Eps 4 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.
Xiao Nan-pin senang memotong telinga orang, sekarang ada orang ingin memotong telinganya, dalam hati dia merasa ingin tertawa juga ingin menangis.
Dia melihat Wei-ao-wu, dia ingin tahu setelah Xie-yu-xian tertawa, apa yang akan dikatakannya?
Apakah diam-diam dia akan menyerangnya.
Setelah Xie-yu-xian tertawa dingin, dia malah diam.
Qi-hai-yu-zi melangkah ke depan kemudian tertawa dan memberi hormat kepada Xiao Nan-pin.
Kali ini bukan hanya Xiao Nan-pin terkejut, Duo-shou-zhen-ren juga merasa aneh.
Entah mengapa Qi-hai-yu-zi tiba-tiba saja memberi hormat kepada Xiao Nan-pin?
Dia tidak tahu kalau murid Tian-zheng-jiao ini, dalam perjalanannya menuju ke Zhong-nan-shan pernah melihat Yi-feng dan Xiao Nan-pin, kemudian saat Yi-feng muncul, membuat Qian-yi lari Qing-hai dan Duo-shou-zhen-ren serta berikut puluhan pesilat pedang lainnya pergi meninggalkan zhong-nan-shan.
Dari kata-kata yang diucapkan Duo-shou-zhen-ren, mereka mengira kalau Yi-feng adalah ketua mereka yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, otomatis mereka juga menganggap Xiao Nan-pin adalah teman dari ketua mereka.
Sesudah Qi-hai-yu-zi memberi hormat, dengan serius dia berkata kepada Xiao Nan-pin.
"Mohon Tuan bisa memaafkan perbuatanku tadi. Aku, marga Wei, ingin bertanya, orang yang tadi pagi berjalan bersama Tuan, sekarang berada di mana?"
Xiao Nan-pin bukan gadis bodoh, dia mengerti maksud lawan bicaranya, maka dengan marah dan nada dingin dia sengaja berkata.
"Orang yang berjalan bersamaku pasti dia adalah temanku, tapi aku tidak pernah menanyakan hal sepele seperti itu, dia pergi ke mana aku tidak tahu. Jika kalian adalah sahabat orang itu, aku tidak bisa bicara apa-apa. Jika kau punya dendam dengan orang itu, walaupun aku bukan orang berbakat tapi aku bisa mewakilinya menerima tantangan kalian."
Alasannya sangat bulat, dia berpura-pura tidak mengerti perkataan Wei-ao-wu. Wei-ao-wu tertawa terbahak-bahak.
"Kami tidak terbiasa berbohong, siapa kami apakah kau tidak tahu? jika Tuan tidak ingin memberitahukan kemana pergi orang itu, terpaksa kami akan menahan Tuan."
Kecuali berilmu tinggi Qi-hai-yu-zi adalah orang yang lincah dan mempunyai pemikiran sangat dalam.
Di perkumpulan Tian-zheng-jiao, dia adalah penasehat dari ketua Tian-zheng-jiao.
Kerusuhan di Zhong-nan-pai dialah yang meren-canakan semuanya.
Dia menaruh curiga pada hal ini, maka dia sampai beradu mulut dengan Xie-yu-xian, sekarang Xiao Nan-pin telah berbohong dan juga karena terlalu percaya diri, menganggap dirinya pintar.
Coba kalau dia memikirkan lebih jauh, jika dia adalah sahabat ketua Tian-zheng-jiao masak dia sampai tidak tahu siapa Wei-ao-wu?
Dia malah menjawab dengan seenaknya.
Karena Wei-ao-wu merasa curiga, sambil bicara dia bergerak.
Jala emasnya dilebarkan, seperti sebuah benteng emas menutupi Xiao Nan-pin dari atas.
Xiao Nan-pin memang sering bertarung dan banyak pengalaman, tapi menghadapi senjata langka seperti ini baru pertama kali dihadapinya.
Kakinya bergeser, berusaha menghindar tapi tidak mempunyai cara untuk membalas.
Qi-hai-yu-zi tertawa dingin, pergelangan tangannya bergerak, jala yang menyerang Xiao Nanpin sekarang berubah menjadi sebuah pentungan emas dengan panjang 2.50 meter.
Karena dialiri tenaga dalam maka jala itu bisa berubah menjadi seperti pentungan.
Pentungan ini menotok ke nadi ketiak Xiao Nan-pin.
Cara menotok nadi dengan pentungan, jurus ini dikenal Xiao Nan-pin.
Dia terkejut melihat jurus-jurus aneh Qi-hai-yu-zi.
Secara reflek tubuhnya menghindar ke kiri, tangan kirinya menepis Wei-ao-wu, tangan kanannya mencabut pedang.
Jurus-jurus Xiao Nan-pin memang indah dan aneh tapi Qi-hai-yu-zi malah tertawa terbahakbahak.
Diiringi tawa Wei-ao-wu, pentungan emas itu tiba-tiba membuka.
Xiao Nan-pin merasa di depan matanya ada cahaya menenangkan, dalam hati dia berkata.
"Celaka!"
Tapi semua tenaga dari seluruh tubuhnya telah digunakan untuk menyerang musuh.
Maka pada saat jala terbuka, dia terperangkap di dalam jala.
Dia ingin mundur tapi sudah tidak ada kesempatan.
Jala menutup dari atas, tangan kanannya yang memegang pedang berusaha menahan jala itu, lapi tidak ada tenaga yang keluar sama sekali.
Xiao Nan-pin terkurung di dalam jala.
Duo-shou-zhen-ren tertawa dingin.
"Ketua Wei benar-benar hebat, hari ini terbuka mata dan telingaku menyaksikan kehebatan Ketua Wei."
Kata-katanya seperti memuji tapi nada bicaranya sama sekali tidak bermaksud demikian.
Ternyata di dalam perkumpulan Tian-zheng-jiao terbagi menjadi 5 tingkat.
Ketua berbaju emas menduduki tingkat teratas, dan boleh memakai baju emas dalam Tian-zheng-jiao, orang itu di dunia persilatan bukan orang yang tidak mempunyai nama.
Kedudukan ketua berbaju emas pun masih terbagi lagi menurut ilmu silat dan identitas mereka.
Memang mereka sama-sama menjadi anggota Tian-zheng-jiao tapi mereka yang telah mempunyai nama di dunia persilatan dan menikmati tersohornya nama mereka bisa mendapat posisi bagus.
Kalau mereka telah mendapatkan wilayah kekuasaan maka mereka saling curiga dan saling menjatuhkan.
Qi-hai-yu-zi, Wei-ao-wu dengan nama, ilmu silat, dan kepintarannya di dunia persilatan termasuk orang yang sangat terkenal.
Saat masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao dia dengan cepat berhasil menjadi orang kepercayaan ketua Tian-zheng-jiao.
Tapi Duo-shou-zhen-ren yang sudah malang melintang di Si-huan dan Gui-zhou, juga sangat terkenal tapi masih kalah dibandingkan Qi-hai-yu-zi, ditambah dengan masalah Zhong-nan-shan, ketidakcocokan yang baru muncul lagi.
Maka saat Xie Yu Xan melihat Qi-hai-yu-zi berhasil menangkap Xiao Nan-pin, dia mengira Qihai-yu-zi berniat merebut nama baik lagi, sehingga dia berkata dengan nada seperti itu.
Dalam hati sebenarnya Qi-hai-yu-zi marah tapi dari luar tidak terlihat sama sekali.
Dia malah tertawa lalu menjawab.
"Ketua Xie terlalu memuji. Di dunia persilatan siapa yang tidak tahu keistimewaan ilmu senjata rahasia Duo-shou-zhen-ren. Kecuali jurus 'Man-tian-hua-yu' masih ada jurus 'Liu-xi-hui-feng' sertajurus lainnya."
Duo-shou-zhen-ren tertawa.
"Ketua Wei memang bisa berkata seperti itu. Di dunia persilatan ini, siapa yang tidak tahu jala sakti milik Qi-hai-yu-zi, yang merupakan penakluk senjata rahasia dari perkumpulan mana pun."
Qi-hai-yu-zi tahu dia bicara tepat mengenai sasaran.
Dia tersenyum tapi tidak berusaha untuk menjelaskannya.
Duo-shou-zhen-ren melihat Xiao Nan-pin yang terus memberontak dari dalam jala.
Dia tertawa dingin.
"Orang ini telah ditangkap Ketua Wei, otomatis Ketua Wei yang berhak mengaturnya. Kelak jika ketua marah, dengan posisi yang dimiliki Ketua Wei di Tian-zheng-jiao, Ketua Wei pasti bisa mengatasinya...."
Dia berkata lagi.
"Sedangkan aku... aku benar-benar tidak sanggup mengatasinya, aku pamit dulu."
Dari perkataan dua murid Tian-zheng-jiao itu sebelumnya, dia tahu yang ditangkap oleh Weiao-wu itu siapa, dia langsung mendorong tanggung jawab ini dan pergi dari sana.
Tapi Wei-ao-wu mempunyai rencana lain maka dia masih tertawa seram.
Xie-yu-xian bertambah marah, dia menghentakkan kakinya, bersalto dan berlalu dari sana.
Wei-ao-wu melihat bayangan Xie-yu-xian yang pergi, dia tertawa dingin.
Walaupun tidak mengatakan apa pun tapi dalam hati dia bertekad akan membasmi orang yang berseberangan pandangan dengannya.
Kemudian dia berkata pada Xiao Nan-pin.
"Teman, angan terus bergerak-gerak!"
Tangan kirinya seperti pisau, terdengar suara SHHAT, tangan ini menotok nadi kepala Xiao Nan-pin dari lubang jala.
Nadi kepala adalah nadi terpenting manusia.
Xiao Nan-pin marah dan merasa malu.
Dia jadi kehilangan kesadaran.
Tangan kanan Wei-ao-wu bergetar.
Xiao Nan-pin dikeluarkan dari dalam jala.
Dia berpesan kepada 2 anak buahnya.
"Siapkan kereta dan sembunyikan orang ini. Hal yang terjadi di sini telah kubereskan, kita segera kembali ke markas pusat di Jian-nan."
Dia tertawa lagi.
"apakah kalian percaya, selama dua hari ke depan, perkumpulan kita akan terjadi banyak masalah aneh?"
Kedua anak buah Wei-ao-wu ini tidak mengetahui apa rencana ketua mereka, tapi mereka tahu kalau ketua mereka ini selalu mempunyai banyak akal, mereka mengepit Xiao Nan-pin, tidak sengaja meraba dada Xiao Nan-pin, mereka terkejut dan berteriak.
"Ternyata dia seorang perempuan!"
O-o-o BAB 44 Mulai ada titik terang Saat Xiao Nan-pin siuman, dia mendengar suara kereta yang sedang berjalan.
Dia sadar dia berada di sebuah kereta.
Dia melihat situasi dalam kereta, dia hanya sendiri.
"Apa yang mereka akan melakukan kepadaku...."
Ketika dia sedang berpikir, dari jendela Qi-hai-yu-zi menjulurkan kepalanya, dengan tersenyum dia berkata.
"Aku tahu kalau kau adalah perempuan, aku tidak akan mempersulitmu. Dari senjata rahasia yang kau gunakan, aku bisa menebak kalau kau adalah putri 'Xiao San-ye'. Ketika ayahmu masih hidup, beliau sangat akrab dengan teman-teman kalangan persilatan, memandang wajahnya, aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk. Setelah aku selesai menyelidiki dirimu, baru aku akan melepaskanmu."
Senyumnya ditarik dan berkata lagi.
"Sekarang kau berada di dalam kereta nyaman ini, udara begitu dingin, bukankah keadaanmu di sini lebih nyaman, dibandingkan aku yang harus menunggang kuda?"
"Tapi kau jangan terus bergerak-gerak, nadimu sudah kutotok, kau sudah tidak punya tenaga!"
Qi-hai-yu-zi menarik kembali kepalanya.
Xiao Nan-pin mencoba mengatur nafasnya, apa yang dikatakan Qi-hai-yu-zi ternyata benar.
Dia marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Pagi dan siang kereta terus berjalan, kereta hanya berhenti di malam hari, tapi mereka tidak membawa Xiao Nan-pin turun dari kereta.
Xiao Nan-pin merasa hal ini lebih baik, dia bisa lebih menenangkan diri.
Qi-hai-yu-zi adalah orang licik dan sadis, tapi dia bukan lelaki pemogoran, karena itu dia selalu memberi makan dan minum tepat waktu kepada Xiao Nan-pin.
Walaupun Xiao Nan-pin tidak sampai kelaparan, tapi setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, dalam dua hari ini Xiao-xiang-fei-zi yang sombong ini merasa benar-benar tersiksa.
Dia ingin menangis tapi takut Wei-ao-wu akan mendengarnya dari luar.
Terpaksa dia menyimpan rapat-rapat kesedihannya.
Dia berusaha tidak memikirkan Yi-feng, tapi bayangan Yi-feng selalu melintas di benaknya.
Kepada siapa dia bisa mengeluhkan perasaan sedih dan rindunya ini?
Dia hanya duduk di dalam kereta, dia tidak tahu kemana kereta ini berjalan juga tidak tahu di mana dia sekarang?
Pada suatu hari tiba-tiba dia mendengar teriakan.
"Ketua Wei! Ketua Wei!"
Kereta segera dihentikan, suara derap langkah kuda yang berlari kencang berhenti di belakang kereta. Seseorang bicara dengan keras.
"Ketua Wei, untung aku bisa bertemu denganmu di sini. Selama dua hari ini banyak kejadian aneh terjadi, jika tidak bertemu dengan Anda, aku benar-benar bingung!"
Sambil tertawa Wei-ao-wu bertanya.
"Apa yang membuat seorang Pan-long-yun-gun, Jiang Bo-yang begitu terburu-buru? Aku benar-benar penasaran."
Xiao Nan-pin yang berada dalam kereta Mengerutkan dahi dan berpikir, Apakah murid Shao Iin juga telah masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao?
Sepertinya kekuasaan Tian-zheng-jiao semakin hari semakin kuat, orang seperti Pan-long-yun-gun (Naga menjulurkan pentungan), Jiang Bo-yang saja bisa ditarik masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao."
Dia merasa semakin cemas karena 'Kakak Nan' nya akan semakin sulit untuk membalas dendam. Terdengar Shao-lin Pan-long-yun-gun, Jiang Bo-yang berkata.
"Kakak Wei, apakah kau tahu mengapa ketua Kita selama dua hari ini berada di He-nan? Ketika aku berada di kota Kai-feng, aku bertemu dengan ketua, dia menyuruhku mengumpulkan semua saudara kita di sana. Malam itu juga kami mengadakan rapat, hal ini terasa sangat janggal karena belum pernah terjadi sebelumnya. Begitu malam tiba, semua dengan hormat menunggu kedatangan ketua, tapi ketua tidak datang. Yang datang malah beberapa orang dengan wajah ditutup kemudian mereka menghancurkan kantor kami yang ada di kota Kai-feng."
Qi-hai-yu-zi benar-benar terkejut, Jiang Bo-yang menambahkan lagi.
"Laki-laki yang wajahnya ditutup itu berilmu tinggi. Ilmu pedang yang mereka pakai belum pernah kulihat di Jian-nan. Kakak Wei, kau tahu kantor yang ada di kota Kai-feng, tidak ada seorang pun yang berkepandaian tinggi, aku sendiri sulit melawan 4 tangan musuh. Aku hanya bisa bertahan sebentar tidak lama aku pun terluka."
Dia berhenti sejenak, mungkin waktu itu saat melihat keadaan tidak menguntungkan baginya, maka dia pun melarikan diri! Dia menjelaskan lagi.
"Hal ini sangat mencurigakan, karena itu aku pergi ke kantor pusat untuk bertanya lebih jauh, tidak disangka aku bisa bertemu dengan Kakak Wei di sini. Menurut Kakak apa yang menjadi sebab semua ini?"
Hati Xiao Nan-pin berdebar-debar. Dari kata-kata Jiang Bo-yang, dia tahu pelakunya pasti Yifeng dan Fei-hong-qi-jian.
"Mungkin Kakak Nan berhasil menjelaskan hal sebenarnya kepada Fei-hong-qi-jian, maka mereka pun membantu menghancurkan kantor cabang Tian-zheng-jiao, tapi di mana Kakak Nan sekarang? Apakah dia tahu kalau keadaanku tersiksa? Jika dia tahu, apakah dia akan datang untuk menolongku?"
Dia menarik nafas perlahan, takut suara tarikan nafasnya akan terdengar oleh Qi-hai-yu-zi yang licik dan pintar.
Di luar kereta tidak terdengar suara apa pun, mugkin Wei-ao-wu sedang memikirkan hal ini.
Tiba-tiba dia berkata.
"Ini memang kejadian aneh, aku pun tidak tahu apa sebabnya. Menurutku, lebih baik Ketua Jiang kembali dulu ke kota Kai-feng. Kumpulkan kembali saudara-saudara kita yang terluka dan rapikan dulu kantor cabang Kai-feng. Setelah aku tiba di kantor pusat baru aku akan menyelidikinya, dan aku akan memberitahukan hasilnya padamu."
Sepertinya dia ikut menarik nafas, Pan-long-yun-gun Jiang Bo-yang segera menjawab.
"Kalau begitu, aku kembali dulu. Tidak sangka kantor cabang Kai-feng bisa hancur separuh, padahal didirikan dengan susah payah. Keadaan pun masih belum jelas sekarang."
Mereka berdua seperti mempunyai beban pikiran berat, tidak lama kemudian Xiao Nan-pin mendengar suara kuda berlari semakin menjauh, Pan-long-yun-gun, Jiang Bo-yang sudah pergi dari sana.
Kereta berjalan lagi, Xiao Nan-pin merasa .ingat senang tapi juga marah.
Pikirannya mulai kacau.
Dia telah mendengar berita tentang Yi-feng.
Kereta berjalan tidak lama, tidak seperti lu.isanya, siang hari kereta itu berhenti.
Dari suara i .imai-ramai di luar, Xiao Nan-pin tahu kalau tempat Yang lebih tidak biasa lagi, ada dua orang V-uig memapah Xiao Nan-pin keluar dari kereta dan memasuki sebuah penginapan, tapi Qi-hai-yu-zi l u lak terlihat. Diam-diam Xiao Nan-pin menebak, Wei-ao-wu pasti pergi untuk mencari tahu. Sekarang yang mengawasinya adalah 2 orang pemuda. Mereka sudah melepaskan baju biksu panjang mereka, Xiao Nan-pin tahu kalau mereka adalah biksu palsu dari Tian-zheng-jiao. Dia dipapah masuk ke sebuah kamar luas. Kedua orang ini mengawasi di sisinya. Xiao Nan-pin tahu dengan kemampuan ilmu silatnya, tidak sulit untuk membereskan kedua orang ini, tapi dia masih ditotok. Dia tidak bertenaga sama sekali, terpaksa dengan mata melotot, dia berbaring di tempat tidur. Apa boleh buat. Kedua pemuda itu mengobrol dengan senang, banyak perkataan mereka yang membuat Xiao Nan-pin marah. Dia ingin memotong lidah mereka. Dua laki-laki muda itu tahu orang yang di depan mereka sekarang ini adalah Xiao-xiang-fei-zi yang terkenal dengan kesadisannya dan sekarang dia tidak berdaya, maka mereka bicara semakin mesum, tertawanya juga semakin keras. Bagi Xiao Nan-pin asalkan kedua laki-laki ini tidak sampai menggerayanginya, dia sudah merasa sangat berterima kasih. Apa yang mereka katakan terpaksa didengarnya. Terpaksa dia mengenang Yi-feng, hanya dengan demikian dia bisa melupakan masalah yang mengganjal. Tapi masalah tersebut malah mengikuti bayangan Yi-feng masuk ke dalam hatinya. Keadaan semakin gelap, hari sudah gelap. Lampu sudah dipasang tapi Qi-hai-yu-zi masih belum kembali. Pelayan datang mengantarkan sayur dan nasi, tapi hati Xiao Nan-pin bertambah kacau lagi, dia hanya memejamkan mata. Tiba-tiba pundaknya didorong seseorang, saat dia membuka mata, seorang laki-laki tertawa mesum kepadanya. "Apakah sekarang kau mau makan?" Xiao Nan-pin menggelengkan kepalanya, dia memejamkan matanya lagi. Laki-laki itu kembali ke tempatnya sambil tertawa. Sepertinya mereka minum sambil bermain tebak-tebakan. Tidak lama kemudian, kedua laki-laki itu mulai bernyanyi. Salah satu dari mereka bernyanyi dengan suara sember. Hati Xiao Nan-pin kacau seperti benang kusut. Tiba-tiba dia mencium bau arak menusuk hidungnya. Saat membuka mata, jantungnya seperti akan meloncat keluar. Wajah merah seseorang dan berkeringat serta bau arak menyengat mendekatinya. Dia berbicara. "Adik, biarkan aku melihatmu dulu!" "Hai bocah, kau benar-benar berani, apakah kau tidak takut Ketua Wei akan memenggal kepalamu?" Salah seorang berkata seperti itu. Dia tertawa terbahak-bahak. "Aku sedikit takut juga." Sekarang Xiao Nan-pin seperti orang yang terjatuh ke danau yang dalam dan tidak bisa berenang. Wajah orang itu semakin dekat dan dekat. Xiao Nan-pin mendorong dan menendang, tapi wajah itu semakin mendekati wajahnya. Siapa yang bisa menolong gadis malang ini? Xiao Nan-pin mengenakan pakaian musim dingin yang tebal, tapi... BREEEK! Baju bagian depannya disobek. Hati Xiao Nan-pin seperti ditusuk pedang karena dia sadar akan terjadi sesuatu padanya. Tawa mereka seperti suara burung hantu juga seperti anjing gila waktu musim kawin. Semua ini berbaur menjadi satu menusuk telinganya. Tapi ketika hal itu akan terjadi. Tiba-tiba... Tawa aneh itu tiba-tiba membeku kemudian terdengar teriakan yang memilukan. Xiao Nan-pin segera membuka matanya. Wajah merah dan berkeringat itu sudah menghilang dari hadapannya. Sosok seseorang yang tampan menebas kepala laki-laki yang satu lagi. Laki-laki muda itu juga mengeluarkan terakan memilukan kemudian nasibnya sama dengan temannya, mati dengan mengenaskan. Xiao Nan-pin melihat sosok orang yang membalikkan kepala dengan wajah girang, wajah yang sangat dikenalnya muncul di hadapannya. Jika dia tidak ditotok mungkin dia akan segera meloncat-loncat kegirangan. Sekarang dia tidak bertenaga, dia hanya bisa memanggil dengan senang. "Kakak Nan!" Kedua kata ini seperti lagu indah yang terus berkumandang. Dia melihat Kakak Nan berdiri di depan ranjangnya, tapi dia tidak marah. Seorang perempuan ketika melihat orang yang dicintainya, walaupun bukan di saat yang tepat, tapi dia hanya akan merasa malu tapi tidak akan sampai marah. Dia malu-malu, jantungnya berdebar-debar karena Kakak Nan sekarang ini menjulurkan tangannya untuk menutupi dadanya yang terbuka. Tawa indah dan ju ga tawa yang dibencinya... Wajah Xiao Nan-pin memerah. Ketika dia ingin bertanya mengapa Kakak Nan sejak tadi tidak bicara padanya, dia juga melihat wajah Kakak Nan yang diubahnya dengan menggunakan keterampilan tangannya belum dibuka...tapi tiba-tiba keadaan berubah. Yang pasti dia ikut terkejut, ternyata di luar pintu terdengar suara Qi-hai-yu-zi yang sedang berbicara. Karena itu dia memanggil. "Kakak Nan!" Perkataannya belum habis, tangan Kakak Nan langsung menutup mulutnya. Satu tangan lagi memegang pinggangnya lalu membopongnya pergi dari sana. Dia membawa Xiao Nan-pin keluar melalui jendela. Xiao Nan-pin merasa nyaman dan senang berada dalam pelukan erat Kakak Nan nya. Kakak Nan menggunakan kecepatan tinggi berlari, membuat Xiao Nan-pin yang berada dalam pelukannya merasa sedikit pusing. Tapi walaupun Xiao Nan-pin merasa pusing tapi dia merasa sedang berbaring di sebuah ranjang yang empuk, kadang-kadang dia merintih karena merasa bahagia. Setelah lama mereka berlari, Xiao Nan-pin merasa mereka menaiki sebuah gunung kemudian masuk ke hutan. Dia melihat salju yang menum-puk di bawah dan ranting layu yang berada di atas permukaan salju. "Mengapa Kakak Nan membawaku ke tempat seperti ini?" Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tapi dia mencari jawabannya. Sekarang jawaban seperti apapun tetap bisa membuat gadis ini merasa puas karena sekarang ini dia berada dalam pelukan orang yang dicintainya. Bukankah jawaban ini lebih indah dibandingkan dengan jawaban lainnya? Akhirnya Kakak Nan berhenti juga, Xiao Nan-pin membuka mata yang baru dipejamkannya tadi. dia melihat sekarang mereka berada di sebuah gua. Dia merasa aneh, tapi perasaan anehnya ini begitu lemah tidak ada sepersepuluh ribu dari kegembiraan hatinya. Dia diletakkan di bawah. Bukan di tanah tapi di sebuah ranjang. Masih terasa kasur dan selimut yang nyaman, ada apa ini? Wajah Kakak Nan yang berseri-seri muncul di depannya. Keadaan gelap membuatnya tidak begitu jelas melihat tawanya tapi Xiao Nan-pin bisa merasakan tawa hangatnya. Tidak disangka apa yang diinginkannya selama ini sekarang bisa tercapai. Dengan bahagia dia memanggil. "Kakak Nan..." Pinggangnya terasa longar, ternyata totoknya sudah dibuka. Tapi Xiao Nan-pin malah merasa lebih lemas dan tidak bertenaga. Dalam keadaan seperti itu apa yang harus dia katakan? Sekarang dia bahagia tapi juga sedih, sedih tapi juga bahagia. Kebahagiaan yang menyedihkan, di dalam kesedihan terdapat kebahagiaan. Dia bingung... Hari mulai terang. Xiao Nan-pin dengan malas membalikkan tubuhnya, orang yang di sisinya entah pergi kemana? Dia mengosok-gosokan matanya, ternyata tempat ini adalah sebuah gua yang sudah diubah. Tapi gua ini kosong, tidak ada siapa pun di sini. "Apakah semalam aku hanya bermimpi?" Dia meloncat bangun, dengan sedih dia mengerutkan alis dan dia mengambil kesimpulan. "Ini bukan mimpi!" Dia bingung dengan kejadian semalam... kebingungan yang lembut masih bercokol di dalam hatinya, dia ingin kembali mengingat dan mengingat dengan jelas. Dalam kekacauannya apa yang Kakak Nan tanyakan dan apa yang dijawabnya, dia benar-benar sudah lupa. Tapi semua ini tidak menjadi masalah baginya karena ada hal yang lebih penting lagi sekarang. "Mungkin dia pergi mencari makanan untukku, dia akan segera kembali. Ah... ini sangat aneh, ternyata kesenangan lebih banyak dibandingkan kesedihan." Dia menghibur dirinya sendiri kemudian berbaring lagi di tempat tidur. Tempat tidur terbuat dari batu, kecuali tempat tidur masih ada meja batu dan barang-barang lainnya. "Mungkin gua ini dibuat untuk menghindari kejaran musuh. Dia orang aneh tapi asal aku bisa hidup bersamanya, walaupun harus seharian berada di dalam gua, aku merasa sangat senang." Waktu berlalu dengan lambat. Hati Xiao Nan-pin yang tadinya diliputi perasan lembut semakin lama berubah menjadi cemas, dari rasa cemas menjadi bingung, dari bingung menjadi kaget, akhirnya menjadi dia takut! Banyak hal belum terpikirkan sebelumnya sekarang masuk ke otaknya, mengapa dia bisa tahu aku berada di penginapan itu? Mengapa dia tidak bicara sepatah kata pun kepadaku... mengapa dia begitu aneh kepadaku? Dia bukan orang seperti itu?' Wajah Xiao Nan-pin yang tadinya merah berubah menjadi pucat. Dia gemetar karena takut. Jika dia bukan Kakak Nan, siapakah dia sebenarnya?...apakah... apakah dia! "Ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu." Beberapa kata ini muncul dalam pikiran gadis ini. Dia mulai merasa pusing dan tidak bisa menguasai diri lagi. Dalam kebingungannya dia melihat wajah itu berputar-putar dan tertawa sadis lalu menindih tubuhnya. Dia sendiri yang menciptakan wajah ini. Sewaktu dia mengubah wajah orang yang dicintainya sedikit berbeda dengan aslinya, baginya dunia ini tidak seperti dunia sekarang ini. Siapa pun tidak akan menyangka berkat sepasang tangannya yang lembut ini, dia mengubah nasibnya sendiri juga nasib sebagian orang, juga mengubah nasib dunia persilatan. Wajah itu terus berputar dalam otaknya. Dia merangkak bangun dan mulai memakai bajunya. Dia melihat gua yang telah mengubah nasib hidupnya. Dia merangkak keluar keluar dari gua. Di luar gua masih terlihat sebuah terowongan panjang. Dia keluar dari celah bebatuan. Gua tidak berubah karena dia berubah. Tanah yang dipenuhi salju, dia berjalan dengan terseok-seok. Meninggalkan jejak kakinya. Dia merangkai semua kejadian dalam otak, Qi-hai-yu-zi keluar...dia mencari Xiao-wu...Xiao-wu tahu ada orang yang mirip dengannya...dan tahu orang itu adalah temannya...karena itu mereka memasang perangkap... satu persatu dihubungkan menjadi kejadian yang kejam. Kekejaman ini menindih ke dalam benaknya membuat hatinya meneteskan air empedu yang pahit. Tapi dia berharap dan menginginkan laki-laki kemarin adalah Kakak Nan yang asli. Ini adalah sebuah harapan dalam keputusasaannya. Harapan ini memberinya sedikit semangat untuk melanjutkan perjalanan. Gadis ini tadinya sombong dan sangat kejam, sekarang dia hanya seorang gadis lemah dan sangat dikasihani keadaannya. Ketika naik gunung ini, dia berada dalam pelukan orang yang dianggapnya Kakak Nan. Sekarang Xiao Nan-pin merasa bingung. Ketika dia mencari jalan untuk turun gunung, dia baru merasa kalau gunung ini sangat tinggi. Ini di luar dugaannya, apalagi jalan gunung ini dipenuhi salju dia harus berhati-hati melangkah. Karena kondisi tanah melandai maka dia bisa berjalan dengan cepat Baru saja dia berjalan sebentar, dia berhenti karena merasa jalan yang diambilnya bukan jalan turun gunung. Sekarang di depan adalah terbentang puncak gunung. Ada sebuah jalan sangat sempit mengelilingi gunung itu dan berlanjut ke belakang gunung. Karena hanya melihat sebagian jalan gunung dia tidak tahu apakah jalan ini akan membawanya ke atas atau ke bawah gunung. Dia berhenti karena bingung. Jika hatinya tenang dan cukup tenaga, dia bisa melewati jalan di depannya itu walaupun jalan itu akan membawanya naik gunung, dia pasti akan mencobanya. Tapi sekarang dia merasa tubuhnya lemah, dia sendiri pun masih dalam keadaan kebingungan. Karena itu dia hanya bisa menarik nafas dan berjalan kembali ke tempat semula untuk turun gunung, tapi begitu dia berbalik, jalan semakin menanjak. Dia tidak mempunyai tenaga dan waktu untuk mencari tahu. langkahnya semakin pelan, hal yang terjadi kemarin malam membuat hatinya hancur. Tiba-tiba terdengar suara, membuatnya sadar dari kebingungannya. Suara ini sangat dikenalnya, membuatnya berhenti melangkah. Tapi suara ini terdengar sangat jauh, dia mendengar lagi dengan seksama kemudian dia segera berlari ke sumber suara itu. Tenaganya mulai pulih, ternyata suara yang didengarnya adalah suara Kakak Nan. Jika Kakak Nan berada di gunung ini, berarti kemarin malam adalah Kakak Nan yang asli? Berarti tebakannya tadi hanya hal yang sangat tidak masuk akal. Bukankah hal ini hal yang menyenangkan? dalam keadaan seperti itu, walaupun suara ini datang dari langit, dia tetap akan mencarinya. Walaupun kedua kakinya tidak bisa digerakkan, dia akan merangkak. Sekarang dia masih bisa berlari. Di kedua sisi jalan adalah hutan yang layu tapi pepohonan masih banyak. Salju mulai mencair tapi ada juga salju yang belum mencair. Dia berlari dengan keadaan yang begitu sulit, dengan susah payah dia mencari Kakak Nan. Akhirnya dia menemukan satu hal di mana dia rela mengorbankan kebahagiaannya seumur hidup atau bahkan harus mengorbankan nyawa...dia rela menukarnya dengan hal ini. --BAB 45 Terbang di angkasa Xiao Nan-pin dalam kekecewaannya menangkap adanya sedikit harapan, dengan kecepatan maksimal dia berlari untuk mencari suara yang memberinya semangat itu. Cahaya dari hutan yang melukiskan daun-daun berguguran, mengikuti langkah kakinya yang mendekati tempat gelap. Terakhir di hutan itu tidak terlihat ada jalan lain lagi. Cahaya terhalang oleh gunung tinggi. Sejak kecil dia sudah berlatih ilmu silat, dan tentu saja penglihatanya lebih tajam, tapi sekarang ini dia tetap harus melangkah dengan hati-liati. Bau apek dan daun basah membuatnya ingin muntah. Bau hutan basah dan bau tidak sedap mengikuti setiap langkahnya, dia sangat tahu hutan yang jarang dilewati orang ini pasti banyak terdapat ul.ir dan serangga buas. Mungkin saja tiba-tiba binatang itu keluar secara tiba-tiba dan menggigitnya. Tapi dia tidak menyesal masuk ke hutan ini. Karena ini menyangkut kebahagiaannya seumur hidup. Dalam hati terbentang sebuah lukisan terang dan indah. "Pagi tadi, Kakak Nan pasti keluar untuk mencari makan untukku, mungkin dia tersesat di sini dan tidak menemukan jalan keluar. Suara yang terdengar tadi pasti teriakannya" Dengan bahagia dia berpikir seperti itu, dia juga mengkhawatirkan keadaan Kakak Nan! "Kalau aku bertemu dengannya nanti, dia pasti akan merasa sangat senang, kemarin malam dia...." Wajah gadis ini langsung memerah, dia berusaha terus berjalan, dalam hutan banyak rintangan, tapi tetap tidak akan menghalangi keinginan hatinya bertemu dengan Kakak Nan. Dan dia mengambil keputusan untuk melanjut-kan perjalanan mendaki gunung. Dia berjalan dengan cepat, dalam waktu sekejap dia telah melangkah beberapa puluh meter. Tapi dia tetap berjalan dengan sangat hati-hati dan rasa waspada. Tiba-tiba dia berhenti dengan mendadak. Ternyata jalan terputus sampai di sana, di depan mata terbentang sebuah parit yang kelihatannya dalam, begitu dalam sampai tidak terlihat dasarnya, dan juga terlihat sangat berbahaya. Hal ini membuat Xiao Nan-pin menarik nafas kecewa. Hatinya serasa tenggelam, dia mengeluh panjang, setelah susah payah menempuh perjalanan ini, ternyata semua ini sia-sia belaka. Dia hanya bisa menarik nafas panjang, menghapus keringat yang mengalir di dahinya. Saat tangan-nya memegang dahi, dia segera menarik tangannya kembali. Dia baru sadar ternyata sepasang tangannya dipenuhi dengan darah, semua ini karena dia menyibak ranting pepohonan dengan tangannya, sekarang dia baru merasakan kalau tangannya sakit dan terluka. Gadis malang ini hanya bisa berdiri di pinggir parit, tanpa sadar air matanya mengalir. Air matanya mengalir membasahi wajahnya, dia menghapus air matanya. Tiba-tiba di kiri dia melihat ada sebuah jalan, jalan menuju parit di sebelah sana. Dia kembali bersemangat dan berjalan memutar ke sana. Baru saja dia melangkah 5-6 meter, sewaktu dia melihat ke depan, kegembiraan mi hampir membuatnya pingsan. Ternyata dia baru sadar parit itu berada di dataran sangat tinggi. Ada sebuah batu besar seperti jembatan yang menghubungkan kedua sisi parit dalam itu. Dari tiga arah ternyata jembatan dikelilingi dleh pepohonan lebat. Tapi tempat di mana dia berdiri, itu hanya tempat kosong tidak ada sebatang pohon pun. Di atas jembatan ada sebuah rumah, setelah melihat rumah itu seperti dibangun di tengah udara. Di sisi rumah itu masih terlihat sebuah pondok. Di dalam pondok itu terlihat Kakak Nan yang dirindukannya siang dan malam. Kakak Nan nya sedang bersandar ke tiang pondokan dan sedang berpikir. Kegembiraannya sudah tidak tertahankan, dia lupa kalau di hutan lebat dan terpencil seperti ini, serta di tempat berbahaya seperti itu, bisa didirikan sebuah rumah di sana? Dia juga tidak berpikir kalau semalam orang itu memang Kakak Nan, mengapa sekarang dia bisa berada di sini? Dia hanya menganggap peristiwa kemarin malam di gunung itu, serta adanya Kakak Nan di sini, merupakan hal menyenangkan. Dia tidak berpikir kalau orang yang sekarang berdiri di pondok itu mungkin saja ketua Tian-zheng-jiao, Xiao-wu. Kalau di dunia ini ada orang yang wajah-nya begitu mirip, memang akan terjadi hal aneh. Dua orang yang wajahnya mirip ini, mempunyai identitas dan sifat tidak sama, hati dan perilaku mereka pun tidak sama. Dan kedudukan mereka berseberangan di dunia persilatan, bisa dikatakan kalau mereka adalah musuh. Dengan begitu hal yang terjadi akan lebih aneh lagi. Apalagi kedua orang yang, wajahnya mirip itu, salah satu dari mereka wajahnya diubah dengan kemampuan ketrampilan tangan yang hebat, barulah dia bisa mirip dengan yang satunya Kalau begitu, sekarang orang yang sedang berdiri dan sedang berpikir itu siapa? Apakah dia adalah Yi-feng? Atau Xiao-wu? Semalam dia bersama dengan Xiao Nan-pin di dalam gua, apakah dia adalah orang yang sama dengan orang yang sedang berdiri di pondok itu? Kalau memang benar dia adalah orang yang sama, siapakah dia, Yi-feng ataukah Xiao wu ? Kalau bukan, apakah dia Yi feng. ataukah Xiao-wu? Mengapa kedua orang itu bisa secara kebetulan berada dalam satu gunung ini? Dan rumah misterius itu milik siapa? Kalau ada yang menanyakan peranyaan ini, silakan cari sendiri jawabannya, atau dengan cara meneruskan membaca buku inil --Saat memasuki kota Chang an, hari sudah malam. Di mana-mana mulai terlihat sepi. Yi feng mencari sebuah penginapan, dia dan beberapa orang 'Fei-hong-jian-ke' memesan kamar utama, Yi-feng berniat menjelaskan masalah ini Bila dia membuka topeng kulit manusia yang melekat di wajahnya sedikit saja, semua masalah akan terselesaikan. Para 'Fei-hong-jian-ke' setelah melihat wajahnya diubah dengan ketrampilan tangan tingkat tinggi, maka bisa mirip dengan adik ketiga mereka. Dan memperlihatkan wajah asli Yi-feng, pandangan mereka pasti akan berbeda kepadanya. Yi-feng berbuat seperti itu karena dia telah memikirkan matang-matang sebelumnya. Fei-hongqi-jian telah lama hidup di luar Jian-nan, tentu mereka tidak mengenal Yi-feng yang asli. Apalagi salah paham yang terjadi di antara mereka sudah sangat dalam, kecuali melakukan tindakan ini, tidak ada cara lainnya lagi. Dia tidak membuka semua topengnya, karena dia masih berniat dengan topeng ini dia berbuat sesuatu. Ini memang merupakan suatu kebenaran yang sangat misterius, tapi pantas untuk dimanfaatkan. Setelah Fei-hong-qi-jian melihat wajah aslinya, mereka terkejut. Mereka telah mencari adik ketiga mereka kemana-mana, malah berakhir seperti ini. Hua Pin-qi menarik nafas, dia berdiri, tiba-tiba dia mengambil arak dari atas meja, lalu memberi hormat kepada Yi-feng. "Sahabat, macam-macam kesalahpahaman telah membuatmu menjadi repot. Kecuali meminta maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kelak kalau kau mengalami kesulitan, dan membutuhkan bantuan kami, silakan beritahu saja kepada kami. Kami akan sekuat tenaga berusaha membantumu. Semua ini untuk menebus kesalahan kami." Pak tua pincang ini seperti sudah tidak kuat berdiri, dia seperti hampir roboh. Tiba-tiba Yi-feng merasa iba melihat pak tua ni, pak tua itu memberi hormat lagi. "Hal ini bisa terjadi karena kecerobohan kami, kalau teman ingin meminta bantuan kami, silakan katakan saja!" Terdengar dia menarik nafas .igi. Yi-feng tertawa, bukan karena pesilat pedang ini berniat mengusirnya, melainkan karena pesilat pedang ini tidak terbiasa berbasa-basi. Pikirannya berputar cepat, tiba tiba dia tertawa. "Hal ini hanya kebetulan saja, aku tidak menyalahkan kalian, kalau kalian ingin menebus kesalahan, aku mohon Tetua Hua jangan mengungkit-ungkit lagi hal ini, hanya saja...." Dia tersenyum dan melanjutkan lagi. "Kalau Tetua tidak keberatan, apa Tetua bisa menceritakan tentang adik ketiga kalian, mungkin aku bisa membantu mencari tahu keberadaannya." Setelah berpikir matang-matang, dia percaya kalau orang yang wajahnya mirip dengan Yi feng itu tidak lain adalah ketua Tian-zheng-jiao, Xiao-wu yang sangat terkenal di dunia persilatan. Mao Wen-qi dan Gong Tian-qi dari Fei hong-qi-jian tadinya hanya menundukkan kepala saja, setelah mendengar perkataan Yi-fcng, mereka mendongakkan kepala dan menatap Yi-feng. Sebenarnya identitas asli Yi-feng dan alasannya mengapa dia harus mengubah wajahnya dulu baru muncul di dunia persilatan, semua ini masih menjadi suatu teka teki bagi Fei-hong-qi-jian. Setelah mendengar perkataan itu, mereka bertambah aneh. Hua Pin-qi berpikir sebentar baru berkata dengan menghela nafas. "Sebenarnya ini urusan keluarga kami, hal ini sangat membuat kami sedih, tapi kalau Tuan ingin tahu, baiklah...." Pesilat pedang terkenal ini walaupun sudah tua tapi sifatnya terbuka, tidak berkurang seperti saat mudanya dulu. "Guruku adalah yatim piatu, karena mempunyai kesempatan, beliau menjadi pesilat pedang terkenal di Chang-bai-shan. Maka Chang-bai-pai bisa menjadi salah satu dari 9 terbesar perkumpulan terkenal di dunia persilatan. Tapi Chang-bai-pai tidak pernah memasuki Zhong-yuan. Ini semua karena sewaktu guruku menerima murid, beliau mengeluarkan persyarat-an masuk menjadi anggota Chang-bai-pai, barang siapa yang ingin menguasai ilmu andalan Chang-bai-pai, dia harus selalu berada di Chang-bai-shan, seumur hidupnya tidak boleh berhubungan dengan dunia persilatan." Hua Pin-qi menarik nafas lagi, Yi-feng tahu semua ini ada alasannya, tapi mereka tidak ingin memberitahu, maka dia pun merasa tidak pantas kalau banyak bertanya. Ketua Chang-bai-pai itu berkata lagi. "Dalam hidup guru, beliau hanya menerima kami bertujuh menjadi muridnya. Kami semua yatim piatu dan kami bertujuh selalu menuruti perintah guru, kami tidak pernah berkelana ke dunia persilatan." Sorot mata pak tua pincang itu menggelap, Yi-feng ikut menarik nafas. Seorang pesilat pedang terkenal, harus menghabiskan hidupnya di gunung terpencil. Ini adalah hal kejam! Hua Pin-qi yang sudah tua dengan rambutnya yang telah memutih, seumur hidup menghabiskan waktunya menghirup udara dingin dan berteman dengan awan putih, sekarang apa yang sedang dia rasakan bisa dibayangkan oleh Yi-feng. Hua Pin-qi menarik nafas lagi. "Chang-bai-pai bisa menjadi salah satu 9 perkumpulan terkenal dunia persilatan, ini semua berkat jasa guruku saat menghadiri rapat akbar dunia persilatan. Dengan jurus 'Feng-lei-jian-fa' (jurus pedang guntur dan angin) beliau membuat namanya jadi tersohor. Jurus Feng-lei-jian-fa ini secara otomatis menjadi ciri khas Chang-bai pai. Sumpah yang diwajibkan oleh guru yaitu tidak diijinkan turun gunung pun jadi berubah, bila ada murid yang tidak tahan dengan rasa sepi, mereka tidak harus terus berada di gunung Chang-bai, mereka boleh berkelana ke dunia persilatan, hanya saja tidak diijinkan untuk berlatih ilmu Feng-lei-jian-fa." "Kami kakak dan adik perguruan hanya yatim piatu, kalau bukan karena guru yang menerima dan mengajar kami, mungkin kami sudah mati karena kelaparan dan kedinginan. Maka guru kami bukan hanya sebagai guru saja melainkan juga sebagai orang yang telah berbudi kepada kami. membuat kami pun rela tinggal di Chang-bai-shan seumur hidup, kami rela menemani abu dari jasad guru. Apalagi dunia persilatan sekarang ini begitu kacau, kami tidak suka ikut campur dalam masalah dunia persilatan." "Beberapa tahun lalu, salah dari kami ingin sekali turun gunung, aku telah berusaha menasihatinya, tapi aku tidak sanggup melarangnya. Waktu itu dia belum selesai berlatih ilmu 'Feng-lei-jian-fa' karena kalau ingin berlatih ilmu ini jika tidak mempunyai tenaga dalam yang kuat, ilmu ini tidak akan bisa dikuasai...." "Hhhh, aku mengasuhnya hingga tumbuh dewasa, ketika dia berniat pergi, aku merasa sedih, tapi aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, dengan terpaksa aku melepaskannya." Karena merasa sedih maka perkataan Chang-bai-jian-ke ini agak kacau. "Tidak lama kemudian, dia kembali ke Chang-bai-shan, tapi tubuhnya terluka di 3 tempat. Dia kurus dan terlihat loyo, ternyata setelah turun gunung dia telah membuat masalah dan mendapatkan banyak musuh. Waktu itu dia masih muda, ilmu silat pun belum banyak dikuasai. Ternyata beberapa bulan turun gunung dia telah berbuat seperti itu." Dari sorot mata pak tua itu, Yi-feng tahu antara pak tua ini dan adik ketiganya, pasti tersimpan perasaan dalam. Dia juga tahu kalau Chang-bai-jian-ke ini adalah seorangyang perasa. "Setelah dia kembali, hatiku menjadi sedih melihat dia menjadi seperti itu, maka diam-diam aku mengajarkan ilmu 'Feng-lei-jian-fa' ini kepadanya, hhhh...." Dia menarik nafas panjang, dia melihat Yi-feng, seperti sedang bicara dengan adik seperguruannya. "Aku dan dia memang hanya mempunyai hubungan kakak adik seperguruan, tapi akulah yang mengasuhnya hingga dewasa, maka hubungan kami seperti ayah dan anak, juga seperti saudara kandung." "Setelah dia berhasil menguasai ilmu Feng-lei-jian-fa, dia pun turun gunung lagi, hatiku sedih karenanya, aku mengira kali ini dia tidak akan kembali. Tapi tidak sampai setengah tahun, ternyata dia kembali lagi, lukanya bertambah parah, kakinya hampir saja dipatahkan oleh seseorang." "Melihat keadaannya, hatiku sedih dan marah, tapi di sisi lain aku merasa senang, ternyata di dunia persilatan orang yang berilmu tinggi sangat banyak. Dia mengira hanya dengan mengandalkan 'Feng-lei-jian-fa' bisa melanglang buana begitu saja di dunia persilatan? Biar dia mendapatkan pelajaran dari peristiwa ini, supaya dia bisa lebih betah tinggal di Chang-bai-shan." Diam-diam Yi-feng menghela nafas, dia tahu kalau Hua Pin-qi telah membesarkan adik ketiganya ini tapi di lain pihak Hua Pin qi tidak mengerti sifat adik ketiganya ini. Mana mungkin setelah dirugikan oleh orang lain, dia tidak berniat untuk balas dendam? Dan malah menyuruhnya tinggal di gunung? Terdengar Hua Pin-qi berkata, lagi. "Setelah lukanya sembuh, dia memintaku membalaskan dendamnya, aku memang sangat sayang padanya, diam-diam aku mengajarkan 'Feng-lei-jian-fa' kepadanya, tapi aku tidak bisa membawa semua adik seperguruanku turun gunung membalas dendam, itu akan melanggar pesan terakhir guru sebelum beliau meninggal. Maka aku pun menotoknya dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di gunung dan menasihatinya supaya jangan membuat masalah lagi." "Waktu itu dia masih diam, beberapa hari kemudian, banyak orang dari kalangan persilatan datang ke Chang-bai-shan, ternyata mereka berniat membalas dendam. Semua ini hasil perbuatannya. Aku menanyakan apa yang terjadi padanya, ternyata semua bisa terjadi karena kesalahannya. Di depan orang-orang itu aku memarahinya. Aku melakukan hal ini karena ada alasannya, pertama, karena aku harus melaksanakan perintah terakhir guru jangan memberikan kesan kalau Chang-bai-pai membiarkan muridnya berlaku seenaknya dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Alasan kedua, semua itu untuk kebaikannya, aku berharap dia bisa menjadi orang baik." Diam-diam Yi-feng memuji ketua Chang-bai-pai ini, dia benar-benar seorang yang berpandangan lurus dan jujur. "Benar-benar pantas menjadi salah satu perkumpulan terkenal di dunia persilatan." Ketua Chang-bai-pai itu minum secangkir arak kemudian meletakkan cangkir di atas meja dengan cara dibanting. "Dia mulai membenciku, dan tidak mau bicara denganku lagi, hatinya masih diliputi dengan kemarahan dan kesedihan. Tapi asalkan dia tidak membuat masalah lagi, bagiku hal ini bukan menjadi masalah besar." Sekarang Mao Wen-qi yang menarik nafas panjang, dia menyela. "Kakak, biar aku yang meneruskan ceritanya!" Tanpa menunggu persetujuan kakak tertuanya, Mao Wen-qi menyambung. "Waktu itu, kami semua marah kepadanya, tapi karena kakak tertua tidak menurunkan perintah apa pun, kami terpaksa hanya bisa diam. Tapi adik ketiga memang jahat, dia sengaja masuk ke tempat berlatih ilmu silat kakak tertua, sewaktu kakak sedang berlatih ilmu silat pada tahap penting, dia membuat aliran darah kakak tersumbat, semenjak itu...." Hua Pin-qi memotong. "Jangan salahkan dia, dia tidak sengaja melakukannya!" Alis Mao Wen-qi terangkat, dengan nada tidak suka dia berkata. "Kakak, tiadk usah terus membelanya, dia mengikuti Kakak begitu lama, masak dia tidak tahu kalau Kakak sedang berlatih ilmu silat? Waktu itu kalau bukan karena aku secara kebetulan datang ke sana untuk mengantarkan obat, kaki Kakak pasti sudah cacat sekarang! Mungkin nyawa Kakak pun bisa melayang! Tapi Kakak masih berusaha menutupi kesalahannya!" Tiba-tiba dia berhenti bicara, dia sadar kalau dia sudah berlaku tidak sopan kepada kakak tertuanya. Yi-feng benar-benar merasakan kebaikan Hua Pin-qi sekaligus juga kebenciannya kepada adik ketiganya yang berdarah dingin serta tidak berperasaan itu! Pantas ketua Tian-zheng-jiao, Xiao-wu begitu sadis, licik, dan bermoral rendah. Terhadap kakak seperguruannya yang begitu sayang pun dia masih tega melakukan kejahatan, apalagi kepada orang lain! Saat Yi-feng sedang berpikir, terdengar Mao Wen-qi berkata lagi. "Setelah aku berhasil menolong kakak, aku mencarinya, tapi dia sudah menghilang. Waktu itu aku mengira dia melarikan diri karena takut telah melakukan kesalahan, kemudian kami baru tahu ternyata bukan itu alasannya!" Yi-feng ingat tadi pagi saat Mao Wen-qi menganggapnya sebagai adik ketiga mereka, dari nada bicaranya dapat diketahui kalau Mao Wen-qi tidak senang dengan perilaku adik ketiganya. Tapi dia masih menyayangi adik ketiganya. Yi-feng hanya bisa menarik nafas panjang. "Beberapa bulan kemudian kami haru tahu ternyata barang peninggalan guru berkurang semacam dan benda itu sangat penting. Kami selalu menyimpan benda tersebut di tempat rahasia, tidak ada seorang pun yang tahu di mana tempatnya, apalagi Chang-bai-shan sudah lama tidak kedatangan tamu. Setelah kami mencari-cari, kecurigaan kami jatuh padanya karena tidak akan ada seorang pun yang berani mengambil benda itu." "Aku menduga kalau dia sengaja mengganggu kakak saat berlatih ilmu silat agar kakak terluka parah. Ketika kami sedang berkonsentrasi menolong kakak, diam-diam dia mencuri benda peninggalan guru kemudian turun gunung. Kelakuan adik ketiga kami ini benar-benar membuat marah kami semua!" Sekarang Yi-feng ikut merasa marah karena kelakuan orang ini, Mao Wen-qi berkata lagi. "Maka kami pun bersama-sama turun gunung untuk meminta kembali benda peninggalan guru tapi dunia ini begitu luas, begitu banyak orang, ke mana kami harus mencarinya?" Wajah Feng-hong-jian ke bertambah sedih. Apalagi dengan Hua Pin-qi, dalam waktu singkat dia seperti bertambah tua beberapa puluh tahun. --BAB 46 Mengacaukan situasi Yi-feng diam-diam mengeluh. "Tidak disangka identitas Ketua Tian-zheng-jiao yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun sekarang diketahui dengan jelas olehku. Xue Ruo-bi, Xue Ruo-bi, mengapa kau bisa mencintai orang seperti itu?" Matanya berhenti di wajah sedih Hua Pin-qi, dia berkata. "Walaupun dunia ini sangat luas, mencari adik ketiga kalian memang seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, pasti akan sangat sulit, tapi aku tahu kemana dia pergi!" Begitu kata-kata ini terucap, fei hong-jian-ke sangat terkejut! Apalagi Hua Pin qi, dia menarik baju Yi-feng dan bertanya. "Apakah kau tidak membohongi kami?" Yi-feng tertawa, lalu dia menceritakan hal aneh mengenai Zhong-nan-shan dan bagaimana pikirannya, hal ini membutuhkan waktu sangat lama untuk menjelaskannya. Maka sesudah habis bercerita, malam ternyata sudah larut, rumah makan akan tutup. Bos rumah makan dan pelayan di sana tahu kalau sekelompok orang ini bukan orang biasa, dari sikap mereka terlihat kalau mereka sedang marah, maka walaupun sudah waktunya rumah makan tutup tapi bos rumah makan tidak berani mengusir mereka. Malam semakin larut, akhirnya ada seorang pelayan dengan hati-hati dan takut-takut berkata kepada mereka. "Maaf Tuan-Tuan, sekarang sudah lewat pukul satu malam, jika Tuan-Tuan masih ingin minum...." Fei-hong-jian-ke bukan orang yang tidak tahu aturan, mereka segera membayar pesanan mereka dan pergi dari sana. Benar saja malam suciah sangat larut, rasa dingin awal musim semi seperti rasa air u ntuk berendam. Hua Pin-qi membiarkan adik seperguruannya menuntun kuda. dia berjalan bersama-sama Yifeng. Dia memang tidak terlalu percaya dengan kata-kata Yi-feng, tapi 75% dia masih percaya. "Sekarang adik ketiga ada di mana, tidak ada seorang pun yang tahu, karena di mana keberadaan ketua Tian-zheng-jiao bagi dunia persilatan ini masih menjadi sebuah teka teki." Mereka sedang membicarakan hal ini dan Hua Pin-qi menyuruh Yi-feng memakai identitas ketua Tian-zheng-jiao, lalu menyebarkannya ke dunia persilatan. Dengan begitu ketua Tian-zheng-jiao yang asli akan terpancing keluar. Hal ini menguntungkan bagi kedua pihak, maka Yi-feng pun menyetujuinya. Kota Kai-feng. Kota ini berada dalam aliran sungai Huang He selatan. Kota ini adalah sebuah kota terkenal dan juga disebut sebagai kota kuno di Zhong-yuan. Yi-feng memasuki ke kota itu, sedangkan Feng-hong-jian ke menunggunya di luar kota Kai-feng di sebuah penginapan. Kota itu sangat ramai, Yi-feng berjalan di tengah kota yang ramai. Dia berjalan dengan santai tapi kedua matanya menyelidiki keadaan di sana seperti anjing pelacak yang sedang mencari jejak. Dia berharap bisa mendapatkan beberapa anggota Tian-zheng-jiao. Dia berjalan dengan tenang dan luwes, kecuali dia bisa mengenali baju yang dikenakan oleh murid Tian-zheng-jiao, dia sulit mengenali hal lainnya. Ini dikarenakan murid-murid Tian-zhengjiao tidak mempunyai tanda atau pedang yang terselip di tubuh mereka. Sedangkan ketua berbaju emas tidak terlalu banyak jumlahnya. Dia sengaja datang ke kota Kaifeng ini karena dia menganggap di kota ini mungkin saja ada ketua berbaju emas... karena dalam perkumpulan Tian-zheng-jiao kecuali ketua berbaju emas jarang ada yang pernah melihat ketua Tian-zheng-jiao. Setelah lama Yi-feng berjalan, sosok ketua berbaju emas sama sekali tidak terlihat olehnya, dia mulai merasa cemas tapi ketika dia berpikir lebih jauh lagi, dia malah menertawakan dirinya sendiri. "Mengapa aku begitu bodoh? Gunung tidak akan datang mencariku, tapi aku bisa pergi mencari gunung." Karena itu dia tersenyum dan memasuki sebuah rumah makan yang ramai. Yi-feng telah lama berkelana di dunia persilatan, dia tahu tempat seperti ini cocok untuk mencari orang. Begitu memasuki rumah makan, dia sudah melihat para lelaki yang berada di sana kebanyakan berbadan tegap. Diam-diam dia merasa puas dengan keputusannya dan langsung berjalan ke sebuah meja yang diduduki oleh 4 orang laki-laki berbadan tegap. Tanpa mengata-kan apa-apa, dia duduk di sebuah kursi kosong. Empat laki-laki yang tadinya asyik mengobrol, malah menjadi bengong. Begitu melihat Yi-feng, walaupun merasa aneh tapi mereka tidak marah. Yi-feng sudah menggebrak meja membuat cangkir-cangkir yang ada di atas meja terbang melayang. Keempat laki-laki itu terkejut, seorang laki-laki yang kepalanya banyak bisul langsung berdiri. Dengan sepasang mata seperti ikan koki, dia menunjuk Yi-feng dan mulai marah. "Teman, apakah kau sudah bosan hidup? Kau harus tanya, siapa itu Bai-ban-hu? (Harimau belang putih). Jika kau bosan hidup, lebih baik kau cari tempat lain untuk mati, jangan di sini!" Bahasa memakai logat He Nan. Yi-feng sengaja tertawa dingin, dia mengambil sebuah poci kemudian melemparkannya ke arah 'Bai-ban-hu'. Sebetulnya dengan kemampuan ilmu silat Yi-feng yang ada. melempar kepala besar dan dipenuhi bisul itu sangat mudah tapi Yi-feng sengaja melemparkannyajauh-jauh sambil marahmarah. "Kalian mata-mata Tian-zheng-jiao, mengapa melihatku datang kalian tidak mau berlutut!" Kemarahan Yi-feng tepat sasaran, ternyata kekuatan Tian-zheng-jiao di kota Kai-feng ini sangat besar. Laki-laki pengangguran ini adalah anggota Tian-zheng-jiao. Maka segera terjadi keributan di rumah makan itu. Ada yang berdiri, ada yang segera keluar. Bai-ban-hu langsung menyerang Yi-feng. Yi-feng tertawa dingin, tangannya segera terjulur. Hanya menggunakan 10% tenaga, dia berhasil menangkap tangan laki-laki kasar yang bernama Bai-ban-hu lalu membalikkannya. Baiban-hu seperti seekor babi yang sudah dikebiri terus berteriak. Hanya dengan sedikit ilmu silatnya dia berhasil membuat laki-laki kasar itu berteriakteriak kesakitan. Kursi melayang keluar dari rumah makan. Yi-feng bermaksud ingin memancing ketua berbaju emas Tian-zheng-jiao keluar. Di lain pihak dia ingin melampiaskan kemarahan dan kekesalannya pada Tian-zheng-jiao. Dia pun sadar kalau tenaga dalam yang dikeluarkannya hanya 20%-30% tapi itu cukup untuk menghadapi laki-laki kasar ini. Tapi setelah lama menunggu, ketua berbaju emas yang diharapkannya tidak muncul-muncul, dalam hati Yi-feng mulai marah, 'Mereka benar-benar sombong!' Tapi selain itu dia juga merasa cemas jika dia terus memukuli orang-orang ini apa yang akan terjadi selanjutnya? Dalam kebingungannya tiba-tiba dari belakang ada yang membentak dengan suara keras. "Semua berdiri di sana!" --BAB 47 Bersiasat masuk ke kandang harimau Yi-feng merasa sangat senang mendengar bentakan kemarahan itu. "Yang kuharapkan sudah muncul di depan mata." Dia berbalik melihat, laki-laki yang sempat akan bertarung dengannya ternyata sangat menuruti perintah orang itu. Mereka segera berhenti beraksi. Dia melihat ke sumber suara tadi, dia merasa kecewa. "Ternyata hanya laki-laki berbaju biru dan berbaju ungu". Laki-laki berbaju ungu adalah ketua lapisan ungu Tian-zheng-jiao. Kedudukan ketua berbaju ungu memang tidak begitu rendah tapi belum tentu mereka pernah melihat ketua Tian-zheng-jiao. Benar saja ketua berbaju ungu itu berjalan ke hadapan Yi-feng, dengan dingin dia berkata. "Siapakah sahabat? Berasal dari barisan mana? Keihatannya ilmu silatmu lumayan juga tapi bila hanya mengandalkan ilmu silat seperti itu ingin mencari gara-gara di kota Kai-feng sebaiknya pikirpikir dulu. Sahabat, kau terlalu sombong!" Yi-feng segera terpikir sesuatu, tiba-tiba dia mengeluarkan kaki kanannya untuk mengait dan menyapu si ketua berbaju ungu. Ketua berbaju ungu yang ada di He-nan termasuk terkenal otomatis ilmu silatnya pun cukup lumayan. Dia sama sekali tidak melihat Yi-feng mengeluarkan jurusnya, jurus ini adalah jurus paling dasar dalam ilmu silat. Dia tertawa dingin, tangan kanannya menyerang dada Yi-feng, kaki kiri menendang kaki Yi-feng yang akan menyapu nya. Yi-feng berteriak, kakinya yang digunakan untuk menyapu seperti keluar semua tenaga dan tidak dapat ditarik kembali. Dia berusaha menarik kembali kakinya, orang berbaju ungu itu tertawa dingin, dia membalikkan tangan kanannya. Kaki Yi-feng dengan terburu-buru mendarat di tanah. Dia berusaha bangun, orang-orang Tianzheng-jiao yang tadi sempat dipukul Yi-feng, saat melihatnya terjatuh, mereka segera bersorak. Si baju ungu tertawa dingin lagi. "Teman! Lebih baik kau merangkak ke sana! Kalau mau mencari muka, harus lihat dulu tempat nya!" Dia merasa sangat senang, kemudian dia membentak lagi. "Saudara-saudara, ikat orang bodoh ini dan bawa ke markas. Biar ketua Jiang yang menghukumnya!" Yi-feng pura-pura terkejut tapi dalam hati dia merasa sangat senang dan berpikir. "Lumayan juga aku terjatuh tadi. Karena terjatuh, aku bisa bertemu dengan ketua berbaju emas di kota Kaifeng ini." Ketika murid-murid Tian-zheng-jiao sedang mengikatnya, dalam hati Yi-feng benar-benar marah dan sangat ingin memukul mereka. Apalagi ketua berbaju ungu itu, kedua matanya selalu melihat ke atas, dia berjalan di paling depan. Benar-benar sombong. Kedua laki-laki berbadan tegap itu mendorong-dorong Yi-feng. Sesampainya di jalanan, Yi-feng dilempar ke sebuah kereta. Yi-feng benar-benar marah, sepertinya ketua berbaju ungu itu pun akan naik kereta dan kereta kuda pun mulai berjalan. Ketua berbaju ungu itu dengan dingin melihatnya. "Sahabat, siapa marga dan namamu? Siapa yang menyuruhmu datang kemari lalu membuat keributan? Jika kau menjawab dengan jujur, hukumanmu akan dikurangi kalau tidak... siksaan selanjutnya pasti kau tidak akan bisa bertahan." Yi-feng memejamkan matanya dan enggan menjawab. Dengan nada marah ketua berbaju ungu berkata lagi. "Kurang ajar! Jika sekarang kau tidak mau menjawab, kau akan kusiksa nanti, kalau tidak aku tidak akan dijuluki sebagai 'Xiao-sang-men' (Si kecil kehilangan pintu)." Ternyata namanya adalah Xiao-sang-men, Chen Jing-ren. Sepanjang perjalanan dia terus marah-marah tapi Yi-feng tidak peduli. Kira-kira setelah berjalan 20 menit kereta berhenti di sebuah tempat. Xiao-sang-men tertawa dingin, dia berdiri lalu menendang Yi-feng dan marah. "Hei terpidana mati, tempat kematianmu sudah tiba." Dia turun dari kereta dan menyuruh kedua laki-laki itu menurunkan Yi-feng. Dengan langkah gagah dia pun masuk. Setelah diturunkan dari kereta, Yi-feng melihat ternyata mereka berhenti di sebuah rumah besar, pintu utama dicat merah, ring pintu tampak berkilau, di kedua sisi pintu, ada puluhan tiang kayu diperuntukkan mengikat kuda. Rumah mewah ini seperti rumah seorang pejabat. Kedua laki-laki itu berbaju hijau dan mengenakan topi, dari penampilannya, mereka sepertinya adalah pelayan rumah ini tapi sikap mereka sangat kasar. Sepanjang jalan masuk, dia terus membentak, kelakuannya benar-benar seperti seorang polisi yang berhasil menangkap seorang pencuri, tidak menganggap Yi-feng sebagai seorang manusia! Yi-feng marah, sepertinya Tian-zheng-jiao lebih jahat dibandingkan dengan yang dibicarakan orang-orang selama ini. Kantor cabang Tian-zheng-jiao di Kai-feng demi membereskan orang yang marah-marah kepadaTian-zheng-jiao, dan dihukum seperti ini. Apabila melakukan hal lain, tidak perlu dipertanyakan perbuatan apa yang akan diterima oleh orangyang membuat masalah. Sesampainya di ruang tamu, kedua laki-laki itu mendorong Yi-feng, kemudian mereka membungkukkan tubuh dan berkata dengan sikap hormat. "Ketua cabang, orang yang terhukum sudah kami bawa." Laki-laki itu memanggil Yi-feng sebagai terhukum, alis Yi-feng mengerut, aura membunuhnya muncul. Dari ruang itu terdengar suara bentakan.."Bawa dia masuk!" Sambil berkata lagi. "Ketua Chen, kau terlalu mengada-ada, hal sekecil ini seharusnya bisa diselesaikan sendiri, untuk apa membawanya kemari?" Chen Jing-ren dengan hormat menjawab. "Perkataan ketua memang benar, tapi orang ini berilmu tinggi. Saudara-saudara kita dipukul olehnya, maka aku membawanya kemari, biar ketua sendiri yang menentukan hukumannya." Ketua cabang ini adalah 'Pan-long-yun-gun', Jiang Bo-yang. Dia duduk di sebuah kursi kayu berwarna merah dan Xiao-sang-men berdiri di sisinya dengan sikap sangat hormat. Saat memasuki ruangan ini, Yi-feng melihat ketua berbaju emas Kai-feng ini ternyata adalah murid Shao-lin yang bernama Jiang Bo-yang. Dulu saat Yi-feng masih sering berkelana di dunia persilatan, nama Pan-long-yun-gun Jiang Boyang ini sangat terkenal di dunia persilatan karena itu Yi-feng langsung mengenali-nya. Setelah tahu kedudukan Jiang Bo-yang di perkumpulan Tian-zheng-jiao, Yi-feng bisa memastikan kalau dia pasti pernah melihat wajah ketua Tian-zheng-jiao yang asli, maka kalau dia melihat wajah Yi-feng sekarang, Jiang Bo-yang pasti akan langsung mengenalinya. Karena itu dia segera tertawa dingin, dia membalikkan tubuhnya. Xiao-sang-men langsung membentaknya. "Kurang ajar, apakah kau tahu tempat apa ini? Kau benar-benar sudah gila!" Pan-long-yun-gun meminum tehnya, dia juga membentak. "Sahabat, ada urusan apa kau sampai datang ke kota Kai-feng? Cepat katakan padaku, kalau kau jujur, aku tidak akan menyusahkanmu, kalau tidak, kau harus tahu 'Tian-zheng-jiao', ketiga huruf ini tidak bisa sembarangan kau sebut di jalanan." Pan-long-yun-gun lahir dari perkumpulan lurus, maka cara bicaranya pun agak sopan tidak seperti lelaki yang lain, mereka sangat kasar. Yi-feng tetap memunggunginya, dengan dingin dia berkata. "Aku datang ke kota Kai-feng tujuannya tidak lain mencarimu, apakah kau menerima tamu selalu dengan cara seperti ini?" Jiang Bo-yang menaruh cangkirnya di atas meja, karena terlalu kuat, maka air teh tumpah ke mana-mana. Kedua alisnya berdiri dan dia mulai marah. Matanya mengeluarkan api, bentaknya. "Sahabat, jaga mulutmu! Jika kau menganggap Tian-zheng-jiao sangat mudah dihina, kau salah besar!" Yi-feng tertawa terbahak-bahak, kedua tangannya digetarkan, tali yang mengikatnya langsung terputus. Dia membalikkan tubuh, lalu tertawa. "Jiang Bo-yang, apakah kau sudah tidak mengenaliku lagi?" Pan-long-yun-gun melihat 'orang gila' ini berhasil menggetarkan tali hingga putus, dia sangat terkejut. Xiao-sang-men sudah marah dan menyerang Yi-feng. Jiang Bo-yang sudah melihat dengan teliti siapa terpidana yang ada di depannya sekarang. Xiao-sang-men Chen Jing-ren masih terus menyerang Yi-feng, tapi orang ini terus tertawa tidak menghindar juga tidak bicara. Saat dia merasa aneh, di belakangnya terasa ada angin meniup seperti ada yang menyerangnya, dia coba menyelamatkan dirinya, dengan menarik tangannya sedikit, lalu memutar kakinya. Di belakang ada yang membentak. "Chen Jing-ren, cepat hentikan!" Itu adalah suara Pan-long-yun-gun Jiang Bo-yang. Xiao-sang-men bertambah kaget, belum sempat berpikir dengan jernih, Pan-long-yun-gun menyerangnya dan membuatnya terpelanting ke sisi. Yi-feng tertawa. "Untung marga Jiang masih ingat kepadaku." --Dalam hati Yi-feng ingin tertawa karena melihat wajah Jiang Bo-yang sangat pucat dan terus membungkukkan badan meminta maaf. "Bo-yang tidak tahu kalau Ketua datang dan tidak menyambut Ketua dengan baik. Orang-orang bodoh ini memang mempunyai mata tapi tidak mempunyai bola mata, merela telah berbuat salah kepada Ketua. Mereka pantas mati. Harap Ketua yang menghukum mereka!" Xiao-sang-men benar-benar bingung. Dan kebingungannya mulai terjawab, punggungnya mulai dijalari rasa dingin. Dia meraba dahinya kemudian berlutut. Yi-feng tertawa terbahak-bahak, dengan menggunakan 70% tenaganya, dia mendorong Xiao-sang-men. "Ilmu silat Tuan benar-benar bagus, apalagi jurus-jurus Yang Jia-zhang...." Xiao-sang-men hampir tidak bisa berlutut karena tubuhnya terus bergoyang, hatinya bergetar. Tanpa menunggu jawaban ketua palsu ini, dia sudah menyela. "Aku tidak tahu kalau Ketua sudah datang, aku sudah membuat Ketua susah, harap Ketua sudi memaafkanku!" Xiao-sang-men berada dalam posisi telungkup di bawah seperti seekor anjing. Mengingat tadi dia begitu sombong dan galak, sekarang seperti seekor anjing kurap, Yi-feng tertawa keras. Sebenarnya jika melihat dengan jelas, orang-orang seperti Xiao-sang-men sangat banyak dan tidak terhitung. oo BAB 48 Si Pedang Pembasmi Siluman Tawa Yi-feng langsung berhenti, sorot mata berhenti melihat Xiao-sang-men. "Saudara-saudara kita di kota Kai-feng ternyata semakin tidak karuan. Aku mendirikan Tianzheng-jiao dengan usaha keras, tapi sekarang mereka malah menindas orang." Dengan gemetar Xiao-sang-men terus telungkup di bawah dan terus mengiyakan semua perkataan Yi-feng. Wajah Pan-long-yun-gun memucat. Di sini Yi-feng bisa merasakan kekuatan Tian-zheng-jiao sangat kuat. Sudah lama dia berkelana di dunia persilatan, tidak disangka dia akan melakukan peran ini. Waktu itu juga di dalam hatinya diselimuti perasaan aneh. Kekuasaan adalah sesuatu yang inginkan oleh orang-orang sejak dulu. Dari dulu sampai sekarang beberapa orang pahlawan dan pendekar, selalu menginginkan kekuasaan. Hanya saja harus melihat apakah dia adalah orang yang tepat untuk mempunyai kekuasaan? Jika kau menjadikan 'kekuasaan' sebagai budakmu, kau akan sukses, sebaliknya jika kau menjadi budak 'kekuasaan' kau akan berakhir dengan menyedihkan. Yi-feng sedang berpikir, kedua mata Pan-long-yun-gun dan Xiao-sang-men terus menatapnya, segera dia mempunyai rencana. "Guru Jiang, di luar kota ada sebuah rumah, kalau tak salah itu adalah tempat sembahyang marga Bao, apakah kau tahu tempat itu?" Tanpa menunggu Jiang Bo-yang menjawab, dia berkata lagi. "Pukul 3 malam ini, aku harap Guru Jiang membawa semua murid Tian-zheng-jiao di kota Kaifeng ini untuk berkumpul di sana!" "Guru Jiang dalam setengah hari ini, apakah kau sanggup mengumpulkan semua saudara kita?" Pan-long-yun-gun segera menjawab. "Ketua tidak perlu merasa khawatir, pukul 3 malam Bo Yang akan membawa semua saudara dan menunggu kedatangan ketua tapi...tapi jika semua saudara dikumpulkan, jumlahnya...." Yi-feng menyela. "Yang kumaksud saudara di sini adalah mereka yang mempunyai jabatan, apakah kau jelas?" Jiang Bo-yang mengangguk. Yi-feng tertawa dingin, dia sudah membalikkan tubuh lalu keluar dari ruangan. Pan-long-yun-gun segera mengejarnya dan dengan hormat berkata lagi. "Apakah Ketua akan pergi sekarang? Bo-yang mempunyai arak tua, apakah Ketua ingin minum terlebih dulu baru pergi? Biarlah hari ini Bo-yang sedikit melayani Anda." Yi-feng tidak menghentikan langkahnya, dia hanya tersenyum lalu berkata. "Kebaikan Guru Jiang aku terima, setelah urusan kita selesai, besok aku akan datang lagi untuk minum." Pan-long-yun-gun dengan hormat ikut keluar mengantarkan Yi-feng. Dua laki-laki yang sejak tadi berdiri di depan pintu, terlihat wajah mereka pun sangat pucat, nafas ditarik dengan pelan. Keluar dari pintu utama, dia melambaikan tangan kepada Pan-long-yun-gun, melarangnya ikut, lalu dengan tenang dia pun pergi dari sana. Dalam hati Yi-feng ingin tertawa. Sesudah keluar dari kota Kai-feng, hari sudah sore, matahari yang akan terbenam memancarkan cahaya berwarna emas. Kota Kai-feng di bawah siraman sinar matahari terbenam berbentuk panjang. Bayangan panjang ini menutupi sosok Yi-feng. Sekarang dia menjadi sangat bersemangat! Tian-xing-mi-ji' yang ditulis oleh Wu Qing-qu sudah dibacanya dengan teliti. Walaupun belum bisa menguasai seluruh inti ilmu itu, tapi buat pesilat tangguh seperti Yi-feng walaupun baru mengerti sedikit tapi ilmu silatnya sudah maju pesat. Selama dua tahun ini dia telah melalui banyak cobaan dan bahaya, semua ini tidak membuatnya jatuh melainkan membuatnya semakin bertambah kuat. Tadinya hal yang dianggapnya tidak mungkin dilakukan sekarang mulai terlihat ada harapan. Harapan ini bisa terwujud hanya tinggal menunggu waktu. Sosok Xiao Nan-pin meninggalkan kesan hangat di dalam hati, tapi dia harus menguburkan perasaan ini jauh di lubuk hatinya paling dalam. Dia sadar jika seorang laki-laki saat menghadapi banyak masalah dan harus diselesaikan, bila terus memikirkannya malah akan menghabiskan waktu, perhatian dan perasaan kepada seorang perempuan adalah suatu kesalahan besar. Karena itu dia pun segera mencari Feng-hong-jian ke untuk memberitahu apa yang telah dia lakukan dalam mengelabui Tian-zheng-jiao. Sepanjang perjalanan, para 'Feng-hong-jian ke' sudah tahu bagaimana jahatnya dan bagaimana hebatnya kekuatan Tian-zheng-jiao. Ketika Hua Pin-qi tahu kalau adik ketiga yang diasuhnya sejak kecil sampai dewasa ternyata adalah orang yang menguasai dunia persilatan dengan kejam, hatinya benar-benar terluka dan dia tidak bisa mengatakan apa pun. Yi-feng dan para pesilat Chang-bai-shan meninggalkan kota Kai-feng bagian timur. Di sebuah penginapan dan tempat sembahyang bermarga Bao yang ada di sebelah barat kota Kai-feng, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Er-shi-li-pu. Di luar tempat sembahyang bermarga Bao ini banyak ditumbuhi pepohonan besar. Di dalam terlihat bersih dan kering. Musim semi dan musim gugur banyak yang datang untuk bersembahyang. Di sekeliling tempat sembahyang banyak orang datang ke sini untuk melancong. Tapi hari ini, saat langit gelap di sekeliling tempat itu, tiba-tiba muncul sekelompok orang berbaju hitam. Mereka melarang siapa pun datang ke tempat itu. Biksu-biksu penjaga tempat sembahyang ini merasa heran karena mereka ternyata diusir ke kuil lain. Penduduk Er-shi-li-pu melihat kalau tempat sembahyang bermarga Bao ini sangat terang dan banyak orang yang berkumpul. Semakin malam orang yang datang semakin banyak, mengapa bisa hal seperti ini? Ini menjadi teka teki bagi penduduk Er-shi-li-pu. Menjelang jam 3 subuh, jika ada yang belum tertidur, mereka akan mendengar teriakan memilukan dari tempat sembahyang bermarga Bao. Dan terlihat ada laki-laki yang berlumuran darah keluar dari sana, kemudian mereka kabur dengan kalang kabut membuat kota Er-shi-li-pu yang biasanya tenang menjadi heboh. Tapi penduduk yang selalu hidup tenang tidak ada yang berani untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. Hari kedua. Ada beberapa orang memberanikan diri pergi ke sana untuk melihat-lihat. Tempat sembahyang yang tadinya bersih sekarang penuh dengan darah. Mereka sadar kalau di tempat ini telah terjadi pertikaian sengit, tapi siapa yang membunuh dan siapa yang terbunuh? Bagi penduduk yang bukan orang persilatan, mereka tidak bisa menebaknya. Ternyata ketika puluhan murid Tian-zheng-jiao dari markas cabang kota Kai-feng menunggu kedatangan ketua mereka... Di dalam dan di luar tempat sembahyang suasana sangat hening. Suara orang bicara pun tidak terdengar. Pan-long-yun-gun berbaju emas, berdiri di depan, Xiao-sang-men Cheng Jing-ren berdiri di sisinya. Dalam hati dia terus berdebar-debar karena dia takut kalau ketua datang ke sini untuk menghukumnya. Dari kejauhan terdengar seseorang memukul genderang menunjukkan sekarang jam 3 subuh. Pan-long-yun-gun melihat anak buahnya lalu segera menurunkan perintah. "Saudara-saudara, berbarislah dengan baik, ketua akan segera tiba. Malam ini kalian akan melihat seperti apa wajah ketua kita, ini adalah keberuntungan kalian..." Kata-katanya belum habis, tiba-tiba dari sekeliling tempat itu terdengar tawa yang menusuk telinga. 5 sosok manusia memakai penutup wajah datang seperti hembusan angin. Sebetulnya di sekeliling tempat ini telah ditanam tombol-tombol rahasia Tian-zheng-jiao tapi kelima orang berbaju hitam itu, entah dengan cara apa mereka bisa masuk kesana dengan selamat. Pan-long-yun-gun membentak. "Sahabat, datang dari mana!" Suaranya baru selesai, bayangan sese-orang mendekatinya, terlihat ada cahaya berkilau. Warna biru keluar dari pantulan pedang menepisnya dari pundak ke bawah. Jiang Bo-yang mendapatkan ilmu silat dari Song-shan, dan bukan ilmu silat sembarangan. Dia berhasil menghindar ke pinggir tapi gerakan si baju hitam ini sangat cepat. Pedang menyerangnya lagi 3 kali, setiap serangan mengarah pada nadi pentingnya. Dengan sekuat tenaga berusaha dia melawan, tapi karena tidak membawa senjata otomatis tenaganya pun berkurang. Dia terus membentak dan bertanya, tapi orang berbaju hitam itu sama sekali tidak mau menjawab. Di sisi terdengar lagi teriakan memilukan. Dari suaranya, dia tahu kalau itu adalah teriakan Xiao-sang-men. Dari sudut mata dia melihat Xiao-sang-men memegangi dadanya yang berdarah kemudian tubuhnya limbung, akhirnya dia pun roboh. Kemudian dalam ruangan, di sana sini terdengar teriakan memilukan kembali dan si baju hitam sambil tertawa dingin diajuga membentak. Hati Pan-long-yun-gun semakin kacau, jurus pedang lawan semakin cepat dan semakin lihai. Jurus-jurus ganas dan pedang misterius, bagi orang terkenal seperti Jiang Bo-yang pun belum pernah melihat jurus seperti ini. Karena cemas dia pun tidak bisa berpikir, sebuah kilauan melewati tangannya membuat tangan tergores panjang, darah segera bercucuran. Melihat situasi seperti ini tiba-tiba dia menyerang dengan kepalannya. Ilmu andalan Shao-lin-si dikeluarkannya. Ini adalah ilmu kepalan tingkat tinggi, benar-benar sangat dahsyat. Walaupun orang berbaju hitam itu berilmu tinggi tapi saat dia melihat ilmu ini, dia sempat mundur dua langkah. Setelah Jiang Bo-yang mengeluarkan jurus-jurus kepalan andalannya dan berhasil membuat lawan mundur, dengan tenaganya dia pun bersalto kabur dari sana. Sejak tadi dia sudah melihat keadaan yang terjadi, ujung kakinya bertumpu kemeja sembahyang, tubuhnya berputar, seperti sebuah busur dia meluncur keluar dari jendela. Sekarang dia berusaha menyelamatkan diri dulu. Di dalam ruangan itu terdengar teriakan minta tolong orang-orang Tian-zheng-jiao yang semakin keras. Walaupun dia mendengar, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sambil mundur, dia baru sadar kalau tombol-tombol rahasia yang terpasang di luar semua sudah berhasil dikuasai lawan. Ilmu silat orang berbaju hitam itu sangat tinggi, benar-benar membuatnya terkejut. Siapakah orang baju hitam ini sampai sekarang pun dia belum tahu. Karena itu Tian-zheng-jiao di kota Kai-feng berhasil dibuat hancur berantakan oleh seseorang yang misterius, yang pasti semua ini adalah hasil perbuatan Yi-feng. Yi-feng dan para Feng-hong-jian ke, malam itu meninggalkan Kai-feng dan Er-shi-li-pu. Kuda berlari semalaman. 'Feng-hong-jian ke' sekian lama tinggal di luar Jian-nan. Malam ini mereka baru merasa puas karena bisa mempraktekkan ilmu-ilmu mereka, hati mereka masih terasa bergolak dan tidak bisa ditahan. Sampai-sampai Hua Pin-qi yang sudah tua pun, sambil menunggang kuda masih terus membicarakan hal yang terjadi semalam tadi. --BAB 49 Perubahan di kota Xun-yang Yi-feng terlihat tersenyum, dia sangat mengerti para pesilat yang datang dari luar Zhong-yuan ini, walaupun mereka mempunyai ilmu silat tinggi tapi mereka belum pernah mempraktekkan ilmu silat mereka di pertarungan persilatan. 'Fei-hong-qi-jian' bisa sampai terkenal di kalangan persilatan, semua itu karena perjuangan dan jasa guru mereka. Seperti seorang tuan yang mempunyai uang berlimpah, walaupun uangnya banyak tapi kalau seharian dia hanya diam di rumah, semua akan percuma. Dia tahu kalau uang banyak gunanya, tapi dia belum pernah mencoba untuk memakainya. Saat dia mengetahui kegunaan uang...waktu itu uangnya yang bertumpuk di rumah, bisa memberikan arti lain baginya. Dan kesenangan yang timbul di hati tuan itu tidak bisa ditebak siapa pun. ' Bagaimana dengan Yi-feng sendiri? Dia menikmati rasa senang ini. Malam semakin larut, kuda masih berlari dengan kencang. Sekarang hatinya benar-benar merasa bebas. Kekesalannya selama dua tahun yang menumpuk di hatinya, malam ini hilang sebagian. Hari mulai terang, pagi di awal musim semi, rasa dingin menusuk tulang. Tapi kuda dan penunggangnya terlihat berkeringat. Mereka tidak merasa dingin. Setelah matahari terbit, mereka telah tiba di perbatasan Shan-xi di kota Xun-yang. Yi-feng yang pertama tiba di pintu kota. Karena hari masih pagi, pintu kota belum dibuka. Yifeng menoleh dan berkata. "Pintu kota belum dibuka, tapi setelah kota Xun-yang, di depan sana sudah tidak ada kota besar lainnya lagi. Lebih baik kita singgah dulu di sini, sambil menunggu pintu kota dibuka, lebih baik kita menginap dulu di sana, setelah itu baru meneruskan perjalanan!" Dia telah lama berkelana, tapi 'Fei-hong-qi-jian' baru pertama kali memasuki Zhong-yuan, maka semua Yi-feng yang memutuskan. Karena itu sekelompok orang ini terlihat beristirahat di luar pintu kota. Semua yang terjadi di dunia terkadang sering terjadi secara kebetulan. Kebetulan ini membuat hal yang telah kita rencanakan harus diubah. Kalau mereka tidak memasuki kota Xun-yang dan memutuskan segera pergi dari sana, hal yang terjadi tidak akan seperti sekarang. Kejadiannya begitu rumit, tapi mereka ingin menunggu sampai pintu kota dibuka, sepertinya semua ini telah diatur dan direncanakan oleh Tuhan. Hari baru saja terang, dan pintu kota baru saja dibuka. Yi-feng memutar kudanya, bersiap-siap memasuki kota. Tapi di depan pintu yang baru dibuka itu, muncul seekor kuda yang sedang berlari dengan kencang. Kuda itu berlari melewati Yi-feng. Yi-feng tidak memperhatikan hal ini, dia hanya melihat penunggang kudanya berbaju mewah, sewaktu melewatinya, orang itu bersuara. "Kok?" Tapi Yi-feng tidak memperhatikannya, dia hanya menoleh sebentar untuk melihat, kemudian Hua Pin-qi dan yang lainnya telah menyusul dari belakang. Dan bersama-sama mereka memasuki kota itu. Tapi sewaktu mereka baru saja memasuki kota, dari belakang terdengar ada yang membentak. "Berhenti!" Suara itu besar dan tinggi, seperti ada yang memukul besi dengan palu di pinggir telinganya, membuat gendang telinga berdenging karena sakit. Yi-feng dan Hua Pin-qi bersama-sama melihat, dari arah belakang muncul seekor kuda yang sedang berlari ke arah mereka. Orang itu adalah orang yang tadi berpapasan dengan Yi-feng di pintu kota dan berpakaian mewah. Dengan sikap tidak suka, Hua Pin-qi menunggu kedatangan orang itu, lalu berkata dengan dingin. "Sahabat, kau berteriak kepada siapa?" Penunggang kuda itu memakai baju berwarnaungu tua, bajunya dihiasi dengan sulaman bunga, disulam dengan benang berwarna kuning emas. Sepatunya tampak berkilauan karena banyaknya batu hiasan yang dipasang di sana. Dia berada di depan mereka, dia hanya melihat Hua Pin-qi sekilas, kemudian dia melihat Yifeng. "Mengapa kau datang ke sini?" Begitu Yi-feng melihat dengan jelas wajahnya, dia merasa darah di seluruh tubuhnya langsung berhenti mengalir. Orang berbaju mewah ini, walaupun kurus seperti sebatang kayu, dagunya masih ditumbuhi janggut kambing yang sangat jarang, tapi sorot matanya tajam seperti gunting. Bukankah dia adalah si Wajah Besi, Wan Tian-pin yang berhasil dikurung oleh Yi-feng di Wu-liangshan? Sekarang Yi-feng benar-benar terkejut, Hua pin-qi yang berada di sisinya terdengar marah dan membentak. "Sahabat, Anda bicara dengan siapa? Anda...." Kata-katanya belum selesai, si Wajah Besi dengan marah menatapnya, wajah kurusnya terlihat lebih sadis lagi melihat Hua Pin-qi! "Apakah kau tahu, kau sedang bicara dengan siapa?" Dia melihat Yi-feng. "Hei, siapakah pak tua ini? Kalau dia sahabatmu, aku akan memaafkannya, kalau tidak...." Yi-feng terkejut, dia pun merasa aneh. "Mengapa si Wajah Besi ini tiba-tiba bisa bersikap begitu sungkan kepadaku? Sewaktu di Wu-liang-shan, dengan segala daya upaya dia berusaha membunuhku, aku telah mengurungnya di gua rahasia di Wu-liang-shan, mengapa dia bisa keluar?..." Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Sekarang aku tampil bukan dengan wajah asliku! Tapi apakah si Wajah Besi ini dengan Xiaowu yang wajahnya mirip denganku yang sekarang, memiliki suatu hubungan?" Sewaktu Yi-feng sedang berpikir, Hua Pin-qi berkata dengan nada dingin. "Hei, apakah pak tua ini adalah teman Adik? Kalau benar, aku akan memaafkannya, kalau tidak... Hhhh!" Yi-feng mendengar kata-katanya lalu menjawab pertanyaan Wan Tian-pin. Wajah kurus kering Wan Tian-pin tetap seperti dulu tidak ada perubahan, benar-benar pantas dijuluki Wajah Besi. Tapi Yi-feng melihat dari sorot mata Wan Tian-pin telah keluar aura membunuh. Tiba-tiba si Wajah Besi menarik tali kekang kudanya, dia menyerang dengan telapaknya ke arah Hua Pin-qi. Kuda meringkik panjang, kuda tidak memberontak. Kuda terjatuh dengan lemas, kuda tidak bernafas lagi. Sejak tadi Hua Pin-qi telah turun dari kudanya, begitu melihat kepala kuda yang ditumpanginya hancur karena dipukul pak tua yang bermuka datar ini, dia merasa aneh. Dia terkejut! Tenaga telapaknya benar-benar kuat! Kuda yang tersisa tinggal 3 ekor. Waktu itu juga Mao Wen-qi dan kedua adik seperguruannya segera mengeluarkan pedang masing-masing. Wan Tian-pin tertawa dingin, dia terbang dari pelana menuju Mao Wen-qi, kemudian menjulurkan kedua telapaknya. Kesepuluh jarinya membentuk kaitan. Jurus cakar elang dari si Wajah Besi yang terkenal di dunia persilatan sekarang dikeluarkan di depan mereka. Saat itu Yi-feng memikirkan hal ini dengan teliti, kemudian dia pun berdiri. Dia menggoyangkan tangannya sambil membentak. "Tetua Wan, harap berhenti!" Si Wajah Besi berhenti mendengar teriakan Yi-feng. Tubuhnya yang kurus kering berputar di udara kemudian kembali ke pelana kuda. Tubuhnya yang kurus bergerak seperti ikan berenang di dalam air, berputar-putar di tengah udara. 'Feng-hong-jian ke' menarik nafas panjang. Mereka tidak menyangka kalau pak tua yang berpenampilan seperti tuan tanah ini mempunyai ilmu silat begitu tinggi. Si Wajah Besi dengan dingin duduk kembali di atas pelana kudanya seperti tidak terjadi apaapa. Sambil menghadap Yi-feng dia berkata. "Cepat suruh mereka pergi, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!" Yi-feng memberi tanda kepada Hua Pin-qi dan lainnya dengan isyarat mata. 'Feng-hong-jian ke' sebenarnya terkejut juga marah tapi mereka terpaksa menahan kemarahannya karena tahu kehebatan ilmu silat orang ini, apalagi Yi-feng memberi isyarat kepada mereka. Mao Wen-qi membalikkan pergelangannya, memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Wajah Hua Pin-qi terus berubah, akhirnya dia meloncat ke atas kudanya. Mao Wen-qi membentak Wan Tian-pin. "Hari ini karena melihat muka adik, aku tidak mau ribut denganmu. Dalam 10 hari kami akan menunggu kedatanganmu dikota Xiang-yang." Kata-kata ini ditujukan kepada Wan Tian-pin, sekalian memberi tahu kepada Yi-feng kalau mereka akan pergi ke Xiang-yang, dan berharap dia segera menyusul mereka. Yi-feng mengangguk. Dalam hati berpikir. "Apa hubungan si Wajah Besi dengan Xiao-wu? Jika aku tidak berhati-hati, aku bisa terjebak." Wajah Besi terdiam di atas kudanya, dia tidak mendengar kata-kata Hua Pin-qi. Sepertinya dia sudah cukup mendengar kata-kata itu. Empat orang dengan 3 ekor kuda yang ditunggangi 'Fei-hong-qi-jian' sudah berlalu dari sana. Wan Tian-pin baru berkata dengan dingin. "Melihat mukamu, sementara ini aku akan membiarkannya dulu hidup selama 10 hari lagi... He!" Orang ini terkenal karena kekejamannya di dunia persilatan, maka cara bicaranya pun seram dan dingin. Anehnya, perkataannya seperti belum pernah selesai, dan selalu diakhiri kata 'He" Dan mewakili arti lain. Dia menunjuk pintu kota dengan cemetinya. "Ikut denganku keluar dari kota ini, bantu aku menyelesaikan sesuatu kemudian kita pergi bersama ke Xi-liang-shan... He! Pemuda seperti kalian, bukankah sudah berjanji akan menungguku di You SiKou, mengapa kau bisa berada di sini?" Yi-feng sama sekali tidak mengerti apa maksud Wan Tian-pin, terpaksa dia menjawab asalasalan, dan mengikuti si Wajah Besi keluar dari kota. Dari sudut matanya, Yi-feng melihat si Wajah Besi tampak serius. Di lehernya masih terlihat bekas luka berwarna ungu kehitaman. Yi-feng tahu kalau bekas luka ini adalah perbuatan dari si Tangan Terampil, Xu-bai. Diam-diam dia mengeluh. "Wajah besi Wan Tian-pin benar-benar aneh, beberapa kali dia terancam maut sekarang dia masih hidup dan berdiri dengan segar bugar di depanku, mengapa dia bisa kabur dari gua rahasia itu? Jika dia tahu aku bukan orang yang dimaksudnya, mungkin akan terjadi pertarungan hidup dan mati lagi di sini." Setelah keluar dari kota itu, Wan Tian-pin melarikan kudanya dengan cepat, Yi-feng mengikuti dari belakang. Sekarang keingintahuannya muncul. Dia ingin tahu bagaimana cara Wan Tian-pin keluar dari gua rahasia itu? Lalu apa hubungan antara Xiao-wu dengan dirinya? Kelihatannya Wan Tian-pin sangat hafal dengan jalannya, dia tidak melewati jalan besar melainkan melalui jalan-jalan kecil. Salju di jalanan masih tampak bertumpuk sepertinya sudah lama tidak ada yang lewat di sana. Yi-feng merasa semakin aneh, apa yang akan dilakukan Wan Tian-pin? Melihat wajah Wan Tian-pin yang kurus kering, sedikit ekspresi pun tidak ada. Mulut terkatup rapat, tidak bicara sepatah kata pun. Dalam hati dia memang merasa aneh tapi Yi-feng tetap tidak banyak bertanya. Wan Tian-pin berputar 2-3 kali, jalan terlihat semakin sepi dan semakin terpencil, tujuan mereka adalah ke sebelah timur kotaXun-yang. Tempat yang mereka lalui semakin lama semakin terjal, untung kuda Yi-feng adalah kuda sehat, untuk sementara waktu kudanya masih bisa mengikuti kuda Wan Tian-pin dari belakang. Tapi karena telah menempuh perjalanan jauh, mulut kuda Yi-feng tampak berbuih, nafasnya pun terengah-engah. Sesampainya di sisi sebuah hutan, tiba-tiba Wan Tian-pin menghentikan kudanya, kemudian menurunkan tas besar dari punggung kuda. Tangannya melambai ke arah Yi-feng, dia sendiri pun turun dari kudanya. Hutan ini tertutup salju, sepertinya tidak ada yang pernah lewat di sana. Tas yang dibawa oleh Wan Tian-pin terlihat sangat berat tapi Yi-feng sampai sekarang tidak tahu apa tujuan Wan Tianpin membawanya kemari. Wajah Besi Wan Tian-pin terkenal dengan ilmu telapaknya ternyata ilmu meringankan tubuhnya pun tinggi. Dia membawa tas berat, sementara jalan dipenuhi salju tapi dia tetap bergerak dengan lincah dan cepat. Tidak tertinggal jejak telapak kakinya di permukaan tanah. Dia masuk ke dalam hutan. Begitu memasuki hutan, cahaya mulai berkurang, dalam hati Yi-feng terus berpikir. "Apakah dia sudah tahu tentang identitasku? Apa dia memancingku ke sini untuk membunuhku...." Tapi sekarang ini sudah tidak ada kesempatan untuk mundur dari sana, terpaksa Yi-feng mengikutinya berjalan memasuki hutan. Setelah memasuki hutan yang lebat, tiba-tiba Wan Tian-pin menoleh kepadanya memberikan tas itu kepada Yi-feng. Dia tetap tidak bersuara. Yi-feng meraba-raba tas yang diberikan padanya. Tas ini sangat berat dan selalu terdengar suara besi beradu. Ternyata benda yang ada di dalam tas ini berisi senjata dan peralatan untuk membongkar. Yi-feng terus melihat Wan Tian-pin yang terlihat misterius. Sambil berjalan, dia mengeluarkan sesuatu dari balik dadanya. Setelah dilihat-lihat, Yi-feng baru mengerti ternyata Wan Tian-pin datang ke sini untuk mencari sebuah benda berharga. Benda yang dikeluarkan dari balik dadanya adalah 2 lempengan besi berwarna hitam. Itu adalah alat yang dinamakan 'cahaya berputar' yang pernah diperlihatkan si Tangan Terampil, Xubai. Yi-feng tahu manfaat benda ini dari Xu-bai. Sekarang dia hanya melotot melihat kedua lempengan besi yang terlihat seperti tidak berguna itu. Dengan pelan Wan Tian-pin menggeser kakinya kemudian meletakkan alat itu di bawah. Tibatiba dia membalikkan tubuh, wajah seriusnya mengeluarkan tawa. "Hei! Cepat keluarkan singkup dari dalam tas itu, bantu aku menggali di sini. Biasanya aku selalu bekerja sendirian. Hari ini aku mencari seseorang untuk membantuku, ini pertama kalinya kulakukan seumur hidupku!" Yi-feng tahu julukan Wan Tian-pin adalah Tie-mian-gu-xing-ke' (wajah besi berjalan sendiri). Seumur hidupnya dia belum pernah mencari seseorang untuk membantunya, ini bukan bohong. Sekarang dia mencari Yi-feng untuk membantunya bekerja dalam misi rahasia ini, pasti karena wajahnya yang sekarang ini...wajah Xiao-wu, ada hubungan erat dengan Wan Tian-pin. Kalau tidak mana mungkin Wan Tian-pin mengajaknya menggali benda berharga? Memang dalam hati Yi-feng terus menebak-nebak, tapi dari wajahnya tidak terlihat apa yang sedang dia pikirkan. Dia membuka tas besar itu. Di dalam tas ada singkup dan peralatan lainnya, semua adalah peralatan untuk menggali. Diam-diam dia ingin tertawa dengan dugaannya tadi. Salju di atas permukaan tanah membeku menjadi es maka permukaan tanah menjadi sangat keras, tapi dengan tenaga dari 2 pesilat tangguh ini, tanah keras pun bisa menjadi seperti pasir. Tidak lama mereka berhasil menggali sebuah lubang besar. Ketika Yi-feng sedang menggali, terdengar suara TANG cukup nyaring, singkup Yi-feng patah menjadi 2. Ternyata singkup itu mengenai sesuatu. Sepertinya singkup Yi-feng mengenai benda seperti besi. Wajah Tie-mian-gu-xing-ke' terlihat gembira. Dia mengambil singkup lainnya dan mulai menggali lagi. Tiba-tiba dari dalam lubang terlihat sebuah kilauan. Ternyata benda itu adalah uang perak dengan jumlah sangat banyak, kira-kira ada ratusan i ibu tail jumlahnya. Yi-feng memang seorang yang jujur, tapi melihat jumlah uang begitu banyak di depan mata, hatinya pun sedikit bergerak. Tapi Wan Tian-pin hanya menarik nafas panjang kemudian dia melempar singkupnya. Dia tidak merasa senang lalu berkata. "Uang lagi, huh!" Dari kata-katanya, uang perak yang jumlahnya begitu banyak ternyata tidak sepenting besi jelek itu. Yi-feng merasa terkejut. Terdengar Tie-mian-gu-xing-ke mengeluh lagi. "Aku turun dari Wu-liang-shan, menghabiskan waktu begitu banyak, baru bisa menggali 3 tempat, tapi yang kutemukan hanya uang perak! Jika yang dimaksud benda berharga adalah uang perak, benar-benar membuatku patah semangat!" Benda sama tapi di depan mata dua orang, nilainya akan berbeda. Uang perak dengan jumlah ratusan ribu tail di mata perampok besar ini, hanya seperti besi tidak berguna, apalagi sekarang dia memiliki alat pengukur. Yang ingin didapatkan bukan uang perak atau uang emas, tapi benda yang nilainya lebih tinggi. Cahaya langit masuk melalui celah-celah pohon menyinari tanah. Yi-feng meloncat keluar dari dalam lubang. Dibantu dengan cahaya yang berkilau ini, Yi-feng merasa cahaya ini benar-benar menusuk matanya. Tie-mian-gu-xing-ke tertawa. "Adik Xiao, jika kau suka semua uang yang ada di sini, aku akan memberikan padamu." Tiba-tiba dia berkata lagi. "Aku malang melintang di dunia persilatan cukup lama, di Gunung Wu-liang kau telah menolongku...." Yi-feng segera mengerti, 'ternyata Wan Tian-pin yang berhasil kukurung di gua rahasia itu bisa keluar dari sana karena ditolong oleh Xiao-wu. Pantas sesudah dia keluar dari gua itu dia berhubungan dengan Xiao-wu.' Tapi setelah mengerti duduk masalahnya, Yi-feng masih bertanya-tanya, 'mengapa Xiao-wu bisa pergi ke Wu-liang-shan? Mengapa dia tahu cara membuka pintu rahasia gua itu?' Karena terus berpikir dia lupa menjawab pertanyaan Wan Tian-pin. Setelah keluar dari lubang itu, Wan Tian-pin berteriak. "AdikXiao, kau naik dulu, kemudian ratakan lagi lubang ini dengan tanah. Uang perak begitu banyak, aku tidak sanggup membawanya!" Yi-feng mengiyakan lalu naik ke atas. Wan Tian-pin mengumpulkan tanah untuk menutup lubang tadi. Setelah meloncat ke atas, Yi-feng berdiri di sisi Wan Tian-pin. Karena Wan Tian-pin terus menguburkan lubang itu dengan tanah, dia tidak memperhatikan gerakan Yi-feng. Dalam pikiran Yi-feng muncul suatu hal. Dia sadarkan asalkan dia melayangkan sedikit saja tangan kanannya, dia bisa menyerang ketiak bagian bawah Wan Tian-pin, karena saat ini dia pasti tidak ada persiapan. Dia tidak akan bisa menghindari pukulannya ini. Tapi dia tidak melakukannya walaupun di kemudian hari bila dia bertemu dengan Tie-mian-guxing-ke dengan wajah aslinya dan akan terjadi pertarungan sengit, mungkin saja dia yang akan kalah oleh Wan Tian-pin, tapi Yi-feng tidak sanggup melakukan hal licik seperti itu. Apalagi setelah dipikir antara dia dan Wan Tian-pin tidak ada dendam yang dalam, mana mungkin Yi-feng akan membunuh Wan Tian-pin dengan cara ini? Akhirnya dia membantu Wan Tian-pin menutupi lubang itu dengan tanah. Dia tidak menolak juga tidak menerima uang perak pemberian Wan Tian-pin, karena dia merasa uang dengan jumlah begitu banyak bukan milik Wan Tian-pin, dia tidak berhak memberikan uang itu kepadanya dan dia tidak perlu menolak atau menerimanya. Uang dengan jumlah begitu banyak, asalkan dipergunakan dengan benar bisa membuat banyak orang hidup dengan bahagia, termasuk bisa membangun banyak usaha. Mungkin kelak dia akan menggunakannya. Diajuga percaya uang dengan jumlah banyak ini jika jatuh berada di tangannya, dia akan mempergunakannya dengan baik dibandingkan bila uang itu hanya terkubur di sini. Karena itu dia ingin mendapatkan uang ini. --BAB 50 Perubahan yang terjadi tiba-tiba Selama setengah tahun ini, dia selalu mengalami perubahan-perubahan aneh. Apakah Tuhan telah menggantikan semua ini untuknya, karena ketidakadilan yang selalu menimpanya selama ini? Seseorang yang tiba-tiba mendapatkan keberuntungan terus menerus, terkadang-kadang malah bukan hal yang bagus! Tanah yang tadi telah digali ditutup kembali, tapi tidak bisa kembali seperti keadaan semula. Seperti perasaan seseorang, jika hatinya telah tersiksa walaupun datang perasaan untuk menggantikan perasaan sebelumnya, apakah bisa menutupi luka yang telah tertoreh? Sesudah keluar dari hutan itu, tiba-tiba Wan Tian-pin bertanya. "Apakah kau akan memberi tanda di sini agar di kemudian kau lebih mudah untuk mencari tempat ini dan mengambil uang perah itu?" Yi-feng tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia melihat ke sekeliling. Dua ekor kuda yang mereka tinggalkan di luar hutan tampak gemetar karena kedinginan. Mereka naik ke atas kuda dan kuda terus berlari keluar dari tempat itu. Kuda-kuda itu seperti manusia kalau berlari bisa mengusir rasa dingin. Semalaman Yi-feng tidak tidur, sekarang dia berada di atas kuda dan tertiup angin dingin, tapi dia sama sekali tidak merasa lelah. Ketika dia berada di Xun-yang dia baru merasa perutnya sangat lapar sekali, dia selalu bertemu dengan orang-orang yang tidak ingin ditemuinya! Sebenarnya dia juga merasa aneh mengapa Wan Tian-pin memaksanya pergi ke Xi-liang-shan? Apa yang telah terjadi di Xi-liang-shan? Sejak bertemu dengan Sun-ming dan putrinya di Hua-shan, apa yang terjadi sepertinya di luar kehendaknya. Terkadang hal yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak menguntungkan bagi-nya, sampai-sampai dia sendiri pun tidak tahu mana yang lebih penting. Dia berpikir sebentar kemudian melihat kedua mata Wan Tian-pin yang tajam seperti pisau, yang saat itu sedang melihatnya menunggu jawaban darinya. "Hei, dalam keadaan seperti ini mau tidak mau aku harus menuruti apa yang diinginkannya. Apalagi aku tidak tahu keadaan Tuan Jian, Sun-ming, dan putrinya. Adik Pin entah pergi ke mana karena marah kepadaku? Akar kekuasaan Tian-zheng-jiao sudah sangat kuat menancap di dunia persilatan. Bila aku ingin membalas dendam, tidak bisa dalam waktu sehari dua hari akan selesai." Yi-feng merasa banyak hal yang harus dia lakukan tapi dari mana dia harus memulainya, dia sendiri tidak tahu. Karena itu dengan tertawa terpaksa dia berkata. "Jika Tetua tetap memaksa, aku akan menuruti keinginan Tetua." Wan Tian-pin mulai tersenyum. "Anak muda harus begitu! Kau tenang saja, aku pasti memberi kebaikan padamu. Mungkin sesampainya di Xi-liang-shan, bila aku mengusirmu pun kau pasti akan menolaknya!" Kata-kata ini membuat Yi-feng seperti masuk ke kabut tebal lagi. Sepanjang perjalanan, dia terus berpikir mengapa Wan Tian-pin memaksanya pergi ke Xi-liangshan? Dia terus memikirkan jawabannya, tapi tetap tidak ada jawabannya. Hanya satu hal yang didapatkannya, Wan Tian-pin tidak berniat jahat kepadanya. Karena setiap kali bila dia bertanya, Tie-mian-gu-xing-ke akan menjawab sambil tersenyum. "Adik Xiao, kau tidak perlu banyak bertanya. Sesampainya di gunung itu, kau bisa tahu dengan sendirinya. Yang penting sekarang kita harus pergi ke Xi-liang-shan, dan ini tidak ada ruginya untukmu." Wan Tian-pin benar-benar menjaga rahasia ini dengan ketat. Dari kata-katanya sepanjang jalan, dia ingin membuat Xiao-wu palsu...Yi-feng sebuah kejutan. Yang membuat Yi-feng merasa kewalahan adalah sepanjang perjalanan Wan Tian-pin bertanya. "Adik Xiao, aku lihat ilmu silatmu sangat tinggi, tenaga dalammu juga kuat dan punya dasar yang kuat juga, siapakah gurumu dan dari mana perkumpulanmu?" Dia juga bertanya. "adik Xiao, aku lihat kecuali ilmu silat, kau pun menguasai ilmu sastra, keluargamu pasti keluarga pelajar bukan? Apakah ayah dan ibumu masih ada? Di mana kampung halamanmu?" Semua pertanyaan-pertanyaan ini dijawab secara tidak serius oleh Yi-feng. Diam-diam dia merasa beruntung karena sepertinya Xiao-wu sendiri pun belum pernah memberitahu semua ini kepada Wan Tian-pin. Ketika tiba di kota Xin Yang, Wan Tian-pin bertanya satu kali lagi. Sesampainya di kota He-fei, Ia menanyakan hal yang sama lagi. Yi-feng merasa beruntung karena daya ingatnya sangat kuat. Dia mengulangi lagi jawabannya dengan kata-kata yang sama. Yi-feng hanya merasa aneh mengapa Wan Tian-pin terus menanyakan keluarga dan identitas Xiao-wu? Wan Tian-pin tinggal di Wu-liang-shan selama 10 tahun, saat kekuatan Tian-zheng-jiao muncul dia sama sekali tidak tahu. Nama Xiao-wu pun tidak pernah dia dengar sebelumnya. Dia terus bertanya, pasti bukan tanpa sebab. Hanya saja apa alasannya Yi-feng tidak tahu. Wan Tian-pin dikurung di Wu-liang-shan oleh Yi-feng berkat akal cerdiknya. Walaupun ilmu silatnya tinggi, tapi dia tidak bisa keluar dari balik dinding yang tebal itu, dan di gua itu tidak ada jalan keluar lainnya. Awalnya dia berharap pintu gua bisa dibuka dari dalam, tapi setelah 3 hari, dia sadar kalau harapannya kosong. Rasa lapar dan lelah membuatnya lemah dan hampir mati. Dia tidak berani memasuki gua lebih dalam lagi, karena di sana masih ada mayat si Tangan Terampil Xu-bai. Satu harapan demi satu harapan sirna seiring waktu tapi pesilat aneh ini tidak rela mati begitu saja. Setelah dia minum darah Xu-bai yang mengandung obat mujarab, dia bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Dia duduk bersila di depan pintu gua sambil memukul dinding gua dengan telapak Jin-gang-zhang. Dia sadar kalau tenaga telapaknya sangat kuat. Tapi berniat membelah dinding gunung ini raasnya tidak mungkin malah dia merasa lebih haus, lapar, dan lelah. Dia sama sekali tidak menyangka kalau suara tangan yang memukul dinding gunung bisa terdengar oleh Xiao-wu, yang saat itu berniat mencari harta karun dan Xiao-wu mendengar kabar kalau di gunung ini tinggal Pencuri Selatan dan Perampok Utara, maka Xiao-wu yang mempunyai ilmu silat tinggi langsung mengetahui kalau di dalam gua itu telah terkurung Perampok Utara, Wan Tian-pin. Wan Tian-pin merasa sangat senang, Wan Tian-pin memberi tahu cara membuka pintu gua kepada Xiao-wu...karena sewaktu Yi-feng membuka tombol gua ini, dia sudah menghafalnya. Karena itu Wan Tian-pin sekali lagi mendapat mujizat, Tie-mian-gu-xing-ke hidup kembali. Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda yang terbiasa menempuh jarak jauh, maka dengan lancar mereka sampai di Xi-liang-shan di You Ji Kou. Jantung Yi-feng mulai berdebar-debar. "Jika tiba-tiba Xiao-wu yang asli muncul bagaimana, apa yang akan terjadi?" Tapi Tuhan telah mengatur semua ini dengan sangat sempurna. Jika mereka tinggal di You-ji-kou satu hari saja, mereka akan bertemu Xiao Nan-pin yang tertangkap dan diantar oleh Qi-hai-yu-zi untuk menemui Xiao-wu asli. Yang selalu teringat pada benda berharga milik Pencuri Selatan dan Perampok Utara. Mungkin jika mereka bertemu, waktu itu Yi-feng yang akan repot, tapi setelah itu tidak akan terjadi banyak masalah tapi hal ini memang tidak bisa terjadi begitu saja. Tapi siapa yang bisa menebaknya? --BAB 51 Perempuan berbaju hijau Bumi terlihat mulai terlihat gelap, karena hari mulai sore. Yi-feng menyimpan banyak pertanyaan, dia mengikuti Perampok Utara, Wan Tian-pin pergi ke Xi-liang-shan. Jalan di gunung sangat terjal, baru berjalan beberapa kilometer, hari mulai gelap dan cuaca bertambah dingin. Tiemian-gu-xing-ke yang berjalan di depan sering kali membalikkan kepalanya mengajak Yi-feng mengobrol. Mereka tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh. Tiba-tiba Wan Tian-pin membentak. "Ikuti aku, hati-hati!" Dia menghentakkan kakinya dan berlari ke sisi jalan. Yi-feng melihat, di sisi jalan ada hutan rimba. Karena hari gelap maka hutan itu terlihat gelap dan tanpa batas. Entah bermaksud apa Wan Tian-pin membawanya ke dalam hutan. Dia bertanya-tanya di dalam hati, di depan terlihat Tie-mian-gu-xing-ke menyalakan korek apinya. Cahaya yang ada sangat kecil tapi di hari yang begitu gelap, cahaya itu tampak seperti sangat terang. Yi-feng sedikit ragu, tapi Wan Tian-pin tampak melambaikan tangan memanggilnya. Dalam keadaan seperti itu, Yi-feng sadar dia tidak bisa mundur lagi, terpaksa dia ikut masuk ke dalam hutan. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang dilalui oleh Xiao Nan-pin pada hari ketiga, Tiemian-gu-xing-ke sangat hafal dengan jalan di sana, sepertinya dia sering datang kemari. Semua ini membuat Yi-feng merasa aneh, semakin masuk ke dalam hutan, hatinya semakin waspada. Dalam kegelapan dia melihat Wan Tian-pin membawa korek api, kemudian terdengar ranting yang terinjak, salju yang berderak, juga dedaunan yang jatuh berguguran. Suara ini membuat suasana malam yang begitu hening menambah sedikit kehidupan. Mereka berputar kesana dan kesini, akhirnya mereka sampai di bibir jurang. Hutan tidak terlihat ada cahaya, maka cahaya yang terpantul dari langit membuat api yang dibawa oleh Wan Tian-pin terlihat kecil. Di bawah jurang tampak gelap, tidak terlihat dasarnya. Di depan gunung terlihat ada bayangan rumah sepertinya itu adalah sebuah pondok. Yi-feng mulai merasa aneh...dia sudah lama berkelana di dunia persilatan, pengalaman-nya cukup banyak, tapi belum pernah dia melihat di tempat berbahaya seperti ini dibangun sebuah pondokan. Apa maksud Wan Tian-pin mengajak-nya kemari? Sesampainya di tempat itu, Wan Tian-pin masih belum mengatakan apa pun, jika tiba-tiba dia dibunuh di sini, bukankah Yi-feng yang rugi? Tiba-tiba Wan Tian-pin tertawa. "Adik, ini adalah tempat tujuan kita. Aku menghabiskan banyak waktu juga pikiran, baru bisa membangun tempat ini. Orang persilatan yang pernah kemari tidak lebih dari 5 orang." Dari balik kata-katanya, dia menganggap Yi-feng beruntung bisa datang kemari karena dia yang mengajaknya. Yi-feng tertawa dan berpikir, 'Ternyata rumah yang ada di dalam hutan rimba ini adalah rumah milik Wan Tian-pin.' Tapi dia berpikir lagi, Di tempat seperti ini membangun rumah tinggal, pasti untuk menyimpan benda-benda berharga yang telah dijarahnya seumur hidup, tapi...' Belum habis berpikir, Tie-mian-gu-xing-ke sudah bersiul panjang. Siulannya seperti teriakan burung bangau terus bergema hingga menembus awan, di dalam malam yang hening, suara itu dalam waktu lama masih terdengar jelas. Yi-feng terkejut mendengar siulan Wan Tian-pin yang dilakukan dengan tiba-tiba. Dengan bantuan cahaya korek api, dia melihat wajah Wan Tian-pin yang serius terlihat cemas kemudian kedua matanya dengan bersemangat melihat rumah yang ada di seberang jurang. Yi-feng adalah seorang yang sangat pintar. Dia segera berpikir, orang seperti Wan Tian-pin, jika membangun rumah ini untuk menyimpan benda berharga, dia tidak akan bersikap seperti ini kecuali kalau di sana ada benda yang bisa membuat Wan Tian-pin terlihat cemas seperti ini. "Apakah ada sesuatu di sana?" Mata Yi-feng terus melihat ke seberang jurang itu, sesudah bersiul di sekeliling tempat itu kembali sepi. Bayangan rumah dalam kegelapan, terlihat diam, tidak ada suara balasan apa pun dari sana. Wajah Tie-mian-gu-xing-ke tampak bertambah cemas lagi. Sepertinya dia bicara dengan suara kecil. "Ada apa ini?" Dia memungut sebuah batu kecil lalu melemparkannya ke seberang jurang. Jarak dari sisi jurang yang satu dengan sisi jurang yang lain sekitar puluhan meter, apalagi sekarang gelap jaraknya tampak lebih jauh lagi. Tapi batu yang dilempar itu seperti sebuah bintang jatuh melewati jurang dan terdengar suara BLETAK, batu itu bisa terlempar sampai di seberang. Tenaga pergelangan Wan Tian-pin ternyata sangat kuat membuat Yi-feng terkejut melihatnya. Wan Tian-pin yang berdiri di sisi Yi-feng, dia bersiul lagi, suara siulannya terdengar lebih tinggi lagi. Hatinya yang cemas bisa terasa dari suara siulannya. Tiba-tiba dari rumah di seberang jurang terlihat ada yang menyalakan lampu merah. Lampu bergoyang tertiup angin. Wajah Tie-mian-gu-xing-ke sekarang terlihat senang. Tangannya yang memegang korek api, membentuk lingkaran dengan miring kemudian dari arah berlawanan dia menggambar lingkaran. Tiba-tiba rumah yang ada di seberang jurang terdengar suara sorak kemudian lampu-lampu mulai dipasang semua. Rumah yang ada di seberang jurang sudah dipasang lampu. Dari sisi sebelah sini rumah itu benar-benar terlihat seperti tempat tinggi dewa dewi. Wan Tian-pin terkenal dingin dan kejam. Sekarang dia bisa terlihat sangat senang, sambil tertawa dia berkata. "Adik, harap sabar sebentar! Aku akan membuat sebuah kejutan lagi. Hhhh!...Selama 10 tahun ini, karena hal-hal seperti ini, aku telah membuat mereka melewati 10 tahun dengan kesepian. Tidak disangka mereka masih menungguku di sini..." Yi-feng tertawa. Setelah rumah yang ada di seberang jurang terlihat terang benderang, apalagi dengan lotengnya tampak lebih terang lagi. Empat sudut loteng itu dipasang 4 buah lampu. Seorang perempuan berbaju hijau tampak sedang menyandar ke pagar dan melayangkan tangannya. Hal ini membuat Yi-feng terkejut. Dalam keterkejutannya dia mulai menebak-nebak sedikit. Tiba-tiba Tie-mian-gu-xing-ke tertawa terbahak-bahak. Sambil tertawa dia menepuk pundak-nya. "Adik, lihatlah! Gadis yang ada di rumah sana adalah putriku. Aku, Tie-mian-gu-xing-ke selalu pergi kemana pun seorang diri. Orang dunia persilatan tidak akan ada yang menyangka kalau aku mempunyai seorang putri..." Kata-katanya baru selesai, dari rumah itu muncul seorang perempuan setengah baya, rambutnya disanggul, dia dipapah oleh seorang pelayan dan berdiri di sisi pagar. Dia melambaikan sapu tangan berwarna merah muda. Yi-feng baru mengerti mengapa Tie-mian-gu-xing-ke selama berkelana di dunia persilatan selalu seorang diri, tangannya berlumuran darah, tapi dia di tempat terpencil seperti ini, dia membangun sebuah rumah yang ditinggali oleh istri dan putrinya. Wan Tian-pin terus melambaikan tangannya. Tiba-tiba dari loteng seberang jurang terlihat seorang perempuan berbaju hijau, tangan kirinya memegang sebuah lampion dia terbang dan turun dari loteng. Gerakan badannya ringan dan indah. Dari jauh terlihat dia seperti seorang dewi yang baru turun dari langit. Wan Tian-pin berteriak. "Hong-er! Apakah kau tidak takut?" Sorot mata yang tajam terus menatap gadis yang ada di seberang jurang. Pesilat berwajah besi ini sekarang melihat putrinya, seperti ayah-ayah lainnya di dunia ini, matanya memancarkan perasaan yang dalam. Diam-diam Yi-feng menarik nafas. Selama dan sepanjang perjalanannya dengan Wan Tian-pin, baru sekarang dia melihat kalau Wan Tian-pin bisa memancarkan sedikit perasaan kemanusiaannya. Sebenarnya di dunia persilatan, siluman-siluman yang kejam, ketika mereka berada di tengah keluarga mereka, mereka pun seperti orang biasa, mempunyai perasaan seperti manusia biasa. Hanya saja perasaan manusiawi ini kecuali di depan keluarga mereka, untuk keadaan lainnya tidak mudah terlihat. Di bawah loteng tempat untuk berdiri hanya beberapa meter. Gadis berbaju hijau itu berdiri di tempat sempit itu. Angin malam yang dingin meniup bajunya yang berwarna hijau. Bajunya berkibar-kibar. Dia seperti terbang mengikuti hembusan angin ini. --BAB 52 Memasang kain berwarna menjemput tamu Yi-feng melihat ke seberang jurang, tiba-tiba dari loteng rumah itu diturunkan sehelai kain panjang. Dua orang pelayan perempuan memegang ujung kain. Kemudian secara bersama-sama mengibarkannya. Kain berwarna dan panjangnya mencapai puluhan meter itu tampak berkibar tertiup angin. Tahulah kalau kedua pelayan itu mempunyai ilmu silat yang lumayan tinggi. Tie-mian-gu-xing-ke kembali bersiul panjang. Tubuhnya bergerak seperti seekor bangau terbang, dia terbang menuju kain berwarna itu, kemudian dia mengeluarkan sedikit tangannya. Kain ditarik kembali, perampok besar yang terkenal di dunia persilatan ini mengikuti gerakan kain yang ditarik kembali, dia telah menyeberangi jurang. Dari jauh Yi-feng melihat gadis berbaju hijau itu memeluk ayahnya dengan erat. Perempuan setengah baya itu tampak berbisik kepada kedua pelayan tadi, kedua pelayan itu segera melambaikan tangannya, kain berwarna itu segera dilempar lagi. Kain bergerak seperti pelangi. Yi-feng tidak segera mengikuti gerakan kain yang terbang itu. Karena banyak hal yang tidak bisa diputuskan dengan sembarangan. Apalagi hal yang menyangkut hidup dan matinya. Yi-feng juga manusia, kalau dia menyerahkan nyawanya ke tangan kedua pelayan itu, bukankah dia bertindak sangat ceroboh? Dalam keraguannya, terdengar Tie-mian-gu-xing-ke berteriak dari seberang sana. "Adik, cepatlah kemari!" Dia memukul kain berwarna itu, kain tampak bergetar dan terbang lagi, seperti seekor naga sakti yang turun dari langit. Dengan bantuan cahaya lampu, kain itu tampak berkilauan, kain itu seperti bukan terbuat dari hasil tenunan. Suara Wan Tian-pin baru selesai, dari seberang jurang terdengar teriakan seorang perempuan. "Apakah aku yang harus ke sana untuk menjemputmu? Di sini...." Kata-katanya belum selesai, Yi-feng sudah tertawa, kemudian dia pun meloncat, bajunya yang besar belum diselipkan di pinggangnya dengan rapi, maka baju itu pun berkibar, dia seperti sedang menaiki angin. Saat tangannya memegang kain berwarna itu, tangannya terasa dingin, kain itu seperti terbuat dari bahan emas juga seperti dari besi. Kedua pelayan itu bersuara, keempat tangan mereka terangkat ke atas, kain berputar kembali, Yi-feng mengumpulkan nafasnya, tanpa menunggu kain ditarik kembali, tubuhnya yang panjang melesat terbang ke angkasa. Awalnya dia setengah membungkukkan tubuhnya, sekarang kedua tangannya direntangkan. Sekarang dia naik lagi setinggi 2.50 meter, dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, dia meluncur seperti sebuah anak panah ke arah loteng, seperti sebuah lukisan. Gadis berbaju hijau itu berteriak. "Ilmu silatmu hebat!" Tie-mian-gu-xing-ke juga tertawa panjang. Tiga orang itu dalam waktu bersamaan mendarat di loteng. Tangan kanan perempuan setengah baya itu masih memegangi pelayannya, dengan suara kecil dia berkata. "Tian-pin, mengapa baru sekarang kau pulang?" Suara yang mengandung rasa rindu dan bingung, tidak membutuhkan kata-kata lainnya untuk mengungkapkan perasaannya. Hanya beberapa kata ini telah membuat siapa pun yang mendengar termasuk Yi-feng ikut merasa sedih. Tampak Wajah Besi Wan Tian-pin agak berubah, dia melangkah ke depan, memegang tangan kanan perempuan setengah baya itu dan menatapnya, tapi Wan Tian-pin tidak mengatakan apapun. Ribuan bahkan puluhan ribu bahasa, terbias dari tatapan mata mereka! Perempuan setengah baya itu menyeka sudut matanya dengan lengan baju, dia berusaha tertawa dan berkata. "Tidak disangka, kau akan pulang kali ini, dan kau membawa seorang tamu. Hhhh! Selama 10 tahun kami hampir melupakan dunia ini kecuali kami yang tinggal di sini, masih ada orang lain." Diam-diam Yi-feng menghela nafas. Perempuan setengah baya dengan rambut digelung, terlihat wajahnya lesu, kedua matanya yang tadinya tampak bening, sudut matanya terlihat banyak kerutan, selama bertahun-tahun waktu terindah dalam hidup perempuan ini dilewati dengan rasa sepi. Wan Tian-pin menarik nafas dan berusaha tertawa. "Ini istriku, ini Xiao-wu, Adik Xiao, Hei...Hui Qi, hari ini kita bisa bertemu kembali, semua ini karena Adik Xiao, kalau tidak ada Adik Xiao, aku sudah mati." Istri Tie-mian-gu-xing-ke memberi hormat kepada Yi-feng, Yi-feng segera membalasnya, dalam hati dia berkata, 'Tidak disangka, siluman seperti Tie-mian-gu-xing-ke mempunyai istri dan anak seperti mereka. Kalau aku memberitahu keadaan ini kepada orang lain, mungkin tidak ada yang mempercayainya?' Dia melihat kedua pelayan tadi, dari jauh mereka terlihat seperti dua orang gadis belia, ternyata setelah dilihat dengan teliti ternyata di sudut mata terlihat sudah ada kerutan. Mungkin usia mereka sekitar 30 tahunan. Dari mata dan alis, terlihat kalau mereka hidup dengan kekhawatiran. Ternyata sewaktu gadis-gadis ini baru datang mereka sangat belia, sekarang 10 tahun telah berlalu, dandanan mereka tidak berubah, tapi hati mereka yang sedih telah membuat mereka bertambah tua. Siapa yang bisa merasakan perasaan seperti ini? Tangga yang panjang, mereka terus menuruninya, suami istri Tie-mian-gu-xing-ke senang menyambut tamu. Beberapa pelayan terlihat mulai tua, mereka memegangi lampu dan terus berjalan. Yi-feng berjalan di depan, gadis berbaju hijau itu tertawa kepadanya dan berkata. "Waktu aku dan ibu pertama mendengar siulan ayah, kami masih tidak percaya kalau ayah benar-benar sudah pulang! Pernah sekali waktu aku mendengar ada siulan, ternyata itu hanya burung hantu yang berteriak dari luar, aku mengira itu adalah suara ayah, suara ayah yang pulang!" Yi-feng merasakan tawa gadis ini mengandung kesedihan yang dalam. Dia berpikir lagi mengenai dirinya sendiri, apa maksud Tie-mian-gu-xing-ke membawanya ke sini? Dia mengeluh, mengapa hal ini bisa terjadi padanya? Wajahnya telah diubah dengan ketrampilan tangan Xiao Nan-pin, dan secara kebetulan bisa mirip dengan Xiao-wu. Di dunia ini memang banyak hal yang terjadi secara kebetulan, tapi bukankah kebetulan seperti ini sangat jarang? Kemudian pikirannya menyambung, memikirkan tangan yang telah ikut campur dalam perubahan nasibnya, yang telah membuatnya mengalami bermacam-macam kehidupan yang aneh. Siapa yang menyangka berkat ketrampilan tangan Xiao Nan-pin, akan menyebabkan terjadinya perubahan besar dalam dunia persilatan. Dia menarik nafas, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, kemudian terdengar suara lembut yan g berkata. "Hei, kau salah jalan!" Ternyata yang menegurnya adalah gadis berbaju hijau itu, dia tertawa kepada Yi-feng, sepasang matanya yang indah dengan tertawa menatapnya. Tie-mian-gu-xing-ke tertawa. "Adik Xiao, kau sudah jauh-jauh datang kemari. Hong-er, kau harus menjadi nona rumah yang baik!" Gadis itu mengulurkan tangannya dan tertawa. "Mari, ikut denganku!" Dia berputar, lalu membawa jalan, melihat sosok punggungnya, Yi-feng teringat pada seseorang. Dunia begitu luas, dimana sekarang dia berada? Tie-mian-gu-xing-ke benar-benar orang aneh, dia bisa membangun rumah yang sulit dicari oleh siapa pun. Dia pun mendekor rumah begitu mewah, tidak semua orang bisa memikirkan hal ini. Gadis berbaju hijau itu turun dari loteng, dia mendorong sebuah pintu, terlihat cahaya hijau memancar dari dalam kamar itu. Wan Tian-pin tersenyum dan memberitahu, Yi-feng masuk dengan perlahan. Perabotan kamar itu tidak terlalu banyak, ada sebuah dipan telah dialasi dengan sebuah tikar yang bahannya seperti terbuat dari bahan kumis naga, masih terlihat ada sebuah rak berkaki tinggi terbuat dari akar pohon yang usianya sudah ratusan tahun. Di atas rak ada sebuah tungku kecil yang digunakan untuk membakar kayu wangi. Kayu itu belum terbakar habis, asapnya yang wangi tampak membumbung naik ke atas langitlangit kamar. Tirai dan kain pembungkus lampu semuanya berwarna hijau. Ditambah dengan baju hijau yang dikenakan gadis ini, semuanya menjadi serba hijau. Bunga-bunga yang ditanam di dalam pot-pot ditempati di sudut-sudut ruangan. Menghiasi kamar yang tidak terlalu luas, seperti sebuah lukisan yang indah. Seorang pelayan dari dalam membawa sebuah baki yang terbuat dari keramik. Di atas baki terlihat ada 4 buah cangkir berisi teh harum dan masih panas. Dia meletakkan keempat cangkir itu di atas meja kecil yang ada di sebelah Yi-feng. Seorang pelayan berbicara dengan berbisik kepada perempuan setengah baya itu, terlihat perempuan itu tertawa. "Kau ini! Semakin lama semakin bodoh, tentu saja kau harus menyiapkan sayur dan arak, masa kau harus bertanya lagi padaku?" Wan Tian-pin tertawa terbahak-bahak. "San-San, kau telah tumbuh besar! Mengapa kau masih mengenakan baju yang modelnya sama seperti 10 tahun lalu? Hhhh... sudah sepuluh tahun! Tidak disangka, semua tidak berubah, hanya saja kalian, hhhh...hanya saja kalian sudah semakin tua." Si Wajah Besi biasanya selalu memperlihatkan wajah datarnya, sekarang tiba-tiba dia tertawa, bisa mengeluh, berarti perasaannya sedang bergejolak! Bunga-bunga yang tumbuh di dalam ruangan itu membuat suasana menjadi seperti musim semi. Orang-orang di sana tertawa dan terlihat sangat menawan, hidup dalam hutan terpencil walaupun tertutup kesedihan selama bertahun-tahun, sekarang tertutup oleh rasa suka ria karena telah bertemu dengan orang yang dirindukan. Yi-feng melihat Tie-mian-gu-xing-ke sama seperti orang biasa, punya perasaan, maka dia merasa dia mulai dekat dengan Wan Tian-pin. Tapi waktu teringat kembali saat dia berada di Wu-liang-shan, dia sangat sadis dan kejam, dia merasa takut lagi. "Kalau dia tahu kalau aku bukan orang yang menolongnya yang bernama Xiao-wu, apa yang akan terjadi?" Begitu dia mengangkat kepalanya, dia melihat sepasang mata Wan Tian-pin sedang menatapnya, gadis berbaju hijau itu pun dengan sepasang matanya yang bening seperti air melihatnya tanpa berkedip. Hati Yi-feng bergetar. Ruangan itu hangat seperti musim semi, timbul pikiran aneh, 'Apakah maksud Wan Tian-pin membawaku kemari. apakah semua ini untuk putrinya?' Dia tersenyum dengan terpaksa, Wan tian pin "Adik Xiao, berpuluh-puluh tahun orang persilatan memanggilku dengan sebutan Wajah Besi, tapi begitu bertemu Adik, aku merasa julukan 'Wajah Besi' ini lebih cocok untuk Adik." Diam-diam Yi-feng ingin tertawa, karena dia tahu semua perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya tidak terlihat dari wajahnya, karena tertutup rapat oleh topeng kulit manusia, sekalipun dia tertawa, tapi kalau dilihat dari luar, tetap bermuka datar, apalagi ekspresi wajahnya yang lain, lebih tidak terlihat lagi. Lihat di dunia ini, orang yang bertopeng ternyata bukan hanya Yi-feng. Topeng yang dipakai oleh orang-orang, kualitasnya berbeda dengan topeng Yi-feng... topeng yang mereka kenakan terbuat dari kepura-puraan, pengalaman, dan hal lainnya. Tapi topeng ini bersifat sama...untuk menipu orang-orang dan menutupi kebusukan-nya sendiri. Wajahmu, apakah kau pun memakai topeng yang seperti ini juga? Pikiran Yi-feng bercampur aduk dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dimengerti... Dia merasa ada secangkir teh panas disodorkan ke depannya, cangkir itu terbuat dari giok hijau, air teh seperti berwarna hijau muda, ditambah dengan dua tangan lembut yang menyuguhkan teh untuknya. Dengan bengong dia menatap pemandang-an indah ini, terdengar suara lembut berkata padanya. "Hei, minumlah teh ini! Namaku adalah Wan-hong, aku adalah putri dari ayahku..." Setelah mengatakan ini, gadis cantik itu tertawa. "Kau telah berbuat baik kepada ayahku, aku merasa sangat berterima kasih! Kelak kalau terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan membantumu!" Kedua matanya yang bercahaya tampak berkedip seperti bintang di malam musim kemarau, bola matanya seperti riak air sungai. Setelah menerima cangkir teh itu, Yi-feng tidak bisa bicara apa pun, dia hanya mendengar tawa Wan Tian-pin yang senang. Dia sadar, kali ini kedatangannya keXi-liang-shan sebenarnya karena dia hanya sekedar ingin tahu, tapi keingintahuannya ini malah membawanya mendapatkan kesulitan. --BAB 53 Jauh di langit, dekat di depan Sewaktu Yi-feng berada dalam ruangan serba hijau ini, dia meminum teh panas yang berwarna hijau juga. Saat itu adalah saat di mana Xiao Nan-pin sedang mendapat perlakuan yang belum pernah dialaminya di dalam gua. Yi-feng mana tahu apa yang terjadi pada Xiao Nan-pin. Seorang gadis yang sedang jatuh cinta, demi Yi-feng, dia rela kehilangan miliknya yang paling berharga dalam hidupnya! Malam itu Yi-feng menjadi orang yang sangat dihormati dan sangat dipentingkan. Suami istri Wan Tian-pin melayaninya sampai pagi, mereka terlihat sangat berhati-hati padanya. Setelah itu dia diatur tidur di sebuah kamar tidur yang dekorasinya pun serba hijau dan mewah. Akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk beristirahat. Tapi sewaktu dia tahu kalau kamar yang ditempatinya adalah kamar tidur putri Wan Tian-pin, pikirannya mulai terasa kacau lagi. Dalam hidup Yi-feng, telah terjadi perubahan-perubahan besar, semua terjadi karena perempuan... Sebelum dia mengenai Xue Ruo-bi (istrinya), dia hanya seorang laki-laki yang tidak tahu apaapa tentang cinta. Setelah dia bertemu dengan Xue Ruo-bi di sebuah jembatan kecil di Jian-nan, kehidupan-nya berubah, berubah dari yang biasa menjadi beraneka ragam. Kehidupannya menjadi beraneka ragam, tapi itu tidak bertahan lama, karena itu Yi-feng merasa kecewa, merasakan kekosongan yang menyedihkan. Dia juga mulai merasakan apa yang disebut siksaan perasaan, ternyata rasa ini lebih sakit dibandingkan dengan siksaan lainnya! Sewaktu seorang laki-laki melihat perempuan yang dicintainya sudah tidak pantas untuk dicintai lagi, dan ternyata perempuan itu pun tidak mencintainya lagi, kekecewaan ini lebih berat dibandingkan dengan putusnya harapan! Semua hal yang mereka dulu anggap indah, sekarang malah terasa buruk, semua janji sehidup semati hanyalah tipuan dan kepura-puraan. Kalau perubahan ini terjadi secara perlahan dan dialami dalam jangka waktu yang lama, mungkin perasaannya akan lebih baik. Tapi kalau terjadi secara tiba-tiba, rasa sakitnya akan membuat siapa pun tidak tahan menerimanya. Tapi Yi-feng bisa menerima perasaan seperti ini, yang pasti dia juga pernah memberikan kesedihan pada orang lain, tapi itu bukan kehendak hati nuraninya. Sekarang, melihat sorot mata Wan-hong, dia tahu kalau gadis ini telah jatuh cinta padanya. Dan perasaan ini bisa dikatakan sengaja dibuat oleh ayah gadis ini, karena keadaan seperti ini sangat kentara sekali. Yang paling celaka adalah dia sadar kalau dia bukan orang sebenarnya, dia sedang menyamar sebagai Xiao-wu. Sekarang dia mewakili perasaan orang lain. Seseorang yang siang dan malam ingin dibunuhnya untuk membalas dendam kesumatnya. Hal yang terjadi begitu rumit, dia menjadi bingung. Dia tidak tahu bagaimana membereskan masalah ini, dia hanya bisa menyandarkan kepalanya ke atas bantal berwarna hijau, dia masih merasa khawatir. Matahari semakin tinggi, hari sudah siang. Sekarang musim dingin tapi matahari muncul, sebenarnya saat seperti ini adalah saat yang menyenangkan, tapi hati Yi-feng sekarang ini sama sekali tidak merasa senang. Dia pun turun dari tempat tidurnya, mengenakan bajunya dan keluar dari kamar serba hijau dan serba wangi itu. Dia berjalan ke ruang tamu. Di ruang tamu tidak ada siapa pun, sisa-sisa barang kemarin sudah tidak terlihat ternyata sudah dibereskan oleh pelayan. Tirai sutra berwarna hijau terlihat sedikit bergerak, hari ini matahari memang muncul, tapi tetap ada angin. Yi-feng mengencangkan bajunya kemudian keluar dari ruang tamu. Dia menyandar ke pagar yang dicat merah, lalu melihat jurang yang terjal, sambil mengenang masa lalu, pikirannya mulai kacau lagi. Tiba-tiba di sisinya terdengar suara tawa perempuan, wangi yang tadi diciumnya di kamar, sekarang tercium lagi di sini. Wan-hong tersenyum lembut dan berkata. "Apakah semalam kau tidur nyenyak?" Yi-feng tertawa, dia menggerakkan tubuhnya hampir saja dia mengenai tubuh hangat itu. Sewaktu dia sedang menatap ke seberang... Ada sebuah pemandangan yang hampir membuat detak jantungnya berhenti, pemandangan itu muncul di depan matanya. Sekarang matahari bersinar dengan terang, maka apa yang terjadi di seberang jurang akan terlihat jelas. Seseorang berdiri di sisi jurang itu. Wajahnya terlihat pucat, rambut berantakan, di sudut matanya terlihat bekas air mata, wajahnya tampak sedih... Dia adalah Xiao Nan-pin yang sudah lama tidak dijumpainya. Setelah dicabuli, Xiao Nan-pin dibawa oleh Qi-hai-yu-zi Wei-ao-wu ke You-ji-kou, di sana dia hampir saja dicabuli lagi. Sewaktu dia berada dalam bahaya, dia diselamatkan oleh dewa penolongnya... Di Xi-liang-shan, di sebuah gua rahasia, dia mengalami sebuah kehangatan sementara. Tapi di sana pula dia kehilangan miliknya yang paling berharga dalam hidupnya, tapi dia pun sepertinya mendapatkan sesuatu. Sewaktu dia berada dalam keadaan sangat tidak tenang, dia melihat 'dia' yang telah mengubah kehidupannya telah pergi dari gua itu. Dengan susah payah Xiao Nan-pin baru berhasil menemukan 'dia', maka bagaimana keadaan hatinya sekarang, bisa dibayangkan. Terhalang oleh sebuah batu besar dan jurang yang dalam, mereka hanya bisa saling pandang, tanpa kata-kata dan tanpa bahasa, tapi dalam hati bagaimana perasaan mereka sulit dijelaskan... Yang pasti perasaan mereka tidak sama. Wan-hong melihat sikap orang yang ada di sisinya tampak berubah. Dalam hidup gadis ini, selalu dilalui di rumah di hutan terpencil ini. Sekarang dia telah menjual hatinya kepada pemuda yang sedang berdiri di sisinya. Karena pemuda ini, seorang pemuda luwes dan begitu ramah, walaupun tidak bisa melihat-nya tertawa, tapi dari kedua matanya yang bersinar terang, Wan-hong bisa melihat sebuah tawa ramah. Dia pendiam dan jarang tertawa, lelaki seperti ini biasanya adalah seorang lelaki penuh cinta. Dia berkhayal, dia tertawa dan dia berharap selamanya dia adalah pemuda yang paling baik dan tepat untuknya. Apalagi pemuda inilah yang telah menolong ayahnya. Sekarang, Wan-hong dengan sepasang matanya yang terang melihat 'dia' yang berdiri di sisinya, dia sedang melihat 'dia' yang berada di seberang jurang. "Siapakah perempuan itu? Mengapa sorot matanya terlihat aneh saat melihat 'dia'?" Walaupun hanya sekejap, tapi bagi mereka bertiga hal ini seperti berlangsung dalam waktu yang panjang. Xiao Nan-pin merasa dunia begitu luas, tapi tidak ada tempat baginya untuk singgah. Kakinya seperti melayang, dunia ini bukan miliknya, tapi dia pun bukan milik dunia ini. Bagaimana dengan Yi-feng? Dia merasa aneh, mengapa Xiao Nan-pin bisa datang kemari? Karena terlalu kaget, membuatnya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Wan-hong yang masih berada di sisinya bertanya. "Siapakah dia?" Xiao Nan-pin yang berada di seberang jurang seperti tidak bisa berdiri dengan seimbang, dia hampir terjatuh ke bawah jurang. Yi-feng berteriak, kedua tangannya memegang pagar, jari tangannya melesak masuk ke dalam kayu pagar. Secara refleks kedua tangan Xiao Nan-pin mencengkram dinding jurang, tapi tidak ada sesuatu yang bisa diraihnya. Hanya dalam waktu singkat dia telah terjatuh sedalam puluhan meter, jurang sangat dalam, seperti akan menelannya. Yi-feng tidak bisa berpikir panjang, matanya melihat kain panjang yang masih terlilit di sudut loteng, semalam kain itu digunakan untuk menyambut kedatangan tamu. Dengan cepat dia menyabet ujung kain yang masih terlilit itu, kemudian ujung yang lain dia serahkan pada Wan-hong, lalu dia berlari keluar dari loteng. Perubahan yang terjadi sangat cepat. Wan-hong dengan bingung menerima kain berwarna itu, belum sempat dia bertanya, Yi-feng bergerak seperti seekor burung walet, lalu terbang keluar. Jarak kedua sisi jurang paling sedikit sekitar 18-20 meter, Yi-feng meloncat ke seberang jurang. Masih tersisa 7 meter lagi baru bisa sampai ke seberang. Yi-feng sudah melupakan hidup dan matinya... Sewaktu perasaan manusia sedang bergejolak, bukankah sering melakukan tindakan seperti ini? Dia mengumpulkan tenaganya, kedua kakinya bergoyang, sekali lagi dia terbang, sekarang dia berada di tengah udara, tidak ada tempat baginya untuk menendang, walaupun dia bisa maju, tapi tidak bisa dilakukan dengan maksimal! Dia melihat ke seberang jurang, hanya tingal 3-4 meter lagi, baru bisa mencapai bibir jurang. Justru dalam keadaan seperti ini jarak malah terasa sangat jauh. Kadang-kadang puluhan kilometer terasa lebih dekat dibandingkan dengan jarak beberapa meter. Kadang hanya beberapa meter tapi terasa jauh seperti di ujung langit. Bukankah hubungan manusia pun berjarak seperti ini? Sejak kecil Yui Feng telah belajar ilmu silat, selama 10 tahun dia belajar dengan tekun, sekarang semua ilmu dia kerahkan, tapi tetap tidak berdaya mencapai apa yang dia inginkan. Sewaktu dia sedang mengumpulkan nafasnya untuk melaju lagi, tubuhnya seperti bintang jatuh, terus terjun ke dalam jurang. Awan hitam menutupi cahaya terang, bumi menjadi gelap dan dingin. --BAB 54 Cinta kokoh Wan-hong yang berdiri di sisi pagar melihat keadaan seperti itu, dia berteriak, tangannya mencengkram ujung kain berwarna itu, dalam hati dia terus berpikir, 'Siapakah perempuan itu? Mengapa dia begitu mati-matian berusaha menolong perempuan itu?' Kedua tangannya terasa ringan, ujung kain itu sudah tidak berat berarti sudah tidak ada orang yang memegang ujung kain satunya lagi. Tubuh Yi-feng sudah meluncur masuk ke dalam jurang yang tidak berdasar. Gadis yang pertama kali jatuh cinta ini merasa kepalanya pusing. Tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu, dia tidak bisa berteriak. Setelah dia berhasil menenangkan dirinya, dia baru melihat ke bawah, dia seperti melihat ada bayangan seseorang, bayangan itu bergerak pelan bergeser ke bawah. Hanya saja karena cahaya matahari tertutup awan, maka bayangan orang yang sudah berada di bawah dengan jarak 30-40 meter itu tidak terlihat. Dia berusaha untuk melihat, tapi tidak bisa menebak siapa pemilik bayangan itu. Suara ribut-ribut itu mengejutkan Wan Tian-pin, dia segera berlari ke loteng dan membentak. "Apa yang telah terjadi?" Wan-hong masuk ke dalam pelukan ayahnya, sambil menangis, dia menceritakan apa yang telah terjadi. Wan Tian-pin terkejut, tapi dia berusaha untuk tetap menghibur putrinya. "Tidak apa-apa. Dia sudah jatuh, dengan ilmu silat yang dimilikinya, dia tidak akan mati... nanti ayah akan coba-coba turun untuk mencarinya, kau sudah besar, jangan menangis lagi!" Dia mengelus rambut putrinya, tapi dalam hati dia merasa tidak yakin dengan perkataannya sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa pada Yi-feng itu tidak mungkin, siapa pun yang jatuh ke dalam jurang, sekalipun dia mempunyai ilmu silat tinggi, tetap akan sangat membahayakan, tadi hanya bahasa untuk menghibur putrinya. Bagaimana nasib Yi-feng dan Xiao Nan-pin sekarang? Tapi tenaganya telah berkurang, dia terjatuh ke dalam jurang, dan sekarang tali kain telah berada di ujung. Walaupun keadaan sangat berbahaya, dia masih bisa menenangkan diri, waktu tidak mengijinkannya untuk bertanya-tanya, biasanya manusia secara refleks bisa menentukan semuanya. Ujung kain sebelah sana sudah tidak ada yang memegang, maka dia pun mengembalikan kain itu ke tempat semula. Jarak antara Yi-feng dengan seberang jurang semakin jauh. Dia berpikir sebentar, kemudian kedua kakinya menendang lagi. Dia maju ke depan, gerakannya seperti anak kecil yang sedang bermain ayun-ayunan, dalam keadaan hidup dan mati ini, bahaya yang terjadi sulit untuk diucapkan. Dinding jurang memang tidak ditumbuhi rumput atau pun akar pohon, tapi dinding jurang itu l>erlekuk-lekuk, celah gunung masih terlihat... Dalam keadaan bingung Xiao Nan-pin, dia tidak bisa menggapai sesuatu. Yi-feng berada dalam bahaya, dia merasa takut, tapi dia berusaha untuk menenangkan diri. Di dalam hatinya ada satu keyakinan, yaitu dia harus mencari Xiao Nan-pin, walaupun Xiao Nan-pin telah menjadi mayat. Saat seperti sekarang ini semua perasaan manusia akan muncul. Orang-orang seperti Yi-feng terkadang akan mempertaruhkan nyawanya. Dengan sepasang tangan yang kuat seperti besi, dia berusaha merayap di dinding jurang dan perlahan-lahan mulai turun. Jurang sangat dalam, dia sendiri tidak tahu apakah dia mampu turun sampai ke bawah. Jika dia tidak berhat-hati dia akan terjatuh, dan nyawanya akan melayang. Tiba-tiba terdengar suara rintihan. Dia bertambah semangat. Yang perlu diketahui, di tempat seperti ini tidak akan ada manusia, maka dapat dipastikan itu adalah suara Xiao Nan-pin. Suara rintihan ini memberitahu kalau Xiao Nan-pin masih hidup. Karena terlalu merasa senang cengkraman tangannya kurang kuat, sebuah batu bergulir melewati tubuhnya, tidak terdengar suara batu yang terjatuh itu sampai di dasar jurang. Yi-feng merasa punggungnya menjadi dingin, tanpa terasa dia telah berkeringat dingin, segera dia memfokuskan perhatiannya tidak berani berbuat ceroboh. Kira-kira setelah turun 10 meter lebih, suara rintihan itu semakin terdengar jelas. Yi-feng merasa aneh, jurang ini sangat terjal, di tengah-tengah jurang tidak ada tempat untuk berpijak, Xiao Nan-pin terjatuh seperti bintang jatuh, mengapa bisa tersangkut di tengah-tengah jurang? Kelima jarinya membentuk seperti kait dan mencengkram dengan kuat ke celah-celah batu, kemudian dia pun melihat ke bawah, ternyata tidak jauh dari kakinya ada sebuah batu besar di sana. Di atas ditumbuhi dengan rerumputan berduri. Suara rintihan Xiao Nan-pin terdengar dari rerumputan itu. Dia turun lagi beberapa meter, tiba-tiba dia berseru tertahan. Ternyata di balik rerumputan tinggi itu ada sesuatu. Sepasang tangan berlumuran darah mencengkram rumput berduri itu dengan erat. Yi-feng melihat itu untuk pertama kalinya. Dia melihat wajah Xiao Nan-pin yang cantik penuh dengan darah. Darah memenuhi wajahnya, membuat warna wajahnya yang asli sampai tidak terlihat. Yi-feng menjadi lemas, hampir dia terjatuh lagi. Mata Yi-feng menjadi buram, apakah itu karena embun atau air mata? Dia sendiri pun tidak tahu apa yang menyebabkannya. Dia berusaha menenangkan diri dan melihat ke sekeliling sambil berkata. "Ini aku, Nan Pin. Jangan takut!" Yi-feng melihat mata Xiao Nan-pin terbuka dan melihat kepadanya langsung. Dengan suara terpatah-patah gadis itu berkata. "Nan... Kakak... perempuan... perempuan tadi... itu siapa?" Perasaan Yi-feng mengalir sudah seperti air sungai atau gelombang laut yang menerpanya. Dia melupakan segalanya. Yang dia rasakan sekarang hanyalah cinta Xiao Nan-pin yang dalam kepadanya. Karena itu dia tertawa. "Nan Pin! Jangan bodoh, dia adalah putri temanku!" Dia berusaha menghibur, terlihat sedikit tawa di wajah Xiao Nan-pin, dia terlihat seperti sekuntum bunga mawar begitu indah dan harum. Xiao Nan-pin memejamkan matanya dan berkata. "Kalau begitu... aku... aku merasa... lebih tenang... aku kira... kau suka kepadanya." Kebingungan Yi-feng bertambah lagi. Hampir saja dia meloncat ke bawah untuk memeluk dan menenangkan perempuan ini. Walaupun tempat itu penuh dengan rerumputan berduri, asalkan ada perasaan tulus, rumput itu bukan menjadi penghalang. Sejak dulu sampai sekarang ini, benda apa yang lebih mahal dibandingkan dengan perasaan yang begitu tulus? Yi-feng memotong kata-katanya. Demi rasa cinta yang tulus, dia harus lebih menyayangi nyawanya sendiri dan nyawa Xiao Nan-pin tentu saja! Sekarang adalah penghujung musim dingin. Musim semi akan segera tiba, dia ingin bersama dengan Xiao Nan-pin menikmati musim semi yang cerah, dan menikmati kehidupan dan perasaan yang tulus ini. Karena itu dia memberi semangat. "Adik Pin, semangatlah! Jangan berpikir macam-macam, aku akan menarikmu keluar dari sana!" Yi-feng merasa air matanya mengalir keluar. Air mata bening mengalir mengikuti garis wajahnya, setetes demi setets, membasahi bajunya. Ada laki-laki di mana air matanya tidak bisa mengalir, dikarenakan belum mencapai tahap yang sangat menyedihkan. Tapi sekarang ini Yi-feng bukan merasa sedih melainkan karena terharu dengan perasaan yang tulus. Orang yang meneteskan air mata belum tentu dia merasa sedih. Yi-feng berhasil menemukan sebuah celah, dia memasukkan tangannya ke dalam celah itu. Selama puluhan tahun dia berlatih ilmu silat dan belum pernah berhenti sama sekali, walaupun tangannya mencengkram kuat seperti besi, tapi dia merasa sakit hingga menusuk tulang. Hanya saja rasa sakitnya ini tidak sama seperti sakitnya perasaan hati, perasaan sedih dengan bercampur senang. Pelan-pelan dia membungkukkan tubuhnya, sebelah tangannya mencengkram dinding, sedangkan tangan yang lainnya terjulur ke rerumputan. Dia terpaksa menjenggut rambut Xiao Nan-pin dan mengangkatnya ke atas. Xiao Nan-pin merasa kesakitan dan dia merintih lagi, dia berkata. "Kakak Nan, tenanglah, asalkan kau sudah kemari, aku tidak akan merasa takut. Aku... aku sepertinya aku tidak sampai terluka parah." Gadis yang setia pada cinta ini sekarang mempunyai semangat ingin hidup kembali, juga bersemangat untuk melawan kematian. Maka perkataannya tidak terpatah-patah lagi. Yi-feng merasa Xiao Nan-pin sangat ringan. Dia tersenyum untuk menghibur, karena dia tahu ilmu meringankan tubuh Xiao Nan-pin belum hilang. Darah yang memenuhi wajah dan tangan Xiao Nan-pin hanya luka luar. Mereka bersemangat untuk merangkak naik ke atas. Yi-feng melihat ke atas, jarak ke atas jurang tinggal 30 meter lagi, dia percaya dengan kemampuan ilmu silatnya dan Xiao Nan-pin, walaupun masih jauh, dia yakin mereka sanggup naik ke atas. Awan hitam menutupi cahaya matahari sekarang hilang entah ke mana. Sekarang Yi-feng merasa dunia ini penuh dengan kehidupan, setiap bergerak satu meter, dia merasa bahagia. Kadang-kadang kita menganggap kalau kebahagiaan sudah sangat dekat, padahal sebenarnya masih sangat jauh, jauh hingga tidak terbayangkan! Yi-feng tahu kalau perjalanan mereka ke atas jurang adalah perjalanan yang sangat sulit. Dia melihat Xiao Nan-pin, keadaannya benar-benar membuat Yi-feng sedih. Wajah, tangan, dan badannya penuh dengan darah, rambutnya berantakan dan bajunyarobek di sana sini. Tapi perempuan yang dipenuhi dengan rasa cinta ini, merasa sangat bahagia. Kebahagiaan ini membuat siksaan batinnya berkurang. "Ternyata semalam 'dia' adalah Kakak Nan," Hatinya merasa bahagia dan hangat, tidak ada bahasa yang bisa mengungkapkannya. Sekarang dia tahu bahwa Kakan Nan juga menyayanginya. Jika tidak mempunyai perasaan seperti itu, untuk apa dia berusaha menolongnya sampai harus menempuh bahaya? Karena itu Xiao Nan-pin tertawa, pelan-pelan dia berkata. "Kakak Nan, apakah kau merasa lelah? Apakah harus kupapah?" Yi-feng tertawa dan menggelengkan kepalanya. Pelan-pelan dia meraih pinggang Xiao Nan-pin karena Yi-feng tahu yang membutuhkan bantuan sekaran ini bukan dirinya, melainkan Xiao Nanpin. Selama ini, ilmu silat 'cecak' yang belum pernah dilatih sekarang dia bersemangat tinggi menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk merayap...semua ini dipastikan karena dia mempunyai dasar ilmu silat tinggi. Perjalanan merangkak memang sulit, tapi kemana pun itu, pasti itulah tujuannya. Ketika Yi-feng mengangkat Xiao Nan-pin ke atas jurang dia menyusul meloncat ke atas. Dia menganggap sekarang ini dia adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Dia terbaring telentang untuk mengambil juga mengatur nafasnya, setelah itu baru membuka mata. Xiao Nan-pin masih diam berbaring di sisinya. Awan putih masih menggantung di atas, sinar matahari masih bersinar, Xiao Nan-pin sadar kalau semua ini bukan sekedar mimpi, maka perasaan bahagia memenuhi hatinya. Yi-feng membalikkan tubuhnya, sorot matanya yang lembut melihat Xiao Nan-pin. Dia mengenakan baju berwarna ungu muda, sekarang telah berubah warna menjadi hitam keabuan. Baju bagian dadanya sobek, terlihat baju dalamnya. Dadanya yang terlihat montok, terlihat berdetak kencang, darah lengket melekat di bajunya dan sekarang disinari matahari, maka terlihat sangat menyilaukan. Karena itu Yi-feng segera mengalihkan perhatiannya ke wajah Xiao Nan-pin. Wajahnya yang cantik dipenuhi dengan luka! Kulitnya yang mulus tergores, sehingga terlihat luka berwama merah. Darah mulai mengering, ada juga yang masih melekat di lukanya. Luka agak dalam ini masih meneteskan darah. Wajah yang tadinya terlihat sangat cantik sekarang terlihat sangat jelek! Yi-feng tidak tega melihatnya, dia berjongkok disisi Xiao Nan-pin. Matanya terlihat kebingungan. Xiao Nan-pin pelan-pelan membuka matanya, dia melihat kekasihnya saat ini terus memandang wajahnya. Karena itu gadis yang sangat setia pada cinta ini tertawa. Tawa membuat kulit wajah tertarik dan sakitnya jadi bertambah. Tapi baginya ini adalah hal biasa! Xiao Nan-pin menjulurkan tangannya. Tangan yang putih terluka, ada sebagian karena luka terlalu dalam sampai terlihat tulang putihnya. Dia dengan lembut memegang telapak Yi-feng walaupun keadaan tangannya sedang terluka. --BAB 55 Budi dan dendam sulit dibedakan "Istirahatlah dulu! Lihat kau sudah tampak sangat lelah...." Katanya sambil menarik nafas. Hatinya merasa bahagia, dia berkata lagi. "Tadi pagi ketika aku terbangun, aku tidak melihatmu di sisiku, apakah kau tahu aku merasa sangat sedih karenanya, aku...." Dengan malu-malu dia tertawa manja. "Aku mengira yang semalam itu bukan dirimu, melainkan Xiao-wu yang kurang ajar itu. Kakak Nan, lebih baik kau buka topengmu. Biarkan aku melihat wajah aslimu. Aku tidak suka dengan topengmu, selalu membuatku merasa khawatir." Kata-kata lembut ini diungkapkan oleh seorang gadis yang sedang berada dalam keadaan lemah. Tapi bagi Yi-feng kata-kata ini seperti petir di siang bolong, membuat siapa pun yang mendengarnya akan terkejut! Pikirannya mulai kacau lagi! Xiao Nan-pin tidak tahu apa-apa, dia mulai berkhayal mengenai masa depannya yang bahagia. Dia tertawa lembut dan berkata. "Semalam jika kau tidak datang menolongku, aku... aku tidak tahu harus bagaimana lagi." Dengan malu-malu dia tertawa. "Begitu kau datang, aku... aku benar-benar tidak menyangka kau begitu... jahat! Kakak Nan, jangan tinggalkan aku lagi. Aku... aku sudah menjadi milikmu." Dengan pikiran kacau, Yi-feng berusaha menyusun apa yang dialaminya semalam. Tapi dia sadar ini adalah hal sebenarnya. Karena bagi gadis yang sedang jatuh cinta ini, mengatakan hal sebenarnya adalah hal yang sangat kejam. Yi-feng berlutut, dia berlutut di depan gadis ini. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Xiao Nan-pin dengan pelan memutar tubuhnya dan berkata manja. "Kau ini, aku menyuruhmu membuka topeng, kau tidak mau menurut. Cepat buka topengmu!" Yi-feng melihat wajah Xiao Nan-pin yang penuh dengan luka, dalam hati dia mengeluh. Dengan sikap bingung dia membuka topeng dari wajah orang yang telah membuat banyak orang benci kepadanya. Wajah sedih kembali terlihat. Sekarang Yi-feng mempunyai perasaan yang tidak bisa diungkapkan, apakah itu adalah perasaan sedih, kasihan, atau marah? Tapi walau bagaimanapun dia tidak tega memberitahu kepada Xiao Nan-pin kalau 'dia' yang semalam bukan dirinya. Dia tidak tega membuat gadis yang baru jatuh cinta ini terpuruk. Air matanya yang semalam saja belum kering, sekarang bila di-tambah dengan luka baru, keadaanya sangat dikasihani. Apalagi menurut pengalamannya selama ini berkelana di dunia persilatan, dia tahu luka Xiao Nan-pin walaupun bisa sembuh tapi tidak akan mengembalikan wajahnya seperti semula. Kalau seorang gadis cantik tahu, wajah cantiknya akan hilang, hal ini akan membuatnya merasa menyesal seumur hidup. Untuk apa Yi-feng harus menambah beban kesedihan gadis ini? Saat dia mengambil keputusan membuka topeng ini, saat itu juga dia telah mengambil keputusan, biar dia yang menanggung semua ini. Dia tidak akan membiarkan gadis ini terhina lagi. Dia menganggap keputusan yang diambilnya ini adalah keputusan benar dan tidak ada pilihan lain. Dia memang merasa sedih tapi karena cinta tulus gadis ini kepadanya bisa menutupi semua ksedihan ini. Karena itu dengan mata yang mulai tergenang air mata, dia berusaha tertawa kepada Xiao Nan-pin. "Nan Pin, jangan banyak berpikir lagi. Semalam jika itu bukan aku, memang siapa?" Yi-feng melihat wajah Xiao Nan-pin tertawa seperti sekuntum bunga. Tawa membuat wajahnya yang tampak jelek dan penuh dengan luka terlihat menjadi cantik. Karena itu Yi-feng berkata lagi. "Istirahatlah dulu di sini, pejamkan matamu. Aku akan membawamu ke atas. Hhhh... tadi pagi... tadi pagi, aku tidak tahu kalau kau pun bangun pagi, maka aku memutuskan kemari mencari teman, tidak disangka malah terjadi hal ini...." Dia menahan kesedihan yang dalam, mengakui dosa yang tidak dia lakukan. Karena sekarang begitu melihat Xiao Nan-pin tertawa, dia bisa ikut tertawa. Demi orang yang paling dibencinya, dia harus menanggung semua kesalahannya, ini benarbenar menyalatkan! Jika kau pikirkan hal ini pelan-pelan, kau akan sadar kalau pengorbanan Yi-feng sangat besar dan keberaniannya pantas diacungi jempol tapi... Tiba-tiba di belakang mereka terdengar ada yang tertawa dingin dan seram. Yi-feng melihat ke sekeliling, ternyata 'Tie-mian' dengan wajah tanpa ekspresinya melihatnya dengan sorot mata dingin. Ketika kedua mata mereka saling beradu, mulut Tie-mian-gu-xing-ke mengeluarkan tawa dingin. "Ternyata kau, tidak disangka seumur hidup aku berkelana di dunia persilatan bisa juga tertipu olehmu." Tangan kanan Yi-feng memegang topeng, dia bersiap siaga. Xiao Nan-pin membuka matanya melihat wajah Wan Tian-pin yang dingin. Dia terkejut. Walaupun dia tidak mengenal Wan Tian-pin, tapi melihat keadaan ini, dia tahu kalau orang ini bermusuhan dengan Yi-feng maka dia pun berusaha bangun dan duduk. Yi-feng sudah berdiri, dia tahu Wan Tian-pin sudah mengenalnya. Hal ini akan sangat merepotkan tapi dia tetap berusaha menghibur Xiao Nan-pin. "Nan Pin, tidak apa-apa! Kau istirahat saja...." Kata-katanya belum selesai, Wan Tian-pin tertawa dingin. "Aku merasa aneh, apakah hatimu tertutup oleh minyak babi hingga kau menolongku keluar dari gua itu?" Yi-feng mundur selangkah, dia melindungi Xiao Nan-pin tapi matanya terus melihat sepasang tangan Wan Tian-pin, kemudian melihat ke atas sambil tertawa. Tawa Yi-feng membuat wajah Wan Tian-pin berubah. Setelah tertawa Yi-feng kembali seperti semula. Sepertinya tawa panjang tadi sama sekali tidak berarti apa-apa. Mata Wan Tian-pin mulai bergerak, Yi-feng mulai bersiap-siap. Waktu itu di sisi jurang terdengar teriakan suara perempuan. Dia adalah gadis berbaju hijau. Dia berlari ke arah mereka. Sosok hijau ini, saat kalanya menapak ke bawah, dia segera meluncur ke sisi ayahnya seperti takut kalau ayahnya akan menyerang Yi-feng. Tapi begitu melihat wajah Yi-feng, dia berteriak, dia menunjuk Yi-feng sambil bertanya dengan nada terkejut. "Kau... kau... apa yang terjadi?" Yi-feng melambaikan topeng kulit itu dan berkata. "Tetua Wan, apa yang telah terjadi, Anda pasti sudah tahu. Sebenarnya antara aku dan Tetua tidak ada dendam ataupun budi, kemarin... dan juga pagi ini, aku telah merepotkan Tetua. Tapi aku janji, kelak aku pasti akan membalas budi Tetua. Tentang mengapa aku memakai topeng, ini karena terpaksa. Tetua adalah orang pintar, tidak perlu kujelaskan lagi apa alasannya, tapi aku tetap harus menjelaskannya. Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkan Tetua...." Tie-mian-gu-xing-ke tertawa, sepasang matanya seperti elang terus melihat Yi-feng. Dia ingin melihat rahasia apa yang tersimpan di dalam hati pemuda ini. Sampai sekarang dia belum tahu kalau pemuda yang berdiri di depannya sekarang ini, bukan orang yang telah menolongnya dari Wu-liang-shan...ini benar-benar tidak terbayangkan. dia masih merasa aneh. Tapi wajahnya terlihat dingin dan seram. "Seumur hidupku, dendam dan budi selalu kuputuskan tanpa keraguan. Tapi antara kita, budi dan dendam telah bercampur menjadi satu. Jika kau tidak menolongku, aku pasti masih terkubur di Wu-liang-shan, di gua rahasia itu. Tapi aku terkurung di sana pun karena kau, bocah tengik!" Wan-hong membuka matanya yang besar. Dia hanya bengong di sisi ayahnya. Sesudah mendengar kata-kata ayahnya, dia semakin tidak mengerti. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi di antara mereka. Yi-feng tersenyum. Dia ingin bicara lagi tapi Wan Tian-pin sudah berkata. "Ada budi, ada balas budi, ada dendam, ada balas dendam, ini adalah sifatku, aku membalas dendam, tidak bisa membalas budi. Apakah semua itu adalah balas budimu?" Diam-diam Yi-feng memuji Tie-mian-gu-xing-ke walaupun seumur hidup, jalan hidupnya tidak benar tapi mengenai budi dan dendam, dia tetap bersikap seperti seorang laki-laki sejati. Yang harus diketahui orang persilatan mengukur seseorang tidak sama dengan orang biasa, apalagi mengenai 'budi' dan 'dendam', hal ini sangat diperhatikan oleh orang dunia persilatan. Maka Tie-mian-gu-xing-ke benar-benar terganggu karena hal ini. Dengan dingin Yi-feng melihatnya. Dalam hati dia terus berpikir, 'Apakah aku harus mengaku kalau yang menolongnya keluar dari gua itu bukan aku, melainkan orang lain?' Angin berhembus. Xiao Nan-pin mendekati Yi-feng. Yi-feng sadar jika dia menjelaskan semua ini, Wan Tian-pin pasti akan segera menyerang-nya dan dia sadar kalau dia tidak akan bisa mengalahkan Wan Tian-pin. Dia akan mati dan Xiao Nanpin akan terpukul karenanya. Dia adalah seorang laki-laki sejati, mana boleh berpura-pura menjadi orang lain untuk memperoleh keuntungan? Apalagi orang yang mirip dengannya itu adalah orang yang telah menghinanya. Karena itu diam-diam dia menarik nafas sambil memegang tangan Xiao Nan-pin. "Wan Tian-pin, aku akan jujur kepadamu, yang menolongmu dari gua rahasia itu bukan aku. Di antara kau dan aku tadinya tidak ada dendam atau pun budi, tapi sekarang ada dendam tidak ada budi. Jika kau mau membalas dendam pada-ku, silakan saja, tidak perlu...." Kata-katanya belum selesai, terpotong oleh tawa panjang Wan Tian-pin. "Benar-benar jantan! Sangat jantan!" Wan Tian-pin tertawa. "Jika kau menganggap aku mudah ditipu, kau salah besar. Apakah aku akan percaya pada katakata bohongmu itu?" Suaranya baru berhenti, Wan-hong yang bersandar ke tubuh ayahnya, pelan-pelan berkata. "Ayah, kau tidak bisa membalas dendam juga tidak bisa membalas budi, jika begitu keduaduanya tidak perlu dibahas lagi. Bukankah hal itu sangat bagus?" Wan Tian-pin melihat putrinya, dia menarik nafas panjang. Wan Tian-pin tahu putrinya telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Sebenarnya ini adalah harapannya, bisa dikatakan kalau semua ini dia yang merencanakannya. Sekarang dia sendiri yang kebingungan. Dia terus berpikir, tiba-tiba dia melambaikan tangan mencegah Yi-feng yang akan bicara. Dengan dingin dia berkata. 'Tidak perlu banyak omong lagi, aku sudah mengambil keputusan...." Pelan-pelan dia mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu berkata. "Seumur hidup, dendam dan budi sangat jelas, aku tidak akan menggunakan cara air susu dibalas dengan air tuba, tapi aku juga tidak bisa membiarkan dendam begitu saja. Maka aku akan memberikan 2 pilihan kepadamu, kau boleh pilih salah satu." Dengan sombong Yi-feng tertawa. "Jika aku tidak mau memilih kedua-duanya, bagaimana?" Wan Tian-pin sama sekali tidak mendengar perkataan Yi-feng, dia terus berbicara. "Pertama, aku melihat kau adalah seorang laki-laki sejati, jika kau mau menjadi muridku, semua dendam dan budi kuanggap selesai sampai disini. Menjadi muridku kau bisa belajar ilmu silat dariku...buku Tian-xing-mi-ji bisa kita pelajari bersama-sama." Wan-hong diam-diam merasa berterima kasih kepada ayahnya karena dia tahu kalau ayahnya melakukan semua ini demi dirinya. Dia melihat Yi-feng, berharap sekali ini Yi-feng akan menjawab 'baiklah'. Tapi Yi-feng hanya tertawa dingin, tanpa banyak berpikir dia sudah berkata. "Apa pilihan keduanya?" Luka telapak Xiao Nan-pin sangat berat, tapi dia dengan lembut memegang tangan Yi-feng. Dalam hati dia memuji sikap Yi-feng. Raut wajah Tie-mian-gu-xing-ke berubah. "Pilihan kedua adalah... dulu untuk membangun rumah rahasia ini, aku bolak balik Xi-liang-shan, baru berhasil memperoleh tempat ini." Yi-feng merasa aneh mengapa Wan Tian-pin sekarang ini malah membicarakan hal yang tidak penting. Wan Tian-pin dengan dingin berkata. "Sebelum aku berhasil menemukan tempat ini, aku menemukan sebuah gua. Gua ini seperti gua rahasia yang ada di Wu-liang-shan, hanya ada satu jalan ke sana. Aku akan mengantarkanmu ke gua itu, budi dan dendam antara kita, semua akan kuanggap selesai bila dalam waktu satu bulan kau tidak mati, aku akan melepaskanmu, tapi kau harus menuruti apayang kukatakan." Dengan sikap meremehkan Yi-feng tertawa tapi Wan Tian-pin sudah membentak. "Jika kau tidak memilih salah satu, jangan salahkan aku kalau aku akan membunuhmu!" Wan-hong pelan-pelan menarik lengan baju ayahnya dan bertanya. "Ayah, satu bulan terlalu panjang! Apakah kau bisa menunggu?" "10 tahun bisa dilewati dengan cepat, apalagi ini hanya 1 bulan," Jawab Wan Tian-pin. "dalam waktu satu bulan, aku akan berjaga di depan pintu gua, kecuali kalau aku mati, jika tidak di dunia ini tidak akan ada orang yang bisa mendapatkan buku 'Tian-xing-mi-ji'." Yi-feng sudah tahu akan hal ini. Kelihatannya saja Wan Tian-pin tidak peduli tapi sebenarnya dia sangat ingin mendapatkan Tian-xing-mi-jiitu. Jika dalam jangka waktu 1 bulan dia mati, buku Tian-xing-mi-ji otomatis akan menjadi miliknya. Jika dia tidak mati maka seumur hidup dia harus menuruti apa yang Wan Tian-pin inginkan, otomatis dia memiliki separuh Tian-xing-mi-ji. Sepertinya gua yang dimaksud adalah sebuah gua rahasia, dia tidak bisa kabur dari sana. Jika dia tidak mau menerima salah satu persyaratan Wan Tian-pin, dia akan segera dibunuh. Mungkin juga Xiao Nan-pin ikut terbunuh. Waktu dia sedang dalam keadaan ragu, Xiao Nan-pin menarik-narik bajunya dan berkata. "Katakan kepadanya, kalau kita akan memilih persyaratan ini." Yi-feng mengerti maksud Xiao Nan-pin, maka dia pun bertanya. "Di mana letak gua itu?" "Ikut aku!" Jawab Wan Tian-pin dingin. Dengan langkah besar Wan Tian-pin turun dari jurang. Wan-hong berlari masuk ke dalam rumah kemudian bersiul rendah. Yi-feng dan Xiao Nan-pin mengikuti Wan Tian-pin berjalan dari jauh. o-o-o BAB 56 Hati yang hancur Dengan langkah besar Wan Tian-pin berjalan di depan. Jika ada ranting pohon yang menghalangi mereka, tangannya segera melayang, ranting-ranting pun langsung beterbangan. Xiao Nan-pin memegang tangan Yi-feng. Mereka berdua berada di belakang Wan Tian-pin. Darah di wajahnya sudah mengering, bekas lukanya sekarang terlihat lebih jelas, hanya saja Xiao Nan-pin tidak tahu kalau dia terluka parah, dia masih mengira kalau wajahnya hanya terluka ringan dan perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Yi-feng. Tidak ada waktu bagi Xiao Nan-pin memikirkan ini. Tidak lama kemudian mereka keluar dari hutan. Wan Tian-pin berbalik melihat lalu membentak. "Ikuti aku!" Dia berbelok ke kiri. Xiao Nan-pin benar-benar senang dan berpikir, 'Apakah gua yang dia maksud adalah gua yang semalam kutinggali? Kakak Nan pasti sudah tahu.' Dia berbalik melihat Yi-feng. Dia terlihat sedang mengerutkan dahi, seperti merasa khawatir. Xiao Nan-pin merasa ane, 'Apakah dia sudah lupa pada gua itu?' Dia mencubit tangan Yi-feng tapi Yi-feng hanya tersenyum, tidak ada ekspresi lainnya. "Mungkin dia tidak ingin diketahui oleh pak tua Wan, maka dia seperti biasa saja," Dia berusaha menjelaskan pada dirinya sendiri. Sekarang sudah siang, matahari bersinar sangat terang. Musim dingin sudah berlalu, awal musim semi sudah lewat. Di bawah sinar mata-hari yang terang, Wan Tian-pin tidak memperlihatkan ilmu meringankan tubuhnya, tapi dia berjalan dengan cepat, orang biasa tidak akan bisa mengejarnya. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, Xiao Nan-pin tidak kuat. Yi-feng memapahnya karena merasa kasihan. Xiao Nan-pin memejamkan mata, semua beban dia serahkan kepada Yi-feng, asal dia bisa bersandar di tubuh Yi-feng, walaupun harus berjalan menuju kematian, dia tetap merasa senang. Tiba-tiba Wan Tian-pin berteriak. "Sudah sampai, berhenti!" Xiao Nan-pin membuka matanya, jantungnya berdebar-debar. Jalan ini bukan jalan menuju gua yang mana dia tidak dapat melupakannya seumur hidup. Wan Tian-pin berkata dengan dingin. "Celah gunung ini ada 30 meter. Kalian masuk dulu, disana ada sebuah gua. di dalam gua tidak ada ular ataupun binatang buas, sekalipun ada; dengan kemampuan ilmu silatmu, kau pasti bisa mengatasinya, setelah kau masuk, aku akan menutup celah-celah gunung ini dan aku akan menunggu di sini selama sebulan. Jika kau bisa menghancurkan sebuah batu, aku akan menambah satu lagi, tidak akan ada harapan bisa keluar dari gunung ini. Mungkin beberapa hari ke depan karena merasa lapar kau tidak akan bertenaga lagi." Yi-feng sama sekali tidak mendengar ancaman Wan Tian-pin, dia hanya menjawab. "Terima kasih Anda sudah memberitahuku, tapi ini juga bukan kehendakku." "Ayo masuk...." Baca Juga: Imbauan Pendekar Khu Lung Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 4