Taruna Pendekar 2

Eps 2 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id

Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id

Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.

"Taysu, selama dua tahun belakangan ini aku selalu menjumpai keja-’dian-kejadian yang tidak berkenan di hatiku, tak usah mencari orang untuk melihatkan nasibku, aku juga tahu kalau saat ini aku berada di roda nasib lemah.

Seandainya benar-benar bisabernasib mujur maka kesemuanya ini terpaksa harus menggantungkan kepadamu.

"Aku pernah mempelajari pengetahuan tentang alat rahasia, aku memang berniat untuk mencobanya. Cuma saja ada sepatah dua patah kata aku merasa perlu untuk mengutarakannya lebih dulu daripada di kemudian hari terjadi perselisihan."

Tentu saja To Kian-kong juga tahu bahwa pendeta tersebut tak akan membiarkan dirinya mendapatkan keuntungan dengan begitu saja, persoalan yang hendak diajukan sudah pasti adalah persoalan yang sulit, di samping girang dia pun segera merasa takut.

Selang sesaat kemudian, terpaksa dia berkata.

"Taysu berniat bagaimana? Silakan kau utarakan dengan berterus terang…."

"Seandainya aku benar-benar bernasib mujur dan berhasil menemukan tempat rahasia itu, maka aku akan mempersilakan kepadamu untuk masuk dan mencarinya, sedangkan aku akan berjaga-jaga di tempat luaran."

Tidak benar kalau dibilang dia memahami pengetahuan tentang alat rahasia, tapi cara untuk membuka pintu batu di atas liang salju tersebut memang diketahui olehnya.

Semenjak sute-nya lenyap, dia telah mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam.

Ia mendapat tahu bahwa sute-nya pernah berkunjung ke rumah seseorang beberapa hari sebelum ia berangkat ke Kota Iblis.

Dulunya orang itu adalah seorang pentolan penyamun, dia ini bersama anak buahnya pernah menginap semalam di Kota Iblis, tapi akhirnya kecuali dia seorang, hampir seluruhnya mati di situ.

Kendatipun orang itubisa pulang dalam keadaan hidup, tapi sejak itu pula dia jatuh sakit.

Sudah belasan tahun lamanya dia berbaring di ranjang dalam keadaan lumpuh, siapa pun yang menanyakan keadaan di Kota Iblis malam itu, dia seakan-akan merasa ketakutan dan tak pernah mau mengucapkan sepatah kata pun.

Satou berhasil menemukan dirinya, dengan mengandalkan kedudukannya dalam sekte agama Lhama-kau (Orang Tibet selalu menganggap setiap Lhama yang berkedudukan tinggi sebagai Budha hidup yang dipuja-puja), dengan setengah menipu setengah menakut-nakuti, ia berhasil mengorek kete-rangan dari mulut orang itu.

Ternyata orang itu tertarik sekali dengan hiolo kemala putih yang berada dalam ruangan itu dan ingin mendapatkannya, tapi oleh karena hiolo tadi menempel dengan meja altar, maka untuk dicongkel dia khawatir mestika itu rusak.

Akhirnya setelah memutar ke kiri memutar ke kanan, tanpa disengaja dia telah menggerakkan alat rahasia itu.

Begitu pintu rahasia itu terbuka, dari dalam liang salju segera berhembus keluar udara dingin yang luar biasa dahsyatnya dan seketika itu juga membinasakan segenap anak buahnya Dia beruntung tak sampai mati karena ia pernah mempelajari sedikit tenaga dalam.

Akan tetapi ketika ia berhasil menemukan orang itu, pentolan penyamun tersebut sudah sekarat dan hampir putus nyawanya.

Satou segera menggunakan ilmu rangsangan jalan darah dari golongan Mi-tiong.

Cuma keterangan yang diperoleh kurang jelas, dia pun tidak tahu kalau di bawah Kota Iblis sebetulnya adalah sebuah liang es.Tak lama setelah mengucapkan kata-kata itu, dia pun putus napas dan mati.

Satou sendiri seperti juga orang itu, tak bisa menduga keanehan apakah yang ada di bawah Kota Iblis, tapi kalau membayangkan kematian yang menimpa orang-orang itu, tanpa terasa bergidik karena ngeri.

Itulah sebabnya walaupun dia tahu cara untuk membuka pintu batu itu, akan tetapi tak berani mencobanya sendiri, dia membutuhkan seseorang untuk dijadikan korban.

Sudah barang tentu To Kian-kong bukan seorang yang gampang masuk perangkap, setelah mendengar keterangan dari Satou, dia pun lantas teringat akan suatu hal.

Tempo hari, ketika mereka bertiga berkomplot hendak mencelakai Ki See-kiat, orang yang paling getol untuk mempertahankan korbannya dalam keadaan hidup adalah Sacam, adik seperguruan Satou.

Padahal menurut pesan dari Toan Kiam-ceng, biar mati atau hidup keduanya sama saja Waktu itu Lian Kan-pei pernah bertanya kepada Sacam.

"Ilmu silat yang dimiliki Ki See-kiat si bacot keparat itu tidak lemah, untuk menangkapnya dalam keadaan hidup jelas sukar sekali. Mengapa tidak sekali bacok habisi saja jiwanya? Toh si penyuruh tugas ini juga hanya menghendaki batok kepala bangsat itu?"

Waktu itu Sacam tidak menerangkan alasannya, dia hanya berkata sambil tersenyum.

"Kalian mencari aku untuk berkomplot menyelesaikan persoalan ini, aku tak ingin minta bayaran, aku hanya ingin meminjam bocah keparat itu selama tiga hari saja, tiga hari kemudian, aku pasti akan memenggal batok kepalanya dan diserahkan kepada kalian."

Sekarang setelah To Kian-kong mendengar perkataan Satou, lalu mencocokkan kembali dengan peristiwa itu, dengan cepat dia mengerti, pikirnya kemudian.

"Rupanya mereka suheng-te berdua mempunyai hati yang sama, kalau Sacam ingin menggunakan Ki See-kiat sebagai kelinci percobaan, maka Satou ingin menggunakan aku sebagai kelinci percobaan’ Akan tetapi berhubung ada keuntungan besar di depan mata, dan ilmu silat yang dimiliki Satou jauh di atas kepandaiannya, bila ia tidak mengabulkan mungkin Satou akan marah. Maka bersediakah menjadi "

Kelinci percobaan"

Masih merupakan sebuah tanda tanya besar baginya.

"Masa kau tidak percaya pada diriku?"

Kata Satou dengan ketus.

"Seandainya kitab pusaka peninggalan Kui Hoa-seng itu berhasil kutemukan, tak nanti aku akan mengangkanginya sendiri atau kubunuh dirimu. Aku berani bersumpah kepada langit, bila kuingkari janji ini, biarlah aku mati tidak sempurna!"

"Aah, taysu adalah seorang pendeta agung, masa aku tidak percaya perkataan taysu,"

Kata To Kian-kong sambi) tertawa paksa.

"Cuma, Cuma..."

Satou segera berkerut kening.

"Kalau ada persoalan cepat katakan,"

Tegurnya.

"Andaikata di bawah sana benar-benar terdapat sebuah ruang rahasia, apa salahnya kalau kita turun bersama? Jadi kalau ada apa-apa, kita pun bisa saling membantu, kan ini lebih baik?"

"Ooh!… rupanya kau takut menghadapi bahaya,"

Kata Satou sambil tertawa dingin.

"tapi kenapa tidak kau pikirkan, seandainya aku tak membagi bahaya ini untukmu, kenapapula aku mesti membagi kebaikannya denganmu? Bila di bawah ada bahaya, memangnya di atas tak mungkin ada bahaya? Seandainya kita tidak berjaga-jaga di atas, bila ada orang yang datang, niscaya kita akan terpendam untuk selamanya di bawah situ. Aku sudah mencari ruang rahasia itu, membagi tanggung jawab denganmu, hmm, kalau dibicarakan yang sebenarnya kaulah yang lebih beruntung daripada aku!"

Ki See-kiat yang berada di bawah merasakan jantungnya berdebar keras setelah mendengar ucapan itu, dia sangat berharap bisa melihat matahari lagi, sekalipun ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng harus dipersembahkan, dia pun Dalam pada itu, To Kian-kong telah mempertimbangkannya berulang kali, ia tahu jika perintahnya ditentang, sudah pasti keadaan tersebut tidak menguntungkannya, sebaliknya jika menyerempet bahaya belum tentu hal itu merugikan dirinya.

Maka sesudah mempertimbangkan sesaat, dia pun berkata.

"Baik, perkataan seorang kuncu bagaikan kuda yang dicambuk. Apa yang telah kita ucapkan, tak akan disesali oleh siapapun!"

Satou segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haah… haah… betul, begini baru sahabat sejati namanya."

Di tengah gelak tawa, dia mendekati hiolo kemala putih yang berada di atas meja dan memutarnya pelan-pelan.

Ki See-kiat tahu, bila hiolo kemala putih itu diputar maka pintu batu segera akan terbuka, dia pun dapat melihat matahari lagi.Menunggu detik-detik terakhir itu, Ki See-kiat merasa waktu berlalu amat lambat ibarat siput yang merangkak saja.

Ia dapat mendengar suara hiolo yang diputar, dalam perkiraannya hiolo itu mungkin sudah diputar .

sampai setengah jalan, tanpa terasa di hati kecilnya dia berseru.

"Cepat sedikit, cepat sedikit!"

Siapa tahu pada detik-detik terakhir itu, mendadak terjadi suatu perubahan besar yang sama sekali tak terduga. Mula-mula terdengar To Kian-kong berteriak keras.

"Aduh celaka!"

Menyusul kemudian Satou membentak.

"Mau apa kau? Memberon…."

Ucapan itu tidak sempat dilanjutkan lagi, sebab terdengar suara langkah kaki To Kian-kong berlarian meninggalkan ruangan sambil berteriak-teriak keras.

"Cepat kabur, cepat keluar dari sini…!"

Menyusul terdengar suara melangkah Satou yang kabur meninggalkan tempat itu pula.

Ki See-kiat segera mendekam dan menempelkan telinganya di tanah, terdengar suara langkah kaki kedua orang itu makin menjauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Kenyataan ini membuat anak muda tersebut menjadi tertegun, dengan penuh tanda tanya dia berpikir.

"Heran, apa yang mereka jumpai? Apakah To Kian-kong menyesal pada detik-detik yang terakhir dan melancarkan sergapan ke arah Satou? Ataukah mereka telah menjumpai suatu serangan mendadak yang sama sekali di luar dugaan?"

Belum habis ingatan tersebut melintas, mendadak dari dasar tanah seakan-akan terjadi getaran keras, menyusulkemudian dinding batu di empat penjuru turut bergoyang kencang, pasir dan salju berguguran semacam itu, tapi anehnya setelah suara gemuruh itu lewat, pintu gua tetap tertutup dengan rapat.

Kala guncangan dari dasar tanah makin lama semakin keras dan kencang, dari dasar tanah seakan-akan muncul segulung udara panas yang menyengat badan.

Gemuruh keras seperti suara guntur berkumandang terus tiada hentinya, batu besar mulai turut berguguran bersama dengan longsornya tanah dan pasir.

Kemudian ia pun mendengar suara rumah yang roboh.

Tak terlukiskan rasa kaget Ki See-kiat menghadapi kejadian tersebut, pikirnya kemudian.

"Jangan-jangan inilah yang dinamakan gempa bumi?"

Sekarang dia baru tahu, rupanya yang dijumpai To Kian-kong dan Satou tadi bukan bencana yang datang dari manusia, melainkan bencana alam….

Dalam liang salju itu pun berkumandang suara letusan beruntun tiada hentinya, itulah suara merekahnya lapisan salju bagian atas dari sungai es karena guncangan gempa.

Sebuah batu cadas yang amat besar terjatuh ke bawah, sepenuh tenaga Ki See-kiat mendorongnya ke depan, dengan taktik "membawa"

Ia singkirkan batu cadas tersebut ke samping, meskipun usaha itu berhasil, namun ia merasa kehabisan tenaga.

Pasir dan lumpur berguguran di atas badan, makin lama guguran tersebut makin menghebat, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab pasir dan lumpur itu mustahil bisa didorong atau disingkirkan.Ki See-kiat hanya merasakan tekanan yang menindih tubuhnya makin lama semakin membesar, udara jadi sesak dan panas sekali.

Terkesiap Ki See-kiat menghadapi kejadian ini.

"Mungkinkah aku bakal mati terpendam di dalam liang salju ini?"

Walaupun ia telah melatih tenaga dalam tingkat tinggi dan bisa menahan napas jauh lebih lama daripada orang lain, tapi lama kelamaan pemuda itu mulai tak tahan juga, kesa-darannya mulai menjadi guram….

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia merasakan badannya menjadi segar.

Ki See-kiat segera membuka matanya kembali, matanya silau dan sakit sekali.

Cahaya itu bukan sinar dingin yang memantul dari permukaan salju, melainkan cahaya matahari yang sesungguhnya.

Ternyata ia telah dapat melihat matahari lagi.

Ia menemukan tubuhnya sedang berendam di dalam air, benar-benar berada dalam kubangan yang penuh lumpur.

Di atas kepalanya terbuka sebuah mulut gua yang besar, besar sekali, lumpur masih meleleh ke bawah dengan derasnya.

Meski lumpur itu masih meninggalkan tekanan di atas badannya, akan tetapi sudah tidak terhitung suatu ancaman lagi.

Kiranya bongkahan salju dalam sungai es tiada hentinya meledak, merekah dan mencair menjadi air, air yang mengalir merontokkan batu dan lumpur yang menindih di atas tubuhnya.

Dengan cepat Ki See-kiat menenangkan pikirannya, mengatur napas dan mengerahkan tenaga dalamnya untukmemulihkan kembali kekuatan tubuhnya, kemudian perlahan-lahan dia merangkak keluar dari celah-celah retakan tersebut.

Suasana di permukaan bumi sama sekali telah berubah, dan ia sedang berdiri di antara puing-puing yang berserakan.

Pagoda Budha yang berstupa putih itu telah roboh, yang tertinggal hanya fondasinya saja.

Sebaliknva bangunan rumah bobrok yang semula berada di sekeliling pagoda Budha itu, kini sudah lenyap tak berbekas.

Seluruh Kota Iblis seakan-akan telah dipindah ke tempat lain dengan kekuatan gaib, hingga puing-puing berserakan.

Seluruh jagat bagai dilapisi pasir berwarna kuning, bahkan cahaya matahari pun ikut berwarna kuning.

Kalau dilihat bayangan matahari, semestinya waktu menunjukkan tengah hari, tapi dalam perasaannya suasana di sekitar tempat itu luar biasa gelapnya.

Diam-diam dia menghitung waktu, ternyata beberapa hari lagi genaplah dia terkurung dalam liang salju itu selama dua tahun.

Dua tahun tak pernah melihat sinar matahari, seharusnya kejadian ini merupakan sesuatu yang pantas digirangkan.

Tapi dalam perasaannya sekarang hanya ada perasaan ngeri dan seram, seakan-akan baru saja melarikan diri dari dalam neraka.

Suasana di sekeliling tempat itu luar biasa heningnya, di depan sana telah bertambah dengan sebuah telaga salju, mungkin terbentuk karena guncangan keras yang menimpa sungai es.

Satu-satunya suara yang dapat terdengar olehnya sekarang, hanya suara air di tengah telaga salju.Dengan mengenakan pakaian yang kumal dan dekil, serta langkah kaki yang berat, selangkah demi selangkah dia berjalan keluar dari puing-puing yang berserakan yang menggidikkan hati itu.

Tiba-tiba suatu pemandangan yang mengerikan dan mendirikan bulu roma muncul di hadapannya, ia menemukan segumpal mayat yang hancur dan penuh berceceran darah dengan kepala yang tertindih gepeng, cuma lamat-lamat wajahnya masih bisa dikenali, orang ini tak lain adalah Satou.

Ki See-kiat tak tega untuk melihat mayat itu terlalu lama, dia segera melangkah lewat dari sisi mayat itu sambil pikirnya.

"Untung saja aku menjumpai gempa bumi itu sewaktu berada di dalam liang salju, kalau tidak, mungkin aku pun akan mengalami nasib seperti Satou…."

Ia tidak pergi mencari To Kiari-kong sebab menurut dugaannya nasib yang menimpa orang itu sudah pasti tak jauh berbeda dengan Satou.

Belum jauh dia melangkah pergi, mendadak lamat-lamat ia mendengar suara rintihan lirih, suara rintihan tersebut mengenaskan dan menyeramkan, membuat siapa saja yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Tapi, tatkala teringat kalau menolong orang itu penting, kendatipun bulu kuduknya berdiri karena mendengar suara itu, toh dihampirinya juga tempat berasalnya suara rintihan tadi.

Akhirnya di antara gencetan dua buah batu cadas yang aneh sekali bentuknya, ia menyaksikan sesosok tubuh terkapar penuh berlepotan darah, tapi ia masih dapat mengenali orang itu sebagai To Kian-kong.

Ternyata To Kian-kong sedang bersembunyi di dalam sebuah gua yang terbentuk dari susunan batu cadas ketikaguncangan gempa bumi makin menjadi, maksudnya dia ingin menghindarkan diri dari tindihan batu cadas yang mengge-linding jatuh dari atas bukit Siapa tahu, batu cadas tidak menindihnya, tapi batuan yang berbentuk gua itu telah bergeser dan berubah bentuknya, akibat dari pergeseran kulit bumi batuan itu saling menggencet satu sama lainnya yang mengakibatkan tubuh To Kian-kong tergencet di tengah.

Benar-benar suatu penderitaan dan siksaan yang luar biasa, siksaan yang dideritanya jauh lebih berat daripada mati seketika.

Sewaktu To Kian-kong melihat kemunculan Ki See-kiat, tanpa sadar ia menjerit keras.

"Kau… kau ini manusia atau setan?"

"Aku tentu saja manusia, masa kau sudah tidak mengenali diriku lagi? Aku adalah Ki See-kiat yang pernah kau jumpai di sini pada dua tahun berselang!"

Dengan setengah merengek To Kian-kong segera memohon.

"Ki siauhiap, berbuatlah kebaikan kepadaku… hunuslah golokmu dan… dan… bunuhlah aku!"

"Jangan khawatir, aku datang untuk menolongmu, bersabarlah sejenak lagi…."

Kata Ki See-kiat.

Goloknya segera diloloskan, kemudian dengan gagang golok dia mengetuk patah dua buah batu yang menggencet, kemudian dengan sangat berhati-hati menarik To Kian-kong keluar dari gencetan.

Sewaktu si anak muda itu meloloskan senjatanya tadi, To Kian-kong mengira dia hendak dipermainkan, di mulut mengatakan hendak menolong, tapi sebenarnya hendak membunuh dirinya.

Siapa tahu K i See-kiat benar-benar menolongnya keluar dari gencetan batu.Mula-mula Ki See-kiat menotok beberapa jalan darahnya untuk menghentikan darah yang mengalir, menyusul kemudian menempelkan telapak tangannya di atas punggung orang itu dan mengerahkan Yoga khikang-nya untuk menyembuhkan luka.

Sesudah mendapat saluran hawa mumi, To Kian-kong segera merasakan semangatnya menjadi segar kembali, rasa sakit pun seketika terhenti.

Tapi dia pun tahu, isi perutnya sudah terluka, sekalipun Hoa To hidup kembali pun belum tentu bisa menyelamatkan jiwanya, meski sekarang keadaannya rada baikan, tapi keadaan tersebut hanya akan berlangsung sebentar saja.

"Ki siauhiap, kau tak usah menghamburkan tenaga dalammu dengan percuma, aku sudah berterima kasih sekali bila kau dapat mengurangi penderitaanku menjelang kematian tiba."

"Aah, jangan bilang begitu,"

Kata Ki See-kiat.

"sudah sepantasnya kalau kita saling membantu. Kau tak usah memikirkan yang bukan-bukan, siapa tahu orang baik dilin-dungi Thian, kau akan sembuh kembali?"

To Kian-kong tertawa getir.

"Ki siauhiap, terima kasih banyak atas maksud baikmu, entah aku akan mati atau hidup, aku akan berterima kasih kepadamu. Tapi mungkin aku sudah tak memiliki banyak waktu lagi untuk berbicara denganmu, ada satu hal harus segera aku beritahukan kepadamu."

Butiran air mata meleleh keluar dari ujung matanya, kobaran hati orang itu terasa amat panas.

Selama hidupnya, teman yang dimilikinya, kalau bukan saling menipu, tentulah saling memperalat, mereka tak lebihhanya manusia-manusia yang mau hidup bersama bila senang, hidup sendiri-sendiri kalau sedang susah.

Tak disangka olehnya seseorang yang hampir saja mati di tangannya, orang yang seharusnya menganggap dia sebagai musuh besarnya, ternyata bersikap begitu baik kepadanya, semuanya ini membuat ia merasa malu bercampur menyesal.

Diam-diam pikirnya.

"Aku mengira dia masih akan menyiksaku secara pelan-pelan, siapa tahu ternyata ia tak sayang-sayangnya mengorbankan hawa muminya untuk menyembuhkan diriku, aku benar-benar telah menggunakan pikiran seorang siaujin untuk menilai kebesaran jiwa seorang kuncu."

Sementara itu, Ki See-kiat telah berkata sambil tersenyum.

"Beristirahatlah dahulu, kemudian bara bicara lagi."

"Tidak, aku harus segera memberitahukan kepadamu. Tempo hari, orang yang memerintahkan kami untuk mencelakai dirimu adalah Toan Kiam-ceng. Kau harus berhati-hati terhadap bocah keparat itu!"

"Terima kasih atas perhatianmu, aku sudah mengetahui akan hal ini…."

To Kian-kong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, kembali serunya.

"Jadi kau telah mendengar semua pembicaraanku dengan Satou?"

"Benar!"

"Ki siauhiap, aku merasa amat malu kepadamu! Aku benar-benar merasa menyesal sekali,"

Seru To Kian-kong dengan air mata bercucuran membasahi seluruh wajahnya.Mendadak dengan merentangkan jari tangannya sekeras tombak, dia menotok sendiri jalan darah Hui-gi-hiat di dada kirinya sekuat tenaga.

Ternyata dia tahu kalau jiwanya tak mungkin bisa tertolong lagi, maka menggunakan kesempatan mumpung masih ada tenaga, dia ingin menghabisi nyawa sendiri.

Dengan lembut Ki See-kiat menyingkirkan tangannya ke samping, lalu berkata.

"Kejadian yang sudah lewat tak usah disinggung kembali, asal kau mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar, itu sudah lebih dari cukup. Nah sekarang, apakah kau sudah merasa agak baikan?"

To Kian-kong tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun, ia tertegun dibuatnya.

Ternyata sewaktu dia hendak menotok jalan darah kematian sendiri tadi, sebenarnya ia bermaksud mengerahkan tenaga dalamnya agar totokan itu lebih keras, siapa tahu, secara tiba-tiba dirasakannya hawa muminya telah berjalan dengan lancar, sama sekali tiada halangan apa-apa lagi.

Padahal sebelum itu, dia pun pernah mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, tapi setiap kali mencapai bagian yang terluka parah hawa murni itu tak dapat tembus.

Dalam pada itu, Ki See-kiat telah mengeluarkan sebutir pil berwarna hijau dan dijejalkan ke dalam mulut To Kian-kong, ia merasa mulurnya menjadi segar dan harum, tanpa terasa ia segera menelan pil tadi ke dalam perut.

"Pil itu adalah Pek-leng-wan yang dibuat dari soat-lian (teratai salju) Thian-san, nona Leng yang telah memberikannya kepadaku. Menurut dia, pil Pek-leng-wan bukan cuma bisa dipakai untuk mengusir racun, juga dapat digunakan untuk memupuk tenaga baru. Telanlah pil Pek-leng-wan itu, maka pelan-pelan kau akan menjadi sembuh kembali."

To Kian-kong tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki See-kiat sambil katanya.

"Benda mestika seperti ini kenapa kau berikan untuk menolong diriku? Padahal aku adalah orang jahat, orang yang pernah berusaha mencelakai jiwamu…."

Dia masih belum tahu kalau pil Pek-leng-wan yang dihadiahkan Leng Ping-ji kepada Ki See-kiat cuma dua butir saja. Buru-buru Ki See-kiat membimbingnya bangun, lalu katanya.

"Barusan aku toh sudah bilang, kejadian yang sudah lewat jangan disinggung lagi, mengapa kau harus menying-gungnya lagi? Menolong selembar nyawa sama artinya naik tujuh tingkat surga, apalagi hanya sebutir pil Pek-leng-wan saja, apalah artinya?"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Cuma, mungkin kau masih harus beristirahat selama delapan sampai sepuluh hari lagi, tak usah mencari tempat lain, rawatlah lukamu di sini, sebab hal ini akan lebih baik lagi, punya batu api?"

To Kian-kong tak tahu mengapa dia mengajukan pertanyaan tersebut, segera jawabnya.

"Ada!"

Baru akan diserahkan kepada Ki See-kiat, pemuda itu telah berkata lagi sambil tertawa.

"Aku tidak membutuhkannya. Dalam telaga es banyak terdapat ikan besar, bila kau punya batu api maka kau bisa makan ikan panggang, tak ada batu api pun tak menjadi soal, aku sudah dua tahun makan ikan mentah, dan telah menjadi biasa, rasanya malah lebih manis dan gurih daripada ikan matang. Sekarang sedang musim pa-nas, apalagi setelah terjadi gempa bumi, bendungan sungai es sudah mencair semua, udara pun lebih hangat daripada dua tahun berselang. Kau tak usah takut kedinginan, beristirahat dan rawatlah lukamu di sini dengan hati tenang."

"Ki siauhiap, kau adalah orang tuaku yang kedua, budi kebaikanmu yang tiada taranya itu entah sampai kapan baru bisa kubalas."

Kata To Kian-kong dengan air mata bercucuran.

"bila kau membutuhkan bantuanku, katakan saja, sekalipun harus terjun ke dalam lautan api, aku tak akan menolak!"

Tergerak hati Ki See-kiat sesudah mendengar ucapan itu, pikirnya kemudian.

"Kenapa aku tidak mencari berita sampai jelas?"

Berpikir demikian, dia lantas berkata.

"Kesalahan yang mau diubah, merupakan suatu undakan yang terpuji. Tak usah kau pikirkan soal ini di dalam hati. Aku hanya ingin mengetahui tentang satu hal."

"Entah persoalan apa yang hendak Ki siauhiap tanyakan? Asal aku tahu pasti akan kukatakan."

"Betulkah adik misanku berada bersama Toan Kiam-ceng?"

"Hanya Lian Kan-pei yang pernah berjumpa dengan Toan Kiam-ceng si bocah keparat itu, tapi ia tidak mengatakan apakah pernah jumpa dengan adik misanmu atau tidak, tentang soal ini aku kurang tahu."

Ki See-kiat bertanya lagi.

"Toan Kiam-ceng si bocah keparat ini berada di mana? Tahukah kau?"

To Kian-kong berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Di manakah bocah keparat itu berada, Lian Kan-pei tidak pernah memberitahukannya kepadaku, tapi masih ada setitik cahaya terang yang bisa."

"Titik terang apakah itu?"

"Menurut apa yang kuketahui, sewaktu Lian Kan-pei mengajak aku mendatangi Kota Iblis, dia baru dari Lor Anki di Sinkiang."

Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Kelo dari suku Wana di Sinkiang bernama Lohay, kau tahu tentang dirinya?"

"Ya, pernah kudengar nama besarnya itu tapi belum kujumpai orangnya."

"Lor Anki adalah dusun kelahiran Lohay, bila sampai di Sinkiang maka dengan gampang tempat itu akan ditemui. Menurut pendapatku kalau dilihat dari kedatangan Lian Kan-pei dari Lor Anki, maka bisa dipastikan dia telah berjumpa dengan Toan Kiam-ceng si bocah keparat itu di sana. Lohay mempunyai hubungan yang sangat baik dengan pihak Thian-san-pay tak ada salahnya kalau kau minta kepadanya untuk membantumu melakukan penyelidikan." ‘Terima kasih atas petunjukmu."

"Masih ada satu hal lagi. Menurut Lian Kan-pei, waktu itu Toan Kiam-ceng si bocah keparat sedang melatih semacam ilmu silat yang luar biasa hebatnya, konon tinggal setingkat saja sudah akan mencapai kesempurnaan, mungkin inilah salah satu alasannya mengapa ia tidak turun tangan sendiri. Tapi sekapang sudah pasti ilmunya sudah berhasil. Ki siauhiap, kau harus amat berhati-hati terhadap dirinya."

"Terima kasih banyak atas perhatianmu, aku dapat menghadapinya secara baik-baik."

Sesudah berpisah dengan To Kian-kong, Ki See-kiat segera turun gunung seorang diri.

Setelah dua tahun hidup dalam salju, kini selain dapat melihat matahari lagi, juga memperoleh kabar tentang ToanKiam-ceng, Ki See-kiat merasakan hatinya luar biasa gembira dan riang.

Memandang sungai es yang meliuk-liuk sepanjang bukit, seakan-akan naga perak yang sedang melingkar, tanpa terasa pengetahuannya tentang ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat menjadi setingkat lebih dalam lagi.

Tanpa terasa dia pun membayangkan Leng Ping-ji.

Sebenarnya dia memang ingin menyerahkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat pada Leng Peng-ji.

Jarak dari Lor Anki di Sinkiang dengan bukit Thian-san meski jauhnya mencapai ribuan li, tapi letaknya sama-sama berada di wilayah Sinkiang, tanpa terasa dia berpikir lagi.

"Entah saat ini Leng Ping-ji berada di mana? Ehmm… setibanya di Sinkiang bagaimana kalau aku sekalian mencari kabar beritanya di Thian-san?"

Rasa ingin berjumpa dengan Leng Ping-ji yang berkobar di dalam hatinya saat itu, sesungguhnya tidak berada di bawah harapannya untuk segera menjumpai adik misannya.

Kenangan Lama Hanya Penuh Kesedihan Tempat ini adalah sebuah tempat pemukiman di wilayah Sinkiang yang bernama Wana.

Wana merupakan salah satu cabang dari suku Uigior, kelo atau kepala suku dari suku Uigior sekarang, Lohay, berasal dari suku Wana.

Waktu itu ada seorang gadis muda sedang mendatangi desa kelahiran Lohay.

Gadis itu bukan lain adalah Leng Ping-ji, si bidadari cantik yang menjadi idaman dan impian hati Ki See-kiat.Tempat ini bukan desa kelahirannya, tapi entah mengapa ia justru menaruh perasaan seperti dekat dengan’desa kelahiran sendiri.

Dulu ia sering berkunjung ke situ, di tempat inilah banyak terpendam kenangan manis dan sedih dari masa lalu, hanya sayangnya kenangan pahit jauh lebih banyak daripada kenangan manis.

Di tengah padang rumput yang tak bertepian, ia pernah menghadiri pesta besar Jagal Kambing dari suku Wana, Jagal Kambing merupakan pesta muda-mudi yang paling meriah sepanjang tahun, sebab di situlah muda-mudi dapat menemukan jodohnya.

Dalam pesta muda-mudi tempo hari, dia masih belum bisa terhitung mengikutinya secara resmi, dia hanya seorang peninjau saja, seorang penonton yang sedang bersedih hati.

Dalam pesta Jagal Kambing yang diselenggarakan waktu itulah, kekasih pertamanya jatuh cinta pada seorang gadis Wana, gadis itu adalah putri Lohay yang bernama Lomana Tapi yang benar ia tidak mencintai gadis itu dengan sungguh hati, alasan yang lebih utama adalah ingin memperalat.

Dunia selalu berputar, kejadian pun selalu berubah, kini Lomana sudah kawin, lagi pula dia pun telah menjadi sobat paling akrab yang melebihi hubungan kakak beradik.

"Waktu berlalu dengan cepat, dia baru berumur sebelas tahun, kalau dihitung sekarang berumur delapan belas tahun. Tentunya dia lebih tinggi dari ku? Aaai… entah lebih nakal seperti dulu atau tidak?"

Tujuan Leng Ping-ji mendatangi Wana kali ini adalah mencari jejak Nyo Yan serta mengunjungi sahabatnya Lomana.

Suami Lomana, Santala adalah temannya juga.

Sejak ayah Lomana, Lohay menjadi kepala suku Uigior, maka dalam satu tahun paling tidak ada sebelas bulan lamanya berdiam di kantor pusatnya di Lor Anki, ia jarang pulang ke desa.

Sebaliknya Santala suami istri justru berdiam di desa kelahirannya.

Jalan punya jalan, mendadak matanya mencorong sinar tajam.

Di depan mata sana terbentang sebuah telaga salju, lapisan es di permukaan telaga telah mulai mencair.

Dari punggung bukit sampai kaki bukit terbentang pohon pek dan cemara yang hijau segar, telaga yang berwarna putih bersih memantulkan sinar tajam di bawah cahaya sang surya.

Air yang menghijau dan beriak terhembus angin, membiaskan pandangan alam yang indah dan syahdu di kejauhan sana.

Setelah melewati telaga es, di belakang lembah bukit sana merupakan tempat tinggal dari suku Wana.

Dulu, ketika bersama Toan Kiam-ceng tiba di tempat itu, dalam pandangan yang pertama ia sudah jatuh hati pada keindahan alam di telaga salju itu, ia mengira telah tiba di surga loka yang indah permai.

Dengan hati yang tulus dan bersungguh-sungguh ia dan Toan Kiam-ceng pernah bersumpah di hadapan telaga, rela hidup menyepi di situ sampai akhir hayatKini, ia datang kembali ke tepi telaga, pemandangan alam di situ masih tampak indah dan permai, tapi perasaannya jauh lebih dingin daripada dinginnya air telaga.

Di dalam telaga es inilah, tak lama setelah mereka mengikat sumpah setia, Toan Kiam-ceng telah berkhianat bahkan ingin membunuhnya dan mendorong tubuhnya ke dalam telaga, sehingga nyaris mati tenggelam di dasar telaga.

Sekarang dia muncul kembali di tepi telaga, pemandangan alam yang indah hanya memancing timbulnya kesedihan hanya mengobarkan api dendam dan kebencian.

"Semoga saja adik Yan jangan sampai terjatuh ke tangan manusia buas seperti dia! Aaai, andaikata adik Yan sampai tertipu, kejadian itu benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata!"

Kenangan pahit terlalu banyak yang memenuhi benaknya, sedang kenangan yang manis justru tak sebuah pun yang masih teringat.

Membayangkan kembali soal Toan Kiam-ceng dan Nyo Yan, tanpa terasa dia pun terbayang kembali akan Beng Hoa… kakak Nyo Yan seibu lain ayah.

Di tempat itulah dia berkenalan dengan Beng Hoa.

Sewaktu untuk kedua kalinya dia akan dibunuh Toan Kiam-ceng, kebetulan Beng Hoa yang telah menyelamatkan jiwanya.

Beng Hoa’pernah datang ke Sinkiang untuk mencari adiknya, ketika gagal dia pun kembali lagi ke laskarnya di Jik-tat-bok.

"Sewaktu Beng toako berpisah denganku dulu, dia pernah bilang paling cepat tiga tahun paling lambat lima tahun, dia pasti akan datang lagi. Kini sudah menginjak tahun yangkeempat, kenapa ia belum juga datang? Aaai… entah sampai kapan baru bisa bersua kembali dengan dirinya…."

Dia sangat merindukan Beng Hoa, tapi kerinduan itu hanya terbatas pada kerinduan terhadap seorang sahabat karib.

Betul, ada suatu masa ia pernah mencintai Beng Hoa, tapi perasaan itu kemudian berkembang menjadi persahabatan yang jauh lebih berharga daripada perasaan cinta.

Sampai sekarang dia tak ingin menaruh perasaan apa-apa kecuali persahabatan.

Dengan termangu-mangu ditatapnya permukaan telaga es yang telah mencair, ketika mendengar suara bongkahan salju yang merekah, jantungnya terasa berdebar-debar keras.

Tanpa terasa, dirabanya pedang Peng-pok-han-kong-kiam yang tergantung di pinggangnya lalu berpikir.

"Suhu telah mewariskan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat kepadaku, rasanya aku sudah cukup mampu untuk menghadapi bangsat kecil yang berhati busuk itu. Jika Beng toako tak bisa datang, aku seorang diri pun harus berusaha untuk menemukan adik Yan sampai dapat."

Mendadak bayangan tubuh dari seorang pemuda lain melintas dalam benaknya, ia membayangkan kembali orang itu ketika teringat akan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat Bayangan tubuh dari Ki See-kiat muncul dan menyelimuti seluruh benak serta perasaannya.

Dia tidak terlalu sering membayangkan Ki See-kiat seperti pula dia selalu berusaha untuk menghindarkan pikirannya melayang ke wajah Toan Kiam-ceng.

Walaupun kedua orang ini tak bisa dikatakan sama, namun baginya, entah mengapa, justru terasa ada setitik kesamaan di antara mereka berdua."

Ilmu silat mahasakti untuk mereka yang berjodoh, entah ia berhasil menemukan apa di dalam Kota Iblis?

Andaikata dia telah berhasil mendapatkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, maka aku pun tak usah mengkhawatirkan keselamatannya lagi."

Ternyata ketika gurunya hendak mewariskan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat tersebut kepadanya, ia pernah berkata begini.

"Meskipun mertuaku adalah putri kandung Kiri Hoa-seng tayhiap, namun dia sendiri pun belum mempelajari ilmu pedang itu secara sempurna. Apalagi setelah diturunkan kepadaku lantas diwaris kan kepadamu, mungkin cuma tiga bagian saja yang mencapai kesempurnaan. Dulu kami berpendapat di dunia tak ada yang mengerti lagi ilmu pedang ini, sekalipun yang kami peroleh hanya sebagian yang tak lengkap, hal ini pun tak menjadi soal. Tapi sekarang, bila dipikirkan lagi, seandainya peninggalan ilmu silat dari Kui tayhiap sampai ditemukan orang jahat, maka kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang amat tidak menguntungkan bagi kita. Kalau kulihat bakatmu, maka cocok bila kau pelajari ilmu pedang itu, maka aku telah minta ijin kepada ciangbunjin untuk memberikan suatu pengecualian kepada dirimu, kau boleh mencari peninggalan ilmu silat dari Kui tayhiap tersebut, bila ada kesempatan nanti, tak ada salahnya kalau kau kunjungi Kota Iblis dan mencarinya."

Leng Ping-ji sama sekali tidak memberitahukan kepada suhu-nya bahwa dia pernah memberi petunjuk kepada Ki See-kiat untuk mencari kitab pusaka itu, karena dia tahu Ki See-kiat bukan orang jahat, dia berharap pemuda itu punya "jodoh dewa"

Dan menemukan peninggalan yang tak ternilai harganya itu.

"Tidak peduli dia ada jodoh atau tiada jodoh, dua tahun belakangan ini tak pernah kudengar kabar beritanya lagi, mungkinkah, dia sudah pulang ke kampung halamannya?"

Tentu saja dia tak menyangka, selain memperoleh ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat’, Ki See-kiat juga tak pulang ke rumah, malahan dia pun hendak mendatangi tempat di mana dia berada sekarang.

Gadis itu berdiri termangu di tepi telaga sambil menyaksikan pantulan sinar emas dari permukaan telaga, sesaat kemudian ia baru mendusih dari lamunannya.

"Hari sudah mulai malam, kenapa aku harus berpikir yang bukan-bukan di sini? Ehm… betapa gembiranya enci Lomana bila bertemu denganku nanti? Aku harus cepat-cepat mencarinya!"

Dengan membawa hati yang gembira karena sebentar akan bersua dengan Lomana, berangkatlah gadis itu mengitari telaga es, dia ingin memberikan kejutan bagi suami istri muda itu.

Tapi dalam kegembiraan tadi, timbul juga perasaan murung dan masgul dalam hati kecilnya, tanpa terasa dia pun melanjutkan kembali lamunannya.

"Sekalipun enci Lomana mengalami kejadian yang sama denganku, pernah jatuh cinta kepada bajingan cilik itu, tapi dia telah memperoleh seorang suami yang benar-benar mencintainya seperti Santala, ya… dia memang lebih mujur dari aku!"

Dia pun terbayang kembali tahun kedua setibanya di situ, Beng Hoa serta Kim Bik-ki juga datang ke situ, bahkan turut menghadiri pesta Jagal Kambing yang diselenggarakan pada tahun itu.Mereka pasti sudah lama menikah, siapa tahu bila kembali ke Sin-kiang nanti, mereka sudah membawa anak?

Mengapa orang lain mempunyai nasib yang "mujur", sedang dia tidak?

Bukan dia jauh dari nasib "mujur", sesungguhnya adalah dia sendiri yang tak ingin menikmati "kemujuran"

Tersebut.

Kali ini dia turun gunung jauh lebih awal, tentu saja tujuannya untuk mencari Nyo Yan, tapi dia pun ingin menghindari kesulitan-kesulitan yang mungkin akan timbul.

Seorang suheng-nya telah mengajukan lamaran kepadanya, dia bernama Ciok Cing-swan.

Ayah Ciok Cing-swan adalah salah seorang dari empat murid utama Thian-san-pay, Ciok Thiang-hing.

Setelah Teng Keng-thian meninggal dunia, tianglo yang berkedudukan paling tinggi di dalam partai Thian-san adalah Ciong Tian (dia adalah kakak seperguruan Teng Keng-thian, usianya juga lebih besar daripada Teng Keng-thian).

Ciong Tian mempunyai dua orang murid kesayangan, yang seorang bernama Pek Kian-seng sedang yang lain bernama Kam Bu-wi.

Selama Teng Keng-thian menjabat ketua Thian-san-pay, keempat orang ini sudah merupakan jago-jago persilatan yang termashur namanya di seantero jagat, bahkan mereka ternama jauh sebelum Teng Ka-gwan, putra Teng Keng-thian menjadi ternama, karena itu keempat orang jago tersebut disebut sebagai empat murid utama dari Thian-san.

Empat murid utama dari Thian-san kini telah mencapai usia lima’ puluh tahunan, putra-putri mereka pun hampir semuanyatelah berkeluarga, satu-satunya yang belum beristri tinggal Ciok Cing-swan, putra tunggal dari Ciok Thiang-hing.

Ciok Cing-swan adalah seorang bun-bu-coan-cay (pandai dalam ilmu silat maupun ilmu sastra), paras mukanya pun tampan, dia boleh dibilang merupakan murid yang paling menonjol dalam angkatan ketiga.

Mungkin karena pandangannya terlalu tinggi, maka walaupun usianya mencapai tigapuluh tahunan, ia belum pernah berniat untuk mencari istri.

Tapi, bagaimanapun juga perasaan cinta kepada seseorang memang tak mungkin bisa disembunyikan untuk selamanya.

Pertama-tama kedua orang tuanya yang mengetahui lebih dulu.

Tatkala Ciok Thiang-hing mengetahui perasaan putranya itu, dia pun mengajukan lamarannya kepada suhu Lcng Ping-ji yakni Teng hujin.

Teng hujin mengerti akan peristiwa sedih yang pernah menimpa Leng Ping-ji dalam hal percintaan, tentu saja dia tak tega membiarkan muridnya bagaikan sekuntum bunga segar yang kian hari kian bertambah layu, maka dia pun sangat berharap perkawinan ini bisa berhasil.

Bagaimanapun dia memberi penjelasan serta bujukan, Leng Ping-ji tetap menampik lamaran yang diajukan Ciok Cing-swan.

Dia bilang hatinya sudah keras seperti batu, dia pun sudah berubah seperti sungai es yang membeku, soal perkawinan sudah tiada berjodoh lagi dengan dirinya.

Berhubung sikapnya yang begitu keras dan tegas, kecuali menghela napas panjang Teng hujin tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Sedang gadis itu sendiri, untuk menghindari segala "kesulitan", dia pun turun gunung lebih awal.Benarkah hatinya sudah sekeras batu?

Betulkah perasaannya sudah sedingin sungai es yang membeku?

Mungkin dia menganggap demikian, padahal ia sedang menipu diri sendiri.

Sekarang dia pergi mengunjungi Lomana, di satu pihak dia bergembira untuk kebahagiaan sahabat karibnya, di pihak lain dia pun merasa sedikit "kasihan"

Untuk diri sendiri. Entah bagaimana, bayangan Ki See-kiat mendadak melintas kembali di dalam benaknya. Dulu, sering-kali dia "baru"

Teringat kepadanya, bila teringat akan Beng Hoa serta Toan Kiam-ccng.

Tapi kali ini berbeda, dia hanya teringat kepadanya seorang.

Seakan-akan menemukan rahasia hatinya secara tiba-tiba, tanpa terasa merah padam pipinya karena jengah.

Tanpa terasa pula dia berpaling dan memperhatikan keindahan alam di permukaan telaga, mungkin sungai es di Thian-san ketika itu belum mencair, tapi permukaan es di sini sudah mulai mencair….

Wajah Leng Ping-ji makin memerah, pikirnya.

"Seandainya dia mau menuruti nasihatku, tak nanti dia akan datang lagi ke Sinkiang, buat apa aku mesti memikirkannya? Lebih baik cepat-cepat pergi menjumpai enci Lomana."

Sejak menikah dengan Santala, Lomana tinggal di rumah ayahnya.

Rumahnya adalah satu-satunya bangunan berkebudayaan bangsa Han yang ada dalam desa tersebut, bangunan beratap dengan dinding merah, dibangun menempel bukit menghadap ke telaga, meski bangunannya tidak terlalu besar tapi arsitekturnya sangat indah.

Di sekitar sana pun hanya ada dia satu keluarga saja.Leng Ping-ji ingin memberi kejutan yang menggembirakan bagi suami istri itu, maka dia tidak melewati jalan besar, melainkan naik bukit lebih dulu kemudian baru turun dari atas dan datang ke depan pintu rumahnya.

Waktu itu sudah mendekati senja, asap dapur di rumah lain sudah membubung ke udara, tapi di rumah Lomana tak tampak asap dari dapur.

"Tampaknya mereka sedang bersantap malam?"

Demikian Leng Ping-ji berpikir.

Maka dia pun lantas mengetuk pintu.

Saat makan malam merupakan saat yang tepat mencari orang.

Sambil menunggu Lomana muncul membukakan pintu, Leng Ping-ji kembali berpikir.

"Sudah pasti dia tak akan menyangka kalau aku datang mencarinya. Tapi pada tujuh ta-hun berselang, ketika aku meninggalkan tempat ini aku pun tidak mengira kalau masih bisa datang lagi kemari."

Sebagaimana diketahui, walaupun pemandangan alam di sini sangat indah, namun justru tempat ini merupakan tempat penuh kedukaan, waktu itu dia lebih suka meninggalkan tempat ini jauh-jauh daripada berdiam di situ….

Ia teringat kembali ketika bersama Lomana bersama-sama kabur ke Thian-san.

Waktu itu nasib yang mereka alami hampir sama tapi sekarang nasib mereka berdua justru besar sekali perbedaannya, tanpa terasa timbul kembali rasa sedih di dalam hatinya.

Walaupun demikian, kegembiraannya karena akan bertemu kembali dengan teman lama masih cukup untuk mengatasi kepedihan di dalam hatinya.Ia sedang menantikan suara teguran Lomana "Siapa di situ?" , menantikan gelak tertawa merdu Lomana sewaktu mengetahui siapa yang telah datang berkunjung….

Siapa tahu, meski ia sudah tiga kali mengetuk pintu, suasana dalam rumah masih tetap hening dan tak terdengar sedikit suara pun.

Sebenarnya dia hendak menunggu sampai Lomana yang membukakan pintu, tapi sekarang habis sudah kesabarannya, terpaksa dia memperkenalkan diri.

"Enci Lomana, aku adalah Ping-ji, dengarkah kau suaraku?"

Suasana tetap hening, tiada jawaban dari dalam rumah.

Ketika dia ulangi kembali seman itu dengan ilmu menyampaikan suara, belum juga ada jawaban dari sana, padahal dengan kepandaiannya, mustahil mereka tidak men dengar suara teriakannya.

Jangan-jangan mereka sedang keluar rumah?

Tapi waktu itu setiap keluarga sedang bersantap malam, tak mungkin mereka akan pergi berkunjung ke tetangga dalam saat-saat seperti ini.

Sebab waktu seperti ini hanya cocok bagi tamu atau sahabat yang datang dari tempat jauh.

Rasa terkejut dan curiga berkecamuk dalam hati Leng Ping-ji, dia lantas berpikir.

"Dengan hubunganku yang akrab, sekalipun aku masuk dengan melompati dinding pekarangan rasanya mereka tak akan menyalahkan diriku."

Untuk memecahkan kecurigaan dalam hatinya, dia bertekad akan masuk ke dalam dan memeriksa sendiri.

Siapa sangka, baru saja tubuhnya melejit ke udara dan bersiap-siap melompati dinding pekarangan, mendadak terdengar desingan angin tajam menyambar tiba, hujan panahberantai tahu-tahu sudah mengancam di depan mata,..

Leng Ping-ji segera menutulkan ujung kakinya ke atas dinding dan sekali lagi tubuhnya melambung ke udara dengan gerakan Yau-cu-huan-sin (Burung Belibis Membalik Badan).

Panah yang pertama nyaris menghajar tubuhnya, disertai desingan angin tajam menyambar lewat persis di bawah mata kakinya.

Tampaknya pembidik tersembunyi itu sudah menduga sampai ke situ.

Ketika anak panah ketiga dibi-dikkan beruntun, sasarannya jauh lebih ke atas dan tepat mengarah jalan darah Tay-wi-hiat di belakang tengkuk serta Hong-hu-hiat di punggung.

"Santala, aku yang datang!"

Leng Ping-ji segera berteriak keras.

Di tengah teriakan tadi, kembali tubuhnya berjumpalitan dengan gerakan Burung Belibis Membalikkan Badan, dalam ayunan tangannya panah kedua kembali tertangkap, lalu dengan anak panah tersebut dia memukul rontok anak panah yang ketiga.

Ketika menyambut anak panah yang kedua tergerak hati gadis itu, segera pikirnya.

"Mungkin dia bukan Santala?"

Menanti bidikan yang ketiga berhasil dipukul rontok, dia telah merasa yakin kalau orang itu bukan Santala.

Betul ilmu memanah yang dimiliki orang ini cukup hebat, bahkan boleh dibilang tidak berada di bawah Santala, akan tetapi tenaga yang disertakan dalam bidikan tersebut masih jauh dari sempurna.

Dalam seratus langkah, bidikan Santala sanggup menembusi kulit perut badak yang tebal dan keras, tapi sekarang, ketika Leng Ping-ji memukul rontok bidikan panahtersebut, telapak tangannya sama sekali tidak merasa kesemutan atau sakit.

Begitulah, dengan suatu gerakan Si-siong-ciau-huan-im (Berjumpalitan indah di Awan) dengan ringan dan indahnya Leng Ping-ji melayang turun ke atas tanah.

Sewaktu berpaling, dia menyaksikan seorang gadis sedang berlarian menghampirinya.

Di belakang gadis itu mengikuti seorang pemuda beralis mata tebal dan bermata besar, di tangannya membawa gendewa.

Ia tidak lari mendekat melainkan hanya berdiri termangu sambil menatap ke arah lawannya dengan pandangan bingung dan tertegun.

Sikapnya itu seakan-akan menunjukkan bahwa semula dia mengira lawannya adalah orang lain, tak disangka ternyata cuma seorang gadis yang begitu cantik.

Dia pun tidak percaya, gadis secantik ini sanggup memukul rontok bidikan panah saktinya.

Pemuda itu baru berusia tujuh-delapanbelas tahunan, wajahnya masih kekanak-kanakan, sudah barang tentu bukan Santala.

Gadis itu sudah tiba di hadapan Leng Ping-ji, setelah melihat jelas wajahnya, mendadak dia berseru tertahan.

"Hei, kau… bukankah kau adalah Leng lihiap?"

Leng Ping-ji sendiri pun tertegun, tiba-tiba ia teringat sesuatu, dengan girang segera teriaknya.

"Kau… bukankah kau adalah enci Kaisah?"

Tak terlukiskan rasa gembira gadis itu, sahutnya dengan wajah berseri.

"Betul, enci Leng, terima kasih banyak, ternyata kau masih ingat denganku. Hei setan berandal, ayo cepatkemari dan minta maaf kepada Leng lihiap. Aah, enci Leng kau telah datang, sungguh baik sekali… sungguh kebetulan sekali!"

Kaisah adalah teman akrab Lomana, sudah lama Leng Ping-ji kenal dengan mereka. Tapi dengan pemuda yang dipanggil "setan berandal"

Oleh Kaisah, dia sama sekali tak kenal. Dengan wajah merah padam lantaran jengah, pemuda itu segera datang mendekat, katanya.

"Aku bernama Kaisi, Leng lihiap, aku tahu kau adalah sahabat karib suhuku, tapi aku tidak., tidak menyangka kau akan datang kemari…."

Leng Ping-ji agak tertegun, kemudian tanyanya sambil tertawa.

"Siapakah gurumu?"

"Dia adalah adikku,"

Kaisah menerangkan.

"sudah tiga tahun belajar ilmu memanah dari Santala, dalam anggapannya kepandaian yang dia miliki sudah hebat sekali. Ehmm, sekarang sudah tahu bukan, sesungguhnya ilmu memanahmu masih kelewat rendah!"

Merah padam wajah Kaisi sesudah mendengar ucapan itu. buru-buru bentaknya.

"Kapan sih aku bilang kalau ilmu memanahku bisa nandingi kemampuan suhu?"

Dari nada pembicaraannya itu dapat diduga, kalau di hari-hari biasa, kecuali kagum kepada gurunya, boleh dibilang dia selalu menganggap kepandaiannya paling top.

Sambil tertawa Leng Ping-ji lantas berkata.

"Usiamu masih muda, tapi ilmu memanahmu sudah luar biasa, betul kepandaianmu sekarang masih belum dapat menandingi gurumu, tapi di kemudian hari sudah sti kau akan hebat!"

"Kenapa kau memujinya?"

Sela isah.

"tanpa menanyakan merah atau hijau, dengan gegabah sekali ia telah membidikmu dengan anak panah berantai…."

"Betul, aku memang ingin bertanya kepadamu, kenapa kau membidikku tadi? Kemana perginya gurumu? Tampaknya dia tidak berada di sini, kemana ia telah pergi?"

Dengan wajah merah padam karena jengah, sahut Kaisi tergagap.

"Aku… aku mengira kau adalah silu.... aku… aku hendak membalas-dendam buat guruku."

Leng Ping-ji amat terperanjat sesudah mendengar perkataan itu.

"Siluman apa?"

Serunya dengan cepat.

"Kenapa kau hendak membalas dendam untuk gurumu?"

"Aaaai… panjang untuk diceritakan, biar aku saja yang menuturkan masalah ini,"

Ujar Kaisah.

"Singkatnya aku hendak mengabarkan sebuah berita yang jelek, enci Lomana telah dilarikan seorang siluman!"

Tak terlukiskan rasa kaget Leng Ping-ji setelah mendengar perkataan itu, setelah tertegun beberapa saat lamanya, dia bertanya.

"Di mana Santala sekarang?"

"Dia terluka parah. Peristiwa ini terjadi tiga hari berselang, tapi sampai kini belum juga sadar."

"Di mana ia sekarang?"

"Di rumahku. Seorang anaknya telah kami kirim menuju ke Lor Anki, agar bisa dilindungi oleh gwa-kong-nya. Untung saja putranya tidak menderita luka apa-apa. Tapi dia sendiri parah lukanya, kami tak berani membawanya melakukan perjalanan jauh, sebab itu terpaksa membawanya ke rumah kami agar merawat lukanya di sana."

Pada mulanya Leng Ping-ji mengira Santala sudah mengalami musibah, sekarang hatinya baru rada lega, kembali dia bertanya.

"Siapakah siluman itu?"

"Entahlah. Hari itu malam sudah larut, ketika kami mendengar bentakan Santala yang menggeledek, segera menyusul kemari, tapi dia sudah terkapar di tanah dan tak mampu berbicara lagi. Anaknya juga ketakutan setengah mati, setelah bertemu kami, dia hanya menangis sambil berteriak-teriak, ‘Mama dilarikan siluman, mama dilarikan siluman!’ Bisa diduga, bocah itu pasti ketakutan setengah mati sehingga tak berani melihat wajah ’siluman’ itu, apalagi peristiwa tersebut terjadi di tengah malam buta."

"Aku khawatir siluman itu tahu kalau suhu belum mati dan datang untuk mencelakainya lagi, maka kuundang orang untuk melindungi suhu, selama dua malam beruntun aku selalu membawa gendewa sambil menanti kedatangan siluman itu di sini,"

Sambung Kaisah melanjutkan. Ternyata rumah mereka merupakan tetangga yang terdekat dari rumah Santala.

"Tak disangka yang datang bukan siluman, melainkan kau,"

Ujar Kaisah pula.

"Enci Leng, kebetulan sekali kedatanganmu. Dengan kepandaian yang kau miliki, sudah pasti Santala dapat diselamatkan, siluman itu pun sudah pasti dapat kau hadapi pula."

Dalam pembicaraan yang berlangsung, tanpa terasa sampailah’ mereka di rumah Kaisah.

Dalam rumah penuh manusia, tapi suasana hening sekali sampai jarum yang terjatuh ke lantai pun kedengaran.

Mereka semua adalah pahlawan-pahlawan dari suku Wana yang secara bergilir melakukan penjagaan di sana.

Ada di antara mereka yang kenal dengan Leng Ping-ji, segera menunjukkan rasa kaget bercampur girang sewaktu menyaksikan dia muncul bersama Kaisah kakak beradik,masing-masing lantas menganggukkan kepala sebagai tanda hormat.

"Bagaimana keadaan San toa-ko?"

Tanya Leng Ping-ji lirih.

"Barusan seperti agak sadar,"

Jawab seorang lelaki.

"tapi masih setengah sadar setengah tidak, setelah mengigau, dia memejamkan matanya kembali."

"Apa yang dia katakan?"

"Bolak-balik yang dipanggil adalah nama Lomana, selain itu dia pun menyebut kata ‘bajingan cilik’, kata yang lain tidak terdengar jelas."

Tergerak hati Leng Ping-ji, dia berpikir.

"Yang disebut sebagai bajingan cilik olehnya sudah pasti siluman yang dimaksudkan Kaisah sebagai penculik Lomana. Tapi siapakah bajingan cilik itu?"

Semua orang menumpukkan harapannya di atas bahu Leng Ping-ji, maka dipimpin Kaisah masuklah gadis itu ke dalam kamar.

Tampak Santala berbaring di atas pembaringan dengan wajah pucat bagaikan mayat, napasnya sangat lemah, sekilas pandang saja dapat diketahui kalau dia sedang menderita luka dalam yang teramat parah.

Pelan-pelan Kaisah membuka pakaian atas Santala, lalu bisiknya» "Enci Leng, coba kau lihat!"

Begitu melihat apa yang terpapar di hadapannya, Leng Ping-ji merasa terperanjat sekali.

Di atas dada Santala yang bidang, tampak tertera sebuah bekas telapak tangan yang berwarna merah darah, di sekeliling bekas telapak tangan itu kulit dan daging mulai membusuk, bahkan menyiarkan bau yang amat tak sedap.

"Luka apakah ini?"

Bisik Kaisah.

"Aku tidak tahu, tapi kelihatannya sejenis ilmu pukulan beracun dari aliran sesat."

"Apakah masih bisa disembuhkan?"

"Biar kuperiksa dulu denyutan nadinya."

Perlu diketahui, meski ilmu silat dari Leng Ping-ji amat tinggi, pengetahuannya tidak luas, ilmu perta-biban pun hanya mengerti sedikit-sedikit.

Ia tak bisa menduga luka apakah yang diderita Santala, dapatkah menyembuhkan luka tersebut, dia sendiri juga tidak yakin.

Akan tetapi setelah melakukan pemeriksaan sebentar, paras muka Leng Ping-ji sudah tidak seberat dan seserius tadi lagi, malahan wajahnya kelihatan agak kaget bercampur gembira.

"Bagaimana?"

Buru-buru Kaisah bertanya.

"Untung masih baikan. Meskipun luka yang dideritanya tidak enteng, akan tetapi belum sampai mencapai taraf yang amat hebat seperti apa yang kuduga semula."

Ternyata Santala pernah tinggal di Thian-san selama satu bulan lebih, ia pernah belajar ilmu semadi dari perguruan Thian-san-pay, kemudian dia pun mendapat petunjuk dari Beng Hoa, sehingga setelah lewat tujuh tahun yang panjang, dasar tenaga dalam yang dimilikinya cukup kokoh dan kuat.

Setelah menderita luka, dasar tenaga dalam yang telah miliknya itu serta merta menunjukkan kekuatannya untuk melindungi badan.

Hawa murni segera mengalir ke seluruh badan dan melawan racun yang menyusup ke dalam tubuh, itulahsebabnya, kendatipun sudah tiga hari tiga malam tak sadarkan diri, hawa racunnya belum sampai menyerang ke dalam jantung.

Ilmu pertabiban yang dimiliki Leng Ping-ji tidak begitu tinggi, tapi ilmu pertabiban dasar cukup dipahami olehnya.

Sekalipun dalam hasil pemeriksaannya dia menemukan kalau denyutan nadi Santala amat lemah, akan tetapi sedikit pun tak menunjukkan gejala kacau tak keruan, dalam terkejut dan girangnya tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.

"Betul, aku lupa kalau dia pernah berlatih tenaga dalam partai kami…."

Maka telapak tangannya segera ditempelkan ke atas dadanya, kemudian dengan simhoat tenaga dalam partainya, ia menyalurkan hawa mumi ke tubuh orang dan membantunya melancarkan peredaran darah.

Betul juga, dia tidak merasakan munculnya gejala pertentangan yang muncul dalam tubuhnya, malah kedua gulung hawa murni itu segera bercampur menjadi satu.

Napas Santala pun lambat laun berubah menjadi makin berat dan kasar.

Lebih kurang sesulutan sebatang hio kemudian, Santala membuka matanya.

Begitu mata terbuka, dia lantas menggenggam tangan Leng Ping-ji sambil serunya.

"Lomana, Lomana, kau telah kembali!"

Hampir saja dia akan melompat bangun, sayang ada kemauan tenaga kurang. Dengan wajah merah padam pelan-pelan Leng Ping-ji menahan tubuhnya agar jangan bangun, setelah itu katanya.

"Sadarlah, lihat siapakah aku?"

Setelah menyadarkan Santala dari pingsannya, ia merasa gembira bercampur pedih, pikirnya.

"Rupanya cinta kasih mereka berdua mendalam, hakikatnya sudah mencapai keadaan sehidup semati. Kenapa aku justru selalu bertemu dengan lelaki berhati busuk yang tak pernah serius dalam cinta?"

Setelah sadar kembali, Santala baru tahu kalau orang yang berada di hadapannya adalah Leng Ping-ji. Buru-buru dia melepaskan tangannya sambil berseru.

"Nona Leng, rupanya kau, kapan datangnya? Apakan kalian sudah menemukan Lomana?"

"Jangan buru-buru berbicara, tenangkan hatimu dan rawat lukamu baik-baik, aku dapat membantumu untuk mencari enci Lomana."

Sembari berkata dia mengeluarkan sebutir pil Peng-leng-wan dan memasukkan ke mulut Santala kemudian dia pun menotok jalan darah tidurnya.

Ilmu totokan jalan darah yang dipergunakan Leng Ping-ji merupakan ilmu pengobatan dari Thian-san-pay, sekalipun membuat si sakit tertidur pulas, namun tidak mendatangkan kerugian bagi kesehatan badan.

Kaisah segera keluar dari kamar dan menyampaikan kabar gembira ini kepada semua orang, lalu mempersilakan mereka pulang.

Tapi demi melindungi keselamatan Santala, meski orang-orang itu sudah bubar, mereka masih melakukan giliran jaga di sekitar tempat itu.

Santala tidur cukup panjang dan lama, sampai tengah hari keesokannya baru sadar kembali.

Setelah mendapat pengobatan dari Leng Ping-ji, lalu menelan pil Pek-leng-wan yang mustajab, begitu sadar daritidurnya ia mendapatkan kondisi badannya telah segar kem-bali.

Paras mukanya juga mulai memerah, kesegarannya jauh lebih baik daripada kemarin.

Saat inilah dia baru dapat menceritakan musibah yang telah dialaminya malam itu kepada Leng Ping-ji.

Malam itu dia tertidur amat nyenyak, mendadak terdengar Lomana menjerit dan menyadarkannya dari tidur.

Dalam remang-remang, dia menyaksikan sesosok bayangan hitam sedang merentangkan lengannya mencengkeram tubuh Lomana.

Sambil membentak keras dia melompat bangun dan menubruk ke arah orang itu.

Tapi sebelum kepalannya sempat menghantam tubuh orang itu, dada sendiri kena dihajar lebih dulu, kontan dia roboh terkapar di tanah.

Dalam keadaan sadar tak sadar, ia masih sempat mendengar orang itu tertawa dingin seraya berkata.

"Kau sendiri yang mencari mampus, jangan salahkan aku lagi…."

Tahun ini putra San tala sudah berusia enam tahun, ia tidur di kamar sebelah bersama mak inangnya.

Waktu itu ia pun terbangun oleh teriakan ibunya, sambil menangis dan berteriak putranya itu lari datang menghampiri ibunya.

Orang itu segera membentak keras.

"Jika kau tak mau menuruti perkataanku, akan kubunuh juga putramu!"

Ketika bercerita sampai di situ, air mata jatuh berlinang membasahi wajah Santala, lanjurnya.

"Terkejut dan gelisah aku melihat kejadian tersebut, tiba-tiba pandangan mataku menjadi gelap dan peristiwa selanjutnya tidak kuketahui. Bagaimana dengan anakku? Mak inang itu? Kalian harusmemberitahukan kepadaku, kalian harus memberitahukan kepadaku! Kenapa kalian tidak berbicara, kenapa tidak berbicara? Apa pun yang telah terjadi, kalian tidak seharusnya mengelabui aku!"

"San toako,"

Bujuk Leng Ping-ji dengan lembut.

"tenangkan dulu hatimu. Tak ada gunanya gelisah malah akan merusak kesehatan badan, hai ini tidak bermanfaat, malah sebaliknya akan merugikan dirimu sendiri."

Dengan susah payah akhirnya Santala dapat ditenangkan kembali. Maka Kaisah pun berkata.

"San toako, anakmu tak apa-apa, kami telah mengirimnya ke rumah kelo. Cuma mak inangnya telah tertimpa musibah dan tak bisa tertolong lagi jiwanya!"

"Sungguh keji siluman itu!"

Sumpah Santala sambil mengertak gigi.

"Padahal mak inang tak pandai bersilat, tapi dia telah membunuhnya juga! Bagaimana dengan Lomana? Dia… dia bagaimana?"

"Kau berjanji tidak akan terlampau emosi, kemudian baru akan kuberitahukan kepadamu."

Santala menghela napas panjang.

"Aaaai… padahal sekalipun tidak kau katakan, aku juga tahu. Dia sudah diculik oleh siluman itu bukan?"

Kaisah tak tega untuk menjawab, maka dia hanya mengangguk dengan mulut membungkam.

"San toako, jangan khawatir,"

Kata Leng Ping-ji.

"setelah kujumpai kasus seperti ini, bagaimanapun juga, meski mempertaruhkan selembar jiwa, aku tetap akan mencari enci Lomana sampai dapat. Cuma, sekarang kau mesti tenangkan dulu hatimu, pikirlah dengan seksama dan jawab pertanyaanku."

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Untuk menolong enci Lomana, aku harus mengetahui dulu siapakah siluman yang telah melarikan dirinya itu?"

"Dalam kegelapan sulit bagiku untuk mengetahui wajahnya."

"Lantas bagaimana dengan suaranya? Kau toh pernah mendengar suaranya. Tentunya bisa kau ingat bukan, suara itu mirip siapa?"

Santala berpikir sejenak, dan secara tiba-tiba ia menatap wajah Leng Ping-ji lekat-lekat seakan ingin mengucapkan sesuatu namun merasa tak leluasa.

"Katakan saja secara berterus terang"

Bujuk Leng Ping-ji.

"Kau tak usah merasa ragu atau kurang leluasa."

Padahal gadis itu sudah menduga beberapa bagian siapa yang dimaksudkan.

"Agaknya seperti bajingan cilik itu!"

Jawab Santala kemudian. Paras muka Leng Ping-ji kontan saja berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tegasnya.

"Apakah Toan Kiam-ceng si bangsat muda itu?"

"Benar, memang suaranya! Suaranya itu tak akan kulupakan untuk selamanya!"

Ternyata sesaat sebelum jatuh tak sadarkan diri, dia sudah tahu siapakah siluman itu, karenanya dalam igauannya pun dia sempat mengucapkan kata "bajingan cilik". Santala berkata lebih lanjut.

"Pada malam pengantinku tempo hari, bajingan cilik itu pun pernah datang untuk merampas pengantin perempuan. Untung saja pada saat ituhadir Beng toako dan nona Kim, sehingga bajingan itu bukan saja tidak berhasil dengan usahanya, malahan terperangkap jebakan kami dan menderita kerugian besar. Sungguh tak disangka ia belum juga insyaf, tujuh tahun kemudian ia masih datang lagi kemari. Kali ini ia berhasil merampasnya! Pada malam tujuh tahun berselang, aku pun mendengar suara tertawanya yang busuk dan licik, aku yakin apa yang didengar tak bakal salah, sudah pasti dia, sudah pasti dia. Sayang Beng toako tidak berada di sini."

Makin berbicara dia semakin emosi, sehingga akhirnya saking geramnya dia sampai mengertak gigi Tempo hari, Kim Bik-ki yang menemani pengantin wanita di dalam kamar dan memancing Toan Kiam-ceng masuk perangkap, kemudian menusuknya sampai terluka.

Leng Ping-ji sama sekali tak hadir di situ, cuma dia pun mendengar kisah ini dari Beng Hoa, maka dia pun tak perlu menanyakan masalah ini lebih seksama lagi kepada Santala.

Setelah menghela napas panjang, katanya.

"Padahal sekalipun tidak kau katakan aku juga telah menduga ke situ, sudah pasti bajingan itulah yang melakukannya. San toako, mungkin kau tidak tahu, aku sendiri pun kena dicelakai bajingan itu hingga nyaris tewas, rasa dendam dan benciku padanya sedikit pun tidak berada di bawah rasa bencimu padanya."

"Betul, sekalipun Beng toako tidak berada di sini, tapi rejeki kita pun tidak terhitung jelek, kebetulan Leng lihiap sampai di sini. Dia pasti dapat membantumu untuk menemukan kembali enci Lomana,"

Ucap Kaisah."Enci Leng, aku tahu kau pasti akan membantuku. Cuma aku sangat khawatir, bagaimana mungkin kau dapat menemukan mereka?"

Mendadak Leng Ping-ji teringat akan satu hal, dia lantas bertanya.

"Sesudah termakan oleh serangan bangsat itu, apakah kau merasa sedikit panas dan perih bagaikan disengat api?"

"Betul. Aku memang merasa luka itu panas sekali bagaikan terbakar…"

"Baik, kau tak usah khawatir, aku akan pergi mencari bajingan itu untuk membuat perhitungan. Bila dugaanku tak salah, aku pasti dapat menemukannya. Sekarang, beris-tirahatlah dengan hati yang tenang."

Dia khawatir luapan emosi dapat mempengaruhi kesehatan badan Santala, maka begitu selesai berkata dia lantas menotok jalan darah tidurnya agar ia tak banyak berbicara lagi.

"Pukulan beracun dari bajingan itu sangat lihay, dia pasti mengira San toako mati, setelah menganggap rencananya berhasil, tentu saja dia tak akan datang kemari lagi; Cuma kau harus bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, lebih baik lindungi suhu-mu dengan hati-hati,"

Demikian pesan Leng Ping-ji kepada Kaisi sesaat sebelum pergi.

"Jangan khawatir, kami sudah melakukan persiapan, yang takut bajingan itu tak berani datang lagi,"

Sahut Kaisah.

"Kami sudah persiapkan puluhan lembar gendewa yang sekaligus dapat membidikkan berpuluh-puluh batang anak panah be-racun, jika ia berani datang, niscaya tak akan bisa lolos lagi dari sini."

"Baik, kalau begitu aku pun bisa pergi mencari sunio-mu dengan hati lega,"

Kata Leng Ping-ji.

Mencari Orang di Puncak Salju Keesokan malamnya, ketika rembulan sudah berada di awang-awang, Leng Ping-ji mendaki sebuah puncak salju yang amat euram.

Puncak salju ini terletak kurang lebih seratus li dari tempat tinggal suku Wana, tetapi karena tebingnya curam dan lagi sepanjang tahun tertutup salju, sekalipun suku Wana pandai mendaki gunung, belum pernah mereka naik ke bukit tersebut Tapi, Leng Ping-ji pernah berkunjung ke atas puncak bersalju ini.

Di atas puncak salju inilah tertanam kenangan lamanya yang penuh dengan kegetiran.

Tujuh tahun berselang, Toan Kiam-ceng pernah mengangkat seorang siluman berambut merah Auwyang Hong yang tinggal di puncak salju itu sebagai ‘gurunya, dia berhasrat sekali untuk bisa mendapatkan dua macam mestika milik suku Wana (yang satu adalah kitab pusaka ilmu silat yang berasal dari Pe/sia kuno, tapi kemudian diperoleh Beng Hoa, sedang yang lain adalah tambang batu-batu kemala).

Untuk mewujudkan harapannya ini maka langkah pertama yang dilakukan adalah menyuruh Toan Kiam-ceng mendapatkan cinta Lomana.

Seandainya Lomana bisa dikawini, maka ada harapan buat Toan Kiam-ceng untuk menjadi kelo (kepala suku) dari suku Wana, waktu itu bukan saja kedua macam mestika itu bisa didapatkan bahkan Toan Kiam-ceng bisa mengangkat dirinya menjadi raja di sana.Setelah nyaris terbunuh, Leng Ping-ji baru tahu kalau Toan Kiam-ceng telah mengangkat siluman rambut merah Auwyang Tiong sebagai gurunya, kemudian dalam pengintaiannya dia baru mengetahui akan rencana busuk dari kedua orang itu.

Suatu kali, ketika secara diam-diam Leng Ping-ji menyusup ke puncak salju, jejaknya diketahui Auwyang Tiong dan nyaris terbunuh di tangannya, untung Beng Hoa yang sedang mengejar Toan Kiam-ceng sampai juga di atas puncak salju itu, atas bantuan Beng Hoa, selembar jiwanya berhasil lolos dari maut Pada peristiwa itu juga, dia semakin jelas mengetahui betapa keji dan busuknya manusia yang bernama Toan Kiam-ceng.

Tapi justru karena adanya peristiwa ini maka timbul suatu ingatan terang di dalam benaknya, dia lantas menduga, besar kemungkinan Toan Kiam-ceng bersembunyi di atas puncak salju tersebut Sebagai dasar dari kesimpulannya itu, Lomana tak akan tunduk pada kemauan Toan Kiam-ceng, ia menduga Toan Kiam-ceng juga tak berani melarikan Lomana ke tempat yang amat jauh, sudah pasti perempuan itu akan disembunyikan dulu di sekitar tempat ini, kemudian menggunakan cara menakut-nakuti dan mengancam, dia memaksa perempuan itu menuruti kemauannya.

Sudah barang tentu tempat persembunyian yang paling cocok untuk melaksanakan rencananya ini adalah puncak salju yang jaraknya hanya seratus li dari rumah Lomana.

Di puncak salju masih terdapat rumah batu yang dibangun Auw-yang Tiong dulu, meski Auwyang Tiong sudah lama mati, rumah batu itu masih ada.Leng Ping-ji teringat kembali akan peristiwa tersebut setelah memeriksa keadaan luka pukulan beracun yang diderita Santala.

Tanpa terasa, ketika rembulan sudah mendekati tengah awang-awang, Leng Ping-ji sudah mencapai puncak bukit, rumah batu itu sudah terlihat di kejauhan sana.

Dalam hati Leng Ping-ji lantas berpikir.

"Luka pukulan yang diderita Santala sudah jelas berasal dari pukulan Lui-sin-ciang (Pukulan Geledek Sakti) yang diwariskan siluman berambut merah Auwyang Tiong kepada bajingan itu, cuma pukulan Lui-sin-ciang sesungguhnya tidak beracun, mungkin bajingan mitelah menyatukan ilmu pukulan Lui-sin-ciang dengan ilmu beracun yang diperolehnya dari Han Ji-yan perempuan siluman itu kemudian tercipta sejenis kepandaian baru. Bukan saja jauh lebih keji dan beracun daripada pukulan Lui-sin-ciang-nya Auwyang Tiong, tenaga dalam yang disertakan juga tampaknya jauh di atas kekuatan Auwyang Tong di masa lalu. Untung saja aku telah berhasil mempelajari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, kalau tidak, cukup mengandalkan ilmu pukulan Lui-sin-ciang saja dari bajingan itu, mungkin aku sudah tak sanggup untuk menuntut balas."

Setelah tujuh tahun berpisah, bukan saja Toan Kiam-ceng berhasil mendapatkan ilmu beracun dari Han Ji-yan, dia pun memperoleh simhoat tenaga dalam dari kuil Lan-tou-si di negeri Thian-tok yang diajarkan Ghasam, sudah barang tentu kepandaian yang dimilikinya sekarang bukan hanya ilmu pukulan Lui-sin-ciang belaka.

Apakah dendam kesumatnya dapat terbalas?

Sekalipun Leng Ping-ji yakin kalau dia masih sanggup untuk menghadapi Lui-sin-ciang, namun dia tak yakin bisa mengalahkan musuhnya.Kini rumah batu itu sudah berada di depan mata, kobaran api dendam yang membara dalam dadanya tak terkendalikan lagi, sambil menger-tak gigi Leng-Ping-ji berpikir di dalam hati.

"Sekalipun ilmu silat yang dimiliki bajingan itu sudah jauh di atasku, kendatipun harus mengorbankan selembar nyawaku, aku tetap akan beradu jiwa dengannya!"

Dia takut kedatangannya diketahui Toan Kiam-ceng, maka dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ta-soat-bu-liang (Menginjak Salju Tanpa Bekas) yang merupakan ilmu ginkang tingkat tinggi, diam-diam ia mendekati rumah batu itu.

Pintu kayu rumah batu itu sudah ditendang jebol oleh Beng Hoa pada tujuh tahun berselang, karena tak pernah dibetulkan kini sudah semakin parah.

Tampaknya Toan Kiam-ceng tak sempat mengurusi rumah itu, meski pintunya belum roboh, namun tak pernah tertutup, jadi dalam sekilas pandang saja semua keadaan di dalam ruangan itu dapat terlihat jelas.

Apa yang kemudian terlihat membuat Leng Ping-ji merasa terkejut bercampur girang.

Di dalam ruangan terdapat seseorang yang tak berkutik bagaikan sebuah patung arca.

Dia menghadap ke dalam dengan punggung menghadap ke luar.

Di tengah remang-remang cuaca, yang tampak tak lebih hanya bayangan punggung belaka.

Tapi oleh karena orang itu terlalu dikenal Leng Ping-ji, dalam sekilas pandang saja dia dapat mengetahui kalau orang itu tak lain adalah Lomana.

Leng Ping-ji tidak menyangka segala sesuatunya bisa berjalan dengan begitu lancar, begitu sampai dia lantas berhasil menemukan Lomana.

Tapi pada detik itu pula timbul kecurigaan di dalam hatinya.Mengapa hanya Lomana seorang yang berada di dalam rumah itu?

Tapi, begitu kecurigaan muncul, dengan cepat dia pun menemukan pula penjelasan.

"Kalau dilihat dari keadaannya, sudah pasti jalan darah enci Lomana kena tertotok oleh bajingan itu. Mungkin bajingan itu sedang keluar mencari makanan… tentu saja dia tak menyangka kalau aku bisa berada di sini, dia hanya tahu orang suku Wana tak bisa menaiki puncak salju ini, tak heran jika dia meninggalkan enci Lomana seorang diri."

Karena terburu-buru ingin menolong orang, jangan toh penjelasan tersebut dirasakan amat cocok, sekalipun tiada penjelasan yang diperoleh pun, dia tetap akan menyerbu juga ke dalam rumah tersebut.

Sambil melayang masuk ke dalam rumah, dia langsung mencengkeram bahu orang itu, sambil teriaknya.

"Enci Lomana…."

Ia bermaksud membalikkan Lomana dan memeriksanya, apakah dia benar-benar tertotok jalan darahnya setelah itu dia baru akan membebaskan totokan.

Siapa tahu baru saja dia meneriakkan kata "Enci Lomana" , dengan cepat gadis itu sadar kalau keadaan tidak beres, sebab begitu tangannya menyentuh "orang"

Itu, dengan cepat ia menemukan kalau dia bukan orang sungguhan, sayang keadaan sudah terlambat Ternyata benda itu adalah sebuah orang-orangan yang terbuat dari kulit, begitu tersentuh kulit itu segera robek besar dan "Buuss…!w dari dalamnya tersembur keluar gas racun yang baunya menusuk hidung.

Bersamaan itu juga, dari bawah kakinya terdengar suara gemuruh keras, lalu terbukalah sebuah lubang besar.Menghadapi perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini sulit buat Leng Ping-ji untuk menghindarkan diri, dia segera menghisap hawa beracun itu, sudah barang tentu tubuhnya pun segera ikut terperosok ke bawah.

Setelah menghisap asap beracun, gadis itu hanya merasakan kepalanya pusing sekali, tapi tak sampai jatuh pingsan.

Dia tahu kalau Toan Kiam-ccng telah memperoleh ilmu beracun dari Han Ji-yan, maka sebelum hujan sedia payung, sesaat sebelum masuk ke dalam ruangan, dia telah mema-sukkan separuh butir pil Pck-lcng-wan yang terbuat dari teratai salju Thian-san ke dalam mulutnya.

Tatkala badannya hampir menempel dengan tanah, Leng Ping-ji segera merasakan tubuhnya disambut seseorang, kemudian diturunkan ke bawah.

Menyusul kemudian orang itu pun terbahak-bahak.

Sebenarnya Leng Ping-ji memiliki enam butir pil Pek-leng-wan pemberian gurunya, dari keenam biji obat tadi, dua butir telah diberikan kepada Ki See-kiat, sebutir diberikan kepada Santala dan sisanya tinggal tiga butir.

Ia merasa sayang untuk menggunakannya terlalu banyak, maka kali ini dia hanya menggunakan separuh butir Pek-leng-wan untuk dikulum dalam mulurnya.

Sekalipun Pek-leng-wan boleh dibilang dapat memunahkan pelbagai racun, tapi oleh karena ia menghisap hawa racun tanpa menyangka, sekalipun ada obat dewa juga mem-butuhkan sekian waktu sebelum dapat memunahkannya, apalagi dia hanya menggunakan setengah butir saja.

Sekarang, dia telah mengunyah separuh butir pil itu dan ditelan, tapi ketika mencoba untuk mengatur pernapasan,ternyata napasnya masih sukar, badannya juga terasa amat lemas sedikit pun tak bertenaga.

Menghadapi keadaan begini, dia lantas berpikir.

"Bajingan itu benar-benar sangat licik, tak kusangka meski sudah berjaga-jaga pun akhirnya kena terjebak juga oleh siasat busuknya!"

Tapi Leng Ping-ji juga tahu, dalam keadaan begini mencaci maki tak ada gunanya, maka dia pun akan menggunakan siasat diadu dengan siasat sambil berusaha mencari akal untuk meloloskan diri.

Kalau toh Toan Kiam-ccng menganggapnya masih pingsan, dia pun berlagak pingsan, matanya segera dipejamkan dan tak mengucapkan sepatah kata pun.

Di tengah gelak tertawa yang keras, orang itu menyingkap rambut yang menutupi wajahnya, kemudian Leng Ping-ji merasa wajah orang itu sudah hampir menempel dengan wajahnya, sampai-sampai hembusan hawa panas dari mulurnya terasa.

Tampaknya orang itu sedang mem-bungkukkan badan untuk memeriksa raut wajahnya.

Hampir pecah dada Leng Ping-ji saking gusarnya, tapi dia hanya bisa menyabarkan diri.

Dia berusaha keras untuk menenangkan hatinya sementara diam-diam hawa muminya disalurkan untuk membantu daya kerja obat penawar.

Mendadak dia seperti merasakan sesuatu yang tak beres, pikirnya kemudian.

"Heran, kenapa suara tertawa orang ini tidak mirip dengan suara tertawanya."

Toan Kiam-ceng pernah mengikat tali persahabatan yang sangat erat bahkan telah bersumpah setia sampai tua, sekalipun sumpah itu hanya sandiwara dari Toan Kiam-ceng, tapi suara orang itu boleh dibilang dikenal sekali olehnya.Tak usah membuka mata pun, Leng Ping-ji sudah tahu kalau orang itu bukan Toan Kiam-ceng.

Tapi Santala bilang, orang yang melarikan Lomana pada malam itu kemungkinan besar adalah Toan Kiam-ceng, sebab suara tertawanya amat dikenal olehnya.

Lalu apa yang sesungguhnya telah terjadi?

"Jangan-jangan dia salah mendengar?

Tapi siapa pula orang ini?

Kalau didengar suaranya usia orang ini tidak terlalu besar."

Belum habis ingatan tersebut, orang itu sudah berhenti tertawa lalu gumamnya.

"Betul-betul seorang bocah perempuan yang sangat cantik, heehh… heehh… sekalipun masih kalah jika dibandingkan dengan kecantikan Lomana, tapi terhitung boleh juga Lomana adalah seorang perempuan yang telah beranak, kalau aku boleh memilih, aku lebih suka memiliki perempuan ini daripada Lomana, heeehh… heeehh… haahh… haahh setelah Toan Kiam-ceng memiliki Lomana, tentunya dia tak akan berebut lagi denganku. Aku telah bekerja untuknya, jika mendapat gadis cantik sebagai balas jasanya, aku rasa ini masih lumrah."

Ternyata dugaan Leng Ping-ji memang tidak salah, orang ini memang bukan Toan Kiam-ceng.

Cuma dia pun tak lebih dari salah seorang komplotan Toan Kiam-ceng.

Ditinjau dari pembicaraan orang ini, maka Leng Ping-ji dapat menarik kesimpulan dari seluruh jalannya peristiwa tersebut.

Apa yang didengar Santala malam itu memang tidak salah, orang yang melarikan Lomana memang Toan Kiam-ceng, tapi entah ia telah menyembunyikan Lomana di mana?Kemudian dia pun berkomplot dengan begundalnya untuk memasang perangkap di situ, agar orang yang hendak menolong Lomana terperangkap.

Leng Ping-ji berusaha menahan diri sambil berpura-pura pingsan, hawa muminya dikerahkan sedemikian rupa dengan harapan bisa memulihkan kembali kekuatannya sebesar beberapa bagian, dengan begitu ia baru melancarkan sergapan tak terduga yang mungkin bisa membunuh atau membekuk musuhnya.

Sayang apa yang diharapkan tak bisa tercapai dengan cepat, hawa murninya lama untuk berkumpul kembali Sementara dia masih gelisah lantaran hawa muminya belum juga terhimpun, mendadak terasa olehnya tangan orang itu lagi-lagi meraba tubuhnya.

Hampir pingsan Leng Ping-ji saking gusarnya, dia lantas berpikir.

"Jika dia berani mempermainkan aku, segera kuputuskan nadi-nadiku untuk bunuh diri."

Masih untung orang itu tidak melakukan undakan lebih jauh. Mendadak terdengar orang itu tertawa tergelak lagi, kemudian gumamnya.

"Sarung pedangnya saja sudah tak ternilai harganya, pedang ini sudah pasti adalah sebilah pe-dang mestika. Hahaha.. haahh… tak kusangka selain mendapat perempuan cantik aku pun mendapat pedang mestika Biar gadisnya dinikmati nanti saja, akan kulihat dulu pedang mestika apakah ini."

Rupanya dia bermaksud untuk melepaskan pedang Peng-pok-han-kong-kiam yang tersoren di pinggang Leng Ping-ji.Sarung pedang itu terbuat dari kulit yang indah bertaburkan mutiara, bentuknya antik dan indah, sekalipun ia tidak tahu asal-usulnya pedang itu, sekali lihat hatinya lantas tertarik.

Baru saja pedang Peng-pok-han-kong-kiam itu dipegang, tubuhnya langsung bergidik, tetapi hal ini malah semakin menggirangkan hatinya, sambil tertawa dia berkata lagi.

"Belum lagi pedangnya diloloskan, hawa dingin sudah menyengat badan, betul-betul sebilah pedang yang bagus!"

Siapa tahu, setelah pedang itu diloloskan dari sarungnya, segera terjadilah akibat yang tidak disangka olehnya Peng-pok-han-kong-kiam dibuat dari kemala dingin yang terpendam pada lapisan salju yang berusia beberapa laksa tahun, sekalipun tidak dipakai untuk menusuk musuh, hawa dingin yang terpancar keluar sudah cukup membekukan tubuh orang.

Betul tenaga dalam yang dimiliki orang ini sudah mencapai kesempurnaan, tapi oleh karena mimpi pun dia tidak mengira kalau di dunia ini terdapat pedang mestika semacam ini, sehingga sebelumnya tidak melakukan persiapan apa-apa, sudah tentu dia pun tidak terpikir untuk mengerahkan tenaga dalam melakukan perlawanan.

Begitu pedang diloloskan dari sarungnya, cahaya dingin segera memancar ke mana-mana, hawa dingin yang menusuk tulang pun segera merembes keluar.

Tiba-tiba orang itu menjerit keras, cepat-cepat pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam itu dibuang ke tanah, tapi darah yang mengalir di dalam tubuhnya hampir saja membeku karena dingin.

Sementara itu dengan suatu gerakan cepat Leng Ping-ji telah mengeluarkan sebutir peluru inti es, sambil membukamatanya dia menyentilkan peluru es itu ke atas jalan darah Sin-thong-hiat di tubuh lawan.

Peluru inti es terbuat dari es yang berumur selaksa tahun, seperti juga dengan pedang Peng-pok-han-kong-kiam, senjata rahasia itu terhitung senjata paling aneh di dunia ini.

Sekalipun kehebatannya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam namun jika sampai terkena telak, rasa dinginnya betul-betul sukar ditahan.

Sayang tenaga dalam yang dimiliki Leng Ping-ji belum pulih kembali, otomatis sambitan peluru esnya juga meleset dari sasaran.

Kendatipun tak sampai menghajar telak di atas jalan darah sin-thong-hiat orang itu, namun rasa dingin yang terpancar keluar cukup membuat sekujur tubuh orang itu menjadi kaku dan tak sanggup melawan lagi.

Leng Ping-ji melompat bangun dan menyambar pedang Peng-pok-han-kong-kiam itu, lalu bentaknya.

"Kau bajingan cilik sungguh menggemaskan, akan kusuruh kau merasakan siksaan lebih dulu sebelum kuperiksa!"

Baru saja dia hendak mempergunakan pedangnya untuk menusuk badan orang itu beberapa kali sehingga hawa amarahnya terlampiaskan, mendadak dijumpainya orang itu sedang membelalakkan matanya dengan sikap yang aneh sekali.

Menyaksikan keadaan itu, Leng Ping-ji ju-ga turut tertegun.

Tanpa terasa pedang Peng-pok-han-kong-kiam di tangannya juga ikut tertunduk ke bawah.

"Heran, kenapa aku seperti pernah berjumpa dengan orang ini? Di manakah aku pernah bersua dengannya?"

Tiba-tiba hatinya tergerak, paras muka Leng Ping-ji segera berubah menjadi pucat bagaikan salju, dengan gemetar dia bertanya.

"Sii. siapa… siapakah kau?"

Tampaknya orang itu juga mulai mengenali Leng Ping-ji, tiba-tiba teriaknya pula.

"Kau… kau… bukankah kau adalah enci Leng? Aku adalah Nyo Yan! Enci Leng, apakah kau sudah tak kenal lagi dengan adik Yan-mu…?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Leng Ping-ji segera merasakan hatinya bagaikan dicincang dengan pedang Peng-pok-han-kong-kiam.

siksaan yang menyerang batinnya sekarang bahkan jauh lebih hebat bila dibandingkan dengan rasa sakit hatinya sewaktu diceburkan Toan Kiam-ceng ke dalam telaga es.

Mengapa Nyo Yan bisa berubah menjadi manusia semacam ini?

Dengan termangu-mangu ia menatap pemuda yang menyebut dirinya sebagai "adik Yan"

Itu, bukan saja ia tak sanggup berkata apa-apa, sampai jalan pikirannya juga se-akan-akan turut menjadi beku.

Bagaimanapun juga rasanya sulit untuk menghubungkan pemuda di hadapannya ini dengan "adik Yan"

Yang paling disayangi itu.

Ingatannya seolah-olah berubah menjadi kosong.

Ibaratnya lilin di tengah hembusan angin, tubuhnya gontai dan bergoyang tiada hentinya, kemudian ia tak sanggup berdiri tegak dan terduduk ke atas tanah.

Nyo Yan hanya mengawasi, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, ia tak tahu berapa bagiankah tenaga dalam Leng Ping-ji yang telah pulih, tapi dia tahu bahwa diri-nya sudah kehilangan semua kemampuan dan tenaga yang dimilikinya.

Leng Ping-ji memiliki pedang Peng-pok-han-kong-kiam, sekalipun gadis itu tak bertenaga sekarang, namun masih cukup bagi gadis itu untuk membinasakan dirinya.

Memperhatikan Peng-pok-han-kong-kiam yang berada di tangan Leng Ping-ji, badan yang sudah kedinginan setengah mati itu terasa makin dingin lagi sampai giginya saling beradu keras.

Akhirnya ia seperti sudah mengambil keputusan, mendadak ditamparnya wajah sendiri keras-keras, lalu dengan tergagap katanya.

"Enci Leng, aku… aku memang amat berdosa, aku… aku tidak tahu…."

"Tutup mulut!"

Bentak Leng Ping-ji. Pelan-pelan ia berhasil menenangkan hatinya, teringat kembali sikap kurang ajar Nyo Yan tadi, hawa amarahnya kembali berkobar.

"Siapa yang menjadi enci-mu?"

Hardiknya.

"tak nyana kau masih tebal muka untuk mengajakku berbicara!"

Nyo Yan segera menjatuhkan diri berlutut di hadapannya, katanya dengan cepat.

"Enci Leng, kuharap kau bersedia memandang hubungan kita di masa lalu untuk mengampuni selembar jiwaku. Seandainya kau enggan memaafkan diriku, aku bersedia bunuh diri di hadapanmu."

Pedih hati Leng Ping-ji tak terlukiskan dengan kata, segera bentaknya.

"Ayo bangun, aku tak sudi menyaksikan tampang jelekmu itu!"

Sementara di dalam hati pikirnya.

"Dulu, sebenarnya adik Yan adalah seorang bocah yang angkuh dan tinggi hati, adakalanya bila melakukan perbuatan salah hanya beberapa patah kata teguran saja sudah membuatnya tak tahan. Tak nyana sekarang ia telah berubah serendah ini, bahkan tak segan-segan-nya untuk menampar diri sendiri."

Nyo Yan yang berada di hadapannya dengan "adik Yan"

Yang berada dalam ingatannya kecuali mempunyai paras muka yang hampir sama, pada hakikatnya segala sesuatunya telah berubah.

Tanpa terasa timbul kecurigaan di dalam hatinya, dia lantas membentak keras.

"Benarkah kau adalah Nyo Yan?"

"Sejak kau naik ke Thian-san tempo hari, aku selalu mengikuti dirimu. Waktu itu juga, kau yang membawaku turun gunung untuk mencari ayah dan kakakku. Meskipun kita telah berpisah selama tujuh tahun, mungkin paras mukaku telah mengalami perubahan besar, sepantasnya kalau kau masih teringat diriku, masa kau menaruh curiga kalau aku bukan adik Yan-mu? Bila kau tidak percaya, silakan… silakan kau periksa tahi lalatku ini."

Seraya berkata dia lantas menyingsingkan lengan bajunya dan memperlihatkan sebiji tahi lalat di atas lengan kirinya.

Ketika masih kecil dulu, Nyo Yan boleh dibilang selalu berada di bawah asuhan Leng Ping-ji, bahkan gadis itu pula yang mengurusi segala kebutuhannya, tentu saja dia masih ingat kalau di atas lengan Nyo Yan terdapat sebuah tahi lalat.

"Ucapanmu betul dan seharusnya kukenali dirimu, tapi kenapa justru kau tidak mengenali diriku? Apakah wajahku berubah lebih banyak dari wajahmu?"

Sebagaimana diketahui, sewaktu mereka berpisah dulu, Nyo Yan baru berusia sebelas tahun sedang Leng Ping-ji sembilanbelas tahun.Setelah berpisah hampir tujuh tahun lamanya, Nyo Yan dari seorang bocah berusia sebelas tahun telah berubah menjadi seorang pemuda berusia tujuh delapanbelas tahun, sedangkan usia Leng Ping-ji belum mencapai duapuluh enam tahun, jadi boleh dibilang masih berada dalam batas-batas remaja.

Otomatis perubahan wajahnya sedikit sekali.

Sesudah mengucapkan kata-kata tersebut, pada hakikatnya ia tak berani memikirkannya lebih jauh.

Tangannya lantas meraba gagang Pedang Inti Es-nya, sedangkan matanya mengawasi Nyo Yan dengan melotot, dalam hati dia bertanya kepada diri.

sendiri.

"Andaikata ia su-dah mengenalku sejak tadi. tapi masih bersikap kurang ajar kepadaku. lantas apa… apa yang harus kulakukan? Membunuhnya? Atau memandang di atas wajah Beng toako, mengampuni selembar jiwanya.,.?"

Sementara itu Nyo Yan telah menjawab dengan wajah merah padam.

"Aku… aku… mimpi pun aku tidak mengira kalau kau bisa datang kemari, sewaktu kau terjatuh tadi, wajahmu kena debu, aku memang merasa seperti kenal, tapi tak kuduga dirimu. Setelah mendengar suaramu, aku baru mengenalimu!"

"Sekalipun kau belum tahu kalau aku, tidak seharusnya kau… tidak seharusnya kau… H mm, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu sudah-sudah hampir sama dengan perbuatan dari Toan Kiam-ceng si bangsat itu? Kali ini aku datang kemari adalah untuk membunuh Toan Kiam-ceng!"

"Aku… aku tahu kalau dosaku tidak terampuni,"

Bisik Nyo Yan dengan suara gemetar.

"Enci Leng, bila kau tidak sudi mengampuni jiwaku, bunuhlah aku sekarang juga! Aku tak memiliki keberanian untuk bunuh diri, lebih suka aku mau’ di tanganmu saja"

Leng Ping-ji menghela napas panjang.

"Aaaai… kalau berbicara menurut peraturan, seharusnya aku mewakili ciangbunjin untuk menjatuhkan hukuman kepadamu, tetapi mengingat kau masih muda dan tak tahu urusan, untuk kali ini kau kuampuni. Aaai, Nyo Yan mengapa kau… kau bisa berubah menjadi begini rupa…?"

"Aku terpaksa harus begini, dia menyuruh aku berbuat apa, aku pun terpaksa berbuat apa. Bila aku tidak menuruti perkataannya, dia pun akan menyiksaku, membuat aku mati tak bisa hidup pun tak dapat!"

"Yang kau maksudkan sebagai dia apakah Toan Kiam-ceng?"

Sebelum terjadinya peristiwa ini, dia masih menaruh setitik harapan yakni berharap Nyo Yan jangan sampai terjatuh ke tangan Toan Kiam-ceng, tapi sekarang dia tahu kalau harapan ini tak mungkin bisa terpenuhi….

Betul juga, Nyo Yan segera menjawab.

"Kalau bukan dia siapa lagi? Selama banyak tahun, aku selalu diancam dan dipaksa olehnya!"

Leng Ping-ji segera mendengus, katanya dengan dingin.

"Begitu menurutkah kau dengan perkataannya? Aku ingin bertanya kepadamu, masih ingatkah kau ketika bertemu denganku untuk pertama kalinya?"

"Masih ingat Kau dan toako-ku naik gunung bersama."

"Selain itu?"

"Aku telah termakan tipu muslihat Toan Kiam-ceng dan tidak percaya kalau Beng Hoa adalah kakakku. Dia membawaku turun gunung, kakakku seperti merasa takut akan sesuatu dan tak berani menghalangi. Saat itu kau sudahterluka, penjagaannya terhadap dirimu agak kendor, maka kau pun dengan mempertaruhkan nyawa tiba-tiba merampas diriku dari tangannya. Tapi aku mengira kau dan kakakku adalah orang jahat, bukan saja berterima kasih atas pertolonganmu, malah kuhajar kau sekali. Aaai… enci Leng, kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya aku telah melakukan banyak perbuatan yang menyalahi dirimu!"

"Tak nyana kau masih dapat mengingatnya dengan begitu jelas, bagaimana kemudian?"

"Setelah kau kena kuhantam, Toan Kiam-ceng pun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepasku kembali dan menghajarmu habis-habisan. Kakakku datang menolong, saat itulah dia baru menunjukkan kebuasannya dengan menjadikan diriku sebagai sandera untuk mengancam kakakku. Dia menggunakan cara yang paling keji menyiksa diriku, mengancam kakakku agar mundur dari situ."

"Pernahkah kau menangis atau berteriak sewaktu menerima siksaan darinya?"

Tanya Leng Ping-ji.

"Tidak. Waktu itu aku sudah tahu kalau dia adalah orang jahat. Beng Hoa baru benar-benar adalah kakakku. Aku lantas pura-pura mengatakan kalau bersedia mengikutinya turun gunung, membohonginya agar percaya, kemudian ketika ia tak menduga, aku pun menggigitnya serta meloloskan diri dari cengkeraman iblis. Kakak pun segera menerjang ke muka dan membuatnya lari pontang-panting karena ketakutan."

"Aku mengira kau sudah melupakan kejadian ini, ternyata kau masih mengingatnya! Nyo Yan, bila membayangkan kembali kejadian di masa kecil dulu, apakah kau tidak merasa malu sendiri?"

Nyo Yan menundukkan kepalanya dan menunjukkan sikap seperti malu, menyesal dan tersipu-sipu. Leng Ping-ji pun berkata lebih lanjut.

"Ketika masih kecil dulu kau begitu keras kepala, pandai membedakan mana yang benar mana yang salah, bisa berusaha untuk meloloskan diri dari cengkeraman iblis tanpa mempedulikan mati hidup sendi-ri. Sungguh tak kusangka, sekarang mengapa kau berubah menjadi pengecut macam gentong nasi saja?"

Sekalipun di mulut dia memaki, hatinya sudah menjadi lunak.

Rupanya dia sengaja menyinggung kembali kejadian lama itu dengan tujuan untuk membangkitkan rasa malu di dalam hati Nyo Yan, selain itu dia pun melakukan penyelidikan lebih jauh untuk membuktikan apakah Nyo Yan yang berada di hadapannya sekarang ialah Nyo Yan yang sesungguhnya atau bukan?

Kenyataannya Nyo Yan dapat menuturkan semua kejadian itu dengan sangat jelas, bahkan bagian yang paling kecil pun masih teringat dengan jelas, bagi Leng Ping-ji, hal ini sudah cukup membuktikan kalau dia memang Nyo Yan yang sesung-guhnya.

Ketika terbukti kalau pemuda yang ada di hadapannya betul-betul adalah Nyo Yan, walaupun Leng Ping-ji merasa hatinya amat sedih, tapi dia pun telah mengambil keputusan untuk mengampuninya.

Nyo Yan bukan anak bodoh, dari ucapan gadis itu dia sudah tahu kalau Leng Ping-ji telah mempercayainya, selembar jiwanya juga sudah tak menjadi soal lagi.

Maka sambil menunjukkan sikap gugup dan menyesal, dia berkata.

"Aku… aku sendui pun tak tahu kenapa bisa berubahmenjadi demikian lemah. Apa boleh buat, aku benar-benar takut kepadanya Aku pun pernah teringat untuk bunuh diri, tapi aku masih berharap bisa berjumpa lagi dengan ayah berjumpa dengan kakakku dan juga kau. Kau tahu, aku belum pernah bertemu dengan ayahku, maka aku pun merasa berat hati untuk mati. Aku tak bisa mati, karena aku terpaksa, aku harus menuruti perkataannya…"

Tanpa terasa muncul perasaan iba di hati Leng Ping-ji, diam-diam pikirnya.

"Selama enam tujuh tahun, ia sudah kenyang disiksa bajingan itu, sebuah batu cadas pun akan ter-gilas menjadi bubuk, apalagi manusia…? Jika seorang pemuda berhati lembek, sesungguhnya hal ini bukan suatu kesalahan yang tak bisa dimaafkan."

Berpikir begitu, dia lantas berkata dengan lembut.

"Asal kau benar-benar mau menyesal dan bertobat, kau masih bisa melepaskan diri dari cengkeraman iblisnya. Beri tahu kepadaku, Toan Kiam-ceng berada di mana? Dia telah apakan Lomana?"

"Kau hendak mencarinya?"

"Tak usah banyak bicara, kalau tidak untuk mencarinya membuat perhitungan, buat apa aku datang kemari?"

"Ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, enci Leng, kau tak akan mampu mengalahkan dia."

"Kalau tak bisa mengalahkan dia lantas kenapa? Apakah kau takut aku tak bisa menangkapnya, maka tak berani mengajakku pergi mencarinya?"

"Sekalipun harus mati aku juga tak menyesal, kenapa mesti takut? Tapi bila kau tak berhasil membalas dendam, bahkan jiwa pun turut melayang, bukankah hal ini tiada harganya?"

Leng Ping-ji tahu kalau pemuda itu bernyali kecil, dan merasa takut, meski mendongkol di dalam hati namun ia tak tega untuk menegurnya, maka dia pun berkata.

"Kau tak usah khawatir, aku tahu kalau bajingan itu sudah melatih-banyak sekali ilmu silat beracun, tapi dalam tujuh tahun ini pun aku tidak cuma menganggur saja. Aku telah melatih tenaga dalam perguruanku serta ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, aku rasa tak nanti aku bakal kalah di tangan Toan Kiam-ceng si bajingan itu!"

Padahal dia tak lebih hanya mengokohkan kepercayaan Nyo Yan pada kemampuan sendiri, dalam kenyataan dia pun tidak memiliki keyakinan sebesar itu.

"Ooh, rupanya pedang mestika ini adalah pedang Peng-pok-han-kong-kiam? Kalau begitu tak usah takut!"

"Apakah dahulu kau tak pernah melihat pedang mestika ini?"

"Suhu pernah membicarakan soal pedang ini denganku, tapi tidak pernah memperlihatkannya."

Sebagaimana diketahui, Nyo Yan adalah murid terakhir dari Teng Keng-thian yang sangat disayang, sejak kecil dibesarkan di atas bukit Thian-san, oleh sebab itu Leng Ping-ji mengira dia pernah melihat pedang mestika tersebut.

Tapi kemudian ia pun teringat, sewaktu ia datang ke bukit Thian-san tempo hari, Nyo Yan baru berusia 10 tahun.

Sebetulnya Teng Keng-thian bisa saja memberitahukan kisah tentang pedang itu kepada Nyo Yan sebagai suatu cerita, tapi mungkin juga lantaran dia takut bocah itu tak tahu urusan atau menggunakan pedang itu sebagai bahan mainan, maka bukan mustahil pedang itu tak pernah ditunjukkan kepadanya.

"Baik,"

Kata Leng Ping-ji kemudian.

"kalau memang kau tidak takut, bawalah aku mencari Toan Kiam-ceng. Kalau tidak, cukup beri -tahukan saja kepadaku, sekarang dia berada di mana."

"Ia menyembunyikan Lomana di dalam sebuah gua, tempat itu tidak mudah dicari dan penuh alat-alat jebakan, lebih baik aku saja yang mengantarmu ke sana."

"Baik, kalau begitu kita berangkat sekarang juga."

"Sekarang aku rasa kita tak boleh pergi,"

Jawab Nyo Yan.

"Kenapa?"

Tanya Lang Ping-ji, tapi dengan cepat dia telah menyadari kembali apa yang terjadi, katanya.

"Apakah kau masih tersiksa oleh serangan hawa dingin?"

"Kalau dibandingkan tadi memang agak baikan, tapi kalau mesti mengerahkan ilmu meringankan tubuh, rasanya masih belum bisa."

"Baik, duduklah bersila di atas tanah dan gunakan ilmu tenaga dalam perguruan untuk mengatur pemapasan."

Sembari berkata, tangan kanannya segera diluruskan ke depan dan menekan punggungnya.

Ketika Leng Ping-ji menempelkan telapak tangannya ke bawah tadi, Nyo Yan segera merasakan hatinya bergetar keras sehingga tanpa terasa sekujur badannya menggigil keras.

Tapi tak selang beberapa saat kemudian, ia segera merasakan adanya segulung hawa panas yang menyusup masuk lewat punggung dan dalam sekejap mata mengelilingi seluruh badannya, hawa dingin yang semula mencekam badan seketika lenyap tak berbekas.

Saat itulah Nyo Yan baru merasa berlega hati, pikirnya dengan perasaan geli.

"Bila dia ingin membunuhku, sejak tadihal itu sudah dapat dilakukan, kenapa mesti memakai tipu muslihat?"

Kiranya di mana telapak tangan Leng Ping-ji menempel, tak lain adalah jalan darah penting di punggung, betul Nyo Yan sudah menduga kalau Leng Ping-ji telah mempercayai perkataannya, tak urung timbul juga perasaan takut di dalam hatinya Leng Ping-ji telah berhasil melatih ilmu Sau-yang-sinkang, dia sanggup untuk menahan hawa dingin yang bagaimanapun lihaynya, maka dia bisa mempergunakan pedang Peng-pok-han-kong-kiam.

Tapi sekarang, tenaga dalamnya tak lebih baru pulih tiga empat bagian, dengan kekuatan sebesar itu tak mungkin dia bisa membantu Nyo Yan untuk mengusir hawa dingin yang menyerang tubuhnya, sebab itu terpaksa dia mesti mem-pergunakan satu dua bagian dari tenaga dalam Sau-yang-sinkang-nya untuk memperlancar peredaran darah, sedang soal memulihkan kembali kekuatannya, hal ini terpaksa harus menggantungkan pada kemampuannya sendiri.

"Sudah baikan?"

Tanya Leng Ping-ji.

"Sudah lebih hangat, cuma…."

"Jangan punya kebiasaan menggantungkan diri pada kemampuan orang lain, asal kau salurkan tenaga dalam perguruan, dengan cepat kekuatan tubuhmu akan pulih kembali seperti sediakala."

Seusai berkata, dia tidak memedulikan Nyo Yan lagi dan melanjutkan semadinya untuk mengusir hawa racun yang mengeram di dalam tubuhnya.Kemujaraban pil Pek-leng-wan telah mulai bekerja, ketika hawa murninya disalurkan keluar, daya kerja obat itu pun semakin menyebar, tak sampai sesulutan setengah batang hio, sisa racun yg mengeram di tubuhnya telah punah sama sekali, sedangkan tenaga dalamnya juga telah pulih kembali tujuh delapan bagian.

Menurut perhitungannya, ketika sarang Toan Kiam-ceng berhasil ditemukan nanti, tenaga dalamnya sudah pasti telah pulih kembali seperti sediakala.

Menanti dia mendongakkan kembali kepalanya, tampak Nyo Yan masih duduk bersemadi, asap putih mengepul dari atas kepalanya, tapi kadang kala tubuhnya masih menggigil.

Seharusnya apa yang diderita Nyo Yan sekarang tak lebih hanyalah hawa dingin akibat dari sentilan sebutir peluru Peng-pok-sin-tan, meski bukan suatu siksaan yang bisa ditahan oleh manusia sembarangan, tapi masih jauh lebih enteng bila dibandingkan dengan keracunan.

Sekalipun begitu, dengan dasar tenaga dalam yang dimiliki Nyo Yan di mana semenjak berusia sebelas tahun dia sudah melatih diri, ditambah pula dengann hawa Sau-yang-sinkang yang disalurkan olehnya, semestinya ia sudah bisa pulih kembali seperti sediakala.

Dalam hati Leng Ping-ji lantas berpikir.

"Ia dapat mempergunakan tenaga dalam untuk memaksa hawa dingin berubah menjadi keringat dan dibuang keluar, ini memper-lihatkan kalau dasar tenaga dalam yang dimilikinya terhitung lumayan, kenapa tubuhnya masih juga gemetaran keras?"

"Mendadak dia menyadari akan sesuatu, dengan kening berkerut segera ujarnya.

"Nyo Yan, tenaga dalam yang kau pergunakan bukan tenaga dalam perguruan kita bukan?"

Dengan wajah pedih dan senyum getir sahut Nyo Yan.

"Selama banyak tahun ini, Toan Kiam-ceng selalu memaksaku untuk melatih tenaga dalam aliran sesat, aku telah melupakan cara untuk melatih tenaga dalam perguruan sendiri"

"Apakah di hari-hari biasa kau tak bisa melatih diri secara diam-diam…?"

"Aku tidak memiliki kesabaran, lagi pula takut kalau sampai ketahuan olehnya. Maka aku telah melupakannya sama sekali."

Leng Ping-ji segera mendengus dingin.

"Hm! Kau benar-benar sudah melupakan asal-usul!"

Maki tinggal maki, tapi yang pasti dia tak tega membiarkan pemuda itu menderita, lagi pula dia pun ingin cepat-cepat mengajaknya pergi menjumpai Toan Kiam-ceng, terpaksa dia tidak banyak menggubris pemuda itu lagi.

Maka Leng Ping-ji lantas mengerahkan tenaga dalamnya ke tubuh Nyo Yan dan membantunya untuk menguruti nadinya.

Waktu itu tenaga dalam Leng Ping-ji telah pulih tujuh delapan bagian, selang beberapa saat kemudian dia telah berhasil menembusi semua nadi penting di tubuh Nyo Yan dan membuat peredaran darahnya lancar kembali seperti sediakala ‘Terima kasih banyak cici.

"seru Nyo Yan kemudian.

"aah.. sungguh hebat tenaga dalam perguruan kita, sayang aku telah lalai melatihnya bahkan membuangnya sama sekali-"

Di balik ucapan tersebut terdengar suara kagumnya yang tak terhingga… Leng Ping-ji segera melotot sekejap ke arahnya, lalu serunya.

"Bakatmu sebetulnya jauh lebih baik daripada diriku, seandainya kau bersedia untuk bertobat dan kembali ke jalanyang benar, kecerdasan yang kau miliki bisa kau tumpahkan pada ilmu silat, apa salahnya mulai lagi dari permulaan? Yang dikhawatirkan justru setelah kau belajar ilmu silat dengan baik, lantas tak mau melakukan perbuatan mulia."

"Enci yang baik, selanjurnya aku pasti akan menuruti petunjukmu, aku tak akan melakukan perbuatan jahat lagi. Percayalah kepadaku."

"Berbicara kosong tanpa bukti tidak ada artinya. Akan kuingat terus perkataanmu itu, coba akan kulihat apakah kau memenuhi janjimu atau tidak, hayo jalan!"

Nyo Yan segera berjalan di depan, setelah melewati beberapa buah tebing yang curam akhirnya mereka naik ke puncak bukit, di atas tebing itu tumbuh pohon siong, sebuah tebing curam setinggi dua tigapuluh kaki menjulang tinggi ke udara, dari atas sampai ke bawah boleh dibilang tiada tempat berpijak.

Sambil tertawa getir Nyo Yan lantas berkata.

"Enci Leng, Toan Kiam-ceng menyembunyikan diri di dalam gua di atas tebing itu, cuma aku tidak mampu ke situ."

"Lantas dari mana kau bisa tahu kalau di situ terdapat sebuah gua..?"

"Aku pernah ke sana. Aku hanya bilang, aku sendiri tidak memiliki kepandaian untuk pergi sendiri ke sana"

Sekarang Leng Ping-ji baru memahami ucapannya, dia pun lantas berkata.

"Dulu, apakah Toan Kiam-ceng si bajingan itu yang membawamu ke situ…?"

"Betul!"

"Dengan cara apa dia membawamu ke sana?"

Nyo Yan mengajaknya menelusuri sebuah tebing karang dan membelok pada sebuah tikungan, sahutnya.

"Dia menggunakan cara berayunan untuk melayang dari pohon yang ada di sini menuju ke sana. Kemudian setibanya di situ, dia baru mempergunakan tali untuk membawaku ke atas."

Ternyata di atas permukaan dinding tebing yang curam itu terdapat sebatang pohon siong berusia seribu tahun yang menjulang ke angkasa, akarnya mencengkeram ke dalam batu cadas dengan batang dan ranting tumbuh ke empat penjuru, malah ada beberapa yang menjorok sampai ke dinding tebing seberang.

"Baik,"

Kata Leng Ping-ji kemudian.

"akan kubawa kau menyeberangi tebing tersebut dengan cara itu pula."

"Cici, jangan kau anggap hal ini suatu permainan belaka, paling tidak kau harus mempunyai keyakinan lebih dahulu."

"Kau tak usah mengkhawatirkan keselamatanku, cepat kita bikin tali!"

Dia lantas memotong beberapa rotan dan menyambungnya menjadi satu hingga menjadi sebuah tali yang kuat, ketika dicoba ternyata kekuatannya jauh lebih kuat daripada "Baik, aku akan segera ke sana,"

Kata Leng Ping-ji kemudian.

"Sebentar, lemparkan tali itu kemari dengan sekuat tenaga, lalu pegang ujungnya erat-erat, percayalah, aku pasti berhasil menarikmu untuk menyeberang ke sana."

Usaha Pembunuhan yang Tak Terduga Dengan cepat Leng Ping-ji melayang naik ke atas sebuah pohon dan sambil menggelantung di atas seutas rotan diaberayun ke depan bagaikan bermain ayunan, makin lama tubuhnya berayun semakin tinggi.

Menurut perhitungan, apabila rotan tersebut dapat diayunkan sampai lurus ke depan, maka jarak terjauh adalah tiga kaki dari dinding tebing seberang, itu berarti asal dia melejit dengan gerakan Burung Belibis Berjumpalitan di Udara, dia akan mencapai dinding seberang sana.

Sementara itu Nyo Yan berdiri di bawah pohon, dalam waktu yang singkat pelbagai ingatan telah berkecamuk di dalam benaknya, kemudian sekulum senyuman licik segera tersungging di ujung bibirnya.

Mendadak ia meloloskan sebilah pisau pendek.

Dasar nasib Leng Ping-ji sedang baik, sewaktu badannya sedang melayang sampai di tengah jalan, tiba-tiba ia menyaksikan Nyo Yan yang sedang berada di bukit salju di belakang sana sedang tertawa licik Bukit itu merupakan sebuah bukit yang tercipta oleh pembekuan salju yang terjadi banyak tahun, permukaannya licin dan bening seperti cermin, apalagi di bawah timpaan sinar terang, otomatis mimik wajah Nyo Yan yang sedang menyeringai licik itu terpantul di atas permukaan tersebut.

Kendatipun Leng Ping-ji tak tahu apa yang sedang dipikirkan Nyo Yan, akan tetapi pengalamannya berulang kali menghadapi usaha pembunuhan dari Toan Kiam-ceng menyebabkan kewaspadaannya selalu ditingkatkan terhadap setiap orang.

Oleh sebab itu betapa terperanjatnya nona ini setelah menyaksikan senyum licik di ujung bibir Nyo Yan, sebab senyuman itu persis seperti senyuman Toan Kiam-ceng di kala hendak membunuhnya tempo hari.Tanpa berpikir panjang lagi ia segera berayun kembali, pada saat itulah tubuhnya menjadi enteng, Tanpa berpikir panjang lagi ia segera berayun kembali, pada saat itulah tubuhnya menjadi enteng, tiba-tiba rotan tersebut putus.

Untung saja sewaktu badannya melenting balik tadi ia sudah membuat persiapan, berada di udara ia berjumpalitan dengan gaya Burung Belibis Berjumpalitan di Udara, kemudian ia mengarah sebatang pohon yang menjorok keluar, cepat-cepat disambarnya dahan pohon itu dan bergelantungan.

Nyo Yan hanya sempat memotong rotan itu, tapi tak sempat memotong dahan pohon tersebut Rotan itu melingkar di atas dahan pohon, sedangkan pohon siong itu tumbuh di sisi tebing dengan dahan yang mencuat keluar, hal ini menyebabkan ia tak berani mendekati tepi tebing dan memotong dahan pohon tersebut.

Dahan pohon siong tadi lebih kecil dari jari kelingking, masih untung ilmu,meringankan tubuh yang dimiliki Leng Ping-ji amat sempurna, cepat-cepat dia merangkak kembali ke atas dahan utamanya, menanti ia melompat turun dari pohon tersebut, Nyo Yan sudah kabur entah ke mana.

Lolos dari ancaman maut, mula-mula Leng Ping-ji merasakan pikirannya kosong, hampir saja ia tak percaya kalau hal ini merupakan kenyataan.

Dengan cepat dia memeriksa potongan rotan yang masih melingkar di atas dahan pohon tersebut, gadis itu ingin tahu putusnya rotan akibat tak kuat menahan bobot badannya atau karena sebab lain.Ternyata rotan bekas dipotong orang, ini dapat terlihat dari bekas putusnya yang rata dan halus.

Tak terlukiskan rasa pedih Leng Ping-ji setelah menyaksikan keadaan itu, bahkan jauh lebih tersiksa sewaktu terjebak dan nyaris dipermainkan Nyo Yan tadi.

Kalau dikatakan pertama kali tadi Nyo Yan berbuat keji kepadanya karena belum tahu siapa dia, betul kejadian itu menggemaskan, namun masih bisa dimaklumi.

Tapi bagai-mana dengan kali ini?

Kali ini dia sudah tahu siapakah Leng Ping-ji itu, bahkan menangis tersedu sambil menyatakan rasa sesalnya.

Siapa tahu, di satu pihak ia memohon pengampunan dari Leng Ping-ji, di pihak lain ia merencanakan siasat keji untuk mencela-kainya.

"Nyo Yan wahai Nyo Yan, aku benar-benar tidak mengira kalau kau telah mengidap penyakit syaraf…."

Leng Ping-ji tidak sampai mencaci maki, air mata pun masih bisa ditahan, akan tetapi hatinya telah berdarah.

Dengan cepat Leng Ping-ji memusatkan kembali semua pikirannya dan berusaha untuk mengendalikan perasaan sedih yang mencekam perasaannya, setelah itu teriaknya.

"Nyo Yan, kau tak akan berhasil menyembunyikan diri! Satu kali bisa bersembunyi, kedua kali tak akan bisa kau hindari. Betul aku bersedia melepaskan dirimu, tapi toako-mu dan para pendekar tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja! Dapatkah kau melanjutkan suatu kehidupan yang terpencil sepanjang hidup? Lebih baik keluar dan menyerahkan diri, beri tahukan kepada-ku, mengapa kau bersikap demikian kepadaku? Kalau tidak, bila sampai kutangkap maka aku tak akan mengampuni dirimu!"

Rembulan bersinar terang di tengah keheningan yang mencekam tanah perbukitan itu, hanya suara deruan angin yang terdengar, namun tiada jawaban dari Nyo Yan.

Batu cadas berserakan di sana-sini, semak belukar bergerombol di timur dan di barat, tidak diketahui Nyo Yan menyembunyikan diri di belakang batuan yang mana?

Gadis itu mengetahui dengan pasti, dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Nyo Yan, tak mungkin dia bisa kabur terlampau jauh, sudah pasti ia bersembunyi di sekitar tempat itu, namun untuk menemukan jejaknya bukan suatu hal yang gampang.

Lagi pula bila telah berhasil menangkapnya apa pula yang bisa dia lakukan?

Tegakah dia membunuhnya?

Leng Ping-ji benar-benar tak tahu cara untuk menghadapi Nyo Yan, karena itu diam-diam ia menghela napas dan melepaskan niatnya untuk melakukan pencarian.

‘Tindakan yang harus segera dilakukan adalah menemukan enci Lomana lebih dahulu, sedang binatang kecil itu biar saja hidup untuk sementara waktu.."

Demikian Leng Ping-ji berpikir.

Tapi, ke mana ia harus menemukan jejak Lomana?

Segulung angin dingin berhembus lewat, pikiran Leng Ping-ji segar kembali.

Setelah ia berhasil membongkar kedok kemunafikan Nyo Yan yang hendak mencelakainya, selapis kabut kebingungan yang semula menyelimuti matanya pun segera terhembus buyar.Tentu saja ia tak dapat mempercayai omongan Nyo Yan, juga tidak percaya kalau Toan Kiam-ceng bersembunyi di dalam sebuah gua yang penuh dengan alat jebakan.

Setelah menenangkan kembali pikirannya, diam-diam ia menilai keadaan yang dihadapinya, (aiu berpikir.

"Di dalam rumah batu itu mereka sengaja mengatur sebuah perangkap keji untuk menjebak orang yang datang menolong Lomana.

Mana mungkin Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu bisa menyembunyikan diri dalam sebuah gua yang jauh letaknya dari rumah batu itu?

Apalagi ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan amat biasa, masa ia tak khawatir andaikata Nyo Yan tak sanggup menghadapi musuh tangguh?.

Sesudah termenung sejenak tiba-tiba ia memahami akan sesuatu.

"Aah, jangan-jangan ini siasat memancing harimau turun gunung?

Rupanya Nyo Yan si binatang cilik itu telah memperalat rasa percayaku terhadap dirinya untuk menipu aku meninggalkan rumah batu itu pergi mencari Toan Kiam-ceng.

itu berarti Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu pasti bersembunyi di sekitar ruangan batu ini, atau siapa tahu kalau di bawah tanah situ terdapat kamar rahasia.

"Tapi, kenapa di kala ia tahu Nyo Yan sudah kukuasai, ia tidak menampilkan diri untuk menolong Nyo Yan?"

"Aah, betul. Ia sudah mendengar bualanku, aku bilang ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang telah kupclajari sanggup mengalahkannya, dia takut tak mampu mengalahkan aku, maka tak berani memunculkan diri. Heehh…heeehh… seandainya betul-betul-demikian, boleh dibilang nasibku tadi sungguh mujur sekali."

Tanpa terasa ia menjadi teringat kembali peristiwa tadi, walaupun dia menaklukkan Nyo Yan dengan mengandalkan kehebatan pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam, namuntenaga dalam yang dimilikinya waktu itu baru pulih dua tiga bagian, sesungguhnya berbahaya sekali keadaannya ketika itu.

Kini tenaga dalamnya telah pulih delapan sembilan bagian, dia yakin sanggup untuk menghadapi Toan Kiam-ceng.

Maka mengikuti dugaan sendiri, dia pun balik kembali ke tempat semula.

Tiba di rumah baru itu, tampak mulut lorong rahasia tersebut belum ditutup, segala sesuatunya masih persis seperti ketika ia meninggalkannya tadi.

Diam-diam Leng Ping-ji menjadi keheranan, dia tak tahu dugaannya benar atau tidak.

Sementara orang-orangan yang terbuat dari kulit itu masih tergeletak di bawah, diam-diam Leng Ping-ji menghela napas.

Lomana gadungan itu telah membuatnya terjebak, bagaimana dengan Lomana yang asli?

Dia telah disembunyikan di mana?

Sementara ia masih pusing dan termenung dengan kebingungan, mendadak terdengar suara yang cukup dikenal olehnya berkumandang.

"Enci Leng, enci Leng!"

Itulah suara Lomana!

Untuk sesaat, hampir saja dia merasa dirinya sedang bermimpi, tapi suara panggilan itu terdengar amat jelas, sudah pasti bukan sedang bermimpi.

la mencoba untuk meraba orang-orangan di bawah kakinya, benda itu memang orang-orangan, sudah tentu orang-orangan tak mungkin bisa berbicara.

Tapi ia belum juga menemukan Lomana yang asli.

Gadis itu coba mengintip dari mulut lorong rahasia, dalam ruang bawahtanah di mana ia bersua dengan Nyo Yan tadi pun tidak ditemukan jejak Lomana.

Hampir saja dia akan menyahut, ingin memberitahukan kepada Lomana kalau ia sudah datang dan berada di situ.

Untung saja dia cukup berpengalaman, dalam waktu singkat dia mengendalikan pergolakan emosi yang membara di dalam dadanya, dengan cepat segenap pikirannya dipusatkan dan ketenangannya pulih kembali.

Ia tahu, Lomana berteriak memanggilnya belum tentu karena melihat kehadirannya, tapi Lomana pun tak mungkin memanggil namanya tanpa sebab-sebab tertentu, ditinjau dari sini, dapat diketahui bahwa kehadirannya di situ tadi pasti telah diketahui oleh Lomana.

"Waktu itu, dia pasti sedang dikuasai oleh Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu, siapa tahu kalau jalan darahnya tertotok. Dan sekarang, Toan Kiam-ceng mengira aku telah pergi jauh, maka jalan darahnya baru dibebaskan. Aaai… untung saja aku tidak bertindak gegabah, sudah pasti Toan Kiam-ceng hadir di sisinya sekarang, bila ia sampai mendengar suaraku, mana mungkin aku dapat menyelamatkan enci Lomana dari sekapannya? Aaai… entah cara apakah yang harus kugunakan untuk menghadapinya?"

Dugaannya memang benar, tapi sayang dia hanya berhasil menebak setengahnya saja.

Ilmu meringankan tubuhnya segera dikerahkan dan diam-diam melompat masuk lewat mulut lorong tersebut, benar juga, dari dalam lorong itu segera terdengar seseorang sedang tertawa dingin.

"Heeehh… heeehh… kau masih ingin menantikan kedatangan enci Peng-mu untuk menolong? Jangan bermimpi di siang hari bolong."

Selain ruangan di bawah tanah tersebut, masih ada ruangan rahasia lain, Lomana disekap dalam ruangan rahasia tersebut Dalam hal ini, dugaannya memang tepat Tapi orang yang sedang berbicara itu bukan Toan Kiam-ceng, melainkan suara seseorang yang masih asing.

Gerakan tubuh Leng Ping-ji ibarat selembar daun yang jatuh ke tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara barang sedikit pun juga, orang yang bersembunyi di dalam ruangan rahasia tersebut ternyata sama sekali tidak merasakannya.

Cuma, Leng Ping-ji masih belum tahu bagaimana caranya untuk membuka pintu rahasia tersebut Sementara itu orang tadi telah mendengus dingin, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Enci Leng-mu selama hidup tak akan datang kemari lagi."

"Kau tak usah bicara sembarangan, ilmu silat yang dimiliki enci Leng sangat lihay, kalian tak akan mampu mencelakainya. Ia sedang pergi mencari Toan Kiam-ceng si manusia laknat. Tentu saja tak akan kembali kemari.’"

Suara itu adalah suara dari Lomana yang sedang marah-marah.

"Hmm, kau tahu siapa yang telah mengajak Leng Ping-ji pergi mencarimu…?"

Tadi Lomana tak sadarkan diri karena jalan darahnya tertotok, dia tak tahu bagaimana jalannya cerita sehingga Nyo Yan berhasil menipu Leng Ping-ji. Maka tanpa terasa dia bertanya.

"Siapa?""Dia adalah Nyo Yan. Tentunya kau sudah tahu bukan, siapakah Nyo Yan itu?"

"Benarkah orang itu adalah Nyo Yan?"

Orang itu segera tertawa, sahutnya.

"Kalau bukan Nyo Yan, masa budak she Leng itu bisa terperangkap? Heeeeh… heehh… heeehh… kau toh pernah mengikuti Leng Ping-ji pergi ke Thtan-san, tentunya kau juga tahu bukan kalau hubungan Leng Ping-ji dengan Nyo Yan lebih akrab daripada hubungan antara kakak dan adik…?"

"Bila ia benar-benar adalah Nyo Yan, tak mungkin dia akan mencelakai enci Leng!"

Seru Lomana cepat. Tapi suaranya kedengaran agak gemetar, dia hanya bermaksud untuk menghibur diri sendiri padahal tidak yakin. Orang itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah… haahaa… hahaha… apa di dunia yang tak bisa berubah? Batu cadas di atas bukit karang pun akhirnya berlubang bila tertimpa air hujan, apalagi hanya manusia? Nyo Yan sudah bersumpah setia untuk mengikuti Toan toa-ko, kau anggap dia masih menganggap budak itu sebagai cici-nya?"

Diam-diam Leng Ping-ji menghela napas panjang, pikirnya.

"Walaupun orang ini adalah orang jahat yang sekomplotan dengan Toan Kiam-ceng, namun caranya berbicara masuk akal, manusia memang bisa berubah-ubah, adik Yan yang dulu kini sudah tiada lagi."

Terdengar orang itu berkata lebih lanjut.

"Betul ilmu silat yang dimiliki Leng Ping-ji masih jauh lebih hebat dari Nyo Yan, tetapi dia tak akan mengira kalau Nyo Yan bakal mencelakainya. Sekalipun aku tidak tahu dia mencelakainya dengan cara apa, tetapi aku tahu kecerdasan Nyo Yan, ia pasti akan berhasil mendapatkan akal untuk mencelakai jiwanya!Sebab itu, kuanjurkan kepadamu lebih baik padamkan saja ingatanmu itu, tak usah terlalu mengharapkan kedatangan Leng Ping-ji untuk menyelamatkan dirimu."

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya!"

Teriak Lomana keras-keras. Tapi suaranya kian lama kian bertambah gemetar. Leng Ping-ji lantas berpikir.

"Kali ini lagi-lagi jawabannya benar, cara Nyo Yan mencelakai diriku memang cukup pintar, sayang aku tidak berhasil dibunuhnya seperti apa yang diduga! Heeh heeh heeh heeh aku benar-benar baru pulang dari gerbang kui-bun-kwan, aku datang kemari untuk membuat perhitungan dengan kawanan siluman iblis itu!"

Sayang, walaupun selisih mereka amat dekat namun terasa jauh sekali. Ia cuma mendengar suara Lomana namun tak mampu menyelamatkan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara Lomana sedang berteriak lagi.

"Hei, mau apa kau? Bila kau berani menyentuhku, aku akan segera bunuh diri di hadapanmu!"

Leng Ping-ji mengira orang itu hendak menodai Lomana, saking mendongkolnya dia sampai mencak-mencak seperti kambing terbakar jenggotnya.

Dia hanya gemas kenapa pedang Peng-pok-han-kong-kiam yang dipegangnya ini meski mestika namun bukan pedang yang tajam, kalau tidak, dia ingin menjebol pintu dan menyerbu kedalam.

"Tak usah khawatir, aku tidak akan menodai dirimu,"

Kedengaran orang itu berkata.

"Asal kau mau menurut perkataanku dan ikut pergi, seujung rambut pun aku tidak akan mengganggumu."

Setelah mendengar ucapan itu, Leng Ping-ji yang berada di luar baru menghembuskan napas lega, pikirnya, ‘Tidak peduli dia bersungguh hati atau tidak, asal ia bersedia mengajak Lomana keluar dari situ, urusan jadi lebih gampang penyele-saiannya.

Enci Lomana, kabulkan permintaannya.

"Sayang Lomana tidak tahu kalau dia berada di luar, sewaktu mendengar perkataan itu, ia tampak agak tercengang, kemudian katanya.

"Bukankah Toan Kiam-ceng memerintahkan dirimu untuk tinggal di sini menjaga aku. Kau hendak mengajakku pergi ke mana?"

"Pergi jalan-jalan,"

Sahut orang itu sambil tertawa.

"Sudah beberapa hari kau disekap di sini, masa tidak sumpek? Aku bersedia mengajakmu keluar dan berjalan-jalan."

"Jalan-jalan? Enak amat kalau berbicara. Kau anggap aku adalah bocah berumur tiga tahun yang percaya obrolan setanmu? Sudah pasti mempunyai rencana busuk!"

Orang itu segera tertawa "Kau jangan banyak curiga, sekalipun aku bernyali besar dan suka main perempuan, tak akan berani kulalap kekasih hari Toan toako!"

"Kau… kau tak usah mengaco belo."

Teriak Lomana dengan gusar.

"Aku lebih suka mati daripada menuruti perkataanmu."

"Jangan mencari mati,"

Kata orang itu sambil tertawa.

"tak lama lagi, ayahmu pasti akan datang untuk menjemput pulang. Bila kau mati, bukankah dia orang tua akan merasa sedih?"

Lomana menjadi tertegun.

"Hei, jika ingin membohongi diriku, bohongi dengan kata-kata yang agak masuk di akal,"

Serunya.

"Dari mana ayahku bisa tahu kalau aku berada di sini? Kepandaianmu membohongi orang masih belum terhitung hebat."

"Aku tidak bohong, untuk menarik rasa percayamu, aku telah memberitahukan segala sesuatunya."

"Baik, coba kau katakan!"

"Toan Kiam-ceng-lah yang pergi memberitahukan hal ini kepada ayahmu__"

"Huuuh, omonganmu makin lama semakin melantur, masa bangsat itu bisa berbaik hati?"

Orang itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah haa haa kau anggap ia berbuat demikian karena berbaik hati? Terus terang aku beri tahukan padamu, pada mulanya dia berhasrat untuk menodai tubuhmu, tapi melihat kau bersikeras menolak kemauan-nya, maka dia baru berubah pikiran. Ia bersedia melepaskan kau pulang, tentu saja disertai dengan beberapa syarat"

Dengan cepat Lomana menjadi paham, dan katanya kemudian.

"Ooh, rupanya dia hendak menggunakan aku untuk mengancam ayahku…?"

"Tepat sekali. Ayahmu kepala suku Wana, dia hanya mempunyai seorang putri saja, tak nanti ia tidak datang untuk menolong dirimu, walaupun wajahmu cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, sayang orang cantik tak ada gunanya bagi Toan Kiam-ceng, apalagi kalau sesosok mayat belaka. Maka itu dia akan menggunakan dirimu menjadi barang barteran dengan kedudukan ayahmu, tentu saja tawar-menawar tidak bisa dihindari, dan aku rasa hargamu pun tak mungkin bisa terlampau rendah…."

"Bajingan itu sungguh menggemaskan, ayahku tidak akan sampai tertipu olehnya,"

Seru Lomana dengan gemas.

"Aku berani bertaruh denganmu, ayahmu itu pasti rela mengorbankan segala-galanya demi menebus dirimu!"

Lomana merasakan hatinya kalut sekali.

Ia khawatir ayahnya kena tipu Toan Kiam-ceng, tapi dia pun berharap bisa berjumpa dengan ayahnya.

la tahu cara pandang dari orang ini benar, diam-diam dia pun berpikir.

"Benar, bila ayah tahu kalau aku terjatuh ke tangan bajingan cilik ini, sekalipun harus mengorbankan selembar jiwanya, dia pasti akan menolongku. Tapi ayah adalah ketua dari satu suku bangsa, seandainya Toan Kiam-ceng si bangsat keparat ini memang bermaksud untuk mem-peralat suku bangsaku dan memaksa ayah untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tak ingin dia lakukan, apa dayanya? Aaaai… untuk menghindari ayahku turut tersiksa, lebih baik aku mati saja!"

Tapi berada dalam ruangan dan pengawasan yang ketat dari orang itu, mustahil dia bisa menemukan kesempatan untuk menghabisi nyawa sendiri.

Selain itu, dia pun tak ingin cepat-cepat mati!

Ia teringat kepada putranya, teringat suaminya, teringat teman-temannya, terutama sekali Beng Hoa dan Leng Ping-ji.

Tiba-tiba timbul sepercik harapan dalam hati kecilnya.

"Enci Peng sudah datang, walaupun orang ini mengatakan Nyo Yan pasti dapat mencelakai jiwanya, tapi perhitungan manusia tak akan mengalahkan perhitungan Thian, belum tentu harapan mereka itu tercapai. Kenapa aku harus mempercayai gertak sambalnya itu?"

Setelah muncul setitik harapan tersebut berkobarlah kembali keinginan untuk melanjutkan hidup, diam-diam iaberpikir.

"Sekalipun harus bunuh diri, aku harus mengetahui dengan pasti bahwa enci Peng telah tewas."

Berpikir sampai di situ, dia menjadi ingin mengikuti orang ini keluar dari ruangan tersebut Tentu saja dia tahu kalau orang ini mempunyai maksud jahat tapi dia berharap bisa bertemu dengan Leng Ping-ji setelah tiba di luar ruangan rahasia itu.

Belum habis ingatan tersebut melintas, terdengar orang itu telah berkata lagi.

"Sudah kau pikirkan dengan matang belum? Toan Kiam-ceng sudah pergi selama dua hari, tak lama kemudian ayahmu akan datang menjemputmu, apakah kau tak ingin pulang ke rumah dan berkumpul kembali dengan suami dan anakmu? Turutilah perkataanku, mari kita pergi!"

"Kenapa kau memaksaku unwk keluar dari sini? Aku tidak percaya dengan omongan setanmu tadi!"

"Kau tak usah terlalu banyak bicara,"

Kata orang itu sambil tertawa.

"pokoknya aku tidak bermaksud mencelakai dirimu, aku pun tak akan menodai dirimu. Meski kau cantik, sayang dirimu bagaikan sekuntum bunga mawar yang penuh duri. Toan Kiam-ceng saja tak berani mengusikmu, masa aku berani?"

Ternyata orang ini pun merasa kesal bercampur gelisah ketika dilihatnya sampai sekian lama Nyo Yan belum juga datang.

Ia khawatir Nyo Yan gagal dan mengakibatkan kedatangan Leng Ping-ji, ia tidak mampu mengalahkan Leng Ping-ji.

Cara yang paling baik untuk menanggulangi ini tentu saja pergi dan meninggalkan tempat itu untuk sementara, setelah ada kabar beritanya barulah dibicarakan lebih jauh.Tempat persembunyian yang akan dituju diketahui oleh Nyo Yan, asal Nyo Yan benar-benar berhasil mencelakai Leng Ping-ji, otomatis dia akan datang mencarinya.

Karena tak bisa menunggu lebih jauh, segera ujarnya.

"Hei. sebetulnya kau bersedia pergi tidak? Kalau tidak mau, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"

"Jangan sentuh aku, aku bisa berjalan sendiri!"

"Haahh… haahh… haahh… begitulah baru benar, baik, aku tak akan menyentuhmu, tapi harus berjaga-jaga, harap jangan menyalahkan!"

Sembari berkata dia lantas melepaskan ikat pinggangnya dan membelenggu tangan Lomana, ketika selesai mengikat korbannya, ia baru berkata sambil tertawa.

"Aku akan menuntunmu berjalan, boleh..."

Sembari berkata dia lantas menekan tombol rahasia untuk membuka pintu rahasia tersebut.

Mimpi pun dia tak mengira kalau Leng Ping-ji yang dikiranya sudah dibunuh Nyo Yan ternyata sedang mengintip dari luar.

Leng Ping-ji memang sedang menunggu datangnya kesempatan tersebut.

Begitu orang itu melangkah keluar dari pintu rahasia, peluru inti es nya segera disambitkan ke depan.

Sambitan tersebut sangat tepat dan persis menghajar telapak tangan orang itu.

Peluru inti es merupakan sebuah senjata rahasia yang dapat memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang, kontan orang itu merasakan lengannya bergetar keras,kekuatannya punah dan cekatannya atas ikat pinggang tersebut pun mengendor.

Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki orang itu pun cukup hebat, walaupun terkena peluru inti es, badannya tidak dingin membeku.

Betul dia sampai bersin berulang kali, namun orang itu masih mampu melancarkan sebuah pukulan dahsyat Entah ilmu pukulan apa yang dilatihnya itu, begitu serangannya dilancarkan, hawa panas segera menderu-deru bagaikan gelombang panas yang baru keluar dari kuali mendidih.’ Sementara itu, Leng Ping-ji telah menubruk ke depan dan melindungi tubuh Lomana, berbareng itu pula pedang Peng-pok-han-kong-kiam-nya diputar menciptakan selapis hawa dingin yang menggidikkan.

Dengan bergeraknya pedang Peng-pok-han-kong-kiam, hawa dingin segera memancar ke mana-mana dan menciptakan selapis jaring hawa dingin yang membekukan darah.

Dalam waktu singkat seluruh ruangan telah diliputi cahaya berwarna putih.

Hawa pukulan panas yang dipancarkan orang itu gagal menahan hawa serangan Peng-pok-han-kong-kiam, kontan ia bersin berulang kali dengan wajah memucat.

Dalam pada itu, Lomana bersembunyi di belakang Leng Ping-ji, untung saja hawa dingin yang terpancar dari pedang mesti ka itu menggulung ke muka, dengan begitu pengaruh terhadap dirinya tidak begitu hebat.

Sedikit banyak dia pun pernah berlatih tenaga dalam aliran Thian-san-pay, meski dasarnya tak kuat namun setelah hawadingin itu saling membentur dengan hawa panas dari lawan, hawa dingin yang tersebar masih mampu dihadapinya.

Agaknya orang itu sadar kalau bukan tandingan, dengan cepat ia melejit ke udara dan melompat masuk ke dalam gua.

Buru-buru Lomana berseru.

"Jangan gubris diriku, cepat kejar manusia laknat itu!"

Leng Ping-ji tersadar kembali, cepat dia menyambitkan tiga peluru inti es ke depan menyusul badannya turut melompat masuk ke dalam gua.

Sebetulnya orang itu hendak menurunkan pintu batu begitu sampai di dalam gua, akan tetapi dengan tibanya serangan peluru inti es ia tak sempat untuk bertindak "Bajingan laknat, mau kabur ke mana kau?"

Hardik Leng Ping-ji. Tubuh berikut pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam langsung menusuk ke depan.

"Lomana sudah kuracuni,"

Kata orang itu dingin.

"setengah jam lagi racun akan kambuh, kalau punya nyali hayolah kejar aku!"

Sembari berseru, secara beruntun dia lepaskan tiga buah pukulan dahsyat… Ketiga buah pukulan itu semuanya dilancarkan dengan sepenuh tenaga, gelombang hawa panas segera menggulung ke depan dengan dahsyatnya.

Walaupun kehebatan dari pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam berhasil mengendalikan serangan tersebut, namun dalam keadaan terburu-buru, sulit buat Leng Ping-ji untuk mengalahkan dirinya.Sekarang Leng Ping-ji baru sempat melihat jelas paras muka siluman itu, dia berusia di antara tigapuluh tahunan, mukanya bulat dan rada-rada mirip wajah Nyo Yan.

Secara beruntun orang itu melancarkan tiga pukulan, hawa panas yang menderu-deru dapat membendung hawa dingin yang keluar dari pedang Pcng-pok-han-kong-kiam.

Di antara angin pukulan tercium bau amis yang memuakkan, untung saja Leng Ping-ji telah menelan separuh butir pil Pek-leng-wan yang terbuat dari teratai salju Thian-san, sehingga ia tidak terpengaruh oleh pukulan beracun itu.

Dengan cepat Leng Ping-ji teringat akan satu hal, segera pikirnya.

"Pukulan ini mirip sekali dengan ilmu pukulan Lui-sin-ciang keluarga Auwyang yang sudah lama hilang dari dunia persilatan, tapi dulu siluman berambut merah Auwyang Hong pun tidak memiliki kehebatan seperti ini…."

Kiranya Auwyang Tiong yang pernah menjadi gurunya Toan Kiam-ceng itu pun sebetulnya merupakan seorang keturunan dari suatu keluarga persilatan, kakeknya Auwyang Pek adalah seorang tokoh silat yang seangkatan dengan Kim Si-ih, ayah Kim Tiok-liu, jago pedang nomor wahid dari kolong langit Ketika itu, dengan mengandalkan ilmu pukulan Lui-sin-ciang, dia pernah malang melintang di dunia persilatan tanpa tandingan, cara kerjanya pun di antara lurus dan sesat kemudian ia dikalahkan oleh Kang Hay-thian murid tertua dari Kim Si-ih, dan bertobat pada usia tuanya sehingga kembali ke jalan yang benar.

Anak cucu Auwyang Pek tak seorang pun yang memiliki bakat bagus seperti leluhurnya, sejak ia wafat, tak pernah keturunannya berhasil melatih ilmu Lui-sin-ciang tersebut hingga mencapai puncak.Sampai pada jamannya Auwyang Tiong, ia baru berhasil melatih ilmu jari Lui-sin-ci, ilmu Lui-sin-ciang belum mampu dikuasai sepenuhnya, kalau dibandingkan dengan Auwyang Pek, kakeknya, tentu saja masih terpaut jauh sekali.

Sayang cara kerjanya justru lebih busuk dan sesat daripada Auwyang Pek, akibatnya dia harus tewas di bukit Thian-san ketika kawanan gembong iblis menyerang partai Thian-san.

Begitulah, ketika Leng Ping-ji menghubungkan kembali luka pukulan beracun yang diderita Santala dengan pengalaman yang dialaminya barusan, dengan cepat ia berhasil memahami seluk-beluk persoalan itu, terhadap asal-usul orang ini serta hubungannya dengan Toan Kiam-ceng pun ia berhasil menebak tujuh delapan bagian.

"Sudah pasti orang ini ada hubungan yang erat dengan Auwyang Tiong, kalau bukan keponakannya ya muridnya. Sejak pulang dari negeri Thian-tok, Toan Kiam-ceng telah menjalin hubungan yang akrab dengan mereka Dasar sama-sama busuk mereka jadi akur satu sama lainnya dan saling bertukar ilmu silat, di situ pula ia berhasil mempelajari ilmu pukulan Lui-sin-ciang milik Auwyang Tiong yang sangat lihay itu. Sebelum itu Toan Kiam-ceng telah mendapatkan kitab pusaka Tok-kang-pit-kip dari Han Ji-yan, tak heran kalau ilmu pukulan Lui-sin-ciang yang dipelajari bukan cuma lebih hebat dari permainan Auwyang Tiong, bahkan mengandung racun pula. Serangan yang dilancarkan orang ini hanya membawa bau amis, mungkin Toan Kiam-ceng memang sengaja merahasiakan bagian yang penting dari ilmu itu, maka tak heran kalau pukulan orang ini tidak beracun. Cuma kalau berbicara dari kemampuan orang ini dalam memainkan ilmu pukulan Lui-sin-ciang, bukan mustahil aku baru bisa merobohkannya setelah bergebrak ratusan jurus."

Menurut orang itu, dia telah mencekoki Lomana dengan sejenis racun yang lambat kerjanya, Leng Ping-ji tidak berani mengabaikan ancaman tersebut dengan begitu saja Demikianlah di bawah serangan-serangan Leng Ping-ji yang gencar, mendadak orang itu melepaskan pukulan tipuan, kemudian membalikkan badan dan kabur.

"Mau kabur ke mana kau!"

Bentak Leng Ping-ji. Tubuh berikut pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya tajam langsung menusuk ke depan.

"Bila kau tidak memedulikan keselamatan jiwa Lomana, silakan mengejar kami,"

Tantang orang itu.

Sebuah pukulan yang dilancarkan sepenuh tenaga, kembali dilontarkan ke depan.

Sejak semula Leng Ping-ji telah membuat persiapan, telapak tangannya segera diayunkan ke depan, dengan gaya Thian-Ii-san-hoa (Bidadari Menyebar Bunga) ia lepaskan tujuh butir peluru inti es ke depan.

Orang itu berhasil menghindari tusukan maut pedang Leng Ping-ji, namun gagal menghindari peluru inti es tersebut.

Tak ampun jalan darah Sian-ki-hiat di dada, Gi-khi-hiat di bawah iga dan Cian-keng-hiat di bahu kirinya terhajar telak.

Seandainya senjata rahasia itu berganti dengan senjata rahasia yang terbuat dari logam, maka asal jalan darah Cian-keng-hiat terhajar telak, niscaya ilmu silat yang dimiliki orang itu akan punah.

Berbeda dengan peluru inti es, begitu menyentuh badan lantas melumer dan tak sampai melukai tulang.

Namun hawa dingin yang terpancar keluar akan segera menyusup masuk ke dalam badan lewat jalan darah, kendatipun orang itu pernahbelajar ilmu pukulan Lui-sin-ciang, toh tak tahan juga, sambil menjerit keras tubuhnya lantas menggelinding jatuh ke bawah bukit Walau begitu, Leng Pingit tak berani mengejarnya lebih jauh, sebab soal keracunannya Lomana ia lebih suka mempercayainya daripada tidak, sedang serangan gencar yang barusan dilakukan tak lebih hanya bermaksud untuk mendesak mundur musuhnya saja.

"Siluman itu sudah terhajar tiga butir peluru inti es, mungkin selembar jiwanya masih bisa tertolong namun itu pun paling tidak membutuhkan waktu beristirahat selama sepuluh hari sampai setengah bulan sebelum sembuh betul, aku rasa ia pasti akan kabur ke bawah bukit untuk mengobati lukanya, atau dengan perkataan lain ia tak akan berani datang ke sini lagi."

Maka dengan lega hati ia kembali untuk menolong Lomana. Tampak Lomana sudah merangkak keluar dari lorong bawah tanah dan sedang duduk dalam rumah batu menantikan kedatangannya.

"Aah. cici, kau telah kembali!"

Pekiknya keras.

"aku sungguh merasa khawatir sekali, aku takut kau terjebak lagi oleh siasat licik mereka. Coba kau lihat, betapa licik dan kejinya mereka."

Seraya berkata dia lantas menunjuk ke arah "Lomana"

Gadungan yang tergeletak di atas tanah itu.

"Sayang siluman itu sudah kabur. Walaupun mereka licik, untung aku hanya dirugikan sedikit dan tidak sampai terjebak sama sekali!"

Melihat Lomana bisa merangkak sendiri, lagi pula suaranya tidak aneh atau menunjukkan gejala keracunan, hatinya menjadi lega.

"Asal kau bisa kembali dengan selamat, ini sudah lebih dari cukup, soal pembalasan kita perhitungkan pelan-pelan saja. Cuma, dari mana kau bisa tahu kalau aku berada di sini? Apakah kau telah berkunjung ke rumahku? Bagaimanakah keadaan Santala?"

"Tak usah khawatir, suamimu dan anakmu sehat semua. Sekarang jangan banyak bicara dulu, mari kuperiksakan denyut nadimu."

Leng Ping-ji mengerti garis besar ilmu pertabiban, ketika nadinya diperiksa, ternyata denyutannya amat tenang tanpa gejala apa pun, legalah hatinya.

"Apakah kau merasakan dadamu sesak, atau kepalamu pening, mata menjadi berkunang-kunang?"

Demikian ia bertanya.

"Tidak ada. Kenapa kau menanyakan soal itu kepadaku?"

"Orang itu mengatakan kau telah keracunan."

"Aah, semalam aku hanya makan ubi jalar, itu pun kumakan mentah-mentah sampai sekarang aku juga tidak minum air barang seteguk pun, dari mana datangnya racun itu?"

Setelah mendengar penjelasan itu, barulah Leng Ping-ji sadar kalau dirinya lagi-lagi tertipu.

Tapi dia rela dirinya tertipu, daripada membiarkan Lomana betul-betul keracunan.

Sambil tertawa Leng Ping-ji lantas berkata.

"Aku betul-betul sangat tolol sehingga kena gertak sambalnya, padahal asal aku mau memikirkan persoalan ini dengan seksama, tidak sulit untuk mengetahui bahwa dia sedang berbohong."

Perlu diketahui, Lomana bukannya tak mengerti ilmu silat, tapi bila ilmu silat yang dimilikinya itu harus dibandingkan dengan kepandaian siluman tersebut sudah barang tentu selisihnya jauh sekali.

Selain itu, siluman tersebut pun tidak tahu kalau hari ini bakal terjadi peristiwa, itu berarti tak mungkin mereka merencanakan untuk memasukkan racun keji ke dalam tubuh Lomana lewat makanan atau minuman, kalau diawasi saja dapat, kenapa pula mesti diracuni?

Di samping itu, racun dari jenis mana pun mustahil bisa bekerja hanya dalam sehari atau beberapa jam saja, apalagi kalau setengah jam setelah ia dipaksa Leng Ping-ji kalang kabut tiada tempat untuk kabur….

Menurut pengakuan Lomana tadi, dia makan ubi mentah pada sehari berselang, tapi sekarang denyutan nadinya tidak menunjukkan gejala keracunan, dengan cepat Leng Ping-ji merasakan hatinya menjadi lega.

Maka dia pun menceritakan apa yang dilihatnya di rumah Lomana kepada perempuan itu, tahu kalau suaminya telah lolos dari ancaman bahaya, juga putranya sudah dikirim ke rumah ayahnya, Lomana merasa lega sekali.

"Enci Peng, kali ini untung ada kau,"

Ucap Lomana dengan penuh rasa terima kasih.

"sayang kau tidak berhasil menjumpai Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu, aku rada khawatir kalau dia mendatangi ayahku dan bermain licik lagi di situ."

"Sekarang, kau tak perlu mengkhawatirkan persoalan itu, baik-baik menjaga kondisi badanmu, segera kubawa kau turun gunung. Aah, benar, bagaimana dengan pengalaman selama beberapa hari ini?"

Merah padam selembar wajah Lomana karena jengah, sahurnya.

"Berulang kali bajingan tengik itu ingin menodai tubuhku, tapi dia takut aku mati, aku bilang kau bisa menjagaku hari ini, belum tentu bisa mengawasi aku besok, gampang bagiku bila ingin mati. Itulah sebabnya selama beberapa hari ini dia tak berani menyentuh diriku."

"Soal tersebut telah kuketahui, yang ingin kuketahui adalah persoalan lainnya."

"Persoalan apa?"

"Tahukah kau, siapa nama siluman tadi?"

"Toan Kiam-ceng memanggil bajingan itu saudara Auwyang, namanya tidak begitu jelas."

Setelah tahu kalau dugaannya tak salah, kembali Leng Ping-ji berkata, asal kita sudah tahu kalau dia berasal dari keluarga Auwyang, itu sudah cukup.

Masih ada satu hal lagi, bukankah kau pernah bertemu dengan Nyo Yan ketika berada di Thian-san dulu?"

"Benar, cuma waktu itu dia masih seorang bocah ingusan."

"Setelah tiba di sini, pernahkah kau bertemu dengannya? Apakah Toan Kiam-ceng bajingan cilik itu memanggilnya adik Yan?"

"Sewaktu datang kemari untuk pertama kalinya, kami pernah bersua satu kali. Kemudian ia tak pernah masuk lagi ke dalam mang rahasia di mana aku berada, betul, Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu memang memanggilnya adik Yan."

Leng Ping-ji segera merasakan hatinya bagaikan tenggelam, ia bertanya lebih jauh.

"Menurut perasaanmu, miripkah dia dengan Nyo Yan?"

Lomana segera tertawa "Pertanyaan ini seharusnya aku yang menanyakan kepadamu, masa kau malahan bertanya kepadaku?

Dia mempunyai hubungan persaudaraan yang erat dengan dirimu, waktu berkumpul pun jauh lebih panjang daripadaku.

Ketika aku berada di Thian-san tempo hari, aku hanya sempat bertemu beberapa kali aja, bagaimana tampangnya di waktu kecil dulu, aku sudah agak kabur sekarang.

Cuma, kalau didengar dari pertanyaanmu itu, apakah kau menaruh curiga terhadap bocah tersebut?"

Leng Ping-ji segera menghela napas panjang.

"Aaai… aku sangat berharap kalau bocah keparat itu bukan Nyo Yan, tapi kenyataannya telah membuat diriku tak bisa curiga lagi."

Ternyata tujuannya menanyakan hai ini kepada Lomana mengandung setitik harapan, dia berharap Lomana sebagai orang di luar garis bisa menemukan titik-titik kelemahan. Tiba-tiba Lomana berseru.

"Betul, aku pun merasa agak curiga."

"Apa yang kau curigai?"

Buru-buru Leng Ping-ji bertanya.

"Dari soal wajah, aku tak berani bicarakan. Tapi soal watak, aku merasa tidak mirip. Sewaktu masih kecil dulu watak Nyo Yan memberikan kesan yang dalam kepadaku, dia sangat pintar juga nakal, tapi jelas dapat membedakan antara yang benar dan salah. Aku masih ingat, suatu kali demi melindungi seekor kijang kecil yang ditangkap burung elang, ketika gagal menghajar elang tersebut, ia menjadi marah dan bersedih hati sampai setengah harian lamanya."

Bagaimanakah watak Nyo Yan ketika masih kecil dulu, tentu saja Leng Ping-ji jauh lebih memahami daripada Lomana.Apa yang disinggung Lomana tadi, dia pun tahu, maka sekalipun dibicarakan sama artinya bagaikan tidak dibicarakan, namun ucapan dari Lomana itu justru telah merangsang kembali pemikirannya lebih jauh.

"Benar, sewaktu masih kecil dulu, adik Yan tidak seperti sekarang ini, setelah dewasa mengapa ia seakan-akan berubah menjadi seseorang yang lain?"

Tapi, manusia dapat berubah, tanpa terasa ia teringat kembali akan perkataan dari siluman itu, lagi pula ucapan tersebut sudah cukup dipahami olehnya.

Ambil contoh Toan Kiam-ceng.

Ia teringat kembali akan Toan Kiam ceng pada sepuluh tahun berselang.

Waktu itu Toan Kiam-ceng masih merupakan seorang pendekar muda pujaan hatinya, tapi pendekar muda itu lambat laun berubah menjadi rusak, akhirnya berubah menjadi seorang pembunuh keji yang beberapa kali ingin mencelakainya.

Ia menghela napas dalam-dalam, pikirannya gundah dan bimbang….

Lomana cukup memahami perasaannya saat itu, tanpa terasa dia pun ikut merasa sedih.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia lantas berkata.

"Enci Leng, aku teringat lagi akan satu persoalan."

"Persoalan apa?"

"Aku berhasil menyadap pembicaraan Toan Kiam-ceng dengan mereka, agaknya mereka menyinggung tentang seseorang dan orang itu pun ada hubungannya dengan Nyo Yan."

"Aah, cepat kau katakan!"

"Malam itu, Toan Kiam-ceng bajingan cilik itu mengira aku sudah tidur, ia bersama siluman she Auwyang dan Nyo Yan berbincang-bincang di kamar sebelah. Mula-mula siluman she Auwyang itu memberitahukan suatu persoalan kepada Toan Kiam-ceng, katanya ada seorang yang bernama Ki telah mun-cul kembali dalam dunia persilatan…."

"Haah, apakah Ki See-kiat?"

Seru Leng Ping-ji dengan terperanjat.

"Betul, betul, orang itu bernama Ki See-kiat. Aaai, maklum kata-kata di dalam bahasa Han banyak yang sama suaranya berbeda tulisannya, jadi sulit diingat. Setelah kau sebutkan tadi, aku baru yakin kalau ketiga patah kata itu benar."

"Apa yang mereka bicarakan tentang Ki See-kiat?"

Tanya Leng Ping-ji lagi.

"Ketika mendengar kabar itu, Toan Kiam-ceng seperti rada tercengang. Kemudian terdengar ia bertanya kepada siluman she Auwyang itu. ‘Bukankah aku dengar Ki See-kiat bocah keparat itu sudah lama lenyap tak berbekas? Tak ada yang tahu ke mana ia telah pergi, kenapa ia muncul lagi secara tiba-tiba? Aku malah mengira dia sudah mampus.’ Siluman itu pun segera menjawab, ‘Betul, sejak dua tahun berselang diberbekas di sekitar Kota Iblis, tiga bulan berselang Kota Iblis telah dilanda gempa bumi hebat, semua bangunan di sana musnah, apakah Toan toako belum dengar tentang kabar berita ini?’ Ujar Toan Kiam-ceng kemudian, ‘Aah, jadi telah berlangsung peristiwa begitu? Terus terang kukatakan, dua tahun berselang aku pernah minta tolong kepada Lian Kan-pei, To Kian-kong dan Sacam untuk memenggal batok kepala Ki See-kiat dan diserahkan kepadaku, siapa tahu nasibKi See-kiat memang sedang mujur, kebetulan dia bertemu dengan Leng Ping-ji, apa lacur Lian lotoa bertiga pun cuma gentong-gentong nasi yang tak berguna, mereka kena dibikin keok semua di tangannya. Cuma kemudian aku dengar ia bersama Sacam telah lenyap tak berbekas, aku tahu Sacam orangnya licik dan banyak tipu muslihatnya, aku sangka setelah kepergian Leng Ping-ji, siapa tahu ia sudah membunuh bangsat tersebut, atau mungkin kedua orang itu bersua kembali di Kota Iblis dan sama-sama mampus. Eeei, tahunya keparat itu masih mujur juga, ia belum mampus seperti yang kuduga, lantas… tahukah kau kabar Sacam?…"

Setelah mendengar kabar dari Lomana ini, Leng Ping-ji merasa terkejut bercampur gembira, pikirnya kemudian.

"Ternyata usaha pembunuhan terhadap Ki See-kiat tempo hari memang atas perintah Toan Kiam-ceng si bangsat terkutuk ini. Aku mengira dia sudah pulang, tak tahunya dia hilang lenyap sejak kepergianku dulu. Entah ia berhasil mendapatkan ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng suami istri atau tidak? Bila belum berhasil ditemukan, kini Kota Iblis sudah roboh, kitab pusaka itu pun pasti turut musnah, ya… bagaimanapun juga ini patut disayangkan!"

Terdengar Lomana melanjutkan kembali penuturannya.

"Siluman she Auwyang itu segera tertawa dan berkata, ‘Sacam tidak memiliki nasib semujur dia. Beberapa hari setelah terjadinya gempa bumi itu, ada orang berhasil menemukan mayat Satou, kakak seperguruan Sacam, kemudian di dekat permukaan telaga salju yang baru terbentuk, ditemukan pula mayat Sacam.’"

Rupanya setelah terjadinya gempa bumi tersebut, sungai es meleleh dan berubah menjadi sebuah telaga salju.

Jenazah Sacam yang selama ini tenggelam dan selalu berada di bawahlapisan salju pun menjadi terapung dan dapat melihat sinar matahari lagi.

"Oh, sungguh berbahaya,"

Pekik Leng Ping-ji.

"Seandainya Ki See-kiat benar-benar berada di Kota Iblis bersama Sacam, entah dengan cara apa dia berhasil menghindarkan diri dari bencana tersebut?"

"Apakah Ki See-kiat adalah sahabat karibmu?"

Tiba-tiba Lomana bertanya. Merah padam selembar wajah Leng Ping-ji karena jengah, sahutnya dengan cepat.

"Aku cuma kenal dia. Boleh dibilang sahabat!"

"Kalau begitu, kau harus berusaha untuk membantunya, ada orang hendak mencelakai jiwanya."

"Lagi-lagi Toan Kiam-ceng?"

"Ada seorang lagi yang hendak mencelakainya, orang itu adalah Nyo Yan. Aaah, benar, tahukah kau Ki See-kiat apanya Nyo Yan? Kalau didengar dari pembicaraan mereka, tampaknya Nyo Yan masih mempunyai hubungan famili dengannya?"

"Ki See-kiat adalah kakak misan Nyo Yan, dua tahun berselang baru datang ke Sin-Kiang dengan tujuan untuk mencari jejak Nyo Yan."

"Kalau begitu tak salah lagi, tak heran kalau Toan Kiam-ceng hendak memperalat dia untuk menipu Ki See-kiat."

"Sekarang Ki See-kiat berada di mana? Apakah mereka sudah tahu dengan jelas?"

Lomana mengangguk dan melanjutkan kembali penuturannya.

"Toan Kiam-ceng bertanya kepada siluman she Auwyang itu, dari mana dia bisa mendapatkan berita tentangKi See-kiat. Agaknya ia masih kurang percaya dengan kabar itu.

"Siluman tersebut segera menyahut, ‘Ada orang yang telah bertemu sendiri dengan Ki-See-kiat bocah keparat itu ‘Siapakah orang itu?’ Toan Kiam-ceng segera bertanya. Jawab siluman itu, ‘Dia adalah seorang Lhama dari golongan Mi-tiong, ia datang untuk mencari su-heng-nya. Tak lama setelah terjadi gempa bumi dahsyat yang memusnahkan Kota Iblis, ada dua orang Lhama golongan Mi-tiong yang telah menemukan jejak. Dari mulut Lian Kan-pei, kedua orang Lhama tersebut telah memperoleh keterangan tentang raut wajah Ki See-kiat, mereka itu pun tahu kalau suheng-nya Sacam turut lenyap bersamaan dengan lenyapnya Kie See-kiat, maka dia pun menanyai bocah keparat itu. Bagaimana kisah yang sejelasnya kurang begitu tahu, tetapi yang jelas mereka saling bertempur dengan serunya, kemudian kedua orang Lhama itu pun kena ditotok jalan darahnya oleh bocah itu. Kejadian ini kuketahui dari Lian Kan-pei, aku rasa tak mungkin dia akan membohongiku.’ Toan Kiam-ceng lantas berkata Jagi, ‘Apakah Lian Kan-pei yang menyuruh kau me-nyampaikan berita ini kepadaku?’ "

Siluman itu segera menjawab, ‘Benar.

Dia bilang ia telah memikul tanggung jawab yang berat, karena tak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik maka tak berani datang untuk menjumpaimu.

Dia titip, kabar ini padaku untuk disampaikan kepadamu, dengan harapan berita tak dapat menebus keteledorannya itu."

"Toan Kiam-ceng segera tertawa dingin dan katanya, ‘Justru karena orang-orang ini masih ada kegunaannya bagiku, maka kuampuni jiwanya, kalau tidak, hmm sekalipun dia ingin menebus dosanya juga tak akan bisa. Tetapi sekarang, tak usah mengurusi soal Lian lotoa lagi, aku hanya ingin tahu dimanakah kedua orang Lhama itu berjumpa dengan Ki See-kiatr "

Siluman she Auwyang itu segera menjawab, ‘Di selat Tong-ku-si-sia’"

Mendengarkan sampai di situ, tanpa terasa Leng Ping-ji segera menampilkan rasa kaget bercampur girang. Terdengar Lomana berkata lebih jauh.

"Ketika Toan Kiam-ceng mendengar kalau kejadian itu berlangsung di selat Tong-ku-si-sia dia pun kelihatan terkejut bercampur girang. Waktu itu, meski aku pura-pura tidur, namun hal tersebut bisa kude-ngar dari nada suaranya."

"Apa yang dia katakan?"

Buru-buru Leng Ping-ji bertanya.

"Dia mengulangi kembali pertanyaannya itu kepada siluman tersebut, apa benar berada di selat Tong-ku-si-sia? Siluman itu menyahut bahwa hal ini tak bakal salah lagi, Ki See-kiat berada di selat tersebut "

Toan Kiam-ceng si bajingan keparat ini segera tertawa terbahak-bahak, katanya, ‘Bocah keparat ini benar-benar surga ada jalan tak mau ditempuh, neraka tak berpintu justru dimasuki.’ Tapi aku tidak begitu jelas kenapa dia sampai berkata demikian…."

"Selat Tong-ku-si-sia merupakan jalan penting yang menghubungkan Kota Iblis dengan tempat ini,"

Kata Leng Ping-ji.

"Dengan ditemukannya Ki See-kiat di Tong-ku-si-sia, itu berarti bisa diduga kalau Ki See-kiat pasti akan datang kemari. Jalan itu terpencil dan sepi sekali, bila ingin membunuh seseorang di tempat itu, maka hal ini bisa dilakukan dengan sangat mudah tanpa khawatir diketahui oleh siapa pun juga."

"Ooh, kiranya begitu, tak heran kalau Toan Kiam-ceng menitahkan kepada Nyo Yan agar turun tangan di jalan tersebut"

Berbicara sampai di sini, mendadak dia bertanya lagi.

"Enci Leng, dulu apakah mereka kakak beradik misan pernah saling bersua muka?"

"Belum mencapai umur satu tahun Nyo Yan telah dibawa Miau Tiang-hong ke bukit Thian-san, walaupun Ki See-kiat adalah kakak misannya, namun belum pernah bersua muka. Kenapa secara tiba-tiba kau ajukan pertanyaan itu?"

"Setelah kupikirkan kembali sekarang, terasa ada hal-hal yang mencurigakan dalam soal ini."

"Kecurigaan apa?"

Buru-buru Leng Ping-ji bertanya Lomana segera menuturkan kembali apa yang berhasil didengarnya.

"Setelah Toan Kiam-ceng mendengar kalau Ki See-kiat ditemukan jejaknya di selat Tong-ku-si-sia barulah dia mengajak Nyo Yan berbincang-bincang. Dia bilang begini, ‘Ki See-kiat datang ke Sinkiang dan Tibet karena hendak mencarimu, menurut pendapatku, tak usah menunggu sampai dia datang mencarimu, lebih baik kau saja yang pergi mencarinya.’ Enci Leng, tak usah kukatakan tentunya kau bisa menduga sendiri bukan, dia menyuruh Nyo Yan bocah keparat ini untuk mencelakai Ki See-kiat…"

"Bagaimanajawaban Nyo Yan?"

"Sejak permulaan sampai terakhir Nyo Yan si bocah keparat ini kelihatannya masih ragu, dia bilang ia tidak pernah bersua dengannya, andaikata dia tidak percaya kalau dirinya adalah adik misannya, padahal ilmu silat orang itu jauh melebihi dirinya, maka…."

Belum sampai dia menyelesaikan kata-katanya, Toan Kiam-ceng telah menukas sambil tertawa, dia berkata, ‘Justru itu, karena belum pernah bersua denganmu, maka ini lebih gampang ditipu!

Asalkan kau ingat selalu dengan perkataan yang kuajarkan kepadamu, jangan khawatir kalau tak dapat membohonginya’ "Enci Leng, cobalah kau teliti pembicaraan mereka ini dengan seksama, bukankah akan terasa hal-hal yang patut dicurigai?"

Mengapa Toan Kiam-ceng mengatakan berhubung Ki See-kiat belum pernah bersua dengan Nyo Yan, maka dia baru lebih gampang ditipu? Apakah asli atau tidaknya Nyo Yan tidak pantas untuk dicurigai? "

"Ucapan dari Toan Kiam-ceng itu memang sedikit agak aneh, tapi bisa juga diartikan mereka memang belum pernah bersua muka Ki See-kiat tidak tahu perbedaan watak Nyo Yan yang telah berubah amat besar, sebab itu dia pasti akan lebih percaya dengan obrolannya. Sedang aku karena terlalu akrab dengannya di masa kecil dulu, maka sedari permulaan sudah menaruh rasa curiga."

"Kalau begitu, kau sudah percaya sepenuhnya kalau bocah keparat itu adalah Nyo Yan?"

Leng Ping-ji menghela napas panjang, katanya.

"Dia sanggup menceritakan keadaannya ketika bersamaku di bukit Thian-san dulu, lagi pula di atas lengannya terdapat tahi lalat merah, mestinya tak bakal salah lagi."

"Kalau memang begitu, kita tak usah mempersoalkan asli atau tidaknya lagi. Persoalan terpenting yang kita hadapi sekarang adalah kau harus secepatnya memberi kabar kepadaKi See-kiat agar dia jangan sampai termakan oleh tipu muslihat Nyo Yan booah keparat itu."

Leng Ping-ji merasakan pikirannya kalut sekali, dia hanya membungkam seribu bahasa.

"Cici, apa yang sedang kau pikirkan?"

Lomana segera menegur.

"Aku belum lagi mendapatkan cara yang baik untuk mengatasi hal lini."

"Sebenarnya Ki See-kiat itu orang baik atau bukan?"

"Dia orang baik."

"Kalau memang orang baik, lagi pula temanmu, kenapa kau tidak berusaha menolong dirinya?"

Tanya Lomana tercengang.

"Persoalan ini memang penting sekali artinya, tapi masih ada persoalan lain yang jauh lebih penting lagi"

"Kau lupa kalau Toan Kiam-ceng bajingan cilik itu sedang bersiap-siap untuk mempergunakan dirimu untuk mengancam ayahmu."

"Bila aku sudah lolos dari mara bahaya, sudah pasti bajingan cilik itu tak akan mampu menggertak ayahku lagi. Besok kita akan turun bukit, aku akan mengajak Santala berangkat ke rumah ayah dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya."

"Toan Kiam-ceng telah berangkat dua hari berselang, kalau menurut perhitungan, semestinya dia sudah sampai di rumah .ayahmu. Malah kemungkinan besar kalian akan berjumpa dengan mereka di tengah jalan nanti."

"Akan kusuruh Kalisi dan kawan-kawannya berangkat bersamaku, bidikan panah mereka amat jitu. Ayah pun pastimembawa serta pengawalnya, sehingga andaikata terjadi pertarungan, meski ilmu silat bocah keparat itu lihay, kita pun tak perlu jeri padanya."

"Tapi aku masih tetap belum berlcga hati. Lagi pula antara aku dengan dia memang mempunyai dendam kesumat sedalam samudra, aku ingin buru-buru mencarinya untuk membuat perhitungan. Lebih baik kita langsung ke rumah ayahmu lebih dulu, biar aku yang menghadapi Toan Kiam-ceng. Setelah itu aku baru berangkat ke selat Tong-ku-si-sia untuk memberi kabar kepada Ki See-kiat."

Lomana berpikir sebentar, lalu katanya, ‘Terus terang saja, yang paling kukhawatirkan tentu saja ayahku daripada Ki See-kiat yang belum pernah kujumpai itu, andaikata kau hendak turun tangan sendiri untuk menghadapi Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu, bagiku hal ini tentu saja jauh lebih baik, tetapi cara pemikiranku ini terlampau egois, lagi pula tidak adil bagimu."

"Aku tidak mengerti maksudmu. Kau tahu bajingan itu adalah musuh kita semua, aku membantu ayahmu sama artinya dengan membantu diriku sendiri. Sekalipun kau tidak menginginkan aku berbuat demikian, aku tetap melakukannya, apakah artinya mementingkan diri sendiri atau tidak?"

"Andaikata dua masalah tersebut bisa kau kerjakan bersamaan, tentu saja aku tidak keberatan bila kau ingin membalas dendam,"

Ucap Lomana.

"Tetapi sekarang, aku kha-watir kau akan membalas dendam lebih dulu terhadap Toan Kiam-ceng bajingan cilik itu, bila sampai begitu, maka kau tak akan sempat lagi untuk menolong temanmu.

"Membalas dendam memang penting, bila sampai kehilangan seorang teman baik, maka peristiwa ini akan membuat kau menyesal sepanjang jaman! Ooh cici, akusangat berharap kau bisa memperoleh jodoh dan kebahagiaan, andaikata lantaran harus membantu ayahku sehingga menyebabkan kau…."

Merah jengah selembar wajah Leng Ping-ji, buru-buru dia menukas.

"Aku dapat memahami maksudmu, tapi sayang hubunganku dengan Ki See-kiat tak lebih hanya persahabatan biasa."

"Enci Leng, konon beberapa tahun belakangan ini, kau selalu mengembara seorang diri di padang rumput?"

"Betul, selama banyak tahun aku selalu mencari Nyo Yan. Aaai, tahu begini, lebih baik aku tidak mencarinya."

"Selama luntang-lantung seorang diri, tidakkah kau merasa kesepian…?"

"Sudah terbiasa aku hidup seorang diri, lama-kelamaan juga tidak terasa lagi."

"Selama banyak tahun, selain Ki See-kiat, teman baru mana lagi yang kau kenal?"

Leng Ping-ji segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dengan Ki See-kiat pun aku baru berjumpa sekali,"

Ucapnya. Lomana segera mengalihkan sorot matanya dan menatap gadis itu lekat-lekat, kemudian dengan maksud lebih mendalam ia berkata lagi.

"Kehilangan seorang teman amat mudah, tapi memperoleh seorang teman amat sulit, kalau toh dia merupakan satu-satunya teman baru yang kau kenal, maka lebih-lebih jangan sampai kau kehilangan dirinya."

Di balik perkataan masih ada perkataan, akan tetapi ucapan itu diutarakan dengan tulus hati.Leng Ping-ji termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata.

"Pekerjaan manakah yang harus kulaksanakan lebih dulu, biar kita tentukan besok sesampainya di rumahmu saja. Persoalan paling penting yang kita hadapi sekarang adalah kau tak boleh memikirkan persoalan apa pun, tidur yang nyenyak, pelihara tenaga dan kesegaran badan, dengan demikian besok kita baru punya tenaga untuk turun gunung."

Dia lantas mengeluarkan ransum kering serta daging yang dibawanya untuk dimakan bersama Lomana, setelah itu dengan mempergunakan simhoat tenaga dalam partainya membantu perempuan itu untuk melancarkan peredaran darahnya dan menggiring hawa mumi kembali ke pusar.

Lomana segera merasakan tubuhnya segar dan nyaman, tak lama kemudian ia sudah tertidur nyenyak.

Jika Lomana bisa tidur dengan tenang, lain halnya dengan Leng Ping-ji, dia merasa gundah sehingga mata tak mau dipejamkan.

Bayangan Ki See-kiat muncul kembali di depan mata.

Betul mereka baru berjumpa sekali, namun bayangannya seakan-akan sudah melekat dalam hatinya.

Teringat kembali sesaat sebelum mereka berpisah, teringat bait syair yang dibacakan olehnya ketika itu, serta sorot mata Ki See-kiat yang menatapnya dengan berat hati.

Kini dia merasa seakan-akan sorot mata Ki See-kiat sedang menatap wajahnya, itulah sorot mata penuh pengharapan, berharap bisa bersua kembali dengannya.

Tapi, mungkinkah baginya untuk mengesampingkan semua persoalan di sini.

Tidak mempedulikan keselamatan Lohay, kepala suku Wana?Makin dipikir harinya makin kalut, pikirannya makin kacau, semalam suntuk ia tak dapat tertidur barang sekejap pun, akhirnya fajar pun menyingsing, Lomana pun telah mendusin.

Setelah beristirahat semalam penuh, kesegaran Lomana telah pulih kembali, dia pun mulai ribut untuk cepat-cepat turun gunung.

Separuh menggantungkan diri pada semangat serta kekuatan sendiri, separuh yang lain tergantung pada petunjuk dari Leng Ping-ji, walaupun bukit Soat-hong amat terjal, namun Lomana dapat mengikuti di belakangnya dengan mantap dan cepat.

Setelah melewati jalan gunung yang terjal dan berbahaya, baru saja tiba di kaki bukit dekat mulut lembah, mendadak secara lamat-lamat mereka mendengar suara dentingan nyaring.

Leng Ping-ji segera memasang telinga dan memperhatikannya sebentar, kemudian dengan perasaan tercengang pikirnya.

"Heran, di sini toh bukan Kota Iblis dengan hembusan angin atau suara sungai es yang mengalir dalam batu karang, lantas suara apakah yang terdengar.

Baru saja dia hendak bertanya kepada Lomana, perempuan itu sudah keburu berkata lebih dulu.

"Hei, rupanya ada orang mendaki gunung!"

Siapa yang Menghajar Toan Kiam-ceng?

Waktu itu, Leng Ping-ji berada di tempat yang tinggi, dengan cepat dia melongok ke bawah, betul juga, lamat-lamat ia menyaksikan ada beberapa titik hitam sedang bergerak diatas padang rumput, titik hitam itu makin lama makin membesar.

Mengetahui kalau perkataan Lomana tak salah, ia menjadi geli sendiri, pikirnya.

"Aku hanya berpikir tentang musuh, tak disangka orang sendiri yang telah datang memberibantuan."

Dengan cepat dia menghimpun tenaga, lalu mengirim suaranya ke bawah sana.

"Siapa yang berada di bawah sana?"

Sementara menegur, kakinya sama sekali tidak berhenti, sambil menuntun Lomana, dengan cepat mereka lari turun ke bawah.

Agaknya orang itu merasa terkejut bercampur girang, dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya dia berteriak.

"Aku adalah Kalisi. Leng lihiap-kah kau? Apakah koko (sebutan nona untuk orang bangsa Boan) kami telah ditemukan?"

"Aku dan enci Leng segera turun ke bawah,"

Jawab Lomana kegirangan.

"kalian tak usah naik!"

Ketika mereka lari ke bawah bukit sana, pemandangan di bawah terlihat makin jelas.

Tampak Kalisi disertai beberapa orang lelaki lain, dengan tali mengikat pinggang sedang bergerak naik ke atas.

Kalisi yang berada di paling depan dengan tangan sebelah memegang palu besi, tangan lain membawa paku panjang sedang memaku dinding tebing yang curam itu.

Di kaki bukit tampak pula bayangan manusia yang berjumlah belasan orang, agaknya mereka pun sedang bersiap-siap untuk naik ke atas gunung.

Perlu diketahui, ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki tentu saja tak bisa dibandingkan dengan Leng Ping-ji, bilaingin mendaki bukit karang yang terjal semacam itu maka hanya cara ini saja yang bisa mereka pergunakan.

Pada mulanya Leng Ping-ji tidak menyangka akan mereka, dia hanya berpikir, seandainya yang datang adalah orang, maka hanya gerombolan dari Toan Kiam-ceng saja yang bisa muncul di bukit Soat-hong tersebut, untuk mendaki bukit se-macam ini, tentu saja gerombolan tersebut tak perlu membuang banyak tenaga seperti ini.

Oleh sebab itu, semenjak permulaan ia tak menduga kalau suara dentingan itu adalah suara orang yang sedang mendaki bukit Tatkala mereka berada di bawah kaki bukit, kawanan pemuda itu segera bersorak-sorai dengan riang gembira, serentak mereka menyerbu maju dan mengerubunginya Kalisah enci-nya Kalisi juga berada di antara kelompok manusia itu, dialah orang pertama yang menghampiri Lomana.

"Enci Kalisah,"

Kata Lomana kemudian sambil tertawa.

"dari mana kalian bisa tahu kalau aku berada di sini?" .

"San toako yang menduganya, enci Lomana, tak usah banyak bicara lagi, cepatlah pulang ke rumah, ayahmu sedang menanti kau di rumah!"

Dia sendiri pun merasa girang setengah mati sehingga tak sempat bertanya bagaimana cara Lomana meloloskan diri dari ancaman mara bahaya. Tampak Lomana amat terkejut, buru-buru tanyanya.

"Apa? Ayahku juga telah datang? Sekarang, dia-dia berada di mana?"

"Kelo (ketua suku) berada di rumahmu,"

Sahut Kalisi.

"sebetulnya dia ingin turut datang kemari, kamilah yang menasihatinya agar jangan menyerempet bahaya."

Sementara pembicaran berlangsung, para pemuda itu sudah menuntun datang dua ekor kuda jempolan dan diserahkan kepada mereka. Sambil melompat naik ke atas pelana kuda, Leng Ping-ji lantas bertanya.

"Adakah orang asing yang datang bersama kelo?"

"Yang datang bersama kelo hanyalah pasukan berani mati dari suku kami!"

Leng Ping-ji menjadi lega hati, dia lantas menyemplak kudanya dan bersama Lomana berangkat pulang.

"Heran, ke mana perginya Toan Kiam-ceng bajingan cilik itu?"

Seru Lomana di tengah jalan.

"Aku malah, mengira ayah sudah kena diancam oleh bajingan cilik itu sehingga terpaksa mesti pulang kemari."

"Kita tak usah menduga yang bukan-bukan sekarang, toh setibanya di rumah segala sesuatunya akan menjadi jelas dengan sendirinya."

Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda-kuda jempolan, larinya cepat seperti terbang, selang beberapa saat kemudian, mereka telah meninggalkan semua orang jauh di belakang.

Tak sampai tengah hari, mereka telah sampai di rumah Lomana "Aah, koko (nona) kau telah kembali!"

Seorang prajurit tua yang mukanya telah berkeriput lari menyongsong kedatangan mereka.

Prajurit tua ini bernama Saliau, dia adalah komandan pasukan yang dipimpin Lohay.

Saat itu rupanya sedang bertugas menjaga keamanan di depan pintu.Menyusul kemudian dari dalam rumah bermunculan Lohay serta Santala.

Lomana segera menubruk ke dalam pelukan ayahnya sambil berkata.

"Ayah, dari mana kau bisa tahu kalau aku sudah tertimpa musibah? Baik… baikkah kau?"

La masih rada khawatir, ia tak tahu apakah ayahnya telah berjumpa dengan Toan Kiam-ceng atau tidak, apakah kena disergap secara licik oleh Toan Kiam-ceng atau tidak?

Sambil tertawa Lohay lantas menjawab.

"Tampaknya tulang badanku makin tua semakin keras, tiada sesuatu yang tak beres. Soal kepulanganku kali ini biar kita bicarakan nanti saja, Santala amat meng-khawatirkan keselamatanmu, nah, temuilah dirinya lebih dahulu…."

Seraya berkata dia lantas mendorong putrinya ke hadapan menantunya, kemudian ia baru saling menyapa dengan Leng Ping-ji.

Tampak Santala dengan air mata bercucuran kegirangan segera memeluk istrinya erat-erat sambil berbisik.

"Terima kasih dewa, atas perlindunganmu, kau benar-benar telah pulang kembali."

"Kau harus berterima kasih kepada enci Leng,"

Kata Lomana sambil tertawa lebar.

"Ayah, coba kalau bukan Leng lihiap yang membantu, entah bagaimana nasibku? Tadi, ia telah bertemu pula dengan Kalisa dan adiknya."

"Aku sudah tahu,"

Jawab Lohay tenang.

"Maka sewaktu kudengar Leng lihiap telah berangkat menolongmu, aku pun merasa amat lega"

Sambil mengelap air matanya, Santala segera berkata pula.

"Aku tahu Leng lihiap pasti dapat menolongmu, cuma, terus terang saja, aku tak menyangka kalau kau bisa pulang secepat ini! Leng lihiap, selain menolong jiwaku, kau pun telah menolong Lomana aku tidak tahu bagaimana hama memperlihatkan rasa terima kasihku kepadamu."

"Kita toh sudah pernah hidup senang dan sengsara bersama-sama. buat apa kata-kata sungkan macam itu disinggung lagi?"

Lomana segera menarik tangan suaminya dan masuk bersama, terbayang kembali peristiwa pada malam itu, semua terasa bagaikan sebuah impian belaka Dengan lembut ia lantas bertanya kepada suaminya.

"Konon kau sudah terkena pukulan beracun dari bangsat itu, sudah sembuhkah…?"

"Jika belum sembuh, mana mungkin aku bisa pulang sendiri ke rumah?"

Jawab Santala sambil tertawa. Lomana merasa gembira sekali.

"Soal pengalamanku selama beberapa hari ini biar kuceritakan lain waktu saja Dan sekarang, aku perlu untuk mengetahui dulu tentang saru hal…."

"Hal apa?"

Lomana segera berpaling ke arah ayahnya, lalu bertanya.

"Ayah, apakah Toan Kiam-ceng telah pergi mencarimu?"

"Aku memang hendak menceritakan kejadian ini kepada kalian, justru karena bajingan cilik itu telah berkunjung ke sana, maka aku jadi khawatir dan cepat-cepat pulang kemari."

Jawaban tersebut dengan cepat membuat Lomana menjadi tertegun, kembali dia berkata.

"Bagaimana sih ceritanya? Jadikau belum tahu kalau aku sudah terjatuh ke tangan bajingan cilik itu? Aku masih mengira bajingan itu pasti pergi mengan-cammu, apakah dia tidak berkata apa-apa?"

"Aku hanya sempat mendengar suaranya, namun tidak bertemu dengan orangnya. Malah Saliau yang telah melihatnya."

"Empek Sa, apakah kau yang telah menghajarnya sampai kabur?"

Lomana segera berpaling ke arah prajurit yang tua itu. Saliau segera tertawa lebar.

"Aah, dari mana aku memiliki ilmu silat sehebat itu? Dugaanmu memang tak salah, bajingan cilik itu sebelum bertemu dengan ayahmu telah keburu dihajar dulu oleh seseorang hingga kabur. Cuma orang itu bukan aku!"

"Siapakah orang itu?"

Tanya Leng Ping-ji dengan perasaan tercengang dan tidak habis mengerti.

"Aku sendiri juga tidak tahu."

"Hei, apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Pekik Lomana.

"cepat kalian beritahukan kepadaku!"

"Peristiwa itu berlangsung pada tiga malam berselang,"

Tutur Lohay.

"Waktu itu aku baru saja tertidur, tiba-tiba dari atas atap terdengar suara, agaknya suara atap yang terinjak remuk. Pada mulanya aku tak ambil perhatian, tapi saat itulah kudengar ada orang yang memaki, ‘Bagus sekali, Toan Kiam-ceng! Rupanya kau?’"

"Bajingan cilik itu lantas membentak, ‘Siapa kau? Kalau kudengar dari logatmu kau adalah bangsa Han bukan? Aku hanya datang mencari Lohay, persoalan ini tiada sangkut pautnya denganmu, bila tahu diri cepat menyingkir dari sini, kalau tidak, jangan salahkan aku….’"

"Belum habis bajingan cilik itu berkata, orang itu sudah tertawa dingin sambil berseru, ‘Toan Kiam-ceng, kau tidak kenal denganku? Heeehh… heeeh… heeh… kedatanganku kemari justru hendak membuat perhitungan denganmu, dengan susah payah aku berhasil menemukan jejakmu di sini, sekalipun kau yang menyingkir pun aku masih akan mengejarmu, masa kau suruh aku yang menyingkir?’"

"Sementara pembicaraan tersebut masih berlangsung, agaknya ia sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru melawan bajingan cilik itu, ini bisa kudengar dari suara senjata tajam yang saling membentur."

Begitu kukenali suara Toan Kiam-ceng, karena kutahu kalau ilmu silat yang dimiliki bajingan cilik ini sangat lihay, akhirnya aku melompat bangun dengan tujuan hendak melawannya."

Tapi sayang, saat aku tiba dtengah halaman, mereka sudah melalui beberapa buah rumah, suara-suara pertarungan tersebut makin lama semakin jauh.

Aku hanya sempat mendengar suaranya tak melihat bayangan tubuh mereka lagi.

"Bagaimana cerita selanjurnya; lebih baik, kalian tanyakan kepada Saliau saja."

Leng Ping-ji yang mendengar penuturan tersebut jantungnya segera berdetak keras, jangan-jangan orang asing itu adalah Ki See-kiat? "Kalau dibicarakan sesungguhnya memalukan sekali,"

Ujar Saliau kemudian.

"Malam itu, akulah yang bertugas jaga malam, ternyata kehadiran pencoleng tersebut sama sekali tidak kurasakan sampai kudengar ada atap yang terinjak remuk baru kuketahui akan hal ini."

Ketika itu, Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu pun belum merasa kalau ada orang yang mengejarnya.

"Orang itu masih berada pada jarak dua buah gedung dari tempat kejadian, tiba-tiba terlihat tangannya diayunkan, terasa ada semacam cahaya tajam yang menyilaukan mata berkelebat lewat, begitu cahaya tajam itu menyambar lewat, tubuhku tanpa terasa menjadi menggigil sendiri. Mungkin Toan Kiam-ceng terkejut akibat terkena serangan gelap yang datang secara tiba-tiba itu, sehingga dia sampai menginjak hancur atap rumah."

Kembali Leng Ping-ji berpikir.

"Senjata rahasia yang dia katakan itu sedikit rada mirip dengan peluru inti es yang mahasakti, tapi mustahil Ki See-kiat bisa memiliki peluru inti es. Ehm, jangan-jangan dia berhasil pula melatih ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat dan berhasil membuat senjata rahasia peluru inti es dengan mempergunakan salju abadi dalam gua? Walaupun tak bisa melebihi kehebatan peluru inti es milikku, tapi hawa dinginnya cukup untuk membuat orang biasa merasa bergidik."

Sementara dia masih melamun, terdengar Lomana bertanya.

"Empek Sa, benarkah bajingan cilik itu adalah Toan Kiam-ceng? Apakah kau tidak salah melihat?"

"Hmm, sekalipun bajingan ini berubah menjadi abu pun aku tetap akan mengenalinya,"

Sahut Saliau dengan geram Ternyata, ketika Toan Kiam-ceng datang mengacau pada malam pernikahan Lomana, kebetulan Saliau juga yang mendapat tugas jaga, dia pun pernah membantu Beng Hoa untuk mengejarnya.Tapi ketika itu Beng Hoa ada maksud untuk melepaskan Toan Kiam-ceng, maka bukan cuma gagal menyusulnya, malah Saliau kena dilukai dengan timpukan batunya.

Buru-buru Leng Ping-ji bertanya lagi.

"Apakah kau berhasil melihat jelas raut wajah orang yang bertarung melawan Toan Kiam-ceng itu? "

Bagaimana sih tampangnya?"

"Raut wajahnya tidak jelas, tapi nyata sekali kalau dia bangsa Han, umurnya juga kelihatan masih amat muda."

Debaran jantung Leng Ping-ji semakin keras lagi, pemuda bangsa Han mana lagi yang sanggup menghajar kabur Toan Kiam-ceng? "Delapanpuluh persen; jangan-jangan dia adalah Ki See-kiat?"

Demikian dia berpikir.

"Senjata apakah yang dipergunakan orang itu?"

Leng Ping-ji bertanya lebih lanjut ‘Toan Kiam-ceng mempergunakan pedang, sedang orang itu hanya bertangan kosong belaka.

Pertarungan yang berkobar di atas atap rumah amat seru, dalam sekejap mata hanya bayangan tangan dan cahaya pedang saja yang terlihat, susah untuk membedakan bayangan tubuh mereka.

"Tiba-tiba terdengar pemuda itu berseru sambil tertawa dingin, ‘Betul-betul keji jurus serangan ini, sayang ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat yang kau pelajari belum sempurna, lebih baik lepaskan saja pedangmu itu!’"

"Di tengah suara tertawa dingin yang menggema, Trang! Ternyata pedang yang berada di tangan Toan Kiam-ceng benar-benar telah terjatuh ke atas tanah."

Dengan gugup dan ketakutan bajingan cilik itu segera melarikan diri, kebetulan anak buahku waktu itu sudah berdatangan, mereka siap mengejarnya, tapi bajingan cilik itu segera melepaskan senjata rahasia yang meledak keras menyusul asap tebal menyembur keluar.

Untung aku berdiri pada posisi melawan angin hingga asap beracun itu tak sampai kuhisap, namun ada tiga orang prajurit kami yang keracunan dan tak sadarkan diri.

"Menanti kabut tebal itu membuyar, Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu sudah lenyap bersama lenyapnya pemuda itu."

"Senjata rahasia beracun macam begitu itu bernama Tok-wu-kim-ciam-liat-yan-tan (Peluru Berapi, Kabut Racun dan Jarum Emas)…."

Kata Leng Ping-ji menerangkan.

"Sudah pasti Han Ji-yan si perempun siluman itu yang telah mewariskannya kepada bajingan itu."

"Untung saja ketiga orang prajurit itu berada di bawah rumah,"

Ucap Saliau.

"sehingga tidak begitu banyak asap beracun yang dihisapnya. Setelah tak sadar beberapa jam, akhirnya mereka mendusin kembali. Leng lihiap, coba lihatlah pedang ini."

Pedang tersebut adalah pedang milik Toan Kiam-ceng yang kena dipukul rontok pemuda tersebut waktu itu, Saliau memang secara khusus menyimpannya.

Leng Ping-ji segera menyambut pedang itu dan diperiksanya, tampak pedang itu sudah dibikin melengkung bagaikan bulan sabit, bisa dibayangkan pastilah pemuda itu menekuknya hingga melengkung setelah dia berhasil merampasnya dari tangan Toan Kiam-ceng.Selama ini Santala selalu menganggap tenaga yang dimiliki amat besar, tapi setelah menyaksikan pedang lengkung itu tak urung terperanjat juga.

"Ooh… sungguh lihay sekali tenaga yang dimiliki pemuda itu entah siapa dia?"

"Aku kenali pedang ini sebagai pedang milik Toan Kiam-ceng yang selalu digembolnya, tapi siapakah pemuda itu aku sendiri pun belum dapat menduganya secara pasti."

Padahal dalam hati kecilnya dia telah menduga akan seseorang, hanya kurang leluasa untuk mengutarakannya di hadapan orang banyak.

Sesungguhnya dia sudah mencurigai pemuda itu sebagai Ki See-kiat apalagi setelah menyaksikan pedang yang melengkung bagaikan bulan sabit itu, ia semakin yakin kalau dia adalah Ki See-kiat.

Diam-diam pikirnya.

"Pada dasarnya Ki See-kiat telah memiliki ilmu Lak-yang-jiu yang merupakan tenaga keras yang tidak kalah dari ilmuTay-lek-kim-kong-ciang Siau-lim-si, selama dua tahun belakangan ini ia pasti telah berhasil melatih ilmu silat yang ditinggalkan Kui tayhiap dalam Kota Iblis, sehingga tak heran kalau dia menjadi demikian lihay!"

Terdengar Lohay sedang berkata, ‘Toan Kiam-ceng bajingan cilik ini sudah banyak tahun lenyap dari dunia persilatan, kini dia telah muncul kembali, aku khawatir bajingan itu akan datang membuat kesulitan bagi kalian semua, maka aku sengaja pulang kemari untuk menjenguk kalian.

Siapa tahu keadaannya jauh lebih buruk daripada apa yang kuduga, bukan cuma sudah datang kemari saja, dia malah sudah melukai menantuku dan menculik putriku.

Ayah, asal kau tidak tertipu olehnya, hal ini sudah merupakan suatu keberuntungan di tengah ketidakberuntungan."

Kata Lomana.

"Siapa tak jujur dalam tindakannya dia pasti akan mampus. Sudah pasti ada orang yang ada membereskan bajingan tersebut. Apalagi enci Leng juga akan pergi mencarinya untuk membuat perhitungan, sementara waktu kita tak usah menggubris dirinya lagi."

"Walaupun demikian, aku tetap merasa kurang lega hati. Lebih baik kalian turut aku pulang ke Lor Anki saja."

"Anakku berada di sana, sebenarnya dua hari lagi aku memang akan ke sana, tapi kalau memang ayah tidak lega hati, besok kita berangkat bersama. San tala, kau dapat menunggang kuda?"

Santala segera tertawa.

"Jangan toh cuma menunggang kuda, disuruh lari pun, aku masih dapat lari sampai di Lor Anki."

Lohay kemudian berkata.

"Leng lihiap, bila kau tiada urusan yang penting, dengan senang hati kusam-but kau sebagai tamu kami, aku harap kali ini kau bisa tinggal selama beberapa hari bersama kami semua."

"Kelo (ketua), terima kasih banyak atas kebaikanmu. Sebenarnya aku akan ke sana, tapi sekarang aku ingin pergi ke tempat lain."

"Kenapa?"

"Ayah, kau tidak tahu,"

Seru Lomana.

"sebenarnya enci Leng akan berangkat ke selat Tong-ku-si-sia untuk menolong seorang temannya, tapi gara-gara kita semua, ia telah menunda perjalanannya. Kini Toan Kiam-ceng si bajingan cilik itu sedang dikejar oleh musuhnya, aku rasa dalam waktusingkat mustahil ia berani datang mencari gara-gara lagi. Kalau toh ayah sudah selamat tiada urusan, tentu saja enci Leng harus pergi untuk menolong temannya lebih dulu."

"Kalau memang begitu, menolong orang bagaikan menolong kebakaran, aku tak akan menahan Leng lihiap. kuda tungganganku ini meski bukan kuda jempolan, namun dalam sehari tiga empatratus li masih bisa ditempuh, gunakan saja."

Waktu itu, Leng Ping-ji memang hendak cepat-cepat berangkat ke selat Tong-ku-si-sia, maka dia pun tidak sungkan-sungkan lagi.

Begitu menerima hadiah kuda jempolan tersebut, hari itu juga ia berangkat.

Sewaktu berpisah, sambil tersenyum Lomana segera berkata.

"Enci Leng, seandainya kau berjumpa dengan temanmu itu, harap kau mengajaknya kemari dan menjadi tamu kami. Tak lama kemudian kami akan mengadakan pesta Jagal Kambing yang diselenggarakan setahun sekali, bila kalian bisa menghadirinya, kami akan bertambah gembira lagi…."

Merah jengah selembar wajah Leng Ping-ji.

"Aku toh sudah berkata padamu, aku dengannya tak lebih cuma teman biasa. Cuma, aku sendiri pasti akan datang lagi."

Tetapi, justru karena ucapan dari Lomana tersebut, pikirannya kembali menjadi kacau balau tak karuan.

Benar ia berharap bisa bersua kembali dengan Ki See-kiat, tetapi dia pun tahu, kepergiannya ke selat Tong-ku-si-sia kali ini sembilan-puluh persen tak akan berjumpa dengannya Tapi karena ia mempertimbangkan bahwa daripada tinggal di rumah Lohay, maka kepergiannya ke sana jauh lebih besar kesempatannya untuk bertemu, maka dari itu ia telah ipemutuskan untuk berangkat.Sebab dia pun percaya bahwa pemuda yang berhasil mengalahkan Toan Kiam-ceng, tidak lain adalah Ki See-kiat.

Kalau memang demikian, mengapa dia masih tetap bersikeras akan berangkat ke selat Tong-ku-si-sia?

Hal ini disebabkan oleh dua alasan.

Alasan yang pertama, walaupun ia menduga pemuda itu adalah Ki See-kiat, tapi seandainya bukan?

Dia tak ingin menyerempet bahaya ini.

Kedua, alasan yang terbesar adalah karena Nyo Yan.

Sekalipun pemuda itu adalah Ki See-kiat, tapi Toan Kiam-ceng bersua dengan Ki See-kiat adalah setelah dia berpisah dengan Nyo Yan tentu saja Nyo Yan masih belum tahu kalau Ki See-kiat telah sampai di situ.

Atau dengan perkataan lain, dia pasti melaksanakan rencananya semula dengan berangkat ke selat Tong-ku-si-sia, kemudian mencelakai Ki See-kiat di tengah jalan.

Oleh sebab itu, meski kepergian Leng Ping-ji ke selat Tong-ku-si-sia tidak punya harapan untuk bersua dengan Ki See-kiat, namun besar harapannya untuk berjumpa dengan Nyo Yan.

Benar, Nyo Yan telah melukai hatinya, tapi demi hubungan mereka di masa lampau, lebih-lebih karena dia adalah adiknya Beng Hoa, dia masih menyimpan setitik harapan, dia berharap bisa menyelamatkan Nyo Yan dengan menggunakan segenap tenaga yang dimiliki.

Bobot Nyo Yan di dalam hatinya saat ini boleh dibilang jauh lebih berat bila dibandingkan dengan Ki See-kiat yang baru dijumpai untuk pertama kalinya itu.Kalau toh tetap tinggal di sana tidak akan berhasil menemukan Ki See-kiat, tentu saja dia berharap bisa menemukan Nyo Yan lebih dahulu.

Kuda dilarikan kencang, perasaan Leng-Ping-ji juga bergetar bagaikan kuda yang tak terkendalikan.

Banyak yang dia pikirkan, jauh pula yang dia bayangkan.

Dia berharap bisa menemukan Nyo Yan, dia pun berharap bisa berjumpa dengan Ki See-kiat.

Dia percaya harapannya untuk menemukan Nyo Yan amat besar, tapi dapatkah dia bersua dengan Ki See-kiat, hal ini terasa amat hampa.

Di manakah Ki See-kiat?

Ia telah sampai di Lor Anki?

Atau masih berada dalam perjalanan di selat Tong-ku-si-sia?

Tersesat di Tengah Selat Ki See-kiat berada di tengah perjalanan dalam selat Tong-ku-si-sia Dia tidak tahu kalau Leng Ping-ji sedang mencarinya, tapi seperti juga Leng Ping-ji rindu kepadanya dia pun rindu kepada Leng Ping-ji.

"Menurut To Kian-kong, setelah Leng Ping-ji menjalani masa berkabung selama tiga bulan untuk ciangbunjin-nya, dia telah turun lagi dari bukit Thian-san, sudah tentu dia sedang mencari jejak adik Yan? Kabar tentang munculnya Toan Kiam-ceng di Lor Anki entah diketahui olehnya tidak? Seandainya dia tahu, mungkin kepergianku ke Lor Anki dapat berjumpa dengannya."

"Aku sudah menerima budi kebaikannya, bila bisa bersua dengannya, akan kuturunkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang berhasil kupelajari dalam gua salju itu kepadanya. Sebenarnya ilmu tersebut memang haknya, aku tak lebih ha-nya menyampaikan saja kepadanya sekalian untuk membalas budi kebaikannya,"

Demikian Ki See-kiat berpikir.

Ia sangat berharap dapat bersua dengan Leng Ping-ji, tanpa terasa langkah kakinya dipercepat Tapi jalanan yang terbentang di depan mata seakan-akan tiada habisnya, sudah tiga hari dia menelusuri jalanan itu, namun belum juga berhasil keluar dari selat Tong-ku-si-sia.

Tiba-tiba dia mulai bertanya kepada diri sendiri.

"Aku begini berharap dapat bersua dengan Leng Ping-ji, benarkah tujuanku hanya untuk membalas budinya saja?"

Mendadak ia menemukan rahasia yang terkubur di dasar hatinya, dia mencari Leng Ping-ji dan ingin cepat menemuinya bukan untuk membalas budi, benar dia hendak menghadiahkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat kepadanya, namun itu pun hanya alasan yang dipakai bila telah bersua dengan Leng Ping-ji nanti.

Dia sangat berharap bersua dengan Leng Ping-ji tak lain karena dia ingin sekali bertemu dengannya.

Dengan wajah agak panas dia segera mempercepat langkah kakinya.

Dinding karang yang menjulang di kedua belah sisinya menahan pancaran sinar sang surya.

Ketika hari keempat ia belum juga keluar dari selat Tong-ku-si-sia, hatinya mulai diliputi oleh awan hitam, tanpa terasa hatinya sedikit agak gelisah dan tak tenang.

"Sebenarnya jalan ini adalah jalan menuju ke Lor Anki, kenapa sudah empat hari lamanya kutelusuri jalan ini, namunbelum juga keluar dari sini? Jangan-jangan aku telah salah jalan."

Ya, benar, dia memang salah jalan.

Jalan tersebut dia ketahui dari mulut seorang pemburu tua.

Tapi pemburu tua itu pun hanya tahu ada jalan ini sedang dia sendiri belum pernah menelusurinya.

Jalan tersebut selain curam dan susah dilewati, penuh dengan tikungan-tikungan, bila tidak hapal dengan jalanan di sana orang gampang tersesat, malah kadang kala tidak menyadari jika dirinya telah tersesat.

Dia ingin mencari orang untuk bertanya, tapi di tengah lembah yang begitu sepi dan terpencil, seekor binatang pun tak tampak, dari mana datangnya manusia?

Semenjak dia memasuki selat Tong-ku-si-sia hanya pada hari pertama dia bersua dengan dua orang, sayang kedua orang itu telah menganggapnya sebagai musuh besar.

Kedua orang ini adalah Lhama berjubah merah dari Tibet, saudara seperguruan Sacam dan Satou.

Ki See-kiat memberi tahu kepada mereka kalau Satou tewas tertimpa gempa bumi, pada hakikatnya tiada sangkut paut dengannya.

Sedang Sacam tewas dalam sungai es, walaupun gara-gara dia namun ia mati akibat dari ulahnya sendiri dan bukan dia yang turun tangan.

Tapi kedua orang Lhama itu tidak percaya dengan perkataannya, mereka memaksa Ki See-kiat untuk berkelahi, tapi akhirnya pemuda itu menotok jalan darah kaku mereka dan meninggalkan mereka begitu saja.

Sekarang Ki See-kiat sudah berjalan selama empat hari, namun belum juga keluar dari selat Tong-ku-si-sia, dalamkeadaan begini dia berharap sekali dapat bersua dengan mereka.

"Kalau tahu jalan ini susah dilalui, aku seharusnya memaksa mereka untuk membawa jalan bagiku,"

Demikian Ki See-kiat berpikir.

Ia telah menotok jalan darah kedua orang Lhama tersebut betul dalam duabelasjam kemudian jalan darah itu akan bebas sendiri, namun dia menduga mereka pasti ketakutan setengah mati dan tak berani meneruskan lagi perjalanannya.

Sementara hatinya sedang gundah dan kacau balau tak keruan, tiba-tiba ia mendengar suara derap kaki kuda, menyusul kemudian kedengaran pula suara pembicaraan manusia.

"Hei, bukankah dialek yang mereka pakai bukan dialek Tibet? Siapakah mereka itu?"

Walaupun Ki See-kiat tidak banyak mengetahui bahasa Tibet, namun lantaran kata-kata yang paling sederhana diketahui olehnya, maka dia segera dapat membedakan bahasa yang digunakan orang.

Itulah sebabnya, sekali mendengar dia sudah tahu kalau bahasa yang dipergunakan orang itu bukan bahasa Han juga bukan bahasa Tibet.

Tapi anehnya, suara dari salah seorang di antara mereka justru seperti dikenal olehnya.

Teka-teki tersebut dengan cepat terungkap, dua orang penunggang kuda itu sudah muncul dari balik tikungan.

Seorang di antaranya adalah pendeta asing yang berbadan kurus jangkung, rambut kepalanya gundul matanya cekung, agaknya orang Thian-tok (India).Pendeta ini kurus kering menyerupai bambu, tangannya panjang kakinya juga panjang, meski sedang menunggang kuda namun sepasang kakinya hampir menempel di atas tanah.

Tentu saja Ki See-kiat tidak kenal dengan pendeta dari Thian-tok yang istimewa dandanannya itu.

Tapi seorang lainnya, bukan cuma "kenalan lama"

Saja, bahkan pernah pula menjadi pemandu jalannya.

Dia bukan lain adalah Lian lotoa, orang yang membantu Toan Kiam-ceng hendak mencelakainya dua tahun berselang di Kota Iblis.

Ketika Lian Kan-pei melihat kehadirannya ternyata tidak menunjukkan rasa kaget Sambil menuding ke arah Ki See-kiat dia lantas cuap-cuap berbicara dengan pendeta dari negeri Thian-tok itu.

Kemudian ia bara tertawa tergelak sembari berkata.

"Bocah keparat kalau sudah jodoh, di mana pun kita saling bersua, lagi-lagi kita bertemu muka!"

Ki See-kiat memang tidak mengerti apa yang dia katakan kepada pendeta dari negeri Thian-tok itu, tapi bisa diduga kalau begitulah maksudnya.

Dia sengaja mengundang kehadiran pendeta dari negeri Thian-tok ini untuk menghadapi Ki See-kiat Begitu musuh besar saling berjumpa, kontan mata menjadi memerah, sambil membentak keras Ki See-kiat siap menerjang ke depan.

Lian Kan-pei kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haah… haah… haah… bocah keparat, kau sendiri yang mencari mampus!"

Ia menunggang seekor kuda jempolan yang tinggi besar, di tengah gelak tertawa yang keras kudanya segera dilarikankencang-kencang menerjang ke muka, agaknya ia hendak menginjak tubuh Ki See-kiat Agaknya dia terlalu mengandalkan kemampuan dari si pendeta Thian-tok, dalam anggapannya soal kemenangan sudah tidak menjadi masalah lagi.

Dia bermaksud untuk menunjukkan kehebatannya, lebih baik lagi bila dia dapat merobohkan lawannya tanpa meminta bantuan dari pendeta Thian-tok ini.

Andaikata tidak mampu, paling tidak dia harus memberi pukulan mental pada Ki See-kiat sehingga nyalinya pecah duluan.

Dua tahun berselang, ia pernah bertarung melawan Ki See-kiat dia sudah tahu kalau kepandaian yang mereka miliki seimbang.

Siapa tahu meski perhitungannya amat bagus akibatnya sama sekali di luar dugaan.

Gerak tubrukan yang dilancarkan Ki See-kiat sedikit pun tidak berada di bawah kecepatan kudanya, dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bertubrukan.

Belum habis gelak tawa Lian Kan-pei, tiba-tiba berkumandang suara benturan keras, menyusul kuda tunggangannya mengangkat kaki depannya ke atas dan tiba-tiba roboh telentang di tanah.

Kontan saja tubuh Lian Kan-pei terlempar ke tengah udara.

Rupanya kuda yang tinggi besar itu sudah terhajar mampus oleh bacokan telapak tangan Ki See-kiat Sebenarnya pendeta dari negeri Thian-tok itu sama sekali tidak memandang sebelah mata pada musuhnya, setelah menyaksikan kemam-puannya membunuh kuda, ia baru berseru tertahan.Lian Kan-pei sendiri pun cukup tangguh, berada di tengah udara, ia berjumpalitan dengan gaya Burung Belibis Membalikkan Badan, sepasang senjata poan-koan-pit-nya ta-hu-tahu sudah ditusukkan ke tubuh Ki See-kiat.

Walaupun tubrukan yang dilancarkan dari udara itu dilancarkan dengan gerakan cepat, sasaran yang diancam di tubuh lawan amat jitu.

Poan-koan-pit yang ada di sebelah kiri langsung mengancam jalan darah Tay-yang-hiat di pelipis Ki See-kiat, sementara senjata pena di tangan kanannya menusuk jalan darah Hap-khi-hiat tiga inci di bawah tenggorokan.

Kedua jalan darah tersebut merupakan satu di antara tigapuluh enam buah jalan darah kematian, tak malu orang itu disebut sebagai keturunan keluarga ahli totok jalan darah.

Tapi sayang Ki See-kiat yang sekarang bukan Ki See-kiat dua tahun berselang, bilaKi See-kiat dua tahun berselang yang menghadapi ancaman seperti ini, kendatipun dapat memunah kannya, paling tidak keadaannya mengenaskan sekali.

Tapi sekarang, Ki See-kiat telah memiliki ilmu silat aliran Lan-tou-si dari negeri Thian-tok serta segenap ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng suami istri, tentu saja ia sama sekali tidak pandang sebelah mata Siang-pit-tiam-su-meh yang digunakan Lian Kan-pei saat ini Sambil tertawa dingin Ki See-kiat segera menjengek.

"Hmm… lihat saja, siapa yang mencari mampus?"

Jari tengahnya segera disentilkan ke depan.

"Criiing…!"

Sebatang poan-koan-pit tahu-tahu sudah mencelat ke tengah udara, menyusul kemudian tangannya meraup ke depan, poan-koan-pit yang lain kena dirampas pula.Lian Kan-pei yang termakan oleh getaran angin pukulannya terlempar sejauh tiga kaki dari posisi semula.

Masih untung Ki See-kiat masih ingin menjadikan dirinya pemandu jalannya, hingga tenaga yang dipakai cuma tiga bagian, kalau tidak begitu, niscaya Lian Kan-pei kalau tidak mampus juga terluka parah.

"Huuuh, barang rongsokan semacam ini, apa gunanya?"

Bentak Ki See-kiat.

Tangannya segera diayunkan ke depan, tahu-tahu poan-koan-pit yang sudah dipatahkan menjadi dua bagian itu telah dilemparkan ke depan.

Sementara itu Lian Kan-pci telah jatuh terientang di atas tanah, sampai sekarang dia masih belum mampu merangkak bangun.

Mendadak terdengar pendeta negeri Thian-tok itu menegur dengan menggunakan bahasa Han yang kaku.

"Bocah, dari mana kau mempelajari ilmu Liong-siu-kang?"

Belum habis perkataan itu diucapkan, Ki See-kiat telah merasakan datangnya desingan angin tajam, ternyata sebatang toya bambu telah menotok jalan darah hong-hu-hiat di punggungnya.

Ternyata pendeta kurus kering ini adalah murid pertama dari Si-lo Hoatsu, salah seorang dari dua pendeta sakti negeri Thian-tok yang bergelar Tay-kiat.

Dahulu dia pernah mengikuti dua orang pendeta sakti itu berkunjung ke bukit Thian-san tapi kalah di tangan Beng Hoa.

Supek maupun suhu-nya adalah pendeta-pendeta agung, sebaliknya dia sendiri masih belum bisa menguasai nafsu angkara murkanya, selama beberapa tahun belakangan ini selalu melatih ilmunya dalam kuil Lan-tou-si, sehingga selain berhasil menguasai segenap ilmu silat gurunya, dia punterhitung nomor satu di antara saudara-saudara seperguruan dari angkatannya.

Kali ini dia muncul kembali di daratan Tionggoan dengan tujuan hendak menantang Beng Hoa berduel, siapa tahu kena dibujuk Lian Kan-pei untuk membantunya menghadapi Ki See-kiat Pada mulanya dia tak sudi untuk turun tangan, menanti ia saksikan Ki See-kiat membunuh kuda dengan ilmu Liong-siu-kang, dia baru terkesiap dan timbul keinginannya untuk menang.

Ilmu Liong-siu-kang merupakan kepandaian rahasia dari kuil Lan-tou-si, kepandaian ini tidak semba-rangan diwariskan kepada setiap orang, tingkatan yang tertinggi adalah tingkat kesembilan, tapi dalam dunia saat ini hanya Yu-tam Hoatsu pemimpin kuil Lan-tou-si saja yang berhasil mencapainya.

Suhu Tay-kiat yang bernama Si-lo Hoatsu, hanya berhasil mencapai tingkat ketujuh, sementara dia sendiri baru mencapai tingkat keempat Namun dalam kuil Lan-tou-si, ilmu Liong-siu-kang yang dimilikinya itu sudah menempati kursi ketiga.

"Walaupun ilmu Liong-siu-kang yang dimiliki bocah keparat ini masih belum dapat melampaui toa-suhu, tapi agaknya sudah setanding dengan suhu-ku sendiri, heran, dari mana dia mempelajari ilmu rahasia dari perguruan kami ini? Sekalipun dia bisa berhasil mempelajarinya» kalau dilihat dari usianya, paling baru duapuluh tahunan, kenapa dia bisa memiliki ilmu Liong-siu-kang yang begitu sempurna?"

Makin dipikir semakin tidak mengerti, maka begitu turun tangan dia lantas mengeluarkan ilmu to-tokan jalan darah yang maha dahsyat untuk merobohkan Ki See-kiat asalpemuda itu dapat dirobohkan maka dia akan memaksa pemuda itu untuk mengaku.

Siapa tahu belakang punggung Ki See-kiat seperti mempunyai mata saja, sambil membalikkan badan dia’ lancarkan sebuah cengkeraman yang bukan saja berhasil memunahkan jurus serangannya, malah hampir saja berhasil mencengkeram toya bambu itu.

Toya bambu dari Tay-kiat segera membentuk gerakan setengah busur di udara, lalu ditarik untuk melindungi badan, sementara bokor emas di tangan kirinya secepat kilat meng-hantam kepala.

Ki See-kiat segera menggunakan jurus Th ian-ong-tou-ta (Raja Langit Menyunggi Pagoda), sepasang telapak tangannya dihantamkan ke atas.

Belum sempat membentur, dua gulung tenaga pukulan telah saling menumbuk yang mengakibatkan kedua belah pihak sama-sama mundur sejauh tiga langkah.

Saat itulah Ki See-kiat baru mempunyai peluang untuk menjawab pertanyaan orang.

"Ilmu Liong-siu-kang yang boanpwe miliki berasal dari ajaran Ghasam Hoatsu. Rupanya toa-hwesio juga murid kuil Lan-tou-si? Boanpwe pernah men-dengar penuturan dari suhu yang mengatakan bahwa peraturan dalam kuil Lan-tou-si amat ketat, hong-tiang kuil itu Yu-tam Hoatsu merupakan pendeta agung yang paling dikaguminya, toa-hwesio juga murid kuil Lan-tou-si, berani kau pun seorang pendeta agung. Bajingan she Lian ini adalah orang jahat, harap toa-hwesio jangan sampai tertipu oleh akal muslihatnya."

Waktu itu Lian Kan-pei sedang merangkak bangun dari atas tanah, ia lantas berpikir.

"Tampaknya apa yang tersiar selama ini memang benar, bocah keparat ini telah berhasilmendapatkan kitab pusaka ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng di Kota Iblis."

Dia khawatir Tay-kiat Hoatsu berpihak kepada Ki See-kiat lantaran ada hubungan perguruan, buru-buru ia berteriak.

"Hoatsu jangan percaya dengan obrolannya. Ghasam Hoatsu telah mampus di tangan Beng Hoa, mana mungkin ia bisa mewariskan ilmu Liong-siu-kang kepadanya?"

Jurus serangan yang digunakan Ki See-kiat untuk memunahkan tekanan dari bokor emas itu memang ilmu Liong-siu-kang, cuma ilmu Liohg-siu-kang yang dipelajarinya berbeda dengan apa yang dipelajari Tay-kiat Hoatsu, ilmu Long-siu-kang yang dimilikinya telah disesuaikan oleh Ghasam Hoatsu dengan dasar ilmu Lak-yang-jiu keluarganya.

Sebagaimana diketahui, ilmu Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo yang diperoleh Ki Sec-kiaf dari ibunya adalah cabang dari Tay-lek-kim-kong-ciang koil Siau-lim-si, sedang pendiri kuil Siau-lim-si, Tat-mo Cousu adalah orang negeri Thian-tok, atau boleh dibilang berasal dari saru sumber dengan ilmu silat aliran Lan-tou-si sekarang.

Oleh karena itu ketika Lak-yang-jiu dikombinasikan dengan Liong-siu-kang akibatnya jadilah suatu kepandaian baru yang luar biasa sekali.

Cuma taraf kepandaian yang dilatih Ki See-kiat sekarang belum mencapai puncak, berbicara soal tenaga dalam, meski jauh lebih "dahsyat"

Daripada Liong-siu-kang aliran Lan-tou-si, namun soal kesempurnaan, ia masih kalah jauh.

Untung saja kemampuan yang dimiliki Tay-kiat Hoatsu sekarang masih selisih jauh dibandingkan dengan suhu dan supek-nya, dia hanya merasa ada perbedaan di antara merekaberdua, namun di manakah letak perbedaan tersebut, ia sendiri pun tidak jelas.

Pendeta ini hanya merasa ilmu Liong-siu-kang milik Ki See-kiat amat dahsyat, bahkan tidak berada di bawah gurunya sendiri, tanpa terasa ia menjadi terkejut bercampur gusar, hawa napsu membunuhnya segera berkobar di dalam dadanya.

Perlu diketahui, ilmu Liong-siu-kang merupakan ilmu rahasia kuil Lan-tou-si, di kuil Lan-tou-si tidak berlaku peraturan yang melarang penerimaan murid bangsa Han, namun sepanjang sejarah hanya Hian-cong Hoatsu dari ahala Tong saja yang pernah datang ke kuil Lan-tou-si untuk belajar agama Budha, sedangkan orang yang belajar silat boleh dikata belum pernah.

Oleh sebab itu meski tiada peraturan yang tertulis, namun dalam pandangan sementara murid, mereka telah menganggap bahwa ilmU Liong-siu-kang dari kuil Lan-tou-si tidak boleh diwariskan kepada bangsa Han.

Tay-kiat Hoatsu adalah orang yang berpandangan sempit, diam-diam ia lantas berpikir.

"Semenjak Tat-mo Cousu mendirikan kuil Siau-lim-si di daratan Tionggoan, hingga kini sudah ada seribu tahun lamanya, ilmu silat dari kuil Siau-lim-si juga cukup untuk menandingi ilmu silat dari kuil Lan-tou-si. Bila sekarang, ilmu Liong-siu-kang diwariskan pula ke bangsa Han, lama-kelamaan ilmu silat negeri Thian-tok pasti tak akan sanggup menandingi mereka. Hmm… Hmm… dasar Ghasam Hoatsu penganut aliran sesat, kalau benar bocah keparat ini adalah muridnya, setelah sang guru melakukan pelanggaran, lebih baik kubunuh sekalian muridnya."

Kiranya ilmu silat yang dimiliki Ghasam dan Ghamit Hoatsu berasal dari kuil Lan-tou-si, namun pertama, mereka tidakmembaca doa, kedua, tidak mengikuti upacara keagamaan, bahkan mendirikan perguruan sendiri di samping kuil Lan-tou-si, maka dalam pandangan sementara pendeta yang berpandangan sempit, mereka telah menganggap kedua orang itu sebagai penganut aliran sesat Demikianlah, setelah napsu membunuh berkobar di hati Tay-kiat Hoatsu, dia pun lantas membentak keras.

"Bocah keparat, kau berani mencuri belajar Liong-siu-kang dari kuil kami? Tidak peduli siapa yang mewariskan kepadamu, aku tak akan mengijinkan kau untuk mempergunakannya. Nah, sekarang hanya ada dua jalan yang bisa kau tempuh!"

Ki See-kiat sama sekali tidak menyangka kalau pendeta itu akan mendampratnya dengan kata-kata kasar, timbul rasa mendongkol di hatinya, segera ujarnya dengan suara dingin.

"Dua jalan yang mana?"

"Pertama, kau harus memunahkan ilmu silatmu sendiri, kalau tidak terpaksa aku akan membacakan doa Wong-seng untukmu!"

Doa Wong-seng adalah doa yang biasanya dibawakan para pendeta untuk mengiringi keberangkatan jenazah seseorang, artinya, jika Ki See-kiat enggan memunahkan sendiri ilmu silatnya maka dia akan mengirim pemuda itu pulang ke nir-wana.

Mendengar perkataan itu, Ki See-kiat tertawa terbahak-bahak.

"Haahh… haahh… haah aku orang she Ki tak lebih cuma seorang kuli silat, seandainya ada pendeta yang bersedia membacakan doa Wong-seng untukku, sungguh suatu kemujuran bagiku! Cuma sayang, entah sampai kapan aku baru akan meninggalkan dunia ini, sampai waktunya entahtoa-hwesio bisa datang mencariku atau keburu sudah berangkat duluan?"

Tay-kiat Hoatsu tertawa dingin tiada hentinya.

"Kau ingin tahu? Itu gampang. Aku dapat memberitahukan kepadamu, hari inilah saat kematianmu!"

Di tengah tawa dinginnya, dia sudah menggerakkan toya bambunya untuk menyodok dada Ki See-kiat dengan jurus Ya-cha-tam-hay (Setan Air Menyelidik Samudra).

Dia yakin, meski Liong-siu-kang yang dimilikinya masih belum sanggup menandingi Ki See-kiat, namun masih banyak ilmu silat, lainnya yang dapat dipergunakan, ia menduga dengan usia Ki See-kiat yang be-gitumuda, ilmu silat yang dimiliki-nya tak akan lebih hebat dari apa yang telah dilihat, ia tak percaya kalau dirinya tak sanggup meraih kemenangan.

Apalagi dua macam senjata tajam yang diandalkannya sekarang, yakni toya bambu serta bokor emas merupakan benda-benda mestika yang luar biasa sekali.

Ki Sce-kiat sendiri sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Tay-kiat jauh di atas Lian Kan-pei, dengan mengandalkan tangan kosong belaka mustahil ia mengalahkannya.

la pun tak berani gegabah, melihat datangnya tusukan toya bambu itu, dengan cepat senjatanya diloloskan untuk menangkis.

Sebenarnya setelah berhasil melatih ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, ia harus mengganti senjatanya dengan pedang, tapi pemuda ini baru saja meninggalkan Kota Iblis, dia belum sempat mencari sebilah pedang yang cocok, maka terpaksa ia mesti menggunakan golok mestika.Untung saja ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat jauh berbeda dengan ilmu pedang lain, ilmu pedang tersebut menitikberatkan pada "perasaan pedang"

Dan bukan menitik-beratkan pada "jurus pedang" , apalagi inti kekuatan yang sebenarnya dari Peng-coan-kiam-hoat adalah dalam lembut luar keras.

Di antara senjata, pedang termasuk lunak, golok termasuk keras, sekarang ia menggunakan golok menggantikan pedang untuk memainkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, meski dalam jurus serangannya belum tentu bisa mencocoki, namun justru jauh lebih cocok dengan "perasaan pedang"

Dari Peng-coan-kiam-hoat Ketika Tay-kiat Hoatsu menyaksikan pemuda itu melepaskan sebuah bacokan seenaknya, meski dia pun melihat terkandung perubahan pelik di balik bacokan tersebut, namun ia masih tidak memikirkan di hati, pikirnya kemudian.

"Kau bocah keparat bila tidak mempergunakan Liong-siu-kang, itu berarti kau cuma mencari penyakit buat diri sendiri, kekalahan yang bakal kau terima akan jauh lebih mengenaskan lagi!"

Dari gerakan menyodok dia segera mengubah menjadi gerakan menindih, diam-diam’hawa muminya disalurkan ke ujung toya.

Siapa tahu bacokan Ki See-kiat itu meski tampaknya tak bertenaga, padahal seperti juga sungai es, tenang permukaannya, deras di dalamnya.

"Traang…!"

Terdengar benturan keras berkumandang memecahkan kesunyian, lalu tampak percikan bunga api dari ujung golok mestika Ki See-kiat Tay-kiat Hoatsu terdesak mundur sejauh beberapa langkah sebelum dapat berdiri tegak kembali, walaupun toya bambunya tak sampai terlepas, pergelangan tangannya tergetar sampai linu rasanya.Sambil tertawa dingin Ki See-kiat segera mengejek.

"Toa-hwesio, lebih baik doa Wong-seng itu kau simpan untuk dirimu sendiri saja!"

"Hmm, bocah keparat, kau jangan berbangga dulu,"

Dengus Tay-kiat Hoatsu sambil menahan geram.

"doa Wong-seng tersebut tetap akan kubacakan untukmu!"

Gerakan tubuhnya benar-benar cepat, belum habis ucapan tersebut diucapkan, tampak cahaya hijau berkelebat lewat, tahu-tahu toya bambu itu sudah menyodok tubuh Ki See-kiat.

Kali ini gerak serangan yang dipergunakan aneh sekali, ujung toyanya maju dan mundur tak menentu, seperti ke kiri seperti ke kanan, seperti juga ke tengah namun sekujur badan Ki See-kiat tahu-tahu sudah terkurung di bawah bayangan toyanya.

Dia selalu berusaha untuk menghindari bentrokan dengan Ki See-kiat, yang digunakan sekarang adalah ilmu It-ciang-tiam-kiu-hiat (Sebuah Sapuan Toya Menotok Sembilan Jalan Darah) yang merupakan ilmu menotok jalan darah tingkat tinggi dari kuil Lan-tou-si.

Dalam keadaan begini, asal Ki See-kiat sedikit teledor saja dalam pertahanannya, dia segera akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menotok jalan darah kematian di tubuh Ki See-kiat.

Ketika dilihatnya serangan yang digunakan pendeta itu ganas dan buas, timbul juga rasa ingin menang daiam hati kecil Ki See-kiat, pikirnya.

"Ingin kulihat ilmu toyamu yang lebih hebat ataukah ilmu pedangku yang lebih sempurna!"

Di tengah bentakan nyaring, golok mestika Ki See-kiat segera berkelebat di tengah udara lalu menyongsong ke depan, seperti menusuk seperti menotok, seperti membabatatau membacok, sebentar menunjuk ke timur menghantam ke barat, sebentar menunjuk ke selatan menghantam ke utara, ternyata di balik ilmu golok terkandung ilmu pedang, baik kelebihan dari ilmu golok maupun ilmu pedang semuanya terkandung dan digunakan hampir bersamaan waktunya dalam satu jurus serangan.

Padahal, jurus serangan itu tak lebih hanya merupakan suatu perubahan yang pelik dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat.

Tay-kiat Hoatsu merasa amat terkejut, segera pikirnya.

"Aneh benar ilmu pedang yang digunakan bocah keparat ini, kalau dibilang ilmu Liong-siu-kang itu dia peroleh dari G h asam, kenapa ilmu pedangnya sama sekali berbeda dengan aliran kuil kami?"

Jurus serangan yang dipergunakan Ki See-kiat tersebut bukan cuma tepat dalam penggunaan waktunya juga amat jitu, beruntung Tay-kiat Hoatsu telah berganti jurus serangan, akan tetapi tak pernah berhasil ; meloloskan diri dari ancaman.

Tampaknya cahaya pedang yang membawa sinar hijau itu segera akan membacok di atas lengan Tay-kiat..

Dalam keadaan begini, jika Tay-kiat Hoatsu ingin menyelamatkan lengannya, maka dia harus menggunakan toya bambunya untuk menangkis golok mestika lawan dengan kekerasan.

I Ketika Ki See-kiat gagal mengulangi toya bambu lawan, dengan cepat dia tahu kalau toya bambu itu adalah benda mestika, oleh sebab itu dalam penggunaan jurus serangan kali ini, ia telah menyertakan tenaga yang lebih besar, tenaga Liong siu-kang yang dipelajarinya telah disalurkan ke ujung golok tersebut.

Dengan kekuatan sebesar ini, andaikata golok itu sampai bentrok dengan toya lawan, maka akibatnya sekalipun ia gagaluntuk mengu-tungi toya, paling tidak juga akan membuat senjata lawan mencelat dan terlepas dari cekatannya.

Siapa tahu ilmu aliran Thian-tok yang dimiliki Tay-kiat Hoatsu lihay sekali.

Ia pernah belajar Yoga, seluruh badannya lemas seperti tak bertulang, seluruh otot dan dagingnya seakan-akan biasa diubah-ubah bentuknya seperti apa yang dikehendaki.

Baru saja Ki See-kiat bergirang hati karena serangannya hampir mengenai sasaran, mendadak ujung pedangnya tergelincir ke bawah, lengan lawan bagaikan seekor ular saja tahu-tahu berubah arah, toya bambu itu pun segera melesat lewat dari sisi mata pedangnya dan mendadak menotok jalan darah Gi-khi-hiat di bawah iganya.

Untung saja ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat mempunyai banyak perubahan, belum habis jurus itu, mendadak ia melancarkan sebuah tusukan lagi dari suatu sudut yang sama sekali tak terduga oleh Tay-kiat Hoatsu.

Dengan demikian, kedua belah pihak sama-sama menghadapi jurus berbahaya yang munculnya sama sekali di luar dugaan, tapi Ki See-kiat mempunyai tenaga Liong-siu-kang yang melindungi badan, sekalipun jalan darahnya kena ditotok juga belum tentu bisa melukainya.

Berbeda dengan Tay-kiat Hoatsu, andaikata goloknya sampai bersarang telak, niscaya jiwanya akan terancam.

Sudah barang tentu Tay-kiat Hoatsu tak berani mengambil risiko tersebut, terpaksa dia harus mengeluarkan ilmu Yoga-nya lagi.

Dada dan lambungnya segera ditarik dalam-dalam, kakinya sama sekali tak bergeser, tubuhnya mundur tiga inci kebelakang, dalam keadaan yang amat kritis, akhirnya dia berhasil juga meloloskan diri dari tusukan golok Ki See-kiat.

Oleh karena ilmu pedang yang dipergunakan Ki See-kiat adalah ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, walaupun senjata yang digunakan bukan Peng-pok-han-kong-kiam, namun di mana serangan itu tiba, Tay-kiat Hoatsu segera merasakan dingin yang luar biasa, tanpa terasa ia bergidik dan bersin berulang kali.

Dengan cepat pendeta itu membentak keras, bokor emas yang berada di tangan kirinya dipergunakan untuk melancarkan serangan, dengan gerakan Bukit Thay-san Menindih Puncak, dia hantam batok kepala pemuda itu.

"Serangan yang indah!"

Seru Ki See-kiat.

Telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dengan Liong-siu-kang, sedangkan golok di tangan kanannya menusuk ke atas dengan gerakan Mengangkat Obor Membakar Langit.

Bokor emas itu segera miring ke samping, sebetulnya Ki See-kiat bisa menggunakan kesempatan itu untuk menerobos masuk dan menusuk salah satu jalan darah penting di tiga bagian tubuh Tay-kiat Hoatsu.

Tapi entah mengapa, golok mes-tikanya seakan-akan kena diisap oleh semacam tenaga tak berwujud yang kuat sekali dan ikut miring ke samping.

Itu pun berkat tenaga dalamnya amat sempurna, coba tidak nisea senjata itu sudah terlepas da, cekalan.

Ternyata bokor emas milik Tay-kiat Hoatsu itu mempunyai keistimewaan.

Dalam bokor emas dipasang besi semberani, cuma besi semberani itu bukan besi semberani biasa, melainkan inti besiyang digali dari lapisan paling bawah di pulau Tongya-to di kedalaman beribu depa.

Pulau Tongya-to yang terletak dekat kutub selatan terkenal sebagai penghasil magnit, itulah sebabnya daya magnitnya besar sekali.

Seandainya berganti dengan orang biasa, asal senjata yang digunakan termasuk jenis logam, maka dalam jarak tiga depa di sekitarnya, niscaya senjata mereka akan terkena isapan bokor emas itu.

Tapi sekarang, oleh karena tenaga dalam yang dimiliki Ki See-kiat jauh lebih tinggi beberapa tingkat dibandingkan dengan pendeta itu, ia masih berhasil meloloskan diri dari pengaruh daya tarik yang amat kuat itu.

Cuma, sekalipun golok mestika-nya tak sampai terlepas, namun cukup membuat hatinya terperanjat Menggunakan kesempatan itu, Tay-kiat Hoatsu segera melancarkan serangan balasan, suatu pertempuran sengit pun segera berkobar.

Masing-masing pihak saling menggunakan kemampuan yang dimilikinya, masing-masing pihak pun mempunyai perasaan waswas terhadap lawannya, hal ini membuat pertarungan berjalan seimbang.

Bila kita berbicara soal-ilmu silat yang dimiliki, Ki See-kiat memiliki !

ilmu silat dari beberapa keluarga (ayah ibunya, Kiri Hoa-seng suami I istri, ditambah lagi dengan ilmu silat aliran negeri Thian-tok yang diwariskan Ghasam Hoatsu kepadanya), maka dia jauh lebih unggul daripada Tay-kiat Hoatsu.Sebaliknya Tay-kiat Hoatsu mengandalkan dua macam benda mestika yang dimilikinya, maka untuk sesaat keadaan menjadi berimbang.

Akan tetapi ketika waktu berlangsung makin lama, tenaganya makin lama makin lemah, dalam keadaan demikian ia mulai keder.

Dalam pada itu Lian Kan-pei hanya berdiri tertegun di tepi arena, pada mulanya dia mengira asal Tay-kiat Hoatsu mau turun tangan, niscaya Ki See-kiat dapat dibekuk dalam waktu singkat Siapa tahu kenyataannya sama sekali di luar dugaannya, makin melihat dia bahkan makin terperanjat, dengan cepat pikirnya.

"Ternyata ilmu silat yang berhasil dia pelajari dalam Kota Iblis jauh lebih tangguh daripada ilmu silat aliran kuil Lan-tou-si, wah… jika pertempuran ini dilangsungkan lebih jauh, mungkin Tay-kiat Hoatsu sendiri pun belum tentu dapat menandinginya, lebih baik sekarang juga aku mengambil langkah seribu."

Ia tak berani menonton lebih lanjut, tanpa menimbulkan sedikit suara pun ia lantas kabur.

Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 6

Baca Juga: Telapak Setan 9

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger