Eps 13 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
Ternyata Beng Hoa menggunakan lwekang Tay-na-ih-hoat dari kungfu Persia untuk memunahkan pukulan si paderi yang tangguh.
Tay-na-ih-hoat mirip dengan Su-nio-phoat-jian-kun kalangan persilatan di Tiongkok.
Namun Beng Hoa hanya berhasil mematahkan tujuhpuluh persen tenaga lawan, sisa tigapuluh persen tetap menimbulkan reaksi di tubuhnya, karena itulah dia harus berputar dua kali tadi baru sisa tenaga lawan dapat dipunahkan.
Kalau paderi itu kaget, Beng Hoa juga terkejut.
Terasa betapa lihay dan aneh lwekang paderi asing ini, untung selama setengah tahun ini dia beruntun mendapat rejeki sehingga kemajuannya pesat dan kuat menandingi pukulan paderi asing ini.
Tapi kalau dinilai kepandaian seluruhnya, jelas dia tetap bukan tandingannya.'' Kalau hanya adu pukulan, Beng Hoa kalah.
Tapi kombinasi antara pedang dan telapak tangan, dalam gebrakan permulaan tadi dia sudah unggul di atas angin.
Waktu menundukkan kepala, paderi itu melihat lubang di kasanya, tepat di ulu hatinya.
Karuan darahnya tersirap.
Karena timbul rasa jeri, maka dia tidak berani mendesak maju ketika Beng Hoa masih berputar dan belum siaga.
Setelah, berdiri tegak baru Beng Hoa berkata.
"Kami tidak bermaksud jahat, harap taysu berhenti sebentar; dengarkan penjelasanku."
"Suhu,"
Seru Ulise dari belakang.
"jangan percaya omongan bocah itu."
Paderi itu mengulapkan tangan, katanya.
"aku bisa melihat gelagat, tak usah kau banyak mulut. Lekas kau pulang dulu."
Ternyata dia tidak yakin dirinya bisa menang, dia malah khawatir muridnya mendesak dirinya menuntut balas, dia sendiri yang celaka.
Karena disemprot gurunya, bergegas Ulise kabur dari situ, setelah memanggil kudanya, menyusul ke arah Wi To-ping dan Yap Kok-wi pergi.
Beng Hoa berkata.
"Sebetulnya kami hanya ingin bertanya kepada muridmu. Syukur taysu sendiri telah datang, biar kami menanyakan langsung kepadamu saja."
"Hm, masih berani kau menyangkal telah menghina muridku? Tadi kusaksikan sendiri. Tapi aku tidak ingin mencari perkara, apa yang kau ingin tahu boleh kau tanyakan."
"Mohon tanya, .apakah Toan Kiam-ceng adalah murid yang baru kau terima?"
"Betul, kenapa?"
"Terus terang saja, pamannya adalah guruku, pamannya mengharap dia pulang ke rumah. Tolong kau serahkan dia kepadaku, biar kuajak pulang."
"O, pamannya adalah gurumu?"
Seru paderi asing dengan nada kurang percaya.
"Buat apa aku membphongimu? Boleh nanti kau tanyakan kepada Toan Kiam-ceng."
"Betul atau tidak bukan urusan-ku. Tapi kau ingin membawa Toan Kiam-ceng pulang, soal ini ada hubungannya dengan aku."
Kim Bik-ki berkata.
"Umpama betul kau adalah gurunya, kau tidak berhak melarang dia berkumpul dengan keluarganya."
"Keliru ucapan Li-sicu, pertama muridku ini pemah bilang bahwa pamannya tidak pernah menaruh perhatian kepadanya, kuyakin dia tidak akan mau pulang. Kedua, dia sudah kuangkat sebagai pewarisku, maka aku tidak akan mengizinkan dia pulang."
Kim Bik-ki gusar, katanya.
"Jus-' tru karena perbuatan Toan Kiam-ceng tidak benar maka pamannya ingin membawanya pulang dan dididik supaya baik Pamannya juga melarang kau mendidik keponakan-Paderi itu bergelak tawa, katanya.
"Kalau betul demikian, aku malah tidak tega melepasnya pulang. He, kalau pamannya melarang, dia justru amat senang belajar padaku. Cukup sekian saja, maaf lolap mohon diri."
Setelah paderi asing itu pergi Kim Bik-ki mengomel kepada Beng Hoa.
"Beng-toako, kau biarkan pantat kuali itu pergi sudah tidak benar, kenapa kau pun melepaskan paderi itu, apa kau takut bukan tandingannya?"
Beng Hoa tertawa, katanya.
"Aku memang tidak yakin dapat mengalahkan dia. Tapi membiarkan dia pergi bukan lantaran aku takut kepadanya."
"Lalu kenapa?"
"Lohay masih mengharap dapat mengubah pikiran mereka. Tadi kau memukulnya, bukan? Mungkin dia sukar diajak kompromi lagi."
"Ya, mungkin aku yang salah. Memangnya aku harus minta maaf kepadanya?"
"Kenapa marah. Lihatlah cuaca cerah ceria, daerah ini indah, marilah kita bertamasya di sekitar sini, kau senang tidak?"
"Ada kau sebagai pengiringku, aku selalu akan merasa senang dan tenteram,"
Demikian ujar Kim Bik-ki tertawa. Mereka mengeprak kuda berjajar menuju ke arah timur. Mendadak Beng Hoa berseru heran, segera menarik tali kekang menghentikan kuda. Kim Bik-ki kaget, tanyanya.
"Ada apa toako?"
Beng Hoa menjelaskan.
"Batu cadas serupa lutung di depan itu seperti berubah bentuknya, mari kita memeriksanya."
Itulah sebuah batu yang menjorok keluar dari pinggang gunung bentuknya aneh dan luar biasa, di kiri kanan terdapat dua tonggak batu sebesar pelukan tangan orang dewasa, di bagian bawahnya terdapat dua tiang batu yang menyambung, bentuknya mirip seekor lutung yang sedang mengantuk.
Waktu datang tadi mereka memang melihat bentuk batu yang aneh ini, namun tidak menaruh perhatian.
Setelah mereka lebih dekat tampak salah satu lengan dari batu lutung itu telah patah separuh.
Bagi pandangan seorang ahli silat seperti Beng Hoa, sekali pandang lantas tahu bahwa patahnya lengan lutung batu itu karena tertabas golok atau kapak, mungkin juga tertabas oleh kekuatan telapak tangan.
Yang diperhatikan Kim Bik-ki memang hanya bagian lengan lutung yang patah, katanya.
"Ini akibatnya pukulan Tay-Iik-kimkong atau Gun-goan-it-au-kang dan sejenisnya. Walau lihay tenaga orang itu, namun kau juga mampu melakukan."
"Coba kau periksa lagi, di perut lutung ini juga terdapat bekas goresan pedang."
Memang di bagian perut lutung batu ini terdapat goresan silang bekas tabasan pedang, di atas goresan pedang itu terdapat delapanbelas lubang-lubang kecil sebesar dupa.
Kim Bik-ki baru terkejut, katanya.
"Dalam sejurus orang ini mampu menusuk delapanbelas lubang kecil di atas batu sekeras ini, kalau tusukan ditujukan ke badan manusia, wah bagaimana akibatnya? Kiamhoat dari aliran mana sel i hay ini? Toako, kau bisa membedakan?"
"Terima kasih akan pujianmu. Inilah Lian-hoan-toh-bing-kiamhoat dari Kong-tong-pay yang dilancarkan oleh sam-suhu."
"O, jadi Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat dari perguruanmu, jadi orang ini seharusnya adalah... adalah...."
"Tong-bing-cu sudah mati, orang yang mampu sekaligus menusuk delapanbelas lubang di atas batu dengan Lian-hoan-tohbing-kiam-hoat hanya tinggal guruku seorang. Dari gelagat ini, agaknya suhu sedang bertanding, entah dengan siapa?"
"Kenapa main teka-teki, jikalau gurumu juga berada di sini, dia pasti akan pergi ke tempat Lohay mencarimu."
"Betul, mari kita lekas pulang."
Dengan kencang mereka mem-bedal kuda, hanya satu jam mereka sudah tiba di perkemahan, yang menyambut mereka adalah Santala.
"Apakah ada tamu datang kemari?"
Tanya Beng Hoa Santala melengak, katanya "Bagaimana kau bisa tahu secepat ini, aku memang sedang menunggu kau dan akan kuberi tahu.
Ada tamu yang datang dari jauh, begitu tiba dia lantas tanya kalian."
Tak sempat Beng Hoa bertanya, cepat dia mendahului lari ke perkemahan Lohay. Terdengar suara yang sudah dikenalnya berkata.
"Hiantit, kapan pesta pernikahan kalian akan diadakan? Semalam tentu kau senang-senang bermain dengan nona Kim. Kelo khawatir kalian pergi terlalu jauh, mungkin malam nanti baru akan pulang."
Di samping senang Beng Hoa juga kecewa Ternyata yang datang adalah Song Theng-siau kawan seperjuangan ayahnya Lohay sudah menceritakan keadaan di sini, maka dia sambut kedatangan Beng Hoa dengan olok-olok.
Beng Hoa hanya tertawa malu tanpa mendebat atau memberi penjelasan..Song Theng-siau agak heran, katanya.
"Hiantit apa kau ada persoalan, kenapa tidak bicara?"
"Melihat paman, saking senang aku jadi linglung,"
Ucap Beng Hoa berkelakar.
"Masih ada yang membuatmu senang,"
Ujar Song Theng-siau.
"ayahmu dan para kawan seperjuangan dari laskar rakyat tak lama lagi akan datang kemari."
Mendapat kabar bahwa ayahnya mau datang sudah tentu bukan main senang Beng Hoa.
Tapi gurunya Tan Khu-seng tidak kemari hal ini membuatnya khawatir dan was-was.
---ooo0dw0ooo---DUGAAN Beng Hoa tidak keliru, orang yang meninggalkan goresan pedang di perut lutung batu itu memang bukan lain adalah Tan Khu-seng gurunya Bagaimana Tan Khu-seng mendadak bisa berada di tempat ini?
Biarlah kita kembali ke belakang, kembali ke Kong-tong-san.
Sejak Boh Le-cu pergi tanpa pamit, hati Tan Khu-seng gundah gulana.
Dia tahu Boh Le-cu tentu mencari jejak Bwe-san-ji-koay, dari tangan Bwe-san-ji-koay merebut Sin Jit-nio, dari mulut Sin Jitnio dia akan mencari jejak Han Ji-yan yang membunuh ayahnya.
Nasihat sahabat baiknya Toan Siu-si selalu menjadi pendorong hatinya "Memang aku sudah hidup merana delapanbelas tahun, aku pun sudah menyia-nyiakan masa remaja Le-cu, sekarang aku masih takut mendengar omongan orang lain, aku harus menyusul dan menemukan Le-cu."
Untuk menemukan Boh Le-cu, dia harus mencari Bwe-san-jikoay.
Dia menduga setelah Bwe-san-ji-koay menculik Sin Jit-nio, tak mungkin mereka pulang ke Bwe-san.
Dunia sebesar ini ke mana dia harus mencari?
Dua hari setelah Beng Hoa pergi, berarti tiga hari setelah dia menjabat ciangbun Kong-tong-pay, dia kedatangan seorang tamu yang terlambat.
Tamu ini adalah suheng Kaypang pangcu Koan Ihting atau tianglo tertua dari Kaypang yaitu Siau Ih-can.
Siau Ih-can adalah salah satu tamu undangan Tong-cin-cu, kini dia terlambat tiga hari, sudah tentu dia sudah tahu kalau Tan Khuseng sudah menjabat ciangbun, maka kedatangannya berarti memberi selamat kepada Tan Khu-seng.
Mendengar kedatangan Siau Ih-can, Tan Khu-seng amat girang.
"Siau Ih-can adalah Kaypang tianglo, mereka paling cepat mengirim dan mencari kabar, kenapa aku tidak minta bantuannya untuk mencari jejak Bwe-san-ji-koay?"
Bergegas dia keluar menyambut. Setelah basa-basi seperlunya Siau Ih-can berkata.
"Maaf, pengemis tua ini datang terlambat tiga hari. Sebetulnya aku bisa hadir tepat pada waktunya, tapi di tengah jalan aku terbentur urusan kecil, terpaksa aku terlambat datang."
"Locianpwe terlalu sungkan,"
Ucap Tan Khu-seng.
"Locianpwe sudi datang sudah memberi muka kepada kami, kami pun amat senang tan bahagia. Terus terang ada satu ia! kami ingin mohon bantuan ke-jada locianpwe."
Baru buka bicara, orang lantas ninta bantuan, Siau Ih-can bingung dan heran, tanyanya.
"Ah, kenapa sungkan. Entah ciangbun ada persoalan apa?"
"Dalam golongan sesat ada dua orang yang berjuluk Bwe-san-jikoay, tentu locianpwe juga sudah tahu?"
Siau Ih-can melenggong, pikirnya.
"Lho, kok kebetulan dia juga tanya kedua orang ini?"
Lalu dengan tertawa dia berkata.
"Maksudmu adalah Cu Kak dan Loh Ang, beberapa hari yang lalu aku mendengar berita mereka. Tapi tolong kaujelaskan, kenapa kau mencari tahu kabar mereka?"
Secara jelas Tan Khu-seng lantas menceritakan seluk beluknya, maka Siau Ih-can juga menuturkan pengalamannya beberapa hari ini kepadanya.
Pada waktu dia mampir di salah satu markas cabang Kaypang di tengah jalan, di markas cabang itu kebetulan mereka menerima berita dari burung pos yang dikirim seorang murid Kaypang, katanya dia menemukan jejak Bwe-san-ji-koay.
"Terima kasih akan keterangan locianpwe. Baiklah, besok aku akan berangkat ke Sinkiang, apa pun akan kutemukan mereka."
"Tan-heng,"
Ujar Siau Ih-can setelah termenung sejenak.
"memang bagus kalau kau sendiri yang akan berangkat, aku pun ingin titip pesan kepadamu."
"Locianpwe jangan sungkan, coba terangkan."
Siau Ih-can menceritakan hubungan sute-nya dengan Bwe-san-jikoay, katanya.
"Tan-heng kalau di Sinkiang kau bertemu dengan dia, sudilah kau pandang mukaku."
Sedikit banyak Tan Khu-seng tahu persoalan Tiong Tiang-jong dan puteranya Tiong Bok-jong, dengan kaget dia berkata.
"Jadi sute-mu itu masih hidup sampai sekarang.?"
"Betul, beberapa bulan yang lalu baru aku tahu bahwa dia berhasil menyelamatkan diri dan sampai sekarang masih hidup."
Ternyata tiga bulan yang lalu dia pemah bertemu dengan Kim Tiok-liu.
Dia mencari tahu kepada Kim Tiok-liu, baru tahu kalau ayah Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih duapuluh tahun yang lalu pernah melihat Tiong Bok-jong dengan Bwe-san-ji-koay.
"Setelah mendapat berita ini dari Kim tayhiap, sebetulnya aku akan hadir dulu di pertemuan besar Kong-tong-pay kalian baru akan mencari jejaknya. Tak nyana di tengah jalan mendapat laporan bahwa ada murid Kaypang yang menemukan jejaknya, sungguh tak nyana selama duapuluh tahun ini dia masih berkomplot dengan Bwe-san-ji-koay. Tapi setelah tahu bahwa dia masih hidup aku dan Koan-sute amat lega."
"Dengan pangcu aku pernah berunding, mengingat dia anak tunggal guru kami, kalau dia mau kembali ke jalan benar, kami memutuskan tidak akan mengusut persoalan lama. Ai, bicara kejadian dulu, aku juga punya kesalahan. Suhu menyuruh dia ikut aku bertugas di luar, aku tidak menjaga dan mengawasinya dengan baik sehingga dia berkomplot dengan orang jahat, sebelum kejadian aku memang tidak tahu apa-apa."
Tan Khu-seng maklum, kenapa dia terlambat tiga hari, ternyata lantaran mencari jejak sang sute.
Padahal dulu dia hampir tewas oleh perbuatan sute-nya itu, kini kejadian sudah berselang empatpuluhan tahun, namun dia masih memikirkan persaudaraan sesama perguruan, sungguh harus dipuji.
Siau Ih-can berkata lebih lanjut.
"Kecuali minta kau tidak melukai dia, kuminta kau menyampaikan pesan kami, sampaikan apa yang tadi dibicarakan kepadanya."
"Baiklah, aku akan memberi tahu, kalian tidak mengusut perkara lama, semoga dia balik ke jalan terang. Cukup demikian?"
Siau Ih-can berpikir sejenak, katanya.
"Sute-ku ini sombong dan angkuh, walau berselang puluhan tahun, mungkin tabiatnya tak pernah berubah. Tak usah kau bicara secara jelas, cukup asal bilang aku dan Koan-sute merindukan dia, sekarang sudah sama-sama tua, semoga menjelang akhir bisa berkumpul kembali."
Setelah Tan Khu-seng menerima permintaannya, Siau Ih-can lantas berpamitan.
"Aku juga harus lekas pulang melaporkan hal ini kepada pangcu, akan kuminta dia mengutus orang ke Sinkiang ikut mencarinya secara terpisah. Maaf, sekarang juga aku mohon diri."
Hari kedua Tan Khu-seng memanggil Tay-goan Tojin murid tertua ciangbunjin terdahulu Tong-cin-cu serta menyerahkan tugas pimpinan kepadanya, lalu turun gunung.
Hari itu dia mulai memasuki daerah Duluanki, melewati sebuah gunung salju.
Di saat dia melepas lelah sambil menikmati pemandangan, mendadak didengarnya di depan seorang laki-laki berkata.
"He, kembang apa itu? Indah sekali, sayang berduri."
Di daerah Sinkiang bertemu dengan orang Han, tentu saja Tan Khuseng menarah perhatian.
Lekas dia ke depan.
Tampak di bawah sebuah jamur salju, di tengah semak kayu dan kembang, samar-samar dia melihat dua orang.
Seorang di antaranya memanggul sebuah buli-buli besar berwarna merah berdandan pengemis, seorang lagi adalah pemuda usia duapuluhan tahun.
Tapi kedua orang itu belum melihat dirinya.
Terkejut dan girang hati Tan Khu-seng, pikirnya.
"Sungguh kebetulan bersua dia di sini, biar kudengar pembicaraan mereka."
Walau tahu pengemis ini adalah Tiong Bok-jong, namun siapa pemuda itu dia belum tahu, maka dia ingin tahu lebih lanjut. Terdengar pengemis tua berkata.
"Kiam-ceng, apa kau tahu kembang apakah ini?"
Tan Khu-seng melenggong.
"Kiam-ceng, seperti sudah kukenal nama ini, siapa dia?"
"Entahlah,"
Sahut pemuda itu.
"Inilah bunga Mantolo, walau kelihatan indah, sayang bukan saja berduri juga beracun."
Pemuda itu menghela napas, katanya.
"Kembang yang paling indah kenapa selalu berduri. Ai, kembang sama dengan manusia"
Pengemis itu tertawa, katanya.
"Agaknya kau merindukan Lomana yang cantik bagai bidadari itu."
"Betul, gadis tercantik dari suku Uigior ini ternyata berjodoh dengan pemburu yang kasar dan goblok itu, bukankah seperti sekuntum kembang ditancapkan di gundukan najis kerbau."
Tergerak hati Tan Khu-seng.
"Lomana bukankah itu nama puteri Lohay yang pernah diceritakan Beng Hoa?"
Seperti diketahui, waktu Miao Tiang-hong datang ke Kong-tong-san, dia titip kabar dan mengundang Beng Hoa pergi ke Sinkiang menghadiri pesta pernikahan Lomana, maka nama ini masih teringat baik olehnya.
Setelah teringat pada Lomana seketika dia tahu siapa pemuda ini.
"Kiam-ceng? Toan Siu-si dulu pemah menyebut nama keponakannya, kalau tidak salah memang bernama Kiam-ceng. Tak nyana keduanya bersua dengan aku di sini."
Pengemis tua dan pemuda ini memang bukan lain adalah Tiong Bok-jong dan Toan Kiam-ceng, mereka pulang dari Duluanki setelah gagal menculik Lomana, mereka siap menyongsong kedatangan pasukan besar kerajaan yang akan menyerbu Sinkiang.
Tiong Bok-jong berkata lebih lanjut.
"Kembang mantolo memang beracun, kebetulan dapat kuberikan kepada Bwe-san-ji-koay untuk membuat racun, biar kupetik saja"
Kembang mantolo itu tumbuh di lereng salju yang.
curam, baru saja Tiong Bok-jong nendak mengembangkan ginkang memanjat; lereng terjal itu, mendadak didengarnya desing sambaran senjata rahasia yang tajam.
Tiong Bok-jong kaget, waktu menoleh dilihatnya seorang laki-laki setengah baya berdiri di belakangnya Laki-laki itu bukan lain adalah Tan Khu-seng.
Dengan tertawa Tan Khu-seng berkata.
"Memetik sekuntum kembang, kenapa membuang banyak tenaga?"
Belum habis dia bicara tampak kembang mantolo itu tengah melayang tertiup angin.
Gagang daun dan kelopak kembang masih utuh seperti digunting seseorang dengan hati-hati.
Ternyata Tan Khu-seng menyambitnya dengan mata uang tembaga, dahannya tertimp-ik putus sehingga kembangnya melayang jatuh.
Bunga itu terletak di ketinggian belasan tombak, kembang itu tumbuh di tengah semak-semak lagi, sekeping mata uang tembaga ditimpukkan ke atas sudah sukar, menyelinap di antara semak belukar dan tepat mengenai gagang kembang tanpa membuat kelopak kembang gugur, betapa sukarnya dapat dibayangkan.
Sudah tentu Tiong Bok-jong dan Toan Kiam-ceng kaget bukan main.
Kembang itu melayang turun dengan enteng, mereka melihat dengan terkesima.
"Sudah lama aku mengasingkan diri di daerah terpencil di barat ini, tak nyana orang pandai di dunia ini memang tak terhitung banyaknya. Kepandaian orang ini agaknya masih lebih tinggi dibanding bocah she Beng itu,"
Demikian batin Tiong Bokjong. Tan Khu-seng menangkap kembang itu langsung diangsurkan kepada Toan Kiam-ceng, katanya dengan tersenyum.
"Anak muda, kau suka kembang mantolo, biar kuberikan kembang ini kepadamu. Boleh kau beri tahu siapa namamu?"
Memangnya Toan Kiam-ceng selalu was-was, dia menyurut mundur dua langkah baru menjawab.
"Kembang harus dipetik sendiri baru ada artinya, kau berikan kepadaku, banyak terima kasih, aku tidak mau."
"Baiklah kau tak mau juga tidak apa. Siapa she-mu?"
"Kenapa aku harus memberi tahu kepadamu? Aku kan tidak hutang apa-apa dengan kau."
Tan Khu-seng tertawa lebar, katanya.
"Kau tak mau bilang, aku sudah tahu, kau she Toan, betul tidak?"
"Aku she Toan atau bukan ada sangkut paut apa dengan kau? Sebaliknya siapa kau?"
"Aku Tan Khu-seng dari Kong-tong-pay. Toan Kiam-ceng tentu kau tahu bahwa aku sahabat baik pamanmu."
Begitu dia memperkenalkan diri, Tiong Bok-jong dan Toan Kiamceng berjingkrak kaget.
"Kau keliru,"
Kata Toan Kiam-ceng dingin.
"aku tidak punya paman, tentang siapa she dan namaku, tak perlu kuberi tahu kepadamu."
Tan Khu-seng kewalahan menghadapi sikap ketusnya, katanya.
"Bencana atau rejeki selalu tergantung perbuatan orang. Jangan setelah kau mengalami keruntuhan baru menyesal. Itulah pesan Toan Siu-si yang minta kusampaikan kepadamu. Umpama kau tidak menganggap dia sebagai pamanmu, apa salahnya kau mendengar nasihatnya. Baiklah, cukup sekian saja, semoga kau tahu diri."
Lalu dia berpaling, dengan pandangan tajam dia menatap pengemis tua, kataaya.
"Sungguh bahagia dapat bertemu dengan Tiong-cianpwe di sini. Betapa besar nama baik cianpwe di kalangan Bulim dulu, tentu kau tidak berpandangan cupat seperti angkatan muda, menyimpan rahasia pribadimu." ? Bercekat hati Tiong Bok-jong, batinnya.
"Ternyata dia sudah tahu asal-usulku."
Tapi sikapnya tetap tenang dan wajar, katanya dingin.
"Tiong-locianpwe apa?"
"Apakah kau bukan Tiong Bok-jong Tiong-locianpwe?"
Tiong Bok-jong bergelak tawa, katanya.
"Siapa itu Tiong Bokjong, Tiong Bok-jong sudah lama mati."
Tan Khu-seng tertegun, namun lekas dia sudah maklum apa maksud orang, mendadak dia merangkap kedua jari lalu menotok ke dada orang sambil berkata.
"Locianpwe tidak berani mengaku, terpaksa aku berlaku kurang ajar terhadap locianpwe."
Sepasang jarinya ini bukan saja dapat menotok juga bergerak sebagai pedang, gerakan itu Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat.
Sebelum jarinya menyentuh pakaian, Tiong Bokjong sudah merasa didesak angin kencang, tahu kalau dadanya kena tertotok jari orang mungkin bisa berlubang seperti tertusuk badik atau pisau.
Terancam bahaya sudah tentu Tiong Bok-jong tak berani berlaku ayal, langsung dia menggunakan ilmu tunggalnya, tangan merentang melindungi dada dengan jurus Jan-liong-jiu, telapak tangannya membelah keluar.
Terdengar deru angin bergulung menerpa ke depan, ternyata tanpa sadar dia melancarkan Gungoan-it-ou-kang salah satu dari tiga ilmu tunggal kebanggaan Kaypang.
Tampak pakaian Tan Khu-seng melambai keras seperti didera angin badai, namun sebat sekali dia sudah melompat mundur setombak lebih.
Serunya memuji.
"Bagus, hebat memang Gun-goanit-ou-kang."
Tiong Bok-jong lantas sadar.
"Agaknya dia memaksa aku menunjukkan ilmu perguruan."
Khawatir Tan Khu-seng balas menyerang dan rikuh kalau mungkir lagi, terpaksa Tiong Bok-jong berkata.
"Betul, empatpuluh tahun yang' lalu pernah muncul seorang Tiong Bok-jong, tapi Tiong Bok-jong yang dulu itu sudah mati. Kau mau bicara dengan aku atau mau bicara dengan Tiong Bok-jong yang hidup empatpuluh tahun lalu?"
Orang lain mungkin bingung mendengar ucapannya, tapi Tan Khu-seng mengerti, katanya.
"Aku ingin bicara dengan Tiong Bokjong yang empatpuluh tahun lalu menjadi murid Kaypang, yaitu yang sekarang ada di depanku. Jangan kau anggap karena kau dipecat dari Kaypang lantas menganggap dirimu sudah mati."
"Betul, aku memang Tiong Bok-jong yang hidup empatpuluh tahun lalu, tapi sejak larna aku bukan murid Kaypang. Jikalau karena Tiong Bok-jong adalah murid Kaypang dan kau mau mengajak bicara, maka kau keliru menemukan orang."
"Pasti tidak salah, karena sekarang kau masih boleh kembali ke Kaypang, itulah pesan kedua su-heng-mu yang minta kusampaikan kepadamu."
"Terima kasih, boleh kau pulang dan beri tahu mereka, umpama mereka sendiri kemari minta aku pulang, aku pun takkan kembali ke Kaypang."
"Kalian tiga saudara seperguruan sudah sama-sama berusia lanjut, kedua suheng-mu amat merindukan kau."
"Orang she Tiong sudah biasa hidup bebas, tak ada minat bertemu dengan segala pangcu."
Tan Khu-seng melihat orang bersikap begitu ketus, hubungan persaudaraan dianggap sebagai penghinaan, karuan dia gelagapan tak mampu bicara. Tiong'Bok-jong menarik muka, katanya pula.
"Persoalan sudah jelas, yang kau cari adalah Tiong Bok-jong murid Kaypang, bukan aku. Maaf, aku tidak punya tempo bercakap-cakap dengan engkau di sini."
Habis bicara dia menarik Toan Kiam-ceng diajak pergi. Seperti burung menerobos hutan, sekali melompat Tan Khu-seng sudah di depan mereka, bentaknya sambil membalik badan.
"Tunggu sebentar!"
Tiong Bok-jong kaget, kedua tangan menjaga dada, bentaknya.
"Tan Khu-seng, apa kehendakmu?"
"Sekarang aku bukan bicara soal Kaypang, aku bicara untuk urusanku sendiri."
"Aku tidak bermusuhan dengan kau, ada urusan apa kau mencari aku?"
"Dengan kau aku tidak ada persoalan, tapi dengan kedua temanmu aku punya perhitungan."
Toan Kiam-ceng salah paham, dia mengira yang dimaksud oleh Tan Khu-seng adalah dirinya, seketika berubah air mukanya.
"Kalau kau tidak permusuhan dengan aku, aku tidak peduli orang lain, tiada sangkut pautnya dengan aku, aku tidak suka mencampuri urusan yang tiada hubungan dengan aku."
"Kau mau atau tidak, suka atau tidak, aku tidak peduli, tapi soal ini terpaksa kau harus turut campur."
Tiong Bok-jong khawatir bila dia harus bentrok dengan Tan Khuseng, terpaksa dia mengubah nada.
"Baiklah, coba jelaskan, siapa yang kau cari?"
"Bwe-san-ji-koay."
"Wah, maaf, aku memang kenal mereka, tapi sekarang aku tidak tahu di mana mereka."
"Kau punya hubungan selama duapuluh tahun dengan Bwe-sanji-koay, ke mana saja mereka tentu dapat kau kira-kira. Boleh kau pikir dulu, apa mereka pernah bilang kepadamu tapi sudah kau lupakan? Kalau betul mereka tidak memberi tahu kepadamu, terpaksa kau harus menunjukkan kepadaku, tempat-tempat persembunyian mereka."
"Hm, memangnya aku ini tidak punya kerja, aku ada urusan penting yang akan kubereskan, memangnya siapa punya tempo menemani kau mencari mereka. Persetan!"
Dengan kekerasan dia menerjang lewat dari samping Tan Khu-seng.
Langkahnya ini sebetulnya amat berbahaya, dia bertaruh apakah Tan Khu-seng berani bertindak kepada dirinya.
Tapi setelah dia lewat dari samping Tan Khu-seng, tak urung telapak tangannya basah oleh keringat dingin.
Sesuai dugaannya, Tan Khu-seng tidak berani menggunakan kekerasan.
Toan Kiam-ceng mengintip di belakangnya, bergegas mereka berlari ke bawah.
Tan Khu-seng tak mampu berbuat apaapa, tak tahu bagaimana dia harus mengambil tindakan.
Setelah beberapa kejap Tiong Bok-jong menoleh.
Melihat Tan Khu-seng tidak membuntutinya, lega harinya, katanya.
"Untung dia tahu diri, kalau tidak biar dia rasakan pukulan Telapak Besi ku."
Bara saja lolos dari lubang jarum, mulutnya sudah membual.
"Memang, meski kiamhoat-nya lihay mana mampu menandingi Gun-goan-it-ou-kang locianpwe yang sudah diyakinkan puluhan tahun, mana berani dia mengejar? Tapi kita harus lekas pulang ke pangkalan."
"Kalau dia tidak berani menggunakan kekerasan pasti tak berani mengejar kita Memang kita bukan takut kepadanya, soalnya kita harus lekas bergabung dengan Wi To-ping dan lain-lain."
Mulut bicara begitu tapi hati takut bukan main, maka langkahnya makin cepat. Setelah cukup jauh, baru Tiong Bok-jong meraba lega, katanya.
"Umpama dia berani mengejar, sekarang dia sudah takkan bisa menangkap kita."
Ternyata tak jauh di depan, mereka sudah melihat Lo-wan-ciok (Batu lutung tua).
Sudah puluhan tahun Tiong Bok-jong mondarmandir di daerah Sinkiang, seluk beluk di sini sudah dikenalnya Makin mendekati Lo-wan-ciok hatinya makin lega, karena dia tahu letak Lo-wan-ciok ini lebih seratus li dari pangkalan Lohay.
Tak nyana belum habis dia bicara, mendadak didengarnya sebuah siulan, seseorang berkata.
"Cukup lama aku menunggu, kenapa baru sekarang kalian sampai?"
Waktu Tiong Bok-jong dan Toan Kiam-ceng mengangkat kepala, tampak seorang laki-laki berpakaian putih sedang melompat turun dari atas Lo-wan-ciok Siapa lagi kalau bukan Tan Khu-seng.
Karuan kaget Tiong Bok-jong bukan main, bentaknya.
"Tan Khuseng, kau... kau menguntit kemari apa kehendakmu?"
"Bukankah sudah kukatakan, aku ingin kau menunjukkan tempat persembunyian Bwe-san-ji-koay."
"Bukankah sudah kujelaskan tadi, aku tiada tempo menemani kau."
"Kau tidak punya tempo tidak jadi soal asal aku punya tempo menemani kau. Kau bilang ada urusan penting bukan?"
"Betul."
"Baik, kau ke mana aku ikut ke mana, bila kau sudah punya waktu baru kau ajak aku mencari orang. Setelah Bwe-san-ji-koay ketemu, baru kau boleh pergi meninggalkan aku."
Tahu dirinya tak mungkin melepaskan diri dari kuntitan Tan Khuseng, tiba-tiba timbul akal busuknya.
"Tan Khu-seng, kau minta aku membantumu, itu tidak sukar. Tunjukkan dulu kemampuanmu."
"Baik, sebutkan saja caranya. Bertanding silat atau sastra, tetap kuiringi."
"Kau tidak bermusuhan dengan aku, buat apa bertanding silat, lebih baik tidak pakai kekerasan."
"Tidak pakai kekerasan juga boleh. Bagaimana caranya, jelaskan."
"Kita gunakan lutung batu ini. untuk memperlihatkan kelihayan masing-masing. Kalau betul kungfumu lebih unggul dari aku, aku tunduk pada perintahmu."
Dibilang pertandingan, sebetulnya hanyalah demonstrasi kungfu kemahiran masing-masing, tapi bagi seorang ahli silat pasti dapat melihat dan menilai siapa tinggi siapa rendah.
Tan Khu-seng menduga dengan kedudukan Tiong Bok-jong, orang tidak akan mungkir bila dikalahkan, maka dia berkata.
"Baiklah, wanpwe menurut saja, silakan mulai dulu."
"Baik, lohu tunjukkan keburuk-anku."
Kedua tinjunya mengepal erat, berdiri di depan Lo-wan-ciok dia menggerakkan kedua tangannya seperti mengukur jarak, lalu mengerahkan tenaga, mendadak menghardik.
"Putus!"
Kedua telapak tangan membelah bersama.
"prak"
Lengan kanan Lo-wan-ciok seketika tertabas putus separuh. Tan Khu-seng tersenyum, katanya.
"Gun-goan-it-ou-kang dari Kaypang memang tidak bernama kosong."
Dalam hati dia membatin.
"Sejak meninggalkan Kaypang selama empatpuluh tahun ini tentu Tiong Bok-jong bertekad adu kekuatan dengan kedua suheng-nya, maka selama ini pasti dia menggembleng diri. Menilai kekuatan Iwekang-nya ini mungkin memang setanding dengan Koan Ih-ting. Sayang dia tetap menjurus di jalan sesat, kalau tidak, bila suhengnya tahu hasil yang dicapainya ini, betapa senang hatinya."
Melihat orang seperti berpikir, Tiong Bok-jong mengira orang merasa jeri setelah melihat kekuatannya, katanya dengan membusungkan dada.
"Aku pun mengagumi Lian-hoan-toh-bingkiam-hoat Kong-tong-pay kalian, sekarang silakan kau demonstrasikan kema-hiranmu, biar terbuka mataku."
"Kehendak locianpwe mana berani kutolak. Mohon diberi petunjuk."
Pada akhir perkataannya, mendadak sinar pedang berkelebat bagai kilat menyambar, jadi tidak seperti dugaan Tiong Bok-jong, Tan Khu-seng harus menghimpun tenaga berkonsentrasi lebih dulu.
Bagi orang lain kelihatannya dia seenaknya menggerakkan tangan tahu-tahu bagian perut dari Lo-wan-ciok sudah dihiasi dua jalur goresan pedang bersilang, di antara goresan pedang itu terdapat lubang kecil-kecil hasil tusukan ujung pedang sebanyak delapanbelas.
Apa yang disaksikan Beng Hoa belakangan adalah goresan pedang di perut Lo-wan-ciok adalah hasil demonstrasi kedua orang ini.
Tapi Beng Hoa hanya bisa menyaksikan hasil demonstrasi kungfu mereka, namun tidak bisa menemukan pertandingan keras yang mereka tinggalkan.
Padahal Tan Khu-seng sendiri juga tidak menduga bahwa dia harus bertindak secara keras terhadap pengemis tua ini.
Di luar tahunya, Tiong Bok-jong sudah punya rencana jahat, di waktu Tan Khu-seng berkonsentrasi, dari belakang dia siap menyergap secara keji.
Amgi atau senjata rahasia yang sudah dia siapkan adalah Tokbu-kim-ciam-liat-yam-tan (Granat kabut beracun dengan jarum emas berbisa).
Semula granat ini adalah milik Sin Jit-nio, Bwe-sanjit-koay memaksa untuk mengajarkan kepada mereka, belakangan ini Bwe-san-ji-koay mengajarkan pula kepada Tiong Bok-jong.
Baru pertama kali ini dia menggunakan granat buatannya.
Mimpi pun Tan Khu-seng tidak menduga Tiong Bok-jong bakal bertindak secara rendah dan'hina, apalagi dia tahu setiap murid Kaypang dilarang menggunakan amgi yang beracun, bahwasanya tak terpikir oleh Tan Khu-seng bahwa Tiong Bok-jong sudah menyiapkan senjata rahasia sejahat ini.
Saat mana sepenuh perhatian dia sedang mendemonstrasikan permainan ilmu pedangnya dengan jurus Oh-ka-cap-pwe-bak dia meninggalkan delapanbelas tusukan lubang pedang di perut Lowan-ciok.
Di saat dia senang bahwa permainannya lancar dan bagus, saat itulah dia terbokong.
Akan tetapi kepandaian Tan Khu-seng memang bukan olah-olah lihaynya, reaksinya menghadapi perubahan juga teramat cepat.
Di tengah kepulan asap tebal, tampak sinar putih berkelebat.
Badan Tan Khu-seng terjilat api namun dari tengah kabut tebal dia menubruk keluar.
"Tiong Bok-jong, sebetulnya aku berjanji kepada suheng-mu untuk tidak melukai kau. Bagus, sekarang kau malah yang melukai aku, biarlah kita bertanding kepandaian sejati."
Sekali berguling di tanah, Tan Khu-seng memadamkan api yang menyala di badannya, sambil menenteng pedang dia mengejar.
Bahwa senjata rahasia beracunnya yang keji tak berhasil merobohkan lawan, dalam pertandingan kungfu jelas dia sudah dikalahkan, mana dia masih berani bergebrak?
Beruntun Tiong Bokjong menimpukkan dua butir granat asapnya.
Kali ini Tan Khu-seng sudah siaga, sudah tentu tak mungkin melukainya lagi.
Tapi di tengah kepulan asap tebal itulah Tiong Bok-jong dan Toan Kiamceng melarikan diri, jaraknya makin jauh.
Sebetulnya Tan Khu-seng ingin mengejar, mendadak dia merasa lututnya kesemutan, hampir saja dia terjungkal jatuh.
Berbareng dia rasakan kepalanya pening, mata berkunang-kunang.
Ternyata meski Tan Khu-seng tidak celaka oleh amgi jahat, namun di waktu dirinya disergap tak urung dia menghirup sedikit asap beracun, demikian pula lututnya tersambit sebatang bwe-hoaciam.
Apa boleh buat, terpaksa Tan Khu-seng membatalkan niatnya mengejar musuh, dia harus menolong dan mengobati diri sendiri.
Di belakang Lo-wan-ciok dia menemukan sebuah gua, letaknya di belakang semak-semak, kalau tidak dicari secara teliti takkan ketemu, kebetulan menjadi tempat untuk dia menyembuhkan luka.
Hari kedua setelah Tan Khu-seng terluka baru Beng Hoa dan Kim Bik-ki lewat Lo-wan-ciok, yaitu di saat Tan Khu-seng mencapai detik-detik kritis dia menyembuhkan luka-lukanya.
Sayang Beng Hoa hanya menemukan goresan pedang gurunya di perut Lo-wan-ciok, tapi dia tidak tahu kalau gurunya saat itu bersembunyi dalam gua di belakang batu besar itu.
Tan Khu-seng sendiri juga tidak mampu bersuara meski tahu Beng Hoa dan Kim Bik-ki telah datang, apalagi keluar menemui muridnya.
Tapi satu hal cukup melegakan hatinya, yaitu Beng Hoa berdua sudah berada di kediaman Lohay, pangkalan Lohay juga hanya seratus li dari tempat persembunyiannya.
Tanpa terasa satu hari satu malam telah berlalu.
Dalam sehari semalam ini, dengan Iwekang-nya yang tangguh, kadar racun dalam tubuhnya berhasil didesak keluar menjadi keringat berbau bacin.
Seketika semangatnya pulih kembali, sementara jarum beracun itu juga berhasil disedotnya keluar dengan batu sembrani yang selalu dibawanya.
Walau Iwekang-nya belum pulih seluruhnya, tapi untuk menempuh perjalanan seratus li bukan persoalan bagi dirinya.
"Setelah pulang tidak melihat diriku, tentu Hoa-ji menunggu dengan gelisah,"
Demikian pikir Tan Khu-seng.
Lalu dia makan sisa ransum kering yang dibawanya, dengan meraup salju di luar gua untuk menghilangkan dahaga.
Setelah makan minum tenaganya sudah pulih sebagian besar, maka siap meninggalkan tempat itu, langsung menyusul Beng Hoa ke tempat Lohay.
Pada saat itulah dia mendengar suara roda menggelinding yang makin dekat.
Sekilas mendengarkan, Tan Khu-seng dapat membedakan itulah roda tunggal dari sebuah kereta dorong.
Timbul rasa heran dan tertariknya.
Baru saja dia hendak mengintip keluar, sayup-sayup didengarnya suara rintihan, yang rebah di atas kereta roda tunggal itu kiranya seseorang yang sedang sakit.
"Kelihatannya keadaan Jit-nio sudah payah, bagaimana baiknya?"
Kata laki-laki yang mendorong kereta.
"Sebelum dia ajal, kita harus memaksa dia menyerahkan Pek-tokcin-keng,"
Kata seorang lelaki lain yang berada di belakang kereta.
Mendengar percakapan kedua orang ini seketika Tan Khu-seng berdiri kaget dan girang.
Ternyata dua orang yang bicara ini bukan lain adalah Bwe-san-ji-koay.
Yang mendorong kereta adalah Cu Kak, yang mengajukan akal adalah Loh Ang.
Sungguh kebetulan bertemu di sini setelah dicari susah payah tidak berhasil.
Walau Tan Khu-seng belum melihat orang yang rebah di atas kereta dorong itu siapa, namun dari percakapan Bwe-san-jikoay dia menduga pasti Sin Jit-nio adanya.
Tapi Tan Khu-seng tidak segera keluar unjuk diri.
Maklum dalam keadaan biasa kungfu Tan Khu-seng jelas bukan tandingan Bwe-san-ji-koay, untuk menundukkan dan membekuk kedua orang ini hanya semudah mengangkat tangan saja.
Tapi kondisi badannya masih lemas, dia tak yakin dapat mengalahkan mereka.
Sedetik lebih lama dia keluar, berarti tenaganya sedikit lebih besar.
Maka sambil bersemadi Tari Khu-seng terus memperhatikan keadaan di luar, pikirnya.
"Biar kudengarkan saja pembicaraan mereka, mungkin dari mulut mereka aku dapat mendengar banyak rahasia."
Cu Kak mengeluarkan kantong airnya, terus menyembur muka Sin Jit-nio dengan air. Layap-layap Sin Jit-nio siuman dari pingsannya, dengan lemah dja merintih.
"Aku sudah hampir mampus."
Loh Ahg tertawa dingin, katanya.
"Kau mati tidak jadi soal, lalu ke mana kami dapat memperoleh Pek-tok-cin-keng? Lekas kau serahkan saja Pek-tok-cin-keng itu."
Sin Jit-nio berkata.
"Sudah kuberi tahu kepada kalian, Pek-tokcin-keng tidak kubawa. Kalau tidak percaya boleh kalian menggeledah badanku."
Di waktu Sin Jit-nio pingsan, Bwe-san-ji-koay sudah menggerayangi sekujur badajinya. Cu Kak berkata.
"Jit-nio, jelekjelek kita pernah sahabat baik, kali ini kami menyerempet bahaya menolongmu dari Kong-tong-san, umpama Tuhan punya kuasa manusia punya bisa, jiwamu tetap tak bisa ditolong lagi, tapi kami sudah bekerja sekuat tenaga, kumohon kau mengingat kebaikan kami, terangkan di mana kau simpan Pek-tok-cih-keng itu."
Sin Jit-nio marah, katanya.
"Terima kasih, kalian sudah bersusah payah, tapi aku pun sudah kenyang menderita, aku tak mau tersiksa lagi. Kalau kau mengaku sebagai sahabat baikku, tolong kau bantu aku sekali pukul bikin aku mampus saja."
Ternyata sejak malam di mana Sin Jit-nio dipaksa terjun ke jurang oleh Boh Le-cu, luka-luka Sin Jit-nio memang cukup parah.
Setelah Bwe-san-ji-koay membawanya lari, mereka tidak tahu pengobatan, mereka hanya memberi makan dua batang jinsom yang dahulu pernah mereka rampas dari pedagang obat di luar perbatasan.
Tapi setelah berselang dua bulan berlalu, dan menempuh perjalanan jauh, kesehatan Sin Jit-nio makin memburuk malah.
Mending kalau hanya tersiksa oleh perjalanan panjang, untuk memaksa Jit-nio mengajarkan penggunaan racun, tak segan-segan Bwe-sanrjirkoay menggunakan cara keji menyiksanya.
Kalau dia mau memberi sedikit maka mereka juga bersikap baik sedikit, besar manfaat yang mereka peroleh mereka pun bersikap ramah dan memberinya makan enak, tapi kalau dia membangkang maka siksaan berat yang dialaminya.
Karuan keadaan Sin Jit-nio yang sudah setengah lumpuh itu makin parah saja.
Mendengar orang ingin mati saja, Loh Ang tertawa dingin, katanya.
"Memangnya mudah? Tenaga untuk bunuh diri pun kau tidak punya, kecuali raja akhirat mengutus setan merenggut jiwamu. Lekas katakan saja, di mana kau simpan Pek-tok-cin-keng."
Sin Jit-nio berkata.
"Baiklah, aku bicara sejujurnya. Dahulu guruku pilih kasih, Pek-tok-cin-keng diwariskan kepada sumoay-ku. Kalau kalian tidak percaya, ya terserah."
Bwe-san-ji-koay beradu pandang, sesaat kemudian Cu Kak berkata.
"Tidak berada di tanganmu juga tidak jadi soal. Kami yakin kau sudah hafal di luar kepala seluruh ajaran Pek-tok-cin-keng itu, coba kau bacakan di hadapan kami."
Dahulu Sin Jit-nio bersekongkol dengan Tong-bing-cu, dengan racun jahat membunuh Tong-biau Cinjin guru Tan Khu-seng.
Sebetulnya Tan Khu-seng akan menuntut balas kepadanya, tapi setelah menyaksikan sendiri betapa mengenaskan-nasib yang dialami musuh besarnya ini, tak urung berdiri bulu kuduknya, hatinya menjadi tidak tega, batinnya.
"Untuk bicara pun dia sudah kehilangan tenaga, dengan cara apa Bwe-san-ji-koay akan memaksa dia membacakan isi Pek-tok-cin-keng itu?"
Kalau dia kehabisan akal, Bwe-san-ji-koay punya cara.
Tampak Cu Kak mengeluarkan irisan jinsom, dua keping dia jejalkan ke mulut Sin Jit-nio.
Sementara Loh Ang mendekap punggung orang dengan telapak tangan, dengan getaran tenaga dalamnya yang diperhitungkan secara tepat menunjang kerja jantungnya.
Itulah salah satu cara untuk membangkitkan semangat seseorang yang sudah mendekati ajal dari aliran sesat, tapi setelah kejutan yang membangkitkan semangat ini hilang, derita yang dialaminya akan lebih parah dan mengerikan.
Loh Ang segera membentak.
"Lekas bacakan Pek-tok-cin-keng. Kalau bandel, siksaan lain yang lebih berat akan kau rasakan."
Dengan meringis kesakitan, Sin Jit-nio berkata dingin.
"Maaf, sehuruf pun aku sudah lupa"
"Kurang ajar!"
Bentak Loh Ang gusar.
"Kematian di depan mata, masih bandel."
Tak nyana Sin Jit-nio malah ber-gelak tawa, serunya.
"Jatuh di tangan kalian kenapa takut mati? Lekas mati memang harapanku, hayolah lekas, biarkan aku mati daripada kalian siksa begini."
Suaranya makin lirih dan lemah, dia sedang kesakitan yang luar biasa Pada saat genting itulah, mendadak sebuah suara perempuan membentak nyaring.
"Siapa berani membunuhnya, biar kucabut nyawanya." * Mendengar suara orang, semula Bwe-san-ji-koay merasa heran.
"Tak nyana adajuga orang yang sudi melindungi perempuan beracun ini."
Tapi kejap lain, setelah perempuan yang bersuara itu muncul, seketika seperti copot arwah Bwe-san-ji-koay.
Mereka tahu munculnya perempuan ini bukan melindungi Sin Jit-nio.
Waktu mendengar suara perempuan ini, Tan Khu-seng yang bersembunyi di dalam gua sangat kaget dan senang, hampir saja dia melonjak bangun.
Perempuan ini bukan lain adalah Boh Le-cu yang dirindukannya beberapa hari ini.
Sudah tentu Bwe-san-ji-koay tahu betapa lihay kungfu Boh Le-cu, namun sadar bahwa jiwa mereka terancam, meski bukan tandingan juga harus melawan dan berusaha menyelamatkan diri.
Begitu meluncur tiba Boh Le-cu langsung menyerang dengan jurus Giok-li-toh-so, pedangnya seperti berpencar menusuk mereka sekaligus.
Walau hanya sejurus, namun Cu Kak dan Loh Ang merasakan ujung pedang sekaligus mengancam tenggorokan mereka.
Tanpa berjanji Bwe-san-ji-koay memekik kalap.
"Biar aku adu jiwa."
Dua telapak tangan mereka menggempur bersama.
Serangan ini adalah jurus Im-yang-siang-jong-ciang yang sudah mereka yakinkan bersama belasan tahun.
Tenaga pukulannya mengandung Unsur negatif dan positif, antara negatif dan positif ini saling gandeng sehingga menimbulkan pusaran arus yang tidak kelihatan.
Dengan belasan tahun latihan lwekang Bwe-san-ji-koay, di saat jiwa terancam, serangan mereka yang sekuat tenaga bukan olah-olah perbawa pukulannya.
Meski kepandaian Boh Le-cu jauh lebih unggul dibanding mereka, dalam sekejap itu dia laksana sampan kecil yang diombangambingkan amukan gelombang di sa-mudera raya.
Mendadak tubuhnya terseret ke dalam pusaran arus, hingga tanpa kuasa tubuhnya ikut berputar sepertti gangsingan.
Tan Khu-seng amat kaget, bergegas dia memburu keluar.
Baru saja dia khawatir dirinya terlambat menolong, ternyata keadaan yang disaksikan sudah berubah.
Langkah Boh Le-cu sempoyongan seperti orang mabuk, namun di saat segenting itu, mendadak sinar kilat berkelebat.
Sebelum Tan Khu-seng memberi pertolongan, pedangnya sudah berhasil menusuk luka Bwe-san-ji-koay.
Sekali pandang Tan Khu-seng lantas tahu bahwa orang bersilat dengan langkah Cui-pat-sian, maka dia yakin kalau tidak mati Bwesan-ji-koay pasti terluka parah.
Dalam hati dia membatin.
"Sungguh ceroboh aku ini, kenapa aku memandang enteng Le-cu. Delapanbelas tahun sudah berselang, bukan saja kungfunya sudah maju berlipat ganda, kiamhoat-nya juga sudah jauh lebih tinggi dibanding dulu. Bwe-san-ji-koay mana mampu melawan dia."
Mendadak Cu Kak menjerit ngeri, tubuhnya terlempar beberapa tombak.
Luka yang diderita Loh Ang lebih ringan, dia melompat ke atas menggapai Lo-wan-ciok.
Berada di tempat tinggi, Loh Ang segera merogoh keluar sebutir amgi, langsung ditimpukkan ke arah Boh Le-cu.
Amgi-nya ini hasil rampasan dari kantong Sin Jit-nio yaitu Tok-bu-kim-ciam-liat-yam-tan.
Kemarin Tan Khu-seng juga terluka oleh amgi yang sama.
Tan Khu-seng sudah merasakan sendiri penderitaannya, mana tega melihat Boh Le-cu juga terluka oleh amgi jahat ini.
Saat mana dia pun sudah berada di atas Lo-wan-ciok.
Sebelum kakinya menginjak batu, pukulan sudah dilontarkan lebih dulu.
Bik-khong-ciang yang dia lontarkan secepat guntur menggelegar, Tok-bu-kim-ciam-liat-yam-tan Loh Ang baru saja terlepas tangan, terkena getaran pukulan jarak jauh Tan Khu-seng malah meledak di depannya sendiri.
Lidah api menjilat tubuh dan menyala, jarum emas beracun menancap di badan, hidung menyedot kabut berbisa, sambil menjerit ngeri dia terjungkal roboh ke bawah, sebelum tubuhnya terkapar di tanah jiwa sudah melayang lebih dulu.
Beruntun Tan Khu-seng melontarkan dua kali Bik-khong-ciang sehingga kabut beracun tersapu bersih.
Boh Le-cu terlongong kaget, teriaknya.
"Tan-ko, kaukah? Kenapa kau pun di. sini?"
"Bere-kan dulu perempuan siluman itu,"
Seru Tan Khu-seng.
"nanti kujelaskan."
Belum habis Tan Khu-seng bicara, mendadak Cu Kak menjerit ngeri. Sin Jit-nio terkekeh bengis dan kalap.
"Bagus, bagus, coba kau siksa aku lagi?"
Secara kebetulan Cu Kak terlempar menindih tubuh Sin Jit-nio, lekas Sin Jit-nio mengigit lidahnya hingga mengeluarkan darah, dengan sisa tenaga dia meronta balik menindih tubuh Cu Kak serta mencekik lehernya.
Seluruh dendam kebencian Sin Jit-nio tercurah dalam cekikan itu, sedemikian kalap dan kencang dia mencekik leher Cu Kak, biar mati juga tidak akan dilepaskan.
Padahal tulang pundak Cu Kak sudah tertusuk oleh pedang Boh Le-cu, meski kungfunya setinggi langit juga sudah punah dan tak mampu mengerahkan tenaga.
Terdengar tenggorokannya mengeluarkan suara mengorok, badan berkelejetan, bola matanya melotot tAbalik mirip mata ikan emas.
Jiwanya melayang oleh cekikan Sin Jit-nio.
Menyaksiakan adegan yang menyeramkan ini, mau tidak mau Tan Khu-seng dan Boh Le-cu merasa merinding dan tak tega.
Sin Jit-nio melingkar di tanah, napasnya empas-empis, suaranya melengking.
"Tan Khu-seng, akulah yang membunuh gurumu, aku tahu kau ingin menuntut balas, mumpung aku belum mati, lekaslah kau turun tangan sendiri."
Tan Khu-seng menghela napas, ujarnya.
"Perbuatan jahat pasti mendapat ganjaran setimpal, kurasa tak perlu aku membunuhmu."
Pucat pasi selembar muka Sin Jit-nio, teriaknya serak.
"Tan Khuseng, kau... kau tak sudi membunuh aku. Boh Le-cu, Vbaiklah kau saja yang turun tangan."
Boh Le-cu menghampiri sambil mengeluarkan kim-jong-yok.
Luka-luka Sin Jit-nio amat parah, kim-jong-yok jelas takkan menolong jiwanya tapi dapat mengurangi deritanya.
Kim-jong-yok yang diberikan Boh Le-cu seperti air embun di tengah padang pasir.
Dengan lembut Boh Le-cu berkata.
"Beritahukan kepadaku di mana sumoay-mu sekarang, aku akan berusaha menolongmu."
Agaknya Sin Jit-nio terharu dan insyaf, katanya.
"Dosaku terlalu besar, setimpal kalau mendapat ganjaran ini, aku memang tidak ingin hidup lagi. Aku beri tahu kepadamu dengan harapan supaya aku bisa mati lebih tenteram. Sumoay-ku itu sudah menikah lagi... dengan...."
Lekas Boh Le-cu mendekatkan kupingnya di depan mulut orang. Tan Khu-seng hanya melihat bibirnya bergerak-gerak, sesaat matanya mulai terpejam, kepala lantas terkulai lemas.
"Han Ji-yan menikah lagi dengan siapa? Sudah dia katakan?"
"Menikah dengan seorang jenderal kerajaan yang bernama Cui Po-san."
"Hah, Cui Po-san?"
Tan Khu-seng tersentak kaget.
"Kau tahu siapa dia?"
Tanya Boh Le-cu.
"Dahulu orang ini menjabat gubernur jenderal yang menguasai wilayah Siau-kim-jwan. Sekarang kerajaan mengutus dia memimpin pasukan besar menyerbu ke Sinkiang."
Boh Le-cu tunduk teipekur, katanya kemudian.
"Tan-ko, aku ingin berunding dengan engkau."
"Adik Cu kenapa masih sungkan terhadapku. Katakan saja, soal apa, aku menurut saja."
Manis mesra hati Boh Le-cu, katanya.
"Engkoh Tan, walau ucapanmu terlambat delapanbelas tahun aku masih senang mendengarnya."
Mendadak dia tertawa cekikikan.
"Engkoh Tan, kenapa keadaanmu jadi begini? Silakan ganti pakaian dulu, nanti kita bicarakan soal ini."
Seperti diketahui, Tan Khu-seng terluka oleh jarum emas kabut beracun yang ditimpukkan Tiong Bok-jong sehingga bajunya terbakar dan kotor.
Selama ini dia belum sempat ganti pakaian.
Tan Khu-seng tertawa geli melihat keadaan sendiri, katanya.
"Untung aku membawa pakaian, kalau tidak, bagaimana aku bisa berhadapan dengan orang luar?"
Bergegas dia kembali ke dalam gua Setelah ganti pakaian, dia bawa buntalan-nya, dia keluar menemui Boh Le-cu lagi. Setelah menuturkan pengalaman masing-masing, Boh Le-cu berkata.
"Kupikir akan mencari perempuan laknat itu membuat perhitungan lebih dulu."
"Dendam keluarga sedalam lautan, sudah tentu aku tak boleh menghalangi kau menuntut balas. Tapi kau sudah menunggu delapanbelas tahun, kurasa tidak perlu tergesa-gesa Maklum sekarang dia sudah menjadi istri jenderal besar pasukan kerajaan, untuk menemuinya mungkin tidak mudah, maka soal ini harus dipikir lebih matang."
"Engkoh Tan, tujuanku bukan hanya menuntut balas. Justru karena perempuan laknat itu menikah dengan jenderal Cui Po-san sehingga mendorong tekadku untuk membunuhnya"
"O, maksudmu sekaligus kita bunuh juga Cui Po-san?"
"Betul. Kau suka membantu aku?"
"Jikalau usaha kita berhasil, bukan berarti membantu engkau saja, manfaatnya besar bagi perjuangan suku Uigior yang siap mengangkat senjata melawan serbuan kerajaan. Tapi di tengah pasukan besar membunuh jenderal mereka, bukan sengaja aku mengguyur air dingin di kepalamu, rasanya harapan berhasil amat tipis."
"Meski harapan amat tipis juga harus dicoba Aku tidak akan menyerempet bahaya kalau tidak yakin dan punya persiapan."
"Dengan cara apa kau akan menyelundup ke tengah pasukan besar musuh?"
"Kau lupa bahwa aku mahir tata rias? Pernah aku belajar kepada Kwi-hwe-thio."
Tan Khu-seng tertawa, katanya.
"Ya, penyamaranmu menjadi murid Kong-tong tempo hari memang cukup lihay, kali ini kau hendak menyamar menjadi apa?"
"Sudah tentu menyamar jadi tentara, aku yakin di tengah pasukan sebanyak itu, kalau hanya dua orang yang menyelundup ke sana pasti tiada orang bisa membongkar kedok kita Bagaimana, kau mau membantu tidak?"
"Urusanmu adalah urusanku, apalagi untuk kepentingan umum? Pertanyaanmu terlalu berlebihan."
"Baiklah, sekarang juga.kita berangkat. Umpama usaha kifa gagal juga akan kubuat mereka tidak enak makan tidak nyenyak tidur sehingga semangat tempur mereka goyah." ---ooo0dw0ooo---DI tempat kediaman Lohay, Beng Hoa juga punya pikiran yang sama. Seorang penyelidik sudah pulang memberi laporan, pasukan kerajaan mendirikan perkemahan di dalam lembah gunung. Hari kedua Lohay mengajak Song Theng-siau, Beng Hoa, Kim Bik-ki dan lain-lain berunding membuat rencana menghadapi pasukan musuh. Di saat mereka berkumpul dalam kemah, jenderal besar pasukan musuh Cui Po-san mengutus orang mengirim surat tantangan perang. Dinyatakan jikalau Lohay tidak menyerah dan menerima kebijaksanaan kerajaan, pasukan besarnya akan dikerahkan menyerbu. Saking gusar, Lohay merobek-robek dan menginjak-injak surat tantangan Cui. Po-san, utusan Cui Po-san juga diusir. Hadirin mengepal tinju, menyingsingkan lengan baju, mereka siap bertempur. Tapi Song Theng-siau tidak sependapat, dia tidak mau melawan dengan kekerasan, katanya.
"Di saat kekuatan musuh besar dan semangat tempur mereka berkobar, kita harus menyingkir dan menghindari bentrokan secara langsung. Bila musuh patah semangat dan mulai kendor, -baru kita mulai menggempur dan mencegat jalan mundur mereka. Cara ini umpama tidak seluruhnya berhasil, juga pasti dapat membuat musuh kocar-kacir. Kalau pasukan kita sepuluh kali lebih besar dibanding musuh, kita dapat menumpasnya habis, kalau lima kali lipat boleh mengepungnya, satu kali lipat boleh melabraknya dengan seluruh kekuatan yang ada, tapi kalau jumlah kita jauh lebih kecil, maka kita harus menyingkir untuk sementara."
Santala berkata.
"Aku tidak paham strategi perang, tapi kalau menurut perumpamaanmu tadi, jumlah musuh lebih besar, jelas'perang ini tak mungkin kita adakan? Tapi aku juga tahu dalam pepatah orang Han kalian ada mengatakan, lebih baik hancur sebagai patriot daripada gugur secara konyol. Pejuang kita mempunyai semangat tempur tinggi, kita takkan pernah gentar berhadapan dengan musuh yang kuat dan berjumlah besar. Menurut pendapatku, kalah atau menang kita tetap harus bertempur, kita adu jiwa."
"Kau salah mengartikan maksudku,"
Ujar Song Theng-siau.
"bukan aku menganjurkan kalian lari atau menyerah, tapi aku menganjurkan kita harus menggempur dan melawan mereka bila saat dan keadaannya tepat. Jumlah dan kekuatan perang musuh jauh lebih besar dibanding kita, tapi tak mungkin musuh sekaligus mengerahkan sepuluh laksa pasukannya untuk menggempur, kalau kita pandai melihat gelagat dan menguasai situasi tidak sukar kita menggempurnya. Apalagi tanah ini milik kita, kita punya modal yang lebih menguntungkan."
"Modal apa yang kau maksud?"
Tanya Santala.
"Yaitu waktu, cuaca, medan perang dan bantuan rakyat. Pejuang kita sudah biasa dengan cuaca di sini, kenal daerah kita sendiri, bila bertempur di gunung salju atau di padang rumput sudah menjadi kebiasaan kita, sebaliknya pasukan kerajaan belum punya pengalaman yang kuuraikan ini. Satu hal lagi yang lebih penting adalah, pasukan kerajaan tidak mendapat dukungan rakyat, di mana saja dan kapan saja kita akan mendapat bantuan mereka. Bila kita memegang kesempatan menguntungkan, apa tidak mungkin kita menggempur mereka?"
Lohay manggut-manggut, katanya.
"Song tayhiap, uraianmu masuk di akal. Tapi untuk membujuk dan memberi penjelasan kepada pejuang kita perlu makan tenaga dan waktu."
"Betul,"
Seru Santala bertepuk tangan.
"Kita harus beraksi untuk mematahkan semangat tempur musuh."
"Aku mohon kalian memberi ijin padaku untuk melakukan tugas,"
Demikian pinta Beng Hoa.
"Tugas apa?"
Tanya Song Theng-siau.
"Aku akan membunuh jenderal Cui Po-san."
Song Theng-siau menggelengkan kepala, katanya.
"Membunuhnya bukan cara yang baik, umpama kau berhasil membunuh Cui Po-san, kerajaan masih bisa mengutus orang kedua dan ketiga untuk menggantikan Cui Po-san."
"Paman Song, aku paham maksudmu. Tapi pepatah ada bilang, ular tanpa kepala tak bisa jalan. Jikalau pemimpin besar pasukan musuh mendadak mampus, paling tidak mereka akan mengalami sedikit ke^ kalutan. Meski dalam jangka pendek, semangat tempur mereka pun akan berkurang karenanya, bukankah situasi seperti itu yang kita inginkan?"
"Dengan cara yang sama kita bertindak terhadap mereka,"
Demikian timbrung Kim Bik-ki.
"Mereka pernah mengutus orang hendak menculik Lomana, apa salahnya kita mengirim orangmembunuh jenderal mereka."
Melihat betapa besar semangat mereka, Song Theng-siau berkata.
"Baiklah, aku beri ijin kalian untuk mencobanya. Tapi kalian tak boleh nekat, lihatlah gelagat, kalau gagal harus segera pulang."
Dalam hati dia berpikir.
"Gabungan sepasang pedang ajaran Thio Tan-hong yang mereka pelajari sekarang hampir tiada tandingan di kolong langit. Umpama tak berhasil membunuh Cui Po-san, yakin masih dapat pulang dengan selamat."
Santala berkata.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian menempuh bahaya, keadaan lembah itu aku paling hafal, mohon persetujuan, aku ikut membantunya."
Beng Hoa tertawa, katanya.
"Tapi untuk membunuh musuh secara gelap tidak boleh terlalu banyak orang."
"Aku tahu. Aku tidak punya kemampuan untuk pergi datang secara terbang, serombongan dengan kalian membunuh musuh jelas tidak mungkin..Tapi aku akan memilih beberapa ratus pejuang kami yang pandai memanah, bersembunyi di atas gunung, bila perlu kami akan menyambut dan menolong kalian meloloskan diri."
Rencana sudah mendapat persetujuan Lohay, terpaksa Song Theng-siau ikut setuju.
Maka Santala berjanji kepada Beng Hoa bila perlu bisa menggunakan panah berasap sebagai isyarat.
Setelah pertemuan bubar, Beng Hoa bebenah lantas berangkat bersama Kim Bik-ki.
---ooo0dw0ooo---Ketegangan juga meliputi markas besar kerajaan.
Wi To-ping, Yap Kok-wi, Tiong Bok-jong dan lain-lain beruntun sudah pulang memberi laporan.
Saat itu Cui Po-san sedang sibuk berunding dengan para bawahannya mengatur rencana perang.
Kalau Cui Po-san sedang mengatur pasukan memimpin para perwiranya, di kamar tidurnya berbeda suasananya.
Keadaan sepi lengang, istrinya Han Ji-yan sedang mondarmandir di dalam kamar.
Walau berada di tengah sepuluh laksa pasukan besar, dia seperti berada di atas sampan kecil, tak bisa menemukan orang yang bisa membantu dirinya terhindar dari marabahaya.
Untuk menghindari balas dendam Tan Khu-seng dan Boh Le-cu, dia menyembunyikan asal-usul dirinya, menikah dengan Cui Po-san.
Sebagai istri seorang jenderal yang memimpin sepuluh laksa prajurit, tempat mana lebih aman dibanding bersembunyi di tengah pasukan besar?
Selama belasan tahun, dia memang hidup aman tenteram, tiada orang menuntut balas kepadanya, jejak Tan Khuseng dan Boh Le-cu juga menghilang.
Dia mengira umpama mereka belum mati juga takkan berani menuntut balas.
Dua bulan yang lalu, sebagai gubernur yang berkuasa di Sujwan, Cui Po-san dimutasikan dengan kenaikan pangkat jenderal penuh untuk memimpin pasukan besar menindas pemberontak di Sinkiang.
Kini dia menjadi nyonya jenderal, sudah tentu hatinya amat bangga dan senang.
Tak nyana, di saat dia merasa puas itulah, dia mendengar berita tentang Tan Khu-seng.
Sejak mendengar berita itu, dia selalu gundah, makan tidur tidak tenteram.
Yang dia dengar adalah berita tentang Tan Khu-seng yang mewarisi kedudukan ciangbun Kong-tong-pay.
Belakangan berita tentang Kong-tong-pay terus membanjir, ternyata munculnya Boh Le-cu di dunia persilatan juga sudah dia dengar.
Tapi yang paling mengejutkan hatinya adalah berita yang diterima dua hari lalu.
Kemarin Wi Tp-ping dan Yap Kok-wi pulang.
Laporannyamengatakan bahwa Lohay tidak tunduk dan berani menantang malah, dilaporkan pula di tempat kediaman Lohay mereka berhadapan dengan murid Tan Khu-seng.
Hari ini Tiong Bok-gong kembali, berita yang dilaporkan lebih mengejutkan lagi, dia bertemu langsung dengan Tan Khu-seng.
Kehadiran Tiong Bok-jong bersama Toan Kiam-ceng dalam pasukan besar kerajaan itu atas tanggungan Wi To-ping.
Sebelum ini meski Tiong Bok-jong pemah bekerja untuk kepentingan kerajaan, tapi baru pertama kali ini dia bertemu dengan Cui Po-san.
Setelah berhadapan ter-.
nyata sikap Cui Po-san tidak seperti yang dia harapkan, Cui Po-san sendiri juga amat kecewa, batinnya "Wi To-ping bilang dia adalah salah seorang cianpwe Kaypang, kungfunya hebat, siapa tahu kiranya hanya tua bangka yang bernama kosong belaka Hm, kalau betul-betul hebat, mana mungkin keadaannya serunyam ini, meski berhadapan dengan musuh tangguh."
Walau hari itu Tiong Bok-jong berlaku licik terhadap Tan Khuseng hingga lawan kecundang, tapi Bik-khong-ciang yang dilontarkan Tan Khu-seng juga menyapu balik kabut berbisa dan api dari ledakan senjata rahasianya, pakaian Tiong Bok-jong terbakar dan hangus di beberapa tempat, karena getaran pukulan jarak jauh Tan Khu-seng dia pun jungkir balik.
Takut dikejar Tan Khu-seng, sepanjang jalan dia tidak berani berhenti atau istirahat, dengan napas kempas-kempis dia berlari ke markas besar pasukan kerajaan.
Hari itu Toan Kiam-ceng lari lebih dulu, Tan Khu-seng juga menaruh belas kasihan kepadanya maka sedikit pun dia tidak cedera.
Bila keadaan kedua orang ini dibandingkan, keadaan Toan Kiam-ceng kelihatan lebih wajar, jauh lebih gagah malah.
Demikian pula kesan Han Ji-yan terhadap kedua orang ini, sekali bertemu dia sudah merasa sebal kepada Tiong Bok-jong, tapi terhadap Toan Kiam-ceng makin dipandang dia makin simpati.
Setelah tamu disuguh teh dan diantar pergi, Cui Po-san kembali ke kamar, Han Ji-yan berkata.
"Pengemis tua itu bermuka-muka, bermulut besar lagi, aku sebal melihatnya; apalagi tampangnya jelek. Sebaliknya pemuda she Toan itu pandai omong, sopan dan gagah, kurasa dia pemuda yang bisa dibimbing."
"Kau tahu siapa dia?"
Tanya Cui po-san.
"Hidup dalam markas memang tidak seketat di keluarga hartawan besar, tapi setelah menjadi istrimu, boleh dikata aku tidak pernah melangkah ke luar rumah. Siapa dia, kalau tidak kaujelaskan mana aku bisa tahu?"
"Bocah itu ada sedikit asal-usul. Dia adalah siau-ongya dari keluarga Toan di Tayli. Di jaman dinasti Beng, keluarga Toan diangkat sebagai raja kecil setempat, sekarang walau gelar rajanya sudah dicopot, tapi di daerah Tayli keluarga mereka masih cukup terpandang dan disegani oleh penduduk."
"Kalau tidak salah pernah aku dengar kau bilang pihak kerajaan membenci keluarga Toan ini."
"Itu lantaran perbuatan Toan Siu-si-Toan Siu-si adalah paman bocah tadi. Dia berbuat dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebijaksanaan kerajaan. Tapi pemuda ini membantu kita malah, jadi paman dan keponakan tak boleh disamakan. Waktu Hay Lan-ja masih hidup, pernah dia menyinggung soal ini kepadaku. Dia siap membimbing pemuda ini, supaya keluarga Toan kelak mendapat kembali gelar kerajaan."
Agaknya Han Ji-yan tertarik oleh soal ini, katanya.
"Memulihkan gelar kerajaan, maksudnya dia hendak mohon kepada baginda raja untuk mendudukkan kembali dia sebagai raja yang berkuasa di Tayli?"
Cui Po-san tertawa, katanya.
"Sejak terjadi tiga kali pemberontakan dahulu, kerajaan kita ini sudah melarang adanya pengangkatan raja kepada bangsa lain. Tapi walau gelar raja tidak mungkin diberikan kepadanya, tapi boleh mengangkatnya sebagai gubernur atau jenderal, sudah tentu hanya diangkat secara tituler namun dengan kedudukan dan wibawa keluarga Toan di Tayli kita bisa memperalat untuk kepen--ringan kerajaan. Sayang sekali nasib pemuda ini jelek. Menurut rencana Hay Lan-ja dia akan mengawasi dan mengujinya beberapa waktu lagi baru mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi. Tak nyana sebelum rencana dia laporkan, Hay Lan-ja sudah keburu mati di tangan murid Tan Khu-seng."
"Kalau begitu kau yang bernasib mujur malah,"
Ujar Han Ji-yan tertawa. Cui Po-san tersentak sadar, katanya.
"Betul, rencana Hay Lan-ja semula tetap bisa kulaksanakan sebagai rencanaku sendiri."
"Kalau demikian, kau harus berusaha merangkul bocah she Toan ini."
"Baik, sekarang juga akan kuundang dia untuk bicara empat mata, kau boleh menemani aku berbicara dengan dia."
Memangnya itu harapan Han Ji-yan, namun dia pura-pura.
"Apa leluasa?"
"Kurasa cara terbaik untuk merangkulnya memang demikian, kita anggap dia orang sendiri. Apalagi bukankah kau senang mendengar berita-berita di luar."
Segera dia memanggil petugas dan menyuruhnya memanggil Toan Kiam-ceng menghadap ke kemahnya.
Pertemuan dan pembicaraan mereka justru menambah rasa khawatirnya, tapi juga menciptakan angan-angan dalam benaknya.
Cui Po-san menanyakan pengalaman Toan Kiam-ceng, lalu menambahkan.
"Jangan kau kira istriku ini lemah lembut tak tahan dihembus angin kencang, dia paling senang mendengar cerita dan kejadian aneh di kalangan Kangouw."
Memang Toan Kiam-ceng pandai bicara dan menjilat, maka dia menuturkan pengalaman pribadinya, demikian pula berita dan kejadian yang pernah dia saksikan di sepanjang perjalanan, sudah tentu diberi bumbu ditambah kecap sehingga rangkaian ceritanya menarik dan mengesankan.
Cerita lain biasa saja, namun waktu dia mendengar Toan Kiamceng bercerita tentang Bwe-san-ji-koay yang bersekongkol dengan suci-nya, mau tidak mau jantungnya berdebar-debar.
Sebaliknya Cui Po-san tertarik oleh cerita yang satu ini, katanya.
"Kau bilang Sin Jit-nio adalah ahli racun nomor satu di dunia ini, apa betul?"
"Kebanyakan Bulim cianpwe bilang demikian. Konon guru Tan Khu-seng yang bergelar Tong-biau Cinjin juga mati diracun olehnya Sayang sekarang dia terluka parah, jelas takkan bisa hidup lama."
Cui Po-san bertanya.
"Apa kau tahu di mana mereka sekarang? Bila bisa ditemukan boleh kau suruh Bwe-san-ji-koay membawa Sin Jit-nio kemari, di sini kami punya tabib dan obat yang lengkap, mungkin bisa menolong jiwanya. Orang-orang yang pandai menggunakan racun seperti dia amat berguna bagi aku."
Dalam hati Han Ji-yan menjengek dingin.
"Sudah belasan tahun kau menjadi suamiku, kapan kau tahu bahwa istrimu justru ahli racun nomor satu di jagat ini."
Perlu dijelaskan di sini, pernikahan Han Ji-yan dengan Cui Po-san atas prakarsa Hay Lan-ja, jadi Hay Lan-ja yang menjadi comblang.
Pertama Hay Lan-ia membantu Han Ji-yan menghilangkan jejak, menyingkir dari tuntutan balas musuh sekaligus untuk mengawasi Cui Po-san dari dekat.
Hakekatnya Cui Po-san tidak pemah tahu asal-usul istrinya.
Yang tahu rahasia Han Ji-yan hanya dua orang, Hay Lan-ja dan suci-nya Sin Jit-nio.
Kini Sin Jit-nio jatuh di tangan Bwe-san-ji-koay, mau tidak mau dia harus waspada dan khawatir, takut Sin Jit-nio membocorkan rahasianya.
Sebagai istri seorang jenderal, sudah tentu dia pantang orang lain tahu seluk beluk dirinya di masa lalu.
"Lapor toasay,"
Seru Toan Kiam-ceng.
"maksud Bwe-san-ji-koay semula memang hendak mengabdi kepada toasay (jenderal). Tapi entah karena apa, sampai sekarang dia belum tiba."
Sudah tentu di luar tahunya bahwa Bwe-san-ji-koay kini sudah mati bersama Sin Jit-nio. Han Ji-yan kebat-kebit, apakah Toan Kiam-ceng tahu rahasianya? Maka dia berusaha memancing.
"Apakah kau pernah bertemu dengan Sin Jit-nio?"
"Tidak, aku belum pernah melihatnya,"
Sahut Toan Kiam-ceng. Lega hati Han Ji-yan, batinnya.
"Agaknya bocah ini belum tahu rahasia. Tapi dia bilang Bwe-san-ji-koay dan suci-ku akan datang kemari, bagaimana baiknya?"
Cui Po-san malah amat senang, katanya.
"Kalau kita bisa menemukan Sin Jit-nio yang mahir menggunakan racun, berarti aku mendapat pembantu yang berarti."
Lalu dengan menghela napas dia menambahkan.
"Kiamhoat Tan Khu-seng demikian lihay, entah Sin Jit-nio bisa menemukan tempat ini, umpama dia sudah berada di sini, mungkin juga bukan tandingan Tan Khu-seng. Toan-kongcu, apa kau tahu dalam dunia persilatan, tokoh kosen mana yang sekiranya mampu menandingi Tan Khu-seng, coba kau sebutkan kalau bisa usahakan mengundang mereka kemari."
"Memang hal ini akan kulaporkan kepada toasay. Toasay tidak perlu khawatir, aku ada seorang yang cukup mampu menandingi Tan Khu-seng, malah ciangkun tak usah mengundangnya kemari, dia juga akan datang sendiri."
Cui Po-san girang, tanyanya.
"Siapa dia?"
"Beliau adalah guruku,"
Tutur Toan Kiam-ceng.
"Seorang paderi dari Thian-tiok bergelar Kiap-bit Hoatsu. Waktu berada di Thian-tiok, nama besar guruku sejajar dengan dua paderi agung yang berkuasa di Thian-tiok."
Cui Po-san kaget.
"Dua paderi sakti dari Thian-tiok, apakah yang kau maksud adalah Yu-tan Hoatsu dan Si-lo Hoatsu dari Lan-to-si di Thian-tiok?"
"Betul, guruku juga murid cabang Lan-to-si, belakangan hijrah ke Tibet, di sana beliau mendirikan perguruannya sendiri."
Sebetulnya Han Ji-yan masih ingin bicara dengan Toan Kiamceng, tapi Cui Po-san harus segera memimpin rapat militer, maka pembicaraan ini sementara diakhiri sampai di situ.
Tapi sebelum Toan Kiam-ceng pergi, Cui Po-san berkata kepadanya.
"Kuanggap kau sebagai orang sendiri, selanjutnya kau boleh sering kemari tidak usah sungkan. Umpama aku kebetulan keluar, kau boleh menemani hujin ngobrol, dia paling senang mendengar cerita kaum persilatan."
Seorang diri Han Ji-yan duduk bertopang dagu di dalam kemahnya Di luar angin berhembus kencang, bendera berkibarkibar, terasa hatinya makin kesepian.
Maka pikirannya menjadi gundah gulana.
Memang Cui Po-san amat sayang padanya selama belasan tahun dia tidak pernah kekurangan, apa pun permintaannya pasti terkabul.
Tapi Cui Po-san bukan pria atau suami idamannya.
Yang selalu-dia idamkan adalah pria muda yang gagah ganteng, Cui Po-san justru seorang militer yang tidak kenal cinta dan kurang pandai memuaskan keinginan sang istri.
Selama hidup, laki-laki yang betul-betul dapat menarik perhatiannya hanya satu yaitu Tan Khu-seng, yang pemah dilihatnya delapanbelas tahun yang lalu.
Sayang sekali Tan Khu-seng ternyata mencintai Boh Le-cu yang secara tidak resmi menjadi anaknya itulah salah satu sebab kenapa dahulu dia membantu Tohg-hian-cu untuk menjebak dan mencelakai Tan Khu-seng dan Boh Le-cu.
Sementara Tan Ku-seng sendiri tidak pernah menduga bahwa perempuan yang satu ini pernah jatuh hati padanya Sang waktu berlalu tak mengenal kasihan, seperti air mengalir tak pemah kembali, kini dirinya sudah setengah baya.
Dalam usia setua ini mendadak melihat lagi pria yang betul-betul mengusik hatinya.
Seorang diri dia duduk melamun di depan cermin, diam-diam dia merasa kasihan pada diri sendiri.
Wajah yang terpampang di dalam cermin masih kelihatan menggiurkan.
Tapi wajah ayu jelita yang mempesona ini sudah menunjukkan kerut di dahinya Dalam hati dia menghela napas.
"Sayang sekali, Toan Kiam-ceng datang terlambat delapanbelas tahun."
Namun lekas sekali dia berpikir.
"Bagaimanapun Toan Kiam-ceng tidak bisa dibandingkan dengan Tan Khu-seng. Umpama di antara mereka tidak terjalin permusuhan, Tan Khu-seng juga tak mungkin mencintai perempuan seperti dirinya. Tapi lain lagi soal Toan Kiamceng, peduli dia suka atau tidak, dia bertekad akan menarik perhatiannya walau hubungan mereka hanya hubungdn gelap. Sudah tentu dia belum berani memikirkan selanjutnya dia akan berlaku serong, bermain cinta dengan pemuda tampan ini. Tapi bila seorang pemuda romantis selalu berada di sampingnya, sedikit banyak dapat menyembuhkan kesepiannya.
"Untung Cui Po-san sedang ingin merangkul dia, kenapa aku tidak merangkulnya sebagai orang kepercayaanku?"
Demikian batin Han Ji-yan.
"Bila aku punya orang kepercayaan secerdas dia, urusan yang aku sendiri kurang leluasa mengerjakan, dapat aku minta bantuannya untuk melaksanakan."
Terasa mukanya panas dan jengah, jantung pun berdebar-debar. Sekian lama dia terlongong mengawasi wajah sendiri di dalam cermin, akhirnya dia memanggil pelayan pribadinya.
"Bik-ji, tolong kau panggil Toan-kongcu kemari, ingat jangan sampai pengemis tua itu tahu."
Bik-ji adalah pelayan pribadinya yang amat dipercaya, banyak urusan yang dia lakukan di luar tahu sang suami tapi tak bisa mengelabui pelayannya ini. Seperti tertawa tidak tertawa, Bik-ji menjawab.
"Ya, aku mengerti. Hujin tak usah khawatir, aku bisa mengerjakan perintahmu dengan baik."
"Budak setan, ke mana otakmu berpikir,"
Maki Han Ji-yan purapura marah.
"berani kau sembarang omong, awas kurobek mulutmu."
Pelayan cilik itu mendebat.
"Lho, aku kan tidak bilang apa-apa, aku kan hanya menjalankan perintah hujin."
"Baiklah,"
Ucap Han Ji-yan.
"ambillah secangkir teh itu, minumlah dulu baru pergi."
Pelayan cilik itu tidak mengerti kenapa Han Ji-yan mendadak menyuruh dia minum, tapi dia tahu biasanya hujin ini banyak curiga, namun dia tidak berani bertanya, katanya.
"Terima kasih."
Lalu dia tuang secangkir teh terus diminumnya Terasa air teh agak pahit, tapi setelah air teh tertelan ke dalam perut, terasa badan segar semangat menyala Setelah pelayannya pergi, Han Ji-yan menimang-nimang seorang diri, bila Toan Kiam-ceng sudah kemari, dengan cara apa dia akan merangkul bocah itu menjadi orang kepercayaannya?
Sebagai istri seorang jenderal kalau dia salah omong, pasti akan menurunkan derajatnya.
"Kelihatannya bocah itu cukup tahu diri dan pandai melihat gelagat, mungkin tak perlu banyak bicara dia sudah tahu maksud hatiku."
Di saat dia gundah dan khawatir hingga melamun tampak daun pintu yang setengah tertutup didorong terbuka oleh seseorang, ternyata pelayan cilik itu sudah kembali. Han Ji-yan melenggong, katanya.
"Bik-ji, kenapa begitu cepat kau kembali? Mana Toankongcu?"
Mendadak terasa olehnya bahwa pelayan cilik yang berdiri di depannya berbeda dengan pelayan pribadinya.
"Kau... kau adalah..."
Belum sempat melanjutkan pertanyaan, mendadak muncul sinar yang menyilaukan mata, hawa pedang yang tajam seperti mengiris kulit, sebilah pedang yang ujungnya tajam berkilauan telah mengancam tenggorokannya.
Ternyata Boh Le-cu yang menghunus pedang mengancam lehernya, katanya dingin.
"Han Ji-yan, kau tidak menyangka aku yang datang bukan?"
Han Ji-yan terkejut bukan kepalang, mulut tergagap.
"Kau... kau adalah Le-cu?"
"Betul, sudah delapanbelas tahun aku mencarimu, syukurlah akhirnya aku menemukan engkau di sini."
Han Ji-yan menghela napas, katanya.
"Aku tahu kau sirik karena aku menikah dengan orang lain, tapi kau juga harus maklum, usiaku hanya beberapa tahun lebih tua dari kau, waktu ayahmu wafat...."
Boh Le-cu mendesis seram.
"Aku tak peduli kau akan menikah dengan selusin laki-laki, aku datang menuntut balas kematian ayah. Kau meracuni ayah hingga meninggal, kau kira sampai sekarang aku tidak tahu perbuatan kejimu dulu?"
Pucat pias muka Han Ji-yan, tahu tak bisa mungkir terpaksa dia berkata.
"Baiklah, kau gorok saja leherku."
"Memang gampang memenggal lehermu,"
Jengek Boh Le-cu.
"Kalau kau tidak ingin tersiksa dengarkan perintahku, kalau tidak, sejengkal demi sejengkal kuiris tubuhmu."
Sedikit lega hati Han Ji-yan, pikirnya.
"Asal kau tidak segera membunuhku, nanti kau akan tahu keli-hayanku."
Pura-pura takut dan gugup dia mohon ampun.
"Toa-siocia, kau ada perintah apa, aku menurut saja."
Boh Le-cu berkata.
"Kau harus tetap wajar, pura-pura tidak terjadi apa-apa, jikalau ada orang datang, kau harus mencari alasan supaya mereka menyingkir dari sini. Kecuali suamimu, siapa pun dilarang masuk ke kamar ini. Tahu tidak?"
Kedatangan Boh Le-cu bukan hanya untuk menuntut balas.
Kedatangannya kemari bersama Tan Khu-seng adalah untuk membunuh jenderal Cui Po-san, pimpinan tertinggi pasukan besar musuh.
Betapa sukar membunuh jenderal musuh di tengah pasukan besarnya?
Maka setelah dipertimbangkan, tempat untuk menjagal jendral musuh yang tepat dan aman adalah kamar istrinya.' Tidak sukar membunuh Han Ji-yan, tapi setelah Han Ji-yan terbunuh, pasti timbuhkcnbutan, maka dia merasa perlu menunda membunuh perempuan beracun ini, serta-i memerintahkannya tunduk pada perintahnya, supaya orang lain tidak tahu kalau di sini telah terjadi perubahan, barulah Cui Po-san terpancing datang ke jaring yang telah mereka siapkan.
Delapanbelas tahun lamanya mereka sudah bersabar, kenapa harus buru-buru?
Kini dia malah khawatir bila Han Ji-yan tidak jeri menghadapi ancaman elmaut di ambang mata.
Betapa cerdik otak Han Ji-yan, begitu mendengar omongannya, dia lantas tahu maksud orang, namun dia sengaja bersikap serba susah, katanya dengan cemberut.
"Toa-siocia, kalau aku harus menurut perintahmu berarti,aku bersekongkol dengan kau membunuh suamiku sendiri."
"Membunuh suami sendiri, bukankah sudah menjadi keahlianmu?"
Jengek Boh Le-cu.
"Baiklah, kau tidak rela aku pun tidak akan memaksa kau. Memang Cui Po-san takkan terhindar dari kematian, biar aku menghabisimu lebih dulu."
Pedang didorong sedikit, ujungnya menggores luka lecet di leher orang, darah menetes. Terpaksa Han. Ji-yan berpura-pura takut dan meratap.
"Toasiocia, jangan kau berlaku kejam terhadapku. Aku... baiklah aku menurut saja. Tapi setelah kau bunuh suamiku, jangan kau bunuh aku, apa kau terima permohonanku?"
Permintaan orang membuat Boh Le-cu serba Susah, dia sudah menunggu delapanbelas tahun, hingga kini tiba saatnya menuntut balas.
Musuh pembunuh ayahnya sudah jatuh di genggamannya, sakit hati orang tua mana boleh tidak dibalas.
Kalau sudah berjanji harus ditepati, dia tidak suka ingkar janji.
Dalam sekejap otaknya berpikir secara cepat, akhirnya dia mengambil keputusan.
"Baik, kuterima permintaanmu."
Han Ji-yan kegirangan, katanya.
"Terima kasih. Toa-siocia silakan singkirkan ujung pedangmu. Aku tak tahan kau ancam begini."
Sembari bicara dia menggerakkan tangan kanan.
"Apa yang kau lakukan?"
Bentak Boh Le-cu.
"Jangan sembarang bergerak."
Terpaksa Han Ji-yan meluruskan kedua tangan, katanya dengan tawa kecut.
"Toa-siocia, aku ingin menuang secangkir teh supaya kau minum. Kita sudah bersekongkol, kenapa kau masih tidak percaya kepadaku?"
Boh Le-cu menyeringai dingin, katanya.
"Kau licik dan banyak muslihat, sayang sekali sekarang aku bukan lagi nona cilik yang tidak tahu apa-apa seperti delapanbelas tahun yang lalu itu."
Di tengah jengek tawanya, ujung pedangnya mendadak bergetar, secepat kilat dia menotok tiga hiatto di tubuh Han Ji-yan.
Han Ji-yan masih bisa bicara, tapi tenaga sedikit pun tak mampu dikerahkan.
Boh Le-cu segera menyeret Han Ji-yan ke atas ranjang, sementara ia bersembunyi di belakang kelambu.
Cuaca makin gelap, Cui Po-san belum juga kunjung datang.
Tapi beberapa pembantu rumah tangga sudah mengetuk pintu.
"Ada apa?"
Seru Han Ji-yan. Pembantu itu berkata di luar pintu.
"Entah ciangkun kapan pulang, mohon tanya, apakah hujin menunggu ciangkun pulang, atau hujin mau makan lebih dulu?"
"Aku belum lapar, tunggu saja sampai ciangkun pulang."
"Apa aku boleh masuk membersihkan kamar?"
"Enyah dari sini, baru saja aku merasa tenteram, kau sudah membikin ribut. Kalau perlu aku bisa memanggil kau, tak usah kau menjilat pantatku."
Tanpa alasan dirinya dicaci maki sudah tentu pelayan itu uringuringan, sambil mengundurkan diri dia menggerutu heran.
"Setiap hari dalam waktu begini aku yang membersihkan kamarnya, hujin tak mau makan dulu tidak jadi soal, kenapa harus mencaci dan marah-marah?"
Biasanya Han Ji-yan bersikap manis terhadap bawahan, jarang dia marah atau mencaci pelayan sendiri kalau tidak melakukan kesalahan besar.
Tapi pelayan ini hanya merasa sikap majikannya luar biasa, padahal Han Ji-yan sengaja bersikap demikian untuk memancing rasa curiga pelayannya.
Setelah pelayan itu pergi, Boh Le-cu merasa lega, katanya.
"Bagus, pandai juga kau main sandiwara."
"Mana berani aku melawan kehendak toa-siocia?"
Ucap Han Jiyan dibuat-buat.
"Toa-siocia kupikir...."
"Kau pikir apa?"
Ancam Boh Le-cu.
"Jangan main gila ya?"
"Terus terang saja, nasi boleh terlambat makan, namun rasa dahaga sungguh tak tertahankan lagi, bolehkah aku minum barang secangkir saja?"
"Baiklah, kuambilkan secangkir teh,"
Ujar Boh Le-cu, untuk menjaga segala kenungkinan sudah tentu dia tidak membuka totokan hiatto Han Ji-yan, supaya orang bisa mengambil teh sendiri. Han Ji-yan bermuka-muka.
"Wah amat rikuh kalau begitu, malah toa-siocia yang meladeni aku."
"Kuharap kau tahu diri,"
Jengek Boh Le-cu.
"Tak usah menyindir, aku tahu lidahmu amat manis, padahal hatimu sejahat ular berbisa."
"Toa-siocia, inilah teh ternama yang kubeli dari Kanglam, silakan kau pun minum secangkir."
Sebetulnya setelah menyaksikan Han Ji-yan minum secangkir teh, Boh Le-cu boleh tidak usah khawatir ikut minum secangkir, namun dia sudah tahu betapa lihay Han Ji-yan bermain racun, betapapun hati-"1 nya merasa was-was dan takut, pikirnya.
"Lebih baik setetes air pun tidak kuminum."
Maka dia berkata.
"Aku tidak mau minum, selanjutnya kuharap kau tidak cerewet lagi."
"Aih, aku sendiri sudah minum secangkir memangnya kau takut aku menggunakan racun? Kau melarang aku bicara, baiklah aku tidak akan banyak bicara. Tapi satu hal kuminta kau menjelaskan kepadaku, bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"
Boh Le-eu mendengus, katanya.
"Kalau khawatir orang tahu, jangan kau melakukannya,"
Demikian jengek Boh Le-cu.
"Kau kira setelah menjadi istri seorang jenderal, jejakmu dapat mengelabui orang lain?"
"Toa-siocia, bagaimana kau bisa tahu jejakku di sini? Coba kaujelaskan, supaya aku tidak menjadi setan penasaran setelah jiwaku melayang."
"Sebelum ajal suci-mu Sin Jit-nio memberi tahu kepadaku "
Ujar Boh Le-cu. Kaget namun girang hati Han Ji-yan, katanya.
"Apa, suci-ku sudah meninggal?"
"Ya, dia mendapatkan ganjaran sesuai perbuatannya,"
Ujar Boh Le-cu, lalu dia menceritakan nasib Sin Jit-nio yang disiksa Bwe-sanji-koay, akhirnya tiga orang itu gugur bersama.
Maksud Boh Le-cu menceritakan nasib Sin Jit-nio kepadanya dengan tujuan supaya orang insyaf dan bertobat, diharapkan pula supaya perempuan ini menebus dosanya setelah insyaf dan bertobat, jadi tidak mengikuti nasib sang suci, menyesal pun akhirnya sudah terlambat.
Di luar tahunya, setelah mendengar ceritanya, Han Ji-yan malah bertambah senang, rasa khawatirnya seketika sirna tanpa bekas.
"Aneh, kenapa aku mendadak merasa mengantuk?"
Entah kenapa mendadak Boh Le-cu merasa mengantuk, kelopak matanya makin terasa berat, demikian pula kesadarannya makin kabur.
Saat itu yang dia inginkan hanya lekas naik ranjang dan tidur dengan pulas.
Pada saat itulah sayup-sayup di luar kemah berkumandang beberapa kali bentakan-bentakan nyaring.
Hal itu sudah biasa di dalam kalangan kemiliteran, sebagai ganti suara terompet untuk membuka jalan.
Han Ji-yan seketika berseri girang, katanya.
"Agaknya Cui Po-san sudah datang. Toa-siocia, jangan kau terlena di saat segenting ini. Silakan ambil teh dan minum secangkir untuk menambah semangatmu."
Terasa oleh Boh Le-cu, semangatnya semakin loyo, matanya berkedip dan membelalak besar, namun pandangan di depan matanya seperti dibungkus kabut, makin guram dan suram, makin lama makin buram.
Baru sekarang Boh Le-cu merasa kaget, lekas dia mencabut pedang seraya membentak.
"Han Ji-yan, bagus ya, kau... kau...."
Tak nyana sekuat tenaga dia mencabut pedang, ternyata tenaga sudah tidak menurut keinginan lagi.
"Kelontang"
Pedang pusakanya malah jatuh di tanah. Han Ji-yan menoleh ke arahnya, katanya tawar.
"Keadaanku begini, bagus apa. Toa-siocia, sekarang kau ingin membunuhku, kurasa tidak semudah tadi."
Mendadak dia menarik suara berteriak.
"Hai, pengawal, kemarilah, ada pembunuh."
Boh Le-cu masib sempat meronta berdiri sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Sambil menubruk dia melayangkan telapak tangannya.
"Bluk"
Han Ji-yan mengerang tertahan karena tamparan ini, di saat tersungkur jatuh jidatnya membentur lantai hingga seketika dia pingsan.
Tapi setelah memukul orang sampai pingsan, Boh Le-cu sendiri tidak kuat lagi menahan badan sendiri.
"Buk"
Dia sendiri pun roboh dan lunglai. Sedetik sebelum dia pingsan, lamat-lamat didengarnya suara Cui Po-san berteriak.
"Hujin jangan gugup, aku sudah datang, di mana pembunuhnya?"
Dingin perasaan Boh Le-cu, dia berharap Tan Khu-seng bisa datang lebih dulu, agaknya harapannya ini tidak terjadi.
Ternyata dupa .yang dibakar H an Ji-yan di dalam kamarnya merupakan obat bius yang berkadar lemah bernama Bi-hun-hiang.
Setengah jam kemudian setelah seseorang menghirup wewangian Bi-hun-hiang ini baru akan tertidur pulas.
Bukan Boh Le-cu kurang hati-hati, soalnya dupa ini sudah dibakar sebelum dia datang, semula dia pikir Han Ji-yan tidak mungkin tahu bahwa dirinya akan datang, kalau dupa itu beracun, mana mungkin dia berani mengadakan pertemuan rahasia dengan Toan Kiam-ceng di kamarnya?
Bahwasanya dia memang tidak curiga bahwa dupa yang dibakar itu adalah dupa wangi yang membius kesadaran orang, dia mengira asal dirinya tidak menghirup setetes air teh, Han Ji-yan takkan mampu mencelakai dirinya.
Tak nyana karena dia tak mau minum teh meski hanya setetes justru dia terjebak oleh perangkap Han Ji-yan.
Kenyataan justru terbalik dari apa yang diduga Boh Le-cu.
Air teh dalam poci itu justru tidak beracun, namun mengandung obat penawarnya malah.
Orang harus minum air teh baru tidak akan terpengaruh racun bius dari dupa wangi itu.
Bi-hun-hiang yang dibakar Han Ji-yan di dalam kamarnya bekerja lambat.
Jikalau orang yang berada di dalam kamarnya orang sendiri, maka dia pasti mau minum teh suguhannya, hanya musuh yang menaruh curiga bahwa air tehnVa mengandung racun.
Sengaja dia menyuruh Boh Le-cu minum teh, tujuannya memang supaya orang menaruh curiga dan tidak berani minum, sungguh cermat dan cerdik tipu daya yang digunakan.
Yang ikut datang bersama Cui Po-san ternyata tiga jago kosen dari istana raja, mereka adalah Wi To-ping, Yap Kok-wi dan Lau Ting-ci, bersama dua busu kepercayaannya.
Seorang adalah jago kosen dari Tay-bun bernama Sun To-hing, seorang lagi asalnya begal besar yang kenamaan di Kangouw dengan julukan Sam-jaykiam Thio Hwe-seng.
Kedua orang ini masing-masing memiliki kepandaian tinggi, taraf kungfu mereka tidak lebih rendah dibandingkan ketiga jago kosen istana raja itu.
Setelah berteriak "Ada pembunuh", Han Ji-yan lalu pingsan.
Cui Po-san tidak mendengar suaranya, dia merasa gelagat jelek, segera dia berteriak-teriak.
"Hayo ikut aku ke dalam."
Segera dia mendahului menerjang ke kamar Han Ji-yan.
Melihat Han Ji-yan tergeletak di tanah, terkejutnya bukan kepalang.
Menolong orang lebih penting, maka dia tidak sempat memikirkan mencari pembunuh.
Lekas Cui Po-san mencekokkan sebungkus puyer ke dalam mulut Han Ji-yan, lalu sebagian dia oleskan di hidungnya Sambil berbangkis, Han Ji-yan siuman dari pingsannya.
Begitu membuka mata, segera dia berteriak.
"He, mana perempuan siluman itu?"
Cui Po-san melenggong, serunya.
"Perempuan siluman apa?"
Thio Hwe-seng bermata jeli, sekilas tampak olehnya di bawah ranjang ada sebatang pedang. Tanpa bicara sambil mengambil pedang, kelambu dia singkap.
"Sret"
Pedangnya langsung menusuk ke belakang kelambu, ..Yang bersembunyi di belakang kelambu memang betul Boh Lecu, tapi dia berdiri bersandar di dinding, orangnya sudah tidak sadarkan diri.
Pada detik yang menentukan itulah; mendadak berkumandang hardikan sekeras guntur menggelegar.
Menyusul suara bergemuruh disertai debu berhamburan, ternyata atap rumah mendadak jebol dan runtuh.
Dari lubang-atap itu melompat turun satu orang..Orang yang tiba tepat pada waktunya itu adalah Tan Khu-seng.
Thio Hwe-seng sedang menusukkan pedang, karena gertakan orang dengan Say-cu-hong-kang, ujung pedangnya menusuk miring.
Sebat sekali Tan Khu-seng sudah menarik dan memeluk pinggang Boh Le-cu serta membopongnya.
"Sret"
Pedangnya menusuk ke arah Thio Hwe-seng.
"Trang"
Dua pedang beradu menimbulkan percikan kembang api.
Pedang panjang Thio Hweseng gumpil sebagian, hampir saja tidak kuat dipegangnya lagi, lekas dia menyurut mundur.
Thio Hwe-seng kaget bukan main.
Tan Khu-seng juga melengak.
"Tak nyana anak buah Cui Po-san juga ada yang ahli pedang selihay ini."
Maklum walau Thio Hwe-seng bukan tandingannya, tapi orang dapat menangkis serangan pedangnya yang ganas, jelas memiliki kepandaian lumayan.
Menyaksikan betapa gagah perkasanya Tan Khu-seng, meski Cui Po-san sudah kenyang berperang di medan laga juga kebat kebit.
Dengan gemetar dia memeluk Han Ji-yan bersembunyi di pojok.
Dalam seribu kesibukan, Tan Khu-seng sempat meraba pemapasan Boh Le-cu, terasa napasnya masih lancar, hatinya lega.
Baru saja dia memburu ke arah Cui Po-san hendak membekuknya, mendadak terasa angin tajam menyerang tiba.
Ternyata Sun Tohing melontarkan tinjunya dari belakang mengarah punggungnya.
Tan Khu-seng khawatir Boh Le-cu terluka, mendadak tangannya membalik, dengan cengkeraman telaki seperti mata tumbuh di belakang kepalanya, kelima jarinya mengancam urat nadi di pergelangan tangan Sun To-hing.
Sebagai jago kosen dari Toaseng-bun, Sun To-hing meyakinkan Kau-kun (Silat Kera).
Gerakgeriknya lincah cekatan seperti lutung.
Tadi Tan Khu-seng sudah menyentuh lengan bajunya, entah kenapa, lawan tahu-tahu sudah lolos selicin belut Kejadian berlangsung singkat dan cepat, sebat sekali Sun To-hing sudah berputar ke depan menghadang di depan Cui Po-san suami istri.
Kembali dia memukul, mengincar wajah Tan Khu-seng.
Tiga jago kosen dari istana, saat mana juga sudah memburu datang.
Wi To-ping, Yap Kok-wi dan Lau Ting-ci membentak bersama.
"Tan Khu-seng, jangan bertingkah. Hari ini jangan harap kau lolos dari sini."
Dari tiga arah mereka menubruk bersama, masing-masing melontarkan serangan mematikan.
Sesaat kemudian Tan Khu-seng sudah dikeroyok tiga jago kosen.
Sementara Thio Hwe-seng dan Sun To-hing belum menyusul datang, Tan Khu-seng sudah menerjang keluar.
Kini baru Cui Po-san tahu pembunuh gelap itu adalah Tan Khuseng.
Di samping kaget, takut tapi juga gusar, dari pojok tembok dia berteriak-teriak.
"Usahakan menangkap dia hidup-hidup!"
Tan Khu-seng membentak.
"Siapa merintangi aku pasti mampus."
Mendadak sinar pedangnya berkembang, laksana angin puyuh dia menerjang keluar.
Di.
lorong sebelah depan, pembidik panah sudah disiapkan.
Baru belasan langkah dia berlari, anak panah telah memberondong ke arahnya.
Kalau seorang diri, tak sukar Tan Khu-seng melarikan diri, tapi dia harus melindungi keselamatan Boh Le-cu, maka gerakgeriknya kurang leluasa.
Karena ditahan sekejap oleh serangan panah, cepat sekali lima jago kosen musuh telah memburu tiba.
Tan Khu-seng terkepung di tengah lorong panjang.
Di saat genting itu, dari rombongan tentara di ujung lorong luar mendadak menerobos keluar dua tentara cilik.
Padahal lima jago kosen sedang mengepung musuh tangguh, dua tentara cilik mana mampu ikut campur?
Thio Hwe-seng mengira kedua tentara ini tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, tamak mengejar pahala, sambil mengerutkan kening dia membentak.
"Kalian tak usah Tkut campur, lekas enyah dan keluar."
Tapi tentara cilik yang berlari di depan mendadak membentak malah.
"Lihat pedang!"
"Sret"
Pedangnya mendadak menusuk. Begitu tentara cilik ini membuka suara, Wi To-ping seketika tersentak kaget, teriaknya.
"Awas, bocah itu adalah Beng Hoa!"
Dugaan Wi To-ping memang tidak salah, kedua tentara cilik ini memang samaran Beng Hoa dan Kim Bik-ki.
Dengan bantuan gabungan sepasang pedang Beng Hoa dan Kim Bik-ki, situasi segera berubah.
Tan Khu-seng yang tadi terdesak, kini mendapat peluang bernapas.
Tapi lima musuh yang mengeroyok mereka juga berkepandaian tinggi, dalam waktu singkat jelas tidak mudah mereka menjebol kepungan.
Di saat mereka berhantam sengit itu, seseorang tampak berlari kencang melewati lorong panjang di mana mereka sedang berhantam, tidak terjun ke kancah pertarungan tapi terus berlari ke kamar Cui Po-san, Tentara di ujung lorong sana ternyata tiada yang merintangi dirinya.
Meski sedang bertarung sengit, sebetulnya Beng Hoa tak sempat memperhatikan orang, ini, namun sekilas ujung matanya menangkap bayangan orang, terasa bayangannya seperti sudah amat dikenalnya.
Tergerak hati Beng Hoa, pikirnya.
"Orang ini mirip Toan Kiam-ceng, aih, semoga bukan dia."
Sayang sekali kejadian yang tidak dia inginkan justru menjadi kenyataan.
Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Toan Kiam-ceng datang karena undangan Han Ji-yan.
Melihat Beng Hoa, sudah tentu rasa kagetnya bukan kepalang.
Untung Beng Hoa sedang terkepung, dia pun tahu ini adalah saat yang paling baik untuk menjilat pantat Cui Po-san suami istri, maka sambil membesarkan nyali dia buru-buru menyelinap ke dalam lorong.
Setelah mengetuk pintu dia berkata tertahan.
"Aku adalah Kiamceng, kudengar di sini ada pembunuh gelap, sengaja aku menengok keadaan ciangkun."
Han Ji-yan yang sudah siuman di dalam kamar segera berteriak.
"Haya, apakah Toan-kongcu? Silakan masuk."
Meski sedang bertarung, namun mata dan telinga Beng Hoa selalu memperhatikan sekelilingnya.
Sayup-sayup dia mendengar suara Han Ji-yan memanggil "Toankongcu".
Mendadak dia mendapat akal, dengan jurus Pek-hongkoan-jit pedangnya berputar laksana bianglala, menerjang ke arah Thio Hwe-seng yang menghadang di depannya.
Thib Hwe-seng sudah merasakan kelihayan ilmu pedangnya, bergegas dia menyingkir.
Dari samping Wi To-ping melontarkan Bik-khong-ciang, sementara Beng Hoa sudah bersalto dengan gaya Burung Dara Jumpalitan di Udara, bagai angin puyuh dia melesat dari pinggir Thio Hwe-seng.
"Aku penggal kepala Cui Po-san, adik Ki, ikutlah suhu menerjang keluar,"
Demikian teriak Beng Hoa lantang.
Teriakannya memancing reaksi Wi To-ping, Thio Hwe-seng dan Sun To-hing, tanpa berjanji ketiga orang ini melompat keluar terus mengejar.
Padahal tujuan Beng Hoa memang memancing musuh supaya terpencar, supaya gurunya leluasa menerjang kepungan.
Tapi waktu dia menerobos ke dalam kamar, sesaat dia melongo.
Baru saja dia mendengar percakapan Han Ji-yan dengan Toan Kiamceng, tapi saat itu yang ada di dalam kamar hanya Cui Po-san seorang yang bersandar di dinding.
Sebetulnya kesempatan baik untuk membunuh Cui Po-san tak boleh diabaikan, sayang sekali karena melongo sejenak ini sehingga gerak pedangnya agak terlambat.
Wi To-ping sudah mendahului menerjang masuk.
Sebagai jago kosen, mendadak disergap dari belakang, secara reflek Beng Hoa mengeluarkan kemampuan untuk menyelamatkan jiwa, sehingga tak sempat membunuh Cui Po-san.
Untuk melindungi pemimpinnya, Wi To-ping berani mempertaruhkan jiwa raga sendiri, dalam sekejap dia menyerang tiga jurus, Beng Hoa terdesak oleh serbuan Thio Hwe-seng dan Sun To-hing.
Sun To-hing sempat melepaskan diri, memburu ke depan Cui Po-san serta membopongnya pergi.
Thio Hwe-seng mengembangkan Sam-jay-kiam-hoat berdampingan dengan Wi Toping, sekuat tenaga mereka melawan baru mampu menandingi permainan pedang Beng Hoa.
"Sayang,"
Diam-diam Beng Hoa mengeluh.
Karena tak mungkin memburu Cui Po-san, maka dia pun tak ingin tinggal lama di tempat itu.
Dengan jurus Ya-can-pat-hong, dia mendesak Wi To-ping dan Thio Hwe-seng mundur dua langkah, tu-"
Buhnya mendadak melambung ting-' gi menerobos lubang di atap rumah ' yang dijebol Tan Khu-seng tadi.
Sementara itu, Tan Khu-seng sedang menerjang ke arah barisan panah.
Tiga dari lima jago kosen yang mengepung mereka sudah dipancing pergi oleh Beng Hoa, Yap Kok-wi dan Lau Ting-ci jelas tidak berani menahannya.
Tapi bidikan panah sedemikian banyak, jelas tidak gampang mereka menerjang ke luar.
Untunglah Beng Hoa sudah kembali.
Kim Bik-ki lantas bertanya.
"Bagaimana?"
"Terjang keluar dulu, nanti kujelaskan."
Dua orang melancarkan gabungan ilmu pedang, cahaya pedang berkembang, dalam sekejap mata mereka sudah menerjang keluar dari lorong itu, terjun di tengah pembidik panah.
Cepat sekali mereka berhasil merebut kuda, terus dibedal ke luar markas musuh.
Tapi Wi To-ping memimpin serombongan tentara mengejar dengan kencang.
Di tengah keributan, Sun To-hing membentak.
"Goanswe ada perintah, dilarang ribut dan jangan kacau. Jaga keras dan tahan serbuan musuh. Barisan kuda ikut aku mengejar pembunuh."
Tentara kerajaan harus siaga kalau musuh menyerbu, maka pengejar banyak berkurang.
Tapi barisan kuda kepercayaan Cui Posan merupakan pasukan pilihan yang lihay berperang.
Kejar mengejar secara kilat terus berlangsung, cepat sekali puluhan li sudah mereka meninggalkan markas besar pasukan kerajaan.
Tan Khu-seng berempat mem-bedal kuda, mereka memasuki sebuah lembah yang berbentuk seperti buli-buli.
Tan Khu-seng langsung memanjat ngarai lalu menurunkan Boh Le-cu.
Sambil mengacungkan pedang dia membentak.
"Hayolah kemari, kita bertempur lagi sampai titik penghabisan."
Ada batu-batu gunung di sekitar mereka, panah musuh tak mungkin melukai Boh Le-cu, maka hati Tan Khu-seng agak lega.
Melihat musuh masih melawan dengan gigih,, pasukan berkuda musuh ternyata tak berani bergerak dengan gegabah.
"Wi To-ping,"
Bentak Tan Khu-seng lantang.
"kalau berani cobalah naik kemari."
Wi To-ping adalah ahli silat, mendengar suara orang yang lantang, namun terasa tenaganya lemah napas pendek, diam-diam hatinya amat girang, pikirnya.
"Tan Khu-seng bertempur setengah malam, tenaganya banyak terkuras, meski kungfunya setinggi langit juga akhirnya menjadi lemah."
Di saat dia memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu, mendadak dua ekor kuda dicong-klang mendatangi.
Seorang adalah pemuda yang mengenakan mantel berbulu dan seorang paderi asing yang mengenakan kasa merah.
Dari jauh pemuda itu berteriak.
"Wi-tayjin, untuk apa kalian berada di Sini?"
Melihat kedua orang ini, Wi To-ping kelihatan berseri girang, serunya.
"Pangeran Ulise, kebetulan kau datang. Kau masih ingat kami perah berjanji kepadamu untuk menuntut balas bukan? Bocah she Beng yang pernah menghina kau dengan temannya bersembunyi di atas bukit itu. Kami sedang berusaha membekuknya. Apakah toa-hwesio ini gurumu?"
Paderi asing itu mendengus menghina, katanya.
"Menghadapi tiga musuh mengerahkan orang sebanyak ini? Biar aku saja yang membekuk mereka, memang aku hendak membuat perhitungan dengan bocah ini."
Ternyata kedua orang ini adalah pangeran Ulise dari suku Jia-kek bersama gurunya Ka-bit Hoatsu.
Tempo hari Ka-bit Hoatsu pernah dikalahkan Beng Hoa, penasaran masih membelit hatinya, sekarang dia sudah mendapat akal untuk mengalahkan permainan pedang Beng Hoa.
Tujuan Ka-bit Hoatsu pamer kepandaian, maka dia gunakan Thoan-im-jip-bit,.
lwekang tingkat tinggi mengantar suaranya ke tempat jauh.
Setiap tentara berkuda itu seperti mendengar orang bicara di pinggir telinga mereka, telinga terasa pekak.
Sudah tentu Tan Khu-seng bertiga yang di atas bukit juga mendengar jelas.
"Siapakah paderi asing itu?"
Tanya Tan Khu-seng.
"Guru baru Toan Kiam-ceng. Tecu pernah bergebrak dengan dia, kungfunya lebih tinggi dari Wi To-ping dan lain-lain."
Tan Khu-seng mengerutkan kening, katanya.
"Seperti apa jauh lebih tinggi dibanding Wi To-ping dan kawan-kawannya. NonaKim satu hal aku mohon bantuan."
Kim Bik-ki kaget, katanya gugup.
"Katakan saja paman."
"Boh-Iihiap kuserahkan kepada kau, kumohon kalian pulang dan melindunginya."
"Suhu,"
Kata Beng Hoa.
"maaf kalau murid menentang kehendakmu, bagaimana juga aku akan selalu berada di sampingmu."
"Musuh terlalu tangguh, jangan kita mengadu jiwa bersama, kalian masih ada kesempatan melarikan diri."
Mendadak Beng Hoa teringat sesuatu, katanya.
"Suhu tak usah khawatir, kita masih punya bala bantuan."
Segera dia mengeluarkan panah kembang api terus ditimpukkan ke tengah angkasa.
Panah kembang api itu mengeluarkan asap birir dengan cahaya yang benderang menerangi langit, dalam jarak puluhan li masih bisa dilihat orang.
Itulah tanda yang sudah dia janjikan dengan Santala.
Sun To-hing adalah seorang kepercayaan Cui Po-san.
Setiap hari Cui Po-san menerima laporan anak buahnya, dia selalu hadir dalam setiap sidang.
Maka Wi To-ping bertanya kepadanya.
"Menurut laporan, perkemahan suku Uigior sejauh seratus li dari sini. Semalam penyelidik memberi laporan bahwa Lohay sudah meninggalkan tempat perkemahan semula. Kurasa bocah itu sengaja main gertak supaya kita jeri dan tak berani menyerbu ke atas."
Agaknya Ka-bit Hoatsu tidak sabar, katanya dingin.
"Kenapa kalian Bernyali begini kecil. Umpama betul ada musuh terpendam di sini, kenapa harus takut. Baiklah, kalian tak berani maju, biar aku yang membekuk bocah itu."
Segera ia mendahului menyerbu ke atas.' Tan Khu-seng tahu paderi asing ini luar biasa, maka begitu turun tangan beruntun dia melancarkan jurus-jurus dari Lian-hoan-tohbing-kiam-hoat, pedang panjang bergetar suaranya laksana pekik naga, berkelebat laksana kilat, beberapa kali gerakan ke kanan kiri menusuk dan menabas, ke kiri dua kali ke kanan dua kali.
Beruntun lima jurus berantai dilancarkan sekaligus, paderi asing itu merasakan dirinya seperti diserang lima orang dari lima jurusan sekaligus.
Tapi walau Ka-bit Hoatsu terdesak, namun dia tetap melayani dengan tabah.
Senjata yang dia gunakan adalah sebatang tongkat bambu hijau.
Bila pedang dan tongkat beradu, ternyata mengeluarkan benturan nyaring seperti benda logam.
Begitu keras getaran dari benturan itu sehingga Tan Khu-seng merasa telapak tangannya pedas dan sakit.
Tak urung kaget hati Tan Khu-seng, pikirnya.
"Lho, kenapa tenagaku makin lemah?"
Tapi tak sempat banyak pikir, karena inisiatif pertempuran masih berada di tangannya.
"sret"
Kembali pedangnya menyerang.
Jurus serangan kali ini lebih aneh, lihay dan menakjubkan.
Kelihatan datang dari kiri ke kanan, tapi di tengah jalan mendadak berubah, tiba-tiba sudah mengancam dada Ka-bit Hoatsu.
Begitu cepat gerak pedangnya, tapi gerakannya terkendali sesuai keinginan hati, jurus permainan selihay ini merupakan latihan yang paling sukar di dalam ilmu pedang.
Mau tidak mau Beng Hoa berseru memuji.
"Jurus Hing-hun-toahhong yang bagus."
Dalam hati dia membatin, entah berapa tahun lagi dirinya harus berlatih baru akan dapat mencapai taraf gurunya Mendadak cahaya pedang berhenti, tampak tongkat bambu hijau Ka-bit Hoatsu seperti lengket dengan ujung pedang.
Setelah bertahan beberapa kejap, pedang panjang Tan Khu-seng ternyata bergerak mengikuti gerakan tongkat bambu lawan.
Kelihatannya Kabit Hoatsu mulai unggul di atas angin, jelas Tan Khu-seng tidak kuat menahan tuntunan tenaga lawan.
"Sayang,"
Diam-diam Tan Khu-seng mengeluh dalam hati, perasaanpun menjadi dingin.
"Aneh, kenapa tenagaku hanya terkerahkan tiga bagian saja? Umpama tenagaku sudah loyo juga tak mungkin selemah ini."
Ternyata dalam, sejurus permainan pedangnya tadi, sebetulnya dia punya dua kali kesempatan memenggal batok kepala lawan, tapi karena tenaga tidak sesuai keinginan hati, bukan saja Ka-bit Hoatsu bisa menyingkir, pedangnya malah tersedot lengket oleh tongkat lawan.
Beng Hoa berteriak.
"Menyembelih ayam kenapa pakai golok kerbau? Suhu, biar tecu saja yang membereskan keparat ini."
"Baik,"
Seru Tan Khu-seng, dengan sisa tenaganya dia mendorong pedang ke depan terus disendai ke samping, pedangnya terlepas dari daya sedot lawan, terus melompat mundur.
Di luar tahunya, kalau hatinya kaget, Ka-bit Hoatsu juga kaget bukan main.
Begitu Tan Khu-seng melompat mundur, seolah-olah dia lolos dari ancaman elmaut, jiwa yang hampir terenggut pedang musuh seperti hidup kembali.
Membayangkan betapa berbahayanya pertempuran tadi, tanpa terasa badannya basah oleh keringat dingin.
Pada saat itulah, Wi To-ping memimpin empat rekannya telah menyerbu ke atas pula.
Mereka sempat melihat pertarungan Ka-bit Hoatsu dengan Tan Khu-seng, ternyata Ka-bit Hoatsu unggul di atas angin, meski di luar dugaan, Wi To-ping girang, teriaknya.
"Keparat ini sudah kehabisan tenaga, hayolah kita tunggu apa lagi, ganyang dia."
Seperti berlomba merebut pahala saja, kelima jago kosen ini menyerbu dengan berdesakan. Dingin perasaan Tan Khu-seng.
"Sungguh tak nyana secara ajaib aku kehilangan tenaga, gelagatnya jiwaku tak bisa diselamatkan lagi. Tapi meski gugur aku harus mengajak teman seperjalanan."
Cepat sekali Wi To-ping dan Lau Ting-ci sudah mendahului menyerbu.
Wi To-ping menggunakan sepasang tinju sementara golok cepat Lau Ting-ci membacok dan membabat dengan deru angin yang kencang.
Tan Khu-seng mengertak gigi.
Dengan jurus O-ka-cap-pwe-bak, pedangnya berkembang menerbitkan bintik sinar berkilauan bagai selaksa kunang-kunang yang beterbangan di angkasa.
Jurus Oh-kacap-pwe-bak sebetulnya adalah salah satu jurus terlinay dari Lianhoan-toh-bing-kiam-hoat, sejurus serangan yang sekaligus dapat membuat delapanbelas lubang di tubuh lawan.
Tapi tenaga lemah, tangan gemetar pedang pun goyah, walau bintik sinar bintang berkembang, namun tampak kalut dan tak karuan, meski bentuknya mirip tapi perbawa serangannya sudah tidak menampakkan hasil.
Tan Khu-seng sendiri merasakan tenaga tak mampu dikerahkan ke ujung pedang, padahal lawan tangguh dan kosen, dia menduga umpama berhasil menusuk lawan juga tidak akan mengalami cedera berarti, paling lecet kulitnya atau tergores sobek pakaiannya.
Kalau napas sendiri ngos-ngosan, tenaga lemah, mana kuat menahan serangan lawan yang mematikan?
Begitu jurus pedang ampuh dilancarkan, Tan Khu-seng lantas insyaf akan keadaan sendiri, dalam hati dia menghela napas.
"Kalau tahu demikian, lebih baik tadi aku menggorok leher saja daripada jatuh ke tangan kawanan cakar alap-alap ini."
Tapi memang aneh dan ganjil.
Kalau dia merasa loyo kehabisan tenaga, ternyata keadaan lawan lebih runyam lagi.
Permainan golok Lau Ting-ci sebetulnya sekaligus membacok tujuh kali, waktu melancarkan serangan dia terlalu bernafsu dan tenaga yang dikerahkan teramat besar setelah bacokan ketiga, tenaganya lantas ludes, golok bajanya sendiri tak kuat dipegang lagi.
"Trang"
Di saat goloknya berputar jatuh berkelontang membentur bata Pukulan Wi To-ping ternyata secara telak mengenai tubuh Tan Khu-seng tapi tenaga pukulannya ternyata jauh lebih lemah dibandingkan pukulan laki-laki biasa Sebaliknya meski tenaga Tan Khu-seng terkuras tapi dasar Iwekang-nya cukup tangguh, tenaga pukulan Wi To-ping yang mengenai tubuhnya malah mental, karuan Wi To-ping terpental jatuh, pantarnya membentur batu cadas.
Untung tenaga pukulannya lemah, meski jatuh kepala tidak sampai bocor.
Tapi lain nasib Lau Ting-ci, golok baja jatuh di tanah, hakekatnya tak mampu melawan gerakan pedang Tan Khu-seng, karuan tubuhnya dihiasi tusukan dan goresan di delapan tempat, meski tidak parah tapi karena dia pun kehilangan tenaga, saking ketakutan dia menjerit-jerit seperti babi disembelih.
Menyusul Sun To-hing, Thio Hwe-seng dan Yap Kok-wi juga sudah memburu tiba.
Melihat keadaan, mereka berdiri melongo.
Mendadak Sun To-hing merasa kepala pusing, Thio Hwe-seng juga berkunang-kunang pandangan matanya.
Hanya Yap Kok-wi saja yang agak mending, maklum dia meyakinkan Tay-cui-pi-jiu, di antara lima orang ini Iwekang-nya jauh lebih mantap meski di bawah Wi To-ping, namun biasanya dia paling rajin melatih tenaga.
Tapi setelah berlari menanjak bukit, ternyata napas juga ngos-ngosan, jantung berdetak lebih cepat dari biasanya Karuan Tan Khu-seng terheran-heran, pikirnya.
"Aneh, kenapa keadaan mereka lebih runyam dari aku?"
Tenaganya sudah lenyap, tapi Iwekang-nya masih ada, pikirnya.
"Aku sudah berani mempertaruhkan jiwa raga, biar aku gertak mereka."
Lekas dia menarik napas, lalu membentak.
"Yang berani hayolah maju adu jiwa dengan aku, yang bernyali kecil lekas enyah dari sini."
Bentakannya laksana guntur menggelegar.
Sun To-hing dan Thio Hwe-seng seperti disambar petir, tanpa terasa lutut goyah, tubuh pun terjungkal dan jatuh berguling ke bawah lereng.
Yap Kok-wi diraih dan tertarik mereka, maka mereka bertiga bergulingan ke bawah.
Ternyata dupa wangi yang dibakar Han Ji-yan merupakan dupa wangi yang membius orang yang menciumnya.
Daya kerjanya perlahan, kalau orang biasa, sedikit menyedot harumnya saja dalam setengah jam akan pingsan.
Lantaran Cui Po-san tak pernah meyakinkan lwekang, maka dia jatuh pingsan lebih dulu.
Sejak Tan Khu-seng mencium harum dupa di kamar Han Ji-yan sudah lebih setengah jam lamanya, mungkin malah lewat satu jam.
Tapi karena Iwekang-nya tangguh, maka setelah mengalami pertarungan sengit baru daya bius dupa harum itu bekerja.
Latihan lwekang Wi To-ping dan lain-lain masih di bawahnya, tapi mereka belum mengalami pertarungan sengit, maka daya kerja obat bius dalam harum dupa itu pun kambuh sesuai kemampuan mereka, ada yang kambuh setelah bertempur, tapi ada juga karena mengerahkan tenaga memanjat gunung sehingga kambuh.
Yang kambuh terakhir kali adalah Yap Kok-wi, jikalau Yap Kok-wi bernyali besar dan berani menempurTan Khu-seng, mungkin jiwa Tan Khuseng tak selamat.
Beng Hoa juga mencium bau harum dupa dalam kamar Han Jiyan, tapi hanya sekejap jadi yang tersedot olehnya hanya sedikit, dalam waktu dekat jelas tidak akan mengalami pengaruh apa-apa.
Apalagi sebelum dia membantu, Tan Khu-seng sudah melabrak kelima pengepungnya, tenaga mereka yang terkuras jauh lebih besar dibanding dirinya.
Pertarungan Beng Hoa dan Kim Bik-ki melawan Ka-bit Hoatsu juga sudah menjelang babak terakhir, keadaan cukup tegang.
Di saat pertempuran memuncak sengit, mendadak Beng Hoa ngerasakan kepala pusing, goresan pedangnya yang membundar tampak tidak bulat lagi, ^ karuan hatinya bercekat.
"Kenapa tenagaku seperti makin lemah?"
Pertarungan dua jago kosen yang memiliki taraf kepandaian seimbang, begitu lawan menunjukkan sedikit kelemahan, lawan akan segera tahu dan masuk ke dalam peluang yang ada, apalagi lwekang Ka-bit Hoatsu jauh lebih tangguh dari Beng Hoa.
Tapi anehnya, ternyata Ka-bit Hoatsu juga tidak mampu mematahkan serangan dan memanfaatkan kesempatan.
Saat mana Wi To-ping dan kawan-kawannya beruntun menggelinding jatuh ke bawah lereng, padahal tempat mereka berhantam hanya seberang menyeberang dengan puncak di mana Tan Khu-seng berdiri.
Begitu Ka-bjt Hoatsu menoleh, kebetulan dilihatnya Tan Khu-seng melotot garang kepadanya Tadi dia sudah merasakan kelihayan Tan Khu-seng, mana dia tahu kalau Tan Khuseng saat itu sudah loyo?
Begitu pandangan beradu, tanpa merasa rasa giris menjalar ke dalam sanubari, takut Tan Khu-seng terjun ke arena pertempuran.
Menghadapi keroyokan sepasang muda-mudi ini saja dirinya sudah kewalahan, mana kuat dikeroyok tiga orang.
Khawatir dihadang Tan Khu-seng dia menyapukan tongkat bambunya begitu Beng Hoa melompat mundur bersama Kim Bik-ki, dia memutar tongkat bambunya sekencang baling-baling terus melompat turun setombak dari jarak Tan Khu-seng.
Beng Hoa siap mengejar, Tan Khu-seng bergelak tawa, serunya.
"Musuh lari tak usah dikejar, biarkan dia pergi."
Beng Hoa sudah melihat adanya gejala tidak beres, lekas dia menghampiri Tan Khu-seng, tanyanya berbisik.
"Suhu, kenapa kau?"
"Kau sendiri? Bagaimana perasaanmu?"
Balas tanya Tan Khuseng.
"Tenagaku seolah-olah makin susut dan habis,"
Sahut Beng Hoa.
Wi To-ping berlima yang menggelinding jatuh ke bawah tiada yang terluka ringan.
Hanya Sun To-hing saja, karena dia meyakinkan silat kera -biasanya jatuh bangun dan bergulingan-maka dia hanya luka lecet bagian luar saja luka-lukanya paling ringan tapi dia pun merasa kehabisan tenaga.
Setelah menenangkan diri, dia membayangkan keadaan tadi, timbul rasa curiganya.
"Kejadian ini agak ganjil, kenapa mendadak kita kehilangan tenaga? Tapi keadaan Tan Khu-seng juga tidak lebih baik dari kita, kalau keadaannya masih segagah semula mana mungkin dia membiarkan kita lolos?"
Luka-luka Wi To-ping paling berat, tapi di antara lima orang ini lwekang-nya paling tangguh, otaknya masih segar, setelah ifiendengar ucapan Sun To-hing seketika dia tersentak sadar, katanya.
"Betul, betapapun kita harus mencoba sekali lagi."
Segera dia memanggil kepala barisan kuda kepercayaan Cui Po-san, katanya "Bawalah barisanmu menyerbu ke atas, jaraknya jangan dekat Dari jarak yang tercapai panah, kalian hujani mereka dengan panah."
Tampak oleh Beng Hoa pasukan berkuda kerajaan sudah menyerbu ke lamping gunung, sementara tenaganya makin lemah, tiada akal lain, terpaksa dia mengertak gigi, katanya.
"Adik Ki, lekas kau gendong bibi Boh dan suhu berangkat lebih dulu, biar aku tahan mereka."
Mendadak Kim Bik-ki berseru kaget.
"He, Beng-toako kau lihat di sana, ada kobaran api besar sekali, tempat kebakaran itu bukankah markas besar pasukan kerajaan?"
Beng Hoa melompat ke batu tinggi, dari sini dia bisa melihat jauh dan lebih jelas.
Tampak asap hitam membumbung tinggi ke angkasa, kobaran si jago merah juga kelihatan menerangi langit.
Dengan girang Beng Hoa berkata.
"Betul, tempat kebakaran memang di markas besar pasukan kerajaan. Aneh, siapakah yang melakukan?"
Dia tahu Santala menurut rencana membawa pasukan kecil hendak membantu dirinya bila mengalami kesulitan, tapi barisan sekecil itu jelas tak mungkin mampu menyerbu markas besar musuh.
Setelah reda rasa senang hati Kim Bik-ki, lalu berkata setelah menghela napas.
"Sayang kebakaran di tempat dekat tak mungkin ditolong dari tempat jauh, biar aku membantu kau mengadu jiwa dengan mereka saja."
"Tidak,"
Tukas Beng Hoa.
"lekas kau berangkat lebih dulu dengan suhu dan bibi Boh. Mumpung pasukan musuh ribut dan khawatir, aku akan menyergap mereka."
Bahwa markas besar mereka kebakaran, pasukan yang sedang menyerbu ke atas bukit juga sudah melihat.
Kepala barisan kerajaan yang datang bersama Wi To-ping bernama Cui It-lun, salah seorang keponakan jauh Cui Po-san yang dibawa dari desa kelahirannya.
Pemuda ini amat setia terhadap pamannya.
Melihat kobaran api, hatinya bimbang, dia perlu lekas pulang melindungi pamannya, namun hatinya tidak rela mengabaikan kesempatan membekuk pembunuh.
Sun To-hing yang berada di kaki bukit seperti tahu isi hatinya, segera dia berteriak.
"Kebakaran di markas jangan dihiraukan, di sana banyak orang, tenaga untuk mamadamkan jauh lebih dari cukup. Lebih penting kau bekuk dulu kawanan pembunuh itu."
Lukanya paling ringan, suaranya masih lantang dan terdengar sampai jauh.
Cui It-lun menduga kebakaran itu pasti bukan tanpa sebab, tapi perkataan Sun To-hin| juga beralasan.
Kalau kawanan pembunuh ini betul sudah kehabisan tenaga, apa susah-*.
nya membekuk mereka lalu pulang i secepatnya.
Maka segera dia memberi aba-aba kepada anak buahnya dan menyerbu ke atas.
Tapi tertunda sekejap ini ternyata membawa perubahan besar.
Terdengar suara sangkakala berbunyi, menyusul derap kaki kuda yang ribut memburu datang.
Tampak serombongan pasukan berkuda mendadak muncul dari balik gunung sana, kudanya gagah orangnya perkasa, kedatangan mereka seperti amukan badai.
Beng Hoa bertepuk girang, serunya.
"Syukurlah, Santala datang tepat waktunya"
Sebelum memburu, tiba, panah Santala sudah membidik lebih dulu, dari jarak seratus langkah panahnya menjepret beberapa kali, tiga tentara berkuda musuh terpanah jatuh dari punggung kuda Cui It-lun adalah ahli panah dalam pasukan kerajaan, melihat anak buahnya terpanah mati, dia amat gusar, bentaknya.
"Diberi tidak membalas kurang hormat, lihat panah!"
"Ser, ser", beruntun dia pun membidikkan tiga batang panah. Santala tertawa panjang, bentaknya.
"Bagus, biar aku adu kepandaian memanah dengan engkau."
Tampak busurnya melengkung, suara jepretan busur berbunyi, menyusul terdengar suara "Tak"
Empat batang panah beradu di udara lalu terpental jatuh.
Tahu-tahu Santala menyusupkan tubuh ke bawah perut kuda sehingga panah Cui It-lun yang ketiga menyambar lewat di punggung kudanya Tapi bidikan panahnya yang terakhir justru melesat tiba lebih dulu, sasarannya tepat ke muka Cui It-lun.
Jarak sudah demikian dekat, ingin berkelit tidak keburu lagi, terpaksa Cui It-lun menyampuk dengan busurnya.
"Krak"
Busur panah yang beratnya puluhan kati itu ternyata terpanah patah tepat di bagian tengah. Ulise mengeprak kudanya memburu ke depan bentaknya.
"Bocah tidak tahu diri, kutawarkan pangkat dan harta kau tidak mau, kau malah melindungi bocah she Beng itu. Memangnya kau tidak tahu kalau bocah keparat itu musuh besarku? Hm, hm, orang lain takut menghadapi panah saktimu, aku justru ingin mencoba kepandaianmu."
Santala juga naik pitam, makinya "Kau ini kerbau dungu yang tidak tahu diri, kau tidak mau bekerja sama dengan kami melawan musuh tidak jadi soal, kau justru mengundang serigala ke dalam rumah, bertindak sewenang-wenang lagi.
Baiklah, aku ingin membuktikan, kau betul-betul tidak takut atau hanya gertak sambal belaka."
Habis bicara panah pun dibidikkan.
Ulise memutar golok pusakanya ke atas menggunakan jurus Soat-hoa-kay-ting, ke bawah dia gunakan jurus Ko-jiu-ban-kin, dua panah berhasil dipukul jatuh tapi panah ketiga melesat masuk dari lubang di tengah yang kosong, sasarannya adalah dada, jelas golok pusakanya tak sempat ditarik balik untuk menangkis lagi.
Pada saat genting itulah, sebutir kerikil mendadak melesat tiba, kerikil ini memukul jatuh panah bidikan Santala yang mengincar dada Ulise.
Kerikil kecil itu adalah jentikan jari Beng Hoa yang menggunakan Tam-ci-sin-thong.
"San-heng, pangeran Ulise memang gegabah dan pikun, tapi jangan kau anggap dia sebagai musuh, biarkan dia pergi,"
Teriak Beng Hoa lantang.
Ulise percaya hasutan Sun To-hing bahwa Beng Hoa sudah kehabisan tenaga, maka dia memberanikan diri menyerbu ke atas bukit hendak membekuk Beng Hoa.
Tak nyana Beng Hoa masih memiliki tenaga sebesar itu, dalam jarak seratus langkah menjentik kerikil mematahkan panah Santala yang dibidikkan dengan kekuatan besar.
Jauh di luar dugaannya pula, Beng Hoa membalas dendam dan sakit hatinya dengan kebaikan, dengan cinta kasih sesama manusia Tadi dia begitu bernafsu hendak membunuh Beng Hoa, ternyata Beng Hoa justru menyelamatkan jiwanya Karuan Ulise amat kaget tapi juga menyesal setengah mati, tanpa berani bercuit separah kata pula, lekas dia mengeprak kudanya melarikan diri.
Memangnya tenaga Beng Hoa makin susut, di waktu dia mengerahkan tenaga menggunakan Tam-ci-sin-thong, tenaganya sudah tinggal separuh dari kemampuan biasanya, dia memaksa melancarkan jentikan kerikil menolong jiwa Ulise.
Seketika dia merasa dadanya mual seperti hendak tumpah, saking gemas ingin rasanya melompat ke atas ranjang tidur sepuas-puasnya Karena busurnya patah, Cui It-lun tahu kepandaiannya memanah bukan tandingan lawan, lekas dia pimpin anak buahnya lari turun.
Sementara itu fajar telah menyingsing, asap hitam masih kelihatan mengepul di langit, namun kobaran api sudah kelihatan.
Tenaga lemah, mengantuk lagi, Beng Hoa sempoyongan hampir jatuh.
Santala kaget, tanyanya sambil memburu datang.
"Beng-toako, kenapa kau?"
Beng Hoa menyengir, katanya.
"Tidak apa-apa, sekarang aku hanya ingin tidur."
Rasa lelah Tan Khu-seng lebih besar, namun karena Iwekang-nya lebih tinggi, beberapa kejap lagi dia masih kuat bertahan. Melihat merek-tidak luka, lega hati Santala, katanya.
"Sekarang mana boleh tidur, lekas tinggalkan tempat berbahaya ini, Bengtoako, apa kau masih bisa naik kuda?"
Beng Hoa mendongak menyongsong hembusan angin lalu, semangatnya sedikit bangkit, katanya.
"Mungkin masih bisa, ayolah terserah sampai mana aku kuat bertahan."
Santala memilih tiga ekor kuda, diberikan mereka berempat, Boh Le-cu masih pingsan, maka dia naik kuda bersama Kim Bik-ki.
Jalan gunung.yang ditempuh Santala amat berbahaya, apalagi salju bertumpuk beberapa dim, sehingga perjalanan lebih sukar.
Untung kuda mereka sudah bisa berperang di medan laga.
Tan Khuseng dan Beng Hoa harus mengerahkan lwekang untuk melawan rasa kantuk, syukur mereka masih kuat bertahan sekian lama, maka mereka tidak pemah ketinggalan.
Kira-kira setengah jam kemudian, akhirnya mereka tiba di bukit di mana semula Santala berpangkal menunggu tanda Beng Hoa.
Empat penjuru bukit ini dikelilingi lereng gunung yang tinggi, letak dan bentuknya amat tersembunyi.
Santala menghela napas lega, katanya.
"Sudah sampai, Bengtoako, kau boleh turun beristirahat."
Belum habis dia bicara.
"bluk"
Beng Hoa sudah terjungkal jatuh dari punggung kuda.
Bergegas Santala melompat turun serta memapahnya, tampak dia sudah memejamkan mata di dalam pelukan Santala, tertidur dengan pulas.
Keadaan Tan Khu-seng lebih baik, dia masih bisa melorot turun, tapi begitu kaki menyentuh tanah, badannya lantas jatuh dan langsung pulas.
Dengan seksama Santala memeriksa keadaan mereka, melihat mereka tidak terluka luar maupun dalam, lega hatinya.
Namun soal lain segera mengkhawatirkan hatinya.
Yang dia khawatirkan adalah bagaimana untuk membobol kepungan pasukan besar musuh, serta pulang ke pangkalan dengan selamat.
Dapat diduga, setelah mengalami keributan yang ditimbulkan Tan Khu-seng guru dan murid, pasukan besar kerajaan pasti dikerahkan menggrebek mereka, setiap saat mereka harus bersiaga dan waspada, satu-satunya harapan hanya menunggu cuaca menjadi gelap, karena kenal situasi daerah ini, mungkin mereka bisa meloloskan diri diam-diam.
Walau tempat ini cukup strategis dan tersembunyi, bukan mustahil musuh bisa melacak ke sini.
Seorang tentara yang bertugas di tempat tinggi mengawasi daerah sekelilingnya mendadak berteriak.
"Kelihatannya seperti ada seorang tentara kerajaan sedang berlari ke atas gunung ini."
Santala melengak bingung, pikirnya.
"Kalau betul ya betul, bukan ya bukan, kenapa dikatakan 'seperti' segala?"
Segera dia sendiri melompat ke atas batu lain yang letaknya juga tinggi, lalu memandang jauh ke bawah sana.
Tampak segulung bayangan putih laksana angin puyuh melayang ke atas bukit.
Selama hidup Santala belum pemah meyaksikan manusia berlari secepat itu, baru sekarang dia maklum kenapa petugasnya itu mengatakan 'seperti'.
Walau dia sendiri samar-samar merasa bayangan putih itu adalah manusia, tapi belum percaya bahwa dia betul-betul manusia, bukan mustahil orang hutan atau lutung besar.
Diam-diam Santala sudah menyiapkan busur dan anah panah, mendadak didengarnya Kim Bik-ki bersuara heran, lalu berteriak.
"He, bukankah yang datang paman Thio?"
Orang itu bergelak tawa, katanya.
"Hiantitli, bagaimana kau bisa tahu?"
"Kecuali kau, di kolong langit ini, mana ada orang yang bisa lari secepat itu?"
Sahut Kim Bik-ki. Dari percakapan mereka, baru Santala tahu yang datang ternyata maling sakti nomor satu di seluruh jagat. Batinnya.
"Tak heran Beng Hoa sering bilang kepandaian mencuri dan ginkang-nya tiada bandingan di seluruh dunia, ternyata memang tidak bernama kosong."
Lekas Santala mohon maaf akan kecerobohannya, tanyanya.
"Kebakaran yang terjadi di markas besar kerajaan, aku duga pasti dilakukan oleh Thio tayhiap. Benar tidak?"
"Betul,"
Seru Kwi-hwe-thio.
"mumpung kebakaran aku mencuri, menangguk ikan di air keruh adalah keahlianku, aku malah berhasil mencuri sebuah barang berharga untuk kalian."
Lekas Kim Bik-ki berkata.
"Persoalan lain tidak penting, paman Thio, lekas kau periksa keadaan Beng Hoa dan gurunya."
Kwi-hwe-thio menoleh sekejap, katanya.
"Mereka sedang tidur lelap, apa yang kau khawatirkan?"
"Paman Thio, aku gugup setengah mati, kau masih menggodaku. Dalam keadaan segenting ini mana boleh Beng Hoa dan gurunya tertidur? Aku curiga mereka kena sesuatu dari perempuan siluman itu. Demikian pula Boh lihiap, dia pun tidur pulas lebih dulu, sejak di markas besar musuh dia sudah tidur nyenyak. Paman Thio, kau berpengalaman, tolong kau periksa apa betul mereka keracunan?"
"Memangnya kau selalu ribut sih,"
Demikian goda Kwi-hwe-thio.
"tadi aku kan bilang berhasil mencuri sesuatu untuk kalian."
Kim Bik-ki berjingkrak senang, serunya.
"O, ya, jadi yang kau curi adalah obat penawarnya?"
"Betul,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
Mendadak dia berputar sambil bertepuk tangan sekali, seperti main sulap saja, tahu-tahu tangannya memegang sebuah poci teh.
Poci teh sebesar itu dia sembunyikan di dalam badannya, ternyata Kim Bik-ki dan Santala tidak melihat di mana tadi dia sembunyikan.
"Setengah poci air teh masih hangat, kebetulan boleh diminum mumpung masih hangat."
Lalu berurutan dia mencekoki Boh Le-cu, Tan Khu-seng dan Beng Hoa masing-masing satu cangkir kecil.
Kirakira setengah sulutan dupa, Boh Le-cu dan Tan Khu-seng tersadar lebih dulu, menyusul Beng Hoa juga siuman.
Boh Le-cu seperti berada dalam mimpi, katanya.
"Tan-ko, apakah kita bertemu di sorga?"
Tan -Khu-seng tertawa.
"Coba kau lihat yang berdiri di sana?"
"Haya,"
Kontan Boh Le-cu men-. jerit kaget.
"kiranya Thio-suhu yang telah menolong kami."
Kwi-hwe-thio pemah mengajar tata rias kepadanya, maka Boh Le-cu memanggilnya suhu.
Saat itu Kwi-hwe-thio sudah menghapus riasan di wajahnya, muncul dengan wajah aslinya.
Tadi Boh Le-cu tidak sadar banyak orang mengelilingi mereka, ingat sikapnya yang mesra pada Tan Khu-seng, seketika merah jengah wajahnya.
Begitu membuka mata Beng Hoa melihat Kwi-hwe-thio, kaget dan heran hatinya, katanya.
"Paman Thio, bagaimana kau tahu kalau' kami mengalami kesulitan, atau kebetulan berada di sini?"
"Bukan kebetulan, aku tahu semalam kalian beraksi, sengaja aku datang kemari membantu sekedarnya,"
Demikian ucap Kwi-hwethio.
"Bagaimana kau tahu?"
Tanya Beng Hoa heran.
"Panjang ceritanya,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
"Biar kusampaikan kabar gembira Jebih dulu. Ayahmu juga sudah berada di daerah Sinkiang."
Saking senangnya, Beng Hoa berjingkrak berdiri, tanyanya.
"Apa betul, di mana ayah sekarang?" .
"Sekarang dia di mana, aku tidak tahu. Tapi aku tahu jalur perjalanannya. Dia datang membawa sepasukan gerilyawan untuk menambah kekuatan Lohay. Yang ikut datang bersama dia masih ada Kwan-tang Tayhiap Utti Keng dan istrinya Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in."
Tan Khu-seng dan Beng Hoa tambah girang. Tan Khu-seng berkata.
"Kami sedang khawatir musuh terlampau kuat, syukurlah Beng tayhiap datang membawa pasukan."
Kwi-hwe-thio meneruskan ceritanya.
"Sebetulnya aku datang bersama pasukan itu. Kemarin waktu pasukan berkemah di Hekciok-kang, kira-kira seratusan li dari sini, kami mendapat berita bahwa pasukan kerajaan sudah berada di sini, pangkalan Lohay mulai dikepung. Maka Beng tayhiap berunding dengan aku, aku disuruh menerobos markas besar musuh langsung mengadakan kontak lebih dulu dengan Lohay". Beng Hoa paham, katanya.
"Paman Thio, jadi kau sudah bertemu dengan Lohay kelo, baru menyusul kemari, benar tidak?"
"Betul, Lohay kelo memberi tahu kepadaku, kau dan nona Kim berencana menyelundup ke markas besar pasukan kerajaan hendak membunuh Cui Po-san. Maka setelah kusampaikan berita seperlunya, tanpa makan minum aku lantas menyusul kemari."
Orang-orang meleletkan lidah, siapa tidak kaget, dalam tujuh hari ternyata Kwi-hwe-thio menempuh perjalanan delapanratus li jauhnya. Dengan tertawa Kwi-hwe-thio berkata.
"Boh lihiap, semalam akulah yang harus disalahkan bertindak kurang cermat sehingga kau terkena muslihat perempuan siluman itu."
Boh Le-cu melongo, katanya.
"Jadi waktu aku berhadapan dengan perempuan siluman itu, kau berada di sana?"
"Ya, aku bersembunyi di luar jendela. Kudengar kau sudah menundukkan perempuan itu, kudengar pula perempuan itu menyuruh kau minum teh. Waktu itu aku tidak menduga muslihat terbalik dari biasanya Melihat kau tidak mau minum, waktu itu aku memujimu malah."
Boh Le-cu sadar, katanya.
"Iya, tak heran perempuan itu menyuruh aku menuang secangkir teh untuk dia, jadi teh dalam poci itu adalah obat penawar dupa biusnya"
Kwi-hwe-thio berkata.
"Setelah aku membakar gudang ransum pasukan kerajaan, selekasnya aku menyelundup ke dalam markas mencari berita Coba kalian tebak, setelah aku melepas api dan balik ke dalam perkemahan Cui Po-san, apa yang sedang disibukkan oleh anak buah Cui Po-san?"
"Bukankah mereka sibuk menolong Cui Po-san,"
Kata Beng Hoa "Kuduga Cui Po-san pasti dalam keadaan seperti kita, tidur pulas karena dupa bius itu,"
Demikian kata Boh Le-cu.
"Perempuan siluman itu hendak mencelakai kita, tapi suami sendiri juga ikut tertimpa"
"Betul,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
"waktu aku menyelundup ke dalam kemah, Cui Po-san memang belum siuman. Walau anak buahnya sibuk menolong dia, tapi mereka lebih mengkhawatirkan persoalan lain. Karena anak buahnya tidak sedikit yang pandai, mereka tahu pimpinan memang pingsan tapi jiwanya tidak terancam."
"O, persoalan lain yang memusingkan mereka sudah tentu memadamkan api?"
Seru Kim Bik-ki. Kwi-hwe-thio menggelengkan kepala, katanya.
"Walau yang kubakar gudang ransum tapi usaha memadamkan api adalah tugas tentara, tak perlu Cui Po-san sendiri yang sibuk menyelesaikan,"
"Paman Thio, sudah jangan jual mahal. Lekas kau jelaskan berita istimewa ini."
Kwi-hwe-thio berkata serius.
"Mereka sibuk mencari nyonya jenderal mereka"
Boh Le-cu kaget, serunya.
"Maksudmu perempuan siluman itu hilang?"
"Betul, yang hilang bersama dia adalah Toan Kiam-ceng-Ternyata kamar tidurnya ada pintu rahasia, anak buah Cui Po-san sudah membongkar pintu rahasia itu, tapi istri jenderal mereka tidak juga ditemukan, karuan mereka ribut dan gugup, semua sibuk menisarinya."
Boh Le-cu berkata.
"Mungkin perempuan siluman itu takut kami mencabut nyawanya, Toan Kiam-ceng takut Beng Hoa mencarinya, mereka merasa meski di tengah pasukan besar juga sukar menyelamatkan diri, maka sengaja kabur ke tempat lain untuk menyembunyikan diri? Kalau betul demikian, maka usahaku menuntut balas, mungkin akan tertunda dan lebih sulit dilaksanakan."
"Kau sudah bersabar delapanbelas tahun, kenapa buru-buru dalam beberapa hari? Asal pasukan kerajaan kita bikin porak poranda, perempuan siluman itu juga takkan bisa lolos."
"Akhirnya bagaimana, Thio-su-hu tolong kau lanjutkan ceritamu,"
Demikian kata Boh Le-cu. Kwi-hwe-thio berkata.
"Belakangan aku tuang air teh ke dalam poci ini sementara poci semula kuisi dengan air kencingku."
Orang banyak terpingkal-pingkal, kata Kim Bik-ki sambil tertawa geli.
"Paman Thio akalmu sungguh bagus, sayang agak kotor."
Beng Hoa juga berkata.
"Kalau demikian Wi To-ping dan kawankawannya akan merasakan nikmatnya air kencingmu bersama Cui Po-san. Paman Thio, akalmu ini bukan saja amat tepat juga banyak memberi bantuan bagi kami."
Sekilas berpikir Kim Bik-ki lantas paham tujuan Kwi-hwe-thio, katanya.
"Betul, bila mereka sadar air dalam poci itu bukan obat penawarnya mereka akan memanggil dan mencari pelayan pribadi Han Ji-yan, jendral dan Wi To-ping serta kawan-kawannya akan tidur satu dua jam lebih lama, sebelum mereka siuman, pasukan besar musuh tidak akan dikerahkan. Semoga pula budak itu tidak menemukan obat penawar yang disimpan majikannya, supaya kita bisa selamat hingga nanti malam. Bila malam sudah tiba, bukan soal sulit bagi kita menerjang kepungan."
"Sayang ayah dan Lohay kelo tidak tahu kesulitan yang kita alami,"
Demikian ujar Beng Hoa.
"Kalau tidak, mumpung pasukan besar musuh tanpa induk, kita bisa menggempur dan mengganyang mereka."
Kwi-hwe-thio tersentak sadar, katanya.
"Beng-lote, terima kasih kau mengingatkanku, aku harus segera minta diri."
Beng Hoa melenggong, katanya.
"Paman Thio, kau mau ke mana?"
"Pulang mencari ayahmu,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
"Kalau bisa menemukan ayahmu aku masih sempat memberi kabar kepada Lohay."
Santala kaget, katanya.
"Thio tayhiap, kau seorang diri, di siang hari bolong lagi, untuk menerobos kepungan musuh bukankah amat berbahaya?"
Kwi-hwe-thio tertawa besar, katanya.
"Untuk membekuk aku, pasukan kerajaan harus banyak memeras keringat dan tenaga."
Belum hilang gema tawanya, bayangan punggungnya sudah berkelebat di samping gunung lenyap di balik semak-semak. Santala terbelalak dan melelet-kan lidah, katanya kagum.
"Bengtoako, kalau tidak kusaksikan sendiri, sungguh aku tidak percaya bahwa di dunia ini ada orang sepandai dia."
Siang hari itu hingga sore keadaan memang aman.
Memang beberapa kali pasukan ronda musuh berkeliling di pegunungan sekitar situ, namun jelas mereka belum menemukan jejak pasukan kecil pimpinan Santala.
Tanpa terasa tabir malam sudah datang.
Santala tidak sabar lagi, katanya.
"Bagaimana? Kita menerobos kepungan?"
"Apa tidak menunggu bala bantuan datang? Kalau bantuan tiba, kita serbu dari dalam, bukankah musuh akan kacau balau digencet dari luar dan dalam?"
Santala memang kagum dan tunduk lahir batin setelah melihat kemahiran Kwi-hwe-thio, tapi dia belum yakin bahwa Kwi-hwe-thio bisa secepat ini mengundang bala bantuan dari dua jurusan.
Di saat mereka berunding dan belum ada keputusan, terdengar suara gemuruh derap kaki kuda yang berlari kencang laksana hujan badai.
Sebarisan pasukan berkuda sudah menerjang naik ke atas gunung.
Sayang yang datang bukan kawan atau bala bantuan, tapi pasukan musuh.
Begitu menerjang ke atas gunung, pasukan kerajaan segera berpencar menjadi tiga barisan mengepung dari tiga jurusan, setiap barisan jumlahnya ada ribuan orang.
Barisan pertama dipimpin lima orang perwira, menyerang dari arah depaa Perwira yang menjadi pimpinan adalah Siang-pit-tiam-simeh Teng Tiong-ai yang terkenal di Bulim.
Barisan kedua dipimpin empat Lama berkasa merah, meVeka berputar ke belakang dan menyerang dari belakang gunung.
Lama yang jadi pimpinannya bukan lain adalah jago kosen dari aliran Bitcong dari Tibet, yaitu Thian-thay Siangjin.
Barisan ketiga dipimpin empat tosu, tosu tertua itu bukan lain adalah Thian-lo-kiam-khek Gun-goancu dari Yu-lay-san yang mengepalai Ceng-siong-koan.
Barisan ketiga ini menyerang dari sayap kanan dan kiri.
"He, dari mana Cui Po-san mengundang kawanan hwesio dan tosu sebanyak ini?"
Seru Boh Le-cu heran.
"Jangan kau meremehkan mereka, mereka adalah jago-jago ternama di kalangan Kangoow. Pernah Toan Siu-si menjelaskan bahwa Cui Po-san mempunyai anak buah yang berjuluk Ngo-koan, Si-to dan Si-ceng. Waktu berkuasa di Siau-kim-jwan tigabelas orang ini merupakan tulang punggung Cui Po-san sehingga dia kuat menduduki bekas pangkalan gerilya, sehingga laskar gerilya dipaksa mengundurkan diri ke Jik-tat-bok. Hoa-ji, kau pernah pergi ke Siaukim-jwan, coba kau periksa apa betul mereka adalah Ngo-koan, Sito dan Si-ceng anak buah Cui Po-san itu?"
"Betul,"
Sahut Beng Hoa.
"Waktu di Siau-kim-jwan, dengan adik Ki kami pernah bergebrak dengan mereka. Waktu itu untung mereka tidak maju bersama, dengan sepasang pedang gabungan kami, akhirnya berhasil membobol kepungan. Kini mereka tigabelas orang maju bersama, mungkin sudah tahu kalau kita bersembunyi di sini."
"Kalau hanya mereka bertigabe-las kita masih mampu menghadapi, tapi kalau seluruh kekuatan kita untuk melawan pasukan besar mereka, jelas kita kalah."
Pada saat gawat itulah, mendadak Santala berteriak sambil bertepuk.
"He, lihat, ada barisan lain juga menyerbu ke atas gunung."
Dari arah barisan pasukan kerajaan, terdengar Tiong Tiong-ai membentak.
"Yang datang barisan dari mana?"
Agaknya dia sudah melihat gelagat jelek, namun dia tidak percaya bahwa barisan musuh turun dari langit.
Cepat sekali kedatangan barisan berkuda ini, yang jadi pimpinan adalah seorang laki-laki gede berewok-an, dengan bentakan laksana guntur mulutnya bicara.
"Inilah pahlawan gagah utusan Giam-lo-ong yang akan mencabut nyawa kalian."
Beng Hoa berjingkrak kegirangan teriaknya.
"He, itulah Koantang Tayhiap Utti keng. Paman Utti! Paman Utti!"
Utti Keng juga berteriak.
"Apakah Hoa-ji di sana? Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami tidak apa-apa,"
Sahut Beng Hoa.
"Paman Utti lekas kemari."
Padahal jarak mereka masih terpaut satu puncak, meski gemuruh lari kuda dan pekik sorak ribuan orang amat ramai namun percakapan mereka jelas terdengar.Terutama bentakan Utti Keng betul-betul sekeras geledek, tidak sedikit yang merasa pekak kupingnya.
Sudah tentu Teng Tiong-ai terkejut bukan main, lekas dia pimpin Ngo-koan melawan.
Dari samping Utti Keng mendadak menerobos seekor kuda, penunggangnya adalah perempuan, katanya.
"Toako, lekas/bergabung dengan Beng-hiantit. Kelima cakar alap-alap ini tak perlu membuat kotor golok pusakamu, biar aku yang menggebah mereka saja."
Kim Bik-ki berjingkrak girang juga, teriaknya.
"Bibi Utti juga datang. Horeee... Hoa-ko belum pernah bertemu dengannya bukan? Kepandaian bibi Utti tidak kalah dengan suaminya."
Beng Hoa tertawa, katanya.
"Aku tahu. Utti hujin adalah jago amgi nomor satu di seluruh dunia. Kaum persilatan mana yang tidak kenal Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in?"
Tan Khu-seng segera mengulap tangan memberi aba-aba, serunya.
"Hayolah, siap serbu ke bawah."
Teng Tiong-ai sudah siap bersama kedua sute-nya untuk melancarkan Siang-pit-tiam-si-meh, tapi kejadian sungguh teramat cepat, tahu-tahu Ki Seng-in sudah mengeprak kudanya menerjang tiba, dalam jarak seratus langkah dia berteriak nyaring.
"Cucu kurakura she Teng kabarnya kau mahir tiam-hiat, aku jadi ingin tahu apakah kau mampu menotok hiatto-ku atau aku yang akan menotok hiatto-mu."
Terdengar suara "Trang tring"
Suaranya mirip senar kecapi yang dipetik, merdu dan mempesona Ternyata Ki Seng-in menyerang dengan gaya Thian-li-san-hoa (Bidadari menyebar bunga), dia menebarkan segenggam mata uang tembaga Teng Tiong-ai menangkis dengan memutar sepasang potlotnya, tapi hanya dua mata uang yang berhasil dia pukul jatuh, mata uang ketiga telak mengenai hiatto-nya, seketika dia terjungkal jatuh dari punggung kuda.
Yang lebih celaka adalah kedua sute-nya dan dua perwira lain.
Sebelum mereka mengangkat senjata terasa angin tajam menyerbu tiba, tahu-tahu mereka kaku dan terjungkal roboh dari atas kuda.
Hiatto mereka tertotok jiwa melayang seketika Padahal kelima orang ini berpencar pada kedudukan yang berbeda dengan jarak seratus langkah.
Ki Seng-in memang tidak bernama kosong.
Utti Keng sudah menyerbu ke tengah pasukan kerajaan.
Si-ceng di bawah pimpinan Thian-thay Siang-jin membentuk Su-siang-tin menyambut kedatangannya.
Bertempur di atas kuda, jelas berbeda dengan bertarung di atas tanah.
Kalau jurus serangan lihay, sering kali dapat membawa kemenangan, tenaga sendiri yang kalah kuat bisa ditambal oleh kecepatan gerak tubuh.
Tapi bertempur di punggung kuda, yang diutamakan adalah dalam bergebrak sejurus harus cepat mengalahkan lawan, yang kuat menang yang lemah kalah.
Walau dalam adu kekuatan ini tidak mengutamakan kelihayan ilmu senjata yang digunakan, tapi kelihayan ilmu yang dibekalnya itu juga pegang peranan.
Kuda Utti Keng berpacu laksana angin puyuh, di tengah hardikannya, golok terayun membacok.
Thian-thay Siangjin memukul dengan tongkat bajanya.
"Trang, trang"
Tiga kali benturan keras. Utti Keng ber-gelak tawa, serunya.
"Konon kau berhasil meyakinkan Liong-siang-kang segala, kiranya juga begini saja?"
Belum lenyap gelak tawanya, tongkat baja sebesar mangkok di tangan Thian-thay Siangjin sudah patah menjadi dua, tubuhnya bergoyang di punggung kuda.
"Huuaaaah"
Darah menyembur deras dari mulut, badan pun terjungkal roboh dari atas kuda.
Su-siang-tin belum lagi terbentuk, Thian-thay Siangjin yang berkepandaian paling tinggi sudah terluka parah, sudah tentu tiga Lama yang lain pecah nyalinya, lekas mereka menarik tali kendali mengeprak kuda ke arah lain terus menyingkir menyelamatkan diri.
Cepat sekali Utti Keng terus membedal kudanya ke tengah barisan musuh tanpa rintangan.
Ngo-Koan dan Si-ceng sudah dibikin porak poranda, kini tinggal Si-to dibawah pimpinan Gun-goan-cu saja yang harus mengeraskan kepala melawan.
Begitu menerjang ke tengah keempat lawannya, Utti Keng menarik tali kendali membalikkan kuda.
Golok kilatnya bergerak dengan jurus Yan-can-pat-hong, seperti angin menyapu, goloknya menyambar miring.
Tampak sinar golok berkilauan berkembang ke empat penjuru disertai benturan nyaring.
Dalam sejurus permainan goloknya itu sekaligus dia sudah membacok tigapuluh enam kali.
Empat tosu itu seperti sekaligus mendapat sembilan kali bacokan dahsyat Begitu sinar golok kuncup, salah seorang sute Gun-goan-cu buntung tangan kanannya, seorang sute-nya yang lain hanya memegang gagang pedang saja, gelung rambut Gun-goan-cu terbelah, kulit kepalanya hampir terbeset.
Dengan suara gemetar Gun-goan-cu berteriak.
"Utti tayhiap, ampunilah kami!"
Utti Keng membentak.
"Pemimpin Ceng-siong-koan kalian yang terdahulu Ui-ciok Totiang berjiwa pendekar, sungguh tak nyana, ahli warisnya tidak becus dan tidak berbakti. Baiklah, memandang muka leluhur kalian, kali ini kuampuni kalian, jikalau tidak bertobat, kelak bila terbentur lagi di tanganku pasti tidak kuampuni."
Sementara itu Beng Hoa mengikuti gurunya menyerbu turun, kebetulan dia saksikan Utti Keng mengalahkan Si-to, saking terpesona dan senang dia berpikir.
"Menilai kecepatan permainan golok, mungkin aku tidak kalah dibanding paman Utti, tapi perbawa permainan golok jelas aku kalah bila harus bermain secepat itu."
Barisan gerilya yang dipimpin Utti Keng hanya limaratus orang, dibanding tigaribu pasukan musuh jelas masih kalah.
Tapi limaratus pasukan gerilya ini sudah kenyang bertempur di medan laga, setiap orang berani melawan sepuluh orang, sementara semangat tempur pasukan kerajaan sudah lumpuh melihat pimpinan barisan mereka keok satu persatu.
Sudah tentu mereka tak berani menjual jiwa, hanya sekejap mereka sudah berlomba menyelamatkan diri.
Beng Hoa memburu maju menyambut kedatangan Utti keng dan istrinya.
Saking gembira mereka lupa bicara, akhirnya Utti keng berkata.
"Hoa-tit, ayahmu juga datang. Istirahatlah sebentar, nanti kuajak kau mencarinya."
Beng Hoa kegirangan, katanya.
"Ha, ayah datang, apa aku sabar menunggunya di sini? Paman Utti, hayolah sekarang kau bawa kau menemui ayah."
"Aku tahu kau sudah satu hari dua malam tidak tidur, apa kau tidak lelah?"
"Terus terang saja, tadi memang lelah, tapi begitu kalian datang, semangatku jadi bergairah malah, ingin rasanya aku bertempur lagi."
Utti Keng bergelak tawa, serunya.
"Bagus, kau memang pemuda gagah, hayolah kita turun gunung. Semangatmu yang bergairah dapat kau lampiaskan di bawah nanti."
Seorang pahlawan suku Uigior maju menyerahkan seekor kuda kepada Beng Hoa.
Kejap lain Beng Hoa sudah mencongklang kudanya berjajar dengan Utti Keng turun gunung.
Santala dan orang banyak ikut di belakang mereka.
Di tengah perjalanan turun gunung itu, Utti Keng menuturkan kejadian yang dialaminya Baru orang banyak tahu bahwa Kwi-hwe-thio sudah memberi tahu kepada Lohay untuk mengerahkan pasukannya, baru pulang menemui Beng Goan-cau dan Utti Keng, maka mereka buru-buru menyerbu ke sini.
Santala bertanya "Entah berapa banyak saudara seperjuangan yang kalian bawa?"
"Kira-kira linWibu orang,"
Sahut Utti Keng. Santala diam saja setelah mendengar jawabannya dalam hatinya dia membatin.
"Kekuatan pasukan kerajaan seratus ribu. Dengan kekuatan limaribu mereka, mungkin takkan mampu mengubah situasi."
Utti Keng seperti tahu jalan pikirannya dengan tertawa dia berkata "Walau jumlah kita sedikit, tapi seumpama badik yang menusuk ke ulu hati musuh, malam gelap mereka tidak tahu berapa banyak orang kita yang datang, kita menggempur di saat mereka tidak siaga, serbuan kita kali ini pasti dapat mencapai kemenangan gilang gemilang."
Tengah berbicara, mereka sudah berada di bawah gunung, langsung terjun ke kancah pertempuran.
Pasukan gerilya dibagi menjadi beberapa barisan yang terdiri dari lima-puluh sampai seratus orang, menerjang kian kemari di tengah pasukan musuh laksana ujung tombak yang menembus pertahanan mereka.
Walau jumlah musuh lebih banyak, tapi pasukan gerilya berhasil membikin mereka kocar-kacir.
Di tengah arena pertempuran yang gegap gempita itu, denting senjata disertai pekik sorak dan jeritan meregang jiwa.
Mendadak terdengar sebuah bentakan sekeras guntur menggelegar, padahal gemuruh pertempuran begitu keras, tapi banyak orang mendengar bentakan keras ini dengan jelas.
"Hoa-tit,"
Seru Utti Keng.
"orang itu pasti ayahmu, lekas kemari, ikut aku, dia berada di sana."
Berkobar semangat Beng Hoa, dia mengeprak kudanya memburu ke depan.
Lekas sekali dia sudah melihat tiga orang penunggang kuda di depan sana sedang bertarung sengit.
Orang yang di tengah bersenjata golok, jelas memang ayahnya.
Lawan Beng G.oan-cau adalah Thio Hwe-seng dan Sun To-hing.
Kedua orang ini adalah jagq Cui Po-san yang terpercaya, jago kelas tinggi dalam pasukan besar musuh.
Dengan satu lawan dua, mereka bertempur sengit dengan Beng Goan-cau.
Utti Keng bergelak tawa, katanya.
"Beng-hengte, coba kau lihat siapa yang datang? Inilah puteramu, boleh kalian ayah beranak bertempur secara berdampingan."
Meski dua melawan satu, tapi keadaan Thio Hwe-seng dan Sun To-hing boleh dikata semakin payah, kalau tidak mau dikata terdesak di bawah angin.
Kini melihat Beng Hoa memburu datang, karuan terkejut dan jeri mereka.
Kala itu yang unggul berkobar semangat tempurnya, pihak yang terdesak justru semakin kalut dan takut, sudah tentu Sun To-hing dan Thio Hwe-seng tidak kuat menghadapi rangsakan golok kilat Beng Goan-cau.
Di tengah bentakan Beng Goan-cau, dengan jurus Teng-li-ciong-' cing, dia menghindari tusukan Thio Hwe-seng, sementara goloknya terayun membacok Sun To-hing.
Sun to-hing adalah jago Silat Kera yang paling kosen.
Gerak-geriknya enteng dan lincah, ginkang-nya boleh diandalkan.
Tapi bertempur di punggung kuda justru bukan kemahirannya.
Senjata yang dia pegang adalah sebatang tombak ular, panjang setombak lebih, senjata untuk menyerang jarak jauh, untuk bertempur jarak dekat jelas tidak leluasa.
Mendadak Beng Goan-cau mendesak maju ke depannya, di tengah hardikan yang memekakkan telinga, golok kilatnya sudah membacok tiba "Krak"
Tombak ularnya patah jadi dua, untung dengan ketangkasan tubuhnya dia bersalto balik laksana kera di tengah sambaran sinar golok, dia sempat menyelamatkan diri.
Sigap sekali Beng Goan-cau sudah menarik tali kendali untuk membalikkan kudanya, begitu membalik goloknya membacok.
Buru-buru Thio Hwe-seng mengeprak kuda melarikan diri, meski cepat dia menyingkir, baju pelindung tubuh yang terbuat dari baja terbelah oleh bacokan golok Beng Goan-cau, hampir saja tulang pundaknya terbacok patah.
Saat itulah Beng Hoa memburu tiba, segera Beng Goan-cau melintangkan golok berduduk tegak di punggung kuda, serunya bergelak tawa.
"Hoa-ji, sudah kau saksikan, ayahmu belum tua bukan?"
Ayah beranak bergabung, bersama Utti Keng mereka pimpin tigaratus pasukan berkuda langsung menyerbu ke markas besar musuh.
Tampak markas musuh mulai terbuka, panji besar yang di tengahnya bersulam huruf Cui berkibar di tengah pasukan, tampak Wi To-ping, Yap Kok-wi, Lau Ting-ci masing-masing memimpin pasukan menerjang ke luar, sudah duabelas jam mereka pulas, kadar obat bius di tubuh mereka sudah hilang maka mereka sudah siuman dan segar kembali.
Tapi bayangan Cui Po-san tetap tidak kelihatan.
"Beng Goan-cau,"
Bentak Wi To-ping.
"besar amat nyalimu, berani kau menyerbu dan melawan pasukan kerajaan. Berapa banyak orang yang kalian kerahkan, buktikan saja kalau tidak seluruhnya kami tumpas habis."
"Boleh buktikan,"
Jengek Beng Goan-cau.
"Kalau berani majulah dan lawan aku berduel."
Wi To-ping tertawa besar, serunya.
"Seorang jenderal mengadu kepintaran dan strategi bukan adu otot, sekarang kalian umpama kura-kura dalam tempurung, kenapa aku harus berduel dengan kau?"
Wi To-ping memimpin pasukan tengah, laksaan kuda berderap dengan laju kencang laksana amukan gelombang badai menyerbu datang, ratusan orang yang dipimpin Beng Goan-cau terkepung di tengah musuh.
Beng Goan-cau dan Utti Keng menerjang kian kemari, di sebelah mana orang mereka terdesak, ke situ mereka melabrak musuh, siapa mencegah dia binasa.
Tapi jumlah pasukan kerajaan memang teramat banyak; satu kelompok dilabrak kelompok lain segera merubung lagi.
Lebih gawat lagi bala bantuan musuh dalam jumlah lebih besar mulai bergerak pula.
Dalam keadaan terkepung di tengah lapisan manusia seperti semut, bukan kerja gampang untuk membobol kepungan.
Ki Seng-in mengayun tangan menaburkan senjata rahasia, maka terdengarlah jeritan orang banyak, dalam sekejap hampir ratusan tentara musuh telah disambit binasa oleh senjata rahasianya.
Ki Seng-in mengeprak kudanya mendekat ke arah suaminya, lalu berteriak.
"Toako, hayo kita serbu markas musuh, tangkap Cui Posan hidup-hidup."
"Bagus,"
Sambut Utti Keng.
"hayolah."
Lalu dia menerjang ke depan sambil memutar golok melindungi sang istri.
Beng Goan-cau tak sempat mencegah niat mereka.
Supaya dirinya tidak terlalu me-nyolok dan menjadi perhatian musuh, Cui Po-san sudah bertukar seragam sebagai tentara biasa, saat itu berada di pinggir Wi To-ping.
Melihat Utti Keng suami istri menyerbu datang, kagetnya bukan main, katanya.
"Wah, perempuan itu begitu lihay?"
Ternyata yang mencegat Ki Seng-in tadi adalah pasukan pribadinya yang berbaju baja.
Tombak, golok dan pedang pun tak dapat melukai mereka.
Sebelum habis dia bicara, seorang tentara yang berbaju besi baja tengah berlari dengan sempoyongan dengan kedua tangan mendekap mata yang berdarah, hampir saja menubruk Cui Po-san, karuan Cui Po-san membentak gusar.
"He, keparat, matamu buta?"
Seorang teman yang memapah tentara yang terluka itu berkata.
"Lapor toa-say, matanya memang buta terbidik senjata rahasia perempuan itu."
Ternyata timpukan senjata rahasia Ki Seng-in khusus membidik mata pasukan baju baja ini. Demikian pula tentara yang satu ini, matanya buta tersambit Bwe-hoa-ciam. Lau Ting-ci berkata.
"Lapor toa-say, perempuan ganas itu adalah istri Utti Keng, dalam kalangan Kangouw terkenal dengan julukan Jian-jiu-koan-im."
Kepandaian silat Cui Po-san rendah, namun dia berpandangan tajam, pasukan kuda berlapis baja yang dia banggakan jatuh korban sekian banyaknya hanya oleh jarum-jarum lembut, karuan kaget dan jeri hatinya, pikirnya.
"Malam gelap meski ada sinar api, betapapun tidak seterang siang hari. Pasukan bajaku bertempur di atas kuda, tapi perempuan keparat itu dapat membidik buta mata mereka dengan jarum-jarum kecil lembut, nama julukan Jian jiukoan-im memang tidak kosong."
Wi To-ping segera mengajukan usul.
"Bwe-hoa-ciam tidak dapat mencapai jarak jauh, kita tetap mempertahankan barisan serta membidiknya dengan hujan panah. Tentu dia tak bisa mengganas lagi."
Betapapun banyak amgi yang dibawa Ki Seng-in, karena musuh terlalu banyak, akhirnya habis juga.
Terpaksa dia mengembangkan keahliannya sebagai Jian-jiu-koan-im dengan menyambut bidikan panah musuh serta ditimpuk balik ke arah musuh pula, pasukan kerajaan menjadi jeri dan mundur makin jauh.
Tapi karena kuat dan berlapis barisan yang diperkuat oleh barisan kuda berlapis baja ini, Utti Keng dan istrinya tak mampu menerjang maju lebih jauh.
Sementara Santala dan lain-lain yang berada di belakang mereka juga terjaring dalam kepungan musuh.
Di saat keadaan semakin genting, mendadak terdengar bunyi sangkakala dari empat penjuru.
Pasukan kerajaan seketika goyah dan porak poranda.
Santala sedang bahu membahu dengan Beng Hoa melabrak musuh, mendadak dia berteriak.
"Hore, bala bantuan kita sudah datang."
Betul juga terdengar gemuruh derap kuda yang tak terhitung jumlahnya, ternyata pahlawan suku Uigior telah menyerbu tiba.
Lohay memimpin barisan berkuda langsung menerjang ke markas besar musuh, dalam jarak ratusan langkah dia menarik busur membidikkan panah "Ser"
Panji besar di dalam markas yang bertuliskan "Say"
Atau jenderal dipanahnya patah dan ambruk.
Pahlawan-pahlawan suku Uigior segera bersorak memuji, paduan suara mereka seperti mengguncang bumi.
Sudah tentu pasukan kerajaan semakin patah semangat.
Di tengah pertempuran kalut itu, Beng Goan-cau mendengar seseorang tengah berteriak.
"Kiam-ceng, Kiam-ceng", tergerak hatinya, pikirnya.
"Bukankah Kiam-ceng keponakan Toan Siu-si?"
Menyusul dia dengar seseorang berteriak "Toan-sute sudah ditemukan, suhu, marilah kita pulang saja."
Sekilas tampak oleh Beng Goan-cau orang yang memanggil nama Toan Kiam-ceng adalah seorang paderi asing berkasa merah, yang mengikuti di belakangnya adalah pemuda bermantel bulu.
Beng Goan-cau segera berseru.
"Hoa-ji, kemarilah!"
Pemuda bermantel bulu itu adalah pangeran suku Jia-kek, yaitu Ulise.
Sejak dia diselamatkan dan dibuat sadar oleh Beng Hoa, dia betul-betul sudah bertobat dan menyesal, tidak seperti semula gampang ditipu oleh harta dan pangkat.
Semula dia berpendirian, gabungan suku minoritas di seluruh Sinkiang seumpama telur menumbuk batu bila menghadapi pasukan besar kerajaan Ceng.
Tak nyana belum seluruh gabungan suku bangsa yang ada di Sinkiang mengerahkan tentaranya, cukup kerja sama Lohay dengan Beng Goan-cau sudah cukup mengobrak-abrik sepuluh laksa pasukan Cui Po-san.
Perubahan situasi yang drastis seperti ini memang belum pernah terbayang dalam benaknya.
Kini menyaksikan keadaan Cui Po-san seumpama patung tanah liat yang tak mungkin bisa menyeberang sungai, jiwa sendiri sukar dilindungi, karuan hatinya amat gugup dan makin menyesal.
Maka terngiang nasihat Lohay.dulu, batinnya.
"Betul, dengan suku Uigior kami adalah segolongan, kenapa justru aku menjual jiwa bagi kepentingan kerajaan penjahat?"
Tapi kalau harus bertolak belakang secara langsung dia masih belum berani, maka dia berusaha lari secepatnya meninggalkan medan laga ini, selamat pulang ke rumah dan tetap menjadi pangeran di tengah suku bangsanya sendiri.
Akan tetapi gurunya, Ka-bit Hoatsu, sebelum menemukan Toan Kiam-ceng yang akan diangkat menjadi murid pewarisnya, belum mau pulang.
Cepat sekali Beng Hoa ayah beranak sudah menyerbu datang.
Beng Goan-cau membentak.
"Ingin aku buktikan betapa tinggi kepandaianmu. Lihat golok!"
Dengan cara yang sama waktu dia menempur Beng Hoa, Ka-bit Hoatsu mengerahkan tenaga di tongkatnya, dengan daya hisap hendak menuntun gerakan golok lawan.
Di luar tahunya bahwa golok kilat Beng Goan-cau bergerak lebih cepat dari sambaran kilat, di tengah kilatan sinar berkelebat mendadak berubah di tengah jalan, golok membelah dari arah yang tak terduga sebelumnya.
Tapi kepandaian Ka-bit Hoatsu memang cukup lihay juga sigap, sigap sekali dia melintangkan tongkat menangkis golok pusaka lawan, namun daya hisap jelas tak mampu digunakan lagi, terpaksa dia harus melawan dengan adu kekuatan.
"Trang"
Kembang api berpijar, telapak tangan Ka-bit Hoatsu kesemutan, terkejutnya bukan main.
"Entah dari mana datang jagojago kosen sebanyak ini, satu lebih unggul dari yang lain. Bila Beng Hoa bocah itu ikut mengeroyok, mungkin menyingkir dari sini pun aku tidak mampu lagi."
Karena jeri dia tidak ingin bertempur lebih lama, segera dia mengeprak kuda terus lari. Saat mana kebetulan Beng Hoa mencegat di depan Ulise. Dengan muka pucat Ulise berkata.
"Beng-toako, aku menyesal kenapa tidak mendengar nasihatmu, kini tiada muka aku mohon ampun kepadamu, mau bunuh atau akan disembelih boleh terserah kepadamu."
Lekas Beng Hoa berkata.
"Kenapa kau berkata demikian, bukankah kau ingin pulang?"
Ulise melengak, sahutnya.
"Iya."
"Syukurlah, berarti kau sudah kembali ke jalan lurus, kenapa aku harus mempersulit dirimu? Lekaslah kau pulang saja."
Saking girang Ulise mencucurkan airmata, katanya.
"Beng-toako, aku... aku sungguh tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu, apa kau memerlukan tenaga dan bantuanku?"
Tergerak hati Beng Hoa, katanya.
"Aku hanya ingin bertanya satu hal kepadamu, tentang Toan-sute-mu itu, sejak kami pergi kemarin, apakah dia tidak pemah muncul?"
"Ya, tak pemah aku melihatnya."
"Bagaimana dengan istri jenderal musuh?"
"Juga lenyap bersama dia sampai sekarang belum juga ditemukan jejaknya"
Tengah bicara, Utti Keng dan istrinya telah menerjang tiba. Utti Keng keheranan, tanyanya "Hoa-tit, siapa yang berbicara dengan kau ini?"
"Seorang kawan yang sudah insyaf akan kekeliruannya."
"Mana paderi asing itu?"
Susah Beng Hoa memberi penjelasan. Beng Goan-cau di sebelah depan, dia menoleh dan berkata.
"Hwesio ini mengaku sebagai guru Toan Kiam-ceng."
Seketika Utti Keng mendelik gusar dan mengeprak kudanya memburu maju, golok pun terayun.
Golok kilat Utti Keng terhitung nomor, dua di bawah Beng Goancau, tapi tenaga dalamnya lebih tinggi dari Beng Goan-cau.
Tadi Beng Goan-cau menggunakan Sian-tian-to-hoat (Ilmu golok kilat menyambar) yang lincah mematahkan kungfu Ka-bit Hoatsu dari Thian-tiok yang khusus untuk mengalahkan kekerasan dengan tenaga lunak, sebaliknya Utti Keng merangsak dengan tenaga keras.
Dalam sekejap, beruntun Utti Keng membacok tujuh kali, lengan kanan Ka-bit Hoatsu terasa linu dan kesemutan, hampir saja tongkatnya tak kuat dipegang lagi.
Tapi golok pusaka Utti Keng juga tidak mampu membacok putus tongkat orang, hatinya heran dan kagum.
Beng Hoa tahu paderi asing ini meski galak tapi bukan.musuh utama maka dia berteriak.
"Hwesio ini memang guru Toan Kiamceng, tapi dia pun suhu pangeran ini."
"Baiklah,"
Ujar Utti Keng.
"biar dia pergi. Dia mampu melawan tujuh kali bacokan golokku, kepandaiannya memang boleh'dipuji."
Sementara itu, pasukan kerajaan yang tercecer di berbagai penjuru tengah mundur dan memusatkan diri ke markas besar, tambur peperangan yang ditabuh Yap Kok-wi juga makin gencar, makin keras.
Barisan tengah yang tetap di dalam markas merupakan kekuatan inti pasukan kerajaan, saat itu bertahan secara kokoh dan tak tertembus.
Lohay memimpin pahlawan-pahlawan suku bangsanya menggempur dengan gencar, meski kedudukan musuh agak goyah, tapi mereka tetap tak mampu menggempur masuk.
Utti Keng bertanya pada istrinya.
"Apaka'h kau masih membawa amgi?"
Ki Sengrin menjawab.
"Masih ada tiga batang pisau terbang."
"Bagus, coba berikan padaku,"
Ujar Utti Keng.
Begitu menerima tiga batang pisau terbang, tangan lantas terayun, melesatlah tiga larik sinar berkilauan melewati ribuan kepala pasukan musuh meluncur ke tengah barisan.
Yap Kok-wi sedang bernafsu menabuh tambur menambah semangat tempur pasukannya, mendadak dilihatnya tiga larik sinar meluncur ke arahnya, tiga batang pisau terbang membidik dirinya laksana sambaran kilat.
Sigap sekali dia menganggukkan kepala, pisau terbang pertama meluncur lewat menyerempet rambut kepalanya, berbareng dia mengangkat palu tambur yang terbuat dari besi.
"trang"
Palu besi itu patah, namun pisau terbang kedua juga tertangkis jatuh.
Tapi pisau terbang ketiga menembus tambur besar itu hingga sobek dan berlubang, karuan tambur perangnya bungkam dan tak bisa ditabuh lagi.
Untuk menyelamatkan jiwa Yap Kok-wi harus menjatuhkan diri menggelinding jauh ke pinggir.
Pasukan yang dipimpin Lohay bersorak-sorai.
Lohay berkata senang.
"Bagus sekali, hayo kita serbu ke dalam membekuk Cui Posan."
Kebetulan Beng Goan-cau tak jauh di pinggirnya, mendadak dia berseru.
"Jangan!"
Lohay melenggong, katanya.
"Kenapa jangan?"
"Kita hanya boleh menggempur sekali, pasukan harus lekas ditarik mundur, tidak boleh bertempur membabi buta."
Lohay mengerut kening, katanya.
"Mumpung kita menang, kenapa tidak mengganyang musuh lebih banyak supaya kemenangan lebih gemilang, kenapa harus menarik mundur pasukan?"
Beng Goan-cau berkata.
"Makan nasi harus sesendok demi sesendok, mana bisa semangkok sekaligus kau telan. Sergapan kita sudah berhasil mengobrak-abrik musuh, tujuan sudah tercapai, tak perlu mengadu jiwa dengan musuh."
Walau tidak paham strategi perang, namun setelah kepala dingin, berpikir lebih cermat, dia merasa ucapan Beng Goan-cau memang benar.
Maklum seluruh pahlawan suku Uigior yang dia bawa, ditambah pasukan gerilya pimpinan Beng Goan-cau seluruhnya belum genap dua laksa.
Dibanding dengan sepuluh laksa pasukan musuh berarti satu banding lima.
Markas pasukan kerajaan berdiri sepanjang belasan li.
Barisan tengah yang berada di markas pusat di mana Cui Po-san bercokol merupakan barisan yang memiliki daya tempur paling kuat, bila sekuat tenaga mereka menggempurnya, menurut perhitungan Cui Po-san kuat bertahan tiga jam lamanya.
Bilahan terang tanah, pasukan kerajaan dari berbagai markas yang lain akan datang, kalau hal ini sampai terjadi, berarti situasi akan berubah seratus delapanpuluh derajat.
Maka dia berkata.
"Pendapatmu benar. Sepuluh laksa pasukan musuh tak mungkin dihabiskan sekaligus, kita sekarang sudah makan cukup kenyang, biarlah setelah makanan dalam perut kita dicerna baru kita berusaha makan sisa yang lain."
Untuk beberapa kejap lagi mereka terus menggempur musuh hingga didesak ke dalam sebuah sudut di lembah gunung, karena menduduki tempat strategis serta dijaga ketat, Lohay lantas membidikkan tiga batang panah bersuara, itulah tanda pasukan harus segera mengundurkan diri.
Pasukan Lohay memang berdisiplin tinggi, mereka segera mengundurkan diri, meninggalkan medan pertempuran memasuki daerah pertahanan yang sudah mereka duduki sebelumnya Lohay menghentikan pasukannya di atas sebuah bukit, mendirikan kemah dan memerintahkan pasukannya beristirahat.
Setelah diperiksa yang luka dan yang gugur, termasuk pasukan gerilya, kerugian mereka hanya seribu lebih, tapi kerugian pihak musuh diperkirakan di atas sepuluh ribu.
Perang memang harus jatuh korban, walau mereka amat berduka, namun semangat tempur mereka ternyata malah menyala karena mereka memperoleh kemenangan besar.
Akan tetapi Tan Khu-seng dan Boh Le-cu tidak kunjung pulang.
Orang banyak tahu Tan Khu-seng memiliki kungfu tinggi, Boh Le-cu adalah pendekar perempuan, dapat diduga bahwa kedua orang ini tidak akan mengalami musibah, tapi sampai sekarang jejak mereka tidak diketahui, betapapun patut dikhawatirkan.
Tengah mereka bingung dan khawatir, seorang thaubak dari pasukan gerilya menggusur seorang tawanan, tawanan ini bernama Cui It-un, kepala barisan kepercayaan Cui Po-san.
"Waktu kita membobol kepungan, Tan Khu-seng tayhiap dengan Boh lihiap berada dalam pasukan kita Tan Khu-seng tayhiap-lah yang menawan perwira musuh ini."
"Lalu di mana Tan tayhiap dan Boh lihiap sekarang?"
Tanya Utti Keng. Thaubak itu menjelaskan.
"Setelah menyerahkan tawanannya kepada kami, beliau bilang hendak membekuk seorang yang lain lagi, lalu meninggalkan barisan kita. Waktu itu dia tidak keburu menjelaskan, hanya minta supaya kalian minta penjelasan kepada tawanan ini."
Maka Beng Goan-cau sendiri yang mengepalai sidang. Dengan beringas Cui It-lun berkata.
"Aku jatuhMi tangan kalian, mau bunuh atau disembelih boleh segera lakukan. Hanya satu yang membuatku menyesal, belum ter-lampias dendamku kalau belum menjagal perempuan siluman itu."
Beng Goan-cau melenggong, tanyanya.
"Perempuan siluman yang mana?"
Beng Hoa menjelaskan.
"Perempuan siluman yang dia maksud adalah istri Cui Po-san yang bemama Han Ji-yan."
"Hm, kalau jenderal kami tidak kemaruk paras ayu mengawini perempuan sundal itu, di saat genting malah kami ribut sendiri di dalam lantaran dia, aku yakin kami takkan mudah kalian kalahkan. Sekarang aku hanya mengharap Tan Khu-seng mampu membekuk siluman perempuan itu untuk menuntut balas penasaran jendral kami pula."
Beng Goan-cau tertawa, katanya.
"Agaknya kau belum kalah lahir batin, tapi kami juga tidak ingin memaksa kau tunduk lahir batin. Perbuatan jelek apa yang dilakukan perempuan siluman itu, cara bagaimana pula membuat celaka jenderal kalian, kalau kau mau bicara, kami ingin mendengarkan."
Dari pengakuan Cui It-lun baru Beng Hoa dapat memperkirakan peristiwa apa yang terjadi di tengah markas besar pasukan kerajaan.
Seperti diketahui, Cui Po-san juga tidak luput terkena obat bius istrinya, karena lwekang lemah, terkena racun paling berat pula, walau dia mendapat pertolongan, bersamaan Wi To-ping dan lainlain oleh budak kepercayaan Han Ji-yan, tapi dia bangun paling lambat.
Waktu itu Beng Goan-cau sudah memimpin laskar gerilya, laksana sebilah badik menghunjam langsung ke tengah ?
jantung mereka.
Setelah Cui Po-san sadar baru dia tahu asal-usul istrinya, ternyata bukan dari keluarga besar bangsawan yang ternama tapi adalah jago kosen ahli racun nomor satu di seluruh jagat.
Membayangkan dirinya puluhan tahun seranjang dengan istri yang lihay menggunakan racun, dia bergidik ngeri, setelah sadar baru dia faham kenapa komandan Gi-lim-kun yaitu Hay Lan-ja dulu begitu simpatik memperkenalkan Han Ji-yan kepadanya kiranya untuk.memata-matai dirinya.
Di samping bergidik ngeri, dalam hatinya amat penasaran dan marah, batinnya.
"Aku menjual jiwa untuk kepentingan kerajaan, berapa tahun aku berperang, ternyata kerajaan tetap mencurigai kesetiaanku."
Lebih menjengkelkan lagi adalah Han Ji-yan ternyata minggat bersama Toan Kiam-ceng.
Setelah menyadari liku-liku persoalannya, perasaan Cui Po-san amat kalut dan tidak tenteram.
Setelah kehilangan seseorang yang selalu menjadi pengawas gerak-geriknya, dia memang merasa lega dan longgar.
Tapi sebagai seorang jenderal, panglima besar yang memimpin pasukan besar, istrinya main serong dan minggat dengan pemuda lain, dia amat malu sekali.
Makin dipikir Cui Po-san makin berang, akhirnya dia memberi perintah kepada kepala barisan pengawal pribadinya yang dipercaya, Cui It-lun, untukmencari jejak Toan Kiam-ceng dan Han Ji-yan, harus diusahakan untuk membekuk kedua orang itu.
Cui It-lun amat setia kepada Cui Po-san, meski beberapa kali bentrokan telah terjadi dengan pihak musuh, tapi dia tetap menyebar anak buahnya mengadakan penyelidikan.
Menjelang terang tanah, usahanya berhasil.
Ternyata Han Ji-yan bersama Toan Kiam-ceng secara diam-diam telah lari keluar dari markas besar, jejak mereka terlihat oleh seorang petugas jaga yang berada di garis paling depan.
Menurut dugaan, mereka melarikan diri ke gunung salju di sebelah timur.
Maka Cui It-lun memimpin ratusan anak buahnya mengejar, tak nyana di tengah jalan bersua dengan Tan Khu-seng dan Boh Le-cu.
Kedua orang ini tahu bahwa dirinya adalah orang kepercayaan Cui Po-san, sudah tentu Cui It-lun tidak diberi kesempatan melarikan diri.
Demikian pula Cui It-lun juga tahu bahwa kedua orang ini akan menuntut balas kepada Han Ji-yan, maka sebelum Tan Khu-seng bertanya, dia sudah menceritakan rahasia Han Ji-yan serta menjelaskan persoalannya.
Setelah tahu duduk persoalannya, Beng Goan-cau menghela napas lega, katanya dengan tertawa.
"Sesuai dugaan, mereka memang menyelusuri jejak perempuan siluman itu. Kalau perempuan siluman itu tidak di tengah pasukan besar, meski dia ahli racun nomor satu, mereka masih mampu mengalahkan dia, kita tak usah mengkhawatirkan mereka."
Lohay berkata.
"Walau demikian, berada di pegunungan salju paling gampang tersesat, kurasa bukan soal gampang menemukan jejak dua orang di hutan pegunungan salju. Maka aku usul, kita harus mengutus beberapa orang menyusulnya ke sana."
"Sudah tentu, tapi soal ini nanti harus kita rundingkan,"
Ujar Beng Goan-cau.
"Betul, sekarang kita bereskan dulu keparat ini,"
Seru Lohay. Cui It-lun yakin dirinya pasti mati, maka dia tetap membusungkan dada. Beng Goan-cau berkata sambil tersenyum.
"Konon kau adalah ahli panah di antara pasukan kerajaan, terhitung seorang laki-laki sejati, tak heran kalau kau merasa penasaran."
Agaknya Beng Goancau tahu kejadian Cui It-lun bertanding panah dengan Santala, tapi mendengar orang memuji dirinya sebagai ahli panah, seketika merah jengah selembar mukanya Tapi dia belum mau mengaku kalah, katanya.
"Beng tayhiap, tak usah kau menyindir aku. Memang dalam hal main panah aku bukan tandingan Santala, apalagi dibanding Lohay kelo. Tapi berperang bukan hanya mengandal kekuatan tenaga dan kungfu yang tinggi."
Beng Goan-cau manggut, katanya.
"Betul, aku setuju pendapatmu, perang harus mengerahkan banyak orang. Agaknya kau berpendapat bahwa pahlawan-pahlawan kami tetap bukan tandingan kalian yang banyak itu."
"Pahlawan kalian memang pemberani, juga pandai berperang, tapi kami tak mau mengaku kalah begitu saja."
"Kenapa?"
"Pasukan kami ada seratus ribu, merupakan tentara yang terlatih baik. Kalau kedua pihak berhadapan dan bertempur kurasa pihak kami takkan mudah dikalahkan."
Beng Goan-cau bergelak tawa, katanya.
"Berperang mengutamakan menang dengan cara yang aneh, cara apa pun boleh asal dapat mengalahkan musuh, mana ada berperang seperti bertanding silat, pakai aturan segala. Kurasa Cui Po-san cukup ahli berperang, kau adalah kepala barisan kepercayaannya, kenapa bicara seperti anak kecil yang tidak tahu apa arti sesungguhnya dari perang itu."
Cui It-lun mendebat.
"Jikalau panglima kami tidak terbius oleh perempuan sundal itu, sergapan kalian kurasa takkan berhasil segampang itu."
Beng Goan-cau menggelengkan kepala, katanya kalem.
"Kau keliru, kejadian di luar dugaan bukan kunci utama, apakah berperang itu akan kalah atau menang, apa kau ingin tahu kenapa kalian kalah?"
"Baiklah, ingin aku mendengar pendapatmu,"
Ujar Cui It-lun. Dia tidak mengira bahwa Beng Goan-cau mengajaknya bicara dan memancing pendapatnya, maka sikapnya terhadap Beng Goan-cau menjadi agak sungkan.
"Kenapa kalian kalah berperang?"
Demikian Beng Goan-cau mulai bicara.
"Faktor yang terpenting adalah, kalian berperang tanpa mendapat dukungan rakyat. Kalian berperang untuk kerajaan penjajah, untuk kepentingan bangsa lain, bukan demi kepentingan rakyat. Coba kau pikir, kalian menyerang jauh ke Sinkiang ini, pernahkah dan berapa banyak rakyat sepanjang perjalanan yang mau membantu secara suka rela?"
Cui It-lun menunduk diam. Beng Goan-cau melanjutkan.
"Tentara kalian sembilan di antara sepuluh orang adalah bangsa Han kita, betul tidak?"
"Ya, betul,"
Sahut Cui It-lun.
"Oleh karena itu dalam perang ini kalian tidak mendapat dukungan rakyat, perang ini juga tidak berkenan di hati pasukan kalian sendiri. Itu berarti tentara kalian juga tidak akan berperang secara suka rela, berperang dengan tekad untuk menang. Kerajaan Ceng menduduki tanah bangsa Han kita, menindas dan memeras rakyat bangsa Han, sekarang kalian digiring ke Sinkiang, ke daerah yang jauh dari kampung halaman untuk menjual jiwa, jikalau kau hanya seorang tentara biasa, coba jawab apa kau mau berperang?"
Cui It-lun berpikir, sejak pasukan mereka bergerak hingga memasuki wilayah Sinkiang tidak sedikit anak buahnya yang mengeluh penasaran, maka dia tidak menyangkal apa yang diuraikan Beng Goan-cau, karena semua itu adalah kenyataan.
Beng Goan-cau meneruskan.
"Memang tidak sedikit orang-orang seperti dirimu di antara pasukan itu, berjuang dan berperang untuk kepentingan raja penjajah. Tapi dibanding mereka yang tidak mau berperang, jumlah orang-orang seperti dirimu teramat kecil. Dan aku yakin lambat laun kesan orang-orang yang tidak seberapa jumlahnya ini akan berubah. Hehehe, umpama ada sepuluh perwira, ada satu seperti dirimu, paling banyak jumlahnya hanya selaksa saja. Oleh karena itu kalau kau berpendapat jumlah besar merupakan penentu kalah dan menang, perhitunganmu hanya di atas kertas belaka."
Sampai di sini Beng Goan-cau diam, dengan tajam dia menatap Cui It-lun, katanya perlahan.
"Boleh kau pikir dengan seksama, sebagai bangsa Han, kau berperang dan menjual jiwa untuk raja penjajah, apa setimpal pengorbananmu?"
Cui It-lun menunduk, cukup lama kemudian dia baru berkata.
"Semula aku hanya tahu makan gaji junjungan."
Walau dia masih berusaha memperlihatkan dirinya sebagai laki-laki pemberani, namun nada suaranya sudah tidak segarang tadi.
"Jangan kata hanya kau, umpama Cui Po-san yang berjiiang mati-matian, setia kepada raja junjungannya, aku yakin raja lalim itu tetap takkan menganggapnya sebagai orang yang dapat dipercaya. Tapi aku yakin sekarang kau belum mau percaya ucapanku ini, aku juga tidak akan memaksa kau percaya, sekarang apa keinginanmu, boleh kau berterus terang." . Cui It-lun tertawa getir, katanya.
"Beng tayhiap, jangan kau menggoda dan mempermainkan aku. Aku sudah menjadi tawanan kalian, kau bunuh atau siksa, jelas aku takkan bisa melawan lagi."
Beng Goan-cau bergelak tawa, katanya.
"Baiklah, aku akan melepaskan dirimu, kau boleh pulang ke tengah pasukanmu."
Cui It-lun berjingkrak, sekian lama dia terlongong seperti tidak percaya pendengaran telinganya, katanya tergagap.
"Beng tayhiap, kau... apa betul demikian?"
"Apa yang kami ucapkan selamanya boleh dipercaya,"
Ujar Beng Goan-cau tertawa. Cui It-lun masih curiga, tanyanya.
"Kau membebaskan aku?"
"Bukankah kau belum menyerah? Kau boleh pulang, kalau kau senang, boleh kau pimpin lagi pasukanmu berperang dengan kami."
Lalu Beng Goan-cau menyuruh orang menuntun seekor kuda dan diserahkan kepadanya.
Cui It-lun terdiam, mimiknya lucu, seperti orang pikun, bibirnya bergerak seperti ingin bicara tapi suaranya tidak keluar, tapi akhirnya dia melompat ke punggung kuda lalu mengeprak-nya pergi.
"Beng tayhiap,"
Seru Santala.
"orang menjual jiwanya untuk raja penjajah, kenapa kau melepasnya pulang?"
"Aku ingin dia menyerah lahir batin,"
Ujar Beng Goan-cau tertawa.
"Membunuh dia seorang apa gunanya? Kalau melepas dia pulang, umpama dia masih mengangkat senjata berperang dengan kita, tapi orang yang lain akan patah semangat, manfaatnya jelas jauh lebih besar."
"Betul,"
Sela Lohay.
"Pernah aku mendengar cerita bangsa Han kalian. Tujuh kali Cukat Liang pernah melepas Beng Hek, tujuh kali menangkapnya pula, ternyata setelah dilepas lagi Beng Hek tidak mau pergi, dia menyerah lahir batin. Kali ini kita hanya melepasnya sekali, bukan apa-apa dibandingkan kejadian jaman dulu. Soal ini tak perlu kita perbincangkan lagi, mari kita rundingkan cara bagaimana kita harus membantu guru Beng-siauhiap."
Beng Hoa berkata.
"Biar aku menyusulnya bersama Bik-ki."
Kepandaiannya tinggi, punya pengalaman di gunung bersalju, apalagi sebagai murid Tan Khu-seng, adalah wajib kalau membantu atau menyambut gurunya. Lohay berkata.
"Beng-siauhiap, memang tepat kalau kau dan nona Kim yang menyusul ke sana. Tapi kalian ayah dan anak baru saja berkumpul, belum banyak bicara harus berpisah lagi, rasanya kurang masuk akal."
"Tujuan kami tidak jauh, paling lama tiga hari juga sudah pulang,"
Demikian kata Beng Hoa.
"Baiklah,"
Timbrung Song Theng-siau.
"ada omongan apa yang ingin kau sampaikan kepada ayahmu, lekas kau katakan."
Persoalan memang banyak, Beng Hoa menjadi bingung, soal mana yang harus dia bicarakan lebih dulu. Terpaksa dia ceritakan dulu persoalan yang paling diperhatikan ayahnya, katanya.
"Aku sudah bertemu dengan adik, adik baik-baik saja. Demikian pula paman Kim."
Beng Goan-cau tertawa, katanya.
"Persoalanmu aku sudah tahu dari cerita Kwi-hwe-thio. Aku tahu Kim tayhiap sudah setuju memungut kau bocah bodoh ini sebagai calon menantunya, aku amat gembira."
Saking malu Kim Bik-ki menundukkan kepala Beng Hoa seperti ingat sesuatu, katanya "Oh, ya paman Thio ke mana? Bukankah dia datang bersama kalian?"
"Kemarin dia datang secara tergesa-gesa. Setelah menyampaikan berita, segera berlalu. Dia bilang harus cepat-cepat menyelesaikan persoalan lain, waktu itu tak sempat dia menjelaskan aku pun tak sempat tanya kepadanya"
Setelah Beng Hoa bicara ala kadarnya dengan sang ayah, bersama Kim Bik-ki mereka meninggalkan orang banyak, langsung menuju ke gunung salju yang dikatakan Cui Itlun di sebelah timur.
Mencari jejak manusia di tengah lautan salju memang bukan kerja gampang.
Tengah mereka mengayun langkah, kebetulan datang hembusan angin dingin dari lekuk gunung di sebelah depan.
Begitu menghirup angin dingin ini ?, seketika Kim Bik-ki bersuara heran..Beng Hoa melengak, tanyanya.
"Kenapa kau adik Ki?"
"Coba kau cium, di tengah hembusan angin seperti mengandung bau harum. Tapi jelas bukan bau kembang."
"Betul, memang ada bau harum yang aneh,"
Ujar Beng Hoa.
"Mungkin datang dari tempat jauh yang terbawa oleh angin, harumnya susah dirasakan."
Di saat mereka bicara, bau harum sudah lenyap terbawa angin.
"Di atas gunung salju memang ada kembang liar yang tahan hawa dingin, tapi kembang liar di gunung salju biasanya berwarna indah tanpa bau, umpama berbau wangi juga takkan bertahan selama ini."
"Ya bau tadi mirip obat bius perempuan siluman itu, tapi rasanya seperti tercampur dengari bau wangi lainnya"
"Bait harum itu pasti adalah dupa bius perempuan siluman itu. Toako, syukurlah kita tak usah membuang banyak tenaga, ikuti saja arah datangnya bau harum itu, pasti dapat menemukan jejak perempuan siluman itu."
Beng Hoa manggut, katanya.
"Betul, kita harus bersiaga sebelumnya."
Lalu dia mengeluarkan Bik-ling-tan, dibagi dua, masing-masing mengulum setengah butir.
Maju lagi beberapa ratus langkah, bau harum yang terbawa angin terasa lebih tebal.
Beng Hoa menghentikan langkah-lalu berkata perlahan.
"Di depan seperti ada percakapan orang, mari kita dengarkan dengan seksama"
Mereka mendekam di tanah, lalu pasang telinga, terdengar seorang yang sudah dikenal suaranya sedang berkata.
"Supek tak usah khawatir, aku adalah sutit-mu, masa aku berani mencelakai kau orang tua?"
Mendengar suara ini, hampir saja Beng Hoa berjingkrak girang, untung Kim Bik-ki menekannya, katanya.
"Apakah Toan Kiamceng?"
"Betul, memang dia. Mendengar suaranya, dia seperti sudah meninggalkan perempuan siluman itu. Orang yang berbicara dengan dia adalah supek-nya, jelas supek-nya ini bermusuhan dengan Han Ji-yan."
"Betul, terhadap Toan Kiam-ceng aku tidak percaya, coba kita dengarkan lagi."
Kini mereka mendengar orang yang dipanggil supek oleh Toan Kiam-ceng, berbicara dengan perlahan, nada dan logatnya aneh seperti bukan orang Han. Beng Hoa berpikir.
"Supek Toan Kiam-ceng ini mungkin adalah suheng Ka-bit Hoatsu, paderi dari Thian-tiok itu."
"Bukan aku tidak percaya kepada kau, tapi perempuan siluman itu amat sayang kepadamu, apa kau tega meninggalkan dia? Cara bagaimana kau akan membebaskan dirimu dari cengkeramannya?"
Lekas Toan Kiam-ceng menjelaskan.
"Supek, jangan kau banyak bicara, perempuan siluman itu kan hanya ingin memperalat diriku, mana mungkin aku membantu dia mencelakai kau malah? Ketika tadi dia tidak siaga diam-diam aku lari kemari. Supek, aku pun berhasil mencuri obat pemunahnya."
"Oh, obat pemunah apa?"
Tanya logat ganjil itu.
"Obat penawar dupa bius perempuan siluman itu. Aku tahu lwekang supek amat tangguh, tidak takut keracunan, tapi dengan obat penawar ini kau tak usah repot mengerahkan tenaga. Supek, bila kau sudah menelannya, kita bisa menerjang masuk bersama membekuk perempuan siluman itu, kita tak perlu khawatir dia berbuat licik."
Diam-diam Beng Hoa merasa senang, batinnya.
"Supek-nya itu belum tentu orang baik, betapapun lebih baik dibanding perempuan siluman itu. Peduli lantaran apa dia bermusuhan dengan perempuan siluman itu, langkah Toan Kiam-ceng menandakan dia sudah bertobat."
Tak nyana belum habis dia membatin mendadak terdengar orang itu menggerung murka, bentaknya.
"Bagus ya, kau bocah keparat ini berhati kejam, berani kau membantu perempuan siluman itu mencelakai aku. Hm, sayang muslihat kalian terlalu pagi untuk mencelakai aku, umpama aku tak mampu mengganyang perempuan siluman itu, tapi masih cukup mampu mengganyang kau keparat ini."
Lebih dulu orang itu sudah terbius oleh dupa beracun Han Ji-yan, namun karena lwekang-nya tinggi, di waktu Toan Kiam-ceng datang menemuinya, dia sedang semadi mengusir racun keluar dari badannya.
Setelah dia ditipu oleh Toan Kiam-ceng dan menelan apa yang dinamakan obat penawar, lalu semadi mengerahkan hawa murni tiga putaran, seketika dia rasakan perutnya sakit bukan main, seperti ususnya dipelintir, baru dia sadar apa yang dinamakan obat penawar oleh Toan Kiam-ceng sebetulnya adalah racun.
Yang digunakan Toan Kiam-ceng adalah sejenis racun yang paling lihay dari Han Ji-yan, untuk orang biasa, begitu bibir menyentuh racun jiwa lantas melayang, apalagi setelah menelan racun orang ini mengerahkan hawa mumi dengan maksud supaya khasiat obat lekas menjalar ke tubuh.
Maka Toan Kiam-ceng mengira orang ini pasti mampus seketika, tak terduga mendadak dia menggerung murka sambil melompat menubruk, telapak tangannya yang sebesar kipas hampir saja mencengkeram mukanya.
Toan Kiam-ceng kaget bukan kepalang, lekas dia berlari menjauh sambil menjerit minta tolong.
Mendengar jeritannya ini Beng Hoa amat kaget, tanpa pikir segera dia lari ke sana.
Jeritan minta tolong Toan Kiam-ceng dilakukan secara spontan karena jiwanya terancam, padahal dia tahu Han Ji-yan sudah tidak mungkin menolong jiwanya, juga tidak terpikir olehnya bahwa ada orang lain yang bakal menolong jiwanya.
Kini mendadak melihat Beng Hoa muncul, terkejut dan girangnya seperti orang yang tercebur ke air dan hampir mati tenggelam mendadak menangkap sebatang jerami, lekas dia berteriak.
"Beng-toako, tolong kau pandang muka pamanku, lekas tolong jiwaku."
Waktu Beng Hoa mengangkat kepala, tampak supek!
Toan Kiamceng dari negeri Thian-tiok ini ternyata bertubuh kurus, paderi asing yang berkulit hitam berhidung bengkok.
Saat itu dia sedang mengejar ke atas gunung, jelas sebentar lagi Toan Kiam-ceng akan didesaknya jatuh ke jurang.
Dalam detik yang berbahaya ini sudah tentu Beng Hoa tidak sempat berpikir, jiwa Toan Kiam-ceng jelas harus segera dia tolong Laksana burung elang menerobos hutan, Beng Hoa melambung ke udara meluncur melampaui paderi asing itu.
"Sret"
Pedangnya bergerak ke belakang dengan tusukan berbahaya.
Walau tujuannya menolong jiwa Toan Kiam-ceng, namun Beng Hoa tidak bermaksud membunuh paderi asing ini, jurus pedang yang dia gunakan adalah pedang kilat menotok jalan darah.
Secepat kilat menyambar dia mengincar tujuh hiatto di tubuh orang.
Tak nyana lwekang paderi Thian-tiok ini memang luar biasa, dengan sepasang telapak tangan dia maju hendak menangkap batang pedang, kedua telapak tangannya bergerak seperti permainan gelang, didorong ke kanan dipelintir ke kiri, serangan pedang Beng Hoa ternyata disam-puk minggir seluruhnya.
Melihat Beng Hoa hanya bergoyang sedikit dan tidak terjungkal roboh oleh getaran tenaga dalamnya, paderi asing ini juga heran dan kaget, bentaknya.
"Anak muda yang tidak tahu diuntung, kau sudah tahu kelihayan hudya bukan? Lekas menyingkir, kalau bandel biar kuganyang kau sekalian."
"Siancay, siancay,"
Beng Hoa bersabda.
"seorang beribadat sepantasnya mengutamakan cinta kasih dan bijaksana. Mohon taysu suka mengampuni temanku ini, kita bicarakan persoalan ini."
Mendadak paderi kurus itu berjingkrak murka, bentaknya sekeras guntur.
"Kau ajak aku bicara bijaksana, lalu kepada siapa aku harus bicara tentang cinta kasih? Kau bocah keparat tidak bisa membedakan baik buruk, biar kubunuh kau lebih dulu."
Mulut bicara, kedua telapak tangannya beruntun melontarkan tiga jurus serangan.
Gerak kedua telapak tangannya ternyata menimbulkan dua jenis tenaga yang berbeda.
Jenis pertama lunak menuntun kekuatan lawan, jenis yang lain justru tenaga keras yang menindih berat ke arah lawan, dua jenis tenaga yang berlawanan.
Karena terbelenggu oleh dua jenis tenaga yang berlawanan Beng Hoa laksana sebuah perahu kecil yang terseret ke dalam arus sungai yang berpusar kencang.
Untunglah pada detik yang berbahaya itu, Kim Bik-ki menyusul tiba.
Dengan gabungan permainan pedang mereka, sinar pedang mendadak berkembang, paderi itu kembali berteriak laksana guntur, kini kedua tangannya menggerakkan tenaga keras.
Telinga Kim Bikki pekak dan mendengung, demikian pula dadanya sesak seperti ditindih benda ribuan kati, tapi pedangnya tetap menusuk ke depan, kerja sama dengan Beng Hoa tetap serasi.
Keadaan paderi Thiantiok ini memang seumpama pelita yang sudah kehabisan minyak, beruntun dia mundur tiga langkah.
Kim Bik-ki sendiri juga pusing, kembali dia menusuk dengan pedangnya.
Lekas Beng Hoa menariknya, teriaknya.
"Adik Ki, jangan kau membunuhnya."
Lekas Kim Bik-ki menarik pedang, paderi kurus itu melompat mundur beberapa langkah terus jatuh terduduk di atas salju.
Lega hati Beng Hoa, perlahan dia lepaskan pegangannya di tangan Kim Bik-ki.
Tapi Kim Bik-ki mendadak tersaruk maju hampir roboh malah, untung Beng Hoa lekas memapahnya, kalau tidak tentu terjungkal ke bawah jurang.
Beng Hoa kaget, tanyanya.
"Kenapa kau adik Ki?"
Kim Bik-ki menarik napas, katanya kemudian.
"Sungguh lihay, untunglah aku tidak terluka."
Paderi itu seperti orang semadi duduk diam tidak berani maju lagi. Ketika itu Toan Kiam-ceng sudah lari ke seberang bukit sana, dari kejauhan dia berteriak.
"Perempuan siluman itu berada dalam lubang batu tak jauh di sekitar situ, Beng-heng, setelah kau bunuh hwesio liar itu, lekas kau bekuk perempuan siluman itu. Supaya dia tidak bergabung dengan keparat itu mencelakai kalian."
Paderi Thian-tiok itu tetap duduk di atas salju tak bergerak, teriakan Toan Kiam-ceng dianggap tidak dengar, namun ujung mulutnya menyunggingkan senyum sinis.
Melihat Kim Bik-ki tidak terluka, lega hati Beng Hoa, tapi mendengar teriakan Toan Kiam-ceng dia mengerutkan kening.
Maju beberapa langkah dengan setulus hati dia berkata kepada paderi Thian-tiok itu.
"Taysu, temanku itu mencelakai kau, biar aku yang menebus kesalahannya. Aku punya Bik-ling-tan yang dibuat dari Thian-san-soat-lian, mungkin berguna untuk menawarkan racun dalam tubuhmu."
Belum habis Beng Hoa bicara, mendadak paderi asing itu berteriak murka.
Suaranya sekeras geledek.
Beng Hoa masih kuat bertahan, tapi Kim Bik-ki langsung lemas dan terjatuh.
Tadi dia tergetar oleh pukulan keras paderi asing, tubuhnya hanya terhuyung dan belum jatuh, maka dapat dibayangkan teriakan paderi asing kali ini sungguh jauh lebih lihay dari tenaga pukulan yang dia lontarkan tadi.
Beng Hoa tahu-orang mengerahkan Say-cu-hong-kang, lekas dia berteriak.
"Taysu, kau keracunan, jangan membuang barfyak tenaga."
Tak nyana paderi asing ini seperti tidak peduli atau tak mau dengar nasihatnya, kembali dia berteriak sekali lagi.
Maklum tadi dia sudah tertipu oleh Toan Kiam-ceng, racun dikatakan obat penawar, sudah tentu setelah tertipu sekali mana mau tertipu dua kali.
Dia juga tahu racun sudah meresap ke tulang sumsumnya, meski ada Bik-ling-tan, dia tidak percaya jiwanya dapat diselamatkan.
Bencinya terhadap Toan Kiam-ceng merasuk tulang, sudah tentu dia pun dendam kepada Beng Hoa, yang mengaku sebagai teman Toan Kiam-ceng.
Maka dia mengerahkan sisa kekuatannya, dengan satu harapan semoga sebelum ajal dengan Say-cu-hong-kang dia dapat menggetar mampus Beng Hoa.
Lekas Kim Bik-ki duduk bersimpuh mengerahkan lwekang untuk menahan getaran Say-cu-hong orang.
Sayang Iwekang-nya sendiri lebih lemah, waktu paderi Thian-tiok mengerahkan Say-cu-hong ketiga kalinya, tubuh Kim Bik-ki sudah basah kuyup oleh keringat.
Terdesak oleh keadaan, apa boleh buat, Beng Hoa bersiul nyaring untuk melawan Say-cu-hong lawan.
Lwekang yang dia yakinkan sesumber dengan lwekang latihan Kim Bik-ki, siulannya amat berguna membantu Kim Bik-ki melawan tekanan luar, maka keadaannya tidak tertekan seperti semula.
Yang celaka adalah paderi Thian-tiok itu, begitu Bng Hoa bersiul, teriakannya lantas melemah dan akhirnya berhenti, perlahan tubuhnya roboh menggelinding ke dalam jurang.
Jurang itu tak kelihatan dasarnya.
Lekas Beng Hoa menghentikan siulannya, waktu dia melongok ke bawah, mega mengembang menutupi pemandangan, paderi asing yang terjerumus ke jurang itu pasti terbanting hancur lebur, mau ditolong juga tak mampu lagi.
Tak terasa hatinya menjadi sedih.
Kim Bik-ki berkata gemas.
"Toako, apa kau masih membantu Toan Kiam-ceng keparat itu? Coba lihat, lantaran dia kau mencelakai jiwa orang lain, betapapun paderi asing itu adalah supek-nya."
Beng Hoa amat sedih, katanya kemudian.
"Aku tak sangka kej adian bisa setragis ini, tapi sekarang dia sudah lari kalau kita kejar juga belum tentu terkejar."
"Perlu aku peringatkan kepadamu selanjutnya jangan kau menaruh belas kasihan lagi kepadanya, kalau tidak kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Sekarang paling penting kita bekuk dulu perempuan siluman itu."
Mereka kembali ke arah semula, dengan daya cium mereka tidak sukar menemukan arah datangnya bau harum itu, tak lama kemudian mereka menemukan lubang batu.
Lubang batu ini terletak di belakang batu raksasa yang bentuknya seperti pintu angin, kalau tidak mencium bau harum itu, bukan kerja gampang untuk menemukan lubang batu ini.
Beng Hoa menanggalkan pakaian luarnya, dengan pedang dia menggali beberapa keping salju laiu dibungkus dengan pakaian luarnya.
Lubang balu itu sempit, tapi cukup untuk seseorang masuk, Beng Hoa berkata.
"Biar aku masuk dulu, setelah kubekuk perempuan siluman itu, baru kau menyusul ke dalam."
"Awas dan hati-hati, waspada terhadap amgi-nya,"
Pesan Kim Bik-ki.
Beng Hoa memegang pedang pusaka, dengan gaya Burung Seriti Menerobos Kerai dia menyusup ke dalam lubang.
Sebelum kakinya menyentuh tanah, pedang di tangannya sudah diputar kencang.
Di luar dugaan, tiada amgi memberondong ke arahnya, Han Ji-yan juga tidak menubruk ke arah dirinya.
Han Ji-yan rebah di tanah seperti orang tidur.
Tapi baju bagian pundak kirinya robek seperti tercomot orang sehingga sebagian dadanya yang putih kelihatan.
Lekas Beng Hoa melengos, pandangan dia tujukan ke tempat lain.
Mulut lubang memang sempit, tapi di dalamnya ternyata lebar.
Di dalam terdapat sebuah patung Budha, di bawah kaki Budha terdapat tempat perapian untuk membakar dupa, saat itu sisa abunya masih menyala dan hampir padam.
Lekasv Beng Hoa mencomot segenggam salju, dengan lwekang-nya dia mencairkan salju itu sehingga sisa dupa yang masih menyala dalam perapian padam, setelah bau dupa tidak tercium baru dia memanggil Kim Bikki masuk.
Kim Bik-ki keheranan melihat keadaan di dalam gua ini, katanya.
"Kelihatannya perempuan siluman ini terbokong orang. Selama hidupnya betapa banyak jiwa yang menjadi korban kekejiannya, entah kenapa dia sendiri sekarang jadi korban tangan orang lain."
"Dia terkena amgi apa?"
Tanya Beng Hoa.
"Sudah kulihat, tapi aku yakin dia tidak mungkin terbunuh oleh dupa wanginya sendiri."
"Coba kau mendekat dan periksa lebih teliti, tapi harus hati-hati."
Dengan sarung pedangnya Kim Bik-ki menyentuh tubuh orang, ternyata orang diam saja tak bergerak seperti orang tidur pulas, maka dengan rasa lega dia berjongkok, setelah diperiksa dia bersuara kaget dan heran.
"Apa yang kau temukan di tubuhnya?"
Tanya Beng Hoa.
"Kelihatannya dia terkena jarum berbisanya sendiri,"
Sahut Kim Bik-ki.
Ternyata untuk menyingkir dari kejaran paderi Thian-tiok itu maka Han Ji-yan lari dan masuk ke gua batu ini.
Dia menyulut dupa wangi di perapian, di mulut gua juga memendam beberapa batang amgi.
Paderi Thian-tiok itu memang terkena perangkapnya, kakinya menginjak sebatang duri beracun.
Tapi Iwckang-nya tangguh, racun duri itu belum dapat menamatkan riwayatnya-Akan tetapi dia merasa khawatir dan harus menyelamatkan jiwa lebih dulu.
Padahal dia pun sedikit mahir menggunakan racun, namun tidak seahli Han Ji-yan.
Begitu bau harum dupa berbisa itu teruar ke luar gua, setelah menciumnya sedikit, dada seketika terasa sesak, semangat^ukar berkobar.
Dia tahu harum dupa dengan asapnya yang tebal pasti memenuhi seluruh gua, umpama dirinya berlaku hati-hati hingga tidak terperangkap oleh senjata rahasia musuh, bila masuk ke gua juga pasti keracunan.
Maka dia menyingkir ke tempat yang membelakangi arah angin, di tempat yang tinggi dia.duduk bersimpuh mengerahkan lwekang mengusir racun dalam tubuh sambil mengawasi gerak-gerik Han Jiyan.
Dari luar beberapa kali dia mengumandangkan tawa dingin, katanya.
"Boleh buktikan berapa lama kau siluman perempuan ini dapat bersembunyi dalam gua? Sepuluh hari kau sembunyi sepuluh hari juga kujaga kau di luar gua."
Hal ini sudah tentu membuat Han Ji-yan gelisah dan ngeri.
Dupa harum yang dibawa terbatas, paling lama bisa dibakar sehari semalam, akhirnya pasti habis.
Dalam gua ini tiada ransum atau makanan, kalau betul paderi Thian-tiok ini menunggu sepuluh hari di luar gua, orang tak usah masuk, dia bersama Toan Kiam-ceng akan mati kelaparan lebih dulu.
Apalagi dalam sepuluh hari ini, bukan mustahil Tan Khu-seng dan Boh Le-cu bisa datang kemari.
Bagaimana baiknya?
Di saat dia kehabisan akal, Toan Kiam-ceng mengajukan rencananya.
Dia akan membantu Han Ji-yan membunuh supek-nya sendiri.
Sudah tentu Toan Kiam-ceng punya perhitungan sendiri, dia mengajukan syarat, yaitu Han Ji-yan harus mewariskan Tok-kang-pit-kip kepadanya, mengajarkan juga cara menggunakan racun.
Karena kehabisan akal, apa boleh buat Han Ji-yan menerima syaratnya, secara untung-untungan dia mengajarkan cara bagaimana menggunakan racun kepada Toan Kiam-ceng, tapi dia juga berjanji akan menyerahkan Tok-kang-pit-kip itu setelah Toan Kiam-ceng berhasil membunuh paderi Thian-tiok itu.
Setelah Toan Kiam-ceng berhasil menjalankan perannya, mendadak dia memukul Han Ji-yan hingga pingsan, amgi dan Tokkang-pit-kip serta racun yang dibawa Han Ji-yan dia kuras seluruhnya.
Sebelum keluar gua, khawatir Han Ji-yan masih hidup dan kelak menuntut balas terhadap dirinya, Kiam-ceng taburkan segenggam Bwe-hoa-ciam ke tubuhnya.
Saat mana setelah diurut dan dipijit oleh Kim Bik-ki, Han Ji-yan mulai mengeluh dan siuman, namun keadaannya teramat lemah, pikirannya masih buram.
Dia amat benci dan dendam kepada Toan Kiam-ceng, pandangannya masih nanar, Beng Hoa yang berdiri di depannya tampak seperti Toan Kiam-ceng yang dibencinya.
Beng Hoa sudah menjelaskan bahwa dirinya bukan Toan Kiamceng, tapi dalam pandangan Han Ji-yan hanya terbayang wajah Toan Kiam-ceng, dia amat dendam dan tak mau melepas musuh yang mengganti air susu dengan air tuba, ditolong malah berusaha membunuh dirinya.
Hampir saja Beng Hoa tercakar oleh kuku jarinya yang panjang, apa boleh buat dia kebaskan lengan baju, padahal keadaan Han Jiyan sudah teramat payah dan parah, hanya rasa dendam dan berang saja yang mempertahankan sedikit kesadarannya, sudah tentu tak kuat dia menahan kebasan lengan baju Beng Hoa, sambil menjerit tubuhnya terguling lalu meronta dan berkelo-jotan.
Maklum setelah terkena jarum sekian banyaknya, pantasnya jiwa sudah melayang sejak tadi, untung sejak muda dia sudah biasa bermain racun, sehingga ketahanan tubuhnya cukup kuat bila terkena racun, maka setelah dia dipukul pingsan oleh Toan Kiamceng, dia masih kuat bertahan sekian lama hingga sekarang.
Tapi racun jahat kambuhnya lambat, bila kambuh lihaynya luar biasa.
Kini setelah dia sadar dan pikiran jernih, maka rasa sakit sungguh tak tertahankan.
Tampak darah sudah meleleh dari tujuh lubang indranya, tubuhnya terus berguling-guling seperti orang yang sakit ingatan, menjerit, memekik sambil mencakar dan menggaruk tubuh sendiri hingga lecet dan luka.
Keadaannya sungguh amat mengerikan.
Kim Bik-ki menjadi takut, katanya.
"Hoa-ko, mari kita keluar saja, tak usah menyaksikan keadaannya."
"Baiklah, kita keluar mencari suhu,"
Ucap Beng Hoa. Mendadak didengarnya siulan panjang bagai pekik naga yang mengalun di udara. Beng Hoa berjingkrak girang, serunya.
"Kedengarannya siulan sam-suhu."
Memang beberapa kejap kemudian, dia mendengar suara Tan Khu-seng berkata.
"Hoa-ji, tak usah kau mencari aku.Vku bersama Boh lihiap sudah datang."
Saat itu merupakan d'etik-detik di mana racun dalam tubuh'Han Ji-yan bekerja makin keras, tubuhnya seperti digerogoti ribuan ular, selain sakit juga gatal dan geli, celakanya makin sakit otaknya justru makin jernih, meski penderitaannya cukup parah dia justru tidak pingsan.
Melihat penderitaan orang, Boh Lc-cu tidak tega, dengan ujung serangka pedangnya dia totok dua hiatto di dekat ulu hati orang supaya berkurang penderitaannya.
"Perempuan siluman, pentang lebar matamu, beginilah nasib dan ganjaran perbuatanmu, angkat kepalamu, siapa aku ini?"
Demikian bentak Boh Le-cu Han Ji-yan bernapas ngos-ngosan, perlahan dia mengangkat kepala dan berkata serak.
"Toa-siocia, aku mohon bantuanmu."
"Bantuan soal apa?"
"Hari ini aku mendapat ganjaran setimpal dari perbuatanku dulu, aku tahu takkan hidup lebih lama lagi. Tapi ganjaran ini tidak pantas kuterima dari Toan Kiam-ceng bocah keparat itu, dia merebut segala milikku termasuk Tok-kang-pit-kip, kelak dia pasti mengganas, mungkin lebih kejam dari perbuatanku dulu, semoga kalian cepat membekuk dan membunuhnya, mati pun aku meram."
"Ganjaran ini memang setimpal. Tentang Toan Kiam-ceng, kami akan bekerja sesuai pendapat kami, tak usah kau...."
Belum habis dia bicara, Han Ji-yan sudah terkulai roboh, jiwanya melayang.
Sedetik sebelum ajal, mendengar janji Boh Le-cu hatinya lega dan puas, maka dia mangkat lebih cepat.
Bahwa dendam sudah terbalas, di samping merasa senang dan lega, perasaan Boh Le-cu juga sedih dan hambar.
Delapanbelas tahun dia hidup merana, pahit getir kehidupan sudah kenyang dia rasakan, kalau tiada dua cita-cita itu yang menopang tekad hidupnya, mungkin dia takkan kuat hidup sampai sekarang.
Satu di antaranya yaitu menuntut balas kepada Han Ji-yan, pembunuh ayahnya, kini cita-cita yang satu ini sudah terlaksana, namun masa remajanya sudah hanyut terbawa masa, pergi takkan kembaK lagi.
Sesaat kemudian baru dia berkata rawan.
"Mengingat dia pernah menjadi ibu tiriku, marilah kita ke-bumikan jenazahnya."
Mereka menggotong jenazah Han Ji-yan ke luar gua, Beng Hoa dan Kim Bikki membantu menggali liang lahat.
Saat menguruk tanah terakhir ke dalam liang lahat, tak tertahan air-mata Boh Le-cu menetes.
Han Ji-yan pernah menjadi ibu tirinya dan musuh besarnya.
Dahulu hampir saja merusak masa remajanya, ayahnya menjodohkan dirinya dengan Ho Lok, jelas hal ini adalah karena dorongan Han Ji-yan.
Kalau dia tidak membongkar muslihat Han Jiyan yang bersekongkol dengan ayah Ho Lok, sungguh tak berani dia membayangkan akibatnya Tapi lantaran kasus pernikahan yang gagal itulah sehingga dia berkenalan dengan Tan Khu-seng, malah sejak mereka berkenalan, nasib mereka seperti sengaja digandeng dan diseret, mereka samasama menjadi korban gosip, sementara kasus itu sendiri belum tersingkap, mereka harus berjuang mencuci bersih nama mereka.
Walau dalam delapanbelas tahun ini mereka jarang berkumpul, tapi setiap pagi dan malam mereka sama-sama merasakan pujaan hatinya selalu berada di sampingnya.
Cita-cita kedua yang menopang dia bertahan hidup adalah dia harus hidup berdampingan bersama Tan Khu-seng sebagai suami istri.
Kini dendam kesumat sudah tuntas, habis hujan terbitlah terang, maka cita-cita terakhir bukankah bakal terkabul juga?
Airmata masih berlinang, tapi sinar matanya bercahaya, wajahnya pun sudah terang, wajahnya yang pucat tampak bersemu merah.
Itulah pertanda rasa lega dan senang.
Katanya setelah menghela napas.
"Delapanbelas tahun sudah lewat, berat juga hidup selama delapanbelas tahun ini."
Tanpa sadar Tan Khu-seng juga berkata.
"Betul, syukurlah kehidupan yang menyedihkan sudah lewat. Le-cu, masihkah kau ingat waktu terakhir kali kita berpisah dulu, apa yang pernah kau ucapkan waktu itu?"
Beng Hoa beradu pandang dengan Kim Bik-ki, mereka menekap mulut sambil menyingkir. Pada saat itulah seseorang bergelak tawa sambil berkata.
"Kionghi, kionghi. Agaknya kedatanganku tepat waktunya."
Beng Hoa berjingkrak girang, teriaknya.
"Paman Thio, kau juga datang."
Yang datang adalah maling sakti nomor satu Kwi-hwe-thio.
"Apa maksud perkataanmu?"
Tegur Tan Khu-seng. Kwi-hwe-thio tertawa, katanya.
"Kebetulan masih sempat aku mengucapkan selamat bagi kalian yang kejatuhan rejeki rangkap."
"Omong kosong,"
Seru Tan Khu-seng.
"kejatuhan rejeki rangkap apa?"
"Kau dan Boh lihiap sudah saling tunggu delapanbelas tahun, kini sakit hati sudah terbalas, bukankah ini terhitung rejeki besar? Rejeki kedua sudah tentu tentang hubungan kalian berdua."
"Kenapa datang-datang kau lantas menggodaku?"
Semprot Tan Khu-seng.
"Laki-laki kawin perempuan menikah adalah kejadian lumrah, peristiwa yang harus dibuat girang dalam setiap hidup manusia. Kalian sudah menderita delapanbelas tahun, kenapa masih malumalu kucing segala? Baiklah, Tan-heng agaknya kau tidak berani bicara terus terang pada Boh lihiap, biar aku saja yang mewakilimu. Bukankah kau ingin melamar Boh lihiap? Boh lihiap kau tentu menerima lamarannya bukan? Hahaha, kalau kalian sudah tahu sama tahu, aku yang menjadi comblang ini lebih leluasa bekerja."
Merah muka Boh Le-cu, menunduk tak berani buka suara.
Dalam hati Tan Khu-seng bersyukur ada comblang macam Kwi-hwe-thio yang jenaka ini.
Tapi di hadapan murid, betapapun dia merasa malu dan kikuk.
Supaya orang tidak terlalu melantur lekas' Tan Khu-seng berkata.
"Sudah, sudah, lekas katakan persoalan lain yang hendak kau sampaikan kepadaku."
"Aku mendapat sebuah berita. Cui Po-san mengutus tiga jago kosen istana pulang ke Sujwan untuk minta kiriman perbekalan perang dan ransum. Hari itu aku membakar gudang ransum mereka, walau tidak seluruhnya terbakar habis, tapi sisa ransum yang masih ada hanya cukup sampai akhir bulan ini."
"Oh, jadi kau ingin minta ban-tuanku untuk mencegat tiga jago kosen istana itu?"
"Betul, kau memang pintar, sekali tebak kena sasaran. Kau kan tahu, tidak sulit aku mengejar ketiga jago istana itu, tapi kalau dikeroyok tiga jelas aku bukan tandingan mereka."
Setelah mengebumikan Han Ji-yan, lima orang ini turun gunung. Kwi-hwe-thio bicara lebih lanjut.
"Sudah setengah hari ketiga jago istana itu berangkat,-tapi aku tahu jalan tembus yang lebih pendek, dalam tiga sampai lima hari pasti dapat menyusul mereka. Sekarang tak perlu terburu-buru menempuh perjalanan. Aku ingin tahu mengapa nasib Han Ji-yan berakhir demikian mengenaskan, tolong ceritakan kepadaku?"
Beng Hoa yang bercerita tentang kejadian tadi. Kwi-hwe-thio menggelengkan kepala, katanya menghela napas.
"Siapa nyana Toan Kiam-ceng anak keparat itu ternyata lebih lihay lagi, padahal hanya berapa hari dia bergaul dengan perempuan siluman itu, tindak tanduknya ternyata lebih kejam dibanding perempuan siluman itu."
Lalu dia menyambung.
"Kematian Han Ji-yan tidak perlu disayangkan, paderi Thian-tiok itu adalah supek-nya, kungfunya tinggi, tak nyana juga celaka di tangannya. Menurut apa yang kutahu, paderi Thian-tiok ini bergelar Ka-siang, kungfunya memang bersumber dari Lan-to-si, walau kepandaiannya belum setaraf dengan Yu-tan Hoatsu yang menjadi hongtiang Lan-to-si, tapi dibanding paderi sakti Thian-tiok yang lain yaitu Si-lo Hoatsu kira-kira seurat lebih tinggi."
"Perempuan siluman itu bilang, Tok-kang-pit-kip miliknya sudah direbut oleh Toan Kiam-ceng,"
Demikian Kim Bik-ki menambahkan. Tan Khu-seng menghela napas, katanya.
"Golok dan pedang bila di tangan kaum pendekar dapat menolong orang, kalau di tangan kawanan rampok untuk membunuh orang, ilmu menggunakan racun bukan tidak boleh dipelajari, tapi tergantung bagaimana dia memanfaatkah kepandaiannya."
Kwi-hwe-thio tahu orang masih menyimpan setitik harapan kepada Toan Kiam-ceng, semoga bocah itu kembali ke jalan lurus, maka dia tidak banyak bicara lagi.
Sebelum turun gunung, sengaja mereka melewati jurang di mana paderi Thian-tiok itu jatuh, cukup lama mereka mencari, anehnya mayat paderi asing itu tidak mereka temukan, demikian pula Toan Kiam-ceng entah sudah kabur ke mana.
Di saat mereka melanjutkan perjalanan, mendadak terdengar derap lari kuda yang dibedal kencang.
Tan Khu-seng berkata.
"Yang datang dua ekor kuda. He, agaknya masih ada seorang lagi yang lari di sebelah depan."
Derap lari kuda jaraknya masih ada beberapa li jauhnya. Setelah makin dekat, mereka mendengar seorang yang sudah dikenal suaranya membentak.
"Tiong-locianpwee, lari ke mana pun kau takkan bisa lolos, marilah ikut pulang saja. Kita kan sudah termasuk orang sendiri, kalau bergebrak kan tidak enak dipandang mata."
Mendadak derap kuda berhenti, agaknya dua pengejar itu sudah menyusul buronan yang mereka kejar. Terdengar buronan itu berkata murka.
"Masih bicara hubungan segala. Kalian memaksa aku kembali bukankah hendak mencabut nyawaku yang sudah tua ini?"
Seorang lain berkata dingin.
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 7
Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 11