Anak Pendekar 12

Eps 12 Anak Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.

"Bila selanjutnya kau mau membantu aku melaksanakan tugas, jangan khawatir, aku tidak akan melupakan kebaikan-. mu. Kali ini kau terluka aku sendiri ikut merasa tidak enak. Inilah obat mujarab dari istana untuk menyembuhkan luka dalam, lekas kau telan."

Setelah menerima sebutir pil, legalah hati Sin Jit-nio, dengan tawar dia menyatakan terima kasih. Mentari sudah doyong ke barat, hari sudah lewat lohor. Mendadak Hay Lan-ja membentak.

"Batas waktu sudah lewat, kalian sudah selesai berunding tidak?"

Orang banyak diam saja, tiada satu pun yang buka suara. Kim Tiok-liu akhirnya berkata.

"Kenapa kau gugup malah? Kan masih ada beberapa kejap lagi."

Melihat sikapnya dia seperti punya akal untuk menanggulangi keadaan., Tan Khu-seng berkata.

"Kim tayhiap, dia membuka harga dan mengajak tawar menawar, apa salahnya kalau kita membayarnya kontan saja?"

Kim Tiok-liu menegas.

"Maksudmu...."

"Kita terima satu syaratnya, biar aku dan Beng Hoa menyerahkan diri."

"Tan Khu-seng,"

Boh Le-cu berkata dengan tertawa.

"terima kasih kau mewakili aku memikul tanggung jawab, padahal dalam permainan catur ini kita di pihak pemenang, kenapa kau menggunakan langkah yang melemahkan posisi malah?"

Tan Khu-seng melenggong, katanya.

"Aku tidak tahu kau punya perhitungan apa, Sehingga kau mampu , membalikkan situasi."

Boh Le-cu tertawa katanya.

"Bukan aku punya perhitungan"

Mujijat tapi masih ada satu biji catur yang belum berjalan."

Hay Lan-ja membentak.

"Dupa sudah habis terbakar, kalian belum juga memberi jawaban, terpaksa aku bertindak dan tidak kenal sungkan lagi."

Tan Khu-seng kebat-kebit, katanya.

"Nona Boh, langkah catur yang kau maksud...."

Dalam hati Boh Le-cu juga sedang berpikir.

"Kenapa dia belum juga tiba?"

Mendadak didengarnya Hay Lan-ja berteriak heran dan melompat ke atas batu besar, mengulur leher seperti memandang sesuatu. Begitu menoleh Boh Le-cu lantas berseru girang, katanya.

"Coba kau lihat, siapa yang datang."

Tampak dua bayangan orang sedang berlari cepat bagai terbang dari arah Toan-hun-gay.

Lekas sekali orang banyak sudah melihat jelas.

Kedua orang ini mengenakan seragam perwira kerajaan.

Tan Khu-seng kenal satu di antaranya adalah wakil Hay Lan-ja yaitu Auwyang Ya.

Dia melihat jelas seorang perwira lain menyeretnya.

Tan Khu-seng tidak kenal perwira ini, tapi melihat ginkang-nya yang bagus seketika dia teringat dan sadar, teriaknya berjingkrak girang.

"He, itu kan Kwi-hVve-thio?"

Betul memang Kwi-hwe-thio. Tampak dia menanggalkan kedok mukanya, terus berseru lantang.

"Maaf tuan-tuan sekalian, aku datang terlambat."

Hay Lan-ja gusar, makinya.

"Keparat, kau maling kurcaci ini juga berani mempermainkan aku."

"Betul, aku ini maling cilik, malah aku membawa hasil curianku untuk menyerahkan diri kepada kau pembesar anjing ini. Hasil curianku kali ini bukan benda berharga, cuma wakil komandan Gilim-kun Auwyang Tayjin."

Di bawah cengkeraman, Auwyang Ya seperti kambing yang diseret dan menurut saja tanpa meronta atau berontak.

Kini orang banyak baru terbuka pikirannya, ternyata hilangnya Auwyang Ya karena menjadi tawanan Kwi-hwe-thio.

Tay-ciok Tojin yang malam itu membawa Auwyang Ya naik gunung berpikir.

"Tak heran waktu itu aku hanya mendengar sekali jeritan Auwyang Ya, begitu menoleh sudah kehilangan jejaknya. Aku memang bodoh, kenapa tidak sejak mula terpikir maling sakti ini yang membuat gara-gara."

Maklum siapa tidak tahu Kwi-hwe-thio adalah maling sakti nomor satu di seluruh jagat, gin-kang-nya juga nomor satu di dunia. Hay Lan-ja membentak.

"Lekas kau bebaskan Auwyang Ya."

Kwi-hwe-thio tertawa, katanya.

"Hay-tayjin, kau ingin aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, aku juga ingin Auwyangtayjin .mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hadirin sekalian, Auwyang-tayjin ini selain seorang pembesar yang punya pangkat tinggi, dia masih punya dua jabatan. Pertama, sebagai teman baik Tong-bing-cu, kedua, inilah salah satu pembunuh mantan ciangbunjin Kong-tong-pay, Tong-biau Cinjin. Dia inilah yang menjadi penghubung sehingga Tong-bing-cu terbujuk dan terima menjadi antek kerajaan. Dia ini pula yang menjadi kurir sehingga Sin Jit-nio terjun dalam kasus yang rumit ini. Kerja sama tiga orang ini mencelakai jiwa Tong-biau Cinjin. Sekarang aku akan menyerahkan dia kepada Tan Khu-seng yang menjadi ciangbunjin baru Kong-tong-pay. Hehehe, Auwyang-tayjin, apa yang kukatakan betul bukan?"

Auwyang Ya berkata.

"Aku sudah jatuh di tangan kalian, tiada yang harus kukatakan. Kuharap kalian tidak menyiksaku lagi, segala dosa dan perbuatan itu kuakui."

"Tidak, aku ingin kau bicara terus terang. Apakah kau pun ikut membunuh Tong-biau Cinjin?"

Desak Kwi-hwe-thio.

"Betul, atas perintah Hay-jong-ling, aku membawa Sin Jit-nio ke atas gunung, kuminta dia membantu Tong-bing-cu. Aku sudah mengaku, biarkanlah aku mati saja."

Hay Lan-ja gemas dan mendongkol melihat Auwyang Ya yang loyo dan patah, namun dia tetap harus membelanya, segera dia membentak.

"Aku tidak punya tempo berdebat dengan maling cilik ini, tidak lekas kau bebaskan dia, segera akan kubuat kalian mampus seluruhnya."

"Apa betul? Dengan cara apa kau akan membunuh kami?"

Ejek Kwi-hwe-thio. Karena Kwi-hwe-thio tadi tidak hadir, Hay Lan-ja mengira dia tidak tahu, maka dia menjelaskan sekali lagi.

"Tanah lapang ini sudah kuku-rung dengan peledak yang terpendam, bila panah api kusambitkan, seluruhnya akan meledak bersama"

Mendadak Kwi-hwe-thio tertawa besar.

"Kau tertawa apa?"

Bentak Hay Lan-ja.

"Aku geli karena kau sedang bermimpi, kau kira dinamit yang kau pendam itu bisa meledak?"

Hay Lan-ja berjingkrak kaget, walau dia tidak percaya ucapan Kwi-hwe-thio, tak tahan dia bertanya.

"Kenapa tidak bisa meledak?"

"Kau punya undang-undang raja, aku pun punya cara kerjaku sendiri. Rahasia kerja kaumku ini, mana boleh dibicarakan dengan orang? Kalau ingin tahu kau harus memberi imbalan, kalau aku puas baru akan kujelaskan kepadamu."

Berubah hijau rona muka Hay Lan-ja, pikirnya.

"Dinamit itu aku sendiri yang memendam, selama ini aku sendiri yang menjaga di sekitar sini, umpama betul dia seorang maling lihay,.merhangnya dia mampu mencuri seluruh dinamit itu."

Setelah menghibur diri perasaannya sedikit longgar, segera dia membentak pula.

"Omong kosong, kau kira aku percaya gertakanmu?"

Kwi-hwe-thio menyeringai sinis, katanya.

"Pantasnya aku yang berucap demikian kepadamu. Hehehe, kau punya dinamit, punya meriam segala, bukankah kau yang menggertak kami? Apa yang kukatakan adalah kenyataan, malah kau kira gertakan. Hm, kalau tidak percaya, nah boleh kau coba saja."

"Sial, aku bicara dengan kau, batas waktu sudah lewat. Aku hanya ingin tanya, Kim tayhiap dan Lui-cianpwe, apakah kalian menerima dua syaratku tadi?"

Lui-tin-cu dan Kim Tiok-liu bertukar pandang, lalu mewakili kaum pendekar, Lui-tin-cu menjawab.

"Kau ingin kami menyerah kepadamu, pergilah bermimpi di siang hari bolong."

Ternyata dari sorot mata Kim Tiok-liu, dia sudah tahu bahwa perkataan Kwi-hwethio dapat dipercaya.

Usianya sudah delapan-puluh, dalam Bulim kedudukannya sebagai Bu-tong Tianglo amat disegani kaum persilatan, bicara sekasar ini baru pertama kali ini.

Tak heran kaum muda menjadi gempar dan menyambut dengan sorak sorai.

Membesi hijau muka Hay Lan-ja, katanya.

"Kalian percaya ocehan maling keparat ini, baiklah, jangan menyesal. Bila dinamit meledak, kulit dan tulangmu pun tak berbekas, menyesal pun sudah terlambat."

Kim Tiok-liu tertawa, katanya.

"Kwi-hwe-thio sudah menantang kau untuk mencobanya, kami juga sudah memberi jawaban. Tapi kau masih mai.n gertak segala, apa kau tidak terlalu cerewet jadinya?"

"Baik. Sebelum ajal kalian tidak akan bertobat, baiklah biar kalian buktikan apakah ucapanku gertakan belaka,"

Sembari bicara Hay Lan-ja mengayun sebelah tangannya. Sebatang panah berapi segera meluncur ke arah dia memendam dinamit.

"Blang"

Ledakan memang terjadi, tapi tidak seperti yang diharapkan Hay Lan-ja terjadi ledakan dahsyat yang mengguncangkan bumi.

Tampak jalur-jalur asap warna-warni menjulang tinggi ke angkasa seperti kembang api yang gemerlapan, ramainya seperti dalam suasana hari raya saat penduduk kota melepas kembang api di angkasa raya.

Waktu Hay Lan-ja menimpukkan panah apinya, kambratkambratnya yang berada di sekitar lereng segera menjatuhkan diri, ada yang mendekam ada yang tiarap, ada pula yang bersembunyi di balik pohon atau batu.

Kini mereka berdiri dan memandang ke langit dengan melongo, seperti orang banyak yang terpesona melihat indahnya kembang api berpesta di udara.

Kwi-hwe-thio berkata.

"Tan-heng, aku tahu hari ini kau akan menjabat ciangbun baru, maka sengaja kubelikan kembang api untuk menyemarakkan suasana. Hay-tayjin, terima kasih akan bantuanmu, kau mewakili aku si maling kecil melepas kembang api."

Di tempat itu memang betul ada dua bungkus peledak yang ditanam sendiri oleh Hay Lan-ja, tapi di luar tahunya, waktu bahanbahan peledak itu disimpan dalam Jing-hi-koan, bahan-bahan peledak itu ditukar oleh Kwi-hwe-thio.

Hay Lan-ja memang ceroboh dan terlampau takabur, yakin rencananya pasti berhasil, maka tidak memeriksa ulang bahan-bahan yang sudah disiapkan.

Karuan gusar Hay Lan-ja seperti kebakaran jenggot, bentaknya.

"Kwi-hwe-thio, jangan takabur, dinamit tak mau meledak, aku masih punya meriam untuk menghadapi kalian."

Tiba-tiba Kwi-hwe-thio menarik muka, katanya sinis.

"Kuharap kau tidak sembarangan main-main dengan meriam itu."

"He, kau takut menghadapi meriamku?"

Hay Lan-ja menyeringai sadis.

"Meski kalian berlutut minta ampun juga tidak akan kuampuni lagi. Yang Kek-beng, bidik meriam, tembak!"

Di luar dugaan, jawaban Yang Kek-beng tidak terdengar. Padahal belasan orang yang menguasai meriam di puncak gunung itu di bawah pimpinannya. Karuan Hay Lan-ja tambah murka, teriaknya.

"Jangan hiraukan setan kecil itu. To Tiau, kau yang memimpin sekarang, tembak!"

To Tiau adalah jago tembak meriam yang diajak dari kota raja.

"Hay-tayjin,"

Teriak To Tiau gelagapan.

"aku... ini... ini...."

"Takut apa?"

Damprat Hay Lan-ja.

"paling sudah dikerjai si maling dan takkan berbunyi saja, ayo siap, tembak. Kalau membangkang, ku-penggal kepalamu."

To Tiau tak berani bercuit lagi, dalam hati dia membatin.

"Bila tembakan tidak berbunyi, kan Yang Kek-beng yang bertanggung jawab, tiada sangkut pautnya dengan aku."

Maka dia segera memberi aba-aba kepada rekan-rekannya untuk menembakkan meriam.

Siapa tahu meriam memang menggelegar, namun pelurunya tidak ditembakkan ke luar, tapi meledak di dalam tabungnya, karuan meriam itu hancur berantakan.

To Tiau seketika mati terkena pecahan besi meriam, demikian pula beberapa orang di sekitarnya menjadi korban.

Hay Lan-ja sendiri juga terperosok jatuh oleh getaran dahsyat ledakan itu, tanah yang berhamburan mengotori kepala, muka dan sekujur badannya, mata pun hampir tak bisa dibuka lagi.

Kwi-hwe-thio terbahak-bahak, serunya.

"Tidak mendengar nasihat orang, rugi di depan mata. Hay Lan-ja, terlalu pagi kau menghibur diri, untung meriammu hanya merontokkan beberapa bulu badanmu."

Ternyata setengah jam yang lalu, Kwi-hwe-thio yang menyamar mendadak muncul bersama wakil komandan Gi-lim-kun Auwyang Ya di dalam hutan di mana belasan orang yang membawa meriam menyembunyikan diri.

Dengan alasan memeriksa persiapan, mereka memeriksa meriam.

Di luar tahu orang dia merusak pelatuk lalu membuat sedemikian rupa sehingga peluru meriam itu meledak di dalam bila pelatuknya ditarik.

Maksud hati mau membunuh orang, ternyata jiwa sendiri melayang percuma.

Sesuai pesan Kwi-hwe-thio, Auwyang Ya disuruh memberi tahu kepada Yang Kek-beng tentang pengalamannya lenyap secara misterius malam itu, sebetulnya dia menghilang menurut keinginan sendiri karena dia mengemban tugas rahasia lainnya.

Teman sejawat dari Gi-lim-kun ini adalah pembantu yang baru datang diutus oleh Hay Lan-ja.

Kedudukan Auwyang Ya di dalam Gi-lim-kun hanya di ba'wah Hay Lan-ja, sudah tentu Yang Kek-beng tidak berani banyak tanya tentang tugas rahasia yang diembannya, apalagi waktu sudah mendesak, dia pun tidak berani meninggalkan tempat tugasnya untuk bertanya kepada Hay Lan-ja, apakah betul Auwyang Ya ditugaskan memeriksa barisan meriam yang dipimpinnya.

Tapi pembaca tentu heran, kenapa Auwyang Ya mau tunduk akan perintah Kwi-hwe-thio?

Kiranya Kwi-hwe-thio memiliki semacam ilmu totok yang aneh dan ajaib, siapa yang ditotok dengan caranya itu, di dalam badan seperti dirambati ribuan semut, linu dan pegal, tulang belulang juga seperti hampir copot,-betapa berat siksaan yang dialaminya.

Dengan totokan jenis lain Kwi-hwethio dapat menghilangkan derita ini sementara waktu, namun sebelum totokan itu dibebaskan sembarang waktu masih bisa kumat, bila kumat rasanya memang tak terlukiskan.

Dengan cara itulah Kwi-hwe-thio membuat Auwyang Ya takluk, perlawanannya habis, terpaksa dia tunduk apa saja yang diperintahkan Kwi-hwethio.

Setelah melihat Auwyang Ya muncul dan pengiringnya ternyata adalah Kwi-hwe-thio, Yang Kek-beng lantas sadar bahwa dirinya telah ditipu oleh Kwi-hwe-thio, peledak yang ditanam di sekeliling lapangan ternyata tiada satu pun yang bekerja, maka dia yakin bahwa meriam yang dikuasai ini pasti juga sudah dikerjai oleh maling sakti itu.

Khawatir hal ini diusut oleh Hay Lan-ja, maka secara diam-diam dia kabur tanpa pamit.

Peluru meledak di dalam tabung, meriam hancur, belasan orang men-.

jadi korban, komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja sendiri juga tergetar jungkir balik, gugup, kaget dan panik serta gusar, orang-orang gagah di tanah lapang bersorak girang dan bertepuk riuh rendah.

Bersamaan dengan ledakan yang menggetarkan bumi di atas lereng itu, mendadak di atas panggung terjadi pula tragedi yang tak terduga oleh seluruh hadirin.

Ternyata Tong-cin-cu dan Tong-bingcu sama-sama mengeluarkan jeritan yang menyayat hati.

Ternyata di saat perhatian orang sedang tertuju pada perdebatan Hay Lan-ja dengan pihak Tan Khu-seng, hadirin menjadi tegang karena akan ditembak meriam, diam-diam Tong-cin-cu telah mengumpulkan hawa muminya, dia berhasil menjebol hiatto-nya yang tertotok oleh Tong-bing-cu.

Bukan Tong-bing-cu tidak tahu kalau sang suheng mahir menjebol totokan di badannya, hanya dia tidak menduga bahwa sang suheng bisa membebaskan diri dalam waktu sesingkat itu, apalagi hiatto penting yang mematikan di punggung sang suheng dikuasai olehnya, umpama totokan hiatto-nya sudah bebas, yakin dia tetap takkan berani melawan.

Oleh karena itu, dia tidak begitu waspada dan siaga.

Di luar tahunya bahwa Tong-cin-cu sudah bertekad untuk gugur bersama dan sedang menunggu kesempatan baik untuk adu jiwa.

Saat yang ditunggu Tong-cin-cu akhirnya tiba juga.

Di saat meriam meledak, di tengah suara gemuruh itulah mendadak Tongcin-cu beraksi.

Dengan sikunya dia kerahkan seluruh tenaganya menyodok tepat ulu hati Tong-bing-cu.

Tong-bing-cu berdiri terlalu dekat di belakangnya, sodokan telak menggetar pecah jantungnya.

Tapi Tong-bing-cu juga menggerung sambil melontarkan pukulannya, telapak tangannya memang mengincar hiatto besar di punggung sang suheng, karuan isi perut, dada Tong-cin-cu dipukulnya hingga hancur.

Maka kedua orang sama-sama mengeluarkan jeritan yang mengerikan, keduanya terguling jatuh dari atas panggung.

Tong-cin-cu masih mampu mengerahkan sisa tenaganya mencekik leher Tong-bing-cu serta menindihnya.

Ternyata Tong-bing-cu juga sempat meloloskan pedang dan menusuk perut suheng-nya.

Tragedi mengenaskan berlangsung cepat di luar dugaan.

Kim Tiok-liu dan beberapa orang yang tak jauh dari tempat kejadian pun tidak menduga serta tak sempat memberi pertolongan.

Bergegas Tan Khu-seng memburu maju menarik Tong-cin-cu.

Dilihatnya mata Tong-bing-cu mendelik, lidahnya menjulur keluar, jiwanya putus, kematiannya amat mengerikan.

Sekali tendang Tan Khu-seng menyingkirkan mayat Tong-bingcu.

Segera ia keluarkan obat penolong untuk sang susiok.

Dengan terputus-putus Tong-cin-cu masih bisa bicara.

"Tan Khu-seng, aku... aku amat menyesal, memang aku yang salah terhadapmu, kau... maukah kau memaafkan aku?"

"Susiok, jangan berkata demikian, sekarang aku lebih menjunjung pribadimu."

Tong-cin-cu tersenyum lega, katanya.

"Baik... baiklah, kau mau memaafkan aku, aku lega berangkat ke alam baka."

"Tidak, jangan, lukamu bisa diobati, jangan susiok berpikiran yang tidak-tidak."

"Tidak, aku tahu aku takkan bisa hidup lagi. Musuh terbesar perguruan kita adalah Hay Lan-ja, bukan saja dia biang keladinya sehingga kau menderita delapanbelas tahun, dia pula biang keladi pembunuh gurumu. Tak usah kau repot mengurusi aku, himpunlah tenagamu untuk menuntut balas."

Suaranya makin lirih, pada akhir katanya, napas pun berhenti. Sedih dan pilu hati Tan Khu-seng, namun setetes airmata pun tidak mengalir. Dia menekan1 rasa dukanya, katanya.

"Susiok, aku akan mematuhi pesanmu."

Perlahan dia membaringkan jenazah Tong-cin-cu, lalu mencabut pedang menerjang maju.

Baku hantam telah berlangsung.

Kambrat-kambrat Hay Lan-ja tidak sedikit jumlahnya,.dengan dipimpin beberapa pentolan penjahat mereka mengamuk di bawah tekanan orang-orang gagah yang bergabung dengan ratusan murid Kong-tong-pay.

Hay Lan-ja sempat menghasut dan menghimbau mereka dengan teriakannya yang lantang.

"Kalian mau bekerja untukku, aku tidak akan melupakan kalian. Mau pangkat, mau harta, setelah tugas selesai kau boleh memilihnya sendiri."

Akan tetapi kawanan penjahat itu sebagian besar atas undangan Yang Kek-beng, tanpa berjanji namun dalam hati mereka sama berpikir.

"Seorang laki-laki tidak mau dirugikan, tahu gelagat adalah orang yang bijaksana. Hay Lan-ja sendiri seperti manusia lempung yang belum tentu bisa selamat sampai di seberang. Betapa kental hubungan Yang Kek-beng dengan dia, ternyata minggat tanpa menghiraukan orang lain, buat apa aku mempertaruhkan jiwa untuk dia?"

Dalam sekejap mata, tujuh atau delapan dari sepuluh orang telah kabur tanpa pamit.

Yang masih tinggal hanyalah anak buah dan antek Hay Lan-ja yang setia dan beberapa penjahat yang kemaruk harta dan pangkat.

Kwi-hwe-thio membebaskan hiatto Auwyang Ya, katanya.

"Syukur kau mau dengar petunjukku, sesuai janji aku ampuni jiwamu, enyahlah."

Pertempuran tengah berkecamuk, meski Kwi-hwe-thio sudah mengampuni dirinya tapi dia takut kalau dilabrak oleh murid Kongtong-pay, terpaksa dia mengeraskan kepala berlari ke arah rombongan Hay Lan-ja.

Hay Lan-ja langsung menyambut dengan bentakan.

"Bagus ya perbuatanmu!"

Auwyang Ya kaget, katanya gemetar.

"Jongling harus maklum, aku... aku tertawan dan terpaksa."

Jaring dan perangkap yang direncanakan Hay Lan-ja gagal garagara ulah Kwi-hwe-thio, amarahnya dialihkan kepada Auwyang Ya. Sambil mendengus dia memaki.

"Sia-sia aku mengangkat kau jadi pembantu-ku, takut mati kemaruk hidup, untuk apa kau kembali kepadaku?"

Telapak tangan terayun.

"Prak"

Dia tabok batok kepala Auwyang Ya hingga pecah dan binasa.

Sampai mati Auwyang Ya tidak pernah menduga, musuh mengampuni jiwanya, ternyata dia mati justru di tangan orang sendiri.

Benci Hay Lan-ja kepada Kwi-hwe-thio bukan main, bentaknya.

"Maling busuk, kalau berani jangan lari!"

Dengan kesehatan tubuhnya dia menubruk ke arah Kwi-hwe-thio. Kwi-hwe-thio cengar-cengir, ejeknya.

"He, apa kau ini wangi? Kurasa kau lebih busuk dari najis di dalam kakus. Hehehe, kau sudah tahu aku ini maling kecil, sedangkan kau pembesar tinggi, aku bangga dikejarolehmu. Kalau aku ajak berlomba lari dan mencuri milik orang, berani kau melawan aku?"

Sambil mengolokolok dia berlompatan kian kemari di sekitar tubuh Hay Lan-ja. Ginkang Hay Lan-ja memang kalah, mana mampu dia menangkapnya. Mendadak seseorang membentak menggelegar.

"Kau ingin bertanding silat, hayolah lawan aku. Kalau berani jangan lari!"

Sepasang tangan beradu.

"Biang"

Ledakan keras sekali. Kwi-hwethio yang sudah menyingkir puluhan langkah merasa pekak telinganya. Kwi-hwe-thio melelet lidah, katanya tertawa.

"Hay Lan-ja kau bertemu tandingan. Maaf ya, aku tidak menemani kau lagi."

Ternyata lawan yang adu pukulan dengan Hay Lan-ja bukan lain adalah tianglo Bu-tong-pay Lui-tin-cu. Dalam sekejap itu, kedua orang ini tercekat hatinya. Hay Lan-Ja membatin.

"Usia tua bangka ini sudah delapanpuluh, ternyata memiliki tenaga sebesar ini."

Lui-tin-cu juga berpikir.

"Usiaku memang sudah lanjut, kalau tigapuluh tahun lebih muda, keparat ini mana mampu melawan sepuluh jurus seranganku."

Bergegas Tan Khu-seng memburu datang, bentaknya.

"Hay Lanja, delapanbelas tahun yang lalu kau gagal membunuhku, hari ini kau datang sendiri, tak perlu aku susah payah mencarimu."

Hay Lan-ja berkata angkuh.

"Bagus, kalau kau ingin membuat perhitungan, hayo maju sekalian. Hehe, seorang tianglo Bu-tongpay, seorang lagi adalah ciangbunjin baru Kong-tong-pay, umpama orang she Hay mati di tangan kalian juga patut membanggakan diri."

Padahal dia tahu Lui-tin-cu takkan mau mengeroyok dirinya dengan Tan Khu-seng, tapi sengaja dia mengolok untuk membatasi mereka, tujuannya supaya Tan Khu-seng berjanji melawan dirinya satu lawan satu.

Tan Khu-seng memang berkata.

"Lui-locianpwe, keparat ini adalah musuh besar perguruan kami, aku akan menuntut balas kematian Giok-hi tianglo, mohon kau menyerahkan dia kepadaku." ? Gairah tempur Lui-tin-cu sedang menyala, dengan tertawa dia berkata.

"Bangsat ini menantang aku, kalah menang belum ada ketentuan. Bagaimana kalau kau tunggu sebentar?"

Kim Tiok-liu tertawa, katanya.

"Lui-locianpwe, kau sudah rpenang sejurus, kenapa bilang belum ada kalah dan menang. Bertanding boleh dihentikan setelah saling tutul dan jamah, menuntut balas sebaliknya, bertempur hingga gugur, maka membalas dendam lebih utama bukan? Kau sudah menang sejurus, sekarang memang giliran Tan Khu-seng."

Lui-tin-cu bergelak tawa, katanya.

"Ya, aku memang pikun. Kalau tidak kau katakan, aku jadi tidak perhatikan bahwa aku sudah menang sejurus. Tapi kau adalah temanku, omonganmu tak masuk hitungan, Hay Lan-ja bisa menganggap kau membela aku. Aku ingin Hay Lan-ja mengakui hal ini, apakah dalam gebrakan tadi dia sudah kalah sejurus olehku?"

Hay Lan-ja penasaran, tapi musuh tangguh di depan mata, tak berminat dia perang mulut dengan Lui-tin-cu, terpaksa dia berkata.

"Locianpwe sudah tua tapi masih gagah perkasa, orang she Hay betul-betul amat mengagumimu. Gebrakan tadi memang kau yang menang."

Maka Lui-tin-cu mengundurkan diri sambil berkata dengan tertawa.

"Bagus, kau mengaku kalah, puaslah hatiku. Tan Khu-seng, silakan kau membuat perhitungan dengan dia."

"Tunggu sebentar,"

Mendadak Hay Lan-ja membentak.

"Masih ada persoalan apa lagi, lekas katakan,"

Bentak Tan Khuseng. Hay Lan-ja berkata.

"Kita harus bicara lebih dulu, kau hanya menuntut balas bagi Kong-tong-pay, itu berarti pertempuran ini tiada sangkut pautnya dengan orang luar?"

Tan Khu-seng tertawa dingin, katanya.

"Kau takut aku minta bantuan pihak lain begitu? Legakan hatimu, untuk menuntut balas sakit hati, aku pantang mendapat bantuan orang luar."

Kim Tiok-liu ikut bicara.

"Jangan lupa, kau adalah musuh bersama kaum persilatan, kalau Kong-tong-pay tidak menuntut balas kepadamu, aku pribadi pun takkan memberi ampun kepadamu. Sekarang pihak Kong-tong-pay yang akan membuat perhitungan dengan kau, aku tidak akan ikut mengusikmu." ? Lega hati Hay Lan-ja, kalau Kim Tiok-liu dan Lui-tin-cu tidak turut campur, orang lain tidak perlu ditakuti, maka dia bertanya pula.

"Kong-tong-pay punya ratusan murid, kalian akan maju mengeroyokku, atau bertempur satu lawan satu?"

Tan Khu-seng gusar, semprotnya.

"Aku tidak akan mengeroyokmu, tapi kau takkan kami biarkan pergi dari sini. Kalau aku mati di tanganmu, murid-murid Kong-tong-pay masih wajib menuntut balas kepadamu, tapi mereka juga akan melawanmu satu per satu."

Hay Lan-ja menegas.

"Apakah ini ucapanmu sebagai ciangbunjin yang memberi perintah kepada murid-murid Kong-tong-pay?"

"Betul. Apa pula yang kau khawatirkan?"

Kini lega benar hati Hay Lan-ja, katanya tertawa lebar.

"Bagus, ucapan seorang kuncu laksana kuda dilecut. Jangan kau menyesal."

Maklum walau Hay Lan-ja tidak yakin dirinya pasti menang, namun setelah mendengar janji Tan Khu-seng, timbul setitik harapan dalam benaknya.

"Kau kira aku seperti tampangmu yang tidak bisa dipercaya? Hayo maju, serahkan batok kepalamu."

"Undangan kematian raja akhirat entah akan diserahkan kepada siapa?"

Sembari bicara mendadak Hay Lan-ja melompat melambung ambil mementang jari tangan seperti kipas mencengkeram tulang pundak Tan Khu-seng.

Itulah gaya bertempur untuk gugur bersama, juga cara menempuh kemenangan dengan sedikit pengorbanan.

Maklum tulang pundak punya arti yang amat penting bagi setiap insan persilatan, kalau tulang pundak dicengkeram hancur, kepandaian setinggi langit juga takkan berguna lagi.

Bila lawan berhasil dibuat, cacat, mungkin juga Hay Lan-ja sendiri mengalami luka yang cukup berat, asal jangan terluka di tempat yang penting, Tan Khu-seng jelas takkan mampu menyelamatkan jiwanya lagi, sisa murid yang lain, tidak masuk hitungan Hay Lan-ja Baru saja dimulai, hadirin sudah ditarik tegang urat syarafnya.

Lui-tin-cu yang sudah punya pengalaman tempur puluhan tahun terkejut.

Tapi dalam sekejap itu pula, situasi sudah berubah.

Rangsakan kilat Hay Lan-ja teramat cepat, namun perlawanan Tan Khu-seng ternyata setindak lebih cepat.

Tampak tubuhnya setengah berputar, matanya melirik ke samping, pedang panjang di tangannya bagaikan kilat tahu-tahu ditusukkan ke depan mengincar urat nadi lawan tanpa menghiraukan cengkeraman jari lawan yang mengancam tulang pundaknya.

Bergerak belakangan tapi serangan balasannya ternyata telak mengancam urat nadi musuh.

Tanpa kuasa Lui-tin-cu bertepuk tangan sambil berseru memuji.

"Bagus, jurus Hian-ciau-hoat-soa."

Tan Khu-seng melawan serangan musuh dengan serangan balasan sekaligus memaksa lawan menyelamatkan diri lebih dulu, sergapan Hay Lan-ja punah di tengah jalan.

Tapi kepandaian Hay Lan-ja juga tidak lemah, pergelangan memuntir dengan jurus Huho-hoan-hun, dengan gayanya yang bagus dia menyangga sikut lawan, meski hanya gerakan kosong, tapi sekarang mendadak gerakan ini menjadi sungguh-sunggguh.

Jikalau Tari Khuseng.

terlena dan tidak berjaga, dengan Sfau-kin-na-jiu-hoat dia balas menyergap menelikung dan mematahkan lengan Tan Khuseng, kelihatan kosong tapi dapat diubah menjadi serangan berisi.

Tangan kiri menyangga, tangan kanan menyusul dengan pukulan Pikwa-ciang.

Dia gunakan cara bertempur yang dipratekkan Tan Khuseng, jurus ini juga memaksa musuh menyelamatkan diri lebih dulu.

Pertempuran jago kelas tinggi memang saling merebut kesempatan dengan serangan lihay yang berbahaya, sedikit lena fatal akibatnya.

Tan Khu-seng melayani serangan lawan sambil melancarkan serangan balasan, pedangnya bergerak secara lincah memutar balik melontarkan jurus Jun-hun-kan-can, menusuk tulang rusuk kanan lawan.

Beberapa gerakan dilaksanakan bersama, cepatnya sukar ditangkap pandangan mata.

Tak sedikit ahli pedang yang hadir, semua bersorak memuji.

"Sret"

Jurus Jun-hun-kan-can Tan Khu-seng mendadak berubah menjadi Pek-hong-koan-jit, cahaya pedang mendadak berubah menjadi bianglala, ujung pedang yang berkilauan tahu-tahu sudah mengancam tenggorokan Hay Lan-ja.

Sepasang telapak tangan Hay Lan-ja menyongsong miring ke depan.

Hadirin menjadi bingung dan heran.

Permainan pedang Tan Khuseng seganas itu, memangnya Hay Lan-ja berani melawan dengan ilmu Khong-jiu-jip-pek-to?"

Belum habis pikiran orang bekerja, gerakan kedua orang yang sama menubruk ke depan itu ternyata tidak saling tumbuk, entah kenapa tusukan pedang Tan Khu-seng ternyata mengenai tempat kosong, sudah tentu telapak tangan Hay Lan-ja juga tidak mampu menyentuh pakaiannya.

Ternyata sepasang tangan Hay Lan-ja sekaligus dapat melancarkan dua permainan ilmu yang berbeda, satu keras yang lain lunak, keduanya dengan tenaga yang berbeda sehingga menjadikan tenaga tuntunan yang luar biasa, seperti dua arus air besar yang mendadak bertemu dan berpusar.

Bagi seorang yang berkepandaian agak rendah, mendadak menghadapi tenaga pusaran yang menyeretnya, mungkin sudah terperosok ke dalam pusaran kencang itu, meski berhasil menguasai tubuh, senjatanya pasti terlepas.

Tapi lwekang Tan Khu-seng setanding dengan lawan, tapi mendadak menghadapi jurus permainan yang aneh ini, tak urung ujung pedangnya bergetar miring beberapa senti.

Dalam tubruk menubruk secara langsung ini, keduanya sudah bertukar serangan pedang dan telapak tangan.

Meski adu kepandaian dengan pertaruhan jiwa, namun cara bertempur mereka penuh perhitungan.

Dalam sekejap puluhan jurus telah lewat, sejauh ini sekejap mereka berkutat lalu berpencar mundur.

Tapi bagi para ahli silat yang hadir, setiap jurus permainan mereka justru teramat lihay dan berbahaya, sedikit lena akibatnya dapat membawa jiwa ke jurang kematian.

Tapi puluhan jurus telah berlalu, kedua jago ini belum pernah bentrok dengan kekuatan.

Tampak sinar pedang berkembang makin besar, bayangan telapak tangan pun beterbangan, bagi pandangan seorang yang berilmu agak rendah, mereka seperti sedang berlatih.

Beberapa jurus permulaan, orang banyak berpendapat; dengan cepat Tan Khu-seng pasti dapat mengalahkan lawannya, baru setelah melihat kelanjutan pertempuran ini orang banyak merasa kaget dan khawatir.

Mereka maklum kalau tanpa bekal kepandaian yang tinggi, mana mungkin Hay Lan-ja mencapai kedudukan tinggi seperti sekarang.

Jikalau Tan Khu-seng kalah, siapa lagi murid Kong-tong-pay yang mampu menandinginya?

Di tengah pertempuran sengit itu, mendadak permainan pedang Tan Khu-seng mengalami perubahan total, sinar perak seperti mengiris bumi, sinar perak menyambar di angkasa, di.

tengah sinar pedang yang berbelit-belit itu, bayangan tubuhnya ikut berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Demikian pula cahaya pedang yang menari-nari, mendadak di kanan tahu-tahu di kiri, sering berkumpul tapi juga berpencar, bergolak laksana mega mengamuk atau naga terbang di angkasa.

Kejap lain meski hanya dua orang yang sedang berhantam di tengah arena, namun penonton di luar gelanggang seperti menonton pertempuran besar ratusan orang.

Pedang pusaka di tangan Tan Khu-seng berlapis-lapis, seolah-olah puluhan batang pedang tajam memberondong tiba dari per-bagai arah menusuk ke arah Hay Lan-ja.

Melihat perkembangan ilmu pedang Tan Khu-seng, baru orang banyak tidak merasa khawatir bagi Tan Khu-seng.

Tapi karena tertarik dan terpesona, hadirin lupa bersorak memberi pujian kepadanya.

Walau tiada suara tapi bukan hening lelap.

Orang-orang yang menonton pertempuran sengit kedua jago yang berlaga ini hanya mereka yang di tanah lapang, padahal orang sebanyak itu tak mungkin seluruhnya berjubel menjadi satu di satu tempat yang tidak muat untuk dijejali sekian banyak orang, maka penonton hanyalah tokoh-tokoh silat dari berbagai perguruan yang diundang dan murid-murid termuka Kong-tong-pay.

Lebih banyak murid Kong-tong-pay dan sebagian tamu-tamu yang berdarah panas, sedang sibuk mengganyang kambrat-kambrat Hay Lan-ja, sudah tentu termasuk penjahat-penjahat yang kemaruk harta dan pangkat.

Penjahat undangan Yang Kek-beng sebagian besar sudah melarikan diri, maka orang-orang di pihak Hay Lan-ja tidak banyak lagi sisanya, sebagian besar murid Kong-tong-pay lebih dari cukup untuk menumpasnya, meski tidak sedikit pula korban yang jatuh di pihak Kong-tong-pay.

Permainan Tan Khu-seng makin mendesak, lambat laun yang kelihatan hanya sinar pedang tak terlihat bayangan orang.

Hay Lanja masih bertahan melawan sekuat tenaga, namun hadirin sudah melihat posisinya makin terdesak di bawah angin.

Bara sekarang Hay Lan-ja merasa kaget, hatinya menyesal bahwa penilaiannya terhadap Tan Khu-seng ternyata keliru.

Memang selama delapanbelas tahun ini Hay Lan-ja sudah berhasil meyakinkan Tay-Iik-eng-jiau-kang, dibanding delapanbelas tahun lalu kepandaiannya entah maju berapa lipat?

Tapi selama delapanbelas tahun ini Tan Khu-seng juga tidak menganggur, tujuhpuluh dua jurus Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat ajaran Kongtong-pay murni telah diyakinkan dengan sempurna, berdasarkan kecerdasan dan bakatnya, dalam ilmu warisan ini telah dia perbaiki dan diselami lebih mendalam sehingga tak sedikit tercipta jurusjurus baru yang lebih matang dan lihay, dibanding cikal bakal Kongtong-pay yang ratusan tahun lalu menciptakan ilmu pedang ini, rasanya juga tidak kalah.

Kepandaian kedua orang ini, kira-kira setanding pada delapanbelas tahun yang lalu, delapanbelas tahun kemudian, kedua pihak mencapai kemajuan pesat, namun kalau dinilai secara keseluruhan, Tan Khu-seng ternyata sekarang setingkat lebih tinggi.

Setelah pertarungan berjalan tigaratus jurus, Hay Lan-ja baru insaf bahwa dirinya tiada harapan mengalahkan lawannya, harapan satu-satunya ialah gugur bersama Tan Khu-seng.

Tapi kalau langkah berbahaya ini juga gagal, berarti jiwa sendiri akan amblas seketika, sementara lawan dapat dilukai, atau tidak belum bisa diramalkan.

Di saat Hay Lan-ja gundah dan bimbang sukar mengambil keputusan, apa perlu dia menggunakan jurus terakhir yang berbahaya bagi kedua pihak itu, permainan pedang Tan Khu-seng mendadak menunjukkan lubang kelemahan.

Padahal saat itu dia sedang melancarkan Hun-mo-sam-bu.

Jurus Hun-mo-sam-bu ini satu jurus tiga gerakan, berpencar menusuk tiga sasaran yang mematikan di tubuh lawan, tapi dia hanya menggunakan dua gerakan, gerakan terakhir yang menyerang bagian bawah di tubuh musuh ternyata menjadi lambat setengah detik sehingga tak mampu mencapai sasaran, secara langsung keterlambatan ini justru membuka pertahanan sendiri.

Kenapa Tan Khu-seng sampai menunjukkan kelemahan pertahanannya?

Ternyata dalam detik yang menentukan itu dia mendengar sebuah suitan panjang dari tempat jauh.

Saat itu sebagian besar murid Kong-tong dan kaum pendekar banyak yang sibuk mengganyang kambrat-kambrat Hay Lan-ja, suasana gegap gempita, bentakan, teriakan dan jerit kesakitan campur aduk dari berbagai penjuru, sementara penonton di tanah lapang semuanya terpesona menyaksikan jalannya pertandingan ini dengan tegang, maka tiada yang menghiraukan apa arti dari suitan panjang itu, meski mendengar juga tidak tahu suitan siapa dan apa maksudnya.

Tapi begitu mendengar suitan panjang itu, berdegup jantung Tan Khu-seng.

Kalau orang lain tidak bisa membedakan, tapi sekali dengar dia lantas tahu itulah suitan Boh Le-cu.

Kalau tidak sedang menghadapi bahaya tentu ada persoalan genting dan pelik yang perlu dibicarakan dengan dirinya, kalau tidak, tidak mungkin Boh Le-cu mengeluarkan suitan panjang itu?

Walau dia belum menerima cinta Boh Le-cu, namun di dalam relung hatinya yang paling dalam, sejak pertemuan dulu menganggapnya sebagai gadis pujaan, orang yang paling dekat dalam hatinya, gadis yang lebih berharga dari jiwa raganya sendiri.

Karena mendengar suitan Boh Le-cu itulah tanpa merasa hatinya bergetar, maka tanpa terasa pula, pada detik yang genting itu, mendadak dia memperlihatkan kelemahan.

Pertempuran dua jago kosen yang taraf kepandaiannya hampir seimbang, mana boleh menunjukkan kelengahan sedikit pun?

Jikalau Hay Lan-ja bisa memakai kesempatan baik ini dan segera melancarkan serangan balasan gencar, paling tidak dia bisa membuat keduanya gugur bersama, malah kemungkinan dirinya bisa bebas dan selamat dari kematian.

Sebagai ahli silat kawakan, sudah tentu Hay Lan-ja bukan tidak melihat titik kelemahan ini.

Tapi justru lantaran dia seorang ahli yang serba bisa, dia justru tidak berani percaya bahwa itu memang titik kelemahan.

Maklum Tan Khu-seng sedang di atas angin, mana mungkin tanpa sebab mendadak menunjukkan kelemahan yang fatal?

Kalau bukan lengah, itu berarti Tan Khu-seng sengaja memperlihatkan titik kelemahan sendiri untuk menjebak.

Dalam kesempatan sedetik yang paling baik itu bukan saja Hay Lan-ja tidak balas menyerang dia malah mundur selangkah dan perilih perhatian berjaga terhadap sergapan Tan Khu-seng.

Jago-jago kosen yang menonton pertempuran termasuk Kim Tiok-liu dan Lui-tin-cu juga berpandangan seperti Hay Lan-ja, melihat ada titik kelemahan ini mereka pun berpendapat Tan Khuseng sedang memancing serangan lawan.

Tapi yang bisa melihat titik kelemahan ini juga hanya beberapa gelintir tokoh-tokoh ternama saja.

Yang tidak melihat hanya menyangka Hay Lan-ja berkelit dengan sigap sehingga serangan ganas Tan Khu-seng berhasil dihindarkan, tanpa berjanji, dalam hati mereka menghela napas.

"Sayang sekali."

Hanya satu orang di antara sekian banyak penonton yang melihat titik kelemahan ini sesungguhnya, yaitu Beng Hoa.

Maklum dia pernah meyakinkan jurus pedang ini dari Tan Khu-seng, apalagi perbendaharaan pelajaran ilmu pedang yang dimilikinya sekarang boleh dikata tidak kalah dibanding Kim Tiok-liu.

Dia tahu jurus Hunmo-sam-bu satu jurus tiga gerakan harus dilancarkan sekaligus, umpama tidak mampu melukai Hay Lan-ja juga tetap dapat mempertahankan posisinya yang lebih unggul, tiada alasan harus menunjukkan kelemahan untuk memancing lawan segala.

Akan tetapi, walau dia melihat adanya titik kelemahan ini, namun tidak diketahui kenapa gurunya memperlihatkan titik kelemahan ini.

Beng Hoa pernah bergebrak dengan Hay Lan-ja, maklum betapa tangguh tenaga dalam Hay Lan-ja, kini karena terlalu memperhatikan keselamatan gurunya, maka dia mereka dalam hati.

"Mungkinkah suhu kehabisan tenaga? Kalau benar demikian, kalau bertempur lebih lama, mungkin dia bisa kalah."

Supaya gurunya tidak dikalahkan, segera dia melompat keluar.

"Suhu, menyembelih ayam, memangnya perlu menggunakan golok jagal? Ilmu pedangmu jelas lebih unggul dari keparat ini, biar selanjurnya tecu yang membereskan dia,"

Demikian seru Beng Hoa.

Tadi Tan Khu-seng sudah berjanji dengan Hay Lan-ja, asal murid Kong-tong-pay punya hak menuntut balas kepadanya, tapi dengan syarat satu lawan satu.

Kalau di tengah jalan Beng Hoa mewakili gurunya, tidak terhitung melanggar janji.

Tan Khu-seng sudah tahu Beng Hoa sudah memperoleh ajaran murni peninggalan Thi Tan-hong, ilmu pedangnya sekarang lebih unggul dibanding dirinya, namun dia masih khawatir kalau muridnya harus berhadapan langsung dengan musuh tangguh.

Tengah dia bimbang, sekilas dia melirik, tiba-tiba dilihatnya Kim Tiok-liu yang sedang mengawasi dirinya menganggukkan kepala.

Tan Khu-seng lantas sadar.

"Konon perjalanan Hoa-ji ke Thiansan kali ini mengalami beberapa kejadian aneh yang membawa berkah bagi dia. Kim tayhiap memberi tanda kepadaku, apakah dia percaya bahwa Hoa-ji pasti menang?"

Untuk memberi kesempatan muridnya angkat nama, juga karena mengkhawatirkan keadaan Boh Le-cu maka dia berkata.

"Baiklah, biar kau saja yang mewakili aku. Hay Lan-ja, jikalau muridku pun tak dapat kau kalahkan, terserah bagaimana kau menentukan nasibmu sendiri."

Tercekat hati Hay Lan-ja, batinnya.

"Tadi aku sedikit lalai, kenapa tidak ingat bocah ini?"

Bentaknya.

"Kau ini murid Thian-san-pay atau murid Kong-tong-pay?"

Beng Hoa berkata.

"Aku adalah murid angkat Thian-san-pay tapi murid pewaris dari Kong-tong-pay pula."

Perbedaan murid angkat dan murid pewaris sudah tentu diketahui oleh Hay Lan-ja. Lui-tin-cu membentak.

"Seluruh hadirin siapa tidak tahu kalau Beng Hoa adalah murid Tan Khu-seng, memangnya membohongi engkau?"

Dasar Hay Lan-ja adalah orang picik tapi juga licik, mau untung tidak mau dirugikan, maka dia berkata.

"Maaf, tadi aku tidak hadir, sebelum ini memang tidak kuketahui bahwa Beng Hoa adalah murid Tan Khu-seng. Sekarang aku terima tantangannya, memangnya aku gentar menghadapi bocah tanggung murid Tan Khu-seng ini. Tapi, aku masih ingin bicara."

"Mau tanya apalagi, lekas katakan,"

Semprot Lui-tin-cu. Hay Lan-ja berkata dingin.

"Anggota Kong-tong-pay ada ratusan banyaknya, kalau satu per satu maju melawan aku, kapan pertempuran akan berakhir? Umpama aku tidak takut dikeroyok secara bergilir, aku toh perlu makan tidur dan istirahat."

Di mulut bilang tidak takut, padahal hatinya sudah ketakutan.

Sejak Beng Hoa muncul di arena ini, dia pernah mengalahkan Tay-ciok dan Tay-siong, mengalahkan Thian-lam-kiam-pa Liong Bokkong, betapa sempurna permainan pedangnya, hadirin sudah menyaksikan sendiri.

Tapi banyak hadirin masih belum percaya bahwa dia memiliki kemampuan mengalahkan Hay Lan-ja.

Sebagai seorang saksi atau wasit, Lui-tin-cu sendiri juga merasa bimbang, hingga dia bingung bagaimana mengambil sikap.

Sebelum Lui-tin-cu bicara, Beng Hoa sudah berkata.

"Untuk membunuh engkau, guruku sudah lebih dari cukup, kenapa harus pakai giliran segala? Hanya saja, manusia macammu ini hanya akan mengotori pedang pusaka guruku, maka akulah yang mewakili guru."

Hay Lan-ja menyeringai, jengek-nya.

"Kalau kau tak mampu membunuhku?"

"Suhu,"

Seru Beng Hoa.

"maaf kalau murid memutuskan sendiri."

"Baik, apa kehendakmu boleh kau laksanakan saja."

Maka Beng Hoa berkata.

"Kalau aku tidak mampu membunuh kau, kau boleh bunuh aku, aku akan menerima nasibku sendiri, aku tidak akan minta bantuan orang lain untuk menuntut balas kematianku."

"Lalu, bagaimana pertikaianku dengan Kong-tong-pay kalian?"

Beng Hoa menoleh ke arah suhunya sekejap lalu menjawab tegas.

"Dibereskan puladalam pertandingan kali ini."

Hay Lan-ja kegirangan, katanya.

"Tan Khu-seng, apa yang dikatakan muridmu apakah kau setuju?"

Dari sorot mata Beng Hoa, Tan Khu-seng merasakan keyakinan besar muridnya, maka lega hatinya, katanya.

"Aku berani menyuruh muridku mewakili aku, apa yang dikatakan sudah tentu menjadi kepu-tusanku. Asal kau dapat mengalahkan dia, seluruh anggota Kong-tong-pay dilarang mencari perkara terhadapmu."

Kecuali Kim Tiok-liu seluruh hadirin menjadi gempar.

Tapi Tan Khu-seng bicara sebagai seorang ciangbunjin, maka siapa pun takkan bisa mengubah ketentuan ini.

Seperti dapat lotre, Hay Lan-ja sangat gembira, kedua tangan menyilang, mendadak dia membentak.

"Bagus, silakan muridmu ini memberi petunjuk kepadaku."

Mulutnya bilang minta petunjuk, tapi kedua matanya memandang langit dengan sikap tak acuh. Tan Khu-seng berkata tawar.

"Hoa-ji, aku percaya kau dapat mempertahankan nama baikku, tak perlu aku menyaksikan pertarunganmu."

Karena perlu segera memberi bantuan kepada Boh Le-cu, habis bicara terus beranjak pergi. Lui-ti-cu kaget, katanya.

"Tan-loheng, ke mana kau?"

Sambil berjalan Tan Khu-seng berkata dengan tertawa.

"Kalau aku menonton pertarungan ini, Hay Lan-ja pasti ketakutan. Aku akan keluar sebentar, dalam waktu yang tak begitu lama, Hoa-ji tentu sudah membereskan dia,"

Habis bicara dia sudah keluar dari tanah lapang dan melompat pergi tak kelihatan lagi.

Hadirin tidak tahu kenapa Tan Khu-seng pergi dengan langkah tergesa-gesa, semua heran dan bertanya-tanya, apalagi tidak menghiraukan pertempuran Beng Hoa.

Padahal Lui-tin-cu yang tianglo Bu-tong-pay tadi pun hanya setanding, maka hadirin tidak yakin bahwa Beng Hoa betul-betul membekal kungfu sejati untuk mengalahkan Hay Lan-ja Sebagai komandan Gi-lim-kun, kapan Hay Lan-ja pernah dihina orang, apalagi Beng Hoa pernah dia kalahkan, dengan gusar dia membentak.

"Anak keparat, majulah, biar kubereskan kau."

Beng Hoa berkata.

"Kau sudah bergebrak satu babak dengan guruku, biarlah aku mengalah tiga jurus kepadamu."

Serasa meledak dada Hay Lan-ja saking gusar, dampratnya.

"Anak sombong, kau pernah keok di tanganku, siapa minta kau mengalah?"

Beng Hoa tersenyum, katanya.

"Diberi keuntungan tidak mau, baiklah, kau rasakan seranganku."

Sinar kilat menyambar "Sret"

Ujung pedangnya tahu-tahu sudah mengancam ulu hati Hay Lan-ja.

Agaknya Beng Hoa sengaja hendak memancing amarahnya, maka jurus ini dilancarkan dengan keji dan cepat, tapi Hay Lan-ja seperti tidak acuh menghadapi serangan ini, jengek-nya.

"Mutiara sebesar beras juga memancarkan sinarnya."

Dengan kedua tangan terlindung di dalam lengan baju, dia lawan pedang pusaka Beng Hoa.

Dengan lengan baju mengebas pedang, kelihatannya tindakan sepele dan memandang ringan lawan, padahal Hay Lan-ja sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, dengan jurus itu dia yakin serangan lawan pasti dapat dipatahkan.

Maklum Hay Lan-ja sudah ratusan kali terjun di arena pertarungan, lahirnya seperti terpancing amarahnya oleh godaan Beng Hoa, padahal kepala dingin pikiran jernih.

Tampak lengan bajunya berkibar seperti menempel pedang Beng Hoa, pedang Beng Hoa seperti terbendung oleh suatu tenaga yang tidak kelihatan.

Ternyata Hay Lan-ja menggunakan tenaga lunak untuk mengekang gerakan pedang Beng Hoa.

Malam itu, waktu pertama kali dia bergebrak dengan Beng Hoa di bawah Toan-hungay, dia pernah menggunakan ilmu ini untuk mengekang gerak pedang kilat Beng .Hoa, setelah pernah mengalami sekali kejadian, maka cara yang digunakan sekarang sudah tentu jauh lebih lihay.

Lui-tin-cu kaget, katanya perlahan kepada Kim Tiok-liu.

"Apakah Tan Khu-seng tidak terlalu takabur?"

Secara tidak langsung dia menyesali tindakan Tan Khu-seng yang membiarkan muridnya yang masih begini muda mewakilinya menghadapi musuh tangguh.

Tak nyana Kim Tiok-liu ternyata bersikap santai, dia juga hanya menjawab perlahan.

"Tidak jadi soal."

Belum habis dia bicara, terdengarlah suara berderai dari sobekan kain, tampak cahaya pedang Beng Hoa seperti ledakan sinar matahari di angkasa, ternyata lengan baju Hay Lan-ja telah tertabas sobek sebagian, di mana sinar pedang bergulung, sobekan kain itu hancur bertebaran.

Karena pernah mendapat pengalaman, kali ini sengaja Hay Lanja mengembangkan car-yang pernah digunakan dengan permainan yang lebih mahir.

Tapi dari kejadian tempo hari Beng Hoa juga tidak menelan mentah pengalaman pahit itu, maka perlawanan yang dia gunakan kali ini pun sudah tentu jauh lebih lihay dari tempo hari, namun bahwa dia berhasil memapas lengan baju Hay Lan-ja serta memunahkan ilmu lengketnya, sebab yang utama bukan karena ilmu pedangnya yang lihay.

Tapi lantaran lwekang-nya sekarang cukup tinggi untuk melawan Hay Lan-ja.

Seperti diketahui, waktu dia terkena Hap-kut-san Sin Jit-nio dan disekap dalam penjara bawah tanah di kamar Tong-cin-cu, meski mengalami siksa dan derita, namun hasilnya ternyata malah melipat gandakan ilmunya.

Dalam semalam dua hari, lwekang tingkat tinggi dari Thian-tiok, Persia dan Thian-san yang pemah dia pelajari beberapa bulan ini, dia lebur menjadi satu dengan lwekang ajaran Thio Tan-hong dan menciptakan suatu aliran tersendiri, bukan saja lwekang-nya pulih, kekuatannya malah berlipat ganda.

Apalagi Hay Lan-ja tadi sudah bergebrak dengan Tan Khu-seng, Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoatyang rumit dan ganas itu teryata tidak gampang dihadapi.

Walau Hay Lan-ja belum sampai kehabisan tenaga, tenaga muminya memang terkuras cukup banyak.

Yang satu berkurang yang lain bertambah, meski lwekang Beng Hoa belum setaraf musuh, namun dalam keadaan sekarang dia jelas takkan mudah dikalahkan.

Untuk menghadapi lawan yang tenaganya lebih rendah, tenaga lengket yang dilancarkan Hay Lan-ja memang bisa membawa hasil yang luar biasa, tapi untuk menghadapi lawan yang seimbang, tenaga mumi yang harus digunakan justru jauh lebih besar dari lawan.

Karena itulah dalam gebrakan ini, Beng Hoa berhasil menyobek separo lengan baju kanan Hay Lan-ja.

Lega hati Lui-tin-cu, seraya ber-gelak tawa.

"Kau bilang lawanmu mutiara sebesar beras, ternyata kau sendiri katak dalam tempurung."

Mau untung malah buntung, karuan Hay Lan-ja malu dan gusar, bentaknya.

"Siapa katak dalam tempurung, kalian boleh buktikan nanti."

Walau tahu Beng Hoa sekarang sudah berbeda dibanding kemarin dulu, namun dia tidak percaya bocah tanggung ini dapat mengalahkan dirinya, maklum dia masih menyimpan ilmu lihay yang ganas dan belum sempat dilancarkan.

"Bagus, mataku sudah kugosok hingga melihat terang, aku ingin melihat kau menjadi badut,"

Demikian Lui-tin-cu mengolok-olok.

Orang tua ini memang berwatak angkuh, berangasan dan selalu ingin menang sejak mudanya dulu, menang dalam adu tenaga, juga tak mau kalah adu mulut.

Sudah tentu Hay Lan-ja tak sempat bicara lagi.

Dengan kebasan telapak tangan kanan menebas per-gelangan tangan Beng Hoa yang memegang pedang, berbareng telapak tangan Idri rrienepuk, ke dada Beng Hoa dengan Toa-jiu-in.

Itulah Tay-kim-na-jiu-hoat ajaran perguruannya, digabung dengan Siau-thiansing-ciang-lat, bukan saja lihay, lagi ganas dan kuat.

Beng Hoa tak berani gegabah, segera dia kembangkan Tui-hongkiam-hoat, seperti hembusan angin di musim rontok, pedangnya menekan ke bawah dengan sapuan miring.

Dengan kemurnian inti permainan Thian-san-kiam-hoat dilandasi golok kilat ajaran keluarganya, permainannya cepat dan banyak variasi.

Lian-hoantoh-bing-kiam-hoat yang diyakinkan gurunya Tan Khu-seng mungkin juga tidak seli-hay ini.

Jikalau Hay Lan-ja tetap menyerang secara kekerasan, tenaganya yang besar mungkin dapat membuat Beng Hoa terluka, tapi kedua telapak tangannya mungkin tertabas kutung oleh pedang kilat Beng Hoa.

Mana berani Hay Lan-ja mengorbankan kedua tangan sendiri, lekas dia menarik mundur sambil mengubah gerakan.

Betapa gembira hati Lui-tin-cu melihat pertarungan seru ini, tak tertahan dia bertepuk sambil bersorak.

Hebat memang kepandaian Hay Lan-ja.

Setelah gagal serangan derasnya, segera dia bermain lebih mantap dan hati-hati, melangkah sesuai posisi Ngo-heng-pat-kwa, maju' mundur berkelit dan mengelak, caranya teratur dan rapi, kini setiap jurus serangannya mengandung pertahanan kokoh, dari sini dapat dinilai betapa sempurna kungfu yang diyakinkan.

Keadaan Hay Lan-ja seumpama binatang buas yang bertempur dalam kandang, namun kekuatannya masih sehebat itu, mau tidak mau Lui-tin-cu menjadi khawatir pula.

Agaknya Hay Lan-ja sudah berniat bertempur jangka panjang untuk menguras tenaga lawan.

"Walau kiamhoat Beng Hoa cukup hebat dari tinggi, betapapun usianya masih muda pengalaman kurang, mana boleh dibanding latihan Hay Lan-ja yang sudah puluhan tahun? Kalau bertempur makin lama, mungkin dia takkan kuat bertahan?"

Demikian batin Lui-tin-cu.

Di saat benaknya bekerja itulah, dilihatnya Beng Hoa berputar satu lingkaran, sinar terang bagai sekuntum kembang mekar makin lama makin lebar sehingga yang kelihatan hanya cahaya pedang, tak terlihat bayangan orangnya.

Betapa cepat gerak pedang Beng Hoa, bukan saja susah diikuti mata, sukar pula dilukiskan.

Padahal hanya satu orang yang bermain pedang, tapi di arena seperti bertambah beberapa orang Beng Hoa yang memberondong serangan gencar dari berbagai penjuru.

Hadirin yang menyaksikaii dari luar gelanggang menjadi silau dan kabur, yang berkepandaian rendah malah berkunang-kunang.

Lega hati Lui-tin-cu, baru sekarang dia betul-betul kaget dan heran menyaksikan kehebatatan kiamhoat Beng Hoa, taraf kepandaiannya ternyata jauh di luar dugaannya.

Tapi bagi Hay Lan-ja yang langsung merasakan sendiri tekanan Beng Hoa, bukan merasa terancam karena kecepatan gerak pedang Beng Hoa saja, namun yang lebih sukar dihadapi adalah permainan pedangnya-yang rumit dan aneh.

Tidak sedikit pengalaman tempurnya, namun dia susah mengenali dari aliran mana ilmu pedang Beng Hoa.

Ada kalanya mirip Lian-hoan-toh-bing-kiam dari Kong-tong-pay, mendadak berubah Tui-hong-kiam-hoat dari Thiansan-pay.

Kalau bocah ini pemah meyakinkan kedua jenis ilmu pedang ini tak perlu dibuat heran, yang aneh adalah dalam permainan pedangnya seperti mengandung jurus-jurus ilmu pedang dari Siau-lim, Bu-tong, Go-bi dan berbagai aliran ilmu pedang yang ternama.

Setiap permainannya mirip tapi kenyataan tidak sama.

Kiranya Beng Hoa sudah mengembangkan Bu-beng-kiam-hoat untuk melayani rangsakan lawan.

Bu-beng-kiam-hoat memang tidak dilandasi suatu gerak permainan yang tertentu, karena poros permainannya mengambil berbagai jurus dari perguruan silat yang ternama, bergerak dengan perubahan sesuai perlawanan musuh, menyerap kemurnian dan kebaikan ilmu lawan untuk menambah kekurangan sendiri serta terciptalah jurus-jurus yang selalu baru.

Bu-beng-kiamhoat memang satu sumber dengan Thian-san-kiamhoat, satu dengan yang lain memang banyak titik persamaannya.

Belakangan ini Beng Hoa mendapat wejangan dan petunjuk tentang makna sebenarnya ter-ciptanya Thian-san-kiam-hoat, kini dia serap seluruhnya dalam permainan Bu-beng-kiam-hoat, bukan saja lancar, malah permainannya tidak lebih rendah dibanding permainan Teng Keng-thian sendiri.

Apalagi Beng Hoa melebur golok kilat keluarganya dalam ilmu pedangnya, sehingga gerak pedangnya bukan saja lebih cepat dari Tui-hong-kiam-hoat dari Thian-san-pay, juga lebih sukar diraba dan dijajaki.

Kalau hanya menilai kiamhoatnya saja, umpama Thio Tan-hong bangkit kembali dari liang kuburnya, juga belum tentu dapat mengalahkan dia.

Dengan ketabahan dan kemantapan permainan Hay Lan-ja, dalam sekejap puluhan jurus sudah dia hadapi serangan pedang Beng Hoa.

Walau sekuatnya dia masih kuat melawan, tapi dalam puluhan jurus itu, setiap jurus serangan Beng Hoa seperti menusuk dari posisi yang tidak pernah diduga sebelumnya, makin bertempur makin terkejut hatinya, dia tahu kalau pertempuran berkelanjutan, bukan mustahil dia sendiri yang akhirnya kehabisan tenaga.

"Gelagatnya aku harus melancarkan ilmu simpananku yang ganas dan mematikan itu,"

Demikian batin Hay Lan-ja dengan mengertak gigi. Mendadak dia menggigit pecah ujung lidah sendiri, maka menyemburlah sekumur darah segar disertai bentakannya yang menggeledek.

"Keparat, biar aku adu jiwa dengan kau."

Orang banyak mengira Hay Lan-ja sudah terluka lalu adu jiwa.

Tapi Kim Tiok-liu dan Lui-tin-cu berbareng merasakan adanya gejala yang tidak normal.

Tampak tepukan tangan Hay Lan-ja begitu enteng seperti daun melayang, sedikit pun tidak menimbulkan deru angin, tapi rona muka Beng Hoa seketika berubah, beruntun mundur tiga langkah.

Lui-tin-cu berteriak kaget, tanyanya berbisik kepada Kim Tiok-liu.

"Apa yang sedang dilakukan cakar alap-alap ini?"

Maklum walaupun usianya jauh lebih tua dari Kim Tiok-liu, tapi kalah luas pengetahuannya terhadap berbagai ilmu silat golongan putih maupun hitam. Kim Tiok-liu berkata.

"Dia menggigit pecah ujung lidah menyemburkan darah segar, itulah Thian-mo-kiat-deh-tay-hoat dari Bit-cong di Tibet."

Sementara itu secara beruntun Hay Lan-ja telah melontarkan beberapa kali pukulan dengan gerak tangan enteng seperti lambaian tangan, gerakannya tetap tidak membawa derit angin, namun arena seketika diliputi taburan debu dan rumput.

Sekonyong-konyong seorang penonton menjerit sekali sehingga penjelasan Kim Tok-liu terhenti.

Waktu Lui-tin-cu menoleh, untung yang menjerit bukan Beng Hoa, tapi seorang pemuda yang menonton di baris paling depan, yaitu putera terkecil dari guru silat dari Jiang-ciu Tio It-bu yang bernama Tio Liat.

Tio It-bu paling sayang kepada puteranya yang terkecil ini maka dia membawa puteranya menghadiri pertemuan besar ini, padahal taraf kepandaiannya masih rendah.

Melihat Tio Liat roboh baru Lui-tin-cu berjingkrak kaget, serunya.

"Awas, bajingan itu menggunakan Jit-sat-ciang."

"Betul,"

Kim Tiok-liu menambahkan.

"tadi Giok-hi tianglo juga terbokong oleh Jit-sat-ciang-nya ini. Kalian yang berada paling depan lekas mundur."

Jit-sat-ciang ternyata mengutamakan tenaga lunak, namun kekuatannya yang hebat mampu memukul pecah kepala kerbau.

Kalau pukulan dilontarkan, kelihatannya bergerak secara enteng tanpa menggunakan tenaga, padahal tenaga yang tidak terlihat melanda sehebat air bah, tenaga pukulannya dapat mencapai jarak limapuluh langkah.

Tio Liat masih muda, suka melihat keramaian dari jarak dekat, maka dia amat dekat dengan arena, mendadak dia merasakan dadanya seperti kena godam, kontan dia menjerit dan terjengkang roboh ke belakang.

Bergegas Tio It-bu mendukung puteranya mundur ke tempat jauh, dengan gusar dia mengancam.

"Bila puteraku mengalami sesuatu, aku tak peduli perjanjian apa yang telah kalian tentukan, aku pasti menuntut balas sakit hati puteraku."

Kim Tiok-liu mendekati seraya berkata.

"Coba biar kuperiksa keadaan puteramu."

Telapak tangannya menggosok dan mengurut beberapa kejap di dada Tio Liat, katanya.

"Tio-locianpwe tak usah khawatir, puteramu tidak terluka parah, aku sudah mengurutnya, jiwanya tidak terancam."

Lega hati Tio It-bu, segera dia meninggalkan tempat itu merawat' puteranya lebih lanjut.

Sementara itu, hadirin tiada yang menghiraukan keadaan Tio Liat, perhatian mereka tertarik pada pertempuran yang masih teras berlangsung dengan seru.

Kini Hay Lan-ja menyerang dengan gencar, pedang kilat Beng Hoa justru sebaliknya semakin lambat seperti mulai kehabisan tenaga.

Berkeringat dingin tubuh Kim Bik-ki melihat keadaan kekasihnya, tanyanya kepada sang ayah.

"Ayah, bukankah keparat itu sudah terluka? Kenapa permainannya lebih lihay malah? Apakah Bengtoako kuat menghadapinya?"

"Kau tahu apa? Dia menggunakan Thian-mo-kiat-deh-tay-hoat dari Bit-cong di Tibet, dengan menggigit lidah tenaga dalamnya bisa bertambah satu lipat. Tapi tak kuat bertahan lama, dan selanjutnya akan mengalami luka dalam yang cukup parah. Sayang Beng-toakomu tadi telah memberikan janji yang terlalu menguntungkan kepadanya, kalau tidak mana berani dia menggunakan ilmu ganas dari aliran s*esat ini. Kalah menang sekarang sukar diramalkan."

Seperti diketahui sebelum bergebrak tadi Beng Hoa sudah berjanji dan memutuskan untuk menyelesaikan permusuhan mereka lewat pertarungan dirinya, itu berarti kalah menang babak terakhir ini yang akan menentukan.

Asal Hay Lan-ja mampu menang babak terakhir ini dengan bebas dia boleh pergi.

Umpama Beng Hoa terbunuh, orang lain tidak boleh merintangi dirinya atau menuntut balas kepadanya.

Inilah yang dimaksud oleh Kim Tiok-liu dengan janji menguntungkan.

Soalnya setelah Hay Lan-ja menggunakan Thian-mo-kiat-deh-tay-hoat, dia sendiri akan menderita luka dalam yang cukup parah, seorang bocah cilik yang belum belajar silat sekalipun dapat membunuhnya.

Tanpa adanya janji Beng Hoa tadi, pasti dia takkan berani menggunakan ilmu sesat ini.

Mendengar jawaban ayahnya perasaan Kim Bik-ki menjadi berat dan khawatir.

Padahal sikap Kim Tiok-liu tadi amat yakin bahwa Beng Hoa tidak mungkin kalah, namun sekarang dia bilang sukar diramalkan, jelas bahwa keyakinannya telah goyah.

Ciri Thian-mo-kiat-deh-tay-hoat memang tidak bisa bertahan lama, jadi kunci kalah menang dari pertempuran ini justru terletak pada pihak mana yang kuat bertahan lebih lama.

Padahal tianglo Kong-tong-pay setaraf Giok-hi-cu pun tak kuat menahan Jit-sat-ciang, apakah Beng Hoa kuat melawan gempuran demi gempuran Jit-sat-ciang yang mempunyai pukulan dahsyat dan ganas itu?

Kim Bik-ki tidak berani membayangkan lebih lanjut.

Bukan Kim Bik-ki saja yang tidak tenang pikirannya, seluruh hadirin ikut tegang dan khawatir bagi keselamatan Beng Hoa.

Mendadak permainan pedang Beng Hoa berubah, jauh berbeda dengan permainannya semula.

Tadi dia menekan musuh dengan permainan-pedang kilat, gerakan pedangnya merangsak secepat sambaran kilat.

Tapi sekarang justru makin lambat, selambat orang yang sudah mulai kehabisan tenaga.

Tampak ujung pedang seperti sangat berat, ogah-ogahan menggerakkan pedang, menuding kanan menggaris ke depan, kelihatannya amat makan tenaga dan seperti hampir tidak kuat.

Justru aneh, pukulan dahsyat dan gencar yang dilontarkan Hay Lan-ja ternyata tak mampu menembus pertahanan sinar pedangnya.

Beng Hoa sekokoh batu karang di tengah damparan gelombang badai, dia tegap berdiri kokoh tanpa bergerak sedikit pun.

Kening Kim Tiok-liu yang berkerut mulai tampak mengendor, wajah tampak cerah.

Kembali Lui-tin-cu bertanya dengan berbisik.

"Apakah Beng Hoa mengembangkan Tay-si-mi-kiam-hoat dari Thian-san-kiam-hoat?"

Seperti diketahui, Tay-si-mi-kiam-sek pernah dimainkan sekali oleh Beng Hoa waktu dia menghadapi Thian-Iam-kiam-pa Liong Bokkong tadi, tapi permainannya sekarang justru berbeda.

Bagi pandangan Lui-tin-cu yang sudah ahli dan luas pengalaman ternyata terasa lebih lambat, lebih berat dan sederhana, tapi juga amat lincah.

Tapi permainannya itu satu dengan yang lain justru tidak berbecja.

Sebelum memberi penjelasan, Kim Tiok-liu menghela napas.

Kim Bik-ki kaget, tanyanya.

"Ayah kenapa kau menghela napas?"

Kim Tiok-liu tertawa, katanya.

"Aku amat kagum, generasi baru lebih unggul dari generasi yang terdahulu, patah tumbuh hilang berganti. Dulu aku berpendapat dalam sepuluh tahun baru Beng Hoa bisa mencapai kesempurnaannya. Dari permainannya itu baru aku sadar Beng-toako-mu itu akan dapat mengungguli aku kurang dari tiga tahun."

Kim Bik-ki terbeliak girang, katanya tersenyum.

"Jadi, menurut pengamatanmu Tay-si-mi-kiam-hoat...."

"Dia sudah memperoleh intisari ilmu pedang taraf tinggi, kecuali lwekang-nya yang belum cukup memadai, kemampuannya sekarang mungkin tidak lebih rendah dibanding Teng King-thian ciangbun Thian-san-pay."

"Ayah,"

Rengek Kim Bik-ki, kau belum menjelaskan, apakah dia mampu melawan Jit-sat-ciang lawannya?"

Bahwa ilmu pedang Beng Hoa sudah mencapai kemajuan yang luar biasa, sudah tentu amat menggembirakan hatinya, tapi saat yang mendesak sekarang adalah ingin tahu apakah Beng Hoa bisa menang, selamat atau kalah dan binasa.

Kim Tiok-liu berkata perlahan.

"Menurut pengamatanku Beng Hoa tidak akan rugi. Tapi...."

"Tapi apa?"

Desak Kim Bik-ki.

"Jangan banyak tanya, lekas saksikan."

Tampak Beng Hoa menggerakkan pedang membuat lingkaranlingkaran besar kecil, lingkaran dilingkari lingkaran, lingkaran miring, tegaknya datar, lingkaran bundar, lonjong dan memanjang, bentuknya beraneka ragamnamun setiap gerak selalu melingkar, hakekatnya sukar dibedakan permainannya menggunakan jurus apa.

Karuan hadirin melongo dan takjub.

Uap putih mulai mengepul dari kepala Hay Lan-ja, setiap gerak pukulannya kini mulai mengeluarkan deru angin, rangsakannya kelihatan lebih keras dan kuat.

Kim Bik-ki menjadi masgul.

Ingin tanya sang ayah, tapi dilihatnya ayahnya sedang menonton penuh perhatian, tanpa berkedip, rona mukanya pun sering berubah, tersenyum riang, tapi juga tidak jarang mengerutkan kening.

Karena tidak berani mengganggu, terpaksa Kim Bik-ki memusatkan perhatiannya ke tengah gelanggang.

Kim Tiok-liu sudah tahu bahwa Beng Hoa tidak akan kalah, namun dia khawatir kalau pertarungan ini berakhir dengan gugur bersama.

Umpama Hay Lan-ja terluka lebih parah, kalau dia berhasil membunuh Hay Lan-ja, akhirnya dia sendiri juga akan jatuh sakit cukup parah.

Pertempuran ini sudah mencapai babak yang menentukan, jelas kelihatan bahwa Hay Lan-ja sudah mengembangkan seluruh kemampuannya, tenaganya sudah hampir habis, apakah Beng Hoa kuat melawan sehingga keduanya tidak sampai gugur bersama?

Sebelum mencapai detik-detik yang menentukan, Kim Tiok-liu tidak berani mendahului memberikan penilaiannya Tidak sedikit ahli silat di tengah hadirin, semua pun sudah menilai demikiaa Semua menonton dengan tegang dan berkeringat dingin.

Terutama murid-murid Kong-tong-pay, kalau Beng Hoa tidak berhasil membunuh Hay Lan-ja, terpaksa mereka akan mengawasi musuh pembunuh Giok-hi tianglo pergi tanpa boleh bertindak kepadanya.

Maka mereka mengharap ciangbun mereka yang baru yaitu Tan Khu-seng lekas kembali.

Tapi yang ditunggu justru tak kunjung tiba.

Saat itu Tan Khu-seng sedang mencari jejak Boh Le-cu, menurut arah lengking suitan tadi dia terus berlari bagai terbang ke tempat yang paling berbahaya di daerah Kong-tong-san, yaitu Toan-hungay, atau Ngarai Putus Sukma.

Dari atas ngarai memandang ke bawah, lapat-lapat dilihatnya tiga bayangan orang, satu di antaranya jelas adalah Sin Jit-nio.

Tan Khu-seng melenggong.

"Aneh, perempuan jahat itu terluka parah, bagaimana bisa lari secepat ini?"

Waktu dia melihat lebih tegas, ternyata Sin Jit-nio lari dipapah dua orang di kiri kanan.

Ginkang kedua orang yang memapahnya jelas tidak rendah, hanya sekejap, bayangan mereka sudah samar-samar tinggal setitik kecil saja, sekejap lagi sudah lenyap dari pandangan mata.

Sin Jit-nio adalah musuh pembunuh gurunya, kini Tong-bing-cu yang bersekongkol dengan dia sudah mati.

Hay Lan-ja yang menjadi biang keladinya sedang bertarung dengan Beng Hoa, yakin takkan bisa selamat, kini tinggal siluman perempuan jahat ini yang masih hidup.

Sebetulnya ingin dia membekuk perempuan siluman ini, namun tugas lain yang lebih penting perlu segera dia selesaikan, maka tak sempat dia mengejar perempuan jahat itu.

Makin ke depan pendengarannya menangkap deru angin dari sambaran senjata, agaknya ada orang sedang bertarung di lereng gunung sana Walau tidak kelihatan siapa yang sedang bertarung, namun sudah diketahui satu di antaranya menggunakan pedang dan sedang memainkan Boh-keh-kiam-hoat, jelas dia adalah Boh Le-cu.

Lekas Tan Khu-seng bersuit melengking, langkahnya secepat terbang berlari ke bawah.

Maksud suitannya untuk memberi tahu kepada Boh Le-cu bahwa dia sudah datang, supaya hatinya lega dalam menghadapi musuh.

Di luar dugaan akibatnya justru terbalik.

Lawan yang bertarung dengan Boh Le-cu bukan lain adalah gembong iblis besar Yang Kekbeng.

Seperti diketahui, Yang Kek-beng adalah pewaris tidak langsung dari Beng Sin-thong gembong iblis nomor satu di jaman dulu, pada jaman ini hanya dia satu-satunya orang yang mampu menggunakan Siu-lo-im-sat-kang.

Walau latihannya belum mampu mencapai tingkat kesembilan seperti cikal bakal pen-cipta ilmu dingin jahat itu, namun latihan Yapg Kek-beng sudah mencapai tingkat kedelapan.

Kalau Siu-lo-im-sat-kang sudah diyakinkan hingga tingkat kedelapan, pukulannya akan mengeluarkan deru angin yang bersuhu dingin merasuk tulang.

Ginkang Boh Le-cu cukup tinggi, kiamhoat-nya juga amat mahir, sayang tenaga dalamnya setingkat di bawah lawan.

Padahal untuk melawan pukulan Siu-lo-im-sat-kang diperlukan landasan lwekang yang tangguh.

Saat itu Boh Le-cu sudah terdesak di bawah angin, mendadak dia mendengar suitan Tan Khu-seng, hatinya kaget dan girang, padahal dalam pertarungan seperti itu memerlukan ketenangan, tidak boleh memecah perhatian.

Waktu itu dia tengah mengerahkan tenaga menahan suhu dingin, begitu dia merasa girang, seketika dia bergidik kedinginan, hingga tusukan pedangnya miring menusuk tonggak batu.

Mumpung ada kesempatan Yang Kek-beng langsung mencengkeram tulang pundaknya, tanpa pikir Boh Le-cu menggunakan kelincahan tubuhnya berjumpalitan ke belakang, namun dia lupa atau tidak memperhatikan bahwa di belakangnya adalah jurang yang tidak kelihatan dasarnya, saat itu dia sudah berdiri tak jauh dari bibir jurang.

Begitu Boh Le-cu bersalto ke belakang, tubuhnya langsung jatuh ke bawah, mendadak terasa tubuh yang sudah meluncur ke bawah menjadi enteng seperti dijinjing orang, ternyata tangannya sudah teraih dan terpegang kencang oleh Tan Khu-seng.

Menolong orang sambil menyerang dilancarkan bersama.

Tan Khu-seng mengulurkan tangan kanannya meraih dan menarik Boh Le-cu sementara pedang dia pindah ke tangan kiri menusuk tenggorokan Yang Kek-beng yang menubruk maju dengan jurus Pay-hun-sik-tian (menatap mega menyetir kilat).

Tenaga tusukan tangan kiri memang tidak sekokoh tangan kanan, namun gerakannya yang berlawanan dengan kebiasaannya justru lebih lihay dan sulit ditanggapi.

Seketika Yang Kek-beng sadar bahwa lawan melancarkan Coh-jiu-kiam-hoat, secara reflek dia berkelit ke kiri, itu berarti dia mengantar tubuhnya untuk ditusuk pedang lawan.

"Trang"

Baju di depan dadanya tertusuk berlubang dan sobek memanjang.

Untung Tan Khu-seng harus menggunakan tenaga yang sama untuk menarik Boh Le-cu, sehingga tenaga tusukan pedang kirinya menjadi lebih lemah, kalau tidak tentu dada Yang Kek-beng sudah berlubang.

Kejadian teramat cepat, begitu menarik Boh Le-cu, langsung Tan Khu-seng mendorongnya perlahan ke samping.

Dalam sekejap itu, tiga pihak sama-sama mencucurkan keringat dingin.

Boh Le-cu dan Yang Kek-beng sama-sama lolos dari renggutan elmaut, demikian pula Tan Khu-seng setelah menolong Boh Le-cu baru hatinya terkejut, kalau dia terlambat sedikit akibatnya tak berani dibayangkan.

Yang Kek-beng tahu, tadi Tan Khu-seng sedang bergebrak dengan Hay Lan-ja, mimpi pun tak pernah menduga bahwa dia muncul di sini.

Terpaksa dia mengeraskan kepala membentak.

"Kalian boleh maju bersama, biar aku adu jiwa dengan kalian."

Tan Khu-seng menjengek.

"Seperti engkau, aku pun sudah bertempur satu babak, jadi tiada yang memungut keuntungan. Asal kau mampu menang sejurus atau setengah jurus, kau boleh enyah dari hadapanku, dia tidak akan merintangi engkau."

"Bagus,"

Bentak Yang Kek-beng.

"kau sendiri yang bilang."

Di tengah bentakannya, kedua telapak tangan menggempur, begitu menyedang langsung dia mengerahkan Siu-lo-im-sat-kang.

"Serangan bagus!"

Bentak Tan Khu-seng.

Dalam dua patah kata yang dilontarkan, pedangnya sudah menusuk tigapuluh enam kali, betapa cepat gerak pedangnya, melebihi sambaran kilat.

Dulu mereka pernah bertempur dua kali, walau dua kali pertarungan itu Yang Kek-beng selalu dikalahkan oleh Tan Khuseng, tapi Tan Khu-seng juga jeri menghadapi Siu-lo-im-sat-kang lawan.

Tapi kali ini sudah berbeda.

Ternyata Siu-lo-im-sat-kang seperti juga Jit-sat-ciang, setiap pukulannya selalu menguras tenaga Dengan Siu-lo-im-sat-kang tadi Yang Kek-beng berusaha menangkap Boh Le-cu hidup-hidup untuk sandera.

Mengerahkan Siu-lo-im-sat-kang sampai tingkat kedelapan, tenaganya sudah banyak dikeluarkan.

Demikian juga Tan Khu-seng sudah bertempur dengan Hay Lan-ja, tapi Hay Lan-ja belum menggunakan Jit-sat-ciang menghadapi dirinya, maka bekal lwekang-nya sekarang sudah jelas lebih unggul sedikit dari Yang Kek-beng.

Di samping itu, sudah tigatahun lamanya sejak terakhir kali mereka bentrok Selama tiga tahun ini, Tan Khu-seng giat memperdalam lwekang-nya, demikian juga Yang Kek-beng memperoleh sedikit kemajuan, namun apa yang dicapai jelas tidak sebanding dengan lawan.

Adanya kedua sebab ini, satu maju yang lain mundur, maka untuk menghadapi Siu-lo-im-sat-kang bagi Tan Khu-seng tidak banyak menghadapi kesulitan lagi, jauh lebih enteng dan tekanannya tidak seberat dulu Belum genap seratus jurus, keadaan Yang Kek-beng sudah terdesak tak mampu balas menyerang.

"Cret"

Hawa pedang Tan Khu-seng laksana bianglala menuding lurus tulang pundak Yang Kek-beng.

Karena tak mampu menangkis terpaksa Yang Kek-beng mundur.

Setiap Tan Khu-seng mendesak maju selangkah, Yang Kekbeng mundur selangkah.

"Sret"

Kembali ujung pedangnya menusuk dengan Pek-hong-koan-jit, mengincar tulang pundak kiri Yang Kekbeng.

Yang Kek-beng sudah mandi keringat, selangkah demi selangkah mundur ke bibir jurang, posisinya seperti keadaan Boh Le-cu tadi.

Tahu dirinya tak kuat melawan lagi, dia luruskan kedua tangan ke bawah, bibirnya bergerak gemetar seperti ingin bicara, tapi suaranya tidak keluar.

Tan Khu-seng tertawa dingin.

"Kau juga tahu takut sekarang? Kejahatanmu kelewat takaran."

Di tengah jengek tawanya, ujung pedangnya tetap mengancam tulang pundak Yang Kek-beng, sedikit di-sorong pasti pundak orang berlubang, namun sebelum dia habis bicara tampak Yang Kek-beng mendadak memutar tubuh terus terjun ke bawah jurang.

Di luartahur nya, waktu Tan Khu-seng mengatakan "kejahatanmu kelewat takaran", maksudnya hanya memunahkan kungfunya, jiwanya akan diampuni.

Tan Khu-seng menghela napas, ujarnya.

"Sayang, sayang sekali."

Boh Le-cu heran, katanya.

"Manusia iblis yang banyak melakukan kejahatan mampus, kau bilang sayang?"

"Yang kubuat sayang bukan manusianya, tapi Siu-lo-im-sat-kang selanjutnya akan putus turunan. Menurut pendapatku kungfu itu sendiri tidak ada bedanya lurus atau sesat, suatu ilmu bila digunakan secara baik, maka dia juga dapat membantu kebaikan. Apa pun juga Siu-lo-im-sat-kang merupakan sejenis kungfu yang tiada taranya."

"Setelah berpisah delapanbelas tahun, hatimu tetap jujur dan bijaksana seperti dulu, masih segar dalam ingatanku, dahulu kau pun tidak tega membunuh Ho Lok."

Sekali bicara orang menyinggung kejadian delapanbelas tahun yang lalu, tergerak hati Tan Khu-seng. Boh Le-cu berkata.

"Tidak nyana delapanbelas tahun kemudian, kita bertemu lagi. Terima kasih kau menolong aku sekali lagi."

"Aku sebaliknya lebih berterima kasih karena kau telah membebaskan aku dari fitnah."

"Kita pernah berdampingan menghadapi maut, buat apa bicara secara sungkan. Tapi perubahan pengalaman hidup memang sukar diramalkan. Tan Khu-seng, apa kau masih ingat, delapanbelas tahun yang lalu, waktu kita akan berpisah, apa yang pernah kau katakan?"

Hangat perasaan Tan Khu-seng, katanya.

"Ya, masih ingat, waktu itu kukira selama hidup tetap terfitnah...."

Pengalaman masa lalu terbayang seperti di depan mata, sudah tentu Tan Khu-seng takkan pernah melupakan detik-detik yang mesra di kala mereka akan berpisah.

Seperti saat ini Boh Le-cu berdiri di hadapannya, dengan sorot mata mesra mengawasi dirinya Bedanya waktu itu airmata berlinang di pelupuk matanya, bersedih karena mereka dipaksa untuk berpisah.

Namun sekarang sorot matanya menampilkan rasa riang dan gembira karena hari ini mereka berkumpul lagi.

Ya, namun tidak sesederhana itu rasa senang dan riangnya, dari sorot matanya malah terbetik rasa haru, perasaan tersembunyi yang mengharap dengan cemas curahan hati yang mumi.

Padahal sejak delapanbelas ta--hun yang lalu, dia sudah tahu maksud hati Boh Le-cu terhadap dirinya Dia tahu Boh Le-cu segan dan tak ingin berpisah dengan dirinya, dia pun berat berpisah dengannya Masih segar pula dalam ingatannya, waktu itu dia pernah berkata demikian.

"Kecuali... kecuali kasus ini bisa dibikin terang, entah kapan asal duduk perkaranya dibikin jelas."

Kalau tidak, mungkin sudah suratan takdir bahwa mereka takkan hidup bersama Sungguh tak nyana hari yang dahulu tak pernah dan tak berani mereka harapkan, ternyata terkabul hari ini.

Kini menghadapi pandangan Boh Le-cu yang penuh cinta, Tan Khu-seng menjadi terlongong, tak tahu bagaimana harus bicara Boh Le-cu mendongak mengawasinya, menunggu jawabannya.

Wajah masih kelihatan pucat namun pucat yang bersemu merah.

"Le-cu,"

Akhirnya Tan Khu-seng sadar.

"apa kau masih merasa dingin? Marilah kubantu kau untuk menahannya supaya tubuhmu tidak karacunan hawa dingin."

Sembari bicara dia pegang telapak tangan Boh Le-ca Badan Boh Le-cu memang masih dingin, namun hatinyajustru hangat, katanya sesaat kemudian.

"Keadaanku sudah jauh lebih baik, kau... adakah omongan yang masih'akan kau .utarakan?"

Setelah mendapat bantuan saluran tenaga dalam Tan Khu-seng, kini badannya sudah hangat dan tidak sedingin tadi. Tan Khu-seng berkata perlahan.

"Kita pulang dulu nanti bicara lebih lanjut. Sekarang kau masih ada urusan lain?"

Boh Le-cu tersentak sadar katanya.

"Ah, ya, aku memang ceroboh, hampir saja kulupakan."

"Ada persoalan apa?"

"Apa kau melihat perempuan jahat itu?"

Tan Khu-seng tahu perempuan jahat yang dimaksud tentu Sin Jit-nio, maka dia tuturkan apa yang dilihatnya tadi dari atas Toanhun-gay-Boh Le-cu berkata.

"Jadi ada orang membantunya melarikan diri, tak heran sukar aku menemukan dia Dari gambaran yang kau tuturkan, kurasa kedua orang itu adalah Bwe-san-ji-koay."

Bwe-san-ji-koay adalah dua saudara angkat, yang tua bernama Cu Kak-sang adik bernama Loh Ang.

Kedua orang ini orang-orang dari golongan sesat yang mahir menggunakan racun, namun kalau dibanding dengan Sin Jit-nio, kepandaian mereka seperti kunangkunang dibandingkan rembulan, akan tetapi ginkang mereka cukup terkenal di kalangan Kangouw.

"Ya benar, aku pun menduga mereka adalah Bwe-san-ji-koay. Mereka memapah perempuan jahat itu, mungkin dengan tujuan minta belajar cara menggunakan racun."

"Ayahku terbunuh oleh racun Han Ji-yan, selama delapanbelas tahun aku belum menemukan keparat itu dan menuntut balas kepadanya Sin Jit-nio adalah suci perempuan keparat itu, dari mulutnya aku ingin tahu jejak sumoay-nya. Tak nyana sebelum aku menemukan Sin Jit-nio, di sini aku bertemu dengan gembong iblis Yang Kek-beng. Kalau kau tidak datang menolong, mungkin aku sudah terjerumus ke dasar jurang."

"Aku juga ingin membekuk Sin Jit-nio menuntut balas kematian suhu, tapi mereka sudah lari jauh, di tengah hutan pegunungan ini susah mencari jejak mereka, lebih baik kita pulang lebih dulu. Untung kita sudah tahu siapa yang menolong dia, tidak susah kelak kita datang ke tempat kediamannya"

"Ada persoalan penting apa sehingga kita perlu segera pulang?"

"Aku bergebrak setengah babak dengan Hay Lan-ja, setengah babak lanjutannya dilanjutkan oleh Beng Hoa."

Boh Le-cu kaget, katanya "Kau suruh muridmu menghadapi Hay Lan-ja? Wah, kalau dia sampai mengalami sesuatu, akulah yang menjadi penyebabnya."

Waktu mereka kembali ke lapangan, kebetulan saat pertempuran Beng Hoa melawan Hay Lan-ja mencapai detik-detik terakhir.

Tampak Beng Hoa masih menggerakkan pedang hingga tercipta lingkaran demi lingkaran sinar pedang, berbagai bentuk lingkaran itu ternyata semakin lama makin lambat dan kecil.

Uap putih makin tebal di atas kepala Hay Lan-ja, serangannya juga makin gencar.

Waktu Tan Khu-seng tiba di pinggir gelanggang, kebetulan melihat dia menyemburkan sekumur darah pula.

Boh Le-cu kaget, katanya berbisik.

"Bagaimana?"

Berkeringat telapak tangan Tan Khu-seng, dia tidak berani menjawab.

Ternyata Hay Lan-ja mengulang penggunaan Thian-mo-kiat-dehtay-hoat, seluruh tenaga muminya sudah dia kuras seluruhnya.

Itu berarti dia mempertaruhkan jiwa raganya untuk merebut kemenangan dalam pertempuran ini.

Setelah pertempuran ini usai paling ringan dia akan jatuh sakit parah, atau kemungkinan akan menjadi manusia tapa daksa.

Tapi asal dia dapat mengalahkan Beng Hoa, dia akan bebas pergi, nasib selanjurnya tidak terpikir lagi olehnya.

Sudah tentu Tan Khu-seng, Kim Tio-liu dan beberapa orang lain yang tahu maksud tujuan Hay Lan-ja.

Apakah Beng Hoa mampu melawan gempuran terakhir Hay Lan-ja, seperti juga Kim Tiok-liu, Tan Khu-seng tidak berani meramalkan.

Tanpa berkedip, sepenuh perhatian Tan Khu-seng memperhatikan jalannya pertempuran.

Tampak garis lingkaran pedang Beng Hoa bukan saja makin lambat, juga makin kecil.

Mendadak dilihatnya Beng Hoa beruntun menggaris tiga lingkaran miring dan lonjong, gerakannya boleh dikata tidak menyerupai lingkaran lagi.

Sebetulnya Tay-si-mi-kiam-hoat mengatasi aksi dengan ketenangan seperti tuan rumah menyambut sang tamu, lingkaran yang lonjong tidak menyerupai lingkaran itu justru memperlihatkan bahwa Iwekang Beng Hoa sudah makin lemah, tenaga yang ada sudah tak mampu melandasi permainan ilmu pedang tingkat tinggi.

Seperti tenggelam perasaan Tan Khu-seng, melihat gelagatnya kalau pertempuran dilanjutkan, kemungkinan besar kedua orang yang berlaga ini akan gugur bersama.

Diam-diam dia menyesal, kenapa dirinya tidak memikirkan bahwa Hay Lan-ja mahir juga menggunakan Thian-mo-kiat-deh-tay-hoat untuk memperbesar tenaga pukulan Jit-sat-ciang untuk adu jiwa dengan Beng Hoa.

Tapi menyesal sudah terlambat.

Sebagai ciangbunjin Kong-tongpay, janji yang sudah diucapkan sudah tentu tak boleh dijilat kembali.

Keduanya bakal terluka parah sudah dapat diduga, tapi kalau situasi lebih buruk lagi, bukan mustahil tragedi yang lebih mengenaskan bisa terjadi, kedua jago yang berlaga ini gugur bersama.

Tapi duel ini bukan untuk menyelesaikan pertikaian antara Beng Hoa dengan Hay Lan-ja saja, tapi menyangkut nama baik, gengsi dan kebesaran Kong-tong-pay, juga menyangkut untung rugi kaum persilatan umumnya, apakah dia kuat memikul tanggung jawab membebaskan musuh bersama kaum persilatan ini?

Tan Khu-seng masih bimbang, padahal detik-detik terakhir pertempuran sudah di ambang mata.

Akhirnya dia mengertak gigi dan berpikir.

"Apa pun yang terjadi, aku tak boleh berpeluk tangan mengorbankan jiwa Beng Hoa."

Di saat dia hendak bertindak maju mengaku keunggulan musuh, mendadak didengarnya sebuah siulan nyaring laksana jeritan naga di angkasa.

Siulan ini tidak keras, namun menggetarkan gunung menimbulkan gema yang mendengung keras bersahut-sahutan.

Genderang telinga seluruh hadirin seperti hampir pecah oleh siulan panjang ini.

Tan Khu-seng amat kaget, batinnya.

"Siapa yang memiliki Iwekang setangguh ini, apakah ciangbunjin Thian-san-pay sendiri yang datang?"

Di tengah siulan yang bergema itu, tampak semangat tempur Beng Hoa menyala, beruntun dia menggerakkan pedang membuat tiga lingkaran, tidak lagi serong dan lonjong, tapi sudah kelihatan bentuknya bagai lingkaran yang bulat.

Rangsakan Hay Lan-ja tetap gencar dan deras, namun deru pernapasannya ternyata makin berat, belum lagi gema siulan itu sirna orang banyak sudah mendengar deru napasnya yang kasar seperti sapi siap dijagai.

Sedikit lega hati Tan Khu-seng, pikirnya.

"Masih kuat bertahan beberapa kejap lagi."

Kaki yang sudah maju selangkah ditariknya kembali. Belum lenyap gema siulan disusul senandung seseorang dengan suara lantang berisi. Seketika bersorak hati Tan Khu-seng, pikirnya.

"Kenapa aku melupakan orang ini?"

Sebelum dia sempat menyambut kedatangan sang tamu, Kim Tiok-ciu sudah berdiri dan berkata dengan tawa lebar.

"Miao tayhiap, kiranya kau, sayang kau datang agak terlambat"

Pendatang yang bersiul lalu bersenandung ini bukan lain adalah ayah angkat Nyo Yan adik Beng Hoa, yaitu Miao Tiang-hong.

Kim Tiok-liu jelas kenal baik, dengan Tan Khu-seng juga sudah belasan tahun tak pernah bertemu, berita terakhir menyatakan dia tetirah di Thian-san, tak nyana mendadak dia datang di saat segenting ini.

Beng Hoa sudah tahu akan kedatangannya, waktu berpisah di Thian San tempo hari, Miau Tiang Hong bilang akan datang melihat keramaian.

Semula dia mengira Miau Tiang Hong terbentur urusan lain di tengah jalan sehingga datang terlambat, tak nyana mendadak dia mendengar siulannya, karuan girangnya bukan main.

Entah karena senang bertemu dengan sahabat ibunya, atau karena siulan itu memberi dukungan moral kepadanya, yang jelas semangat tempur Beng Hoa mendadak bertambah, Tay-si-mi-kiamhoat dimainkan secara sempurna.

Miao Tiang-hong berkata.

"Kurasa kedatanganku justru tepat pada waktunya, kenapa kau bilang aku datang terlambat?"

"Inilah pertandingan babak terakhir, adegan babak pendahuluan tidak sempat kau saksikan,"

Demikian ujar Kim Tiok-liu. Miao Tiang-hong berkata.

"Melihat tontonan justru adegan terakhir yang paling seru dan ramai, tidak rugi aku menyaksikan babak terakhir yang menentukan ini."

"Miao tayhiap,"

Timbrung Lui-tin-cu.

"menurut pendapatmu bagaimana akhir dari tontonan ini?"

Miao Tiang-hong tertawa, sahutnya.

"Lui-locianpwe, kau tentu menonton keramaian lebih banyak dibanding aku, pernah kau melihat tontonan yang berakhir seri dalam adegan adu kekuatan?"

Kim Tiok-liu beradu pandang sambil tertawa lebar dengan Miao Tiang-hong.

Mendengar ucapan Miao Tiang-hong legalah hati Luitin-cu dan Tan Khu-seng.

Ternyata siulan Miao Tiang-hong tadi secara diam-diam telah membantu Beng Hoa, tapi kecuali Kim Tiok-liu seorang, orang lain termasuk Beng Hoa sendiri tiada yang tahu dan menyadari bantuannya yang berharga dan penting artinya.

Siulan Miao Tiang-hong ternyata menggunakan Say-cu-hong yang dahsyat dari aliran Budha.

Konon paderi agung yang dulu mencipta-kan Say-cu-hong tujuannya untuk menggetar sadar sanubari kawanan penjahat.

Mungkin penjelasan ini kedengarannya terlalu muluk dan tidak masuk akal, sementara ilmu Say-cu-hong itu sendiri juga takkan bisa membedakan baik buruknya jiwa manusia, tapi orang-orang yang baik atau jahat setelah mendengar bentakan ilmu Say-cu-hong, kemungkinan sekali akan memberikan reaksi yang berbeda.

Pepatah berkata, kalau selama hidup tidak pernah melakukan perbuatan tercela, tengah malam pintunya digedor orang juga tidak akan kaget dan ketakutan.

Kalau orang awam yang jujur mempunyai ketetapan hati demikian, apalagi insan persilatan yang pernah meyakinkan lwckang tingkat tinggi terutama kaum pendekar.

Dengan landasan Iwekang ajaran Thio Tan-hong, sepenuh hati Beng Hoa menghadapi Jit-sat-ciang lawan, hatinya mantap pikiran jernih, dia mendengar siulan Miao Tiang-hong, walaupun konsentrasinya sedikit terganggu namun itu hanya perasaan yang membangkitkan gairah hati, hakekatnya dia tidak terganggu oleh siulan yang menggunakan Say-cu-hong.

Tapi berbeda lagi perasaan Hay Lan-ja, padahal dia tengah menguras sisa tenaga terakhir untuk menggempur musuh, mendadak mendengar siulan aneh ini, dadanya seperti terpukul oleh godam Hawa mumi yang semula sudah dikerahkan untuk dilontarkan seketika menjadi buyar.

Beng Hoa tidak sadar bahwa Miao Tiang-hong tengah membantu dirinya, tapi dalam hati dia berpikir.

"Miao tayhiap adalah orang pertama yang memberi petunjuk kepadaku tentang intisari ilmu pedang yang sejati, sekarang dia sengaja datang untuk memberi dorongan semangat kepadaku, jangan aku membuatnya kecewa."

Karena gairah tempurnya menyala, gerakan pedangnya pun lebih mantap dan lancar.

Walau permainan kelihatan tetap lambat tapi sudah kembali kokoh dan kuat, seluruh serangan Hay Lan-ja yang gencar itu berhasil dia bendung di luar lingkaran sinar pedangnya.

Mendadak Hay Lan-ja menggerung keras, suaranya seperti jeritan binatang buas yang terluka, di tengah gerungan gusarnya itu dia pentang kedua lengan dengan cakar jarinya yang siap menerkam, melonjak tinggi dua tombak menerkam ke arah Beng Hoa Lingkaran para penonton memang mengikuti jalannya pertempuran yang kian sengit, terus bergerak dan berubah makin mundur dan lingkaran pun makin besar.

Tapi mereka yang menonton di garis paling depan tetap merasakan damparan angin pukulan yang dilontarkan Hay Lan-ja.

Dalam kejap itu pula, gerak pedang Beng Hoa yang lamban itu mendadak berubah cepat, lingkaran demi lingkaran sinar pedang berputar bagai kilat cepatnya, sehingga penonton silau dibuatnya.

Entah tusukan pedangnya mengenai Hay Lan-ja?

Sebelum melihat jelas, tampak kedua orang yang baku hantam itu mendadak mundur berpisah.

"Tang"

Selarik sinar bianglala melambung ke angkasa, pedang pusaka Beng Hoa ternyata mencelat terbang dari tangannya.

Melihat pedang Beng Hoa terpukul jatuh oleh Hay Lan-ja, hadirin tiada yang tak tersirap darahnya.

Lui-tin-cu juga ikut menjerit kaget Miao Tiang-hong sebaliknya bergelak tawa, serunya.

"Bagus sekali. Beng-siheng, jurus yang kau lancarkan ini betul-betul telah berhasil menyelami intisari dari kemurnian ilmu pedang sejati."

Sementara hadirin masih khawatir Hay Lan-ja akan meneruskan sergapannya terhadap Beng Hoa.

Hay Lan-ja hanya berdiri kaku seperti mayat, berdiri di tempatnya semula tanpa bergerak.

Tampak darah mulai merembes keluar dari hidung, mata dan telinganya, menyusul mulut terbuka, darah pun menyembur bagai air.

Hadirin masih terbelalak, semua mengira Hay Lan-ja akan melontarkan Thian-mo-kiat-deh-tay-hoat pula.

Tapi di tengah ketegangan itulah tampak tubuh Hay Lan-ja mulai bergerak doyong ke depan dan "Bruk", robohlah dia.

Setelah mendengar suara berdebuk itulah baru hadirin menghela napas lega.

Sesaat suasana masih hening, mendadak pecahlah tepuk sorak yang gegap gempita menyambut kemenangan Beng Hoa yang gilang gemilang, memberi tepuk sorak pada pendekar muda yang berhasil mengalahkan jago nomor satu, musuh bebuyutan.

Kalau Tan Khu-seng yang mengalahkan Hay Lan-ja, walau orang banyak merasa senang, mungkin sambutan sorak sorai tidak akan sehebat dan seramai ini.

Menyaksikan Hay Lan-ja roboh terkapar di depannya, wajah Beng Hoa dihiasi senyum lebar.

Tapi kedua kakinya seperti tak menurut perintah lagi, dia ingin maju memapak kedatangan sang guru, ternyata kakinya tak mampu berjalan.

Ternyata gempuran Hay Lan-ja terakhir merupakan tumpuan seluruh kekuatan latihan selama hidupnya, walau keadaannya sudah payah, Beng Hoa tetap merasakan akibatnya.

Setelah bentrokan terakhir ini, Hay Lan-ja memang mati kehabisan tenaga, namun Beng Hoa sendiri juga lemas lunglai.

Pedang Beng Hoa yang mencela terbang itu sudah ditangkap oleh Kim Tiok-liu.

Bersama Miao Tiang-hong, begitu melihat pertempuran sudah menunjukkan kalah dan menang, tanpa berjanji mereka memburu ke arah Beng Hoa.

"Hoa-ji, sungguh hebat perjuanganmu."

Kim Tiok-liu mengembalikan pedangnya ke dalam serangkanya lalu menggenggam tangan kanannya.

Miao Hang-hong di sebelah sana, dia juga menggenggam tangan kiri Beng Hoa.

Gabungan tenaga dua jago kosen membantunya mengekang hawa mumi dalam tubuhnya yang berentakan, dalam sekejap Beng Hoa sudah dapat menghimpun tenaga ke dalam pusar, sehingga semangatnya pulih dalam sekejap.

Sementara itu kedua guru Beng Hoa, Toan Siu-si dan Tan Khu-seng sudah mendekat di hadapannya.

"Bagaimana keadaan Hoa-ji?"

Tanya Tan Khu-seng khawatir. Kim Tiok-liu tertawa, katanya.

"Kuucapkan selamat kepadamu yang mendidik murid sebaik ini. Lwekang Hoa-ji jauh lebih tinggi dari penilaianku semula. Semula aku agak khawatir dia akan gugur bersama dengan Hay Lan-ja, sekarang tidak usah khawatir lagi."

Lega hati Tan Khu-seng, lekas dia mengucap terima kasih kepada Kim Tiok-liu dan Miao Tiang-hong.

Sebagai tokoh silat kawakan sudah tentu dia tahu kalau kedua jago kosen ini telah membantu Beng Hoa memulihkan tenaga dan semangat, kalau tidak, selanjutnya Beng Hoa pasti akan jatuh sakit.

Kim Tiok-liu tertawa, katanya.

"Sebetulnya aku tidak membantu apa-apa terhadap muridmu, bantuan Miao tayhiap justru amat besar artinya, tanpa dia membantu dengan Say-cu-hong, mungkin Hoa-ji akan mengalami sedikit cedera."

Beng Hoa baru insaf bahwa siulan Miao Tiang-hong tadi ternyata punya daya guna yang luar biasa.

Tan Khu-seng juga amat menyesal bahwa pengetahuan ilmu silatnya amat terbatas, kenapa tidak tahu bahwa Say-cu-hong ternyata mempunyai daya guna yang begitu hebat.

Guru satu murid kembali mengucapkan terima kasih kepada Miao Tiang-hong.

Miao Tiang-hong tertawa, ujarnya.

"Kalian tidak tahu, bantuanku yang kecil artinya ini sebetulnya belum setimpal menebus kesalahanku dulu."

Mimik tawanya kelihatan agak tawar dan sedih. Tan Khu-seng melenggong, katanya.

"Kenapa demikian?"

"Ayahnya adalah teman baikku, tapi pernah aku salah paham padanya, memaksanya bergebrak dengan aku pula."

"Maksudmu waktu berada di Siau-kim-jwan kau salah paham menyangka dia cakar alap-alap?"

Tanya Tan Khu-seng.

"Betul,"

Sahut Miao Tiang-hong.

"siapa nyana orang yang kusangka cakar alap-alap, hari ini justru membunuh pentolan cakar alap-alap."

Kim Tiok-liu bergelak tawa, katanya.

"Jadi kau menyesali kejadian masa lalu. Patah tumbuh hilang berganti, generasi tua memang pantas diganti generasi muda, angkatan muda harus lebih unggul dari angkatan tua."

Memang Miao Tiang-hong terkenang masa lalu.

Duabelas tahun yang lampau, dia pernah seperti keadaan Beng Hoa sekarang, berduel dengan komandan Gi-lim-kun masa itu yang bernama Pakkiong Bong, akhirnya keduanya roboh terkapar dengan luka parah.

Kalau waktu itu dia tidak ditolong Hun Ci-lo (ibu Beng Hoa) yang menyedot racun dalam tubuhnya waktu itu, tentu dia sudah meninggal, (baca Kelana Buana).

Hun Ci-lo menyembuhkan lukalukanya, namun dia justru mengorbankan jiwa sendiri.

Tapi bukan hanya soal ini yang dia sesalkan, dia pun teringat kepada Beng Goan-cau, kawan seperjuangannya dulu, terkenang pula kepada Hun Ci-lo yang menjadi teman karibnya di masa mudanya dulu.

Kini berhadapan dengan pute-ra mereka yang sudah dewasa dan mencapai puncak gemilang sungguh hatinya amat gembira dan terharu.

"Jikalau Hun Ci-lo di alam baka tahu puteranya sekarang sudah terkenal di seluruh dunia, dia akan tenteram di alam baka,"

Demikian batinnya..Miao Tiang-hong menggandeng tangan Beng Hoa, katanya tertawa.

"Siu-si-heng, Tan-heng, kalian berhasil mendidik murid sebaik ini, sungguh aku menjadi iri, senang tapi juga khawatir."

"Apa yang kau khawatirkan?"

Tanya Toan Siu-si. Mao Tiang-hong berkata dengan tertawa.

"Yang kukhawatirkan adalah sang adik kelak tidak dapat menandingi sang engkoh, di hadapan kalian, tak bisa tidak aku akan menyesal."

Maklum dia adalah ayah angkat Nyo Yan, dialah yang akan bertanggung jawab mendidik Nyo Yan menjadi tunas harapan bangsa bersama Teng King-thian. Tan Khu-seng tertawa, katanya.

"Sebetulnya yang harus khawatir adalah aku, tapi aku tidak perlu merisaukan hal ini. Andaikata sepuluh tahun kemudian, sang engkoh dikalahkan oleh adiknya, baru aku betul-betul merasa girang. Oh, ya, jangan kita berkelakar saja, kali ini kau datang dari Thian-san, apakan Tengciangbun ada titip pesan?"

Miao Tiang-hong berkata.

"Teng-ciangbun sudah menjelaskan kasus yang menimpa dirimu kepadaku, dia amat memperhatikan nasibmu, semoga kasusmu cepat beres dan kau tidak terfitnah secara penasaran, soal lain dia tidak menyinggung."

Tan Khu-seng berkata.

"Berkat bantuan para sahabat dan perhatian para Bulim cianpwe, sungguh aku amat berterima kasih, syukurlah kasusku ini telah dibikin terang."

Miao Tiang-hong berkata pula.

"Terhadapmu tiada persoalan yang kubicarakan, tapi terhadap muridmu aku akan memberi tahu berita baik kepadanya."

Lekas Beng Hoa bertanya tentang kabar baik apa. Miao Tianghong berpikir sejenak, lalu katanya.

"Marilah kita kembali ke Jing-hikoan dulu."

Kim Tiok-liu tahu orang sungkan bicara di hadapan orang banyak, maka dia berkata.

"Betul, Tan Khu-seng baru menjabat ciangbun, banyak urusan yang harus dia bereskan, setelah tugas dan kewajibannya dibereskan belum terlambat kita bicara lagi."

Setiba mereka di Jing-hi-koan, hari sudah menjelang magrib, sebagian besar para undangan sudah pamit pulang, namun yang tetap tinggal juga tidak sedikit sehingga suasana cukup ramai.

Ratusan meja perjamuan disediakan dalam Jing-hi-koan untuk merayakan kemenangan Tan Khu-seng.

Hadirin berduyun-duyun menghaturkan arak kepada Tan Khu-seng, hingga perjamuan berlangsung sampai tengah malam.

Saking ramai dan banyak minum arak Tan Khu-seng sampai pening kepalanya.

Setelah perjamuan usai baru Tan Khu-seng teringat, kenapa sejak tadi tidak kelihatan bayangan Boh Le-cu?

Karena tamu yang menghadiri perjamuan terlalu banyak sampai berjubel, tak sempat Tan Khu-seng memperhatikan apakah Boh Le-cu hadir dalam perjamuan.

Tamu-tamu yang menginap sudah diantar oleh muridmurid Kong-tong-pay untuk beristirahat di kamar-kamar yang tersedia, barulah Tan Khu-seng sempat bercengkerama pula dengan Kim Tiok-liu, Miao Tiang-hong dan lain-lain teman lama.

"Hoa-ji,"

Kata Miao Tiang-hong.

"ada berita gembira yang perlu kusampaikan kepada kau. Lohay sudah menjabat sebagai Ketua Umum dari para ketua suku minoritas Uigior. Demikian pula puterinya Lomana sudah menentukan hari pernikahannya dengan Santala. Mereka mengharapkan kehadiranmu dalam pesta pernikahan mereka."

Beng Hoa bertanya.

"Kapan hari pernikahan mereka?"

"Kabarnya di saat bulan purnama, bulan.depan, pesta pernikahan akan dirayakan bersama dengan perayaan Jagal Kambing."

"Menurut adat suku Uigior, perayaan Jagal Kambing diadakan setiap tahun satu kali. Perayaan Jagal Kambing yang pernah mereka adakan untuk periode tahun ini belum ada setengah tahun, kenapa akan dirayakan lagi?"

Demikian tanya Beng Hoa.

"Benar, perayaan Jagal Kambing kali ini memang sengaja dirayakan untuk menyambut penobatan Lohay sebagai ketua mereka, sekaligus untuk meramaikan pesta pernikahan puteri tunggalnya. Lomana adalah gadis tercantik dari suku Uigior, demikian pula Santala adalah pemuda perkasa nomor satu dari suku mereka, maka anak-anak muda mereka sudah mempersiapkan diri untuk memeriahkan pesta pernikahan itu. Tapi yang benar bagi mereka sekaligus menambah kesempatan untuk kepentingan mudamudi itu sendiri."

Kim Bik-ki tidak tahu adat istiadat suku Uigior, maka dia bertanya.

"Apa yang dinamakan pertemuan Jagal Kambing? Kenapa muda-mudi mendapat kesempatan dalam pesta besar itu?"

Miao Tiang-hong tertawa, lalu menjelaskan.

"Itulah kesempatan para pemuda untuk menyatakan rasa cintanya kepada gadis-gadis yang mereka punya, kalau kau ingin tahu seluk beluknya boleh kau tanya kepada Beng Hoa. Lohay pernah bilang kepadaku, tempo hari waktu Beng Hoa berada di tempat kediaman mereka, kebetulan juga diadakan pertemuan Jagal Kambing itu, Beng Hoa malah pernah berjanji kepada mereka, pada pesta Jagal Kambing tahun yang akan datang dia pun akan membawa kau ikut serta."

Merah muka Kim Bik-ki, jengek-nya.

"Paman Miao, kau sembarang omong, aku tidak percaya. Mereka toh tidak kenal aku, mana mungkin Hoa-ko menyinggung diriku?"

"Kalau tidak percaya, boleh kau tanya engkoh Hoa-mu,"

Goda Miao Tiang-hong tertawa. Beng Hoa menjadi kikuk, tapi dia tidak biasa berbohong, terpaksa menjelaskan.

"Soalnya mereka berkelakar dan menggoda serta memaksa aku, mereka menuntut supaya aku membawa gadis pujaanku."

"Nah betul tidak, masih kau bilang lidahku cerewet,"

Olok Miao Tiang-hong tertawa.

"Beng Hoa bilang akan membawa gadis pujaannya, yang akan dibawa kau."

Merah muka Kim Bik-ki, katanya.

"Paman Miao selalu menggoda anak muda, awas nanti kubalas."

Lekas Kim Tiok-liu menimbrung.

"Sudahlah, soal ini sudah dibicarakan, sekarang marilah kita bicara persoalan yang lebih penting."

Maka Miao Tiang-hong berkata.

"Hoa-ji, kali ini aku tidak berkelakar, pertama kau adalah sahabat baik, kedua memang kita perlu mengingat persaudaraan dengan suku Uigior, entah untuk kepentingan pribadi atau untuk keperluan umum, kau memang pantas menghadiri perjamuan pernikahan Santala dengan Lomana.'-' "Ya, betul, aku memang harus menghadirinya, tapi...."

"Ada persoalan?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Waktunya amat mendesak, mungkin aku tak bisa hadir pada waktunya,"

Ujar Beng Hoa.

"Pernikahan mereka akan diadakan tanggal limabelas bulan delapan, hari ini baru tanggal delapan, jadi masih sebulan tujuh hari. Dalam jangka tigapuluh tujuh hari jarak antara Kong-tong-sari hingga Sin-kiang bagi orang biasa memang tak mungkin ditempuh, tapi seorang yang memiliki kepandaian silat bisa."

Beng Hoa mengunjuk sikap serba susah, katanya.

"Kali ini aku mendapat tugas membantu Utti tayhiap, kini tugasku sudah selesai, sepantasnya aku kembali memberi laporan kepada Leng-thauling dan menghadap kepada ayah."

Jadi menurut rencananya, besok juga akan berangkat pulang dulu ke Jik-tat-bok baru berangkat ke Sinkiang.

Kalau menurut perjalanannya ini, dalam jangka waktu tigapuluh tujuh hari memang tidak mungkin menempuh dua tujuan.

Miao Tiang-hong tertawa, katanya.

"Yang menyuruh kau pergi ke Sinkiang menghadiri pesta pernikahan itu justru ayahmu. Demikian pula Leng-thauling juga sudah setuju."

Beng Hoa berjingkrak girang, katanya.

"Jadi paman Miao sudah bertemu dengan ayah."

"Benar, aku sudah pergi ke Jik-tat-bok baru belok kemari,"

Demikian sahut Miao Tiang-hong.

"Menurut laporan yang mereka terima, pasukan kerajaan kemungkinan besar akan meluruk ke Sinkiang lebih dulu, dengan cara memancing, menghasut dan menekan sekaligus, untuk memaksa dan mengancam seluruh suku bangsa minoritas dari Sinkiang membantu kerajaan mengepung laskar gerilya. Umpama tidak akan memaksa mereka mengerahkan pasukannya, juga akan memutus bantuan mereka terhadap laskar gerilya. Coba, keji tidak rencana mereka?"

Beng Hoa kaget, katanya.

"Rencana mereka memang keji, tapi delapanbelas suku bangsa yang ada di Sinkiang sudah ada limabelas suku bangsa yang berserikat dengan laskar gerilya. Belum tentu rencana kerajaan bisa.terlaksana."

Miao Tiang-hong berkata lebih lanjut.

"Di antara sekian banyak suku minoritas di Sinkiang, suku Uigior termasuk yang paling perkasa dan suka'perang. Lohay yang menjadi ketua mereka juga sudah bertekad untuk melawan dan menolak rencana mereka. Pepatah ada bilang, ular tanpa kepala takkan bisa menggigit, untuk menyatukan suku minoritas di Sinkiang melawan kerajaan, harus mempunyai seorang pemimpin besar yang berwibawa, calon pemimpin mereka yang paling cocok adalah Lohay."

Beng Hoa berkata.

"Bukan saja Lohay punya wibawa besar dalam suku Uigior, dalam pandangan suku minoritas lain di Sinkiang beliau juga cukup disegani. Kecuali kepala-kepala suku itu tidak mau melawan penjajahan, kalau tidak yakin sembilan di antara sepuluh pasti akan memilih Lohay sebagai bengcu mereka."

"Menurut rencana pihak laskar gerilya, akan diutus satu orang untuk memberi kabar kepada Lohay. Orang ini juga ditugaskan membantu di sana untuk merencanakan perlawanan terhadap serbuan pasukan kerajaan. Tapi mereka sukar menemukan calon pilihannya, belakangan kuceritakan kepada mereka bahwa kau mempunyai hubungan dan ikatan erat dengan Lohay, maka ayahmu dan Leng-thauling setuju dan mengutusmu sebagai duta dari laskar gerilya memikul tugas berat ini."

"Tentang keadaan adikmu, pengalamanmu di Thian-san, sudah kusampaikan kepada ayahmu, kau "boleh lega hati berangkat menunaikan tugas baru ini, jadi tak usah pulang dulu ke Jik-tat-bok lagi."

Lega dan senang hati Beng Hoa, langsung dia menerima tugas mulia ini, besok berangkat.

"Bagus, sekarang tiba saatku beristirahat,"

Kata Miao Tiang-hong, lalu dia berpamitan. Mendadak Toan Siu-si berkata.

"Miao-heng, maaf, kau tunggu sebentar, ada persoalan ingin aku tanya kepadamu."

"Persoalan apa katakan saja,"

Ucap Miao Tiang-hong. Dalam hati dia sudah mereka soal apa yang akan ditanyakan oleh Toan Siu-si. Toan Siu-si bertanya.

"Aku punya seorang keponakan bernama Kiam-ceng, sudah lama tidak kudengar kabar beritanya, baru belakangan ini aku mendapat kabar, katanya tahun lalu dia berguru kepada Teng-ciangbun di Thian-san, apa betul?"

"Betul, dia menjadi murid penutup dari Bu Seng-thay, salah seorang tianglo Thian-san-pay,"

Sahut Miao Tiang-hong. Toan Siu-si tampak senang, katanya.

"Keponakanku itu suka agul-kan diri dan ugal-ugalan, sayang punya sifat tidak jujur dan bermuka-muka. Selama ini aku khawatir dia tersesat jalan, kini kudengar dia sudah memperoleh guru bijaksana, syukur dan legalah hatiku. Di Thiansan apakah kau melihatnya? Entah bagaimana keadaannya?"

"Soal ini... kau tanya muridmu saja dia lebih jelas dari aku,"

Sahut Miao Tiang-hong. Diam-diam Kim Bik-ki memberi kedipan mata kepada ayahnya. Tergerak hati Kim Tiok-liu, batinnya.

"Mungkin Miao Tiang-hong sungkan bicara?"

Dia juga menduga pu-terinya ada urusan yang ingin dibicarakan dengan dirinya, maka dia menimbrung.

"Malam telah larut, Hoa-ji besok akan berangkat, marilah kita beristirahat saja, biar mereka guru dan murid berbincang-bincang sendiri."

Bersama Miao Tiang-hong, mereka bertiga lantas mengundurkan diri. Setelah mereka pergi baru Toan Siu-si merasa curiga, katanya kepada Beng Hoa.

"Bagaimana perbuatan Kiam-ceng selama di Thian-san, Hoa-ji, jangan kaumengelabui aku."

Beng Hoa agak bimbang, akhirnya dia mengambil keputusan bicara sejujurnya.

"Suhu, setelah Hoa-ji jelaskan kuharap kau orang tua tidak marah."

"Memangnya kau harus bicara sebenarnya, katakan saja aku tidak akan marah."

Sudah tentu Beng Hoa tidak berani bercerita secara lengkap perbuatan Toan Kiam-ceng selama ini, namun cerita ringkasnya itu sudah cukup membuat Toan Siu-si melotot gusar, gemas dan menyesal.

"Sungguh tak pernah kusangka binatang itu sudah sebejat itu. Hoa-ji kenapa tidak kau bunuh dia saja, sungguh... sungguh menjengkelkan."

Setelah amarah gurunya reda, baru Beng Hoa berkata.

"Kurasa watak Toan-toako tidak seburuk yang suhu duga, dia bergaul dengan orang jahat dan tertular berbuat jahat hingga tersesat. Untung usianya masih muda, masih ada harapan untuk memperbaiki kesalahannya."

Dalam sekejap itu wajah Toan Siu-si seperti bertambah tua sepuluh tahun, katanya lesu.

"Hoa-ji, kau memang berhati bajik, padahal perbuatan binatang itu sudah keterlaluan, untuk kembali ke jalan benar kurasa tidak mungkin lagi."

Setelah menghela napas, dia berkata lebih lanjut.

"Tapi akulah yang harus disalahkan. Dulu aku minggat dari keluarga, tidak pemah mendidik keponakanku itu dengan baik. Belakangan sudah kulihat sifat-sifatnya yang kurang baik, maka tidak pernah aku mengajarkan silat kepadanya. Mungkin karena dia tidak memperoleh apa yang dia harapkan sehingga dia tersesat bergaul dengan orang jahat. Ai, hanya dia satu-satunya keturunan marga Toan kami, sekarang dia sudah berubah sebejat itu, meski tidak berbakti aku pun menyesal dan malu pada leluhur kami."

Perlu diketahui, karena suatu tragedi di masa mudanya dulu sehingga Toan Siu-si memutuskan untuk tidak akan menikah selama hidup, maka keturunan keluarga Toan mereka hanya dia percayakan kepada Toan Kiam-ceng untuk meneruskannya.

Tan Khu-seng dan Beng Hoa tahu isi hatinya, Beng Hoa memang lugu dan rikuh, dia kehabisan akal untuk menghibur gurunya.

"Apa yang dikatakan Hoa-ji barusan memang tidak salah, keponakanmu memang tersesat oleh pengaruh luar, kita wajib menolongnya."

Perasaan Toan Siu-si sudah lebih longgar, katanya.

"Binatang itu sudah bertindak kelewat batas, yakin dia tidak akan berani pulang. Karena tiada tempat berteduh, kemungkinan dia masih bersembunyi di luar perbatasan. Hoa-ji, perjalananmu ke Sinkiang kali ini bila kau bertemu dengan dia, aku mohon kau lakukan satu hal untukku."

"Suhu terlalu berat kata, ada pesan apa silakan perintah saja, murid mana berani menolak kehendak suhu."

"Kalau kau bertemu dengan dia, kuharap kau pandang mukaku, pu-nahkanlah ilmu silatnya dan ampuni jiwanya."

"Memunahkan kungfunya?"

Seru Beng Hoa kaget.

"Hoa-ji,"

Ujar Toan Siu-si.

"aku tahu kau baik hati dan bajik, tapi menilai kejahatannya, aku hanya mohon kau mengampuni jiwanya, kurasa aku terlalu egois membelanya."

"Menurut undang-undang keluarga Toan kami, sebetulnya anak cucu dilarang belajar silat, kalau dia tidak memiliki kungfu mungkin malah bisa hidup baik, mewarisi peninggalan leluhur, menjadi putera berbakti seperti yang diharapkan ayahnya dulu."

Nadanya terasa amat tertekan dan sedih, dari sini dapat disimpulkan bahwa Toan Siu-si amat kecewa dan putus harapan ' terhadap keponakannya yang satu ini, walau dia tidak setuju pendapat sang engkoh (ayah Toan Kiam-ceng) terpaksa sekarang dia mengharap keponakannya itu menjadi manusia biasa saja.

Setelah Beng Hoa mengundurkan diri, mendadak Toan Siu-si berkata, 'Tan-heng, nona Boh ada berapa patah kata supaya kusampaikan kepadamu."

Tan Khu-seng melenggong sejenak, serunya.

"Dia... dia sudah pergi?"

"Jangan kau bersedih, sebetulnya masih ada kesempatan dan belum terlambat bagimu, kali ini kalian bisa bertemu dan berkumpul lagi setelah berpisah sekian lama, semoga kau tidak mengulang kesalahan lama lagi."

"Le-cu, apa yang dia katakan kepadamu?"

"Dia minta maaf kepadamu karena pergi tanpa pamit."

"Kenapa dia berbuat demikian?"

"Dia harus menuntut balas ke-matian ayahnya, langkah pertama dia harus mengejar Bwe-san-ji-koay, merebut dan membekuk Sin Jit-nio yang jatuh di tangan mereka."

"Aku sudah berjanji padanya untuk membantu dia menuntut balas."

"Dia pikir kau baru menjabat ciangbun, banyak urusan yang harus kau kerjakan. Tapi menurut pendapatku, sebab utama kurasa bukan lantaran alasan ini."

Tan Khu-seng diam saja, dia menenggak arak secangkir demi secangkir.

"Aku ini orang yang sudah kenyang dalam pengalaman hidup seperti ini, kukira dia panah menyinggung persoalan lama kepadamu, namun kau belum memberi pernyataan secara tegas kepadanya?"

Tan Khu-seng menghela napas, katanya menunduk.

"Apakah dia belum memahami isi hatiku?"

"Dia sudah menunggu delapanbelas tahun, kau tidak mau bicara terus terang supaya dimengerti olehnya, tak heran kalau dia merasa kecewa."

"Setelah mengalami banyak rintangan, mungkin rasa khawatirku memang berlebihan. Apalagi delapanbelas tahun sudah lampau, dan usia kami juga tidak muda lagi."

Toan Siu-si tertawa geli, katanya.

"Kau baru berusia empatpuluhan, nona Boh belum genap empatpuluh, justru saatsaatnya puber kedua, kenapa bilang sudah tua? Kasusmu kini sudah menjadi terang, lalu apa pula yang masih kau khawatirkan? Sebetulnya asal kalian sama-sama saling cinta dengan mumi, umpama ada sementara orang yang tidak tahu persoalannya menyiarkan desas-desus juga tidak perlu digubris."

Tan Khu-seng seperti menyingkap kabut hatinya, katanya tegas.

"Ucapanmu betul, aku tak boleh me-nyia-nyiakan harapannya lagi. Aku akan mencarinya. Mungkin beberapa hari lagi aku sudah bisa pergi mencarinya."

Dia memutuskan besok akan mencari seorang yang berbakat di antara murid-murid Kong-tong-pay untuk mewakili dirinya sebagai pejabat ciangbun sementara.

Lekas sekali tabir malam telah ' berlalu, fajar pun menyingsing.

Beng Hoa mohon diri kepada orang banyak.

Kedua gurunya, Kim Tiok-liu, Kim Bik-ki dan Miao Tiang-hong beramai mengantarnya turun gunung, hingga sampai di Toan-hun-gay..Sebentar lagi mereka harus berpisah, maka dengan rawan Beng Hoa berkata.

"Kim tayhiap, paman Miao, ji-suhu, sam-suhu sampai di sini saja cukup kalian mengantarku, silakan kembali saja."

Dia tidak menyinggung nama Kim Bik-ki, sementara matanya terus mengawasi pujaan hatinya ini. Tiba-tiba Miao Tiang-hong tertawa, katanya.

"Kenapa kau masih memanggil Kim tayhiap?"

Beng Hoa melongo, sorot matanya serta merta beralih ke arah Kim Tiok-liu. Dengan tersenyum Kim Tiok-liu berkata.

"Hoa-ji, aku titip anak Ki kepadamu. Kali ini dia akan ikut kau menempuh perjalanan jauh, maka kurasa hubungan kalian lebih baik diresmikan lebih dulu."

Bukan saja Kim Tiok-liu merestui perjodohan mereka, malah menitipkan putrinya kepadanya untuk menempuh perjalanan bersama, karuan bukan kepalang rasa senang Beng Hoa, saking senang dia malah berdiri menjublek.

"Anak bodoh,"

Olok Miao Tiang-hong tertawa.

"hayo berlutut dan ubah panggilanmu."

Dengan gugup dan kaku Beng Hoa menekuk lutut lalu menyembah kepada Kim Tiok-liu serta memanggil.

"Ayah"

Kim Tiokrliu tertawa lebar, katanya sambil memapahnya berdiri.

"Syukurlah aku telah menunaikan kewajiban sebagai orang tua. Oh iya, paman Miao menjadi comblang perjodohan kalian, lekas kau pun nyatakan terima kasih kepadanya."

Miao Tiang-hong tertawa, katanya.

"Aku ini kan jadi comblang sambil lalu, jangan kau sungkan kepadaku."

Lalu dia menjelaskan kepada Beng Hoa.

"Waktu bertemu dengan ayahmu di Jik-tat-bok, aku jelaskan keadaanmu sekarang kepadanya, ayahmu lantas menyinggung perjodahanmu dengan nona Kim. Dia sudah tahu bahwa Kim tayhiap diundang untuk menghadiri pertemuan di Kongtong-san ini maka dia minta aku mewakili dia melamar puterinya untukmu. Semalam hal ini kubicarakan dengan Kim tayhiap, Kim tayhiap segera menerima lamaran ayahmu. Sebetulnya aku harus memberi tahu kepadamu lebih dulu, tapi malam sudah terlalu larut, kedua gurumu juga banyak urusan yang ingin dibicarakan dengan kau, maka aku tidak mengganggu kalian. Hingga sekarang baru sempat kuberi tahu kepadamu, supaya menjadi kejutan bagimu."

Setelah Miao Tiang-hong menjelaskan, Kim Tiok-liu menyambung.

"Anak Ki, harapanmu sudah terkabul untuk apa kau tetap berada di sampingku? Hari sudah siang, lekas kau berangkat bersama Beng-toako-mu."

Merah wajah Kim Bik-ki, katanya cemberut.

"Ayah kau juga meng goda puterimu sendiri?"

Padahal semalam suntuk dia ribut dan merengek kepada ayahnya supaya diizinkan ikut Beng Hoa pergi ke Sin-kiang.

"Hoa-ji, istri mustikamu ini sejak kecil sudah aleman, terlalu binal, kuharap kau suka mengalah kepadanya. Anak Ki, Beng-toako-mu adalah orang jujur, jangan kau selalu bertindak keras kepadanya."

Kim Bik-ki cemberut pula, katanya.

"Ayah selalu menyindir, coba tanya dia apa pernah aku berlaku kasar kepadanya?"

Sepasang kekasih menempuh perjalanan jauh bersama, sepanjang jalan ini sudah tentu bukan kepalang riang gembira hati mereka.

Hal ini tak perlu diceriterakan panjang lebar.

Perjalanan yang mereka tempuh lebih cepat dari kebanyakan orang, belum genap duapuluh hari, mereka sudah mulai memasuki wilayah Sinkiang.

Panorama di padang rumput jelas berbeda dengan pemandangan di Tionggoan.

Kim Bik-ki amat senang menikmati udara yang cerah di sini, tiga hari setelah mereka memasuki padang rumput baru menemukan sebuah bukit rendah di mana terdapat sumber air mancur, airnya panas berbau belerang.

Sudah lima hari mereka menempuh perjalanan, kecuali lelah, badan mereka kotor dan lusuh maka Kim Bik-ki ingin mandi di empang yang terletak di bawah sumber air mancur yang panas itu.

Sementara Beng Hoa pergi memburu ayam hutan untuk dipanggang.

Tapi Beng Hoa tidak berani pergi jauh, siapa tahu di tempat yang sepi ada orang lain, kan berabe kalau Kim Bik-ki yang sedang mandi kepergok orang.

Maka dia memilih suatu tempat yang dapat memandang ke sekitarnya, untuk menikmati pemandangan alam.

"Tempat sesepi ini, binatang liar juga sukar ditemukan, mana mung-. kin ada manusia,"

Demikian batin Beng Hoa.

Tak nyana baru saja berpikir begitu, mendadak dilihatnya dua titik di kejauhan bergerak di antara timbunan salju yang memutih.

Walau tidak terlihat jelas, tapi Beng Hoa berani memastikan yang muncul bukan binatang tapi manusia.

Hanya sekejap dua titik hitam itu makin besar dan dekat, bentuk badan dua orang sudah mulai jelas.

Kelihatannya seorang hwesio, yang lain pengemis.

Bercekat hati Beng Hoa.

"Tidak lemah ginkang kedua orang ini."

Lekas dia bersembunyi di belakang batu serta mendekam mendengarkan suara. Didengarnya si pengemis berkata.

"Aku tahu di atas bukit itu ada sumber air mancur, kita bisa bermalam di sini dan membersihkan badan dengan segar dan nyaman."

Hwesio berkata.

"Dari sini menuju ke Duluanki harus menempuh berapa hari perjalanan?"

Logatnya terdengar kaku dan kurang fasih, jelas dia bukan bangsa Han. Mendengar percakapan mereka, tercekat hati Beng Hoa, batinnya.

"Duluanki, bukankah itu daerah kekuasaan kepala suku Uigior yang terdahulu?"

Pengemis itu menjawab.

"Masih empat hari perjalanan lagi."

"Baiklah, karena tak perlu buru-buru menempuh perjalanan, setelah bersusah payah di padang pasir, aku jadi ingin mandi untuk menyegarkan badan."

Mendengar mereka hendak mandi di sumber air mancur, Beng Hoa kaget.

Lekas dia bersiul dengan suaranya yang melengking tajam.

Tadi dia sudah berjanji dengan Kim Bik-ki, bila ada orang datang dia akan memberi tahu dengan siulan.

Siulan yang menjulang di angkasa seumpama dapat menyusup ke bumi, sudah tentu membuat kedua orang itu kaget.

Mereka tidak tahu apakah jejak mereka sudah dilihat Beng Hoa, namun dari siulan itu mereka tahu di sini mereka akan bertemu seorang kosen yang memiliki lwekang tinggi.

Mungkin kedua orang ini tidak ingin diketahui Beng Hoa bahwa mereka memiliki kungfu, segera memperlambat langkah.

Si pengemis malah sengaja berjalan tertatih-tatih dengan napas ngosngosan, langkah demi langkah memanjat ke atas bukit.

Pengemis ini sudah ubanan rambut, alis dan jenggotnya, kelihatannya sudah berusia lanjut.

Lereng bukit itu ditaburi salju yang licin, jadi tanpa jalanan yang dapat ditempuh.

Beng Hoa tahu bahwa mereka pura-pura, namun dia khawatir bila mereka terpeleset jatuh, maka dia memburu maju bantu menariknya ke atas.

Tak nyana, begitu kedua tangan mereka saling genggam, Beng Hoa ingin menariknya ke atas, mendadak terasa adanya tenaga berat yang membebani tangannya, pengemis tua ini malah hendak menyeretnya ke bawah.

Untung beberapa bulan ini Beng Hoa mencapai kemajuan pesat, lwe-kang-nya yang tangguh sudah bukan olah-olah lihaynya, cepat dia mengerahkan daya berat ribuan kati, kedua kakinya seperti tonggak yang terbenam di dalam tanah, sekali mengerahkan tenaga, akhirnya dia berhasil mengangkat pengemis itu ke atas malah.

Karuan pengemis tua ini tersirap kaget, pikirnya.

"Tak heran kedua paderi sakti dari Thian-tiok itu memuji kungfunya Belakangan ini tersiar luas berita di Kangouw, kabarnya komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja mati di tangannya, kukira kabar angin belaka, sekarang terbukti bahwa bocah ini memang luar biasa."

Pengemis ini memang tidak kenal Beng Hoa, tapi hwesio yang seperjalanan dengan dia itu ternyata pernah melihat Beng Hoa.

Tadi waktu Beng Hoa menampilkan dirinya di lereng bukit, si hwesio sudah memberi tahu kepada si pengemis.

Meski"

Kaget namun lahirnya pengemis ini bersikap tenang, katanya dengan tawa lebar.

"Anak muda, kau memang memiliki kepandaian yang hebat. Siapakah namamu, siapa gurumu? Boleh beri tahu kepadaku?"

Sengaja dia bertanya "Agaknya dia mencoba kungfuku,"

Demikian batin Beng Hoa.

Kejadian seperti ini pernah dia alami waktu pertama kali bersua dengan maling sakti nomor satu Kwi-hwe-thio dulu.

Dia mengira pengemis ini juga ingin mempermainkan dirinya, maka sedikit pun dia tidak menaruh curiga bahwa kelakuan si pengemis tadi sengaja hendak mencelakai dirinya Beng Hoa terus terang, dia memberitahukan namanya, lalu berkata dengan sopan.

"Terima kasih atas pujian cianpwe. Mohon tanya siapakah nama gelaran cianpwe?"

Pengemis itu bergelak tawa, katanya.

"O, jadi kau inilah Beng Hoa, Beng-siauhiap yang mulai menonjol di Kangouw dua tahun terakhir ini, sudah lama aku mendengar namamu, memang tidak bernama kosong. Aku ini sudah tua, tak berguna Aku she Ciong bernama Bu-ypng. Sesuai arti namaku, aku ini sudah tua, tidak berguna."

Beng Hoa menduga orang tidak menyebut nama aslinya, namun kaum persilatan tidak jarang yang menyembunyikan nama dan asalusulnya Maka dia berkata.

"Locian-pwe berkelakar, mohon tanya siapakah taysu ini...."

Hwesio yang datang bersama pengemis ini hitam, hidung besar, mata cekung, sekali pandang pun tahu kalau dia bukan orang Han. Pengemis lantas menjelaskan.

"Paderi ini adalah Tay-hu Hoatsu datang dari Thian-tiok."

Lalu dia bicara cas cis cus dengan si hwesio dalam bahasa India, lagaknya memperkenalkan Beng Hoa kepadanya.

Mau tidak mau Beng Hoa menjadi heran, tadi dia sendiri mendengar paderi ini bisa berbahasa Han, kenapa sekarang si pengemis bicara bahasa India dengan dia?

Kini dia amat-amati Tayhu Hoatsu ini, tiba-tiba terasa olehnya seperti pemah melihatnya.

"Eh, di mana aku pernah melihatnya?"

Mendadak teringat olehnya waktu ketua Lan-to-si dari Thian-tiok yaitu Yan-tam Hoatsu bersama sute-nya Si-lo Hoatsu meluruk ke Thian-san bertanding kungfu dengan Teng King-thian tempo hari, dia membawa belasan pengiring yang terdiri dari hwesio dan preman.

Tay Kiat murid terbesar Si-lo Hoatsu berjaga di luar pintu Siang-hoa-kiong, dia langsung menerjang masuk hingga Tay Kiat berhasil disengkelitnya jatuh, waktu itu beberapa orang maju membantu Tay Kiat mencegat dirinya.

Tay-hu Hoatsu ini adalah salah satu dari pencegat itu, yang juga pernah menyambut sejurus pukulannya.

Segera Beng Hoa menyapa dengan bahasa Han.

"Apakah hoatsu masih ingat padaku, bukankah kita pemah bertemu di Thian-san? Berpisah baru setengah tahun, tak nyana bersua lagi di sini. Apakah kedua paderi sakti dari Lan-to-si baik-baik saja?"

Tay-hu Hoatsu hanya mengawasi Beng Hoa dengan mendelong, pura-pura teringat tapi mengangkat kedua pundaknya, lalu cas cis cus lagi dengan bahasa India. Maka pengemis tua itu berkata.

"Dia bilang mengenalmu tapi dia tidak bisa bahasa Han, biar aku jadi penerjemah."

Memangnya sudah heran, Beng Hoa bertambah heran.

"Jelas tadi dia bisa berbahasa Han, kenapa pura-pura tidak bisa?"

Demikian batinnya.

Semula Tay-hu Hoatsu mengira Beng Hoa tidak mengenalnya.

Hari itu rombongan mereka ikut gurunya membuat onar di Thiansan, keadaan waktu itu amat kalut, dia mengira meski dirinya pemah melawan sejurus serangan Beng Hoa, namun kejadian berlangsung amat cepat, apalagi dirinya satu di antara sekian banyak orang yang mengeroyoknya, tidak menonjol seperti Tay Kiat hingga gampang dikenali, mana mungkin Beng Hoa memperhatikan dirinya?

Di luar dugaan, Beng Hoa masih ingat dirinya.

Beng Hoa tahu bahwa orang bisa bahasa Han, namun karena dia pura-pura tidak fasih, untuk menjaga tata kesopanan, terpaksa Beng Hoa menganggap dia memang tidak bisa, namun tidak dia utarakan bahwa tadi dia mendengar dia bicara dengan bahasa Han.

Maka Tay-hu Hoatsu cas cis cus dengan bahasa India, si pengemis lantas bermuka-muka menerjemahkan apa yang dia katakan.

"Guru Tay Hoatsu memang salah satu dari dua paderi sakti dari Thian-tiok yang bergelar Ci-lo Hoatsu. Dia bilang terima kasih atas perhatian kisu. Supek dan gurunya sudah kembali ke Lan-to-si, segala sesuatunya dalam keadaan baik. Dia juga bilang gurunya berpesan kepadanya bila bertemu dengan kisu supaya menyampaikan salam kepadamu."

Selesai mendengar penjelasan ini, Beng Hoa tidak ragu-ragu lagi terhadap asal-usul Tay-hu Hoatsu. Dengan tertawa Beng Hoa berkata.

"Baru setengah tahun berpisah, hari ini bertemu lagi, terhitung aku ada jodoh dengan hoatsu. Bukankah hoatsu sudah pulang ke Lan-to-si, untuk keperluan apa kembali lagi, bolehkah aku tahu?"

"Aku bisa mewakili dia menjawab,"

Ujar si pengemis.

"Dia suka melancong dan berkelana melanglang buana. Kali ini dia mengajakku untuk menunjukkan beberapa tempat untuk menunaikan ibadahnya."

Sebetulnya Beng Hoa hendak bertanya apakah mereka hendak pergi ke Duluanki, namun pikirannya tibatiba tergerak, pertanyaan itu secara langsung akan membuat mereka curiga bahwa dirinya tadi sudah mencuri dengar pembicaraan mereka.

Maka dia mengajukan pertanyaan kedua dengan harapan mendapat jawaban yang memuaskan.

"Aku punya seorang teman bernama Toan Kiam-ceng, waktu turun dari Thian-san hari itu aku melihat dia berada dalam rombongan kalian, apakah taysu tahu belakangan ke mana arah tujuannya?"

Ada satu sebab kenapa Tay-hu Hoatsu pura-pura tidak pandai bahasa Han, yaitu menghindari pelbagai pertanyaan Beng Hoa.

Demikian pula pertanyaan Beng Hoa ini, dia tidak ingin menjawabnya.

Maka dia berpura-pura menggaruk kepalanya yang gundul, katanya.

"Agaknya aku pernah melihat orang yang kau katakan, tapi dia tidak seperjalanan dengan kami, sebelum berada di lereng gunung, dia sudah menghilang entah ke mana."

Maksud, Beng Hoa hanya ingin tahu arah tujuan Toan Kiamceng, sedikit pun dia tidak mencurigai bahwa paderi Thian-tiok itu berusa,-ha melindunginya, setelah ditanya selalu dijawab tidak tahu, sudah tentu tak enak dia bertanya lagi.

Pada saat itulah berkumandang suitan nyaring dari arah sumber air, itulah suitan Kim Bik-ki.

Beng Hoa tahu dia sudah selesai mandi dan berpakaian, maka dia mengajak kedua orang itu ke arah sumber air panas.

Kim Bik-ki segera menyongsong kedatangan mereka.

Mendengar suitan Kim Bik-ki, si pengemis dan hwesio sama-sama mengunjuk rasa kaget.

Maklum sejak kecil Kim Bik-ki sudah dilatih lwekang mumi oleh ayahnya.

Walau latihan lwekang-nya belum setaraf Beng Hoa, namun cukup kokoh dan mantap, sekali didengar orang lantas tahu bahwa lwekang tingkat tinggi yang digunakan adalah dari aliran mumi.

Maka kedua orang ini menjadi was-was.

Walau taraf kepandaiannya belum setingkat dengan Beng Hoa, namun mereka yakin orang yang bersuit ini tentu tokoh Bulim kelas satu.

Tak nyana yang muncul ternyata Kim Bik-ki yang berusia lebih muda dari Beng Hoa, malah seorang gadis lagi, mereka bertambah kaget.

Setelah Beng Hoa memperkenalkan, pengemis itu bertanya.

"Nona Kim, mohon tanya, pemah apa engkau dengan jago pedang nomor satu Kim Tiok-liu Kim tayhiap?"

"Beliau adalah ayahku,"

Sahut Kim Bik-ki. Pengemis itu bergelak tawa, katanya.

"Dugaanku memang tidak meleset. Ayahnya seorang jago kosen, tak heran nona Kim memiliki kepandaian sebagus ini."

"Apakah Ciong-locianpwe kenal ayah?"

Tanya Kim Bik-ki.

"Sudah lama aku mengaguminya sayang tiada jodoh bertemu. Akan tetapi kakekmu Kim Si-ih Kim-lo-cianpwe, kami pemah bertemu sekali di masa muda dulu."

Kim Bik-ki tidak banyak bicara lagi, dia menunduk seperti memikirkan sesuatu. Mencium bau ayam panggang, si pengemis segera memuji.

"Wah, harumnya."

Beng Hoa berkata.

"Itulah ayam hutan yang berhasil kutangkap dan kupanggang, rasanya memang cukup sedap, entah Tay-hu Hoatsu berpantang makanan berjiwa tidak?"

Pengemis segera menjelaskan.

"Dia adalah paderi yang sudah lulus dalam ujian hidup, sejak lama sudah bebas dari segala belenggu, makanan pun tiada pantangan lagi."

"Syukur kalau begitu, kami dapat menjamu kalian dengan panggang ayam hutan."

Setelah kenyang makan, si pengemis menggeliat dan berkata.

"Perut kenyang badan segar sungguh nikmat. Syukur di sini ada sumber air panas."

Mendadak Kim Bik-ki bertanya.

"Konon di Tibet banyak terdapat semburan air panas, bagi Ciong-locianpwe tentu sudah biasa melihat pemandangan serupa?"

Agaknya pengemis tua ini tidak menduga bakal diberi pernyataan ini, sesaat berubah air mukanya, sesaat baru dia menjawab.

"Betul, di Tibet memang banyak sumber air panas. Aku memang pernah pergi ke Tibet, namun dua kali hanya lewat sambil lalu saja! Pernah aku melihat beberapa air mancur yang kecil, sudah biasa melihat sih tidak."

Beng Hoa menjadi heran kenapa tanpa sebab mendadak Kim Bikki bertanya soal ini, seperti sudah tahu kalau pengemis ini pernah pergi ke Tibet dan tinggal beberapa lama di sana.

Beng Hoa pernah pergi ke Tibet, maka dia lantas menimbrung.

"Hanya sekali aku pergi ke Tibet, namun aku pernah melihat air mancur yang terkenal di sana, yaitu Pek-eng-cwan, semburan airnya menimbulkan uap putih yang membumbung ke angkasa sehingga bentuknya mirip seekor elang yang pentang sayap terbang di angkasa. Keindahannya jauh lebih mempesona dibanding air mancur di sini."

"Ya, kuingat kau pernah bilang, di Pek-eng-cwan itulah kau bentrok dengan dua cakar alap-alap, betul tidak?"

"Betul, kedua cakar alap-alap itu adalah Ting Tiau-tang, pembantu kepercayaan komandan Bhayang-kari di istana raja Sat Hok-ting. Seorang lagi adalah Teng Tiong-ai yang dimutasikan dari daerah Siau-kim-jwan ke Tibet."

Pengemis itu menimbrung.

"Aku pernah mendengar nama Teng Tiong-ai, konon dia salah seorang yang ternama sebagai jago tiamhoat, mewarisi kepandaian Siang-pit-tiam-si-meh dari keluarga Lian. Di Siau-kim-jwan dia diagulkan sebagai pimpinan dari Ngo-koan. Bukankah maksud Beng-siauhiap adalah dia?"

"Betul, memang orang ini,"

Sahut Beng Hoa. Mendadak Kim Bik-ki menyela.

"Bagaimana akhirnya riwayat kedua cakar alap-alap itu?"

Kembali Beng Hoa melenggong, dia mengira Kim Bik-ki ingin dia bercerita supaya didengar oleh kedua orang ini, maka dia berkata.

"Belakangan Ting Tiau-tang mampus di rumah Kang Poh, seorang tuan tanah yang kejam di Tibet,'dia terkena jarum beracun Jian-jiukoan-im Ki Seng-in tepat di ulu hatinya, sementara Teng Tiong-ai kepergok aku di Thian-san dengan cara dia menyerang orang aku me-notok hiatto pelumpuh badannya. Waktu itu ada orang menolongnya, sekarang mati hidupnya sukar diramalkan."

Kim Bik-ki tertawa, katanya.

"Peduli mati atau masih hidup, pendek kata kedua cakar alap-alap ini tidak selamat."

Waktu Kim Bik-ki bicara, air muka si pengemis tampak berubah.

Beng Hoa tidak menaruh perhatian, namun perubahan rona muka orang tidak lepas dari pengamatan Kim Bik-ki.

Agaknya si pengemis segan bicara tentang cakar alap-alap dan air ?

mancur segala, setelah menyantap daging ayam yang terakhir, dia menyeka mulut sambil berkata.

"Beng-siauhiap, nona Kim, terima kasih akan pelayanan kalian. Kini kami sudah kenyang dan ingin beristirahat, tiba saatnya kami mohon pamit kepada kalian."

Beng Hoa melenggong, tanyanya.

"Kenapa kalian buru-buru hendak berangkat?"

Pengemis itu menjelaskan.

"Kami sudah banyak mengganggu keasyikan kalian, kami harus tahu diri."

"Ah, locianpwe menggoda. Mumpung bertemu dengan orang kosen, kami sebetulnya ingin mohon petunjuk kepada kalian."

Rona muka si pengemis berubah tidak menentu, pikirnya.

"Puteri Kim Tiok-liu agaknya sudah tahu asal-usulku. Beng Hoa hendak menahanku di sini, mungkin mengandung maksud jelek."

Kiranya dia salah paham mendengar Beng Hoa hendak mohon petunjuk kepadanya.

Dia tahu kungfunya bukan tandingan Beng Hoa, hatinya makin gugup.

Setelah basa-basi ala kadarnya bergegas dia berangkat.

Setelah kedua orang itu pergi Beng Hoa berkata.

"Adik Ki, agaknya kau kurang senang terhadap pengemis itu?"

"Apa kau tidak merasa ganjil melihat pengemis itu?"

"Ya, di tengah jalan tadi dia bilang kepada si hwesio akan mandi di air mancur sini, mereka akan menginap semalam di sini, besok baru akan melanjutkan perjalanan. Entah kenapa, mereka mendadak mengubah maksud semula."

"Terima kasih langit dan bumi, syukur mereka tidak menerima permintaanmu tetap tinggal di sini, sungguh sayang air mancur di sini akan dibuat kotor oleh mereka."

Beng Hoa berkata dengan sikap serius.

"Menilai orang tidak boleh berdasar tampangnya. Orang-orang persilatan yang aneh sifatnya memang tidak suka berdandan secara rapi, sepatutnya kita menghormatinya sebagai orang tua Satu contoh ? adalah maling sakti nomor satu Kwi-hwe-thio. Di Kong-tong-san dia banyak membantu kita, bukankah keadaannya lebih jorok dibanding pengemis tadi?"

Kim Bik-ki juga bicara dengan sungguh-sungguh.

"Tapi pengemis ini jangan kau bandingkan dengan paman Kwi-hwe-thio. Kwi-hwethio hanya kotor raganya tapi hatinya tidak kotor."

Beng Hoa melenggong, katanya.

"Betul, aku ingin bertanya, perkataanmu tadi membuatku heran. Adik Ki, apakah kau sudah tahu asal-usulnya?"

"Beng-toako, apa kau tidak merasa nama pengemis itu agak ganjil?"

"Dia mengaku bernama Ciong Bu-yong, kurasa namanya ini palsu."

"Namanya jelas memang palsu, she-nya juga palsu. Yang benar dia she Tiong bernama Bok-jong."

"Dia she Tiong? Jarang ada orang she Tiong."

"Ya, tapi dua generasi lebih tua dari kita pernah muncul seorang tokoh besar she Tiong dalam kalangan Bulim."

"Ha, maksudmu adalah Tiong Tiang-jongTiong-pangcu dari Kaypang sekte utara yang hidup empat limapuluh tahun lalu?"

"Betul, pengemis ini memang putera Tiong Tiang-jong."

"Tak heran dia bilang pernah kenal kakekmu, tapi kalau betul dia putera Tiong Tiang-jong, sepatutnya dia bukan orang jahat."

"Ucapanmu tidak masuk akal. Kau kira setiap orang seperti dirimu, ayahnya seorang pahlawan anaknya ksatria gagah? Memang tidak sedikit ayahnya seorang pahlawan anaknya pendekar sejati, tapi tidak sedikit pula yang ayahnya seorang pahlawan puteranya bajingan, atau ayah bajingan puteranya pendekar. Coba kau pikir, kalau benar Tiong Bok-jong ini seorang baik, kenapa kau justru tak pernah mendengar namanya?"

"Betul. Kalau Tiong Bok-jong seorang baik, bukan saja dia harus mewarisi kebesaran nama ayahnya, paling tidak dia termasuk tokoh Kaypang yang disegani."

"Bukan kau saja yang tidak tahu, orang-orang yang berusia lebih tua dari kita pun banyak yang tidak tahu kalau Tiong Tiang-jong punya seorang putera seperti itu."

"O, kenapa demikian?"

"Pernah kau mendengar cerita kepahlawanan Tiong Tiang-jong yang mengutamakan kepentingan umum dari kepentingan pribadi?"

"Sam-suhu pernah bercerita banyak tentang para Bulim cianpwe, tapi cerita tentang Tiong-pangcu belum pernah aku mendengarnya, coba kau saja yang bercerita padaku."

"Kaypang adalah pang terbesar di kolong langit. Waktu itu dua pangcu mereka dari sekte selatan Gi Tiong-bo sama-sama terkenal dengan Tiong Tiang-jong. Mereka adalah tokoh terkemuka dari Kaypang sejak seratusan tahun belakangan ini. Gi Tiong-bo lak pernah kawin dan tak punya anak, tapi Tiong Tiang-jong punya seorang putera, dia adalah Tiong Bok-jong itu.

"Dia beranggapan karena ayahnya seorang pangcu, maka dia yakin dirinyalah yang kelak akan mewarisi jabatan ayahnya, maka sejak kecil dia selalu mengagulkan diri sebagai siau-pangcu. Orang lain memandang ayahnya maka tidak jarang memberi kelonggaran dan mengalah kepadanya. Di mana dia berada, tak sedikit kawanan Kangouw yang suka menjilat lantas menyanjung puji dan menepuk pantatnya sehingga sifatnya menjadi sombong dan takabur.

"Tapi di antara murid-murid Kaypang sekte utara waktu itu, bicara tentang kepandaian silat dan sastra, jelas dui jauh ketinggalan dibanding seorang suheng-nya, yaitu murid kedua gurunya yang bernama Koan Ih-ting.

"Usia Tiong Tiang-jong makin tua, maka berbagai tugas dan urusan dalam Kaypang dia bagi kepada para murid dan puteranya untuk menyelesaikan. Beberapa kali dalam menunaikan tugas Tiong Bok-jong selalu mengalami kegagalan. Suatu ketika Tiong Tiangjong menyuruh puteranya pergi memberi bantuan dan menolong seorang pahlawan yang buron dikejar cakar alap-alap kerajaan, namun di tengah jalan-dia justru sibuk melayani orang-orang yang menyanjung puji dirinya sehingga terlambat satu hari. Hampir sajajiwa pahlawan itu tak tertolong. ? Jikalau sesama saudara seperguruan tidak minta ampun, waktu itu ayahnya sudah akan mengusir dan memecatnya dari anggota Kaypang."

"Koan Ih-ting seorang arif bijaksana, mengingat gurunya hanya punya seorang putera, dia tidak ingin melihat gurunya patah arang oleh perbuatan puteranya, maka sering dia membantu Tiong Bokjong secara diam-diam, tak jarang pahala yang sering dia peroleh dia hibahkan kepadanya.

"Usia Gi Tiong-bo dari Kaypang sekte selatan lebih tua dari Tiong Tiang-jong, tahun itu dia berunding untuk menyatukan kedua sekte selatan dan utara menjadi satu, karena mereka mempunyai maksud mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda, maka mereka bersepakat untuk memilih salah satu calon'dari murid-murid mereka.

"Peristiwa besar ini sudah tentu membuat-banyak murid Kaypang bergairah. Semua berteka-teki, malah tidak sedikit yang bertaruh, siapa bakal menjadi pangcu baru dari penyatuan Kaypang, yang menjadi tumpuan harapan bersama sekte utara dan selatan.

"Waktu Tiong Tiang-jong mengumumkan pilihannya yang telah disetujui oleh Gi Tiong-bo, hadirin kaget dan merasa di luar dugaan. Bukan mereka menganggap Koan lh-ting tidak memenuhi syarat untuk memegang tampuk pimpinan, sebaliknya, sembilan di antara sepuluh murid Kaypang mendukung dia, namun yang membuat mereka merasa di luar dugaan adalah jabatan pangcu tidak diturunkan kepada anak tapi diwariskan kepada murid. Terutama setengah tahun belakangan ini puteranya sudah mendirikan banyak jasa dan pahala, wajar kalau keputusan ini amat menggemparkan kalangan Kaypang.

"Ternyata Koan Ih-ting tetap memberi hati dan ingin supaya sute-nya mendapat kepercayaan, di luar tahunya bahwa gurunya sudah tahu segala seluk beluk perbuatannya.

"Koan Ih-ting menyinggung dan mengusulkan Tiong Bok-jong yang terakhir ini tidak sedikit mendirikan pahala besar bagi Kaypang, berharap gurunya suka mempertimbangkan lagi.

"Maka Tiong Tiang-jong baru membeber persoalannya. Dia bilang seorang ayah lebih jelas bagaimana keadaan puteranya sendiri, terhadap jasa-jasa yang diperoleh Tiong Bok-jong dia sudah menaruh rasa curiga. Kini dia sudah mendapat bukti, Koan Ih-tinglah yang secara diam-diam membantunya, di luar tahu dirinya menghibahkan pahalanya sendiri kepada Tiong Bok-jong.

"Setelah dia membongkar persoalan ini, sesuai tata tertib Kaypang, Koan Ih-ting diberi teguran keras, meski keputusan tetap dilaksanakan tapi Koan Ih-ting diberi peringatan dengan catatan tidak lagi melakukan kesalahan serupa. Menurut sejarah berdirinya Kaypang, baru pertama kali ini terjadi seorang pangcu mendapat teguran langsung di muka umum.

"Tapi hukuman yang diterima Tiong Bok-jong justru lebih berat dan keras, dia diturunkan derajatnya sebagai murid biasa, diserahkan kepada pelaksana hukum untuk selalu mengawasi dan menindak segala perbuatannya"

Beng Hoa tertawa katanya.

"Dapat dibayangkan betapa keadaan Tiong Bok-jong pada waktu itu, dia pasti malu bukan main, kalau ada lubang tentu dia akan menyembunyikan diri."

"Kalau dia tahu malu masih mending. Mungkin waktu itu rasa marah lebih membakar hatinya daripada rasa malu"

"Belakangan bagaimana kelanjutannya?"

"Setahun dia dikurung, dididik dan digembleng serta dicuci otaknya, baru Tiong Tiang-jong memberi ijin kepadanya ikut toasuheng-nya pergi menunaikan satu tugas. Waktu itu penyatuan sekte selatan dan utara Kaypang sudah berlangsung sesuai rencana, Koan Ih-ting menuju ke selatan untuk serah terima kekuasaan Kaypang sekte selatan ke tangannya."

H "Sejak kecil Tiong Bok-jongsu-dah terlanjur mengagulkan diri sebagai pewaris pangcu, setelah mengalami pukulan, lahir batin, meski sudah disekap dan dicuci otaknya, kurasa masih tidak rela menerima nasib jeleknya itu, apalagi mengulang dari bawah menebus kesalahan dengan perbuatan nyata?"

"Dugaanmu rriemang tepat, kali ini dia melakukan kesalahan fatal sehingga selanjutnya dia sendiri mengundurkan diri dari Kaypang.

"Murid Tiong Tiang-jong yang tertua bernama Siau Ih-can, wataknya alim dan dapat dipercaya, memang tidak sepintar dan cekatan seperti sute-nya-Koan lh-ting, namun pengalaman Kangouw-nya jauh lebih luas, maka Tiong Tiang-jong menyerahkan puteranya kepadanya.

"Tak nyana, Tiong Bok-jong merasa dihina karena dirinya direndahkan, mumpung ada kesempatan boleh keluar, di tengah jalan dia melarikan diri. Sebetulnya Siau Ih-can sudah melihat gejala yang tidak baik dan selalu waspada dan berjaga-jaga. Begitu dia melarikan diri lantas ketahuan oleh Siau Ih-can.

"Siau Ih-can mengejarnya dan membujuknya supaya kembali, bukan saja tidak mendengar nasihatnya, Tiong Bok-jong malah menusuk suheng-nya hingga terluka. Kungfu Siau Ih-can sebetulnya jauh lebih tinggi, tapi dia segan menggunakan kekerasan terhadap putera tunggal gurunya, terpaksa dia biarkan orang melarikan diri."

"Setelah mendapat berita ini, entah betapa marah dan sedih hati Tiong Tiang-jong?"

"Tapi kejadian yang lebih menyakitkan hatinya masih ada di belakang.

"Dalam perjalanan ke selatan untuk serah terima jabatan, di tengah jalan Koan Ih-ting dicegat dan disergap oleh kawanan cakar alap-alap, mereka adalah jago-jago kosen istana, kepandaiannya rata-rata tinggi, untung ada dua murid Kaypang sekte selatan sempat datang memberi bantuan baru Koan Ih-ting lolos dari ancaman elmaut. Tapi seorang diri dia berhasil merobohkan tiga jago kosen istana, dia sendiri pun terluka cukup parah, terpaksa upacara serah terima Kaypang pangcu ditunda beberapa bulan lamanya."

"Kenapa pihak cakar alap-alap tahu tentang perjalanan Koan Ihting ke selatan, padahal rahasia ini hanya diketahui beberapa orang pemimpin tertinggi dari sekte utara dan selatan, lalu siapa yang membocorkan kepada musuh?"

"Apakah bukan Tiong Bok-jong?"

"Memang dia yang patut dicurigai. Tapi tanpa bukti, apalagi orang banyak memandang muka lo-pang-cu, walau merasa curiga, tapi siapa berani mengutarakan maksud hatinya."

"Saking gusar Tiong Tiang-jong sendiri akan turun tangan sendiri menyelidiki peristiwa ini, menangkap puteranya dan menghukumnya mati, malah Siau Ih-can dan Koan Ih-ting membujuk dan menghiburnya. Dengan keras Koan Ih-ting membela sute-nya tak segan dia mendebat gurunya dengan tata tertib dan perundangundangan Kaypang, kalau hanya dicurigai tanpa bukti, tak boleh menjatuhkan hukuman semena-mena.

"Apa boleh buat terpaksa Tiong Tiang-jong mengambil keputusan ringan mengingat puteranya menusuk luka toa-suheng-nya dan melarikan diri, dosanya pantas diusir dari perguruannya, maka dia mengumumkan puteranya dipecat dari keanggotaan Kaypang disertai pesan kalau penyelidikan membuktikan benar Tiong Bokjong yang membocorkan rahasia ini ke pihak kerajaan, dengan tuduhan berusaha membunuh pangcu, dia harus dibekuk dan dihukum mati.

"Tapi sejak melarikan diri Tiong Bok-jong tak karuan jejaknya dan tidak pernah ditemukan. Tidak lama setelah Koan Ih-ting menjabat Kaypang pangcu, Tiong Tiang-jong meninggal dunia. Ternyata puteranya juga tidak pulang untuk melayat dan berkabung."

"Apakah pihak Kaypang tiada yang pernah melihat dia?"

"Benar. Mengingat budi kebaikan lo-pangcu mereka, juga mengingat keburukan keluarga malu kalau diketahui orang luar, maka sejak Tiong Bok-jong menghilang, jarang ada orang membicarakan dirinya. Lama kelamaan, jangan kata orang luar, murid-murid Kaypang dari generasi baru pun tiada yang tahu adanya manusia yang satu ini."

"Lalu dari mana kau tahu kalau dia berada di Tibet?"

"Kakek pernah melihatnya. Kejadian sudah duapuluh tahun setelah Tiong Bok-jong dipecat dari Kaypang,"

Demikian tutur Kim Bik-ki.

"Tahun itu kakek bertamasya ke Tibet. Ada dua manusia siluman dari angkatan muda yang menyebut dirinya Bwe-san-ji-koay merajalela dengan racun, karena di Tionggoan terdesak dan tahu takkan selamat, mereka lari ke Tibet. Sebetulnya tidak setimpal kakek turun tangan terhadap kedua manusia rendah ini, tapi karena sudah bertemu, memangnya kakek juga sedang iseng, maka dia memutuskan untuk membereskan persoalan ini. Dia bermaksud membekuk Bwe-san-ji-koay dan dibawa pulang diserahkan kepada kaum pendekar untuk menghukumnya."

Mendadak Beng Hoa bertanya.

"Bwe-san-ji-koay ini bukankah masing-masing-bernama Cu Kak dan Loh Ang?"

"Betul, jadi kau juga kenal mereka?"

"Mereka adalah oranjj yang menolong Sin Jit-nio. Aku tidak pernah melihat mereka, guruku yang memberi tahu kepadaku. Boh lihiap sedang mencari Bwe-san-ji-koay."

Kim Bik-ki melanjutkan ceritanya.

"Karena menguntit Bwe-san-jikoay, kakek tiba di sebuah gunung salju yang terletak di perbatasan Tibet. Sebelum menemukan jejak kedua orang beracun ini, dia keper-gok dengan Tiong Bok-jong. Ternyata Tiong Bok-jong adalah tulang punggung Bwe-san-ji-koay, dia tahu kakek hendak membekuk Bwe-san-ji-koay, tak tahu diri dia berani melabrak kakek."

Beng Hoa tertawa, katanya.

"Dengan kemampuannya yang tidak seberapa itu, berani dia bergebrak dengan kakekrnu'seperti telur membentur batu. Heran, dengan sedikit kemampuannya itu bagaimana dia bisa hidup sampai sekarang?"

"Tiong Bok-jong melawan tiga jurus, itu sebetulnya bisa membunuhnya. Tapi melihat jurus permainannya, kakek jadi tidak tega membunuhnya."

"Jadi dalam tiga jurus itu kakekmu sudah tahu asal-usulnya sebagai putera Tiong Tiang-jong?"

"Betul. Perihal perbuatannya yang bejat, orang luar jarang yang tahu. Tapi kakek bergaul erat dengan Tiong Tiang-jong dan Gi Tiong-bo, maka hal itu diketahuinya jelas."

"Bagaimana selanjutnya?"

"Setelah tahu dia adalah putera teman baiknya, sudah tentu tak tega melukainya. Terpaksa dia melanjutkan pencariannya kepada Bwe-san-ji-koay. Tapi jejak mereka susah ditemukan di pegunungan salju itu. Waktu itu Bwe-san-ji-koay hanyalah jago kelas rendah, belum setimpal disebut gembong iblis. Tiga hari kakek mencarinya tanpa hasil, terpaksa dia melanjutkan perjalanan.

"Kejadian ini, kecuali kakek memberi tahu kepada Koan Ih-ting, dia hanya menceritakan kepada ayah. Tahun lalu aku bertemu ayah di Lhasa, ayah bercerita tentang tokoh-tokoh Bulim yang ternama di daerah Tibet ini, baru dja teringat kepada Tiong Bok-jong.

"Ayah tidak tahu apakah dia masih hidup, tidak diketahui apakah dia kini berubah baik atau makin bejat, namun ayah berpesan kepadaku bila bertemu dengan orang ini supaya berhati-hati."

Beng Hoa terpekur beberapa saat, katanya.

"Kau kira dia sekarang berubah baik atau tambah bejat?"

"Memangnya perlu dikatakan, dari sikap dan tutur katanya, jelas dia makin bejat. Aku malah mengkhawatirkan satu hal."

"Apa yang kau khawatirkan?"

"Waktu kau bertanya tentang Toan Kiam-ceng kulihat Tay-hu Hoatsu itu pura-pura tidak bisa bahasa Han, sehingga si pengemis menerjemahkan, waktu itu kau tidak perhatikan, aku justru melihat sinar matanya yang jelalatan. Jelas seperti maling yang takut ketahuan, apa yang diucapkan jelas bohong belaka."

"Dan lagi kau pergi ke Thian-san bersama puteri Lohay yang bernama Lomana, umpama Toan Kiam-ceng tidak memberi tahu mereka, mereka juga bisa mencari tahu hubunganmu dengan Lohay. Kenapa hanya setengah tahun kau putar balik ke Sin-kiang? Kalau kita pernah mencurigai paderi Thian-tiok yang sibuk pulang pergi, apa salahnya kalau mereka juga mencurigai kau."

Beng Hoa sadar, katanya.

"Ya, jadi kau mengira mereka hendak mendahului kita supaya lebih dulu tiba di Duluanki, bukan mustahil mereka punya rencana jahat yang tidak menguntungkan Lohay."

"Betul. Empatpuluh tahun yang lalu Tiong Bok-jong sudah dicurigai berkomplot dengan cakar alap-alap, siapa tahu kalau sekarang dia sudah punya pangkat dan bekerja untuk kerajaan? Dia menduga kau juga akan ke Duluanki membantu Lohay melawan serbuan pasukan kerajaan, sudah tentu mereka buru-buru berangkat."

"Analisamu memang betul, betapapun kita harus waspada, baiklah mari kita juga berangkat menyusul mereka."

"Dari sini ke Duluanki kira-kira berapa hari perjalanan?"

"Kalau mereka bisa menempuhnya empat hari, kita mungkin bisa tiga hari saja. Adik Ki bukan aku memuji kau, ginkang-mu memang sudah lebih maju dibanding dulu."

"Terima kasih atas pujian seorang ahli seperti dirimu, baiklah, sekarang giliranmu mandi dulu supaya lebih segar."

Waktu itu sudah menjelang tengah malam Mereka bersiap besok pagi-pagi berangkat, biar kedua pen-jahat itu berangkat "beberapa jam lebih dulu, mereka yakin pasti dapat mengejarnya.

Setelah mandi Beng Hoa tertawa, katanya.

"Air mancur ini seperti seorang tabib, setelah berendam sebentar rasa lelah dan lesu seketika lenyap. Baiklah adik Ki, kau tidur saja, besok kita akan mengadu kekuatan lari."

Beng Hoa sendiri tidak berani tidur nyenyak, dia duduk bersimpuh dan semadi sambil menunggu fajar.

Lwekang-nya sudah mencapai tingkat tinggi, duduk semadi dalam ketenangan seperti itu, pendengarannya bisa mencapai jarak yang lebih jauh.

Malam itu aman dan tenteram tanpa kejadian apa-apa, tapi menjelang fajar dia mendengar langkah kaki orang dari tempat jauh, suaranya tertiup angin lalu.

Tapi karena jaraknya terlalu jauh, Beng Hoa tidak punya pengalaman seperti para pemburu umumnya, sekali dengar bisa membedakan langkah orang atau binatang.

Dia pikir pengemis itu tentu sudah lari jauh maka dia menduga suara itu langkah binatang.

Setelah dia membangunkan Kim Bik-ki, khawatir ditertawakan, kejadian ini tidak dia ceritakan kepada Kim Bik-ki.

Beberapa kejap setelah mereka meninggalkan air mancur, mereka harus lewat sebuah mulut gunung yang bentuknya menyerupai terompet.

Mendadak terdengar suara gemuruh, dari sebelah atas tampak sebuah batu raksasa sebesar kerbau disertai pecahan salju menggelinding jatuh dari atas.

Begitu keras gemuruh suaranya sampai tanah di mana mereka berpijak terasa bergetar.

Beng Hoa kaget.

"Celaka, terjadi salju gugur. Lekas kita lari ke tempat tinggi."

Batu besar itu menggelinding dari tempat ketinggian membentur batu-batu lain dan salju yang membeku jadi es.

Laksana bola raksasa sajaberlompatan ke bawah, kebetulan meluncur ke arah Beng Hoa berdua.

Beng Hoa membentak.

"Pergi!"

Dengan Hong-tiam-thau dua tangannya menyampuk sambil menggunakan gaya To-coan-janheng, tenaganya menyodok lalu menuntun ke pinggir hingga luncuran batu besar itu dialihkan arahnya melesat ke pinggir mereka.

Di tengah gemuruh suaranya, batu besar itu terus menggelinding ke bawah lembah.

Kim Bik-ki memuji.

"Beng-toa-ko, hebat benar Su-nio-phoat-jiankin yang kau gunakan."

Menyusul menggelinding pula batu-batu dan pecahan salju yang tak terhitung banyaknya, namun ukurannya jauh lebih kecil.

Dengan mengembangkan ginkang-nya Kim Bik-ki meluncur sambil berlompatan ke sebelah atas.

Semula batu yang menggelinding turun memang banyak, namun setelah mereka berlompatan makin tinggi, batu-batu yang menggelinding jatuh mendadak jadi berkurang.

Kim Bik-ki menghela napas lega, katanya.

"Beng-toako, aku jadi heran."

"Apanya yang heran?"

"Walaupun aku tidak pernah melihat salju gugur namun kenapa batu dan salju justru ke arah kita saja? Coba lihat, di lereng sebelah sana tiada satu pun yang bergerak."

Waktu Beng Hoa mendongak, memang batu-batu di atas puncak yang agak jauh jaraknya ternyata tidak ikut longsor, memang ada batu-batu kecil yang berjatuhan, itu karena akibat getaran keras dari gemuruh batu besar yang menggelinding tadi.

Pengalaman Beng Hoa tentang salju gugur memang tidak banyak, namun dia tahu tak mungkin salju gugur hanya terjadi dalam area beberapa tombak saja dalam pegunungan seluas ini, anehnya bila mereka berpindah tempat, batu-batu yang berjatuhan itu pun seperti sengaja mengejar mereka.

Kejadian ini memang patut dibuat heran.

Beng Hoa jadi sadar, katanya.

"Betul, pasti ada orang sengaja hendak mencelakai kita dari atas."

Segera dia menarik napas lalu melompat beberapa tombak ke sana mendadak dia menghardik.

"Tiong Bok-jong, Tay-hu Hoatsu, kuanggap kalian sebagai sahabat, kalian justru hendak mencelakai kami, apa maksud kalian? Hm, aku sudah melihat kalian, kalau berani hayo jangan lari."

Padahal dia tidak melihat mereka, dia hanya coba menggertak saja.

Serangan batin Beng Hoa memang berhasil, seseorang yang bersembunyi di belakang sebuah batu.

besar mengira jejaknya ketahuan, mengingat ginkang Beng Hoa amat tinggi dan takut dikejar, bergegas dia melarikan diri.

Tapi sambil lari masih juga dia menendang dan mendorong batu ke bawah.

Dari tempat Beng Hoa berdiri, sekilas sempat dia melihat bayangan orang yang melarikan diri, bentuknya memang mirip Tayhu Hoatsu, tapi bayangan si pengemis tidak kelihatan.

Untung salju gugur ini perbuatan manusia, akibat yang ditimbulkan tidak sedahsyat guguran salju yang sesungguhnya, namun demikian Beng Hoa harus menarik Kim Bik-ki sambil mengembangkan ginkang tinggi.

Akhirnya mereka mencapai atas gunung, namun kejadian ini cukup memeras keringat dan membuat terkejut.

Bayangan si pengemis dan Tayhu Hoatsu entah ke mana, jelas tak mungkin ditemukan.

Maka mereka melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati Taysoat-san, tengah hari ketiga, sesuai rencana mereka tiba di Duluanki.

Lohay, Lomana dan San tala melihat kedatangan mereka girang seperti kejatuhan rejeki dari langit.

Santala dan Lomana berebut menyambut Beng Hoa dengan pelukan, katanya.

"Beng-toako, kau memang dapat dipercaya, kau datang untuk menghadiri pesta pernikahan kami."

Lohay berkata.

"Pesta pernikahan mereka sudah ditentukan besok, kebetulan kedatangan kalian."

Lomana tertawa manis, katanya.

"Jangan kita ngobrol saja dengan Beng-toako, kan masih ada tamu agung yang lain."

Lalu dia membalik menghadapi Kim Bik-ki serta memeluknya, katanya tersenyum manis.

"Cici yang cantik molek, cici jangan kau sebut namamu, biar aku menebaknya, aku duga kau pasti adalah nona pujaan Beng-toako Kim Bik-ki Kim-cici betul tidak?"

Sembari bicara jari tangan menutul susu kuda lalu menulis di permukaan meja, yang ditulis adalah "Bik-ki", lalu berkata pula.

"Cici, sengaja aku minta Beng-toako mengajarkan menulis namamu, betul tidak tulisanku?"

Jengah muka Kim Bik-ki namun hatinya senang dan mesra, katanya.

"Betul kau amat pintar."

Setelah Kim Bik-ki berpehikan dengan Lomana, menyusul Santala maju ke hadapannya, seketika Kim Bik-ki menjadi gugup, pikirnya.

"Menurut kebiasaan suku Uigior setiap bertemu dengan tamu agung harus berpelukan. Kalau dia memelukku, bagaimana baiknya?"

Untung Santala sudah tahu adat istiadat orang Han, tidak memeluknya, setiba di depannya dia hanya membungkukkan badan saja. Kim Bik-ki melenggong, tersipu-sipu dia balas menghormat. Santala berkata.

"Nona Kim, besok malam kami mengadakan pesta Jagal Kambing, sudi kiranya kau dan Beng-toako ikut serta."

Khawatir Kim Bik-ki tidak tahu adat kebiasaan suku mereka, dengan jujur Lomana menjelaskan.

"Pesta Jagal Kambing besok malam diadakan untuk merayakan pernikahan kami, sebagai pengantin pria dia mengundangmu ikut serta, itu berarti menganggapmu sebagai tamu yang paling agung."

Merah muka Kim Bik-ki, katanya.

"Wah, mana berani aku menerimanya."

Lomana tidak tahu kalau jawaban Kim Bik-ki merupakan basabasi sebagaimana biasanya bagi orang Han, lekas dia berkata.

"Cici Kim, kami setulus hati mengundangmu, kalau besok kau tidak ikut serta, pesta besok malam tentu tidak semarak."

Beng Hoa tertawa, katanya.

"Sudah kujelaskan kepadanya, bukan saja dia setuju ikut serta, dia malah bilang akan menyiapkan sebuah cambuk untuk menghajarku sekerasnya."

Lomana percaya, katanya.

"Cici Kim, tidak boleh demikian. Menurut kebiasaan, terhadap pemuda pujaan-mu, cambuk hanya boleh kau pukulkan perlahan di badannya."

Karuan hadirin bergelak tawa geli.

Malam itu Lohay mengadakan pesta kecil-kecilan menyambut kedatangan Beng Hoa dan Kim Bik-ki.

Setelah pesta bubar Santala mengajak Beng Hoa beristirahat di kemahnya, demikian pula Lomana menarik Kim Bik-ki untuk tidur seranjang dengan dirinya.

Selama sebulan lebih di Thian-san tempo hari, Santala telah belajar beberapa gerakan dasar silat, niatnya masih besar, meski malam itu sudah lewat kentongan ketiga, dia masih belum mengantuk.

Tak kenal lelah dia minta petunjuk kepada Beng Hoa.

Lomana tidur seranjang dengan Kim Bik-ki, yang dibicarakan sudah tentu menyangkut urusan perempuan.

Tak lama Lomana juga menceritakan kejadian waktu Beng Hoa berada di situ dulu, tentang kisah cintanya dengan Santala serta kehadiran Toan Kiam-ceng dalam sanubarinya juga diceritakan dengan terus terang.

Tengah mereka asyik bisik-bisik mendadak Kim Bik-ki bangkit duduk.

Sekali kebut, meski dia duduk di dalam ranjang yang kelambunya diturunkan, namun dua lilin besar yang menyala di dalam kamar seketika padam.

Lomana kaget, tengah dia ingin bertanya, Kim Bik-ki sudah berbisik di pinggir telinganya.

"Jangan bersuara, ada orang datang."

Lalu dia dorong Lomana ke sebelah dalam, sementara dia tidur di bagian luar, sengaja mengatur napas dan mengeluarkan dengkuran seperti orang tidur nyenyak.

Terdengar suara lambaian pakaian, seseorang melompat turun dari atas dan tepat berhenti di luar pintu kamar tidur mereka.

Perkemahan memang tiada pintu yang dikunci, maka dengan mudah orang itu masuk.

Mendengar suara dengkuran di dalam, orang itu tampak kegirangan, sekali lompat terus menerobos ke dalam.

Dia tahu Lomana tidak pandai silat, maka tanpa takut dan bimbang dia menyingkap kelambu.

Sigap sekali Kim Bik-ki melompat bangun, ujung pedangnya bergerak menusuk sepasang mata orang.

Dalam sedetik ini orang itu belum tahu kalau Kim Bik-ki menyerang dengan pedang pusaka, sambil berkelit mundur dia berkata.

"Lomana jangan takut, inilah aku. Aku tidak akan menyakiti kau, asal kau ikut aku."

Mendengar orang ini seketika Kim Bik-ki tertegun di tempatnya.

Ternyata yang datang bukan lain adalah Toan Kiam-ceng.

Semula tusukan Kim Bik-ki menusuk mata, mendadak tahu orang itu adalah Toan Kiam-ceng, untuk memberi muka kepada Beng Hoa, dia tidak tega meneruskan serangannya maka pedangnya ditekan ke bawah menusuk Ih-khi-hiat di pinggir lambungnya.

Kini Toan Kiam-ceng juga sadar orang ini bukan Lomana, di saat pedang menusuk tiba dia menarik napas mengempeskan perut sambil bersalto ke belakang, terpaut serambut tusukan tidak mengenai tubuhnya.

Tapi seperti bayangannya Kim Bik-ki sudah menubruk tiba.

"Hm, ada sorga kau tidak mau pergi, neraka justru kau datangi. Bangsat tidak berbudi seperti engkau memang ingin kutumpas!"

Sambil membentak, pedang Kim Bik-ki bergerak lincah, dalam sejurus sekaligus dia mengincar tiga hiatto di punggung Kiam-ceng.

Dia tidak ingin membunuh Toan Kiam-ceng,5-tapi hanya ingin membekuknya hidup-hidup.

Mendengar yang datang adalah Toan Kiam-ceng, amarah Lomana seketika meluap, tanpa menghiraukan keselamatan sendiri dia membentak.

"Cici Kim, jangan kau lepaskan bangsat itu."

Mendengar teriakan Lomana baru Toan Kiam-ceng tahu yang menyerang dirinya adalah Kim Bik-ki, kagetnya bukan main, lekas ia mengembangkan kungfu yang belum lama ini dia pelajari.

Sambil membalik badan dia melancarkan Kim-na-jiu secara terbalik, jurus ini memaksa lawan menolong diri lebih dulu, betapa kejrdan kuat tenaganya, sungguh di luar dugaan Kim Bik-ki.

"Cret"

Pakaian Toan Kiam-ceng tertusuk berlubang, punggungnya juga terasa silir dingin oleh sambaran hawa pedang, namun hiattonya tidak tertotok secara telak.

Sebat sekali dia sudah menerobos ke luar.

Beberapa jurus serangan ini berlangsung dalam waktu singkat, Toan Kiam-ceng lolos dari lubang jarum.

Namun Kim Bik-ki sendiri juga terkejut heran karena mendapat perlawanan lihay dari Toan Kiam-ceng, kemajuan kungfunya di luar dugaannya.

Kalau tadi Kim Bik-ki menyerang sungguh-sungguh, Toan Kiam-ceng jelas sudah mampus di ujung pedangnya, mana sempat menyelamatkan diri.

Tapi Kim Bik-ki tidak membiarkan dia lari begitu saja, dia mengejar ke luar sambil membentak.

"Lari ke mana!"

Dengan jurus Giok-lo-toh-so kembali ujung pedangnya mengancam hiatto penting di punggung orang.

Kali ini tenaga dia kerahkan ke ujung pedang, tidak "peduli musuh terluka parah atau akan binasa.

Saat itulah dari samping dua sosok bayangan menerjang tiba.

Orang di sebelah kiri mengerjakan goloknya secepat kilat, sekaligus dia membacok tigapuluh enam jurus kepada Kim Bik-ki.

Orang di sebelah kanan jaraknya masih ada tujuh delapan langkah, langsung dia melontarkan pukulan jarak jauh ke arah Kim Bik-ki.

Untung belakangan ini Kim Bik-ki mempelajari tiga jurus Tay-simi-kiam-hoat dari Beng Hoa.

Pada saat itu dia kembangkan tiga jurus ilmu pedang itu, pertahanannya ternyata amat ketat dan rapat, hujan lebat pun takkan tembus.

Tigapuluh enam jurus bacokan golok lawan berhasil dipunahkan hanya dengan tiga jurus permainan pedangnya.

Tapi Bik-khong-ciang seorang yang lain ternyata cukup lihay, di saat Kim Bik-ki mematahkan rang-sakan golok kilat lawan, dia merasakan dadanya seperti terpukul palu, tanpa terasa dia tergetar mundur tiga langkah.

Lekas Kim Bik-ki berteriak.

"Beng-toako, lekas kemari!"

Dalam saat yang sama Toan Kiam-ceng juga berteriak.

"Lekas masuk, rebut pengantin perempuan!"

Pada saat itulah didengarnya Beng Hoa bersuit keras, teriaknya.

"Adik Ki, jangan gugup, aku datang!"

Padahal dia berada di bagian sana, terpaut beberapa kemah, namun karena lwekang-nya tinggi, bicara dengan ilmu mengirim gelombang panjang, suaranya seperti dekat.

Toan Kiam-ceng melarikan diri lebih dulu, kedua orang berkedok yang menolongnya itu segera ikut menyelamatkan diri.

Kim Bik-ki berteriak pula.

"Aku tidak apa-apa lekas kau kejar bangsat itu!"

Dia khawatir Toan Kiam-ceng masih membawa teman lain yang akan menculik Lomana, dia pikir Beng Hoa seorang cukup menandingi mereka, maka dia putar balttc menjaga keselamatan Lomana ' Di sinilah kurangnya pengalaman Kim Bik-ki, jikalau dia juga mengejar bersama Beng Hoa, Toan Kiam-ceng pasti takkan bisa lolos.

Umpama Beng Hoa melepasnya pergi, Kim Bik-ki tetap akan bertindak tegas padanya.

Kini hanya Beng Hoa saja yang mengejar, kesempatan menyelamatkan diri bagi Toan Kiam-ceng jauh lebih besar.

Beng Hoa sudah mendengar suara Toan Kiam-ceng, langsung dia mengejar ke arah suara, hanya sekejap jaraknya sudah makin dekat.

Para busu Uigior yang jaga malam juga sudah bertindak, jumlahnya ada belasan orang.

Beng Hoa berpikir.

"Kalau sekarang aku membekuknya orang-orang Uigior tentu takkan memberi ampun kepadanya Untuk membujuknya supaya insaf dan bertobat, aku harus mencari kesempatan lain bila berhadapan empat mata."

Toan Kiam-ceng berpencar dengan kedua orang berkedok itu, maka dia tinggalkan Toan Kiam-ceng, mengejar ke arah kedua orang berkedok itu.

Mungkin tahu mereka takkan menang lomba lari dengan Beng Hoa setelah jarak makin dekat, mendadak mereka berhenti serta menubruk balik.

Di tengah sambaran sinar golok dan bayangan telapak tangan Beng Hoa tertawa dingin.

"Ha, permainan golok yang cepat, sayang latihanmu masih jauh dari sempurna"

Golok dilawan permainan golok, pukulan ditandingi pukulan.

Hanya tiga gebrakan, siapa unggul siapa kalah segera kelihatan.

Orang yang bersenjata golok sekaligus membelah delapanbelas kali.

Beng Hoa hanya membalas sejurus tujuh gerakan, dalam tiga jurus sekaligus dia membacok duapuluh satu kali ke empat penjuru, permainannya masih lebih cepat dari ilmu golok lawan.

Jurus terakhir adalah Sam-coan-hoat-lun, sebelum gerakan ketiga usai dilancarkan golok besar lawan yang berat sudah dipelintirnya lepas dari cekalan.

Orang berkedok yang menyerang dengan pukulan menderita rugi lebih besar, dia hanya adu pukulan sejurus dengan Beng Hoa "Huuaah"

Darah kontan tumpah dari mulutnya.

Tapi Beng Hoa sendiri merasa agak mual, tanpa kuasa menyurut dua langkah.

Sekali gebrak dia sudah mencoba kemampuannya, lawan menderita rugi, tapi lwekang-nya juga tak boleh dipandang enteng, kekuatannya sebetulnya lebih unggul dari temannya yang bersenjatakan golok itu.

Mendadak Beng Hoa ingat seorang, baru saja dia hendak bertanya, mendadak dilihatnya dari semak berlari keluar dua ekor kuda tanpa penunggang, langsung kedua orang itu berlari ke sana serta naik ke punggung kuda dan kabur dengan cepat.

Gelagatnya mereka sudah merancang rencana dan menyiapkan jalan mundur.

Beng Hoa tak berhasil membekuk kedua orang berkedok, busu Uigior juga tak berhasil membekuk Toan Kiam-ceng.

Mereka memberi laporan bahwa Toan Kiam-ceng disambut seekor kuda danmelarikan diri.

Pemimpin busu seorang pelatih kuda yang berpengalaman, dia memberi tahu kepada Beng Hoa tentang rasa curiganya.

"Tunggangan bocah itu adalah kuda perang yang sudah berpengalaman di medan laga. Kecil, kekar dan cekatan serta kuat lari jauh, berbeda dengan jenis kuda yang kita miliki."

"Jadi maksudmu...."

"Menurut pendapatku, kuda itu dari Sujwan, bukan mustahil kuda itu dipinjam dari pembesar militer yang berkuasa di wilayah Sujwan."

Seketika Beng Hoa juga sadar, bukankah kuda kedua orang berkedok tadi juga kecil dan kekar, segera dia paham persoalannya. Setelah hilang rasa gusar Santala, dia berkata.

"Beberapa hari yang lalu kami menerima berita, kabarnya pasukan yang dahulu menduduki Siau-kim-jwan mulai dikerahkan ke Sinkiang, kini tiga ekor kuda itu muncul di sini, mungkin mata-mata musuh yang didatangkan dari Siau-kim-jwan. Selanjutnya kita harus lebih hatihati."

"Betul, aku pun berpikir demikian,"

Ujar Beng Hoa.

"Tiga orang ini tidak begitu penting, yang harus dijaga adalah pasukan besar penjajah." ' Santala gusar, katanya mengepal tinju.

"Hm, bangsa Uigior tidak mudah dihina, kalau betul pasukan penjajah berani menggempur kita, biar kita adu jiwa dengan mereka."

Setelah peristiva ini, Lohay memerintahkan memperkuat penjagaan, namun supaya tidak dipandang lemah dan takut oleh musuh, pesta pernikahan puterinya tetap diadakan sesuai rencana, malah acara tambah meriah untuk menyambut tamu agung yang datang.

Pesta pernikahan yang diadakan di siang hari jelas akan semarak, tapi perayaan di malam hari ternyata lebih ramai lagi karena pesta Jagal Kambing diadakan malam hari.

Lohay sudah menyebar beberapa penyelidik dengan menunggang kuda sejauh seratus li.

Menjelang magrib para penyelidik itu kembali memberi laporan, katanya tidak menemukan jejak pasukan besar musuh, maka pesta Jagal Kambing malam harinya lebih meriah, berpesta pora tanpa rasa khawatir, dan waswas.

Setahun yang lalu Lohay juga pernah mengadakan pesta Jagal Kambing yang dihadiri Beng Hoa, tapi pesta kali itu hanya meliputi suku Uigior saja, dibanding pesta kali ini yang diikuti suku bangsa yang ada di Sinkiarig, jelas amat besar bedanya.

Kim Bik-ki belum pernah menyaksikan dan ikut Jagal Kambing ini, di samping heran dia pun tertarik, maka tak berhenti dia bertanya dan minta penjelasan Beng Hoa.

Terdengar suara sangkakala berbunyi tiga kali, pertanda Jagal Kambing dimulai.

Ketiga ekor kambing gemuk yang sudah matang terpanggang digantung berjajar di atas pohon.

Santala berdiri tegak dalam jarak seratus langkah.

"Ser, ser, ser"

Beruntun tiga kali dia membidik putus tali penggantung itu.

Untuk perayaan lokal biasanya hanya digunakan satu ekor kambing, tapi pesta kali ini luar biasa maka sekaligus digunakan tiga ekor kambing.

Tambang yang mengikat kambing panggang hanya sebesar jari anak kecil.

Hebat memang kepandaian memanah Santala, dalam jarak sejauh itu sekaligus dia mampu membidik putus ketiga tambang pengikatnya, hadirin seketika bersorak memuji.

Permainan Jagal Kambing akan diikuti acara lanjutan yang lebih meriah.

Sesuai aturan permainan Beng Hoa mengeprak kudanya melesat di pinggir Kim Bik-ki sambil tertawa, katanya.

"Adik Ki, lekas kejar aku."

"Cis, tak usah ya, kenapa aku harus mengejarmu."

"Kita sudah resmi sebagai pasangan, tapi itu kehendak ayahmu. Aku ingin kau menyatakan isi hatimu sendiri."

Merah wajah Kim Bik-ki, katanya.

"Tak tahu malu, jangan kau menggodaku, nanti kuhajar dengan cambuk ini."

Beng Hoa tertawa senang.

"Kebetulan malah."

Segera dia mengeprak kudanya.

Tunggangan mereka pemberian Santala, lekas sekali mereka sudah meninggalkan peserta lain di belakang.

Malam itu cuaca cerah, sang puteri malam di angkasa seperti ikut menyaksikan perayaan yang meriah ini.

Beng Hoa lari di depan, dia langsung mencongklang kudanya ke dalam lekuk sebuah gunung sambil berteriak.

"Tempat ini amat indah, adik Ki, lekas kemari."

Tengah Kim Bik-ki mengeprak kudanya, mendadak dilihatnya seekor kuda dibedal kencang dari depan.

Kuda tunggangan orang di depan jauh lebih bagus dari kuda tunggangan Kim Bik-ki.

Cepat sekali kuda itu langsung menerjang lurus ke depannya.

Padang rumput seluas ini, dua kuda tak mungkin bertabrakan kalau tidak disengaja, jelas penunggang kuda ini sengaja hendak mencari perkara padanya.

"He, apa yang kau lakukan?"

Bentak Kim Bik-ki sambil menarik tali kekang.

Cepat kedatangan orang itu, tepat di depannya mendadak kudanya berhenti.

Kim Bik-ki tak mungkin menguasai kudanya lagi, mendadak penunggang kuda itu mengulur tangannya menangkap tali kekang kuda Kim Bik-ki, hebat memang tenaganya, kuda Kim Bik-ki berhasil ditahannya hingga Kim Bik-ki hampir terjungkal jatuh dari punggung kudanya Kepandaian menunggang kuda orang itu ternyata cukup hebat.

Setelah dua kuda berhenti, langsung dia tertawa lebar kepada Kim Bik-ki.

Tampak oleh Kim Bik-ki tampang orang ini seperti pantat kuali, hidungnya pesek bibirnya tebal, wajahnya jelek menakutkan.

Siapa pun yang melihatnya pasti mual dan sebal.

Tapi pemuda bertampang jelek ini justru mengenakan mantel bulu yang mahal, gagang cemeti yang dipegangnya pun dihiasi berlian, pakaiannya perlente, jelas dia bukan penggembala biasa Sambil mengangkat cemetinya Kim Bik-ki mendelik dan membentak.

"Jalan seluas ini, kenapa kau mau menabrak aku, sengaja cari perkara ya?"

Pemuda jelek itu tertawa lebar, tidak menjawab malah balas bertanya.

"Kau inikah nona Kim dari bangsa Han itu?"

Kim Bik-ki melenggong, katanya.

"Kalau benar kenapa?"

Mulut pemuda jelek itu berdecak sambil memicingkan mata, katanya.

"Toan-sute-ku bilang kau boleh dibanding Lomana, semula aku tidak percaya, ah, apa yang dikatakan memang benar."

Kim Bik-ki kaget, tanyanya.

"Apakah sute-mu bernama Toan Kiam-ceng?"

Pemuda itu bergelak tawa, ujarnya.

"Betul. Kalau begitu kau memang nona bangsa Han itu, bagus-bagus."

"Bagus apa? Apa maksudmu?"

Bentak Kim Bik-ki.

"Aku ini pangeran dari suku Jia-kek, gadis secantik bidadari seperti engkau, orang lain tidak setimpal menjadi jodohmu, kau jadi permaisuriku saja"

Kim Bik-ki gusar, cemeti diangkat.

"Tar"

Langsung dia melecut kepala orang. Tidak berkelit pemuda itu malah mengulur lehernya memapak cemetinya, katanya tertawa.

"Dugaanku tidak salah kau ternyata menyukai aku." . Seketika Kim Bik-ki sadar akan aturan permainan "nona kejar"

Mana berani dia meneruskan hantaman cemetinya di badan pemuda jelek ini?

Untung belakangan ini kungfunya maju pesat, latihannya sudah bertaraf tinggi, cemetinya berputar di atas kepala orang, sebat sekali dia sudah menarik tangan, bila tangannya bergerak lagi, cemeti sudah berubah menjadi sebilah pedang pendek.

"Aku suka batok kepalamu!"

Bentak Kim Bik-ki, dari samping dia menusuk dengan gaya miring, sehingga gerakannya mirip mengiris leher.

Walau pemuda ini kurang ajar, Kim Bik-ki tidak bermaksud membunuhnya, hanya menggertak saja supaya terjungkal jatuh baru ditanya asal-usulnya.

Pemuda ini mempunyai tenaga raksasa, kepandaiannya juga cukup hebat, lekas dia menunduk sambil mengangkat cemetinya menangkis.

Pedang Kim Bik-ki ternyata mampu ditangkis ke pinggir, katanya tertawa.

"Kalau aku mau dirimu gampang, mau kepalaku tidak mudah."

"Tak", gagang cemeti pemuda itu patah jadi dua. Baru pemuda jelek itu sadar kalau pedang lawan senjata mestika, perubahan ilmu pedangnya juga jauh di luar dugaannya. Kali ini seringai tawanya menjadi tawa kaku dan kecut. Setelah menyaksikan kepandaian orang, serangan Kim Bik-ki tidak kenal kasihan lagi.

"sret, sret, sret"

Beruntun tiga jurus serangan berantai.

Lekas pemuda itu memberosot turun ke perut kuda, untung sempat menyelamatkan diri, namun punggung terasa silir dingin.

Pedang Kim Bik-ki meyerempet punggungnya.

Kim Bik-ki melongo waktu melihat lawan roboh ke pinggir dengan badan kaku, sementara kudanya sudah lari menyingkir, namun pemuda itu tidak jatuh ke tanah, ternyata kedua kakinya bergantung di punggung kuda, dengan kepandaiannya yang lihay dia menyelamatkan diri dari tusukan pedang Kim Bik-ki.

Seperti main ayunan saja, lekas sekali pemuda itu sudah duduk kembali di punggung kudanya, teriaknya marah-marah.

"Gadis kurang ajar, untung kau tidak melukai aku."

Walau uring-uringan, tapi dia tak berani berlagak lagi. Sementara itu Beng Hoa sudah* memburu datang sambil bersiul panjang, teriaknya.

"Adik Ki, ada kejadian apa?"

Pekak telinga pemuda jelek itu mendengar siulan Beng Hoa, karuan kagetnya bukan main. Kim Bik-ki berkata "Tampang jelek ini adalah suheng Toan Kiamceng, lekas kau kejar dia."

Tapi kuda pemuda jelek itu jauh lebih bagus daripada kuda Beng Hoa, jarak mereka makin jauh dan tak terkejar lagi.

Bulan purnama cahayanya benderang, dari kejauhan Beng Hoa melihat dua ekor kuda lain muncul menyongsong kedatangan pemuda jelek.

"Apa yang mereka bicarakan kau dengar?"

Tanya Kim Bik-ki.

"Sayup-sayup saja, aku tidak tahu maksud percakapan mereka."

Sementara itu tiga ekor kuda itu sudah tak terlihat lagi dari pandangan mereka. Mendadak Beng Hoa sadar, katanya.

"Ya, kuda mereka kelihatannya pendek kecil seperti kuda-Sujwan."

"Mereka tidak memutar balik malah maju lebih jauh, apa tidak mungkin mereka mencari perkara dengan Lohay?"

Habis bicara mendadak dia mengayun cemetinya memukul Beng Hoa. Beng Hoa melenggong, serunya.

"He, kenapa kau memukulku?"

Kim Bik-ki cekikikan, katanya.

"Kau lupa sekarang masih bermain "nona kejar', sekarang permainan sudah usai. Hehehe, kau sendiri yang mendekat dan terima kupecut sekali, kan bukan aku yang mengejar dan memukulmu."

Hatinya senang karena mengambil keuntungan dari Beng Hoa. Beng Hoa memukul jidatnya, katanya tertawa.

"Iya, permainan baru diselesaikan, baru kita pulang. Adik Ki, untung kau tidak pukulkan cemetimu ke badan pemuda jelek itu."

"Ya, aku hampir saja memukulnya. Sayang dengan pedang aku pun tak berhasil membekuknya. Dia mengaku sebagai suheng Toan Kiam-ceng, kepandaiannya memang lebih tinggi."

Beng Hoa kaget, katanya.

"Apakah pemuda jelek itu juga mahir Lui-sin-ciang?"

"Bukan Lui-sin-ciang. Tapi pukulannya mengandung unsur kuat dan lemah, rasanya pelajaran lwekang tingkat tinggi. Untuk apakah bertanya hal ini?"

"Karena kau bilang dia suheng Toan Kiam-ceng, kukira dia murid Auwyang Tiong juga. Padahal Auwyang Tiong sudah ajal di Thiansan tiga bulan yang lalu."

"Kepandaian pemuda jelek itu memang aneh, rasanya bukan dari aliran silat di Tionggoan. Mungkin bocah ini mengangkat guru orang aneh dari Se-ek? Kalau benar mereka mencari perkara terhadap Lohay, kita punya kesempatan menemuinya, buat apa main terka di sini?"

Maka mereka mengeprak kuda kembali ke lapangan semula di mana tadi pesta Jagal Kambing dimulai. Belum lagi membuka mulut, Lomana dan yang lain-lain sudah menyongsong, serunya.

"Bengtoako, kami memang mengharap kau lekas pulang."

"Apakah ada seorang bertampang jelek datang kemari?"

Tanya Beng Hoa.

"Betul,"

Sahut Lomana.

"masih ada dua perwira dari kerajaan Boan-ciu mengiringinya."

Beng Hoa kaget, tanyanya.

"Di mana ketiga keparat itu?"

"Dengan aturan mereka mohon bertemu dengan ayah, katanyamau berunding urusan besar dengan ayah, sekarang sedang bicara di per-kemahan depan irii dengan ayah, Santala menemani beliau."

Timbul rasa khawatir Beng Hoa, katanya.

"Kuharap ayahmu tidak tertipu, oleh mereka."

"Oleh karena itu kami berharap kau lekas pulang. Lekas kau masuk ke sana."

"Apa aku boleh masuk bersama dia?"

Tanya Kim Bik-ki.

"Dalam kelompok suku kami kedudukan laki perempuan tiada perbedaan, kau dan Beng-toako adalah tamu agung undangan kami, kurasa aku dapat mewakili ayah menyilakan kau masuk. Tapi...."

"Tapi apa?"

Tanya Beng Hoa . gugup.

"Aku tahu kedatangan mereka tentu bermaksud tidak baik, namun mereka bilang menyampaikan selamat kepada ayah. Kecuali mereka membuat onar, mereka adalah tamu kami. Menurut aturan kami...."

"Aku tahu aturan kalian terhadap musuh pakai panah dan pedang atau golok, terhadap tamu menyuguh susu kuda dan arak anggur. Jangan khawatir, kami bangsa Han juga tahu, tata tertib dan menghormati kebudayaan bangsa lain. Asal mereka tidak berbuat kasar kami tidak akan bertindak kurang sopan."

Begitu mereka mendekati perke-mahan kebetulan Lohay sedang bicara.

"Terima kasih kedatangan tamu agung, tapi kado besar kalian aku tidak berani terima."

Dari luar perkemahan Lomana berseru.

"Ayah, Beng-toako dan Kim-cici pulang."

Dia bicara dengan bahasa suku Wana. Lohay girang, serunya.

"Lekas silakan masuk."

Bergegas dia berdiri menyongsong keluar.

Pangeran dari Jia-kek dan kedua perwira itu tidak tahu siapa yang datang, melihat Lohay sendiri menyambut kedatangan sang tamu terpaksa mereka ikut berdiri.

Beng Hoa menyingkap tenda terus melangkar?

masuk bersama Kim Bik-ki.

Begitu kedua pihak berhadapan semua berubah air mukanya..

^ Kedua perwira kerajaan ini ternyata bukan lain adalah dua dari tiga jago kosen istana yaitu Wi To-ping dan Yap Kok-wi.

Bukan hanya sekali Beng Hoa bentrok dengan mereka, dia tahu kepandaian Wi To-ping hanya setingkat di bawah Hay Lan-ja.

Kalau ditambah Yap Kok-wi kekuatan mereka memang tidak boleh dipandang enteng.

Tapi dia tidak perlu gentar karena kemampuan Kim Bik-ki sekarang sudah jauh lebih maju.

Wi To-ping bergelak tawa, katanya.

"Tak nyana Beng-siauhiap juga ada di sini, sungguh manusia hidup' di mana saja bisa bertemu."

Dingin sikap^Beng Hoa.

"Wi-tayjin, apa betul kau tidak tahu aku berada di sini?"

"Aku betul-betul tidak tahu,"

Sahut Wi To-ping.

"Betul tidak tahu?"

Beng Hoa menegas.

"Apakah LauTing-ci tidak memberi tahu kepadamu? Oh, ya, belum kujelaskan. Semalam Lautayjin sudah kemari tanpa diundang, kenapa malam ini tidak datang bersama kalian?"

Setelah melihat mereka, Beng Hoa lantas menduga, lawan yang semalam menggunakan golok itu adalah Lau Ting-ci adanya. Lalu berpikir.

"Pukulan tangan orang berkedok kedua memang tangguh, namun tidak mirip Tay-cui-pi-jiu Yap Kokwi. Ya, dia pasti pengemis tua itu."

Dugaannya memang tidak meleset, tapi Wi To-ping terpaksa membual.

"Apa? Lau Ting-ci pernah kemari? Maaf, aku betul-betul tidak tahu. Beng-siauhiap, sejak berpisah di Lhasa, tanpa terasa sudah setahun lebih, syukur hari ini bertemu lagi, sungguh menyenangkan."

Mulut bicara tangan diulur mengajak berjabatan tangan dengan Beng Hoa.

Dulu mereka pernah bergebrak beberapa kali, setiap kali dirinya tak pernah memperoleh keuntungan sedikit pun.

Tapi bicara tentang tenaga dalam, beberapa kali gebrak dulu, tenaga dalam Wi To-ping jelas setingkat lebih tinggi.

Maka kali ini dia meminjam jalan bersalaman untuk mencoba dan membuat Beng Hoa malu di depan umum.

Tak nyana begitu dua tangan saling genggam, tenaga yang dia kerahkan seperti batu dilempar ke laut, sirna tanpa bekas, sedikit pun dia tidak mampu mengukur taraf kepandaian Beng Hoa.

Mendadak"

Terasa perge-langan tangan terasa panas, berbareng tiga hiatto di tangannya yang menjurus ke Sau-yang-king-meh terasa linu pegal, saking kaget lekas dia lepas tangan.

Untung Beng Hoa tidak bermaksud melukainya.

Walau Beng Hoa lebih unggul tapi dia merasa di luar dugaan juga Dalam setahun ini kemajuan Iwe-kang yang dicapai Beng Hoa boleh dikata serba mujijat, karena mencakup ilmu lwekang Persia, Lan-tosi dan Thian-san, ternyata lawan masih kuat menahannya.

Berhadapan dengan Kim Bik-ki, pemuda tampang jelek itu menye-ngir getir dan lebih buruk lagi mimik mukanya.

Lohay segera memperkenalkan.

"Inilah Ulise pangeran dari Jiakek, inilah nona Kim Bik-ki puteri kesayangan jago pedang nomor satu Kim Tiok-liu Kim tayhiap."

Ternyata Ulise tahu kebesaran nama Kim Tiok-liu, hatinya mence-los, pikirnya.

"Kiranya puteri jago pedang nomor satu, tak heran ilmu pedangnya pun amat lihay."

Kim Bik-ki tertawa dingin, katanya.

"Tak usah diperkenalkan, aku tadi sudah bertemu."

Kikuk sikap Ulise, katanya.

"Tadi aku tidak kenal Kim lihiap, mohon maaf akan sikap kasarku tadi."

Lohay tidak tahu apa yang terjadi tadi, tak enak bertanya, lalu katanya.

"Kalian memang sudah kenal, lebih leluasa untuk bicara. Nah silakan duduk, tak usah sungkan."

Kim Bik-ki duduk bersama Beng Hoa. Melihat betapa mesra sikap muda-mudi ini timbul rasa iri dalam hati Ulise, pikirnya.

"Agaknya bocah itu adalah tunangannya, tak heran dia mengabaikan aku. Hm, aku jadi ingin tahu bocah ini punya kepandaian apa."

Dia memutuskan bila ada kesempatan dia hendak mencoba dan menundukkan Beng Hoa. Wi To-ping berkata.

"Sampai di mana tadi aku bicara? Oh, ya, tadi aku bicara tentang kiriman kadoy-ada pula sebuah kado lain yang lebih penting hendak dihaturkan kepada kelo."

Beng Hoa diam saja, tampak orang telah mengeluarkan dua buah kado yaitu sepasang gelang batu jade dan sebutir mutiara bercahaya di tempat gelap.

Kedua kado ini termasuk yang tak ternilai harganya, entah kado apa lagi yang lain.

Perlahan Wi To-ping mengeluarkan kado yang dikatakan, yaitu sebuah kotak berlapis sutera, sebelum dibuka dia berkata.

"Kelo, maaf kalau aku banyak bicara, biar kuulang sekali lagi, pembicaraan kita kali ini kuharap tidak dihadiri orang luar. Demikian pula hadiah ini tak enak kuhaturkan di hadapan orang luar."

Pangeran Jia-kek Ulise segera menimbrung.

"Betul, aku pun ingin tahu, siapa bocah she Beng ini, berdasar apa dia menghadiri pertemuan ini."

Lohay sudah gusar namun dia menekan emosi dan bersikap sopan terhadap tamu, katanya dingin.

"Kalian bertiga adalah tamuku. Beng-siauhiap juga tamuku. Dalam pandanganku kedudukan kalian sama. Wi-tayjin, aku belum memberi tanggapan pada ucapanmu tadi. Sesuai adat suku Uigior kami, aku melayani tamu yang datang, jadi pembicaraan ini bukan merupakan pertemuan rahasia. Tentang kado aku tak pernah menerima yang diberikan oleh tamuku, kotak itu tak perlu dibuka demikian pula kedua kado ini boleh kau bawa pulang."

Melihat Lohay marah, Wi To-ping tak berani bertingkah lagi, dengan tertawa dia berkata.

"Harap kelo tidak marah. Kalau Bengsiauhiap adalah tamu agungmu, biarlah dia menjadi saksi. Kado ini bukan aku yang memberikan, mungkin kau ingin tahu siapa pengirimnya bukan?"

Lohay mendengus, katanya.

"Aku tidak ingin tahu."

"Tapi tetap akan kuberi tahu, setelah kau tahu benda apa yang ada di dalam kotak boleh kau menentukan putusanmu.* Santala tertarik katanya.

"Kelo, biar dia bicara dulu, apa salahnya kita mendengar?"

"Betul, apa salahnya kau dengar penjelasanku?"

Ucap Wi Toping.

Lalu dia letakkan kotak itu di atas meja serta menekuk lututnya menyembah tiga kali ke arah kotak sutera itu, lalu dengan sikap serius dan hormat perlahan dia membukakannya.

Lohay, Beng Hoa dan lain-lain menganggap sedang melihat sulapan, semua ingin tahu permainan apa yang akan ditunjukkan.

Isi kotak itu adalah se

Jilid buku tipis yang bersampul tebal dengan permukaan sutera kuning. Dengan laku hormat, Wi To-ping mengambil buku itu lalu berkata.

"Kuucapkan selamat kepada kelo. Kado ini adalah anugerah dari baginda kerajaan Ceng yang besar. Dengan buku ini baginda memberi gelar hoan-ong sebagai raja yang dipertuan agung suku Uigior. Kau boleh memilih hari baik serta melaksanakan upacara besar serah terima anugerah ini. Menurut pehdapatku, bagaimana kalau dilangsungkan bersamaan waktu kau diangkat menjadi kelo saja?"

Sementara Lohay tidak mengambil sikap, katanya tawar.

"O, jadi mau mengangkat aku jadi raja, terima kasih akan penghargaan rajamu kepadaku. Tapi aku tahu orang Han kalian ada pepatah yang mengatakan 'Berada di rumah orang, pasti ada sesuatu maksud', mohon tanya, kalian mengajukan syarat apa?"

"Kelo ucapanmu terlalu gegabah. Baginda raja sudah menguasai dunia, apa pula yang beliau kehendaki dari engkau?"

"O, kalau demikian, jikalau aku menerima anugerah junjunganmu, menjadi hoan-ong segala, maka tanah di seluruh Sinkiang ini bakal menjadi milik raja kalian begitu?"

Wi To-ping tak mengira orang bicara sepedas ini, dengan tawa dipaksakan dia berkata.

"Itu kan hanya formalitasnya saja, setelah kau menerima anugerah, tanah kalian hanya formalnya milikraja, tapi baginda menggaris tanah mengangkat orang, jadi tanah semula tetap dikuasai olehmu. Lalu apa bedanya? Apalagi setelah kau menerima anugerah bukan saja memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, saat ini kau pun dapat menghindari bencana."

"Lho, ada bencana apa lagi? Tolong dijelaskan."

Wi To-ping membusungkan dada, katanya.

"Baiklah, aku akan terus terang saja. Pasukan besar kami sudah dikerahkan, raja kami tidak akan memberikan kalian hidup bebas sentosa."

"Nah, paham aku sekarang. Jadi kalau aku tidak tunduk pada perintah, raja kalian akan mengerahkan pasukan menggempur dan menduduki wilayah kami. Betul, ini memang bencana."

Wi To-ping mengira orang kena gertak, maka dia bicara dengan berganti nada.

"Berusaha menghindari bencana adalah kodrat manusia. Kelo seorang yang pandai berpikir panjang, kurasa tidak perlu aku banyak memutar lidah. Bila kau menjadi hoan-ong, bukan saja dapat menghindari bencana, raja kami juga akan melindungi kedudukanmu sehingga selama hidup kau disanjung dan dipuji, suku bangsa kalian akan hidup aman dan damai."

"Dalam hal ini aku jadi tidak mengerti, asal kalian tidak mengerahkan pasukan menjajah kami, kenapa harus dilindungi segala?"

"Ada gerombolan perampok yang menentang kebijaksanaan kerajaan, kini sudah mendirikan pangkalan di Jik-tat-bok, apa kau tidak tahu?"

Sampai di sini sengaja matanya melirik tajam ke arah Beng Hoa "Tahu. Tapi aku tahu dan yakin mereka pasti takkan memukul kami."

"Kuharap kau tidak percaya' ucapan mereka. Sekarang aku tak bertanya apakah kau sudah berhubungan dengan mereka, tapi satu hal perlu kuperingatkan kepadamu, jangan kena tipu muslihat mereka Hanya raja kami yang mampu melindungi kau supaya tidak diganggu oleh kawanan berandal itu."

Ulise menimbrung.

"Betul, suku Jia-kek kami sudah menerima anugerah baginda, kelak dua suku kita bergabung menjadi satu, apa pula yang harus dikhawatirkan, seluruh suku bangsa di wilayah ini pasti tergenggam di tangan kita. Ayah malah bilang ingin mengangkatmu menjadi bengcu para suku yang lain itu."

Lohay berusaha menekan emosinya, setelah apa yang ingin diketahui sudah diketahui, baru dia berkata dengan suara berat.

"Sudah cukup penjelasan kalian? Sekarang giliranku bicara."

"Wi-tayjin, tolong tanya kau ini orang Han atau bangsa Boan?"

Lohay mengajukan, pertanyaan kepada Wi To-ping. Pertanyaan yang tak dibayangkan oleh Wi To-ping, dia jadi gugup, katanya.

"Kelo, apa maksud pertanyaanmu?"

"Melihat tampangmu kau ini pasti orang Han, namun tutur katamu tidak mirip kalau kau ini orang Han. Aku jadi bingung sebetulnya kau ini bangsa apa? Maka perlu aku minta penjelasanmu."

Apa boleh buat terpaksa Wi To-ping berkata.

"Aku dengan Yaptay-jin ini adalah orang Han, kenapa?"

"Dalam bangsa Han pernah muncul orang bernama Go Sam-kui, konon dahulu dialah yang memancing dan menuntun orang Boan menyerbu ke Tionggoan, betul tindak?"

Berubah air muka Wi To-ping, sesaat dia berdiri melongo tak tahu bagaimana harus menjawab. Lohay berkata lebih lanjut.

"Tentang kejadian ini aku kurang jelas, sudi kau ceritakan kepadaku?"

Wi To-ping tak tahan lagi, air mukanya merah padam, katanya gusar.

"Apa sangkut pautnya Go Sam-kui dengan pembicaraan ini?"

"Kenapa tidak ada sangkut pautnya? Kabarnya setelah Go Samkui membawa pasukan Boan masuk ke Tionggoan, dia pun diangkat menjadi hoan-ong, betul tidak?"

"Betul,"

Sela Yap Kok-wi.

"dia diangkat sebagai Ping-se-6ng."

"Akhirnya? Aku ingin tahu bagaimana Go Sam-kui selanjutnya?"

"Persoalan kau ulur semakin jauh dari pembicaraan kita,"

Tukas Wi To-ping.

"Kurasa tidak. Memang sedikit buku yang pemah kubaca, tapi sejarah yang pernah terjadi harus bisa kubuat cermin untuk mengkaji apa yang harus kulakukan. Raja kalian mau mengangkat aku menjadi hoan-ong, maka aku perlu tahu bagaimana nasib dan riwayat hidup Go Sam-kui yang juga pemah mendapat anugerah itu, baru bisa kubuat patokan untuk mengambil keputusan apakah aku pantas menerima anugerah itu."

Cukup pedas sindiran Lohay, hampir meledak amarah Wi Toping, tapi mengingat Beng Hoa juga hadir, tak berani dia mengumbar adat.

"Beng-siauhiap, mereka tidak mau menceritakan, kau tentu jelas, tolong kau saja yang menuturkan."

"Go Sam-kui membawa pasukan Boan menjajah Tiongkok. Setelah kerajaan Ceng kokoh dan tahta Kong Hi sang raja tak tergoyahkan, Kong Hi mulai mencopot segala gelar raja dengan maksud mencopot gelar raja Go Sam-kui dan dua pengkhianat bangsa Han lain yang juga diangkat menjadi hoan-ong yaitu Pinglam-ong Siang Kho-khi dan Ceng-lam-ong Kheng Tiong-bing. Terpaksa Go Sam-kui angkat senjata memberontak kepada kerajaan. Pasukannya hancur lebur dan dia mati merana, cucunya Go Si-hoan mewarisi jabatannya namun pasukan Ceng terus mendesaknya hingga dia bunuh diri di kota Gun-bing. Selanjutnya sembilan keturunan keluarga Go dibunuh seluruhnya."

"Wah, kasihan. Begitu mengenaskan nasib Go Sam-kui. Kalau demikian tidak enak menjadi hoan-ong segala"

Wi To-ping menekan perasaan, katanya "Kelo, semoga tidak terpancing oleh hasutan manusia rendah yang tidak kenal budi, pikirlah lebih cermat baru memutuskan."

"Siapa itu manusia rendah, lalu siapa yang kuncu, aku mohon petunjukmu,"

Desak Lohay keren. Wi To-ping melotot kepada Beng Hoa. Walau amat membenci Beng Hoa tapi dia tidak berani bentrok secara langsung, terpaksa dia berkata.

"Kelo rasanya kau sendiri juga sudah mengerti."

"Betul, meski pengetahuanku kurang, tapi perbedaan antara siaujin dan kuncu masih dapat kupahami,"

Demikian ejek Lohay.

"Orang yang akan mendorongku ke jalan kematian, membujukku dengan mulut manis dan pengertian dangkal, orang macam demikian aku yakin dia adalah siaujin."

Pucat lesi wajah Wi To-ping karena ditelanjangi sedemikian rupa, namun dia tetap tak berani mengumbar amarah.

"Kelo,"

Sela Ulise dengan mengeraskan kepalanya.

"ayah mengutusku kemari, sebetulnya mengharap suku Uigior kalian bersatu padu berjuang bersama melakukan kerja besar. Kuharap kau menerima nasihat dan petunjuk Wi-tayjin, pikirlah lebih masak."

"Semula aku memang belum bisa berpikir jernih, tapi sekarang aku sudah membedakan tegas. Aku pasti takkan menjadi G6 Samkui-nya suku Uigior. Memang manusia mempunyai cita rasa dan keinginannya masing-masing, kalau ada orang yang tidak takut mengalami nasib yang pernah menimpa Go Sam-kui dan meniru apa yang dilakukan Go Sam-kui, terserah kepadanya"

"Kelo,"

Seru Ulise gusar.

"dengan maksud baik aku membujukmu, kenapa kau pun memaki aku juga?"

"Lho, jadi kau juga tahu bahwa Go Sam-kui adalah orang jahat, pengkhianat yang pantas dicaci orang? Tapi aku kan tidak memaki kau, aku hanya memberi peringatan kepadamu, peduli kau ingin jadi manusia macam apa, terserah kepadamu sendiri."

Tahu persoalan sudah menjadi runyam, tapi Wi To-ping masih punya cara terakhir untuk menolong situasi yang beku ini, terpaksa dia main gertak dan ancam.

"Kelo, kau jangan lupa, dalam waktu singkat pasukan besar kami bisa segera tiba di sini."

"Bagus, jadi kau, menantang secara terbuka kepadaku? Aku terima tantanganmu."

Sambil bicara dia robek hancur buku anugerah yang memberi pengangkatan dirinya sebagai hoan-ong, menyusul dia lemparkan sepasang gelang dan mutiara itu ke arah Wi Tp-ping. Kata Lohay lebih lanjut.

"Lima-puluh tahun yang lalu pasukan kalian pernah memukul kami, tidak sedikit rakyat kami yang jadi korban. Waktu itu aku masih kecil, tidak mampu menuntut balas. Kini' kalian mau memukul kami lagi, inilah kesempatan kami untuk menuntut balas dendam lama, hayolah bawa kemari pasukanmu.

"Di antara orang Han ada manusia jahat seperti dirimu, untunglah ada juga orang baik seperti Beng-siauhiap. Ketahuilah, Beng-siauhiap adalah duta yang diutus oleh apa yang kalian katakan berandal. Aku sudah memutuskan untuk berserikat dengan pasukan gerilya yang berkedudukan di Jik-tat-bok, kami sudah siap melawan serbuan tentara raja kalian. Boleh kau pulang dan memberi tahu rajamu."

Wi To-ping sudah menduga kehadiran Beng Hoa di sini pasti diutus pihak laskar gerilya, namun dijelaskan langsung dari mulut Lohay, bobotnya terang berbeda.

Saking kaget mukanya pucat bibir gemetar.

Terpaksa dia mengiakan berulang kali lalu menyimpan kedua kado itu dan mohon diri kepada Lohay.

Teringat kejadian semalam, di mana Lomana hampir saja diculik, rasa gusar Santala belum padam, katanya.

"Kalian orang-orang ini lebih pantas disebut berandal, kelo mau bebaskan mereka pergi begini saja?"

"Kita tetap harus menjaga tata krama, kali ini biarlah mereka pulang,"

Kata Lohay, lalu berpaling kepada Ulise.

"Sudah turun temurun hubungan suku Jia-kek baik dan rukun dengan suku Uigior kami. Sampai detik ini kau masih kuanggap sebagai tamu kami, kuharap kau tahu diri dan berpikir lebih mendalam."

Nasihat Lohay dalam maknanya, tapi Ulise mengira Lohay masih menaruh rasa jeri padanya, katanya sombong.

"Aku tahu bagaimana aku harus bertindak. Terima kasih akan pelayananmu, selamat bertemu."

"Baiklah, semoga kita tidak bertemu di medan laga Kalian antarkan tamu-tamu ini."

Beng Hoa menemani Santala mengantar Ulise keluar perkemahan, sikapnya dingin dan acuh terhadap Wi To-ping dan Yap Kok-wi.

"Santala"

Kata Ulise.

"sebetulnya kau pun bisa menjadi pangeran seperti aku, sayang kedudukan ^sebaik ini kau buang percuma"

Santala menarik muka, katanya "Berani kau bicara demikian lagi, maaf, aku tidak akan menganggap kau sebagai tamu lagi."

Ulise menyengir, katanya "Baiklah, setiap manusia punya tujuan sendiri, terserah apa kehendakmu."

Habis memberi salam kepada Santala, mendadak dia membalik terus memeluk Beng Hoa Berpelukan sebagai tanda persahabatan memangnya adat kebiasaan suku bangsa wilayah Sinkiang.

Tapi Ulise meminjam kesempatan ini ingin membanting Beng Hoa.

Maklum kecuali mendapat didikan kungfu dari seorang lihay, selama ini dia pun jago gulat nomor satu di dalam sukunya.

"Senang aku berkenalan dengan teman baru seperti kau,"

Mulut bicara Ulise mengerahkan tenaga kedua lengannya, dengan teknik bantingan pundak dia ingin menjatuhkan Beng Hoa supaya patah tulang dan terluka parah.

Di luar tahunya Beng Hoa pernah meyakinkan Can-ih-cap-pwetiat lwekang tingkat tinggi, makin besar tenaga yang dikerahkan lawan, reaksi tenaga membalik yang timbul juga makin besar.

Terdengar "BUik"

Tahu-tahu Ulise sendiri yahg terlempar jatuh setombak jauhnya, kedua lututnya menjadi lemas, kontan dia jatuh berlutut. Beng Hoa tertawa lebar, katanya.

"Wah, wah, kau ini seorang pangeran, kenapa memberi hormat sebesar ini, mana aku berani terima."

Wi To-ping kaget sekali, bergegas dia maju menarik Ulise.

Melihat orang tidak terluka legalah hatinya, namun dalam hati dia merasa kesal karena Ulise mencari gara-gara, dia takut kalau terjadi bentrokan langsung dengan Beng Hoa.

Lekas dia berkata.

"Bengsiauhiap, walau kita punya junjungan masing-masing, tapi jangan kau lupa, kami adalah utusan kerajaan. Lohay kelo sudah berjanji membebaskan kami pulang."

"Hm, takut apa, kapan kami pernah ingkar janji, kau kira kami seperti kalian yang tak pernah bisa dipercaya?"

Lega hati Wi To-ping, katanya.

"Perang mulut sudah jamak, maaf kalau tadi kami bicara agak keras. Beng-siauhiap, terima kasih, kami mohon pamit."

"Ada beberapa patah kata perlu kusampaikan kepada kalian. Malam ini kupandang muka Kelo maka aku ampuni kalian. Tapi setelah malam ini, di mana saja, kalian sudah bukan lagi sebagai utusan raja, Ulise juga bukan tamunya lagi. Kalau terbentur lagi di tanganku, aku tidak akan sungkan dan akan bertindak tegas."

Mendengar janjinya, lega hati Wi To-ping, katanya tertawa.

"Sudah tentu, kelak kita berhadapan di medan laga, kau tidak memberi kelonggaran kepadaku, aku pun tidak akan mengampuni jiwamu."

Khawatir Beng Hoa berubah haluan, buru-buru mereka naik kuda terus dike-prak pergi. Begitu Beng Hoa dan Santala tiba di dalam kemah, Lohay lafttas berkata.

"Sekarang urusan sudah beres, Santala pergi kau umumkan, muda-mudi boleh meneruskan pesta dengan lebih meriah."

"Kelo,"

Kata Beng Hoa.

"sungguh senang mendengar caci makimu terhadap mereka."

Lohay tertawa, katanya.

"Aku pun harus berterima kasih kepadamu. Untung ada kau di sini membesarkan nyaliku. Sudahlah, kau dan nona Kim tentu belum puas bermain, pergilah meneruskan acara."

Tapi Beng Hoa sudah tidak berminat ikut bermain lagi, setelah Santala mengumumkan perintah kelo, dia bertanya kepada Santala.

"Kalian bisa tidak memilih dua ekor kuda jempolan yang dapat mengejar tiga ekor kuda ketiga bangsat itu?"

Santala melenggong, katanya.

"Untuk apa kau minta dua ekor kuda kilat?"

Beng Hoa tertawa, katanya.

"Sekarang sudah kentongan keempat, tak lama lagi fajar akan menyingsing"

Santala paham, katanya.

"Betul. Bersama Kim lihiap kau ingin mengejar tiga bangsat itu?"

"Ya, tidak jadi soal kedua cakar alap-alap itu melarikan diri, tapi aku harus menawan pangeran Ulise."

Santala berkata.

"Ulise memang patut diajar adat, tapi kulihat ayah mertua masih mengharap dia sadar dan berbalik ke jalan yang benar, kau ingin...."

"Jangan khawatir, aku bukan ingin membunuhnya, tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadanya. Nanti kalau sudah beres, waktu kembali akan kuceritakan kepadamu."

Setelah berpikir Santala berkata.

"Sukar ditemukan di antara kuda kami yang dapat mengungguli kuda mereka, tapi...."

"Tapi apa?"

Tanya Beng Hoa, timbul harapan dalam hatinya.

"Kuberi tahu jalan pendek yang dapat mencegat mereka di sebelah depan." ---ooo0dw0ooo---SEMENTARA itu, Wi To-ping bertiga mencongklang tunggangan mereka dengan kencang. Menjelang fajar mereka yakin sudah meninggalkan daerah kekuasaan Lohay, baru lega hati mereka. Yap Kok-wi berkata.

"Semalam sungguh berbahaya. Tak nyana Lohay berani melawan kebijaksanaan baginda raja. Beng Hoa bocah itu juga ada di sana. Waktu itu aku agak khawatir, kalau mereka sengaja menahan mungkin kita tak bisa pulang."

Ulise berkata uring-uringan.

"Kukira kungfu kalian amat lihay, ternyata kalian takut menghadapi bocah she Beng itu. Kalau demikian aku akan memanggil suhu untuk membesarkan hati kalian."

Merah dan panas muka Wi To-ping, katanya.

"Kungfu bocah itu memang hebat, tapi bukan kami jeri padanya. Tapi pangeran harus tahu, semalam kita berada di markas besar musuh, bagaimana juga orang gagah tak kuat melawan orang banyak."

"Jadi aku harus menelan pil pahit kekalahanku semalam. Begitu?"

"Pangeran tak usah marah, kelak cami akan menuntut balas sakit talimu,"

Ujar Wi To-ping.

Sampai di sini pembicaraan mereka mendadak tampak dua ekor kuda mencongklang datang dari depan.

Penunggangnya adalah muda-mudi, siapa lagi kalau bukan Beng Hoa dan Kim Bik-ki?

Ternyata kuda mereeka lari cepat, lewat jalan pendek lagi, maka berhasil mencegat mereka.

Bukan main kaget hati Wi To-ping, Ulise juga gugup, namun mulutnya menjengek dingin.

"Wi-tayjin, baru saja kau bermulut besar, kali ini kuserahkan kepadamu untuk menghadapi mereka."

"Untuk apa kalian kemari?"

Bentak Wi To-ping.

"Yang jelas bukan untuk mencegat kalian pulang. Kalau tahu diri lekas berhenti aku ingin bicara."

Wi To-ping menghentikan tunggangannya, bentaknya.

"Beng Hoa, kau ingkar janji?"

"Coba pentang matamu, mentari sudah keluar. Tempat ini sudah lebih dari seratus li dari markas kelo. Kau kira kalian masih tetap tamu kelo?"

"O, jadi kelo takut kami memberi laporan kejadian semalam maka dia menyuruh kau mencegat kami supaya pasukan besar kami tidak menyerbu datang, begitu?"

"Jangan kau memancing amarahku, memangnya kau kira kelo takut perang? Kedatanganku di luar tahunya, aku sendiri yang ingin bicara dengan kalian. Kalau tidak terima boleh kau berurusan denganku."

"Bocah she Beng, bukan aku takut padamu, tapi aku harus lekas' pulang memberi laporan, tak ada tempo bergebrak dengan kau. Kalau betul omonganmu, Lohay tidak takut perang, berani kau biarkan kami pulang menyampaikan tantangannya? Kelak boleh kita tentukan sua-tu waktu dan tempat untuk bertanding satu lawan satu."

Beng Hoa punya tujuan lain, setelah menakuti Wi To-ping, baru dia berkata.

"Baik, kali ini kau boleh pulang, tapi seseorang harus kau tinggalkan di sini."

"Siapa yang akan kau tahan?"

Tanya Wi To-ping. Beng Hoa menuding Ulise, katanya.

"Dia tidak terhitung utusan kerajaan, juga tak perlu mengiringi kalian pulang memberi laporan, silakan tinggalkan dia saja."

Ulise kaget dan takut, lekas dia mengeprak kudanya melarikan diri. Beng Hoa berteriak.

"Jangan kau takut, aku hanya ingin tahu satu hal, tak bermaksud jelek kepadamu."

Sudah tentu Ulise tidak percaya, sementara Beng Hoa bergebrak dengan Wi To-ping dan Yap Kok-wi, dia mengeprak kudanya lebih dulu. Beng Hoa khawatir orang lolos, dia berseru.

"Adik Ki, kau kejar dan tahan dia, biar kugebah kedua keparat ini."

Kim Bik-ki yakin Beng Hoa mampu melayani kedua lawannya, sambil mengiakan dia juga mengeprak kudanya mengejar beberapa li jauhnya Ulise mengira dirinya sudah selamat, mendadak didengarnya derap kuda memburu tiba Waktu dia menoleh, dilihatnya hanya K"im Bik-ki seorang yang mengejar tiba di belakangnya MakaHjlise berteriak.

"Sekarang tidak bermain 'kejar nona' lagi, untuk apa kau mengejarku?"

Kim Bik-ki gusar, katanya.

"Kupandang muka Lohay kuanggap kau sebagai tamunya berani kau cerewet biar kuhajar kau."

Cepat sekali kuda Kim Bik-ki sudah mengejar tiba.

"Sret"

Pedangnya menusuk muka Ulise.

Lekas Ulise mencabut goloknya menangkis, tapi hanya belasan jurus "Trang", tahu-tahu goloknya tertabas kutung oleh pedang mestika Kim Bik-ki.

Panas dan pedas muka Ulise kena cambuk Kim Bik-ki.

Kejap lain dia sudah tersabet lagi dan ditarik jatuh dari punggung kuda.

Kim Bik-ki segera berteriak.

"Beng-toako, aku sudah berhasil, lekas kemari."

Wi To-ping dan Yap Kok-wi mengira setelah kurang seorang lawan, mereka dapat menyelesaikan pertempuran secara cepat, tak nyana kiamhoat Beng Hoa sungguh amat lihay, satu lawan dua ternyata masih mampu mendesak.

Mendengar Ulise tertawan, hati mereka bergetar, tanpa berjanji sudah timbul hasrat untuk melarikan diri, bergegas mereka mengeprak kuda terus melarikan diri.

"Hari ini kubiarkan mereka pulang, kalau tidak kapok boleh kalian menjadi Go Sam-kui kedua, bawalah pasukan kerajaankemari."

Habis mengancam Beng Hoa mengeprak kudanya menyusul Kim Bik-ki.

Di saat kudanya berlari kencang itulah, mendadak didengarnya sebuah suitan panjang datang dari arah Kim Bik-ki.

Beng-Hoa kaget, pikirnya.

"Entah siapa memiliki lwekang setangguh ini. Dari nada suaranya agaknya setanding dengan kekuatan Say-cu-hong paman Miao, tapi lwekang-nya tidak semurni yang diyakinkan paman Miao."

Sementara itu Kim Bik-ki sedang mencari keterangan dari Ulise, dia mengaku Toan Kiam-ceng benar adalah sute-nya, tapi pertanyaan lain dia selalu menjawab tidak tahu. Kim Bik-ki merijengek.

"Jejak Toan Kiam-ceng kau tidak tahu, tapi siapa gurumu masa kau tidak tahu?"

Setelah bergebrak semalam dengan Toan Kiam-ceng, Kim Bik-ki heran akan kemajuan kungfu yang dicapai Toan Kiam-ceng, maka dia ingin tahu siapa guru baru yang mendidiknya.

Pada saat itulah mendadak berkumandang suitan keras memekakkan telinga seperti gerungan singa.

Mendadak Ulise berteriak keras.

"Suhu, lekas kemari, tolong aku."

Belum habis dia bicara, tampak seorang paderi asing berperawakan tinggi besar sudah muncul di depan Kim Bik-ki.

Jari tangannya sebesar kipas terpentang menjulur datang, sekali raih dia menarik Ulise.

Kim Bik-ki tidak bermaksud menyandera Ulise, maka dia tidak merintangi paderi asing itu menariknya, tapi gerak aneh dan kecepatan paderi ini membuatnya kaget juga Pikirnya.

"Kungfu paderi asing ini jelas lebih tinggi dari aku, umpama aku merintangi juga takkan berhasil."

Setiba di samping gurunya, Ulise segera mengadu.

"Suhu, budak ini menghinaku, lekas kau bekuk dia"

Paderi itu tertawa lebar, katanya.

"Kau tertarik pada nona ini? Khawatir dia adalah bakpao yang masih panas untuk kau rasakan nikmatnya. Tapi kalau kau ingin, gurumu sih boleh membantu kau. Biar kupunahkan dulu kungfunya, baru kube-kuk dan kuserahkan kepada kau."

Di tengah gelak tawanya, mendadak paderi itu sudah maju ke depan Kim Bik-ki sambil mengulur telapak tangannya yang besar me-nyengkeram batok kepalanya.

Berdiri tegak alis Kim Bik-ki saking gusar, dengan gerak langkah yang lincah pedangnya beruntun menyerang tiga jurus.

Tiga jurus serangannya menggunakan Tui-hong-kiam-hoat ajaran Thian-san-pay, sungguh lihay dan keji.

Tapi tenaga si paderi ternyata besar luar biasa.

Di bawah tekanan angin pukulannya, ilmu pedang Kim Bik-ki yang lihay itu ternyata mati kutu.

Mendadak didengarnya paderi itu menghardik.

"Lepas pedang!", kelima jarinya bagai cakar garuda mencengkeram pergelangan tangan. Di tengah sambaran sinar pedang dan bayangan telapak tangan, Ulise yang berdiri di samping tidak sempat melihat jelas, mendadak dua bayangan orang melompat terpisah. Cengkeraman paderi asing luput, ternyata Kim Bik-ki sudah berada di belakangnya. Kepandaian sejati Kim Bik-ki memang bukan tandingan si paderi, namun ginkang yang diyakinkan adalah Menyelinap di Antara Kembang Mengitari Pohon, jauh lebih dari cukup untuk mempertahankan diri. Gerakan memutar dan menyelinap yang dilakukan memang amat menakjubkan, tahu-tahu lawan kehilangan bayangannya, jangan kata, hanya Ulise yang kaget dan bingung, paderi asing itu pun meleng-gong heran. Serasa kabur pandangan Ulise, tahu-tahu dilihatnya Kim Bik-ki sudah di belakang gurunya, saking kaget dia menjerit.

"Suhu, awas, budak itu di...."

Terdengar paderi itu tertawa dingin.

"Jangan khawatir, budak ini takkan lolos dari tanganku."

Seperti tumbuh mata di belakang kepalanya, mendadak jarinya menjentik ke belakang.

"Tring"

Pedang mestika Kim Bik-ki berhasil dijentiknya pergi. Paderi itu menyeringai, katanya.

"Bagus, buktikan saja berapa jurus nona ini kuat melawan?"

Dengan langkah lebar dia memburu maju.

Kim Bik-ki tahu kejadian tadi hanya kebetulan saja karena lawan memandang enteng dirinya, pengalaman tidak boleh terulang kalau tidak mau celaka.

Tapi dia tetap mengembangkan ketangkasan gerak tubuhnya untuk menghindar.

Untunglah di saat dia mulai terdesak, Beng Hoa datang.

"Harap berhenti sebentar, aku mau bicara,"

Seru Beng Hoa. Jelas paderi itu akan bisa menangkap Kim Bik-ki, mana dia mau mendengar ocehan Beng Hoa? Jengeknya.

"Bocah busuk, kau ini barang apa berani main perintah kepadaku? Kalau ingin mampus, hayolah maju sekalian!"

"Adik Ki, kau mundur saja,"

Ucap Beng Hoa.

Sembari bicara dia bergerak maju, pedang dan telapak tangan bekerja mewakili Kim Bik-ki menyambut serangan lawan.

Begitu telapak tangan mereka beradu, terdengar suara ledakan bagai guntur.

Beng Hoa mundur beberapa langkah dan beruntun berputar dua kali baru berdiri tegak.

Tapi paderi itu juga tidak mendapat keuntungan, ruginya malah lebih besar.

Bukan saja dia sempoyongan hampir jatuh terjerembab, kasa di bagian dadanya juga berlubang sebesar mata uang tembaga oleh tusukan pedang Beng Hoa.

Baca Juga: Badai Awan Angin Pendekar Sejati 8

Baca Juga: Rahasia Benteng Kuno 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger