Eps 11 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
Kekalahan begitu runyam, kalau tidak bunuh diri sepantasnya mengaku kalah, namun bola matanya malah mendelik merah, seperti kerbau gila mendadak dia menerjang ke arah Beng Hoa.
Beng Hoa tertawa dingin, katanya.
"Agaknya kau belum terima kalah, biar kau kenal betapa lihaynya Tay-si-mi-kiam-sek dari Thiansan-kiam-hoat."
Tay-si-mi-kiam-hoat adalah salah satu ilmu pedang Thian-sanpay yang paling ruwet, mendalam dan sakti.
Mendengar Beng Hoa akan mengembangkan kiamhoat yang menakjubkan ini, jago pedang yang hadir membelalakkan mata menonton dengan penuh perhatian.
Tampak Beng Hoa bergerak lambat seperti ujung pedangnya sangat berat, menuding ke timur menggaris ke barat, meski lambat namun gerak pedangnya bersambung, selintas pandang seperti tidak karuan, juga amat makan tenaga.
Kelihatannya Tay-si-mi-kiam-hoat kebetulan berlawanan dengan Tui-hong-kiam-hoat.
Tui-hong-kiam-hoat lincah seperti angin, cepatnya seperti kilat, lincah dan gemulai, sebaliknya Tay-si-mikiam-hoat berat lamban, gerak pedangnya seperti orang bodoh menari.
Kecuali beberapa tokoh silat tingkat atas yang betul-betul mahir dalam ilmu pedang, banyak hadirin yang tidak percaya bahwa Taysi-mi-kiam-hoat yang hebat dan lihay dari Thian-san-kiam-hoat ternyata begitu jelek gaya permainannya.
Maka ada yang curiga, Beng Hoa mulai kehabisan tenaga setelah beberapa kali turun gelanggang.
Tapi kenyataannya memang aneh.
Di bawah serangan gencar Liong Bok-kong yang kalap, Beng Hoa tetap berdiri tegak sekokoh gunung.
Padahal pedang racun Liong Bok-kong laksana lidah ular yang bermain tangkas dan liar, menyerang dengan sengit dan nekad, tapi setiap mendekati tubuh Beng Hoa selalu tertahan seperti terhalang oleh dinding baja yang tidak kelihatan, betapapun kuat dia menusuk, pedangnya tak mampu melukai lawan.
Pedangnya selalu tergetar mundur dalam jarak tiga kaki dari tubuh Beng Hoa, ujung pakaiannya pun tak mampu disentuhnya.
Seperti mabuk laksana melamun Lui-tin-cu menyaksikan permainan pedang Beng Hoa, akhirnya dia yang mendahului bertepuk tangan dan bersorak memuji.
Kim Tiok-liu juga menonton dengan terbeliak dan alis terangkat tinggi, namun dia menghela napas malah-, katanya.
"Gelombang memang saling dorong silih berganti, patah tumbuh hilang berganti. Tigapuluh tahun yang lalu pernah aku menyaksikan Teng-lociangbun (Teng Hiau-lan ayah Teng King-thian) mendemonstrasikan ilmu pedang ini. Tak nyana hari ini aku dapat menyaksikan sekali lagi. Kiamhoat Beng-lote boleh dikata tidak lebih rendah dibanding permainan Teng-lociangbun dulu. Sepuluh tahun mendatang, aku pun harus mengaku kalah kepadanya."
Setelah mendengar pujian dua jago silat seperti Lui-tin-cu dan Kim Tiok-liu, baru orang banyak kaget dan melongo saling pandang.
Apalagi Kim Tiok-liu yang diagulkan sebagai jago pedang nomor satu di seluruh jagat juga memberi pujian kepada kiamhoat Beng Hoa, maka tidak sedikit ahli-ahli pedang ternama yang hadir merasa menyesal dan malu, heran dan kaget pula.
Namun mereka juga merasa lega dan senang karena mendapat kesempatan menyaksikan tontonan yang tak mungkin disaksikan dalam seratus tahun mendatang, sayang tidak banyak .
yang bisa mereka selami dari Tay-si-mi-kiam-hoat yang hebat ini.
Tay-si-mi-kiam-sek memang kelihatan berat dan lambat, namun setiapjurus mengandung perubahan yang sukar diraba dan mendalam.
Memang Beng Hoa sengaja mendemonstrasikan Tay-simi-kiam-hoat, supaya hadirin menyaksikan secara lengkap, kalau tidak, hanya tiga jurus jiwa Liong Bok-kong sebetulnya sudah bisa direnggutnya.
Sementara itu Liong Bok-kong sudah mandi keringat, otot hijau di atas jidatnya juga menonjol, sifat buasnya sudah lenyap, gerakannya ngawur dan pontang-panting mengikuti gerakan pedang Beng Hoa, seperti binatang buas yang terperosok di dalam liang perangkap.
Mendadak Beng Hoa membentak.
"Selama hidup kau melukai orang dengan pedang beracun, sekarang biar kau merasakan betapa nikmat pedang beracunmu sendiri."
Di tengah hardikannya, dia menusuk dengan jurus Sam-coan-hoat-lun, perlahan saja gerakannya.
Liong Bok-kong tahu lawan hendak memelintir pedangnya lalu menggetarkannya hingga terlepas, namun dia tak kuasa menyingkir lagi.
Tampak selarik sinar biru berkilauan melesat dari tangan Liong Bok-kong, di tengah udara pedang beracun itu berputar arah lalu meluncur turun dan tepat menancap di pundak Liong Bok-kong.
Liong Bok-kong menjerit keras, tubuhnya terkapar terus bergulingan, mulutnya berteriak panik.
"Lekas... lekas ambilkan obat penawarnya."
Padahal obat penawar berada di dalam kantong bajunya sendiri.
Ternyata tenaga untuk merogoh kantong mengambil obat pun tak ada.
Khawatir menimbulkan masalah, sudah tentu komplotannya tiada yang berani tampil membantunya.
Liong Bok-kong meronta-ronta dan bergulingan sambil menjeritjerit serak.
Dengan sisa tenaganya dia menjerit penuh penasaran.
"Kalian mengundangku kemari untuk membantu berbuat jahat, tapi melihat ajalku sudah dekat kalian tidak mau menolong. Hm, kalian tidak kenal setia kawan, jangan salahkan aku, aku akan bilang...."
Suaranya mendadak putus, badan terkulai, darah hitam meleleh dari mata, hidung, telinga dan mulutnya, jiwanya sudah di ambang maut.
Karena tidak tega, ingin tahu siapa biang keladi yang bersembunyi di belakang layar, maka Beng Hoa berkata.
"Baik, jiwamu boleh kuampuni, asal kau bicara jujur."
Tak nyana sebelum Liong Bok-kong buka suara, belum sempat Beng Hoa mengambil obat penawar di kantongnya, mendadak didengarnya suara "piuk", entah dari mana melesatnya, sebutir batu kecil telak mengenai Thay-yang-hiat Liong Bok-kong, seketika jiwanya amblas.
Lui-tin-cu gusar, serunya.
"Ini jelas membunuh orang menutup mulut, kasus ini makin mencurigakan. Tong-cin totiang, kuharap kau mengusut perkara ini secara tuntas."
"Aku pasti akan mengusutnya,"
Sahut Tong-cin-cu pura-pura marah. Lalu dia perintahkan beberapa muridnya mengadakan pemeriksaan, sudah tentu tidak menemukan apa pun. Maka Tong-cin-cu bersikap apa boleh buat, katanya.
"Musuh Liong Bok-kong amat banyak, ketika ada kesempatan bukan mustahil orang membokongnya, belum tentu kema-tiannya ada hubungan dengan kasus ini. Pembunuh Giok-hi-cu tianglo juga belum tertangkap, sungguh aku menyesal, mohon para hadirin suka membantu aku."
Beng Hoa sudah kembali berada di atas panggung, katanya.
"Lapor ciangbun, Liong Bok-kong sudah mencoba Thian-san-kiamhoat-ku, apakah tay-susiok sudah percaya bahwa aku mewakili Teng-ciang-bun?"
"Sejak tadi aku sudah percaya. Pertempuran tadi hanya untuk meyakinkan hadirin agar mempercayaimu. Apa yang ingin kau katakan sudah kau sampaikan, boleh kau mengundurkan diri. Aku pasti menyelesaikan kasus ini secara adil."
Beng Hoa menjura lalu mengundurkan diri ke bawah panggung. Setelah Beng Hoa mundur, maka Tong-bing-cu angkat bicara pula.
"Suheng, Tan Khu-seng sudah menyatakan tidak akan membantah tuduhan, kini tiada orang lain membela dirinya, tunggu apa lagi tidak segera kau putuskan hukumannya."
Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu memang punya tekad yang sama yaitu jangan memberi kesempatan Tan Khu-seng untuk mewarisi jabatan ciangbun, maka Tong-cin-cu bermuka-muka lagi, serunya.
"Baik, kutanyakan sekali lagi, bila tiada orang membela kepentingan Tan Khu-seng aku akan menentukan hukumannya."
Sebelum dia menjatuhkan vonisnya, mendadak.
"Tunggu dulu!"
Tampak serombongan orang sedang mendatangi dengan langkah cepat, yang berlari paling depan dan berteriak "tunggu dulu"
Adalah seorang pemuda cakap. Ada yang tidak kenal pemuda ini, bertanya.
"Siapa pemuda ini?"
Seorang lain menjawab.
"Ah, masa kau tidak tahu? Dia inilah putera kedua Kang tayhiap, murid Kim tayhiap. Kang Siang-hun."
Yang membuat heran orang banyak bukan saja kedatangan Kang Siang-hun tapi juga orang-orang yang datang bersamanya.
Di belakang Kang Siang-hun adalah murid Thian-san-pay Ting Tiau-bing dan seorang gadis cantik, seorang lagi adalah laki-laki yang ada codet luka di mukanya.
Orang ini diseret oleh Ting Tiaubing, gelagatnya dia digusur kemari sebagai tawanan.
Orang banyak menjadi gempar, seseorang berteriak.
"Lha, bukankah itu Kiat Hong, murid murtad Siau-lim-pay?"
"Aku tahu itulah puteri Teng-lopiauthau dari Hou-wi Piaukiok di Hok-ciu yang bernama Teng Bing-cu. Ting Tiau-bing adalah susioknya."
Pergaulan Ting Tiau-bing "imat luas, maka banyak hadirin yang mengenalnya.
Begitu Ting Tiau-bing menggusur Kiat Hong ke tengah gelanggang, bukan hanya dua.paderi agung Siau-lim saja yang girang, Beng Hoa pun tak terkecuali.
Mendadak Kim Tiok-liu berteriak.
"Awas amgi!"
Belum lenyap suaaranya.
"Ting"
Sebat sekali Kang Siang-hun mengayun pedangnya memukul jatuh sebutir kerikil.
Kerikil itu meluncur ke batok kepala Kiat Hong, tapi dengan mengayun balik pedangnya, Kang Siang-hun berhasil memukulnya jatuh dengan tepat seperti di belakang kepalanya tumbuh mata saja.
Dalam waktu yang sama, Ting Tiau-bing melepaskan Kiat Hong lalu melompat ke tengah orang banyak untuk mencengkeram satu orang.
Orang itu berteriak.
"He, penasaran aku. Kau salah tangkap."
"Kusaksikan kau yang bergerak, masih berani mungkir?"
Sentak Ting Tiau-bing.
Orang itu membuka lebar mulutnya hendak membela diri, mendadak mukanya berubah pucat, berubah merah lalu menghitam, dari mata, hidung, telinga dan mulut mengalirkan darah.
Sebelum bicara, tubuhnya sudah ambruk, jiwa pun melayang.
Ada orang yang kenal korban ini, katanya.
"Orang ini salah satu dari Ui-ho-ngo-kui, Lo-sam Kiau-kiau."
Dalam kalangan jiitam, Ui-hongo-kui hanya termasuk golongan rendah kelas tiga.
"Ting tayhiap,"
Ucap Kang Siang-hun.
"mungkin kau memang keliru, serangan kerikil tadi jelas menggunakan Tam-ci-sin-thong, tenaga dalamnya amat kuat. Ui-ho-ngo-kui jelas tak memiliki lwekang setangguh ini."
Meski berhasil memukul jatuh kerikil itu, namun telapak tangan Kang Siang-hun juga terasa pedas. Ting Tiau-bing juga ahli, katanya.
"Ya benar, aku yang tertipu. Agaknya orang itu sengaja mendorongnya dari belakang, untuk dijadikan kambing hitam."
Waktu penyambit gelap itu mendorong orang ini, dia pun membokongnya dengan racun jahat sehingga jiwanya melayang.
"Kejadian kecil ini boleh dikesampingkan dulu,"
Demikian kata Kim Tiok-liu.
"Apa yang ingin kalian bicarakan katakan dulu."
Ting Tiau-bing menyeret Kiat Hong ke depan kedua paderi Siaulim-si, katanya.
"Syukur tugas dapat kami tunaikan dengan baik, bersama Kang-jikongcu, kami berhasil membekuk murid murtad kalian. Sekarang kuserahkan supaya pihak kalian yang menghukumnya tapi aku ingin memohonkan keringanan kepadanya."
Cun-seng Siansu adalah kepala dari Cap-pwe-Io-han dari Siaulim-pay, katanya heran.
"Murid murtad ini juga musuh suheng-mu, kenapa kau mohon keringanan hukumannya malah?"
"Karena waktu aku berhasil membekuknya, terjadi peristiwa yang mengherankan."
Belum habis Ting Tiau-bing bicara, Tong-bing-cu mendadak menimbrung.
"Aku tidak berani mencampuri urusan Siau-Iim-pay, apakah tidak selayaknya menggusur dia ke Siau-lim-si dan tentukan hukumannya di sana?"
"Menurut aturan memang demikian, kami tidak pantas mengganggu acara kalian, tapi Kiat Hong ada sangkut paut dengan kasus Tan Khu-seng, maka mohon kepada ciangbunjin memberi kesempatan kepadanya untuk bicara, aku pun mohon kesempatan untuk bicara."
Di hadapan umum, sudah tentu Tong-cin-cu tak berani membela sute sendiri katanya.
"Baik boleh silakan Ting tayhiap bicara."
"Pertama ingin aku memberi tahu kepada hadirin di mana kami berhasil membekuk murid murtad Siau-lim-pay ini. Yaitu tiga malam yang lalu kami membekuknya di Toan-hun-gay di gunung Kong-tong ini."
Hadirin heran dan kaget, maka timbul lagi suara berisik.
"Aneh, kenapa dia lari ke Kong-tong-san malah?"
"Hm, kukira pasti ada tujuan, mungkin di sini ada tulang punggungnya, kalau tidak mana dia berani kemari?"
"Ya, hongtiang Siau-lim-si sudah memberi tahu kepada berbagai pihak hendak membekuknya. Sebelum Kong-tong-pay membuka pertemuan besar, dia justru datang ke sini, bukankah seperti ikan masuk jaring, kejadian ini memang harus diperhatikan."
Menyusul Kang Siang-hun berkata dingin.
"Malam itu masih ada seorang lagi bersama keparat ini yang berada di bawah Toan-hungay, coba hadirin terka, siapa orang itu?"
"Siapa?"
"Wakil komandan Gi-lim-kun Auwyang Ya. Waktu itu murid tertua Tong-bing-cu yaitu Tay-ciok Tojin sedang turun gunung menyambut kedatangan mereka."
Keributan hadirin yang berbisik-bisik seketika sirap, keheningan mencekam, sorot mata mereka tertuju ke arah Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu. Perlahan Tong-cin-cu berkata.
"Sute, berilah penjelasan. Auwyang Ya adalah orang undanganmu."
Tahu hal ini tak bisa disembunyikan lagi, Tong-bing-cu berusaha menenangkan hati, katanya.
"Sebenarnya tidak perlu dibuat heran. Beginilah kejadiannya, pertemuan besar seluruh anggota Kongtong-pay kami kali ini juga mengundang banyak sahabat Bulim, jelek-jelek Auwyang Ya termasuk orang terkemuka dari alirannya, kalau aku mengundangnya bukan lantaran pangkatnya. Apalagi aku pun sudah mendapat persetujuan ciangbunjin suheng."
Seorang tamu yang berangasan segera bertanya.
"Memangnya kenapa kau pun mengundang Kiat Hong?"
"Agaknya kalian salah paham. Kiat Hong bukan tamu kami, malam itu hakekatnya kami tidak tahu kalau Auwyang Ya juga membawa Kiat Hong."
Maka Tay-ciok Tojin berdiri, serunya.
"Auwyang Ya sendiri bilang Kiat Hong adalah temannya, terpaksa aku menyambut juga. Tapi setelah Ting tayhiap dan Kang-kongcu datang dan menyatakan hendak membekuk dia, aku tidak turut campur. Aku juga sudah menyatakan kepada Ting tayhiap dan Kang kongcu, Kiat Hong bukan tamu undangan kami, betul tidak?"
"Betul, waktu itu sikapmu membela Auwyang Ya dan Kiat Hong, kenyataan memang seperti yang kau katakan. Tapi aku ingin menuntut kepadamu supaya menyuruh seorang keluar untuk berhadapan dengan Kiat Hong."
Berdebar jantung Tong-bing-cu, tanyanya.
"Siapa?"
"Tamu undanganmu itu, wakil komandan Gi-lim-kun Auwyang Ya."
Lega hati Tdng-bing-cu, katanya dingin.
"Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu."
"Kenapa, kau takut bila Auwyang Ya berhadapan dengan aku. Atau kau anggap aku ini orang awam tidak setimpal berhadapan de-. ngan pembesar tinggi seperti dia?"
"Kang-kongcu kau tidak tahu, Auwyarg Ya memang datang malam itu, tapi sekarang aku pun ingin tahu di mana dia sekarang?"
"Lho, apa yang terjadi?"
Tanya Ting Tiau-bing. Tay-ciok Tojin bicara.
"Tidak lama setelah kalian pergi malam itu, dia pun hilang. Waktu itu aku membawanya ke atas gunung, di tengah hujan lebat mendadak dia menjerit sekali, begitu aku menoleh, bayangannya ternyata sudah lenyap."
"Apa betul ada peristiwa seaneh ini?"
Tanya Kang Siang-hun.
"Kenapa kami harus berbohong. Sebagai undangan kami dia boleh datang secara terang-terangan, kenapa harus sembunyisembunyi? Kalau tidak percaya, tidak sedikit tamu yang datang lebih dini, apakah mereka pemah melihat Auwyang Ya?"
"Baik, anggaplah kami percaya kepadamu. Syukur dapat menemukan Auwyang Ya, kalau tidak ketemu jaga tidak usah mengulur panjang urusan ini,"
Demikian ucap Ting Tiau-bing. Tong-bing-cu tampak bangga, katanya.
"Persoalan sudah kujelaskan. Kalian sudah puas?"
"Benar, kalian hanya membekuk Kiat Hong di Kong-tong-san kenapa dikatakan dia ada hubungan dengan kasus Tan Khu-seng?"
Kiat Hong melirik Tong-bing-cu sekejap lalu memandang Kim Tiokliu, katanya.
"Terus terang aku memang salah satu dari pelaku kasus itu. Tapi aku takut bila urusan ku-beber, jiwaku tidak selamat."
"Kemarilah kau, bicaralah di depanku dan Lui-locianpwe,"
Kata Kim Tiok-liu.
Di bawah perlindungan Kim Tiok-liu dan Lui-tin-cu, di kolong langit ini yakin tiada orang yang mampu membokongnya.
Di saat Kiat Hong beranjak ke arah Kim Tiok-liu, Kang Siang-hun ' juga melihat Beng Hoa di antara orang banyak, segera dia menyapa dan menghampiri.
"Ah, Beng-heng, secepat ini kau sudah pulang dari Thian-san, apakah kau sudah bertemu dengan adikmu?"
Beng Hoa tidak sempat ngobrol, katanya.
"Pengalamanku kelak kuceritakan, tahukah kau bagaimana keadaan Bik-ki?"
Kang Siang-hun melengak, katanya.
"Sejak berpisah dengan kau di Cau-hoat tempo hari aku tidak pernah melihatnya. Kenapa? Kau tidak mendengar dia ke mana?"
Orang-orang di sampingnya mendesis mulut supaya mereka tidak bicara keras-keras.
Ternyata Kiat Hong sudah naik di atas panggung dan mulai bicara.
Di bawah pengawasan Kim Tiok-liu dan Lui-tin-cu, Kiat Hong tidak perlu merasa takut, maka dia menghadap ke arah Tong-cin-cu tapi matanya melirik kepada Tong-bing-cu, katanya perlahan.
"Yang akan kuceritakan adalah kejadian delapanbelas tahun yang lalu, waktu itu aku sudah lari dari Siau-lim-si menjadi begal tunggal yang melakukan kejahatan di Kangouw.
"Tahun itu terjadi peristiwa yang cukup menggemparkan dunia Kangouw. Koan-tiong Tayhiap Boh It-hang mendadak meninggal dunia, puteri tunggalnya akan menikah dengan tunas muda Kongtong-pay, kecantikan Boh-siocia juga sudah terkenal di kalangan persilatan. Banyak orang bilang mereka adalah pasangan setimpal. Tapi yang menimbulkan banyak perhatian adalah keluarga Boh kaya raya, salah saru keluarga hartawan yang ada di Bulim. Setelah dia meninggal seluruh kekayaan yang tidak bergerak telah dijual dan diwariskan kepada puteri-nya untuk bekal mas kawinnya. Uang perak, emas disimpan dalam beberapa peti besar.
"Menurut berita yang kuterima waktu itu, Ho Lok diiringi Tan Khu-seng menjemput istrinya di Bi-ti, setelah tiba di Kong-tong baru akan melangsungkan pernikahan. Perjalanan mereka sejauh ribuan li.
"Berita ini terutama menimbol-kan perhatian golongan hitam, semua bilang Ho Lok kejatuhan rejeki, dapat istri ayu memperoleh kekayaan lagi, namun tidak berani coba mengusiknya.
"Terus terang, aku juga permah berusaha mencari tahu, tapi insyaf bukan tandingan Ho Lok dan Tan Khu-seng, maka aku tak berani mencoba-coba untuk merampas harta itu.
"Sungguh mimpi pun tak pernah terduga, aku tidak berani mengusiknya, tapi kejadian justru melibatkan diriku."
Kejadian sudah delapanbelas tahun berselang, membayangkan kejadian lalu, tanpa terasa Kiat Hong meraba codet di mukanya, seperti mengigau Kiat Hong melanjutkan ceritanya.
"Suatu malam aku berhasil merampok seorang pedagang perhiasan yang pulang ke rumah, hatiku senang sekali. Tak nyana setiba di rumah, mendadak kudapati seorang tak kukenal telah menunggu aku.
"Aku kaget, kutegur dia, 'Siapa kau? Kenapa masuk ke rumahku?' Orang itu bergelak tawa, katanya, 'Apa kau tidak mengenalku? Aku Ho Lok dari Kong-tong-pay, bukankah kau sendiri biasa masuk ke rumah orang?' Di tengah tawanya mendadak sinar pedang berkelebat, di atas dinding kontan tertusuk sembilan lubang.
"Ho Lok sering berkelana di Kangouw, walau belum pernah melihatnya, tapi dari teman-teman sering aku mendengar tentang dirinya Wajahnya memang mirip apa yang pernah kudengar. Permainan pedangnya itu juga aku tahu adalah Lian-hoan-toh-bingkiam-hoat dari Kong-tong-pay, maka aku tidak curiga lagi bahwa orang ini adalah Ho Lok.
"Ho Lok tertawa, katanya, 'Jangan gugup, bicaralah sambil duduk. Kau adalah begal tunggal dari golongan hitam yang berkepandaian paling tinggi, sungguh tak nyana begini.kecil nyalimu.' "Setelah aku duduk, baru berkata, 'Bukan nyaliku kecil, soalnya kedatanganmu mendadak, di luar dugaan lagi. Seumpama air kali tak bercampur dengan air sumur, kenapa kau kemari?' "Ho Lok berkata, 'Kau baru pulang operasi bukan? Bagaimana hasilnya?' "Aku kira dia diutus pemilik barang meminta kembali rampasanku, kataku, 'Tidak banyak juga tidak sedikit. Nilainya sekitar tigaribu tahil. Aku boleh membagi separo kepadamu.' "Tak nyana Ho Lok bergelak tawa, katanya, 'Terlalu sempit pandanganmu, beberapa ribu tahil uang itu tak terpandang olehku. Terus terang kedatanganku ini akan memberi obyek besar kepadamu. Nilainya ada limapuluhan ribu tahil perak, jauh lebih besar dari hasilmu malam ini bukan?' "Sudah tentu aku terkejut juga heran dan bimbang, kataku, 'Apa? Jadi kau ajak aku bekerja sama untuk melakukan dagang tanpa modal?'"
"Omong kosong,"
Bentak Tong-bing-cu.
"Ho Lok sutit mana mungkin menjadi perampok?"
"Biarkan dia bicara habis, baru nanti kita nilai bersama apakah ceritanya dapat dipercaya,"
Demikian kata Lui-tin-cu.
"Ya, malam itu Ho Lok bilang demikian, 'Bukan aku mengundangmu untuk merampok, kalau aku mau, uang sebesar itu sebetulnya memang milikku. Tapi aku sengaja memberi rejeki besar kepadamu.' "Aku jadi ragu-ragu dan tak berani segera menerima tawarannya. Selama ini aku tidak kenal dia, tanpa sebab kenapa dia mau memberi uang sebanyak itu kepadaku? "Ho Lok berkata, 'Begini, karena kau adalah begal tunggal yang mempunyai kepandaian paling tinggi, aku pun tahu kau murid murtad Siau-lim-pay, kaum pendekar adalah musuhmu. Umpama kau tidak menerima tawaranku, yakin kau takkan berani bicara dengan pihak mereka.' "Karena tak tahan aku lantas berkata, 'Dagang macam apakah sebetulnya? Kan harus dijelaskan dulu, baru aku bisa memberi keputusan apakah aku akan menerimanya.' "'Baiklah,' kata Ho Lok. 'Biar kujelaskan, dua hari lagi aku akan menjemput calon istriku di Bi-ti, calon istriku adalah puteri Koantiong Tayhiap Boh It-hang. Keluarga Boh terkenal sebagai hartawan di Bulim.' "Peristiwa besar yang menggemparkan Bulim ini juga kudengar, maka aku mengucapkan selamat kepadanya.
"Ho Lok tersenyum, katanya, 'Sama-sama, aku pun perlu memberi selamat kepadamu.' "Aku melenggong, kataku, 'Ho-siansing, kau dapat istri memperoleh harta, sebaliknya kenapa kau memberi selamat kepadaku malah?' "Ho Lok berkata, 'Dengan dasar inilah, kuharap kau merampok mas kawin nona Boh itu, dan kau pun harus menculiknya.' Cerita ini seketika menggemparkan seluruh hadirin, tak tahan Tong-bing-cu menuding Kiat Hong, dampratnya.
"Mana ada kejadian seperti bualanmu itu, menyuruh orang lain menculik istri sendiri? Kecuali lelaki abnormal yang sudah sinting, siapa percaya ceritamu."
Lui-tin-cu mengerut kening, katanya.
"Tong-bing toheng, kuharap kau tidak mengganggu ceritanya lagi, umpama betul dia membual, apa salahnya kita mendengar penjelasannya."
Kiat Hong berkata perlahan.
"Memang tak mengherankan kalau hal ini membuat Tong-bing totiang heran dan kaget, waktu itu aku pun sangsi akan pendengaranku sendiri. Aku berkata, 'Ho-sianseng, kau tidak mengajakku berkelakar bukan? Kau pergi menjemput calon istrimu, kenapa aku harus merebut bakal istrimu itu?' "Ho Lok menarik muka, katanya, 'Siapa berkelakar dengan kau. Jelasnya begini, aku ini penyewa tenagamu, menyewamu untuk melakukan tugas untuk aku. Setelah berhasil, pesalin yang dibawa istriku akan kuserahkan separo kepadamu.' "Saking heran dan kaget, aku berkata, 'Kau... apa kau tidak mencintai puteri Boh lt-hang?' Ho Lok berkata, 'Siapa bilang aku tidak mencintainya, justru karena aku amat mencintainya maka kuminta bantuanmu.'"
Ceritanya makin mengejutkan, juga lucu dan mengherankan, maka hadirin banyak yang berpikir.
"Mungkinkah di balik peristiwa ini masih ada persoalan yang terselu-bung?" '"Ho-siansing, maaf kalau aku ini bodoh. Mendengar ucapanmu aku semakin bingung malah. Kalau kau betul-betul mencintainya, kenapa kau suruh aku merebutnya?'"
Demikian Kiat Hong mengisahkan peristiwa itu lebih lanjut.
"Ho Lok bergelak tawa, katanya, 'Kau kira ak,u tega membiarkan calon istriku yang secantik itu kau rebut? Semua rencanaku ini hanyalah sebuah sandiwara saja' "Penjelasan ini membuatku paham sedikit, aku berkata, 'O, aku mengerti. Jadi kau minta aku memerankan bajingan, dan kau pendekar pembela dan pelindungnya?' Ho Lok tertawa lebar, katanya, 'Betul, kau menculiknya, lalu aku merebut dan menolongnya. Demikian pula pesalinnya, aku hanya berhasil merebut separo, separo yang lain boleh kau bawa kabur sebagai imbalan permainanmu. Ketahuilah, separo dari jumlah pesalin itu nilainya ada dua tigalaksa tahil perak, kau puas tidak?' "Alasan sudah dia jelaskan, tapi aku masih menaruh curiga. Memang dengan berhasilnya dia melindungi sang kekasih, tentu Boh-siocia itu amat terharu dan berterima kasih kepadanya. Padahal mereka sudah resmi sebagai calon suami istri yang akan segera menikah, kepergiannya juga akan menjemput istrinya, memangnya dia khawatir Boh-siocia menolak kedatangannya? Kalau hanya untuk menarik simpati istrinya, apa setimpal dia mengatur permainan sandiwara ini? Apalagi harus mengorbankan perasaan dan ketakutan istrinya? "Melihat aku masih menaruh curiga dan belum segera menerima permintaannya, dia agaknya menebak perasaan hatiku, maka dia berkata, 'Tak usah kau banyak tanya, pendek kata aku tidak akan menipu dan membuatmu rugi, kerjakan apa petunjukku, tanggung kau akan menerima rejeki sebesar yang kukatakan.' ' "Tigapuluh laksa tahil memang merupakan daya tarik yang teramat besar bagiku, aku menjadi bimbang, kemelut terjadi dalam benakku, maka aku bertanya pula, 'Ho-siansing, mungkin ada persoalan terselubung yang sukar kaujelaskan. Kau adalah penyewa tenagaku, aku tak bisa memaksa penyewaku menjelaskan rahasianya. Tapi aku menuntut tanggung jawabmu bahwa dalam permainan sandiwara ini aku tidak akan berkorban jiwa dan raga.' "Ho Lok berkata, 'Kan sudah kujelaskan hanya bermain sandiwara satu babak, mana mungkin mengorbankan jiwamu?' "Aku bertanya, 'Di waktu kau berusaha menolong istrimu, apa kau tidak akan melukai aku?' "Dia bilang, 'Tergantung perbuatanmu sendiri, kalau di waktu melaksanakan tugas, kau timbul keinginan tidak senonoh atau berbuat kurang ajar terhadap istriku, sudah tentu aku takkan mengampuni jiwamu.' "Setelah mendapat jaminanku bahwa tidak akan bertindak tidak senonoh terhadap istrinya, maka dia berkata, 'Kati tidak usah khawatir, paling aku hanya akan sedikit membuatmu terluka, supaya permainan sandiwara ini lebih nyata, tapi pasti tidak akan mengganggu kesehatanmu.' "Mendadak aku teringat, kecuali dia masih ada Tan Khu-seng, kataku, 'Dalam rencanamu ini, apakah temanmu itu tidak tahu?' Ho Lok berkata, 'Maksudmu Tan Khu-seng? Dia tidak tahu!' "Aku bilang, 'Kalau demikian, mana bisa kau menanggung jiwa ragaku tidak akan terancam bahaya?' Ho Lok berkata, 'Aku tahu kau pasti mengajukan pertanyaan ini, tapi kau tidak usah khawatir, aku sudah mengatur segala sesuatu demi kelancaran kerja ini.' "Urusan menyangkut jiwa ragaku, aku bersikap tegas minta penjelasannya, apa yang sudah diatur baru bisa lega perasaanku."
