Ceritasilat Novel Online

Duri Bunga Ju 5

Eps 5 Duri Bunga Ju - Gu Long

Baca online Duri Bunga Ju - Gu Long

Cersil Duri Bunga Ju - Gu Long.

"Kabarnya Gai-bang menghadiahkan uang sepuluh ribu liang untuk kepalanya Li Yuan-wai."

"Itu apa anehnya, aku masih mendengar Perkumpulan Bunga Ju menghadiahkan uang sepuluh ribu liang untuk jejaknya!"

"Ooo.... Ini adalah kesempatan untuk jadi kaya, sialan, tidak tahu anak kura-kura itu bersembunyi di goa mana...."

"Coba pikir, jika aku tahu ada orang mau mengeluarkan hadiah sebesar itu untuk nyawaku, apalagi itu adalah 'Perkumpulan Bunga Ju' dan 'Gai-bang', aku sudah dari dulu mencari pohon yang miring, menggantung diri saja, menghindar nanti hidup tersiksa...."

"Kau tidak mengerti, Gai-bang ingin membunuhnya karena dia melakukan perkosaan, dan juga mencelakai sesama anggota, berniat merebut kekuasaan, mengenai Perkumpulan Bunga Ju! He.... he.... aku juga tidak tahu."

"Kau ini sialan, ini kan omong kosong?! Gai-bang ingin membunuhnya itu sih semua orang juga tahu, yang ingin aku tahu tentu saja kenapa Perkumpulan Bunga Ju juga mencari dia...."

"Aku kan bukan orang dari Perkumpulan Bunga Ju, mana aku bisa tahu mengapa Perkumpulan Bunga Ju mencari dia?"

"Kabarnya Perkumpulan Bunga Ju sangat misterius, ini.... ini jika ada orang bisa mendapatkan dia lalu kemana mengambil hadiahnya?!"

"Kau tenang saja, asal kau bisa menemukan bocah yang berdosa pada leluhur, pemerkosa yang tidak bisa diampuni dalam sepuluh dosa itu, asal menggantungkan tiga lentera merah di sembarang tempat dibenteng gerbang kota, dijamin tidak lewat dua jam, tentu akan ada orang yang menghubungimu, kenapa?! Kau bocah, jika punya kabar jangan dimakan sendiri!"

"Aku mana ada keberuntungan seperti itu? Tapi selanjutnya aku akan lebih memperhatikan pengemis yang pendek dan gemuk, siapa tahu keberuntunganku berubah, bisa menemukannya, siapa yang tahu...."

"Benar juga kata-katamu, Li Yuan-wai sekarang sudah berubah menjadi balok emas, setiap orang berebut menginginkannya...."

Percakapan selanjutnya sudah tidak ada yang harus didengar lagi.

Tapi Li Yuan-wai jadi mendapat lebih banyak berita mengenai munculnya Perkumpulan Bunga Ju di dunia persilatan.

Sambil mengusap-usap belakang kepalanya, Li Yuan-wai sungguh tidak mengerti kepalanya ini yang dikatakan bulat ya tidak bulat dikatakan pesegi ya tidak pesegi, masih bisa begitu berharga.

Gai-bang menginginkan dirinya dan memberi hadiah masih bisa masuk akal, Perkumpulan Bunga Ju, mainan apa lagi?

bagaimana ceritanya?

Dia tidak terima sejak kapan ada orang dari belakang berani memaki dirinya adalah pemerkosa, ditambah anak kura-kura.

Siapa pun orangnya jika mendengar ada orang dihadapan dirinya mengkritik dirinya demikian, walau yang ada di depan dirinya ada ati naga empedu Feng mungkin tidak akan timbul selera makan sedikit juga.

Menatap dua orang itu yang preman kelas sembilan, hanya cukup menggunakan dua jari saja dia sudah cukup bisa membunuhnya, tapi Li Yuan-wai sedikit emosi juga tidak ada.

Walau di dalam hatinya dia sudah memaki-maki dua orang itu, dari atas kepala sampai kekaki lebih dari sepuluh kali, tapi begitu bertatapan, Li Yuan-wai menampilkan tawa yang bersahabat.

Disaat begini dia mana mungkin bisa mengaku bahwa dirinya adalah anak kura-kura seperti yang dikatakan mereka?

Setiap orang pasti punya satu refleksi, ketika melihat ada orang tersenyum pada dirinya, pasti akan melihat dua kali padanya.

Makanya dua orang preman kelas sembilan itu, terusterusan melihat Li Yuan-wai yang terhalang dua meja, dengan tanpa tahu sebabnya tertawa bengong kearahnya, mereka melihat dia dua kali, lalu bersama-sama bangkit berdiri, juga bersamaan berjalan menuju Li Yuan-wai.

0ooo(dw)ooo0 Mungkin dua orang itu telah melihat Li Yuan-wai yang berpakaian mewah dan banyak perhiasannya.

Mungkin senyumnya Li Yuan-wai membuat dua orang itu menanggalkan permusuhan.

Pokoknya wajah yang tadinya penuh dengan permusuhan, sekarang sudah berubah menjadi wajah yang tersenyum.

"Tuan, apakah kita sudah pernah kenal?"

Kata Pria kurus kecil yang disebelah kiri. Kenal? Telur kura-kura baru kenal kalian."

Pikir Li Yuan-wai di dalam hati, tapi dirnulutnya tidak mengatakan demikian.

"Oww, anda ini.... anda ini aku rasanya pernah bertemu entah dimana, wajahnya sangat hafal, hanya dalam sesaat tidak bisa mengingatnya, kau marga...."

"Aku marga Huo, Huo Huai, Tuan ini, aku.... aku juga merasa wajahnya hafal sekali."

Yang dipanggil Huo Huai sambil berkata, sepasang mata tikusnya melihat delapan cincin batu pusaka di tangannya Li Yuan-wai.

Li Yuan-wai berpikir di dalam hati, 'nenekmu, sungguh telah melihat setan, hafal wajahnya kentut, aku lihat kau mungkin hafal terhadap cincinku."

Sengaja menggoyangkan jarinya, Li Yuan-wai bertingkah seperti sangat akrab berkata.

"Ah! Aku ingat sekarang, saudara Huo, betul, betul, kau marga Huo, tidak salah, tidak salah, kalau yang ini adalah...."

Seorang lagi laki-laki yang bermata segi tiga, begitu mendengar Li Yuan-wai menanyakan dirinya, buru-buru dia memperkenalkan diri berkata.

"Aku marga Li, Li huruf delapan belas, Li Gui-qiu."

"Saudara Li, sudah lama dengar, sudah lama dengar."

Li Yuan-wai mulutnya tertawa, tapi dihatinya berkata.

"Li Gui-qiu, sialan, nanti kau baru tahu kau akan bersujud minta ampun pada aku."

Merasa dihormati, dua orang bersama sama berkata.

"Kalau anda...."

"Oww, kalian lihat, aku malah lupa memperkenalkan diri sendiri, he he.... maaf, maaf, aku marga Zheng, Zheng yang artinya rapih, Zheng Yuan Wang.... he he.... Zheng Yuan Wang, kalian berdua silahkan duduk, silahkan duduk...."

Tentu saja harus duduk, masa tidak melihat bola mata dua orang itu sepertinya hampir saja tertempel pada delapan cincin batu pusaka di jari itu.

Huo Huai sambil duduk, sambil mencoba mempererat hubungan berkata.

"Saudara Zheng, margamu sungguh jarang sekali!"

"Anakku, mempermainkanmu, apa salah? Bagaimana bisa tidak jarang?"

Li Yuan-wai berpikir sampai di sini hampir saja tidak tahan tertawa keluar.

Orang bilang jika arak bertemu dengan peminum, seribu cangkir juga masih merasa kurang, ada juga yang mengatakan dirantau orang ketemu kenalan lama.

Juga tidak tahu tiga orang ini bagaimana bisa jadi berhubungan, jadi orang satu kampung.

Juga tidak tahu apakah mereka kesal karena bertemunya terlambat.

Pokoknya teko arak sudah bertumpuk di meja, percakapannya juga sudah banyak.

Sekarang Li Yuan-wai sudah tahu tidak sedikit apa yang terjadi di dunia persilatan dari mulut kedua orang ini.

Melihat sudah waktunya jadi mabuk, dengan beralasan pergi ketoilet, Li Yuan-wai memuntahkan seluruh arak yang tadi diminum setetes pun tidak disisakan.

Setelah kembali ketempat duduk, Li Yuan-wai tengkurap di atas meja, mmm, tampangnya itu sungguh persis seperti mabuk tidak alang kepalang.

"Saudara.... saudara Zheng, hari ini bisa.... bisa berkenalan dengan anda adalah.... adalah keberuntunganku, biar.... biar aku saja.... saja aku yang traktir."

Huo Huai walau lidahnya sudah jadi besar, tapi dia tetap melihat terus jari orang.

"Betul.... betul.... biar kami.... bayar dulu bonnya lalu.... lalu antar saudara.... saudara Zheng pu.... pulang...."

Ternyata Li Gui-qiu tidak berbeda jauh, hanya tidak tahu dia siap mengantarkan Li Yuan-wai pulang kemana? Apa kota mati tidak berdosa? Atau kuburan umum?"

"Jika ada orang mengundang, Li Yuan-wai pasti hadir."

Ini adalah satu hal yang semua orang tahu.

Apalagi semula Li Yuan-wai sudah mempersiapkan, membiarkan dua orang ini membayarnya.

0ooo(dw)ooo0 Malam dingin seperti air, angin dingin menusuk kulit orang.

Huo Huai dan Li Gui-qiu dua orang begitu keluar dari 'Gedung Memuaskan', segera ditiup angin dingin, sudah lebih sadar.

Mereka sekarang sedang membopong Li Yuan-wai dikiri kanan berjalan menuju karah tempat yang orangnya sedikit dan sepi.

Ketika Huo Huai diam-diam beberapa kali mencubit Li Yuan-wai, tidak melihat dia bereaksi, maka tertawalah dia, tertawanya begitu dingin sekali.

Diluar kota di dalam sebuah hutan pohon Bai Yang besar dan gelap....

"Aku lihat di tempat ini saja, bagaimana?"

Kata Li Guiqiu sambil melihat kesekelilingnya.

"Baik, aku lihat di tempat ini sungguh tepat, sialan bocah ini sungguh berat, dia menindih aku sampai susah bernafas...."

Melepaskan Li Yuan-wai, Huo Huai sambil menggosokgosok pinggang, sambil memaki lagi.

"Sialan, kau lihat bocah ini sungguh seperti seekor babi mati, he.... he.... he.... didunia ini dimana ada makanan yang gratis."

Li Gui-qiu saat ini juga dengan bangga tertawa memaki.

"Memang, bocah ini sungguh bisa minum, makan, sekali makan sudah menghabiskan kita sepuluh liang perak, sialan, dengan uang sepuluh liang perak orang bisa cukup membiayai hidup selama sepuluh hari, dia malah sekali makan menghabiskan semua...."

"Lao Li, kau tidak perlu menyebutnya lagi, nanti kau akan mendapat ganti."

Huo Huai dikiri, Li Gui-qiu dikanan. Mereka berdua masing-masing memegang sebelah tangan Li Yuan-wai sedang dengan sekuat tenaganya hendak melepas cincin di jarinya.

"Sialan, gemuk mati ini jarinya begitu besar, ini.... ini bagaimana melepasnya...."

"Kau benar mengatakannya, Lao Li, kau keluarkan belati disepatu itu, langsung potong saja mungkin akan lebih mudah...."

Huo Huai juga sudah mencoba memaksa melepaskan cincin di jari selama setengah harian, keningnya sudah tampak berkeringat, tapi satu cincin pun belum bisa tercabut, sehingga dengan kesal berkata begitu.

Sebuahh pisau yang berkilau, sepasang mata yang berkilau.

Pisau yang berkilau tapi tidak seterang sepasang mata yang seperti air dimusim gugur.

Sorot matanya seperti pisau, di dalam tawan ya juga seperti tersembunyi pisau yang tidak terhitung banyaknya.

Pisau yang tidak berbentuk, malah lebih menakutkan dari pada yang benar-benar pisau, Trang terdengar suara pisau jatuh ke tanah.

Seperti melihat setan, tangan Li Gui-qiu yang memegang pisau sudah kosong, dan dengan suara gemetar berkata.

"Kau.... kau...."

Huo Huai yang menundukkan kepala sedang berusaha melepaskan cincin, mendengar suara Li Gui-qiu yang tidak normal, hatinya merasa aneh tapi matanya tidak diangkat hanya berkata.

"Apa kau sudah melihat setan? Cepat pungut pisaunya...."

Li Yuan-wai menarik tangannya, sambil mengeluh berkata.

"Hai! Budaya sudah merosot, hati orang sudah seperti dulu...."

Ketika tangan lawan terlepas dari pegangannya, semula Huo Huai masih mengira orang hanya membalikkan tubuhnya dalam mabuk, tapi ketika dia mendengar ucapan Li Yuan-wai, dia jadi seperti ditusuk jarum, mendadak mundur beberapa langkah.

Dia seperti melihat setan, membelalakkan mata tikusnya, dengan tergagap-gagap berkata.

"Kau.... kau tidak.... mabuk?! Atau.... atau kau sudah sadar?!"

Li Yuan-wai menggeliat sekali, dengan malas berkata.

"Aku tidak minum arak mana bisa aku mabuk? Jika aku mabuk mungkin tidak akan bisa sadar lagi!"

"Ba.... bagaimana bisa?! Kami jelas jelas.... jelas jelas...."

Kata Huo Huai dengan serak.

"Jelas-jelas melihat aku minum arak betul tidak? Dan melihat aku banyak minumnya benar tidak?"

Kata Li Yuanwai hi hi tertawa. Dua orang itu bersamaan menganggukkan kepala, karena mereka sungguh tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi, dan juga ingin tahu sebabnya.

"Sudah dimuntahkan, aku memuntahkan arak yang telah aku minum, hanya itu."

"Kalau.... kalau begitu kau pura-pura mabuk...."

Kata Huo Huai walau terkejut, tapi tidak hilang ketenangannya.

"Jangan berkata begitu tidak enak didengar, boleh tidak? Pura-pura mabuk bagaimana pun jauh lebih baik dari pada kalian tukang merampok dan membunuh...."

"Kau sudah tahu siasat kami?!"

Kata Li Gui-qiu ketakutan.

"Hai! jujur saja kukatakan kau tadi meraba-raba juga memencet dan mencubit setengah harian, diawalnya, aku masih tidak tahu maksud kalian, tapi begitu melihat kau mengeluarkan pisau ingin memotong tanganku baru aku mengerti maksud kalian sebenarnya...."

Kata Li Yuan-wai mengeluh, sedikit rada 'edan'.

Huo Huai, Li Gui-qiu tidak berpenyakit, mana mungkin tidak mengerti arti perkataan Li Yuan-wai?

Mungkin mereka mengira Li Yuan-wai adalah hartawan muda, dan kambing yang gemuk, sama sekali tidak terpikirkan yang lain, juga tidak menganggap lawan berat.

Huo Huai dengan dingin berkata.

"He.... he.... jika kau sudah tahu maksud kami, mengapa tidak langsung saja?"

Li Yuan-wai dengan wajah aneh melihat mereka, mendadak dia berteriak.

"Huo Huai, aku lihat kau sungguh telah melihat setan, berniat melakukan kejahatan pada aku Li Yuan-wai, kalian tidak mencoba cari tahu...."

Li Yuan-wai?! Jika dia adalah Li Yuan-wai, buat apa mencoba mencari tahu? "Li Yuan-wai?! Kau ini Li Yuan-wai yang mana? Kau.... kau ini bukan dipanggil Zheng Yuan Wang...."

Li Gui-qiu kali ini jadi ketakutan.

"Anakku, sampai kata Zheng Yuan Wang juga kau tidak mengerti? Bodoh, sungguh bodoh...."

Kata Li Yuan-wai sampai tertawa.

Dua orang itu bersama-sama membacanya dua kali, benar....

Orang sungguh-sungguh datang untuk Zheng Yuan Wang.

Nama orang, bayangan pohon.

Namun di bawah keserakahan dan mendapat untung besar dua orang seperti sudah lupa lawan mereka adalah Li Yuan-wai.

Melihat tingkahnya, mereka malah memandang Li Yuan-wai sebagai 'hartawan kambing gemuk' yang menunggu disembelih.

0ooo(dw)ooo0 Wajah dua orang itu gembira dan sorot matanya bersinar melihat Li Yuan-wai, mmm, seperti menemukan balok emas.

Li Yuan-wai bukan seorang idiot, mana mungkin tidak melihatnya?

"Anakku, kalian....

tampang kalian sekarang sepertinya anjing menemukan tulang, sungguh menakutkan orang...."

"He he.... Li Yuan-wai, betul, betul, kau adalah Li Yuanwai, sedikit pun tidak salah, teman, bagaimana kalau kita berdamai...."

Kata Huo Huai dengan licik tertawa.

Li Yuan-wai memiringkan kepala, berpikir apa orang ini punya penyakit atau tidak?

Di dalam hatinya dia juga merasa sial, karena kejadian ini, jika diwaktu dulu tidak mungkin akan terjadi keadaan seperti sekarang.

Apakah sekali orang mengalami kesialan maka sampai satu preman kelas sembilan pun berani menganggap enteng dirinya?

Apakah dirinya benar-benar telah menjadi anjing di rumah duka, hingga setiap orang bisa menghinanya?

Begitu terpikir kesialan yang diterimanya beberapa bulan ini, Li Yuan-wai menjadi marah sekali sampai tertawa keras berkata.

"Ha ha.... ha! bagus, bagus, hebat, hebat, boleh, tentu saja boleh, katakan saja! Mau bagaimana berdamainya?"

Li Yuan-wai yang marah besar sampai tertawa, malah membuat hati dua orang itu bergetar, sepertinya baru sadar lawannya orang yang bagaimana.

Sehingga dua orang tidak berani menjawab.

Seperti angin ribut, empat tinju, dua kaki, sekaligus dalam waktu bersamaan, semua dipukulkan pada Li Yuanwai, juga ditendangkan pada Li Yuan-wai, pada permulaan serangan mereka.

Penyerangan datangnya cepat, selesainya pun cepat.

Setelah sekian lama, akhirnya Li Yuan-wai bertemu lawan yang bisa dikalahkannya, bukan satu orang, malah dua orang sekaligus.

Tapi di dalam hati Li Yuan-wai sedikit pun tidak gembira, malah sebaliknya merasa sedih.

Bagaimana dia tidak sedih?

Dua orang ini hanyalah preman kelas sembilan, paling banter hanya mengerti sedikit tinju dan tendangan.

Dua orang itu setelah mendapat dua sampai tiga puluh tamparan keras, wajahnya pasti jadi seperti roti.

Setelah Li Yuan-wai memukul, Li Gui-qiu bersujud minta ampun, Huo Huai mencari giginya kemana mana dan melarikan diri.

Sepatah kata pun dia tidak mengatakan apa-apa, terus saja kabur.

Kerena dia sudah kehilangan selera mempermainkan mereka lagi.

Dua orang yang tidak bisa membuka mata ini, tidak tahu dan tidak mengerti mereka sudah diambil kembali dari pintu neraka?

Tampak mereka memegang wajahnya sambil melihat bayangan Li Yuan-wai yang menghilang, sorot matanya tetap masih tidak bisa ditarik kembali.

Untuk berterima kasih?

Atau menyesal?

Menyesal perak yang putih-putih itu, mengikuti bayangan Li Yuan-wai, hilang dikegelapan malam.

0ooo(dw)ooo0 Seorang bisu boleh tidak bicara.

Tapi menginginkan seorang yang biasa bicara seharian, tidak boleh bicara adalah satu hal yang menyusahkan.

Buat Xiao Dai yang biasanya banyak bicara, orang yang banyak bicara ini, bisa bertahan berapa lama menahan tidak bicara?

Hari ini baru saja habis makan, Xiao Dai sudah tidak tahan, dia memanggil Qi Hong dan berkata.

"Kak Qi Hong, bolehkah kau temani aku ngobrol?"

Qi Hong tertawalah, tertawanya seperti gadis besar berusia tujuh, delapan belas.

"Boleh! Kau ingin bicara apa?"

"Bicara apa saja juga boleh. Aku sudah hampir jadi gila menahannya."

"Betulkah? Beberapa hari ini aku lihat kau kurang memperhatikan orang, tadinya aku mengira kecuali dengan nona kami dengan siapa pun kau malas bicara!"

Xiao Dai tertawa pahit berkata.

"Aku.... aku minta maaf, karena.... karena...."

"Aku tahu, karena terhadap wanita kau sudah merasa putus asa dan tidak gairah betul tidak?"

"Kau.... kau, bagaimana bisa tahu?!"

"Kau sendiri yang mengatakannya!"

"Aku yang mengatakannya?!"

Xiao Dai sungguh tidak ingat kapan dia pernah mengatakannya.

"Disaat kau baru saja datang kesini terus dalam keadaan tidak sadar, tapi kau terus mengigau 'aku benci kau, kau telah membohongi aku' dua kata ini,"

Kata Qi Hong sambil tertawa.

Perkataan dalam mabuk dan perkataan dalam mimpi memang adalah perkataan yang orang lain bisa mendengar, diri sendiri tidak bisa mendengar.

Jika ingin memahami pikiran seseorang, hanya dalam keadaan mabuk dan mimpi baru dapat memastikan bahwa perkataannya jujur.

Wajah Xiao Dai menjadi merah.

Bagaimana pun perkataannya sewaktu mimpi jika seseorang mengatakan dihadapannya sendiri, sedikit sekali orang yang wajahnya tidak merah, apa lagi dua perkataan ini memang bisa membuat wajah menjadi merah.

"Dai.... Tuan muda Dai."

Qi Hong melirik sekali pada Xiao Dai berkata.

"Dia.... dia itu wanita macam apa?!"

Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab oleh Xiao Dai, mana bisa dirasakan oleh Qi Hong.

Sepertinya terjatuh ke dalam nostalgia, wajah Xiao Dai tampak berubah-rubah dengan cepat, ada gembira, ada sedih, ada kebengongan lebih-lebih ada rasa putus asa.

Pelan-pelan, dengan kaku, Xiao Dai berjalan ke depan jendela.

Qi Hong mendadak sadar dirinya telah mengajukan satu pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan, tapi ini juga satu hal yang dia sangat ingin tahu, mana bisa dia menahan diri tidak menanyakannya?

Tidak tahu sudah lewat berapa lama, tahu-tahu di dalam rumah sudah bertambah gelap, baru saja Qi Hong menyalakan lampu....

"Dia adalah seorang wanita, seorang yang bisa membuat aku gila, dan bersedia mati demi dia.... bersamaan itu dia juga setan, setan yang siapa pun tidak akan bisa menyadarkannya...."

Kata Xiao Dai dengan berat. Qi Hong dengan tidak mengerti berkata "Iii"

Sekali, dengan perlahan berkata.

"Ma.... maaf, aku pikir aku telah salah bertanya, pasti membuat kau se.... sedih."

"Aku yang menahanmu, aku yang ingin bicara denganmu...."

Kata Xiao Dai tetap tidak membalikkan tubuhnya, juga sepertinya sedang mengingat-ingat.

"Apa dia.... dia telah membohongimu, sampai kau begitu membenci dia?"

Qi Hong kelihatannya ingin sekali mengetahui segalanya.

Bukankah setiap wanita suka sekali menanyakan perasaan orang lain?

Atau memang dia tidak mempunyai bahan percakapan lain?

0ooo(dw)ooo0 Mungkin karena Xiao Dai tidak dapat mencari orang untuk diajak bicara.

Atau mungkin juga dia hanya bermaksud melampiaskan kekesalan yang sudah menumpuk di dalam hatinya.

Atau mungkin dia sudah lupa dia itu siapa.

Dia sudah menceritakan hubungan antara dia dan Ouwyang Wu-shuang dan Li Yuan-wai, juga di antaranya hubungan yang rumit itu.

Dia menceritakannya dengan tenang, sepertinya sedang menceritakan hal yang semua orang sudah tahu.

Tapi Qi Hong dengan tekun mendengarkan, saking asyiknya sampai satu kata, satu huruf pun tidak dilewatkan.

Xiao Dai dengan Qi Hong sudah melupakan segalanya, melupakan kedudukan, melupakan hubungan antara wanita dan laki-laki, lebih-lebih melupakan jarak usia masingmasing, malah lupa akan waktu yang terus berjalan.

Tidak tahu kapan, tahu-tahu Xiao Dai sudah membalikkan tubuh dan duduk.

Dan kapan Qi Hong menahan dagunya dengan sepasang tangan, di dalam matanya berlinang air mata.

Didunia banyak cerita yang mengharukan dan bagus.

Tidak diragukan lagi, cerita cinta adalah cerita yang paling menarik semua orang, juga cerita yang paling menggetarkan hati.

Malam ini malam yang gelap, ada angin tidak ada bulan.

Cerita apa yang disebut cerita bagus?

Dan cerita apa yang disebut cerita tidak bagus?

Yang paling penting semua ditentukan oleh orang yang mendengarkannya, perasaan yang dia terima, dan bisa tidak mendapat simpatiknya.

Qi Hong tidak diragukan adalah pendengar yang baik, juga adalah pendengar yang paling tidak bersuara.

Ketika Xiao Dai mengatakan kata terakhir, dia baru menyadari wanita ini dari awal sampai akhir tidak pernah mengucapkan satu kata pun, diam di sana mendengarkan, mendengarkan cerita yang dirinya juga tidak bisa membedakan cerita cintanya.

Xiao Dai mengeluarkan suara Iii....

yang panjang, perasaan dia sekarang seperti telah berjalan ribuan li dan akhirnya sampai ketempat tujuan, dia sekarang merasa enteng seperti telah melepaskan beban yang sangat berat.

Juga seperti baru sembuh dari sakit berat, lega setelah melepas beban berat.

"Bagaimana pendapatmu?"

Tanya Xiao Dai, dia ingin mendengar kritikan Qi Hong terhadap dirinya, juga ingin mendengar pendapatnya.

"Aku?! Pendapat aku?"

Qi Hong seperti tidak menduga ada pertanyaan ini.

Xiao Dai tidak bicara, dia hanya menatap lawan bicaranya.

Dari sorot mata Xiao Dai yang teguh Qi Hong tahu jika tidak menjawab pertanyaannya, dia mungkin akan mengambil pisau dan membunuh dirinya.

Jadi dia berkata.

"Aku tidak berani berpikir."

"Tidak berani berpikir?! mengapa?!"

"Karena itu bukan cinta, antara kau dengan dia tidak ada cinta, asmara yang tidak ada cinta bisa saja terjadi, tentu saja aku tidak berani berpikir."

Xiao Dai tidak mengerti dengan pandangan penuh pertanyaan menatap Qi Hong.

"Apa kau ingin aku mengatakan?! Apakah sungguh ingin aku katakan?!"

"Betul, aku ingin kau beritahu aku, dan juga harus mengatakan sejujurnya."

Wanita lebih mudah mengerti perasaan wanita, wanita yang sudah matang, mengartikan cinta pasti mempunyai pengertian sendiri.

Qi Hong adalah wanita, juga wanita yang sangat matang.

Jadi Xiao Dai tentu saja ingin tahu jalan pikirannya, apalagi dia telah mengatakan pendapat yang sulit dimengerti itu.

"Sejak dari dulu dia tidak pernah mencintaimu,"

Kata Qi Hong.

"Aku tahu, walau orang idiot juga tahu, jika tidak, dia pasti tidak akan mencelakakanku."

"Sejak dari dulu kau juga tidak pernah mencintai dia,"

Kata Qi Hong lagi. Xiao Dai tidak berkata, tapi semua orang tahu pandangan mata dia sedang berkata.

"Kau kan bukan aku, kenapa bisa begitu yakin aku tidak pernah mencintainya?"

Qi Hong tertawa.

"Itu bukan cinta, hanya semacam suka saja."

Xiao Dai masih tidak bicara.

"Kalian bertiga saat itu bermain bersama, usianya sama-sama masih sangat kecil, juga sangat muda. Sekarang coba tinggalkan semuanya, tidak bicarakan ketenaran nama, tidak bicarakan kepintaran atau bakat, aku hanya bicara usia, dengan serius kukatakan, waktu itu kalian masih anak setengah besar tidak bisa dihitung besar, seorang anak mana bisa mengerti cinta antara laki-laki dan perempuan? Jangan menyangkal, juga tidak boleh membela, tunggu sampai aku habis mengatakannya, boleh tidak?"

Qi Hong menghentikan Xiao Dai yang ingin bicara tapi tidak jadi, dia lalu melanjutkan.

"Aku adalah wanita, aku tahu wanita lebih cepat matang, tapi aku juga tahu keadaan hati seorang anak laki-laki besar. Mungkin waktu itu Ouwyang Wu-shuang sudah mengerti cinta, tapi aku berani memastikan, kau dan Li Yuan-wai pasti tidak mengerti. Tentu, kau mengira jika bersama dengan dia, kau merasa sangat gembira, malah merasakan semacam perasaan tidak bisa meninggalkan dia, tapi itu hanyalah semacam suka, satu sifat alami, semacam sifat alami manusia berlainan jenis yang tentu saling tertarik.... kau sekarang bayangkan dengan teliti kembali, betul tidak seperti yang aku katakan?!"

Xiao Dai terdiam. Artinya terdiam, biasanya juga berarti apa yang dikatakan orang memang masuk akal.

"Tapi...."

Xiao Dai baru saja ingin berkata, tapi dicegah Qi Hong dengan mengangkat tangan.

"Aku mengerti maksudmu, kau sekarang sudah besar, tapi aku tetap ingin beritahu, itu juga pasti bukan cinta. Saat setelah kau bertemu kembali dengan Ouwyang Wu-shuang, kau ingin menebus dosamu, karena kau mengira, kau dengan Li Yuan-wai telah membuang dirinya, sampai dia terburu-buru menikah, semuanya dikarenakan oleh kalian, jadi kau di dalam situasi begini mengaburkan 'cinta', yang lama, kau semakin tidak bisa membedakan apakah kau mencintai dia atau tidak, Sampai akhirnya berubah menjadi sesuatu kenyataan, yaitu sebenarnya kau sama sekali tidak memikirkannya, kau hanya mengira ketika kau bersama dengan dia maka kau harus mencintai dia...."

Xiao Dai jadi tertegun, sekarang diwajahnya yang kurus tampak satu ekspresi yang tidak pernah ada, itu adalah semacam sadar, terbebas, mengerti, dan wajah yang sedikit pahit.

Tiba-tiba dia seperti ditampar keras beberapa puluh kali, ada sedikit tidak percaya, ada sedikit marah, malah ada sedikit perasaan terbebas.

"Kau.... kau baru kenal aku beberapa hari, mana bisa.... mana bisa...."

"Mana bisa begitu mengerti akan dirimu betul tidak?"

Kata Qi Hong diwajahnya menjadi merah, tapi dia dengan tenang berkata.

"Ada orang sudah kenal banyak tahun, malah ada suami istri sudah bersama seumur hidup, tapi tidak bisa memahami diri pasangannya, namun ada orang yang baru kenal satu hari, malah hanya bertemu muka satu kali, dia sudah bisa tahu apa yang dipikirkannya. Lagi pula aku sudah kenal kau sepuluh hari lebih, juga mungkin karena aku teliti, ditambah usia.... aku, yang penting aku juga pernah muda, aku tentu saja tahu perasaan anak muda...."

Xiao Dai melihat pada Qi Hong, melihatnya sampai sedikit bengong.

....

Dia sedang berpikir, dia sungguh seperti seorang kakak, malah seperti seorang ibu.

....

Dia sedang berpikir, dia juga wanita yang sulit dimengerti.

Dia sungguh tidak mengerti mengapa dirinya hari ini bisa begitu banyak bicara dengan dia, dan juga yang dibicarakan malah semua masalah perasaan pibadi dirinya.

Dia juga tidak mengerti seorang pelayan wanita bisa mengerti begitu banyak hal, dan setiap kata yang dikatakannya juga menggetarkan dirinya.

Xiao Dai selamanya tidak pernah menganggap enteng orang, terhadap Qi Hong dia sungguh berterima kasih, bukan karena dia hanya seorang pelayan wanita yang biasa melayani orang, lalu merasa dirinya lebih tinggi darinya.

Dia jadi sangat serius, dengan hormat berkata.

"Terima kasih, kak Qi Hong, hari ini aku baru tahu 'sekali bercakap denganmu, lebih bermanfaat dari pada membaca buku sepuluh tahun' kata-kata ini memang benar."

Qi Hong tertawa, cara dia tertawa siapa pun tidak akan mengira dia adalah wanita yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih.

"Harap kau tidak menganggap aku sedang berkhotbah, karena dengan kedudukanku...."

"Tidak, tidak, kau jangan salah paham, tiba-tiba aku merasakan aku sangat senang berbicara denganmu, karena kata-katamu sungguh membuat aku jadi mengerti banyak hal, walau aku adalah teman nona kalian, tapi aku ini orang yang selamanya tidak pernah merendahkan orang lain, kau juga jangan merendahkan dirimu, apalagi kau sangat dalam pengetahuannya...."

"Betulkah? Kalau begitu aku harus berterima kasih padamu tidak menganggap aku sebagai orang rendahan.... semua yang aku katakan tadi hanyalah perasaan pribadiku saja, harap kau jangan merasa terganggu, bagaimana pun aku bukan kau, aku tidak bisa merasakan perasaan diwaktu itu di dalam hatimu...."

Xiao Dai mengeluh katanya.

"Tidak, kau benar mengatakannya, perasaan diwaktu itu memang perasaan yang tidak berani kupikirkan, setelah kau mengatakannya, aku jadi sadar, aku memang merasa pada awalnya hanyalah perasaan suka saja, dan selanjutnya juga benar hanya perasaan harus menebus dosa. Aku pikir, aku sekarang sudah mengerti rasa cinta dan suka tidak bisa dicampur adukan.... tapi, apa 'cinta' itu sebenarnya? apa yang disebut 'cinta'....?"

Qi Hong tidak berkata lagi. Apa betul dia juga sedang memikirkan pertanyaan ini? "Kak Qi Hong, aku pikir kau juga pasti pernah mencintai seseorang, bisakah kau beritahukan padaku?"

Xiao Dai seperti anak kecil yang kehausan mendapatkan jawaban.

Wajah Qi Hong menjadi merah, bukan hanya wajahnya saja, sampai lehernya juga menjadi merah.

Wanita yang seusia dia, wajahnya bisa merah dan malu seperti seorang gadis remaja, tentu saja membuat Xiao Dai jadi merasa aneh.

Mungkin dia sudah menganggap dirinya sebagai kakaknya, walau pertanyaan dia membuat orang sulit menjawabnya, tapi tidak akan sampai membuat diajadi begini!

"Sejak kecil sampai besar aku belum pernah meninggalkan tempat ini, selain ayahku, dirimu adalah lakilaki yang pertama aku kenal, aku....

bagaimana aku bisa memberitahu?,"

Kata Qi Hong dengan terus terang sambil mengangkat kepala.

Ini adalah perkataan yang tidak masuk akal yang seumur hidup Xiao Dai baru dengar.

Dia tidak tahu harus percaya dari mana, karena memang dia tidak percaya.

Dia bukan saja jadi bengong, mulutnya juga menganga besar, mungkin karena besar, satu pot bunga Ju juga bisa masuk.

Dia seperti melihat wajah setan, juga seperti kehilangan rohnya, dengan tanpa sadar melongo melihat Qi Hong.

Tentu saja dia tahu yang dikatakan adalah kata-kata yang sebenarnya, dia tidak perlu membohongi, dari wajahnya saat dia berkata-kata, sudah memberitahukan orang bahwa dia berkata jujur.

Qi Hong sangat gelisah, juga sangatmenyesal....

Kenapa orang tidak bisa mendengar dan menerima perkataan yang jujur?

Jika dia tahu sejak awal perkataan yang jujur bisa menjadikan wajah orang menjadi aneh begini, lebih baik dia berkata bohong saja.

Tapi seumur hidup satu perkataan bohong pun belum pernah dia mengatakannya?

Jika wajah seseorang seperti wajah setan melihat dirinya, perasaan macam apa yang akan timbul?

Wajah Qi Hong yang tadinya merah sekali, sekarang pelan-pelan mulai memudar, kemudian yang terjadi adalah pucat pasi.

Dia mulai gemetar, bersamaan itu air matanya juga sudah mulai mengucur....

Dari tadi Xiao Dai sudah merasa aneh.

Karena sejak semula dia susah mengatakannya, keadaan Qi Hong berbeda dengan orang biasa, akhirnya dia mengerti.

Xiao Dai sulit menyalahkan dan bisa mengerti, wanita ini tidak bisa disalahkan, dia kelihatannya seperti wanita yang matang tapi hatinya seperti hati gadis remaja....

hati yang ingin banyak tahu.

Tidak aneh, terhadap segala hal dia juga ingin tahu, apa lagi terhadap urusan laki-laki.

Seorang wanita jika seumur hidupnya hanya berhubungan dengan ayahnya saja, ketika ada laki laki lain muncul, apakah dia tidak ingin tahu mengenai laki-laki itu?

Dia bisa menahan diri tidak sampai menelanjangi Xiao Dai, melihatnya dengan teliti, seperti melihat sesuatu yang aneh!

Air mata wanita adalah satu alat ampuh untuk menyerang, juga adalah senjata pertahanan yang paling ampuh.

Tidak perduli wanita itu berusia berapa tua, jika air matanya mudah dikeluarkan tentu juga mudah menghentikannya.

Xiao Dai pernah melihat banyak wanita menangis, juga pernah melihat air mata banyak wanita.

Tapi tidak pernah melihat air mata wanita yang membuat dia begitu ketakutan, dia sungguh tidak tahu harus berbuat apa.

Apa lagi dia hanya mengucurkan air mata, tapi tidak menangis.

Xiao Dai ketakutan, di dalam hatinya timbul rasa penyesalan yang mendalam, bagaimana pun dia sadar kelakuannya dan ekspresi wajahnya tidak bisa dimaafkan orang.

Maka....

"Qi.... kak Qi Hong, aku minta maaf, aku sungguh harus mati, aku.... hai! entah harus mulai dari mana mengatakannya.... aku tidak sengaja, sungguh, aku tidak bermaksud mentertawakan, aku bisa bersumpah pada langit...."

Xiao Dai ketakutan sampai mengucurkan keringat dingin. Qi Hong tidak bicara, tapi menghentikan air matanya. Sekarang dia menempelkan lengan bajunya, mengusap bekas air mata.

"Aku.... kau.... kau bisa beri tahukan padaku sebenarnya ada masalah apa?"

Kata Xiao Dai yang tentu saja ingin tahu.

Karena seorang manusia, mana mungkin tinggal di dalam gunung sendirian tidak berhubungan dengan orang lain?

Yang sulit dimengerti adalah dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki, tapi bisa dengan lancarnya membicarakan hubungan antara wanita dan laki laki?

0ooo(dw)ooo0 Setelah melihat kejujurannya Xiao Dai, dia mengerti Xiao Dai sungguh tidak bermaksud lain.

Wajah Qi Hong yang sulit diduga berapa usianya itu, akhirnya tampak tersenyum.

Senyumnya memberikan kesan pada Xiao Dai seperti senyum anak kecil, begitu cantik, begitu polos.

Dia mengedipkan mata, seperti sedang mengingat, juga seperti sedang menenangkan pikirannya.

"Ayah dan ibuku adalah pelayannya ayahnya nona, sejak aku ingat aku terus ada di sini, sampai usia aku delapan belas tahun ayah dan ibu ku berturut-turut meninggal dunia, selanjutnya aku jadi sudah terbiasa seorang diri di dalam gunung ini, biasanya nona adalah satu satunya orang lain yang ada di sini, dia juga tidak sering datang, tapi setiap kali dia datang pasti membawakan beras satu perahu penuh, bermacam-macam barang keperluan sehari hari, cukup kebutuhan aku satu tahun...."

"Kau.... kau apa selama ini tidak pernah ada keinginan untuk melihat dunia diluar?"

Qi Hong menggelengkan kepala, berkata.

"Dulu ingin, tapi tidak ada kesempatan, sekarang usia sudah bertambah, malah jadi takut ke dunia luar, lebih-lebih nona tidak pernah membicarakannya, mana aku berani buka mulut memintanya? Bagaimana pun aku orang rendahan, lagi pula kami sekeluarga berhutang budi pada tuan besar, mungkin seumur hidupku, tidak akan bisa membalas budinya...."

"Kalau begitu ketika setiap kali perahunya datang, pasti ada nelayannya, kenapa kau bisa mengatakan tidak pernah melihat laki laki lain?"

"Nelayan?! Apakah wanita tidak bisa menjadi nelayan?"

Sungguh Xiao Dai tidak terpikir, tentu saja wanitajuga bisajadi nelayan.

Jadi apa yang dia ingin tahu?

Mengapa dia bisa menanyakan masalah ini?

Atau apakah dia ingin membuktikan?

"Kau bisa bersilat tidak?

bagaimana caranya kau tahu masalah diluar?"

Tanya Xiao Dai merasa aneh.

"Aku bisa bersilat, ayah dan ibuku yang mengajarkannya, apakah kau pernah dengar sebuah perkataan?"

"Perkataan apa?"

"Sastrawan tidak keluar rumah, bisa tahu masalah di seluruh dunia."

Xiao Dai tentu saja mengerti, tapi dia tidak mengerti seorang sastrawan yang tidak membaca buku, mana mungkin bisa tahu masalah di seluruh dunia? Melihat kecurigaan Xiao Dai, Qi Hong berkata.

"Mari, aku antar kau melihat-lihat 'gudang buku' aku."

"Apakah jauh?"

"Tidak jauh, oya, betul, aku hampir saja lupa. Saat mau pergi nona berpesan, penyangga ditubuhmu hari ini sudah boleh dilepaskan."

"Haya! Nenek besarku, mengapa kau bukan katakan dari tadi...."

Jelas Xiao Dai sudah amat tersiksa oleh 'borgol' ini, dengan dua tiga kali gerak saja dia sudah melepaskan penyangga ini.

Qi Hong melihat gerakan dia yang lucu, tidak tahan jadi tersenyum.

0ooo(dw)ooo0 Tempat yang bisa disebut 'gudang buku' tentu saja bukunya amat banyak.

Tapi Xiao Dai tidak menduga buku di tempat ini bisa begitu banyaknya, banyaknya sampai kepalanya jadi besar.

Melihat tiga ruangan besar di dalam rumah yang penuh berbaris buku-buku, Xiao Dai berkata.

"Buku-buku ini.... buku-buku ini apa kau telah membaca semuanya?!"

"Tentu saja,"

Kata Qi Hong sedikit aneh, dia heran Xiao Dai bisa bertanya demikian.

Xiao Dai mengerti sekarang, seseorang yang tinggal sendirian di sini jauh dari dunia ramai, kecuali melihat buku, menjemur buku, dia masih bisa berbuat apa lagi?

Dia jadi mengerti, seseorang jika bisa membaca habis semua buku-buku ini, masalah apalagi yang dia tidak mengerti?

"Apakah kau ingin membaca buku?

Di tempatku ini buku apa saja juga ada!"

"La.... lain hari saja!"

Apakah Xiao Dai jadi takut?

Dia takut nanti dirinya menjadi Qi Hong, daripada seharian tinggal bersama bukubuku, lebih baik dia menabrakkan kepala mati ditumpukan buku.

Berkata adalah cara manusia yang paling baik menjalin hubungan, setelah banyak berkata, seseorang bisa menjadi lebih banyak mengerti keadaan lawan bicaranya.

Jika tidak ada pembicaraan, Xiao Dai selamanya tidak akan tahu wanita ini menyimpan pengetahuan yang begitu luas.

Jika tidak ada pembicaraan, Xiao Dai juga tidak tahu wanita ini bisa tidak tahu bagaimana rupa dunia luar.

Jika tidak ada pembicaraan, Xiao Dai bagaimana bisa tahu berbicara dengan dia adalah satu kenikmatan, semacam kesenangan seperti bermandikan angin di musim semi.

Xiao Dai sekarang sudah menganggap Qi Hong sebagai temannya, menganggapnya sebagai guru, juga menganggapnya sebagai kakak.

Mereka seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, sehingga banyak bahan pembicaraan.

Yang dibicarakan Xiao Dai adalah dunia luar.

Yang dibicarakan Qi Hong semuanya pengalaman dibuku dan pengetahuan yang luas.

Minum arak sambil makan, ngobrol dengan seorang teman yang cocok bukankah suatu kenikmatan?

0ooo(dw)ooo0 BAB 20 Lentera merah Jika di atas gerbang benteng kota secara bersamaan dinyalakan tiga buah lentera, apa artinya?

Masalah apa yang akan timbul?

Apa yang ingin Li Yuan-wai buktikan?

Apakah dia meragukan kepalanya bisa berharga begitu tinggi?

Setelah menyalakan tiga lentera merah, dia sudah bersembunyi digedung bedug yang berada disisi benteng kota selama dua jam.

Dia sedikitpun tidak bergerak, sepertinya sudah menjadi satu dengan bedug yang berada di dalam gedung itu.

Namun sepasang matanya bersemangat di bawah sinar bulan yang terus bergulir.

Apa yang sedang diawasinya?

Dan apa yang sedang ditunggunya?

Apakah dia ingin melihat siapa yang akan datang menghubungi dirinya?

Bintang sedikit bulan tipis.

Melihat bayangan gedung bedug yang makin lama makin bergerak ke barat, Li Yuan-wai sudah tidak sabar.

Kabar di dunia persilatan memang banyak yang hanya kabar angin saja, hingga kepercayaannya sudah sedikit goyah.

Memang!

'Perkumpulan Bunga Ju' yang tidak pernah didengarnya, dengan dia tidak ada permusuhan atau dendam, kenapa Perkumpulan Bunga Ju mau mengeluarkan uang begitu besar untuk membeli kepalanya.

Saat itu Li Yuan-wai menyesalkan telah melewatkan waktu tidurnya, dia mau saja berlari kesini menghitung bintang....

Dia sudah melihat dua bayangan yang tipis seperti asap, bergerak seperti meteor dilangit menuju ketempatnya.

Mata Li Yuan-wai semakin bersemangat, juga menjadi tegang sampai setiap urat syarafnya ikut tegang.

"Sudah datang, mmm, gerakannya cepat sekali, dasar telur kura-kura, kalian sungguh membuat aku menunggu lama di sini...."

Li Yuan-wai bergumam sendiri.

0ooo(dw)ooo0 Dua orang satu tinggi satu pendek, satu tua satu muda.

Yang tua bertubuh tinggi besar, lengannya seperti lengan macan, pinggangnya seperti pinggang beruang.

Yang muda berusia dua puluh tahun lebih, orangnya cukup kalem, tapi wajahnya membuat orang merasa, dia orang yang licik.

Satu-satunya yang sama dari kedua orang ini, adalah bajunya yang bertambal-tambal, berdandan sebagai anggota Gai-bang.

Setelah Li Yuan-wai melihat dengan jelas dua orang ini, tentu saja dia mengenal mereka berdua, karena yang tua dia menyebutnya paman Hao, kedudukannya di Gai-bang hanya satu tingkat di bawah gurunya, dan yang muda adalah muridnya paman Hao Shao-feng nya, orang menyebutnya Macan Tutul Marah Chu Xiang Yun.

Disaat ini, dua orang ini.

Li Yuan-wai jadi sedikit bingung, namun dia tidak bergerak.

Karena sudah mengalami banyak masalah, dia sudah bisa belajar melindungi diri sendiri, juga bisa belajar berhatihati terhadap orang lain.

Orang di tempat tinggi pandangannya tentu jauh, pendengarannya juga lebih jelas.

Sorot matanya Li Yuan-wai seperti bintang dilangit, berkedip-kedip.

"Guru, mengapa tidak ada orangnya?"

Kata Chu Xiang Yun. Tubuh Hao Shao-feng yang tinggi besar berputar di tempat itu, dengan sedikit tidak mengerti berkata.

"Aneh, apakah ada orang yang berkelakar?"

"Kalau begitu apakah kita terus menunggunya?"

"Tunggulah sebentar lagi...."

Semua kata-kata ini Li Yuan-wai mendengarnya dengan jelas, hanya dia tidak mengerti mengapa Gai-bang datang lebih duluan, dan orang Perkumpulan Bunga Ju tidak terlihat?

Dia ingin turun, juga ingin menanyakan beberapa masalah pada paman Haonya.

Namun dia sekuatnya menahan keinginan ini, karena dia mengerti sebelum masalahnya jelas, mungkin tidak ada satu orang pun di Gai-bang yang mau mendengar kata-katanya.

Dia diam menunggu, di dalam kegelapan malam hingga detak jantungnya sendiri juga dapat dirasakannya dengan jelas.

Tiba tiba....

Hao Shao-feng mengangkat kepalanya, dia menatap gedung bedug tempat Li Yuan-wai bersembunyi.

Li Yuan-wai seperti tersengat aliran listrik, hatinya merasa terkejut.

"Teman yang di atas gedung bedug, jika kau sudah menggantungkan tiga lentera merah, kenapa begitu pelit tidak mau bertemu?"

Kata Hao Shao-feng dengan keras.

Li Yuan-wai tidak bersuara, dia berharap Hao Shao-feng sedang mencoba dengan bertanya, karena dia tahu dirinya sedikit pun tidak melakukan kesalahan.

Tinggi gedung lima zhang, orang yang di bawah jika ingin naik tidak ada jalan kecuali merayap naik.

"Guru, di atas tidak ada orang anda kenapa...."

Tanya Chu Xiang Yun tidak mengerti. He.... he.... tertawa beberapa kali, Hao Shao-feng berkata.

"Tidak, di atas pasti ada orang."

Hati Li Yuan-wai bergetar keras, dia sungguh sulit mempercayai mengapa Hao Shao-feng begitu yakin di dalam gedung bedug ada bersembunyi orang?

Apakah dia bisa tembus pandang?!

Bukan hanya Li Yuan-wai tidak dapat mengerti, sampai muridnya Hao Shao-feng sendiri, Chu Xiang Yun yang berada di bawah pun tidak dapat mengerti.

Hao Shao-feng bukan dewa, lebih-lebih dia tidak bisa sebelum meramal sudah tahu dulu.

Namun dia adalah seorang tua yang berpengalaman, ketajaman penyelidikan seorang persilatan adalah hasil pengalaman sedikit demi sedikit sampai berpuluh-puluh tahun, malahan adayang diperoleh dengan kucuran darah.

"Sobat yang di atas, apakah sudah sudah tertidur? Di atas anginnya kencang, kau harus sayang terhadap tubuhmu sendiri...."

Teriak Hao Shao-feng lagi. Li Yuan-wai yang dipanggil terus sampai hatinya seperti tumbuh bulu, dia tampak sudah tetap hatinya, tetap saja tidak bersuara.

"Tikus yang suka bersembunyi, kenapa kau tidak menengok ke tanah yang ada bayanganmu?"

Kata Hao Shao-feng menerangkan.

Bayangan?!

Li Yuan-wai terkejut, dia mengangkat kepala melihat bulan.

Sekali melihat, hampir saja semua mantou daging kambing yang dimakan tadi malam dimuntahkan kembali.

Bulannya tidak bulat, sinar bulannya pun tipis, namun sudut bulan ini sedikit miring ke barat.

Yang paling sial adalah sinarnya tepat menyorot miring seluruh gedung bedug ini.

Melihat dirinya tersorot sinar bulan, wajah yang tadinya bulat Li Yuan-wai sudah menjadi gepeng.

Benar, jika sinar bulat bisa menyoroti tubuhnya, maka dia pasti ada bayangannya, jadi tidak aneh jika Hao Shaofeng begitu berani memastikannya.

Menelusur bayangan bulan Li Yuan-wai melihat keluar, betul saja, bayangan dia berada tidak jauh di tanah, walau bayangannya tidak bisa menjelaskan siapa dia, tapi ini sudah cukup untuk Hao Shao-feng mengetahui, di dalam gedung bedug bersembunyi seseorang.

0ooo(dw)ooo0 Menantu buruk rupa akhirnya juga harus menemui mertua.

Li Yuan-wai mengerti aturan ini, jadi dia turun dari gedung bedug.

"Apa kabar, paman Hao, eee.... saudara Xiang Yun."

Li Yuan-wai sambil menggosok-gosok tangan gemuk kecilnya dengan wajah yang tidak wajar.

Dua orang lawannya sungguh tidak percaya matanya sendiri, namun wajah hartawan Li Yuan-wai sungguh terpeta di depan matanya.

Setelah terdiam beberapa saat, Hao Shao-feng baru dengan suara serak berkata.

"Ini.... ini kau? Apa benarbenar dirimu...."

"Benar, paman Hao ini benar aku, aku juga berharap bukan aku...."

Kata Li Yuan-wai dengan tertawa pahit.

"Tiga lentera adalah....

"Ya aku yang menyalakannya."

"Apa maksudnya?"

Hao Shao-feng sungguh ingin mengulurkan tangan mengusap keningnya bocah ini, apakah panas atau tidak.

"Aku hanya ingin.... hanya ingin membuktikan apakah benar ada orang yang mau mengeluarkan sepuluh ribu liang perak untuk membeli kepalaku?"

"Kalau begitu jadi kau yang mengantarkan sendiri?"

Tanya Hao Shao-feng tidak mengerti.

"Tapi sampai sekarang aku masih belum bertemu dengan pembelinya, mungkin berita ini tidak benar...."

Dengan tertawa aneh, Hao Shao-feng dengan muridnya saling pandang satu kali, katanya lagi.

"Tidak, berita ini benar tidak ada salahnya."

Perkataan ini jika orang lain yang mengatakan pada Li Yuan-wai, mungkin dia tidak akan percaya.

Namun ternyata Hao Shao-feng membenarkan hal ini, maka itu pasti benar.

Karena berita Gai-bang sangat lancar dan pasti, lagi pula kedudukan Hao Shao-feng di Gai-bang sama dengan wakil ketua, maka apa yang dikatakannya, mana bisa Li Yuanwai tidak percaya?

"Jadi be....

benar ada hal ini?"

Kata Li Yuan-wai dengan serak.

Tidak perduli siapa orangnya, organisasi apa saja, jika mau mengeluarkan uang sepuluh ribu liang perak untuk membeli nyawa seseorang sudah satu hal yang membuat orang merasa aneh.

Jika kau tahu dirimu betul-betul dihargai lawanmu, bukankah akan lebih terkejut lagi?

"Orang gila....

di dunia ini betul betul ada orang segila ini...."

Li Yuan-wai dari semula juga mengira ini hanyalah kabar angin, tidak menyangka ini adalah kabar yang betul.

"Lalu Perkumpulan Bunga Ju, Apa sebenarnya Perkumpulan Bunga Ju?"

Li Yuan-wai seperti berkata sendiri, juga seperti bertanya pada Hao Shao-feng. Hao Shao-feng dengan tertawa pahit berkata.

"Dia memang tidak main-main, aku juga tidak tahu kenapa dia mau mengeluarkan uang sepuluh ribu liang perak untuk membeli nyawamu, tapi aku tahu didunia ini sudah tinggal sedikit orang yang bisa menolak umpan seperti ini, apalagi kau adalah buronan Gai-bang yang dianggap pengkhianat."

Li Yuan-wai mundur tiga langkah.

Hao Shao-feng dan Chu Xiang Yun maju tiga langkah.

Situasi menjadi tegang, juga sangat jelas.

Apakah Li Yuan-wai sudah mengerti?

Dia melototkan matanya, dengan sedikit kacau berkata.

"Paman.... paman Hao, aku ada satu permintaan."

"Katakan."

"Biar aku.... aku mengikuti kalian pulang, masalah sudah sampai begini aku hanya ingin bertemu dengan guru satu kali lagi."

Melihat baju Li Yuan-wai yang mencolok mata, Hao Shao-feng menggelengkan kepala berkata.

"Kau sudah bukan orang Gai-bang kami...."

"Aku berbuat begini hanya untuk.... hanya untuk...."

Sesaat Li Yuan-wai tidak tahu harus bagaimana menerangkannya.

"Aku ingin sekali membantumu, tapi aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa?! Apakah ingin mati di dalam Gai-bang juga tidak bisa....?"

"Sebenarnya hal ini tidak bisa ditolak, tapi...."

"Tapi apa?"

Kata Li Yuan-wai cepat.

"Apakah kau tidak merasa aneh mengapa orangnya Perkumpulan Bunga Ju tidak muncul?"

Kata Hao Shao-feng mengalihkan pembicaraan.

0ooo(dw)ooo0 Lentera merah ini seharusnya tanda dari Perkumpulan Bunga Ju.

Kalau begitu mengapa orangnya Perkumpulan Bunga Ju tidak datang?

Malah yang datang adalah orangnya Gaibang?

Betulkah Hao Shao-feng sudah membereskan dulu orang Perkumpulan Bunga Ju yang akan datang?

Walau Li Yuan-wai tahu Gai-bang selamanya tidak mau menggunakan tenaga orang lain, tapi dia tidak mengerti mengapa paman Hao bisa bertanya hal yang aneh begini?

Memang dia juga orang yang tidak suka menggunakan otak, tapi kejadian-kejadian yang berturut turut ini sudah membuat dia bisa belajar menggunakan otak untuk berpikir.

Tapi kali ini dia tidak bisa memikirkannya, sungguh dia tidak bisa memikirkannya.

Li Yuan-wai tertawa pahit, dia berkata.

"Paman Hao, aku pikir orang Perkumpulan Bunga Ju sudah kau bereskan...."

"Tidak, orang Perkumpulan Bunga Ju sendiri tidak mengatakan, siapa pun tidak tahu siapa adalah siapa."

Sorot matanya Hao Shao-feng terus tidak pernah meninggalkan Li Yuan-wai.

"Kalau begitu kenapa mereka bisa tidak datang?!"

"Mereka sudah datang."

Hao Shao-feng berkata tawar.

"Sudah datang?! Dimana?!"

Li Yuan-wai yang mendadak mendengarnya jadi terkejut.

Dia memalingkan kepala melihat kesekelilingnya, kecuali malam yang berbulan apapun tidak terlihat.

Dia membalikkan kepala kembali, tiba-tiba dia menyadari dua wajah yang tadinya sangat dia kenal, sudah membuat dia jadi merasa asing, bukan saja asing, malah jadi menyeramkan.

'Duk, duk, duk' Li Yuan-wai mundur lagi tiga langkah.

Hao Shao-feng dan Chu Xiang Yun maju lagi tiga langkah.

Mereka tetap mempertahankan jarak dengan Li Yuanwai.

Jarak seperti ini bagi orang yang belajar silat semuanya tahu, ini adalah jarak yang paling baik untuk menyerang, juga adalah jarak yang paling sukar bisa menghindar.

0ooo(dw)ooo0 Perkumpulan Bunga Ju, sekarang Li Yuan-wai baru tahu itu adalah, perkumpulan yang menyeramkan.

Dia juga baru mengerti organisasi ini seperti sebuah roh yang setiap saat mungkin bisa muncul disisimu.

Wajah bulatnya sudah berubah dari bulat menjadi gepeng, berubah melengkung ke dalam....

Dia membuka mulutnya besar-besar, tapi satu perkataan pun tidak bisa keluar....

Dia hanya bengong, bengong melihat dua wajah yang sepertinya kenal tapi juga asing....

Orang mengatakan mata Li Yuan-wai setiap saat tersenyum.

Tapi jika sekarang melihat matanya, mungkin kau lebih senang melihat mata ikan yang telah mati.

Bagaimana pun mata ikan mati dibandingkan dengan mata dia lebih bagus dan lebih hidup.

"Benar, tidak salah dugaanmu, aku dengan anak Yun adalah orang Perkumpulan Bunga Ju,"

Kata Hao Shao-feng menghela napas.

"Ka.... kalian...."

Kata Li Yuan-wai tidak karuan. Bagaimana bisa percaya dan terpikirkan? "Hai! Tentu sudah mengejutkanmu, aku minta maaf, sungguh minta maaf."

Bukan saja terkejut, Li Yuan-wai malah hampir mati terkejut.

"Menapa? bagaimana mungkin....?"

Li Yuan-wai bergumam.

Tentu saja dia tidak percaya tetua yang sehari-harinya dihormati adalah orang Perkumpulan Bunga Ju.

Bagaimana pun ini adalah hal yang tidak beralasan dan tidak mungkin.

Hao Shao-feng seperti kehilangan sifat aslinya, dengan dingin dia berkata.

"Ceritanya panjang sekali, pokoknya demi nama, lebih-lebih demi keuntungan, kau seharusnya mengerti dua huruf ini adalah hal yang diinginkan oleh setiap orang...."

Li Yuan-wai tidak mengerti, dia sedikit pun tidak mengerti.

Karena dengan kedudukan Hao Shao-feng di Gai-bang, posisinya hanya di bawah seorang, di atas puluhan ribu orang, apalagi yang masih diinginkannya?

Demi keuntungan?

Itu tidak mungkin.

Setiap anggota Gai-bang sudah menghilangkan sifat kemewahannya, apalagi nama dia di Gai-bang sudah puluhan tahun, bagaimana bisa terjebak untuk mencari keuntungan?

Maka wajah Li Yuan-wai tetap bengong....

Tapi dia mana tahu, ada orang yang tidak mau kedudukannya berada di bawah orang lain, walau hanyalah di bawah satu orang.

Juga dia mana bisa tahu, orang yang usianya semakin tua, semakin ingin mengambil kesempatan terakhir, untuk menikmati dengan baik kehidupan yang tidak lama lagi.

Bagaimana pun Li Yuan-wai tidak mengerti, Hao Shaofeng yang sudah berusia lanjut bisa kehilangan kepribadiannya.

Tapi dia tahu seorang yang seperti dia bisa mengeluarkan perkataan ini, itu menandakan apa.

Apa lagi dari sorot matanya, dia juga merasakan bayangan kematian.

Dia tidak takut mati, walau dia tahu kesulitannya jika ingin hidup.

Tapi dia tidak ingin mati sekarang, apa lagi mati dipersalahkan oleh orang.

Sekarang dia menjadi tenang, malah tenangnya seperti ukiran patung.

Memang dia terpaksa tenang, terpaksa dingin.

Bagaimana pun dia telah mencium bahaya, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh Gai-bang.

Mengapa jadi begitu?

Mengapa sampai saat ini dia masih memandang kepentingan Gai-bang begitu penting sekali?

"Kau sudah siap?"

Kata Hao Shao-feng yang dinginnya membuat orang gemetar. Dengan menganggukkan kepala, Li Yuan-wai berkata.

"Aku pikir apa pun yang aku katakan sudah tidak ada gunanya, betul tidak?"

"Betul, karena apa pun yang kau katakan hari ini kau tetap harus mati."

Li Yuan-wai sudah tahu ilmu silatnya pasti tidak akan bisa melawan orang ini, tapi dia terpaksa berbuat sebisanya, dia memang bukan orang yang mau menerima kematian begitu saja sangat indah dan menyenangkan.

Jalan Sehingga....

Tampak satu kilatan sinar memancar, itu adalah 'Kipas Tulang Giok Anyaman Emas' nya Li Yuan-wai.

Bersamaan itu dia juga membuka mulut.

"Kalian sepasang manusia kotor, anak kura-kura, biar aku membersihkan pengkhianat Gai-bang dulu."

Mmm, tidak salah, Li Yuan-wai selalu yang pertama menyerang dulu.

Dan juga dia sudah sangat kesal, malah sampai membuka mulut memaki orang yang sehari-harinya dipanggil paman Hao.

Seorang yang salah dituduh sebagai pengkhianat, bertemu dengan pengkhianat betulan, apa dia tidak akan marah?

Tentu saja dia sudah bisa menduga persoalan dirinya dengan juga cabang-cabang Gai-bang diberbagai tempat yang dihancurkan, itu pasti ada hubungan dengan lawannya.

0ooo(dw)ooo0 Malam dingin.

Namun hatinya Li Yuan-wai mendidih.

Sekarang apa pun dia tidak mau pikirkan, dia hanya berkonsentrasi melakukan setiap jurus yang dia bisa, semua dilancarkan pada lawan.

Dia tidak boleh lengah sedikit pun, karena dia mengerti yang dia hadapi adalah orang yang lihaynya seperti apa.

Chu Xiang Yun sudah menyingkir kepinggir, sambil bersiap memperhatikan dua orang yang sedang bertarung.

Telapak Besi Hao Shao-feng yang sudah bertahun tahun termasyur, saat ini seperti dua kupu-kupu sedang menari, juga seperti dua kipas yang tidak henti hentinya bergerak diudara.

Jika dikatakan dengan jujur, Li Yuan-wai jelas bukan lawannya Hao Shao-feng.

Bukan saja kematangan ilmu silatnya dalam menghadapi serangan lawannya, pengalaman dunia persilatannya hingga sampai kepintarannya, tidak ada satu pun bisa menandingi Hao Shao-feng.

Tapi sekarang bukan saja belum kalah, malah bisa bertarung dengan bagus, bisa bertarung seimbang.

Yang dia andalkan hanyalah satu semangat, satu kekesalan, satu kemarahan, satu semangat yang tidak tampak yang menakutkan.

Itulah alasan dia tidak kalah, juga yang membuat Hao Shao-feng merasa aneh.

Diwaktu dulu Li Yuan-wai pasti tidak akan tidak berani berhadapan dengan tetua ini, tapi ketika semua alasan tidak boleh berhadapan itu terhapus, dia sudah menganggapnya sebagai musuh, musuh semacam musuh yang harus dibunuhnya, maka mana mungkin dia tidak dengan sekuat kemampuannya menghadapi pertarungan ini?

Lima jurus, sepuluh jurus, dua puluh jurus, dua puluh lima jurus.

Sudah dua puluh lima jurus, Li Yuan-wai sudah bertarung dengan seluruh tenaganya sebanyak dua puluh lima jurus penuh.

Dia sendiri merasa aneh, lawannya dia juga merasa aneh.

Sinar matahari baru saja muncul, hari sudah semakin terang.

Namun dua orang yang sedang bertarung sengit malah sebaliknya semakin terlihat samar, karena debu beterbangan menutupi langit.

Seseorang memang mungkin mengandalkan satu semangat, bisa bertarung melawan musuh yang kemampuannya jauh lebih tinggi dari pada dirinya sendiri.

Tapi bagaimana setelah berjalan lama?

Jahe lebih tua memang lebih pedas, Hao Shao-feng dari tadi mengerti semangat Li Yuan-wai tidak akan bisa bertahan lama, lebihlebih tidak bisa tahan panjang.

Bagaimana pun kepandaian silat adalah kumpulan dari waktu dan latihan keras.

Maka Hao Shao-feng sebisanya menghindar senjata lawannya, lebih banyak bertahan dari pada menyerang, dia sedang menunggu kesempatan, menunggu mundurnya semangat Li Yuan-wai.

Dia sedang menunggu, menunggu penyerangan yang sia-sia dari Li Yuan-wai.

Li Yuan-wai juga menyadari keadaan ini tapi dia tidak bisa berhenti.

Dia tidak bisa berhenti, juga tidak berani berhenti, dia hanya bisa menyerang.

Dia tahu asalkan dirinya ada sedikit keragu-raguan, ada sekejap nafas yang tidak bersambung, sangat mungkin dia kehilangan kesempatan menyerang lagi, serangan lawan yang sudah dipersiapkan lama, akan seperti gelombang laut, gunung roboh datang menyerang.

0ooo(dw)ooo0 Li Yuan-wai sudah lelah, sekali lelah gejala kalah langsung tampak.

Hati yang mendidih semakin dingin, sia-sia saja ada kemarahan yang memenuhi dada.

Semangat, mana mungkin selamanya tidak mengendur?

Manusia tetap manusia, tenaganya pasti pada satu saat akan habis.

Dan ketika gerakan tangannya Li Yuan-wai menjadi lambat, dia baru tahu paman Hao mengapa bisa menduduki posisi nomor dua di Gai-bang.

Bayangan telapak seperti senjata tajam, dingin sekali.

Serangan Hao Shao-feng sekarang baru dimulai.

Baru saja mulai menyerang, bahu Li Yuan-wai sudah terkena sekali pukulannya.

Tidak ada gelombang laut atau gunung roboh, tidak ada puluhan ribu jun guntur dahsyat, serangan Hao Shao-feng tidak mencolok mata, lebih-lebih tidak cepat dan dahsyat.

Dia hanya pelan-pelan mendorong telapak tangannya, mengiris miring, satu telapak demi satu telapak.

Serangan Li Yuan-wai sudah habis, dia hanya bisa mengikuti lawan mengangkat tangan menangkis, tapi justru telapak yang kelihatannya perlahan itu sudah membuat dia merasa kewalahan.

Sekali lagi, Li Yuan-wai sungguh tidak mengerti, bagaimana bisa terkena pukulannya, karena dia jelas-jelas telah menangkis telapak ini, namun dada kanannya merasa sakit seperti terkena api, hal ini memberitahu dia bahwa dia tidak berhasil menangkis serangan telapak ini.

Derap kematian sudah dekat, wajah Li Yuan-wai sudah pucat.

Wajah tawa yang keji dari Hao Shao-feng satu cun demi satu cun mendesak terus.

Sekarang tubuh Li Yuan-wai paling sedikit sudah ada tujuh delapan kali terkena pukulan.

Dia sudah mundur sampai dipingir benteng kota, benteng yang keras dingin itu sudah menghalangi langkah mundurnya.

Telapak besi lawannya diangkat lagi, sepasang mata Li Yuan-wai yang putih abu-abu itu terus dengan tidak berkedip menatap sepasang tangannya Hao Shao-feng.

"Kau sudah tidak dapat menghindarkan pukulan terakhirku,"

Kata Hao Shao-feng dengan dingin. Keringat dingin sudah membasahi baju, kasihan Li Yuan-wai, dia sepertinya sudah kehabisan tenaga untuk menjawab.

"Kau ada pesan apa?"

Hao Shao-feng bertanya lagi.

"Pesan?! Pesan apa?"

Suara Li Yuan-wai yang serak sungguh tidak enak didengar.

Apakah Li Yuan-wai sudah bingung karena pertarungan?

Kalau tidak kenapa dia bisa tidak mengerti perkataan ini?

"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh, caramu itu sudah kuno, aku hanya memandang karena kita pernah samasama disatu perkumpulan, jadi bertanya padamu, didunia ini apa masih ada hal yang belum dibereskan, tentu saja itu juga harus lihat apakah aku senang atau tidak, mau atau tidak melakukannya untukmu."

Hao Shao-feng seperti berkata pada orang yang akan menghembuskan nafas terakhirnya.

Juga tidak aneh dia begitu yakin bahwa dia pasti menang, karena Li Yuan-wai saat ini kelihatan sepertinya sudah tidak bisa bernafas lagi.

Mendengar kata-kata ini, karena marahnya Li Yuan-wai bersuara 'waaa', dia memuntahkan banyak sekali darah segar, padahal darah ini sudah dia tahan begitu lama.

Sambil sebelah tangan menahan dadanya, tangan lainnya menusap bekas darah dibibirnya, bisa membuat Li Yuanwai sampai marah dan memuntahkan darah, ini sungguh satu hal yang terbaru.

"Terima kasih banyak.... atas.... kebaikan hatimu, yang paling.... aku cintai paman.... Hao."

Orang ini sungguh punya tenaga bodoh dan sifat keras, sampai sekarang dia masih tidak lupa mempermainkan lawan.

"Ha ha.... bagus, bagus, sibodoh Raja Pengemis itu bisa punya murid yang begitu dapat dibanggakan, sudah seharusnya hatinya merasa gembira. Hanya saja dia tidak bisa melihat tingkahmu yang memandang kematian hanya sebagai suatu kepulangan.... ha ha...."

Kata Hao Shao-feng walau sambil tertawa, tapi tawanya sungguh semacam tawa, kulitnya yang tertawa tapi dagingnya tidak tertawa.

"Gu.... guru, aku mau mewakili melaksanakannya...."

Kata Chu Xiang Yun saat ini sudah jalan mendekati.

Melirik murid kesayangannya sekali, Hao Shao-feng tentu saja mengerti apa maksudnya.

Karena jika bisa membunuh Li Yuan-wai, bukan saja akan mendapatkan jasa besar di dalam Gai-bang, juga akan tersebar didunia persilatan adalah satu hal yang sangat membanggakan.

Keuntungan seperti ini, seperti keuntungan balok mas jatuh dari langit, siapa yang tidak mau memungutnya?

Sebab hati Hao Shao-feng berniat tidak benar, setengah demi dirinya sendiri, setengah lagi tentu saja demi murid kesayangan yang dianggap anak sendiri ini.

Makanya dia menganggukkan kepala, juga melangkah mundur, sambil berpesan.

"Anak Yun, hati-hati dia melakukan pertempuran terakhir seperti binatang yang terkurungnya." 0ooo(dw)ooo0 Li Yuan-wai sungguh tidak terpikir sebutan Pusaka Gaibang, ada satu hari bisa benar-benar jadi Pusaka Hidup yang diperebutkan orang. Dia mengeluh sekali, dengan serak berkata.

"Chu.... Chu Xiang Yun, kau.... kau tidak takut disambat petir?"

Gurunya jahat, muridnya tentu saja tidak akan berbeda terlalu jauh. Chu Xiang Yun dengan kulit tertawa daging tidak tertawa berkata pada Li Yuan-wai.

"Jujur saja kukatakan, walau disambar petir pun aku akan membelahmu, Li Yuanwai, aku sudah cukup menerimamu, sungguh, aku sudah cukup menerimamu, sialan! Beberapa tahun ini kau sudah merebut habis kebahagiaanku, seluruh Gai-bang sudah menjunjungmu sampai ke langit, kau mengandalkan apa disebut Pusaka Gai-bang? Hanya mengandalkan kau menjual daging anjing? Atau rupamu yang gemuk itu?"

Li Yuan-wai memuntahkan darah lagi, jika sorot mata bisa membunuh orang, mungkin Li Yuan-wai sudah membunuh lawannya paling sedikit tiga kali.

"Macan Tutul Marah! Kau.... sungguh tajam lidahmu, kata-kata ini.... hek, hek.... kata-kata ini mengapa.... mengapa kau dulu tidak berani mengatakannya padaku?! Apakah kau.... kau tahunya hanya mengambil keuntungan saja? Mari, mari, cepat kau lakukan! Kau akan.... kau akan melihat, aku sekarang ini tetap.... tetap bisa menyembelih daging anjingmu ini...."

Begitu marah orang tidak mempunyai perhitungan lagi, kali ini Li Yuan-wai bisa menerima hinaan dari lawannya, sungguh tidak ringan.

Matanya sudah menjadi merah, wajahnya sungguh seperti ingin makan orang.

Sambil memiringkan tubuh, Chu Xiang Yun dengan santai melangkah, sambil menatap tajam tubuh Li Yuanwai yang tidak karuan dan menyandar ketembok benteng.

Mmm, benar juga seperti seekor macan tutul yang siap menerkam orang.

Kail Tidak Ada Lawan.

Chu Xiang Yun sudah mengeluarkan senjatanya.

Seekor Macan Tutul yang kelaparan, seekor 'kambing gemuk' yang siap disembelih.

Sebenarnya ini pertarungan yang tidak adil, juga satu situasi 'yang lemah dimakan, yang kuat memakan'.

Di dunia persilatan memang banyak cara tipu melawan tipu, yang lemah dimakan yang kuat memakan, ini adalah kenyataan yang siapa pun tidak bisa merubahnya.

Masalahnya adalah siapa yang bisa menghindar pertempuran, pertempuran yang besar atau kecil, yang tidak ada berhentinya itu, siapa yang bisa bertahan hidup.

Sekarang Hao Shao-feng tahu, Chu Xiang Yun tahu, kecuali keajaiban muncul Li Yuan-wai sudah tidak jauh dari kematian, karena dia sudah kehabisan tenaga, karena dia sudah lemah, sudah tidak mampu lagi bertempur.

Asal satu serangan saja, paling banyak ditambah sekali lagi, Li Yuan-wai pasti mati.

Kail Tiada Lawan Chu Xiang Yun sudah diangkat, dia mengerti sekarang membunuh Li Yuan-wai lebih mudah dari pada membunuh seekor ayam.

0ooo(dw)ooo0 Sinar fajar baru saja muncul....

Ketika sinar pertama menembus awan menyorot pada wajah licik Chu Xiang Yun, Kail Tiada Lawannya sudah diayunkan, seperti pelangi, juga seperti cakar macan yang dapat merobek orang.

Namun....

Kail Tiada Lawan Chu Xiang Yun berhenti di depannya Li Yuan-wai, dan juga jatuh ke tanah menimbulkan suara'trang'.

Sebuah jarum sulam nomor super besar, hanya terlihat ujungnya saja, yang lainnya semua masuk ke tengah-tengah alisnya Chu Xiang Yuan.

Mata Chu Xiang Yun yang ingin membunuh itu melotot melihat Li Yuan-wai, dia tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba kehilangan tenaga?

Dia juga tidak mengerti kenapa sedikit pun tidak ada tanda-tandanya dirinya sudah terkena senjata gelap....

senjata gelap yang mengambil nyawanya.

Hao Shao-feng yang berada disamping membuka mulutnya besar-besar, dia tidak mengerti apa yang terjadi?

Karena dia hanya melihat jarinya Li Yuan-wai sedikit bergerak, hawa pembunuhan yang memenuhi udara itu begitu saja menghilang, segalanya, segalanya kembali menjadi tenang kembali.

0ooo(dw)ooo0 Sambil mengangkat lengan baju dengan perlahan mengusap keringat dikening, Li Yuan-wai menghembuskan nafas sekali.

Hao Shao-feng sekarang baru menemukan ada puluhan jarum sulam di tangannya Li Yuan-wai, bersamaan itu dia juga melihat setitik merah di antara alisnya Chu Xiang Yun.

"Ini.... ini adalah jarum sulam...."

Kata Hao Shao-feng seperti dicekek orang dengan ketakutan.

"Tidak salah, ini adalah jarum sulam.... namun.... namun juga jarum sulam yang bisa.... bisa merengut nyawa orang,"

Kata Li Yuan-wai sambil terengah-engah.

"Kau.... kau kenapa saling membunuh sesama perguruan?!"

"Aku saling membunuh sesama satu perguruan? Apa kau tidak salah?! adalah kalian yang tidak memperdulikan sesama seperguruan ingin mengambil nyawaku dulu."

Li Yuan-wai sudah bertambah bersemangat, perkataannya tidak gagap lagi, kata-katanya pun mulai tajam.

"Aku.... maksudku bukan itu...."

KataHao Shao-feng.

"Kalau begitu apa maksudmu?"

Kata Li Yuan-wai merasa aneh.

"Yang kumaksud adalah.... adalah.... kau juga adalah orang dari Perkumpulan Bunga Ju...."

"Perkumpulan Bunga Ju? Aku masih Pintu Mei (bunga mei; tidak ada)! Jika aku orang Perkumpulan Bunga Ju aku sudah sejak tadi membunuh kalian sepasang manusia yang menghianati leluhur ini...."

Kata Li Yuan-wai marah.

"Kau bukan?!.... lalu mengapa kau bisa menggunakan senjata gelap ini?!"

Melihat-lihat puluhan jarum sulam di tangannya, Li Yuan-wai sepertinya rada mengerti.

"Apa kau pernah melihat jarum yang seperti ini?!"

Kata Li Yuan-wai.

Hao Shao-feng tidak bicara lagi, dia dengan sedih menahan mayat yang akan jatuh.

Seseorang jika sudah mati mana mungkin tidak jatuh.

Hanya Chu Xiang Yun yang setelah mati tapi sampai kini baru bergoyang-goyang akan jatuh.

0ooo(dw)ooo0 Li Yuan-wai walau dapat merasakan Hao Shao-feng akan segera menyerang lagi.

Tapi dia juga secara bersamaan merasa Hao Shao Feng sangat takut terhadap jarum di tangannya.

Fajar sudah datang, Li Yuan-wai tahu dirinya tidak yakin lagi bisa menang meski mendadak menyerang.

Karena Hao Shao-feng sudah memiringkan wajahnya, menghindar sinar matahari yang menyilaukan mata.

Sekarang Hao Shao-feng sudah siap, lagi pula dia adalah Hao Shao-feng bukan Chu Xiang Yun.

"Tidak perduli kau siapa, Li Yuan-wai, kau babi gemuk kau telah membunuh Chu Xiang Yun, menghapuskan semua harapanku, aku ingin kau mati, mati tuntas...."

Kata Hao Shao-feng sambil menggigit-gigi. Li Yuan-wai merasa ada hawa dingin keluar dari tulang sumsumnya, dia malah mengangkat-angkat jarum sulam di tangannya berkata.

"Kau.... kau tidak takut pada mereka? Kau.... kau jika sudah tahu kelihaian jarum ini, maka kau harus tahu jarum ini selamanya tidak pernah meleset jika dilepaskan...."

Hao Shao-feng dengan tatapan marah berkata.

"Tidak perlu mengancam aku, aku adalah orang Perkumpulan Bunga Ju tentu aku tahu apa yang dipegang di tanganmu?"

"Betulkah?"

Kata-kata Li Yuan-wai belum juga habis, tiga buah jarum di tangannya tiba-tiba sudah terbang, langsung terbang menuju Hao Shao-feng.

Dia terpaksa menyerang lebih dulu, karena Hao Shaofeng mendesak dua langkah lagi, dia sudah tidak bisa dalam jarak begitu dekat melepasnya, bagaimana pun hanya memakai tangan menusukan jarum tidak mudah membunuh orang.

tubuh yang tinggi besar seharusnya lebih kaku, namun Hao Shao-feng dengan hebatnya menghindar tiga jarum ini.

Tiga jarum sulam terbang lagi dari tangannya Li Yuanwai.

Hao Shao-feng tidak bisa lebih mendesak maju, tapi dia tetap dapat menghindar serangan tiga jarum kedua kalinya.

Lalu tiga jarum lagi.

0ooo(dw)ooo0 Keringat dingin Li Yuan-wai mengucur lagi.

Dia sudah mengerti jarum di tangannya sudah tinggal beberapa lagi.

Dia lebih tidak menyangka semua jarum yang tidak pernah gagal ini, malah tidak satu pun mengenai sasaran.

Dia juga tidak tahu ketika semua jarum ini sudah habis dipergunakan, apa dia masih punya senjata untuk menghadang serangan lawan berikutnya.

Karena tenaga dia sekarang hanya cukup untuk menggunakan jarum saja.

Karena dalam pertempuran tadi bukan saja sudah menghabiskan tenaga dalamnya, bersamaan juga dia telah mengalami luka dalam yang tidak ringan.

Maka keringat dinginnya mengalir lagi.

Mengayunkan tangan melempar jarum juga menarik lukanya yang menimbulkan kesakitan, melihat jarum di tangan semakin berkurang, apa dia tidak gelisah?

Apa dia bisa tidak gusar?

0ooo(dw)ooo0 Wanita ini tidak tahu kapan datangnya?

Wajah dingin dengan sepasang matanya sedang memperhatikan Li Yuan-wai dan Hao Shao-feng.

Ketika Li Yuan-wai sudah siap melemparkan tiga jarum terakhir di tangannya, matanya yang tajam itu sudah melihat wanita berbaju putih ini....

Xu Jia-rong.

Tertawalah dia, tentu saja saat ini dia bisa tertawa, hingga bisa membuat Hao Shao-feng menjadi heran.

Lalu akhirnya Hao Shao-feng juga telah melihat Xu Jiarong yang berdiri tidak jauh.

0ooo(dw)ooo0 Kepandaian Li Yuan-wai yang paling besar adalah kecuali dapat memasak Harum Sedap Tiga Li yang lezat, mungkin ada satu lagi kepandaiannya, yaitu 'bertemu orang bicara bahasa orang, bertemu setan bicara bahasa setan'.

Melihat wanita yang cantik, tentu saja bicara bahasa menjilat!

Jika tidak percaya, silahkan dengar.

"Nona.... nona Xu, sungguh.... sungguh kebetulan, oww, tidak, tidak terlalu kebetulan, aku mungkin akan merepotkan kau lagi untuk.... untuk membebaskan lagi!"

"Mengapa setiap kali aku bertemu denganmu, kau sepertinya sedang berkelahi dengan orang? Dan juga kau selalu dipihak yang kalah?"

Kata Xu Jia-rong yang giginya seperti kerang bersinar-sinar tertawa.

"He he.... memalukan, kau adalah orang bangsawan, dan aku adalah orang yang ketimban susah,"

Kata Li Yuan-wai hatinya sudah berani sambil tertawa pahit.

"Kali ini apa lagi sebabnya? Iii?! Dandanan orang ini seharusnya adalah orang Gai-bang kalian...."

Xu Jia-rong tiba-tiba tidak bisa meneruskan bicaranya, karena dia sudah menemukan pakaian Li Yuan-wai yang mewah, walau sudah ada sedikit bekas darah.

"Siapa nona ini? Gai-bang sedang membersihkan perkumpulan, harap bisa memberikan kemudahan, berdiri dipinggir,"

Kata Hao Shao-feng dengan keras melihat Li Yuan-wai menjilat lawan, untuk menjaga supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Membersihkan perkumpulan?!"

Tanya Xu Jia-rong tidak mengerti.

"Betul, Li Yuan-wai bukan saja menghianati perkumpulan juga membunuh sesama orang perkumpulan, aku Hao Shao-feng sedang melaksanakan perintah dari ketua perkumpulan kami...."

Kata Hao Shao-feng.

"Kentut, Hao Shao-feng kau.... kau sialan jangan membalikkan masalah."

Li Yuan-wai disisi tidak menunggu Hao Shao-feng habis bicara, sudah dalam keadaan tergesa gesa dia membuka mulut memakinya.

Xu Jia-rong mengerutkan alisnya walau sudah pernah mengalami kelucuannya Li Yuan-wai, tapi tidak diduga saat dia memaki orang bisa begitu tidak enak didengar.

Wajah Hao Shao-feng berubah, bagaimana pun juga dia adalah seniornya Li Yuan-wai, dihadapan orang luar mana bisa dia menerima hal yang begini?

Begitu bayangan telapak muncul, Li Yuan-wai sudah bersiap, tiga jarum terakhir di tangan sudah dikeluarkan.

Kejadiannya sama, Hao Shao-feng segera membalikkan tubuh memiringkan bahu langsung dapat menghindarnya, lalu memukulkan telapak.

"Non.... nona Xu...."

Suaranya Li Yuan-wai seperti pantat dibakar api berteriak.

Sepasang telapak Hao Shao-feng walau disebut Telapak Besi, tapi mana bisa dibandingkan dengan ketajaman pedang.

Maka setelah dia menghindarkan tiga jarum Li Yuan-wai dan menyerang, mendadak dia melihat sebilah pedang sudah menghadang di depannya, dia terpaksa mundur beberapa langkah, menghentikan serangannya, hingga Li Yuan-wai terhindar dari satu bahaya lagi.

Terhindar dari bahaya, Li Yuan-wai dengan santainya mengepalkan tangan berkata.

"Nona Xu, terima kasih...."

Hao Shao-feng melihat 'bangga'nya Li Yuan-wai, kemarahannya meluap sampai kepalanya mengepulkan asap.

"Cjianbei, Li Yuan-wai adalah temanku, bolehkah aku tanyakan cerita yang sebenarnya dulu?"

Li Yuan-wai diam-diam menghampiri Xu Jia-rong, tidak menunggu Hao Shao-feng menjawab dia sudah berteriak.

"Cjianbei kentut, nona Xu, kau ingin memanggil orang ini Cjianbei itu sangat tidak pantas!"

Ternyata sesudah Li Yuan-wai punya backing, dia dengan tampang tidak takut berkata.

Telapak walau tidak berperasaan, pedang lebih-lebih tidak berperasaan.

Hao Shao-feng semalaman tidak tidur, dia sibuk semalaman, lebih-lebih dia telah kehilangan murid kesayangannya, terakhir dia hampir bisa menghabisi Li Yuan-wai, tidak tahunya muncul wanita ini menghadang, apa dia tidak gusar, apa dia tidak marah?

Walau nada Xu Jia-rong ramah, tapi mata dia sudah merah, paru-parunya seperti sudah mau meledak, maka tidak banyak bicara lagi, dia mengangkat tangan langsung dipukulkan.

Xu Jia-rong juga seperti wanita yang suka mengurusi masalah orang lain, sehingga dia pun mengangkat pedang melayani.

Telapak seperti bayangan, pedang seperti pelangi, telapak dan pedang bergumul.

Li Yuan-wai mendapat kesempatan, dia menelusuri tembok duduk ke bawah, sambil memijat-mijat bahu, sambil seperti menonton sandiwara melihat dua bayangan yang sedang bertarung.

Saat ini dia baru merasakan lukanya begitu parah, karena dia melihat sekarang bahunya sudah membengkak, dadanya sakit, seluruh tubuhnya seperti sudah terpisah-pisah sampai untuk bernafas saja juga harus menggunakan banyak tenaga.

0ooo(dw)ooo0 Di tahun-tahun ini orang punya penyakit ingin menonton keramaian.

Jika ada orang berkelahi, tentu saja ada orang yang menonton, apalagi hari sudah terang, dan lagi berada disisi gerbang kota.

Tidak lama kemudian orang yang bangun pagi sudah ramai mengurung, mereka berebut ingin melihat pertarungan hidup atau mati yang seru ini.

Jika bukan karena sakitnya sampai tidak bisa berdiri, mungkin Li Yuan-wai akan mengelilingi para penonton meminta bayaran, mengambil keuntungan diluar dugaan.

"Wanita ini sungguh lihay...."

"Sepasang telapak pengemis tua itu juga tidak lemah...."

"Aduh, di tanah ada orang yang telah mati...."

Kerumunan orang menjadi ribut.

Li Yuan-wai tahu perkelahian ini sudah hampir selesai, walau bagaimana pun orang persilatan tidak berani terangterangan disiang hari bolong dan ditonton banyak orang bertarung, ini kan tempat yang ada hukum, dan juga ada kantor pemerintah.

Janggot diwajah Hao Shao-feng berdiri tegak karena gelisah, sampai sekarang dia masih tidak tahu kenapa ilmu silat gadis ini bisa begitu lihay.

Yang membuat dia lebih gelisah adalah dia sedikit pun tidak yakin bisa memenangkan pertarungan ini.

Bertarung terus atau tidak?

Pergi atau tidak?

Dia berhitung di dalam hati tidak sekali saja.

"Orang pemerintahan sudah datang...."

Tidak tahu siapa yang mengucapkan ini.

Sehingga Hao Shao-feng segera memutuskan, dia sekali loncat keluar dari pertempuran, dengan keji melihat Xu Jiarong dan Li Yuan-wai.

Lalu membungkuk membopong mayat Chu Xiang Yun, separah kata pun tidak mengucapkan langsung terbang melewati kepala kerumunan orang, pergi jauh.

Walau dia tidak mengatakan apa-apa, tapi Li Yuan-wai dan Xu Jia-rong mengerti apa maksud dia melihat saat mau pergi.

Itu adalah sorot mata orang yang sangat mendendam.

0ooo(dw)ooo0 Diluar kota, di dalam hutan.

Li Yuan-wai masih merasa kesakitan.

Melihat dia memejamkan mata, seperti sedang duduk di awan, meski tulang dia tidak hancur berantakan, tapi dia merasa lemas.

Sepasang tangan lembut Xu Jia-rong dengan pelan tapi teratur sedang memijat bahunya Li Yuan-wai, wajahnya yang cantik begitu dekat.

Dan hidung Li Yuan-wai sedang bergerak-gerak mencium bau harum yang seperti anggrek itu.

Saat ini, dalam keadaan begini, walau jadi dewa pun tidak akan segembira dia.

Dengan tidak sengaja, Xu Jia-rong tiba-tiba merasakan penampilan Li Yuan-wai yang begitu keenakan, walau dia seorang putri persilatan yang tidak terlalu memperdulikan aturan, tapi bagaimana pun dia tetap saja wanita.

Seorang wanita selalu saja sering berubah tidak menentu, apa lagi tangan mereka juga begitu.

Karena tangan mereka bisa saja menyembuhkan luka seorang laki-laki, tapi jika mencubit orang juga sama akan menghilangkan setengah nyawa orang.

Tidak percaya?

Mengapa Li Yuan-wai yang mendapat luka begitu parah sedikit pun tidak berteriak kesakitan, sekarang dia malah berteriak-teriak seperti babi tidak henti-hentinya karena dicubit oleh Xu Jia-rong.

"Aww.... tolong, tolong, kau lepaskan tangan, lepaskan tanganmu, lepaskan tangan aww...."

"Kenapa? Bukankah kau merasa enak?"

"Non.... nona besar, perasaan itu.... perasaan itu tidak.... tidak sama aww...."

Kata Li Yuan-wai seperti menangis.

"Hem! Aku mau lihat apa kau masih berani menampilkan penampilan seperti itu tidak...."

Xu Jia-rong melepaskan tangannya, Li Yuan-wai buruburu mengangkat tangannya memakai mulut meniup-niup tempat yang dicubit.

Apakah ini berguna?

Itu adalah kulit biru yang besar!

Li Yuan-wai dengan wajah pahit, melihat kulit biru itu, dia jadi mengerti satu hal.

Yaitu nona cantik yang dingin ini, walau bisa menyelamatkan nyawanya, juga bisa mengambil nyawanya.

0ooo(dw)ooo0 Laki laki semuanya punya satu penyakit yang sama, yaitu sangat mudah melupakan kerugian dan terkena tipu.

Li Yuan-wai adalah seorang laki laki, dan penyakit dia dibandingkan orang lain lebih besar.

Mengapa wanita cantik selalu membuat laki-laki mudah melupakan wanita lain?

Li Yuan-wai telah melupakan Ouwyang Wu-shuang, telah melupakan wanita yang setiap saat disembarangan tempat ingin membunuh dia.

Li Yuan-wai telah melupakan Zhan Feng, telah melupakan seorang yang tidak tahu punya tujuan apa, wanita yang misterius.

Apakah dia tidak tahu wanita yang semakin cantik semakin seperti binatang berduri, mengusapnya pun jangan harap.

Betulkah Xu Jia-rong telah menyelamatkan dia, hingga terhadap wanita ini dia sudah kehilangan kewaspadaannya?

Betulkah penyakit dia telah kambuh kembali, mengira setiap wanita akan terpikat oleh senyumannya?

Li Yuan-wai tertawanya sungguh sangat gembira, matanya pun hampir sipit sampai menjadi satu garis.

Dia berkata.

"Kau telah menyelamatkan aku, walau diselamatkan oleh seorang wanita kurang.... kurang membanggakan, tapi aku tetap akan berterima kasih padamu."

Senyum Xu Jia-rong tidak diragukan lebih bagus dari pada senyum Li Yuan-wai, dia malah berkata.

"Terima kasih padaku? akan memberikan apa untuk terima kasih padaku? Kabarnya di dunia persilatan, sampai uang untuk makan besok juga kau tidak punya!"

"Siapa.... siapa yang bilang?! Uang aku ada, aku sungguh punya uang, kau sama sekali jangan mempercayai kabar angin, kau tidak percaya?! Baik, kau katakan saja, apapun yang kau ingin makan, atau ingin membeli apa, aku pasti akan laksanakan...."

Li Yuan-wai jadi gelisah, bagaimana dia tidak akan gelisah.

Bagaimana pun ini adalah penyakit semua orang, lakilaki paling takut dikatakan orang miskin.

Apa lagi dihadapan wanita cantik yang baru dikenal, dipandang enteng orang.

Sambil memperhatikan Li Yuan-wai, Xu Jia-rong tertawa berkata.

"Mmm, dandananmu sekarang memang tidak sama dengan dulu waktu aku bertemu denganmu, kelihatannya kau benar telah meninggalkan Gai-bang. Baiklah! Aku pikir jika kau memang terus berkata ingin berterima kasih pada aku, baiklah, traktir aku makan dulu, kali ini seharusnya kau sudah bisa bergerak, Mau tidak aku bantu lagi memijatnya?"

Li Yuan-wai jadi ketakutan sampai dia menggoyang goyangkan tangannya.

"Dewi.... dewi penyelamat, aku sudah baik, aku sudah baik, aku sungguh takut padamu...." 0ooo(dw)ooo0 BAB 21 Menahan orang untuk mabuk Di dunia ini ada semacam laki laki, yang hidupnya selalu berhubungan dengan wanita. Li Yuan-wai adalah laki laki semacam ini, Tangan Cepat Xiao Dai tampaknya juga laki laki semacam ini. Xiao Dai setelah minum semangkuk obat godog untuk lukanya, wajahnya yang putih pucat sudah mulai sedikit merah. Dia memuji kemahiran pengobatannya Zhan Feng, dan resep obat yang dia tinggalkan. Sekarang Zhong Qiu baru saja lewat (imlek tanggal lima belas bulan delapan), dengan pertempuran bulan tujuh tanggal tujuh sudah lewat tidak sampai dua bulan. Dalam waktu dua bulan Zhang Feng sudah bisa menyembuhkan orang yang terluka parah, tidak bisa bergerak dan sekarat menjadi seperti sediakala, ini adalah satu keajaiban. Tentu saja kondisi fisik pasien dan situasi tempat juga menjadi satu unsur yang penting.

"Selamat, Tuan muda Dai,"

Kata Qi Hong menerima kembali mangkuk sambil tertawa.

"Semua juga harus terima kasih padamu yang telah repot dan teliti merawatnya!"

Kata Xiao Dai.

Qi Hong tidak berkata, wajahnya tampak jelas sedih.

Selama dua bulan, siang malam tinggal bersama, dari tadinya merasa asing sampai kenal, dari kenal menjadi mengagumi, Xiao Dai sudah menganggap wanita yang tidak tahu dunia luar ini, sebagai kakak yang paling dihormatinya.

Walau hatinya selalu tidak bisa tenang, dia selalu tidak dapat melupakan wanita yang pernah dia cintai dan membuat dirinya terluka parah.

Tapi terhadap Qi Hong dan Zhan Feng, dia merasa lebih baik dia yang menanggung kesusahannya, dia tidak mau mereka mendapat kesedihan sedikitpun.

Bagaimanapun tadinya dia seperti pohon yang akan tumbang, bisa tumbuh kembali semua ini atas pengobatannya Zhan Feng, dan perawatannya Qi Hong.

Dengan segera, Xiao Dai sudah menyadari wajah Qi Hong yang tidak seperti biasanya.

"Ada masalah apa? Kak Qi Hong."

Memandang mata yang sudah sedikit merah, Qi Hong dengan perlahan berkata.

"Ada perkataan yang aku sangat tidak ingin mengatakannya, tapi juga tidak bisa tidak harus dikatakan...."

Hati Xiao Dai bergetar, dia tidak mengerti kakak yang putih bersih seperti selembar kertas putih ini, dihari biasa bicaranya selalu terus terang mengapa sekarang merasa sulit berkata.

"Kau katakan saja, aku pikir didunia ini sudah tidak ada satu masalah apapun yang tidak dapat aku terima."

Xiao Dai bisa mengatakan ini, dia mengira dia akan mengatakan hal yang sangat berat.

Air matanya Qi Hong sudah mengalir, hatinya Xiao Dai sudah gelisah.

Sampai sekarang dia juga baru tahu bahwa sungguh dia tidak ingin, juga sangat takut melihat air matanya.

Dia tahu wanita ini selamanya tidak pernah merasakan kesusahan, malah tidak pernah mengeluarkan air mata, lalu pertanda apa ini?

0ooo(dw)ooo0 'Sampai bertemu lagi', dua kata ini menandakan perpisahan, dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Terhadap seseorang yang tidak ingin mengatakan 'sampai jumpa lagi' itu adalah satu kegembiraan.

Tapi terhadap orang yang tidak ingin ditinggalkan mengatakan 'sampai jumpa lagi' mana bisa gampang mengatakannya?

Perasaan yang terjadi pada Xiao Dai dan Qi Hong sangat aneh, juga abadi.

Karena mereka berdua selama ini, siang malam bertemu, tinggal bersama, sampai tidak ada masalah yang tidak dibicarakan.

Jadi tidak heran saat Qi Hong mengatakan 'sampai jumpa lagi' air matanya sudah memenuhi wajahnya.

Juga tidak heran saat Xiao Dai mendengar perkataan 'sampai jumpa lagi' tubuhnya tidak hentinya gemetar.

"Mengapa?"

Xiao Dai bertanya.

"Karena nona ingin kau keluar menemui dia, merpati pos sudah datang pagi ini."

Xiao Dai jadi terdiam, dia tahu, sudah saatnya mengatakan 'sampai jumpa lagi'.

"Dia.... dia ingin aku kapan berangkat? Dan kemana menemuinya?"

"Besok pagi-pagi sekali, saat itu akan ada perahu yangmenjemputmu."

Xiao Dai tertawa pahit sekali, dia melangkah kepinggir pintu, melihat matahari senja yang semakin tengelam, bergumam.

"Cepat sekali, apakah di dalam gunung memang benar tidak ada hari? Kenapa aku sekarang baru merasakan aku seperti baru saja datang, hanya dua hari...."

"Tinggal lama di dalam gunung memang biasa ada perasaan ini...."

Qi Hong sudah mengusap air matanya, dia juga melangkah kesisi pintu.

"Tiba-tiba aku merasa sangat takut keluar, juga sangat tidak ingin keluar, mengapa?"

"Kau takut kembali ke masyarakat?"

"Benar, aku sangat takut."

"Mengapa? Tangan Cepat Xiao Dai mana boleh ada pikiran demikian?"

Xiao Dai memiringkan tubuhnya menatap tajam wajah Qi Hong, katanya.

"Tangan Cepat Xiao Dai empat kata mungkin sudah dilupakan orang, lagi pula hatiku sudah mati."

"Kau masih muda, dan lagi diluar kau masih punya teman, famili, bagaimana bisa kau mengatakan hatimu sudah mati? Apakah hanya dikarenakan oleh wanita yang tidak ada harganya itu?"

"Teman? Famili?"

Xiao Dai terpikir Yuan Ershao, juga terpikir Li Yuan-wai.

"Aku mungkin sudah kehilangan semua teman-temanku, karena.... karena.... karena tidak ada orang yang bisa memaafkan temannya, karena demi seorang wanita, mau membunuh temannya,"

Kata Xiao Dai dengan sedih.

"Tapi maksud sebenarnya bukan untuk membunuh Li Yuan-wai!"

"Betulkah? Siapa yang tahu? Dan siapa yang tahu aku terpaksa melakukan itu adalah untuk membongkar satu siasat keji? Dan siapa yang tahu aku telah terkena racun penghilang ingatan Ouwyang Wu-shuang? Kau harus tahu, aku tidak punya famili hanya ada teman, sayang sekali dua teman terbaik aku satu telah mati, yang satunya lagi mungkin juga karena aku hingga menggabungkan diri dengan perkumpulan lain...."

Benar, Qi Hong mengerti maksud Xiao Dai, dia tentu saja lebih lebih mengerti orang yang seperti Xiao Dai bisa menganggap teman lebih penting dari pada nyawanya.

Maka dia telah kehilangan teman dan mana mungkin dia hatinya tidak mati?

Dia jatuh cinta, tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.

Dia tidak pernah punya teman, dia juga tidak dapat berbuat apa apa karena tidak mampu.

"Kau.... hatimu tidak boleh mati, kau masih mempunyai teman, kau juga bisa mendapatkan kembali orang yang mencintaimu...."

Kata Qi Hong, wajahnya yang tidak bisa disebut sangat cantik itu tiba-tiba dengan emosi.

"Aku masih mempunyai teman? Aku masih bisa mendapatkan...."

"Benar, bukankah aku bisa menjadi temanmu, dan juga.... dan juga didunia ini wanita bukan hanya Ouwyang Wu-shuang...."

Wanita macam apa ini?

Apakah dia benar-benar tidak bisa mengerti teman di antara hubungan satu jenis dengan berbeda jenis, ada perbedaan yang sangat jauh?

Apa yang dia utarakan diam-diam?

Kenapa wajahnya merah, sorot matanya menampilkan sorot yang sulit dimengerti?

Xiao Dai sungguh idiot, karena dia tidak melihat pada orang yang sedang bicara.

Dia hanyalah memandang jauh kegunung memikirkan kata 'teman', ini.

Didunia memang ada banyak hal yang tidak bisa berbuat apa apa.

Apa lagi kejadian yang tidak diduga, hal yang salah paham.

Xiao Dai menarik sorot matanya, dengan terbuka berkata.

"Baik, kak Qi Hong aku menuruti nasihatmu, aku juga berterima kasih pada nasihatmu, dan juga aku menerima dengan tulus kau sebagai temanku dan guruku yang baik, sebenarnya aku sudah sejak dulu menganggap kau sebagai temanku, jika tidak mana bisa aku mengutarakan rahasia hatiku padamu? Mari! Tos untuk perkenalan kita, malam ini aku ingin mabuk, aku sudah lama tidak minum arak dan tidak gembira."

Laki-laki tetap saja laki-laki, laki-laki selalu lebih ceroboh.

Qi Hong telah pergi, dia sedang sibuk mempersiapkan masakan dan minuman.

Xiao Dai hanya mengira matanya berlinang air mata hanya karena dia akan meninggalkan seorang teman.

0ooo(dw)ooo0 Arak, arak sungguh benda yang hebat.

Orang sedang pusing terpikir dia, orang dalam bahagia juga terpikir dia.

Dalam perpisahan orang tidak bisa tidak ada dia, dalam pertemuan kembali lebih-lebih membutuhkan untuk merayakannya.

Di tempat yang ada orang pasti ada arak.

Di tempat yang ada arak juga tidak mungkinlah tidak ada orang yang mabuk?

Di sini jauh dari keramaian, di sini bukan di dunia persilatan.

Di sini lebih-lebih tidak ada 'kau bohong, aku menipu' saling berusaha menjatuhkan lawan.

Orang yang minum arak tidak memperdulikan akibatnya, orang yang minum arak juga berniat mabuk.

Makanya Xiao Dai telah mabuk, Qi Hong juga telah mabuk.

Xiao Dai tidak punya kemampuan seperti Li Yuan-wai, makanya dia mabuk sampai tidak sadarkan diri.

0ooo(dw)ooo0

"Semoga mabuk terus tidak sadarkan diri"

Ini Yang dikatakan Li Bai.

Tapi apa mungkin?

Xiao Dai bukan Li Bai, dia tentu saja tidak mati karena mabuk.

Tapi ketika dia sadarkan diri, dia malah mengharapkan dia sungguh bisa mati karena mabuk.

0ooo(dw)ooo0 Langit baru saja terang.

Sisa arak di meja masih ada, lilin sudah padam, tetesan lilin mirip sekali dengan air mata manusia....

air mata seorang istri yang mengalir demi suaminya yang akan pergi jauh.

Kepalanya Xiao Dai bukan saja berat, tapi juga sakit.

Ketika dia menerima air teh panas yang disodorkan oleh Qi Hong, dia menemukan air mata di wajahnya belum kering.

Dia membisu, tapi Xiao Dai sudah tidak bisa memegang cangkir teh di tangannya.

Cangkir teh yang pecah, seperti hati yang hancur.

Xiao Dai tidak ingat apa yang telah terjadi, tapi dia tahu pasti telah terjadi sesuatu hal.

Dia mengingatnya kembali dengan teliti, dia memakai tangannya memukul kepala sekali dan sekali, sekali demi sekali semakin keras.

Akhirnya dia dengan keras memeras rambutnya, dia telah terpikir sedikit kejadian kemarin, dia juga tidak berani memikirkannya lebih lanjut.

Qi Hong tidak berkata, hanya dengan pelan melangkah mendekat, mengulurkan sepasang tangan memegang tangan Xiao Dai yang sedang mendekat dan memeras rambut.

Dia dengan lembut memandangnya, tidak menyalahkan, tidak memarahi, hanya dengan pasti, dengan lembut, sepertinya sama ingin memeluk dia ke dalam hatinya, memandangi dia.

Ini adalah perkataan yang tidak seharusnya ditanyakan, tapi Xiao Dai telah menanyakannya.

"Kau telah kehilangan.... apa betul tidak....?"

Tanya Xiao Dai dengan pelan, dengan perlahan.

"Tidak, seharusnya kau berkata apakah aku telah mendapatkan...."

Dia juga dengan pelan dengan perlahan menjawab.

"Kau.... kau semalaman tidak tidur?"

"Aku tidak bisa tidur, juga tidak mau tidur."

"Ka.... karena apa?"

"Aku ingin melihatmu, karena aku tidak tahu di kemudian hari apakah aku masih bisa melihatmu."

Hatinya Xiao Dai jadi sakit, sakitnya sampai melebihi sakit kepalanya. Dia bergumam berkata sendiri.

"Aku telah berbuat apa? Aku sebenarnya telah berbuat apa?"

"Kau tidak berbuat apa apa, kau sungguh tidak berbuat apa apa, kau sudah mabuk, kau hanya telah bermimpi saja."

Xiao Dai berharap dia hanya mabuk, hanya bermimpi.

Tapi dia tahu itu bukanlah mimpi, mimpi tidak akan begitu nyata, dan juga mimpi tidak akan meninggalkan jejak.

Qi Hong berdiri diam, dia juga seperti seorang istri membantu dia mengikatkan kancingnya.

Melihat kasur yang kusut dan merah dimana-mana, Xiao Dai merasa kesal sampai ingin membunuh dirinya sendiri.

"Ini.... ini kenapa bisa sampai terjadi?! Kau.... kau kenapa tidak menolaknya?"

Xiao Dai tidak berani melihat orang dihadapannya, dia dengan kesal bertanya.

"Kau.... telah mabuk, aku.... aku pikir aku juga telah mabuk."

Benarkah dia telah mabuk?

Jika dia telah mabuk mengapa semalaman tidak tidur?

Jika dia telah mabuk mengapa bisa memberitahu Xiao Dai dia bukan kehilangan, tapi mendapatkan?

Seorang wanita berusia tiga puluh tahun, seorang lakilaki berusia sembilan belas tahun, walau dia sudah kehilangan, tapi bukankah juga sama dengan mendapatkannya?

"Kau....

kau sungguh bodoh, sungguh bodoh, kau sungguh tidak mendapatkan apa-apa, sungguh tidak mendapatkan apa-apa...."

Kata Xiao Dai sudah mengerti, dia menatapnya.

"Tidak, mendapatkan atau tidak biar aku yang menentukannya, aku tidak menganggap aku bodoh, aku juga tidak menganggap aku berbuat begini tidak mendapatkan apa-apa. Aku sudah bilang kau tidak perlu menyalahkan dirimu, anggap saja kau telah bermimpi, dan aku.... aku seumur hidupku akan mengenang mimpi yang indah ini, sampai.... sampai tua, sampai aku mati."

Hatinya Xiao Dai seperti sedang meneteskan darah, dia menarik tangan Qi Hong, dengan sedih berkata.

"Aku seharusnya dari kemarin mengerti apa yang kau katakan kemarin.... maka.... maka aku tidak akan mabuk, apakah kau tahu? Aku adalah laki-laki, laki-laki tidak akan perduli...."

Dengan perlahan menganggukkan kepala, Qi Hong berkata.

"Aku tahu, aku juga tahu wanita seharusnya memandang ini lebih penting dari pada nyawanya.... namun.... namun wanita seperti aku yang selamanya tidak pernah keluar dari gunung, pandangan rendah dan perusakan nama didunia ini terhadap aku tidak ada...."

Apakah Xiao Dai masih bisa berkata lagi?

Dan dia bisa berkata apa lagi?

Apakah dia sekarang masih bisa berkata hatinya sudah mati?

Manusia bukan tanaman, yang tidak punya perasaan?

Hanya saja 'perasaan' ini datangnya begitu tiba-tiba, membuat dia tidak bisa menerimanya.

0ooo(dw)ooo0 Hari sudah terang, perahu sudah datang.

Sudah waktunya untuk berpisah.

Dengan menahan air mata, Qi Hong tabah, tidak membiarkan air matanya bercucuran.

Karena dia sudah tidak bisa menahan dia untuk tinggal.

Sehingga dia pun tidak mau dia pergi membawa rindu.

Dia melayangkan tangan tanpa berkata, melayangkan tangan....

Sampai perahu sudah berlayar jauh dia masih berdiri ditepi sungai.

Dia tidak tahu dia bisa tidak kembali lagi, dia juga tidak tahu seumur hidupnya, apa dia masih bisa bertemu dengannya lagi.

Tapi dia tahu paling sedikit sekarang hidupnya tidak siasia.

Seperti yang dia katakan sendiri, dia sudah mendapatkannya.

0ooo(dw)ooo0 Perahunya tidak besar, tapi ruangan perahunya sangat nyaman.

Xiao Dai berbaring di atas ranjang yang dilapisi karpet bulu domba yang tebal, sudah empat jam dia sedikit pun tidak bergerak.

Dia tidak tahu perahu ini akan berlayar kemana, dia tidak bertanya, wanita di atas perahu juga tidak memberi tahu dia.

Walau ada orang berbicara dengan dia, tapi sekali melihat wajahnya yang dapat mengupas selapis salju, jadi siapa pun tidak berani membuka mulut.

Walau Xiao Dai berbaring tidak bergerak, tapi tidak ada satu hal pun yang bisa mengelabui dia.

Xiao Dai tahu diluar ruang perahu, paling sedikit sudah ada lima orang yang telah mengintip dia, dan juga semuanya wanita.

Perahu macam apa ini?

Kenapa di atas perahu kecuali Xiao Dai, satu laki laki pun tidak ada?

Kelihatannya apa yang dikatakan Qi Hong tidak bohong, sungguh seumur hidupnya dia hanya pernah lihat dua laki laki.

Qi Hong....

begitu Xiao Dai terpikir wanita ini, hatinya jadi sedih sekali.

Didunia ini kenapa ada wanita seperti ini?

Untuk apa keberadaannya?

Apakah keberadaannya hanya untuk menunggu kematian saja?

Yang membuat hati Xiao Dai lebih sakit adalah dia telah merusak kesuciannya.

Kenapa didunia ini selalu saja terjadi hal yang tidak mungkin terjadi, tapi justru malah terjadi?

Banyak hal yang tidak mungkin terjadi, justru Xiao Dai malah mengalaminya?

0ooo(dw)ooo0 Zhang Jiang.

Zhang Jiang itu besar, panjangnya enam ribu dua ratus empat puluh kilometer, melintasi sembilan provinsi di Tiongkok.

Daerah yang dialirinya seluas satu juta delapan ratus kilometer persegi.

Dan daerah yang paling berbahaya yang pertama adalah San Xia, San Xia terdiri dari Ling Xia, Wu Xia, Qu Xia.

Xiao Dai pernah mendengar perahu yang berlayar melawan arus di San Xia disebut La Tan, yaitu perahu yang diikat tambang dan ditarik oleh orang-orang, menelusuri tebing tinggi yang sempit dan berliku liku.

Tidak terpikirkan perahu yang melawan arus juga harus ditarik oleh orang-orang.

Sedang jika berlayar ke bawah disebut Fang Tan, daerahnya lebih sulit, lebih bahaya, lebih menghabiskan tenaga.

Dia tidak bisa bertahan lagi, walau tidak ingin bangun, namun telinganya mendengar teriakan 'ayo' suara dari para penarik perahu, dia telah tertarik ingin tahu dan melihat apa sebenarnya yang terjadi.

Ketika dia berdiri disisi perahu, dia melihat derasnya aliran sungai, ditengah sungai bertaburan batu-batu, dia baru tahu ketika perahu yang berlayar ke bawah juga harus ditarik jika tidak akan sulit berlayar.

Karena tidak ada satu pun perahu yang dapat berlayar dalam arus yang begitu deras.

Juga tidak ada satupun Nahkoda kapal yang tidak mengandalkan penarik perahu, dan bisa dengan selamat berlayar melewati batu-batu ditengah sungai itu.

Kemunculan Xiao Dai mendapat perhatian para wanita di atas perahu, namun karena saat ini semua orang punya tugas masing-masing, siapa pun tidak berani berpikiran yang lain, bagaimana pun begitu tidak hati-hati, kecepatan perahu akan tidak terkendali, bukan saja perahunya akan hancur, orangnya juga bisa mati, sampai orang-orang penarik Fang Tan yang berada ditepi sungai juga sama akan tertarik oleh tenaga yang sangat besar itu, masuk ke dalam sungai.

0ooo(dw)ooo0 Dari belakang perahu Xiao Dai berjalan sampai ke depan perahu, kembali dari depan perahu kebelakang perahu, dia sudah menghitungnya, di atas perahu ini semuanya ada tujuh orang, kecuali dirinya enam wanita lagi semuanya gadis yang cantik-cantik.

Dan didarat ada dua belas orang pria yang tidak memakai baju atas, otot-ototnya tampak menonjol.

Sekarang dia berdiri disisi perahu sedang memikirkan satu hal, dia tidak tahu jika tiba-tiba tambangnya putus, akibatnya akan bagaimana.

Terhadap air sekarang dia merasa ketakutan, karena jika bukan Zhan Feng menyelamatkan dia, dia sudah tenggelam di Jin Jiang, mungkin mayatnya pun tidak tahu ada dimana.

Semua orang juga punya satu perasaan 'sekali tergigit ular, sepuluh tahun takut melihat tambang sumur', jadi tidak aneh begitu Xiao Dai melihat arus sungai dia sudah merasakan hal yang tidak enak.

Apa yang dikatakan "suara kera di kedua pantai tidak henti, perahu ringan telah melewati gunung-gunung', yang dimaksud mungkin adalah 'tebing buku militer dan pedang pusaka' yang berada di atasnya Cjing Tan di San Xia ini.

Tebing ini sangat berbahaya sekali, air berputar, arus sangat deras, batu dimana-mana, tebing menjulang ke langit, lurus dan licin, karena di atas tebing ada sebuah batu, rupanya seperti pedang pusaka, dan di atasnya sekitar jarak lima, enam zhang ada benda yang menyerupai buku bertumpuk, maka tempat itu mendapat nama itu.

Ini benar-benar lokasi yang sangat berbahaya, pikir Xiao Dai di dalam hati.

Baru saja dia berpikir demikian, dia sudah melihat satu hal yang betul-betul berbahaya.

Dia tidak tahu mengapa dua belas laki-laki penarik perahu itu bisa-tiba mengikatkan talinya pada sebuah batu besar?

Dia juga tidak tahu mengapa mereka tidak membiarkan perahunya berlayar ke bawah lagi.

Tapi dia telah melihat sebuah kapak tajam yang diangkat oleh seseorang, dan arah turunnya kapak pas di atas tali yang mengikat perahu yang dinaikinya.

0ooo(dw)ooo0 Perahu telah berhenti, berhenti ditengah tengah sungai.

Semua orang diperahu berkumpul disisi perahu, Sorot mata semua orang tampak ketakutan dan merasa aneh.

Karena mereka semua juga melihat kapak yang minta nyawa orang itu.

"Orang-orang Perkumpulan Bunga Ju dengarlah, sekarang kalian silahkan saling menotok jalan darah masing-masing, jika tidak begitu kapak turun tali pun putus, di sinilah tempat kalian mati...."

Teriak seorang laki-laki berdiri disisi pantai.

Perkumpulan Bunga Ju?

Xiao Dai jadi bengong.

Dia memiringkan kepala melihat enam wanita itu, sampai sekarang dia baru menyadari enam gadis cantik ini pasti bukan nelayan biasa.

Dia melihat enam wajah itu sudah kembali tenang, bersamaan juga melihat di tangan mereka semuanya memegang pedang.

Wanita yang bisa memegang pedang bagaimana mungkin adalah wanita biasa?

"Jika lampu tidak dinyalakan tidak akan jadi terang, perkataan ini jika tidak diucapkan tidak akan mengerti, kalian melakukan gerakan yang menakutkan orang, sudah seharusnyalah mengatakan alasannya...."

Di antara enam gadis ada orang menjawab.

"Baik, kami adalah anggota perkumpulan perairan Zhang Jiang Wan Li Yang Fan Fan Zi Duo. Perkumpulan Bunga Ju telah membunuh tuan muda kami Ba Jiao Lin Wei Min, hari ini kami datang untuk menagih hutang...."

Terjadi keheningan sejenak, wanita itu berkata lagi.

"Kalian salah alamat, di sini tidak ada orang yang dari Perkumpulan Bunga Ju."

Xiao Dai menghembuskan nafas sekali, jika ini adalah salah paham, maka tidak diragukan lagi seharusnya mereka bisa terhindar dari satu mala petaka.

Jika tidak, dipihaknya benar tidak mau mendengar apa yang dikatakan lawannya, begitu kapak tajam turun, kecuali berteriak ke langit, apa lagi yang bisa diperbuat?

0ooo(dw)ooo0 Orang bilang bertemu dengan orang yang tidak mau mengerti hanya ada dua cara.

Pertama adalah menghindar, semakin jauh semakin bagus.

Kedua adalah mengambil sebilah pisau, potong saja lidahnya.

Pertanyaannya adalah jika tidak bisa menghindar, dan juga tidak bisa memotong lidahnya, maka harus bagaimana lagi?

"Wanita bau, kau jangan berpura-pura padaku, kami sudah menyelidik dengan jelas, tidak perduli kalian benar atau tidak orangnya Perkumpulan Bunga Ju, sekarang segera laksanakan apa yang aku perintahkan, nanti segalanya pasti ada orang yang menanyakan dengan jelas...."

Kata laki-laki itu tidak mau mengerti.

"Kak Fei Hua, bagaimana....?"

"Betul! Kak Fei Hua, apakah kami harus menuruti pada mereka...."

Beberapa gadis mengeliling orang yang tadi bicara, bertanya dengan suara pelan dan ketakutan.

Gadis yang dipanggil Fei Hua melirik pada Xiao Dai yang dari tadi tidak pernah bicara, dengan tidak tahu harus berbuat bagaimana dia menjawab.

"Aku.... Hai! aku juga tidak tahu harus bagaimana, siapa yang menyangka bisa bertemu orang yang tidak mau mengerti ini, kita juga mengangkut orang bisu yang aneh ini...."

Orang aneh?

Orang bisu?

Xiao Dai sungguh tidak tahu, di dalam pandangan mereka dia digambarkan dalam dua kata ini.

Dia mengeluh, terpaksa dia membuka mulut, karena dia tahu jika tidak membuka mulut, mereka mungkin akan segera memaki dengan perkataan yang lebih tidak enak didengar.

"Nona, bisa tidak mulutmu mengucapkan sedikit perkataan yang baik? Jika tidak nanti kalau kau melahirkan anak, hati-hati tidak ada lubang duburnya!"

Kata Xiao Dai dengan wajah kaku, dan merasa sedikit aneh.

Perkataan yang bagaimana tidak enak didengar juga tidak akan seperti perkataan Xiao Dai.

Dia ingin wanita ini mengucapkan sedikit perkataan yang baik, tapi dirinya malah mengucapkan perkataan yang tidak 'mengumpulkan kebaikan, malah berasap lagi'.

Wanita, apa lagi wanita yang belum menikah, mungkin siapa pun tidak bisa menerima perkataan yang diucapkan Xiao Dai.

Pedang di tangan Fei Hua membuat satu garis terang, lurus dan cepat sekali sudah sampai di depan dada Xiao Dai.

Xiao Dai sudah tahu apa akibat perkataan yang dia keluarkan.

Tubuhnya dimiringkan menghindarkan pedang lawan, bersamaan itu dua jari tangan kanan dengan tepat menjepit ujung pedang lawannya.

Lima gadis lainnya segera maju menghadang di antara mereka berdua, dan juga ramai-ramai berkata.

"Kak Fei Hua, kak Fei Hua, sabarlah, sabarlah...."

"Kau.... kau mengapa sekali membuka mulut langsung menyinggung...."

"Kak Fei Hua, kau.... jika kau membunuh dia, nanti bagaimana kita melapor pada nona....?"

"Betul! Kak Fei Hua musuh sudah ada dihadapan, seharusnya kita menyelesaikan dulu masalah yang ada sekarang...."

"Hei! Kau ini mengapa orangnya begitu tidak tahu aturan? Sungguh tampangnya saja seperti emas, perutnya penuh dengan kotoran...."

Xiao Dai dengan tenang melepaskan jarinya dari ujung pedang, dia menepuk-nepuk tangannya, walau tidak berkata apa-apa, tapi maksud tertawanya, siapa pun bisa melihat, itu adalah 'tertawa kurang dipukul'.

"Aku tidak perduli siapa dia, sialan! Aku juga bisa berkata kotor, membunuh dia tidak ada masalah yang besar, apakah nona akan menebus nyawaku dengan nyawa dia? Zhu Yue, kalian jangan menarik aku, aku bunuh dia dulu, kotoran kura-kura, benda tidak karuan, kau ini apa? Aku dari dulu sudah tidak senang melihatmu, juga dari dulu ingin melemparmu kesungai memberi makan kurakura...."

Sifat Fei Hua ini sungguh tidak ragu-ragu, apalagi dalam hal memaki orang.

Xiao Dai jadi bengong dimarahinya, bagaimana pun seumur hidupnya, untuk pertama kali ini dia bertemu gadis besar yang galak dan lihai ini.

Mata Xiao Dai membelalak, mulutnya terbuka lebar, dia sungguh tidak percaya apakah telinganya ada penyakit, dia seperti telah melihat setan bergumam.

"Ini.... ini ba.... bagaimana mungkin....?"

"Anak kelinci, apa yang tidak mungkin?! Kau kira semua wanita didunia ini mudah dihina? Sialan, ibumu yang melahirkan anak yang tidak ada lubang duburnya...."

Dengan sebelah tangan Fei Hua memegang pinggang, sebelah tangan lagi memakai pedang menunjuk Xiao Dai suaranya besar dan mengagetkan orang.

Bukah hanya Xiao Dai yang menjadi bengong, sampai orang ditepi sungai juga jadi bengong.

Mereka tidak mengerti apa yang terjadi, tapi setiap kata mereka, setiap hurufnya juga terdengar denganjelas.

Sehingga mereka telah lupa harus berbuat apa, mereka semua tertawa terbungkuk-bungkuk, sampai setiap orang menekan perutnya.

Tahun ini setiap orang sedang suka-sukanya nonton sandiwara gratis, apa lagi sandiwara dialog antar wanita dan laki laki yang seru ini.

"Lihat! Orang yang wajahnya mirip 'Tuan muda', sungguh berarti...."

"Hai! Bocah, balaslah! Kau jangan memalukan kaum laki-laki!"

"Betul, betul, anak kelinci, kau lepaskan celanamu biarkan dia lihat, buktikan kau bukan orang yang tidak ada lubang dubur...."

Mereka malah sudah menjadi ramai dan mengolok-olok.

0ooo(dw)ooo0 Xiao Dai adalah seorang laki laki.

Laki-laki bukan saja takut kehilangan muka di depan wanita, juga takut kehilangan muka di depan banyak laki laki.

Wajahnya sudah jadi hijau, dada dia dengan cepat kembang kempis.

Dengan lidah dia membasahi bibir yang sudah kering.

Tiba-tiba....

Dia seperti sudah gila dengan keras memaki.

"Kau wanita galak, kalian para pelacur, aku sial delapan belas turunan, menumpang perahu perompak ini, kalian semuanya maju saja, jika aku tidak bisa memakan kalian, maka huruf Wang ku akan ditulis terbalik...."

Xiao Dai ternyata juga pandai memaki, dia jelas tahu didunia ini tidak ada satu laki-laki yang dapat sekaligus makan enam wanita, dia baru berani menyumpah marganya sendiri, karena bagaimana pun marga 'JF.

(Wang) jika ditulis terbalik tetap saja'/E'!

tidak berubah.

Sebuah pukulannya ini sudah memukul balik semua orang yang berada diperahu, Xiao Dai tidak berpikir, sengaja atau tidak sengaja, dia sampai bengong memarahi.

Sehingga tadinya masih ada wanita yang menarik Fei Hua, sekarang tangan mereka bukan saja telah melepasnya, dan juga bersamaan menghunus pedang mereka.

Sehingga situasi yang memang tadinya juga tidak bersahabat, tiba-tiba seperti gunung api meletus.

Enam orang wanita, enam buah pedang, memenuhi geladak perahu, ada yang di atas ada yang di bawah, ada yang di depan ada yang di belakang semuanya tidak berjanji tapi bersamaan menyerang pada Xiao Dai.

Xiao Dai berlari dari depan perahu sampai belakang perahu, dan lalu dari belakang perahu ke depan perahu, apakah dia bisa meloloskan diri?

Enam orang wanita ini memang tidak lemah, tapi bagaimana mungkin bisa melawan Tangan Cepat Xiao Dai?

Jangan kata enam orang, walau ditambah enam lagi juga, Xiao Dai tetap saja mampu dengan mudahnya merobohkan mereka di atas perahu.

Tapi kenapa dia berlari?

Juga melihat tampangnya dia seperti tidak bisa melawan mereka.

Sebenarnya dia bertujuan apa?

Enam orang wanita yang sangat kesal juga sangat marah sudah berhenti, mereka sudah tidak lagi membabi butamengejar.

Sekarang mereka membagi dua orang satu group, masing-masing berdiri diatap perahu, dan kiri kanan tepi perahu, selangkah demi selangkah mendesak Xiao Dai yang berada di depan perahu.

"Hei! Bocah, kau sendiri tidak akan bisa melawan enam orang, melawan dua orang seharusnya tidak ada masalah, keluarkan kepandaianmu, kami di sini mendukungmu...."

Orang-orang didarat bisa melihat keadaan di atas perahu, ada yang senang melihat orang dalam bahaya, seperti menonton harimau bertarung diseberang gunung.

Disudut mulut Xiao Dai tersirat senyum penuh arti yang tidak bisa mereka lihat, pelan-pelan dia mendekati jalan penghubung disisi kanan perahu, dia sudah melihat dengan tepat, sisi kanan tepat berhadapan dengan tepi sungai, orang yang ditepi bisa dengan jelas melihat gerakan Xiao Dai.

Dua bilah pedang seperti dua ekor ular menerjang kearah Xiao Dai.

Xiao Dai tidak mundur malah sebaliknya maju, dia menerobos celah yang sangat sempit, bersamaan sepasang tangannya menangkap pergelangan tangan pemegang pedang, lalu mengangkat sikut menyodoknya.

Dua orang wanita itu terjatuh ke bawah, sedikitpun tidak bisa bergerak, semuanya telah kehilangan perasaannya.

"Bagus, bagus."

"Bocah hebat, memang pandai, gerakannya juga hebat...."

Orang yang berada didarat tentu saja bisa melihatnya dengan jelas, tapi mereka tidak tahu kehebatannya, mulut mereka hanya tertawa dan berteriak bagus.

Ternyata mereka takut tidak bisa melihat tontonan seru selanjutnya, jadi sengaja berteriak bagus, memberi semangat pada Xiao Dai.

Xiao Dai menghadap tepi sungai mengepalkan dua tangan, mulutnya sembarangan berkata.

"Terima kasih! Kakak-kakak."

Dihatinya malah berpikir.

"Sialan, nanti kalian baru tahu berapa banyak kehebatan yang aku sembunyikan, setelah bisa lolos dari keadaan bahaya ini, jika aku tidak memukul kalian sampai menggelundung di tanah, aku sendiri yang akan terjun kesungai, dasar tidak punya mata, malah memanggil aku Tuan muda'?!"

Kelompok yang ada diatap perahu adalah Zhu Yue dan temannya, mereka sudah loncat turun ke bawah, satu di depan satu di belakang segera mengepung Xiao Dai.

Xiao Dai melebarkan bibirnya seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa, membuat kemarahan dua orang bertambah-tambah.

Secara bersamaan, dua buah pedang, satu di depan satu di belakang menjepit menyerang dengan cepat pada Xiao Dai.

Xiao Dai sengaja terus menghindar sampai beberapa kali, begitu melihat ada kesempatan yang sulit didapat, dia merendahkan tubuhnya, ketika sisi perahu menghalangi pandangan orang ditepi pantai, tangan dia sungguh seperti tangan setan, dengan cepatnya menotok titik nadi Zhu Yue dengan temannya.

Dua wanita itu hanya merasa dua kakinya kaku, tidak bisa berdiri, dan pedang mereka saling menyerang kearah lawannya.

Begitu Xiao Dai bangkit, dia mengangkat sikutnya menyodok pedang di tangan mereka menjadi miring, dan sekalian menotok jalan darah Yun Xie.

"Aduh duh.... kalian mengapa saling memukul sendiri?"

Xiao Dai sengaja berteriak.

Semua ini terjadi hanya dalam sekejap, orang didarat tidak bisa melihat dengan jelas, karena posisi mereka tidak berbeda seperti saling membunuh.

Setelah Xiao Dai habis berkata dia lalu berkeliling kesisi kiri perahu yang membelakangi tepi darat.

Mmm, datangnya begitu cepat, disaat Fei Hua dan temannya dari atap perahu ingin datang mengepung, mereka sudah berhadapan.

Tentu saja mereka tidak tahu bagaimana Xiao Dai dalam waktu singkat, dengan mudah bisa merobohkan temantemannya.

Xiao Dai mengangkat jari telunjuk dengan entengnya dikaitkan, tampangnya seperti tidak ingin berkelahi.

Dua orang wanita itu, mana bisa menerima penghinaan seperti ini?

Pedangnya langsung bergerak, orangnya juga bergerak.

Sekarang Fei Hua tahu orang bisu yang aneh ini ternyata menakutkan sekali.

Karena baru saja pedang mereka bergerak, dia dan temannya seperti masuk angin tiba-tiba menjadi lemas.

Dia tidak tahu Xiao Dai telah melakukan sihir apa, tapi dia tahu dia telah kalah, kalah habis-habisan.

Mata Xiao Dai terkilas satu senyuman puas karena dia telah berhasil mempermainkan orang, dia dengan perlahan membopong mereka, dan juga dengan hati-hati menyandarkan mereka di atas papan perahu.

Lalu dia duduk, dua tangannya dengan tidak ragu-ragu memeluk mereka, mulutnya berteriak teriak.

"Ayo! Kalian seranglah....!"

"Aduh! Kalian sungguh galak...."

Xiao Dai menendang papan perahu sampai berbunyi 'pak pak'.

Setelah beberapa saat berteriak-teriak sendiri, dia bangkit berdiri mengambil pedangnya Fei Hua, ditubuhnya dia memotong bajunya, dan menuliskan beberapa kata, 'jangan lupa mengganti satu baju baru padaku' lalu dia langsung pergi.

Orang yang didarat tidak bisa jelas melihat keadaan di perahu, tapi ketika mereka melihat Xiao Dai dengan baju yang robek-robek muncul keluar, segera bertepuk tangan, berteriak.

"Kalian sekelompok babi, nanti jika kalian masih bisa bertepuk tangan, itu baru aneh...."

Hati Xiao Dai berpikir, tapi mulutnya sengaja bernapas terengah-engah berkata.

"Para kakak kakak, para Hao.... Hao . Han dari cabang Fan.... aku.... aku.... akhirnya.... bisa.... bisa.... memberes kan.... enam wanita buruk ini...."

"Bocah, kau hebat, kau telah merebut kembali nama baik kami para kaum lelaki sekarang beritahu kami kau ini siapa? Kenapa bisa naik keperahu mereka?"

"Aku.... aku adalah Wang Kou Mu, orang memanggil aku.... memanggil aku Shuai Bei Shou, karena terburu-buru makanya.... makanya dengan membayar aku naik keperahu mereka."

Xiao Dai sungguh pintar membagi huruf, dia membagi huruf Dai menjadi Kou dan Mu dua huruf.

Sebutan Shuai Bei Shou, di dunia persilatan paling sedikit ada lima, enam puluh orang dipanggil demikian oleh orang, dia juga dengan tidak khawatir terbongkar nama palsunya.

"Shuai Bei Shou, kau dengar, sekarang kau tarik tali untuk mengikat keenam wanita itu, kami akan menarik perahu itu ketepi pantai, apa kau sudah mengerti?"

Xiao Dai justru sedang menunggu orang berkata demikian, dengan segera dia mendapatkan tali, mengikat Fei Hua, Zhu Yue seperti mengikat bacang dengan kuatnya.

0ooo(dw)ooo0 Bersalah karena tidak dapat membela diri Perawakan seperti Li Yuan-wai, selamanya sangat mudah membeli baju yang pas, bahannya juga bisa selalu yang paling bagus.

Karena hanya Li Yuan-wai yang banyak uangnya baru bisa sering membeli pakaian, dan Li Yuan-wai yang banyak uangnya, bukankah perawakan orang umumnya persis dengan Li Yuan-wai?

Li Yuan-wai tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, jelas-jelas dia ingin mencari restoran untuk mentraktir makan orang yang menyelamatkan nyawanya, tapi tetap tidak bisa menahan diri mencari dulu toko penjual kain sutra, mengganti 'baju barunya' yang sudah kotor dan robek-robek.

Apakah dia percaya, nasibnya tidak ada keberuntungan memakai baju baru?

Atau dia takut dirinya tidak serasi dengan Xu Jia-rong yang bentuk tubuhnya seperti gitar ini?

Xu Jia-rong melihat Li Yuan-wai melangkah keluar dari toko penjual kain sutra dengan mengenakan pakaian yang mentereng, dia tertawa pelan berkata.

"Aku ada sebuah perkataan, tidak tahu apakah kau pernah mendengar tidak?"

Li Yuan-wai sudah tahu itu pasti bukan perkataan yang enak didengar, tapi dia tetap saja tidak tahan bertanya.

"Perkataan apa?"

"Ada semacam orang walau memakai pakaian raja, juga tidak seperti raja. Mmm, kebetulan yang tidak beruntungnya adalah dirimu, seperti orang macam itu."

Li Yuan-wai setengah harian tidak bisa berkata, dia hanya bisa diam tidak berkata, dengan membawa jalan di depan, dia berharap segera mendapatkan sebuah restoran, mentraktir wanita yang tidak tahu kesenangan orang, suka bicara sejujurnya, sehabis makan, lalu melambaikan tangan mengatakan 'sampai jumpa'.

Mengapa manusia semuanya tidak dapat menerima perkataan yang jujur?

Apakah Li Yuan-wai tidak bisa menerimanya juga?

"Kau....

kau seperti tidak merasa nyaman?"

Xu Jia-rong bertanya lagi.

"Aku baik baik saja."

Li Yuan-wai dengan kaku menjawab.

"Lalu mengapa kau yang selalu melucu, tiba-tiba berubah jadi tidak suka bicara? Apakah karena perkataanku tadi?"

"Tidak, aku bukan orang yang tidak bisa diajak bergurau."

"Asal kau tahu, jika wajahmu masih masam seperti itu, lebih baik aku pergi saja, jujur saja alasan aku mau bersama denganmu, karena aku suka mendengar kau yang banyak bicara dan melucu, jika kau sudah kehilangan kelucuanmu, lebih baik aku pulang saja ke rumah, bermain dengan anjing Bei Jing ku."

Li Yuan-wai tertawa pahit, dia tidak menyangka wanita yang dingin ini bisa berkata begitu terus terang.

"Me.... Mengapa?"

Tanya Li Yuan-wai tidak mengerti. Setelah bepikir sejenak, Xu Jia-rong berkata.

"Dunia persilatan yang berbau darah ini, sudah terlalu banyak pembunuhan, kesakitan, kepusingan, aku hanya berharap bisa mencari seorang teman yang dapat membuat aku gembira dan tertawa, dan kau inilah teman yang aku cari."

Li Yuan-wai menggoyang-goyangkan kepala dengan sedih, sepertinya langit akan segera runtuh, dia berkata.

"Katakan dengan terus terang, aku seperti apa?"

"Kau seperti apa?! Kau adalah Li Yuan-wai! Masih seperti apa lagi?"

"Kalau begitu mengapa sorot mata orang-orang di jalan ketika melihat aku semuanya seperti melihat kotoran sapi?"

Kata Li Yuan-wai dengan wajah memelas.

Xu Jia-rong maju melewati dua langkah, dia membalikkan kepala, sejenak memperhatikan Li Yuan-wai dengan teliti, lalu melihat orang-orang di jalanan.

Kemudian dia tertawa keras sampai membungkuk, hingga air matanya mengalir keluar.

Dia tertawa tidak berhenti, tidak berhenti....

Wajahnya Li Yuan-wai sekarang tidak berbeda jauh dengan kotoran sapi, dia hanya dapat melihat temannya tertawa, melihat dia tertawa tidak berhenti....

Setelah lama Xu Jia-rong baru meluruskan pinggangnya, sambil mengusap sudut mata, sambil menahan tertawa berkata.

"Kau.... kau apakah kau mengira.... mengira aku bersamamu.... seperti sekuntum bunga segar tertancap di.... tertancap dikotoran sapi....?"

"Tidak, bukan aku yang mengira, mereka yang mengira,"

Kata Li Yuan-wai dengan susah payah mengangkat tangan menunjuk pada orang-orang yang berada di jalan. Tiba-tiba Xu Jia-rong menyimpan pedangnya, dengan serius berkata.

"Mengapa kau harus memperdulikan perkataan orang lain? Mengapa kau bisa berpikiran demikian? Apakah kepercayaan dirimu, perasaan banggamu semuanya sudah hilang?"

Melihat baju baru ditubuhnya, Li Yuan-wai mengeluh.

"Aku.... aku sudah bukan Li Yuan-wai...."

Sungguh ini sebuah kesedihan, tidak ada orang yang mau merubah jati dirinya.

Dia mengerti apa yang dia tunjuk, dia juga tertular dengan kesedihan yang tidak bisa berbuat apa-apa.

0ooo(dw)ooo0 Tidak ada arak, tidak ada masakan.

Li Yuan-wai mentraktir Xu Jia-rong makan kue bakar yang dingin keras yang bisa mematahkan gigi.

Melihat Xu Jia-rong memandang kue yang keras di tangannya, sekali pun belum pernah digigit, Li Yuan-wai dengan kaku dan malu berkata.

"Maaf, tadinya aku ingin mentraktir makan yang enak, tapi.... tapi kau tahu aku terpaksa buru-buru meninggalkan...."

"Apakah kau ingin seumur hidupmu menghindar dari mereka? Kau melarikan diri, sampai kapan bisa melarikan diri? Kau harus tahu kau hanya bisa menghindar sementara, mana mungkin bisa menghindar selamanya?"

Kata Xu Jiarong menghela napas.

"Aku.... aku tahu ini bukan akal yang bagus, tapi tadi yang datang dari depan adalah si Cacad dari Gai-bang kami, tadinya aku juga sudah di cap menjadi pengkhianat di mata mereka, sekarang ditambah lagi aku membunuh Macan Tutul Marah Chu Xiang Yun, kau mau aku bagaimana menerangkan pada mereka?"

Kata Li Yuan-wai masih ketakutan.

"Bukankah kau bisa membongkar kebusukannya Hao Shao-feng!"

"Bagaimana cara membongkarnya? siapa yang bisa mempercayai aku?"

Ini adalah perkataan yang jujur, Xu Jia-rong jadi terdiam. Tiba-tiba Xu Jia-rong teringat satu hal berkata.

"Hei! Hartawan besar, ketika tanggal tujuh bulan tujuh kau berjanji bertarung dengan Tangan Cepat Xiao Dai di gedung Wang Jiang, kudengar kau tidak hadir, bisa tidak katakan padaku apa yang terjadi?"

Li Yuan-wai paling takut orang menanyakan hal ini, tapi terhadap orang yang telah menolong nyawanya, dia tidak ingin menyembunyikan, sehingga dia berkata.

"Tidak, hari itu aku ada di sana, tapi karena sesuatu hal, aku tidak bisa membunuh Tangan Cepat Xiao Dai dengan tanganku sendiri, ini adalah hal yang membuat aku menyesal seumur hidupku...."

Wajah Xu Jia-rong tampak curiga dia bertanya.

"Kau bohong, mana bisa kau melawan Tangan Cepat Xiao Dai?"

Menyebut Xiao Dai, Li Yuan-wai jadi teringat tanda lahir dipantatnya, dia juga teringat Ouwyang Wu-shuang. Dengan marah dia berkata.

"Kuakui aku bukan lawannya, tapi jurus melempar jarumku itu dia masih belum tahu, aku berani mengatakan dia pasti tidak akan dapat menghindar jarum sulamku, kau kan belum pernah bertarung dengan dia, jadi bagaimana bisa tahu aku bukan lawannya?!"

Xu Jia-rong tertawa dengan aneh, dia berkata.

"Walau aku belum pernah bertarung dengan Xiao Dai, tapi kami hampir saja bertarung, dia sungguh pesilat hebat, pesilat yang benar benar tinggi...."

Dia mengenang kembali di jalan Chuan Shan ketika berhadapan dengan Xiao Dai, dia berkata lagi.

"Dia juga seorang yang banyak akal, hari itu aku tertipu dia, jika tidak waktu itu aku telah membunuh dia, maka tidak akan ada perjanjian gedung Wang Jiang pertarungan melawan dia...."

Li Yuan-wai yang semula duduk bersama dia di atas batu hijau besar, sekarang dia sudah berdiri, wajahnya yang bulat agak gemuk karena terkejut hampir menjadi wajah kuda, dia dengan tidak percaya bertanya.

"Kau.... kau kapan kau bertemu dengan Xiao Dai? Dimana kau hampir bertarung dengan dia?!"

Xu Jia-rong terkejut, dia bertanya.

"Apa ada yang salah? Dia adalah musuhmu, mengapa harus tegang begitu?"

Benar, Li Yuan-wai sungguh sangat benci pada Tangan Cepat Xiao Dai, walau dia telah mati, tapi mereka tumbuh besar bersama-sama, juga pernah karena baiknya bisa bersama-sama memakai satu celana.

Orangnya sudah mati, semuanya sudah berlalu, mengatakan dia kembali apa ada gunanya?

Li Yuan-wai pelan-pelan duduk kembali.

Dia tidak bertanya lagi, tapi Xu Jia-rong berpikir sebentar berkata.

"Aku ingat, hari itu adalah tanggal tujuh belas bulan enam, di jalan Chuan Shan aku menunggu dia sampai sehari...."

Tanggal tujuh belas bulan enam?

Di jalan raya Chuan Shan?

Li Yuan-wai mengingat-ingat hari apa sebenarnya pada tanggal tujuh belas bulan enam itu.

Dia berpikir lagi jalan Chuan Shan adalah jalan yang harus dilewati oleh Xiao Dai untuk pergi ke kota kabupaten Ping Yang.

Wanita ini menunggu dia?

Dan menunggu sampai sehari?

Untuk apa menunggunya?

Mengapa bisa tahu Xiao Dai pada tanggal tujuh belas bulan enam akan melewati jalan Chuan Shan?

0ooo(dw)ooo0 Li Yuan-wai kali ini bukan hanya bangkit berdiri, tapi meloncat, sepertinya pantat dia digigit oleh ular.

Walau dia tidak digigit ular, tapi dia sekarang seperti menemukan seekor ular yang paling menakutkan, paling beracun, dia menatap tajam orang dihadapannya.

Mulutnya gemetar, bicaranya tidak karuan.

"Apakah ta.... tahun ini?!"

"Apa kejadian itu?"

Xu Jia-rong dibuat dia tertawa tidak menangispun bukan.

Memang tidak bisa disalahkan, dia tidak mengerti perkataan Li Yuan-wai, seorang yang saat mulutnya gemetar bagaimana bisa bicara dengan jelas?

"Yang aku katakan....

katakan adalah ketika kau di jalan Chuan Shan menunggu....

menunggu Xiao Dai, apakah....

apakah ta....

tahun ini?"

Xu Jia-rong juga bangkit berdiri, dan juga menganggukkan kepala.

"Kau.... kau yakin?"

"Aku kan tidak seperti kau, bisa terkena penyakit gila, tentu saja aku ingat peristiwa tahun ini, sekarang adalah bulan sepuluh, hal yang terjadi empat bulan yang lalu, bagaimana aku bisa lupa?"

"Mengapa bisa? Mana mungkin...."

Li Yuan-wai mundur dua langkah.

Xu Jia-rong sudah merasakan masalahnya ada yang tidak benar, dia hanya bengong melihat.

0ooo(dw)ooo0 Li Yuan-wai ingat betul, tanggal tujuh belas bulan enam, hari itu dia juga menunggu Xiao Dai seharian, mulai dari hari baru terang, sampai tengah malam.

Dia juga ingat dengan jelas, dia telah memukul perut Xiao Dai satu kali.

Xiao Dai datang dari Luo Yang, ini adalah rahasia.

Rahasia ini bagaimana orang lain bisa tahu?

Xu Jia-rong pernah menghadang Xiao Dai, Mengapa setelah menemui dirinya, Xiao Dai tidak pernah mengatakannya.

Dia tidak mengatakannya, apakah Xiao Dai mencurigai dia?

Li Yuan-wai bercucuran keringat dingin, walau Xiao Dai sudah mati, tapi bagaimana pun ini adalah masalah yang harus dijelaskan.

"Bagaimana kau bisa tahu hari itu Tangan Cepat Xiao Dai akan lewat di jalan Chuan Shan? Dan kenapa kau mau menghadang dia?"

Tanya Li Yuan-wai seperti sedang menanyai terdakwa. Xu Jia-rong merasa tidak senang dengan dingin menjawab.

"Apakah ini sangat penting?"

Terasa nada bicaranya kurang enak didengar, Li Yuanwai menampilkan tawa yang lebih buruk dilihat dari pada menangis, dia berkata.

"Maaf, barusan aku terburu-buru, maaf, maaf...."

Warna wajah Xu Jia-rong kembali normal, dia tertawa katanya.

"Hmm, lumayan.... aku mendapat perintah dari kakek luarku, pergi menghadang Tangan CepatXiao Dai."

"Apa Pedang Kiri Bai Lian Shan? Mengapa kakek luarmu ingin kau melakukan ini?"

"Kejadiannya begini, kakek luarku pernah terkena penyakit aneh, penyakit aneh yang membuat kakek luarku lambat laun kehilangan ingatannya dan seluruh tabib didunia telah angkat tangan, kami hanya bisa melihat dia orang tua hari demi hari semakin kurus, sedikit daya juga tidak ada, sampai dia lupa akan semuanya, suatu hari datang seorang tabib keliling ke rumah, dia berkata dia bisa menyembuhkan penyakit aneh ini, buat kami semua tentu saja satu kabar gembira...."

"Lalu....?"

Tanya Li Yuan-wai mendesak.

"Lalu?!"

Xu Jia-rong tertawa pahit.

"Lalu penyakitnya walau sudah disembuhkan, tapi kami selamanya harus diatur oleh dia...."

"Kenapa?!"

"Karena setiap tiga bulan sekali kakek luarku harus makan obat penawar dari dia, kalau tidak seluruh tubuhnya akan kram terus tidak henti-hentinya."

Li Yuan-wai mengeluh berkata.

"Aku sudah mengerti, kalau begitu penghadangan Tangan Cepat Xiao Dai juga atas perintah orang ini betul tidak?"

Dengan sedih Xu Jia-rong menganggukkan kepala.

"Sekarang setiap tiga bulan, selalu ada orang membawa obat penawar, kali itu diikuti dengan satu surat...."

"Apa katanya?!"

"Tanggal lima belas sampai tanggal tujuh belas bulan enam, di jalan Chuan Shan bunuhlah Xiao Dai, harus dengan seluruh kemampuan."

Jawab Xu Jia-rong.

"Siapa tabib keliling yang misterius itu? Apakah kalian tidak bisa menyelidiknya?"

"Siapa yang tahu dia itu siapa? Siapa yang tahu dia ada dimana? Dan siapa yang tahu dia dengan hinanya meninggalkan perintahnya?"

Li Yuan-wai jadi terdiam, dia terpaksa mengagumi kelihayan orang ini.

Ini adalah satu jebakan, sama seperti dirinya, juga terjerumus ke dalam jebakan yang sulit lolos.

Dikepalanya terkilas satu pemikiran, tiba-tiba Li Yuanwai terpikir satu hal yang mengerikan.

"Perkumpulan Bunga Ju! Pasti Perkumpulan Bunga Ju."

Dia berteriak.

"Bagaimana bisa?"

Tanya Xu Jia-rong tidak mengerti. Li Yuan-wai menceritakan dengan singkat hubungan dirinya dengan Xiao Dai, dia dengan wajah pahit berkata.

"Dulu aku mengirim surat lewat merpati pos supaya Xiao Dai datang kekota kabupaten Ping Yang, menggunakan merpati Qian Li dari Gai-bang, hal ini hanya orang Gaibang yang tahu, Hao Shao-feng adalah orangnya Perkumpulan Bunga Ju, aku pikir beritanya pasti dia yang membocorkan, seluruh masalah ini...."

Dalam hati Li Yuan-wai timbul rasa dingin, dia tidak terpikirkan Perkumpulan Bunga Ju bisa begitu mengerikan.

"Hanya.... hanya Perkumpulan Bunga Ju mengapa mau membunuh Tangan Cepat Xiao Dai?"

Tanya Xu Jia-rong tidak mengerti.

Dia tidak tahu, bagaimana Li Yuan-wai juga bisa tahu?

Sekarang kebencian dia terhadap Xiao Dai, sudah berkurang banyak.

Karena dia sudah terpikirkan sepertinya ada orang dengan sengaja ingin mengadu domba dan saling mencurigai antara dia dengan Xiao Dai, malah sudah terpikirkan Tangan Cepat Xiao Dai menantang dirinya juga sengaja diatur orang.

....

Xiao Dai, Xiao Dai sungguhkah kau sudah mati?

....

Xiao Dai mengapa kau tidak mengatakannya?

mengapa tidak memberitahu aku, ketika kau dihadang orang di jalan?

Dalam hati Li Yuan-wai merasa kesal sampai berteriak.

Dia berharap, sekarang dia bisa berbicara dengan Xiao Dai.

Bagaimana pun di antara teman, jika tidak berkata jujur, akibatnya akan banyak salah paham.

Dia juga sama, ketika dia menemukan jarum sulam dia tidak berkata, jadi bukankah ini salah satu terjadinya salah paham?

0ooo(dw)ooo0 Jika orang tidak suka makan daging anjing, walau kau memukulnya sampai mati, dia tetap tidak berani makan.

Sebaliknya orang yang doyan makan daging anjing, jika mendapatkan kesempatan makan, selalu meminta satu mangkuk besar.

Dan yang pernah mencoba 'Masakan Besar Daging Anjing' yang dimasak dengan resepnya Li Yuan-wai, mungkin dia seumur hidupnya akan selalu teringat, sampai mimpi pun akan mengalirkan liur sepanjang tiga che.

Saat Li Yuan-wai tidak gembira dan sedang pusing sekali, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah mendapatkan seekor anjing untuk meredakan kemarahan dan menawarkan dahaknya.

Prilakunya ini susah dikatakan sebagai penyakit, juga adalah benar penyakit.

Ada orang ketika marah selalu ingin makan besar, ingin membunuh, membakar rumah, ingin gantung diri, terjun kesungai, memaki orang, malah lari kekuburan tidur di sana, memekik wanita main sepuasnya, semua begitu.

Dunia ini memang banyak yang aneh-aneh, jadi tidak heran ada orang aneh melakukan hal yang aneh-aneh.

Dasar nasib anjing hitam sedang sial, justru ketika Li Yuan-wai paling kesal, paling tidak gembira malah bertemu dengan dia.

Biasanya, kalau ada wanita yang menemani, Li Yuanwai tidak berani menampilkan sifat aslinya.

Tapi hari ini dia sungguh tidak bisa menahan kepalanya yang hampir pecah ini.

Sehingga....

Anjing hitam yang sial itu, sampai satu jeritan kematian pun tidak keluar, dia sudah jatuh ke tanah.

Menurut cerita, anjing bisa mencium bahaya kematian, setiap malam asal anjing menggonggong, didekat daerah ini tidak lewat dua hari pasti ada orang yang mati.

Mengapa dia tidak bisa mencium dirinya akan mati?

Mungkinkah akibat wangi tubuh Xu Jia-rong, sudah menutupi semua hawa membunuh anjingnya Li Yuan-wai?

Jika anjing bisa tahu, pasti akan menyesal.

Karena hanya hawa pembunuhan yang bersembunyi di belakang bau harum, baru hawa yang sulit dihindari dan paling menakutkan.

0ooo(dw)ooo0 Api sudah membara, tempat pembakaran sudah panas.

Katel besar yang ada di atas tempat pembakaran juga mengeluarkan bau harum yang merangsang selera, membuat pemilik rumah tani dan dua anak kecil seringsering memunculkan kepalanya dipintu dapur, berharap segera dapat mencoba masakan enak yang seumur hidupnya tidak pernah mencicipinya.

Sambil mengutak-atik kayu bakar di dalam tempat pembakaran, Li Yuan-wai tidak tahu sedang memikirkan apa.

Xu Jia-rong duduk disisinya, dia sudah beberapa kali ingin berkata-kata, tapi justru tidak tahu bagaimana harus memecahkan keadaan ini.

Wanita yang berbaju putih polos, wajahnya cantik seperti salju, mungkin sampai dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa duduk di sini.

Bukankah orang suka melakukan hal yang tidak dimengerti, tanpa dia bisa menahannya?

Li Yuan-wai menggunakan tangan menepuk belakang kepalanya sendiri, seperti teringat sesuatu juga seperti ingin melupakan sesuatu.

Dengan rasa menyesal dia memandang Xu Jia-rong.

"Kau ingin berkata apa?"

Xu Jia-rong begitu mendengar perkataan ini, matanya membelalak dengan wajah tidak mengerti dia bertanya.

"Aku tidak akan mengatakan apapun."

"Betul?"

Mata Li Yuan-wai tiba-tiba muncul sedikit tawa.

"Apanya yang betul? Aku sama sekali tidak ingin bicara,"

Kata Xu Jia-rong setelah melihat maksud tidak baiknya Li Yuan-wai, hatinya bergetar. Li Yuan-wai tertawa, situasi yang tadinya kaku jadi tersapu hilang.

"Aku sepertinya mendengar perutmu berbunyi kluk-kluk, seperti mendengar dia sedang berkata, sedang main apa kau! Kenapa masih belum juga...."

Wajah Xu Jia-rong tiba-tiba menjadi merah, di dalam hati diam-diam memaki "Hartawan mati", tapi dia berkata.

"Aku.... aku tidak akan makan makanan itu, kau.... kau sembarangan menduga...."

Li Yuan-wai tidak bicara, tapi sinar wajahnya tampak yang sama sekali tidak percaya. Xu Jia-rong ingin sekali mengorek keluar mata dia, dengan kesal berkata.

"Kau orang sungguh kejam, sampai anjing selucu itu kau juga membunuhnya, malah masih.... masih tanya aku mau makan tidak...."

Dengan menggeleng-gelengkan kepala, Li Yuan-wai menampilkan tingkah seperti tidak dapat berbuat apa-apa, dia berkata.

"Nonaku, meski orang lain mengeluarkan uang, masih belum tentu bisa makan masakan seperti ini, demi berterima kasih padamu yang telah menyelamatkan nyawaku, baru aku mau turun tangan sendiri kedapur, kau tidak mau makan, malah mengatakan aku kejam, ini.... dari mana aturannya! Wanita, hai! Dasar wanita, wanita yang sangat aneh...."

"Kenapa memangnya wanita?! Kau katakan, kau katakan, dimana wanita anehnya?!"

Kata Xu Jia-rong memang tidak suka orang mengatakan demikian, sehingga dengan sedikit galak.

"Non.... nona besar, kau jangan marah, jangan marah ya?"

Sambil mundur dua langkah, Li Yuan-wai berkata sambil menggoyang goyangkan tangannya.

"Katamu, wanita orang aneh, memang dimana anehnya."

Tanya Xu Jia-rong dengan wajah cemberut.

Li Yuan-wai mengeluh, dia berkata di dalam hati, satu kata saja tidak cocok, sudah membuatnya marah, apakah ini tidak aneh?

Pikir tinggal pikir, tapi Li Yuan-wai tidak berani mengatakannya.

"Aku.... maksudku adalah.... adalah kau pun berani membunuh, aku membunuh seekor anjing saja.... kan tidak seberapa...."

Kata Li Yuan-wai dengan wajah pahit.

Ini kata jujur.

Xu Jia-rong jadi tertawa, dalam sesaat sungguh Li Yuanwai dibuat tidak bisa menjawab apa-apa, melihat lagi wajahnya yang seperti disalahkan, dia tidak tahan tertawa.

"Memang! Membunuh seekor anjing jika dianggap kejam, maka membunuh orang bukankah lebih kejam lagi...."

Kata Li Yuan-wai juga merasa dipersalahkan.

"Yang aku.... aku bunuh semuanya orang jahat."

"Yang aku bunuh juga anjing jahat! Kau tidak lihat tadi dia disisimu dengan hidung anjingnya tidak berhentinya mencium bau harumnya tubuhmu, tampangnya bermaksud tidak baik,"

Kata Li Yuan-wai, hampir saja tidak tahan tertawa.

Sesaat terbengong, Xu Jia-rong memikirkan perkataannya Li Yuan-wai.

Ketika dia menyadarinya, Li Yuan-wai sudah menghindar jauh sekali.

Dia sungguh tidak bisa tertawa juga tak bisa menangis, membanting-banting kakinya memaki.

"Hartawan mati, Hartawan busuk, kau.... kau sungguh ingin mati ya?"

Li Yuan-wai yang lucu, Li Yuan-wai humoris, dia sungguh tidak tahan dengan cara melucunya dan cara berguraunya.

Dia juga merasakan Li Yuan-wai benar-benar ada kemampuan membuat orang mati karena jengkelnya.

0ooo(dw)ooo0 Sepasang suami istri petani tua, sepasang anak laki laki yang lucu.

Ditambah Li Yuan-wai dan Xu Jia-rong, semuanya enam orang mengelilingi satu meja.

Harum daging tersiar kemana-mana, kuah kentalnya juga wangi, setiap orang sudah makan beberapa mangkuk, hanya Xu Jia-rong sendiri duduk salah berdiripun salah, justru tidak berani mengangkat sumpit.

Li Yuan-wai pakai sikut dengan pelan menyenggol dia sekali, dengan mulut penuh makanan berkata.

"Kau sungguh tidak mau makan?"

Dia menggelengkan kepala.

"Mengapa? Aku jamin ini adalah makanan yang paling enak yang seumur hidup belum pernah kau makan, cobalah sedikit dulu?"

Xu Jia-rong masih menggelengkan kepala, tapi gelengan kepalanya lebih ringan.

"Asal kau memikirkannya ini adalah daging bebek, daging angsa, maka apa lagi yang tidak bisa dimakan?"

Kali ini dia tidak menggelengkan kepala.

"Sudahlah! Jika kau tidak makan, aku berani mengatakan kau akan menyesal seumur hidup."

Dia tidak bicara, tapi dia dengan tidak sadar telah menelan air liur.

Li Yuan-wai tertawa dalam hati, tapi diwajahnya sedikit pun tidak berani memperlihatkannya.

Karena dia tahu jika ingin supaya seseorang melakukan satu hal yang dia inginkan tapi tidak berani melakukannya, dia harus bisa menahan diri, pelan-pelan dia membujuknya, pelan pelan memberi semangat.

Li Yuan-wai menjepit satu daging, menaruhkan dimangkuknya.

Dia berkata.

"Nah, ini adalah daging yang paling kecil, asal kau dengan perlahan menggigitnya sudah baik, atau begini saja kau jangan makan dagingnya dulu, cukup minum sedikit kuahnya saja, bagaimana?"

Tidak bersikukuh lagi, Xu Jia-rong berkata.

"Ya.... ya aku hanya minum sedikit kuahnya saja...."

"Bagus, kau minum sedikit kuahnya saja dulu."

Li Yuanwai sudah mengambil mangkuknya dan mengisi dengan sedikit kuah.

Seperti meminum obat racun, Xu Jia-rong memeramkan matanya, sedikit mencobanya.

Li Yuan-wai sengaja tidak melihat dia.

Dia sudah sering melihat, setiap kali dia mengajak orang makan 'Masakan Besar Daging Anjing', pertama-tama banyak orang yang tingkahnya seperti dia, namun pada akhirnya mereka makan lebih banyak dari pada orang lain, juga makannya lebih cepat dari pada siapa pun, sepertinya takut kehabisan oleh orang.

Li Yuan-wai mengulum satu senyum memandang Xu Jia-rong.

Mmm, rupanya dia sekarang, persis seperti baru saja makan buah Ren Shen.

Dia tentu saja tahu yang baru saja diminum itu kuah apa, namun dia tidak dapat menerka lagi didunia ini ada kuah apa lagi yang lebih segar, lebih lezat dari pada kuah ini.

Perlahan dia menjilat kedua bibirnya, rasanya masih belum habis.

"Bagaimana? Kan tidak menakutkan! Ayo, sekarang kau seharusnya sudah berani menggigit kecil daging itu!"

"Aku.... bolehkah aku?"

"Kau tentu saja boleh,"

Kata Li Yuan-wai dengan yakin.

Xu Jia-rong mengambil sumpit, sedikit gemetar.

Li Yuan-wai di dalam hati memaki, 'Sialan, melihatmu yang gemetar itu, sungguh membuat orang gelisah, walau makan daging orang, juga tidak menakutkan seperti ini.' Didunia ini, sering terjadi seseorang mendapat kesempatan muncul sekali kemudian langsung menghilang.

Melakukan sesuatu hal begitu, berbisnis begitu, mengejar cinta juga begitu.

Sampai makan daging anjing juga begitu.

Apa tidak masuk akal sehat?

Tidak, memang begitu.

Rumah petani ini dibangun dengan batako, dan atapnya adalah terbuat dari rumput ilalang yang sangat tebal.

Ditahun itu, orang yang bertani tidak mati kelaparan sudah untung, karena orang yang bertani kecuali bayar pajak, menyetor padi, ditambah membayar sewa sawah, hasil panen setiap tahun sisanya hanya cukup untuk makan saja.

Makanya sepasang petani tua ini dengan cucu mereka, bukan saja sudah lama tidak pernah makan daging, dan juga tidak pernah makan daging seenak ini.

Xu Jia-rong hanya mencobanya segigit kecil, segigit yang sangat sangat kecil.

Namun ketika segigit kecil itu masih belum ditelan ke dalam perut, matanya sudah menatap ke dalam katel.

Ini adalah kejadian yang pasti, Li Yuan-wai sekali lagi sudah membuktikan keahliannya.

Juga disaat Xu Jia-rong sedang melihat ke dalam katel, menatap daging yang paling besar, dia sedang berpikir, nanti dia harus mengambil daging yang itu.

"Huuut!"

"Brouuuk!"

Seluruh rumah ini sudah dibongkar orang.

Batako, rumput ilalang beterbangan.

Bukan saja Xu Jia-rong sudah tidak bisa mencicipi daging paling besar yang ada di dalam katel, sampai daging yang ada disumpitnya pun tidak tahu sudah terbang kemana.

0ooo(dw)ooo0 Delapan orang pengemis dengan perawakan besar yang sepertinya sekali tinju saja sudah bisa membunuh seekor sapi.

Enam orang buta yang wajahnya cantik.

Mereka semua melotot marah memandang pada Li Yuan-wai yang berada di dalam rumah, tidak perduli bisa melihat atau tidak.

Rumput ilalang tidak akan menindih orang sampai mati, tapi pemilik rumah tani dan dua orang anak kecil sudah bersembunyi di bawah meja dengan ketakutan sekali.

Li Yuan-wai dan Xu Jia-rong bengong berdiri di sana, walau wajah mereka semuanya terkejut, namun hanya Li Yuan-wai yang merasa sedikit ketakutan.

Karena dia sudah pernah merasakan kelihayannya enam orang wanita buta itu, dia juga tahu delapan orang pengemis berperawakan besar itu, adalah Delapan Besar Dewa Langit, anak buahnya Hao Shao-feng.

Li Yuan-wai menundukkan kepala melihat baju barunya, entah apakah dia sedang mengeluh akan baju barunya ini sudah menjadi baju kotor lagi Atau dia sedang berpikir kali ini dirinya tidak akan bertelanjang tubuh berlari-lari di jalanan dikejar oleh orang lagi?

Disaat tidak ada orang yang berbicara, orang pertama yang bicara pasti adalah Li Yuan-wai.

Disaat tidak boleh bicara, mendengar ada orang bicara yang tidak-tidak, orang itu jika bukan Li Yuan-wai pasti adalah Tangan Cepat Xiao Dai.

"Kenapa kalian disaat seharusnya tidak muncul, malah muncul? Apakah kalian merasa 'jarum' aku masih terlalu kecil? Atau kalian lebih senang berganti tempat?"

Li Yuan-wai sudah mengeluarkan segenggam jarum, yang dia katakan hanya enam orang wanita buta yang mengerti.

"Hina, tidak tahu malu!"

Dipojok rumah telah muncul Ouwyang Wu-shuang, di belakangnya ada orang pengemis yang tinggi besar.

Dua orang yang menginginkan nyawanya sekali lagi muncul, wajah Li Yuan-wai yang tadinya masih bernada mengolok-olok orang sekarang sudah menghilang, dia menyesal juga kesal.

Dia menyesal mengapa mulut ini selalu saja sembarangan bicara, hingga terdengar oleh dia.

Dia kesal mengapa tidak terpikir, jika orang-orang ini sudah datang, maka pemimpin mereka mana mungkin tidak datang?

Hatinyajadi kaku, wajahnya juga berubah.

Bagaimana pun, dua orang ini walau yang mana sudah cukup membuat dia hatinya dingin, apalagi sekarang dia muncul secara bersamaan?

Maka bagaimana mungkin wajahnya tidak berubah?

"Ka....

kalian bagaimana bisa....

bisa menemukanku?"

Tanya Li Yuan-wai dengan serak.

Tapi tidak ada orang yang memperdulikannya, mata Delapan Besar dewa Langit itu dengan tidak sengaja memandang katel mangkuk sumpit yang berantakan di bawah, dan bersamaan hidung mereka sedikit digerakgerakan.

Li Yuan-wai mengerti sekarang.

Bersamaan itu dia hampir saja memuntahkan semua daging anjing yang tadi makan.

"Harum Sedap Tiga Li, Li Yuan-wai, Li Yuan-wai, jika kebiasaan makan daging anjing ini tidak dirubah lagi, pasti pada suatu hari nanti kau akan seperti orang membunuh anjing, membunuhmu...."

Li Yuan-wai mengeluh bergumam di dalam hati.

Dia tentu saja tahu hidungnya orang Gai-bang biasanya paling tajam, dan lagi, siapa yang bisa seperti dirinya, bisa memasak daging anjing sewangi dirinya?!

Ouwyang Wu-shuang dan Hao Shao-feng bersamaan muncul, artinya....?

Akhirnya Li Yuan-wai mengerti, walau dia pernah curiga tapi sekarang melihat keadaan yang ada di depan mata, jika dia lebih idiot lagi, dia juga bisa berpikir Ouwyang Wu-shuang pasti orang Perkumpulan Bunga Ju.

"Kalian merobohkan rumah orang, memecahkan katelku, dan juga menunjukan situasi yang tidak bersahabat, sebenarnya untuk masalah apa?"

Tanya Xu Jia-rong yang biasanya dingin, sekarang malah dengan wajah aneh tertawa. Ternyata dia telah tertular Li Yuan-wai? "Kau siapa?"

Tanya Ouwyang Wu-shuang timbul semacam cemburu yang tidak bisa ditahan.

"Lalu kau ini siapa?"

Xu Jia-rong tidak menjawab juga balik bertanya dengan sikap bermusuhan.

Sekejap dua wanita ini tidak bicara lagi, mereka menggunakan sorot mata yang sulit dimengerti orang luar saling memperhatikan lawan.

Ouwyang Wu-shuang tidak terbilang sangat cantik, tapi dia muda, dan mempunyai keahlian mendesak orang, walau dia tidak tertawa, orang lain juga tahu jika dia tertawa pasti akan memikat orang.

Kecantikan Xu Jia-rong terasa dingin, walau sekarang baju putihnya sudah banyak berdebu, dirambutnya juga ada sedikit rumput ilalang, tapi tetap tidak mengurangi sinarnya.

Lambat laun, dua sorot mata yang saling menatap, sudah berkobar api peperangan yang tinggal sekali sentuh langsung meletus, sekali meletus tidak akan berhenti sampai ada korban.

"Kau cantik sekali."

Ouwyang Wu-shuang terpaksa mengakuinya.

"Kau juga tidak jelek,"

Kata Xu Jia-rong dengan bangga.

Hening sejenak sebelum perang besar, siapa pun bisa melihat mereka saling ingin membunuh lawan.

Li Yuan-wai tidak tahu mengapa Hao Shao-feng sampai sekarang tidak bicara sepatah katapun.

Tapi tidak berkata ada kalanya lebih menakutkan dari pada berkata, bagaimana pun anjing yang tidak menggonggong, biasanya bisa menggigit orang.

Dia sudah bersiap-siap, dia dengan terbata-bata berkata.

"Shuang Suang, ini.... ini adalah salah paham, kau dengar kata-kataku, sungguh.... ini sungguh adalah salah paham."

"Jangan beritahu aku ini adalah salah paham, aku hanya percaya pada diriku, dan juga aku beritahu, aku bukan sepatu robek, juga bukan katel pecah, setelah dipakai boleh dibuang, setelah robek bisa ditambal, kau binatang yang hina dan rendahan ini, kenapa kau tidak tanya saja pada tanda lahir dipantatmu itu? Apakah ini bisa salah paham?"

Bentak Ouwyang Wu-shuang marah, mendengar Li Yuanwai tetap pada pendiriannya, mengatakan ini adalah salah paham.

Dengan tidak sadar, Li Yuan-wai mengusap pantatnya sendiri.

Bodoh sekali!

bukankah 'Dipantaunya tidak ada uang tiga ratus liang?"

Babi goblok, sekali mengusap, bukankah sama memberi tahu semua orang, di atas pantatmu benar ada benda yang tidak bisa diperlihatkan pada orang?

Kelihatannya dia sungguh sudah jadi bingung dimarahi oleh Ouwyang Wu-shuang.

Setelah menyadari tingkah lakunya, Li Yuan-wai seperti 'Li Si diseberang tidak mencuri', Rasanya dia ingin sekali menerobos masuk ke dalam perut bumi.

Wajah dia begitu pahit.

Xu Jia-rong malah membelalakkan mata.

Wajah dia yang dingin menjadi lebih dingin lagi, di matanya sudah terlihat ada air mata....

Dadanya dengan cepat naik turun, sedikit tidak bisa menahan diri, juga dengan sedikit tidak percaya diam-diam dia mundur dua langkah.

Dia bergumam berkata.

"Kau.... kau benar ada...."

"Aku tidak,"

Kata Li Yuan-wai.

Jawabannya juga seperti 'kepala sapi tidak cocok dengan mulut kuda', karena yang orang ingin tanyakan adalah ada tidaknya tanda lahir dipantatnya, Li Yuan-wai salah mengerti, dia mengira yang orang tanyakan adalah pernah tidak melakukan perbuatan yang cabul itu.

Makanya dia tentu saja sekuatnya menyangkal.

"Tidak?! Li Yuan-wai jika kau seorang laki-laki bukalah celanamu, biar semua orang lihat, jika benar tidak ada, aku Ouwyang Wu-shuang segera memalangkan pedang membunuh diri."

Ouwyang Wu-shuang juga salah mengartikan, begitu dia mendengar Li Yuan-wai mengatakan 'tidak' segera dia menjerit.

Sungguh menjadi hal yang walau benar juga sulit menjelaskannya.

Li Yuan-wai adalah laki-laki, tapi sebagai laki-laki juga tidak bisa sembarangan dihadapan muka umum melepas celana untuk diperiksa orang!

Dia tidak bisa melepas, juga tidak berani melepas.

Dia sungguh kesalnya sudah hampir jadi gila, lebih-lebih bicaranya tidak karuan, dia hanya bisa berkata.

"Aku.... kalian.... aku.... oh langit...."

Li Yuan-wai yang kasihan, kecuali berteriak langit masih bisa melakukan apa lagi?

Yang hebat adalah, ketika berteriak langit orang kebanyakan mencakar rambut, tapi ketika dia berteriak langit, malah memegang ikat pinggangnya, seperti takut orang akan melepas celana dia.

Tentu saja Ouwyang Wu-shuang berani berteriak pada Li Yuan-wai melepas celananya, karena dia sudah bukan lagi seorang gadis.

Tapi Xu Jia-rong adalah gadis yang masih suci belum ternoda, dia mana mau melihat Li Yuan-wai melepas celananya.

Apakah dia sudah lupa bahwa dirinya adalah seorang gadis?

Apakah Li Yuan-wai melepas atau tidak melepas celananya begitu penting baginya.

Dia malah telah mengucurkan air mata, dengan ketakutan berkata.

"Li.... jika kau sungguh tidak melakukan hal.... hal itu, kenapa.... kenapa tidak mau membuktikan bahwa kau.... kau itu tidak bersalah?"

Li Yuang Wai sekali mendengar kata ini, kepalanya seperti di 'boom', seperti disambar geledek. Dia seperti sudah gila, berloncat-loncat, mulutnya juga berteriak-teriak kacau, berkata.

"Aku.... aku mengaku dipantatku ada 'tanda lahir', aku mengaku, aku semuanya mengaku, dasar sialan, kalian sekelompok orang ini semuanya sudah gila, semuanya berpenyakit, kenapa kalian semua suka melihat pantat laki-laki? Oh langit, Tuan langit, kenapa kau tidak menumbuhkan saja benda itu di atas wajahku? Kenapa? Kenapa....?"

Xu Jia-rong telah pergi, dengan cepat sudah pergi.

Tidak dihalangi, walau ada orang yang bisa menghalangi, meskipun belum tentu .

bisa menghalanginya.

Apa lagi dia juga bukan orang yang mereka cari.

Tapi siapa pun dapat melihat, saat dia pergi wajahnya bercucuran air mata.

Untuk apa dia menangis?

Dan juga mengapa dia seperti bertemu dengan setan, hingga meninggalkan Li Yuan-wai?

Bukankah dia suka melihat kelucuannya, rasa humornya, juga suka mendengar perkataan lucunya dia yang bisa membuat orang mati tertawa.

Apakah, apakah dia telah terjerumus ke dalam tawanya Li Yuan-wai?

Apakah, apakah dia telah terjatuh ke dalam semacam jala yang tidak terlihat.

Dia hanya melihat Li Yuan-wai dua kali, dan waktu bersama berkenalan juga hanya baru dua hari, mana mungkin?

Ini dimana bisa mungkin?

Li Yuan-wai, sibodoh ini, dia sudah jatuh cinta dua kali, tapi malah melepaskan wanita ketiga yang benar-benar mencintainya.

Si bodoh, sibabi, sibodoh nomor satu didunia ini.

0ooo(dw)ooo0 BAB 23 Jarum di tangan Tangannya Xiao Dai lebih cepat lagi, tapi dia tidak akan bisa menahan kecepatan turunnya kapak dari jarak sejauh itu.

Disaat perahu hampir menepi, Xiao Dai sudah meloncat turun kedarat.

Tepat disaat kaki dia baru menginjak daratan, terdengar satu suara teriakan 'potong talinya'.

Kapak sudah turun, tali pun putus.

Xiao Dai hanya bisa bengong melihat perahu itu dalam sekejap dibawa hanyut oleh arus yang sangat deras.

Dia tidak bisa berteriak, v/alau bisa berteriak juga bisa berbuat apa-apa?

Enam wanita di atas perahu yang semua tertotok jalan darahnya, sedikit pun tidak dapat bergerak, siapa yang bisa menolong mereka?

Sehingga....

Hanya dalam waktu sekejap, perahu itu sudah menabrak batu ditengah sungai.

Terdengar satu suara yang sangat keras, badan perahu hancur, dan enam gadis yang galak itu, hanya dua kali timbul tenggelam dalam ombak arus, kemudian tenggelam di dalam aliran sungai, jejaknyajuga tidak akan ditemukan lagi.

Fei Hua, Zhu Yue, nama yang sangat indah.

Dua nama ini, enam wanita ini, Xiao Dai mungkin seumur hidupnya tidak bisa melupakannya lagi.

Hatinya sudah kacau, matanya sudah menjadi merah.

Dia bukan tidak pernah membunuh orang, tapi dia selamanya tidak pernah salah membunuh orang.

Apa lagi enam gadis yang cantik.

Bagaimana hatinya tidak hancur?

Bagaimana matanya tidak merah?

Walau tidak membunuh mereka dengan tangannya sendiri, apa bedanya membunuh mereka dengan keadaan sekarang?

'Aku tidak membunuh orang tidak bersalah tapi orang yang tidak bersalah mati karena aku'.

Xiao Dai akhirnya merasakan dan mengeluarkan perkataan ini, kekesalan hatinya, karena dia tidak dapat berbuat apa apa.

Walau telah lolos dari maut dan tidak ada sesuatu lagi yang dapat membuat dia sedih, namun Xiao Dai adalah Xiao Dai, bagaimana dia bisa menahan dan melihat begitu saja kenyataan kepedihan yang terjadi dihadapan matanya sendiri?

Sekarang dia diam berdiri di atas batu besar dipinggir pantai, dia seperti sebuah batu yang abadi dipinggir pantai.

Dia tidak tahu siapa yang menghadang itu?

Dia tidak perlu tahu, juga tidak ingin tahu.

Karena dia telah melihat mereka akan mati, terhadap orang yang akan mati, buat apa mengetahui namanya?

Siapa pun mereka, tetap harus mati.

"Mengapa?!"

Xiao Dai sudah melihat dengan jelas orang yang datang ini berpakaian sastrawan, berjenggot yang putih.

Dengan tiga kata, dia lebih mirip tiga es batu dipuncak gunung yang ribuan tahun jatuh ke bawah, begitu dingin dan keras, begitu jatuh terdengar suara keras, membuat orang yang mendengar, timbul rasa dingin dari dalam hatinya.

Siapa pun bisa mengerti apa maksud tiga kata yang dingin ini?

Tapi siapa pun tidak menyangka Xiao Dai yang kelihatannya seperti "Tuan muda', anak kelinci, anak ingusan ini, kenapa dalam sekejap seperti berganti orang, berubah begitu mantap, berubah membuat orang menjadi takut.

Seperti sedikit dipaksa, sastrawan yang mendekat itu dengan gagap berkata.

"An.... anda siapa? Aku Shi Ren sebagai penasehat perkumpulan Perairan Zhang Jiang...."

Ternyata Penasehat Qin ini baru datang, dia masih belum tahu perbuatan Xiao Dai di atas perahu.

Dia mengepalkan kedua tangannya, tangannya masih belum diturunkan, sepertinya menunggu Xiao Dai membalas hormat.

Mendadak....

Seperti angsa terkejut datang dari kaki langit, juga mirip petasan ditahun baru mengeluarkan suara yang ribut.

Penasehat Qin hanya melihat satu bayangan hitam mendekat, kemudian kedua pipi hanya merasa sakit panas, bersamaan telinga mendengung keras.

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa terkena enam kali tamparan keras, belum tahu apa yang terjadi, dia sudah keburu pingsan.

Orang bilang terkena tamparan seperti terkena guntur, memang demikianlah, disaat Penasehat Qin ini siuman, memikirkan keadaan tadi, sungguh seperti terkena guntur, seperti terkena kilat.

Dua belas pria besar yang tubuh atasnya tidak berbaju, dan otot ototnya menonjol, sudah tidak tahu sejak kapan bertumpukjadi satu, seperti menara dua puluh tingkat orang ditumpuk orang, bertumpuk disitu sedikit pun tidak bergerak.

Begitu Qin Shi Ren sadar, dia segera melihat keadaan yang mengerikan ini.

Dia membalikkan kepala lagi, ah....

seperti datang dari neraka, seluruh tubuhnya penuh dengan noda darah, malah sampai seluruh kepala dan seluruh wajahnya, seperti setan menatap dirinya.

Tubuhnya langsung gemetar, tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi, dia juga tahu semua ini hasil karya siapa.

Dia tidak dapat menahan lagi, mulutnya muntah, bersamaan juga memuntahkan enam buah gigi.

"Qin Shi Ren jika kau tidak ingin seperti mereka berubah jadi orang mati, sekarang lebih baik kaujawab pertanyaan aku dengan jujur...."

Suara Xiao Dai sungguh tidak seperti manusia. Setelah muntah setengah harian, Qin Shi Ren mengangkat kepala, wajah ketakutan, hampir saja dia lumpuh, berkata.

"Aku.... aku Suo, aku Suo...."

Jika seseorang tiba-tiba kehilangan enam buah gigi, perkataannya tentu tidak bisa benar, bagusnya Xiao Dai mengerti ini, jia tidak sekali dia marah sungguh sangat mungkin menampar beberapa kali lagi pada Penasehat ini.

Menggunakan tangan menunjuk pada tumpukan orangorang itu, Xiao Dai dengan dingin berkata.

"Apa para anak kelinci itu semuanya anggota cabang Fan dari Perkumpulan Perairan Zhang Jiang?"

Penasehat Qin dengan susah menganggukkan kepala.

"Bagus sekali, kalau begitu aku tidak salah membunuh orang, katakan, apa sebenarnya yang telah terjadi?"

Kata Xiao Dai dingin.

"Shu.... shu qi shu qi.... shu qi zhe yang...." (masalahnya begini) "Apa Shu Qi Shu Ba?!"

Setelah Xiao Dai marah sekali lagi, dia tiba-tiba tidak bicara lagi, karena dia sudah melihat Penasehat Qin memuntahkan lagi enam buah gigi yang patah.

Xiao Dai tahu dirinya memukul terlalu keras, tapi dia tidak tahu gigi Penasehat Qin ini begitu tidak tahan terkena pukulan.

0ooo(dw)ooo0 Gunung berbahaya, jalannya lebih berbahaya.

Sungguh jalan kecil ini seperti usus kambing, malah bisa dibilang jalan burung.

Penasehat Qin berjalan di depan sambil memegang kedua pipinya yang membengkak besar, Xiao Dai diam tidak bicara, dia mengikuti dari belakang.

Memandang kedua sisi tebing dan cadas, memandang di bawah kaki Zhang Jiang dengan arusnya yang deras, di 'jalan burung' yang berliku liku ini Xiao Dai tidak takut dia melarikan diri, dia juga tahu dia tidak berani lari.

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 13

Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert