Eps 1 Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Baca online Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id
Cersil Taruna Pendekar - Liang Ie Shen Tjan Id.
~~Seri Thiansan~~ (Tan Zhi Jing Lei) Judul baru . Jari Menjentik, Guntur Menghentak Karya . Liang Ie Shen Saduran . Tjan ID Sumber DJVU . Manise Converter & Editor . Dewi KZ Ebook oleh . Dewi KZ.
Tiraikasih website
http.//kangzusi.com.
http.//kang-zusi.info/
http.//dewikz.byethost22.com
http.//ebook-dewikz.com
http.//
Tiraikasih.co.cc/
http.//cerita-silat.co.cc/.
Jilid I Bulan lima adalah bulan yang indah untuk negeri utara, tapi merupakan saat gugurnya bunga di wilayah Kanglam, dalam suasana beginilah di bukit Kunlun-san muncul seorang pemuda yang mendaki pegunungan tersebut.
Saat itu dia sedang mencari seorang pemuda bangsa Tibet untuk mengantarkannya memasuki daerah Tibet.
Betul ia pernah melewati tanah perbukitan yang paling berbahaya di dunia ini, tapi ia tak berani gegabah menghadapi perjalanan yang terbentang di depan mata.
Wilayah Tibet selain penuh dengan ancaman padang pasir, kadang kala juga harus menghadapi gugur atau longsornya salju.
Itulah sebabnya mengapa dia harus menemukan seorang pemandu jalan.
Sayang pemandu jalan yang ditemuinya kali ini sudah berusia lanjut, mukanya penuh keriput, paling tidak umurnya sudah mencapai limapuluh tahun, punggungnya bungkuk, badannya kurus kering dan mengenaskan keadaannya.
Ketika pertama kali bertemu dengan pemandu jalan ini, dia agak khawatir, bukan khawatir terhadap keseraman mukanya, melainkan khawatir kalau lo-toaya ini tak mampu berjalan cepat.
Tapi keadaan memaksa dia harus menerima lo-toaya bangsa Tibet ini sebagai pemandu jalannya, apa boleh buat di sana tak bisa ditemukan orang kedua.
Tapi di luar dugaan, belum sampai beberapa hari ia telah membuktikan sesuatu, lo-toaya tersebut nyatanya seorang pemandu jalan yang amat berpengalaman.Jangan dilihat usianya sudah lanjut, badamlya seperti lemah berpenyakitan, waktu berjalan menembusi tanah perbukitan tersebut, ia tampak santai dan tidak kepayahan, padahal pemuda yang berasal dari keluarga persilatan ini harus mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menyusul dari belakang.
Pemandu jalan ini masih memiliki satu kebaikan, yakni bahasa Han-nya amat lancar.
Suatu hari ketika mereka sedang melakukan perjalanan, tiba-tiba berhembus lewat segulung angin puyuh yang amat kencang.
Paras muka lo-toaya bangsa Tibet itu segera berubah hebat.
Pemuda itu terperanjat, cepat-bisiknya di sisi telinga pemandu jalan itu.
"Ada salju longsor?"
Tapi, hanya pasir dan batu yang beterbangan memenuhi angkasa, tiada bongkahan salju yang berguguran. Dengan wajah pucat pias seperti mayat, pemandu jalan itu berbisik agak tergagap.
"Ki… Ki kongcu, kau… kau dengar tidak? Di balik angin ada suara aneh… itulah angin aneh yang berhembus datang dari Kota Iblis…!"
"Kota Iblis?"
Ulang pemuda itu tertegun.
"di manakah letak Kota Iblis itu?"
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, angin berhembus lewat makin kencang.
Begitu kencangnya angin topan berhembus, membuat langit ikut menjadi gelap, pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa.
Kendatipun ia berilmu silat, hampir saja tak mampu berdiri tegak, tentu saja dia pun tak dapat berbicara dengan pemandu jalan itu.Suara angin itu memang aneh, seperti suara tambur perang yang berdentum, seperti juga jeritan kera di tengah bukit, atau auman harimau atau pekikan burung bangau… penuh dengan irama sedih, gagah, buas, lembut dan halus.
Tanpa terasa perasaan pemuda itu berguncang keras, dia sangat tertegun mendengar campuran irama itu.
Sang pemandu jalan telah menutupi telinganya sambil duduk bersila di atas tanah.
Sedangkan pemuda itu ingin mencoba kekuatan tenaga dalamnya, ia tetap berdiri tegak sambil memperhatikan suara aneh itu.
Mendadak ia seperti menangkap ada suara seruling yang tercampur aduk di balik suara aneh tadi, irama seruling yang merdu dan merayu….
Suara seruling yang lembut dan halus amat sedap didengar, ketika diperhatikan lebih seksama, ternyata syair yang dibawakan adalah syair gubahan dari Pek Ki-gi, tapi pemuda itu merasa lebih terperanjat lagi setelah mendengarkan permainan seruling itu.
Sebab suara aneh yang terdengar pertama kali tadi merupakan suara yang tercipta oleh hembusan angin kencang, sebaliknya suara seruling itu adalah permainan manusia.
Pemuda itu mencoba untuk memperhatikan lebih seksama lagi, lamat-Iamat ia masih mengenali irama yang dibawakan adalah irama wilayah Kanglam, sayang sesaat kemudian irama seruling itu lenyap bersamaan dengan lenyapnya hembusan angin….
Angin puyuh cepat datangnya cepat pula perginya, pelan-pelan angin berhenti berhembus, pasir berhenti beterbangan, udara pun cerah kembaliBaru saja pemuda itu bermaksud membangunkan pemandu jalan, pemandu jalan itu telah melompat bangun, kemudian sambil menuding ke muka teriaknya.
"Coba lihat, itu dia Kota Iblis! Jauh di ujung langit, dekat di mata!"
Pemuda itu mendongakkan kepalanya mengikuti arah yang ditunjuk, benar juga di ujung langit’ sana lamat-Iamat muncul sebuah kota, ada jalanan, ada bangunan rumah, ada pagoda, ada dinding kota, semuanya dapat terlihat dengan jelas.
Tapi sekejap kemudian, kesemuanya itu lenyap tak berbekas, seperti awan yang buyar di angkasa.
Pemuda itu segera tertawa geli, ujarnya.
"000… itu toh fatamorgana; tempo hari sewaktu lewat di gumn pasir Gobi juga pernah ku-saksikan pemandangan semacam itu, apa anehnya?"
"Tapi… bagaimana penjelasanmu tentang suara aneh tersebut?"
Tanya si pemandu jalan.
"Angin berhembus datang dari puncak bukit itu, siapa tahu kalau keadaan bukit di sebelah sana agaksedikit istimewa bentuknya."
Dengan cepat pemandu jalan itu rnenggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Aku tahu juga tentang pandangan semu (fatamorgana), tapi yang kita lihat tadi bukan pemandangan semu. Konon, menurut cerita kuno, kota Mokui-sia letaknya jauh di ujung langit, dekat dimata!"
"Apa yang dimaksudkan jauh di langit dekat di mata?"
"Konon Kota Iblis itu terletak di bukit depan sana, suara aneh di balik hembusan angin adalah jeritan setan iblis, tiap kali angin aneh telah berhembus Iewat, di ujung langit pasti muncul bayangan dari Kota Iblis tersebut."
"Kau pernah berkunjung ke Kota Iblis?"
"Ooh… berapa besar nyaliku ini? Mana berani aku berkunjung ke situ? Cuma, meski belum pernah kukunjungi tempat itu, sudah dua kali kusaksikan munculnya bayangan Kota Iblis tersebut, kedua-duanya terjadi setelah angin puyuh berhembus lewat."
"Aha… aku rasa apa yang kau lihat sebanyak dua kali itu hanya suatu kebetulan saja,"
Kata sang pemuda sambil tertawa.
"Aku tidak percaya dengan setan atau iblis, eeh, bagaimana kalau kita bersama-sama menengok keadaan di bukit ini?"
Dengan wajah memucat biru-pemandu jalan itu menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Jangan bergurau siangkong, aku lebih baik percaya daripada tidak percaya akan adanya Kota Iblis. Dan lagi, sekalipun tak ada iblis nya, siapa tahu kalau ada penyamunnya."
Tergerak perasaan pemuda tersebut setelah mendengar perkataan itu, katanya.
"Dugaanmu itu memang masuk di akal. Cuma di tempat yang begini terpencil meskI ada penyamunnya tentu tak banyak jumlah mereka. Itu pun kebanyakan adalah penyamun-penyamun bangsa kurcaci yang mempergunakan cerita seram di tempat ini untuk mengangkangi tanah perbukitan tersebut dan dijadikan sarang rahasianya."
Mendadak ia teringat lagi dengan suara seruling tadi, tanpa terasa kembali dia berpikir.
"Irama seruling yang dimainkan orang itu adalah irama Kanglam, sudah pasti dia pun seorang bangsa Han. Ini berarti di sana masih ada orangnya, mungkin dia bukan penyamun, ehmm… jangan-jangan dialah orangyang sedang kucari? Hahaha… seandainya benar begitu, inilah yang dinamakan bersusah payah dicari akhirnya ditemukan tanpa sengaja!"
Namun pemandu jalan itu belum juga berani ke sana, ia kembali bertanya.
"Walaupun penyamunnya cuma dua tiga orang, dengan tubuhku yang ceking dan begini kurus, mana mungkin tahan kalau sampai dihantam? Apalagi kalau benar-benar ada setannya, bisa makin celaka! Ki siangkong, maafkanlah aku, aku tak berani menemanimu ke sana, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan kau tempuh bahaya tersebut, lebih baik kita mencari jalan lain saja untuk menghindari Kota Iblis tersebut."
Dengan kening berkerut pemuda itu tertawa.
"Watakku paling suka berpetualangan, terutama sekali menyelidiki hal-hal yang sifatnya aneh, aku tidak takut dengan iblis, apalagi penyamun, jangan khawatir, selama aku mendampingimu meski ada delapan atau sepuluh orang penyamun juga bukan masalah, tanggung mereka tak akan mampu mengusik seujung rambutmu!"
"Ki siangkong, benarkah kau mempunyai kepandaian sebesar itu?"
Tanya si pemandu jalan setengah percaya setengah tidak. Pemuda itu tidak berbicara, tiba-dia membacok sebuah batu cadas dengan tangannya.
"Brak!"
Batu itu segera terpotong sebagian.
"Aku tidak percaya kalau tulang belulang kaum penyamun yang bersembunyi di tempat itu lebih keras dari batu cadas!"
Katanya sambil tertawa.Pemandu jalan itu hanya bisa terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Kiranya pemuda ini bernama Ki See-kiat, asal-usulnya memang cukup besar, ibunya Lak-jiu Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) Nyo toakoh, adalah kakak perempuan dari Nyo Bok seorang busu kenamaan dari kota Po-teng.
Dalam dunia persilatan terdapat dua orang "Koan-im" , yang satu adalah istri Koan-tang Tayhiap Utti Keng, yang disebut Jian-jiu Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu) Ki Seng-in.
Kedua orang Koan-im tersebut meski hanya berbeda dalam sebutan "Lak-jiu"
Bertangan keji dan "Jian-jiu"
Bertangan seribu, namun masing-masing memiliki kepandaian yang berbeda sekali.
Nyo toakoh bisa menjajarkan namanya dengan Ki Seng-in, dari sini bisa diketahui bahwa ilmu silat yang dimilikinya memang luar biasa.
Konon ilmu Lak yang-jiu yang merupakan ilmu warisan dari keluarga Nyo merupakan andalan dari Nyo toakoh, malah kelihayannya jauh melebihi kehebatan adiknya sendiri.
Berbicara tentang keturunan ayahnya, maka yaya dari Ki See-kiat jauh lebih ternama lagi.’ .
Yaya-nya adalah seorang tokoh persilatan mahasakti yang termashur namanya di seluruh kolong langit dan menguasai lima propinsi di utara, orang menyebutnya Su-hay-yu-Iiong (Naga Sakti EmpatSamudra) Ki Kian-yap.
Ayah Ki See-kiat sudah lama meninggal dunia, ia memperoleh pendidikan ilmu silat dari kakek dan ibunya.
Sebagai pemuda yang berbakat dan mempelajari kepandaian dua keluarga sekaligus, tak heran kalau namanya cukuptersohor di dalam dunia persilatan, meski umurnya baru mencapai duapuluh tahun.
Kali ini dia melewati bukit Kun-Iun menuju ke Tibet bukan karena ingin berpetualang, melainkan karena ingin mencari jejak seseorang.
Pikir pemuda itu kemudian.
"Meski belum tentu kejadian begini kebetulan, kalau toh tempat tersebut mencurigakan, kenapa tidak diselidiki dengan seksama?"
Maka dia pun membujuk si pemandu tua itu untuk menuruti kemauannya.
"Lo-toaya, andaikata kita dapat membongkar rahasia yang telah terpendam selama ratusan tahun di tempat itu, sekalipun harus menyerempet sedikit bahaya, tindakan ini juga masih ada harganya! Tolonglah aku, bawalah aku ke kota Mokui-sia tersebut, tak usah khawatir, pasti akan kutambah ongkosnya nanti."
Tampaknya bujuk rayu itu menimbulkan rasa ingin tahu di hati si pemandu tua itu, akhirnya dia meluluskan juga permintaan pemuda itu.
Maka berangkatlah kedua orang itu meneruskan perjalanannya, tak sampai dua jam kemudian mereka telah tiba di bawah bukit, sementara sang surya belum lagi tenggelam di kaki langit.
Sepanjang perjalanan, Ki See-kiat tiada hentinya memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Ia saksikan di atas dinding bukit penuh dengan lubang-lubang kecil bagaikan sarang lebah, ketika angin berhembus lewat sekalipun bukan angin puyuh terdengar juga suara ting-tong ting-tong yang merdu.Sementara di atas bukit penuh dengan sungai es yang terbentang kian kemari bagaikan naga sakti, indah nian pemandangan di sana.
Ki See-kiat segera memahami akan sesuatu, ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Nah, coba kau dengar, bukankah kedengaran suara berirama aneh? Rupanya lubang kecil seperti lebah inilah merupakan sumber irama tersebut bila ada angin berhembus lewat."
Sebagaimana diketahui, tanah perbukitan Kunlun-san penuh dengan bukit-bukit tinggi yang diliputi oleh salju tebal, mungkin disebabkan gempa dan erosi, batu-karang di belakang bukit tinggi itu banyak yang gugur ke bawah dan melapisi tanah bersalju di bawah-nya.
Akibat dari tindihan itu, salju lambat laun makin mencair, erosi yang kemudian terjadi menyebabkan timbulnya lubang-lubang di atas batu cadas yang berada di atasnya.
Itulah sebabnya mengapa batu-karang di sana banyak berlubang sehingga menimbulkan berbagai irama aneh yang menyeramkan.
Tampaknya pemandu tua ini memiliki pengetahuan yang cukup luas, setelah dijelaskan oleh Ki See-kiat, dengan cepat semua kecurigaan dan keraguan dalam hatinya tersapu hilang tak berbekas, katanya kemudian.
"Walaupun Kota Iblis belum tentu ada wujudnya, tapi aku rasa cerita yang tersiar selama ini pun belum tentu tanpa dasar. Coba kita lihat ke depan sana!"
Waktu itu Ki See-kiat berdiri di tempat tinggi, ketika menengok mengikuti arah yang ditunjuk, maka secara lamat-Iamat ia menyaksikan adanya bekas reruntuhan yang terbengkalai di atas puncak bukit itu, malah di belakang bukitmasih terdapat pula sebuah pagoda dengan stupa berwarna putih menjulang tinggi ke angkasa.
"Mungkin itulah peninggalan kota kuno jaman dulu kala…!"
Demikian ia berpikir. Sambil tertawa pemuda itu lantas berkata.
"Baiklah, kalau begitu kita menginap di Kota Iblis malam nanti, ayo kita berangkat!"
Tak lama kemudian, Kota Iblis telah di depan mata.
Ternyata tempat itu merupakan sebuah dinding kota yang berbentuk bulan, di sana-sini sudah penuh dengan lubang besar, hampir porak poranda seluruh bangunan di situ kecuali sebuah pagoda Budha yang masih tetap berdiri utuh.
Pagoda itu tingginya belasan kaki, di sekitarnya masih tampak bangunan rumah yang sudah bobrok.
Bentuk dari bangunan itu agak istimewa, atap rumahnya berbentuk bulat seperti bunga teratai, jauh berbeda dengan bentuk rumah penduduk bangsa Tibet.
Tiba-tiba Ki See-kiat berkata sambil tertawa.
"Seandainya tempat ini adalah benar-benar Kota Iblis, sudah pasti setan iblis yang berdiam di kota,ini adalah setan-setan gentong nasi yang tak perlu ditakuti."
"Ki siangkong, kau toh belum pernah berhubungan dengan mereka, dari mana kau bisa tahu?"
Tanya si pemandu jalan sambil tertawa.
"Coba kalau kepandaian mereka hebat, tempat yang mereka tinggali sudah pasti keraton yang megah, indah dan mewah, mana ada setan iblis Iihay yang tinggal di rumah bobrok?"
Pemandu tua itu segera manggut, sahutnya.
"Ki siangkong, setelah mendengar perkataan itu, aku pun menjadi lega rasanya."
"Lo-toaya, masa kau percaya kalau di dunia ini ada setan?"
Seru Ki See-kiat sambil tertawa.
"Aku hanya khawatir kalau di sini bersembunyi kaum penyamun, tapi setelah kulihat beberapa rumah bobrok ini, aku rasa sekalipun ada penyamunnyajuga tak akan banyak jumlahnya. Ucapanmu tadi juga sangat masuk di akal, iblis yang sakti tak akan tinggal di rumah bobrok. penyamun yang lihay aku rasa juga tak akan tinggal di rumah bobrok semacam ini."
"Bukit ini terpencil letaknya, mau mencari binatang pun tidak banyak jumlahnya, dari mana datangnya penyamun yang menjadikan tempat ini sebagai sarangnya? Tak usah ragu lagi, ayo kita masuk ke dalam."
Setelah bergurau kedua orang itu melanjutkan perjalanannya ke dalam.
Mendadak segulung angin berhembus lewat, kemudian Ki See-kiat mengendus semacam bau harum yang sangat aneh, dia mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, segera tampaklah dalam Kota Iblis penuh aneka bunga aneh yang besarnya semangkok nasi.
Bunga-bunga aneh itu ada yang berwarna merah, ada pula yang berwarna putih dan biru, cuma warna merah paling banyak dan amat mencolok serta memantul kan cahaya berapi-api.
"Hei, bunga apakah itu?"
Ki See-kiat segera berseru."Ki siangkong, jangan! Jangan didekati…."
Teriak si pemandu tua itu dengan cemas.
"Mengapa tidak boleh?"
Tanya sang pemuda sambil melanjutkan langkahnya ke depan.
"Bentuk bunga itu mirip sekali dengan bunga iblis yang diceritakan orang, jangan sekali-kali menyentuhnya, kalau tidak konon akan tertimpa bencana besar!"
Sedari kecil Ki See-kiat sudah berwatak keras kepala dan paling tidak percaya dengan segala cerita dongeng yang berbau takhayul, mendengar perkataan itu, kontan ia tertawa terbahak-bahak_ "Hahaha… setan saja aku tidak takut, apalagi cuma bunga iblis?
Kalian bilang bunga itu tak boleh disentuh, huuuh, aku justru akan memetiknya beberapa kuntum."
Seraya berkata dia melanjutkan langkahnya menghampiri kebun bunga tersebut.
Bau hamm semerbak makin lama makin tebal, baru saja pemuda itu akan memetik sekuntum bunga iblis yang paling besar dan paling indah, tiba-tiba kepalanya terasa pusing sekali, menyusul kemudian matanya berkunang-kunang seperti orang mabuk arak, badan terasa lemas tak bertenaga dan kaki pun lemas tak mampu berdiri.
Dengan terkejut Ki See-kiat menjerit keras.
"Haah? Jangan-jangan bunga ini beracun?"
Mendadak sang "iblis"
Memunculkan diri! Sesungguhnya "iblis"
Adalah manusia, konon manusia yang berdosa dikutuk oleh Yang Kuasa dan jadilah iblis.Cuma iblis yang muncul kali ini benar-benar di luar dugaan Ki See-kiat, sebab iblis tersebut ternyata tak lain adalah rekan seperjalanannya selama beberapa hari ini, si pemandu tua bangsa Tibet yang pernah dikhawatirkan tak mampu mendaki gunung itu.
Baru saja dia akan memetik se kunturn bunga "mokui-hoa" , mendadak desingan angin tajam menyambar datang dari belakang punggungnya, lalu muncullah sebuah toya yang menotok jalan darah Honghu-hiat di atas punggungnya_ Ki See kiat memang tak malu menjadi keturunan dari keluarga persilatan, walaupun jiwanya terancam bahaya sikapnya tidak gugup.
Sambil membalikkan tangannya, dia pukul miring toya tersebut dengan Kimkong-Iak-yang-jiu kepandaian sakti andalan keluarga Nyo, setelah itu secepat kilat tubuhnya berputar.
"Hei, mpanya kau,"
Jerit pemuda itu setelah mengetahui siapa penyergapnya.
"Kau… kau… mau apa kau?"
Si anak muda itu betul-betul kaget bercampur heran, ia tak habis mengerti, kenapa pemandu tua itu mendadak menyergap dirinya.
Pemandu tua itu berseru tertahan, rupanya dia pun tercengang oleh kemampuan Ki See-kiat untuk menghindarkan diri dari serangannya itu, dengan suara menggeledek bentaknya.
"Kau tak usah banyak bicara! Siapa yang menyuruh kau datang ke wilayah Tibet…."
"Kedatanganku ke Tibet apa sangkut pautnya dengan kau? Siapakah dirimu?"
Kali ini si pemandu tua tersebut tidak menjawab lagi, belum selesai pemuda itu berkata, toyanya sudah menyerang kembali.
Pemandu tua itu memainkan toya panjangnya sebagai senjata poan-koan-pit, tangan kirinya menotok jalan darah Leng-ciu dan Giok-suan di atas nadi Jin-meh, sementara tangan kanannya mengancam jalan darah Kim-kiong dan Giok-kan di atas nadi Tok-meh.
Serangannya jitu, ganas dan Iihaynya bukan kepalang.
Keadaan pemandu tua itu ibarat telah berganti orang, punggungnya yang semula bungkuk menjadi tegak, kaki kanannya yang semula pincang dan tidak leluasa untuk berjalan sekarang tidak pincanglagi, bahkan toya penopang badan pun berubah menjadi semacam senjata yang amat lihay.
Yang paling mengejutkan Ki See-kiat adalah ilmu menotok jalan darahnya yang sangat Lihay itu..Dalam sekilas pandang, ia telah mengetahui bahwa ilmu totokan yang dipergunakan si pemandu tua itu merupakan jebolan dari ilmu Su-pit-tiam-pat-meh (Empat Pit Menotok Delapan Nadi) dari keluarga Lian.
la pernah mendengar cerita tentang kepandaian tersebut dari yaya-nya, Su-hay-yu-liong Ki Kian-yap yang berpengetahuan luas.
Yaya-nya pernah bilang begini, ilmu Keng-sin-pit-hoat ilmu Pit Pengejut Malaikat adalah kepandaian sakti dari keluarga Lian di propinsi Hoopak, bila dipergunakan berdua maka empat buah pit bisa menotok delapan nadi sehingga orang persilatan menjulukinya sebagai ilmu pit penotok jalan darah yang tiada tandingannya di kolong langit.Akan tetapi, ketika kepandaian itu diwariskan sampai anak keturunan keluarga Lian yang satu jaman dengan Ki Kian-yap, kepandaian Empat Pit Menotok Delapan Nadi tersebut sudah tak mampu digunakan lagi, sehingga yang masih tersisa tinggallah kepandaian Siang-pit-tiam-su-meh – Sepasang Pit Menotok Empat Nadi yang dimainkan satu orang.
Sekarang, si pemandu tua tersebut telah memainkan toyanya untuk menotok empat nadi di tubuh Ki See-kiat, betul kepandaian tersebut masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kepandaian Empat Pit Menotok Delapan Nadi, akan tetapi jelas masih jauh di atas kepandaian Sepasang Pit Menotok Empat Nadi.
Anehnya, menurut penuturan yaya-nya, kepandaian sakti tersebut tidak pernah diwariskan kepada orang lain kecuali keturunan keluarga Lian, sedangkan keluarga Lian adalah bangsa Han, tapi… mengapa pemandu bangsa Tibet ini dapat memainkan kepandaian tersebut?
Dengan cepat Ki See-kiat tersadar kembali dari kebodohannya, sekarang ia baru tahu, rupanya pemandu tua itu bukan orang Tibet melainkan bangsa Han dari keluarga Lian yang berasal dari propinsi Hoopak.
Dengan cepat pula beberapa masalah yang semula mencurigakan hatinya, kini telah dapat dipahaminya semua.
"Tak aneh kalau di bawah bukit Kunlun-san yang sepi tidak berpenduduk, baru saja aku hendak mencari pemandu jalan, yang aku cari telah muncul di hadapanku. Rupanya memang dia bermaksud mencelakaiku…"
Demikian Ki See-kiat berpikir. Namun masih ada satu hal yang tidak dipahami olehnya.
"Yaya belum pernah mengatakan kalau keluarga Ki kami pernah berselisih atau bermusuhan dengan keluarga Lian dari Hoopak, dan mengapa dia menyergapku secara keji?"
Tapi sayang kepalanya masih pusing sekali, ini membuat pemuda tersebut tak sanggup berpikir lebih jauh, selain itu serangan dahsyat yang dilancarkan pihak lawan juga tidak memberi kesempatan baginya untuk memecah perhatian, di samping itu dia juga tahu, tidak mungkin si "pemandu tua"
Itu akan memberi penjelasan kepadanya.
Ki See-kiat segera menarik nafas panjang, setelah menghimpun kembali semangatnya, secara beruntun tiga buah pukulan dilancarkan.
Ketiga buah pukulan itu semuanya merupakan jurus pembunuh dalam ilmu Lak-yang-jiu, kontan saja "pemandu jalan"
Itu terdesak mundur sejauh tiga langkah.
Ilmu Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo memang suatu kepandaian tersendiri di dalam dunia persilatan, sekalipun merupakan jebolan dari ilmu Tay-lik-kim-kong-jiu dari Siau-lim-pay, namun di antara kedua macam kepandaian tersebut sesungguhnya terdapat perbedaan yang besar sekali.
Jurus-jurus serangan dari Tay-lik-kim-kong-jiu sangat sederhana, sekalipun kehebatannya luar biasa namun tiada perubahan yang rumit, semua gerakan mengandalkan tenaga dalam yang sempurna.
Sebaliknya ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga Nyo merupakan jurus serangan yang tersembunyi di balik jurus lain, dalam gerakan terdapat gerakan, sehingga di dalam setiap serangan yang dilancarkan terkandung enam macam perubahan yang berbeda yang ibaratnya ombak di sungai Tiangkang menggulung tiba tiada putusnya.Bayangkan saja, dalam ilmu pukulan biasa, satu jurus dengan dua gerakan saja sudah susah sekali, apalagi satu jurus dengan enam perubahan, sesungguhnya kejadian mi merupakan suatu peristiwa yang langka dalam dunia persilatan.
Oleh sebab itu, kendatipun di dalam hal kekuatan mungkin masih belum mampu menandingi ilmu Kim-kong-jiu dari Siau-lim-pay, tapi bila bertemu dengan musuh yang hampir seimbang kekuatannya, maka ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga Nyo sesungguhnya jauh lebih sukar dihadapi.
Ki See-kiat mengerti kalau dia tak akan tahan lama, oleh sebab itu, begitu turun tangan dia lantas mengeluarkan kedahsyatan ilmu Lak-yang-jiu.
Menghadapi serangan dahsyat dari ilmu Lak-yang-jiu tersebut, walaupun ilmu menotok jalan darah dari si pemandu tua itu cukup lihay, nyatanya ujung toya tersebut tidak mampu untuk menyentuh ujung baju lawan, apalagi melukainya.
Setelah bertarung beberapa gebrakan, akhirnya dia membalikkan badan dan melarikan diri.
Bau harum bunga mokui-hoa memang amat tebal dan memabukkan seperti arak, apalagi Ki See-kiat harus melangsungkan pertarungannya di antara kebun bunga tersebut, akibatnya makin lama pemuda itu merasakan kepalanya semakin pening.
Cuma ada satu hal yang cukup disadari olehnya, yakni sebelum ia jatuh tak sadarkan diri, si pemandu jalan itu harus dibunuh lebih dulu.
‘Tanpa sebab tanpa musabab kau hendak mencelakai diriku, setelah gagal membunuh, sekarang kau ingin kabur ke mana lagi?"
Bentak pemuda itu keras-keras.Sambil menggigit lidah untuk mengobarkan kembali semangatnya, pemuda itu menghimpun tenaganya dan menerjang maju.
Goloknya diloloskan, lalu dengan bacokan golok di tangan kiri, pukulan tangan kanan, ia kejar pemandu jalan itu secara nekat Tiba-tiba pemandu tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaha… bocah keparat yang tak tahu diri, kau takut aku kabur? Justru aku yang lebih khawatir bila kau merat dari sini!"
Serunya lantang.
Di tengah gelak tertawa yang keras, mendadak dari balik kebun bunga melompat keluar dua sosok manusia lagi.
Yang satu adalah lelaki kekar yang tinggi besar, sedangkan yang lain adalah seorang pendeta kurus kering yang mengenakan jubah Lhama berwarna merah darah.
Begitu memunculkan diri, lelaki itu segera berseru sambil tertawa keras.
"Lian lotoa, jangan khawatir, bocah keparat ini tak akan bisa kabur dari sini!"
Menyusul kemudian pendeta kurus itu pun mengucapkan beberapa patah kata dengan bahasa Tibet, sayang Ki See-kiat tidak mengerti apa yang dikatakan.
"Aaah! Rupanya dia memang betul-betul dari keluarga Lian!"
Demikian Ki See-kiat berpikir.
Sementara dia masih melamun, lelaki kekar itu sudah menerjang tiba, senjata yang dipakai adalah sepasang kaitan Hau-tau-kou.
Pendeta asing itu lebih aneh lagi, tiba-tiba ia melepaskan jubah merahnya dan berdiri tak bergerak di tepi arena, cuma sepasang matanya mengawasi gerak-gerik Ki See-kiat denganketat, tampaknya dia khawatir kalau pemuda itu kabur dari situ.
