Eps 14 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
"Kau sudah hidup setua ini, kenapa bertambah bodoh. Siapa suruh kau membawa serigala ke dalam rumah, berbuat salah terhadap panglima kami? Atas perintah jenderal, kami harus membekuk engkau. Kuharap kau ikut kami pulang saja, kalau bentrok memang kurang enak, mungkin kau akan lebih menderita."
Beng Hoa bersuara heran, katanya.
"Kedua orang itu adalah Thio Hwe-seng dan Sun To-hing. Aneh, kenapa mereka mengejar dan mau menangkap Tiong Bok-jong malah?"
Seperti diketahui, Cui Po-san kehilangan istri, tak berhasil membekuk Toan Kiam-ceng, maka amarah dan penasarannya dia jatuhkan ke Tiong Bok-jong, karena pengemis tua inilah yang membawa Toan Kiam-ceng.
Saking murka dia memerintahkan menangkap Tiong Bok-jong dan menyuruh penggal kepalanya.
Syukur Tiong Bok-jong sudah mendapat kisikan !dari orang lain, sebelum tertangkap, malam itu juga dia melarikan diri, namun dia dicegat pasukan berkuda, badannya terluka di beberapa tempat.
Kini dia dikejar oleh Thio Hwe-seng dan Sun To-hing, dia tahu betapa tinggi kepandaian kedua orang ini, umpama dirinya belum terluka juga bukan tandingan kedua orang ini.
Maka dia mengertak gigi, serunya.
"Jangan terlalu mendesak orang, jelek-jelek aku ini punya nama juga, aku tak sudi mati di tangan anak buah Cui Posan, biarlah aku menghabisi jiwaku sendiri."
Tan Khu-seng kaget, katanya.
"Pandanglah muka kedua suhengnya, Lo-thio lek^as kau menolongnya."
Sayang sekali, meski Kwi-hwe-thio adalah pelari cepat nomor satu di seluruh dunia tapi tak sempat menolong Tiong Bok-jong dari jarak yang begitu jauh.
Setelah bilang "menghabisi jiwaku sendiri", Tiong Bok-jong lantas terjun dari atas ngarai ke dalam jurang.
Saat itu kebetulan Kwi-hwethio baru tiba di mulut lembah.
Syukurlah terjadi peristiwa di luar dugaan, dari bawah jurang mendadak melompat keluar seorang pengemis tua.
Tiong Bok-jong yakin dirinya pasti terbanting mampus dengan badan remuk, tapi waktu dia membuka mata ternyata dirinya berada dalam pelukan seorang pengemis tua yang wajahnya masih amat dikenalnya.
Pengemis tua ini sedang merebahkan dirinya sambil membungkukkan tubuh memeriksa keadaannya, wajah yang welas asih tampak berkeringat, sikapnya tampak gugup dan khawatir, sikapnya seperti seseorang yang mengunjungi familinya yang sakit parah, maka terunjuk betapa besar perhatiannya.
Tergetar perasaan Tiong Bok-jong, dia masih kenal pengemis tua ini.
Dia bukan lain adalah toa-suheng-nya Siau Ih-can yang sudah berpisah hampir empatpuluh tahun lamanya.
Sungguh mimpi pun tak pernah terbayang olehnya dalam keadaan begini dirinya akan bertemu dengan sang toa-suheng, malah toa-suheng itu pula yang menolong jiwanya.
Sesaat dia melongo, baru sekarang dia betul-betul meresapi perasaan sesal kemudian tak berguna.
Jiwa memang selamat, namun bila ada lubang angin ingin rasanya dia menyembunyikan diri.
Thio Hwe-seng dan Sun To-hing juga sudah melompat turun dan memburu datang.
Sun To-hing adalah jago kosen dariToa-seng-bun, memanjat lereng gunung adalah kemahirannya, maka dia melompat turun lebih dulu.
"Sute,"
Kata Siau Ih-can.
"kau istirahatlah. Kedua cakar alap-alap ini biar aku yang membereskan."
Dengan langkah enteng dia maju. Mendengar pengemis tua ini memanggil "Sute", Sun To-hing amat kaget, katanya.
"Kau ini Koan-pang-cu dari Kaypang atau Siau tianglo?"
"Losiu Siau Ih-can,"
Ujar Siau Ih-can kalem.
"Komohon kalian membebaskan sute-ku."
"Sejak lama dia bukan murid Kaypang lagi, untuk apa kau melindunginya?"
Bentak Sun To-hing gusar.
"Jelek-jelek dia tetap sute-ku, aku sudah mendapat ijin dari pangcu untuk menyambutnya pulang,"
Demikian kata Siau Ih-can.
"Bagus, kau boleh membawanya pulang asal kau mampu,"
Sun To-hing bicara dengan ramah, tapi waktu mengucap "asal kau mampu"
Perkataannya dipercepat dan keras.
Semula dia bicara ramah supaya Siau Ih-can tidak siaga karena menyangka dia tidak menarik panjang urusan.
Mendadak dia menubruk sambil melayangkan tinjunya memukul muka tiga kali.
Tiga jurus tinjunya membarengi tiga patah katanya yang terakhir.
Tiga jurus serangan tinju ini merupakan jurus dari Ilmu Kera-nya yang lincah dan tangkas, latihannya sudah sempurna, hingga susah diraba sasaran yang diincar.
Dia yakin satu dari tiga serangan tinjunya pasti dapat memukul roboh Siau Ih-can.
Tak nyana dua pukulan luput, pukulan ketiga baru dilontarkan seketika dia merasakan pergelangan tangannya kesemutan.
Ternyata tinjunya tertangkap oleh Siau Ih-can.
Siau Ih-can menjengek dingin.
"Kepandaian khusus yang lain pengemis tua ini tidak mahir, tapi kepandaian menangkap ular membekuk anjing adalah kcahlianku."
Ternyata gaya tangkapannya adalah gerakan menangkap ular yang khusus menangkap leher ular.
Pada saat itulah, diam-diam Thio Hwe-seng sudah menyelinap ke belakangnya Mendadak dia melompat keluar dari belakang batu terus menusuk punggung orang dengan pedang.
Tiong Bok-jong menjadi gugup, bentaknya "Awas suheng, sergapan belakang."
Siau Ih-can menggentak lengan melempar tubuh Sun To-hing, sigap sekali membalikkan tubuh menggenjot ke belakang.
Thio Hwe-seng adalah ahli waris Sam-jay-kiam, jurus Sam-hoakik-ting adalah jurus perguruannya yang paling ganas, satu jurus tiga gerakan, masing-masing menusuk tiga sasaran atas, tengah dan bawah punggung Siau Ih-can.
Tak nyana genjotan Siau Ih-can ternyata amat dahsyat.
Delapan dim sebelum mengenai tubuh lawan ujung pedangnya sudah terbendung oleh tenaga dahsyat hingga serong ke pinggir, tanpa Kuasa tubuhnya pun terlempar.
Tiong Bok-jong yang menonton di atas tanah sungguh terkejut dan girang, juga menyesal.
Tanpa sadar dia berseru memuji.
"Suheng, hebat benar pukulan Gun-goan-it-ou-kang."
Seperti diketahui, Gun-goan-it-ou-kang adalah salah satu ilmu sakti dari Kaypang.
Ayah Tiong Bok-jong yaitu Tiong Tiang-jong yang dahulu menjabat Kaypang pangcu, semasa hidupnya menggetarkan Bulim dengan Gun-goan-it-ou-kang.
Sejak meninggalkan Kaypang, selama empatpuluh tahun ini, diam-diam Tiong Bok-jong juga memperdalam ilmu yang satu ini.
Dia mengira dirinya sudah mewarisi ilmu keluarganya, dalam dunia ini mungkin hanya^ dirinya saja yang paling mahir dan tinggi kemampuannya.
Siapa tahu setelah menyaksikan permainan sang suheng, baru dia menyadari kekerdilan pandangan dan pendapat sendiri, jelas dirinya masih terpaut jauh dibanding kemampuan suheng-nya tadi.
Pada saat itulah, berkumandang derap kuda yang dibedal kencang.
Seorang penunggang kuda muncul dari mulut lembah yang lain.
Waktu itu Thio Hwe-seng sedang melayang jatuh.
Penunggang kuda ini adalah seorang perwira berusia setengah umur, kebetulan dia menyongsong badan Thio Hwe-seng yang melayang ke arahnya serta menyambut tubuhnya.
Tapi bukan disambut lalu diturunkan, tapi dia menjotos punggung orang malah.
Di tengah udara tubuh Thio Hwe-seng berputar arah, setelah berputar setengah lingkaran, melesat miring ke sana Tapi tubuhnya seperti dijinjing orang lalu diturunkan perlahan, waktu kedua kakinya menyentuh tanah sedikit pun dia tidak terluka, tubuh pun berdiri tegak.
Ternyata orang itu memukul dengan tenaga memunahkan tenaga, pukulannya dilontarkan dalam arah yang berlawanan, memunahkan pukulan Siau Ih-can yang dahsyat itu.
Kungfunya menggunakan tenaga memunahkan tenaga memang luar biasa, mau tidak mau Siau Ih-can tercekat hatinya, pikirnya.
"Di dalam pasukan kerajaan ternyata juga ada jago sekosen ini."
Sun To-hing dan Thio Hwe-seng sama-sama terluka, meski tidak membahayakan jiwa tapi luka mereka tidak ringan.
Setelah lolos dari lubang jarum, mereka tidak berani bertempur lagi, seperti berlomba saja mereka naik kuda terus melarikan diri.
Perwira yang baru datang melompat turun dari punggung kuda serta maju mendekat.
Dengan melirik angkuh dia memandang Siau Ih-can, katanya.
"Bagus, biar aku mencoba Gun-goan-it-ou-kang Kaypang, apa betul-betul hebat."
"Biang"
Begitu sepasang tangan beradu, perwira itu hanya tergeliat saja, sebaliknya Siau Ih-can menyurut mundur tiga langkah baru berdiri tegak. Siau Ih-can menghela napas.
"Aku memang sudah lanjut usia, pukulanku tidak sedahsyat waktu muda dulu."
Siau Ih-can menyesali dirinya yang sudah lanjut usia, padahal perwira ini juga amat kaget, batinnya.
"Usianya sudah lanjut, aku hanya mampu memunahkan tiga bagian pukulannya saja, kalau pertempuran dilanjutkan belum tentu aku dapat mengalahkan dia."
Kungfu dengan tenaga memunahkan tenaga perwira ini diperoleh dari seorang aneh yang tak diketahui asal-usulnya.
Selama hidup dia amat membanggakan kepandaiannya ini, dia beranggapan latihannya dalam kungfu yang satu ini sudah mencapai taraf tertinggi, sudah sempurna.
Tak nyana hari ini bentrok dengan Gungoan-it-ou-kang Siang Ih-can tubuhnya masih tergeliat, baru dia sadar bahwa ilmu yang diyakinkan sebetulnya belum dapat dibanggakan, pandangannya cupat seperti katak dalam tempurung.
Pada saat itulah Kwi-hwe-thio dan Tan Khu-seng sudah memburu datang.
Tan Khu-seng berteriak.
"Siau-locianpwe, kau sudah membereskan dua cakar alap-alap, yang satu ini serahkan kepadaku."
Sembari bicara dia meraih sebutir batu sebesar kelereng, dengan dua jarinya dia menjentik batu itu.
Dalam jarak seratusan langkah batu itu meluncur dengan desing suaranya yang keras ke arah perwira setengah umur itu.
Perwira itu amat kaget, batinnya.
"Siapa orang ini, lwekang-nya setangguh ini?"
Baru kecil itu meluncur laksana meteor terbang, hanya sekejap sudah tiba.
Kepandaian perwira ini tinggi, namun dia tak sempat berkelit lagi, untuk menyelamatkan diri terpaksa dia menyambut batu kecil itu.
Begitu dia menggerakkan telapak tangan, ilmu menggunakan tenaga memunahkan tenaga sudah dia praktekkan, namun lengan kanannya terasa pegal kesemutan, padahal yang dia sambut hanya batu kecil sebesar kelereng.
"Hebat sekali Tam-ci-sin-thong-mu Tan tayhiap,"
Seru Siau Ih-can memuji.
"Kau ingin membekuk cakar alap-alap ini, biarlah kuserahkan kepadamu."
Perwira ini baru tahu orang yang datang adalah ciangbunjin baru Kong-tong-pay, pikirnya.
"Tan Khu-seng memang tidak bernama kosong, jauh lebih tangguh dari pengemis tua ini. Tak heran Hay Lan-ja pun bukan tandingan muridnya."
Dia yakin dirinya bukan tandingan Tan Khu-seng, terpaksa dia melarikan diri. Tan Khu-seng \ertawa, serunya.
"Mengingat kau mampu menangkap batu jentikanku, kali ini kubiarkan kau pergi."
Berempat mereka maju bersama memberi hormat kepada Siau Ih-can. Kwi-hwe-thio bertanya.
"Pengemis tua, bagaimana kau bisa datang begini kebetulan? Agaknya kau sudah tahu mereka akan mencelakai sute-mu di sini."
Siau Ih-can tertawa, katanya.
"Memangnya aku dewa, mana mampu meramal kejadian yang akan datang? Bukan kebetulan, tapi berkat berita yang disampaikan Tan Khu-seng ke pihak kami."
"Tan-heng, bagaimana kau bisa tahu kejadian-hari ini?"
Tanya Kwi-hwe-thio heran.
"Sebelum aku ke luar perbatasan, aku titip kabar kepada seorang murid Kaypang, kuberi tahu berita tentang sute-nya supaya disampaikan kepadanya. Begitu saja,"
Ujar Tan Khu-seng. Kwi-hwe-thio manggut paham, katanya.
"Betul, kenapa aku lupa. Kaypang punya burung dara untuk mengirim berita. Pengemis tua, mungkin setelah tahu jejak sute-mu maka kau menyusul kemari?"
"Betul, setelah aku tahu sute berada di tengah pasukan Cut Posan, aku lantas memburu ke sini. Tapi aku tidak bisa masuk ke markas, terpaksa aku keluyuran di sekitar sini. Agaknya Yang Maha Kuasa memang memberi berkah kepada umatnya, syukur aku akhirnya dapat menemukan dia. Aku pun sudah menguntitnya dari jauh."
"Pantas kedua keparat itu tak berhasil menunaikan tugasnya."
Malu dan menyesal merasuk hati Tiong Bok-jong, tak tertahan dia mencucurkan airmata sedih, katanya, 'Toa-suheng, untuk aku kau telah bersusah payah, aku tak tahu bagaimana aku harus bicara dengan kau.
