Eps 10 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
Kedua mata orang Hu tak bisa dibuka, namum dia tahu ada orang berusaha menolong dirinya.
Di saat dia berteriak.
"Tolong, tolong!", mendadak pasir bergerak dan tubuhnya tersedot terbenam, tinggal kepalanya yang pelontos saja kelihatan di permukaan pasir. Berapa saat kemudian, terlihat orang itu mulai mengangkat kedua tangannya, malah bisa bergerak seperti orang menari. Lega hati Beng Hoa, dia duga orang ini pasti punya bekal lwekang yang tangguh. Tiga tombak dari aliran pasir terdapat sebuah batu, untuk mencapai batu itu Beng Hoa harus melompati selokan pasir yang terus bergerak. Beng Hoa menggunakan pedang sebagai tongkat, dia incar sebuah batu di tengah selokan pasir, sekali lompat dia gun akan ujung pedang menutul batu kecil itu, meminjam daya pantul, dia berhasil hinggap di atas batu pasir, kini jarak-nya lebih dekat dengan orang itu. Tapi dalam jarak tiga tombak jelas tak mungkin menolong orang, karena di sekeliling orang itu tiada tempat berpijak. Berkerut alis Beng Hoa, sekilas berpikir, timbul akalnya. Segera ditanggalkan jaket kulit kambing yang dipakainya, jaket kulit ini dia sobek-sobek dijadikan tali lalu disambung sebagai tambang terus dilempar.
"Tangkap"
Serunya.
Beberapa kali baru orang itu berhasil meraihnya dan memegang kencang dengan kedua tangan.
Periahan tapi pasti Beng Hoa menarik sekuat tenaga, syukur orang itu tertarik keluar akhirnya berhasil diangkatnya ke atas batu.
Sungguh kasihan, keadaannya sudah mirip orang mati, kembang kempis kchabisan tenaga, kalau terlambat sekejap lagi jiwanya pasti melayang.
Lekas Beng Hoa memberi minum beberapa teguk.
Beberapa kejap lagi baru orang itu mulai bergerak dan siurnan, katanya lemah.
"Terima kasih atas pertolonganmu. Mohon tanya entah siapa nama mulia tuan penolong?"
Seperti juga keadaan Beng Hoa, sekujur badan orang ini pun kotor berpasir, masing-masing sukar mengenali wajah asli.
Tapi Beng Hoa sudah tahu kalau orang yang ditolongnya adalah seorang hwesio, karena kepalanya yang gundul ada tanda selomotan hio warna hitam.
Mendengar suara orang tergerak hati Beng Hoa, tanpa menjawab dia keluarkan sapu tangan, setelah dibasahi air dia membersihkan muka orang, setelah melihat jelas wajah orang seketika dia terperanjat, ben-taknya.
"He, jadi kau ini Pek-san Hwesio."
Pek-san Hwesio adalah begundal Kiat Hong, murid murtad Siaulim-si.
Setelah lepas dari Siau-lim-si, dia banyak melakukan kejahatan di Kangouw.
Piaukiok ayah Teng Bing-cu menjadi bangkrut karena perbuatan Kiat Hong.
Kebetulan tempo hari Kiat Hong dan Pek-san Hwesio kepergok Beng Hoa waktu mengejar Teng Bing-cu di luarkota Cau-hoat.
Beng Hoa berhasil mengusir mereka.
Kiat Hong suka berbuat sewenang-wenang, hal ini jelas diketahui oleh Beng Hoa.
Tapi Pek-san Hwesio belum banyak melakukan perbuatan tercela, hal ini Beng Hoa jelas.
Tapi hari ini dia menolong seorang jahat Sungguh tak nyana orang yang ditolongnya dengan susah payah dan penuh bahaya adalah musuh besar Teng Bing-cu, dapatlah dibayangkan betapa kaget, heran dan kesal hatinya.
Kesadaran Pek-san Hwesio baru saja pulih, mendengar orang menyebut gelamya, dia tampak bingung, katanya gemetar.
"Siapa kau, dari mana kau tahu gelaranku."
"Masa kau tidak mengenalku lagi? Pentang matamu dan lihat jelas,"
Sembari bicara Beng Hoa membersihkan mukanya.
"Haya!"
Pek-san Hwesio menjerit kaget sambil berjingkrak bangun, tapi tenaganya masih lemah, kontan dia terbanting jatuh lagi. Insyaf tak mampu melawan, akhirnya Pek-san Hwesio merangkak duduk, katanya getir.
"Beng-sauhiap, bunuhlah aku."
Sudah tentu Beng Hoa tidak membunuh orang yang lemah, katanya dengan tawa getir.
"Aku sudah susah payah menolongmu, jelas tidak akan membunuhmu. Hayo bangun, aku hanya ingin kau bicara jujur kepadaku."
Pek-san Hwesio mengira jatuh di tangan Beng Hoa dirinya pasti mati, tak nyana anak muda ini bermurah hati, tcrsipu-sipu dia mengucapkan terima kasih, katanya.
"Beng-siau-hiap, tanpa kau tanya aku juga ingin berterus terang kepadamu."
Tanpa bertanya soal apa yang ingin diketahui Beng Hoa, dia sudah melanjutkan.
"Beng-siauhiap, dosaku hari itu memang patut dihukum mati, aku menjadi begundal Kiat Hong, membantu dia membuat kejahatan hendak menangkap nona kesayanganmu. Legakanlah hatimu karena nona itu sekarang sudah selamat sampai di rumahnya. Piaukiok ayahnya juga sudah dibuka lagi."
Beng Hoa tahu orang salah paham, katanya.
"Nona Teng adalah temanku, jangan kau menduga-duga yang tidak betul. Tapi aku memang ingin tahu keadaannya, teruskan."
Pek-san Hwesio mengira Beng Hoa rikuh dan malu, maka dia berkata lebih lanjut.
"Beng-siauhiap, biar kuberi tahu berita baik lagi. Dari sini kau menempuh perjalanan pulang, kemungkinan kau bisa bertemu dengan nona Teng."
"Lho, bukankah tadi kau bilang dia sudah pulang ke rumah?"
"Dia bersama susiok-nya she Ting itu, setelah piaukiok ayahnya dibuka, dia pergi lagi. Beng-siau-hiap, mohon maaf akan kelancanganku mohon banruanmu."
"Membantu apa?"
"Dulu Kiat Hong mengejar dan hendak menangkap nona Teng, sekarang justru sebaliknya nona Teng bersama sang susiok mengejar dan hendak membekuk Kiat Hong. Memang salahku kenapa mau dihasut dan ditipu menjadi kawan Kiat Hong melakukan kejahatan, aku khawatir mereka menganggap aku juga kawanan penjahat yang harus diberantas. Bila kau bertemu dengan nona Teng, mohon kau memberi penjelasan kepadanya, aku betul-betul sudah bertobat."
"Asa! kau bicara setulus hati, betul-betul bertobat dan menginsyafi kesalahanmu, aku sih boleh memberi penjelasan kepada mereka, supaya mereka tidak mencari perkara kepadamu."
Lega hati Pek-san Hwesio.
Lalu dia menceritakan apa yang diketahuinya.
Setelah Teng Bing-cu pulang bersama sang susiok, sang susiok sengaja disembunyikan supaya orang luar tidak tahu.
Di saat ayahnya membuka lagi usaha piaukiok-nya, Kiat Hong temyata meluruk datang mencari permusuhan, akibatnya dia dikalahkan oleh ilmu pedang Ting Tiau-bing.
"Terus terang karena tamak harta dan kedudukan saja hingga aku terhasut dan diajak Kiat Hong melakukan kejahatan. Apalagi ilmu silat Siau-lim-si terkenal di seluruh jagat, aku ingin minta pelajaran silat Siau-lim-si, sehingga tanpa sadar telah diperalat olehnya, banyak membantu dia melakukan kejahatan. Tapi setelah kejadian di rumah nona Teng, aku insyaf dia sengaja mencari perkara kepada orang yang tidak berdosa, waktu dia mencari perkara dengan piaukiok keluarga Teng, untung aku tidak ikut serta. Tapi setelah dia gagal dia mengancam aku untuk membantunya menempur Ting Tiau-bing."
"Dan kau ikut dia tidak?"
"Sudah tentu aku tidak mau, tapi di bawah hasutan dan ancamannya, bagaimana aku bisa meloloskan diri."
"Jadi kau tunduk juga di bawah ancamannya?"
"Untunglah di saat aku terpojok oleh desakannya, dia sendiri sudah sibuk menyelamatkan diri."
"Kiat Hong keparat itu menarikmu sebagai pembantu untuk menghadapi Ting Tiau-bing, pasti dia sudah punya keyakinan tentu menang, kenapa malah melarikan diri?"
"Soalnya Kiat Hong kelewat takaran berbuat jahat, yang hendak membekuk dia bukan hanya Ting Tiau-bing atau keluarga Teng dan para piausunya saja."
"Jadi masih ada siapa lagi?"
"Dia melarikan diri dari Siau-lim-si secara diam-diam, coba pikir Siau-lim-pay adalah aliran murni yang diakui kaum persilatan, mana boleh melahirkan seorang murid murtad yang jahat? Apalagi selama ini perbuatan jahatnya di Kangouw sudah terlampau ganas."
"O, jadi pihak Siau-lim mengutus orang untuk menangkap dan menghukum dirinya?"
"Ya, Siau-lim-pay sudah berniat membekuknya untuk mencuci bersih nama baik perguruan.
Sebelum ini mereka tidak bertindak karena tidak tahu di mana jejaknya, begitu dia membuat onar di keluarga Teng, empat murid tertua Siau-lim-si segera datang.
Kiat Hong sering merampok barang kawalan beberapa piaukiok sehingga menimbulkan kemarahan masal, ada puluhan piausu yang ikut menggerebek dia Piaukiok keluarga Teng baru dibuka lagi, maka beliau hanya menyuruh sute dan puterinya yang tampil ke muka."
Lega dan gembira hati Beng Hoa, katanya tertawa.
"Kejahatan Kiat Hong memang kelewat batas, pantas kalau dia memperoleh ganjaran setimpal. Tapi kau ikut terlibat urusan itu."
Pek-san Hwesio menghela napas, katanya.
"Ya, salahku sendiri kenapa berkawan dengan orang jahat Untung aku bisa melihat gelagat, di tengah jalan aku berusaha melepaskan diri. Sekarang aku akan pulang dan siap menerima hukuman dari guruku. Umpama guru menghukum mati diriku juga lebih baik daripada dibekuk dan disiksa orang lain, memalukan perguruan. Tapi para pengejarku sudah terbagi dalam beberapa rombongan, aku khawatir sebelum tiba di Jian-hud-si, para pendekar itu sudah membekukku lebih dulu."
"Kaum pendekar pandai membedakan salah dan benar, tidak akan membunuh orang secara serampangan. Bila kau kepergok mereka, asal kau ulangi pengakuan dosamu yang kau ucapkan kepadaku di ha-dapan mereka, aku percaya mereka akan bermurah hati memberi kebe-basan kepadamu. Bila aku bertemu mereka, aku akan membantu menjelaskan kepada mereka."
Lalu dia memberi setengah ransum dan air minumnya.
"Aku masih harus menempuh perjalanan, setelah tenagamu pulih, lekas kau pulang ke Jian-hud-si semoga kau betul-betul insyaf dan bertobat, selanjutnya rnembina diri menjadi manusia baik-baik."
Karena kudanya sudah mati, ter-paksa Beng Hoa berjalan kaki.
Untunglah beberapa hari cuaca cerah, meski terik mentari masih menyengat badan, tapi sepanjang jalan ini aman hingga dia keluar dari padang pasir mulai memasuki wilayah Kam-siok.
Tanpa sengaja dia memperoleh berita Teng Bing-cu hatinya lega dan senang.
Di luar dugaan, sebelum dia bersua dengan Teng Bingcu dan pamannya, dia malah bertemu dengan dua orang hwesio Siau-lim-si, mereka adalah Cun-seng Siansu dan To-hian Siansu, dua dari empat murid besar Siau-lim-si.
Sebetulnya Beng Hoa tidak kenal mereka namun Beng Hoa tahu bahwa Siau-lim-si juga bergerak menangkap Kiat Hong.
Melihat kedua hwesio ini dalam hati ia sudah menduga siapa mereka, sengaja dia memperlambat langkah sambil memperhatikan reaksi mereka.
Setelah dekat ternyata kedua hwesio itu menegur lebih dulu.
"Kisu, di tengah jalan apakah kau bertemu dengan dua orang? Satu di antaranya seorang hwesio?"
Beng Hoa tertawa, katanya.
"Aku tahu siapa yang hendak kalian cari. Seorang bernama Kiat Hong, satu lagi adalah Pek-san Hwesio betul tidak?"
Kedua hwesio itu melengak, katanya.
"Dari mana kau tahu?"
"Toa-suhu berdua datang dari Siau-lim-si bukan?"
Tanya Beng Hoa Sebagai murid besar Siau-lim-si sudah tentu Cun-seng dan Tohian memiliki kungfu tinggi, sekilas pandang mereka tahu Beng Hoa pandai silat juga, namun yakin kepandaian sendiri cukup tangguh, tak takut meski Beng Hoa begundal Kiat Hong.
Setelah memperkenalkan diri, sengaja mereka bertanya.
"Dari mana kau tahu? Kenapa kami berada di sini kau juga tahu?"
"Kiat Hong adalah murid preman Siau-lim-pay kalian, kabarnya mengkhianati perguruan. Lo-siansu berdua hendak membekuknya pulang bukan?"
"Betul. Kau belum menjawab pertanyaan kami, dari mana kau tahu persoalan sebanyak itu?"
"Aku pemah bertemu dengan Pek-san Hwesio, dia memberi tahu kepadaku. Tapi aku tidak bertemu dengan Kiat Hong yang ingin kalian bekuk."
Berubah air muka Cun-seng Siansu, katanya.
"O, sebanyak itu Pek-san memberi tahu kepadamu, mungkin kau punya hubungan baik dengan dia?"
"Punya hubungan sih tidak, tapi aku memang ingin mohon pengampunan bagi dia"
Agaknya To-hian Siansu lebih berangasan, hampir saja dia mengumbar adat, untung Cun-seng segera memberi kedipan mata mencegah sang sute, katanya.
"Kisu, kau mohon pengampunan bagi dia?"
"Pek-san Hwesio memang membantu kejahatan, tapi sekarang dia sudah insyaf dan bertobat, mohon siansu berdua bermurah hati biarlah dia pulang ke Jian-hud-si di Tun-hong." ---ooo0dw0ooo---(bersambung
Jilid III) Cun-seng Siansu melenggong, katanya.
"O, jadi dia hwesio dari Jian-hud-si di Tun-hong, hal ini belum kuketahui, jadi gurunya ada? lah...."
"Gurunya adalah Ko-gwat Siansu, kepala Jian-hud-si di Tun-hong, semoga kalian ingat sesama murid Budha, biarlah dia pulang menyesali perbuatannya dan menerima hukuman perguruan."
Cun-seng Siansu terlongong sejenak, katanya.
"Ko-gwat Siansu amat keras menjaga peraturan, yakin dia akan menghukum muridnya yang bersalah, syukurlah kami tak perlu banyak mencampuri urusannya."
To-hian menimbrung.
"Mulut orang belum tentu dapat dipercaya. Suheng, kenapa kau percaya omongan orang yang tidak kau kenal, membatalkan pengejaran terhadap komplotan penjahat?"
Lalu dia menoleh serta membentak Beng Hoa.
"Siapa kau, perkenalkan dirimu!"
Dengan kalem Beng Hoa berkata.
"Wanpwe she Beng bernama Hoa."
Cun-seng Siansu seperti pernah mendengar nama ini, dia berjingkrak kaget, katanya.
"Kau inikah Beng Hoa? Pernah apa kau dengan Beng Goan-cau Beng tayhiap?"
"Beliau ayahku,"
Sahut Beng Hoa. Tiba-tiba To-hian menyela.
"Ilmu golok keluarga Beng tiada tandingan di kolong langit. Kalau ayahmu betul Beng tayhiap, tentunya kau sudah mewarisi ajaran keluarga?"
"Wanpwe jarang berkumpul dengan ayah, meski mendapat -warisannya tapi juga hanya menguasai kulitnya saja."
"Tak usah sungkan,"
Ujar To-hian.
"Aku tahu ilmu golok keluarga Beng ada sejurus yang dinamakan Hun-mo-sam-but, demikian pula ilmu golok Siau-lim-pay kami juga ada, entah di mana persamaannya? Sejak lama ingin aku mohon petunjuk kepada Beng tayhiap sayang belum ada kesempatan. Mohon kau sudi mendemonstrasikan supaya terbuka mata kami, terlebih dulu biar kutunjukkan kemahiranku."
Sembari bicara dia mencabut golok, tubuhnya melambung golok terayun, sebatang pohon di pinggir jalan tahu-tahu roboh terpapas kutung menjadi tiga, tapi arah jatuhnya berlawanan arah.
Permainan golok selihay dan secepat ini kecuali harus cepat dan telak, penggunaan tenaga dalamnya juga harus diperhitungkan.
Apa yang dimainkan To-hian Siansu memang permainan golok kilat tingkat atas.
Seperti diketahui, Siau-lim-pay memiliki tujuhpuluh dua jenis kepandaian, To-hian justru menggembleng diri dalam ilmu golok.
"Ilmu golok bagus,"
Puji Beng Hoa.
"Wanpwe akan bermain golok di depan ahli, mohon petunjuk."
Di tengah suaranya, tampak cahaya hijau berkelebat, tiga potongan dahan pohon yang terbang ke tiga arah itu tahu-tahu sudah terpapas putus lagi masing-masing menjadi tiga, jadi tiga kali tiga sembilan potong, anehnya, sembilan potong kayu ini jatuh berjajar di depan To-hian Siansu, habis berkata potongan kayu itu pun sudah tergeletak di tanah.
To-hian membungkuk memungut dahan-dahan kayu itu, satu sama lain ternyata besar dan ukuran sama.
Meski To-hian seorang ahli golok terbaik Siau-lim-pay, mau tidak mau dia berdiri kaget dan melongo.
Maklum golok kilat memapas kutung dahan pohon menjadi tiga potong, padahal dahan pohon itu tegak diam tak bergerak.
Kini dalam sejurus yang sama Beng Hoa mampu memotong putus tiga dahan kayu yang mencelat berpencar menjadi tiga pula.
Melulu bicara kecepatan gerak goloknya, jelas tiga kali lipat lebih cepat dari permainan golok To-hian.
Lebih hebat lagi adalah Beng Hoa menggunakan pedang memainkan ilmu golok, jelas permainannya jauh lebih sukar.
To-hian Siansu menjublek sekian lama, akhirnya menghela napas, katanya.
"Ilmu golok keluarga Beng memang tidak bernama kosong. Sepatutnya akulah yang dikatakan main golok di depan seorang ahli golok."
Sekarang dia tidak curiga lagi siapa sebenarnya Beng Hoa. Maka Beng Hoa bertanya.
"Boanpwe pernah bertemu sekali dengan Ting tayhiap Ting Tiau-bing. Kabarnya dia pun datang bersama nona Teng, entah di mana mereka?"
"Semula kami memang seperjalanan, lima hari yang lalu terpaksa berpencar di Ki-lian-san, mereka mengejar ke arah timur kamimenuju ke barat. Beng-siauhiap hendak ke mana?"
"Aku akan pergi ke Kong-tong-san."
"Oh, ya, sepuluh hari lagi Kong-tong-pay mengadakan pertemuan besar memilih clangbun baru. Sebetulnya aku juga menerima undangan Tong-cin-cu ciangbun Kong-tong-pay, tapi aku tak punya waktu ke sana. Beng-siauhiap, apa kau diundang untuk hadir?"
"Aku mana setimpal mendapat undangan. Tapi kudengar Kim tayhiap akan hadir dalam pertemuan besar itu, aku ingin menemui Kim tayhiap saja."
Setelah berpisah dengan kedua paderi kosen Siau-lim-payy Beng Hoa meneruskan perjalanan.
Ternyata dia empat hari lebih dini tiba di tempat tujuan, sayang selama enam hari perjalanan ini dia tidak ketemu dengan Ting Tiau-bing dan Bing-cu.
Beng Hoa memutuskan, selama empat hari ini dia akan bersembunyi saja di atas gunung.
Tanpa terasa hari sudah petang.
Beng Hoa menemukan sebuah gua, ransum cukup untuk makan empat hari.
Dia tidak berani tidur terlalu nyenyak, maka hanya duduk semadi saja di dalam gua.
Setelah berdiskusi dengan Si-lo Hoatsu tiga bulan yang lalu, ajaran lwekang Thio Tan-hong semakin dipahaminya, hingga latihan lwekang-nya sekarang jauh lebih maju.
Setelah menempuh perjalanan sehari, badan memang cepat lelah, namun setelah semadi bukan saja rasa kantuk hilang, pendengarannya malah lebih tajam.
Entah berapa lama kemudian, dari kejauhan samar-samar seperti didengarnya percakapan orang, malah suaranya mirip perempuan, sayang terlalu jauh, apa yang dibicarakan tidak jelas.
Beng Hoa heran, Kong-tong-pay tidak punya murid perempuan, kalau tamu mana mungkin di tengah malam begini naik gunung?
Segera Beng' Hoa memusatkan perhatian, kini dia mulai jelas mendengar percakapan.
Suara perempuan itu berkata.
"Paman Ting aku khawatir satu hal."
"Bing-cu,"
Kali ini suara laki-laki.
"apa yang kau khawatirkan?"
Itulah suara Ting Tiau-bing yang bicara dengan Teng Bing-cu.
Saking girang hampir saja Beng Hoa berteriak memburu keluar.
Untung dia masih kuat mengendalikan perasaan.
Sayang langkah kedua orang ini mendadak berhenti, percakapannya juga makin lirih, seperti khawatir didengar orang lain.
"Cun-seng Siansu bilang, pertemuan besar Kong-tong-pay akan diadakan beberapa hari ini?"
Tanya Teng Bing-cu.
"BetuI, tepatnya tanggal tiga bulan tiga, jadi masih ada empat hari."
"Kita tidak diundang, kalau ketemu orang mereka, apa tidak menimbulkan kecurigaan mereka?"
"Kan masih empat hari. Gunung ini bukan milik pribadi mereka, kita mengurus persoalan kita, asal tidak mengganggu mereka saja. Jangan khawatir, kalau bertemu dengan mereka, aku bisa melayani mereka."
"Lebih baik kita bisa membekuk keparat itu sebelum pertemuan besar itu dibuka. Kiat Hong keparat itu entah kenapa datang ke Kong-tong-san? Susiok, apa kita tidak salah kuntit?"
"Tidak mungkin, aku tahu jelas dia lari ke Kong-tong-san."
"Pantasnya dia menyembunyikan diri di tempat sepi. Kong-tongpay akan mengadakan pertemuan besar, tamu yang datang banyak, jago-jago Bulim lagi, apa dia tidak takut jejaknya ketahuan?"
"Aku juga heran, tapi kalau dia hendak naik ke Ke-thay-hong (Puncak kepala ayam) pasti akan lewat jalan ini."
"Kenapa, apa tidak bisa naik dari arah lain?"
"Bukan tidak bisa, tapi untuk mengelabui mata telinga orang banyak jelas tidak mungkin."
"Maksudmu kemungkinan dia ada sekongkol dengan pihak Kongtong-pay?"
"Terserah bagaimana kau menduga. Gunung sebesar ini sukar mencari jejak seseorang, biarlah kita bersembunyi di sini mengadu nasib, daripada berputar-putar di hutan pegunungan."
Beng Hoa tahu mereka bersembunyi di tempat yang tak mungkin dilihat orang, dalam hati menerawang bagaimana untuk bertemu dengan mereka.
Mendadak didengarnya gelak tawa lantang.
Beng Hoa melenggong, gelak tawa ini seperti sudah dikenalnya.
Didengarnya orang itu berkata.
"Kiat Hong, bagaimana akalku itu? Lega bukan hatimu? Setelah melewati Toan-hun-gay akan langsung menuju ke Jing-hi-koan, siapa menduga kau bersembunyi di biara mereka sebelum pertemuan besar Kong-tong-pay dimulai."
Kini menjadi jelas oleh Beng Hoa, yang bicara ini adalah wakil komandan Gi-lim-kun yang pemah bentrok dengan dirinya di Cioklin, waktu itu orang ke sana bersama Tong-hian-cu.
Dugaan Ting Tiau-bing memang tepat, Kiat Hong lari ke Kongtong-san, hanya di luar dugaan dia datang bersama Auwyang Ya.
Kong-tong-pay bukan aliran yang patuh kepada kerajaan, tapi juga bukan golongan yang menentang kerajaan Ceng.
Auwyang Ya sudah mempunyai pangkat tinggi, meski keluarganya terpandang juga dalam kalangan persilatan.
Kalau Kong-tong-pay juga mengundang dia, orang lain tidak boleh turut campur, namun orang luar jelas akan menaruh curiga.
Beng Hoa menunggu, sebelum Ting Tiau-bing bertindak, dia tidak akan keluar dan akan membantu bilamana perlu saja.
"Auwyang-tayjin, berkat pertolonganmu hingga aku terhindar dari bencana, kelak kalau kau memerlukan tenaga, orang she Kiat takkan menolak."
"Ah, orang sendiri kenapa begini sungkan?"
"Terus terang aku sudah kehabisan akal dan tiada tempat berpijak, sekarang legalah hatiku. Tapi bagaimana pihak Kong-tong, apakah Tong-cin-cu mau menerima aku?"
"Jangan peduli kepada Tong-cin-cu. Persoalanmu sudah kubicarakan dengan Tong-bing-cu, sekarang Tong-bing-cu yang berkuasa di Kong-tong. Suheng-nya itu hanya ciangbunjin boneka."
"Tong-bing-cu sudah lama aku kenal, tapi keadaanku sekarang apakah tidak menimbulkan kekhawatirannya? Sayang Tong-hian-cu sudah mati, hubunganku lebih erat dengan dia."
"Kiat-heng,"
Ucap Auwyang Ya.
"Kau hanya tahu satu tidak tahu yang kedua."
"Yang kedua apa?"
"Aku tahu ada kelemahan Tong-hian-cu yang kau pegang, tapi kau tidak tahu bahwa Tong-bing-cu juga punya andil dalam gerakan rahasia itu bersama suheng-nya waktu masih hidup. Mereka suheng dan sute sekongkol dalam menunaikan tugas itu, tapi di luar tahu ciangbun suheng mereka."
Kiat Hong kegirangan, katanya,-"Jadi orang sendiri, kenapa aku tidak tahu?"
"Aneh,"
Mendadak Auwyang Ya berseru keheranan.
"Apa yang aneh?"
"Kenapa Tong-bing-cu tidak kelihatan?"
"Apa kau sudah berjanji dengan Tong-bing-cu di sini? Kenapa tidak kau beritahukan kepadaku tadi?"
"Akan kubuat kau kaget dan girang. Dia berjanji akan menyambut kita di sini, kenapa belum juga tampak?"
"Kapan waktu yang dijanjikan?"
"Tengah malam. Sekarang sudah hampir lewat tengah malam."
"Kita naik saja sendiri."
"Jangan. Aku tamu undangan, kau sebaliknya bisa menimbulkan curiga murid Kong-tong-pay, jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Ya, baiklah, tunggu saja."
"Nah itu, sudah datang."
Lalu dia bersiul tiga kali, panjang pendek panjang, lalu tarik suara berseru lantang.
"Apakah Tongbing toheng? Aku di sini."
Orang itu segera bersuara.
"Auwyang-sianseng, atas perintah suhu, tecu disuruh menyambut kedatanganmu bersama temanmu."
Bahwa dirinya bakal selamat tiba di atas gunung, Kiat Hong menjadi lupa daratan, sambil menyongsong maju mulutnya menggumam sendiri.
"Ting Tiau-bing, mimpi pun kau takkan mengira bahwa aku mendapat tempat yang aman dan sukar ditemukan. Hehehe, setelah malam ini aku bisa tidur nyenyak makan kenyang."
Belum habis dia bicara, mendadak sesosok bayangan meluncur turun dari udara hinggap di depannya.
"Hehe, justru kau yang tidak menduga bahwa aku sudah berada di sini bukan?"
Yang muncul ini bukan lain adalah Ting Tiau-bing. Karuan kaget Kiat Hong bukan kepalang.
"Sret"
Kontan Ting Tiaubing menusuk dengan pedangnya.
"Tang"
Kembang api berpijar, walau sudah kembali preman senjata Kiat Hong tetap tongkat besar yang berat dan kuat, yang dimainkan adalah Hong-mo-tio-hoat ajaran murni Siau-lim-si, sungguh hebat dan kuat sekali.
Perlahan Beng Hoa keluar dari gua lalu mendekati tempat pertempuran serta bersembunyi di belakang batu besar.
Dia tahu kepandaian Ting Tiau-bing di atas Kiat Hong, namun melihat orang nekad, senjatanya berat lagi, dia khawatir pedangnya terketuk lepas.
Di tengah pijaran kembang api, Kiat Hong sempoyongan mundur.
Tongkat masih terpegang di tangannya, tapi dia sudah terdesak di bawah angin.
Pedang Ting Tiau-bing seperti lengket di tongkat besi lawan, bukan tongkat Kiat Hong yang bermain tapi malah bergerak mengikuti pelintiran pedang lawan.
Pedang Ting Tiau-bing makin menurun dan siap memapas jari-jari lawan.
Sekarang pandangan Beng Hoa sudah cukup tinggi, sekilas menyaksikan permainan pedang Ting Tiau-bing dia sudah yakin kepandaiannya berlipat dibandingkan Kiat Hong, tak perlu dirinya khawatir keselamatannya.
Mendadak Kiat Hong menggerung keras, tongkatnya bergerak dengan Ki-hwe-liau-thian, jurus yang ganas dari Hong-mo-tio-hoat.
Sebagai salah satu ilmu dari Siau-lim-si, sudah tentu permainan tongkat Kiat Hong tidak boleh dipandang enteng, pedang Ting Tiaubing berhasil didesaknya pergi.
Tapi bukan soal gampang untuk merebut posisi, apalagi berbalik mengalahkan lawan.
Begitu tongkatnya berubah, pedang Ting Tiau-bing juga berubah.
Tenang seperti air, bergerak selincah kelinci.
Di saat tongkat Kiat Hong bergetar, mendadak tubuhnya melejit ke atas, kaki terangkat menginjak ujung tongkat.
Meminjam tenaga injakan, tubuhnya lantas berbalik seperti burung terbang melampaui kepala Kiat Hong.
Sinar pedang laksana sambaran kilat, berputar satu lingkaran di udara dengan jurus Beng-pok-kiu-siau, ubun-ubun kepala Kiat Hong dijadikan sasaran tusukan pedangnya.
Hanya sekejap kedua pihak saling serang dengan beberapa jurus yang ganas.
Jelas Ting Tiau-bing di atas angin, betapapun kencang amukan tongkat Kiat Hong, tetap dia terdesak di bawah angin, setiap gerak tipu permainannya selalu dipatahkan oleh permainan pedang lawan.
Bukan lantaran Hong-mo-tio-hoat bukan tandingan Thian-san-kiam-hoat, tapi Ting Tiau-bing lebih lincah, pedangnya bergerak lebih cepat sehingga permainan tongkat Kiat Hong selalu kandas di tengah jalan.
Sejak bertanding pedang dengan Beng Goan-cau tempto hari, tidak sedikit manfaat yang didapatnya hingga golok kilat Beng Goan-cau tidak sedikit yang dikombinasikan dalam permainan pedangnya.
Setelah Tay-ciok Tojin murid Tong-bing-cu tiba, baru Auwyang Ya akan memutuskan apakah dirinya perlu turun tangan.
Tak nyana hanya beberapa gebrak, Kiat Hong sudah terdesak, sementara Tayciok Tojin masih jauh.
Seolah-olah apa yang terjadi di sini tidak dilihat atau diketahui, maka langkahnya santai sambil berlenggang, terpaksa Auwyang Ya bertindak lebih dulu.
Ilmu sesat yang diyakinkan adalah Lui-sin-ciang.
Lwekang-nya belum setangguh Auwyang Tiong namun latihannya sudah mencapai tingkat keenam.
Begitu dia melontarkan pukulan, hawa panas laksana angin tungku.
Karena harus mengerahkan lwekang menahan hawa panas, rangsakan Ting Tiau-bing menjadi agak kendor.
"Paman, biar kuhadapi pembesar anjing ini,"
Sambil memutar sepasang golok Teng Bing-cu melabrak maju.
"Budak busuk,"
Maki Auwyang Ya "besarnya nyalimu, berani kau memaki pembesar kerajaan, memangnya piaukiok ayahmu tidak ingin buka lagi?"
"Jangan kira aku gentar kau gertak, jangan jual lagak."
Golok pendek melindungi badan, golok panjang dibuat menyerang musuh dengan jurus Jay-hong-kui-wu, sinar golok berkilauan, beruntun menyerang tiga tempat mematikan di tubuh Auwyang Ya.
Sudah tentu Auwyang Ya mencak-mencak gusar, bentaknya.
"Biar kubunuh dulu budak busuk ini."
Di saat Teng Bing-cu merasa kepayahan, permainan goloknya menjadi kacau dan ngawur, mendadak Ting Tiau-bing membentak.
"Berani kau melukai keponakanku, biar kubunuh kau lebih dulu."
Pedang panjang bergetar dengan jurus Liong-bun-sam-tiap-long (Tiga gelombang di pintu naga) sekaligus menyerang dua musuh yang berada di dua tempat.
Sejurus tiga gerakan merupakan permainan pedang yang hebat laksana pusaran deras di tengah amukan gelombang.
Dua pertiga tenaga sejurus tiga gerakan ini untuk menghadapi Auwyang Ya, sepertiga untuk mendesak Kiat Hong.
Sudah tentu Auwyang Ya tak kuasa membendung kelihayan pedangnya, lekas dia berjumpalitan mundur "Cret"
Lengan baju kirinya tertabas secuil oleh pedang Ting Tiau-bing.
Kaget dan gugup Auwyang Ya dibuatnya, padahal dia menunggu bantuan Tay-ciok Tojin.
Bukan saja Auwyang Ya heran kenapa orang yang ditunggu bantuannya tidak kunjung tiba, Beng Hoa sendiri juga keheranan.
Setelah selamat dari tusukan pedang lawan yang menusuk dada, Auwyang Ya membentak.
"Kalian tahu aturan Bulim tidak?"
Ting Tiau-bing mengejek.
"Sampah persilatan seperti kalian juga berani bicara tentang aturan Bulim."
Auwyang Ya berteriak.
"Kami tamu Kong-tong-pay, kalian mengganas di daerahnya, memangnya kalian pandang sebelah mata orang-orang Kong-tong-pay? Jangan kau kira kematianku takkan diketahui orang, sekarang aku menjalankan tugas bila aku tidak pulang ke kota raja, Hay-tayjin pasti akan mencari diriku."
Haytayjin yang dimaksud adalah komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja. Ting Tiau-bing keheranan, je-ngeknya.
"Auwyang-tayjin, pangkat dan tugasmu tiada sangkut paut dengan aku, salahmu sendiri mentang-mentang sebagai pembesar melindungi durjana ini? Syukur kalau kau tidak turut campur, jangan kau kira jabatanmu dapat menggertak aku, Hay-tayjin sendiri juga tidak perlu kutakuti."
Sudah tentu Ting Tiau-bing tidak tahu perkataan Auwyang Ya tadi dilontarkan kepada Tay-ciok Tojin, bukan saja mengancam Tayciok untuk menolong dirinya, secara tidak langsung dia bilang menjalankan tugas, berarti mengancam kedudukan dan jiwa Tongbing-cu yang punya intrik dengan dirinya.
Hal ini sudah diketahui oleh Hay Lan-ja.
Seruannya memang membawa hasil, terdengar Tay-ciok Tojin menerobos keluar dari semak-semak seraya berteriak.
"Ting tayhiap, berilah muka kepada Kong-tong-pay kami, Auwyang-tayjin memang tamu undangan kami."
"Dan orang ini?"
Tanya Ting Tiau-bing menuding Kiat Hong.
"dia juga tamu undangan?"
Tay-ciok bimbang, katanya.
"Dia teman baik Auwyang-tayjin, maka boleh dihitung tamu kami juga."
"Ah, memangnya kau tidak tahu siapa dia. Baiklah, biar kujelaskan. Inilah murid murtad Siau-lim-pay yang banyak melakukan kejahatan di Kangouw, bukan saja kaum pendekar tidak akan memberi ampun kepadanya, Siau-lim-si juga akan mencuci bersih nama baik perguruan. Masih ada Cun-seng Siansu dan Tohian Siansu yang melacak jejaknya."
Mendengar penjelasan Ting Tiau-bing, Tay-ciok malah menghela napas lega. Dengan tertawa Ting Tiau-bing meneruskan.
"Ucapan toheng memang betul, keparat ini adalah murid yang hendak dibekuk kembali ke Siau-lim-si, umpama toheng memberi bantuan kepada Siau-lim-si, berarti memberi muka pada mereka. Hehe, kalau kau melindungi dia, berarti kau mencari perkara dengan pihak Siau-lim."
Kiat Hong gugup, teriaknya.
"Tay-ciok toheng, berilah keadilan. Kami, kami...."
Lekas Auwyang Ya memberi kedipan mata kepadanya, lalu meneruskan.
"Kiat-heng datang bersama aku, jelek-jelek adalah tamu kalian, sebagai tuan rumah mana boleh berpeluk tangan bila orang luar menghina tamunya?"
Tay-ciok Tojin memang pandai bersandiwara, katanya bersikap apa boleh buat.
"Serba susah bagi aku. Dengan pihak Siau-Iim aku tidak berani bermusuhan, tapi sebagai tuan rumah aku pantang menyakiti tamuku. Kukira begini saja, urusan kalian boleh selesaikan sendiri, tapi sudilah memberi muka kepada kami, jangan bentrok di atas Kong-tong-san."
Belum habis Tay-ciok Tojin bicara, Kiat Hong sudah tahu maksudnya, segera dia angkat langkah seribu. Ting Tiau-bing membentak.
"Mau lari ya?"
Lekas Auwyang Ya menarik Tay-ciok Tojin, tanpa kuasa Tay-ciok ikut mencegat Ting Tiau-bing.
"Ting tayhiap,"
Seru Tay-ciok Tojin.
"sudilah memberi muka kepada kami, bertarunglah di bawah gunung."
Pada saat itulah Kiat Hong mengganas, mendadak dia menubruk ke arah Teng Bing-cu.
Karena tidak siaga dan menduga, baru saja Teng Bing-cu berjingkat kaget, per-gelangan tangannya sudah terpegang orang.
Karuan bukan kepalang gusar Ting Tiau-bing.
"Wut"
Kontan dia memukul Auwyang Ya. Lekas Auwyang Ya melompat jauh, serunya.
"Ting Tiau-bing, bukan aku jeri menghadapimu, tapi aku harus menghargai saran tuan rumah, di atas Kong-tong-san aku tidak akan melawan kau."
Ting Tiau-bing menerjang sambil membentak.
"Bukan aku tidak menghargai saran tuan rumah. Tay-ciok Toheng, kalau kau menghadang lagi, jangan salahkan kalau aku tidak sungkan terhadapmu."
Mana Tay-ciok Tojin berani melawan dia, lekas dia menyingkir sambil membanting kaki.
"Baiklah, aku tak mau campur urusan kalian, boleh kalian selesaikan sendiri."
Kiat Hong sudah punya sandera, maka dia tidak perlu takut, Teng Bing-cu diangkat tinggi di atas kepala lalu diputar-putar, serunya sambil bergelak tawa.
"Kau ingin jiwa keponakanmu tidak? Coba maju, akan kubanting keponakanmu."
Terpaksa Ting Tiau-bing berhenti.
"Lekas mundur seratus langkah,"
Bentak Kiat Hong. Ting Tiau-bing mati kutu, sementara Kiat Hong sudah lari ke pinggang gunung, serunya.
"Ting Tiau-bing, akan kuhitung sampai sepuluh, kalau kau tidak patuh, jangan menyesal kalau aku bertindak kepada keponakanmu."
Lalu mulutnya mulai menghitung.
"Satu, dua, tiga...."
Sambil menghitung dia berlari, jaraknya tingggal Iimapuluhan langkah dari tempat sembunyi Beng Hoa. Pada saat itulah mendadak seseorang membentak.
"Berhenti!"
Dibawah keremangan cahaya bulan, tampak seorang berbaju hitam menerobos keluar dari semak rumput mencegat di depan Kiat Hong. Terdengar Teng Bing-cu berteriak.
"Siang-hun!"
Beng Hoa juga terbeliak girang di tempat sembunyinya, yang muncul ternyata Kang Siang-hun, su-heng Kim Bik-ki. Kiat Hong mencengkeram kuduk Teng Bing-cu serta disodorkan ke depan, bentaknya.
"Kang Siang-hun, kiamhoat-mu lihay, coba tusuk."
Kang Siang-hun menghardik bagai guntur menggelegar, yang digunakan adalah Say-cu-hong yang dapat menyedot sukma orang, belum lenyap gema bentakannya, mendadak dia melabrak maju, gertakannya hendak mengaburkan perhatian Kiat Hong, di luar tahunya Kiat Hong juga belajar lwekang aliran murni, ketenangannya cukup baik.
Baru saja pedang Kang Siang-hun mengincar lawan, Kiat Hong sudah menarik Teng Bing-cu untuk menangkis pedangnya.
Untung Kang Siang-hun menarik pedang, namun Teng Bing-cu hampir tertusuk.
Karena tersandera, sudah tentu Teng Bing-cu gusar dan malu, teriaknya.
"Kang-kongcu, bunuh saja keparat ini, aku mati tidak jadi soal."
Sambil berteriak dia meronta sekuat tenaga.
Meski tahu dirinya takkan lolos dari cengkeraman iblis, tapi dia nekad gugur bersama musuh.
Kalau dia mati di tangan Kiat Hong, Kiat Hong pasti terbunuh oleh Kang Siang-hun.
"Ingin mampus kau!"
Bentak Kiat Hong. Dasar licik, sudah tentu dia tidak akan membunuh Teng Bing-cu, namun tindakannya mengejutkan Kang Siang-hun, bentaknya.
"Berani kau mengusik seujung rambutnya, akan kupenggal kepalamu. Hayo turunkan. Apa kehendakmu, coba katakan."
Kedua pihak mempertahankan ancamannya.
Pedang Kang Sianghun siap menusuk hiatto mematikan di tubuh Kiat.
Hong, sementara tangan kiri Kiat Hong sudah bergerak hendak menotok hiatto lemas Teng Bing-cu supaya dia tidak bersuara lagi.
Entah kenapa sebelum jarinya menotok hiatto Teng Bing-cu, Sam-li-hiat di bagian lutut sendiri mendadak kesemutan dan linu, tanpa kuasa dia tersungkur ke depan.
Betapa cepat gerak pedang Kang Siang-hun, begitu melihat peluang.
"Sret", pedangnya segera menusuk tepat mengenai Koangoan-hiat. Kiat Hong tak mampu mengerahkan tenaga untuk mencelakai Teng Bing-cu..Begitu Kiat Hong tersungkur ke depan, Teng Bing-cu juga meronta lepas terus berjumpalitan setombak jauhnya. Teng Bing-cu berdiri tersengal, katanya.
"Kang-kongcu, untung serangan pedangmu lihay."
Kang Siang-hun melengak, katanya.
"Kan kau sendiri yang meronta lepas, bukan aku yang menolongmu."
Kedua orang ini saling duga, tak tahunya ada orang membantu secara diam-diam.
Dan pembantu gelap ini adalah Beng Hoa.
Dengan Tam-ci-sin-thorig, dalam jarak limapuluh langkah Beng Hoa menjentik sebutir kerikil kecil dan tepat mengenai hiatto Kiat Hong.
Tiga bulan yang lalu Beng Hoa tak mampu, sekarang bukan saja mengelabui Kang Siang-hun dan Teng Bing-cu, Ting Tiau-bing juga tidak menyadari.
Lekas, Ting Tiau-bing memburu datang.
"Susiok,"
Seru Teng Bing-cu.
"dia inilah Kang-kongcu yang pemah kuceritakan kepadamu pernah membantu kami menggebah keparat ini."
Kang Siang-hun menggusur Kiat Hong kepada Ting Tiau-bing, katanya tertawa.
"Ting tayhiap, silakan kau serahkan keparat ini kepada Cun-seng Siansu dan To-hian Siansu, aku sendiri tidak ingin bertemu mereka."
"Jadi Kang-kongcu sudah bertemu dengan kedua paderi Siau-limsi itu?"
"Dalam perjalanan pulang dari Wi-kiang aku bersua dengan mereka, baru aku tahu kalian sedang melacak keparat ini di sini."
Teng Bing-cu heran, katanya.
"Dari ma"na kau tahu keparat ini lari ke Kong-tong-san?"
"Aku sih tidak pandai meramal, kejadian malam ini hanya kebetulan saja. Aku mencari suhu."
Lalu Kang Siang-hun berpaling ke arah Tay-ciok Tojin, katanya.
"Aku tidak tahu apakah Kiat Hong tamu undangan kalian, kalau bicara tentang aturan, anggap saja aku yang bersalah."
"Ah, mana berani,"
Ucap Tay-ciok Tojin "Kiat Hong tidak diundang, kejadian ini juga di luar tahuku, terserah bagaimana tindakan Kang-kongcu?"
Auwyang Ya berdiri di samping tak mampu bicara, sikapnya tampak kikuk.
"Kabarnya suhu-ku akan datang, apakah beliau sudah tiba di sini?"
Tanya Siang-hun.
"Masih ada tiga hari, Kim tayhiap belum datang, tapi beliau pasti datang. Bagaimana kalau Kang-kongcu mampir dulu sambil menunggu kedatangan gurumu."
"Banyak terima kasih. Masih ada tiga hari, biar aku temani mereka turun gunung."
Sambil berjalan Kang Siang-hun berkata.
"Masih ada berita baik yang perlu kuberitahukan kepada kalian, begundal Kiat Hong juga sudah beres. Bukankah dia Pek-san Hwesio dari Jian-hud-si di Tun-hong?"
"Ya, tapi aku tidak tahu kalau dia hwesio Jian-hud-si."
"Kedua paderi Siau-lim-si sudah mendapat berita bahwa Pek-san Hwesio sudah pulang ke Jian-hud-si siap menerima hukuman perguruan, kedua paderi Siau-lim-si itu sudah dalam perjalanan pulang. Nona Teng, coba terka, siapakah yang menyampaikan berita ini kepada kedua paderi Siau-Iim itu?"
Teng Bing-cu melenggong, katanya.
"Mana bisa kuterka."
"Yang memberi kabar adalah Beng Hoa. Beng Hoa yang pernah berkelahi dengan aku di luar kota Cau-hoat lantaran kau itu."
Merah muka Teng Bing-cu, katanya lirih.
"Karena diriku? Kukira...."
"Waktu itu aku membencinya karena menganggap dia pemuda bangor, memincut sumoay-ku juga merayu engkau. Aku pun curiga dia sebagai mata-mata kerajaan."
"Yang benar dia orang baik. Hari itu setelah kau pergi, aku pun berpisah dengan dia. Berdasar apa kau bilang dia merayu aku? Kang-kongcu, terlalu besar rasa curigamu."
"Ya, baru sekarang sadar, aku salah paham kepadanya. Ternyata dia adalah putera Beng tayhiap Beng Goan-cau, sering membantu gerakan laskar gerilya pula. Dengan sumoay-ku mereka sudah saling mencintai."
"Apa sumoay-mu yang memberi tahu kepadamu?"
"Suhu yang menjelaskan asal-usulnya kepadaku. Sumoay juga menyalahkan aku terlalu salah paham kepadanya. Aku amat menyesal, di hadapan sumoay pernah aku memakinya sebagai pemuda bangor, tapi sumoay malah mempercayainya. Dari mulut kedua paderi Siau-lim lebih banyak aku mendapat bahan tentang sepak terjangnya. Tidak bisa tidak aku harus mengakui bahwa sikapku terhadapnya sebelum ini memang keliru."
Teng Bing-cu tertawa, katanya.
"Setiap orang pasti pemah berbuat salah, berani mengakui kesalahannya adalah sikap jantan. Syukurlah kalau kau tidak mengukuhi penda-patmu yang salah itu."
Mereka berjalan sambil bercakap-cakap.
Ting Tiau-bing yang menggusur Kiat Hong sengaja memperlambat langkah memberi kesempatan mereka berbicara secara lebih bebas.
Di tempat sembunyinya, Beng Hoa mendengar percakapan mereka, bukan saja lega, senang pula hatinya.
Bukan saja Kang Siang-hun tidak salah paham lagi kepadanya, hubungannya dengan Teng Bing-cu gelagatnya juga lebih akrab.
Sementara itu Beng Hoa sudah naikkeToan-hun-gay.
Sementara itu Tay-ciok Tojin dan Auwyang Ya juga sedang berjalan cepat pulang ke Jing-hi-koan.
Maka perhatian Beng Hoa ditujukan kepada dua orang di depannya.
Didengarnya Auwyang Ya sedang berkata.
"Kau tidak perlu khawatir, urusan takkan menyangkut kalian guru dan murid."
"Kalau dia langsung dihukum mati masih mending, khawatirnya begitu tergusur ke Siau-lim-si, demi mempertahankan jiwanya di hadapan ciangbunjin Siau-lim-pay, mungkinkah dia masih mau menyimpan rahasia itu."
"Tidak sedikit kejahatan yang pernah dilakukan, tapi kasus itu sendiri jarang orang tahu, kan bukan dia yang menjadi biang keladi. Kukira duduk persoalan yang sebenarnya dia belum tentu jelas."
"Ya, tapi bila dia membeber apa yang dia ketahui, kita bisa celaka."
"Sebagai orang cerdik, meski untuk mempertahankan hidup, yakin takkan membeberkan seluruh rahasia yang pernah dilakukan, kalau orang lain tidak tahu kenapa dia harus bicara? Apalagi kalau dibeber bukan mustahil menambah berat hukumannya. Tentu dia tahu Siau-lim-pay mau mengampuni jiwanya, aku dan gurumu takkan mengampuninya."
"Ya, namun saksi hidup berada di tangan orang, apa pun hatiku tidak lega. Auwyang-tayjin, coba kau terangkan berapa banyak rahasia yang diketahui Kiat Hong?"
"Aku hanya memberi tahu, bahwa gurumu dan Jik-supekmu dulu merupakan dwi tunggal. Persoalan lain aku tidak banyak bicara."
Tay-ciok tampak kaget, serunya.
"Itu sudah cukup. Kalau dia membocorkan ucapanmu ini pihak yang bersangkutan tentu dapat membayangkan bahwa guruku juga ikut campur dalam kasus itu."
"Aku yakin dia tidak berani mengatakan. Baiklah supaya kau tidak khawatir, biar kuberi satu akal kepadamu. Caranya gampang, bunuh saja supaya tutup mulut."
"Dia sudah terjatuh di tangan Ting Tiau-bing dan Kang Sianghun, bagaimana kita bisa turun tangan?"
"Kita memang tidak mampu melakukan, tapi orang yang berkepandaian lebih tinggi dari Ting Tiau-bing dan Kang Siau-hun masih ada, apalagi bertindak secara gelap."
"Ya, betul, tapi ke mana kita mencari jago lihay yang mau ditugaskan membunuh Kiat Hong?"
"Nanti setelah berhadapan dengan gurumu, kau akan tahu tidak sukar mencari jago kosen."
"Siapakah jago kosen yang kau maksud? Boleh kau beritahukan kepadaku?"
"Baiklah, dekatkan telingamu."
Jarak Beng Hoa dengan mereka ada seratusan langkah, tak mungkin dia mencuri dengar bisikan orang. Beberapa kejap kemudian baru terdengar Tay-ciok Tojin berkata.
"Ha, paling lambat besok juga pasti sudah tiba, kalau benar dia, yakin dapat mengejar mereka."
Beng Hoa terus menguntit, tapi tidak berani terlalu dekat, percakapan mereka makin lirih, akhirnya dia tidak mendengar percakapan mereka.
Namun setelah mencuri dengar percakapan mereka, Beng Hoa lantas berpikir dalam hati.
Rahasia mereka entah ada sangkut pautnya dengan kasus gurunya.
Tengah Beng Hoa gundah dan risau, sukar dia menganalisa bahan-bahan yang sudah terkumpul dalam benaknya, mendadak turun hujan.
Hujan secara mendadak dan turun dengan lebat.
Jing-hi-koan masih jauh di atas gunung, maka Auwyang Ya dan Tay-ciok Tojin juga kehujanan.
Setelah halilintar menggelegar Beng Hoa sempat menangkap teriakan Tay-ciok Tojin yang gugup dan takut.
"Auwyang-tayjin, kau... kenapa kau?"' Di tengah berkelebatnya sambaran kilat, Beng Hoa hanya melihat bayangan Tay-ciok Tojin saja, Auwyang Ya entah ke mana. Tay-ciok Tojin masih berteriak-teriak.
"Auwyang-tayjin, kau dengar suaraku?"
Hujan selebat ini, jawaban Auwyang Ya tidak terdengar.
Untunglah hujan ini cepat datang, perginya juga segera, tak lama kemudian hujan sudah reda, rembulan muncul dari balik awan.
Tay-ciok Tojin keheranan, karena keadaan gelap dia menyulut obor lalu memeriksa sekitarnya.
Dari atas lereng samping ke bawah gunung, tapi jejak Auwyang Ya tidak kelihatan, orang lenyap secara misterius.
Kebetulan angin berhembus kencang hingga obor di tangan Tayciok Tojin padam.
Orang yang dicari tidak ketemu, betapapun besar nyalinya merinding juga Tay-ciok dibuatnya.
Lekas dia membuang obornya terus lari ke atas sambil memutar pedangnya.
Setelah Tay-ciok Tojin pergi.
Beng Hoa juga memeriksa dengan cermat, namun dia pun tidak menemukan jejak Auwyang Ya.
Tak lama kemudian hari sudah akan terang tanah.
Beng Hoa tidak percaya adanya setan tapi kejadian ini pun membuatnya bingung.
Di tengah hujan dia hanya mendengar jeritan Auwyang Ya, Tay-ciok Tojin juga melihat temannya jatuh.
Tay-ciok Tojin segera memburu dan memanggilnya tapi tidak terdengar sahutannya.
Karena susah diduga, Beng Hoa kesampingkan kejadian ini.
Hari itu dia bersembunyi dalam hutan.
Setelah fajar menyingsing banyak murid-murid Kong-tong yang keluar.
Beng Hoa mendekam di tanah mendengar percakapan mereka, semua membicarakan Auwyang Ya yang lenyap secara misterius semalam.
Murid-murid Kong-tong-pay itu berombongan mencari ke lereng gunung.
Untung ginkang Beng Hoa tinggi telinganya pun tajam, bila ada orang datang dia sudah menyingkir lebih dulu.
Tay-ciok Tojin juga keluar ikut rombongan kedua, saudara seperguruannya ribut menanyakan kejadian semalam, agaknya Tay-ciok tidak bilang bahwa Kiat Hong datang bersama Auwyang Ya, dia hanya bilang diperintah gurunya menyambut kedatangan Auwyang Ya saja.
Mengingat Auwyang Ya orang penting dari kalangan pemerintah, kedatangannya tidak suka diketahui orang banyak maka dia minta dijemput dari jalan belakang.
Penjelasan ini masuk akal, meski ada yang curiga, namun mereka takkan menduga bahwa Tay-ciok dengan gurunya sekongkol dengan Auwyang Ya.
Menjelang magrib, rombongan demi rombongan yang ditugaskan mencari jejak Auwyang Ya mulai berdatangan.
Yang pulang paling akhir adalah Tong-bing-cu dengan muridnya Tay-ciok Tojin.
Kapan Tong-bing-cu keluar, tidak diketahui oleh Beng Hoa.
Terdengar Tay-ciok Tojin berkata.
"Betapa aneh kejadian ini, kemungkinan Auwyang-tayjin mengalami nasib jelek."
Dari percakapan ini Beng Hoa lantas menduga bahwa usaha pencarian sehari ini gagal total.
"Kukira ada jago kosen bersembunyi di sana serta menyergapnya secara mendadak,"
Demikian ucap Tong-bing-cu. Dugaan Tong-bing-cu cocok dengan terkaan Beng Hoa.
"Waktu itu aku berjalan di depan, jaraknya hanya beberapa langkah, siapa punya kemampuan selihay itu? Apakah Kim Tiok-liu? Kabarnya hubungannya dengan Tan Khu-seng amat baik, bukan mustahil dalam kasus itu dia minta perlindungannya."
"KimTiok-liu harus menjaga nama sebagai pendekar besar, mana dia mau main sergap. Aku malah mencurigai seorang yang.lain,"
Ujar Tong-bing-cu.
"Suhu, siapa yang kau curigai?"
"Kemungkinan Tan Khu-seng sendiri."
"Apakah Tan Khu-seng mampu berbuat demikian?"
"Kau tidak tahu, Tan Khu-seng memang seangkatan dengan kau, tapi kepandaiannya tidak lebih rendah dibanding aku. Setelah sepuluh tahun bersembunyi di Ciok-lin, bukan mustahil Bu-kang-pitkip peninggalan Thio Tan-hong sudah menjadi miliknya."
"Iya, kenapa tidak kupikirkan hal ini?"
Demikian batin Beng Hoa girang.
"Jikalau yang menculik Auwyang Ya betul guruku, urusan akan lebih cepat dibereskan."
Percakapan guru dan murid ini secara langsung memberi penjelasan bagi dugaan Beng Hoa, Auwyang Ya pasti punya sangkut paut dengan kasus gurunya, kalau tidak, tidak mungkin mereka mencurigai gurunya yang menculik Auwyang Ya.
Tay-ciok Tojin berkata.
"Kalau benar Auwyang Ya jatuh di tangan Tan Khu-seng, bisa celaka kita."
"Jangan khawatir,"
Ucap Tong-bing-cu.
"aku sudah punya akal menghadapi dia. Jikalau betul dia yang melakukan kejadian ini, aku masih bisa menambah dosanya."
"Tapi wakil komandan Gi-lim-kun lenyap di tempat kita, kalau tidak ketemu, kalau pihak kerajaan menjatuhkan vonisnya, apa kita berani memikulnya?"
Tong-bing-cu tertawa, katanya.
"Muridku, ada satu soal yang belum kau ketahui."
"Boleh aku tahu, suhu?"
"Boleh, tapi jangan kau bocorkan."
Lekas Tay-ciok Tojin angkat sumpah, maka Tong-bing-cu berkata perlahan.
"Kau hanya tahu Auwyang Ya adalah kenalan baikku, tapi tidak tahu bahwa atasannya juga punya hubungan baik dengan aku."
"O, maksud suhu adalah Hay-tayjin?"
"Ya, Hay-tayjin juga akan datang, tapi kehadirannya harus dirahasiakan. Jikalau Auwyang Ya tidak ditemukan, akan kulaporkan Tan Khu-seng yang melakukan. Hehe, aku malah mengharap benar Tan Khu-seng yang membunuh Auwyang Ya."
"Jadi suhu punya tulang punggung sebesar ini, maklum kau tidak gentar."
"Ya, aku sudah memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk, umpama Kiat Hong membocorkan rahasia, seluruh pendekar di kolong langit ini menentangku juga tak perlu gentar. Paling-paling aku tidak menjabat ciangbun Kong-tong-pay. Bila terpaksa, boleh kau ikut aku ke kota raja menjabat pangkat. Mereka yang menentang aku jangan harap bisa turun dari gunung ini."
Tay-ciok Tojin berkata.
"Lebih baik hal ini tetap dirahasiakan. Suhu, bukankah kau minta bantuan seseorang membunuh Kiat Hong, apakah ada harapan?"
"Dia bekerja secara gelap, apalagi dia seorang ahli menggunakan racun. Betapapun cerdik dan cermat Ting Tiau-bing juga takkan menduga. Kang Siang-hun bocah ingusan itu tidak kupandang sebelah mata."
"Wah, jadi suhu hendak meracun mati Ting Tiau-bing dan Kang Siang-hun pula?"
"Ya, kalau mau kerja jangan kepalang tanggung."
"Kang Siang-hun adalah putera Kang Hay-thian murid Kirh Tiokliu. Ting Tiau-bing adalah-murid Thian-san-pay angkatan kedua, apa orang itu tidak takut berhadapan dengan Kang Hay-thian, Kim Tiok-liu dan Teng King-thian? Bila peristiwa ini betul terjadi, kasusnya akan lebih besar dan menggemparkan dibanding kasus yang menimpa keluarga Boh dulu."
"Umpama terbongkar juga mereka tidak akan curiga kepadaku. Orang itu tidak kenal takut kepada siapa pun."
Sampai di sini, pembicaraan mereka makin lirih karena jaraknya terlalu jauh dan tak terdengar oleh Beng Hoa.
Maka dia kembali dalam guanya semula.
Hari sudah petang, meski hatinya gelisah, banyak persoalan yang ingin dilakukan, namun seorang diri jelas tak mungkin dia turun gunung memberi kabar ke pelbagai pihak.
Akhirnya dia buang segala pikiran yang membuat gundah hatinya.
Beng Hoa tetap tidak berani tidur, dia duduk bersemadi.
Menjelang kentongan ketiga, mendadak dia mendengar "Plok, plok, plok"
Tiga kali tepukan tangan.
Beng Hoa terjaga, hatinya senang karena dia yakin jalan penting naik ke atas Toan-hun-gay ini memang selalu dilewati orang.
Diam-diam dia ke luar gua, seperti kemarin malam, dia bersembunyi di belakang batu besar.
Didengarnya tepukan tangan tiga kali lagi, maka muncullah dua sosok bayangan orang di sebelah timur dan barat.
"Kiranya dua orang ini berjanji bertemu di sini dengan isyarat tiga kali tepukan tangan. Gerak-gerik mereka sembunyi-sembunyi, jelas bukan orang baik,"
Demikian batin Beng Hoa.
Malam ini bulan lebih terang.
Beng Hoa memasang mata, tibatiba dirasakannya orang yang muncul dari arah barat seperti pernah dikenalnya.
Orang ini bukan lain adalah gembong iblis Yang Kekbeng, sepuluh tahun yang lalu pernah diusir dari Ciok-lin oleh samsuhu-nya, belakangan datang lagi menuntut balas hingga kedua pihak hampir ajal.
Sikap Yang Kek-beng amat hormat terhadap orang yang muncul di sebelah timur, sapanya.
"Hay-tayjin, pagi juga kedatanganmu. Apakah Tong-bing-cu sudah tiba?"
"Hay-tayjin bukankah tulang punggung Tong-bing-cu. Terhadap muridnya pun dia tidak memberi tahu apa yang mereka bicarakan di sini?"
Demikian batin Beng Holi Terdengar Hay-tayjin sudah buka suara.
"Aku juga baru tiba, tapi Tong-bing-cu akan terlambat satu jam, baru akan menyambut kedatangan kita."
"Tong-bing-cu kenapa tidak tahu aturan, berani menyuruh Haytayjin menunggu satu jam di sini?"
Hay-tayjin tertawa.
"Aku sengaja berjanji satu jam lebih lama dengan dia."
"Lho kenapa?"
"Ada satu hal perlu kurunding-kan dulu dengan kau."
"Hay-tayjin terlalu sungkan, bila tenagaku diperlukan silakan beri petunjuk saja."
"Pertama, sebutan 'Hay-tayjin' selanjutnya jangan digunakan. Mulai besok aku sudah menjadi kacung serabutan yang bekerja di dapur Jing-hi-koan."
"Wah, kenapa Hay-tayjin merendahkan derajat?"
"Lo-yang,"
Desis Hay-tayjin melotot.
"kenapa lupa?"
"Maaf, aku sudah biasa memanggil demikian, sukar mengganti dalam waktu dekat. Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Aku memanggil kau Lo-yang, kau boleh panggil aku Lo-hay saja. Tapi mulai besok, di hadapan orang banyak tak usah kau menyapa aku."
Yang Kek beng mengiakan, lalu mengulang pertanyaannya.
"Lohay, sebetulnya kau bisa muncul sebagai tamu undangan, kenapa harus merendahkan derajat?"
"Aku tidak ingin orang tahu asal-usulku. Tahukah kau wakilku sudah mengalami musibah?"
"Aku belum bertemu murid-murid Tong-bing-cu, maka tak berani aku tanya murid Kong-tong-pay yang lain. Tapi kudengar katanya Kiat Hong digusur oleh putera Kang Hay-thian, Auwyang-tayjin juga lenyap tak karuan, entah betul tidak?"
Dari pertanyaan Yang Kek-beng ini Beng Hoa dapat menyimpulkan siapa sebenarnya Hay-tayjin ini, dia bukan lain adalah komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja adanya.
Maka Beng Hoa lebih memperhatikan percakapan mereka.
Didengarnya Hay Lan-ja berkata.
"Sudah tentu benar, Kiat Hong digusur pulang ke Siau-lim-si oleh putera Kang Hay-thian dan Ting Tiau-bing murid Thian-san-pay. Tapi Auwyang Ya dibokong siapa, bagaimana mati hidupnya, sampai sekarang belum jelas, kemungkinan jiwanya tidak selamat."
"Lo-hay, kau mana boleh dibandingkan dengan Auwyang Ya, siapa berani membokong engkau?"
"Memang aku tidak gentar menghadapi mereka, namun asalusulku harus tetap dirahasiakan. Soal inilah yang ingin kubicarakan dengan kau,"
Ucap Hay Lan-ja.
"Besok lusa pertemuan besar Kongtong-pay akan dibuka, pertemuan besar ini bukan maksud ciangbunjin Tong-cin-cu sendiri."
"Ya, ada sebuah pertanyaan ingin kutanyakan. Usia Tong-cin-cu belum tua kenapa dia mau mundur?"
"Karena terdesak keadaan, jadi terpaksa. Kau harus tahu, sejak lama Tong-bing-cu bermimpi ingin jadi ciangbunjin Kong-tong-pay. Panjang kalau dibicarakan sebab musababnya, karena soal ini menyangkut Tan Khu-seng yang terlibat dalam kasus lama."
"Konon dahulu waktu Tong-biau-cu menyerahkan jabatannya kepada Tong-cin-cu juga dipaksa oleh situasi?"
"Ya, waktu itu Tong-hian-cu dan Tong-bing-cu bersekongkol mendukung Tong-cin-cu serta memaksa Tong-biau-cu menyerahkan jabatannya. Untuk mempertahankan jiwa muridnya, terpaksa Tongbiau-cu menuruti kehendak mereka. Padahal waktu itu Tong-hian-cu sendiri yang ingin jadi ciangbun, karena modal pribadinya tidak mencukupi, terpaksa dia mendukung ji-suheng-nya. Maksud semula menjadikan Tong-cin-cu sebagai ciangbun boneka, bila sudah tiba saatnya baru akan memaksa Tong-cin-cu menyerahkan kedudukannya. Tak nyana sebelum kesempatan yang ditunggu tiba, Tong-hian-cu keburu mati di Ciok-lin. Ambisi Tong-bing-cu makin besar, setelah Tong-hian-cu mati dia menunggu tiga tahun lebih, hingga sekarang sudah tidak sabar lagi. Dia ingin jadi ciangbun, yang paling dikhawatirkan bukan sesama perguruan, tapi takut bila Tan Khu-seng tahu muslihatnya dan menentang dia, maka dia merasa perlu turun tangan lebih dulu, dengan-alasan mencuci bersih nama baik perguruan, kembali memeriksa ulang kasus lama, dalam pertemuan besar ini menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Tan Khu-seng. Tapi sudah diduganya pula bahwa persoalan lain mungkin timbul."
"Karena itu dia memerlukan dukunganmu?"
"Kenapa kau lupakan dirimu sendiri. Dia pun memerlukan dukunganmu. Sekarang ingin aku mendengar pendapatmu."
"Ah, aku tunduk saja bagaimana kehendak Hay-tayjin, apalagi Tan Khu-seng kan juga musuh besarku "
"Kau lupa pula, kenapa memanggilku Hay-tayjin. Lo-yang walau kita harus mendukung dia tapi harus ada imbalannya. Terus terang, aku menganggap kerja ini sebagai barter saja."
"Lo-hay, barter yang bagaimana, aku patuh kepadamu saja."
"Tong-bing-cu menyerahkan kuasa padamu, bagaimana tamu tamu yang kau undang untuk mem bantu dia?"
"Aku mengundang Bwe-san ji koay, Tang-hay-sam-sia dan...."
"Tak perlu disebut satu per salu. apakah mereka dapat dipercaya ? Bisa tiba tepat pada waktunya?"
"Mereka dapat dipercaya,"
Sahut Yang Kek-beng.
"Mulai besok mereka akan berdatangan. lo-hay. masih ada pesan lain?"
"Terus terang, kedatangan mereka akan kuperalat untuk menghadapii murid-murid Kong-tong-pay, atau Tong-bing-cu sendiri."
Yang Kek-beng terkejut, serunya.
"Lo-hay aku tak mengerti maksudmu. Bukankah kita membantu Tong-bing-cu?"
"Memang, tapi dia kau harus membantu juga. Tong-bing-cu takut menghadapi kaum pendekar, aku sudah membuat rencana supaya dia menghadapi mereka tanpa gemetar. Tapi aku juga tahu maksud Tong-bing-cu, meski dipersiapkan, syukur kalau tidak sampai terjadi bentrokan, jelas dia tidak berani menghadapi peristiwa besar yang mungkin berbuntut panjang. Tapi aku justru menggunakan kesempatan baik ini. Hal ini takkan kuutarakan kepadanya sebelum kejadian, bila tiba saatnya, menjadi tugasmu untuk turun tangan. Tong-bing-cu atau siapa saja kalau berani merintangi, bunuh saja habis perkara."
Mengkirik bulu kuduk Beng Hoa mendengar mereka, betapa kejam dan licin Hay Lan-ja ini, entah rencana apa yang telah dirancangnya?
Sampai di sini percakapan mereka mendadak tidak terdengar, entah dia sedang menjelaskan rahasia rencananya?
Beng Hoa memusatkan perhatian mendengar dengan seksama, akhirnya baru dia mendengar 'sekali jaring pukul seluruhnya', lalu gelak tawa Hay Lan-ja.
Dugaan Beng Ho tidak meleset, mereka memang sedang membicarakan rencana itu, sudah tentu yang dimaksud akan dijaring termasuk kaum pendekar.
Karuan berdebar jantung Beng Hoa.
Semoga besok dirinya bisa bertemu dengan Kim tayhiap serta menyampaikan rencana jahat musuh ini, yang pasti Beng Hoa harus bersembunyi lebih hati-hati supaya jejaknya tidak ketahuan.
Yang Kek-beng terdengar berkata.
"Rasanya sudah satu jam lebih, kenapa Tong-bing-cu belum juga datang?"
"Betul. Kita bicara soal lain saja. Eh, agaknya ada langkah orang datang, tapi arahnya kok terbalik?"
"Ya, datangnya dari arah Toan-hun-gay di bawah sana, bukan dari Jing-hi-koan di sebelah atas."
Pada saat itulah mendadak berkumandang teriakan seorang perempuan.
"Tolong, tolong!"
Menyusul suara seorang perempuan tua membentak.
"Budak busuk, di atas Kong-tong-san kau kira ada orang bakal menolongmu, tak usah ya, berani pentang bacot lagi biar kucekik mampus dirimu."
Ternyaya gadis itu makin keras suaranya.
"Baik, kau cekik saja, cekik aku sampai mati. Biar mati aku tetap tak mau kau siksa begini."
Dalam waktu singkat ini Beng Hoa sungguh terkejut sampai menjublek.
Teriakan gadis itu, bukankah itu suara Kim Bik-ki?
Mungkin mendengar di sini ada percakapan orang, maka Kim Bikki lantas berteriak minta tol6ng.
Tadi Beng Hoa khawatir jejaknya'ketahu-an mereka, kini setelah mendengar teriakan Kim Bik-ki, meski langit ambruk juga tidak dihiraukan lagi.
Hay Lan-jajuga heran, tanyanya lirih kepada Yang Kek-beng.
"Siapakah perempuan galak itu? Kau kenal dia?"
"Kelihatannya Tok-jiu-koan-im (Dewi Koan-im tangan gapah)."
Hay Lan-ja kaget, katanya.
"O, jadi perempuan bawel ini adalah Tok-jiu-koan-im yang dijuluki ahli racun nomor satu di kalangan Kang-ouw itu? Sejak lama sudah ingin aku merangkulnya. Tapi jangan kau jelaskan dulu kepadanya siapa diriku."
"Ya, aku tahu,"
Sahut Yang Kek-beng. Sementara itu langkah kaki sudah makin dekat, tapi teriakan Kim Bik-ki sudah berhenti, mungkin hiatto-nya tertotok hingga tak mampu bersuara. Yang Kek-beng segera berseru.
"Apakah Sin Jit-nio di sana?"
"Ya,"
Sahut perempuan tua itu.
"Siapa kau?"
"Aku adalah Yang Kek-beng murid angkatan ketiga Beng Sinthong. Sepuluh tahun yang lalu pernah bertemu sekali dengan kau orang tua."
"O, kau juga datang karena undangan Tong-bing-cu ya? Siapa yang datang bersama kau?"
"Seorang teman. Hei, gadis siapa ? yang kau bekuk itu?"
Perempuan tua itu terbahak-bahak, katanya.
"Kalau kukatakan tanggung kau terkejut. Ayah budak ini adalah jago pedang nomor satu di dunia, namanya Kim Tiok-liu."
Yang Kek-beng amat kaget, katanya.
"Sin Jit-nio, besar sekali nyalimu. Kenapa kau menawan puteri Kim Tiok-liu?"
Perempuan tua yang bernama Sin Jit-nio tertawa dingin.
"Siauyang, kalau kau takut lekas lari turun gunung supaya jangan terlibat."
"Orangnya sudah kau tangkap dan bawa kemari, takut apalagi? Baiklah, kabarnya puteri Kim Tiok-liu cantik rupawan, aku ingin melihat apa betul dia ayu seperti yang dikatakan orang."
Sambil bicara Yang Kek-beng menyongsong ke depan.
Kebetulan saat itu perempuan tua itu sudah lari tak jauh dari tempat persembunyian Beng Hoa.
Di bawah cahaya rembulan kelihatan jelas, Kim Bik-ki dikempitnya tak mampu bergerak.
Sin Jit-nio tidak sadar bahwa bahaya mengancam dirinya, dengan tertawa dia berkata.
"Siau-yang, boleh melihat tidak boleh menyentuhnya. Jangan kau nanti tergila-gila melihat paras cantik, puteri Kim Tiok-liu ini akan kugunakan sebagai sandera, jangan kau mengusiknya. Aduh, aduh, kurang ajar! Yang Kek-beng berani kau membokong Lo-nio (nyonya tua)?"
Yang Kek-beng kaget, serunya.
"Hei, aku tidak membokongmu, pasti ada musuh sembunyi di sini, lekas gebah dia keluar."
Tanpa digerebek orangnya sudah keluar menubruk ke arah Sin Jit-nio.
Ternyata Beng Hoa menggunakan cara lama, dengan Tamcin-sin-thong sekaligus dia menjentik tiga buah kerikil, satu di antaranya tepat mengenai Hoan-tiau-hiat di lutut Sin Jit-nio.
Tapi kepandaian Sin Jit-nio jauh lebih tinggi dari Kiat Hong, meski hiatto tersambit kerikil ternyata dia tidak terjungkal roboh.
Tapi cepat sekali, begitu sinar pedang berkelebat, ujung pedang Beng Hoa tahu-tahu sudah mengancam leher Sin Jit-nio.
Sin Jit-nio tidak tahu siapa pe-nyergap dirinya, dalam keadaan genting ini, tak sempat dia berpikir, terpaksa dia lemparkan Kim Bikki seraya berteriak.
"Yang Kek-beng, jagalah budak ini."
Sebelah tangan segera bergerak siap melawan. Sinar pedang laksana kilat, di tengah berkelebatnya bayangan orang.
"Cret"
Lengan baju Sin Jit-nio tertabas secuil, namun dalam waktu yang sama dari lengan bajunya menyembur keluar segulung asap tebal.
Dari percakapan Hay Lan-ja dengan Yang Kek-beng, Beng Hoa tahu bahwa perempuan tua ini ahli racun, sambil menyergap dia juga sudah siaga, begitu pedang di tangan kanan menusuk, Bikkhong-ciang dengan tangan kiri juga menyusul tiba sambil menahan napas.
Siapa menghirup sedikit saja asap tebal Sin Jit-nio pasti jatuh pingsan seketika, bila terkena bubuk racun, badan akan membusuk.
Tak nyana semburan racunnya ternyata dipukul buyar dan balik oleh Beng Hoa.
Beng Hoa menyergap dengan menyerempet bahaya, tapi Kim Bik-ki di tangan orang, Yang Kek-beng juga di situ, posisinya jelas lebih kuat, jadi tak mungkin Sin Jit-nio membunuh Kim Bik-ki.
Beng Hoa juga yakin dengan pedang kilatnya dapat mendesak lawan dalam satu gebrakan.
Sayang perhitungannya hanya tepat separo, dengan sergapan kilat dia pikir melukai musuh menolong orang, Sin Jit-nio memang dipaksa melepaskan Kim Bik-ki, tapi serangan kilat pedangnya ternyata tidak berhasil seperti yang diharapkan.
Sin Jit-nio hanya tertabas lengan bajunya saja.
Melihat Kim Bik-ki dilempar perempuan jahat beracun ini, tubuhnya sedang menggelinding di lereng gunung, entah terluka atau mati, sudah tentu hatinya amat kaget dan kasihan, tak sempat dia menyerang perempuan itu lagi.
"Adik Ki, jangan gugup, aku menolongmu. Kau dengar tidak? Aku adalah Hoa-ko."
Sambil' berteriak Beng Hoa memburu ke drah Kim Bik-ki yang masih menggelinding ke bawah.
Sebelum Kim Bik-ki jatuh ke bawah ngarai dia harus berhasil menolongnya.
Tapi Sin Jit-nio justru tidak berpeluk tangan.
Di mana dia ayun tangan, entah amgi apa yang disambitkan, yang jelas mengeluarkan suara "ting tang"
Yang ramai, belum serangan tiba bau amis sudah menyambar hidung.
"Bocah bagus, jangan harap kau dapat menolong budak itu."
Setelah menyambitkan senjata rahasianya, Sin Jit-nio ikut mengejar datang. Beng Hoa tertawa dingin, katanya.
"Biar kau tahu kelihayanku."
Saat itu amgi sudah memberondong dari berbagai penjuru, Beng Hoa kalem saja, pedangnya berputar satu lingkaran, terdengarlah dering ramai, potongan logam kecil-kecil bertaburan.
Senjata rahasia Sin Jit-nio ini adalah cincin yang dipakainya di sepuluh jarinya, sudah tentu cincinnya ini juga sudah direndam dalam air racun.
Hanya sejurus permainan pedang kilat, Beng Hoa merontokkan seluruh cincin beracun, betapa luas pengetahuan Sin Jit-nio belum pernah menyaksikan kiamhoat sebagus ini, seketika dia melongo.
Tapi Beng Hoa sudah terkejar olehnya.
"Coba mengejar lagi, biar kubunuh kau,"
Ancam Beng-Hoa. Sin Jit-nio tertawa dingin, je-ngeknya.
"Umpama kau bisa merebut dia dari tanganku, tanpa obat penawar dari aku, jangan harap kau bisa menolong jiwanya."
Beng Hoa sadar, mendadak dia membalik menubruk ke arah Sin Jit-nio.
"Keparat, ingin mampus kau!"
Hardik Sin Jit-nio, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebuah bumbung bambu, sekali tekan tombol dari bumbung itu menyemprot air beracun, terpaksa Beng Hoa melompat menyingkir, air beracun menyambar di samping tubuhnya, baunya amis menyesakkan napasnya.
Beng Hoa gusar, baju luar dicopot dia putar dengan kencang, bentaknya.
"Paling terkena racunmu, sebelum kau serahkan obat penawarnya, jangan harap kau bisa lolos dari pedangku."
Sebelum dia adu jiwa dengan Sin Jit-nio, mendadak segulung angin dingin menggulung dirinya.
"Ternyata kau murid cilik Tan Khu-seng itu. Hmm, masih berani bertingkah kau bocah,"
Jengeknya dingin.
Siu-Io-im-sat-kang yang diyakinkan Yang Kek-beng sekarang sudah maju setingkat dibanding empat tahun yang lalu, namun kemajuan lwekang Beng Hoa justru tak terukur.
Siu-lo-im-sat-kang Yang Kek-beng tetap tak mampu melukai dia.
Tapi karena lawan menyerang sepenuh tenaga, paling Beng Hoa hanya bergidik kedinginan saja.
Beng Hoa balas menjengek.
"Ya, aku pun ingin membuat perhitungan dengan kau."
Sinar pedang berkelebat laksana kilat seperti ke kiri atau ke kanan, enteng dan mengambang.
Sin Jit-nio dan Yang Kek-beng merasakan pedang lawan seperti menusuk ke arah dirinya.
Sin Jit-nio sudah merasakan kelihayan pedang lawan, saking kaget lekas dia jumpalitan ke belakang.
Karena khawatir melukai Yang Kek-beng, dia tidak berani balas menyerang dengan am-gi beracun.
Dalam sekejap itu beruntun Yang Kek-beng sudah mengalami beberapa kali bahaya, karuan terkejut dan iri lagi.
Dia menduga bocah ini pasti sudah memperoleh ajaran pedang peninggalan Thio Tan-hong di Ciok-lin, maka Siu-lo-im-sat-kang-nya tak mampu mengalahkan lawan, jelas dirinya tak mungkin mengalahkan orang.
Ingin minta bantuan Hay Lan-ja tapi malu, terpaksa dia mengembangkan Siu-lo-im-sat-kang sekuat tenaga, tak usah melukai lawan asal diri sendiri selamat.
Beng Hoa yakin dirinya mampu mengalahkan orang, tapi dalam dua tiga gebrak tak mungkin tercapai, apalagi Sin Jit-nio membantu dari samping, sedikit lena kemungkinan dirinya bisa keracunan.
Apalagi dia menguatirkan keselamatan Kim Bik-ki.
"Sret, sret, sret"
Yang Kek-beng diserangnya dengan gencar sehingga mencakmencak seperti joget kera.
Sebat sekali Beng Hoa menyelinap keluar terus melompat ke bawah.
Rasa terkejut Sin Jit-nio dan Yang Kekbeng belum hilang, mana berani mereka mengejar.
Bayangan Kim Bik-ki tidak kelihatan, jantung Beng Hoa melonjaklonjak saking gugup, entah Kim Bik-ki masih hidup atau sudah ajal.
Sambil lari dia berteriak lagi.
"Adik Ki, kau dengar suaraku? Bagaimana keadaanmu?"
Tiba-tiba didengarnya suara lirih dan lemah berkata.
"Bengtoako, apakah kau? Aku di sini, lekas kemari."
Walau lemah suaranya, namun Beng Hoa kenal itulah suara Kim Bik-ki. Girang Beng Hoa seperti mendapat lotre, lekas dia lari ke arah datangnya suara, teriaknya.
"Adik Ki, kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, sayang tak bisa bergerak."
Mendengar suaranya, Beng Hoa sudah tahu bahwa Kim Bik-ki hanya tak mampu mengerahkan tenaga karena hiatto tertotok sehingga suaranya menjadi lemah, jadi bukan karena luka dalam.
Legalah hatinya.
Ternyata Sin Jit-nio hanya menotok hiatto-nya, lemparannya tadi juga menggunakan'tenaga lunak seperti orang menurunkan benda secara perlahan.
Kim Bik-ki hanya luka lecet karena menggelinding di lereng tadi.
-Untung dia terhalang oleh lebatnya semak rumput yang tumbuh setinggi manusia hingga tubuhnya tidak menggelinding lebih jauh.
Namun racun Sin Jit-nio di dalam tubuhnyajelas sementara belum bisa dipunahkan.
Sin Jit-nio mence-kokkan Hap-kut-san (Puyer pelemas tulang), jiwanya sih tidak terancam namun tujuh hari kemudian, kalau racun tidak ditawarkan, otot mengejang tulang menjadi lunak, bila terlambat diobati selamanya akan menjadi tapa daksa.
Perlu diketahui, lahirnya Sin Jit-nio bilang tidak takut, padahal terhadap Kim Tiok-liu ayah Kim Bik-ki, takutnya luar biasa, maka dia hanya berani menggunakan caranya itu untuk menyandera puteri orang, tidak berani mengancam jiwanya.
Lwekang Kim Bik-ki juga mendapat ajaran.murni keluarganya, walau dia terpengaruh oieh racun dalam tubuhnya, tenaganya tak mampu dikerahkan untuk bergerak bebas, tapi untuk mengerahkan hawa murni membebaskan totokan hiatto masih lebih dari mampu.
Setelah menggelinding jauh dan berhenti, dalam beberapa kejap kemudian, totokan hiatto-nya pun sudah bebas.
"Adik Ki, tak usah gelisah, aku akan turun gunung bersamamu. Bagaimana Kang-suheng-mu, apa kau tahu?"
Teriak Beng Hoa.
Tiba-tiba dia ingat Tong-bing-cu bilang hendak minta bantuan seorang ahli racun untuk membokong Kang Siang-hun, Ting Tiaubing dan Teng Bing-cu, Kiat Hong pun akan dikorbankan pula.
Sekarang baru dia tahu, ahli racun yang dimaksud pasti Sin Jit-nio ini.
Beng Hoa tidak habis mengerti kenapa justru Kim Bik-ki yang jatuh ke tangan orang, hatinya pun khawatir akan keselamatan orang-orang yang akan diracun Sin Jit-nio, maka sambil lari dia tanya keadaan Kang Siang-hun.
Senang juga hati Kim Bik-ki karena Beng Hoa tetap memperhatikan keselamatan Kang-suheng-nya yang dahulu pernah memusuhi dan menuduhnya yang bukan-bukan.
Lekas dia menarik napas serta membesarkan suara.
"Kang-suheng tidak apa-apa, tak usah khawatir, nanti kujelaskan."
Saat mana Beng Hoa sudah melihat Kim Bik-ki, Kim Bik-ki juga melihatnya. Entah dari mana datangnya tenaga, saking senang Kim Bik-ki melompat berdiri, teriaknya.
"Ah, Beng-toako, benar kau. Apakah ini bukan mimpi?"
Jarak mereka tinggal tigapuluhan langkah, Beng Hoa memburu datang dengan langkah cepat, tanpa sadar Kim Bik-ki menyongsong maju dua langkah sambil membuka kedua tangan.
"Adik Ki, diam di tempatmu, awas jatuh,"
Teriak Beng Hoa girang.
"Ini bukan mimpi, coba lihat, bukankah aku berdiri di depanmu? Jangan gugup, nanti kugendong kau turun gunung."
Mendengar itu, baru Kim Bik-ki tersentak sadar, teriaknya.
"Hei, kenapa aku bisa bergerak?"
Seketika dia merasa lutut lemas.
"Bluk"
Kali ini dia benar-benar jatuh.
"Lha, kau tidak mendengar nasihatku. Tak usah gugup, biar kuperiksa, terluka tidak?"
Jarak mereka tinggal sepuluh langkah, baru dia mengulur tangan hendak menarik Kim Bik-ki, pada saat itulah terasa angin kencang menderu.
Seseorang mendadak menyergap dari belakang.
Mungkin menyadari cara menyergap begini menurunkan martabatnya, meski menubruk, dia bersuara lebih dulu.
"Bocah, kau ingin membopong budak ini turun gunung, jangan mimpi!"
Begitu angin menyerang tiba, Beng Hoa tahu orang hendak mencengkeram tulang pundaknya.
Secara reflek dia menurunkan pundak sambil balas menyodok dengan siku, sementara tangan yang lain menepuk ke belakang.
"Biang", telapak tangan beradu. Karena belum berdiri tegak Beng Hoa tertolak sempoyongan tiga langkah. Pundaknya terasa panas dan pedas. Beng Hoa kaget karena lwekang orang ini jauh lebih tinggi dibanding Yang Kek-beng dan Sin Jit-nio. Bila dia membalik badan melihat jelas penyergapnya, ternyata komandan Gi-lim-kun Hay Lanja adanya.
"Hm, tidak malu, sebagai komandan Gi-lim-kun juga main bokong, cerdik juga kau."
Merah muka Hay Lan-ja, katanya.
"Kalau aku tidak bersuara memberi peringatan, memangnya kau mampu lolos dari cengkeraman-ku? Nah sekarang, mari kita ukur kepandaian siapa lebih unggul. Aku akan mengalah kepadamu, cabut pedangmu. Aku hanya melawan dengan tangan kosong, buktikan apa kau mampu lolos dari tanganku?"
Lahirnya dia bersikap ramah, padahal nafsunya sudah timbul.
"Bocah ini tahu rahasiaku, harus dibunuh,"
Demikian pikirnya. Beng Hoa insaf kedudukannya tidak menguntungkan, harus memikirkan keselamatan Kim Bik-ki lagi, maka dia tidak perlu sungkan lagi.
"Sret"
Pedang terlolos, kontan dia menyerang dengan jurus Hian-ciau-hoat-soa.
"Ingin aku buktikan, kau yang mampus di bawah pedangku atau aku yang lolos dari tanganmu."
"Serangan bagus,"
Puji Hay Lan-ja.
Tangan diulur mencengkeram ke ujung pedang.
Bu-beng-kiam-hoat amat lincah dan enteng, bergerak mengikuti situasi.
Kungfu lawan makin tinggi permainannya pun makin lihay dan tarafnya juga lebih tinggi, sukar diraba pula.
Tahu lwekang lawan di atas dirinya, maka begitu gebrakan dimulai Beng Hoa lantas melancarkan kemurnian Bu-bengk'iam-hoat dengan seluruh kemampuannya.
Jurus Hian-ciau-hoatsoa itu mengandung tujuh gerak perubahan, sudah terbayang dalam benaknya bagaimana reaksi Hay Lan-ja dalam menghadapi setiap perubahan pedangnya.
Tapi reaksi Hay Lan-ja dalam menghadapi serangannya justru di luar dugaannya.
Menurut ajaran ilmu silat umumnya, umpama seseorang menggunakan Khong-jiu-ji-pek-to melawan senjata lawan juga harus menghindar serangan telak lawan baru mencari kesempatan balas menyergap merebut senjata lawan.
Tapi Hay Lanja secara langsung mengulur tangan menangkap pedang.
Tahu lawan memang punya kemampuan tersendiri, Beng Hoa tetap meneruskan tabasan pedangnya, hanya sedikit kecerobohannya ini, hampir saja dia terjebak oleh akal Hay Lan-ja.
Ternyata pedangnya seperti menyentuh sebuah benda empuk lemas hingga susah dia mengerahkan tenaga.
Ternyata dalam waktu genting itu, Hay Lan-ja menarik tangannya ke dalam lengan baju, berbareng kain bajunya menggulung balik ke atas membungkus ujung pedang Beng Hoa, yang digunakan adalah daya lengket yang hebat.
Agaknya Hay Lan-ja sudah sempurna meyakinkan Iwekang-nya hingga cukup ampuh untuk menggunakan daya lengket ini.
Sebetulnya Beng Hoa juga mahir menggunakan daya lengket ini untuk memunahkan serangan telapak tangan atau pukulan lawan, namun tak pernah terpikir bahwa daya lengket begini juga berguna untuk menghadapi senjata.
Apalagi seperti permainan Hay Lan-ja yang menakjubkan, jelas dirinya tak mampu melakukan.
Hanya sejurus Hay Lan-ja sudah berhasil, dengan senang segera dia membentak.
"Lepas pedang!"
Dia yakin pedang pusaka Beng Hoa pasti bisa direbutnya.
"Belum tentu,"
Tiba-tiba Beng Hoa mengejek.
Sinar kilat berkelebat, lengan bajunya malah yang tertabas oleh pedang pusaka Beng Hoa.
Syukur Beng Hoa lekas sadar akan kelengahannya, begitu merasakan pedang tersedot oleh lengan baju lawan, otaknya lantas teringat ajaran lwekang yang baru dipelajarinya dari kungfu Persia, ada semacam cara yang mampu memunahkan daya lengket seperti ini.
Segera dia praktekkan, ternyata hasilnya memang memuaskan'.
Setelah gebrakan pertama ini Beng Hoa tak berani lengah lagi, hati Hay Lan-ja juga terkejut, baru sekarang dia maklum kenapa Sin Jit-nio pun kecundang oleh bocah ini.
Selanjutnya dia pun tak berani menggunakan daya lengket, mendadak dia berputar, kini kedua tangan bergerak menggempur Beng Hoa.
Bergontai badan Beng Hoa, pedang panjangnya bergerak dengan jurus Kim-ciam-to-koat (Jarum emas melawan bencana) menyendal ke atas.
Hay Lan-ja seperti sudah menduga gerakan ini, maka dia merebut maju selangkah, sambil berkelit dari serangan, berbareng melancarkan serangan mematikan.
Kaki Hay Lan-ja tidak bergerak, pedang Beng Hoa jelas sudah hampir menusuk lambungnya, baru mendadak dia mengempeskan dada menyedot perut, tubuhnya menyurut ke belakang dua dim.
Tubuhnya yang segede kerbau itu hanya sekali menarik napas mendadak berubah mengecil.
Betapa hebat dan menakjubkan penggunaan lwekang tingkat tinggi ini, bukan saja Yang Kek-beng berseru kaget memuji, Beng Hoa juga tidak menduga sama sekali.
Hanya sekejap mata posisi kedua pihak dari yang diserang berbalik balas menyerang, perubahan terjadi secara singkat.
Perut Hay Lan-ja mendadak mengecil dua dim, lengannya mendadak seperti mulur lebih panjang tiga dim, dari telapak tangan berubah tinju, memukul dengan jurus Heng-sin-bak-hau (Melintangkan tubuh memukul harimau).
Adu kepandaian dua jago yang diutamakan hanya merebut kesempatan.
Jelas pukulannya ini tak mungkin dikelit lagi oleh Beng Hoa Kim Bik-ki yang rebah di tanah tak tertahan menjerit khawatir, sayang dirinya tak mampu bergerak untuk membantu, terpaksa dia memejamkan mata tak berani menyaksikan pujaan hatinya terhajar luka parah.
Tak nyana kungfu Hay Lan-ja memang serba sempurna dan banyak yang di luar dugaan Beng Hoa, namun kiamhoat Beng Hoa juga jauh di luar dugaan orang lain.
Di tengah sambaran tinju dan berkelebatnya sinar pedang, lengan panjang Hay Lan-ja tampak melingkar balik.
Beng Hoa melompat dan berkelebat, ujung pedangnya menyerempet ketiak lawan.
Cepat sekali bayangan kedua orang mendadak berpencar, betapa cepat dan menakjubkan, beberapa gerakan yang menakjubkan ini sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Yang Kek-beng yang menonton dengan jantung berdetak juga tidak melihat jelas, tak habis herannya kenapa jotosan Hay Lan-ja yang lihay itu tidak mengenai Beng Hoa.
Jurus Kim-ciam-to-koat yang dilancarkan Beng Hoa kelihatannya mirip Tat-mo-kiam-hoat Siau-fim-pay, namun hanya mirip gayanya tidak kenyataannya Di saat Hay Lan-ja melontarkan pukulannya, pedang Beng Hoa juga mendadak berubah, tiba-tiba menusuk dari posisi yang tidak terduga oleh Hay Lan-ja Jikalau pukulannya diteruskan, Beng Hoa memang akan terpukul luka parah, tapi Hay Lan-ja harus mengorbankan sebelah lengannya.
Sudah tentu Hay Lan-ja tak mau dirugikan, terpaksa dia mengubah permainannya.
Begitu mundur, Hay Lan-ja maju lagi, bentaknya.
"Bocah, kiamhoat-mu memang lihay, tapi jangan harap dapat mengalahkan aku. Mengingat usiamu masih muda, kalau kau mau ikut aku, tanggung hidup senang seumur hidup."
Beng Hoa ogah banyak omong, makinya.
"Kentut busuk, lihat pedang."
Hanya empat patah kata terlontar dari mulutnya, tapi sekaligus dia sudah menyerang tigapuluh enam jurus. Hay Lan-ja gusar, bentaknya.
"Keparat tidak tahu diri. Biar kau tahu kelihayanku."
Makin menyerang, kedua pihak bergerak makin cepat, siapa pun tak mau kalah, saling merebut kesempatan.
Pertarungan makin sengit, agaknya kedua orang ini bertemu tandingan setimpal.
Beng Hoa mengutamakan permainan Bu-bengkiam-hoat dilandasi golok kilat keluarganya.
Dalam permainannya sering juga dia selingi ilmu pedang Kong-tong-pay dan Thian-sankiam-hoat.
Makin bertempur makin bersemangat, gerakannya makin lancar dan wajar, otak pun bekerja sehingga banyak teori yang selama ini belum dipahami ternyata lancar dalam praktek, malah dalam menghadapi serangan musuh sering pula dia menciptakan jurus baru.
Dalam sekejap seratus jurus telah tercapai, permainan pedang Beng Hoa mencakup berbagai intisari ilmu pedang berbagai perguruan yang rumit dan banyak variasinya, tiada satu jurus sama yang pernah dilontarkan Beng Hoa.
Kalau Yang Kek-beng menonton dengan pandangan kabur, Hay Lan-ja sendiri juga sukar menjajaki dasar permainannya.
Tapi pukulan telapak tangan Hay Lan-ja yang diselingi tinju itu pun aneh dan menakjubkan, meski serangan pedang Beng Hoa cepat dan deras bagai hujan lebat, langkah kakinya lincah mengikuti pat-bun dan ngo-pou, sedikit pun tak pernah gugup atau ngawur.
Perubahan maju mundur pat-bun dan ngo-pou ini mengutamakan dengan lunak mengatasi keras, betapa hebat tinju dan telapak tangan Hay Lan-ja, sementara kakinya bergerak dengan langkah yang lembut gemulai, keras dan lunak dikombinasikan saling isi dan bantu.
Jikalau Iwekang dan latihan kungfunya belum mencapai taraf tinggi, jelas hal ini tak mampu dilakukan.
Seratus jurus mereka serang menyerang, sedikit pun Beng Hoa tidak memperoleh keuntungan.
Kalau Beng Hoa kaget, Hay Lan-ja juga heran namun juga penasaran.
Melihat Beng Hoa bertemu tandingan tangguh, Sin jit-nio maju menghampiri Yang Kek-beng dan bertanya.
"Siau-yang, kungfu temanmu ini hebat benar, siapakah dia?"
Entah tidak berani membocorkan asal-usul Hay Lan-ja atau terpesona menonton pertarungan itu, Yang Kek-beng diam saja. Setelah menyaksikan sebentar, Sin Jit-nio berkata.
"Ilmu pukulannya dari Tiang-pek-pay di Kwan-gwa, lwekang-nya masih lebih tinggi dari Tiang-pek ciangbunjin yang pernah kusaksikan tigapuluh tahun yang lalu, kelihatannya dia seorang Boanciu, benar tidak? Siauyang, aku sudah tahu, dia adalah jago kosen nomor satu di Kwangwa atau komandan Gi-lim-kun yang sekarang yaitu Hay Lan-ja. Siau-yang, kau punya tulang punggung segede ini, tak heran kau tidak jeri berhadapan dengan Kim Tiok-liu dan Tan Khu-seng."
Kungfu Sin Jit-nio belum terhitung kelas satu, namun pengetahuannya ternyata lumayan. Yang Kek-beng berkata perlahan.
"Tak jadi soal kau tahu, jangan banyak mulut pada orang lain."
Sin Jit-nio kurang senang, katanya.
"Ah, kenapa tegang? Hm, Hay-tayjin memang lihay, tapi belum tentu dia dapat mengalahkan bocah itu."
Lalu dia meninggikan suara.
"Hay-tayjin, apa perlu kami membantu?"
"Tak usah,"
Jawab Hay Lan-ja dingin. Karena kerepotan menghadapi tujuh jurus serangan pedang Beng Hoa, bani beberapa kejap kemudian dia bersuara. Merasa tidak diperhatikan, kecut rasa Sin Jit-nio, katanya tawar.
"Baiklah, karena Hay-tayjin tidak memerlukan bantuanku, biarlah aku yang berangkat ke Jing-hi-koan terlebih dahulu."
Lalu dia jinjing Kim Bik-ki serta menjengek dingin.
"Budak busuk, kau tetap tak bisa lolos dari tanganku bukan?"
Saking sedih Kim Bik-ki memejamkan mata, katanya menghela napas.
"Kukira aku tidak mimpi, ternyata memang bermimpi buruk."
Belum hilang suaranya, Sin Jit-nio sudah menotok hiatto-nya.
Terkejut dan gugup Beng Hoa dibuatnya, hampir saja dia terkena pukulan telak Hay Lan-ja, pundak yang terserempet tangan orang seperti dikelupas kulitnya.
Hay Lan-ja membentak.
"Bocah, coba masih berani kau...."
Sebelum dia sempat mengatakan "bertingkah".
"Sret"
Pedang Beng Hoa sudah menusuk miring menciptakan dua lingkaran cahaya, pedangnya mengandung banyak perubahan, bukan saja cepat lincah lagi, kembali di luar dugaan Hay Lan-ja, maka terdengarlah suara robek panjang, lengan bajunya kembali tertabas lebih besar.
Maka Beng Hoa berpikir.
"Adik Ki jelas sudah menjadi tawanan mereka, sementara biar aku tenangkan diri."
Di tengah pertarungan seru itulah, dari arah Toan-hun-gay terdengar tiga kali tepukan tangan.
"Nah, itu Tong-bing-cu datang,"
Seru Yang Kek-beng girang. Seluruh perhatian Hay Lan-ja dipusatkan melayani serangan pedang Beng Hoa, maka dia tidak sempat bertepuk tangan membalas isyarat.
"Hay-tayjin,"
Ucap Yang Kek-beng.
"kau pasti dapat mengalahkan bocah ini, Tong-bing-cu segera datang, mohon kau memberi kesempatan supaya aku ikut membereskan bocah.ini. Bagaimana?"
Lwekang Yang Kek-beng lebih tangguh dari Beng Hoa, Siu-lo-imsat-kang-nya juga tak perlu khawatir dapat melukai Hay Lan-ja Hay Lan-ja juga khawatir, seorang diri dia tak mampu mengalahkan bocah ingusan, kalau dilihat Tong-bing-cu memang amat memalukan.
Maka dia menjawab tawar.
"Baiklah."
Tambah satu lawan tangguh sudah tentu Beng Hoa makin kepayahan, posisinya terdesak di bawah angin. Di atas Toan-hun-gay lapat-lapat terdengar suara Sin jit-nio yang bicara dengan Tong-bing-cu.
"Hah, Jit-nio, ternyata engkau. Gadis keluarga siapa yang kau bawa itu?"
"Gadis ini lebih berharga dari Kang Siang-hun, dia puteri Kim Tiok-liu, apakah tidak lebih berharga dari muridnya?"
Tak sempat Tong-bing-cu menanyakan kejadiannya, tanyanya.
"Jit-nio, apa kau melihat Yang Kek-beng dan seorang temannya?"
"Temanmu itu komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja bukan?"
"Lho, kau sudah tahu?"
"Selamat ya, kau memperoleh tulang punggung segede itu, tapi kalau kau ingin minta bantuannya, sekarang kau harus membantunya lebih dulu."
"Apa? Hay-tayjin dia... dia kenapa?"
"Bersama Yang Kek-beng, Hay-tayjin-mu sedang menempur bocah she Beng, kurasa mereka berdua belum tentu dapat mengalahkan bocah itu."
Sudah tentu Tong-bing-cu kaget dan tidak mau percaya.
Meski Beng Hoa mendapat kemajuan berlipat ganda setelah mempelajari kiamhoat peninggalan Thio Tan-hong, Hay Lan-ja takkan gampang dikalahkan.
Saat itu tiga kali tepukan tangan Yang Kek-beng sudah terdengar dari bawah, Tong-bing-cu pasang telinga, memang di bawah terdengar suara pertempuran.
Dengan rasa was-was cepat dia lari turun gunung.
Saat mana Beng Hoa sudah terdesak di bawah angin, beberapa kali jiwanya terancam, namun dalam waktu singkat Hay Lan-ja tetap tak mampu merobohkan dia.
Setelah mendengar tiga kali tepukan tangan, Beng Hoa tahu Tong-bing-cu sebentar akan datang, terpaksa dia harus berani bertindak melihat gelagat, situasi tidak menguntungkan lebih baik mengundurkan diri dulu, cari upaya pada lain kesempatan.
Memang, dia bukan tandingan Hay Lan-ja dan Yang Kek-beng, tapi untuk meloloskan diri masih cukup berlebihan.
Dengan jurus Ce-han-hu-jay dia maju menyerang untuk mundur, itulah Thian-sankiam-hoat untuk mengalahkan musuh di saat dirinya terdesak, belum lama berselang berhasil dia pelajari dari Teng King-thian.
Sekali putar gagang pedang, batang pedangnya lantas bergetar menerbitkan sinar dingin laksana taburan bintang-bintang di langit, berhamburan ke empat penjuru.
Kelihatannya Beng Hoa sudah kehabisan tenaga, Yang Kek-beng tak menduga bocah ini masih mampu balas menyerang dengan serangan sehebat ini.
Karena pernah ke-cundang oleh Beng Hoa, hatinya sudah jeri, lekas dia melompat mundur menyelamatkan diri.
Terdengar Hay Lan-ja bersuara heran, dia tahu serangan Beng Hoa hanya gertakan.
Setelah bersuara heran dia hanya menggerakkan sepasang tangannya; di bawah landasan tenaga dalamnya, taburan sinar bintang yang berhamburan itu telah disampuknya, tujuannya untuk menyelamatkan jiwa sendiri.
Cepat sekali Beng Hoa sudah menerobos keluar, ginkang-nya lebih tinggi dari Hay Lan-ja, dalam sekejap jejaknya telah lenyap.
Khawatir dirinya belum juga mengalahkan Beng Hoa dan dilihat oleh Tong-bing-cu, dirinya tentu malu meski orang mungkin tak berani menertawakan dirinya secara langsung.
Syukur Beng Hoa sudah melarikan diri, kebetulan malah, maka dia bergelak tawa, serunya.
"Lawan sudah tari, tak usah dikejar."
Suaranya lantang sengaja biar didengar oleh Tong-bing-cu.
Betul juga tak lama kemudian Tong-bing-cu sudah muncul.
Tapi di luar dugaan Hay Lanja, Beng Hoa tidak lari jauh, dia hanya menyingkir agak jauh lalu bersembunyi lagi.
Mendekam di tanah, Beng Hoa mencuri dengar Tong-bing-cu sedang bertanya.
"Siapakah bangsat cilik itu, besar nyalinya."
"Siapa lagi, Beng Hoa murid Tan Khu-seng itu,"
Sahut Yang Kekbeng. Tong-bing-cu pura-pura kaget, serunya.
"Gurunya belum datang, bangsat ini berani datang lebih dulu. Tak nyana berani menyergap Hay-tayjin lagi."
"Bangsat cilik itu tak boleh dipandang ringan, kiamhoat-nya cukup lihay, tapi...."
"Kepandaian bangsat itu memang lihay tapi tetap bukan tandingan Hay-tayjin,"
Demikian Yang Kek-beng mengumpak. Hay Lan-ja tersenyum, katanya.
"Sebetulnya bisa aku bekuk bangsat itu, tapi toheng sudah datang. Aku tidak ingin menggagalkan urusan besar kita, terpaksa kubiarkan dia sementara ini. Yakin dia takkan lolos dari kelihayan toheng."
Beberapa patah kata saja, tugas meringkus Beng Hoa secara langsung dia alihkan ke pundak Tong-bing-cu.
"Betul, kalau bangsat itu tidak ditangkap kelak akan menjadi bibit bencana kita,"
Yang Kek-beng memberi dukungan pada usul Hay Lan-ja.
"Besok pagi akan kukerahkan murid kami untuk mencari jejaknya. Yang-heng teman-teman yang kau undang, apakah besok bisa tiba?"
"Sebagian besar di antaranya pasti sudah datang. Ya, kita bisa bekerja sama menggerebek bocah itu, dengan tenaga sebanyak itu pasti dapat membekuknya. Semoga malam ini dia tidak melarikan diri."
"Gurunya belum datang, kuduga dia tidak akan turun gunung,"
Demikian ucap Tong-bing-cu.
"Tapi malam ini tidak leluasa mengerahkan banyak orang."
"Ya, jangan mengejutkan orang banyak. Kedatanganku ini tidak ingin diketahui orang, marilah kita kembali ke Jing-hi-koan dulu, urusan besar kita harus lekas dibicarakan. Bangsat itu tentu sudah pecah nyalinya, mana berani mengganggu lagi. Eh, apakah kedatanganku tidak diketahui orang lain?"
Demikian tanya Hay Lanja. Tong-bing-cu menjawab.
"Hay-tayjin sudah berpesan supaya merahasiakan hal ini, terhadap muridku sendiri juga tidak kuberi tahu."
"Bagus sekali. Tapi ada satu hal perlu kutekankan kepadamu. Mulai sekarang jangan kau memanggilku Hay-tayjin. Aku adalah kacung sera-butan sementara, untuk membantu kesibukan di dapur kalian."
"Jangan khawatir, aku mengerti,"
Sambil bicara Tong-bing-cu menunjukkan jalan.
Percakapan selanjutnya Beng Hoa sudah tidak bisa menangkapnya Waktu Beng Hoa mengangkat kepalanya rembulan tepat bergantung di tengah angkasa ternyata sudah tengah malam.
Kekasihnya hilang, musuhnya telah pergi.
Malam sunyi tenang tapi perasaan Beng Hoa justru gundah dan ruwet.
Kejadian malam ini di luar dugaan sehingga seluruh rencananya semula menjadi batal.
Bukan saja jejaknya diketahui musuh, karena dia sudah tahu rahasia hubungan Tong-bing-cu dengan Hay Lan-ja, mereka pasti akan membunuh dirinya.
Itu berarti dia takkan bisa menemui ciangbunjin Kong-tong-pay sebagai wakil Thian-san-pay.
Beberapa jam lagi hari sudah akan terang tanah, besok lawan akan mengerahkan banyak orang mencari dirinya.
Apakah dia mampu menyembunyikan diri?
"Semoga besok pagi sam-suhu dan Kim tayhiap bisa tiba dan aku bisa bertemu.
Tapi pertemuan besar itu masih ada dua hari, tak mungkin besok mereka datang.
Celakanya begitu aku muncul, musuh segera mengepung diriku, apakah mereka mau memberi kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan Kim tayhiap dan suhu?
Lalu bagaimana baiknya?"
Angin pegunungan yang dingin menjernihkan pikiran Beng Hoa.
Lalu dengan cermat dia menyelusuri percakapan Tong-bing-cu dengan Hay Lan-ja dan Yang Kek-beng.
Mendadak dia mendapat akal, akal yang berani dan menyerempet bahaya "Mereka mengira aku tidak berani mengganggu mereka, aku justru bertindak di luar dugaan mereka Sebelum mereka mencari aku, malam ini aku justru datang ke tempat mereka.
Asal aku bertindak dengan cermat, berani dan tabah, bukan mustahil aku bisa mencari kesempatan menolong adik Ki.
Kalau adik Ki tertolong, Kim tayhiap takkan diperas mereka"
Siang tadi dia sudah menyelidiki di mana letak Jing-hi-koan, maka dia naik ke Toan-hun-gay, kira-kira menjelang kentongan keempat dia sudah sampai di Jing-hi-koan.
Tapi bangunan Jing-hikoan amat besar, kamarnya ada ratusan, entah Tong-bing-cu tinggal di sudut atau di kamar mana?
Sebelum dia bertindak, mendadak di belakang rumah sana seperti ada dua orang tengah bicara di antara pepohonan cemara.
Beng Hoa mengembangkan ginkang-nya dan merunduk ke sana Sejenak dia mendengarkan, diam-diam hatinya bersorak girang.
Satu di antaranya dia kenal suaranya yaitu murid Tong-bing-cu yang bernama Tay-ciok Tojin, dari percakapan mereka dia tahu seorang lagi adalah sute-nya Sute Tay-ciok Tojin sedang mengomel.
"Suhu terlalu banyak curiga. Larut malam begini mana ada mata-mata berani menyelundup ke Jing-hi-koan kita? Selama ini belum pernah diadakan jaga malam, malam ini justru kita harus menghirup malam dingin."
Selanjutnya mereka bicara tentang tamu-tamu yang datang secara misterius dan disambut guru mereka secara ramah dan hormat.
Sin Jit-nio menyekap diri dalam kamar bersama gadis tawanan entah di kamar mana Beng Hoa agak kecewa mendengar percakapan mereka, semula dia bermaksud untuk membekuk Tay-ciok Tojin dan memaksanya menunjukkan tempat Kim Bik-ki dikurung, agaknya perhitungannya meleset.
"Satu hal aku merasa heran,"
Ucap sute Tay-ciok Tojin.
"Suhu menyuruh aku mencari sepuluh perangkat pakaian para kacung di dapur kita, kau tahu untuk apa pakaian itu?"
"Aku tahu. Untuk dipilih supaya ada yang cocok untuk perawakan tamu kita itu."
"Kau bilang tamu itu punya kedudukan terhormat, kenapa mau menyamar menjadi kacung dapur?"
"Kenapa aku tidak tahu. Suhu hanya berpesan besok menyuruh aku membawanya menghadap koki dan berpesan kepada koki, supaya memberi kebebasan kerja apa saja yang ingin dia lakukan, tidak boleh mencampuri urusannya."
"Kau tidak dengar persoalan apa yang dibicarakan suhu dengan dia?"
"Waktu itu mereka sudah selesai bicara, dengan sikap hormat dan membungkuk-bungkuk suhu sedang persilakan tamu itu beristirahat."
Sampai di sini mendadak Beng Hoa mendapat akal lain, dia melompat keluar.
Sekali tuding dia totok hiatto sute Tay-ciok Tojin, sebelum Tay-ciok sempat menjerit, kuduknya sudah dicengkeram Beng Hoa.
Tangan Beng Hoa yang lain mengancam Tay-cui-hiat di punggungnya, katanya lirih di pinggir telinganya.
"Patuhi perintahku dan lakukan, awas jiwamu."
Tay-cui-hiat adalah salah satu hiatto besar yang mematikan. Tayciok Tojin tahu jiwanya terancam, lekas dia meratap.
"Hohan (orang gagah) ada pesan apa?"
"Bawa aku menemui gurumu."
"Itu mudah, tapi...."
"Tapi apa?"
"Coba jelaskan, sebelum bertemu dengan guruku, kalau ada orang bertanya bagaimana aku harus memberi jawaban."
"Bukankah kau bilang gurumu hanya mengutus kalian berdua jaga malam? Apalagi kau murid tertua? Kecuali gurumu, tamu yang kau bawa masuk siapa berani tanya?"
"Sekarang ada orang luar dalam biara besar kami, umpama kepergok mereka dan terjadi sesuatu yang di luar dugaan, jangan kau limpahkan kesalahan kepadaku lho."
Bukan dia khawatir Beng Hoa membunuh gurunya, tapi dia takut kalau Beng Hoa membunuh dia malah.
Dia mengira Beng Hoa bukan tandingan gurunya, di luar tahunya tiga tahun yang lalu Tong-bing-cu sudah pernah dikalahkan oleh Beng Hoa.
"Baiklah, kalau terjadi sesuatu aku yang akan menghadapi, kau tak perlu khawatir. Asal kau patuh akan perintahku, aku tidak akan membunuhmu."
Lalu dia lepaskan Tay-ciok Tojin lalu melepaskan pakaian sute-nya.
Setelah mengenakan jubah orang, Beng Hoa menurunkan capingnya hingga menutupi mukanya, lalu dia bebaskan hiatto Tayciok Tojin, katanya.
"Jangan berusaha lari, aku menutup hiatto yang tersembunyi. Boleh kau coba mengerahkan tenaga coba membebaskan totokanku. Gurumu pun takkan mampu membebaskan. Kalau kau ngotot berusaha membebaskan totokanku, dalam tiga hari urat nadimu akan pecah dan jiwa melayang-Jangan kau kira aku menggertakmu."
Tay-ciok coba mengerahkan hawa murni, seketika perutnya kesakitan seperti diiris-iris, karuan tersi-rap darahnya.
"Baiklah, hayo jalan, kau tahu keadaan di sini, lewatlah jalan yang tak mungkin dilihat orang. Asal kau tak mengerahkan tenaga menjebol totokan, ginkang-mu masih bisa kau kembangkan. Begitu bertemu dengan gurumu, segera kubebaskan totokan yang tersembunyi itu."
Karena dia menyamar menjadi sute Tay-ciok Tojin, berjalan bersama sang suheng dengan leluasa mereka masuk ke dalam biara.
Malam gelap orang sukar melihat wajahnya, meski ?
kepergok beberapa murid Kong-tong-pay yang bertugas malam, ternyata mereka tiada yang curiga.
Tujuan Beng Hoa adalah menggunakan cara yang sama membekuk Tong-bing-cu sebagai sandera.
Maklum tiga tahun yang lalu Tong-bing-cu sudah bukan tandingannya, selama tiga tahun ini dia yakin kemajuannya jauh di atas Tong-bing-cu.
Dengan gerak kilat dia yakin dapat membekuk Tong-bing-cu.
Dalam Jing-hi-koan yang dikhawatirkan hanya Hay Lan-ja seorang, tapi dia memperkirakan orang sudah masuk kamar beristirahat.
Tay-ciok Tojin membawanya berputar-putar, makin lama makin dalam, saat itu mereka berjalan ke arah timur, mendadak Beng Hoa menangkap pembicaraan orang di arah barat.
Bila dia perhatikan suaranya seperti Tong-bing-cu.
Tapi jaraknya jauh, terpaut beberapa bangunan rumah lagi hingga percakapan mereka kurang jelas.
Seorang lagi juga bicara, setelah didengarnya Beng Hoa kenal itu suara Sin Jit-nio, karena suaranya lebih keras, kedengarannya sedang membicarakan Kim Bik-ki.
Pendengaran Tay-ciok Tojin tidak setajam Beng Hoa, dia masih terus beranjak ke timur, mendadak Beng Hoa meraihnya dan berbisik di pinggir telinganya.
"Gurumu ada di sebelah barat."
Tay-ciok Tojin melenggong, katanya.
"Ah, tak mungkin? Kamar tidur guruku ada di sebelah timur, setelah melewati dua pekarangan lagi akan sampai."
"Jangan sampai kau menipuku,"
Ucap Beng Hoa dingin.
"Aku sudah mendengar suaranya."
"Aku masih ingin hidup, mana berani menipumu. Kau bilang dia di barat, boleh kita ke;sana. Mungkin dia punya urusan dan sedang bicara dengan tamu."
Setelah beberapa jauh mereka menuju ke arah barat, percakapan Tong-bing-cu dengan Sin Jit-nio makin jelas, kini Tay-ciok Tojin juga sudah mendengar. Tong-bing-cu sedang berkata.
"Bukan aku takut kepada Kim Tiok-liu, tapi kau harus tahu, kalau tidak terpaksa ciangbun suheng-ku tidak mau bermusuhan dengan dia. Maka puterinya harus kita layani secara baik, jangan menyiksanya."
"Oh, maksudmu akan menyerahkan budak itu kepada suhengmu?"
"Bukan begitu, walau tahu akan hal ini, suheng tidak mau turut campur. Tapi dia pernah berpesan kepadaku, maka tidak enak aku mengingkari pesannya. Tolong kau berikan obat penawarnya kepadaku, biaraku sendiri yang mengawasinya."
"Kau tuan rumah, boleh saja kalau kau mau mengawasinya. Kenapa kau minta obat penawar?"
Tong-bing-cu tertawa, katanya.
"Umpama kungfunya pulih juga dia takkan lolos dari tanganku. Kita hanya menyandera dia, buat apa harus membuatnya menderita. Kalau kita menawannya secara wajar dan baik, bila kelak terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan kita, kita masih punya muka untuk berhadapan dengan Kim Tiok-liu."
Sin Jit-nio geram, katanya.
"Yang terang kau takut kepada Kim Tiok-liu. Bila perlu kau bisa menjadi orang baik, perbuatan kotor dan jahat kau limpahkan padaku."
Tong-bing-cu berkata.
"Jangan salah paham, langkahku ini untuk menjaga segala kemungkinan. Kan kita sudah sepakat maju mundur bersama. Jikalau kau masih khawatir, biar aku bersumpah kepada Yang Maha Kuasa, jikalau Sin Jit-nio tertimpa malang, biar Tongbing-cu mendapat ganjaran yang lebih."
Sementara itu Beng Hoa sudah menggusur Tay-ciok memasuki pekarangan. Tay-ciok Tojin juga mendengar apa yang diucapkan Tong-bing-cu. Tergerak hati Tay-ciok Tojin, pikirnya.
"Kenapa suara suhu berbeda?"
Karena curiga dia membatin.
"Waktu bersumpah kenapa suhu tidak menyebut 'aku*, tapi menggunakan gelarnya? Mungkinkah ada orang menyamar menjadi suhu, dia bilang Tongbing-cu mendapat ganjaran setimpal, berarti tiada sangkut paut dengan dirinya."
Didengarnya Sin Jit-nio sedang berkata.
"Jangan serius, kau tuan rumah, bagaimana kau ingin mengurus budak itu terserah saja, kau ingin obat penawarnya, ini...."
"Sin Jit-nio,"
Ucap Tong-bing-cu tertawa.
"masa kau tidak percaya kepadaku?"
Mendengar Tong-bing-cu bersikap sopan terhadap tawanannya, kesan Beng Hoa terhadapnya agak berubah, maka dia bertekad melaksanakan' rencana semula.
Setelah membebaskan totokan Tayciok Tojin, dia berkata perlahan.
"Tiada urusanmu lagi, enyahlah kau."
Tay-ciok Tojin menjadi bimbang, khawatir guru palsu berhasil menipu obat penawar, maka dia berlari seraya berteriak.
"Suhu, lekas kemari."
Sementara itu Sin Jit-nio baru mengeluarkan obatnya dan belum diserahkan kepada Tong-bing-cu.
Mendengar teriakan Tay-ciok Tojin, segera dia batal memberikan obatnya.
Beng Hoa memang kurang pengalaman, tidak menyadari bahwa Tong-bing-cu yang ada di rumah ini adalah samaran orang, dalam sedetik itu dia tidak memikirkan kenapa Tay-ciok Tojin memanggil gurunya.
Sebat sekali laksana panah terlepas dari busur dia meluncur ke dalam rumah turun di depan Tong-bing-cu, dengan serangan kilat dia menusuk Tong-bing-cu.
Setelah menyimpan obat penawarnya, Sin Jit-nio juga melompat ke pinggir.
Sementara pedang Beng Hoa sudah mengancam hiatto pelemas di bawah iga Tong-bing-cu.
"Cret"
Pakaian Tong-bing-cu berlubang, namun tusukan kilat Beng Hoa yang lihay ternyata tidak menusuk hiatto-nya.
Sekali berkelebat, sebat sekali orang berhasil mengelak.
Karuan Beng Hoa heran, kenapa ginkang Tong-bing-cu mendadak setinggi ini?
Sepertinya dia sudah kenal gerakan ginkang tinggi ini, namun sukar diingatnya lagi.
Gerak-gerik orang ini memang luar biasa, di bawah rangsakan pedang kilat Beng Hoa ternyata dia masih bergerak bebas, malah Sin Jit-nio yang menonton dari samping sudah yakin pedang Beng Hoa beberapa kali sudah menusuk tubuhnya, tapi dia tidak luka, hanya bayangannya tak lepas dari lingkaran pedang Beng Hoa.
"Ya, orang ini bukan Tong-bing-cu,"
Akhirnya Beng Hoa sadar dan ingat akan satu orang. Baru saja dia mau menghentikan serangan, pada saat itulah didengarnya seseorang membentak.
"Siapa bernyali besar berani menyamar diriku?"
Maka melompatlah seseorang yang berwajah mirip Tong-bing-cu, ternyata Tong-bingcu yang asli datang.
Saat itu Tong-bing-cu palsu juga baru mengenali Beng Hoa, sebelum Tong-bing-cu menubruk tiba, serangan Beng Hoa juga mendadak berhenti, maka lekas dia berteriak.
"He, kau adalah Beng Hoa, lekas-lekas lari."
Begitu orang ini buka suara, Beng Hoa lantas tahu siapa dia.
Ternyata maling sakti nomor satu sejagat Kwi-hwe-thio yang pernah beberapa kali membantu dirinya.
Bukan saja Kwj-hwe-thio terkenal sebagai maling sakti nomor satu sejagat, kepandaian tata riasnya hanya dapat ditandingi oleh teman baiknya, Li-ma-cu, si maling nomor dua di kolong langit.
Begitu menyadari penyamarannya, sungguh kaget, girang, tapi juga menyesal Beng Hoa, kenapa bekerja kurang teliti; bukan saja rencananya gagal, usaha Kwi-hwe-thio menipu obat penawar juga gagal.
Kwi-hwe-thio tidak sempat bicara, setelah menyuruh Beng Hoa lekas lari, dia pun melompat tinggi ke luar pekarangan.
Sin Jit-nio menyambut dengan tiga amgi beracun, tapi mana mampu mengenainya?
Pada saat itulah seseorang mendadak membentak.
"Hayo turun!"
B.elum datang orangnya, Bik-khong-ciang sudah melanda Kwi-hwethio.
Tapi Kwi-hwe-thio bukan jatuh ke dalam tapi terjungkal ke luar tembok.
Begitu jatuh segera dia merangkak bangun dan berlari.
Yang memukul dengan Bik-khong-ciang adalah Hay.
Lan-ja Ternyata pendengaran Kwi-hwe-thio lebih tajam, sebelum Beng Hoa tahu, dia sudah mendengar langkah Hay Lan-ja yang lari mendatangi, maka dia menyuruh Beng Hoa lekas lari.
Dia tahu ginkang Beng Hoa bukan tandingannya, tapi masih lebih tinggi dari Hay Lan-ja Dia mengira Beng Hoa akan ikut dia lari, maka dia tidak khawatir Beng Hoa tidak akan lolos.
Tiada tempo dia menunggu Beng Hoa karena dia harus mengerjakan tugas lain yang lebih penting.
Rencana Beng Hoa hendak membekuk Tong-bing-cu sebagai sandera, melihat Tong-bing-cu muncul, kesempatan tidak disiasiakan.
Di saat Hay Lan-ja memukul Kwihwe-thio, saat itu pula dia cecar Tong-bing-cu dengan pedang kilat.
Tong-bing-cu sudah mendengar suara Hay Lan-ja, maka dia tidak gentar, bentaknya.
"Bocah keparat, kiranya kau!"
"Trang"
Pedang beradu, Tong-bing-cu hampir tak kuat memegang pedangnya.
Namun Tong-bing-cu mengubah gerakan dengan sebat, membungkukkan tubuh dengan gaya Hu-te-jam-hou (Mendekam di tanah membabat harimau).
Gerakannya cukup tangkas, tapi Beng Hoa lebih cepat.
Sebelum ujung pedangnya menyentuh tumit Beng Hoa, terasa pundaknya dingin, ternyata pakaiannya sudah berlubang oleh ujung pedang Beng Hoa yang mengancam Jian-kin-hiat-nya.
Takut tulang pundaknya tertusuk, lekas dia menarik pundak menurunkan rubuh, berbareng dengan jurus Ki-hwe-liau-thian pedangnya menyampuk ke atas seraya balik menusuk lambung Beng Hoa.
Jurus ini sebetulnya cukup lihay, mengancam jiwa lawan sebelum melukai dirinya, sayang gerakannya lebih lambat, terdengar "Trang"
Kali ini pedang panjang Tong-bing-cu mencelat terbang, pundaknya juga tergores luka untung tidak melukai tulang pundaknya.
Dalam tiga gebrak Beng Hoa memang berhasil memukul jatuh pedang Tong-bing-cu dan melukainya, tapi belum berhasil membekuknya sebagai sandera.
Maklum Tong-bing-cu adalah jago pedang nomor satu dari Kong-tong-pay, jikalau Beng Hoa menyergapnya di saat dia tidak siaga mungkin bisa berhasil dalam segebrak.
Kini tiga jurus baru ' memukul jatuh senjatanya, sementara bantuan musuh sudah tiba.
Tahu dirinya tak mampu mengejar Kwi-hwe-thio, segera Hay Lan-ja memburu ke dalam.
Sebelum tiba dia lontarkan Bik-khongciang, hingga tusukan pedang Beng Hoa ke arah Tong-bing-cu dipukulnya miring.
Dengan jungkir balik menggunakan gerakan Burung Bangau Terbang ke Langit, Beng Hoa melompat tinggi melampaui tembok.
Sin Jit-nio bersembunyi di sudut tembok, melihat orang melayang ke atas tembok dia kaget dan mendekam, namun tak lupa dia menyambitkan sebuah cincin.
Beng Hoa tak sempat menghiraukan perempuan beracun ini, di tengah udara dia memutar pedang.
"Trang"
Cincin itu dipukulnya jatuh menjadi dua.
"Bocah, mau lari ya?"
Bentak Hay Lan-ja.
Sigap sekali dia pun melompat ke atas tembok, lalu melontarkan Bik-khong-ciang ke arah muka Beng Hoa.
Lwekang Beng Hoa memang tidak setangguh Hay Lan-ja, tapi dipukul jarak jauh pantasnya takkan tergetar jatuh, tapi entah kenapa, begitu kaki menyentuh tembok, sebelum Beng Hoa melompat, mendadak dadanya sesak, tahu-tahu dia terjungkal oleh pukulan orang.
Sebelum menyentuh tanah, pedang panjang Beng Hoa membalik menusuk tembok sehingga tubuhnya mencelat balik ke atas.
"Sret"
Tusukannya menyongsong Hay Lan-ja yang menubruk turun.
Beng Hoa mengertak gigi, dengan jurus Ban-li-hwi-siang (Salju beterbangan laksaan li) menyusul dengan jurus Jian-san-lok-bok (Balok jatuh di ribuan gunung) hanya sekejap tampak pekarangan seperti dipenuhi kilauan sinar pedang.
Sebatang pedang di tangannya seperti berubah menjadi ratusan batang, lapisan sinar pedang menusuk dengan gencar dari berbagai arah kepada Hay Lan-ja.
Hay Lan-ja menyaksikan lawan telah terpukul jatuh oleh pukulannya, tak nyana kiamhoat-nya masih begini lihay, mau tidak mau terkejut hatinya, sepenuh perhatian dia hadapi rangsakan Beng Hoa.
Beng Hoa melancarkan ilmu pedang adu jiwa, sekaligus tigapuluh enam jurus serangannya tidak membawa hasil, mendadak dia merasa tenaganya tidak mampu dikerahkan sesuai keinginan, karuan dia kaget juga heran.
"Kenapa aku jadi begini tak becus?"
Setelah ganti napas, baru Sin Jit-nio berteriak.
"Hay-tayjin, tak perlu kau adu jiwa dengan bocah itu, cukup kau melibatnya saja, dia tidak akan bisa lari."
Ternyata cincin sambitan Sin Jit-nio tadi kosong bagian tengahnya, di dalamnya ada tersimpan bubuk racun yang amat lihay.
Karena Beng Hoa menabas kutung cincin itu hingga bubuk di dalamnya berhamburan, tanpa sadar dia sudah menghirup bubuk racun itu.
Baru sekarang Beng Hoa sadar telah kecundang oleh kelicikan musuh.
Pikirnya.
"Tak mampu lari juga aku pantang jatuh di tangan musuh"
Baru saja dia membalikkan pedang hendak menggorok leher sendiri, mendadak pandangannya menjadi gelap.
"Trang"
Goloknya terpukul jatuh oleh Hay Lan-ja, orangnya pun jatuh pingsan.
Entah berselang beberapa lamanya, baru Beng Hoa siuman.
Semula kepala masih pusing tujuh keliling, sesaat lamanya baru dia ingat kejadian yang menimpa dirinya, dia insyaf bahwa dirinya sudah tertawan musuh.
Dia coba bergerak, ternyata badannya tak bertenaga.
Setelah pikirannya lebih jemih, Beng Hoa baru tahu dirinya disekap dalam sebuah kamar gelap, di luar seperti ada orang bicara.
Memang dia rebah di tanah, walau kungfunya punah tapi kepandaian mendekam di tanah mendengarkan suara masih mampu dilakukan, dengan seksama dia mendengar sebuah suara serak berkata, ''Tidak boleh."
Menyusul suara Tong-bing-cu berkata.
"Suheng, kau masih mempertahankan jiwa bocah itu?"
"Betul,"
Sahut suara serak tua itu.
"kejadian ini harus dibereskan secara baik, kularang kau membunuh bocah she Beng itu."
Beng Hoa tahu yang berdebat dengan Tong-bing-cu adalah ciangbunjin Kong-tong-pay yaitu Tong-cin-cu.
Tong-bing-cu bertekad membunuhnya, tapi Tong-cin-cu melarangnya.
Timbul sepercik harapan dalam diri Beng Hoa.
Didengarnya nada Tong-bing-cu berubah dingin.
"Suheng, tahukah kau siapa bocah she Beng itu? Dialah murid Tan Khu-seng. Kali ini kita mengadakan pertemuan besar dengan tujuan mencuci bersih nama baik perguruan, membabat rumput kalau tidak seakarakarnya, kelak mendatangkan bencana."
"Aku tahu,"
Ujar Tong-cin-cu.
"Tapi apa kau tahu kedatangannya sekarang sebagai apa?"
"Sebagai apa?"
"Sekarang belum bisa kupastikan, tapi kalau kotak sutera ini di tangannya, perlu aku tanya dulu kepadanya."
Setelah Beng Hoa tertawan, Tong-bing-cu menggeledah badannya dan menemukan kotak sutera milik suheng-nya yang dikirim kepada Teng King-thian.
Setelah tahu isi kotak itu hatinya amat kaget.
meski ciangbun suheng-nya membela dirinya.
Urusan tidak boleh gegabah, meski tujuannya hendak merebut jabatan ciangbun dari tangan sang suheng.
Maka lahirnya dia tetap bersikap patuh dan hormat kepadanya.
Setelah hal ini dia laporkan kepada sang suheng, bila berhasil membujuknya baru membunuh Beng Hoa.
Di luar dugaannya, suheng-nya menentang langkahnya.
"Suheng, kotak ini kau titipkan kepada Teng Ka-gwan untuk diserahkan kepada ayahnya, bukan?"
"Ya, kenapa?"
"Kepandaian Beng Hoa bocah itu lebih lihay dari Tan Khu-seng, namun dengan bekal kepandaiannya untuk merebut kotak ini dari tangan Teng King-thian tidak mungkin, tapi kalau merebut dari tangan Teng Ka-gwan mungkin masih mampu. Aku tidak percaya persoalan besar yang begini rahasia, Teng King-thian mau menyerahkan kepada bocah ini."
"Apa pun harus ditanyakan dulu. Coba kau masuk dan periksa apakah dia sudah siuman?"
"Bocah itu menghirup Bit-hun-hiang Sin Jit-nio, malah dicekoki Hap-kut-san lagi. Paling cepat besok baru dia sadar."
Beng Hoa sadar, keadaannya seperti Kim Bik-ki, di samping menghirup Bit-hun-hiang dia juga dicekoki Hap-kut-san, tapi karena dia memiliki ajaran lwekang Thio Tan-hong dan ajaran Persia dalam tiga jam dia sudah sadar.
"Apa kau tidak bisa minta obat penawarnya kepada Sin Jit-nio?"
Desak Tong-cin-cu.
"Suheng,"
Desis Tong-bing-cu dingin.
"bukan kau tidak tahu watak Sin Jit-nio, aku tak mau ketemu batu. Semalam ada orang menyaru diriku hendak menipu obat penawarnya, maka dia tidak mau memberikan obatnya kepada siapa pun."
"Obat penawar Hap-kut-san boleh tidak usah, apakah penawar Bit-hun-hiang juga tidak boleh kau minta?"
"Aku yakin dia tidak mau memberi. Suheng, boleh kau mencobanya sendiri."
Tong-cin-cu agak marah, katanya.
"Baiklah, pertemuan besar akan dibuka besok siang, besok pagi yakin dia sudah sadar, masih ada waktu aku bertanya kepadanya, kau serahkan dia kepadaku."
"Kau hendak membawanya, memangnya kau tidak percaya kepadaku?"
"Bukan tidak percaya, aku hanya ingin lekas tahu duduk persoalannya, begitu dia sadar aku akan segera tanya. Bila dia di tempatku, aku tak usah pergi datang. Kau tidak mau menyerahkan padaku, memangnya kau tidak percaya kepadaku?"
Didesak oleh ciangbun suheng, Tong-bing-cu tak bisa menolak lagi, katanya.
"Suheng, setelah kau tahu duduk perkaranya, apa tindakanmu?"
"Kalau dia bukan utusan Teng King-thian kuserahkan kepadamu, boleh kau membunuhnya."
"Kalau betul dia utusan Teng king-thian?"
"Aku punya cara untuk menyelesaikan urusan ini, pendek kata aku tidak akan membebaskan dia secepatnya hingga dia mempersulit dirimu, jangan khawatir."
Tong-bing-cu masih ingin bicara, Tong-cin-cu segera mendahului.
"Puteri Kim Tiok-liu aku serahkan kepada kalian, bocah she Beng ini harus kau serahkan kepadaku."
Diam-diam Tong-bing-cu kaget.
"Kukira dia tidak tahu, entah siapa memberi tahu kepadanya, aku harus memeriksa secara teliti,"
Demikian batinnya.
Beng Hoa pura-pura tidur pulas, pemapasan sengaja dia bikin lemah.
Terdengar langkah kaki mendekati dirinya, Tong-cin-cu meraba pemapasannya serta memegang tangan mengguncang tubuhnya, terasa oleh Beng Hoa pergel angan tangannya linu dan gatal.
Untung hawa murni dalam tubuhnya masih terus bekerja, maka dia masih kuat bertahan tidak sampai mengeluarkan suara.
"Racun Sin Jit-nio memang li-hay, dia belum siuman. Aku khawatir dia keracunan terlalu berat, duabelas jam juga belum tentu siuman.
"Aku sudah menyerahkan dia kepadamu, mati hidupnya menjadi tanggungjawabmu. Suheng, bagaimana kau akan membawanya? Kuharap kejadian ini tidak diketahui banyak orang."
"Ya, suruhlah Tay-ciok kemari,"
Ucap Tong-cin-cu. Setelah Tayciok masuk, dia berkata pula.
"Sute, pinjam kopor pakaianmu ini. Kopor sebesar ini tentu cukup untuk muat satu orang."
Tong-bing-cu mengeluarkan pakaiannya, Tay-ciok menggotong Beng Hoa dan memasukkannya ke dalam kopor.
Tay-ciok Tojin memanggul kopor ini ke kamar sang supek.
Dalam kopor gelap pekat, Beng Hoa tak dapat melihat apa-apa, namun terasa perjalanan cukup jauh, belak-belok lagi, akhirnya Tayciok Tojin menurunkan kopor itu.
Lalu katanya.
"Supek masih ada pesan apa?"
"Tidak ada urusanmu di sini, kembalilah. Kejadian hari ini jangan kau katakan kepada yang lain."
"Tecu mengerti,"
Sahut Tay-ciok Tojin.
Lalu dia mohon diri.
Beng Hoa mendengar suara pintu ditutup perlahan.
Di saat dia berpikir bagaimana nanti harus bicara dengan Tong-cin-cu, apakah sekarang masih perlu pura-pura pingsan?
Tiba-tiba Tong-cin-cu membuka tutup kopor dan berkata.
"Jangan pura-pura lagi, keluarlah."
Tong-cin-cu memang bukan tan-dingan Tong-bing-cu, tapi latihan lwekang-nya jauh lebih tinggi dari sang sute.
Waktu memegang tangan Beng Hoa dan mengguncang badannya tadi, ibu jarinya tepat menekan urat nadinya, berarti memeriksa denyut nadinya.
Saat itu juga dia sudah tahu kalau Beng Hoa hanya purapura pulas.
Cuma yang belum berani dia pastikan ialah apakah kungfunya sudah pulih atau belum?
"Harap tay-susiok periksa adanya.
Tecu memang sudah sadar setengah jam tapi tenaga untuk merangkak masih belum ada."
Maka Tong-cin-cu mencengkeram pundaknya lalu menjinjingnya keluar. Didapatinya kungfu Beng Hoa memang lumpuh, tenaganya juga lemah mirip orang yang baru sakit lama. Legalah hatinya, katanya.
"Kau sudah siuman setengah jam, berarti kau sudah mendengar percakapanku dengan sute?"
"Mohon ampun tay-susiok, tecu mencuri dengar tidak sengaja."
Tong-cin-cu menarik muka, katanya.
"Gurumu sudah diusir dari perguruan, kau juga pernah melukai Tong-bing-cu sute. Mana berani aku menerima panggilan tay-susiok?"
"Tecu dipaksa turun tangan kepada Tong-bing-cu."
Karena mem-. benci Tong-bing-cu, maka dia menyebut langsung namanya. Karuan Tong-cin-cu lebih kurang senang.
"Kepandaianmu memang lebih tinggi dari semua orang-orang Kong-tong-pay, tak perlu kau basa-basi lagi. Marilah kita bicara terus terang saja. Setelah kau mendengar percakapanku tadi, tentu kau tahu soal apa yang ingin kutanyakan kepadamu. Jawablah."
Beng Hoa tidak mau banyak bicara, karena dirinya tidak dihargai maka dia tidak mau balas menghargai, maka dia mengubah sikap.
"Dugaan kau orang tua memang betul. Kotak sutera itu memang kuterima langsung dari ciangbunjin Thian-san-pay Teng King-thian untuk dikembalikan kepadamu."
Tong-cin-cu kaget, katanya.
"Kalau begitu kau datang mewakili Teng King-thian. Berdasar apa kau berani mewakili dia datang kemari?"
"Aku datang sebagai dua pihak."
"Dua pihak?"
"Satu sebagai murid angkat Thian-san-pay, kedua sebagai murid Tan Khu-seng yang telah dipecat dari Kong-tong-pay."
"Bagaimana kau bisa menjadi murid angkat Thian-san-pay?"
"Panjang ceritanya. Kuharap ciangbun percaya, ufusan cukup penting, aku tak berani menipu kau orang tua."
"Jadi Teng King-thian menerima kau sebagai murid angkatnya?"
"Berkat penghargaan ciangbunjin Thian-san-pay, beliau mengangkatku sebagai murid angkat Thian-san-pay, tapi bukan muridnya."
Tong-cin-cu maklum, rasa kagetnya lebih besar, katanya.
"Kalau demikian bukankah Teng King-thian anggap kedudukanmu setingkat dengan dia?"
Beng Hoa rikuh memberi jawaban, maka dia diam saja sebagai jawaban. Di samping kaget Tong-cin-cu juga merasa mendongkol, katanya.
"Teng King-thian mengapa demikian, apa sih maksudnya?"
"Dia mengharap persoalan didamaikan. Maka dia menyuruh aku datang menemuimu dengan dwi fungsi. Di samping mewakili dia menjadi penengah, lalu sebagai murid Tan Khu-seng yang sudah dipecat mohon kau orang tua memaklumi keadaan guruku."
Tong-cin-cu menarik muka, katanya.
"Sebagai Kong-tong ciangbun, dalam hal membersihkan nama baik perguruan, pasti akan kuselesikan secara adil, orang luar tak perlu banyak mulut. Dwi fungsimu tidak berguna."
Habis berkata dia menge-bas lengan baju lalu berdiri.
"Bukankah kau mengundang Teng tayhiap kemari supaya dia menegakkan keadilan? Jikalau orang luar tidak boleh omong, bagaimana orang luar bisa menegakkan keadilan?"
Tong-cin-cu makin gusar, katanya.
"Yang kuundang adalah ciangbunjin Thian-san-pay Teng Kingthian Teng tayhiap. Meski kau mewakili dia, belum setimpal kau kemari menegakkan keadilan."
Matanya mendelik penuh emosi, sorot matanya memancarkan sinar dingin, jelas nafsunya telah bangkit.
Maksud Tong-cin-cu mengundang Teng King-thian menegakkan keadilan, tujuannya adalah untuk menghadapi Kim Tiok-liu.
Dengan harapan setelah membaca berkas-berkas dalam kotak sutera, Teng King-thian percaya bahwa Tan Khu-seng memang setimpal dihukum mati, serta mendukungnya membersihkan nama baik perguruan.
Maka dia tidak perlu gentar meski Tan Khu-seng membawa Kim Tiok-liu sebagai tulang punggungnya.
Sungguh di luar dugaan bahwa wakil yang diutus Teng King-thian justru Beng Hoa murid Tan Khu-seng.
Jikalau malam ini Beng Hoa tidak tertimpa musibah masih mending, tapi Beng Hoa bentrok dengan Tong-bing-cu dan tertawan.
Betapa celaka urusan ini, sungguh membuatnya bingung dan kehabisan akal.
Jelas dia tidak bisa mengharapkan bantuan Beng Hoa untuk menegakkan keadilan karena posisinya yang tersudut.
Apalagi ada beda pendapat antara dia dengan sang sute, namun kepentingan mereka dalam perguruan tak berbeda jauh, maka sikapnya terhadap Beng Hoa pun menjadi kasar.
Beng Hoa gugup, katanya.
"Baiklah, biar aku bicara sebagai murid Tan Khu-seng. Ciangbun, kalau kau bertindak secara adil memang patut dipuji, kuharap kau tidak hanya mendengar tuduhan sepihak. Harap ciangbun maklum, dalam perkara ini guruku difitnah."
Tergerak hati Tong-cin-cu, dia tekan amarahnya, katanya.
"Dari mana kau tahu dia difitnah? Kau punya bukti apa?"
Agaknya dia curiga Tan Khu-seng membeber perkaranya kepada muridnya, kalau Beng Hoa tahu, tentu Teng King-thian juga tahu.
"Walau aku tidak mendapatkan bukti, tapi bersama Teng tayhiap aku sudah mempelajari berkas-berkas itu, terasa banyak segi-segi kelemahan dalam bahan-bahan yang terkumpul dan patut dicurigai. Ciangbun, menurut pendapat kami kemungkinan kau telah ditipu dan dikelabui oleh Tong-hian-cu dan Tong-bing-cu. Tong-hian-cu sudah meninggal, hanya Tong-bing-cu saja yang bisa memberi keterangan sebenarnya."
Uraian Beng Hoa masih samar-samar, hanya merasa curiga saja, hal ini melegakan hati Tong-cin-cu, katanya.
"Aku tidak mau mendengar omonganmu, seharusnya aku harus menghukummu karena kurang ajar kepada orang tua. Tapi memandang muka Teng tayhiap, hukumanmu kuubah kurungan duapuluh tahun."
Duapuluh tahun lagi Teng Kingthian sudah meninggal. Boleh tidak usah menepati janjinya semula. Gugup dan gusar hati Beng Hoa, teriaknya.
"Kau tua bangka yang ceroboh. Tahukah kau Tong-bing-cu sudah sekongkol dengan Hay Lan-ja hendak merebut jabatan ciang-bun-mu?"
"Bukan saja kurang ajar, kau berani memecah belah hubungan baik kami sesama saudara seperguruan. Haaa! Sungguh menggelikan, ja-batanku ini memang hendak kuserahkan kepadanya, buat apa harus merebut?"
Beng Hoa mengira orang percaya kata-kata Tong-bing-cu, melihat orang hendak pergi, saking gugup mendadak dia menubruk maju serta memegang pinggangnya, teriaknya.
"Ciangbun...."
Tong-cin-cu kaget, bentaknya.
"Apa yang kau lakukan?"
Kedua tangannya terayun ke belakang.
"Bluk"
Beng Hoa terpental jatuh dengan keras.
Merasa tenaga orang memang belum pulih legalah hati Tong-cin-cu.
Beng Hoa lemas lunglai tak mampu bergerak, mendadak dia bisa melompat, meski sebera dihempaskan oleh Tong-cin-cu namun kejadian ini cukup membuatnya kaget dan heran.
"Aneh kenapa aku mampu bergerak dan punya sedikit tenaga?"
Tapi setelah terbanting dia tak mampu bangun lagi.
"Ciangbun, kau tidak tahu, dia bersekongkol dengan Hay Lan-ja dan membuat rencana jahat hendak menjaring seluruh tamu-tamu yang hadir termasuk Kim tayhiap, mampukah kau memikul tanggung jawab?"
Seru Beng Hoa dengan tersengal. Berubah air muka Tong-cin-cu, bentaknya.
"Omong kosong, untuk mengadu domba kami, tak usah kau mengarang cerita bohong."
"Tapi itu kenyataan, bukan bohong, kuharap kau dengar...."
"Jangan membual, aku tak mau mendengar ocehanmu,"
Bentak Tong-cin-cu, sebelah kakinya mendadak terangkat dan dihentakkan ke lantai.
Terdengar suara berkeretekan, lantai kamar itu mendadak anjlok ke bawah.
Beng Hoa yang lunglai kontan melorot jatuh ke bawah.
Ternyata di bawah kamar terdapat kamar tahanan bawah tanah setinggi tujuh tombak.
Untung Beng Hoa sudah siaga, begitu mendengar suara ke-retekan diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya, maka dia tidak jatuh pingsan, cuma pusing tujuh keliling.
Lama kemudian baru pikiran Beng Hoa jernih, semangat pun agak pulih, tapi sekujur badan linu pegal hingga tenaga pun tak mampu dikerahkan.
Sejak mengembara tidak jarang Beng Hoa hidup sengsara dan menderita, tapi tidak menderita seperti sekarang.
Seperti dijebloskan ke neraka paling bawah, menghadapi kegelapan melulu, dia sudah mulai putus asa.
Tapi lama terbenam dalam kegelapan juga membuat gejolak hatinya makin tenteram, pikirannya makin tenang dan dapat berpikir secara cermat.
Dikurung di tempat gelap yang tinggi, orang luar jelas tak mungkin menolongnya.
Untuk keluar dari sini harus berjuang dengan kekuatannya sendiri.
Dalam gugupnya tadi tanpa sadar dia mampu menubruk Tongcin-cu.
Walau tenaga hanya timbul sekejap, namun sudah berarti mampu mengerahkan tenaga.
Waktu itu, dia pun keheranan, entah dari mana datangnya tenaga ini?
Kini setelah pikiran tenang, dia' mulai menerawang.
"Mungkinkah lwekang sim-hoat yang pernah kupelajari di Thian-san, di luar sadarku telah menimbulkan reaksi dalam tubuhku?"
Dia memejamkan mata mengulangi kembali ajaran lwekang dari Thian-tiok serta lwekang dari Persia. Akhirnya timbul harapan dalam benak.
"Di dalam ajaran lwekang Persia ada suatu cara menyalurkan tenaga, cara ini dapat membantu seorang yang sakit parah sembuh dari keadaan yang lumpuh, entah cara ini mampu menawarkan kadar Hap-kut-san di tubuhku, kenapa aku tidak mencobanya."
Dalam kamar tahanan di bawah tanah tiada orang mengganggu, tempat yang cocok untuk bersemadi dan meyakinkan ilmu, maka Beng Hoa membuang segala pikiran, duduk bersemadi memejamkan mata mulai menyalurkan tenaga murni.
Tanpa terasa dia sudah tenggelam dalam semadi.
Entah berapa lama kemudian, semadi yang pertama telah usai, begitu dia membuka mata sekelilingnya tetap gelap pekat, mungkin sudah tengah malam.
Semangatnya terasa lebih baik, namun perut amat lapar.
Beng Hoa mencoba berdiri, ternyata tenaganya sudah sedikit pulih.
Dia mencoba menggerakkan kaki tangan serta memainkan beberapa jurus silat.
Meski napas memburu jantung berdetak, tinju yang dipukulkan juga tak bertenaga, tapi lebih mending karena dia sudah bisa bergerak seperti biasa.
Waktu dia menendang dan meninju, terasa ujung kakinya menyentuh sebuah keranjang, waktu dia meraba ternyata dalam keranjang berisi makanan, ada nasi dan lauk pauk, namun semuanya sudah dingin.
Dikurung di tempat gelap begini, Beng Hoa sudah tidak memikirkan racun lagi, dia makan habis makanan yang disediakan untuk dirinya, tenaga mulai timbul setelah perut kenyang.
Beberapa kejap istirahat dia mulai bersemadi lagi meyakinkan ajaran lwekang dari Persia untuk digabungkan dengan ajaran Tay-ciu-thian-to-na warisan Thio Tan-hong.
Semadi seperti ini tak ubahnya orang tidur.
Bila dia usai dengan semadinya, ternyata kamar tahanan yang gelap gulita terasa sedikit terang, mungkin sudah pagi hari kedua.
Entah Tong-cin-cu lupa, menganggap dia sudah terkena Hap-kutsan, maka senjata dan segala miliknya tidak dilucuti.
Maka waktu jatuh ke kamar tahanan bawah tanah ini, Beng Hoa tetap membawa pedangnya.
Kira-kira duabelas jam kemudian, Beng Hoa mencoba lagi.
Kali ini dia mainkan golok kilat keluarganya dengan pedang.
Waktu permainan mencapai kecepatan tinggi, dia merasa kepala pusing.
Dia yakin tenaganya sudah pulih dua bagian.
Ini menandakan bahwa kadar Hap-kut-san belum tuntas dari tubuhnya.
Dari atas orang mengantar makanan lagi, Beng Hoa diam saja.
Orang di atas membuka tutup besi, seutas tali yang ujungnya dipasang kaitan diturunkan.,Keranjang kosong di bawah dikerek naik dulu, lalu diganti dengan keranjang yang berisi makanan.
Beng Hoa mendengar orang di atas menggumam.
"Selera makan bocah ini sungguh besar, kalau aku, pasti tak punya selera makan di tempat gelap."
Beng Hoa tidak peduli, makan pagi ini dia habiskan lagi.
Dalam sehari yang pendek ini, berapa tenaga yang dapat dipulihkan sukar dia perkirakan.
Umpama tenaga pulih apakah dapat keluar dari sini, juga masih merupakan tanda tanya Namun apa pun dia harus berusaha sekarang dia berusaha dengan ajaran lwekang yang berhasil dipelajarinya dari Si-lo Hoatsu, belakangan dia minta petunjuk kepada Teng King-thian, di mana di dalam .ajaran lwekang ini ada semacam cara "cuci sumsum ganti otot", konon ajaran murni peninggalan Tat-mo Cosu.
Ajaran yang dipandang pusaka bagi kaum persilatan umumnya Ilmu ini bila diyakinkan mencapai puncak tertinggi, seseorang seolah-olah lahir kembali menjadi manusia baru.
Bila orang mengantar rnakanan untuk kedua kalinya, terasa oleh Beng Hoa badannya jauh lebih segar.
Setelah makan siang dia mencoba lagi.
Kali ini dia mainkan Thian-san-kiam-hoat, ternyata rasa pusing sudah tidak terasa lagi, pertanda bahwa tenaganya sudah bertambah besar.
Dinding batu kamar tahanan ini tumbuh lumut yang licin, tapi Beng Hoa sudah mampu menggunakan ilmu cecak merambat ke atas.
Tangannya meraba besi penutup kamar tahanan yang dingin, didorong tidak bergerak, ditusuk pedang tidak tembus, diam-diam dia mengeluh dalam hati.
Terpaksa dia turun dan pasrah nasib saja Dalam Hian-kang-pwe-coat warisan Thio Tan-hong ada sejenis latihan untuk menambahkan tenaga dan memperkokoh kekuatan.
Racun dalam tubuh Beng Hoa sudah punah, tenaganya sudah pulih separo, menggunakan ilmu lwekang tingkat tinggi ini adalah cara terbaik untuk memupuk kekuatannya Tapi cara latihan yang satu ini harus dilakukan dengan lambat, setengah hari sudah berselang latihan yang dicapai Beng Hoa belum ada separo.
Terpaksa setelah makan malam dia membuang segala pikiran, melanjutkan latihannya.
Waktu dia selesai dengan latihan dan membuka mata, kamarnya yang gelap gulita terasa agak terang, gelagatnya sudah hari kedua.
Beng Hoa mencoba tenaganya.
"Wut"
Sekali jotos tonggak batu besar di pojok sana telah dipukulnya patah.
Seketika dia melonjak girang, hampir saja dia berteriak.
Angin dingin menghembus dari celah-celah batu gunung, pikiran Beng Hoa seketika jernih.
Tenaga sudah pulih, namun masih terkurung di sini.
Padahal pertemuan besar diadakan hari ini, apakah dia bisa meloloskan diri dan hadir dalam pertemuan besar itu?
Menurut pengalamannya kemarin, orang itu mengantar makanan pagi dua jam setelah fajar menyingsing.
Pertemuan besar orangorang Kong-tong-pay mungkin sudah dibuka, maka Beng Hoa menunggu dengan perasaan gugup.
Di luar dugaan, hanya satu jam dia menunggu, pengantar makanan ternyata telah datang, lebih dini dari biasanya Pengantar makanan itu menggerutu.
"Sial, suhu memberi tugas ini kepadaku. Saudara yang lain bisa melihat keramaian kenapa aku harus memberi makan kepada bocah itu. Untung aku tidak bodoh, pagi hari ini kuantar lebih dini, siang dan malam boleh terlambat, mumpung ada kesempatan aku bisa melihat keramaian. Bocah itu dikurung di bawah, tanpa sayap mana bisa keluar."
Waktu tali yang berujung kait besi diturunkan, jantung Beng Hoa sudah berdebar.
Mendadak dia bertindak, tali ditangkapnya terus ditarik sekuatnya, berhasil atau gagal tergantung langkahnya sekali ini.
Walau cepat dia bertindak, kalau orang di atas cukup cerdik, merasa tali ditarik segera melepasnya terus menutup lubang, jelas Beng Hoa tetap takkan lolos.
Untung orang di atas tidak menduga sama sekali, di saat dia terkejut, sebelum tali dia lepas, gentakan tenaga Beng Hoa sudah menarik tubuhnya maju dan tersungkur jatuh ke dalam lubang.
Karuan orang itu kaget.
Saking takut dia sempat minta tolong sekali.
Beng Hoa mengulur tangan menangkapnya, desisnya.
"Kalau masih ingin hidup, jangan buka suara."
Kamar tahanan ini terletak di bawah kamar pribadi Tong-cin-cu, sejak pagi tadi Tong-cin-cu sudah meninggalkan kamarnya, tanpa disuruh murid-murid Kong-tong-pay tjada yang berani masuk ke kamarnya, umpama berteriak-teriak di kamar bawah tanah itu juga takkan terdengar orang.
Karena kuduknya dicengkeram Beng Hoa, orang itu ketakutan, untuk sekian lamanya tak mampu bersuara "Ya, ya, aku hanya bertugas mengantar makanan, kapan pernah bermusuhan dengan kau, jangan kau...."
Khawatir dibunuh, orang itu bicara dengan gugup. Beng Hoa sebal dibuatnya, bentaknya.
"Tidak setimpal aku membunuhmu, setiap pertanyaanku harus kau jawab, tapi jangan ngelan-tur."
"Silakan siauhiap tanya saja."
"Pertemuan besar Kong-tong-pay kalian sudah dibuka belum?"
"Begitu terang tanah, seluruh anak murid perguruan kami sudah berkumpul di tempat pertemuan. Para tamu juga dipersilakan duduk. Tapi sekarang sudah mulai belum aku tidak tahu."
"Di mana letak pertemuan?"
"Di lapangan rumput yang terletak antara Toan-hun-gay dan Jing-hi-koan."
"Kim Tiok-liu Kim tayhiap sudah datang belum?"
"Aku yang rendah tidak tahu."
Masih ada beberapa pertanyaan ingin diajukan, namun Beng Hoa tahu kedudukan orang ini rendah, ditanyakan juga percuma, maka dia berkata.
"Baiklah, boleh kau istirahat di sini saja. Duabelas jam kemudian hiatto-mu akan terbuka sendiri."
Lalu dia totok hiatto tidur orang serta melucuti jubahnya.
Sekali ayun Beng Hoa timpuk-kan kaitan besi di ujung tali hingga menancap di dinding batu di luar lubang.
Sigap sekali dia sudah merambat ke atas.' Beng Hoa menyamar sebagai tosu, dengan berlenggang dia keluar dari kamar pribadi Tong-cin-cu.
Jing-hi-koan sepi lengang, hanya beberapa murid yang bertugas jaga.
Dua orang yang bertemu Beng Hoa telah ditotok hiatto-nya, sebelum orang lain melihat jejaknya dia sudah lari ke luar.
Setelah melihat sinar mentari Beng Hoa menarik napas panjang, semangatnya menyala.
Dilihatnya beberapa murid Kong-tong-pay masih sibuk mengantar rombongan tamu menuju ke lapangan sana.
Lega hati Beng Hoa, agaknya pertemuan belum dimulai.
Dengan ginkang-nya yang tinggi sengaja dia menyingkir dari tempat ramai.
Lekas sekali lapangan hijau yang dimaksud sudah kelihatan di depan, lapangan sebesar itu sudah penuh sesak oleh manusia yang berjubel.
Tiba-tiba didengarnya suara Tong-cin-cu sedang memberi kata sambutan.
"Pertemuan besar perguruan kami hari ini, dihadiri oleh dua paderi agung dari Siau-lim-si, Liu-tianglo dari Bu-tong-pay, Kim tayhiap dan kawan-kawan lain dari berbagai perguruan, sungguh merupakan kebanggaan bagi kami. Dalam pertemuan besar kali ini, ada dua persoalan besar akan dibicarakan. Pertama, memilih calon pengganti ciangbun, kedua adalah membersihkan perguruan dari anasir jahat. Jikalau sesama saudara perguruan tiada usul dan pendapat lain, pertemuan besar ini akan segera dimulai."
Jantung Beng Hoa berdebar, sukar dia menentukan langkah, apakah langsung terjun di tengah pertemuan membongkar intrik Tong-bing-cu dengan Hay Lan-ja atau menunggu bila acara sudah mulai membicarakan kasus gurunya?
Mendadak seseorang menangkap dan menarik dirinya.
Padahal Beng Hoa sudah waspada memperhatikan orang di sekelilingnya, tak nyana orang ini menariknya secara mendadak, karuan terkejutnya bukan kepalang.
Untung otaknya bekerja cepat, ginkang orang tinggi, kalau musuh selayaknya mencengkeram pundaknya.
Sebelum dia mengerahkan tenaga, orang itu sudah berbisik di pinggir telinganya.
"Jangan gugup, inilah aku."
Hilang rasa terkejutnya, hati Beng Hoa bersorak girang. Orang yang menarik dirinya adalah Kwi-hwe-thio.
"Jangan bersuara, ikuti aku,"
Bisik Kwi-hwe-thio.
Beng Hoa ditariknya ke tempat yang jauh, bersembunyi di belakang batu besar.
Setelah melihat tiada orang di sekitarnya, dia mengeluarkan sebuah ked.ok muka kulit manusia dan diserahkan kepada Beng Hoa, katanya.
"Pakai ini, orang tak akan mengenalimu lagi."
"Komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja sekongkol dengan Tong-bingcu hendak menggaruk seluruh kaum persilatan yang hadir, lekas beri tahu Kim tayhiap,"
Ucap Beng Hoa gugup.
"Aku sudah tahu. Kau tak usah khawatir, aku bisa menghadapinya. Soal ini jangan dibongkar sekarang, malah tiada bukti."
Lega hati Beng Hoa, masih banyak yang ingin dia tanyakan, tapi Kwi-hwe-thio sudah berkata gugup.
"Masih ada urusan penting yang harus diselesaikan, kau bertindaklah menurut keadaan. Sekali berkelebat, bayangannya telah lenyap. Beng Hoa ingin menanyakan apa orang sudah menolong Kim Bikld, apa boleh buat terpaksa dia kembali ke lapangan dan mencampurkan diri di antara orang banyak. Kebetulan Tong-cin-cu sedang mengumumkan calon pilihan pengganti ciangbunjin. Siapa calon ciangbunjin mereka, banyak murid Kong-tong sudah tahu, maka hanya murid-murid Tong-bing-cu dan kambrat-kambratnya saja yang memberi aplus dengan tepuk tangan dan sorak-sorai. Sewajarnya Tong-bing-cu berpura rikuh dan menolak. Tapi Tongcin-cu berkata.
"Aku sudah tua, lemah tenaga dan pikiran, sejak lama sudah bermaksud mengundurkan diri. Sute, kau lebih cerdik pandai, lebih cekatan dan trampil bekerja, kalau tugas berat ini tidak mau pikul lalu siapa yang harus memikulnya? Hayolah tak usah sungkan."
Urusan sudah sejauh ini, Tong-bing-cu juga tak perlu main sandiwara lagi, setelah batuk-batuk dua kali dia tarik suara.
"Aku tidak becus...."
Baru saja dia angkat bicara murid-muridnya sudah bersorak sorai lagi sambil bertepuk tangan. Di tengah hiruk pikuk itulah seseorang tiba-tiba berkata.
"Memang kau tidak setimpal menjadi ciang-bun."
Suaranya jernih melengking seperti mengambang di udara, padahal sekian banyak orang bersorak, ternyata suaranya masih jelas terdengar oleh setiap hadirin.
Lebih menusuk pendengaran lagi, suara ini berkumandang dari rombongan murid murid Kong-tong-pay, jelas ada murid-murid Kong-tong yang tidak terima, sudah tentu para tamu menjadi heran dan bingung, murid-murid Kong-tong juga celingukan saling pandang keheranan.
Kejadian secara mendadak ini di luar dugaan Tong-bing-cu, setelah membuka kata dengan "aku tidak becus"
Akan dilanjutkan dengan perkataan "aku tidak setimpal jadi ciangbun"
Tak nyana orang itu sudah mendahuluinya Mimpi pun tak pernah terpikir oleh Tong-bing-cu bahwa di antara murid-murid Kong-tong ada yang menentang pencalonan dirinya di depan umum, padahal menurut rencananya baru akan menerima pencalonan ini di hadapan tokoh-tokoh silat yang hadir dengan mendapat dukungan mutlak dari seluruh murid Kong-tong-pay, secara terpaksa.
Siapa duga terjadi peristiwa yang memalukan ini.
Untuk mempertahankan muka, Tong-bing-cu anggap tidak mendengar, dengan muka merah dia melanjutkan.
"Sebetulnya aku tidak berani memikul tanggung jawab berat ini, berkat penghargaan suheng...."
Sampai di sini suara melengking tadi berkumandang pula.
"Penghargaan apa, yang terang bersekongkol dan menurunkan secara pribadi, tidak tahu malu."
Kali ini tiada orang bersorak, maka hadirin mendengar lebih jelas. Sekarang Tong-bing-cu tak bisa berpura-pura tidak mendengar, bentaknya gusar.
"Siapa yang bicara, hayo berdiri!"
Orang itu bilang bersekongkol, berarti Tong-cin-cu juga terlibat, walau gusar namun hatinya juga lega dan senang, katanya.
"Sute, meski saudara itu bicara tanpa aturan, karena kita dituduh mewariskan jabatan secara pribadi, maka kita pakai saja cara umum supaya orang luar tidak curiga"
"Cara umum apa?"
Tanya Tong-bing-cu pusing. Tong-cin-cu berseru lantang.
"Siapa tidak terima Tong-bing-cu menjadi ciangbun, silakan usulkan calon kedua, ketiga"
Murid-murid Tong-bing-cu segera bersorak-sorai lagi mendukung guru mereka.
Beruntun tiga kali Tong-cin-cu membuka kesempatan, tapi tiada orang lain yang mencalonkan diri.
Sedikit banyak Tong-bing-cu merasa lega, sebelum membuka suara, suara itu telah berkata pula.
"Kau memupuk kambratkambrat-mu melakukan ancaman dan pemerasan, dengan kekuatan menindas yang lemah, ciangbun suheng-mu pun takut kepada kau, siapa berani menentang secara terang-terangan, apa kau tidak takut mendapat hukuman setimpal dari Yang Kuasa?"
Tong-bing-cu menyeringai dingin, bentaknya.
"Orang itu jelas bukan murid perguruan kita, sengaja mau mengacau, lekas periksa dan tangkap mata-mata."
Anehnya suara itu benar berkumandang dari rombongan muridmurid Kong-tong, tapi setiap kali suara itu bicara semua murid saling memperhatikan orang di kanan kirinya, ternyata tiada yang menemukan siapa yang bicara.
Di tengah kebingungan orang banyak, suara itu berkata.
"Siapa yang jadi mata-mata? Kukira justru kaulah yang jadi mata-mata dan bersekongkol dengan pihak kerajaan."
Tong-bing-cu menarik muka sambil memberi tanda supaya murid-muridnya tidak ribut, katanya.
"Hadirin tentu sudah tahu orang itu menyamar murid kami, mau mengacau dan mencari perkara, dengan tujuan nnemecah belah hubungan kita, menghasut murid-murid kami berontak. Tujuannya jahat dan patut dikutuk, apakah hadirin masih percaya kata-katanya?"
Maka Tay-ciok Tojin murid Tong-bing-cu yang tertua berdiri dan berkata.
"Betul, apa pun maksud orang ini, persoalan dalam perguruan kami, orang luar tak perlu turut campur. Sekarang seluruh anggota perguruan kami secara bulat mendukung pencalonan ciangbun yang baru, kurasa acara dilanjutkan saja sesuai rencana."
Terdesak oleh keadaan, terpaksa Tong-cin-cu mengumumkan.
"Aku usul Tong-bing-cu mewarisi ja-batanku sebagai ciangbun ketiga-puluh tiga Kong-tong-pay, sekarang mendapat dukungan secara bulat."
"Nanti dulu,"
Tiba-tiba sebuah suara serak tua berteriak.
"aku ingin bicara."
Hadirin melenggong dan menoleh, tampak seorang tojin tua beruban, dengan memegang tongkat, mendatangi tengah lapangan dengan langkah tertatih-tatih.
Di antara para tamu yang hadir termasuk Kim Tiok-liu tiada yang kenal siapa tosu tua ini.
Hanya Lui-tin-cu dari Bu-tong-pay dan kedua paderi agung dari Siau-lim-si saja yang kenal orang tua ini, adalah Giok-hi-cu tianglo, satu-satunya tianglo Kong-tong-pay yang masih hidup.
Giok-hi-cu adalah guru Tong-biau-cu yang pernah menjabat ciangbun angkatan ketigapuluh, atau susiok dari Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu.
Tahun ini sudah berusia sembilanpuluh tahun.
Sejak tigapuluh tahun yang lalu waktu muridnya masih menjabat ciangbun, dia sudah mengundurkan diri dan diangkat sebagai tianglo, selama tigapuluh tahun ini tak perlu mencampuri urusan perguruannya.
Dia tetirah di dalam sebuah gua di gunung belakang, boleh dikata tak pernah keluar dari gua itu.
Hanya murid-murid berusia limapuluhan dari-Kong-tong-pay sekarang yang tahu bahwa mereka masih punya tianglo seperti Giok-hi-cu ini.
Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu amat kaget.
"Supek,"
Sapa mereka bersama.
"untuk apa kau orang tua kemari?"
Giok-hi-cu membanting tongkat ke tanah katanya.
"Urusan besar menyangkut perguruan kita, mana aku tidak boleh kemari?"
Entah karena terlalu tua atau karena terlalu emosi, di saat bicara tubuhnya bergoyang-goyang seperti api lilin yang tertiup angin dan hampir jatuh.
Lekas Tay-ciok Tojin memburu maju memapahnya, Giok-hi-cu mengayun tongkatnya, sentaknya.
"Minggir, tak perlu kalian bermuka-muka di depanku."
Tay-ciok Tojin sempoyongan mundur lalu berdiri dengan menyengir getir dan jeri, tak nyana tay-supek-nya yang sudah tua dan loyo ini masih punya tenaga sebesar ini.
Giok-hi-cu tertawa dingin, je-ngeknya.
"Kau kira aku tak bisa jalan."
Tapi kenyataan tubuh yang sudah bungkuk ini setiap melangkah sekujur badan gemetar. Seorang laki-laki baju hijau tiba-tiba tampil ke muka dan berkata.
"Lo-totiang, jalanlah dengan betul. Tak usah marah kepada mereka, mari kupapah engkau."
Karena dipapah, tubuh Giok-hi-cu mendadak menjorok ke depan malah hampir jatuh.
Tapi orang itu terpaksa melepaskan pegangannya karena Giok-hi-cu mengebaskan lengan bajunya, terpaksa orang ini juga mundur sambil menggerutu.
"Lo-totiang, aku bermaksud baik, kau tidak mau terima kebaikanku tak perlu kau memukulku."
Giok-hi-cu mendengus, sentaknya.
"Siapa kau?"
"Aku... aku... aku adalah...."
Dari samping Tay-ciok Tojin segera menimbung.
"Orang ini tenaga bantuan di dapur."
Giok-hi-cu mendengus saja tanpa bicara, tongkatnya menutul tanah, langkahnya mendadak enteng dan sebat seperti terbang, kejap lain dia sudah berada di depan^Tong-cin-cu dan Tong-bingcu.
Sebetulnya diamerasakan laki-laki tadi mempunyai kepandaian luar biasa, pasti bukan kacung biasa, tapi karena urusan lebih penting maka dia tidak tanya lebih lanjut asal-usulnya.
Beng Hoa yang mencampurkan diri di tengah orang banyak membatin.
"Mungkin keparat tadi samaran Hay Lan-ja?"
Di tengah keributan laki-laki baju hijau itu sudah menyelinap mundur dan tidak kelihatan lagi. Tong-cin-cu berdiri hormat dan menyapa dengan tertawa.
"Supek ada petunjuk apa?"
"Kabarnya kau tidak mau menjabat ciangbun lagi, pertemuan hari ini hendak memilih penggantimu betul? Urusan besar begini kenapa tidak memberi tahu kepadaku?"
"Kupikir setelah ciangbunjin baru menerima jabatan, baru akan kuantar menghadap supek sambil memberi laporan, sebelumnya tak berani aku mengganggu kau orang tua."
"Apa salahnya kau menjadi ciangbun, kenapa mendadak ingin mengundurkan diri?"
"Harap supek maklum, tahun ini sutit sudah enampuluh dua. Supek, bukankah kau orang tua pada usia enampuluh enam telah mengundurkan diri menjadi tianglo? Kupikir biarlah generasi muda ikut memikul tanggung jawab berat ini."
"Membimbing generasi baru memang baik. Siapakah calon ciangbunjin baru?"
"Kuusulkan sam-sute Tong-bing-cu meneruskan jabatanku, seluruh murid menerima dengan suara bulat."
Mendadak Giok-hi-cu membalik serta menyapukan pandangan ke segenap penjuru, katanya perlahan.
"Kabarnya Tan Khu-seng juga datang, di mana dia?"
Tong-cin-cu kikuk dan risi, katanya tergagap.
"Tan Khu-seng dia sudah... sudah...."
"Dia kenapa?"
Sentak Giok-hi-cu mendelik bengis. Tak tahan lagi Tan Khu-seng berdiri seraya berteriak.
"Suco!"
Lalu berkata pula.
"Ciangbun susiok, mohon perkenankan tecu sebagai murid berdosa bersembah sujud kepada suco."
Giok-hi-cu mendengus geram, serunya kepada Tong-cin-cu.
"O, jadi kau yang melarang dia menemui aku, dia pernah berbuat dosa apa?"
Meski sebagai ciangbun, tapi Tong-cin-cu tak berani kurang ajar kepada tianglo katanya.
"Tan Khu-seng kemarilah kau. Baiklah, ku-perkenankan kau bersembah sujud kepada supek."
Giok-hi-cu mengelus kepala Tan Khu-seng katanya.
"Sun-sun cilik, kenapa kau pergi selama delapan-belas tahun tak pernah menjengukku, betapa rinduku kepadamu?"
Perlu diketahui, Tan Khu-seng adalah anak sebatang kara maka sejak kecil dia diasuh dan dibesarkan oleh Tong-biau Cinjin.
Resminya sebagai guru dan murid, padahal hubungan mereka seperti anak.dan ayah.
Giok-hi-cu juga ikut membimbing bocah ini hingga dewasa, seperti sang kakek sayang kepada cucunya.
Sunsun cilik adalah panggilannya kepada Tan Khu-seng sejak dia masih bayi.
Tan Khu-seng tersendat haru, katanya.
"Mohon ampun, cucu murid tidak berbakti, sebagai murid yang sudah dipecat dari perguruan, tak boleh kembali menjenguk kau orang tua."
Tong-cin-cu berkata.
"Lapor supek, delapanbelas tahun yang lalu, dia...."
Tegak alis Giok.hi-cu, tukasnya.
"Aku tak percaya dia berbuat dosa, memang aku ingin bicara"
Apa boleh buat terpaksa Tong-cin-cu berkata.
"Silakan supek menjelaskan, biar nanti kulaporkan persoalannya"
"Enampuluh dua belum terhitung tua, tapi kalau kau ingin membimbing generasi muda, ciangbunjin biar dijabat oleh anakanak muda. Aku pun setuju."
"Calon ciangbun sudah diusulkan dan sudah diterima oleh seluruh anggota secara bulat, mereka memilih Tong-bing-cu sute."
Giok-hi-cu mendelik, sentaknya.
"Aku belum bicara, kenapa kau bilang secara bulat."
"Ya, ya, karena tecu tak berani mengganggu ketenangan kau orang tua, maka kami tidak tanya dulu kepadamu. Apakah supek juga punya calon yang akan diajukan?"
Mendengar pertanyaan Tong-cin-cu, seketika membesi hijau muka Tong-bing-cu.
"Sudah tentu ada,"
Sahut Giok-hi-cu.
"Apa kau sudah lupa apa cita-cita suheng-mu waktu masih hidup?"
Tong-cin-cu tahu tapi pura-pura bertanya.
"Entah soal apa yang supek maksud?"
"Semasa hidupnya, suheng-mu sudah menentukan Tan Khu-seng sebagai ahli warisnya, bukan karena dia berat sebelah memilih muridnya sendiri, tapi karena Tan Khu-seng memang pilihan paling setimpal, tiada orang kedua yang menandingi dia dalam angkatannya."
Seluruh hadirin mendengarkan penuh perhatian, terutama muridmurid Kong-tong-pay, semua melongo saling pandang, suasana menjadi sunyi senyap.
Tong-cin-cu kaget, entah sudah pikun atau sengaja hendak mencari perkara supek yang sudah loyo ini, segera dia berkata.
"Lapor supek, siapa pun asal dia murid perguruan kita boleh menjadi ciangbun, tapi Tan Khu-seng justru tidak boleh."
"Kenapa tidak boleh?"
Tong-bing-cu yang membesi hijau mukanya segera menjengek dingin.
"Apakah di waktu masih hidup Biau-suheng tidak memberi laporan kepadamu dosa apa yang pernah dilakukan muridnya?"
"Usiaku sudah tua, mungkin sudah melupakan, coba kau terangkan."
"Delapanbelas tahun yang lalu Tan Khu-seng sudah dipecat dari perguruan,"
Seru Tong-bing-cu.
"Tong-biau suheng sendiri yang memberi hukuman di waktu dia masih menjabat ciangbun."
"Dosa apa yang pernah dia lakukan?"
"Kejadian sebetulnya merupakan keburukan keluarga yang memalukan, tapi karena kau orang tua yang bertanya terpaksa tecu menjelaskan. Kesalahan Tan Khu-seng adalah membunuh sesama saudara perguruan, kemaruk harta, menculik gadis. Setelah diusir dari perguruan, dia masih berani berlaku kurang ajar. Melawan angkatan tua perguruan kita. Bagaimana duduk persoalannya harap Tong-cin suheng sebagai ciangbunjin menjelaskan."
"Tak usah kalian banyak mulut lagi,"
Tukas Giok-hi-cu.
"Meski tua aku belum pikun, aku sudah ingat."
Berubah air muka Tong-bing-cu, katanya.
"Supek ingat apa?"
"Laporan Tong-biau kepadaku justru terbalik dan berbeda."
Berubah air muka Tong-bing-cu, katanya.
"Apa kau orang tua tidak salah ingat? Entah apa yang dilaporkan Tong-biau suheng kepada kau orang tua?"
Giok-hi-cu batuk-batuk, katanya lebih lanjut.
"Masih segar dalam ingatanku, laporan Tong-biau justru tidak mengatakan dosa-dosa seperti apa yang kalian tuduhkan kepada Tan Khu-seng."
"Kalau demikian, kenapa dia memecat, mengusir muridnya dari perguruan?"
Desak Tong-bing-cu.
"Dia juga tidak bilang memecat dan mengusir Tan Khu-seng dari perguruan. Dia hanya bilang sementara menyuruh Tan Khu-seng menyingkir dari Kong-tong. Walau tahu muridnya pasti penasaran, namun demi kekuatan Kong-tong-pay, apalagi Tan Khu-seng sendiri rela memikul dosa dan menahan penghinaan, maka kejadian pun berlarut sampai sekarang."
"Aku tak berani mencurigai kau orang tua, tapi umpama benar Tong-biau suheng pernah memberi laporan seperti keteranganmu, itu karena dia tidak ingin kau orang tua terlalu bersedih, maka sengaja dia menyembunyikan dosa muridnya. Kalau tidak, masa urusan hanya diselesaikan setengah jalan?"
"Dia memang tidak menjelaskan duduk perkaranya kepadaku, tapi aku masih ingat dia pernah bilang dua patah kata kepadaku."
Dapat dibayangkan bahwa kedua patah kata itu merupakan kunci rahasia seluruh persoalan yang berbelit-belit ini, maka seluruh hadirin pasang telinga.
Terutama Beng Hoa yang paling tegang, semoga apa yang diucapkan Giok-hi-cu akan membongkar seluruh kasus ini.
Peristiwa aneh mendadak terjadi.
Di tengah ketegangan itu, tampak Giok-hi-cu sudah membuka mulut, namun dua patah kata itu ternyata tak terlontar juga dari mulutnya.
Tan Khu-seng paling dekat dan melihat gejala yang tidak normal, segera dia berteriak.
"Suco, kau, kenapa kau?"
Belum lenyap teriakannya, Giok-hi-cu sudah roboh. Bergegas Tan Khu-seng memapah sang suco, ternyata tangannya menyentuh tubuh dingin. Giok-hi-cu sudah putus napasnya. Tong-bing-cu membentak.
"Bagus. Tan Khu-seng, berani kau membunuh suco."
Kaget dan gusar, Tan Khu-seng balas membentak.
"Kau orang jahat menuduh lebih dulu, justru kaulah yang turun tangan."
Tong-bing-cu menyeringai, katanya.
"Giok-hi-cu tianglo mati di pelukanmu, aku kan tidak menyentuhnya. Di hadapan sekian banyak orang, berani kau mungkir."
"Kentut,"
Maki Tan Khu-seng gusar.
"Kenapa aku membunuh suco, hanya kau yang patut dicurigai karena perkataan suco merugikan dirimu."
"Sret"
Tong-bing-cu melolos pedang, bentaknya.
"Hadirin menyaksikan, murid murtad yang kurang ajar seperti ini apa tidak pantas dibunuh?"
"Kau menuduh dan memfitnah aku. Suco sudah kau bunuh, masih akan merusak jenazahnya? Bukan aku gentar terhadapmu, setelah mengebumikan suco, apa kehendakmu kuiringi."
Tong-cin-cu segera melerai.
"Betul, kita harus menyelidiki dulu apa sebab kematian supek."
Dari tangan Tan Khu-seng dia terima jenazah Giok-hi-cu, lalu diperiksanya dengan seksama, katanya.
"Badannya tiada luka juga tiada tanda keracunan. Giok-hi supek sudah berusia sembilanpuluh, badan lemah kesehatan terganggu, karena terlalu emosi mendadak meninggal dunia, kejadian seperti ini memang sering terjadi."
"Walau suco sudah tua, tapi langkahnya masih sebat dan lincah, pantasnya tak mungkin dia mati secara mendadak,"
Debat Tan Khuseng.
"Baik, kau ingin mencari sebab kematiannya, coba kau sendiri yang menyelidikinya,"
Teriak Tong-bing-cu. Sikapnya pongah, seolah-olah dia yakin dirinya benar dan pasti menang. Tong-cin-cu berkata.
"Untung di antara para tamu yang hadir ada tabib sakti nomor satu di seluruh jagat Yap Im-kiau siansing dan jago pedang nomor satu Kim tayhiap Kim Tiok-liu, mohon mereka berdua bantu menyelidiki sebab kematian supek kami, bagaimana?"' Maka Yap Im-kiau dan Kim Tiok-liu tampil ke muka. Setelah memeriksa dengan teliti, Yap Im-, kiau bicara lebih dulu.
"Bukan mati lantaran racun, namun Ki-king-pat-meh ada gejala terkenal getaran. Apa penyebab kematiannya kukira Kim tayhiap bisa memberi keterangan."