Ki See-kiat semakin sadar kalau dirinya sudah terjebak dalam perangkap lawan, meski kesadarannya makin kabur namun dia juga tahu kalau si pemandu tua itu pasti telah mengetahui jika di dalam kota Mokui-sia terdapat sejenis bunga aneh yang amat beracun, oleh sebab itu sengaja dia memancingnya ke sana agar masuk ke dalam perangkap.
Tentu saja kedua orang yang dipersiapkan di tempat itu pun sudah mempersiapkan diri terhadap pengaruh bunga beracun itu, buktinya mereka tidak terpengaruh oleh racun bunga itu.
Kini ia sudah terperangkap dalam jebakan musuh, selain mengadu jiwa, apa pula yang bisa ia lakukan?
"Kalau bukan kau yang mati, akulah yang mampus!"
Bentak Ki See-kiat kemudian.
Telapak tangannya dibalik ke atas dan mengeluarkan jurus-jurus ampuh dari ilmu Kim-kong-lak-yang-jiu, sementara golok di tangan kirinya langsung dibacokkan ke tubuh lelaki kekar tadi.
Di balik sambaran golok terkandung angin pukulan, kedahsyatan ancaman tersebut sungguh mengerikan.
"Bagus sekali!"
Seru lelaki kekar itu sambil tertawa.
Sepasang senjata kaitannya direntangkan, lalu yang satu menyambar, yang lain menggaet, hampir saja golok Ki See-kiat kena tergaet lepas dari cekalan.
Sementara itu, tenaga pukulan yang dihasilkan Lak-yang-jiu tidak lebih hanya berhasil membuat tubuh lelaki kekar itu berguncang sedikit.Walau demikian, tampaknya ia menaruh rasa waswas terhadap pukulan Lak-yang-jiu dari Ki See-kiat, oleh sebab itu meski dia menang dalam gebrakan pertama, tubuhnya masih tak berani menghampiri terlampau dekat.
Ki See-kiat terkejut sekali, segera pikirnya.
"Wah… bajingan ini tampaknya lebih hebat daripada orang she Lian, entah permainan sepasang Hou-tau-kou itu berasal dari aliran mana? Tapi kelihatannya bukan ilmu silat aliran Tionggoan."
Padahal yang benar, bukan kepandaian lelaki itu lebih hebat daripada kepandaian Lian lotoa, tapi karena tenaga yang dimiliki Ki See-kiat makin lama makin lemah.
Tampaknya lelaki itu dapat melihat pula kalau tenaga Ki See-kiat semakin kendor, sambil terbahak-bahak katanya.
"Hei, ingin beradu jiwa? Sayang kau sudah tak mampu untuk bertarung lagi, hahaha… lebih baik kau menyerah saja, aku tidak berhasrat untuk merenggut nyawamu."
Sebagai pemuda yang tinggi hati, sudah barang tentu Ki See-kiat enggan menyerah kalah dengan begitu saja.
"Baik!"
Kata lelaki itu kemudian.
"jika kau si kunyuk kecil tidak juga tahu diri jangan salahkan kalau aku tidak akan bertindak sungkan-sungkan lagi!"
Sepasang senjata kaitannya dikembangkan dengan gerakan menyongsong, menghantar, menggunting, meronta, menelan, memun-tah, membetot dan melepas, delapan macam cara dalam ilmu kaitan, dia mencecar musuhnya dengan serangan-serangan gencar.
Ketika permainan itu berkembang sampai pada puncaknya, kedua bilah kaitan tersebut ibarat dua ekor ular berwarna perak, menari dan berputar di sekeliling tubuh Ki See-kiatSeandainya anak muda itu belum keracunan mungkin ia masih bisa bertarung seimbang melawan lelaki kekar itu, tetapi sekarang, dalam keadaan terluka, tentu saja ia tak mampu menahan diri, apalagi lelaki kekar itu mendapat bantuan dari Lian lotoa.
Ketika pertarungan berlangsung hingga mencapai puncaknya, tiba-tiba lelaki itu membentak keras.
"Kena!"
Sepasang senjata kaitannya diputar membentuk lingkaran, lalu menggaet golok baja tersebut, ketika dibetot ke atas, golok di tangan Ki See-kiat mencelat ke tengah udara.
Ki See-kiat tidak rela dirinya dibekuk, timbul tekadnya untuk beradu jiwa, maka sambil menggigit lidah, ia mengerahkan segenap sisa tenaga yang dimilikinya untuk melancarkan sebuah bacokan ke depan.
Entah disebabkan sikap memandang enteng pada musuh, entah lelaki kekar itu mengira Ki See-kiat telah kehabisan tenaga dan tak sanggup melepaskan serangan balasan lagi, ternyata pukulan itu dengan telak bersarang di tubuhnya.
Sayang tenaga pukulan yang dimiliki Ki See-kiat sudah lemah dan tak berbahaya, kalau tidak niscaya ia sudah terluka parah oleh pukulan telak tersebut.
Sekalipun begitu lelaki kekar tersebut merasakan juga kesakitan yang luar biasa hingga sambil menjerit keras, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan.
Biasanya apabila seseorang sudah terancam jiwanya, maka akan timbul tenaga yang amat ajaib dari tubuhnya Begitu pula keadaan dari Ki See-kiat, mendadak dia melompat sejauh beberapa kaki dari tempat semula, lalumenyambar lewat dari sisi tubuh lelaki kekar itu tadi bagaikan seekor burung elang.
Belum sempat lelaki kekar itu berdiri tegak, Ki See-kiat mendadak menyambar lewat di sisi tubuhnya, tentu saja tak sempat lagi baginya untuk menangkap pemuda itu.
Sayang dia telah berada dalam pengawasan musuh, walaupun penjagaan pertama sudah dilewati, penjagaan kedua muncul di muka.
Mendadak ia merasa ada cahaya merah bagaikan selapis kabut tebal yang menutupi seluruh kepalanya.
Ternyata pendeta asing yang berjaga-jaga di samping arena telah mengembangkan jubah berwarna merah, dan menghadang jalan pergi pemuda itu.
Belum lagi jubah merah tersebut menutup kepala, tenaga serangan yang kuat telah menekannya sehingga tak mampu bernapas.
Padahal Ki See-kiat telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.
"Blaaam…!"
Bagaikan membentur sebuah dinding baja tubuhnya segera mundur sempoyongan.
Ki See-kiat semakin kepayahan, kepalanya makin pusing, seluruh jagat terasa bagaikan berputar kencang, bahkan lengan pun tak mampu diangkat.
Tentu saja, bagaimanapun jua dia tak akan mampu untuk menahan serangan kedua yang dilancarkan lawan.
Pendeta asing itu tertawa terbahak-bahak, kemudian ujarnya dengan dingin.
"Ilmu pukulan Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo memang bukan nama kosong belaka, tak malu kalau disebut jebolan dari ilmu ciptaan Tatmo Cousu, sayang tenaga dalam yang kau miliki itu terlampau dangkal, bila kaumasih ingin meloloskan diri dari kejarannya Hud-ya, paling tidak harus berlatih sepuluh tahun lagi! Hee… hee… hee… mau kabur ke mana kau? Ayo, cepat berhenti!"
Bahasa Han yang digunakannya kaku tidak sedap didengar, ibarat benda besi yang sedang bergesek, menusuk pendengaran.
Ternyata ilmu pukulan Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo itu berasal dari jebolan ilmu Tay-lik-kim-kong-ciang dari Siau-lim-pay, sedangkan ilmu silat Siau-lim-pay merupakan ciptaan dari Tatmo Cousu, sehingga jikalau diurutkan boleh dibilang ilmu Lak-yang-jiu merupakan suatu kepandaian sam-pi ngan dari ilmu silat ciptaan Tatmo Cousu.
Pendeta asing tersebut adalah seorang jago lihay dari golongan Mi-tiong, ilmu silat yang dimilikinya berasal dari kuil Lan-tou-si di negeri Thian-tok, dengan ilmu silat ciptaan Tatmo Cousu yang dibawa ke daratan Tionggoan merupakan saru sumber.
Oleh karena dia tidak turut serta dalam pertarungan tadi, pertama karena ingin menjaga gengsi dan enggan mengerubuti seorang pemuda dari angkatan muda, kedua dia pun ingin menyadap kelihayan dari ilmu Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo ini.
Mulut berbicara, langkahnya sama sekali tidak mengendor, bagaikan bayangan setan dia menyusul ke depan dan menggetarkan jubah merahnya untuk mengurung tubuh Ki See-kiat.
"Berhenti!"
Bentak pendeta asing itu lagi dengan suara menggelegar seperti guntur.Ki See-kiat semakin kepayahan, segenap tenaga yang dimilikinya telah punah tak berbekas, jangankan untuk kabur, berdiri pun sudah tak mampu lagi.
Begitu tersambar oleh tenaga dahsyat yang dihasilkan oleh kibasan jubah merah itu, tak bisa dikendalikan lagi tubuhnya segera roboh tertelungkup di atas tanah.
Melihat musuhnya sudah roboh, pendeta asing itu pun tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar dia maju menghampiri.
Keadaan Ki See-kiat benar-benar sangatlah payah, tidak setitik tenaga pun bisa dipergunakan lagi, dalam keadaan seperti ini, terpaksa dipe-jamkannya mata dan pasrah pada nasib.
Tapi anehnya, nasib buruk yang dianggap semula tak bisa dihindari itu tak pernah menimpa dirinya, gelak tertawa yang seram dari pendeta asing itu pun telah berhenti, yang terdengar hanya suara teguran yang merdu.
"Mengapa kalian hendak mencelakai anak muda itu?"
Pendeta asing itu mendengus dingin.
"Dari mana datangnya budak liar ini, berani benar mencampuri urusan Hud-ya-mu!"
Tanya jawab itu amat mencengangkan Ki See-kiat, sambil menggigit bibir dia meronta dan merangkak bangun, ketika kepalanya didongakkan, terlihatlah seorang gadis cantik sedang bertarung sengit melawan pendeta asing itu.
Sekalipun kesadarannya agak kabur, bagaimanapun juga pemuda itu adalah seorang ahli silat Dengan mengerahkan tenaganya dia mencoba untuk memperhatikan jalannya pertarungan itu.Setelah mengikuti sebentar permainan pedang si nona, dengan perasaan terkejut bercampur girang dia lantas berpikir.
"Tampaknya usia nona itu belum begitu besar, tapi permainan pedangnya benar-benar amat sempurna, siapa tahu kalau dia mampu mengalahkan pendeta asing itu? Aah… kenapa aku merasa begitu kenal dengan ilmu pedang itu? Seakan-akan pernah kulihat di suatu tempat, ilmu pedang aliran manakah itu?"
Di tengah arena pertempuran telah berkembang menjadi amat seru, tampak selapis awan merah menyelimuti angkasa, mengurung serentetan cahaya perak yang bergerak kian kemari.
Pendeta asing itu memang sangat lihay, jubah merahnya yang bergerak ke sana kemari itu menimbulkan deru angin yang kencang, angin bercampur guntur yang dahsyat bagaikan amukan ombak di tengah samudra.
Padahal ketika itu KS See-kiat sedang bersandar di atas pohon yang berjarak tujuh delapan kaki dari arena, tapi ia merasa angin tajam yang menerpa wajahnya lamat-lamat menimbulkan rasa sakit seperti tertusuk beribu-ribu batang jarum Gadis muda itu lebih hebat lagi, bagaikan sebuah sampan kecil yang terombang-ambing di tengah gulungan ombak yang membukit, dia bergerak ke sana kemari dengan entengnya.
Terkejut dan tercekat perasaan Ki See-kiat sesudah menyaksikan jalannya pertarungan itu, pikirnya kemudian.
"Sayang; betul-betul amat sayang, walaupun ilmu pedangnya sangat lihay, namun masih belum sanggup untuk mengalahkan pendeta buas itu."
Belum habis ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, mendadak terdengar… "bluuss!"
Tahu-tahu jubah merah milikpendeta asing itu sudah tertusuk pedang gadis itu sampai tembus. Bagaikan sebuah bola yang tiba-tiba kehilangan udara, dia segera menjerit keras.
"Lihay betul budak ini!"
Setelah melemparkan jubahnya ke tanah, dia segera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.
Gadis itu segera menyingkirkan jubah merah itu ke samping, kebetulan ia menyongsong datangnya lelaki bersenjata Hou-tau-kou, pertarungan segera berkobar lagi dengan serunya, dengan kaitan kiri melindungi badan, kaitan kanan melancarkan serangan, hampir saja senjata tersebut menggaet dada gadis itu.
Sayang gadis cantik itu bukan sembarangan jago, tiba-tiba dia menarik dadanya ke belakang tanpa menggerakkan kaki, badannya melambung dan mundur ke belakang.
Dengan begitu, terlepaslah dia dari serangan musuh yang dahsyat itu.
Pertarungan antara jago lihay tak boleh selisih sedetik pun.
Waktu itu, jurus serangan si lelaki kekar tersebut sudah terlanjur sampai di tengah jalan, ibarat gendewa telah dipen-tangkan lebar-lebar, mana mungkin dia mampu melukai lawannya?
Terdengar gadis itu membentak keras, cahaya pedang segera menggulung ke muka dengan cepatnya, sekalipun kaitan Hou-tau-kou di tangan kanan lelaki itu sudah keburu ditarik mundur kemudian membendung ancaman tersebut dengan sepasang senjata, toh gagal juga baginya untuk membendung seluruh ancaman tersebut.Di tengah bentakan keras, tiba-tiba kulit kepalanya terasa dingin, rambut panjangnya yang awut-awutan tahu-tahu sudah terpapas sebagian besar dan beterbangan dihembus angin.
Untung saja lelaki kekar itu sempat merendahkan sedikit kepalanya sehingga sambaran tersebut tak sampai melukai kulit kepalanya, kendatipun begitu ia menjadi ketakutan setengah mati, sukma serasa melayang dari raganya, tergopoh-gopoh dia mengikuti jejak pendeta asing kabur dari situ.
Kini, tinggal si pemandu tua gadungan yang belum sempat melarikan diri.
Gadis cantik itu segera membentak keras.
"Hmm…! Sekalipun kau menyamar sebagai orang Tibet, jangan harap bisa mengibuli diriku, sekarang aku telah mengetahui siapakah kau. Jika punya keberanian jangan kabur, mari kita bertarung barang beberapa jurus, ingin kurasakan sampai di manakah kehebatan dari Siang-pit-tiam-su-meh milikmu itu!"
Bernyalikah si pemandu jalan itu menerima tantangan dari si nona?
Sayang Ki See-kiat sudah tak sempat mengikutinya.
Ketika pendeta asing berbaju merah serta lelaki bersenjata kaitan itu berhasil dikalahkan si nona cantik, dia merasa lega sekali, di dalam anggapannya pemandu gadungan itu tak akan bisa menandingi kehebatan si nona kendatipun ia bernyali untuk menerima tantangannya.
Dasar ia memang sudah kehabisan tenaga, kemudian terkena pula racun bunga mokui-hoa, begitu bahaya sudah lewat, tenaga yang diandalkan juga turut membuyar, robohlah dia tak sadarkan diri.Entah berapa lama sudah lewat, dalam keadaan sadar tak sadar, lamat-lamat Ki See-kiat seperti mendengar suara permainan seruling yang merdu merayu, tanpa terasa dia membuka matanya kembali.
Seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk, dengan cepat pemuda itu menenangkan pikirannya lalu memandang sekeliling tempat ini.
Ternyata dia sedang berbaring di atas ruangan yang dilapisi rumput kering, ruangan di mana ia berada sangat indah dan bersih.
Seorang gadis cantik sedang berjalan menghampirinya, lalu membungkukkan badan dan memperhatikan mukanya, sebuah seruling dipegang dalam tangan gadis itu.
"Bagus sekali, kau telah sadar sekarang, bagaimana rasamu kini?"
Tegur si nona. Pada saat yang hampir bersamaan Ki See-kiat juga sedang bertanya kepada gadis itu.
"Siapakah kau? Kaukah yang menolongku dan membawaku kemari? Terima kasih banyak atas pertolonganmu."
"Aku tak lebih hanya seorang gadis yang kebetulan lewat di sini di kala kau sedang menjumpai bahaya. Sesama umat persilatan, sudah sewajarnya kalau saling menolong, apalagi kita sama-sama bangsa Han. Kau tak perlu sungkan-sungkan."
Sebenarnya Ki See-kiat ingin menanyakan namanya, tapi niat tersebut segera diurungkan setelah mendengar jawaban tersebut Ia menganggap mungkin gadis itu hanya menolong atas dasar suka rela dan tak ingin balas jasanya, apalagi mereka memang tidak saling mengenal, ini semua membuatnya menjadi rikuh untuk mencari tahu nama si nona.Berpikir demikian, dia pun menjawab.
"Barusan aku telah mencoba untuk mengatur pernafasan, keadaanku sudah sehat, tampaknya luka dalamku telah sembuh. Tapi di manakah aku sekarang?"
"Tempat ini adalah kota Mokui-sia yang ingin kau datangi!"
Jawab nona itu.
"Ooh… rupanya kau sudah tahu kalau si pemandu jalan gadungan itu memancing aku datang ke kota Mokui-sia. Nona, kaukah orang yang meniup seruling di kala angin topan sedang berhembus tadi?"
Dengan cara yang lain Ki See-kiat bertanya.
"Benar, ketika topan sedang berhembus kemarin, aku memang sedang meniup seruling."
Sementara dalam hati kecilnya diam-diam ia berpikir.
"Pemuda ini dapat membedakan suara serulingku di antara pelbagai suara lain di tengah hembusan angin topan, ini menunjukkan kalau kepandaiannya memang hebat sekali.
Dalam pada itu Ki See-kiat telah berseru dengan kaget.
"Kemarin? Kalau begitu, aku sudah tidur seharian penuh di tempat ini…?’ "
Benar.
Cuma untung saja kau tak sampai menderita luka dalam, racun bunga iblis yang bersarang di tubuhmu juga telah punah.
Mungkin karena terlampau lelah maka kau jadi tertidur seharian penuh.
Sebentar, sehabis bersantap tentu kekuatanmu akan pulih kembali."
Berbicara sampai di situ, dia lantas masuk ke ruang dalam, mengambil sepotong paha dan diberikannya kepada pemuda itu.Setelah menghabiskan dua potong ayam panggang, Ki See-kiat merasa semangatnya jauh lebih segar, sambil bersantap dia bertanya.
"Apakah bunga itu asalnya memang bernama Mokui-hoa? Aku masih mengira si pemandu itu sedang ngaco belo tak keruan."
"Dia tidak mengaco belo. Bunga itu sebenarnya bernama Ah-siu-lo, dalam bahasa Thian-tok, ‘Asiulo’ berarti iblis, sedang menurut kitab Hud-kok-ki, dikatakan di kala bunga Ah-siu-lo sedang mekar, barang siapa mengendus bau harum bunga jtu, dia akan merasakan nyaman dan seperti bertemu dengan iblis saja, dengan cepat kesadaraannya akan punah tak berbekas."
Timbul perasaan ingin tahu dalam hati Ki See-kiat, tak tahan dia bertanya lagi.
"Nona, kenapa kau tidak takut dengan pengaruh bunga iblis? Malah bisa menawarkan racunku?"
"Setiap benda yang ada di dunia ini pasti ada lawan tandingannya. Sekalipun di sini terdapat sejenis bunga iblis yang bisa menyebabkan orang keracunan, tapi terdapat pula sejenis bunga aneh yang justru sanggup memunahkan pengaruh racun jahat itu."
Maksud perkataan itu amat jelas, yakni dia memiliki sejenis bunga aneh yang sanggup menawarkan pengaruh racun dari bunga iblis tersebut, cuma ia seperti mempunyai suatu perasaan waswas, maka nama bunga aneh tersebut enggan dikatakan pada Ki See-kiat Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak pemuda itu, asal-usul si nona pun lamat-lamat ia dapat menebaknya beberapa bagian, maka tanyanya lebih jauh.
"Nona, tentunya kau tahu bukan siapakah pemandu gadungan yang menyaru sebagai orang Tibet itu?"
"Dia adalah Lian Kan-pei. satu-satunya ahli pena keluarga Lian yang amat tersohor di kolong langit dewasa ini."
Sekalipun apa yang dikatakan gadis itu sudah merupakan dugaan dari Ki See-kiat, tak urung dia dibikin tertegun juga setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Lian Kan-pei, kenal betul aku dengan nama tersebut!"
Ia lantas bertanya lagi.
"Kalau memang dia merupakan ahli waris ilmu pena dari keluarga Lian, semestinya dia pun mempunyai kedudukan di dalam dunia persilatan di daratan Tionggoan, heran, kenapa dia kabur ke Tibet dan menyamar sebagai suku terasing di sini?"
"Dua puluh tahun berselang, di daratan Tionggoan terdapat seorang pendekar perempuan bernama besar yang disebut Hun Ci-lo, kau tahu tentang dirinya?"
"Ya, pernah kudengar orang membicarakannya!"
Sedang di dalam hati ia berpikir.
"Bukan cuma tahu, andaikata perkawinan Hun Ci-lo di masa lalu tidak bubar gara-gara perselisihan paham, dia masih terhitung bibiku."
Cuma berhubung karena alasan itu pula, di hari-hari biasa keluarganya selalu berusaha menghindarkan diri untuk menyinggung nama Hun Ci-lo, itulah sebabnya pula tidak banyak yang dia ketahui tentang masalah bibinya Terdengar gadis itu berkata lebih lanjut.
"Lian Kan-pei pernah kalah di ujung pedang Hun Ci-lo, oleh karena itu ia merasa tak punya muka untuk menancapkan kakinya kembali di daratan Tionggoan, selain itu konon dia masih punya musuh tangguh yang masih mencari jejaknya, maka terpaksa dia mengungsi ke Tibet Tfepi sejak kabur kemari dia jarang menampakkan diri, maka banyak orang masih curiga, apakah berita ini betul apakah tidak. Tak kusangka, hari ini kujumpai dia di sini."
"Siapa pula lelaki kekar yang bersenjatakan kaitan Hou-tau-kou itu?"
Tanya Ki See-kiat "Orang itu juga keturunan tokoh persilatan dari daratan Tionggoan yang bernama To Kian-kong, konon Lian Kan-pei yang memancingnya datang ke Tibet"
"Apakah Lhama berbaju merah itu adalah jago dari Mi-tiong?"
"Benar… pernah ada dua orang jago dari Tibet yang berkunjung ke daratan Tionggoan serta membantu pemerintah Boan-ciu memusuhi kaum patriot pembela tanah air, yang satu bernama Satou, yang lain bernama Sacam. Aku tidak menge-nal mereka, tetapi menurut dugaanku, besar kemungkinan lhama berbaju merah itu adalah salah seorang di antaranya."
"Nona begitu memahami semua kejadian dan jago-jago dalam dunia persilatan aku rasa sudah pasti kau pun keturunan seorang keluarga persilatan yang termashur nama-nya."
"Aah, aku tak mengerti apa-apa, aku cuma sering mendengar para cianpwe membicarakan masalah tersebut dan mengingat-ingatnya selalu…."
Tampaknya dia enggan menjawab pertanyaan dari Ki See-kiat tersebut, tapi justru meyakinkan Ki See-kiat akan dugaannya. Setelah termenung beberapa saat, dia lantas bergumam.
"Aneh, aneh…!"
Gadis Bermuka Dingin "Apanya yang aneh?"
Tanya si nona, lalu dia berpikir.
"Jangan-jangan dia sudah menaruh curiga pada asal-usulku."
"Ketiga orang yang nona sebut tadi sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diriku, perselisihan tidak ada, mengapa mereka bermaksud mencelakai diriku? Benar-benar membuat orang tidak habis pikir."
Perlu diketahui, ketika Nyo Bok dan Hun Ci-lo berselisih paham sehingga dari suami istri menjadi musuh besar, dunia persilatan pernah dibuat menjadi kacau balau.
Sedang dalam peristiwa tersebut Lak-jiu Koan-im Nyo toakoh selalu membela adiknya dan menganggap Hun Ci-lo sebagai perempuan jahat yang merusak nama keluarga Nyo mereka, berulang kali dia turun tangan membela adiknya dan menyusahkan Hun Ci-lo.
Oleh karena itu Ki See-kiat menjadi tidak habis mengerti dibuatnya, dia berpikir.
"Sekalipun Lian Kan-pei ada perselisihan dengan Hun Ci-lo, tak sepantasnya jika kemarahan tersebut dilimpahkan kepadaku!"
Dengan perkataan tadi itu, Ki See-kiat ingin memancing gadis itu untuk mengatakan nama serta asal-usulnya. Siapa tahu gadis itu hanya berkata dengan hambar.
"Dalam peristiwa kemarin, aku hanya secara kebetulan saja menjumpainya, jika kau sendiri pun tidak tahu, dari mana aku bisa tahu?"
Melihat pancingannya gagal untuk mendapat tahu nama si nona, terpaksa Ki See-kiat berkata lagi sambil tersenyum.
"Oya… kau telah menyelamatkan jiwaku, tapi belum sempat kuberitahukan namaku padamu. Aku she Ki bernama See-kiat."
Gadis itu tampaknya menaruh perhatian setelah mendengar nama pemuda itu.Dengan kening berkerut, dia lantas menatap wajah Ki See-kiat tajam-tajam, dan ujarnya.
"Ooh, rupanya kau she Ki. Dalam dunia persilatan juga terdapat seorang enghiong tua dari keluarga Ki, orang menyebutnya Su-hai Yu-liong K i Kian-yap, Ki loenghiong, entah apakah hubungannya denganmu?"
"Dia adalah yaya-ku,"
Sahut Ki See-kiat dengan hormatnya.
"Ooh, rupanya Ki kongcu, tak heran kalau ilmu silatmu sangat baik. Jikalau begitu aku mohon maaf bila aku kurang hormat."
Meskipun di bibir mengatakan kata-kata sungkan, wajahnya makin dingin dan hambar. Jelas beberapa patah kata itu hanya diutarakan demi sopan santun belaka. Ki See-kiat tersenyum, tiba-tiba katanya.
"Ilmu silatku yang tidak seberapa itu mana mungkin menandingi ilmu pedang nona yang lihay? Nona, kau berasal dari Thian-san-pay bukan?"
Nona itu agak tertegun, serunya.
"Ki kongcu memang tidak malu disebut keturunan keluarga persilatan, ketajaman matamu benar-benar amat lihay!"
"Aah, nona terlalu memuji,"
Kata Ki See-kiat sambil tertawa.
"padahal aku sama sekali tidak mengerti tentang ilmu pedang Thian-san-pay. Hanya kebetulan saja pada sebulan berselang, baru saja aku berkunjung ke Thian-san."
"Ooh, rupanya kau baru saja dari Thian-san, telah bertemukah kau dengan ketua Thian-san-pay?"
"Teng ciangbunjin belum pulang dari pesiar, Ciong tianglo yang menerima kedatanganku. Keempat murid partai kalianpun telah kujumpai, cuma nona saja belum kutemui, tampaknya waktu itu nona sedang berada di luar."
Melihat perkataannya tegas dan tandas, nona itu tahu kalau dia tidak sedang berbohong, paras mukanya juga berubah lebih lembut "Ya, benar, sudah setahun lamanya aku meninggalkan perguruan, sampai kini belum pulang barang sekali pun."
Setelah nona itu mengakui dirinya sebagai murid Thian-san-pay, Ki See-kiat segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya lebih jauh.
Dengan berlagak seperti baru teringat akan sesuatu, pemuda itu segera berseru.
"Aah, coba kau lihat, betapa pikunnya aku, nona telah menyelamatkan jiwaku, sampai sekarang aku masih belum menanyakan nama nona."
"Nama hanya merupakan suatu panggilan belaka, sedang kita pun berjumpa tanpa sengaja, sebentar pun perjumpaan ini akan berakhir, apalah gunanya menanyakan soal nama. Seandainya kau tidak menyebutkan sendui namamu, aku pun tak akan bertanya kepadamu."
"Nona, tidak mengapa kalau kau tidak mengetahui namaku, tapi kurang baik bila aku tidak mengetahui"
"Kenapa?"
Tanya nona itu agak tertegun.
"Nona, kau tidak berhutang apa-apa padaku, sedang aku berhutang budi kepadamu. Betul masalah ini belum tentu harus dibayar dengan budi lain di kemudian hari, mungkin juga kau tak akan mempedulikan aku bila bersua lagi di kemudian hari, tapi aku toh tak bisa berlagak seakan-akan tidak kenal padamu. Berarti, aku harus mengetahui panggilanapa yang mesti kugunakan, masa kau suruh aku menyebutmu injin (tuan penolong)?"
Perkataan itu diucapkan dengan serius, tanpa terasa sekulum senyum menghiasi ujung bibir si nona yang bermuka sedingin es itu. Ki See-kiat segera berkata lebih lanjut.
"Kau jangan menganggap aku bermulut manis atau sedang jual tampang, merayu gombal, tidak! Aku berbicara serius dan sungguh-sungguh."
"Baiklah, kalau toh kau menganggap soal ini amat penting, akan kuberitahukan kepadamu, aku she Leng bernama Ping-ji."
Setelah tertawa, sikapnya kembali menjadi dingin dan kaku seperti salju.
"Leng Ping-ji… nama ini persis seperti orangnya,"
Demikian Ki See-kiat berpikir.
"cuma sikap ini sejak awal tadi tidak begini, ketika aku baru sadar tadi, pelayanannya kepadaku boleh dibilang hangat sekali, tapi bicara punya bicara, lambat laun sikapnya menjadi dingin seperti es, sebenarnya apa sebabnya?"
Tentu saja dia tak tahu kalau hal ini disebabkan karena dalam pembicaraan tersebut, lambat laun Leng Ping-ji tahu kalau dia adalah putra Lak-jiu Koan-im Nyo toakoh.
"Nah, sekarang kau sudah mengetahui namaku,"
Ujar Leng Ping-ji.
"apalagi yang hendak kau tanyakan?"
"Leng lihiap, aku hendak mencari tahu tentang seseorang dari mu."
"Siapa?"
Lamat-lamat gadis itu sudah dapat menduga siapa yang sedang dicarinya itu.
"Bukankah dalam perguruan kalian terdapat seorang murid bernama Nyo Yan? Kurang lebih pada sepuluh tahun berselang, dia ikut Miau. Tiang-hong, Miau tayhiap, menuju ke Thian-san dan konon sudah masuk menjadi anggota perguruan kalian? "
"Ooh, rupanya kedatanganmu ke Tibet adalah untuk mencari jejaknya?"
"Benar, dia adalah adik misanku. Ibuku amat rindu kepadanya dan berniat untuk menjemputnya pulang!"
"Aku tidak menanyakan hubungan keluarga di antara kalian berdua, aku cuma merasa heran, kalau toh kau sudah sampai di Thian-san, mengapa tidak kau tanyakan langsung kepada pemuka perguruan di situ?"
"Menurut Ciong tianglo, sejak lima tahun berselang dia telah lenyap tak berbekas!"
"Lantas apa pula yang hendak kau tanyakan kepadaku? Apakah kau tidak percaya dengan perkataan Ciong tianglo?"
"Bukannya tidak percaya, soal lenyapnya Nyo Yan pernah kami dengar pula sewaktu berada di Tionggoan, cuma yang kami ketahui tidak begitu jelas, kini peristiwa tersebut telah berlangsung banyak tahun, siapa tahu kalau kalian telah berhasil menemukannya kembali."
"Kau curiga kami telah berhasil menemukannya, tapi tidak rela membiarkan dia turut kau pulang, maka sengaja mengelabui dirimu?"
Seru Leng Ping-ji tak senang hati.
"Harap nona jangan salahkan aku yang banyak curiga, sesungguhnya ketika adik misanku bersama Miau Tiang-hong menuju ke Thian-san, di balik peristiwa itu masih terdapat rahasia lain yang tidak diketahui orang luar, aku khawatir MiauTiang-hong menaruh pandangan lain terhadap keluarga Ki dan keluarga Nyo kami."
Paras muka, Leng Ping-ji segera berubah hebat, tukasnya.
"Kalau memang rahasia tersebut tak boleh diketahui orang luar, lebih baik tidak usah kau katakan kepadaku!"
Keadaan Ki See-kiat menjadi rikuh sekali, sambil tertawa paksa segera katanya.
"Nona dengan dirinya berasal dari satu perguruan, siapa bilang kalau aku menganggap orang luar kepadamu?"
Cepat-cepat Leng Ping-ji menutupi telinganya dengan jari tangan, lalu katanya lagi.
"Kau toh sudah menganggap diriku sebagai orang luar, aku pun tidak ingin mendengar rahasia pribadi orang lagi."
"Baiklah,"
Kata Ki Sce-kiat kemudian sambil tertawa getir.
"aku cuma berharap agar nona bersedia menyampaikan beberapa patah kataku kepada partai kalian, beberapa patah kata itu tidak sampai kuucapkan di hadapan Ciong tianglo lantaran kurang leluasa."
Leng Ping-ji membungkam seribu bahasa, ia tidak menyatakan setuju juga tidak menampik. Maka Ki Sec-kiat berkata lebih jauh.
"Sikap ibuku terhadap ibu adik Yan yang telah tiada mungkin masih belum berubah, tapi dia sangat berharap adik Yan bisa kembali ke rumah. Ibuku bilang, keluarga Nyo hanya tinggal dia seorang yang bisa melanjutkan keturunan, jika dia tidak kembali ke rumah, siapa pula yang akan meneruskan keturunan? Ibuku mana tega menyaksikan keluarganya putus keturunan? Oleh karena itu, tolong nona suka menyampaikan kepada Teng ciangbun-jin dan Ciong tianglo, agar mereka bersedia memahami kesulitan yang dihadapi ibuku."
"Baik, aku bersedia menyampaikan ucapanmu itu kepada mereka, lapi aku pun hendak memberitahukan kepadamu, baik Ciong tianglo maupun setiap orang dari perguruan Thian-san-pay, mereka tak akan membohongi dirimu, Miau tayhiap juga bukan manusia berpikiran sempit seperti apa yang kalian bayangkan. Mungkin saja mereka tak suka menyaksikan Nyo Yan pulang bersamamu, tapi andaikata mereka berhasil menemukan Nyo Yan, sudah pasti mereka akan memberitahukan hal ini kepadamu. ‘Terus terang saja, selama banyak tahun kami pun berusaha menemukannya kembali, kedatanganku ke Tibet kali ini pun dalam usaha untuk menemukan dirinya kembali."
"Apakah nona berhasil menemukannya?"
Dengan sedih Leng Ping-ji menggeleng.
"Seandainya sudah ada kabar beritanya, aku pun tak akan datang ke Kota Iblis ini,"
Sahurnya.
"Tiba-tiba saja aku menjadi teringat akan seseorang, bila ingin mengetahui jejaknya, mungkin orang ini bisa memberi petunjuk yang berharga buat kita."
"Siapakah orang yang kau maksudkan itu?"
Tanya Leng Ping-ji agak tertegun.
"Konon Nyo Yan dilarikan oleh seorang lelaki yang bernama Toan Kiam-ceng. Toan Kiam-ceng merupakan keponakan Toan Siu-si dari negeri Tayli, bukan cuma ilmu silatnya saja yang hebat, ilmu memetik harpa, bermain catur, melukis maupun bersyair semuanya hebat dan pandai. Harap nona jangan marah, sewaktu aku mendengar suara seruling kemarin, pernah terlintas ingatan dalam hatiku, jangan-jangan Toan Kiam-ceng bersembunyi dalam Kota Iblis ini, itulah sebabnya dengan menyerempet bahaya aku datang berkunjung. NonaLeng, tentunya kau juga tahu bukan tentang manusia yang bernama Toan Kiam-ceng itu?"
Ketika nama "Toan Kiam-ceng"
Melompat keluar dari mulut Ki See-kiat tadi, sikap Leng Ping-ji tampak agak tertegun, kemudian paras mukanya juga berubah semakin dingin bagaikan es.
Selama lima tahun belakangan ini, belum pernah ada orang menyinggung nama Toan Kiam-ceng di hadapannya.
Setelah melewati saat yang lama dan panjang, secara tiba-tiba ia mendengar kembali nama "Toan Kiam-ceng"
Disebut orang, perasaannya waktu itu ibarat ada sebatang panah beracun yang menembusi ulu hatinya, membuat gadis itu merasa amat terkesiap….
Kenangan lama masih berkecamuk di dalam benaknya.
Betul peristiwa itu sudah lewat lima tahun, namun luka di dalam hatinya hingga kini belum pernah sembuh.
Toan Kiam-ceng adalah kekasihnya yang pertama, ia pernah melimpahkan segenap impiannya yang indah kepada orang itu.
Tapi, mimpi pun tak disangka sang "pangeran"
Yang telah mencuri hatinya ini tak lebih hanya seorang manusia pe-ngecut yang berhati busuk.
Bukan cuma tidak serius dalam soal cinta, bahkan berulang kali orang ini berniat untuk membinasakan dirinya.
Lima tahun berselang, bersama dengan hilangnya Nyo Yan, dia pun turut lenyap dari keramaian dunia, sejak itu tak pernah ada orang yang bertemu dengannya.
Dia tak ingin mendengar orang lain menyebut kembali nama Toan Kiam-ceng, orang-orang yang kenal dengannya dan mengerti akan perasaannya juga mengetahui perasaannyaitu, mereka selalu berusaha menghindari pembicaraan yang menyinggung tentang dirinya.
Tak disangka setelah lima tahun lewat dengan aman, mendadak ia mendengar kembali nama Toan Kiam-ceng disebut orang, bahkan dari mulut seorang asing yang baru dikenalnya.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya gejolak perasaan yang dialaminya ketika itu.
Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk membuang pikiran itu jauh-jauh, dia berusaha untuk mengosongkan pikirannya.
Tapi dalam kekosongan pikiran tersebut, mendadak muncul kembali bayangan Toan Kiam-ceng di hadapannya, dengan mata melotot ia memandang "Toan Kiam-ceng"
Tersebut, sehingga tanpa sadar tangannya meraba gagang pedang, hawa amarah juga memancar keluar dari wajahnya.
Ki See-kiat yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terkejut, sambil melompat dan duduk serunya.
"Nona Leng, kenapa kau?"
Bagaikan pemandangan semu (fatamorgana) yang tiba-tiba lenyap tak berbekas, dengan cepat gadis itu tersadar kembali dari lamunannya, sekarang dia baru melihat jelas bahwa pemuda di hadapannya bukan Toan Kiam-ceng, melainkan Ki See-kiat Benar, antara Ki Scc-kiat dengan Toan Kiam-ceng memang terdapat beberapa macam kemiripan, kedua-duanya sama-sama tampan dan berasal dari keturunan keluarga persilatan kenamaan, membuat semua orang merasakan suatu keangkuhan yang biasanya dimiliki setiap keturunan orang kenamaan.Tapi ada satu hal berbeda.
Kalau Toan Kiam-ceng selain angkuh juga menganggap tidak serius semua persoalan, bahkan sewaktu mengangkat sumpah pun membuat orang tidak percaya.
Maka "orang asing"
Yang baru dikenalnya ini memberi kesan serius dan bersungguh-sungguh bagi siapa pun yang melihatnya, kekagetan serta kegugupannya jelas bukan pura-pura, dari sini dapat diketahui bahwa dia memang tidak bermaksud untuk mencemooh atau mempermainkan dirinya.
Apa yang diduga gadis itu memang benar.
Ki See-kiat memang tidak mengetahui kejadian lamanya.
Perlu diketahui, kendatipun Lcng Ping-ji adalah keponakan perempuan Lcng Thiat-jiau, komandan pasukan patriot pembela tanah air, namun dalam dunia persilatan tidak memiliki nama besar, apalagi setelah keluar dari perguruan, tak lama kemudian jauh meninggalkan Tiong-goan dan kemudian bergabung dengan Th i an-san-pay, hal ini mem-buat namanya tak pernah dikenal dalam dunia persilatan.
Selain itu, tidak banyak pula orang yang mengetahui tentang dirinya, sekalipun ada yang mengetahui kalau Leng Thiat-jiau memiliki seorang keponakan perempuan, orang pun tak sampai menghubungkan dia… keponakan perempuan seorang komandan pasukan patriot pembela tanah air dengan seorang "Siau ong-ya"
Yang berasal dari negeri Tayli. Setelah berhasil menenangkan pikirannya, Leng Ping-ji berkata, Tentu saja aku kenal bocah keparat itu! "
Ki See-kiat agak tertegun, mendadak seperti menyadari sesuatu segera serunya.
"Hei, konon bocah keparat itu pernah juga menjadi anggota perguruan partai kalian?"
Ia telah mengubah sebutan ‘Toan Kiam-ceng"
Menjadi "bocah keparat", hal mana menandakan kalau dia pun berusaha menuruti keinginan si nona.
"Betul, dia adalah seorang murid murtad dari perguruan kami,"
Jawab Leng Ping-ji hambar. Ki See-kiat lantas berpikir.
"Tak heran kalau dia enggan menyinggung nama orang ini, orang bilang kejelekan keluarga sendiri tak akan disiarkan kepada orang luar. Ya, salah aku sendiri kenapa tak tahu diri."
Maka dengan suara yang menyesal dia pun berkata lagi.
"Soal pembersihan terhadap perguruan, menemukan jejak Nyo Yan, mau tak mau terpaksa aku mesti melacak dulu jejak dari si bocah keparat tadi. Tentu, andaikata aku sampai bertemu dengan bocah keparat tadi, tak akan kuhukum dia secara semba-rangan."
Leng Ping-ji tak ingin menjelaskan kesalahpahaman ini, dia hanya berkata hambar.
"Perguruan kami tidak terlalu terikat dengan peraturan dunia persilatan begitu, bocah keparat tersebut hendak kau hadapi dengan cara apa pun, hal itu merupakan urusanmu sendiri, aku tidak ambil peduli. Cuma ada satu hal hendak kunasihatkan kepadamu, mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri."
"Nona adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwaku dari ancaman maut, katakan saja, aku orang she Ki pasti tak akan membangkang,"
Sahut Ki See-kiat cepat-cepat "Kuanjurkan kepadamu lebih baik cepat-cepat saja pulang ke rumah, tak usah melacak jejak Nyo Yan lagi."
Ki See-kiat sudah terlanjur berjanji akan menuruti perkataannya, maka ia merasa rikuh untuk membantah. Sehabis mendengar ucapan tadi, setelah ragu sesaat barukatanya.
"Semestinya aku menuruti nasihat dari nona itu, tapi bolehkah aku bertanya mengapa?"
"Sekalipun kau berhasil menemukannya, kami toh tidak akan membiarkan ia pulang bersamamu, alasannya gampang sekali, sebab kami tak ingin dia mengetahui kalau dia mempunyai seorang ayah macam Nyo Bok."
Ki See-kiat menjadi tersipu-sipu, merah padam selembar wajahnya.
"Ya, memang kuakui engku pernah melakukan banyak kesalahan,"
Katanya.
"tapi, sejak kemunculannya dalam dunia persilatan pada tujuh tahun berselang, tak lama kemudian jejaknya hilang tak berbekas, sampai kini kami juga tak tahu akan mati hidupnya. Maksud ibuku, beliau hanya berharap agar adik Yan sudi pulang dan meneruskan keturunan dari keluarga Nyo, kami berjanji tak akan memberitahukan kejadian lama kepadanya"
"Kami tidak bermaksud untuk merahasiakan terus persoalan ini, tapi sekarang dia belum menginjak dewasa, kami merasa belum saatnya untuk menceritakan rahasia ini kepadanya. Dan lagi ketika Nyo Bok meninggalkan anak isterinya, dia masih belum dilahirkan di dunia ini, Miau tayhiap lah yang membawanya ke Thian-san, sedang keluarga Nyo tidak ada budi apa pun kepadanya, merawat juga tidak, mendidik pun tidak, maka sekalipun asal-usulnya harus diceritakan kepadanya, hanya Miau tayhiap atau ciangbunjin partai kami yang berhak memberitahukan kepadanya. Saat itulah biar dia sendiri yang melakukan pemilihan."
Karena perkataan si nona sangat cengli dan masuk di akal, terpaksa Ki See-kiat manggut-manggut.
"Baiklah, aku pun tidak ada usul lain terhadap cara yang nona usulkan itu. Tapi, aku sangat berharap bisa bersua dengannya."
"Sudah lima tahun aku melacak jejaknya tanpa hasil, buat apa kau mesti menyerempet bahaya pula? Lebih baik cepat saja pulang ke rumahmu…."
"Nona masih akan melanjutkan pencarian ini?"
"Aku telah bersumpah, sebelum berhasil menemukannya, aku tidak akan pulang."
"Kalau sudah bertemu, bersediakah kau meminta pertolongan orang untuk menyampaikan kabar itu kepadaku, agar aku dan ibuku bisa berlega hati."
"Urusan ini masih mengambang dan tidak diketahui bagaimana hasilnya, aku rasa janji itu pun terlalu awal, kita bicarakan nanti setelah sampai waktunya saja"
Ki See-kiat membungkam dan tidak berbicara apa-apa lagi, dia pun tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Sudah agak baikkah kau?"
Tiba-tiba Leng Ping-ji bertanya "Setelah makan ayam salju, badanku jauh lebih baikan."
"Baik, sekarang kau sudah tidak memerlukan perawatan lagi, maaf kalau aku tak akan menemanimu lagi."
"Nona, kau akan pergi?"
Seru Ki See-kiat terkejut "Lukamu sudah tidak mengkhawatirkan lagi, tenagamu juga akan segera pulih, akan kutinggalkan dua ekor ayam untukmu, besok kau boleh pergi berburu sendiri."
"Aku… aku bukannya khawatir tak ada makanan,"
Kata Ki See-kiat agak tergagap."Lantas apa yang kau khawatirkan? Khawatir di Kota Iblis ini ada iblisnya?"
Kata Leng Ping-ji sambil tertawa.
"Jangan khawatir, ‘kota’ ini luasnya cuma beberapa li persegi, aku telah menjelajahinya sampai rata, jangankan iblis, bayangannya pun tidak ada."
Ketika menggoda Ki See-kiat dengah kata-kata itu, senyuman manis sempat menghiasi wajah Leng Ping-ji yang dingin, sehingga lamat-lamat tampaklah sepasang lesung pipitnya yang manis dan mempesona.
Sejak ia mengetahui nama dan asal-usul Ki See-kiat, sikap Leng Ping-ji selalu dingin dan sulit untuk menyaksikan sekulum senyum menghiasi bibirnya, tak heran kalau Ki See-kiat terpesona dibuatnya sekarang.
Leng Ping-ji melanjutkan kembali kata-katanya.
"Satu-satunya bangunan yang masih utuh di kota ini adalah bangunan berstupa putih itu, bila tenaga dalammu telah pulih nanti, tak ada salahnya kau kunjungi tempat itu. Iblis tak akan kau jumpai, siapa tahu malah justru akan ketemu dengan ‘jodoh dewa’."
Apa yang dimaksudkan dengan jodoh dewa?
Ucapan itu bagaikan sebuah teka-teki.
Ki See-kiat mengira gadis itu cuma bergurau saja, apalagi dia pun berharap bisa lebih lama menikmati sepasang lesung pipitnya yang manis itu, maka ucapan si nona sama sekali tidak ditimbrung.
Leng Ping-ji mengeluarkan sebuah botol porselin dari sakunya, dari dalam botol itu dikeluarkannya dua butir pil berwarna hijau muda, sambil meletakkannya di telapak tangan Ki See-kiat, dia berpesan.
"Pil Pek-leng-tan ini dibuat dari Thian-san-soat-lian, jika dimasukkan ke dalam mulut bisamencegah keracunan bunga iblis. Lian Kan-pei dan begundal-begundalnya belum lama kuhajar, aku rasa mereka tak akan kembali kemari sedemikian cepatnya." ‘Terima kasih banyak atas pemberian pil mesti kamu itu, aku tidak percaya dengan iblis juga tidak percaya dengan dewa, penyamun aku tidak takut Aku… aku cuma… "
"Bagus sekali, kalau begitu aku lebih tak perlu mengkhawatirkan dirimu lagi, nah aku pergi dulu!"
Tidak menanti Ki See-kiat menyelesaikan kata-katanya, sambil berbicara dia membalikkan badannya dan berjalan pergi, ketika berbicara sampai kata yang terakhir, dia sudah keluar dari rumah itu.
Padahal Ki See-kiat merasa keberatan gadis itu pergi dari situ, dia ingin mencari suatu alasan agar nona itu bisa lebih lama berdiam di situ.
Tapi dapatkah dia utarakan maksud hatinya itu kepada seorang gadis yang baru saja dikenalnya?
Sebetulnya dia juga ingin menanyakan apa yang dimaksudkan Leng Ping-ji sebagai jodoh dewa tersebut sayang ia tak sempat untuk menanyakannya.
Keluar dari rumah itu, tampak pagoda Budha berstupa putih itu berdiri tegak di hadapannya dengan angker, sedang bayangan rubuh dari Leng Ping-ji telah lenyap tak berbekas.
Ki See-kiat segera merasa bagaikan kehilangan sesuatu, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang.
Waktu itu, Leng Ping-ji sudah jauh meninggalkan Kota Iblis, perasaannya juga sangat gundah, seperti apa yang dirasakan Ki See-kiat sekarang.Berpaling memperhatikan stupa putih itu, bagaikan kehilangan sesuatu ia menghela napas dalam-dalam.
Sekali mulut lukanya merekah kembali, tidak mudah rasanya untuk merapatkan kembali.
Ia berusaha keras untuk mengendalikan diri, berusaha untuk tidak memikirkan Toan K i am-ceng.
lapi, mau tak mau dia harus memikirkan kembali Nyo Yan, teringat pula diri Beng Hoa.
"Aaai, adik Yan, di manakah kau? Bila kau tidak berhasil ditemukan kembali, bagaimana mungkin aku dapat mempertanggungjawabkan pada Beng toako. Terhadap lenyapnya Nyo Yan, dia selalu merasa menyesal yang dalam. Sebab ketika Nyo Yah lenyap, dia turun gunung bersama bocah itu dengan kedudukan sebagai seorang pelindung. Waktu itu, ketika mereka mendengar kabar Beng Goan-cau dengan membawa pasukannya datang ke Sinkiang untuk membantu kepala suku Wana yaitu Lohay berperang, tiada hentinya Nyo Yan memohon kepada ciangbun suhu untuk meng-ijinkan dia pergi menjumpai "
Ayah "-nya yang belum pernah dijumpainya itu.
Sebagaimana diketahui, berhubung asal-usulnya mempunyai suatu kesulitan yang sukar untuk diterangkan, sedang Miau Tiang-hong juga bermaksud untuk memberita-hukan persoalan ini bila ia telah menginjak dewasa nanti, maka ia sama sekali tidak tahu kalau Beng Goan-cau sebenarnya bukan ayah kandungnya.
Selain dari ini, dia pun merengek agar diijinkan untuk berjumpa dengan kakaknya Beng Hoa.Leng Ping-ji yang direcoki terus akhirnya tak tahan dan membantunya untuk minta ijin.
Gadis itu pernah berdiam di markasnya Lohay selama hampir setahun lamanya, dengan putri Lohay yakni Lomana juga termasuk sahabat karib, bila dia yang mengantar pergi Nyo Yan ke tempat Lohay untuk mencari ayahnya, hal ini tentu saja merupakan suatu tindakan yang tepat Maka pada akhirnya ketua Thian-san-pay Teng Keng-thian mengabulkan permintaannya itu.
Tak nyana ketika mereka sampai di basis pertahanan Lohay, sesaat sebelum berjumpa dengan Beng Hoa, tiba-tiba saja terjadi musibah yang sama sekali di luar dugaan.
Ia berjumpa dengan Toan Kiam-ceng, Nyo Yan dibekuk pasukan pemerintah.
Beng Hoa kembali ke Sinkiang dan melakukan pencarian selama tiga tahun lamanya, gagal menemukan adiknya, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia kembali.
Sejak itu Leng Ping-ji-lah yang mewakili Beng Hoa untuk mencari jejak Nyo Yan.
Selama ini, satu persoalan selalu mengganjal dalam hatinya, meski lenyapnya Nyo Yan waktu itu adalah dibekuk oleh pasukan yang tidak diketahui asal-usulnya, tapi… mungkinkah bisa berakibat terjatuhnya bocah itu ke tangan Toan Kiam-ceng?"
Adik Yan cerdik,semoga saja ia dapat mengubah bencana menjadi rcjeki dan lolos dari bahaya.
Dan Dan moga-moga saja ia tidak terjatuh ke tangan Toan Kiam-ceng.
Ketika adik Yan lenyap, dia baru berusia duabelas tahun, saat ini dia sudah mulai ‘mengerti urusan1, tapi dengan usianya itu masih belum mampu mengambil keputusan seperti orang dewasa.
"Yang paling dia khawatirkan adalah, bocah yang kelewat cerdik dan lebih cepat matang jauh lebih gampang tergoda daripada "
Bocah bodoh ", pepatah mengatakan, siapa dekat gincu dia akan merah, siapa dekat tinta ia akan hitam.
Sean-dainya dia sampai terjatuh ke tangan Toan Kiam-ceng, sekalipun Toan Kiam-ceng tak sampai mencelakainya, pengaruh dari lelaki berhati busuk ini justru jauh lebih berba-haya lagi.
"Setelah lewat lima tahun, entah adik Yan telah berubah menjadi bagaimana? Seandainya ia berubah menjadi jahat aku lebih tak punya muka lagi untuk berjumpa dengan Beng toako."
Ia berusaha keras untuk mengendalikan jalan pikirannya dan tidak memikirkan Toan Kiam-ceng, tapi terbayang kembali diri Beng Hoa, di saat timbul perasaan sesal dalam hatinya, muncul pula perasaan hangat di hati kecil gadis itu.
Kenangan manis dari cinta pertama memang selalu indah, sayang baginya hal ini justru merupakan kebalikannya, kenangan itu justru merupakan secawan arak getir yang sukar ditelan.
Tidak, bukan cuma secawan arak getir saja, bahkan secawan arak beracun.
Dalam usia remaja seperti dia, secawan arak beracun itu hampir saja membuat bunga kehidupannya menjadi layu.
Suatu keuntungan di balik ketidakberuntungan adalah dalam keputusasaannya itu, dia telah berjumpa dengan Beng Hoa.
Bagaikan hembusan angin musim semi yang menumbuhkan bunga, persahabatan dari Beng Hoa telah menimbulkan niatnya untuk hidup.Betul kegagalannya dalam cinta pertama membuat ia kehilangan kepolosan serta kelincahannya sebagai seorang gadis remaja, tapi kemurungan dan kesedihan yang mencekam dalam dasar hatinya sudah berubah menjadi awan hitam yang tebal dan tak tertembusi oleh cahaya sang surya lagi.
Ada orang bilang, cinta adalah yang paling berharga, tapi persahabatan lebih berharga daripada percintaan.
Benar, persahabatan dari Beng Hoa hampir saja mengguncangkan telaga hatinya yang hampir membeku, tapi guncangan tersebut hanya merupakan suatu "ombak kecil" , belum merupakan suatu "gelombang besar" , karena dengan cepat dia tahu kalau Beng Hoa sudah mempunyai kekasih hati, dan ia sudah merasa puas dengan persahabatan yang diberikan Beng Hoa.
Entah disebabkan kecerdasan dan kelincahan Nyo Yan, ataukah perasaan harinya yang kebetulan sedang kosong, terhadap Nyo Yan dia merasa teramat sayang, perasaan tersebut betul-betul melebihi cinta kasih antara seorang kakak terhadap adik kandung sendiri.
Ia pernah bersumpah, keinginannya yang terbesar di dalam kehidupannya kali ini adalah menemukan kembali Nyo Yan dan menyerahkan sendiri kepada Beng Hoa.
Di luar dugaannya, kecuali Beng Hoa dan dia, ternyata di dunia ini masih ada orang lain yang seperti dirinya, tak jeri mendaki bukit, tidak takut gurun pasir yang luas, dengan mempertaruhkan jiwa pergi mencari Nyo Yan.
Betul tujuan Ki See-kiat mencari Nyo Yan muncul karena niat ibunya untuk melanjutkan keturunan keluarga Nyo, tapi ada satu persamaan sudah membuat gadis tersebut menaruh kesan baik terhadap Ki See-kiat "
Ibu Ki See-kiat adalah Lak-jiu Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) yang sangat tersohor di dalam dunia persilatan, sewaktu masih kecil dulu Beng toako juga pernah merasakan siksaan darinya.
Betul ia belum bisa disebut orang jahat, tapi aku pun bertekad tak akan membiarkan adik Yan mengikuti Lak-jiu Koan-im.
Tapi, tampaknya persetujuan yang diberikan Ki See-kiat tadi terlampau dipaksakan, agaknya dia tak akan memadamkan niatnya dengan begitu saja, sudah pasti dia akan melanjutkan niatnya mencari adik Yan.
Ehmm… biarlah, kalau memang dia akan berbuat demikian, terserahlah…."
Demikian Leng Ping-ji berpikir.
Entah mengapa, tiba-tiba ia mempunyai suatu ingatan yang sangat aneh, dia merasa Ki See-kiat bagaikan gabungan antara Toan Kiam-ceng dan Beng Hoa, dari tubuhnya ia dapat menemukan karakter dari Beng Hoa.
Hanya saja, pemuda ini tidak memiliki kesederhanaan dari Beng Hoa, juga tidak memiliki sifat seenaknya seperti Toan Kiam-ceng.
Tiba-tiba saja dia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Dulu, kenapa aku bisa menyukai Toan Kiam-ceng? Mungkin saja hal ini karena ketidaktahuanku karena usia yang muda, tapi mungkinkah hal ini disebabkan aku suka dengan tampangnya yang cakap serta kepintarannya mengambil hati?"
Ia tak berani berpikir lebih jauh dan tak ingin berpikir lebih lanjut.
Perasaan gadis adalah paling tajam, sinar mata Ki See-kiat yang berat hati tentu saja dapat dirasakan olehnya, dan itu pula alasannya mengapa dia buru-buru pergi meninggalkan dirinya.Setelah keluar dari Kota Iblis dan berpaling memandang stupa putih tersebut, ia menghela napas, pikirnya.
"Dengan susah payah aku mendatangi Kota Iblis ini, sepantasnya kalau kudiami barang dua hari lagi, sekalian mengunjungi barang peninggalan dari Kui tayhiap di masa silam. Betul aku tidak percaya dengan dongeng yang mengatakan ‘Ilmu silat maha sakti, hanya untuk mereka yang berjodoh’, tapi bagaimanapun juga Kui tayhiap masih ada hubungannya dengan partai kami, andaikata di Kota Iblis aku bisa menemukan bekas-bekas peninggalan dari Kui tayhiap serta tuan putri Hoa Giok, paling tidak kejadian tersebut bisa kulaporkan kepada ciangbunjin. Ya, sekarang… terpaksa aku harus membiarkan Ki See-kiat yang pergi mengadu nasib…!"
Ternyata "Kui-tayhiap"
Yang terbayang di dalam benaknya sekarang adalah Kui Hoa-seng ayah dari Peng-coan-thian-lie (Bidadari dari Sungai Es).
Walaupun Kui Hoa-seng sebenarnya termasuk murid Bu-tong-pay, tapi ia pernah tinggal di bukit Thian-san dalam jangka waktu yang cukup lama, dengan Leng Bwe-hong, juga terhitung sahabat karib, maka orang persilatan yang tidak mengetahui latar belakangnya banyak yang salah mengira dia sebagai anggota Thian-san-pay.
Istri Kui Hoa-seng adalah seorang tuan putri dari negeri Nepal, konon perkenalan mereka berlangsung di Kota Iblis.
Kota Iblis merupakan suatu pusat bangunan rahasia di wilayah Tibet yang didirikan oleh seorang kakak lelaki putri Nepal ini (untuk mengetahui kisah cerita tentang Kui Hoa-seng, silakan membaca cerita yang berjudul Pedang Inti Es).
Putri Kui Hoa-seng dan putri Nepal tersebut, yang lebih dengan julukan Peng-coan-thian-lie (Bidadari dari Sungai Es), kemudian menikah dengan ketua Thian-san-pay yangsekarang, Teng Keng-thian.
(Tentang cerita tersebut, silakan membaca cerita yang berjudul Bidadari dari Sungai Es atau Peng-coan-thian-li).
Konon putrì Hoa Giok dari Nepal itu pernah menciptakan se-rangkaian ilmu pedang yang disebut Peng-coan-kiam-hoat (Ilmu Pedang Sungai Es), di masa tuanya oleh Kui Hoa-seng ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat telah dilebur menjadi satu dengan ilmu silat aliran Bu-tong-pay.
Suatu hari ketika kebetulan mereka berpesiar ke Kota Iblis, suami istri itu telah bersama-sama menulis se
Jilid kitab ilmu silat yang dipendam dalam Kota Iblis, kemudian mereka pun berpesan.
"Ilmu silat mahasakti, diberikan untuk mereka yang berjodoh."
Peng-coan-thian-li, istri Teng Keng-thian masih muda ketika ayah ibunya meninggal, meski ia mengerti ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, tapi belum pernah memperoleh warisan dari keluarganya.
Cuma dasar kehidupannya memang sederhana, walaupun ia tak berani memastikan kebenaran dari kabar tersebut (ayahnya tak pernah membicarakan masalah itu kepadanya), tapi dia sendiri sama sekali tak berminat untuk menemukan kitab pusaka tersebut.
Menurut jalan pemikirannya ketika itu, kalau toh kabar tersebut benar, dan ayahnya telah berkata bahwa kepandaian itu diberikan kepada mereka yang berjodoh, kenapa ia tak memenuhi keinginan orang tuanya?
Oleh karena itu, setelah kawin dengan Teng Keng-thian, meski ia pernah dua kali berkunjung ke Kota Iblis, namun tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menemukan kitab pusaka itu.Kini Peng-coan-thian-li sudah meninggal banyak tahun, Teng Keng-thian juga telah jadi seorang kakek yang berusia tujuhpuluh tahunan.
Karena selalu terkenang dengan kematian istrinya, Teng Keng-thian lebih-lebih tak pernah berkunjung lagi ke Kota Iblis.
Kali ini kedatangan Leng Ping-ji di Kota Iblis pun mempunyai jalan pemikiran yang sama dengan pemikiran nenek gurunya yang tak pernah dijumpai itu, dia tak berniat untuk mencari kitab pusaka tadi.
Selain kedatangannya untuk mengunjungi tempat yang ada hubungannya dengan Kui tayhiap, seorang tokoh silat yang mempunyai hubungan dengan perguruannya, dia mempunyai satu harapan, yakni berharap bisa menemukan Nyo Yan dalam Kota Iblis tersebut.
Sebab menurut jalan pemikirannya, tempat-tempat seram semacam ini justru merupakan sarang yang paling nyaman bagi kaum jahat.
Tapi sekarang, kedua tujuannya itu gagal total, peninggalan Kui Hoa-seng tidak berhasil ditemukan, Nyo Yan juga tidak ditemukan.
Tapi di luar dugaan justru telah berjumpa dengan Ki See-kiat.
Dengan membawa perasaan yang gundah dan pedih akhirnya nona itu meninggalkan Kota Iblis, berlalu dengan bayangan lain tertera dalam hatinya, itulah bayangan dari Ki See-kiat.
Dia selalu berharap moga-moga Ki See-kiat berhasil menjumpai "penemuan aneh"
Dalam Kota Iblis tersebut.
Terperosok Dalam Gudang SaljuKi See-kiat belum pernah mendengar tentang kisah semacam itu, sedikit pun ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Leng Ping-ji sebagai "jodoh dewa".
Bayangan tubuh Leng Ping-ji sudah lenyap dari pandangan matanya, tapi bayangan itu selalu melekat di hatinya.
Ia keluar dari rumah, tanpa terasa akhirnya sampai di depan stupa putih tersebut.
Bentuk bangunan itu aneh sekali, sebelah bawah berbentuk kuil, di atas kuil merupakan sebuah bentuk bangunan bulat yang berbentuk stupa, bagian bawah stupa, tepatnya di atas dinding luar terdapat bangunan berbentuk sepasang mata, di atas mata terlukis dua buah alis mata, sedang di bawah mata terdapat sebuah benda berbentuk belalai gajah yang membentuk tanda "?".
Bentuk bangunan yang demikian aneh itu baru pertama kali ini dijumpai Ki See-kiat meski ia sudah pernah menjelajahi timur maupun barat….
Tanpa terasa timbul perasaan ingin tahu di dalam hati pemuda itu, pikirnya.
"Yang dimaksudkan nona Leng dengan jodoh dewa itu sudah pasti merupakan bahan gurauan saja, tapi… apa salahnya aku masuk ke dalam kuil ini untuk melihat-lihat?"
Di tengah ruangan kuil dipuja sebuah patung Budha, bentuk patung itu tidak mirip patung bangsa Han, pun tidak mirip patung bangsa Tibet, sekalipun ia pernah mengunjungi pelbagai kuil bangsa Han maupun bangsa Tibet, belum pernah ia menyaksikan patung Budha semacam itu.
Pakaian emas yang dipakai patung Budha itu sudah terlepas semua, tapi tempat abu yang di atas meja altar terbuat daribatu putih yang utuh, sekalipun sudah dilapisi debu namun tidak menutupi cahaya yang terpancar keluar.
Dalam ruangan yang begitu luas, kecuali patung Budha yang berbentuk istimewa itu, hampir tiada benda lainnya lagi, ruangan serasa kosong melompong.
la menjumpai dinding di empat penjuru ruangan juga penuh lubang-lubang kecil seperti sarang lebah, dari lubang kecil itu butiran air menetes keluar, airnya dingin bagaikan es, ketika dijilat dengan lidah terasa asin, rupanya terbuat dari batu ka-rang khusus yang banyak dihasilkan di wilayah Tibet.
Batu karang jenis semacam itu jauh lebih keras daripada batu cadas biasa, tapi kalau terus-menerus terkena air hujan, maka dindingnya yang tebal pun lambat laun akan berubah menjadi makin menipis, jika hal ini dibiarkan berlangsung terus maka paling-paling rumah tersebut cuma tahan tiga sampai lima tahun saja.
Kembali Ki See-kiat berpikir di dalam hati.
"Kalau didengar dari pembicaraan Leng Ping-ji, bangunan stupa putih itu sudah mempunyai sejarah yang lama sekali, bahkan paling tidak sudah mencapai ratusan tahun, itu berarti selain mengguna-kan batu karang istimewa juga digunakan bahan campuran lainnya, tapi sekarang dinding itu sudah penuh dengan lubang-lubang kecil seperti sarang lebah, mungkin bangunan ini pun tidak akan bertahan lebih lama lagi."
Sekalipun begitu, dia tetap merasa kalau dinding ruangan itu sangat kuat, ketika dicoba dengan bacokan goloknya, ternyata bacokan itu tidak mempan.
Mendadak dia mendengar suara ting-tang ting-tang yang merdu bagaikan irama musik berkumandang, seakan-akan dari bawah tanah ada orang sedang memetik harpa.Ki See-kiat sudah pernah mengalami angin puyuh di Kota Iblis yang menimbulkan pelbagai suara aneh, tapi anehnya saat itu udara cerah, tiada angin puyuh yang berhembus.
Setelah termenung dan berpikir sebentar, akhirnya pemuda itu dapat memahami.
Mungkin di bawah tanah sana terdapat sungai bawah tanah, oleh karena perubahan cuaca yang menyebabkan kelembaban, maka dari atas dinding muncullah butiran air yang menetes ke bawah dan menimbulkan suara dentingan.
Berdiri seorang diri di tengah ruang kuil yang kosong melompong, tiba-tiba muncul perasaan bergidik dalam hati Ki See-kiat, pikirnya kemudian.
"Tak heran kalau Leng Ping-ji enggan berdiam di sini, lebih baik aku kembali ke rumah bobrok itu saja untuk merawat lukaku."
Baru saja dia membalikkan badan dan siap meninggalkan tempat itu, mendadak muncul segulung hembusan angin tajam yang langsung menerjang batok kepalanya secara ganas.
Awan merah serasa menyelimuti angkasa, menyusul kemudian telinganya mendengar suara tertawa dingin yang tajam dan keras seperti gesekan benda baja yang meme-kakkan telinga.
Terdengar orang itu berseru sambil tertawa dingin.
"Bocah keparat, sorga ada jalan tidak kau tempuh, neraka tidak berpintu justru kau kunjungi! Setelah sampai di sini, kau masih ingin kabur…?"
Penyergap gelap ini bukan orang lain, dia adalah si pendeta asing berjubah merah itu.
Setelah menderita kekalahan di ujung pedang Leng Ping-ji tempo hari, meski pendeta asing ini melarikan diri lebihdahulu, ternyata dia tidak kabur turun gunung, melainkan bersembunyi di dalam Kota Iblis.
Sesungguhnya Leng Ping-ji memang bertindak gegabah, dia tak mengira kalau pendeta asing berbaju merah itu mempunyai keberanian sebesar itu.
Gadis itu berpikir menurut jalan pemikiran orang pada umumnya, sebagaimana diketahui, di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk, maka seharusnya pihak lawan pun dapat berpikir kalau dia pasti akan mempergunakan Kota Iblis tersebut sebagai tempat untuk mengobati luka Ki See-kiat.
Menurut pendapatnya, kalau toh pihak lawan sudah tahu kalau ilmu silatnya masih selisih jauh dengan gadis itu, mana mungkin mereka begitu berani untuk bercokol di depan mata?
Sayang dia hanya berpikir menurut jalan pemikiran yang wajar, dia lupa di dalam teori ketentaraan ada teori yang berkata begini.
"Yang palsu adalah yang nyata, yang nyata adalah yang semu."
Padahal tindakan yang diambil pendeta asing berbaju merah itu bukan suatu langkah yang berbahaya, dia tahu di dalam stupa putih itu terdapat tempat persembunyian yang sangat bagus, bilamana perlu tempat itu bisa dipakai olehnya sebagai tempat persembunyian.
Selain daripada itu, Leng Ping-ji dengan jelas menyaksikan lelaki bersenjata kaitan Hou-tau-kou serta Lian Kan-pei, si ahli waris ilmu pena keluarga Lian yang secara beruntun kalah di tangannya kabur ke bawah bukit, menurut perkiraannya, sudah pasti pendeta asing itu pun berbuat hal yang sama, karenanya dia merasa lebih lega lagi.
Meski sudah lewat sehari semalam, dia selalu berada di samping Ki See-kiat dan merawat sakitnya, atau denganperkataan lain pada hakikatnya ia tak pernah melakukan penggeledahan lagi terhadap bangunan berstupa putih itu.
Sebaliknya si pendeta asing sendiri pun mempunyai tujuan lain dengan tindakannya menyembunyikan diri di tempat itu, dia tidak berniat untuk menyergap Ki See-kiat.
Tapi, barusan saja dia menyaksikan Leng Ping-ji meninggalkan Kota Iblis sendirian, kemudian melihat Ki See-kiat masuk ke bangunan berstupa putih itu seorang diri timbullah niat jahatnya untuk memanfaatkan kesempatan baik itu.
Dia yakin pemuda itu akan melakukan pemeriksaan dalam ruangan itu, dan kewaspadaannya pasti mengendor, maka dia pun menyembunyikan diri di belakang patung arca sambil bersiap sedia.
Dugaannya ternyata memang sangat tepat, Ki See-kiat telah muncul di situ dan masuk ke dalam perangkapnya.
Sementara itu Ki See-kiat sedang membalikkan badan dengan punggung menghadap ke arahnya, maka dengan kecepatan luar biasa dia melompat turun, menggetarkan janahnya dan menerjang pemuda itu dengan ganas.
Jangankan oleh serangan ganasnya, terhadap hembusan angin tajam yang dihasilkan dari teri angannya itu pun sudah cukup membuat Ki See-kiat tak mampu berdiri tegak.
Pendeta asing berbaju merah itu menjadi amat gembira, dan dia yakin usahanya kali ini akan berhasil, Ki See-kiat pasti akan berhasil dibekuknya.
Siapa tahu kenyataannya di luar dugaan….
Rupanya luka yang diderita Ki See-kiat sama sekali tidak separah yang dibayangkan semula, apalagi tenaga dalam yangdimilikinya sekarang sudah ada enam tujuh bagian yang telah pulih.
Bagaimanapun juga, dia adalah keturunan dari orang kenamaan, sekalipun menghadapi serangan mendadak, ia tidak menjadi gugup ataupun gelagapan, mengikuti gerak mundur, kaki Ki See-kiat membuat suaru poros untuk memutar kencang, lalu sepasang telapak tangannya didorong ke muka melancarkan sebuah pukulan yang amat dahsyat.
"Blaaammm…!"
Ketika sepasang tangan Ki See-kiat menghantam di atas jubah pendeta itu, timbullah benturan yang keras, menyusul tubuhnya mundur sejauh tiga langkah.
Sebaliknya pendeta berbaju merah itu pun merasakan guncangan badan yang cukup keras.
Kenyataan tersebut meski jauh di luar dugaan Ki See-kiat, terutama sekali tenaga dalam pihak lawan, tapi setelah terjadi bentrokan kekerasan tersebut, hati si pendeta asing itu semakin mantap.
Perlu diketahui, pada dasarnya kedua orang itu mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri, walaupun di hari biasa Ki See-kiat sanggup untuk menandingi kehebatan si pendeta asing itu dan bertempur seimbang, tapi sekarang tenaga dalamnya baru mencapai enam tujuh bagian, itu pasti satu dua tingkat ia berada di bawah Kemampuan lawannya.
Ketika pendeta asing berbaju merah menyadari akan keuntungannya itu, dengan cepat dia manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Begitulah, ketika yakin kalau kemenangan berada di pihaknya, ia malah tidak terburu nafsu untuk membinasakan lawannya itu, harinya menjadi tergerak dan segera pikirnya.
"Mumpung bocah keparat ini mengantarkan diri kemari, me-ngapa tidak kugunakan dirinya untuk menyelidiki tempat itu?"
Berpikir demikian, dia lantas menghardik.
"Bocah keparat, tanpa bantuan dari budak tersebut, jangan harap kau bisa melepaskan diri dari cengkeraman Hud-ya-mu. Sekarang rasakan dulu sebuah pukulan Ciang-sim-lui dari Hud-ya-mu ini."
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan, di balik hembusan angin serangan yang dahsyat terselip juga bunyi guntur yang menggelegar….
Inilah ilmu Tay-jiu-eng dari golongan Mi-tiong di Tibet yang lebih dikenal sebagai ilmu pukulan Ciang-sim-lui.
Ilmu pukulan ini sifatnya keras dan bertenaga panas, kehebatannya bisa mengimbangi ilmu pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang dari Siau-lim-pay, malah jauh di atas ilmu pukulan Kim-kong-iak-yang-jiu dari keluarga Nyo yang tersohor itu.
Bagaikan gulungan ombak di tengah samudra serangan tersebut meluncur tiba, pukulan yang satu lebih hebat daripada pukulan yang lain, dan semuanya tertuju ke tubuh si anak muda itu.
Tiga kali pendeta asing itu melepaskan pukulan Ciang-sim-lui, tiga kali pula Ki See-kiat terdesak mundur tiga langkah ke belakang.
Mula pertama Ki See-kiat cuma mundur sejauh tiga langkah, tapi kedua kalinya dia sudah mundur sejauh tujuh langkah, belum sempat dia berdiri tegak, serangan ketiga telah melemparkan tubuhnya hingga menumbuk dinding ruangan.
Menyaksikan kejadian itu.
pendeta asing berbaju merah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha… hahaha… bocah keparat, masuk kau ke sana…!"
Hardiknya.
Sambil membentak, ia melakukan suatu gerakan yang cepatnya bukan kepalang, sementara pukulan Ciang-sim-lui yang ketiga dilancarkan ke muka, dengan cepat dia memutar pula tempat abu berwarna putih kemala yang berada di atas meja sembahyangan.
Di sini dia memutar tempat abu berwarna putih kemala, kebetulan Ki See-kiat telah terdesak mundur sampai di tepi dinding, tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing yang amat nyaring, tahu-tahu dari atas dinding sana muncul sebuah pintu rahasia.
Rupanya pendeta asing berjubah merah itu khawatir kalau gagal memaksa musuhnya masuk ke dalam pintu rahasia tersebut, kembali ia menyerbu maju beberapa langkah dan mengibaskan jubahnya melancarkan sebuah pukulan maha dahsyat.
Andaikata dia tidak turut menerjang ke muka, mungkin keadaan masih mendingan, justru dia maju beberapa langkah akibatnya terjadilah suatu keadaan yang sama sekali di luar dugaannya Tiba-tiba saja Ki See-kiat menggunakan ilmu bobot seribu untuk menahan gerak rubuhnya, begitu dirasakan gelagat yang tidak menguntungkan, dia segera menggigit ujung lidahnya dan menyalurkan segenap tenaganya ke dalam telapak tangan.
"Bagus atau jelek, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Demikian hardiknya keras-keras.
Dalam melancarkan serangannya yang terakhir ini, dia telah menggunakan salah satu jurus tangguh dari ilmu Lak-yang-jiuyang dinamakan Sian-kan-coan-kun (Memutarbalikkan Alam Jagat).
Sepasang tangannya bersama-sama melontarkan tenaga berbeda ke arah muka.
Kendatipun ilmu pukulan yang dihasilkan ilmu Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo itu masih belum dapat menandingi kehebatan dari ilmu pukulan Ciang-sim-lui dari si pendeta asing, namun dua macam tenaga pukulan yang berbeda itu di mana yang satu keras dan yang lain lembut justru saling bantu-membantu menciptakan suatu kekuatan baru yang lebih dahsyat lagi.
Andaikata pendeta berbaju merah itu tidak menerjang ke muka, sekalipun ia tetap tak akan terhindar dari gelombang tenaga pukulan yang dihasilkan Ki See-kiat, paling badannya hanya terbetot maju sejauh beberapa langkah.
Tapi dengan gerak majunya itu, justru ia malah termakan oleh serangan lawan.
Tak dapat dihindari lagi, badannya menerjang ke depan.
Dengan suatu gerakan cepat Ki See-kiat segera menarik jubahnya.
Dalam keadaan begini, tak sempat lagi buat pendeta asing berjubah merah itu untuk meloloskan diri dengan gerakan Kim-cian-tou-ku (Comberet emas menanggalkan kepompong), kontan saja kedua orang itu sama-sama terjatuh dan meng-gelinding masuk ke balik pintu… mendadak… "Blaaam!"
Secara otomatis pintu rahasia tersebut menutup kembali rapat-rapat.
Ternyata di balik pintu rahasia itu merupakan sebuah liang gua yang dalamnya sukar diukur, mulut gua itu cuma berselisih tigajengkal saja dari tepi dinding.Padahal kedua belah pihak saling mendorong dan membetot dengan tenaga yang telah dikerahkan mencapai puncaknya, bayangkan saja bagaimana mungkin mereka sanggup mempertahankan diri?
Seperti layang-layang yang putus benang, satu di depan yang lain di belakang, segera jatuh terjerembab ke dalam liang gelap itu.
Berada di tengah udara, Ki See-kiat segera berjumpalitan dengan gaya Yau-cin-huan-sin (Burung Belibis Berjumpalitan Badan), lalu kakinya melayang dulu mencapai permukaan tanah kemudian baru menggelinding ke samping.
Dia tahu bahwa kekuatan yang dimilikinya masih belum pulih kembali seperti sediakala, itu berarti kemenangan hanya bisa diraih dengan kecerdasan bukan dengan kekerasan.
Dengan cepat dia menggelinding ke tempat gelap sambil menyembunyikan diri, tanpa menimbulkan suara sedikit pun dia bersiap sedia, menanti datangnya kesempatan baik untuk melancarkan serangan balasan.
Siapa tahu, baru saja kakinya mencapai permukaan tanah, segulung hawa dingin segera menerjang tubuhnya lewat telapak kaki, betul tenaga dalamnya cukup sempurna, tak urung bergidik juga tubuhnya sehingga sepasang giginya saling beradu keras.
Tampaknya bukan cuma dia seorang yang merasakan kedinginan luar biasa, pendeta asing berjubah merah itu pun mengalami nasib yang sama, bahkan jauh lebih kedinginan daripada apa yang dialaminya.
"Mati aku…!"
Diam-diam pendeta asing itu mengeluh.
"Rupanya di bawah sini merupakan sebuah lubang salju yang begini dingin, aaaii… kali ini aku betul-betul terseret olehbocah keparat itu. Padahal liang bersalju ini mencapai keting-gian sepuluh kaki lebih dari pintu rahasia-tersebut, bagaimana caraku untuk mendaki ke atas? Aaai… lagi pula, sekalipun sudah sampai di atas juga belum tentu dapat membuka pintu rahasia itu."
Ternyata dia hanya tahu cara membuka pintu rahasia tersebut dari luar, sedang bagaimana cara membukanya dari dalam, belum pernah memeriksa, oleh karena itu dia pun tidak tahu.
"Untung saja bocah keparat itu bukan tandinganku,"
Demikian ia berpikir lebih lanjut.
"baiklah kubereskan dirinya secara pelan-pelan."
Dalam liang gua yang begitu dingin membekukan badan, sungguh merupakan suatu siksaan hidup bagi siapa pun yang berada di sana, apalagi jika berlangsung agak lama, akhirnya bakal mati kaku lantaran kedinginan.
Begitulah, karena tiada cara lain yang lebih baik, terpaksa pendeta asing berbaju merah itu duduk bersila lebih dulu untuk mengatur pernapasan dan mengusir hawa dingin.
"Bila tubuhku sudah mulai terasa hangat, akan kulihat bocah keparat itu akan kabur ke mana lagi,"
Demikian ia berpikir.
"Khawatirnya kalau bocah keparat itu keburu mampus lebih dulu karena kedinginan."
Gua bersalju itu sangat gelap dan sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri, waktu itu Ki See-kiat sedang membatin dengan rasa heran dan tercengang.
"Heran, kenapa tidak tampak pendeta asing itu mengejar kemari?"
Tiba-tiba ia mendengar dengusan napas yang lamat-lamat bergema dalam ruangan itu….Ki See-kiat segera menyadari apa yang telah terjadi, pikirnya lagi.
"Ooh… rupanya dia sedang mengerahkan tenaga untuk mengusir hawa dingin. Kalau begitu, tenaga dalam yang dia miliki tidak lebih hebat daripada kepandaianku. Betul, aku pun mesti mengatur pernapasan lebih dulu untuk mengusir hawa dingin, kemudian baru bersiap sedia melangsungkan duel melawan dirinya."
Kedua belah pihak dengan cepat duduk bersemadi untuk mengatur pernapasan, dengusan napas mereka terdengar sangat jelas, betul jaraknya amat dekat, namun kedua belah pihak tak berani turun tangan lebih dulu sebelum hawa dingin terusir dari dalam tubuhnya.
Demikianlah, suasana menjadi hening untuk beberapa saat lamanya, kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk menyelesaikan semadinya secepat mungkin, sebab barang siapa yang selesai lebih dulu, dia pula yang mempunyai peluang paling baik untuk menaklukkan musuhnya.
Pada mulanya pendeta asing berbaju merah itu merasa yakin bahwa kekuatannya jauh mengungguli lawan, terutama setelah mengetahui kalau tenaga dalam yang dimiliki Ki See-kiat sudah menderita kerugian besar, bagaimanapun juga ia pasti bisa membekuk musuhnya.
Siapa tahu, lewat sejenak kemu-ian mendadak ia merasakan sesuatu yang tak beres dengan dengusan napas lawan.
Pada mulanya tadi, napas Ki See-kiat memang sangat lemah, memburu dan kacau balau tak keruan, akan tetapi setelah duduk bersemadi selama setengah batang hio, keadaan berangsur mengalami pembahan besar, makin lama dengusan napasnya makin lancar dan lembut, dan akhirnya teratur sekali, ini menandakan kalau hawa muminya sudahsemakin terarah dan masuk ke pusar menurut jalan yang sebenarnya.
Rupanya tenaga dalam yang dilatih Ki See-kiat adalah ilmu tenaga dalam aliran lurus, sedangkan dasar kekuatan untuk mempelajari ilmu Lak-yang-jiu dari keluarga Nyo adalah hawa mumi yang-kang yang bersifat panas dan keras, itulah sebabnya walaupun tenaga dalam yang dia miliki masih ketinggalan bila dibandingkan dengan pendeta asing tersebut, namun dalam suasana sama-sama mempergunakannya untuk melawan hawa dingin dalam liang tersebut, tenaga dalamnya jauh lebih bermanfaat.
Pendeta asing berbaju merah itu tak menduga sampai ke situ, diam-diam ia terperanjat sekali, kemudian pikirnya.
"Jika keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, bisa jadi tenaga dalamnya akan pulih kembali jauh lebih cepat daripada aku."
Setelah menemukan gejala yang berbahaya bagi keselamatan jiwanya, dengan cepat pendeta itu mengubah jalan pemikirannya.
Kebetulan peredaran darah dalam tubuhnya sudah berjalan lancar, hawa dingin pun tidak terlampau mempengaruhi tubuhnya lagi, ia lantas berpikir.
"Bagaimanapun juga aku mesti membunuh bocah keparat ini lebih dulu, kemudian baru pelan-pelan mencari jalan untuk meloloskan diri dari sini."
Begitu keputusan diambil, sambil menyeringai seram ia segera menerjang ke muka.
Ki See-kiat sudah mempersiapkan diri semenjak tadi, belum lagi serangan musuh tiba, ia telah mengambil sebutir batu dan dilemparkan ke sebelah kiri, sementara dia sendiri menyelinap ke kanan.Dalam gua salju yang gelap gulita, jari tangan sendiri pun tak terlihat, si pendeta asing berjubah merah itu segera terkecoh, ia menubruk tempat kosong dan sepasang telapak tangannya menghajar di atas bongkahan es yang besar sekali, untung saja bukan batu karang, sekalipun demikian toh tangannya terasa kaku dan kesemutan, sesaat ia tak mampu melancarkan serangan yang kedua.
Ki See-kiat yang menyembunyikan diri di tempat lain sempat juga mendengar suara benturan yang menggelegar itu, menyusul kemudian mukanya terpercik hancuran salju yang menimbulkan rasa pedas, diam-diam ia merasa terkejut Dalam kegelapan, pemuda itu tidak menyangka kalau yang terhajar oleh pendeta itu cuma bongkahan salju, dia mengira hancuran yang beterbangan itu adalah batu cadas, maka pikirnya.
"Tenaga dalam yang dia miliki sekarang masih jauh di atas kemampuanku, dalam keadaan begini aku hanya bisa mempergunakan sistem mengulur waktu untuk bermain petak dengannya."
Berpikir demikian, dia lantas menutup semua pemapasannya dan menyembunyikan diri ke samping.
Ya, mimpi pun dia tak mengira kalau suatu kesempatan paling baik untuk melancarkan serangan balasan telah dibuang dengan begitu saja.
Dengan cepat pendeta asing berjubah merah itu mengatur pernapasannya, dan bentaknya.
"Bocah keparat, kau tak akan mampu untuk bersembunyi terus!"
Rupanya meski Ki See-kiat telah menghentikan pemapasannya, tak urung ia mesti berganti napas.
Akhirnya tempat persembunyian pemuda itu berhasil diketahui lawan.Dengan cepat dia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, kemudian dengan mempergunakan ilmu pukulan Tay-jiu-eng ia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke tempat persembunyian Ki See-kiat.
Ilmu pukulan Tay-jiu-cng dari golongan Mi-tiong lebih dikenal orang persilatan sebagai ilmu pukulan Ciang-sim-lui, kelihaiannya bukan alang kepalang.
Termakan oleh hembusan angin pukulan yang amat dahsyat itu, Ki See-kiat tak sanggup berdiri tegap, terpaksa ia mundur ke belakang.
Dengan gerakannya itu, pendeta asing berjubah merah tadi justru makin tahu tempat persembunyian musuhnya, dengan serangan yang bertubi-tubi ia mengejar pemuda itu secara ketat.
Sambil menghindarkan diri, Ki See-kiat mundur terus ke belakang, seakan-akan bermain petak dengan pendeta asing itu, mereka berlarian ke sana kemari tiada hentinya.
Semakin ke dalam liang itu mereka pergi, semakin tebal pula rasa dingin yang mencekam badan, bersamaan itu pula mereka mendengar suara aliran yang cukup keras.
Tergerak hati Ki See-kiat, buru-buru dia melarikan diri ke arah suara air tadi, dalam pikirannya dia hendak terjun ke dalam sungai bawah tanah itu dan kabur dengan cara berenang.
Setelah berlarian lagi sekian waktu, Ki See-kiat harus menerobos sebuah liang sempit yang cuma bisa dilewati dengan cara memiringkan badan, tapi setelah melewati celah sempit tadi mendadak pandangan matanya menjadi terang benderang.Ternyata di depan terbentang sebuah sungai es, air yang mengalir itu berasal dari sungai estadi, cuma saja lapisan atasnya masih berupa bongkahan salju yang belum mencair, licin bersinar persis seperti cermin.
Empat penjuru di sekeliling sungai es tadi merupakan dinding tebing bersalju yang tegak lurus dan licin sekali.
Ki See-kiat tidak mengira kalau dalam liang salju masih terdapat dunia lain, tiba-tiba saja ia merasa bagaikan berada di sorga loka.
Mendadak sinar matanya berkilat, mula-mula Ki See-kiat menjumpai bayangan sendiri di atas dinding salju itu, kemudian melihat pula bayangan dari pendeta asing berjubah merah itu.
Rupanya begitu menerobos masuk, pendeta asing berjubah merah itu segera melancarkan sergapan.
Guma saja, cara melepaskan pukulan yang dipergunakannya kali ini agak diubah, tenaga pukulannya disembunyikan sehingga ketika dilepaskan sama sekali tidak menimbulkan suara apa pun….
Untung saja kejadian itu dipantulkan oleh dinding bersalju di depan sana, buru-buru Ki See-kiat menggeser kakinya berganti tempat dan meloloskan diri dari sergapan pendeta tadi.
Pada saat itulah, di atas dinding salju itu muncul bayangan manusia yang ketiga.
Orang itu duduk bersila membelakangi mereka, tapi karena terpantul oleh dinding salju maka mukanya menjadi menghadap ka arah mereka….
Pendeta tua itu duduk dengan badan setengah telanjang, dilihat dari bentuk mukanya dapat diketahui kalau ia bukan bangsa Han.
Hanya tidak diketahui ia merupakan pendeta Tibet atau pendeta Thian-tok (India).Di luar dugaan dalam liang salju itu masih ada orang lain, rasa terkejut Ki See-kiat sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.
Tampaknya dari dinding salju itu pun sang pendeta tua telah menemukan bayangan tubuh mereka berdua, segera bentaknya.
"Siapa yang berani berkelahi di sini?"
Walaupun pendeta asing berjubah merah itu terkejut juga, rasa terkejutnya tak sampai melebihi Ki See-kiat.
Sedari tadi ia sudah menduga kalau dalam liang salju itu terdapat sesuatu yang aneh, maka itu pula dia bermaksud menggunakan Ki See-kiat untuk "penyelidikan".
Tujuan yang sesungguhnya dari tindakannya tadi hanya mencegah terjadi sesuatu yang belum dapat diketahui apa yang terdapat di dalam liang es, terutama jika di tempat itu ada "makhluk anehnya", siapa nyana makhluk aneh itu tak lain seorang manusia.
"Tak peduli dia manusia atau makhluk aneh, bereskan dulu bocah keparat ini,"
Demikian pendeta asing itu berpikir.
Menggunakan kesempatan di kala Ki See-kiat masih tertegun, ia menubruk ke muka sambil melancarkan kembali sebuah pukulan dahsyat dengan ilmu Tay-jiu-eng.
‘Tahan!
Tahan!
Kalian kemari semua.
Ada pertanyaan hendak kuajukan kepada kalian!"
Bentak hwesio tua itu lagi.
Mula-mula dia berbicara dengan bahasa Han, kemudian mengulangi sekali lagi dengan bahasa Tibet Waktu itu, Ki See-kiat sedang menahan serangan Tay-jiu-eng dari pendeta asing itu dengan jurus Hian-hio-hua-sah (Burung Hitam Menyambar Pasir) dari ilmu pukulan Lak-yang-jiu.Jurus Hian-hio-hua-sah merupakan sebuah ancaman yang menebas pergelangan tangan sambil memo tong nadi, sesungguhnya merupakan satu jurus serangan yang lihay se-kali, sayang tenaga yang dimilikinya tidak mencukupi sehingga sewaktu terjadi bentrokan, seketika itu juga ia terpental sampai jatuh terjengkang.
Tergerak juga hati pendeta asing itu setelah mendengar dialek Tibet yang dipergunakan hwesio tua itu, pikirnya kemudian.
"Andaikata orang ini bukan seorang cianpwe dari perguruanku, sudah pasti dia itu adalah seorang pendeta yang berasal dari negeri Thian-tok. Bagaimanapun juga, seandainya dia mau membantu maka akulah yang pasti bakal dibantu, mana mungkin dia akan membantu bocah keparat tersebut?"
Perlu diketahui, golongan Mi-tiong dari Tibet itu sesungguhnya bersumber dari negeri Thian-tok yang merupakan keturunan langsung dari Lu-heng-ceng dari negeri Thian-tok, banyak anggota sekte agama tersebut yang berpetualang sampai jauh dari negerinya.
Oleh karena itu, si pendeta asing tersebut lantas menduga kalau pendeta tua ini adalah cianpwe perguruannya, atau sekalipun bukan, berbicara dari sumber yang sama, hubungan mereka jauh lebih akrab ketimbang hubungannya dengan Ki See-kiat yang merupakan orang Han.
Justru karena pendeta asing itu berpendapat demikian, dia pun tidak khawatir pendeta tua itu akan menyulitkan dirinya, maka kendatipun ia mendengar pendeta tua itu meng-hardiknya agar berhenti bertarung, tetapi dia masih melanjutkan tubrukan ny a untuk merenggut nyawa Ki See-kiat.
Si anak muda itu sudah roboh terjengkang di atas tanah, dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik itu denganbegitu saja, dalam anggapannya setelah membunuh Ki See-kiat nanti, ia baru memberi penjelasan pada hwesio tua ini.
Sambil menubruk ke depan, pendeta asing itu melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat.
Mendadak terdengar hwesio tua itu membentak keras.
"Hei, mengapa kau tak mau menuruti’ perkataanku!"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu segulung angin pukulan berhawa dingin segera berhembus datang dan menerpa wajahnya.
Belum lagi tampak tangan pendeta asing itu menempel di tubuh Ki-See-kiat, tahu-tahu telapak tangannya itu sudah dihajar lebih dulu oleh sebutir peluru es.
Ternyata hwesio tua itu telah mematahkan sepotong bongkahan salju dari sungai es tersebut dan memulungnya menjadi peluru, kemudian disambitkan ke depan sebagai sen-jata rahasia.
Hwesio tua itu duduk bersila di tepi sungai es, jaraknya dengan mereka paling tidak juga mencapai lima puluh kaki lebih, dengan jarak sejauh itu jangankan baru memakai peluru es, menggunakan peluru yang terbuat dari baja asli pun belum tentu bisa menyambit sejauh itu, kendatipun segenap tenaga telah digunakan.
Tapi nyatanya, sewaktu peluru es disambitkan desingan angin yang menyambar tiba masih tajam dan kuat, bahkan tepat dan cepat luar biasa.
Baru saja pendeta asing berjubah merah itu merentangkan tangannya, peluru es itu dengan telak telah menghajar jalan darah Lau-kiong-hiat di atas telapak tangannya Kesaktiannya bukan cuma sampai di situ saja.
Sebagaimana diketahui, waktu itu si pendeta asing ber-jubah merah itu sedang mengerahkan tenaga dalamnya untukmelancarkan pukulan Ciang-sim-Iui, di kala peluru es itu menghantam telapak tangannya, betul peluru itu segera pecah dan melumer menjadi air, tapi hawa dingin yang merasuk tulang itu justru masuk ke dalam tubuhnya lewat jalan darah Lau-kiong-hiat, melalui jalan darah Ci-ti-hiat dan Cian-cing-hiat langsung menembusi jalan darah Hong-hu-hiat di punggung.
Seketika itu juga pendeta asing berbaju merah itu merasakan separuh badannya menjadi kaku dan kesemutan, lengan kanannya sama sekali tak dapat berkutik.
Jangan lagi membunuh Ki See-kiat, mau mengangkat tangan saja sudah tak mampu.
Buru-buru pendeta asing itu berseru dengan bahasa Tibet.
"Aku adalah murid dari sekte Mi-tiong, bocah keparat ini merupakan musuhku, jika tidak kurenggut nyawanya, dia pasti akan merenggut nyawaku. Karena itu maafkanlah daku bila tidak mengindahkan semua perintah dari kau orang tua"
"Aku tidak ambil peduli sebab apakah kalian sampai berkelahi, tetapi sekarang aku hendak menanyai kalian lebih dulu, jika urusan sudah jelas, tak peduli kalian mau berkelahi sampai titik darah penghabisan atau tidak, aku tidak ambil peduli."
Dalam keadaan begini, sudah tentu pendeta asing tersebut tak bisa berkata lain kecuali mengiakan berulang kali.
Sambil menyingkir dari situ secara diam-diam hawa muminya disalurkan untuk memunahkan hawa dingin yang menyerang tubuhnya.
Ketika tiba di samping hwesio tua tadi, meski lengan kanannya masih belum dapat bergerak namun keadaan lebih baikan.
Sementara itu Ki See-kiat sedang menahan tubuhnya dengan sikunya dan dengan susah payah merangkak bangun.
"Anak muda, kau masih dapat bergerak?"
Tegur hwesio tua itu dengan bahasa Han.
Ki See-kiat menarik napas panjang-panjang, kendatipun udara dalam liang dinginnya cukup membekukan badan, namun semangatnya telah pulih beberapa bagian.
Ia tak mau menunjukkan kelemahannya, dengan cepat sahutnya sambil mengangguk.
"Yaa, masih bisa!"
La lantas maju ke depan.
Beberapa langkah yang pertama masih dilewati dengan agak sempoyongan, tapi lambat laun langkahnya semakin mantap dan tegap, akhirnya dia pun sampai juga di hadapan hwesio itu.
Dengan sorot mata yang tajam, hwesio tua itu mengamatinya beberapa saat, tampaknya ia merasa agak tercengang oleh keampuhan tenaga dalam yang dimiliki pemuda tersebut "Tolong tanya sin-ceng ada urusan apa?"
Pendeta asing berjubah merah itu segera bertanya. Hwesio tua itu memandang sekejap ke arahnya, kemudian bertanya.
"Kau adalah murid dari sekte Mi-tiong? Menurut apa yang aku ketahui, di dalam sekte Mi-tiong ilmu silat dari Ka-ciok hoatsu terhitung paling lihay, sudah pasti kau bukan dia. tapi ilmu silatmu juga tidak lemah, di antara anak murid angkatan kedua konon ilmu silat dari Satou dan Sacam terhitung paling hebat dan kemungkinan kau adalah Satou bukan?"
"Satou adalah suheng-ku!"
Buru-buru pendeta asing itu menerangkan dengan gembira. Sementara dalam hatinya berpikir.
"Hwesio tua ini telah kenal dengan huhoat tianglo dari golongan kami Ka-ciokhoatsu, malah tahu juga tentang nama kami suheng-te berdua, sudahlah pasti hubungannya dengan perguruan kami amat akrab sekali, siapa tahu kalau dia bisa kutarik untuk memihakku!"
Baru berpikir sampai di situ, hwesio tua sudah manggut-manggut dan berkata.
"Ooh… rupanya kau ini adalah Sacam. Bagus, bagus, minggirlah dulu ke samping…."
Kemudian-dia bertanya kepada Ki See-kiat "Anak muda, siapa namamu?? "Aku she Ki bernama See-kiat!"
"Apakah kau murid Thian-san-pay?"
Ki See-kiat agak tertegun sebentar, kemudian menggeleng.
"Bukan!"
"Lantas siapakah gurumu?"
Ki See-kiat segera berpikir.
"Kalian adalah segolongan, dengan aku jelas tiada sangkut pautnya..?"
Tapi bagaimanapun juga, barusan hwesio tua itu telah membantunya untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya, maka jawabnya dengan berterus terang.
"Aku tidak punya suhu, ilmu silat itu kuwarisi dari keluarga, yaya yang mengajarkannya kepadaku."
"Siapakah yaya-mu?"
Ketika Ki See-kiat telah menyebutkan nama kakeknya, hwesio tua itu segera menggelengkan kepala-nya berulang kali seraya berkata.
"Ki Kian-yap? belum pernah kudengar nama orang ini." .Ki Kian-yap dengan julukan Su-hay-yu-liong boleh dibilang termasuk seorang Bulim cianpwe yang termashur namanya di kolong langit Tapi kenyataan, hwesio tua itu belum pernah mendengarnya, tak urung Ki See-kiat merasa sedikit rikuh juga. Tapi dengan cepat pikirnya kembali.
"Dia adalah hwesio yang datang dari negeri Thian-tok, bukan sesuatu yang lucu bila dia tidak mengetahui tentang yaya-ku. Cuma kalau dia sampai berkomplot dengan pendeta asing tersebut, akulah yang bakal menderita kerugian."
Sacam yang berdiri di samping lain merasa gembira sekali, dengan wajah berseri dia sedang berpikir.
"Peduli si hwesio tua itu benar-benar tahu akan nama Ki Kian-yap atau tidak, ditinjau dari sikap si hwesio yang sama sekali tak ambil peduli meski sudah mendengar nama itu dapat diketahui kalau dia sama sekali tidak jeri terhadap nama Ki Kian-yap. Sebentar, bila aku hendak membunuh bocah keparat itu pun, pasti dia tak akan menghalanginya."
Ternyata jago persilatan dari daratan Tionggoan yang diketahui hwesio tua itu cuma tiga orang, yang pertama adalah Teng Keng-thian ketua Thian-san-pay, kedua adalah Kim Tiok-liu, seorang jago pedang nomor wahid dari kolong langit dan ketiga adalah Ku-cu Siansu ketua dari kuil Siau-lim-si.
Sebab itulah ketika ia menyaksikan ilmu silat yang dimiliki Ki See-kiat sangat lihay meski usianya masih muda, pada mulanya dia menyangka bocah itu sebagai murid Thian-san-pay.
Tentang nama besar dan Ki Kian-yap, dia memang benar-benar tidak tahu….Demikianlah, terdengar hwesio tua itu berkata lagi.
"Aku ingin mencari tahu tentang jejak seseorang, dia juga bangsa Han, bernama Toan Kiam-ceng. Siapakah di antara kalian yang tahu tentang dirinya?"
Mungkin lantaran Ki See-kiat adalah bangsa Han, maka sewaktu mengucapkan perkataan itu sinar matanya tertuju kepadanya. Begitu mendengar nama "Toan Kiam-ceng"
Disinggung, Ki See-kiat merasa terkejut sekali, untuk sesaat lamanya ia menjadi ragu, haruskah berbicara yang sejujurnya atau pura-pura tidak tahu?
Cuma sikap tertegun yang diperlihatkan olehnya itu sempat dilihat oleh si hwesio tua itu.
Sacam merasa girangnya bukan kepalang, buru-buru sahutnya.
"Aku tahu!"
"Ooh, kau tahu tentangnya? Apakah kau memang kenal dengan dirinya?"
"Bukan cuma kenal saja, aku malah sahabat karibnya!"
"Bagaimana ceritanya sehingga kau bisa bersahabat dengannya?"
"Setelah sinceng menanyakannya tecu tak berani berbohong. Sekalipun semangat yang ditanamkan dalam tubuh setrap anggota Mi-tiong adalah ketenangan dan tidak mencampuri urusan dunia, tapi tecu beranggapan jika ingin menyebar agama Budha, maka kita harus membantu pihak pemerintah yang sah. Itulah sebabnya pada lima enam tahun berselang, tecu pernah pula berbakti kepada pemerintah Ceng. Ketika itu, Toan Kiam-ceng bersama Wi To-ping seorang pahlawan istana dari pemerintah Ceng pernah berkunjung ke Tibet, oleh karena aku merasa cocok dengannya, bahkan aku pernah membantu dirinya"
Ooh, kiranya begitu. Kalau begitu, tahukah kau sekarang dia berada di mana?"
"Belakangan aku dengar ia sudah mengangkat seorang pendeta agung dari negeri Thian-tok sebagai guru, semenjak saat itulah aku tak pernah mendengar kabar beritanya lagi. Tapi seandainya dia masih di Tibet, sudah pasti dia akan datang mencariku. Dari sini bisa diduga kalau besar kemungkinan dia sudah mengikuti gurunya pulang ke negeri Thian-tok…."
Dalam pikiran Sacam, kalau toh hwesio tua itu sangat memperhatikan Toan Kiam-ceng, sudah pasti antara mereka berdua mempunyai hubungan yang erat sekali.
Apalagi guru Toan Kiam-ceng yang terakhir adalah seorang pendeta dari negeri Thian-tok sedang hwesio tua ini tampaknya juga seorang pendeta dari negeri Thian-tok, kendatipun antara dia dengan gurunya Toan Kiam-ceng tidak saling mengenal, biasanya orang akan berkesan baik terhadap orang yang berasal dari negeri yang sama, maka sengaja dia besar-besarkan hubungannya dengan Toan Kiam-ceng.
Hubungan yang sebenarnya cuma perkenalan biasa, ia lukiskan sebagai suatu hubungan persahabatan yang akrab sekali!
Siapa tahu, ketika selesai mendengar keterangan dari Sacam itu, si hwesio tua tersebut tidak memberi komentar apa-apa, tapi berpaling ke arah Ki See-kiat sambil bertanya.
"Bagaimana dengan kau? Apakah kau kenal juga dengan Toan Kiam-ceng…?"
Setelah mendengarkan cerita dari Sacam tadi, Ki See-kiat mengira nyawanya tak akan tertolong lagi.Dasar pemuda itu adalah seorang tinggi hati, dia tak sudi untuk berbohong hanya untuk memperoleh belas kasihan, maka segera serunya dengan lantang.
"Walaupun aku tidak kenal dengan Toan Kiam-ceng si bocah keparat itu, tapi aku tahu tentang manusia tersebut."
Agak berkerut kening hwesio tua itu ketika mendengar sebutan "bocah keparat", katanya kemudian.
"Kalau kudengar dari nada bicaramu itu, tampaknya kau sangat tidak puas terhadap Toan Kiam-ceng?"
"Bukan cuma tidak puas saja, dia adalah musuh besarku!"
Hwesio tua itu makin tercengang, tanyanya lagi.
"Kalau toh kau tidak saling mengenal dengan dirinya, dari mana pula datangnya permusuhan tersebut?"
"Walaupun kami tidak saling mengenal, tapi perbuatan terkutuk dari bocah keparat itu sudah diketahui oleh setiap umat persilatan, bahkan adik misanku Nyo Yan juga dilarikan olehnya sehingga sampai sekarang nasibnya tidak ketahuan, bayangkan saja, kalau aku tidak menganggapnya sebagai musuh besar, memangnya aku mesti melayani sebagai seorang sahabat karib? "
Andaikata sampai bertemu dengan aku, kalau bukan dia yang mampus, tentu akulah yang mati!"
Tanpa terasa hwesio tua itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Sacam juga merasa gembira sekali, diam-diam ia menertawakan kebodohan si anak muda itu yang dianggapnya benar-benar tidak tahu diri.
Setelah tertawa tergelak, hwesio tua itu berkata.
"Sayang sekali keadaanmu saat ini sangat lemah dan sama sekali takbertenaga, sekalipun bisa melihat matahari lagi, kalau tidak berlatih selama delapan sampai sepuluh tahun lagi, jangan harap kau sanggup membinasakan Toan Kiam-ceng."
Sacam mengira hwesio tua itu sedang menyindir dan mencemooh Ki See-kiat maka dia pun mengikuti hwesio tua itu tertawa terbahak-bahak. Ketika selesai tertawa, tiba-tiba hwesio tua itu berkata.
"Baik, Ki See-kiat, kau adalah orang baik, duduklah di sampingku sini…."
Sekalipun Ki See-kiat tak tahu orang itu bermaksud baik atau jahat, tapi di hati kecilnya dia berpikir.
"Sekarang aku sama sekali tidak bertenaga lagi, jika dia ingin membunuhku hal ini bisa dilakukan dengan gampang sekali bagaikan membalikkan tangan, bagaimanapun juga akhirnya aku toh mati juga, coba akan kulihat apa yang hendak ia lakukan terhadapku."
Maka tanpa membantah dia beranjak dan duduk di sampingnya.
Sacam sendiri meski merasa agak tercengang, tapi dia mengira hwesio tua itu sedang mengejek Ki See-kiat, maka dia pun tidak begitu menaruh perhatian, pikirnya.
"Mungkin hwesio ini sudah merasa jemu karena terlalu kuna duduk di sana, maka sekarang sengaja mencari gara-gara untuk menghibur hatinya, siapa tahu kalau dia memang bertujuan untuk mengolok-olok bocah keparat itu…? Ya, bagaimanapun juga bocah keparat itu sudah kehilangan semua tenaganya, cepat atau lambat dia tak akan terlepas dari tanganku, biarkan saja dia hidup beberapa saat lagi.1‘ Sementara ia masih melamun, mendadak terdengar hwesio tua itu mendengus, kemudian katanya dengan dingin,"
Sekarang aku sudah tahu dengan jelas, rupanya kau adalah orang jahat…!"
Sacam amat terkejut, serunya dengan cepat.
"Sinceng, mengapa kau berkata begitu?"
"Orang Han pernah bilang begini. ‘Kalau manusia dibedakan golongannya, kalau barang dibedakan jenisnya. Kau bilang Toan Kiam-ceng adalah sahabat karibmu, kalau Toan Kiam-ceng sendiri adalah orang jahat, tentu saja kau terhitung orang jahat!"
Sekarang Sacam baru tahu kalau dia sudah salah wesel, tapi kata-kata tadi sudah terlanjur dikatakan sendiri. Hwesio tua telah melanjutkan kata-katanya.
"Mengingat aku dengan huhoat tianglo kalian Ka-ciok hoatsu juga kenal, kuampuni jiwamu kali ini, sekarang cepat enyah dari sini!"
Ketika menghardikkan kata "enyah"
Mukanya berubah amat serius, nadanya juga keras sekali. Saking kagetnya Sacam menjadi gugup sekali; serunya agak tergagap.
"Sinceng, aku harap kau dengarkan dahulu perkataanku…"
Dengan kening berkerut hwesio tua itu segera membentak.
"Aku sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkan kata-katamu itu, jika kau tidak segera enyah dari hadapanku, jangan salahkan bila aku berubah pikiran dan membinasakanmu!"
Sacam sudah pernah merasakan kelihayannya, karena khawatir hwesio tua itu benar-benar berubah pikiran, tanpa banyak bicara lagi, cepat-cepat dia angkat kaki meninggalkan tempat itu.
"Ki siauhiap,"
Ujar hwesio tua itu kemudian.
"dasar ilmu silat yang kau miliki cukup baik mari kuajarkan ilmu To-giok-cwanyang merupakan bagian dari ilmu Yoga. Kepandaian tersebut sederhana sekali gerakannya dan mudah untuk dipelajari."
Selesai berkata, tanpa menunggu persetujuan dari Ki See-kiat lagi, ia menjungkirbalikkan tubuh anak muda itu dengan membiarkan kepalanya di bawah kaki di atas, lalu me-nempelkan sepasang telapak tangannya di atas mata kakinya.
Dengan cepat Ki See-kiat merasa adanya segulung hawa panas yang menyusup masuk lewat jalan darah Yong-cwan-hiat dan pelan-pelan menjalar ke atas, di mana hawa panas itu mengalir, tubuhnya segera terasa segar dan nyaman.
Sekarang dia baru tahu kalau hwesio tua tersebut sedang membantunya menembusi nadi-nadi penting, menghidupkan peredaran darahnya dan memulihkan kembali tenaga dalamnya.
Nyatanya bantuan yang diberikan hwesio tua tersebut memang sangat bermanfaat sekali bagi tubuhnya.
Selain mengerahkan tenaga dalamnya yang murni untuk menembusi nadi-nadi penting di dalam tubuhnya, hwesio tua itu pun memberi petunjuk rahasia mempelajari ilmu Yoga, khikang yang amat hebat itu.
Ternyata jalan darah yang berada di pangkal kaki disebut Yong-cwan-hiat, kata lain adalah Giok-cwan-hiat, oleh sebab itu ilmu kepala di bawah kaki di atas dalam ilmu Yoga disebut pula sebagai To-giok-cwan (Kirshasana).
Seperti yang diterangkan tadi, To-giok-cwan adalah dasar Yoga yang paling penting, kebetulan dasar tenaga dalam yang dipelajari Ki See-kiat juga berasal dari aliran lurus, apalagi dasar teori ilmu silat tingkat tinggi semuanya sama, maka setelah memperoleh petunjuk dasar belajar semadi darihwesio tua itu, dengan cepat ia dapat meresapi serta memahaminya.
Ketika semadinya mencapai satu sulutan hio lamanya, semua jalan darah di dalam tubuhnya sudah lancar, dan hawa muminya menembus sampai ke titik puncak yang paling tinggi.
Cuma saja, dia baru sembuh dari sakit, apalagi dalam penarungan sengit yang berlangsung tadi, secara beruntun dia kena terhajar ilmu Ciang-sim-lui dari pendeta asing berbaju merah itu, boleh dibilang hawa muminya sudah amat lemah hingga nyaris punah, sekarang ditambah lagi oleh pengaruh hawa dingin dalam gua yang menyerang ke dalam tubuh, nyaris membekukan darah di dalam tubuhnya.
Betul si hwesio tua itu sudah menembusi urat-urat nadi penting di dalam badannya dengan mengerahkan tenaga mumi yang sempurna, akan tetapi pada saat waktu makin berlalu napasnya pun mulai tersengal kembali, asap putih juga mulai mengepul keluar dari atas kepalanya.
Sementara itu Sacam telah berhasil memulihkan kembali tiga empat bagian tenaga murninya, dia ingin merangkak keluar dari gua salju itu, tapi sayang sulit untuk mencapainya.
Mula pertama dia khawatir hwesio tua itu akan merenggut jiwanya, maka ia selalu berusaha menyingkir jauh, tapi setelah menyaksikan keadaan dari hwesio tua itu hatinya semakin tenang dan pelbagai akal muslihat pun bermunculan di dalam benaknya.
"Sulit bagiku untuk merangkak keluar dari liang salju ini. Betul si hwesio tua itu tak akan membunuhku, tapi bocah keparat itu tak takan melepaskan diriku andaikata tenaganya telah pulih nanti. Cepat atau lambat sama-sama mampus, kenapa tak beradu jiwa saja dengan mereka?"
Denganmemberanikan diri selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati kedua orang itu.
Hwesio tua itu duduk bersila dengan kepala tertunduk dan mata terpejam, agaknya ia berada dalam sikap semadi, yang berbeda hanyalah sepasang telapak tangannya menempel di atas mata kaki Ki See-kiat.
Mendadak Sacam teringat akan sesuatu.
Sejak menemukan hwesio tua itu, belum pernah ia saksikan orang itu beranjak atau menggeserkan badannya.
"Kalau dilihat dari keadaannya, jangan-jangan dia lumpuh dan tak mampu bergerak lagi?"
Demikian dia berpikir.
"Tak heran kalau bocah keparat itu disuruh mendekati tubuhnya, rupanya bila bocah keparat tersebut tidak mendekatinya, maka ia tak sanggup melindungi bocah keparat itu…."
Di samping memutar otak dan mencari akal bagaimana caranya untuk beradu jiwa, dia mengawasi terus gerak-gerik dari korbannya.
Sementara itu asap putih yang mengepul keluar dari atas kepala hwesio tua itu semakin lama semakin menebal.
"Sekarang ia sedang mengerahkan segenap tenaganya untuk membantu bocah keparat tersebut menembusi nadi-nadi pentingnya, inilah kesempatan terbaik untuk melakukan sergapan, kalau tidak kulakukan sekarang, bisa terlambat aku nanti,"
Pikir Sacam lebih jauh.
Pada dasarnya dia pun seorang ahli ilmu silat yang berpengetahuan luas, dia tahu jika seseorang berada dalam keadaan mengerahkan tenaga penuh, maka jangankan disergap oleh seorang jago silat yang berilmu tinggi, sekalipun dikejutkan seorang bocah pun bisa berakibat aliran hawamumi yang menyesat atau salah jalan dan menyebabkan luka dalam yang parah.
Teringat sampai ke situ, nyali Sacam semakin membesar, dia lantas menghimpun tenaganya, meringankan langkah kakinya dan maju lebih kurang sepuluh kaki di depan si hwesio tua tersebut.
Tampak olehnya, si hwesio tua itu masih tetap memejamkan matanya dengan kepala tertunduk, seolah-olah sama sekali tidak merasakan kehadirannya di situ.
Akan tetapi, bagaimanapun juga dia merasa jeri terhadap kelihayan hwesio tua itu, untuk sesaaat dia menjadi sangsi dan tak tahu haruskah turun tangan atau tidak, ketika kepalanya mendongak, tiba-tiba dia menemukan sesuatu di atas dinding batu.
Di bawah pantulan cahaya dari sungai es samar-samar bisa terlihat kalau di atas dinding batu itu terlukis banyak gambar, meskipun kurang jelas namun terlihat pula kalau lukisan itu bersambungan satu sama lainnya dan juga merupakan lukisan dari gaya orang-orang yang sedang berlatih ilmu.
Tak terlukiskan rasa gembira Sacam sesudah menyaksikan hai itu, segera pikirnya.
"Kalau begitu, cerita yang selama ini dianggap sebagai dongeng itu sesungguhnya benar."
Ternyata kedatangannya ke Kota Iblis memang tak lain untuk mencari ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng suami istri.
Dalam suatu ketidaksengajaan, dia telah menemukan cara untuk membuka pintu rahasia tersebut, kedua orang rekannya sama sekali tak tahu.
Maka mereka berdua menganggap hal itu sebagai cerita burung belaka, itulah sebabnya setelahdihajar sampai kocar-kacir oleh Leng Ping-ji tempo hari, mere-ka lantas kabur meninggalkan tempat itu.
Berbeda dengan Sacam, dengan mempertaruhkan nyawa, secara diam-diam ia menyusup kembali ke dalam pagoda Budha berstupa putih tersebut.
Justru karena dia tak tahu keanehan apa yang bakal dijumpai di balik pintu rahasia tersebut, maka timbul ingatan untuk mempergunakan Ki See-kiat sebagai kelinci percobaan, siapa tahu akhirnya dia bersama Ki See-kiat malahan’ tercebur ke dalam liang salju.
Ki See-kiat masih berjungkir dengan kepala di bawah kaki di atas, punggung menghadap ke arahnya.
Sedangkan hwesio tua itu masih memejamkan mata dengan kepala tertunduk dan sepasang tangan menempel di atas jalan darah Yong-cwan-hiat pada mata kaki anak muda itu, seakan-akan terhadap ke-jadian di sekelilingnya sudah tidak merasa apa-apa lagi, sedangkan kabut putih yang mengepul keluar dari atas ubun-ubunnya, semakin lama makin menebal, bergumpal menjadi satu.
Kobaran hawa nafsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Sacam.
Tiba-tiba ia memperoleh satu ide yang bagus.
"Jika kudorong punggung bocah keparat itu dengan sepenuh tenaga, niscaya hwesio tua ini pun akan ikut tercebur ke dalam sungai es. Sekalipun ilmu silat dari hwesio tua ini sangat lihay dan aku tidak berhasil mencelakainya, paling tidak Ki See-kiat si bocah keparat itu bisa kubikin mampus. Toh separuh badan hwesio itu sudah lumpuh, asal aku kabur setelah mendorong nanti, mustahil dia bisa mengejar diriku…."
Berpikir sampai di situ, diam-diam ia lantas merangkak ke belakang Ki See-kiat, kemudian melompat secara tiba-tiba dan mendorong dengan sepenuh tenaga.Di dalam dorongan itu dia sertakan pula ilmu Tay-jiu-eng yang maha dahsyat itu, hawa murninya disalurkan ke dalam telapak tangan, betul hawa murninya belum pulih kembali seperti sediakala, namun dorongan tersebut masih cukup untuk menghancurkan batu cadas.
Siapa tahu, sekalipun rencana tersebut amat bagus, rencana tetap tinggal rencana, hasilnya justru merupakah kebalikan dari apa yang diharapkan.
Akibatnya mencelakai orang tidak berhasil malah diri sendiri yang kena dicelakai.
Baru saja telapak tangannya menyentuh tubuh Ki See-kiat, seketika itu juga dia merasakan timbulnya suatu tenaga lembut yang maha dahsyat yang segera memantulkan tenaganya.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki hwesio tua itu masih jauh di atas perhitungannya, kepandaian yang dipergunakannya merupakan sejenis ilmu silat yang hampir sama kehebatannya dengan ilmu Can-ih-cap-pwe-tiap (Menyentuh Pakaian DelapanbeJas Kali Terbanting) dari daratan Tionggoan, bahkan kalau Can-ih-cap-pwe-tiap hanya bermaksud melindungi diri, maka hwesio tua itu bisa mengerahkan tenaganya lewat benda lain untuk menyerang pihak lawan.
Tak ampun lagi tubuh Sacam segera mencelat ke tengah udara dan tercebur ke dalam sungai es.
Kendatipun lapisan salju di situ amat tebal, nyatanya tak sanggup menghadapi tenaga terjangan yang sangat hebat itu.
"Blaamm!"
Seketika itu itu juga terbukalah sebuah lubang yang sangat besar.
Sacam terjerumus ke dalam liang salju, jeritan ngeri secara lamat-lamat bergema dari dasar lapisan salju dan menimbulkan suara yang menggidikkan hati siapa pun juga.Waktu itu konsentrasi Ki See-kiat belum sampai mencapai tingkatan "melihat tapi tidak melihat, mendengar tapi tidak mendengar" , tatkala mendengar jeritan ngeri itu sekujur tubuhnya kontan bergetar keras, dia tak tahu apa yang terjadi, padahal latihannya sedang mencapai puncak yang paling penting, mana boleh pikirannya bercabang?
Hawa muminya segera menjadi tak terkontrol, tiba-tiba isi perutnya panas bagaikan terbakar….
Untunglah pada saat itu juga si hwesio berbisik lembut.
"Tiada orang, tidak aku, peduli bukit menindih kepala, kuanggap hanya angin sejuk yang berhembus lewat…."
Walaupun Ki See-kiat tidak memahami makna dari kata-kata tersebut, akan tetapi ia segera merasakan kepalanya seperti terpukul keras, segera sadarlah dia akan kesalahannya dan cepat-cepat mengendalikan gejolak perasaannya.
Sementara itu, si hwesio tua tersebut kembali menyalurkan hawa muminya lewat jalan darah Yong-cwan-hiat pada mata kakinya dan membantunya untuk mengendalikan hawa yang mumi yang mulai bergolak di dalam badannya.
Selang beberapa saat, Ki See-kiat merasakan sekujur badannya terasa segar dan ketenangannya pulih seperti sediakala.
Begitu ketenangan pulih, tanpa terasa dia pun mencapai titik "tiada aku, tiada benda lain di dunia ini".
Entah berapa lamanya kemudian, dia hanya merasa’hwesio tua itu berseru.
"Sudah cukup!"
Ki See-kiat segera merasakan tubuhnya didorong ke depan, setelah berjumpalitan beberapa kali dan berdiri pada posisi tegap, pelan-pelan dia baru membuka matanya.
"Sekarang, cobalah untuk maju beberapa langkah,"
Ujar hwesio tua itu kemudian.
Ki See-kiat mencoba untuk maju, dia segera merasakan badannya menjadi segar, langkahnya menjadi enteng, bukan saja tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sediakala, bahkan tampaknya jauh melebihi kemampuannya dahulu.
Mendapat Ilmu dari Pendeta Sakti Waktu itu, liang pada sungai es yang berlubang tadi telah membeku kembali, permukaan sungai es pun pulih menjadi licin dan halus bagaikan sebuah cermin.
Dengan perasaan tertegun Ki See-kiat lantas bertanya.
"Ke mana perginya hwesio asing baju merah itu?"
"Ia sudah terkubur di dasar sungai es, kalau ingin hidup lagi, biar menanti sampai penitisan yang akan datang."
Ki See-kiat amat terperanjat, saking kagetnya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Pelan-pelan hwesio tua itu berkata lagi.
"Bangsa Han pernah berkata begini, Jikalau Langit yang membuat bencana, manusia masih bisa hidup, kalau diri sendiri yang membuat bencana, maka ia tak bisa hidup’. Sesungguhnya aku tidak berhasrat untuk membunuhnya, tetapi dia gagal mencelakai orang, diri sendirilah yang kena dicelakai, maka kita pun tidak usah menggubris dirinya lagi."
"Terima kasih banyak atas budi kebaikan lo-siansu yang telah menyelamatkan jiwaku, ada satu hal yang tecu kurang jelas, bersediakah lo-siansiu memberi petunjuk?"
Hwesio tua itu segera tertawa.
"Aku pun tahu kalau kau menaruh rasa curiga, bagaimanapun juga Lhama berbaju merah itu mempunyai hubungan yang lebih erat denganku, mengapa aku tidak membantunya dan sebaliknya aku malah membantumu?"
"Benar."
"Sekalipun kita tak pernah bersua, tapi oleh karena kau adalah musuh besarnya Toan Kiam-ceng, yang berarti kau ini adalah sahabatku. Sedang dia adalah kebalikannya, dia adalah sahabatnya Toan Kiam-ceng, kendatipun aku tidak menganggap sebagai musuh, paling tidak aku pun tahu kalau dia itu orang jahat"
"Lo-siansu, apakah kau pun mempunyai dendam dengan Toan Kiam-ceng si bocah keparat itu?"
Tanya Ki See-kiat tercengang. Ia benar-benar keheranan, dengan ilmu silat yang demikian tingginya, apalagi dengan usianya yang begitu tua, dia merasa Toan Kiam-ceng masih belum "berhak"
Untuk mengikat tali permusuhan dengan pendeta agung ini. Pelan-pelan h wesio tua itu berkata lagi.
"Kau ingin tahu, Toan Kiam-ceng sebenarnya adalah apa-ku? Dia adalah keponakan muridku!"
Ki See-kiat makin tercengang.
"Jadi… jadi… Toan Kiam-ceng si bocah keparat itu adalah keponakan muridmu?"
Serunya tertahan.
"Betul, gurunya yang terakhir bernama Ghamit, dia adalah adik seperguruanku. Sedang lolap sendiri bergelar Ghasam…!"
"Kalau toh dia adalah keponakan muridmu, kenapa…."
"Sekalipun dia adalah keponakan muridku, tapi dia juga merupakan musuh besar yang paling kubenci sepanjang hidupku!"
Tukas Ghasam cepat. Ki See-kiat semakin keheranan, rasa ingin tahunya semakin besar, tak tahan dia lantas bertanya lebih lanjut.
"Kenapa bisa begitu?"
"Pada lima tahun berselang, dia mempunyai suatu hubungan gelap dengan seorang iblis perempuan, sedang iblis perempuan itu ada perselisihan denganku. Iblis perempuan itu bernama Han Ji-yan, dia merupakan seorang tokoh nomor satu dalam ilmu menggunakan racun. Suatu ketika, secara kebetulan aku terkena senjata rahasia beracunnya, Toan Kiam-ceng telah mempergunakan obat racun sebagai obat penawar untuk menipuku, meski akhirnya selembar jiwaku berhasil diselamatkan, sari racun itu tak pernah bersih dari tubuhku. Lima tahun belakangan ini aku selalu berlatih tekun dalam gua salju ini, betul tenaga dalamku bisa pulih beberapa bagian, tapi akibatnya separuh tubuhku menjadi lumpuh, sekarang aku telah menjadi seorang yang cacat. Gara-gara ulah Toan Kiam-ceng, aku tersiksa selama ini dan hidup di gua tak melihat cahaya matahari, bayangkan sendiri, apakah aku tak boleh membencinya?"
Setelah menceritakan pengalamannya secara ringkas, dia lantas bertanya kepada Ki See-kiat.
"Kau pernah bilang tidak saling mengenal dengan Toan Kiam-ceng, mengapa kau katakan juga kalau dia adalah musuh besarmu?"
"Dia telah menipu dan melarikan adik misanku…."
Ghasam termenung sebentar setelah mendengar jawaban itu, selang sesaat kemudian dia baru berkata.
"Aku belum pernah berjumpa dengan Nyo Yan adik misanmu itu, tapipernah kudengar namanya. Bukankah dia mempunyai seorang saudara lain ayah yang bernama Beng Hoa?"
"Betul. Lo-siansu, kau juga kenal dengan Beng Hoa?"
"Bukan cuma kenal, bahkan kami pernah saling bergebrak. Pertarungan itu dilangsungkan setelah aku tertipu oleh Toan Kiam-ceng untuk menelan obat beracun."
Berbicara sampai di situ, tanpa terasa Ghasam, menghela nafas panjang, terusnya.
"Aku sungguh menyesal, mengapa tidak mempercayai perkataan dari Beng Hoa waktu itu. Sebenarnya Beng Hoa hendak membantuku untuk mengobati racun itu, tapi aku curiga kalau dia adalah sekomplotan dengan Toan Kiam-ceng lantaran dia selalu membela bocah keparat tersebut. Padahal racun keji dalam tubuhku sudah mulai kambuh waktu itu, karena tak berani mempercayai Beng Hoa, maka kugunakan ilmu Say-cu-ho-kang (Auman Singa) untuk melukainya, siapa tahu akibatnya persis seperti apa yang dialami Sacam hari ini, mencelakai orang tidak berhasil, diri sendiri yang terkena. Untung saja aku tak sampai tewas seketika."
Rupanya ketika Ghasam dikalahkan oleh kombinasi pedang dari Beng Hoa dan Kim Bik-ki tempo hari, dia lantas mempergunakan ilmu Auman Singa untuk merobohkan musuh.
Siapa tahu dia tak tahan dan akibatnya terjerumus masuk ke dalam jurang.
Beng Hoa yang gagal menemukan jenazahnya mengira pendeta itu sudah tewas, padahal dia cuma terluka parah saja.
Dengan mengandalkan tenaga dalam yang murni, dia pun beristirahat sambil merawat lukanya selama satu bulan lebih dalam lembah itu, sebelum akhirnya bisa berjalan lagi.Sebenarnya dia ingin pulang ke kuil Lanto-si di negeri Thian-tok untuk merawat lukanya, siapa tahu obat beracun yang diberikan oleh Toan Kiam-ceng kepadanya itu merupakan sejenis obat beracun paling lihay yang pernah dibuat Han Ji-yan.
Betul dia masih bisa berjalan, namun hal ini tak lebih hanya merupakan suatu penyembuhan sementara saja, lagi pula berkat tunjangan tenaga dalam yang dikerahkan secara paksa.
Padahal yang benar sari racun itu sudah merasuk ke dalam isi perutnya.
Dari Sinkiang sampai di Tibet, berapa ribu li harus ditempuhnya dengan susah payah, ketika sampai di Kota Iblis akhirnya dia tak kuasa untuk menahan diri.
Sambil menghela napas katanya kemudian.
"Aku tahu kalau kondisi badanku makin mundur, terpaksa aku pun bersembunyi di dalam Kota Iblis untuk merawat penyakit ku, dalam anggapan ku orang biasa tak akan berani mendatangi Kota Iblis, jadi tempat ini merupakan tempat paling cocok untuk merawat penyakit Cuma, selain alasan tersebut sesungguhnya aku pun mempunyai tujuan lain dengan keputusan itu…."
Tiba-tiba ia berpaling ke arah Ki See-kiat sambil katanya.
"Kau adalah keturunan dari satu keluarga persilatan, tentunya kau pernah mendengar bukan tentang suatu cerita dongeng yang menyangkut Kota Iblis ini?"
"Dongeng apa?"
Tanya Ki See-kiat tertegun.
"Ilmu silat yang sakti, untuk mereka yang berjodoh!"
"Tidak, aku belum pernah mendengar tentang dongeng semacam itu, apakah di dalam Kota Iblis tersimpan ilmu silat yang maha sakti?"
"Kau pasti pernah mendengar bukan tentang Kui Hoa-seng yang termashur pada seratus tahun berselang?"
"Ya, aku tahu. Aku tahu kalau isteri Teng Keng-thian ketua dari Thian-san-pay dewasa ini adalah putrinya."
"Konon Kui Hoa-seng suami istri pernah meninggalkan serangkaian ilmu pedang dan ilmu simhoat tenaga dalam di Kota Iblis, sucou-ku Liongyap Sanjin adalah sahabat akrab mereka di masa lalu, sewaktu dia masih hidup maksud hati Kui Hoa-seng itu pernah didengarnya, maka berdasarkan hal itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa dongeng tersebut besar kemungkinannya dapat dipercaya." (Catatan. Liong-yap Sanjin adalah seorang tokoh ilmu silat yang tingkatannya jauh di atas Kui Hoa-seng, ia banyak melepaskan budi untuk Kui Hoa-seng. Untuk jelasnya silakan membaca Pedang Inti Es). Sesudah mendengar sampai di situ, Ki See-kiat baru menjadi paham.
"Kalau begitu, hal inilah yang dimaksudkan Leng Ping-ji sebagai jodoh dewa itu. Kui Hoa-seng dan Hoa Giok Kongcu adalah sepasang sejoli yang berasal dari bangsa berbeda, mereka merupakan sepasang pendekar yang dikagumi setiap umat persilatan, ilmu silat yang mereka tinggalkan pun untuk mereka yang berjodoh, tak heran kalau Leng Ping-ji mengatakannya sebagai jodoh dewa."
Terdengar Ghasam melanjutkan kembali kisahnya.
"Ketika teringat kembali dengan cerita itu, timbul keinginanku untuk mendapatkannya. Tapi yang terpenting bukan ilmu silat yang maha sakti, melainkan sim-hoat tenaga dalam warisan Kui Hoa-seng guna menyembuhkan penyakit ku."
Berbicara sejujurnya, ilmu silat dari kuil Lan-tou-si kami sesungguhnya tidak berada di bawah ilmu silat aliran mana pun di daratan Tionggoan.
Betul simhoat tenaga dalam milik Kui Hoa-seng sangat hebat, bukan berarti lebih hebat daripada ilmu perguruan kami cuma ilmu Liong-siu-kang yang kuyakin-kan waktu itu belum berhasil, sedang ilmu Liong-siu-kang tersebut bila sudah mencapai tingkat ke delapan, lalu keracunan dan tenaga mumiku terganggu, mustahil bagiku untuk bisa melatihnya lagi.
Maka timbullah niatku untuk mempelajari ilmu lain, siapa tahu dari simhoat tenaga dalam warisan Kui Hoa-seng, aku berhasil menemukan kembali cara untuk memulihkan kembali tenagaku.
Toh lebih banyak mempelajari semacam ilmu, hanya ada kebaikannya bagiku daripada kejelekan."
"Apakah taysu telah berhasil menemukan catatan ilmu silat itu?"
Tanya Ki See-kiat.
"Ya, semuanya berhasil kutemukan, dongakkan kepalamu dan coba kau lihat ke atas langit-langit gua"
Ki See-kiat segera mendongakkan kepalanya, benar juga, pada selapis dinding batu yang berada di langit-langit gua penuh terdapat ukiran gambar yang beraneka ragam, lukisan tersebut menggambarkan seorang perempuan cantik berpedang yang sedang memperlihatkan pelbagai gerakan yang berbeda, tampaknya lukisan itu bersambung satu dengan lainnya.
"Perempuan yang dilukiskan dalam lukisan tersebut adalah istri Kui Hoa-seng, Tuan Putri Hoa Giok"
Ujar Ghasam menerangkan, Sedangkan Ilmu pedang yang tercantum diatas dinding adalah ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat hasil ciptaannya.
Jumlah seluruhnya mencapai delapanbelas gerakan, meskipuntampaknya lebih sederhana bila dibandingkan dengan ilmu pedang aliran lain, namun kesaktian dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat tersebut justru bukan terletak pada kerumitannya, tapi pada keserasian serta luapan perasaan yang muncul dari perasaan seseorang.
Coba kau perhatikan sungai es tersebut, kebekuan sungai es pada lapisan yang paling atas seakan-akan menunjukkan kekakuan dan tiada pergeseran, padahal di bawah lapisan salju itu justru terkandung arus air yang sangat kuat.
Jadi kesaktian ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, sesungguhnya terletak pada gerakan di balik ketenangan.
Andaikata ada orang yang bisa memahami teori tersebut dan melakukannya menurut perasaan hati, maka dari delapan belas jurus dasar ilmu pedang itu dapat dikembangkan pelbagai perubahan sakti yang tiada taranya.
Ki See-kiat hanya merasa setengah mengerti setengah tidak, terpaksa dia cuma mengiakan berulang kali. Terdengar Ghasam melanjutkan kembali kata-katanya.
"Teori ini boleh dibilang sangat sakti dan aneh, dengan kemampuan yang kau miliki sekarang, mungkin masih belum dapat meresapi sepenuhnya. Cuma hal ini tak menjadi soal, asal kau bisa menirukan cara pinceng dengan duduk bersila selama tiga-lima tahun di tempat ini, kendatipun tak ada petunjuk dari guru yang pandai, aku yakin suatu ketika kau pasti dapat memahami sendiri."
"Kenapa?"
Tanya Ki See-kiat tercengang.
"Ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat dari putri Hoa Giok pada dasarnya diciptakan menurut perubahan-perubahan alam yang terjadi pada sungai es, aku lihat kau masih muda tapi ilmu silatmu sudah hebat, aku yakin akan kecerdasanmu. Aku pun dapat memahaminya, masa kau tak bisa?"
"Tapi aku tak ingin berdiam selama tiga-lima tahun dalam liang Salju ini,"
Pikir Ki See-kiat Sementara itu Ghasam sudah berkata lagi.
"Seandainya ilmu pedang Pcng-coan-kiam-hoat ini bisa dikombinasikan dengan pedang Peng-pok-han-kong-kiam, maka kedahsyatannya akan sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata, cuma pedang Peng-pok-han-kong-kiam adalah sebilah pedang mustika yang dibuat oleh tuan putri Hoa Giok dengan mempergunakan inti es yang sudah berusia beberapa laksa tahun di dasar liang salju, di kolong langit hanya ada sebilah saja. Oleh tuan putri Hoa Giok pedang itu telah diwariskan kepada Peng-coan-thian-li (Bidadari dari Sungai Es) yakni istri Teng Keng-thian, sejak Peng-coan-thian-li wafat, pedang itu pun diwariskan kepada Teng Keng-thian. Sayang kau bukan murid Thian-san-pay, bukan urusan mudah bila kau menginginkan pedang tersebut. Cuma aku dengar, Peng-coan-thian-li sendiri pun belum pernah memperoleh seluruh warisan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat tersebut jadi aku percaya bila kau berhasil menguasai ilmu pedang itu, kendatipun tiada pedang Peng-pok-han-kong-kiam, dalam dunia persilatan dewasa ini pun jarang ada yang bisa menandingi dirimu lagi."
Ki See-kiat sama sekali tak berambisi untuk merajai dunia persilatan, tapi tergerak juga hatinya setelah mendengar ucapan tersebut, pikirnya kemudian.
"Aku bukan anak murid Thian-san-pay, tapi Leng Ping-ji adalah murid Thian-sanpay, andaikata ia berhasil mempelajari ilmu pedang tersebut, semestinya Teng Keng-thian akan mewariskan pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam kepadanya."
Setelah menerangkan soal kehebatan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat tersebut, Ghasam melanjutkan kembali kata-katanya.
"Simhoat tenaga dalam yang diwariskan oleh KuiHoa-seng tersimpan di dalam sebuah gua yang lain di dalam liang salju ini dan berhasil kutemukan.
"Meskipun ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat sangat lihay, bagiku sama sekali tak ada gunanya. Maka ketika kutemukan kedua macam kepandaian sakti itu, maka pertama-tama yang kupelajari lebih dulu adalah simhoat tenaga dalam dari Kui Hoa-seng. Aku hanya berharap bisa menemukan apa yang kubutuhkan di dalam simhoat tingkat tingginya itu sehingga dapat membantuku untuk memulihkan kembali tenaga dalam yang kumiliki."
Berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia menghela napas dalam-dalam. Ki See-kiat menjadi kebingungan, tegurnya.
"Apakah simhoat tenaga dalam dari Kui locianpwe itu berhasil taysu pelajari?"
Sementara di hati kecilnya dia berpikir.
"Apakah dia menghela napas lantaran tidak berhasil mempelajari simhoat tersebut?"
Ghasam menghela napas panjang.
"Aaai… aku tahu kalau kalian bangsa Han mempunyai sebuah pepatah yang mengatakan, ‘Kehilangan kuda, siapa bilang bukan kemujuran?’ Sebaliknya, ‘Mendapat kuda, siapa bilang bukan suatu bencana?’ Segala sesuatu yang berada di alam semesta, tampaknya sudah mempunyai pemilik-pemilik yang sebenarnya…."
Sementara Ki See-kiat belum memahami ucapannya itu, terdengar pendeta tua itu berkata lebih jauh.
"Ketika aku mulai mempelajari simhoat tenaga dalam dari Kui Hoa-seng tersebut, tampaknya saja seperti amat berguna. Tiba-tiba suatu hari kutemukan bahwa tenaga mumi yang kupelajarimenurut catatan simhoat tersebut tak bisa bercampur baur dengan hawa mumi yang semula sudah kumiliki. Padahal me-nurut teori ilmu silat, hal itu seharusnya saling berhubungan, tapi kenapa bisa muncul peristiwa semacam ini? Itu berarti ada suatu bagian penting yang belum dapat kupahami. Aaaii… siapa yang bilang kalau pembauran dari dua macam ilmu silat tingkat atas sebetulnya mudah? Selama lima tahun aku berjuang dan berlatih terus dengan tekun, tapi sampai hari ini usahaku tersebut tetap gagal."
"Yang lebih tidak beruntung lagi suatu ketika di kala aku sedang berlatih, mendadak terjadi badai salju yang sangat kuat, aku tak mampu untuk melindungi diri dan begitulah… dalam waktu singkat, seluruh persendian tulangku berubah menjadi kaku seperti es, semenjak detik itu pula kelumpuhan yang kuderita tak bisa kusembuhkan lagi."
"Taysu, kenapa mesti putus asa?"
Hibur Ki Scc-kiat.
"Dengan kepandaian sakti yang dimiliki taysu, asal berlatih beberapa tahun lagi, siapa tahu kaiau penyakit itu bisa disem-buhkan? Apalagi boanpwe bisa menyumbangkan kemampuanku, boanpwe pun bersedia untuk membantu usaha cianpwe dengan segala kemampuan yang kumiliki."
Maksudnya, suatu hari bila dia dapat meloloskan diri dari situ, maka ia pun bersedia membopong hwesio tua itu untuk keluar dari liang salju tersebut Tapi harapan semacam ini terlalu tipis, maka ia tak berani mengatakannya secara berterus terang.
Sudah barang tentu Ghasam juga memahami maksudnya, sambil tertawa getir ujarnya.
"Aku tak akan mampu untuk menyembuhkan diriku sendiri, sedang kau masih punya harapan untuk keluar dari sini, tapi itu pun paling tidak harus menunggu tiga tahun lagi.Aku sadar bahwa usiaku makin terbatas, kau tidak akan sempat untuk menyelamatkanku!"
"Taysu… mengapa kau harus mengucapkan kata-kata yang tidak baik?"
Ghasam tertawa.
"Dalam pandangan murid Budha, ada itu tidak ada, tidak ada itu ada, ada lahir ada mati, dan ada mati ada lahir, kelahiran serta kema-tian sesungguhnya hanya suatu perputaran alam belaka, lahir tidak perlu digirangkan, mati tidak perlu disedihkan. Sesungguhnya apa bedanya antara alamat baik dan tidak baik?"
Ki See-kiat tidak mengerti pelajaran Budha, sulit baginya untuk menghibur pendeta itu, ujarnya’kemudian.
"Pandangan tecu hanyalah pandangan orang awam, harap taysu jangan menertawakan."
Apa yang dipikirkan olehnya sekarang adalah bagaimana bisa tinggal di dalam liang salju itu selama tiga-Jima tahun. Tampaknya Ghasam dapat meraba jalan pikirannya, ia lantas berkata.
"Selama duduk kaku di dalam liang salju ini, lolap hanya tahu mungkin sudah lima tahun lamanya, sekarang sudah musim apa?"
"Hari ini adalah bulan lima tanggal delapan, sekalipun salju di kaki bukit belum mencair semua, menurut perhitungan musim maka sekarang sudah termasuk musim panas."
"Dasar nasibmu memang sedang mujur, terjerumus ke dalam liang salju pada musim yang terbaik,"
Kata Ghasam sambil tertawa.
"Coba kalau pada musim salju, di kala badai salju sedang melanda, benar-benar mengerikan sekali keadaannya. Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, sudah pasti tak akan mampu untuk menahannya. Padahal tidak kau katakan pun aku tahu kalau musim di luar sana telahmencapai musim panas, sebab badai salju yang tiap hari datang dua kali makin lama makin melemah. Mulai sekarang, mungkin sampai empat bulan kemudian badai salju itu baru berubah kembali dari lemah menjadi kuat. Tapi jika kau mau melatih tekun tenaga dalammu, selewatnya empat bulan mungkin ada sedikit hasil yang berhasil kau raih, asal keadaanmu sudah memasuki kondisi yang prima, untuk berdiam selama tiga-lima tahun di dalam liang salju ini pun tak menjadi soal."
Diam-diam Ki See-kiat menghela napas panjang, pikirnya kemudian.
"Aaai… tampaknya terpaksa aku harus tinggal di dalam liang salju ini menemaninya, tiga-lima tahun kemudian apakah bisa keluar dari sini, hal mi tergantung pada kemujuran nasibku…."
Mendadak ia teringat akan satu hal, tak tahan lagi dengan perasaan ingin tahu tanyanya kepada Ghasam.
"Ada satu hal yang tidak tecu pahami, ingin sekali kumohon petunjuk dari taysu."
"Sekarang kita sudah senasib sependeritaan, bila ada sesuatu yang tidak kau pahami, tanyakan saja kepadaku."
"Selama berada dalam gua salju ini, taysu memperoleh makanan dari mana?"
"Aah, itu gampang, coba kau lihat!"
Kata Ghasam sambil tertawa.
Seraya berkata, dia mengambil sepotong batu dan disambitkan ke arah sungai es, segera terbukalah retakan pada lapisan salju itu sehingga muncul sebuah lubang yang cukup besar.Dia lantas mengambil keluar sebuah pancing, pancing itu disembunyikan di bawah batu cadas di mana ia duduk sekarang, ternyata selama ini tak pernah diperhatikan oleh Ki See-kiat Setelah mengeluarkan pancing tersebut, dengan suatu gerakan yang amat cepat pancing tadi dimasukkan ke dalam lubang, tak lama kemudian ia berhasil memperoleh seekor ikan yang beratnya dua tiga kati.
"Dalam sungai es ini banyak ikan,"
Ujar Ghasam sambil tertawa.
"bila lewat setengah bulan kemudian, di mana salju mulai mencair, ikan-ikan itu akan lebih sukar ditangkap. Selama lima tahun hidup di sini, lolap hidup dengan meng-gantungkan diri pada ikan tersebut."
Sekarang Ki See-kiat barulah mengerti, rupanya Ghasam mempunyai maksud tertentu dengan bersemadi di tepi sungai es.
Selain ia bisa mempelajari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang terukir di atas langit-langit gua, juga memudahkan dirinya menangkap ikan.
Kalau tidak begitu, dengan kelumpuhan yang dideritanya, niscaya ia sudah mati kelaparan sedari dulu.
"Bagaimanapun juga aku harus membantumu untuk melihat langit-langit. Tapi aku pun mau memohon satu hal padamu,"
Kata Ghasam. Cepat Ki See-kiat menjawab.
"Selembar nyawaku telah berhasil taysu selamatkan, jika taysu membutuhkan bantuan tecu, silakan saja disampaikan!"
"Aku hanya memohon kepadamu untuk menjadi muridku."
Di dunia hanya ada murid memohon kepada guru, orang yang berkemampuan menjadi guru malah justru memohonorang lain menjadi muridnya.
Maka Ki See-kiat menjadi tertegun dibuatnya.
Dengan sedih Ghasam berkata lagi.
"Aku tahu bangsa Han mempunyai banyak peraturan, berganti perguruan merupakan pantangan besar bagi umat persilatan, kecuali sudah disetujui oleh gurunya. Jadi aku pun mengerti bila kau tidak bisa menerimanya, yah, sudahlah, aku tak berani memaksa."
"Taysu mengijinkan tecu memasuki pintu perguruan, hal ini sesungguhnya merupakan suatu kehormatan bagi tecu,"
Buru-buru Ki See-kiat berkata.
"harap taysu jangan salah paham, justru karena merasa girang maka tecu menjadi tertegun."
Selesai berkata dia lantas menjatuhkan diri berlutut dan menjalankan penghormatan besar dan menyebut pendeta itu sebagai "suhu".
Berbicara yang sebenarnya, ia bersikap demikian bukan lantaran kemaruk dengan ilmu silat Ghasam yang lihay, tapi lantaran merasa berhutang budi kepada Ghasam atas pertolongannya, dia sadar bahwa budi ini sukar dibalas, karenanya dia pun merasa enggan untuk menampik maksud baiknya.
Ghasam segera menggerakkan sepasang tangannya, belum lagi ujung telapak tangannya menyentuh badan, Ki See-kiat telah merasakan munculnya segulung tenaga lembut yang membimbingnya bangun.
"Akulah yang memohon kepadamu untuk menjadi muridku, maka aku hanya bisa menerima separuh penghormatanmu. Tapi, tidak takutkah kau melanggar pantangan dunia persilatan?"
"Ilmu silat tecu berasal dari ilmu silat keluarga, guruku adalah yaya (kakek) dan ibu. Bila mereka tahu kalau kauorang tua yang telah menyelamatkan jiwaku, untuk berterima kasih saja tak sempat, masa mereka akan menegurku karena sudah mengangkat kau orang tua sebagai guruku?"
"Bagus, kalau begitu aku pun dapat memberitahukan kepadamu, mengapa aku sampai memohon kepadamu untuk mengangkat diriku sebagai guru. Karena aku tahu, dalam kehidupanku saat ini, mustahil bisa menghukum bocah keparat yang mengkhianati guru dan perguruan itu lagi, maka aku minta kau suka mewakiliku untuk membuat perhitungan, agar setelah mati aku pun bisa mati dengan meram."
"Toan Kiam-ceng sesungguhnya memang musuh besarku, sekalipun tiada permusuhan dengan perguruanmu aku tetap akan mencarinya untuk membikin perhitungan."
"Aku mohon kepadamu menjadi muridku, karena kau pada dasarnya memang bermusuhan dengannya. Cuma ada sementara persoalan yang belum kau ketahui….
"Bocah itu berhati busuk, keji tapi berotak cerdas. Lima tahun berselang ia berhasil menipu se
Jilid kitab Bu-sia-sim-keng milik perguruan kita, konon se
Jilid kitab pusaka ilmu beracun milik gembong iblis perempuan yang paling top di kolong langit pun sudah terjatuh pula ke tangannya, dengan kecerdasannya, apalagi setelah lewat lima tahun, kesempurnaan iImu silat yang dimilikinya pasti jauh bila diban-dingkan dulu.
Bahkan berbicara yang buruknya, mungkin jago silat yang sanggup menaklukkannya sekarang hanya beberapa gelintir saja.
"Jangan dibilang separuh badanku lumpuh, sekalipun bisa lolos dari liang salju ini, belum tentu aku bisa menandinginya. Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang, jika ingin membalas dendam kepadanya maka kejadian tersebut boleh dibilang cuma mengigau belaka. Sebaliknya bila kaumengangkat diriku menjadi guru, kemudian melatih Peng-coan-kiam-hoat, sekalipun belum tentu bisa mengalahkan dia, tapi keadaan tersebut masih mendingan, katakanlah masih ada harapan. Nah, tentunya kau dapat memahami perasaanku bukan?"
"Tecu mengerti, tecu pasti akan berlatih dengan tekun semua pelajaran ilmu silat yang suhu wariskan padaku."
"Pertama akan aku wariskan dulu ilmu silat aliran kuil Lan-tou-si. Dan tadi aku hanya menyinggung soal Peng-coan-kiam-hoat, tapi tidak menyinggung soal kepandaian sakti warisan Kui Hoa-seng, hal ini disebabkan lantaran aku belum dapat menyatukan kedua macam rahasia ilmu silat itu menjadi satu maka hal itu harus menunggu sampai kau belajar dulu ilmu silat perguruan kita, dan baru bisa ditetapkan apakah bisa atau tidak mempelajari ilmu silat aliran lain."
Setelah Ki See-kiat tahu kalau tidak mempunyai harapan untuk keluar, dia pun lantas mengambil keputusan untuk tetap tinggal di sana dan belajar ilmu dari Ghasam.
Di dalam liang es tak tahu soal waktu, dan bahkan siang dan malam pun sukar dibedakan.
Untung saja di dalam liang terjadi dua kali badai salju yang terjadi secara rutin, badai itu berlangsung pagi hari satu kali dan tengah malam satu kali.
Berdasarkan badai-badai salju inilah, waktu bisa diperhitungkan dengan cermat, setiap lewat saru hari maka Ki See-kiat pun membuat goresan di atas dinding.
Lebih kurang empat bulan kemudian, suatu hari mendadak Ki See-kiat merasakan hawa dingin yang dibawa badai salju terlalu hebat, angin dingin yang menembus batuan tajam bagaikan sayatan pisau, lapisan salju pada sungai esbertambah keras seperti batu, lapisan sukar dipecah lagi memakai batu, tapi mesti dikorek dengan pedang.
Hawa dingin yang tebal menggumpal serta menyelimuti setiap bagian dalam ruang gua, untung saja Ghasam berhasil membuat lubang di atas sungai es itu sehingga ikan bisa dikail.
Sekarang Ki See-kiat baru melihat jelas kekuatan tenaga dalam yang sesungguhnya dari pendeta itu, diam-diam ia lantas berpikir.
"Untuk bisa mencapai kepandaian seperti yang dimiliki suhu, entah berapa tahun yang kubutuhkan?"
Badai salju betul-betul terlampau hebat, walaupun dia sudah mencoba untuk melawan dengan tenaga dalamnya, tangan dan kaki masih terasa kaku, bahkan bernapas pun semakin susah.
Buru-buru Ghasam menempelkan tangannya di atas punggung anak muda itu, segulung aliran hawa panas segera menyusup ke dalam tubuhnya membuat badan jadi hangat, setelah itu sambil melepaskan tangannya pendeta itu berseru.
"Sekarang, kita latih ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat!"
Waktu itu Ki See-kiat telah mempelajari delapan belas jurus dasar dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, berhadapan dengan sungai es, dia pun mulai melatih ilmu pedang tersebut.
Berapa bulan belakangan ini, dia selalu mengamati perubahan dari sungai es, apalagi mendapat petunjuk dari suhu-nya, sedikit banyak ia sudah mulai memahami makna dan intisari dari ilmu pedang tersebut.
Apalagi di bawah serangan badai salju yang amat dahsyat, dia harus mengawasi sungai es sambil melatih ilmu pedangPeng-coan-kiam-hoat, tanpa disadari gerak-geriknya ikut berubah pula menurut perasaannya ketika itu.
Kalau dibicarakan sesungguhnya memang sangat aneh, pada awal latihan, hawa dingin itu terasa amat tebal, saking dinginnya membuat gigi pun bergemerutukan, andaikata Ghasam tidak memerintahkan "latih terus!", hampir saja dia melepaskan niatnya itu.
Tapi setelah dilatih beberapa saat, mendadak tubuhnya lambat laun berubah menjadi hangat kembali, apalagi ketika selesai berlatih titik keringat malah membasahi jidatnya.
Saat itulah setelah menghembuskan napas panjang, Ghasam baru berkata sambil tertawa.
"Sewaktu putri Hoa Giok menciptakan ilmu pedang tersebut, dia telah memanfaatkan hawa dingin yang menyerang tiba untuk menambah kedahsyatan pedang Peng-pok-han-kong-kiam-nya, sekarang meski pedang yang kau pergunakan cuma sebilah pedang biasa, tapi ilmu pedangnya sama sekali tak berbeda, badai salju itu justru amat membantu usahamu untuk berlatih ilmu pedang, jika kau dapat memanfaatkan keuntungan ini, kemajuan yang bisa kau raih pasti akan lebih besar, nah sekarang latihlah kembali ilmu silat perguruanmu."
Ki See-kiat segera duduk bersila dan melatih ilmu Tay-ciu-thian-to-na-hoat dari Yoga khikang yang dipelajarinya, sebentar kemudian hawa dingin telah terusir dari dalam tubuhnya.
Keadaan itu berlangsung enam tujuh hari lamanya, kemudian Ki See-kiat tidak membutuhkan bantuan dari gurunya lagi, dengan kemampuan sendiri dia sanggup menahan serangan badai salju yang dingin itu.
Dalam keadaan begini, dia malah berharap musim dingin bisa berlangsung lebih lama lagi.Tapi musim dingin toh akhirnya mesti lewat juga.
Sekalipun Ki See-kiat tak dapat menyaksikan perubahan musim di tempat luaran, tapi dipandang dari semakin melemahnya badai salju yang menyerang serta mencairnya kembali sungai es, sekalipun tanpa menghitung guratan di atas dinding batu pun dia tahu kalau musim semi di luar telah tiba dan musim panas segera menyusul datang.
Tanpa terasa dia sudah hidup selama satu tahun di dalam liang salju itu.
Suatu hari ketika ia sedang memancing ikan di tepi sungai sambil mengamati pergeseran dan perubahan dari sungai es, mendadak Ghasam memanggilnya menghadap.
Dengan keheranan Ki See-kiat bertanya.
"Suhu, ada pesan apa?"
"Ada suatu persoalan harus kuberitahukan kepadamu hari ini juga. Ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng disimpan di dalam sebuah gua di atas dinding batu sana, tempat itu berada lima enam kaki dari permukaan tanah. Langkah pertama yang harus kau kerjakan adalah bersihkan dulu bongkahan salju yang membeku di atas dinding bukit, kemudian langkah yang kedua adalah menggeser sebuah batu yang menutupi mulut gua, dengan begitu kau akan menjumpai mulut gua tersebut. Di atas batu itu telah kubuatkan sebuah tanda ’V’ dengan mudah kau akan menjumpainya."
"Ilmu silat perguruan yang kupelajari sekarang baru mencapai taraf permulaan, bukankah suhu pernah berkata, bila tenaga dalam yang kumiliki telah cukup baru bisa mencoba untuk mempelajari ilmu silat aliran lain atau tidak? Buat apa aku mesti buru-buru mempelajari ilmu sakti warisan Kui locianpwe?"
Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, diam-diam hatinya merasa keheranan, kenapa suhu-nya justru memilih hari ini untuk memberitahukan soal tersebut kepadanya?
Apakah hal ini hanya merupakan suatu luapan emosi saja?
Sementara dia masih termenung, Ghasam telah berkata lagi.
"Sebab, bila tidak kukatakan hari ini, kecil kesempatanku untuk memberitahukan hal ini kepadamu di kemudian hari."
Ki See-kiat menjadi sangat terkejut, buru-buru tanyanya.
"Suhu, apa… apa maksud perkataanmu itu?"
Ghasam tidak menjawab pertanyaan itu, juga tidak memperhatikannya, terdengar ia berkata lebih lanjut.
"Setiap persoalan, bila ada yang baik tentu ada yang buruk, ada yang menguntungkan tentu ada pula yang merugikan, ilmu Liong-siu-kang yang kau miliki sekarang baru mencapai tingkatan kedua, bila dibandingkan dengan kemampuanku sudah barang tentu masih selisih jauh, bila seseorang mempelajari ilmu aliran lain tanpa memperoleh petunjuk, mungkin banyak rahasia sakti yang sukar dipahami, bahkan setelah memahami maksudnya mungkin juga belum bisa mencapainya. Tapi justru bila tenaga dalammu belum sempurna lantas mempelajari ilmu aliran lain, bila salah melatih, akibatnya tak akan sampai menciptakan kerugian yang terlampau besar, sehingga tak mengalami nasib seperti diriku. Tapi kau mesti ingat, bilamana kau menjumpai ada dua kekuatan di dalam tubuhmu saling bertentangan maka kau tak boleh melatihnya lebih jauh."
"Suhu, kau toh bisa memberi petunjuk kepadaku!"
Kata Ki See-kiat.
Perlu diterangkan di sini, dengan kemampuan yang dimiliki Ghasam sekarang, kendatipun dia belum memahami sepenuhnya rahasia ilmu silat peninggalan Kui Hoa-seng, tapipaling tidak ia masih sanggup untuk memberi banyak penjelasan bagi seseorang yang baru mulai belajar.
Setelah memesankan beberapa hal yang perlu diperhatikan, Ghasam baru melanjutkan sambil tersenyum.
"Aku tak dapat menemanimu untuk berlatih lagi, aku hendak mengabarkan kepadamu, hari ini adalah hari perpisahan untuk selamanya kita guru dan murid."
Ternyata sari racun yang mengeram di dalam tubuhnya sudah makin mendalam, apalagi setelah mulai kambuh beberapa hari ini, membuat pendeta tersebut makin sadar kalau saat kematiannya sudah makin mendekat.
Kalau dibilang sekarang masih bisa berbincang sambil tertawa dengan leluasa, maka hal ini tak lain karena dia mengandalkan sisa hawa muminya yang sempurna.
Tak terlukiskan rasa kaget Ki See-kiat, segera teriaknya.
"Aku-aku tidak percaya, suhu… bukankah kau baik-baik saja? Masa bisa mati?"
Ghasam tertawa.
"Menjadi tua dan mati karena sakit sudah lumrah dan merupakan jalan kehidupan manusia. Bila orang awam menganggap kematian sebagai kesedihan, maka kaum Budha menganggap kematian sebagai keberangkatan menuju nirwana yang penuh kebahagiaan. Orang mengatakan kematian sebagai Wan-ki, apa yang dimaksud sebagai Wan-ki? Bila budi pekerti telah siap disebut Wan, bila rintangan sudah tersingkir berarti Ki. Tiada manusia yang hidup langgeng, semua akan menjadi tua dan mati, hanya Budha dan Pousat yang akan hidup langgeng sepanjang masa…."
Ketika selesai mengucapkan kata-kata itu, matanya segera terpejam dan sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.Tatkala Ki See-kiat memeriksa nafasnya, ternyata pendeta agung itu sudah berpulang ke alam baka.
Ki See-kiat masih terhitung orang awam yang belum dapat menembusi soal mati dan hidup, akan tetapi mendengar kata-kata terakhir dari gurunya itu, rasa sedih yang bergelora dalam dadanya dapat dikendalikan dengan baik.
Ia lantas menyembah beberapa kali di depan layon gurunya sebagai salam perpisahan, diam-diam ia pun berdoa agar arwah gurunya di nirwana bisa melindungi kehidupannya.
"Bila tecu dapat melihat matahari lagi, perintah suhu pasti akan kulaksanakan, tecu pasti akan menemukan bajingan cilik yang berkhianat pada perguruan itu…."
Setelah mengubur jenazah gurunya, keesokan harinya ia baru berangkat ke gua di atas dinding batu untuk mencari ilmu silat peninggalan dari Kui Hoa-seng.
Ilmu silat yang dimilikinya sekarang sudah jauh lebih maju dibandingkan dulu, dengan mengerahkan ginkang-nya, tanpa mengeluarkan banyak tenaga ia sudah berhasil mendaki ke atas tebing salju yang curam tersebut.
Ketika tiba di tengah jalan, pedangnya segera ditancapkan ke atas dinding sebagai tempat berpijak, kemudian mengikuti petunjuk dari gurunya, dia bersihkan bongkahan salju yang menempel di atas dinding batu itu.
Betul juga, dia segera menemukan sebuah tanda ‘V’ di atas batu cadas itu, ketika batu tadi didorong maka muncullah sebuah gua.
Cahaya dalam gua itu jauh lebih redup, ketika baru masuk ke dalam, mata Ki See-kiat belum terbiasa dengan kegelapandi sana, untung saja di sakunya masih ada sisa batu api, dengan cepat dia menyulut api.
Simhoat tenaga dalam yang diwariskan Kui Hoa-seng terukir semua di atas dinding batu, bahkan diberi lukisan yang menerangkan bagaimana caranya menyalurkan hawa mumi untuk menembus nadi-nadi penting dan delapan nadi utama.
Mula-mula Ki See-kiat menghafalkan dulu tulisan yang terukir di situ, meski dia tidak memiliki kemampuan untuk mengingat sekali lihat, namun kemampuannya jauh di atas kemampuan orang biasa.
Setelah membaca tulisan itu empat-lima kali, ia sudah dapat menghafalnya di luar kepala tanpa kekurangan satu huruf pun, sementara batu api yang dipakainya belum habis separuh.
Sejak hari itulah dia mulai meraba-raba sendiri simhoat tenaga dalam peninggalan dari Kui Hoa-seng dan mempelajarinya sendiri.
Bila mencapai bagian yang tidak mengerti, dia baru kembali ke dalam gua dan memeriksanya kembali.
Kalau dibicarakan betul-betul aneh sekali, walaupun tiada orang yang memberi petunjuk kepadanya selama melatih simhoat tenaga dalam tersebut, namun kemajuan yang berhasil dicapainya justru jauh lebih pesat daripada sewaktu mempelajari ilmu dalam aliran negeri Thian-tok di bawah pimpinan guru yang pandai.
Ketika sudah melatih diri selama tiga bulan, hawa muminya telah berhasil disalurkan menembus delapan nadi utama, bahkan sepanjang jalan sama sekali tidak menjumpai ham-batan apa-apa.
Menyaksikan hasil yang berhasil dicapainya itu, Ki See-kiat lantas berpikir.
"Simhoat tenaga dalam dari Kui locianpweagaknya mempunyai banyak teori yang hampir bersamaan dengan teori ilmu Iweekang yang kupelajari, kalau dibicarakan sesungguhnya tak ada yang sulit. Tapi heran, kenapa suhu menjumpai banyak kesulitan sewaktu mempelajari simhoat ini?"
Sejak melatih diri, dia pun belum pernah menemukan adanya dua gulung hawa murni yang saling bertentangan di dalam tubuhnya.
Keadaan ini mungkin tidak dipahami oleh Ghasam.
Sebagaimana diketahui, Kui Hoa-seng berasal dari perguruan Bu-tong-pay, simhoat tenaga dalamnya juga mengambil tenaga dalam aliran Bu-tong-pay sebagai dasar-nya.
Sedang ilmu silat dari keluarga Ki See-kiat merupakan ilmu sam-pingan dari ilmu Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, ilmu silat aliran Siau-lim-pay asalnya dari Thian-tok, maka bila Ki See-kiat harus mempelajari simhoat tenaga dalam peninggalan Kui Hoa-seng, hal ini justru jauh lebih gampang daripada gurunya.
Perlu diketahui ilmu silat aliran Siau-lim-pay sudah berada di daratan Tionggoan selama seribu tahun lebih semenjak Tatmo Cousu hijrah ke tanah Tionggoan, sepanjang sejarah berlangsung banyak perubahan dalam ilmu silat tersebut.
Apalagi sejak Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay pecah menjadi dua golongan sampai saat Ki See-kiat, waktu baru berlangsung selama tiga-empatratus tahun, ditambah lagi sama-sama berkembang di daratan Tionggoan maka kesempatan untuk suatu penyesuaian jauh lebih besar.
Itulah sebabnya ilmu silat dari keluarga Ki See-kiat, boleh dibilang masih dekat sekali dengan simhoat tenaga dalam ciptaan Kui Hoa-seng.Kesemuanya ini ditambah lagi bahwasanya semua aliran ilmu silat bersumber dari kuil Lan-tou-si, dan selama satu tahun belakangan ini Ki See-kiat mempelajari ilmu silat aliran Lan-tou-si dari Ghasam, maka kesemuanya itu mendatangkan manfaat dan bantuan yang besar sekali baginya.
Dalam liang salju tak tahu soal hari, tapi lantaran badai salju menyerang kian hari bertambah dahsyat, Ki See-kiat tahu bahwa musim dingin telah menjelang tiba lagi.
"Heran, kenapa musim dingin kali ini tidak sedingin musim dingin yang lalu?"
Demikian ia berpikir.
Suatu hari, sehabis menghitung garis-garis yang dibuatnya di atas dinding batu serta menghitungnya, dia tahu kalau musim di luar ketika itu adalah musim salju.
Semestinya dalam saat seperti inilah badai salju yang dahsyat melanda liang salju itu.
Tapi anehnya, dia sama sekali tidak merasakan kedinginan barang sedikit pun juga.
Pada setahun yang lampau, bila musim dingin telah tiba, maka dia harus mengerahkan terus tenaga dalamnya untuk melawan udara dingin, apalagi jika badai salju menyerang dahsyat, bahkan ia membutuhkan bantuan dari gurunya untuk mengusir hawa dingin tersebut tapi pada musim dingin tahun ini, dia sudah tak perlu mengerahkan tenaga dalamnya, bahkan udara di dalam liang salju itu seakan-akan makin hari semakin hangat, sekalipun mencapai saat-saat badai salju menyerang paling dahsyat, dalam perasaannya adalah sama saja.
Tentu saja hal ini bukan disebabkan perubahan cuaca di luar sana, bila ditinjau dari tebal dan kerasnya lapisan salju di atas dinding karang, ia mendapat tahu bahwa musim salju diatas ini meski tidak lebih dingin daripada tahun berselang, paling tidak juga tak akan lebih kurang dari tahun dulu.
lapi, apa sebabnya dia malah merasa lebih hangat?
"Aah… sungguh tak kusangka, kalau ilmu Lwekang peninggalan Kui locianpwe sedemikian hebatnya, padahal aku baru berlatih selama setengah tahun, tapi manfaat yang bisa kuraih sedemikian hebatnya."
Pertanyaan tersebut agaknya hanya bisa dijawab secara begitu saja.
Ketika mengetahui akan manfaat dan kelihayan dari ilmu Iwekang peninggalan dari Kui Hoa seng tersebut, Ki See-kiat makin bersemangat untuk melatihnya.
Tanpa terasa setengah bulan kembali sudah lewat Hari itu, ketika badai salju menyerang datang untuk pertama kalinya, mendadak ia merasa sedikit agak kedinginan, ketika waktu dihitung kembali, baru diketahui kalau hari itu adalah hari terakhir dari bulan duabelas.
Gurunya pernah menerangkan, badai salju pada malam terakhir bulan dua belas merupakan badai salju terdahsyat sepanjang tahun.
Menurut pengalamannya di masa silam, dia telah membuktikan kebenaran dari ucapan gurunya.
Ia masih ingat, pada malam terakhir tahun berselang, sepanjang malam ia tak dapat memejamkan mata, setiap kali selesai melatih ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat untuk mengurangi serangan hawa dingin dia masih membutuhkan bantuan gurunya untuk melawan serangan badai salju yang amat dahsyat itu.
Tapi tahun ini, dia hanya merasakan sedikit agak kedinginan, perasaan agak kedinginan itu hanya bisa dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.Bersamaan dengan meluapnya rasa gembira, Ki See-kiat juga merasa agak masgul, pikirnya.
"Besok adalah tahun baru, tanpa terasa aku sudah memasuki tahun kedua hidup dalam liang salju ini. Sekalipun menurut perhitungan suhu, aku baru dapat menguasai ilmu silat peninggalan Kui locianpwe suami istri setelah berlatih tiga tahun, tapi setelah berhasil belum tentu aku bisa keluar dari sini. Aaaai… sampai kapan aku baru bisa melihat matahari lagi?"
Begitu pikirannya bercabang, mendadak hawa dingin yang menyerang tubuhnya satu kali lebih hebat.
"Aah… lebih baik jangan berpikir yang bukan-bukan, aku harus melanjutkan latihanku!"
Waktu itu, dia sedang melatih ilmu tenaga dalam peninggalan dari Kui Hoa-seng pada tingkatan yang terakhir.
Ketika latihannya mencapai pada puncaknya dari empat anggota badannya segera mengalir keluar hawa panas yang menghangatkan sekujur badannya….
Di hari-hari biasa, bila ia selesai berlatih, dari badannya akan muncul juga hawa hangat yang menyegarkan, tapi keadaan seperti yang dialaminya sekarang, di mana dan keempat anggota badannya serta sekujur tubuhnya, seolah-olah dialiri oleh hawa hangat, boleh dibilang baru dialami untuk pertama kalinya.
Diam-diam Ki See-kiat menjadi sangat gembira, segera pikirnya.
"Jangan-jangan inilah pertanda kalau latihanku telah berhasil…?"
Dia tahu pada saat-saat semacam ini, pantangan yang terutama adalah pikiran bercabang, buru-buru dia buang segenap pikirannya dan melanjutkan latihannya.
Tapi, ketika diteruskan, ia justru menemukan suatu keadaan yang aneh.Biasanya bila badai salju menyerang untuk kedua kalinya, itu pertanda badai terdahsyat sepanjang tahun telah melanda tiba.
Tapi anehnya, angin dingin yang menyayat badan justru dirasakan sebagai kobaran hawa panas yang makin lama semakin menyala.
Panas tersebut terasa bagaikan semacam "panas dalam" , seakan-akan isi perutnya bagaikan dibakar, membuat seisi perutnya menjadi kepanasan hebat.
Perasaan tersebut sama sekali berbeda kalau dibandingkan dengan rasa hangat yang dirasakan sehabis berlatih di hari-hari biasa.
Lewat sejenak kemudian, hawa mumi yang berada di dalam tubuhnya bagaikan menyusup ke empat penjuru dengan kacaunya, bagaimanapun dia mencoba menggiringnya kembali ke pusar, usahanya selalu gagal total, bahkan hawa mumi yang menyusup secara kacau ini bagaikan hawa panas yang dimuntahkan dari kepundan gunung berapi saja, bagaikan memanggang isi perutnya mentah-mentah.
Bagaimanapun dia berusaha untuk membuang jauh-jauh semua pikiran kalut dalam benak, dia selalu gagal untuk membawa dirinya ke suasana yang tenang dan kosong.
"Aaaai… kalau begini terus keadaannya, kemungkinan besar badanku akan turut meledak!
Ki See-kiat tak sanggup duduk bersila lagi, dia melompat bangun dan melompat-lompat kepanasan.
Penderitaan semacam ini sungguh suatu siksaan yang luar biasa, hawa panas yang menyayat badan tak tertahankan, di saat yang kritis itulah mendadak ia teringat dengan ilmu To-giok-cwan, salah satu gaya ilmu Yoga yang diajarkan suhu-nya pada hari pertama dulu….Waktu itu gurunya mengerahkan tenaga dalam lewat jalan darah Yong-cwan-hiat pada mata kaki untuk membantunya memulihkan kembali tenaga dalam.
"Aaaai… andaikata suhu masih ada, keadaanku pasti lebih mendingan, ia bisa mempergunakan cara ini untuk membantuku untuk memulihkan kembali kesegaran badanku."
Walaupun sudah tengah malam, sungai es yang licin bagaikan cermin masih memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.
Angin puyuh menggulung lewat memecahkan permukaan salju, membuat hancuran es beterbangan ke empat penjuru.
Memperhatikan sungai es yang terbentang di depan mata, tiba-tiba terlintas satu ingatan di dalam benak Ki Se-kiat, segera pikirnya.
"Mengapa aku tidak memancing hawa dingin sungai es untuk masuk kedalam tubuhku? Kendatipun tidak berhasil mengurangi hawa panas yang membakar isi perutku, paling tidak selama duduk di atas sungai es, hawa panas itu tentu akan berkurang!"
Pemuda ini benar-benar tak kuat menahan diri, sekali lompat dia sudah terjun ke sungai es.
Dengan tenaga pukulan dia membuat sebuah liang salju, kemudian di atas lubang itulah dia duduk bersila.
Kalau gaya To-giok-cwan dalam pelajaran Yoga mengharuskan kepala di bawah dengan kaki di atas, kemudian orang lain yang menyalurkan tenaga dalamnya lewat jalan darah Yong-cwan-hiat pada mata kaki, maka pada saat ini, lantaran tiada bantuan orang lain, anak muda itu telah menggunakan cara pengerahan tenaga dalam yang diajarkan Kui Hoa-seng yang dikombinasikan dengan ilmu Yoga untuk menghisap hawa dingin dari sungai es tersebut lewat jalandarah Yong-cwan-hiat yang menempel di atas permukaan salju.
Dalam waktu singkat hawa panas yang menyengat jauh berkurang.
Tapi selang beberapa saat kemudian, mendadak hawa panas dan dingin saling beradu sendiri di dalam badan, ada kalanya separuh badan bagaikan di dalam gudang es.
Ki See-kiat menahan diri, dan akhirnya semua siksaan tersebut dapat juga teratasi.
Setelah detik paling menyiksa lewat, bagaikan musim dingin lewat, dan musim semi pun tiba Ki See-kiat segera merasakan suatu kenyamanan yang luar biasa.
Rasa nyaman itu luar biasa segarnya dan tak terlukiskan dengan kata-kata, dalam waktu yang singkat Ki See-kiat merasakan hawa segar menyusup ke seluruh badan, hawa muminya secara otomatis berkumpul kembali ke dalam pusar, beredar mengitari badannya dan berjalan normal kembali.
Bagaikan Ti-pat-kay siluman babi makan buah jinsom, delapan laksa empatribu buah pori-pori badannya terasa segar dan nyaman semuanya.
Ternyata tanpa disengaja Ki See-kiat telah menempuh jalan yang benar, ia telah berhasil melebur dua macam tenaga dalam tingkat atas.
Tak sampai setahun, mula-mula dia melatih tenaga dalam aliran Lan-tou-si, kemudian melatih ilmu tenaga dalam dari Kui Hoa-seng.
Dengan dasar kemampuan yang dimilikinya, untuk melatih kedua macam ilmu tingkat atas itu maka kemajuan harus dicapai setahap demi setahap.
Tapi kenyataannya, kemajuan yang dicapai terlampau pesat, ini menyebabkan hawa mumi yang berhasil dilatihnyaitu sukar dikendalikan oleh kekuatan badannya, hal ini mengakibatkan terjadinya peristiwa seperti apa yang dialaminya tadi sewaktu latihan sudah mencapai pada babak yang terakhir.
Keadaan semacam ini ibaratnya bocah yang mengasah pisau, dan bahayanya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Untung saja otaknya cukup cerdas, pada detik-detik terakhir yang amat kritis, terlintas satu ingatan dalam benaknya untuk mempergunakan hawa dingin dari sungai es untuk mengendalikan hawa panas yang menyiksa badan.
Dalam pemikirannya semula, hawa dingin hanya digiring masuk ke dalam badan guna memadamkan hawa panas saja, siapa tahu justru tindakannya itu merupakan suatu tindakan yang paling tepat.
Begitulah, saat itu Ki See-kiat masih belum tahu kalau latihannya telah berhasil diselesaikan secara sempurna, ketika merasakan betapa segarnya sekujur badannya, dia merasa kegirangan setengah mati.
Dalam girangnya itu, dia lantas melompat keluar dari atas lubang es, siapa tahu badannya terasa enteng seperti burung walet, hanya dua kali lompatan saja, ia sudah mencapai permukaan tanah….
Kenyataan ini mengejutkan Ki See-kiat, sesudah tertegun serunya.
"Hei, kenapa aku bisa melompat sejauh ini?"
Dengan gembira dia menari-nari sambil berlompatan, sekujur badannya terasa enteng dan seakan-akan memiliki kekuatan tak ter-hingga yang ingin dilampiaskan dengan sepuas-puasnya.Dalam suatu gerakan yang tak disengaja, telapak tangannya membacok di atas sebuah batu cadas… "Blaaamm!"
Batu itu segera terhajar sampai hancur berkeping-keping.
Mimpi pun Ki See-kiat tidak mengira kalau tenaga dalam yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan, tanpa terasa ia menjadi termangu-mangu.
Selang sesaat kemudian, anak muda itu baru berteriak-teriak sambil melonjak kegirangan.
"Aku telah berhasil! Aku telah berhasil!"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Sayang suhu sudah tiada, aku hanya bisa berdoa untuk mengabarkan berita gembira ini kepadanya."
Terbayang kembali jasa gurunya yang telah membimbingnya menuju kesuksesan, pemuda itu tertunduk kembali dengan sedih.
Sebenarnya Ghasam berharap ia bisa berhasil dengan ilmunya dalam tiga tahun, tapi sejak dia masuk ke tempat itu sampai sekarang, pemuda itu baru melewatkan waktu selama satu setengah tahun saja, tapi keberhasilan telah diraihnya dengan sempurna, maka sekarang sudah barang tentu dia berharap bisa lebih cepat melihat matahari.
Liang salju ini dalamnya mencapai sepuluh kaki dengan ketinggian beberapa ratus depa, empat penjuru berupa dinding karang yang berlapiskan salju, selain licin juga sukar didaki, tapi hal ini tidak menyulitkan dirinya sekarang.
Ketika tiba pada liang salju di mana ia terjatuh untuk pertama kalinya, anak muda itu menarik napas panjang-panjang, lalu dengan mengerahkan ilmu cecak, selangkah demi selangkah dia merangkak naik ke atas.Tiba di atap gua tersebut, dengan sekuat tenaga didorongnya bongkahan batu yang menutupi mulut gua, tapi batu tersebut sama sekali bergeming, selain bunga salju yang berguguran, tiada suatu perubahan apa pun di sana.
Ternyata pintu batu di atas liang salju itu terbuat dari batu alam yang diberi alat rahasia, bilamana tidak memahami cara untuk membuka alat rahasia tersebut, sekalipun memiliki tenaga yang dahsyat pun jangan harap bisa mendorong batu raksasa yang beberapa puluh laksa kati beratnya itu.
Ki See-kiat lantas berpikir.
"Sekalipun kugunakan pedang ini untuk membuat sebuah lubang, entah sampai bulan dan tahun ke berapa, usahaku ini baru berhasil?"
Tanpa terasa dia menghela napas sedih, terusnya.
"Bagaimanapun juga, ada suatu waktu tenaga manusia akan menjadi lemah, sekalipun aku dapat mempelajari semua ilmu peninggalan Kui locianpwe, tapi apa pula hasilnya?"
Masih ada satu cara lagi yang bisa dicoba yakni menunggu sampai sungai es itu mencair kemudian berusaha untuk merenangi sungai es itu menuju ke muara.
Dengan susah payah setengah tahun dapat dilewatkan, ketika musim panas tiba, permukaan sungai es pun mencair, bongkahan-bongkahan salju mulai merekah, lalu terdengarlah suara air yang mengalir.
Dalam setengah tahun ini, tenaga dalamnya dilatih makin kokoh, tenaganya makin besar dan dia pun bisa mempergunakannya menurut perasaan hati sendiri, apalagi jika dikombinasikan dengan jurus-jurus dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, kehebatanya benar-benar luar biasa sekali.Tetapi setelah dicobanya, pemuda itu menjadi sangat kecewa.
Ternyata meski sungai es itu sudah melumer, akan tetapi bongkahan es sama sekali tidak meleleh secara keseluruhan, air tak lebih hanya mengalir melewati sela-sela bongkahan salju yang memecah belaka.
Tentu saja untuk menyingkirkan bongkahan es yang menyumbat jalannya aliran air bukannya tak dapat, cuma membutuhkan waktu yang cukup lama, dan lagi kesulitannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Di samping itu, meski ia telah berhasil melatih ilmu silat tingkat tinggi, bukan berarti ia dapat menahan napas terlampau lama di bawah air, padahal entah berapa panjangnya sungai es itu membentang dalam perut bumi sebelum berhasil menembus ke luar?
Bila ingin membobol es untuk merangkak ke luar.
Pekerjaan ini sama halnya dengan membobol dinding gua, entah sampai bulan dan tahun kapan usahanya itu baru berhasil.
Ki See-kiat menjadi putus asa, pikirnya kemudian.
"Benarkah nasibku memang telah ditakdirkan untuk berakhir dalam liang salju ini?"
Tentu saja dia tak sudi mati tua di dalam liang es itu!
Meski tak dapat keluar, setiap hari anak muda itu tetap melakukan semadinya di mulut masuk liang salju sambil melatih terus kepandaiannya.
Tempat itu merupakan tempat terdekat dengan dunia luar, tanpa terasa pemuda itu pun seringkali melamun.
"Sekarang telah musim panas, bunga dan pepohonan di luar sana tentu tumbuh dengan suburnya. Aaaai… asal akudapat menyaksikan pemandangan di luar sana, sekalipun bunga iblis yang beracun juga tak menjadi soal. Daripada hidup dalam liang salju yang tiada warna-warni, benar-benar amat menyiksa batin!"
Perasaannya ketika itu ibarat perasaan seorang rudin tak beruang yang kebetulan lewat di pintu rumah penjagal, meski tak memperoleh daging tapi perasaannya cukup terhibur.
Siapa sangka… suaru hari, ketika ia sedang duduk termenung sambil melamun ke sana kemari, mendadak ia menangkap seperti ada suara orang sedang berbicara di atas situ.
Sejak suhu-nya meninggal, sudah hampir setahun lamanya Ki See-kiat tak pernah mendengar suara orang berbicara.
Tak terlukiskan rasa girangnya sekarang, sampai-sampai jantungnya turut berdebar karenanya.
Buru-buru dia menenangkan pikiran dan menempelkan telinganya di dinding gua sambil mendengarkan dengan seksama.
Sekarang tenaga dalam tingkat atas telah berhasil dimiliki, ketajaman pendengarannya juga melebihi orang lain, sekalipun tebing es itu belasan kaki tingginya, pembicaraan yang sedang berlangsung di atas dapat didengar olehnya dengan sangat jelas.
"Menurut cerita keadaan pada hari itu, tidak mungkin bukan kalau sute-ku sampai tewas di ujung pedang budak ingusan itu?"
Seorang dengan suara yang serak-serak tua sedang bertanya kepada rekannya. Tergerak hati Ki See-kiat setelah mendengar ucapan itu, segera pikirnya kemudian.
"Mungkinkah budak yang dimaksudkan orang itu adalah Leng Ping-ji…?"
Ketika pertama kali mendengar suara pembicaraan itu, hampir saja dia hendak berteriak keras, tapi setelah mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan, niat itu segera diurungkan kembali.
Musuh Telah Tiba "Aah…!
Tak kusangka musuh yang telah datang,"
Demikian pemuda itu berpikir kemudian.
"Tapi sekalipun bukan musuh, belum tentu ia bisa menolongku keluar dari sini, apa gunanya aku mengajaknya berbicara?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, terdengar seseorang yang lain telah menjawab pertanyaan dari rekannya.
"Benar, hari itu sute-mu kabur paling duluan. Ia lari amat cepat, sekalipun terluka juga tak bakal parah. Cuma kemudian setelah aku dan Lian lotoa turut kabur karena terluka, kami tidak berhasil menemukan jejak sute-mu lagi."
Ki See-kiat merasa suara itu amat dikenalnya, belum sampai orang itu menyelesaikan kata-katanya, ia telah bisa menebak siapa gerangan orang itu.
Ternyata orang itu bukan lain adalah lelaki bersenjata kaitan berkepala macan yang pernah bertarung dengannya, yang kemudian diketahui bernama To Kian-kong itu.
"Sudah pasti yang seorang lagi adalah Satou, kakak seperguruan Sacam, ketika ditunggunya dua tahun kemudian sute-nya belum pulang juga, tentunya dia lantas mencari To Kian-kong untuk menemaninya datang ke Kota Iblis dan men-cari jejaknya. Aaaai… kasihan betul, mana ia sangka kalau sute-nya sudah terkubur di dasar sungai es?"
Ki See-kiat pernah merasakan bagaimana menderitanya menemukan sanak yang hilang, sehingga tanpa terasa ia menaruh sedikit rasa simpati terhadap kakak seperguruan Sacam ini.
Apa yang diduga Ki See-kiat ternyata memang benar, betul juga, segera terdengar suara Satou berkata lagi.
"Kalau toh dia belum mati, kenapa sampai kini belum pulang? Atau hai ini disebabkan satu kemungkinan lain, yakni ia tidak kabur ke bawah bukit waktu itu, melainkan menyembunyikan diri dalam Kota Iblis ini…?"
"Aku pun berpendapat demikian,"
Kata To Kian-kong.
"Kalau tidak, hari itu dia kabur lebih dulu, semestinya dia sudah menunggu kami di kaki bukit sana."
"Kau tahu, kenapa dia kembali ke dalam Kota Iblis?"
"Soal ini… soal ini… aku tak berani sembarangan menebak,"
Jawab To Kian-kong tergagap.
"Taysu, kau adalah suheng-nya, kalau kau saja tak dapat menebaknya, mana aku bisa?"
Sebetulnya Satou ingin memancing keterangan dari lelaki tersebut, dia ingin tahu sampai sejauh manakah dia mengetahui rahasia tentang "ilmu silat sakti untuk mereka yang berjodoh"
Itu. Tapi, setelah mendengar jawaban tersebut, diam-diam ia lantas menyumpah.
"Sialan, manusia licik, aku mau menyelidiki dirimu, sekarang kau malah berganti akan menyelidiki diriku."
Berpikir sampai di sana, dia pun lantas bertanya kembali.
"Bukankah kalian bersama dirinya pernah tinggal selama dua malam di dalam pagoda berstupa putih ini?"
"Betul, taysu, mengapa kau tanyakan soal ini? Apa maksudmu?"
Satou segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh… haahh… haahh… kita sama-sama tak perlu bicara bohong, sekalipun sute tidak memberitahukan kepadaku, tapi aku pun tahu kalau keberangkatannya bersama kalian tempo hari adalah bertujuan untuk mengungkap rahasia ilmu silat peninggalan Kui Hoa-seng."
"Ya, jika taysu memang sudah tahu, aku pun tak akan merahasiakannya lagi,"
Sahut To Kian-kong kemudian.
"Betul, tempo hari kami memang memberanikan diri mendatangi Kota Iblis dengan harapan bisa menemukan benda itu, cuma sayangnya kami rak menemukan apa-apa, mungkin dongeng itu hanya cerita isapan jempol belaka."
"Aku lihat belum tentu begitu."
Diam-diam To Kian-kong menjadi sangat girang.
"Nah, bagaimanapun juga, akhirnya berhasil juga kudapatkan sedikit keterangan."
Di luar dia berlagak seakan-akan tidak memahami maksudnya, kembali dia mendesak.
"Kenapa kau bilang belum temu?"
"Cerita dongeng itu belum tentu hanya isapan jempol belaka, menurut pendapatku, justru kemungkinan benarnya amat besar."
"Taysu. dari mana kau bisa tahu kalau cerita itu kemungkinan besar benar?"
Buru-buru To Kian-kong mendesak lebih jauh.
"Aku tidak maksudkan cerita itu sudah pasti benar. Aku tak lebih hanya menduga begitu."
"Atas dasar apa taysu bisa menduga begitu?"
"Aku cukup memahami watak sute-ku. bukan aku sengaja mengata-ngatai sute-ku itu, tapi penyakitnya yang terutama adalah serakah dan mencari keuntungan sendiri, selama hidupnya dia sudah terbiasa memperalat orang lain, tapi tak pernah membiarkan orang lain memperoleh sedikit kebaikan pun darinya."
Sesungguhnya To Kian-kong telah menaruh curiga sampai ke situ, kini, setelah diungkap Satou, tanpa terasa dia pun berseru dengan penuh rasa mendongkol.
"Kalau begitu, sudah pasti sute-mu berhasil menemukan sesuatu rahasia di tempat ini, tapi sengaja mengelabui kami ketika itu. Tak heran sewaktu kami bersamanya kalah di ujung pedang budak tersebut, dia kabur duluan dan kami tak berhasil menemukannya. Sudah ia menggunakan kesempatan itu un-tuk memisahkan diri dengan kami."
"Betul dugaanmu itu persis seperti apa yang kuduga. Sute-ku masih mempunyai suatu ciri lagi, yakni dia enggan melakukan suatu perbuatan yang belum diyakininya apalagi pekerjaan yang terlalu menyerempet bahaya besar…."
"Betul, kalau dilihat dari situasinya waktu itu, Ki See-kiat si bocah keparat itu juga telah tcrluka, setelah melarikan diri, Leng Ping-ji, si budak itu besar kemungkinan akan menemani bocah keparat itu untuk merawat lukanya dalam Kota Iblis. Seandainya sute-mu tidak mempunyai suatu rencana yang meyakinkan, tak nanti dia akan menyerempet bahaya dengan menyembunyikan diri di depan mata budak tersebut. Ehmm… kalau ditinjau dari keadaan ini, besar kemungkinannya kalau sute-mu itu telah berhasil menemukan pusaka ilmu silat peninggalan. Kui Hoa-seng seperti apa yang sering tersiar dalam dunia persilatan selama ini."
"Soal ini sulit untuk dikatakan, menurut pendapatku masih ada dua kemungkinan lain."
"Dua kemungkinan yang mana?"
"Kemungkinan pertama adalah seperti apa yang kau katakan tadi, ia telah berhasil menemukan pusaka ilmu silat tersebut. Tapi dalam keadaan seperti itu, masih ada dua kemungkinan lagi, kemungkinan pertama adalah dia telah menyembunyikan diri di suatu tempat yang terpencil setelah berhasil menemukan pusaka itu. Atau kemungkinan lain, meski dia telah menemukan pusaka ilmu silat tersebut, tapi dia sendiri tewas di dalam Kota Iblis."
"Atas dasar apa kau menduga kalau dia telah tewas di sini?"
"Aku hanya memikirkan dari hal-hal yang paling jelek saja. Coba bayangkan saja, andaikata tiada marabahaya yang merintangi untuk memperoleh kitab pusaka itu, mengapa selama seratus tahun belakangan ini tak pernah ada yang ber-hasil menemukan pusaka tersebut? Padahal tak sedikit jagoan yang berilmu tinggi serta manusia-manusia cerdik pandai yang berkunjung kemari? Kenapa pusaka itu baru ditemukan pada gilirannya?"
To Kian-kong segera manggut-manggut membenarkan, katanya kemudian.
"Kau telah mengungkapkan dua kemungkinan yang pertama, bagaimana pula dengan ke-mungkinan yang kedua?"
"Kemungkinan kedua adalah sebelum ia berhasil menemukan pusaka ilmu silat tersebut, ia sudah keburu dibunuh oleh Leng Ping-ji budak ingusan itu. Bahkan aku merasa, kemungkinan ini jauh lebih besar daripada kemungkinan yang pertama."
"Aah… seandainya betul demikian, keadaannya kan tambah berabe?"
Teriak To Kian-kong kaget.
"Siapa tahu kalau kitab pusaka itu sudah terjatuh ke tangan budak tersebut?"
Satou segera menghela napas panjang.
"Aaaai… yang paling kukhawatirkan justru adalah hal ini,"
Katanya.
"andaikata benar-benar sampai begitu, ya, sekalipun bukan disebabkan kitab pusaka ilmu silat itu, aku juga akan membalaskan dendam bagi kematian sute-ku."
"Meski ilmu pedang yang dimiliki budak itu sangat lihay, dengan kepandaian yang taysu miliki, aku percaya kau tak akan keok di tangannya. Andaikata kau tidak keberatan, aku pun bersedia membantu usahamu itu. Kita cari Lian lotoa dan bersama-sama menghadapinya! Menurut apa yang kuketahui, budak itu sedang mencari jejak Nyo Yan. kita tak perlu membuat perhitungan dengan mendatangi bukit Thian-san, asal kita bunuh budak itu secara menggelap, pihak Thian-san-pay tak akan mengira kalau pembunuhan tersebut kita yang melakukan."
Satou segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa getir.
"Sayang kau cuma tahu satu, tak tahu dua!"
"Apa itu yang kedua?"
"Tiga bulan berselang, Teng Keng-thian ketua dari Thian-san-pay telah wafat, sekarang jabatan ketua partai telah digantikan oleh Teng Ka-gwan, putra Teng Keng thian."
"Apa sangkut pautnya antara peristiwa itu dengan usaha kita untuk membuat perhitungan dengan budak tersebut?"
"Hubungannya besar sekali. Sebelum meninggal dunia. Teng Keng-thian telah mewariskan pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam kepada Leng Ping-ji."
To Kian-kong terperanjat sekali setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.
"Pedang mestika Peng-pok-han-kong-kiam yang kau maksudkan itu apakah Pedang Inti Es yang dibuat istri Kui Hoa-seng dari inti es dalam liang salju tempo dulu? Konon bila pedang Peng-pok-han-kong-kiam tersebut diloloskan dari sarungnya, maka hawa dingin yang terpancar keluar dari tubuh pedang itu pun sudah sukar ditahan. Istri Kui Hoa-seng mewariskan pedang itu kepada putrinya Peng-coan-thian-li. dengan mengandalkan pedang itu Peng-coan-thian-li juga pernah mengalahkan banyak jago lihay di dalam dunia persilatan, konon cuma suaminya Teng Keng-thian seorang yang tak sampai dikalahkan oleh pedang Peng-pok-han-kong-kiam itu. Karena peristiwa itulah akhirnya mereka menikah dan menjadi suami istri…."
"Luas benar pengetahuanmu,"
Ujar Satou sambil tertawa getir.
"Betul, pedang yang diperoleh Leng Ping-ji adalah pedang mestika tersebut. Seandainya satu lawan satu dengan mengandalkan kepandaian asli, tentu saja aku tak bakal takut kepadanya. Tapi sekarang…."
"Aaai, dia telah memperoleh pedang mestika tersebut, sekalipun kita bertiga turun tangan bersama pun belum tentu sanggup menandinginya."
"Kenapa Teng Keng-thian tidak mewariskan pedang mestika milik istrinya kepada orang lain, tapi justru kepadanya?"
"Mana aku tahu? Siapa tahu kalau lantaran putra dan menantunya tidak membutuhkan pedang mestika itu? Cuma aku masih tahu akan satu hal, budak tersebut adalah muridnya istri Teng Ka-gwan, dari antara orang-orang Thian-san-pay, juga hanya Teng hujin seorang yang mengerti ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, setelah itu budak itu memperoleh ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat tersebut darinya"
Betapa girang dan sedihnya setelah Ki See-kiat tanpa sengaja memperoleh kabar tentang Leng Ping-ji, pikirnya.
"Ternyata Thian memang mengabulkan permintaan orang, Leng lihiap telah mendapatkan pedang mestika tersebut. Cuma, menurut penuturan suhu, walaupun istri Teng Keng-thian adalah putri Kui Hoa-seng, namun dia sendiri pun tidak memperoleh warisan lengkap ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat tersebut apalagi anak menantunya Sayang tak tahu sampai kapan aku baru bisa keluar dari tempat ini, kalau tidak, pasti akan kuhadiahkan ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat yang berhasil kupahami itu sebagai tanda rasa terima kasihku kepadanya."
Sementara itu, To Kian-kong telah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Taysu tak usah khawatir, sekalipun budak itu berhasil mempelajari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat, belum tentu dia menjadi jagoan yang tiada tandingannya di dunia ini."
"Sudah barang tentu dia tak akan menjadi jagoan yang tiada tandingannya di dunia ini, tapi kau maupun aku masih belum mampu untuk menghadapinya."
"Sekalipun kita belum mampu menghadapinya, tapi untuk mencari seorang yang sanggup untuk menghadapinya, aku rasa bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit."
Agaknya Satou dapat menangkap di balik ucapan itu masih ada ucapan lain, segera tanyanya.
"Siapakah orang yang berada dalam pandanganmu itu? Bersediakah orang itu membantu kita tanpa sebab musabab?"
"Dengan orang ini sedikit banyak aku masih punya hubungan, bila menguntungkan dirinya, aku rasa kita masih dapat mengundang kehadirannya…."
"Keuntungan apa yang dia inginkan?"
"Aku tidak menanyakan soal ini kepadanya, dari mana aku bisa tahu? Cuma menurut pendapatku yang rendah, dia memiliki kemampuan untuk menghadapi Leng Ping-ji, sudah barang tentu balas jasa biasa tak akan dia pikirkan di dalam hati."
"Lantas menurut pandanganmu, balas jasa apakah yang pantas untuk diberikan kepadanya?"
"Misalnya saja bila kita berhasil memperoleh kitab pusaka peninggalan Kui Hoa-seng, kemudian kita bagikan ‘kebaikan* itu kepadanya aku yakin dia pasti akan bersedia untuk membantu usaha kita."
Satou segera tertawa getir.
"Seandainya kita berhasil mendapatkan kitab pusaka itu. tiga-lima tahun kemudian kepandaian yang kita miliki sudah cukup untuk menghadapi budak tersebut, kenapa mesti meminta bantuan orang lain’"
"Benar, makanya tindakan yang harus kita lakukan dengan segera adalah menyelidiki dahulu jejak dari sute-mu. Apakah ia terbunuh oleh budak itu ataukah bersembunyi setelah mendapatkan kitab pusaka ilmu Silat itu? Sekarang tak usah kita pikirkan yang bukan-bukan lebih dulu. Apalagi membicarakan soal mencari orang untuk membalaskan dendam, apakah ucapan ini tidak terlampau awal?"
Mendengar ucapan orang itu, Satou lantas berpikir.
"Bangsat ini betul-betul sangat licik, dia enggan menyebutnama orang itu tapi selalu berusaha untuk memancing rahasiaku. Baik kenapa tidak kugunakan siasat lawan siasat untuk memper-alat dirinya? Cuma, aku pun tak boleh bertindak terlampau tergesa-gesa, lebih baik kuajak dia mem-bicarakan soal-soal yang lain lebih dulu daripada menimbulkan kecurigaan di dalam hatinya."
Begitulah, setelah beberapa saat lamanya, tiba-tiba Satou berkata lagi.
"Aku mempunyai suatu masalah yang tak dapat kupahami, dapatkah kau membantuku untuk memecahkan masalah tersebut?"
"Masalah apa?"
"Bukankah kau pernah bilang, kejadian itu berlangsung gara-gara seorang bocah keparat yang bernama Ki See-kiat? Bagaimana ceritanya sehingga bocah keparat itu bisa sampai di Kota Iblis?"
"Sebenarnya kau atau Lian Kan-pei yang mempunyai ikatan dendam dengan bocah keparat ini? Menurut apa yang diketahui, sute-ku tak pernah berhubungan apalagi bermusuh-an dengan keluarga Ki."
To Kian-kong segera tertawa.
"Sebelum peristiwa itu terjadi, jangankan bersua muka, mendengar namanya pun tidak. Menurut apa yang kuketahui, sekalipun Lian lo-toa mengetahui asal-usul dari bocah keparat ini, sebelum dia menyaru sebagai seorang pemandu jalan, belum pernah ia bertemu dengan bocah keparat itu."
"Yang tidak kupahami justru hal ini, kalau toh tujuan kedatangan kalian adalah mencari kitab pusaka peninggalan Kui Hoa-seng, seharusnya makin sedikit orang yang mengetahui tentang kitab pusaka itu semakin baik. Kalau memang bocah keparat itu tiada dendam sakit hati apa-apadengan kalian, mengapa pula kalian mesti memancing keha-dirannya di Kota Iblis untuk dibunuh?"
Persoalan ini merupakan persoalan yang sampai kini membingungkan Ki See-kiat, dari dulu sampai sekarang ia masih dibikin tak habis mengerti.
Maka tanpa terasa pemuda itu lantas memasang telinga baik-baik dan mendengarkannya dengan seksama.
Terdengar To Kian-kong berkata.
"Tak menjadi soal bila taysu ingin mengetahui rahasia ini. Terus terang saja, kami bermaksud mencelakai bocah keparat ini bukan dikarenakan kami ada dendam dengan dia, tapi karena mendapat pesan dari orang lain."
"Kenapa orang itu hendak mencelakai Ki See-kiat?"
"Taysu, tentunya kau juga tahu bukan tentang asal-usul dari Ki See-kiat si bocah keparat itu?"
"Aku tahu dia adalah keturunan dari keluarga persilatan di daratan Tionggoan. Yaya-nya bernama Su-hay-yu-liong (Naga Sakti dari Empat Penjuru) Ki Kian-yap, sedang ibunya adalah Lak-jiu Koan-im (Koan-im Bertangan Keji) Nyo toakoh."
"Betul, tapi masih ada suatu hubungan keluarga yang mungkin tidak diketahui taysu. Murid partai Thian-san-pay yang hilang Nyo Yan adalah putra seorang busu kenamaan dari kota Giciu yang bernama Nyo Bok, sedang Nyo Bok adalah adik kandung Lak-jiu Koan-im Nyo toakoh. Adapun kedatangan Ki See-kiat ke Tibet kali ini tak lain adalah untuk mencari jejak adik misannya Nyo Yan."
"Tapi apa hubungannya antara persoalan ini dengan kalian?"
"Dengan kami memang tak ada sangkut pautnya, tapi dengan orang itu besar sekali sangkut pautnya. Justru karena orang itu tidak berharap Ki See-kiat berhasil menemukan Nyo Yan, maka dia ingin bocah keparat itu dicelakai."
"Aaah, aku mengerti sekarang,"
Seru Satou seperti menyadari akan sesuatu.
"bukankah orang yang menyuruh kalian membunuh Ki See-kiat adalah Toan Kiam-ceng?"
"Betul!"
Jawab To Kian-kong sambil tertawa.
"orang yang kumaksud sebagai manusia yang dapat menghadapi Leng Ping-ji tadi pun tak lain adalah Toan Kiam-ceng."
Satou menjadi paham, demikian pula dengan Ki See-kiat.
Segera pikirnya kemudian, ‘Ternyata orang yang ingin mencelakai diriku adalah Toan Kiam-ceng si bocah keparat itu, tajam betul pendengarannya, baru saja aku tiba di Tibet, dia sudah tahu.
Entah bersembunyi di manakah bocah keparat itu…?"
Setelah api amarahnya mereda, timbul kecurigaan dalam hati kecilnya, ia berpikir lebih jauh.
"Tapi kalau kudengar dari pembicaraan suhu dua tahun berselang, katanya ilmu silat yang dimiliki bocah keparat itu sudah jauh di atas kemampu-anku, mengapa ia harus menyuruh orang untuk datang membunuhku?"
Rupanya kecurigaan tersebut juga merupakan kecurigaan bagi Satou, terdengar pendeta itu bertanya.
"Kalau toh Toan Kiam-ceng sanggup menghadapi Leng Ping-ji, sudah barang tentu Ki See-kiat si bocah keparat itu tidak berada dalam pandangannya, kenapa ia tidak turun tangan sendiri?"
"Soal ini aku kurang tahu, Lian lotoa yang menerima tugas ini."
"Masa Lian Kan-pei tidak membocorkan sesuatu kepadamu?"
"Menurut Lian lotoa, agaknya Toan Kiam-ceng merasa jeri terhadap sesuatu sehingga untuk sementara waktu dia tak ingin menampakkan diri di dalam dunia persilatan. Cuma, ini pun menurut dugaannya saja. Apa alasan yang sebetulnya, mungkin hanya Toan Kiam-ceng seorang yang tahu."
Yang paling ingin diketahui oleh Ki See-kiat adalah jejak Nyo Yan, tapi berbicara pulang pergi, To Kian-kong tak pernah menyinggung soal Nyo Yan. Diam-diam pemuda itu lantas berpikir.
"Sejak adik misan hilang tempo hari, pihak Thian-san-pay sendiri pun tidak mengetahui dengan jelas terjatuh ke tangan siapakah bocah itu. Mungkin saja ia dilarikan Toan Kiam-ceng, mungkin juga ditangkap pasukan pemerintah. Cuma kalau dilihat dari ketidak-beranian Toan Kiam-ceng untuk turun tangan sendiri membunuh, bisa diketahui kalau besar kemungkinannya adik Yan sudah terjatuh ketangannya."
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, terdengar To Kian-kong berkata lebih lanjut.
"Oleh karena Lian lotoa khawatir tak mampu menghadapi Ki See-kiat si bocah keparat itu seorang diri, maka dia mencari aku untuk mem-bantunya Kebetulan sekali sute-mu juga datang mencari kami berdua untuk menyelidiki Kota Iblis, maka Lian lotoa pun lantas menggunakan akalnya untuk memancing kedatangan Ki See-kiat ke tepi Kota Iblis, mula-mula membiarkan dia kera-cunan dulu oleh bunga iblis, kemudian kami bertiga baru menghadapinya bersama. Siapa tahu manusia ada kemauan Thian punya kuasa, baru saja kami akan berhasil membekuk Ki See-kiat si bocah keparat itu, tahu-tahu Leng Ping-ji si budak ingusan itu memunculkan diri di situ."
"Apakah sute-ku tahu kalau orang yang memberi tugas adalah Toan Kiam-ceng?"
Tiba-tiba Satou bertanya. To Kian-kong segera berpikir.
"Kalau toh dia bisa mengajukan pertanyaan tersebut, berarti sekalipun tidak kuberitahukan kepadanya, sudah pasti dia pun dapat mema-hami alasannya."
Maka dengan jujur sahutnya.
"Dia tidak tahu!"
"Mengapa tidak memberitahukan kepadanya?"
"Ide ini pun muncul dari benak Lian lotoa Perkenalan antara sute-mu dengan Toan Kiam-ceng jauh sebelum dia, soal ini Lian lotoa juga mengetahuinya"
"Haahh… haahh… haahh… aku mengerti sekarang,"
Kata Satou sambil tertawa tergelak.
"Sekalipun kalian mencari sute-ku untuk diajak berkomplot, namun masih tidak berlega hati. Sebab kalian khawatir bila ia sudah mengetahui kabar tentang Toan Kiam-ceng, mungkin dia akan meninggalkan kalian."
To Kian-kong kembali tertawa.
"Tidak aneh jika Lian lotoa mengkhawatirkan soal ini. Toh kenyataannya sekarang menunjukkan kalau sute-mu telah meninggalkan kami berdua?"
Di mulut dia berkata demikian, dalam hati diam-diam merasa geli, pikirnya.
"Kau hanya berhasil menebak separuh saja alasan Lian lotoa mengapa sampai dia mengelabui sute-mu."
"Benarkah ia berhasil menemukan kitab pusaka ilmu silat dan menyembunyikan diri, sampai sekarang belum bisa kita pastikan,"
Kata Satou kemudian.
"tapi setelah sampai di sini, sedikit atau banyak, itu kita harus berusaha mencari akaluntuk membongkar masalah ini sehingga duduk persoalan menjadi terang."
To Kian-kong sengaja menghela napas panjang.
"Aaai… kita telah berusaha dengan sepenuh tenaga, akal apa lagi yang dapat kita pergunakan?"
"Siapa tahu di sini masih terdapat tempat rahasia lain yang belum sempat kita temukan?"
"Setiap sudut dan setiap penjuru Kota Iblis sudah kita periksa, atap stupa juga telah kita periksa, tempat rahasia mana lagi yang lolos dari incaran mata kita? Kecuali kalau semua bangunan stupa ini kita bongkar."
"Betul, siapa tahu kalau mestika itu tertanam di dalam tanah?"
Sambung Satou sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Wah, kita harus membuang berapa banyak tenaga dan pikiran untuk bisa menggalinya?"
"Siapa tahu kita bernasib mujur dan tanpa sengaja berbasil menemukan ruang rahasia di bawah tanah?"
Tergerak hati Ki See-kiat yang berada di bawah liang es setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Jangan-jangan dia sudah mengetahui cara untuk membuka pintu rahasia tersebut, tapi belum tahu kalau di dasar sini adalah sebuah liang salju…?"
Sementara itu, To Kian-kong yang berada di atas pun merasakan hatinya tergerak, buru-buru ujarnya.
Baca Juga: Kedele Maut 3
Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 5