Dahulu aku...
aku...
aku memang berdosa kepadamu."
Siang Ih-can menggoyang tangan, katanya.
"Urusan masa lalu tak perlu dibicarakan lagi. Hari ini kita bisa berkumpul lagi pantasnya kita rayakan dengan riang gembira." 'Toa-suheng,"
Kata Tiong Bok-jong.
"aku mohon sesuatu kepadamu."
"Katakan saja, persoalan pelik apa pun aku akan membantu kau menyelesaikannya."
"Aku tahu dosaku berat dan tak terampunkan lagi, tak berani aku memohon untuk diterima kembali ke dalam perguruan. Aku hanya mohon bantuan toa-suheng untuk melaporkan kepada ji-suheng, setelah aku mati ijinkan aku dikebumikan di pinggir pusara ayah almarhum, berilah kesempatan padaku setelah mati biar bertobat di alam baka."
Siau Ih-can tertawa, katanya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak, aku ingin memberi tahu kepada kau, ciangbun sute sudah membicarakan hal ini kepadaku, asal kau pulang kau tetap adalah Kaypang tianglo."
Saking senang Tiong Bok-jong melelehkan airmata, katanya sesaat -kemudian, 'Tan-heng, kaum pendekar seperti kalian, apakah sudi mengampuni kesalahanku?"
"Manusia mana yang tak pernah salah, tahu salah lalu bertobat adalah perbuatan terpuji. Asal kau bertobat setulus hati, kami tetap menganggap kau sebagai orang sendiri."
"Mendengar jaminanmu, mati pun aku meram, satu hal aku pun ingin mohon kepadamu."
"Soal apa, katakan saja,"
Sahut Tan Khu-seng.
"Waktu berada di markas besar musuh, aku mendapat dengar tentang rencana perang Cui Po-san. Tolong kau sampaikan berita yang kudengar ini kepada Lohay."
"Bagus sekali,"
Seru Tan Khu-seng girang.
"Aku akan menyuruh Beng Hoa segera pulang menyampaikan berita ini.'"
Tiong Bok-jong menarik napas, katanya.
"Rencana perang Cui Po-san sudah tentu takkan dibicarakan langsung kepadaku. Aku hanya menduga-duga saja dari perintah yang dia keluarkan waktu menggerakkan pasukan, kuduga dalam perang kali ini dia menggunakan tipu bersuara di timur menggempur barat."
"Betul, boleh kau jelaskan apa yang kau dengar dan kau saksikan. Di tempat Lohay ada Beng Goan-cau Beng tayhiap yang mahir strategi perang. Dibantu Song Theng-siau tayhiap, kedua orang ini pasti dapat meraba akal dan muslihat musuh."
"Kudengar karena perbekalan tidak mencukupi, Cui Po-san akan mengakhiri peperangan ini secara cepat, dengan sedikit kekuatan pasukannya dia akan menggertak dari depan, sementara kekuatan inti pasukannya berputar dari Lo-wan-ciok lewat daerah yang berbahaya langsung akan menyergap kalian dari belakang. Selama beberapa hari ini kusaksikan beberapa kelompok barisan berangkat di malam hari, semuanya menuju ke arah itu. Sesuai yang kusaksikan, kurasa dugaanku tidak meleset."
Bergairah semangat Tan Khu-seng, katanya, 'Tahu kekuatan sendiri tahu kekuatan lawan, setiap kali perang pasti menang.
Tiong-locian-pwe, beritamu ini tepat pada waktunya, aku yakin pasti dapat membantu pasukan gerilya mengalahkan pasukan besar musuh."
Siau Ih-can pun tak kalah senangnya, katanya.
"Sute, syukurlah kau sudah memutuskan untuk menebus kesalahan dengan menghancurkan musuh. Pahalamu kali ini sungguh besar."
"Aku hanya ingin menebus dosa-dosaku di masa lalu. Suheng, terima kasih kau menerima permintaanku. Urusan penguburanku selanjutnya tolong kau selesaikan."
Mendengar "penguburanku", Siang Ih-can berjingkat, teriaknya.
"Sute, kau jangan berbuat bodoh...."
Bergegas dia memapah Tiong Bok-jong, tapi sudah terlambat.
Belum habis dia bicara, Tiong Bokjong sudah roboh lunglai.
Waktu dipapah napasnya sudah putus.
Sebetulnya luka-luka Tiong Bok-jong memang tidak ringan, bila pulang dia pun malu bertemu dengan sesama saudara perguruan.
Maka setelah ditolong, dia sudah bertekad menebus dosa dengan kematian.
Siau Ih-can berkata rawan.
"Sute, kau memang gegabah, susah payah aku mencari dan menemukan kau, kau malah tega meninggalkan kami semua."
"Siau-locianpwe,"
Ucap Tan Khu-seng.
"kau keliru. Selama hidupnya sute-mu memang terlalu gegabah, tapi tidak untuk kali ini. Meski kematiannya bukan cara penyelesaian yang paling baik, tapi tekadnya perlu dipuji juga."
Siau Ih-can menatap Tan Khu-seng, sesaat dia masih bingung belum paham apa arti perkataannya.
"Menyesali dosa dan perbuatan adalah kesadaran. Manusia mana yang tidak akan mati, mati tanpa dosa tanpa penyesalan patut disyukuri. Siau-locianpwe, tolong tanya, apa tujuanmu mencari sutemu sekian puluh tahun? Kini harapanmu sudah tercapai, kenapa kau harus berduka?"
Siau Ih-can seperti dikemplang kepalanya, seketika dia sadar, batinnya.
"Betul, jerih payahku dengan satu harapan supaya sute insyaf dan bertobat, kembali ke jalan benar, kini yang kuperoleh sudah melampaui keinginanku semula. Sute juga sudah berusia lanjut, berapa tahun aku bisa berkumpul lagi dengan dia atau segera berpisah, apa pula bedanya?"
Dari berduka dia menjadi lega dan gembira, meski mengalirkan airmata tapi dia bergolak tawa. Kata Siau Ih-can.
"Betul, sadar akan kesalahan adalah perbuatan bijaksana Sute meski terlambat kau bertobat, namun kau memperoleh ketenteraman batin. Kita tak perlu malu berhadapan dengan arwah guru di alam baka kelak. Sute-ku yang baik, biarlah aku membawamu pulang."
Di situ juga dia memper-abukan Tiong Bok-jong. Setelah abu dibungkus rapi, Siau Ih-can berkata.
"Tan-heng, apakah kau sudah mendapat berita?"
Tan Khu-seng melenggong, tanyanya.
"Berita apa?"
"Kami sudah mendapat kabar, setelah Hay Lan-ja mati, jabatan komandan Gi-lim-kun sudah ada gantinya Konon untuk menuntut balas kematian Hay Lan-ja, Gi-lim-kun bertekad menuntut balas kepada Kong-tong-pay kalian. Saat ini karena peperangan sedang genting, sementara mereka tunda. Tapi kalian harus waspada, kuanjurkan kau lekas pulang saja."
"Berita ini belum kudengar, tapi hal ini sudah kuduga sejak mula Sementara ini aku belum ada niat pulang ke Kong-tong-san."
Siau Ih-can heran, katanya.
"Kau suruh muridmu pulang memberi kabar kepada Lohay, kukira kau sudah mendengar kabar ini, maka kau akan segera pulang ke Kong-tong-san."
"Memang aku akan pulang ke gunung, tapi sebelum pulang, bersama Lo-thio aku akan membekuk tiga cakar alap-alap lebih dulu."
Lalu dia menuturkan tugas Wi To-ping bertiga yang menerima perintah Cui Po-san pulang ke Sujwan untuk minta ransum. Siau Ih-can bertepuk, serunya.
"Bagus, biaraku ikut membantu kalian. Kelak bila Kong-tong-pay kalian memerlukan bantuan, murid Kaypang pasti berada di pihak kalian."
Tan Khu-seng amat senang mendapat janji Siau Ih-can, katanya.
"Syukurlah, melegakan sekali, banyak terima kasih."
"Kali ini kau banyak membantu kesulitan kami, aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Eh, kenapa sungkan."
Sambil bicara mereka turun gunung. Saat itu mereka sudah berada di kaki gunung, Beng Hoa pamit kepada gurunya dan orang banyak lalu berangkat bersama Kim Bik-ki. Di jalan Kim Bik-ki berkata.
"Bagaimana kalau kita pulang lewat selat gunung yang dikatakan Tiong Bok-jong tadi?"
Beng Hoa tahu maksud orang, sekaligus menyelidik gerak-gerik pasukan musuh, katanya tertawa.
"Boleh saja, meski tahu di atas gunung ada harimau, justru kita sengaja lewat gunung itu."
Malam-malam mereka menempuh perjalanan.
Sepanjang jalan yang mereka lewati memang menemukan banyak tentara kerajaan yang dipendam di sana, tapi dengan gin-kang mereka yang tinggi, sama sekali tentara kerajaan tiada yang melihat mereka.
Menjelang fajar, mereka sudah tiba di luar markas Lohay semula, tapi setelah laskar gerilya bergabung dengan pasukan Lohay, mereka pindah tempat Setelah menemukan orang sebagai penunjuk jalan, hampir menjelang lohor baru mereka bertemu dengan Lohay.
Setelah mendapat laporan, Beng Goan-cau dan Song Theng-siau lantas berkumpul.
Sementara itu Beng Hoa dan Kim Bik-ki juga baru saja memasuki kemah, sebelum duduk Beng Goan-cau sudah bertanya heran.
"Hoa-ji, maha gurumu?"
"Suhu dan Bob^ lihiap tidak apa-apa. Han Ji-yan sudah mati. Sekarang perlu kusampaikan dulu berita penting kepada kelo sekalian."
Lalu dia menceritakan .berita yang diucapkan Tiong Bokjong di hadapan orang banyak. Terkejut dan girang Lohay bukan main, katanya.
"Muslihat mereka memang keji. Entah siapakah orangnya yang melarikan diri dari markas musuh itu? Dapat dipercaya tidak?"
"Pembawa berita ini adalah pengemis tua yang pernah kemari bersama Toan Kiam-ceng."
Beng Goan-cau heran, katanya.
"Maksudmu Tiong Bok-jong?"
"Betul."
"Bukankah dia murid murtad Kaypang? Bagaimana mungkin dia berbalik membantu kita?"
"Dia terpaksa harus menyelamatkan diri. Menjelang ajalnya dia sudah mendapat ampun dan dimaafkan oleh toa-suheng-nya yaitu Siau tianglo dan menerimanya kembali sebagai anggota Kaypang. Menjelang ajalnya itulah dia menyampaikan berita ini."
Selanjutnya Beng Hoa menceritakan pengalamannya bagaimana selama dua hari ini dia mencari gurunya dan pertemuannya dengan Tiong Bok-jong yang melarikan diri dalam keadaan luka parah.
Orang banyak menghela napas.
Beng Goan-cau berkata.
"Perkataan seseorang yang menjelang ajal pasti dapat dipercaya, kalau demikian berita ini pasti betul."
Beng Hoa berkata.
"Kami pulang lewat selat yang mengitari Lowan-?. ciok itu, sepanjang perjalanan memang tidak sedikit kami memergoki tentara kerajaan di sana."
"Baiklah,"
Ucap Lohay.
"Biar tipu kita balas dengan tipu, besok kita harus bertindak lebih dulu, memendam kekuatan di puncak gunung itu."
Beng Goan-cau berkata.
"Selama dua hari ini aku sudah meneliti medan perang. Kudapatkan lembah gunung yang terletak di sebelah barat sana berbentuk seperti terompet merupakan lembah buntu. Kita bisa mengatur dan merencanakan sesuatu dengan baik lalu memancing musuh masuk ke lembah buntu itu."
Setelah mendengar penjelasan Beng Goan-cau, Lohay bertepuk sambil memuji.
Maka rencana mulai diatur, pasukan dikerahkan, namun sejauh itu Santala tidak diberi tugas, juga tidak menyinggung nama Beng Hoa dan Kim Bik-ki.
Beng Hoa menduga dirinya akan selalu mendampingi sang ayah, maka dia tidak merasa resah.
Beda dengan Santala, berulang kali dia mohon petunjuk kepada Lohay.
Lohay tertawa,.katanya.
"Kenapa kau gugup, nanti boleh kau dengarkan perintah Beng tayhiap."
Setelah semua mendapat tugas, baru Beng Goan-cau berkata.
"Ho-ji, kau dan Kim Bik-ki tetap tinggal di sini, membantu Santala mempertahankan pangkalan ini."
Santala rewel, serunya.
"Semua saudara mendapat tugas perang, kenapa aku ditugaskan menjaga rumah malah?"
"Limaratus pembidik yang paling terlatih kuserahkan kepadamu,"
Demikian kata Lohay.
"Aku lebih senang berperang di medan laga, aku tidak mau berjaga di garis belakang."
Lohay berkata serius.
"Jangan kau meremehkan tugasmu ini. Kau harus tahu kekuatan kita terpaut jauh dibandingkan musuh. Seluruh kekuatan kita boleh dikata dikerahkan untuk menyergap musuh, kau hanya mendapat limaratus pemanah, coba kau pikir, betapa berat tanggung jawab yang kau pikul? Kalau Beng tayhiap tidak menghargai dirimu, putera dan menantunya tidak akan ditinggal di sini untuk membantu engkau."
Lebih lanjut Beng Goan-cau menjelaskan pula.
"Musuh mengira kita masih dikelabui oleh rencana keji mereka, maka mereka pasti mengira kekuatan inti kita akan bertahan saja, sisa kekuatan mereka cukup untuk menahan serbuan kita. Tidak boleh memastikan begitulah perhitungan musuh, juga sukar diduga bahwa musuh pasti menyerbu."
"Betul,"
Lohay ikut bicara.
"Prajurit kita keluar berperang, anakanak dan kaum perempuan juga perlu dilindungi. Kita sudah mengatur mereka bersembunyi di bukit-bukit sekitar timur sana. Bila musuh menyerbu dari arah depan, kau harus bertahan mati-matian sampai titik darah terakhir supaya mereka mendapat kesempatan untuk mengundurkan diri."
Sekarang Santala insaf akan tanggung jawabnya yang berat, katanya.
"Kelo tak usah khawatir, biar batok kepalaku terpenggal, musuh takkan kubiarkan membunuh anak-anak dan kaum lemah kita."
Dengan perasaan tegang mereka menunggu hingga tabir malam menyelimuti jagat.
Santala, Beng Hoa dan Kim Bik-ki menduduki sebuah puncak bukit yang tak jauh letaknya dari pangkalan mereka semula.
Bukit tinggi ini cukup strategis letaknya.
Kalau cuaca baik, dari kejauhan mereka bisa mengawasi puncak di mana Lo-wan-ciok berada, demikian pula lembah di mana pasukan gerilya dipendam, jaraknya juga tidak terlalu jauh.
Markas kerajaan yang tepat di depan merekajuga tak jauh di depan gunung, jadi tiga arah dapat mereka awasi.
Mereka terus menunggu di tengah kesunyian.
Kentongan ketiga sudah berselang, mulai terdengar tambur bertalu-talu di arah depan.
Kejap lain suara tambur bersahutan di empat penjuru pegunungan, menimbulkan gema suara di tengah malam gelap.
"Nah, musuh kiulai menyerbu,"
Demikian teriak Beng Hoa dengan berjingkrak girang.
Beberapa kejap lagi, derap lari ribuan kuda mulai terdengar laksana datangnya gempa, bumi terasa bergetar.
Dalam lembah sempit yang menjurus ke barat dari arah Lo-wan-ciok, sinar obor yang memanjang tampak berliku-liku merambat maju.
Satu hal dapat diduga, peperangan sudah berlangsung dengan sengit.
Telapak tangan Beng Hoa sampai berkeringat, katanya.
"Sayang kita tidak melihat jelas, entah bagiamana keadaan di sana."
Santala penuh keyakinan, katanya tertawa.
"Perhitungan ayahmu tepat dan lihay, memangnya kau takut kita takkan menang?"
Kim Bik-ki juga berkata.
"Betul, coba kau lihat, bukankah sesuai dugaan, pasukan kerajaan berhasil dipancing ke dalam lembah di sebelah barat itu?"
Mendadak suara gembreng dan kentongan ditabuh bersama.
Kali ini tambur yang ditabuh seperti lebih besar, berpadu dengan gembreng dan kentongan lagi.
Jarak mereka ada duapuluhan li, tapi paduan suara ini masih memekakkan telinga mereka.
Santala memaki.
"Tentara kerajaan seperti ikan dalam jaring, masih menabuh tambur segala, memangnya bisa menggertak kita"
Tapi Beng Hoa justru meleng-gong, mendadak dia berteriak.
"Wah, celaka!"
Santala kaget, tanyanya.
"Apa yang celaka?"
"Itulah tambur dan gembreng tanda menarik pasukan. Jelas bukan tambur untuk mendorong semangat tentara menyerbu musuh."
"Menarik pasukan? Maksudmu pasukan kerajaan ditarik mundur?"
"Betul, panglima besar pasukan kerajaan entah bagaimana mengubah siasat, maka dia menabuh tambur dan gembreng di puncak depan itu supaya pasukan di depan mundur dengan kecepatan paling tinggi."
"Lha, kan menguntungkan?"
Seru Santala.
"Mereka tahu terjebak dan bukan tandingan lalu mencawat ekor melarikan diri."
"Justru tidak menguntungkan. Dari situasi yang kita lihat, dapat dipastikan pasukan musuh yang masuk jebakan dalam lembah itu kukira belum ada separuh. Bila mereka mundur rencana mengganyang habis musuh takkan terlaksana lagi."
Kim Bik-ki berkata.
"Agaknya, mereka sadar kena tipu dan terjebak."
"Dengan kekuatan yang berlipat ganda, mereka menggerakkan pasukan di malam hari, barisan terdepan baru bentrok dengan musuh, umpama mereka segera sadar terjebak juga tak mungkin secepat itu bisa menarik pasukan. Apalagi cara menarik pasukan dengan tabuhan tambur dan gembreng itu seperti sudah disiapkan sebelumnya, jelas atas perintah Cui Po-san sendiri. Kemungkinan dia sudah tahu rencana kita, maka tambur dan gembreng yang sudah disiapkan dibunyikan untuk menarik pasukan."
"Konon Cui Po-san pandai memimpin pasukan, begitu merasa gelagat tidak menguntungkan lantas membunyikan tanda menarik mundur pasukan, kurasa hal ini tak perlu dibuat heran." 'Tapi aku merasa khawatir,"
Ujar Beng Hoa.
"Apa yang kau khawatirkan?"
Tanya Kim Bik-ki.
Mendadak suara tambur makin gencar, suara gembreng tidak terdengar lagi, demikian pula suara kentongan di tengah suara tambur yang gegap gempita.
Terdengar pula gemuruh lari kuda yang laksaan jumlahnya, bumi sampai bergetar.
Kali ini bukan lagi tanda menarik pasukan tapi tanda menyerbu.
Anehnya, suara tambur yang ini ternyata terdengar dari tempat dekat.
Dari tempat tinggi Beng Hoa dapat menyaksikan pintu besar markas musuh di bawah gunung mendadak terpentang, cahaya obor menyala benderang seperti siang hari.
Bagai air bah, pasukan kerajaan menyerbu ke arah pertahanan mereka di bawah gunung.
Menurut perhitungan Beng Goan-cau, musuh hanya meninggalkan sedikit pasukan menjaga markas di saat pasukan inti mereka menyerbu ke atas gunung, pasukan mereka takkan berani menyerbu dari arah depan.
Ternyata perhitungan ini meleset.
Santala mengangkat kedua lengannya sambil berteriak.
"Bagus, saat kita mengadu jiwa telah tiba."
"Tenangkan pikiran, jangan terlalu emosi. Mau adu jiwa juga harus memakai perhitungan supaya musuh menderita korban lebih besar, gugur satu ganti sepuluh."
"Betul, gugur satu ganti seratus. Beng-heng, hayolah kau yang memimpin."
Dengan penuh keyakinan dan ketabahan, Beng Hoa mengambil alih pimpinan.
Dia menyiapkan balok dan batu di pinggir gunung, di bawah komandonya dia memerintahkan untuk menjatuhkan balok dan batu-batu besar itu untuk memukul mundur pasukan musuh.
Tapi jumlah musuh terlalu besar, meski tidak sedikit pasukan kerajaan yang binasa tapi mereka tetap menyerbu seperti semut.
Malah barisan dipecah, ada yang diperintahkan naik ke puncak untuk menumpas gerakan mereka di atas gunung.
Di bawah kobaran api obor, tampak Cui Po-san bercokol di atas seekor kuda besar berbulu coklat, seorang berseragam Gi-lim-kun tampak mendampinginya.
Perwira Gi-lim-kun ini pernyata bukan lain adalah orang yang bergebrak dengan Siau Ih-can dan menolong Thio Hwe-seng, akhirnya lari ketakutan setelah menyambut sambitan batu Tan Khu-seng.
Perwira itu tampak membentak.
"Muslihat kalian sudah kami gagalkan, pertahanan kalian dengan jumlah yang tidak seberapa ini seumpama belalang menghadang kereta, apa yang dapat kalian lakukan. Hayo lekas menyerah saja."
Balok dan batu yang tersedia di atas puncak sudah hampir habis dijatuhkan ke bawah.
Batu-batu yang mereka kumpulkan seadanya juga tak mampu membendung serbuan tentara kerajaan ke atas.
Pasukan kerajaan sudah merayap makin dekat.
Santala membentak.
"Kentutmu busuk, pahlawan Uigior akan gugur dengan berdiri di medan laga, mati pun takkan menyerah."
Bila pasukan kerajaan sudah tinggal ratusan langkah, mendadak dia memberi aba-aba.
Limaratus anak panah lepas dari busurnya, limaratus pasukan berkuda musuh terjungkal roboh dari punggung kuda, manusia dan kuda roboh saling tindih.
Cui Po-san gusar, lalu memberi perintah.
"Tangkap semua orang yang ada di atas gunung, peduli laki perempuan tua muda seluruhnya harus diringkus kemari."
Perwira itu bergelak tawa, katanya.
"Betul, sejak tadi seharusnya ciangkun sudah mengeluarkan perintah ini, peduli tua muda besar kecil seluruhnya diringkus, itulah cara paling manjur untuk mengalahkan musuh."
Sebetulnya perintah ?
ini memang anjurannya.
Santala amat murka, segera dia membidikkan panahnya ke leher perwira in.
Di tengah gelak tawanya, dia menjentik sekali, panah itu .
dijentik balik Perwira ini bernama Co Ceng-gay yaitu wakil komandan Gi-limkun yang baru saja menjabat pangkat.
Begitu menduduki jabatannya, langsung dia mendapat perintah ke luar kota raja dengan utusan pribadi sri baginda.
Dia diutus menjadi penasihat militer mendampingi Cui Po-san.
Dugaan Beng Hoa hanya betul separuh.
Perubahan taktik perang pasukan kerajaan bukan lantaran Cui Po-san membongkar rencana mereka, tapi lantaran kedatangan Co Ceng-gay ini yang memberi keterangan serta merancang taktik mengelabui musuh.
Waktu mengejar Tiong Bok-jong, Thio Hwe-seng dan Sun Tohing terluka, tapi Co Ceng-gay tidak cedera sedikit pun.
Waktu dia tiba di markas besar Cui Po-san, saat itulah pasukan kerajaan di Lowan-ciok mulai melancarkan serbuannya.
Tapi pasukan penyergap ini diserahkan kepada wakil Cui Po-san untuk memimpin.
Sebagai panglima perang mana berani dia menempuh bahaya terjun ke dalam kancah pepe^ rangan, maka dia tetap berada di markas memegang tampuk pimpinan.
Mendengar laporan Co Ceng-gay, bahwa Tiong Bok-jong jatuh di tangan musuh, sudah tentu dia menduga bahwa Tiong Bok-jong membocorkan rencana militernya kepada musuh.
Perhitungan Beng Goan-cau memang tidak meleset, kekuatan pasukan Cui Po-san yang tetap bercokol di markas pusat memang hanya sepuluh ribu banyaknya, dibanding kekuatan laskar gerilya malah kalah banyak.
Sebetulnya Cui Po-san tidak berani menyerbu secara gegabah, tapi Co Ceng-gay yakin bahwa pasukan gerilya akan memasang perangkap, kemungkinan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyergap pasukan kerajaan.
Maka dia mengusulkan kepada Cui Po-san untuk membalas tipu musuh, ketika pertahanan markas musuh kosong balas menyerangnya.
Cui Po-san paham taktik perang, ada Co Ceng-gay sebagai pendukungnya lagi, sehingga hatinya lebih tabah.
Karena itu dengan mudah dia mengubah situasi, di samping memerintahkan pasukan penyergapnya mundur, sementara pasukan yang dipimpin sendiri menyerbu ke markas musuh.
Co Ceng-gay mengusulkan pula untuk menangkap rakyat jelata sebagai sandera, bila perlu untuk mengancam Lohay supaya menarik mundur pasukannya atau menyerah.
Akhirnya Cui Po-san menurut.
Sepuluh ribu pasukan kerajaan kalau dibanding seluruh kekuatan laskar gerilya memang jauh lebih sedikit, tapi dibanding limaratus pemanah yang bertahan di markas mereka jelas berlebihan, berarti satu lawan duapuluh, sudah tentu dia tidak perlu merasa takut lagi.
Tapi kalah atau menang terletak di tangan kelimaratus orang itu.
Meski pasukan penyergap kerajaan tidak seluruhnya masuk perangkap, separuh di antaranya jelas tak tertolong lagi, sementara sisa penyergap yang tak terjebak dalam waktu singkat juga susah dikerahkan untuk menyerbu kemari.
Tapi kalau pasukan Cui Po-san yang sepuluh ribu itu berhasil menggempur pertahanan musuh berarti situasi akan berubah seratus delapanpuluh derajat.
Bila pasukan kerajaan menggencet dari dua arah, apalagi keluarga suku Uigior jatuh-ke tangan musuh, betapapun mereka takkan berani sembarang bertindak.
Berapa lama limaratus orang ini kuat bertahan, merupakan kunci utama dari perubahan seluruh situasi peperangan ini.
Santala memang tidak malu di-agulkan sebagai pemanah sakti dari suku Uigior.
Anak buah seorang jenderal gagah takkan lemah, limaratus anak buah yang dididiknya ini tiada satu pun yang lemah, setiap bidikan panah mereka tiada yang meleset, satu panah satu korban, entah manusia atau kuda pasti roboh binasa Dengan gagah berani mereka mempertahankan benteng di atas puncak, tentara kerajaan roboh saling tindih di kaki gunung.
Co Ceng-gay mengerutkan kening, katanya "Cui-ciangkun, kudengar kepala pengawal pribadimu seorang ahli panah, kenapa kita biarkan mereka bertindak sewenang-wenang?"
Cui Po-san menepuk jidat, katanya sadar.
"Betul, biar kusuruh Cui It-lun menghadapi mereka."
Lalu dia memanggil Cui It-lun serta memberi pesan kepadanya.
"Lun-tit, hari ini adalah saatnya menuntut balas, bawalah senbupemanah dan carilah posisi yang menguntungkan, adu kekuatan memanah kalian dengan mereka. Jumlah mereka hanya limaratusan orang, jumlah kalian dua kali lipat, tentu kau dapat mengganyang habis mereka."
Waktu menjadi tawanan pasukan gerilya tempo hari, Cui It-lun yakin dirinya pasti mati, tak nyana Beng Goan-cau bersikap ramah dan melayaninya sebagai seorang yang punya kedudukan lalu membebaskan dirinya, walau di hadapan Cui Po-san dia tidak berani terus terang -dia bilang dirinya berhasil meloloskan diri -namun dalam hati sudah timbul rasa simpati kepada laskar rakyat.
"Kita adalah bangsa Han, kenapa harus mempertaruhkan jiwa raga untuk kepentingan raja penjajah? Suku Uigior hidup bebas, menggembala ternak mereka di padang rumput, kapan mereka melanggar hukum? Kalian justru menyerbu menduduki tanah mereka serta menindas rakyat yang tidak berdosa, rakyat tak diberi kehidupan aman dan tenteram, siapa yang salah? Dari ribuan li kalian datang, menduduki tanah orang menguras harta benda rakyat. Kalau menang perang, kalian yang punya kedudukan naik pangkat mendapat hadiah, namun hanya tulang-tulang sisa makanan atasan belaka. Kasihan prajurit biasa, mereka berkorban jiwa dan raga, kapan mereka pernah hidup senang dan sejahtera, berkumpul dengan keluarga? Celaka kalau kalah perang, mayat mereka pun tak terkubur di tanah kelahiran, setimpalkah kalian berperang?"
Pidato Beng Goan-cau hari itu masih mendengung dalam benaknya.
"Tak boleh aku membalas air susu dengan air tuba,"
Demikian batin Cui It-lun.
"Goanswe tunduk pada petunjuk Co-tayjin, rakyat jelata yang lemah harus ditawan dijadikan sandera. Perbuatan durhaka melanggar hukum Yang Kuasa betapapun tak berani kulakukan. Walau aku tak mampu mencegah atau menggagalkan usaha gila ini, tapi syukur kalau aku dapat, mengulur waktu supaya mereka memperoleh kesempatan melarikan diri."
Di samping kiri di mana bukit yang diduduki Santala terdapat bukit juga, tingginya kira-kira sama, di sanalah letak yang menguntungkan untuk balas membidik musuh.
Pasukan menggunakan busur panah buatan khusus, jarak yang dicapai lebih jauh.
Bila Cui It-lun berhasil menduduki bukit sebelah kiri itu, kedua pihak saling bidik, limaratus anak buah Santala jelas akan kewalahan, dan korban jelas akan jauh lebih besar.
Sudah tentu Cui It-lun tidak berani melawan perintah secara terang-terangan, tapi otaknya yang encer mendapat akal bagus.
Sebelum dia mencapai puncak yang dituju dia sudah membentak.
"Siapa berani tampillah ke depan adu panah dengan aku, satu lawan satu."
Tanpa menunggu reaksi musuh, beruntun dia bidikkan tiga batang panah ke puncak seberang. Cui Po-san yang mengerutkan kening.
"Kenapa Cui It-lun bertindak seceroboh ini?"
Kalau di sini Cui Po-san mengerutkan kening, di atas bukit Santala juga merasa heran. Semula dia naik pitam.
"Tempo hari aku mengampuni jiwamu, masih berani kau menantang duel dengan aku."
Tapi tiga batang panah bidikan Cui It-lun ternyata melenceng jauh.
Begitu melihat luncuran panah orang, Santala lantas tahu bahwa orang mengandung maksud tertentu, jelas, orang tidak sejahat yang dia perkirakan.
Santala melenggong karena ?
panah orang melesat tinggi di atas kepala mereka, katanya perlahan.
"Bidikan panah Cui It-lun tak mungkin melenceng sejauh ini."
Beng Hoa tertawa, katanya.
"Masa kau masih tidak paham, dia tidak berani melawan perintah tapi tidak sudi bertempur dengan kita."
Santala sadar, katanya.
"Baiklah aku perlu membantu dia mengelabui pimpinannya"
Segera dia melompat ke atas batu besar, bentaknya.
"Naiklah keparat she Cui, kalau berani unjukkan dirimu, kita duel panah satu lawan satu."
"Ser"
Sebatang panah dibidik-kan.
Seperti cara lawan, bidikan panahnya ini pun paling menyerempet di atas pundak Cui It-lun, maksudnya tidak membidik lawan roboh.
Tak nyana begitu busurnya menjepret, kejap lain Cui It-lun menjerit ngeri dan terjungkal roboh dari puncak bukit itu, tubuhnya terguling ke bawah lereng.
Bidikan panah Santala ternyata telak mengenai musuh.
Ternyata Cui It-lun sengaja menyerahkan pundaknya untuk dimakan bidikan panah Santala.
Sebagai ahli panah, begiti-melihat luncuran panah, dia pun tahu maksud orang.
Apa susahnya untuk tnengelabui mata orang dengan mehgorbankan dirinya dari bidikan panah yang semestinya tidak mengenai dirinya?
Cukup dia keprak kuda ke pinggir sambil menegakkan tubuh, panah itu lantas menancap di pundak kirinya tapi juga sudah diperhitungkan tidak akan mematahkan tulang pundaknya.
Sebagai kepala barisan ahli panah nomor satu dalam pasukan kerajaan lagi, kini dia yang pertama terbidik panah musuh, sudah tentu anak buahnya pecah nyalinya, siapa berani mendahului naik ke puncak, beramai-ramai mereka menggotong pimpinannya"
Itu turun gunung. Santala kaget juga girang.
"Biar kudemonstrasikan kemahiranku membantu Cui It-lun, supaya tidak ketahuan."
Separuh barisan panah pimpinan Cui It-lun sudah putar balik, sebagian besar yang separuh juga tak berani maju lagi, tapi sebarisan kecil yang berada paling depan belum lagi mengundurkan diri.
Santala meloloskan tiga batang panah, bentaknya.
"Awas tiga batang panahku ini akan memanah jatuh topi baja tiga orang yang berdiri di tengah paling depan."
Topi baja mereka diikat dengan sabuk kulit supaya tidak jatuh di kala bertempur, mana mungkin topi baja dibidik jatuh tanpa melukai pemakainya?
Tampak busur terpentang panah mendesing bagai kilat menyambar.
Begitu tiga batang panah Santala dibidikkan, tiga topi baja di atas kepala penunggang kuda terdepan betul-betul jatuh menggelinding di tanah.
Pasukan kerajaan diam mematung, suasana hening, hanya suara topi baja itu yang berkerontang membentur batu.
Bidikan panah Santala memang diperhitungkan dengan tepat, ujung panahnya hanya membidik putus sabuk kulit tanpa melukai pemakainya.
Karena terkejut ketiga orang itu berjingkrak sehingga topi baja mereka terpental jatuh.
Santala membentak lantang,.
"Siapa berani naik akan kubidik batok kepalanya."
Kepala barisan mereka terluka, seribu pemanah itu sudah patah semangat.
Di bawah hardikan Santala, mereka berlomba lari turun gunung.
Semula Cui Po-san agak curiga melihat Cui It-lun terluka lebih dulu, kalau mau disalahkan karena dia terlalu gegabah, namun rasa curiganya menjadi berkurang.
Co Ceng-gay murka, bentaknya.
"Pasukan panah tidak becus, hayolah kita serbu beramai. Kerahkan seluruh pasukan yang ada, injak rata bukit itu."
Cui Po-san terburu nafsu hendak menyerbu dari belakang musuh, agar bisa menolong pasukannya yang terjebak, mengubah situasi pihaknya yang terdesak.
Dalam keadaan terpojok seperti ini, terpaksa dia tidak memikirkan berapa korban bakal jatuh, dia perintahkan seluruh kekuatannya menggempur.
' Meski limaratus pembidik panah itu semua lihay, seratus kali bidik seratus kali kena, akhirnya kewalahan juga diserbu selaksa pasukan musuh yang merayap naik seperti semut.
Barisan demi barisan pasukan kerajaan ambruk, barisan demi barisan menerjang maju pula, patah tumbuh hilang berganti, jelas sebentar lagi pasukan musuh akan mencapai puncak.
"Beng-toako,"
Seru Santala.
"pulanglah kau bersama nona Kim Bik-ki memberi laporan."
"Tidak,"
Sahut Beng Hoa, *!biar kita gugur bersama di sini."
Di saat genting itu, mendadak pekik sorak dan teriakan-teriakan pertempuran menggelegar laksana guntur mengguncang bumi, debu tampak mengepul tinggi di bawah gunung, hanya sekejap mata, barisan tentara kerajaan tampak porak po-randa.
Lekas Cui Po-san mengeluarkan perintah, barisan depan menjadi barisan belakang, barisan belakang menjadi barisan depan menyambut serbuan musuh yang menyerbu dari bawah gunung.
Santala, girang setengah mati, serunya sambil berjingkrak.
"Hore, bala bantuan kita telah datang. He, aneh, dari mana datangnya bala bantuan ini?"
Beng Hoa juga berdiri melongo, dengan seksama dia memandang jauh ke bawah, katanya.
"Ada seorang pimpinan barisan berjubah putih, kelihatannya mirip pangeran Ulise dari suku Jia-kek."
Santala juga memperhatikan dengan seksama, dari pekik perjuangan mereka dia dapat membedakan suaranya, katanya.
"Betul, yang datang memang orang-orang suku Jia-kek, bergabung dengan suku Tay-hi."
Ternyata setelah ditolong Beng Hoa dua kali, akhirnya menyaksikan sendiri dengan jumlah yang sedikit pasukan gerilya berhasil mengalahkan pasukan besar kerajaan, kelihatannya saja jumlah pasukan kerajaan besar tapi jumlah besar, bukan jaminan pasti menang.
Setelah pulang dia menceritakan apa yang dilihatnya kepada ayahnya, pemimpin suku Jia-kek.
Ayah Ulise adalah orang yang tidak punya pendirian tetap, pandai melihat arah angin.
Sebelum puteranya pulang dia sudah mendengar Lohay berulang kali menang besar dalam bentrokan besar kecil dengan pasukan kerajaan.
Dia khawatir bila pasukan kerajaan diusir dari wilayah Sinkiang, pihaknya yang tidak mau bergabung atau ikut melawan serbuan penjajah, akan malu dan dikucilkan oleh suku bangsa lain yang ada di padang rumput ini, diam-diam hatinya juga menyesal.
Kali ini dia mengerahkan pasukan menolong Lohay yang terjepit ternyata atas usul dan kehendaknya.
Begitu dia memutar haluan, Tay-hi-cu yang selalu menjadi kawan serikatnya sudah tentu ikut mengerahkan pasukannya pula.
Waktu itu cuaca sudah benderang.
Cui Po-san dapat melihat jelas bala bantuan musuh yang menggempur pasukannya dipimpin oleh Ulise, kaget dan murkanya bukan main.
Tapi dia masih berusaha untuk mengubah situasi, maka dia menekan emosinya, mengubah sikap, dia berteriak sambil tertawa ramah.
"Pangeran Ulise, aku sudah mendapat persetujuan dari kerajaan untuk mengangkat engkau sebagai raja muda yang menguasai seluruh Sinkiang. Kelak kalau kau sudah menduduki jabatanmu, hidup mewah berlebihan. Apakah sudah kau pikir dengan seksama, jangan mudah dihasut dan diadu domba dengan pihak kami. Sekarang tiba saatnya kau mendirikan pahala besar, mungkin kau terlena oleh bujukan orang, aku tidak menyalahkan engkau, lekaslah berpaling dan berjuanglah untuk kepentingan kerajaan, kesempatan masih terbentang di hadapanmu."
Tak nyana Ulise menjengek dingin, katanya.
"Aku sudah berpikir duabelas kali, aku tidak akan meniru dirimu menjadi antek dan budak kerajaan, membunuh bangsamu sendiri untuk kepentingan penjajah. Memang aku terlena oleh bujuk rayumu, sekarang justru tiba saatnya aku menebus dosaku."
Habis bicara dia memimpin barisannya mengamuk ke tengah pasukan kerajaan mengejar Cui Po-san. Co Ceng-gay membentak.
"Bocah ini tidak tahu diuntung, biar kubekuk dia hidup-hidup."
Dia menunggu Ulise lebih dekat lalu diincarnya dengan tepat.
Dari tempat tinggi dia melompat turun, kakinya menginjak punggung kuda Ulise.
Agaknya Ulise tidak menyangka musuh bernyali sebesar ini.
Begitu merasa angin menindih dari atas, tahu-tahu Co Ceng-gay menukik turun dari udara, jari tangan orang mencengkeram pundaknya Dari Ka-bit Hoatsu, Ulise pernah belajar kungfu sekian tahun, kepandaiannya sebetulnya tidak lemah, sambil merendahkan tubuh, goloknya terayun ke belakang membabat pergelangan musuh.
Cengkeraman luput, hampir saja tangan terbacok, mau tidak mau Co Ceng-gay terkejut, pikirnya.
"Tak kukira bocah ini punya kepandaian juga."
Cengkeraman jarinya diubah menjadi dorongan. Betapapun lwekang dan kepandaian mereka terpaut amat jauh.
"Cret"
Terdengar jubah perang Ulise terjambret robek, orangnya juga didorong jatuh dari punggung kuda Untung Co Ceng-gay bermaksud membekuknya hidup-hidup, maksudnya untuk dijadikan sandera untuk menggertak mundur musuh.
Karena khawatir mencelakai jiwa Ulise maka dorongannya itu tidak menggunakan tenaga dalam yang mematikan.
Baru saja jari Co Ceng-gay menyentuh punggung Ulise, mendadak dirasakannya sambaran angin tajam mengancam punggungnya.
Sebagai ahli silat kelas tinggi, dia tahu bahwa lawan yang membokong dirinya dari belakang memiliki kungfu yang luar biasa.
Menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, terpaksa dia melepaskan Ulise dan menyelamatkan diri lebih dulu.
Penolong Ulise yang tepat pada waktunya ini bukan lain adalah Beng Hoa.
Co Ceng-gay memukul balik dengan telapak tangan, angin pukulannya menyampuk pedang' Beng Hoa.
Sebat sekali dia mendesak maju-selangkah, pedangnya bergerak menukik balik.
Tampak sinar pedang berkilauan laksana bintang beterbangan.
Jurus yang dilancarkan-Beng Hoa adalah Oh-ka-cap-pwe-bak, salah satu tipu lihay dari Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat yang diajarkan Tan Khu-seng.
Ilmu pedang pelindung Kong-tong-pay memang hebat, betapapun dahsyat pukulan Co Ceng-gay, tak urung lengan bajunya tertusuk tiga tempat dan tersabet sobek sebagian.
Dengan kekuatan Tay-Iik-eng-jiau-kang yang dilontarkan dengan Bik-khong-ciang, ternyata Co Ceng-gay tidak mampu memukul jatuh pedang pusaka Beng Hoa, karuan terkejutnya bertambah besar.
Melihat lawan mahir melancarkan Oh-ka-cap-pwe-bak, darahnya tersirap, mendadak dia sadar dan teringat, bentaknya.
"Kiranya kau bocah yang bernama Beng Hoa."
Beng Hoa bergelak tawa, katanya.
"Betul, seorang laki-laki berdiri tidak ganti nama, duduk tidak mengubah she. Beng Hoa adalah aku, aku adalah Beng Hoa. Jikalau kau tidak ingin menyusul Hay Lanjamengha-dap Giam-lo-ong, lekas menyerah saja."
Co Ceng-gay berpikir.
"Tak heran Hay Lan-ja mampus di bawah pedangnya."
Tapi dia yakin kungfu yang diyakinkan cukup tangguh, mana dia mau tinggal pergi begitu saja, sambil menyeringai dingin dia' berkata.
"Bocah, jangan takabur, aku memang ingin menuntut balas kematian Hay-jongling."
Sembari bicara langkahnya melingkar seperti ular naga membelit, berkelit sambil balas menyerang, dalam sekejap putaran, tahu-tahu tangannya sudah memegang dua jenis senjata yang berbeda.
Senjatanya adalah sebilah pedang panjang dan sebatang golok bergigi, seperti gergaji.
Pedangnya tiga kaki panjangnya, tapi batang pedangnya tipis^dan tajam seperti sayap capung, lebarnya juga hanya dua dim, bentuknya amat aneh.
Sebaliknya golok gergaji itu amat tebal dan lebar, bobotnya amat berat.
Tangan kiri mengayun golok, tangan kanan bermain pedang.
Umumnya orang bilang satu hati sukar digunakan dua tujuan, kenyataan Co Ceng-gay mampu bermain dengan dua jenis senjata yang berbeda.
Kedua tangannya ternyata mahir melancarkan jurus permainan golok dan pedang yang berbeda.
Kungfu yang pernah dipelajari Beng Hoa termasuk paling luas dan ruwet, campur aduk lagi, tapi belum pernah dia menyaksikan apalagi menghadapi permainan dua senjata yang berbeda.
Dia tidak berani memandang rendah, maka dia melancarkan jurus HeHg-huntoan-hong sebagai serangan balasan, menunggu perubahan melayani serangan.
Jurus Heng-hun-toan-hong dilancarkan secara mantap dan meyakinkan oleh Beng Hoa.
Dia mengira lawan takkan mampu memanfaatkan peluang yang ada, tak nyana serangan golok Co Ceng-gay ternyata begitu ganas lagi keras, waktu Beng Hoa menangkis dengan pedang, baru dirasakannya tenaga lawan tidak sebesar yang dia kira.
Golok tebal dan lebar yang beratnya mungkin ada seribu kati ternyata mirip selembar kertas, sedikit pun tidak ada tekanan-tenaga, ringan seperti melayang tersampuk pergi.
Baru saja Beng Hoa sadar akan posisinya yang berbahaya.
"cret"
Pedang panjang lawan tahu-tahu sudah menyelinap masuk ke lingkaran pertahanannya.
Permainan golok dan pedang Co Ceng-gay memang serasi dan lihay, mencakup perpaduan sifat permainan golok dan pedang sehingga lawan dibuat terpesona, kaget atau bingung.
Umumnya golok bersifat keras, pedang sebaliknya lunak.
Gaya pedang mengutamakan gerakan lincah dan enteng, sebaliknya golok bergerak berat dan mantap.
Ilmu pedang atau permainan golok berbagai aliran dan perguruan walau amat luas, rumit dan sukar dijajaki, betapapun takkan terlepas dari kedua sifat utama itu.
Tapi Co Ceng-gay justru memutar balik kedua sifat senjata ini.
Golok dimainkan sebagai pedang, sebaliknya pedang sebagai golok.
Begitu pedang panjang tipis bagai sayap capung itu menusuk tiba, mendadak berubah menjadi begitu berat dan keras.
Beng Hoa tetap melayani seperti biasanya, hakekat-nya dia tidak mengira lawan bermain dengan perubahan yang tidak masuk akal ini.
Pertarungan jago kosen, sedikit lena atau terlambat bisa berakibat fatal.
Karena salah perhitungan, maka pedang lawan berhasil menyelinap masuk ke lingkaran pertahanan Beng Hoa.
Untung Beng Hoa sudah menguasai Bu-beng-kiam-hoat yang dilatihnya sempurna, khusus untuk menghadapi segala perubahan.
Meski dia terlambat menyadari kesalahannya dan dirugikan sedikit, tapi posisinya tidak terpojok sampai runyam.
Sebat sekali dia menggeser langkah pindah kedudukan, pedang digerakkan dengan permainan golok warisan keluarganya, gerakan diatasi dengan gerakan, tipu dilawan dengan tipu, secara kilat sekaligus dia melancarkan tiga jurus berantai, tiga jurus serangan ditujukan dari arah yang tidak diduga oleh lawan.
Co Ceng-gay dipaksa mempertahankan diri, tidak berani merangsak dengan seluruh tenaga.
Dia juga perlu bertahan menjaga diri.
Akan tetapi, meski Beng Hoa mengubah pedang dengan permainan golok, tapi dia tidak semahir lawan yang memutar keras dan lunak secara terbalik.
Memang di sinilah letak kelihayan permainan golok dan pedang lawan yang saling isi dan bantu.
Setelah puluhan jurus, mendadak Co Ceng-gay menyerang, golok sebagai golok, pedang adalah pedang, entah berubah atau tidak berubah yang jelas Beng Hoa diserang silih berganti dengan perubahan kedua senjata.
Baru pertama kali ini Beng Hoa menghadapi jurus permainan golok dan pedang yang aneh begini, jelas dia merasa kewalahan dan payah.
Di saat dia mulai menjajaki permainan lawan, Kim Bik-ki menyusul datang.
Beng Hoa berteriak.
"Golok bukan golok, pedang bukan pedang."
Kim Bik-ki semula melongo keheranan, mendadak dirasakan olehnya pedang lawan berat laksana gunung, goloknya sebaliknya lincah dan enteng sekali.
Hampir saja dia dirugikan seperti Beng Hoa waktu pertama kali menghadapi musuh tadi.
Untung Beng Hoa merangsak musuh sehingga lawan dipaksa harus menyelamatkan diri lebih dulu sehingga Kim Bik-ki tidak menemui banyak kesulitan.
Cepat sekali Co Ceng-gay memutar tubuh, golok dan pedang kembali menyerang bersama ke arah Kim Bik-ki.
Mendadak Beng Hoa berteriak.
"Golok adalah golok, pedang adalah pedang."
Otak Kim Bik-ki cerdas, kini dia sudah tahu apa maksud Beng Hoa Kali ini tindakan dan putusannya tidak keliru, dengan mudah dia memunahkan serangan hebat lawan.
Dengan gabungan sepasang pedang mereka, perbawanya sudah tentu berlipat ganda, maka terdengarlah dering ramai dari benturan senjata tajam.
Golok gergaji Co Ceng-gay giginya terpapas seluruhnya.
Kini baru Co Ceng-gay merasakan kelihayan dari kekuatan gabungan permainan pedang kedua muda-mudi ini.
Dia tahu kalau bertempur lebih lama lagi, mungkin seorang diri tak kuat menghadapi Beng Hoa, apalagi dirinya dikeroyok dua?
Maka tanpa berani bertempur lagi, lekas dia mencawat ekor melarikan diri ke tengah gerombolan pasukannya Saat itu pasukan besar kerajaan bagai ular tanpa kepala, seperti tikus-tikus yang lari bubar ketakutan menyelamatkan diri.
Meski berjumlah lebih banyak, tapi digencet dari sana sini, tanpa komando lagi, mereka menjadi lebih kocar-kacir.
Ulise yang lolos dari cengkeraman iblis, segera menyongsong maju, lama dia genggam tangan Beng Hoa.
Setelah gejolak perasaan reda, baru dia berkata.
"Beng-toako, sekali lagi kau menolong jiwaku. Ai, sungguh menyesal kenapa sejak mula aku tidak mendengar nasihatmu, sepantasnya aku bahu n\embahu dengan kalian melawan mereka."
Beng Hoa tertawa, katanya.
"Kedatanganmu tepat pada waktunya, kali ini bukan kau yang kutolong, tapi kau yang menolong kami semua."
Mendadak Kim Bik-ki berkata.
"Beng-toako, coba lihat, bukankah orang itu Cui Po-san?"
Cui Po-san tengah mengeprak kudanya lari turun dari lereng gunung.
Beberapa pengawalnya sedang mengayun cemetinya ke kanan kiri mengusir dan menyingkirkan tentara kerajaan yang melarikan diri di depan supaya mereka leluasa menyelamatkan diri lebih dulu.
Waktu itu hari sudah terang tanah.
Ulise mendadak sadar, serunya.
"Hayolah jangan kita ngobrol saja, mari kita kejar dan bekuk Cui Po-san."
Beng Hoa berkata.
"Pertempuran di sana belum usai, barisan musuh di sana lebih besar dan kuat, situasi mungkin masih bisa berubah, lekaslah kau menerjang ke sana bergabung dengan Lohay kelo."
Ulise tahu bahwa pengetahuan dirinya kalah jauh dibanding Beng Hoa, maka dia tunduk dan patuh akan pertunjuknya, katanya.
"Baik, kuserahkan sebarisan anak buahku untukmu, semoga kau berhasil membekuk musuh."
Bila mereka mengejar turun dan berada di kaki gunung, tampak pa-dang rumput penuh sesak oleh tentara kerajaan, tanah bersalju tampak bergolak oleh derap langkah kuda yang berlari simpang siur.
Yang celaka adalah tentara yang terinjak oleh kawan dan kuda.
Denting senjata yang saling bentur terbawa angin lalu.
Ternyata barisan lain dari tentara kerajaan juga sudah lari dan bergabung di padang rumput.
Pimpinan barisan, kepala pasukan sedang berteriak-teriak mengendalikan anak buahnya supaya barisan tidak bubar, tapi mereka seperti burung yang sudah ketakutan melihat panah, dalam jumlah sekian banyak lagi, mana mampu dikendalikan?
Tapi karena jumlah pelarian tentara kerajaan terlalu banyak, bukan soal mudah bagi Beng Hoa menemukan jejak Cui Posan di tengah mereka.
Dari bukit kejauhan sana, sayup-sayup terdengar bunyi sangkakala, itulah tanda pasukan laskar gerilya ditarik mundur.
Saat mana mentari sudah merambat tinggi di angkasa, baru Beng Hoa sadar sekarang mereka sudah tiga empatpuluh li meninggalkan arena pertempuran semula.
Beng Hoa takut barisannya yang terpencil dan lepas dari induknya ini balas dikepung musuh, begitu mendengar tanda penarikan mundur pasukan, segera dia menarik balik barisannya.
Bersama Kim Bik-ki dia menyelusuri jalan tembus yang lebih pendek pulang lewat jalan gunung yang tembus ke Lo-wan-ciok itu.
Kira-kira belasan li kemudian, mendadak didengarnya di kejauhan seperti ada suara orang.
Beng Hoa pasang telinga, didengarnya seseorang berkata.
"Perempuan ini amat galak, jangan kau mengusiknya."
Seorang lagi berkata.
"Biar galak tapi wajahnya ayu sekali. Dia sudah terluka parah, tak usah kita melabraknya, dikejar lagi beberapa kejap juga dia takkan kuat, pasti jatuh pingsan. Bila perempuan ini dapat kubawa pulang, bukankah menyenangkan?"
Seorang lain berkata.
"Enak saja kau berpikir, dikejar lagi lebih jauh, mungkin terjebak dalam perangkap musuh."
Orang yang pertama tadi berkata.
"Musuh sudah membunyikan sangkakala menarik mundur pasukan, barisan mereka yang terdepan juga tidak akan berkeliaran di sini, hayo-Iah kejar lagi beberapa li."
Mendengar percakapan orang-orang itu, Beng Hoa tahu bahwa mereka adalah tentara kerajaan. Kim Bik-ki murka, katanya.
"Tentara bangsat ini memang biadab, baru saja melarikan diri berani mengganas terhadap perempuan lemah."
Bersama Beng Hoa segera mengejar ke sana. Beng Hoa sebaliknya merasa curiga, pikirnya.
"Orang-orang suku Uigior tiada yang lari atau mengungsi ke arah sini. Dari pembicaraan kawanan tentara itu, perempuan itu agaknya mahir berkelahi, kalau tidak setelah, luka kenapa mereka cuma mengejar saja?"
Tengah mereka mencongklang kuda didengarnya suara perempuan itu berteriak.
"Baiklah, boleh kalian maju bersama, biar aku adu jiwa. Tapi kalian harus membuka jalan untuk menghadap Giam-lo-ong lebih dulu."
Lalu terdengar dering beradunya senjata, agaknya perempuan itu amat marah, dia putar balik melabrak kawanan tentara yang mengejar dirinya.
Mendengar suara perempuan itu seperti sudah dikenal, mendadak Beng Hoa berjingkrak kaget, teriaknya.
"Celaka!"
Lekas dia mengembangkan ginkang Pat-poh-fean-sian, buru-buru dia berlari ke sana hendak menolong gadis itu.
Tampak seorang gadis dengan rambut awut-awutan, langkahnya seperti orang mabuk, dengan sengit dia melabrak tiga tentara kerajaan.
Gadis ini berpakaian putih, bajunya tampak berlepotan darah di beberapa bagian, jelas lukanya tidak ringan.
Gadis ini bukan lain adalah Leng Ping-ji.
Sambil mengertak gigi, Leng Ping-ji menusuk dengan pedang, dia tahu dirinya tak kuat bertahan lama, khawatir tusukannya tidak mengenai sasaran, dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
Tentara yang tepat menerjang di depannya, tertusuk telak oleh pedangnya.
Tak nyana, terlalu bernafsu dia menggunakan tenaga, ujung pedang yang menusuk pundak lawan tak kuasa ditariknya keluar.
Dua tentara yang lain semula kaget dan jeri, akhirnya mereka berge-Iak tertawa kegirangan, katanya.
"Haha, perempuan ini sudah payah."
Dari kejauhan mereka menyaksikan keadaan Leng Ping-ji yang sudah kepayahan, mati hidup teman sendiri ternyata tidak dipikirkan.
Semula mereka mereka hendak lari, kini berubah hatinya, perlahan mereka mendesak maju.
Kalau mereka segera angkat kaki mungkin masih selamat, tapi karena kemaruk paras ayu dan mengira Leng Ping-ji dapat dibekuk seperti mereka mencaplok bakpao, maka celakalah mereka.
Beng Hoa memburu datang laksana angin puyuh cepatnya.
Sambil lari seenaknya dia meraih sebutir batu, dalam jarak tigapuluhan langkah dia mengayun tangan.
Dia menimpuk topi baja seorang tentara hingga pecah.
Karuan orang yang lain terkejut, sebelum dia sempat membalik dan melawan, cepat sekali Beng Hoa sudah di depannya, di mana pedang bekerja batok kepalanya terpenggal terbang ke udara.
Mendadak Leng Ping-ji menghardik.
"Biar aku adu jiwa dengan kau."
Saat itu dia baru berhasil mencabut pedang, sekali tendang dia bikin tentara yang tertusuk pedangnya terguling. Dengan jurus Giok-li-toh-so pedangnya menusuk ke ulu hati Beng Hoa.
"Leng-cici,"
Lekas Beng Hoa berteriak sambil berkelit.
"aku adalah Beng Hoa."
Leng Ping-ji melengak, setelah melihat jelas yang berdiri di depannya betul adalah Beng Hoa, mendadak airmata bercucuran, teriaknya dengan suara serak.
"Beng-toako, aku... aku bersalah terhadapmu."
Beng Hoa keheranan, sesaat dia melenggong, dia mengira Leng Ping-ji terlalu lemah, pikiran kacau dan keruh, lekas dia membujuk.
"Leng-cici, jangan emosi, istirahatlah sebentar. Di sini sudah daerah kita, tak perlu takut. Adik Ki, lekas kau tolong Leng-cici dan bubuhi luka-lukanya dengan obat."
Cepat sekali Kim Bik-ki sudah memburu datang.
Segera dia mengeluarkan Kim-jong-yok, waktu dia hendak memeriksa luka-luka Leng Ping-ji, mendadak Leng Ping-ji mendorongnya pergi, teriaknya pula kepada Beng Hoa.
"Beng-toako, aku berbuat salah terhadapmu, adikmu, dia... dia...."
Terkejut daii heran Beng Hoa, tanyanya.
"Apakah adikku juga datang? Dia... dia kenapa?"
Leng Ping-ji masih tersengal, katanya gagap.
"Dia ditangkap tentara musuh yang kacau balau itu. Aku... aku bertemu dengan keparat bejat itu...."
"Maksudmu kau bertemu dengan Toan Kiam-ceng?"
Tanya Beng Hoa "Betul, keparat itu kena tusukan pedangku, sayang dia melarikan diri. Tapi adik Yan, bukan ditangkap Oleh dia...."
"Siapakah yang menangkap adik Yan?"
Tanya Kim Bik-ki.
Dia tahu Nyo Yan adik Beng Hoa.
Meski baru berusia empatbelas tahun kepandaiannya sudah tidak lemah.
Dia yakin jago biasa takkan mampu menangkap dia, maka dia lukiskan wajah Co Cenggay kepada Leng Ping-ji, tanya dia apakah orang itu yang menangkapnya?
"Aku tidak tahu,"
Sahut Leng Ping-ji.
"waktu itu aku sedang melabrak bangsat itu, aku hanya mendengar teriakan adik Yan."
Ternyata waktu itu dia miengira Nyo Yan mampu menghadapi beberapa tentara musuh yang melarikan diri, maka tidak banyak menaruh perhatian, bagaimana bentuk dan tampang tentara itu juga tidak dilihatnya Kim Bik-ki bertanya.
"Di mana kejadiannya?"
Leng Ping-ji menggelengkan kepala, katanya lesu.
"Aku tidak tahu. Aku sudah lari hampir belasan li jauhnya"
Saking lelah dan kehabisan tenaga suaranya pun makin lirih seperti berbisik.
"Leng-cici, kejadian itu bukan salahmu, jangan kau menyesali dirimu, rawatlah dulu luka-lukamu,"
Demikian bujuk Beng Hoa.
"Masih banyak waktu untuk mencari Yan-te, kita pasti dapat menemukan dia."
Bibir Leng Ping-ji gemetar seperti hendak bicara, tapi suaranya tidak keluar.
Mendadak dia memejamkan mata, kepalanya pun terkulai terus roboh dalam pelukan Kim Bik-ki.
Beng Hoa kaget, lekas dia memeriksa denyut nadi orang, sesaat lamanya baru dia menghela napas lega Kim Bik-ki berkata.
"Dia kehabisan tenaga, berkhawatir lagi, akhirnya tak tahan dan jatuh pingsan. Luka-lukanya memang tidak enteng, tapi juga tidak tertalu mengkhawatirkan. Aku sudah memberinya Siau-hoan-tan, jiwanya pasti dapat diselamatkan."
Lega hati Beng Hoa; tapi persoalan lain membuatnya khawatir pul a, katanya hambar.
"Adikku dibawa tentara kerajaan, bagaimana baiknya?"
"Tentara bubar dan tercerai berai, mereka sudah keluar dari lembah gunung, meski kau punya kepandaian setinggi langit, seorang diri juga takkan mampu menemukan dia. Tapi masih untung bahwa adik Yan tidak terjatuh di tangan Toan Kiam-ceng."
"Memang apa bedanya?"
Kata Beng Hoa masgul.
"Besarbedanya,"
Kata Kim Bik-ki.
"Toan Kiam-ceng tahu asal-usul adik Yan, tentara Kerajaan tiada yang tahu. Toan Kiam-ceng takkan berani menghadap Cui Po-san. Kejadian ini jelas secara kebetulan saja, tiada sangkut pautnya dengan pasukan yang kocar kacir itu. Dia jatuh di tangan musuh yang tidak tahu asal-usulnya, kemungkinan hanya ditawan sebagai tawanan biasa saja."
Bukan Bik-ki tidak menduga bahwa orang yang bisa menangkap Nyo Yan pasti bukan orang sembarang-an, namun terpaksa dia harus menghibur dan melegakan hati Beng Hoa Bukan Beng Hoa tidak tahu maksudnya, tapi mengingat apa yang dikatakan memang beralasan, jikalau adiknya betul tidak jatuh di tangan Toan Kiamceng, pihak musuh pasti tidak tahu asal-usul adiknya dan dijadikan sandera untuk mengancam ayahnya Kim Bik-ki berkata.
"Yang penting sekarang kau lekas pulang melaporkan kejadian ini kepada ayah, serahkan Leng-cici kepadaku."
Kejadian sudah berkembang sejauh ini, terpaksa Beng Hoa menuruti usul Kim Bik-ki.
Setelah dia pulang dan berada di markas, sudah bertemu dan berhadapan dengan ayahnya tapi belum ada kesempatan membicarakan hal ini kepadanya.
Di dalam kemah Lohay, Beng Goan-cau sedang memimpin rapat pimpinan.
Di samping menilai hasil pertempuran sekaligus mengenal keadaan musuh lalu merancang taktik perang selanjurnya Terakhir Lohay memberi laporan dengan wajah cerah.
"Walau perang kali ini kita tidak berhasil menyapu habis musuh, namun, boleh dikata mencapai kemenangan gilang gemilang. Musuh kehilangan tigapuluh duaribu tentara lebih, termasuk yang kita tawan ada tujuhribu lebih. Sementara saudara seperjuangan kita yang gugur dan terluka belum ada tigaribu, perbandingannya adalah satu lawan sepuluh."
Sementara itu penyelidik telah pulang memberi laporan keadaan musuh.
Cui Po-san sudah menggabungkan dua pasukannya yang kocar-kacir, mereka mundur ke sebuah kaki gunung yang dinamakan Coat-liong-nia, di sana mendirikan pangkalan.
"Tentara kerajaan sedang menebang pohon membangun benteng dan markas, agaknya Coat-liong-nia akan mereka jadikan markas jangka panjang,"
Demikian laporan penyelidik itu.
Sementara berbagai keadaan dan berita diperoleh juga dari mulut pencari berita, demikian pula tentang asal-usul Co Ceng-gay yang baru diangkat menjadi wakil komandan Gi-lim-kun dan apa kedudukannya dalam pasukan Cui Po-san.
Lohay berkata.
"Perwira anjing she Co ini jahat, kalau bukan dia yang merusak rencana kita, Cui Po-san pasti hancur lebur bersama pasukan besarnya."
Santala berkata.
"Tapi kekalahan besar mereka cukup membuat-Cui Po-san ketakutan, Co Ceng-gay itu juga dilabrak Beng-toako, hampir saja jiwanya melayang."
Beng Hoa berkata.
"Semua itu atas jasa Ulise."
Ulise sudah mendapat pujian orang banyak, kini disinggung Beng Hoa, jadi rikuh malah, katanya.
"Kurasa jasa Beng-toako justru yang paling besar, kalau bukan dia yang menolong aku, mana bisa aku sekarang berbicara di sini."
Lalu dia menceritakan bagaimana Beng Hoa menolong dirinya melabrak Co Ceng-gay. Dengan tersenyum Beng Goan-cau berkata.
"Soal pahala boleh dibicarakan kelak. Sekarang kita harus mencari jalan keluar, bagaimana, menghadapi musuh. Hoa-ji, katanya kau mengejar Cui Po-san, keberanianmu memang patut dipuji, namun dengan kekuatanmu yang kecil menerobos barisan musuh sebanyak itu, justru melanggar tata tertib dan larangan militer..Selanjutnya, kecuali menerima tugas atau perintah, tidak boleh diulang kesalahan ini."
Beng Hoa mengiakan. Beng Goan-cau berkata pula.
"Kenapa baru sekarang kau kembali?"
"Karena tak berhasil membekuk Cui Po-san, aku pulang berputar dari jalan gunung di pinggir Lo-wan-ciok"
"Bagaimana keadaan pasukan musuh yang bubar itu? Apakah saling injak dan tumbuk seperti serigala berebut mangsa? Barisan belakang tetap rapi dan berdisiplin?"
Beng Hoa melaporkan apa yang dilihatnya di dalam sidang, tapi tentang adiknya ditawan musuh tidak dia bicarakan mengingat sidang militer ini amat penting, kepentingan pribadi dia kesampingkan.
Sidang diliputi suasana gembira, semua berpendapat pasukan kerajaan umpama ikan dalam jaring, meski Co Ceng-gay berkepandaian setinggi langit juga takkan mampu mengubah situasi, untuk mengganyang habis musuh tinggal menunggu waktu saja.
Hanya Beng Goan-cau yang tetap bersikap tenang dan wajar, katanya.
"Walau musuh banyak yang terbunuh, menurut dugaan kecuali yang sudah melarikan diri, sedikitnya masih ada limaratus ribu, dibanding kekuatan kita masih jauh lebih besar."
Santala tertawa, katanya menggunakan peribahasa suku Uigior.
"Seratus burung gagak tetap bukan tandingan burung rajawali, banyak tentara tapi tak mampu berperang, apa faedahnya? Dahulu kekuatan mereka berlipat ganda, kapan kita pernah gentar? Apalagi perbandingan kita sekarang tidak terpaut jauh, apa pula yang harus ditakuti? Panji kebesaran pasukan kerajaan menggunakan naga sebagai lambang, kini mereka justru terkurung di dalam Coat-liongnia, bukankah sudah masuk jaring sendiri. Hehehe, bila kita menggempurnya, naga yang sudah kehilangan cakar ini dapat kita bekuk di Coat-liong-nia itu."
Banyolan Santala ini mendapat sorak-sorai hadirin. Beng Goan-cau justru bicara dengan serius.
"Keadaan Coat-liongnia mudah bertahan sukar digempur, kekuatan tenaga dan perbekalan perang kita jelas bukan tandingan musuh, bila mau menggempur, umpama berhasil mengganyang habis musuh, korban di pihak kita pasti amat besar. Cui Po-san mahir taktik perang, dibantu Co Ceng-gay lagi, jangan kita meremehkan mereka."
Lohay berkata.
"Apa yang diuraikan Beng tayhiap memang betul, memandang rendah musuh adalah pantangan terbesar dalam peperangan. Kita dengan jumlah yang sedikit dapat mengalahkan musuh yang banyak, pihak lemah menundukkan yang besar dan kuat, maka kita pantang bertempur kalau kita sendiri tidak yakin dapat mengalahkan musuh."
"Lalu bagaimana menurut pendapat Beng tayhiap?"
Tanya Santala.
"Bagaimana peperangan ini dilanjutkan?"
"Menurut perhitungan, ransum pasukan musuh hanya akan bertahan sepuluh hari atau setengah bulan, dalam setengah bulan kita hanya mengepung dan jangan menggempur. Bila ransum habis tenaga lemah, tanpa bertempur juga kita dapat mengalahkan musuh. Kita kerahkan dulu pasukan menduduki Eng-jiau-kiap dan Hou-lau-kang, supaya musuh tidak dapat melarikan diri, terpaksa mereka akan bertahan di tempat yang tertutup. Dalam setengah bulan itu, bila musuh keluar menyerang, kita hanya boleh bertahan dan berusaha memukul mereka mundur kembali. Terhadap tawanan kita harus memberikan pelayanan yang baik. Mereka yang mau pulang ke kampung halaman diberi pesangon selayaknya, yang rela berjuang dengan kita berikan senjata yang diinginkan, percayalah kepada mereka, biar mereka ikut berjuang bersama kita. Dengan bertambahnya kekuatan, keadaan kita akan lebih mantap."
Mendengar betapa rapi dan sempurna rencana Berig Goan-cau, hadirin kagum dan tunduk lahir batin, semua sepakat dan seia sekata, sampai di situ rapat berakhir.
Setelah rapat usai dan kembali ke kemahnya sendiri, baru Beng Hoa sempat melaporkah musibah yang menimpa adiknya kepada sang ayah.
Lama Beng Goan-cau terpekur, katanya kemudian.
"Saat ini kita harus memusatkan segala tenaga dan pikiran untuk kemenangan perang ini. Supaya tidak mematahkan semangat juang kita, peristiwa anak Yan sementara boleh dikesampingkan dulu."
Beng Hoa berkata.
"Bagaimana kalau aku bersama adik Ki menyelidiki ke markas musuh? Bila beruntung mungkin kami dapat mengajaknya pulang."
Beng Goan-cau menghela napas, katanya.
"Aku sayang anak Yan seperti aku sayang kepada kau, aku pun ingin dapat menemukan dia secepatnya. Tapi jangan kita mengabaikan kepentingan umum lalu mengutamakan kepentingan pribadi. Apalagi caramu yang menempuh bahaya itu, betapapun tidak boleh dilakukan. Tempo hari kalian pergi bersama suhu-mu dan dibantu Kwi-hwe-thio, terpaksa kami harus mengerahkan seluruh kekuatan baru berhasil menyelamatkan kalian. Sekarang kita sudah memutuskan hanya mengepung mereka tanpa menggempurnya, bagaimanapun aku tidak mengijinkan kau berbuat bodoh."
Beng Hoa tetap membandel.
"Kami tidak membutuhkan bantuan ayah dengan kekuatan tentara, bila mengalami musibah, kami berdua yang akan bertanggung jawab."
Beng Goan-cau menggelengkan kepala.
"Ucapanmu amat keliru,"
Katanya.
"Rencana sudah diputuskan, kita tidak boleh beraksi secara sepihak tanpa memikirkan kepentingan bersama. Bila perang sudah mulai, bukan mustahil tenaga kalian amat diperlukan dalam tugas penting lainnya, kenapa kau berani bilang aksi kalian tidak akan mempengaruhi kepentingan umum?"
Beng Hoa menunduk dan tak berani berdebat lagi setelah diberi nasihat oleh sang ayah.
Mengepung atau memblokade pasukan besar musuh di Coatliong-nia tanpa mengusik mereka ternyata berhasil dengan baik.
Setengah bulan kemudian, tidak sedikit tentara kerajaan yang melarikan diri, dari mulut mereka dapat diketahui bahwa ransum sudah habis dimakan, kuda pun tidak luput menjadi isi perut.
Tawanan diperlakukan dengan baik, kebijaksanaan laskar gerilya mendapat simpati para tawanan, berita ini semakin tersiar luas ke dalam maupun ke luar.
Di pihak lain, sebagai pengawas atau penasihat militer, Co Cenggay menggunakan kekuasaannya melakukan pengawasan ketat kepada tentaranya.
Dia memiliki sebarisan pasukan pribadi yang dia bawa dari kota raja.
Barisan seribu orang ini dinamakan Liong-kiping (Pasukan Naga).
Anggota Gi-lim-kun kebanyakan adalah anggota militer, demikian pula anggota cabang Gi-lim-kun yang memiliki daya tempur lebih kuat dan serba ahli di medan laga.
Seribu anggota Liong-ki-ping ini diperintahkan menjaga tentara yang berusaha melarikan diri, yang tertangkap dipenggal kepalanya di depan umum.
Dengan kedisiplinan yang keras begini, memang arus pelarian tentara kerajaan makin berkurang.
Tapi betapapun kejam tindakan hukum, tentara yang sudah kelaparan itu tetap nekad melarikan diri.
Perbandingan semakin jelas dan menyolok, antara semangat tempur pasukan gerilya dengan tentara kerajaan yang sudah patah semangat, lemah dan loyo.
Banyak pimpinan laskar gerilya mengusulkan mengadakan serbuan besar, tapi Beng Goan-cau tetap tidak mau memberi perintah.
Di kala orang banyak sudah berwajah cerah membayangkan kemenangan sudah di ambang mata, Beng Goan-cau justru berwajah suram, khawatir seperti ada ganjalan hati, rambut uban di atas kepalanya juga sehari demi sehari tambah banyak.
Hari itu Beng Hoa pulang dari dinas luar, membawa pulang beberapa tentara musuh yang melarikan diri.
Setelah dia menyerahkan kepada pihak yang mengurus para tawanan, segera dia memberi laporan kepada sang ayah tentang keadaan musuh.
Mendadak Beng Goan-cau berkata.
"Hoa-ji, sekarang aku memberi ijin kepadamu."
Beng Hoa kaget dan girang, serunya.
"Ayah, maksudmu kau memberi ijin kepada kami untuk menyelundup ke tengah pasukan musuh mencari adik?"
"Bukan untuk mencari adikmu,"
Tukas Beng Goan-cau.
"Tugas kami membunuh Cui Po-san?"
Tanya Beng Hoa.
"Juga bukan,"
Sahut Beng Goan-cau.
"Lalu untuk apa?"
Tanya Beng Hoa kesal.
"Karena aku tidak ingin bentrok terakhir terjadi dengan pihak kerajaan."
Beng Hoa tertegun, katanya.
"Ransum musuh habis, semangat tempur luluh, tenaga pun lemah, bukankah kesempatan baik untuk kita menggempur mereka? Kenapa ayah justru tidak ingin menggempurnya?"
"Justru karena keadaan musuh yang sudah payah, bila kita menggempur, korban yang jatuh tentu amat banyak. Walau mereka pasukan kerajaan, tapi sembilan di antara sepuluh adalah bangsa Han kita sendiri."
Beng Hoa paham maksud ayahnya, sadar pula kenapa beberapa hari ini ayahnya tampak risau dan gelisah, katanya.
"Jadi ayah mengharap Cui Po-san menyerah tanpa berperang?"
"Betul, sekarang dia sudah terkepung. Menilai situasi yang sudah begitu buruk, saat yang paling baik bagi kita untuk membujuknya. Tapi dia di bawah pengawasan Co Ceng-gay, tanpa mendapat bantuan dari luar, kukira dia tidak akan berani mengambil keputusan."
"Baiklah, biar aku yang membantu dia menghadapi Co Cenggay."
"Persoalan ini penting artinya bagi kita, kau tidak boleh sembrono. Bagaimana kau harus membujuk dan menyudutkan musuh supaya menyerah, caranya sudah kupikirkan, kau tinggal melaksanakan saja."
Lebih lanjut dia menjelaskan rencananya.
"Pertama, kau harus menemui dulu kepala barisan pengawalnya, Cui It-lun. Hari itu dia lebih rela diri sendiri terluka daripada mengorbankan anak buahnya, itu berarti dia sudah tidak ingin bermusuhan dengan kita. Dari sini dapat kita nilai pula bahwa pendapatnya sudah berubah. Pikiran semula menerima gaji junjungan bertanggung jawab akan keselamatan, tidak tertanam lagi dalam benaknya. Kau boleh membujuknya dengan kenyataan di depan mata, aku yakin kau dapat menunaikan tugasmu ini dengan baik. Baru setelah itu kau berusaha menemui Cui Po-san serta membujuknya supaya menyerah."
Dengan membekal rencana yang bagus ini, malam itu juga Beng Hoa berangkat bersama Kim Bik-ki.
Saat itu Cui Po-san sedang berada dalam kemahnya.
Malam sudah larut, tapi dia tida bisa tidur, mondar-mandir di dalam kemah dengan hati gundah dan risau.
Mendadak seorang memanggil.
"Toasay,"
Sembari melangkah masuk ke dalam kemahnya. Cui Po-san berjingkrak kaget, tapi melihat yang masuk adalah kepala barisan pengawalnya -Cui Itlun, lega hatinya. Katanya.
"Kenapa kau tergopoh-gopoh menerobos masuk tanpa tata krama semestinya, kukira Co Ceng-gay yang datang. Ada kejadian apa?"
Beberapa hari ini dia mengkhawatirkan situasi yang makin memburuk dan tak bisa mencari jalan keluar sehingga makan tidur tidak tenang, seperti burung yang selalu waswas takut kena panah.
"Tiada urusan penting, aku cuma memberi tahu, kuda perang yang ada sudah habis dijagai, kuda tunggangan toasay pun ingin mereka jagal pula."
"Apa boleh buat, serahkan saja,"
Ujar Cui Po-san.
"Tapi puluhan ribu tentara, seekor kuda mana cukup untuk makan mereka. Besok juga mereka siap makan kulit pohon dan akar rumput. Para saudara mendesak aku supaya mengajukan usul kepada toasay, apakah toasay tega melihat puluhan ribu orang kita mati kelaparan?"
Cui Po-san menjadi jengkel, katanya.
"Co Ceng-gay memaksa aku, kini kalian juga mendesak aku, aku sendiri sudah kehabisan akal, tak tahu apa yang harus kulakukan."
Cui it-lun' bertanya.
"Bagaimana maksud Co-tayjin?"
"Dia memberi saran, demi hidup cara apa pun boleh dihalalkan, tapi ai...."
"Bagaimana cara yang diusulkan Co-tayjin? Sudikah toasay menjelaskan kepada aku yang rendah?"
"Boleh, coba kau ikut memberi saran dan pendapat. Co Ceng-gay mengusulkan supayakita mengerahkan seluruh kekuatan menjebol kepungan, meski banyak jatuh korban juga tidak peduli asal dapat meloloskan diri."
Cui It-lun amat kaget, katanya.
"Semua sudah kelaparan tak punya tenaga, mana mampu mengangkat senjata? Bukankah hanya bunuh diri belaka? Celakanya pasukan kita yang dikorbankan percuma."
"Dia bilang inilah cara mengorbankan jiwa orang demi keselamatan sendiri. Pasukan sudah kelaparan, pikiran keruh, tindakan pun kejam, bukan mustahil bila mereka nekad bertempur, rencananya akan berhasil."
"Teori memang demikian, tapi tenaga dan kekuatan kan harus dipertimbangkan. Dia suruh bocah cilik memikul air segentong, umpama tertindih gepeng juga takkan kuat menggotong. Letak Coat-liong-nia memang strategis untuk bertahan, jikalau kita pertahankan kedudukan, mungkin masih kuat beberapa hari lagi. Tapi kalau ingin menjebol kepungan, empat penjuru gunung dijaga dan dipasang perangkap musuh, kukira sebelum kita keluar dari mulut gunung, seluruh pasukan sudah tertumpas habis. Langkah berbahaya dan merugikan ini tak boleh dilaksanakan."
"Situasi yang kau gambarkan kutahu jelas, tapi Co Ceng-gay juga bilang, ini dinamakan selama gunung tetap menghijau jangan khawatir kehabisan kayu bakar. Liong-ki-ping yang dia pimpin masih kuat berperang, sementara pasukan infanteri yang sudah kelaparan itu menjadi pelopor pembuka jalan, berapa banyak musuh bisa dirobohkan tak usah peduli, yang pasti di tengah pertempuran kalut itu dia berjanji pasti dapat melindungi aku menjebol kepungan. Dia juga bilang umpama seluruh pasukan kerajaan tertumpas habis, dia tetap yakin dapat menolong aku dan selamat dari renggutan elmaut. Bila tiba saatnya kau pun harus selalu berada di sampingku...."
"Umpama toasay dapat meloloskan diri, demikian pula aku. Kita berdua selamat, tapi aku akan menyesal selama hidup, kasihan puluhan ribu pasukan kita."
Cui Po-san menunduk diam. Cui It-lun berkata lebih jauh.
"Dan lagi, seluruh pasukan kita hancur hanya kau seorang yang meloloskan diri, apa tindakan kerajaan terhadapmu? Aku yakin kau tidak akan dipuji setia terhadap kerajaan, tapi dijatuhi hukuman berat karena meninggalkan pasukan."
Pucat muka Cui Po-san, sikapnya tampak lemas, katanya.
"Ya, itu bisa diduga."
"Maaf kalau aku berterus terang. Tadi dikatakan selama gunung tetap menghijau tidak perlu takut kehabisan kayu bakar, benar, yang tidak akan kehabisan kayu bakar hanya Co-ciangkun seorang, tapi bukan kau tpasay."
Lama Cui Po-san termenung, sesaat kemudian baru bersuara.
"Lalu menurut pendapatmu, bagaimana baiknya?"
"Toasay,"
Ucap Cui It-lun hati-hati.
"ada sepatah kata ingin kukatakan, entah diijinkan tidak?"
"Kau adalah keponakanku sendiri, pengawal pribadiku lagi, ada pendapat apa boleh kau kemukakan."
"Baiklah, meski aku dijatuhi hukuman mati, juga berani kuutarakan pendapatku. Kurasa perang ini tidak perlu dilanjutkan."
Cui Po-san berjingkat, katanya.
"Maksudmu kita... kita...."
Agaknya berat dia mengucap "menyerah kepada mereka."
"Betul,"
Ucap Cui It-lun tegas.
"Malah mereka sudah mengutus utusan kemari, putera Beng Goan-cau sudah berada di sini."
Cui Po-san lebih terkejut lagi, walau sekuatnya dia menahan gejolak perasaannya, suaranya ternyata gemetar namun nadanya lebih tinggi.
"Apa? Putera Beng Goan-cau sudah berada di sini?"
"Toasay, apa kau ingin bertemu dengan dia?"
Tanya Cui It-lun.
Ruwet pikiran Cui Po-san, sesaat dia kebingungan.
Cui It-lun tahu dan pandai melihat gelagat.
Dari sikapnya dia tahu Cui Po-san sudah goyah pendiriannya.
Khawatir kalau urusan berlarut bisa timbul perubahan yang tidak diinginkan, maka dia berpikir.
"Agaknya aku harus mendorong dan menyudutkan dia supaya terpaksa menerinla usulku."
Maka tanpa menunggu jawaban, perlahan dia bersiul dua kali. Pada saat itulah, seseorang menyingkap tenda menerobos masuk. Cui It-lun sedang berpikir.
"Masa begini cepat dia kemari?"
Untung dia tidak sempat menyebut nama Beng Hoa Waktu dia menoleh dan melihat jelas orang yang masuk, seketika dia berdiri melongo.
Orang yang menerobos masuk ke dalam kemah bukan Beng Hoa tapi Co Ceng-gay malah.
Wajah Co Ceng-gay menampilkan rasa heran dan tidak mengerti, katanya dingin.
"Cui-ciangkun, kudengar kau seperti menyebut nama Beng Goan-cau, Beng Goan-cau kenapa?"
Waktu Cui Po-san menyebut nama Beng Goan-cau tadi suaranya lebih keras, nadanya lebih tinggi, maka Co Ceng-gay yang masih di luar mendengarnya.
Betapapun Cui Po-san adalah pangl ima besar yang sudah kenyang berperang, walau hatinya bingung, sikapnya masih kelihatan tenang.
Sengaja dia menghela napas, katanya.
"Beng Goan-cau sebetulnya memang lawanku sejak lama, waktu di Siaukim-jwan dia pernah kukalahkan. Kali ini salahku sendiri terlalu memandang remeh kepadanya, kali ini dia bisa menepuk dada dan memperoleh kemenangan."
"O, jadi kalian sedang mencaci maki Beng Goan-cau,"
Ujar Co Ceng-gay. Cui Po-san hanya tertawa getir. Setelah orang tertawa dingin, sikap Co Ceng-gay malah kaku, katanya ketus.
"Apa gunanya mencaci orang di belakangnya? Kita kan pantang menyerah, apalagi menunggu ajal di sini. Cui-ciangkun, aku datang mohon kau segera mengeluarkan perintah/"
"Perintah? Perintah apa?"
Tanya Cui Po-san.
"Seluruh kekuatan dikerahkan menjebol kepungan,"
Desak Co Ceng-gay.
"Pasukanku sudah kelaparan, jangan kata mengangkat senjata, berjalan pun sudah loyo, tak mampu mereka berperang."
"Selama masih bernapas, mereka tetap harus berjuang demi kepentingan baginda."
Mendadak Cui It-lun menyela.
"Co-ciangkun, seribu Liong-ki-ping yang kau bawa itu, apakah mereka juga siap menjual jiwanya?"
Co Ceng-hay melotot, serunya.
"Apa maksud perkataanmu?"
Cui It-lun berkata.
"Makanan yang dimakan Liong-ki-ping biasanya lebih baik dari tentara biasa. Liong-ki-ping juga paling mahir berperang. Jikalau kalian mau menjadi pelopor barisan, kami pasti mengikuti jejak kalian menjebol kepungan. Akan tetapi jikalau Liong-ki-ping kalian tidak mau maju lebih dulu, maaf, kami tidak bisa menerima usulmu."
Co Ceng-gay melenggong, bentaknya.
"Cui It-lun, jadi kau sudah tahu akan hal itu? Siapa yang melakukan tentu kau juga sudah punya bukti?"
"Ada kejadian apa?"
Tanya Cui It-lun bingung.
"Kau pura-pura atau memang tidak tahu. Kalau tidak tahu kenapa kau curiga bahwa Liong-ki-ping yang kupimpin takkan bisa berperang lagi?"
Perlu diketahui seribu Liong-ki-ping yang dipimpinnya itu bisa mendapat fasilitas yang melebihi keperluan tentara lain, di kala tentara lain mulai makan kulit pohon dan akar rumput, mereka masih bisa makan bubur dan daging kuda.
Tapi entah kenapa, malam itu setelah mereka makan malam, delapan di antara sepuluh orang setiap kelompok mengeluh perut sakit dan tumpah-tumpah, badan lemah.
Jangan kata berjalan, berdiri pun tidak bisa.
Mereka yang tidak jatuh sakit juga loyo dan patah semangat.
"Ada kejadian apa, aku betul-betul tidak tahu,"
Kata Cui It-lun.
"Sebetulnya pasukan Liong-ki-ping segar bugar, tidak apa-apa, kenapa mendadak perut sakit, muntah-muntah? Pasti ada matamata musuh yang mencelakai mereka."
Cui It-lun menjengek.
"Agaknya Co-tayjin curiga bahwa akulah mata-mata musuh?"
"Apa betul ada kejadian ini?"
Tukas Cui Po-san.
"Kejadian itu harus diselidiki."
Padahal dalam hati dia mengucap syukur dan semoga Liong-ki-pihg semuanya mampus saja.
"Siapa mata-mata yang menaruh racun dalam makanan nanti boleh diselidiki, lebih penting sekarang kita menjebol kepungan musuh,"
Seru Co Ceng-gay. Cui Po-san berkata.
"Liong-ki-ping sudah tak mampu berperang, mana mungkin kita mampu menjebol kepungan?"
"Kau masih punya limapuluh ribu tentara, umpama mereka tak kuat berperang juga bisa dijadikan dinding manusia untuk melindungi kau dan kita sekalian meloloskan diri. Cui-ciangkun, kau sudah kenyang berperang, menghadapi situasi sekritis ini, kenapa kau berpikir pendek, memangnya kau tidak bisa memperhitungkan untung ruginya?"
"Maaf, otakku sekarang jadi tumpul, entah bagaimana pendapat dan akal Co-ciangkun?"
"Mata-mata itu jelas utusan musuh untuk melumpuhkan Liong-kiping yang kupimpin, mungkin malam ini mereka akan menggencet dari luar dan dalam. Daripada kita menunggu serbuan musuh, kenapa kita tidak menerjang keluar lebih dulu?"
"Maaf, sebagai seorang panglima perang aku yang bertanggung jawab, aku tidak bisa mengorbankan limapuluh ribu tentaraku yang sudah kelaparan, apalagi hanya untuk keselamatanku seorang."
"Tapi tigaribu pasukan pribadimu itu kan masih kuat bertempur?"
Tanya Co Ceng-gay.
"Bisa tidak mereka bertempur, silakan kau menanyakannya kepada Cui It-lun, mereka berada di bawah pimpinannya,"
Demikian kata Cui Po-san. Cui It-lun berkata dingin.
"Baiklah, biar kubicara terus terang kepada tayjin. Pertama, mereka sudah tidak bisa mengangkat senjata. Kedua, mereka' sudah patah semangat tidak mau berperang. Co-tayjin, kau ingin selamat mau melarikan diri, boleh silakan kau berusaha sendiri, aku akan sehidup semati dengan anak buahku."
Terhadap Cui Po-san yang masih lebih tinggi pangkat dan kedudukannya, Co Ceng-gay tidak mengumbar amarah, tapi terhadap Cui It-lun dia membentak.
"Cui It-lun, sikapmu mencurigakan."
"Tapi hari itu dia terluka oleh bidikan panah musuh,"
Cui Po-san membela.
"Menyinggung kejadian itu aku lebih merasa heran,"
Ucap Co Ceng-gay.
"Cui-ciangkun, urusan dinas harus diselesaikan secara dinas. Hari ini aku harus bertanya dan minta keterangan dari kepala barisan pengawal pribadimu ini."
"Oh, boleh, silakan kau menanyakan kepadaku dulu,"
Jawab Cui Po-san. Co Ceng-gay melengak, mendadak dia membentak.
"Bagus, agaknya kalian sudah sepakat hendak memberontak?"
Sembari membentak, tangannya terpentang. Satu tangan mencengkeram Cui Po-san, tangan yang lain menangkap Cui It-lun. Pada saat gawat itu, mendadak seseorang menjengek dingin.
"Betul, kami hendak memberontak, kau mau apa?"
Belum habis suaranya, orangnya pun tiba.
Yang datang adalah Beng Hoa Pedang Beng Hoa sudah mengancam punggungnya.
Karuan Co Ceng-gay terkejut bukan kepalang, jiwa sendiri lebih penting, mana sempat dia mencelakai orang lain?
Terdengar suara sobek yang keras, kain tenda yang terbuat dari kain terpal ternyata dijambret sobek oleh Tay-lik-eng-jiau-kang Co Ceng-gay.
Sigap sekali dia sudah menerobos ke luar.
Tapi baru beberapa langkah dia meninggalkan kemah, belum sempat berdiri tegak, rasa terkejut juga belum hilang, sinar berkilau dingin yang menyilaukan mata tahu-tahu menyambar tiba disertai hardikan nyaring.
"Kalau kau berani menjual jiwa bagi raja lalimmu, kenapa ingin melarikan diri?"
Penyergap ini adalah Kim Bik-ki yang datang bersama Beng Hoa Kepandaian Co Ceng-gay memang cukup hebat, meski jiwa terancam dia tidak gugup.
Sambil menggunakan Ih-pou-hoan-ling dia memiringkan tubuh melepaskan diri dari tusukan pedang Kim Bik-ki.
Sigap sekali golok dan pedangnya sudah berada di tangannya.
Bentaknya.
"Keparat, kau budak busuk ini juga berani menghina aku, biar aku adu jiwa dengan kalian."
Sembari bicara senjata bekerja.
Golok berputar miring, pedang melingkar tegak lurus membacok seperti golok.
Dia pikir sejurus juga dapat mengalahkan musuh, Kim Bik-ki akan dia bekuk dan dijadikan sandera untuk mengancam Beng Hoa.
Permainan golok dan pedang Co Ceng-gay yang saling berlawanan ini sebetulnya merupakan kepandaian tunggal di Bulim.
Kalau Kim Bik-ki pertama kali ini bergebrak dengan dia, mungkin dengan mudah dikalahkan, sedikitnya dia tidak mampu melayani permainan lawan.
Untung bersama Beng Hoa dia sudah pemah melabrak Co Ceng-gay, setelah pulang mereka berdiskusi.
Sedikit banyak sudah berhasil menyelami intisari permainan lawan yang lihay ini.
Walau Kim Bik-ki masih bukan tandingannya, tapi dalam waktu singkat tak mungkin dia dikalahkan apalagi dibekuk.
Tapi jurus serangan itu merupakan permainan mendesak musuh untuk menolong diri, lihaynya luar biasa.
"Trang"
Golok dan pedang beradu, memercikkan kembang api.
Pedang Kim Bik-ki memang bergerak lincah dan tangkas, isi kosong susah diraba dan bisa dimainkan sesuka hati, tapi benturan itu menyebabkan telapak tangannya pedas kesemutan, pedang hampir tak kuat dipegangnya lagi.
Co Ceng-gay sudah menggunakan Ban-liong-pou, langkahnya berkisar hendak melanjutkan serangan yang mematikan tapi cepat sekali Beng Hoa sudah menerobos keluar dari lubang tenda, ujung pedangnya kembali mengancam ulu hati.
Cepat sekali permainan sepasang pedang sudah bergabung.
Betapapun tinggi kepandaian Co Ceng-gay jelas dia takkan mampu meloloskan diri lagi.
Sementara itu di bagian luar terjadi keributan, banyak orang berlari mendatangi.
Barisan pengawal Cui Po-san bergerak cepat.
Sepasang pedang Beng Hoa dan Kim Bik-ki sudah terlanjur bergabung, mereka sudah menyelami permainan senjata Co Cenggay.
Co Ceng-gay sendiri juga insyaf situasi tidak menguntungkan dirinya.
Cui Po-san sudah memberontak dan mau menyerah kepada musuh.
Berapa pun tinggi kungfunya, betapa tebal ketenangannya tak urung dia gugup dan takut.
Beberapa jurus saja teridengar suara "sreet, sreet", dua kali pedang Beng Hoa menusuk tembus tulang pundak kiri Co Ceng-gay, demikian pula pedang Kim Bik-ki menusuk tembus tulang pundak kanannya.
Dua tulang pundaknya tertusuk dan patah, betapapun tinggi kungfunya juga tidak berguna lagi.
Beng Hoa menjambak rambut Co Ceng-gay, bentaknya.
"Urusan dinas tak perlu kubicarakan dengan kau, sekarang kau jawab pertanyaanku, di mana kau sembunyikan adikku. Lekas serahkan, mungkin aku bisa mengampuni jiwamu."
Co Ceng-gay menjengek dingin.
"Jangan kata aku tidak tahu, umpama tahu juga tidak akan kuberi tahu kepadamu."
Di tengah seringainya yang sadis, darah tampak meleleh dari ujung mulutnya.
Habis bicara, orangnya pun terkulai roboh binasa.
Agaknya dia tahu setelah kungfunya dipunahkan, hidup juga tidak berguna.
Ketika dirinya masih mampu mengerahkan hawa mumi terakhir, dia memutuskan urat nadi sendiri hingga jiwa melayang.
Lekas sekali para kepala barisan pengawal Cui Po-san sudah memburu tiba.
Mereka merubung maju, semua heran dan tak habis mengerti, seperti berlomba mereka bertanya.
"Toasay, apa yang terjadi?"
Cui Po-san sudah mengambil keputusan, sikapnya ternyata lebih tenang, katanya.
"Tidak apa-apa. Yang terang perang ini kupikir sudah tak usah dilanjutkan. Bagaimana pendapat kalian?"
Pertanyannya mendapat sambutan gegap gempita, semua hadirin menurut saja apa kehendak dan perintah panglima mereka.
Suasana gembira meliputi padang rumput, dendang lagu gembira terdengar di mana-mana.
Suasana gembira setelah perang usai jauh lebih ramai dibanding perayaan Jagal Kambing.
Satu hal harus disayangkan, Beng Hoa tidak berhasil menemukan adiknya.
Semula Beng Hoa menduga, perwira yang menangkap adiknya adalah Co Ceng-gay.
Tapi Cui Po-san dan Cui It-lun bilang tidak tahu menahu tentang kejadian itu.
Dinilai keadaan waktu itu, bila betul Co Ceng-gay membekuk Nyo Yan ke dalam markas, betapapun dia bertindak secara rahasia juga takkan mampu mengelabui kedua orang ini.
Setelah keadaan tenang dan tenteram, Cui Po-san juga membantu Beng Hoa memeriksa seluruh barisan anak buahnya, tapi jejak Nyo Yan tetap tidak diketemukan.
Perang di Sinkiang sudah usai, Beng Goan-cau tak bisa tinggal lebih lama di sini.
Meski puteranya belum ketemu, dia harus pulang bersama laskar gerilya yang dipimpinnya.
Beng Hoa minta ijin gurunya, dia bersama Kim Bik-ki tetap tinggal di Sinkiang, sepanjang ada kesempatan mereka akan terus mencari jejak adiknya.
Luka-luka Leng Ping-ji tidak membahayakan jiwa, tapi dia harus berobat lebih lanjut di Thian-san.
Tanpa pertolongan gurunya, kungfunya takkan bisa pulih.
Lama Beng Goan-cau mempertimbangkan permohonan anaknya, akhirnya dia memberi restu.
Juga berpesan supaya mengantar Leng Ping-ji pulang ke Thian-san, baru mencari jejak adiknya.
Demikian pula tugasmencari Toan Kiam-ceng diserahkan kepadanya.
Tapi setahun dua tahun hingga tiga tahun lamanya, Beng Hoa tetap tidak menemukan adiknya, demikian pula Toan Kiam-ceng.
Beng Hoa boleh dikata sudah melanglang seluruh padang rumput, memanjat puncak salju, turun ke dalam jurang.
Walau adiknya tidak ditemukan, tapi namanya makin tenar dan harum, tidak sedikit kejahatan yang tertumpas.
Jejak mereka tidak tetap, para gembala di padang rumput mengibaratkan mereka sebagai meteor padang rumput, walau sekali berkelebat lantas lenyap, namun kehadiran mereka di mana saja tetap mendatangkan cahaya, membawa ketenteraman dan kemerdekaan.
TAMAT MENYOAL JUDUL Buku ini merupakan cetak ulang Anak Pendekar terbitan Sastra Kumala tahun 1979.
Penggantian judul ini hanya mengembalikan ke judul aslinya, yaitu Mu Ye Liu Xing.
Selain terjemahan Gan KH ini, Mu Ye Liu Xing juga diterjemahkan oleh Tjan ID dengan judul Patriot Padang Rumput, Jiwa Ksatria.
SD Liong juga menerjemahkan dengan judul Gempa Taruna Pendekar, Darma Taruna Pendekar.
Entah mengapa, SD Liong membagi cerita ini menjadi 2 cerita, yaitu Gempa Taruna Pendekar 28 jilid, dilanjutkan dengan Darma Taruna Pendekar 14 jilid.
Dan lebih mengherankan lagi kedua cerita tsb belum tamat, GTP+DTP hanya 2/3 dari Anak Pendekar,
Jilid terakhir Darma Taruna Pendekar sama dengan Anak Pendekar
Jilid 31 hal 62.
Anak Pendekar sendiri terdiri dari 47 jilid.
Terjemahan Tjan ID malah lebih singkat lagi, Patriot Padang Rumput cuma 13 jilid, sedangkan Jiwa Ksatria cuma 2 jilid.
Ini sama dengan sampai
Jilid 12 hal 9 dari Anak Pendekar.
Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 3
Baca Juga: Setan Harpa 1