Kim Tiok-liu masih memeriksa lebih seksama, lalu berkata kepada Tong-cin-cu.
"Mohon ciangbun tak perlu bersedih hati, menurut hasil pemeriksaanku, aku yakin Giok-hi-cu tianglo kalian mati karena dibo-kong orang."
Sebenarnya Tong-cin-cu sudah menduga, namun dia pura-pura kaget, katanya.
"Cara bagaimana orang itu membokong supek-ku? Kim tayhiap dapatkah kau memberi keterangan?"
"Sejenis pukulan dingin beracun yang amat ganas, kalau tidak salah adalah Jit-sat-ciang yang dapat menggetar putus Ki-king-patmeh, Jit-sat-ciang dari Tiang-pek-pay di Koan-gwa."
Hadirin gempar.
Tapi kejadian membuktikan bahwa pembunuhnya bukan murid Kong-tong-pay sendiri, berarti Tan Khuseng dan Tong-bing-cu lepas dari tuduhan.
Tong-bing-cu memang kaget, tapi lega juga hatinya.
Dasar licik dan licin, pandai main sandiwara lagi, dia pura-pura bersedih dan mencucurkan airmata segala.
Tong-cin-cu angkat bicara sebagai ciangbun yang masih berkuasa.
"Siapa pembunuhnya harus diselidiki dan kita harus menuntut balas. Tapi tujuan pertemuan hari ini harus terus dilaksanakan, sakit hati ini biar ditunda sementara."
Menekan rasa sedihnya, Tan Khu-seng berkata.
"Pertemuan besar tetap dilangsungkan tapi tugas mengejar pembunuh juga tak boleh diabaikan. Menurut pendapatku, kacung yang tadi keluar memapah suco patut dicurigai."
Kim Tiok-liu mengangguk, katanya penuh sesal.
"Semula aku sudah menduga dia pandai silat, sayang tidak tahu kalau dia jago kosen yang memiliki tenaga dalam tangguh, maka tidak sempat aku memberi peringatan kepada Giok-hi-cu cian-pwe."
Terpaksa Tong-bing-cu pura-pura menerima usul Tan Khu-seng.
"Baiklah, suruh Tay-ciok bertanggung jawab mengejar jejak pembunuh itu."
Tan Khu-seng berseru.
"Mohon ciangbunjin berkenan memberi izin supaya tecu ikut membantu."
Tong-bing-cu menyeringai sinis, katanya.
"Tianglo memihak dirimu, tapi sekarang kau bukan anggota Kong-tong, soal menuntut balas ini, tak usah kau turut campur."
"Betul,"
Timbrung Tong-cin-cu.
"Tan Khu-seng kasusmu sendiri belum jernih, kau dilarang meninggalkan tempat ini. Tay-ciok sutit, pilihlah sepuluh murid kita yang berkepandaian tinggi, cari si pembunuh, segera dilaksanakan."
Kalau seluruh hadirin heran, bingung dan tidak mengerti, siapa pembunuh Giok-hi-cu yang menyamar jadi kacung itu.
Sekian banyak hadirin hanya ada dua orang saja yang tahu.
Kim Tiok-liu hanya tahu kematian Giok-hi-cu dibokongoleh pukulan Jit-sat-ciang, namun tak pernah terpikir olehnya bahwa pembunuhnya adalah komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja adanya.
Beng Hoa sudah tidak sabar, dia sudah ingin tampil,membongkar jejak pembunuh.
Tiba-tiba didengarnya suara yang dikenalnya berbisik.
"Belum tiba saatnya, jangan tergesa-gesa."
Itulah suara Kwi-hwe-thio, orang bicara dengan ilmu mengirim gelombang panjang, walau suasana sedang ramai tapi dia hanya mengantar suaranya ke telinga Beng Hoa.
Beng Hoa sadar, sebelum mendapat bukti dan membekuk Hay Lan-ja, tiada guna dia membongkar kasus pembunuhan ini.
Gerakgerik Kwi-hwe-thio serba misterius, begitu dia menoleh bayangan orang sudah tidak kelihatan, entah bersembunyi di mana.
Dugaan Beng Hoa memang betul, pembunuh Giok-hi-cu memang Hay Lan-ja, tapi yang membuatnya bingung adalah dari Hay Lan-ja membokong Giok-hi-cu sampai orang mati terpaut beberapa kejap lamanya, apakah Gibk-hi-cu tidak sadar kalau dirinya terbokong, padahal dengan tingkat kepandaiannya, tidak mungkin dia tidak tahu.
Kalau tahu, sebelum dia ajal kenapa tidak dikatakan?
Ternyata Jit-sat-ciang yang diyakinkan Hay Lan-ja sudah mencapai puncak kesempurnaan, yang digunakan untuk membokong Giok-hi-cu lunak tapi ganas beracun.
Semula penderita tidak merasakan kelihayan pukulan lunak ini, akibat yang fatal karena yakin akan keampuhan lwe-kang sendiri, dia mengira luka dalam yang dideritanya ringan dan tidak jadi soal, dia pikir persoalan dibicarakan dulu baru mencari tahu siapa kacung itu.
Di luar perhitungannya, di saat genting itu tenaga lunak yang tersembunyi dalam tubuhnya mendadak kumat, akibatnya memang fatal, jiwanya putus seketika.
Setelah keributan mereda, murid-murid Kong-tong-pay telah rhengusung jenazah Giok-hi-cu kembali ke Jing-hi-koan.
Tak lama kemudian Tay-ciok Tojin sudah kembali melaporkan bahwa kacung itu sudah menghilang dan pengejaran diteruskan ke bawah gunung.
Setelah menyatakan duka cita sedalam-dalamnya, maka Tongcin-cu mengumumkan bahwa pertemuan besar terus diadakan.
Suasana belum tenteram, di sana sini orang masih kasak-kusuk.
Suara aneh itu mendadak berkumandang pula disertai tawa dingin.
"Tong-bing-cu masih ada muka kau bilangseluruh anggota Kongtong-pay secara bulat mendukungmu? Jenazah Giok-hi-cu locianpwe belum dingin, apa yang diucapkan beliau hadirin mendengarkan, dia adalah tianglo Kong-tong-pay kalian, jadi bukan orang luar lho."
Maka Tong-cin-cu bicara perlahan dengan jalan tengah.
"Sute, bagaimana pendapatmu?"
Tong-bing-cu masih pura-pura sedih dan berduka atas kematian Giok-hi-cu, maka sekian lama baru dia bicara.
"Usul tianglo memang harus dihargai, tapi usia beliau sudah tua...."
Dia urung bilang sudah pikun.
"Aku orang luar, tiada hak bicara soal pencalonan ini,"
Demikian tim-brung Kim Tiok-liu.
"biarlah aku bicara sebagai penonton saja Setahuku sebelum ajal Giok-hi tianglo dalam keadaan sehat dan sadar."
"Kim tayhiap kau tidak tahu, tianglo itu sejak kecil terlalu sayang dan berat sebelah kepada cucu kecilnya, tak berani aku bilang dia ceroboh atau pikun, tapi seorang yang sudah tua, sering kali melantur kalau bicara, memihak sebelah juga sudah biasa. Acara kedua pertemuan besar ini adalah membersihkan nama baik perguruan. Tan Khu-seng adalah murid murtad yang perlu dibersihkan itu."
Lui-tin-cu tianglo Bu-tong-pay berwatak jujur dan keras, segera dia berkata lantang.
"Ya, membersihkan nama baik perguruan adalah urusan dalam perguruan kalian. Tapi menurut aturan Bulim, jikalau kasus ini masih mencurigakan, bila tertuduh tidak menerima tuduhan, orang luar boleh campur bicara. Kalau tidak, buat apa kalian mengundang kami?"
Tong-bing-cu tertawa menye-ngir, katanya.
"Nanti kalau tiba saatnya mengadili kasus Tan Khu-seng, pasti kami akan mohon pertimbangan kau orang tua."
Secara tidak langsung dia mau mengatakan, sekarang sedang memilih pejabat ciangbun baru, Luitin-cu tidak perlu banyak mulut. Lui-tin-cu mendengus, katanya.
"Kurasa kedua persoalan ini justru berkaitan satu dengan yang lain."
"Kim tayhiap,"
Kembali Tong-cin-cu berkata.
"bagaimana pendapatmu? Mohon petunjukmu."
"Ah, tidak berani. Karena aku dimintai pendapat, aku sih ingin mengajukan usul. Mohon ciangbun mempertimbangkan apakah usulku bisa dilaksanakan."
"Silakan Kim tayhiap jelaskan."
Perlahan Kim Tiok-liu berkata.
"Menurut pendapatku, bagaimana kalau acara ini diputar balik?"
"Diputar balik bagaimana?"
"Pertemuan besar ini ada dua acara, memilih pengganti ciangbun, lalu diteruskan membersihkan nama baik perguruan, betul?"
"Ya, betul."
"Maksudku susunan kedua acara ini diputar balik, jadi acara membersihkan nama baik perguruan didahulukan, bagaimana?"
Giok-hi-cu sudah berpesan, kini diajukan pula oleh Kim Tiok-liu, sebagai ciangbunjin, tak bisa Tong-cin-cu menolak usul Kim Tiok-liu, katanya.
"Begitu pun baik. Tong-bing sute, bagaimana pendapatmu?"
Apa boleh buat, terpaksa Tong-bing-cu berkata.
"Kalau suheng setuju, siaute akui; saja."
Kelihatannya susunan acara yang diputar balik ini urusan sepele saja, namun justru menyangkut banyak hal.
Maka sebagai ciangbun, Tong-cin-cu mengumumkan acara dimulai dengan membersihkan nama baik perguruan, katanya.
"Sekarang kita mengadili dulu kasus Tan Khu-seng, jikalau dia tidak berdosa boleh dia kembali ke perguruan sebagai salah satu calon ciangbun. Tapi kalau terbukti dia bersalah, maka dia harus mendapat hukuman setimpal sesuai hukum perguruan yang berlaku. Tan Khu-seng, kau punya usul apa?"
"Pencalonanku tidak kupikirkan, aku pun tidak ingin jadi ciangbun. Semoga saja pengadilan ini dapat menegakkan kebenaran, maka terkabullah keinginan tecu."
"Sebagai ciangbun, aku pasti tidak akan mengabaikan pesan tianglo kita, kasus ini akan dibereskan secara adil. Jadi kau tiada usul?"
Tan Khu-seng mengiakan.
"Baik. Tong-bing sute, tolong sementara kau menjadi penuduh (jaksa), silakan umumkan dosa Tan Khu-seng."
Tong-bing-cu pura-pura menghela napas, lalu serunya perlahan.
"Bicara tentang kasus ini sesungguhnya merupakan peristiwa yang memalukan Kong-tong-pay kami. Tapi urusan sudah berlarut sejauh ini, tak bisa kukendalikan bahwa keburukan rumah tangga pantang diketahui orang luar. Setelah kubacakan, harap para saudara memberikan keputusan, mohon pula para sesepuh perguruan lain sesama kaum persilatan ikut memberikan pandangannya, apakah pantas kami menuduh Tan Khu-seng sebagai murid murtad yang berani melawan orang tua.
"Delapanbelas tahun yang lalu, murid bernama Ho Lok berangkat ke Bi-ci menjemput calon istrinya dari puteri tunggal Koan-tiong Tayhiap Boh It-hang. Tan Khu-seng diminta menyertai. Tak nyana Tan Khu-seng menyeleweng setelah melihat paras cantik, saudara seperguruan dicelakai jiwanya. Maka mantan ciangbunjin Tong-biau Cinjin memecatnya dan mengusirnya dari perguruan, ternyata dia belum kapok dan tidak bertobat, selama ini dia bersikap bermusuhan dengan perguruan kita, malah berani melukai angkatan tua kita...."
Lalu Tong-bing-cu membeber saru per satu kejahatan Tan Khuseng disertai keterangan yang memberatkan dosa Tan Khu-seng.
Beng Hoa sudah pernah melihat dan tahu apa yang diuraikan ini, tapi kaum persilatan yang hadir merasa kaget dan heran.
Banyak orang berpendapat Tan Khu-seng mustahil melakukan kejahatan seperti itu, namun ada juga yang berpendapat karena bukti sudah nyata, maka mereka menghela napas, watak manusia memang tidak bisa diukur dari wajahnya.
Di tengah kasak-kusuk orang banyak, Tong-bing-cu berseru.
"Tan Khu-seng, apa yang akan kau katakan?"
Tan Khu-seng mengangkat kepala membusungkan dada, serunya lantang.
"Aku tidak berdosa."
"Baik, kau tidak menerima tuduhan, boleh kau memberikan pembelaanmu."
"Aku tidak akan membela diriku,"
Tegas dan tandas suara Tan Khu-seng. Tong-cin-cu mengejek, katanya.
"Tuduhan Tong-bing-cu disertai buk,ti-bukti, kalau kau sendiri tidak bisa menerangkan alibimu, berarti kau memang berdosa sesuai tuduhannya."
Kim Tiok-liu tiba-tiba menimbrung.
"Kurasa kasus ini banyak yang patut dicurigai, entah sebagai orang luar dapatkah kalian memberi kesempatan aku bicara?"
Untuk menghargai orang terpaksa Tong-cin-cu unjuk tawa, katanya.
"Silakan Kim tayhiap bicara."
"Tan Khu-seng dituduh mencelakai saudara seperguruan, siapa yang menyaksikan?"
"Dua orang kacung keluarga Boh pernah menyaksikan,"
Sahut Tong-bing-cu.
"Mana kedua kacung itu?"
"Sudah lama mati. Tapi Tong-hian-cu suheng pernah menemukan mereka sebelum mati, dari pengakuan mereka dia membuat surat kesaksian dan diserahkan kepada ciangbun suheng. Surat itu juga masih tersimpan, apa perlu Kim tayhiap membacanya?"
"Tidak perlulah. Yang kuinginkan adalah saksi hidup."
"Sayang Tong-hian sudah meninggal empat tahun yang lalu, dia mati di bawah pedang Tan Khu-seng."
"Menurut apa yang kutahu, su-heng-mu Tong-hian-cu bukan mati di tangan Tan Khu-seng. Untuk menghindari kasus ini bercabang, sementara hal ini kukcsampingkan dulu. Kembali atas tuduhan bahwa Tan Khu-seng membunuh saudara seperguruan, kalau saksi hidup tiada, lalu siapa berani bilang kalau surat itu asli atau palsu? Kurasa kurang kuat untuk dijadikan bukti."
"Baik, umpama surat itu kurang kuat sebagai bukti. Ho Lok mati terbunuh adalah kenyataan. Hanya Tan Khu-seng yang mengiringi Ho Lok menjemput calon istrinya ke Bi-ci, apa tidak pantas kalau dia dicurigai?"
"Betul,"
Ucap Tong-cip-cu.
"Hanya berdasar kecurigaan belum boleh menjatuhkan hukuman. Tapi karena dicurigai, maka dia harus membela diri. Kalau tidak bagaimana dia bisa membersihkan dirinya dari kecurigaan orang?"
"Apa yang perlu kukatakan, tadi suco sudah mewakili aku bicara,"
Ujar Tan Khu-seng.
"Benar, tianglo Giok-hi-cu bilang kau tidak berdosa. Tapi beliau tidak memberikan bukti apa pun untuk membebaskan dosamu."
"Betul, suara tianglo memang harus dihargai. Tapi kasus ini menyangkut kepentinganmu sendiri, maka kau sendiri yang harus membela dirimu sendiri,"
Demikian desak Tong-cin-cu.
"Delapanbelas tahun yang lalu aku sudah menjelaskan kenapa aku tidak mau berdebat soal ini. Kepada suhu almarhum aku pernah bersumpah, kecuali suhu, selama hidup takkan memberi tahu kepada orang ketiga. Tapi aku tidak percaya bahwa kalian tidak tahu seluk beluk persoalan ini."
Tong-cin-cu punya ganjalan hati, namun tak berani dia mengingkari suara hatinya, namun dia pura-pura marah, bentaknya.
"Aku belum menjatuhkan hukuman, kau malah menggigit aku. Hm, apa maksud perkataanmu? Apakah kau anggap putusanku sebagai ciangbunjin tidak adil, sengaja ingin mencelakai dirimu?"
Tan Khu-seng masih mengindahkan pendapatnya, hatinya rikuh dan tak enak melawannya, dengan menunduk dia berkata.
"Tecu tidak berani. Jikalau ciangbun susiok memang tidak tahu, mana tecu berani main tuduh."
"Aku tidak tahu,"
Seru Tong-bing-cu.
"Yang kutahu adalah guru-, mu sendiri yang mengusir kau dari perguruan."
Tujuannya menyudutkan posisi Tan Khu-seng.
"Gurumu sendiri pun memvonis kesalahanmu."
"Ingin aku bicara beberapa patah kata lagi,"
Timbrung Kim Tiokliu.
"Jikalau betul Tan Khu-seng melakukan dosa sebesar itu, apakah gurunya menghukumnya dengan hanya mengusirnya dari perguruan? Hadirin dengar sendiri apa yang diucapkan Giok-hi-cu cianpwe, bahwa mantan ciangbun yang dahulu pernah bilang, demi kerukunan dan keutuhan perguruan terpaksa dia harus mengorbankan muridnya Walau tidak dijelaskan alasannya, tapi nadanya dapat dirasakan oleh siapa pun, sebetulnya Tan Khu-seng hanya difitnah atau dijadikan kambing hitam. Dia tidak mau berdebat atau membela diri, kurasa karena dia punya kesulitan."
Tong-bing-cu merasa terancam, lekas dia berkata.
"Bukan aku mau bilang Tong-biau suheng berat sebelah dan membela muridnya, tapi resminya Tan Khu-seng adalah muridnya padahal hubungan mereka seperti ayah dan anak, terlalu disayang dan dimanja kan juga biasa."
Sampai di sini dia berhenti dan menoleh kepada Tong-cin-cu.
"Pendek kata kasus ini tidak boleh diselesaikan secara ngawur, kalau tidak, bagaimana kita harus bertanggung jawab kepada arwah Tong-hian suheng dan Ho Lok yang sudah di alam baka."
Tong-cin-cu bersikap apa boleh buat, katanya.
"Tan Khu-seng, aku tidak tahu apa kau punya kesulitan, tapi sebagai ciangbunjin, aku harus menyelesaikan kasus ini secara adil. Jikalau kau tidak mau membela diri, terpaksa aku menjatuhkan hukuman kepadamu."
"Kesulitan apa, yang jelas dia sadar akan kesalahan, sukar membela diri,"
Jengek Tong-bing-cu. Berubah airmuka Tan Khu-seng, alisnya sudah berdiri, agaknya dia sudah siap bersuara. Tapi kejap lain sikapnya sudah berubah kelam, mulutnya yang sudah terbuka tertutup lagi.
"Tan-heng, jikalau kau punya pantangan apa dan segan bicara di depan umum, bagaimana jika diubah caranya, biar aku yang bersama tianglo Bu-tong-pay serta dua paderi sakti dari Siau-lim-si menjadi saksi mendengarkan pembelaanmu di hadapan ciangbunjin kalian."
Usul Kim Tiok-liu masuk di akal dan cara yang paling tepat serta sempurna, tak nyana Tan Khu-seng menggelengkan kepala, katanya menghela napas.
"Pernah aku bersumpah di hadapan guru, kecuali padanya aku tidak akan bicara dengan siapa pun lagi."
Diam-diam Kim Tiok-liu memperhatikan mimik muka orang, meski kelihatan keren, tapi rasa senang hatinya terbayang dari sorot mata dan ekspresi mukanya, maka Kim Tiok-liu yakin bahwa Tan Khu-seng memang difitnah dan jadi kambing hitam Sayang dia tidak punya bahan untuk membela Tan Khu-seng.
"Baiklah,"
Seru Tong-cin-cu.
"Karena kau mengabaikan kesempatan membela diri, terpaksa sesuai keadaan aku menjatuhkan vonisku."
Karuan Beng Hoa gugup dan gelisah, suara Kwi-hwe-thio ternyata juga mengiang di kupingnya.
"Sekarang kau boleh keluar, tapi jangan singgung Hay Lan-ja dulu."
Di saat Tong-cin-cu hendak mengumumkan keputusannya, mendadak seseorang berteriak.
"Tunggu sebentar!"
Seorang lain mendahului Beng Hoa tampil ke muka.
Orang ini adalah ji-suhu Beng Hoa yaitu Toan Siu-si.
Begitu Toan Siu-si muncul, Tong-cin-cu tahu maksudnya, namun sebagai ciangbunjin dia harus mempertahankan harga dirinya, maka sapanya dengan getir.
"Ada petunjuk apa Toan tayhiap?"
"Memberi petunjuk tidak berani. Aku harap setelah mendengar keteranganku baru ciangbun menjatuhkan keputusanmu."
"Entah Toan tayhiap ada petunjuk apa?"
Lantang suara Toan Siu-si.
"Kehadiranku ini untuk menjadi saksi Tan Khu-seng. Tadi Tong-bing to-tiang memberikan tuduhan yang salah kepadanya,"
"Tuduhan mana yang salah?"
"Akulah yang membunuh Tong-hian-cu, tapi kalian menuduh dia yang melakukan, apakah tidak ngawur?"
Sudah tentu pengakuan Toan Siu-si menimbulkan pelbagai reaksi, ada yang memuji ada pula yang mencaci maki, terutama murid Tong-hian-cu yang tertua Tay-kok Tojin berjingkrak gusar, serunya.
"Jadi kaulah yang membunuh suhuku, sakit hati ini harus kami balas."
Tong-cin-cu mengerutkan alis, sentaknya.
"Tay-kok, jangan ribut, dengarkan penjelasan Toan-sian-sing. Tdan-siansing, lantaran soal apa kau membunuh sute-ku."
"Hari itu sute-mu datang ke Ciok-lin bersama gembong iblis Yang Kek-beng. Katanya Yang Kek-beng hendak merebut Ciok-lin, maka sute-mu diundang untuk membantu, kebetulan waktu itu aku juga di sana."
"Apakah sute-ku tidak menjelaskan kedatangannya hendak membersihkan nama baik perguruan?"
"Aku hanya mendengar dia hendak menangkap Tan Khu-seng dan digusur ke gunung, tidak pernah aku mendengar dia bilang membersihkan nama baik perguruan segala."
Ditangkap dan digusur balik ke gunung kemungkinan untuk membersihkan nama baik perguruan, padahal istilah membersihkan nama baik perguruan baru terakhir ini tercantum sebagai salah satu acara pertemuan besar ini.
Empat tahun yang lalu Tong-hian-cu jelas tidak leluasa menggunakan istilah ini.
Sadar keliru menggunakan kata-kata, terpaksa Tong-cin-cu membalik.
"Tong-hian-cu adalah susiok Tan Khu-seng, kalau kau tahu Tonghian-cu hendak menangkapnya pulang kenapa kau mencampuri urusan perguruan kami?"
Tawar suara Siu-si, katanya.
"Aku tahu bahwa Tan Khu-seng sudah dipecat dari perguruan, menurut aturan Bulim tidak patut dia menyebut Tong-hian-cu sebagai susiok lagi. Bicara keadaan waktu itu, sebagai teman baik Tan Khu-seng kan wajar kalau aku membela temanku yang dikeroyok kawanan iblis."
"Apa?"
Tay-kok Tojin berjingkrak gusar pula.
"Berani kau memaki guruku sebagai kawanan iblis?"
Toan Siu-si hanya mendengus dan tak peduli ocehan Tay-kok Tojin.
Yang' Kek-beng sudah terkenal sebagai orang jahat, tiada orang yang berani membela dia.
Walau penasaran mendengar nama gurunya dirugikan oleh perkataan Toan Siu-si, tapi Tay-kok tidak berani mungkir.
Lebih jauh Toan Siu-si berkata.
"Mengingat hubungan sesama perguruan, Tan Khu-seng tidak berani melawan Tong-hian-cu. Tapi Tong-hian-cu malah mengajak Yang Kek-beng mengeroyoknya, terpaksa aku membantu dia melawan mereka. Kali itu aku dan Tan Khu-seng juga luka parah hampir ajal. Tong-hian-cu berhasil kubunuh, siapa di antara kalian ingin menuntut balas, seorang diri aku akan memikulnya. Tapi ingin aku bertanya, kalau hari itu aku yang terbunuh olehnya, apakah kalian berpendapat bahwa kematianku itu setimpal?"
Tong-bing-cu terdiam tak mampu bicara, Tong-cin-cu sendiri juga malu. Khawatir Toan Siu-si makin mengorek borok pihaknya, Tongcin-cu berkata.
"Kematian Tong-hian sute di Ciok-lin disaksikan oleh orang kami, apakah kejadian sesuai yang diceritakan Toan-siansing kita tidak perlu meributkan. Umpama betul Tan Khu-seng tidak membunuh susiok-nya, dosanya hanya sedikit lebih ringan, jangan dianggap bahwa tuduhannya yang lain fitnah belaka. Jikalau dia tidak mau membela dirinya, aku tetap akan menjatuhkan vonisku."
Toan Siu-si berkata dingin.
"Satu hal mencakup persoalan lain. Tan Khu-seng hanya tidak mau berdebat, siapa tahu dosa yang dituduhkan kepadanya apa bukan fitnah seperti yang kalian tuduhkan bahwa dia yang membunuh Tong-hian-cu?"
"Toan-siansing,"
Kata Tong-cin-cu.
"kau bilang satu hal dapat mencakup persoalan lain, kurasa uraian-mu ini juga tidak bisa menjernihkan persoalan. Menurut pendapatku, kita harus menilai persoalan berdasarkan kenyataan, harus dibicarakan satu per satu."
Lui-tin-cu, tianglo Bu-tong-pay berdiri, katanya melerai.
"Bagaimana kasus Tan Khu-seng sebenarnya sukar aku memahaminya, maka tak berani aku bicara. Tapi kematian Tonghian-cu di Ciok-lin sudah jelas duduk perkaranya, maka ingin aku bicara secara adil."
"Silakan Lui-locianpwe."
"Menurut pendapatku, kejadian ini hanya boleh dianggap malapetaka, juga tak boleh menyalahkan Toan Siu-si saja. Bicara kenyataan dari kejadian itu, menurut aturan Bulim, peristiwa itu hanya boleh dianggap sebagai permusuhan pribadi."
Tong-cin-cu pandai melihat arah angin, keadaan memaksa dia menerima pendapat Lui-tin-cu, maka dia menyatakan kematian Tong-hian-cu tiada sangkut paut dengan Tan Khu-seng. Menyusul dia berkata.
"Tan Khu-seng, tuduhan atas dirimu tentang pembunuhan itu kubatalkan, tapi dosamu yang lain, jika kau tetap tidak mau memberi keterangan, maka akan kuanggap kau menerima tuduhan itu. Baiklah, sekarang kutegaskan lagi, kau mau menerangkan tidak?"
"Sudah kukatakan, kecuali suhu almarhum hidup kembali, kepada siapa pun aku tidak akan bicara"
"Baiklah, dalam menangani kasus membersihkan nama baik perguruan, aku sudah bertindak sesuai peraturan Bulim, sudah tiga kali aku mengulangi pertanyaanku kepada Tan Khu-seng, dia juga menjawab tegas takkan mau memberi keterangan. Sekarang biar kutanya sekali lagi, masih adakah orang lain yang hendak membela Tan Khu-seng?"
Dua kali Tong-cin-cu mengulangi pertanyaannya, maka terdengar seseorang berseru lantang.
"Ada!"
Orang itu Beng Hoa Beng Hoa menanggalkan kedok mukanya.
Di bawah pandangan orang banyak dia berjalan tegap ke tengah lalu melompat ke atas panggung.
Kemunculan Beng Hoa secara mendadak membuat Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu seperti melihat setan, saking terkejut mereka terdiam.
Mimpi juga mereka tidak menduga Beng Hoa yang sudah keracunan Hap-kut-san, disekap dalam kamar tahanan di bawah tanah, ternyata muncul dalam keadaan segar bugar.
Kim Tiok-liu justru kegirangan, katanya.
"Hoa-ji, kukira terlibat urusan penting apa hingga terlambat datang, ternyata kau sudah datang sejak tadi."
Karena kaget, ngeri dan takut, Tong-cin-cu dan Tong-bing-cu mundur tanpa berjanji, keduanya memegang gagang pedang, teriaknya.
"Kau... kau... untuk apa kau kemari?"
Sudah tentu hadirin heran, kenapa ciangbunjin Kong-tong-pay bersikap begitu gugup dan ketakutan terhadap seorang cucu muridnya.
Setelah mengangguk ke arah Kim Tiok-liu, Beng Hoa menjura kepada Tong-cin-cu, katanya.
"Terima kasih akan pelayanan ciangbun yang luar biasa semalam, mohon maaf, pagi hari ini tanpa diundang aku datang sendiri. Aku hendak membela guruku."
Lega hati Tong-cin-cu karena Beng Hoa tidak membongkar perbuatannya semalam, katanya "De-lapanbelas tahun yang lalu kau baru dilahirkan. Kau tahu apa, berani kau membela guru?"
Tak tahan Kim Tiok-liu bertanya.
"Beng Hoa, bukankah kau baru pulang dari Thian-san? Apakah ciangbunjin Thian-san-pay Teng King-thian titip pesan kepadamu?"
Tong-cin-cu mengira Kim Tiok-liu sudah tahu bahwa Beng Hoa hadir sebagai wakil Thian-san-pay, cepat dia berkata "Betul. Beng Hoa mengaku sebagai wakil Teng-ciang-bun, tapi aku belum percaya"
"Aku yakin bocah ini tidak beranibohong. Satu hal dapat dibuat bukti, belum lama aku bertemu dengan Teng Ka-gwan dari Thiansan-pay, katanya ciangbun ada titip suatu barang untuk diserahkan kepada ayahnya apa betul?"
Hal ini memang kenyataan, maka dia mengangguk sambil mengiakan. Kim Tiok-liu berkata lebih lanjut.
"Menurut Teng Ka-gwan, karena dia ada urusan lain, tak keburu pulang ke Thian-san maka dia titipkan pula barang titipan ciangbun itu kepada Beng Hoa."
Beng Hoa berkata.
"Memang setelah memeriksa berkas-berkas yang dikirim tay-susiok itulah, maka beliau minta tecu mewakili dia serta mengakui diriku sebagai murid angkat Thian-san-pay, mewakilinya hadir dalam pertemuan besar ini."
"Baiklah, jadi kau ingin bicara atas nama ciangbun Thian-san, atau atas nama pribadimu membela gurumu?"
"Apa yang ingin dibicarakan Teng-ciangbun, semalam sudah kusampaikan kepadamu. Kau tidak menerima nasihatnya, maka tak perlu kuulangi lagi. Sekarang atas nama pribadiku, aku hendak membela guruku."
Merah padam muka Tong-cin-cu, katanya.
"Langkah Tengciangbun kurasa keluar batas, maka semalam aku tidak begitu yakin akan omonganmu. Kalau kau sekarang bukan bicara atas nama murid Thian-san, maka kuanggap kau sebagai murid dari murid murtad' perguruan kita."
Tawar suara Kim Tiok-liu.
"Kurasa tidak usah meributkan dia bicara atas nama siapa, kita nilai saja apakah keterangannya dapat dipercaya?"
Tong-bing-cu menimbrung dingin.
"Apa yang dikatakan suheng memang benar, delapanbelas tahun yang lalu, dia masih bayi, apa yang bisa dia ketahui? Mana mungkin membela gurunya, kurasa hanya membual belaka."
Beng Hoa menyeringai dingin, jengeknya.
"Aku belum bicara, dari mana kau tahu kalau aku membual?"
Menoleh ke arah Tong-cin-cu, suaranya lebih kalem.
"Kejadian delapanbelas tahun yang lalu, tecu memang tidak tahu. Tapi kejadian tiga tahun yang lalu, tecu sendiri yang melakukan, mungkinkah aku tidak tahu?"
Tong-cin-cu sudah menduga, namun sengaja bertanya.
"Bukankah kau bilang mau membela gurumu? Kenapa bicara tentang perbuatanmu sendiri? Apa yang pernah kau lakukan?"
Berdiri alis Beng Hoa, matanya mendelik, katanya menuding Tong Bing-cu.
"Dia bilang pernah dilukai guruku, lalu menuduh guruku kurang ajar berani melawan orang tua. Padahal bukan demikian kejadiannya. Hakekatnya guruku tidak pernah bergebrak dengan dia, orang yang pernah melukai dia adalah aku."
Muka Tong-bing-cu pucat hijau lalu merah, kalau ada lubang ingin rasanya dia bersembunyi saja.
Sudah tentu hadirin jjempar, ribut dan keheranan.
Maklum Tong-bing-cu adalah jago pedang nomor satu dari Kong-tong-pay, hal ini diakui oleh kaum persilatan.
Beng Hoa belum genap duapuluh, benarkah dia mampu melukai Tong-bing-cu?
Kejadian memang sukar dipercaya oleh hadirin.
Tapi setelah melihat sikap kikuk dan malu-malu Tong-bing-cu, mereka yang semula curiga terpaksa goyah pendirian dan bimbang.
Tong-cin-cu sengaja hendak membuat malu sute-nya, katanya.
"Tong-bing sute, apa benar begitu?"
Tong-bing-cu tergagap.
"Kejadian... kejadian...."
Tak mampu dia memberj penjelasan. Beng Hoa tidak memberi kelonggaran, jengeknya sinis.
"Jikalau ciangbun tay-susiok tidak percaya, sekarang juga aku berani bertanding lagi di hadapan umum dengan dia, biar hadirin membuktikan kebenaran keteranganku."
Sebetulnya Tong-bing-cu ingin menyangkal tuduhan Beng Hoa, namun untuk kejadian ini tak berani dia membantah.
Karena dalam situasi seperti ini jikalau dia menyangkal maka dia harus bertanding pedang, kalau hal ini terjadi, dirinya jelas bukan tandingannya.
Mana berani dia bertanding?
Dalam waktu singkat otaknya bekerja kilat, tak habis dimengerti Beng Hoa yang terkena racun Hap-kut-san ternyata bisa lolos, namun tenaganya pasti berkurang separo, namun dia khawatir bila perhitungannya meleset.
Beng Hoa berani menantang dirinya, tentu dia yakin dirinya pasti menang.
Tiga tahun yang lalu dia bukan tandingan Beng Hoa, meski tenaga Beng Hoa berkurang, dia tidak yakin dirinya dapat mengalahkan bocah ini.
Dibayangi ketakutan, Tong-bing-cu tidak berani mengaku juga tidak menyangkal, terpaksa dia mengada-ada, katanya pura-pura marah.
"Kurang ajar dan mustahil, mana sudi aku bertanding pedang dengan cucu murid."
Sembari bicara sengaja dia memberi kedipan kepada murid kepercayaannya Tay-ciok Tojin. Tay-ciok Tojin cukup cerdik untuk menangkap arti kedipan sang guru, pikirnya.
"Aku disuruh mencoba bocah ini, apakah tenaganya sudah pulih. Ya. kalau menang aku terpuji, bukan mustahil calon ciangbun yang akan datang adalah diriku, tapi kalau kalah bukankah kebalikannya buat aku?"
Maklum dia pernah dibekuk Beng Hoa, terbayang akan kelihayan Beng Hoa, dia masih merinding dan berdiri bulu kuduknya.
Di saat dia berdiri bimbang itulah, seorang murid Tong-bing-cu yang lain sudah melompat keluar.
Yaitu Tay-siong Tojin, murid kedua Tong-bing-cu, dia belum pernah merasakan kelihayan Beng Hoa, apalagi melihat usianya masih muda, biasanya dia iri kepada sang suheng yang selalu mendapat kepercayaan dari sang guru, maka kali ini dia ingin merebut pahala "Kalau ada urusan sang murid yang harus menunaikan.
Kita jangan membiarkan saja keparat ini bertingkah.
Keparat, kau berani menghina guruku.
Toa-suheng, kau diam saja.
biar aku yang menghajarnya."
"Sute, jangan salah paham,"
Sahut Tay-ciok Tojin.
"Bukan aku tidak mau urus, tapi kau harus tahu, bocah ini terhitung angkatan yang lebih rendah dari kita, kan wajar kalau suhu tidak sudi bergebrak dengan dia, aku pun harus berpikir dua kali."
Kim Tiok-liu tahu kedua tojin ini maju bersama juga bukan tandingan Beng Hoa, maka dia tampil sebagai Bulim cianpwe yang ingin menegakkan keadilan, katanya.
"Umumnya kalau angkatan tua bergebrak dengan angkatan muda dianggap menindas yang kecil. Tapi Beng Hoa bilang dia pernah melukai Tong-bing toheng, jelas orang banyak tidak percaya, kalau murid Tong-bing toheng yang mencoba kepandaiannya juga boleh. Aku tahu Beng Hoa mengangkat beberapa guru, sekarang Tan Khu-seng belum dianggap mund Kong-tong, jadi Beng Hoa belum termasuk murid Kong-tong-pay. Kalau dia bergebrak dengan kedua toheng ini, jangan lantas dikatakan melanggar kebiasaan Bulim."
Terpaksa Tay-ciok harus mengeraskan kepala, katanya.
"Baiklah, bocah keparat, suhu tidak sudi bertanding dengan kau. Biar aku yang menguji kemampuanmu."
Khawatir kehilangan kesempatan merebut pahala, Tay-siong berebut maju, katanya.
"Suheng, biar aku saja yang menghajarnya."
Beng Hoa tertawa lebar, katanya.
"Dengan cara apa kalian hendak menghajar aku."
Tay-siong Tojin berkata.
"Kalau kau tak mampu mengalahkan pedang di tanganku, terbukti kau hanya membual. Maka hukuman apa yang setimpal untukmu, biar para Bulim cianpwe yang hadir menjatuhkan vonisnya."
Beng Hoa bergelak tawa, katanya.
"Baiklah, aku memang ingin mencoba Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat kalian. Kalian tidak usah berebut."
Tay-ciok Tojin mendengus, hatinya lega dan senang, katanya.
"Kau ingin merasakan kelihayan Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat kami, nah rasakan!"
"Sret"
Serempak dia mencabut pedang bersama Tay-siong Tojin.
Sejak Kong-tong-pay berdiri, hanya tiga orang yang mampu mengembangkan ilmu pedang yang satu ini.
Pertama adalah cosu pendiri atau cikal bakal Kong-tong-pay, seorang lagi adalah Tongbiau Cinjin, guru Tan Khu-seng, seorang lagi adalah Tong-bing-cu yang diagul-kan sebagai jago pedang nomor satu dari Kong-tongpay, malah ada orang bilang ilmu pedang yang diyakinkannya jauh lebih bagus dari cosu mereka dulu.
Tapi sekarang Beng Hoa berani menantang dan melawan murid Tong-bing-cu yang mahir ilmu pedang itu.
Dengan Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat, dahulu Tong-bing-cu dikalahkan Beng Hoa di Ciok-lin, maka dia tidak banyak komentar, hanya pura-pura tak acuh dan menghina.
"Baiklah, boleh kalian serang lebih du'u,"
Tantang Beng Hoa.
"Apa, bedebah, kami harus menyerang dulu?"
Damprat Tay-siong Tojin.
"Guru kalian bukan tandingan-ku, kalian maju berdua, aku tetap tidak akan mengambil keuntungan,"
Ujar Beng Hoa tertawa.
"Baik, keluarkan dulu pedangmu,"
Seru Tay-siong Tojin. Beng Hoa menyeringai, ejeknya.
"Menghadapi gentong nasi seperti kalian buat apa pakai pedang? Tanpa pedang pun aku mampu memainkan ilmu pedang. Hayolah maju saja."
"Baiklah, kau memang ingin mampus,"
Damprat Tay-siong Tojin.
"Biar kuantar jiwamu ke alam baka."
Di tengah hardikannya, pedang panjang di tangannya disendai ke atas terus menusuk dada Beng Hoa.
Ternyata kedua saudara seperguruan ini mempunyai jalan pikiran yang sama, maka kerja sama mereka cukup baik dan serasi.
Sebelum Beng Hoa mundur, Tay-siok Tojin merendahkan tubuh, pedangnya ikut turun dan "sret"
Menusuk Ih-khi-hiat di bawah ketiak kanan Beng Hoa, demikian pula pedang Tay-siong Tojin menusuk Ih-khi-hiat sebelah kiri.
Gerakan cepat, mantap tapi keji.
Yang hadir tidak sedikit ahli pedang, mereka terkejut menyaksikan permainan pedang kedua tojin ini.
"Lian-hoan-tohbing-kiam-hoat Kong-tong-pay memang lihay."
Kejadian amat cepat, tusukan pedang laksana sambaran kilat, anehnya Beng Hoa tetap berpeluk tangan, tubuhnya meiompat berkelebat, di tengah sinar pedang yang menusuk silang itu bayangannya menyusup kian kemari.
Beng Hoa menghela napas, katanya.
"Goblok, goblok, bagaimana kau belajar? Ilmu pedang tingkat tinggi sebagus ini sia-sia kalian pela-jari. Bukan saja kurang cepat, tempo yang digunakan juga tidak tepat. Nah lihatlah biar jelas, jurus ini harus begini memakainya"
Sembari bicara,-Beng Hoa menyerang dengan jari tangan sebagai pedang.
Sebagian besar jago kosen yang hadir banyak yang tidak melihat jelas, namun Tay-ciok dan Tay-siong kelihatan terdesak mundur.
Dalam waktu sesingkat itu, Tay-ciok dan Tay-siong sama merasakan ujung jari Beng Hoa seperti menyodok Ih-khi-hiat di bawah ketiak mereka, reaksinya tidak begitu hebat, mereka hanya merasa kesemutan sedikit.
Harapan timbul dalam benak Tay-ciok, dia kira tenaga Beng Hoa belum pulih setelah terkena Hapkut-san, maka totokan jarinya hanya membuat badannya linu sebentar.
Maka dia memaki.
"Bedebah, jangan besar mulut, coba buktikan berapa jurus kau mampu melawan?"
Setelah memberi kedipan mata kepada sang Sute, segera merangsak dengan kecepatan pedangnya. Beng Hoa tertawa, katanya.
"Jurus ini keliru lagi. Lian-hoan-tohbing-kiam-hoat mengutamakan perubahan selintas sebelum dan sesudah bergerak, gerakannya di samping lembut juga sambung menyambung bagai rantai, bukan saja harus cepat lagi ganas, tapi tak boleh terlalu mengadu kecepatan saja."
Padahal kedua tosu ini termasuk susiok Beng Hoa, namun Beng Hoa justru bertingkah seperti guru sedang mengajar murid.
Tampak sambil bicara Beng Hoa bergerak kian kemari, jarinya bergerak laksana pedang, seorang diri dia mengembangkan Lian-hoan-tohbing-kiam-hoat yang ruwet dan banyak perubahannya lagi.
Setiap jurus dia bergerak, jari Beng Hoa seperti menusuk ke hiatto mematikan di tubuh Tay-ciok dan Tay-siong, karuan mereka terdesak hingga napas seperti sesak.
Sudah tentu tak berani banyak bacot lagi.
"Kali ini aku menggunakan jurus Kim-ciam-to-koat, kalian harus memunahkan dengan Hun-hoa-hud-liu,"
Demikian bentak Beng Hoa.
Mulut bicara serangan pun dilancarkan, merangkap dua jari Beng Hoa menusuk dengan gaya lurus yang dilancarkan memang betul jurus Kim-ciam-to-koat.
Dalam bertanding, jurus serangan apa yang dilancarkan diberitahukan dulu kepada lawan adalah kejadian aneh dan jarang terjadi, dia ajarkan pula bagaimana harus mematahkan serangannya, ini pun janggal, apalagi Beng Hoa sebagai angkatan muda dikeroyok dua orang angkatan lebih tinggi.
Maka para tamu tak kuat menahan geli, katanya.
"Begini kok bertanding ilmu pedang, lebih mirip mendidik murid."
Tay-ciok dan Tay-siong malu bukan main, dalam benak mereka justru bertekad tak mau mendengar petunjuk orang, tak nyana jurus Kim-ciam-to-koat yang dilancarkan Beng Hoa memang lihay sekali, serempak mereka merasakan Beng-bun-hiat dirinya terancam oleh ujung jari lawan.
Jikalau tidak segera mematahkan dengan jurus Hun-hoa-hud-liu mungkin jiwa mereka terancam.
Justru karena mereka sudah terlalu mahir menggunakan Lianhoan-toh-bing-kiam-hoat, secara otomatis kecuali jurus Hun-hoahud-liu memang tidak mungkin mereka mematahkan serangan Beng Hoa, waktu sudah mendesak, tak mungkin mereka berpikir, maka tanpa sadar terpaksa mereka mengabaikan keinginan hati sendiri melancarkan jurus yang diserukan Beng Hoa.
Beberapa kali Beng Hoa mempermainkan kedua tosu ini dengan caranya itu.
Maka tepuk sorak para hadirin makin ramai, gelak tawa mereka, terasa menusuk telinga.
Membesi muka Tong-bing-cu, bentaknya.
"Kalian masih bertanding apa? Kembalilah!"
Padahal kedua muridnya terbelenggu dalam gerakan pedang yang dimainkan Beng Hoa, mana mungkin meloloskan diri.
Ada hasrat mundur tapi mereka tak kuasa mengendalikan diri.
Beng Hoa berkata, katanya menggoda.
"Pepatah bilang guru pandai melahirkan murid pintar, kau tidak salahkan dirimu sendiri yang tidak becus menjadi guru, kenapa malah menyalahkan mereka. Sungguh tidak tahu malu, baiklah aku tidak akan mempersulit mereka, biarlah mereka kembali."
Lalu dia meninggikan suara membentak.
"Tapi kalian tidak setimpal bermain pedang, tinggalkan senjata kalian untukku."
Belum habis dia bicara, dua pedang Tay-ciok dan Tay-siong sudah berpindah ke tangan Beng Hoa. Tak tertahan Lui-tin-cu dari Bu-tong-pay berseru memuji.
"Khong-jiu-jip-pek-to yang hebat."
Kecuali beberapa tokoh kosen, banyak hadirin tiada melihat jelas dengan cara apa Beng Hoa melucuti senjata kedua tosu itu. Terdengar suara "Pletak"
Dua kali, sekaligus Beng Hoa mematahkan kedua batang pedang mereka tepat di bagian tengah.
Kalau tadi dia pamer ilmu pedang, sekarang dia mendemonstrasikan tenaga dalamnya.
Seluruh murid-murid Kongtong-pay menyaksikan dengan melongo, terutama Tay-ciok Tojin yang paling ketakutan, dua kali dia kecundang di tangan Beng Hoa.
Beng Hoa membuang kutungan pedang lalu melompat naik ke panggung, setelah memberi hormat kepada Tong-cin-cu, berkata.
"Entah ciangbun tay-susiok sudah mau percaya kepadaku? Kalau belum percaya, boleh kau suruh Tong-bing-cu sendiri bertanding dengan aku."
Tong-cin-cu ingin menjatuhkan pamor Tong-bing-cu, tanyanya.
"Sute, bagaimana pendapatmu?"
Sudah tentu Tong-bing-cu tidak berani bertanding dengan Beng Hoa, katanya marah.
"Suheng, dalam pertemuan besar perguruan kita ini siaute sebagai calon tunggal pewaris ciangbun, apa aku pantas bertanding pedang dengan dia?"
"Sute, kau salah paham. Bukan aku memaksamu bertanding dengan dia, cuma soal ini harus dipertanggungjawabkan."
Maka Lui-tin-cu membuka suara sebagai Bulim cianpwe yang memberikan keadilan.
"Betul,Tong-bing toheng, kau sendiri juga harus memberi pernyataan, katakan apakah betul pembelaan Beng Hoa atas tuduhan yang ditujukan kepada gurunya?"
Merah padam muka Tong-bing-cu saking malu, katanya tersekat.
"Dia... dia adalah murid Tan Khu-seng, perbuatan jahat muridnya, apa saiahnya kalau diperhitungkan kepada gurunya, kurasa tuduhan itu juga tidak meleset terlalu jauh?"
Secara tidak langsung dia mengakui bahwa dirinya memang pernah dilukai oleh Beng Hoa.
Tong-cin-cu harus mempertahankan gengsi seorang ciangbun, setelah dia menjatuhkan.pamor sute-nya, dia harus memberi muka pula kepadanya, maka dia berkata dengan nada adil.
"Murid berbuat salah, guru harus bertanggung jawab, hal ini memang benar. Baiklah, Tan Khu-seng, tuduhan Tong-bing-cu tentang kekurang ajaranmu melawan orang tua boleh dibatalkan. Biarlah tuduhan ini kuubah menjadi dosa kelalaianmu mengabaikan murid berbuat kurang ajar. Kau terima tidak?"
"Tak perlu aku memberi komen--tar, karena bagaimana kejadian waktu itu aku tidak tahu."
"Aku malah ingin bicara secara adil,"
Timbrung Lui-tin-cu.
"Umpama betul Beng Hoa melukai Tong-bing-heng, kukira tidak bisa menyalahkan dia sebagai kurang ajar kepada orang tua. Karena waktu dia mengangkat Tan Khu-seng sebagai guru, Tan Khu-seng sudah dipecat dari perguruan."
"Aku tidak terima,"
Seru Beng Hoa lantang.
"Mohon perkenan ciangbun tay-susiok supaya aku menceritakan keadaan waktu itu."
Berkerut alis Tong-cin-cu, katanya.
"Kasus yang menyangkut dirimu termasuk sebagian kecil saja dalam kasus keseluruhan yang melibatkan gurumu. Aku tidak ingin urusan bercabang dan menimbulkan akibat lain yang tidak kuinginkan, tapi karena kau tidak terima, boleh kau bicara secara singkat saja."
"Hari itu dia datang ke Ciok-lin bersama seorang murid Yang Kekbeng dari suku Biau, ketika itu aku tidak kenal dia. Waktu itu suhu sudah lama meninggalkan Ciok-lin, sementara orang Biau itu dulu pernah ikut Yang Kek-beng membuat onar di Ciok-lin, hari itu mereka...."
Belum habis Beng Hoa bicara, mendadak seseorang melompat keluar, serunya.
"Seperti yang dikatakan Tong-cin-cu ciangbun, persoalan itu urusan kecil, kalau duduk persoalannya sudah jelas, kukira tak perlu diungkit-ungkit lagi. Tapi, ada satu hal lain kurasa ciangbun kalian harus tanyakan dulu supaya jelas."
Orang yang tampil bicara ini seorang laki-laki pendek gemuk dengan hidung betet, melihat tampangnya jelas bukan orang Han, maka orang bertanya-tanya.
Syukur ada orang yang kenal dia, katanya, Orang ini adalah Thian-lam-kiam-pa Liong Bok-kong.
Asalnya penduduk Hay-lam dari suku Le di Ngo-ci-san.
"O, kiranya dia. Aneh, tempat tinggalnya jauh di selatan, bagaimana dia punya hubungan erat dengan pihak Kong-tong?"
Hadirin bisik-bisik, mereka bukan heran karena Liong Bok-kong orang selatan kenapa jauh-jauh me'.uruk datang dan agaknya punya ikatan dengan pihak Kong-tong, tapi lebih penting karena Liong Bok-kong terkenal sebagai tokoh kalangan sesat, walau kejahatannya tidak seburuk gembong iblis Yang Kek-beng.
Selama ini dia hanya beroperasi di daerah selatan, maka dia memperoleh julukan Thian-lam-kiam-pa (Buaya pedang dari selatan).
Hadirin tidak puas dan heran kenapa Kong-tong-pay juga mengundang manusia jahat ini.
Sudah tentu hadirin tidak tahu kesulitan Tong-cin-cu.
Karena tampilnya Liong Bok-kong di hadapan umum, sikap Tong-cin-cu kelihatan runyam.
Perlu diketahui bahwa kedatangan Liong Bok-kong adalah diundang atas nama Tong-bing-cu dan yang mewakili Tong-bing-cu mengundang Liong Bok-kong adalah Yang Kek-beng.
Di belakang Yang Kek-beng masih ada tulang punggung yang mengendalikan segala muslihat ini yaitu komandan Gi-lim-kun Hay Lan-ja.
Jadi kalau dinilai keseluruhannya, Yang Kek-beng dan Tong-bing-cu tak lain tak bukan hanyalah boneka Hay Lan-ja belaka, Hay Lan-ja pula yang menganjurkan supaya meminjam nama Tong-bing-cu mengundang teman-teman dari aliran sesat untuk membantu.
Sementara Tong-cin-cu dipaksa untuk menyetujui.
Sebetulnya mereka sudah berjanji kepada Tong-cin-cu untuk tidak tampil di depan umum, tapi Liong Bok-kong melanggar janji.
Meski Tong-cin-cu bersikap runyam, terpaksa harus bertanya kepadanya secara sopan.
"Entah persoalan apa yang ingin Liongsiansing tanyakan?"
"Bocah ini mengaku sebagai wakil ciangbunjin Thian-san-pay, kalau demikian tentu dia termasuk murid Thian-san-pay. Kalau tidak mana setimpal mewakili ciangbun mereka?"
"Kan sudah dijelaskan lagi bahwa dia hanya murid angkat Thiansan-pay."
"Tapi ucapannya aku justru tidak percaya,"
Jengek Liong Bokkong.
"Dengan cara apa baru kau mau percaya?"
"Aku ingin mencoba Thian-san-kiam-hoat-mu."
"Liong Bok-kong,"
Kata Lui-tincu.
"apa kau tidak menyudutkan orang. Beng Hoa hanya sekali pergi ke Thian-san, mana mungkin bisa mempelajari Thian-san-kiam-hoat?"
"Aku tidak peduli berapa lama dan berapa banyak dia pernah belajar, kalau dia tidak mahir Thian-san-kiam-hoat mungkinkah Teng-ciangbun mengutusnya kemari? Mengangkatnya menjadi murid angkat segala? Kejadian yang jarang terjadi dan rasanya janggal, kukira Teng-ciangbun takkan melakukan. Karena itu aku tidak percaya."
Lui-tin-cu sudah buka mulut, tapi Beng Hoa sudah mendahului.
"Thian-san-kiam-hoat adalah ilmu tinggi, luas dan mendalam, sudah tentu sukar aku menguasainya, namun untuk menghadapi kaum kero-co kukira cukup berkelebihan bagiku. Kalau kau ingin coba silakan maju."
Liong Bok-kong bergelar Thian-lam-kiam-pa, sudah tigapuluhan tahun dia angkat nama, namun di mulut Beng Hoa dirinya dianggap kaum keroco, betapa hatinya takkan berang?
Segera dia mencabut pedang serta membentak.
"Keparat, berani menghina aku, mampuslah kau!"
Bentuk pedangnya aneh dan lain dari pada yang lain, batang pedangnya lebar, tapi panjangnya hanya dua kaki, ujungnya memancarkan kilauan cahaya biru dingin, bagi pesilat kawakan sekali pandang lantas tahu pedangnya itu'dilumuri racun jahat.
Di antara hadirin ada guru kun-thau tua dari Jiangciu bernama Tio It-bu, orangnya jujur, segera dia berdiri dan berteriak.
"Pertandingan ini hanya untuk mencoba apakah Beng-siauhiap ini betul-betul mahir menguasai Thian-san-kiam-hoat, Liong Bok-kong menggunakan pedang beracun untuk mencoba orang, apa sih maksudnya?"
Belasan tamu lain dari tokoh-tokoh silat kenamaan ikut mendukung suara Tio It-bu. Liong Bok-kong tertawa dingin, katanya.
"Selama puluhan tahun aku selalu memakai pedang ini. Belum pernah aku dengar adanya peraturan dalam Bulim melarang seseorang menggunakan senjatanya di saat bertanding. Hehe, pedangku ini memang beracun, bocah she Beng kalau kau takut, mengaku kalah sajalah."
Tujuan Liong Bok-kong memang keji, bertanding pedang hanya alasan saja untuk membunuh Beng Hoa.
Maklum sebagai komplotan Yang Kek-being dia merasa perlu tampil bicara karena khawatir Beng Hoa bicara kejadian di Ciok-lin dulu, maka untuk melindungi Yang Kek-beng yang secara langsung juga melindungi dirinya, maka dia memutuskan membunuh Beng Hoa.
Di tengah keributan hadirin, sikap Beng Hoa justru tenang dan kalem, hakekatnya dia tidak gentar menghadapi pedang beracun Liong Bok-kong.
'Terima kasih aras perhatian para cianpwe kepada wanpwe.
Pedang beracun memang lihay, tapi apakah mampu membunuh orang, tergantung kepada si pemakai.
Manusia jahat ini tak lebih bangkotan keroco dalam pandanganku, betapapun jahat pedang beracunnya, yakin dia takkan mampu menyentuh tubuhku."
"Beng-siauhiap,"
Seru Tio It-bu.
"bajingan ini terkenal jahat dan keji, jangan kau memandang enteng dia."
Membulat mata Liong Bok-kong, katanya menyeringai.
"Tio It-bu, kuingat makianmu itu. Setelah kubereskan bocah ini, nanti aku buat perhitungan dengan kau."
Segera dia menegakkan pedang dan "sret"
Menusuk ke arah Beng Hoa seraya membentak.
"Anak jadah, kau ingin mati, biar kuantar kau ke akhirat."
Bentuk pedangnya saja sudah ganjil, ternyata jurus pedangnya juga berbeda dengan ilmu pedang umumnya.
Ilmu pedang mengutamakan enteng dan lincah, pedang beracun lebar ini justru dimainkan sebagai golok besar, menabas dan membacok serabutan secara keras.
Penonton dalam jarak tigapuluhan langkah juga mencium bau amis yang memualkan.
Khawatir terkena racun, penonton banyak yang mundur.
Tampak pedang Beng Hoa berputar, seperti menusuk ke kiri namun di tengah jalan mendadak berubah menjadi lingkaran, tajam pedangnya mengiris ke kanan malah.
Penonton yang juga ahli dalam permainan pedang segera bersorak memuji.
"Bagus, itulah jurus Hong-wi-loh-coan tulen dari Thian-san-pay."
Belum habis orang ini bersuara, Liong Bok-kong sudah berputar.
"wut"
Pedang racunnya menyambar lewat di atas kepala Beng Hoa, hanya terpaut setengah senti, kulit kepala Beng Hoa sudah terpapas olehnya.
Di tengah teriakan kaget hadirin, sebat sekali Beng Hoa berputar, secara tepat pedangnya sudah mengancam dada Liong Bok-kong.
Liong Bok-kong berjingkat kaget, pedang diturunkan terus menyapu miring.
Tapi gerakan Beng Hoa laksana kilat, pedangnya menyeret serta menuntun, dengan mudah dia mematahkan serangan keji Liong Bok-kong.
Penonton juga melongo terpesona, yang bermata tajam berteriak memuji.
"Jurus Pay-hun-ji-thian (Menata mega mengemudi kilat) yang bagus."
Begitu merebut inisiatif, Beng Hoa tidak memberi angin lagi kepada Liong Bok-kong, bentaknya.
"Biar matamu terbuka, rasakan Tui-hong-kiam dari Thian-san-pay."
Sesuai namanya Tui-hcng-kiamhoat amat lincah dan tangkas.
Beng Hoa sudah punya dasar dari golok kilat keluarganya, untuk mengembangkan Tui-hong-kiam tidak menjadi halangan baginya, malah kecepatannya melebihi kilat, jago kelas satu dari murid-murid Thian-san-pay sendiri juga tiada yang bisa menandingi kecepatannya.
Hanya sekejap mata Liong Bok-kong telah terbungkus di dalam cahaya pedang, tampak sinar kilat sambar menyambar menyilaukan mata, penonton pun kabur pandangannya.
Kiamhoat yang diyakinkan Liong Bok-kong termasuk jenis yang ganas dan keras, permainannya beringas.
Tapi sekarang membela diri pun dia kerepotan, mana mampu balas menyerang?
Memang penonton banyak yang benci dan sebal melihat tampang orang jahat ini, melihat keadaannya yang makin runyam, penonton bersorak dan mengolok.
Terutama Tio It-bu bersuara paling lantang.
"Thian-lamkiam-pa apa, di mana kegaranganmu tadi? Kukira lebih setimpal kalau dijuluki Thian-lam-ji-hu (Kaum ke-roco dari Thian-lam)."
Hampir meledak kepala Liong Bok-kong saking gusar dan malu, sifat buasnya lantas kumat, bentaknya beringas.
"Keparat, biar aku adu jiwa dengan kau."
Meski dalam kurungan cahaya pedang lawan juga tidak dipedulikan lagi, mendadak dia melambungkan tubuhnya ke udara, dengan gerak tubuh Hwi-ciau-to-lin (Burung terbang hinggap di hutan) pedangnya berputar dengan tubuh menukik.
Agaknya insaf dirinya bukan tandingan Beng Hoa maka dia nekad mengadu jiwa.
"Pergilah!"
Bentak Beng Hoa.
Dengan jurus Ki-hwe-liau-thian, pedang beradu, meminjam tenaga menggunakan tenaga, dituntun lalu didorong pergi, tubuh Liong Bok-kong sudah menukik turun langsung terbang serong, untung kungfunya tidak lemah, di udara dia berjumpalitan baru kedua kakinya hinggap di tanah tidak sampai jatuh.
Tapi begitu dia berdiri tegak, orang banyak lantas melihat jelas, seketika sorak-sorai gegap gempita.
Ternyata rambut, alis dan jenggot Thian-lam-kiam-pa Liong Bokkong telah dicukur kelimis oleh pedang kilat Beng Hoa, bukan saja jadi hwesio, tanpa jenggot tak beralis lagi.
Tio It-bu berteriak.
"Bagus, Beng-siauhiap kau memang bajik dan penuh cinta kasih. Orang sejahat ini kenapa kau hanya mencukur rambutnya."
Liong Bok-kong merasakan kepalanya dingin, tfcnpa sadar tangannya meraba kepala, baru disadarinya bahwa kepalanya sudah gundul.
Baca Juga: Duri Bunga Ju 5
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 3