Eps 3 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
Tanpa terasa kedua belah pihak telah bertarung seratus jurus lebih, sekarang Ki See-kiat telah berhasil menemukan cara untuk menghadapi bokor emas lawan.
Tapi pada saat itulah mendadak mereka seperti mendengar ada orang berseru tertahan.
Bila seorang jago lihay sedang bertempur, maka selain sorot matanya mengawasi empat penjuru, telinganya juga mendengarkan delapan penjuru, meski orang yang berseru tertahan itu masih berada di tempat kejauhan, namun suara tersebut telah terdengar di sisi telinga mereka.Begitu mendengar suara itu, Tay-kiat Hoatsu segera mengetahui siapa yang telah datang.
Ki See-kiat sendiri juga tahu kalau pendatang itu bukan orang sembarangan.
Pemuda yang Berilmu Silat Tinggi Tapi setelah diperhatikan, dia sendiri pun merasa sedikit di luar dugaan.
Ternyata orang yang baru datang itu adalah seorang pemuda yang jauh lebih muda lagi daripada dirinya, dia berkulit merah kehitam-hitaman, pasir dan debu mengotori wajahnya, meski sukar untuk menentukan berapa umur pemuda itu, tapi dapat dilihat usianya tidak akan lebih dari duapuluh tahunan.
Kalau dilihat dari dandanannya, dia lebih mirip bangsa Han.
Menyaksikan kedatangan pemuda itu, Tay-kiat Hoatsu segera menampilkan wajah berseri, dengan bahasa yang tidak dipahami dia berteriak berulang kali….
Melihat itu, Ki See-kiat lantas berpikir.
"Ternyata dia adalah temannya…."
Dia merasa usia pemuda itu masih jauh lebih muda dari dirinya, sekalipun ilmu silatnya lihay, menurut anggapannya juga tak akan lebih hebat daripada pendeta asing tersebut, tapi bila pihak lawan mendapat bantuan seorang jago lagi, bukan mustahil pendeta asing itu akan berhasil mewujudkan keinginannya untuk merenggut selembar jiwanya.Melihat pemuda itu sudah semakin mendekat, terpaksa Ki See-kiat harus memperketat serangan dengan harapan bisa membereskan Tay-kiat Hoatsu lebih dahulu.
Kebetulan sekali waktu itu Tay-kiat Hoatsu sedang menindih kepalanya dengan gerakan Bukit Thay-san Menindih Kepala, tahu-tahu bokor emas itu sudah berada di atas batok kepalanya Ki See-kiat segera membentak keras, dengan mencintakan selapis bianglala mendadak golok mestika-nya meluncur ke atas.
"Traang…!"
Di tengah benturan yang amat memekakkan telinga golok mestika itu sudah meluncur ke dalam bokor itu hingga tembus.
Ternyata jurus serangan yang dipakai untuk menembusi bokor emas itu, persis mencocoki teori "Bangkit setelah mati"
Dalam ilmu tentara.
Sebelum kejadian ini, dia selalu takut kalau senjatanya kena terhisap oleh bokor emas lawan, tak urung dalam penggunaan jurus serangan pun dia bertindak sangat hati-hati.
Siapa tahu semakin dia berhati-hati, keampuhannya semakin tak dapat dikembangkan, sampai detik itu dia tidak bisa mengembangkan kemampuan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat untuk menguasai musuhnya, malah sebaliknya hampir saja ia kena dirobohkan musuhnya Tapi kemudian dia mengubah taktik pertarungannya, dia buang jauh-jauh perasaan takut golok mestika terisap bokor emas, dia berpendapat seandainya senjata itu sampai terisap ya sudahlah, ternyata serangan yang dipergunakan justru mendatangkan hasil yang gemilang dan di luar dugaan.Rupanya dalam serangan tersebut, yang dia gunakan bukan ilmu pedang Peng coan-kiam-hoat yang lunak membawa kekerasan, melainkan jurus Pek-hong-koan-jit dari ilmu golok keluarganya yang keras, itulah jurus ampuh ajaran yaya-nya untuk mencari kemenangan di balik kekalahan.
Ia telah menyatukan tenaga Liong-siu-kang dengan Lak-yang-ciang di dalam serangannya itu, betul bokor emas mempunyai daya hisap sangat kuat, namun sulit untuk memunahkan tenaga sambitan tersebut Jurus tersebut dapat membalik kekalahan menjadi kemenangan, kini dia berada di atas angin, bokor emas lawan rusak, tapi ia juga kehilangan golok.
Kebetulan waktu itu sang pemuda sedang lari menghampiri mereka, tenaga sambitan golok terbang yang menembusi bokor emas belum melemah, dengan menciptakan selapis bianglala perak, secepat kilat meluncur ke hadapan pemuda itu.
Tangannya segera diulurkan ke depan, tahu-tahu golok terbang itu sudah berada di tangannya.
Sementara itu Ki See-kiat telah mengganggap pemuda itu sebagai pembantu dari pendeta asing, dalam keadaan demikian ia tak dapat mengurusi golok mestikanya yang terjatuh ke tangan lawan.
Dia harus menggunakan kesempatan sebelum pemuda itu sampai di arena untuk menghajar Tay-kiat Hoatsu.
Dengan mengembangkan ilmu Kin-na-jiu-hoat, secara khusus dia incar benda mcstika Tay-kiat Hoatsu yang lain, toya bambu berwarna hijau kehitam-hitaman.Mimpi pun Tay-kiat Hoatsu tak mengira kalau bokor emasnya yang kuat bisa tembus oleh sambitan golok terbang lawan, sesaat ia menjadi tertegun karena kaget.
Sementara itu Ki See-kiat telah menerjang ke hadapannya, serta merta dia mengayunkan toyanya ke depan berbalik menotok jalan darah lawan….
Ki See-kiat tertawa dingin, dengan cekatan dia mengegos ke samping, lalu sambil mengikuti gerakan toya lawan, sepasang jari tangannya menjepit senjata itu dan menyentak-nya ke belakang, toya mestika tersebut segera terampas olehnya.
Pada saat itulah terasa angin berkelebat lewat, sesosok bayangan manusia telah berkelebat lewat dari sisi tubuh Tay-kiat Hoatsu dan tiba di belakang tubuhnya.
"Harap kalian berdua berhenti dulu…."
Seru pemuda itu.
Ki See-kiat telah menganggap pemuda itu sebagai pembantu pendeta asing tadi, tentu saja dia enggan menuruti perkataannya, sambil membalikkan tangan, sebuah pukulan segera dilepaskan.
Siapa tahu sebelum serangannya dilontarkan dia merasa sekeliling telapak tangannya seperti kosong, rupanya pemuda itu telah menggunakan ilmu yang unik untuk mematahkan ancamannya.
Belum lagi sepasang telapak tangan mereka saling membentur, telapak tangannya hanya sedikit dikibaskan, tahu-tahu tenaga pukulan Ki See-kiat telah tertarik ke samping.
Teori meminjam tenaga memukul tenaga sesungguhnya tidak sulit untuk dipahami, kebanyakan jago silat pandai mempergunakan ilmu tersebut.Cuma ilmu itu tak bisa digunakan seperti apa yang kini dilakukan pemuda tersebut.
Sesungguhnya Ki See-kiat telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, siapa tahu pukulan Lak-yang-kim-kong-jiu yang dipakai toh akhirnya kena dipatahkan, sekarang dia baru terperanjat, sadarlah ia kalau musuhnya benar-benar amat tangguh.
Sambil tertawa pemuda itu berkata.
"Ilmu Liong-siu-kang yang kau miliki agaknya belum kau keluarkan, tak usah sungkan-sungkan lagi!"
Ki See-kiat berkerut kening, lalu ujarnya.
"Baiklah, kalau memang saudara ingin mencoba kepandaian-ku, aku pun tak akan sungkan-sungkan lagi."
Sambil berkata, sepasang telapak tangannya telah membentuk lingkaran di depan dada, lalu dengan mempergunakan jurus Im-yang-siang-ciong (Im dan Yang Saling Membentuk) dia hantam pemuda itu.
Dalam jurus serangan ini, selain tenaga Liong-siu-kang, dia pun menyertakan pula kekuatan dari ilmu Lak-yang-ciang….
Pada mulanya dia segan melancarkan serangan mematikan terhadap pemuda yang lebih kecil usianya itu, kendatipun dia adalah pembantu pendeta asing tersebut, pikirnya.
"Bagaimanapun juga, pendeta asing itu toh sudah kukalahkan, sekarang aku hanya berduel saja dengan pemuda ini untuk mengukur kepandaian, mengapa aku mesti melukai dirinya?"
Sewaktu menghadapi musuh dengan menggunakan Lak-yang-jiu tadi, ia sudah khawatir bila pemuda itu kena dihajar olehnya sampai patah lengan atau terluka parah.Siapa tahu, satu jurus kemudian ia baru sadar bahwa kepandaian yang dimiliki pemuda itu masih jauh di atas kemampuannya.
Dalam keadaan begini dia tak berani gegabah lagi, sekalipun pemuda itu tidak menyuruhnya menggunakan ilmu Liong-siu-kang, dia tetap akan mempergunakannya juga.
"Kepandaian bagus!"
Sekali lagi pemuda itu memuji.
Ia tahu, serangan yang digunakan Ki See-kiat sekarang sudah tak dapat dipunahkan dengan cara meminjam tenaga untuk memukul tenaga lagi.
Sepasang tangannya segera diputar bagaikan gelang, dengan pertahanan yang rapat secara beruntun dia membuat tiga lingkaran.
"Blaaaam!"
Di tengah gulungan angin pukulan yang berpusing.
tak kuasa Ki See-kiat mundur tiga langkah ke belakang, sementara pemuda itu sendiri juga merasakan badannya bergetar keras.
Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan golok mestika yang belum lama disambut dari Ki See-kiat itu, betapa terkejutnya Ki See-kiat, dia mengira pemuda itu hendak mempergunakan golok mestika itu untuk melukainya, terpaksa dengan mempergunakan toya bambu yang baru saja dirampasnya dari pendeta asing itu, dia bersiap sedia menghadapi segala ke-mungkinan yang tidak diinginkan.
Ternyata pemuda itu tidak melancarkan serangan, sambil membalikkan gagang golok itu tiba-tiba dia mengangsurkan kepadanya dengan mata golok menghadap ke arahnya sendiri.
Ki See-kiat menjadi tertegun, segera bentaknya.
"Mau apa kau?"
Pemuda itu tertawa‘Tolong berikan toya bambu itu kepadaku, mari kita saling menukar, masing-masing benda kembali ke pemiliknya sendiri-sendiri, rasanya kau tidak-menolak bukan? "
Ki See-kiat menyerahkan toya bambu itu dan memperoleh golok mestikanya sendiri, sedang pemuda itu lantas mengembalikan toya bambu kepada Tay-kiat Hoatsu.
Sehabis menerima toya bambu itu, Tay-kiat Hoatsu bercuap-cuap mengucapkan beberapa patah kata yang tidak dimengerti, kemudian seperti ayam jago yang kalah bertarung, dengan lemas dia naik kembali ke atas kudanya dan berlalu dari situ.
Sepeninggal pendeta asing itu, sang pemuda baru berkata.
"Hwesio itu adalah temanku, tapi dia bukan tandinganmu, harap kau bersedia memandang di atas wajahku untuk melepaskannya."
Sikap maupun tindak-tanduk pemuda itu sangat bersungguh-sungguh dan jujur, beberapa patah kata itu diucapkan sangat lembut, hakikatnya tidak mirip sedang berbicara dengan musuh, tapi mirip berbincang dengan teman atau partner dagangnya saja.
Andaikata secara kebetulan ada orang yang mendengarkan pembicaraan itu, mereka pasti akan mengira kedua orang itu sebagai sahabat karib.
Tapi dalam pendengaran Ki See-kiat, ucapan itu justru mendatangkan perasaan yang sama sekali berbeda "Aku tidak pernah kenal dengan orang ini, mengapa dia meminta aku memandang di atas wajahnya?
Bukankah jelas ucapan ini bernada menyindir?"
Demikian ia berpikir dalam hatinya.Hal menyindir adalah soal kedua, situasi di depan mata sekarang ini jelas menunjukkan kalau pemuda itu berada di atas angin, diam-diam Ki See-kiat berpikir.
"Kalau bertarung satu lawan satu, mungkin aku belum bisa mengalahkan pemuda ini, ya, kalau tidak kulepaskan Tay-kiat Hoatsu, apa pula yang bisa kulakukan lagi? Dan mengapa pula pemuda itu harus memohon padaku? Coba kalau dia sampai bekerja sama dengan Tay-kiat Hoatsu, sudah pasti selembar jiwaku akan terancam bahaya.-’ Tapi justru karena itu, Ki See-kiat kembali merasa heran. Walaupun ia tak mengerti apa yang telah dibicarakan antara sang pemuda dengan Tay-kiat Hoatsu,"
Karena dia tidak memahami bahasa India yang mereka pergunakan, na-mun dia tahu pemuda ini menyuruh Tay-kiat Hoatsu agar pergi dari sana.
Kenapa pemuda ini tidak menyuruh Tay-kiat Hoatsu membantunya?
Bila ada Tay-kiat Hoatsu sebagai pembantunya, bukankah peluang menang semakin besar?
Apakah dia tak tahu kalau Tay-kiat Hoatsu hendak mencabut nyawa Ki See-kiat?
Atau dia memang bukan sekom-plotan dengan Tay-kiat Hoatsu?
Atau dia menganggap iImu silatnya cukup tangguh sehingga tidak membutuhkan bantuan orang?
Ki See-kiat tidak habis mengerti, maka sambil tertawa getir ujarnya kemudian.
"Sebenarnya aku tidak mempunyai dendam sakit hati dengan hwesio gede itu, justru karena dia hendak merenggut nyawaku maka aku terpaksa memberi perlawanan. Asal dia mau menyudahi pertarungan, mengapa aku mesti menahannya lebih jauh?"
Pemuda itu menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian.
"Jika kau tiada sakit hati apa-apa dengannya, mengapa dia hendak merenggut jiwamu?"
Ki See-kiat segera tertawa dingin.
"Memangnya kau bukan temannya?"
Dia berseru.
"Heeeh… heeeh… dia tak mampu mencabut nyawaku, kau toh dapat melakukannya. Tak usah banyak bicara lagi, kau pun tak usah pura-pura berlagak tidak tahu lagi."
Tiba-tiba pemuda itu tertawa tergelak.
"Haahh… haahh… haahh… rupanya kau mengira aku hendak mencabut nyawamu, tak heran kalau seranganmu tadi begitu lihay.,.!"
"Memangnya tidak?"
"Kau keliru,"
Ucap pemuda tersebut sambil tertawa.
"aku tidak bermaksud untuk mencabut nyawamu, aku hanya ingin mengetahui ilmu silatmu. Bersediakah kau memberi petunjuk?"
"Apalagi yang hendak kau coba?"
Ucap Ki See-kiat dengan kening berkerut.
"Sekalipun aku bukan tandinganmu, asal kau hendak menantangku, pasti tantangan-mu itu akan kulayani."
"Haahh… haahh… haahh tak perlu sungkan-sungkan, juga tak usah berbicara seserius itu. Kulihat ilmu pedangmu sangat bagus, sayang pengetahuanku dangkal dan tidak mengetahui ilmu pedang tersebut berasal dari partai mana. Ilmu kepalan telah kita coba maka aku ingin mencoba beberapa jurus ilmu pedangmu itu apakah kau bersedia meluluskan keinginanku?"
"Ooh… rupanya kau mengembalikan golok itu lantaran ingin mencoba ilmu pedangku? Baik, kalau memang begitu, pasti akan kupenuhi harapanmu tersebut"
"Baik, kalau begitu kau pun tak usah sungkan-sungkan, silakan kau lancarkan seranganmu.’"
Ki See-kiat tak berani berayal lagi, golok mestikanya segera diputar, dengan jurus Peng-ho-ciat-toh (Sungai Es Mulai Meleleh) dia bacok bahu kiri pemuda itu.
Dalam serangan ini, tenaganya sama sekali tersembunyi, itulah inti kekuatan dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat.
Menghadapi datangnya ancaman tersebut pemuda itu sama sekali tak berkutik, sepasang matanya mengawasi mata golok tersebut lekat-lekat Menanti mata golok telah membacok tiba dan tinggal tiga inci dari keningnya, dia baru membalikkan pergel angan tangan kanannya secara tiba-tiba dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan gerakan Cui-im-cha-tian (Awan Putih Mengembang Tiba-tiba).
Penggunaan jurus serangan itu tepat pada saatnya, dia memang sengaja menunggu sampai golok mestika Ki See-kiat membacok tiba di atas wajahnya, membiarkan jurus serangan lawan digunakan sampai lengannya sudah terlanjur menjurus ke muka dan sulit untuk berubah lagi, secara tiba-tiba ia baru membabat pergelangan tangan.
Seandainya berganti dengan orang lain, berganti dengan ilmu pedang lain, dalam sekali gebrakan saja pemuda itu sanggup memaksa musuhnya untuk melepas pedang.
Tapi ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat berbeda dengan ilmu pedang mana pun juga, apalagi pemuda itu tak ingin melukai Ki See-kiat, begitu pedang dibabat, ia khawatir musuhnya tak tahu lihay-nya, maka dia bersiap-siap mem-bentak "lepas pedang."
Siapa tahu pada saat itulah mendadak terasa ada segulung tenaga yang tak berwujud telah menghantam ujung pedangnya sehingga miring sedikit ke samping.Ternyata dalam jurus Peng-ho-ciat-tong yang dipergunakan Ki See-kiat itu, terkandung tiga macam kekuatan, seperti aliran arus deras di bawah sungai es yang berlapis-lapis, makin ke bawah lapisannya makin kuat tenaganya.
Maka begitu tenaga serangan lapisan kedua dilancarkan, tenaga serangan pada lapisan ketiga pun turut meluncur ke depan.
Sekalipun pemuda itu berilmu silat tinggi tak urung terkesiap juga hatinya menghadapi ancaman tersebut, segera pikirnya.
"Ooh… ternyata kelihayan ilmu pedangnya jauh di luar perhitunganku. Untung aku belum meneriakkan ‘lepas pe-dang’, kalau tidak, teriakanku itu pasti akan ditertawakan orang."
Namun pemuda itu pun luar biasa sekali, walaupun jurus serangan Ki See-kiat sama sekali di luar dugaannya, namun dia masih sanggup untuk membendungnya.
Dalam keadaan yang kritis, bahunya tampak bergoyang dan tubuhnya berpindah arah, lalu dengan enteng sekali badannya turut bergerak mengikuti hembusan angin golok Ki See-kiat.
Tanpa terasa Ki See-kiat berteriak memuji.
"Bagus!"
Tiba-tiba ia membentak keras, sebuah bacokan golok kembali dilontarkan ke depan.
Dalam jurus ini, dia tetap menggunakan golok mestika memainkan jurus pedang, hanya kali ini disertai juga dengan tenaga Liong-siu-kang, hingga kekuatannya jauh, lebih tangguh daripada jurus serangan yang pertama tadi.
Pemuda itu melayang dan berkelit mengikuti hembusan angin golok.
"Sreet!"
Secara beruntun dia melancarkan tiga serangan berantai.Ketiga serangan itu seakan-akan mengancam ke kiri, seperti juga ke kanan atau ke tengah, dalam saru gerakan serentak mengancam tiga buah jalan darah penting di atas, tengah dan bawah tubuh Ki See-kiat.
Ilmu pedangnya aneh tapi cepat sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Baru pertama kali ini Ki See-kiat menghadapi ilmu pedang yang demikian lihay, mau tak mau dia harus waspada, terpaksa goloknya ditarik kembali untuk melindungi badan, ia tak berani menyerang dengan sepenuh tenaga.
Pertarungan ini benar-benar seimbang, begitu pemuda tersebut mengembangkan ilmu pedangnya, jurus pedang tampak bagaikan naga sakti yang melompat, gerakan tu-buhnya enteng bagaikan kupu-kupu yang terbang, sebentar ancaman nyata sebentar ancaman tipuan, sebentar maju sebentar mundur, ke atas atau ke bawah, dalam setiap jurus serangan semua terkandung beberapa macam pembahan yang sulit dibayangkan.
Bila ujung golok Ki See-kiat yang disaluri tenaga Liong-siu-kang menyentuh senjatanya, maka ia menggunakan taktik menempel dan melekat untuk memunahkan ancaman tersebut, tapi bila Ki See-kiat mengira dia menyerang secara tipuan, mendadak tenaganya digunakan sepenuhnya, hal ini memaksa Ki See-kiat harus selalu waspada menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Tanpa terasa Ki See-kiat menarik napas dingin, pikirnya.
"Kalau orang bilang di luar langit masih ada langit di atas manusia masih ada manusia, maka ucapan ini tak salah lagi. Untung aku memperoleh penemuan aneh, coba tidak, bisa keok sedari tadi. Aaaai, setelah menemukan kitab pusaka peninggalan Kui Hoa-seng locianpwe, dan mempelajari beberapa macam kepandaian sakti, aku mengira kepandaiankusudah cukup untuk menjagoi dunia persilatan, malah kusangka sulit untuk menemukan tandingan lagi di kolong langit Siapa tabu, baru keluar dari gua salju aku telah bertemu dengan musuh yang begini tangguh. Pemuda ini masih berusia lebih muda dari diriku, tak nyana kalau kepandaiannya jauh lebih hebat dan yang kumiliki."
Dia tidak tahu kalau penemuan aneh yang dialami pemuda itu jauh lebih banyak daripadanya, kepandaian yang dipelajari lebih beraneka, usianya lebih muda, akan tetapi ke-mampuannya sukar untuk ditandingi oleh seorang jago kelas satu dunia persilatan.
Ki See-kiat tak mau mengaku kalah dengan begitu saja, dia segera mengubah taktik pertarungannya, di tengah golok disertai ilmu pukulan, tenaga Lak yang-jiu segera ditambahkan ke dalam ilmu Liong-siu-kang yang dikombinasikan dengan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, dengan begitu keadaan kembali menjadi setali tiga uang.
Pemuda itu tidak kenal ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat terhadap kemampuannya untuk membawakan ilmu pedang dengan golok diam-diam ia merasa kagum sekali.
Ki See-kiat sendiri pun diam-diam agak tercengang pada ilmu pedang lawannya.
Cuma rasa tercengangnya itu bukan lantaran tidak kenal dengan ilmu itu, malah sebaliknya karena di balik jurus pedang lawannya itu terdapat beberapa jurus yang ternyata seperti pernah dikenalnya, itulah sebabnya dia makin tercengang.
"Heran beberapa jurus ilmu pedang ini seperti pernah kulihat di suatu tempat?"
Mendadak ia teringat sesuatu dan Ki See-kiat menjadi sadar.Ternyata beberapa jurus yang seperti pernah dilihat itu, pernah dilihat ketika Leng Ping-ji memainkannya.
Tempo hari, sewaktu berada di Kota Iblis Leng Ping-ji pernah menggunakan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat untuk mengalahkan Lian Kan-pei dan Sacam sekalian, walaupun saat itu Ki See-kiat sudah terkena racun bunga iblis dan kesa-darannya mulai kabur, berhubung beberapa jurus serangan itu mengandung kehebatan yang luar biasa, maka hal ini mendatangkan kesan yang amat mendalam di hatinya.
"Masa dia adalah anak murid Thian-san-pay? Kalau betul anak murid Thian-san-pay, mengapa ia bisa berkumpul dengan orang jahat? Ehmm, ‘perasaan pedang’ n ya dengan ‘perasaan pedang’ Leng lihiap sewaktu menggunakanilmu pedang Thian-san-ki am-hoat agaknya tidak sama, tidak… yang sama lebih sedikit yang tidak sama lebih banyak. Tampaknya aku hanya memikirkan yang bukan-bukan saja.’ Baru selesai ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, tiba-tiba permainan ilmu pedang dari pemuda itu telah mengalami perubahan yang amat besar sekali. Tadinya ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu memiliki beratus-ratus macam perubahan dalam tiap detik, tapi sekarang jurus serangan tersebut seakan-akan berubah menjadi amat lamban sekali, bahkan makin lama semakin lam-ban, sedemikian lambannya sehingga tiap kali ujung pedangnya menuding ke timur, barat, utara atau selatan, ujung pedang itu seakan-akan dibebani dengan batu cadas yang amat besar. Meski demikian, bagi Ki See-kiat, gerakan tersebut justru lebih sulit untuk dihadapi daripada gerakan yang cepatTernyata ilmu pedang yang digunakan pemuda itu sekarangjustru di balik kelambanan terkandung kehebatan, ada kalanya lembut seperti lambaian ranting pohon liu yang meminjam tenaga memukul tenaga, ada kalanya keras dan kuat seperti gulungan ombak yang menekan lawan dengan hebatnya. Menghadapi keadaan seperti ini, segenap tenaga yang terkandung di balik ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang dipergunakan oleh Ki See-kiat menjadi terbendung sama sekali dan tak mampu dikembangkan lebih jauh…. Mendadak Ki See-kiat teringat kembali dengan perkataan dari suhu-nya ketika ia berhasil melatih ilmu pedangnya itu, ia berkata begini, ‘Tingkatan paling tinggi dari ilmu pedang adalah berat lamban dan besar tiga hal, ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat memang aneh dan sakti, tapi harus kau latih dari kelincahan berubah menjadi lamban, baru bisa dikatakan ilmu tersebut benar-benar telah kau kuasai."
Waktu itu dia tidak memahami apa maksud dari perkataan itu, sampai dia melatih ilmu silat pening-galan Kui Hoa-seng, hai ini baru sedikit dia pahami, tapi beium dipahami seluruhnya.
Namun sekarang, setelah menyaksikan ilmu pedang dari pemuda itu, ia baru memahami sepenuhnya arti ucapan tersebut, diam-diam hatinya makin terperanjat Sebagaimana diketahui, Ki See-kiat menguasai ilmu silat dari tiga keluarga, tanpa terasa segenap kemampuan dan kepandaian yang dimilikinya segera digunakan semua.
Begitu "perasaan pedang"
Nya sudah terarah, maka secara beruntun dia melancarkan serangkaian serangan dengangerakan menghajar, menusuk, menebas, menggesek, membacok, dan membabat semuanya digunakan.
Dalam waktu singkat, segenap kemampuan dan kehebatan ilmu pedang Peng coan-kiam-hoat telah dipergunakan seluruhnya, makin lama makin sempurna Kendati pemuda tersebut memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak urung dibikin bergidik juga setelah menghadapi ancaman lawan, pikirnya kemudian.
"Orang ini betul-betul berkepandaian tinggi, setelah bertarung seratus gebrakan, ternyata ilmu pedang yang dimilikinya malah memperoleh kemajuan setingkat lebih dalam."
Kendatipun begitu, Ki See-kiat lebih hanya berhasil memaksa musuhnya untuk bertarung seimbang, dia tak berhasil merebut posisi di atas angin.
Kembali ilmu pedang pemuda itu mengalami perubahan, sekarang dia menyerang menurut suara hatinya, mau cepat menjadi cepat, mau lamban menjadi lamban, sejurus enteng seperti kapas, tiba-tiba jurus berikutnya menjadi berat bagaikan gunung Thay-san.
Keadaan semacam itu benar-benar membenarkan ungkapan yang berbunyi.
"Cepat di tengah lamban, lincah di tengah enteng, gerakan lincah bagaikan awan yang bergerak di angkasa" . Seketika itu juga Ki See-kiat merasa tenaga tekanan tak berwujud yang menindihnya makin lama semakin berat. Ki See-kiat menjadi putus asa, sambil melompat keluar dari arena, serunya.
"Ilmu silatmu jauh lebih tangguh daripada kepandaianku, aku bukan tandinganmu, mau bunuh mau cincang, terserah keputusan-mu!"
Pemuda itu segera menyorenkan pedangnya ke dalam sarung, lalu maju ke hadapan Ki See-kiat dan mengulurkan tangannya.
Ki See-kiat tak tahu apa yang hendak dia lakukan.
Ternyata pemuda itu hanya ingin berjabatan tangan saja, tangannya yang menjabat tangannya sama sekali tak disertai tenaga dalam, sikapnya seperti sahabat lama yang baru bertemu saja, hangat dan penuh persahabatan.
"Kau terlalu sungkan!"
Ucap pemuda itu.
"Padahal ilmu silatmu tidak lebih lemah dariku, cuma kau sudah terlanjur bertarung lebih dulu melawan Tay-kiat Hoatsu, sehingga dalam hal tenaga menderita sedikit kerugian.
"Aku telah memanfaatkan keuntungan tersebut, masa hal ini bisa dianggap menang? Kalau dibicarakan, aku malah harus berterima kasih kepadamu…."
"Berterima kasih apa kepadaku?"
Ki See-kiat keheranan.
"Walaupun ilmu pedangmu belum bisa dibilang nomor wahid di kolong langit, tapi benar-benar merupakan ilmu pedang tersakti yang pernah kujumpai Terima kasih banyak atas petunjukmu, hal mana telah menambah banyak pengeta-huan dan kemajuan bagiku."
Ki See-kiat segera tertawa getir.
"Aaah, kau lagi-lagi mengajakku bergurau, perkataan itu seharusnya dikatakan secara terbalik. Akulah yang banyak mendapat manfaat."
Pemuda itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah… haah… haahh… aku tidak memahami kata-kata sungkan, kalau begitu anggap saja kalau kita saling memperoleh keuntungan, kini kau sudah percaya bukan kalau aku tidak bermaksud jahat? Bersediakah kau menjadi temanku?"
Ki See-kiat tetap masih belum percaya, tapi kesannya terhadap pemuda itu sudah jauh lebih baik, kata menolak tentu saja tak mungkin bisa dia ucapkan.
Sementara dia masih kebingungan dan tak tahu apa yang mesti diucapkan, pemuda itu telah berkata lagi.
"Aaah, betul, aku belum menanyakan siapa namamu?"
Ki See-kiat menjadi tertegun, serunya tanpa sadar.
"Kau benar-benar belum mengetahui namaku?"
"Aku hanya tahu kalau ilmu silat yang saudara miliki berasal dari seorang pendekar kenamaan dari daratan Tionggoan. Tapi sayang aku sudah lama berkeliaran di luar perbatasan dan belum pernah menginjak daratan Tionggoan, oleh karena itu maafkan pengetahuan siaute yang picik, aku tidak tahu siapakah namamu."
"Ooh… aku tidak bermaksud demikian"
Buru-buru Ki See-kiat menjelaskan.
"padahal di daratan Tionggoan pun aku tak lebih hanya seorang prajurit tak bernama."
"Lantas kenapa kau mengira aku pasti mengetahui namamu?"
Tanya pemuda itu keheranan.
"Apakah kau bukan temannya Tay-kiat Hoatsu? Apakah ia tidak memberitahukan namaku kepadamu?"
Tiba-tiba pemuda itu menjadi sadar, dia lantas tertawa lebar.
"Aahh…! Sampai sekarang rupanya kau masih mengira aku mempunyai janji dengan Tay-kiat Hoatsu untuk menghadapimu di sini. Bukan begitu?"
"Andaikata dugaanku keliru, harap kau jangan marah."
"Aku merasa cocok sekali setelah berjumpa dengan kau, baiklah, tak ada halangannya kuberitahukan kepadamu secaratenis terang, walaupun aku dengan Tay-kiat Hoatsu boleh dibilang teman, sesungguhnya kami tidak mempunyai hubungan apa-apa. Kenapa ia sampai memusuhi kau, aku benar-benar tidak tahu."
Ki See-kiat mulai percaya beberapa bagian, tapi tak tahan untuk bertanya kembali.
"Maaf jika siaute banyak bertanya, apa yang dimaksudkan sebagai ‘boleh dibilang teman*?"
"Aku hanya pernah bersua dengan Tay-kiat Hoatsu pada tujuh tahun berselang. Tapi aku tahu kalau dia adalah murid dari Si-Io Hoatsu, salah satu di antara dua orang sinceng dari negeri Thian-tok. Si-lo Hoatsu merupakan salah satu di antara sekian banyak pemimpin persilatan yang kukagumi, oleh sebab itu barusan aku takut kau telah melukainya sehingga secara gegabah telah turut campur dalam urusan ini dan memohonkan pengampunan baginya."
"Oooh… rupanya begitu. Kalau begitu apakah saudara juga kenal dengan Lian lotoa?"
"Lian lotoa? Lian lotoa yang mana?"
"Itu, Lian Kan-pei yang melakukan perjalanan bersama Tay-kiat Hoatsu."
Bicara sampai di situ, dia baru teringat akan sesuatu, setelah berhenti sejenak, lanjurnya.
"Rupanya orang she Lian itu sudah kabur ketika aku sedang bertempur melawan Tay-kiat Hoatsu. Apakah kau tidak bersua muka dengannya?" ‘Tadi aku tidak melihatnya, dulu aku juga belum bertemu dengannya. Cuma Lian Kan-pei yang kau singgung itu pernah kudengar namanya. Aku tahu dia adalah seorang manusia rendah yang licik dan banyak tipu muslihatnya. Sekalipun siaute tak becus juga tak akan sampai bersahabat dengan manusia seperti itu.
"Setelah memahami keadaan yang sebenarnya, Ki See-kiat cepat-cepat minta maaf.
"Harap maafkan ketidaktahuan siaute, apalagi menggunakan pikiran picik seorang siaujin untuk menilai kebijaksanaan seorang kuncu."
Pemuda itu segera tertawa "
Aaah, kalau cuma soal ini ma-sih belum terhitung seberapa, andaikata kita bertukar tempat dan aku menjadi kau, mungkin aku sendiri pun mempunyai kecurigaan tersebut Nah, kalau begitu tentunya kau tidak menolak keinginan siaute untuk mengikat tali persahabatan dengan dirimu bukan?"
Ki See-kiat segera tertawa terbahak bahak.
"Haahh… haahh… haahh… bisa bersahabat dengan seorang teman yang bijaksana, berhati bajik dan berilmu silat lihay seperti kau, hal ini sungguh merupakan suatu keberuntungan besar bagiku. Aah, benar. Aku belum bertanya siapa namamu."
Sembari berkata dia lantas memperkenalkan dahulu namanya sendiri. Menyinggung soal nama, tiba-tiba pemuda itu tertawa getir. Dengan wajah tertegun Ki See-kiat segera bertanya.
"Saudara, mengapa kau tertawa?"
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi memberitahukan lebih dahulu nama sendiri.
"Aku bernama Tong Put-ci (Tong tidak tahu)!"
Mendengar nama seaneh itu, Ki See-kiat tertegun dibuatnya, untuk sesaat dia sampai termangu.
"Nah, betul tidak?"
Ujar pemuda itu sambil tertawa.
"aku sudah menduga kau pasti akan geli setelah mendengarnamaku itu. Bukankah di dunia ini tiada nama yang lebih aneh dari namaku?"
Ki See-kiat lantas berpikir.
"Kebanyakan umat persilatan memang enggan memberitahukan nama sendiri kepada orang asing, hal itu sudah lumrah. Bagaimanapun jua aku baru saja berkenalan dengannya, ia pasti masih menaruh perasaan waswas kepadaku."
"Cuma… dia berniat sungguh-sungguh untuk berkenalan denganku, tampaknya ini pun tidak berpura-pura saja."
Berpikir demikian dia lantas berkata.
"Nama tak lebih hanya sebutan belaka, walaupun nama saudara rada sedikit istimewa, tapi justru malah lebih mudah untuk diingat."
"Terus terang kukatakan lagi kepadamu, sebetulnya aku sendiri juga tak tahu aku she apa dan siapa namaku. Aku hanya tahu aku adalah bangsa Han. Orang-orang di wilayah See-ih menyebut orang Han sebagai orang Tong, oleh sebab itu kugunakan kata ‘Tong’ sebagai nama margaku, sedangkan namanya terpaksa kugunakan kata Put-ci .(tidak tahu)."
Sekulum senyuman yang menghiasi ujung bibirnya kelihatan murung dan sedih. Tergerak juga hati Ki See-kiat setelah mendengar penjelasan itu, kembali dia berkata.
"Maaf kalau aku lancang banyak bertanya, mengapa kau bisa sama sekali tidak tahu nama sendiri?"
"Aku adalah seorang anak yatim piatu, sejak kecil tidak tahu siapakah orang tuaku."
Ki See-kiat kembali termangu-mangu beberapa saat lamanya, diam-diam dia lantas berpikir.
"Asal-usulnya begitu mirip dengan adik misanku. Cuma… cuma mustahil di kolong langit bisa terdapat kejadian yang begini kebetulan. Lagi pula menurut cerita Leng Ping-jij adik misanku lenyap di kala ia berumur sebelas tahun, sudah le-nyap selama tujuh tahun, berarti sekarang telah berumur delapanbelas tahun. Seorang pemuda yang baru berumur delapanbelas tahun mana mungkin bisa memiliki ilmu silat yang demikian sempurnanya? Seandainya selama ini dia selalu berada di atas bukit Thian-san, mungkin saja ilmu silatnya bisa mencapai tingkatan seperti itu, tapi semenjak dia berusia sebelas tahun, bocah itu sudah meninggalkan bukit Thian-san, padahal dasar ilmu silat yang dimilikinya ketika itu masih rendah sekali. Aku sendiri sudah mempunyai dasar ilmu silat selama dua-puluh tahun lamanya, dalam Kota Iblis juga telah menjumpai suatu penemuan yang luar biasa, tapi nyatanya aku masih belum bisa menandingi dirinya, masa dia pun mempunyai pengalaman yang hampir sama dengan pengalamanku? Apalagi meski pemuda ini kelihatannya masih lebih muda daripada usiaku, paling tidak dia juga telah berumur duapuluh tahunan lebih."
Setelah tak menemukan hal-hal yang bisa menghubungkan orang ini dengan adik misannya, dengan cepat kecurigaan tersebut buyar.
"Maafkan ketidaktahuanku sehingga menimbulkan kesedihan saudara Tong,"
Ucap Ki See-kiat dengan nada minta maaf. Dengan demikian dia pun tidak mendesak lebih jauh untuk mengetahui asal-usulnya. Dengan hambar Tong Put-ci berkata.
"Aaah, soal itu tidak terhitung seberapa, aku memang sudah terbiasa hidup sebatang kara dan luntang-lantung sendirian. Harap kau sukamemaafkan kelancanganku, aku pun ingin bertanya kepada saudara Ki, jauh-jauh dari daratan Tionggoan mengapa kau datang ke wilatah Sin-kiang?"
Ki See-kiat merasakan hatinya kembali tergerak, sahutnya kemudian.
"Terus terang saja, aku sedang mencari orang."
"Siapakah yang kau cari? Bolehkah aku tahu? Aku dibesarkan di wilayah Sinkiang, siapa tahu bisa membantumu?"
"Aku memang sedang ingin mencari keterangan darimu, tahukah kau tentang seseorang yang bernama Nyo Yan? Dia juga seorang anak yatim piatu, sejak kecil sudah dibawa orang ke wilayah Sinkiang."
Tong Put-ci segera menunjukkan mimik wajah seperti amat keheranan, setelah tertegun beberapa saat lamanya, dia berseru.
"Ternyata kau juga sedang mencari Nyo Yan?"
Ki See-kiat menjadi amat girang, serunya.
"Saudara Tong berkata demikian, berarti kau mengetahui tentang dirinya?"
"Benar, aku tahu ada seseorang bernama Nyo Yan, sebenarnya dia adalah murid Thian-san-pay, tapi secara tiba-tiba lenyap tak berbekas pada tujuh tahun berselang."
"Memang Nyo Yan inilah yang sedang kucari,"
Sahut Ki See-kiat semakin kegirangan.
"Saudara Tong, apakah kau kenal baik dengan dirinya?"
"Aku hanya dapat mengatakan kalau aku kenal dengannya Sedangkan mengenai masalah teman atau tidak, aku sendiri pun tak tahu bagaimana harus menjawab?"
Ki See-kiat merasakan jawabannya itu sedikit aneh, tapi dalam keadaan demikian, ia sudah tak sempat menyelamimakna yang sebenarnya dari ucapan tersebut Buru-buru tanyanya.
"Lantas, tahukah kau saat ini dia berada di mana?"
"Saudara Ki, maaf kalau sebelumnya aku ingin menanyakan dahulu satu persoalan,"
Ucap Tong Put-ci tiba-tiba. ‘Tanyalah!"
"Mengapa kau hendak mencari Nyo Yan?"
"Dia adalah adik misanku, aku mendapat perintah dari ibuku untuk mencarinya"
"Kalian adalah hubungan piau (misan) dari ayah ataukah hubungan piau dari ibu?"
"Ibuku adalah bibinya."
"Maaf, aku ingin bertanya siapa nama marga ibumu?"
Ki See-kiat makin tertegun dibuatnya, dengan cepat dia berpikir.
"Jangan-jangan orang ini mengidap penyakit syaraf yang cukup parah…?"
Tapi ketika dilihatnya sikap Tong Put-ci amat serius, sedikit pun tidak ada tanda-tanda bergurau, terpaksa pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… ibuku adalah bibinya Nyo Yan, sudah barang tentu dia she Nyo."
"Kalau begitu, Nyo Yan benar-benar she Nyo?"
Sekarang Ki See-kiat baru dapat menebak beberapa bagian maksud dari pertanyaan itu, dengan wajah serius, jawabnya, ‘Tentu saja Nyo Yan berasal dari marga Nyo, ayahnya adalah seorang busu kenamaan dari kota Gi-ciu yang bernama Nyo Bok!"
Tong Put-ci tampak seperti agak terkejut, serunya kemudian.
"Kau bilang apa? Ayahnya adalah… adalah…."
"Ayahnya adalah engku-ku, dia adalah seorang busu kenamaan dari kota Gi-ciu yang bernama Nyo Bok!"
Ulang Ki See-kiat sekait lagi. Tong Put-ci tertegun beberapa saat lamanya lalu berkata ‘Tapi aku pernah mendengar cerita yang berbeda! "
"Bedanya?"
"Ada orang yang berkata, Bang Goan-cau, Beng tayhiap-lah ayahnya yang sebenarnya, sedangkan Beng Hoa seorang pendekar muda kenamaan pada jaman ini adalah kakaknya."
Ki See-kiat segera menghela napas panjang..
"Aaai… aku juga tahu cerita tersebut, tak heran kalau kau selalu mendesak kepadaku apakah dia benar-benar she Nyo?"
"Kalau begitu, cerita itu palsu? tapi mengapa bisa beredar cerita palsu seperti itu?"
Ki See-kiat kembali menghela napas lega.
"Aaaai… sebenarnya kejelekan rumah tangga tak boleh dibicarakan kepada orang luar, tapi kalau toh saudara Tong adalah teman baik adik misanku, aku rasa cepat atau lambat ia pasti akan mengisahkan juga cerita ini kepadamu. Maka tak ada halangannya kalau kuceritakan pula kepada saudara Tong. Ibu Nyo Yan, dia… dia…."
"Dia kenapa?"
Nadanya cemas, gelisah dan ingin tahu, suatu sikap yang tak akan diperlihatkan oleh teman biasa. Melihat itu, Ki See-kiat lantas berpikir.
"Tampaknya orang ini bukan cuma kenal saja dengan adik Yan, kemungkinan besar mereka mempunyai hubungan persahabatan yang akrab sekali sehingga dia menaruh perhatian khusus terhadap persoalannya."
Nyo Yan Asli dan Gadungan Setelah termenung dan berpikir sebentar, dia pun mulai berkisah.
"Sebelum dia kawin dengan engku-ku (engku adalah adik ibu atau kakak ibu) konon dia sudah mempunyai hubungan percintaan dengan Beng Goan-cau. Kemudian justru lantaran persoalan ini, dia sampai bercerai dengan engku-ku. Mungkin karena itu juga, Beng Goan-cau mengakui dia sebagai puteranya."
Tong Put-ci kembali tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu tanyanya lagi.
"Kalau begitu Nyo Yan adalah anak hasil hubungan gelapnya dengan Beng Goan-cau…?"
"Itu sih tidak. Dia anak Hun Ci-lo dan engku-ku, ia dilahirkan setelah pernikahan mereka, jadi asli merupakan darah daging engku-ku. Justru Beng Hoa-lah anak hasil hubungan gelapnya dengan Hun Ci-lo, sebab sebelum kawin Hun Ci-Io sudah keburu berbadan dua lebih dulu. Hun Ci-lo adalah nama eng-kim-ku sebelum bercerai dengan engku-ku itu."
Engkim adalah istri engku, sedang engku adalah adik atau kakak ibu. Tanpa terasa paras muka Tong Put-ci berubah hebat, setengah harian kemudian dia baru bisa berkata.
"Jadi kalau begitu, Beng Goan-cau, Beng tayhiap yang namanya termashur di kolong langit itu adalah orang jahat?"
"Kau tak bisa mengartikan demikian, di dalam suatu masalah yang luas dan bersifat umum, Beng Goan-cau masih pantas untuk disebut sebagai seorang tayhiap. Cuma dalam peristiwa ini, tentu saja nama baiknya sedikit ternoda."
Perlu diketahui, bahwa ibu Ki See-kiat yakni Lak-jiu-Koan-im Nyo toakoh sangat membela adiknya. Setelah adiknyabercerai, di dalam pandangannya Hun Ci-lo adalah seorang "perempuan jalang"
Yang telah merusak nama baik keluarga Nyo, sedangkan Beng Goan-cau adalah seorang perusak rumah tangga adiknya.
Hun Ci-lo telah mati, tentu saja rasa bencinya terhadap Beng Goan-cau menjadi berlipat kali lebih tebal.
Ki See-kiat sedikit banyak terpengaruh oleh pandangan ibunya, sehingga kalau ia bisa memberi "penilaian"
Demikian terhadap Beng Goan-cau, hal tersebut sebenarnya boleh dibilang lumayan.
"Lantas di manakah engku-mu sekarang?"
Tanya Tong Put-ci kemudian.
"Aku tidak tahu. Ada orang bilang dia sudah mati, tapi tidak diketahui apakah berita ini benar atau cuma kabar angin belaka."
Berbicara sampai di situ, agaknya dia merasa sudah terlalu banyak membicarakan soal asal-usul Nyo Yan, maka dia lantas berkata.
"Saudara Tong, masih ada yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak ada lagi,"
Sahut Tong Put-ci dengan sedih. ‘Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku, baru pertama kali berkenalan sudah memberitahukan begitu banyak persoalan kepadaku."
Perlu diketahui, Beng Goan-cau pada saat itu adalah seorang pendekar besar yang termashur namanya di dalam dunia persilatan, hampir sebagian besar umat persilatan menaruh rasa hormat kepadanya.
Ki See-kiat mengira pemuda itu merasa sedih karena sudah mengetahui perbuatan "buruk"
Dari Beng Goan-cau, maka dia pun tidak berpikir ke soal lain lagi.
"Saudara Tong, kalau kau memang tiada yang ingin ditanyakan lagi, maka sekarang tolong beritahu-kan kepadaku sedikit berita tentang Nyo Yan…."
Pinta Ki See-kiat Tong Put-ci tidak segera menjawab, dia mengalihkan sorot matanya memandang ke tempat kejauhan seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, lewat lama kemudian dia baru menyahut.
"Aku tidak tahu Aku hanya tahu Nyo Yan yang dulu. Kini apakah dia masih merupakan Nyo Yan, aku sendiri pun ingin mencari orang lain untuk memberitahukan hal ini kepadaku!"
Ki See-kiat menjadi kecewa sekali, pikirnya.
"Kalau toh kau sendiri juga tak tahu, mengapa kau menanyakan begitu banyak persoalan yang ada sangkut pautnya dengan Nyo Yan?"
Cuma walaupun dia merasa Tong Put-ci agak aneh, tapi kesan baiknya terhadap pemuda itu tetap ada, sehingga kata-kata gerutuannya tak sampai diutarakan keluar.
Setelah berhenti sejenak, dia lantas berkata.
"Dia sudah hilang selama tujuh tahun, menurut apa yang kuketahui, selama tujuh tahun ini ada seorang Lcng lihiap dari partai Thian-san yang selalu mencari jejaknya, tapi hasilnya tetap nihil, tak heran kalau Tong-heng sendiri pun tak tahu. Saudara Tong, kau hendak ke mana?"
Tong Put-ci menaruh perhatian khusus terhadap perkataannya itu, selesai mendengarkan, dia tertawa getir lalu menyahut.
"Aku menyebut diriku sebagai ‘Put-ci’ maka bila kau bertanya kepadaku hendak ke mana aku pun hanya bisa menggunakan namaku untuk menjawab pertanyaanmu itu, sebab aku sendiri pun tak tahu harus pergi ke mana?"
"Kalau memang begitu, terpaksa kita harus berpisah sampai di sini."
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Tong Put-ci berseru.
"Saudara Tong masih ada petunjuk apa lagi?"
"Aku pun ingin mencari berita tentang seseorang."
"Siapa?"
"Masih tetap Nyo Yan,"
Sahut Tong Put-ci sambil tertawa. ‘Tadi, kau bilang masih percaya kalau dia masih hidup di dunia, atas dasar apa kau berkata demikian? "
"Aku cuma menduga sendiri saja."
"Kalau ingin menduga juga mesti ada dasar alasan yang kuat. Saudara Ki, bila kau menganggap aku masih pantas untuk menjadi temanmu, harap kau suka menjawab pertanyaanku, apakah kau telah berhasil menemukan suatu titik terang mengenai jejak Nyo Yan?"
Diam-diam Ki See-kiat berpikir setelah mendengar perkataan itu.
"Tampaknya dia sendiri pun ingin sekali menemukan Nyo Yan, andaikata ia bersedia untuk menemani aku pergi ke Lor Anki, maka aku semakin yakin untuk dapat menghadapi Toan Kiam-ceng si bajingan keparat itu…."
Berpikir demikian, dia lantas menjawab.
"Benar, aku memang berhasil menemukan suatu titik terang. Kau tahu tentang manusia bernama Toan Kiam-ceng?"
"Aku tahu, ia dan Nyo Yan pernah belajar silat bersama di atas gunung Thian-san, kenapa dengan dia?"
"Ia telah membayar pembunuh bayaran dan berulang kali mencoba untuk membunuhku. Lian Kan-pei, orang yang baru melakukan perjalanan bersama Tay-kiat Hoatsu tak lain adalahseorang pembunuh bayaran yang dikirim untuk mem-bunuhku."
"Ooh… rupanya dari sinilah asal mulanya peristiwa itu terjadi, sehingga Tay-kiat Hoatsu menyusahkan dirimu. Tapi, apa sebabnya Toan Kiam-ceng hendak membunuhmu?"
"Dia takut kalau aku menemukan Nyo Yan."
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Seorang komplotan mereka yang bernama To Kian-kong hendak membunuhku, tapi dalam suatu peristiwa aku telah menyelamatkan jiwanya, sebagai rasa terima kasih dia pun memberitahukan hal ini kepadaku."
Secara ringkas dia lantas mengisahkan pengalamannya di Kota Iblis sampai menolong To Kian-kong yang tertimpa bencana alam. Selesai mendengarkan kisah tersebut, Tong Put-ci lantas bertanya.
"Apakah orang yang bernama To Kian-kong ini mengetahui jejak Nyo Yan?"
"Dia tidak tahu, tapi dia tahu jejak seseorang yang lain, asal orang itu ditemukan, berarti telah menemukan titik terang yang akan menunjukkan di mana Nyo Yan berada."
Tong Put-ci sudah dapat menebak beberapa bagian, tapi dia toh bertanya lagi.
"Siapakah orang itu?"
"Dia adalah Toan Kiam-ceng!"
"Saat ini Toan Kiam-ceng berada di mana? Apakah kau dapat memberitahukan kepadaku?"
"Menurut To Kian-kong yang memperoleh informasi dari mulut Lian Kan-pei, katanya beberapa waktu berselang Toan Kiam-ceng di Lor Anki. Moga-moga saja dia belummeninggalkan tempat itu sekarang. Besar kemungkinan adik misanku ini ada bersama Toan Kiam-ceng, maka sekarang aku hendak berangkat ke Lor Anki. Saudara Tong, apabila tidak mempunyai urusan penting lainnya, apakah…."
Sebenarnya dia hendak membujuk Tong Put-ci untuk melakukan perjalanan bersama dia dan bersama-sama menuju Lor Anki, siapa tahu belum habis ucapan tersebut diutarakan, Tong Put-ci telah bertanya lagi.
"Benarkah Toan Kiam-ceng berada di Lor Anki? Apakah kau tak salah dengar?"
Nadanya amat gelisah, jelas jauh lebih menaruh perhatian tentang persoalan ini daripada Ki See-kiat "Aku sudah bertanya tentang nama tempat itu sampai dua kali, dan dua kali To Kian-kong menyebut nama tersebut aku rasa apa yang kudengar tidak bakal salah lagi!"
"Baik, kalau begitu aku akan berangkat duluan, sampai berjumpa lagi lain waktu!"
Ketika mengucapkan kala "Baik", tubuhnya sudah melejit ke udara sambil melayang ke depan.
ketika kata terakhir diucapkan, suara itu berasal dari balik tikungan sana, sedangkan bayangan punggungnya sudah tidak kelihatan lagi.
Ki See-kiat segera berteriak keras.
"Saudara Tong, kau hendak ke mana?"
Sambil berteriak dia lantas mengejar, namun sudah tidak terdengar jawabannya lagi.
Jalanan gunung itu penuh dengan persimpangan dan tikungan-tikungan yang tajam, saat itu entah dia sudah kabur ke arah mana.
Ki See-kiat segera menenangkan pikirannya, lalu berpikir.
"Aneh benar orang ini, kalau didengar dari nada ucapannyasewaktu mencari tahu jejak Toan Kiam-ceng, bisa diduga kalau kebanyakan ia akan pergi ke Lor Anki. Tapi, mengapa dia enggan melakukan perjalanan bersama aku?"
Pemuda itu mau pergi sendiri memang bukan persoalan, tapi masalahnya sekarang, sepeninggal pemuda itu, siapakah yang akan membawanya keluar dari selat Tong-ku-si-sia ini?
Sekarang dia baru menyesal, mengapa tidak mencari keterangan dulu kepada pemuda itu.
Segulung angin berhembus lewat, tiba-tiba Ki See-kiat teringat akan sesuatu.
"Kuda milik Lian Kan-pei sudah kubunuh, sedang ia sendiri terkena pukulanku, betul lukanya tidak terlampau parah, tapi bisa diduga kalau perjalanannya tak mungkin bisa ditempuh dengan cepat, siapa tahu kalau aku masih dapat menemukannya kembali di sekitar selatini? Daripada menyesal di sini, mengapa aku tidak berusaha untuk mengadu nasib?"
Sekalipun dia tahu bahwa harapan tersebut amat tipis, terpaksa ia harus mencobanya dulu.
Dapatkah Ki See-kiat lolos dari selat Tong-ku-si-sia ini, untuk sementara waktu kita tinggalkan dulu.
Sekarang, marilah kita ikuti dahulu pengalaman pemuda yang bernama Tong Put-ci itu setelah meninggalkan Ki See-kiat.
---ooo0dw0oo---Bagaikan orang kalap ia berlari; seakan-akan hendak menggunakan larinya yang kencang itu untuk melampiaskan semua kekesalan yang mengganjal dadanya.
Perasaannya terasa kosong dan bimbang, dia enggan memikirkan persoalan apa pun.Dalam waktu singkat entah berapa jauh dia sudah berjalan, tanpa terasa sampai di tepi sebuah selokan.
Di bawah rindangnya pepohonan air tampak mengalir dengan tenang, di sekeliling tempat itu terasa nyaman dan sejuk.
Ia mencoba berpaling, ketika dilihatnya Ki See-kiat tidak mengejar, tanpa terasa dia pun menghentikan langkahnya.
Ia membenamkan kepalanya ke dalam selokan untuk mendinginkan otaknya yang sedang mendidih, kemudian setelah mencuci bersih wajahnya yang penuh debu, tampaklah wajah yang jauh lebih muda beberapa tahun bila dibandingkan dengan raut wajahnya sewaktu berjumpa dengan Ki See-kiat barusan….
"Dalam usia sebaya aku, mungkin orang lain masih belum memikirkan banyak urusan, mungkin mereka masih bisa bersenang-senang, tapi aku… aaai, tahun ini aku baru berusia delapan belas tahun, tapi sudah begitu banyak percobaan hidup yang harus kurasakan."
Memandang bayangan wajahnya yang dipantulkan di atas permukaan air tanpa terasa pemuda itu bergumam seorang diri.
Setelah meneguk seteguk air, dan menghembuskan napas membuang semua kekesalan yang mengganjal di dalam hatinya, dia tertawa getir kembali.
"Aku menyebut diriku sebagai Put-ci (tidak tahu), andaikata apa pun tidak kuketahui, tentu hal ini bagus sekali. Aaaai… enci Leng, ayah angkatku, Beng Hoa, bahkan suhu-ku, semua orang ini telah kuanggap sebagai orang yang kukasihi, aku tahu mereka semua pun amat menyayangi diriku, tapi kenapa… kenapa mereka semua membohongi diriku??"
Kenapa harus membohongi aku?"
Hampir saja ucapan tersebut akan diteriakkan keluar.
Untung saja dia tak sampai meneriakkannya keluar.
Pada saat itulah, mendadak dia mendengar suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan keheningan.
Pemuda itu segera mendongakkan kepalanya, tampak seseorang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Tanpa terasa pemuda itu menjadi tertegun, orang ini belum pernah dijumpainya, tapi entah mengapa, dia merasa seakan-akan "seperti pernah dijumpai"nya.
Mendadak tergerak hatinya, ketika memandang kembali bayangan tubuhnya yang dipantulkan di atas permukaan air, hampir saja dia tertawa geli.
Tak heran kalau dia seakan-akan seperti merasa pernah mengenal wajah orang itu, ternyata wajahnya memang ada sedikit mirip dengan wajahnya sendiri.
Oleh karena kemiripan tersebut membuatnya tanpa terasa menarah kesan baik terhadap orang itu.
Baru saja dia hendak bertanya kepadanya, orang itu telah membuka suara dan bertanya dulu kepadanya.
"Tolong tanya, saudara apakah kau she Ki bernama See-kiat?"
Pemuda itu menjadi tertegun, kemudian sahurnya.
"Dari mana kau tahu kalau aku adalah Ki See-kiat?"
"Aah… rupanya kau adalah kakak misanku,"
Seru pemuda tersebut kegirangan.
"Ooh… engkoh misan, aku sungguh amat sengsara mencari .jejakmu…."
"Aku adalah kakak misanmu? Siapa kau?"
Tanya sang pemuda tercengang."Ooh, engkoh misan, aku adalah Nyo Yan!"
Jawab orang itu dengan cepat sambil makin mendekati pemuda itu.
"Apa? Kau adalah Nyo Yan? Kau benar-benar adalah Nyo Yan?"
Seru pemuda itu setelah menatapnya beberapa saat.
Ketika pemuda yang mengaku bernama Nyo Yan itu menyaksikan lawannya hanya bertanya dengan tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget dan girang seperti apa yang dibayangkan semula, dia menjadi tercengang, sebab kejadian ini sama sekali di luar dugaannya Tapi dia segera berpikir demikian.
"Ki See-kiat pernah tertipu oleh Lian Kan-pei, dua tahun berselang ketika Lian Kan-pei menyaru sebagai pemandu jalannya, hampir saja selembar jiwanya melayang. Malah dia kena disekap selama dua tahun lamanya di dalam Kota Iblis, konon baru saja dia dapat meloloskan diri dari situ, tak heran kalau sikapnya menjadi begini berhati-hati."
Akan tetapi dia sama sekali tidak menaruh curiga kalau pemuda yang berada di hadapannya bukan Ki See-kiat, walaupun dia merasa orang yang bernama Ki See-kiat ini tam-paknya jauh lebih muda daripada apa yang dia duga semula.
Perlu diketahui, Toan Kiam-ceng sama sekali tak pernah berjumpa dengan Ki See-kiat, sedangkan pemuda yang mengaku bernama Nyo Yan ini mendapat tahu tentang potongan badan serta raut wajah Ki See-kiat dari mulut Toan Kiam-ceng, Toan Kiam-ceng juga memperoleh keterangan dari Lian Kan-pei, oleh sebab itu ia tak dapat menciptakan bentuk yang jelas.
Dia hanya tahu kalau Ki See-kiat adalah seorang pemuda yang sangat tampan, sebab itu kendatipun usianya tampak jauh lebih muda daripada yang dibayangkan, hal ini bukan suatu kejadian yang patut diherankan.Cuma, pokok alasan yang menyebabkan dia salah mengenali orang adalah karena dia telah berjumpa dengan pemuda tersebut dalam selat Tong-ku-si-sia.
Dia disuruh datang kemari membunuh Ki See-kiat karena Toan Kiam-ceng mendapat kabar yang mengatakan kalau Ki See-kiat telah menampakkan diri dalam selat Tong-ku-si-sia.
Padahal jalanan tersebut jarang sekali dilalui orang, sedangkan pemuda ini menyoren pedang, lagi pula dalam sekilas pandang dapat diketahui kalau dasar tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, selain Ki See-kiat, siapa pula orang itu?.
Setelah merasa yakin kalau pemuda yang berada di hadapannya adalah Ki See-kiat, dengan membesarkan nyali dia berkata lagi.
"Piau-ko (kakak misan), kita belum pernah bertemu muka, tak heran kalau kau tak percaya perkataanku tadi, tapi aku mempunyai bukti yang menunjukkan asal-usulku yang sebenarnya"
"O ya? Kau mempunyai bukti apa yang menunjukkan bahwa kau adalah Nyo Yan?"
Nyo Yan segera menjawab.
"Sejak dilahirkan, aku mempunyai tanda yang khas, aku rasa bibi pasti mengetahui akan hai ini bukan? Sewaktu bibi menyuruhmu datang kemari mencariku, apakah dia tidak memberitahukan hal itu kepada-mu?"
"Tanda apa?"
"Nyo Yan"
Segera menggulung ujung bajunya tinggi-tinggi sehingga kelihatan tahi lalat merahnya di lengan kiri. Kemudian katanya dengan lantang.
"Piauko, coba kau lihat ini! Sekarang, tentunya kau sudah percaya kepadaku bukan?"
Pemuda itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haah… haah betul, aku tahu kalau di atas lengan kiri Nyo Yan terdapat sebuah tahi lalat merah, tapi sayang aku sudah tahu kalau kau bukan Nyo Yan, sedangkan aku pun bukan Ki See-kiat!"
Nyo Yan merasa amat terkejut "Siapakah kau?"
Teriaknya kemudian.
"Kau bertanya siapakah aku? Seingatku namaku yang sebenarnya kebetulan sekali mirip dengan namamu itu,"
Ucap sang pemuda dengan suara yang dingin seperti es.
"Nyo Yan"
Tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu teriaknya tertahan.
"Kau bilang apa?"
"Aku bilang, kebetulan sekali aku juga bernama Nyo Yan, bahkan kebetulan sekali aku pun mempunyai tahi lalat merah seperti milikmu. Apakah kau ingin melihatnya?"
Benar juga, di atas lengan kirinya benar-benar terdapat sebuah tahi lalat berwarna merah, bahkan jauh lebih segar dan merah daripada milik "Nyo Yan".
Dalam terkejut dan takutnya, mendadak Nyo Yan gadungan melompat ke udara, kemudian jari tangannya-segera disodokkan ke atas dada Nyo Yan asli, menghajar jalan darah kematiannya.
Dia tahu ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan asli tentu lihay sekali, itulah sebabnya begitu turun tangan dia lantas mempergunakan ilmu Lui-sin-ci untuk menaklukkan lawannya.
Ilmu jari Lui-sin-ci tersebut merupakan ilmu sakti keluarganya apalagi setelah saling bertukar kepandaian dengan Toan Kiam-ceng, ia telah memperoleh kemajuan yang pesat dan jauh lebih tangguh dari pada generasi sebelumnya,sebab ini walaupun kepandaian itu baru mencapai empat lima bagian, namun serangannya telah disertai dengan hawa panas yang menyengat badan.
Kedua orang itu pada dasarnya memang berdiri saling berhadapan, asal mengulurkan tangannya maka tubuh lawan dapat tersentuh Dalam anggapan Nyo Yan gadungan, sekalipun serangannya itu tak sampai menotok jalan darah lawan, dengan kekuatan Lui-sin-ci, paling tidak ia dapat melukai lawannya.
Siapa turun tangan lebih dulu dia tangguh, siapa turun tangan belakangan dia celaka berada dalam keadaan demikian, tentu saja dia tidak mempersoalkan menang kalahnya lagi, yang penting adalah beradu jiwa dengan Nyo Yan asli.
Tampaknya Nyo Yan asli sama sekali tidak berjaga-jaga jalan darah Tian-ki-hiat di atas dadanya segera kena disodok dengan telak Jalan darah Tian-ki-hiat merupakan salah satu jalan darah kematian di tubuh manusia, barang siapa terkena serangan, sekalipun tidak mati, paling tidak juga akan terluka parah.
Mimpi pun Nyo Yan gadungan tidak menyangka kalau serangannya akan berhasil dengan begitu mudah, dalam detik tersebut, hatinya merasa girang sekali.
"Biaaam….’"
Seseorang segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Tapi yang roboh ternyata bukan Nyo Yan asli.
Rupanya ketika Nyo Yan gadungan sedang merasa kegirangan setengah mati, mendadak dia merasakanmunculnya segulung aliran tenaga yang amat besar menyusup masuk lewat ujung jariya.
Belum lagi suara tertawanya berkumandang, tahu-tahu tubuhnya sudah termakan oleh segulung tenaga pantulan maha besar yang membuat tubuhnya terjengkang dan roboh terlentang di atas tanah.
Sambil tertawa Nyo Yan asli berkata.
"Ilmu totokan jalan darahmu itu memang hebat Cuma sayang, pertama, ilmu itu belum mencapai taraf kesempurnaan, kedua, nasibmu kurang mujur, justru yang kau jumpai orang yang dapat menggeser kedudukan jalan darah seperti aku."
Rupanya meski dia berhasil merobohkan-Nyo Yan gadungan dengan getaran tenaga dalamnya, toh dadanya terasa panas dan linu sekali, perasaan sakit dan panas itu baru pulih kembali setelah dia mengatur napas berulang kali.
"Nah, bedebah! Sekarang mengaku terus terang, mengapa kau menyaru sebagai diriku?"
Bentak Nyo Yan asli. Nyo Yan gadungan membungkam seribu bahasa…. Menyaksikan musuhnya membungkam, sambil tertawa dingin Nyo Yan berkata lagi.
"Sekalipun tidak kau katakan, aku juga tahu, bukankah Toan Kiam-ceng yang menyuruh kau berbuat demikian?"
"Kalau toh sudah kau ketahui, kenapa mesti ditanyakan lagi?"
"Baik,"
Ucap Nyo Yan kemudian dengan dingin.
"aku tak akan bertanya apa-apa kepadamu. Kau senang berbaring berapa lama di sini, berbaringlah berapa lama di situ."
Selesai berkata, dia benar-benar beranjak pergi meninggalkan tempat itu.Tindakan tersebut benar-benar di luar dugaan Nyo Yan gadungan, pikirnya kemudian.
"Apa bocah keparat ini cuma bergurau saja denganku?"
Dia tidak percaya kalau Nyo Yan asli akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, tapi Nyo Yan benar-benar telah beranjak pergi meninggalkan tempat itu tanpa berpaling lagi.
Mendadak Nyo Yan gadungan berteriak keras.
"Nyo siauhiap, harap kau kembali. Apa yang ingin kau ketahui, aku bersedia untuk memberitahukan kepadamu!"
Teriakannya amat keras, bagaikan binatang buas yang sedang terluka.
Ternyata pada saat itu dia sedang merasakan suatu penderitaan dan siksaan yang luar biasa hebatnya Rupanya dia sudah kena dilukai oleh Nyo Yan dengan ilmu Sau-yang-sin kang yang menyerang delapan urat nadi penting di tubuhnya, kini luka tersebut sudah mulai kambuh.
Sau-yang-sinkang merupakan tenaga dalam mumi aliran Thian-san-pay, tapi oleh Nyo Yan telah dibaurkan dengan ilmu sakti dari negeri Thian-tok sehingga "aliran lurus"nya dikurangi beberapa bagian dengan penambahan "aliran keras".
Begitu luka tersebut mulai kambuh, Nyo Yan gadungan segera merasakan di dalam tubuhnya seakan-akan terdapat beribu-ribu ekor ular kecil yang sedang menggigiti sekujur badannya, selain gatal juga sakitnya bukan kepalang, sungguh merupakan suatu siksaan yang luar biasa hebat dan mengerikan.
Sambil tertawa dingin, pelan-pelan Nyo Yan berjalan mendekat lalu berkata.
"Kali ini, kaulah yang mengundangku kembali, bukan aku yang memaksamu mengaku."
Berada dalam keadaan demikian, tentu saja Nyo Yan gadungan tidak berani membantah, terpaksa dia merengek tiada hentinya.
"Benar, benar. Nenek moyangku, ampunilah selembar jiwaku, apa yang ingin kau ketahui, aku bersedia memberitahu kan semua."
Ketika selesai mengucapkan kata-kata tersebut, napasnya sudah tersengal-sengal seperti kuda.
Nyo Yan segera menggerakkan tangannya dan menepuk beberapa kali di atas tubuhnya, seketika itu juga penderitaan yang dialaminya jauh lebih berkurang, cuma badannya itu tetap tak dapat bergerak.
"Siapa namamu, mengapa menyaru aku?"
Bentak Nyo Yan dengan suara yang nyaring.
"Aku bernama Auwyang Seng, aku mempunyai seorang empek bernama Auwyang Tiong. Toan Kiam-ceng pernah mengangkatnya sebagai guru. Toan Kiam-ceng bilang wajahku agak mirip dengan wajahmu, maka dia lantas menceritakan semua kejadian perihal dirimu semasa masih kecil, kemudian dia pun menyarukan wajahku sesuai dengan khayalannya atas raut wajahmu setelah menginjak dewasa, kemudian memberikan sebuah tahi lalat merah di atas lenganku. Ilmu silat yang dia miliki jauh lebih hebat daripada ke-pandaianku, bila aku tak mau menuruti perkataannya, dia pasti akan membunuhku. Dia menyuruh aku menyaru sebagai dirimu untuk membohongi Ki See-kiat."
Nyo Yan segera mendengus.
"Hmm, mengapa dia menyuruh kau menipu Ki See-kiat?"
Tegurnya kembali.
"Dia tahu kalau Ki See-kiat sedang mencarimu, dia tak ingin membiarkan kalian berdua saling bersua muka."
"Sekarang Toan Kiam-ceng berada di mana?"
Auwyang Seng khawatir kalau Nyo Yan memaksanya untuk mengantar pemuda itu mencari Toan Kiam-ceng, untuk beberapa saat lamanya dia menjadi sangsi dan tak tahu harus berbicara sejujurnya atau bohong.
Sambil tertawa dingin Nyo Yan segera berkata.
"Padahal aku sudah tahu di manakah dia berada sekarang, aku hanya ingin mencoba kejujuranmu saja, aku ingin tahu apakah kau sedang berbohong atau tidak."
Mendengar perkataan itu, Auwyang Seng merasa amat lega, sambil menghembuskan napas, pikirnya.
"Apabila dia benar-benar sudah tahu maka kemungkinan besar tak akan menyuruh aku menunjukkan jalan."
Maka dia pun mengaku sejujurnya.
"Kini Toan Kiam-ceng berada di Lor Anki."
Dari ucapan tersebut, Nyo Yan mendapat tahu bahwa berita yang diperoleh Ki See-kiat tentang Toan Kiam-ceng memang tidak salah, maka dia berkata.
"Baik, anggap saja kau memang tidak berbohong. Hukuman mati boleh kau hindari, tapi hukuman hidup tak bisa kau tolak, sekarang akan kusuruh kau mencari kehidupan sendiri di tempat ini."
Tidak terlukiskan rasa kaget Auwyang Seng setelah mendengar perkataan itu, segera teriaknya.
"Nyo siauhiap aku telah berkata jujur padamu, mengapa kau belum bersedia untuk melepaskan diriku? Kau adalah seorang pendekar dari golongan lurus, mengapa perkataanmu itu tak bisa dimasukkan dalam hitungan…?"
Nyo Yan segera tertawa ujarnya.
"Pertama, kata pendekar toh bukannya aku yang memberi melainkan kau yang menyebut, kedua aku pun tak pernah meluluskan permintaanapa pun yang kau ajukan, semuanya ini kan kau sendiri yang bersedia untuk mengutarakannya kepadaku!"
Ia seperti merasa gembira sekali karena dapat mempermainkan musuhnya itu, sehingga gelak tawanya kelihatan rada sesat.
Waktu itu, meski penderitaan dan siksaan yang dialami Auwyang Seng jauh berkurang setelah ditepuk pelan oleh Nyo Yan, namun bukan berarti rasa sakitnya hilang; Dalam cemasnya, seketika itu juga ia merasakan semua sendi tulangnya bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum tajam, sakitnya tak alang kepalang lagi.
Ia pun tak mampu bergerak, dia tak tahu sampai kapan jalan darah tersebut baru bisa dibebaskan.
Dalam terkejut dan gusarnya, Auwyang Seng tak kuasa menahan diri lagi, ia segera mencaci maki kalang kabut.
"Nyo Yan, kau bajingan keparat Kuanggap kau seorang eng-hiong hoohan yang gagah perkasa, behhmm… heebmm… rak tahunya kau hanya seorang manusia laknat yang tak tahu malui"
Bagaimanapun juga Nyo Yan adalah seorang pemuda yang baru berusiadelapanbelas tahun maka tak tahan menghadapi caci maki seperti ini. Mendadak ia berpaling, sambil tertawa dingin katanya.
"Aku tak pernah menganggap diriku sebagai seorang enghiong hoohan, tapi sebutan ‘manusia laknat yang tak tahu malu’ itu tak pantas kalau diberikan kepadaku, sebab lebih pantas kalau kau terima sendiri…!"
Tujuan Auwyang Seng memang berusaha untuk memancing pihak lawan agar terlibat dalam caci maki ini, kontan saja ia tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.
"Haahh…. haahh… aku tak tahu malu karena aku telah mencatut namamu. Tapi kau, haah… haahh… kau tak tahu malu karena menganggap musuh besar sebagai ayahmu. Haahh… haahh… haahh… menganggap ayah sendiri sebagai bajingan, dari dulu sampai sekarang merupakan hal yang paling memalukan! Sekalipun kau tidak malu, aku jadi turut malu bagimu!"
Hijau mcmbcsi paras muka Nyo Yan setelah mendengar ucapan tersebut, pelan-pelan ia berjalan balik, lalu ujarnya dingin.
"Baik, kalau kau ingin memaki aku, makilah sepuas hatimu!"
Pada mulanya Auwyang Seng mengira Nyo Yan balik kembali karena ingin membunuhnya, siapa >tahu Nyo Yan malahan menyuruhnya untuk melanjutkan caci maki tersebut, kejadian ini benar-benar berada di luar dugaannya.
Rupanya dalam anggapan Auwyang Seng, dalam keadaan demikian andaikata Nyo Yan benar-benar meninggalkannya, maka ia bakal mati.
Daripada sebelum tibanya ajal harus menderita banyak siksaan, lebih baik dia membakar hawa amarah Nyo Yan agar dia dibunuh sekalian.
Maka itu Auwyang Seng kembali mencaci maki.
"Betul ilmu silatmu lebih hebat daripadaku, sayang ke-pandaianmu hanya berani kau pakai untuk menganiaya orang yang lebih rendah ilmunya! Asal kau masih punya keberanian, mengapa tak be-rani mencari gara-gara dengan Beng Goan-cau? Heemm… tahukah manusia macam apakah dia itu? Dia adalah gendaknya ibumu itu! Ia telah menghancurkan kehidupan ayah kandungmu, dan membuat kau menjadi malu dan harusmenerima tuduhan dan orang sebagai anak haram. Hmm, sungguh menggelikan sekali! Bukan saja kau tak berani mencarinya untuk membalas dendam, malahan kau akui dirinya sebagai ayahmu! Apa sebabnya ini bisa terjadi? Karena ilmu silat yang dimiliki Beng Goan-cau itu lebih lihai darimu, bukankah demikian? Bukankah karena Beng Goan-cau mempunyai predikat tayhiap dalam dunia persilatan? Hmm… apa salahnya jika kumaki dirimu itu sebagai manusia laknat yang tak tahu malu? Memangnya aku salah memaki?"
Ia tak tahu apakah Nyo Yan mendengarkan perkataannya atau tidak, sebab paras muka anak muda itu masih tetap dingin kaku tanpa perasaan.
Padahal walaupun wajahnya dingin kaku tanpa perasaan, hatinya pedih bagaikan ditusuk-tusuk oleh jarum tajam, jauh lebih menderita daripada siksaan yang sedang dialami Auwyang Seng sekarang.
Seperti diketahui, ia telah berhasil mengetahui asal-usul dirinya yang sesungguhnya dari mulut Ki See-kiat, sekalipun dia mengerti bahwa Ki See-kiat tak akan mengawut atau membohonginya, namun dalam hati kecilnya masih ada pe-rasaan yang "enggan"
Mempercayai kenyataan tersebut.
Justru karena perasaan yang amat kalut itulah, ia membiarkan Auwyang Seng memakinya.
Walaupun sesungguhnya dia tak ingin mendengarkannya, namun ia tak tahan untuk mendengarkan juga.
Makin memaki ucapan yang digunakan Auwyang Seng makin kasar dan kotor, bahkan banyak kata tak senonoh yang mulai berhamburan dari mulurnya.
Sekalipun begitu, apa yang dimaki orang itu hampir sama seperti apa yang diberitahukan Ki See-kiat kepadanya itu.Dalam pada itu, Auwyang Seng sudah hampir kehabisan tenaga karena memaki terus-menerus, ketika dilihatnya Nyo Yan belum juga memberikan reaksi, tak tahan ia lantas berseru.
"Bocah keparat, sebetulnya kau mempunyai rasa malu tidak? Mengapa tidak kau bunuh diriku untuk membungkam mulutku?"
"Makianmu sudah selesai belum?"
Tanya Nyo Yan dingin.
"maaf, aku hendak pergi dari sini!"
Setelah kehabisan tenaga karena harus mencaci maki kalang kabut, rasa sakit yang menyerang tubuhnya makin lama makin menghebat, tak tahan Auwyang Seng kembali menjerit keras-keras.
"Mengapa kau tidak membunuhku? Kenapa tak kau bunuh diriku?"
"Aku toh tak pernah berkata hendak membunuhmu, aku juga tidak pernah bilang akan mengampunimu. Sudah kukatakan, kau harus berjuang untuk menyambung hidupmu sendiri!"
Yang paling ditakuti oleh Auwyang Seng itu justru mati tak bisa hidup pun tak dapat, melihat Nyo Yan hendak pergi, buru-buru dia tunjukkan sekulum senyuman yang licik, lalu ujarnya.
"Nyo siauhiap. aku tahu kau hendak membalas dendam. Tetapi, walaupun ilmu silatmu tinggi, bukan suatu pekerjaan yang gampang jika kau ingin membunuh Beng Goan-cau, tapi asal kau mau melepaskan aku, aku bersedia membantumu. Walaupun ilmu silatku tak becus, tetapi aku dapat menyusun rencana bagimu Orang bilang, beradu akal tidak akan kalah dari adu kekerasan, asal kau memiliki seorang kunsu seperti aku, tanggung kesempatanmu untuk berhasil dalam pembalasan dendam nanti akan semakin besar."
Belum habis ia berkata, Nyo Yan telah mengibaskan ujung bajunya sambil mendamprat dingin.
"Hmm, tak tahu malu!"
Ia segera membalikkan badan dan berlalu dari sana Gagal dengan siasat yang satu Auwyang Seng segera mencoba dengan siasat yang lain, segera teriaknya.
"Kau tak mempercayai perkataanku bukan? Baik, bagaimanapun juga kau hendak pergi mencari Toan Kiam-ceng untuk membuat perhitungan, asal kau dapat menemukan dirinya mungkin semua persoalan akan menjadi jelas. Cuma, walaupun kau tahu kalau Toan Kiam-ceng berada di Lor Anki, kota Lor Ariki begitu besar, tidak gampang untuk menemukan dirinya di sana. Bagaimana kalau kubantu dirimu untuk mencarinya?"
Kali ini Nyo Yan sama sekali tak, menjawab walau hanya scpatah kata pun juga, malahan dia mempercepat … langkahnya meninggalkan tempat itu.
Auwyang Seng menjadi gelisah sekali, mendadak ia teringat akan seseorang yang mungkin akan menarik perhatian Nyo Yan, buru-buru teriaknya dengan segenap tenaga yang dia miliki.
"Hei, hei, apakah kau ingin mengetahui kabar berita Leng Ping-ji? Kini selembar jiwanya sedang terancam bahaya, ia sedang menunggu orang untuk menolongnya, kecuali aku seorang tak mungkin ada orang lain yang akan mengetahuinya"
Sementara di hati kecilnya dia berpikir.
"Leng Ping-ji begitu mencintainya aku rasa tak mungkin ia tak akan menggubris dirinya"
Yang dikhawatirkannya sekarang adalah bila Nyo Yan sudah keburu pergi jauh sehingga tidak mendengar semannya itu.Apa yang diduga ternyata tidak meleset, dengan ketajaman pendengaran Nyo Yan, ternyata ia mendengar seman itu, ia segera berhenti dan pelan-pelan membalikkan badan.
Dalam dunia ini hanya ada tiga orang yang mempunyai hubungan dekat dengan Nyo Yan.
Orang pertama adalah ayah angkatnya Miau Tiang-hong, orang kedua adalah suhu-nya Teng Keng-thian dan terakhir, Leng Ping-ji.
Oleh karena selisih mereka tidak berbeda jauh, dia dengan Leng Ping-ji pun mempunyai hubungan erat bagai kakak beradik, otomatis dalam perasaan atau hubungan batin hubungan mereka lebih akrab.
Apalagi Leng Ping-ji pernah menyelamatkan jiwanya dari tangan Toan Kiam-ceng, hal ini membuat pemuda itu tak dapat melupakan budi kebaikannya itu.
Gerakannya sewaktu kembali cepat sekali, dalam waktu singkat sudah berada di samping tubuh Auwyang Seng, tegurnya cepat-cepat.
"Apa yang kau katakan itu betul atau cuma bohong belaka?"
Auwyang Seng menghembuskan napas lega, sahutnya.
"Mana berani aku membohongimu, ilmu silatmu begitu hebat; jika kubohongi dirimu setiap saat kau toh bisa membunuh aku?"
Mendengarkan ucapan tersebut, diam-diam Nyo Yan lantas berpikir.
"Untuk menghadapi manusia rendah yang licik dan tak tahu malu seperti ini, aku perlu menghadapinya dengan segala cara licik dari kaum sesat…"
Berpikir demikian, sambil tertawa dingin ia lantas berkata.
"Aku yakin kau tak akan berbohong lagi."
Dengan cepat mulut Auwyang Seng dipentangkan, begitu terpentang lebar, Nyo Yan segera memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya dan memaksa dia untuk menelannya.
Obat itu amis dan memuakkan baunya, hampir saja Auwyang Seng memuntahkannya keluar, tapi tak jadi.
Dengan terperanjat ia bertanya.
"Hei benda apa yang kau masukkan ke dalam mulutku?"
"Aah bukan apa-apa,"
Jawab Nyo Yan hambar.
"itu tak lebih hanya sebutir pil beracun yang akan bekerja setelah setahun kemudian."
"Aku toh sudah bersedia membantumu dengan segala kemampuan yang kumiliki, kenapa kau malah mencelakai aku?"
"Kau tak perlu khawatir,"
Lanjut Nyo Yan.
"asal kau jujur kepadaku, maka setahun kemudian obat penawar itu pasti akan kuserahkan kepadamu. Obat itu merupakan sejenis obat beracun yang aneh sekali, sebelum tiba pada saatnya bekerja, terhadap kesehatan tubuhmu sama sekali tak akan mendatangkan gangguan apa-apa."
Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.
"Tapi jika kau berani membohongi aku, tentu saja tiada obat penawar bagimu. Heeehh… heeehh… heeehh… setahun kemudian bila racun itu sudah mulai bekerja, kau akan tahu sendiri bagaimanakah rasanya, kalau dibandingkan dengan siksaan serta penderitaan yang kau alami sekarang, pada hakikatnya penderitaanmu kini terhitung tidak seberapa"
Agak lega hati Auwyang Seng setelah mengetahui kalau obat racun itu baru akan bekerja setahun kcmu-dian, ujarnya kemudian.
"Tapi bagaimana caranya aku bisa tahu ucapanmuitu tidak bohong? Bila sampai waktunya kau tidak memberi obat penawar padaku…."
"Andaikata setahun kemudian kau mati akibat keracunan obatku itu, biar aku pun mati dengan tidak wajar. Nah, sekarang sudah percaya bukan?"
Melihat anak muda itu sudah mengangkat sumpah berat, Auwyang Seng semakin lega hati, katanya kemudian.
"Cuma perkataanmu tadi masih sedikit kebocoran, maaf bila aku banyak curiga, aku harus membicarakannya sampai jelas lebih dulu, sebelum kabar tentang Leng Ping-ji kusampaikan kepadamu."
"Baik, kau masih ada persoalan apa lagi yang membuat hatimu tak lega? Katakan saja berterus terang."
"Setelah kusampaikan kabar Leng Ping-ji kepadamu nanti, kau harus segera membebaskan jalan darahku yang tertotok dan memberi aku kesempatan untuk kabur dari sini, kalau tidak, bila kau biarkan aku mati kelaparan di sini dan bu-kannya mati akibat keracunan, bukankah kau pun tak usah menanggung risiko atas sumpahmu tam?"
"Ooh… rupanya ‘kebocoran’ inilah yang kau maksudkan,"
Kata Nyo Yan sambi) tertawa.
"baik, katakan saja semua yang menjadi unek-unek dalam hatimu, asal cocok pasti akan kukabulkan."
Sementara dalam hati kecilnya diam-diam ia tertawa geli, pikirnya.
"Masih ada satu kebocoran lain yang tak akan kau temukan untuk selamanya…"
Ternyata pil yang dicekokkan ke dalam mulut Auwyang Seng tadi bukan obat racun, melainkan daki yang ada di tubuhnya.Setahun kemudian, sudah barang tentu dia tak akan mengalami kematian akibat keracunan "obat beracun"
Tersebut, dan ia pun tak perlu memberikan "obat penawar"
Kepadanya karena ia tidak terkena racun, secara otomatis "sumpah berat"
Yang diucapkan Nyo Yan tadi hanya suatu gurauan belaka Walaupun demikian, sumpah berat yang diucapkan Nyo Yan tadi, tak bisa disangkal lagi merupakan obat penenang bagi Auwyang Seng, dengan perasaan yang lebih lega dia berkata.
"Ya, sebetulnya kejadian ini cukup mengkhawatirkan, sebab Leng Ping-ji kini sudah terjatuh ke tangan Toan Kiam-ceng!"
Kali ini giliran Nyo Yan yang terperanjat sekali, buru-buru tanyanya "Bagaimana ceritanya sehingga bisa terjatuh ke tangan Toan Kiam-ceng…?"
"Asal kau bersedia mengampuni dosaku, aku baru akan menceritakannya…"
"Sudah kukabulkan tadi, semua kesalahan yang pernah kau lakukan di masa lalu, tak akan kusinggung kembali."
"Akulah pembantu utama Toan Kiam-ceng yang menjebak Leng Ping-ji!"
Dengan cepat Nyo Yan menyadari apa yang telah terjadi, katanya kemudian.
"Ooh… rupanya kau menyaru sebagai diriku, membohonginya hingga percaya, kemudian diam-diam mencelakainya?"
Sedang dalam hati kecilnya dia berpikir.
"Aku sudah berpisah selama tujuh tahun dengan enci Leng, tak heran kalau ia mudah ditipu oleh kawanan manusia laknat ini."
Sementara itu Auwyang Seng manggut-manggut membenarkan.
"Benar, aku mendapat perintah dari Toan Kiam-ceng untuk secara diam-diam mencelakainya, cuma akhirnya bukan saja aku gagal untuk mencelakainya, hampir saja aku mencelakai diriku sendiri."
Secara ringkas dia lantas menceritakan bagaimana pada saat itu dia menyaru sebagai Nyo Yan untuk membohongi Leng Ping-ji, pura-pura mengajak Leng Ping-ji mencari Toan Kiam-ceng, kemudian memotong rotan pengayomnya, siapa tahu rencana itu gagal hingga Leng Ping-ji berhasil melarikan diri….
Selesai mendengar penuturan Auwyang Seng, Nyo Yan lantas berkata.
"Kalau begitu, nasib Leng Ping-ji selanjutnya kau tidak tahu?"
"Yaah, apa yang kemudian terjadi memang tidak kuketahui. Tapi menurut dugaanku, setelah berhasil meloloskan diri, Leng Ping-ji pasti akan kembali lagi untuk mencari Lomana. Aku rasa ia tak akan berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Toan Kiam-ceng."
"Siapa yang bertugas menjaga Lomana?"
"Kakak misanku yang bernama Auwyang Si. Ilmu silat yang dimilikinya jauh di atas kepandaianku. Sekalipun ia dapat mengalahkan kakak misanku itu, belum tentu bisa membawa Lomana turun dari bukit Soat-hong. Apalagi kalau sampai bertemu dengan Toan Kiam-ceng yang sedang pulang, mereka lebih sulit lagi untuk melarikan diri."
"Toan Kiam-ceng pergi ke mana?"
"Ia pergi mencari ayah Lomana yang bernama Lohay."
"Kalau begitu, belum tentu mereka berada di atas bukit Soat-hong sekarang…?"
"Aku sendiri pun tidak tahu apa yang bakal terjadi setelah Toan Kiam-ceng pergi mengunjungi Lohay di Lor Anki, andaikata usahanya gagal, sudah pasti dia akan kembali lagi ke bukit Soat-hong. Cuma ada baiknya kau mencari Lohay le-bih dulu, sebab kau bisa m,endapat-kan berita tentang Toan Kiam-ceng maupun Leng Ping-ji darinya"
Setelah Nyo Yan menanyakan letak bukit Soat-hong serta alamat Lomana, ia berkata lebih jauh.
"Apakah masih ada soal lain yang hendak kau sampaikan kepadaku?"
"Apa yang kuketahui hanya sebegini, harap…."
Tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya, Nyo Yan telah membalikkan tubuhnya dan berlalu dari situ. Auwyang Seng menjadi amat terperanjat, segera teriaknya keras.
"Hei, hei, kau toh sudah berjanji."
Belum habis perkataan itu diucapkan, terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, tahu-tahu sebuah batu telah menghajar telak jalan darah Tian-ki-hiatdi atas dada Auwyang Seng.
Jalan darah Tian-ki-hiat merupakan jalan darah kematian di tubuh manusia, tapi anehnya bukan saja Auwyang Seng tidak mati, malahan dia merasakan tubuhnya sangat enteng, darah dalam tubuhnya beredar kembali dengan lancar, tanpa terasa ia melompat bangun.
Auwyang Seng termangu-mangu setelah bangkit kembali seperti baru sadar dari lamunannya dia baru tahu sekarang bahwa Nyo Yan telah membebaskan totokan jalan darahnya Rupanya Nyo Yan buru-buru melakukan perjalanan, maka seratus langkah kemudian ia baru menyambitkan sebutir batuuntuk membebaskan jalan darahnya yang tcrtotok.
Seolah-olah di atas punggungnya mempunyai sepasang mata saja, sambitannya itu jitu sekali.
Kemampuan untuk menyambit jalan darah lawan dengan getaran tenaga dalam sesungguhnya sudah terhitung semacam kepandaian vang sangat aneh, apalagi melepaskan batu untuk membebaskan totokan jalan darah, yang justru merupakan jalan darah kematian, hal ini lebih mencengangkan.
Setelah termangu-mangu beberapa saat kemudian, Auwyang Seng merasa girang bercampur terkejut, girang karena selembar jiwanya berhasil diraih kembali, terkejut karena ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan begitu anehnya, mungkin Toan Kiam-ceng sendiri pun belum tentu mampu menghadapinya.
Dengan membawa perasaannya yang gundah ia lantas berpikir.
"Lebih baik aku pulang dulu mencari toako, dan menceritakan pertemuanku dengan Nyo Yan ini, agar dia bisa bersiap-siap menghadapinya. Andaikata Lomanah masih berada di tangannya, hal ini jauh lebih baik lagi, kami bisa menyembunyikan Lomana di suatu tempat, sambil menunggu penyelesaian dari persoalan ini. Andaikata bocah keparat itu tak sanggup membunuh Toan Kiam-ceng, sebaliknya kena dibunuh Toan Kiam-ceng, tindakanku mengamankan Lomana juga terhitung suatu pahala untuk menebus dosa. Tentu saja bocah keparat itu akan pergi ke tempat Lohay uutuk mencari Toan Kiam-ceng lebih dulu, mustahil dia akan langsung pergi mencari Lomana."
Padahal dari mana dia tahu kalau perhitungannya itu tak lebih cuma hitungan khayal belaka, waktu itu Lomana telah berhasil diselamatkan oleh Leng Ping-ji.Nyo Yan merasa sangat gelisah, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang hebat, dia berangkat melakukan perjalanannya dengan kecepatan luar biasa.
Sekalipun jalanan yang ditempuh bukan jalan pintas, namun jauh sebelum Auwyang Seng tiba di tempat tujuan, ia telah keluar dari selat Tong-ku-si-sia.
Setelah keluar dari selat sempit yang suram dan lembab, tampak cahaya matahari bersinar dengan terangnya menerangi seluruh jagat.
Namun perasaan Nyo Yan masih tetap diliputi awan kegelapan.
Seperti Ada Ular Berbisa Menggigit Hati Kata-kata Auwyang Seng tadi bagaikan ular berbisa yang menggigit hatinya.
Sambil mengertak gigi, ia berseru dengan penuh kebencian.
"Betul, dia adalah seorang manusia rendah yang tak tahu malu. Tetapi kata-katanya ada benarnya juga, bila Beng Goan-cau tidak kubunuh, bagaimana mungkin aku bisa mendongakkan kepalaku?"
Walaupun ia ingin cepat-cepat menolong Leng Ping-ji, namun dalam hatinya ia agak mendongkol juga terhadap gadis itu, pikirnya lebih lanjut.
"Gi-hu adalah sahabat karib Beng Goan-cau, ia tidak ingin aku tahu asal-usulku masih bisa diterima. Tapi enci Leng, dia bilang paling menyayangiku, mengapa dia pun membantu Beng Hoa untuk membohongi aku? "
Ehmm, Toan Kiam-ceng memang tidak berbohong kepadaku, ia berkata kalau Beng Hoa bukan kakakku, aku memang betul-betul she Nyo, bukan she Beng.
"Betul orang ini pernah mencelakai aku, kini dia hendak mencelakai pula enci Leng, aku harus mencarinya untuk membuat perhitungan. Tapi mengingat dia pernah berbicara jujur kepadaku, aku belum tentu harus membunuhnya, baik, asal kupunahkan dahulu ilmu silatnya, kemudian baru mencari Beng Goan-cau untuk membuat perhitungan!"
Makin dipikir dia merasakan hatinya semakin kalut, dia tak tahu kalau Leng Ping-ji yang sedang dirindukannya itu sedang berangkat menuju ke selat Tong-ku-si-sia.
Tahun ini Nyo Yan baru berusia delapanbelas tahun, bagi manusia biasa, usia delapanbelas tahun merupakan masa remaja yang paling indah dalam hidupnya.
Dari dulu sampai sekarang, orang selalu gemar membandingkan manusia dengan bunga dalam pembuatan syair.
Padahal meski bunga ada banyak hal yang mirip manusia namun banyak pula perbedaannya.
Persamaan antara bunga dengan manusia adalah, jarang yang tidak takut menghadapi serangan angin kencang dan hujan salju, tapi bila sudah mengalami dinginnya salju, bunga akan mekar lebih indah, manusia pun akan hidup lebih baik.
Perbedaannya, bunga yang tumbuh di tengah hujan salju yang dahsyat, tentu akan lambat mekarnya, sebaliknya bocah yang sejak kecil hidup dalam badai, dia akan lebih cepat tumbuh dewasa.
Demikian pula Nyo Yan, pikirannya lebih cepat dewasa dibandingkan usianya Kalau sedang cinta maka cintanya mendalam, kalau sedang membenci maka bencinya setengah mati.
Di hal ini, Ki See-kiat yang usianya lebih besar itu memiliki banyak persamaan dengannya.Seperti Nyo Yan, dia pun sangat merindukan Leng Ping-ji.
Perasaan mereka terhadap Leng Ping-ji mungkin saja berbeda, tapi sama-sama merindukannya Seperti juga Nyo Yan, dia pun amat mendendam terhadap Toan Kiam ceng, dia ingin mencari Toan Kiam-ceng untuk membuat perhitungan.
Perbedaan yang paling besar adalah ia sama sekait tidak membenci Beng Goan-cau, walaupun terhadap Beng Goan-cau tidak menaruh kesan yang baik.
Kecuali dalam perasaan, masih ada satu hal lagi yang berbeda, yakni situasi yang mereka hadapi sekarang.
Nyo Yan telah berjalan keluar dari selat Tong-ku-si-sia, ia mempunyai harapan besar untuk memilih arah tujuannya, bisa dengan cepat melaksanakan pembalasan dendamnya.
Sedangkan Ki See-kiat masih terjebak di dalam selat yang suram dan lembab itu, gagal menemukan jalan keluar.
Entah terhadap orang yang dibenci atau orang yang dicintai, harapannya untuk bersua kembali masih tipis sekali….
---ooo0dw0ooo---Ki See-kiat tersesat di tengah selat Tong-ku-si-sia, satu-satunya harapan yang masih tertinggal hanyalah menemukan si "pemandu tua"
Lian Kan-pei, kemudian memaksanya untuk menjadi pemandu jalan.
Di dalam anggapannya, kuda tunggangan Lian Kan-pei telah mati, orangnya juga terluka parah, sekalipun luka itu tak mematikan, namun mustahil dia bisa keluar dari selat sempit itu sedemikian cepatnya.
Tapi, ia telah mencari ke sana kemari selama dua hari, yang menjadi teman seperjalanan toh cuma bayangan sendiri.Jangankan manusia, seekor binatang pun tidak ia temukan di dalam selat tersebut.
Kini ransumnya sudah habis dimakan.
Ransum sudah habis masih bukan ancaman serius, sebab ada kalanya ia masih dapat berburu burung yang kebetulan lewat untuk menangsal perutnya yang lapar.
Yang paling parah adalah persediaan airnya telah habis.
Rasa haus yang menyerang sudah tak tertahan lagi, maka apa yang harus dilakukan sekarang bukan mencari orang, me-lainkan mencari letak sumber air.
Dalam selat sempit ini, sumber air bukannya tak ada, tapi untuk memperoleh air yang cukup merupakan suatu pekerjaan yang merepotkan.
Sebagaimana diketahui, tempat itu merupakan sebuah lembah tandus yang tiada tumbuhannya, air yang ada pun hanya menetes keluar dari celah-celah batuan, itu pun harus menunggu hampir setengah harian lamanya sebelum bisa mengumpulkan air sebanyak satu cawan kecil.
Hari ini, kembali Ki See-kiat menelusuri selat yang penuh tikungan itu dengan langkah cepat ia berharap bisa bersua dengan "pemandu jalangnya", Lian Kan-pei.
Tanpa terasa tengah hari pun menjelang tiba, orang tidak ditemukan, sumber air pun tidak ada.
Pagi tadi ia telah membasahi bibirnya dengan tetesan air yang menetes keluar dari balik dinding karang tapi beberapa tetes air yang hanya membasahi tenggorokkannya itu, kini sudah mengering kembali.
Sementara ia makin gelisah, mendadak dari kejauhan sana seakan-akan terdengar suara air mengalir.Ki See-kiat segera merasakan semangatnya berkobar kembali, buru-buru ia mendekam di tanah dan menempelkan telinganya di atas permukaan tanah, kemudian setelah menentukan arahnya, ia segera pergi ke arah suara air itu.
Tiba-tiba pandangan matanya bersinar terang, betul juga, ia menemukan sebuah selokan di sana.
Malah di tepi selokan dijumpai seseorang.
Orang itulah Tay-kiat Hoatsu, dia sedang minum air menggunakan bokor emasnya yang berlubang.
Sebenarnya dia mengira Tay-kiat Hoatsu yang berlalu dengan menunggang kuda tempo hari pasti sudah keluar dari selat itu, siapa sangka ia telah bersua kembali dengannya.
Cuma kali ini dia hanya seorang diri, sedangkan kudanya lenyap entah ke mana.
Kiranya Tay-kiat Hoatsu sendiri pun tidak mengenal jalan, justru ada Lian Kan-pei yang menjadi pemandu jalannya maka ia baru berani masuk selat Tong-ku-si-sia Kini, setelah kehilangan Lian Kan-pei, seperti juga Ki See-kiat ia menjadi kehilangan arah.
Untung saja tenaga dalamnya amat sempurna, untuk menahan lapar dan dahaga bukan persoalan baginya, berbeda dengan kudanya, setelah tiga hari tidak minum air, akhirnya binatang itu tak tahan dan roboh menemui ajalnya Dalam keadaan demikian, terpaksa Tay-kiat Hoatsu harus meninggalkan binatang itu untuk pergi mencari sumber air sendiri.
Sementara itu, tatkala Tay-kiat Hoatsu menyaksikan kemunculan Ki See-kiat, rasa kagetnya tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.
"Bocah keparat, ternyata ia belum mau melepaskan aku dengan begitu saja, malah membuntuti cariku terus-menerus!
Baiklah, kalau toh kau enggan melepaskan aku, maka aku pun akan beradu jiwa dengannya.
Hari ini, kalau bukan dia yang mati, biar akulah yang mampus."
Tay-kiat Hoatsu segera melompat bangun, air yang berada dalam bokor emasnya berceceran di tanah, sambil melintangkan toyanya di depan dada, ia bersiap siaga meng-hadapi segala kemungkinan.
Melihat itu, Ki See-kiat segera tertawa, ujarnya.
"Toa hweesio, aku bukan datang untuk mencari gara-gara denganmu, asal kau tak ingin membunuhku, mengapa pula aku mesti beradu jiwa dengan dirimu…"
Tay-kiat Hoatsu menghembuskan napas lega, tanyanya kemudian.
"Kenapa kau masih berada di sini?"
"Aku tersesat?"
"Mengapa dia tidak membawamu keluar dari sari? Apakah kalian tidak berbicara apa-apa? Atau dia telah kau bunuh?"
Ki See-kiat mengerti, yang dimaksudkan sebagai "dia"
Oleh Tay-kiat Hoatsu adalah pemuda yang mengaku bernama "Tong Put-ci"
Itu, maka sahurnya.
"Aku telah berbincang-bincang dengannya, cuma ia telah pergi."
Tay-kiat Hoatsu makin terperanjat dibuatnya, segera dia berkata.
"Kalau toh kalian telah berbincang-bincang, maka seharusnya kalian sudah saling mengetahui siapakah lawannya, kenapa ia masih pergi seorang diri?"
Tergerak hati Ki See-kiat sesudah mendengar perkataan itu, buru-buru serunya.
"Tay-kiat Hoatsu, aku memang ingin bertanya kepadamu, siapakah sahabatmu itu?"
"Masa ia tidak memberitahu namanya kepadamu?"
"Beri tahu sih beri tahu, cuma dia bilang dia bernama ‘Tong Put-ci’, aku rasa ini nama palsu."
"Apakah kau telah memberitahukan namamu kepada dia…?"
"Begitu selesai bertarung, aku lantas menyebutkan namaku. Aku toh bukan buronan yang takut ditemukan orang, mengapa aku harus merahasiakan namaku yang sebenarnya?"
"Setelah dia tahu kalau kau bernama Ki See-kiat, apakah ia masih tetap mempergunakan ‘Put-ci’ sebagai namanya?"
"Betul, dia bilang ia adalah anak yatim piatu, maka dia sendiri pun tidak mengetahui asal-usul sendiri."
Tiba-tiba Tay-kiat Hoatsu mendongakkan kepala lalu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… Tong Put-ci, Tong Put-ci. Dulu mungkin kau memang belum tahu (Put-ci), setelah berjumpa seharusnya dirimu sudah mengetahui, tapi mengapa masih mengatakan ‘Put-ci’? Betul-betul membuat aku pun turut kebingungan?"
"Sebenarnya siapa nama orang itu? Cepat beri tahukan kepadaku!"
Pinta Ki See-kiat.
Saking ingin cepat-cepat mengetahui persoalan ini, ia menatap wajah Tay-kiat Hoatsu dengan sorot mata yang mengerikan, ini membuat Tay-kiat Hoatsu menjadi ketakutan setengah mati sehingga tak berani tertawa.
"Kau datang ke wilayah Sin-kiang ini untuk mencari siapa?"
Tanya pendeta itu kemudian.
"Toa-hwesio, bukankah pertanyaanmu itu sudah tahu pura-pura bertanya? Aku percaya rekanmu Lian Kan-pei pasti telahmemberitahukan hai ini kepadamu, aku datang untuk mencari adik misanku Nyo Yan."
"Nah, pemuda yang mengaku bernama Tong Put-ci itu bukan lain adalah adik misanmu sendiri, Nyo Yan "
Kata Tay-kiat Hoatsu. Ki See-kiat terperanjat sekali, segera jeritnya tertahan.
"Dia Nyo Yan? Benarkah perkataanmu itu?"
"Buat apa aku mesti membohongi dirimu? Terus terang saja, pada waktu itu aku khawatir jika dia membantu dirimu karena masih terkait hubungan famili, maka aku cepat-cepat mengambil langkah seribu."
Seperti telah diketahui, tempo hari ia sedang keteter hebat melawan Ki See-kiat ketika Nyo Yan secara kebetulan datang, dia tahu Nyo Yan dan Ki See-kiat adalah saudara misan, oleh sebab itu dalam saat kritis, dia hanya bisa memohon kepada Nyo Yan agar menahan serangan baginya untuk sementara waktu.
Dia pun tahu, pada awal perjumpaan sudah pasti mereka tak akan tahu siapa gerangan lawannya, tapi begitu rahasia terungkap, bisa jadi dua bersaudara misan ini akan bekerja sama untuk mengerubutinya.
Ki See-kiat menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian ia berseru.
"Kalau memang dia adalah Nyo Yan, mengapa ia tidak mau mengaku? Kenapa dia malah pergi seorang diri?"
"Kau bertanya padaku, lantas mesti aku bertanya pada siapa?"
Merah membara sepasang mata Ki See-kiat, serunya kemudian.
"Baik, kalau begitu katakan kepadaku semua persoalan tentang Nyo Yan yang kau ketahui!"
Tay-kiat Hoatsu tidak tahu di antara Ki See-kiat dan Nyo Yan telah terjadi persoalan apa sehingga Nyo Yan tak mau berterus terang, tetapi menyaksikan sikap Ki See-kiat yang melotot ke arahnya seperti orang kalap, hatinya menjadi takut.
Diam-diam pikirnya kemudian.
"Ketika aku bertarung dengan dirinya beberapa hari berselang, aku telah berulang kali mengatakan hendak membunuhnya, aku tidak percaya kalau dia bersedia melepaskan aku dengan begitu saja.
Mungkin, setelah mengetahui duduk persoalan, aku lantas dibunuhnya.
Begitu rasa takutnya timbul, segera timbul ingatan untuk melarikan diri meninggalkan tempat itu, katanya kemudian.
"Aku pikir, kau pasti datang kemari karena mencari air? Duduk dan beristirahatlah sebentar, setelah minum air secukupnya baru aku ceritakan apa yang kuketahui kepadamu, mau bukan?"
Ki See-kiat memang sedang kehausan sehingga hatinya menjadi gundah sekali, separuh alasan di karena haus, maka begitu menyinggung kembali soal air, ia sadar kembali.
Berhadapan dengan air gunung yang segar, tentu saja dia tak tahan lagi, segera sahurnya.
"Baik, aku akan minum air lebih dulu, kemudian baru menanyai dirimu…."
Dengan cepat ia membenamkan kepalanya ke dalam air untuk menyegarkan kembali pikirannya yang mendidih, rasa segar yang luar biasa segera menyelimuti seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba ia tidak menyaksikan bayangan tubuh Tay-kiat Hoatsu di atas permukaan air, menanti ia mendongakkankepalanya tampak Tay-kiat Hoatsu telah lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Buru-buru Ki See-kiat meneguk beberapa tegukan air segar itu, kemudian menyusul dari belakang.
Teriaknya keras sekali.
"Bila kau tak bersedia memberitahukan soal Nyo Yan ya sudahlah, kenapa kau mesti melarikan diri? Toh lebih baik kita mencari jalan bersama-sama, paling tidak ada teman seperjalanan yang senasib sependeritaan."
Tay-kiat Hoatsu tertawa dingin.
"Haah… haahh… haahh… kalian bangsa Han mempunyai sebuah pepatah yang mengatakan, sudah tahu bukan teman, lebih baik jangan jalan berdampingan. Andaikata kau mengenal seluk beluk jalan di tempat ini, mungkin saja aku terpaksa akan mengikutimu. Kini kau sendiri pun tak bisa menyelamatkan diri, mengapa aku mesti menggantungkan nasib kepadamu? Buat apa aku mesti menjadi teman seperjalananmu?"
Sambil tertawa dingin, ia kabur semakin cepat lagi meninggalkan tempat itu.
Sebetulnya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ki See-kiat jauh di atas kepandaiannya, tapi pertama, karena dia terlambat mengejar, kedua, situasi tempat itu amat kalut maka sewaktu tiba di dekat tikungan bukit, Tay-kiat Hoatsu sudah kabur entah ke mana.
---ooo0dw0ooo---Setelah meloloskan diri dan pengejaran Ki See-kiat, baru saja Tay-kiat Hoatsu berusaha keras mencari jalan keluar, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda berkumandang dari kejauhan sana, derap kaki kuda itu makin lama semakin mendekat "
Jangan-jangan Lian Kan-pei yang tidak melihat aku keluar dari selat, telah membeli kuda baru di peternakan dekat sini dan kembali mencari aku?
Kalau memang ia berbuat demikian hitung-hitung ia masih punya sedikit liangsim juga."
Dengan membawa perasaan gembira yang meluap-luap, cepat-cepat ia maju menyongsong.
Akhirnya suara derap langkah kuda itu berhenti di hadapannya, dalam waktu singkat Tay-kiat Hoatsu maupun penunggang kuda itu sama berseni tertahan.
Ternyata yang datang bukan Lian Kan-pei, melainkan seorang gadis yang muda usia.
la kenal dengan gadis itu, dan gadis itu pun kenal dengan dia.
Ternyata dia adalah Thian-san Lihiap Leng Ping-ji yang datang ke selat Tong-ku-si-sia untuk mencari Ki See-kiat.
Belum habis rasa kaget Tay-kiat Hoatsu, sambil tertawa dingin Leng Ping-ji membentak.
"Memang di mana pun manusia dapat bersua, tak nyana setelah berpisah bertahun-tahun kembali aku bisa bersua dengan kau si hwesio gede di sini. Hmmm, di hadapan orang jujur tidak usah bohong, toa-hwesio, ada urusan apa kau datang kemari?"
Dengan gusar Tay-kiat Hoatsu membentak.
"Hmmm, dengan mengandalkan kemampuanmu, kau budak kecil juga berani memeriksa aku? Pinceng senang berpesiar ke mana-mana, ke mana aku suka ke situ aku pergi. Kau boleh datang kemari, kenapa aku tak boleh datang ke sini?"
Leng Ping-ji dingin, ujarnya ketus.
"Sekalipun tidak kau katakan, aku juga tahu!"
"Apa saja yang kau ketahui?"
Tanya Tay-kiat Hoatsu deagan wajah tertegun."Baik, akan kusebutkan. Nyo Yan yang telah mengajakmu kemari, tujuannya untuk membunuh Ki See-kiat, bukankah begitu?"
Tentu saja Tay-kiat Hoatsu sama sekali tidak tahu kalau "Nyo Yan"
Yang disebutkan sekarang sama sekali bukan Nyo Yan yang telah dijumpainya beberapa waktu berselang, betapa terkejutnya dia setelah mendengar perkataan itu.
"Walaupun apa yang diduga tidak betul seratus persen, tapi tidak sedikit juga yang dia ketahui,"
Demikian pikirnya.
Leng Ping-ji bisa menduga begitu bukanlah sama sekali tanpa sebab.
Kiranya walaupun Tay-kiat Hoatsu adalah murid pertama dan Si-lo Hoatsu dan merupakan seorang jago lihay dari perguruannya, namun watak orang ini sama sekali berbeda dengan tabiat gurunya bukan saja ia tak dapat menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, nafsunya untuk memperoleh nama dan kedudukan juga besar sekali Dulu, sewaktu ia "kengsu"
Pembantu dari istana Bhutara di Lhasa, hubungannya dengan Wi to peng seorang jago lihay dari pemerintah Ceng yang diutus ke Lhasa akrab sekali, bahkan mereka saling memperalat.
Ketika dua orang pendeta sakti dari negeri Thian-tok dengan membawa anak muridnya naik ke buku Thian-san untuk beradu kepandaian dengan Teng Keng-thran, lociang-bunjin partai Thian-san, peristiwa itu pun berkat hasutannya.
sedang orang yang menyusun rencana di balik layar tak lain adalah Wi Topeng.
Sekalipun rencana keji dari Wi To-peng ketika itu mengalami kegagalan total, namun kerugian yang diderita pihak Thian-san-pay pun tidak sedikit.Duduk perkara dari semua peristiwa ini baru diketahui sejelas-jelasnya oleh pihak Thian-san-pay jauh setelah peristiwa itu berlangsung.
Kemudian, ketika Toan Kiam-ceng kabur dari bukit Thian-san, ada pula yang menjumpai dia melakukan perjalanan bersama Tay-kiat Hoatsu.
Sampai detik itu, Leng Ping-ji masih belum tahu kalau orang yang membohonginya adalah Nyo Yan gadungan, di dalam anggapannya Nyo Yan telah seratus persen condong ke pihak Toan Kiam-ceng dan membantu orang-orang yang sedang melakukan perbuatan jahat Tay-kiat Hoatsu berkomplot pula dengan Toan Kiam-ceng, dari sini bisa diketahui kalau Tay-kiat Hoatsu pasti diutus untuk membantu usaha Nyo Yan.
Itulah sebabnya, begitu memasuki selat Tong-ku-si-sia dan bertemu dengan Tay-kiat Hoatsu, tak bisa dihindari lagi ia mencurigai pendeta itu diajak Nyo Yan untuk mencelakai Ki See-kiat.
Kini, sewaktu dilihatnya paras muka Tay-kiat Hoatsu berubah hebat, ia semakin percaya kalau dugaannya tak salah, segera bentaknya.
"Kalian telah apakan Ki See-kiat? Kalau tidak kau terangkan, tak nanti aku lepaskan dirimu!"
Tay-kiat Hoatsu tertawa dingin.
"Jika kau ingin mencari Ki See-kiat, silakan mencarinya sendiri, apa urusannya dengan diriku?"
"Kurang ajar, kau berani mengatakan kalau kau bukan datang untuk mencelakai Ki See-kiat?"
Bentak Leng Ping-ji dengan gusar. Tay-kiat Hoatsu segera berpikir.
"Jangan-jangan Lian Kan-pei telah dibekuknya? Kalau tidak, dari mana ia bisa tahu kalau Ki See-kiat berada di sini?"
Dia mengira Leng Ping-ji telah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, tapi dia pun tidak memandang sebelah mata kemampuan Leng Ping-ji, maka dengan angkuh sahurnya.
"Betul, aku memang ingin menjajal ilmu silatnya, setelah kudengar Ki See-kiat berhasil mendapatkan kitab pusaka warisan Kui Hoa-seng. Tapi aku tidak membunuhnya, aku hanya tahu kalau kini ia berada bersama Nyo Yan. Me-mandang hubungan partaimu dengan kuil Lan-tou-si kami, aku bersedia memberitahukan hal ini kepadamu, nah, kau tak usah banyak berbicara lagi!"
Dalam anggapannya ucapan tersebut sudah cukup sungkan, siapa tahu justru makin mengejutkan dan menggusarkan Leng Ping-ji.
Dari ucapan Tay-kiat Hoatsu barusan, ia mendapat tahu kalau Ki See-kiat benar-benar telah bertemu dengan Nyo Yan, dalam anggapannya, Ki See-kiat telah tertipu oleh "Nyo Yan".
Kontan dia meloloskan pedangnya lalu membentak keras.
"Nyo Yan telah menipunya ke mana?"
Tay-kiat Hoatsu sendiri pun ikut naik darah menyaksikan kekasaran orang, ia mendengus, kemudian setelah tertawa dingin katanya.
"Suhumu sendiri tak berani begitu kurang ajar kepadaku, jangankan aku memang tak tahu, sekalipun tahu juga tak akan kuberitahukan kepadamu. Mau apa kau?"
"Kau tahu juga boleh, tidak tahu juga boleh, pokoknya aku tetap akan memaksamu untuk menemukan kembali kedua orang itu,"
Kata Leng Ping-ji dingin.
"kalau tidak…."
"Kalau tidak kenapa?"
Jengek Tay-kiat Hoatsu sambil tertawa dingin.
"Kalau tidak, jangan harap aku akan melepaskan dirimu meninggalkan selat ini."
Padahal dari mana dia bisa tahu kalau Tay-kiat Hoatsu sedang kesal karena tak mampu meninggalkan selat tersebut, tergerak hatinya setelah mendengar perkataan Leng Ping-ji itu, pikirnya.
"Kebetulan sekali kedatangan budak ini, mengapa tidak kubekuk dirinya dan memaksanya untuk menunjukkan jalan keluar? la berani kemari, sudah pasti tahu jalan keluar selat ini."
Sementara Leng Ping-ji telah mempersiapkan diri baik-baik, setelah menyaksikan paras muka pendeta itu berubah tak menentu, pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam diayunkan ke udara, kemudian tegurnya.
"Rencana busuk apa yang sedang kau susun? Aku tak punya waktu untuk menunggumu lagi, ayo katakan, sebetulnya kau bersedia menjawab atau tidak…?"
"Kurang ajar!"
Bentak Tay-kiat Hoatsu gusar.
"Dengan mengandalkan kemampuanmu, kau si budak kecil pun berani menganiaya aku!"
Disertai desingan angin tajam, toya bambu hijaunya segera menotok ke depan, secepat sambaran kilat menyambar jalan darah Cian-keng-hiat di bahu kanan Leng Ping-ji "
Sewaktu berada di bukit Thian-san tempo hari, Leng Ping-ji sudah pernah menyaksikan kelihayan ilmu silatnya, dia cukup tahu kalau musuhnya ini amat tangguh.
Cahaya pedang segera berkilauan, dengan membentuk gerakan setengah lingkaran dia melindungi tubuh bagian atas dan tengah, lalu dengan cepat balik membabat ke depan.
Inilah jurus pembukaan dari ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat yang dinamakan Im-soh-thian-san (Awan Mengunci Bukit Thian-san).Gagal menerjang ke depan.
"Trang…!"
Pedang dan toya Tay-kiat Hoatsu segera saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan percikan bunga api, namun kedua belah pihak sama-sama tidak menderita luka apa-apa.
Tapi anehnya, sewaktu terjadi percikan bunga api tadi, segulung hawa dingin yang merasuk tulang menyerang ke dalam tubuhnya, sekalipun Tay-kiat Hoatsu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna pun tak urung dibikin bergidik juga sehingga bersin berulang kali.
Leng Ping-jj sendiri pun merasa terperanjat sekali ketika gagal memutuskan toya bambu lawan, segera pikirnya.
"Untung saja suhu menghadiahkan pedang mestika ini kepadaku, coba kalau kupergunakan pedang biasa, sudah pasti aku bakal menderita kerugian besar pada saat ini…."
Walaupun Tay-kiat Hoatsu dibikin bergidik, tapi tenaga dalam yang dimilikinya toh masih jauh lebih unggul daripada Nyo Yan gadungan, hawa dingin yang menyengat badan, tak lebih hanya mendatangkan sedikit pengaruh saja, begitu hawa muminya disalurkan, segala sesuatunya menjadi pulih kembali seperti sediakala.
Setelah terkejut, tanpa terasa ia pun menjadi teringat kembali dengan suatu hal yang pernah didengar dari Lian Kan-pei, dengan cepat dia mundur selangkah, lalu dengan wajah terkejut bercampur girang tanyanya.
"Budak busuk, rupanya pedang yang berada di tanganmu itu adalah pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam?"
Perlu diketahui, pedang Peng-pok-han-kong-kiam merupakan benda mestika yang menjadi incaran setiap umat persilatan di dunia ini, bagaimana mungkin Tay-kiat Hoatsu tidak tertarik hatinya?
"Anggap saja kau memang memiliki mata yang tajam,"
Puji Leng Ping-ji.
"Kalau sudah kau-kenal pedang ini, masih beranikah kau menggunakan kekerasan?"
Tay-kiat Hoatsu tertawa dingin, segera bentaknya.
"Asal kau persembahkan pedang Peng-pok-han-kong-kiam itu kepadaku, aku bersedia untuk mengampuni selembar jiwamu."
Di tengah bentakan, tubuhnya kembali menerjang ke muka dan menyerang dengan jurus Heng-sau cian-kun (Menyapu Rata Seribu Prajurit).
Leng Ping-ji segera bertindak dengan berkelit ke samping, lalu pedangnya dengan jurus Im-soh-thian-san berubah menjadi jurus Tui-cuang-wang-gwat (Mendorong Jendela Memandang Rembulan), pedangnya didorong sejajar dengan dada.
Jurus serangan ini tampaknya sederhana, tiada sesuatu yang aneh, padahal di dalamnya justru tersimpan tenaga serangan yang amat mengerikan.
Toya bambu Tay-kiat Hoatsu menyapu ke depan, tenaga yang dipergunakan jauh lebih dahsyat dari tenaga serangan pertama, belum lagi menyentuh tubuh lawan, segulung hembusan angin tajam telah menyingkirkan mata pedang Leng Ping-ji.
Siapa tahu bukannya mundur Leng Ping-ji malah maju, menggunakan kesempatan ketika pedangnya dipukul miring, ia pinjam tenaga memukul tenaga, ujung pedangnya menutul pelan di ujung toya musuh, mendadak dari bawah melejit ke atas langsung menusuk wajah Tay-kiat Hoatsu.
Cepat-cepat Tay-kiat Hoatsu menggerakkan bokor emas di tangan kirinya untuk menangkis, namun tangkisannya tidak tepat pada sasaran, Leng Ping-ji dengan pedang kilatnya dapat menyerang tiba dan menusuk tubuhnya.Akan tetapi, ketika mata pedang itu sudah hampir tiba di hadapannya, tiba-tiba seperti terdorong oleh segulung tenaga yang tak berwujud saja, tahu-tahu serangan itu meleset Pada saat itulah, Tay-kiat Hoatsu dengan jurus Peng-sah-lok-ing (Burung Manyar Menyambar Pasir) telah membacokkan toya bambunya ke bawah mengetuk pergelangan tangannya.
"Lepas pedang!"
Bentaknya keras-keras.
Ternyata bokor emas milik Tay kiat Hoatsu itu meski sudah kena dilubangi oleh tusukan pedang See-kiat sehingga daya semberaninya banyak berkurang, namun kekuatannya tidak hilang sama sekali.
Untung saja pedang Peng-pok-han-kong-kiam bukan termasuk benda yang terbuat dari besi, sehingga tak sampai kena betot bokor emas.
Tapi, Tay-kiat Hoatsu menyertakan tenaga Liong-siu-kang miliknya ke dalam bokor emas sehingga terpancarlah daya isap yang amat dahsyat, akibatnya sekalipun bukan benda yang terbuat dari besi pun ikut terseret ke samping.
"Traaang…!"
Pedang Peng-pok-han-kong-kiam saling membentur lagi dengan toya bambu hijau milik Tay-kiat Hoatsu.
Kali ini Tay-kiat Hoattu telah menyertakan hawa sakti Liong-siu-kang miliknya ke dalam serangan tersebut, akibatnya Leng Ping-ji merasakan pergelangan tangannya menjadi sakit sekali, buru-buru dia gunakan gerakan Berjumpalitan di Atas Awan untuk menghindarkan diri, akan tetapi pedang Peng-pok-han-koug-kiam masih tetap berada di tangannya.
Dengan terjadinya peristiwa ini, kedua belah pihak sama-sama merasa terperanjat Leng Ping-ji tidak menyangka kaiautusukan pedangnya tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya Tay-kiat Hoatsu juga terkesiap karena ia gagal mengisap pedang lawan, bahkan tenaga Liong-siu-kang yang disertakan juga tak mampu memaksanya melepaskan pedang.
Mendadak ia menjadi sadar kembali, pikirnya.
"Konon pedang Peng-pok-han-kong-kiam terbuat dari inti es yang berusia sepuluh laksa tahun, tak heran kalau bokor emasku tidak mendatangkan hasil apa-apa. Tapi herannya ternyata Liong-siu-kang milikku juga tak berhasil mengapa-apakan dia, sekalipun tenaga dalam yang dimiliki budak ini masih belum dapat menandingi bocah keparat she Ki itu, tampaknya kemampuan budak ini tak boleh dianggap enteng."
Setelah dicoba beberapa jurus, Tay-kiat Hoatsu segera berpendapat walaupun tenaga dalam yang dimiliki Leng Ping-ji tidak lemah tapi dia yakin masih mampu untuk mengalahkannya, maka tenaga dalam Liong-siu-kang miliknya segera dikerahkan sepenuh tenaga untuk melancarkan serangkaian serangan yang jauh lebih ganas lagi.
Dengan bokor emas melindungi badan, toya bambu melepaskan serangan, gulungan angin serangan bagaikan hembusan angin puyuh melanda tiada habisnya.
Tatkala Leng Ping-ji sudah makin keteter dan tampaknya sudah tak tahan lagi, mendadak permainan pedangnya sama sekali berubah.
Kini serangannya berubah menjadi aneh sekali, bahkan hawa dingin yang terpancar keluar dari ujung pedangnya makin lama semakin tebal, rupanya ia telah mengeluarkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat.
Sejak mempelajari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, kali ini merupakan kedua kalinya Leng Ping-ji mempergunakankepandaian itu untuk, bertarung, pada mulanya ia masih kurang begitu lancar, tapi lambat laun makin lancar dan makin lincah, gerakannya benar-benar menyerupai aliran sungai es.
Kadang kala sekilas pandang jurus serangan yang tampaknya sangat sederhana, tahu-tahu di dalamnya disertakan tenaga serangan yang mahadahsyat, membuat orang tak dapat menduga.
Tiap kali serangannya tiba, tampak cahaya tajam berkilauan, hawa pedang menyelimuti angkasa, toya bambu hijau Tay-kiat Hoatsu segera terkurung rapat-rapat.
Di delapan penjuru hampir semuanya merupakan bayangan tubuh Leng Ping-ji, tak sampai separuh batang hio, dari bertahan Leng Ping-ji menjadi pihak menyerang, dari posisi di bawah angin berubah menjadi seimbang, malah kemudian di atas angin.
Pada mulanya Leng Ping-ji menyerang dengan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, tapi tak mampu mengalahkan Tay-kiat Hoatsu, hal ini bukan disebabkan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat tak bisa mengalahkan Peng-coan-kiam-hoat, sebaliknya karena terdapat alasan lain di balik kesemuanya itu.
Pertama, Tay-kiat Hoatsu pernah menyaksikan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, sekali pun tidak hafal dengan kelihayan serangan tersebut, namun sebagai seorang yang mempunyai ilmu yang dalam, sudah barang tentu dia merasa jauh lebih gampang menghadapi ilmu pedang yang pernah dilihat daripada yang belum pernah dilihatnya.
Ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat belum pernah dilihat olehnya, tiap jurus yang dipergunakan Leng Ping-ji tak bisa diduga olehnya, kadang kala sebuah jurus serangan yangkelihatannya sederhana, sewaktu akan dihadapi ternyata ber-ubah menjadi lihay sekali.
Kedua, pedang Peng-pok-han-kong kiam memang harus dikombinasikan dengan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat baru dapat memperlihatkan kehebatannya.
Hawa dingin yang memancar keluar dari ujung pedang tersebut makin lama semakin tebal kendatipun Tay-kiat Hoatsu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, lama-kelamaan ia merasa tubuhnya bagaikan terperosok ke dalam gua salju, hampir saja tak sanggup untuk menahan diri.
Dalam keadaan apa boleh buat» terpaksa dia harus melawan jurus-jurus serangan dari Leng Ping-ji sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa dingin yang kian lama kian merasuk ke dalam tulang sumsumnya.
Sebenarnya dia lebih tangguh dalam hal tenaga dalam dari Leng Ping-ji tapi karena harus membagi tenaga dalamnya, otomatis ia menderita kerugian yang besar sekali.
Untung saja tenaga dalam Liong-siu-kang miliknya bisa digunakan untuk bertarung dalam jangka waktu yang cukup lama, apalagi toya Cing-tiok-cang serta bokor emasnya masih terhitung benda-benda mestika dari dunia persilatan, dalam keadaan terburu-buru seperti memang agak sulit buat Leng Ping-ji untuk mengalahkan dirinya.
Berjumpa Lagi Setelah kehilangan jejak Tay-kiat Hoatsu, dengan penasaran Ki See-kiat berusaha mencari ke sana kemari, mendadak ia mendengar suara beradunya senjata tajam lamat-lamat berkumandang datang dari kejauhan sana.Dengan keheranan dia lantas berpikir.
"Heran, siapa yang sedang bertempur di dalam selat ini? Jangan-jangan aku telah salah dengar?"
Hampir saja dia mencurigai hal itu sebagai suara aneh yang pernah didengar dalam Kota Iblis dulu, tapi jelas suara itu merupakan suara benturan senjata tajam….
Keadaan pemuda itu sekarang ibarat seseorang yang tersesat di tengah gurun pasir, mendadak dari kejauhan sana ia menemukan ada sumber air, tapi dia pun takut hal itu hanya fatamorgana belaka.
Menelusuri sumber suara itu, akhirnya dia berhasil menemukan tempat di mana Leng Ping-ji sedang bertarung melawan Tay-kiat Hoatsu.
Kalau tadi ia tak berani mempercayai telinga sendiri, maka sekarang dia tak berani mempercayai mata sendiri Dia mengucak-ucak matanya, lalu termangu-mangu sesaat, akhirnya dia lantas menjerit keras.
"Leng lihiap… Leng lihiap… kenapa kau… kau bisa sampai di sini?"
Waktu itu, Leng Ping-ji sedang menggenggam segumpal peluru inti es dan disambitkan ke tubuh Tay-kiat Hoatsu; di mana peluru es itu menyambar lewat, hawa dingin segera memancar keluar bagaikan sebuah jaring yang tebal.
Dalam terkejutnya Tay-kiat Hoatsu sama sekali tidak menyangka kalau peluru inti es tersebut sebenarnya bukan senjata rahasia sembarangan, serta merta dia mengangkat bokor emas yang ada besi semberaninya itu ke atas, maksudnya dia hendak mengisap senjata rahasia tersebut ke dalam bokor.Seandainya tidak ditangkap mungkin keadaannya jauh lebih baik, siapa tahu begitu ditahan kontan saja peluru inti es itu meletup, hawa dingin yang mencengkam badan seketika itu juga menyelimuti seluruh angkasa, dalam waktu singkat ada selapis benda bagaikan jaring tidak berwujud menyelimuti angkasa, keampuhan peluru inti es itu pun otomatis berubah menjadi lebih kuat dan cepat Dalam waktu singkat Tay-kiat Hoatsu merasakan seluruh badannya menjadi kaku, darah yang mengalir di dalam tubuhnya seakan beku.
Sadarlah pendeta itu, bila pertarungan di lanjutkan niscaya dia akan dibekuk lawan, menggunakan kesempatan itu ketika tubuhnya masih bisa bertahan, maka cepat-cepat dia menggigit lidahnya keras-keras, kemudian mengerahkan segenap sisa tenaga dalam yang dimilikinya ke ujung toya, setelah itu dibabatkannya ke depan keras-keras.
Bersama itu juga, bokor emas yang berada di tangan kirinya langsung dibabatkan ke wajah Leng Ping-ji.
Tubrukan kalap yang dilancarkannya ini menggunakan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya, me-nang atau kalah semuanya tergantung dari serangan ini, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.
Ki See-kiat yang menyaksikan kejadian itu, dengan gugup segera berteriak keras.
"Peng-hoo-to-kwa (Sungai Es Membentang Lebar), Hui-pau-ciau-liu (Air Terjun Berarus Deras)!"
Kedua jurus serangan yang diteriakkan ini merupakan dua jurus sakti dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat untuk menghadapi serangan tangguh lawan.Baru selesai dia berseru, betul juga, Leng Ping-ji telah menggunakan kedua jurus dari Peng-coan-kiam-hoat itu untuk menghadapinya.
Ki See-kiat menghembuskan napas lega, pikirnya kemudian.
"Walaupun kedua jurus serangan ini tidak memiliki kehebatan seperti apa yang diukir Kui Hoa-seng tayhiap di atas dinding batu, namun untuk menghadapi serangan tangguh dari Tay-kiat, aku yakin masih lebih dari cukup…."
Ketika ingatan tersebut melintas lewat, tampak toya bambu milik Tay-kiat Hoatsu benar-benar sudah terlepas dari cekalan, sementara bokor emas yaag disambitkan ke arah Leng Ping-ji juga tidak mengena, malah terguling ke bawah tebing.
Pucat pias paras Tay-kiat Hoatsu, serunya kemudian.
"Ki See-kiat; bunuhlah aku!"
Ki See-kiat tidak menanggapi ucapan itu, sebaliknya berkata.
"Leng lihiap, harap kau suka memandang mukaku, lepaskan toa-hwesio ini sebab aku telah meluluskan permintaan dari seorang sahabatku untuk tidak membunuhnya."
Ternyata ia sudah teringat janjinya kepada Nyo Yan, bersamaan itu juga dia pun teringat hubungan antara Nyo Yan dengan Leng Ping-ji.
Cuma pada saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan persoalan itu, maka untuk sementara waktu dia merahasiakan nama Nyo Yan.
Leng Ping-ji sendiri, walaupun tidak mempunyai kesan baik terhadap Tay-kiat Hoatsu, namun pertama, karena perguruan mereka mempunyai hubungan yang erat, kedua, Tay-kiat Hoatsu juga bukan termasuk seorang manusia laknat yangbanyak melakukan kejahatan, maka ia tak berniat untuk membinasakan dirinya.
Itulah sebabnya setelah mendengar perkataan Ki See-kiat, dia lantas menyarungkan kembali pedang Peng-pok-han-kong-kiam, setelah itu ujarnya dingin.
"Kini kau pun tak usah membantu aku lagi, memandang di atas wajah Ki siauhiap, kuampuni jiwamu."
Agaknya Tay-kiat Hoatsu sama sekali tidak menyangka kalau Ki See-kiat bakal memintakan ampun baginya, dengan cepat ia memungut kembali toya bambu dan bokor emas itu, kemudian sambil memberi hormat kepada Ki See-kiat ujarnya.
"Budi kebaikan dari sicu ini akan lolap ingat terus."
Entah apa arti dari ucapan tersebut, begitu selesai berkata ia lantas beranjak pergi.
Ki See-kiat merasa gembira bukan kepalang setelah berjumpa dengan kekasih hatinya, waktu itu, ia sudah tak sempat lagi untuk mendalami maksud ucapan dari Tay-kiat Hoatsu, dengan cepat ia maju untuk bersua dengan Leng Ping-ji.
Perjumpaan yang tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaan mereka berdua, untuk sesaat lamanya sepasang muda-mudi ini tak tahu apa yang mesti dibicarakan.
Selang sesaat, Ki See-kiat baru berkata.
"Leng lihiap, aku sedang berangkat ke Lor Anki untuk mencarimu, tak nyana kau sudah datang kemari duluan."
"Aku juga khusus datang kemari untuk mencarimu,"
Kata Leng Ping-ji cepat. Tapi selesai berkata, merah jengah selembar wajahnya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku berada di sini?"
Tanya Ki See-kiat kemudian. Leng Ping-ji tertegun, pikirnya di hati, ‘Jangan-jangan dia belum bertemu dengan Nyo Yan?"
Berpikir begitu, dia lantas berkata.
"Beri tahu lebih dahulu kepadaku, dari mana kau bisa tahu kalau mencari aku harus pergi ke Lor Anki?"
"Panjang sekali ceritanya…."
"Baik, kalau memang panjang ceritanya, harus kau mulai dari depan."
"Aah, betul, aku belum menyampaikan selamat kepadamu. Barusan, terima kasih banyak atas petunjukmu, tentunya kau telah berhasil mendapatkan kitab pusaka peninggalan Kui Hoa-seng dalam Kota Iblis bukan? Bagaimana kalau kau bercerita mulai dari sini saja?"
Perlu diketahui, sejak terjun ke dalam dunia persilatan, Leng Ping-ji sudah dua kali menderita pukulan batin yang amat berat, pertama adalah pengkhianatan Toan Kiam ceng atas cintanya, kedua adalah percobaan pembunuhan yang dilakukan "Nyo Yan", pemuda yang telah dianggap sebagai saudara sendiri itu.
Terhadap Toan Kiam-ceng, dia boleh dibilang sudah putus asa, sedangkan terhadap Nyo Yan, karena kejadian ini berlangsung belum lama berselang, maka dia lebih sedih lagi.
Justru karena dia takut di atas lukanya yang baru ditambah lagi luka yang lebih dalam, maka pada saat ini dia benar-benar takut menanyakan musibah yang menyangkut diri Ki See-kiat dan Nyo Yan, sekalipun hal ini mungkin tidak dapat dihindari lagi, dia pun tak ingin menyinggungnya lebih dulu.Ki See-kiat sebenarnya ingin menceritakan kalau ia telah bertemu dengan Nyo Yan, tapi ketika teringat olehnya jika kisah ini tidak dimulai dari awal mungkin duduk persoalan jadi kabur, selain dari itu dia pun ingin menyinggung "berita gembira"
Ini paling belakang sehingga menggirangkan hati Leng Ping-ji, maka dia pun mengubah rencananya semula.
Menuruti permintaan dari Leng Ping-ji, ia lantas mengisahkan dulu pengalamannya ketika berada di Kota Iblis.
"Jikalau dibicarakan kembali, sepantasnya kuucapkan terima kasih kepadamu atas petunjuk dua tahun berselang, dari bencana aku telah memperoleh rejeki dalam Kota Iblis, seperti yang kau katakan, aku betul-betul berjodoh dengan dewa."
Secara ringkas ia lantas bercerita bagaimana ia bertemu dengan Ghasam Hoatsu dalam gua es, bagaimana mencari simhoat tenaga dalam Peng coan kiam hoat peninggalan Kui Hoa-seng suami istri serta bagaimana ia meloloskan, akibat gempa bumi, setelah lolos, bagaimana bertemu dengan To Kian-kong, Lian Kian pei sertat Tay kiat Hoatsu.
Sebagai akhir cerita, ia berkata.
"Leng lihiap, sebetulnya ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat merupakan hak dari perguruanmu, apalagi sekarang kau telah mendapat pedang Peng-pok-han-kong-kiam, sudah sewajarnya bila ilmu pedang tersebut kukembalikan kepadamu."
"Ilmu pedang itu kau dapatkan dengan taruhan nyawa, mana boleh kuterima dengan begitu saja?"
"Seandainya kau tidak menyelamatkan jiwaku dua tahun berselang aku pasti sudah mati di Kota Iblis mana mungkin aku mendapat semua ilmu tersebut? Leng lihiap, aku rasa kitatak usah berpandangan sempit-apalah gunanya sungkan-sungkan?"
"Baik,"
Ucap Leng Ping-ji sambit tertawa.
"kalau memang begitu,aku minta kau jangan sungkan-sungkan lagi kepadaku."
Sepatah kata Leng Ping-ji ternyata memancing diungkapkannya perasaan pemuda itu, hal mana benar-benar jauh di luar dugaannya.
Begitu mengetahui bagaimana perasaan kagum dan cinta Ki See-kiat kepadanya, kontan saja gadis ini merasakan jantungnya berdebar keras, ya girang ya kaget, ya manis….
Buru-buru tukasnya.
"Baik, kalau begitu akan kupanggil dirimu Ki toako, sedang kau sebut namaku saja. Ki toako, terima kasih banyak atas maksud baikmu, soal ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat kita bicarakan belakangan saja, apakah kisahmu telah selesai?"
Sebenarnya Ki See-kiat hendak mengusulkan agar mereka mengikat diri sebagai saudara saja, tapi berbicara sampai pada akhirnya dia menjadi ragu-ragu, ia takut permintaannya ditolak oleh Leng Ping-ji hingga dirinya menjadi rikuh.
Siapa tahu Leng Ping-ji telah menyebut "toako"
Lebih dulu kepadanya, betul mereka belum angkat saudara secara resmi, tapi boleh dikatakan harapannya telah terkabul.
Terbayang kembali sikap dingin Leng Ping-ji pada dua tahun berselang, ketika mengetahui ia bersedia memanggil "toako"
Kepadanya, pemuda ini merasa hatinya menjadi hangat Pikirnya kemudian.
"Leng Ping-ji memang tak malu disebut sebagai seorang gadis yang cerdas, seperti namanya, ia betul-betul pintar sekali. Sudah pasti ia dapat menduga hatiku, untuk menghindari kesan yang terlalu mendalam maka dia menukas perkataanku."
Padahal masih ada sebuah alasan lain yang sama sekali tak diduga olehnya, perlu diketahui soal umur bagi gadis adalah suatu rahasia besar, sepintas lalu Leng Ping-ji tampak masih lebih muda dibandingkan Ki See-kiat padahal umurnya satu tahun lebih tua dari pemuda ini, sehingga bila harus sungguh-sungguh mengangkat saudara, dia seharusnya disebut sebagai enci.
Cuma, walaupun dalam hati Leng Ping-ji penuh dengan perasaan cinta dia pun merasak agak kecewa, katanya kemudian.
"Ooh… rupanya kau berhasil memperoleh kabar tentang Toan Kiam-ceng dari mulut To Kian-kong, oleh karena itu lantas menebak kalau aku pun kemungkinan besar juga berada di Lor Anki."
Ki See-kiat segera merasakan kalau sikapnya itu agak istimewa, sahutnya dengan cepat.
"Betul. Eeeh… apa yang sedang kau pikirkan? Kau anggap siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadaku?"
Sebetulnya Leng Ping-ji hendak berkata dingin.
"Aku masih mengira kau telah berjumpa dengan Nyo Yan, maka hal ini baru kau ketahui."
Sebab dia tahu, walaupun Nyo Yan tak akan berbicara jujur kepada Ki See-kiat, namun besar kemungkinannya dia memperoleh keterangan tentang dirinya dari mulut orang itu.
Siapa tahu kalau dia dan Toan Kiam-ceng beserta komplotannya, memang sengaja mengatur jebakan untuk memancing Ki See-kiat agar datang ke Lor Anki?
Atau mungkin Ki See-kiat telah berhasil membongkar rencana busuk mereka itu dan memaksa dia untuk memberitahukan kabar berita tentang dirinya.Tapi sekarang terbukti kalau semua dugaannya itu meleset tentu saja ia pun tak punya keberanian untuk membeberkan dugaannya semula.
"Aah… tidak apa-apa,"
Sahut Leng Ping-ji cepat.
"Aku hanya ingin tahu, selama berada dalam selat Tong-ku-si-sia ini, kau berjumpa dengan siapa lagi…?"
"Sekalipun tidak kau tanyakan, aku pun akan memberitahukannya kepadamu. Nona Leng, kau telah bertemu dengan Nyo Yan?"
Akhirnya nama Nyo Yan disebutkan juga. Leng Ping-ji segera merasakan hatinya bergetar keras, sahutnya agak tergagap.
"Bee… belum. Kenapa kau… kau berkata begini? Tampaknya kau… kau telah bertemu dengannya?"
"Benar, hal ini baru terjadi pada dua hari berselang dan di dalam selat Tong-ku-si-sia ini juga Bukan Cuma telah bersua dengannya, malah telah bertarung dengannya!1"
"Lantas di manakah dia sekarang?"
Seru Leng Ping-ji dengan suara gemetar.
"apakah kau… telah membunuhnya?"
Dalam jalan pikirannya, hanya ada dua kemungkinan apabila Ki See-kiat sampai berjumpa dengan Nyo Yan.
Pertama, Ki See-kiat tertipu oleh akal muslihat Nyo Yan, tapi seandainya sampai begini, maka seharusnya ia berada bersama Nyo Yan.
Kedua, dia akan mengalami kejadian yang dialaminya, gagal mencelakai orangnya, Nyo Yan malah kena dicelakai sendiri.
Ketika Ki See-kiat berhasil membongkar maksud jahat orang itu, tidak nanti dia akan mengampuni orang itu.Kini Ki See-kiat mengatakan kalau dia telah bertemu Nyo Yan, tapi tidak melakukan perjalanan bersama, tentu saja kemungkinan kedua yang terjadi.
Sekalipun dia merasa amat benci dan sedih karena Nyo Yan telah melakukan perbuatan yang sesatt tapi bagaimanapun ia tak tega mendengar kabar buruk tentang orang she Nyo itu.
Sementara dia masih merasa kaget, gugup tak tenang, terdengar Ki See-kiat telah tertawa terbahak-bahak.
Tanpa terasa tersirap juga hawa marah dalam hati Leng Ping Ji, segera tegurnya.
"Hei, siapa yang kau tertawakan?"
Ki See-kiat tersenyum, sahurnya.
"Jangan toh tak beralasan membunuhnya, sekalipun ingin membunuhnya juga tak mampu kulakukan!"
"Mengapa?"
"Ilmu silat yang dia miliki jauh lebih hebat dari kepandaianku, masih untung dia tidak membunuh aku, mana mungkin aku bisa membunuhnya?"
Ucapan ini membuat Leng Ping-ji dengan cepat menjadi tercengang dan bercampur tidak habis mengerti.
"Apa? Ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih hebat dari ilmu silatmu?"
Serunya. Ki See-kiat tertawa, katanya.
"Aku telah terlibat langsung dalam suatu pertarungan sengit melawannya, masa aku berbohong? Kalau dibicarakan benar-benar memalukan sekali, kendatipun aku berhasil mempelajari ilmu Liong-siu-kang, lalu belajar pula ilmu pedang Pcng-coan-kiam-hoat, tapi berbicara soal tenaga dalam maupun ilmu pedang, aku masih kalah jauh bila dibandingkan dengan dirinya. Tak heran kalau kau tidak percaya, seandainya aku tidak tahu dengan pasti akan dirinya,aku pun tidak akan percaya kalau Nyo Yan yang baru berusia delapan belas tahun bisa memiliki ilmu silat yang begitu bagus"
Leng Ping-ji menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Bagaimanapun juga kau bercerita, aku tetap tidak percaya, tak mungkin dia.. dia… bisa memiliki ilmu silat sebagus itu."
"Mengapa kau begitu yakin?"
"Sebab aku pun pernah bertarung melawannya."
Kali ini giliran Ki See-kiat yang tercengang.
"Mengapa kau bertarung melawannya? Apakah dia pun secara sengaja merahasiakan identitasnya?"
"Tidak, ia tidak merahasiakan apa-apa, begitu dia kena kubekuk, dengan gugup segera mengatakan bahwa dirinya adalah Nyo Yan."
"Hei, sebenarnya apa yang telah terjadi? Nona Leng, dapatkah kau memberitahukan kepadaku kejadian yang telah kau alami itu?"
Ketika Ki See-kiat mendengar apa yang dialami Leng Ping-ji, kontan saja dia berseru.
"Kalau begini kau telah berjumpa dengan Nyo Yan gadungan!"
"Gadungan?"
Sikap Leng Ping-ji kelihatan amat gugup.
"Sejak kecil Nyo Yan berada bersamaku, aku pun tidak menemukan gejala-gejala yang aneh pada dirinya, aku juga tak pernah bertemu dengan orang itu, mana mungkin dia bisa palsu."
"Sederhana sekali,"
Jawab Ki See-kiat sambil tertawa.
"Aku telah bertemu dengan Nyo Yan yang asli, maka orang yang kau jumpai tentu saja yang gadungan."
"Dari mana kau bisa tahu kalau Nyo Yan yang kau jumpai itu adalah Nyo Yan asli bukan gadungan? Atas dasar apakah kau berani memastikan kalau dia adalah Nyo Yan asli?"
"Aku sama sekali tidak bertanya apakah dia mempunyai bukti yang menunjukkan bahwa dia itu asli."
"Kalau begitu, kau hanya berdasarkan pengakuannya saja? Karena dia mengatakan dirinya adalah Nyo Yan asli maka kau lantas mempercayainya seratus persen?"
"Dia pun tak pernah mengatakan kalau dirinya adalah Nyo Yan!"
"Lantas dari mana kau bisa tahu dia adalah Nyo Yan?"
"Tay-kiat Hoatsu yang barusan kau hajar kabur itulah yang memberitahukan kepadaku."
Sekarang dia baru berkesempatan untuk menceritakan kepada Leng Ping-ji bagaimana dia bertemu dengan Nyo Yan serta bagaimana ia mendapat tahu keadaan yang sebenarnya dari Tay-kiat Hoatsu.
Leng Ping-ji masih tetap setengah percaya setengah tidak, katanya.
"Nyo Yan yang kujumpai itu mempunyai ciri khas yang bisa dijadikan sebagai bukti. Di atas lengan kirinya terhadap tahi lalat merah, lagi pula dia pun bisa menceritakan semua kejadian sewaktu masih kecil dulu dengan jelas dan benar."
Kembali Ki See-kiat tertawa, ia berkata.
"Sebagai komplotan Toan Kiam-ceng, sudah bar banyak mengetahui segala sesuao tentang Nyo Yan, apakah Toai Kiam-ceng tak dapat memberitahukan hal ini kepadanya? Lagi pula membuat sebuah tahi lalat di atas lengan manusia juga bukan suatu pekerjaan yang terlampau sukar."
Leng Ping-ji bungkam dalam seribu bahasa, rupanya dia sedang memikirkan persoalan ini dengan seksama. Kembali Ki See-kiat berkata lebih jauh.
"Kau bilang kau tidak berhasil menemukan titik kelemahan apa-apa, aku rasa hal ini belum tentu benar. Coba pikirkan lagi dengan seksama, misalnya saja meski raut wajah mereka berdua mirip, tentunya berbeda dalam watak bukan?"
Leng Ping-ji segera manggut-manggut.
"Benar, watak Nyo Yan yang kujumpai itu sama sekali tidak mirip dengan watak Nyo Yan semasa masih kecil dulu, bahkan pada hakikatnya bagaikan dua orang yang berbeda saja."
"Nah itulah dia,"
Seru Ki See-kiat sambil tertawa.
"Masa bukti ini kurang jelas? Orang bilang, alam semesta bisa diubah, watak manusia sukar diubah. Walaupun ucapan ini belum tentu benar seratus persen, toh tiada salahnya juga? Sekalipun dia sampai tersesat dan menjadi merah karena dekat gincu, menjadi hitam karena dekat unta, namun watak aslinya yang halus dan berbudi tak nanti bisa berubah menjadi begitu jahat, buas dan licik. Seandainya dia adalah Nyo Yan yang sebenarnya, mana mungkin dia akan mempergunakan pelbagai akal muslihat untuk mencelakai dirimu?"
Teori tersebut pernah diterangkan Lomana kepada Leng Ping-ji, cuma saja tidak sejelas penjelasan Ki See-kiat sekarang ini.
Leng Ping-ji bukanlah seorang gadis yang tolol, pada mulanya dia percaya kalau orang itu adalah Nyo Yan meski hatinya masih ragu, karena hal ini terjadi di kala hatinya sedang rindu kepada pemuda itu.Tapi sekarang, setelah kabut kebingungan tersebut disingkap oleh Ki See-kiat, mau tak mau dia harus mempercayai juga kebenaran dari ucapan tersebut Setelah menghela napas panjang, katanya.
"Padahal aku pun berharap semoga Nyo Yan yang kutemui itu adalah Nyo Yan gadungan. Seandainya kau memang benar-benar telah bertemu dengan Nyo Yan asli, hal ini lebih baik lagi. Tapi, masih ada satu hal yang mencurigakan hatiku…."
"Kecurigaan apa maksudmu?"
"Menurut pendapatmu, dia sudah tahu kalau kau adalah kakak misannya…?"
"Benar."
"Dia juga tahu kalau kau sedang berusaha keras untuk menemukan dirinya…?"
"Ya, kalau dibicarakan kembali sungguh menggelikan, aku malah mencari kabar tentang Nyo Yan dari mulutnya."
"Lantas mengapa dia tak mau memperkenalkan diri kepadamu?"
"Aku sendiri pun kurang mengerti. Sebenarnya aku ingin mengajaknya untuk melakukan perjalanan bersama, siapa tahu dia meninggalkan aku secara tiba-tiba."
"Apakah dia tahu kalau aku pun sedang mencarinya?"
"Aku telah memberitahukan hal ini kepadanya."
Leng Ping-ji segera menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu, sampai lama sekali belum juga berbicara. Ki See-kiat segera berkata lagi.
"Apakah lantaran alasan ini, maka kau lantas menaruh curiga kalau dia bukan Nyo Yan? Ehmm… aku teringat akan satu hal."
"Soal apa?"
"Aku teringat kembali dengan mimik wajahnya ketika itu, sewaktu dia tahu kalau kau telah mencarinya selama tujuh tahun, paras mukanya agak berubah, seolah-olah merasa terharu sekali."
"Menurut pendapatmu, mengapa dia bisa begitu emosi?" ‘Tentu saja dia terharu karena persaudaraanmu yang begitu tebal dan mendalam. Ehmm… aku berani memastikan kalau dia adalah Nyo Yan asli tak lain karena alasan ini pula. Tidak seperti Nyo Yan gadungan yang kau jumpai itu, bukan berterima kasih malah hendak mencelakai dirimu. Apakah masih ada sesuatu yang kau curigai? "
Tiba-tiba Leng Ping-ji menghela napas panjang, katanya.
"Aku sudah tidak menaruh curiga lagi kalau kau memang telah berjumpa dengan Nyo Yan asli. Cuma ada satu hal yang mungkin salah kau tebak."
"Salah tebak dalam soal apa?"
"Dia bukan sedang berterima kasih kepadaku, melainkan sedang membenci diriku."
Ki See-kiat sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Aaah, hal ini mana mungkin bisa terjadi!"
"Bukankah engkau telah menceritakan rahasia asal-usulnya bukan?"
"Pada waktu itu aku sama sekali tidak tahu kalau dia adalah Nyo Yan, maka aku pun berkata segala sesuatunya tanpa bermaksud untuk mengelabuinya."
Apakah kau menganggap perbuatanku ini salah? Aku rasa, kita toh tak dapat mengelabuinya sepanjang masa, cepat atau lambat rahasia ini toh akhirnya akan diungkap juga? "
Leng Ping-ji menghela napas panjang.
"Aaai, kau tak mengerti tentang Nyo Yan, sejak kecil dia sudah merupakan seorang bocah yang mudah emosi, kadang kala pikirannya sempit Setelah dia mengetahui asal-usulnya, sudah pasti akan marah padaku karena aku telah merahasiakan asal-usulnya itu. Padahal bukannya aku tak ingin memberitahukan hal ini kepadanya, aku bermaksud untuk menanti tibanya saat yang tepat dan baik baru menyampaikan hai ini kepadanya. Dulu, kami pun pernah berpikir, ada baiknya bila ayah angkatnya yang memberitahukan soal itu kepadanya, kini secara tiba-tiba ia mengetahui asal-usul dirinya dari mulutmu, bisa dibayangkan sampai di manakah hebatnya pukulan batin itu. Dan apa yang kau katakan padanya mungkin sekali…."
Berbicara sampai di situ agaknya dia merasa sulit untuk meneruskan, maka perkataan itu menjadi terhenti dan tidak dilanjutkan lebih jauh lagi.
"Mungkin kenapa?"
Cepat Ki See-kiat bertanya.
"Aah tidak apa-apa. Peristiwa ini berlangsung terlalu mendadak, kau pun tak tahu kalau dia adalah Nyo Yan, tentu saja aku tidak menyalahkan dirimu mengapa tidak menahan-nya. Aku rasa, persoalan yang harus kita rundingkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menemukan dirinya. Sedang tentang perkataan yang telah kau bicarakan dengannya, aku sama sekali tak ingin tahu."
Agaknya dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan jejak Nyo Yan, maka berbicara sampai disitu dia tidak berkata apa-apa lagi.
Ki See-kiat sendiri pun tidak berkata apa-apa.
Untuk sesaat lamanya mereka berdoa seperti kurang leluasa.
Setelah suasana menjadi hening untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba Ki See-kiat berkata lagi.
"Nona Leng, sikapmu dengan dua tahun berselang berbeda sekali…."
"Bagaimana bedanya?"
"Dua tahun berselang, aku rasa kau tak akan berbicara ragu-ragu denganku seperti apa yang kau lakukan sekarang."
Mendengar perkataan itu, Leng Ping-ji segera tertawa cekikikan.
"Kalau ingin berbicara, tak usah berputar-putar lagi,"
Serunya.
"Bukankah kau hendak mengatakan bahwa sikapku kepadamu pada dua tahun berselang sama sekali tak sungkan-sungkan?"
"Dua tahun berselang, mungkin kau masih menaruh beberapa bagian rasa permusuhan kepadaku, tapi sekarang kau bersedia menganggapku sebagai sahabat, tentu saja aku merasa gembira sekali akan perubahan ini. Cuma, dalam persoalan ini aku lebih suka kalau kau bersikap seperti dua tahun berselang, tanpa sungkan-sungkan untuk menuding di mana letak kesalahanku itu. Nona Leng, lebih baik kita lanjutkan pembicaraan tentang pokok persoalan semula saja, apakah kau takut aku telah salah mengucapkan sesuatu kepada Nyo Yan sehingga menyedihkan hatinya?"
"Juga tidak seluruhnya karena masalah ini."
Walaupun tidak diungkap secara terus terang, namun maksud dari perkataan itu sudah amat jelas, yakni dia mengakui akan kebenaran dari perkataan tersebut.
Ki Sec-kiat tak dapat menahan diri lagi, dia segera menyahut.
"Aku tak lebih hanya memberitahukan sedikit tentang kenyataan."
"Terhadap suatu kenyataan yang sama, belum tentu mempunyai pandangan yang sama pula. Lagi pula kenyataan yang kau ketahui belum tentu sama dengan kenyataan yang kuketahui, semisalnya saja…."
"Misalnya apa?"
"Misalnya kasus tentang ibunya dengan Beng tayhiap, kau anggap Beng tayhiap…."
"Bisa jadi Beng Goan-cau adalah seorang enghiong, seorang ksatria yang sejati, tapi bagaimanapun juga, dalam peristiwa itu toh tak bisa kita katakan kalau dia yang benar?"
"Mengapa?"
"Bagaimanapun juga, tidak seharusnya dia melakukan hubungan gelap dengan seorang perempuan yang telah bersuami."
"Apakah ibumu yang memberitahukan segala sesuatu tentang masalah mereka kepadamu?"
"Aku percaya ibuku tak akan membohongiku."
"Tapi apa yang kuketahui justru sama sekali berbeda dengan apa yang kau ketahui."
"Bagaimana bedanya?"
"Menurut apa yang kuketahui, Hun Ci-lo (ibu Nyo Yan) sama sekali tidak berbuat serong dengan lelaki lain, sebabjauh sebelum dia kenal dengan engku-mu, Nyo Bok, sebe-tulnya dia dengan Beng Goan-cau sudah merupakan sepasang kekasih yang saling mencintai."
"Lantas, apa sebabnya dia bisa kawin dengan engku-ku?"
"Beberapa hari sebelum Beng Goan-cau kawin dengannya, tiba-tiba ia mendapat perintah dari gurunya untuk berangkat ke Siau-kim-jwan. Kemudian kabar tentang musibah yang menimpanya di Siau-kim-jwan tersiar keluar, padahal waktu itu Hun Ci-lo sudah hamil, pada saat itulah engku-mu muncul dengan kedok sebagai seorang pendekar sejati, dengan tujuan untuk melindungi nama baiknya, ia meminang dirinya. Jadi kenyataan yang sebetulnya, Hun Ci-lo bisa kawin dengan engku-mu lantaran tertipu. Kemudian dia baru tahu kalau berita yang mengatakan bahwa Beng Goan-cau tewas dalam pertempuran di Siau-kim-jwan sesungguhnya hanya kabar bohong belaka."
"Dari mana kau bisa tahu tentang semua kejadian ini?"
"Ayah angkat Nyo Yan, Miau Tiang-hong, Miau tayhiap, yang memberitahukan kepadaku. Aku percaya Miau tayhiap tak nanti akan membohongi diriku dengan cerita palsu."
Ki See-kiat bungkam seribu bahasa, sesaat kemudian ia baru berkata.
"Aku rasa ibuku juga tak akan sengaja mengarang cerita bohong untuk membohongi diriku, mungkin saja dia tidak tahu tentang semua kenyataan tersebut. Cuma, kalau kudengar dari nada pembicaraanmu tadi, tampaknya kau merasa tak puas terhadap engku-ku itu?"
"Bukan cuma tidak puas saja, dalam pandanganku, engku-mu itu hakikatnya bukan manusia segolongan dengan kita!"
"Atas dasar apakah kau berkata demikian?"
"Apakah kau tidak tahu kalau dia adalah kuku garudanya pemerintah Ceng?"
Dia lantas membeberkan beberapa macam perbuatan jahat yang dilakukan Nyo Bok selama ini kepada Ki See-kiat. Selesai berkisah, dia pun bertanya lagi.
"Apakah ibumu tak memberitahukan tentang beberapa macam peristiwa itu padamu?"
"Belum,"
Sahut Ki See-kiat lirih, mukanya sampai ke telinga telah merah padam karena jengah. Lewat sesaat kemudian, ia baru mendongakkan kepalanya sembari berkata lirih.
"Aku merasa menyesal sekali, Kumerasa tak pintas menjadi sahabatmu."
Leng Peng-ji segera tertawa lebar, katanya.
"Nyo Yan yang merupakan putra Nyo Bok saja kuanggap sebagai adikku sendiri apalagi kau hanya keponakannya? Engkau tahu sucow-ku bahkan telah meminta Nyo Yan sebagai muridnya! Perbuatan salah yang dilakukan sang ayah masa harus ditanggung oleh putranya? Ehm… lebih baik kita bicarakan soal Nyo Yan saja, man kita rundingkan bagaimana caranya menemukan dirinya kembali? Apa-kah kau tahu, dia telah pergi ke mana?"
Agaknya lega juga perasaan Ki Sce-kiat setelah mendengar perkataan itu, sahutnya.
"Ia telah berangkat meninggalkan aku setelah mendengar dan mulutku kalau Toan Kiam-ceng kemungkinan besar berada di Lor Anki "
Tiba-tiba Leng Ping-ji teringat akan suatu peristiwa, dengan girang dia lantas berseru.
"Aaah. tak salah lagi. sudah pasti dialah orangnya!"
"Siapa? Apa yang telah terjadi?"
"Setelah berhasil menangkap putri kesayangan Lohay, Toan Kiam-ceng berangkai ke Lor Aaki dengan tujuan untuk mengancam Lohay, tapi dihajar hingga kabur oleh seorang pemuda tak dikenai. Waktu itu kami sudah berpikir ke sana kemari tapi gagal untuk menebak siapa orang yang memiliki kepandaian Sakti itu, tetapi setelah dipikirkan kembali sekarang, tidak dapat disangkal lagi, sudah pasti orang itu adalah Nyo Yan."
Ki See-kiat pun turut gembira, katanya pula.
"Benar, dengan ilmu silat yang dimilikinya, bukan sesuatu yang aneh bila ia berhasil mengalahkan Toan Kiam-ceng, ya. sudah pasti dia! Aku telah terkurung selama beberapa hari di dalam selat sempit ini, tak nyana kalau dia telah sampai di Lor Anki."
"Aku sebetulnya hendak menuju ke rumah Lohay untuk mencarimu, tapi berhubung aku tersesat di dalam selat ini dan tak mampu keluar dari sini…."
Agak merah wajah Leng Ping-ji karena jengah, serunya dengan cepat.
"Jika kau tak kenal jalan, biar aku menjadi pemandu jalanmu. Laki perempuan anggota persilatan memang sudah terbiasa melakukan perjalanan bersama, hal ini wajar, tak usah kau begitu serius."
"Baik,"
Sahut Ki Sec-kiat sambil tertawa bodoh.
"aku tak pandai berbicara harap kau jangan marah."
Leng Ping-ji segera tertawa cekikikan.
"Kalau begitu mari kita berangkat, apa lagi yang masih kau pikirkan…?"
"Aku sedang berpikir kembali tentang perkataan yang kau ucapkan pada dua tahun berselang."
"Apa yang telah kukatakan? "
Kenapa aku sudah melupakannya? ""Kau suruh aku pulang saja ke rumah dan tak usah mencari Nyo Yan lagi…."
"Seandainya kau belum bersua dengan Nyo Yan, sekarang pun aku masih berpendapat demikian."
"Apakah kau tak ingin menyaksikan dia mempunyai seorang kakak misan semacam aku?"
Ucap Ki See-kiat tersipu-sipu.
"Bukan begitu. Aku tak ingin menyaksikan dia mengikutimu pulang ke rumahmu."
Sekalipun kata-kata yang lebih mendalam tidak sampai diutarakan keluar, namun Ki See-kiat dapat menebak apa yang dipikirkan oleh gadis tersebut.
Dan persoalan ini justru merupakan persoalan yang paling dia khawatirkan, ia memang tahu kalau Leng Ping-ji merasa sangat tidak puas terhadap engku-nya, tapi soal ini tidak berpengaruh besar baginya.
Tapi, bila dia sampai tak puas terhadap ibunya, maka hal ini besar sekali pengaruhuya.
Cuma kekhawatiran tersebut tidak sampai terlalu berlebihan, setelah dipikirkan kembali apa yang dikatakan Leng Ping-ji, kemudian membayangkan kembali apa yang pernah dikatakan gadis tersebut pada dua tahun berselang, dengan cepat dia mengambil satu kesimpulan, pikirnya kemudian.
"Dia tak ingin menyaksikan aku mengajak Nyo Yan pulang ke rumah pasti tak ingin membiarkan pemuda itu memperoleh didikan dari ibuku. Aaai… ibuku memang tersohor dalam dunia persilatan sebagai Lak-jiu Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) jika di dalam anggapannya, sekalipun ibuku tidak sejahat engku-ku, paling tidak namanya dalam dunia persilatan juga kurang baik. Betul Leng Ping-ji pernah berkata tentang kesalahan ayah tiada sangkut paut dengan anaknya,tapi setiap kali teringat akan kesan jelek Leng Ping-ji terhadap ibunya, tak urung dia merasa sedih juga, sebab kejadian itu justru merupakan bisul di dalam hatinya."
Dalam pada itu, Leng Ping-ji juga sedang berpikir.
"Setelah satu kali berbuat kesalahan, aku tak boleh melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, walaupun Ki See-kiat jauh bila dibandingkan dengan Toan Kiam-ceng, tapi dia pun seorang anak yang amat berbakti,dalam persoalan apa pun dia selalu menuruti perkataan ibunya, mana mungkin aku bisa bergaul dengannya?"
Kedua orang itu masing-masing diliputi oleh masalahnya sendiri, mereka tak tahu kalau ada seorang yang lain sedang menyusun rencana busuk.
Orang itu tak lain adalah Tay-kiat Hoatsu.
Dia bersembunyi di atas bukit yang agak tinggi sambil menguntit dari kejauhan, begitu sudah menemukan jalan ketua, maka dia kabur lebih dahulu dari selat Sempit itu.
Ia pun ingin pergi ke Lor Anki untuk mencari Toan Kiam-ceng, bila rencana pertama gagal, rencana berikutnya akan segera dilaksanakan.
Tentu saja dia sama sekali tidak tahu kalau Toan Kiam-ccng sebetulnya sudah kabur dari situ.
Sedangkan Ki See-kiat dan Leng Ping-ji tak lain hanya bermaksud untuk mencari Nyo Yan.
Lantas, apakah Nyo Yan masih berada di Lor Anki waktu itu?
Waktu itu, Nyo Yan sedang berjalan seorang diri menelusuri padang rumput di Lor Anki.
Kalau Leng Ping-ji sedang merindukan dirinya, maka dia pun sedang merindukan Leng Ping-ji.Betul dalam hatinya timbul perasaan benci kepada Leng Ping-ji, namun rasa benci itu timbul karena ketulusan cinta Leng Ping-ji kepadanya.
Di dalam pandangannya, bagaimanapun jua Leng Ping-ji adalah orang yang paling dia kasihi.
Padang rumput terbentang amat luas, sebuah puncak salju yang menjulang ke angkasa lamat-lamat sudah muncul di depan matanya.
Ke atas puncak salju itulah Nyo Yan hendak mencari Leng Ping-ji.
Padahal dia sama sekali tak tahu kalau sesungguhnya dia sedang menginjak kembali bekas telapak kaki Leng Ping-ji belum lama berselang.
Terkena Jarum Beracun Dari kejauhan terdengar suara nyanyian dari penggembala yang sedang menelusuri padang rumput bersama kerbau dan dombanya, itulah sebuah lagu rakyat yang paling digemari oleh suku Wana.
"Sungai es di puncak suci bagai sungai di langit Dengarlah suara air yang mengalir lirih… Bagaikan tangan lembut gadis yang memetik Donggala Ia bertanya kepada pelancong yang sedang mengembara, apakah masih kau daki bukit bersalju? Kau terjang angin yangkencang? Ooh… pelancong yang mengembara…. Elang di padang rumput pun tidak terbang sepanjang masa…. Kau berjalan dan berjalan selalu…. Sampai tahun berapa baru akan kau hentikan kudamu? "
Bukan untuk pertama kali ini Nyo Yan mendengar nyanyian tersebut, tapi belum pernah dia alami perasaan haru seperti apa yang dialaminya hari ini.
Sebab dia merasa dirinya bagaikan seorang pelancong yang sedang melakukan pengembaraan dalam kehidupannya, dulu sebelum dia mengetahui asal-usul yang sebenarnya, tak pernah perasaan semacam itu terselip dalam perasaannya, tapi sekarang… syair dari lagu itu serasa menyentuh hatinya Tanpa terasa dia memandang penggembala yang membawakan separuh dari lagu rakyat yang belum selesai itu.
"Ooh nona manis Terima kasih banyak atas kemurahan hatimu Sayang aku tak mampu menjawab Menjawab kasih sayang hatimu…. Pernahkah kau saksikan bunga mekar di gurun?..Pernahkah kau lihat sungai es mencair?Kau tak akan melihatnya, tak akan melihatnya Oooh…. Itulah sebabnya pelancong yang mengembara Tak akan pernah menghentikan perjalanannya!"
Tapi ketika ia selesai membawakan lagu rakyat itu, tanpa terasa langkah kakinya juga turut berhenti.
Apakah dia diundang oleh penggembala yang baik hati?
atau terharu oleh nada lagu itu?
Atau karena lelah?
Tidak, semuanya tidak!
Dia hanya merasa tak sanggup untuk melakukan perjalanan lagi.
Tiba-tiba saja dia merasa kepalanya pusing sekali.
Ketika Nyo Yan mencoba untuk mengatur napas, terasa dadanva lamat-lamat menjadi sakit, beberapa buah jalan darah penting seperti Sian-ki-hiat, Yau-kong-hiat, dan Hong-hu-hiat terasa sakit bagaikan ditusuk-tusuk jarum yang tajam.
Dia mencoba untuk melangkah ke depan, namun kakinya bagaikan diberi beban beribu-ribu kati, untuk maju selangkah pun dibutuhkan tenaga yang amat besar sekali, hakikatnya setengah inci pun sudah tak mungkin lagi baginya untuk melangkah.
Diam-diam Nyo Yan tertawa getir di hati, pikirnya.
"Aku masih mengira dapat bertahan sampai di puncak Soat-hong, kini, jangankan pergi ke puncak salju untuk mencari enci Leng, sekalipun hendak menemukan gembala yang membawakan lagu tadi pun mungkin sudah tak mungkin lagi. Aaai… sama sekali tak kusangka kalau senjata rahasia beracun milik Toan Kiam-ceng ternyata hebat dan menakutkan,"
Ternyata di dalam pertarungan yang berlangsung pada malam itu, kendatipun ia berhasil mengalahkan Toan Kiam-ceng, namundia sendiri pun terkena tiga batang jeram beracun milik Toan Kiam-ceng.
Ia memang sedang mencari jejak Toan Kiam-ceng ketika secara kebetulan berhasil memergokinya di atas atap rumah Lohay.
Setelah berhasil mematahkan pedang Toan Kiam-ceng dengan ilmu Kim-kong-ciang yang lihay, sebetulnya dia dapat membunuh atau melukai Toan Kiam-ceng andaikan sebuah pukulan kembali dilancarkan tapi pada detik itulah dia merasa tak tega untuk turun tangan keji, pikirnya di dalam hati.
"Sejahat-jahatnya Toan Kiam-ceng, toh ia telah berkata jujur kepadaku. Dan lagi, dia pula yang mengajar aku membaca dan menulis, aku harus mengampuni selembar jiwanya."
Oleh karena ingatan tersebut, maka serangan kedua tidak jadi dilancarkan, dari suatu bacokan maka tangannya berganti menggunakan ilmu cengkeraman Ki-na-jiu-hoat, maksudnya hanya ilmu silatnya saja yang akan dipunahkan sementara jiwanya biar tetap selamat.
Justru karena ingatan baiknya itulah membuat gerak perubahan dari ilmu Kim-kiong-ciang menjadi Ki-na-jiu-hoat.
maka gerakannya menjadi agak kendor sedikit, hal mana segera dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Toan Kiam-ceng untuk melancarkan serangan balasan.
Senjata rahasia yang dipergunakan Toan Kiam-ceng tak lain adalah senjata rahasia ampuh milik Han Ji-yan tempo hari yang dipakai untuk mencelakai Ghasam Hoatsu… yakni Tok-hu-kim-ciam-liat-yan-tan (Jarum Emas, Kabut Beracun, Peluru Peledak).Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Ghasam Hoatsu pada waktu itu pun tak sanggup untuk menahannya, bisa dibayangkan betapa lihaynya senjata rahasia tersebut.
Seandainya Nyo Yan segera mencari tempat yang sepi untuk mengobati lukanya begitu terhajar senjata rahasia tersebut, mungkin keadaannya masih tidak mengapa, sayang dia tidak mengetahui keli-hayan senjata rahasia tersebut (se-waktu terhajar tiga batang jarum beracun itu, hanya terasa gatal belaka) malahan dia melanjutkan pengejarannya terhadap Toan Kiam-ceng.
Menanti dia merasa tak mungkin bisa menyusulnya, pemuda itu baru berbalik badan siap-siap menuju ke bukit Soat-hong untuk menolong Leng Ping-ji seperti apa yang di-katakan Auwyang Seng.
Ketika dulu Ghasam Hoatsu terkena jarum beracun itu, kemudian kena ditipu oleh Toan Kiam-ceng yang mencekokinya dengan racun yang diakuinya sebagai obat pemunah, dengan susah payah pendeta itu berusaha pulang ke Tibet lewat Kota Iblis, sayang setengah bulan kemudian ia tak mampu melakukan perjalanan lagi, separuh badannya menjadi lumpuh.
Sekarang, bukit Soat-hong yang dituju Nyo Yan berjarak limaratus li.
Seandainya di waktu biasa, dengan kemampuannya paling-paling dalam dua hari saja sudah sampai, tapi sekarang, walau sudah berjalan selama tiga hari, belum sampai separuh jalan yang berhasil ia tempuh malahan akhirnya sama sekali tak mampu untuk melanjutkan perja-lanannya.
Kini suara nyanyian gembala tadi sudah tak terdengar, arah yang dia tempuh kebetulan berlawanan arah dengan jalanyang ditempuh Nyo Yan.
Sekarang, pemuda itu jangan harap bisa memperoleh bantuannya lagi.
Udara makin lama semakin gelap, di padang rumput udara akan panas sekali di siang hari dan dingin menggidikkan badan di kala malam, ketika angin berhembus lewat, tanpa terasa Nyo Yan menjadi kedinginan.
Bukan hanya kedinginan saja, lambat laun separuh badannya menjadi kaku dan mati rasa.
Teringat kembali musibah yang menimpa Ghasam Hoatsu di masa lalu, tanpa terasa Nyo Yan bergidik, pikirnya.
"Mungkinkah aku pun akan mengalami nasib seperti dia? Menjadi setengah lumpuh dan tak sanggup berjalan lagi?"
Tetapi ada satu hal menghibur, hatinya berpikir, Kiam-ceng berhasil kuhajar satu kali, ia pun termakan sebatang senjata rahasia Thian-san-sin-bong milikku, aku yakin luka yang dideritanya tak akan lebih ringan daripada apa yang aku alami sekarang.
Betul aku tidak mampu untuk mendaki bukit Soat-hong, akan tetapi dia pun jangan harap bisa mencelakai enci Leng setibanya di rumah."
Berpikir sampai di situ, hatinya menjadi jauh lebih lega lagi.
Setelah mengetahui bahwa perjalanan tidak mungkin bisa ditempuh lagi, semua pikiran yang berkecamuk dalam benaknya segera dilemparkan jauh-jauh, dengan cepat dia duduk bersemadi untuk mengatur pemapasan.
Sejak kecil ia sudah mempelajari tenaga dalam aliran Thian-san-pay.
kemudian mendapatkan penemuan aneh yang membuatnya mewarisi sebuah simhoat tenaga dalam yang bisa membaurkan tenaga lurus dan sesat menjadi satu, hal ini membuat tenaga dalam yang dimilikinya sekarang jauh lebihsempurna bila dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki Ghasam Hoatsu di masa lalu Setelah mengatur napas sekian waktu, lambat laun ia merasa semangat dan tenaganya pulih kembali.
Tetapi apa yang bisa dicapai tak lebih hanya mencegah sari racun merembes masuk ke dalam jantung, untuk memunahkan jelas bukan hal mudah.
Setengah jam sudah ia mengatur napas, rasa kaku dan kesemutan yang menyerang tubuhnya sudah jauh berkurang, namun ia belum sanggup menggunakan tenaganya walau sedikit saja.
"Sayang di dalam sakuku hanya ada Thian-san-sin-bong dan tidak ada pil Pek-leng-wan yang terbuat dari teratai salju Thian-san-soat-lian, kalau tidak, asal menelan sebutir saja, tak sampai tiga hari kemudian aku dapat memulihkan tenagaku bagai sediakala."
Teringat akan pil Pek-leng-wan yang bisa memunahkan pelbagai pengaruh racun, tanpa terasa ia ingat kembali Leng Ping-ji.
Tempo dulu, Leng Ping-ji mengajaknya turun gunung tidak lain bertujuan untuk datang ke Lor Anki di mana ia berada sekarang, waktu itu Beng Goan-cau serta Beng Hoa sedang membantu Lohay untuk melawan pasukan kerajaan Ceng, Leng Ping-ji mengajaknya turun gunung tak lain bertujuan agar ia dapat bertemu dengan ayah serta kakaknya.
Ketika turun gunung, suhu-nya, ketua partai Thian-san-pay Teng Keng-thian telah memberi lima butir pil Pek-leng-wan yang dimasukkan ke dalam sebuah botol kecil yang dibawa oleh Leng Ping-ji untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.Suhu-nya amat menyayangi dirinya, sayang dia tidak pernah menduga kalau ia dan Leng Ping-ji bakal berpisah di tengah jalan.
Waktu itu dia tidak lebih baru berusia sebelas tahun, tentu saja Teng Keng-thian merasa khawatir apabila memberikan obat mestika itu kepadanya, maka segala sesuatunya diserahkan kepada Leng Ping-ji-Dari sekian banyak benda mestika dari Thian-san, Teng Keng-thian hanya memperkenankan dirinya untuk membawa beberapa biji Thian-san-sin-bong.
Thian-san-sin-bong adalah semacam duri yang tumbuh di puncak bukit Thian-san, benda ini keras seperti baja dan khusus digunakan sebagai senjata rahasia untuk menghajar jalan darah orang, cuma benda itu jauh lebih enteng dan gampang digunakan ketimbang To-kut-teng (Paku Penembus Tulang).
Tenaga yang dimilikinya pada waktu itu masih amat kecil, maka paling tepat jika ia memakai benda tersebut sebagai senjata rahasia, itulah sebabnya Teng Keng-thian mengijinkannya membawa beberapa biji sebagai pelindung keselamatannya.
Kini dia muncul kembali di Lor Anki, Thian-san-sin-bong juga telah dipergunakan untuk menghajar lawan.
Kiranya begitu berjumpa dengan Toan Kiam-ceng malam itu, dia telah menghadiahkan sebatang Thian-san-sin-bong lebih dulu untuk melukai Toan Kiam-ceng.
Sengaja dia memilih menggunakan senjata rahasia tersebut untuk menghajar Toan Kiam-ceng sesungguhnya di balik kesemuanya itu mengandung maksud tertentu, yakni ingin mewakili mendiang gurunya untuk memberi hukuman kepadamurid tersebut, karenanya dia pun menggunakan senjata rahasia perguruannya.
Sayang, walaupun Thian-san-sin-bong ada kegunaannya, namun masih kalah jauh kegunaannya ketimbang pil Pek-leng-wan.
Terutama sekali dalam keadaan seperti saat ini, perlu mengobati luka beracun yang mulai kambuh….
Ia teringat Leng Ping-ji setelah membayangkan pil Pek-leng-wan tersebut bukan berarti ia menyesal mengapa pil tersebut tidak dibawa olehnya, melainkan karena suatu pe-rasaan lain, perasaan yang membuat hatinya sangat mendongkol.
"Waktu itu, enci Leng sudah tahu kalau Beng Goan-cau bukan ayahku, Beng Hoa juga bukan kakakku, mengapa ia enggan menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadaku? Itu masih mendingan, yang lebih menyakitkan lagi adalah menipu aku dan berlagak seakan-akan hendak mengajakku untuk berjumpa dengan ayah dan kakakku. Aaaii… tahukah dia, betapa besarnya keinginanku waktu itu untuk bisa bersua dengan ayah yang belum pernah kujumpai. Hmm… enci Leng, kau mengatakan sayang kepadaku, tapi jelas kau sedang membantu Beng Goan-cau untuk membohongi aku…!"
Sementara pikirannya melayang ke sana kemari dengan amat kalutnya, tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda yang ramai bergema memecahkan keheningan malam, agaknya tidak sedikit jumlah orang yang datang.
Kejut dan girang Nyo Yan setelah mendengar derap kaki kuda itu, segera pikirnya.
"Hari sudah begini malam, tapi mereka masih melakukan perjalanan, sudah pasti ada urusan penting yang hendak segera dilakukan, itu berarti mereka bukan orang biasa."
Perlu diketahui, seandainya dia bersua dengan seorang penggembala yang suka menerima tamu, sekalipun tak dapat memberikan obat penawar racun kepadanya, paling tidak akan tersedia makanan dan tempat tinggal baginya, itu berarti dia dapat mengobati lukanya dengan hati tenang.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau racun yang mengeram dalam tubuhnya dapat kambuh secara tiba-tiba ditengah jalan, padahal dia sama sekali tidak mempersiapkan ransum cukup, yang tersisa kini pun hanya sepotong kue belaka, sedang air sudah diminum habis, hal ini membuatnya amat sengsara.
Kalau tiada bahan makanan mungkin dia masih bisa menahan rasa lapar yang melilit perut, tapi bagaimana kalau sudah haus?
Siapakah yang sanggup menahan rasa dahaga?
Sebaliknya jika yang datang adalah orang jahat, bukan penggembala berbudi seperti yang diharapkan, sudah pasti keadaannya akan runyam.
Sementara dia masih ragu dan tak tahu mesti berteriak minta tolong atau tidak, suara derapan kaki kuda itu makin lama makin mendekat, bahkan pembicaraan mereka pun dapat terdengar dengan jelas.
Pada mulanya dia mendengar suara seorang perempuan sedang berkata dengan suara lembut.
"Sekarang, kemungkinan besar enci Leng sudah sampai di selat Tong-ku-si-sia, tapi aku masih merasa sedikit khawatir atas keselamatannya."
"Aah… kenapa dia pun mempunyai seorang enci Leng? Siapakah enci Leng yang dia maksudkan itu?"
Nyo Yan merasakan Jantungnya berdebar amat keras.Tanpa terasa dia meronta bangun dan berusaha melihat apakah di antara mereka terdapat seorang enci Leng, kalau ada, siapakah dia.
Menyusul kemudian kedengaran suara seorang lelaki muda menjawab.
"Ilmu silat yang dimiliki Leng lihiap sangat bagus, apa yang perlu kau khawatirkan?"
"Leng lihiap?"
Jantung Nyo Yan berdebar semakin keras lagi.
"Kalau bukan enci Leng seorang yang pantas dipanggil sebagai Leng lihiap, masih ada siapa lagi? Haah… rupanya dia telah berhasil meloloskan diri dari marabahaya, bahkan telah berangkat ke selat Tong-ku-si-sia untuk mencari aku. Tapi, dari mana ia bisa tahu kalau aku berada di selat Tong-ku-si-sia? Heran, kenapa suara dari kedua orang ini seperti pernah kukenal? Seakan-akan di suatu waktu pernah kudengar suara mereka ini? Tapi kapan? Dan di mana?"
Sementara dia berusaha untuk menggali kembali ingatannya, perempuan itu telah berkata.
"Aku sih tidak khawatir kalau dia sampai berjumpa dengan Toan Kiam-ceng, yang kukhawatirkan adalah jika ia tak sampai bertemu dengan Ki See-kiat, kau toh tahu selat Tong-ku-si-sia mempunyai sembilan bukit dengan delapanbclas tikungan, orang mudah tersesat di sana."
Lelaki itu tertawa sambil menjawab.
"Untuk mencari Nyo Yan saja, entah sudah berapa puluh kali Leng lihiap melewati selat Tong-ku-si-sia, masa kau takut kalau dia sampai tersesat?"
Setelah mendengar nama sendiri disebut orang itu, Nyo Yan baru sadar kembali, dengan cepat pikirnya.
"Ternyata mereka adalah Santala dan Lomana. Menurut pengakuan Auwyang Seng, Lomana telah ditangkap oleh Toan Kiam-ceng dan disekap di atas puncak bukit Soat-san, tapi ternyata sekarangLomana sudah lolos dari marabahaya, itu berarti enci Peng tak akan apa-apa pula. Tak bisa disangkal lagi Leng lihiap yang mereka maksudkan sudah berangkat ke selat Tong-ku-si-sia itu sudah pasti dirinya. Tapi, ada urusan apa dia pergi mencari Ki See-kiat?"
Benar juga, ternyata yang datang adalah Lomana dan Santala suami istri, sedangkan orang yang melakukan perjalanan bersama mereka adalah ayah Lomana yakni Lohay beserta pengawalnya Salam.
Belum habis ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, terdengar Lomana telah berkata lagi.
"Nyo Yan betul-betul seorang bocah keparat yang berhati buruk dan kejam, soal enci Leng bisa bertemu dengannya atau tidak, tidak penting lagi. Tapi Ki See-kiat adalah kekasihnya, keberangkatannya ke selat Tong-ku-si-sia kali ini boleh dibilang karena soal itu, kalau tak berhasil ditemukan, enci Leng pasti akan kecewa sekali. Aku khawatir sebelum dia berhasil menemukan Ki See-kiat, Ki See-kiat sudah keburu kena dicelakai Nyo Yan si bocah"
"Heran, kenapa aku bisa berubah menjadi bocah keparat yang berhati busuk dan kejam!"
Pada mulanya Nyo Yan agak tertegun dan keheranan setelah mendengar perkataan itu. Tapi dia pun berpikir lebih jauh.
"Aah, betul! Bukankah Lomana dan enci Leng pernah berada di Soat-hong bersama-sama? Auwyang Seng telah menyaru sebagai diriku untuk mencelakai enci Leng. Tapi, tak pernah ia sangka kalau orang itu hanya gadungan."
Sekalipun demikian, ia tetap merasa sedih sekali, pikirnya lebih jauh, ‘Ternyata enci Leng ke sana lantaran Ki See-kiat, bukan karena mencariku!
Sungguh menggelikan sekali, beberapa waktu berselang aku masih menganggapnya sebagaiorang yang kukasihi, siapa tahu dalam hatinya sudah tiada aku lagi.
Ehmm… biarlah, toh aku tak bisa melebihi Ki See-kiat…"
Nyo Yan yang mudah terpengaruh oleh emosi, tiba-tiba merasakan rasa cemburu yang aneh sekali terhadap Ki See-kiat Sebenarnya dia ingin merangkak bangun, namun tak ingin menerima kebaikan dari mereka, maka sambil mengertak gigi dia menahan diri sebisanya….
Tapi dalam keadaan kecewa yang muncul secara mendadak, tubuh yang sebenarnya sudah lemah itu makin lemah lagi tak ampun tubuhnya segera roboh terjengkang ke tanah, apalagi ketika menyentuh bagian yang terluka, tak kuasa lagi dia merintih.
Waktu itu, Lohay sedang bertanya kepada putrinya.
"Siapa pemuda yang bernama Ki See-kiat itu? Bukankah Nyo Yan adalah adik Beng Hoa dari lain ayah? Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Ketika tiba-tiba mendengar suara rintihan, ia menjadi tertegun.
"Hei, agaknya di sana ada orang, mari kita tengok!"
Seru Lomana cepat.
Malam itu rembulan bersinar dengan terangnya, Lohay khawatir keadaan kurang jelas, maka dia memerintahkan Salam untuk memasang api.
Akibat dari ledakan peluru api jarum emas kabut beracun yang dilepaskan Toan Kiam-ceng dalam pertarungan malam itu, pakaian yang dikenakan Nyo Yan sudah banyak yang berlubang, noda darah dari Toan Kiam-ceng juga mengotori pakaiannya, apalagi terkapar dalam keadaan badan penuhlumpur dan wajah memucat, dalam sekilas pandang saja ia tampak bagai seorang pengemis yang sudah hampir mampus.
"Aah, tampaknya orang ini sedang terluka parah, hei, siapakah kau?"
Tegur Lomana setibanya di samping Nyo Yan. Sekuat tenaga Nyo Yan menggigit bibirnya menahan diri, sedang di hati kecilnya dia berpikir.
"Rupanya mereka sudah mengetahui asal-usulku. Kalau begitu aku tak boleh memberitahukan kepada mereka kalau aku adalah Nyo Yan."
Ketika tidak memperoleh jawaban, Lohay segera berseru.
"Kalau dilihat dari keadaannya itu, napas pun sukar untuk disambung, mana mungkin bisa menjawab pertanyaanmu? Lebih baik obati dulu lukanya."
"Betul, aku memang benar-benar sudah pikun. Dia kedinginan mana kelaparan lagi, biar kita beri sedikit makanan dulu agar semangatnya pulih kembali, kemudian baru mengobati lukanya."
Sementara ia sedang berbicara, Santala telah memayang bangun tubuh Nyo Yan.
Di bawah sorot cahaya obor yang menerangi wajah Nyo Yan, mendadak Lomana menjerit tertahan.
Santala jauh lebih gegabah ketimbang istrinya, ia tidak menemukan sesuatu yang istimewa pada pemuda macam pengemis itu, maka segera tanyanya kepada isterinya.
"Lomana, kenapa kau? Apakah merasa orang ini agak mencurigakan?"
Ucapan tersebut diutarakan dengan bahasa suku Wana, tapi Nyo Yan dapat memahami arti kata itu tujuh bagian di antaranya.Lomana sendiri, sekalipun merasa raut wajah orang ini seperti pernah dikenalnya, tapi dengan cepat dia berpikir.
"Enci Leng telah membuktikan kalau bajingan cilik yang berada bersama Toan Kiam-ceng itu adalah Nyo Yan, sudah pasti orang ini bukan Nyo Yan."
Maka dia menjawab.
"Ooh, tidak apa-apa, aku hanya merasa orang ini berwajah tampan, tidak mirip seorang pengemis."
Nyo Yan tahu kalau perempuan itu tidak berhasil mengenali dirinya, maka harinya pun menjadi lega.
Santala segera memberi air minum kepadanya, lalu memberi sekerat daging untuk mengisi perut, setelah itu baru bertanya.
"Apakah kau merasa agak baikan?"
Setelah rasa lapar dan dahaganya hilang, Nyo Yan segera merasakan semangatnya berkobar kembali.
"Terima kasih!"
Katanya kemudian.
Padahal dia masih bisa berkata dengan suara yang lebih nyaring, tapi untuk merahasiakan identitasnya terpaksa dia berlagak seakan-akan masih tak punya tenaga.
Perlahan-lahan Salam melepaskan pakaiannya, tatkala menyaksikan warna hitam di atas dadanya, ia tampak terperanjat sekali, serunya tertahan.
"Aah… rupanya orang ini tidak menderita luka dalam apa-apa selain keracunan."
Dalam pada itu Santala telah menemukan pula pedang yang tersandang di pinggang dia pun bertanya.
"Bersediakah untuk memberi tahu kami, siapa kau dan mengapa sampai menderita luka?"
Lohay turut berkata pula.
"Kami tidak bermaksud untuk memeriksa dirimu, tapi kami ingin tahu luka apakah yang kau derita hingga dapat diusahakan pengobatannya."
"Aku adalah bangsa Han yang datang kemari untuk membeli bahan obat, di tengah jalan telah bertemu dengan pencoleng, entah senjata rahasia apakah yang telah mereka gunakan untuk melukai diriku."
Kebanyakan saudagar yang berdagang ke arah Sinkiang pada jaman itu memang sedikit banyak mengerti ilmu silat, tidak heran mereka membawa pedang dan golok, oleh sebab itu jawaban Nyo Yan sama sekali tidak menampakkan titik lemah apa pun.
Salam adalah seorang ahli silat, setelah memeriksa keadaan luka Nyo Yan, dia pun berkata.
"Senjata rahasia yang bersarang di tubuh orang ini mengandung racun, mungkin paku penembus tulang atau jarum bunga bwee yang lembut, tanganku yang meraba dari atas pakaian merasakan hawa panas yang menyengat, ini menunjukkan kalau ia keracunan hebat!"
"Kita tidak membawa persediaan obat, bagaimana baiknya sekarang?"
Seru Lohay kemudian.
"Apakah dia hanya terkena racun, tiada luka dalam lain yang lebih parah?"
Tak tahan Lomana bertanya pula.
"Benar"
"Baik, kebetulan sekali aku mempunyai obat yang mujarab sekali untuk menyembuhkan luka keracunan."
"Lomana, dari mana kau bisa memiliki obat penawar racun?"
Tanya Santala keheranan.
"Kau mesti tahu, obat penawar yang digunakan mesti tepat baru bisa menawarkanracun, kau toh tidak tahu racun apa yang mengeram dalam tubuhnya? Jangan kau anggap hal ini sebagai bahan permainan."
Lomana segera tertawa, sahutnya.
"Kau pernah berkunjung ke Thian-san bukan? Masa kau lupa kalau pil Pek-leng-wan yang terbuat dari teratai salju Thian-san dapat memunahkan bermacam racun?"
"Kau punya pil Pek-leng-wan? Kenapa aku tak tahu?"
"Enci Leng-lah yang memberikan kepadaku. Waktu berada di bukit Soat-hong tempo hari mereka telah mencampur racun di makananku tapi tak diketahui racun apakah itu, aku hanya tidak mampu mengeluarkan tenaga. Mungkin racun yang tidak sampai membahayakan jiwaku. Cuma enci Leng merasa kha-watir, maka dia beri separuh butir pil Pek-leng-wan kepadaku sedang sisanya lagi suruh aku menyimpannya. Ia bilang sebagai persiapan bilamana diperlukan di kemudian hari. Setelah minum separuh butir pil itu, esok harinya aku telah turun dari bukit itu, maka separahnya lagi tak kugunakan sampai sekarang, apakah salahnya bila kugunakan untuk mengobati orang lain sekarang?"
Selesai berkata, tanpa menantikan jawaban dari Nyo Yan lagi, dia segera menjejalkan pil Pek-leng-wan itu ke dalam mulurnya dan menitahkan kepadanya untuk menelan pil tersebut.
Setelah itu, dia baru berkata.
"Sayang tinggal separuh biji saja, entahlah dapat membebaskan semua pengaruh racun yang mengeram dalam tubuhmu atau tidak? Tapi, bagaimanapun juga toh selembar jiwamu bisa tertolong."
Tadi, Nyo Yan masih membayangkan pil Pek-leng-wan sewaktu turun gunung dulu, tak disangka yang diinginkan kinisudah berada dalam mulutnya, lagi pula merupakan pil Pek-leng-wan dari Leng Ping Ji.
Hatinya menjadi panas dan tak kuasa lagi air matanya jatuh membasahi pipinya.
Beberapa titik air matanya bercucuran pertama karena terbayang kembali kejadian masa lalu, kedua karena terharu oleh kebaikan hati Lomana.
Melihat pemuda itu menangis, Lomana segera berkata sambil tertawa.
"Sekarang jiwamu sudah tidak terancam oleh marabahaya lagi, kenapa mesti menangis?"
"Kalau kudengar dari pembicaraan kalian itu, separuh butir pil ini pasti amat berharga sekali, padahal aku dan kalian tak pernah saling kenal, tapi kau bersedia menggunakan pil berharga itu untuk menolong jiwaku, mana mungkin hatiku tak menjadi terharu oleh kebaikan budimu itu…?"
Walaupun dia tak ingin mengucapkan keadaan yang sesungguhnya, namun perkataan itu benar-benar muncul dari hati sanubarinya.
"Tahukah kau apa sebabnya aku bersedia menolongmu?"
Kata Lomana kemudian.
"Pertama karena menolong selembar jiwa, berarti aku mengurangi dosa-dosaku sendiri, kedua karena kau pun seorang bangsa Han."
Nyo Yan menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, ucapnya.
"Kenapa kau menolongku karena aku adalah bangsa Han?"
"Sebab teman yang paling baikku juga bangsa Han, aku pernah menerima budi kebaikan dari teman bangsa Han itu, mereka pula yang telah menolong jiwaku. Dan lagi…"
Berbicara sampai di situ, tanpa terasa ia menjadi tertawa sendiri, lanjutnya.
"Dan lagi kau benar-benar mirip sekali dengan seorang sahabat cilik bangsa Han yang pernah kukenal banyak tahun berselang, sekalipun aku tahu pasti kau bukan dia."
Ketika mendengar Lomana mengucapkan kata-kata tersebut tanpa terasa Lohay dan Salam mengalihkan sorot matanya kewajah Nyo Yan dan mengawasinya lekat-lekat Tiba-tiba Lohay berkata "Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu, bersediakah kau untuk memberitahukan kepadaku?"
"Inkong ingin mengetahui soal apa? Asal aku tahu, pasti akan kuterangkan."
"Dalam bangsa Han terdapat manusia bernama Toan Kiam-ceng. beberapa hari berselang dia berada di sini, tahukah kau tentang orang ini?"
Nyo Yan tak bisa tidak harus berbohong, maka sahutnya.
"Belum pernah kudengar nama orang ini, apakah orang she Toan ini adalah sahabat kalian?"
"Bukan. Dia adalah orang jahat."
Nyo Yan pura-pura terkejut lalu serunya.
"Ooh… rupanya orang itu adalah seorang yang jahat Inkong, kau bertanya kepadaku apakah kenai dengannya, apakah kau mencurigai aku?"
"Kau jangan banyak curiga"
Tukas Lohay cepat "Bangsa Han pun sama seperti bangsa lainnya ada orang baik ada orang jahat, aku percaya kepadamu. bila kau kenal dengannya, sudah pasti kau bukan temannya.
"Maksud lain dari perkataan itu adalah kalau bukan teman sudah pasti musuh. Diam-diam, Nyo Yan merasa terperanjat sekali, segera pikirnya dengan cepat.
"Jangan-jangan mereka telah menduga siapakah aku?"
Benar juga, terdengar Lohay bertanya lebih jauh.
"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku, dari manakah kau datang?"
"Sudah kukatakan kepada kalian tadi, aku datang dari tempat yang banyak bangsa Han-nya."
"Yang kumaksud, beberapa hari berselang kau datang dari mana?"
Ujar Lohay cepat. Salam juga turut berkata.
"Yang ingin kami ketahui adalah beberapa hari berselang, kau datang dari mana? Apakah beberapa hari berselang kau pernah datang ke benteng utama Lor Ariki?" (Yang dimasudkan sebagai benteng utama adalah pusat pemerintahan di Lor Anki, atau sebanding dengan suatu kota keresidenan di daratan Tionggoan. Cuma "Benteng Utama"
Di tempat ini kebanyakan tidak dikelilingi dinding kota yang tinggi, tempat itu merupakan tempat tinggal dari kepala suku dan keluarganya). Nyo Yan berkata.
"Aku tidak berkunjung ke sana, beberapa hari berselang aku masih berada di Chilotupu."
Chilotupu letaknya berada di sebelah barat dari pemukiman suku Wana.
Sedangkan benteng utama Lor Anki berada di sebelah barat, sehingga boleh dibilang letaknya saling berlawanan.
Tanpa terasa Lohay menjadi amat kecewa, tapi dia pun merasa geli sendiri, pikirnya.
"Jalan permikiran-ku benar-benarmenggelikan, malam itu aku tidak melihat orangnya tapi hanya mendengar suara dari pemuda itu, tentu saja bukan dia…."
Sementara dia berpikir demikian, Nyo Yan telah bertanya.
"Entah apa sebabnya inkong bertanya demikian?"
"Ooh… tidak apa-apa. Ketika berada di benteng utama Lor Anki, aku telah menerima budi kebaikan dari seorang bangsa Han, sayang ia tak mau bersua muka denganku. Ketika mendengar suaramu tadi, aku merasa agak sedikit mirip."
Nyo Yan tertawa, ucapnya, ‘Tadi, nona itu mengatakan wajahku mirip seorang sahabatnya sewaktu masih kecil, sekarang kau orang tua mengatakan suaraku mirip dengan seorang tuan penolongmu, tampaknya aku benar-benar telah membonceng mereka."
"Jangan berkata begitu,"
Ujar Lomana sambil tertawa.
"Hidup sebagai seorang manusia sudah seharusnya bisa membedakan mana budi dan mana dendam, tapi yang penting adalah membalas budi kebaikan kepada orang yang pernah melepaskan budi kepadamu, misalnya malam ini, kami telah membantumu, maka di kemudian hari kau pun harus menolong orang yang sedang menemui kesulitan atau bahaya sebagai balas jasa kepada kami. Benar bukan perkataanku ini?"
Timbul perasaan hormat dan kagum dalam hati Nyo Yan setelah mendengar ucapan itu, buru-buru sahurnya.
"Perkataan nona memang benar."
"Oleh karena itu, sekalipun kau sama sekali tidak mirip dengan bangsa Han yang kami kenal, kami pun tetap akan membantumu."
"Betul,"
Sambung Lohay pula.
"musibah yang menimpa dirimu ini cukup mengenaskan, di sini tak punya sanak takpunya keluarga, bila tiada tempat lain yang hendak kau tuju, bagaimana kalau mengikuti kami untuk bersama-sama berang-kat ke benteng utama Lor Anki?" ‘Terima kasih banyak atas kebaikanmu, sudah banyak budi kebaikan yang kuterima dari kalian, tidak berani mengganggu kalian lebih lama lagi…."
"Kalian bangsa Han mempunyai sebuah pepatah yang mengatakan, empat penjuru adalah saudara sendiri. Aku merasa ucapan ini memang tepat sekali, dan kau pun tak usah sungkan-sungkan terhadap kami."
"Bukannya sungkan, sekarang aku sudah tak bertenaga lagi,sekalipun ingin mengikuti kalian pergi pun juga tak kuat untuk berjalan sendiri,"
Kata Nyo Yan menerangkan.
"Malam ini baik-baiklah rahat, besok pagi siapa tahu kesehatan badanmu jauh lebih baik?"
Kata Lohay.
"Waktu itu, kami masih dapat mencarikan seekor kuda tunggangan."
"Di tengah malam begini kalian masih melakukan perjalanan, aku rasa pasti ada persoalan penting yang sedang kalian hadapi, bila kalian mesti mengurusi si sakit macam aku, bisa jadi perjalanan kalian akan terganggu. Kalian sudah begitu baik kepadaku dan aku amat berterima kasih, aku tak berani merepotkan kalian lagi."
"Bagaimanapun juga, toh malam ini kami hendak beristirahat,"
Kata Lomana cepat-cepat.
"tinggallah semalam dalam tenda kami. Urusan besok kita bicarakan besok saja"
Sementara mereka masih bercakap-cakap, Salam telah mendirikan tenda. Terpaksa Nyo Yan menerima maksud baik mereka dan masuk ke dalam tenda untuk tidur.Terdengar Lomana berkata.
"Ayah, kenapa kau menaruh curiga kalau orang ini adalah pemuda tersebut?"
Lohay tidak langsung menjawab pertanyaan dari putrinya, tapi berkata kepada Salam.
"Salam, malam itu kau yang melihat orang tersebut, menurut pendapatmu apakah ada kemiripan antara orang ini dengan dirinya?"
"Aku hanya menyaksikan bayangan punggungnya saja hingga sukar untuk dikatakan mirip atau tidak, tapi kalau dilihat perawakan tubuhnya memang hampir serupa"
"Ilmu silat yang dimiliki Toan Kiam-ceng luar biasa lihaynya, orang itu bisa mengalahkan Toan Kiam-ceng, boleh dibilang hebat sekali, mana mungkin dengan kepandaiannya yang lihay, dia bisa dilukai oleh pencoleng?"
Kata Lomana sambil tertawa Lohay tertawa pula, ucapnya.
"Aku hanya heran, masa di dunia ini bisa terdapat kejadian yang begini kebetulan. Seperti yang kau katakan tadi, dia memang agak mirip dengan wajah Nyo Yan di kala masih kecil dulu, sedang suaranya mirip pemuda yang mengalahkan Toan Kiam-ceng malam itu, maka aku jadi keheranan dan ingin tahu, itu pula sebabnya kuajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Bukan berarti aku benar menaruh curiga kepadanya Aah, betul, tadi kau telah menyinggung soal Ki See-kiat dan Leng lihiap, bagaimana keadaan yang sebenarnya? Lebih baik kita mengalihkan pembicaraan ke soal yang lain saja."
"Tentang persoalan mereka, aku sendiri pun tidak begitu tahu, cuma kalau didengar dari pembicaraan enci Leng, tampaknya ia sangat menyukai pemuda she Ki tersebut, kendatipun ia tak mengatakannya secara berterus terang."
"Tapi, bagaimana pula sikap pemuda she Ki tersebut terhadap Leng lihiap…?"
"Masa perlu ditanyakan lagi? Tentu saja Ki See-kiat juga menaruh perasaan cinta padanya."
"Dari mana kau bisa tahu? Apakah Leng lihiap yang mengatakannya pada dirimu?"
Lomana tertawa cekikikan.
"Ayah, kau betul-betul pikun,"
Katanya.
"masa rahasia seorang gadis diutarakan secara sembarangan?"
"Kau keliru, yang kutanyakan adalah perasaan hati lelaki itu. Apakah Leng lihiap sudah tahu perasaannya dan mengutarakannya kepadamu?"
Lomana segera tertawa terpingkal-pingkal sampai terbungkuk-bungkuk badannya.
"Ayah, aku lihat kau sendiri yang dibikin linglung oleh persoalan ini. Dilihat dari pembicaraan enci Leng, pada mulanya ia mengatakan kalau hatinya sudah mati dan tak ingin menjadi gundah lagi gara-gara Ki See-kiat, kalau didengar dari ucapan tersebut, bukankah berarti dia sudah tahu kalau ia telah mengetahui bahwa Ki See-kiat menaruh perasaan cinta kepadanya?"
"Pada mulanya dia berkata demikian, tapi apa pula yang kemudian dia katakan lagi?"
"Ayah,"
Ucap Lomana sambil tertawa.
"tampaknya kau belum puas sebelum mengorek sampai ke dasar kuali. Cukup dilihat dari kegelisahan hatinya yang ingin buru-buru berangkat ke selat Tong-ku-si-sia, masa kita belum memahami bagaimanakah perasaan hatinya sekarang?"
Lohay segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… aku hanya berharap Leng lihiap bisa memperoleh kebahagiaan bersama kekasihnya, maka tak bosannya ku-tanyakan soal ini kepadamu. Setelah mendengar perkataan itu, aku pun lega."
"Benar, enci Leng adalah seorang yang berbudi baik, berilmu silat tinggi, paras mukanya juga cantik, cuma sayang nasibnya kurang begitu mujur. Seandainya perempuan macam dia tidak berhasil untuk menemukan kekasih pilihannya, Lo-Thian-ya benar-benar bersikap kurang adil kepada umatnya…."
"Setelah tiba di selat Tong-ku-si-sia, bukankah dia akan segera menemukan kekasih hatinya?"
Seru Santala sambil tertawa.
"Jangan kau sumpahi Lo-Thian-ya."
Pembicaraan itu mereka lakukan dengan bahasa Wana, Nyo Yan meski berlagak tidur, ia dapat mendengar semua pembicaraan itu dengan jelas, sebab dia memahami bahasa Wana.
Sebagai saudara angkat dari Leng Ping-ji, seharusnya dia turut bergembira setelah mendengar ucapan Lomana itu, tetapi entah mengapa muncul perasaan cemburu yang tak diketahui dari mana munculnya, menyelimuti seluruh benak-nya.
Kalau dibilang sebetulnya ha!
ini memang sangat aneh, tapi manusia tetap manusia, manusia memang tak luput dari pengaruh rasa cemburu.
Dalam hati dia lantas berpikir.
"Ooh… rupanya enci Leng berangkat ke selat Tong-ku-si-sia bukan lantaran aku, gara-gara Auwyang Seng menyaru sebagai aku, dia percaya kalau aku telah berubah menjadi orang jahat, padahal Ki See-kiat baru berjumpa sekali dengannya, namun dia mempercayainya penuh, bahkan menaruh hati kepadanya. Aai… kalau enci Leng saja tidak percaya kepadaku, siapa lagi yang akan percaya?"
Kemudian terdengar Lomana mengisahkan bagaimana Leng Ping-ji menolongnya meloloskan diri dari cengkeraman iblis, sebetulnya ia sudah menceritakan secara ringkas.
Kemudian terdengar Lomana mengisahkan bagaimana Leng Ping-ji menolongnya meloloskan diri dari cengkeraman iblis, sebetulnya ia sudah menceritakan secara ringkas, hanya kali ini jauh lebih terinci.
Apa yang ingin diketahui Nyo Yan banyak diketahui dari pembicaraan tersebut.
Tanpa terasa kenTongan ketiga sudah lewat, Lohay lantas berkata.
"Besok, kita masih harus melanjutkan perjalanan, kita harus.segera beristirahat."
Pada saat itulah, mendadak terdengar derap kaki kuda yang ramai berkumandang dari kejauhan, derap kaki kuda itu amat kencang seperti angin puyuh.
Tugas Salam yang sebenarnya adalah komandan pengawal Lohay, walaupun saat ini bukan di medan pertempuran, dia tak lupa dengan tugasnya, maka begitu mendengar suara derap kuda di tengah malam buta begini, keningnya kontan saja berkerut "
Di tengah malam buta begini masih ada yang melarikan kudanya kencang-kencang, sudah pasti dia bukan manusia baik-baik. Biar kutengok siapakah dia?"
Katanya kemudian.
"Mungkin pemburu yang kemalaman, kenapa mesti kebingungan?"
Jawab Lohay tenang.
Derap kaki kuda yang berkumandang datang itu cepat sekali, baru saja Salam menyingkap tenda, penunggang kuda itu sudah berada dalam jarak limapuluh langkah.
Santala dan Lomana, segera melompat ke samping Salam Ketika dilihatnya pendatang itu hanya seorang, Santalamenjadi agak lega, pikirnya.
"Sekalipun pencoleng yang datang, asal seorang saja kenapa mesti takut?"
Malam itu bulan satu tanggal empatbelas, rembulan amat besar dan bulat, padang rumput pun merupakan tanah datar, maka pemandangan pada jarak limapuluh langkah dapat terlihat dengan amat jelasnya.
Sementara Santala tidak menaruh perhatian pada penunggang kuda itu, Lomana menjadi amat terperanjat.
"Orang ini satu komplotan dengan Toan Ki-am-ceng si bajingan tengik itu,"
Teriaknya cepat-cepat.
"Walaupun aku tak tahu siapa namanya, tapi aku kenal siapakah orang itu."
Begitu Lomana bersuara, orang itu segera mendengar pula suara teriakannya itu.
Orang itu bukan lain adalah kakak Tong dari Auwyang Seng yang menyaru sebagai Nyo Yan, Auwyang Toan adanya.
Lomana pernah bertemu dengannya namun tidak mengetahui namanya, sedangkan Nyo Yan meski tak pernah bertemu dengannya namun tahu akan namanya.
Dalam hati dia lantas berpikir.
"Menurut Auwyang Seng, ilmu silat yang dimiliki kakak Tong-nya ini sepuluh kali lipat lebih hebat daripadanya, enci Leng pun tak lebih hanya bisa mengungguli dirinya. Aku rasa Santala meski ditambah dengan Salam belum tentu bisa mengalahkan dia, padahal tenaga da-lamku belum pulih kembali, bagaimana baiknya?"
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, terdengar Auwyang Toan telah berseru sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haah… hahh… hahh… suamimu tidak akan mampu melindungi dirimu, tak kusangka kita bakal bersua lagi di sini, ayo ikut aku saja!"
Dalam pada itu, Santala telah menyiapkan gendewa dan panahnya, ia menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, Sreet!
sebatang panah segera dibidikkan ke depan.
Dengan cepat Auwyang Toan melepaskan sebuah bacokan, angin pukulan yang menderu-deru membuat bidikan panah dari Santala itu miring ke samping.
Hanya selisih beberapa inci saja panah itu bakal menembusi jidat lawan, sayang meleset dan tidak berhasil melukainya.
Di dalam anggapannya semula, dengan mengandalkan sebelah telapak tangan pun bidikan panah itu berhasil dirontokkan, sungguh tak disangka baik ilmu memanah mau-pun tenaga yang dimiliki Santala di luar dugaannya, tak urung terkejut juga dibuatnya.
Dalam keadaan begini, dia tak berani bertindak gegabah lagi, buru-buru sambil menyemptak kudanya menyerbu datang.
Ketika bidikan panah pertama dari Santala dilepaskan tadi, dia masih berada pada jarak tigapuluh langkah lebih, maka dengan serbuannya yang makin dekat, sulit buat Santala untuk melepaskan bidikan berikutnya, sebab panah hanya digunakan untuk jarak jauh, makin dekat jaraknya makin ber-kurang kemampuannya.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Lomana, tiba-tiba teriaknya dengan suara melengking.
"Enci Leng, kau cepat keluar!"
Auwyang Toan pernah menderita kekalahan di ujung pedang Leng Ping-ji, justru karena persoalan inilah dia hendak berangkat ke Lor Anki untuk melapor pada Toan Kiam-eeng, tak heran kalau ia menjadi amat terperanjat setelah men-dengar teriakan tersebut Namun bagaimanapun juga diaadalah seorang kawakan, setelah terkejut segera pikirnya.
"Andaikata budak ini benar-benar berada di sini, sepantasnya kalau ia sudah mendengar suaraku sedari tadi, masa dia tak menampakkan diri menyambut kedatanganku?"
Walaupun demikian ia toh agak jeri juga, maka kudanya segera dihentikan pada jarak duapuluh langkah lebih, kemudian ia mengambil tali dan melemparkan tali laso itu untuk menjerat tiang tenda.
Sebagaimana diketahui, pemburu yang hidup di padang rumput sudah terbiasa menggunakan tali laso untuk menjerat binatang buruannya, Auwyang Toan pandai sekali mempergunakan kepandaian tersebut, hanya kegunaannya sekarang bukan untuk menjerat binatang.
Begitulah, tali lasonya menjerat tiang tengah dari tenda itu, kemudian bentaknya keras-keras.
"Naik!"
Di bawah hentakan tenaga yang maha dahsyat, tiang penyangga tenda itu segera tercabut sehingga dengan demikian tersingkaplah seluruh tenda tersebut Begitu tenda tersingkap, Lohay segera menyerbu keluar, sedangkan Nyo Yan menggelinding ke samping.
Dalam perhitungan Auwyang Toan, seandainya di sana ia benar-benar menemukan jejak Leng Ping-ji, maka dia akan membalikkan kudanya dan melarikan diri dari tempat itu.
Sekarang, walaupun dia belum melihat jelas siapa gerangan Nyo Yan, tapi asal di situ tiada Leng Ping-ji maka dia tak merasa jeri.
Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dipelajarinya adalah ilmu pukulan Lui-sin-ciang yang berhawa panas, sebaliknya pedang Peng-pok-han-kong-kiam yang dimiliki Leng Ping-jijustru merupakan tandingan dari ilmu pukulan Lui-sin-ciang, oleh karena itu jangankan dia belum tahu kalau orang yang menggelinding keluar di belakang Lohay adalah Nyo Yan, sekalipun tahu, dia pun tak akan merasa ketakutan seperti bertemu dengan Leng Ping-ji.
Dengan Nyo Yan dia memang tidak kenal, tidak begitu dengan Lohay yang dikenalnya baik-baik.
Begitu menjumpai Lohay, segera timbul ingatan jahat di dalam hatinya.
"Kalau kutangkap bapaknya Lomana lebih dulu, masa ia tak akan menyerahkan diri?"
Begitu keputusan diambil, Auwyang Toan lantas melompat turun dari kudanya langsung menerkam Lohay.
Salam amat setia kepada majikannya, sudah barang tentu dia tak akan membiarkan lawan melukainya, dengan cepat dia turut menubruk ke depan, mendahului di depan Santala dan menghadang di muka Lohay.
Dua orang itu sama-sama mengayunkan telapak tangannya.
"Blaam!"
Suatu benturan keras segera terjadi.
Salam sebenarnya adalah seorang busu kenamaan dalam suku Wana, akan tetapi ilmu pukulan Lui-sin-ciang milik Auwyang Toan merupakan saJah satu di antara tiga macam kepandaian sesat yang mahasakti, dengan kemampuan dari Salam tentu saja dia tak tahan.
Begitu sepasang telapak tangannya saling membentur.
"Blaaam!"
Salam segera merasakan tubuhnya kepanasan seperti tersengat api, kontan tubuhnya roboh terkapar ke tanah.
Untung saja ilmu pukulan yang dimiliki Auwyang Toan masih belum mencapai kelihayan seperti Toan Kiam-ccng,dalam pukulan Lui-sin-ciang Toan Kiam-ceng ada racunnya, dia belum menyertakan ilmu beracun dalam pukulannya tersebut, dengan tenaga dalam yang dimiliki Salam hal ini tak sampai membinasakannya.
Cuma, untuk merangkak bangun lagi, hal ini belum bisa dilakukan dengan begitu saja.
Dalam keadaan begini, Auwyang Toan tak sempat menggubris Salam lagi, dengan cepat dia menerkam ke depan dan mencengkeram tubuh Lohay.
Waktu itu Lohay membawa busur berpegas kuat yang berisi lima butir batu cadas, cepat kepalannya diayun untuk menghajarnya.
Auwyang Toan bertujuan membekuk musuhnya dalam keadaan hidup, maka dia tak berani melukai dengan pukulan Lui-sin-ciang, walaupun demikian, terdengar "kraak!"
Busur berpegas kuat dari Lohay itu kena dicengkeram sampai retak.
Baru saja dia hendak mencengkeram tulang pi-pa-kut di atas bahu Lohay, pada saat itulah mendadak Nyo Yan menggelinding ke samping tubuhnya dan menghadang perginya.
Ketika Auwyang Toan menyaksikan Nyo Yan berbaju dekil dan compang-camping, dikiranya dia cuma kacung kuda.
Maka sambil menendang dengan keras, dia membentak.
"Enyah kau dari sini!"
Betul Nyo Yan sudah tak mampu menggunakan tenaganya lagi, namun ilmu silat tingkat tinggi yang dimilikinya masih utuh.
Masih untung jika Auwyang Toan tidak menendang, begitu tendangan tersebut dilancarkan, seketika itu juga dia telah memberi kesempatan bagi Nyo Yan untuk merninjarn tenaga memukul tenaga.Ketika tendangan dari Auwyang Toan menyambar datang tadi, Nyo Yan melintangkan telapak tangannya untuk melindungi dada, begitu tangannya diayunkan ke depan, kon-tan kuda-kuda Auwyang Toan menjadi gempur, dia tak sanggup berdiri tegak lagi dan terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
Sayang Nyo Yan sudah tak mampu mengerahkan tenaganya lagi sehingga taktik meminjam tenaga memukul tenaga yang dilakukan itu paling hanya bisa memanfaatkan delapan bagian saja dari tenaga yang dipancarkan lawan.
Selain itu, hal ini pun dikarenakan Auwyang Toan menganggap cuma seorang kacung kuda belaka, tentu saja kacung kuda tidak pantas menjadi lawan tandingnya.
Oleh sebab itu bukan saja dia tidak menggunakan segenap tenaganya, bahkan tidak bermaksud untuk merenggut nyawa Nyo Yan, tendangannya hanya dilakukan sambil lalu.
"Kau bisa hidup terus atau tidak, terserah kemujuran nasibmu,"
Demikian dia berpikir.
Maka ketika tendangan dilancarkan tadi, dia mengira kacung kuda itu tak akan bisa hidup terus.
Karena dia tidak menggunakan tenaga penuh, tentu saja bantingan tadi tak sampai melukainya.
Kendatipun dia bisa melejit kembali dengan gerakan Ikan Leihi Meletik, timbul juga perasaan bimbang dan ragu dalam hati.
"Benar-benar sangat aneh,"
Demikian ia berpikir.
"masa aku bisa jatuh terpeleset? Masa kacung kuda ini seorang jago lihay yang sengaja merahasiakan ilmu silatnya? Tapi andaikata dia benar-benar berilmu, kenapa aku tidak sampai terluka?"
Sebenarnya dia pun mengerti ilmu meminjam tenaga memukul tenaga tersebut, tapi oleh karena dia sudah terpengaruh lebih dulu oleh jalan pemikiran sendiri, maka ba-gaimanapun juga, dia tidak percaya kalau seorang kacung kuda bisa mempergunakan kepandaian tersebut.
Hal ini ditambah pula dengan kenyataan bahwa tubuhnya tak terluka, bahkan dia malah mengira hal tersebut bukan hasil "permainan setan"
Dari kacung kuda ini, melainkan karena kurang berhati-hati-nya dia sendiri.
Sementara itu Santala telah memburu datang.
Sekarang dia menggunakan sebilah golok lengkung berbentuk bulan sabit untuk bertarung mati-matian melawannya.
Lohay pun meloloskan pedangnya dan terjun ke arena pertarungan….
Sebagaimana diketahui, Santala pernah belajar ilmu silat aliran Thian-san-pay, walaupun hanya kepandaian permulaan, namun hal itu sudah cukup baginya untuk bertahan sebanyak dua tiga gebrakan.
Auwyang Toan tidak khawatir melukai Santala, sebaliknya dia hendak menawan Lohay hidup-hidup, maka dia cecar Santala habis-habisan.
Semua serangan itu tak dilancarkan dengan menggunakan ilmu Lui-sin-ciang, sekalipun demikian, lama-kelamaan Santala terdesak juga sehingga terpojok dalam keadaan yang berbahaya sekali.
Nyo Yan bergulingan di atas tanah berlagak seperti gugup dan ketakutan, dia berguling ke sana kemari, khususnya di sekitar arena pertarungan itu.Menanti jarak mereka sudah semakin dekat, diam-diam Nyo Yan mengeluarkan sebatang Thian-san-sin-bong yang dijepitnya di antara kedua jari tangan, lalu disentilkan ke depan kuat-kuat.
Duri keras yang disebut Thian-san-sin-bong ini panjangnya cuma tiga inci, tapi kerasnya bukan kepalang.
Tentu saja Auwyang Toan sama sekali tak mengira kalau dia bakal diserang dengan senjata rahasia selihay itu, menanti dia merasakan datangnya ancaman tersebut, untuk berkelit sudah tidak keburu lagi, pergelangan tangannya segera terhajar telak.
Sebenarnya Nyo Yan hendak mengarah jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak tangannya, sayang tenaganya tak cukup maka apa yang diharapkan tak bisa diwujudkan.
"Aah… sayang"
Diam-diam ia berpikir dengan kecewa.
Andaikata jalan darah Lau-kiong-hiat pada telapak tangan yang terhajar, niscaya seluruh kepandaian Lui-sin-ciang yang dimiliki Auwyang Toan akan punah sama sekali, bila tidak dilatih sepuluh tahun lagi, jangan harap kepandaian itu bisa pulih kembali.
Dengan kekuatan yang tak cukup, otomatis duri Thian-san-sin-bong itu hanya sempat menembusi pergelangan tangan dan melukai kulit luarnya belaka.
Tapi, lantaran datangnya serangan itu sangat tepat waktunya, maka akibatnya Santala berhasil meloloskan diri dari ancaman bahaya maut.
Sebenarnya Santala sudah tak mampu lagi untuk menahan datangnya ancaman itu.
Sambil mencabut duri Thian-san-sin-bong itu, Auwyang Toan membentak dengan penuh kegusaran.
"Siapa yang telahmenyergapku dengan senjata rahasia? Kalau bernyali, ayo menggelinding keluar!"
Tentu saja Nyo Yan tak memberitahukan kepadanya, dan lagi sekalipun dia ingin berdiri juga tak mampu.
Di atas padang rumput tiada tempat yang bisa dipakai untuk menyembunyikan diri, Auwyang Toan yang memeriksa sekeliling tempat itu sama sekali tidak menjumpai penyerang tersebut, itu berarti orang yang melancarkan serangan senjata rahasia itu kemungkinan besar adalah Nyo Yan, Lomana atau Salam?
Auwyang Toan tahu kalau Lomana tidak pandai menggunakan senjata rahasia, dan lagi dia tidak memiliki kekuatan sambitan yang begitu besarnya….
Walaupun dia merasa Nyo Yan agak "sesat" , tapi oleh karena sewaktu jatuh tadi tidak terluka, dia kurang percaya kalau seorang "kacung kuda"
Pun bisa memiliki ilmu silat yang sehebat itu.
Maka, kendatipun dia merasa agak curiga terhadap Nyo Yan, namun dianggapnya kemungkinan besar orang yang melancarkan sergapan dengan senjara rahasia tadi adalah Salam yang sedang terluka.
Salam adalah seorang busu kenamaan dari suku Wana, sewaktu beradu kekuatan dengannya tadi, terbukti kalau tenaga dalamnya memang amat sempurna.
Tadi, dia berhasil mengalahkan dirinya karena dia mengandalkan kemampuan dari ilmu pukulan Lui-sin-ciang.
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Salam, walaupun sudah terluka, untuk menyambit senjata rahasia bukanlah suam pekerjaan yang sulit baginya.Bukan cuma dia saja yang berpendapat demikian, bahkan Lohay, Lomana maupun Santala juga berpendapat sama.
Sambil mencabut keluar Thian-san-sin-bong, Auwyang Toan kembali membentak keras.
"Kalau kau memang tak berani menampakkan diri, baik, nanti locu akan mencarimu untuk membalas dendam, sekarang silakan kau terima dulu barang milikmu itu"
Dengan menggunakan ilmu sambitan yang dahsyat, dia melontarkan senjata rahasia Thian-san-sin-bong tersebut ke arah Salam.
Waktu itu Salam tergeletak di atas tanah dengan sekujur tubuh kepanasan, namun tenaga yang dimilikinya belum lenyap sama sekali.
Melihat datangnya senjata rahasia yang mengancam tubuhnya, dengan cekatan dia melejit ke samping dan menangkis ancaman tersebut dengan sebuah batu cadas.
Ternyata serangan Thian-san-sin-bong tersebut berhasil ditahannya secara tepat.
"Tring…!"
Thian-san-sin-bong yang keras bagaikan baja itu segera menancap di atas batu.
Salam sendiri tentu saja paling mengerti kalau senjata rahasia itu bukan dia yang melepaskan, tapi dia pun tak berani mencurigai Nyo Yan.
Waktu itu Nyo Yan sedang keracunan, dan gejala tersebut dialah yang menemukan, jadi kenyataan tersebut tidak mungkin salah.
Betul separuh butir Pek-leng-wan telah menyelamatkan selembar jiwanya, namun dia pun baru beberapa jam menelan pil Pek-leng-wan itu, bagaimanapun juga, sekalipun seorang tokoh yang berilmu tinggi, mustahil masih bisa melukai se-orang siluman yang berilmu silat tinggi dalam keadaan seperti ini.
Tapi kalau bukan Nyo Yan siapa lagi…?
Salam tak habis mengerti, merasa bingung dan curiga, terpaksa dia mencabut keluar Thian-san-sin-bong itu dan disembunyikan ke dalam sakunya.
Luka yang diderita Auwyang Toan tidak terlampau parah, tapi toh ada pengaruhnya juga.
Dikerubuti oleh Lohay dan Santala, dalam keadaan gelisah bercampur gugup, semakin sulit baginya untuk meraih kemenangan.
Apalagi dia pun merasa takut, khawatir kalau ada senjata1 rahasia yang akan menyergapnya lagi.
Untuk menghilangkan malam yang panjang dan impian yang buruk, mendadak dia memperoleh satu akal bagus, mendadak tubuhnya melejit ke samping dan berbalik menubruk ke arah Lomana.
Rupanya dia hendak membekuk perempuan cantik tak mengerti ilmu ini, pikirnya.
"Aku benar-benar pikun, untuk memilih buah yang masak, tentu harus memilih yang lunak lebih dulu, buat apa mesti beradu kekerasan dengan mereka?"
Kalau tadi dia bermaksud hendak menangkap Lohay untuk memaksa Lomana menyerahkan diri padanya.
Lohay seorang kepala suku, membekuk Lohay akan mendapat banyak keuntungan, sekarang ia berpendapat lebih baik membekuk Lomana lebih dulu kemudian baru memaksa Lohay untuk menyerah, itulah sebabnya dia lantas berganti haluan.
Di mana Lomana berdiri sekarang, jaraknya agak jauh dengan tempat di mana Nyo Yan berada.
Ketika menerjang ke muka sambil mencengkeram tubuh Lomana, timbul kembali rasa seram dalam hati Auwyang Toan,rasa seram berupa "bocah si kacung kuda"
Yang dianggapnya sedikit sesat.
Sementara itu, bagaikan gulungan angin puyuh, dalam beberapa kali lompatan saja Auwyang Toan telah berhasil meloloskan diri dari kepungan Lohay dan Santala, langsung menerjang ke hadapan Lomana.
Lomana pernah mempelajari simhoat tenaga dalam aliran Thias-san-pay, tapi apa yang diperolehnya tak lebih hanya dasar-dasar belaka Sementara untuk melakukan perlawanan terhadap serangan musuh sama sekali dia tidak paham.
Ketika Nyo Yan melepaskan sebatang Thian-san-sin-bong tadi, dia telah menguras habis sedikit tenaga dalam yang berhasil dihimpun sedikit demi sedikit dalam beberapa jam, bagaimanapun juga, sekarang dia sudah tak mampu lagi antuk melepaskan sebatang Thian-san-sin-bong sejauh itu.
Sementara Nyo Yan sedang terkejut bercampur cemas, mendadak terdengar Auwyang Toan membentak keras.
"Siapa di situ? Ayo cepat keluar!"
Dengan keheranan Nyo Yan segera berpikir.
"Mungkinkah di sini memang benar-benar terdapat seseorang yang sedang menyembunyikan diri?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat di dalam benaknya, tiba-tiba terdengar desingan angin tajam bergema memecahkan keheningan….
"Sreeet…!"
Ternyata ada sebutir batu kerikil yang sedang menyambar datang dari jarak ratusan kaki, namun dalam sekejap mata telah berada di depan mata Auwyang Toan.
Tak terlukiskan rasa terkejut Auwyang Toan menghadapi ancaman tersebut, ia belum tahu sampai di manakahkemampuan yang dimiliki lawannya, maka serangan itu tak berani disambut dengan kekerasan, dengan cekatan dia me-lompat ke samping untuk menghindarkan diri.
Baru saja dia berkelit, terdengar suara tertawa seorang perempuan berkumandang datang.
Dengan hati gembira Lomana segera berteriak keras.
"Enci Leng-kah di situ? Kau telah kembali?"
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, perempuan itu telah menampakkan diri.
Begitu tiba-tiba kemunculannya, seakan-akan muncul dari dalam bumi.
Ternyata perempuan itu mengenakan baju berwarna hitam pekat, sebelum Auwyang Toan tiba di sana tadi telah menyembunyikan diri di balik semak belukar, itulah sebabnya Auwyang Toan sama sekali tidak menemukan jejaknya.
Akan tetapi, perempuan itu bukan Leng Ping-ji.
Ketika Auwyang Toan mengetahui kalau orang itu bukan Leng Ping-ji, tampaknya dia merasa lega sekali.
"Kau si budak ingusan juga berani memusuhi aku?"
Tegurnya sambil tertawa dingin.
Budak Ingusan Menghajar Gembong Iblis Perempuan itu masih sangat muda, sifat kekanak-kanakannya belum hilang, mungkin di antara tujuh delapanbelas tahunan, rambutnya yang panjang terurai sebahu, sepasang matanya hitam pekat dan bersinar terang,di bawah sorot rembulan dia tampak amat lincah dan menawan hati.
Sambil tertawa cekikikan, gadis itu menjawab.
"Pertama, aku bukan budak ingusan. Kedua, dengan kepandaianmu yang tidak luar biasa, kenapa aku tak boleh memusuhi manusia macam kau?"
Mendengar ucapan itu, Auwyang Toan lantas berpikir.
"Mungkin dia cuma seorang budak yang baru saja muncul dalam dunia persilatan, yang biasanya terlalu dimanja orangtua atau gurunya, maka dia belum tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
Melihat gadis itu lincah dan menarik, amarahnya semakin mereda, katanya kembali.
"Dari ucapanmu itu, tampaknya ilmu silat yang kau miliki lumayan juga?"
"Kalau lumayan sih tak berani kukatakan, sebab baik atau jelek hanya bisa diketahui bila sudah berani kukatakan sangat baik, tapi toh jauh lebih baik bila dibandingkan dengan ilmu silatmu itu!"
"Kenapa kau hendak memusuhi aku?"
"Lantas kenapa kau mesti memusuhi enci ini?"
"Urusanku lebih baik tak usah kau campuri!"
"Kalau begitu, urusanku pun tak usah kau campuri pula, kalau toh kau boleh menganiaya enci ini, kenapa aku pun tak boleh memusuhi dirimu?"
Agak mendongkol dan marah juga Auwyang Toan setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.
"Kau si budak cilik yang tak tahu diri, sekali kugencet tubuhmu, mampus kau nanti!"
"Huuh, kau berani benar memaki aku,"
Teriak gadis itu pula.
"Kau ingin menggencet mati aku? Heeh… heehh… heehh… tahukah kau apa yang hendak kulakukan? "
Aku tak ingin bersikap buas dan galak macam tampangmu itu, begitu turun tangan lantas ingin membunuh orang. Kau berani memaki aku, maka aku pun hanya ingin menempeleng mukamu beberapa kali! "
Dari gusar Auwyang Toan menjadi tertawa geli, serunya.
"Budak ingusan, kau terlalu latah, ingin menempeleng aku beberapa kali? Silakan saja mencobanya!"
Ia pernah menyaksikan kepandaian gadis menyambit senjata rahasia, walaupun tahu ilmu silat yang dimilikinya tidak lemah, namun bagaimanapun juga dia tidak percaya kalau wajahnya bisa ditampar gadis itu.
Malahan dalam hatinya dia sedang mempertimbangkan, apakah perlu untuk melukainya dengan ilmu pukulan Lui-sin-ciang atau tidak.
"Dengan usianya yang begitu muda, bisa memiliki kepandaian sehebat itu bukan sesuatu yang gampang, ayahnya atau gurunya sudah pasti adalah jago kenamaan dalam dunia persilatan, lebih baik aku bertindak agak sungkan saja atau membekuknya dalam keadaan hidup-hidup…."
Begitu berkata hendak menampar, ternyata gadis itu segera mewujudkan apa yang diucapkannya belum habis Auwyang Toan berpikir… "Plook!"
Sebuah tamparan keras telah bersarang dengan telak di pipinya.
Sesungguhnya Auwyang Toan sudah melakukan persiapan yang seksama, tapi entah mengapa, jangankan melepaskan serangan balasan, untuk menghindarkan dia pun tak mampu.Dalam gusarnya, Auwyang Toan segera melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu pukulan Lui-sin-ciang yang maha dahsyat itu.
"Weee! Weee! Weee.,.!"
Secara beruntun dia melancarkan tiga buah pukulan maha dasyat.
Serangan ini begitu dahsyatnya, membuat Nyo Yan yang berada tiga puluh langkah jauhnya dari arena merasakan sambaran hawa panas yang dari serangan itu Akan tetapi angin pukulan Lui-sin-ciang yang dahsyat itu ternyata tak mampu untuk rnenyentuh ujung baju gadis Han, malah wajah Aaw-yang Toan kembali kena ditampar keras.
"plaaak ploook!"
Secara beruntun Aawyang Toan ditampar, menyusul kemudian terdengar gadis itu berkata sambil tertawa.
"Bagaimana? Aku bilang bila aku ingin menamparmu, maka kau pasti dapat kutampar, bagaimana hasilnya seka-rang? Kamu toh kena kutampar juga, kalau belum puas, ayolah kita coba lagi?"
Ketika itu sepasang pipi Auwyang Toan kena ditampar yang telah berubah tak karuan bentuknya, gumpalan warna hijau dan warna merah karena sembab dan membengkak membuat tampangnya kelihatan jelek, darah segar bercucuran dan mulurnya, gigi pun copot beberapa biji.
Dalam keadaan seperti ini, dia mana berani mengatakan ingin mencoba lagi?
Jangankan berkata demikian, hakikatnya dia sudah dibikin ketakutan setengah mati sampai termangu-rnangu dibuatnya.
Ilmu sifat yang dimiliki gadis ini benar-benar mahir untuk menghadapi gadis semacam itu.
sudah pasti anajt aum bahkan untuk kabur pun benari tentu bisa.
Sambil memegangi wajahnya yang membengkak besar dia berdiri termangu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan,seandainya di situ ada gua, sudah pasti dia akan menerobos masuk ke dalam gua itu.
Nyo Yan yang berbaring di atas tanah tak sempat melihat bagaimana cara gadis itu menghajar musuhnya, tapi setelah mendengar suaranya yang merdu, tergerak juga hatinya.
"Empat kali tempelengan yang dia hadiahkan kepada Auwyang Toan barusan mirip sekali dengan ilmu pukulan Lok-eng-ciang-hoat, tapi Lok-eng-ciang-hoat merupakan hasil ciptaan sucou yang tak pernah diwariskan kepada orang lain. Tentu saja dia tak mungkin bisa menggunakannya. Cuma ilmu silat tingkat tinggi memang saling berhubungan, bukan sesuatu yang aneh bila dia pun dapat mempergunakan kepan-daian yang mirip dengan kepandaian tersebut"
Baru selesai dia berpilar, terdengar gadis itu membentak lagi.
"Apakah kau ingin merasakan beberapa kali tempelengan lagi? Kalau memang tak berani mencoba lagi. kenapa tidak segera enyah dari hadapanku?"
Memang kata-kata semacam inilah yang sedang dinantikan oleh Auwyang Toan, begitu mendengar kata "enyah", bagaikan memperoleh pengampunan, cepat-cepat dia menyemplak kuda dan kabur dari sita.
Hawa amarah dalam dada Lohay belum mereda, mendadak dia membentak keras.
"Sekalipun lihiap ini berbelas kasihan kepadamu, aku tak akan membiarkan kau pergi dengan sedemikian gampangnya!"
Di tengah bentakan keras, dia segera membidikkan busur berpegas kuatnya.
Sreeet, sreeeet, sreeet… anak panah bertaburan di angkasa dan melesat ke arah Auwyang Toan.Betul-betul amat dahsyat bidikannya itu, secepat sambaran petir anak panah tersebut melesat ke depan.
Sekalipun kuda Auwyang Toan kabur amat cepat, namun bidikan panah Lohay jauh lebih cepat lagi, belum habis dia membentak, anak panah sudah mengancam punggungnya.
Auwyang Toan pernah merontokkan bidikan panah dari Santala dengan mudah, dia menganggap Lohay yang sudah tua tak mungkin memiliki tenaga bidikan yang lebih hebat dari Santala.
Buktinya Santala yang masih muda dan lebih kekar pun tak sanggup melukainya, tentu saja dia lebih-lebih tak memandang sebelah mata terhadap kemampuan Lohay.
Itulah sebabnya ketika mendengar suara desingan tajam mengancam tiba, tanpa berpaling dia me-epaskan sebuah pukulan ke belakang.
Siapa tahu, jahe semakin tua semakin pedas ternyata bidikan panah yang dilepaskan Lohay itu datangnya dari arah yang sama sekali tak terduga.
Sesungguhnya ia mengandalkan ilmu membedakan angin untuk menentukan arah serangan, maka tangkisan dilakukan ke arah belakang sebelah kiri, dengan kemampuannya untuk melancarkan serangan, sesungguhnya bukan sesuatu yang sulit untuk merontokkan bidikan panah pertama yang mengarah tubuhnya.
Siapa sangka baru saja pukulan tersebut dilepaskan, mendadak terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, sebatang anak panah lainnya telah mengancam bahu kanannya.Ternyata ilmu panah yang dimiliki Lohay jauh lebih hebat dari Santala, ilmu memanahnya boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang amat sempurna sekait, bukan saja sasarannya tepat, lagi pula pada saat yang hampir bersamaan dia dapat membidikkan tiga batang panah dengan kekuatan yang berbeda.
Panah keduanya itu dibidikkan belakangan, namun tiba pada sasaran lebih dulu.
Begitu ancaman datang dari arah yang sama sekali tak terduga, seketika itu juga Auwyang Toan dibikin kelabakan setengah mati.
Perlu diketahui, walaupun ilmu pukulan udara kosong itu bertenaga dahsyat, tapi begitu arahnya keliru maka sulit baginya untuk menahan bidikan panah yang dilepaskan oleh Lohay, pemanah nomor wahid dari suku Wana Untung saja dia cukup cerdik, dalam gugupnya, serangan yang dilepaskan tadi agak dimiringkan scdikrtte samping, dengan begitu, panah yang dibidikkan Lohay menjadi miring beberapa inci dan terhindarlah dia dari ancaman bidikan ke tulang pi-pa-tat-nya.
Walaupun bidikan yang pertama berhasil dihindari, bidikan kedua sukar dihindari.
Bidikan panah ini dilancarkan paling datu, namun tibanya justru lebih lambat.
Padahal ketika itu pukulan udara kosong dari Auwyang Toan sudah mendekati titik akhir.
"Traak!"
Tak ampun lagi, lengan kirinya segera terbidik dengan telak.
Baca Juga: Terbang Harum Pedang Hujan 4
Baca Juga: Pisau Kekasih 4