Ceritasilat Novel Online

Duri Bunga Ju 6

Eps 6 Duri Bunga Ju - Gu Long

Baca online Duri Bunga Ju - Gu Long

Cersil Duri Bunga Ju - Gu Long.

Setelah membelok di bawah satu tebing, puluhan rumah yang indah tersebar disatu perumahan kayu.

Di depan gerbang perumahan, Xiao Dai mengangkat kepala melihat pada kedua tiang kayu besar yang terukir.

"Sungai nomor satu didunia"

"Puluhan ribu li aku berlayar"

Dia dengan hina tertawa, juga tidak memperdulikan Penasehat Qin yang sudah melarikan diri, dia menopang tangan menunggu, menunggu dia masuk memanggil orang.

Menunggu dia mencari orang yang bisa bicara dengan jelas.

Tentu saja dia juga menunggu satu pertarungan yang sengit.

0ooo(dw)ooo0 Akhirnya datang, datangnya cukup cepat, Xiao Dai memandang segerombolan orang datang dengan cepat seperti terbang dari dalam perumahan.

Sekarang diwajah setiap orang tampak terkejut dan aneh.

Mereka sungguh tidak terpikir, pemuda ini yang seluruh tubuhnya penuh dengan bercak darah bukan saja ada keberanian seperti baja, juga ada keberanian tidak takut mati.

Seorang pria besar yang beralis tebal bermata bulat dan berjenggot, wajahnya merah, berusia sekitar lima puluhan, keluar dari gerombolan orang, dia memperhatikan Xiao Dai, dari atas kepala sampai kaki, tiba-tiba mulutnya membentak.

"Laporkan nama."

Dia marah, soalnya dia ingin bertemu dengan orang yang setelah menyuruh membunuh orang yang berada di perahu, dia sengaja tidak melarikan diri, sebaliknya malah datang ke 'goa harimau'.

Xiao Dai bertumpang tangan, wajahnya dingin seperti salju dimusim dingin, dengan sangat dingin berkata.

"Siapa kau?"

"Puluhan ribu li aku berlayar"

Dia dengan hina tertawa, juga tidak memperdulikan Penasehat Qin yang sudah melarikan diri, dia menopang tangan menunggu, menunggu dia masuk memanggil orang.

Menunggu dia mencari orang yang bisa bicara dengan jelas.

Tentu saja dia juga menunggu satu pertarungan yang sengit.

0ooo(dw)ooo0 Akhirnya datang, datangnya cukup cepat, Xiao Dai memandang segerombolan orang datang dengan cepat seperti terbang dari dalam perumahan.

Sekarang diwajah setiap orang tampak terkejut dan aneh.

Mereka sungguh tidak terpikir, pemuda ini yang seluruh tubuhnya penuh dengan bercak darah bukan saja ada keberanian seperti baja, juga ada keberanian tidak takut mati.

Seorang pria besar yang beralis tebal bermata bulat dan berjenggot, wajahnya merah, berusia sekitar lima puluhan, keluar dari gerombolan orang, dia memperhatikan Xiao Dai, dari atas kepala sampai kaki, tiba-tiba mulutnya membentak.

"Laporkan nama."

Dia marah, soalnya dia ingin bertemu dengan orang yang setelah menyuruh membunuh orang yang berada di perahu, dia sengaja tidak melarikan diri, sebaliknya malah datang ke 'goa harimau'.

Xiao Dai bertumpang tangan, wajahnya dingin seperti salju dimusim dingin, dengan sangat dingin berkata.

"Siapa kau?"

"Karena mereka semua orang Perkumpulan Bunga Ju."

"Apa ada buktinya?"

"Perkumpulan kami mengetahui dan telah menyelidikinya."

"Ada permusuhan apa Perkumpulan Bunga Ju denganmu?"

Lin Zhen-jiang mendadak sadar dirinya ditanya orang seperti seorang terdakwa, segera wajahnya menjadi merah, dia berteriak aneh berkata.

"Bocah, apa kau sedang menyelidik satu perkara?"

Tertawa dingin, Xiao Dai berkata.

"Aku hanya ingin tahu apakah kau pantas mati tidak."

Saking marahnya jadi tertawa, Lin Zhen-jiang berteriak.

"Kau yang harus mati...."

Dua buah kail tangan, satu atas satu bawah, bisa menyobek orang tiba-tiba muncul.

Xiao Dai dengan wajah kaku menatap datangnya kail sampai pada jarak satu che, dua tangannya yang bertopang, dengan santainya menyabet kepinggir.

Tidak tampak akibat yang hebat, juga tidak bisa dimengerti, Lin Zhen-jiang sudah mundur satu zhang, ketika orang lain masih belum mengerti apa sebenarnya yang terjadi, tulang pergelangan tangan kanannya sudah patah, kailnya juga sudah jatuh ke tanah.

Xiao Dai menghentikan gerakan, dia seperti sudah menghitung dengan tepat, lawannya pasti mundur.

"Kau.... kau.... ini kau...."

Tenggorokan Lin Zhen-jiang seperti disumbat dengan pasir.

"Tidak salah, memang aku."

Lin Zhen-jiang akhirnya mengerti, dia akhirnya mengerti kenapa Xiao Dai menyebut dirinya adalah orang mati.

Sekarang dia seperti benar telah menemukan orang mati, matanya membelalak mulut tidak bisa bicara, tidak tahu harus berbuat apa.

Dia tidak berani berpikir orang yang mati ini mungkinkah dia sendiri.

Orang berkata 'seorang ahli sekali mengulurkan tangan, sudah tahu berisi tidaknya.' Dan orang berkata lagi 'Nama orang, bayangan pohon.' Bisa menduduki kursi ketua Perkumpulan Perairan Zhang Jiang, Naga Pembalik Sungai yang menguasai perairan Zhang Jiang didaerah Chuan, Lin Zhen-jiang tentu saja bukan seorang idiot.

Dia bukan saja bukan seorang idiot, malah luas pengetahuannya, mengenal orang tentu saja tidak bisa ditandingi oleh orang biasa.

Setelah Xiao Dai dengan santainya menyerang, dia sudah sadar siapa yang dia hadapi.

Sambil menggigit gigi, Lin Zhen-jiang menahan sakitnya akibat patah tulang, sulit dibayangkan rasa takutnya, dia berkata.

"Kau.... kau tidak mati....?"

Xiao Dai dengan santai tertawa tidak menjawab. Tidak diragukan lagi, seperti melihat tawanya dewa mati, Lin Zhen-jiang mundur lagi dua langkah bergumam.

"Pisau Telapak.... Pisau Telapak.... Pisau Telapak sekali keluar, tanpa...."

"Tanpa nyawa, nyawa tidak kembali,"

Xiao Dai melanjutkan. Benar.

"Telapak Tangan Sekali Keluar, Nyawa Tidak Kembali", tidak aneh Lin Zhen-jiang bisa begitu ketakutan, begitu takutnya, bagaimanapun didunia ini orang yang bermusuhan dengan Xiao Dai, semuanya sudah menjadi orang mati. Lin Zhen-jiang tidak bisa memikirkan kapan telah berbuat dosa pada dewa penular ini, yang raja neraka sajajuga tidak berani menerimanya. Dia lebih tidak tahu dewa penular ini mengapa bisa mendatangi gunungnya? Dia melirik pada anak buahnya yang membacking dia, dengan serak berkata.

"Tangan Cepat Xiao Dai, aku.... aku Naga Pembalik Sungai merasa.... merasa tidak pernah berbuat dosa pada Tuan.... mengapa.... mengapa, tuan.... tega.... membumi.... h...."

"Orang yang menginginkan aku mati pasti mati,"

Kata Xiao Dai dengan dingin.

Tangan Cepat Xiao Dai empat kata ini keluar dari mulutnya Lin Zhen-jiang, seperti sebuah bom yang menggetarkan hati semua orang.

Sekejap saja setiap orang dengan tidak sadar mundur beberapa langkah, sorot matanya seperti melihat setan, begitu ketakutan, begitu memudar.

Kabar dari dunia persilatan Tangan Cepat Xiao Dai sudah mati, mati di sungai Jin, mati di tangan Dua Pengemis Cacad dari Gai-bang, bagaimana mungkin tibatiba bisa muncul di sini?

Sehingga ada orang setelah terkejut, mulai jadi curiga.

Mereka curiga orang ini ingin memakai nama Tangan Cepat Xiao Dai supaya ternama.

Mereka juga curiga orang ini sengaja jadi misterius, bertujuan menakuti hati orang.

Tiga orang setelah saling memandang mereka melakukan penyerangan mendadak, mereka tidak memperdulikan sorot mata peringatan Lin Zhen-jiang, mereka juga tidak memperdulikan Xiao Dai sudah mengawasi mereka dengan tajam.

Didunia ini banyak orang, tidak perduli masalah apa pun semuanya harus dialami sendiri, atau dirinya pernah melakukannya, baru bisa percaya 'katel adalah terbuat dari besi'.

'Godam meteor', 'Kapak pencabut nyawa', 'Golok pembelah gunung', tiga macam senjata yang satu macam lebih berat dari lainnya, dari tiga arah dengan dahsyat, keji menyerang kearah Tangan Cepat Xiao Dai.

Kali ini Xiao Dai tidak lagi santai, tangannya disilangkan di depan dada dengan cepat menjadi huruf X dan didorongkan ke depan, saat mata orang-orang masih belum dapat menangkap benda apa itu sebenarnya, terdengar suara "pak"

"pak"

Berturut-turut terdengar oleh telinga orang orang.

Bersamaan itu tiga jeritan mengerikan, seperti ingin merobek hati orang keluar dari tiga mulut orang.

Darah, darah seperti hujan turun dari langit, bertetestetes, lengket dan kental.

Mereka, seperti orang terhukum yang datang dari neraka, rambut tidak karuan, menyeramkan dan mengerikan.

Suara ketiga orang itu mendadak berhenti, Xiao Dai bangkit berdiri, lengan kanannya terluka golok sepanjang setengah che, dia menghindar 'Godam meteor', menghindarkan Kapak pencabut nyawa, tapi tidak dapat menghindarkan seluruh serangan Golok pembelah gunung.

Dia terluka, darah pun mengalir.

Namun tidak ada orang yang bersorak gembira, tidak ada yang berloncat-loncat, karena tiga orang yang mendadak menyerang itu, sekarang sudah jatuh ditiga tempat yang berbeda.

Yang mengerikan adalah ditubuh mereka bertiga seperti telah mendapat serangan pisau secara bersamaan waktu dari tiga puluh orang, semuanya membentuk satu garis, satu-satu guratan membentuk huruf X luka bersilang, tidak ada satu pun yang masih bisa bernafas, dan posisi mereka aneh, orang ahli sekali melihat langsung bisa tahu, ini pasti bukan orang hidup yang dapat berposisi demikian.

Dilapangan mungkin jarum jatuh juga bisa didengar, tidak ada orang yang membuka mulut lagi, juga tidak satu orang pun yang berani bergerak.

Semua orang semuanya membelalakkan matanya, matanya juga penuh dengan ketegangan dan ketakutan.

Mereka tidak ada lagi curiga, karena didunia ini selain Tangan Cepat Xiao Dai siapa lagi yang dapat dengan sekali gebrakan mengalahkan tiga ketua cabang Perkumpulan Perairan Zhang Jiang?

Sambil menjilati bibir yang sedikit kering, tidak memperdulikan luka dilengan, suara Xiao Dai membuat orang gemetar.

"Siapa lagi yang ingin mencoba?"

Coba?!

Disaat ini siapa lagi yang berani mencoba dengan taruhan nyawanya?

Orang yang tidak berani mulai melangkah mundur, sedang yang berani walau tidak bergerak, tapi tidak tahan gemetar.

Sepasang mata Xiao Dai terkilas satu sinar dingin, dia melihat pada gerombolan yang berada disekelilingnya, berkata lagi.

"Setelah aku habis menghitung sampai tiga, siapa yang masih tinggal dilapangan, aku jamin mereka pasti tidak dapat melihat matahari terbit esok...."

"Dua...."

"Dua"

Habis diteriakan, hanya tinggal lima, enam orang.

"Tiga...."

"Tiga!"

Baru saja diteriakan, di seluruh lapangan hanya tinggal dua orang. Sisa dua orang itu, adalah ketua Perkumpulan Perairan Zhang Jiang Naga Pembalik Sungai Lin Zhen-jiang, dan Penasehat Qin Shi Ren.

"Bagus sekali, Lin Zhen-jiang, didunia ini saat ketika orang orang meninggalkan kau, kau tentunya tidak terpikirkan ada orang yang mau sehidup semati denganmu, bersama-sama menghadang kesulitan dengan kau, bukan?"

Kata Xiao Dai melihat sekali pada Penasehat Qin.

Naga Pembalik Sungai Lin Zhen-jiang menahan tangannya yang bengkak, dia hanya tahu masih ada orang yang tidak pergi, tapi dia tidak membalikkan kepala melihat siapa orang itu, dengan benci dan marah dia berkata.

"Tangan Cepat Xiao Dai kau terlalu menganggap rendah Perkumpulan Perairan Zhang Jiang.... saudara saudara Perkumpulan Perairan Zhang Jiang, mana mungkin semuanya takut mati...."

"Betulkah?"

Kata Xiao Dai dengan anehnya.

"Mungkin kau akan hilang harapan, aku katakan Perkumpulan Perairan Zhang Jiang ini semuanya adalah babi yang takut mati...."

"A.... Apa maksudnya?!"

Kata Naga Pembalik Sungai dengan keras.

"Kenapa kau tidak membalikkan kepala melihatnya."

Penasehat Qin Qin Shi Ren dengan memegang wajahnya berdiri di belakangnya Naga Pembalik Sungai Lin Zhenjiang, ketika Lin Zhen-jiang membalikkan kepala melihat, hampir saja dia pingsan karena marahnya.

Ternyata Qin Shi Ren tinggal bukannya tidak mau melarikan diri, sesungguhnya hanya tidak bisa lari saja.

Kerena sepasang kakinya sudah lemas karena ketakutan, sampai sekarang masih gemetaran tidak hentinya, orang yang matanya tajam malah bisa melihat celananya sudah basah.

Tidak aneh Xiao Dai bisa berkata begitu pasti, juga tidak aneh Lin Zhen-jiang marah sekali sampai maju melangkah, mengangkat tangan kiri yang tidak patah sekaligus menampar sepuluh kali lebih tidak berhenti.

Kasihan Penasehat Qin, pipi yang tadinya juga sudah bengkak, kali ini juga tidak menyerupai wajah orang, mungkin sisa gigi di dalam mulutnya, satupun tidak ada yang utuh lagi!

"Cukup."

Xiao Dai dengan dingin berkata.

"Kau tidak perlu di depanku memamerkan kekuasaanmu sebagai ketua."

Terhadap musuh yang mengolok, menghina, yang sulit dihadapi, yang menakutkan ini, Naga Pembalik Sungai sudah benci sekali, marah sekali.

Dia sekarang sudah seperti binatang yang jadi gila, berteriak sekali, memungut kail yang ada di tanah dengan tanpa tujuan menyerang pada Xiao Dai.

Perlahan menggelengkan kepala, Xiao Dai memiringkan tubuh menghindar, karena dia telah melihat semangatnya Lin Zhen-jiang sudah berada dibatas kehancuran.

Bagaimanapun juga orang tidak akan tahan menghadapi situasi dimana semua orang meninggalkan dirinya, dalam keadaan yang sangat menyedihkan dan menyakitkan hati ini, apa lagi Naga Pembalik Sungai Lin Zhen-jiang yang sudah biasa memerintah?

Karena dia terus menerjang maju, dia mengayunayunkan senjata di tangannya, seperti bertempur dengan bayangan yang tidak terlihat, mulutnya berteriak-teriak.

"Aku bunuh kau, aku bunuh kau...."

Dia menerjang melewati sisi Xiao Dai, dan di belakang Xiao Dai sepuluh zhang lebih adalah jurang tajam.

Di bawah jurang adalah Zhang Jiang yang deras, aliran yang bergelombang, dan Naga Pembalik Sungai sudah terjun ke bawah.

Xiao Dai mengeluh pelan, kecuali dewa, siapa pun yang terjun dari ketinggian seperti itu, walau punya sembilan nyawa juga akan habis.

0ooo(dw)ooo0 Xiao Dai membalikkan kepala, dia hanya berharap dari mulutnya Penasehat Qin, bisa tidak mendapatkan sedikit keterangan.

Tapi dia tidak berani berharap terlalu banyak, terhadap orang ini bisa memberikan keterangan yang jelas, karena, karena dia telah berpikir, sebuah wajah jika telah dipukul orang menjadi seperti apel busuk, ingin dia berbicara sungguh hal yang sangat sulit, sangat sulit sekali.

Dengan langkah perlahan Xiao Dai datang ke depannya Qin Shi Ren, Xiao Dao yang sudah putus asa, tiba-tiba melihat orang ini telah menjadi orang mati, mengenai apakah dia mati ketakutan, atau mati karena dipukul itu tidak diketahui.

0ooo(dw)ooo0 Li Yuan-wai tidak tahu kenapa Xu Jia-rong pergi meninggalkan dirinya?

Dia juga tidak tahu mengapa air matanya bercucuran?

Karena tidak ada cukup waktu buat dia berpikir, sesungguhnya jika seseorang ingin pergi, apa lagi yang bisa menghentikan dia?

Lingkaran pengurungan semakin kecil, hingga Li Yuanwai sudah merasakan hawa pedang berikut hawa pembunuhan sudah menyerang dirinya.

Telapak tangannya sudah mengeluarkan keringat, sekarang dia sedang menggenggam erat jarum di tangan, dia tahu dia tidak boleh merasa ragu-ragu, jika tidak dia akan mati, dan matinya tidak enak dipandang, matinya sepeserpun tidak berharga.

Semua orang di sini sepertinya dipimpin oleh Ouwyang Wu-shuang, mereka semua diam menunggu komando dari dia.

"Kau sudah ketakutan? Kau sudah ketakutan bukan?"

Kata Ouwyang Wu-shuang tidak mencak-mencak lagi, malah tertawa. Li Yuan-wai dengan wajah pahit memandang wajah yang pernah dicintainya sangat dalam, dengan serak dia berkata.

"Benar, aku takut, dan juga takut kau tidak bisa mengambil nyawaku!"

Tentu saja dia tidak takut mati.

Dia hanya takut wajah dingin yang mengerikan ini, mengenang kembali perkataan dan tawa manis yang dulu yang dia kenal.

0ooo(dw)ooo0 Matahari senja, matahari senja yang merah seperti api.

Ouwyang Wu-shuang sudah melihat tangan Li Yuan-wai menggenggam erat segenggam jarum sulam, dia teringat Li Yuan-wai juga mahir menggunakan jarum sulam.

"Li Yuan-wai, belajar dari mana jurus 'Tujuh Tangan Mahir' mu?"

Li Yuan-wai bengong, dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Ouwyang Wu-shuang.

"Jangan berpura-pura bodoh, yang aku tanyakan adalah jarum di tanganmu itu?"

"Betul tidak seorang wanita yang mengajarkan padamu?"

Ouwyang Wu-shuang berteriak keras. Li Yuan-wai diam tidak bicara, karena dia sudah terpikir Ouwyang Wu-shuang juga mahir menggunakan senjata gelap jarum.

"Wanita hina ini, dia kira...."

Ouwyang Wu-shuang mendadak tutup mulut.

"Siapa yang kau katakan?"

Habis bicara, satu bayangan yang cantik, melangkah keluar dari belakang sebuah pohon dipinggir rumah petani.

Berhubung menghadap pada matahari senja, Li Yuanwai tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang yang baru datang itu, tapi suara itu ingin melupakannya juga dia tidak bisa, bagaimana pun dia pernah mengira dirinya pernah mencintai orang yang bicara itu.

Tidak salah, dialah Zhan Feng.

Sekarang kecantikannya sedikit pun tidak ada asap duniawi, dengan anggunnya berdiri di sana, dan matanya dia seperti berkata pada setiap orang.

Perasaan Li Yuan-wai, seperti botol lima rasa yang tumpah, tidak bisa membedakan apakah manis?

Apakah asam?

Apakah pahit?

Apakah pedas?

Dia tidak berani melihatnya, tapi tidak tahan ingin melihatnya, dan hanya satu lirikan ringan, dia sudah membaca di dalam matanya dia merasa semacam kesedihan.

Laki-laki yang lainnya, adalah Delapan Besar Raja Langit dan Hao Shao-feng, 'delapan belas mata bola' sudah dibuat oleh kecantikannya Zhan Feng, bergesar sedikit pun tidak bisa, dan di dalam hati setiap orang semuanya memuji, terpesona dan timbul satu, dua pikiran kotor.

Ouwyang Wu-shuang juga hanya sekejap timbul emosi, tapi dengan cepat, dia sudah merubah wajahnya jadi dingin, sepertinya dia tidak mengenalnya, atau sama sekali tidak pernah melihat dia.

Di antara semua orang ini mungkin hanya enam wanita buta yang tidak terpengaruh olehnya, mata buta tidak bisa melihat segalanya, tentu saja tidak bisa tahu orang yang datang ini kecantikannya sampai dimana.

Hmm, sampai sepasang petani tua dan cucu mereka yang berada di bawah meja, juga sudah lupa akan bahaya, mereka mengulurkan lehernya.

Zhan Feng suka akan bunga Ju, setiap orang yang kenal dengan dia pasti mengetahuinya.

Li Yuan-wai tidak bisa menebak mengapa tangannya menggoyang-goyangkan bunga Ju campuran dengan perlahan.

Bunga Ju hanya bisa dipandang, bagaimana bisa dimainkan?

Seorang yang suka Ju mengapa bisa melakukan membakar kecapi, memasak bangau, pekerjaan yang merusak pemandangan ini?

Dia tidak berkata lagi, tapi yang lebih mengejutkan Li Yuan-wai adalah, Zhan Feng malah menggunakan tangannya mencabut helaian Ju, sehelai demi sehelai....

Seorang wanita secantik dewi, helaian bunga Ju yang beterbangan mengikuti angin, matahari senja juga membentuk warna yang sangat indah, menyinari rambut panjangnya, menyinari baju putih bersih panjangnya.

Setiap orang terpikat oleh pemandangan yang seperti mimpi seperti bayangan, seperti sajak seperti lukisan ini....

Namun suara dingin Ouwyang Wu-shuang kembali terdengar, merusak situasi yang tenang ini.

"Kau?!"

"Apa kau lupa perjanjian kita? Apa kau tidak perdulikan hidup matinya dia?"

"Aku tidak lupa...."

"Kalau begitu kemunculanmu saat ini untuk apa?"

"Aku mencarimu."

"Mencari aku?!"

"Benar, mencarimu."

"Baik, jika ada masalah kita bicarakan nanti, tunggu setelah aku membereskan dulu orang yang ada di depan ini, nanti aku akan bicara baik baik denganmu."

"Tidak bisa, aku ingin bicara sekarang."

"Sekarang?! Kau tahu tidak, dengan susah payah aku baru dapat mencari dia, kau tahu tidak saat ini kecuali membunuh dia, aku tidak tahu, ada masalah apa lagi yang lebih penting dari keadaan ini?"

Ouwyang Wu-shuang menunjuk Li Yuan-wai dengan sedikit emosi yang sulit ditahan.

"Aku tahu."

"Kau tahu?! Jika kau sudah tahu mengapa.... ooo, aku mengerti sudah, betul tidak kau tidak tega melihat dia mati?"

"Benar, dia tidak boleh mati, paling sedikit sekarang masih tidak boleh mati."

"Jika aku tetap ingin dia mati sekarang?"

"Aku.... aku akan menyelamatkannya."

"Menyelamatkannya?! Ha.... ha.... ha.... menyelamatkan dia?! Apa kau tidak salah?! Setelah kau menyelamatkan dia, yang akan mati adalah orang lain,"

Kata Ouwyang Wushuang tertawa dingin.

Alisnya Zhan Feng sedikit mengerut, orang yang melihat dia semuanya seperti ikut hancur karena sedihnya.

Didunia ini, tidak ada orang yang tega melihat wanita cantik seperti ini mengerutkan alis, orang yang dapat membuat dia mengerutkan alis, tidak diragukan adalah orang nomor satu paling kejam.

Bibirnya terbuka tertutup beberapa kali, baru mengeluh perlahan berkata.

"Ouwyang, kau.... kau bu at apa begini...."

"Jangan mengurusi aku, uruslah dirimu,"

Kata Ouwyang Wu-shuang, sepasang matanya menyorot pembunuhan, nada bicaranya sangat dingin.

Zhan Feng dengan sedih melihat pada Li Yuan-wai, pandangan ini membuat hati Li Yuan-wai meloncat sekali, juga membuat dia mengerti satu hal, yaitu jika dia tidak menghindar sorot matanya lagi, dirinya akan bertepuk sebelah tangan lagi, dengan demikian mungkin akan terjerumus ke dalam mala petaka yang tidak dapat ditolong lagi.

Dengan susah payah, Li Yuan-wai mengalihkan pandangan matanya, dia mendadak berteriak.

"Shuang Shuang, aku Li Yuan-wai meskipun lemah, aku tidak ingin seorang wanita memintakan kasihan untukku, silahkan kau sendiri yang tentukan, lihat apa aku Li Yuan-wai ini apa seperti seekor kura-kura yang menyembunyikan kepalanya."

Ouwyang Wu-shuang membalikkan kepalanya, dengan tertawa aneh berkata.

"Bagus, bagus, bagus, Li Yuan-wai akhirnya kau bisa menegakan dada, kau akhirnya bisa menegakan dada.... Hao.... Shao.... Feng.... jika hari ini kau tidak bisa menangkap Li Yuan-wai hidup-hidup, maka kau akan mendapat tempat yang orang tidak bisa melihat.... bereskan.... diri.... mu.... sendiri."

Perkataannya dingin, dinginnya sampai Hao Shao-feng yang berdiri disisi menjadi gemetar kedinginan.

Tapi dia cepat maju, bersamaan itu tangannya sudah diangkat siap menyerang.

Zhan Feng juga ingin maju.

Sepasang mata Ouwyang Wu-shuang yang tadinya bisa tertawa, mengeluarkan sinar kejam, dia berteriak.

"Berhenti, jika kau berani maju selangkah lagi, aku segera akan membalikkan kepala pergi, nanti akibatnya kau sendiri yang tanggung...."

Zhan Feng tidak dapat berbuat apa-apa, dia menghentikan langkahnya....

Tangan Hao Shao-feng sudah turun.

Delapan tongkat yang terbuat dari besi, sudah membuat matahari senja berubah warna, membentuk satu bayangan hitam menutup pada Li Yuan-wai.

Tangannya Li Yuan-wai dengan cepat bergerak enam belas kali, enam belas buah jarum sulam tanpa suara terbang keluar, sasaran yang dituju adalah Delapan Besar Raja Langit itu.

Senjata gelap apa pun, jika sudah menjadi senjata yang jelas, kekuatan -dan keampuhannya, pasti akan berkurang banyak.

Dalam pembicaraan tadi Delapan Besar Dewa Langit sudah tahu jarum di tangannya Li Yuan-wai adalah senjata pelindungnya, mana mungkin mereka tidak waspada terhadapnya?

Sehingga terdengar 'ting' 'ting' suara acak, enam belas jarum sulam hilang tidak membekas, tidak satu pun mengenai sasarannya.

Dapat menggunakan delapan batang tongkat yang sangat berat, dengan tepat sekali juga tidak meleset memukul terbang jarum sulam yang sulit dilihat oleh mata telanjang, kepandaiannya dan mata yang tajam, sungguh mengejutkan orang, dari sini bisa dilihat Delapan Besar Dewa Langit dari Gai-bang sungguh pesilat tinggi.

Tadinya Li Yuan-wai mengira enam belas jarumnya paling sedikit ada delapan jarum bisa mengenai lengan lawannya, namun perkiraan dia ternyata meleset, sekarang dia baru tahu di Gai-bang memang banyak sekali pesilat tinggi, mungkin bukan hanya dirinya saja yang namanya saja menonjol.

Jarum sudah jatuh, serangan gelombang kedua terjadi lagi, tongkat hanya berhenti sejenak, mengeluarkan suara angin yang dahsyat, mengeluarkan serangan lagi.

Li Yuan-wai diam-diam menggigit gigi, dia mengerti dengan kekuatannya, dia hanya bisa melawan paling-paling tiga orang saja dari Delapan Besar Dewa Langit, sekarang Delapan Besar Dewa Langit mengeroyok semua, Li Yuanwai hanya tinggal menerima nasibnya saja.

Sekarang satu-satunya yang dapat diperbuat olehnya adalah melepaskan jarum di tangannya, dua puluh empat buah jarum sulam, satu persatu, diterangi sinar matahari senja mengeluarkan sinar dingin, persis seperti tawon beracun yang keluar dari sarang tawonnya semua menyerang pada lengan lawan yang memegang tongkat.

Li Yuan-wai masih tidak sampai hati, sampai sekarang dia tetap tidak mau menyerang tempat yang berbahaya, bagaimana pun dia tetap masih ada perasaan terhadap anggota perkumpulannya.

Namun, dia boleh berpikir demikian, orang lain tidak berpikir seperti dia.

Berkelana di dunia persilatan, melenggang di dunia persilatan, orang yang mempunyai hati seperti perempuan sulit bisa hidup, apalagi di dunia persilatan ada istilah,yang lemah dimakan yang kuat, di dalam dunia persilatan hanya ada kau menipu aku berbohong.

Maka....

Di antara Delapan Dewa Besar Langit ada dua orang tidak memperdulikan lengannya terkena jarum, dua orang ini tetap tidak merubah serangannya, tongkat besi tetap dipukulkan.

Mungkin mereka merasa hanya tiga buah jarum, tempat yang diserang juga bukan tempat bahaya, walau terkena juga tidak akan apa-apa.

Mungkin mereka sudah mengetahui kelemahan Li Yuanwai, yang tidak tega mencelakai saudara seperguruan.

Sehingga....

Terdengar dua suara teriakan tertahan, dua tongkat besi seperti angin menggulung sisa awan sampai di depan tubuhnya Li Yuan-wai.

Li Yuan-wai berpikir juga tidak, dua orang ini nekad terkena jarum, tidak mau menghindar, setelah bengong sekejap dia melihat dua tongkat hitam besar dengan cepat jatuh ke kepalanya.

Untungnya hanya dua orang, hanya dua tongkat besi, Li Yuan-wai masih bisa menghadapinya, dia menggerakkan tangan mengeluarkan Kipas Tulang Giok Sulam Emas.

Walau disebut tulang giok, sebenarnya adalah tulang besi.

Kakinya melangkah mengeluarkan jurus Delapan Belas Langkah Gila, sambil menangkis tongkat besi.

Disaat yang sangat singkat ini, Li Yuan-wai sudah menyadari dirinya telah melakukan beberapa kesalahan, juga merasakan akibat dari wanita yang pahit itu.

Karena Li Yuan-wai sudah kehilangan jarak tembak, dia juga terkurung ketat oleh delapan tongkat besi, sampai kesempatan melepaskan jarum juga tidak ada.

Delapan Besar Dewa Langit tidak ada satu orang pun yang bodoh, mereka tentu saja sudah menggunakan kesempatan ini, bertarung dalam jarak dekat.

0ooo(dw)ooo0 Keringat Li Yuan-wai sudah membasahi dua lapis bajunya....

Mata Zhan Feng sudah tampak gelisah....

Wajah Ouwyang Wu-shuang dan Hao Shao-feng tampak gembira.

Keadaannya sudah jelas, Li Yuan-wai tidak akan bisa bertahan beberapa jurus lagi.

Sampai sepasang petani tua dan cucu cucunya yang berada di bawah meja juga sudah dapat melihatnya.

"Ren Wei Shan.... ka.... kalian delapan babi ini, delapan babi bodoh ka.... kalian diperalat orang ta.... tahu tidak....?"

Teriak Li Yuan-wai dalam keadaan terdesak.

"Murid pengkhianat, kami sudah melihat dengan jelas, kau tidak perlu banyak bicara lagi, ketua sudah ada perintah, aku lihat lebih baik kau menyerah saja...."

Teriak Ren Wei Shan satu di antara Delapan Besar Raja Langit yang menyerang dengan cepat.

"Babi, babi! Orang.... orang yang berkhianat adalah.... adalah Hao Shao-feng.... dia.... dia mengapa mendengar perintah wa.... wanita itu, apakah.... kalian semua sudah buta...."

Teriak Li Yuan-wai dengan nyaris menghindar sapuan melintang, contekan keatas dua tongkat.

Delapan orang yang menyerang tidak ada satu orangpun yang memperdulikan teriakannya, mereka seperti sudah 'makan batu timbangan', telah menetapkan hati diam seribu basa menyerang terus.

Orang dulu bilang sepasang tangan sulit melawan empat tangan, seorang pesilat tidak bisa menahan orang banyak.

Sekarang Li Yuan-wai telah merasakan bagaimana dikeroyok orang.

Dia sudah kehabisan tenaga, dia sudah hampir lumpuh, dia juga telah terkena sebuah pukulan tongkat, bagusnya pukulan itu ketika mengenai tubuhnya, kekuatannya tidak begitu keras, kalau tidak mungkin tulang selangkangannya sudah remuk.

Li Yuan-wai sempoyongan beberapa langkah, dia jatuh duduk ke bawah, delapan tongkat sudah menyusul datang memukul dengan cepat dari atas datang ke bawah yang bisa memukul hancur orang....

Tubuh Zhan Feng baru saja mau bergerak, Ouwyang Wu-shuang buru-buru menghadang.

Petani tua dengan cucunya sama-sama berteriak.

Mata Hao Shao-feng terkilas sinar keji dan puas.

Semua orang juga tahu Li Yuan-wai segera akan mati di bawah pukulan tongkat, kenyataannya juga Li Yuan-wai pasti sulit menghindar dari pukulan seperti guntur ini.

Tapi kejadian aneh terjadi, mendadak semua tongkat Delapan Besar Dewa Langit jatuh ke bawah, satu pun tidak ada yang luput, sepasang tangan dari delapan orang itu menutup matanya, mereka bersamaan berteriak kesakitan.

Darah keluar dari celah jari-jari mereka, dan dicelah jari setiap orang terdapat satu jarum, sebuah jarum yang sudah tertanam dalam pada bola mata mereka.

Setelah menggulingkan tubuh Li Yuan-wai, menghindar dari delapan tongkat yang jatuh ke tanah, Ouwyang Wushuang dan Hao Shao-feng yang baru tahu di dalam kipasnya Li Yuan-wai ternyata ada senjata gelap yang bisa dilepaskankan, saat akan membantu mereka sudah tidak keburu.

Ini baru benar-benar senjata gelap, senjata gelap yang tidak terpikir oleh siapapun.

Semua orang hanya mengawasi jarum di tangannya Li Yuan-wai, tapi tidak terpikir di dalam kipasnya juga bisa mengeluarkan jarum, sehingga Delapan Besar Dewa Langit satu pun tidak ada yang luput, sehingga matanya jadi buta.

0ooo(dw)ooo0 Bagaimanapun hati Li Yuan-wai masih tidak tega, jarum di dalam kipasnya bisa saja ditujukan pada tenggorokan, kepala, jantung, namun dia hanya mengarahkan pada mata mereka.

Mata walau tidak akan menghilangkan nyawa, tapi bisa membuat orang kehilangan tenaga untuk bertarung, dia ingin lolos dari kurungan, dan juga tidak ingin mengambil nyawa orang, sungguh sudah menghabiskan pemikirannya.

Memandang Li Yuan-wai yang telah pergi menjauh, Ouwyang Wu-shuang dan Hao Shao-feng mengerakan tubuhnya ingin mengejar, tapi Zhan Feng mengulurkan tangan menghalangi.

"Minggir."Ouwyang Wu-shuang marah.

"Aku.... aku ingin bicara...."

Kata Zhan Feng.

"Aku tidak membantu dia, dia sendiri yang meloloskan diri, ini tidak bisa menyalahkan aku,"

Kata Zhan Feng dengan serius. Bayangan Li Yuan-wai sudah menghilang diujung matahari senja, Ouwyang Wu-shuang tentu sajamengerti mengejar lagi juga akan sia-sia.

"Kau.... kau sungguh licik...."

Kata Ouwyang Wu-shuang dengan kesal. Zhan Feng tertawa berkata.

"Kau salah paham."

Sambil menahan amarahnya, Ouwyang Wu-shuang berkata.

"Zhan Feng, kau sebaiknya mengerti, aku tidak berharap ada lain kali...."

Tubuh Zhan Feng bergetar, sedikit kaku berkata.

"Wushuang, kebencianmu.... sungguh.... sungguh sangat mengerikan, walau.... walau Li Yuan-wai telah bersalah kepadamu, kau juga tidak seharusnya membawa orangorang Perkumpulan Bunga Ju membunuh semua orang yang mempermainkan cinta...."

"Kau bukan aku, kau tentu saja tidak bisa merasakan kebencianku, Zhan Feng tidak ada gunanya banyak bicara, lebih baik urus saja dirimu sendiri,"

Kata Ouwyang Wushuang dengan kesal, lalu melayangkan tangan memimpin Hao Shao-feng dan kawan-kawannya mengikuti arah perginya Li Yuan-wai.

Malam telah tiba.

Di malam itu, baju putih Zhan Feng bergerak-gerak meski tidak ada angin.

Lama baru dia berhenti, dia bergumam sendiri.

"Oh langit! Kau beritahu aku, beritahu aku, aku harus bagaimana? Harus bagaimana...."

Dia mengangkat kepalanya, air matanya sudah membasahi bajunya.

BAB 24 Tiga pedang serangkai Seorang wanita, apalagi gadis yang suci, jika telah menemukan prang yang dicintainya adalah seorang pemerkosa, seorang Cai Hua Zei, lelaki yang tidak punya hati yang tukang 'pukul lalu lari', kesedihannya, sakit hatinya, sulit bisa dibayangkan orang.

Xu Jia-rong bersembunyi dipenginapan ini, dia menutup pintu dan menangis selama empat jam.

Dia cantik, dia dingin, memberi kesan bukan seperti orang yang mudah memberikan perasaannya pada orang.

Namun mengapa dia bisa jatuh cinta pada Li Yuan-wai?

Benarkah wanita lebih dingin, tapi hatinya biasa lebih panas?

Benarkah wanita semacam ini, sekali mencintai seseorang, tidak bisa mengendalikan diri?

0ooo(dw)ooo0 Dia telah mengelap air matanya.

Dia sedang menulis huruf di atas dinding dengan pisau .

"Li Yuan-wai, aku benci kau."

Kebenciannya begitu dalam, sampai dia mengukir hurufhuruf ini didinding.

Kebenciannya yang begitu dalam, tentu juga bisa dibayangkan betapa dalam cintanya.

Cinta dan benci memang saling bertentangan, bukankah begitu?

Dengan diam, dia fokus menulis sedikit demi sedikit dindingnya.

Fokusnya seperti ingin menghapus bayangannya Li Yuan-wai sedikit demi sedikit di dalam hatinya.

Tapi, mungkinkah?

Mencintai seseorang terkadang tidak perlu ada alasan, malah sekali pandang bisa langsung jatuh cinta.

Tapi ingin melupakan seorang yang dicintai, tidak bisa mudah melakukannya?

Dia juga merasa ini tidak mungkin, tapi dia mana bisa meninggalkan huruf-huruf itu tertinggal dinding?

Bagaimanapun tempat ini bukan di rumahnya sendiri, juga bukan dinding kamarnya sendiri.

0ooo(dw)ooo0 Dia telah menangis dari siang sampai sore.

Jika kau pernah menangis, kau pasti tahu seseorang setelah nangis sepuas puasnya, tubuh akan terasa lelah sekali.

Sehingga karena lelahnya sampai tidak bisa bergerak.

Malam, malam ini tidak ada bulan.

Malam yang tidak ada bulan selalu adalah waktu paling baik untuk berbuat jahat.

Betul saja sudah datang, orang yang berbuat jahat sudah datang.

Xu Jia-rong sudah tertidur lelap, tidurnya mungkin sampai ada gunturpun tidak akan bisa membangunkan.

Sebilah pisau tipis yang bersinar, dengan tidak bersuara telah membuka palang jendelanya.

Orang ini tanpa suara sudah masuk ke dalam.

Dia mendorong jendela dengan perlahan, dan hanya cukup menutup saja, pencuri yang kelas tinggi selalu menyiapkan jalan untuk mundur dulu, orang ini sungguh ahli dalam hal ini.

Dengan pelan-pelan, dia telah mendekat keranjang, membuka kelambu, dua bola matanya hampir saja keluar, menatap pada orang yang berada di atas ranjang.

Di atas ranjang, rambut panjang Xu Jia-rong terurai, wajah cantiknya yang tipis, pelupuk matanya tertutup rapat, disudut matanya masih tertinggal sebutir air mata.

Mungkin di dalam mimpinya terpikir apa yang teringat kejadian siang harinya.

Dia tidur tidak melepas bajunya, satu sudut selimut menutup dirinya, sepasang lengan yang putih bagaikan salju terjulur keluar, posisi tidur yang seperti bunga teratai tidak saja membuat hati orang berdebar-debar, juga membuat orang kasihan.

Bibirnya yang mulus itu digigit dengan perlahan oleh giginya yang putih laksana kerang laut, apakah kebenciannya pada Li Yuan-wai sudah sampai sedalam itu?

Bencinya sampai dia menggigit gigi?

0ooo(dw)ooo0 Seorang pencuri telah masuk ke rumah, dia tidak membuka peti tidak membalikkan lemari, seharusnya tidak dianggap sebagai pencuri.

Memang, pencuri pun dibagi dalam beberapa macam, ada bangsat gunung, pencuri kuda, ada perampok.

Seperti orang ini tentu saja adalah Cai Hua Zei.

Wajahnya yang agak bulat itu, sudah jadi merah sekali, terangsang oleh pemandangan wanita cantik di atas ranjang.

Di dalam matanya penuh dengan nafsu birahi, nafasnya sudah menjadi cepat, dan juga tubuhnya sudah ada perubahan, sama kencangnya membuat dia sulit menahan.

Dari dalam dadanya mengeluarkan sapu tangan pembius, dia ingin menutup wajahnya Xu Jia-rong dengan sapu tangan itu, setelah beberapa kali ragu, akhirnya dia kembali menyimpan kembali, tapi tiba-tiba dia menotok beberapa jalan darahnya.

Xu Jia-rong bereaksi dan segera bangun, disaat hampir tertotok jalan darahnya.

Namun, sudah terlambat.

Dia membuka mata dan ketakutan, dalam kegelapan malam hanya terlihat orang ini tubuhnya agak gemuk, dia ingin berteriak, dia ingin bicara, dia ingin membunuh orang dihadapannya, namun dia bergerak pun tidak bisa, dia hanya dapat membuka mulut, tapi sedikit suara pun tidak bisa keluar.

Sebuah gerakan reflek, Xu Jia-rong sudah mengerti apa yang terjadi, dia bertemu dengan siapa.

Xu Jia-rong menutup mata, bersamaan hatinya sudah hancur seribu keping, sepuluh ribu keping.

Di dalam kegelapan malam walau dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang ini, tapi dia telah terpikir siapa dia ini.

"Li Yuan-wai, Li Yuan-wai, aku pasti membunuhmu, aku pasti akan membunuhmu"

Dia terus-terusan berteriak di dalam hati.

Dia menutup matanya rapat rapat, sampai membuka mata juga tidak mau.

Dia takut membuka matanya, karena dia sungguh tidak ingin melihat sekali lagi wajah binatang ini.

Dia tidak berani membuka mata, karena dalam kegelapan dia sudah merasakan orang ini sudah membuka semua bajunya.

Jika dia membuka mata, dia bisa berbuat apa?

Apa dia ingin melihat wajah Li Yuan-wai yang menjijikan?

Atau bisa merubah segalanya?

0ooo(dw)ooo0 Bajunya satu persatu sudah dibuka orang, tubuhnya satu persatu cun terlihat jelas, walau dalam kegelapan malam, tetap saja orang dapat merasakan itu adalah kulit yang putih bersih, licin laksana minyak membeku.

Xu Jia-rong gemetar seperti kedinginan dia ingin sekali mempunyai akal agar bisa segera memotong tangan kotor yang meraba-raba tubuhnya itu.

Namun, kecuali air matanya membasahi bantal, hati menangis darah, siapa lagi yang bisa menolong dia?

Sebuah nafas terengah-engah berhenti di atas wajahnya, bau mulutnya hampir saja membuat dia muntah-muntah, semua ini dia masih bisa tahan, yang tidak bisa tahan adalah tubuh yang semakin menekan dirinya.

....

Siapa yang dapat menolong aku?

Siapa yang dapat menolong aku?

....

Ohh langit!

Aku Xu Jia-rong sia-sia mempunyai kepandaian tinggi, kenapa sampai kesuciannya juga tidak bisa melindunginya?

Dalam hati dia berteriak-teriak, dia juga putus asanya siap menggigit lidah membunuh diri.

Terdengar satu suara nyaring, Xu Jia-rong tidak keburu menggigit lidah untuk bunuh diri, dia sudah mendapat sebuah tamparan, bersamaan itu dagu dia ditahan orang.

Penghinaan yang tidak ada habisnya, malu yang tidak ada habisnya, juga kemarahan dan kesedihan yang tidak ada habisnya.

Dia membuka matanya, dia dingin melihat wajah Li Yuan-wai.

Ditengah malam Xu Jia-rong ditelanjangi orang, memang membuat dia ketakutan.

Namun ketakutannya dia sekarang makin menjadi-jadi, sehingga sudah sampai keadaan yang sulit digambarkan.

Karena dia telah melihat dengan jelas orang ini ternyata bukan Li Yuan-wai.

Walau orang ini sama berwajah bulat, walau orang ini sama bertubuh yang agak gemuk.

Sekarang dia baru mengerti didunia ini bukan hanya Li Yuan-wai yang mempunyai wajah bulat, dia juga baru mengerti orang yang mempunyai tubuh agak gemuk belum tentu pasti Li Yuan-wai.

Tentu saja setelah melihat wajah orang ini dengan jelas, dia malah berharap dia adalah Li Yuan-wai.

Bagaimana pun Li Yuan-wai pernah dia cintai, bagaimana pun dia masih lebih bisa menerima Li Yuanwai.

Orang yang mempunyai wajah bulat yang sama dengan Li Yuan-wai dengan kejam telah membuka mulut.

"Ingin mati!? Sialan, tidak segampang itu!? Aku sudah banyak melihat wanita seperti ini, kau baik-baik saja, jangan purapura sebagai wanita yang suci."

Seorang wanita lebih cantik lagi, lebih enak dipandang lagi, jika dagunya ditekan orang, mana bisa menjadi cantik lagi?

Mana bisa enak dipandang lagi?

Bukan saja tidak enak dipandang, dan juga pasti sangat jelek sekali, masalah ini tidak perlu dibayangkan lagi, sama seperti satu tambah satu adalah dua.

Disaat begini, laki-laki siapa pun tidak ingin melihat wajah yang begini, karena wajah begini bukan saja bisa menakutkan orang jadi "lemas', lebih-lebih bisa melemaskan 'benda' apa pun.

Orang ini jelas sudah mempunyai sesuatu yang aneh, dia melotot menatap Xu Jia-rong berkata.

"Aku sekarang lepaskan dagumu, jika kau tidak baik-baik diam, jangan salahkan aku kejam."

Dia masih bisa mengatakan tidak kejam?

Dia sekarang berada di atas tubuh orang!

Ketakutannya Xu Jia-rong telah hilang, dilanjutkan dia telah menjadi tenang.

Bukan saja tenang, malah tenangnya menakutkan orang.

Dia dengan dingin menganggukkan kepala.

"Bagus, bagus, ini baru wanita yang tahu situasi, kau harus tahu, aku tidak perduli kau mau atau tidak aku tetap akan melakukannya, dengan begitu mengapa kau tidak pasrah saja!"

Sambil melepaskan dagunya Xu Jia-rong, sambil tertawa kotor dia berkata.

"He he.... apa lagi, apa lagi hal yang beginian hanya seorang diri yang senang sungguh tidak berarti, bagaimana? Bagaimana kalau aku lepaskan jalan darahmu? Asal baik-baik melayani, aku jamin kau nanti ada kegembiraan yang tidak terduga, hmmm?"

Xu Jia-rong sudah tertawa, seperti intan bersinar indah di dalam kegelapan malam hari, dia kembali menganggukkan kepala.

Kapan orang ini pernah melihat tawa secantik ini?

Bagaimana bisa dia terpikirkan, tawa semacam ini bisa muncul diwajah wanita yang hampir saja bunuh diri?

Ada keterkejutan dan gembira, orang ini seperti mendapat benda pusaka sambil melepas totokannya Xu Jiarong, sambil berkata.

"Bagus, bagus, terlalu bagus, sejak mulai kau masuk kepenginapan, aku sudah mengagumi kau, tidak diduga, tidak diduga kau begitu baik, sialan, jika tahu dari tadi, he he.... aku juga tidak perlu repot repot begini.... he he...."

Jalan darahnya memang sudah terbuka, namun orang ini meninggalkan beberapa jalan darah yang masih tertotok, yang dilepas hanya jalan darah bisu dan sepasang kaki Xu Jia-rong.

Rupanya dia masih sedikit berjaga-jaga?

Dia telah melihat Xu Jia-rong membawa pedang!

"Wanita yang membawa pedang seperti bunga yang berduri, he he....

gadis besar, kau maafkanlah, bagusnya hal begini tidak banyak memerlukan tangan, kau tenang saja, setelah selesai nanti, aku pasti, aku pasti akan melepasnya, he....

he....

he"

Kata dia dengan wajah yang mengeluarkan liur. Setelah Xu Jia-rong mendengarnya, dengan tenang berkata.

"Terserah kau saja!"

Dia menunggu, bersamaan dia juga menahan mulut baunya dia tidak berhenti-hentinya mencium-cium di atas wajah Xi Jia-rong.

Akhirnya dia sudah terangsang betul, sudah siap kembali menekannya.

Orang ini tahu ini adalah saat yang tegang dan merangsang, tapi dia mana tahu ini adalah saat yang bisa mencabut nyawa seseorang?

0ooo(dw)ooo0 Sepasang kaki wanita memang bisa membuat orang nikmat, tapi juga bisa membuat orang memuntahkan darah.

Orang ini sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya tahu dia baru saja ingin tengkurap, kedua belah sisi pinggangnya merasa sangat sakit sekali, dadanya merasa manis, dia telah ditendang jatuh ke bawah ranjang, darah telah keluar dari mulutnya.

Sepasang kakinya Xu Jia-rong, benar juga adalah sepasang kaki yang bisa mencabut nyawa orang.

Dia telah bangkit duduk, terhalang dengan kelambu ranjang, dia ragu-ragu apakah mau turun ranjang atau tidak.

Karena di atas meja ada lampu, sekali dia turun ranjang bukankah tubuhnya akan tampak nyata?

Orang ini tidak menunggu Xu Jia-rong berpikir lebih lama, dengan telanjang seperti seekor binatang yang terluka, sambil menggulingkan tubuh dia merangkak kemudian meloncat keluar dari jendela.

Bagaimanapun dia tahu menunggu sepasang kaki itu menginjak ke tanah, dirinya mungkin akan mati oleh sepasang kaki wanita ini.

Xu Jia-rong menatap bayangan orang yang menghilang diluar jendela seperti terkena guna-guna.

Dia sungguh tidak percaya pandangan matanya, karena dia telah melihat satu hal yang sulit dipikirkan dengan pikiran normal.

"Kenapa bisa? Kenapa bisa ada hal demikian...."

Dia bergumam sendiri.

Coba terka apa yang telah dilihatnya?

ketika orang itu membalikkan tubuh melarikan diri, justru dia telah melihat di atas pantat orang itu ada bekas luka yang menonjol sebesar telapak tangan, seperti bekas luka tapi bukan.

Tidak aneh dia jadi tertegun, juga tidak aneh dia bisa bergumam.

Tiba-tiba dia mengerti, mengerti sudah apa sebenarnya yang terjadi antara Li Yuan-wai dan Ouwyang Wu-shuang.

Wajah bulat yang sama, tubuh yang sama gemuk, walau dia tidak melihat ciri yang ada dipantat Li Yuan-wai, benar tidak sama dengan yang dipunyai orang itu, tapi dia tahu Ouwyang Wu-shuang pasti telah salah mengenal orang, sama seperti dirinya sendiri.

Ini sungguh satu hal yang kacau, sangat lucu, sangat tidak masuk akal.

Jika Xu Jia-rong tidak melihat dengan mata kepala sendiri, sampai mati pun dia juga akan mengira Li Yuanwai adalah seorang jahanam.

Sambil mengerakan Qi nya, dia berhasil melepaskan totokan jalan darahnya, dia memikirkan banyak hal.

....

dia bersyukur dirinya bisa mempertahankan kesuciannya.

....

dia juga bersyukur telah memecahkan salah-paham yang besar ini.

....

bersamaan itu, dia sudah mulai merindukan senyum Li Yuan-wai, perkataannya yang lucu, semua tentang Li Yuan-wai....

semuanya....

yang hebat adalah dia malah sedikit merasa berterima kasih pada binatang itu, walau dia tahu, jika dia bertemu untuk kedua kalinya dengan orang itu, dia pasti akan membunuhnya.

0ooo(dw)ooo0 Sinar lampu yang kekuning-kuningan, menyinari dinding yang kekuning-kuningan.

Xiao Dai baru saja akan tidur.

Dari pohon Wu Dong diluar jendela berbunyi ditiup angin, satu suara baju ditiup angin berhenti diluar kamarnya Xiao Dai.

Xiao Dai tidak lagi mengantuk, dengan segera dia berreaksi, menyentik jari memadamkan lampu minyak, matanya Xiao Dai bersinar dikegelapan, dengan diam diam dia mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh.

"Tangan Cepat Xiao Dai, kau tidak perlu bersembunyi lagi, keluarlah, kami menunggumu diluar...."

Xiao Dai melangkah kesisi jendela, dari celah jendela dia melihat keluar, di dalam kegelapan malam ada banyak bayangan orang memenuhi seluruh pekarangan penginapan yang kecil ini.

Ada sedikit perasaan terpaksa, juga ada perasaan tidak senang diganggu waktu tidurnya, Xiao Dai telah membuka pintu.

Menutup rapat sepasang bibirnya, Xiao Dai melotot pada mereka, sedikit pun tidak menunjukan perasaan.

Diwaktu begini, dalam situasi begini, Xiao Dai tentu saja tahu orang yang datang ini bukan untuk bertamu.

Dia tidak ingin banyak berpikir, bagaimana pun dia tahu didunia ini jika ada hal yang seharusnya datang, itu pasti akan datang, memikirkan yang bukan keinginannya tentu akan sia-sia.

Makanya dia menunggu, menunggu sekelompok orang ini menjelaskan maksud kedatangan mereka.

"Betulkah kau adalah Tangan Cepat Xiao Dai, kau belum mati? Bagus sekali."

Bagus sekali?

Itu baru aneh!

Karena siapa pun bisa mendengar orang yang berbicara ini, jelas menginginkan sekali Xiao Dai cepat mati.

Sorot mata Xiao Dai yang dingin, seperti dua bilah pedang tajam menatap pada orang yang bicara, tapi dia tetap tidak bicara.

Dia tidak tahu dirinya mati atau tidak, ada hubungan apa dengan dia, dia juga tidak tahu mau apa orang-orang bisa berkumpul bersama.

Orang yang bicara adalah seorang pria setengah baya, berdandan seorang pesilat, jelas dia tidak enak dipelototi oleh Xiao Dai, tidak terasa dia mundur setengah langkah, setelah terpikir sesuatu, dia menjadi berani lagi, dia melangkah maju lagi satu langkah.

"Kau.... kau jangan menakut-nakuti orang, kami di sini tidak ada orang yang takut padamu...."

Xiao Dai melihat pada orang-orang dipekarangan, lalu melihat bayangan orang diatap rumah, sedikitpun dia tidak gentar, nada bicaranya dingin menakutkan orang, katanya.

"Aku tahu kalian tidak takut padaku, bicaralah! tengah malam kalian tidak pergi tidur malah berlari kesini tentu bukan hanya untuk bicara yang tidak ada gunanya bukan?"

Perkataannya bukan saja dingin, malah ada nada mengejek. Pria setengah baya berteriak.

"Tangan Cepat Xiao Dai, kau jangan seenaknya saja bicara, kau lebih baik lihat denganjelas...."

Tidak menunggu lawan habis bicara, Xiao Dai tertawa dingin berkata.

"Tentu saja aku melihat denganjelas, melihat tampang kalian tentu bukan datang untuk melamar menjodohkan adik perempuanmu betul tidak?"

Orang ini marah sampai gemetar, marah sampai tidak bisa bicara, mulutnya buka tutup beberapa kali hanya bisa bicara.

"Kau.... kau...."

Ternyata dia tidak menyelidik dulu dengan jelas, langsung berkata begitu saja dengan Tangan Cepat Xiao Dai, padahal seharusnya sebelumnya mempersiapkan diri dulu, jika tidak perutnya bisa pecah karena marah, sekarang dia hanya bisa menyalahkan dirinya yang sial.

Xiao Dai melirik pada lawannya, tampangnya santai saja.

"Sianjing, sialan, kau ini apa, Tangan Cepat Xiao Dai kau kira dirimu siapa? Sialan, aku Rase Terbang saat berkelana di dunia persilatan, entah kau masih bersembunyi di goa kura-kura mana, kau.... kau blasteran yang masih bau kencur ini...."

Orang ini sudah gila.

Jika tidak mengapa dia berani memaki seperti ini?!

Yang aneh adalah Xiao Dai malah dapat menahan makian lawannya, tetap dengan sudut matanya dia memandang lawannya, wajahnya sangat dingin, siapa pun tidak bisa melihat dia sedang berpikir apa?

Setelah beberapa saat, Rase Terbang terdiam dengan wajah yang merah sampai ketelinga.

Barulah Xiao Dai menggelengkan kepala.

"Rase Terbang, apa kau ini blasteran yang keluar dari sarang anjing, sedikit sopanpun tidak ada? Pengalamanmu apakah didapat dari anjing membuka gordin? Mengapa kata-kata yang keluar dari mulutmu penuh dengan kotoran? Apa tidak takut merendahkan kedudukanmu sebagai ketua pelatih seluruh tujuh provinsi di Jiang Nan?"

Rase Terbang baru saja akan membalas, di dalam kegelapan malam dari gerombolan orang telah keluar tiga orang Dao Zhang, satu di antaranya yang berwajah kurus bersih berkata.

"Sahabat Huang, buat apa kau meladeni orang seperti dia?"

Rase Terbang melihat tiga orang yang tampil keluar, jadi merasa disalahkan berkata.

"Dao zhang, kau sudah melihatnya, orang.... ini...."

Dengan mengangkat tangan menghentikan perkataan yang ingin dikatakan Rase Terbang, Dao Zhang yang berbrewok panjang berkata.

"Aku mengerti."

Lalu menatap Tangan Cepat Xiao Dai berkata.

"sahabat kecil sungguh mempunyai mulut yang tajam."

Sekali melihat tiga orang berbaju Dao ini, di dalam hati Xiao Dai sudah ada firasat yang tidak baik, tapi dia tidak mengalah berkata.

"Tidak juga, aku memang biasa begini, apalagi disaat dalam posisi berhadapan, Dao Zhang apakah Wu Dang...."

"Tidak salah, aku adalah Wu Dang Yu Chen, dua orang ini adalah adik seperguruanku...."

"Aku tahu, bukankah Yu Xiao, Yu Yun?"

Kata Xiao Dai dengan tawar, di dalam hatinya terasa pahit sekali.

Tiga Pedang Serangkai dari Wu Dang semuanya sudah tiba, bagaimana Xiao Dai bisa tidak terkejut?

"Tidak berani, sahabat kecil sungguh bermata tajam,"

Kata Yu Xiao, Yu Yun berdua.

'Mata tajam?

Kentut, kalian tiga orang hidung kerbau, Dao tua datang dengan wajah tegang, sama sekali tidak memandang orang, orang idiot juga tahu siapa kalian ini.' Xiao Dai berkata di dalam hati, tapi dimulut tidak berkata.

"Apa sahabat kecil adalah Tangan Cepat Xiao Dai?"

Yu Chen Bertanya. Ingin menghujat 'omong kosong', tapi bagaimanapun orang sudah lama ternama didunia persilatan, Xiao Dai menganggukkan kepala berkata.

"Tidak salah."

"Apa kau tidak merasa telah bertindak keterlaluan, selalu tidak memberi ampun?"

Kata Yu Chen sudah emosi.

"Aku tidak merasa."

Tangan Xiao Dai sudah ditopangkan didada, ini adalah posisi dia sebelum menyerang.

"Bagus, bagus, bagus, sahabat kecil memang orangnya terus terang, kelihatannya kematiannya Tangan Cepat Xiao Dai walau adalah satu hal yang disesalkan oleh dunia persilatan, tapi hidup Tangan Cepat Xiao Dai malah adalah mala petaka bagi dunia persilatan, hari ini kami sengaja datang meminta tanggung jawab atas nyawanya Pedang Qing Yun Xiao Qing, kau mulailah...."

Yu Cheng berkata tiga kali bagus, pedangnya sudah dihunus.

Xiao Dai merasa curiga, baru saja akan bertanya lagi, waktunya sudah tidak keburu.

Satu golok Kepala Setan dengan membawa angin, telah datang menyerang, orang yang menyerang adalah Rase Terbang Huang Shi Gong.

0ooo(dw)ooo0 Ini adalah sebuah pertarungan yang tidak dimengerti.

Sepertinya semua hal yang tidak dimengerti didunia, Xiao Dai harus terlibat di dalamnya, ada yang tidak mengerti bisa bertemu dengannya, ada yang tidak mengerti dia menemukan.

Xiao Dai sudah terbiasa, dia juga tidak terburu-buru menjelaskannya, terhadap golok Kepala Setan yang mendadak menyerang, yang paling baik dia lakukan ialah membalas dengan telapak.

Siapa pun tidak terpikir tangannya Xiao Dai bisa secepat itu, tidak ada orang yang terpikir untuk menolong Rase Terbang Huang Shi Gong, juga tidak ada orang yang dapat menolong dia.

Sekejap disaat bentrok, Xiao Dai memiringkan tubuh telah menghindar dari golok yang memotong dari atas ke bawah, dan Rase Terbang benar benar seperti rase yang terbang, mendadak terlempar cukup tinggi, dan darah telah menyembur dari tubuhnya....

"Telapak Pisau Sekali Keluar, Nyawa Tidak Kembali", orang-orang dilapangan telah terpikir telapak pisaunya Tangan Cepat Xiao Dai, mereka hanya berdoa berharap itu hanyalah kabar saja. Yang disayangkan adalah, kabar itu kadang-kadang adalah kenyataan, begitu tubuhnya Rase Terbang turun, setiap orang yang hidup bisa melihatnya dia telah menjadi orang mati. Wajah setiap orang tampak ketakutan. Mereka ketakutan mengapa tangannya Xiao Dai dalam waktu yang sangat singkat bisa membuat orang yang hidup berubah jadi orang mati? Alasannya mereka marah dan sedih ialah karena orang yang mati itu adalah temannya mereka....

"Sahabt kecil, sungguh kejam hatimu...."

Kata ujung pedangnya Yu Chen menunjuk pada Xiao Dai dengan marah dan sedih.

Mungkin dia menjaga harga dirinya, mungkin juga ini adalah gayanya aliran ternama, pedangnya tidak didorong ke depan.

Xiao Dai malah mengambil kesempatan yang 'kasihan' ini, dia sudah menerjang masuk kepekarangan, sambil berkata.

"Jangan sebut aku sahabat, karena kalian semua adalah segerombolan bangsat, lebih-lebih Dao Shi yang ingin mengantar aku keakhirat."

Serangannya Xiao Dai menggila dan tidak memberi ampun, dia seperti harimau masuk kegerombolan kambing, melihat orang langsung memotongnya.

Karena dia tahu, secepat mungkin harus melemahkan kekuatan lawan.

Karena dia tahu walau dirinya bersujud minta ampun, orang tetap menginginkan nyawanya.

Di dalam gerombolan orang seperti ada bom meletus, teriakan, jeritan, ditambah serpihan daging dan potongan kaki beterbangan kesegala penjuru, membuat pekarangan penginapan yang kecil ini, seperti tempat pemotongan hewan....

Membunuh telah membuat matanya jadi merah, Xiao Dai menerjang kekiri menyerang kekanan, bertemu orang mengeluarkan serangan, melihat orang langsung memotong, ini adalah keunggulannya, tidak seperti lawannya selain harus menangkis serangan musuh, juga harus menghindar, takut melukai sesama teman.

Jadi dia tetap tidak terluka, menyerang terus tanpa adayang perlawanan.

0ooo(dw)ooo0 Dilapangan Xiao Dai seperti seekor harimau gila.

Diluar lapangan Yu Chen bertiga seperti sapi jantan yang mencak-mencak marah.

Sebelumnya bagaimana pun tidak terpikir keadaannya bisa begini kacau.

Lebih lebih tidak terpikir Tangan Cepat Xiao Dai sekali bilang menyerang langsung menyerang, sehingga sampai ketaraf tidak kenal sanak famili.

Semuanya orang memang begitu, hanya bisa mencari alasan untuk dirinya sendiri selamanya tidak memikirkan orang lain, orang-orang ini datang, semuanya menghendaki nyawanya Tangan Cepat Xiao Dai, ini bagaimana bisa menginginkan Xiao Dai mengenal famili?

Juga bagaimana bisa menginginkan dia mengulurkan lehernya menerima dibunuh?

"Kalian, kalian berpencar, berpencar...."

Ada orang yang berteriak.

Mengapa sekarang baru terpikir?

hmm, masih belum terlambat, hanya di tanah telah ada lebih tujuh, delapan mayat, di jalanan pekarangan, dikebun bunga ada lima, enam orang sedang kesakitan.

Tubuh Xiao Dai bermandikan darah, rambutnya terurai, dia seperti sebuah tombak berdiri dipekarangan.

Dia sedikit pun tidak berkedip menatap Tiga Pedang Serangkai Wu Dang, selangkah demi selangkah mendesak maju.

Dia tahu sekarang pertarungan yang sebenarnya akan dimulai, satu pertarungan yang belum tahu siapa yang akan mati.

Memandang Xiao Dai yang dingin, dahsyat, dan sedikit keji, di matanya Wu Dang Tiga Pedang Serangkai terkilas semacam rasa sedih, sakit, tidak dapat berbuat apa-apa, dan sedikit kegembiraan.

Mereka sedang berpikir orang dihadapan ini jika tidak dibunuh, di kemudian hari tidak tahu akan menimbulkan seberapa besar lagi banjir darah.

Mereka sedang berpikir harus dengan cara apa yang bisa mengalahkan musuhnya, ternama, tapi tidak dikatakan orang menangnya tidak jantan.

Dilapangan suasana jadi begitu hening Heningnya seperti berada di dalam kuburan.

Segera tidak ada orang yang menjerit lagi Apakah mereka telah lupa akan kesakitannya?

Udara yang membeku, menyesakan memenuhi sekeliling tempat, disaat ini kecuali suara debarnya jantung, sepertinya nafas orang orang pun telah berhenti.

Hening seperti mati, seperti mati heningnya.

Setiap orang juga tahu keheningan saat ini adalah tanda awal kematian.

0ooo(dw)ooo0 Setiap orang yang berlatih silat semuanya berharap bisa menemukan seorang lawan yang benar-benar seimbang.

Apa lagi pesilat tinggi yang namanya lebih besar, namanya lebih akbar.

Tangan Cepat Xiao Dai adalah pesilat tinggi, Tiga Pedang Serangkai Wu Dang namanya juga sudah ternama lama sekali, sekarang mereka telah menemukan lawan yang seimbang, semacam lawan yang tidak sayang pada nyawanya.

Ini adalah perasaan langsung, dan juga perasaan keenam yang aneh, hanya setelah mendapatkannya baru bisa merasakannya.

Bagaimana pun pesilat yang menemukan lawan yang hebat, sama seperti orang biasa menemukan kawan yang bertujuan sama, sehingga dalam keadaan tidak tahu siapa yang akan mati, juga sedikit banyak ada perasaan gembira dan semangat yang sulit dijelaskan.

Pedang telah dihunus, hawa pembunuhan telah bergerak.

Tiga lawan satu, tidak seimbang, bisa menang juga bukan satu kebanggaan Xiao Dai seperti dipaku ke dalam tanah, dia tidak melihat Tiga Pedang Serangkai Wu Dang yang bergerak tidak beraturan.

Benar-benar tidak melihatnya, karena dia telah memejamkan matanya.

Benarkah dia tidak melihatnya?

Tidak, dia sedang melihat dengan 'hatinya', memakai setiap syaraf di seluruh tubuh melihatnya, dia tahu dia tidak bisa dibingungkan oleh bayangan tubuh dan bayangan pedang musuh, dia juga tahu disaat ini hanya menggunakan 'hati', menggunakan setiap inci kulit ditubuh melihatnya, merasakannya, baru yang paling cocok, yang paling tepat.

Tiga pedang ada yang bergerak duluan, atau yang bergerak belakang datang duluan, ini semua pasti tidak bisa diikuti oleh mata, hanya dengan kulit baru bisa merasakannya, dengan hati baru merasakannya.

Bayangan yang bergerak cepatnya sudah tidak bisa membedakan lawan atau kawan.

Xiao Dai hanya diam, dengan diam, seperti patung Budha yang menjelma, sudah menyatu dengan langit bumi dan segala benda yang ada, menunggu satu tanda tanya yang akan datang, yang belum diketahui....

0ooo(dw)ooo0 Ada orang mengatakan ada semacam taraf dalam ilmu silat, yaitu setiap inci adalah kelemahan, juga setiap inci bukan kelemahan.

Tiga Pedang Serangkai Wu Dang sudah merasakannya, juga sudah menyadarinya.

Sekarang Xiao Dai memberi kesan pada mereka, melihat keadaan Xiao Dai seluruh tubuhnya adalah kelemahan, namun setelah diteliti, mereka tidak tahu harus menyerang dari mana, setiap yang dianggap kelemahannya sepertinya berubah menjadi tempat yang terjaga ketat paling sulit diserang.

Waktu di antara mengalir dan terhenti diam-diam berlalu, kesabaran orang juga sudah sampai titik yang tidak bisa ditahan lagi....

dari pihak mana pun.

'Anak panah di atas busur, mau tidak mau harus dilepas.' Sudah sampai saatnya melepas anak panah, sekarang....

Tiga pedang seperti hatinya sudah bersatu, bersamasama dilayangkan, hanya saja siapa pun tidak terpikir kenapa bisa begitu lambat, lambatnya sampai seperti berlatih jurus, lambatnya sampai seperti satu cun demi satu cun didorongnya.

Penonton tidak mengerti.

Perasaannya Xiao Dai malah lain, seperti ada satu hawa dingin timbul dari punggungnya.

Gerak lambat dilawan lambat, diam dilawan diam.

Tapi gerakan lambatnya penuh dengan hawa pembunuhan, sedang diam malah penuh bahaya.

Sungguh hebat Tiga Pedang Serangkai Wu Dang, mereka menyadari meski gerakan pedangnya lebih cepat lagi, tetap tidak akan bisa melebihi kecepatan telapak pisaunya Xiao Dai.

Sehingga mereka memilih melakukan serangan pedang dengan gerak lamban.

Sekarang mata Xiao Dai sudah dibuka, dengan tajam dia menatap tiga pedang yang ditusukan dengan gerakan perlahan pada dirinya.

Dia tahu tiga pedang ini walau bergerak perlahan, tapi, jika dirinya sedikit teledor, dan tidak bisa menahan diri, tiga pedang yang perlahan ini bisa menjadi pedang yang sangat cepat, dan juga kecepatannya tidak bisa dibayangkan.

Keringat dingin Xiao Dai telah bercucuran, matanya sudah menyipit sampai paling kecil.

Saat ini, tiga pedang ini seperti tiga ular yang paling beracun, dengan perlahan mendekat pada dirinya, dia sudah bisa merasakan lidah ular itu sudah menjilat tubuhnya.

Dia bisa menghindarkan pedang pertama, kemudian tangannya menangkis sebuah pedang lainnya, tapi, dia tidak yakin bisa menghindar pedang ketiga itu.

Bukan saja dia tidak bisa menghindar pedang ketiga itu, sepanjang pengetahuannya didunia ini mungkin sudah tidak ada orang lagi yang mampu menghindar dari pedang ketiga ini, bagaimana pun lawannya adalah Tiga Pedang Serangkai Wu Dang, juga yang fatal adalah Tiga Pedang Serangkai saking dekatnya sampai ingin merubah posisi, merubah diri menghindar juga dirinya sudah tidak bisa.

Tiga Pedang Serangkai Wu Dang sudah menganggap Xiao Dai pasti terluka atau mati....

Orang yang menonton juga mengira Xiao Dai segera akan mati di bawah pedang....

Sehingga Xiao Dai sendiri pun tidak tahu apakah dirinya masih bisa hidup atau tidak....

Begitu pedang sampai tinggal satu Che lagi menyentuh Xiao Dai barulah ada perubahan.

Mereka tidak lagi bergerak perlahan, tapi berubah cepatnya mengejutkan orang.

Seperti tiga sinar pelangi, seperti juga tiga tali perengut nyawa, pedang dengan cepatnya sudah ditusukan....

Mata Xiao Dai segera bersinar terang, telapak pisaunya cepat seperti kilat dilangit barat telah menangkis pedang panjangnya Yu Chen dari sisi kanan, membalikkan tubuh juga menghindarkan tusukan panjang Yu Xiao dari arah sisi kiri....

Seperti yang dia pikirkan, dia tidak dapat menghindar serangan Yu Yun dari belakang.

Mata pedang telah masuk ke dalam daging, ada perasaan yang aneh dan dingin, tapi begitu mata pedang baru saja masuk sedalam tiga hun, otot punggung Xiao Dai telah mengencang, mengunci dengan kuat ujung pedang itu, menguncinya sampai Yu Yun ingin mencabutnya juga tidak dapat.

Yu Chen, Yu Xiao belum keburu menyerang kedua kalinya, keadaannya sudah berubah.

Tubuhnya Yu Yun seperti kereta angin berputar tidak hentinya, dengan menjerit tubuhnya berputar terbang keluar, darah panas telah menyembur, telapak pisau nya Xiao Dai sudah tiga kali melewati pundak, pinggang dan bahunya dia.

Kemudian dia membalikkan tubuh, menahan kedua kali serangan dua pedang lainnya, dia menarik dada melengkungkan perut, sepasang tangannya menjepit, pedang panjang Yu Xiao sudah dijepit kencang, walau dada Xiao Dai masih terpotong oleh mata pedangnya Yu Chen, tapi terpotong dangkal.

Darah telah keluar, disaat dada Xiao Dai mengeluarkan darah, tulang kaki kanannya Yu Xiao sudah ditedang patah, dia melepaskan diri mundur kebelakang....

Dia ketakutan melihat pada Xiao Dai, bagaimanapun dia seperti tidak percaya.

Dari wajah Xiao Dai yang pucat, tampak tawa pahit yang sulit digambarkan.

Betul, seluruh perubahan ini hanyalah sekejap mata, 'mengatakannya lambat, padahal waktunya cepat'.

0ooo(dw)ooo0 Dua jurus setengah, hanya dua jurus setengah.

Karena jurus ketiga Yu Chen hanya setengah jurus.

"Yu Yun.... bagaimana lukanya adik seperguruan Yu Yun....?"

Yu Chen dengan suara serak bertanya pada Xiao Dai.

"Ti.... tidak akan mati...."

Jawab Xiao Dai. Seperti terlepas beban berat, pedang di tangan Yu Chen sudah diturunkan.

"Apa.... apa masih mau bertarung?"

Tanya Xiao Dai dengan serak. Yu Chen mengeluh panjang sekali, katanya.

"Sahabat kecil, kau tidak salah dijuluki Tangan Cepat, Tiga Pedang Serangkai Wu Dang yang dua sudah terluka, jika pertarungan diteruskan sepertinya.... sepertinya sudah tidak perlu, setelah hari ini, aliran Wu Dang akan mencari kau lagi untuk meminta pertanggung-jawaban nyawanya Pedang Qing Yun Xiao Qing...."

Xiao Dai batuk dua kali, dengan mengusap luka didadanya dia berkata.

"Bagus, bagus, Wu Dang memang aliran yang besar, asal Tangan Cepat Xiao Dai tidak mati, di kemudian hari Xiao Dai siap melayaninya setiap saat, setelah mengalami pertarungan ini kiranya Dao Zhang tahu aku bukanlah seorang yang takut mati, orang yang berani melakukan tapi tidak berani bertanggung jawab, jika mengatakan untuk membalas hari ini, aku pasti melayaninya, mengenai apa.... apa masalah Pedang Qing Yun Xiao Qing, Dao Zhang bisa mencari jalan lain menyelidiknya, urusan ini tidak ada sangkut pautnya denganku."

"Bagaimana penjelasannya?"

Tanya Yu Chen dengan mata bersinar.

"Aku sudah mengatakannya cukup jelas...."

"Kau bukan anggota Perkumpulan Bunga Ju!?"

Perkumpulan Bunga Ju? Perkumpulan Bunga Ju lagi? Xiao Dai mengeluh di dalam hati.

"Terus terang saja, benda apa sebenarnya Perkumpulan Bunga Ju, aku sendiri masih belum jelas...."

Setelah menatap Xiao Dai beberapa saat, Yu Cheng mempercayainya, dia sudah benar-benar percaya pada Xiao Dai.

Memang ada orang yang pintar berbohong, bersandiwara, tapi tampangnya Xiao Dai sekarang sungguh tidak seperti sedang berbohong, apa lagi dia tidak ada kepentingan untuk menutupinya.

Tubuhnya Yu Chen sedikit gemetar, dalam hatinya berdetak tidak tenang, karena jika Xiao Dai bukan anggota Perkumpulan Bunga Ju, maka pertarungan hari ini, bukankah pertarungan yang beralasan, kacau delapan belas tingkat?

Terhadap pesilat tinggi Wu Dang, orang ternama didunia persilatan Xiao Dai sudah mempunyai sedikit perasaan baik, bagaimana pun seorang pesilat bisa terus terang mengaku kekalahannya adalah satu hal yang sangat tidak mudah.

Xiao Dai sedikit mengerti dia tertawa berkata.

"Dao Zhang, ada kata-kata 'tidak berkelahi tidak akan kenal', walaupun ini satu salah paham, tapi buatku banyak mendapat manfaat, bagusnya kedua belah pihak bisa selesaikan...."

Melihat mayat bergelimpangan, Xiao Dai melanjutkan berkata.

"Orang-orang ini mencari perkara sendiri, dikatakan 'saling memaki tidak ada mulut yang baik, saling memukul tidak ada tangan yang baik', aku tetap pada perkataan yang barusan, siap menunggu setiap saat."

Yu Chen dengan malu berkata.

"Tidak, sahabat kecil, kau salah paham, aku sama sekali tidak datang bersama mereka, adalah.... adalah kebetulan bertemu, dan juga sama-sama mencari orangnya Perkumpulan Bunga Ju, sehingga.... sehingga...."

Xiao Dai sedikit mengerti berkata.

"Kalau begitu bagus.... bagus...."

Bagus apanya?

Dia tidak mengatakannya, siapa pun tidak bisa menebak apa maksud perkataannya.

0ooo(dw)ooo0 Tiga Pedang Serangkai Wu Dang sudah pergi, walau mereka saling menuntun, dengan langkah sempoyongan pergi, tapi telah meninggalkan kekaguman Xiao Dai.

Karena Xiao Dai tahu, Yu Chen Dao Zhang sudah tahu, dirinya sudah sulit bisa menahan serangannya.

Tapi dia tidak membuka rahasianya, jadi Xiao Dai masih bisa berdiri tegak di tempat asalnya.

Sekarang, dia kembali lagi menjadi dingin, matanya juga bersinar dingin menakutkan orang, dia melihat pada orangorang yang belum pergi.

Tampangnya tidak lebih bagus dari setan yang jahat, rambut yang terurai menutupi kepalanya, didadanya ada luka sepanjang satu che dengan dagingnya terbalik, darah sudah membeku, tapi malah lebih menakutkan orang, dipunggungnya juga ada sebilah pedang masih menancap di sana, mengikuti batuk pelannya bergetar perlahan di sana, baju sutranya sudah kotor dengan darah.

Xiao Dai tertawa sinis dengan dingin berkata.

"Kalian, kejadian tadi rasanya kalian sudah melihat denganjelas, juga telah merasakan sendiri, si.... sialan.... keh.... keh.... ada siapa lagi.... jika masih belum puas, si.... silahkan maju ke depan, aku.... aku pasti melayaninya.... keh.... keh"

Bagaimanapun tubuhnya terbuat dari darah dan daging, Xiao Dai bicara sampai belakangan batuk lagi sampai hampir saja tubuhnya membungkuk.

Orang-orang itu semuanya adalah pesilat kelas tiga.

Pesilat kelas tiga kepandaiannya tentu saja bertarung dikelas tiga, menghadapi preman kelas tiga.

Tangan Cepat Xiao Dai pasti bukanlah pesilat kelas tiga, apa lagi dia telah mengalahkan pesilat tinggi kelas satu di dunia persilatan....

PedangTiga Serangkai Wu Dang.

Walau dikatakan 'serangga seratus kaki, mati tapi tidak kaku', masalahnya adalah Xiao Dai tidak kaku, malah seperti harimau keluar dari kurungan, maka orang orang ini ada siapa yang berani tampil?

Dan ada siapa lagi yang belum puas?

Setiap orang juga bisa melihat, mereka sudah ketakutan, mundur sampai cukup jauh.

Waktu seperti berhenti, setelah Xiao Dai mengawasi setiap wajah yang ketakutan, dia tertawa.

"Kalian takut? Kalian semua sudah ketakutan betul tidak? Ayo majulah! Jangan takut, aku.... keh.... keh.... aku sekarang sudah lemah, aku sekarang sudah mendapat luka, ka.... kalian kenapa tidak berani maju? Ini adalah ke.... kesempatan bagus, aku.... aku jamin siapa yang bisa membunuhku.... pasti.... pasti dalam semalam jadi ternama...."

Tidak ada orang yang berani mengeluarkan suara, walau setiap orang ada emosi ingin mencobanya.

Xiao Dai gila, Xiao Dai sombong, Xiao Dai juga telah menangkap hatinya orang-orang ini.

Xiao Dai menutup matanya, dia berusaha menahan sakit di dalam dada yang bergejolak dan seperti dibakar api, setelah beberapa saat dia kembali membuka mulut.

"Jika.... jika kalian sudah kehilangan.... kehilangan semangat mencariku.... dan keberanian, si.... sialan, kalian paling baik.... paling baik segera.... segera pergi.... sekarang, sekarang pergi...."

Gerombolan orang ini seperti gelombang yang susut, mereka berpencar dan pergi, disaat ini siapa lagi yang berani berlama-lama tinggal?

Dalam sekejap sudah tidak ada satupun tidak tersisa, sampai mayat yang ada di tanah juga dibawanya, Xiao Dai pelan-pelan duduk, duduk di atas batu besar seperti gununggunungan palsu.

Seperti terkena penyakit parah, wajah Xiao Dai sudah menjadi merah karena batuk terus, dia membuka tangan yang menutup mulut, segumpal darah terjatuh di atas telapaknya.

'Sungguh ini pertarungan yang sangat sengit', Xiao Dai berpikir dalam hati.

Dia membalikkan tangan mencabut pedang dipunggungnya, segera merobek bajunya, dengan susah payah menggulungkan dari belakang ke depan, sembarangan mengikatnya, orang lain mungkin tidak tahu, tapi Xiao Dai tahu ujung pedang itu sudah melukai paruparunya, makanya dirinya bisa batuk tidak henti-hentinya.

Disaat sinar pagi membelah gelapnya malam, Xiao Dai bangkit berdiri, melihat sekali dengan menyesal, Xiao Dai berkata.

"Maaf.... maaf telah mengganggu kalian.... semalaman, sandiwaranya.... sandiwaranya telah bubar, hari.... hari juga sudah terang, kalian seharusnya.... seharusnya cepat tidur, jika.... jika tidak bagaimana ada semangat.... bekerja...."

Tamu penginapan yang ada dibeberapa kamar, segera menghilang dari mengintip lewat celah jendelanya, mereka sedang berpikir, orang ini cukup berharga.

Tentu saja berharga, karena perkataan Xiao Dai tidak seluruhnya ditujukan pada tamu penginapan, di atas atap rumah dikejauhan juga sama ada dua pasang mata yang sedang mengintip, setelah mendengar perkataan Xiao Dai, baru diam-diam menghilang.

Mmm, dugaan Xiao Dai sedikit pun tidak salah, didunia ini pasti ada orang yang penasaran, asal mereka sedikit saja curiga, tentu tidak akan dilepaskannya.

Mereka tidak pergi, betulkah mereka ingin membuktikan bahwa Xiao Dai mampu tidak bertarung lagi?

Mereka tidak pergi, betulkah ingin mencari kesempatan untuk membalas kekalahan, penghinaan tadi?

Xiao Dai sepanjang jalan batuk terus, sepanjang jalan dirinya ditopang dengan pedang.

Dia harus mengganti penginapan, mengganti tempat yang tidak ada bahayanya, mencari seorang tabib yang pintar.

Ping An Tang.

Mengangkat kepala melihat papan merk ini.

Akhirnya sampai juga, perjalanan ini sungguh panjang, sialan!

Jika tahu jaraknya sejauh ini dari penginapan, langsung saja menyuruh pelayan memanggilnya kepenginapan, Xiao Dai menggerutu di dalam hati.

Sebenarnya perjalanan ini sama sekali tidak panjang, tapi terhadap orang yang mengalami luka parah, perjalanannyajadi kelihatan jauh.

Xiao Dai menggedor pintu hanya berharap orang yang ada di dalam cepat keluar, karena cuma waktu sesingkat ini, dia sudah merasa kehabisan tenaga, nafasnya terengahengah, keringat dingin bercucuran.

"Iya.... siapa ya? Agak perlahan boleh? Kau ini bukan mengetuk pintu, malah mendobrak pintu...."

Xiao Dai minta maaf, melihat orang setengah baya berbaju sastrawan yang berdiri di pintu, dengan serak berkata.

"Aku.... keh.... kemari.... mencari, tabib,.... aku.... datang.... datang untuk berobat...."

Sambil menggosok mata yang masih ngantuk, orang tua ini walau ada sedikit tidak senang, tapi begitu melihat keadaan Xiao Dai, dia jadi seperti melihat setan terkejut berkata.

"Aku.... aku oh ibu! Kau cepat.... cepat masuk, akulah tabib." 0ooo(dw)ooo0 BAB 25 Demi harta Li Yuan-wai lari sepanjang jalan, seperti seekor kuda yang sudah gila. Dia tidak berhenti, juga tidak beristirahat, juga tidak ada tujuan, hanya lari, lari.... Ketika lari otaknya juga tidak berhenti, dia tidak berhenti berpikir. Jika dulu sungguh ini hal yang tidak mungkin, namun sekarang ada banyak persoalan, telah memaksa dia harus memakai otak memikirkannya. Dia sedang berpikir, sekarang didunia ini telah terjadi apa, kenapa bisa berubah menjadi demikian kacau, kenapa bisa berubah jadi tidak bisa membedakan kawan atau lawan? Dia terpikir bahaya yang terpendam di dalam Gai-bang, juga terpikir Ouwyang Wu-shuang seperti bayangan terusmenerus mengejar ingin membunuhnya. Dia sangat benci Tangan Cepat Xiao Dai, juga tidak tidak tahu siapa yang benar-benar adalah temannya. Karena semua teman yang ditemui sudah menjadi musuh, dan yang dikiranya musuh, Zhan Feng, malah dalam saat berbahaya berubah menjadi teman. Sekarang, orang yang bisa dia percaya hatinya hanya Yuan Ershao, Yuan Ling, namun dia tidak dapat mencari dia, juga tidak tahu mencarinya kemana, dia punya urusan sendiri, bagaimanapun dia tidak bisa melindunginya seumur hidup. Berpikir sampai di sini, Li Yuan-wai mendadak menghentikan langkah, karena dia telah terpikir dirinya seharusnya pergi kegunung Jun di danau Tong Ding, mana bisa seperti kuda gila lari kemana-mana? 0ooo(dw)ooo0 Orang seumur hidup banyak sekali mengalami hal yang pertama. Juga ada banyak sekali hal pertama yang sulit dilupakan. Li Yuan-wai menambah satu kali lagi hal pertama. Pertama kali naik kuda. Pikirannya sudah terbuka, orang memang ada kalanya harus mempertahankan prinsip, ada kalanya tidak boleh kepala batu, sedikit pun tidak boleh berubah. Maka dia mengeluarkan lima puluh liang perak membeli seekor kuda, dia ingin menungganginya supaya lebih cepat sehari sampai di gunung Jun. Melihat orang menunggang kuda, kelihatannya sangat mudah sekali. Tapi, ketika Li Yuan-wai menerima tali kuda dari tangan penjual kuda, dia menyadari jangan kata naik kepunggungnya, mungkin menuntun jalanpun, dia tidak mau mengikutinya.

"Tuan, apa tidak pernah naik kuda?"

Kata penjual kuda dengan logat asli Chuan, setelah memperhatikan tingkah Li Yuan-wai yang memalukan itu.

"Kata-katamu benar."

Li Yuan-wai tidak mau rugi menjawabnya. Penjual kuda itu tertawa berkata.

"Anak kura-kura, kau tidak perlu takut, ini adalah kuda Chuan kakinya pendek, jenis pendek, orang jatuh juga tidak akan mati, mari, aku bantu kau naik, kau naik dulu, nanti aku bantu menuntun berkeliling satu putaran...."

Li Yuan-wai mengerti maksud baiknya dia berpikir 'anak kura-kura tinggal anak kura-kura!

Siapa suruh dia sendiri tidak bisa naik kuda'?

Li Yuan-wai dengan hati-hati naik keatas kuda, penjual kuda itu menuntun kuda berjalan di depan, sambil jalan sambil berkata lagi.

"Aku katakan, kuda ini sama seperti seorang gadis, Ge Lao Zi De asal sudah jadi jinak, setelah menundukkan dia, maka dia akan sejinak kambing, kalau tidak dia akan berubah jadi seekor harimau yang bisa menelanmu...."

"Anak.... anak kura-kura, bisa.... bisa begitu menakutkan?"

Kata Li Yuan-wai dengan kuat memegang pegangan pelana kuda.

"Tentu saja, apa lagi kuda liar yang belum dijinakan, lebih sulit dikendalikan, sampai orang seperti kami ini juga tidak sembarangan berani menyentuhnya.... buat apa aku membohongimu?"

Li Yuan-wai tidak bicara lagi, karena dia pikir jika menyahutnya lagi, dirinya sebagai anak kura-kura pastilah jadi kenyataan.

0ooo(dw)ooo0 Langit mendungnya seperti akan turun hujan lebat.

Menunggang kuda menelusuri jalan raya, wajahnya Li Yuan-wai juga mendung seperti awan dilangit.

Karena disepanjang jalan dia telah mendengar satu berita yang bisa mengejutkan orang, sampai bisajatuh dari punggung kuda.

Setelah Tangan Cepat Xiao Dai bertarung digedung Wang Jiang ternyata dia tidak mati, dan dia telah kembali ke dunia persilatan, akan melakukan balas dendam besarbesaran.

Yang lebih mengejutkan Li Yuan-wai adalah Xiao Dai ternyata anggotanya Perkumpulan Bunga Ju, bukan saja telah menghancurkan Perkumpulan Perairan Zhang Jiang, juga telah melukai Tiga Pedang Serangkai Wu Dang, sampai ketua pelatih silat seluruh Jiang Nan, Rase Terbang juga telah mati di tangannya.

Perkumpulan Bunga Ju, Perkumpulan Bunga Ju lagi!

Sekali Li Yuan-wai terpikir Perkumpulan Bunga Ju, sekali terpikir Tangan Cepat Xiao Dai, dia juga tidak terasa ingin membunuh orang.

Dia tidak tahu mengapa Xiao Dai bisa masuk jadi anggota Perkumpulan Bunga Ju, tapi setelah mengalami banyak hal, yang tidak mungkin tentu bisa menjadi mungkin, dia sudah malas memikirkan apa alasannya.

Seperti dirinya, dia juga sulit berpikir, kenapa ada satu hari dia bisa menunggang kuda.

Jika dia bisa berubah prinsip, Tangan Cepat Xiao Dai tentu ada kemungkinan bisa menjadi anggota Perkumpulan Bunga Ju.

Apa lagi jika Ouwyang Wu-shuang adalah anggotanya Perkumpulan Bunga Ju, jika Tangan Cepat Xiao Dai bukan anggotanya Perkumpulan Bunga Ju, itu baru hal yang aneh.

Hanya ada satu yang tidak bisa dia mengerti, kenapa Xiao Dai bisa menyamar dirinya dan mendapatkan keuntungan dari Ouwyang Wu-shuang, dan Ouwyang Wushuang sampai idiotnya bersikukuh menganggap dirinya yang melakukan.

Memegang sekantong besar jarum sulam disakunya, Li Yuan-wai diam-diam berkata.

"Xiao Dai, Xiao Dai paling bagus kau jangan sampai bertemu denganku, kalau tidak biar aku mati, aku akan merubah kau jadi tikus berduri. Hujan mulai menetes. Li Yuan-wai yang di atas pelana kuda menarik sedikit ke bawah topi bambu yang menutupi sebagian besar wajahnya, hmmm, orang ini akhirnya jadi pintar juga, bisa memakai topi ini, sehingga orang lain tidak mudah menemukan dia adalah Li Yuan-wai yang berharga sepuluh ribu liang perak. Dengan hati-hati dia melarikan kudanya, Li Yuan-wai hanya berharap sebelum hujan bisa datang, dapat sampai dulu diwarung liar yang ada setengah li di depan. Dia tidak ingin kehujanan, apa lagi saat dia berpakaian baju baru. Sebuah warung liar. Dua ruangan pendek yang dibangun dengan jerami, tiga, empat setelan meja, di depan warung ada satu batang bambu yang digantung dengan kain putih panjang yang telah menguning, mungkin jika sudah sampai di depannya juga sulit dapat membaca huruf besar yang tertulis Arak'. Li Yuan-wai sudah beberapa kali datang ke warung arak ini, dia juga samar-samar ingat orang yang membuka warung ini ada seorang tua, sepasang mata yang selamanya sepertinya mengantuk terus, pakaiannya kumal mungkin di dalam Gai-bang juga tidak bisa menemukan orang yang lebih kumal dari pada dia. Tapi, di jalan raya ini, dari ujung keujung seratus li, meninggalkan warung ini tidak akan ada kampung lain, bisnis tunggal, hanya tinggal tamu yang harus menyesuaikan diri pada warung arak ini. Tepat sudah sampai di depan warung arak ini, hujan sudah turun dengan lebatnya, hatinya ingin buru-buru turun dari kuda, Li Yuan-wai justru tidak bisa menghentikan kuda yang berputar putar.

"Si.... sialan, jika kau tidak berhenti lagi, sehingga aku marah aku akan pukul jadi rata...."

Li Yuan-wai semakin terburu-buru, kuda itu semakin tidak menurut.

Sibuk setengah harian, Li Yuan-wai akhirnya bisa juga turun dari kuda, tapi tubuhnya sudah basah kuyup.

Dengan kesal dia masuk ke dalam toko, memilih satu tempat duduk.

Baru saja duduk dia sudah melihat dua wajah yang tidak tahan ingin tertawa.

Satu wajahnya pemilik warung, satu wajah lagi adalah wajah wanita yang tidak terlihat berusia berapa namun bisa disebut cantik.

Setelah melepas topi bambunya, Li Yuan-wai dengan kesal berkata.

"Tidak pernah melihat orang.... orang naik kuda, benar tidak? Bos, kau cepat kemari?"

Bos warung sudah sampai di depannya, begitu melihat ternyata orang yang sudah dikenal, sehingga dia tertawa, berkata.

"Haya! Anaknya kura-kura ternyata kau! Bagus, bagus, terlalu bagus...."

Anak kura-kura lagi, Li Yuan-wai sekali mendengar tidak tahan mengerutkan alis berkata.

"Jika bukan aku, lalu siapa lagi? Toko sekecil burung kau ini tidak mungkin baginda raja akan mampir kesini?"

"Ge Lao Zi De, dandananmu kali ini tidak sama, jika dari tadi aku tahu dirimu, aku sudah lari keluar membantu kau!"

Melihat baju yang basah kuyup, Li Yuan-wai jadi ingin marah tapi juga ingin ketawa berkata.

"Apanya yang beda? Sialan, apa kau sangka aku tidak bisa pakai baju baru dan menunggang kuda? Sungguh mata anjingmu hanya melihat orang rendah saja."

Orang tua ini mungkin setahunan tidak pernah bertemu dengan tamu yang kenal, dia sekarang malah duduk sembarangan dengan tampang akan ngobrol dengan teman lama saja.

"Tuan kecil, aku dari dulu sudah melihatmu, suatu hari akan jadi kaya, Ge Lao Zi De, kau ini anak kura-kura sungguh bisa kaya dengan cepat sekali!"

"Tolong, bos, tolong bawa dulu makanan kesini, kau ingin ngobrol, aku akan temani, tapi tidak bisa membiarkan aku dengan perut kosong ngabako dengan kau!"

Orang tua itu dengan sedikit kecewa bangkit berdiri, Li Yuan-wai berpesan lagi satu perkataan.

"Ada tempat pembakaran tidak? Baju basah ini sudah dingin, lengket lagi sungguh tidak enak dipakai." 'Hmm' suara situa yang tubuhnya bungkuk menghilang di belakang, sekarang Li Yuan-wai baru menyadari, di sini selain dirinya masih ada seorang wanita lain yang duduk disisi jendela. Terpikir tadi kelakuan memalukan dirinya yang tidak bisa turun dari kuda, tentu semuanya disaksikan oleh wanita ini, Li Yuan-wai sedikit tidak bisa duduk tenang. Li Yuan-wai menumpahkan secangkir teh, dia merasakan wanita itu sedang mengawasi dirinya. Lambat laun, seluruh tubuhnya seperti ditusuk jarum, merasa tidak enak, sekalian saja memiringkan tubuh, Li Yuan-wai berkata.

"Kau.... apakah kau tidak pernah melihat lelaki?"

Wanita itu tertawa, tertawanya seperti gadis berusia tujuh, delapan belas tahun, dia berkata.

"Ada, hanya saja aku tidak pernah melihat laki-laki naik kuda, apa lagi kuda itu sangat kurus lemah, mana kuat ditunggangi olehmu?"

Ini adalah kata-kata yang jujur, karena wanita ini adalah Qi Hong.

Tahun itu dia tidak pernah melihat orang naik kuda, dan tidak pernah melihat laki-laki adalah hal yang tidak bisa dibayangkan.

Li Yuan-wai sama sekali tidak tahu itu adalah perkataan yang jujur, dia jadi tertawa, tertawanya sungguh memikat.

Dia juga tidak terpikir wanita ini sungguh bukan saja jam tiga belas', malah ada sedikit lucu.

"Ooo, kau kan bukan kuda itu, mana bisa tahu kuda itu tidak kuat aku tunggangi?"

Penyakit lama Li Yuan-wai mulai kambuh lagi, di dalam katanya sudah ada bau-bau tidak senonoh.

Yang disayangkan adalah mana bisa Qi Hong mengerti arti dibalik perkataan Li Yuan-wai?

Dia mana bisa tahu didunia ini ada laki-laki yang sekali membuka mulut sudah ingin 'makan tahu' wanita?

"Hai, kau ini orangnya sangat lucu, walau aku tidak pernah naik kuda, juga tidak pernah melihat orang naik kuda, tapi aku tahu kudamu pasti bukan kuda untuk ditunggangi."

Qi Hong ketawanya begitu polos.

Li Yuan-wai sedikit kecewa, karena dia tidak mendapatkan apa yang dia harapkan.

Orang semuanya sama, ketika kau mengira telah mengatakan satu kata yang sangat lucu, tapi melihat ada satu orang pun yang tertawa, selain kecewa sedikit banyak juga ada rasa canggung.

Li Yuan-wai sudah jadi canggung, dia tidak tahu mengapa wanita ini berkata demikian, makanya dia bertanya.

"Kenapa kudaku bukan untuk ditunggangi orang?"

"Karena kudamu sudah terlalu tua yang hanya kuat untuk menarik kereta saja, dan kau masih menungganginya, di mata orang lain melihat kau menunggangi kuda itu, maka sama juga dengan kau mempersunting seorang 'nenek berusia sembilan puluh tahun' untuk dijadikan istri, membuat orang terkejut, dan membuat orang sulit bisa menerimanya,"

Kata Qi Hong sedikit terlihat berkelakar.

Tapi Li Yuan-wai mengira dia sedang berkelakar, bagaimana pun setiap laki-laki juga tidak bisa menerima perumpamaan yang keterlaluan seperti ini, apa lagi perumpamaan ini keluar dari mulut seorang wanita.

Dia memperhatikan wanita ini sekali lagi, setiap sekali melihat, Li Yuan-wai merasa dia bertambah cantik, seperti buah Xui Mi Tau yang segar matangnya pas.

"Perumpamaanmu, aku.... aku sangat tidak suka, kau.... bagaimana kau bisa tahu kudaku adalah kuda tua? Apa kau mengerti akan kuda? Atau bisa melamar kuda?"

Qi Hong tertawa, tidak bicara lagi, dia sudah merasakan pemuda ini sudah merasa sedikit tidak senang.

Li Yuan-wai tentu saja tidak senang, membeli kuda seharga lima puluh liang perak, walau mungkin bukan kuda pacu, juga seharusnya seekor kuda yang sehat kuat, sekarang ada orang yang mencela dirinya, mana mungkin dia bisa merasa senang?

Dan lagi dia takut orang menilai dirinya adalah sibrengsek penyiksa kuda.

Dia dengan tajam menatapnya, dengan wajah yang harus mendapatkan jawaban.

Qi Hong menghela napas berkata.

"Ketika kau menunggang kuda itu, apakah orang tidak melihat kau dengan sorot mata yang berbeda?"

"Sorot mata yang berbeda?"

Li Yuan-wai perlahan berkata pada dirinya sendiri, dengan teliti mengingat kembali beberapa saat berkata.

"Tidak salah, memang ada orang memandang dengan sorot mata yang berbeda, tapi mereka melihat karena aku berdandan sangat tertutup."

Dia melihat pada topi bambu yang besar penutup wajah. Dengan menggelengkan kepala, Qi Hong berkata.

"Salah, pasti bukan karena topi itu."

Seluruh tubuh Li Yuan-wai merinding.

Jujur saja, dia menunggangi kuda tua yang tidak kuat ditunggangi orang, sungguh sama dengan mempersunting seorang nenek berusia sembilan puluh tahun, peristiwa ini bisa mengundang pembicaraan orang.

"Kau.... kau sembarangan bicara, ini sama sekali tidak mungkin, kuda itu aku beli dengan uang lima puluh liang perak, mana.... mana mungkin bisa mendapat se.... seekor kuda tua?"

Li Yuan-wai sudah percaya, tapi mulutnya tetap menyangkal.

"Kenapa kau tidak pergi periksa dengan teliti dikedua sisi kuda itu apakah ada bekas tanda menarik kereta? Kenapa kau tidak periksa apa giginya terlalu banyak dan goyang?"

Satu kata, sudah membuat Li Yuan-wai lemas seperti ayam jago yang kalah bertempur, walau tidak pernah melihat gigi di dalam mulutnya, tapi dia tahu dikedua sisi perutnya kulitnya memang ada dua tanda bekas gosokan yang terlalu parah.

Yang patut ditertawakan adalah dia malah telah percaya pada perkataan penjual kuda itu, itu adalah bekas gosokan dari pelana kuda, dan bukan bekas gosokan palang kereta kuda.

0ooo(dw)ooo0 Ingin 'makan tahu'nya orang, malah 'makan ampasnya tahu'.

Ingin melihat lucunya orang, malah dirinya sendiri yang jadi tontonan orang.

Li Yuan-wai sampai tidak berani melihat dia sekali lagi, karena dia sudah bisa membayangkan sorot matanya, pasti sama dengan sorot mata orang melihat dirinya mempersunting seorang nenek berusia sembilan puluh tahun.

"Penjual kuda itu yang menjerumuskan dia, tidak aneh penjual itu selalu berkata anak kura-kura, Ge Lao Zi De. Sialan, suatu hari nanti aku akan merontokan semua giginya, beraninya mempermainkan aku."

Li Yuan-wai tidak henti-hentinya memaki di dalam hati. Bos warung datang dengan membawa tempat pembakaran, dia terkejut.

"Bbb.... bos, tolong kebiasaan berkata 'anak kura-kura' jangan diucapkan, aku sekarang paling benci perkataan ini."

Segera Li Yuan-wai berkata melihat bos warung itu masuk.

"Kur...."

Bos warung memaksa menelan kembali katakata yang akan di keluarkan, hampir saja dia tersedak.

"Tuan kecil, kau ini....? mengapa wajahmu seperti cuaca diluar sana? Apa Ge Lao Zi De telah salah makan obat?"

Li Yuan-wai mengeluh panjang, dia pikir, 'Dunia mudah dirubah, sifat asli sulit dirubah, jika ingin orang Si Chuan tidak mengatakan anak kura-kura, Ge Lao Zi De dua kata ini, mungkin sama sulitnya mencegah mereka tidak makan nasi.

"Sudah, sudah, kau taruh saja tempat pembakaran itu, cepat siapkan makanannya, jangan banyak omong kosong boleh tidak?"

Kata Li Yuan-wai dengan kesal. Bos warung menaruh tempat pembakaran, dia kembali ke dalam mempersiapkan makanan, sambil berjalan sambil bergumam.

"Ada apa memangnya? Dulu setiap kali datang dia selalu tertawa, orang.... sungguh tidak boleh menjadi kaya, sekali kaya terus berubah, anak kura-kura apanya yang hebat, hanya telah mengganti baju baru, menunggang kuda tua yang sudah ompong sudah berlagak."

Li Yuan-wai dan Qi Hong tentu saja mendengarnya dengan jelas.

Hampir saja paru-paru Li Yuan-wai meletus saking marahnya, Qi Hong tertawa seperti sekuntum bunga bergetar.

Masakannya adalah Ayam Angin, Bebek Angin, Tahu asinan, Kacang asinan.

Araknya tawar hanya tercium bau arak saja, arak yang dicampur air yang tidak bisa memuaskan selera peminum.

Untungnya Li Yuan-wai bukan seorang pemarah, jika tidak dia bisa mencekek lehernya bos warung dan memakimakinya, karena yang dia tidak bisa tahan adalah ditipu orang.

Setelah menghabiskan semangkuk besar mie, dia marah pada dirinya, memakai sumpit menjepit satu persatu kacang dan mengunyahnya.

Hujan masih turun, sedikit pun tidak ada gejala akan berhenti.

Dihari mendung memukul anak, nganggur tinggal ngangur, setelah Li Yuan-wai lama tidak bicara, akhirnya mengangkat kepala melihat pada Qi Hong, lalu memandang bos warung yang duduk disisi, dia tidak tahu mau bicara pada siapa.

"Hujan ini sungguh mengesalkan orang, tidak tahu akan kapan berhentinya."

Bos rumah mendapat kesempatan, jelas dia sudah menahan diri cukup lama, segera dia memotong.

"Iya yah! Ge Lao Zi De, di jalan ini tadinya juga sudah sedikit orang, untung hari ini sejak buka sampai sekarang hanya datang dua orang kalian berdua, anak kura-kura jika hujan tidak berhenti lagi, lebih baik tutup saja, pergi tidur!"

Tertawanya ada sedikit nada mengejek, bos warung berkata.

"Tuan kecil, kau sungguh sudah menjadi kaya?! Aku sudah tahu ada satu hari aku akan jadi kaya, tidak, tidak kau akan jadi kaya, terima kasih, sekali melihatmu aku sudah menerka dewa kekayaan sudah datang, rezeki turun dari langit, rezeki turun dari langit.... he he...."

Orang tua ini banyak bicara, dari tadi Li Yuan-wai sudah tahu, tapi tidak terpikir dia bisa menjunjung dirinya begitu tidak aturan.

Li Yuan-wai menggelengkan kapala dalam hati berpikir, 'Sialan, orang tua kecil, melihatmu berkata begitu gembira, ujungnya tentu menginginkan perak di dalam kantongku, barusan saja berkata aku tidak ada hebatnya, sekarang mendengar aku mau membayar makanan dua kali lipat, sialan, tingkahnya segera berubah, sungguh tidak malu!

Bos tua berkata lagi.

"Tuan kecil, kau sekarang ini berusaha apa! Sialan, selain bajunya mewah, malah masih memakai topi, apa tidak takut ada orang yang mau merampok!"

Perkataan apa ini?

Li Yuan-wai sungguh merasa menyesal tidak bisa menahan kesunyian, berbicara dengan dia, jika tahu dari tadi dia bisa bicara kentut ini, lebih baik dia menutup mulut, mendengar suara hujan lebih tenang.

"Aku.... aku sedang melarikan diri,"

Kata Li Yuan-wai marah. Bos warung tidak terkejut berkata.

"Aku pikir juga begitu, kalau tidak mana mungkin ada orang yang mau mengeluarkan hadiah sepuluh ribu liang perak...."

Kali ini Li Yuan-wai benar-benar tersedak, dia mengambil teh di atas meja 'glek' meneguk beberapa teguk, lalu dengan serak berkata.

"Kau.... kau ini siapa ini? Kau.... kau mengapa bisa tahu....?"

Bos warung tertawa, awanya seperti seekor musang tua.

Hari ini Li Yuan-wai baru menemukan seseorang bisa tertawa begitu bangganya, begitu membahayakan.

Bos warung tidak bungkuk lagi, matanya tidak mengantuk lagi, malah sekarang dia memberi kesan pada orang, dia begitu tinggi besar, dan matanya seperti singa.

"Aku? Aku bosnya di sini! Bukankah kau sudah beberapa kali datang kesini? Mengapa bisa tidak kenal aku?"

Li Yuan-wai berusaha berdiri, juga mencoba merogoh ke dalam dada untuk mengambil jarum sulam, Li Yuan-wai terkejut hampir mati, kerena dia merasa kecuali mata dan mulutnya masih bisa bergerak, seluruhnya tubuhnya sudah lemas dan lumpuh.

Dia melihat pada Qi Hong yang wajahnya tampak curiga, bos warung membalikkan kepala berkata.

"Hai! Aku sudah menunggu selama satu bulan lebih sepuluh hari, akhirnya kau datang juga, di sini walau toko kecil, tapi setiap hari banyak orang yang datang kesini makan, berita yang begitu besar aku tidak tuli mana mungkin tidak tahu? Maaf sekali, uang sepuluh ribu liang, sepuluh liang perak yang putih-putih, coba kau pikir jika aku sudah punya sepuluh liang perak, aku bisa mengerjakan banyak hal, sialan, pertama, aku ingin naik burung bangau pergi ke Yang Zhou, kedua, aku ingin membeli sebuah rumah yang besar-besar sekali, ketiga...."

Li Yuan-wai menghabiskan segala tenaganya, mendadak berteriak.

"Kau paling baik mati di atas mati di atas perut wanita...."

Boa warung melangkah mendekat dengan perlahan memukul mukul pipinya Li Yuan-wai, dia menghentikan wajah tawanya, dengan kejam berkata.

"Buat apa marah begitu? Dewa kekayaan yang hidup lebih berharga dari pada dewa kekayaan mati, kau ini anak kura-kura pasti tidak mau aku sekarang menyembelihmu bukan?"

Dewa kekayaan?

Sekarang Li Yuan-wai baru mengerti dirinya bukan saja hartawan, dan juga adalah benar-benar sebuah dewa kekayaan.

Demi kekayaan manusia mati, demi makanan burung mati, dia mengeluh, dia menjadi kesal mengapa tidak terpikir masalah sial ini, bagaimana pun bos ini pernah beberapa kali bertemu dengan dirinya, mana mungkin bisa melepaskan dirinya?

"Kau....

kau bagaimana bisa tahu aku akan kembali?"

Kata Li Yuan-wai dengan lesu.

"Ya dengan menunggu, jangan kata menunggu sebulan lebih sepuluh hari, Ge Lao Zi De walau menunggu satu tahun lebih sepuluh bulan, aku juga tetap akan menunggu!"

Kata bos dengan santai.

"Kau.... kau ini sungguh orang yang sangat sabar...."

Kata Li Yuan-wai pasrah.

"Tentu saja, orang yang sudah berusia tua hanya bisa begini."

"Kau.... kau akan.... akan mengantar aku ke.... kemana...."

Lidah Li Yuan-wai sudah semakin kaku.

"Aku juga tidak tahu, aku dengar asal sembarangan disebuah gerbang kota menyalakan tiga buah lentera merah pasti akan ada orang yang menghubungi, aku harap itu benar, aku kira kau juga pasti tahu masalah ini, bisa tidak kasih tahu aku?"

"Aku.... aku beri.... beri tahu mu? Kau.... sungguh a.... anak kura-kura...."

Li Yuan-wai setelah mengatakan kata ini, seluruh tubuhnya hanya tinggal mata bisa melihat benda, tubuhnya sudah jadi kaku seperti orang mati.

0ooo(dw)ooo0 Dunia persilatan memang penuh bahaya.

Perjalanan di dunia persilatan lebih berbahaya.

Hanya karena hati manusia menjadikan dunia persilatan berbahaya.

Sampai seorang bos v/arung tua yang setahunan menjaga satu toko kecil, juga bisa sampai menjadi berbahaya, maka perjalanan di dunia persilatan, bagaimana mungkin tidak lebih berbahaya?

"Siapa suruh kau ini adalah Li Yuan-wai?

juga siapa suruh kau justru datang ketempatku?"

Bos warung menggosok-gosok tangan, dengan gembira berkata.

"Kau tidak bisa salahkan aku, mau salahkan juga hanya bisa salahkan orang yang mau mengeluarkan hadiah uang untuk menangkapmu, he he...."

Dia tidak memandang wanita yang ada disisi, di dalam pikirannya seorang wanita bisa berbuat apa? 0ooo(dw)ooo0

"Li Yuan-wai?"

Qi Hong hatinya jadi terkejut, disaat mendengar nama ini, juga menjadi berdebar.

Dia tentu saja mengerti bos ini bukan orang yang baik, dia juga mengerti sekarang ini paling baik adalah berpurapura tidak melihat semua ini.

Tapi ketika dia sudah tahu orang yang dibius ini adalah Li Yuan-wai, dia tidak bisa tinggal diam, juga tidak bisa tidak melakukan sesuatu.

Karena dia ingat setiap nama, setiap perkataan, malah setiap huruf, telah dibicarakan Tangan Cepat Xiao Dai dengan dia.

Dia ingat Li Yuan-wai bukan saja teman bermain sejak kecil dengan orang itu, juga teman baik sehati dan satu tujuan, walau di antara kedua teman ini ada banyak simpul yang sulit diuraikan, dan banyak kesalah pahaman yang saling berhubungan, tapi dia mengerti Tangan Cepat Xiao Dai pasti tidak ingin melihat Li Yuan-wai dikhianati oleh tua bangka ini.

"Bos, aku harap kau bisa menyadarkan orang itu,"

Kata Qi Hong memberanikan diri. Sedikit tidak percaya, seperti mendengar seorang gila bicara, bos warung mendadak membalikkan tubuh, sambil mengedipkan mata berkata.

"Hei perempuan, kau bicara apa tadi?"

"Kau.... kau seharusnya sudah mendengar dengan jelas, aku bicara sungguh-sungguh,"

Jawab Qi Hong yang ikut dibuat terkejut oleh perbuatannya, tapi sikapnya tetap dengan tenang.

He he tertawa beberapa kali, bos warung dengan teliti memperhatikan lagi perempuan yang tidak mencolok ini sekali lagi.

Pakaian yang sederhana, wajah putih yang sederhana, sulit melihat usianya, tapi tidak diragukan dia adalah seorang wanita cantik.

Bukan wanita persilatan, juga tidak ada senjata yang disembunyikan, tubuh yang sederhana dengan garis lengkungan yang serasi, lambat laun, disudut mulutnya bos warung tampak tersenyum lagi, hanya tawa itu mengandung hawa binatang, kotor.

Orang tidak dapat berbuat jahat, apalagi tidak mau saat berbuat jahat diketahui orang.

Karena biasanya akan timbul kejahatan baru, pada saat berbuat jahat diketahui orang.

Qi Hong lama tinggal di dalam gunung, jauh dari keramaian, lebih sulit mengetahui hati jahat seseorang.

Tapi sekarang dia sudah mengetahui, orang tua bangka yang baru saja mencelakakan Li Yuan-wai, matanya mengandung pikiran jahat, hawa binatang.

Dan wajahnya juga menampakkan keji, menakutkan orang.

"Kau.... kau jangan kemari, aku.... aku bisa silat...."

Kata Qi Hong dengan keras tapi takut. Bos rumah malah dengan berani tertawa berkata.

"Aneh, Ge Lao Zi De tadi kenapa tidak menyadari kau wanita wajahnya tidak jelek? He he.... kau malah bisa menakutnakuti orang, kau bisa silat apa? Aku lihat kepandaianmu di atas ranjang...."

Wajah Qi Hong telah jadi merah, dia kapan pernah mendengar perkataan yang kotor ini?

Bagaimana bisa perkataan ini keluar dari mulut seorang tua?

Walau dia membaca buku satu gudang lagi, mungkin tidak ada satu buku pun bisa memberi tahu dia, orang jika menjadi jahat akan menjadi begitu kotornya.

Inikah manusia?

Inikah dunianya manusia?

Dia melihat orang yang maju, selangkah demi selangkah datang mendesak, hatinya mengeluh.

Jika ini adalah dunianya manusia, jika orang diluar sana semua hatinya jahat, dia lebih suka seumur hidup tidak keluar gunung.

Tapi dia sungguh tidak bisa merupakan Xiao Dai, juga tidak bisa meredakan rindunya yang sangat dalam.

Ketika dia memikirkannya, air mata membasahi kedua pipinya.

Ketika dia memikirkannya, di dalam hatinya sangat sakit sekali.

Ketika dia memikirkannya, baru tahu kesepian di dalam gunung sudah tidak bisa dia tahan lagi.

Apa lagi setelah setengah bulan ditinggal oleh Tangan Cepat Xiao Dai, tanggal kedatangan perahu sudah sampai, tapi perahunya tidak datang, hatinya sudah gelisah setiap malam dia sulit tidur.

Burung merpati pos sudah datang, yang diterima malah pertanyaan sepenuh kertas surat itu, sehingga dia sudah tidak bisa menahan kegelisahannya, dengan tidak memperdulikan segalanya, dia menyusur sungai pergi keluar gunung, mencari hubungan perasaan yang telah terputus itu.

Diluar dunianya yang aneh itu, tidak dapat menahan keinginannya untuk bertemu dengan dia.

Dia telah menjual perhiasannya, dengan segala upaya menyesuaikan diri dengan masyarakat, menuruti apa yang dipelajari dari buku, tapi tidak terpikirkan apa yang diceritakan dibuku, dengan sifat manusia, ada perbedaan yang begitu besar.

0ooo(dw)ooo0 Sepasang tangan Qi Hong dikepal dengan erat, buku jarinya sudah memutih karena terlalu memakai tenaga.

Dia tidak tahu apakah ilmu silatnya bisa tidak menghadapi orang tua yang kelihatannya begitu sadis ini.

Tapi dia tahu jika sudah menimbulkan kesulitan, maka tidak bisa mundur, apalagi yang sekarang dia lakukan, semuanya demi Tangan Cepat Xiao Dai, seorang yang selama hidupnya tidak mungkin bisa dilupakan.

Dia tidak menyesal apa yang telah dia katakan, kenyataannya juga tidak bisa dia sesali, walau sampai mati, dia juga merasa puas, bagaimana pun dia pernah hidup, dan semuanya telah memberikan padanya, bisa mati demi menolong temannya, mengapa harus menyesal?

Bos warung menghentikan langkahnya delapan che di depan dia, karena dia juga melihat wanita aneh ini, wajahnya berubah dengan cepatnya.

"Ge Lao Zi De, aku bilang kau wanita, kenapa kau bukan baik-baik saja menurut padaku, tunggu sampai aku menerima sepuluh liang perak, aku jamin kau minum puas makan enak, selama hidupnya hidup mewah."

"Kau jangan kesini, aku.... aku, walau mati tidak akan menuruti keinginanmu,"

Kata Qi Hong dengan tegas. Timbul niat jahat bos warung, dengan keji berkata.

"Ma Ge Ba Zi, arak kehormatan tidak diminum malah mau minum arak hukuman? Kau wanita ini paling-paling bisa sedikit silat kembangan, apa lenganmu bisa mematahkan kaki? Ge Lao Zi De jika aku tidak bisa menundukkanmu, maka aku akan mati menabrakan kepala...."

Di dalam suara hujan bercampur dengan suara robohnya kursi dan meja.

Setelah suara berturut-turut itu, bos warung telah terbang melewati dua meja, melanggar lima kursi, paling akhir kepala menabrak sisi pintu, setelah terbelalak matanya beberapa saat, baru pelan-pelan sadar kembali.

Sungguh dia hampir saja mati menabrakan kepalanya, hai!

Orang yang sudah berusia lanjut, masih belum tahu aturan 'Masakan Man enak dimakan, bicara Man (=penuh) tidak mudah diucapkan'.

Mau menyalahkan juga salahkan diri sendiri, terlalu lama tinggal di tempat terasing, sudah terbiasa terhadap semua persoalan, dirinya yang paling benar, ditambah mata lamur karena usia lanjut, hmmm, pelajaran ini dia cukup pantas menerimanya.

Darah setetes-setetes mengucur dari keningnya, dengan susah payah dia bangkit berdiri, dengan suara serak dan pahit berkata.

"Wan.... wanita sial, Ge.... Ge Lao Zi De.... siapa kau ini? Dihari terang begini.... memukul seorang lansia.... ini.... ini apakah masih ada hukum?"

Sungguh pintar bicara, ternyata sesudah terpukul dia jadi linglung, telah lupa mengapa dirinya dipukul orang, masih dengan mulut besar mengeluarkan aturan hukum negara.

Qi Hong juga terkejut, dia melihat pada sepasang tangannya, lalu melihat bos tua itu, dia sungguh tidak mengerti kenapa kejadiannya jadi begini.

Memangnya juga!

orang yang selama hidupnya tinggal di dalam gunung yang tidak ada satu pun manusia, walau dia bisa bersilat, dia belum pernah mempraktekannya, tentu saja tidak akan tahu kepandaian silatnya sudah sampai taraf seberapa.

Seperti menyalahkan diri, seperti menyesal, juga merasa ketakutan, Qi Hong gelisah sampai hampir mengucurkan air mata berkata.

"Bo.... bos tua, aku.... aku tidak sengaja, sungguh, aku tidak ingin melukaimu, aku juga tidak tahu gerakan aku begitu kuat, kau.... kau tidak apa-apa?"

Wanita macam apa ini?

Apa dia tidak salah?

Mengapa dia bisa bicara yang tidak ada gunanya dan tidak berpendidikan?

Walau Li Yuan-wai tidak bisa bergerak, tapi otaknya bisa berpikir, apa yang terjadi tadi dia melihatnya, mulamula dia hanya berharap wanita itu bisa cepat-cepat melarikan diri supaya tidak mendapat kesulitan, tapi setelah melihat telapaknya bisa memukul bos warung itu begitu jauh, dia mencuri tawa, dirinya sangat beruntung, setiap kali disaat bahaya, selalu bertemu dengan wanita yang cantik menolongnya.

Sekarang, sekarang begitu dia mendengar perkataan wanita itu, yang bisa membuat orang muntah itu, sungguh dia ingin sekali maju ke depan menampar dengan keras wanita itu.

Dia berharap jangan-jangan dia ini gila.

Tapi jika dia tidak gila, mengapa dia bisa bicara perkataan yang selain idiot masih ditambah dua ratus lima puluh?

Anak kecil dan lansia biasanya juga sering melakukan hal yang sulit dimengerti.

Seorang yang selama hidupnya hidup di dalam gunung, ketika disaat dia berhubungan dengan orang, keadaan hatinya juga begitu.

Li Yuan-wai tidak bisa mengerti, bos warung itu juga tidak mengerti.

Hmm....

setelah kepalanya merasa sakit dan pusing, bos warung sudah mengerti mengapa dirinya dipukul orang, dia mendengar perkataan Qi Hong, juga melihat wajah Qi Hong yang sekarang sedang ketakutan.

Dia jadi berpikir dirinya kadang suka berbuat bodoh, mengapa wanita ini juga bisa berbuat lebih bodoh?

Qi Hong maju beberapa langkah, dengan terbata-bata berkata.

"Bos.... bos tua, kau telah banyak meng.... mengucurkan darah, maukah aku.... aku bantumu membalutnya...."

Bicara apa ini?

Li Yuan-wai di dalam hati telah memaki Qi Hong habis-habisan.

Matanya bos warung menyorotkan sinar licik, dia dengan bengong melihat wanita ini, sampai dia memastikan lawannya berkata jujur, baru dia menganggukkan kepala berkata.

"Baik, baik, nona, tolong.... tolong bantu aku."

Li Yuan-wai melihat Qi Hong selangkah demi selangkah mendekati bos, jantungnya sudah sampai tenggorokan, di dalam hatinya berteriak, nonaku, kau cepat hentikan kelakuan kekanak-kanakan itu!

tua bangka itu sekarang memanggilmu nona, nanti akan memanggil kau ini adik besar!

Kau idiot ini, babilah!

Didunia ini dimana ada wanita sebodohmu ini....

0ooo(dw)ooo0 'Hati mencelakai orang tidak boleh ada, hati menjaga diri tidak boleh tidak ada.' Qi Hong adalah wanita pintar, walau dia punya hati yang jujur, tidak tahu hati orang yang membahayakan, tapi ketika jarak tinggal satu meja pada bos tua itu, dia mendadak ingat catatan di dalam buku.

Dia juga adalah manusia yang semua perasaan ditampilkan diwajahnya, dia yang ragu-ragu sudah menimbulkan perhatian bos warung.

"Non.... nona, kau cepatlah! Ma Ge Ba Zi, aku sudah kesakitan...."

Qi Hong merobek kain di bawah roknya, melemparkannya berkata.

"Bos, kau.... kau bisa membalut sendiri, aku.... aku lebih baik tidak kesanasaja...."

"Me.... Mengapa?"

Mengapa? tua bangka, kau masih berani bertanya, jarak Li Yuan-wai lebih dekat, dia dapat melihat tangan bos warung sudah memegang satu kaki mejayang patah.

"Kau.... kau terluka tidak parah, atau.... atau kau obati dia dulu.... aku baru membalutkanmu."

Li Yuan-wai benar-benar ingin bersorak untuk wanita ini, dia sungguh gembira dia bisa melihat bahaya ini.

Bos warung seperti balon yang bocor, dia sungguh tidak terpikir wanita ini mendadak bisa berubah pikiran.

"Aku.... aku jamin pasti mengobati racun dia, nona, kau.... kau mengapa tidak kesini membalut dulu aku?"

Menggelengkan kepala Qi Hong dengan teguh berkata.

"Tidak, kau beritahu aku dulu dimana obat penawarnya."

Bos warung sudah melihat wajah Qi Hong yang teguh, dia dengan sempoyongan maju dua langkah, menunjuk di belakang Qi Hong berkata.

"Di.... di belakang kau di dalam toples...."

Bersamaan dengan Qi Hong membalikkan kepala melihat kebelakang, Li Yuan-wai menutup matanya, dia sedang berpikir.

"Kau bisa dengan gampangnya ditipu dengan 'suara di timur memukul di barat', sungguh bodoh sekali! Kursi dan meja sekali lagi mengeluarkan suara ribut, Li Yuan-wai sudah membayangkan wanita itu dipukul dengan kaku meja oleh bos warung dari belakang, kepalanya sampai bercucuran darah. Habislah, habislah, dia menutup rapat matanya, berkata di dalam hati. Benar sudah habis, hanya saja Li Yuan-wai setelah menunggu setengah harian tidak ada suara dan merasa aneh, dia membuka mata, yang terlihat ternyata adalah bos warung yang habis. Disaat Qi Hong memalingkan kepala, satu perasaan yang timbul dari belakang terasa angin, dia dengan cepat bergeser kesamping, orang yang menyerang dari belakang karena terlalu memakai tenaga, tidak dapat menahan kakinya, merobohkan beberapa kursi dan meja, lalu jatuh di lantai. Sekarang, dia melihat bos yang tergeletak di lantai sedikit pun tidak bergerak, matanya tampak terkejut bergumam.

"Bos, bos, kau.... kau apa sudah mati....?"

Kematian adalah satu pengalaman yang sulit dilupakan.

Dia sangat takut akan kematian, karena setelah ayah dan ibunya berturut-turut meninggal dunia, yang ditinggalkan untuknya hanyalah seumur hidup kesepian dan kesedihan.

Makanya ketika dia melihat tubuh sibos sedikit pun tidak bergerak, yang pertama dia pikirkan adalah kematian.

Tidak perduli orang ini adalah orang baik atau orang jahat, mati telah menimbulkan kenangan yang pahit.

Dia mundur, mundur lagi, tubuhnya gemetar tidak tertahan....

Ketika dia membalikkan tubuh untuk melarikan diri, malah telah menabrak dan jatuh menimpa Li Yuan-wai.

Sehingga orangnya terguling dan kursi jatuh, seluruh tubuhnya menindih di atas tubuhnya Li Yuan-wai, wajah berhadapan dengan wajah.

Dua wajah begitu dekatnya, Qi Hong dapat dengan jelas melihat dari mata Li Yuan-wai yang hitam dan terang itu, melihat wajahnya sendiri, tentu saja dia juga telah melihat kesakitan dan tidak dapat berbuat apa.

Ada semacam terkejut gembira, Qi Hong berkata.

"Kau.... kau masih punya perasaan?"

Li Yuan-wai mengedipkan mata.

"Kau.... kau tidak apa-apa bukan?"

Li Yuan-wai mengedipkan mata lagi, dihatinya mengeluh berkata.

"Jika kau tidak bangkit berdiri, aku tidak akan baik lagi."

Menyiramkan satu cangkir teh dingin, setelah melalui beberapa kesibukan.

Qi Hong sudah mendapatkan obat penawar racun dari bos warung, setelah melalui pemaksaan, dengan cepat, gejala Li Yuan-wai terkena racunnya menghilang, seluruh tubuhnya yang kaku berangsur-angsur menghilang juga.

Seperti tidak bisa berdiri dengan benar, Li Yuan-wai membopong bos warung duduk dikursi, lalu berhadapan dengannya, dengan suara serak berkata.

"Ma.... Ma Ge Ba Zi, sepuluh tahun di timur sungai sepuluh tahun di barat sungai, sekarang fengshuinya sudah berputar! Ge.... Ge Lao Zi De kau lihat aku akan.... akan bagaimana mengurusmu...."

Bos warung adalah masyarakat biasa, bukan saja sudah tua, dan juga buruk.

Dia sudah dua kali pingsan hampir saja mati, dan wajahnya juga berlumuran darah, menjadikan wajahnya tidak seperti wajah manusia, dengan gemetar berkata.

"Tu.... tuan kecil.... kau.... kau ampunilah.... ampunilah aku!"

"Mengampunimu?!"

Li Yuan-wai seperti meloncat berteriak.

"Sialan, tadi kau tidak mengampuni aku! Aku.... aku bunuh kau, yang hatinya tertutup oleh harta, melihat uang mata menjadi hijau tua bangka mau mati...."

Berturut-turut Li Yuan-wai memberikan beberapa tamparan, bos warung jadi pingsan lagi.

0ooo(dw)ooo0 Kapan hujannya sudah berhenti?

Kapan matahari muncul lagi?

Li Yuan-wai menuntun kuda yang digambarkan orang sebagai nenek tua berusia sembilan puluh tahun, berjalan di bawah sinar matahari setelah hujan, di dalam hatinya lama tidak bisa mereda.

Karena dia adalah orang persilatan, dia mengerti seluruh trik trik licik orang-orang dunia persilatan.

Hasilnya hampir saja terjungkal di tangan tua bangka yang biasa ini, tentu saja dia tidak bisa reda.

Qi Hong berjalan disampingnya, menahan lama baru berkata.

"Betulkah kau tidak senang karena aku mengampuni dia?"

Li Yuan-wai menggelengkan kepala berkata.

"Bukan, aku hanya memikirkan orang yang menciptakan uang, apakah dia ini setan? Atau malaikat?"

Qi Hong tertawa berkata.

"Kau ini benar saja 'pusaka hidup' yang suka mengatakan yang aneh-aneh, suka melakukan hal yang aneh-aneh, dan juga membuat kerepotan yang tidak ada hentinya."

"Betulkah? mengapa kau bisa begitu mengerti akan aku? Mengapa kau bisa menyebut aku adalah 'Pusaka hidup'?"

Li Yuan-wai sambil berjalan sambil berkata. Mendadak.... Dia menghentikan langkahnya, mata membelalak begitu besar begitu bulat.

"Pusaka hidup? Di.... didunia ini hanya ada satu orang yang bisa menyebut aku begitu, kau.... kau ini siapa? Kau mengapa juga bisa menyebut aku begitu!?"

Qi Hong diam menatap, begitu polos, dia perlahan menganggukkan kepala berkata.

"Aku tahu satu cerita, satu cerita mengenai kau dan seorang lagi, aku harap kau bisa sabar mendengar aku menceritakannya sampai habis."

"Aku.... aku tidak ingin mendengar cerita, apalagi cerita mengenai diriku sendiri, asal kau beritahu aku sibrengsek itu ada dimana, aku harus kemana baru bisa mendapatkan dia sudah cukup."

Wajah Li Yuan-wai mendadak jadi buram. Qi Hong mengeluh berkata.

"Mengapa kau sedikitpun tidak berhati lapang?"

"Telurnya ibu! Apa itu lapang dada? Kau bukan aku, jika kau adalah aku, maka kau akan tahu sakitnya, satu tempat yang luas tidak ada satu pun bisa menampung dirinya untuk tinggal, semua ini adalah pemberian sibrengsek itu, kau katakan aku bisa tidak berlapang dada? Kau tahu dimana dia? Kau tahu tidak?"

Li Yuan-wai dengan emosi berteriak.

"Kau.... kau, mana boleh memaki orang? Aku.... aku kan tidak punya salah padamu...."

Kata Qi Hong, sungguh tidak terpikir Li Yuan-wai bisa begitu gusar dan sulit dipercaya.

Setelah menenangkan hati yang emosi, lalu memikir orang telah menyelamatkan nyawanya, Li Yuan-wai dengan perlahan berkata.

"Ma.... maaf, aku sungguh tidak bisa mengendalikan diri, aku.... aku juga bukan memakimu...."

Dengan sedih, Qi Hong berkata.

"Aku tahu kau bukan memaki aku, tapi.... tapi kau memaki dia, itu sama juga dengan memaki aku."

Li Yuan-wai merenung arti perkataan ini, setelah beberapa saat dia dengan pandangan yang aneh, dia berkata.

"Baiklah! Sekarang aku ingin mendengar cerita itu, aku harap orang jahat di dalam ceritamu itu, paling baik bisa mati."

BAB 26 Bunga Ju bukan bunga Ju Satu cerita, satu cerita yang sangat sederhana.

Bersamaan juga satu cerita yang belum selesai.

Sepasang kakak beradik dari keturunan yang ternama, keluarga besar dunia persilatan, yang pria tampan, yang wanita cantik.

Kakak beradik menjaga warisan yang sangat besar, hidup dalam kebebasan dan tidak pusing akan masalah makan dan pakaian.

Ini sebenarnya yang didambakan orang, pria tampan wanita cantik yang setiap orang dengan segala cara mengejarnya, mereka juga seharusnya adalah saudara, harus saling melindungi baru betul.

Namun, pada suatu hari yang menjadi kakak membawa seorang teman pulang ke rumah, seorang teman yang dapat membuat semua wanita didunia tergila-gila.

Lalu semuanya jadi berubah, tadinya keluarga yang damai sejahtera terbagi menjadi dua bagian, hubungan saudarajadi seperti orang asing.

Hal didunia sangat sulit diduga, apa lagi perasaan antara wanita dan laki-laki.

Sesuai dengan satu kata lama, 'Bunga jatuh ada tujuan, air mengalir tidak ada perasaan' bagaimana pun yang menjadi adik mengutarakan isi hatinya, dengan tidak memperhitungkan perasaan wanita dan harga dirinya, mengatakan isi hati pada kakaknya, berharap bisa mendapatkan cinta.

Apa boleh buat teman yang dapat membuat semua wanita didunia tergila gila itu, tawar seperti asap tipis, kerasnya seperti sebuah batu, bukan saja membuat yang menjadi adik tidak bisa menduga perasaannya, juga membuat yang menjadi kakakjatuh berantakan.

Namun hati seorang gadis, apalagi hati gadis yang tidak pernah mengalami pukulan, mana bisa menerima ini?

Kebalikan cinta adalah benci, dan memang juga hati manusia adalah terbentuk dari cinta dan benci.

Dia mulai benci, juga telah kehilangan cinta, dia berubah jadi keras kepala.

Keras kepala sampai satu perumahan yang besar dibagi menjadi dua bagian.

Keras kepalanya sampai berbuat banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang.

Antara laki-laki dan wanita hal yang paling berbeda adalah, seorang laki-laki ada kalanya lebih baik menentang orang tuanya, menyinggung perasaan sanak famili tapi tidak mau kehilangan temannya.

Yang jadi kakak sakit hati, tapi hanya bisa berdiam diri, demi menjaga temannya, sekali pun dia tidak berani mengutarakan perubahan yang terjadi di dalam rumahnya.

Hanya karena takut dirinya ditertawai oleh temannya, bahwa dirinya jadi kehilangan wibawa, akhirnya banyak hal yang terjadi mulai dari masalah ini.

Sebuah cerita yang sangat biasa, juga sebuah cerita yang belum habis.

Zhan Feng alisnya berkerut, wajahnya yang secantik dewi kahyangan, yang sekali tmp akan pecah, masih terlihat ada bekas air mata.

Wanita yang setiap orang melihatnya akan menyayangi, ada apa lagi yang dia masih tidak puas?

Lalu dia mengapa dia menangis?

Di dalam perumahan Zhan Bao, dia berdiri dikebun bunga Ju yang luas sudah beberapa jam lamanya.

Dia seperti sedang berpikir, juga seperti sedang menunggu orang.

Apa yang sedang dia pikirkan?

Siapa orang yang dia tunggu?

Dua orang pelayan wanita dengan tidak tenang berdiri jauh, jauh sekali, mereka tidak berani mendekat, karena mereka tahu saat nona gelisah, jika terlalu dekat hanya akan mencari susah sendiri.

Musim gugur sudah lama lewat sekarang adalah musimnya bunga Ju.

Sejak kecil dia hanya menyukai bunga Ju, karena dia menganggap bunga Ju adalah seorang laki-laki sejati, bunga Ju juga adalah pertapa laki-laki.

'Laki-laki sejati tidak ada pertengkaran, pertapa laki-laki tidak ada permintaan' setelah mengatakannya dengan perlahan, Zhan Feng dengan perlahan mengusap sudut matanya, melihat awan putih nun jauh di sana, pandangannya sulit ditarik kembali.

Awan memang tidak ada perasaan, bunga Ju memang tidak ada air mata.

Dia memikirkan awan, memikirkan mengapa awan tidak bisa bersama disatu tempat, tapi selalu berpindah-pindah tempat?

Dia memikirkan bunga Ju, memikirkan bunga Ju mengapa tega melihat orang sedih, layu tapi tidak meneteskan air mata?

Langit biru dan awan putih, menonjolkan wanita cantik di dalam lautan bunga Ju, ini seharusnya adalah sebuah gambar yang indah sekali?

Tidak ada orang yang ingin merusak ketenangan ini dan mengejutkan orang di dalam gambar itu.

Jika ada, itu pastilah dia seorang gila atau seorang buta.

Karena orang gila tidak mengerti keindahan, orang buta tidak dapat melihat keindahan.

Enam orang buta seperti enam roh tiba-tiba meloncat dari luar, melewati tembok benteng dan masuk ke dalam.

Mereka menendang jatuh beberapa bonsai bunga Ju, tentu saja merusak ketenangan gambar ini, juga mengejutkan Zhan Feng.

Seperti bayangan indah di dalam air, dilempar orang dengan batu, bukan saja semuanya menjadi hilang, juga menimbulkan riak gelombang.

Zhan Feng mengeluh perlahan berkata.

"Kelian telah menendang rusak bunga Ju aku."

Enam orang wanita buta seperti patung batu, ekspresi wajahnya kaku seperti ukiran.

"Bunga Ju tertendang rusak masih bisa ditanam kembali, nyawa orang setelah hilang, walau kau punya kepintaran mengembalikan nyawa, obat mujarab dewa juga hanya dapat mengobati orang yang belum mati."

Orang yang menjawab Zhan Feng malah Ouwyang Wu-shuang. Zhan Feng membalikkan tubuh melihat Ouwyang Wushuang yang sedang jalan mendekat.

"Apa kau takut aku lari?"

Tanya Zhan Feng.

"Tidak,"

Kata Ouwyang Wu-shuang sedikit menutupi.

"Mereka tidak tahu keadaan di sini, aku terpaksa menyuruh mereka masuk meloncati tembok benteng."

"Apa kau telah dapat mengejar Li Yuan-wai?"

Zhan Feng bertanya lagi.

"Anjing di rumah duka, burung yang ketakutan oleh panah, tidak ada orang yang dapat mengejarnya."

Ada sedikit kegembiraan yang sulit terlihat, Zhan Feng berkata.

"Jika kau tidak merasa marah mengapa tidak duduk di dalam saja?"

"Tentu saja aku tidak marah, aku hanya takut kau marah, jika tuan rumah telah membuka mulut begini, terpaksa aku menebalkan muka merepotkanmu, jujur saja, aku menginginkan Yu Quan Long Jing yang sudah lama sekali kau simpan."

Zhan Feng membalikkan tubuh, berjalan di depan, sambil menyuruh dua orang pelayan wanita yang bengong kembali ke rumah untuk menyeduh teh melayani tamu.

0ooo(dw)ooo0 Setelah memetik beberapa kali Yao Qin (kecapi) yang ada di atas meja, Ouwyang Wu-shuang kembali ketempat duduknya, memandang Zhan Feng beberapa saat baru menghela nafas.

"Pemandangannya masih tetap yang lama, tapi keadaannya sudah berbeda sama sekali, masih ingat ketika aku membawa Tangan Cepat Xiao Dai datang kesini mengobati sakit tenggorokannya, sepertinya baru saja terjadi kemarin...."

Hati Zhan Feng meloncat, tapi dia diam tidak berkata.

"Akhir-akhir ini tersebar berita di dunia persilatan bahwa Xiao Dai belum mati...."

Ouwyang Wu-shuang sengaja menghentikan bicaranya lalu berkata lagi.

"Malah ada lagi, orang yang mengatakannya adalah orang kita."

Zhan Feng mendadak memotong.

"Jangan sangkut pautkan aku denganmu...."

Ouwyang Wu-shuang tertawa berkata.

"Mengapa? Perkumpulan Bunga Ju bukankah nama ini adalah kau yang memikirkannya!"

"Aku sudah katakan aku sudah mengundurkan diri,"

Kata Zhan Feng dengan kesal.

"Mengundurkan diri!? Nona Zhan, ini bukanlah permainan anak kecil di rumah yang sedang main pengantin-pengantinan, mana bisa dengan begitu mudahnya, kau ingin bagaimana terus bagaimana?"

Ouwyang Wu-shuang nada bicaranya semakin dingin.

"Kalau.... kalau begitu apa keinginanmu supaya bisa melepaskan aku?"

Kata Zhan Feng dengan lemas menyandar kekursi.

"Mudah sekali, keinginanku tetap seperti dulu, serahkan plat kepercayaan untuk memerintahkan seluruh pesilat kepunyaannya Tabib Dewa Ahli Silat.... Bai Yu Diao Long halaman depan."

"Shuang-Shuang."

Zhan Feng hampir-hampir dengan memohon berkata.

"Kau.... kau sebenarnya ingin melakukan apa? Apakah yang kau lakukan selama ini masih belum cukup? Masih belum puas?"

"Melakukan apa?"

Ouwyang Wu-shuang berkata.

"Tentu saja melakukan hal besar yang telah disetujui antara kau dan aku, memimpin dunia persilatan, menguasai dunia persilatan, menciptakan gerakan besar yang bersejarah! Kau terlalu memandang rendah aku Ouwyang Wu-shuang, jika hanya mendapat kesuksesan Perkumpulan Bunga Ju sekarang, aku merasa sudah puas, maka aku lebih baik jadi wanita biasa saja, buat apa merendahkan diri-sendiri?"

"Sekarang dunia persilatan sangat kacau, kebanyakan masing-masing mengurus diri sendiri, wai.... walau Bai Yu Diao Long halaman depan aku berikan padamu, mungkin juga hanya tujuh aliran besar yang mau menurut perintah, lagi pula Bai Yu Diao Long harus ada halaman depan dan belakang bergabung menjadi satu baru ada kekuatannya, mempunyai satu halaman saja bukankah sama dengan benda tidak berguna...."

Ouwyang Wu-shuang tertawa dingin beberapa kali, berkata.

"Tujuanku juga cuma tujuh aliran besar, asal mereka mendengar perintah sudah cukup, aliran lain di dunia persilatan aku masih mampu menundukkan mereka, asalkan sudah ada halaman yang kau punyai, mengenai halaman lainnya, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku."

"Aku.... aku tidak bisa melakukannya."

"Tidak bisa memberikannya?"

Matanya Ouwyang Wushuang memelotot.

"Be.... benar, aku tidak bisa memberikannya."

Dengan pandangan seperti ingin menembus, Ouwyang Wu-shuang menatap tajam Zhan Feng, lalu dia tertawa, suara tawanya menusuk telinga, seperti pisau yang tajam, tajam menusuk kehati Zhan Feng.

"Apa kau tidak memperdulikan kematiannya? Apa kau tidak takut aku membongkar rahasiamu?"

Zhan Feng ketakutan, wajahnya yang cantik seperti bunga sudah menjadi pucat, dia berkata.

"Jika dia sudah mati, matinya juga demi kebenaran, tentu tidak perlu menyesal. Dan aku.... rahasiaku, sejak kematiannya aku sudah sadar, seperti asap lewat di depan mata, menghilang tidak berbekas.... kau.... kau pergilah! Aku tidak bisa merubah niatmu, kau juga seharusnya jangan menghalangi aku, pan.... pandanglah atas dasar kita pernah berteman, aku mohon kau bisa melepaskannya, baik tidak?"

Ouwyang Wu-shuang bangkit berdiri, dia tidak emosi, juga tidak berteriak lagi, hanya dengan nada bicara yang tenang dan dingin menakutkan berkata.

"Aku tidak tahu apa yang telah merubah dirimu, jika mengatakan demi kematian Yuan Ershao, kau jadi merubah segalanya, aku pikir kau akan menyesal, karena dia sangat mungkin masih belum mati...."

Zhan Feng bukan saja gemetar saking terkejut, malah hampir saja jatuh pingsan, dengan lemas dia berkata.

"Kau.... kau bilang apa?!"

Ouwyang Wu-shuang tertawa sinis berkata.

"Aku kata dia sangat mungkin belum mati, sekarang ini aku masih belum bisa memastikan, karena ada kabar di dunia persilatan, ada orang pernah melihat dia."

"Ma.... mana mungkin?"

"Mengapa tidak mungkin? Kau hanya melihat mayat yang wajahnya telah hancur, hanya mengandalkan tahi lalat merah dipergelangan tangannya, siapa pun tidak berani mengatakan itu adalah dia."

"Aku...."

Zhan Feng sudah terkejut oleh berita ini sampai tidak bisa bicara.

"Jika dia belum mati, rahasiamu pasti pada suatu hari akan terbongkar, apakah kau sudah mempertimbangkannya dengan jelas?"

Ouwyang Wu-shuang melanjutkan lagi.

"Kau jangan merasa aku sedang mengancammu, mengenai Zhan Long, bagaimana pun dia adalah kakakmu, juga tidak akan demi satu plat Bai Yu Diao Long kau mau mengorbankan dia, bukan begitu?"

Zhan Feng tubuhnya gemetar tidak kedinginan, setelah lama baru berkata.

"Shuang Shuang, kelihatannya kau telah lama kemasukan setan, aku sudah tidak dapat menyadarkanmu lagi, baiklah aku akan menyerahkannya padamu, hanya saja aku harap bisa melihat Zhan Long pulang ke rumah dengan selamat dahulu."

Ouwyang Wu-shuang tertawa berkata.

"Kelihatannya kau masih memperdulikan hubungan saudara, baik, aku percaya padamu, aku akan membuat dia sedikit pun tidak kekurangan apa-apa, dia boleh pulang dulu, aku hanya berharap kau bisa menepati janji, juga jangan berubah pikiran ditengah jalan."

Zhan Feng lemas sampai sedikit tenaga pun tidak ada, dia menyandar pada sandaran kursi menutup matanya berkata.

"Kau.... kau pergilah! Aku.... aku tidak ingin melihatmu lagi...."

Ouwyang Wu-shuang dengan dingin menatap lama berkata.

"Aku pergi sekarang, walau kau tidak ingin melihat aku lagi, tapi aku tetap akan kembali datang, karena aku harus mendapatkan plat Bai Yu Diao Long itu, maaf telah mengganggumu menikmati bunga Ju...."

Baru Ouwyang Wu-shuang berjalan sampai pintu, dia kembali membalikkan kepala berkata.

"Oh betul, aku ingin beritahu, kau benar cantik sekaji, cantiknya sampai hati aku juga tergerak, justru tidak tahu sibodoh itu urat mananya tidak benar, sampai tidak bisa menerimamu.... sudah, sampai jumpa!"

Sampai jumpa.?

Sepasang mata Zhan Feng yang tertutup, air mata telah mengucur melewati leher, dia sangat berharap paling baik seumur hidup tidak bertemu lagi.

Kenangan yang pahit sulit dilupakan.

Kesalahan dahulu juga seperti satu jala yang tidak dapat merobeknya, juga tidak dapat meloloskannya, dengan ketatnya menjaring Zhan Feng sampai sulit bernafas.

Dia sudah merasakan akibatnya kesalahan, juga sudah sampai saatnya untuk membayar.

Giginya yang seperti kerang itu menggigit bibirnya.

Dimulainya kesalahan itu terkilas di dalam bayangan....

Dia ingat saat mengenal Ouwyang Wu-shuang pertama kali karena hubungan antara tabib dengan pasien, saat dimulai senyumnya Ouwyang Wu-shuang tidak diragukan bisa menimbulkan perasaan orang yang enak, bersamaan juga orang bisa merasakan dia adalah teman bicara yang dapat menampung curahkan hati.

Karena dia begitu teliti, telitinya sampai bisa melihat rahasia di dalam mata orang, dia begitu hangat, hangatnya bisa sampai orang menimbulkan perasaan menyesal terlambat mengenal dia.

Zhan Feng ketika itu sedang dalam keadaan kacau, kesal, karena dia telah jatuh hati pada Yuan Ershao yang dipuja wanita di seluruh dunia....

Yuan Ling.

Dia mengutarakan semua kekacauan hatinya dan kekesalannya pada Ouwyang Wu-shuang, di dalam pikirannya, jika seorang teman yang bisa mencurahkan hati, dan lawan bicaranya adalah seorang wanita yang telah menikah, bagaimana pun dia bisa membantu menunjukan arah perasaan yang kacau itu.

Dia tidak tahu entah mulai sejak kapan, keadaannya berubah semakin kacau, dia orang yang tadinya sulit diraba, sekarang bertemu dengan dirinya seperti bertemu dengan seekor ular, menghindar pun rasanya takut tidak keburu.

Akhirnya dia kehilangan Yuan Ershao, dia tidak datang lagi ke perumahan Zhan Bao.

Dia telah mempercayai kata-kata Ouwyang Wu-shuang, mulailah timbul rasa benci, membenci dia yang tidak ada perasaan, juga membenci kakaknya Zhan Long lebih baik kehilangan satu-satunya adik, dan tidak mau kehilangan persahabatannya.

Sehingga dia kehilangan arah, dalam kebencian yang mendalam, membagi dua perumahan Zhan Bao, memutus hubungan saudara.

Lalu dia juga memuja Ouwyang Wu-shuang sebagai penentu arah, ingin cepat-cepat membalas dendam, sampai saat ini dia baru mengerti Shuang Shuang juga mengalami pengalaman pahit, gagal dalam cinta, hanya saja Shuang Shuang mencintai orang yang tidak seharusnya dicintai, dan dirinya sendiri mencintai seorang yang tidak mencintai dirinya.

Cara untuk menghilangkan benci hanya ada satu macam, yaitu membunuh orang yang dibencinya.

Yuan Ershao bukanlah orang yang dengan cara biasa bisa dibunuhnya, dia sungguh tidak bisa memikirkan cara untuk menghilangkan kebencian di dalam hatinya.

Dia juga tidak tahu bagaimana Ouwyang Wu-shuang bisa kenal dengan Yuan Dashao, juga tidak tahu bagaimana dia bisa tahu Yuan Dashao dengan Yuan Ershao bukanlah saudara sekandung, dengan hebatnya menggunakan Yuan Dashao yang mempunya hati iri dan tidak stabil.

Tiga orang itu berkumpul menjadi satu, merencanakan pembunuhan.

0ooo(dw)ooo0 Zhan Feng dengan sangat sedih memeluk erat-erat kepalanya.

Dia menggulung dirinya di atas kursi, karena dia merasakan hanya dengan demikian baru bisa meringankan beban hati nuraninya.

Dia melanjutkan lamunannya....

Apa itu cinta?

Dan benci itu apa?

Dalam pergumulan antara cinta dan benci dimana bisa dengan jelas merasakan itu apakah cinta atau benci?

Dia tahu Yuan Ershao masuk penjara, adalah ingin mengumpan supaya tahu siapa yang telah membunuh kakaknya, dia juga tahu dengan melakukan ini, malah tepat masuk ke dalam perangkap, satu perangkap yang walau dia punya ratusan mulut juga tidak akan bisa menjangkalnya, bagaimana pun didunia ini kecuali dia sendiri yang ingin mati, orang lain mana bisa membuat dia mati?

Sungguh dia juga dapat memikirkan siasat ini, dia tidak tahu bagaimana matinya anak Yuan Dashao, dan matinya begitu kebetulan, begitu kebetulannya sampai dirinya pun sulit mempercayainya, tapi dia tahu ketika empat saksi hidup telah dibunuh untuk menutup mulutnya, walau Bao Gong hidup kembali pun sulit menentukan siapa yang benar siapa yang salah, orang pintar malah terjebak dalam kepintarannya, dia sudah sampai taraf mau tidak mau harus mati, karena wanita satu-satunya yang bisa membuktikan dia tidak bersalah, dalam perjalanan pulang kegunung Jun di Tong Ding juga telah diserang, dibunuh orang.

Dia telah mati, dia juga baru mengerti dirinya mencintai, dia sudah melewati batas kebenciannya, bersamaan itu juga baru menemukan wajah sebenarnya Ouwyang Wu-shuang dan Yuan Dashao yang ingin menguasai dunia persilatan, menjadi raja di dunia persilatan.

Akhirnya dia terjerumus ke dalam lumpur yang sulit menarik diri, atas dorongan hati nurani dia memberanikan diri mengundurkan dirinya, dia mulai kesal, sangat menyesal, menyalahkan dirinya sendiri, juga juga melihat dengan jelas ketamakan, kejahatan, kekejaman Ouwyang Wu-shuang.

Semua perubahan ini dimulai dari Li Yuan-wai yang tidak sengaja melanggar masuk ke perumahan Zhan Bao, karena dari mulutnya dia membuktikan satu kenyataan yang mengerikan, yaitu Ouwyang Wu-shuang sebenarnya telah menyediakan satu jebakan, satu rencana dengan satu batu menjatuhkan dua burung, dia dengan indahnya menyebut demi melampiaskan kemarahan dirinya, dia sungguh telah menyelidik dengan jelas sifat setiap orang, setiap tahap kejadian, dan dengan rapi merencanakannya.

Juga lagi, dia malah dapat membuat Tangan Cepat Xiao Dai dan Li Yuan-wai, sepasang teman main sejak kecil ini jadi bermusuhan, ini membuat orang menjadi kagum atas kemahirannya.

0ooo(dw)ooo0 Malam, diam-diam telah mengalir masuk ke dalam kamar, ketika para pelayan dengan hati hati menyalakan lampu, Zhan Feng baru sadar dirinya satu kali lagi bangun dari kesedihan.

Benar, semua masih ada ruang untuk mengembalikan, jika dia benar-benar belum mati.

Dia tentu saja tidak mengharapkan bisa memperoleh kembali, dia hanya berharap pada suatu hari nanti dapat menyelesaikan cinta yang tidak ada hasilnya dengan tidak menyesal.

Air mata telah bercurcuran, dia tahu ini air mata pahit, juga seret, ini adalah dimulainya pembayaran itu.

Mendadak....

Dia teringat dua orang yang sangat dirisaukan, sangat dikhawatirkan, Zhan Long dan Tangan Cepat Xiao Dai.

Dia tidak tahu Xiao Dai menemui masalah apa, juga tidak tahu mengapa Zhan Long bisa ditahan oleh Ouwyang Wu-shuang.

Sehingga dia hanya bisa lebih menyalahkan diri, satu hati yang menyesal juga tidak bisa diredakan.

Di dalam kerah baju dia mengeluarkan sebuah Bai Yu Diao Long, ini adalah warisan dari ayahnya yang sejak kecil dikalungkan pada dirinya.

Melihat ini seperti melihat wajah ayah yang sayang padanya, hati Zhan Feng sedang meneteskan darah, karena dia harus menggunakan ini untuk menebus dengan nyawa sang kakak, Zhan Long yang kasihan, sejak kecil hanya tahu mempelajari pengobatan, orang yang begitu lembut karena keteledoran dirinya sesaat, sudah mengalami banyak derita.

0ooo(dw)ooo0 Merah diwajah Ouwyang Wu-shuang masih belum memudar.

Yuan Di sudah turun dari ranjang, datang kejendala memandang ke depan dengan bengong.

Senja hari adalah waktu yang paling ringan, juga paling santai, tapi siapa pun bisa melihat mereka berdua baru saja habis menyelesaikan olah raga yang paling panas, dan paling memerlukan semangat.

"Keringat masih belum kering, kau sudah buru-buru turun ranjang?"

Jelas nadanya tidak senang, sudah dapat didengar dari kata-katanya Ouwyang Wu-shuang. Yuan Di tidak membalikkan tubuh, juga tidak menyahutnya.

"Tuan besar Yuan, sialan kau ini dengarkan baik-baik, jangan bertampang ingin mati tidak, hidup lesu begitu. Tidak salah, kau dan aku bersatu hanya karena saling membutuhkan, anggap saja menjual dan membeli! juga bisa dikatakan basa-basi, kau mau apa? Puah! Kau paling baik jangan mimpi disiang hari!"

Memang betul, tidak ada satu wanita pun yang dapat menerima tingkah yang begini, apa lagi disaat wajah merahnya belum memudar.

Makanya Ouwyang Wu-shuang dengan keji dan marah mengatakannya.

Yuan Di membalikkan tubuhnya, di matanya tampak sangat marah, wajah tampan yang sedikit dingin, sudah menjadi warna ati babi.

Dengan dingin berkata.

"Kau berkata apa?!"

"Berkata apa? Gambar kunonya Tang Bo Hu, kau jangan berlagak seperti mau makan orang."

Ouwyang Wu-shuang juga tidak takut, lanjutnya.

"Apa yang kau pikirkan jangan kira aku tidak tahu, jika kau mampu coba kau cari akal, pakai kekerasan, dia juga seorang wanita, kau sialan ini mengapa tidak mencoba wanita itu dengan aku, apa ada bedanya?"

"Siapa yang kau katakan!?"

"Siapa yang kau pikirkan dalam hati, aku mengatakan siapa."

"Ouwyang Wu-shuang, kau juga harus mengerti, walau demi satu tujuan kita jadi bekerja sama, tapi paling baik siapa pun jangan mengurus masalah pribadi...."

Yuan Di, satu huruf per satu huruf dia mengatakannya.

"Betulkah?"

Ouwyang Wu-shuang dengan hina berkata.

"Yuan Di, aku lihat kau sekali makan kenyang sudah lupa siapa marga sendiri, kau paling baik jangan lupa, di dalam seluruh rencana, aku adalah pemimpinnya, kau adalah wakilnya, segala sesuatu tentang kau semuanya aku harus tahu, dan juga harus mengurusnya, termasuk kehidupan dan pikiranmu."

Melangkah maju selangkah, mengepal tangannya dengan erat, amarah di matanya sudah bergolak, namun, hanya satu langkah, dia sudah berhenti, tubuhnya gemetar, setelah lama baru dengan membisu melepas kepalan erat tangannya.

Ouwyang Wu-shuang membungkus tubuhnya dengan selimut di atas ranjang, dengan teliti memperhatikan gerakan dan reaksi hati lawannya, akhirnya dia tertawa, itu adalah semacam tawa hina dan kemenangan.

"Mengapa tidak maju lagi? Mengapa tidak meninjukan kepalan tanganmu? Mengapa kau hanya berani berlagak saja?"

Hatinya Yuan Di mendadak mengencang, tapi wajahnya sudah tidak ada ekspresi apa-apa.

Wajah yang tidak ada ekspresinya tentu adalah wajah yang aneh dan misterius.

Ouwyang Wu-shuang sedikit tidak tenang, tapi tetap berteriak berkata.

"Kau tidak menerimanya? Sialan, aku katakan kavi tidak menerimanya, betul tidak?"

Yuan Di tetap tidak bicara, dia melangkah lagi kesisi ranjang.

Ekspresi Ouwyang Wu-shuang yang judes, rambut panjang yang acak-acakan, diujung hidung ada keringat, buah dada yang tinggi dan putih ada setengah lebih keluar, bahu yang bulat licin, alis yang meninggi, ditambah dengan kata-kata kasar....

Dua orang itu sejenak saling melotot, pelan pelan mereka menemukan mereka itu begitu dekatnya, juga adalah jenis manusia yang sama.

Mendadak bergerak....

Yuan Di menarik erat rambut panjangnya kebelakang, kebelakang....

Wajah Ouwyang Wu-shuang karenanya menengadahmenengadah lagi....

Ini pasti sangat sakit, karena wajahnya Ouwyang Wushuang sudah mengerut, dia tidak mengeluarkan suara, juga tidak minta ampun, sebaliknya dari dasar matanya menemukan semacam gairah yang sulit dimengerti, semacam kepuasan yang sulit dilukiskan.

Tangan lainnya Yuan Di sudah hampir dihantamkan....

"Jangan.... jangan pukul wajahku...."

Kata Ouwyang Wu-shuang dengan lemas.

"Buk!"

Satu tinju.

Bahunya dipukul, orangnya terbang dari pinggir ranjang ke tengah ranjang.

Dia menggulung tubuhnya di dalam ranjang, gemetaran, seperti....

seperti seekor kambing bertemu dengan seekor serigala galak.

Tentu saja selembar kain pun tidak dipakai.

Dia bertelanjang bulat membiarkan orang melihatnya.

Yuan Di seperti harimau buas yang sudah gila, dia menunggangi di atas tubuhnya, telapaknya seperti hujan menghantamnya, dia malah memakai lututnya menahannya, memakai giginya sembarangan menggigit disekujur tubuhnya....

Ouwyang Wu-shuang berteriak dengan gairah, suaranya membuat orang gemetar.

Ini sama sekali bukan teriakan kesakitan, karena siapa pun bisa mendengar dari suaranya sama sekali tidak mengandung kesakitan.

Yang ada juga membuat seorang pria timbul gerakan birahinya.

Suara teriakan sangat lemah, terengah-engahnya Yuan Di juga semakin mereda.

Ouwyang Wu-shuang tidur di atas dadanya, menutup mata tapi sambil tersenyum, tawanya adalah semacam tawa kepuasan, menaklukan, bangga, dan bercampur dengan yang sulit dilukiskan.

Kali ini merah diwajahnya tetap masih ada, Yuan Di mengeluh duluan, dengan sedikit lelah berkata.

"Ke.... mengapa kau selamanya tidak bisa puas?"

Mengangkat kedua tangannya, Ouwyang Wu-shuang melihat di atasnya ada darah beku, bekas gigitan, serta lapisan-lapisan besar warna biru, dia baru merasakan sedikit kesakitan berkata.

"Aku ingat kau juga pernah mengatakan demikian padaku, di rumahku, dan juga baru saja membunuh orang, kau sendiri juga tahu, kita adalah orang yang sama jenisnya, Yuan Di, di antara kita hanya ada sifat binatang, tidak ada perasaan, masalah ini siapa pun tidak perlu menyangkalnya...."

"Kau sungguh sangat jujur, dan juga jujurnya sangat manis...."

"Tentu saja, aku kan bukan gadis lagi, kau juga bukan pria sejati, dihadapanmu buat apa aku menyembunyikannya? Dan lagi terhadap pria aku sudah kehilangan gairah bercerita cinta...."

Di dalam mata Ouwyang Wu-shuang terkilas kesedihan yang sulit dikatakan, melanjutkan.

"Seorang wanita asal kehilangan, kehilangan sekali dengan kehilangan seratus kali apa ada perbedaannya?"

Yuan Di tahu tentang segala sesuatunya, dia dengan tanpa tujuan bertanya.

"Kau masih belum mendapatkannya?"

"Hem, cepat atau lambat aku pasti bisa menangkapnya, sialan Li Yuan-wai ini licinnya seperti belut, larinya seperti kelinci, beberapa kali dia hampir saja mati di tempat, siapa tahu disaat terakhir dia selalu bisa meloloskan diri...."

"Ooo? Mengapa bisa begitu?"

Yuan Di sedikit aneh.

"Mengapa bisa!? Ini harus tanyakan pada Zhan Feng itu, cewek brengsek ini, ketika aku sedang dengan segala upaya mencari Li Yuan-wai, sialan, disaat itu dia sudah timbul hati yang berbeda, bukan saja menyembunyikan dia, malah masih mengajarkan dia jurus hebat Man Tian Hua Yu, dia.... dia sengaja ingin melawan aku."

Yuan Di tidak buka suara, karena dia tahu akan hal Li Yuan-wai tidak sengaja masuk ke perumahan Zhan Bao, malam itu dia sedikit terkena masuk angin ingin mengambil kesempatan mendekati dia, tapi karena Li Yuan-wai masuk jadi merusak segalanya.

Sekarang mendengar Ouwyang Wu-shuang berkata demikian, sungguh merasa tidak terduga.

"Wanita itu, terhadap kita, cepat atau lambat pasti akan merepotkan, masalah ini tidak perlu aku katakan, aku pikir kau juga pasti tahu."

Ouwyang Wu-shuang sedikit menengadahkan kepalanya, tapi tidak bisa menangkap dari matanya apa yang dipikirkan dia di dalam hatinya, setelah dihentikan sejenak melanjutkan.

"Aku tahu kau tidak tega membunuh dia, tapi, melihat kenyataannya, dia bagaimana pun harus dibunuh."

Dengan pelan Yuan Di berkata.

"Aku tahu, hanya saja wanita yang begitu cantik siapa yang tega membunuhnya?"

"Kau bukan ingin mengatakan pada aku, kau sudah jatuh cinta pada dia bukan?"

Kata Ouwyang Wu-shuang bangkit duduk, dia memiringkan kepala.

"Macam orang seperti kita ini hanya ada gairah, dimana bisa ada cinta?"

Kata Yuan Di dengan bengong.

"Kau tahu akan masalah ini, bagus, dan lagi wanita itu menurut yang aku tahu kecuali.... kecuali orang itu, didunia ini mungkin tidak ada orang lain lagi yang bisa membuat hatinya tergerak."

Yuan Di tentu saja tahu orang yang ditunjuknya, siapa. Walau hanya dengan bergetar perlahan, Ouwyang Wushuang sudah bisa merasakan dia sudah sedikit tidak tenang.

"Masih belum ada berita dia?"

Ouwyang Wu-shuang bertanya. Yuan Di menggelengkan kepala, dia berkata.

"Tapi aku bisa merasakan sepasang matanya ada disuatu tempat sedang mengawasi aku, melihat gerak gerik kita."

"Aku tidak percaya, apa dia punya tiga kepala enam tangan, kau adalah kakaknya, mengapa kau begitu takut pada dia?"

"Lucu! mengapa aku takut pada dia? Aku ingin sekali mencincangnya, jangan bicarakan aku adalah kakaknya, aku tidak punya adik semacam dia."

Tiba-tiba Yuan Di berkata dengan marah. Satu tawa keji terlintas, Ouwyang Wu-shuang berkata.

"Dia adalah musuh kita yang utama, aku pikir kau tidak lupa, dia telah meracuni anakmu? Asal telah memusnahkan dia, lalu dapat mengambil Bai Yu Diao Long, maka tugas kita akan sukses, dan dunia ini akan menjadi milik kita berdua!"

Yuan Di diam tidak bicara. Karena dia terpikir anaknya, anak berusia empat tahun yang polos dan lucu itu. Mendorong pelan beberapa kali Yuan Di, Ouwyang Wushuang berkata.

"Hei! Kau ini mengapa? Sedang memikirkan apa?"

Yuan Dijadi tersadar berkata.

"Tidak apa."

"Aku sedang bertanya padamu, kapan kau akan melepaskan Zhan Long, dan itu Polisi Setan mau diapakan?"

Tanya Ouwyang Wu-shuang.

"Bukankah kau mengatakan dia harus melihat Zhan Long dulu baru mau menyerahkan Bai Yu Diao Long? Kalau begitu cepat saja lepaskan dia pulang, bagaimana pun orang itu tidak bisa silat, juga tidak akan ada pengaruh apa apa, Polisi Setan Tie Cheng Gong aku lihat sementara ditahan dulu, mungkin di kemudian hari masih ada gunanya,"

Kata Yuan Di setelah berpikir beberapa saat.

"Aneh? Bai Yu Diao Long harus ada halaman depan dan belakang, baru dapat memerintah dunia, mengapa orang itu hanya ingin kita mendapatkan halaman yang dipunyai Zhan Feng saja? jadi satu halaman lagi ada dimana?"

Kata Ouwyang Wu-shuang tidak mengerti sambil menyandar ketembok menarik-narik selimut. Dengan sedikit ketakutan, Yuan Di berkata.

"Bicaramu hati-hati sedikit."

"Takut apa? Dia tidak mungkin sembunyi diatap kamar mencuri dengar? Kecuali kau melaporkan, sebenarnya biar kau melapor juga tidak ada gunanya, terhadap kita berdua dia sama sekali tidak percaya, jika tidak dia juga tidak akan menggunakan cara yang keji itu untuk mengendalikan kita,"

Kata Ouwyang Wu-shuang.

"Siapa yang tahu satu halaman lagi ada dimana? Aku sudah bertanya pada Zhan Long, dia malah berkata ayahnya Tabib Dewa Ahli Silat tahun itu hanya meninggalkan satu halaman, jangan perdulikan itu, mencari satu halaman bagaimana pun lebih mudah dari pada mencari dua halaman, apa lagi orang itu mungkin sudah mempunyai halaman lainnya."

Yuan Di menerka.

"Hitung hitung hari, batas tiga bulan seharusnya sudah sampai, masalah ini paling baik cepat-cepat dilakukan, jika tidak sudah sampai waktunya tidak bisa menyerahkan, sakit yang seperti menggigit hati itu, tubuh yang terbentuk dari darah dan daging ini bagaimana bisa menahannya...."

Ketakutan disepasang mata Ouwyang Wu-shuang dengan jelas dapat dilihat.

"Siapa sebenarnya orang itu? Apa sampai kau sendiri pun tidak tahu?"

Yuan Di bertanya.

"Setan baru bisa tahu, setiap kali perintahnya selalu diantar oleh orang lain."

Sekali menyebut orang itu, diwajah Ouwyang Wu-shuang jadi ada ketakutan.

"Jika.... jika satu hari jika kau...."

Dia dengan ketakutan bertanya.

"Jika satu hari aku jadi mati betul tidak?"

Ouwyang Wushuang mewakili dia melanjutkan.

"Makanya aku beritahu, jika aku telah mati, kau juga tidak akan hidup, kita adalah satu tali mengikat duajangkrik, kau tidak bisa lari, aku juga tidak bisa lari, ini kau paling baik mengerti."

Hatinya Yuan Dijadi tenggelam.

"Kau, jangan memikirkan yang bukan-bukan, sampai aku juga tidak terlepas dari orang itu, kecuali menerima mau apa lagi?"

Ouwyang Wu-shuang tangannya mulai lagi mengerayangi tubuhnya.

Lambat laun, Yuan Di juga mulai bereaksi.

Akhirnya malam telah tiba, di dalam rumah malah ada pemandangan yang menggairahkan, suara terngengahengah seperti akan merobek malam terdengar.

0ooo(dw)ooo0 Diatap rumah tidak ada orang yang mencuri dengar, tapi diluar kamar ada orang berdiri jauh-jauh sekali.

Pak Qian di tangannya ada satu baki, dibaki ada makanan kecil, ada kue rose seribu lapis, kuah daging bungkus segar, dan daging ayam serabut.

Dia sudah berapa lama datangnya tidak ada orang yang tahu.

Tapi melihat makanan kecil di atas baki, seharusnya datangnya sebelum makan malam.

Orang di dalam kamar adalah pesilat tinggi yang telinganya sangat tajam, mengapa mereka tidak mengetahui keberadaannya?

Hanya ada satu kemungkinan, ketika orang sedang melakukan hal yang lupa diri, walau derap kaki seekor gajah besar pun, mungkin juga sulit mendengarnya.

Pak Qian bukan seekor gajah besar, dia hanya seorang tua yang kecil kurus, juga adalah pengurus rumah yang setia dan tua.

Dia tidak berani maju ke depan, hanya karena sekarang waktu makan malam juga sudah lewat, mana bisa mengantarkan makanan kecil?

Maka ketika suara terengah-engah di dalam kamar terdengar kembali, dia membalikkan tubuh pergi, juga sambil menggelengkan kepala mengeluh.

Di sini adalah perumahan Hui Yuan, dia juga hanya seorang pelayan.

Seorang pelayan walau tahu majikannya pulang bersamaan membawa pulang sepuluh orang wanita, bersamaan dengan sepuluh wanita naik ranjang, kecuali menggelengkan kepala mengeluh dia masih bisa berbuat apa lagi?

0ooo(dw)ooo0 BAB 27 Kesalahan dalam kesalahan Tangan Cepat Xiao Dai pernah dengan senyum misterius, menghindar dari satu pertarungan.

Di sini walau bukan di jalan raya Chuan Shan, tapi adalah jalan raya tanah kuning.

Sekarang dia bertemu lagi dengan orang yang sama, yang berbeda dengan keadaan yang lalu adalah kali ini dia tidak menunggang kuda, dan di antara alis lawan juga tidak ada hawa membunuh yang menakutkan.

Sebenarnya dalam jarak tiga puluh zhang lebih, Xiao Dai sudah jelas melihat orang yang datang ini siapa, tapi, dia tetap berjalan terus, tidak ada sedikit pun rasa heran, juga tidak ada ekspresi sedikitpun, hingga jarak langkah dia melangkah, setiap langkahnya tetap adalah dua che tujuh cun.

Sesudah dekat, dia melihat Xu Jia-rong yang kepalanya sedang menunduk rendah, sepertinya ada puluhan ribu simpul yang tidak dapat dibuka di dalam hatinya, begitu kesepian.

Ada jalanan tentu ada orang yang berjalan, ini tidak ada yang aneh.

Tentu saja dia tahu ada orang yang berpapasan dengan dia, hanya saja dia tidak mengangkat matanya, karena ini adalah jalan raya yang besar.

Tapi, dia telah menghentikan langkahnya, pelan-pelan membalikkan tubuh, menatap tajam bayangan belakang orang yang baru saja berpapasan.

Manusia semuanya mempunyai perasaan, sekarang Xu Jia-rong seperti merasa kenal dengan bayangan belakang orang itu, sepertinya pernah bertemu.

"Hei, berhenti...."

Xiao Dai menghentikan langkahnya, dia membelakangi Xu Jia-rong, ketika dia mendengar teriakan ini, sudah tahu satu masalah sudah tidak bisa dihindari.

Dengan pelan dia membalikkan tubuhnya, Xiao Dai dengan dingin berkata.

"Kau memanggil aku?"

"Benar, aku memanggilmu, kau adalah...."

Tampak wajah Xu Jia-rong tercengang berkata.

"Tangan Cepat Xiao Dai!?"

"Sudah lama tidak bertemu. Mengapa bisa dirimu!?"

"Me.... mengapa adalah kau!?"

Mengapa bisa dia?

Mengapa bisa dia?

Xu Jia-rong hanya merasa bayangan belakang orang ini sangat hafal, tapi tidak terpikir ternyata adalah Tangan Cepat Xiao Dai.

Sekarang dia sudah melihat jelas, dia adalah Xiao Dai, bukan saja pakaian sutranya kusut tidak karuan, sampai orangnya pun rupanya tidak karuan.

Rambutnya acak-acakan, brewok panjang, bekas darah yang sudah menghitam penuh di seluruh tubuh, dan didadanya digulung dengan kain luka, satu-satunya barang yang tidak berubah, ialah sepasang matanya, sepasang mata yang selamanya tidak bisa dipandang tembus oleh orang.

Julukan Tangan Cepat Xiao Dai sudah menggemparkan dunia persilatan, apa lagi setelah terjadi peristiwa pertarungan digedung Wang Jiang, setelah Tangan Cepat Xiao Dai bertarung melawan Dua Pengemis Cacat empat orang dari Gai-bang dia jatuh kesungai dan ternyata tidak mati, sampai saat dekat ini muncul kembali sendirian menghancurkan Perkumpulan Perairan Zhang Jiang, lalu melukai Tiga Pedang Serangkai Wu Dang, semua kejadian yang memgemparkan ini, setiap orang sudah tahu.

Sekarang dia berdiri di depan dengan kusut tapi tetap gagah, walau kepandaian Xu Jia-rong lebih tinggi, kemampuannya lebih besar, juga tidak terasa mundur tiga langkah.

"Kau.... kauterluka?"

"Benar, jika kau mengira aku sedang terluka sehingga tidak berani bertarung, kau salah mengira."

"Bertarung? Bertarung apa?"

Dia sesaat bingung.

"Aku tidak lupa kejadian di jalan raya Chuan Shan kau menghadang aku,"

Kata Xiao Dai dingin.

"Sekarang adalah kesempatan yang paling bagus."

"Aku pikir kau telah salah paham, masalah itu sudah lama lewat...."

Kata Xu Jia-rong sedikit canggung. Walau di dalam hati merasa aneh, tapi Xiao Dai hanya dingin melihat wanita cantik ini katanya..

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, hari ini kita sudah bertemu...."

"Aku sudah katakan masalah itu sudah lewat...."

Xu Jiarong menggelengkan kepala berkata.

"Apa lagi.... apa lagi kau adalah temannya Li Yuan-wai."

"Lalu bagaimana?"

Kata Tangan Cepat Xiao Dai kaku. Bagaimana pun Xu Jia-rong tidak bisa memberitahukan perasaan dirinya pada Li Yuan-wai, Xu Jia-rong terdiam sejenak berkata.

"Tidak.... tidak apa, hanya saja aku juga kenal dia.... dan juga.... dan juga...."

"Dan juga bagaimana!?"

Xiao Dai sedikit tidak sabar.

"Dan juga aku.... aku tahu salah paham yang terjadi antara kau dengan dia."

"Kau ini siapa? Aku ingat kau pernah mengatakan lebih baik membantu temanku, juga tidak mau menjadi musuhku, dan kau juga mengatakan disaat bertemu kedua kalinya, akan memberitahu aku namamu."

Xiao Dai mulai menginterogasi.

"Aku Xu Jia-rong, dulu.... dulu mencegat kau di jalan raya Chuan Shan, aku.... aku terpaksa melakukannya...."

"Xu Jia-rong?"

Xiao Dai otaknya dengan cepat menyelidik nama ini, tapi dia gagal, karena dia sungguh tidak pernah mendengarnya.

"Kau mengatakan kau tahu salah paham yang terjadi antara aku dengan Li Yuan-wai?"

Tanya Xiao Dai tidak mengerti.

"Benar."

Dia menjawabnya dengan pasti. Xiao Dai tidak bicara, hanya dengan sorot matanya dia meneliti.

"Kau.... kau tidak percaya?"

Dilihat orang dengan sorot mata demikian, tentu saja dia merasa tidak nyaman, maka dengan sedikit gelisah bertanya.

"Apakah aku bisa percaya?"

Kata Xiao Dai seperti bicara pada diri sendiri.

Tentu saja dia tidak percaya, bagaimana pun dia adalah orang yang terlibat.

Di dalam pikirannya dia yang terlibat juga tidak tahu, orang luar bagaimana mungkin bisa tahu?

Apa lagi orang luar ini adalah seorang yang mendengar pun dia belum pernah.

Seorang yang kata-katanya tidak dipercaya orang, biasanya hanya ada dua reaksi.

Satu, mencari akal membuktikan.

Satunya lagi adalah tidak peduli penjelasannya lagi, membalikkan kepala dan pergi.

Xu Jia-rong adalah wanita yang mempunyai harga diri tinggi, dia tentu saja tidak bisa mengatakan dirinya telah bertemu dengan laki-laki yang dipantatnya ada tanda luka yang sama seperti Li Yuan-wai punya.

Makanya dia tidak mau menjelaskan lagi, dia membalikkan kepala dan pergi.

Sayang baru saja membalikkan kepala melangkah dua langkah, dia sudah dihadang dengan cepat oleh Xiao Dai.

"Aku.... aku pikir, aku pikir aku seharusnya mendengar dulu kata-katamu...."

Kata Xiao Dai dengan sedikit harapan.

"Kau sudah percaya?"

Tanya Xu Jia-rong sedikit kesal.

"Aku pikir kau tidak ada alasan membohongi aku."

"Bagus sekali, ini membuktikan kau cukup pintar, jika tidak aku berani katakan salah paham antara kau dengan dia selamanya tidak akan ada penyelesaiannya."

"Kalau begitu nona Xu sekarang bisakah kau memberitahu aku?"

"Boleh, tapi aku ingin tahu dulu mengapa kau dulu ingin bertarung dengan Li Yuan-wai?"

Tanya Xu Jia-rong.

"Ini.... ini apakah ini sangat penting?"

"Tentu saja, karena Li Yuan-wai juga untuk masalah ini selalu tidak punya jawabannya."

"Soal ini bukan dengan satu dua patah kata bisa menjelaskannya,"

Kata Xiao Dai kaku.

"Aku bisa sabar."

Xu Jia-rong tentu bisa sabar, bagaimana pun setiap wanita terhadap orang yang dicintainya, walau dia setiap makan, berapa mangkuk makannya, berapa kali masuk ketoilet, dia juga ada kesabaran untuk mendengarnya.

0ooo(dw)ooo0 Sebuah warung teh.

Satu warung teh yang khusus melayani orang yang melewati jalan itu.

Rumah bambu, meja bambu, kursi bambu, ditambah bos warung yang tubuhnya seperti bambu, di bawah teriknya sinar matahari dimusim gugur, jika ada tempat seperti ini, tidak perlu dikatakan lagi, setiap orang yang lewat pasti akan menghentikan langkahnya dan mampir sebentar, minum semangkuk teh untuk membasahi tenggorokan yang kering.

Xiao Dai sedang menemani Xu Jia-rong, sekarang mereka telah duduk diwarung teh ini.

Xu Jia-rong telah mendengar cerita Xiao Dai dengan Li Yuan-wai.

"Katamu demi menyelidik sebuah siasat busuk, jadi sengaja melakukan perbuatan demikian?"

Tanya Xu Jiarong.

"Betul, aku melihat, di belakang Ouwyang Wu-shuang ada yang memerintah dia."

"Apa alasannya?"

"Dia tidak ada kemampuan, juga tidak ada semangat melakukan hal itu, dengan melakukan semua ini aku bisa memancing keluar orang di belakang layarnya, juga dengan cepat menolong Li Yuan-wai, dan yang paling penting, aku berharap mendapat jawaban mengapa dia mau membunuh Li Yuan-wai, berusaha membuat dia sadar dari perbuatannya."

Xiao Dai tidak mengerti mengapa dia bisa memberitahukan semua ini pada Xu Jia-rong.

Mungkin karena dia ingin tahu apa penyebab salah pahamnya dari mulut dia.

Juga mungkin ini yang disebut 'bertemu benang merah'.

"Menurut yang aku tahu, Li Yuan-wai tidak pergi menepati janji pertemuan digedung Wang Jiang, karena ada alasan yang tidak bisa dikatakan, tapi kau sepertinya tidak berniat melepaskan dia."

"Mengapa bicara begitu?"

"Karena kau siap menggunakan pisau pemberian dia, untuk mengakhiri pertarungan itu?"

"Benar, aku pikir walau aku tidak ada kesempatan menjelaskannya, tapi kalau dia melihat pisau itu seharusnya dia tahu segalanya."

"Bagusnya dia tidak jadi datang menepati janjinya, jika tidak dia mungkin mati pun matanya tidak bisa meram."

Xu Jia-rong tidak merasa sepaham.

"Aku pun ada kesulitan, sebelumnya.... aku tidak tahu pisau itu telah ditukar oleh Ouwyang Wu-shuang,"

Kata Xiao Dai tercengang.

"Makanya aku berkata bagus sekali dia tidak bisa datang, kalau tidak bukankah akan terjadi korban yang sia-sia."

"Kau.... kau mengapa bisa tahu akan hal ini?"

Tanya Xiao Dai.

"Menurutmu, bagaimana?"

"Apa Li Yuan-wai yang memberitahumu?"

Xiao Dai cepat cepat bertanya.

"Aku sudah tahu, aku sudah tahu, karena pisau itu, salah paham antara aku dengan dia sampai pada ketaraf susah dijelaskan lagi...."

"Bukan hanya masalah ini saja...."

Xu Jia-rong berkata lagi.

"Li Yuan-wai sudah putus hubungan dengan Gai-bang, juga beberapa kali hampir dibunuh oleh Ouwyang Wushuang, ini semua juga karenamu."

Xiao Dai diam mendengarkan dia melanjutkan. Dengan wajah sedikit merah, dia melanjutkan.

"Salah paham dia padamu adalah meng.... mengira kau telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, tapi dia yang menanggung resikonya."

"Resiko?! Aku membuat dia menanggung resiko? Mengapa aku tidak tahu?"

"Kau tentu saja tidak tahu, jika kau sudah tahu maka tidak akan disebut salah paham, masalahnya begini, Ouwyang Wu-shuang pernah diperkosa orang, dan dia mengira Li Yuan-wai yang memperkosanya, tapi justru Li Yuan-wai tidak tahu masalah ini, dia tentu saja tidak mengaku, sehingga Ouwyang Wu-shuang ingin dengan segala cara membunuh dia."

"Ini.... ini apa hubungannya dengan aku?"

"Masalahnya adalah tuduhan itu kau yang menyebarkannya, dan akibatnya semua ditimpakan pada dia."

"Kentut, aku Tangan Cepat Xiao Dai mana mungkin orang semacam itu."

Xiao Dai tidak tahan jadi memaki.

"Dengan apa dia melibatkan diriku?"

"Karena.... karena hanya kau yang tahu tanda.... tanda ditubuh Li Yuan-wai."

Xu Jia-rong dengan samar mengatakannya.

"Tanda? Ditubuhnya ada tanda apa?"

Mata Xiao Dai jadi terang berkata.

Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 2

Baca Juga: Duel Dua Jago Pedang 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert