang Han itu berkata, ‘Sekarang kau pasti mengerti bukan mengapa aku tidak melancarkan serangan balasan tadi? Aku bukan takut kepadamu, berbicara soal ilmusilat mungkin aku masih kalah setingkat darimu, tapi mustahil kau dapat mengurungi sebuah kakiku. Aku bersedia menahan derita ini karena pertama, kau adalah ayahnya dan kedua aku pun ingin mencoba mengetahui sampai di manakah ketulusan cintanya kepadaku. Heeh heeh… kini aku telah mengetahui, meski sebelah kakiku sudah kutung, dia masih tetap mencin-taiku, kenapa aku tak boleh merasa amat gembira?’ "
Putrinya lantas berkata, ‘Aku lebih mencintaimu daripada cintaku dulu.’ Begitulah di tengah gelak tertawa yang amat keras dari orang Han itu, dia menggendongnya dan tanpa berpaling pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan ayahnya seorang diri.
Nyo Yan segera menghela nafas panjang, katanya kemudian.
"Aai, tak bisa disalahkan jika kakek itu memakinya sebagai gembong iblis, pembalasan yang dia lakukan betul-betul kelewat keji. Meski dia kehilangan sebelah kakinya, namun kakek itu pun kehilangan putri kesayangannya, kalau dibandingkan kakek itu jauh lebih mengenaskan nasibnya."
"Aah, kau ini hanya tahu membantu kakek itu melulu,"
Seru Liong Leng-cu cepat.
"Betul orang Han itu cuma kehilangan sebelah kakinya dan tidak begitu sedih, tentu saja nasibnya tidak mengenaskan seperti kakek tersebut, dan lagi memang dia selamanya tak pernah minta belas kasihan orang. Tapi kakek itu telah merampas kemerdekaannya, dan inilah yang mengakibatkan bencana bagi orang Han tersebut"
"Peristiwa itu sudah lewat banyak tahun, perselisihan antara ayah dan anak pun sudah seharusnya diakhiri dan tak perlu dipersoalkan lagi. Nona Liong, putri kakek yang kau kisahkan itu apakah ibu kandungmu…?"
"Kalau benar kenapa?"
"Aku harap kau bersedia membantu membujuk ibumu agar dia mau pulang menjumpai gwakong-mu Aku berani menjamin yaya pasti tak akan menyalahkan ayahmu lagi, bila ayahmu bisa turut pulang, tentu saja hal ini lebih baik."
"Yaya-mu sudah tak mungkin bisa berjumpa lagi dengan putrinya,"
Kata Liong Leng-cu cepat "Kenapa?"
Tanya Nyo Yan dengan perasaan bergetar keras.
"Dengarkanlah separuh kisah yang terakhirku ini…."
Sekembalinya ke daratan Tionggoan, mereka menetap disuatu dusun yang terpencil dan jauh dari keramaian manusia.
"Walaupun ayahku kehilangan sebelah kakinya, namun ia masih tekun bekerja. Ibuku menjahitkan pakaian orang lain, mereka hidup bahagia dan saling mencintai. Ayahku sering berkata, selamanya dia tak pernah membayangkan jika dapat menikmati kehidupan yang begitu tenteram dan bahagia "
Orang-orang yang berdiam di dusun itu tentu saja sama sekali tak mengira kalau ayahku yang cacat itu sesungguhnya adalah seorang jago persilatan yang amat tersohor, lebih-lebih tak ada yang mengira kalau ibuku pun pandai bersilat "Tapi sayang kehidupan yang tenteram dan penuh kebahagiaan itu tak bisa berlangsung lama.
Ketika aku berusia sepuluh tahun, entah mengapa, seorang musuh ayahku berhasil mendapat kabar kalau ayahku tinggal di sana, ia segera menyusul ke situ.
Yang lebih tak beruntung lagi pada waktu itu ibuku sedang berbadan dua "
Ilmu silat yang dimiliki musuh besar ayahku itu amat tinggi, akhirnya meski dia berhasil dikalahkan dan melarikan diri setelah ayah ibuku bekerja sama, tapi berhubung ayahkucacat dan langkahnya tidak lincah, ia pun terkena sebuah pukulan dahsyat.
Padahal luka dalam yang diderita sepuluh tahun berselang belum sembuh, sekarang ditambah lagi dengan lukanya yang baru, membuat ayanku menemui ajalnya pada malam ini juga!"
Mendengar sampai di situ, Nyo Yan tidak sanggup menahan sedihnya lagi, sepasang matanya segera berkaca-kaca, pikirnya.
"Ternyata sejak kecil ia sudah hidup sengsara tanpa belaian kasih ayahnya, nasibnya mirip sekali dengan nasib yang menimpa diriku."
Sambil menahan lelehan air mata, dia lantas bertanya.
"Kemudian, bagaimana dengan kalian ibu dan anak berdua?"
"Setelah musibah yang amat tragis itu, tentu saja ibuku sedih sekali.
Kini ayah sudah meninggal, musuh belum terbunuh, berarti bencana akan muncul setiap saat, dalam keadaan seperu ini tentu saja dusun tersebut tak bisa didiami lagi.
Demi melindungi keselamatan jiwaku, terpaksa ibu harus menahan rasa sedih dengan membakar jenazah ayahku, lalu dengan membawa abunya malam itu juga kami melarikan diri.
"Mungkin karena rasa sedih yang kelewat batas, apalagi mesti melangsungkan pertarungan, kandungannya telah bergeser, setelah kabur dari dusun pada hari ketiga kandungannya gugur. Ternyata yang keluar adalah bayi lelaki. Ketika mengandung sebetulnya ibu berharap bisa mempunyai anak lelaki; aku pun berharap bisa mendapat adik lelaki. Tak nyana bencana datang tanpa diundang, semua impian indah berubah menjadi asap. Tatkala ibu tahu kalau bayinya lelaki, seketika itu juga jatuh pingsan."
Nyo Yan yang teringat pula dengan asal-usul sendiri, makin mendengar hatinya merasa makin sedih, pikirnya.
"Ketika ibuku meninggalkan rumah karena dipaksa, ia pun sedangberbadan dua, bedanya adalah aku dapat dilahirkan oleh ibuku dengan lancar dan selamat, sebaliknya adiknya mati karena lahir sebelum waktunya. Cuma, beruntung atau tidak beruntung sulit untuk dikatakan, andaikata waktu itu aku pun mati karena lahir muda, bukankah aku tak usah merasakan menderitanya hidup sebagai manusia?"
Liong Leng-cu menghentikan penuturannya dan mengambil sapu tangan untuk menyeka air mata Nyo Yan, kemudian sambil berseru tertahan katanya.
"Aku yang mengisahkan pengalaman sedihku pun tidak menangis, malahan kau yang menangis? Sudah gede masih menangis, apa tidak malu…?"
"Aku sedang membayangkan, waktu itu kau belum berusia sepuluh tahun, ibumu jatuh sakit, bukankah yang menderita adalah kau?"
"Betul, waktu itu penderitaanku tak terlukiskan dengan kata-kata, cuma aku tidak berharap kaumerasa kasihan bagiku."
Ketika ibu jatuh sakit, aku mulai mengemis kepada orang, aku pun pernah menjadi pencuri.
Sungguh tak disangka ilmu silat yang diajarkan ayah dan ibuku amat bermanfaat untuk pekerjaan di bidang ini.
Baca Juga: Kedele Maut 2
Baca Juga: Sukma Pedang 7