Eps 6 Misteri Bayangan Setan - Khu Lung
Baca online Misteri Bayangan Setan - Khu Lung
Cersil Misteri Bayangan Setan - Khu Lung.
"Akupun harus berlalu dalam pertemuan besar esok hari mungkin aku tidak ikut hadir, kau suka berjaga diri baik-baik"
Di tengah berkelebatnya bayangan hijau, tahu-tahu tubuh itu sudah berada beberapa kaki jauhnya.
Dengan termangu-mangu Tan Kia-beng berdiri di tempat semula, lama sekali ia baru menghela nafas ringan, kasih sayang dari Dara Berbaju Hijau itu serta pesan wanti wanti dari si hweesio tua beralis putih membuat hatinya terpojok dalam keadaan serba salah.
Dara Berbaju Hijau itu adalah murid dari Majikan Isana Kelabang Emas.
sedang sang hweesio beralis putih adalah gurunya, sudah tentu mereka mengerti sangat jelas kekuatan yang sebenarnya dari pihak Isana Kelabang Emas, apalagi jika didengar dari nada suaranya jelas ia sedang memberi nasihat disamping memberi peringatan, sepertinya mereka takut ia datang untuk melakukan permbunuhan besar besaran.
bukankah hal ini sangat menggelikan sekali?
Pihak Isana Kelabang Emas banyak mengumpulkan jagojago lihay yang entah berapa banyaknya, sedang ia sendiri hanya mengandalkan kekuatan lima, enam orang saja, kemenangan tidak mungkin didapatkan dengan gampang.
Tapi si hweesio beralis putih itu mengatakan bila majikan Isana Kelabang Emas pasti kalah, apakah ia sengaja menjalankan siasat menyombongkan pihak musuh?
Tapi bila ditinjau dari sikap serta wajah sang hweesio tua itu, jelas ia tidak mirip orang jahat, apakah disamping itu masih ada sekelompok kekuatan lain yang sengaja datang membantu?
Tapi teringat dirinya masih berusia sangat muda, terjun dalam dunia kangouw belum lama, kawan karib tidak banyak, ia tak dapat membayangkan siapakah yang bakal datang memberi bantuan kepadanya.
Beruntung sekali pertemuan puncak akan diadakan esok hari, sampai waktunya tentu semua urusan bisa dibikin jelas, dan ia anggap merasa gelisah pada saat ini tiada berguna.
Setelah mengambil keputusan di dalam hati, tubuhnya mendadak meloncat ke depan dan langsung menuju kemulut gunung sebelah timur Setibanya dimulut gunung, ia menemukan suasana di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun.
"Eeei... kemanakah mereka pergi?"
Pikirnya dalam hati.
Kembali ia berputar mengelilingi tempat itu, tapi tidak ditemukan juga suatu jejakpun.
terpaksa ia balik kembali kemulut gunung sebelah Selatan, setibanya dimulut gunung sebelah Selatan, disanapun sunyi senyap tidak kelihatan sesuatu apapun.
Ketika itu waktu menunjukkan hampir mendekati kentongan ketiga, seorang diri berlarian di tengah hutan rimba yang sunyi dalam hati merasa bagaikan seluruh gunung Ui san sudah mati saja keadaannya, dari balik hutan beberapa kali berkumandang keluar suara pekikan burung-burung malam yang menambah keseraman suasana disana.
Teringat besok hari bakal berlangsung suatu pertarungan sengit yang menentukan mati hidup, iapun tidak perlu merasa heran lagi terhadap ketenangan yang mencekam seluruh permukaan bukit pada malam itu, karena saat saat inilah merupakan saat yang paling tenang, paling hening menjelas datangnya suatu angin badai.
Akhirnya pemuda she Tan ini teringat masih ada banyak urusan yang harus dirundingkan dengan beberapa orang Loocianpwee, seharusnya ia tidak boleh berlarian semau sendiri.
Kemungkinan sekali Hu Siauw-cian sekalian sudah balik ke tempat semula sewaktu tidak menemukan dirinya.
Oleh sebab itu ia putuskan untuk kembali dahulu kegua, mungkin Ui Liong supek beberapa orang sedang menanti dengan gelisah.
Sewaktu Tan Kia-beng kembali ke dalam gua tempat berkumpulnya para jago, ketika Ui Liong Tootiang, siasap dan mega selaksa li, Lok Tong serta Su Hay Sin Tou sekalian sedang menanti di dalam gua.
Melihat munculnya pemuda tersebut, dengan perasaan heran mereka sama-sama menegur.
"Eeei.... mengapa Cuncu serta nona Hu belum juga kembali?"
Dengan alis berkerut Tan Kia-beng lantas menceritakan keadaan sebenarnya yang telah terjadi. Selesai mendengar kisah itu, Lok Tong pertama-tama yang meloncat bangun.
"Menurut keadaan seperti yang diceritakan mereka pasti sudah terjatuh ketangan Majikan Isana Kelabang Emas. Kita harus cepat-cepat berusaha untuk menolong kembali diri mereka."
"Heee.... heee.... heee.... heee.... jarak ini hari dengan besok tinggal satu, dua jam saja, apa yang perlu kau gelisahkan?"
Su Hay Sin Tou sambil tertawa dingin.
"Menurut pendapat aku si pencuri tua, lebih baik kita kumpulkan tenaga untuk menghadapi pertemuan puncak esok hari, apalagi Toako sudah berlari-lari satu malaman, iapun harus berisitrahat untuk kumpulkan tenaga menghadapi majikan Isana Kelabang Emas esok hari...."
Ui Liong Tootiang pun merasa tiada berguna mencari jejak kedua orang gadis itu pada saat begini, bahkan kemungkinan sekali mempengaruhi kesuksesan esok hari.
oleh sebab itu setelah termenung sejenak sambil mengelus jenggotnya ia berkata.
"Menurut dugaan pinto, mereka berdua sama-sama memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa, sekalipun tidak becus rasanya mereka masih punya kekuatan untuk mengundurkan diri, apalagi masih Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong serta Pek-tok Cuncu belum kembali. Kemungkinan sekali di tengah perjalanan mereka sudah berjumpa!"
Melihat semua orang berbicara demikian walaupun dalam hati simega dan asap selaksa li merasa gelisah iapun tidak banyak berbicara lagi.
Ketika itu air muka Tan Kia-beng berubah sangat hebat, iapun merasa berduka oleh kejadian tadi.
Jikalau dirinya tidak buru-buru pergi mengejar orang berbaju hijau yang saling mengirim satu pukulan dengan dirinya, sudah tentu tak akan kehilangan berita dari Hu Siauw-cian sekalian, oleh sebab itu selama ini ia duduk termenung di atas tanah.
Su Hay Sin Tou walaupun wajahnya kelihatan dingin, kaku dan hambar padalah jadi orang paling ramah.
Terhadap "Toako"nya ini ia sudah timbul rasa simpatik yang sangat mendalam, ketika melihat wajahnya penuh diliputi kemurungan ia segera maju menghibur seraya menepuk pundaknya.
"Hari sudah hampir terang tanah, lebih baik beristirahatlah sebentar dengan hati tenang. pada saat ini kendati terjadi suatu peristiwa yang amat besarpun kau tidak perlu ikut campur."
Sambil tertawa pahit Tan Kia-beng menggeleng. Melihat pemuda itu menolak nasehatnya, Su Hay Sin Tou jadi kheki sehingga matanya mendelik.
"Apa kau anggap perkataan dari Sam ko salah? tegurnya.
"Benar.... sangat benar, tapi urusan sudah berada diujung tanduk, bagaimana mungkin hatiku bisa tenang?"
"Urusan sudah jadi begitu, cemaspun tiada berguna. aku si pencuri tua percaya kedua orang budak itu tak bakal mati"
Tan Kia-beng yang melihat saudara tuanya ini sedang memandang dirinya dengan sinar mata penuh kekuatiran, ia merasa tidak enak untuk banyak berbicara lagi.
Pemuda itu menurut dan pejamkan mata atur pernapasan, sebentar kemudian ia sudah berada dalam keadaan lupa segala galanya.
Menanti ia tersadar kembali, hari sudah terang tanah ketika ia membuka mata maka tampaklah Pek-tok Cuncu si Rasul Selaksa Racun beserta Hay Thian Sin SHu ayah beranak sudah datang semua disana.
Terburu-buru ia bangun berdiri untuk memberi hormat kepada semua orang, kemudian bersama-sama membicarakan soal pertemuan yang akan diadakan nanti, mendadak Leng Poo Sianci mengambil keluar sebuah buntalan besar dan diserahkan ketangan sang pemuda.
"Eeei! Ini hari adalah saat berkumpulnya seluruh jago liehay dari setiap partai yang ada diseantero dunia, apakah kau ingin menghadiri pertemuan puncak semacam itu dengan memakai pakaian pengemis yang dengkil lagi bau itu?"
Tegur sang gadis sambil tersenyum. Tan Kia-beng melirik sekejap keseluruh badan sendiri, akhirnya iapun tersenyum.
"Kenapa tidak boleh?"
Tanyanya.
"Hmm! pakaian sudah aku persiapkan bagaimanapun juga kau harus berganti pakaian dahulu"
Kata Leng Poo Sianci sambil membuka buntalan tersebut dan mengambil keluar satu stel pakaian warna biru dan dilemparkan ke atas pundaknya.
Ui Liong Tootiang yang melihat waktu sudah tidak pagi, segera ikut menimbrung pula dari samping.
"Tan Si heng, cepatlah kau berganti pakaian. kitapun harus segera berangkat"
Terpaksa Tan Kia-beng menurut saja dan pergi mencari suatu tempat yang sunyi untuk mencuci bersih wajahnya dari obat penyamar setelah itu ganti pakaian dan balik kegua.
"Bagaimana kalau sekarang juga kita orang berangkat?"
Kata Ui Liong Tootiang setelah melihat pemuda itu kembali.
Semua orang menyatakan setuju dan demikianlah tiga orang tua seorang toosu dengan mengiringi Tan Kia-beng berangkat kepuncak Si Sim Hong.
Panitia penyelenggara dari pertemuan puncak para jago kali ini adalah dari pihak Siauw-lim serta Bu-tong pay.
Di atas sebidang tanah berumput di depan puncak pada saat ini sudah didirikan sebuah panggung oleh dua orang partai.
Disebelah Timur, Barat serta Selatan dibangun pula barak bambu yang beralaskan alang-alang.
Sewaktu rombongan Tan Kia-beng tiba disana, orang-orang dari tujuh partai besar sudah menanti di barak sebelah Selatan.
Duduk dipaling tengah Yen Yen Thaysu, Thian Liong Tootiang serta Liok lim Sin Cie bertiga, sedangkan ciangbunjin dari tujuh partai besar sebaliknya malah berada di deretan belakang dan anak murid mereka berada dipaling belakang.
Ui Liong Tootiang serta Hay Thian Sin Shu beberapa orang adalah manusia manusia yang tak gemar berkenalan, mereka tak ambil gubris terhadap orang-orang itu.
Sedangkan Tan Kia-beng sendiripun tak ingin banyak ambil sikap, dengan cepat mereka beberapa orang langsung menuju kebarak sebelah Timur.
Thian Liong Tootiang serta Liok Lim Sin Ci yang melihat kedatangan mereka dari tempat kejauhan buru-buru bangun berdiri dan menyapa.
"Kalian beberapa orang mari duduk sini!"
Hanya Yen Yen Thaysu seorang tetap pejamkan mata tundukkan kepala tidak bicara pun tidak bergerak. Sikapnya amat sombong.
"Hmm. Sungguh besar amat lagak sikeledai gundul tua ini,"
Jengek Leng Poo Sianci sambil cibirkan bibirnya yang kecil. Dengan gemas Hay Thian Sin Shu melototi sekejap ke arah putrinya, lalu sembari menjura ke arah Selatan ia menyahut.
"Tidak perlu, kami disini saja!"
Demikianlah, beberapa orang itu sama-sama ambil tempat duduk dibarak sebelah Timur.
Sejak permulaan Leng Poo Sianci selalu berada disisi Tan Kia-beng dan setengah cun pun tidak berpisah, sejak kecil ia sudah terbiasa bersikap manja saat inipun ia selalu menguntil disisi sang pemuda dengan sikap yang sangat mempesonakan.
Tapi pemuda she Tan itu sama sekali tidak ada perhatian dalam hal ini, setibanya di dalam kalangan, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.
Kalangan tersebut adalah suatu tempat yang dipilih oleh pihak Siauw Lim serta Bu-tong-pay sesudah menjalani sesuatu demikian serta menyusun rencana yang amat teliti serta sangat berhati bati, punggung menempel pada tebing curam dengan sebelah kiri kanan terbentang lapangan yang luas.
Justru tujuannya untuk menghindarkan diri dari siasat beracun yang sengaja diatur orang-orang Isana Kelabang Emas.
Si Pek-tok Cuncu yang melihat Tan Kia-beng begitu repot memandang kesana melirik kemari, ia lantas tahu jika sang "Toako"nya ini lagi memeriksa keadaan disana, tak terasa lagi ia tersenyum.
"Tempat ini, aku serta si pencuri tua sudah periksa teliti, tanggung tak akan terjadi persoalan,"
Katanya.
"Sesudah diperiksa oleh Jie ko serta Sam ko aku percaya sudah tentu tak bakal terjadi persoalan,"
Tan Kia-beng mengangguk seraya tersenyum ramah.
"Aku sedang berpikir, mengapa sampai saat ini tidak terlihat seorang manusiapun yang datang menonton keramaian, apakah mereka sudah menemui bencana ditangan orang-orang Isana Kelabang Emas?"
Ui Liong Tootiang yang kebetulan mendengar pembicaraan itu segera mendengus dingin.
"Hmmm! Walaupun tindakan orang-orang Isana Kelabang Emas amat kejam dan keji tapi aku percaya mereka tak bakal berhasil menutupi pandangan mata semua jago yang ada dikolong langit"
"Haaa.... haaa.... haaa.... coba kalian lihat, bukankah orang-orang yang menonton keramaian sudah mulai berdatangan?"
Tiba-tiba Su Hay Sin Tou berseru sambil tertawa tergelak.
Semua orang dongakkan kepalanya, sedikitpun tidak salah terlihat berpuluh puluh orang jago kangouw dengan bergerombol mulai mendekati kalangan pertemuan.
Melihat hal tersebut diam-diam Tan Kia-beng menghela nafas panjang.
"Malam ini banyak sekali orang yang menemui ajal dan terluka di dalam lembah gunung, tidak disangka ternyata masih ada juga orang yang berani datang kemari, orang-orang kangouw kadang kadang memang sangat mengherankan."
Tidak selang beberapa saat, orang yang khusus datang menonton keramaian paling sedikit sudah mencapai seratus, dua ratus orang banyaknya, Hong Jen Sam Yu beserta "Leng Lam Coa Sin"
Itu Pangcu dari perkumpulan Kay-pang dan "Gien Cang Shu"
Thio Cau pun sudah pada berdatangan semua.
Walaupun Kay-pang di dalam pertarungan antara pihak orang-orang Bulim di daerah Tionggoan melawan pihak Isana Kelabang Emas hanya bertanggung jawab soal penjagaan dan memata matai musuh tapi mereka merupakan suatu kekuatan yang manunggal.
Selama ini mereka tidak pernah saling mengadakan hubungan dengan orang-ornag tujuh partai besar, oleh sebab itu setelah menyapa para ciangbunjin tujuh partai yang ada dibarak sebelah Selatan serta Tan Kia-beng sekalian dibarak sebelah Timur.
Mereka tidak ke Selatan juga tidak ke Timur sebaliknya duduk bersilah di atas tanah lapang yang kosong.
Sang surya sudah berada di atas kepala, tapi dari pihak Isana Kelabang Emas masih belum juga kelihatan munculnya seorang manusiapun.
Tak tertahan orang-orang dari tujuh partai besar mulai merasa gelisah.
Sebenarnya pertemuan puncak para jago digunung Ui San kali ini adalah usul yang muncul dari benak Yen Yen Thaysu, Liok Lim Sin Ci serta Thian Liong Tootiang, tujuannya bukan lain ingin memancing datangnya orang-orang Isana Kelabang Emas.
Mereka sama sekali tidak bermaksud sungguh sungguh mengadakan pertemuan ini, oleh sebab itu sewaktu melihat dari pihak Isana Kelabang Emas sama sekali tidak ada yang hadir, maka hal ini sama artinya usaha mereka selama ini menemui kegagalan total.
Tetapi jika semisalnya pertemuan puncak itu jadi dilanjutkan maka sebelum memasuki babak yang penghabisan dan seseorang berhasil merebut kedudukan jago-jago pedang nomor wahid dari kolong langit merekalah melalui dulu pertarungan yang bersusun susun, sedang pihak si penyelenggara sama sekali tidak mengadakan persiapan.
Waktu perlahan-lahan berlalu dalam suasana penuh kekuatiran.
kecemasan serta kegelisahan sedang dari pihak Isana Kelabang Emas tetap tenang tidak kelihatan gerakan apapun.
Sedangkan orang-orang dibawah panggung yang menonton jalannya pertemuanpun semakin lama semakin banyak, banyak diantara mereka yang mulai tidak sabaran dan berteriak teriak memaki, ada pula yang mengejek dengan kata-kata kotor menganggap Yen Yen Thaysu serta Liok Lim Sin Ci sedang bergurau dengan orang-orang Bulim dari seantero kolong langit.
Mana ada pertemuan diadakan menjelang hari hampir gelap?
Tan Kia-beng sekalian yang berada di barak sebelah Timur pun merasa sangat gelisah, kecemasan mereka bukannya dikarenakan tidak kehadiran majikan Isana Kelabang Emas dalam pertemuan ini, justru karena belum munculnya si Penjagal Selaksa Li, Hu Hong, Pek Ih Loo Sat, Hu Siauw-cian serta Mo Tan-hong hingga saat ini.
Jikalau bukannya mereka sudah menemui bencana kenapa tidak muncul muncul juga beberapa orang itu?
Waktu suara ejekan serta makian yang bergema dibawah panggung makin lama semakin hebat, bahkan ada orang yang mulai memaki kalang kabut dengan kata-kata kotor.
Akhirnya Thian Liong Tootiang tidak bisa menahan diri lagi, sambil memandang ke arah Liok-lim Sin Ci ujarnya.
"Menurut pendapatku yang bodoh, lebih baik kita bertiga memberi sedikit penjelasan dulu kepada mereka, dengan demikian makian makian kotor yang tak sedap didengarpun bisa dikurangi, lain kali jika persoalan ini sampai tersiar dalam Bulim mungkin akan merusak nama baik kita."
"Ehmmm! perkataan dari Tootiang sedikitpun tidak salah,"
Liok lim Sin Cie mengangguk tanda setuju. Ketika itulah mendadak Yen Yen Thaysu membuka matanya lalu mendengus dingin.
"Buat apa kalian gubris manusia manusia yang tidak tahu mati macam begitu?"
Tegurnya lantang.
"Lebih baik usir mereka pergi dari sini, jika dugaan loolap tidak salah maka menjelang magrib nanti pihak Isana Kelabang Emas baru mulai melakukan gerakan"
Suaranya serak besar dan lantang, setiap patah kata hampir boleh dikata dapat didengar semua orang dengan jelas, seketika itu juga suasana berubah semakin gaduh bahkan ada orang yang berteriak keras.
"Tidak kusangka seorang pendeta beribadat dari Siauw lim pun bisa mengucapkan kata-kata semacam itu. Hmmm! sungguh jauh lebih bau dari kentut! orang-orang Bulim dari seantero kolong langit memilih kalian sebagai panitia penyelenggara pertemuan puncak ini ternyata kalian anggap pertemuan ini sebagai permainan, maknya....! kurang ajar.... kurang ajar!"
Walaupun nama besar dari Yen Yen Thaysu bertiga sangat terkenal dalam Bulim tapi kali ini pura pura jadi kenyataan mereka malah kena dimaki oleh orang banyak, oleh sebab itu terpaksa mereka hanya bisa saling bertukar pandangan sambil tertawa pahit.
Hay Thian Sin Shu yang justru namanya ikut tercantum dalam deretan panitia penyelenggara tapi dalam pertemuan kali ini ia tidak diundang untuk ikut bertanding, dasarnya dalam hati sudah merasa kurang senang, saat ini mendengar makian makian dari para jago ia merasa sangat tidak senang, mendadak ia meloncat bangun dan membentak keras.
"Pertemuan puncak para jago yang diadakan digunung Ui san ditetapkan setiap sepuluh tahun diadakan satu kali di atas puncak Si Sim Hong, dan hal ini sudah ditetapkan bersama oleh semua orang Bulim karena itu rasanya tidak perlu diumumkan lagi tentang soal ini, walaupun pertemuan yang diadakan kali ini pihak Siauw lim serta Bu-tong-pay kurang sempurnya di dalam persiapan, hal ini justru disebabkan ada sebab sebab lain, seharusnya kalian semua memaafkan dirinya kalian bersikap demikian terhadap panitia penyelenggara, apakah kami semua tidak merasa bila perbuatan itu kurang sopan dan tak sedap dilihat?"
Si orang tua ini memiliki tenaga dalam yang sempurna, suarapun lantang bagaikan genta membuat seluruh kalangan jadi berdengung sangat keras.
Kontan suasana jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, para jago dibuat bungkam dalam seribu bahasa.
Pada waktu itulah suara ujung baju tersampok angin bergema datang, serombongan hweesio berbaju abu abu dengan tanpa berisik sudah melayang datang dan berhenti di depan panggung.
Mereka semua tidak berbicara pun tidak menyapa siapapun diantara orang-orang yang hadir disana.
"Iiih?! bukankah dia adalah Sian Si?"
Mendadak terdengar Yen Yen Taysu yang ada dibalik selatan berseru keheranan.
Agaknya orang yang baru saja tiba adalah bukan lain adalah anak murid dari pihak Siauw-lim-sie, belum sempat Ci Si Sangjien memerintahkan orang untuk menanyakan jelas persoalan ini, dari tengah udara kembali terdengar suara desiran tajam.
Berkuntum kuntum awan merah tahu-tahu sudah melayang ke atas tanah dan muncullah delapan orang toosu berjubah merah darah dengan lukisan Pak Kwaa di depan dada melindungi seorang toosu tua yang kurus pucat bagaikan mayat.
Air muka Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay kontan berubah hebat.
bentaknya keras.
"Siapa yang suruh kalian meninggalkan istana Sian Bu Kong digunung Kun lun san?"
Dengan wajah hambar Toosu tua itu mendengus dingin, ia sama sekali tidak ambil gubris terhadap sang Ciangbunjin.
Diikuti di tengah kalangan muncul pula empat, lima rombongan manusia yang langsung berpencar dikedua belah sisi panggung, agaknya mereka sedang menyambut kedatangan seseorang.
Para ciangbunjin tujuh partai besar yang ada dibarak sebelah Selatan sewaktu melihat orang-orang itu bukan lain adalah anak murid mereka yang ditinggalkan di atas gunung bahkan sewaktu bertemu dengan merekapun tidak memberi hormat, dalam hati merasa keheranan.
Su Hay Sin Tou yang duduk disisi Tan Kia-beng, sejak permulaan sudah merasakan ketidak beresan dalam persoalan ini.
kepada pemuda tersebut ujarnya sambil tertawa.
"Toako, apakah kau sudah melihat jelas? kemungkinan sekali tujuh partai besar bakal terjungkir dari partai kuali"
Tan Kia-beng sendiripun sudah mendengar sendiri akan penghianatan Sian Si Hwee sio dari Siauw-lim sie terhadap ciangbunjin nya, ketika melihat kejadian itu iapun mengerti bila tentu berhasil, karenanya ia lantas manggut.
"Perkataan dari Sam ko sedikitpun tidak salah, kita lihat saja apa yang selanjutnya hendak mereka lakukan?"
Pada waktu itu terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang datang dari tempat kejauhan makin lama semakin mendekat.
Delapan ekor kuda jempolan bagaikan angin taupan bergerak datang.
Di atas punggung kuda itu duduklah delapan orang lelaki berpakaian perlente yang menggempol golok bergerigi.
Setibanya di depan panggung mereka berpencar jadi dua bagian dan sama-sama meloncat turun tari kuda lalu berdiri dalam sikap hormat dengan golok disilangkan di depan dada.
Kemudian dari tempat kejauhan terdengarlah suara irama musik berbunyi Memecahkan kesunyian, dua puluh empat orang dara berbaju warna warni dengan memanggul dua buah tandu bergerak mendatang dengan gerakan yang sangat ringan.
Hanya di dalam sekejap mata mereka sudah tiba di depan panggung.
Ketika itulah ketujuh orang yang berdiri dikedua belah sisi panggung bersama-sama maju ke depan memberi hormat.
"Sian Si Ciangbunjin dari partai Siauw lim menghunjuk hormat buat majikan"
"Hong Hoat, ciangbunjin dari Kun-lun pay menghunjuk hormat buat majikan."
Di tengah suara pujian yang hiruk pikuk horden tandu perlahan-lahan disingkap dan muncullah seorang nyonya muda yang amat cantik dengan pakaian keraton warna hijau, ia mengulapkan tangannya halus dan berseru.
"Kalian jauh-jauh datang kemari tentu amat lelah, tidak usah banyak adat!"
Sebaliknya Tan Kia-beng yang melihat munculnya nyonya muda berpakaian keraton itu seketika merasa wajahnya amat dikenal sepertinya ia pernah berjumpa dengan orang itu hanya lupa dimanakah ia pernah bertemu.
Mendadak terdengar Pek-tok Cuncu mendengus dingin.
"Hmmm! kiranya dia!"
"Apakah jie-ko kenal dengan dirinya?"
Tanya Tan Kia-beng keheranan. Su Hay Sin Tou segera tertawa tergelak dan menyambung dari samping.
"Toa ko, orang budiman banyak urusan yang dilupakan, bukankah dia adalah Kiam Soat Lang yang pernah membokong dirimu sewaktu berada di kota Swan Jan?"
"Aaakh! benar, tidak aneh kalau aku merasa suara maupun wajahnya sangat dikenal"
Pemuda she Tan ini jadi tersadar kembali.
Pada saat itu ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar yang ada dibarak sebelah Selatan tidak dapat menahan sabar lagi, mereka sama sekali tidak menyangka kalau anak murid mereka yang ditinggal digunung ternyata semuanya sudah menjadi kaki tangan pihak Isana Kelabang Emas, terutama sekali atas kejadian mereka mengaku sebagai ciangbunjin, hal ini membuat mereka merasa terkejut bercampur gusar.
Pertama-tama Yen Yen Thaysu yang tak dapat menahan diri, ia meloncat bangun kemudian langsung menubruk ke arah Sian Si Thaysu.
"Sian Si, besar betul nyalimu! Ternyata berani mengkhianati perguruan dan jadi kaki tangan musuh,"
Bentaknya berat. Dengan wajah hambar dari dalam sakunya Sian Si Thaysu mengambil keluar serangkaian tasbeh dan diangkatnya tinggi tinggi ke atas.
"Walaupun kedudukan Susiok sangat hormat, seharusnya kau masih ingat dengan peraturan Siauw lim yang turun temurun bukan?"
Melihat munculnya tasbeh Siang Liam Cu ditangan hweesio tersebut, Yen Yen Thaysu jadi tertegun, karena tasbeh itu merupakan tanda kepercayaan dari Ciangbunjin dan menemui tasbeh tersebut sama halnya menemui sang Hong tiang sendiri, siapapun harus mendengarkan perintah dari orang yang memegang tanda kekuasaan ini.
Ketika itu Ci Si Siangjien beserta Ciangbunjin partai partai lain sudah tiba dihadapan mereka, sewaktu melihat tasbih tersebut iapun rada tertegun dibuatnya.
Tasbeh ini sudah hilang tercuri tempo hari, walaupun Tan Kia-beng sudah membongkar rencana busuk dari Wu Gong Hweesio tapi ia tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang tasbeh tersebut.
Tidak disangka benda pusaka ini ternyata benar-benar sudah terjatuh ketangan Sian Si hweesio.
Sian Si Hweesio ketika melihat Ci Si Siangjin berjalan menghampiri dirinya dengan penuh gusar segera angkat tasbeh pusaka itu tinggi tinggi.
"Omintohud! Pinceng mendapat berkah dari Couw su untuk menerima jabatan sebagai ciangbunjin, harap suheng membawa semua anak murid yang hadir disini untuk mundur kesamping, dan sementara waktu menanti perintah selanjutnya."
Sekalipun Ci Si Siangjien adalah seorang pendeta yang beribadat tinggi, saat inipun tak urung merasa teramat gusar, ia mendengus dingin.
"Kau maupun aku sama-sama berasal dari satu perguruan, jika kau ingin menjabat sebagai ciangbunjin katakan saja terus terang, buat apa melakukan perbuatan hianat yang memalukan perguruan, apakah kau tidak takut nama busukmu akan tertinggal selama laksaan tahun?"
Wajah Sian Si Hweesio kurus kering ini mendadak terlintas suatu hawa napsu membunuh.
"Jika kau berani banyak bicara lagi, akan kugunakan peraturan perguruan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada kau simurid murtad!"
Bentaknya gusar.
Ci Si Siangjien sebagai seorang ciangbunjin sudah tentu mengetahui pula peraturan perguruan sendiri, ia benar-benar tidak berani banyak berbicara lagi.
Sisanya anak murid yang ia bawa, walaupun rata rata wajahnya diliputi kegusaran tapi tidak berani banyak bicara, mereka sama-sama tundukkan kepala dan mengikuti Ci Si Sangjien mengundurkan diri kesamping.
Ketika itu ciangbunjin masing-masingpun sudah menemukan anak murid partainya sendiri yang berhianat, suasana kontan menjadi kacau balau dan tidak karuan.
Bagaimanapun Thian Liong Tootiang jauh lebih tenang daripada yang lain, buru-buru ia lepaskan diri dari keributan dan berteriak lantang.
"Harap masing-masing partai untuk sementara waktu singkirkan dulu persoalan tentang murid murid murtad, pinto ada perkataan yang hendak diutarakan"
Leng Hong TOotiang pertama tama yang menurut dan berjalan keluar dari keributan disusul Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay serta Phu Ciang Siansu dari Ngo Thay Pay.
Dengan wajah serius dan keren Thian Liong Tootiang berkata.
"Peraturan perguruan dari partai besar selamanya ketat dan belum pernah terjadi peristiwa penghianatan semacam ini, ternyata urusan macam begini terjadi ini hari, aku duga dibalik kesemuanya ini tentu masih terselip sebab sebab lain yang lebih mendalam. kita harus hadapi dulu majikan Isana Kelabang Emas.... jangan sampai merusak suasana"
Masing-masing Ciangjien pada mengangguk ketika semua orang menoleh maka terlihatlah waktu itu sang nyonya muda berpakaian keraton dengan diiringi dara berbaju warna warni sudah berjalan menuju kebarak sebelah barat dan ambil tempat duduk, sedangkan orang-orang dari Tujuh partai besar sang penghianat bagaikan pelayan berdiri di kedua belah sisinya.
Barak Timur serta Barak sebelah Barat saling berhadapan, dari tempat kejauhan nyonya muda berpakaian keraton itu tersenyum dan mengangguk kepada Tan Kia-beng.
"Tan Heng tujuan kedatanganmu kali ini hendak merebut gelar jagoan nomor wahid dari kolong langit atau masih ada maksud maksud lain?"
Walaupun suaranya tapi melengking dan merdu memenuhi angkasa, setiap patah kata dapat didengar dengan amat jelas.
Diam-diam Tan Kia-beng rada terkejut juga oleh kehebatan lweekang pihak lawan, buru-buru ia pusatkan pikiran dan menyahut.
"Entah benarkah kau adalah Majikan Isana Kelabang Emas?"
"Sedikit pun tidak salah. Sekarang Liuw Lok Yen sudah berubah nama dengan sebutan Majikan Isana Kelabang Emas". Para jago angkatan tua yang hadir di dalam kalangan setelah mendengar disebutkan nama "Liauw Lok Yen"
Rata rata merasa hatinya tergetar keras.
Semua orang mengetahui jia tempo dulu Kiem Hoa Tong-cu memang mempunyai seorang selir yang berbakat dan cantik, tapi sama sekali tak terduga bila akhirnya iapun jadi seorang jagoan Bulim yang membuat heboh seluruh dunia persilatan.
Pada saat itu Yen Yen Thaysu, Liok-lim Sin Ci, Thian Liong Tootiang beserta ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai sama-sama sudah kembali kebarak sebelah Selatan, sedang para orang-orang kangouw yang datang menonton keramaianpun sama-sama membelalakkan matanya memandang seluruh gerak gerik Majikan Istana dengan hati tegang.
Yen Yen Thaysu dengan wajah keren mendadak bangun berdiri dan berseru dengan suara lantang.
"Asal usul sicu sangat terhormat dan tahu tata kesopanan, mengapa kau mengandalkan kepandaian silat untuk membunuhi kawan-kawan dunia persilatan bahkan bersekongkol pula dengan anak murid partai-partai besar sehingga banyak diantara mereka menghianati perguruan? perbuatanmu ini bukankah sama halnya secara terbuka menantang perang kepada partai-partai besar didaratan Tionggoan? apa kau anggap didaratan Tionggoan benar-benar tak ada orang lagi?"
Walaupun terang-terangan Liauw Lok Yen mendengar perkataan tersebut tetapi melirik sekejapn tidak, ia tetap memandang Tan Kia-beng sambil tersenyum.
"Antara Isana Kelabang Emas dengan pihak Teh Leng Kauw selamanya tiada ikatan dendam kesumat, rasanya tiada berguna bila kita saling bentrok sendiri satu sama lainnya, jika Tan heng ada maksud untuk merebut gelar jagoan pedang nomor wahid dari seluruh kolong langit, Liuw Lok Yen rela untuk mengalah kepadamu"
Katanya perlahan. Alis Tan Kia-beng melentik, ia tertawa panjang.
"Haaa.... haaa.... haaa.... lebih baik saudara jangan bicarakan soal tersebut dengan begitu enak, jikalau pihak Isana Kelabang Emas masih ada tersisa sifat manusia rasanya dunia kangouw tak akan berubah jadi tempat pembunuhan yang sangat mengerikan, kedatangan dari aku orang she Tan kali ini dalam menghadiri pertemuan puncak para jago sama sekali tiada bermaksud untuk merebut gelar jagoan nomor wahid itu, tetapi ingin sekali aku coba bagaimana hebatnya ilmu pukulan Hong Mong Cie Khie mu itu. Selama beberapa hari ini kau selalu saja menciptakan hujan badai di sekeliling gunung Ui san dan bermaksud menyapu habis semua jagoan Bulim yang ada didaratan Tionggoan, Heee.... heee.... heee.... hanya sayang aku orang she Tan merasa caramu berpikir masih terlalu kekanak kanakan."
Walaupun selama beberapa tahun ini nama Tan Kia-beng di dalam dunia kangouw sangat terkenal, tapi dalalm pandangan orang-orang Bulim ia hanya seorang angkatan muda saja.
Tadi sewaktu rombongan mereka memilih tempat dibarak sebelah Timur, dalam anggapan semua orang usul tersebut tentu timbul dari ide Ui Liong TOotiang atau para jago Hay Thian Sin Shu beberapa orang angkatan tua, oleh sebab itu terhadap pemuda tersebut para jago sama sekali tidak ambil perhatian.
Tapi saat ini setelah dilihatnya dua kali Majikan Isana Kelabang Emas buka suara dan ternyata hanya berbicara dengan pemuda tersebut, hal ini menimbulkan perhatian semua orang terutama sekali kata-kata sang pemuda yang ketus dan bersifat keras semakin membuat hati orang terkejut, diam-diam mereka memuji atas kebesaran nyali pemuda itu serta ketajaman lidahnya.
Senyuman yang semula menghiasi wajah Liauw Lok Yen perlahan-lahan lenyap tak berbekas, ia membereskan rambutnya yang terurai dan mulutnya bergerak siap berbicara lagi.
Waktu itulah Yen Yen Thaysu yang ada barak sebelah Selatan sudah memuji keagungan Buddha dengan suara lantang, ujarnya berat.
"Persoalan ini hari rasanya tak dapat diselesaikan lagi dengan menggunakan kata-kata, kalau memang pihak Isana Kelabang Emas mengandalkan ilmu silatnya hendak musuhi kawan-kawan Bulim maka kita sebagai orang-orang Bulim dari daratan Tionggoan pun harus menggunakan gigi balas unjuk gigi". Sebagai seorang Tiang-loo dari Siauw-lim pay yang kedudukannya amat tinggi, ternyata tidak mendapatkan perhatian dari Majikan Isana Kelabang Emas bahkan perempuan itu sama sekali tidak menggubris dirinya tak kuasa lagi hawa gusarnya meluap. Bahkan perempuan itu sama sekali Dengan pandangan dingin Liuw Lok Yen melirik sekejap ke arahnya lalu tertawa sinis.
"Eeei Loo hweesio! jika kau begitu buru-buru hendak berangkat ke dalam dunia Barat Liuw Lok Yen tentu akan menghantarkan dirimu terlebih dahulu"
Dengan penuh kegusaran Yen Yen Thaysu meloncat bangun, ujung jubahnya dikebut keras ke depan sedang tubuhpun bagaikan anak panah melesat ke atas panggung, teriaknya gusar.
"Walaupun Hong Mong Cie Khie merupakan ilmu dahsyat dari aliran Sian Bun aku lihat tak bakal bisa mengapa apakan Loolap jika tidak percaya mari kita adu beberapa jurus untuk membuktikannya"
Ci Si Sangjien yang melihat Yen Yen Thaysu melayang keluar, alisnya kontan berkerut ia merasa susioknya ini terlalu berangasan bahkan sudah merusak tingkatan sendiri tapi iapun tidak turun tangan mencegah Siapa nyana Majikan Isana Kelabang Emas sama sekali tidak bergerak, kepada Sian Si Hweesio bisiknya lirih.
"Coba kau kirim satu orang untuk bergebrak beberapa jurus dengan dirinya. Istana kami pasti tak akan membiarkan dia menemui bencana.
"Terima perintah"
Sahut Sian Si Hweesio merangkap tangannya di depan dada. Ia lantas berpaling dan ujarnya kepada seorang hweesio berusia pertengahan yang berdiri disisinya.
"Liauw Jen coba kau maju dan terima beberapa jurus permainan dari hweesio tua itu Majikan akan menjaga dirimu secara diam-diam, kau turun tanganlah dengan hati lega. Walaupun ucapannya diutarakan sangat rendah, tapi bagi Tan Kia-beng serta beberapa orang loocianpwee dapat didengar sangat jelas.
"Haa.... haa.... haa.... kali ini hweesio tua itu bakal memperoleh permainan bagus!"
Bisik Su Hay Sin Tou sambil tertawa lirih.
Ketika mereka sedang berbicara, Liuw Jan hwesio sudah tiba di atas panggung.
Yen Yen Thaysu yang melihat munculnya orang itu matanya lantas melotot bulat-bulat.
"Apa maksudmu datang kemari?"
Bentaknya gusar. Dengan paksakan diri menahan rasa jeri Liauw Han hwesio putar-putar biji matanya.
"Aku mendapat perintah untuk menemani kau orang tua bermain beberapa jurus ilmu silat. Saking gusarnya jenggot serta alis sang hwesio pada bangun berdiri bagaikan kawat, matanya mendelik memancarkan cahaya tajam.
"Gelinding pergi!"
Bentaknya gusar.
Ujung bajunya diayun ke depan mengirim segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan angin taupan menghajar kemuka.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuh Liuw Jan Hwesio bagaikan batu bandringan mencelat dua kaki ke tengah udara kemudian dengan membawa serta hujan darah roboh ke atas tanah.
Pertama.
Karena Yen Yen Thaysu turun tangan secara mendadak dan Liauw Jan hwesio sama sekali belum ambil persiapan.
Kedua.
Tenaga lweekang Yen Yen Thaysu sudah ada lima, enam puluh tahun hasil latihan, kebutannya itu kuat laksana tumbuhan ribuan kati baja.
Oleh sebab itu hanya dalam satu jurus saja ia sudah berhasil membereskan mangsanya.
Menanti Yen Yen Thaysu sadar bila seorang anak murid Siauw lim berhasil ia bunuh mati dalam satu jurus, hatinya baru tertegun.
Terdengarlah Liuw Lok Yen tertawa terkekeh kekeh.
"Kau selalu saja menuduh pihak Isana Kelabang Emas suka membunuh orang, eei! hweesio tua, apakah tindakanmu barusan mirip tindakan seorang yang beribadah?"
Majikan Isana Kelabang Emas benar-benar sangat kejam, sengaja ia menyuruh seorang anak murid Siauw-lim pay untuk menghantar kematiannya kemudian masih mengucapkan kata-kata dengan seenaknya.
Kontan saja Yen Yen Thaysu merasakan dadanya seperti mau meledak, ia membentak keras ujung jubahnya berkibar dan langsung menerjang ke arah barak sebelah barat.
Siapa nyana baru saja tubuhnya tiba di sisi barak, mendadak segulung angin pukulan berkabut hijau yang sangat tebal melayang keluar dan langsung membabat ke arahnya.
Tubuh Yen Yen Thaysu masih ada di tengah udara, ujung jubatnya segera digetarkan mengirim sebuah pukulan berhawa Sin kang yang maha dahsyat.
"Braak!"
Diiringi suara ledakan keras, angin taupan menderu deru memenuhi seluruh angkasa.
Yen Yen Thaysu yang masih berada di tengah udara, tubuhnya seketika itu juga terdorong oleh pukulan berkabut hijau tadi sehingga mencelat setinggi tiga depa dan melayang turun ke atas permukaan tanah.
Karena terlalu gegabah, ia menderita sedikit kerugian dihadapan orang banyak, hal ini membuat hwesio itu malu untuk turun dari panggung.
---ooo0dw0ooo---JILID.
18 Dengan teramat gusar ia bersuit panjang, tubuhnya bersiap-siap menerjang kembali ke arah barak.
Ketika itulah dengan hati cemas Thian Liong TOotiang sudah berteriak.
"Thaysu jangan marah dulu, mari kesini, pinat ada perkataan yang hendak aku rundingkan"
Jelas sekali inilah kesempatan yang sangat bagus baginya untuk turun dari panggung bersamaan itu pula iapuan tahu beribut macam begini terusan bukanlah suatu cara yang sempurna.
Oleh sebab itu meminjam kesempatan dari teriakan Thian Liong Tootiang ini ia melayang balik ketampat semula.
Ketika itu Liuw Lok Yen pun dengan badan yang menggiurkan sudah berjalan keluar dari barak, sinar matanya menyapu sekejap keseluruh kalangan kemudian tertawa terkekeh-kekeh.
"Ini hari adalah saat diadakannya pertemuan puncak untuk merebutkan gelar pedang nomor wahid, tapi mengata tidak kelihatan gerak gerikpun? Hal ini benar-benar membuat aku Liuw Lok Yeng jadi keheranan setengah mat!"
"Bagaimana maksud Supek?"
Perlahan-lahan Tan Kia-beng alihkan sinar matanya ke arah Ui Liong Tootiang.
"Selama ini Tujuh partai besar selalu anggap tinggi diri sendiri, lebih baik kita tunggu saja keadaan selanjutnya"
Sela SU Hay Sin Tou sambil tertawa. Ui Liong Tootiang mengangguk.
"Pendapat dari Sin Tou heng sedikitpun tidak salah, lebih baik kita orang bergerak sedikit lambat"
Setelah Yen Yen Thaysu mengundurkan diri ke tempat duduknya, ia mulai berunding dengan Thian Liong Tootiang serta Liok lim Sin Cie, mereka anggap jikalau pihak Isana Kelabang Emas melakukan tindakan sesuai dengan tindakan Bulim, ada seharusnya pula mereka hadapi dengan menggunakan peraturan.
Tetapi sebelum beberapa orang itu selesai mengambil keputusan dalam perundingan tersebut, Liuw Lok Yen sudah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Menurut berita terakhir yang berhasil kami dapatkan, ternyata tujuan kalian mengadakan pertemuan puncak para jago adalah palsu, menggunakan kesempatan ini kalian hendak menghadapi pihak Isana Kelabang Emas adalah maksud yang sungguh-sungguh. Demikianpun baik juga. Liauw Lok Yen kepingin sekali menggunakan serangkaian ilmu silat yang aku miliki hendak menghadapi jago-jago lihay dari tujuh partai besar...."
Thian Liong Tootiang dongakkan kepalanya siap hendak berbicara, terlihatlah bayangan hijau berkelebat lewat tahu-tahu majikan Isana Kelabang Emas sudah berdiri dihadapannya sambil menggape.
"Kalian hweesio toosu dan si kakek bertiga merupakan panitia penyelenggara pertemuan ini, aku pikir kepandaian silat yang kalian miliki tentu sangat lihay. Liauw Lok Yen kepingin sekali menjajal kepandaian kalian dan aku menasehati lebih baik kalian bertiga turun tangan bersama-sama."
Thian Liong Tootiang serta Liok-lim Sin Ci sekalian mengetahui bila jago lihay dari pihak Isana Kelabang Emas sangat banyak apalagi kali ini majikan Isana Kelabang Emas turun tangan sendiri, hanya dengan membawa dua puluh empat orang dara berpakaian warna warni saja.
Dibalik kesemuanya ini tentu tersembunyi alasan alasan yang lain.
Karenanya sewaktu melihat majikan Isana Kelabang Emas turun tangan sendiri menantang mereka bertiga untuk bergebrak, dalam hati segera merasa urusan semakin tidak beres lagi.
Liok-lim Sin Cie perlahan-lahan bangun berdiri.
"Tootiang dan Thaysu harap suka menjagakan diriku. Biarlah loohu turun tangan dulu untuk coba seberapa liehaynya kepandaian silat yang ia miliki."
Tidak menanti jawaban dari Thian Liong Tootiang lagi, tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busur meloncat naik ke atas panggung, lalu kepada Liuw Lok Yen seraya menjura katanya lantang.
"Kepandaian silat saudara amat lihay dan sudah banyak membunuh jago-jago Bulim, loohu rasa tentunya kau tak bakal pandang sebelah matapun terhadap loolap beberapa orang. Ini hari loohu dengan tidak pandang kekuatan sendiri kepingin sekali minta beberapa petunjuk dari jurus-jurus lihay aliran Isana Kelabang Emas".
"Ouw! kau ingin berangkat seorang diri apakah nantinya tidak merasa kesepian dalam perjalananmu menuju ke akherat? Lebih baik kalian suruh mereka berdua turun tangan bersama-sama!"
Jengek Liauw Lok Yen sambil tertawa dingin.
Liok lim Sin cie merupakan rasul dari kalangan Hek-to, pada hari biasa selalu menerima rasa hormat dari semua orang.
tidak disangka majikan Isana Kelabang Emas ternyata begitu tidak pandang mata terhadap dirinya, dalam keadaan gusar ia tertawa tergelak.
"Buat apa kau begitu terburu-buru, cobalah binasakan dulu aku si orang tua kemudian baru bicara besar lagi".
"Selamanya aku Liuw Lok Yen tidak terbiasa turun tangan terlebih dahulu, sekarang waktu tidak banyak lagi. silahkan aku mulai turun tangan"
Dengan sombongnya majikan Isana Kelabang Emas tertawa.
Dengan sekuat tenaga Liok-lim Sin Ci menekan hawa gusar dihatinya, diam-diam ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh kemudian dengan suara berat bentaknya "
"Kalau begitu terimalah hadiahku!"
Tangannya yang besar dibentangkan mengirim satu babatan yang maha dahsyat ke muka.
Liuw Lok Yen yang terang terangan melihat datangnya angin pukulan tersebut hebat bagaikan menggulungnya ombak di tengah samudra, tapi ia tetap berdiri tenang di tempat semula pura pura tidak tahu.
Menanti angin pukulan hampir mengenai badan, tiba-tiba Liok lim Sin cie merasa matanya berkunang kunang, bayangan tubuh lawan lenyap tak berbekas.
Liok lim Sin Cie pernah jatuh kecundang ditangan Gui Ci Cian, saat ini harus menghadapi gurunya sudah tentu sikapnya jauh lebih waspada, seketika telapak tangannya didorong keluar tubuhpun mengikuti gerakan telapak berputar satu lingkaran.
Waktu itulah ia menemukan Liuw Lok Yen dengan wajah aneh sudah berdiri dibelakang tubuhnya.
Seketika itu juga hatinya merasa terkejut bercampur gusar, ia mendengus dingin ilmu telapak Toa Thian Kang Ciang Hoat pun segera dikeluarkan.
Hanya di dalam sekejap mata delapan jurus pukulan bagaikan ambruknya gunung Thaysan sudah menggulung ke arah muka.
Ilmu pukulan Toa Loo Thian Kang Ciang Hoat merupakan salah satu ilmu sakti yang ada dalam Bulim, begitu dikerahkan keluar seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan bayangan telapak yang menyambar nyambar dari empat bagian delapan penjuru dibalik angin pukulan membawa suatu daya tekanan yang maha dahsyat yang menggetarkan panggung tersebut sehingga berbunyi gemeretuk.
Tubuh Liuw Lok Yen yang terkurung di dalam bayangan telapak menari kesana kemari, menerobos kemuka belakang bagaikan seekor kupu kupu.
ujung bajunya berkibar tertiup angin, walaupun angin pukulan tersebut menderu deru sebegitu dahsyat ternyata tak seujung pangkalpun yang kena tercawil.
Untuk menghadapi pertarungan ini Liok lim Sin Cie sudah mempertaruhkan nama baiknya selama puluhan tahun ini, tapi semakin bergebrak hatinya merasa semakin bergidik melihat ilmu pukulan Toa Loo Thian Kang Ciang HOat nya sudah diulangi dua kali ternyata belum berhasil bisa juga mengapa apakan musuhnya dalam hati merasa semakin terperanjat.
Orang-orang dari tujuh partai besar beserta Ui Liong Tootiang sekalian dari Barak Timur, rata-rata hanya pernah mendengar nama Majikan Isana Kelabang Emas dan belum pernah menemui orangnya, Kini sesudah melihat sendiri pertarungan yang sedang berlangsung, mereka baru tahu jika selir muda dari raja suku Biauw tempo dulu ini benar memiliki serangkaian ilmu silat yang amat lihay.
Terutama sekali Thian Liong Tootiang serta Yen Yen Thaysu, mereka merasa hatinya berdesir.
Pada waktu itulah Mendadak dari atas panggung terdengar suara dengusan berat diikuti berpisahnya bayangan manusia.
Majikan Isana Kelabang Emas dengan wajah penuh senyuman masih tetap berdiri di atas panggung sedangkan Liok lim Sin Ci dengan mata melirik dan bulu janggut pada berdiri mengundurkan diri kepojokan panggung, air mukanya amat cemas diikuti darah segar mengucur keluar dari ujung bibir, jelas ia sudah menderita luka parah.
Melihat kejadian Yen Yen Thaysu bersuit nyaring, tubuhnya dengan sebat mencelat naik ke atas panggung.
"Hiii.... hiii.... hiii.... bukankah tadi sudah aku katakan, lebih baik kalian turun tangan bersama-sama, kenapa harus sungkan-sungkan lagi?"
Ejek Liuw Lok Yen sambil tertawa cekikikan.
Walaupun Tan Kia-beng mengerti jika lweekang dari Yen Yen Thaysu sangat sempurna, tapi ditinjau dari sikapnya ia mengerti hweesio tua ini bukan tandingan orang lain.
Karena takut ia jatuh kecundang sehingga namanya hancur berantakan, tanpa terasa pemuda itu sudah menggerakkan badannya.
"Eeei.... apa yang hendak kau lakukan?"
Dengan sebat Su Hay Sin Tou menarik tangannya.
"Aku ingin menemui Majikan Isana Kelabang Emas."
"Buat apa kau begitu gelisah?"
Seru Su Hay Sin Tou sambil tertawa dingin.
"Menurut pendapat aku si pencuri tua, kedatangan Liuw Lok Yen yang sama sekali tidak membawa jago-jago liehaynya, dibalik kesemuanya ini tentu masih terselip suatu rencana busuk. lebih baik kita menunggu sebentar lagi"
Pek-tok Cuncu pun mendengus dingin "Menurut keadaan pada saat ini.
kemungkinan sekali pihak Isana Kelabang Emas baru akan mulai dengan gerakannya pada nanti malam, kita orang jangan terlalu bertindak gegabah"
"Ayoh pergi!"
Mendadak Su Hay Sin Tou si pencuri sakti itu meloncat bangun.
"Kita jangan buang waktu lagi percuma disini menggunakan kesempatan ini kita putar sebentar"
Tidak menunggu pendapat dari Tan Kia-beng lagi kedua orang siluman tersebut bagaikan dua gulung asap melayang keluar barak dan sebentar kemudian sudah lenyap tak berbekas.
"Biarkan mereka melakukan pemeriksaan pun sangat baik sekali"
Kata Ui Liong Tootiang sambil tertawa.
"Dengan demikian jangan sampai setelah kita kena terjebak oleh siasat musuh masih tidak sadar"
Pada waktu Yen Yen Thaysu sudah mulai bergebrak melawan Majikan Isana Kelabang Emas, karena sudah dibuat jeri oleh kekalahan yang diderita Liok-lim Sin Cie, begitu turun tangan hweesio tua itu sudah mengeluarkan ilmu pukulan sakti seratus langkahnya "Tauw lim Pak Poh Sin Cian"
Angin pukulan menderu deru memenuhi seluruh panggung, setiap pukulannya tentu disertai dengan tenaga luar biasa.
Tetapi perduli bagaimanakan dahsyatnya angin pukulan dari hweesio tersebut, dan sebagaimana ketatnya desakan yang ia lancarkan, Liuw Lok Yen tidak berhasil juga dipaksa mundur.
Di tengah menyambarnya angin tekanan, dengan sebat dan lincah ia berhasil balas mengirim satu, dua jurus serangan balasan yang setiap serangannya tentu berhasil memaksa mundur Yen Yen Thaysu berulang kali.
Yen Yen Thaysu sebagai seorang Tiang loo dari Siauw-lim-pay jika dibicarakan dari tenaga lweekang mungkin sudah berada di atas enam, tujuh puluh tahun hasil latihan.
Justru dikarenakan sifatnya yang berangasan, banyak sekali bagian bagian ilmu saktinya yang tidak berhasil ia pecahkan, oleh sebab itu ilmu lweekangnya pun tak dapat melangkah lebih jauh lagi.
Ketika itu berulang kali ia mendesak musuhnya sebanyak tiga puluh jurusan, tetapi tak sebuah juruspun yang mengenai sasaran dalam keadaan mendongkol bercampur gusar ia segera berteriak keras.
"Jika punya kepandaian, coba terimalah jurus serangan dari loolap ini"
Sepasang telapak tangannya diputar lalu digetarkan mendadak ia mendorong satu pukulan ke depan, kali ini pukulannya bukan lagi menggunakan hawa yang keras, sebaliknya menggunakan hawa Im yang lunak.
Ringan berkibar dan lemah lembut, sama sekali tidak menimbulkan sedikit desiran anginpun.
Liauw Lok Yen mengerti tentu di dalam serangannya ini hweesio tersebut telah menggunakan ilmu sakti "Bu Siang Sin Kang"
Dari aliran Buddha, tetapi ia tidak pandang sebelah matapun terhadap kepandaian tersebut.
"Hee hee heee justru aku ingin menjajal sampai dimanakah kesempurnaan dari ilmu sakti Bu Siang Sin Kang mu itu."
Ujung baju dikebut perlahan kemuka, ia sudah mengirim satu serangan balasan dengan ilmu sakti "Hong Mong Ci Khie".
Segulung kabut tebal warna hijau secara mendadak muncul dari dasar ujung bajunya langsung mendorong ke arah kepan.
Ketika itu masing-masing pihak sudah berhadap hadapan dalam jarak tujuh depa saja walaupun kedua orang itu sama-sama melancarkan serangan sepenuh tenaga tetapi para jago lainnya sama sekali tak merasa.
Menanti kedua gulung angin pukulan itu sudah bertemu di tengah jalan dan kekuatannya mulai nampak barulah terdengar suara ledakan yang amat dahsyat serasa memekikkan telinga.
Seketika itu juga di atas panggung muncullah berpuluh puluh jalur angin putaran yang sangat keras.
"Braak! braak! braak!"
Atap panggung kena tersapu lepas oleh putaran angin pukulan itu diikuti suara gemeratakan yang memecahkan kesunyian.
Tubuh Yen Yen Thaysu kontan kena terdorong mundur empat, lima langkah ke belakang.
Papan panggungpun ada beberapa bagian yang terpijak hancur.
Bayangan hijau berkelebat lewat.
Liuw Lok Yen pun sudah mundur dua langkah ke belakang tapi sebentar kemudian ia sudah berdiri tegak.
Ketika memandang lagi ke arah Yen Yen Thaysu, maka tampaklah air mukanya yang merah padam saat ini sudah menjadi hitam membesi.
Dadanya bergelombang naik turun tiada hentinya, jelas ia sudah menderita luka dalam amat parah.
Melihat Sang Hweesio terluka, Ci Si Sang jien serta Thian Liong Tootiang sama-sama meloncat naik ke atas panggungsatu lari menghampiri Yen Yen Thaysu sedang yang lain menyongsong Liuw Lok Yen.
Yen Yen Thaysu yang selama ini sombong dan pandang sebelah mata terhadap orang lain, tidak disangka ini hari telah menderita luka dalam yang amat parah oleh pukulan sendiri.
Masih beruntung tenaga lweekangnya amat sempurna, dengan paksakan diri ia tekan golakan darah dalam dadanya lalu sambil memandang ke arah Ci Si Sangjing serunya seram.
"Walaupun Pinceng sudah terluka dalam aku pikir iapun tak bakal lebih parah dari diriku. Sudah tentu Ci Si Sangjing mengerti bila perkataan tersebut sengaja diutarakan untuk menutupi rasa malu yang mencekam dirinya, buru-buru hiburnya. Untuk sementara waktu harap susiok beristirahat terlebih dulu kemungkinan sebentar lagi bakal berlangsung suatu pertarungan yang jauh lebih sengit.... Tidak menunggu jawaban lagi, dengan setengah paksa ia tarik tubuh hweesio tua itu turun ke bawah panggung. Liuw Lok Yen setelah berturut-turut melukai dua orang jagoan liehay tenaga dalam pun mulai terasa tak teratur, Kini secara mendadak melihat Thian Liong Tootiang dengan wajah keren mendekati ke arahnya, tak terasa perempuan itu tertawa terkekeh kekeh.
"Heee.... heee.... heee.... tadi aku suruh kalian bertiga turun tangan bersama-sama demi menjaga nama baik kalian tidak suka menurut, tidak nyana kalau kalian sebetulnya ada maksud menggunakan siasat roda kereta yang sangat rendah untuk mengalahkan diriku"
Disindir dengan kata-kata itu air muka Thian Liong Tootiang berubah jadi merah padam.
"Pinto tiada maksud untuk menggunakan cara yang serendah itu"
Buru-buru potongnya.
"Kau boleh mengatur pernapasan dahulu, setelah itu kita baru lanjutkan kembali pertemuan diantara kita."
"Heee.... heee.... heee.... soal itu sih tidak perlu sekarang juga kau boleh turun tangan melancarkan serangan"
Padahal sebelum berlangsungnya pembicaraan tersebut, perempuan itu sudah mengatur pernapasan, tetapi justru sengaja dia menggunakan kata-kata itu untuk membuat malu mereka.
dan ternyata siasatnya ini mendatangkan hasil.
Bukan saja sebagian besar para jago yang menonton keramaian merasa kejadian ini tidak adil, bahkan Ui Liong Tootiang, Hay Thian Sin Shu beserta Tan Kia-beng sekalian pun pada merasa bahwa kemunculan Thian Liong Tootiang tidak sesuai pada saatnya.
Thian Liong Tootiang sebagai seorang angkatan tua dari pihak Bu-tong-pay, mana mau mengakui dengan begitu saja?
walaupun Majikan Isana Kelabang Emas sudah menantangnya berulang kali ia tidak mau juga untuk turun tangan.
Tetapi justru tindakannya ini tepat mengenai sasaran yang diharapkan.
karena yang diharapkan Liuw Lok Yen adalah mengulur waktu lebih lanjut, diam-diam ia melirik sekejap ke tengah udara.
Hari sudah gelap, sang rembulanpun memancarkan sinarnya dibalik awan dalam hati perempuan itu tertawa dingin tiada hentinya, pikirnya.
"Heee.... heee.... heee.... kalian jangan merasa bangga dulu, setengah jam kemudian suatu permainan bagus akan berlangsung dihadapan kalian."
Sedang diluaran ia tersenyum.
"Jikalau Tootiang tidak mau juga turun tangan, Liuw Lok Yen pun akan terima perintah saja"
Ia benar-benar pejamkan matanya dan mengatur pernapasan di tempat itu juga.
Tindakannya ini benar-benar berada diluar dugaan tujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar, diam-diam mereka merasa amat gelisah.
Sedangkan si pengemis aneh yang duduk ditanah lapang depan panggungpun hampir-hampir tak dapat menahan diri, ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Toosu tua ini benar-benar sangat tolol,"
Makinya sangat keras.
"Bagaimanakah keadaan pada saat ini? buat apa kau membicarakan pula soal kebajikan serta keadilan. Dalam situasi macam begini menanti rencana busuk pihak Isana Kelabang Emas sudah dimulai, menyesalpun sudah terlambat!"
Pada waktu itulah mendadak terdengar tiupan seruling yang tinggi melengking dan sangat menusuk telinga berkumandang keluar dari atas puncak gunung diikuti dari empat arah delapan penjuru berbunyi suara sahutan yang gegap gempita.
Suara seruling itu kontan saja membuat semua orang yang hadir di tengah kalangan jadi melengak dibuatnya.
Hay Thian Sin Su dengan gusar segera meloncat bangun.
"Perbuatan ini pasti permainan setan dari Majikan Isana Kelabang Emas...."
"Perkataan dari Loocianpwee sedikitpun tidak salah"
Sahut Tan Kia-beng sambil ikut meloncat bangun pula, sewaktu masih ada di gurun pasir pemuda inipun pernah mendengar suara seruling macam begini.
"Inilah tanda rahasia dari pihak Isana Kelabang Emas."
Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan, mendadak terdengar suara bentakan keras bergema memenuhi angkasa.
"Manusia rendah yang tidak tahu malu, kau berani menggunakan cara yang demikian rendah untuk menghadapi kami". Sreet! Sreeet! dua sosok bayangan bagaikan terbang sudah meluncur ke depan. Ternyata mereka adalah Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si rasul selaksa racun.
"Apa yang sudah kalian temukan?"
Buru-buru tanya pemuda itu.
Belum sempat Su Hay Sin Tou memberikan jawaban, mendadak di atas panggung sudah terdengar suara suitan yang amat keras.
Dari balik tandu yang digunakan majikan Isana Kelabang Emas tadi secara mendadak melayang keluar sesosok bayangan abu-abu yang langsung menubruk ke arah Thian Liong Tootiang yang berada di atas panggung.
Semua peristiwa hampir boleh dikata terjadi dalam waktu yang bersamaan, ketujuh orang ciangbunjin yang ada dihadapannya hampir bersamaan waktunya sama-sama meloncat memberi pertolongan, tetapi ketika itulah Thian Liong Tootiang sudah meloncat bangun dan berturut-turut muntahkan darah segar.
"Kalian tidak usah menggubris diriku lagi, cepat-cepat atur pernapasan untuk menghadapi segala kemungkinan"
Bentaknya kepada Leng Hong Tootiang dengan mata mendelik.
"Heee.... heee.... heee.... ini hari puncak Si Sim Hong akan menjadi tempat mengubur tulang-tulang kalian, seorangpun jangan harap bisa meloloskan diri dalam keadaan hidup"
Dari atas panggung secara tiba-tiba berkumandang keluar suara tertawa aneh.
Karena perubahan perubahan besar terjadi berulang kali dan saling susul menyusul maka Tan Kia-beng dengan ketajaman matanya tak berhasil melihat jelas siapakah yang berhasil merobohkan Thian Liong Tootiang Tapi setelah mendengar orang itu berkata ia baru menemukan bila di atas panggung sudah bertambah dengan seorang nenek tua berwajah buas yang memakai jubah ungu.
Wajahnya hitam pekat bagai pantat kuali dengan sepasang mata aneh yang mendelong ke dalam, sinar hijau yang dipancarkan keluar mencapai jarak sejauh satu depa.
Ketika itu ia sedang berdiri sejajar dengan Liuw Lok Yen.
Tan Kia-beng yang mendengar omongannya amat sombong, dalam hati mulai merasa amat gusar, ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee hee heee.... aku orang she Tan tidak percaya kalau puncak Si Sim Hong adalah tanah kubur buat kami."
Tubuhnya dengan sebat mencelat ke tengah udara kemudian menubruk ke atas panggung siapa sangka sewaktu ujung kakinya baru saja menempel di atas panggung bayangan tubuh dari si nenek tua serta Liuw Lok Yen sudah lenyap tak berbekas diikuti suara bentakan keras bergema memenuhi angkasa.
Murid murid murtad dari tujuh partai yang berada dibarak sebelah Barat bersama-sama sudah turun tangan berbareng.
Sian Si Hweesio dari Siauw-lim-pay dengan memimpin beberapa puluh orang hweesio gundul sama-sama menerjang ke arah Tan Kia-beng, sedang orang-orang dari Kun-lun-pay serta Ngo Thay Pay menerjang ke arah Ui Liong Tootiang serta Hay Thian Sin Shu sekalian.
Tan Kia-beng yang meloncat naik ke atas panggung dan tidak berhasil mencegat jalan pergi dari Majikan Isana Kelabang Emas serta si nenek tua itu sebaliknya ada segerombol hweesio hweesio gundul menerjang ke arahnya, dalam hati merasa amat gusar, diiringi suara bentakan keras ia mengirim satu babatan dahsyat ke depan.
Sian Si Hweesio beserta murid murid murtad itu kebanyakan merupakan anak murid angkatan kedua, ketiga yang memiliki kepandaian silat lumayan, tenaga dalam mereka rata rata mempunyaa tiga empat puluh tahun hasil latihan, melihat angin pukulan Tan Kia-beng yang sangat dahsyat menggulung datang masing-masing lantas angkat telapaknya siap-siap menerima datangnya serangan tersebut bersama-sama.
Tetapi gerakan tubuh mereka ada yang terlebih dahulu ada yang akhir, walaupun tenaga gabungan beberapa orang itu berhasil menahan datangnya serangan Tan Kia-beng tapi berhubung adanya tenaga pukulan yang muka belakang tidak berbareng, seketika ada dua orang hweesio yang berada dipaling depan kena terhantam sehingga muntah darah segar dan roboh dari atas panggung.
Para hweesio hweesio ketika itu merasakan datangnya pukulan tersebut amat dahsyat, tak urung dibuat melengak juga.
Sian Si Hweesio karena takut mereka pecah nyali, buru-buru membentak kembali.
sepasang telapak tangannya dengan sejajar dada didorong ke depan.
Setelah mendengar suara bentakan tersebut para hweesio lainpun ikut menerjang kemuka sesaat bayangan telapak beterbangan memenuhi angkasa, pukulan angin taupan menyambar dari delapan penjuru.
Walaupun Tan Kia-beng membenci hweesio Saw lim ini karena tidak tahu diri, tapi untuk sesaat ia tak berhasil meloloskan diri dari kepungan.
Demikian halnya pula dengan Ui Liong Tootiang, Hay Thian Sin Shu ayah beranak serta Pek-tok Cuncu dibarak sebelah Timur sewaktu mereka hampir meloncat turun dari barak mengurunglah murid-murid murtad dari tujuh partai dengan sangat rapat.
Suasana di tengah kalangan dengan cepat jadi kacau balau, walaupun orang-orang yang menonton keramaian ada berjumlah seratus dua ratus orang dan didalamnya terdapat pula jago-jago lihay, tapi mereka tiada berkesatuan dan tiada bertujuan setelah terjadi urusan buru-buru mereka sama-sama menyingkirkan diri jauh jauh.
Hanya pihak Kay-pang serta anak murid tujuh partai saja yang masih tetap mempertahankan ketenangannya.
Suara tiupan seruling dari empat penjuru makin lama semakin kencang, tinggi melengking menyeramkan hati, tapi sama sekali tidak kelihatan juga sesuatu gerakan.
Si pengemis aneh yang melihat Tan Kia-beng sekalian kena terkurung rapat oleh murid murid murtad tujuh partai, saking khekinya sepasang matanya memancarkan cahaya hijau, sambil menuding ke arah ketujuh orang ciangbunjin partai besar bentaknya keras "Kalian semua sebagai seorang Ciangbunjin mengapa tidak menguasahi anak murid sendiripun tidak becus, inilah yang disebut partai besar kalangan lurus?"
Kena dimaki oleh si pengemis aneh, air muka Ci Si Sangjien berubah jadi memerah. sambil bentaknya keras kakinya ke atas tanah ia menghela napas panjang.
"Tidak kusangka permainan catur kita kali ini sudah salah ambil jalan sehingga menemui kekalahan, satu-satunya jalan pada saat ini hanyalah berdasarkan kemurahan hati Hud-ya kita bereskan dahulu manusia-manusia murtad tersebut."
Habis berkata ia lantas meloncat ke depan untuk menerjunkan diri ke dalam kalangan.
"Heee.... heee.... heee.... apa kau kira dengan berbuat demikian lantas bisa meloloskan diri dari kurungan?"
Jengek si pengemis aneh sambil tertawa dingin.
"Jikakau kalian ikut menerjunkan diri ke dalam kalangan, bukan saja tidak akan membantu tenangkan suasana sebaliknya akan menciptakan keadaan yang semakin kacau. coba kalian pikir kamu semua adalah sama-sama Hweesio serta Toosu, secara bagaimana kalian hendak membedakan mana kawan mana musuh? "Apalagi Majikan Isana Kelabang Emas justru hendak memaksa kalian untuk berbuat demikian sehingga ia bakal jadi nelayan untung yang tinggal menarik rejeki, Menurut pandangan aku si pengemis, walaupun jumlah murid murtad banyak tapi belum tentu mereka bisa mengapa apakan musuhnya tujuan kita yang terutama pada saat ini adalah secara bagaimana menghadapi serbuan dari orang-orang Isana Kelabang Emas."
Mendengar perkatan itu Ci Si Sangjien lantas menarik kembali badannya dan meloncat mundur ke belakang, ia berpaling ke arah Leng Hong Tootiang.
"Bagaimana menurut pendapat Too-heng?"
Walaupun pada hari biasa Leng Hong Tootiang bersikap ramah tapi melihat perubahan besar yang berlangsung dihadapan matanya ia tak dapat menahan golakan dihatinya lagi.
"Harap semua partai suka membentuk barisan untuk mempersiapkan diri terhadap serangan lawan. Pinto punya cara untuk menghadapi murid murid murtad tersebut."
Anak murid yang dibawa oleh tujuh partai besar kali ini kebanyakan merupakan jago-jago pilihan yang rata rata memiliki kepandaian dahsyat.
Walaupun saat ini keadaan sudah amat kritis tapi tak kelihatan sedikit sikap gugul atau kagetpun diantara mereka.
Setelah Leng Hong TOotiang berseru, semua orangpun tersadar dari lamunan, demikianlah pihak Kun-lun-pay serta Bu-tong-pay masing-masing mengatur barisan Kiow Kong Pat Kwa Kiam Tin nya, sedang anak murid Siauw-lim-pay mengatur barisan Loo han Tin nya yang terkenal sangat kokoh dan ampuh.
Sebaliknya pihak Go-bie pay serta Ngo Thay Pay empat partai membentuk barisan Su Siang Tin yang sangat besar, dibawah sorotan sinar rembulan terlihatlah wajah setiap orang penuh dilapisi oleh nafsu membunuh yang berkobar kobar.
Pada waktu itu suara seruling sudah berhenti berbunyi, suara jeritan ngeri saling susul menyusul bergema dari punggung gunung, tidak usah diragukan lagi tentu orang-orang kangouw yang datang menonton keramaian sudah menemui ajalnya di tengah jalan.
Dengan wajah serius Leng Hong Tootiang menyapu sekejap keseluruh kalangan, melihat anak murid tujuh partai besar sudah bersiap sedia, sedang anak murid Kay-pang pun telah menyebar dilapangan yang luas.
sambil menarik tangan Ci Si Sangjien ia baru meloncat ke arah Tan Kia-beng.
"Murid-murid murtad macam itu sudah sepatutnya menemui kematian"
Bentaknya keras.
"Harap Tan Sauw hiap serta Thay-hiap sekalian suka turun tangan kejam, tidak usah menaruh belas kasihan lagi kepada mereka, dan maafkan pinto sekalian tak dapat ikut campur".
"Haaa.... haaa.... haaa.... sekalipun kau tidak berbicara merekapun tak bakal mendapatkan kebaikan"
Sahut Su Hay Sin Tou sambil tertawa terbahak-bahak.
Terdengar suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, seseorang anak murid Kun-lun Pay sudah kena dibabat sehingga tubuh beserta pedangnya mencelat satu kaki tingginya ke tengah udara.
Diikuti Hay Thian Sin Shu, Ui Liong Tootiang serta Pek-tok Cuncu sekali dengan mengerahkan tenaga lweekangnya yang amat sempurna membabat rubuh beberapa orang.
Walaupun jumlah murid murid murtad itu ada lima, enam puluh orang banyaknya tetapi dengan kekuatan mereka tidak mungkin bisa menandingi keempat orang manusia aneh yang sudah tidak dalam Bulim, ditambah lagi sebilah pedang pendek Leng Poo Sianci yang tajam dan ganas, dimana cahaya hijau berkelebat lewat, musuhnya kontan terkurung dalam tekanan pedangnya.
Tidak selang beberapa saat suara jeritan ngeri semakin sering terdengar, sekalipun orang-orang itu menyeleweng karena hasutan pihak Isana Kelabang Emas tapi di dalam pandangan Leng Hong Tootiang ia merasa tidak lega, setelah menghela nafas dan geleng kepala ia putar badan lantas berlalu.
---ooo0dw0ooo---Kita balik pada Tan Kia-beng yang begitu munculkan diri lantas terkurung oleh murid murid murtad dari Siauw-lim-pay, walaupun dalam hati merasa mendongkol bercampur gusar tapi ia tidak ingin keluarkan seluruh tenaganya.
Setelah bergebrak beberapa saat, hweesio hweesio itu bukannya mengundurkan diri sebaliknya makin lama semakin lancar, hatinya jadi kheki juga, karena tujuannya yang paling utama adalah bergebrak melawan majikan Isana Kelabang Emas.
tapi setelah terhadang oleh hweesio hweesio itu ia lantas sadar jika tidak turun tangan kejam mungkin sulit untuk meloloskan diri.
Hawa murni disalurkan mengelilingi seluruh tubuh, setelah membentak keras berturut-turut ia mengirim dua buah pukulan yang sangat dahsyat kemuka.
Tenaga dalam yang dimilikinya saat ini benar-benar luar biasa, laksana gulungan angin taupan menghantam dua orang hweesio yang berada dipaling depan sehingga muntah darah segar dan bagaikan peluru ketepil mencelat jauh dari atas panggung.
Kejadian ini membuat para hweesio lainnya rada tertegun dibuatnya.
Dalam waktu yang amat singkat kembali Tan Kia-beng melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu pukulan Siauw Siang Chiet Ciang, hawa pukulannya lembut tak bertenaga tapi menerjang tiada berkeputusan, seketika ada beberapa orang hweesio kembali terpukul luka.
Pada mulanya karena di tempat itu ada majikan Isana Kelabang Emas bertindak sebagai tulang punggung, para murid murtad ini masing-masing bersemangat tinggi dan berusaha untuk menunjukkan baktinya kepada sang majikan.
Tetapi setelah lama bergebrak dan tidak kelihatan juga barang seorang anggota Isana Kelabang Emas pun yang munculkan diri mereka mulai berdesir.
Diam-diam Sian Si Hweesio melirik sekejap kesamping, ketika dilihatnya tujuh partai besar sudah membentuk barisan diempat penjuru sedang Tan Kia-beng sekalian walaupun berjumlah sangat kecil tapi setiap orang memiliki kepandaian yang luar biasa dan keenam tujuh puluhan orang yang mengerubuti dirinya tidak selang beberapa saat sudah ada dua puluh orang yang meninggal atau terluka.
dalam hati lantas sadar jika pertempuran ini diteruskan lebih lanjut, maka seluruh pasukannya bakal musnah.
Terburu-buru dalam hatinya mengambil keputusan untuk mundur, mendadak ia menarik kembali serangannya seraya membentak keras.
"Kita mundur dulu. Biarlah mereka dibereskan oleh orang-orang kita...."
Tubuhnya langsung meloncat turun tadi atas panggung dan siap melarikan diri diikuti kepala kepala gundul lainnnya.
Begitu murid murtad Siauw-lim-pay mengundurkan diri, toosu toosu murtad lain ikut mengambil tindakan yang sama, mereka sama-sama menarik kembali serangannya sambil menerjang keluar dengan terbirit birit.
Sejak permulaan Tan Kia-beng memang ada bermaksud untuk bergebrak melawan manusia manusia tersebut melihat mereka membubarkan diri iapun tidak melakukan pengejaran, tubuhnya dengan ringan melayang turun ke atas permukaan tanah.
Hay Thian Sin Shu beserta Ui Liong Tootiang sekalianpun semakin tidak ingin bergebrak lebih lanjut, melihat mereka mengundurkan diri dengan sendirinya beberapa orang jago tua inipun pada berhenti bergerak.
Yen Yen Thaysu yang sedang pejamkan mata mengatur pernapasan, pada saat ini lukanya boleh dikata sudah sembuh sebagian besar, mendadak ia buka mata dan membentak keras.
"Binatang, kau masih ingin melarikan diri?"
Mendadak tubuhnya menubruk ke depan sepasang tangannya bersama-sama didorong mengirim satu pukulan yang maha dahsyat.
Bagaikan angin puyuh yang disetai sambaran geledek, serangan itu dengan hebatnya menggulung ke arah murid murid murtad tujuh partai yang sedang melarikan diri.
Orang-orang itu sama sekali tidak menyangka kalau Yen Yen Thaysu yang sedang menderita luka masih bisa melancarkan serangan, dalam keadaan terkejut mereka sama-sama mundur ke belakang, tetapi karena datangnya serangan amat cepat beberapa orang yang berada dipaling depan sudah kena tersapu oleh datangnya angin pukulan itu sehingga muntah darah dan roboh terjengkang ke atas tanah.
Dengan adanya hadangan dari Yen Yen Thaysu ini, maka tujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar yang berada jauh beberapa kaki dari tempat itu bersama-sama unjuk gigi pula.
Loo Hu Cu sambil menggetarkan pedang kunonya segera membentak keras.
"Kita bereskan dulu manusia manusia murtad ini!"
Pedangnya dengan membentuk pelangi panjang ke depan.
demikianlah setelah Bo-bie pay turun tangan, partai partai lainpun sama-sama ikut mencabut pedang dia menerjang ke depan.
Seketika itu juga cahaya golok bayangan pedang berkelebat menyilaukan mata, angin pukulan menderu-deru, suatu pertarungan yang maha sengit sudah berlangsung dengan dahsyatnya.
Sian Si Hweesio yang melihat keadaan tidak menguntungkan dengan cepat mengambil keluar tasbeh Jan Siang Cu yang terselip dalam sakunya lalu digoyang-goyangkan dihadapan anak anak murid Sauw-lim sie, bentaknya keras.
"Kalian benar-benar bernyali sungguh berani menentang penguasa tasbeh Jan Siang Cu, apakah kalian mau bentrok?"
Yen Yen Thaysu dengan wajah gusar melototkan sepasang matanya, dengan wajha berubah merah darah ia menggembar kalap.
"Loo lap lebih suka terima hukum menghadap dinding selama tiga tahun daripada melihat kau murid durhaka terus menerus membuat keonaran."
Tanpa memperdulikan peraturan perguruan lagi ia mengirim satu pukulan gencar menghajar badan Sian Si Hweesio.
Sang Hweesio murtad itu jadi terperanjat, terburu-buru ia menarik kembali tasbehnya dan mundur ke belakang.
Tapi Yen Yen Thaysu mana suka membiarkan dia meloloskan diri, diiringi suara tertawa panjang iapun ikut mengejar dari belakang dan seketika itu juga mengurung dirinya ke dalam kepungan bayangan telapak.
Melihat pertempuran antara saudara seperguruan yang sedang berkobar dengan sengit diantara sesama tujuh partai besar, diam-diam Tan Kia-beng menghela napas panjang.
Sebaliknya Su Hay Sin Tou tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.... haaa.... haaa.... itulah akibatnya jika pada hari hari biasa menerima murid semau sendiri demi kekuatan partai, aku takut bilamana kalian sudah lelah dalam pertarungan antar sesama saudara seperguruan maka pihak Isana Kelabang Emas segera akan melancarkan serbuannya".
"Kalau begitu kita harus turun tangan membantu mereka dalam membereskan murid murid durhaka itu!"
Sela Leng Poo Sianci dari samping. Su Hay Sin Tou tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee.... heee.... heee.... mereka semua hanya terdiri dari toosu dan hweesio, orang lain tak bakal boleh ikut campur!"
Sedangkan Ui Liong Tootiang sendiri, perlahan-lahan mendongak ke atas memandang cuaca. mendadak katanya.
"Kemungkinan sekali saat ini sudah mendekati kentongan ketiga, daripada kita harus menanti terus di tempat ini jauh lebih baik pergi cari mereka untuk bikin perhitungan"
"Tidak boleh jadi, tidak boleh jadi."
Buru-buru Hay Thian Sin Shu menggeleng dan menolak usul tersebut.
"Pertama, pihak musuh gelap kita terang belum tentu kita berhasil menemukan mereka, kedua, jika kita pergi dari sini maka keadaan tujuh partai besar akan sangat berbahaya, pada saat itu kematian yang bakal mereka derita akan semakin berat lagi."
Ketika beberapa orang ini sedang berunding, suara jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul memotong pembicaraan mereka, ketika beberapa orang jago tua ini angkat kepalanya maka terlihatlah pihak tujuh partai besar pada saat ini sudah peroleh kemenangan, banyak murid murtad yang sudah roboh jadi mayat, dan kini tinggal beberapa orang hweesio Siauw lim saja yang masih ngotot melakukan perlawanan mati-matian.
Sian Si Hweesio itu pentolan penhianat dari Siauw-lim-pay pun sudah berhasil dirobohkan oleh Yen Yen Thaysu dan tasbeh Jan Siang Cu pun kena direbut kembali.
Tapi, walaupun ciangbunjin dari tujuh partai berhasil menguasahi keadaan dan membasmi murid-murid durhaka, tapi merekapun sudah kehilangan banyak tenaga, bahkan ada beberapa orang pula yang sudah terluka dan kini sedang membalut luka-luka tersebut.
Tiba-tiba....
Beberapa rentetan suara suitan yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan kemudian disusul dengan munculnya tujuh delapan sosok bayangan hitam yang langsung menerjang ke arah gerombolan orang-orang tujuh partai.
Suara dengusan berat bergema silih berganti, Loo Hu Cu yang melihat kejadian itu dengan gusar meraung keras, pedangnya digetarkan menyambut datangnya orang-orang itu diikuti pula oleh Leng Hong Tootiang serta Ci Si Sangjien sekalian.
Suatu pertarungan sengit segera berkobar lagi di tengah kalangan.
OoooO Dengan ketajaman mata Tan Kia-beng sekali kelebatan ia sudah mengenali kembali kalau beberapa sosok bayangan tubuh tersebut bukan lain adalah Sam Biauw Ci Sin, Kui So Sian Ong serta Tou Yen Lu beberapa orang, tak terasa lagi alisnya berkerut tubuhnya bergerak siap memberi bantuan.
Melihat gerakan dari sang pemuda, buru-buru Ui Liong Tootiang goyangkan tangannya menghadang.
"Dengan kekuatan beberapa orang itu rasanya sudah cukup untuk menghadapi mereka, buat apa kau ikut campur, aku rasa siasat busuk dari pihak Isana Kelabang Emas sudah akan dilangsungkan."
Belum habis ia berkata, suara tiupan seruling sudah bergema kembali dari empat penjuru. Su Hay Sin Tou kontan tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... haa.... bagaimanapun manusia tidak pernah selamanya melakukan pekerjaan bersembunyi-sembunyi bagaikan cucu kura kura"
Ejeknya.
"Oouw.... benarkah?"
Mendadak sambung seseorang dari tempat kejauhan Malam ini aku Liuw Lok Yen ingin mengandalkan serangkaian ilmu kepandaianku hendak coba-coba menemui kalian manusia manusia yang menganggap dirinya genah."
Angin sesak berhembus lewat, si majikan Isana Kelabang Emas Liuw Lok beserta si nenek tua berbaju ungu itu dengan amat ringan sudah melayang turun ke tengah kalangan diikuti berhembusnya bau harusm, kedua puluh empat orang dara berbaju warna warni, yang menyoren pedang pun bersama-sama munculkan diri disana.
Melihat munculnya Liuw Lok Yen, bersama-sama dengan Ui Liong Tootiang beberapa orang Tan Kia-beng segera berjalan menghampiri.
"Hee hee hee.... menggunakan cara demikian untuk menghadapi orang-orang Bulim di daratan Tionggoan, apakah kau tidak merasa tindakan tersebut terlalu kejam?"
Jengek sang pemuda sambil tertawa dingin. Alis Liuw Lok Yen melentik, iapun tertawa sombong.
"Tempo dulu mereka pun pernah mengandalkan kekuatan dari Raja muda untuk membasmi habis seluruh isi Kiem Hoa Tong, apakah ketika itu merekapun pernah memikirkan soal perikemanusiaan?"
Peristiwa yang terjadi tempo dulu pada mulanyapun, disebabkan karena tindak tanduk pihak Kiem Hoa Tongcu terlalu kurang ajar! sambung Ui Liong Tootiang dengan suara lantang.
"Kalian mengacau dibeberapa keresidengan Thian Lam dan bermaksud menguasahinya, hal inilah yang menimbulkan kemarahan total bagi orang-orang Bulim. Lalu bagaimana mungkin kalian bisa salahkan para pendekar yang berada dibawah naungan Mo Cun-ong terpaksa harus ambil tindakan? apalagi...."
Belum habis ia berkata, si nenek tua berbaju ungu itu sudah memotong perkataannya sambil tertawa seram.
Urusan dikolong langit selamanya tiada yang sungguh-sungguh betul, rasanya tiada berguna untuk diributkan lebih jauh.
jikalau malam ini kau meloloskan diri dari puncak Si Sim Hong maka keluarkan dulu kepandaianmu yang sejati biar aku Hu Sang Popo periksa dulu apakah kalian berhak atau tidak untuk melanjutkan hidup."
Hay Thian Sin Shu tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.... haaa.... haaa.... benar! benar! cepat atau lambat akhirnya kita harus beradu kepandaian juga, buat apa ribut mulut dilanjutkan lagi?"
Pada saat itu suara seruling secara mendadak kembali berkumandang memenuhi angkasa, di tengah kegelapan secara tiba-tiba menerjang keluar serombongan manusia manusia aneh yang menyemburkan api dari mulutnya, dibawah sorotan sinar rembulan keadaan mereka mirip seperti munculnya siluman siluman dari akherat, keadaan sangat menyeramkan sekali.
Ketika Majikan Istana Kelabang Emas munculkan dirinya tadi, Lem Lam Coa Sin itu ketua Kay-pang serta Hong jen Sam Yu sudah berkumpul jadi satu dengan Tan Kia-beng kebetulan waktu itu rombongan manusia aneh munculkan diri menghadang perjalanan mereka.
Terdengarlah suara desiran tajam bergema memenuhi angkasa, cahaya keemas emasan berkelebat menyilaukan mata, bagaikan hujan badai langsung menerjang ke arah beberapa orang jago itu.
"Awas! senjata rahasia Pek Cu Kiem Wu Yen Wie Ciam, cepat cabut keluar senjata bentak si pengemis aneh cepat. Masih beruntung anak murid pihak Kay-pang selalu mencekal tongkat penggebuk anjing ditangannya, buru-buru mereka pada menggerakkan senjatanya untuk menangkis Walaupun begitu masih ada juga beberapa puluh orang yang terluka oleh serangan tersebut, kejadian ini kontan saja membuat sang pangcu jadi mencak mencak kegusaran, sambil gerakkan telapak tangannya ia terjang manusia aneh tersebut. Gerombolan manusia aneh ini bukan lain adalah barisan Pek Kui Yu Hun Tin yang pernah ditemui Tan Kia-beng sewaktu berada dugurun pasir, begitu tiba di tengah kalangan dengan cepat mereka sudah mengurung seluruh anak murid Kay-pang ke dalam barisan. Tan Kia-beng yang melihat kejadian ini dari tempat kejauhan, segera mengerti kalau pihak Isana Kelabang Emas sudah kerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk berusaha merebut kemenangan pada malam ini. Maka tubuhnya dengan cepat menerjang ke depan, kepada Liuw Lok Yen sambil menjura katanya.
"Selamat berjumpa.... selamat berjumpa! tenaga lweekang Hong Mong Cie Khie saudara memang benar-benar menjagoi seluruh Bulim, malam ini aku orang she Tan memandang kekuatan sendiri ingin minta beberapa patunjuk dari dirimu."
"Aaah! Tan heng tidak usah terlalu sungkan sungkan."
Sahut Liuw Lok Yen tersenyum.
"Jie Khek Kun Yen Cin Khie mu jauh lebih dahsyat, Liuw Lok Yen sudah lama mengaguminya."
Perasaan hati Tan Kia-beng pada saat ini penih diliputi ketegangan.
Majikan Isana Kelabang Emas yang misterius dan kejam sudah berada di depan mata, dan karena ia sudah pernah bergebrak melawan murid tertuanya Ci Lan Pak dengan berkesudahan seri maka ini hari dapatkah dia menangkan pertarungan tersebut rasanya masih merupakan suatu teka teki.
Tapi ia tak merasa jeri diam-diam hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuh siap melancarkan serangan.
Kiranya perasaan tegang tidak hanya menyerang pada Tan Kia-beng seorang, melainkan Ui Liong Tootiang, Hay Thian Sin Shu, Pek-tok Cuncu serta Su Hay Sin Tou pun sama-sama merasa suasana semakin tegang, mereka paham bila kepandaian silat yang dimiliki Majikan Isana Kelabang Emas benar-benar sangat luar biasa dan sukar untuk dibendung.
Sebaliknya Liuw Lok Yen sendiri walaupun diluar bersikap sangat sungkan, tetapi diam-diam hawa murninya sudah disalurkan mengelilingi seluruh tubuh, karena ia sudah dua kali menjajal kepandaian silat yang dimiliki pemuda ini dan mengerti bila dalam dunia kangouw saat ini hanya pemuda ini seorang saja yang bisa menandingi dirinya, jika malam ini ia tak berhasil menyingkirkan lawan tangguhnya ini maka impian untuk merajai Bulim rasanya sukar untuk terpenuhi.
Sekarang kedua orang itu sudah berdiri saling berhadapan, masing-masing pusatkan pikiran untuk bersiap sedia dan siapapun tidak ingin turun tangan terlebih dahulu.
Mendadak....
terdengar suara jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, ketika pemuda she Tan ini melirik sekejap ke samping maka tampaklah beberapa orang anak murid dari tujuh partai besar sudah banyak yang dirobohkan ditangan Sam Biauw Ci Sin sekalian.
Tak terasa lagi ia memaki diri sendiri, karena keadaan yang dihadapi amat kritis dan waktu sangat berharga bagaikan emas.
Jika ia berhasil menyelesaikan pertarungan ini lebih cepat maka berarti pula korban yang jatuh pasti lebih sedikit, buat apa mengulurnya lebih lanjut?
Secara mendadak telapak tangannya diputar satu lingkaran, kemudian dengan suara keras bentaknya.
"Harap kau bersiap sedia, aku orang she Tan segera akan turun tangan!"
Telapak tangannya dengan ringan ditekan kemuka, serangan tersebut datangnya sangat lambat sekali bahkan sedikitpun tidak membawa angin pukulan, mungkin sekalipun mengenai sasaran tidak akan menimbulkan rasa sakit.
Tetapi di dalam pandangan Liuw Lok Yen hatinya terasa amat bergetar.
Walaupun ia memahami ilmu silat dari berbagai partai tapi serangan macam begini baru ditemuinya untuk pertama kali.
Iapun tidak berani berlaku gegabah untuk menerima datangnya serangan tersebut tubuhnya berkelebat dua langkah ke samping ujung bajunya kontan digetarkan mengancam jalan darah "Cie Tie Hiat"
Pada lengan kanan pemuda tersebut.
Tan Kia-beng dengan sebat menekan lengannya ke bawah, tangan kiri dengan jurus Kiem Liong Sian Can atau naga emas mengembang cakar balas mengancam jalan darah "Ci Bun Hiat"
Dari Liauw Lok Yen. Liuw Lok Yen menggetar ujung bajunya dengan gerakan "Kiem Liong Ciauw Cien"
Atau Naga emas saling menggunting menghajar pergelangan Tan Kia-beng sedang kakinya laksana sambaran petir melancarkan serangan berantai.
Tan Kia-beng tertawa panjang, badannya meloncat ke tengah udara, sedang sepasang telapaknya digetarkan berulang kali, cepat laksana sambaran kilat, dahsyat bagaikan angin taupan, hanya dalam sekejap mata ia sudah mengirim delapan belas buah serangan gencar.
Ujung baju hijau Liuw Lok Yen berkibar tubuhnya bagaikan seekor kupun kupu beterbangan di tengah kurungan bayangan telapak sang pemuda, saat itu juga ia mengirim serangan balasan.
Begitu kedua orang saling melancarkan serangan, orang-orang yang menonton dari samping kalangan segera merasakan matanya berkunang-kunang, mereka hanya menemukan dua gulung bayangan manusia, sebentar merapat sebentar merenggang, ada maju ada mundur, gerakannya buas bagaikan tubrukan burung elang ganas bagaikan harimau, gesit bagaikan kupu kupu dan lincah bagaikan burung walet, setiap serangan yang dilancarkan tentu merupakan suatu gerakan yang aneh dan sukar untuk diraba arah tujuannya.
Ui Liong Tootiang, Hay Thian Sin Shu, Su Hay Sin Tou serta Pek-tok Cuncu yang biasanya menganggap dirinya sebagai jagoan Bulim saat ini dibuat melongo-longo dengan mata terbelalak, seluruh perhatian mereka terhisap oleh kesempurnaan serta kelihayan dari gerakan kedua orang itu.
Terutama sekali siasap dan mega selaksa li Lok Tong mimpipun ia tidak pernah menyangka kalau muridnya bisa memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya.
Masing-masing orang hanya dalam beberapa waktu sudah saling menyerang sebanyak ratusan jurus lebih, dalam hati mereka sama merasa terperanjat dan mengerti bila musuh yang ditemuinya saat ini merupakan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai selama ini.
Ketika itu pertarungan antara Tan Kia-beng dengan Liuw Lok Yen sudah tidak secepat pertarungan pertama tadi, karena saat ini mereka masing-masing pihak berusaha untuk memperhatikan gerak tipu musuh.
Setiap kali lewat beberapa waktu mereka baru mengirim satu serangan gencar dan dibalik serangan itu tentulah tersembunyi beberapa buah perubahan yang amat lihay.
Diikuti satu serangan barlaku, serangan mematikan kedua menyusul tiada putusnya.
Majikan Isana Kelabang Emas harus mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimiliki untuk menghadapi pihak lawan, sebaliknya Tan Kia-beng pun harus mengeluarkan semua kepandaian yang didapatkannya dari kitab pusaka Teh Leng Cin Keng serta Sian Tok Poo Liok.
Pertarungan yang mendebarkan hati ini berturut turut berlangsung selama satu jam lebih dibawah sorotan sinar rembulan, tetapi masing-masing pihak tidak juga berhasil menentukan siapa menang siapa kalah.
---ooo0dw0ooo---JILID.
19 Dengan cepat pikiran Liuw Lok Yen berputar, akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari kemenangan dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga lweekangnya, ia hendak mengandalkan penemuannya yang aneh untuk menekan dan merubuhkan pemuda lawannya.
Sekonyong-konyong....
Ujung baju diangkat, muncullah sepasang telapak tangan yang putih bersih bagaikan salju.
Dengan sejajar dada ia mendorong tangannya ke depan.
Segulung hawa pukulan yang keras bagaikan ambruknya gunung Thaysan serta jebolnya tanggul besar menggulung dahsayt ke arah tubuh lawan.
Serangan kali ini sudah menggunakan seluruh tenaga lweekang yang dimilikinya sudah tentu kedahsyatannya bukan alang kepalang bilamana serangan tersebut menyambar lewat angin pukulan menderu deru memekik telinga.
Su Hay Sin Tou yang melihat pertarungan tersebut dari samping kalangan, kontan merasakan hatinya berdebar debar, siasap dan mega selaksa li menyalurkan lidahnya sambil menggeleng, diam-diam mereka pada ikut merasa tegang bagi keselamatan sang pemuda sehingga keringat dingin mengucur keluar sangat deras.
Keadaan Leng Poo Sianci lebih parah lagi, hatinya berdebar keras seperti mau melompat keluar saja dari dadanya, sepasang mata terbelalak lebar-lebar.
Tan Kia-beng yang sedang pusatkan pikiran untuk memunahkan serangan lawan, mendadak merasa datangnya angin pukulan sangat dahsyat sehingga suasana diempat penjuru terasa jadi berat, hawa udara seperti membeku yang membuat napas jadi sesak, hatinya jadi sangat bergidik.
Mendadak alisnya melentik, hawa murni disalurkan mengelilingi seluruh badan kemudian bersuitan nyaring menimbulkan suara yang memekikkan telinga.
Sepasang telapaknya diputar, dibabat lalu didorong ke depan, inilah jurus serangan "Jiet Ceng Liong Thian".
Serangan balasan ini dikirim dengan kecepatan luar biasa, segulung angin pukulan yang maha kuat dengan diiringi suara desiran tajam laksana merekahnya tanah dan ambruknya gunung menghajar kemuka.
"Braaak!"
Diikuti meledaknya suara bentrokan tajam muncullah dua liang tanah yang sangat dalam oleh tekanan dari bentrokan kedua gulung hawa murni tersebut.
Bukan begitu saja bahkan muncul pula berpuluh puluh desiran angin putaran yang memancar keempat penjuru.
Tan Kia-beng terpukul mundur sejauh empat langkah ke belakang sedang majikan Isana Kelabang Emas sendiri terdorong mundur sejauh lima depa.
Dengan terjadinya bentrokan ini dalam hati masing-masing pihak lantas mempunyai perhitungan sendiri mereka merasa kekuatan kedua belah pihak adalah seimbang dan siapapun tak berhasil memperoleh keuntungan.
Air muka Liuw Lok Yen berubah dingin kaku bagaikan es, hawa membunuh muncul di atas wajahnya, ujung baju berkelebat dan sekali lagi ia menerjang kemuka.
"Heee.... heee.... heee.... kepandaian silat yang dimiliki Tan heng benar-benar luar biasa, silahkan kau terima kembali satu seranganku ini"
Bentaknya seram Tan Kia-beng menarik napas panjang, hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali kemudian tertawa lebar.
"Silahkan saudara turun tangan sekuat tenaga, cayhe akan mengiringinya dengan taruhan nyawa."
Delam kesempatan tanya jawab ini, kembali kedua belah pihak saling mengirim satu pukulan dengan kecepatan luar biasa.
Di dalam serangan kali ini, masing-masing pihak sudah menambahi tenaganya sebesar dua bagian.
Tapi, kehebatannya tidak sedahsyat bentrokan yang pertama, di tengah mengepulnya debu serta pasir suara ledakan keras bergema memenuhi angkasa.
Sebuah barak yang berada beberapa kaki jauhnya dari kalangan kena terpukul pental oleh desiran angin pukulan terdengar sehingga roboh hancur berantakan.
Di tengah suasana yang amat suram itulah masing-masing pihak mundur dua langkah ke belakang.
Setelah mengalami dua kali bentrokan keras, hawa murni Liuw Lok Yen mulai merasa tidak lancar, sedang hawa membunuh yang berkelebat di atas wajahpun semakin tebal.
Buru-buru ia kumpulkan hawa murninya yang masih tersisa dibadan, seraya membentak keras.
"Awas! aku Liuw Lok Yen akan mengirim pukulanku yang terakhir."
Pada saat itu Tan Kia-beng sendiripun merasa bahwa hawa murninya bergolak sangat keras dan keadaan bagaikan anak panah di atas busur yang secara bagaimanapun harus dilepaskan.
Mendadak sepasang matanya mendelik, dengan memancarkan cahaya tajam sahutnya lantang.
"Dalam pertemuan malam ini masing-masing pihak ada maksud untuk mempertahankan pendapat masing-masing, lebih baik kita adu jiwa dulu baru kemudian berbicara lagi."
"Heee.... heee.... heee.... Semangat Tan heng berkobar kobar, hal ini membuat aku Liuw Lok Yen merasa sangat kagum. Ujung bajunya kontan dikebutkan ke depan, segulung kabut hijau yang amat tebal secara tiba-tiba mengalir keluar dari balik baju dan membentuk segulung hawa tekanan yang tak berwujud mengurung seluruh tubuh Tan Kia-beng. Ilmu sian Thian Cin Khie macam ini termasuk ilmu yang teratas dari aliran Sian Bun, kedahsyatannya luar biasa dengan mempunyai daya tahan yang tak tertembuskan, setiap kali menemui daya perlawanan semakin besar maka daya tekanan yang ditimbulkanpun semakin hebat. Ketika itu Tan Kia-beng pun sudah kumpulkan hawa murni Jie Khek Kun Yen Cin Kie nya keseluruh badan, sepasang telapak dengan cepat didorong ke depan dada. Setelah membentuk gerakan Thay-khek, lalu secara tiba-tiba ia menghajar tubuh musuhnya, ilmu Jie Khek Kun Yen Kan Kun So pun sudah disalurkan keluar. Seluruh harapan Ui Liong Tootiang sudah ditumpahkan ke dalam ilmu kepandaian Jie Khek Kun Yen Kan Kun So ini, walaupun manja kuat tapi tak urung pada saat ini merasa tegang juga sehingga matanya melotot bulat bulat, langkahnya bergerak mundur berulang kali. Di tengah suara bentrokan dan ledakan yang maha dahsyat, kedua gulung angin pukulan Sian Thian Cin Khie tersebut sudah terbentur satu sama lainnya. Sreet! sreet! angin tajam memancar keempat penjuru menggetarkan ujung baju seluruh jago yang ada disamping kalangan sehingga berkibat tiada hentinya dan terdorong mundur ke belakang. Oleh pukulan Jie Khek Kun Yen Kan Kun So ini tubuh Liuw Lok Yen tergetar keras dan mencelat ke tengah udara untuk berjumpalitan beberapa kali kemudian roboh ke atas tanah. Sebaliknya Tan Kia-beng sendiri merasakan dadanya seperti terhantam martil berat badannya terpukul mundur tujuh, delapan langkah ke belakang lalu jatuh terduduk pula ke atas tanah. Melihat kejadian itu saking kagetnya Leng Poo Sianci menjerit tertahan, tubuhnya segera meloncat ke depan disusul oleh siasap dan mega selaksa lie Lok TOng, Su Hay Sin Tou, Pek-tok Cuncu beberapa orang. Siapa nyana, sewaktu masing-masing pihak sama-sama menderita luka itulah dari tengah kalangan kembali terdengar suara suitan aneh bergema memenuhi angkasa, kiranya Hu San g Popo bagaikan burung elang sudah mencelat ke tengah udara dan langsung menubruk ke arah Tan Kia-beng. Hay Thian Sin Shu serta Ui Liong Tootiang yang melihat kejadian itu segera membentak keras, masing-masing orang mengirim satu babatan keras ke arah si nenek tua itu. Kedua orang ini merupakan jago kelas wahid dalam Bulim saat ini, apalagi serangan dilancarkan dengan sepenuh tenaga, sudah tentu kekuatannyapun luar biasa. Tampaklah dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan putaran roda menggulung ke arah badan Hu Sang Popo yang sedang menerjang ke arah bawah itu. Sekalipun tenaga dalam Hu Sang Popo amat tinggi, iapun tidak berani menempuh bahaya dengan taruhan nyawa sendiri. Tubuhnya yang masih berada di tengah udara segera berjumpalitan, sepasang ujung baju dikebut dan badannya kembali meluncur naik setinggi tujuh, delapan depa. Dengan amat tepat sekali kedua gulung angin pukulan itu menyambar lewat dari bawah kakinya. Setelah lolos dari ancaman pukulan, nenek tua itu baru melayang turun ke atas permukaan tanah. Tapi justru dikarenakan keterlambatan inilah, ia sudah berhasil dihadang oleh Hay Thian Sin Shu.
"Hmm! kau sudah hidup sedemikian tuanya, ternyata masih juga ada maksud hendak membokong seorang boanpwee yang sedang terluka, apakah kau tidak merasa malu?"
Jengek si orang tua itu sambil mendengus dingin.
Hu Sang Popo adalah guru dari Liauw Lok Yen itu Majikan Isana Kelabang Emas.
Semasa kecilnya ia adalah seorang gadis suku Biauw yang kerjanya memetik daun teh.
Pada suatu hari ia tersesat disebuah gunung, tanpa sadar gadis tua ini sudah tiba di sebuah gua kuno dan secara kebetulan menemukan seluruh kepandaian silat peninggalan seorang Ni kouw yang wafat disana.
Di dalam gua itulah akhirnya ia berlatih tekun dan akhirnya berhasil memiliki serangkaian ilmu silat yang tiada taranya.
Ketika Kiem Hoa Tongcu menderita kekalahan dan Liuw Lok Yen melarikan diri ke tengah hutan, kebetulan ia telah berjumpa dengan dirinya dan terakhir berhasil mendapat didikan serangkaian ilmu silat yang sangat dahsyat.
Hu Sang Popo sejak dilahirnya hidup di tengah gunung dan jarang sekali berhubungan dengan orang bahkan hidupnya pun tergantung dari minum darah binatang.
oleh sebab itulah wataknya jadi buas, ganas dan kejam.
Terhadap makian dari Hay Thian Sin Shu tersebut nenek tua itu tidak ambil gubris sepasang matanya berputar putar kemudian tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee.... heee.... heee.... ia berani melukai muridku, aku akan cabut nyawanya"
Hay Thian Sin Shu serta Ui Liong Tootiang yang mendengar perkataan itu sama-sama merasa terkejut, kepandaian silat yang dimiliki Majikan Isana Kelabang Emas sudah luar biasa liehaynya, jelas kepandaian gurunya jauh lebih dahsyat.
Tapi kedua orang itu adalah jago-jago kangouw yang mempunyai kedudukan sangat terhormat, sudah tentu mereka tak bakal dijera oleh ancaman tersebut.
Ui Liong Tootiang tertawa dingin tiada hentinya.
"Liauw Lok Yen hanya menderita luka parah karena beradu kepandaian, dengan musuh buat kau begitu gelisah, coba aku mau tanya, bagaimana pula tanggapanmu terhadap orang-orang Bulim yang menemui ajalnya dibawah cengkeraman iblis orang-orang Isana Kelabang Emas kalian?"
"Soal ini aku tidak mau menggubris, ayoh cepat menyingkir semua!"
Bentak Hu Sang Popo semakin gusar.
Ujung baju dikebutkan kemudian segulung angin pukulan berkabut hitam bagaikan gulungan ombak disamudra menghajar ke depan.
Ui Liong Tootiang bergidik ia membentak keras, hawa murninya buru-buru disalurkan mengelilingi seluruh tubuh kemudian didorong ke depan.
Segulugn hawa Khie-kang yang dahsyat mengalir keluar menyambut datangnya hawa pukulan berkabut hijau itu.
Siapa nyana, ketika hawa pukulan Khie-kang itu menerjang masuk ke dalam kabut hijau ternyata kekuatannya sudah punah sama sekali, Hay Thian sin Shu sebagai seorang yang berpengalaman begitu merasakan keadaan kurang beres hawa sakti Lie Hwee Sin Kang nya segera dikumpulkan dan membabat dari samping badan.
Walaupun kedua orang itu turun tangan berbeda waktu, tapi kekuatannya sama-sama dahsyat.
Kendati begitu, Ui Liong Tootiang masih terpukul juga oleh segulung hawa tekanan yang tak berwujud sehingga darah di rongga dadanya bergolak keras, tak kuasa lagi badannya mundur lima langkah ke arah belakang.
Hay Thian Sin Shu yang melancarkan serangan dari samping, keadaannya jauh lebih menguntungkan dan tidak sampai tergetar oleh hawa pukulan pihak lawan, walaupun begitu hatinya merasa terkejut juga sukar dilukiskan, ia melirik sekejap ke arah Hu Sang Popo yang saat ini masih berdiri tak bergoyang di tempat semula, sinar matanya dengan pandangan menghina sedang memandang ke arahnya, hal ini semakin mengejutkan hatinya.
Mendadak nenek tua itu meloncat kembali ke tengah udara dan langsung menubruk ke arah Tan Kia-beng yang sedang menyembuhkan lukanya di atas tanah.
Su Hay Sin Tou serta Pek-tok Cuncu yang sedang melindungi keselamatan pemuda tersebut, ketika melihat Hu Sang Popo menubruk datang kembali kedua orang itu sama-sama mengirim satu pukulan ke depan diiringi suara bentakan keras.
"Kau berani!"
Sreet!
dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat menghajar ke arah luar.
Tenaga dalam kedua orang siluman tua ini amat sempurna, bersamaan itu pula kunci dalam badannya sudah tertembus, tenaga dalam mereka sudah berada diantara tenaga dalam Ui Liong Tootiang.
Saat ini dikarenakan hendak menolong Tan Kia-beng, mereka berdua sudah kerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
Tampaklah dua gulung angin pukulan yang satu keras dan yang lain lunak bagaikan gulungan ombak menerjang ketubuh Hu Sang Popo.
Hu Sang Popo yang masih berada di tengah udara, kendati tenaga lweekangnya amat lihay pun belum tentu bisa menerima serangan gabungan dari kedua orang itu, ujung bajunya segera digetarkan dan tubuhnya kembali melayang turun kesebelah kiri.
Baru saja ujung kakinya menempel tanah Su Hay Sin Tou sudah membentak keras, tubuhnya menubruk ke depan seraya teriaknya.
"Eeei.... si Ular racun! Apakah saat ini kau masih membicarkaan soal nama besar?"
Tangannya secepat kilat melancarkan delapan buah serangan berantai, padahal tak usah ia berteriak Pek-tok Cuncu pun sudah ikut turun tangan hampir bersamaan waktunya, Jari telapak sama-sama melayang, berturu turut ia mengirim tujuh buah hajaran yang kesemuanya mengancam tempat-tempat bahaya dari tubuh lawan.
Hu Sang Popo yang dua kali kena terhadang, watak buasnya kembali muncul memenuhi benak.
Kini melihat Su Hay Sin Tou serta Pek-tok Cuncu turun tangan bersama-sama kegusarannya semakin memuncak ia bersuit nyaring.
"Kalian cari mati?"
Teriaknya.
Sang tubuh yang berada di dalam kepungan bayangan telapak mendadak berputar kencang, sepasang cakar setannya digerakkan berulang kali menyerang kiri menghajar kanan.
Tidak sampai dua jurus ia sudah paksa mundur kedua siluman tua itu, kemudian dengan sebat menerjang ke arah Tan Kia-beng.
Hay Thian Sin Shu serta Ui Liong Tootiang yang sudah bentrok satu kali dengan si nenek tua itu, mereka merasakan kepandaian silat pihak lawan benar-benar luar biasa, walaupun melihat kedua orang siluman tua tersebut sudah turun tangan mereka tetap meloncat ke sisi Tan Kia-beng untuk menjaga segala kemungkinan Sekarang melihat ia menerjang ke arah mereka, empat pasang telapak bersama-sama didorongkan kemuka.
Kedua orang siluman tua yang ada dibelakangpun pada saat yang bersamaan ikut menubruk datang, Hu Sang Popo dibawah kerubutan empat orang jagoan lihay ternyata sama sekali tidak kelihatan jeri.
Tubuhnya bagaikan segulung angin taupan mengalir dan meluncur tiada hentinya kesana kemari, bersamaan itu pula terasa ada segulung hawa tekanan yang sukar ditahan membentang keempat penjuru.
Dimana cakar setannya melayang, Su Hay Sin Tou mendengus berat dan mundur dengan sempoyongan.
Diikuti suara ledakan keras bergema memenuhi angkasa, Hay Thian Sin Shu dengan wajah merah padam terpental mundur sejauh delapan depa.
Malihat kawan kawannya terluka, Pek-tok Cuncu bersuit gusar.
"Aku si ular beracun akan adu jiwa dengan dirimu."
Teriaknya.
Sepasang telapak mendadak dibalik, segulung angin pukulan berhawa Im yang sangat hebat menghajar iga kanan si nenek tua itu.
Jurus serangan ini sudah mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya, kelihayannya bukan alang kepalang.
Tadi sewaktu Hu Sang Popo mendesak mundur Hay Thian Sin Shu, disebabkan tindakannya rada gegabah ia terluka oleh hantaman hawa pukulan Lei Hwee Sin Kang pihak lawan, saat ini kegusarannya sudah lebih mendekati kekalapan.
Melihat sepasang telapak Pek-tok Cuncu dengan diiringi hawa pukulan dahsyat menghajar datang, tubuhnya mendadak berputar kencang sepasang ujung bajunya dikebut ke depan, segulung kabut hijau yang tebal dengan cepat mengalir keluar.
Terdengar suara raungan keras, tubuh Pek-tok Cuncu terpental satu kati tingginya ke tengah udara dan terbanting ke tengah rerumputan.
Masih beruntung tenaga lwekangnya amat sempurna, di tengah udara ia menarik napas panjang lalu dengan paksa kerahkan hawa murninya sehingga waktu tubuhnya melayang turun ke bawah kakinya menginjak tanah terlebih dahulu.
Empat orang jagoan lihay sama-sama mengerubuti seorang nenek tua dan hasilnya tiga orang terluka parah.
walaupun beruntung Ui Liong Tootiang berhasil lolos, tapi luka getaran yang barusan ia derita belum sembuh benar-benar.
Oleh karena itu walaupun dalam hati merasa terkejut bercampur gusar, hawa murninya diam-diam disalurkan mengelilingi seluruh tubuh, ia bersiap sedia mengirim satu pukulan yang maha dahsyat Apabila Hu Sang Popo menerjang lagi kemuka.
Setelah berturut-turut melukai empat orang jagoan lihay, Hu Sang Popo pun mulai merasakan hawa murninya tersendat sendat tetapi watak buasnya menekan kesemuanya itu.
Setelah menarik napas panjang panjang ia tertawa seram "Heee....
hee....
hee....
siapa lagi yang tidak takut mati boleh maju ke depan"
Tantangnya.
Kakinya selangkah demi selangkah bergerak maju ke depan, ia tetap meneruskan niatnya untuk membinasakan Tan Kia-beng dibawah serangannya.
Leng Poo Sianci yang mencekal pedang dan berjaga jaga disisi Tan Kia-beng begitu melihat ayanya beserta Ui Liong Tootiang tiga orang cianpwee sudah terluka semua, sedang Hu Sang Popo bagaikan iblis mengeluarkan cakar setannya selangkah demi selangkah bergerak mendekat, dalam hati merasa amat cemas.
Akhirnya ia membentak keras, pedang pendeknya dengan disertai serentetan cahaya tajam dibabat ke atas tubuh si nenek tua itu.
Ia sudah lama bersiap sedia, tentu serangan pedangnya kali ini sangat luar biasa dan tak boleh dipandang rendah.
Hu Sang Popo yang melihat datangnya serangan pedang diiringi desiran tajam, ia segera tertawa dingin tiada hentinya.
Ujung baju diangkat lantas dikebut kemuka, terdengar Leng Poo Sianci menjerit kaget, pedang pendek ditangannya kena tergulung ke tengah udara diikuti ujung baju pihak lawan laksana kilat menyambar jalan darah Sian Khie Hiat di atas badannya.
Serangan itu dilancarkan cepat bagaikan taupan, dalam keadaan terperanjat Leng Poo Sianci tak sempat lagi menghindarkan diri dari datangnya serangan mematikan itu.
Dalam keadaan yang amat kritis itulah, mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, segulung angin lunak meluncur datang dari tengah udara diikuti teriakan ngeri dari si nenek tua tersebut.
Dengan wajah beringas menahan rasa sakit Hu Sang Popo melayang mundur sejauh delapan depa ke belakang.
Ketika itulah dari tengah udara melayang turun empat orang wanita tua yang memakai pakaian warna warni, dan pada saat yang bersamaan pula disisi tubuh Tan Kia-beng sudah bertambah lagi dengan dua orang gadis cantik, satu berwarna putih yang lain berwarna merah.
Kiranya orang yang menolong Leng Poo Sianci dan menghajar mundur Hu Sang Popo bukan lain adalah Teh Leng Su Ci atau empat orang wanita cantik dari Teh Leng Kauw, sedangkan kedua orang dara yang berdiri disamping Tan Kia-beng bukan lain adalah Pek Ih Loo Sat serta Mo Tan-hong Setelah rasa terkejut hilang lewat, Leng Poo Sianci baru putar badan, ia melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng kemudian berlari kesisi tubuh ayanya Hay Thian Sin Shu.
Setelah mengatur pernapasan beberapa saat, air muka Hay Thian Sin Shu pun telah rada pulih kembali, sambil membuka matanya ia tertawa panjang.
"Haaa.... haaa.... haaa.... luka macam begini masih belum dapat mencabut nyawa ayahmu"
Serunya.
Pada waktu itu Pek-tok Cuncu, Su Hay Sin Tou serta Ui Liong TOotiang sekalian dengan menahan rasa sakit sudah tiba disisi tubuh Tan Kia-beng, setelah ditelitinya dan melihat air muka pemuda itu kecuali masih kelihatan pucat pasi agaknya sudah sembuh seperti sedia kala, dalam hati merasa heran bercampur kagum atas kesempurnaan tenaga lweekangnya.
Sebaliknya Tan Kia-beng yang melihat wajah beberapa orang loocianpwee Cu yang jauh labih parah, dalam hati merasa amat menyesal.
"Karena urusan boanpwee, akhirnya menyeret pula beberapa orang cianpwee terpaksa harus ikut terjunkan diri pula dalam kancah kekacauan ini, dalam hati aku merasa sangat tidak enak"
Katanya lambat. Su Hay Sin Tou tertawa tergelak.
"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengucapkan kata-kata merendah, coba kau lihat siapakah keempat orang itu, aku si pencuri tua tidak kenal dengan mereka, cepat pergi sapa orang-orang itu!"
Setelah diperingatkan, Tan Kia-beng baru tersadar kembali jika ia belum menyapa Teh Leng Su Ci, terburu-buru badannya meloncat bangun dan menghampiri keempat wanita tua itu.
Tetapi karena waktu itu Teh Leng Su Ci sedang bercakap-cakap dengan Hu Sang Popo maka pemuda ini merasa tidak enak untuk buka suara.
Kiranya sewaktu Hu Sang Popo hendak turun tangan melukai Leng Poo Sianci, mendadak merasakan adanya segulung angin lunak menerjang datang, ia merasa dibalik kelunakan angin pukulan tersebut secara samar-samar membawa kekuatan yang luar biasa.
Dalam keadaan gugup ia tak sempat menangkis lagi, sambil menarik kembali serangannya nenek tua itu mundur delapan depa ke belakang.
Katika itulah ia baru menemukan bila orang yang baru saja melancarkan serangan ke arahnya bukan lain adalah empat orang wanita berusia setengah baya, Walaupun wataknya ganas dan buas, tetapi dikarenakan baru saja melukai Hay Thian Sin Shu empat orang jagoan lihay, tenaga murninya pada saat ini sudah mengalami kerugian yang amat besar, sudah tentu sikapnya tidak seberangasan tadi.
Sambil memperdengarkan suara tertawa aneh yang mirip jeritan kuntilanak, serunya.
"Siapakah kalian berempat? berani benar melancarkan serangan bokongan kepadaku"
Toa ci dari keempat wanita cantik itu Han Bwee tersenyum ramah.
"Kami berempat adalah Teh Leng Su Ci. karena melihat tindakanmu yang ingin turun tangan jahat terhadap seorang boanpwee maka sengaja kami turun tangan mencegah, bagaimana kau bisa menuduh kami sengaja membokong...."
Pada waktu itu Majikan Isana Kelabang Emas pun sudah meloncat bangun, ketika melihat situasi yang dihadapinya dalam hati lantas timbul maksud untuk mengundurkan diri.
Ia sudah salah menganggap Teh Leng Su Ci adalah guru dari Tan Kia-beng.
"Kepandaian silat yang dimiliki pemuda she Tan itu saja sudah sedemikian lihaynya apalagi kepandaian yang dimiliki gurunya, sekalipun ia tahu kepandaian yang dimiliki suhunya Hu Sang Popo sukar diukur tapi sepasang kepalan sukar mengalahkan empat tangan, apalagi pihak lawan masih ada Su Hay Sin Tou, Pek-tok Cuncu, Hay Thian Sin Shu serta Ui Liong Tootiang berapa orang. Oleh karena itu, ia lantas menimbrung dari samping.
"Selama ini antara Isana Kelabang Emas dengan Teh-leng-bun tiada ikatan dendam apapun, mengapa perkumpulan kalian begitu ngotot hendak terjunkan diri ke dalam kancah kekacauan ini? hal ini benar-benar membuat aku Liuw Lok Yen merasa tidak paham."
"Hmm! kau andalkan kepandaian silat hendak membasmi seluruh orang Bulim yang ada didaratan Tionggoan, kami Teh-leng-bun sebagai salah satu bagian dari orang-orang Bulim apakah tidak seharusnya ikut campur dalam peristiwa ini?"
Sambung Tan Kia-beng sambil tertawa dingin.
"Apalagi ayahku 'Cu Swie Tiang Cing' Tan Cu Liang tiada ikatan dendam atau sakit hati dengan dirimu, mengapa kau pancing mereka sehingga terkurung dalam gua Pek Kui Yu Hun Tong selama sepuluh tahun? apakah dendam sakit hati ini aku tak boleh aku orang she Tan tuntut kembali?"
"Heee.... heee.... heee.... urusan sudah jadi begini. diributkanpun tiada berguna"
Kata Hu Sang Popo sambil tertawa aneh.
"Lebih baik kita selesaikan saja persoalan ini dengan mengandalkan kepandaian silat masing-masing, Jikalau kalian Teh Leng Su Ci berhasil mengalahkan diriku barang satu jurus saja, aku segera akan perintahkan orang-orang Isana Kelabang Emas untuk mengundurkan diri dari daratan Tionggoan....
"Perkataan saudara amat tepat, kita tetapkan demikian saja"
Sambung Han Bwee menyetujui.
Habis berkata secara diam-diam ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh, sedang bibirnya masih tersungging satu senyuman.
Hu Sang Popo yang menghadapi musuh tangguh di depan mata, saat ini tidak berani berlaku gegabah lagi.
Sepasang lengannya segera disaluri hawa murni sehingga menimbulkan suara gemerutukan yang amat keras.
Badanpun secara mendadak mulur lebih tinggi setengah depa dari keadaan semula, rambut putih di atas kepalanya pada bangun berdiri, selembar wajahnya yang banyak kerutan secara mendadak berubah jadi ungu.
sepasang mata memancarkan cahaya hijau dan selangkah demi selangkah maju ke depan Tan Kia-beng yang menonton keadaan tersebut dari samping kalangan, dengan ketajaman matanya sekali pandang lantas menemukan jika diantara alisnya secara samar-samar kelihatan mengepulnya kabut warna hijau, jelas ia sudah mengerahkan ilmu sakti Hong Mong Cie Khie nya mencapai sepuluh bagian tak terasa hatinya merasa amat kuatir buat keselamatan Teh Leng Su Ci sehingga keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya.
Setengah detik sebelum pertempuran itu berlangsung, tiba-tiba....
bayangan abu abu berkelebat lewat, seorang hweesio tua beralis putih tahu-tahu sudah melayang turun ke tengah kalangan diiringi suara pujian keagungan sang Buddha.
"Omintohud! Sicu harap tunggu sebentar. Pinceng ada perkataan hendak disampaikan pada kalian."
Hu Sang Popo yang melihat munculnya si hweesio tua itu, ubuhnya segera tergetar amat keras.
badannya mendadak meloncat mundur ke belakang.
Sedangkan Teh Leng Su Ci pun dengan termangu-mangu memandang ke arah hweesio tua tersebut.
"Loo siansu, entah ada urusan apa yang hendak kau sampaikan?"
Seru Tan Kia-beng seraya maju ke depan memberi hormat.
Si hweesio tua beralis putih ini bukan lain adalah Hwee Huan, terdengar ia memuji keagungan Buddha lalu menyapu sekejap ke seluruh kalangan, katanya lambat-lambat.
"Tujuan kedatangan dari pihak Isana Kelabang Emas kali ini ke gunung Ui San, maksudnya hendak menyapu habis semua jago yang ada di dalam Bulim, tapi nyatanya sekarang sudah terbukti bila maksud itu tidak mungkin terjadi. di dalam pertarungan seru tadi aku rasa kalian semua sudah mengerti keadaan masing-masing bukan? karena itu pinceng tidak usah banyak menjelaskan lagi. Dan kini Hu Siang sicu hendak mengandalkan kekuatan seorang diri melawan keempat cianpwee dari Teh Leng Kauw, walaupun belum bisa diketahui siapakah yang memperoleh kemenangan, rasanya suatu pertarungan yang maha sengit tak akan terhindar lagi."
Ia merandek sejenak untuk napas, kemudian sambungnya lebih lanjut.
"Di dalam pertarungan gunung Ui san kali ini, semua tempat sudah dinodai dengan darah manusia. seharusnya mulai saat ini pertarungan dibikin selesai. apakah kalian sungguh sungguh ada maksud hendak beradu sehingga manusia yang terakhir?"
Agaknya orang-orang Isana Kelabang Emas merasa amat jeri terhadap sang pendeta yang bernama Hwee Huan ini, dan semakin jelas lagi keadaan yang sebenarnya pada saat ini, mereka merasa kesempatan inilah yang paling bagus digunakan untuk menarik diri.
oleh karena itu tak seorangpun yang buka suara, mereka menantikan reaksi dari pihak lawan.
Tan Kia-beng sendiri, menggunakan kesempatan ketika Hwee Huan berbicara tadi memeriksa sejenak keadaan diseluruh kalangan, ia merasa dari pihak tujuh partai partai besar dimana ada Yen Yen Thaysu, Thian Liong Tootiang beberapa orang ciangpwee serta Sak Ih serta Si Huan yang baru saja datang walaupun bisa menahan serangan dari orang-orang Isana Kelabang Emas tapi belum tentu bisa menangkan keadaan.
Yang paling sengsara lagi adalah anak murid Kay-pang, sejak terkurung dalam barisan Pek Kui Yu Hun Tin dari Im Liem Kui Bo, hingga saat ini tidak kelihatan seorangpun yang berhasil meloloskan diri dari kepungan.
Sebaliknya pertarungan antara Teh Leng Su Ci dengan Hu Sang Popo, walaupun secara samar-samar diluaran kelihatan bahwa keempat orang wanita cantik itulah yang bakal menang, tapi dengan pemuda she Tan ini mengerti bila kepandaian silat yang termuat dalam kitab pusaka Teh Leng Cin Keng bukan termasuk kepandaian sebangsa Bu Sian Thian Cin Khie.
Walaupun tenaga dalam Teh Leng Su Ci amat liehay, belum tentu mereka bisa melawan ilmu sakti Hong Mong Cie Khie pihak lawan.
Oleh sebab itu ia merasa saat inilah saat yang paling baik untuk menarik diri.
"Hati Sian-su penuh welas asih, boanpwee merasa sangat kagum"
Sahutnya keras.
"Jikalau pihak Isana Kelabang Emas suka menyudahi peristiwa yang terjadi pada malam ini sampai disini saja, boanpwee pun dapat menasehati beberapa orang cianpwee untuk lepas tangan, tapi aku utarakan dahulu kecuali pada malam ini, jika dikemudian hari aku berjumpa lagi dengan Majikan Isana Kelabang Emas maka saat itu aku akan mengadakan janji pribadi dengan dirinya".
"Heee.... heee.... heee.... sekalipun kau tidak datang mencari diriku, aku Liuw Lok Yen pun tidak lama kemudian akan datang menyambangi Tan heng"
Seru Liuw Lok Yen sambil tertawa terkekeh-kekeh. Selesai berbicara ia merangkap tangannya menjura lalu kepada Hu Sang Popo katanya.
"Suhu, mari kita pergi!"
Bayangan manusia berkelebat lewat, guru dan murid dua orang bersama-sama melayang ke arah depan diikuti suara seruling mendadak bergema memenuhi angkasa, di dalam sekejap mata suara itu sudah merata disetiap penjuru.
Para jago-jago Kelabang Emas yang sedang bertarung, buru-buru menarik diri dan mundur ke belakang, di dalam sekejap mata tak ketinggalan seorangpun di tengah kalangan, kepergian mereka dilakukan cepat laksana sambaran kilat.
Hwee Huan setelah melihat orang-orang Isana Kelabang Emas pada bubar, kembali ia memuji keagungan Buddha, sekali berkelebat hweesio tua itupun lenyap tak berbekas Setelah Hwee Huan berlalu, Teh Leng Su Ci bersama-sama tertawa dan geleng kepala "Keadaan ini hari benar-benar berbahaya, jika hweesio tua itu tidak kebetulan datang kemungkinan sekali kami berempat tidak berhasil menahan pukulan Hong Mong Cie Khie nya itu."
Ketika itu Ui Liong Tootiang beberapa sudah berjalan mendekat, Tan Kia-beng pun segera memperkenalkan keempat orang wanita cantik itu kepada semua orang, tapi ketika tidak dijumpainya si Penjagal Selaksa Li diantara mereka, dengan penuh keheranan ia menoleh ke arah Pek Ih Loo Sat.
"Dimana ayahmu?"
Dengan mata terbelalak Hu Siauw-cian menggeleng.
"Ooouw.... kami kakak beradik sudah kirim dia untuk melakukan suatu pekerjaan"
Kata Han Bwee sambil tersenyum.
"Harap Kauwcu suka mendatangi dusun Tan Siang Cung digunung Loo san pada tanggal satu bulan sepuluh, ada persoalan penting hendak dirundingkan dengan Kauwcu."
Sewaktu Tan Kia-beng ada maksud bertanya lebih jelas, Teh Leng Su Ci bersama-sama sudah berkelebat dari tempat itu.
hanya dalam sekejap mata mereka sudah berada puluhan kaki jauhnya.
Ui Liong Tootiang sambil menarik tangan Mo Tan-hong pun mohon diri.
"Pinto terburu-buru harus membawa Hong jie untuk menengok luka dari Sam Kuang Sin nie, jika kau punya waktu dalam waktu dekat boleh berangkat kesana. katanya. Mo Tan-hong melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng dengan pandangan penuh rasa cinta akhirnya ia menunduk dan bersama-sama Ui Liong Tootiang berlalu dari sana. DIikuti Hay Thian Sin Shu pun mohon diri, ia adalah seorang jagoan yang sombong dan berangasan, siapa sangka ini hari ternyata sudah menemui kekalahan ditangan Hu Sang Popo, oleh karena itu ia merasa wajahnya sudah tak bersinar. Leng Poo Sianci yang melihat ayahnya mohon diri, dengan hati berat ia melirik sekejap ke arah pemuda tersebut. Melihat putrinya tidak ingin berlalu, Hay Thian Sin Shu jadi amat gusar, dengan mata melotot ia berteriak keras.
"Jika kau tidak ingin pergi, lain kali aku larang dirimu berkelana kembali dalam dunia kangouw."
Leng Poo Sianci yang mendengar perkataan tersebut, bibirnya segera dicibirkan dengan perasaan apa boleh buat ia menggeleng lalu putar badan dan berlalu.
Pemandangan tersebut dalam pandangan Tan Kia-beng amat jelas sekali maksudnya tapi ketika itu ia tiada maksud dan perhatian untuk berpikir sampai kesitu, sinar matanya dialihkan ke arah Pek-tok Cuncu "Jie ko, bagaimana dengan lukamu?"
"Haaa.... haaa.... haaa.... sedikit luka dalam tidak akan mematikan diriku, setelah beristirahat tiga, lima hari luka itu akan sembuh dengan sendirinya."
Kata sang rasul selaksa racun sambil tertawa tergelak Kepada Su Hay Sin Tou lantas serunya sambil tertawa.
"Ayoh pergi! kita berdua sudah repot-repot bekerja bukannnya membantu sebaliknya malah merepotkan saja, kita tidak punya muka untuk berdiam lebih lama lagi disini"
Habis berkata kedua orang siluman tua itupun bersama-sama meloncat pergi, dalam waktu singkat mereka sudah lenyap tak berbekas.
Saat ini di dalam kalangan tinggal Pek Ih Loo Sat serta Tan Kia-beng berdua, melihat keadaan di sekeliling tempat itu penuh dengan belepotan darah, hati mereka berdua merasa tidak tega, tampaklah potongan lengan, kutungan kaki ceceran darah segar serta tumpukan mayat berserakan memenuhi empat penjuru, sungguh suatu pemandangan yang mendirikan bulu roma.
Di tempat kejauhan dua rombongan manusia sedang repot membalut luka yang diderita, mereka adalah golongan Kay-pang serta tujuh partai besar.
Tan Kia-beng tidak ingin mengganggu orang-orang itu lagi, kepada Siauw Cian dengan suara setengah berbisik serunya.
"Siauw Cian mari kita pergi!"
Gadis itu mengangguk dan tidak banyak berbicara lagi kedua orang itu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari turun dari atas gunung Ui san.
Waktu itu hari sudah terang tanah, sang surya memancarkan cahayanya ke keseluruhan permukaan tanah.
Mendadak terlihatlah dua sosok bayangan manusia bagaikan kilat melayang datang dari mulut gunung dari tempat kejauhan mereka sudah membentak keras.
"Hey anak iblis! akhirnya siauw-ya mu berhasil juga menemui dirimu!"
Tan Kia-beng jadi tertegun.... Hanya di dalam sekejap mata orang itu sudah berada dihadapan mereka, yang ternyata bukan lain adalah "Pek Lok Suseng"
Sie Cu-peng beserta seorang pemuda tampan yang menggembol pedang. Tan Kia-beng justru paling benci jika orang lain memanggil dirinya dengan sebutan anakan iblis, alisnya kontan dikerutkan.
"Apa maksudmu datang mencari diriku?"
Tegurnya.
"Masih ingatkah kau dengan Siong Hok susiokku yang sudah jatuh kecundang ditanganmu sewaktu ada digunung Thay-san? apa yang sudah aku katakan?"
Jengek Pek Lok Suseng sambil goyang goyang kipas dan tertawa dingin.
"Heee.... heee.... heee.... siapa yang masing teringat dengan tetek bengek tempo dulu"
"Haaa.... haaa.... haaa.... saudara benar-benar merupakan orang budiman banyak melupakan urusan"
Bukankah ia pernah berkata bahwa tiga tahun kemudian dari pihak Heng-san pay akan mengirim orang datang mencari dirimu?
ini hari suteku sengaja datang untuk membereskan hutang piutang kita tempo dulu."
Setelah mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng baru jadi tersadar kembali, ia menoleh dan melirik sekejap ke arah pemuda itu.
"Ia she Suto bernama Lim, dan merupakan anak murid Siong Hok susiok ku pada beberapa waktu ini"
Pek Lok Suseng segera memperkenalkan pemuda itu kepada Tan Kia-beng. Kemudian kepada sang pemuda itu iapun berkata kembali.
"Dia adalah Tan Kia-beng dari Teh Leng Kauw yang sedang kau cari selama ini"
Dengan sikap sombong pemuda itu menjura tapi tidak mengucapkan sepatah katapun.
Dengan teliti Tan Kia-beng memperhatikan pemuda tersebut yang usianya paling banyak baru tujuh, delapan belas tahunan, walaupun wajahnya tampan gagah tapi tidak kelihatan hal-hal yang teristimewa dari padanya.
Tak terasa dalam hati pemuda she Tan ini merasa sangat keheranan, pikirnya.
"Siong HOk Tootiang sendiripun masih bukan tandinganku, apalagi muridnya yang baru saja diterima...."
Walaupun ia berpikir demikian tapi tidak sampai diutarakan keluar, ia tertawa tawar.
"Peristiwa yang terjadi tempo dulu adalah disebabkan oleh karena maksud rakus dari gurumu Heng-san It-hok, sedangkan mengenai kekalahan susiokmu digunung Thay-san jikalau ia masih juga tidak melupakan dan jauh-jauh dari ribuan li mengirim Suto heng datang kemari untuk mencari penyelesaian, sudah tentu aku orang she Tan akan mengiringinya."
Suto Lim kerutkan alisnya, pedang panjang dengan cepat dicabut keluar dari sarung lalu bentaknya lantang.
"Suhuku menemui kekalahan di atas permainan ilmu pedang, ini hari siauw-yamu pun ingin menggunakan ilmu pedang untuk menebus kekalahan tersebut, cepat kau cabut keluar pedangmu. Siauw-ya tidak punya banyak waktu lagi untuk banyak berbicara dengan dirimu."
Pek Ih Loo Sat yang mendengar perkataannya kasar dan mau cari menang sendiri, hatinya jadi gusar.
"Hmmm! dengan mengandalkan kau si bangsat liar juga berani bergebrak melawan Engkoh Beng, biarlah nonamu yang kirim kau pulang kesorga."
Bentaknya keras.
Sreeet!
golok lengkung warna peraknya segera dicabut keluar dan siap-siap turun tangan membasmi pemuda itu Tan Kia-beng mengerti jika watak Hu Siauw-cian amat ganas, karena takut pihak lawan kena dilukai sehingga dendam ini makin terikat semakin mendalam, buru-buru ia turun tangan mencegat.
"Kau jangan ribut dulu, lebih baik biar aku saja yang turun tangan!"
Suto Lim yang melihat kedua orang itu saling berebut untuk turun tangan, tak terasa ia tertawa panjang.
"Kalian berdua tidak usah saling berebutan, jauh lebih baik turun tangan bersama-sama saja, dengan demikian siauwyapun tidak usah repot-repot buang tenaga lebih banyak."
Mendengar perkataannya makin lama semakin sombong, dalam hati Tan Kia-beng mulai merasa gusar, dari samping jalan dipatahkannya sebatang ranting kecil tiga depa panjangnya lalu seraya digetarkan katanya.
"Pedang kumala cayhe terlalu tajam, kemungkinan sekali pedangmu akan patah jadi dua bagian bila saling berbenturan, baiknya kugunakan saja bambu ramping ini untuk minta beberapa petunjuk ilmu silat Heng-san-pay". Suto Lim salah sangka Tan Kia-beng memang ada maksud memandang rendah dirinya, hatinya jadi gusar, mendadak pergelangan tangannya digetarkan pedang panjang dengan memancarkan cahaya tajam membabat ke arah dada. Serangan ini dilancarkan dengan kedahsyatan yang sangat luar biasa, hampir-hampir saja seluruh jalan darah penting di atas badan lawannya sudah kena terkurung di dalam desiran pedang tersebut. Tan Kia-beng sama sekali tidak menyangka kalau pihak Heng-san Pay memiliki rangkaian ilmu pedang sedemikian hebatnya, bambu ramping ditangannya segera digetarkan keras lalu membabat keluar, serentetan cahaya hijau dengan sebat menangkis datangnya serangan pedang lawan. Suto Lim tertawa panjang, pedangnya disabet ke atas mengiringi majunya sang badan di dalam sekejap mata hanya pedang berpencar keempat penjuru. Berlapis lapis cahaya tajam yang menyilaukan mata bersama-sama menekan ke atas kepala, hal ini membuat Tan Kia-beng merasa hatinya berdesir. Bambu hijau kontan diputar bagaikan roda, ilmu pedang Pek Kut Yu Hun Kiam pun segera dilancarkan untuk membendung seluruh serangan dahsyat dari pihak lawan. Rangkaian ilmu pedang ini adalah hasil dari Cu Swie Tiong Cing, Thiat Bok Tootiang serta Leng Siauw Kiam Khek tiga orang dengan mengorbankan sepuluh tahun jerih payah, digunakan untuk mempertahankan benar-benar terbukti sangat rapat tiada berlubang kelemahan. Kendati ilmu pedang yang digunakan Suto Lim amat ganas dan dahsyat, tak berhasil juga ia menggerakkan pemuda she Tan itu untuk mundur barang setengah langkahpun. Tan Kia-beng yang sejak turun tangan tuntas memilih posisi bertahan, sudah tentu dalam hatinya punya alasan-alasan tersendiri. Ia mengerti daya kekuatan dari tujuh partai besar, setelah angkatan tua menemui ajalnya bakat bakat yang baikpun tinggal sedikit sedangkan dari angkatan muda ia cuma melihat Sak Ih serta Si Huan dua orang saja memiliki kepandaian tinggi. Pihak Heng-san-pay sejak kematian Heng-san It-hok selama ini tidak berkembang, dan sekarang secara tiba-tiba muncul seorang yang bernama Suto Lim sudah tentu dalam hatinya merasa terperanjat, dalam hatipun lantas ada maksud untuk bikin jelas urusan ini. Oleh sebab itu selama ini ia hanya bertahan tanpa melancarkan serangan serangan balasan. Benarkah Suto Lim hasil didikan dari Siong Hong Tootiang? Keadaan yang benar bukan begitu. Kiranya tempo dulu setelah Pek Lok Suseng dengan mengajak dua orang loocianpwee Heng-san-pay mencari Tan Kia-beng untuk menuntut balas, siapa nyana bukannya berhasil menuntut balas bahkan salah seorang dari kedua tootiang itu menemui ajalnya, dalam hati ia merasa sedih bercampur gusar. seorang diri lelaki she Sie ini berlari di atas puncak yang tertutup salju. Pikirnya dalam hati.
"Sejak Heng-san-pay didirikan oleh Couw su hingga ratusan tahun ini apakah benar-benar tidak ada seorang manusia berbakat pun?"
Tujuannya berlari kesana kemari pertama ingin mencari tahu tempat persembunyian dari dalam gua atau dibalik air terjun berhasil memperoleh obat mujarab yang dapat menambah kekuatan tenaga lweekangnya.
Tindakan tersebut boleh dikata merupakan khayalan setinggi langit, dikolong langit mana mungkin ada kejadian sedemikian kebetulan.
Hari itu sewaktu ia berlari lari di atas sebuah lembah gunung mendadak matanya terasa silau dan tahu-tahu dirinya sudah terjebak di dalam sebuah hutan buah Tous.
Walaupun ia sudah berusaha keras untuk mencari jalan keluar tapi tidak berhasi ljuga menemukan, ia merasa hutan buah Tous itu benar-benar amat dahsyat sekali sehingga akhirnya Pek Lok Suseng jadi putus asa dan menghela napas panjang.
"Heeei.... tidak kusangka aku Sie Cu-peng bukannya menemui ajal ditangan musuh, sebalinya mati di tempat ini."
Ketika itulah mendadak.... Dari samping telinganya terdengar suara berat dari seseorang sedang menegur.
"Siapa kau? Hmmm.... kamu orang sudah terjebak di dalam barisan Tau Hu Tin yang disengaja pinto atur. Jika kau suka menyebutkan asal usul perguruan serta tujuanmu secara jujur, maka pinto akan tolong kau keluar dari dalam barisan. Tetapi, jikalau kau berani berbohong, pinto pun tidak akan buang banyak tenaga untuk menggubris dirimu lagi."
Mendengar teguran tersebut Pek Lok Suseng baru tersadar jika ia sudah terjebak dalam sebuah barisan aneh yang sengaja diatur orang lain, dengan cepat ia menyahut lantang.
"Tecu adalah Pek Lok Suseng dari Heng-san-pay, kedatanganku kemari adalah ingin menyambangi beberapa orang cianpwee dari perguruan kami yang sedang mengasingkan diri."
"Bagaimana sebutanmu dengan Siok Hok Tootiang?"
"Tempo dulu adalah susiok dari ciangbunjin kami."
"Haaa.... haaa.... haaa.... urusan ternyata ada demikian kebetulan?"
Tiba-tiba terasalah angin dingin menyambar lewat tahu-tahu dihadapan matanya sudah bertambah dengan seorang Tootiang yang amat tua dengan rambut serta jenggot yang memutih semua, walaupun rambutnya sudah memutih tapi air mukanya merah cerah, jubahnya berkibar kibar bagaikan dewa.
Dia adalah anak murid dari aliran Sian Bun, begitu melihat munculnya sang Toosu tua, dengan rasa penuh hormat tanpa terasa sudah bongkokkan badannya menjura.
Tootiang itu menggerakkan Hut timnya seraya tertawa terbahak-bahak.
"Haah.... haah.... haa.... cepat bangun, tak usah pakai banyak adat."
Mengikuti kebutan Hut-timnya itu, segulung tenaga lunak yang amat hebat segera menahan badannya yang sedang membongkok.
"Entah siapakah gelar cianpwee? bolehkan boanpwee mengetahuinya?"
Kembali tanyanya dengan sikap hormat.
"Haa.... haa.... haa.... haa.... tempat ini bukan tempat yang sesuai untuk berbicara. mari aku pimpin kau untuk keluar dulu dari barisan ini". Dengan memimpin Pek Lok Suseng ia berjalan putar belok dalam hutan Taouw tersebut dan akhirnya berhasil keluar dari barisan menuju kesebuah lembah gunung yang suci. Kembali mereka melewati sebuah jalan kecil yang dikanan kirinya tumbuh berbagai bunga menyiarkan bau semerbak, akhirnya sampailah kedua orang itu di depan sebuah loteng bambu yang dibangun sangat rapi. Dapat diduga loteng bambu ini tentunya tempat tinggal dari tootiang itu, ketika sang toosu tua mengajak ia memasuki loteng bambu itu sekali lagi Pek Lok Suseng merasa terperanjat. Kiranya ia sudah menemukan sang Ciang bun Susioknya, Siong Hok Tootiang yang sudah lenyap tiga tahun lamanya saat ini sedang berdiri di atas peraturan menyambut kedatangan toosu tua itu. Ia sama sekali tidak pernah menduga bisa menemui susioknya di tempat ini, buru-buru badannya bergerak maju untuk memberi hormat.
"Susiok, secara bagaimana kau bisa sampai disini?"
"Kisah ini sukar dilukiskan dalam sepatah dua patah kata, kau kasih hormat dulu kepada susiok couw mu!"
Sahut Siong Hok Tootiang sambil menggeleng dan menghela napas panjang.
"Haaa.... haaa.... haaa.... tidak perlu, tidak perlu, cepat duduk! eeei.... dimana Lim-jie?"
"Sedang berlatih pedang dibelakang gunung!"
Sahut Siong Hok Tootiang sangat hormat.
Toosu tua itu mengangguk lalu putar badan dan berjalan masuk keruang sebelah.
Menanti si toosu tua itu sudah berlalu, Siong Hok Tootiang baru menerangkan siapakah orang tua itu.
Kiranya toosu tua itu adalah seorang cianpwee dari perguruan Hong San Pay yang bergelar Wu Sian, karena bakatnya baik saja ingat bagus, sampai ini hari masih menyimpan beberapa macam kepandaian silat perguruan yang sudah lenyap dari peredaran, tidak nyana dia sewaktu berkelana kesana kemari akhirnya menemui tempat itu.
"Loocianpwee dari perguruan kita banyak jumlahnya, kenapa susiok katakan susiok couw adalah satu satunya angkatan tua yang masih ada?"
Kata Pek Lok Suseng dengan suara rendah, alisnya berkerut.
Iapun lantas menceritakan secara bagaimana ia menemukan Ci Siong Cu serta Lu Siong Cu lalu bagaimana mereka datang mencari Tan Kia-beng untuk menuntut balas dan akhirnya secara bagaimana menderita kekalahan.
Siong Hok Tootiang mengangguk.
"Urusan ini tak bisa disalahkan agak sembrono, tahu kau kecuali kuil pusat di atas gunung heng-san, masih ada berapa banyak kuil cabang yang tersebar dimana mana? pendiri pendiri dari kuil kuil itu kebanyakan dikirim oleh pihak Sam Yen Koan yang turun temurun menguasahi kuil tersebut walaupun dengan partai kita tiada hubungan lagi tapi urusan tingkatan masih mengikuti urutan dari partai kita, Ci Siong Cu yang kau temui kemungkinan sekali sang pemimpin dari kuil cabang tersebut"
Setelah diberi penjelasan Pek Lok Suseng baru baru jadi paham, demikianlah mereka berdua pun bercakap-cakap beberapa saat lamanya.
Tiba-tiba terasa angin tajam menyambar lewat, dari tempat luaran meloncat masuk seorang pemuda tampan yang langsung menyapa Siong Hok tootiang dengan sebutan Susiok kemudian dengan pentangkan biji matanya ia Pek Lok Suseng tajam-tajam.
"Dia adalah suhengmu Sie Cu-peng"
Kata Siong Hok Tootiang sambil menuding ke arah Pek Lok Suseng.
"Dengan gelar Pek Lok Suseng, lain waktu kalian berdua baik-baiklah bergaul."
Kemudian kepada Pek Lok Suseng ujarnya pula.
"Ia bernama Suto Lim, kepandaian silatnya memperoleh pelajaran langsung dari susiok kecemerlangan perguruan kita akhirnya harus tergantung pada dirinya."
Pek Lok Suseng kasarnya memang seorang yang berwatak sombong, pada hari hari biasa ia terlalu menganggap tinggi diri sendiri walaupun diluaran ia tidak mengucapkan sepatah katapun tapi dalam hati seratus dua puluh persen merasa tidak percaya, pikirnya.
"Mungkin perkataan ini sengaja diucapkan susiok untuk menghormati diri susiok-couw?"
Waktu itu Suto Lim sudah berjalan kehadapannya, bongkokkan diri menjura dan berkata lantang.
"Siauw-te Suto Lim menghunjuk hormat buat suheng"
Pek Lok Suseng tersadar kembali dari lamunannya. buru-buru ia bangun berdiri balas memberi hormat.
"Sute, tidak usah banyak adat" ---ooo0dw0ooo---Jilid. 20 Sejak itu hari, Pek Lok Suseng pun mulai berdiam selama satu bulan di dalam loteng bambu itu, ia banyak memperoleh petunjuk petunjuk berharga dari Wu Sian Ci dan mulai menemukan jika sutenya Suto Lim benar-benar memiliki bakat alam, bukan saja ilmu pedangnya lihay bahkan lweekang yang dimilikipun sangat mengejutkan. Walaupun Siong Hok Tootiang sebagai seorang ciangbunjin dari Heng-san-pay, tapi dalam hal tenaga dalam masih kalah satu tingkat dengan pemuda tersebut. Hari itu mendadak Siong Hok Tootiang membicarakan kembali janjinya dengan Tan Kia-beng untuk bertemu kembali tiga tahun mendatang dan kini waktunya sudah hampir tiba. Walaupun selama tiga tahun ini ia banyak mendapatkan petunjuk dari Wu Sian Ci, tapi dasar bakatnya kurang bagus, ia masih tidak punya pegangan untuk memenangkan pertarungan tersebut. Akhirnya dengan persetujuan Wu Sian CI janji ini akan dipenuhi oleh Suto Lim atas nama murid Siong Hok Tootiang. Pak Lok Suseng yang mendengar keputusan itu jadi kegirangan setengah mati, ujarnya.
"Kemungkinan sekali sianak iblis itu sedang berada di atas gunung Ui san, jikalau waktu masih kecandak, sutepun boleh mencari penyelesaian dengan dirinya dalam pertemuan tersebut dihadapan para jago dari seantero kolong langit."
Sejak kecil Suto Lim dibawa Wu Sian Ci memasuki lembah Touw Hoa Kok, untuk kejayaan partai Heng-san-pay dikemudian hari ia sudah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk mengumpulkan obat obatan yang paling mujarab guna cuci otot serta tulangnya dan menambah kesempurnaan lweekang dari pemuda tersebut.
Hingga saat ini boleh dikata pemuda itu belum pernah terjunkan dirinya sekalipun dalam dunia kangouw, saat ini mendengar susioknya hendak mengirim dia untuk mewakili dirinya memenuhi janji dengan jago lihay, dalam hati merasa sangat kegirangan, kepingin sekali waktu itu juga meninggalkan gunung.
Tapi untuk melihat kesempurnaan ilmu silatnya ia perintahkan Siong Hok Tootiang untuk bergebrak dulu dengan dirinya dengan syarat masing-masing pihak tidak diperkenankan menyimpan suatu maksud tertentu mereka harus bergebrak hingga salah seorang menderita kalah.
Sedikitpun tidak salah, setelah bergebrak sebanyak tiga ratus jurus, akhirnya Suto Lim berhasil menang satu jurus dari lawannya dengan begitu Wu Sian Ci pun dengan hati lega melepaskan dia turun gunung.
Alasannya pada saat ini kepandaian silat dari Siong Hok Tootiang sudah jauh berbeda dengan Siong Hok Toootiang pada tiga tahun yang lalu, perduli dalam ilmu pedang maupun lweekang ia sudah memperoleh kemajuan yang pesat.
Dan apabila pemuda tersebut bisa menangkan kepandaian Siong Hok berarti pula untuk mengalahkan Tan Kia-beng bukan suatu persoalan yang rumit.
Terburu-buru Pek Lok Suseng dengan membawa Suto melakukan perjalanan menuju gunung Ui-san, tidak salah lagi, hari itu mereka berhasil menemukan Tan Kia-beng dimulut gunung.
Suto Lim yang menemukan pihak lawan pun sama halnya dengan dia masih sangat muda, dalam hati merasa semakin mantap lagi, ia yakin kemenangan tentu berada ditangannya.
Tidak nyana setelah bergebrak beberapa jurus, semua serangannya berhasil ditahan oleh ilmu pedang Pek Kut Yu Huan Kiam Hoat dari Tan Kia-beng, walaupun berulang kali ia sudah ganti tiga, empat rangkaian ilmu pedang dan melancarkan seratus lima puluh jurus serangan belum berhasil juga menggerakkan musuhnya, bahkan Tan Kia-beng sendiripun tidak mengirim sebuah serangan balasan.
Dengan kejadian ini ia merasa amat mendongkol.
alisnya melenting sepasang matanya memancarkan sinar buas, bentaknya keras.
"Apakah ilmu silat yang kau pelajari hanya jurus bertahan belaka? jika punya nyali, ayoh secara blak-blakan kirimlah beberapa jurus serangan kepada siauw yamu."
Waktu itu Tan Kia-beng sudah berhasil meraba sedikit banyaknya permainan ilmu pedang pihak lawan, setelah mendengar perkataan tersebut ia tertawa panjang.
"Jikalau kau memang menginginkan akumelancarkan serangan, baiklah! nih, terimalah seranganku."
Mendadak jurus serangannya berubah, dengan menggunakan bambu ia menggantikan seruling dan dengan dahsyat mengeluarkan ilmu seruling Teh Leng Kiow Tah Tie.
Tampaklah serentetan cahaya hijau menerjang keangkasa, di dalam sekejap mata seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan desiran angin tajam yang mengurung empat penjuru bagaikan sebuah bukit bambu, lemah lembek tiada terputus.
Dasar tenaga lweekangnya memang sangat luar biasa, walaupun hanya sebatang bambu ditangan tapi angin desiran yang dilancarkan memenuhi empat penjuru dahsyat bagaikan gelangan ombak.
Suto Lim yang menemui musuh tangguh untuk pertama kalinya, dalam hati kontan merasa bergidik, sedikit pikiran bercabang ia kena terdesak mundur oleh Tan Kia-beng sejauh tujuh, delapan langkah.
Melihat kejadian itu dengan hati gelisah Pek Lok Suseng segera berteriak keras.
"Cepat pusatkan pikiran, lancarkan serangan gencar."
Bagaimanapun Suto Lim adalah seorang jagoan muda yang berbakat, hanya pengalamannya di dalam menghadapi musuh sama sekali tidak ada maka menemui serangan gencar dari pihak lawan hatinya jadi rada gugup.
Kini setelah diperingatkan oleh Pek Lok Suseng, hatipun jadi lebih waspada, gerakan pedangnya diperkencang, dengan sekuat tenaga berturut-turut ia mengirim beberapa buah serangan berantai memaksa Tan Kia-beng harus memperlambat gerakannya.
Dengan demikian pemuda itupun kembali berhasil merebut posisi yang lebih baik Tan Kia-beng yang merasa amat sayang terhadap kepandaian silat pihak lawan, ditambah pula dengan dirinya tiada ikatan dendam, maka selama ini hatinya tiada bermaksud untuk turun tangan jahat.
Kini melihat pihak lawan ternyata berhasil merebut kembali posisinya yang sudah terdesak, dalam hati semakin kagum dan tidak ingin turun tangan kejam lagi.
Waktu itu masing-masing pihak sudah bergebrak mendekati dua ratus jurus, Pek Ih Loosat yang melihat Tan Kia-beng selalu tidak turun tangan dengan sekuta tenaga dalam hati menganggap luka dalam yang diderita sewaktu bergebrak dengan Majikan Kelabang Emas belum sembuh benar-benar, hatinya jadi amat gelisah.
Golong lengkung warna peraknya segera digetarkan siap maju ke depan membantu pemuda she Tan itu.
Pek Lok Suseng yang melihat kejadian itu dari samping segera pentangkan kipasnya dan tertawa dingin tiada henti.
"Heee hee hee kau bermaksud hendak dua lawan satu? Haruslah diketahui Toa ya masih berada disini."
Pek Ih Loo sat amat gusar, ia membentak keras golok lengkungnya laksana serentetan cahaya kilat menggulung keluar, suatu serangan yang tak ada ujung pangkalnya.
Pada saat yang bersamaan sewaktu Pek Ih Loo sat menyerang Pek Lok Suseng, kembali terdengar suara bentakan bergema datang, dari balik hutan mendadak berkelebat datang serentetan cahaya perak serasa kilat menyambar langsung menggulung ke arah Suto Lim, hawa pedang berdesir dan dalam waktu singkat mengirim delapan buah serangan gencar.
Tan Kia-beng tidak tahu siapakah yang datang, terpaksa bambunya ditarik dan mundur kesamping.
Ketika itulah ia menemukan jika orang tersebut bukan lain adalah Leng Poo Sianci tak terasa lagi alisnya dikerutkan.
Begitu Leng Poo Sianci bergebrak dengan Suto Lim maka keadaannya jauh berbeda dengan situasi tadi, tampaklah cahaya hijau dan putih saling sambar menyambar memenuhi angkasa, masing-masing pihak mengeluarkan sepuluh jurus lihaynya untuk berusaha merebut posisi, untuk beberapa waktu sulit untuk ditentukan siapa menang siapa kalah.
Keadaan dari Pek Lok Suseng jauh lebih parah, selama hidup ia belum pernah menemui musuh semacam Hu Siauw-cian ini, hanya di dalam sepuluh juurs ia sudah terdesak dalam keadaan bahaya.
Hal ini disebabkan karena Pek Ih Loo sat selama bergebrak selalu mengutamakan serangan mati matian.
Oleh karena itu terpeliharalah suatu kebiasaan tidak pernah mengampuni pihak lawan.
Sekali bergebrak maka pedomannya adalah bukan ia yang terluka, maka pihak musuh tentu yang mati, justru karena sebab-sebab inilah nama siiblis wanita berbaju putih jadi sangat terkenal.
Dengan tenang Tan Kia-beng menanti di samping kalangan sambil menonton jalannya pertempuran antara dua rombongan itu, diam-diam ia kerutkan alisnya berulang kali, ia takut Pek Ih Loo-sat melukai Pek Lok Suseng sehingga dendamnya dengan pihak Heng-san-pay makin lama semakin dalam dan akhirnya susah untuk diselesaikan.
Maka dari itu kakinya tanpa terasa ikut bergerak maju, ia bersiap sedia untuk memberikan pertolongan dimana perlu.
Pada waktu itu terdengar suara langkah kakinya yang ribut bergerak menatangi seorang hweesio tinggi besar dengan badan sempoyongan berlari mendekat dan akhirnya roboh ke atas tanah kurang lebih tiga kaki jauhnya dari tempat Tan Kia-beng berdiri.
Sejak permulaan Tan Kia-beng sudah berhasil menangkap suara langkah kaki tersebut, hanya saja dikarenakan ia mendengar langkah tersebut tidak mirip langkah seorang jagoan Bulim maka tidak sampai ambil perhitungan.
Tetapi setelah mendengar suara robohnya orang itu ke atas tanah, ia baru putar badan dan berlari mendekat, karena ia merasa tentu ada sebab-sebabnya sehingga orang itu roboh.
Tampaklah seluruh tubuh hweesio itu dibasahi dengan darah segar, napas tersengal-sengal dan wajah pucat pasi bagaikan mayat.
Buru-buru ia uruti beberapa urat nadinya sambil berteriak berulang kali.
"Toa suhu, Toa shu...."
Lama sekali, hweesio itu baru membuka matanya, dengan sinar mata tak bersinar ia memandang sekejap ke arah Tan Kia-beng lalu dengan suara yang amat lemah, serunya.
"Pihak Isana Kelabang Emas.... meee.... menye.... menyerang kembali...."
Habis berkata matanya dipejamkan dan menemui ajalnya seketika itu juga.
Jika dilihat dari pakaian yang dikenakan orang itu, jelas dia adalah seorang hweesio dari pihak Siauw-lim pay, mendengar pula kata-kata terakhir yang diucapkan olehnya, pemuda she Tan ini semakin dapat menyimpulkan bila majikan Isana Kelabang Emas telah melancarkan serangan kembali terhadap orang-orang tujuh partai besar serta pihak Kay-pang sepeninggalnya dia dari puncak Si Sim Hong.
Tidak sempat mengubur mayat hweesio itu lagi, ia putar badan dan membentak keras.
"Tahan!"
Leng Poo Sianci serta Hu Siauw-cian sama-sama tidak tahu urusan apa yang telah terjadi, dengan cepat mereka menarik kembali serangannya dan meloncat mundur ke belakang kemudian sinar matanya bersama-sama dialihkan ke arahnya.
Pada saat ini Tan Kia-beng tidak punya banyak waktu untuk mencari penjelasan, sambil putar badan teriaknya keras.
"Cepat ikut aku menuju puncak Si Sim Hong, kalau tidak maka kita bakal datang terlambat!"
Tubuhnya dengan cepat melesat ke arah depan dengan sikap yang terburu-buru sekali.
Suto Lim tidak mengetahui peristiwa apa yang terjadi sehingga pemuda itu berlalu dengan demikian terburu-buru, badannya segera mencelat ke depan menghadang jalan perginya seraya tertawa tergelak.
"Bangsat cilik kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri? heee.... heee.... tak ada urusan sedemikian mudahnya. Tan Kia-beng teramat gusar, telapak tangannya dengan cepat dibabat ke arah muka diikuti suara bentakan keras bergema memenuhi angkasa.
"Orang-orang tujuh partai sudah hampir dibunuh habis oleh orang lain, kau masih punya kesenangan untuk bergurau dengan diriku."
Serangan yang dilancarkan dalam keadaan terkejut Suto Lim buru-buru meloncat mundur delapan depa ke belakang.
Dan menggunakan kesempatan itulah Tan Kia-beng sudah melesat ke arah depan dengan gerakan yang amat cepat.
Sesosok bayangan putih serta sesosok bayangan merah bersama waktunya pula bergerak dari belakang, mereka mengambil jalan yang sama dari berasalnya dari hweesio tersebut.
Suto Lim yang masih kaget tak dapat mengucapkan sepatah katapun, sebaliknya Pek Lok SUseng seperti telah menyadari akan sesuatu, teriak mendadak.
"Aduuuh celaka! jika didengar nada ucapannya, orang-orang tujuh partai besar agaknya sudah mengalami penyerangan dari orang-orang Isana Kelabang Emas, mari kita kejar mereka ke atas!"
Demikianlah, mereka berduapun membuntuti dari belakang Tan Kia-beng bergerak menuju kepuncak Si Sim Hong.
Ketika itu gunung Ui san penuh diliputi oleh kabut tebal, sepuluh langkah susah mendadak bayangan manusia, Tan Kia-beng dengan mengambil tajam semua berlari balik ke atas puncak Si Sim Hong.
Ketika tiba dibawah puncak, secara samar-samar dari balik kabut terdengar suara pekikan kesakitan yang menyayatkan hati bergema memenuhi angkasa, jelas jelas di atas puncak sedang terjadi suatu pertempuran yang amat sengit.
Tan Kia-beng membenci pihak Isana Kelabang Emas tidak bisa dipercaya, ia mendengus dingin dan katanya dengan penuh kegemasan.
"Jikalau pihak Isana Kelabang Emas tidak bisa pegang janji, jangan salahkan aku orang she Tan akan turun tangan kejam".
"Heee.... heee.... heee.... siapa yang suka bersikap walas kasih seperti dirimu? haruslah diketahui melepaskan seorang bajingan maka seribu orang penduduk mulianya akan mendapat celaka". seru Pek Ih Loo-sat tertawa dingin. Tan Kia-beng yang mendengar perkataan itu, dalam hati merasa amat menyesal, tak terasa ia menghela nafas panjang. Ketika itu jarak mereka dengan puncak Si Sim Hong sudah semakin dekat, mendadak.... Dari balik kabut terdengar suara bentakan keras diikuti munculnya serentetan cahaya keemas emasan bagaikan hujan badai mengurung seluruh tubuh Tan Kia-beng bertiga hal ini membuat pemuda itu gusar dan mengirim satu pukulan yang maha dahsyat menggulung cahaya emas tersebut. Karena ia membendi terhadap jagoan Isana Kelabang Emas yang melancarkan serangan bokongan, maka serangan balasan ini dilancarkan dengan sepenuh tenaga. Terdengar suara jeritan ngeri bergema memecahkan kesunyian, agaknya orang yang melancarkan serangan bokongan itu dalam keadaan tidak bersiap sudah kena dilukai oleh jarum Pek Cu Kiem Wu Yen Wie Ciam yang terpukul balik. Pada saat Tan Kia-beng melancarkan pukulan tadi, dua rentetan cahaya keperak-perakan menyusul ke arah depan, kiranya Pek Ih Loo sat serta Leng Poo Sianci sama-sama sudah menubruk ke arah mana berasalnya suara tadi. Tapi tubrukan mereka sudah mencapai sasaran kosong. kalangan sunyi senyap tak kedapatan seorang manusiapun. Melihat hal itu Tan Kia-beng lantas berteriak keras.
"Bajingan bajingan cilik itu tidak berharga untuk kita gubris, mari cepat-cepat menuju ke arah panggung."
Selesai berbicara pertama tama ia meloncat dulu ke depan diikuti dua orang gadis yang lain.
Di dalam sekejap mata mereka sudah berada beberapa puluh kaki jauhnya, dari antara balik kabut yang tebal tampaklah bayangan manusia saling menyambar diiringi teriakan teriakan gusar yang gegap gempita.
Dengan ketajaman mata Tan Kia-beng, sekali pandang ia sudah menemukan di atas tanah rumput yang kering berceceran darah segar, mayat bergelimpangan memenuhi permukaan tanah, hal ini membuat darah panas bergolak dalam dadanya.
Sepasang mata merah membara dan tidak ragu ragu lagi pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam nya dicabut keluar.
Dimana tangannya bergerak, cahaya biru memancarkan keempat penjuru dan mencapai tiga depa jauhnya, diiringi tertawa seram teriaknya.
"Liu Lok Yen, kau tidak suka pegang janji, aku orang she Tan pun tanpa sungkan sungkan akan buka pantangan membunuh"
Suara gelak tertawa ini sudah dikerahkan dengan tenaga lweekang yang tinggi, suara tersebut bergetar memenuhi empat penjuru bahkan Hu Siauw-cian serta Leng Poo Sianci pun dibuat tergetar sehingga jantungnya berdebar ditelinga terasa berdengung.
Baru saja suara tertawa sirap, dari balik kabut muncul suara tertawa dingin diikuti meloncat keluarnya sosokan bayangan manusia.
"Hmmm! toa-ya mu memang sedang murung karena tidak temukan dirimu tidak disangka kau suka hantar nyawa sendiri"
Bentak orang itu seram. Perkataan selesai diucapkan, muncullah "Gien To Mo Lei"
Go Lun dengan wajah penuh napsu membunuh.
Leng Poo Sianci yang melihat munculnya orang itu segera mengenalinya kembali kalau pemuda tersebut bukan lain adalah sang muda yang pernah memaksa Tan Kia-beng sewaktu ada dikuil Puh Lan Si dengan tanggungan nyawa Siasap dan mega selaksa li, Lok Tong.
Ia segera membentak keras, pedang pendeknya dengan disertai cahaya keperak perakan meluncur keluar dan membabat ke arah pinggangnya, hawa pedang berdesir, angin serangan menderu deru dengan sangat hebatnya.
Gien To Mo Lei mendadak berkelebat maju ke depan, kemudian tertawa keras dengan suara yang sangat menyeramkan.
"Haaa.... haaa.... haaa.... Barang siapa yang hadir di atas puncak Si Sim Hong pada hari ini semuanya bakal mati, jika kaupun ingin mati, mari.... akan kuhantarkan terlebih dahulu"
Leng Poo Sianci amat mendongkol, tubuhnya berkelebat bagaikan kilat, dalam waktu yang amat singkat berturut ia sudah mengirim delapan buah serangan sekaligus.
Sejak kecil ia sudah memperoleh didikan ilmu silat dari ayahnya Hay Thian Sin Shu, sudah tentu kedelapan buah serangan yang baru saja ia lancarkan benar-benar merupakan suatu serangan yang maha dahsyat bagaikan delapan orang turun tangan bersama-sama.
Pada saat itu Gien To Mo Lei pun tidak berani bersuara lagi, golok peraknya ditarik kan gencar menutup seluruh keliling tubuh.
Setelah mengeluarkan dua belas jurus berantai akhirnya dengan susah payah ia baru berhasil menghindarkan diri dari desakan kedelapan buah serangan tersebut.
Sekalipun begitu badannya pun kena terdesak sehingga mundur tujuh, delapan depa ke belakang.
Bersamaan waktunya Leng Poo Sianci melancarkan serangan ke arah Gien To Mo Lei, dari empat penjuru tiba-tiba berkumandang keluar suara tertawa aneh yang amat menyeramkan kemudian disusul munculnya segerombolan bayangan manusia dari balik kabut perlahan-lahan mendekati Tan Kia-beng.
Sekali pandang pemuda she Tan ini dapat mengenali kembali bila diantara gerombolan jagoan itu selain terdapat Sam Biauw Ci Sin, Kui So Sian Ong, Si Bangau Mata Satu Kwie Hwie, serta Im Leng Kui Bo yang pernah bergebrak dengan dirinya masih ada beberapa orang jagoan yang belum pernah ditemuinya selama ini.
Diam-diam hatinya jadi amat terperanjat, pikirnya.
"Jagojago lihay dari pihak Isana Kelabang Emas sudah hadis semua disini, apakah orang-orang tujuh partai serta Kay-pang sudah menemui bencana semua?"
Selagi ia sedang berpikir, Kui So Sian Ong sudah tiba dihadapannya, lalu dengan nada aneh tudingnya ke arah pemuda tersebut.
"Eeei bangsat cilik! kau jangan anggap hanya andalkan sedikit permainan setan hasil peninggalan Han Tan si setan tua itu. Lalu kepandaianmu bisa disebut benar-benar lihay ini hari puncak Si Sim Hong akan berubah jadi tempat kuburanmu, jika ada pesan pesan terakhir sampaikan dulu menggunakan kesempatan ini. Jika tunggu sampai nanti aku takut bakal terlambat!"
Pek Ih Loo-sat yang mendengar perkataannya menyinggung Han Tan Loojien, alisnya kontan melentik, pundaknya bergerak siap-siap melancarkan tubrukan ke depan.
Tetapi gerakannya ini dapat ditahan oleh Tan Kia-beng.
"Haaa.... haaa.... haaa.... kalian gerombolan bayangan setan masih belum berhak untuk mendengarkan pesan terakhir dari Siauw ya mu"
Seru pemuda itu sambil tertawa panjang.
"Mana Liu Lok Yen? cepat suruh ia keluar menemui diriku"
Bicara sampai disitu suaranya semakin menyeramkan dan sangat mendebarkan jantung.
tapi Kui So Sian Ong yang mengandalkan jumlah banyak sudah tentu tak akan jeri terhadapnya bahkan bersama-sama mendengarkan suara tawa hinaan yang menusuk telinga.
Tan Kia-beng gusar, mendadak tubuhnya bergetar maju ke depan, ujung pedangnya dituding dada Kui So Sian Ong.
"Jika kau tidak suka bicara terus terang, siauw ya segera akan gorok dulu"
Ancamannya di ringi suara bentak keras.
"Haaa.... haaa.... haaa.... cukupkah kepandaianmu untuk menggorok aku?"
Tangan setannya mendadak dipentangkan mencengkeram pergelangan pemuda tersebut. Melihat datangnya serangan pemuda she Tan ini tertawa dingin.
"Heee.... heee.... heee.... kau cari mati!"
Telapak tangannya segera disalurkan tenaga dalam kemudian dikerahkan ke dalam pedang.
Ujung pedang bagaikan seekor ular mendadak memancarkan cahaya mencapai tiga depa ke depan, Kui So Sian Ong sama sekali tidak menyangka akan kehebatan ini.
Belum sempat tubuhnya bergerak mendekat, cahaya kebiru-biruan tersebut dengan dahsyat sudah menembusi dadanya, sekalipun ia memiliki kepandaian amat sempurna saat tanpa mengeluarkan suara dengusanpun roboh binasa ke atas tanah.
Tan Kia-beng yang melihat serangan anehnya berhasil mengenai sasaran, tidak menunggu mereka turun tangan lagi tubuhnya segera berputar dan dalam satu kali kebasan pedangnya membuat ke arah luar.
Sam Biauw Ci Sin sekalian sama sekali tidak menyangka kalau pedang kumala itu bisa memiliki kedahsyatan yang luar biasa, tidak menanti cahaya pedang itu berkelebat lewat dihadapannya, terburu-buru beberapa orang jagoan itu mengundurkan diri ke belakang.
Tan Kia-beng tertawa dingin, pedangnya dikebaskan dan sekali lagi maju mendekat.
Terlihatlah cayaha biru laksana sambaran kilat berkelebat memenuhi angkasa, di dalam sekejap mata berturut turut ia sudah mengirim empat belas buah jurus serangan gencar.
Bagaimanapun Sam Biauw Ci Sin beberapa orang jago-jago kenamaan dalam dunia kangouw, hanya di dalam sekejap mata mereka pun sudha meloloskan senjata dan menerjang berbareng.
Seketika itu juga seluruh kalangan dipenuhi dengan cahaya golok bayangan pedang yang mengurung tubuh Tan Kia-beng dari empat penjuru.
Pek Ih Loo sat sambil menentang golok peraknya tertawa terkekeh-kekeh melihat kejadian itu.
"Bagus! bagus sekali! jika ingin bergebrak memang seharusnya kita bergebrak sampai puas"
Tubuhnya meloncat ke tengah udara lalu menerjang masuk ke dalam kurungan cahaya tajam.
Dengan ikut sertanya gadis ini ke dalam arena pertarungan maka ia baru mulai merasa bila orang-orang itu tidak lemas.
Ia merasa tekanan yang ditimbulkan dari empat penjuru sangat berat bagaikan tindihan gunung Thay-san, bahkan untuk melancarkan jurus-jurus seranganpun rasanya teramat susah.
Masih beruntung tenaga dalam yang dimiliki Tan Kia-beng amat sempurna, pedang kumala yang tergenggam dalam tanganpun merupakan pedang pusaka.
Setelah ia bergerak maka para jago buru-buru mengundurkan diri dan berhasi lmembebaskan Hu Siauw-cian dari berbagai tekanan.
Tapi kedatangan beberapa orang jagoan ini adalah bertujuan untuk menghadapi Tan Kia-beng.
Oleh karena itu tanpa mengingat kedudukannya lagi begitu turun tangan lantas melancarkan penyerbuan berbareng.
Tongkat kepala ular dari Im Leng Kui Bo, Cangklong penotok jalan darah dari si Bangau Mata Satu serta golok lengkung beracun dari Sam Biauw Ci Sin rata rata merupakan senjata andalan yang sangat mengerikan.
Jurus jurus serangan yang mereka pergunakan benar-benar ganas dan telengas, ditambah lagi beberapa buah senjata aneh dari jagojago yang tidak diketahui namanya, benar-benar membuat Tan Kia-beng jadi kerepotan.
Ketika itu kabut yang menutupi empat penjuru sudah mulai berkurang, cahaya sang suryapun memancarkan sinar keemas emasnya menyoroti padang rumput penuh berlepotan darah sehingga memancarkan bau amis yang menusuk hidung dan bikin perut terasa mual.
Tan Kia-beng yang terus menerus memikirkan keselamatan dari anak murid Kay-pang serta Ciangbunjin dari tujuh partai dan berkeinginan cepat-cepat tiba di atas panggung tapi kena terkurung oleh gerombolan iblis-iblis ini sehingga sukar meloloskan diri lama kelamaan jadi gusar juga.
Mendadak ia bersuit nyaring, permainan pedang kumala ditangannya segera berubah ternyata ia sudah mengeluarkan ilmu pedang yang paling ampuh "Sian Yan Chiet Can"
Sedang tangan kirinya berulang kali didorong kemuka mengirim tujuh buah serangan dahsyat.
Dalam sekejap mata, cahaya kebiru biruan memancar semakin luas, angin pukulan menderu-deru bagaikan taupan, di tengah suara jeritan yang amat ngeri ada dua orang rubuh mati seketika itu juga.
Pek Ih Loo sat yang sedang merasa kepayahan, mendadak melihat Tan Kia-beng berhasil merobohkan pihak musuh, semangan pun ikut berkobar.
"Naaah! begitulah baru bagus, seharusnya sejak tadi kau bertindak begini!"
Teriaknya melengking.
Golok perak laksana kilat mengirim sebelas buah babatan gencar memaksa jago-jago lihat dari Isana Kelabang Emas dengan perasaan terkejut dan gelagapan mengundurkan diri ke belakang.
Dengan begitu tekanan yang dipancarkan dari empat penjuru pun jauh berkurang.
Bersamaan waktunya ketika Tan Kia-beng mengeluarkan ilmu pedangnya yang ampuh "Sian Yan Chiet Can"
Tiba-tiba terdengar Gien To Mo Lei berteriak gusar.
"Lonte busuk! Ini hari jika bukan sang ikan yang mati adalah jaring yang berlubang serahkan nyawamu!"
"Hmm.... bicara besar apa gunanya, jika punya kepandaian ayoh keluarkan semua kepandaianmu. Nona akan sambut seluruh permainanmu!"
Jerit pula Leng Poo Sianci diiringi suara tawa yang menyeramkan. Mendengar bentakan bentakan itu hati Tan Kia-beng tiba-tiba rada bergerak, kepada Pek Ih Loo sat segera serunya.
"Siauw Cian, di tempat ini cukup aku seorang sudah mampu untuk menghadapi mereka, kau pergilah kesana untuk membantu nona Cha!"
Walaupun dalam hati Pek Ih Loo sat tidak senang, tapi ia tetap menggetarkan golok peraknya sehingga memancarkan cahaya keperak perakan kemudian langsung menerjang keluar dari lingkaran kepungan.
"Hey budak busuk, kau kepingin melarikan diri?"
Seru Im Liem Kui Bo sambil tertawa aneh.
"Aku kira tidak segampang itu!"
Tongkat kepala ularnya dikebaskan menotok dada lawan, melihat hal itu Tan Kia-beng membentak keras, dari samping tubuh ia mengirim satu pukulan dahsyat ke depan.
Segulung tenaga pukulan bertenaga Yang kontan menggetarkan tongkat kepala ular dari Im Liem Kui Bo sehingga menimbulkan suara dengungan keras, sedang badannya sendiri terdesak mundur tiga depa ke belakang.
Mengambil kesempatan itulah Pek Ih Loo sat enjotkan badannya melayang lewat dari atas kepala Im Liem Kui Bo tersebut.
Pek Ih Loo sat yang sudah terkenal karena keganasannya menghadapi mangsa mangsanya begitu keluar dari kepungan, golok peraknya laksana serentetan cahay apelangi menggulung seluruh tubuh Gien To Mo Lei dan di dalam sekejap mata berturut turut ia sudah mengirim tiga belas buah babatan dahsyat.
Kepandaian yang dimiliki Gien To Mo Lei dengan Leng Poo Sianci kira-kira seimbang satu sama lainnya.
oleh karena itu kendati sudah bergebrak sangat lama sukar juga untuk menentukan siapa yang menang siapa yang kalah.
Tapi dengan ikut sertanya Hu Siauw-cian terjunkan diri ke dalam kalangan maka keadaanpun segera berubah.
itu tiada kekuatan untuk melancarkan serangan balasan lagi.
Sam Biauw Ci Sin yang melihat Gien To Mo Lei kena dikurung oleh kedua gadis itu sehingga kepayahan, badannya segera berputar bermaksud untuk memberi bantuan siapa nyana ketika itulah Tan Kia-beng sudah menggetarkan pedangnya sambil tertawa seram.
"Pertempuran mati hidup kita kali ini tak akan selesai sebelum salah satu binasa kita kan belum berhasil tentukan siapa menang siapa kalah, kenapa kau ingin melarikan diri...."
Terasa cahaya kebiru-biruan menyusut dan memancar, laksana aliran listrik dalam sekejap mata ia sudah mengirim tujuh buah serangan yang secara terpisah menghajar tujuh orang sekaligus.
Ganas, gencar dan dahsyat memaksa Sam Biauw Ci Sin sekalian harus menggerakkan senjatanya untuk melindungi badan.
Tan Kia-beng yang saat ini sudah tidak memikul beban lagi, serangan yang ditemukan semakin meluas, ilmu "Sian Yan Chiet Can"nya dilancarkan dengan kedahsyatan yang luar biasa.
Dibawah sorotan sinar sang surya tampaklah serentetan cahaya biru laksana naga sakti menggulung, menyabet tiada hentinya di tengah udara, hawa pedang yang menggidikkan badan menyelimuti lima kaki di sekeliling tempat itu.
Sam Biauw Ci Sin beserta si Bangau Mata Satu sekalian walaupun merupakan jago-jago kelas wahid dari dunia kangouw, saat ini setelah menghadapi jurus jurus pedang yang luar biasa dahsyatnya mulai merasa bergidik juga sehingga mengundurkan diri berulang kali.
Im Liem Kui Bo yang melihat tujuh orang jagoan lihay ternyata tidak berhasil menangkan seorang bocah yang masih ingusan, napsu buasnya segera muncul.
Sambil menggerakkan toyanya ia menerjang maju ke depan, bersama itu pula sambil menjerit seram teriaknya.
"Jika ini hari aku tidak berhasil membereskan bangsat cilik ini, dikemudian hari aku tak akan munculkan diri lagi di dalam dunia kangouw untuk mencari nama"
Beberapa patah kata yang mengandung sindiran dan hasutan ini seketika itu juga membangkitkan semangat banyak jago.
Terdengar si Bangau Mata Satu bersuit nyaring, senjata cangklongnya dengan memancarkan cahaya hitam menerobos masuk ke dalam kurungan bayangan pedang yang sangat rapat itu.
Diikuti Sam Biauw Ci Sin sekalian menerjang ke depan dengan sepenuh tenaga, dengan demikian suatu pertarungan yang maha dahsyatpun segera berlangsung di tengah padang rumput yang sunyi.
Perduli ilmu pedang ilmu "Sian yan Chiet Can"
Dari Tan Kia-beng menimbulkan tenaga tekanan yang maha dahsyat, dan pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam nya tajam luar biasa, tapi dibawah desakan dari para jago yang hampir tidak perduli keselamatan sendiri tak urung makin bergebrak merasa semakin kepayahan.
Tapi bagi Im Liem Kui Bo sekalian untuk merebut kemenanganpun bukan suatu pekerjaan yang gampang, masing-masing pihak sudah mengeluarkan seluruh jurus serangan yang dimilikinya untuk saling mengalahkan pihak lawan.
Tujuh delapan rentetan cahaya yang berbeda dengan rapatnya mengurung tanah lapangan seluas lima kaki angin menderu deru, suara suitan aneh melengking, seketika bayangan manusia bergema jadi satu susah dibedakan mana kawan mana lawan.
Seluruh jago dari Isana Kelabang Emas sudah pada melancarkan serangan terhadap Tan Kia-beng, dengan demikian Gien To Mo Lei harus menghadapi ketanan tekanan kedua orang gadis itu dengan kepayahan.
Tiba-tiba terdengar Pek Ih Loo sat membentak keras.
"Bangsat iblis! coba kau rasakan ilmu pukulan Tok Yen Sin Ciang dari nonamu!"
Diikuti suara dengusan berat, tubuh Gien To Mo Lei dengan sempoyongan mundur lima langkah ke belakang.
Belum sempat kakinya berdiri tegak, serentetan cahaya keperak perakan kembali menyambar lewat.
Ketika itu, walaupun ia memiliki kepandaian silat yang amat lihay tapi sulit baginya untuk meloloskan diri dari serangan kilat yang dilancarkan oleh Leng Poo Sianci.
Suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa Gien To Mo Lei rubuh binasa dengan pinggang terputus jadi dua bagian.
Pek Ih Loo sat sekalian tanpa melirik lagi ke arahnya bersama-sama meloncat ke depan dan langsung menubruk ke arah Sam Biauw Ci Sin sekalian.
Tenaga dalam maupun kepandaian silat yang dimilikinya kedua orang gadis ini boleh dikata hampir seimbang dengan kepandaian yang dimiliki Sam Biauw Ci Sin sekalian, dengan masuknya kedua orang ini ke dalam kalangan maka situasi pun segera berubah.
Jagoan lihay bergebrak rata rata mengutamakan kecepatan serta ketepatan gerak, dengan adanya kedua orang gadis itu ikut serta terjunkan diri ke dalam kalangan berarti pula mereka telah mendapat tambahan dua orang musuh yang harus mereka hadapi.
Dengan demikian tekanan yang mengurung Tan Kia-beng pun jadi semakin berkurang, mendadak ia membentak keras, dengan jurus "Tiang Kiauw Wuo Hong"
Atau Jembatan panjang menghadang Pelangi, tiba-tiba pedang kumala ditangannya terbang lewat.
Dengan membentuk cahaya biru tahu-tahu dua orang jagoan lihay dari pihak Isana Kelabang Emas rubuh binasa kena sambaran tersebut.
Melihat kejadian itu si Bangau Mata Satu jadi terperanjat, selama hidup ia kesemsem dengan ilmu silat tapi yang didengarpun hanya berita yang mengatakan di Bulim ada semacam ilmu pedang terbang, siapa nyana ilmu dahsyat tersebut ternyata pada hari ini bisa muncul ditangan seorang pemuda berusia dua puluh tahunan.
Tak terasa lagi semakin gebrak ia semakin merasa hatinya berdesir.
Mendadak badannya mengundurkan diri ke belakang kemudian melayang ke arah muka dengan kecepatan luar biasa.
Hanya di dalam beberapa saat saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Sepeninggalnya si Bangau Mata Satu, Sam Biauw Ci Sin sekalian mulai merasa keadaan mereka semakin terkatung katung, masing-masing mulai timbul maksud untuk mengundurkan diri.
Tapi Tan Kia-beng yang sudah terlanjur membenci orang-orang Isana Kelabang Emas mana suka melepas mereka begitu saja?
Baca Juga: Hong Lui Bun 10
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 5