Cerita kini menyangkut Tan Khu-seng, semula hadirin ada yang berbisik-bisik, kini suasana menjadi hening, pasang telinga menaruh perhatian.
Terdengar Kiat Hong melanjutkan ceritanya, '"Kau ingin tahu apa yang telah kuatur?
Pertama, kecuali kau, aku juga menggunakan dua orang lain yang akan bertindak pula pada malam hari itu bersama kau.
Tapi kau tak usah khawatir bahwa mereka akan menuntut bagian dari-mu, karena mereka bukan orang golongan hitam yang kemaruk harta, mereka hanya membantu aku menyempurnakan rencana ini.' Sampai di sini Ho Lok mengeluarkan sebuah topi yang terbuat dari kulit beruang, topi sejenis ini sering dipakai orang-orang pemetik jinsom di tanah bersalju di pegunungan Tiang-pek untuk menahan dingin, dalam perbatasan jarang orang melihat topi sejenis ini.
"Ho Lok berkata, 'Waktu menjalankan tugas malam itu, kau harus memakai topi ini secara terbalik arahnya. Melihat topimu ini kedua orang itu akan tahu bahwa kau membantuku.' "Tak kuat menahan rasa ingin tahu, aku bertanya, 'Apa aku boleh tahu siapa kedua orang itu?' Agaknya Ho Lok kurang senang, jawabannya dingin, 'Asal-usul kedua orang ini luar biasa, lebih baik kau tidak tahu siapa mereka.' Sudah tentu tak enak aku mendesak, terpaksa hal ini sampai sekarang masih merupakan teka-teki bagiku."
Sampai di sini cerita Kiat Hong, suara berisik timbul lagi dari hadirin.
"Asal-usulnya luar biasa, bukan dari golongan hitam lalu siapakah kedua orang itu?"
"Topi pencari obat di luar perbatasan, memangnya mereka tokoh silat dari luar perbatasan?"
"Kejadian ini belum diketahui, buat apa menebak-nebak?"
Di antara sekian banyak hadirin, hanya Beng Hoa yang tahu duduk persoalannya.
"Hay Lan-ja adalah tokoh Tiang-pek-pay di luar perbatasan, walau waktu itu dia belum menjadi komandan Gi-limkun, tapi sudah menduduki jabatan tertentu. Kuyakin saru di antara kedua orang itu pasti dia adanya."
Setelah beristirahat sejenak, Kiat Hong meneruskan ceritanya.
"Walau sudah ada pembantu, tapi kau masih merasa takut, tentu kau pun tidak akan mempertemukan aku dengan mereka, begitu? "Ho Lok berkata, 'Sudah tentu.' Lalu aku berkata pula, 'Kalau begitu sukar bisa tiba di tempat tujuan dalam waktu yang sama, bila kebetulan aku tiba lebih dulu, aku tahu tak kuat menghadapi Tan Khu-seng.' "Kelihatannya Ho Lok mendorong semangatku, katanya, 'Tak usah kau merendahkan dirimu sendiri. Coba kaujawab pertanyaanku sejujurnya, tak usah sungkan. Kau pernah menyaksikan Lian-hoantoh-bing-kiam-hoat yang kulancarkan tadi, menurutmu, berapa jurus kau kuat melawan?' "Kujawab kira-kira kuat bertahan antara tigapuluh sampai iimapuluh jurus. Mendengar jawabanku, Ho Lok tampak berseri girang, katanya, 'Sudah cukup. Aku bicara sejujurnya, kiamhoat Tan Khuseng memang lebih unggul dari aku, kalau kau kuat melawan tigapuluh jurus sampai limapuluh jurus seranganku, paling sedikit kau mampu melawan belasan jurus serangan Tan Khu-seng.' "Kutanya, 'Setelah sepuluh jurus, bagaimana?' Ho Lok bergelak tawa, katanya, 'Goblok, kau mampu melawan belasan jurus, orang yang secara diam-diam akan membantu engkau memangnya berpeluk tangan menyaksikan kau disembelih Tan Khu-seng? Waktu itu dia pasti sudah berada di belakang Tan Khu-seng dan segera menyergapnya.'"
Sampai di sini cerita Kiat Hong, bagi hadirin yang biasa pandai menggunakan otaknya tentu sudah dapat menduga siapa orang yang dimaksud dalam ceritanya. Maka terdengar Kiat Hong berkata.
"Aku sudah beberapa bagian menduga persoalannya, tapi sengaja aku bertanya, 'Kalau bukan kedua orang yang kau undang untuk membantu, lalu siapa pula yang akan membantuku secara diamdiam? Kalau kau tidak memberi tahu sejelas-jelasnya, terus terang hatiku tidak. akan lega.' "Setelah kudesak supaya dia menjelaskan, Ho Lok mengeratkan kening, akhirnya dia berkata, 'Kau pura-pura pikun atau memang tidak tahu, orang yang akan membantumu secara diam-diam jauh di ujung langit dekat di depan matamu, aku inilah.'"
Seluruh hadirin menjadi gempar.
Alis Tong-bing-cu berkerut dalam, lagaknya seperti hendak memaki Kiat Hong, namun setelah dua kali disemprot Lui-tin-cu, walau hati merasa gusar dan kaget, namun dia tidak berani membuka mulut lagi.
Pelan Kiat Hong menyambung.
"Akhirnya aku jelas seluruhnya, ternyata dia hendak meminjam tanganku untuk membunuh Tan Khu-seng, maksudnya sudah jelas supaya tiada saingan untuk memperebutkan kedudukan ciangbun yang akan diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Padahal istilah yang kugunakan, meminjam tangan, juga kurang tepat. Hehe, tipu muslihatnya boleh dikata amat keji juga lihay, tapi juga telengas. Kalau Tan Khu-seng sedang bergebrak dengan aku, dari belakang mendadak dia menusuk punggung Tan Khu-seng, siapa yang mengira?"
Kali ini ciangbunjin Kong-tong-pay Tong-cin-cu dipaksa membuka suara, katanya.
"Kau mengukurjiwa ksatria dengan jiwa kerdilmu sendiri, seluruh warga Kong-tong-pay kami dari yang kecil sampai yang tua seluruhnya sama tahu bahwa Ho-sutit seorang jantan berjiwa jujur dan merupakan murid teladan kami, mana mungkin dia memiliki jiwa dan tujuan sejahat dan sehina itu? Memang bicara keadaan dulu, kecuali kungfunya lebih tinggi setingkat, Tan Khuseng dalam menghadapi persoalan dan menjalankan tugas tidak lebih pintar dibanding dia, maka tiada alasan dia harus membunuh Tan Khu-seng, supaya tiada calon kuat lain untuk saling memperebutkan jabatan ciangbunjin yang akan diwariskan."
Karena Tong-cin-cu bicara sebagai ciangbunjin, sudah tentu Luitin-cu tak enak mendebatnya, tapi ia berkata kepada Kiat Hong.
"Kau bicara sejujurnya sesuai kenyataan, tidak perlu memberi komentar atau menanggapi pertanyaan. Kelanjutannya bagaimana, coba diteruskan saja."
Secara tidak langsung dia pun mencerca Tong-cin-cu yang cerewet.
Akan tetapi meski kebanyakan hadirin paham bahwa Tong-cin-cu berusaha membela nama baik Ho Lok tapi mereka juga beranggapan, apa yang menjadi dugaan Kiat Hong juga masuk akal.
Hanya Beng Hoa seorang yang punya dugaan lain.
"Ho Lok punya maksud jahat hendak membunuh guruku, kurasa tidak perlu diragukan lagi, namun tujuan ini hanya maksud sampingan belaka. Persoalan kurasa tidak semudah yang diduga orang, hanya karena ingin melenyapkan saingan memperebutkan kedudukan ciangbunjin saja."
Setelah didesak oleh hadirin yang menanti dengan perasaan tidak sabar, maka berceritalah Kiat Hong tentang kejadian malam itu.
"Ho Lok sudah mengatur perjalanan, malam ketiga dalam perjalanan pulang setelah dia menjemput calon istrinya dari Bi-ti, dia akan bermalam di sebuah kuil yang berada di atas pegunungan. Dia berjanji dengan aku akan turun tangan malam itu. Malam itu aku datang ke tempat itu sesuai janji, tak nyana perkembangannya ternyata jauh di luar dugaanku. Waktu aku tiba di kuil kuno itu, kudengar di dalam ada suara rintihan orang, seperti ada orang terluka parah."
Lui-tin-cu bertanya.
"Yang terluka Tan Khu-seng atau Ho Lok?"
"Bukan semua,"
Sahut Kiat Hong.
"Mereka adalah kacung keluarga Boh yang ikut mengiring pesalin nona Boh."
"Aku mendengar orang sedang memaki perampok laknat, ada pula yang sedang berteriak, 'Tidak lekas kau cari siocia.' Jantungku berdebar, kukira ada orang lain mendahului aku merebut mempelai perempuan dan pesalinnya itu.
"Waktu aku menerjang ke dalam kuil, dua kacung yang tidak terluka segera memekik, 'He, rampoknya datang lagi!' Apa boleh buat terpaksa kubunuh mereka. Waktu aku meneliti keadaan, di dalam kuil menggeletak kacung keluarga Boh, ada pula yang menggeletak sekarat menunggu ajal, tapi tiada seorang pun yang mampu berbicara. Memangnya kejadian apa yang barusan berlangsung? "Bayangan Tan Khu-seng tidak kelihatan, demikian pula Ho Lok tidak tampak, nona Boh entah pergi ke mana.
"Sudah tentu yang paling kuperhatikan adalah beberapa peti pesalin, untung tidak digotong orang. Waktu kubuka salah satu peti, isinya ternyata memang emas perak dan perhiasan. Girangku bukan kepalang, apalagi Tan Khu-seng tidak kelihatan bayangannya, tak perlu aku menyerempet bahaya menem-pur dia. Dalam keadaan seperti itu, sudah tentu tak sempat aku peduli mati hidup Ho Lok.
"Bergegas aku naikkan beberapa peti pesalin itu ke atas kereta keledai, tapi di saat aku hendak minggat, mendadak Tan Khu-seng kembali."
"Hanya dia seorang saja?"
Lui-tin-cu menegas.
"Ya, hanya dia seorang diri, Ho Lok tetap tidak menampakkan diri. Saking ketakutan, aku menjadi linglung, terpaksa aku mengeraskan kepala melabraknya.
"Sialnya, kalau Ho Lok mengira aku kuat melawan belasan jurus -demikan pula dugaanku-tapi perhitungan Ho Lok ternyata meleset.
"Hanya tiga jurus, aku sudah tertusuk luka oleh Tan Khu-seng. Nih, kalian lihat, codet di mukaku ini adalah peninggalan Tan Khuseng!"
Sambil bicara dia meraba codet di mukanya, terbayang betapa ngeri dan takut hatinya saat itu. Tong-cin-cu berkata dingin.
"Kenapa Tan Khu-seng mengampuni kau dan membiarkan kau pergi?"
Dia mengira mendapat peluang untuk balas mendesak orang. Kiat Hong menjawab.
"Menyelamatkan jiwa lebih penting, apa boleh buat, terpaksa aku membongkar rahasia, aku berteriak, *Ho Lok yang menyuruhku kemari. Aku hanya membantu saja, jangan kau membunuhku."
"Mendengar teriakanku, kelihatannya Tan Khu-seng melenggong, pada saat itulah dari kejauhan berkumandang sebuah suitan nyaring, kedengarannya suara seorang perempuan. Kulihat wajah Tan Khu-seng berubah, mendadak dia menarik pedang serta membentak, 'Enyahlah kau', tapi dia pergi mendahului aku.
"Sudah tentu tak berani aku memikirkan peti, rasanya ingin punya sayap bisa lekas terbang jauh menyelamatkan diri, tak sempat mengobati luka di mukaku sambil menahan sakit aku lari sipat kuping. Waktu aku tiba di lekuk gunung, sayup-sayup kudengar suara benturan senjata tajam, kudengar ada orang berhantam di dalam lembah."
Mendadak Tong-cin-cu bertanya.
"Siapakah yang bergebrak? Apa kau pernah melihatnya?"
"Lukaku saja tidak sempat ku-obati, mana sempat aku peduli pertempuran orang lain? Denting senjata berkumandang dari lembah, sementara aku lari ke atas gunung, hanya mendengar suara tidak melihat orangnya."
Sekian pengakuan Kiat Hong.
Orang banyak beranggapan dalam peristiwa itu masih terselubung peristiwa yang lain pula, kejadian amat ganjil dan patut dicurigai.
Namun siapa pun tak berani sembarangan membuka mulut.
Setelah hening sejenak, Lui-tin-cu membuka suara.
"Kalau demikian, yang berusaha mencelakai sesama saudara seperguruan bukan Tan Khu-seng, tapi sebaliknya adalah Ho Lok."
Tong-cin-cu berkata.
"Ayah Ho Lok atau sute-ku Tong-hian-cu belakangan berhasil menemukan dua kacung keluarga Boh yang masih hidup, menurut kesaksian mereka dengan mata kepala sendiri melihat Ho Lok dibunuh oleh Tan Khu-seng."
Segera Kim Tiok-liu tampil bicara.
"Tapi menurut keterangan Kiat Hong, dia hanya menemukan kacung keluarga Boh yang terluka parah, mayat Ho Lok tak pernah ditemukan."
Kiat Hong ikut bicara.
"Biarlah kujelaskan lagi. Keluarga Boh membawa lima kacung, seorang sudah dibunuh orang, dua orang terluka parah dalam keadaan sekarat, dua orang lagi yang terluka agak ringan kubunuh. Tak mungkin kacung keluarga Boh yang lain menyaksikan Tan Khu-seng membunuh Ho Lok."
Kim Tiok-liu berkata.
"Apalagi kalau betul H o Lok terbunuh oleh Tan Khu-seng, kacung itu pantasnya menyebut she dan nama, serta mencaci maki Tan Khu-seng, tapi Kiat Hong hanya mendengar mereka hanya memaki 'rampok laknat' saja."
"Apakah kesaksian Kiat Hong dapat dipercaya, sementara kita kesampingkan dulu,"
Demikian kata Tong-cin-cu.
"Dalam pengakuan tadi pernah kubilang mendengar ada orang bergebrak di dalam lembah, siapa tahu saat itulah Tan Khu-seng membunuhnya di sana"
"Meski demikian,"
Ujar Lui-tin-cu.
"Tan Khu-seng bertindak setelah dia tahu Ho Lok berusaha membunuh dia, untuk membela diri pantas kalau dia membunuh Ho Lok."
Penjelasannya ini teiah memberi muka kepada Tong-cin-cu, hadirin pun bisa menerima alasan tepat ini. Tong-bing-cu menghela napas lega, batinnya.
"Yang diketahui Kiat Hong ternyata hanya sebagian kecil dari peristiwa itu, rasanya tak perlu aku khawatir dan menduga yang tidak-tidak. Hehe, saksi hidup tidak ada, apa sulitnya mendebat kesaksiannya itu?"
Maka sebelum membuka suara dia tertawa dingin tiga kali.
"Tong-bing toheng,"
Seru Lui-tin-cu gusar.
"kenapa kau tertawa?"
"Lui-locianpwe, aku tidak menertawakan kau, aku hanya merasa peristiwa ini agak menggelikan."
"Soal apa yang menggelikan?"
Tanya Lui-tin-cu. Tong-bing-cu tidak langsung menjawab, tapi dia menoleh dan bertanya kepada Kim Tiok-liu.
"Kim tayhiap, apa kau percaya keterangan Kiat Hong?"
Sikap dan mimiknya tampak sinis, seperti menghina.
"Aku sendiri tiada permusuhan dengan kedua pihak, tapi untuk membongkar duduk perkara sebenamya dari peristiwa ini, tak boleh kita hanya mendengar keterangan sepihak. Apakah keterangan Kiat Hong betul atau bohong belaka memang masih merupakan tanda tanya, tapi keterangannya tetap harus diperhatikan."
"Kalau aku merasa, bila kita bandingkan keterangan Kiat Hong dengan keterangan Tong-hian-cu suheng, maka persoalan itu sendiri rasanya teramat ganjil dan lucu. Kiat Hong adalah murid murtad Siau-lim-pay, perampok jahat yang banyak melakukan kekejaman, tolong tanya, patutkah orang serendah ini dijajarkan dengan suheng-ku?"
Kiat Hong segera berteriak lantang.
"Betul, dahulu aku memang banyak berbuat jahat, sekarang aku sudah menyesal dan bertobat. Oleh karena itu aku menjadi sadar dan tak tega melihat Tan Khuseng kalian fitnah, biar jiwaku berkorban aku rela menjadi saksi demi kebersihan juga untuk menebus dosaku."
Tong-bing-cu berkata.
"Lalu siapa bisa menjadi saksi bahwa keterangan itu benar?"
"Tan Khu-seng!"
Teriak Kiat Hong.
"Menurut aturan,"
SelaTong-cin-cu menampilkan kedudukannya sebagai ciangbunjin.
"Tan Khu-seng adalah terdakwa, kau membantu dan membela dia, mana mungkin dia menjadi pembelamu pula. Adakah orang lain yang bisa menjadi saksi kejadian itu?"
"Tadi sudah kubilang,"
Seru Kiat Hong berjingkrak gusar.
"yang menyaksikan aku masuk ke kuil kuno itu, kecuali Tan Khu-seng, yang lain sudah mampus."
Tiba-tiba Kim Tiok-liu bertanya.
"Ada sebuah hal ingin aku tanya kepada toheng."
"Soal apa?"
Tanya Tong-cin-cu. Kim Tiok-liu berkata.
"Mohon tanya, kecuali Tong-hian-cu yang sudah mati, masih adakah orang lain yang pernah melihat kedua orang saksi hidup yang menuduh Tan Khu-seng sebagai pembunuh Ho Lok?"
"Tidak ada,"
Sahut Tong-cin-cu. Maka Kim Tiok-liu tertawa dingin.
"Bagus, kalau kalian beranggapan hanya dapat percaya keterangan orang perguruan kalian sendiri, tak perlu aku bertanya lebih lan-jut."
Memang hati sudah jengkel, maka Lui-tin-cu menimbrung.
"Betul, kalau betul demikian, kalian boleh menjatuhkan tuduhan dan hukuman menurut aturan perguruan, buat apa harus mengundang sekian banyak orang, bermuka-muka mau menegakkan keadilan segala."
Lekas Tong-cin-cu berkata dengan lebih sabar, katanya.
"Locianpwe salah paham, bukan aku hanya percaya keterangan sepihak, tapi sesuai apa yang dikatakan Kim tayhiap, yaitu untuk membuktikan apakah keterangan Kiat Hong tadi boleh dipercaya."
Kim Tiok-liu berkata.
"Kecuali Tan Khu-seng yang masih hidup, keterangannya tadi jelas tiada saksi lain, bagaimana kau akan menyelidiki persoalan ini?"
"Betul, karena tiada saksi, terpaksa kita hanya bisa menilai keterangan itu menurut kebiasaan umum. Keterangan Kiat Hong pertama menyimpang dari kenyataan, kedua dia pun sudah terkenal jahat dan bejat, sampah persilatan, terus terang aku tak berani mempercayai keterangannya"
"Dia tidak punya permusuhan atau sakit hati dengan Ho Lok, juga tidak pernah menerima budi kebaikan Tan Khu-seng, menurut apa yang dijelaskan tadi mukanya malah dilukai separah itu oleh Tan Khu-seng. Lalu kenapa dia harus membual dan mengarang cerita bohong itu, membela kepentingan Tan Khu-seng malah?"
Demikian debat Lui-tin-cu.
"Hal itu hanya bisa ditanyakan kepada Kiat Hong,"
Kata Tong-cincu.
"tapi umpama aku yang bertanya kepadanya,.dia pasti takkan bicara sejujurnyaV Kiat Hong gusar serunya.
"Apa yang kukatakan"' kalian tidak mau percaya, buat apa aku bersusah payah memutar lidah?"
"Kim tayhiap,"
Tiba-tiba Tong-bing-cu menyela.
"ada sepatah kata entah patut tidak kukatakan?"
Dingin sikap Kim Tiok-liu, katanya "Kau penuduh dalam peristiwa ini, lalu soal apa yang tidak patut kau katakan?"
Tong-bing-cu berkata perlahan.
"Menurut pendapatku, mungkin ada sementara orang hendak membantu Tan Khu-seng membebaskan dirinya dari dosanya, Kiat Hong tahu maksud tujuan orang itu, karena dia sudah terlanjur melakukan banyak kejahatan, apa salahnya kalau dia tambah satu dosa dan pengakuan. Kalau dia membantu orang itu, maka orang itu pasti akan membantu dia minta pengampunan kepada pihak Siau-lim."
Kang Siang-hun menjadi gusar, serunya.
"Kau berkata demikian, berarti menuduh aku menyuruh Kiat Hong memberikan keterangannya itu. Hmm, rasanya aku tak-perlu bersikap sopan lagi, kau mengukur seorang kuncu dengan hati seorang siaujin."
Merah padam muka Tong-bing-cu, katanya.
"Apa Kang-jikongcu, kau... kau memakiku sebagai siaujin (orang rendah)?"
Apa yang terkandung dalam hati Kim Tiok-liu dilontarkan oleh muridnya, hatinya lega dan bersorak geli. Sengaja dia biarkan muridnya bicara baru dia pura-pura menyentaknya.
"Siang-hun kenapa kau kurang ajar terhadap orang tua, hayo maju minta maaf. Tong-bing toheng, mundku ini pemarah dan kasar, kalau bicara tidak kenal sopan santun, sudilah kau pandang mukaku, harap tidak berkecil hati."
"Tak usahlah,"
Jengek Tong-bing-cu malu.
"mana berani aku menerima permohonan maaf murid Kim tayhiap."
Ting Tiau-bing menimbrung bicara.
"Tong-bing toheng tidak usah marah, Siang-hun siheng kau pun tak usah jengkel. Kedatangan kita di sini untuk memecahkah persoalan bukan untuk ribut mulut, betul tidak? Bicara tentang pengakuan Kiat Hong betul atau hanya isapan jempol belaka, aku punya saksi lain untuk membuktikan apakah keterangan tadi bualan belaka."
"O, kau punya saksi?"
Seru Tong-cin-cu.
"Ada orang hendak membunuh Kiat Hong untuk menutup mulutnya. Kami beberapa orang pun hampir saja ikut celaka."
Diam-diam Tong-cin-cu kaget, tapi sengaja dia bertanya.
"O, ada kejadian itu, siapakah dia?"
"Siapa lagi, perempuan siluman Sin Jit-nio yang terkenal ahli racun di Kangouw."
Hadirin menjadi geger setelah mendengar nama Sin Jit-nio, maka ramailah suasana.
"Apakah perempuan siluman itu ada hubungan dengan kasus ini?"
"Siapa yang mengundangnya untuk ikut melibatkan diri dalam kasus ini?"
Lui-tin-cu segera berseru meredakan suasana, katanya, '"Mohon hadirin tenang, biarkan Ting tayhiap memberikan keterangannya."
Ting Tiau-bing berkata.
"Semula kami menggusur Kiat Hong pulang ke Siau-lim-si, setelah turun dari Kong-tong-san, hari kedua di tengah jalan kami lantas kepergok dengan perempuan siluman itu...."
Ting Tiau-bing melanjutkan.
"Waktu itu kami beristirahat di sebuah kedai minum di pinggir jalan, perempuan siluman itu tiba seperti bayangan setan, mendadak muncul di depan kami lantas menyebar racunnya. Untung Kang-kongcu menghadang di depan Kiat Hong, gerak pedangnya pun amat cepat, hanya sekali tabas, rambut kepalanya tertabas sebagian, untung berhasil menggebahnya lari ketakutan."
Sengaja Tong-cin-cu bertanya.
"Kenapa kalian tidak membekuk perempuan siluman itu?"
Kang Siang-hun menyela dengan muka murka.
"Senjata gelap perempuan siluman itu tidak mengenai Kiat Hong, malah mengenai tubuhku. Untuk merawat aku terpaksa paman Ting membiarkan perempuan keparat itu melarikan diri."
Lalu dari dalam kantong dia merogoh keluar tiga batang bwe-hoa-ciam yang hitam legam. Tiga batang bwe-hoa-ciam ini dia buntal dengan sapu tangan lalu diserahkan kepada Lui-tin-cu, katanya.
"Lui-cianpwe, kau orang tua luas pengalaman. Tolong kau periksa dan buktikan apakah jarum ini betul adalah senjata rahasia tunggal perempuan laknat itu."
Setelah memeriksa dengan seksama, Lui-tin-cu berkata.
"Betul, inilah bwe-hoa-ciam milik Sin Jit-nio yang dilumuri lima jenis racun, hanya dua keluarga dalam dunia ini yang bisa menggunakan senjata rahasia jenis ini, keluarga lain adalah keluarga Tong dari Sujwan. Tapija-rum beracun keluarga Tong berwarna merah, sementara jarum perempuan siluman itu berwarna hitam. Bila seseorang terkena jarum racun keluarga Tong, dalam duabelas jam kulit badan akan berubah merah darah, meski memiliki lwekang setinggi langit dan punya obat yang mujarab sekali pun juga susah diobati, jiwa pasti melayang. Tapi jarum racun perempuan siluman ini lebih lihay lagi, dalam enam jam, jiwa akan melayang dengan badan hitam. Jikalau toheng berdua tidak percaya, boleh kau ambil ketiga jarum ini dan mencobanya."
Tong-cin-cu menyengir tawa, katanya.
"Apa yang diucapkan Kang-siheng dan Lui-locianpwe juga sudah membuktikan kebenaran jarum itu, mana pinto berani menaruh curiga?"
Maka Kang Siang-hun melanjutkan.
"Untung Ting tayhiap membawa Bik-ling-tan yang dibuat dari Thian-san-soat-lian, dengan besi sembrani menyedot keluar ketiga batang jarum itu. Walau demikian, aku harus bersemadi enam jam lamanya baru pulih seperti sedia kala. Karena itulah kedatangan kami tadi terlambat."
Ting Tiau-bing menyambung.
"Letak kedai minum itu hanya seratus li dari sini, yang menjadi pemilik kedai itu juga menyaksikan perempuan siluman itu mengganas, bukti ada saksi juga ada, kurasa sudah lengkap bukan?"
Tong-bing-cu menenangkan diri, katanya tawar.
"Apa yang dikatakan Ting tayhiap dan Kang-kongcu sudah tentu kupercaya, tapi tuduhan untuk membunuh orang menutup mulut kurasa terlalu dipaksakan."
Kang Siang-hun gusar, serunya.
"Perempuan siluman itu tidak bermusuhan dengan kami, kedatangannya jelas hendak membokong Kiat Hong, apalagi kalau tidak ingin menutup mulutnya?"
"Kiat Hong kelewat banyak melakukan kejahatan, musuhnya banyak, kejadian itu biasa, siapa tahu dulu dia pernah berbuat salah terhadap perempuan itu, maka dia datang menuntut balas?"
"Dulu memang pemah aku berkenalan dengan perempuan sundal itu, tapi saat itu dia juga sedang melakukan kejahatan, mana mungkin aku bermusuhan dengan dia?"
"Mungkin kau punya musuh lain yang mohon bantuannya membunuh kau?"
Desak Tong-cin-cu.
"Sembilan di antara sepuluh orang yang bermusuhan dengan aku adalah kaum pendekar, aku yakin mereka takkan sudi minta bantuan perempuan siluman itu,"
Debat Kiat Hong. Giliran Tong-bing-cu mendesak.
"Tapi kau pasti pemah melakukan hitam makan hitam?"
"Ya, sepersepuluh sisa dari yang kukatakan tadi, memang mereka musuh dari kalangan hitam. Tapi aku tahu, mereka tidak satu pun yang setimpal untuk mohon bantuan perempuan siluman itu."
Kang Siang-hun tertawa dingin.
"Urusan sudah cukup jelas, kecuali membunuh untuk menutup mulut, apa pula alasannya?"
Berubah air muka Tong-bing-cu, katanya.
"Kang-jikongcu, apakah omonganmu tidak terlalu keras. Baiklah, anggap aku percaya bahwa dia memang hendak menutup mulut orang, tolong tanya siapakah biang keladi yang menyuruhnya melakukan kejahatan itu? Apakah perempuan itu pemah mengatakan?"
Kang Siang-hun berseru gusar.
"Mana dia mau mengatakan?"
"Kalau demikian, siapa berani memastikan bahwa perbuatannya itu ada sangkut pautnya dengan kasus ini?"
Debat Tong-bing-cu. Tong-bing-cu berdiri di atas panggung sambil menyeringai sinis, mendadak didengarnya seorang gadis berteriak.
"Ayah!"
Begitu gadis ini muncul, Kim Tiok-liu melenggong, Beng Hoa terkejut dan girang, sementara Tong-bing-cu kaget dan berubah air mukanya.
Yang memasuki arena bukan lain adalah puteri Kim Tiok-liu, Kim Bik-ki.
Begitu dekat Kim Bik-ki lantas berlari ke arah ayahnya, seraya berteriak.
"Ayah, kau harus menuntut balas bagiku."
"Membalas apa?"
Tanya Kim Tiok-liu kaget.
"Serahkan perempuan siluman itu kepadaku!"
Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, begitu dekat Kim Bik-ki lantas menuding Tongcin-cu dan Tong-bing-cu. Terkejut dan bingung Tong-cin-cu dibuatnya, tapi masih pandai berpura-pura, katanya.
"Perempuan siluman yang mana?"
Kim Bik-ki berteriak lantang.
"Kecuali Sin Jit-nio, perempuan siluman siapa lagi?"
Berkerut alis Tong-cin-cu, katanya.
"Nona Kim, kau minta orang kepadaku, apa maksudmu? Kami juga sedang mencari perempuan siluman itu."
"Kau ini tidak pura-pura pikun?"
Damprat Kim Bik-ki.
"Kau, bukankah perempuan siluman itu berada di Jing-hi-koan kalian? Kau sebagai ciangbunjin, berani kau bilang bukan kau yang melindungi dia dan menyembunyikannya di sana?"
Tong-cin-cu pura-pura kaget, teriaknya.
"Kau... apa katamu?"
"Sin Jit-nio perempuan siluman itu sembunyi di dalam Jing-hikoan, kalian, berani mungkir?"
Teriak Kim Bik-ki.
"Apa, betulkah kejadian itu?"
Teriak Tong-cin-cu pula.
"Aku berani bersumpah, hakekatnya aku tak pernah melihat perempuan siluman itu."
"Sebagai ciangbunjin Kong-tong-pay tak berani aku bilang kau bersekongkol dengan perempuan siluman itu, tapi kehadirannya di Jing-hi-koan pasti mendapat persetujuanmu. Kalau tidak, mana mungkin dia bersembunyi di dalam biara kalian?"
"Aku sudah bersumpah. Kim tayhiap, tentu kau percaya bahwa aku bukan orang yang suka berbohong bukan?"
Teriak Tong-cin-cu.
"Anak Ki,"
Terpaksa Kim Tiok-liu campur bicara.
"jangan kurang ajar terhadap orang tua. Tong-cin totiang adalah ciangbunjin, kalau dia bilang tidak tahu, ya tidak tahu. Soal ini mungkin ada latar belakangnya, coba kau saja yang bicara."
Sorot mata Hadirin banyak yang ditujukan ke arah Tong-bing-cu, dalam Kong-tong-pay kedudukannya hanya di bawah Tong-cin-cu, kalau soal itu tiada sangkut pautnya dengan sang suheng, tentu ada hubungannya dengan dia.
Ternyata Tong-bing-cu mengeraskan kepala, katanya.
"Soal ini pun di luar tahuku."
Lui-tin-cu berkata perlahan.
"Hadirin harap tidak gelisah, apa yang terjadi sebetulnya biarlah nona Kim saja yang menjelaskan di depan kita."
Maka Kim Bik-ki berkata.
"Tiga hari yang lalu aku tiba di Kongtong-san hendak mencari ayah. Di tengah jalan aku bertemu dengan perempuan siluman itu, tak sempat menyingkir aku akhirnya ditangkap olehnya."
"Kenapa dia menangkap engkau?"
Tanya Tong-cin-cu.
"Dari mulutnya aku tahu bahwa dia pernah berusaha membunuh Kang-suheng, tapi tidak berhasil. Cepat atau lambat kejadian ini pasti diketahui ayah, maka dia menawanku untuk dijadikan sandera, untuk mengancam ayah. Setelah menangkap aku, dia membawaku ke Kong-tong-san."
"Kau bilang dia mengurungmu di Jing-hi-koan, apakah kau pemah melihat tojin penghuni biara kami?"
Tanya Tong-cin-cu.
"Aku dicekoki Hap-kut-san hingga tak bisa berkutik, menjelang masuk ke Jing-hi-koan dia menotok hiatto-ku pula. Baru pagi tadi aku melarikan diri, baru aku tahu beberapa hari ini aku dikurung di dalam Jing-hi-koan."
"Kalau betul kau terkena racun perempuan siluman itu, mana mungkin kau bisa melarikan diri?"
Tanya Tong-cin-cu.
"Wajar kalau kau heran,"
Ujar Kim Bik-ki.
"Mungkin mimpi pun kalian tak pemah menduga bahwa seseorang telah memberikan obat penawarnya kepadaku."
"Nona Kim, kau terhindar dari malapetaka, belum sempat aku ikut girang karena kau selamat. Memangnya kau kira aku senang kau tertimpa malang? Tapi aku ingin tahu, siapakah orang yang memberi obat pemunah itu? Apa aku boleh tahu?"
"Terima kasih atas perhatianmu,"
Ucap Kim Bik-ki sinis.
"Siapa orang itu tiada sangkut pautnya dengan kasus di sini, kau tidak perlu tahu, aku pun tidak akan memberi tahu kepadamu. Orang itu bilang, bila saatnya sudah tiba dia akan muncul sendiri. Kau boleh tunggu saja."
Sudah tentu Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu merasa khawatir dan was-was, hadirin pun menduga-duga.
Hanya Kim Tiok-liu dan Luitin-cu saja yang sudah menduga siapakah tokoh misterius itu.
Sudah tentu Beng Hoa juga sudah menduga bahwa orang itu adalah maling nomor satu sejagat Kwi-hwe-thio adanya.
Seperti diketahui, kemarin malam dengan kelihayannya Kwi-hwethio telah menyiapkan sebungkus obat palsu yang bentuknya mirip dengan obat penawar asli milik Sin Jit-nio.
Sin Jit-nio mengira dia beruntung karena obat penawarnya tidak sampai terebut musuh, di luar tahunya, di waktu dia bicara dengan Kwi-hwe-thio yang menyamar Tong-bing-cu, sakunya sudah digerayangi dan obat penawarnya sudah ditukar.
'"Mana perempuan siluman itu?"
Tanya Lui-tin-cu.
"Aku tidak tahu,"
Sahut Kim Bik-ki.
"Waktu aku keluar tiada orang merintangi aku, aku tidak tahu perempuan siluman itu lari ke mana."
Lega hati Tong-bing-cu, batinnya.
"Sin Jit-nio berhati kejam, otaknya pun cerdik, begitu melihat gelagat jelek dia lantas kabur entah ke mana. Kalau dia tidak tertawan musuh, aku punya akal untuk cuci tangan dari persoalan ini. Setelah menarik napas, dia berkata.
"Suheng, kelihatannya dalam perguruan kita ada anasir-anasir khianat yang perlu diberantas."
Tong-cin-cu seperti sadar, katanya tertawa getir.
"Nona Kim, kalau kau tidak mau memberi tahu, ya sudah. Bahwa kau terkurung dalam biara kami, sungguh aku amat menyesal dan mohon maaf kepadamu."
"Memangnya minta maaf sudah cukup?"
Jengek Kim Bik-ki.
"Kenapa perempuan siluman itu bersembunyi dalam biara kalian, apa kau ingin cuci tangan?"
"Nona Kim, kuharap bicaramu tahu ukuran. Kau bilang demikian, berarti kau menuduh aku bersekongkol dengan perempuan siluman itu?"
"Hatimu sendiri yang tahu."
"Anak Ki, jangan kurang ajar. Tongbing totiang, mohon maaf, bocah ini tidak pandai bicara. Tapi dia penasaran setelah tertimpa malang, karena ingin membongkar kasus sebenarnya, tak heran kalau dia bersikap kasar."
Tong-cin-cu bersikap amat menyesal, katanya.
"Dalam Jing-hikoan terjadi seperti apa yang dialami nona Kim, sungguh membuatku menyesal dan sakit hati. Bagaimana duduk persoalannya sekarang aku belum jelas, tapi sebagai Kong-tong ciangbun aku hams bertanggung jawab. Kim tayhiap, akulah yang pantas mohon maaf kepada kalian ayah dan anak."
Kim Tiok-liu menyingkir tidak mau menerima pemberian hormat orang, katanya.
"Mohon maaf, kukira tidak perlu, tapi aku mohon kepada ciangbun supaya memberikan jawaban tegas dan memuaskan."
Tong-cin-cu bermuka-muka, katanya setelah menghela napas.
"Pohon besar ada dahannya yang kering dan patah, Kong-tong menerima ratusan murid bukan mustahil ada yang murtad."
Kang Siang-hun yang masih mendongkol segera menimbrung.
"Sumoay-ku ditawan perempuan siluman itu dan disekap di dalam Jing-hi-koan, ini bukan perkara kecil, apa kau kira seorang muridmu mampu melakukan...."
Belum selesai dia bicara, Kim Tiok-liu telah mencegahnya. Sebetulnya dia masih akan bilang.
"Kalau dia tidak punya tulang punggung, memangnya dia bernyali'besar", tapi hadirin sudah maklum ke mana arah perkataannya. Tong-cin-cu batuk-batuk, sikapnya tetap pura-pura sedih dan menyesal, katanya.
"Aku kurang keras mendidik murid, kelalaianku ini memang patut dihukum. Tapi aku memang tidak tahu menahu tentang kejadian ini."
Lebih lanjut Tong-bing-cu juga berkata.
"Menilai kejadian, kurasa seperti yang dikatakan suheng. Ada seorang murid murtad yang bersekongkol dengan perempuan siluman itu di luar tahuku dan ciangbun suheng, nona Kim menjadi korbannya."
Kim Bik-ki sudah buka mulut hendak mendebat, mendadak sebuah suara berkata dingin.
"Pandai benar kau melimpahkan persoalan kepada orang, beruntun kau menggunakan cara yang sama, kurasa kali ini sudah tidak manjur lagi."
Itulah suara yang tadi bersuara Tong-cin-cu anggap tidak dengar, tanyanya kepada Kim Bik-ki.
"Nona Kim, kau masih ingin bicara?"
Dalam hati Kim Bik-ki bersorak girang, katanya tertawa.
"Apa yang ingin kukatakan orang sudah mewakili aku, apa kau tidak mendengar?"
Merah muka Tong-cin-cu, katanya.
"Aku sudah bilang aku akan memikul tanggung jawab. Nona Kim tak usah khawatir, kau disekap di dalam biara kami, aku pasti menyelidikinya sampai tuntas."
Lalu dia pura-pura memanggil Tay-ciok Tojin dan menyuruhnya menyelidiki kasus ini, padahal kasus kematian Giok-hi-cu sampai sekarang belum lagi terbongkar, sudah tentu kasus ini pun takkan mungkin bisa diselesaikan.
Di saat hadirin menduga-duga, suara orang yang berbicara dalam perut berkumandang pula.
"Sudahlah, jangan pura-pura, kalau betul kau mau menyelidiki kasus ini, pertama kau harus mengompes keterangan sute-mu Tong-bing-cu."
Kali ini suaranya cukup keras dan jelas, maka Tong-cin-cu tak mungkin pura-pura tidak mendengar.
"Siapa itu?"
Sentak Tong-cin-cu gusar.
"Kalau berani, tampil ke depan dan bicara berhadapan."
Orang itu berkata.
"Betul, memang sudah tiba saatnya aku tampil ke depan dan bicara di hadapan umum. Pertama aku akan menuding orang yang bersekongkol dengan perempuan siluman itu bukan lain adalah Tong-bing-cu yang siap mewarisi jabatan ciangbun Kong-tong-pay ini."
"Membual belaka!"
Teriak Tong-bing-cu.
"Keluarlah kau, mari bicara berhadapan."
Suaranya keras, sikapnya gugup, mukanya beringas.
Orang banyak sudah melihat betapa gugup dan panik.
Di saat hadirin celingukan ingin melihat siapa yang akan tampil ke depan, dua orang murid Kong-tong berlari tergesa-gesa dengan napas tersengal, teriaknya.
"Lapor ciangbun, celaka...."
"Apa yang celaka,"
Sentak Tong-cin-cu. Kedua murid itu berkata.
"Kami tidak menemukan kedua siluman perempuan itu, tapi kami menemukan Tay-ya toheng tertotok hiatto-nya disembunyikan di gua gunung-gunungan."
Kedua murid ini adalah yang ditugaskan mengusut perkara bersama Tay-ciok Tojin.
Tay-ya Tojin yang mereka katakan adalah murid Tong-bing-cu yang bertugas jaga di biara.
Tong-cin-cu seperti memperoleh angin, katanya.
"Nah, pasti ada penjahat yang menyelundup di dalam biara kita."
Orang yang pandai bicara dengan perut sudah tampil ke depan, katanya dengan bergelak tawa.
"Betul, akulah yang menyaru Tay-ya Tojin tapi penjahatnya bukan aku."
Kali ini dia tidak bicara menggunakan perut, suaranya mendadak berubah, mirip suara perempuan.
Karuan hadirin menjadi gempar, ada beberapa murid Kong-tong segera merubung maju hendak menangkap Tay-ya Tojin palsu yang bertubuh kecil pendek ini.
Maka terdengarlah suara berde-buk beruntun, beberapa murid Kong-tong itu terpental jatuh.
Hadirin tidak sedikit yang mempunyai kepandaian tinggi, beberapa orang lantas bersorak.
"Can-ih-cappwe-tiat yang bagus."
Beberapa murid Kong-tong itu adalah pilihan di antara ratusan murid Kong-tong yang lain, namun ujung baju orang pun tidak bisa disentuhnya, satu per satu sudah tersengkelit jatuh.
Kalau jago-jago silat banyak yang kaget, sudah tentu murid-murid Kong-tong itu pun menjadi jeri, tiada yang berani maju lagi.
"Sret"
Tong-bing-cu mencabut pedang, siap melabrak maju, namun hatinya pun agak jeri, dalam hati dia mengharap entah siapa mau maju membantu dirinya. Tak nyana Lui-tin-cu sudah berkata.
"Orang ibi menyaru murid perguruan kalian memang tidak pantas, tapi kalau dia berani menampilkan diri menjadi saksi, perbuatannya ini pasti ada sebabnya maka kuanjurkan biarlah dia bicara lebih dulu baru nanti kita putuskan bersama."
Memangnya Tong-bing-cu waswas bila dirinya bukan tandingan orang ini, pamornya akan runtuh habis-habisan. Terpaksa dia masukkan pula pedangnya sambil berkata.
"Baik, memandang muka Lui-cian-pwe marilah kita dengar ocehannya."
Orang itu tertawa dingin, katanya.
"Aku belum bicara, bagaimana kau tahu kalau aku mengoceh?"
Lui-jin-cu gugup, serunya.
"Betul... betul... lekas kau katakan saja."
Orang itu tetap bersikap kalem, katanya.
"Sebelum aku bicara, aku ingin minta hadirin siapa yang mau membantu aku?"
Tong-bing-cu tertawa dingin, jengeknya.
"Agaknya kau belum kapok juga, menyaru melakukan kejahatan, belum kami menghukummu, ada muka kau minta bantuan segala?"
"Tong-bing-cu, tak usah khawatir, aku tidak akan minta bantuanmu,"
Ucap orang itu.
"tapi bantuan yang kuminta ini tujuannya untuk kepentingan ciangbun suheng-mu sendiri."
Tong-cin-cu kaget, katanya.
"Ucapanmu aneh kedengarannya, .iku punya persoalan apa perlu kau minta bantuan orang untukku?"
Orang itu berkata.
"Bukankah kau ingin membekuk Sin Jit-nio?"
"Betul, memangnya kenapa?"
Tanya Tong-cin-cu.
"Terus terang saja, bukan saja Sin Jit-nio adalah musuh nona Kim, dia pun musuh besarku. Selama menjelang kentongan kelima dia kukejar sampai Toan-hun-gay, karena terpojok dan tiada jalan melarikan diri, saking ketakutan dia terjerumus ke dalam jurang. Sayang waktu itu cuaca sudah terang tanah, aku harus lekas pulang, maka tiada kesempatan mencarinya. Tapi aku yakin umpama tidak mampus, pasti dia terlu-ka parah, bila siapa sudi membantu aku mencarinya, umpama tak dapat membekuknya hidup-hidup, paling tidak mayatnya dapat ditemukan di sana."
Karuan hadirin kaget dan me-Ienggong mendengar ceritanya.
Maklum Sin Jit-nio adalah ahli racun nomor satu di jaman ini, kecuali kepandaian menggunakan racun, kungfunya juga tinggi, namun mendengar cerita orang ini ternyata Sin Jit-nio tidak berani bergebralcmela-wan dia, tidak heran kalau orang banyak merasa heran.
"Apa betul ucapanmu?"
Teriak Tong-cin-cu tertahan.
"Benar atau tidak, dalam satu jam bisa dibuktikan. Kalau sekarang kalian pergi ke Toan-hun-gay dan mencarinya pasti bisa menemukan jejaknya."
Tio It-bu guru silat kenamaan dari Jiangciu segera mengajukan diri, serunya lantang.
"Baiklah, aku percaya ucapanmu, biar aku yang memeriksa ke sana."
Ting Tiau-bing ikut bicara.
"Tio-suhu, biar aku menemani engkau."
Kecuali itu ada beberapa guru silat dan beberapa orang juga ikut beramai-ramai.
Tong-cin-cu menenangkan diri, sedapat mungkin dia mempertahankan wibawanya sebagai ketua sidang, tanyanya kepada orang itu.
"Maksudmu kau menuduh Tong-bing-cu ada intrik dengan perempuan siluman itu?"
"Banyak sekali tuduhan yang akan kuajukan, kalau dibandingkan, kasus ini hanya sampingan saja yang tidak begitu penting artinya."
"Soal apa pula yang akan kau ajukan?"
Tanya Tong-cin-cu.
"Aku akan menjadi saksi dalam kasus itu, aku pun akan membela dan membersihkan nama baikku sendiri."
Berubah rona muka Tong-cin-cu, katanya.
"Membela dirimu sendiri? Kau... siapa kau?"
Lui-tin-cu menepuk paha, serunya.
"Betul, urusan sudah sejauh ini, selanjutnya tak perlu kau takut orang tahu wajah aslimu."
Orang itu mengangguk, katanya.
"Betul, sekarang sudah tiba saatnya aku kembali pada wajah asliku."
Bicara sampai "wajah asliku", perlahan dia mencopot gelung kepala dan mengusap mukanya yang dirias, tampaklah wajah aslinya.
Karuan hadirin melongo kaget.
Ternyata orang ini adalah perempuan.
Siapa pun tidak menduga orang misterius ini ternyata seorang perempuan, malah gadis yang tampak cantik dan anggun.
Kecantikannya berbeda dengan kecantikan gadis umumnya, kalau keayuan seorang gadis diibaratkan sekuntum kembang di musim semi, maka kecantikannya ibarat rembulan di musim rontok, kalau kecantikan gadis remaja membuat hati siapa pun merasa hangat, tapi kecantikan perempuan ini justru membuat hati orang dingin, sebab dia cantik tapi wajahnya' kaku dingin, siapa pun yang melihat wajahnya pasti akan merasakan sesuatu yang berbeda.
Kejadian memang aneh, di bawah tatapan tajam perempuan cantik berwajah dingin ini, ternyata Tong-bing-cu seperti berhadapan dengan setan, sekujur badan gemetar.
Orang yang tak jauh di pinggirnya malah mendengar giginya ber-kerutukan karena menggigil.
Sekonyong-konyong beberapa orang berteriak bersama.
"He, bukankah dia puteri Boh tayhiap?"
Perlu diketahui, puteri tunggal Koan-tiong Tayhiap Boh It-hang yang bernama'Boh Le-cu dahulu diakui sebagai perempuan tercantik di seluruh Bulim, kini meski usianya sudah menanjak empatpuluh namun masih tetap kelihatan keayuannya.
Memang hadirin tidak banyak yang pernah melihatnya dulu, tapi juga tidak sedikit.
Setelah ada orang mengenali dan berteriak, mereka yang semula masih pangling segera juga bersorak membenarkan.
Perlahan Boh Le-cu membalikkan badan menghadap ke bawah panggung, perlahan dia berkata.
"Betul, aku adalah mempelai perempuan yang akan menikah delapan-belas tahun lalu."
Lalu dia tertawa dingin serta berkata kepada Tong-bing-cu.
"Kau tidak mengira bahwa aku belum mati, ternyata masih hidup bukan?"
Tong-bing-cu menenangkan pikiran dan gejolak hati, katanya menyengir.
"Boh-siocia, kau bisa pulang dengan selamat, sungguh kejadian yang patut dibuat girang."
Dalam hati diam-diam dia membatin.
"Kasus yang terjadi delapan-bclas tahun yang lalu, aku sendiri tidak menampilkan diri, entah berapa banyak yang diketahui olehnya, kalau tidak banyak mungkin aku masih bisa berdebat dengan dia, jikalau dia sudah tahu jelas, ai, apa boleh buat, terpaksa aku bertindak biar menyerempet bahaya sesuai rencana yang telah diatur bersama Hay Lan-ja."
Sejak Tong-cin-cu mengumumkan rapat besar ini dibuka, dalam setengah hari beruntun terjadi beberapa peristiwa yang cukup mengecilkan dan menarik perhatian.
Giok-lu-cu terbokong mati, munculnya I teng Hoa dan tertangkapnya Kiat Hong dengan pengakuannya, tapi kalau dibandingkan kejadian yang tadi, munculnya Boh Le-cu ini lebih menggemparkan dan menggetarkan sanubari banyak orang.
Maklum kalau beberapa orang lain itu hanyalah pelengkap dari kasus sebenarnya, tapi Boh Le-cu ini justru primadona yang disangka mati kini muncul kembali.
Selama delapanbelas tahun ini, ke manakah dia menyembunyikan diri?
Walaupun tidak mati, kenapa selama ini tak pemah muncul membongkar duduk persoalan?
Tan Khu-seng tahu tidak bahwa dia masih hidup?
Setelah terjadi kegemparan, berbagai pertanyaan muncul di benak orang-orang.
Boh Le-cu berhadapan dengan Tong-bing-cu, katanya dingin.
"Apa betul kau segirang itu? Kau kira para saksi dalam kasus ini sudah mati seluruhnya, namun kemunculanku ini mungkin akan membuatmu kecewa Oh ya tadi kau pemah memfitnah Tan Khuseng merampok dan kemaruk paras ayu, memfitnah dia berbuat serong serta membawaku minggat. Kau kira setelah urusan berselang delapanbelas tahun, waktu itu aku sudah keracunan, tentu sudah lama mati dan tiada orang bisa menjadi saksi, maka Tan Khu-seng dengan mudah kau fitnah tanpa kuasa membela diri, betul tidak?"
Merah padam muka Tong-bing-cu, katanya "Kasus seaneh ini telah terjadi, waktu itu tidak heran kalau tersiar berita-berita yang merugikan berbagai pihak, kami sendiri tidak tahu duduk perkara sebenarnya, mungkin kami terlalu percaya oleh desas-desus itu.
Sebetulnya engkau adalah menantu keponakanku, sudah tentu aku tidak ingin desas-desus itu menjadi kenyataan.
Sekarang tolong kau buktikan bahwa desas-desus dahulu itu hanyalah kabar angin belaka."
Setelah ada kesaksian Kiat Hong, pelaku utama dari kasus itu mengunjukkan dirinya pula, maka Tong-bing-cu tidak berani menyinggung dua kacung keluarga Boh seperti yang dikatakan oleh Tong-hian-cu sebagai saksi hidup.
Sekarang Tong-bing-cu tidak berani bersikap keras seperti terhadap Kiat Hong tadi, menuding keterangan Boh Le-cu tidak boleh dipercaya.
Namun hadirin banyak yang maklum bahwa nada ucapannya itu sedikit banyak masih mencurigai Boh Le-cu.
Boh Le-cu menyeringai dingin, katanya.
"Aku bisa memberikan bukti kepadamu, sekarang biar kujelaskan duduk persoalan sebenarnya dari kasus ini kepada hadirin."
Seluruh hadirin tutup mulut menahan napas, sehingga suasana menjadi hening.
"Untuk membeber kasus ini, aku harus bercerita sejak kematian ayahku,"
Demikian tutur Boh Le-cu kalem.
"Waktu ayah meninggal, tahun itu baru berusia empatpuluh delapan, belum genap limapuluh sudah meninggal. Padahal dia meyakinkan lwekang tinggi, boleh dikata pada masa jayanya, apakah kalian tidak merasa kematiannya agak ganjil?"
Maka ramailah pertanyaan yang diajukan dari berbagai pihak.
"Iya, sebelumnya tak terdengar Boh tayhiap sakit, mendadak meninggal dunia, kejadian memang patut dicuri-gai."
Tapi ada juga yang bilang.
"Boh tayhiap dikebumikan dengan upacara kebesaran, waktu itu tidak sedikit para sahabat yang menjenguk wajahnya yang terakhir, keluarganya juga bilang dia sedang...."
"Biarlah Boh-siocia sendiri yang menjelaskan,"
Tukas Lui-tin-cu.
"Dari nada bicaramu terasa kejadian itu ada latar belakang yang tidak diketahui orang luar. Tolong jelaskan bagaimana kematian ayahmu?"
Boh Le-cu mengertak gigi, desisnya.
"Ayahku mati karena diracun orang."
Kembali hadirin gempar. Lui-tin-cu berjingkrak kaget, serunya.
"Siapa yang meracun ayahmu, apa kau tahu?"
"Ibu tiriku,"
Sahut Boh Le-cu.
Setelah Boh' It-hang meninggal, istri mudanya menjual seluruh harta peninggalan suaminya dan diserahkan kepada puteri tirinya sebagai pe-salin.
Waktu itu kejadian ini mendapat pujian pelbagai pihak, semua memuji ibu tiri yang satu ini bajik dan bijaksana.
Belakangan setelah puteri tirinya dijemput calon suaminya maka dia pun pulang ke rumah keluarganya.
Karena keluarga Boh tidak punya famili dekat, setelah dia pergi, tak pemah kembali ke Bi-ti, juga tiada orang memberi tahu beritanya.
Lui-tih-cu agak heran, katanya.
"Sungguh tak nyana, pemah aku menyangka Boh-hujin adalah ibu tiri yang lain dari yang lain."
Boh Le-cu menghela napas, katanya.
"Perempuan siluman itu memang pandai bermuka-muka, jangan kata sanak kadang terkelabui olehnya, semua menyangka dia orang baik, ayahku sendiri sampai menjelang ajalnya juga mengira dia orang baik, istri sejati."
"Menjelang mati dia tidak tahu, jadi di saat dia hampir meninggal, apakah dia sudah tahu?"
Tanya Lui-tin-cu. Boh Le-cu berkata.
"Kukira dia sudah tahu. Tapi bagaimana sebetulnya istri keduanya dia masih dikelabui."
Lui-tin-cu dan Kim Tiok-liu bertanya bersama.
"Orang macam apakah dia sebenarnya?"
Dari samping Tong-cin-cu juga mengajukan satu pertanyaan.
"Kenapa kau mengira ayahmu mungkin indah tahu, apakah di saat hampir ajalnya dia memberi tahu kepadamu?"
Pertanyaan ini sebetulnya dia -jukan mewakili sang sute. Dalam hatinya bersama Tong-bing-cu berpikir.
"Boh lt-hang terkena racun, menjelang ajalnya baru dia sadar, waktu itu pasti dia sudah sukar bicara, entah berapa banyak yang diketahui lalu dia memberi tahu kepada puterinya."
Boh Le-cu berkata.
"Pertanyaan belakangan akan kutundajawaban-nya. Sekarang biar kuberi tahu kepada orang banyak, siapa sebenarnya ibu tiriku itu."
Suara berisik di bawah panggung seketika sirap, suasana kembali hening, setiap hadirin pasang telinga. Kalem suara Boh Le-cu.
"Ibu tiriku itu bernama Han Ji-yan, dia pura-pura dari keluarga hartawan besar yang terkenal, tidak pandai main silat. Padahal dia adalah sumoay perempuan siluman Sin Jitno, keahliannya menggunakan racun tidak lebih rendah dari Sin Jitnio."
Mendengar ibu tirinya adalah sumoay Sin Jit-nio, hadirin tersirap kaget, tak nyana ceritera yang diungkapkan Boh Le-cu selanjurnya justru lebih mengejutkan lagi, sehingga Lui-tin-cu juga dipaksa memasang telinga mendengarkan sambil melongo.
Lebih lanjut Boh Le-cu berkata.
"Kecuali menjadi istri muda ayahku, dia masih punya kedudukan lain yaitu gendak rahasia ayah Ho Lok yaitu Tong-hian-cu."
Berubah air muka Tong-cin-cu, katanya.
"Nona Boh, ucapanmu itu tidak boleh sembarang diucapkan. Khalayak ramai sudah tahu bahwa di saat setengah umur, Tong-hian sute kematian istrinya, maka dia masuk agama menjadi imam. Dari sini dapat dibayangkan betapa besar cinta kasihnya terhadap sang istri. Setelah menjadi imam, dia amat keras menjaga diri dan mematuhi aturan, hai ini diketahui banyak murid-murid."
Boh Le-cu berkata dingin.
"Tapi kematian istrinya juga dia yang membunuh, bersekongkol dengan Han Ji-yan. Tapi rahasia ini putera-nya yang bernama Ho Lok itu juga tidak tahu. Pepatah bilang, hewan sejenis selalu berkumpul jadi satu, kalau Han Ji-yan bisa bermuka-muka menjadi seorang ibu tiri bijaksana, apa susahnya kalau Tong-hian-cu pura-pura menjadi murid agama yang saleh?"
Membesi muka Tong-bing-cu, serunya.
"Tong-hian-cu ayah dan anak sudah meninggal, nona Boh jangan kau kira setelah orang mati tiada saksi, maka boleh kau menjelekkan namasuheng-ku. Ketahuilah, secara tidak langsung keburukan itu juga menghina ayahmu yang sudah mati itu."
"Justru karena mengingat keburukan keluarga pantang tersiar di luar, maka selama ini belum pernah kubicarakan dengan orang lain. Hingga hari ini, aku didesak oleh keadaan, terpaksa aku beberkan seluruh kejadian sebenarnya."
Lui-tin-cu berkata.
"Bagaimana kau bisa tahu semua rahasia itu? Kau punya bukti?"
Boh Le-cu berkata perlahan.
"Aku menyimpan sepucuk surat cinta tulisan Tong-hian-cu yang ditujukan kepada Han Ji-yan, mohon Lui-cianpwe dan Kim tayhiap memeriksanya."
Tong-cin-cu masih dapat menguasai diri, sedapat mungkin dia bersikap tenang, tapi wajah Tong-bing-cu kelihatan pucat pias.
Di dalam hati dia berdoa semoga surat ini tidak menjelekkan namanya.
Setelah menerima surat itu Lui-tin-cu membacanya sekali, rona mukanya tampak kelam, lalu dia sodorkan kepada Kim Tiok-liu dan berkata.
"Kelihatannya memang benar gaya tulisan Tong-hian-cu."
Perlu diketahui, untuk mengundang Lui-tin-cu dan Kim Tiok-liu menjadi hakim dalam rapat besar kali ini, untuk menarik simpati dan kepercayan mereka, semalam dia pernah memperlihatkan suratsurat yang menyangkut kasus ini kepada mereka.
Surat-surat itu tak berbeda dengan yang dikirimkan kepada ciangbunjin Thian-san-pay Teng King-thian.
Dalam arsip itu terdapat laporan Tong-hian-cu dari hasil penyelidikannya kepada ciangbunjin, termasuk keterangan lisan yang dia jadikan surat dari kedua kacung keluarga Boh yang dikatakan masih hidup.
Langkah Tong-cin-cu ini sebetul-nya untuk membantu sang sute menjerumuskan Tan Khu-seng.
Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa sekarang terbalik menjadi alat pemukul yang fatal hingga pihaknya dirugikan malah.
Setelah.Kim Tiok-liu membaca dia serahkan kepada ciangbunjin Kong-tong-pay Tong-cin-cu, katanya.
"Tong-cin totiang silakan kau saja yang menentukan keasliannya." . ? Tahu dirinya tak mungkin mendebatnya, terpaksa Tong-cin-cu mengangguk, katanya.
"Betul, inilah gaya tulisan Tong-hian sute."
Waktu Tong-cin-cu membaca surat, tanpa terasa Tong-bing-cu mendekat ikut membaca.
Padahal Tong-cin-cu tidak memanggilnya namun dia maju sendiri, soalnya seumpama maling yang ketakutan bila perbuatannya ketahuan, dia berusaha menyembunyikan sikap dan tingkah lakunya.
Dalam keadaan terdesak dan gugup, orang banyak sudah melihat tindak tanduknya yang tidak normal, namun hadirin hanya mengangguk saja.
"Syukurlah ternyata tidak menyangkut diriku tapi kalau diusut, sesungguhnya aku tak terlepas dari kecurigaan,"
Demikian batin Tong-bing-cu was-was, tangannya berkeringat, hati berdebar-debar.
Dalam keadaan seperti ini sepatah kata pun tak berani dia bicara lagi.
Sekian saat siapa pun tiada yang bicara, melihat wajah mereka kelam dan prihatin, orang-orang di bawah panggung menduga urusan tentu amat gawat dan ruwet namun tiada yang tahu apa isi surat itu.
Cukup lama kemudian baru Lui-tin-cu memecahkan kesunyian.
"Boh-siocia, bagaimana surat ini bisa jatuh ke tanganmu?"
Boh Le-cu berkata.
"Waktu ayahku keracunan malam itu, aku seperti mendapat firasat jelek, sudah kentongan ketiga namun aku tak bisa tidur. Mendadak sayup-sayup aku seperti mendengar jeritan ayah, bergegas aku lari ke kamar tidur ayah, terdengar di tengah rintihannya, ayah berkata, 'Apa, surat apa, aku belum pernah melihat. Aneh kenapa tidak lekas kau memanggil tabib memeriksa sakitku, kau justru mencari sepucuk surat yang tak berarti, apa sih maksudmu?' Waktu itulah kudengar Han Ji-yan mendadak tertawa dingin."
Boh Le-cu berdiri terpana seperti mengenangkan kejadian masa lalu, rasa kaget, sedih dan pilunya kumat lagi. Katanya, lebih lanjut.
"Biasanya Han Ji-yan bersikap arif dan terbuka, kalau bicara tidak pemah keras dan selalu ramah, senyum selalu dikulum, tapi tawa dinginnya itu membuat bulu kudukku berdiri, jelas berbeda dari kebiasaannya. Aku amat kaget, tanpa menghiraukan aturan, langsung aku menerjang ke dalam kamar. Di saat aku melangkah masuk itulah, sempat kudengar ayah memaki, 'Aku sudah mengerti sekarang, kau perempuan jalang.' "Entah karena tidak ingin diketahui olehku, begitu melihat aku masuk, ayah lantas tutup mulut. Tapi dari tatapan matanya kepadaku, aku merasakan karena kedatanganku yang tak terduga ini, ayah menampilkan rasa khawatir, takut dan ngeri.
"Demikian pula Han Ji-yan berpura-pura gelisah dan gugup, serunya, 'Nak, coba lihat, ayahmu sudah sakit begini, pikiran pun hampir kabur, namun mulutnya masih juga mengoceh, aku bingung dan tidak tahu apa yang dia katakan.' "Ternyata ayah juga pura-pura seperti mendadak sadar, memegang tanganku dia berkata, 'Barusan apa yang kukatakan?' Aku tahu kedudukanku amat berbahaya, tak berani aku bilang telah mendengar pembicaraan mereka tentang surat itu, maka aku hanya bilang aku seperti mendengar kau sedang memaki ibu. Dengan sikap penasaran dan minta belas kasihan, Han Ji-yan berkata, 'Aku sendiri tidak mengerti dalam hal apa aku pernah berbuat salah sehingga tidak memuaskan ayahmu, sehingga dia tega memaki aku sebagai perempuan jalang.' "Sengaja ayah menghela napas, katanya, 'Aai, aku memang gegabah, kenapa mulutku jadi ngoceh tak karuan! Le-ji, agaknya keadaanku sudah tak mungkin disembuhkan iagi, ibumu seorang baik, bila aku meninggal dunia, kau harus patuh pada nasihatnya.' Mulut berkata demikian, sementara tangan yang memegang tanganku menulis 'tidak' di telapak tanganku dengan ujung jari telunjuknya.
"Biasanya ayah amat tabah, cerdik dan banyak akalnya, sungguh tak nyana dia tertipu oleh perempuan jalang itu. Tapi aku pun paham usaha ayah di dalam keadaan seperti itu, dia tahu penyakitnya tak mungkin sembuh, setelah dia mati, aku pasti sukar melawan perempuan keparat itu, maka untuk menyelamatkan jiwaku terpaksa dia harus pura-pura dan mengaku bahwa dirinya sudah pikun.
"Mungkin perempuan keparat itu tidak mengira dalam keadaan seperti itu, ayah masih punya cara memberi kisikan kepadaku, mungkin dia kira ayah masih kepincut olehnya, sebelum ajal berpesan kepada puterinya dari hati yang tulus, maka rona mukanya tampak lebih baik, katanya, 'Lekas, lekas kau panggil tabib untuk memeriksa ayahmu.' "Ayah menghela napas, katanya, 'Tak usahlah.' Di telapak tanganku dia menulis lagi, 'Tanya Lau-ma'. Agaknya untuk menulis tiga huruf di telapak tanganku itu, dia sudah mengerahkan tenaga terakhir, habis menulis kepalanya menjadi lunglai, napas pun putus.
"Ibarat maling yang ketakutan sendiri setelah melakukan pencurian, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, setelah ayah meninggal dia tetap mengundang tabib terpandai dari kota Bi-ti untuk memeriksa keadaan ayah. Dia bilang kematian ayah amat mendadak, maka dia ingin tahu sebab musabab kematian ayah. Entah racun apa yang dia gunakan, ternyata tabib pandai itu tak berhasil menemukan penyebab kematiannya, dia hanya menduga ayah terburu nafsu dalam latihan lwekang sehingga jantungnya tidak kuat dan mati seketika. Selanjutnya, lahirnya Han Ji-yan masih banyak melakukan kebaikan-kebaikan lain, dengan upacara besar dia mengubur ayah, bagaimana dia menjual harta peninggalannya dan diserahkan kepadaku sebagai pesalin pernikahanku. Semua ini orang banyak sudah tahu. Terpaksa aku pura-pura berterima kasih kepadanya supaya dia tidak curiga kepadaku."
Boh Le-cu melanjutkan ceritanya.
"'Secara diam-diam, hari kedua aku bertanya kepada Lau-ma. Lau-ma adalah ibu inang ibu kandungku, .nnat setia terhadap kami ibu beranak, setelah ibu meninggal dia pandang aku sebagai cucunya sendiri. I >alam keluarga kami hanyalah dia -.i-orang yang sejak mula sudah melihat kemunafikan Han Ji-yan, tidak jarang dia memberi peringatan kepadaku supaya tidak percaya ocehan perempuan keparat itu.
"Lau-ma amat berduka, katanya, 'Sebetulnya aku ingin menyerahkan surat itu kepada ayahmu, sayang ayahmu tidak percaya kepadaku, malah dia mencaci maki aku. Tapi untung aku tidak membuang surat itu.' Surat yang dia serahkan kepadaku ialah tulisan tangan Tong-hian-cu yang ditujukan kepada Han Ji-yan itu."
Lui-tin-cu bertanya.
"Bagaimana Lau-ma bisa menemukan surat itu, apa kau pemah tanya dia?"
"Sudah tentu kutanyakan dengan jelas. Dia bilang, 'Siocia, apa kau masih ingat orang asing yang beberapa hari lalu datang mencari Han Ji-yan itu, kebetulan ayahmu berangkat ke luar kota, hari kedua baru pulang.' "Aku bilang, 'Hal itu aku tahu, katanya suruhan dari keluarganya.' Memang orang suruhan keluarga Han Ji-yan setiap tahun datang"
Beberapa kali, maka aku tidak merasa heran.
"Lau-ma berkata pula, 'Kau tidak heran, aku justru tak habis mengerti-Pernahkah kau perhatikan, orang-orang utusan keluarganya jarang terdiri dari orang yang sama? Tapi aku selalu memperhatikan dan ingat betul, selama tiga tahun ini hanya ada satu orang pernah datang dua kali, enam kali yang lain selalu orangorang yang tidak pernah kita kenal.' "Aku berkata, 'Keluarganya adalah keluarga besar, mungkin pembantunya amat banyak maka setiap kali mengutus orang yang berbeda. Hal ini tidak perlu dibuat heran. Lekas kaujelaskan saja bagaimana kau memperoleh surat itu?' "Lau-ma berkata, 'Malam itu cuaca mendung, hawa dingin. Tengah malam aku terjaga bangun, aku ingat ada beberapa pakaianyang belum kubawa masuk, maka aku bangun membenahi pakaian yang telah kucuci tadi siang. Tengah malam, mungkin sudah kentongan ketiga, mendadak kudengar Han Ji-yan seperti mengumam sendirian di dalam kamar. Memangnya aku sudah curiga padanya, kini hatiku lebih tertarik lagi, maka diam-diam aku merunduk ke bawah jendelanya mengintip ke dalam.' Sejak kecil Lau-ma sudah bekerja di keluarga kakek, belakangan dia menjadi inang ibu kandungku pula, bila kakek mengajar silat kepada ibu dia pun ikut berlatih, maka ginkang-nya terhitung cukup mahir.
"Lau-ma bicara lebih lanjut, 'Kulihat Han Ji-yan sedang membaca surat ini, mungkin bukan hanya sekali dia membaca surat ini, tak tahan dia tertawa sendiri, lalu menggumam. Hmm, walau aku tidak tahu apa isi surat itu, tapi melihat tingkah lakunya, seperti perempuan cabul menerima surat cinta kekasih liarnya yang menjanjikan suatu pertemuan gelap.' "Waktu itu aku belum membuka dan membaca surat ini, kataku, 'Lau-ma, jangan kau berkata sekotor itu. Akhirnya bagaimana?' Sebetulnya aku tidak mengira bahwa Han Ji-yan seperti apa yang dikatakan Lau-ma, tak nyana setelah membaca surat itu, baru aku tahu bahwa surat itu memang surat cinta. Surat cinta sih sudah umum dan maklum, celakanya surat ini berisi rencana keji pula."
"Kalau betul surat itu begitu penting dan rahasia, pantasnya Han Ji-yan menyimpannya secara rahasia. Kenapa bisa jatuh ke tangan Lau-ma?"
"Lau-ma melanjutkan ceritanya, 'Perempuan keparat itu bolakbalik membaca surat ini. Setiap kali membaca selalu tertawa lebar sambil menggumam, 'Muslihat bagus, betul-betul muslihat bagus!' Pada saat itulah, entah karena jejakku di luar jendela ketahuan, tawanya mendadak berhenti, bentaknya,' Siapa di luar?' Tahu-tahu dia menerobos keluar dari jendela.' '"Aku mendekam di pojok tembok, bernapas pun tak berani. Tengah hatiku bingung dan khawatir bila diriku ketahuan, bagaimana baiknya? Melabrak serta membongkar kedoknya, atau mencari alasan lain mengelabuinya? Belum sempat aku mengambil keputusan, mendadak terasa angin berkesiur, dia melesat lewat dari sampingku. Biasanya dia pura-pura tak pandai main silat, baru saat itu aku tahu gerak-geriknya ternyata begitu hebat.' "Di pojok tembok ada tumpukan batu sehingga pandangannya terhalang, tapi bila dia mau berhenti sejenak dan memeriksa dengan seksama pasti jejakku ketahuan. Tapi anehnya, dia seperti tidak curiga bila di pojok tembok ada orang menyembunyikan diri, langsung dia meluncur ke gunung-gunungan di lengah kebun sana. Setibanya di atas gunung-gunungan dia celingukan sekian lama lalu menyelinap masuk ke gua gunung-gunungan memeriksa dengan teliti. Setelah tidak menemukan apa-apa, setelah keluar dia menggumam sendiri, 'Apakah suara ingin menghembus daun, aku salah mendengar? Ya, pasti aku terlalu banyak curiga dan was-was, tak mungil m ada orang lari secepat itu.' Dari nada bicaranya, kedengarannya dia mendengar suatu suara yang mencurigakan atau menemukan jejak pejalan malam. Aku sendiri sedang memperhatikan gerak-geriknya, maka aku pun tidak tahu kalau ada orang lain.
"Hari kedua, seperti pagi biasa-nya aku membersihkan kamar tidur-nya, kudapati rak buku berentakan."
Sampai di sini Boh Le-cu memberikan keterangan tambahan.
"Ayahku suka membaca. Koleksi bukunya amat banyak, jadi bukan hanya rak buku saja yang penuh bertumpuk buku, di atas lantai juga sering bertumpuk berbagai jenis buku.
"Aku ingin menata kembali buku-buku yang berserakan itu, tapi dia bilang, 'Buku milik loya jangan disentuh, kau cukup menyapu lantai dan membersihkan meja saja.' "Waktu aku membersihkan belakang rak buku, mendadak kudapati di pinggir setumpukan buku-buku terdapat sebuah liang tikus, di mulut liang seperti ada secarik kertas. Dilihat dari lipatannya, mirip selembar kertas surat. Aku tidak tahu apakah surat itu yang selama ini dibaca oleh dia. Di saat dia tidak menaruh perhatian aku memungut dan menyembunyikannya.
"Menurut dugaanku, mungkin sudah menjadi kehendak Yang Kuasa, sehingga perbuatan jahat dan muslihat perempuan keparat itu terbongkar. Agaknya waktu malam itu dia mendengar suara orang di luar jendela, karena tergesa-gesa, dia menyelipkan surat itu di salah satu buku di atas rak buku. Di luar tahunya kertas surat itu dibawa tikus ke sarangnya. Untung tikus hanya menggigit robek ujung lipatannya saja, tulisan di atas kertas masih utuh dan lengkap, sehuruf pun tidak kurang.
"Setelah mendengar cerita Lau-ma, baru aku membuka lipatan surat itu serta membacanya. Baru aku tahu dan sadar, perempuan keparat ini jauh lebih jahat dari yang kuduga semula. Posisiku mungkin jauh lebih berbahaya dari apa yang dikhawatirkan oleh ayah."
Sejauh ini dia bercerita, apa isi surat itu tetap tidak diceritakan oleh Boh Le-cu. Kang Siang-hun sudah tidak sabar lagi, segera dia bertanya.
"Boh-Iihiap, apa sih isi surat itu, bolehkah kau menjelaskannya?"
Dari tangan Kim Tiok-liu, Boh Le-cu menerima balik surat itu, sorot matanya ditujukan kepadanya dan Lui-tin-cu. Tapi pandangan Kim Tiok-liu ditujukan kepada Tong-cin-cu, katanya.
"Mohon tanya kepada ciangbun. Apakah di sini hadir pejabat pemerintah?"
Merah muka Tong-cin-cu, katanya.
"Dari kalangan pemerintah kami hanya mengundang wakil komandan Gi-lim-kun Auwyang Ya. Malam itu Auwyang Ya hilang secara misterius, aku percaya yang hadir sekarang tidak ada orang-orang dari pemerintahan."
Sebetulnya dia tahu kalau Hay Lan-ja sudah datang, sudah tentu dia tidak berani mengatakan. Lui-tin-cu berkata.
"Urusan sudah terlanjur sejauh ini, umpama ada cakar alap-alap di sini, kukira tak usah khawatir dan takut. Nona Boh katakan saja."
Boh Le-cu meremas surat itu, katanya.
"Ayah sudah meninggal delapanbelas tahun, aku tak perlu takut bila orang banyak tahu tentang hal ini. Di masa hidupnya, ayah pernah menjadi anggota laskar rakyat yang secara rahasia menentang pemerintah. Dengan pemimpin laskar rakyat di Ki-lian-san yaitu Tiok Siang-hu beliau adalah saudara angkat, punya hubungan erat dengan Yap Bo-hoa, pemimpin laskar rakyat di Jwan-ciok. Orang luar tiada yang tahu rahasia ini, tapi aku yakin Kim tayhiap tentu sudah tahu."
"Betul. Aku bisa menjadi saksi, kawan-kawan dari laskar rakyat sampai sekarang masih berterima kasih akan bantuan yang tak terhingga besarnya dari ayahmu."
Boh Le-cu berkata lebih lanjut.
"Kaum Bulim hanya tahu bahwa ayahku seorang hartawan kaya raya, padahal seluruh harta benda itu bukan seluruhnya milik pribadinya, sebagian besar adalah dana yang diperoleh dari berbagai pihak untuk modal usaha Dengan kata lain, ayah berusaha mencari keuntungan untuk menyokong gerakan laskar rakyat."
"Ada satu bukti yang sudah nyata, tapi belum kau jelaskan,"
Timbrung Kim Tiok-liu.
"Menurut apa yang kutahu, setiap kali laskar rakyat kurang sandang pangan, tidak cuma sekali ayahmu mengeluarkan harta miliknya untuk menambal kekurangan itu."
Boh Le-cu menjelaskan lebih lanjut.
"Ada dua tugas ayah dalam membantu gerakan laskar gerilya. Pertama adalah mendukung langsung, kedua menjadi kurir bagi setiap orang-orang gagah yang berjiwa patriot dalam perjalanan ke pangkalan lewat Bi-ti. Karena itu dia dijuluki Siau-beng-siang. Orang luar hanya tahu dia berjiwa bajik dan royal, namun siapa tahu kalau dia bekerja untuk kepentingan rakyat jelata.
"Hartawan Bulim hanya untuk menutupi kedok utama gerakan ayah sehingga tugasnya bisa berjalan lancar. Semula dia mengira pihak pemerintah tidak akan curiga kepadanya, tak nyana kepala alap-alap musuh sudah tahu akan rahasianya, malah di sampingnya telah menanam mata-mata."
Sampai di sini dia mengacungkan surat di tangannya, serta menambahkan perlahan.
"Mata-mata di samping ayahku bukan lain adalah penerima surat ini, yaitu istri muda ayahku Han Ji-yan adanya.
"Setelah dia menikah dengan ayahku, pemah terjadi kawalan ran-fum yang dikirim ke pangkalan gerilya kena begal di tengah jalan. Selanjutnya terjadi pula beberapa pembegalan iringan ransum yang dikirim ayah ke pangkalan. Tidak sedikit orang-orang gagah yang gugur dalam menjalankan tugas. Tapi entah dengan cara apa perempuan keparat itu mengelabui dan mengaburkan pandangan ayah, ternyata sedikit pun ayah tidak menaruh curiga kepadanya. Setelah dia merasakan sendiri akibat dan menjelang ajalnya, baru dia sadar akan kekejamannya. Tapi apakah ayah tahu kalau dia mata-mata musuh, aku pun tidak tahu. Karena saat itu ayah sudah tidak mampu dan tiada kesempatan menjelaskan langsung kepada aku."
Boh Le-cu menyeka airmata seraya menghela napas, lalu melanjutkan.
"Menjelang ajalnya, mungkin ayah sudah tahu kalau perempuan keparat itu adalah mata-mata. Tapi dia pasti tidak tahu masih ada seorang mata-mata lagi, mata-mata yang lebih besar dengan peranan yang lebih membahayakan, karena mata-mata ini adalah besannya."
Wajah Tong-bing-cu pucat pasi seperti mayat, gumamnya.
"Kurasa peristiwa ini banyak yang patut dicurigai."
Boh Le-cu tertawa dingin, katanya.
"Apa pula yang masih harus dicurigai? Bukankah ciangbun su-heng-mu sudah mengakui bahwa surat ini benar tulisan tangan Tong-hian-cu?"
"Hanya berdasar sepucuk surat, kurasa belum kuat untuk menuduhnya sebagai mata-mata. Bukan mustahil ada orang yang meniru gaya tulisannya, begitu pandai ia meniru sehingga gaya tulisannya amat mirip hingga susah dibedakan kepalsuan-nya,"
Demikian Tong-bing-cu. Boh Le-cu menyeringai dingin.
"Jadi menurut katamu, aku telah memfitnah dia? Kapan aku pernah melihat gaya tulisan Tong-hiancu? Lau-ma seorang buta huruf, apa alasan dia mencari orang untuk meniru gaya tulisan Tbng-hian-cu. Jelas bahwa surat ini dia temukan di kamar Han Ji-yan, lalu apa pula yang harus dicurigai?"
Mulut Tong-bing-cu tertutup, tak berani buka suara lagi. Tong-cin-cu menghela napas panjang, katanya.
"Mimpi pun tak pernah terbayang olehku bahwa Tong-hian sute bisa melakukan perbuatan seperti itu. Lepas dari persoalan apakah ada orang memalsu gaya tulisannya, tapi dia memang patut dicurigai. Walaupun dia sudah mati sekian tahun, aku tetap akan membongkar kasus ini secara tuntas."
Sekarang dia hanya berusaha supaya dirinya tidak terlibat, mana berani membantu Tong-bing-cu bicara?
Tapi mendengar dia berjanji membongkar perkara ini, orang banyak sudah merasa sebal dan hilang kepercayaan kepadanya.
Lui-tin-cu berkata perlahan, 'Tak perlu diusut atau dibongkar segala, silakan saja nona Boh bicara, urusan pasti dapat dimengerti.
Sekarang silakan kaujelaskan isi dari surat itu kepada hadirin."
Maka Boh Le-cu tarik suara.
"Surat ini merupakan bukti bahwa Tong-hian-cu menyuruh Han Ji-yan menjadi mata-mata. Ternyata sejak lama dia sudah bersekongkol dengan pihak kerajaan. Tokohtokoh laskar gerilya yang pernah mampir ke rumahku semua dicatat dalam daftar hitam oleh Han Ji-yan lalu secara rahasia diserahkan kepada Tong-hian-cu. Di dalam suratnya ini, Tong-hian-cu memuji kerjanya yang teliti dan berhasil baik, supaya dia mengulur benang lebih panjang untuk mengail ikan lebih besar. Dia tidak setuju rencana Han Ji-yan yang akan meracun ayah terlebih dini. Belakangan Han Ji-yan salah paham, dia mengira surat ini jatuh di tangan ayah, maka dia buru-buru turun tangan, namun kejadian ini merupakan rangkaian kejadian yang lain.
"Dalam surat juga dibicarakan tentang diriku. Dia menganjurkan Han Ji-yan mendesak ayah supaya aku lekas menikah, bila aku sudah menjadi menantunya, urusan akan lebih mudah diselesaikan. Perempuan keparat itu pun lebih mudah memperdaya ayah.
"Hm, setelah membaca surat itu, baru aku sadar, pernikahan itu ternyata juga mengandung muslihat, tak heran Han Ji-yan amat ngotot mendesak pernikahanku ini, padahal semula ayah tidak pernah menaruh perhatian kepada Ho Lok."
Sampai di sini, tanpa sadar dia melirik ke arah Tan Khu-seng, lalu diam-diam menghela napas.
Ternyata cita-cita ayahnya semula hendak menjodohkan puterinya dengan Tan Khu-seng.
Orang banyak merinding setelah mendengar kisah panjang ini, baru sekarang mereka paham kenapa nona Bohjbtlang kedudukannya serba sulit dan berbahaya setelah melihat surat itu.
Ternyata posisinya memangjauh lebih buruk dari yang diduganya semula.
Ayahnya sudah terbunuh, di rumah jelas dia akan hidup dalam suasana cemas, kalau menikah berarti harus hidup di rumah musuh besar.
Kim Tiok-liu yang sejak tadi jarang bicara mendadak berkata.
"Nona Boh, banyak terima kasih akan bantuanmu, kau telah membongkar teka-teki yang tersetubung mi, kini biarlah aku pun memberi tahu satu hal kepadamu.
"Bicara terus terang, para sahabat dari laskar rakyat juga sudah menaruh curiga, bahwa di dalam rumahmu kemungkinan ada matamata musuh, sayang sukar diketahui iapa mata-mata yang memegang peranan penting ini.
"Beruntun terjadi peristiwa di luar dugaan, akhirnya disadari oleh I ui a kawan, semua yang ditimpa musibah adalah kawan-kawan yang pernah mampir ke rumahmu, ditam-li.ih ransum dirampas, maka orang-?m.ing semakin curiga. Suatu ketika Tiok Siang-hu memanggil Yap Bok-hoa untuk membicarakan hal ini secara rahasia, aku pun hadir dalam pembicaraan itu.
"Terhadap ayahmu semua orang menaruh kepercayaan seratus persen, tapi untuk bertindak secara hati-hati, mereka memutuskan untuk tetap mengelabui ayahmu, di luar tahu ayahmu mereka melakukan penyelidikan. Bila penyelidikan berhasil dengan baik, baru ayahmu akan diberi tahu.
"Untuk ini Tiok Siang-hu mengundang seorang temannya, minta dia membantu menyelidiki perkara ini, orang ini juga teman baikku, aku sudah mendapat persetujuannya hari ini boleh memberi tahu kepada para hadirin. Dia bukan lain adalah maling sakti nomor satu sejagat yaitu Kwi-hwe-thio."
Boh Le-cu mengangguk paham, katanya.
"O, pantas, malam itu, Han Ji-yan keparat itu mendengar ada orang di luar, kiranya dia yang bertandang ke rumahku. Orang itu pasti Kwi-hwe-tio bukan?"
KimTiok-liu mengangguk, katanya.
"Betul, hari itu ayahmu masuk kota dan bermalam di sana, itu pun rencana yang diatur Kwi-hwethio, dialah yang menyuruh teman ayahmu memanggilnya untuk melakukan suatu perjalanan luar kota.
"Malam itu Kwi-hwe-thio datang ke rumahmu, walau ginkang-nya waktu itu tidak sesempurna sekarang tapi dalam Bulim kepandaiannya sudah termasuk kelas tinggi, tak nyana jejaknya tetap ketahuan oleh Han Ji-yan. Begitu Han Ji-yan mengejar keluar, terpaksa dia menyingkir. Malam itu tidak banyak yang dia peroleh hanya tahu siangnya ada-orang mengirim surat kepada Han Ji-yan. Dia pun mendengar tawa Han Ji-yan yang ganjil, tapi tidak mendengar gumaman yang dikatakan. Dari pembantu rumah tangga keluargamu dia mendapat tahu bahwa keluarga orang tua Han Jiyan mengirim orang mengantar surat, orang itu sudah tentu tak bisa dibandingkan dengan Lau-ma, jelas mereka percaya apa yang dikatakan majikan perempuannya, mimpi pun mereka tidak mengira kalau majikannya berbohong.
"Beberapa hal itu memang patut dicurigai, tapi Kwi-hwe-thio belum berani memastikan bahwa Boh-hu-jin adalah mata-mata. Dia pun tidak tahu, mungkin tak pernah menduga, bahwa tokoh Kongtong-pay seperti Tong-hian-cu, besan dari Boh tayhiap ternyata juga seorang mata-mata. Terpaksa hari kedua, dia meninggalkan Bi-ti, pulang dulu ke Ki-lian-san, apa yang dilihat dan didengarnya dia laporkan kepada Tiok Siang-hu. Lalu berunding lebih lanjut, langkah apa yang harus mereka lakukan. Tak nyana beberapa hari kemudian setelah dia pulang ke Ki-lian-san, berita kematian Boh tay-hiap secara mendadak tersiar sampai di sana "Tak lama kemudian Ho Lok datang menjemput calon istrinya, di tengah jalan mengalami musibah pula, mempelai perempuan lenyap, mempelai laki-laki terbunuh secara aneh."
Lebih lanjut Kim Tiok-liu berkata.
"Kalau kita rangkai beberapa kasus serba aneh ini menjadi satu, mau tidak mau timbul kecurigaanku, apakah kasus satu dengan yang lain itu tiada hubungannya? Oleh karena itu, meski seluruh murid-murid Kongtong-pay menuduh Tan Khu-seng sebagai murid pengkhianat, sebagai pembunuh, sementara Tan Khu-seng tutup mulut, tapi aku percaya bahwa dalam peristiwa ini dia tidak berdosa. Di samping itu, selama delapanbelas tahun ini Kwi-hwe-thio juga tetap menyelidiki peristiwa ini, sayang sekali banyak tenaga pikiran telah terbuang namun belum berhasil dia menyingkap tabir rahasia ini. Akan tetapi walau kasus ini belum terbongkar, namun penyelidikan menunjukkan kemajuan ke titik terang. Titik terang ini dapat membuktikan analisaku bahwa Tan Khu-seng tidak berdosa. Hm, karena itulah aku tidak peduli bila orang nanti menuduh aku pilih kasih, di dalam persoalan ini aku membela Tan Khu-seng."
Akhir katanya dia tujukan kepada Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu.
Sebagai ciangbun Kong-tong-pay, merah padam muka Tong-cincu.
Kecuali kaget, malu dan serba runyam, keadaan Tong-bing-cu lebih menyedihkan, dia lebih panik dan ngeri dibanding sang suheng.
Tadi Kim Tiok-liu sudah menyatakan selama delapanbelas tahun ini Kwi-hwe-thio terus menyelidiki peristiwa ini, malah sudah menemukan banyak titik terang untuk membongkar kasus gelap ini.
Titik terang itu mencakup bahan keterangan apa saja?
Sesuai keterangan Kiat Hong atau ada penemuan lain?
Sejauh ini, kesaksian Boh Le-cu belum menyinggung dirinya, kalau dilanjutkan mungkin melibatkan dirinya Agaknya Lui-tin-cu sudah tertarik oleh sikap dan mimik Tongbing-cu yang kelihatan gelisah dan tidak tenang, lalu katanya dengan nada mengandung arti.
"Hm, sungguh mimpi pun tak pernah aku berpikir Tong-hian-cu dari perguruan kalian ternyata bersekongkol dengan pihak kerajaan, mata-mata yang membunuh orang-orang sebangsanya sendiri. Semoga tiada persoalan atau kejadian lain yang lebih menggi-riskan lagi. Nona Boh, menilai posisimu yang amat berbahaya waktu itu, sungguh patut dipuji bahwa kau bisa menghadapinya dengan tabah. Silakan lanjutkan ceritamu."
Boh Le-cu berkata lebih lanjut.
"Sayang sekali ayah terlalu percaya oleh hasutan perempuan keparat itu. Sebetulnya dia punya kesempatan melihat surat ini, namun lantaran percaya kepada istri.mudanya, sehingga Lau-ma yang setia kepadanya malah dicaci makinya, maka surat ini pun tak berani ditunjukkan kepadanya"
Setelah mendapatkan surat itu, setelah berusaha, Lau-ma mendapat kesempatan yang baik berhadapan langsung dengan Boh It-hang di kamar bukunya "Surat ini dia simpan dalam lengan baju dan pergi menemui ayah.
Dia buta huruf, tidak tahu apa isi surat itu, di samping khawatir dugaannya meleset.
Secara diam-diam dia mengambil surat itu, perbuatannya ini menurut hukum keluarga dianggap melanggar tata tertib, kalau langsung diserahkan dia khawatir mendapat kemarahan dari sang majikan.
Maka dia lebih dulu memancing sikap dan mendengar nada pembicaraan ayah.
Dikatakan kemarin ada orang datang memberi surat kepada Han Jiyan, dituturkan pula dia mendengar suara tawa aneh Han Ji-yan setelah membaca surat itu.
Dia bertanya kepada majikan apa melihat juga surat itu, malah dia pun memberi saran bila kelak ada orang mengantar surat lagi, apa perlu diterima dan disimpan dulu supaya langsung diserahkan kepada majikan untuk diperiksa?
Tak nyana mendengar laporannya, Boh It-hang bergelak tawa malah, dikatakan bahwa dia sudah pikun dan linglung.
Setelah tertawa sikapnya berubah keren serta mencaci Lau-ma, 'Kalau tidak mengingat kau adalah inangnya ibu Boh Le-cu dulu, kau berani menaruh kecurigaan terhadap majikan baru, kau bisa kupecat dari rumah ini.' Boh Le-cu melanjutkan.
"Sungguh kasihan, kesetiaan Lau-ma justru mendapat imbalan tak sepantasnya dari ayah. Karena dicaci maki, Lau-ma ketakutan dan tak berani menyerahkan surat itu. Pernah juga timbul keinginannya hendak mengembalikan surat itu di tempat semula, untung tidak dia lakukan namun memutuskan untuk menyimpannya dan diserahkan kepadaku. Aih, tak nyana dua hari kemudian, begitu pulang ayahku lantas mendapat celaka. Lau-ma belum sempat menemuiku seorang diri, malah aku yang mencarinya.
"Setelah melihat surat ini, aku makin kebingungan tak tahu bagaimana harus berbuat. Aku berunding dengan Lau-ma, walau dia buta huruf, tapi dalam menghadapi persoalan justru jauh lebih tabah dan berpengalaman. Dia bilang, 'Siocia, betapapun kau tidak boleh punya sikap, tindak tanduk dan mimik yang menunjukkan bahwa kau menaruh dendam kepada perempuan jalang itu. Jikalau dia memaksa kau segera menikah, kau menurut saja, tipu dibalas tipu, kau boleh berangkat ke rumah keluarga Ho lebih dulu.' "Aku amat kaget dan marah, kataku, 'Mana mungkin aku menikah dengan musuh besar.' Lau-ma bilang, 'Siapa yang menyuruh kau menikah dengan musuh, maksudku supaya lolos dari mulut harimau lebih dulu. Perempuan sundal itu amat keji, kau dan aku jelas bukan tandingannya, malah pandai bermain sandiwara, kemungkinan sedikit banyak dia sudah menaruh curiga terhadapmu. Jikalau dia menyuruh kau menikah dan tidak tunduk akan perintahnya, maka dia akan menduga bahwa kau sudah tahu rahasianya Apa dia tidak akan segera bertindak keji terhadapmu?' "Aku jadi sadar, 'Betul, aku akan pura-pura tunduk perintahnya, membebaskan diri dari belenggu perempuan jalang itu, di tengah jalan melarikan diri.' Lau-ma bilang, 'Belum tentu harus melarikan diri. Dari ayahmu pernah aku mendengar, katanya ciangbunjin Kong-tong-pay Tong-biau Cinjin orangnya baik, jujur dan bijaksana. Karena menghargai Tong-biau Cinjin maka dia mau menikahkan kau dengan anak murid Kong"-tong-pay. Setiba di Kong-tong-san kau boleh berusaha menemui dia dan membongkar muslihat ini di hadapannya.' Aku bilang, 'Mungkin Tong-biau Cinjin tidak mau percaya omonganku.' Lau-ma berkata, 'Tiba saatnya kau boleh bekerja menurut keadaan. Umpama jalan ini tidak bisa dilaksanakan, kau masih punya cara lain. Walau aku tidak pernah bersekolah tapi aku tahu, menurut adat, orang yang tertimpa kesusahan harus berkabung selama tiga tahun. Dengan alasan berkabung ini kau bisa menolak pernikahanmu dilaksanakan dalam waktu dekat.' Apa yang dipikirkan Lau-ma dan bahan yang diberikan kepadaku memang serba lengkap, maka aku memutuskan bertindak menurut pesannya.
"Sesuai dugaan, tak lama setelah penguburan selesai, Han Ji-yan lantas mendesak keluarga Ho untuk segera menyambut mempelai perempuan. Hal ini memang rencana Tong-hian-cu, sudah tentu cepat sekali mereka sudah memperoleh jawaban. Lalu ditentukan Ho Lok sendiri yang akan datang menjemput. Tapi sebelumnya juga sudah dibicarakan, hanya menjemput aku ke rumah keluarga Ho, dengan alasan keluarga Ho akan menjaga aku sebagai puteri sebatang kara yang sudah yatim piatu ini. Setelah aku berada di rumah keluarga Ho, kelak gampang mencari hari dan tanggal yang baik untuk melangsungkan upacara nikah. Janji mereka memang serba muluk, sehingga sanak keluarga merasakan betapa bijaksana ibu tiriku.
"Aku sudah punya keputusan sendiri. Meski ada beberapa jalan cara dapat kutempuh, namun aku sudah memutuskan untuk melarikan diri di tengah jalan, membatalkan rencana semula untuk menemui Tong-biau Cinjin dan membongkar rahasia muslihat ini. Rasa benciku terhadap musuh keluarga sudah merasuk, meski hubunganku dengan Ho Lok memang terbatas sebagai calon suami saja, namun rasa dendamku terhadapnya tak terlukiskan dengan kata-kata "Setelah rencana kami atur, di saat menunggu kedatangan Ho Lok itu, sebuah peristiwa lain telah terjadi. Peristiwa ini baru menyangkut Tah Khu-seng."
Perkara makin jelas, kini hadirin sudah percaya dan yakin bahwa Tan Khu-seng terfitnah dalam kasus ini.
Tapi peranan apa yang dilakukan Tan Khu-seng dalam kasus ini, orang banyak masih belum jelas.
Maka mendengar Boh Le-cu sang primadona mulai membicarakan Tan Khu-seng, maka orang-orang menaruh perhatian, dari cerita inilah mereka akan memperoleh jawaban, kenapa Tan Khu-seng tidak mau membela diri meski difitnah dan tidak mau memberi penjelasan apa pun.
Boh Le-cu beristirahat sejenak, lalu katanya lebih lanjut.
"Tiga hari sebelum Ho Lok datang menyambutku, orang yang tempo hari datang mengirim surat terakhir itu datang lagi. Tapi kali ini dia tidak bisa bertemu dengan Han Ji-yan. Sebelum dia menginjakkan kakinya di depan rumahku, dia sudah dicegat dan menjadi tawanan Lau-ma.
"Sepenuh hati Lau-ma berpikir dan bekerja demi keselamatanku, dia khawatir keluarga Ho punya muslihat keji hendak membuatku masuk jaring, maka beberapa saat menjelang keluarga Ho datang menjemputku, sengaja dia mondar-man-dirdi mulut gunung, jalan yang pasti dilewati kalau menuju ke rumahku. Dia ingin mencari kesempatan untuk membekuk utusan Tong-hian-cu. Apa yang dikhawatirkan ternyata bukan angan-angan kosong belaka. Hari itu apa yang dia tunggu akhirnya datang.
"Langsung Lau-ma menyambut orang itu dan katanya, 'Majikan mengutusku kemari menyambut kedatanganmu. Tempo hari kedatanganmu membuat siocia curiga, maka beliau bilang tidak enak menerimamu di rumah. Aku tahu kau bukan orang dari keluarganya, kau urusan Tong-hian-cu benar tidak?"
"Orang itu ragu-ragu katanya, 'Apa majikan sudah menjelaskan kepadamu?' Lau-ma tertawa katanya, 'Kalau majikan tidak memberi tahu dari mana aku tahu asal-usulmu? Majikan berpesan supaya kau serahkan saja surat itu kepadaku.' Orang itu kelihatan bimbang, lalu mencari tahu apa hubungan Lau-ma dengan Han Ji-yan. Lau-ma tahu kalau banyak bicara rahasianya bisa terbongkar, maka dia bersikap tegas katanya, 'Kau tak usah banyak tanya, aku pun takkan menjelaskan kepadamu. Jikalau kau masih tidak percaya, aku bisa memberi tahu satu rahasia kepadamu.' Lalu dia menjelaskan sedikit rahasia surat yang dia kirim tempo hari, terpaksa orang itu percaya kepadanya.
"Maka setengah berbisik orang itu berkata, 'Yang kubawa hari ini adalah pesan lisan, harus dijaga rahasianya, pantang diketahui orang lain.' Maka dia bawa Lau-ma menyelinap ke dalam hutan. Di tengah hutan lebat baru orang itu memberi tahu kepada Lau-ma pesan apa yang dia bawa.
"Secara diam-diam Tong-hian-cu dan anaknya sudah mengundang bantuan, di tengah jalan siap membunuh Tan Khuseng, namun mereka juga berjaga bila rencana ini gagal, maka Han Ji-yan diminta bantuannya.
"Untuk menghindari kecurigaan, menurut rencana Han Ji-yan semula, setelah aku dijemput keluarga Ho dia akan mencari alasan pulang ke rumah orang tuanya, setelah berselang beberapa lama baru akan berbulan madu; dengan Tong-hian-cu. Tapi Tong-hian-cu tidak setuju akan rencananya ini. Dia minta kepada Han Ji-yan sebagai ibu tirinya mengantarkan anak tirinya sehingga sampai di rumah besannya, ini untuk menjaga bila Tan Khu-seng tak berhasil dibunuh oleh bantuan yang diundang, dia masih bisa membantu dengan racunnya. Mereka yakin Tan Khu-seng takkan menduga dan siaga terhadap tindakannya.
"Lau-ma melenggong sejenak, lalu bertanya, 'Kenapa kau mencelakai Tan Khu-seng?' Orang itu seperti tertegun, katanya, 'Apa kau belum tahu?' Untung dia belum sadar kalau Lau-ma menipu dirinya, akhirnya dia menjelaskan persoalannya. Hadirin sudah mereka dalam hati rahasia apa yang akan dikatakan, tapi setelah mendengar sendiri dari mempelai perempuan yang dahulu tersangkut sendiri dalam kasus ini mau tidak mau hadirin amat kaget dan berdebar-debar. Terdengar Boh Le-cu meneruskan kisahnya.
"Orang itu tetap tidak mengira kalau Lau-ma sedang mengorek keterangannya, setelah bimbang sebentar, akhirnya dia memberi tahu.
"Orang itu berkata, 'Kalau kau sudah tahu kenapa majikanmu membunuh Boh It-hang, pantasnya juga maklum kenapa Tong-hiancu ayah dan anak hendak membunuh Tan Khu-seng.' "Lau-ma terkejut, tanyanya, 'Jadi secara rahasia Tan Khu-seng juga menjadi anggota laskar gerilya?' "Orang itu berkata, 'Apakah dia sudah menjadi anggota, kami tidak tahu. Tapi kami sudah tahu dia punya banyak kawan dari laskar gerilya. Jikalau dia menjadi ciangbun Kong-tong-pay, umpama tidak berani menentang pemerintah ke-rajaan secara terang-terangan, betapapun akan merugikan kepentingan kerajaan. Kau harus tahu Ho Lok dan Tan. Khu-seng dijuluki Kong-tong-siangsiu, ciangbunjin yang akan datang kalau tidak jatuh ke tangan Tan Khu-seng pasti Ho Lok. Kalau Tan Khu-seng tidak disingkirkan, mana mungkin Ho Lok bisa hidup tenteram?' "Lau-ma bertanya lebih lanjut, 'Memangnya kenapa kalau Ho Lok yang menjadi ciangbun?' "Orang itu tertawa akan kebodohan Lau-ma, katanya, 'Masih harus tanya, sudah tentu bekerja demi kepentingan pemerintah kerajaan.' "Lau-ma bertanya lagi, 'Tadi kau bilang Ho Lok sudah mengundang bantuan, siapa yang diundang?' "Orang itu menjawab, 'Ah, kenapa kau ingin tahu rahasia ini?' "Lau-ma menjawab, 'Aku mewakili majikan. Jikalau bantuan itu berkepandaian tinggi, beliau tentu lebih lega. Bila usahanya gagal, dengan datangnya bantuan lihay, berarti Tan Khu-seng tetap dapat diatasi. Kalau sebaliknya, aku jadi khawatir majikan bisa terluka oleh pedang Tan Khu-seng. Pernah aku dengar kiamhoat Tan Khu-seng kabarnya nomor satu atau dua di dalam Kong-tong-pay.' "Kelihatannya orang itu percaya bahwa Lau-ma setia kepada majikannya, maka dia berkata, 'Yang kutahu ada tiga orang. Orang pertama adalah begal besar yang terkenal di Kangouw bernama Kiat Hong, dua orang lagi... (dia merendahkan suaranya) adalah jago kosen dari Gi-lim-kun.' "Lau-ma bertanya lagi, 'Siapakah kedua jago kosen Gi-lim-kun itu?' "Kali ini orang itu tidak mau menjawab. Mungkin pertanyaan Lauma bertubi-tubi sehingga dia tersentak sadar, katanya, 'Mendapat bantuan ketiga jagoan lihay ini, kurasa majikanmu boteh berlega hati. Kenapa kau ingin tahu sejelas ini?' "Lau-ma tahu dia tidak mau menerangkan lagi; maka dia tertawa lebar, katanya, 'Bukan aku mengkhawatirkan perempuan keparat itu, tapi aku khawatir akan keselamatan sio-cia. Syukur kau sudah memberi banyak keterangan, aku, aku boleh....' "Belum habis dia bicara, saking kaget orang itu berjingkrak seraya membentak, 'Keparat ternyata kau ini mata-mata.' Setelah mencabut pedang segera dia melabrak dan hendak membunuh Lauma.
"Menurut cerita Lau-ma, orang itu pandai memainkan Lian-hoantoh-bing-kiam-hoat dari Kong-tong-pay, permainan ilmu pedangnya sudah cukup tinggi. Maka dapat diduga dia pasti salah seorang murid kepercayaan Tong-hian-cu.
"Akan tetapi meski dia murid kesayangan Tong-hian-cu, betapapun dia bukan tandingan Lau-ma yang sudah berlatih puluhan tahun. Semula dia ingin membunuh Lau-ma, akhirnya malah Lau-ma yang membunuhnya."
Sampai di sini cerita Boh Le-cu, Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu yang berada di atas panggung sama-sama terkejut, wajah mereka berubah.
Tapi hadirin tertarik oleh cerita Boh Le-cu sehingga tiada yang memperhatikan perubahan air muka mereka Diam-diam Tong-cin-cu sang ciangbunjin Kong-tong-pay ini membatin, 'Ternyata begitulah kejadiannya tak heran Tay-ci hilang tanpa jejak.
Jadi Tong-bing sute mengelabui aku selama ini."
Sementara Tong-bing-cu di samping kaget, hatinya pun senang dan lega, pikirnya.
"Ternyata Tay-ci terbunuh hanya oleh seorang inang tua keluarga Boh. Syukurlah sejauh ini mereka tetap tidak tahu asal-usul Tay-ci sebenarnya."
Perlu dijelaskan, orang yang diutus Tong-hian-cu mengirim kabar secara lisan itu bernama Jik Tay-ci, tapi Jik Tay-ci bukan murid Tong-hian-cu, tapi murid preman Tong-bing-cu.
Terhadap Jik Tay-ci, Tong-bing-cu lebih menghargai daripada Tay-ciok Tojin yang sekarang menjadi muridnya yang tertua Waktu itu Jik Tay-ci sudah lulus dan berkelana di Kangouw, karena murid preman tidak perlu menetap di Jing-hi-koan tapi setiap tahun diharuskan pulang menemui gurunya.
Terakhir kali dia diutus oleh Tong-hian-cu dan tidak pernah pulang lagi, Tong-bing-cu sudah menduga bahu a dia telah gugur menunaikan tugas, namun selama ini belum pernah dengar berita yang sesungguhnya.
Selama delapanbelas tahun ini, tak urung dia kebat-kebit bila mengingat nasib muridnya ini; entah terjatuh di tangan musuh dan telah dikorek keterangannya.
Kini setelah mendengar murid kesayangannya itu sudah mati baru lega hatinya.
Setelah habis mengisahkan kasus panjang ini, Boh Le-cu menghela napas panjang, katanya.
"Kesetiaan Lau-ma terhadapku, budi kebaikan dan pertolongannya terhadapku selama hidup jelas tak mampu ku-balas.
"Sementara aku tidak bercerita menurut urutan peristiwa, tapi lebih dulu akan menceritakan Lau-ma telah gugur secara ksatria karena aku. Setelah Han Ji-yan menyerahkan aku kepada Ho Lok, sesuai rencana semula, dengan alasan mau pulang ke rumah ayah bundanya, seluruh pembantu rumah tangga kami dibubarkan, hanya ketinggalan Lau-ma seorang. Kuduga dia sudah menaruh curiga terhadap Lau-ma, maka dia ditahan hendak mengompes keterangannya.
"Mungkin Lau-ma sudah tahu maksud hatinya, tapi Lau-ma tidak mau melarikan diri. Untuk membalas sakit hati ayah, aku pun telah lolos dari lobang jarum, maka tanpa pikir panjang dia melabrak perempuan keparat itu, sayang sekali usahanya tidak berhasil malah dia sendiri yang gugur di tangan perempuan keparat itu. Setelah kejadian itu secara diam-diam aku pernah pulang ke rumah mendapat tahu akan kematian Lau-ma. Harus dikasihani demi membela aku Lau-ma mati tanpa liang kubur yang layak. Tapi waktu aku mencari perempuan keparat itu hendak menuntut balas ternyata aku gagal menemukan dia."
Hadirin ikut menyesal, gemas dan penasaran. Hanya Tong-bingcu seorang yang merasa lebih lega. Setelah hadirin agak tenang, Lui-tin-cu berkata.
"Nona Boh, kembalilah ke persoalan utama, bagaimana kelanjutannya?"
Maka Boh Le-cu melanjutkan.
"Malamnya waktu Lau-ma pulang, dia memberi tahu tentang rencana mereka yang akan membunuh Tan Khu-seng, barulah setahap aku lebih paham muslihat mereka.
"Semula aku tidak jelas apakah dalam muslihat ini Ho Lok bekerja sama dengan ayahnya, kini baru tahu betapa kejam dan culas hati Ho Lok, ternyata tidak kalah dibanding bapaknya Ayah beranak merencanakan muslihat ini bersama, bukan saja hendak membunuh kami ayah dan anak, mereka pun hendak melenyapkan Tan Khuseng yang menjadi saudara seperguruan sendiri.
"Rencanaku pribadi akan melarikan diri di tengah jalan, setelah tahu muslihat mereka terpaksa aku harus mengubah total rencanaku. Di tengah jalan aku harus mencari kesempatan memberi tahu Tari Khu-seng tentang rencana keji mereka.
"Tapi aku tak pemah mendapat kesempatan. Sepanjang jalan Ho Lok boleh dikata tak pernah berpisah dengan Tan Khu-seng, sebagai calon istri Ho Lok sudah tentu tak leluasa aku mendekati Tan Khuseng apalagi bicara langsung empat mata.
"Hari demi hari berlalu, sudah tiga hari menempuh perjalanan, aku tetap tak mendapat kesempatan bicara dengan Tan Khu-seng. Kawanan rampok yang sudah dipersiapkan Ho Lok, setiap saat akan muncul membunuh Tan Khu-seng. Apakah yang harus kulakukan? "Hari ketiga kami singgah di sebuah kuil kuno, padahal hari belum petang, namun Ho Lok beralasan di depan jauh dari kota dan desa, mungkin tiada tempat bermalam malam ini. Maka dia usulkan bermalam di kuil ini, orang-orang dianjurkan beristirahat lebih dini dari biasanya.
"Sudah tentu timbul rasa curigaku. Mungkin mereka sudah berjanji akan bergerak malam ini? Aku memutuskan, apa pun ^ang terjadi aku akan berusaha memancing Tan Khu-seng ke tempat lain.
"Kira-kira menjelang kentungan ketiga, diam-diam aku bangun mengintip ke kamar di mana mereka tidur bersama. Kulihat Tan Khu-seng belum tidur, dia duduk melamun mengawasi api yang menyala di depannya, entah apa yang sedang dipikirnya. Sementara Ho Lok sudah, meringkuk dan mendengkur. Diam-diam girang hatiku, inilah kesempatan baik, maka perlahan aku menyobek kertas jendela.
"Tak nyana pada saat itulah, Ho Lok dan Tan Khu-seng berjingkrak bersama seraya membentak, 'Siapa?' Seketika aku sadar bahwa Ho Lok hanya pura-pura tidur. Dia ada janji dengan orang, mana mungkin bisa tidur nyenyak.
"Syukur aku sudah memikirkan akal kedua, dengan lirih aku berkata, 'Kudengar suara orang berjalan, lekas kalian kejar kawanan bangsat itu.' "Ho Lok bersuara heran, katanya, 'Kenapa aku tidak mendengar? Hei, kembalilah, kau jangan mengejar seorang diri.' "Waktu itu aku belum tahu kalau dia berjanji dengan Kiat Hong untuk menculik aku, aku harus ditinggalkan di dalam kuil, baru dia punya kesempatan menjadi seorang pahlawan yang berhasil menyelamatkan istrinya.
"Dengan gugup H o Lok berlari keluar mengejar aku, terpaksa Tan Khu-seng ikut keluar. Aku sengaja berpura-pura mengayun langkah lebih cepat, menjerit kesakitan dan berteriak, 'Aduh, bangsat keparat, berani kau melukai aku dengan amgi. Jangan lari kau.' "Aku tahu ginkang Tan Khu-seng lebih tinggi dibanding Ho Lok, kalau dia mengira aku terkena amgi pasti akan mengejarku lebih cepat untuk menolongku. Saat mana jarakku dengan mereka mungkin ada seratusan langkah, malam gelap mereka tidak melihat keadaan sekitarnya. Ho Lok sendiri juga tidak menduga kalau aku bermain sandiwara. Sambil mengejar dia berteriak-teriak, 'Apa kau terluka? Lekas kembali biar kuobati lukamu.' "Sesuai dugaanku, Tan Khu-seng tiba lebih dulu."
Sampai di sini dia berdiri termenung, kejadian malam itu seperti terbayang kembali di depan mata.
Wajah Boh Le-cu yang semula kaku dingin, entah kenapa tanpa terasa bersemu merah.
Seperti angin lalu Tan Khu-seng melayang tiba, beberapa langkah lagi dia sudah di sampingnya.
Begitu cepat Boh Le-cu berlari, namun jantungnya berdetak lebih cepat lagi.
Walaupun sudah seperjalanan tapi sepanjang jalan ini dia naik kereta, hanya waktu turun dan naik kereta saja baru dia beradu muka dan pandang dengan Tan Khu-seng, sementara Tan Khu-seng tidak berpisah dengan Ho Lok -Dia pun berusaha menghilangkan kecurigaan, maka selama tiga hari perjalanan itu, belum pernah dia melihat wajah Tan Khu-seng dengan cermat apalagi berbicara padanya.
Sekarang pertama dia melihat jelas tampangnya.
Oh, Tan Khuseng ternyata adalah pemuda tampan, gagah dan mempunyai kepandaian tinggi.
Seumur hidup, baru pertama kali ini dia berduaan dengan lakilaki yang belum pernah dikenalnya.
Semula ayahnya ada maksud menikahkan puteririya kepada pemuda yang satu ini.
Aih, kenapa jodoh selalu mempermainkan orang, jikalau semula ayahnya bersikap tegas dan kukuh pada pendapat semula, maka nasibnya pasti akan berubah seratus delapanpuluh derajat.
Namun saat itu mukanya merah jantungnya berdebar, bukan karena dia menyadari benih cintanya telah mulai bersemi tapi lantaran kedudukannya sekarang, entah bagaimana dia harus mulai bicara dengan Tan Khu-seng.
Karena hati berdebar, langkahnya tidak tetap, perasaan menjadi gundah, mendadak kakinya tersaruk entah apa hingga dia sempoyongan hampir saja terjungkal jatuh.
Tapi keadaannya juga mirip orang yang terluka parah.
Lekas Tan Khu-seng meraih dan memapahnya, tanyanya.
"Nona Boh, kau kenapa? Bagian mana yang terluka?"
"Aku tidak terluka, aku menipu kalian,"
Boh Le-cu berkata perlahan, Tak Khu-seng melenggong, matanya terbuka lebar seperti tidak percaya apa yang didengarnya barusan.
"Jangan tanya kenapa aku berpura-pura, lekas kau ikut aku lari."
Tan Khu-seng bimbang dan curiga, dia malah menghentikan langkah, katanya.
"Sebentar Ho-toako akan menyusul tiba, kenapa kau tidak menunggunya?"
Saking gelisah Boh Le-cu membanting kaki, tanpa menghiraukan pantangan adat dia maju menarik lengan bajunya, katanya.
"Justru aku takut dilihat olehnya, maka kita harus pergi ke tempat yang lebih jauh. Percaya kepadaku. Lekas lari, lekas."
Tan Khu-seng tertegun, seperti ingat sesuatu, kali ini dia terima ditarik lari oleh Boh Le-cu.
Beberapa kejap kemudian Ho Lok makin jauh ketinggalan, bayangannya sudah tidak kelihatan lagi.
Mereka lari memasuki sebuah lembah pegunungan.
Boh Le-cu memperhitungkan waktu cukup banyak untuk bicara menjelaskan persoalan kepada Tan Khu-seng sebelum Ho Lok menyusul datang, baru dia berhenti.
"Ho Lok hendak membunuh kau, kau tahu tidak?"
Tan Khu-seng kaget sekali, katanya.
"Ho Lok seumpama saudara kandungku sendiri, kenapa dia hendak membunuhku?"
"Dia sudah membunuh ayahku, kau masih mengira dia orang baik?"
Kata Boh Le-cu. Tan Khu-seng kaget, katanya.
"Dia... bukankah dia suamimu? Kenapa membunuh mertua sendiri?"
Boh Le*-cu mengertak gigi, katanya.
"Dia adalah musuhku juga musuhmu. Bukan hanya musuhku dan musuhmu, juga musuh kaum pendekar yang berjiwa patriotik."
Tan Khu-seng menenangkan diri, katanya.
"Nona Boh, apa maksudmu?"
Karena khawatir Ho Lok keburu tiba, Boh Le-cu hanya menjelaskan secara singkat, beberapa bagian yang penting dia tuturkan kepada Tan Khu-seng.
Kejadian amat mendadak, bukan Tan Khu-seng tidak percaya apa yang dikatakan Boh Le-cu, tapi kalau dia harus percaya Ho Lok dan ayahnya adalah mata-mata musuh, betapapun dia tidak berani.
Sesaat lamanya hatinya bimbang, perasaan hambar.
"Tan Khu-seng, lekas kau mengambil keputusan. Kalau kau mau membantu aku membunuhnya untuk menuntut balas, jikalau kau tidak berani membunuhnya lekas kau melarikan diri saja Dia mengundang bala bantuan yang iihay untuk membunuh kau. Aku yakin kejadian akan berlangsung malam ini."
Sampai di sini mereka bicara, mendadak dilihatnya Tan Khu-seng menatap ke tempat jauh berdiri melongo seperti tidak memperhatikan perkataannya. Saking gelisah Boh Le-cu membanting kaki, katanya.
"Seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan tegas, apalagi yang kau pikir sekarang?"
Tan Khu-seng bersuara heran, katanya.
"Nona Boh, mungkin dugaanmu benar, aku seperti mendengar pertempuran dari dalam kuil."
"Pasti bantuan yang diundangnya itu sedang mengganas di sana. Ai, sayang aku tak mampu menolong beberapa pembantu rumah tanggaku yang setia itu."
Tan Khu-seng berpikir.
"Kalau pembunuh itu bukan undangan Ho Lok, pantasnya aku segera pulang membantu Ho Lok melabrak mereka, menolong pembantu keluarga Boh."
Mendadak dia teringat sesuatu, tanyanya.
"Siapa pembantu yang diundang Ho Lok? Apa kau tahu?"
"Aku hanya tahu satu di antaranya, yaitu begal tunggal yang terkenal di Kangouw bernama Kiat Hong, dua orang lagi katanya adalah jago kosen dari Gi-lim-kun."
Tan Khu-seng tersentak sadar, katanya.
"O, jadi betul ada Kiat Hong di antaranya."
Boh Le-cu heran mendengar perkataannya, pikirnya.
"Apakah Ho Lok sudah pernah mengajak Kiat Hong bekerja sama?"
Belum sempat dia bertanya, Ho Lok sudah datang. Sambil mendatangi Ho Lok berteriak.
"Nona Boh, apa kau terluka?"
Boh Le-cu belum tahu bagaimana sikap dan keputusan Tan Khuseng, terpaksa sementara dia menahan diri, sahutnya.
"Untung aku tidak apa-apa."
"Hayolah kita lekas pulang,"
Ujar Ho Lok.
"Aku melihat musuh menyerbu kuil kuno itu."
Boh Le-cu berkata.
"Wajau tidak terluka, tapi aku tidak dapat berjalan."
Ho Lok berpura-pura gugup, katanya.
"Tan-sute, ginkang-mu lebih baik. Lekas kau pulang dulu menolong orang. Nona Boh, mari kubim-bing kau."
Tan Khu-seng berjiwa pendekar, pikirnya.
"Kawanan rampok ini tentu ingin merebut pesalin nona Boh, aku tak boleh berpangku tangan membiarkan mereka membunuh orang yang tak berdosa."
Mengingat menolong orang lebih penting, tanpa pikir segera ia berlari lebih dulu. ? Setelah Tan Khu-seng pergi, Ho Lok bersikap tenang malah, katanya sambil menyengir tawa.
"Kalian sudah cukup lama berada di sini bukan, apa saja yang kalian bicarakan?"
Tercekat hati Boh Le-cu, katanya pura-pura jengkel.
"Apa sih maksudmu, dia membantu aku mengejar maling, aku sendiri kehabisan tenaga, memangnya aku senang berkelakar?"
"Soalnya kau begini ayu rupawan, aku khawatir teman baikku itu merebut calon istriku. Eh, aku hanya berkelakar saja, tak usah kau marah."
Boh Le-cu menarik muka, katanya.
"Kawanan perampok sudah datang, kau tidak menghalau mereka malah berkelakar. Aku tak bisa lari cepat, lekas kau bantu Tan Khu-seng menolong orang."
"Mana aku tega meninggalkan kau seorang diri di sini. Hm, kalau benar kau tak mampu jalan, biar kau kugendong saja."
"Tidak, tidak!"
Seru Boh Le-cu malu.
"Jangan begitu."
Ho Lok tertawa, katanya.
"Meski belum resmi, kita bakal suami istri, kenapa masih malu-malu segala?"
Sambil bicara dia maju menarik tangannya.
Mendadak Boh Le-cu melompat berdiri, telapak tangan bagai golok membelah batok kepala Ho Lok, berbareng jari tangan kanan menotok Hian-kit-hiat di dadanya Serangan sererripak telapak tangan dengan totokan jari adalah ajaran tunggal keluarga Boh, tapi Ho Lok sudah siaga dan bersiap diri, sekali lompat dia berkelit lalu membentak.
"Bagus, ternyata kau sudah bersekongkol dengan Tan Khu-seng hendak membunuh suami."
Karena serangannya tak berhasil.
"Sref"
Boh Le-cu mencabut pedang, bentaknya.
"Mulut anjing takkan tumbuh gading, baiklah aku bicara terus terang saja, aku akan menuntut balas kematian ayahku."
Ho Lok menangkis Ceng-kong-kiam Boh Le-cu, wajahnya membesi hijau, bentaknya.
"Kau membual apa, apa sangkut pautnya kematian ayahmu dengan aku?"
Boh Le-cu tak mau banyak bicara, bentaknya.
"Kau sendiri tahu."
Melihat sorot mata orang yang mengandung kebencian, merinding Ho Lok dibuatnya.
"Mungkinkah dia sudah tahu rahasia kami ayah dan anak?"
Demikian dia membatin.
Kiamhoat Ho Lok memang setingkat lebih tinggi dari Boh Le-cu, namun yang satu menyerang dengan penuh dendam untuk menuntut balas kematian sang ayah, yang lain merasa dirinya bersalah sehingga permainannya tidak tenang.
Karena serangan Boh Le-cu yang gencar, Ho Lok hanya mampu menjaga diri saja.
"Pasti kau mendengar isu, lekas ceritakan, biar kujelaskan,"
Teriak Ho Lok sambil menangkis pedang orang. Tapi "Cret"
Lengan bajunya tertabas oleh pedang lawan.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, segera Ho Lok bersuit nyaring dua kali.
Boh Le-cu menduga Ho Lok memanggil temannya, maka serangannya lebih gencar.
Sayang kepandaiannya memang lebih rendah, kini dari bertahan Ho Lok balas mencecar sehingga pertahanannya lebih kuat, tenaga Boh Le-cu hendak dikurasnya sampai habis.
Tak lama setelah suitan Ho Lok, betul juga'muncullah dua orang.
Melihat mereka mengenakan seragam perwira, Boh Le-cu berpikir.
"Kedua orang ini pasti jago kosen Gi-lim-kun yang diundangnya untuk membantu itu."
Boh Le-cu tidak menghiraukan mati hidupnya.
Peduli jago kosen yang datang hanya dua atau empat, bukan saja tidak hendak melarikan diri, serangannya makin gencar dan ingin adu jiwa malah.
Sambil me-ngertak gigi, dia mengembangkan permainan pedang untuk gugur bersama.
Perwira menengah yang berjalan di depan.tampak kaget dan heran, katanya tertawa.
"Suami istri muda ada persoalan, apa boleh dibicarakan secara damai, kenapa main tangan, he?"
Perwira rendah di belakangnya juga berteriak.
"He, kelihatannya bukan main-main."
Sebetulnya ucapan perwira menengah di depan itu pun hanya olok-olok saja, tujuannya untuk mengen-dorkan perhatian Boh Le-cu kepada mereka.
Tiba-tiba didengarnya jerit kesakitan, ternyata pundak Ho Lok terluka oleh serangan pedang, darah-mengalir deras.
Pada saat itulah perwira yang di depan merogoh sekeping mata uang tembaga, dengan dua jarinya menjentik.
"Trang"
Pedang panjang Boh Le-cu ditimpuk jatuh. Perwira itu bergelak tawa, katanya.
"Sudahlah, suami istri berkelahi, aku sih tidak ingin campur. Ho-heng lekaslah bujuk istrimu."
Dia mengira setelah kehilangan senjata, perkelahian ini pun akan berhenti.
Tak nyana Boh Le-cu membabi buta tak memikirkan keselamatan sendiri, dengan beringas dia menubruk maju mengajak adu pukulan dengan Ho Lok.
"Biang"
Pundak Ho Lok yang terluka dipukulnya, saking kesakitan Ho Lok menjerit seperti babi disembelih. Ho Lok amat gusar, dampratnya.
"Perempuan sundal, kejam betul!"
Pedang diputar, dengan gagang pedang dia menyodok berbareng meninju dengan tangan lainnya.
Gagang pedang tepat kena ulu hati Boh Le-cu, tinjunya mengenai perut.
Tenaganya memang lebih besar, karuan Boh Le-cu kesakitan dan roboh pingsan.
Sayup-sayup didengarnya perwira itu berkata.
"Wah, Ho-heng, terlalu berat pukulanmu. Jangan-jangan kau pukul mampus istrimu sendiri. Lekas kau periksa keadaannya."
Ho Lok berkata gemas.
"Biarkan, dia mampus juga tidak jadi soal."
Perwira lain tertawa, katanya.
"Lho, kenapa tidak menaruh kasihan sedikit pun, kau tega membunuh istri secantik ini?"
"Kalian tidak tahu,"
Ucap Ho Lok.
"perempuan keparat ini sudah tahu rahasia kita,, sekarang dia menganggap aku sebagai pembunuh ayahnya. Tak usah hiraukan dia mati atau hidup, mari kita pikirkan bagaimana menghadapi Tan Khu-seng."
Perwira menengah itu berkata.
"Baiklah, mari kita pancing Tan Khu-seng kemari. Kau dan istrimu pura-pura kami lukai, lekaslah kau berkelahi dengan kami."
Boh Le-cu sudah bertahan sekuat tenaga supaya bisa mendengar lebih banyak pembicaraan mereka, sayang dia tidak kuat lagi, kesadarannya semakin kabur dan akhirnya tak mendengar apa-apa lagi.
Boh Le-cu menceritakan kejadian malam itu dengan jelas dan menurut keadaan sebenarnya.
Dia hanya tidak menyinggung bagaimana perasaan hatinya di waktu dia bertemu dan berhadapan muka pertama kali dengan Tan Khu-seng.
Sampai di sini ceriteranya mendadak berhenti.
Kang Siang-hun lantas bertanya.
"Bagaimana kelanjutannya?"
Boh Le-cu memandang Tan Khu-seng, katanya.
"Waktu itu aku sudah pingsan, kejadian selanjutnya kuserahkan kepada Tan Khuseng untuk berceritera."
"Betul,"
Seru Lui-tin-cu.
"Nona Boh sudah bicara, apa pula yang kau khawatirkan?"
Tan Khu-seng masih terpekur, kelihatannya masih sukar mengambil keputusan. Boh Le-cu berkata perlahan.
"Aku tahu kau harus menepati janjimu kepada mendiang gurumu, tapi aku juga tahu janjimu itu ada satu pengecualian."
"Kau percaya bahwa gurumu bisa mengekang anasir jahat dan rendah perguruannya supaya mereka tidak bersekongkol dengan pihak kerajaan sehingga Kong-tong-pay dijerumuskan ke jurang kenistaan. Kau bersumpah bila hal seperti ini tidak terjadi kau rela memikul dosa mengkhianati perguruan, untuk selamanya tidak akan membuka rahasia ini, entah gurumu hidup atau mati. Sekarang gurumu dan Tong-hian-cu sudah meninggal, tapi kejadian yang tidak ingin kau lihat mungkin tak bisa dihindarkan lagi, kenyataannya malah akan terjadi, kalau keadaan memang sudah mendesak, gurumu memberi izin kepadamu untuk membeber persoalan. Sekarang sudah tiba saatnya, lalu kapan kau baru mau bicara?"
Kata-katanya jelas, meski Tong-hian-cu sudah mati, tapi tokohtokoh Kong-tong-pay yang masih hidup sekarang ini masih ada yang menempuh jalan yang ditempuh Tong-hian-cu.
Setelah mendengar kesaksian Kiat Hong, lalu mendengar kisah Boh Le-cu, kaum pendekar yang hadir sedikit banyak sudah merasa curiga namun belum yakin.
Tapi setelah hal ini ditegaskan oleh Boh Le-cu, hadirin menjadi gempar, serta merta penglihatan mereka tertuju ke arah Tong-cin-cu.
Berubah muka Tong-cin-cu, katanya.
"Nona Boh, ucapanmu itu tidak boleh sembarangan dikatakan. Memang aku pernah setuju mengundang wakil komandan Gi-lim-kun Auwyang Ya untuk menghadiri pertemuan besar ini, tapi mana boleh kau lantas bilang aku bersekongkol dengan pihak kerajaan, apalagi dikatakan ada niat menentang gerakan kaum pendekar?"
"Bukan kau yang kumaksud, yang kukatakan tadi juga bukan soal yang kau katakan."
"Lalu apa yang kau maksudkan?"
"Persoalan akhirnya pasti dapat dibikin jelas, dan orang yang tahu seluk beluknya pasti akan tampil bicara, persoalan ini biar dia yang mengatakan, sekarang aku hanya ingin bicara satu hal yang kuketahui."
"Baiklah, silakan katakan."
Di saat Tong-cin-cu berdebat dengan Boh Le-cu, Tong-bing-cu yang tahu dan insyaf akan dosa, tak berani bicara. Kini rona mukanya tampak lebih jelek lagi.
"Salah satu dari dua perwira yang malam itu diundang Ho Lok adalah tamu undangan yang diundang oleh seorang dari perguruan kalian. Sekarang mereka belum muncul tapi yakinlah tak lama lagi mereka pasti unjuk diri."
Lekas Lui-tin-cu bertanya.
"Apakah kau sudah tahu siapakah kedua perwira itu?"
"Waktu itu aku tidak tahu, belakangan sudah tentu aku tahu. Seorang adalah Auwyang Ya, seperti yang dikatakan ciangbunjin Kong-tong-pay tadi. Delapanbelas tahun yang lalu jabatannya masih rendah, tapi sekarang sudah menjadi wakil komandan Gi-lim-kun."
Orang banyak sudah tahu pertemuan besar anggota Kong-tongpay yang diadakan hari ini, yang mengundang Auwyang Ya adalah Tong-bing-cu, maka orang banyak sama berpikir.
"O, jadi sejak lama mereka memang punya hubungan erat."
"Lalu siapa seorang yang lain?"
Tanya Lui-tin-cu.
"Seorang yang lain punya asal-usul lebih besar, dia bukan lain adalah kepala atau atasan Auwyang Ya sendiri."
"Ha,"
Seru Lui-tin-cu kaget.
"jadi komandan Gi-lim-kun Hay Lanja?"
Boh Le-cu mengangguk, katanya mengulang.
"Betul, komandan Gi-lim-kun yang sekarang, Hay Lanja."
Lui-tin-cu melongo sesaat, akhirnya berseru.
"Wah, kalau betul demikian, pasti tidak salah."
Tong-bing-cu kebat-kebit, tanyanya memancing.
"Apanya yang betul?"
"Yang membokong tianglo kalian Giok-hi-cu tadi pasti Hay Lan-ja adanya. Di antara cakar alap-alap yang kosen dari pihak kerajaan, hanya dia yang memiliki kemampuan sehebat itu. Aku memang sudah pikun, kenapa sejak tadi tidak teringat akan dirinya"
"Dugaan lo-cianpwe pasti tidak meleset,"
Demikian ucap Tongcin-cu.
"tapi pembunuh itu sampai sekarang belum sempat kita bekuk."
"Ciangbun tak usah gelisah,"
Demikian ucap Lui-tin-cu.
"Nona Boh tadi sudah bilang kedua orang ini takkan lama pasti muncul. Aku percaya dia tidak akan sembarangan omong. Kita tunggu saja buktinya. Sekarang silakan Tan Khu-seng melanjutkan cerita kejadian malam itu."
Tong-cin-cu berkata.
"Aku sih lebih cenderung untuk mengetahui lebih dulu siapa seseorang dari pihak kami itu?"
Boh Le-cu menjawab.
"Kalau sekarang kukatakan, ciangbun tentu menganggap aku hanya main duga saja, lebih baik tunggu saja setelah Auwyang Ya muncul, kurasa belum terlambat. Bukan mustahil mereka sendiri yang akan membongkar rahasia ini."
Tahu bahwa dirinya akhirnya pasti harus mengunjuk wajah aslinya, sikap dan mimik Tong-bing-cu ternyata tidak gelisah, gugup dan takut seperti tadi.
Dengan muka mem-besi dia tutup mulut tidak memberi tanggapan, biar orang banyak menduga sendiri.
>, Kim Tiok-liu berkata.
"Pohon besar ada dahari yang kering dan patah, tak heran kalau perguruan kalian yang besar dengan anggota sebanyak itu terdapat beberapa orang murid yang menempuh jalan Tong-hian-cu. Ciangbun tak usah khawatir bahwa kami akan menarik dirimu untuk mempertanggungjawabkan persoalan ini."
Sejak mula Kim Tiok-liu sudah melihat ada perbedaan antara Tong-cin-cu dengan Tong-bing-cu, walau dalam kasus ini bukan mustahil Tong-cin-cu sudah tahu, tapi kemungkinan dia tidak bersekongkol dengan Tong-bing-cu.
Kemungkinan besar karena dia diancam dan ditekan oleh Tong-bing-cu.
Perkataan Kim Tiok-liu sengaja untuk menenteramkan dan sekaligus Memberikan jaminan kepada Tong-cin-cu.
Lega hati Tong-cin-cu, katanya.
"Baiklah, Tan Khu-seng, orang banyak mengharap kau membongkar kasus lama ini, bolehlah kau ceritakan."
Tan Khu-seng menghela napas panjang, katanya.
"Delapanbelas tahun lamanya, yang kuharapkan hanya dapat menjaga nama baik perguruan, sungguh tak nyana bakal terjadi pertemuan besar hari ini, sehingga Giok-hi-cu tay-susiok yang amat sayang kepadaku juga gugur di tangan cakar alap-alap. Urusan sudah terlanjur sejauh ini, aku memang tidak boleh tutup mulut lagi.
"Memang mimpi pun aku tidak menduga bahwa Ho Lok hendak membunuhku, tapi sebelum kejadian, bukannya aku tidak tahu. Menjelang keberangkatanku menemani Ho Lok pergi ke Bi-ti menjemput calon istrinya, seseorang diam-diam telah memberi kisikan kepadaku. Orang ini adalah maling sakti nomor satu di jagat ini, yaitu Kwi-hwe-thio.
"Dia memberi tahu satu berita, katanya begal besar yang terkenal di Kangouw bernama Kiat Hong sudah muncul di jalan yang harus kami tempuh dalam perjalanan menuju ke Bi-ti. Menurut hasil penyelidikannya, kemungkinan besar dia hendak merampok pesalin nona Boh.
"Sebagai begal besar, Kiat Hong sering melakukan perampokan dan pembunuhan, hal ini tak perlu dibuat heran. Tapi nona Boh adalah calon istri Ho Lok, yakin hal ini pasti sudah diketahui olehnya, bahwa dia berani menepuk lalat di kepala harimau hal inilah yang membuatku heran.
"Waktu itu Kwi-hwe-thio menjelaskan, masih ada yang lebih mengherankan, berita tentang Kiat Hong hendak merampok pesalin nona Boh berhasil dia korek dari seorang teman golongan hitam lainnya, semula orang ini hendak mengajak Kiat Hong melakukan kerja lain, yaitu merampok pedagang obat-obatan dari Kwan-gwa, tapi Kiat Hong berkata, rejeki besar yang akan diperolehnya puluhan lipat lebih besar dari hasil perampokan para pedagang obat-obatan itu, maaf aku tak bisa memberi bantuan padamu. Orang itu juga tahu ada tamu misterius yang mengunjungi Kiat Hong dua hari lalu, waktu dia tanya siapa tamunya itu, Kiat Hong tidak mau menjelaskan. Waktu ditanya apakah tamu itu yang mengajaknya melakukan kerja besar itu, dia hanya tertawa saja tanpa menjawab.
"Tapi orang itu melihat sembilan titik lubang kecil di atas dinding kamar Kiat Hong, sebagai begal yang berpengalaman, sekali lihat lantas tahu bahwa lubang itu bekas tusukan senjata tajam.
"Kwi-hwe-thio berkata, 'Teman Kiat Hong dari golongan hitam ini juga temanku, dia menceritakan kejadian ini kepadaku, aku pun pernah memeriksa ke tempat kediaman Kiat Hong, waktu itu Kiat Hong sudah berangkat, rumahnya kosong. Maka aku memeriksa dengan teliti, aku amat curiga, itulah bekas tusukan pedang dari Lian-hoan-toh-bing-kiam dari Kong-tong-pay.' "Kwi-hwe-thio bertanya kepadaku, 'Ada berapa orang Kong-tongpay yang mahir menggunakan Lian-hoan-toh-bing-kiam?' Kujawab hanya Tong-bing susiok, aku dan Ho'Lok. Bulan ini Tong-bing susiok tidak pernah turun gunung, maka hanya Ho Lok saja yang patut dicurigai.
"Waktu itu Kwi-hwe-thio sudah menyatakan rasa curiganya, apakah Ho Lok takut aku merebut warisan ciangbun, maka dia meminjam tangan Kiat Hong hendak membunuhku? Tapi aku tidak percaya."
Tan Khu-seng berkisah lebih lanjut.
"Setelah mendapat jawabanku, Kwi-hwe-thio melanjutkan penyelidikannya mengikuti jejak Kiat Hong, dijalan yang menuju ke Bi-ti dia menemukan jejaknya. Setelah beberapa kejadian dirangkai dan dianalisa maka Kwi-hwe-thio berpendapat rejeki besar yang dikatakan Kiat Hong, kemungkinan besar adalah hendak merampas pesalin yang dibawa nona Boh. Kalau hanya merampas pesalin tidak jadi soal, bukan mustahil dalam peristiwa ini masih ada muslihat keji, yaitu Ho Lok bersekongkol dengan dia hendak membunuh aku.
"Aku berterima kasih akan perhatian cianpwe ini kepadaku, tapi dalam hati aku berpendapat dia terlalu banyak curiga, betapapun waktu itu aku tidak percaya bahwa Ho Lok bersekongkol dengan perampok hendak membunuh aku.
"Setelah kejadian baru aku tahu, muslihat yang mereka rancang ternyata jauh. lebih besar dan kejam dari yang dicurigai Kwi-hwethio. Mereka hendak membunuhku bukan lantaran aku sebagai penghalang Ho Lok mewarisi jabatan ciangbun, tapi tujuan utama adalah akan membawa dan menjadikan Kong-tong-pay kami sebagai organisasi gelap pembantu kerajaan memusuhi kaum pendekar. Di belakang Ho Lok masih ada Hay Lan-ja dan Auwyang. Ya. Latar belakang ini sebelum kejadian ternyata belum diketahui oleh Kwi-hwe-thio.
"Agaknya Kwi-hwe-thio tahu jalan pikiranku, katanya, 'Aku tahu kau takkan percaya, umpama betul kau tidak mau percaya, kuharap kau tidak memberitahukan apa yang kukatakan kepadamu kepada Ho Lok.' Setelah aku berjanji kepadanya baru dia pergi dengan rasa lega."
Kisah selanjutnya mulai memasuki bagian yang menyangkut Tan Khu-seng sendiri.
"Malam itu nona Boh membongkar muslihat Ho Lok, walau hatiku terguncang setelah mendengar penuturannya, namun aku masih setengah percaya, belakangan setelah Ho Lok datang dia mendesak aku lekas pulang menolong orang, kupikir menolong orang lebih penting. Umpama yang dikatakan nona Boh betul, paling Ho Lok hanya akan membunuh aku, bersama Ho Lok yakin dia tidak akan mengalami apa-apa. Peduli kawanan rampok itu betul undangan Ho Lok, aku ingin membuktikan apakah mereka mampu membunuh aku.
"Dalam perjalanan pulang ke kuil kuno itu aku sempat melihat dua bayangan hitam berlari bagai terbang, kelihatannya adalah rampok yang baru saja mengganas di dalam kuil. Sayang jaraknya terlalu jauh, kedua orang itu agaknya tidak melihat diriku. Untuk menolong orang aku tak sempat mengejar kedua penjahat itu.
"Menjelang sampai di kuil kuno itu, aku mendengar jeritan pembantu keluarga Boh. Ternyata rombongan pertama dari kawanan penjahat tadi adalah dua orang yang kulihat di luar itu. Mereka adalah Hay Lan-ja dan Auwyang Ya.
"Mungkin karena tidak menemukan nona Boh dan aku di dalam kuil kuno itu, bayangan Ho Lok juga tidak kelihatan, maka mereka hanya melukai dua orang lalu bergegas lari ke luar.
"Belum lama mereka pergi, rampok lain yang diundang Ho Lok datang pula. Orang ini adalah Kiat Hong yang menjadi saksi tadi. Waktu aku memasuki kuil itu, kebetulan dia sedang mengganas.
"Pengalaman Kiat Hong di dalam kuil itu serta bagaimana keadaan di sana, tadi sudah dituturkan oleh Kiat Hong, kurasa tak perlu aku menceritakan lagi.
"Setelah terluka oleh pedangku, takut aku membunuh dia, tanpa kuminta dia sudah mengaku bahwa kedatangannya atas petunjuk Ho Lok, mohon aku mengampuni jiwanya.
"Baru aku percaya apa yang dikatakan Kwi-hwe-thio memang benar dan nyata, demikian pula yang diucapkan nona Boh juga betul. Pada saat itulah sayup-sayup kudengar pula benturan senjata rahasia, kudengar pula suitan Ho Lok yang dikerahkan dengan Thoan-im-jip-bit, lwekang tingkat tinggi yang tidak mampu dilakukan sembarang orang.
"Mengkhawatirkan keselamatan nona Boh, aku tak sempat membereskan Kiat Hong. Lekas aku berlari ke arah lembah gunung itu. Tampak sandiwara tengah berlangsung, sayang sekali waktu itu aku tidak sadar bahwa mereka sedang bersekongkol bermain sandiwara"
Ketika Tan Khu-seng tiba di lembah itu, dilihatnya Ho Lok sedang bergebrak dengan dua perwira.
Kedua perwira itu sudah tentu adalah Hay Lan-ja dan Auwyang Ya Hay Lan-ja pura-pura tidak tahu kalau Tan Khu-seng sudah datang, bentaknya.
"Ho Lok, jangan melindungi saudara seperguruan, lekas mengaku saja, jangan bodoh, sia-sia kau berkorban untuk dia."
"Aku tidak tahu undang-undang raja apa yang pernah kulanggar, soal apa aku harus mengaku?"
Demikian teriak Ho Lok.
"Kau masih pura-pura,"
Bentak Hay Lan-ja.
"Tan Khu-seng bersahabat dengan kawanan pemberontak, kami sudah mendapat bukti-bukti. Kau adalah sahabat baik dan saudara seperguruannya,, memangnya kau tidak tahu?"
"Hm,' menurut pendapatku, bukan dia tidak tahu, kukira dia pun sehaluan dengan Tan Khu-seng malah,"
Demikian Auwyang Ya ikut mengejek.-Ho Lok pura-pura gugup, kaget dan takut serta penasaran, teriaknya.
"Aku betul-betul tidak tahu Tan Khu-seng pergi ke mana, aku tak tahu apa yang pemah dia lakukan."
Hay Lan-ja tertawa dingin.
"Mertuamu Boh It-hang dan Tan Khuseng sute-mu itu adalah pengkhianat yang melawan pemerintah kerajaan. Hm, kalau bilang kalian tidak sehaluan, setan pun takkan percaya. Kalau kau tidak menyerahkan Tan Khu-seng dan tidak mau memberi penjelasan, terpaksa kau yang akan kami bekuk untuk mempertanggungjawabkan tugas kami."
"Betul,"
Seru Hay Lan-ja.
"dia sehaluan dengan Tan Khu-seng, berani melawan lagi, bila kita membunuh pasti tidak keliru."
Ho Lok pura-pura marah, bentaknya nekad.
"Seorang laki-laki tidak mau dihina secara semena-mena, murid Kong-tong-pay juga pantang menyerah membuang senjata. Jangan harap aku menyerah dan dibekuk. Baiklah, kalian menuduh aku sehaluan dengan Tan Khu-seng, baiklah, berontak ya berontak, memangnya kalian mau apa?"
Mendengar percakapan pura-pura ini, Tan Khu-seng yang berhati jujur dan setia kawan, yang semula memang hanya sedikit curiga, menjadi goyah pendapatnya.
Hatinya bimbang dan ragu.
Dia celingukan kian kemari, tapi tidak melihat bayangan Boh Le-cu, maklum dia turun dari lereng sambil sembunyi-sembunyi, maka tidak melihat Boh Le-cu yang sedang tergeletak di tanah.
Dia mengharap Boh Le-cu tampil ke depan membongkar musr lihat mereka, namun Boh Le-cu yang diharapkan tidak muncul karena sudah menggeletak terluka oleh kekejian Ho Lok.
Kalau Boh Le-cu tidak menghilangkan rasa curiganya, maka olokolok Hay Lan-ja sudah meyakinkannya.
Didengarnya Hay Lan-ja sedang berkata.
"Hm, Ho Lok, kau mau berontak? Kenapa tidak kau pikir. Pertama, kau mampu mengalahkan kami?"
Dengan sengit Ho Lok melawan sambil menjawab ketus.
"Kalah juga akan kulabrak kalian."
Hay Lan-ja tidak menghiraukan ocehannya, katanya lebih lanjut.
"Kedua, tidak jadi soal kalau kau mampus, apa kau tega membiarkan istrimu yang cantik molek itu ikut mampus bersamamu? Dia sudah ter-totok hiatto-nya olehku, dalam satu jam kalau totokannya tidak kubebaskan pasti mampus. Lekas kau menyerah saja."
Sampai di sini Tan Khu-seng sudah tidak tahan lagi, dia yakin apa yang dilihatnya lebih mantap daripada yang didengar.
Segera dia mengambil keputusan, langsung dia melompat keluar sambil menerjang turun ke lembah.
Melihat kedatangannya Ho Lok purapura kaget, teriaknya panik.
"Tan-sute, kawanan cakar alap-alap ini hendak menangkap kau. Jangan pedulikan aku, lekas kau lari saja."
"Sret"
Tan Khu-seng mencabut pedang, teriaknya.
"Seorang lakilaki berani berbuat berani bertanggung jawab. Memang aku sering mengadakan kontak dengan pemberontak seperti yang mereka katakan, kalau kalian mampu boleh tangkap aku. Urusan tiada sangkut pautnya dengan suheng-ku ini."
Sudah tentu Ho Lok tidak mau mundur, terpaksa mereka berdampingan melawan kedua musuh.
Menurut rencana semula, sejak permulaan Ho Lok harus bertekad bertempur melawan musuh meski harus adu jiwa, sehingga Tan Khu-seng menaruh simpati dan terharu kepadanya hingga tidak curiga dan siaga terhadap dirinya.
Karena pura-pura nekad dan adu jiwa, kelihatannya serangan pedang Ho Lok amat ganas padahal tidak dilandasi tenaga yang mampu melukai lawan.
Maka dalam pertempuran ini boleh dikata Tan Khu-seng seorang diri harus melawan keroyokan kedua jago kosen Gi-lim-kun itu, malah dia selalu melindungi Ho Lok pula.
Padahal dinilai kepandaian mereka waktu itu, kalau Tan Khu-seng bertanding melawan Hay Lan-ja saja mungkin lebih unggul sedikit, namun dikeroyok dengan Auwyang Ya jelas dia bukan tandingannya.
Akan tetapi dia sudah tidak memikirkan keselamatan diri sendiri, mau tidak mau Hay Lan-ja berdua juga kebat-kebit dirangsak oleh Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat yang dilancarkan dengan tekad bulat untuk gugur bersama musuh.
Harapan Tan Khu-seng sudah tentu lekas mengakhiri pertempuran, mengalahkan kedua cakar alap-alap ini, baru akan menolong membuka totokan hiatto di tubuh Boh Le-cu.
Ternyata lawan teramat tangguh, ini di luar perhitungannya.
Setelah puluhan gebrak hatinya mulai gelisah, padahal pertempuran jago kosen mana boleh lengah sedikit pun?
Ho Lok melihat kesempatan baik ini, dari belakang mendadak dia melancarkan bokongannya Cerita Tari Khu-seng ini memuncak pada adegan paling tegang mendadak dia berhenti.
Walau orang banyak sudah tahu akhirnya dia selamat dan segar bugar sampai sekarang, tapi mendengar dalam pertempuran sengit itu dia dibokong oleh Ho Lok, tak urung jantung hadirin berdebar tegang, telapak tangan berkeringat dingin.
Beberapa orang malah bertanya.
"Bagaimana selanjurnya?"
Boh Le-cu berdiri, katanya perlahan.
"Kejadian selanjutnya, biar aku yang melanjutkan.
"Karena aku pingsan, Ho Lok mengira kalau tidak mampus aku pasti terluka parah. Maka seluruh perhatian mereka tujukan untuk menghadapi Tan Khu-seng, terhadapku mereka tidak berjaga atau memperhatikan lagi.
"Memang lukaku waktu itu tidak ringan untung tidak seketika mampus. Lebih untung lagi aku siuman di kala Tan Khu-seng terancam bahaya.
"Aku pura-pura masih pingsan, dengan lwckang sim-hoat ajaran ayah aku menghimpun tenaga. Pada saat itulah aku melihat Ho Lok sedang membokong Tan Khu-seng dari belakang.
"Sebetulnya tenagaku belum terhimpun meski hanya satu bagian, tapi entah dari mana datangnya tenaga, mendadak aku melompat berdiri, dengan pedang aku pun menusuk punggung Ho Lok, pedang panjangku amblas menembus dadanya"
Mendengar nadanya yang tegas dingin seperti merasakan pedang panjangnya yang menembus dada Ho Lok itu, hadirin menghela napas lega, namun tidak sedikit pula yang merinding.
Ternyata dendam dan sakit hati memang mengerikan.
Mendadak Boh Le-cu tertawa nyaring tapi bernada pilu, katanya.
"Sekarang sudah jelas duduk perkaranya bukan, yang membunuh Ho Lok bukan Tan Khu-seng tapi aku. Siapa yang beranggapan langkahku salah, siapa saja boleh menuntut balas kematian Ho Lok kepadaku, soal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Tan Khuseng."
Sorot matanya yang dingin dari wajah Tong-cin-cu beralih ke wajah Tong-bing-cu.
Tong-cin-cu tidak ingin bicara, Tong-bing-cu tidak berani bicara, seluruh murid-murid Kong-tong-pay tiada yang mau bicara.
Sesaat kemudian Lui-tin-cu berkata.
"Kalau demikian duduk perkaranya, apa yang dinamakan kasus pembunuhan sesama saudara seperguruan yang dilakukan Tan Khu-seng kurasa boleh dinyatakan hanya merupakan fitnah belaka tanpa bukti nyata. Selanjurnya Tan Khu-seng bebas dari tuduhan bukan?"
Tong-cin-cu menghela napas seperti apa boleh buat, katanya kemudian.
"Aih, sungguh tidak nyana begitu rumit seluk beluk perkara ini. Tan Khu-seng memang terfitnah dalam kasus ini. Maka perkara mencuci nama baik perguruan segala selanjutnya kuhapus dan tidak boleh diungkit kembali."
"Tidak, kasus yang menimpa Tan Khu-seng boleh dianggap selesai,"
Demikian seru Kim Tiok-liu dingin.
"tapi mencuci nama baik perguruan kalian kurasa masih belum berakhir."
"Betul,"
Lui-tin-cu mendukung.
"Nona Boh dan Tan Khu-seng sudah menjelaskan duduk perkara sebenarnya, namun masih ada sementara persoalan yang belum kumengerti."
Tong-cin-cu berkata loyo.
"Dalam perguruan kami terjadi peristiwa yang memalukan ini sungguh amat menyedihkan, maaf aku tiada semangat mengusut perkara ini lebih lanjut. Mohon kalian mewakili aku saja."
"Baiklah,"
Seru Kim Tiok-liu.
"Ingin aku tanyakan kepada Tanheng, kenapa kau baru pulang gunung setelah tiga bulan kemudian?"
Seperti diketahui, sejak peristiwa itu Tan Khu-seng tidak pernah muncul, waktu itu dianggap menghilang sekian lama maka dia dituduh merampok dan menculik.
Sekarang Kim Tiok-liu sudah tahu sebab apa dia menghilang maka meski tahu sengaja dia bertanya, maksudnya memberi kesempatan supaya dia memberi penjelasan.
Ternyata Boh Le-cu yang mewakilinya memberi penjelasan.
"Akulah yang menjadi penyebabnya. Aku terluka parah, terpaksa dia harus menjaga dan merawat aku. Apalagi dia sendiri juga terluka, walau tidak separah lukaku, tapi lukanya tidak enteng."
Setelah itu dia melanjutkan kejadian selanjutnya setelah membunuh Ho Lok, baru hadirin lebih jelas, malam itu boleh dikata mereka benar-benar lolos dari lubang jarum, betapa berbahaya keadaan mereka waktu itu, sungguh mengerikan.
---ooo0dw0ooo---BOH LE-CU yang semula pingsan mendadak melompat bangun serta menusuk Ho Lok sampai mampus, kejadian ini jelas di luar dugaan Hay Lan-ja dan Auwyang Ya.
Karuan mereka kaget dan panik, permainan kalut konsentrasi juga buyar.
Tan Khu-seng mengambil keuntungan ini, mendadak pedangnya membalik "cras"
Dia melukai Auwyang Ya, kembali "cret"
Lengan kiri Hay Lan-ja pun tertusuk luka oleh pedangnya.
Tapi kepandaian Hay Lan-ja memang lebih unggul dibanding Auwyang Ya, waktu pedang Tan Khu-seng melukai dirinya, telapak tangannya pun berhasil mendarat di tubuh Tan Khu-seng.
Punggung Tan Khu-seng sudah tergores luka oleh pedang Ho Lok, kini ditambah luka pukulan, maka keadaannya boleh dikata lebih parah dibandingkan Hay Lan-ja.
Tapi yang terluka paling parah memang Boh Le-cu.
Setelah pedangnya amblas di punggung Ho Lok, seluruh tenaga yang ada pun habis, begitu Ho Lok roboh terkapar, matanya pun berkunangkunang menyusul dia pun tersungkur jatuh.
Sekilas dia masih sempat melirik ke sana, di tengah sambaran sinar pedang dan bayangan telapak tangan, lengan baju Hay Lan-ja basah dan berwarna merah darah, namun langkah Tan Khu-seng juga dilihatnya sempoyongan.
Boh Le-cu masih agak sadar, dia tahu pertempuran menjelang gugur bersama, saat segenting ini maka dia menggigit bibir, kembali dia mengerahkan sisa tenaga mencabut pedang dari punggung Ho Lok seraya berteriak serak.
"Jangan lepaskan kedua anjing alap-alap ini."
Padahal Boh Le-cu hanya menggertak, tapi Hay Lan-ja tidak tahu keadaannya yang sudah loyo.
Maklum barusan dia saksikan Ho Lok ajal ditusuk pedangnya, ini membuktikan bahwa perempuan yag saru ini tadi hanya jatuh pingsan saja.
Sementara luka-luka Auwyang Ya cukup parah, saat itu tak mampu bertempur lagi.
Sudah tentu Hay Lan-ja tidak berani bertempur seorang diri, apalagi melawan keroyokan Tan Khu-seng dan Boh Le-cu, terpaksa dia melarikan diri sambil menyeret Auwyang Ya.
"Sungguh berbahaya,"
Diam-diam Boh Le-cu mengucap syukur setelah bayangan Hay Lan-ja tidak kelihatan lagi.
Rasa lega seketika membuat tubuhnya lunglai dan jatuh pingsan lagi.
Ketika sadar dirinya sudah berada di dalam sebuah gua.
Didapatinya kelima peti pesalin yang dibawanya juga sudah dipindahkan di dalam gua itu.
Ternyata pingsannya itu cukup lama, dua hari dua malam kemudian baru dia terjaga.
Di saat dia pingsan itu Tan Khu-seng membawanya ke dalam hutan dan menemukan gua ini.
Walau dia juga terluka namun tanpa menghiraukan jiwa sendiri dia menggendong Boh Le-cu ke gua ini, tak lupa kelima peti berisi emas perak dan perhiasan itu pun digotong ke dalam gua ini.
Dengan koyo penyambung nyawa buatan Kong-tong-pay dia mengobati luka-luka Boh Le-cu, dengan sisa tenaga murninya dia mengurut dan memijat sehingga jalan darah di tubuhnya berjalan lancar dan normal.
Selama dua hari dua malam itu boleh dikata dia menjaga dan merawat dengan tekun dan telaten tanpa makan tidur sehingga jiwa Boh Le-cu tertolong.
Waktu Boh Le-cu sadar, Tan Khu-seng sendiri yang sudah kehabisan tenaga malah jatuh sakit.
Untungnya orang-orang yang mencari Ho Lok setelah menemukan mayatnya semua menyangka kedua muda mudi ini sudah lari ke tempat jauh hingga tidak memeriksa tempat sekitar kejadian.
Maka mereka bisa menetap di gua itu dengan tenteram dan aman.
Kalau Tan Khu-seng jatuh sakit, luka-luka Boh Le-cu ternyata makin sembuh maka sekarang ganti Boh Le-cu yang merawat dan meladeni dia makan.
Walau saat itu merupakan kehidupan yang paling sengsara dalam hidupnya, hari-hari yang tegang penuh bahaya, tapi kalau sekarang Boh Le-cu mengenangnya kembali, hatinya masih merasa manis mesra.
Karena dalam kesusahan itu dia dan Tan Khu-seng saling bantu, papah memapah, tanpa terasa bibit cinta mulai bersemi di dalam sanubari mereka.
Maka dalam benaknya, hari-hari di kala mereka bersama itu merupakan kehidupan paling bahagia.
Tapi sayang sekali belakangan....
Perasaannya menjadi kecut, dengan nanar dia menatap Tan Khuseng.
Tan Khu-seng melengos tidak berani balas menatapnya.
Tapi yang menyambut sorot matanya adalah pandangan Lui-tin-cu dan Kim Tiok-liu yang penuh kagum dan lega.
"Nona Boh,"
Kata Lui-tin-cu.
"bagaimana selanjurnya?"
Seperti tersentak sadar dari mimpinya, Boh Le-cu seperti ingat dirinya sedang bercerita di depan orang banyak, terpaksa dia menekan gejolak perasaannya, mimpi indah, mesra dan hangat itu dia simpan dalam sanubarinya, katanya lebih lanjut.
"Mungkin kami belum ditakdirkan mati, dua bulan kemudian keadaan kami sudah lolos dari marabahaya, keadaan kami sudah mulai pulih.
"Tapi masih ada satu tugas harus segera kami bereskan, yaitu bagaimana dengan lima peti pesalin itu? "Aku tahu di antara pesalin itu sebagian besar bukan milik keluarga Boh kami, memang ada sebagian peninggalan ayah, namun aku tak ingin membawanya lagi. Waktu itu aku memutuskan untuk menyerahkan seluruh pesalin itu kepada laskar gerilya.
"Sudah tentu keadaan kami waktu itu tak mungkin unjuk diri. Lalu bagaimana cara menyerahkan harta benda itu? Akhirnya Tan Khu-seng yang mendapat akal.
"Dia menyelundup ke Bi-ti, memberi tahu orang yang biasa menjadi kurir antara ayah dengan laskar gerilya, tengah malam diam-diam dia masuk ke rumah orang itu serta meninggalkan sepucuk surat."
Sampai di sini cerita Boh Le-cu, maka di antara orang banyak mendadak seperti terdengar suara satu orang. Terdengar dia berkata lantang.
"Aku adalah kurir yang selalu mengadakan kontak antara laskar gerilya dengan Boh It-hang delapanbelas tahun yang lalu. Baru sekarang aku tahu, orang yang malam itu meninggalkan sepucuk surat tanpa nama di rumahku adalah Tan Khu-seng."
Menyusul dia yang bercerita tentang surat itu kepada hadirin.
"Dalam surat itu dijelaskan bahwa dana yang diperlukan untuk laskar gerilya yang dulu dititipkan di keluarga Boh sekarang disimpan dalam sebuah gua, aku disuruh ke sana mengambilnya. Dalam surat itu dilampiri sebuah gambar peta yang menerangkan di mana lokasi gua itu. Waktu itu aku masih bimbang, khawatir musuh mengatur rencana hendak menjebak aku. Tapi demi kepentingan laskar rakyat terpaksa aku memberanikan diri menempuh bahaya pergi memeriksa ke sana. Betul juga di dalam gua aku menemukan lima peti penuh berisi emas perak dan barang berharga lain yang tak ternilai. Selama delapanbelas tahun ini, aku dan kawan-kawan gerilya amat berterima kasih dan selalu ingat kebaikannya, kami selalu berdoa semoga lekas tahu dan dapat bertemu dengan dia serta menyatakan terima kasih. Baru sekarang kami tahu duduk perkara sebenarnya."
Lalu dia naik ke atas panggung menyatakan terima kasih kepada Tan Khu-seng dan Boh Le-cu. Boh Le-cu berkata.
"Itu pantas kulakukan, kalau tidak bukankah aku bakal jadi manusia rendah yang mencaplok harta besar yang amat diperlukan laskar gerilya."
Orang itu berkata.
"Tapi nilai harta yang kau serahkan kepada kami, sudah melampaui harta yang kami titipkan kepada keluargamu."
Boh Le-cu meneruskan ceritanya.
"Malam itu aku dan Tan Khuseng bersembunyi di sekitar gua, setelah kami saksikan kelima peti pesalin itu betul-betul dibawa pergi oleh para sahabat dari laskar rakyat baru dengan rasa lega kami meninggalkan tempat itu. Hari kedua aku pun berpisah dengan Tan Khu-seng."
Lui-tin-cu menghela napas panjang, katanya memuji.
"Kalian memang dua orang dermawan dan sosial. Sekarang persoalan sudah jelas. Siapa lagi dapat memfitnah Tan Khu-seng merampok dan menculik paras ayu?"
Dari bawah panggung seseorang mendadak tertawa dingin, katanya perlahan,'"Walau ada saksi dalam perkara ini, tapi perkaranya baru jelas separo bukan?"
Maksud dari "jelas separo"
Adalah tentang harta, namun menculik paras ayu memang masih patut dicurigai.
Pembicara ini adalah seorang murid Tong-bing-cu.
Kalau gurunya sudah tidak berani bcrcuit di atas panggung, di bawah ternyata dia masih berani mengoceh.
Tidak sedikit hadirin yang mendongkol dan marah mendengar ocehannya, tapi semua juga maklum, sepasang muda-mudi selama tiga bulan hidup bersama dalam gua di atas gunung yang sepi, betapapun sukar mereka mencuci bersih kecurigaan orang.
Untuk menjaga nama baik Boh Le-cu, mereka yang sudah siap mencaci maki akhirnya tutup mulut.
Tapi Boh Le-cu mendengar juga ocehan murid Tong-bing-cu itu, tampak alisnya berdiri, katanya.
"Lui-locianpwe, Kim tayhiap, kuharap kalian suka menjadi saksi."
Sembari bicara dia menarik lengan baju sebelah kanan.
Di lengan kanannya yang putih bersih tampak sebuah tahi lalat sebesar kacang warna merah darah.
Itulah Siau-kiong-soa pertanda kesucian seorang gadis yang masih perawan.
Lekas Lui-tin-cu membantu dia menurunkan lengan baju, katanya.
"Nona Boh suci bersih, kenapa kau hiraukan ocehan manusia rendah bermulut anjing."
Kim Tiok-liu berkata.
"Sebetulnya Ho Lok tidak terhitung sebagai suami nona Boh lagi, dengan siapa dia suka menikah terserah kepada pilihannya, siapa pun tidak berhak mencampuri."
Wajah Boh Le-cu yang dingin kaku seketika bersemu merah, dalam hati dia membatin.
"Sayang delapanbelas tahun yang lalu aku dan Tan Khu-seng tidak punya keberanian untuk saling menyatakan isi hati."
Kenangan lama seperti terjadi di depan mata.
Adegan yang paling tidak bisa dia lupakan adalah saat-saat menjelang perpisahannya dengan Tan Khu-seng.
Setelah berkumpul tiga bulan, kesehatan mereka sudah pulih, harta sudah diserahkan kepada laskar gerilya, maka tiba saatnya mereka harus berpisah.
Tanpa bicara mereka turun gunung, keduanya menggigit bibir tanpa bicara, menahan gejolak perasaan dan airmata yang hampir menetes.
Tanpa terasa mereka sudah berada di kaki gunung, akhirnya Tan Khu-seng hampir tidak kuat mengucap dua patah kata.
"Sampai bertemu."
Melihat Tan Khu-seng akan pergi meninggalkan dirinya, Boh Le-cu sudah tidak kuat menahan diri lagi.
Begitu pula perasaan Tan Khu-seng waktu itu mungkin sama dengan dirinya, tanpa sadar tangan mereka saling genggam.
Boh Le-cu tak kuasa membendung airmatanya, katanya terisak.
"Apakah betul kita bisa bertemu lagi?"
Tan Khu-seng berkata serak getir.
"Aku tidak tahu, ai, agaknya kita harus pasrah pada nasib saja."
Boh Le-cu menghela napas, katanya.
"Selama kita berkumpul tiga bulan ini, bagi perasaanku adalah saat yang paling menderita tapi juga paling bahagia dan manis, selama hidup aku tidak akan melupakannya Tan Khu-seng berkata.
"Aku pun tidak melupakan. Sayang sekali masa silam yang manis bagai madu ini takkan terulang kembali."
Seperti tersayat perasaan Boh Le-cu, tak. tahan diri, menjatuhkan diri dalam pelukan Tan Khu-seng. Tan Khu-seng menyeka airmata-nya, katanya.
"Nona Boh, aku tahu maksud hatimu. Bukan aku berhati baja, seperti kau, aku pun tidak ingin berpisah. Tapi sayang nasib telah menentukan jalan hidup kita, kita harus berpisah kecuali...."
"Kecuali apa?"
Tan Khu-seng menggelengkan kepala, katanya menghela napas.
"Tapi mulut orang amat menakutkan, apakah kita bisa tidak menghiraukan kecurigaan orang? Kecuali yang kumaksud sebetulnya hanya angan-angan kosong belaka."
Dia tidak menjelaskan apa arti kata yang akan diucapkan, tapi Boh Le-cu sudah mengerti.
Memang di luar orang tentu sudah gempar membicarakan kasus ini, dalam keadaan seperti ini, mana mungkin mereka terangkap menjadi suami istri?
Boh Le-cu berkata perlahan.
"Aku bisa menunggu hingga kasus ini dibikin terang dan dibongkar di hadapan umum."
Tan Khu-seng tertawa getir, katanya.
"Aku justru tak berani mengharapkan yang muluk-muluk, jangan kata orang lain tidak akan mau percaya keterangan kita, mungkin aku pun takut membongkar kenyataan ini di depan umum, ai, hari yang kau harapkan mungkin takkan bisa kau dapatkan."
Dugaan Tan Khu-seng tidak keliru, setelah dia pulang ke gunung, karena tuduhan "membunuh saudara seperguruan"
Dia lantas dipecat dan diusir dari perguruan.
Tapi ada juga yang meleset dari dugaannya Dia mengira, selama hidup perkara ini takkan terungkap, tapi kali ini persoalan telah dibikin terang dan umum pun telah tahu duduk perkaranya.
Tapi apakah saat yang dihar rapkan Boh Le-cu ini tidak terlambat?
Diam-diam dia melirik memperhatikan Tan Khu-seng, dilihatnya Tan Khu-seng tunduk seperti memperhatikan sesuatu.
Entah apakah dia juga sedang memikirkan persoalan yang sedang dia renungkan.
"Tan-heng, kini giliranmu untuk melanjutkan cerita,"
Demikian ucap Kim Tiok-liu.
"Relakah kau mengisahkan rahasia pribadimu yang selama delapanbelas tahun ini kau sembunyikan?"
Tan Khu-seng menghela"
Napas, katanya.
"Kejadian yang dulu paling tidak diinginkan oleh unsu (guru yang berbudi) sudah terjadi, kurasa tiada halangannya kukisahkan."
Setelah Tan Khu-seng berceri-tera, baru orang banyak mengetahui kenapa gurunya yaitu ciangbunjin Kong-tong-pay yang terdahulu Tong-biau Cinjin merelakan muridnya dihukum dan dipecat serta diusir dengan tuduhan yang membuat penasaran.
---ooo0dw0ooo---TIGA BULAN setelah kejadian, Tan Khu-seng yang menghilang mendadak pulang.
Tentu saja semua saudara seperguruannya menjadi gempar, tiada yang tidak menaruh curiga kepadanya.
Untuk mempertahankan nama baik perguruan, terpaksa Tan Khu-seng tutup mulut terhadap segala pertanyaan yang diajukan para saudara seperguruannya, dia hanya mau bicara dengan gurunya saja.
Setelah mendapat laporan muridnya, lama dan lama sekali Tongbiau Cinjin tidak bicara, akhirnya dia menghela napas, ujarnya.
"Muridku, mungkin gurumu terpaksa akan membuatmu susah."
Ternyata Tong-biau Cinjin serba salah, demi keadilan umum juga untuk kebenaran pribadi.
Untuk keadilan umum, pertama dia takut bila kenyataan kasus ini terbongkar dan diketahui orang luar nama besar Kong-tong-pay yang sudah ditegakkan ratusan tahun akan runtuh.
Jikalau keputusannya tidak-tepat, kemungkinan akan menimbulkan kemarahan kaum pendekar dan laskar rakyat, yang akan datang ke Kongtong-san menuntut keadilan.
Tapi bagaimana dia harus mengambil keputusan supaya urusan tidak berabe, terhadap golongan atau perguruan yang tidak secara terbuka menentang pemerintah kerajaan mungkin tidak akan banyak pengaruh, namun bagi pihak Kong-tong-pay sendiri hal ini justru sukar diselesaikan.
Karena Kong-tong-pay sejak berdiri tidak mempunyai undang-undang untuk menghukum murid yang berkhianat.
Sudah menjadi tradisi Kong-tong sejak berdiri hingga sekarang, tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, tidak pernah melibatkan diri dalam berbagai pertikaian dan perbuatan apa pun.
Sejak kerajaan Ceng mulai berkuasa selama seratus tahun lebih ini mereka bertahan tidak menentang juga tidak mendukung kebijaksanaan pemerintah kerajaan.
Beberapa cosu dari generasi yang terdahulu hanya menuntut murid mereka khusus mempelajari kungfu, tentang hubungan pribadi mereka, entah bersahabat dengan kaum pendekar yang menentang kerajaan atau berhubungan baik dengan kalangan pejabat, mereka bebas memilih jalan dan arahnya sendiri.
Lantaran itulah, selama ratusan tahun Kong-tong-pay tidak pernah bentrok dengan kedua pihak yang bertentangan ini.
Tong-hian-cu bersekongkol dengan Hay Lan-ja membunuh Koantiong Tayhiap Boh It-hang yang terkenal sebagai penentang kerajaan paling gigih.
Menurut tata tertib perguruan Kong-tong-pay, ciangbunjin boleh mengatakan dia bersalah, juga boleh memberi peringatan kepadanya supaya selanjutnya tidak membantu pihak kerajaan.
Tapi tidak boleh menuduhnya sebagai murid pengkhianat.
Apalagi secara diam-diam Tan Khu-seng juga pemah membantu pihak laskar gerilya, bila menurut tata tertib perguruan yang keras, dia pun patut mendapat teguran pedas.
Sikap Tong-biau Cinjin sendiri sebenarnya lebih cenderung ke pihak laskar gerilya tapi dia bertindak bukan karena perbuatan Tan Khu-seng, tapi berdasarkan tradisi perguruan untuk menjatuhkan hukuman, hal ini jelas berbeda dari kebiasaan.
Apalagi dia masih mengkhawatirkan sesuatu.
Kekhawatiran itu adalah jikalau dia ingin membela muridnya yang terfitnah, maka dia harus menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya.
Selanjutnya melaksanakan kewibawaan dan kekuasaan seorang ciangbunjin, melanggar tradisi menentukan sendiri undangundang, menghukum Tong-hian-cu yang secara diam-diam menjadi antek kerajaan.
Langkah ini bisa dilakukan karena ciangbunjin punya hak menegakkan undang-undang baru.
Tapi kalau langkah ini dia lakukan berarti telah menentukan sikap, Kong-tong-pay di bawah pimpinannya selanjutnya menentang pemerintah kerajaan.
Bila sudah menentukan sikap, maka akibatnya bisa dibayangkan.
Selanjutnya Kong-tong-pay harus bermusuhan dengan pemerintah kerajaan dan itu berarti dia akan membawa dan mendatangkan mala petaka besar yang berkepanjangan bagi Kong-tong-pay, seluruh murid Kong-tong-pay takkan bisa hidup tenteram sepanjang masa.
Untuk melakukan langkah ini diperlukan keberanian yang besar.
Tong-biau Cinjin justru tidak punya keberanian yang diperlukan ini.
Karena langkah dan perbuatannya ini berarti mengubah hakekat dari seluruh tradisi yang sudah turun temu-run dari Kong-tong-pay.
Kecuali keberanian besar juga harus memiliki keuletan dan ketabahan luar biasa.
Tong-biau Cinjin ternyata tidak memiliki syarat-syarat dari tuntutan ini.
Demi umum atau pribadi Tong-biau Cinjin serba khawatir, kecuali kedua alasan di atas dia pun tidak tega membuat sute-nya Tonghian-cu hancur nama dan tamat riwayat.
Dalam hal ini ada latar belakang yang tidak diketahui orang.
Soalnya dia harus mematuhi pesan gurunya, yaitu mengayomi sutenya yang satu ini, selama hidupnya harus menjaga dan membimbing sute-nya.
Gurunya Giok-king Cinjin bersahabat baik dengan ayah Tonghian-cu.
Suatu ketika mereka bertemu dengan musuh tangguh dan terkepung.
Untuk melindungi Giok-king Cinjin, ayah Tong-hian-cu terluka parah dan tak tertolong lagi.
Maka Giok-king Cinjin merasa wajib mendidik, mengasuh dan membesarkan anak yatim piatu dari sahabatnya itu, wajar kalau dia terlalu sayang padanya.
Tong-biau Cinjin lebih tua belasan tahun dari Tong-hian-cu, waktu dia mewarisi kedudukan ciangbun Tong-hian-cu belum dewasa.
Maka menjelang ajalnya Giok-king Cinjin berpesan kepada muridnya Tong-biau Cinjin untuk menjaga sute-nya yang masih kecil ini.
Setelah Tong-biau Cinjin menjelaskan rasa khawatir dan kesulitannya kepada Tan Khu-seng, tanpa terasa dia melelehkan airmata juga, katanya.
"Kau adalah muridku yang paling kusayang, sebetulnya tidak patut dan tidak tega menindak kau, namun sekarang aku ingin mohon maaf kepadamu."
Apa pula yang bisa dikatakan Tan Khu-seng setelah gurunya memutuskan demikian? Terpaksa dia berlutut, katanya dengan airmata bercucuran.
"Terlalu berat ucapan suhu, nama besar perguruan lebih utama, baik' buruk nama seseorang tidak jadi soal dikorbankan. Tecu menerima apa pun putusan dan kehendak suhu."
Cukup lama Tong-biau Cinjin memeras otak, baru dia menjelaskan rencananya. Tong-biau Cinjin berkata.
"Tong-hian dan Tong-bing menuntut kepadaku supaya menghukum kau dengan tuduhan membunuh sesama saudara seperguruan, sudah tentu aku tidak akan menerima tuntutan mereka begitu saja. Tapi untuk menenteramkan suasana, terpaksa aku menggunakan alasan sendiri, akan kukatakan kau harus memikul dosa karena tidak becus menunaikan tugas melindungi keselamatan sesama saudara perguruan. Resminya kau kupecat dan diusir dari perguruan, namun dalam sanubariku kau tetap adalah muridku yang paling baik."
Karena akan diusir dan dipecat dari perguruan, betapa sedih hati Tan Khu-seng. Tapi berbalik dia harus membujuk dan menghibur gurunya supaya tidak bersedih.
"Suhu mendapat jaminan itu, umpama tecu harus dihukum lebih berat lagi juga rela. Khawatirnya para saudara seperguruan mungkin akan menentang kebijakan suhu yang dirasa kurang adil dan terlalu membela tecu."
Tong-biau Cinjin tertawa getir, katanya.
"Karena aku tidak bisa memberi penjelasan selayaknya terpaksa bertindak secara serampang-an. Memang putusanku yang seram-pangan ini akan menimbulkan rasa tidak puas seluruh murid-murid lain. Maka aku memutuskan setelah kasus ini kuselesaikan dengan caraku yang serampangan itu, aku pun akan mengundurkan diri menyerahkan jabatan ciangbun ini kepada orang lain. Orang akan memberi tanggapan akan langkahku ini karena menganggap kurang keras menegakkan disiplin perguruan, tapi kau kan mengerti, memang aku amat menyesal, tapi hanya terhadap dirimu saja."
"Jangan suhu bilang demikian, karena diriku suhu ikut terlibat dan akulah yang wajib memikul segala akibat ini. Entah suhu hendak menyerahkan jabatan ciangbun kepada siapa?"
"Kau tak usah khawatir, aku tidak akan menyerahkan kepada Tong-hian-cu atau Tong-bing-cu, aku sudah siap menyerahkan kepada ji-sute Tong-cin-cu. Walau kemampuannya biasa, tetapi hatinya lebih baik, setia dan jujur, kuyakin dia tidak akan berbuat sewenang-wenang."
"Aku akan memberi peringatan kepada Tong-hian-cu bahwa aku telah tahu rahasianya, aku pun akan memberi tahu seluk beluk persoalan kasus ini secara singkat kepada Tong-cin sute yang akan kuserahi jabatan.
"Selama aku masih hidup, yakin mereka tidak akan berani bertingkah, tapi aku akan memberi wejangan dan peringatan kepada mereka, bila aku sudah mati, bila mereka tidak patuh pada pesanku, siapa mengulangi kesalahan Tong-hian-cu lagi, aku akan memberi ijin kepadamu untuk membongkar kasus ini di depan umum. Mereka yang kumaksud perlu ditegaskan, termasuk Tongbing-cu."
Tan Khu-seng berhati bajik, dia tidak menceritakan bagaimana sikap gurunya terhadap Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu di hadapan orang banyak.
Tapi orang banyak tahu bahwa Tong-cin-cu yang sekarang menjabat ciangbun sebetulnya bukan tidak tahu menahu adanya kasus yang memalukan ini.
Tong-cin-cu sendiri juga memaklumi hal ini, maka hatinya menjadi bimbang, apa perlu dikemukakan Tong-bing-cu yang sudah dia ketahui.
Didengarnya Tan Khu-seng sudah menghela napas dan melanjutkan.
"Sungguh tak nyana, setelah suhu dan Tong-hian susiok meninggal dunia, hari ini aku dipaksa untuk pulang ke Kong-tong-san menjelaskan duduk persoalan sebenarnya dari kasus ini, sekarang aku mohon kepada ciangbun untuk menyelidiki siapa sebenarnya orang yang menempuh kesalahan Tong-hian susiok dan berkomplot dengan Hay Lan-ja?"
Mendadak Tong-bing-cu berkata dingin.
"Tan Khu-seng; sekarang kau belum menjadi ciangbun, mana boleh kau menegakkan keadilanmu sendiri."
Tan Khu-seng gusar, serunya.
"Hay Lan-ja membunuh Giok-hi tianglo, apa tidak pantas kita menuntut balas kepadanya?"
"Itu dua persoalan yang berlainan. Apa benar Giok-hi tianglo terbunuh oleh Hay Lan-ja masih perlu penyelidikan, paling hanya boleh dikata dia patut dicurigai. Umpama benar dialah pembunuh Giok-hi tianglo, persoalan hanya bisa dibereskan dengan Hay Lan-ja sendiri, umpama ada murid Kong-tong-pay yang punya hubungan dengan dia, juga tidak melanggar aturan perguruan. Apalagi orang yang dituduh ini belum tentu ada. Kau menuntut ciangbun mengusut orang yang berkomplot dengan Hay LanTja, bukankah kau bermaksud menarik panjang urusan dan mencari gara-gara?"
Mendadak Tong-cin-cu berkata.
"Kalian tak perlu perang mulut, aku ada omongan."
Sikapnya keren dan serius, agaknya dia hendak menegakkan wibawa seorang ciangbunjin. Tan Khu-seng berkata.
"Tecu tunduk, mohon ciangbun memberi petunjuk."
Tong-bing-cu tampak membeku diam tanpa ekspresi, entah apa yang sedang dipikir. Tong-cin-cu batuk-batuk, katanya perlahan.
"Pertemuan besar perguruan kita hari ini, sebetulnya untuk menyelesaikan dua persoalan besar. Pertama, mengusut kembali kasus lama Tan Khuseng yang dituduh membunuh sesama saudara seperguruan. Kedua, adalah memilih pejabat ciangbun yang baru. Sekarang kasus Tan Khu-seng sudah beres, dosa-dosanya sudah tercuci bersih, adalah pantas kalau sekarang menerimanya kembali ke dalam perguruan, putusanku ini entah siapa yang menentang?"
Sebagian besar murid-murid Kong-tong-pay menyambut dengan sorak sorai, tiada seorang pun yang menentang.
Dalam suasana yang riang gembira ini, Tong-bing-cu yang amat membenci Tan Khu-seng tidak berani bicara lagi.
Setelah meredakan sorak sorai orang banyak, baru Tong^cin-cu melanjutkan pidatonya.
"Kalau tiada orang menentang, berarti Tan Khu-seng diterima kembali sebagai anggota kita, itu berarti dia punya hak dicalonkan sebagai pewaris ciangbun kita. Waktu permulaan tadi aku sudah mengusulkan Tong-bing sute sebagai calon pewaris,, belakangan Giok-hi tianglo mengusulkan supaya Tan Khu-seng dicalonkan sebagai pewaris juga, apakah ada orang lain yang mengajukan calon ketiga?"
Setelah pertanyaan diulang tiga kali dan ditunggu tanpa jawaban maka Tong-cin-cu berkata lebih lanjut.
"Baiklah, sekarang harap seluruh anggota seperguruan memutuskan bersama memilih siapa pewaris yang menjabat ciangbunjin kita Aku sendiri sudah tidak becus jadi pemimpin, maka banyak urusan besar yang sejauh ini belum diputuskan biarlah pejabat ciangbun yang baru nanti mengurusnya."
Tujuan amat jelas, yaitu seluruh tanggung jawab dari persoalan selanjutnya akan diserahkan dan biar dipikul oleh ciangbun yang akan terpilih nanti.
Sungguh menggelikan, Tong-bing-cu yang sudah begitu ingin jadi ciangbun kini seperti orang hukuman yarig sudah divonis hukuman mati.
Betapapun dia berusaha menenangkan diri, bagi yang menaruh perhatian pasti melihat sorot matanya yang penuh dendam dan keben-cian.
Saat mana.
dia membatin.
"Rase tua ini memang licik dan licin, lahirnya dia pura-pura jadi orang baik yang terang jelas dia hendak meminjam tangan Tan Khu-seng hendak membunuh aku."
Sekarang rnulai babak pemilihan, akhirnya sesuai yang sudah diduga orang banyak sudah tentu juga sudah diduga oleh Tongbing-cu.
Tong-cin-cu menyuruh orang banyak minggir dan mundur supaya di tengah gelanggang terdapat tanah kosong yang cukup luas, lalu dia berseru lantang.
"Seluruh murid perguruan Kong-tong-pay, siapa mendukung Tong-bing-cu menjabat ciangbun yang akan datang dipersilakan berdiri."
Ternyata tiada satu pun murid.
Kong-tong-pay yang bergerak atau melangkah keluar termasuk muridmurid Tong-bing-cu sendiri.
Tay-ciok yang menjadi muridnya terbesar pun terima jadi kura-kura yang mengkeretkan kepala.
Sesaat kemudian Tong-cin-cu kembali berseru.
"Murid-murid Kong-tong dengarkan, siapa mendukung Tan Khu-seng menjadi pejabat ciangbun kita silakan maju."
Kali ini ternyata menjadi ramai, belum habis Tong-cin-cu bicara, murid-murid Kong-tong-pay seperti berlomba dan takut ketinggalan saja bergegas melangkah keluar berdiri di gelanggang' kosong tadi.
Hanya murid-murid Tong-bing-cu sendiri yang menjadi rikuh dan serba susah untuk ikut beranjak keluar namun jumlahnya juga hanya beberapa gelintir.
Tong-cin-cu menghela napas, katanya.
"Tan sutit, kuucapkan selamat bahwa secara bulat kau didukung sesama saudara perguruan menjadi pewaris ciangbun yang akan datang. Mulai saat ini, kau adalah ciangbun kita yang baru."
Tan Khu-seng berkata.
"Bahwa aku diterima kembali menjadi anggota perguruan, bagiku sudah lebih dari cukup. Jabatan ciangbun terus terang tak berani kuterima. Susiok, usiamu belum lanjut kuharap kau menjabatnya untuk dua tahun mendatang."
Tersipu Tong-cin-cu menggoyang tangan, katanya.
"Putusan sudah ditetapkan secara bulat oleh seluruh anggota, mana boleh kau menghibahkan jabatan secara pribadi?"
"Tan Khu-seng,"
Seru Lui-tin-cu.
"kaulah yang dijadikan tumpuan harapan orang banyak, kuharap kau tidak menolak."
Tan Khu-seng masih ingin menolak, mendadak Boh Le-cu berkata.
"Tan Khu-seng bukan soal kau tidak mau jadi ciangbun, apakah dendam kematian gurumu kau pun tidak ingin membalasnya?"
Tan Khu-seng terbeliak kaget, serunya.
"Kau... apa katamu, maksudmu dendam kematian Giok-hi tay-susiok?"
Dia mengira salah dengar.
"Tidak. Bukan Giok-hi tianglo yang kumaksud, maksudku adalah gurumu Tong-biau Cinjin. Kematian Giok-hi-cu memang tidak jelas, demikian pula kematian suhumu. Tahukah kau bagaimana kematian gurumu?"
Karuan hadirin menjadi gempar, Tan Khu-seng berteriak kalap.
"Bagaimana kematian guruku?"
"Mati diracun orang,"
Sahut Boh Le-cu.
Setelah menyerahkan jabatan ciangbun kepada sute-nya Tongcin-cu, belum ada dua tahun, tahu-tahu Tong-biau Cinjin meninggal dunia, waktu itu usianya baru menanjak enampuluh.
Bagi seorang yang memiliki kungfu tinggi, dalam usia enampuluh tahun meski tidak terhitung pendek umur, bolehlah dianggap setengah umur.
Oleh karena itu begitu berita kematiannya tersiar, kaum Bulim menjadi kaget, kasihan dan menyayangkan, semua menganggap kematiannya amat mendadak, namun tiada orang curiga kalau kematiannya itu ada sebab lain atau terbunuh.
Satu bulan sebelum kematiannya, Lui-tin-cu pernah bertemu dengan dia.
Waktu itu mereka mendiskusikan ilmu silat hingga beberapa hari lamanya.
Tong-biau Cinjin tidak menunjukkan gejala tidak sehat badannya, kini setelah mendengar pernyataan Boh Lecu, terbayang oleh Lui-tin-cu keadaan Tong-biau Cinjin terakhir kali mereka bertemu, timbul rasa curiganya, lekas dia bertanya.
"Nona Boh dari mana kau tahu?"
"Aku pernah berkunjung sekali ke Kong-tong-san. Waktu aku datang, kebetulan adalah menjelang terbunuhnya Tong-biau Cinjin."
Tong-bing-cu tertawa dingin, jengeknya.
"Aku yakin murid-murid Kong-tong-pay kami tidak seluruhnya gentong nasi, nona Boh kau seorang diri dapat menyelundup ke Jing-hi-koan, siapa pun sukar percaya omonganmu."
Boh Le-cu berkata.
"Tidak lama setelah aku berpisah dengan Tan Khu-seng, suatu hari aku bertemu dengan maling sakti nomor satu sejagat Kwi-hwe-thio. Dia mengajarkan ilmu rata rias dan bicara dengan perut, maka aku menyamar seorang tosu cilik menyelundup ke dalam Jing-hi-koan."
Orang banyak tadi menyaksikan dua macam kepandaiannya, tadi dia mencampurkan diri di tengah gerombolan murid-murid Kongtong-pay, berbicara dengan perut, namun tiada orang yang tahu.
Tak heran kalau dahulu dia pernah menyelundup ke Jing-hi-koan tanpa ketahuan.
Boh Le-cu bicara lebih lanjut.
"Bukan tidak ada orang yang tahu akan penyamaranku, ada dua yang melihat aku, yaitu orang yang menggunakan racun dan seorang lagi adalah orang yang hendak mencegah orang itu turun tangan tapi tidak berhasil."
Lui-tin-cu bertanya.
"Orang yang berusaha mencegah itu pasti orang Kong-tong-pay, siapa dia?"
Boh Le-cu berpikir sejenak katanya.
"Kuharap lebih baik kalau dia sendiri yang mengatakan."
Tapi kenyataan orang itu tidak mau atau berani menampilkan diri. Rasa kaget dan duka Tan Khu-seng belum hilang, dengan napas memburu dia bertanya.
"Tolong kau beri tahu, siapa orang yang menggunakan racun?"
Boh Le-cu mengangkat kepala, mendadak dia menuding, katanya.
"Orang ini jauh di ujung langit dekat di mata. Nah itu dia sudah datang."
Orang banyak menoleh arah yang dituding, tampak Ting Tiau-bing dan guru silat dari Jiangciu Tio It-bu sedang menggusur seorang perempuan setengah baya masuk ke arena. Kim Bik-ki kontan berteriak.
"Ayah, perempuan inilah yang menganiaya puterimu."
Sesuai petunjuk Boh Le-cu, Ting Tiau-bing dan Tio It-bu turun ke bawah Toan-hun-gay, memang benar di dasar jurang itu mereka menemukan Sin Jit-nio yang terluka. Perlahan Boh Le-cu berkata.
"Perempuan jahat inilah yang membunuh Tong-biau Cinjin dengan racun, orang yang mengundangnya kemari dahulu adalah orang yang mengundangnya kali ini."
"Siapa dia?"
Desak Tan Khu-seng.
"Jauh di ujung langit, dekat di mata,"
Ucap Boh Le-cu.
Belum habis Boh Le-cu bicara, mendadak terdengar Tong-cin-cu mengerang tertahan menyusul Tong-bing-cu mengeluarkan seringai tawa yang menggiriskan.
Sejak tadi Tong-bing-cu berdiri di belakang Tong-cin-cu, di saat perhatian orang banyak tertuju ke arah Ting Tiau-bing dan Tio It-bu yang menggusur Sin Jit-nio, secepat kilat mendadak dia turun tangan, mencengkeram kuduk dan jalan darah penting di punggung Tong-cin-cu.
Boh Le-cu sudah siaga dan waspada, bersiap menghalangi Tongbing-cu membokong Tan Khu-seng, tapi tak tersangka bahwa yang dibo-kong malah Tong-cin-cu.
Tan Khu-seng gusar dan kaget.
"Sreet"
Pedang dicabut dia membentak gusar.
"Tong-bing-cu, kau berani memberontak dan kurang ajar kepada pimpinan. Lepaskan tanganmu!"
Tong-bing-cu menyeringai dingin, katanya.
"Siapa suruh kalian memojokkan aku ke jalan buntu? Hehe, Tan Khu-seng, dengarkan, berani kau maju selangkah, segera kumampuskan Tong-cin-cu. Upacara serah terima jabatan ciangbun belum dilaksanakan secara resmi, sampai detik ini Tong-cin-cu tetap menjabat ciangbun, kalau kau tidak menghiraukan jiwanya, maka kaulah yang harus bertanggung jawab memikul dosa kematiannya."
Tanpa digertak juga Tan Khu-seng tidak berani mempertaruhkan jiwa Tong-cin-cu.
Saking gusar, bola matanya mendelik merah padam, namun dia tak berani bertindak, pedang pusaka disarungkan kembali.
Telapak tangan Tong-bing-cu menekan hiatto besar di punggung Tong-cin-cu, sementara dia sendiri berdiri membelakangi sebuah tiang, katanya.
"Lui-locianpwe, Kim tayhiap, kuharap kalian memberi maaf dan sabar. Aku tahu, cukup angkat sebelah tangan kalian mampu menamatkan jiwaku, tapi sebelum aku gugur Tong-cin-cu pasti mampus lebih dulu. Hehe, hanya untuk melaksanakan langkah sepele ini, kalian tentu percaya bahwa Tong-bing-cu masih mampu melakukan bukan?"
Bila dia mengerahkan tenaganya, bila hiatto mematikan terpukul, maka Tong-cin-cu pasti mati seketika. Lui-tincu dan Kim Tiok-liu tahu hal ini bukan gertakan. Lui-tin-cu marah besar, makinya.
"Setua ini belum pernah aku melihat manusia rendah sejahat engkau, kehadiranmu di dunia persilatan menjatuhkan pamor Kong-tong-pay, sungguh memalukan."
Mau memaki boleh memaki, tapi apa yang bisa dilakukan? Tong-cin-cu juga amat gusar, teriaknya.
"Kalian tidak usah menghiraukan jiwaku, aku rela gugur bersama dia."
Walau dia rela, tapi kaum persilatan yang mampu membunuh Tong-bing-cu mana mau melakukan? Terpaksa Tong-cin-cu menghela napas, katanya.
"Aku amat menyesal kenapa tidak sejak tadi membongkar dosa dan kejahatannya."
"Sekarang juga boleh kau katakan,"
Jengek Tong-bing-cu.
"Sebetulnya sejak mula aku sudah tahu kalau dalam kasus ini Tan Khu-seng memang terfitnah. Dulu waktu Tong-hian-cu membawa pu^ lang jenazah anaknya, aku dan Tong-bing-cu yang memeriksa lebih dulu jenazah Ho Lok, kematiannya disebabkan tusukan telak dari punggung, ini membuktikan apa yang dikisahkan nona Boh tadi memang tidak salah, dialah yang membunuh Ho Lok. Tapi hari kedua waktu jenazah itu diperlihatkan di depan umum, jenazah Ho Lok ternyata bertambah tujuh lubang tusukan, sekali pandang orang akan tahu bahwa luka-luka itu bekas permainan Lian-hoan-toh-bing-kiam dengan jurus Jit-sing-poan-gwat itu."
Itulah salah satu bukti kenapa Tan Khu-seng pun ikut dicurigai.
Sekarang kasusnya sudah terbongkar, namun dari kesaksian beberapa orang tadi, hal ini belum ada yang menjelaskan.
Tadi Boh Le-cu mengaku telah membunuh Ho Lok, namun sementara orang tetap curiga, menyangka dia mewakili orang lain, namun karena orang banyak lebih cenderung kepadanya dan Tan Khu-seng maka orang banyak merasa Ho Lok memang setimpal menerima kematiannya.
Kini baru orang banyak sadar dan mengerti.
"Ternyata Tong-bing-cu yang membuat bekas luka di jenazah Ho Lok dengan jurus Jit-sing-poan-gwat itu. Sungguh pikun, kenapa tidak ingat pada dirinya."
Tong-bing-cu menyeringai dingin, katanya.
"Betul, memang aku yang melakukan, hanya aku dan Tan Khu-seng dalam Kong-tongpay yang mampu melancarkan jurus itu, aku yakin orang tidak akan curiga kepadaku. Waktu itu Tong-hian-cu tidak setuju jenazah puteranya dimasak, namun untuk menfitnah Tan Khu-seng, akhirnya dia berhasil kubujuk. Ciangbun suheng, aku sudah maklum kalau kau tahu perbuatanku, terima kasih selama ini kau menyimpan rahasia ini."
Tong-cin-cu. gusar bukan main, katanya.
"Semua gara-gara sifatku yang egois, di bawah ancaman dan. tekanan mereka, ternyata aku lupa bahwa aku ini manusia beribadat, manusia yang bertakwa kepada Thian, sekarang menyesal pun sudah terlambat."
Walau tidak dijelaskan, orang banyak sudah tahu, apa yang dimaksud dengan diancam dan ditekan adalah adanya persekongkolan antara Tong-hian-cu dan Tong-bing-cu, kekuasaan mereka berdua di dalam kalangan Kong-tong-pay jauh lebih besar dari ciangbun suheng-nya sen-diri.
Karena takut dibunuh, dan Tongcin-cu ingin sekali menduduki jabatan ciangbun, terpaksa dia tunduk dipermainkan mereka Tong-cin-cu berkata lebih lanjut.
"Aku menjadi ciangbun, namun hanya menjadi boneka mereka belaka Tapi tak pemah terbayang olehku, Tong-bing-cu, dia ternyata begitu keji dan culas, bukan' saja memfitnah Tan Khu-seng, dia-berani bersekongkol dengan penjahat membunuh suheng-ku Tong-biau Cinjin.
"Secara diam-diam dia mendatangkan Sin Jit-nio, disembunyikan dalam Jing-hi-koan. Malam itu ke-pergok olehku. Kenapa dia mengundang perempuan jahat itu? Walau aku ini ceroboh namun dapat kute-bak maksudnya, pasti untuk mencelakai jiwa orang. Ternyata sudah terlambat, waktu aku membujuk dan menasihatinya saat itulah perempuan jahat itu turun tangan. Belum habis aku bicara perempuan jahat itu sudah keluar dengan menyeringai berkata kepadaku, .'Kalau Tong-bing-cu tidak bilang kau ini masih ada gunanya, sejak mula kaulah yang kubunuh lebih dulu. Hm, kau baik hati, silakan kau saja yang membereskan mayatnya. Hahaha, mayat siapa? Kurasa kau tidak perlu tanya, siapa lagi kalau bukan suheng-mu Tong-biau Cinjin.' "Bergegas aku berlari ke luar, mendadak kulihat bayangan seorang tosu kecil dengan gerakan aneh, sebelum aku melihat jelas wajahnya, bayangannya sudah lenyap. Tapi aku sempat mendengar perkataannya, 'Malapetaka atau rejeki hanya manusia sendiri yang mengundangnya. Kau tidak begitu bpdoh, mau baik atau ingin jahat terserah padamu sendiri.' Baru sekarang aku tahu, orang yang pernah memberi petuah baik itu ternyata nona Boh."
Boh Le-cu berkata.
"Tujuanku menyelundup ke Jing-hi-koan adalah untuk menghadap Tong-biau Cinjin-dan melaporkan kejadian sebenarnya, siapa tahu aku terlambat sehari, Tong-biau Cinjin keburu dibunuh perempuan jahat itu, maka harapanku terpaksa kualihkan kepada Tong-cin-cu, kuharap dia dapat menegakkan keadilan."
Malu dan menyesal campur aduk dalam benak Tong-cin-cu, katanya.
"Bukan saja aku tidak mampu menegakkan keadilan, aku malah ikut terjerumus dalam intrik mereka. Selama delapanbelas tahun ini aku diperalat oleh kawanan penjahat ini. Karena kesalahanku, aku patut menerima imbalan setimpal, tapi aku penasaran kalau mati di tangan murid durhaka ini."
Seperti tertawa tidak tertawa, Tong-bing-cu terbahak-bahak, katanya.
"Ciangbun suheng, baru sekarang kau ingat mati, apa tidak ter-? lambat? Kau kan tahu, siaute mana tega membiarkan kau mampus?"
Ternyata setelah melontarkan isi hatinya, Tong-cin-cu sudah memutuskan akan menggetar putus urat nadi di badan untuk gugur secara jantan.
Ternyata Tong-bing-cu sudah meraba maksudnya, begitu dia selesai bicara, langsung dia totok beberapa hiatto di tubuhnya.-Tan Khu-seng berkata.
"Tong-cin susiok, tak perlu kau menyesali dirimu sendiri. Memang kau banyak melakukan kesalahan, namun selama delapanbelas tahun ini kau tetap menjunjung tinggi aturan leluhur. Kong-tong-pay tidak kau bawa ke jurang kenistaan. Berdasarkan hal ini, kesalahanmu kurasa boleh diampuni. Bagaimana pikiran orang lain aku tidak tahu, tapi aku tetap menganggapmu sebagai orang tua yang patut dihormati."
Sampai di sini mendadak dia membentak.
"Tong-bing-cu, menimbang dosa kesalahanmu kau patut dihukum mati. Sekarang kuberi kesempatan terakhir, bebaskan Tong-cin susiok, aku beri kebebasan kepadamu untuk enyah dari sini. Asal selanjutnya kau bertobat, membina diri menjadi manusia baik, walau kau diusir dari perguruan, kuharap dapat menikmati hari tuamu dengan tenteram."
Kim Tiok-liu berkata.
"Bagimu syarat ini sudah cukup baik dan longgar, seperti apa yang dikatakan nona Boh, malapetaka atau selamat, hanya kau sendiri yang menentukan, terserah bagaimana keputusanmu."
Tak nyana Tong-bing-cu menyeringai dingin, katanya.
"Mungkinkah ada urusan semudah itu, tawanan harus dibebaskan, aku dipecat dan diusir dari perguruan lagi."
Lui-tin-cu murka, serunya.
"Memangnya apa lagi kehendakmu?"
Tong-bing-cu membisu tak mau bicara Bukan dia kehabisan akal, tapi lantaran apa yang dia inginkan dalam keadaan seperti ini, dia tahu cuma keinginan kosong belaka, orang banyak pasti takkan menyetujui kehendaknya Tapi Tong-cin-cu sudah dibekuknya sebagai sandera, dia pikir dirinya harus sudah mengakhiri persoalan tapi bagaimana persoalan ini harus berakhir.
Tengah dia kebingungan tak tahu bagaimana harus bertindak, mendadak seorang berseru lantang.
"Biar aku yang mewakili Tongbingrcu menjawab pertanyaan kalian."
Waktu orang banyak menoleh, dari lereng gunung di seberang sana muncul seorang perwira, bukan lain yaitu komandan Gi-lim-kun yang paling berkuasa, Hay Lan-ja.
Kini dia mengenakan seragam kebesarannya, tapi orang banyak masih mengenal wajahnya sebagai kacung dapur yang tadi mencelakai Giok-hi-cu.
Siapa pun tidak menduga bahwa Hay Lan-ja berani tampil di depan umum.
Suasana seketika menjadi hening, napas orang banyak menjadi tegang dan berat.
Tapi hanya sekejap mendadak gerungan marah hadirin serentak menggetarkan bumi, paling besar reaksi datang dari murid-murid Kong-tong yang ingin menuntut kematian tianglo mereka, demikian pula kaum pendekar yang hadir tak sedikit yang sudah mencabut senjata Hay Lan-ja bergelak tawa, katanya.
"Mau berkelahi ya? Kuharap hadirin bertindak dengan kepala dingin. Kenapa otak kalian tidak berpikir, kalau tanpa persiapan dan yakin menang apakah seorang diri aku berani berdiri di sini bicara dengan kalian?"
Dia berdiri di lereng seberang, bicara sambil bertolak pinggang, gerungan ratusan murid Kong-tong ternyata tak bisa menekan suara suaranya.
Pada saat itulah kaki tangannya yang sudah hadir dan mencampurkan diri di antara hadirin berlompatan keluar sambil menghunus senjata.
Mereka adalah orang-orang dari kawanan penjahat dan golongan hitam.
Situasi menjadi tegang.
Hay Lan-ja berkata pula dengan tertawa.
"Dengarkan dulu penjelasanku, kalau memang ingin berkelahi, nanti belum terlambat."
Lui-tin-cu membentak.
"Baiklah, hadirin harap bersabar. Hay Lanja kau ingin omong apa lekas katakan"
Seruannya mendengung ke lereng seberang hingga telinga Hay Lan-ja hampir pekak. Mencelos hati Hay Lan-ja, pikirnya.
"Lwekang tua bangka ini agaknya tidak lebih rendah dari aku, untung aku sudah siap. Menghadapi tua bangka ini dan Kim Tiok-liu saja, mungkin aku takkan kuat melawan."
Dengan santai Hay Lan-ja berkata.
"Kalau kalian berani main kekerasan, mungkin seluruhnya bisa mampus di sini. Jangan kira aku hanya menggertak, biar kujelaskan. Aku sudah memendam bahan peledak di beberapa tempat di bawah lapangan ini, asal kutimpukkan panah api, kalian akan mampus seluruhnya dalam ledakan dahsyat itu."
Tong-cin-cu berjingkat sadar, teriaknya.
"Tong-bing-cu, kau keparat jadah ini ternyata kau kelabui aku, bersekongkol dengan Hay Lan-ja mengatur muslihat sekeji ini."
Ternyata orang-orang jahat yang diundang atas nama Tong-bingcu selama dua malam ini tidak tinggal di Jing-hi-koan, mereka melarang murid-murid Kong-tong bercampur dengan mereka, namun ada juga yang melihat mereka menggotong buntalanbuntalan entah barang apa, membawa cangkul, sekop dan alat-alat pertanian lainnya bergerak di * waktu malam.
Waktu itu tidak tahu mereka sedang melakukan perbuatan apa, baru sekarang mereka tahu orang-orang itu menanam dinamit dan bahan peledak lain di sekitar lapangan ini.
Seruan Tong-cin-cu sekaligus membuktikan bahwa ancaman Hay Lan-ja bukan gertakan sambal, karuan hadirin kaget, marah, panik, mereka pun kehilangan akal tak tahu bagaimana menghadapi situasi genting ini.
Tong-bing-cu bergelak tawa, katanya.
"Itulah rencana yang sudah kuatur bersama Hay tayjin, kalau -tidak terpaksa tidak akan digunakan. Siapa suruh kalian memaksaku bertindak begini."
Tong-cin-cu balas mengancam.
"Kalau dinamit itu meledak, kau sendiri pun takkan hidup."
Tong-bing-cu terbahak-bahak, katanya.
"Jiwaku seorang ditukar dengan jiwamu sudah tidak rugi, apalagi masih sekian banyak orang ikut mampus, bukan saja untung, aku pun merasa bangga mati bersama jago-jago nomor satu Bulim."
Lahirnya dia berkata demikian, padahal hatinya amat takut.
Kalau pembicaraan damai tak tercapai, dia tahu betapa culas hati Hay Lan-ja, bukan mustahil dirinya pun akan dikorbankan.
Setelah puas tertawa, Hay Lan-ja berkata.
"Bukan hanya lapangan ini saja, di atas gunung aku pun sudah memendam harta karun. Kalau tidak percaya, nah coba lihat. Yang Kek-beng, perlihatkan pusakamu."
Tampak di atas puncak di belakang Jing-hi-koan muncul beberapa belas bayangan orang.
Yang jadi pemimpin dan memberi petunjuk belasan orang itu adalah gembong iblis Yang Kek-beng.
Di bawah pimpinannya lekas sekali orang-orang itu sudah mendorong keluar dua meriam yang diarahkan ke lapangan.
Hay Lan-ja tergelak-gelak, serunya.
"Kalian sudah melihat jelas bukan? Umpama ledakan di tanah lapang itu tidak mampu'mengganyang habis kalian, sisanya yang masih hidup akan menjadi mangsa meriam di atas itu."
Semula hadirin masih bimbang mendengar gertakan bahwa tanah lapang ini penuh ditanami dinamit, kini melihat kedua meriam itu hadirin menjadi gempar.
Peledak hanya bekerja sekali, tapi meriam itu bisa dibidikkan berulang kali.
Dalam persiapan berlapis ini, boleh dikata Hay Lan-ja sudah menguasai situasi dan seluruh hadirin akan terjaring.
Saking murka, Lui-tin-cu membentak.
"Berani kau menggunakan cara sekeji ini menghadapi kami, terhitung orang gagah macam apa? Kalau berani kemarilah bertanding satu lawan satu."
Hay Lan-ja tergelak-gelak, katanya.
"Lui-locianpwe, di sini kaulah yang berusia paling tua, kenapa bicara seperti anak-anak. Aku sedang bertugas menunaikan tugas kerajaan, kau kira aku membuka panggung luitay? Kalau kau ingin bertanding, boleh kuijinkan kau seorang diri melarikan diri dulu turun gunung, setelah tugasku di sini beres, boleh kita tentukan waktu untuk bertanding."
Serasa meledak dada Lui-tin-cu, saking marah dia tidak bisa.bicara malah. Kim Tiok-liu membentak.
"Hay Lan-ja apa sebetulnya kemauanmu? Katakan saja!"
"Nah, kan begitu. Kalau berkelahi kalian akan mampus konyol, lebih baik terima saja syaratku. Thian Yang Kuasa mahapengasih, aku pun tidak tega banyak membunuh yang tidak berdosa. Asal kalian mau menerima dua syaratku, kejadian hari ini boleh dianggap tidak ada.'-' "Apa kedua syaratmu?"
Desak Kim Tiok-liu.
"Persoalan Kong-tong-pay juga persoalanku, maka soal pertama yaitu mengangkat Tong-bing-cu menjadi ciangbunjin Kong-tongpay. Siapa di antara murid-murid Kong-tong-pay berani menentang, aku yang akan mewakili Tong-bing-cu membunuhnya."
Kim Tiok-liu tertawa dingin, katanya.
"Jadi kau sendiri ingin menjadi tay-ciangbunjin Kong-tong-pay, begitu?"
Hay Lan-ja tertawa lebar, katanya.
"Itu urusanku dengan pihak Kong-tong-pay, Kim tayhiap tak usah turut campur."
"Lalu apa syarat kedua?"
Tanya Kim Tiok-liu. Kalem suara Hay Lan-ja, katanya.
"Kau tahu aku sedang dinas dan menunaikan tugas kerajaan, beberapa buronan pemerintah yang selama ini menentang kebijaksanaan kerajaan harus kubekuk sebagai pertanggungjawaban kerjaku."
"Siapa buronan pemerintah yang kau maksud?"
Tanya Kim Tiokliu.
"Kalau menilai hadirin yang ada di sini, tidak sedikit yang pemah melakukan pemberontakan, namun aku hanya menuntut tiga orang saja. Mereka harus ikut aku ke kota raja. Meski jumlahnya tidak banyak, tapi asal bisa memberi laporan tugas saja."
"Siapa tiga orang yang kau maksud?"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Pertama adalah Tan Khu-seng, dia bekerja untuk keluarga Boh mencari dana serta berusaha berontak. Kedua adalah Boh Le-cu, ayah dan anak bekerja sama melakukan kegiatan mata-mata, bapaknya sudah mati tapi dia tidak lepas dari tanggung jawab. Orang ketiga adalah murid Tan Khu-seng yang bernama Beng Hoa. Dia pemah membantu pihak gerilya di Siau-kim-jwan membunuh dan melukai pejabat pemerintah, aku harus membekuknya pula."
"Cukup tiga orang saja? Kukira masih ada,"
Jengek Kim Tiok-liu. Hay Lan-ja terbahak-bahak, katanya.
"Aku tahu kau adalah teman baik Leng Thiat-jiau dan Beng Goan-cau, tapi saat ini aku tidak memasukkan kau sebagai buronan pemerintah, anggaplah aku memberi muka kepadamu."
"Terima kasih akan budi luhurmu, tapi orang she Kim tidak sudi menerima kebaikanmu."
"Terima atau tidak terserah padamu, maksudku sudah kuutarakan, kita tidak perlu memperbincangkan soal lain. Aku hanya ingin bertanya, kalian terima syaratku tidak?"
Tan Khu-seng berkata.
"Biar aku dan Beng Hoa menyerahkan diri, kami guru dan murid tak boleh menyebabkan orang banyak ikut menanggung akibat."
"Tidak,"
Seru Lui-tin-cu.
"Kenapa kau percaya obrolan keparat ini? Siapa tahu kalau dia menipu kalian, nanti kembali lagi menghadapi orang banyak?"
"Kalian boleh pikirkan lebih dulu, syaratku itu sudah terlalu longgar. Hehehe, apakah kalian ingin gugur seluruhnya?"
Jengek Hay Lan-ja.
Menerima kalah demi keselamatan orang banyak, atau nekad melawan gugur bersama?
Pertanyaan yang sukar segera diputuskan.
Memang bagi kaum ksatria, sembilan di antara sepuluh, tidak gentar berkorban.
Bila diri.
sendiri gugur tidak jadi soal, celaka kalau orang lain juga harus ikut berkorban, maka siapa pun tak berani mengambil keputusan.
Hay Lan-ja mendapat angin, dia mendesak.
"Baiklah, kuberi waktu setengah sulutan dupa, kalian boleh berunding."
Kalau para pendekar tiada yang memberi reaksi, adalah kambratkambrat Hay Lan-ja segera meninggalkan lapangan rumput itu berlari ke arah lereng.
Hanya Tong-bing-cu saja yang tak bisa lari, tapi karena ciangbun suheng-nya sudah dijadikan sandera, Hay Lanja juga sudah menguasai situasi, hatinya pun tidak gugup lagi.
Masih ada lagi satu orang dari pihak Hay Lan-ja yang tidak bisa melarikan diri, yaitu Sin Jit-nio.
Karena dikejar Boh Le-cu semalam, saking ketakutan dia terjun ke dalam Toan-hun-gay hingga jatuh luka parah.
Waktu Ting Tiaubing menggiringnya kemari, keadaannya sudah kembang kempis.
Tapi Iwekang-nya cukup tinggi, walau kembang kempis dia masih kuat mempertahankan hidupnya.
Kini setelah menggeletak sekian lama di tanah, dia sudah siuman dan agak sadar, melihat kambrat Hay Lan-ja berbondong-bondong lari ke lereng sana, mengingat dirinya masih berada di cengkeraman musuh, saking gugup segera dia berteriak.
"Hay Lan-ja, kau hanya memikirkan mati hidup Tongbing-cu tanpa mengingat kesela-matanku?"
Hay Lan-ja agak kesal dan kurang senang terhadap perempuan ini, karena orang bersikap acuh dan tidak hormat kepadanya, sengaja dia pura-pura lalai, mendengar teriakannya baru dia tertawa lebar, katanya.
"Ah, kan urusan kecil, kenapa gugup? Memangnya mereka berani membunuh engkau? Kalau kau ketakutan, baiklah, kau boleh kemari. Ting Tiau-bing, dengar tidak, bebaskan dia."
Lui-tin-cu gusar, dampratnya.
"Kau hanya mengajukan dua syarat, kenapa bertambah?"
"Membebaskan Sin Jit-nio bukan termasuk dalam syarat. Kau harus sadar, sekarang kau yang minta damai padaku, wajar kalau kalian membebaskan orang-orangku yang terluka dan tertawan, kalau tidak, apa setimpal bicara soal damai segala?"
Hay Lan-ja berlagak sebagai pihak pemenang, sikap dan tingkah lakunya amat tengik, karuan Lui-tin-cu berjingkrak-jingkrak gusar, dia sudah bertekad hendak melabrak Hay Lan-ja tanpa menghiraukan segala akibatnya.
Tiba-tiba dilihatnya Boh Le-cu memberi kedipan mata serta menggelengkan kepala.
Walau Lui-tin-cu punya watak berangasan, tapi jahe makin tua makin pedas, dia bukan seorang gegabah.
Setelah memperhatikan sikap Boh Le-cu seketika dia sadar pikirnya.
"Tadi dia sudah bilang bahwa Hay Lan-ja pasti akan muncul di sini. Mungkinkah dia sudah menduga akan kejadian hari ini dan sudah mempunyai akal menghadapinya? Kalau gegabah aku bisa menggagalkan urusan besar, biarlah Hay Lan-ja mabuk kepayang."
Maka dia tidak banyak bicara lagi. Setelah Lui-tin-cu tutup mulut, ganti Ting Tiau-bing angkat bicara.
"Perempuan jahat ini adalah pembunuh Tong-biau Cinjin, aku tak berhak membebaskan dia. Bagaimana harus menghukumnya, terserah kepada ciangbunjin Kong-tong-pay saja."
Karena terpaksa Tan Khu-seng harus membebaskan pembunuh gurunya, hatinya amat penasaran.
Tapi sekilas pikir, dibanding ratusan jiwa orang lain, hal ini memang merupakan urusan kecil saja.
Apalagi Sin Jit-nio dalam keadaan luka parah, bila dilepas belum tentu dia bisa hidup.
Mendadak Hay Lan-ja membentak lantang.
"Batas waktu sudah hampir tiba. Tan Khu-seng, kau mau membebaskan orangku tidak?"
Berdiri alis Tan Khu-seng, katanya sambil mengertak gigi.
"Baiklah, biarlah perempuan jahat ini hidup beberapa hari lagi. Lepaskan dia."
Ting Tiau-bing dongkol dan gemas, setelah membebaskan totokan Sin Jit-nio dia membentak.
"Baiklah, lekas enyah."
Sin Jit-nio merangkak bangun, dia mematahkan dahan pohon sebagai tongkat, dengan tertatih-tatih dia beranjak ke lereng gunung sana, setiba di pinggir Hay Lan-ja dia berkata dingin.
"Hay Lan-ja, kiranya kau pun punya rasa bajik."
Hay Lan-ja berkata.
Baca Juga: Tiga Mutiara Mustika 1
Baca Juga: Anak Berandalan Khu Lung